Pembalasan Seorang Jagoan 01 - 14

Karya : Wu Lin Qiao Zi
Saduran : OKT

Jilid 1.1. Meninggalnya ayah tercinta

Kuil Poo Hoa Sie terletak diatas gunung Poo Hoa San terpisah lima-puluh lie dibarat-daja dari ketjamatan Hin-kok dalam propinsi Kangsay. Itulah sebuah kuil besar dan tua, jang katanja dibangun di dekat achir dinasti Tjhin, didjaman katjau dari penjerbuan bangsa Hsiungnu dan lainnja. Didalam kuil, pendopo ketiga, jang diberi nama pendopo Leng Koet Tian, diperantikan menjimpan abu dari pelbagai pendeta tersebut, sedang di-depan pendopo itu, jang merupakan pekarangan lebar, tumbuh dua buah pohon pek jang tinggi kira-kira tigapuluh tombak dan besarnja sepelukan empat orang, dan umurnja katanja sudah seribu tahun lebih, sedang kajunja, kalau dibakar di pendupaan, menjiarkan bau harum.. Itulah kuil dimana Beng Liang Taysoe,seorang pendeta jang sudah berusia tinggi, mendjalankan ibadatnja.

Dimasa mudanja ialah seorang mahasiswa jang gagal rnemperoleh gelar sioe-tjay, hingga ia djemu terhadap ilmu surat, tawar hatinja, hingga ia pergi pesiar, lalu digunung Thian San, ia masuk mendjadi orang sutji, Setelah berusia landjut, ia memilih kuilnja ini. Disamping ilmu surat, ia pandai rnenabuh alat tetabuhan, main tjatur dan melukis gambar. la bertubuh djangkung, dalam umur tudjuh puluh lebih, ia mirip seorang dari usia empatpuluh, karena tubuhnja itu tidak melengkung dan djalannja pun tegar dan. tjepat.

Pada suatu fadjar, selagi kabut belum bujar dan hudjan gerimis, dari puntjak Bie Lek Hong didepan gunung itu, kelihatan seorang muda berlari-lari turun, untuk mendatangi kuil. Ia memasuki langsung pintu samping, jang memakai merek „Geng In," artinja „Menjambut Mega," terus berlari-lari dilorong, jang mudun ke bawah. Ia baru berhenti lari setelah masuk kedalam kamar pendeta kepala, jang berada di pendopo ketiga. Ia bermuka putih dan tampan„ tubuhnja kekar, akan tetapi itu waktu, romannja kutjal. Ia mengangguk kepada beberapa pendeta, jang ditemui didalam kuil itu, tetapi ia tidak berbitjara atau merandak. Ia menjingkap kain pintu dan bertindak masuk tanpa ragu lagi.

Beng Liang Taysoe baru sadja habis liam-keng dan lagi duduk bersamedhi sambil merapatkan kedua matanja, waktu ia mendengar tindakan kaki orang diluar kamarnja, ketika ia rnembuka matanja, melihat si anak muda dengan airmukanja diliputi kedukaan itu. Ia pun lantas mengerutkan alisnja jang putih.
„In Gak," ia mendahului menegur, suaranja lembut, „pagi-pagi begini kau telah datang dan romanmu kutjal, mungkinkah kambu pula sakitnja ajahmu?"
Anak muda itu mendjura.
„Benar, loodjinkee," is menjahut. Ia rnemanggil loo-djin-kee' atau orang tua jang dihormati dan suaranja pun perlahan. „Baru tadi penjakit ajah kumat, hanja kali ini beda daripada biasanja. la mengeluarkan darah tak hentinja. Ajah bilang dadanja sesak. Baru setelah makan sisa obat loodjinkee, ia rnerasa sedikit lega. Tapi ajah bilang........”
Ia berhenti sedjenak, kedua matanja pun mendjadi merah. „Maka itu ajah rnenjuruh teetjoe datang kemari untuk memohon loodjinkee suka datang mendjenguk..’
Pendeta tua itu menghela napas.
„In Gak," katanja, „inilah hal jang tjepat atau lambat bakal datang, jang kaupun bukan tidak mengetahuinja, tjuma ingat, didepan ajahmu, djangan kau mengasi kentara suatu apa, untuk mentjegah dia mendjadi bersusah hati. Dalam dua-tiga hari ini, aku rasa, bakal tidak terdjadi sesuatu. Sekarang kau pulanglah lebih dulu, loolap akan menjusul ..."
Dengan „loo-lap," atau pendeta jang tua, pendeta itu membahasakan diri sendiri.
„Baik, loodjinkee," menjahut pemuda, jang dipanggiI In Gak itu, sambil ia mendjura. Lalu dengan tjepat ia mengundurkan diri, untuk keluar dari kuil, guna kembali ke Bie Lek Hong darimana tadi ia datang. Di kaki puncak, setelah melihat kesekitarnja tidak ada lain orang, ia mendaki dengan berlari-lari dengan ilmu ringan tubuhnja yang mahir. Kalau mulai naik ia menjedot hawa, setibanja di diatas puntjak ia mengeluarkan napas. Habis itu ia berlari-lari pula menudju kebelakang gunung. la baru berhenti sesudah sampai di tjabang puntjak dimana ia melihat kebawah. sebuah djurang. Tanpa sangsi lagi, ia terus berlompat turun dengan menggunai ilmu lompat ”Tee in Tjiong” atau ”Tangga mega” suatu djurus dari ilmu silat ”Tjit Khim Sin hoat atau ”Tudjuh ternak”. Maka dilain saat, ia sudah berbungkuk masuk dalam sebuah guha.

„Anak In!" terdengar satu suara menanja yang lemah, ”loo soehoe sudah datang atau belum?”
„Loo-soehoe" itu jalah panggilan jang berarti ’guru tua”
„Loosoehoe bilang ia akan menjusul, maka itu sebentar ia akan datang,," menjahut si anak muda.
„Ah....” terdengar suara orang itu, mendengar mana pedih hatinja pemuda itu.
Kamar dalam guha itu diterangi pelita, baunja tak sedap untuk hidung. Kamar itu jang menjambung dengan sebuah jang lainnja, buatan manusia. Dibagian belakang itu ada terdapat perapian, medja, mangkuk dan lainnja perabotan serta sekumpulan dari beberapa puluh djilid buku. Di dalam kamar itu ada dua buah pembaringan bambu atau bale-bale jang ditaruh berhadap-hadapan, di timur dan barat, dan jang di barat, ditempati oleh orang jang berbitjara tadi, jang tubuhnja memeringkuk, mukanja kurus dan perok, jang napasnja memain pergi datang. Dia berambut dan kumis djenggot pandjang. Ketika si anak muda bertindak masuk, .ia mengawasi dengan sinar-matanja jang saju.
Pemuda itu berduduk disisi pembaringan.
”Ajah, bagaimana rasanja dada ajah, apa mendingan” ia tanja. Ia menanja tetapi ia membukai kantjing badju ajah itu, untuk menguruti perlahan.
Orang tua itu menghela napas, agaknja merasa sedikit lega.
”Anak In” katanja, ”Selama beberapa tahun ini sjukur ada kau, tetapi kaupun mendjadi menderita karenanja. Ada banjak hal yang kau belum ketahui, jang sebegitu djauh ajahmu simpan sadja dalam hati. Sebabnja ini jaitu aku kuatir, djikalau aku memberitahukannja kepada kau, nanti terganggu peladjaran silatmu, karena perhatianmu mendjadi terpetjah. Sekarang ini aku merasa aku bagaikan pelita jang minjaknja kering, soal berpisah dari dunia ini tinggal soal waktu sadja, dari itu, dendaman hatiku terpaksa aku mesti mengandal kepada kau seorang...Tentang hal ichwalku, semuanja diketahui loo soehoe, biar loo soehoe jang nanti menuturkan kepada kau. Kau sudah dewasa sekarang, hatiku lega, melainkan aku menjesal, belum keburu aku membuatnja kau membangun rumah tangga...”
Mendengar itu, si anak muda bertjutjuran air mata.
”Ajah, djangan ajah berkata begini” katanja, ”Loo soehoe bilang...”

Belum habis kata-kata si anak muda, dalam guha itu berkelebat satu bajangan, lantas Beng Liang taysoe berada diantara mereka. Lekas-lekas ia berbangkit, untuk memberi hormat.
Si orang tua bergerak, untuk berbangkit, tetapi si pendeta mentjegah.
”Saudara Boen, rebah sadja!” katanja tertawa, ”Tidak dapat kau sembarang bergerak. Ini, kau makanlah” Ia menjerahkan sebutir obat pulung.
Si orang tua menjambut obat itu.
”Baiklah! Terima kasih...” katanja meringis, obatnja ia terus telan. Ia batuk satu kali. Ia meneruskan: ”Sebenarnja tak usah taysoe mentjapaikan hati lagi, sia-sia belaka pel Tiang Tjoen Tan ini. Siauwtee telah memeriksa nadiku barusan, siauwtee merasai denjutannja jang sudah tidak teratur lagi, djadi siauwtee rasa, pertjuma umpama kata ada obat mustadjab, obat itu paling djuga bisa memperpandjang djiwa dua-tiga hari lagi...Tidaklah itu tjuma melambatkan mengi, menambah penderitaan? Maka siauwtee pikir, lebih baiklah siauwtee pergi siang-siang...Tjuma sebab hatiku masih menggandjal, maka itu siauwtee menjuruh anak In minta taysoe sudi datang kemari, untuk siauwtee meninggalkan pesan. Siauwtee bersjukur jang untuk banjak tahun si In sudah menerima pelbagai petundjuk dari taysoe, sajang dia belum mendjadi murid jang resmi, tatapi mulai hari ini, siauwtee minta sukalah taysoe menerimania sebagai- murid tay soe„supaja kemudian taysoe mendidiknia dengan keras. Setengah tahun setelah ini, kapan ia telah selesai diberi peladjaran menurut kitab Hian Wan Tjin Keng, biarlah ia diidjinkan turun gunung, guna ia mentiari sekalian musuhku, guna ia menuntut balas. Mengenai ini, siauwtee mohon taysoe suka djuga memberi segala petundjuk. Inilah permintaan siauwtee jang terachir, siauwtee pertjaja taysoe tentulah suka menerimanja, bukan?"
Pendeta tua itu bersenjum.
“Untuk segala apa dibelakang hari, semua loolap akan urus," katanja, sabar. „Sekarang ini djangan kau banjak omong dan banjak pikir, baiklah kau tidur sadja”
Sembari berkata, ia rnenotok urat pulas orang tua itu, maka dia lantas tak sadarkan diri, dia terus tidur.
Untuk beberapa detik, pendeta itu berdiam mengawasi orang tua itu.
„In Gak, mari!" achirnja ia kata.
Si anak muda berdiri dimuka pembaringan, airmatanja meleleh tak hentinja. Ia menghampirkan, untuk berdiri disamping pendeta itu.
“In Gak, kau djangan bersusah hati," kata Beng Liang Taysoe jang sendirinja menghela napas. „Manusia itu, seteIah usianja seratus tahun, tak luput dari kematian, tetapi ajahmu ini, jang dapat hidup sempurna begini, di dalam kalangan- Kang-ouw, ada berapakah jang dapat menjamakannja ?" la hening sedjenak, ia kata pula: .„Telah berulangkali ajahmu minta loolap mengambil kau sebagai murid, senantiasa lolap menampik. Ini bukan disebabkan loolap banjak pernik, hanja di-samping itu ada sebabnja. Didalam kuilku tidak seorang jang mengetahui loolap mengerti ilmu silat, paling djuga mereka menduga duga bahwa loolap berolahraga untuk kesehatan. Djikalau loolap menerima kau sebagai murid, dengan sendirinja mesti mengubah panggilan terhadap loolap. Ajahmu ini banjak sekali musuhnja, djikalau kita alpa, asal rahasia botjor, bukan sadja ajahmu bakal mengundang datangnja musuh-musuh besar dan berbahaja, djuga itu akan mendatangkan kesulitan tak habis-habisnja untuk kuilku. Maka djuga loolap menolak keras. Sementara itu selama beberapa tahun ini, kau djuga telah rnewariskan kepandaian ajahmu, kau tinggal. mernbutuh kan latihan teriebih djauh . Kau tahu, loolap telah melihat bakatmu jang baik, didalam hati, loo-lap sudah menerima kau sebagai murid, rnelainkan waktunja belum tiba. Sekarang, jalah mulai hari ini, loolap terima kau setjara sah. Akan tetapi, masih ada satu soal jang kau mesti perhatikan. Selandjutnja, kau tetap, berdiam disini, setiap aku hendak memberikan peladjaran, nanti aku sendiri jang datang kemarl Kau, kau tahu, aku larang kau datang ke kuilku, supaja kau tidak menarik perhatian orang.
“Mengertikah kau?”
“Ja, soehoe” berkata si anak muda, jang bernama In Gak itu. la girang bukan kepalang, ia terharu bukan main. Segera ia pay-koei tiga kali, untuk mendjalankan kehormatan sekalian menghaturkan terima kasihnia.
„Bangun, anak!" berkata sang guru, jang pun tertawa girang.
Sudah semendjak tiga tahun jang lalu si anak muda mendengar dari ajahnia bahwa Beng Liang taysoe telah rnenjampaikan puntjaknia kemahiran ilmu silat, bahwa dia tak ada tandingannja. Katanja, guru itu jalah muridnja Boe Wie Siangdjin dari djurang Tjap In Gay, sedang Boe Wie Siangdjin sendiri satu djago luar biasa pada duaratus tahun jang lalu jang kemudian tak ketahuan kemana parannja. Menurut kata ajahnja itu, asal dua bahagian sadja kepandaian Beng Liang Taysoe dapat diwariskan, orang sudah boleh mendjagoi. Sekarang ia mendjadi muridnja pendeta lie hay itu, bagaimana ia mendjadi tidak sangat girang?
Beng Liang mengawasi murid itu, ia melihat kegirangan orang tertjampur kedukaan jang hebat, maka ia kata dalam hatinja:
„Anak ini harus dikasihani. Dengan dia menerima kepandaianku, dia bakal mendjadi orang gagah luar biasa, tjumalah karena nja, dunia Kang-ouw bakal terbuatnia mendjadi gempar, maka itu baiklah, dengan pengaruh Sang Buddha, aku akan mentjoba membataskannja ...... ..." Maka ia kata pada muridnia itu:
„In Gak, kau turut ajahmu datang ke puntjak Bie Lek Hong ini sedjak usiamu enam tahun, baniak hal jang kan tidak tahu.. Ajahmu ini, Tjia Boen, asalnja orang gagah dari Kwan-lok, ilmu siiatnja ilmu silat tersendiri. Sekalipun orang kang-ouw, tidak ada jang ketahui asal-usul-nja. Belum berusia tigapuluh ia sudah rnendjadi djago Kwan-lok, hingga kaum Rimba Persilatan menamakan dia Twie Hoen Poan, Si Hakim Pengedjar Arwah. Ajahmu bertabiat keras, ia membentji kediahatan bagaikan musuh besarnia, dari itu djikalau orang dari kaum Djalan Hitam bertemu padanja, pasti dia dibinasakan tanpa ampun. Bahkan orang dari golongan lurus apabila dia bertindak diluar garis, dia dihukum djuga, dikutungi kuping atau hidungnia atau dirusak ilmusilatrija. Karena tangan besinja ini, ia membangkitkan amarah kedua golongan sesat dan lurus itu hingga mereka berserikat dan berdaja untuk menumpasnja."
In Gak memasang kuping, pelbagai rupa perasaaanja. Baru sekarang ia mengetahui asal-usul atau hal-ichwal ajahnja itu. Ia berdiam sadja, untuk mendengar terlebih djauh.
„Ajahmu itu tidak ketentuan tempat kediamannja," „Beng Liang melandjuti, dia pergi kemana dia suka. Beberapa kali ia diketemukan musuh, tetapi sebab musuh kebetulan berdjumlah sedikit, mereka tidak berani turun tangan. Maka itu, buat lagi beberapa tahun, ajahmu tetap dengan tabiatnja itu. Pada suatu hari aku bertemu ia di kuil Ouw Yoe Sie ditepinja sungai Kee Leng kemana ajahmu sering pesiar lantas kita mendjadi sahabat ;Aku ketahui sifat ajahmu, sering aku memberi nasehat padanja. Ia suka mendengar kata, seIandjutnja ia tidak lagi bertangan besi seperti dulu-dulu. Di tahun kedua sedjak perternuanajahmu menikah ibu-mu, bersama-sama mereka tinggal disebuah kampung nelajan ditepi sungai itu. Ia menutupi diri, ia tidak rnemperhatikan pula urusan dunia Kang Ouw, Di tahun ketiga maka kau dilahirkan. Menurut pantas, setelah rnenjimpan pedangnja dan menjekap diri ajahmu boleh hidup aman dan berbahagia hingga di.hari tuanja, siapa sangka, karma itu ada libatannja, orang sukar meloloskan dirinja. Ketika umurmu tiga tahun, kau turut ajahmu ke kuil rnendjenguk aku. Tiga hari lamanja kamu tinggal didaIam kuil. Ketika itu aku melihat wadjah ajahmu guram, aku rnengandjuri ia lekas pultang. Diluar dugaan, setibanja ia di rumah ia mendapatkan ibumu telah mati basah, rebah diatas pernbaringan dengan dadanja bertapak tudjuh djari tangan jang hitam, terang-lah kebinasaannja disebabkan hadjaran tangan jang liehay. Sambii menangis, ajahmu mengurus djenazah ibumu itu, selesai itu meninggalkan rumahnja dan pergi untuk, mentjari musuhnja, guna mentjari balas. Pernah aku. menasehati.untuk ia menahan untuk merawat dan mendidik padamu, hingga kau dewasa, akan tetapi ia keras dergan niatnja itu, hingga aku tidak. dapat mentjegah lebih djauh. Ketika itu, atas pertolongan kakak seperguruanku, aku telah tinggal di kuilku jang sekarang ini. Setelah aku memberikan alamatku, kita berpisahan."
Kembali pendeta itu berhenti sedjenak, baru ia melandjuti:.
“Kasihan ajahmu itu, ia pergi dengan ia mesti menggendong-gendong kau, hidup dalam perantauan, Tahun lewat tahun, ia masih belum berhasil mentjari musuhnja, musuh jang membinasakan ibumu itu, Kemudian ajahmu beruntung mendapatkan kitab Hian Wan Tjin Keng itu. Ia mendapatkannja di gunung Hoa San. Kitab itu memakai huruf- huruf Kak koet-boen jang sukar dibatja, ia tidak ,mengerti. Ia ingat padaku, ia lantas berangkat ke Kang say untuk rninta bantuanku. Didalam perdjaIanan ini, mungkin orang kenaIi padanja, maka orang mengumpul diri, ia lantas disusul, lain diwaktu malam ditepi telaga Tong Teng Ouw, ia diserang. la dikerojok oleh belasan musuh jang semuanja bertopeng. Ajahmu boleh gagah tetapi mana sanggup ia melawan begini banjak musuh liehay, sedang ia djuga menggendong kau? Setelah bertempur lama, ia mendapat banjak luka, antaranja tiga totokan ditempat yang berbahaja. Sjukur ajahmu pernah mendapat peladjaran Kim Kong Sian-kang dari aku, ia dapat melindungi djantungnja, hingga ia tidak menemui kematiannja. Dengan berlaku nekat, ia menoblos kepungan, ia bersembunji dan lari siang malam, achirnja ia sampai ditempatku. lantas aku menjembunjikan kamu diguha ini. Ajahmu berobat, ia makan pel Tiang Tjoen Tan, tetapi itu tjuma dapat memperpandjang usianja belasan tahun. la tidak bisa berkelahi lagi. Lagipula setiap dua musim semi dan panas, mesti sakitnja itu kumat. Ajahmu tahu ia tidak dapat menuntut balas sendiri, maka. Ia mewariskan kepandaiannja kepada kau, harapannja jalah supaja kau bisa menggantikan dia membuat pembalasan."
Habis berkata, pendeta tua itu menghela napas.
In Gak menangis sesenggukan, airmatanja turun deras
„Sudah, muridku, tak usah kau terlalu berduka," sang guru membudjuk, „Selang dua djam, ajahmu ini akan mendusin. Sekarang aku hendak pulang, sebentar aku nanti kembali."
Beng Liang bertindak keluar, In Gak mengantarkan. Murid ini melihat guru itu berlompat, gerakannja bagaikan burung djendjang terbang melajang, sebentar sadja sang guru sudah hilang dari hadapannja.
„Djikalau aku berhasil mewariskan separuh sadja kepandaiannja guruku, pasti aku akan mengangkat nama dalam dunia Rimba Persilatan," pikir ia, „Aku akan bunuh habis semua musuh ajah dan ibuku, tidak perduli jang tjuma turut-turutan sadja!"
Hebat pikirannnja pemuda ini, karena dengan demikian terta-namlah tjita-tjitanja menuntutbalas hebat. Karena ia sangat bersakit hati ibunja dibinasakan oleh musuh, atau musuh-musuh, jang demikian pengetiut, litjik dan kedjam, dan ajahnja dikerojok oleh sekumpulan manusia kedji, hingga ajah itu mesti sangat menderita sehingga sekarang ini, sedang ajahnja itu adalah pendekar, penentang segala manusia busuk. Ajahnja tidak bersalah.. Atau umpamakata ajahnja keliru, itulah kekeliruan jang berupa tangan besi, disebabkan sikapnja terlalu keras, Siapa suru si djahat tidak mengenal peri-kemanusiaan? Bukankah pantas si djahat jang melewatkan batas dihukum bengis?
Lima hari kemudian Tjia Boen telah meninggalkan dunia jang fana ini. In Gak menangis menggerung-gerung, ia berteriak-teriak meminta keadilan Thian. Ia merasa peruntunganja buruk sekali. Semendjak usia tiga tahun, ia hidup terlunta-lunta, senantiasa berada dalam gendongan. Kemudian terus ia masih sesunggukan ia merasa peruntungannja buruk sekall. Semendjak usia tiga tahun, ia hidup terluna-lunta, senantiasa berada dalam gendongan ajahnja, selagi si ajah dikedjar-kedjar musuh. Belum pernah ia hidup merdeka sebagai anak-anak lain sebajanja. la mesti menemani ajahnja, jang tersiksa bathin dan lahirnja, tidak pernah ia main-main, .sebaliknja ia mesti bertekun mejakini ilmu silat.
Sekarang, sebelum dapat berdiri sebagai manusia, ia telah ditinggalkan ajahnja, hingga selandjutnja in mesti hidup sebatang kara hidup dengan tugasnja jang berat dan berbahaja, hidup untuk menuntutbalas!
Beng Liang Taysoe mendampingi Tjia Boen ketika djago ini hendak menghembuskan napasnja jang terachir, sekian lama ia membiarkan anak itu mengumbar kesedihannja, baru kemudian ia membudjuk dan menasihatinja, untuk mereka bersama mengurus djenazah djago tua itu, jang dikubur dengan upatjara jang paling sederhana, dikuburkan disatu tempat jang dipilih dibelakang gunung itu.
Semendjak itu, setiap mengenang ajahnja, In Gak menjambangi kuburan ajahnja itu untuk menangis sedih disamping kuburan untuk menabur bunga.
Disini ia memperkokoh tekadnja,untuk nanti merantau, guna mentjari musuh-musuhmja.
Pada suatu hari Beng Liang Taysoe, sang guru, telah datang keguha muridnja. Ia panggil muridnja kedepannja, lantas ia kata dengan sikapnja sungguh-sungguh dan keren: „In Gak, kau dengarl Mulai hari ini aku akan mengadjari kau ilmu silat. Sebagai permulaan, kau akan mendapatkan peladjaran duduk bersamedbi, akan menjalurkan pernapasanan, untuk melatih tenaga-dalammu. Kau mesti melatihnja setiap hari, djangan putus-putusnja djuga dasar untuk mejakinkan ilmusilat Bie Lek Sin-Kang. Ajah mu telah mengadjari ilmu Twie- Hoen Tek-Goat Kiarn-hoat, ilmu pedang 'rnengedjar Arwah dan Memetik RembuIan' jang terdiri dari tudjuhpuluh-dua djurus serta pukulan Hoei Liong Tjiang atau Tangan Naga Terbang, jang terdiri Sembilan puluh-tudjuh djurus. Djuga kedua ilmu itu kau mesti latih terus, jangan kau alpakan. Itulah ilmu pedang dan tangan kosong jang langka didalam dunia persilatan dan dengan itu ajahmu telah mengangkat namanja”
Habis berkata dan muridnia berdjandji akan mentaati pesan gurunja ini lantas mulai dengan pengadjarannja itu.
“In Gak bersamedhi setiap pagi dan sore, ia membagi waktunja untuk melatih ilmu silatnja. Segera ia mendapat kenjataan, tubuhnja mendjadi segar luar biasa dan gerak-geriknja mendjadi lebih gesit. Maka selandjutnja ia beladjar lebih tekun, bahkan setiap hari, ia bersamedhi belasan kali. SeteIah bersamedhi, lenjap segala keletihannja.

Satu bulan kemudian Beng Liang Taysoe datang keguha, lantas ia melihat perubahan muridnja itu. Ia girang dan kagum luar biasa. Sungguh pesat kemadjuan si murid. Karena ini, ia lantas mulai mengadjari Bie Lek Sin-Kang, jang terdiri tjuma dari duabelas djurus. Ia memberi petundjuk, ia mendjelaskan sambil ia sendiri bersilat untuk dilihat tegas muridnja itu, hingga muridnja dapat mendjalankannja. Disebelah bakat, In Gak dibantu ketjerdasannja, dasarnja dan keradjinannja, djuga keuletannja.

Berkatalah sang guru: ,,Bie Lek Sin Kang berendeng dengan Hian Boen Kong Khie. Bedanja jalah Hian Boen Kong Khie bersifat keras, setelah dilepaskan sukar untuk dibatalkan, untuk ditarik pulang. Bie Lek Sin Kang tidak ada tjatjadnja jang demikian. Saking halus dan sebatnja, Bie Lek Sin Kang dapat dipakai melukai orang hingga sukar terlihat, sedang berbareng, tubuh mendjadi kuat bagaikan emas atau badja hingga sukar terlukakan. Sekarang beladjarlah kau dengan radjin, satu bulan kemudian, aku akan datang pula."
In Gak mengangguk, ia menghaturkan terima kasih, lantas ia mengantarkan gurunja keluar. Setelah itu, ia kembali kedalam, akan berlatih. Seperti biasa, ia beladjar tanpa mengenal tjapai.

Dengan tambahnja peladjaran, ia mesti membagi waktu. Sekarang setiap fadjar, sebelum terang tanah, ia merajap naik kepuntjak.
Bie Lek Sin-Kang tepat dipeladjarkan ditempat terbuka. .Aneh peladjaran ini Didalam setengah bulan jang pertama, ia tidak melihat hasilnja. Adalah selewatnja itu, baru ia merasa. Tidak sadja tubuhnja bertarmbah segar, djuga rasanja ia bernapas dan bergerak semakin leluasa. Ketika ia mentjoba menjabat tjabang pohon jang besar dengan tangan kosong, tjabang itu patah serentak, hingga ia mendjadi kagum bukan main. Karena. itu, ia mendjadi makin radjin.

Ketika selang satu bulan Beng Liang datang melihat muridnja, ia bersenjum dan mcngatakannja: „Hasil kau ini tidak dapat ditjela. Tempat ini tidak didatangi orang, kau boleh beladjar setiap waktu."
Kemudian guru ini mengadjarkan pula kedua ilmu pedang Kim Kong Hok Houw atau Arhat Menakluki Harimau terdiri dari tiga puluh enam djurus dan Hian thian Tjit Seng atau Tudjuh Bintang Hian-thian terdiri dari delapan.puluh-satu djurus.
Setelah ini, guru ini guru ini datang dengan terlebih sering, bukan lagi sehulan sekali, hanja setiap tiga atau lima hari ia memberi peladjaran lebih tjepat dan menilik lebih sering. Ia mengadjari djuga penggunaan sendjata rahasia dan tjaranja untuk menanggapi atau berkelit dari serangan sendjata sematjam itu. Disamping lweekang atau lay-kang, tenaga-dalam, ia pun mengadjari gwa-kang, peladjaran-luar, begitupun pelbagai petundjuk atau pengadjaran sampingan lainnja.

In Gak tetap beladjar dengan radjin, ia tidak mengenal lelah bahkan diwaktu turun hudjan ia berlatih terus, hingga kemadjuannja luar biasa pesat. Sedangkan setiap malam bulan purnama, dengan tentu ia menjambangi kuburan ajahnja, untuk rnenangis dan berkata: ,,Ajah, tenangkanlah hati ajah! Pasti. aku nanti menuntutbalas!"

Bagaikan seketjapan mata, setengah tahun sudah lewat. Satu hari Beng Liang datang dengan membawa sedjilid buku berkulit kulit kambing, sambil menundjuki buku itu kepada muridnja, ia kata:
“Ini dia kitab Hian Wan Tjin Keng,jang duluhari didapat ajahmu. Buku ini memuat peladjaran tentang djalandarah, bagaimana harus menotoknja, bagaimana harus membebaskanaja. Djuga perihal pengobatan terutama dengan djarum. Karena ini, kitab ini pun dinamakan Hian Wan Sip Pat Kay, atau Delapan belas Pengobatan Kaisar Hian Wan. Aku akan mengadjari kau setiap hari satu fatsal, selandjutnja terserah kepada kau untuk memahamkannja hingga kau dapat mempergunakannja dengan sempurna. Aku pertjaja, dengan ketjerdasanmu, tak sulit untuk kau mengatasinja."

In Gak terima peladjaran itu, setiap hari ia membatja dan mengapalkannja diluar kepala. Sulit untuk ia rnengenal huruf-huruf Kak-koet-boen, tetapi ketekunannja membuat ia berhasil djuga. la tidak kenal tjapai, ia tidak pernah putus asa.
Beng Liang mernbantu muridnja dengan ia memberikan seperangkat kulit manusia, entah dari mana ia dapatkannja, dengan begitu, In Gak memperoleh kegampangan untuk mengenal pel-bagai djalan darah. Bahkan selang tiga bulan, ia dapat menotok djuga dengan timpukan sehelai daun atau selembar bunga.

Sesudah murdnja madju demikian djauh, Beng Liang, menjuruh sang murid membagi waktu, jalah setengah hari beladjar silat setengah hari. Beladjar surat. Llmu surat perlu untuk memperlengkapi diri, terutama untuk ilmu pengobatan, ilmu ketabiban dipeladjari berbareng dengan ilmu ringan tubuh.
Demikian tjara luar biasa dari guru itu untuk mendidik muridnja.. Iimu silat diutamakan, maka ilmu silat didului baru menjusul jang lainnja,

Selewatnja satu tahun maka Tjia in Gak telah mendjadi seorang muda dari usia sembilan belas tahun, romannja tampan, tubuhnja sehat dan kuat. Karena pendidikan ajahnja dan gurunja jang sedikit bitjara„ ia mendjadi pendiam„ pikirannja tenang. Memangnja dengan tinggal didalam guha, di atas gunung jang sunji, ia tidak pernah kenal lain orang ketjuali ajah dan gurunja itu, tjuma beherapa pcndeta lainnja dari kuil Poo Hoa Sie

Pada suatu hari, Beng Liang datang keguha, dan berkata kepada muridnja; „In Gak, semua kepandaianku telah aku wariskan kepadamu. Untukmu, jang masih kurang, jaian latihan lebih djauh. Meski demikian, sekarang kau sudah boleh turun gunung untuk mentjari musuh -musuhnja ajah dan ibumu, guna kau mewudjudkan pesan ajahmu mentjari balas. Tjuma satu hal aku harap dari kau, jalah kau djangan melupakan peri-kemanusiaan, djangan kau sembarang mennbunuh orang. Didalam hal memilih sahabat, kau mesti berlaku teliti. Djanganlah kau terlalu berkukuh. Jang paling penting, djangan sekali kau menjebut narna gurumu, dan Bie Lek Sin kang djangan digunai ketjuali sangat terpaksa!'

Beng Liang seorang pendeta perantau, dia tahu akan segala matjam orang kam kang ouw, dia kenal pelbagai partai ilmu persilatan, dia telah menjelami sifat manusia umumnja, maka semua itu ia djelaskan kepada muridnja ini, supaja muridnja mengetahui dan mengingatnja baik-baik. Semua itu penting untuk seorang jang mau pergi merantau. Ia terutama memesan bagaimana murid ini harus membawa diri. Setelah itu, ia memberikan uang duaratus tail perak serta sebilah pedang lunak jang diberi nama Ouw Kim Djoan-kiam.
„Besok kau boleh berangkat, dan tak usah kau datang pula kekuilku untuk pamitan," kata si guru achirnja.
Kedua matanja In Gak. penuh airmata. Sangat berat untuknja berpisahan dari gurunja ini jang mentjintai ia tak kalah tjinta ajahnja. Wadjah si pendeta pun mendjadi guram, karena dia pun tak tega hati„ maka ketika dia mau berlalu, dia mendjedjak tanah, dia berlalu dengan tjepat.

Dengan hati pedih In Gak mengawasi gurunja barlalu. Ia pun menguatkan hatinja. la ingat ia harus mentjaribalas. Itulah tugasnja. Maka selang sekian lama, ia mulai membenahkan pauwhok atau buntalannja. Ia membawa apa jang paling perlu. Malamnja, ia pergi kekuburan ajahnja, untuk menangisinja pula, karena kali ini ia pamitan untuk waktu jang tak berbatas.

Besoknja pagi, diwaktu berangkat, ringkas sekali buntalan Tjia In Gak, sedang pedangnja dilibat dipinggangnja.Buku-bukunja, sedari setengah bulan jang lalu, telah diambil gurunja, sedang piring-rnangkuk tidak ada perlunja. Tidak ada benda jang ia berati, ketjuali guhanja sendiri, guha tempat in bernaung belasan tahun. Ketika ia keluar dari guhanja lantas ia berdiri tegak menghadap kekuil Poo Hoa Sie, ia terus pay koei, berlutut dan mengangguk hingga empat kali, tandanja ia memberi hormat dan meminta diri dari gurunja. Diachirnja, dengan menggertak gigi, ia berlompat, untuk terus berlari-lari, meninggalkan guhanja itu. Ia mengangkat kepala, tidak pernah ia menoleh pula.
Maka mulai itu hari, dunia Rimba Persilatan lantas tertutup dengan hawa pembunuhan, oleh karena satu anak jatim-piatu, jang hidupnja sangat menderita, hendak melakukan tugasnja melampiaskan dendam .....
#
Tiga puluh lie lebih keselatannja puntjak Bie Lek Hong terdapat dusun Liong kauw-hie jang mendjadi pusat pardagangan. Di situ ada sebuah kali, jang airnja mengalir ke Kiong Tjioe, seperdjalanan seratus enampuluh lie. Ketika In Gak tiba di sana, kebetulan djatuh hari besar, dari tempat-tempat disekitarnja, orang datang- berdujun-dujun, buat berdagang, buat berbelandja. Maka pusat perdagangan jang tak Iuas, jang beralasan lantai batu; sesaklah dengan kira-kira lima ribu orang, hingga pemuda kita berdjalan berdesak-desakan untuk mentjari sebuah kedai nasi. Suara orang pun berisik sekali.
„Sedjak hari ini. aku mesti melakukan perdjalanan dengan tak ada tudjuannja," In Gak berpikir selagi ia duduk mengisi perut. „Kenapa aku tidak mau naik perahu untuk pergi keibukota propinsi'? Dikota Lam-tjjang pastilah terdapat orang-orang dari pelbagai kalangan dari sasterawan sampai segala kuli, dan ular dan naga tinggal mendjadi satu.
Insoe mengatakan, untuk manjerap-njerapi musuh-musuhku, perlu aku berkenalan dengan orang bangsa piauwsoe atau anggauta partai persilatan.
Orang sebagai aku, pasti aku dapat memasuki umpama suatu piauwkok. Atau aku pergi dulu kepropinsi Soe-tjoan, untuk mendjenguk kuburan ibuku."
In Gak tidak menjebut gurunja dengan panggilan soehoe, guru, hanja insoe, jang berarti guru jang telah melepas budi banjak terhadapnja.
Setelah mengambil putusan, In Gak memanggil pelajan, untuk menanja apa ada perahu sewaan untuk keibukota.
„Itulah gampang, siangkong," sahut si pelajan sambil tertawa manis. „Kebetulan sekali, pamanku jang mempunjai sebuah perahu besar hendak berangkat tengah hari ini. Baiklah, nanti aku mengaturnja,"
Pelajan ini pergi keluar, untuk memanggil seorang desa dengan siapa ia lantas berbitjara. orang desa itu mengangguk-angguk.

”Dia inilah jang akan mengantarkan siangkong ke perahu," katanja kemudian.
In Gak sudah dahar tjukup, ia iantas membajar uang makannja. Ia memberi presen pada pelajan itu. Setelah itu, ia turut si penundjuk djalan hingga ditepi sungai, jang merupakan pelabuan pedesaan jang ramai. Disitu terlihat banjak perahu besar dan ketjil, terutama tampak njata tihang-tihang lajar dan lajarnja.
Si pengantar, dengan berdiri ditepian, mengasi dengar kaokan njaring berulang-ulang. Segera dari sebuah perahu muntjul seorang, jang terus menjahuti seraja tangannja menggapai-gapai.
„Mari, siangkong," si pengantar mengadjak.
In Gak rnengikut. Setelah melintasi belasan perahu Iainnja, tibalah mereka diperahu besar itu. Lantas mereka menemui pemiliknja, seorang tua she Thio, jang ramah-tamah, jang berkata: „Senang aku menerima kau, siangkong. Perdjalanan ada seribu lie lebih akan tetapi kalau angin balk, kita akan sampai diibukota dalam waktu duapuluh hari."
in Gak menghaturkan terima kasih kepada si pengantar,
la ikut pemilik perahu itu masuk kedalam gubuk. Perahu besar itu terbagi dalam delapan ruangan, empat didepan, empat dibelakang, bagian tengahnja mendjadi dapur dan ruangan bersantap. Dan empat ruangan belakang, jang keempat untuk kamar tidur, jang tiga terisi penuh muatan seperti kulit, daun rokok dan lainnja hasil bumi setempat. Dari empat ruangan depan, jang dua dipakai sendiri oleh si Thio dan anak isterinja, jang dua lagi masih kosong. Sedangkan dibawah lantai perahu disimpan persediaan barang makanan, seperti beras, sajur, daging dan lainnja.

Senang In Gak melihat kamar untuknja jang terawat bersih, setelah memeriksa, ia kembali kepada si Thio, untuk bitjara harga sewanja, untuk membajar dimuka, kemudian habis berbitjara sebentar, ia kembali pula kekamarnja itu, diruang depan. Ketika kendaraan air mulai meninggalkan tepian, la berdiri dikepala perahu, memandang djauh kesekitar sungai, melihat burung-burung terbang dan telinganja mendengar njanjian kawanan nelajan.

Setelah beberapa hari di atas perahu, In Gak dapat berkenalan dengan djurumudi dan anak-buah perahu, hingga ia mengerti pelbagai istilah bangsa mereka itu, bahkan ia bisa djuga menggaju, menggunai gala kedjen, dan menguasai kemudi.
Waktu senggang diatas perahu digunai In Gak sebaik-baiknja. Djikalau ia tidak pasang omong sama si Thio atau ngobrol sama awak perahu, ia menguntji kamar, untuk bersamedhi. llmu samedhi itu jalah jang dinamakan Kwie Goan Tjo-Kang. Sambil bersamedhi, berbareng ia melatih Bie Lek Sin-Kang. Dan kapan perahu lagi berlabu, ia suka mendarat, untuk mentjari tempat sepi, guna berlatih silat pedang dan tangan kosong. Tak suka ia mengadjak salahsatu awak perahu, untuk pesiar didarat. Sikapnja ini mengherankan awak perahu, tetapi karena ia manis-budi, orang menganggapnja itulah tabiatnja.

Dari Hin-kok melintasi Kiong tjioe sampai di Louw-leng-hoe, perdjalanan ada enam ratus lie air, hari jang dilewati sudah setengah bulan. Aliran air jalah milir tetapi kadang-kadang mereka terganggu angin barat-laut, karena ketika itu sudah dipermulaan buIan dua-belas. Kalau ada gangguan, angin, sepandjang tigapuluh lie, awak perahu terpaksa mendarat dan menarik perahunja. Sjukur In Gak tidak mempunjai urusan penting tertentu, ia tidak djadi bergelisah karena kelambatan itu.
Selewatnja Lou-leng-hoe, perahu-perahu berlajar bersama-sama, sedikitnja dua-puluh buah saling beruntun, hingga diwaktu singgah, semuanja berkumpul, asapnja mengepul, suara awaknja, ramai, sedang anak-anak bermain-main dengan gembira dikepala perahu.

In Gak biasa hidup menjendiri digunung, gembira ia menjaksikan anak-anak itu, maka suka ia mentjampurkan din dengan mereka, untuk bergurau atau turut main petak.
Sebuah perahu jang mendjadi tetangganja In Gak ditumpangi piauwsoe Lie Tay Beng, umur kira-kira empatpuluh, orangnja ramah tamah, senang ia melihat tingkahnja si pemuda, ia beladjar kenal. Selang tiga hari, eratlah pergaulan mereka, lantas sering mereka saling berkundjung, untuk memasang omong atau bersantap barsama. In Gak dapat melajani dalam segaia hal, ketjuali ia membungkam mengenai ilmusilat. Ia pun dandan biasa, lebih rnirip dengan seorang peladjar.

Djuga In Gak senang bergaul sama piauwsoe ini, jang mempeladjari gwakang„ dan agaknja telah mentjapai enam atau tudjuh bagian latihannja. Piauwsoe banjak kenalannja, mungkin memperoleh sesuatu keterangan jang diinginkan. Atau sedikitnja, mendapat sahabat ada faedahnja djuga.

Lie Tay Beng ini sebenarnja piauwsoe dari Tjn Tay Piauw Kiok dari Lamtjiang, ia termasuk golongan kelas dua atau tiga, bersama isteri dan anaknja ia kembali dari Kiong-tjioe dimana ia kematian mertuanja, pulangnja ini ia mengarnbil djalan air karena perdjalanan darat sangat meletihkan mereka. Ialah piauwsoe tetapi senang ia berkawan seorang pemuda lemah-lembut, selama memasang omong, suka djuga ia bitjara tentang pekerdjaannja sebagai piauwsoe. Ia tidak menduga sama setkali bahwa In Gak mengerti ilmusilat.

„Saudara," satu kali Tay Beng menanja, „kau mau pergi ke ibu kota, adakah untuk mendjenguk sanak atau untuk turut dalam udjian ilmusurat?"
,,Saudara Lie, kau aneh,“ In Gak menjahut, tertawa. „Sekarang ini ada achir tahun ! Diachir tahun, mana ada udjian lagi?"
Tay Beng djengah, ia likat.
„Harap kau tidak salah mengerti, saudara," katanja. „Aku menduga kau hendak berbuat seperti segolongan peladjar, jang suka datang siang-siang„ untuk menanti waktu sambil beladjar untuk setengah atau satu tahun, buat mana, sengadja mereka menjewa rumah. Dengan pergi siang-siang, mereka tidak usah berangkat kesusu. Djadi tidak ada maksudku untuk menggodai kau."

„Oh !" kata In Gak, jang berbalik likat sendirinja. Ia mengerti sekarang halnja ia kurang penga laman, maka lain kali, maulah ia berhati-hati. Ia menambahkan „Maaf, saudara Lie, aku pun bergurau sadja. Sebenarnja aku dilarang ajahku untuk memangku pangkat, sekarang ini ajahku sudah meninggal dunia, aku memikir untuk mentjari pekerdjaan."
„Kalau begitu, mengapa kau tidak mengatakan dari siang-siang ?" kata si piauwsoe. „Aku bukan omong besar, luas pergaulanku, untuk mentjarikan kau pekerdjaan, itulah gampang. Ah, ja, aku ingat. Tiga bulan jang laiu pengurus buku piauwkiok. kami telah menutup mata, ketika aku pergi, lowongannja belum terisi, entah sekarang, djikalau kau setudju, maukah kau untuk aku mengusulkannja ?"
In Gak berbangkit, ia rnernberi hormat.
„Saudara, lebih dulu terima kasihku !” katanja.
„Djangan saudara memakai banjak adat-peradatan !" kata si piauwsoe. „Aku djusteru jang harus memberi alamat padamu! Mari minum !"
Keduanja tertawa, mereka mengeringi tjawan mereka.

Ketika kendaraan mereka melewati dusun Tjiang-soe-tin, udara memburuk, angin besar tak mau berhenti, suaranja menderu hebat, saldju pun turun. Maka putihlah di mana-mana. Tak nampak orang berkeliaran. Keadaan ini beda dengan keadaan di Kang say Selatan dimana udara empat musim sama sadja, selalu bagaikan musim semi.
In Gak ketarik dengan tjuatja itu, ia melongok keluar perahu, mulutnja mengasi dengar suara bersenandung.
„Dasar kutu buku !" kata Tay Beng dalam hati.

Achir-achirnja pada tanggal 2 bulan duabelas, tibalah In Gak di Lam-tjiang, ibukota propinsi Kangsay. Ia turut Tay Beng mendarat. Tjin Tay Piauw Kiok berada di Yo-kee-tjiang, tapi In Gak rnenjewa kamar dihotel didepan piauwkiok itu. Tay Beng kata, sebelum tahun baru, tidak dapat ia lantas bitjara sama tjong piauw-tauw, jaitu piauwsoe kepala, tentang pekerdjaan mengurus buku itu. Tapi ia sendiri sering berkundjung ke hotel, untuk bergaul seperti biasa.

Atau ada kalanja, Tay Beng mengadjak sahabat itu bersantap direstoran Siong Hok Wan disamping piauw kiok, ataupun datang kerumahnja didalam piauwkiok. Njonja Lie manis-budi, dia memandang In Gak sebagai keponakan, hingga si pemuda bersjukur.
Baru beberapa hari, In Gak, sudah pesiar tjukup di kota Lam tjiang, hingga ia dapat menjaksikan tempat-tempat terkenal seperti ranggon Theng Ong Kok, telaga Pek Hoa Tjioe, kuil Ban Sioe Kiong dan lainnja. Selama itu, sering dia bersenandung seorang diri, hingga orang mengagumi ketenangannja, sedang sebenarnja, ia lagi menungkuli diri.

Piauwsoe kepala dari Tjin Tay Piauw Kiok she Hee-houw nama Him, umurnja sudah enampuluh lebih. Dia keluaran Boe Tong Pay, terhitung murid-bukan-pendeta. Dia mahir enteng tubuh dan kedua tangannja kuat menggunai Hong-hong-nouw, jaitu busur lengkung silang. Panah ini tidak dipakai kalau bukan terhadap musuh tangguh. Jang dia andalkan silat tangan kosong Thay Kek Tjioe jang terdiri dari tiga puluh-sembilan djurus dan ilmu golok Liong How Toan hoen-too jang terdiri dari enam puluh-empat djurus. Dia mempunjai dua anak, jang laki-laki bernarna Gee umur 11 tahun dan jang perempuan nama Wan Tin, usia 9 tahun, jang semua sudah mulai peladjari ilmusilat. Karena ia tidak faham surat, ia membutuhkan guru sekolah untuk anak anaknja itu, agar keiak dikemudian hari, anak-anaknja pandai silat dan surat. Karena ini ia penudju In Gak untuk djadi guru sekolah, tjuma ia belum berani omong. Dengan si pemuda sudah ia bertemu beberapa kali.

Habis Goan-siauw, jaitu pesta Tjap gouw mee, baru Lie Tay Beng menemui Hee-houw Him, membitjarakan urusan In Gak. Ia tidak berani bitjara langsung, ia membuang kata-kata dulu.
„Saudara Lie, Tuan Tjia masih muda mana bisa dia diangkat djadi pemegang buku, untuk bergaul sama orang dari segala tingkat?" kata piauwsoe tua itu, ”Baik begini sadja. Aku memerlukan guru, buat anak-anakku, apakah Tuan Tjia suka menerima pekerdjaan itu?"
„Tjongpiauwtauw begini baik masa dia tolak?" kata Tay Beng, girang. Ia lantas pergi ke hotel, mentjari In Gak, untuk menjampaikan berita serta menanjakan pendapat si pemuda.

In Gak terima pekerdjaan itu, untuk itu, bersama Tay Beng menemui Heehouw Him, untuk memastikan pekerdjaan, buat menghaturkan terima kasih. Maka dilain saat, anak-anaknja piauwsoe itu sudah lantas mendjalankan kehormatan kepada gurunja dan tuan rumah membikin pesta ketjil untuk merajakannja.

Malam itu djuga In Gak pindah ke piauwkiok dimana ia dapat tempat dikamar tulis, hingga di lain harinja, ia sudah lantas mulai mendjalankan tugasnja sebagai guru. Ia pun lantas berkenalan dengan sekalian piauwsoe dan pegawai lainnja. Mereka itu mendapatkan guru ini ramah tamah, ketjuali suatu waktu, matanja bertjahaja tadjam.

Ada kalanja In Gak pergi ke pekarangan peranti beladjar silat, menjaksikan si piauwsoee tua mengadjari silat kepada kedua anaknja. Satu kali si piauwsoe tua tanja, bagaimana peladjaran silat itu, sambil tertawa ia menjahuti bahwa ialah "orang asing" untuk ilmu silat.
Heehouw Him dan isterinja melihat guru sekolah itu sedikit persediaan pakaiannja, mereka membuatnja belasan perangkat. Mereka senang dengan ini guru.

Karena itu, In Gak jang polos, memikir: „Bagaimana aku balas kebaikan mereka ini?" Ia djuga ingat kebaikannja Lie Tay Beng.

Lewat dua bulan, pada suatu hari In Gak melihat tuan rumahnja beroman duka. Dia berkumpul di toa-thia, ruang besar, mendamaikan sesuatu dengan beberapa piauwsoenja. Ia tidak tahu apa jang dibitjarakan, untuk menjingkirkan ketjurigaan, ia pergi mendjauhkan diri. Baru malamnja, habis bersantap, ia pergi pada Tay Beng, untuk minta keterangan pada piauwsoe ini.

"Tjongpiauwtauw lagi menghadapi kesukaran” kata piauwsoe she Lie itu. „Tahun jang sudah, dibulan tiga, piauwkiok kami menerima apa jang dinamakan piauw gelap,' tiba di Ouwlam barat, dikaki bukit Kim Hong Nia, Leng-leng, piauw itu dibegal Siang Tong Sam Ok, tiga djago djahat dari Ouwlam Timur. Mereka itu Kioe-bwee-tiauw Ngay Hoa si Radjawali Ekor Sembilan, Hoei Thian Gia-kang Thia Soan si Kelabang Terbang, dan Hek Loo-han Gouw Beng, si Lohan Hitam. Tjongpiuwtauw memohon perdamaian tetapi gagal, mereka bentrok. Kesudahannja Gouw Beng terbinasa terkena panah Hong-hong-nouw, Kemudian ternjata, Gouw Beng itu muridnja Siauw-bin Boe Siang Hong It Taysoe dari kuil Tay Pie Sie di Soetjoan. Pendeta itu, si memedi Boe Siang Tertawa, kesohor kegalakannja untuk di Selatan, golongan sesat dan lurus, memalui dia. Dia tersohor untuk ilmu silatnja Touw-koet Irn Hong Tjiang. Siapa terkena tangannja, mesti mati. Dia pun telengas. Katanja dia telah berangkat ke Barat ini, guna menuntutbalas untuk muridnja itu. Maka djuga sekarang tjongpiauwsoe lagi bersusah hati, Ia telah mengirim undangan untuk meminta bantuan orang liehay."

„Tjongpiauwtauw berhati baik, mestinja dia memperoleh kebaikan," kata In Gak. „Aku sangsi Hong It demikian liehay seperti katamu, saudara Lie."
„Kau anak sekolah, saudara, kau tidak tahu halnja orang Kang-ouw,"' kata Tay Beng alisnja mengkerut. „Diantara mereka banjak sekali orang orang liehay. Orang sematjamku banjak tetapi tidak ada artinja"
In Gak tidak membantah, ia bahkan tertawa. Tapi diam-diam ia telah memikirkan daja guna menolongi piauwsoe tua itu.

Beberapa hari kemudian, Heehouw Him kedatangan dua sahabatnja, jaitu Kian-Koen-Tjioe Loei Siauw Thian si Tangan Dunia dan Liang Gie Kiam-kek Tjie Tong Peng, si Ahli Pedang Imyang. Loei Siauw Thian itu murid tunggal Tjin Nia It-Sioe jang pada Iimapuluh tahun dulu terkenal diselatan dan utara sungai Tiang Kang. Dia kesohor karena ilmusilatnja. Kian Koen Tjioe, jang terdiri dari tigapuh enam djurus. Dia djarang tandingan, dan tabiatnja pun aneh, hingga orang malui, usianja belum empatpuluh tahun, tubuhnja kurus, matanja tadjam. Tjie Tong Peng keluaran Heng San Pay, dia tjalon tjiang-boen-djin, ketua partai, dia dikenal sebagai salah satu dari empat djago pedang di Kanglam. Dalam usia lima puluh, dia mirip seorang peladjar. Ia memelihara kumis dan djenggot jang pandjang. Dipunggungnja terus tergendong pedangnja jang tua. Sebenarnja, jang diundang jalah Tong Peng, Siauw Thian turut bersama sebab kebetulan ia berada dirumah sahabatnja itu, sedang ialah seorang perantauan.

Girang Hee-houw Him menjambut dua tetamunja itu. Katanja sambil tertawa: „Loei Lao- tee, kau datang, maka kakakmu jang tua ini beleh tidur dengan tenang dan senang!"
Sebaliknja daripada tertawa, Siauw Thian mengasi lihat roman keren.
“Eh kunjuk tua, djangan kau mengangkat aku terlalu tinggi!." katanja. „Aku kuatir, djikalau aku djatuh, nanti pinggangku patah hingga piauwkiokmu ini tidak bakal sanggup memelihara aku!"
Tuan rumah tetap tertawa, la mengundang kedua tetamunja masuk.

Malam itu diadakan perdjamuan penjambutan. Sebagai guru sekolah, In Gak diundang turut hadir. Selama itu, diam-diam Siauw Thian sudah memperhatikan guru sekolah jang muda ini. Ia seperti merasa kenal. Ketika ia diberitahukan, orang she Tjia, lantas ia ingat seorang jang ia kenal, jang semendjak sekian lama dikabarkan sudah meninggal dunia, jalah Toan-Hoen-Poan Tjia Boen, sahahat dari gurunja, Tjin Nia it-sioe. Sedikitnja sekali setiap tahun, Tjia Been berkundjung kegunungnia. Ketika itu ia masih belum keluar dari rumah perguruan, sering ia mendampingi gurunja melajani orang she Tjia itu, jang umurnja belum tiga puluh jang romannja sama dengan ini guru sekolah. Ketika ia sudah keluar dari rumah perguruan, beberapa kali ia bertemu Tjia Boen dalam perantauan dan Tjia Boen pernah berbuat kebaikan terhadapnja. In Gak ini mirip Tjia Boen jang kedua, Tentang Tjia Boen ia mendengar kabar, orang telah dikepung musuh-musuhnja, bahwa disatu gunung telah didapatkan majatnja dua orang, satu orang tua dan satu botjah, jang dikenali sebagai Tjia Boen. Kalau kabar itu benar, In Gak ini mungkin puteranja Tjia Boen itu. Karena ragu-ragu, ia djadi semakin memperhatikan.

In Gak tahu orang sering mengawasi ia, ia heran. Ia melajami dengan mengangguk halus bersenjum. ”Aneh Loei Siauw Thian terus memperhatikan aku. Apakah romanku membuka rahasiaku terhadapnja?" Ia terus bersikap tenang.
„Silakan minum?" ia mengadjak heberapa kali.
Hee-houw Him pun melihat sahabat itu rnengawasi guru sekolahnja, dia tertawa dan kata: „Loei Laotee, djangan kau main mengawasi Tjia Sinshe sadja. Dialah ahli surat, semua buku dan surat-suratku dia jang urus, tulisannja pun indah sekali!"
Siauw Thian tertawa.
„Aku pun kagum melihat Tjia Sinshe maka aku suka mengawasinja!" sahutnja, untuk menutupi perhatiannja itu. Tapi, ketika perdjamuan sudah ditutup dan In Gak sudah pergi kekamarnja, ia kata pada Tong Peng dan tuan rumah: ,.Aku lihat Tjia Sinshe itu mesti mempunjai kepandaian jang tinggi, tjumalah ia pandai menjembunjikannja. Saudara Heehouw, sudah lama kau mengenalnja, mengapa kau tidak mendapat tahu? Kali ini si kera tua salah mata!"

,,Orang toh anak sekolah, ada apanja jang mentjurigakan?" kata Hee-houw Him. „Kalau benar- seperti katamu, dia gagah, kenapa dia kesudian djadi guru sekolah dirumahku ini? Mungkinkah dia lagi menjingkir dari musuhnja? Kalau benar, apa sudah tidak ada tempat lain? Kenapa dia djusteru memilih piauwkiok dimana banjak orang dapat sembarang keluar masuk? Tak takutkah dia nanti gampang kepergok?"

”Turut penglihatanku, dia memang mentjurigai," berkata Tjie Tong Peng, „.Aku melihat matanja bersinar luar biasa, besar pengaruhnja. Lainnja tidak. Tapi dia belum berumur duaputuh tahun, inilah anehnja, Apa benar dia dapat membawa diri demikian rupa? Satu hal sudah pasti, dia mestinja orang baik-baik. Sekarang djangan kita usil dia, mungkin dia mempunjai kesulitannja.
Siauw Thian melirik sahabatnja, dia tertawa„
„Hong It si keledai gundul datang ke Barat, biarnja dia liehay, belum tentu dia dapat berbuat sesuatu atas diriku !” ia berkata, ,,Apa jang aku kuatirkan dia berkawan orang liehay, Kekuatiran ini aku dapatkan semendjak ditengah djalan. Sekarang, dengan adanja guru sekolah itu, lenjaplah kekuatiranku, Aku pertjaja dia dapat membantu kita! Kera tua, untungmu bagus! Oh, kau tidak pertjaja? Suka aku bertaruh!"
Heehouw Him bersangsi, sebab ia tahu Siauw Thian gemar bergurau. Siauw Thian sendiri diam-diam menduga, kalau In Gak benar putera Tjia Boen dan sekarang muntjul untuk mentjari balas, pastilah bakal datang badai, ia tidak mau menimbulkan soal Tjia Boen, ia djuga tidak mau mengutarakan dugaannja ini, untuk mentjegah belum apa-apa terbit gelombang hebat dalam dunia Kang-ouw. Ia pun kuatir kalau-kalau, karena ia banjak mulut, In Gak nanti membentji padanja.

Tong Peng lantas berkata „Mulai besok, kalau kita bertemu Tjia SinShe, kita mesti bersikap seperti biasa; untuk mentjegah dia mendjadi tjuriga."
Siauw Thian tertawa, ia membungkam. Tapi mulai besoknja, beruntun beberapa hari, ia tentu tentu pergi kekamarnja In Gak, untuk memasang omong, hingga selandjutnja pergaulan mereka mendjadi erat.

Tjin Nia It sioe tersohor ilmu silatnja tetapi dia djuga pandai surat. Digunung Tjin Nia, dimana dia hidup menjendiri, di dalam kamarnja, penuhiah kitab-kitabnja serta banjak gambar lukisan. Disitu ia menghibur diri dengan pelbagai kitab dan gambarnja itu. Loei Siauw Thian mendjadi murid tunggal, ia terdidik sempurna, maka ia pun mengerti surat, bisa bersjair dan menjanji, melukis, main tjatur dan main khim, tjuma sifatnja gemar bergurau. Maka itu, dapat dia bitjara asjik dan getol dengan In Gak hingga si anak muda sering menekan perut karena saking djenakanja.

In Gak lantas mendapat tahu ini sahabat baru pandai silat dan surat, bahwa disamping kedjenakaannja itu, dia ramah-tamah, tak mungkin palsu, dari itu, suka ia bersahabat dengannja. Meski begitu, ia terus membitjarakan tentang pelbagai hal sastera, tentang ilmusilat tak sepatah kata pun disebut-sebut.
Selagi mereka ngobrol, beberapa kali Heehouw Gee dan Heehouw Wan Tin datang untuk minta petundjuk ilmusilat kepada Kian Koen Tjioe, jang mereka panggil paman. Sering Siauw Thian melajani kedua botjah. Ia memberi petundjuknja, separuh maksudnja untuk memantjing si anak muda. Tapi In Gak tetap tenang, bahkan satu kali, dengan roman heran, dia berkata. ”Baru hari ini mataku terbuka! Hebat dunia kang-ouw, Djadi apa kata orang dahuiu kala!”

Atau lain ka!i, ia kata: „Saudara, kepandaianmu ini belum pernah aku memelihatnja! Kau mirip dengan Hong Djiam Kong dan Khong Khong Djie! Dengan ini kau menantang, kau menghukum manusia-manusia djahat, sungguh kau berbuat banjak kebaikan !”
Walaupun orang bersikap demikian, Loei Siauw Thian merasa: „Hebat anak muda ini. pandai sekali dia membawa dirinja, Biar bagaimana, dia mirip naga, dia mirip harimau”

Dilain harinja, Siauw Thian datang pula kekamar si guru sekolab, untuk rnemasang omong, selagi berbitjara, sengadja ia mengulur tangannja hingga udjung badjunja tersingkap, hingga terlihat sikutnja. Ia berbitjara sambil tertawa. Dengan begitu ia mengasi lihat satu luka di sikutnja seperti diluar keinginannja. Luka itu luka bekas golok, pandjangnja lima dim.
Melihat itu, In Gak agaknja terperandjat. Atas itu, si orang she Loei menghela napas.
Saudara, kau ingin ketahui sebabnja lukaku ini?" ia tanja.

”Inilah luka jang didapat dua puluh tahun dulu. Ketika itu belum lama aku masuk dalam dunia Kang-ouw. Selagi lewat di Paleng, aku membelai seorang jang diperbuat tak selajaknja, karenanja aku bentrok dengan Siam-Lam 'Soe Hiap, empat djago dari Siam-say Setatan. Aku dikepung berempat„ lama-lama, repot aku, lalu sikutku ini kena dibacok. Disaat djiwaku terantjam, aku ditolong Paman Tjia Boen. Dialah jang dunia kang-ouw kenal sebagai Twie Hoen Poan, si Hakim Pengedjar Arwah. Dia bentji Siam Lam Soe Hiap, jang berempat mengepung satu orang, dia menjerang. Kesudahannja, dari empat djago itu, tiga terbinasa, satu terluka.

Kemudian ternjata merekalah murid-murid turunan ketiga dari partai persilatan Giang Lay Pay. Jang luka itu lari pulang, dia mengadu kepada ketua partainja. lalu dalam satu rombongan, mereka menjerbu Paman Tjia. Maksud mereka itu tidak kesampaian, Paman Tjia jalah sahabat guruku, darinia pernah aku mendapat banjak kebaikan. Sedjak itu, beberapa kali aku masih bertemu dengannja. Lalu belasan tahun kemudan aku mendengar kabar Paman Tjia kena dikerojok musuh-musuhnja kaum sesat dan lurus di Sam-siang. Ia berkelahi dengan menggendong anaknja. Katanja dia terluka dan terbinasa karenanja. Paman Tjia itu murah hatinja, tjuma dia keras dan bengis. Sajang dia terbinasa setjara demikian ketjewa. Dari sini pun ternjata keruwetan dunia Kang-ouw, dimana peri--kebenaran dan kesesatan tak dapat dipisahkan. Mengenai Paman itu, orang tjuma bisa menjesal dan berduka

Siauw Thian pun mendjadi lesuh„ ia menghela napas. Diam-diam ia melirik muka orang.
Mendengar hal-ichwal ajahnja itu, airmuka In Gak berubah, hanja sedjenak, ia kembali wadjar, tetapi meski dernikian, perubahan itu tak lobos dari mata tadjam dari Kian Koen Tjioe, hingga kepertjajaan dia ini mendjadi tetap enam bagian. Dia tjuma masih heran, siapa itu orang dan botjah jang majatnja diketemukan di gunung.

Kemudian In Gak kata, tawar: “Keruwetan kaum Kang-ouw itu tidak dapat dimengerti olehku seorang anak sekolah, tetapi saudara Loei, mengingat kaulah seorang gagah, jang berhati mulia dan kaupun kenal baik Tjia Boen itu, mengapa kau tidak mentjoba menolong membalas sakit hatinja? Dapatkah sakit itu dibiarkan sadja tenggelam di lautan besar atau terpendam di tanah pegunungan?”
“Saudara, tepat teguran kau ini” kata Siauw Thian, “Aku tadinja terbenam dalam kesangsian. Siapa dapat mempertjajai penuh kabar angin? Pula di pihak pengerojok itu, mereka menutup rapat-rapat mulut mereka, hingga sulit untuk menjelidikinja. Sampai sekarang ini aku sangsi Paman Tjia mati setjara ketjewa itu, sebaliknja aku mau pertjaja, dia masih hidup, hanja dia ada dimana tahu. Sudah belasan tahun aku mendengar-dengar tentangnja itu…”

Matanja In Gak bertjahaja, lantas ia bersenjum.
“Djikalau begitu, saudara Loei, kau baik sekali” bilangnja.
Siauw Thian tertawa.
“Saudara belum ketahui aku orang matjam apa, nanti sadja kau melihatnja!” katanja.
In Gak agaknja likat.
“Saudara Loei, tiada maksudku mengedjek kau. Tentang kau, sekarang pun aku telah melihat buktinja. Untuk Tjongpiauwtauw, bukankah kau memerlukan dating dari tempat jang djauh?
Menghormati kau, aku masih tidak sanggup, mana berani aku…”
Ia belum habis berkata, Siauw Thian sudah memegat.
”Tjukup saudara, djangan kau mengangkat-angkat aku, aku malu sekali”
Sampai disitu, berhenti sudah pembitjaraan mereka mengenai urusan Tjia Boen, selandjutnja mereka omong dari lain hal, sampai orang she Loei itu meminta diri.

Berduduk seorang diri dalam kamarnja, In Gak berpikir: ”Perkataannja Siauw Thian dapat dipertjaja. Sakit hatiku ini mana bisa aku gampang-gampang menuturkannja kepada lain orang? Baik, aku sabar dulu.......”
Malam itu, karena pikirannja katjau, pemuda ini sukar tidur njenjak. Karena itu, ia mendjadi berpikir keras.
”Ah, baiklah aku mengubah siasatku” pikirnja achirnja, ”Sebagai anak sekolah sulit aku mentjari keterangan, orang menghormati tetapi berbareng pun mendjauhkannja. Tak sudi rupanja orang bergaul erat denganku. Baik aku mengasi lihat sedikit kepandaianku, asal aku tidak menjebutkan asal-usul diriku, terutama djangan aku mempertontonkan ilmu silat ajahku, agar orang tidak mengenalinja...”
Karena dapat mengambil keputusan itu, achirnja bisa djuga ia tidur njenjak.
II
Besoknja pagi, In Gak mendusin sesudah matahari naik tinggi. Ia heran tetapi ia tertawa sendirinja. Katanja dalam hatinja: ”Biasanja aku tidur, suara berkelisik sadja dapat menjadarkan aku, tetapi semalam, aku tidur njenjak sekali. Inilah bukti pantangan untuk orang jang paham silat katjau pikirannja.”
Selama pagi itu, habis beladjar sendiri, si Gee dan Wan Tin tiga kali sudah datang ke kamar guru mereka, melihat sang guru masih tidur, mereka tidak berani mengganggu, paling achir mereka pergi memberitahukan ajah mereka, atas mana ajah itu berkata:
”Benar, djangan kamu membuat berisik hingga membikin guru kamu bangun. Biar hari ini, tak usah kamu bersekolah, nanti aku jang memberitahukannja kepada Tjia Shinse.”
Karena itu, dengan kegirangan, dengan berdjingkrakan, kedua botjah itu lari keluar, untuk pergi bermain.

Kapan Loei Siauw Thian mendengar halnja In Gak sampai siang belum bangun tidur, sepasang alisnja diangkat, hatinja terbuka. Tambahlah kepertjajaannja, atau berkuranglah kesangsiannja, dengan satu-dua bagian. Tapi tentang ini, tidak ada jang ketahui.
Habis In Gak membersihkan diri dan dandan, karena melihat djam sekolah sudah lewat, ia lantas keluar seorang diri dari piauw kiok. Ingin ia pergi keluar kota untuk mengitjipi keindahan alam. Perlahan-lahan ia bertindak diluar pintu kota Soen hoa-moei, matanja mengawasi daun-daun yanglioe jang hidjau. Hawa segar, angin pun menghembus halus.

Tengah pemuda ini merasa terbuka, mendadak dari dari djalan tikungan muntjul seekor kuda jang dilarikan keras sekali. Dari djalan ketjil, penunggang kuda itu mengambil djalan besar. Tabrakan tak dapat ditjegah ketjuali si pemuda berlompat minggir.
Dalam saat keponggok itu, In Gak tidak berkelit. Sebaliknja ia bertahan. Ia menggeraki kedua tangannja sambil memasang kuda-kudanja, ia menangkap kaki depan sang kuda dan mengangkatnja. Maka kuda itu lantas dengan kedua kaki belakangnja, tak peduli itulah kuda asal Mongolia jang besar dan kuat. Karena itu djuga penunggangnja mendjadi terdjumpalit ke pinggir djalan, sedang kudanja, jang berontak dan dilepaskan kaki depannja, roboh ke sawah di tepi djalan itu. Si penunggang kuda dapat berlompat turun ke tepi djalan besar, tetapi dia lantas mendjadi gusar sekali, dengan keras dia menegur: ”Binatang dari mana berani menghadang perdjalanan Ngay toaya? Apakah kau mau mentjari mampusmu?”

In Gak memandang orang itu jang badjunja hitam, potongannja ringkas, kedua alisnja buntung, hidungnja melesak, kedua matanja merah, mulutnja lebar bagaikan paso, hingga dia nampak bengis, apalagi tengah dia bergusar sangat itu. Ia tidak takut, sebaliknja ia mendongkol. Kenapa ia digusari? Kalau bukan ianja, bukankah orang bakal mampus ditabrak kuda besar itu? Maka ia tertawa dingin dan membalas menegur: ”Sahabat, apakah kau tidak mempunjai mata? Kenapa kau mengaburkan kudamu begini rupa? Apakah kau kira kau tidak bakal mengganti djiwa, apabila kau menabrak orang mampus? Kau begini tergesa-gesa, apakah kau hendak berbela-sungkawa?"

Mata orang itu mendelik, sinar merahnja mendjadi marong. Dia mementang batjotnja jang Iebar: „Binatang, kau berani kurang adjar terhadap Kioe-bwee-tiauw Ngay Toaya ? Saat kematianmu telah tiba, botjah! Awas!"
Antjaman itu disusuli tindakan madju dan tindju meluntjur ke dada!

Mendengar orang menjebut she dan gelarannja itu, In Gak lantas ingat penuturan Lie Tay Bang perlhal Siang Tong Sam Ok, tiga djago djahat dari Ouwlam. Timur. Dia sekarang berada disini, itu artinja gurunja, jaitu Hong It Taysoe, telah tiba. ingat bahwa orang adalah orang djahat dan maksud kedatangannja ini djahat djuga., ia mendjadi panas hati, hingga ia memikir untuk mernberi hadjaran kepada si djahat jang galak ini. Demikian ketika serangan tiba, ia tidak berkelit tapi menangkis sarnbil tertawa dingin, ia melondjorkan tangannja, untuk menjambuti. Maka dalam sekedjap sadja nadi Ngay Hoa telah kena ditjekal, terus dipentjet, terus pula disempar„ hingga kesakitan Kioe-bwee-tiauw„ si Radjawali Ekor Sembilan, terpelanting djatuhnja lima tombak, tubuhnja roboh terlentang, dan ketika terlentang itu, tangan kirinja memegangi tangan kanannja, matanja dipentang lebar dengan melongo!
In Gak bertindak menghampirkan,
„Ngay Toaya, kau kenapa?" ia menanja.
Ngay Hoa. kaget dari heran. Begitu tangannja disambuti, dia merasa sakit sekali, belum sempat dia mengetahui apa-apa, tubuhnja sudah terpelanting, hingga dia roboh terbanting.

Kesudahannja itu membuat tangannia itu njeri sekali. Dia pun hampir pingsan. Maka itu, matanja mendelong. Tapi segera dia sadar, Dia heran kenapa demikian gampang dia dipetjundangi dia, salah satu dari djago Ouw lam! Tjelaka kalau kedjadian ini sampai teruwar! Tak dapat dia rnenaruh kaki lebih lama di Ouwlam itu! Ketika dia ditanja, dia mendongkol sekali. Dengan lompatan Ikan Gabus Meletik, dia bangun berdiri.

„Binatang, Ngay Toaya akan mengadu djiwa denganmu!" dia 'berseru, kedua tangannja dibawa kepunggungnja, untuk menghunus sendjatanja, jaitu tiam hoat-kwat, gegaman peranti menotok djalan-darah, jang terbuat dart tembaga. Sambil mengadjukan tindakannja, dia terus menjerang keatas dan kebawah, sendjatanja itu mentjari masing-masing djalandarah yoe-moei dan khie hay.

In Gak tertawa pula, perlahan, tubuhnja berkelit kesamping kiri, tangan kanannja diluntjurkan.
Ngay Hoa merasa matanja seperti kabur. la melihat sesuatu jang. berkeleban lantas kedua tangannja kesemutan, tanpa merasa, kedua sendjatanja terlepas dari tjekalannja, kena dirampas si anak muda. Ia kaget, hendak ia berlompat mundur, atau tangan kiri orang mendului ia, mampir di djalan darah tiong-hoe, hingga ia mendjerit, tubuhnja terus roboh.

"Ngay Toaya," kata In Gak tertawa, „dihadapanku, djangan kau rnernpertontonkan kedjelekanmu! Dengan kepandaianmu sekarang ini, walaupun kau beladjar lagi delapanbelas tahun, sia-sia belaka! Kau tahu, dengan totokanku ini, kepandaianmu telah dimusnahkan ! Didalam waktu tiga tahun, aku larang kau menggunai tenagarnu, djikalau kau melanggar, tidak ampun lagi, kau pasti mati! Aku lihat dua potong logam ini sudah tidak ada gunanja, baiklah aku musnakan djuga.
Dengan menekuk kedua tangannja, In Gak rnembikin sendjata itu melengkung seperti gelang, terus ia buang kesawah sambil ia berkata pula: „Ngay Hoa, perlu apa kau datang ke kota Lam-tjiang ini? Apakah keledai gundul Hong It pun datang bersama? Apakah kau dititahkan dia pergi ke Tjin Tay Piauw-kiok untuk mengadjukan tantangan? Djikalau benar, tak usahlah kau tergesa-gesa begini rupa?”

Karena ditotok itu, habis sudah tenaga Ngay Hoa, peluhnja pun mengalir keluar. la sebenarnja lagi mentjatji diri sendiri, selagi mempunjai urusan penting, ia rewel ditengah djalan, hingga orang mentjelakainja, hingga urusannja gagal. Tapi sekarang, mendengar si anak muda menjebut gurunja dan rnembuka rahasianja, ia kaget sekali. Tahulah ia bahwa Hee-houw Him sudah mangundang bala-bantuan jang liehay, hingga ia merasa, gurunja serta dua kawannja mungkin bukan lawan pemuda ini. Karena ini, ia mendjadi lesu.

„Tuan.„ aku benar dititahkan Hong It taysoe untuk pergi ke Tjin Tay Piauw-kiok untuk menjampaikan tantangan, Aku tjuma orang perintahan. Menjesal aku telah berlaku kurang adjar terhadap kau. Sekarang aka minta sukalah kau membebaskan aku. Aku berdjandji, selandjutnja aku akan merubah kelakuanku, tidak nanti aku berbuat djahat lagi."

Sambil berkata, Ngay Hoa djuga mengasi lihat sinar mata memohon ampun, Ia seperti kehilangan keangkuhannja. Tak malu ia untuk bersikap merendah itu.
In Gak tidak senang, menghadapi sikap pengetjut itu. Itulah menandakan orang benar manusia sangat djahat dan busuk. Maka ia tertawa dingin dan berkata: „Orang she Ngay, kau menjebut dirimu Siang Tong Sam Ok, itu sadja sudah menandakan kedjahatanmu. Inilah jang pertama kali kau bertemu aku, dari itu, dengan mendapat totokan sematjam ini, aku sudah berlaku murah terhadapmu. Djikalau aku menghadapi lain orang, pasti aku telah membunuhnja! Maka itu, djanganlah kau mengharap. mendapat pembebasan. Tentang kewadjibanmu mengadjukan tantangan, nanti aku jang menjampaikan, sebab disana aku turut ambil bagian. Serahkan suratmu padaku, kau sendiri, lekas kau kembali pada si bangsat gundul. Pada saat jang didjandjikan, pihak kami akan datang diwaktu jang tepat!"

Ngay Hoa putus asa. Ia merogo sakunja, mengeluarkan surat gurunja: Sembari menjerahkan itu, ia tanja, mendongkol: „Kau :siapa, tuan, tolong kau memberitahukan namamu! Asal aku si orang she Ngay tidak mati, lain kali aku akan membalas budimu inil"
„Bangsat!" teriak In Gak. „Kau masih hendak menanjakan namaku? Kalau begitu, kau rupanja memikir mampus!"
Bentakan itu disusul dengan gerakan tubuh.
Ngay Hoa kaget sekali, ia takut bukan main. Lantas ia memutar tubuhnja, untuk lari ngatjir, sampai kudanja pun ia lupakan.

In Gak besenjum mengawasi orang kabur itu. la melihat lagi kepengetjutan orang. la lantas menghampirkan kuda djago itu, untuk dinaiki, untuk berdjalan pulang. Ditengah djalan ia memikirkan kenapa. Ngay Hoa demikian tak punja guna. Inilah pertempurannja jang pertama kali, hingga ia tidak menginsjafi liehaynja salah satu djurus dari Hian Wan Sip Pat Kay, jang barusan ia gunakan. Setelah itu, mendadak ia menahan kudanja, ia mengeluarkan seruan tertahan. la pun lantas merogo sakunja, rnengasi keluar suratnja Hong It Taysoe. Ia pikir, alasan apa ia mesti kemukakan pada. Hee-houw Him karena ialah jang membawa surat itu. Ia merobek sampul, untuk menarik keluar suratnja. Bunjinja itu jalah tantangan untuk besok pagi bertempur di puntjak Bwee Nia di See San, Gunung Barat, dan penanda-tangannja jalah Hong It Taysoe, pendeta kepala dari kuil Tay Pie Sie di Soetjoan Selatan, bersama Lan Tjhong Siang-Sat, jalah Taylek Koei-Ong Tjoe Pek Pay serta Tjoei Beng Long koen Khiong Keng.

„Bagus, besok tentu bakal terdjadi suatu pertarungan dahsjat pikirnja. „Hanja entah siapa itu Lan Tjhong Siang-Sat dan bagaimana kepandaiannja
Pemuda ini lantas menduga-duga. Lan Tjhong Siang-Sat berarti Sepasang Bintang djahat dari Lan Tjhong San. Tjoe Pek Pay bergelar Taylek Koei-ong, Radja setan Bertenaga Besar, maka rnungkin dia liehay tangannja. la ingat kematian ibunja oleh tangan djahat, maka entahlah, dia ada hubungannja sama ibunja itu atau tidak. Sedang Khiong Keng jalah si Pengedjar Djiwa.

Tidak lama In Gak menahan kudanja, lantas ia melarikannja pulang. Ia sudah mendapatkan alasannja. Ditengah djalan ia membuatnja orang mengagumi romannja jang tampan, disebabkan ia melarikan kudanja keras, hingga ia menarik perhatian umum. Kata orang: .„Entah anak siapa dia, demikian ganteng!...".
Ketika achirnja ia tiba dirumah, In Gak turun dari kudanja dibelakang piauwkiok, ia minta satu pegawai mengurus kudanja itu, ia sendiri terus masuk kedalam. Pegawai itu heran, dia mengawasi sambil berkata didalam hatinja: „Aku tidak sangka guru sekolah begini lemah, umpama kata tidak dapat menjembelih ajam, dapat menunggang kuda begini djempol! Sungguh aneh! Kalau dia djatuh, tentulah dia mati ...... .."

Dengan berbatuk satu kali In Gak bertindak perlahan dan tenang. Diruangan besar ia melihat Heehouw Him tengah berbitjara dengan Tjie Tong Peng dan Loei Siauw Thian, serta seorang tua kate-ketjil dan kurus-kering, jang ia tidak kenal.
Begitu bertindak masuk, tuan rumah menjambut sambil tertawa dan berkata : „Tjia Shinshe, mari aku mengadjar kau kenal dengan seorang luar biasa!" la. Terus menundjuk si kate-kurus itu,. untuk: menambahkan: „Inilah Thay San It Kie, si Orang-aneh dari gunung Thay san Oh Ka Lam Tjoei Tjian, si malaikat Ka Lam Kate.
Benar orang boen dan boe berlainan golongan tetapi baiklah kamu saling berkenalan!" Terus ia pun memperkenalkan Si. Guru sendiri. Kedua pihak saling memberi horrnat.

Tjoei Tjian mengawasi si guru sekolah semendjak ia baru muntjul. Inilah sebab baru sadja mereka membitjarakan hal dia, jang disangka berkepandaian tinggi tapi dia rupanja menjembunjikannja. Tapi ia tidak melihat apa-apa jang aneh. Maka ia berpikir „Barusan mereka bertiga memudji orang tinggi kenapa aku tidak mau mentjoba mengudji dia?" Dari itu, ia tertawa dan kata„Tuan Tjia, barusan saudara Hee-houw memudji tinggi kepada kau, sekarang melihat wadjahmu, tuan benarlah naga atau burung hong diantara kita bangsa manusia. Akulah si orang hutan, jang dungu, maka kalau benar kata-katanja saudara Hee-houw ini, marilah kita ikat persahabatan." Sembari berkata, ia merangkap kedua tangannja, untuk memberi hormat. Sambil berbuat begitu, ia mengerahkan tenaga-dalammja, untuk menolak.

In Gak lantas merasakan tolakan angin, maka tahulah bahwa ia lagi diudji, maka lekas-lekas ia berkata merendah, "Tjoei Loo-giesoe terlalu memudji, aku tidak berani rnenerimanja..." Ia minggir dua tindak, tangannja diangkat, untuk membalas hormat setjara wadjar, setelah itu ia mengeluarkan suratnja Hong It diserahkan pada tuan rumah.
Tjoei Tjian kagum. Ia melihat bagaimana indah orang menjingkir. Ia kata dalam hatinja: .„Anak. ini lintjah sekali, djarang aku menemui orang seperti dia."
Siauw Thian mengawasi tingkahnja, orang she Tjoei itu, hatinja berkata.: ,,Tidak perduli kau liehay, kali ini kau ketemu batunja”

Heehouw Him menjambuti surat, membatja mana, mukanja mendjadi putjat.
”Loei Laotee, benar seperti katamu!” katanja tjepat, hatinja tegang, ”Hong It si bangsat gundul datang bersama Lan Tjhong Siang sat dan ia mendjandjikan pertemuan besok pagi di puntjak Bwee Nia di See San. Mereka bertiga sernua bangsa telengas.”
Siauw Thian tertawa lebar.
”Kunjuk tua, kenapa kau begitu ketakutan?” katanja, ”Biarnja Siang Sat liehay, aku si orang she Loei suka menempur mereka”
Liang Gie Kiam Kek Tjie Tong Peng, jang sabar berkata: ”Di djaman sekarang ini,orang
jang bisa melajani. Lan Tjhong Siang Sat memang diarang sekali. Duluhari tiuma tersiar kabar bahwa mereka pernah dua kali kalah, jalah dari tangannja Thay Hian Tjindjin dari Ngo Bie Pay dan Twie-Hoen-Poan Tjia Boen. Memang besok belum tentu kita kalah, akan tetapi untuk memperoleh kemenangan djuga masih belum ada kepastiannja. Oleb karena itu, saudara Loei, djangan kita memandang terlalu enteng pada mereka itu,"

Oh-Ka-Lam Tjoei Tjian tidak puas, hingga matanja. mentjilak.
„Sajang selama duapuluh tahbun aku si tua-bangka belum pernah mendjadjah ke Soetjoan, djikalau tidak, tidak nanti aku mengidjinkan mereka itu bertingkah sampai sekarang ini” katanja sengit. „Hari ini sjukur telah datang djodohnja, maka aku si tua-bangka nanti mentjoba-tjoba mereka!"
Siauw Thian tahu keberangasannja Tjoei Tjian, djikalau mereka terus membitjarakan urusan itu, si kate ini bakal naik darahnja, maka ia berbangkit dan berkata sambil tertawa: „Biar bagaimana djuga, besok pagi kita bakal pergi kesana, dari itu pertjuma sekarang kita membitjarakannja pandjang lebar. Eh, Tjia Laotee, mari kita main tjatur!"

In Gak menurut, maka berdua Siauw Thian ia. meminta diri. Ketika ia berlalu, in mendengar Tong Peng berkata perlahan „Tjia Sinshe itu kenapa akrab sekali dengan Loei Hiantee?
Apakah benar katanja Loei Hiantee ini'?" la heran, hatinja terkesiap.
Dengan lekas ia melirik Siauw Thian. Ia melihat si orang she Loei .seperti tidak dapat mendengar perkataannja Tong Peng itu, dia djalan terus wadjar sadja.

Sebaliknja, Siauw Thian berkata: „Tjia Laotee, heran sekali, suratnja Hong It itu boleh djatuh di tangan kau ?"
In Gak terperandjat. Didalam hatinja, ia mentjatji : „Hantu djahat, kau rupanja menentang aku !" Tapi ia lekas mendjawab „Ketika tadi siauwtee berdjalan pulang„ siauwtee bertemu seorang jang menjebut dirinja Ngay Hoa dan dia menjerahkan surat itu padaku dengan permintaan disampaikan kepada tjong-piauwtauw. Saudara Loei, ada apakah jang aneh ?"
„Oh, begitu ?" kata Siauw Thian, jang mengasi dengar suara dihidung, tandanja ia separuh pertjaja separuh tidak.

Setelah itu, mereka main tjatur dikamar In Gak. Siauw Thian terdesak, banjak bidjinja jang dimakan, maka sambil menolak bidji-bidjinja, ia tertawa dan berkata : „Kau liehay, Tjia Hiantee, kau seperti dibantu malaikat. Aku sudah lama tidak main tjatur, aku terdesak., djikalau aku melandjuti, pasti tidak ada gunanja !"
In Gak tertawa, Siauw Thian mengawasi orang, Lalu mendadak ia kata, masgul ,.Hiantee, aku minta djanganlah kau dustai aku. Tadi lintjah sekali kau menjingkir dari tolakannja,Tjoei Tjian, sedikit djuga kau tidak meninggalkan bekas. Menurut penglihatanku itulah mirip ilmu kaum lwee-kee jang dinamakan Tjian Tjong Bie Eng Sim Hoat, Hiantee, kau menumpang didalam piauwkiok; apakah kau mempunjal sesuatu kesulitan jang kau tengah menjimpannja?“

Sebenarnja hati In Gak bertjekat akan tetapi dapat ia bersenjum. Ia menatap.
„Saudara Loei, matamu tadjam sekali,'' katanja. „Tentang urusanku ini, baiklah kita menanti sampal besok atau lusa, baru aku menuturkannja. Dibelakang hari aku pun masih memerlukan bantuan kau."
Siauw Thian tertawa lebar.
„Hiantee," katanja, „semendjak pertama kali aku melihat kau, sudah merasa kau mesti menjimpan kepandaian jang Iuar biasa, sekarang ternjata dugaanku itu benar !"
Si pemuda djuga tertawa pula.
“Mana kepandaian luar biasa !" katanja „Selama beberapa hari ini, aku tahu saudara terus menjelidiki aku, karena aku tahu, kebisaanku beda djauh daripada kebisaan saudara, aku memikir lebih baik aku menjembunjikan diri sadja. Aku pun mempunjai musuh besar dan
musuhku itu banjak, aku kuatir aku nanti kena menggeprak rumput hingga ular mendjadi kaget: Djikalau ini sampai terdjadi; sia- sialah nanti segala usahaku, aku pasti bakal menjesal tidak habisnja...”.

Kian Koen Tjioe menatap anak muda itu, ia mengasi lihat roman sungguh-sungguh.
“Tjia hiantee, kau pertjaja aku!” katanja. „Aku berpengalaman, aku tahu baik banjak orang dari kalangan sesat dan lurus, maka untuk pembalasan sakit hatimu itu, aku rasa dapat aku membantu kau, tentang, kau tuturkan padaku, nanti aku membantu djuga dengan pikiranku. Kau tahu, akulah seorang, djudjur dan polos, tidak dapat aku menanti sampai besok-lusa,
Hiantee, kau bitjara sekarang, Aku berdjandji tidak nanti aku membotjorkannja kepada orang lain”.
In Gak menatap pula, terus ia .tertawa. lebar.
Djikalau begitu , saudara Loei,” katanja, „Baik, mari kita pergi ke rumah makan Siong Hok Wan, disana sambil bersantap kita memasang omong melewati sang waktu malam!"
Siauw Thian rnenepuk dengkulnja. ia tertawa pula.
„Baik !” djawabnja, ”Marilah„ aku mendjadi si tuan rumah."

Kedua-duanja benar-benar lantas berlalu dari piauwkiok, pergi ke restoran Siong Hok Wan. Disana mereka disambut dengan manis dan telaten oleh pelajan, jang mengenali orang Tjin Tay Piauw Kiok. Mereka dipimpin ke medja jang terpilih, dimana hawa hangat menjenangkan.
Siauw Thian jang memesan barang hidangan, kemudian ia mengisikan tjawannja In Gak, lalu tjawannja sendiri. Kemudian lagi ia mengangkat tjawannja itu.

”Laotee” katanja, bersenjum, ”Aku dapat mengenal kau, inilah hal jang seumurku sangat menggirangkan aku. Sekarang Laotee, paling dulu aku ingin kau memberitahukan aku, dengan Twie Hoen Poan Tjia Boen, Pamanku itu, kau mempunjai sangkutan persanakan atau tidak?”


2. Jilid 1.2 : Tewasnja musuh pertama

Bacaan » PEMBALASAN SEORANG JAGOAN » Jilid 1.2 : Tewasnja musuh pertama
Anggota Masroni
Waktu 6 Mei
Bab Sebelum 1. Jilid 1.1 : Meninggalnya ayah tercinta
Bab Sesudah 3. Jilid 2.1 : Mengobati Kioe Tjie Sin Liong

Cvr Menuntut balas 1.2.JPG

Menuntut Balas
Karya : Wu Lin Qiao Zi
Saduran : OKT
Jilid 1.2 : Tewasnja musuh pertama

Orang she Loei ini memanggil Paman kepada Tjia Boen sebab Tjia Boen sahabat gurunja.
Ditanja begitu, dengan lantas matanja in Gak mendjadi merah.
„Aku jalah anaknja," sahutnja perlahan.
Siauw Thian berdjingkrak bangun. memegang keras kedua pundak orang.
“Thian ada matanja !" serunja. „Benarlah dugaanku ! Segala tjatji tidak nanti dapat mentjelakai pamanku itu ! Dimana sekarang adanja ajahmu ?"
In Gak menggeleng kepala. Ia menghela napas.
„Ajahku telah meninggal dunia," sahutnja kembali perlahan.
Orang she Loei itu bermuka guram, ia menghela napas.

„Ajahmu telah meninggal dunia, ini benarlah impian belaka," katanja, „Sekarang, hiantee, adakah kau dalam perdjalanan menuntutbalas menurut pesan ajahmu itu ?"'
In Gak menganguk.„Ja," sahutnja. „Hanja tugas ini sulit untukku. Niatku jaitu berdiam didalam piauwkiok barang satu tahun, untuk menjelidiki orang-orang pelbagai partai, untuk rnentjari tahu musuh-musuhku, untuk aku nanti mendatanginja satu demi satu. Sekarang aku merasa niatku ini tidak dapat didjalankan. Tjara ini meminta waktu terlalu lama, lebih-lebih aku bersendirian sadja: “ Saudara Loei, dapatkah kau memikir suatu djalan jang ringkas ?"

„Memang, hiantee, berdiam di dalam piauwkiok bukan djalan jang sempurna. Menurut aku, baiklah kau segera merantau, masuk dalam dunia Kang-ouw, untuk membuat nama. Setelah itu, mustahil orang tidak datang mentjari kau ? Kalau perlu, kau boleh menjembunjikan asal-usulmu, agar tidak ada jang ketahui kaulah anaknja Paman Boen. Djikalau kau berbuat begini, sulitnja jalah ilmusilatmu. Orang tentu akan mengenali itulah ilmu silat Paman Boen dan orang dapat mentjurigai kau”

„Tentang ilmusilat, itulah tidak usah dikuatirkan," In Gak memberi keterangan. „Biarnja ilmusilat ajahku liehay, keliehayan itu belum ada separuh keliehayannja guruku. Siauwtee akan tidak memperlihatkan ilmu-silat ajahku itu."
Siauw Thian membuka lebar matanja. Ia heran berbareng kagum.
„Bagairnana, hiantee ?" tanjanja. „Kau telah berguru kepada lain orang ? Dan kau bilang, kepandaian ajahmu tak ada separuhnja kepandaian gurumu itu ? Hiantee, pasti gurumu orang dari golongan terlebih tua. Dapatkah aku mengetahui namanja.
In Gak menggeleng kepala, tetapi ia bersenjum.
„Aku telah mendapat pesan guruku, tidak dapat aku memberitahukan namanja," ia kata. „Aku minta saudara tidak buat ketjil hati."

Siauw Thian tidak gusar, ia pun tidak memaksa. Bahkan ia tertawa.
,,Meski hiantee tidak menjebutkannja, kelak hiantee tidak akan lolos dari mataku !" katanja. „Sekarang biarlah kita menunda tentang itu. Aku ada memikir suatu djalan, supaja dengan sebutir batu kau rnendapatkan beberapa ekor burung. Duluhari itu, orang-orang jang memusuhkan ajahmu bertjampur-baur kaum sesat dengan kaum lurus, tjuma tidak djelas siapa-siapa adanja mereka itu, hanja menurut kabar, disana ada orang-orang dari pihak Boe Tong Pay, Koen Loan Pay, Hoa San Pay ketiga kaum lurus. Jang lainnja jalah Keng Lay Pay, Sam Hoan Pay dari Honghoo, Pay Pay dari Siang-kang serta mereka jang tidak berpartai. Dengan mereka itu hiantee boleh pura-pura bersahabat, untuk mengorek keterangan mereka. Pilihlah mereka jang djumawa dan berkepala besar jang dojan berkelahi. Aku pertjaja, diantaranja mesti ada jang akan membuka mulutnja. Bagaimana hiantee pikir ?"

„Bagus !" In Gak memudji. „Inilah aku tidak pikir. Baik, aku akan mengambil siasat ini.” Ia berdiam sedjenak, lantas ia kata, sungguh-sungguh: „Saudara Loei, ibuku terbinasa oleh satu tangan djahat, dipunggungnja bertapak tudjuh djaritangan, mengenai itu dapatkah saudara menundjuki aku, siapa orang Kang-ouw jang djeridjinja tudjuh ?"

Siauw Thian berpikir.
„Tidak, hiantee, aku tidak pernah mendengar orang dengan tudjuh djeridji itu," sahutnja. „Tapi ini pun tidak sukar. Perlahan-lahan sadja kau mentjari tahu siapa jang liehay djaritangannja. Aku rnenjangsikan Taylek Koei Ong Tjoe Pek Pay. Setelah dia dihadjar ajahmu, dia tentu menjembunjikan diri. Dialah sangat membentji ajahmu."

In Gak mengangguk.
“Biarlah !" katanja, tertawa dingin. ,,Dia itu benar musuh ibuku atau bukan, akan aku singkirkan dia Bukankah sudah terang dia bukannja manusia baik-baik ? Boleh apa membinasakan satu bahaja besar untuk umum ?"
“Hebat hiantee." kata Siauw Thian. „Aku sendiri, tidak berani aku main gila terhadap Lan Tjhong Siang-Sat. Sekalipun Tjoei Tjian, Tjie Tong Peng dan Hee-houw Him mengepung bertiga, masih sulit untuk mendjatuhkan dua orang itu, maka bagaimana begitu mudah sadja kau mengatakan hendak menjingkirkan mereka! Tapi biar bagaimana, ada baiknja kau hendak memberikan bantuanmu. Bagaimana sekarang kau hendak berdjalan sendiri atau turut bersama kami?"

“Baiklah aku berdjala sendiri sebagaimana kebiasaanku," sahut In Gak. :,,Aku minta saudara djangan membilangi aku bakal turut, aku hendak bekerdja dengan diam-diam."
Siauw Thian tertawa.
“Djikalau kau tidak membantu, saudara, dapat aku menutup mulut !” katanja; Apakah hiantee kira mereka sernua majat- majat sehingga mereka tidak melihat padamu? “Ah, hiantee, aku ingin bitjara padamu, aku ingin minta sesuatu. Aku rasa kita sudah mengenal baik satu sama lain maka itu, sukakah djikalau kita mengangkat saudara, agar kau rnengakui aku sebagai toako, kakakmu ?"

In Gak tertawa lebar.
aSaudara, walaupun kau tidak mengatakannja, itulah pikiranku !" katanja. „Baiklah, mari kita mengangkat saudara sekarang djuga !"
Pemuda ini lantas memanggil pelajan untuk minta dibelikan hio dan lilin, untuk disitu djuga mereka memasang hio mengangkat saudara seraja minum djuga arak jang ditjampuri darah mereka. Habis itu mereka makan minum terus, setelah puas baru mereka pulang dan tidur,

Besoknja pagi belum terang tanah, Heehouw Him berempat sudah berangkat untuk memenuhi djandji. In Gak berangkat belakangan seorang diri. Ketika ia tiba diluar kota, tjuatja masih gelap dan masih ramai suara sang kodok, disitu tidak ada orang jang berlalu-lintas. Maka leluasalah ia beriari-lari dengan ilmu enteng tubuh, menguntit empat kenalannja itu.

Selagi mendekati kaki bukit Bwee Nia, tjuatja sudah remang-remang dan Siauw Thian berempat terlihat lagi mendaki puntjak. Untuk melombai mereka itu, In Gak mengambil djalan dari samping. Ia pun menggunai ilmu ringan tubuh „Lang Khong Hie Touw," atau „Menjeberang diudara," asal kakinja mendjedjak, tubuhnja lantas melesat djauh, bagaikan melajang.

Bukit dipanggil Bwee nia, bukit bunga atau buah bwee„ tetapi disana tidak ada pohon bwee, hanja pohon bambu dimana-mana bagaikan rimba besar, daunnja hidjau, memain diantara sampokan angin, suasananja tenang dan njaman.
In Gak sampai terlebih dulu.

Ia mendapatkan sebidang tegalan rumput Iuas kira-kira tigapuluh
Bak. Ia tidak melihat ada orang disitu, lantas ia pergi kebelakang sebuah batu besar, untuk menjembunjikan diri.
Belum lama terlihat datangnja tiga orang, jang gerakannja gesit.
„Merekalah tentu Hong It Taysoe dan Lan Tjong Siang Sat," duga si pemuda.
Hong It bertubuh tinggi tudjuh kaki, djubahnja merah romannja tampan, tjurne sepasang matanja tadjam dan bengis, memain tak hentinja, suatu tanda pendiriannja garnpang berubah. Ia memiara kurnis-djenggot pandjang. Sendiatanja jalah sebatang sian-thung, atau tongkat, jang bergemerlap, jang ditaruh dipunggungnja.

Lan Tjhong Siang-Sat memakai pakaian singsat jang serupa, jang satu beroman djelek dan bengis, mukanja perok, terlihat otot-ototnja jang biru, matanja ketjil tetapi tadjam, hidungnja merah dan bibirnja tebal. Sendjatanja jalah poan-koan-pit. Alatmirip pena Tiongboa, peranti menotok djalan-darah. Tubuh dan tangannja lebih besar daripada kepunjaan kebanjakan orang. Maka In Gak menduga dialah Tjoe Pek Pay. Jang lainnja bermuka bengis, alisnja berdiri, matanja bersinar bengis djuga, hidungrija bengkung, bibirnja sedikit terangkat naik hingga terlihat tegas dua. buah giginja seperti tjaling. Teranglah dia seorang jang litjin, sendjatanja jaitu sebatang golok jang tadjam kedua mukanja.

Setelah menghentikan tindakannja, Hong It melihat kesekitarnja, lantas dia tertawa dan kata „tempat ini indah sekali, sungguh ini terlalu bagus untuk djadi tempat dimana si tua-bangka Hee-houw mengubur dirinja I"
Belum berhenti suara si pendeta, disitu muntjul empat orang lain, jang terus tertawa berkakakan.

Hong It lantas mengenali dua dari tiga kawannja Hee-houw Him itu, jaitu Kian-koen-tjioe Loei Siauw Thian, orang Kang ouw jang sukar dilajani, dan Liang Gie Kiam-kek Tjie Tong Peng, murid kepala dari Heng San Pay. Orang jang ketiga, jang tua dan kate-ketjil serta kurus, ia tidak kenal tetapi ia rnenduga mesti bukan sembarang orang. Melihat mereka itu„ hatinja mendjadi tidak enak sendirinja, sebab meski ia dibantu I.an Tjhong Siang-Sat, ia masih djeri…
Hee-houw Him mengurut djanggutnja dan tertawa. Katanja ,Aku si orang she Hee-houw jang tua datang untuk menetapi djandji, maka itu tolong taysoe memberitahukan, taysoe mempunjai pengadjaran apakah untukku ?".

Sepasang alis pandjang dari Hong It bergerak, dia tertawa dingin.
“Heehouw Sie-tjoe, indah pertanjaan jang scngadja kau mengadjukannja” katanja mendongkol„ ,.Kau sudah tahu tetapi toh kau masih menanja! Duluhari itu benar muridku Gouw Beng bersalah tetapi tidak seharusnja kau menurunkan tangan djahat terhadapnja! Sedang kemarin ini, ketika muridku jang lainnja, Ngay Hoa membawa surat, dan dia datangnja setjara hormat, mengapa kau memusnakan ilmu-silatnja ? Tidakkah keterlaluan ? Apa sekarang kau hendak bilang ?"

Heehouw Him heran, hingga ia melengak. Surat kemarin toh. In Gak jang rnenjerahkannja, Karena ini, ia lantas mau menduga. In Gak itu benar-benar liehay. Ia belum mendjawab, Siauw Thian mendahuluinja.
„Hong It, kau bitjara enak sekali !" katanja tertawa lebar. “Gouw Beng terlalu mengandalkan kau, dia malang-rnelintang di Ouwlam Timur, kedjahatannja telah diketahui umum, djangan kata memangnja dia telah bersalah terhadap saudara Hee-houw, meskipun dia tidak mengganggu, djikalau dia bertemu orang bangsa kami, pasti sukar dia menolong djiwanja. Pula Ngay Hoa, ketika dia menjampaikan suratnja, dia berlaku kurangadjar sekali, rnaka dia diadjar adat oleh seorang sahabatku ! Masih untung dia masih dikasi tinggal hidup ! Kenapa kau masih berlaku galak begini?”

Hong It gusar hingga mukanja mendjadi merah-padam.
„Sudahlah !” menjelak Tjoei Beng Long-koen Khiong Keng dari Lan Tjhong Siang-Sat.
“Urusan hari ini, tidak perduli siapa benar siapa salah, tidak dapat diselesaikan dengan omong belaka, dari itu baiklah kita mengadu tangan sadja, siapa jang menang dialah jang benar. Kami berdua saudara, dari djauh kami datang ke Timur ini, kami ingin beladjar kenal dengan orang-orang gagah dari Tionggoan jang kami kagumi. Setelah sampai disini, dan dini waktu, perlu apa lagi kita main mengadu lidah seperti si orang tidak keruan ?"
„Siapa si orang tidak keruan ?" Siauw Thian membentak, „Kamu sendiri, kamu machluk apa ? Dimataku si orang she Loei tidak ada orang sebangsa kamu !”

Mendengar itu matanja Khiong Keng mentjilak. Memangnja dia beroman djelek dan bengis, sekarang dia nampak menakuti. Dengan menggeraki goloknja lantas dia menjerang Siauw Than.
Kian Koen Tjioe mendapat namanja disebabkan kepandaiannja bersilat dengan tangan kosong. Sebenarnja ia mengerti ilmu pedang hanja djarang sekali ia menggunai sendjata, akan tetapi sekarang melihat golok istimewa dari lawan, ia menghunus djuga pedangnja. Ia tahu, musuh tjuma rnenggertak, maka itu ia menunggu sampai udjung golok hampir mengenai pundaknja, pundak kiri, mendadak ia berkelit kesamping sambil terus membatjok lengan lawan itu.

Tjoei Beng Long-koen bukan sembarang orang, djikalau tidak, tidak nanti namanja mendjadi terkenal, dari itu, meski pedang musuh sangat tjepat, la toh dapat mengelit tangannja itu. Berbareng dengan itu, tangan kirinja menghadjar kedada lawan.
Sambil berseru, kembali Siauw Thian mengegos tubuhnja, membebaskan dadanja dari tindju musuh. Sembari berkelit itu, djuga mernbalas menjerang pula, membabat knarah pinggang.
Khiong Keng terperandjat. Tidak, ia sangka lawannja demikian gesit, Ia lantas menarik mundur tubuhnja, perutnja pun dibikin kempes, tetapi ia terlambat sedikit,
„Bret !” maka robeklah udjung badjunja. Ia mendjadi sangat gusar hingga ia berkaok-kaok, suaranja menjakiti telinga. Dengan sengit ia menjerang, kali ini dengan saling-susul hingga tiga kali, mentjari ketiga tempat berbahaja thiamhoe-hiat, Tjiang boen-hiat, dan khie-hay-hiat. Ia mengeluarkan ilmu silat goloknja jang ia telah latih untuk banjak tahun, Itu pula ilmu golok jang membuatnja mendapat nama besar.

Melihat ia didesak, Siauw Thian main mundur. Ia djuga mendjadi gusar sekali. Habis mundur itu, ia membalas menjerang. Ia mengeluarkan ilmu goloknja, Kioe Kiong Pat-kwa, jang terdiri dari duapuluh delapan djurus.
Demikian mereka bertempur, hingga sebentar sadja sudah melalui tigapuluh djurus.
Khiong Keng mendjadi habis sabar, segera ia menjerang dengan tipusilat „Djie Long Hang Yauw," atau „Malaikat Dje Long Sin menakluki siluman." Goloknja menjambar kelengan kanan, tjepatnja luar biasa.

Menghadapi serangan berbahaja itu Siauw Thian tidak mundur, bahkan dia mendahului madju, pedangnja meluntjur kelengan lawan. Karena dia madju dari samping, tangan kirinja djuga terus bekerdja, untuk menotok djalan darah hok-kiat.
Tjoe Pek Pay kaget melihat gerakan Siauw Thian ini, tanpa merasa dia berteriak, lantas tubuhnja berlompat madju, niat membantui. Akan tetapi dia terlarnbat, totokan telah mengenai djitu pada sasarannja, tanpa ampun lagi, Khiong Keng roboh terkulai.

Tjoel Beng Long-koen tengah menjerang, sebelah kakinja pun madju, ketika ia disambut Siauw Thian, goloknja jang meluntjur itu terpengaruh pedang Siauw Thian. Selagi madju, ia didahului, tak sempat ia mundur pula atau berlompat kesamping, maka iganja mendjadi kosong, tepat totokan mengenai samping perutnja. Begitu sakit ia merasa, segera tubuhnja djatuh terbanting.

Tjoe Pek Pay tidak madju membantui, untuk mentjegah kawannja bertjelaka. Sekarang ia mengangkat tubuh kawan itu, untuk periksa lukanja.
Khiong Keng mandl peluh pada dahinja, sepasang alisnja dikerutkan, mukanja meringis, tanda menderita kesakitan hebat dan menahannja. Menampak demikian, Pek Pay mendjadi panas hatinja. Dengan sorot mata gusar, ia mengawasi Siauw Thian, sembari tertawa menjeringai, ia kata„Tuan, tanganmu kedjam sekali', maka djikalau aku si orang she Tjoe tidak membikin badanmu terpisah dari kepalamu, nama Lan Tjhong Siang-Sat blarlah tenggelam didasar laut untuk selama lamanja!"

Dimarahi begitu rupa, Siauw Thian sebaliknja tertawa.
„Nama Lan Tjhong Siang-Sat, aku si orang she Loei telah membilangnja siang-siang bahwa sebelumnja belum pernah aku mendengarnja” ia kata tenang. „Maka, djikalau kau tetap barkaok-kaok seperti orang gila, apa-kah kau tidak kuatir nanti orang mentertawainja?"
Selagi kedua orang itu berhadapan, hatinja Siauw-bin Boe- siang Hong It kebat-kebit. Sebelumnja ia memang sudah gentar hati. Sekarang, melihat robohnja Khiong Keng, tahulah ia jang ia tidak mempunjai harapan lagi. Dipihak musuh masih ada Hee houw Him bertiga. Mana dapat ia melajani mereka itu? Maka ia lantas memikir akal.

Tay-lek Koei Ong sendiri telah bangun otot-otot biru gelap di dahinja, hingga mukanja jang djelek dan bengis mendjadi bertambah bengis, sedang dari mulutnja keluar tertawa edjekan jang menjeramkan jang tak putusnja. Ia meletaki tubuh Khiong Keng, terus ia berdiri, tangannja sudah lantas memegang sepasang sendjatanja jang mendjadi alat penotok djalandarah: poankoan-pit.
“Oleh karena tuan tidak memandang mata kepada aku si orang she Tjoe," .katanja dingin, „marilah kita mengambil keputusan dengan tangan kita, untuk menetapkan siapa tinggi dan siapa rendah”

Siauw Thian hendak menjambut tantangan itu ketika Oh-Kah Lam madju seraja berkata: ,Loei Laotee, kau telah menang satu rintasan, tidak ada halangannia untuk kau mengalah kepadaku supaja aku si tua-bangka dapat menggaruk-garuk tanganku jang gatal"
Siauw Thian menurut, sembarl bersenjum, dengan tenang ia mengundurkan diri. la pun merasa, mungkin sulit ia melajani Tjoe Pek Pay, jang mestinja lebih liehay daripada Khiong Keng jang mendjadi adik-angkatnja dia itu.

„Orang tua, kau siapa?" Pek Pay membentak rnelihat orang madju dengan tangan kosong. „Kenapa kau tidak menghunus sendjatamu?"
Oh-Kah Lam, si malaikat Kah Lam Ya Kate, tertawa geli tetapi nadanja dingin.
„Aku si orang tua she Tjoei bernama Tjian," sahutnja tawar, “sudah sepuluh tahun belum pernah aku bertempur dengan menggunai sendjata. Maka biarlah dengan tangan kosong ini aku melajani sepasang pitmu itu !"

Tjoe Pek Pay tertawa terbahak.
„Aku tidak pertjaja, orang tua, tanganmu lebih liehay daripada tanganku!" teriaknja dan terus dia menjimpan sendjatanja, setelah mana ia bersiap menanti, katanja: „Kita menggunai tangan kosong melawan langan kosong, djikalau didalam tigapuluh djurus aku tidak dapat mengalahkan kau, aku si orang she Tjoe akan ngelojor pergi !”
“Bagus!" menjambut Tjoei Tjian. sembari terus ia madju menjerang dengan kedua tangannja.
Tjoe Pek Pay tidak mundur, dia menjambut serangan itu. Dia telah mengarahkan tenaganja, maka kesudahannja, penjerangnja kena dibikin terpental mundur tiga tindak.

Tjoei Tjian, di sebut djuga Sun It Kies orang aneh nomor satu dari gunung Tay San, gerakannja lintjah bagaikan ular litjin, untuk di-tenggara ialah djago nomor satu, biasanja ia bangga sekali akan dirinja sendiri, maka itu, kali ini ia kena dibikin terpental mundur, murkanja bukan buatan, hingga bangkitlah kumisnja jang ubanan. Segera ia madju pula, kembali dengan kedua tangannja jang nampak mirip sepasang ular. Kedua tangan itu mentjari djalan darah.

Pek Pay heran melihat orang sudah-terpental mundur tanpa kurang suatu apa, karena ini, ia tidak mau berlaku sembrono. Lantas ia melajani dengan ilmusilatnja, jang diberi nama „Sam Poan Im Yang Tjiang," atau Tangan Imyang, jang biasa dikeluarkan tiga kali beruntun, menjerangnja keatas, tengah dan bawah, datangnja kedua tangan saling susul, tak ketentuan jang mana terlebih dulu.

Oh Kah Lam melajani terus, dengan begitu mereka setanding sekali.
Liang Gie Kiam-kek menonton pertandingan sambil memasang mata terhadap Hong It Taysoe, ia melihat pendeta itu mengawasi pertempuran dengan matanja terus memain dan wadjahnla suram lantas ia rnenghampirkan.
„Hong It Taysoe," sapanja, tertawa, „djandji pertemuan ini di selenggarakan oleh aku, sekarang kau berdiri menganggur sadja„ aku pikir baiklah kita pun madju ke gelanggang untuk main-main!”

“Apakah kau kira aku takut kamu dari Heng San Pay?” kata Hong It dalam hati. Ia terus tertawa dan mendjawab: “Tjie Sie-tjoe hendak member peladjaran, tidak dapat aku si paderi tua menampik, hanja karena kita berdua tidak bermusuhan, bagaimana kalau kita main-main hingga hanja saling towel?”

Tjie Tong Peng tertawa. Ia mendjawab: “Aku si orang she Tjie telah mendengar halnja ilmu tongkat Hong Loei Thung hoat jang terdiri dari delapan puluh satu djurus, jang sangat kesohor, maka itu tidak lain maksudku ketjuali untuk meminta pengadjaran ilmu tongkat itu.”
Hong It tahu baik Heng San Pay mempunjai banjak orang pandai, ia tidak ingin menanam bibit permusuhan, maka djuga ia mengeluarkan kata-katanja itu sekarang, setelah memperoleh djawaban, ia kata pula tertawa: “Baiklah!”
Maka itu, lekas djuga mereka bertempur, jang satu memegang tongkat, jang lain menggunai pedang.

Siauw Thian berdiri menonton, sering-sering ia memandang ke sekelilingnja, untuk mentjari Tjia In Gak, jang tentunja telah menjembunjikan diri di dekat-dekat situ. Ia menduga dimana adanja si anak muda, maka seterusnja kesana ia memasang mata.
Di gelanggang pertama, Tjoe Pek Pay lantas mulai bergelisah. Ia merasa sukar untuk lekas-lekas merobohkan lawannja, sedang ia telah omong besar dengan memberi batas waktu. Di pihak lain, ia djuga berkuatir memikirkan luka adik angkatnja, jang tidak ada jang menolongnja. Maka mendadak ia menjerang dengan tipu silat ‘Sam hoan to goat’ atau ‘Tiga kali melihat rembulan’. Dengan tangan kanan ia mentjoba menangkap tangan kiri musuh, dengan tangan kiri ia menotok dua djalan darah yoe-boen dan im-tiam.
Menjaksikan serangan musuh itu, Tjoei Tjian mendjadi girang.

Dua orang ini mempunjai masing-masing keistimewaannja, jalah Tjoei Tjian dengan kelintjahannja dan Pek Pay dengan kekerasannja jang luar biasa, sedang tipu silat ‘Sam hoan to goat’ itu asalnja dari kitab persilatan Sam Poan Mo Keng dari Pek Koet Kauw, partai agama Tulang Putih. Sebab Pek Pay ini ada anggauta partai agama itu. Sjukur Sam Poan Mo Keng tjuma diwariskan kepada murid utama jang kelak diangkat mendjadi tjiangbundjin, ketua, djikalau tidak, pasti Tjoe Pek Pay mendjadi terlebih galak.

Tjoei Tjian itu duluhari, ketika ia berada di puntjak Lok Djit Hong di gunung Tay San, didalam sebuah guha jang ketutupan ojot pohon rotan, telah menemui gambar-gambar ukiran atau sebuah batu besar. Itulah ukiran ‘Leng Tjoa Tjoan sie Tjiang’ atau ‘Gerakan tangan sang ular’. Sajang ukiran itu sudah tidak lengkap, rupanja bekas dirusak orang jang pertama menemuinja. Ia perhatikan itu, ia mejakinkannja: karena gambarnja tidak lengkap, ia menambahnja sendiri. Sekian lama ia mengandalkan sangat ilmu silatnja itu, sampai sekarang ia menghadapi Tjoe Pek Pay, lantas ia insaf sendiri bahwa ia masih banjak kekurangannja. Saban-sanban ia terantjam bahaja. Demikian kali ini, ia tidak takut tetapi ia menghadapi bahaja.

Bagaikan kilat demikian serangannja Tjoe Pek Pay. Atas itu, Tjoei Tjian menangkis dan membebaskan lengannja dengan kelitjinannja. Mendadak tubuh Pek Pay mentjelat tinggi, melewati kepala orang, hingga sedetik kemudian, ia sudah berada dibelakang musuh, sambil ia terus berseru: „Orang tua she Tjoei, kau terdjebak!" Kata-kata itu dibarengi totokan tangan kiri kepunggung.

Tjoei Tjian kaget bukan main, Ia tidak berdaja melihat orang lompat melewati dirinja, dan hatinja terkesiap mendengar suara orang dibelakangnja itu. Tidak sempat ia memutar tabuh, untuk menangkis, segera ia rnembuang dirinja bergulingan dengan tipu-silat ,,Yan Tjeng Sip-pat Koen" atau „Yan Tjeng bergelimpangan delapanbelas kali."

Atas lolosnja lawan itu, Tjoe Pek Pay tidak mengedjar, sebaliknja dia berlompat kepada Khiong Keng, tubuh siapa ia angkat dengan sebelah tangannja, kemudian dengan tertawa dingin, ia kata: „Sahabat baik, kita ada bagaikan gunung hidjau jang tak berubah dan air jang mangalir tak putusnja, sampai kita ketemu pula dibelakang hari!" Habis itu, dengan membawa saudaranja, ia pergi menghilang diantara pepohonan lebat. Sama sekali ia tidak menjapa atau mengadjak Hong It Taysoe.

Tjoei Tjian berlompat bangun untuk berdiri diam dengan muka putjat. Ia tidak kena dihadjar roboh tetapi rintasan barusan dapat mendjadi tanda bahwa ia telah terkalahkan, maka itu, ia likat sendirinja.

Disana Hong It masih terus melajani Tjie Tong Peng, Tapi, ketika si orang she Tjie melihat Lan Tjhong Siang-Sat mengangkat kaki, ia lompat keluar gelanggang, sembari tertawa ia kata; “tay soe, menurut pikiranku, baiklah kita berhenti sampai disini. Baru-baru ini Hee-houw Piauwtauw: tidak mengetahui Gouw Beng itu murid taysoe, djikalau tidak, pasti dia akan memandang. muka taysoe dan tidak bersikap keras demikian." Habis berkata, ia lantas mengawasi si Pendeta.

Hong It tahu diri, ia dapat menguasai hatinja.
„Heehouw Sietjoe," ia berkataa menghadapi Heehouw Him, „Hari ini kita belum memperoleh keputusan, akan tetapi memandang kepada Tjie Sietjoe, baiklah untuk sementara kita menjudahinja„ Dibelakang hari, susahlah untuk aku mengatakannja sekarang.” Tanpa menanti djawaban, ia memberi hormat pada Tjie Tong Peng, sembari tertawa ia „Sie- tjoe, sampai bertemu pula!"

Hebat pendeta ini, habis berkata, ia mengibaskan tangannja, kedua kakinja mendjedjak tanah, gesit luar biasa, tubuhnja mentjelat tinggi, terapung kearah pepohonan jang lebat. Tapi, ketika tubuhnja mau turun kedalam rimba, disana terdengar djeritan jang keras dan menjajatkan hati.
Tong Peng semua terkedjut mereka lantas lari kerimba, untuk melihatnja. Hong It pun, setibanja ditanah, lari menjusul.

Kapan Tong Peng berlima sampai didalam rimba, dimana ada sebuah batu besar jang mundjul tinggi, maka disisi itu mereka melihat majatnja Lan Tjhong Siang-Sat. Kedua mata Khiong Keng tertutup rapat, ia nampak mati tenang. Matanja Tjoe Pek Pay sebaliknja meletos keluar, mulutnja terbuka dari mulut itu keluar darah segar. Hebat adalah
Dadanja, dimana bertapak lima djari tangan, tapaknja dalam, dan dari kelima tapak itu keluar darah hidup. Mengerikan akan melihat majat itu.
„Eh, apakah itu?" Tjoei Tjian berseru kaget.

Diatas batu besar itu ada ukiran beberapa baris huruf„ ukirannja dalam. Orang semua mendekati, untuk membatja:
“Selama jang belakangan ini, perbuatan Lan Tjhong Siang-Sat sangat kedjam, mereka sukar dapat ampun. Maka itu kali ini, untuk jang kedua kali aku memuntjulkan diri, aku mewakilkan Thian mendjalankan keadilan, Tapi Hong It, dia keliru. Dialah orang beribadat, tidak. seharusnja dia sembarang mernpertjajai mulut orang dan karenanja mentjiptakan permusuhan hebat. Dia pun memangnja tersohor busuk. Tapi kali ini, karena ditempat ini tidak barbuat djahat lagi, suka aku memberi ampun, suka aku melepaskan dia! Tapi ingat, aku larang dia memusuhkan pula Hee houw Him! .Djikalau tidak maka kuil Tay Pie Sie di Soetjoan Selatan bakal aku bikin mendjadi puing !"
Dibawah ada tanda-tandanja si tukang air; Twie-Hoen Poan Tjia Boen.

Begitu melihat surat luar biasa itu serta nama pengukirnja, Hong It Taysoe lantas putjat mukanja dan berlalu dengan tjepat, menghilang didalam hutan bambu.
Siauw Thian tidak merasa aneh, ia menduga kepada Tjia In Gak. Hanja diam-diam ia memudji ketjerdikannja itu adik-angkat. Pasti telah diatur, disaat kepergiannja Hong It, baru saudara itu turun tangan, untuk membikin si pendeta mendapat lihat kesudahannja dan serta ukiran diatas batu itu.

„Kera tua.” ia kata pada Hee houw Him, „mulai hari ini bolehlah kau tidur dengan tenang dan njenjak! Dengan adanja Twie Hoen Poan sebagai tulang punggungmu, pintu piauwkiokmu bolehlah tak usah dikuntjj lagi, boleh kau dengan aman dan selamat melandjuti usahamu !"
Akan tetapi To Pek Sin Wan menghela napas.
„Djikalau hari ini bukannja kau jang merampas kemenangan pertama, saudara Loei, hingga musuh kena dipengaruhi semangatnja," ia berkata, „tidak nanti Hong It mau mengundurkan diri, hingga tak usahlah ia mengeluarkan kepandaiannja Im Hong Touw Koet Tjiang, Tangan Angin Djahatnja itu. Memang muntjulnja Twie Hoen Poan Tjia Boen ada baiknja, ia membuatnja Lan Tjhong Siang-Sat tidak dapat datang pula. Hanja aku merasa heran. Kabarnja Tjia Boen telah menemui adjalnja di gunung Boe Kong San, adakah itu kabar angin belaka?"

„Siapa membilang Tjia Boen sudah meninggal dunia?" Siauw Thian tertawa , “Khabar angin itu aku tidak pertjaja! Ada orang luar biasa mesti ada peristiwanja jang luar biasa djuga! Dengan muntjulnja dia maka kelak kita bakal menjaksikan pertundjukan-pertundjukan jang menarik hati!"
Liang Gin Kiam-kek Tjie Tong Peng sebaliknja masgul.
„Tidak salah" katanja. „Pula Heng San Pay bakal terbetot arus mata air. Ketika terdjadi pengerejokan terhadap Twie Haan Poan, partaiku tidak. turut mengambil bagian, hanja kedjadiannja itu diwilajah propinsi Ouwlam,
Twie Hoen Poan bangsa keras kepala, asal dia mentjurigai partaiku, sudah pasti sukar untuk pihakku membuka mulut."

Siauw Thian tidak memperdulikan kesulitan orang itu, ia terus tertawa.
„Ada urusan apa djuga, sebentarlah di piauwkiok kita membitjarakannja," kata Oh Kah Lam jang semendjak tadi membungkam sadja.
Maka keempat kawan itu lantas turun gunung berdjalan pulang.

Setibanja dipiauwkiok, hal utama jang Siauw Thian lakukan jalah segera mentjari In Gak, ketika ia sampai dikamar tulis, ia melihat si anak muda lagi mentjolet-tjolet pitnja pada bak-hie, untuk rnenuliskan lian untuk Lie Tay Beng. Menampak datangnja orang, ia menunda untuk berbangkit dan tertawa.
„Toako, hari ini kau banjak mengeluarkan tenaga!" sambutnja.
Klan Koen Tjioe mengawasi tadjam.
„Sudah, hiantee, didepan mataku djangan kau berpura-pura!" sahutnja. ,,Perbuatanmu hari ini membuktikan kau tjerdik sekali, perbuatanmu sangat bagus! Sudah beberapa puluh tahun aku hidup dalam dunia Kang-ouw, aku pun merasa aku tjerdik, tetapi aku roboh ditanganmu! Saudara, aku sangat mengagumi kau. Aku pertjaja. asal kau menjelenggarakan tipuku itu, dengan sebuah batu mendapatkan banjak burung, mesti bakal timbul keruwetan dalam dunia Rimba Persilatan. Tapi saudara, besok aku bakal berangkat pergi, ada sesuatu jang hendak aku urus, bagaimana dengan kau: kau hendak menemani aku atau ingin berdiam terus dulu disini!”

In Gak menggeleng kepala.
„Tidak dapat aku turut kau besok,"' katanja. „Asal aku pergi, orang akan .mentjurigai aku. Toako boleh berangkat lebib dulu, setengah bulan kemudian, aku nanti menjusul. Aku boleh mengadjukan alasan memohon tjuti. Toako sebutkan sadja dimana kau bakal berada, satu hari sebetum hari raja Toan Ngo pasti aku datang padamu."
Loei Siauw Thian mengangguk.- „Itu bagus," sahutnja. „Baiklah, satu hari sebelum Toan Ngo, kita nanti bertemu di Louw Kauw Kio, sebelumnja bertemu tidak dapat kita berpisahan!"
Dengan kesetudjuan ini, Siauw Thian mengundurkan dirj.
Habis menulis lian, In Gak Iihat hari mendekati tengah hari, maka ia lantas pergi keluar akan menemui semua orang.

Di ruang tetamu hadir banjak orang, ramai pembitjaraan mereka. Ada datang pemimpin serta piauwsoe-piauwsoe dari delapan piauwkiok dikota Lam-tjiang itu, mereka sudah lantas mendengar peristiwa diatas buki Bwee Nia itu, lantas mereka ingin mendengarnja terlebih tegas. Repot tuan rumah melajani mereka. Selang satu djam, baru mereka bubaran.

Sesudah ruang mendjadi sepi, tuan rumah menjuiruh menjediakan barang hidangan.
Tengah bersantap, mendadak Tjje Tong Peng menghadapi In Gak dan kata sambil tertawa:. „Tjia Sinshe, aku tahu benar peristiwa tadi tentulah kau telah melihatnja sendiri! Aneh, mengapa kau pandai sekali menjembunjikan dirimu?"
In Gak tertawa.
„Aku pertjaja tuan-tuan telah melihat aku," "katanja, „tetapi tentang diriku, maaf, ada kesulitannja untuk aku mendjelaskan. Kepandaianku tidak berarti, aku kalah djauh dari tuan-tuan, maka aku pikir baiklah aku menjembunjikan diriku. Tentang peristiwa tadi, bukan sadja aku melihatnja semua dengan tegas, bahkan aku menjaksikan djuga bagaimana Twie-Hoen-Poan Tjia Boen tengah menghadjar Tay Lek Koei Ong Tjie Pek Pay, „sajang aku terpisah djauh, hingga aku tidak dapat mendengar pernbitjaraan mereka."

In Gak lantas melukiskan pakaian dan potongan tubuhnja Tjia Boen. Tentu sadja itulah karangan belaka, tetapi itulah tepat, karena orang jalah ajahnja sendiri, tentu sekali ia mengenalnja dengan baik.
Semua orang disitu pertjaja keterangan itu ketjuali Siauw Thian tetapi ini kakak-angkat bahkan sengadja berlagak heran dan kagum.
„Tjia Laotee," Tjoei Thian tanja, akau pandai silat, sebenarnja kau dari partai mana?"
„Tidak ada partaiku," sahut. In Gak menggeleng kepala.
Oh Ka Lam mengerutkan alis.
„Mana ada silat tanpa partainja?" katanja. „Kau tidak sudi bitjara, laotee, mungkin kau tidak melihat mata padaku?"
“Memang benar tidak ada partainja.;" In Gak tertawa „Djikalau lootjianpwee tetap tidak pertjaja, baik disebut Boe Kek Pay sadja.'
„Boe Kek Pay?" 'katanja. „Sudah enampuluh-lima tahun umurku, belum pernah aku mendengar nama partai itu! Sudah. tidak perduli apa djuga, sebentar habis bersantap, Aku minta kau bersilat barang satu-dua djurus!"

In Gak menggeleng kepala puIa.
. „Kebisaanku tidak herarti, apa jang dapat dilihat? Daripada membikin malu diri sendiri,lebih baik aku tidak memberi pertundjukan akan keburukanku," Ia berhenti sedjenak „Hanja sekarang ingin aku memberitahukan Heehouw Loo-piauwtauw, lagi setengah bulan, ingin aku minta tjuti setengah tahun, untuk aku pergi ke Utara. untuk menjambangi sanakku disana. Nanti bulan sebelas aku akan kembali. Selama ini setengah tahun, akan aku adjarkan apa jang aku bisa kepada kedua putera dan puteri Loopiauwtauw."

Heehouw Him girang sekali.
„Inilah jang aku minta pun tidak berani!" katanja. Lantas ia perintah memanggil kedua anaknja, mereka itu memberi hormat sambil menghaturkan terima kasih.
Kedua anak itu girang sekall, lantas mereka tarik tangan guru mereka untuk diadjak pergi ke belakang.
Besoknja.Tjie Tong Peng pamitan untuk pulang ke Heng San dan Tjoei Tjian untuk pergi ke Tjauw Ouw di An-hoei akan mendjenguk sahabatnja, sedang Loei Siauw Thian berangkat ke Utara. Demikian mereka berpisahan.

Mulai itu waktu, Tjia In Gak mengadjari kedua murid ilmu silat, dua rupa kepandaian jang dinamakan ,,Pek Wan Tjiang," jaitu Tangan Kera Putih, dan ‘Pat kioe Lenglong Tjioe," Tangan Lintjah. Untuk sementara, peladjaran surat dihentikan dulu. Kedua anak itu berbakat balk dan radjin, selama setengah bulan itu, mereka sudah mendapatkan kira tudjuh bagian. Kedua peladjaran ini, jang diberikan In Gak, beda hasilnja dari peladjaran oleh guru silat jang kebanjakan.

Lie Tay Beng djuga diwariskan ilmu silat „Thay Khek Tjiang."
Piauwsoe ini menghela napas, katanja: „Laotee, sungguh aku tidak sangka kau pandai silat, hingga aku, jang sering merantau, tidak dapat melihat kau! Aku malu .."
Kemudian tiba saat keberangkatannja In Gak. Tiga hari dimuka ia telah didjamu. Pesta dihadiri semua piauwsoe dan pegawai piauwkiok. Ia merasakan hangatnja pesta perpisahan itu. ia dibekali uang tigaratus tail, la menampik, tetapi Heehouw Him memaksa, katanja: „Kau tahu, hiantee, perdjalanan mernbutuhkan uang. Pula. kau harus ketahui, uang satu boen bisa rnembikin matinja seorang gagah sedjati. Kita toh tidak nanti suka berlaku sebagai si kurtjatji Djalan Hitam, untuk pergi mentjuri? Persahabatan kita bukan persahabatan biasa, maka itu, djangan kau tolak uang tidak berarti ini."

In Gak tidak dapat menampik terus, ia mengutjap terima kasih.
Heehouw Him bersama kedua anaknja dan Lie Tay Beng mengantar djauhnja tigappuluh lie, lalu mereka berpisahan dengan perasaan amat berat.

In Gak melakukan perdjalanannja dengan tetap rnenunggang kuda jang ia rampas dari Bwee Nia, ia ketarik dengan telaga See Ouw, maka itu, menudju ke propinsi Tjiatkang. Dihari kedua ia tiba diketjamatan Kangsan dalam wilajah propinsi itu. Ketika itu sudah djam dua, kota sudah sepi. Djarang orang berlalu-lintas diluaran. Maka tindakan kaki kudanja menerbitkan suara taktok taktok diatas batu hidjau. Ia mendapatkan hotel didepan restoran Soe San Tjoen dimana masih terdapat orang bersantap dengan ramai, maka habis mengambil kamar dan tjutji muka, ia pergi ke restoran itu untuk memesan barang makanan.

la duduk di medja jang menghadapi djalan besar. Disitu ada belasan tetamu lainnja, jang datang terlebih dulu. Merekalah jang tengah berpesta itu.
Tidak lama datang lagi delapan tetamu, jang romannja bengis. Mereka memilih medja, lantas satu. diantaranja mengeprak-ngeprak medja meminta arak dan makanannja, hingga repotlah si pelajann jang rnenteriaki kawannja lekas membawa arak dan barang makanan jang diminta itu.

Diam-diam In Gak memperhatikan orang jang rupanja mendjadi kepala, jang lantas berkata dengan keras: „Aku tidak sangka aku si Yoe Sam Hoo kena dibikin mendongkol ini hari..”
„Sudahlah, Yoe Toako," kata seseorang. „Djangan karena wanita kau bentrok dengan Kim-hoa Sam Kiat. Kau tahu sendiri, tiga djago Kim-hoa bertulang punggung Kian Koen-Tjioe Loei Siauw Thian. Kita semua tidak dapat bertahan sekalipun lima djurus melawan dia itu
„Tjie Loo-sam, kau bitjara menjebalkan," kata seseorang lainnja lagi. „Bukankah ada dibilang, siapa tidak dapat menuntutbalas dia bukannja seorang koentjoe? Untuk apa dan kita mengangkat nama? Biarnja Loei Siauw Thian liehay, aku tidak pertjaja dia selihay apa jang kau katakan Yoe Toako mahir ilmunja keras dan lunak, kenapa dia. mesti djeri terhadap Kim-hoa Sam Kiat? Mari kita bakar sarangnja!"

Mendengar kakak-angkatnja ada di Kim-hoa, girang In Gak.Maka ia menjesal jang ia tidak segera sampai dikota itu. Tapi ia belum ketahui duduknja perkara Yoe Sam Hoo ini. Maka sembari dahar, diam-diam ia memasang telinga.

„Gouw Laotee, tidak dapat kita bitjara seperti katamu ini," kata Sam Ho. ,.Kau ketahui sendiri, tidak sudi aku diperrnainkan orang. Memang, mulanja jalah adah pihak kita. Pada tudjuh hari jang lalu beberapa wanita lewat didepan rumah kita. Kim In, adik angkatku, melihat seorang nona tjantik, dia lantas mengatakan beberapa kata-kata sambil lalu. Nona itu tidak senang, dia menegur. Adikku tidak gusar, dia bahkan mendekati si nona, memainkan tangan dan kakinja. Diluar dugaan, nona itu liehay. Adik Kim In diserang roboh dan diperhina. Ketika mau mengangkat kaki, nona itu masuk ke dalam rumah dan mengambil benderaku, bendera jang bersulam burung walet emas, sambil menjatakan, untuk mengambil pulang itu, tjarilah dia di Sam Eng Piauwkiok di Kim hoa. Ketika itu aku tidak ada dirumah, djikalau tidak, tidak nanti aku membiarkan mereka pergi dengan begitu sadia. Bendera itu bendera partai, mana bisa itu dibiarkan lenjap? Kalau nanti paytjoe menjalahkannja sungguh hebat akibatnjar Karena itu aku mengutus Tjie Loo-sam ke Kim-boa, untuk dengan hormat meminta nona itu diserahkan. Kim-hoa Sam Kiat tidak bilang apa-apa, adalah Kian-Koen-Tjioe Loei Siauw Thian jang menolak keras. Dia kata tidak bakal dipulangkan ketjuali saudara Kim In datang sendiri menghaturkan maaf. Kemarin ada orang kita jang kembali dari Kim hoa, dia. membawa omongan katanja Loei Siauw Thian sudah pergi ke Utara, maka hari ini aku minta Tjie Loo-sam pergi ke Kim-hoa, melulu untuk minta pulang bendera, lainnja kita tidak perdulikan lagi. Tjoba pikir, apakah katanja nona itu? Katanja: 'Hmm! Bukankah duluan kau telah datang kemari? Apakah kataku terhadapmu? Suruh si orang she Kim datang kemari untuk berlutut dan mengangguk memohon ampun, baru benderanja aku kasi pulang! Kenapa sekarang kau datang pula? Apakah kau memandang tidak mata pada nona kamu? Untuk mendapat pulang bendera tidaklah begitu mudah! Djikalau si orang she Kim tidak datang sandiri, kau datang sepuluh kali djuga sia-sia belaka! Tjoba pikir, djikalau bendera itu tidak demikian penting dan bersangkut paut dengan diri dan kekajaanku, mana aku mendjadi gusarT'

„Djikalau demikian adanja„ mereka memang terlalu menghina," kata si Gouw. „Saudara Kim telah dirobohkan, maka sekarang, aku pikir, 'kau pergi kepada paytjoe; bilang sadja mereka itu jang mentjari gara-gara, bahwa bendera itu ditjuri mereka."
„Daja itu aku telah pikir djuga," kata Sam Hoo menarik napas. „Tapi itu tidak dapat diambil. Bendera lenjap berarti melanggar satu diantara tiga pantangan besar, Habis, mana bisa aku hilang muka?"

Si Gouw berpikir pula, lalu ia kata: „Aku lihat begini sadja kita bekerdja. Baru beberapa hari jang lalu kita kedatangan dua tetamu jang kosen, jalah jang satu Song Boen Kiam-kek Leng Hoei dari Kong Lay Pay, jang lainnja Tjit-Im-Tjioe Tjek Thian Tjhong, jalah Long see It Pa, djago dari Long-see. Kita gosok mereka itu hingga mereka suka membantu kita. Kim-hoa Sam Kiat orang Siauw Lim Pay, Kong Lay Pay memang membentji Siauw Lim Pay itu, asal ada urusan sedikit sadja, mereka bentrok. Maka itu, mustahil mereka tidak akan kena diogok?"

Yoe Sam Hoo setudju.
„Djikalau mereka berdua dapat turun tangan, itulah bagus !" katanja. „Kita tidak perIu meperdulikan lagi Loei Siauw Thian ada di Kim-hoa atau tidak.Saudara Gouw, baik, mari kita bekerdja menurut saranmu ini!"
Sampai disitu, mereka lantas bersantap.
In Gak sendiri menjesal mendengar Slauw Thian sudah berangkat ke Utara. Tapi mengenai keputusannja. Yoe Sam Hoo, ia pikir, baiklah mereka itu mengatjau. Ia lantas membajar uang makan, terus ia pulang ke hotel. Pelajan menjambutnja dengan manis, menjediakan teh, lalu menanja, ia perlu apa lagi.

„Aku numpang tanja, Yoe Sam Hoo itu orang apa?"
Pelajan itu terkedjut.
„Kau orang pelantjongan, tuan, kenapa kau ketahui nama Yoe Toaya?" tanjanja,
„Djangan takut," In Gak menghibur. „Tadi aku melihat di-rumah makan lagi menjebut-njebut dirinja. Aku menduga dia orang berkenamaan, maka itu aku menanjakan kau."
Lega hati si pelajan. Tadinja is menjangka pemuda ini bentrok dengan Sam Hoo. la tertawa dan kata: „Aku kira ada urusan apa tuan menanjakan Yoe Toaya. Dialah to-tijoe, kepala tjabang di Kang-san ini, dari partai Ngo Yan Pay dari Tjiatkang Barat. Dia banjak orangnja, biasa dia mengganggu penduduk baik-baik atau memeras kaum pedagang. Umpama hotel kami ini, setiap bulan kami haru membajar tjukai sepuluh tail perak."

Mata In Gak bersinar, hingga si pelajan terkedjut. Melihat orang takut, ia tertawa dan kata: „Belum pernah aku dengar halnja Ngo Yan Pay itu, Siapakah kepalanja? Dia tentu orang liehay sekali…”
„Tuan, aku tidak tahu djelas tentang partai itu. Tidak heran tuan tidak tahu sebab tuan adalah seorang peladjar. Paytjoe dart Ngo Yan Pay jaitu Kim-Eng Pat-Kiam Loo Boen Kee, tinggalnja di Tjeng Ouw San-tjhung. Belum pernah aku melihat dia. Bahkan katanja, orang partainja pun sedikit jang pernah melihatnja."
„Tjeng Ouw?" tanja In Gak, berpura-pura. „Apakah itu sebuah telaga, jang indah ?"
„Kau keliru, tuan! Tjeng-Ouw itu sebuah dusun duapuluh lie lebih diselatan kota ini, penduduknja beberapa ratus keluarga. Tjeng Ouw San-tjhung itu terpernah disisi gunung."
In Gak tertawa.
„Ah., aku kira dia telaga mirip dengan See Ouw jang kesohor di Hangtjioe!" katanja. „Nah, pergilah kau beristirahat!"
Pelajan itu menjahuti ja dan Iantas mengundurkan diri.

In Gak merebahkan dirinja, untuk beristirahat, tetapi pada djam tiga, ia berbangkit untuk berdandan, setelah membuka djendela, ia berlompat keluar, untuk terus lompat naik keatas genteng berlari-lari keselatan. Tidak lama tibalah ia di Tjeng Ouw San-tjhung. Sebelum memasuki batas, ia melihat kelilingan dulu, kuatir ada pendjagaan. la belum berpengalaman tetapi telah luas pengetahuannia. Ia tabu, pusat partai biasanja terdjaga keras, orang luar tak dapat lantjang memasukinja. Baru setelah memeriksa ia lompat naik keatas tembok, untuk dari sana lompat ke dalarn pekarangan. Paling dulu ia naik atas sebuah pohon besar didalam kebun.

“Siapa?" tiba-tiba ia mendengar suara dalam. la kaget, ia berdiam.
„Ah, Lao Ouw" kau. melihat memedi!." kata seorang lain.
„Hmm,.Siapa. bilang memedi? Aku melihat tegas satu bajangan lompat ke pohon !."
„Itulah .burung malam! Djangan takut tidak karuan! Selain sudah malam, djuga siapa berani datang kemari untuk menggodai harimau? Kau tentu salah mata !”
In Gak terus berdiam, matanja dipasang. la mendapatkan pekarangan sangat Iuas, banjak pepohonannja. Rumah atau sekumpulan rumah, berada disisi bukit. Dari sana mensorot belasan tjahaja api.

Setelah mernperhatikan sekian lama, pemuda ini memetik tiga bidji buah, terus ia lompat ke puntjak gunung-gunungan, Sengadja ia mengasi dengar sedikit suara, guna memantjing muntjulnja ketiga pendjaga tadi, tepat mereka baru memperlihatkan diri, mereka ditimpuk dibikin pingsan. Maka leluasalah ia menghampirkan rumah, untuk lompat naik ketasnja. Ia melewati beberapa wuwungan. Dirumah dimana ia mendengar suara orang,disitu ia mententjari pajon, untuk menggelantungan, untuk mengintai kedalam djendela.

„Tjoe Tjindjin," terdengar seorang, „rupanja benar Twie Hoen-Poan Tjia Boen tidak mati. Lan Tjhong Siang-Sat demikian liehay, mustahil mereka mati tak berdaja? Maka itu, kau haruslah berhati-hati. Aku sendiri, aku Lo Boen Kee, aku tidak takut, sebab aku tidak bermusuh dengannja, tidak djuga Ngo Yan Pay. Kau lain. Kau telah bekerdja sama Boe-shia Sam Pa menurunkan tangan djahat di Pa-tong, ikut membinaakan kawannja Tjia Boen itu dengan ratjun. Dari tiga djago dari Boe-shia itu, dua binasa dan satu luka, kau sendiri lolos, maka tentulah kau sangat dibentji. Sekarang dia muntjul pula, pasti dia mendjadi terlebih liehay. Maka baiklah kau pulang ke Tong Pek San, untuk mengekang diri."

„Lo Paytjae, kau baik hati,inilah aku tahu," kata seorang lain. „Sudah limabelas tahun aku menjekap diri mejakinkan kepandaianku, maka aku pertjaja, meski aku tidak bisa melawan Tjia Boen, umpamakata aku bertemu dengannja, pasti aku dapat menjingkirkan diriku. Baiklah kau ingat, muntjulnja Tjia Boen ini baru kabar angin sadja!” Dan lantas dia tertawa terbahak-bahak.

„Hebat warta dalam dunia Kang-ouw," pikir In Gak „Demikianlah tjepat warta tersiar." Ia tidak ingat, kedjadian sudah setengah bulan jang lalu, sedang dalam dunia Kang-ouw, berita dapat teruwar luas dalam hanja dua-tiga hari.
Lantas In Gak membasahkan kertas djendela, untuk melihat kedalam. la mendapatkan dua orang duduk di.atas pembaringan. Tak sulit membedakan Lo Boen Kee dan Tjoe Tjindjin. Boen Kee bertubuh besar dan kekar. Si imam bermuka pandjang dan kurus, sepasang matanja tjelong, hidungnja bengkung, bibir dan djanggutnja berkumis-berdjenggot.

In Gak mengertak gigi mangetahui Tjoe Tjindjin ini salah satu pengepung ajahnja. Ia lantas memikir tindakan apa ia mesti ambil untuk membuat pembalasan, untuk sekalian menambah menggemparkan dunia Kangouw. la masih membekal sebidji buah, maka lantas menimpuk kedalam, habis mana ia berlompat turun, Ia brsembunji dibelakang sebuah pohon.
Tepat timpukan itu, Api didalam padam. Segera terlihat dua bajangan berlompat keluar.
„Siapa berani main gila di Tjeng Ouw San-tjhung dari Ngo Yan Pay?" demikian Lo Boen Kee menegur. Dialah jang muntjul serta disusul Tjoe Tjindjin, sahabatnja itu. Dia lantas mengawasi tadjam kesekitarnja. Tapi dia tidak melihat apa-apa, hingga dia mulai merasa heran. Djusteru dia mendengar djeritan dibelakangnja, hingga dia mendjadi kaget. Lima tombak dibelakangnja. itu, dia mendapatkan Tjoe djin rebah rna.ndi darah, dadanja: berlobang lima , luka itu mirip dengan lukanja Taylek Koei-Ong Tjoe Pek Pay. Bukan main kagetnja, hatinja sampai berdebaran.

Djeritan Tjoe Tjindjin terdengar oleh pelbagai pendjaga, mereka datang merubung, begitupun orang-orang dari dalam rumah. Mereka semua tertjengang, hati mereka tjiut sendiri. Tetapi kemudian, mereka berbisik menduga-duga.
„Baik kita tjari si pembunuh," seorang mengusulkan.
„Pertjuma," Boen Kee mandjawab. ,Peraturan ini dilakukan Tayhiap Tjia Boen. Dia tidak bermusuh denganku, untuk apa mengedjarnja? Baiklah kita mengasi kabar sadja pada murid-muridnja, dan terserah kepada mereka, mereka mau menuntut balas atau tidak. Menjesal peristiwa terdjadi disini, mungkin ada orang jang bakal mentjela kita ......"

Sikap Boen Kee ini sikap membela diri. Sebenarnja tidak senang ia bahwa orang datang ke san-tjhungnja tanpa perkenan atau pemberitahuan dan melakukan pembunuhan hebat itu, tetapi ia tidak mau rewel. Diluar dugaan, sikapnja ini telah diterima ketiru oleh pihak Tong Pek San.
In Gak menanti saatnja tepat sekali. Djusteru si imam lewat didekatnja, djusteru ia muntjul dan menjerang dengan totokannja. Tak sempat imam itu menangkis atau berkelit, maka punggungnja berlobang lima, mengeluarkan darah hidup. Dia mendjerit bahna sakitnja, tubuhnja roboh, terus djiwanja melajang. Setelah itu In Gak menghilang, pulang ke hotelnja. Karena ia puas, ia dapat tidur njenjak hingga besoknja ia mendusin sesudah matahari memoloskan sinarnja didjendela kamarnja. Ia lekas dandan dan menangsal perut, lantas ia berangkat ke Kimhoa.

Perdjalanan dari Kangsan ke Kimhoa, djauhnja kira-kira tiga-ratus lie, dilakukan didjalan besar umum jang lebar, jang ramai lalu-lintasnja, hingga tak hentinja terdengar kelenengan kereta-kereta keledai dan kuda. Pula itu waktu dimusim semi bulan ke-tiga, yang-lioe dan bunga tho sedang indahnja. In Gak mengasi kudanja djalan perlahan, mengikuti serombongan kereta piauwkiok jang pulang ngosong, hingga piauwsoe dan pegawai-pegawainja berhati lega, senang mereka memasang omong.

“Lao Tio, pagi ini diwaktu berangkat dari Kangsan, aku mendengar kabar hebat, " berkata satu piauwsoe. „Tadi malam pusat Ngo Yan Pay disana, jaitu Tjeng Ouw San-tjhung, telah dikatjau orang dahsjat sekali, dan katanja Ngo Tok Tjindjin Tjoe Hian Thong dari kuil Soen Yang Koan digunung Tong. Pek San telah dibinasakan musuhnja sedjak tigapuluh tahun jang lampau, jaitu Twie -Hoen-Poan Tjia Boen, Katanja, jang paling lutju, jalah orang tidak tahu bagaimana dia diserangnja, tahu-tahu dia telah kedapatan mati. Peristiwa itu menakutkan Lo Boen Kee. Selama jang belakangan ini, Ngo Yan Pay sangat galak, maka orang heran kenapa Twie Hoen Poan tidak sekalian menjingkirkan dia ........."

,,Kau benar," kata si piauwsoe she Tie, „waktu itu pun aku telah mendengarnja. Mungkin Tjia Tayhiap bertindak menurut rentjananja sendiri, jang kita tidak dapat terka. Jang heran jaitu halnja Tjia Tayhiap sendiri. Menurut katanja pemimpin kita, Tjia Tayhiap sudah mati teraniaja di gunung Boa Kong San tigapuluh tahun jang lalu. Mengapa sekarang dia muntjul pula? Tentang ini baik kita tanjakan nanti setibanja kita dirumah."

Mendengar bahwa Tjoe Tjin-djin jang ia binasakan itu sebenarnja Ngo Tok Tjindjin Tjoe Hian Thong dari Tong Pek San, In Gak rnerasa bahwa perbuatannja itu diluar dugaannja. Memang semasa dipuntjak Bie Lek Hong, ia pernah mendengar ajahnja rnembilangi halnja Ngo Tok Tjindjin sangat djahat dan telengas, Bahwa kurbannja bukan sedikit, bahwa dia biasa membiarkan murid-muridnja mengganas, Djadi kebetulan sekarang ia membinasakannja. Ia merasa tidak puas untuk tjaranja itu membunuh musuh, tetapi karena siasatnja untuk menuntut balas, sebab orang memang djahat, ia dapat melegakan hatinja.
„Mungkinkah mereka ini dari Sam Eng Piauw-kiok di Kim- hoa ia tanja dalam hatinja. Maka ia lantas memandang ke kereta piauwkiok dimana ia melihat sebuah bendera ketjil warna kuning gading, potongannja persegi tiga, ditengah tersulam indah dan mentereng satu huruf „Tjiok" jang didampingi masing-masing sulaman seekor singa dan Garuda. Maka itu, tepatlah dugaannja.

„Hari belum tengah hari, kenapa aka tidak mau mampir sadja?" pikirnja pula pemuda ini. Dan ia lantas mengambil putusan. Begitulah ia larikan kudanja, hingga di waktu magrib tibalah ia dikota itu.

Kim-hoa kota besar dan ramai, terkenal untuk hamnja, jang sama kesohornja dengan babi ham kota Soan-wie di In Lam. Didalam kota In Gak djalankan kudanja perlahan, terus ia singgah di hotel Kong Bouw. Habis membersihkan diri, ia lantas tanja pelajan dimana pernahnja Sam Eng Piauw-Kiok.

“Tidak djauh tuan” sahut si pelajan, “Sekeluarnja dari sini, tuan menudju kekanan, disana ada sebuah kuil Khong Tjoe, didepan itu jalah piauwkiok tersebut. Apakah tuan mentjari orang?”

In Gak mengangguk. Ia lantas minta alat tulis, buat menulis namanja. Dengan membawa itu, ia keluar dari hotel, berdjalan perlahan kearah kanan. Benar, belum ada sehirupan teh ia sudah tiba di depan piauwkiok itu. Empat huruf „Sam Eng Piauw Kiok tertulis dengan air emas', suratnia keren dan bagus. Dimuka itu ada beberapa orang duduk berbitjara dalam rombongan. Ia menghampirkan seorang tua umur limapuluh lebih, sembari memberi hormat, sambil bersenjum ia minta tolong dikabarkan kepada pemimpinnja hal ia mohon bertemu. la meniabut dirinja: „Tjia In Gak dari Tjin Tay Piauw Kiok, Lam. tjiang." la pun menjerahkan kartu namanja,

Orang itu berbangkii dengan tergesa-gesa, dengan hormat ia menjambuti kartjis nama, setelah minta tetamunja suka menanti, tjepat-tjepat ia masuk kedalam.

Tidak lama keluarlah tiga orang, satu diantaranja bertubuh djangkung, mukanja bundar, tahajanja terang, kumis djenggotnja pandjang, matanja tadjam, mulutnja lebar, begitu ia melihat si anak muda, ia tertawa gembira dan berkata: ”Tjia laotee, dari saudara Siauw Thian kami mendengar hal kau pintar dan gagah, kami kagum sekali, maka sungguh kami girang jang kau mengingat kami dan mau datang berkundjung. lnilah suatu kehormatan besar untuk kami!"

Sam Eng Piauw Kiok dikepalai tiga saudara Phang, jang mendjadi murid Siauw Lim Sie. Jang paling tua Kim Tji Sin-Eng Phang Pek Hiong, jang kedua Pok-Thian Tiauw Phang Tiong Kiat, dan jang ketiga Mo ln-Peng Phang Siok Tjoen. Belum satu tahun piauwkiok mereka dibuka, mereka sudah memperoleh nama baik, lalu selama tiga belas tahun hingga sekarang ini, mereka mendapat kemadjuan dan aman-aman sadja.

Mereka ramah-tamah, demikian kali ini mereka menjambut In Giak..
„Tjia Laotee," kata Pek Hiong kemudian, ”Menurut saudara Siauw Thian, kau melihat sendiri Tjia Tayhiap membinasakan Lan Tjhong Siang-Sat, benarkah itu?"

Mukanja In Gak berubah merah.
„Hari itu aku mengintai," sahunja, „aku melihat Tjia Tayhiap membinasakan musuhnja dengan djari tangan Kim Kong Tjie. Mulanja aku tidak tahu siapa Tjia tayhiap, sampai aku melihat surat jang ditinggalkan dibatu."

Pek Hiong mengawasi tadjam, ia berkata lagi: „Baru sadja aku dengar halnja Tjia Tayhiap telah kepropinsi Tjiatkang ini dan tadi malam di Tjeng Ouw San-tjhung ia sudah membinasakan Ngo Tjin Tjindjin Tjoe Hian Tong dari Tong Pek San. Ia benar gagah dan tjerdas, tak ketjewa namanja kesohor. Apakah tentang itu laotee dapat mendengar?“

„Ja, baru tadi ditengah djalan, ketika orang-orang piauwkiok
membitjarakannja," sahut In Gak tertawa. „Aku dengar muntjulnja Tjia Tayhiap, dunia rimba Persilatan bakal mengalami badai!"

Sampai disitu, ketiga tuan rumah mengundang tetamunja bersantap, In Gak tidak dapat menampik, tjuma ia menolak duduk dikursi pertama, katanja ia masih terlalu muda.
Ketika itu dari pintu angin muntjul seorang nonta tjantik jang bertubuh langsing.

Melihat dia, Tiong Kiat kata: „Kebetulan, Nona Lan, Mari aku perkenalkan dengan Tjia Siauw-hiap."
Nona itu mengangguk pada In Gak, lantas dia mengambil tempat duduknja.

In Gak membalas hormat sambil bersenjum. Ia segera merasa, nona ini sangat merdeka, hingga dia bersifat mirip prija. Dari Pek Hiong ia lantas mendapat tahu orang she Nie nama Wan Lan gelar Lo-sat Giok-lie dan pernah le atau ipar dari Siok Tjoen. Karena gelaran orang itu jang berarti Raksasa Kemala, ia mau menduga si nona telengas.

Nona itu lantas menanja iparnja: „Tjiehoe, hari ini Yoe Sam Ho dan si orang she Kim datang atau tidak?"
Ipar ilu menjahuti sambil tertawa: „Ie jang baik, tadi malam Tjia Tayhiap telah main-main ditempat Ngo Yan Pay, mungkin hati mereka rontok, maka itu, mana mereka mau usilan mengurus bendera Kim Yang Leng-kie itu?”
Si nona mendjebi dan berkata: .,Sjukur djikalau mereka tidak datang, djikalau toh mereka datang, mereka mesti berlutut setiap tiga tindak, baru mereka akan dapat pulang benderanja itu!"

„Djikalau itu terdjadi, Nona Lan, pasti plauwkiok kita bakal ditutup!" kata Pek Hiong tertawa.
„He, Phang-sie Sam Eng jang kesohor djeri terhadap Ngo Yan Pay jang ketjil itu?"
Pek Hiong tertawa, dia tidak mendjawab, hanja dia tanja In Gak: „Laotee, mana pauwhokmu?"
„Ditempat penginapan, dihotel Kong Bouw," sahut. si anak muda.
„Ah. Laotee, kau terlalu! Apakah piauwkiok kami tidak tepat menerima kau?"

Lantas tanpa menanti persetudjuan In Gak, ia menjuruh orang pegawainja mengambil pauwhok atau buntalan pakaian tetamunja itu.
In Gak tidak menolak, la malah mengutjap terima kasih. Sementara itu ia heran disitu tjuma ada tiga saudara Phang serta Nona Nie, berempat ia menanja.

„Selama dua bulan ini kami tidak menerima pekerdjaan. Pula semua piauwsoe berdiam diluar piauwkiok, tanpa ada urusan mereka tidak sembarang datang kemari," Tiong Kiat mengasi keterangan, .,Djikalau ada urusan, baru mereka dipanggil."

„Oh, begitu. Aku tadinja mengira disini sama dengan piauw-kiok di Lam-tjiang, semua orang tinggal mendjadi satu."

Tiga saudara Phang bersenjurn. Tapi Pek Hiong lantas nampak bergelisah. In Gak memperhatikan tetapi ia berdiam sadja. Tidak demikian dengan si Nona Lan. Dia tertawa dengan menanja: „Toako, apakah kau berduka karena besok Tjit Sat Tjioe bakal datang menggeretjok? Itulah bukan urusan penting,! Disini ada Tjia Siauwhiap, dengan mudah dia dapat disuruh pergi !”
Kata-kata ini sebenarnja tak manis untuk In Gak.

Nona Nie ini murid Yan San Sin Nie, dia biasa dimandjai gurunja. dia mendjadi besar kepala, tak suka dia mengalah terhadap siapa pun, Pula tabiatnja keras, hingga suka dia berbuat berlebihan. Ini sebabnja kenapa dia segera mendapatkan djulukannja meski belum lama dia terdjun dalam dunia Kang-ouw. Kali ini dia datang ke Kim-hoa ini mendjenguk kakak dan tjiehoenja, lantas dia mendengar Loei Siauw Thian memudji tinggi kepada in Gak, dia mendjadi tidak puas. Setelah melihat si anak muda jang tampan, dia kagum, tetapi karena In Gak agaknja tawar, dia penasaran. Maka sengadja dia berkata demikian.

Ketiga saudara Phang dapat menerka hati si nona, mereka menjesal sebab tak dapat mentjegah itu, mereka masgul. In Gak tjerdas, ia pun dapat menduga, ia bersenjum. Akan tetapi, ketika ia menjapu para hadirin, matanja bersinar hingga mereka itu tak berani mengawasi dia.

„Sebenarnja Tjit Sat Tjioe orang matjam apa?" kemudian si pemuda tanja.
Phang Pek Hiong menghela napas.
„Beginilah biasa dunia Kang-ouw," sahutnja. „Sebenarnja aku tidak suka omong banjak. pada tiga bulan jang lalu tanpa sengadja aku berbitjara dengan mereka itu tentang ilmu silat, lantas kita berselisih pendapat. Saking mendongkol aku menjebutnja mereka bukan dari pihak lurus. Mereka mendjadi tidak senang, lantas mereka menantang. Tjit Sat Tjoe Koet Sin murid seorang pendeta berilmu dari Tjeng Hay, dia lurus berbareng sesat, dia susah dilajani, dari itu aku menjesal karenanja...”

„Toh itu bukannja permusuhan," kata In Gak bersenjum. „Djuga peladjaranku bukan asal lurus, aku tidak menggubris demikian. Mungkin tabiat Koet Sin aneh tetapi aku rasa dia tidak akan perbesar urusan salah paham itu .. .... "
„Kau tidak pertjaja!" njeletuk Nona Lan tertawa dingin, ”Lihatlah besok!"

In Gak heran. Mengapa nona ini seperti mau mengatjau dan menentang ia. Ia toh tidak berbuat sesuatu terhadapnja? Maka ia berkata: „Nona, aku tidak membilang dapat mengalahkan Tjit Sat Tjioe, sebaliknja, kaulah jang mengatakan demikian. Kau telah membikin malu Ngo Yan Pay, kau tentu gagah-perkasa, maka, seperti katamu barusan, kau pasti djuga mudah sadja dapat menghadjar Tjit Sat Tjioe! Aku minta djanganlah kau menjebut-njebut aku"

Wan Lan melengak. Tidak ia sangka orang demikian sabar. Sekarang ia menduga In Gak pasti ketahui segala sepak terdjangnja, maka dia bersikap tawar. Sebenarnja ia menginsafi kekeliruannja tetapi ia biasa membawa adatnja itu, tidak sudi ia mengaku salah. Maka dengan mengambul, ia berbangkit untuk terus masuk kedalam, tak sepatah kata ia utjapkan.

In Gak tidak meladeni, ia tjuma tertawa dingin.
„Maaf, maaf," kata Pek Hiong, jang menjesal dan hatnja tidak tenang. „Demikian memang tabiat ipar kami itu."
Siok Tjoen menjesali iparnja itu, sembari tertawa, ia kata: „Begitulah tabiat iparku, sembrono dan aseran, biasa berbitjara tanpa pikir lagi. Tabiatnja itu djuga jang membikin dia sering bentrok. Sulitnja dia tidak dapat mengubahnja. Saudara Tjia, aku minta sukalah kau memaafkan dia"
„Itulah tidak apa," sahut in Gak, jang lantas dapat bersenjum.
Hati Pek Hiong mendjadi lega.

.,Saudara Tjia," katanja kemudian. „Aku rninta kau suka tinggal beberapa hari dengan kami disini. Bukankah djandjimu dengan saudara Loei di bulan kelima? Sebenarnja aku ingin sekali menerima pelbagai pengadjaran dari kau."

In Gak tertawa, ia menerima tawaran itu. Ia kata: ,.Sekarang ini pun aku tengah pesiar, untuk melihat-iihat tempat-tempat jang kenamaan, tidak ada halangannja untuk aku berdiam disini Iebih lama sedikit. Kau baik sekall, saudara Phang. Terima kasih untuk kebaikanmu ini. Aku tjuma minta djangan sandara terlalu mempertjajai perkataannja saudara Loei itu. Sebenarnja aku tidak mempunjai kepandaian apa-apa, dengan aku diangkat-angkat, aku malu dan hatiku mendjadi tidak senang. Aku kuatir djusteru aku menjebabkan kegagalan.”
Pek Hiong tertawa.
„Kata-katanja Kian Koen Tjioe tidak nanti salah," udjarnja.

Belum berhenti suara Pek Hiong ini, mendadak Tiong Kiat berseru dengan tubuhnja terus berlompat pesat sekali ke tjint-tjhee, dari mana ia berlompat lebih djauh naik keatas genting. Melihat kegesitannja itu, pantas ia didjuluki Pok Thian Tiauw, si Radjawali Menerbangi Langit.

„Sahabat, kau masih tidak mau berdlam?" begitu terdengar bentakan Tiong Kiat itu.
Lalu terdengar suara jang seram: „Kamu tiga saudara Phang, kamu tak tepat menahan aku Gouw Tie dari Thian-Lam Soe Tjiat! Baiklah kau pulang, untuk menjiapkan segala apa, untuk saat adjalnu, supaja besok kamu tak sampai tak keburu !”

Tiong Kiat terperandjat mendengar nama orang itu.
Ketika itu Pek Hiong bersama Siok Tjoen dan In Gak menjusul naik. Pek Hiong pun terkedlut melihat melihat orang jang bitjara dengan saudaranja itu, tapi ia lantas madju kedepan untuk memberi hormat.
,,Kiranja Gouw tongkee dati Thian-Lam." katanja, „Gouw Tongkee, rasanja belum pernah aku si orang she Phang mempunjai urusan dengan kau, maka itu, apakah sekarang tongkee dating untuk urusan lain orang?"
Dengan membahasakan: „tong kee" tuan, Pek Hiong berlaku hormat sekali.

Gouw Tie tertawa dingin.
„Orang sematjam kau mana tepat berurusan dengan aku !." katanja djumawa, ”Atau kalau benar demikian pastilah siang-siang kau sudah pergi menghadap Giam Lo Ong si Radja Acherat. Mana dapat kau hidup sampai sekarang ini? Benar, aku si orang she Giouw datang untuk lain orang! Mulutmu kotor, kau tidak memandang mata kami kaum tidak lurus, dari itu Tjit Sat Tjioe telah mengundangku datang kesini, untuk aku beladjar kenal dengan kamu kaum lurus! Malam ini kebetulan sadja aku Iewat disini, tidak niatku mentjari gara-gara, maka baiklah kita menanti sehingga besok diwaktu mana nanti kamu bisa lihat! Maaf,. tidak dapat aku menemani kamu lama-lama!”

Gouw Tie lantas memberi hormat, terus ia memutar tubuh, untuk berlalu.
,,Perlahan dulu” tiba-tiba keluar suara njaring tetapi halus dari mulut In Gak.
Gouw Tie berpaling dengan tjepat, maka ia melihat si anak muda, seorang peladjar jang tampan, halus gerak-geriknja. Tanpa merasa, dia tertawa:

„Anak, kau hendak bitjara apa?" dia tanja, atjuh tak atjuh.

,Tuan ketjilmu tidak puas melihat ketjongkakanmu ini ” sahut In Gak, sekarang dalam suaranja, ”Sam Eng Piauwkiok bukan tempat dimana datang dan pergi dengan merdeka menurut sesukamu! Kau telah datang, maka kau mesti berdiam disini”
Gouw Tie, jang menjebut diri Thian Lam Soe Tjiat, dlago dari Thian-Lam tertawa berkakak, bukan main djumawanja:
„Botjah, dengan mengandalkan apa kau hendak menahan aku" dia tanja, mengedjek.

In Gak menggeraki kedua tangannja.
„Mengandalkan ini!” djawabnja,
Tiga saudara Phang mendjadi bergelisah. Mereka merasa tetamunja ini tidak tahu selatan.
Gouw Tie tertawa, terbahak pula.

„Botjah!' dia berkata, “Djikalau Giam Lo Ong menetapkan orang mesti dibetot njawanja djam tiga, tak dapat itu ditunda sampai djam lima! Maka djuga kau, jang harus hidup sampai besok, disaat ini kau mentjari mampusmu, djangan kau sesalkan aku kedjam”
Segera djago selatan ini bertindak madju, untuk menjerang dengan tangan jang terkerahkan tenaganja.

Dilihat dari tjaranja bertindak, dia sama sekali tidak memandang mata kepada si anak muda.
Selagi orang berdjumawa itu, In Gak menimpalinja. Atas datangnja serangan, ia tidak berkisar dari tempatnja berdiri, melainkan tangan kanannja jang menjambut dengan djurus ‘Twie San Tian Hay’ atau ‘Mendorong gunung, menguruk laut’. Tangannja itu mendahului membentur dada penjerangnja.

“Buk!” demikian suara tangan beradu dengan dada dan Gouw Tie segera terpental mundur lima tindak. Karena kakinja mengindjak keras, genting petjah beberapa bidji.
Tiga saudara Phang heran hingga mereka melengak.

Gouw Tie kaget tidak terkira, ia merasa sakit dan malu. Dia memandang enteng kepada lawannja, dia menggunai tenaga lima bagian. Dia pertjaja, sebagai akibat serangannja, orang akan rebah setengah bulan diatas pembaringan. Buktinja, dialah, jang metal mundur.
„Binatang, hebat kau !" dia membentak, matanja melotot, „Mari sambut lagi sebelah tanganku!" Dan ia berlompat madju seraja menindju.

In Gak telah mengambil keputusannja. Ia hendak menggemparkan kota Kim-hoa. Tadi ia mendongkol terhadap lagak Wan Lan, sekarang ia djemu melihat ketjongkakan orang she Gouw ini. Maka siang-siang ia telah menutup diri dengan Bie Lek Sin Kang. Sedari ia membuatnja orang terpental, ia mengawasi dengan bersenjum, tubuhnja tak bergeming.
Tiga saudara Phang dapat melihat, kali ini Gouw Tie menjerang dengan djurus Pek Houw Tjiang atau Tangan Harimau putih. Untuk djurus ini orang mundur dulu baru madju. In Gak sebaliknja berdiri tenang. Maka Siok Tjoen lantas berseru: ”Laotee, awas!”

Sementara itu serangannja Gouw Tie sudah tiba kepada sasarannja. In Gak menjambut tindju dengan dengan tenang, baru mendadak ia mengerahkan tenaganja, menolak dengan keras. Tanpa ampun tubuh Gouw Tie terlempar balik dua tombak, roboh menggabruk diatas genting, hingga banjak genting petjah hantjur.

”Aku menjangka Thian Lam Soe Tjiat machluk apa, kiranja tjuma sebegini!” kata In Gak tertawa dingin.
Gouw Tie merajap bangun, kedua tangannja bengkak dan rasanja sangat njeri. Saking malu ia mendjadi gusar sekali. Ia kata dengan sengit: Binatang! Djangan bertingkah! Sajang aku berlaku sembrono hingga aku terpedajakan kau! Djangan kau bergirang, lihat besok, sang mendjangan akan terbinasa ditangan siapa?” Setelah mengumbar kemendongkolannja itu, terus dia berlompat turun untuk ngelojor pergi dengan tjepat.
”Mari” In Gak mengadjak terus ia lompat turun untuk kembali kedalam.

Pek Hiong memberi hormat seraja berkata: „Laotee, baru sekarang mataku terbuka. Benar-benar aku bilang, orang dengan kepandaian sebagai kau sungguh djarang ada didalam Rimba Persilatan djaman sekarang ini!"
Sementara itu Siok Tjoen dalam hatinja masih menjesali Wan Lan jang tjongkak. Ia melihat In Gak halus dan bertubuh lemah, siapa tahu, tenaga-dalamnja mahir sekali.

In Gak bermuka merah, lalu bersenjum.
,Toako, kau terlalu memudji," katanja. „Kau tidak lihat bahwa aku sebenarnja menggunai ke-tjerdikan. Orang she Gouw itu benar waktu dia membilang dia kurang waspada, pertama dia me-mandang enteng padaku, kedua dia tidak menggunai tenaga sepenuhnja. Jang kedua kali, dia terpengaruh kegagalannja, kuda-kudanja tidak terpelihara lagi, maka tjukup aku mcndorong padanja. Pula benar katanja bahwa besok akan terlihat mendjangan terbinasa ditangan siapa."

Tong Kiat tertawa.
”Bitjaramu beralasan, hiantee," katanja. benar bahwa kau sangat merendahkan diri."
In Gak tidak melajani bitjara, ia melainkan tertawa.

Ketika itu, Wan Lan muntjul pula. Tadi dia mendongkol, dia masuk kedalam untuk melempar diri keatas pembaringannja, djadi tidak menjaksikan pertempuran barusan.
Dia mendengar kabar sesudah terlambat. Ketika dia mendengar keterangan Siok Tjoen, tjiehoenja, dia membanting kaki dan kata, menjesal: „Sajang aku tidak tahu,kalau tidak pasti aku bunuh djahanam ini”

Siok Tjoen melibat orang bitjara tanpa menoleh kepada In Gak, ia mengerti ipar ini masih mendongkol. Ia tertawa dan kata: „Ie, kau hebat, sedikit-sedikit bitjara membunuh orang. Kalau nanti kau menikah lalu kau bentrok dengan suamimu, bagaimana, apa kau djuga hendak membunuhnja?"

„Tjiehoe, kau lantjang mulut!" ipar itu menegur, matanja melotot. „Kau tidak menghormati dirimu, awas, nanti aku membilangi entjie!" Benar, dia lantas masuk pula kedalam.

Siok Tjoen dan dua saudaranja tertawa.
Masih mereka bitjara sebentar, sampai In Gak diantar kekamarnja didalam taman.
”Apakah hiantee senang dengan kamar ini?" Pek Hiong tanja.
„Senang, terima kasih," sahut In Gak. Ia melihat kamar terbagi dua, untuk kamar tidur dan kamar tulis, perabotannja lengkap, perawatannja sempurna, Ada pot-pot bunga lan dan koei jang harum baunja serta gambar-gambar lukisan didinding. Pelbagai kitab pun tersedia di medja-tulis, lengkap dengan perabot tulisnja.

Semundurnja ketiga tuan rumah, ia lantas merebahkan diri. Ia tidak dapat lantas pulas, sebaliknja, ia memikirkan pengalamannja semendjak turun gunung. la belum pernah menemui tandingan jang berarti. Lan Tjhong Siang-Sat, Ngo Tok Tjindjin, dan Gouw Tie dari Thian-Lam Soe Tjiat barusan semuanja tersohor, tapi njatanja, kepandaian mereka tidak berarti.

Mengenai Thian Lam Soe Tjiat, selama di Bie Lek Hong, pernah ia mendengar dari gurunja, Beng Liang Taysoe. Mereka itu dari partai Tjhee Liong Pay atau Naga Hidjau di Koei-kim, kedua propinsi Kwiesay dan Koei-tjioe, memangnja mereka kedjam, djikalau turun tangan, tak suka mereka membiarkan musuh hidup. Karena Gouw Tie berkepandaian tjuma sebegitu, ia pertjaja, tiga jang lainnja tentulah tak djauh bedanja.

,Kalau mereka tidak mempunjai kawan lain, jang liehay, pasti pihak kita bakal menang," pikirnja lebih djauh. „Jang hebat adalah Nie Wan Lan, jang tabiatnja keras. Dia murid Yan San Sin Nie. seorang bhiksuni, kenapa tindak-tanduknja menjalahi ibadat Sang Buddha. Kenapa bhiksuni itu dapat murid begini binal? Heran! Aku berdiam disini, baiklah aku mendjauhkan diri dari padanja..”

Setelah itu, baru si pemuda dapat tidur, Ia mendusin besoknja fadjar, beium tjuatia terang, terus ia duduk bersamedhi, untuk melatih tenaga-dalamnja. Tidak lama habis bersamedhi, tiga saudara Phang datang mengundangnja kedepan, untuk bersantap pagi.

Wan Lan muntjul tidak lama kemudian. Dia mengenakan pakaian hidjau tua dengan pinggiran sutera, potongannja ringkas, mukanja memakai pupur dan yantjie tipis. Dia memandang In Gak sambil bersenjum, maka si pemuda membalas bersenjum djuga sambil berkata: ”Selamat pagi, nona!”
Setelah lewat sang malam, kedjadian kemarin seperti telah bujar lenjap.

Sambil sarapan, Pek Hiong berbitjara dari hal pemuda-pemuda jang baru muntjul seperti Siauw-Pek-liong Kat Thian Ho si Naga Putih, Thian-Kong Kiam Tong-hong Giok Koen dan Ouw bin Mo-lek Kiang Tjong Yauw serta seorang nona, Keng Po Sian-tjoe Lo Yauw Bwee. Beberapa tahun dulu mereka itu menggemparkan bagian selatan dan utara dari sungai besar, sedang sekarang, inilah si pemuda she In.
,,Sebaliknja kita, jang sudah berusia landjut, kita tidak berguna lagi”katanja.

In Gak tjuma bersenjum. Sebaliknja Wan Lan, dia mendjebi.
„Apakah artinja segala anak muda!" katanja „Kalau aku bertemu dengan mereka itu, ingin aku tjoba-tjoba!"
Tiga saudara Phang mengerutkan alis, masgul mereka mendengar suara si nona.

Sjukur itu waktu datang empat orang, semuanja piauwsoe jang baru mendengar peristiwa tadi malam. In Gak melihat mereka semua berumur lebih-kurang empat puluh tahun, jang satunja, nampaknja baik tenaga-dalamnja, seperti terlihat pada wadjahnja.

Tiga saudara Phang mengadjar kenal mereka itu pada In Gak. Merekalah Say-oet-tie Lie Eng, Tjo-pek Kim-Too Ouw Siauw Tjeng, Kauw liam-tjhio Lou Tiong Goan, dan Pat-kwa-tjioe Kheng Liang. Mereka agaknja ragu-ragu melihat si pemudalah jang tadi malam mempetjundangi Gouw Tie.

„Tjong-piauwtauw, bagaimana dengan tantangannja Tjit Sat Tjioe ?" Kheng Liang tanja.
"Kita didjandjikan bertemu dilapangan Sio-kauw-thio didalam kota," sahut Pek Hiong. „Sekarang kita mau berangkat."
Benar-benar piauwsoe kepala ini menitah menjiapkan sembilan ekor kuda, maka tak lama ke-mudian, berangkatlah mereka.

Sio-kauw-thio berada disebelah barat kota, lapangannja lebar tetapi bala dan tak terurus, sebab selama negara aman, sudah lama lapangan itu tidak dipakai baris oleh tentara Boan. Ketika mereka sampai, disana tidak ada orang, keadaan sunji. Mereka lantas menambat kuda mereka disisi panggung.
„Djangan-djangan mereka tidak datang," kata Siok Tjoen tertawa. „Tadi malam tentulah hati mereka gentar, lagipula terkabar Twie-Hoen-Poan Tjia Lootjianpwee telah muntjul di Kangsan. Mustahil mereka tidak pergi menjembunjikan diri?"

„Tak mungkin," kata Pek Hiong menggeleng kepala. „Tjit Sat-Tjioe Koet Sin djumawa dan berkepala besar, dia telah mengundang kita, mesti dia mempunjai andalan. Karena Tjia Lootjianpwee bukan kaum lurus, Koet Sin mungkin pertjaja, lootjianpwee tidak akan usil urusannja ini..”
Mendengar perkataan tjongpiauwtauw ini, orang berdiam.
In Gak sendiri memperhatikan lian dipanggung, jang ukirannja banjak jang gugus, hingga suratnja sukar dibatja, ia mengetok-ngetok batu sambil bersenandung.

Wan Lan melihat kelakuan pemuda itu, dia mendjebi dan berkata kepada iparnja: „Lihat, tjiehoe, si kutu buku!"
Siok Tjoen mendelik kepada iparnja itu.

In Gak dapat mendengarsuara si nona, ia tidak mengambil mumat, dengan tetap mengendong tangannja, ia tetap bersenandung, nampaknja ia tenang sekali. Tapi didalam hatinja, ia merasa djemu, kesannja tak manis terhadap si nona.

Orang tidak berdiam lama atau dari mulut lapangan terdengar berisiknja tindakan belasan ekor kuda, maka semuanja menoleh. In Gak segera dapat kenjataan mereka itu berdjumlah duabelas orang, tua dan muda, djangkung dan kate tak tentu.

Seorang jang bertubuh kurus, mukanja putih, matanja besar, kumis-djenggotnja lantjip mirip djenggot kambing gunung, usianja lebih-kurang empatpuluh tahun serta membawa golok Kim san-too, sudah lantas menghampirkan Phang Pek Hiong untuk memberi hormat dan berkata : „Phang Toako, siauwtee Tioe Djin Sian, siauwtee tidak bersangkutan satu apa dengan toako tetapi lantaran toako mengatakan kami bukan dari kaum lurus, sekarang kami mengadjak beberapa kawan jang tak berpartai datang kemari untuk main-main, tjukup asal kita saling towel. Dengan begitu kesatu kita tidak merusak persahabatan dan kedua, supaja toako sekalian dapat melihat kepandaian kami kaum tidak lurus”

Habis berkata dia tertawa, terbahak, suaranja tak sedap untuk telinga.
„Saudara Tjoe," kata Phang Pek Hiong tertawa, „sebenarnja tak usah saudara sampai menge-rahkan banjak orang, sebab pembitjaraan kita itu hari hanja omong iseng-iseng belaka. Tapi karena saudara sudah sampai disini; pertjuma kita bitjara lagi banjak-banjak. Silahkan saudara memberi pengadjaran kepada kami”

Pek Houw Seng-Koen Gouw Tie ada didalam rombongan dengan mata tadjam ia mengawasi In Gak, sinarnja membentji, begitu mendengar suaranja Pek Hiong, ia madjukan diri, mulutnja berkata keras: „Orang she In, tadi malam aku alpa, aku kena digigit andjing tjilik, maka sekarang, suruhlah si andjing ketjil keluar untuk melajani aku si orang she Gouw" Kata-kata itu ditutup dengan dihunusnja pedangnja.

Biar bagaimana, In Gak gusar. la dimaki sebagai andjing ketjil. Tapi belum sempat ia madju, Nona Nie telah mendahului ia. Nona itu sudah lantas mendamprat: „Bangsat tua, sajang tadi malam aku tidak turut hadir, djikalau tidak, tidak nanti kau hidup sampai ini menit! Bangsat djahat sematjammu, hari ini nonamu akan menghadjarnja supaja kau tahu diri!"

Gouw Tie mendongkol tetapi dia tertawa mengedjek. Dia kata:
”Aku si orang she Gouw memperoleh namaku sedjak duapuluhtahun lalu, belum pernah aku menemui nona kurang adjar sematjam kau! Djikalau kau dapat melajani pedangku limapuluh djurus, akan aku meletaki pedangku ini, namaku ditjoret dari dunia Kang-ouw!"

„Hmm! Aku pun belum pernah mendengar namamu!” sahut si nona singkat. Dan ia terus menikam.
Gouw Tie berkelit kesamping, sambil berkelit tangannja menjabet, guna membabat lengan si nona.
Wan Lan tertawa, tangannja segera ditarik pulang, tubuhnja turut bergerak, setelah mana, ia menjerang pula, kali ini dengan tipusilat „Hudjan-angin diseluruh djagat." Pedangnja itu menikam dan menjambar berulang-ulang.

Gouw Tie mendongkol, terpaksa ia main mundur. Ia pun terkedjut. Baru sekarang ia menghadapi musuh begini liehay, orangnja muda dan bahkan seorang nona jang belum hilang bau teteknja. Karena ini, terpaksa ia menggunai ilmu pedangnja ,Pek Houw Sam Tjiat Kiam," ilmu pedang Harimau Putih, untuk mendjaga pamornja.

Demikianlah, dua batang pedang berkilau-kilau, dan dua buah tubuh bergerak-gerak bagaikan bajangan,
Semua orang menonton dengan perhatian, terutama In Gak. Ia melihat Wan Lan tidak sabaran, si nona lantas menggunai ilmu silat ’Mou-nie Hang Mo" atau „Muni menaklukkan siluman,' jang mempunjai duapuluh delapan djurus. Itulah ilmu pedang jang dijakinkan 'Yan San Sin-Nie selama tigapuluh tahun. Wan Lan belum melatih sempurna tetapi sudah mentjapai enam atau tudjuh bagian, maka djuga Gouw Tie lantas terkurung sinar pedang.

,,Nona Nie pasti menang," pikir In Gak, jang terus memperhatikan sebelas orang lainnja, dari jang mana, dua orang menarik perhatiannja. Orang jang satu sudah landjut usianja, tubuhnja tegar, tjuma sedikit melengkung, dia mempunjai mata besar dan hidung gedeh, kumis dan djenggotnja pandjang, pakaiannja hitam. Jang luar biasa jalah tangannja besar sekali. Ia menduga: „Dialah tentu Tjit-Sat-Tjoe Koet Sin." Orang jang lainnja djangkung-kurus, mukanja putih tidak ada kumisnja sepasang matanja tjelong tetapi sinarnja tadjam. Dia selalu nampak bersenjum dan dipunggungnja tergendol sebatang pedang. Ia tidak kenal dia siapa maka ia tiuma menduga, orang tentunja bagus ilmu dalamnja dan litjik sifatnja.

Wan Lan mendengar In Gak gampang sadja merobohkan musuh, ia ingin berbuat begitu djuga. Inilah jang membuat Gouw Tie mengeluh, Dia belum teriuka tetapi badannja berulang-ulang kena ditegur pedang, hingga badju itu mendjai robat-rabit. Pedang si nona pedang Tjioe Song Kiam, Es Musim Rontok," tadjamnja luar biasa, dapat menabas kutung segala matjam sendjata lainnja.

Achir-achirnja Gouw Tie djadi kalap, matanja mendelik, kumisnja seperti bangun berdiri, terus dia mentjoba membalas menjerang hebat, setelah mendesak tiga kali, dia berlompat tinggi, sebelah tangannja diajun, hingga terlihat menjambarnja benda berkilauan.

„Serahkan djiwamu!" Pek Houw Seng-Koen membentak membarengi menjambarnja lima batang Pek-houw-teng, paku Harimau Putih, sendjata rahasia jang djarang sekali digunakan, jang dibuat dari kuningan dan pandjangnja tiga dim. Djuga paku itu dipakaikan ratjun jang bisa meminta djiwa.

Wan Lan melihat Gouw Tie berlompat tinggi, ia kata dalam hatinja: „Kau tjari mampus, ja! Ia lantas menjusul seraja menjerang dengan tipu ’Naga sakti menakluki siluman," membabat kedua kaki lawannja. Tapi ia kaget sekali ketika ia mendengar musuh membentak dan sinar-sinar berkeredepan menjambar kearahnja. Karena tidak sempat berkelit, terpaksa ia menangkis.

„Djangan bentur!" mendadak terdengar teriakan tjegahan.
Menjusul itu, dua-dua Gouw Tie dan Wan Lan tertolak mundur, terpisah lima atau enam tombak satu dari lain, dan batang-batang paku, jang terbabat pedang, runtuh ketanah, menjebabkan laju kuningnja rumput jang terlanggar.

Diantara mereka itu terlihat seorang pendeta dengan tubuh jang tinggi dan besar, jang mukanja bundar dan tampan, jang kumis dan djenggotnja pandjang sampai kedada. Dia sutji bagaikan Sang Buddha. Lantas dia menghadapi Gouw Tie dan berkata sambil bersenjum: „Gouw Sie-tjoe, apakah kau masih mengenali loolap? Dulu hari kita pernah bertemu satu dengan lain, hanja aku tidak menjangka, belum lama lewat atau sekarang sie-tjoe telah melupakan sumpahmu terhadap Touw Liong Kie soe?"

Gouw Tie mundur dengan terhujung. Sebenarnja ia gusar jang serangannja itu dirintangi, tetapi ketika ia telah melihat si pendeta, kagetnja tidak terkira, hatinja mendjadi tjiut. Ia mengenali pendeta itu jalah Hoat Hoa Taysoe, pendeta berilmu dari Siauw Lim Sie. la lantas ingat kedjadian duluhari, ketika didjalan Kweisay Selatan ia membegal seorang pembesar jang pulang berpensiun, selagi hampir ia berhasil, ia dihalangi pendeta itu bersama Touw Liong Kie-soe jang disebutkan itu. Ia melawan, ia menjerang tetapi Touw Liong, Kie-soe dapat memunahkannja, hingga dialah jang sebaliknja terluka parah. Touw Liong Kiesoe hendak menotok mati padanja, ia minta-minta ampun: sesudah bersumpah tidak akan menggunai lagi pakunja baru ia dibebaskan dari kematian. Diluar dugaannja, kali ini in bertemu pula Hoat Hoa Taysoe. Maka ditegur pendeta itu, ia mendjublak.

Kim-hoa Sam Kiat girang sekali, mereka segera menghampirkan hweeshio itu, untuk menberi hormat, sebab Hoat Hoa jalah soepee, paman guru mereka. Tapi mereka didului Tjit Sat Tjioe Koet Sin, jang lantas menghadapi Hoat Hoa sembari dia tertawa dingin.

”Taysoe, siapakah kau?” tegurnja, ”Kenapa kau mentjampuri urusan kita ini?”
”Amida Budha!” memudji pendeta itu tertawa, ”Loolap jalah seorang asing, pikiranku kosong, tubuhku tak berdebut, tidak biasa loolap mentjampuri urusan lain orang. Tapi barusan, tak dapat loolap menjaksikaan orang ditjelakai paku Pek houw-teng, terpaksa loolap turun tangan, Sekarang loolap mohon kiesoe djangan mentjari musuh karena urusan ketjil, baiklah kamu menjingkirkan bentrokan dan sebaliknja mendjadi akur satu dengan lain."

Mendengar itu, Koet Sin tertawa terbahak-bahak.
Djikalau taysoe bilang begitu, baiklah!" katanja. „Sekarang perintahkan tiga saudara Phang bertekuk lutut, dan mengangguk-angguk terhadap kami, untuk menghaturkan maaf, nanti aku si orang she Koet suka menghabiskan sangkutan kita”

Kata-kata itu membikin merah muka ketiga saudara Phang.
„Soepee," kata Tiong Kiat mengadjukan diri, ”Baiklah urusan ini djangan soepee tjampur tahu. Kami ingin ketahui bagaimana hebatnja kepandaian Tjit Sat Tjioe, biarlah dia memperlihatkannja agar orang kagum dan takluk!"
Hoat Hoa masgul, alisnja berkerut. la lantas mundur tanpa membilang satu apa.

Nona Lan memberi hormat pada pendeta itu, ia mengutjap terima kasih. Hoat Hoa tjekal tangannja, untuk tanja ini dan itu. Tiong Kiat memandang Koet Sin, dia tertawa dingin.
„Peristiwa hari ini disebabkan gara-gara Tjoe Djin Sian, muridmu," katanja. „Aku tidak sangka dia mirip si kura-kura, jang mengelepotkan kepalanja! Sungguh tidak tahu malu!"

Mukanja Koet Sin mendjadi merah, dia mendelik terhadap Tiong Kiat, terus dia menoleh kepihaknja seraja memanggil: „Djin Sian, mari! Bagaimana dengan Kim-hoa Sam Kiat ini? Kau boleh bertindak sendiri, djangan kau membikin malu gurumu!"
Tjoe Djin Sian madju, mukanja merah.

Tiong Kiat tertawa mengedjek, lantas dia menuding dan kata:
„Sudah, Tjoe Djin Sian, tak usah kau mengotjeh tidak keruan! Mari kita gunai tangan kita!"

Tjoe Djin Sian tidak bitjara lagi, ia mengeluarkan goloknja, terus ia menjerang. Ketika Tiong Kiat mundur, tiga kali ia menjerang saling-susul. Setelah itu, si orang she Phang membalas, pedangnia membabat kepinggang. Atas ini, saking kaget ia lompat mundur. Ia menangkis dengan sia-sia pedangnja terus tertekan, sulit untuk melepaskannja, hingga ia mengeluarkan peluh dingin. Achirnja, saking terpaksa, guna menolong djiwanja, ia mendjatuhkan diri, untuk bergulingan dengan tipusilat „Keledai malas bergulingan."

Tiong Kiat tertawa dingin, kembali ia madju, untuk menjusuli tikamannja.
Djin Sian kaget, matanja silau sinarnja pedang, pertjuma dia hendak berkelit pula, pundak kirinja kena disontek pedang hingga mengutjurkan darah.
Setelah itu, Tiong Kiat. tidak menjerang lebih djauh, sambil mundur setindak, ia kata tertawa: „Dengan kepandaian sematjam ini kau main gila menerbitkan jang tidak-tidak! Hm! Djikalau aku tidak ingat perkenalan kita, tidak nanti aku suka memberi ampun! Sekarang pergilah!"
Djin Sian menetapkan hatinja, ia memandang Tiong Kiat, lantas dengan memegangi lukanja, ia mundur, mukanja putjat

Koet Sin gusar sekali muridnja dirobohkan dalam beberapa djurus sadja, ia sampai berdjingkrakan, mulanja ia mau madju sendiri, tetapi si orang djangkung kurus dan bermuka putih disampingnja mentjegah.

„Tahan dulu saudara Koet" kata dia itu. „Nanti siauwtee jang mentjoba lebih dulu.”
Lantas dia berlompat kedepan Tiong Kiat, gerakannja sangat gesit. Dia menjeringai ketika dia berkata: „Barusan kau menundjuki keliehayanmu, sekarang aku si orang Kang-ouw tak ternama, Sin-Kiam-tjioe Shie Goan Liang, mohon pengadjaran dari kau!"

Mendengar nama itu, terutama djulukannja Sin Kiam Tjioe, si Pedang Sakti, Kim-hoa Sam Kiat terperandjat. Mereka tahu orang jalah murid partai Tiam Tjhong pay jang liehay buat kepandaiannja ilmu pedang dan tangan kosong dalam usia empatpuluh dia kesohor kosen, gemar pipi litjin, hatinja pun kedjam.

Aku rasa loodjie bukan tandingannja, baiklah...” kata Pek Hiong, tapi ia tertahan, sebab In Gak lantas berkata padanja: ,Djangan kuatir, toako, aku tanggung djieko tidak kurang suatu apa."
Pek Hiong berdiam tetapi hatinja berdebaran.

Tiong Kiat dan Goan Liang sudah lantas bertempur, sebab tidak ada orang jang madju disana tengah. Goan Liang aseran, Tiong Kiat pun tidak mau menjerah tanpa berdaja.

Goan Liang benar liehay, gerakannja sangat lintjah, pedangnja berbahaja. Maka untuk melajani dia, Tiong Kiat menggunai ilmu pedang „Tat mo Sip Sam Kiam," tiga belas djurus ilmu pedang warisan Bodhidharma. Seru sekali mereka bertanding.

Sedang tigapuluh djurus, Shie Goan Liang mendadak tertawa pandjang dan tubuhnja melesat tinggi, lalu sambil turun, ia membabat dengan tipusilat „Mengeprak rumput mentjari ular."
Tiong Kiat terkedjut, ia berlompat untuk berkelit, tetapi segera ia disusul, diserang dengan tikaman ’Ular berbisa mentjari liangnja." Karena ia berkelit, punggungnja terantjam tanpa ia berdaja, tak keburu ia menangkis atau berkelit lebih djauh.
Djusteru disaat berbahaja itu, satu siulan pandjang terdengar, tubuh In Gak nampak melesat kedepan, tangannja terajun.

Goan Liang terkedjut mendengar siulan itu, tanpa merasa, gerakannja mendjadi lambat. Maka selamatlah Tiong Kiat! Sedang In Gak segera berada didepan orang she Shie ini.
Dia mendjadi gusar, segera dia menjerang ini musuh jang baru.
„Lepas!,” berseru In Gak melihat ia disambut tikaman. Dengan tangan kanannja jang diluntjurkan, ia mengetuk kelengan. Tepat ketukannja ini, segera pedang lawan terlepas dan mental delapan tombak djauhnja, seperti ular masuk kedalam rumput tebal.

Bukan main Goan Liang merasakan tangannja njeri ketika ia memandang muka orang, ia heran. Dia mendapatkan seorang botjah umur delapan atau sembilanbelas tahun, jang romannja tampan.

In Gak bersenjum.
,.Tuan didjuluki Sin Kiam Tjioe, kenapa tuan tak sanggup bertahan untuk satu kali ketukan?" ia tanja.
Goan Liang panas hati. Ia anggap itulah sindiran untuknja.
„Hm!" katanja; mendongkol, Kau tidak memakai aturan kang-ouw, sahabat! Mengapa kau membokong aku? Aku kurang puas!"

Matanja In Gak terpentang, ia tertawa lebar.
,Kau menjebut-njebut aturan Kang-ouw, itulah aku tidak perduli!" katanja njaring. „Aku tjuma bertindak menuruti rasa hatiku! Asal aku merasa tidak puas, tentu aku turun tangan! Kau ada bangsa busuk, tahu apa kau aturan Kang-ouw? Djikalau kau tidak puas, pergi ambil pedangmu, mari kita main-main!"

Goan Liang tertawa berkakak.
„Biar aku bodoh, aku bukan bangsa busuk!" teriaknja. ,Kau begini muda tetapi kau tjongkak sekali, nanti aku si orang she Shie mengadjar adat padamu!"

Habis berkata, Goan Liang lompat kaarah pedangnja, untuk mengambil itu, terus dia berlompat balik, indah lompatannja menurut tipusilat „Burung elang bardjumpalitan." Sekedjap sadja dia sudah berdiri pula didepan In Gak, terus dia menuding sambil menantang: „Hunuslah pedangmu!"

In Gak mengangkat kedua tangannja.
„Aka si orang she Tjia akan melajani tuan main-main dengan tanganku jang berdarah-daging sadja!” katanja. „Orang dengan kepandaian sebagai kau tak pantas, tak ada deradjatnja membuat aku menggunai pedang!"

Bukan main mendongkolnja Goan Liang.
„Aku si orang she Shie belum pernah menemui orang setjongkak kau!" katanja sengit, tubuhnja sampai bergemetar, mukanja pun putjat „Baiklah, lihat pedang!"
Kata-kata itu ditutup dengan satu tikaman.

Goan Liang bernjali besar sebab dia murid Tiam Tjhong Pay. satu diantara tudjuh partai besar jang kesohor ilmu pedangnja. kemudian dari seorang pandai jang menjembunjikan diri, dia dapat kepandajan lebih djauh hingga ilmu pedangnja djadi bertambah liehay, sekarang dia menghadapi orang djumawa, dia berkelahi dengan hebat, beda daripada waktu melajani Tiong Kiat.
In Gak tidak melajani keras dengan keras. Sebaliknja, bagaikan kupu-kupu berterbangan, ia bergerak sangat lintjah didepan orang she Shie ini, senantiasa ia berkelit dari tikaman atau tabasan pedang, tidak pernah ia membalas, kalau toh ia mengulur tangan, ia hanja ingin merampas pedang lawan

Tjepat sekali lewat sudah dua puluh djurus. Sekonjong-konjong si anak muda tertawa dan berkata: „Tuan, aku si orang she Tjia telah beladjar kenal dengan ilmu pedangmu, njata kepandaian tjuma sebegini! Sekarang aku si orang she Tjia ingin memohon maaf dari kau " Lalu kata-kata itu ditutup dengan sambaran tangan kiri kearah pedang, niatnja dirampas. Itulah salah satu tipu dari silat Hian Wan Sip-pat Kay.

.,Kau mau tjari mampus?” kata Goan Liang dalam hatinja. la pertjaja orang memperbahajakan dirinja sendiri. Akan tetapi belum ia berhenti berpikir itu, tahu-tahu udjung pedangnja sudah didjepit lima djari tangan, maka waktu si anak muda mengerahkan tenaganja, udjung pedang itu patah seketika, menjusul mana djari tangan anak muda itu meluntjur terus, menotok djalan darah tjiang-boen didada kiri. Sama sekali tak berdajalah ia, segera ia merasai darahnja mandak, tubuhnja terus roboh.

Dengan udjung pedang lawan masih ditangannja, In Gak mengibas kemuka orang sambil ia menjeringai dan berkata: „Apakah pedang ini tepat dinamakan pedang, sakti? Hm! Kau lihat!" la mengajun tangannja, hingga pedang itu terbang kearah panggung, untuk menantjap di penglari dalamnja satu kaki.

Shie Goan-Liang berdjuluk Sin Kiam Tjioe, Ahli Pedang Sakti, maka itu pedangnja itu, jang bernama Tjeng-kong-kiam dipandang sebagai pedang sakti, tetapi sekarang pedang itu kena dibikin patah dan ditimpukkan nantjap, maka tertjenganglah semua hadirin. Orang pun heran sekali Goan Liang dapat dirobohkan dalam dua gebrakan dan orang tidak mengetahui ilmu silat apa itu jang digunai si pemuda.

Ilmusilat Hian Wan Sip-pat Kay itu jalah ilmu silat berbareng ilmu ketabiban dari dua ribu tahun jang lalu, jang telah seperti lenjap dari dunia, maka djuga, sekalipun Hoat Hoa Taysoe dari Siauw Lim Sie, dia kena dibikin bingung karenanja, dia pun tidak mengenalnja.

Djuga Nona Lan, jang berkepala besar, jang tak pernah takluk kepada siapapun, ikut mendjadi kagum.

Dengan menahan saklt, Shie Goan Liang merajap bangun. Perlahan sekali dia bergerak. Terus dia mengertak gigi dan berkata; „Aku si orang she Shie menjesal jang peladjaranku tidak sempurna, aku menjerah kalah, hanja aku berbesar hati aku mengundang kau datang ke Tiam Tjhong San. Aku bodoh, tak pantas aku menggunai pedang, akan tetapi didalam partaiku masih ada jang lainnja jang djauh melebihi aku, aku minta sukalah kau memberi pengadjaran kepada mereka itu Sekian, sekarang aku memohon diri."

Alis In Gak bangun, ia tertawa.
„Baru Tiam Tjhong Pay, aku tidak melihatnjal" katanja sengadja. „Kau telah mengundang, berani aku menerimanja, hanja sajang, tidak dapat aku pergi sekarang lantaran aku masih mempunjai lain urusan penting. Tolong bilangi ketuamu bahwa didalam waktu lima tahun akan aku pergi ke gunungmu itu. Sekarang kau pergilah!”

Sembari berkata, dengan perlahan dengan kedua tangannja In Gak menolak tubuh orang, atas mana Shie Goan Liang merasa ada tenaga keras jang mendorong tubuhnja itu, hingga ia lantas terpental, sia-sia ia mentjoba mempertahankan diri dengan tipu berat tubuh, ia toh terdampar lima tombak djauhnja. Ia mendjadi djeri, tanpa berkata apa-apa lagi, ia ngelojor pergi.

Seberlalunja Goan Liang, In Gak menghadapi Koet Sin.
”Orang she Koet” ia berkata bersenjum, ”Peristiwa ini dimulai oleh kau, maka itu tidak dapat kau berpeluk tangan sadja tak mengurusnja”

Tjit Sat Tjioe telah melihat dirobohkannja Goan Liang, dia djeri. Dia tahu dia tjuma gagah sedikit daripada kawannja itu. Akan tetapi sekarang dia ditantang, dia mendjadi gusar sambil tertawa dingin dia kata, ”Meskipun tuan sangat lihay, tidak dapat tuan tak memandang mata kepada lain orang! Memang urusan ini disebabkan aku, tetapi mula-mulanja adalah Kim Hoa Sam Kiat jang terlalu djumawa, karena mereka tidak melihat mata kepada kami kaum tidak lurus”

In Gak tertawa.
”Djadi karena urusan ketjil itu tuan membangkitkan pertentangan golongan?” katanja, ”Tidakkah urusan itu bisa membangkitkan pertentangan lebih hebat didalam Rimba persilatan? Biarlah aku menjebut tentang diriku sendiri. Sebenarnja aku djuga bukan berasal dari kalangan lurus. Karena aku bukan kaum lurus, menurut kau, aku djadi mesti masuk dalam golongan kamu bangsa rase dan tikus! Baiklah kau ketahui, perselisihan mulut dapat timbul diantara kawan-kawan karena sedikit kata-kata jang menjinggung, tetapi, djikalau orang suka berpikir, perselisihan itu dapat ditiadakan dengan hati dingin. Bukankah jang bengkok dapat dibikin lempang? Seharusnja kau mengerti muridmu sendiri si bangsa tidak keruan jang tjupat pandangannja. Karena dia tjupat, dia dapat diberi maaf. Kenapa kau sendiri , jang dianggap terhormat, kau berhati lemah, bertelinga tipis, hingga kau tidak dapat membedakan jang benar dari jang tidak benar? Inilah jang membuat aku tidak mengerti. Sebetulnja kau mesti dihukum, akan tetapi mengingat kegelapanmu, suka aku berlaku murah. Nah, lekas kau pergi!”

Koet Sin djago Rimba Hidjau, sudah biasa dia galak malang melintang, tidak dapat dia menahan sabar akan hinaan itu, maka dia djadi meluap kegusarannja.

“Binatang!” dia berteriak, “Apakah kau kira tepat kau hendak mengasi adjaran kepada aku si orang tua?”
In Gak pun gusar. Bukan sadja nasehatnja tidak diladeni, ia pun didamprat. Maka berubahlah air mukanja.

”Bangsat tua!” katanja bengis, ”Aku suruh kau pergi, kau tidak mau pergi, ini artinja kau tjari mampus sendiri!”

”Belum tentu” sahut Tjit Sat Tjioe tertawa dingin. Dia lantas menjerang dengan kedua tangannja. Dia telah memikir, kalau serangannja gagal, hendak dia mundur. Hebat serangannja itu. Tak pertjuma dia didjuluki Tjit Sat Tjioe, Tjit Sat itu berarti Tudjuh bintang djahat’ Djadinja dia liehay tangannja (Tjioe).

In Gak pun telah bersiap. Ia menggunai Bie Lek Sin Kang. Beda daripada lawannja, ia bergerak seperti tak nampak gerakan tangannja. Nampaknja sabar sekali ia menjambut serangan. Akan tetapi, setelah tangan kedua pihak bentrok satu dengan lain, mendadak tubuh jang besar dari Koet Sin terpental mundur, djumpalitan dua kali, terus roboh ditempat sepuluh tombak lebih.

Semua orang kaget, lantas semua memburu. Mereka melihat Tjit Sat Tjioe jang demikian garang, rebah terkulai dengan mandi darah, kedua tangannja patah, napasnja empas empis. Dia lantas diangkat kawan-kawan untuk digotong pergi.

Maka disitu sekarang tinggal Pek Houw Seng koen Gouw Tie seorang. Dia memandang bentji pada In Gak, lantas dia memutar tubuhnja untuk berlompat pergi, hingga sekedjap kemudian, dia sudah berada diluar kalangan. Hingga dengan demikian tenanglah sang badai dan gelombang.

In Gak memandang orang berlalu, ia menghela napas, dengan menggendong tangan, ia mengawasi langit. Tapi segera ia dirubung orang-orang Sam Eng Piauwkiok.
(Bersambung ke-djilid II)


3. Jilid 2.1 : Mengobati Kioe Tjie Sin Liong

Bacaan » PEMBALASAN SEORANG JAGOAN » Jilid 2.1 : Mengobati Kioe Tjie Sin Liong
Anggota Masroni
Waktu 29 Mei
Bab Sebelum 2. Jilid 1.2 : Tewasnja musuh pertama
Bab Sesudah 4. Jilid 2.2 : Lima biji catur merubuhkan penyusup

coverMB2.jpg

Menuntut Balas
Karya : Wu Lin Qiao Zi
Terjemahan: Oey Kim Tiang
Jilid 2.1. Mengobati Kioe Tjie Sin Liong

”Sie-tjoe muda” berkata Hoa Hoa bersenyum, ”Dengan enteng sekali kau menggeraki tanganmu, apakah itu berarti kau telah mentjapai puntjaknja kaum Budhist jang dinamakan Boe Siang Kim kong Sian Tjiang?”

Si pemuda mengawasi pendeta itu, ia menggeleng kepala.
”Tadjam sekali mata Taysoe” katanja sabar,”Tjuma peladjaranku ini, djikalau dibanding dengan Kim Kong Sian Tjiang bedanja djauh sekali. Mana aku mempunjai bakat dan djodoh untuk memperoleh itu? Djikalau taysoe sudi, suka aku mendapat barang satu dua petundjuk dari taysoe”

”Loola ptidak mempunjai kepandaian itu,” kata Hoat Hoa tjepat, menjangkal, ”Sekalipun ketiga tiangloo kami, mereka tjuma mengerti permulaannja sadja. Loolap menanjakan sebab kelihatannja kepandaian sitjoe mirip dengan Boe Siang Kim Kong Sian Tjiang itu”

In Gak berdiam, ia melainkan bersenjum. Ia ingat semasa di Poo Hoa Sie, gurunja pernah membilangi bahwa Bie Lek Sin Kang dan Boe Siang Kim Kong Sia Tjiang itu sama-sama ilmu kepandaian kaum Budhist, bedanja jalah Bie Lek Sin Kang lebih hebat dan digunainja dapat sesuka hati, sebaliknja Kim Kong Sian Tjiang itu, setelah digunai sukar untuk dibatalkan atau ditarik pulang.

Setelah itu orang berdjalan pulang ke piauwkiok. Tiba di rumah, Kim Hoa Sam Kiat lantas mengadakan perdjamuan untuk merajakan kemenangan itu, hingga suara ramai mereka kedengaran keluar, sampai ada jang mendunga piauwkiok itu entah lagi mengadakan pesta apa. Sengadja mereka mengadakan pesta ini untuk membikin nama si pemudda tersiar.

Maka itu ketjuali orang dalam, ada diundang djuga sahabat-sahabat dari pelbagai piauwkiok lainnja, antaranja hadir Thie bin In Tiang Lee Sie Kie, piauwsoe ketua dari Tiong Gie piauwkiok, jang dari Souwtjioe baru pulang ke Tjie-tjioe.

”Sekarang ini Rimba persilatan digemparkan dua peristiwa besar,” kata piauwsoe itu tertawa, ”Jang siauwhiap merobohkan Tjit Sat Tjioe Koet Sin ini. Jang lainnja jaitu muntjulnja pula Twie Hoen Poan Tjia Boen dalam dunia kang-ouw. Aku baru kembali dari Kangsouw Utara, selagi lewat di Kho-yoe, disana Sam Tjioe Gia Kang Hok Leng Tok telah terbinasakan Twie Hoen Poan. Hok Leng Tok jalah begal besar jang untuk banjak tahun sudah hidup menjendiri ditepinja telaga Kho Yoe Ouw. Pula dia mati sama seperti kematiannja Lan Tjong Siang Sat baru-baru ini, jaitu dadanja ditembusi djaridjari tangan jang liehay. Jang aneh pula kedua orang terkenal itu sama-sama she Tjia, melainkan jang satu tua dan jang lain muda!”

Kim tjie Sin Eng Phang Pek Hiong heran mendengar warta itu.
”Saudara Lee, kapankah terdjadinja peristiwa itu?” ia tanja, ”Baru kemarin dulu malam terdengar Twie Hoen Poan berada di Kangsan dimana tempat Ngo Yan Pay dia membinasakan Ngo Tok Tjindjin dari Tong Pek San. Sungguh tak ketentuan dimana beradanja Twie Hoen Poan itu. Mustahilkah dia telah mengetahui siapa-siapa jang dulu hari mengerojok dia dan sekarang dia mau membalasnja satu demi satu?”

”Itulah kedjadian empat hari jang lalu. Karena aku mesti lekas-lekas pulang, tidak sempat aku mentjaritahu lebih djauh. Untuk Twie Hoen Poan, dalam dua hari dari Kho-yoe pergi ke Kangsan bukanlah soal sukar.”

Mendengar itu Lan Kang Tiauw-kek Yo Tjoen Keng, si Pengail dari sungai Lan Kang menghela napas, katanja: ”Perdjalanan dari Kho-yoe ke Kangsan sedikitnja lima sampai tudjuh ratus lie, tetapi itu disampaikan dalam dua hari, sungguh luar biasa!”

In Gak djuga heran mendengar ajahnja membinasakan Sam Tijoe Gia Kang di Kho-yoe. Ia melirik pada Lee Sie Kie, dalam hatinja ia kata: ”Lan Tjong Siang Sat dan Ngo Tok Tjindjin terbinasa ditanganku. Siapakah jang bekerdja di Kho-yoe itu; mesti ada lain orang jang memakai nama ajahku...Ah mengerti aku sekarang! Itulah mesti kerdjaan saudara Loei Siauw Thian! Mestinja Sam Tjioe Gia-kang salah seorang jang duluhari telah mengerojok ajahku, maka saudara Loei menelad aku, dia membinasakan manusia djahat itu seperti tjaraku!”

”Amida Budha!” terdengar Hoat Hoa memudji, ”Sepak terdjangnja Twie Hoen Poan itu, meski ia berdiri di pihak jang benar, menurut rasa loolap ada sedikit berlebihan, maka itu kekalahannja di Siang-tong berpokok pada perbuatan berlebihan itu. Inilah jang kami kaum Budhist namakan karma. Sajang sekarang setelah muntjul pula, dia bertindak melebihkan duluhari itu...Inilah balas membalas, entah sampai kapan berachirnja ini?”

In Gak sabar tetapi ia tidak puas ajahnja dipersalahkan.
”taysoe,” katanja, ”Apakah taysoe tidak ketahui, dengan menjingkirkan seorang djahat, orang telah menanam sematjam djasa baik? Bukankah perbuatannja Tjia Tayhiap itu untuk membasmi kedjahatan, untuk mengandjurkan kebaikan? Bukankah menjingkiran kedjahatan tepat dengan pokok tudjuan kami kaum Rimba persilatan? Apakah jang tidak sesuai?”

Hoat Hoa bersenjum ketika ia mendjawab „Apa jang siauwhiap bilang memang tepat dan loolap pun tidak maksudkan tidak sesuai, tetapi loolap pikir banjak membunuh berarti menanam bibit penderitaan dan itu djuga mentjari pusing sendiri.”

Melihat dua orang itu bertentangan pendapat, Pat Kwa Tjioe Kheng Liang menjelak untuk menjimpangi perhatian. Katanja: “Tjia siauwhiap, kau telah member djandji lima tahun akan menemui Shie Goan Liang, kapan kiranja baru kau dapat memenuhi djandji itu?”
“Sekarang ini belum dapat aku menentukan," In Gak djawab bersenjum. „Tetapi pasti, didalam lima tahun, aku akan pergi ke tempatnja!"

„Tiam Tjhong Pay itu mendjadi satu diantara tudjuh ahli pedang besar di djaman ini," berkata Yo Tjoen Teng, „diantara mereka benar ada orang-orang jang liehay hingga mereka biasa tak memandang mata kepada kaum Persilatan seumumnja, dari itu baik sekali djikalau Tjia Siauwhiap dapat melampiaskan kemendongkolan kita. Hanja aku pikir perlu siauwhiap mentjari beberapa pembantu, sebab pergi seorang diri kurang sempurna."

Mendengar itu, In Gak tertawa.
“Aku tidak mengatakan aku tidak mau mentjari kawan," katanja, „Tjuma aku pikir untuk urusanku sendiri buat apa aku membawa-bawa sahabat ?"

Ketika itu Nona Nie merasa tidak puas sekali. Beberapa kali ia mau tjampur bitjara, selalu ia gagal. Pula sikap si pemuda terhadapnja tawar. Achirnja ia tertawa dingin.
" Tjia toako,” katanja, „tadi kau membilang Shie Goan Liang tidak tepat menggunai pedang, habis siapakah itu jang tjotjok?"

Mendengar pertanjaan ipar ini, Siok Tjoen bergelisah. Ia merasa sang ipar benar-benar tidak mengenal selatan. Tapi belum sempat ia berbuat apa-apa, In Gak sudah tertawa lebar. Pemuda ini tidak mendjadi kurang senang.
“Aku tidak berani bilang siapa jang tepat dan siapa jang tidak,” sahutnja, “Aku baru muntjul dalam dunia Kang-ouw, pengalamanku belum banjak, bitjaraku kurang pandai, tjuma sebab orang she Shie itu benar-benar mempunjai kepandaian, maka barusan aku mengatakannja demikian. Itulah tjuma mengenai dia seorang, melulu untuk melampiaskan kemendongkolanku. Bitjara terus-terang, sampai saat ini belum aku mendapatkan sendjata jang tjotjok untukku!"

Wan Lan melirik, ia berkata pula, lagu suaranja seperti ber-senandung : “Bagaimana tentang siauwmoay, apakah siauwmoay tepat menggunai pedang? Kalau tidak, baiklah pedang siauwmoay ini dihaturkan kepada toako, pastilah tjotjok !"
Sengadja si nona menjebut dirinja soauw-moay.

In Gak serba salah hingga ia mendjadi likat, hingga ia tidak dapat membuka mulutnja.
Siok Tjoen mendongkol sekali hampir ia menegur ie itu dimuka umum. la paksakan diri tertawa dan kata „Ie, kita tjuma mendengar suara kau, tak dapatkah kau bitjara sedikit sadja !”
Wan Lan menoleh, ia melihat muka merah dari tjiehoenja itu.
„Ah, kenapakah kau ?" katanja. „Tjia Toako sendiri tidak membilang, apa-apa.”
Siok Tjoen menggeleng kepala, matanja mentjilak kepada si nona, terus ia memandang In Gak, agaknja ia kewalahan.

Si pemuda melihat itu, ia tertawa. Sedang sebenarnja, kesannja terhadap si nona tambah memburuk. Dilain pihak, Wan Lan mulai djelus terhadap pemuda itu, karena dia dikuasai kemandjaannja.

Sampai disitu, Hoat Hoa bitjara pula, menutur maksudnja datang ke selatan ini, jalah mentaati titah ketuanja; untuk pergi ke kuil Siauw Lim Hee ih di Pouw-thian guna mendjalankan kundjungan adat kebiasaan setiap lima tahun sekali, bahwa selagi lewat di Kim Hoa ini ia ingat keluarga Phang jang mendjadi keponakan muridnja dengan siapa sudah tiga puluh tahun ia tidak pernah bertemu, hanja kebetulan sekaIi menjaksikan orang mengadu silat.

“Melihat gerak-gerik kaki tanganmu, Tjia siauwhiap” ia menambahkan, “Kau mestinja telah mendapat peladjaran golongan Budhist, atau djikalau gurumu bukan seorana pendeta jang lie-hay, dia mestinja seorang jang telah menjembunjikan diri, hidup dalam kesunjian. Loolap seorang pendeta, tetapi loolap telah mentjoba mengutamakan ilmusilat, rasanja loolap berhasil djuga mengarti sedikit intisarinja, sebaliknja siauwhiap, jang masih begini muda, telah mahir sekali silatnja, dari itu, djikalau siauwhiap suka, sudikah kau main-main barang tiga djurus dengan loolap?”

Biar bagaimana In Gak taat kepada pesan gurunja, atas adjakan si pendeta ia lantas menampik.
“Kebisaanku rendah sekali, mana berani aku membangkitkan buah tertawaan? Lebih baik tak usahlah!” katanja.
Belum sempat Hoat Hoa berkata pula, Wan Lan menjelak lagi: “Tjia toako, apakah toako tidak suka memberi muka kepada Hoat Hoa Soepee?”

In Gak memandang nona itu dingin. Ia djemu. Lantas ia berbangkit perlahan-lahan, untuk bertindak ke lian bu-thia, tempat latihan. Orang semua lantas mengikuti Hoat Hoa berdjalan mendampingi anak muda itu.
Kim-hoa Sam Kiat djalan paling belakang, mereka menegur nona Nie, tetapi dia ini mengganda bersenjum.

„Aku minta taysoe suka menaruh belas kasihan kepadaku.” kata In Gak setibanja di gelanggang. Ia memberi hormat, lantas ia memisahkan diri setombak hingga mereka djadi berdiri di timur dan barat.

Hoat Hoa mengangguk, ia kata tertawa :„Loolap tjuma ketarik hati untuk main-main, sama sekali kita bukan benar-benar bertanding. Siauwhiap, silahkan!”
In Gak tidak banjak aturan lagi. Ia merangkap kedua tangannja, ia memberi hormat dalam sikap ‘Lian tay pay koei’ setelah mana terus ia menjerang.

Hoat Hoa tertawa dan kata: “Baiklah, loolap lantjang menjambut” Ia lantas berkelit, untuk terus membalas dengan tipu silat ‘Hong kie in yong’ jaitu ‘Angin bergerak, mega melajang-lajang’, suatu djurus dari ilmu silat ‘Tat mo Kioe Sie’, ilmu silat simpanan S iauw Lim pay. Jang dapat mempeladjari itu tjuma keempat tiangloo. Seperti namanja menundjuki, semuanja terdiri dari sembilan djurus (kioe sie).

In Gak segera merasakan dorongannja angin, walaupun ia melindungi diri dengan Bie Lek Sin kang, ia masih tertolak djuga, meski begitu ia tidak segera melakukan penjerangan membalas, ia berkelit untuk menghindarkan diri. Ia ingin berkelit terus hingga tiga kali beruntun. Setelah itu mendadak ia mentjelat hingga ia djadi berada di belakang si pendeta. Belum ia memernahkan diri, Hoat Hoa sudah memutar tubuh dibarengi serangannja pula, kali ini dengan djurus “Guntur menggemparkan langit” jang djauh lebih hebat daripada jang sudah itu.

Djuga kali ini pendeta itu gagal. Dia mendjadi heran — mengherani mahirnja ilmu Tjit Khim Sin-hoat dari si anak muda.
In Gak berdiri sambil tertawa.
,Lootjianpwee, masih ada satu djurus !" katanja manis.

Biarnja ia orang petapaan, hati Hoat Hoa mendjadi panas. Ia malu andaikata orang mengetahui ia gagal menjerang dengan Tat-mo Kioe sie. Apa nanti anggapan umum tentang ilmusilat Siauw Lim Sie ?
“Maaf” ia lantas berkata menjusuli serangannja dengan kedua tangan, tangan kiri dengan “Kim-kong Hang Mo” menjerang lengan kiri si anak muda, tangan kanannja mentjari djalan darah khie-hay, tipusilatnya jalah “Lan Hoa Tjioe” pukulan bunga Lan Hoa. Bagaikan kilat tjepatnja, demikian dua tangan ini menjerang, hingga orang banjak berkuatir untuk In Gak.

Si anak muda sendiri tapinja tersenjum, tjepat luar biasa dia mundur lima dim, melulu untuk mengelakkan diri, setelah mana ia menjerang dengan suatu djurus Hian Wan Sip pat Tjiang kedua djari tangannja memapaki hendak menotok telapakan tangan si pendeta!

Hoa Hoa lagi menjerang, tidak dapat ia menarik pulang serangannja itu. Pula tidak dapat ia menangkis dengan tangannja jang lain. Maka djuga ketika kedua tangan mereka bentrok, ia mendjadi kaget. Mendadak ia merasakan tangannja kesemutan, mendjadi kaku, tenaganja hilang, hingga tanpa terasa, ia terdjeru-nuk madju. Tapi sianak muda mengadjukan kedua tangannja untuk menahan, hingga orang dapat berdiri diam.
„Lootjianpwee, tiga djurus lewat" katanja tertawa,”Terima kasih jang lootjianpwee telah suka mengalah."

Dimata orang banjak, mereka itu seri, akan tetapi Hoat Hoa heran atas kepandaian anak muda itu.
,Tjia siauwhiap," katanja, “Bukan loo lap merendah tetapi melihat kegagahan kau ini, mesti kau bakal mendjagoi Rimba Persilatan, maka itu semoga Thian melindungi agar djanganlah kau sampai melakukan pembunuhan, sebaliknja supaja dapatlah kau kemadjuan terlebih djauh!"

In Gak tertawa.
„Nanti boanpwee ingat baik-baik pesan ini," kata ia, „tak nanti boanpwee melupakannja."
Setelah itu, mereka kembali. Orang banjak memudji dan mengatakan Hoat Hoe Taysoe telah berbuat baik sekali terhadap sianak muda.
Kemudian perdjamuan ditutup dan semua orang bubaran.

Sore itu In Gak memberitahukan tuan rumah bahwa ia hendak pergi ke Utara untuk menjusul Loei Siauw Thian, kakak angkatnja itu, maka besok pagi-pagi ingin ia berangkat. Sam Kiat mentjegah tetapi ia mendesak, hingga mereka itu tidak dapat menahan lebih lama. Mereka pun merasa, pemuda ini tak puas dengan Wan Lan.
IV
Besoknja pagi, seorang diri Tjia In Gak melakukan perdjalanan pula. Ia diantar Kim-hoa Sam Kiat dan djuga Nona Nie. Dia ini tampak tak puas dengan perpisahan itu—ada sedihnja, ada penasarannja . . .

Tiba dikota Hang-tjioe jang kesohor, In Gak singgah, untuk pesiar setengah bulan. Setelah melintasi propinsi Tjiat-kang, ia masuk ke propinsi Kangsouw. Pada suatu hari, setelah lewat di Tin-kang, ia sampai di Kang-taow atau Yang-tjioe, pun kota terkenal dan ramai. Ia sampai di waktu maghrib, segera ia melihat ramainja kota dan telinganja mendengar suara tetabuan dan njanjian disana-sini, maka setelah menitipkan kuda di hotel, ia pergi djalan-djalan. Disini ia menjaksikan, asal ada uang, tak usah orang kekurangan kesenangan. Tepatlah utjapan tua :”Dengan uang sepuluh laksa rentjeng melibat pinggang menunggang burung djendjang pergi ke Yang-tjioe. Selama dalam perdjalanannja ini, ia selalu berada sendirian, tak inigin ia mentjari sembarang sahabat, bahkan di hotel pun ia memakai nama palsu. Demikian kali ini.

Habis djalan-djalan sebentar, ia kembali ke hotel, untuk bersantap, setelah bersantap, la langsung masuk kamarnja, untuk rebah-rebahan, kedua matanja dirapatkan. Ia lantas memikirkan tentang perdjalanannja ini seorang diri. Sesudah lewat beberapa bulan la masih tak tahu tentang musuhnja, hingga ia mirip si buta menunggang kuda, tak tahu ia tudjuannja. la menganggap inilah bukan tjara jang baik.
„Aku mesti mentjari kawan jang dapat diadjak berdamai " ia kata dalam hatinja.

Maka ia ingat pula Siauw Thian, djuga jang lainnja, mereka itu seperti berbajang di depan matanja, tak ketjuali Nona Lan jang mendjemukan itu. Untuk menenangi diri ia bangun untuk berduduk bersamedhi sekalian melatih diri.

Tidak lama setelah bersamedhi, In Gak ingin tidur, ketika ia mau membuka pakalan luar, tiba-tiba telinganja mendapat dengar rintihan perlahan serta isak tangisnja anak ketjil. Ia menduga kepada orang sakit. Maka ia membuka pintu, pergi ke kamar di depannja, darimana suara itu datang. Ia sudah mengulur tangannja untuk mengetuk pintu, atau ia urungi itu. Ia anggap perbuatannja itu kurang baik. Maka ia terus menghampirkan pelajan, jang lagi duduk menjender dipintu depan dengan matanja meram melek.

Adalah kebiasaan dihotel itu untuk menaruh pelajan pendjaga pintu, untuk menjambut atau mengantar tetamu jang datang atau ada keperluan pergi diwaktu malam. Demikian pelajan ini. la Iantas berbangkit dan berdiri dengan hormat ketika ia melihat tetamumja, terus ia menanja: “Apakah tuan hendak berangkat di waktu begini ?”

In Gak menggojangi tangan, ia tidak mendjawab hanja menanja siapa penghuni dikamar depan kamarnja itu.
„Oh, dia . . . ." kata pelajan itu, agaknja terperandjat. ,.Pada sepuluh hari jang lalu dia datang mengambil tempat disini. Dialah seorang tua dengan dandanan pengemis serta seorang botjah. Dia terluka seluruh tubuhnja, begitu dia masuk ke dalam kamar dia merebahkan diri terus dia mendapat demam panas-dingin. Dia mempunjai sebungkus obat bubuk, dia telan itu. Njatanja obat itu tidak menolong, bahkan dia mendjadi terlebih pajah, hingga pernah dia pingsan. Botjah itu lari keloar, dia mentjari seorang jang mukanja kuning. Ketika dia ini melihat orang tua itu, dia berduka, lekas dia pergi mentjari tabib jalah Oey Pek Tong alias Poan Sian, si Tabib Setengah Dewa. Tabib ini pandai, banjak sekali sudah ia menolong orang.
Tapi setelah memeriksa nadi si sakit, ia menggojang kepala, sakitnja sudah berat sekali, susah ditolong, kalau diberi obat, paling djuga akan hidup lagi sepuluh hari atau setengah bulan, terus ia pergi tanpa memberi obat atau surat obatnja, tak mau ia menerima uang hadiah. Madjikannja takut orang mati dihotelnja, ia minta orang muka kuning itu mengadjaknja pergi. Orang muka kuning itu minta si sakit dibiarkan menginap disini, ia kata ia mau pergi mentjari obat. Ia pergi dengan meninggalkan uang lima puluh tahil perak, ia memesan sangat agar ia ditunggui. Ia sudah pergi lima atau enam hari sampai sekarang ia belum kembali. Aku kuatir buat keselamatan orang tua itu.

In Gak mengerutkan alis. „Maukah kau mengantar aku kepadanja ?" ia tanja.
Pelajan itu mementang matanja, Tapi ia tertawa.
„Apakah tuan mengarti ilmu pengobatan ?" ia tanja, ragu-ragu. Lantas ia mengantarkan, seorang diri ia ngotjeh hampir tak kedengaran : „Tuan muda ini mungkin kurang sehat asabatnja, meski la mengarti ilmu tabib, mana dapat ia melawan Oey Poan Sian ?"

Segera mereka tiba didepan kamar. Pelajan ini mengetuk pintu sambil berkata:”Engko ketjil, buka pintu, ada jang ingin menolong mengobati penjakit…”
Daun pintu dibuka lantas oleh satu botjah jang romannja tampan, tjuma matanja merah dan bengul, setelah memandang In Gak, ia kata dengan hormat: “Apakah paman mengarti ilmu tabib? Baiklah, tjuma kita djadi membikin berabeh pada paman. Silahkan masuk!”

In Gak kagum. Botjah itu hormat dan bisa bitjara. Ia bertindak masuk. Ia melihat si orang tua lagi rebah di pembaringan, napasnja mengap-mengap. Penerangan di dalam kamar itu hanja lilin jang tinggal separuh, apinja guram, hingga kamar dengan sendirinja nampak seram.
“Anak muda, terima kasih." kata si orang tua, lemah, ketika ia mengetahui ada jang mendjenguknja. „Hanja sakitku ini tidak dapat diobati dengan obat jang biasa, maka aku kuatir membuatnja kau pusing sadja.” Lalu samar-samar nampak agak nja ia mengendalikan hatinja, jalah rasa agung diri.

In Gak menghampirkan, untuk duduk disisi orang.
,Lodjinkee, djangan kuatir," kata ia halus, „Setiap perantau sukar lolos dari gangguan penjakit. Mari aku lihat penjakitmu, rasanja aku sanggup mengobatinja.”

„Benarkah?" kata si botjah mendadak „Kalau benar, paman aku si Tjioe Lin hendak aku memberi hormat lebih dulu kepada kau untuk menghaturkan terima kasihku”
Benar-benar ia hendak menekuk Iutut.

In Gak mentjegah.
“Tahan dulu, saudara ketjil,” katanja tertawa, “Kau sabar.” Lalu dengan sebelah tangan memegang lilin, ia periksa lidah si orang tua dan memegang djuga nadi kanannja, diteruskan pula nadi kiri. Achirnja ia berdiri dan berkata sambil tertawa: “Meski penjakit ini berat, masih ada harapan untuk disembuhkan. Penjakit ini disebabkan angin djahat. Loodjinkee, kau tentu habis bertempur, kau telah menggunai tenagamu berlebihan, lalu kau melakukan perdjalanan tjepat hingga tak sempat kau beristirahat, hingga gangguan masuk kedalam tubuh, sudah begitu kau terserang hawa dingin hingga panas dan dingin mengaduk mendjadi satu. Berbareng dengan itu kau djuga sudah makan obat. Sjukurlah, kalau terlambat lagi beberapa hari, obat dewa djuga tidak bakal menolong…”

“Anak muda, pemeriksaanmu tepat,” kata si orang tua, “Bagaimana sekarang?”
In Gak mengawasi kagum. Meski penjakitnja berat, orang tua itu tetap besar hati, ia mendjawab:”Asal loodjinkee menahan sakit, dapat aku menjembuhkannja.”

Orang tua itu bersenjum.
“Anak muda, kau turun tanganlah!” katanja, “Aku si orang tua jang tidak mau mampus ini rasanja masih dapat menahan penderitaan terlebih djauh!”

In Gak pun tertawa, tanpa berkata-kata lagi, ia mengeluarkan kotak kuning ketjil dari sakunja, darimana ia mengambil sembilan batang djarum emas jang ketjil sekali, pandjangnja empat dim, setelah ia minta si orang tua tengkurap, lantas ia menusuk sembilan kali, di sembilan tempat. Ia menusuk dengan tjepat dan tepat. Kalau tabib lainnja, dia berlaku hati-hati dan perlahan.

Si orang tua merintih dan kata: “Anak muda, aku merasai tubuhku kaku dan ngilu, inilah hebat…”
“Lawan loodjinkee!” kata In Gak tertawa, “Tak tahan berarti penjakit tidak dapat disembuhkan. Tahan sedikit. Kalau sebentar aku mentjabut djarumku, kau pun harus menahan napas, kalau napasmu bujar, bakal berabeh lagi!”

“Aku tahu. Anak muda, dimana kau peladjari ilmu tabibmu ini? Tabib atau ahli ilmu silat jang pandai menggunai djarum aku kenal beberapa diantaranja, tetapi belum pernah aku menemui jang sepandai kau ini. Aku pertjaja lootee, ilmusilatmu pun mungkin mahir sekali, bukankah?”

In Gak tertawa mendengar ia sekarang dipanggil ‘loo-tee’-adik.
“Tentang ilmusilat, aku mengerti sedikit,” katanja, “Kalau nanti loodjinkee sudah sembuh aku ingin sekali menerima petundjuk dari kau.”
“Hm!” orang tua itu berseru, “Kau minta petundjukku. Loo-tee, itulah dapat! Aku si tua tidak sembarang menerima budi orang, maka itu setelah kau mengobati aku, untuk kau pasti akan ada kebaikannja!”

Mendengar begitu, In Gak berhenti tertawa.
“Loodjinkee,” katanja sungguh-sungguh, “Dalam hal mengobati, aku mempunjai tiga pantangan? Tahukah loodjinkee?”
Si orang tua merebahkan kepalanja, tetapi suara orang membuatnja mengangkatnja.
“Laotee, aneh kata-katamu ini!” katanja, “Mana aku ketahui ini? Tjoba bilang, apakah pantangan itu?”

In Gak tertawa. Ia mendustai orang tua itu, untuk mengakali orang dapat melawan rasa njeri tusukan djarum. Tanpa diadjak bitjara, si orang tua mesti menderita hebat. Dengan banjak bitjara tanpa meras, berkuranglah penderitaannja itu, tak usahlah dia pingsan. Ia tjerdas, sampaipun gurunja memudjinja. Kali inipun ia mendapatkan akal untuk mengalihkan perhatian si sakit. Tapi ia mendjawab, katanja:
“Pantangan jang pertama jaitu aku tidak mengobati manusia djahat.-
„Oh, begitu ?" kata si orang tua. „Itulah pantas, Tjumalah seorang tabib tak dapat tak menolongi djiwanja orang jang bakalan mati”

„Aku jang rendah bukannja tabib, aku tak masuk hitungan itu."
„Djawaban jang bagus ! Jang kedua?"
In Gak girang. la mendapat kenjataan orang sudah dapat bitjara keras.
„Ialah jang diluar kelihatan sebenarnja hatinja berbahaja dan litjik !"
„Bagus ! Itupun pantas. Yang ketiga ?”

In Gak tertawa lebar, ia berkata njaring :Aku tidak mengobati tanpa ada kebaikan atau faedahnja”
Si orang tua tertawa lantas dia berkata njaring: “Bagus, botjah!” Kau mengobati aku karena mengharap kebaikan! Baiklah, lain waktu aku si orang tua akan berlaku tjerdik !”
Si botjah Tjioe Lin jang terus menerus berduka pun tertawa. Inilah untuk pertama kali semendjak gurunja — jalah si orang tua - menderita sakit itu.

In Gak tertawa. Ia telah melihat waktunja, maka ia kata : "Loodjinkee, apakah kau sekarang djuga dapat memainkan napasmu?”
Si orang tua itu dapat tertawa ia berkata njaring tanpa merasakan sekarang pernapasannja bergerak lurus, tjuma tinggal sedikit sesaknja, tapi ia girang bukan main.

“Laotee, kau liehay !" katanja. Kembali ia tertawa lebar.
In Gak segera berkata sungguh-sungguh „Loodjinkee, awas ! Aku hendak mentjabut djarum ini. Nah, siaplah untuk menahan !"

Benar-benar anak muda ini dalam bekerdja, satu demi satu, perlahan djarum itu ditjabut. Maka itu si orang tua mengasi dengar rintihan perlahan. Dia merasa seluruh tubuhnja mendjadi kaku. Ketika dia telah ditepuk tiga kali, dia mendengar suaranja In Gak: ”Sekarang djangan menahan napas lebih djauh”
Sambari berkata ia mengeluarkan sebutir pel Tjiang Boen Tan dan kata: “Loodjinkee telanlah pil ini”

In Gak masih bekerdja lebih djauh. la menjuruh si orang tua membuka badjunja, untuk ia menguruti seluruh tubuhnnja.
Si orang tua merasakan bekerdjanja djeridji tangan pemuda itu, jang mendatangkan hawa hangat, jang membikin darahnja mengalir dengan beraturan, hingga mukanja mulai bersemu dadu.
Sekira sepasangan hio, baru In Gak berhenti mengurut.

Si orang tua mengenakan pula badjunja, kedua matanja dibuka lebar-lebar, mulutnja dipentangkan katanja keras: “Bagus benar, botjah ! Tjaranja kau mengurut ini membuat aku perlu beladjar pula delapan atau sepuluh tahun, tetapi kau mengatakan bahwa kau meminta petundjukku! Oh Laotee, apakah bukannja menghina aku?”

In Gak bersenjum. Lutju akan mendengar sebentar ia dipanggil si botjah, sebentar sebentar Laotee alias si adik. Sama sekali ia tidak mendjadi kurang puas.
„Loodjinkee, sekarang telah sembuh seluruhnja penjakitmu didalam " ia kata. „Tinggal angin djahat jang belum tersapu semuja. Nanti aku membuatkan kau surat obat, lantas kau suruh pelajan pergi beli “ Ia pun minta Tjioe Lin pergi kedepan untuk memindjam perabot tulis.

Anak itu pergi sambil berlari-lari, lekas djuga ia telah kembali. In Gak lantas menulis resepnja.
Si orang tua menjaksikan bagaimana surat obat itu tjepat dibuatnja ia mendjadi kagum.
In Gak tertawa. Ia menjerahkan surat obat pada Tjioe Lin dan Tjioe Lin kembali lari keluar, untuk menjuruh pelajan membelinja.

Sementara itu, fadjar sudah tiba. Dihotel itu, suasana djadi berisik. Sekalian tetamu pada berkemas atau berangkat pergi, hingga pelajan semuanja mendjadi repot, tak terketjuali pelajan jang tadi melajani mereka. Dia sudah mandi keringat.
„Eh, engko ketjil, apakah tidak lihat aku begini repot !" katanja, ketika Tjioe Lin minta pertolongannja. la baru mengatakan demikian, mendadak ia awasi botjah, matanja dibuka lebar, agaknja ia heran, lantas ia tanja : „Bagaimana ? Tuan muda itu berhasil menolongi orang tuamu ?"

Tjioe Lin tidak sempat menjahut, ia mengangguk.
Mendengar demikian, pelajan itu menjambar obat, untuk terus dibawa lari, tak ia perdulikan tetamu memanggil-manggilnja. Ia lari kedalam kamar. Untuk herannja, ia mendapatkan si orang tua lagi duduk berbitjara sambil tertawa-tertawa dengan si anak muda. Ia berdiri mendelong.
„Aku si orang tua toh tidak mati, bukan?” kata orang tua itu tertawa. „Bukankah kau merasa aneh?"

,.Ah, kau gujon, tuan….” Kata pelajan itu likat.
“Uang kelebihannja untukmu !” katanja.
“Terima kasih tuan, terima kasih!” kata si pelajan berulang-ulang, “Oh kau benarlah dewa. Di kolong langit ini ada orang jang lebih pandai daripada Oey Poan Sian, benar aneh, benar aneh!” lantas dia lari keluar.

In Gak membiarkan orang pergi, ia memandang si orang tua dan kata sambil tertawa: “Loodjinkee, kalau kau bukan orang aneh rimba persilatan, kau tentu orang Kang-ouw jang luar biasa!”
“Sebutan orang aneh Rimba Persilatan tidak sanggup aku terima, kalau orang Kang-ouw luar biasa, mungkin tepat,” sahut orang tua itu, “Aku si tua she Tjhong bernama Sie, dalam Rimba Persilatan gelaranku jang ketjil jalah Kioe Tjie Sin Liong, Laotee, pernahkah kau mendengarnja?”

In Gak terkedjut hingga tanpa merasa ia berseru: “Oh, lootjianpwee kiranja Kioe Tjie Lootjianpwee jang mendjadi salah satu dari Kay Pang Sam Loo!.” Ia terus menatap tangannja orang tua itu, karena tadi ia mendapatkan djeridji tangan orang ada sepuluh tetapi kenapa disebutnja sembilan (kioe tjie). Ia djuga tidak sangka orang ada satu diantara Kay Pang Sam Loo, tiga tetua dari Partai Pengemis, jang djulukannja Kioe Tjie Sin Liong, berarti ‘Naga Sakti Sembilan Djeridji.’

Menampak sikap orang, si orang tua menundjukkan djeridjinja. Ia menambahkan: “Nah, Laotee, kau telah melihat njata atau belum?”
In Gak mengawasi. Pada tangan kiri, ia melihat djeridji tengahnja terbuat dari tembaga jang warnanja mirip dengan warna kulit tangan, hingga mendjadi satu, sedang pembuatannja bagus sekali. Ia mengangguk.

“Sebenarnja lootjianpwee, apakah telah terdjadi terhadapmu?” ia tanja kemudian. “Maukah lootjianpwee menuturkannja kepadaku?”

Tjhong Sie menundjuk pada Tjioe Lin si botjah, ia lantas memberikan keterangannja : Tjioe Lin itu anaknja Tjoan In-Tjioe Loen Thian, djago dari Yan-in. Setelah mendapat nama, Loan Thian hidup menjendiri di tepi telaga Tong Peng Ouw di ketjamatan Tong-peng, Shoatang. Ia ingin hidup aman dan damai. Selama merantau ia bentrok dengan Pouw Shia Soe Pa, empat djago dari Pouw-shia, Hoo-pak, jalah Tjhee-bian-say Yo Liang, Giam Ong Leng Tan Sioe Tjian, Tjo Siang-hoei Yo Bouw Ho dan Tjian Tjioe Koay-wan Ouw Leng. Yoe Liang itu, lima djari tangannja kena dibabat kutung. Lantas keempat djago Hoo-pak itu menghilang. Tidak tahunja mereka berguru pada seorang berilmu di gunung Tiang Pek San. Setelah turun gunung, mereka mentjampurkan diri dalam rombongan Oey Kie Pay, partai Bendera Kuning, ditiga propinsi Kangsouw, Anhoei dan Ouwpak. Mereka berniat menuntutbalas. Niat ini didengar Tjhong Nie di Iembah See-leng-kiap di Gietjiang dari orang Oey Kie Pay. Loen Thian itu sabahatnja Tjhong Nie maka Tjhong Nie segera pergi ke Tong-peng, buat mengasi kisikan dan bantuan. Ketika ia tiba di Pouw-shia, ia terlambat. Tjioe Loe Thian sudah kena dikerojok. Diwaktu menolongi, Tjhong Sie dikepung tudjuhbelas djago Oey Kie Pay. Ia berhasil membinasakan lima musuhdan menolongi Tjioe Lin untuk dibawa menjingkir.Ia dikedjar. Sjukur di tengah djalan bisa djuga ia lolos. Tiga hari tiga malam ia kabur, tanpa minum dan makan, tubuhnja pun terluka, disepandjang djalan ia terkena angin maka setibanja di Kang-touw, ia roboh. Disini ia menjembunjikan diri, maka ia menjuruh Tjioe Lin pergi mentjari Kepala Pengemis di Yang-tjioe jang bernama Tjian Leng dan menitahkan kawan ini pergi ke Ouwpak, untuk minta obat dari Liongpeng Ie-In Khioe Tjoe Beng, ia sendiri menguati diri, menanti pertolongan itu. Maka sjukur ia bertemu In Gak , kalau tidak, mestilah ia mati terlantar di hotel itu.

Mendengar itu In Gak berkasihan terhadap Tjioe Lin. Ia menggenggam kedua tangan anak itu jang nasibnja mirip nasibnja sendiri.
„Bagus lootjianpwee dapat ini,” katanja. “Setelah dia dewasa, dia tentu dapat menuntutbalas !"
„Hai, kembali lootjianpwee !” tegur Tjhong Sie, matanja dibuka lebar. “djikalau kau hargai aku, panggillah aku toako. Tentang ilmusilat, kau tentu tak beda daripada aku, laotee. Eh ja, aku sampai lupa menanja, kau murid siapa?”

„Guruku seorang pendeta," sahut In Gak. „Karena soehoe tidak mau menjebutkan namanja, menjesal aku tidak dapat membilangi. Hanja nasibku sama dengan nasibnja adik Lin ini. Tentang musuhku siapa, sampai sekarang tidak aku ketahui, maka sekarang aku lagi mentjarinja. Aku pergi ke Utara ini untuk menjusul kakak-angkatku dengan siapa aku telah membuat djandji, sekalian aku mentjari musuh-musuhku itu."

Tjhong Sie mengawasi dengan mata bersinar tadjam, lantas dia tertawa dan kata : „Sudah kita bitjara lama, masih laotee tidak menjebut sesuatu. Laotee, sifatmu sama dengan sifatku, maka itu umpamakata kau tidak telah tolong mengobati aku, suka aku bersahabat dengan kau. Kau tidak dapat menjebut nama gurumu dan siapa musuhmu, tidak apa, aku tidak mau memaksa menanjakan. Meski begitu, harus kau menjebut she dan namamu, dan siapa itu kakak-angkatmu. Boleh, bukan ?"
In Gak tertawa.
“Nama siauwtee Tjia In Gak dan kakak-angkatku itu Kian, Koen-Tjioe Loei Siauw Thian," ia mendjawab.

Kembali matanja Kioe Tjie Sin Liong terbuka lebar.
„Apa ?" katanja. „Kau djadinja bersahabat dengan si orang Kang-ouw jang nakal dan berandalan itu? Ah, dibelakang hari, kamu berdua pasti bakal mempertundjuki sandiwara jang luar biasa ! Bagaimana kalau aku si tua tak mau mampus terhitung satu diantara kamu?”
„Mana aku berani, laoko…” kata In Gak menampik. „Ah, djangan bertingkah sebagai nenek-nenek !” kata Tjhong Sie. Mendadak sikapnja mendjadi sungguh-sungguh: “Begini sadja, aku djadi loo-toa, si tua ! Shatee, bagaimana mengenai Tjioe Lin ini? Apakah dia ada harapan madju?”

In Gak tidak djadi tidak senang atas kelakuan Tjhong Sie ini, jang mengangkat diri mendjadi kakak angkat paling tua tanpa meminta persetudjuan orang. Ia bahkan senang untuk kepolosan itu. Ia pun merasa, seorang diri ia terlalu terpentjil.
„Pandangan toako pasti tidak salah !" ia mendjawab. Ia tertawa. Ia menggaruk-garuk kepala, katanja: “Kita mendjadi saudara angkat, habis bagaimana orang-orangmu memanggil aku bila mereka bertemu denganku?”

Tjioe Lin sendiri sudah lantas berlutut, memberi hormat sambil memanggil : „Samsoesiok I" Panggilan itu berarti paman jang ketiga.
In Gak lekas memimpin bangun, ia kata tertawa „Gurumu tidak suka banjak pernik, mengapa kau mengangguk-angguk padaku ?"

„Sudahlah" kata Tjhong Sie tertawa. „Kau masih muda sekali, kau sekarang mendjadi orang tertua partaiku, itulah hal jang lain orang, walaupun dia minta, dia tidak bakal dapatkan, maka kenapa kau pun bertingkah? Sekarang begini sadja. Kau mau pergi ke Utara, nah kau pergilah. Aku sendiri hendak pergi dulu kepada sahabatku Gouw Kang Hie-Sioe Teng It Peng, aku sendiri hendak titipkan Tjioe Lin padanja, buat beladjar silat selama tiga tahun, setelah itu, aku nanti menjusul kau." Ia berhenti sebentar, akan merogo keluar sebuah tongpay warna hitam di-mana ada ukirannja jang indah merupakan tiga ekor naga, singa dan harimau, rupanja seperti barang kuno, terus ia sesapkan itu ditangan In Gak, seraja menambahkan: “Inilah koan-wie lenghoe dari Kay Pay, terhadap benda ini sekalipun ketua jang sekarang, akan menghormatinja. Kau bawa ini ke Utara, dimana perlu kau tundjuki kepada setiap anggauta, kau memesan kata-kata, maka djikalau nanti aku menjusul kesana, dapat aku mentjari kau. Kalau perlu, kau pun boleh minta bantuan atau bekerdja sama dengan dabang partai disetiap tempat !"

In Gak menerima baik dan menjimpan pertanda kepartaian itu, ia kata: “Toako, kau sempat bertemu di Louw Kauw Kio pada tanggal empat bulan lima. Itu waktu, djieko djuga bakal tiba disana !"
„Djangan kau kuatir !" kata Tjhong Sie tertawa, „Djandji kita berat bagaikan gunung ! Malah mungkin, sebelum kau keluar dari propinsi Shoatang, kita akan sudah bertemu pula !"

Ketika itu pelajan muntjul dengan obat jang sudah matang, dengan segera Tjhong Sie tjegluk itu.
“Kau masak pula” In Gak memerintah.
“Baik tuan,” djawab si pelajan, jang terus mengundurkan diri.

In Gak lantas adjak saudara angkat itu dan muridnja pergi ke restoran di depan. Ia tidak memesan arak, sebab Tjhong Sie belum boleh minum air kata-kata. Untuk saudara itu, ia minta bubur, maka djuga Kioe Tjie Sin Liong dahar tak bernapas…”

Tjuma tiga hari mereka berkumpul, lantas mereka berpisah.
Tjhong Sie dan Tjioe Lin menudju ke Selatan , In Gak ke Kho-yoe. Tempat itu terpisah dari Kang-touw tak lebih dari seratus lie, mendekati maghrib, In Gak sudah sampai disana, terus ia mengambil kamar di hotel Lian In, sebuah penginapan jang ‘menjolok mata’ sebab jang tinggal disitu kebanjakan orang Rimba Persilatan, sebagaimana nampak orang pada membekal pelbagai sendjata. Maka pemuda ini, jang dandan mirip peladjar diawasi dengan pandangan mata enteng.

“Tuan ada perlu apa?” tanja pelajan, jang mengantarkan tetamunja kekamar dan terus menjediakan the. Dia berdiri dengan hormat, kedua tangannja turun.
“Kenapa disini ada banjak orang Kang-ouw?” In Gak tanja, “Apakah ini biasanja?”
“Tuan peladjar dan mungkin djarang bepergian,” sahut pelajan itu, “Djadi tuan tidak tahu hal ichwal kaum Kang-ouw. Djikalau tuan ingin ketahui, baiklah, aku akan mendjelaskan,” Pelajan it uterus bersikap hormat, “Empat puluh lie dari kota ini ada sebuah dusun Tjioe kee-tjhung dengan sang tjhungtjoe, pemiliknja, jalah Liang Hoay Tayhiap, she Tjioe nama Wie Seng, gelarnja Twie Seng Tek Goat, si Pengedjar Bintang Pemetik Rembulan. Katanja dia sangat gagah. Kali ini dia merajakan ulang tahunnja jang ke-60, hari pesta jaitu tiga hari lagi. Pesta itu dibikin berbareng untuk dia mengumumkan hendak mengundurkan diri. Untuk pestanja, dia telah mengundang banjak tetamu. Disamping itu, ada lagi sesuatu jang menarik perhatian. Tjioe tjhungtjoe mempunjai seorang putri, Goat Go namanja, orangnja tjantik, ilmu silatnja tinggi, bahkan katanja melebihkan ajahnja. Nona itu mempunjai sepasang pedang mustika, namanja Kie Koat dan Tjeng Hong. Karena nona Tjioe masih merdeka, di hari pesta akan diadakan pieboe tayhwee, jaitu pertemuan persilatan, siapa dapat mengalahkan si nona, orang itu selain akan dapat hadiah pedang Kie Koat, dia pun akan memiliki si nona sendiri sebagai istrinja. Hal ini menggemparkan maka djuga hotel kami ini sekarang mendjadi ramai sekali.”
Habis berkata, pelajan itu tertawa, agaknja ia senang sekali.

„Terima kasih!" kata In Gak, jang pun tertawa.
Pelajan itu tidak berdiam lebih lama lagi, sebab kebetulan ada jang memanggilnja.
Setelah beristirahat, In Gak keluar untuk djalan-djalan. Ia mendapatkan, dibanding dengan Kangtouw, Kho-yoe sepi sekali, tjuma di djalan sebelah utara jang rada ramai. Disini ia bersantap di sebuah restoran, terus ia pulang, niatnja untuk tidur siang-siang. Di tengah djalan ia melihat seorang pengemis berdiri di tepi djalan lagi meminta amal. Tiba-tiba ia ingat suatu apa. Ia menghampirkan, ia menaruh uang di tangan pengemis itu, seraja berkata dengan suara dalam: “Loodjinkee, aku ingin bitjara dengan ketuamu, dimana adanja dia sekarang?”

Pengemis itu hendak menghaturkan terima kasihnja, ia terperandjat mendengar pertanjaan itu, segera ia mengawasi tadjam, hingga untuk sekian lama itu ia berdiam sadja.
In Gak djuga mengawasi. Ia bisa mengerti kesangsian orang. Maka tanpa ajal, ia mengasi lihat tongpaynja Kioe Tjie Sin Liong.

Melihat itu, si pengemis terkedjut, tapi sekarang lekas sekali sikapnja berubah tjepat ia menjahuti, suaranja hormat: “Disini ada banjak orang, siangkong, mari turut aku jang rendah.” Lalu ia berdjalan ke sebuah gang sempit dan gelap.

In Gak mengikuti. Gang gelap sekali, sampai susah melihat lima djari tangan, tetapi itu tidak menjulitkan ia. Ia djalan terus, meski pengemis itu sudah melewati gang ketjil lain. Didepan sebuah kuil Sam Koan Bio, ia diminta menanti sebentar, si pengemis sendiri langsung masuk.
Kuil itu tidal ada penerangannja, maka itu, didalamnja pun gelap. Dari tjahaja bintang-bintang,
Terlihat bagian luar kuil sudah pada rusak. Ini djustru tempat bagus untuk Kay Pay, jaitu Partai Pengemis jang mendjadikannja markasnja.

-ooOOOoo-


Tidak lama muntjullah dua orang tukang minta-minta jang djalan didepan jalah pengemis jang tadi. Jang lainnja berusia lebih kurang lima puluh tahun, tubuhnja djangkung dan kurus. Ia memberi hormat pada In Gak sambil menanja: “Siangkong membawa tongpay Liong Say Houw partai kami, apakah siangkong hendak menitahkan sesuatu?”

In Gak bersenjum. Ia tidak lantas mendjawab, hanja menanja: “Apakah loodjinkee ketua Kay Pay disini? Aku numpang tanja nama loodjinkee”
“Aku jang rendah Pek Boen Liang” sahut Pengemis itu, “Tidak leluasa kita bitjara disini, silakan masuk kedalam.” Dan ia memimpin.

Didalam, mereka memasuki pintu samping dari pendopo untuk berduduk di kamar sebelah kanan. Disitu ada sebuah pembaringan, sebuah medja dengan empat buah kursi. Dapurnja kate. Segala apa tampak bersih.
“Apakah she dan nama siangkong?” pengemis tanja, “Apakah siangkong sudi mengasi aku lihat tongpay partai kami itu?”

Sekarang, di tempat terang In Gak dapat melihat tegas pengemis itu, jang mukanja kuning dan berewokan dan berdjenggot, jang sepasang matanja tadjam.
“Aku Tjia In Gak,” ia menjahut seraja terus lihatkan tongpay-nja.

Mendengar nama itu si pengemis terperandjat hingga ia berseru: “Ah, kiranja Tjia siauwhiap jang menggemparkan kota Kim Hoa! Maaf!” meski begitu, dengan lekas, dengan hormat ia menjambuti tongpay atau lebih tepat ‘Sin Liong Say Houw leng’ untuk diletaki di atas medja bersama pengemis jang satunja dia berlutut untuk memberi hormat dengan mengangguk tiga kali, habis mana baru dia ambil kembali untuk dikembalikan kepada si anak muda. Setelah itu ia berkata menerangkan: “Sama sekali Sin Liong Say Houw Leng ini ada tudjuh buah, djikalau bukan ada urusan besar dan sangat penting, tidak pernah dikeluarkan. Di Pusat besar ada disimpan tiga buah dan empat jang lain oleh empat orang tianglo besar masing-masing. Pula Sin Liong Say Houw Leng ini terdiri dari dua matjam. Jang di pusat terbuat kuningan bian-kang sedang jang dimiliki empat tianglo dari perunggu, dan jang siauwhiap miliki inilah satu diantaranja. Ditundjukinja Sin Liong Say Houw Leng ini menjatakan perwakilan tiangloo, tanda dari titah jang harus dihormati, maka itu segala perintah boleh diberikan, perintah itu harus diturut oleh semua anggauta. Pula ini dapat dipakai untuk menghukum siapa jang membuat pelanggaran. Siauwhiap, aku mohon tanja, apakah siauwhiap memiliki ini karena hadiah dari seorang tiangloo? Pertanjaan ini tidak seharusnja diadjukan olehku, dari itu terserah kepada siauwhiap sudi mendjawabnja atau tidak?”

In Gak tidak berkeberatan untuk mendjelaskan, maka itu ia lantas tuturkan bagaimana ia telah berkenalan dengan Kioe Tjie Sin Liong hingga untuk membalas budi, ia dihadiahkan tong pay itu.

Mendengar itu, Pek Boen Liang segera menekuk lututnja untuk memberi hormat.
“Tjia siauwhiap mengangkat saudara dengan Kioe Tjie Tiangloo, dengan begitu siauwhiap adalah orang tertua dari Kay Pay kami,” ia berkata, “Sekarang mohon kutanja siauwhiap hendak memerintahkan apa, biar mesti menjerbu api tak nanti kumenampik!”

In Gak memimpin bangun. “Bangun, Pek Paytauw,” katanja sungguh-sungguh, “Mulailah kita membataskan perhubungan kita. Kau harus ketahui, biar bagaimana, aku bukanlah anggauta langsung dari partaimu. Dengan sikapmu ini kau membuatnja aku sukar berbitjara.”

Boen Liang berdiri dengan kedua tangan dikasi turun, tanda menghormat.
“Djikalau siauwhiap suka mengalah, baiklah Pek Boen Liang bersedia menurut” katanja tetap hormat, “Sekarang ini Oey Kie Pay mendjadi terlalu bertingkah, karena dia telah bentrok dengan Kioe Tjie Tiangloo kami tak dapat berdiam sadja! Baiklah, Boen Liang nanti mengumpulkan semua saudara di wilajah Kangsouw Utara untuk menghadapi Pouwshia Soe Pa !”

In Gak mengangguk.
“Kabarnja Oey Kie Pay baru bagun selama empat-lima tahun ini” katanja, “Tetapi dia telah dapat mementang pengaruhnja di tiga propinsi Kangsouw, Anhoei dan Ouwpak, maka itu dapat diduga bahwa didalamnja ada orang-orang jang pandai. Karena ini aku minta paytauw djangan bertindak sembarangan. Aku sendiri jalah orang baru dalam dunia kangouw, pengetahuanku belum banjak, djadi tentang partai itu, aku belum tahu djelas. Mengenai ini, tentulah Kioe Tji Tangloo telah mengaturnja baik-baik. Sekarang aku mohon keterangan halnja Tjioe Wie Seng, dapatkah paytauw mendjelaskan sesuatu?”

“Tjioe Wie Seng itu dari Thay Khek Pay,” Boen Liang berkata, “Setelah masuk usia pertengahan, ia tinggal di kampung halamannja hidup tenang sebagai guru silat, akan tetapi ketika ia turun tangan di Kangsouw Utara, ia dapatkan djulukannja itu ‘Liang Hoay Tayhiap’ pendekar dari Liang Hoay. Tentang sekarang ia mengundurkan diri ada sebabnja jang memaksa. Kira-kira tiga tahun jang lalu, Oey Kie Pay telah mengundang Tjioe Wie Seng masuk dalam partainja, ia menampik. Karena itu, perhubungan mereka djadi buruk, sering Oey Kie Pay datang mengatjau, saban-saban mereka kena dipukul mundur. Walaupun ada perhubungan jang buruk itu, pada permulaan tahun ini Oey Kie Pay kembali mengirim utusan, kali ini untuk melamar puterinja Wie Seng untuk Giok bin Djie Long Sien It Beng, jang berdudukan sebagai ketua Gwa Sam Tong dari Oey Kie Pay. Dialah murud Khong Tong Pay, dia belum pernah menikah. Dia dipudji tampan dan gagah. Tjioe Wie Seng bentji Oey Kie Pay, lamaran itu ditolak. Masih partai itu penasaran, masih dua kali mengirim utusan mengadjukan pula lamaran mereka. Kembali semua itu ditolak. Achirnja Oey Kie Pay mendjadi murka dan sesumbar, djikalau si nona Tjioe tidak dinikahkan dengan Sien It Beng, Tjioe Kee-tjhung hendak dibikin rata dengan bumi. Untuk ini mereka lantas memasang mata-mata disekitar Tjioe kee-tjhung.
Achirnja Tjioe Wie Seng mendjadi kewalahan, maka ia lantas menjebar surat undangan untuk kaum Rimba Persilatan menghadiri pesta ulang tahunnja jang ke-60 diwaktu mana ia hendak menjimpan pedangnja untuk mengundurkan diri sekalian mengadakan pertandingan silat persahabatan guna memilih menantu, jang nanti dinikahkan dengan puterinja. Atjara pertandingan jalah kemenangan sepuluh kali dan jang menang itu, asal dia belum menikah, dia akan dinikahkan dengan nona Tjioe, umpama pihak Oey Kie Pay jang menang, si nona akan dipasangi dengan Sien It Beng. Pihak Oey Kie Pay ketahui baik maksudnja Tjioe Wie Seng jang mengandal keadilan Rimba Persilatan, tetapi mereka tidak takut. Mereka pertjaja partainja mempunjai banjak orang liehay dan mereka sekalian ingin mendjagoi diwilajah sini. Begitulah pihak Oey Kie Pay itu menjatakan kesetudjuannja dan sekarang ini sudah siap sedia, dari Ouwpak dan Anhoei sudah datang djago-djagonja. Tjumalah mereka itu belum mau turun tangan sebelum tiba sang waktu”

Mendengar begitu, In Gak lantas mengambil putusan untuk membantu setjara diam-diam pada Tjioe Wie Seng, supaja setelah berhasil, ia dapat segera mengundurkan diri.
“Djikalau begitu, terlalu Oey Kie Pay itu,” katanja, “Aku memikir untuk membantu Tjioe Wie Seng. Apakah Pek Paytauw dapat membantu aku? Disini ada berapakah saudara jang ilmu silatnja dapat diandalkan?”

“Tentu, siauwhiap!” sahut Boen Liang, “Orang kita disini jang mengerti silat tjuma dua puluh orang lebih, akan tetapi dapat kita minta bantuan dari Liang Hoay. Asal siauwhiap suka menggunai Sin Liong Leng, dalam satu hari mereka itu bisa sampai disini”

In Gak sudah lantas mengeluarkan tongpaynja. Tapi Boen Liang menggojang-gojang tangannja.
“Tak usah siauwhiap menjerahkan Sin Liong Leng” katanja, “Tjukup asal siauwhiap mengutjapkan sepatah kata!”

In Gak mendjadi heran dan kagum. Tidak ia sangka demikian besar pengaruhnja Sin Liong Leng itu. Dari sini terbukti bagaimana sungguh-sungguh Kioe Tji Sin Liong membalas budi hingga tongpay itu diserahkan padanja.
“Baiklah!” katanja kemudian, “Aku memberikan titahku!”

Pek Boen Liang lantas memerintahkan pengemis jang tua, jang terus mengundurkan diri.
In Gak kemudian memesan, kalau Kioe Tji Sin Liong datang, agar ia diberitahukan.

Kemudian ia pamitan, untuk pulang ke hotelnja. Oleh Pek Boen Liang ia diantar sampai di djalan besar.
Ketika itu sudah hampir djam tiga. Selagi In Gak bertindak memasuki pekarangan hotel, dari dalam, dari pintu hotel rembulan, keluar tiga jang djalannja tjepat, kelihatannja mereka sudah sinting. Tanpa dapat ditjegah, mereka bertubrukan. Orang jang didepan itu mendjerit kesakitan, waktu ia memandang, ia melihat seorang peladjar muda mengawasi ia sambil bersenjum. Ia mendjadi gusar sekali.

“Anak tjelaka!” ia berteriak. Kau telah membentur dada Ho Toaya hingga Ho Toaya merasa sakit, kenapa kau tidak mau lekas matur maaf?”
“Kau aneh tuan!” sahut In Gak, tertawa dingin, “Djusteru kaulah yang tidak mempunjai mata, djikalau aku tidak keburu kelit, mungkin terjadi perkara djiwa! Sudah kau sinting, kau masih kelajapan! Bukankah lebih baik kau pulang dan rebah di pembaringanmu sebagai majat?”

“Hai kurang adjar!” berteriak orang she Ho itu jang menjebut dirinja ‘tuan besar’ (toaya). Kau berani mengadjari aku? Anak tjelaka, kau rebahlah!”
Kata-kata ini ditutup dengan tindjunja jang besar dan keras.

Bagaikan kilat tjepatnja, tangan In Gak menjambar memapaki lalu tiga djeridjinja memegang nadi orang, jang terus dilempar hingga seketika itu djuga ‘tuan besar’ she Ho itu terpelanting roboh delapan tindak.

Tanpa menghiraukan orang mati atau terluka, si anak muda terus bertindak masuk.
Kedua kawannja orang she Ho itu kaget. Peristiwa itu berdjalan tjepat sekali. Ketika mereka menghampirkan kawan mereka, untuk dikasi bangun, mereka djadi lebih kaget lagi. Lengan kanan kawan itu bengkak besar sekali. Tidak ajal lagi, mereka memajang kawan itu untuk lekas menjingkir.

Ketiga orang itu buaja darat semuanja, mereka tahu mereka telah bertemu orang liehay, takutnja bukan main, maka itu, mereka segera mengangkat kaki.
Sedjumlah tetamu muntjul karena rebut-ribut, waktu mereka menjaksikan peristiwa itu, mereka pada tertawa. Tapi diantaranja ada djuga jang memperhatikan si anak muda.

Besoknja pagi, selagi In Gak keluar dari kamarnja, untuk membuang air, di depan ia, diluar kamar nomor tiga, ada dua orang tengah memasang omong, kapan mereka melihat ia, mereka itu mengangguk dan bersenjum djuga, meski ia tidak kenal mereka itu, ia mengambil sikapnja itu sebagaimana lajaknja sadja. Ketika ia memutar tubuh, untuk kembali ke kamarnja, ia melihat dua orang itu bertindak kearahnja. Tanpa merasa, ia menunda tindakannja.

Dari dua orang itu, jang satu berumur lebih kurang empat puluh tahun, mukanja bersemu merah, sepasang matanja tadjam,badjunja biru, dipunggungnja ada golok Gan leng Kioe-sit-too. Jang lainnja umur kira-kira lima puluh tahun, kumisnja sudah putih semua, tubuhnja sedang, matanjapun tadjam, badjunja abu-abu pandjang sampai di dengkul, tjelananja sepan. Dia membekal sebatang tongkat Hoed-tjioe-koay. Dia bermuka merah.
“Tuan hebat sekali, ilmu silatmu Kim-na-tjioe!” kata dia ini tertawa, “Kami kaguml"
“Itulah tidak berarti," In Gak berkata merendah, „Silakan masuk!”

Dua orang ini tidak menampik, maka dilain saat, mereka bertiga sudah didalam kamar.
Si tua tak berlaku sungkan lagi.
,Aku si tua Hoei-in-tjioe Gouw Hong Pioe," dia memperkenalkan diri. „Dan ini saudara Patkwa Kim-Too The Kim Go. Tuan, kau she apa?"
„Terima kasih!" sahut In Gak, hormat. “Aku jang rendah she Gan nama Gak."

Pemuda ini menganggap perlu ia mengubah she dan nama setelah di Kim-hoa ia membuat kegemparan, ini djuga perlu untuk menolongi Tjioe Wie Seng. Pula ia belum kenal kedua orang she Gouw dan she The ini.

Dua orang itu saling mengawasi nampaknja mereka heran. Nama Gan Gak itu aneh.
"Oh, Gan Siauwhiap!" kata Hong Pioe: “Didalam Oey Kie Pay siauwhiap memangku djabatan apakah?”'

Hati In Gak bertjekat. Mungkiln orang ini salah mengenali.
,Aku bukan orang Oey Kie Pay," ia mendjawab, „Aku ini dari Kangsay mau pergi ke Utara, kebetulan sadja aku lewat disini dan mampir, sebab aku mendengar kabar Tjioe Tayhiap hendak mengadakan pesta besar. Ingin aku menonton orang pie-boe. Oey Kie Pay itu perkumpulan kenamaan. Apakah tuan-tuan hendak mentjari salah satu orangnja?”

Mendengar itu Hong Pioe memandang Kim Go dan tertawa lebar.
“Apa kataku?” katanja, “Begitu aku melihat, aku pertjaja Gan siauwhiap bukan orang sebangsa mereka itu! Sekarang baru kau pertjaja aku, laotee!”

Muka Kim Go kelihatan merah.
„Gan sianwhiap, mari kami memperkenalkan diri," kata pula Hong Pioe, jang terus memberikan keterangannja tanpa diminta lagi, hingga sekarang ia ketahui baik siapa adanja dua orang ini.

Gouw Hong Pioe dan The Kim Go terkenal sekali di Kwan- gwa. Mereka tinggal di Utara Charhar sebagai pemilik peternakan „Charhar Utara." Selama belasan tahun, kuda mereka berdjumlah empat-sampai limapuluh ribu ekor. Tjioe Wie Seng sahabat akrab mereka: Sekarang mereka datang kemari karena menerima undangan. Setelah bertemu dengan Wie Seng mereka lantas menjewa kamar dihotel Lian In. Sudah tudjuh hari mereka datang. Setjara diam-diam mereka tengah manjelidiki gerak-gerik orang-orang Oey Kie Pay. Baru sadja mereka memikir untuk kembali ke Tjioe-kee-tjhung, mereka berkenalan dengan In Gak, jang mereka kenal sebagai Gan Gak.

„Djikalau siauwhiap niat pergi ke Tjioe-kee-tjhung, kenapa kita tidak mau pergi bersama?" Hong Pioe mengadjak, “Dengan begitu kita tak usah kesepian ditengah djalan. Kami pun mengharap bantuan siauwhiap”

In Gak berpikir, lantas ia menerima baik adjakan itu.
“Hanja aku minta djanganlah saudara-saudara terlalu tinggi mengangkat aku” pintanja.
“Djusteru siauwhiap jang terlalu merendah,” kata Hong Pioe tertawa, “Nanti kami merapihkan dulu pauwhok kami, habis bersantap, baru kita berangkat”

In Gak akur, maka ia mengantar kedua sahabat baru itu pergi keluar. Selagi Hong Pioe berdua masuk ke kamarnja, ia terperandjat. Di depan ia, dari sebuah kamar, ia melihat muntjulnja seorang nona jang berbadju merah jang tjantik sekali, alisnja lentik, matanja tadjam, hidungnja bangir, mulutnja ketjil dua baris giginja putih. Potongan mukanja jalah potongan kwatji. Sudah pakaiannja singsat, dia pun memakai ikat pinagang putih dimana ada tergantung pedang dengan runtje hidjau, sedang tangannja memegang sebatang tjambuk. Sepatunja berwarna hitam.

„Mesti dia mahir ilmu-dalamnja," pemuda ini berpikir.
Si nona dapat melihat orang memperhatikan ia, atjuh tak atjuh, ia bersenjum, terus ia tertawa seraja terus berlalu dengan tjepat.

Setelah berumur hampir dua puluh tahun itu, baru kali ini In Gak melihat pemudi setjantik itu, saking kagum ia mendjadi berdiri mendjublak sadja. Ia bagaikan merasa kosong begitu lekas si nona lenjap dari pandangan matanja, dengan tidak keruan rasa ia masuk kekamarnja.

Lekas sekali Hong Pioe dan Kim Go muntjul pula. Mereka sudah menggembol buntalan mereka.
“Siauwhiap, uang hotel kami telah bereskan,” katanja tertawa, “Mari kita bersantap, supaja kita bisa lekas berangkat”

Pemuda ini bersiap tjepat, maka bertiga mereka pergi ke rumah makan, untuk sarapan dengan begitu dilain saat, Nampak mereka sudah mulai dengan perdjalanan mereka menudju ke Tjioe-kee-tjhung, jang pernahnja lima puluh lie dari kota Kho-yoe kedudukannja berdamping dengan gunung dan sungai, gunungnja hidjau, airnja djernih, sekitarnja sunji dan njaman.

Penduduk Tjioe-kee-tjhung, sedjumlah limaratus keluarga, hidup bertani dan mentjari kaju, sedang rumahnja Tjioe Wie Seng berada ditengah-tengah, besar gedungnja, lebar pekarangannja. Dilihat sepintas lalu rumah itu merupakan seperti separuh dusun. Sekitar rumah dikurung air, jang lebar sepuluh tombak, dan dalamnja air setombak lebih. Terutama di-itu waktu, terlihat beberapa tjhungteng tengah meronda. Di tengah lian-boe-thia, jaitu lapangan berlatih, berdiri sebuah loei tay, panggung untuk bertanding jang ditjat merah serta sepasang liannja bertuliskan huruf-huruf air emas, bunjinja: „Jang datang, jang pergi, semua orang gagah" dan „Semuanja polos dan djudjur, tidak ada jang telengas dan palsu." Loeitay itu diberi nama „Wan Yo Tay," atau panggung burung wanyo. (Burung wanyo, jaitu bebek mandarin, lambang suami isteri jang rukun).

Dekat samping panggung ada gubuk atau tetarap jang bersih lengkap dengan kursi-mendja jalah peranti orang berteduh dan menjaksikan pie-boe atau pertandingan. Ketika itu sudah berkumpul lebih dari lima puluh tetamu kawan tuan rumah. Ketjuali tamu, pengurus dan pelajan begitu repot, pula ada tetamu jang membantu mengawasi orang-orang Oey Kie Pay, untuk mengawasi mereka kalau mereka main gila.

Sebagai tetamu baru, In Gak tidak mendapat tugas apa-apa, sehingga leluasa ia melihat-lihat, seakan-akan memperhatikan sluruh Tjioe-kee-tjhung, habis mana seorang diri ia kembali dengan puas ke Kho-yoe untuk mengadjak Pek Boen Liang, untuk mengatur segala apa, guna membantu urusannja, sesudah itu ia balik pula ke Tjioe-kee-tjhung. Ia sudah mendengar laporan dari Boen Liang, jang sudah menjiapkan lebih daripada enampuluh djago, bahkan diantaranja sudah ada jang turun tangan mengawasi mata-matanja Oey Kie Pay jang bersembunji di tudjuh tempat di luar dusun.

Saat itu, lohor djam tiga, Sang Betara Surya mulai tjondong ke barat, diantara pepohonan jang lebat dekat lauwteng Pek lok, bagian dalam dari ranggon Tjioe Wie Seng, ada berdiri seseorang dengan pakaian hitam terus dia nelusup masuk taman bunga, disitu dengan sebutir batu sebesar katjang dia menimpuk kearah lauwteng. Hasilnja tidak kedengaran apa-apa dia mendekati rumah lantas dengan lidahnja dia membasahkan kertas djendela, untuk mengintai kedalam. Itulah kamarnja Nona Tjioe. Ketika dia membongkar djendela, dari sisinja dia mendengar suara tertawa dingin perlahan. Dia terkedjut lantas dia memutar tubuh. Tapi dia tidak melihat ada orang. Tentu sekali dia mendjadi heran. Tengah dia memasang mata, mendadak pundaknja jang kanan terasa kaku, tanpa dia menghendaki goloknja djatuh kelantai papan papan lauwteng hingga terdengarlah suara berbisik.

Dengan satu sabetan tangan kiri, orang itu membatjok kebelakang, terus dia lompat turun, setibanja di tanah, dia memasang kuda-kuda dengan goloknja disiapkan. Dia melihat ke sekitarnja. Tetapi dia tidak mendapatkan siapa djuga. Taman itu sunji seperti semula tadi, tjuma pohon-pohon bunga bergojang sendiri karena sampokan angin halus. Di belakangnja dia mendapatkan bajangannja sendiri, pandjang dan ketjil mirip gala.

“Apakah ini disebabkan hatiku terlalu bergelisah?” dia kata dalam hatinja. Dia mendjadi ragu-ragu. “Mulanja telingaku mendengar suara tertawa, lantas pundakku kaku…Apakah itu bukan sebab gangguan asabab?” Dia djadi bersenjum sendirinja. Lantas dia berpikir pula: “Aku telah mendapat tugas tidak dapat aku pulang dengan tangan kosong, atau selain aku bakal ditegur, orangpun akan mentertawainja. Akulah Sam Tjioe Khong Khong Tjie Ek, si radja pentjuri.”

Oleh karena dapat memikir demikian, orang jang menjebut dirinja “Sam Tjioe Khong ini, jalah si radja pentjuri bertangan tiga, sudah lantas mendjedjak tanah pula, akan kembali berlompat naik keatas lauwteng. Kesunjian taman itu membuatnja berani sekali.

Kali ini, belum lagi dia tiba di lauwteng, baru dia terpisah dari tanah kira lima kaki, sekonjong-konjong paha kirinja, di djalan darah dengkul sebelah dalam, terasa terpagut sesuatu, njerinja mendesak ke ulu hatinja, hingga tak ampun lagi, berbareng dengan keluhannja tertahan, dia roboh terbanting, hingga debu mengepul naik disekitarnja. Bukan main dia kaget dan takut, sedjenak itu, tak lain ingatannja ketjuali untuk menjingkirkan diri. Paling dulu dia terus menggulingkan tubuhnja, dalam gerakan si “Keledai malas bergulingan” untuk bergelindingan ke gombolan pohon bunga, untuk menjembunjikan diri disana tanpa berkutik, tanpa bersuara.

Dari luar tempat ia bersembunji itu Tjie Ek lantas mendengar suara tertawa dingin disusuli edjekan tak sedap untuk telinga : “Bangsat dogol!” Untuk kupingnja, nada suara itu sangat menusuk hati, hingga dia merasa terganggu seperti kupingnja didengungkan suara njamuk.

Dia mendjadi kaget berbareng takut. Baru sekarang dia menduga kepada seorang liehay jang mengawasi padanja. Segera dia merajap untuk menjingkirkan diri ke samping.Dia ingin keluar diam-diam, seperti tadi dia masuknja, tanpa menemui orang. Setelah merasa aman, perlahan-lahan dia berbangkit untuk menongolkan kepala dari lebatnja pepohonan.

“Ih!” tiba-tiba dia berseru tertahan, saking kaget. Di depannja dia melihat sepasang kaki manusia. Tubuhnja bergidik tanpa dia merasa. Ketika dia sudah mengawasi lebih djauh, dia melihat tubuh seorang jang tertutup djubah abu-abu, dadanja lebar, pinggangnja tjeking, sepasang tangannja putih, sedangkan mukanja beda dari kebanjakan orang, inilah muka dari satujat, biru gelap atau matang biru, air mukanja dingin, alisnja lanang, sebaliknja, sinar matanja jang tadjam sekali mendatangkan rasa membangunkan bulu roma.

Tak dapat Tjie Ek mengangkat kepala pula, hatinja mendjadi tjiut.
“Tolong tuan, tolong membiarkan aku pergi pulang…” katanja, tubuhnja gemetaran.
Orang itu tidak menjahut, tjuma sinar matanja jang memain bengis.
Sam Tjioe Khong Khong bergidik, dia menggigil sendirinja.
,,Djikalau tuan tidak ada perlu apa-apa tagi, maaf, tidak dapat aku menemani lebih lama pula, “ kata dia pula seraja tubuhnja mentjelat, untuk naik ke tembok.

“Tak dapat kau lari!” kata satu suara dingin, disaat dia berlompat tinggi tiga kaki. Mendadak dia merasa kaki kanannja njeri dimana dia djatuh terbanting sehingga kepalanja pusing, matanja kabur, disitu dia rebah terkulai bagaikan tenaganja habis, terasa sakit dan ngilu seluruh tubuhnja, sedang djidatnja mengeluarkan peluh sebesar katjang kedele. Dia terus merintih. Di depannja, dia melihat si orang tadi berdiri diam dengan mukanja tertawa dingin.

Tapi tak lama, orang itu memutar tubuhnja, sebelah tangannja dibawa kemukanja. Ketika ia memutar tubuhnja kembali, sekarang tertampaklah wadja pemuda jang tampan. Lantas ia bertindak perlahan-perlahan, berlalu dari situ.

Tjie Ek heran dan berkuatir, sedang dia biasanja tidak kenal takut, sebagaimana kali ini, dia menjateroni Tjioe-kee-tjhung diwaktu lohor. Memang biasa setiap pentjuri bekerdja di waktu malam, tetapi dia ini telah memikir, djikalau dia dating malam, pasti pendjagaan kuat dank eras. Maka dia bekerdja siang. Dia pandai nelusup, tanpa menemui rintangan, dia dapat masuk kedalam taman bunga. Dia pertjaja, umpama kata dia dipergoki, pihak pendjaga bakal menduga dialah salah satu tetamu. Sudah sedjak beberapa hari, banjak orang dating dan pergi, kawan dan lawan tak diketahui, tak dikenali. Sampai sebegitu djauh, dia tak kepergok, hingga hatinja girang sekali diluar dugaannja, disaat dia bakal berhasil, dia roboh ketjewa dan menderita, hingga runtuhlah nama besarnja.

Malam itu ruangan Tjie-eng-thia dari rumahnja Tjioe Wie Seng terang mirip siang hari. Wie Seng berseri-seri sambil tertawa gembira. Disitu pun hadir Tjia In Gak bersama Gouw Hong Pioe dan The Kim Go, serta sahabatnja dua orang ini, jang baru tiba tadi pagi jalah Kim bian Gouw Khong Hauw Lie Peng. Mereka berempat berdiam di podjok kanan dimana mereka memasang omong perlahan sekali.

Tepat tengan orang berbitjara dengan asjik itu, seorang tjhungteng lari masuk dengan tergopoh-gopoh terus dia menghampirkan Tjioe Wie Seng untuk melaporkan: “Tjhungtjoe, pendjaga keempat telah mendapatkan seorang terluka rebah di dekat lauwteng Pek Tjin Kok, dia menjebutkan dirinja Sam Tjioe Khong Khong Tjie Ek”

Wie Sang mengerutkan alis, „Bawa dia kemari!" la menitahkan.
Tidak lama, Tjie Ek telah digotong masuk, diletaki dilantai. Dia masih mengeluarkan keringat didjidatnja, sedang pakaiannja kujup dengan peluhnja itu. Tubuhnja pun bergemetaran, dan mukanja putjat sekali.

“Tjioe Tayhiap berlakulah murah!" kata sipentjuri liehay, suaranja lemah. „Tolong mambebaskan aku dari totokan, nanti aku omong terus-terang."

Wie Seng heran, ia mendekati sambil menduga-duga apa mungkin Tjie Ek datang dengan maksud buruk dan ada orang jang telah memergokinja sekalian meroboh-nja. Ia lantas menotok, berniat membebaskan.
„Aduh! Aduh!" Tjie Ek berteriak-teriak. Dia bukannja bebas, dia merasakan sakit luar biasa.
Wie Sang merah mukanja, ia mengawasi melongo.

Dari antara para hadirin ada seorang tua, jang menghampirkan Tjie Ek. Ia membalik tubuh orang untuk menotok punggungnja tiga kali, disusul sama satu tepukan keras. Mendadak si pentjuri mendjerit keras, dari mulutnja menjembur reak, setelah itu dia dapat bangun berdiri, hanja dia lesu sekali.

Si orang tua menghela napas, ia berkata : “Orang jang telah menotok itu liehay sekali, kalau dia menotok lebih keras sedikit sadja, djiwa orang ini bakal terbang melajang. Inilah ilmu totok jang djarang ada, sudah beberapa puluh tahun aku mentjoba mempeladjari, aku tetap tidak berhasil. Apa jang aku bisa jalah tjuma ilmu membebaskannja."

Mendengar itu, Wie Seng menghadapi orang tua itu, sembari tertawa ia berkata: „Sebegitu djauh jang aku ketahui, djarang sekali kau memudji orang, baru sekarang aku mendengar In Liong Sam Hian To Tjiok Sam berbitjara begini rupa!"

Kapan In Gak mendengar orang itu jalah To Tjiok Sam gelar In Liong Sam Hian, si „Naga langit jang tiga kali muntjul dimega," jang pun dikenal sebagai Kwan-gwa It Tjiat, si orang gagah nomor satu dari wilajah Kwan-gwa, ia memandangnja beberapa kali. Selama di Tjin Tay Piauw-kiok, pernah ia mendengar Siauw Thian membitjarakan halnja djago she To itu, jang katanja liehay ilmunja luar dan dalam, kesohor ilmunja ringan tubuh terutama tangannja, jang dinamakan Taylek Kimkong Tjiang, atau „Tangan Arhat Kuat." Pukulannja itu, jang biasa dilakukan sambil berlompat katanja, dapat mengenai orang dalam djarak sepuluh tombak.

“Tjie giesoe,” Wie Seng menanja, panggilannja hormat tetapi suaranja keren, “Apa maksudmu datang ke gedungku ini? Sukalah kau omong terus terang tidak nanti aku sembarang bertindak terhadap dirimu.”

Tjie Ek menjeringai, dia djengah sekali.
„Aku telah dibebaskan dari totokan, tidak dapat aku tidak membalas budi,” sahutnja. Lantas dia memberikan keterangannja, mendengar mana para hadirin kaget bukan main.

Partai Bendera Kuning, Oey Kie Pay, dikepalai oleh Pat Pie Kim-kong 0e-boen Loei si Tangan Delapan sebagai paytjoe, ketuanja. Dialah murid satu-satunja dari Shatohuoto, seorang pendeta hanu dari Tibet, kepandaian siapa ia telah berhasil mewariskan delapan sampai sembilan bagian. Dia pun tjerdik sekali. Umurnja baru empat puluh lebih. Dia membangun partainja baru tiga tahun, kemadjuannja sudah pesat sekali, pengaruhnja meluas diketiga propinsi Kangsouw, Anhoei dan Ouwpak. Besar tjita-tjitanja, dia ingin mementang pengaruhnja itu hingga di sembilan propinsi disepandjang sungai Tiang Kang. Selama dua tahun dulu dia sudah mulai menelan beberapa partai ketjil di sembilan propinsi itu. Kemudian dia menghadapi tentangan keras, lantas dia mengubah siasat, dari keras mendjadi lunak, jalah dengan mengambil hati orang-orang jang kosen, untuk bekerdja sama.

Siapa tidak mau bekerdja sama, dia tjoba membikin tjelaka, dengan dibunuh setjara menggelap atau difitnah. Demikian Tjioe Wie Seng hendak dia tarik kedalam partainja, karena tjhungtjoe dari Tjioe-kee-tjhung ini menentang, dia lantas menggunai siasat. Dia sendiri sebenarnja menganggap Wie seng masih boleh dibiarkan sadja. Jang berkeras menghendaki ini jalah Hoe paytjoe Liat-ho-tjhee Tjin Lok, si Bintang Api berkobar. Ia ini kata, Wie Seng kepala besar. Disamping itu ia sebenarnja menjimpan maksud lain. Jalah ia mengintjar sepasang pedang mestika Wie Seng, atau sedikitnja sebatang diantaranja. Kioe Koat atau Tjeng Hong, supaja dengan bersendjatakan pedang itu ia djadi semakin kosen. Wie Seng pun tidak dapat ditindas dengan kekerasan sebab Oe-boen Loei masih djeri terhadap pemerintah Boan, jang sedang makmur dan kuatnja. Dia kuatir nanti terbit peristiwa besar hingga dia ditindas pemerintah. Dilain pihak, dia tidak sudi bentrok sama ketua mudanja, maka dia suka mengalah terhadap siasatnja Tjin Lok itu.

Demikian Sien It Beng digunai sebagai alat untuk melamar Nona Tjioe. Lantaran Wie Seng bertindak hendak mengundurkan diri dan mengadjukan sjarat pie-boe guna menntjari djodoh puterinja, mau tidak mau Tjin Lok melakukan persediaan berbareng menggunai kekerasan setjara diam-diam andaikata It Beng gagal. Ia menjiapkan segala apa untuk penjerbuan . Goat Go hendak ditjulik, supaja penjelesaian datap dilakukan setjara “lunak.” Tjie Ek telah diberi tugasnja itu. Menurut rentjana, Tjie Ek mesti bekerdja pada satu hari dimuka pie-boe, jaitu diwaktu malam Goat Go mesti dibikin pulas dengan asap bius. Kalau Tjie Ek berhasil, dia mesti memberi tanda, nanti Tjioe-kee-tjhung hendak diantjam untuk diserbu. Kalau semua orang Tjioe-kee-tjhung keluar untuk menangkis serbuan, Tjie Ek mesti bekerdja terlebih djauh mentjuri kedua pedang. Di saat katjau, diduga gedung kosong dan Tjie Ek bisa bekerdja dengan leluasa. Setelah berhasil, pihak penjerbu bakal lekas mengundurkan diri.

Untuk djadi penjerbu ini, dipilih musuh-musuhnja Wie Seng, supaja Oey Kie Pay dapat mentjutji tangan. Bahkan sebaliknja Oey Kie Pay akan memberikan djandjinja hendak membantu, dalam waktu tiga bulan, si nona bakal dapat ditolong. Tentu sekali, Sien It Beng jang bakal djadi penolong palsu itu, supaja karena mengingat budinja, Goat Go suka menikah dengannja. It Beng itu mempunjai roman tak dapat ditjela. Akan tetapi Tjie Ek bukan bekerdja malam, dia bekerdja siang, latjur untuknja, dia kepergok dan kena ditawan. Bahkan terpaksa dia mesti membuka rahasia.

Semua orang kaget mendengar kebusukan Oey Kie Pay, jang menggunai akal muslihat kedji itu. Sjukurlah ada si penolong tidak dikenal, hingga usaha Tjie Ek dapat digagalkan, hingga sekarang rahasia Oe-boen Loei atau Tjin Lok terbuka.

“Sajang kau dirintangi, Tjie giesoe,” kata Wie Seng kemudian, “Dapatkah kau mendjelaskan,bagaimana romannja orang jang merobohkan kau itu?”

Dengan djengah Tjie Ek mentjeritakan semua halnja.
Wie Seng heran, matanja menjapu semua hadirin.
“Siapakah sahabat itu?” tanjanja bersenjum, “Apa ada diantara saudara-saudara jang mengenal ia?”

Semua orang saling mengawasi. Ketika Hong Pioe memandang In Gak, hatinja berkata: “Mungkinkah dia ini? Tapi menurut Tjie Ek, orang itu liehay sekali, sedang dia ini masih terlalu muda. Siapakah dia itu?”

In Gak telah menjalin pakaian, ia menduga pengusaha ternak ini mentjurigai ia, maka sambil tertawa ia kata: “Saudara Gouw, menurut Tjie Ek orang itu mesti seorang gagah luar biasa, maka aku ingin sekali dapat berkenalan dengannja”
“Aku pun sangat ingin menemui dia!” kata Hong Pioe, “Tapi dia orang luar biasa, djikalau dia tidak memperlihatkan dirinja, meskipun kita bertemu dengannja, sukar untuk mengenalinja!”
Habis berkata orang she Gouw itu tertawa lebar.

In Gak mengangguk, ia tertawa, ia tidak bitjara lagi.
Lantas Wie Seng memerintahkan Tjie Ek dikurung dalam kamar batu. Dia akan dibebaskan kapan waktunja telah tiba. Dilain pihak, ia menitahkan pendjagaan terlebih keras dan hati-hati.

Demikianlah, malam itu lewat dengan aman. Tapi itu bukannja tak terdjadi sesuatu. Karena Tjie Ek tidak kembali, Tjin Lok mengirim tiga orang untuk mentjari tahu. Tjelaka mereka ini, dipegat seorang bertopeng dan dibikin roboh dengan totokan, terus mereka diantar pulang ke markas mereka.

Kapan sang pagi datang, Tjioe-kee-tjhung mendjadi ramai sekali. Tetamu-tetamu datang tak putusnja. Repot orang melakukan penjambutan dan melajani mereka semua.
Gubuk timur dipakai untuk tetamu-tetamu jang membantu pihak tuan rumah, gubuk barat untuk semua tetamu lainnja, jang terdiri dari orang dari segala matjam golongan. Dari pihak Oey Kie Pay, Oe-boen Loei mengirim Tjin Lok beserta belasan djagonja. Diantaranja terhitung Sien It Beng.

Tjioe Wie Seng dan puterinja duduk di tetarap timur, didampingi In Liong Sam Hiap To Tjiok Sam. Mata dia ini tadjam mengawasi ke tetarap timur. Diatas medja terletak sepasang pedang jang sarungnja tertaburan batu merah, sedang runtjenja sutera kuning gading.
In Gak duduk di baris pertama, di medja kedua. Bersama ia ada rombongannja Gouw Hong Pioe. In Gak pernah bertemu dengan Nona Tjioe, ia menganggap nona itu toapan, benar dia tidak tjantik luar biasa tetapi toh menarik hati, hingga ia memikir: “Entah bagaimana tabiatnja Nona Tjioe ini…” Ia memikir demikian karena ingat Nona Wan Lan, jang lagak lagunja memuakkan. Memangnja ia tak pernah mentjitjipi rawatan dan kasih sajang ibunja, dari itu, mengenai wanita, ia asing sekali.

Goat Go sebaliknja, begitu ia melihat In Gak, meresap sudah kesannja jang baik. Pemuda itu tampan, halus gerak-geriknja.

Tapi ia tidak bisa memikirkan pemuda itu. Sekarang ia sudah tidak bebas pula, ia bakal djadi rebutan orang banjak. Umpama kata In Gak turut naik di panggung, ia pertjaja pastilah dia tidak bakal sanggup melawan banjak iblis.
Selagi In Gak mengawasi ke tetarap barat, tiba-tiba hatinja bertjekat. Disana ia melihat si nona berbadju merah, jang lenjap dalam sekelebatan di hotelnja kemarin ini. Hampir ia mendjerit sendirinja. Nona itu baru tiba,

Dia diantar masuk oleh pelajan. Dia masih memegang tjambuknja jang hitam mengkilap, rupanja terbuat dari otot. Begitu tiba, matanja menjapu kelilingan, baru dia berindak ke gubuk, tindakannja tetap.

Semua hadirin, baik dari tetarap timur, maupun dari tetarap barat, turut tertarik hatinja, semua mengawasi si nona badju merah itu. Dia langsung menghampirkan Tjioe Wie Seng, untuk berbisik, atas mana, tuan rumah nampak girang. Lantas dia diundang duduk bersama Nona Tjioe dan diadjar kenal degan To Tjiok Sam beramai.

„Gan Siauwhiap, bagaimana kau lihat nona badju merah itu Itu?" tiba-tiba In Gak mendengar pertanjaan selagi ia mengawasi si nona . la terperandjat, mukanja bersemu dadu. Tahulah ia jang ia ditegur karena mengawasi orang.
“Dia tak ada tjelaannja, Gouw Tiongtjoe,” ia mendjawab, “Apakah tiangtjoe tahu siapa nona itu?”
Hong Pioe tertawa, tetapi ia menggeleng kepala.

Ketika itu tengah hari tepat, tiba waktunja pie-boe dimulai, maka terdengarlah pertanda, suara gembreng tiga kali, disusul dengan letusan petasan diluar kalangan Tjioe Wie Seng dan gadisnja terus berbangkit untuk naik di panggung Wan Yo tay. Wie Seng bersenjum. Si nona mengenakan badju hidjau, di pinggangnja tergantung pedangnja. Ia berdiri disisi ajahnja.
Letusan petasan disusul tempik sorak, setelah suara mendengungnja berhenti, sirap djuga sorak-sorai.

Tjioe Tjhungtjoe mengenakan djubah sulam, kumis dan djenggotnja jang putih pandjang sampai di dada, ia berdiri tegak, nampaknja keren. Ia memberi hormat kearah timur dan barat, terus ia berkata: “Hari ini hari ulang tahunku jang ke-enam puluh, aku girang dan bersjukur sekali atas kundjungan semua sahabatku, tak dapat aku membalas budi, maka aku minta sudilah saudara-saudara minum dan dahar sekedarnja”
Kata-kata itu disambut tempik sorak.

“Berbareng dengan perajaan tak berarti ini, aku pun membangun ini panggung wan Yo Tay” tuan rumah berkata pula, “Inilah untuk anakku, jang telah berusia dewasa. Oleh karena aku keras sekali memilihnja, sekian lama belum aku mendapatkan menantu jang tjotjok maka itu, setelah usiaku landjut ini, aku memikir mengadakan pertandingan diatas panggung, guna mendapatkan djodoh anakku. Para hadirin, siapa ingin bertanding, haraplah memperhatikan sjaratku. Dia harus berumur tak lebih tiga puluh tahun, dia pun mesti belum beristeri. Pertandingan dibataskan hanja sepuluh kali. Karena inilah pertandingan persahabatan, setiap tjalon harus bertanding hanja hingga saling sentuh sadja, djangan sampai ada jang melewatkan batas hingga melampaui maksud sutji dari pertandingan ini. Pula, pertandingan diadakan tjuma selama tiga hari, selewatnja itu, aku jang rendah hendak menjimpan pedangku. Maka, saudara-saudara, sudilah semuanja mengerti maksudku ini. Sekian, terima kasih!”
Kembali gemuruh tempik sorak para hadirin.

Setelah suasana sirap, Wie Seng mengadjak gadisnja turun, akan kembali ke kursi mereka di tetarap timur.
Segera terlihat naiknja dua pemuda ke atas panggung, dengan bersendjata tombak dan golok pendek, mereka terus bertanding. Mereka bukan orang-orang pandai tetapi senang untuk menjaksikan pertandingan mereka.

Di kedua tetarap, para pelajan mulai menjadjikan barang hidangan serta araknja, arak simpanan Tiok-yap-tjeng, maka dilain saat, orang sudah mulai bersantap.
Umumnja kaum muda, jang ingin bertanding, tak tenang hatinja. Tak tahu mereka, siapa bakal dapat memenangkan sepuluh pertandingan. Waktu tiga hari pun tjukup lama. Di hari pertama ini, orang tak bernapsu untuk segera naik ke panggung. Maka sampai djam satu, belum ada pertandingan jang berarti. Jang bertempur adalah pemuda-pemuda Tjioe-kee-tjhung, seperti dua pemuda jang pertama itu. Mereka hanja memulai untuk membantu meramaikan.

Akhirnja dari tetarap barat terdengar satu suara dalam : ‘Kenapa jang naik ke panggung tjuma tukang silat kembang sadja, jang tak sedap dipandang? Buat apa mereka ini ditondjol-tondjolkan? Entah mereka murid siapa, tetapi ada muridnja tentu ada gurunja! Hajo kamu lekas turun, nanti aku lemparkan kamu satu demi satu!”
Mendengar itu, kawanan sesat di barat itu pada tertawa berkakakan.

Di timur ada orang jang mendjadi mendongkol sekali, hingga dia lantas sudah naik ke panggung, untuk menghadap ke barat dan berkata dengan menantang: “Sahabat, kau sudah minum tjukup, kau sudah gegares kenjang, buat apa kau bersuara seperti babi? Kenapa kau tidak mau muntjul sadja?”

Dialah Ngo-pou Twie-hong piauw Lo Tek Hok. Tantangannja disambut seorang dari barat, jang muka dan kumisnja merah, kumisnja itu kaku, romannja bengis, matanja pun gedeh. Dia berseru: “Binatang, hebat kau mentjatji! Aku Siang-Kang It Sioe Pit Siauw Giam bukan sembarang orang, maka kau sebutkanlah namamu!”
Lo Tek Hok terkedjut. Ia tahu orang she Pit itu jalah begal tunggal kesohor di wilajah Siang Kang, mahir ilmu dalam dan luarnja, kedjam sifatnja. Tapi ia tidak takut. Ialah murid bukan pendeta dari Ngo Tay San, umurnja belum tiga puluh, namanja sudah terkenal, adatnja pun tinggi. Dia menjahuti sambil tertawa dingin: “Nama toaya jalah Lo Tek Hok. Meski aku bukan orang berkenamaan, aku tidak dapat membiarkan segala begal bertingkah!”
“Oh, kiranja kau Lo Tek Hok?” kata Pit Siauw Giam tertawa lebar. “Kau berani menantang aku?” Mendadak, menjusul perkataannja itu, ia menjerang dada orang, mentjari dua djalan darah yoe-boen dan leng tiong, ia memang murid Hian Im Hoen Boen dari bukit Lee Bo Nia di Selatan, jang terkenal untuk ilmu silatnja, Hian Im Tjiang Lok, tangan liehay. Siapa kena terserang ilmu itu, diluar terlihat tidak terluka, lukanja jaitu bagian dalam patah dan petjah tulang iga dan ususnja.

Tek Hok gusar untuk serangan kedjam itu. Ia berkelit ke kiri, lalu meneruskan, ia menggeser tubuh lebih djauh ke belakang lawan; dari sini baru ia menjerang dengan tipu silat Kay Pay Tjioe.
Melihat orang demikian gesit, Siauw Giam memudji dalam hatinja. Ia berkelit kekiri, sembari berkelit, tangan kanannja menjerang, menghadjar lengan kanan orang she Lo itu.
Tek Hok menolong tangannja itu dengan dikasi turun, ia tidak menarik pulang, sebaliknja ia meneruskan menjerang ke perut, habis mana dengan melenggak, kakinnja mendjedjak, untuk berlompat mundur. Bagus gerakannja ini, bebas ia dari bahaja, akan tetapi ia lantas mengeluarkan keringat dingin. Ia tahu bagaimana ia terantjam bahaja barusan.
Siauw Giam djuga lompat mundur dua tindak meskipun ia tahu bahwa ia tjuma digertak, lantas ia tertawa.

“Botjah, kau dapat lolos?” katanja seraja terus madju menjerang pula. Ia berlompat.
Tek Hok mengerti bahaja, dia tidak mau menangkis, dia berkelit. Tapi lantas dia didesak, diserang saling susul hingga dia mundur ke pinggir panggung. Disini Siauw Giam berlompat, lagi sekali ia menjerang hebat. Itulah lompatan “Harimau melompati Sembilan gunung” atau “Houw yauw kioe san.”

Di timur, para hadirin kaget hingga ada jang berseru. Mereka menduga Tek Hok bakal terhadjar gepeng. Kesudahannja itu, mereka melihat Siauw Giam mentjelat mundur dua tindak, mukanja meringis, tangannja memegang suatu barang mirip tjabang pohon. Tek Hok sendiri, selagi orang mundur, segera berlompat turun dari panggung.
Siauw Giam tidak turut lompat turun, tetapi dia berkata njaring: “Tikus mana jang melukai orang dengan sendjata gelap? Tapi sebatang sumpit bambu sukar mentjelakai orang tuamu! Djikalau kau laki-laki, kau keluarlah !” Dia belum sempat menutup mulutnja, mendadak sebatang sumpit menjambar ke mulutnja itu, hingga dua buah giginja tjopot dan mengeluarkan darah, hingga dia mesti membekap mulutnja, matanja memandang bengis kekedua tetarap.

Setelah mengetahui Siang Kang It Sioe terkena sendjata rahasia, para hadirin heran. Siapa si penjerang jang demikian liehay? Bukankah panggung terpisah dari mereka kira tiga belas tombak? Bukankah biasanja orang menimpuk tjuma tiga tombak, atau paling djauh enam-tudjuh tombak? Lebih djauh dari itu, serangan sendjata rahasia sudah tak ada gunanja.
Kapan Hoei In Tjioe melihat sumpitnja In Gak, diam-diam ia terkedjut. Sumpit itu tinggal sepasang sumpit setengah potong! Maka ia kata dalam hatinja: “Pemuda ini tidak boleh dipandang enteng ! Entah apa maksudnja dia…Dia begini muda, dia liehay, diapun dapat menjembunjikan diri, inilah luar biasa.

Ketika itu dari barat berlompat naik seorang anak muda dengan pakaian hitam, di punggungnja ada sebatang pedang, sepasang matanja tadjam. Dia memberi hormat kepada Siang Kang It Sioe sembari tertawa dia berkata: “Pit Lootongkee, kau telah menang satu rintasan, silakan mundur. Si penjerang gelap, sebentar pun akan dapat diketahui, maka itu waktu masih belum kasip untuk kau turun tangan! Aku jang rendah Sam Tjay Toat Beng Leng Hoei dari Khong Tong Pay Barat, maksudku bertanding untuk mendapatkan djodoh dan pedang, maka itu, maukah lootongkee membantu menjempurnakan tjita-tjitaku ini?”
Siauw Giam memang lagi serba salah, maka itu datangnja pemuda ini kebetulan untuknja. Ia kata: “Aku tjuma main-main, Saudara Leng silakan kau menggantikan aku!” Habis berkata, ia lompat turun, kembali ke tetarap barat.
V
Seturunnja Pit Siauw Giam, Leng Hoei lantas bitjara kepada orang banjak, menuturkan maksudnja turut pie-boe, dari itu ia menantang siapa suka melajani ia bertempur. Ia bitjara dengan sikap tekebur.
Di tetarap timur, hadirin kebanjakan bermaksud membantu tuan rumah, tak ada niatnja turut pie-boe, ada djuga jang ketarik hatinja, sajang usianja sudah lewat tiga puluh atau anaknja sudah merentet. Ada pula jang memikir pertjuma bertempur untuk main-main sadja, sedang apabila salah tangan, permusuhan dapat tertanam karenanja. Maka itu, tidak ada jang mau menjambut tantangan itu.
Tidak demikian dengan tetamu-tetamu di tetarap barat. Mereka terdiri dari banjak golongan. Di satu batas, mereka dapat bersatu, tetapi mengenai soal perdjodohan ini, mereka memikir masing-masing. Ada mereka jang ingin mengangkat nama sadja, ada jang hendak mendapatkan hadiah ! Maka djuga, madjulah satu anak muda. Sajang untuknja, baru beberapa djurus, dia telah kena dirobohkan Leng Hoei.
Segera naik pula seorang muda lain, terus dia bergebrak dengan Sam Tjay Toat Beng. Tengah mereka bertempur seru, seorang pelajan pengantar nasi datang pada In Gak. Pemuda itu lantas berkata padanja: “Tolong kau ambilkan aku sumpit, sumpitku djatuh dan kotor."


4. Jilid 2.2 : Lima biji catur merubuhkan penyusup

Bacaan » PEMBALASAN SEORANG JAGOAN » Jilid 2.2 : Lima biji catur merubuhkan penyusup
Anggota masrizki
Waktu 21 Juni
Bab Sebelum 3. Jilid 2.1 : Mengobati Kioe Tjie Sin Liong
Bab Sesudah 5. Jilid 3.1 : Penjusup-penjusup jang sial Menuntut Balas
Karya : Wu Lin Qiao Zi
Terdjemahan : Oey Kim Tiang
Jilid 2.2. Lima biji catur merubuhkan penyusup

“Baik, siauwya, nanti aku ambilkan,” kata si pelajan sembari tertawa, terus dia pergi.
Hong Pioe bersenjum. Dimata lain orang, biasa sadja sumpit djatuh dan mendjadi kotor karenanja, hingga perlu ditukar.
In Gak dapat melihat roman si orang she Gouw, lantas ia kata perlahan: “Gouw Tiangtjioe, aku ingin bitjara sebentar, dapatkah?”
Hong Pioe mengawasi tadjam, ia tertawa.
“Mari!” katanja.

Maka pergilah mereka berdua ke tembok belakang tetarap itu, di podjokan.
“Sebenarnja aku tidak mempunjai urusan penting, hanja aku merasakan sesuatu, hingga aku anggap tak dapat aku tak mengatakannja,” berkata In Gak.
“Siauwhiap tentulah melihat apa-apa,” kata Hong Pioe, “Silakan bitjara, aku bersedia mendengarnja.”

In Gak bersenjum, ia kata perlahan: “Hari ini djangan kasi ada orang tetarap timur jang naik ke panggung. Aku telah memperhatikannja, njata pihak barat berdjumlah lebih banjak satu lipat. Umumnja mereka mengintjar pedang, djodoh hanja jang nomor dua. Pula mereka kebanjakan orang Oey Kie Pay. Aku menduga mereka lagi menanti waktu. Sekarang ini tidak dapat kita sembarangan menduga kekuatan mereka. Aku pikir, kalau terpaksa satu atau dua orang sadja jang madju, guna mentjegah bahaja. Jang menjukarkan aku, jalah orang-orang Oey Kie Pay jang nertjampuran dengan penghuni Tjioe-kee-tjhung, hingga mereka sukar dikenali. Maka itu baiklah pedang mustika ditukar dengan jang palsu, ditaruh di suatu tempat sebagai umpan. Disamping itu, aku pertjaja, pihak Oey Kie Pay tentunja tidak puas, mungkin mereka mengirim orang untuk menolongi Tjie Ek. Bagaimana tiangtjioe berpikir?”

Hong Pioe mengangguk-angguk. Bukan main ia kagum. Pemuda ini, selain gagah, sangat tadjam matanja dan djauh pandangannja.
“Baiklah, nanti aku bitjara dengan Tjioe Tjhungtjoe.” Ia kata. Terus ia tertawa dan menambahkan: “Siauwhiap, barusan hebat permainanmu mematahkan sumpit mendjadi panah tangan.”
Mukanja In Gak merah tetapi dia tertawa.
Sampai disitu pembitjaraan mereka, mereka kembali ke tetarap. Hong Pioe terus pergi kepada tuan rumah dan si anak muda ke medjanja.

Ketika itu Leng Hoei sudah menang tiga kali beruntun, Nampak dia sangat girang dan puas, kedjumawaannja makin njata. In Gak mengerutkan alis melihat lagak orang itu.
Dari barat sudah lantas muntjul seorang jang lompatannja naik ke panggung indah sekali, tjepat dan enteng, tak ada suaranja. Itulah lompatan “Naga hitam membalik mega” Maka dia dapat sambutan tempik sorak dari kedua tetarap. Dialah seorang djangkung dengan kumis mirip kambing gunung, matanja tadjam berkilauan. Dia terus tertawa dingin dan berkata: “Sahabat she Leng, bagus sekali ilmu silat kau Koen Goan Tjiang-hoat! Aku Hoei Thian Kat-tjoe In Ho, beruntung aku dapat menemui Khong Tong Barat!"

Kaget Leng Hoei mendengar nama orang itu, hingga dia mirip ular berbisa jang mengkerat, sampai dia mundur dua tindak.
“In Loosoe naik kemari, bukankah……” katanja.
“Ngatjo !" membentak orang tua, si Kala Menebangi Langit „Usiaku sudah Iandjut mana aku memikir jang bukan-bukan? Tadi tuan rumah membilang, pertandingan berbatas hanja saling sentuh, kenapa kau barusan merobohkan dua saudara angkatku dengan tangan telengas, hingga hamper mereka djadi bertjatjad? Dari itu, sahabat, ingin aku mentjoba-tjoba kepandaian kau !”

Leng Hoei djeri, itulah bisa dimengerti. Selama tudjuh atau delapan tahun jang belakangan ini di Kwan-tiong telah muntjul seorang djago jang dapat membuat lain orang sakit kepala. Dan dialah Hoei Thian Kat-tjoe In Ho ini.Dia liehay, sepak terdjangnja terahasia, dia pun telengas. Kalau dia bekerdja biasa dia tidak meninggalkan kurban hidup. Sukar untuk mentjari dia. Maka dunia rimba persilatan menjebut dia hantu. Djulukannja jang lain jaitu Kwan tiong It koay, Siluman Kwan-tiong.
“In Loosoe, kau terlalu," kata Leng Hoei jang tertawa dingin. la memberanikan hati. Ia pikir, kalau ia kalah, tentu gurunja akan turun tangan. Ia djuga ingin metjoba sampai dimana kepandaian orang jang disohorkan liehay dan dimalui ini. “Bukankah kita lagi bertanding?

"Baiklah, biar kepandaianku tjetek, suka aku melajani kau!”
In Ho tertawa berkakak, matanja bertjahaja. Agaknja dia djumawa sekali.
“Sahabat she Leng, kau berani omong besar di depan In Ho, kau gagah !” dia kata, “Tjuma kau haruslah menimbang-nimbang dulu dirimu…”
“Tentang itu biarlah, nanti aku mentjoba dulu!” Leng Hoei bilang dingin, “Djikalau aku kalah, itu tentu disebabkan peladjaranku tidak sempurna, djadi tak usahlah kau berdjumawa. In Loosoe, silahkan kau memberikan pengadjaran padaku !”

In Ho tertawa mengedjek, tindjunja meluntjur, kakinja dimadjukan. Itulah gerakan jang dinamakan “mengindjak pintu hong-boen.”
Leng Hoei mendongkol sekali. Serangan sematjam itu menandakan ketjongkakan si penjerang, bahwa lawan jang diserang tidak dipandang mata sama sekali. Maka dengan ilmunja Kim-na-tjioe, ilmu menangkap dari Kong Tong Pay, ia menjambuti tangan orang.

In Ho benar-benar liehay. Mudah sekali mengelakkan tangan lawannja, setelah mana kakinja bergerak pula, hingga segera ia berada dibelakang lawan itu. Tapi ia tidak menjerang, ketika Leng Hoei memutar tubuh, ia melesat pula. Teranglah ia hendak mengitari musuh guna membikin musuh pusing, hingga si lawan mirip kera jang lagi dipermainkan.

Banjak penonton jang bersorak atau tertawa, hingga mukanja Leng Hoei mendjadi merah padam, dia mendongkol dan malu tanpa berdaja. Djikalau dia tidak turut memutar, setiap waktu dia bisa dihadjar musuh.
In Gak tahu betul Leng Hoei bakal kalah, ia tidak terus memperhatikan pertandingan itu, ia lebih banjak memasang mata ke pelbagai pendjuru, terutama terhadap si nona badju merah. Nona itu mengawasi tadjam ke atas panggung, saban-saban dia bersenjum ketjil, hingga Nampak tegas sudjennja jang manis, kedua tangannja dipakai menundjang dagunja. Agaknja ia tertarik luar biasa oleh pertandingan itu.

“Gila aku,” In Gak kata dalam hatinja, “Walau pun dia menaruh hati padaku, selagi musuh-musuhku belum terhukum, mana dapat aku memikirkan soal asmara?”
Demikian pemuda ini menegur dirinja sendiri, sesudah mana, matanja diarahkan pula ke tetarap barat, mengawasi Tjin Lok dan rombongannja. Ketua muda partai Bendera Kuning itu saban-saban kasak-kusuk dengan kawannja, beberapa kali tangannja menundjuk djuga kearah Liang Hoay Tayhiap.

“Mesti dia mengandung sesuatu maksud” pikir pemuda ini, “Djangan-djangan sebentar malam mereka akan mengulangi siasat mereka. Mereka telah dihadjar kaum Kay Pay tanpa mereka menjadari siapa jang menjerangnja, mereka menduga pihak Tjioe-kee-tjhung sendiri. Kedjadian itu membikin mereka bertambah bentji pihak Tjioe-kee-tjhung. Tjioe Wie Seng pastilah dipandang seperti djarum dimata mereka. Aku telah turun tangan, aku mesti turun tangan terus. Nampak Pek Boen Liang biasa bekerdja baik, entahlah seterusnja.

Ketika itu pertempuran diatas panggung sudah berakhir. Leng Hoei kena dihadjar pukulan “Mega mendung menutupi rembulan,” dia roboh dari panggung dengan mulut memuntahkan darah, hingga beberapa orang dari tetarap barat keluar untuk menolongi.
In Ho tidak menantang, dia lompat turun untuk kembali ke tempatnja.

Untuk sedjenak, berisiklah di tetarap barat itu dimana ada suara keras dan tjatjian. Suara baru berhenti ketika terlihat dua orang naik ke panggung untuk bertempur.
Di saat itu Gouw Hong Pioe kembali dengan tjepat, sambil tertawa ia kata pada In Gak: “Gan siauwhiap telah aku bekerdja menurut pesan kau. Tjioe Wie Seng memudji kau tjerdik dan teliti!” Dan ia menudjuk djempolnja, habis mana ia menambahkan: “Aku si orang tua djuga telah mewakilkan kau mentjari keterangan! Nona badju merah itu..ah! Dia itu liehay ilmu silatnja dan romannja djuga tidak dapat ditjela. Aku si orang tua pun kagum apabila…orang muda!” Dan ia menatap pemuda di depannja.

The Kim Go pun tertawa.
In Gak melengak.
“Gouw Tiangtjoe, kau bergurau !” katanja likat.
Hong Pioe tertawa. Tapi segera ia berkata dengan sungguh-sungguh: “Dialah mutiara tunggal kesajangan Tionggoan It Kiam Tio Kong Kioe. Tionggoan It Kiam liehay ilmu silatnja dan puterinja Lian Tjoe namanja ini djuga menggemarinja, maka kepandaiannja pasti tidak buruk. Lihat sadja sikapnja ketika ia memegang tjambuknja waktu ia baru datang tadi. Tionggoan It Kiam diundang Tjioe Tjhungtjoe, dia lagi sakit, tidak dapat dia datang, maka dia mengirim puterinja sebagai wakilnja. Nona Tio tjantik dan gagah, siapakah tidak mengagumi dan menghormatinja? Maka djuga, aku bilang…”

Ia berhenti dan tertawa, “Gan siauwhiap, djangan kau mengatakan aku si tua gila basah dan suka bergurau…Ingatlah itu kata-kata, suatu keluarga mempunjai seorang gadis, seribu keluarga lain meminangnja. Inilah saatnja kamu anak-anak muda turun tangan! Anak muda biasa berkulit tipis, bagaimana kalau aku si tua jang madju untuk mewakilkan kau berbitjara?”
In Gak likat sekali. Ia tidak sangka Hong Pioe telah dapat membade hantinja itu. Ia mendjadi tidak enak duduk dan tidak enak berdiri, mukanja mendjadi merah. Akhirnja ia paksakan tertawa dan berkata: “Kalau begitu baiklah, aku menjerahkan kepada lootjianpwee untuk mengurusnja hingga berhasil !” Setelah itu dengan tjepat ia pergi ke belakang, tak ia perdulikan Hong Pioe dan Kim Go mentertawakannja.

Di dalam gedungnja Tjioe Wie Seng ini, ketjuali tempat adu silat ini jang ramai, bagian-bagiannja jang lain semua sunji dan senjap, meski demikian didalam taman, di air, di setiap lorong, djuga di kamar tulis dan lauwteng, semua ditaruhkan pendjaga. Dua atau tiga orang, dengan berombongan, djuga djalan meronda.

Sam Tjioe Khong Khong Tjie Ek dipendjarakan dalam rumah batu di podjok barat taman, kamar batu itu pernahnja disamping gunung-gunung. Dia ada jang djaga, segala keperluannja tidak dialpakan, hingga dia tidak kekurangan makan. Tjuma dia lenjap kemerdekaannja. Demikian itu, selagi orang berkumpul di lian boe-thia, dia sendiri duduk menjender di pembaringannja, kedua tangannja memegangi kepalanja, matanja memandang keluar kamar, memandang dari djendela berdjerudji besi.

„Dasar aku jang malang," dia berpikir. „.Biasanja aku merdeka, biasa setiap aku bekerdja satu kali, aku bisa hidup tidur-bangun selama tiga tahun, tetapi sekarang, karena aku mendengar kata-kata sahabat, lantaran aku temahai hadiah lima ribu tail perak, aku telah mendjual djiwaku ! Kenapa aku begini bodoh ? Ah, itu orang jang aku hadapi, dia liehay luar biasa, seumurku belum pernah aku berhadapan dengan orang liehay seperti dia! Boleh aku merasa puas roboh ditangannja . ."

Sudah umum, siapa lenjap kemerdekaannja, banjaklah waktunja jang luang untuk berpikir, demikian si radja pentjuri ini. Dia lantas ingat segala perbuatannja dulu-dulu. Benar dia biasa melakukan kedjahatan, tetapi ada kalanja djuga dia mengamal kepada orang-orang melarat. Hanja kurang lebih, kedjahatannja masih terlebih banjak. Sekarang dia menanja, bagaimana selandjutnja? Agaknja dia menjesal dia berduka, tetapi dia masih bersangsi.
Di luar terali, senantiasa ada mata jang mengintai ke dalam kamar untuk melihat, dia masih ada atau tidak, atau dia tengah mengerdjakan apa. Karena dia berdiam sadja, dia tidak diganggu.

Ketjuali suara djauh di lian-boe-thia, taman sunji senjap. Kadang-kadang sadja terdengar gembreng si orang ronda, atau tindakannja si orang ronda sendiri.
Sekonjong-konjong diatas kamar batu, terdengar suara berkelisik. Suara itu tak dapat didengar ketjuali orang jang telinganja lihay. Tjie Ek dapat mendengar suara itu, dia bergerak bagaikan orang baru sadar. Segera dia melihat nongolnja kepala di luar terali, disusul dengan ini suara perlahan:
“Saudara Tjie atas nama hoe-pangtjoe, aku datang untuk menolong kau”

Tjie Ek lantas mengenal sahabat itu ialah Tiat pe Djin-him Koe Souw. Untuk sedjenak dia girang. Bukankah dia hendak ditolongi. Tapi dilain saat, djidatnja lantas berkerut, lantas dia menggojang kepala.
“Tidak dapat kau menolongi aku” katanja masgul, “Disini aku diperlakukan baik, mereka telah berdjandji, bila sudah tiba saatnja aku bakal dimerdekakan. Pula berbahaja untuk aku kabur sekarang. Pendjagaan disini kuat sekali. Bukan sadja aku, kau sendiri pun terantjam bahaja saudara. Sekarang aku tidak mempunjai guna suatu apa, aku telah ditotok hingga habislah tenagaku. Maka itu, saudara, djangan kau memperbahajakan djiwamu karena aku. Baik saudara lekas menjingkir. Pepatah membilang, untuk pembalasan waktu sepuluh tahun masih belum kasip, maka itu, biarlah kita lihat dibelakang hari sadja. Bukankah gunung hidjau dan air mengalir tak berubah?”

Koe Souw tampak bersangsi. Ia berkata: “Tadi malam telah dikirim beberapa orang kita jang dapat diandalkan, untuk menolong kau, saudara Tjie, akan tetapi sampai sekarang ini mereka masih belum pada kembali. Mungkinkah mereka itupun telah kena ditawan?Saudara Tjie, apakah kau ada dengar apa-apa mengenai mereka ini?”

Tjie Ek heran dan kaget.
“Begitu?” katanja, “Semendjak aku dikurung disini, putus sudah perhubungan dengan dunia luar, maka aku tidak tahu apa djuga. Djikalau begitu, saudara Koe, lekas kau menjingkir !”
Koe Souw melihat ke sekitarnja.
“Diluar sini ada beberapa kawanku, mereka bersedia untuk menjambut” katanja, “Mana dapat aku berlalu dengan begini sadja? Saudara Tjie, djangan kau kena ditakut-takuti mereka. Bukankah Tjioe-kee-tjhung ini bukannja kedung naga dan guha harimau? Dimataku tempat ini mirip tempat boneka ajam atau andjing? Marilah, mari aku gendong kau pergi dari sini !”

Habis berkata, Koe Souw memegang terali untuk dipatahkan. Ia berhasil. Ternjata tangannja kuat sekali. Hanjalah, ketika ia mau mematahkan besi terali jang kedua, mendadak ia mendengar teguran, “Siapa disitu?”

Ia terkedjut, segera ia memutar tubuh, goloknja dipakai melindungi mukanja. Ia tidak diserang, hanja didepannja, terpisah tiga kaki, ia melihat dua orang berdiri mengawasi padanja, orang itu berpakaian serba hitam, sepasang matanja tadjam berpengaruh.
“Kau siapa tuan?” seorang menanja pula, suaranja keras, “Kau lantjang masuk kemari, djikalau kau bukannja pentjuri tentulah rampok! Lekas kau serahkan diri, djikalau kau tunggu sampai aku turun tangan, golok dan tombak tidak ada matanja, nanti kau mati menjesal!”

Koe Souw benar-benar berani.
“Aku Tiat-pie Djin-him Koe Souw!” sahutnja, temberang. “Aku mau bekerdja, aku dapat datang kemana aku suka, tidak perduli istana radja, apapula baru Tjioe kee tjhung jang ketjil ini! Aku bilangi kau, dusun ini bakal segera hantjur lebur! Kamu semua mirip kura-kura didalam korang! Perlu apa kamu masih berlagak gagah?”

Orang itu tidak takut atau gusar, dia bersenjum:
“Orang she Koe, djusteru sekarang ini kaulah si kura-kura dalam korang itu” katanja, “Apakah kau tidak pertjaja? Kau lihat, dapatkah kau menjingkir dari sini?”
Koe Souw terperandjat, ia mundur, matanja melirik kekiri dan kekanan.
“Andjing tjilik, kau berani berdjumawa didepan aku si orang she Koe! Katanja, menjeringai. “Baiklah, hari ini aku mengadjar kau kenal dengan golokku, golok Kioe-lian-hoan!”

Dua orang itu ialah Tan Boen Han dan Ouw Thian Seng, kedua muridnja To Tjiok Sam. Mereka masih muda, mereka tidak kenal takut. Mereka tahu Tiat Pie Djin Him jalah seorang djahat di Yan-in, mereka tidak djeri.
Boen Han tertawa dan berkata: “Orang she Koe, kau biasa melakukan kedjahatan di Yan-in, dosamu dosa tak berampun, tuanmu memang lagi tjari kau, kebetulan hari ini kau mengantarkan dirimu, sekalian aku mewakilkan Thian mendjalankan keadilan!”
Kata-kata ini ditutup dengan serangan golok Gan-leng-too dengan tipusilat “Hong-hong sam tiam tauw” jaitu Burung Hong mengangguk tiga kali.

Koe Souw tertawa dingin, dengan sebat ia menangkis. Sebagai kesudahan dari itu sendjata mereka bentrok, Tan Boen Han mundur tiga tindak, goloknya hampir terlepas, sebab tangannya kesemutan dan sakit. Sekarang ia tahu, musuhnya kuat sekali, maka tidak mau ia melayani dengan kekerasan.
Koe Souw lantas mengenali, ilmu golok si anak muda ilmu goloknya To Ciok Sam, hatinya bercekat juga, akan tetapi sudah terlanjur, ia melawan terus, bahka ia ingin lekas-lekas merebut kemenangan, maka ia keluarkan ilmu goloknya yang dibanggakan itu.
Tan Boen han bertempur sampai lima puluh jurus, ia tidak berhasil mengalahkan musuh, sebaliknya ialah yang terdesak. Kapan Ouw Thian Seng melihat itu, tanpa ragu-ragu lagi ia maju untuk membantui saudara seperguruan itu.

Ilmu golok Koe Souw benar lihay, ia masih dapat mendesak dua lawannya. Sampai tiba-tiba:
“Kamu berdua masih tidak mau mundur! Buat apakah kamu memaksakan diri tidak keruan?”
Itulah satu suara keras dan bengis.
Boen Han dan Thian Seng lompat mundur, saking napasnya bekerja keras, mereka tidak dapat lantas membuka suara, mereka hanya heran.

Sebaliknya Tjie Ek didalam kurungannya, dia mengenali suara orang yang membekuk dirinya.
Segera orang itu berkata pada Koe Souw: “Koe Souw, mengapa kau tidak lekas meletaki senjatamu untuk menyeah ditawan? Apakah kamu kira Ciu kee cung dapat kau datangi sesuka hatimu?”

Koe Souw mundur tiga tindak, ia mengawasi. Maka ia melihat seorang muka pucat tanpa darah. Ia tidak takut, ia cuma kaget sebentar. Lantas ia berkata nyaring: “Akulah Tiat-pie Jin-him Koe Souaw! Aku sudah masuk dalam dunia Kang-ouw puluhan tahun, belum pernah ada orang berani kurang ajar terhadapku! Kau siapa? Asal kau bisa lawan golokku, nanti aku ikat diriku!”

Orang dengan muka luar biasa itu tertawa melenggak:
“Kau masih berani bertingkah?” katanya, “Begini saja, Jikalau kau bisa lolos dari tanganku, suka aku mengampuni jiwamu! Sebenarnya orang jahat sebagai kau, mati pun belum cukup untuk menebus dosamu! Sekarang kau boleh maju, jangan sungkan-sungkan, nanti kau menyesal!”
Habis berkata, orang mirip iblis itu tertawa seram.

“Saudara Koe, lekas lari!” Tjie Ek berteriak.
Justeru si raja pencuri berteriak, justeru Koe Souw menyerang. Dia hendak mengadu jiwa.
Begitu ia membacok, Koe Souw kehilangan musuhnya. Tahu-tahu orang sudah tertawa dingin dibelakangnya! Ia kaget. Tanpa menoleh lagi, ia menjejak tanah untuk berlompat kedepan, sesudah mana baru ia memutar tubuhnya dengan cepat.
Ia tidak dapat melihat musuhnya, selagi ia melihat kekiri dan kanan, tiba-tiba ia mendengar pula tertawa dingin dibelakangnya. Ia menjadi kaget tidak terkira.
Boen Han dan Thian Seng yang sudah dapat bernapas, turut menjadi heran. Roman mereka ini dapat dilihat jago Kang-ouw itu, dia bingung. Baru sekarang dia berkuatir. Tapi dia mengertak gigi, bagaikan nekat dia memutar tubuh seraya menyerang kebelakang. Itulah gerakan “Pohon tua terbongkar akarnya.” Lagi-lagi, ia membacok tempat kosong.

“Haha..ha..ha..”kembali terdengar tertawa dingin, “He..hee..he!”
Berkuatir dan penasaran, Koe Souw menyerang pula kebelakang, kali ini ia mengulangi hingga ia membacok sambil berputaran. Sia-sia belaka semua bacokannya itu, bahkan tanpa merasa, kakinya menjadi lemas. Itulah pengalamannya pertama kali, yang mengherankan ianya. Karena ini, mendadak ia berhenti menyerang terus ia berlompat ketembok, dengan niatnya mengangkat kaki. Bertentangan dengan kata-katanya, ia tidak sudi ikat dirinya sendiri, ingin ia lolos.

Belum Tiat-pie Jin him tiba ditembok, untuk lompat melewatinya, satu bayangan sudah berkelebat, lantas mendadak ia merasakan iganya kesemutan, hingga habislah tenaganya, diluar keinginannya, ia roboh ngusruk sendirinya!”
Bukan hanya Boen Han dan Thian Seng yang heran, juga beberapa orang yang lain, yang bersembunyi dilain bagian taman itu, yang muncul karena mendengar suara orang bicara keras dan tertawa. Begitu Koe Souw roboh, mereka lantas kena dibikin heran. Orang tidak dikenal itu terus lompat ke tembok untuk menghilang.

Boen Han dan Thian Seng lari menyusul, mereka lompat naik ke tembok. Sia-sia belaka, mereka tidak dapat melihat lagi orang itu. Sebaliknya untuk kagetnya mereka, mereka melihat bergelimpangannya beberapa tubuh manusia di kaki tembok pekarangan sebelah luar. Mereka tidak bisa berdiam melengak, maka dengan bersiul mereka memanggil orang-orang ronda, untuk menggusur Koe Souw semua kedalam kamarnya Cie Ek, kemudia sesudah memesan Thian Seng, Boen Han lari kedepan, ke tetarap timur, guna melaporkan kejadian barusan ini.

In Gak pergi tidak lama, dia sudah kembali ke mejanya, berbicara sambil tertawa-tawa dengan Hong Piu semua.
Diatas panggung, bergantian sudah orang bertempur, naik dan turun. Siapa yang roboh, kebanyakan dia terluka parah, suatu bukti si cantik manis dan pedang mestika sangat besar pengaruhnya.

Ciu Wie Seng sendiri, bersama-sama To Ciok Sam, Tio Lian Cu dan gadisnya, juga berbicara dengan gembira. Mereka seperti tidak memperhatikan jalannya pertandingan. Sampai datanglah Tan Bun Han dengan laporannya itu. Semua menjadi terperanjat.
Ciok Sam memesan muridnya, atas itu, Bun Han segera mengundurkan diri pula.
“Siapakah dia?” kata si orang she To kemudian. Ia heran sekali. “Dia bergerak sangat gesit, hingga tubuhnya seperti tidak nampak. Kenapa dia tidak mau memperlihatkan dirinya? Ingin aku menyerahkan gelaranku kepadanya. Ciu laotee, bukankah tepat aku menghadiahkannya?”

Tio Lian Cu sebaliknya bersenyum, terus dia tertawa, nyaring tetapi halus:
“Ingin aku melihat dia!” katanya, “Ah, dia mestinya dia itu!”
“Bagaimana, Nona Tio,” tanya Ciok Sam, “Nona kenal dia itu? Siapakah dia?”
Nona Ciu bersenyum, ia melirik In Gak.
“Tapi aku yang muda belum berani menentukannya” sahutnya, “Aku cuma baru menduga saja. Dia berada disekitar kita, tak sulit untuk mencari tahu siapa dianya..”

Wie Seng berpaling In Gak, ia agaknya heran. Ia ingat kata-katanya Hong Piu bahwa pemuda itu pandai membawa diri. Ia sangsi. Sekarang pun ia masih bersangsi, akan tetapi ia toh memperhatikannya.
In Gak sendiri terus bersenyum, ia tak perduli segala apa yang terjadi didepan matanya. Ia kata dalam hatinya: “Mereka boleh menvurigakan aku tetapi mereka pasti sukar membuktikannya”

Nona mencurigai sebab orang meninggalkan mejanya, perginya secara tenang, kembalinya cepat-cepat. Ia merasa pemuda itu tampan seperti Phoa An, tubuhnya halus, cuma gerak-geriknya aneh. Sedatangnya Bun Han kecurigaannya menjadi keras.
Ketika itu dilantai di depan panggung terdengar satu suara nyaring yang menarik perhatian umum. Disana muncul seorang baru, yang berkata: “Ciu tayhiap, aku Cian Seng Hoan, ingin aku mengajukan satu pertanyaan” Dia terus menunjuk kearah Lian Cu, terus dia menyambungi: “Bukankah nona itu pun menyerahkan diri untuk dipilihkan pasangan diatas lui-tay ini? Dapatkah, setelah aku menangkan sepuluh rintasan, aku memilih dia?”
Orang itu, yang menyebutkan namanya, berumur lebih kurang tiga puluh tahun, tubuhnya jangkung, pinggangnya bulat, punggungnya lebar. Kata-katanya itu membikin Wie Seng tercengang, sedang si nona Tio segera mengasi lihat air muka guram.

Sebenarnya, semenjak munculnya tadi, Lian Cu sudah menarik perhatian para hadirin apa pula mereka yang mengambil tempat di tetarap barat. Dengan munculnya ia, Ciu Goat Go lantas kalah pamor. Pula Lian Cu sendiri sering-sering ia memandang ke tetarap barat itu, tak jeri ia mengawasi banyak mata tajam yang mengawasi padanya. Demikian Cian Seng Hoan yang bergelar Coan In Yan cu si walet menembusi mega. Dia gagah, sayang tabiatnya buruk, gemar ia merusak kehormatan wanita. Maka juga, melihat nona demikian elok, tak dapat ia menahan desakan hatinya, dia naik kepanggung untuk mengajukan pertanyaannya itu. Dia mempunyai beberapa kawan, dia telah kasak-kusuk dengan mereka itu, yang membantu menganjurkannya.

To Ciok Sam mengerutkan alis, ia kata perlahan: “Dialah satu manusia busuk. Dia harus diajar adat, jikalau tidak, percuma kita menganggap kita pembela-pembela keadilan dan pembenci kejahatan..”
Belum berhenti suaranya In Liong Sam Hian, Nona Tio sudah bangun dari kursinya, untuk bertindak kedepan panggung, lantas cambuknya dikerjakan menyambar orang she Cian yang kurang ajar itu, ujung cambuknya mencari jalan darah yu bun.

“Eh, budak, kau telengas sekali!” kataSeng Hoan tertawa, sedang tubuhnya melesat, menjauhkan diri dari ujung cambuk. Sebaliknya, tangannya menyambar.
Lian Cu tahu maksud orang, ia segera menarik pulang cambuknya untuk diulangi tak kurang cepatnya, guna sekarang menotok jalan darah khie hay.
Seng Hoan berkelit pula, habis itu, ia melesat maju untuk merangsak, sebelah tangannya meluncur kekedua pundak si nona, sedang dari mulutnya sembari tertawa, terdengar kata-kata:
“Budak, kau sangat telengas, kau seperti menghendaki tuanmu she Cian berlaku kejam”

“Jahanam!“ si Nona membentak. Dia berkelit, lantas dia mencambuk pula, hingga tiga kali beruntun, karena yang pertama dan kedua kali, Seng Hoan terus berlompatan dengan tipusilatnya “Kiem lie to cuan po” atau ikan emas lompat jumpalitan menembusi gelombang. Dia bergerak lincah. Celaka untuknya, si nona tidak berhenti hanya dengan cambukan berantai tiga itu, hanya melanjutkannya, kali ini hingga lima kali.

Seng Hoan repot bukan main, meski ia gesit dan lincah, ia toh kewalahan. Ia lolos dari bahaya setelah berkelit dari cambukan yang kelima, yang terakhir. Saking murka, dia kata bengis:
“Budak, kau terlalu telengas! Rupanya kau hendak membikin aku si orang she Cian berlaku kejam!”
Mukanya Lian Cu menjadi guram, tanpa membilang apa-apa, ia menyerang. Dalam mendongkolnya, ia menyerang berulang-ulang, yang satu tidak mengenai, yang lain menyusul, ujung cambuknya itu pun menotok.

Sekarang ini Cian Seng Hoan tidak berani lagi memandang enteng. Ia pun mengeluarkan kepandaiannya yang istimewa, yaitu “Leng Wan Sip-pat Pian”, delapan belas jurus ilmusilat Kera Sakti. Ia mengutamakan sepuluh jeriji tangannya yang kuat. Inilah ilmusilat yang telah mengangkat namanya. Ia berkelebatan disekitar si nona, seperti burung walet gesitnya, maka tidaklah kecewa ia memperoleh julukannya Coan In Yan-cu, si walet merah menembusi mega.

Lewat sekian lama, Seng Hoan dapat merapatkan diri, Si nona agak repot, karena cambuknya adalah alat untuk menyerang jauh. Baru sekarang ia menyesal tadi ia sudah memandang tak mata kepada lawannya ini, hingga ia tak ingat untuk menggunai pedangnya. Sekarang, untuk menghunus pedang, ia tak diberi kesempatan.
Cian Seng Hoan mendapat lihat kerepotan nona itu, dia tertawa.

In Gak menonton pertarungan itu dengan saban-saban bersenyum, kapan ia melihat Nona Tio terdesak itu, diam-diam ia mematahkan sumpitnya. Ia melakukan itu acuh tak acuh. Ia membuat patahan setengah dim.
Hong piu melihat kelakuan orang, ia mengawasi sambil bersenyum. In Gak melihat sikap kawan itu, mukanya bersemu merah. Tanpa kata apa-apa, ia mengawasi ke gelanggang pertempuran dua jari tangannya mendjepit patahan sumpit. Mendadak saja, ia menyentil.
Ketika itu Lian Cu menghadapi serangan yang berbahaya, ia menyelamatkan diri dengan lompat jumpalitan, terpisah kesamping tiga kaki dari lawannya. Ia tidak cuma mengelit diri. Berbareng ia juga membalas menyerang si orang she Cian.

“Benar-benar telengas!” kata Seng Hoan sambil berkelit, setelah mana ia merangsak, dengan sepuluh jerijinya ia menyambar kaki si nona. Ia percaya bahwa ia bakal berhasil, ia girang sampai ia lupa bersiaga, ia tertawa lebar.
Tapi baru saja ia tertawa satu kali, tahu-tahu ia kaget tidak terkira, pinggangnya terasa sakit bukan main, hingga ia dengan tertawa tertahan , ia roboh keatas tanah.
Lian Cu segera dapat memperbaiki diri. Ia melihat robohnya lawan, ia menyangka orang adalah kurban cambuknya. Ia lantas bertindak maju, dengan niat member labrakan. Ia mendongkol untuk kelakuan jumawa lawannya ini. Tapi ia menyaksikan orong roboh diam saja, ia menjadi heran. Ia lantas membalik tubuh orang. Dari heran ia menjadi kaget. Cepat luar biasa, napas Coan In Yan-cu sudah berhenti dantubuhnya terasa mulai dingin.
“Heran” pikirnya, “Aku menotok jalan darah cie-gan, mestinya dia lemas dengkulnya dan roboh terkulai, kenapa sekarang dia mati mendadak? Ah mungkinkah ada orang membantui aku?”

Nona itu lantas mengawasi tajam ke tanah disekitar tubuh Seng Hoan, ia melihat patahan sumpit, lekas-lekas ia menjumpitnya menggenggam itu dalam telapakan tangannya, lalu dengan tindakan perlahan ia menuju ke mejanya In Gak, ia menyerahkan potongan sumpit itu tanpa berkata, melainkan bersenyum.

Di tetarap barat orang tahu Cian Hoan sudah berlaku keterlaluan, dia melanggar pantangan besar Rimba Persilatan, tidak ada yang mau mengajukan diri untuk membela dia. Maka itu sunyilah pihak mereka itu, sedang di tetarap timur, orang memang menonton dengan tidak banyak omong.
Tuan rumah lantas menitahkan orang-orangnya menyingkirkan mayat untuk dirawat.

To Ciok Sam memegang kepala sumpit dalam telapakan tangannya, ia menggeleng kepala, dalam hatinya ia kata: “Ini anak muda lihay luar biasa. Potongan sumpit demikian kecil ia dapat membikin melesat demikian cepat dan hebat. Ia rupanya telah mencapai batas kepandaian melepas senjata rahasia yang berupa daun. Jikalau begitu mestinya satu oranglah orang yang tadi bekerja diluar taman.”

Lian Cu sudah duduk kembali di kursinya, dengan tertawa perlahan, ia melirik In Gak, lantas ia berbangkit dan berkata pada Ciu Wie Seng dan To Ciok Sam; “Jiwie loocianpwee, maaf, boanpwee hendak mengundurkan diri” Dilain pihak, dalam hati kecilnya ia kata: “ Kalau benar dia, sungguh bagus!” Ketika ia berjalan sampai di pintu, ia menanya si penjaga: “Kamar tetamu dimana? Sudikah kau mengantarkan aku kesana?”
Pengawal itu menyuruh seorang kawannya pergi mengantarkan.
Selagi berjalan, si nona berpikir: “Akulah seorang nona, sekarang aku pergi kekamar orang, kalau orang memergokinya, apa jadinya?” Ia menjadi ragu-ragu. Meski begitu, ia Tanya pengiringnya dimana kamarnya Gan Siauwhiap.

“Itulah kamar nomor dua diatas lauwteng” sahut si pengantar.
Nona ini membilang terima kasih, terus ia naik ke lauwteng, ke kamar kedua yang ditunjuki itu. Ketika ia sudah sampai didepan kamar, ia mendapatkan pintunya cuma dirapatkan. Ia mengangkat tangannya, untuk menolak. Gampang saja, daun pintu itu menjeblak terbuka. Kamar itu sunyi tidak ada penghuninya. Cuma ditihang pembaringantergantung pauwhoknya In Gak. Ia menghampirkan untuk mengasi turun pauwhok itu, terus ia membukanya. Segera matanya melihat sepotong baju panjang hitam.

Bukankah tadi Tan Bun Han menyebutkan si orang aneh mengenakan baju hitam?
Baju itu pun sedikit munjul, mendadak ada barang yang jatuh dilantai. Ia lantas pungut itu. Untuk kagumnya ia mendapatkan topeng kulit yang bagus sekali. Sekian lama ia mengawasi, mulutnya mengasi dengar tertawa perlahan. Kemudia ia mencoba pakai topeng itu, ia berkaca di kaca tembaga. Ia girang sekali. Ia nampaknya lucu. Lantas ia duduk disisi pembaringan, otaknya bekerja. Tapi tak lama, topeng itu ia bungkus dengan baju hitam tadi, terus ia taruh didalam bungkusan, disusunan pertama. Itulah tanda bahwa kekamar itu ada orang yang dating dan menggeser bungkusan itu. Diatas itu, ia meletaki sapu tangannya, serta sebutir mutiara, yang ia baru keluarkan dari sakunya. Ia bersenyum puas, habis itu, baru ia keluar, setelah merapatkan daun pintu, ia pergi turun.

Ketika itu sang maghrib lagi mendatangi. Ciu Wie Seng naik ke panggung Wan Yo Tay, untuk memberi hormat pada para hadirin, memberitahukan bahwa piebu ditunda sampai besok. Ia mengundang mereka bersantap malam.
“Besok pagi kita akan mulai pula,” katanya, penutupnya.
Maka dipalulah gembreng tiga kali.
Di kedua tetarap, para tetamu bersorak riuh.
Sambil bersenyum, Wie Seng turun dari panggung.

Segera repotlah para cungteng atau pelayan, untuk menyajikan hidangan, untuk melayani para tetamu bersantap. Sampai kira jam sepuluh malam, baru orang bubaran.
Ketika In Gak sampai dikamarnya, ia lantas melihat apa-apa yang tidak beres. Kasurnya melesak, seperti bekas diduduki. Lantas ia mengambil bungkusannya buat diperiksa. Maka ia melihat baju hitamnya berada disebelah atas dan mendapatkan sapu tangan wanita, pula sebutir mutiara sebesar kacang yang menyiarkan bau harum. Diujung sapu tangan itu ada sulaman satu huruf “Tio” yang berada atas sulaman bunga Teratai, indah buatannya. Ia pegangi saputangan itu, lantas ia menduga pada Lian Cu.

“Nona ini sangat cerdik” pikirnya, “Dengan lantas ia menduga aku. Barusanpun, ia mengantarkan pulang ujung sumpitku. Ia meninggalkan saputangan dan mutiara disini, tentulah ini tanda terima kasihnya. Mana dapat aku menerima ini? Tugasku menuntutbalas belum selesai, dapatkah aku terganggu urusan semacam begini? Bisa-bisa tugasku menjadi terintang…Apa tidak baik aku menemui dia, untuk member penjelasan? Dengan begitu apakah sikapku tidak terlalu? Ah, tidak, tidak dapat aku membayarnya pulang! Habis bagaimanakah?”
Ia menjadi bingung. Ia menghela napas.

Selagi begitu, ia mendengar tindakan kaki diluar kamar. Lekas-lekas ia sesapkan saputangan dan mutiara kedalam sakunya. Yang dating itu Gouw Hong Piu, yang terus menolak pintu dan berkata sambil tertawa: “Gan Siauwhiap, ketika di Kho-yoe aku sudah tahu kau gagah, aku tidak menyangka kau begini pandai menyimpan kepandaianmu, maka itu maafkan aku untuk mataku yang tidak awa,” ia berkata sambil member hormat dengan menjura.

In Gak mengulur tangannya, untuk mencegah, lantas Hong Piu merasakan tenaga yang luar biasa besar, yang menolak tubuhnya, hingga tak dapat ia membungkuk.
In Gak tertawa dan berkata: “Gouw Tiangcu, kita ada diantara orang sendiri, harap kau tidak menggunai adat peradatan. Aku juga tidak mengerti, siapakah itu yang kau sebutkan?”
“Siauwhiap terlalu merendah” kata pemilik peternakan itu tertawa, “Kau lihay, kau tetap berlagak pilon! Didalam Rimba Persilatan, sungguh tak banyak orang sebangsa kau, Siauwhiap, aku datang atas namanya tuan rumah dan saudara To untuk meminta kau suka beromong-omong”

“Tiangcu, aku tidak sangka kau dapat menggunai banyak adat peradatan” kata In Gak tertawa, “Kalau mau bicara, marilah!” Baru ia mau bertindak keluar, atau telinganya mendengar tindakan kaki ramai, lantas dimuka pintu kamar ia melihat munculnya The Kim Go bersama tuan rumah dan To Ciok Sam, juga Ciu Goat Go dan Tio Lian Cu.
“Gan Siauwhiap,” kata Ciu Wie Seng yang maju kedepan, “Maafkan aku yang sekian lama tidak melihat kau. Kawanan penjahat sudah mengacau rumahku ini, tapi aku tidak mendapat tahu, syukur ada kau yang menghindarkan bahaya. Budimu ini, tidak dapat aku balas. Barusan aku minta saudara Gouw dating lebih dulu pada kau, aku minta maaf yang aku datang terlambat,” lantas ia member hormat.

In Gak lekas membalas.
“Jangan, terima kasih!” katanya, menampik.
To Ciok Sam menghampirkan si anak muda, untuk mencekal tangannya dengan keras, guna menatap tajam wajahnya. Lantas dia tertawa tergelak.
“Sungguh seorang gagah asalnya ialah anak muda!” katanya. “Gan Siauwhiap, siapakah gurumu? Dapatkah kau memberitahukan?”

“Tak tepat loocianpwee memuji aku!” kata In Gak merendah, “Guruku seorang pendeta perantauan, yang tak ketahuan tempat kediamannya, bahkan aku tidak ketahui juga nama atau gelarannya, dari itu menyesal tak dapat aku memberitahukannya. Sebenarnya aku cuma mempelajari ilmu melepas senjata rahasia serta sedikit akal kecerdikan, dalam hal lainnya aku tidak mengerti apa-apa. Tentang pengacauan di Ciu kee cung ini, ada orangnya yang telah membantu secara diam-diam, perihal aku, kebetulan saja aku berada disini. Maka itu, tidak berani aku menerima ucapan terima kasih”

Ciok Sam heran.
”Sipakah itu yang membantu secara diam-diam?” ia tanya.
”Siauwhiap tentulah ketahui siapa dia..?
Muka In Gak bersemu dadu, ia menggeleng kepala.
”Aku tidak dapat melihat tegas padanya, cuma gerakannya saja sangat gesit,” ia menyahut. ”Teranglah dia mempunyai kepandaian yang mahir sekali”
Mendengar itu In Liong Sam Hian tertawa.
”Aku si orang tua ketahu Siauwhiap pandai sekali menyembunyikan diri!” katanya, ”Sebenarnya dimana ada orang seperti yang siuwhiap katakan itu?”

Mengetahui orang tidak percaya ia, In Gak tidak berdaya. Ia kata: ”Jikalau loo-cianpwee tidak percaya, aku tidak dapat bilang suatu apa. Hanya dapat aku bilang, dalam dua tiga hari ini pasti bakal terjadi sesuatu yang penting, hingga setelah itu, baru nanti loo-cianpwee percaya aku”
Ciok Sam terus menatap. Ia merasa, makin lama ia makin menyukai anak muda di depannya ini, yang tampan dan halus gerak-geriknya. Coba tidak Tan Bun Han menyatakan, kepandaian orang sangat luar biasa, pasti sudah ia menawarkan diri untuk menjadi gurunya, agar ia dapat mewariskan semua kepandaiannya. Kemudian ia kata: ”Baiklah, aku percaya atau tidak, sang waktu yang akan mengasi buktinya! Cuma, kalau itu kawanan bajingan benar-benar berani mengacau pula..hmmm..biarlah dia nanti merasai kelihayanku! Siauwhiap, mari kita pergi keluar, untuk menanti kawanan bajingan itu!”

In Gak menurut, tetapi ia masih berkata:”Oey Kie Pay berani sekali, sebentar malam haruslah kita berjaga-jaga.”
”Aku telah siap dengan penjagaanku,” Wie Seng memberitahu, ”Malam ini, aku rasa, tidak bakal ada bahaya. Kalau Oey Kie Pay mengirim orang, tentu untuk mencari tahu saja keadaan kita, untuk persiapan menolong orangnya dan mendapatkan pedang. Umpama kata mereka mau menyerbu, itu pasti nanti dilakukan setelah pie-bu ditutup.”
In Gak mengangguk, ia tidak bilang suatu apa. Dibelakang ia, kedua nona terdengar kasak kusuk dan tertawa perlahan tetapi geli, hingga satu kali ia menoleh, ingin tahu kenapa mereka tertawa. Ia mendapatkan, keempat mata mereka tajam mengawasi padanya, tangan mereka digerak-geraki secara menarik. Nona-nona ini sangat lincah, gembira bagaikan anak kecil.

Ciok Sam dapat melihatgerak-gerik anak-anak muda itu, ia bersenyum, kemudian memandang si anak muda, ia tertawa. In Gak menjadi likat.
Tidak lama ramailah orang berbicara dan tertawa, di ruang besar dimana mereka itu duduk berkumpul. In Gak-lah sebab utama dari kegembiraan mereka itu. In Gak sendiri tetap bersikap tenang dan tak banyak berbicara.
Orang berkumpul samapi sore, sampai si Puteri Malam muncul menerangi sang gelap-petang. Angin halus membuatnya cabang-cabang pohon bergoyang-goyang, memain mendatangkan bayangan.

Tidak jauh dari tempatnya duduk, In Gak melihat papan catur. Ia menghampirkan itu, ia menjumput biji-bijinya untuk digenggam, lalu ia meletakannya pula, suaranya berbunyi nyaring.
”Aku gemar main catur, entah loo-cianpwee mempunyai kegembiraan atau tidak?” ia tanya Ciok Sam seraya ia memandang sambil tertawa kepada jago tua itu.
”Oh, kiranya siauwhiap gemar main catur” katanya, ”Sudah enam puluh tahun aku si orang tua main catur, selalu kalah, tetapi biar selalu kalah, dia tetap main terus! Siauwhiap, sukalah kau mengganda.”
”Loo-cianpwee bergurau,” In Gak kata tertawa, ”Aku baru belajar, mana dapat mengganda?”
”Baiklah,” kata Ciok Sam sungguh-sungguh, ”Awas, jangan kau mengalahkan aku hingga aku tidak tahu dimana harus menaruh muka!”

In Gak tetap tertawa manis. Lantas ia duduk menghadapi jendela.
Ciok Sam menggulung tangan bajunya, dengan tangan kirinya ia mengurut-urut kumis dan jenggotnya. Ia menjalankan biji-bijinya dengan teliti. Didepan ia, In Gak bertindak sebat, dia merangsak ketengah menduduki kotak-kotak yang baik, lalu menelan beberapa biji lawannya, hingga dia lantas menang unggul. Maka jago tua itu menjadi mengerutkan alis untuk berpikir keras.

Kedua nona menonton di pinggiran, mereka mengeluarkan kata-kata tak terang, lalu tangan mereka tunjuk-tunjuk sendirinya, seperti biasanya orang luar tengah menyaksikan orang mengadu otak itu. Dari bicara perlahan, suara mereka menjadi membisingkan telinga.
”Dasar kamu anak-anak, kamu berisik saja!” kata Ciok Sam kemudian, ”Awas ya, dengan kamu menggganggu aku, nanti siapa akan membantu pada kamu!”
Lian Cu tertawa.
”Loo-jinkee yang kalah, kami yang muda yang disesalkan!” dia kata, ”Memangnya siapa menghendaki bantuan loo-jinkee!”

Ciok Sam tertawa lebar.
”Anak, kau pandai bicara ya!” katanya, ”Aku mau lihat nanti, kapan tiba waktunya kau membangun rumah tangga, kau cari aku untuk memohon bantuanku atau tidak?”
Habis berkata, ia terus melirik In Gak.
Muka si nona bersemu dadu.
”Loo-jinkee, kau...” katanya tertahan. Ia sudah mengangkat kakinya tetapi Goat Go menahan tertawa.
Wie Seng dan The Kim Go juga turut tertawa.
Agaknya mereka itu gembira sekali, sampai mereka seperti melupakan bahwa mereka mempunyai musuh-musuh gelap.

Ciok sam penasaran, ia bekerja keras, niatnya dapat memperbaiki kedudukannya. Lama ia berdiam untuk berpikir.
In Gak juga berdiam saja, tapi selagi lawannya mengasah otak, tangan kanannya menjumput lima biji putih, mulutnya menghitung: ”Satu..dua..tiga ...empat..lima!”
Ciok Sam heran, ia mengawasi.

In Gak terus berdiam, hanya kali ini ia tertawa perlahan, tangannya terus menimpuk keluar. Gerakannya itu nampak perlahan tetapi melesatnya biji-biji catur cepat sekali.
Menyusuli timpukan biji-biji catur itu, diluar terdengar suara seperti orang menahan napas, disusul suara roboh barang berat.
Hui In Ciu Wie Seng terkejut, segera dia lompat keluar jendela. Dia lantas disusul Kim Go.
In Gak duduk tenang, ia mengawasi papan catur, seperti ia lagi memikirkan biji-bijinya. Menampak demikian, mau atau tidak, Ciok Sam menjadi kagum. Ia pun telah melihat tegas timpukannya anak muda itu.

Lian Cu mengawasi si pemuda, ia seperti tidak memperdulikan suara di luar itu, akan tetapi kapan ia mendapat kenyataan dua jago catur itu terus berdiam saja, ia habis sabar, ia membikin mulutnya monyong, tangannya terus mengacau biji-biji catur itu.
”Kamu si tua dan si muda, bagaimana kamu masih bergembira main catur?” katanya keras, ”Kenapa kamu tidak mau nelihat keluar?”

Ciok Sam menolak papan caturnya.
”Eh, bocah, kau jail sekali!” katanya tertawa, ”Aku bakal menang, kau mengacaunya! Kau berat sebelah tahu? Kalau kau disalahkan, kau tentu berbalik menyalahkan aku!”
Lian Cu melotot kepada orang tua itu, sedang Got Go tertawa terkekeh.

Justeru itu Wie Seng dan Kim Go sudah kembali, mereka mengelek dan menenteng tubuhnya lima orang.
Hui In Ciu Wie Seng tertawa, ia berkata: ”Kelima bangsat ini sudah ditanyai terang, merekalah orang-orang Oey Kie Pay. Gan Siauwhiap, aku numpang tanya, apakah hendak diperbuat atas diri mereka ini?”
”Segala apa terserah Ciu cungcu” sahut si anak muda, ”Mana dapat aku mewakilkannya? Aku malu..”

Wie Seng tahu, orang merendahkan diri, tetapi ia tidak mau memaksa. Ia lantas menitahkan cungteng membawa kelima orang itu kekamar batu, untuk dicampurkan dengan Tjie Ek semua. Kemudian sembari tertawa ia kata: ”Gan Siauwhiap, luar biasa lihay tanganmu! Kepandaian ini belum pernah aku lihat, belum pernah aku mendengarnya.” Ia berhenti sebentar, lalu ia menambahkan: ”Kami adalah orang-orang yang mengerti silat, nama kami terkenal juga didalam rimba persilatan, kami biasa melatih telinga dan mata kami, akan tetapi barusan, kami tak mendengar dan tak melihat ketika kelima penjahat itu datang dan naiki pohon! Sungguh kami malu...”

In Gak likat. Tapi ia lantas mendengar Tjiok sam tertawa.
“Tjioe Laotee,” kata djago tua itu,” kita semua, si tua tak mau mati, kita sudah seharusnja pada mundur sekarang ini djamannja si anak-anak muda Apakah kau tidak kenal pepatah jang membilang, gelombang jang dibela kang mendorong gelombang jang didepan, dan orang baru menggantikan orang lama? Lihat sadja, selama beberapa hari ini telah terdengar beritanja hal orang-orang muda jang gagah, jang baru muntjul Demikian halnja si pemuda sheTjia di Kim-hoa, tanpa sepuluh djurus dia telah menghadjar mampus pada Tiat-sat-tjioe Koet sin, hingga dia menggemparkan dunia Kang-ouw di selatan dan Utara sungai besar. Kalau dipikir-pikir, aku harus menjemplungkan diri ketelaga Kho Yoe.”

Kata-kata ini membangkitkan tertawa ramai.
“Aku bitjara benar-benar, Gan siauwhiap,” kata Tjiok sam kepada si anak muda, jang ia awasi.” Aku sudah berumur Sembilan puluh tahun tapi belum pernah aku menjaksikan kepandaian seperti kepandaian kau barusan. Bagaimana kalau sekarang kau mentjoba aku didjarak sepuluh kaki?”

In Gak menggojang kedua tangannja.
“Tidak bisa, lootjianpwee, tidak bisa,” katanja tjepat. Djanganlah lootjianpwee membuatnja aku mengasi lihat keburukanku? Apa aku bisa jalah menghadjar benda mati, kalau terhadap benda hidup, aku tak berguna lagi”
Tapi To Tjiok sam tidak mau mengerti, segera ia lompat hingga lima tombak.
“Gan siauwhiap. dj angan kau menampik katanja, sungguh2.” Mari kita mentjoba-tjoba, untuk berlatih. Kau boleh gunai semua kepandaian kau, umpama kata aku terluka, tidak apa. Djikalau kau mengalah, kau membuatnja aku tidak puas”
Mengetahui tabiat orang, In Gak tertawa. Ia lantas mengambil sepuluh bidji tjatur.
“Lootjianpwe, maafkan aku jang muda” katanja, jang kata- katanja ditutup dengan timpukannja, mengarah pundak kiri djago tua itu.

Biar bagaimana, Tjiok sam terkedjut melihat datangnja bidji tjatur itu ia lantas mengibas dengan tangan kanannja. Ia dapat membebaskan diri tetapi bidji tjatur lewat dekat diatasan pundaknja. Djusteru itu, In Gak sudah menimpuk pula, kali ini bukan
dengan satu atau dua bidji hanja lima, dua didepan, tiga dibelakang, hingga kelimanja merupakan bunga bwee. Tiga bidji jang dibelakang itu pun datangnja saling-susul.
Melihat datangnja serangan itu, Tjiok sam menjerang berbareng dengan dua-dua tangannja. Ia mengguai Pekskhong-tjiang, pukulan Udara Kosong. Biasanja, hebat anginnja serangan itu. Tapi sekali ini, kelima bidji tjatur tidak tersapu lantas. sembari mengibas itu, djago tua ini berkelit.
Ditangannja In Gak masih ada sisa empat bidji, semua ini segera disusuli dipakai menjerang pula. Tentu sekali, serangan jang terachir ini tjepat luar biasa. sebab ketika, Tjiok sam tengah menangkis dan berkelit. Maka repotlah dia atas datangnja empat bidji tjatur itu. Terpaksa dia berkelit pula, sambil mendjatuhkan diri. Ketika dia berbangkit bangun, dia periksa tubuhnja, untuk mendapatkan kepastian dia bebas atau tidak. Lalu hatinja mendjadi mentjelos, mukanja mendjadi putjat. Dia mendapat kenjataan, udjung badjunja jang kiri kena ditembusi sebuah bidji tjatur

“Tidak dapat aku sesalkan dia,” pikirnja. “Siapa suruh aku mendesak dia mengeluarkan kepandaiannja? Djikalau dia bersungguh-sungguh, mungkin tubuhku mendapat beberapa liang.” Lantas ia tertawa bergelak dan berkata: “Gan siauwhiap. hebat tanganmu, aku si orang tua, aku menjerah”
Memang djago tua ini mesti menjerah kalah. Ketjewa ia bergelar In-liong sam-hian, atau naga jang muntjul tiga kali didalam awan- Djulukan itu berarti ia sebat dan gesit luar biasa, bagaikan naga memain dimega, siapa tahu, kali ini ia runtuh.

In Gak menjesal atas perbuatannja itu, ia merangkap tangannja memberi hormat, ia
kata: “Benar tepat djulukan lootjianpwee In-liong sam-hian Barusan sengadja sadja lootjianpwee mengalah kepadaku, djikalau lootjianpwee merangsak, apa aku bisa bikin?”
Mendengar itu, Tjiok sam sangat bersjukur, tapi ia kata, tertawa: “Buat apa kau masih melindungi mukaku, Gan siauwhiap? Disini orang semua bermata tjeli, siapakah jang tak melihat? siauwhiap. biasanja aku tidak menjera h kepada siapa sadja, baru sekarang terhadap kau. Aku hanja kurang djelas mengenai satu hal. Aku mempunjai tipu silat Tay-lek Kim-kong-tjiang, djikalau aku menggunai itu, setiap sendjata mestinja kena tersampok balik, tubuhku tak dapat didekati, tetapi aneh, bidji tjaturmu tak dapat terpukul mundur semua, ada djuga jang nerobos terus?”

“Maaf, lootjianpwee, malu aku untuk mendjelaskannja,” berkata In Gak. “Aku hanja menggunai akal. Bidji tjaturku itu dapat dipakai menjerang setjara berputar, djadi penolakan langsung tak dapat mentjegahnja. Barusan bidjiku menjambar dari samping.”
Alasan ini masuk diakal, tidak dapat orang tidak pertjaja, hanja satu hal sudah pasti, tjuma In Gak jang dapat menjerang setjara demikian, lain orang tidak sanggup, Entahlah kalau jang diserang bukannja To Tjiok sam. In Gak telah menjembunjikan satu hal serangannja itu menurut Hian-wan Sip-pat-kay.

Seperti jang lain-lain, Goat Go dan Lian Tjoe djuga memudji anak muda itu, jang mereka sangat kagumi, tanpa merasa, mereka mengawasi orang dengan mereka mementang empat mata mereka.

Tjioe Wie seng dapat melihat kelakuan puterinja. Itulah kelakuan jang dulu-dulu belum pernah ia lihat. Ia mendjadi terharu. ia mengasihani anak gadisnja ini, jang telah
tidak mempunjai ibu, hingga dia tidak mendapat merasai kasih-sajang ibunja. Biasanja si nona pendiam, djarang sesuatu terkentara pada air mukanja, tetapi kali ini, lain. Pernah Wie seng memudjikan beberapa anak muda, jang tampan dan mengerti baik ilmu silat, Goat Go tidak perhatikan mereka, hatinja tak pernah tergerak, baru sekarang ia nampak berubah, ia seperti bukan Goat Gojang dulu.

Sementara itu, disitu ada Tio Lian Tjoe. Nona ini lebih tj antik, ilmu silatnja terlebih tinggi. Nona ini pun lebih berani, nampak njata dia sangat memperhatikan si anak muda. Bagaimana sekarang?
Wie seng bingung djuga. Dilain pihak lagi, ia belum tahu keadaan si anak muda. Apakah masih merdeka?
Masih ada satu hal lain, jang lebih penting. sekarang ini bukan saatnja bitjara perkara djodoh. Mereka lagi terantjam bahaja dari rombongan Oey Kie Pay. Dan anaknja sendiri tengah menghadapi urusan pieboe.

Lian Tjoe benar-benar berani. sembari tertawa ia menghadapi In Gak dan minta diadjari ilmu melepas sendjata rahasia, ia tak malu-malu atau likat. Melihat orang demikian polos, In Gak malu hati untuk menolak.
“Nona hendak mempeladjari sendjata rahasia, baik sekali, akupun tidak suka menjembunjikan apa jang aku bisa,” katanja, turut tertawa. “Tjuma hendak aku mendjelaskan, sendjata rahasia tidak dapat dipeladjari hanja satu hari atau satu malam. Baiklah, kalau nanti urusan disini sudah selesai, aku akan mengadjari pokoknja dulu.”
Baru si pemuda menutup mulutnja, atau Goat Gopun madju.”Siauwhiap!” kata Nona Tjioe, “aku djuga ingin mempelajari sendjata rahasia, dapatkah?”
In Gak heran hingga ia melengak. tapi tjuma sebentar. “Dapat nona, dapat!” sahutnja lekas.
Hong Pioe semua tertawa.
In Gak mendengar itu, ia mendjadi likat. Ia merasa bahwa orang mentertawai ianja.
“Nona Tio, ilmu tjambukmu tadi bagus sekali,” ia berkata, memudji, untuk menjimpangi perhatian orang. Lian Tjoe bersenjum.
“Oh, ja,” katanja, agaknja dia kaget, “aku lupa menghaturkan terima kasih padamu” Dan ia lantas mendjura, memberi hormatnja.
“Djangan, nona, djangan” InGak menampik. Ia gugup, ia mengulur tangannja, untuk mentjegah.
Nona Tio menarik tangannja, ia menatap.
Kembali In Gak djengah, tetapi ia tertawa dan terus berkata: “Nona, ilmu tjambukmu liehay, tjuma itu dapat dipakai menjerang djauh, tidak untuk menjerang dekat. Aku mempunjai satu akal untuk menutup kekurangan itu.”
Lian Tjoe djadi sangat ketarik, “Benar?” tanjanja.”Oh, kau adjarilah aku lekas”

“Mari nona kasi aku pindjam tjambukmu,” kata In Gak. jang masih belum sempat menarik pulang tangannja, maka ia djadi dapat melondjorkan terus.” Mari kita keluar, nona pakai pedang, nanti aku mengadjari kau.”
Lian Tjoe menjerahkan tjambuknja, jang terbuat dari otot-otot ular. itulah tjambuk jang ia sangat sajang, jang tidak sembarang ia kasi lain orang pegang. orang lantas pergi keluar dimana tjahaja rembulan permai sekali.

Lian Tjoe dan In Gak lantas berdiri berpisah tudjuh kaki. Si nona menaruh pedangnja didada.
“Silakan menjerang, nona,” kata in Gak. “Kau menjerang dengan sungguh-sungguh, djangan sung kan-sungkan.”
Lian Tjoe bersenjum, didalam hatinja ia kata: “Kau nanti lihat ilmu pedangku, Tjioe- hong Lok-yap It-djie Kiam-hoat adjaran ajahku, jang telah menggemparkan Tionggoan, jang belum pernah ada tandingannja, sedang aku, aku telah mewariskannja dengan sempurna. Kau boleh liehay sekali tetapi apa kau sanggup melajani aku?”
Lantas ia kata, perlahan “Baiklah, aku hendak mulai menjerang”
Dan dengan mendadak, ia menikam, gerakannja bagaikan badai menjambar. Gerakan ini tepat, tjotjok dengan ilmu pedang itu, Tjioe- hong Lok-yap It-djie Kiam-hoat, jaitu ilmu pedang Daun rontok karena angin musim rontok. serangan itu menudju kepundak kiri.

In Gak tidak berkelit, ia djuga tidak menangkis, hanja ia mendahului, dengan sangat sebat, tjambuk ditangannja bergerak, udjungnja mentjari udjung pedang.
Lian Tjoe terkedjut. serangannja itu gagal, tjambuknja seperti tertindih barang berat. Dengan lantas ia memutar pedangnja, untuk dibikin lolos, buat terus dipakai menjerang pula, ke iga kiri si anak muda.
Kembali In Gak mengasi lihat kepandaiannja. Udjung tjambuknja menekan pula pedang si nona, orang sampai seperti tidak mendapat lihat bagaimana dia menggeraki tangannja.

Lian Tjoe heran, tetapi ia penasaran, maka ia melepaskan diri, untuk menj erang terus. Ia melandjuti mengguna i ilmu silatnja itu, jang banjak djurusnja jang beraneka. In Gak tetap bersilat seperti bermula. Ia main tekan udjung pedang lawannja itu.
Nona Tio terkedjut ketika sendjata mereka bentrok. la merasakan tangannja kesemutan, sampai pedangnja hampir terlepas. Tapi sekarang ia mulai mengerti ilmu silat tjambuk pemuda itu. orang liehay disebabkan mahirnja tenaga dalamnja.
Dari tigapuluh djurus mereka bertempur sampai limapuluh djurus. si nona terdesak tetapi sekarang ia dapat bersenjum. Ia melajani dengan tenang, njata si anak muda tidak mau meroboh kannja.

“Kepandaian Gan siauwhiap hebat sekali,” kata To Tjiok sam sesudah menonton sekian lama. “Ia bergerak lintjah bagaikan naga dan ular. selandjutnja aku tidak berani memandang enteng lagi kepada dunia”
Liang-hoay Tayhiap Tjioe Wie seng dan Hoei-in-tjioe Gouw Hong pioe mengangguk. “Rupanja gurunja Gan siauwhiap bukan sembarang orang,” kata Wie seng.
Goat Go berdiam sadja, tetapi dengan berdiam ia memperhatikan bergerak-geraknja tjambuk In Gak. Ia merasa puas.

“Nona Tio, awas !” mendadak terdengar suaranja si pemuda. Inilah djurus merampas djiwa untuk merebut kemenangan
Kata-kata itu disusul udjung tjambuk menjambar pundak kiri si pemudi.
Lian Tjoe segera menjambut, untuk memapas tjambuk itu. Ia bersilat dengan tipu Angin puju menjapu pohon yanglioe, pedangnja membabat dari kanan kekiri, sinarnja pedang berkelebat bertjahaja perak.

Tepat disaat tjambuk hampir kena dibabat, mendadak In Gak tertawa, tubuhnja bergerak kekiri, tangannja ikut bergerak, membebaskan tjambuk dari babatan, setelah mana, tjambuk itu disamberkan kembali.
“Lepas tanganmu” ia berseru sambil ia menarik dengan kaget.
Diluar kehendaknja, tubuh Lian Tjoe madju empat tindak, telapakan tangannja dirasakan sakit, tidak dapat ia memegang lebih lama pedangnja, pedang itu tertarik. terlempar djauhnja belasan tombak, djatuh ditanah dengan menantjap.
“ Maaf, nona, aku tak sempat menahan tanganku,” kata In Gak tertawa. Lian Tjoe mendelik kepada pemuda itu, tetapi setelah itu, ia tertawa

In Gak berlompat kearah pedang, untuk mendjemputnja, setelah mana, dengan sama gesitnja ia berlompat balik. Demikian lintjah gerakannja itu, hingga kembali ia mendatangkan kekaguman kawan-kawannja.
“Sjukur pedang ini tidak rusak” katanja kepada si nona seraja ia menghaturkan sendjata orang itu. Dapat aku mengembalikannja dengan baik Lian Tjoe menjambuti sambil tertawa.
“Terima kasih,” utjapnja. Itulah penghaturan terima kasih tidak untuk pedang belaka hanja djuga untuk pengadjaran jang diberikan- Karena pertandingan itu merupakan latihan peladjaran baru.

Setelah itu, mereka kembali kedalam, ketjuali Goat Go dan Lian Tjoe. Sebab mereka berdua lantas berlatih, untuk dapat mendjalankan dengan baik ilmu tjambuknja In Gak barusan. Berdua mereka saling mengadjari dibagian-bagian jang mereka ragu-ragu. “Siauwhiap. setelah urusan d isini selesai, kemana kau hendak pergi?” tanja Tjiok Sam.
“Aku hendak pergi ke Utara, ke kota radja, untuk menetapi djandji pertemuan sebelum harian Toan-ngo,” sahut si anak muda.
“Bagus siauwhiap hendak pergi ke kota radja,” kata Tjiok sam. “Setelah bertemu dengan sahabatmu itu, aku minta dengan sangat sukalah kau mampir padaku. Rumahku tidak terpisah djauh dari kota radja, dengan menunggang kuda, siauwhiap akan sampai disana dalam dua-tiga hari. Aku tinggal di Tjin Hong Too. Dengan tanja-tanja orang, dengan mudah siauwhiap akan dapat mentjarinja. Ketjuali ingin dapat memasang omong dengan kau, siauwhiap, aku pun hendak meminta sesuatu, entah..”

“Djikalau ada titahmu, lootjianpwee, mana aku berani membantah?” berkata si anak muda mendahului. “Setelah bertemu dengan sahabatku itu, pasti aku akan berkundjung kepada lootjianpwee.”
In Gak menduga permintaan itu tentu djuga urusan budi dan penasaran dalam Rimba Persilatan, ia sendiri tengah mentjari musuh- musuhnj a, ia boleh sekalian sadja melakukan perantauannja. Ia pertjaja perdjalanan itu akan membawa kebaikan untuknja. siapa tahu bila ada musuhnja jang berdiam di Kwan-gwa?

Tjioe Wie seng berpikir mendengar To Tjiok sam memohon bantuannja In Gak. la menerka urusan itu penting sekali.
In-liong Sam-hian sangat terkenal di Kwan-gwa, ada siapakah jang berani mengganggu dia? pikirnja. Bukankah itu berarti menarik-narik kumis harimau? Maka ia mengawasi tetamunja itu.
To Tjiok sam menjangka tuan rumah mentjurigai sesuatu, ia tertawa. “Tjupu-tjupu ini achirnja bakal petjah, tjuma sekarang belum waktunja” katanja.
Oleh karena orang tidak suka mendjelaskan, Wie Seng tidak mau menanjakan. Ia lantas menimbulkan pula urusan kaum Bendera Kuning.

Gouw Hong Pioe, The Kim Go dan Tjia In Gak melajani tuan rumah bitjara, tjuma Tjiok Sam jang berdiam sadja. In-liong sam- hian agaknja lagi berpikir keras, untuk mengambil suatu keputusan.
Tidak lama muntjullah Goat Go, sembari tertawa-tawa dia berbisik pada ajahnja.
“Ah, anak nakal” ajah itu berseru. Ia terus berpaling kepada In Gak dan tertawa djuga, ia kata: “Anakku dan Nona Tio telah mejakinkan ilmu pedang dan tjambuk barusan, ada beberapa bagian jang mereka belum djelas, dari itu mereka ingin minta siauwhiap suka keluar sebentar untuk memberikan petundjuk kepada mereka. sudikah siauwhiap membantu mereka itu?”
In Gak bersenjum.”Tentu” sahutnja tjepat dan segera ia ikut Goat Go keluar.

To Tjiok sam mementang lebar matanja, mengawasi tuan rumah.
“Tjioe Laotee,” katanja tertawa, “Bagaimana kau lihat sikapnja anak-anak itu? Aku kuatir mereka bakal menerbitkan urusan berabeh, jang lebih sulit daripada
sepak-terdjangnja partai Bendera Kuning”
Wie seng mengerti apa jang dimaksudkan In- liong sam- hian, ia djuga mengerti bahwa ia terantjam urusan memusingkan kepala, akan tetapi ia merasa baiklah kalau anak-anak itu tetap bergaul akrab, maka ia balik mengawasi sambil bersenjum.

“Hal itu siauwtee telah melihatnja” katanja tertawa. “Tapi anakku buruk. mana mungkin Gan siauwhiap tertarik kepadanja? Apapula didepan anakku itu, ada Nona Tio Bukankah anakku memikir jang tidak-tidak? Hanja kasihan si Goat, dari ketjil ia telah kehilangan ibunja, dan selama ini hatinjapun tertusuk hingga ia mendjadi senantiasa berduka. Baru setelah melihat Gan siauwhiap sikapnja berubah daripada biasanja. Dapatkah siauwtee mentjegah dia? Aku pikir baiklah aku membiarkan sadja, agar ia mundur sendirinja nanti”.
Gouw Hong pioe menggeleng kepala.
“Terdengarnja alasan itu tepat sekali, akan tetapi kenjataannja tidak demikian,” berkata Hoei-in-tjioe.” Mereka bergaul akrab, tidak nanti mereka membiarkan lain orang menjelak ditengah-tengah mereka. Itu artinja, sedikit kekeliruan sadja dapat mentjiptakan peristiwa jang menjedihkan. saudara Tjioe, tak dapat urusan dibiarkan setjara wadjar. Menurut siauwtee, selagi kedua botjah itu demikian akur satu dengan lain, tidakkah tjotjok apabila mereka dinikahkan bersama? Bukankah saudara tidak mempuniai anak laki-laki? Tjotjok sekali umpama nanti, anak puterimu menurut she asalnja dan anak Nona Tio mengikut she suaminja. Tidakkah ini bagus untuk kedua pihak?”
Alisnja Tjioe Wie seng terbangun. “Ja, benar, itulah bagus!” katanja.
“Ha, kamu bitjara enak sadja” To Tjiok Sam tjampur bitjara. “Apakah kata si orang she Tio nanti? sudikah dia menjerahkan puterinja mendjadi kuda pasangan? Masih ada soal Gan siauwhiap sendiri Dia sudah bertunangan atau belum? Dapatkah dia menerima dua kawan hidup sekali gus? Inilah soal tetapi kamu bitjara enak sadja”

Wie seng tertjengang. Memang benar Hong pioe. Maka ia mendelong mengawasi To Tjiok sam. Tapi In-liong sam- hian tertawa.
“Walaupun demikian, daja tak dapat tak dipikirkan,” ia bilang. “Si orang she Tio lagi sakit, entah bagaimana dengan penjakitnja itu. Dia memang bertabiat aneh tetapi aku tahu benar dia biasapertjaja aku. Akupertjaja dia akan menjetudjul Gan siauwhiap Jang masih mendjadi soal jalah puterimu sendiri Djikalau dia mundur sendiri, soal tidak ada. Akan tetapi aku ketahui baik tabiatmu, maka demikian djuga tentunja puterimu, dia pastilah tidak gampang-gampang mau mundur. Baiklah, laotee, kau serahkan urusan padaku”
Senang djuga Wie seng mendengar itu “Terima kasih” katanja, hatinja pun mendjadi lega.

Ketika itu In Gak masuk dengan wadjah berseri-seri, tangannja mentjekal sehelai kertas. segera dia berkata: “Gouw Tiangtjoe, The Tayhiap. sudikah djiewie menemani aku pergi sebentar ke Lioe sie Wan?”
Wie seng menduga ada urusan-“Apakah bunjinja surat itu, siauwhiap?” ia tanja.
In Gak tidak mau membuka rahasia dirinja, dengan perlahan-perlahan ia merobek hantjur surat ditangannja itu, sembari tertawa ia kata: “Barusan kebetulan sadja seorang sahabatku mengabarkan bahwa kawanan Bendera Kuning itu telah mengundang kontjo-kontjonja berapat di Lioe sie Wan pada sebentar malam djam empat, mungkin mereka hendak merundingkan sesuatu jang tak baik untuk kita, oleh karena sahabatku itu bersendirian sadja, ia mengirim surat ini padaku meminta aku jang pergi menjelidiki aksi mereka itu.”
The Kim Go tertawa.
“Selama beberapa hari ini aku menganggur sadja, suka aku menemani siauwhiap dan saudara Gouw, pergi kesana” katanja. In Gak memberi hormat, ia menghaturkan terima kasihnja.
“Silakan tiangtjoe dan tayhiap bersiap. mari kita pergi sekarang” ia berkata. Dan ia terus meminta diri, untuk kembali dulu kekamarnja, guna mengambil sendjatanja, tak dilupakan topengnja.
Hong pioe dan Kim Go bersiap dengan tjepat, maka dilain saat, bertiga mereka telah meninggalkan rumah Wie seng.

Letaknja Lioe sie Wan limabelas lie dibarat-laut Tjioe-kee-tjhung. Tempat itu mempunjai pemandangan alam jang indah. Penduduknja tjuma kira-kira tigapuluh keluarga, jang hidupnja bertjutjuk-tanam. Ditepi kampung ada sebuah kali, jang tepiannja berbarisan pohon-pohon yang lioe jang permai memain diantara sampokan sang angin. Kalinja pun berliku-liku. sunji tempat itu tetapi suasananja menjenangkan, apapula setiap magrib disaat orang-orang tani pulang dari sawah-ladangnja dan botjah-botjah angon bertjokol dipunggung kerbau mereka sambil meniup seruling, atau diwaktu pagi ajam-ajam riuh berkokok dan asap mulai mengepul keluar dari tiap-tiap rumah.

Salah satu penduduk Lioe sie Wan jalah Mo Djin, turunan seorang berpangkat dikota radja, jang pulang kedesanja dengan membeli sawah dan kebun, tetapi sampai pada ia, kedjajaannja telah berturun- Mo Djin tidak gemar beladjar surat, ia lebih suka beladjar silat, untuk bertjampuran dengan segala buaja darat, karena mana, ajahnja mati saking berduka, hingga ia mendjadi sangat merdeka. Habis sawah-ladangnja didjual, untuk hidup berpesta-pora, hingga tinggallah rumahnja. Ia terbawa temannja, ia mendjadi anggauta Oey Kie Pay, jang menugaskan ia membantu mengurus tjabang di Kho-yoe. Karena kedudukannja ini, ia bisa berbuat sewenang-wenang pada sesama penduduk. hingga mereka itu menderita, tjuma mendongkol tetapi tak dapat berbuat apa-apa. Berhubung perhubungan buruk Oey Kie Pay dengan Tjioe Wie seng, rumah Mo Djin didjadikan markas tjabang.

Demikian, tiga hari sebelum dibukanja panggung Wan-yo-tay, Tjin Lok bersama limapuluh kawannja telah menempatkan rumah Mo Djin itu, untuk mengatur sesuatu, antaranja ditugaskannja Tjie Ek pergi mentjuri pedang dengan Tjie Ek diantar empat kawannja, sedang ia dan jang lainnja, menanti sambil bersembunji ditempat-tempatjang berdekatan- Tjelakanja, dia tidak mendapat kabar apa-apa lagi dari Tjie Ek. jang tak kembali dan tanpa ada tanda isjaratnja. Djuga lenjap empat kawannja Tjie Ek itu. sedang malamnja, ketika dia mengirim beberapa orangnja, untuk mentjari dan menolongi Tjie Ek. orang-orangnja itu dihadjar In Gak ditengah djalan dan diantar pulang dalam keadaan tertotok djalan darahnja. Bukan main gusarnja Tjin Lok tapi ia tak berdaja.

Besoknja ia mengirim orang lagi tetapi kali ini orang-orangnja itu dilabrak orang-orang Kay Pang hingga rusak separuhnja.
Mengerti bahwa Tjioe-kee-tjhung terlindungi orang liehay, Tjin Lok lantas muntjul setjara berterang dimuka panggung loeitay. Ia tjerdik, ia tidak sembarang bertindak. ia mengharap bentroknja lain orang, untuk ia jang nanti menjerbu Tjoe-kee-tjhung, untuk memungut hasil tanpa bekerdja berat. Karena ketjerdikannja, ia dipertjaja Oe-boen Loei, ketuanja itu.

Tjin Lok telah memesan orang-orangnja, tanpa isjarat dari ia, tak boleh mereka itu sembarang turun tangan- Ia terkedjut dan heran akan menjaksikan Pit siauw Giam dan Tjian seng Hoan terluka sendjata rahasia. Itu waktu, ia masih belum tahu jang Koe souw dan lainnja telah kena ditawan, djikalau tidak. kagetnja mestinja akan bukan kepalang. Tjuma ia seperti telah mendapat pirasat, hatinja mendjadi tidak tenteram. Karena ini, ia lantas memikir satu akal. Untuk ini ia mengadjak bekerdja sedjumlah orang ditetarap barat, jalah orang-orang jang bukan anggauta partainja. Demikian malam itu djam empat, mereka berkumpul di Lioe sie Wan, untuk mengatur tjara kerdja mereka. Apa mau, niat mereka ini diketahui kaum Kay Pang, maka in Gak lantas dikisiki. Maka si anak muda lantas datang menjateroni.

Diruangan besar dari rumah Mo Djin telah berkumpul Tjin Lok semua. Api dipasang terang-terang, suasana tapinja sunji. Disitu berkumpul kira2 delapanpuluh orang. Tepat waktunja, Tjin Lok mengangkat bitjara.
“Semua tjianpwee dan sesama rekan” katanja, “Pasti kalian telah mengetahui apa sebabnja sampai terdjadi Tjioe Wie Seng hendak menutup diri dan membangun panggung Wan-yo-tay. Itulah karena dia menentang Partai kita. Kita pun, kita telah bertekad bulat untuk mendapatkan pedangnja orang she Tjioe itu.”
Ia menundjuk kepada Sien It Beng, untuk menjambungi: “Inilah Giok- bin Djie-long sien It Beng, ketua dari Gwa sam Tong kami. Ia telah ditugaskan Ketua kami untuk mendapatkan pedang dan orang. Maka kalau besok lusa ia naik keatas panggung, aku minta kalian suka mengalah terhadapnja. Untuk bantuan kalian itu, nanti Partai kami akan membalas budi. Bagaimana pendapat kalian?”

Selagi Tjin Lok menegasi itu diatas rumah terdengar tertawa dingin. Ia kaget hingga air mukanja berubah. Tak sedikit lainnja orang jang pun mendapat dengar tertawa itu. sebat luar biasa, ia mengebut padam penerangan, terus ia lompat keluar dari djendela, diturut oleh jang lain-lain- Tiba diluar, ia terus berlompat keatas genteng.
Rembulan sudah dojong kebarat, sinarnja mulai guram, tetapi diatas genteng itu, orang masih dapat melihat segala apa dengan njata, hanjalah disitu tidak ada seorang lain djuga, keadaan sunji. Heran Tjin Lok. Ia memikir, orang gesit sekali.

“Hoe-paytjoe, dapatkah kau melihat sesuatu?” tanja siauw-song-boen Teng Tjee Leng dari gunung Pek M a san- Ia mendampingi Tjin Lok bersama-sama It-tjie sin-mo Louw Goan Tong dari Hoa san Pay serta Houw-bin Thaypo Goe Hoei, ketua muda dari gunung Hin An Leng di Kwan-gwa.
Tjin Lok menggeleng kepala.
“Segala kurtjatji, buat apa saudara Tjin melajaninja” kata Goan Tong, jang tertawa dingin. “Tentulah dia sudah kabur djauh Kalau tidak. biarlah dia rasai djeridji
Liok-im-tjie dari aku si orang she Louw”

Belum berhenti suaranja Goan Tong ini, diudjung barat genteng itu terdengar suara tertawa tadi, hanja kali ini, terdengarnja sangat njata.
Bagaikan kilat tjepatnja, tubuh Louw Goan Tong sudah mentjelat madju. Dia pun membentak: “Tikus, kenapa kau tidak mau perlihatkan dirimu?”
Dari arah barat itu terlihat satu tubuh mentjelat memapaki, dibarengi tertawa dingin dan bentakan: “Kau turunlah”

It-tjie sin-mo kaget sekali. Terpaksa ia berlompat kesamping. ia bersjukur jang ia masih dapat lolos dari serangan orang tidak dikenal itu, jang telah memisahkan diri kira2 sepuluh tombak. Tapi ia mendongkol. Dulu-dulu, belum pernah ia diserang orang setjara demikian. Maka ia segera madju pula. Akan tetapi, dengan tjepat, orang itu sudah menghilang
Tjin Lok lantas mendapat tahu bahwa ia berada dengan musuh ditiga pendjuru, maka bersama-sama kawannja ia memetjah diri, untuk mendekati mereka itu. segera ia merasa bahwa ia pun tengah dipermainkan, sebab musuh mereka tidak dikenal itu, bagaikan bajangan, lari kesana-sini, selalu menjingkir dari kepungan. Mereka sangat gesit.

Ketika itu diluar rumah terlihat dua bajangan tubuh jang langsing dan lintjah, mereka dipergoki oleh pihak tuan rumah, mereka lantas dipegat, untuk diserang. Mereka itu tidak takut, mereka membuat perlawanan.
Kedua bajangan itu masing-masing memakai topeng hitam, sendjata mereka sendjata jang pandjang dan lunak. d iba wah sinar rembulan jang guram, sendjata mereka itu
bergerak-gerak bagaikan ular litjin.

Dipihak tuan rumah, empat orang telah roboh saling-susul. Djusteru itu, diantara mereka terdengar teriakan- “Dua orang wanita, bekuk mereka hidup, hidup”
Kedua orang itu membentak. suara mereka njaring, mengikuti itu, mereka menj erang dengan terlebih hebat, hingga mereka tidak dapat dirangsak. Tapi dengan begitu, mereka tidak dapat merusak kepungan- sebaliknja, lantas terlihat gerakan mereka mendjadi perlahan.

Diantara pengepung ada djuga jang mengupat-tjatji, hingga suara mereka mendjadi berisik sekali.
Selagi kedua wanita itu terkurung hebat itu, mendadak disitu muntjul satu bajangan lain, dan dengan lekas orang melihat njata mukanja jang putjat dan menakuti, tak miripnja manusia biasa, hingga hati orang mendjadi ketjil. Bajangan itu menj erang keras, sampai lantas roboh tudjuh atau delapan kurban-Melihat bajangan itu, kedua wanita kaget dan girang.

“Gan..” mereka berseru tetapi lantas berhenti suara mereka. Tanpa mereka merasa, mereka dihampirkan, untuk ditjekuk masing-masing dengan sebelah tangan orang itu, untuk dibawa menjing kir. Tjuma dengan beberapa lompatan, mereka sudah hilang dari depan para pengepung itu.
Kedua wanita itu. bukan lain daripada Tio Lian Tjoe dan Tjioe Goat Go. Mereka mendapat tahu kepergian In Gak bertiga, lantas mereka menjusul. Djikalau mereka minta ikut dengan berterang, pasti mereka ditolak. Mereka sama-sama membekal tjambuk. Diluar pekarangan, mereka terlihat orang djaga, mereka dikasi lewat tapi orang itu lantas lari mengabarkan pada Wie seng.

Gesit kedua nona itu, mereka dapat menguntit In Gak bertiga. Mereka heran ketika tiba di Lioe sie Wan, mereka tidak menghadapi sesuatu rintangan. Lian Tjoe mengutarakan tjuriganja pada Goat Go. Mustahil musuh tidak membuat pendjagaan? Lihat, entjie, apa itu? kata Goat Go, menundjuk. sebelum ia mendjawab.
Lian Tjoe segera menoleh. Maka ia melihat, diba wah sebuah pohon janglioe, rebah dua tubuh manusia. Kapan nona Tio mendekati, ia mendapat kenjataan dua orang itu telah tertotok urat gagunja. Mereka itu rebah tanpa berkutik, kedua mata mereka dipentang lebar-lebar.

“Pasti dia jang menotoknja” kata Lian Tjoe tertawa. “Adikku, mari kita madju terus, tak usah kita berkuatir lagi”
Goat Go menurut, maka itu, mereka madju terus.
Mereka tiba dipekarangan rumah Mo Djin disaat kawanan oey Kie Pay itu lagi dibikin pusing oleh fn Gak bertiga, jang sengadja bergerak-gerak mirip bajangan, untuk mengatjau kawanan Bendera Kuning itu Mereka kena dipergoki, dari itu, mereka lantas dipegat dan dikepung. Kewalahan mereka memetjahkan kepungan.

In Gak telah memantjing Tjin Lok pergi djauh, lantas dia lari mutar, guna menemui Hong pioe dan Kim Go, djusteru disaat nona-nona itu lagi dikurung dan terantjam, maka ia lantas njerbu kedalam gelanggang, untuk menolong i mereka itu. sebenarnja ia mendongkol untuk kesembronoannja nona-nona itu, jang menempuh bahaja tanpa perlunja. Ia sendiri, tjuma berniat mengatjau.
Ditjekal si anak muda, kedua nona itu tidak membuat perlawanan, bahkan mereka membikin kaku tubuh mereka, hingga gampang sekali mereka dibawa lari. segera mereka tiba ditepi kali, djauh dari rumah Mo Djin-

“Nona-nona, hatimu besar sekali,” kata fn Gak. setelah melepaskan tjekalannja. “Kalau terdjadi sesuatu tak diingin, bagaimana aku dapat berbitjara dihadapan orang-tua kamu?”
“Kami datang sendiri, dapatkah kau mentjampur tahu?” balik tanja Lian Tjoe, keras.
si nakal ini membawa kenakalannja, meski sebenarnja, seperti Goat Go, hatinja senang dibawa berlari-lari anak muda itu Tanpa merasa, In Gak tertawa.
“Benar-benar anak ini berandalan” pikirnja. Apa memang tabiatnja mereka gemar mengatjau? Karena ini ia lantas ingat Wan Lan, jang pun berandalan.
“Djikalau aku tidak mentjampur tahu, habis siapakah?” ia mendjawab, perlahan, sambil bersenjum.
Bukannja ia gusar, Lian Tjoe tertawa lebar.
“Siapa djuga tidak berhak mengurus kami” Goat Go berkata. “Kau tidak berhak” “Berhak?” tanja si anak muda, masgul. “Bagaimana mestinja baru berhak?”

Kedua nona itu tidak mendjawab, sebaliknja, mereka tertawa. In Gak kewalahan- setelah berpikir, ia ingat suatu apa.
Itu waktu, Hong pioe dan Kim Go belum datang menjusul, maka si anak muda berkata: “Nona-nona, kau tunggu disini, aku mau menjambut saudara-saudara Gouw dan The. Djikalau kamu tidak pergi dari sini, nanti aku mengadjari kamu suatu kebisaan. Bagaimana, akur?”
Kedua nona itu nampak girang.
“Benarkah?” mereka tanja tjepat. “Baik, djangan kau salah djandji, djikalau tidak, djangan salahkan kami”
“Benar, kamu djangan kuatir” djawab In Gak. Atas djawaban itu, Lian Tjoe tertawa perlahan. In Gak pun tertawa, tetapi dia lantas pergi. Hati si Nona Tio tergerak melihat kegesitan pemuda itu.

“Dia benar gagah luar biasa,” pikirnja. “Entah bagaimana perasaan dia setelah dia mendapati mutiara dan saputanganku. oh, kau tahu, bagaimana aku mengagumi kau”
Goat Go pun berpikir serupa, matanja terus mengawasi meski tubuh orang telah lenjap ditempat gelap.
“Dia hebat sekali, asal aku bisa mendapatkan separuh sadja kepandaiannja, tentu aku bisa merantau dan mendjagoi dalam dunia Kang-ouw,” demikian katanja dalam hatinja. “semoga pengharapanku tidak kosong”
Achirnja berdua mereka menghela napas, mereka berdiri diam saling mengawasi. Tjuma sedjenak. mereka tertawa sendirinja. Lantas mereka duduk ditanah untuk menantikan si anak muda jang mereka kagumi itu

Ketika In Gak tiba dirumah Mo Djin, disana Hong pioe dan Kim Go terlihat lagi dikepung, karena musuh main mentjatji, mereka membalasnja. fa tidak lantas menjerbu, ia lompat naik kesebuah pohon dipinggir lamporan, tempat mendjemur gandum.
Diluar dugaan, diatas pohon itu ada pendjahat jang mendjaga. Dia melihat orang datang, dia menjerang. sjukur In Gak awas, ia mendahului menotok. hingga orang lantas berdiam sadja, mata dan mulutnja terbuka lebar, tubuhnja bergojang-gojang mau djatuh.

In Gak tidak memperdulikannja lebih djauh, ia terus memernahkan diri ia ingin menjaksikan kegagahannja Hong pioe dan Kim Go.
Segera terdengar kata-kata mengedjek dari Tjin Lok: “Sungguh aku tidak sangka bahwa Tuan-tuan Gouw danThe,jang kesohor di Utara, telah datang berkundjung kemari dengan membawa sikap bangsa kurtjatji Djikalau tuan-tuan bangsa terhormat, selajaknja tuan-tuan berbitjara dengan orang-orangku, pasti nanti aku mengatur barisan untuk menjambutnja Liang-hoay Tayhiap mengadakan upatjara menutup pedang dan membuka panggung pertandingan untuk mengikat persahabatan, siapa pun dapat datang disana, maka perbuatanmu mengatjau di Lioe sie Wan ini pasti bukanlah maksudnja tayhiap itu sekarang kamu bilanglah apa kehendak kamu, aku akan mengiringinja Tempatku ini tidak dapat menerima kamu datang dan pergi sesuka kamu”

“Orang she Tjin, djangan terkebur” kata Hong pioe tertawa lebar. “Bukankah Lioe sie Wan bukan milikmu? Djadi aku si orang tua, aku suka aku datang, aku suka aku pergi Mana dapat kamu merintangi aku? Tentang maksud kedatangan kami ini, tak usah aku djelaskan pula, kau tentunja telah ketahui baik sekali satu hal ingin aku djelaskan, Koe souw dan lainnja, djumlah duapuluh orang lebih, jang kamu telah utus, tak usah kau kuatirkan-Mereka itu berada didalam Tjioe-kee-tjhung, lagi dilajani kami baik sekali, nanti setelah beres pertandingan diatas loeitay, kami akan menggotongnja keluar”

Untuk sedjenak, Tjin Lok melengak. Kata-kata Hong pioe berarti orang-orangnja telah kena dibekuk. fa djadi malu dan gusar. Akan tetapi dia tertawa terbahak.
“Sahabat baik, kamu mengantarkan diri kamu masuk dalam djaring, maka itu marilah a si orang she Tjin djuga menggotong kamu pergi” katanja mengedjek.
Hong pioe mengerti, pertempuran dahsjat tidak dapat dihindarkan lagi, dan bahwa dirinja terantjam bahaja. ia heran kenapa In Gak belum djuga datang. Kim Go djuga mengerti bahaja, ia telah menjiapkan goloknja.

Tjin Lok habis sabar, dia mau lantas madju, tetapi seorang didampingnja mendahului ia. Kata orang itu: “Tjin Paytjoe, biarlah kali ini aku Ouw Tjiangjung menjambutnja” Terus ia madju kedepan Hong Pioe, ia memberi hormat sembari berkata: “Telah lama aku mendengar nama tuan dipeternakan charhar Utara, sekarang kita bisa bertemu disini, aku girang sekali, aku siauw- yauw-tjoe Ouw Tjiang, aku minta sukalah kau memberikan pengadjaranmu “

Hong Pioe mengawasi orang itu, jang berumur lebih-kurang empatpuluh tahun. Ia mau menduga orang mahir tenaga dalamnja, hanja ia tidak kenal padanja. Ia tinggal di Kwan-gwa bersama Kim Go, la tidak kenal orang ini jang baru mendjagoi selama tudjuh atau delapan tahun- Tapi ia membalas hormat, sambil ketawa ia kata: Kaulah tuan rumah, “Tuan Ouw, silakan kau jang mulai”
Ouw Tjiang menjahuti: “Baiklah” sambil ia terus madju menjerang kedada.
Hong, Pioe mendongkol atas kedjumawaan orang, ia menggeser tubuhnja kekiri, selagi dengan tangan kanan ia menangkis, dengan tangan kiri ia membalas menjerang dengan tipu silat Dua ekor naga berebut mutiara, dua djari tangannja meluncur kearah mata. Inilah gerakannja jang membikin ia dapat gelarannja, Hoei-in-tjioe, si Tangan Mega Terbang.
Ouw Tjiang terkedjut. Karena ditangkis, tubuhnja kena tertolak. Maka atas datangnja serangan kemata, lekas-lekas dia berkelit. Tapi dia tidak takut. Kembali dia menjerang pula, tetap dengan kedua tangannja.

Kali ini Hong Pioe tidak mau mengasi hati pula. Ia telah ketahui baik tenaga lawannja ini. ia lantas mendahului. Dengan berlompat ia menjerang dengan kedua tangannja. Itulah pukulan Sin-liong-tiauw-bwee, atau Naga sakti menggojang ekor.
Dengan mengasi dengar suara “Duk..!” maka dada Ouw Tilang kena terhadjar, tubuh nja terus roboh terkapar dan tak bergeming lagi.

Louw Goan Tong lompat menghampirkan Ouw Tjiang, untuk membalik tubuhnja, hingga ia melihat darah mulai keluar dari mata, hidung, mulut dan kuping orang, jang telah mendjadi setengah mati. Itulah berarti, umpama dia dapat hidup, Ouw Tjiang akan ludas ilmu silatnja. Meski begitu, ia mendjedjalkan djuga sebutir obat dimulut kawan itu. setelah itu ia lompat kedepan Hong Pioe, untuk mengatakan dengan dingin: “Sungguh Hoei-in-tjioe jang liehay Djikalau malam ini kau lolos dari tangan aku it-tjie sin-mo, aku sumpah tidak sudi mendjadi orang.”
Djulukan it-tjie sin-mo itu berarti iblis Djeridji satu.

Ketika itu, In Gak berpikir: “Dengan ini tjara, sampai kapan pertempuran dapat diachirkan?” Kedua nona djuga tengah menantikan. sebentar sadja fadjar datang, sang djagat bakal djadi terang- benderang. Baiklah aku menitahkan mereka mundur.”

Pertempuran sementara itu sudah berlangsung, Goan Tong menj erang, Hong pioe menjambuti. orang she Gouw itu tidak sudi diperhina. Goan Tong lantas main menotok. Ia liehay untuk ilmu totoknja enam djeridji, jaitu Liok-im-tjie, jang dapat menotok sekalipun seorang bertubuh kebal tak mempan sendjata. siapa tertotok dia, darahnja akan djadi beku dan mati seketika.

Tidak ada niatnja In Gak untuk menonton lebih lama. Ia angkat tubuh kurbannja, jang sedari tadi ia masih membiarkannja rebah diatas pohon disampingnja, lantas ia melemparkannya djauh kearah It-tjie sin-mo.
Goan Tong sedang mau menerdjang ketika ia terkedjut disebabkan angin menjamber,
dengan lantas ia lompat mundur tiga tindak dan matanja dipentang lebar. ia melihat satu tubuh meluntjur kearahnja. ia menduga kepada musuh, ia memapaki dengan kedua tangannja. Tubuh itu kena terhadjar, terdengar suara perlahan dari mulutnja, lantas roboh ketanah, tak berkutik lagi. Baru sekarang Goan Tong dapat mengenali, orang itu jalah ketua tjabang Bendera Kuning bernama KieBeng bergelar Toks tjoa si Ular Berbisa. ia kaget hingga ia melengak.

Djusteru itu dari atas pohon terdengar suara bersiuljang pandjang, dibarengi lompat turunnja satu orang jang mukanja, melihatnja, membuat hati orang tjiut. Muka itu mirip muka malaikat Pek Boe siang jang bengis dan menakuti. Tapi tidak demikian dengan Hong Pioe dan Kim Go, mereka bahkan girang. Mereka mengenali In Gak. hingga hati mereka mendjadi lega.

“Siluman apa berani main gila didepan aku It-tjie sin-mo?” Goan Tong menegur. Ia bertindak perlahan mendekati In Gak. “Kau mesti mengganti djiwanja ketua tjabang kami” ia mendongkol dan menjesal berbareng. Ia mendongkol sebab tidak menjangka ada musuh bersembunji diatas pohon itu, dan ia menjesal karena ia mesti membinasakan orang sendiri lantaran kesembronoannja. Maka itu, habis menegur, ia lantas madju menerdjang. Tak usah diterangkan lagi bahwa ia mengerahkan sepuluh djari tangannja jang liehay itu.

Manusia bermuka aneh itu tidak mundur, tepat ketika tangan jang kuat bakal mengenai tubuhnja, mendadak tangannja diangkat, dipakai menjamber kelengan.
Goan Tong terkedjut, hingga ia berseru tertahan, mulutnja dibuka lebar, matanja mentjilak. Didjidatnja lantas terlihat peluh keluar berketel-ketel. ia berdiam sadja,
tak dapat ia bergerak.
Semua orang berdiam, semua heran dan kagum. It-tjie sin-mojang liehay dapat ditunduki hanja dalam satu gebrak Tjin Lok tidak mendjadi terketjuali, dia berdiri mendjublak.
Si orang aneh tertawa seram.
“Djadi kaulah It-tjie sin-mo” katanja dingin. “Aku dengar liehay sekali ilmu Liok-im-tjiejang dimilikimu Bagaimana sekarang?”

(Bersambung ke Jilid 3)

5. Jilid 3.1 : Penjusup-penjusup jang sial

Bacaan » PEMBALASAN SEORANG JAGOAN » Jilid 3.1 : Penjusup-penjusup jang sial
Anggota masrizki
Waktu 28 Juni
Bab Sebelum 4. Jilid 2.2 : Lima biji catur merubuhkan penyusup
Bab Sesudah 6. Jilid 3.2 : Bentrok dengan Tjeng Hong Pay


Menuntut Balas
Karya : Wu Lin Qiao Zi
Terdjemahan : Oey Kim Tiang
Jilid 3.1. Penjusup-penjusup jang sial

Goan Tong berdiam, mukanja putjat. Ia gusar tanpa berdaja. Ia mau bitjara tetapi batal. Ia anggap pertjuma ia membuka mulut. Barusan ia tidak dibokong, bahkan ia jang lagi menjerang setjara mendadak.

“Aku tidak sangka sekali It-tjie sin-mo jang kesohor dan galak, sekarang ini tidak ada gunanja” kata pula manusia aneh itu. “Tapi aku mengingat kau baru kali ini berbuat kurang adjar terhadap aku, suka aku memberi ampun. Nah, pergilah kau”

Kapan tjekalan pada nadinja dilepaskan, tanpa ia dapat menahan lagi, Goan Tong mesti membiarkan tubuhnja terhujung dan roboh tiga tombak. Ia pun mendengar tulang-tulang atau ototnja pada berbunji. Ia mendjadi kaget sekali. Itu berarti musnalah semua kepandaian silatnja, bahwa ia telah mendjadi satu manusia bertjatjad. Maka habis sudahlah ketikanja untuk ia mentjari balas. Tidak ada lain djalan, ia lantas ngelejor pergi

“Mari kita pergi” si orang aneh berkata kepada Hong Pioe dan Kim Go. Ia tertawa, ia bertindak kearah kedua kawan itu.
Biar bagaimana, Tjin Lok toh gusar, hingga ia djadi berani. Tidak bisa ia membiarkan orang pergi setjara demikian. Mendadak ia lompat menjerang sambil ia berteriak: “Siluman, aku akan adu djiwaku”

“Kau mentjari mampus?” si orang aneh menegur, tanpa menoleh lagi, terus ia berkelit.

Tjin Lok menjerang tempat kosong, tangannja meluntjur terus bersama tubuhnja. selagi begitu, tubuhnja itu lantas ditepuk hingga ngusruk, membentur pada sebuah pohon didepannja. Bukan main sakit kepalanja, rasanja mau petjah, matanja pun kabur.

“Tjin Lok. aku beri ingat padamu” kata orang itu bengis. “Selandjutnja tidak dapat kau membiarkan orang-orangmu main gila lagi, tidak dapat mereka menimbulkan gara-gara Djikalau tidak. It-tjie sin-mo tjontohnja”
Habis berkata, dia lantas berdjalan pergi, diturut Hong Pioe dan Kim Go.
Dengan paksakan diri, Tjin Lok merajap bangun- Kalau tadinja ia mendongkol sangat, sekarang otaknja mendjadi dingin, hingga ia dapat berpikir: “Tjioe-kee-tjhung dibelai orang liehay ini, pertjumalah segala usahaku. Tidak dapat tidak. mestinja paytjoe sendiri datang kemari”

Karena ini, ia lantas menjuruh orangnja melepas isjarat tanda urusan penting.

In Gak berdjalan terus, sampai ditepi kali, ia tertawa dan kata pada kedua kawannja: “Gouw Tiangtjoe, The Tayhiap tahukah kamu bahwa kedua botjah jang nakal telah turut datang kemari?”
Kim Go terkedjut.

“Mereka datang?” serunja. “Oh benar-benar mereka sembrono”
In Gak menundjuk kedepan, ia tertawa. “Lihat, bukankah itu mereka itu?” tanjanja.

Hong Pioe dan Kim Go menoleh. sekarang mereka melihat, Lian Tjoe berdua Goat Go lagi berduduk digili-gili sawah dan berbitjara sambil tertawa-tertawa. “Ah, dua botjah itu sungguh”

Hong Pioe berkata tanpa dapat meneruskan. Ia berpaling pada In Gak, untuk membilang: “Gan siauwhiap. apabila kau tidak datang, pasti kita berdua akan kehilangan djiwa kita di Lioe sie Wan ini”
In Gak tertawa.

“Sjukur sang fadjar mendatangi, kalau tidak. tidak dapat aku bekerdja” ia kata merendah. “Gouw Tiangtjoe, telah aku menjaksikan kepandaian kau, maka sekarang ingin aku menjaksikan The Tayhiap.”
“Sjukur aku tidak dapat mempertontoni kedjelekanku, djikalau tidak. bagaimana aku malu” kata Kim Go tertawa.

Lian Tjoe dan Goat Go dikedjutkan tertawa itu, mereka bangun berdiri.
In Gak mengadjak dua kawannja melintasi kali, untuk menghampirkan kedua nona itu, jang sebaliknja pun lari kepada mereka. Lantas mereka itu mengawasi si anak muda tak perduli orang beroman menakuti, bahkan Goat Go mendjadi berani, ia mengulur tangannja untuk meloloskan topeng itu sembari ia kata: “Buat apa memakai topeng ini? Bukankah ini akan membuat orang mati saking takut?”

In Gak meluntjurkan tangannja merampas pulang topengnja itu. “Nakal” katanja.
“Ja, anak, kau terlalu” kata Hoei-in-tjioe tertawa.
“Apa jang terlalu?” kata si nona tertawa djuga.
Kembali Hong pioe tertawa. Djuga Kim Go.
Lian Tjoe turut tertawa, tetapi hatinja kurang gembira
Benar-benar sang fadjar lagi mendatangi. In Gak memandang kelangit.
“Mari kita pulang” ia mengadjak.”Tjioe Tjhungtjoe pastilah tak tidur semalam suntuk”

Lantas kelimanja berangkat dengan tjepat. Ketika mereka tiba diperbatasan dimana ada berdjaga-djaga orang Tjioe-kee-tjhung, mereka itu pada melepaskan burung dara untuk memberi kabar kepada tjhungtjoe mereka. Maka itu setibanja mereka dirumah, Wie seng bersama To Tjiok sam lagi duduk menantikan. Memang mereka ini berdua tidak tidur, mereka terus menunggu.

Goat Go nampak berduka, ia hampir menangis. Melihat puterinja itu, jang nampak harus dikasihani, roman Wie Seng tidak guram seperti semula. Ia gusar karena anak itu pergi setjara diam-diam.
To Tjiok sam tertawa dan berkata: “Setelah kita mendapat kabar kedua botjah nakal ini pergi, Tjioe Laotee mau lantas menjusul sendiri, tetapi aku si orang tua mentjegah dengan membilang, dengan adanja Gan siauwhiap disana, tak usahlah kita berkuatir. Aku kata djuga, tanpa membiarkan mereka merasai sedikit kesukaran, mereka tak akan tahu rasa. Laginja, anak perempuan itu terlahir untuk pihak luar, baik mereka dibiasakan pergi seorang diri Bukankah kalau nanti mereka menikah, mereka tak dapat didjagai terus?”

Mendengar itu, Hong pioe dan Kim Go tertawa lebar, In Gak sebaliknja bersemu dadu
mukanja. Ia kata: “Ah, lootjianpwee djail sekali”
Muka Lian Tjoe pun dadu tetapi hatinja senang. Ia kata dalam hatinja: “Tua bangka she To ini bermata tadjam sekali? Tjara bagaimana dia mengetahui jang Goat Go dan aku mengagumi Gan siauwhiap? Aku harap sekalian sadja ia mendajakan agar kita berdua dapat menuntut peladjaran dari Gan siauwhiap.”
Ia lantas melirik Goat Go, ia merasa Nona Tjioe berperasaan seperti ia sendiri,
Goat Go pun melirik pada kawannja, lantas mereka sama-sama bersenjum, tetapi ia likat, ia mengeluarkan saputangannja, untuk menutupi mulutnja. Wie seng pun tertawa.

“To Laodjie, kau gemar bergurau” katanja. setelah itu ia tanja Hong pioe dan Kim Go, “Bagaimana kesudahannja dengan kepergian mereka barusan.”
Senang Hong pioe ditanja. Dengan gembira dan bernapsu, ia tuturkan pengalaman mereka tadi di Lioe sie Wan dimana In Gak telah mempertundjuki kegagahannja.
selama orang bitjara, bunga hatinja Lian Tjoe dan Goat Go, hampir tak hentinja mereka mengawasi In Gak.
“Djikalau kawanan bangsat itu mau naik dipanggang dengan menggunai siasatnja,” kata Tjiok sam tertawa, “baiklah, nanti aku naik dan menghadjar mereka terdjungkal dari atas panggung”

“Hebat kau, To Laodjie” kata Wie seng, tertawa. “Orang naik kepanggung untuk merebut djodoh tetapi kau hendak menghadjar orang”
“Bukannja begitu, saudara Tjioe, aku hanja sangat sebal terhadap mereka” kata Tjiok Sam.
Pembitjaraan mereka terhenti karena muntjulnja seorang tjhungteng, jang datang setjara tergesa-gesa, segera dia melaporkan bahwa dari arah Lioe sie Wan tertampak isjarat meluntjurnja kembang api lima warna.

Wie seng memberi tanda untuk orangnja itu mengundurkan diri, habis itu ia kata sembari tertawa: “Tak lebih tak kurang, lantaran merasa tak ungkulan, mereka itu meminta bala- bantuan, Biarlah kita boleh nantikan mereka”
In-liong sam-hian berdiam, untuk berpikir. Lian Tjoe segera memandang In Gak jang bersikap tenang.
“Gan siauwhiap.” sapanja,”Bukankah tadi kau mendjandjikan akan mengadjarkan sesuatu padaku?”
“Ja, Gan siauwhiap, djangan kau menjangkal” Goat Go pun kata, tertawa. To Tjiok Sam memandang kedua nona.
“Ha, budak-budak nakal,” katanja. “Kau menjebut-njebut siauwhiap tidakkah itu berbau asing? Kamu seharusnja menjebut Gan Toako, Kalau tidak. tidak nanti kau diadjari ilmu silat”

Belum berhenti suara orang tua ini, dia sudah diserbu nona-nona itu.
“Oh, oh..” Tjiok sam tertawa terpingkal-pingkal. “Siauwhiap. lekas kau mengadjari mereka, nanti tulang-tulangku dipatahkan mereka ini”
Wie seng segera menegur anaknja.”Anak Goat, djangan kurang adjar!” katanja.
Kedua nona itu berhenti, muka mereka merah.
In Gak segera datang sama tengah.
“Nona-nona, kamu ingin beladjar apa?” ia tanja.
Lian Tjoe menjing kap naik rambut didjidatnja, ia tertawa.
“Aku ingin mempeladjari kepandaianmu jang diperlihatkan ditaman belakang, serta itu jang dipakai menangkap tangan It-tjie sin-mo seperti katanja Gouw Lootjianpwee,” ia kata. “Tentang adik Goat, la ingin mempeladjari apa, kau tanja sendiri sadja kepadanja” ia tertawa pula.

“Aku? Aku ingin beladjar seperti kau, entjie” kata Goat Go tertawa. Ketika itu, keduanja tak likat lagi. In Gak tertawa didalam hati.
“Hm, besar sekali hati mereka ini,” pikirnja. “Kepandaian ini ketjuali kakek guru Boe Wie siang djin dan guruku, Beng Liang Taysoe, hampir tak ada jang dapat mempeladjarinja.”

Tipu silat jang pemuda ini gunai terhadap Tjie Ek dan Koe souw berasal dari ilmu silat Hian-thian Tjit-seng-pou atau tindakan Tudjuh Bintang Hian-thian, ilmu mana ditjiptakanBoe Wie siang djin selama orang berilmu itu berdiam di Thian san Utara, sedang ilmujang dipakai melajani It-tjie sin-mo ada dari Hian-wan sip-pat-kay, im-yang Tjeng-hoan shatjaplak-tjioe, jaitu tigapuluh-enam djurus im-yang Bulak-balik, Kedua ilmu itu dapat berakibat buruk bila dipunjai orang jang hatinja tak lurus, karena ini, si anak muda merasa agak sulit. fa menguatirkan hati nona-nona itu kurang kuat, nanti mereka bisa tersesat. Tapi ia tidak kekurangan akal, lantas ia tertawa.
“Aku telah memberi djandjiku, tidak nanti aku menjangkal,” ia kata. “Tentang kedua matjam ilmu kepandaian jang kamu minta, aku suka mengadjarinja, hanjalah itu sulit, ketjuali waktunja lama, sampai lima tahun, djuga setelah dapat dipahamkan, orang masih mesti berlatih terus, tak dapat dia lantas keluar pintu. Maka aku lihat, baik begini sadja. Lebih dulu aku mengadjari pokoknjapeladjaran, jang dapat segera digunakan. Bagaimana, apakah kamu setudju?”

Kedua nona mempertjajai keterangan itu, mendengar waktunja lima tahun, mereka mengulur keluar lidah mereka.
“Baik” kata Lian Tjoe. “Sekarang kau mengadjari aku apa sadja jang kau rasa baik, asal nanti kau djangan melupakan djandjimu akan mengadjari djuga itu dua matjam ilmu”
In Gak tertawa.”Peladjaran ini tak dapat didengar oleh telinga jang keenam, maka marilah kamu turut aku” kata ia, jang mengadjak orang pergi ketaman. Ia pun lantas meminta diri dari Wie Seng semua.

Orang-oraag tua itu mengawasi sampai si anak-anak muda lenjap. lalu Hong pioe mengulet dan berkata: “Satu malam kita tidak tidur, sekarang masih ada tempo satu djam, mari kita beristirahat dulu.”
Wie seng semua akur, maka itu, mereka mengundurkan diri
Setengah djam kemudian, dari luar Tjioe-kee-tjhung datang isjarat beruntun- runtun tentang mulai datangnja sekalian tetamu, maka Wie seng mengatur penjambutan terhadap mereka.

Hong pioe dan Kim Go terus beristirahat, sedang In Gak, setibanja tadi mereka ditaman, ia mulai mengadjari Lian Tjoe dan Goat Go ilmu Kioe-kiong Tjeng-hoan im-yang-pou. Mulanja ia bersilat sendiri, si nona-nona jang mengawasi dengan perhatian. setiap tindakannja bertapak ditanah. ilmu ini beda dari Hian-thian Tjit-seng-pou tetapi, dengan ini orang dapat bertahan dari musuh kelas satu. ilmu jang kedua jalah Pat-kioe Leng-long Tjioe- hoat, ilmu kelintjahan untuk menangkap tangan lawan atau menotok.
Kedua nona itu tjerdas sekali, dengan tjepat mereka dapat menjangkok. maka tak lama kemudian, In Gak membiarkan mereka berlatih terus, ia sendiri meminta diri untuk kembali kekamarnja.

Setibanja dalam kamarnja, pemuda ini merasa kesepian, hingga lantas ia teringat akan tugasnja sendiri sudah setengah tahun ia merantau ditiga propinsi, belum berhasil ia denganpembalasannja, bahkan ia belum tahu djuga, siapa-siapa semua musuhnja dan dimana beradanja mereka itu, karena mana tak dapat ia berdiam terlalu lama di Tjioe-kee-tjhung ini. fa menghela napas, ia membuka pintu kamarnja, untuk memanggil pelajannja, buat minta kertas dan alat tulisnja. Maka dilain saat, selesailah ia menulis sjair dalam mana ia melukiskan rasa hatinja, tentang tjita-tjitanja jang belum terwudjudkan itu. Tulisannja pun indah sekali.

Ketika In Gak memanggil pelajan, Hong pioe dan Kim Go mendengarnja, mereka bangun dari pembaringan, untuk menghampirkan, hingga mereka menjaksikan anak muda itu menulis sjairnja, tjepat dan indah sjairnja. Mereka telah membatja:
Satu niat belum terwudjudkan,
Air mata mengalir karenanja. Menjesal, menjesali musuh, Bagaikan air mengalir, tak kembali Menenggak air kata-kata, Melenjapkan duka- nestapa
Bersedih, Bernjanji, semangat bergelora.

“Hebat” berkata Kim Go menghela napas, saking kagum. “Aku tidak sangka siauwhiap dapat menjimpan diri begitu rupa. sudah ilmu silatmu liehay, ilmu suratmu pun begini mahir. sungguh sukar didapat lain sebagai kau”
“Djiewie mentertawakan sadja,” kata In Gak bersenjum. “Aku tjuma lagi mempeladjari ilmu bersjair dan menulis indah, sedang tulisanku ini lugat-legot bagaikan tjatjing, mana bagus untuk dipandangi”

Ketika itu terdengar tindakan kaki dilantai lauwteng lantas terlihat Lian Tjoe dan Goat Go menolak pintu bertindak masuk. segera si Nona Tio melihat sjair itu jang terletak diatas medja, lantas dia mendjemputnja. “Ini untuk aku” katanja. “Kau dapat menulis jang lainnja lagi” Mukanja Goat Go bersemu dadu, sangsi ia untuk berbitjara.
“Inilah tidak berarti,” kata In Gak tertawa. “Biarlah, lain kali aku menulisnja pula. sekarang aku hendak tanja kamu, bagaimana dengan latihanmu?”
“Kami ingat semua” sahut Goat Go tertawa. “Tjuma katanja entjie Tio kau masih menjembunjikan sesuatu”

In Gak mementang matanja, melongo mengawasi nona itu. Lian Tjoe tertawa.
“Kau, kau” katanja. “Kau tjuma mengadjari kami ilmu tjambuk. ilmu kelintjahan, tetapi ilmu pedang masih dihutang.”
Mendengar itu, Hong pioe tertawa tergelak.
“Lihat, Gan siauwhiap” ia kata, “dua botjah ini tamak bukan main Mereka tak puasnja, Aku lihat, kau mestinja membongkar kopormu sampai terlihat dasarnja, djikalau tidak. tak nanti mereka mau sudah”

In Gak memang tahu Lian Tjoe nakal sekali, hanja kenakalan jang menarik hati. Ia ingin mengudji.
“Sudah, sudah” katanja sesaat kemudian, “aku memang tahu kamu hendak melibat aku. Untuk beladjar silat, kita harus menunggu sampai sebentar malam. Bagaimana, kamu puas sekarang?”
Kedua nona nakal itu saling mengawasi, mereka tertawa sambil membekap mulut mereka. Nampaknja mereka puas.

Sementara itu terdengarlah suara lontjeng dari seluruh Tjioe-kee-tjhung. Hong pioe terkedjut.
“Tjelaka!” ia berseru. “Djangan-djangan ada orang liehay, jang tidak memakai aturan, jang menjerbu masuk siauwhiap. mari kita lihat”
Tanpa memberi djawaban lagi, In Gak menurut. Maka berlima mereka lari keluar. Mereka tidak turun lagi ditangga lauwteng hanja masing-masing terus lompat naik kelenteng, untuk memotong djalan ketetarap timur.

In Gak mentjelat paling dulu. segera ia melihat beberapa orang berlompatan diudjung tembok. sekelebatan sadja, bagaikan bajangan, mereka itu lewat. Tak nampak muka mereka itu, tapi terlihat mereka bukannja masuk dari satu tempat. Ia lantas mendapat tahu ada orang nelusup ketaman belakang. segera ia mengenakan topengnja, dari mulutnja terdengar suara edjekan.

Hong pioe berempat mendengar suara anak muda ini dan melihat orang sudah memakai topeng, mereka menduga si anak muda mesti ada maksudnja. “Siauwhiap. kau mentjurigai sesuatu?” Hong pioe tanja perlahan. Pemuda itu mengangguk.
“Aku belum pasti, sahutnja. silahkan tiangtjoe berempat pergi ke depan, aku akan menjusulnja.”
“Tidak bisa, aku bersama adik Goat ingin turut kau” kata Lian Tjoe, jang memonjongkan mulutnja. Keluarlah alaman atau kenakalannja. In Gak tidak sempat melajani nona itu.
“Baik” katanja, tjepat dan singkat, sedang tubuhnja segera bergerak.

Lian Tjoe dan Goat Go mengikuti, sedang Hong pioe dan Kim Go langsung menudju ke depan ke tetarap timur.
In Gak berlaku sangat gesit, dalam tempo pendek ia telah meninggalkan kedua nona,
hingga mereka ini tidak melihat lagi bajangannja. Hingga mereka saling mengawasi dengan muka merah dan bingung. sebab segera mereka pun mendapat kenjataan ditempat pendjagaan ada orang-orang jang rebah disana-sini.” Adik,” lekas Nona Tio berseru: “Kita terlambat”

Berdua mereka menudju ke kamar batu dimana Tjie E k dan Koe souw semua ditahan. Mereka mendapat pintu kamar telah terpentang. Didepan pintu nampak Koe souw semua. Tjuma Tjie Ek seorang jang menjender ditembok. matanja melotot. Teranglah orang datang untuk menolong mereka itu tetapi mereka keburu dapat dirintangi In Gak, lantas mereka ditotok. Djikalau tidak demikian, pasti mereka berhasil mengangkat kaki dari situ. Hanjalah, sebab mereka pasti tidak dapat dibebaskan oleh lain orang, mereka sengadja ditinggalkan disitu.

Kedua nona penasaran, mereka mentjari. Benar, disitu tak ada satu musuh djuga. Apa jang mereka ketemukanjalah Tan Boen Han dan Ouw Thian Seng bersama dua tetamu, jang mulutnja terpentang, matanja terbuka, agaknja mereka lagi sangat menderita. Teranglah mereka sudah dirobohkan musuh.
“Bagaimana?” Lian Tjoe segera menegur Tjie Ek. bengis sikapnja. Tjie Ek tidak dapat mendjawab, dia ketakutan, mukanja meringis.
“Disini, nona” mendadak Nona Tio mendengar djawaban dari sebelah belakangnja, hingga ia terkedjut. suara itu perlahan tetapi tadjam untuk telinganja, suatu tanda dari tenaga dalam jang liehay. fa lantas memutar tubuh begitupun Goat Go. Maka mereka lantas melihat dua tombak lebih didepan mereka, tiga orang berdiri berbaris.

Orang jang paling kiri bertubuh tinggi-besar, mukanja berewokan, hingga melainkan nampak sepasang matanja jang bersinar tadjam bagaikan api menjala. Dia mengenakan djubah biru jang gerombongan. Dua jang lain berdandan seperti imam, memakai djubah dan kopiah, mukanja bersih, kumis dan djenggotnja pandjang terpetjah tiga, dan dipunggungnja tergondol pedang jang beda antara dua imam inijalah jang satu ada tapak golok dipipinja.

Melihat orang jang beroman bengis itu, Lian Tjoe terkedjut bukan main. ia tahu orang itujalah Tjhong-sie Koay-sioe, si orang tua aneh dari gunung Teng im dari sinkiang, jang kedudukannja mendjadi kepala dari sip-sam-sia, tigabelas djago sesat jang ilmu silatnja katanja luar biasa sekali, hingga dia didjerikan kaum Rimba Persilatan. Hanjalah dia biasa terdapat diwilajah Sinkiang sadja, paling djauh dia sampai di Kamsiok. Soetjoan dan Inla m tiga propinsi, belum pernah ke Kanglam. Tapi sekarang dia mendadak muntjul di Tjioe-kee-tjhung. Mungkinkah dia orang undangannja partai Bendera Kuning?

Tentang kedua imam itu, merekalah I m- yang siang-kiam, sepasang Pedang Im- yang, jalah It Hoei dan it sioe dari Hoa san Pay. Mereka biasanja berada berduaan, tak pernah mereka berpisahan, sekalipun diwaktu bertempur, mereka berduaan djuga mahir ilmu pedangnja, liehay totokan djeridji tangannja, jang berdasarkan ilmu Liok-im Tjie-hoat. Mereka melebihkan liehaynja soetee mereka, jaitu It-tjie sin-mo. It Hoei adalah jang pipinja bertapak golok itu, hingga Lian Tjoe lantas menduganja.
selagi si nona Tio berkuatir, Goat Go bahkan mendiadi gusar. Ia belum tahu masuk dunia Kang-ouw, ia tidak kenal tiga orang itu.
“Siapa kamu?” ia menegur. “Kenapa kamu lantjang memasuki rumahku ini?”

Tjhong-sie Koay-sioe mentjorong sinar matanja, dia tertawa dingin.
“Botjah wanita, kau tentunja anaknja Tjioe Wie seng,” katanja. “Namaku si orang tua, tak apa djikalau orang tidak menanjakannja, tetapi, asal aku menjebutnja, pasti kau bakal mati karenanja Baiklah kau memberitahukan aku dimana itu orang jang di Lioe sie Wan telah mentjelakai It-tjie sin-mo. Aku tidak mau berbuat keterlaluan, suka aku memberi ampun kepada djiwa kamu berdua.”
Goat Go bertambah gusar.
“Kau mau tjari orang itu, bukankah?” ia kata, menantang. “Baik ! Kau menangkan dulu tjambuk ditanganku, baru nonamu suka memberitahukan”

Kata-kata ini ditutup dengan gerakan tangan hingga udjung tjambuk menjambar pundak si orang bermuka bengis itu.
“Nona tjilik, kau tjari mampusmu” tertawa Tjhong-sie Koay-sioe. Ia lantas mengangkat tangannja jang besar dan lebar, untuk menangkap tjambuk. Akan tetapi aneh, tjambuk itu dia lolos dari sambaran, lalu kembali menjamber, kepundak djuga.
Tjhong-sie Koay-sioe mendjadi heran. Mau atau tidak. la berkelit, sembari berkelit itu, tangannja menjamber pula. Tapi lagi-lagi udjung tjambuk lolos, sekarang udjung itu menjambar kekepala.
Bukan main hera nnja Tjhong-sie Koay-sioe. inilah ia tidak sangka sama sekali. Ia tidak mengerti kenapa ia gagal menangkap tjambuk itu.
Djuga im-yang siang-kiam mendjadi heran. Mereka sudah berpengalaman tetapi belum pernah mereka menemukan ilmu silat tjambuk jang lintjah itu.

Tjhong-sie mendjadi penasaran, habis berkelit, ia merangsak. kedua tangannja diadjukan setjara tjepat. Dengan mendesak begini, dua kali ia berhasil menangkap tjambuk si nona, akan tetapi untuk kesekian kalinja, terus-menerus ia membuatnja lolos pula.
Bukan main malunja djago ini. Bukankah disitu ada Im- yang siang-kiam? Maka ia merangsak pula .

Sekarang ini Goat Go tak dapat berlaku lintjah lagi seperti semula. Ia merasakan sambaran-sambaran hawa dingin, jang membuatnja kurang leluasa bergerak. Dengan terpaksa ia terdesak mundur, tindakannja tidak wadjar lagi.

Serangannja Tjhong-sie Koay-sioe itu jalah serangan Touw-koet Han-hong-tjiang. Itulah hawa dingin, jang dapat meresap ke tulang-tulang. Maka kagetlah Goat Go. ia lantas mengguna i akal, j a la h ia menj erang dengan sekalian melepaskan tjekalannja, hingga tjambuknja meluntjur kepada lawannja.
Tjhong-sie terkedjut. Tentu sekali ia tidak dapat membiarkan matanja dibikin buta udjung tjambuk. Maka ia menj ambar. Kali ini ia berhasil. Terus tjambuk itu dilempar ke samping. Dilainpihak, serangannja itu tidak ia tunda. Ia mendesak terus. Ia hanja merasa heran untuk ketangguhan si nona. Belum pernah ia menemui la wan jang sanggup bertahan lebih dari sepuluh djurus untuk runtunan serangannja jang berhawa dingin itu akibat ilmu silatnja itu: Touw-koet Han-hong-tjiang, pukulan Tangan Dingin ia pasti sekali tidak ketahui, setelah mendapat pimpinan In Gak. sekalipun waktunja singkat, nona Tjioe telah memperoleh kemadjuan pesat.

Habis melepaskan tjambuknja, hal mana membuat Tjhong-sie Koay-sioe berajal djuga sedikit karena dia mesti menangkap tjambuk dan melemparnja Goat Go terus bersilat dengan tindakan Kioe-kiong Tjeng-hoan fm-yang-pou, jang baru sadja ia peladjarkan, sedang tangannja memainkan gerak-gerakan Pat-kioe Leng-long Tjioe- hoat, djuga peladjaran baru.
Perlawanan ini membikin Tjhong-sie bertambah heran, terutama sebab ia telah perhebat serangannja. Biasanja, lawan bagaimana tangguh djuga, dalam djarak sepuluh tombak. sukar lolos daripukulannja Tangan Dingin itu. Untuk menjerang si nona, ia baru meng gunai lima bagian tenaganja, toh ia heran sekali. setiap bakal kena diserang, tubuh si nona berkelit lintjah, lalu bebas si nona bergerak ke kiri atau kanan, atau sebaliknja, atau mendadak dia berada dibelakangnja, setiap ada ketikanja, dia membalas menjerang, antaranja dengan totokan. Atau tangannja berniat ditangkap si nona saking tjepat bergeraknja nona ini, ia merasakan matanja kabur. Pernah ia totok pundaknja, lantas ia merasakan pundak itu sesemutan. Ia tangguh, ia tidak dapat ditotok sampai roboh.

Lian Tjoe menonton kawannja bertempur itu, mulanja ia berkuatir djuga, lalu kemudian dapat ia menetapkan hati. Diam-diam ia bersjukur kepada In Gak. jang telah memberikan peladjaran pada mereka, hingga sekarang Goat Go mendjadi liehay. Disamping itu, sering-sering ia melirik kepada im-yang siang-kiam. ia mendapati air muka orang menundjuki roman kaget dan heran, mungkin berkuatir. Karena ini, kemudian ia lompat ke depan mereka itu, sembari tertawa ia kata: “Im-yang siang-kiam dari Hoa san sangat kesohor, bagaimana djikalau nonamu beladjar kenal dengan kamu?”

Air mukanja It Hoei Toodjin berubah.
“Djikalau nona ingin beladjar kenal, hunuslah pedangmu” sahutnja heran. ia mendongkol untuk kedjumawaan si nona, jang terang sangat memandang tak mata kepadanja. Ia pun lantas menghunus pedangnja, ketika ia mengibas, pedang itu mengeluarkan sinar berkelebatan.
Lian Tjoe mundur tiga tindak. Ia tertawa pula.
“Katanja Im- yang siang-kiam biasa madju berdua, tak pernah terdengar madjunja sendirian sadja. Mungkinkah tootiang berdua tidak sudi memberikan pengadjaran kepadaku?” ia tania.

Itulah edjekan. It sioe mendjadi mendongkol, maka ia pun menghunus pedangnja.
“It Hoei, mari kita bekuk budak ini” katanja sengit. ia terus mendamprat nona itu.
“Belum tentu” kata si nona tertawa mengedjek. pedangnja siap-sedia ditangannja. “Kamu madjulah, Apakah kamu menghendaki nonamu mengalah tiga djurus?”
Tak dapat Im- yang siang Kiam menahan hatinja, berbareng mereka lompat madju untuk terus menjerang, masing-masing dikiri dan kanan.
Lian Tjoe tertawa. Ia bertindak dengan Kioe-kiong Tjeng-hoan Im-yang-pou seperti Goat Go, maka sekedjab sadja, ia sudah bebas dari serangan pedang dari sepasang lawannja itu, menj usul mana, ia membalas menjerang dengan tipu silat Liong-yauw-ie-yan, atau Naga berlompat di kedungnja. Pedangnja itu menjambar dari bawah keatas, dengan berani ia membentur kedua pedang lawan, hingga sendjata kedua pihak beradu keras dan njaring suaranja.

It Hoei dan It Sioe terkedjut. Bentrokan itu membikin pedang mereka hampir terlepas dari tjekatan, mereka pun sampai mundur setindak
LianTioe pun heran berbareng girang. Ia menggunai satu djurus dari Pat-kioe Leng-long Tjioe- hoat, ia tidak sangka akibatnja demikian rupa. oleh karena ini, dalam gembiranja karena mendapat hati, ia lantas mengulangi s erangannja, mendesak dengan tiga serangan berantai.

Hati Im-yang siang-kiam berdebar. Mereka tersohor terutama untuk ilmu silatnja pedang bersatu-padu, djarang mereka memperoleh tandingan, tetapi sekarang mereka kena dibikin repot oleh seorang nona tidak dikenal. Dari heran, mereka djadi gusar. Dengan satu isj a rat, mereka madju serentak. untuk memetjah desakan, buat mereka berbalik merangsak.
Lian Tjoe tabah hatinja. fa tidak mau mengasikan dirinja kena didesak. Kembali seperti Goat Go, ia menundjuk kelintjahannja. Ia selalu berkelit dari pelbagai tikaman dahsjat dari kedua imam, ia djuga saban-saban membalas menikam atau menotok.
Ketika itu, dengan lewatnja sang tempo, TanBoen Han dan Ouw Thian Seng, djuga kedua tetamunja, tanpa ketahuan, telah ada jang menolongi, hingga mereka bebas dari totokan, setelah mana, mereka berdiri menonton sepuluh tombak diluar kalangan pertempuran.

Dirombongan pertama, Tjhong-sie Koay-sioe telah menghabiskan puluhan djurus, belum djuga ia memperoleh kemenangan. Ia heran bukan main. Belum pernah ia menghadapi lawan begini litjin. Ia malu sendirinja sebab sebagai seorang kenamaan, ia mesti melajani si nona demikian lama. Djangan kata tubuhnja, udjung badju si nona djuga tak pernah disentuh sekalipun satu kali. Kumis dan berewoknja, mendjadi bangun berdiri saking murkanja. Telah ia gunakan seluruhnja Touw-koet Han-hong-tjiang, hingga kalau ia berada dekat pohon, ia membikin tjabang-tjabangnja pada patah.

Masih Goat Go mengandalkan Kioe-kiong Tjeng-hoan Im-yang-pou, senantiasa ia membebaskan diri dari setiap serangan djago tua itu, tjuma lama-lama ia mendjadi bermandikan keringat. Inilah disebabkan kepandaiannja itu baru sadja didapatkan, latihannja belum berarti.
Djuga Lian Tjoe bertjatjad pada latihannja, tjuma ia menang sedikit daripada Nona Tjioe, sebab ia mempunjai tenaga dalam lebih mahir, dengan begitu ia dapat bertahan, terlebih lama.

Sesudah pertempuran dua rombongan itu berdjalan sekian lama sekonjong-konjong terdengar siulan aneh dari atas sebuah pohon besar diarah barat gelanggang itu. Djernih dan pandjang siulan itu. Menjusul itu maka berkelebatlah satu bajangan orang, berkelebat menghampirkan mereka.

Tiga-tiga Tjhong-sie Koay-sioe dan Im- yang siang-kiam terperandjat. Hanja dengan mendengar sadja siulan itu, mereka sudah mengetahui liehaynja tenaga dalam dari orang itu. Terpaksa mereka berlompat ke luar kalangan, untuk mengawasi orang itu. Lantas mereka mendjadi kaget. Didepan mereka berdiri seorang dengan pakaian hitam jang mukanja putjat-pasi seperti muka majat, sedang dari leher ke bawah, warna kulitnja itu lain. Tak dapat dipastikan orang mengenakan topeng atau bukan. Jang terang jalah disamping roman menakuti, kedua mata majat hidup itu sangat tadjam dan berpengaruh.

Sebaliknja adalah kedua nona2 apabila mereka melihat muntjulnja si majat hidup. sebaliknja daripada takut, mereka saling bersenjum. Mereka mengundurkan diri ke dekat TanBoen Han beramai, dengan matanja masing-masing, mereka mengawasi majat hidup itu, jalah In Gak. jang mereka kenal sebagai Gan Gak.
Sebenarnja In Gak sampai disitu disaat Goat Go mulai menempur Tjhong-sie Koay-sioe, tetapi ia ingin menjaksikan perlawanan si nona, maka ia menjembunjikan diri.

Demikian ia melihat Nona Tjioe menggunai dengan baik sekali ilmu silat adjarannja, hingga dia membuatnja si djago tua mendjadi gusar sekali. Ia girang. setelah itu, ia menolongi Tan Boen Han, berempat, jang ia totok bebas dengan ilmu totok dari djauh, jang bernama Leng-khong Kay-hoat, pembebasan Kumpul di Udara.
Empat orang itu heran atas kebebasan mereka, sebab pertjobaan mereka sendiri sia-sia belaka. Karena mereka tidak memperoleh djawabannja, terpaksa mereka lantas berdiri menonton.
Tjie Ekpun heran hingga dia terbengong sadja.

Kemudian In Gak menjaksikan djuga perlawanannja Lian Tjoe. Ia pun girang. Ia kagum terhadap kedua nona itu, jang bisa beladjar demikian tjepat. Adalah kemudian, sesudah melihat nona-nona itu letih, ia mengasi dengar siulannja seraja ia lompat turun dari tempatnjas embunji.
“Bukankah tuan jang tadi malam melukai adik seperguruan kami, It-tjie sin-mo Louw Goan Tong?” tanja Im-yang siang-kiam berbareng. “Bukankah adik kami itu tidak bermusuhan dengan tuan, kenapa tuan demikian telengas telah lantas membuatnja bertjatjad seumur hidupnja? Kenapa kah?”
“Hm..” djawabnja In Gak. “Adikmu itu kesohor djahat diseluruh djagat, aku mewakilkan Thian mendjalankan keadilan, apakah salahnja? Bahwa djiwanja masih ditinggal hidup, tandanja aku masih memandang terhadapnja Kenapa kamu berdua hendak membelai dia?”

It Hoei dan It sioe tidak mendjawab, sebaliknja dengan mendadak mereka lompat menj erang. Inilah sebab mereka telah mendapat dengar dari Tjin Lok bahwa musuh merekapun sangat liehay. Mereka pun menggunai ilmu silat mereka jang bernama To-hoan Im- yang Ngo-heng-kiam, atau ilmu pedang Im- yang dan Ngo-heng jang djungkir- balik,
Ilmu pedang ini beragam, serangan benar-benar dapat berupa djadi gertakan atau sebaliknja, atau jang satu menjusuli jang lain. Dengan ilmu pedangnja ini, entah berapa djago pernah mereka robohkan.

In Gak melihat bagaimana ilmu pedang kedua lawan itu tidak memakai aturan tertentu, ia melajani dengan tindakan Hian-thian Tjit-seng-pou, maka sekedjab sadja, ia lolos dari kepungan. Ia berkata njaring: “Sungguh hebat Im- yang siang-kiam jang kenamaan, belum apa-apa sudah lantas mendesak lawan, Apakah ini dia kepandaian istimewa dari kamu kaum Hoa san Pay?”

Kedua imam itu merah mukanja. Mereka heran orang dapat lolos demikian litjin-
“Boe-liang-sioe-hoed” It Hoei memudji. “Karena ingin menjaksikan kepandaian tuan, maka kita sengadja lantas mengepung”
“Kalau demikian, silahkan tuan menghunus sendjatamu” Ia menantang.
In Gak tertawa.
“Sudah banjak tahun aku tidak menggunai lagi sendjata, baiklah aku melajani kamu bermain-main dengan tangan kosong” ia mend jawab.

Mendapatkan djawaban itu, bukan melainkan Im-yang siang-kiam, djuga Tjhong-sie Koay-sioe mendjadi heran, hingga dia mengawasi dengan mata mentjorong. Im-yang siang-kiam tidak berlaku ajal lagi, keduanja lantas madju menjerang.
In Gak djuga tidak menahan harga pula, kembali ia bertindak dengan Hian-thian Tjit-seng-pou. Ia senang menggunai ilmu kelintjahan ini sebab tadi ia girang menjaksikan Lian Tjoe dan Goat Go menggunainja setjara baik. Ia tidak mau sembarang memperlihatkan ilmu silat ajahnja, dari itu ia menggunai djurus-djurus dari Bie-lek sin-kang dan Hian-wan sip-pat-kay.

It Hoei dan It sioe lantas berkelahi dengan heran dan hati gentar. sia-sia belaka mereka mentjoba menikam atau membatjok lawannja, si lawan selalu terlolos setjara diluar dugaan. In Gak sebaliknja, beberapa kali ia bersuara “Hm” dan bersenjum.
Dalam belasan djurus, jang berdjalan dengan tjepat, tidak sekali djuga Im-yang siang-kiam berhasil menjentuh tubuh lawan, maka setelah itu, mereka mengubah siasat, dari menjerang, mereka membela diri. Mendjadi tjiut sendirinja hati mereka.

Sesudah melajani sekian lama, hingga ia mengerti baik tjara bersilat musuh-musuhnja, setjara tiba-tiba In Gak tertawa pandjang dan tangannja dikibaskan sebat sekali. Atas itu terdengar dua kali djeritan kesakitan, lalu tubuh Im-yang siang-kiam mental mundur beberapa tombak. kemudian terlihat dengan tangan kiri mereka memegangi lengan mereka jang kanan, muka mereka putjat-pias, peluh mereka mengutjur. sebaliknja ditangan In Gak tertampak dua batang pedang, jang berkilau ditjahaja matahari pagi.

It Hoei dan it sioe tahu-tahu merasa tangan mereka disambar, lalu disempar hingga tubuh mereka terlempar dan pedang mereka terlepas. Mereka tidak tahu jang In Gak sudah mengguna i djurus Djit-goat-djip-hoay, atau Matahari dan rembulan terpeluk-terangkul, suatu djurus lain dari Hian-wan sip-pat-kay.
Djuga Tjhong-sie Koay-sioejang liehay tidak dapat melihat kesebatannja si majat hidup, Ia tjuma merasa heran bukan main.

Im- yang siang-kiam kena ditotok djalan darahnja keng-kie, lantas kedua tangannja kaku dan tenaganja lenjap. tak dapat mereka bertindak, asal mereka bergerak, terasa tulang-tulang mereka ngilu hingga ke ulu- hati dan napas mereka sesak.
Lian Tjoe dan Goat Go saling mengawasi, mata mereka dibuka lebar, saking heran dan kagum. Benar-benar, belum pernah mereka menjaksikan ilmu silat demikian liehay. Dari heran dan kagum, mereka mendjadi girang sekali.

In Gak lantas menggapai pada TanBoen Han dan memberi kisikan, jalah untuk minta kawan ini pergi pada Tjioe Wie Seng ditetarap timur, agar Wie Seng tidak meninggalkan tempat, sebab disini ada ia bertiga kedua nona. Boen Han menurut, ia berlalu dengan tjepat. Kemudian pemuda kita mengawasi Im- yang siang-kiam, ia tertawa, tangannja tetap memegangi gedang orang.
“Begini sadja Im-yang siang-kiam, jang datang kemari dengan banjak lagak” katanja. sembari berkata, ia mengerahkan tangannja, mematahkan kedua pedang mendjadi empat potong dan dibuang.

“Siluman tua” ia kata pada Tjhong-sie Koay-sioe, jang ia awasi dengan tadjam, “Kau mendjadi kepala dari sip-sam-sia, dalam Rimba Persilatan kau ternama baik, mengapa sekarang kau membawa tingkah- laku kurtjatji, mirip dengan kawanan tikus jang tak tahu malu?” lalu suaranja diperkeras: “Kenapa pagi hari begini kau menjerbu kemari dan main melukakan orang? Apakah maksudmu? Lekas kau bitjara”

Kata-kata itu tadjam dan menjakiti telinga, Tjhong-sie Koay-sioe ternama dan djumawa, bisa dimengerti ia mendjadi mendongkol. Ketika ia mendengar Tjin Lok memudji musuh, ia tidakpertjaja, ia mengira Tjin Lok djeri dan kapok. ia penasaran, maka sengadja fm-yang siang-kiam datang menjerbu diwaktupagi. Dengan gampang telah melewati pelbagai pendjagaan, sampai mereka dirintangi kedua nona dan sekarang oleh ini si majat hidup, jang kepandaiannja ia saksikan sendiri Baru sekarang ia gentar hati. Ia paksakan diri berlaku sabar, matanja memperlihatkan sinar litjik,
“Tuan, kau begini muda tetapi kau sudah liehay sekali, kau harus dikagumi” ia kata sambil tertawa dingin.” Aku mohon tanja, siapakah gurumu? Mungkin dialah sahabatku dahulu hari”

In Gak tertawa lebar.
“Siluman sebagai kau ingin berendeng dengan guruku? Hm” ia mengedjek. “Sudahlah, djangan bitjara tentang persahabatan dengan aku Kau tidak berderadjat Bukankah kau telah mentjari aku? Nah sekarang aku berdiri didepanmu Kau mau turun tangan atau tidak, tinggal kau bilang sadja”
Sepasang alisnja Tjhong-sie terbangun.
“Botjah, kau tidak tahu langit tinggi dan bumi tebal” dampratnja. “Baru berkepandaian begini sadja kau sudah berani bertingkah? Baiklah kau mengangkat kaki siang-siang, masih ada waktu untuk kau nanti mentjoba mengangkat namamu”

In Gak tertawa pula.
“Siluman tua, kaupunja muka atau tidak?” ia tanja, tadjam. “Tak sudi aku mendengar kata-katamu ini Kabarnja Touw-koet Han-hong-tjiang milikmu liehay sekali, sekarang kau boleh tjoba itu Kita nanti lihat, kabar itu benar atau palsu”
Habislah kesabarannja Tjhong-sie Koay-sioe.
“Botjah, kau tidak tahu gelagat” teriaknja, dan terus dengan kedua tangannja, ia menjerang dengan pukulan hawa dinginnja jang dapat merembas ketulang-tulang. ia telah mengerahkan tenaga sepenuhnja. Katanja hawa dingin itu, setelah meresap kedjantung dan tak dapat obat, dalam tudjuh hari akan merampas djiwa kurbannja. Inilah jang membuat nama, jang membikin orang djeri.

In Gak ketahui baik siapa djago dari gunung Tengri ini, sebab gurunja pernah memberitahukan bahwa dia kedjam sekali, maka itu, ia ingin menjingkirkannja, djadi kebetulan sekali, disini mereka berhadapan muka. Dari Lian Tjoepun ia mendapat tahu, orang jalah tertua dari sip-sam-sia, si tigabelas sesat. Maka atas datangnja serangan, ia menangkis dengan Bie-lek sin-kang. Untuknja, ilmusilatnja ini dapat digunai sembarang waktu. Dengan kedua tangannja, ia menggunai djurus Liok-hap sie-mie, djurus jang kedua belas.

Begitu kedua pihak bentrok. begitu Tjhong-sie mengasi dengar suara tertahan, begitu
lekas djuga tubuhnja mental enam tombak, kedua tangannja patah, tjuma tersambung kulitnja, darahnja mengutjur disatu tempat. Dia mempertahankan diri dengan tubuh menggigil, dengan tadjam dia mengawasi f n Gak. setelah mana, dia memutar tubuh, untuk berlompat pergi.
“Kau ingin kabur?” In Gak membentak. terus tubuhnja mentjelat menjusul, ketika ia sudah dapat menjandak. tangan kirinja menghadjar kebatok kepala, menepuk djalan darah giok-tjim.

Tjhong-sie tidak berdaja, tak dapat dia menangkis, tak keburu dia berkelit, begitu tertepuk kepalanja pusing, tubuhnja terputar, terus dia roboh ditanah.
In Gak menepuk tangan, lantas ia menggapai kearah kedua nona kawannja. sembari tertawa kegirangan, Lian Tjoe dan Goat Go lari menghampirkan.
“Tolong kamu menitahkan orang menggotong mereka bertiga kebawah panggung,” I n Gak berkata, dan terus memesan. sebab ia tidak mau memperlihatkan diri, ingin ia kembali kekamarnja untuk menjalin pakaian dulu.

“Kemana tadi kau bertiga?” Lian Tjoe menjesali alaman. “Kalau kau tidak keburu sampai, mungkin majat kita sudah menggeletak ditaman ini? Apakah kau sengadja senang melihat kita roboh?”
In Gak mengganda tertawa.
“Nona-nona jang baik, djikalau aku tidak sembunji diatas pohon itu, mana aku dapat kesempatan untuk menjaksikan ilmu silat kamu jang indah sekali?” ia kata. Kau tahu kenapa aku tidak dapat lantas datang kemari?”

Kedua nona itu mengawasi, ingin mereka mendapatkan keterangan.
Sebenarnja ketika tadi In Gak memburu paling dulu, ia lantas melihat dua bajangan orang melintas kearah lauwteng Pek Tjim Kok. segera ia menduga pendjahat hendak mentjuri kedua pedang Kie Koat danTjeng Hong. ia heran kenapa orang djahat ketahui pedang itu disimpan dibawah tangga lauwteng itu, sedang jang tahu tjuma beberapa orang dalam. Karena ketjurigaan itu, ia lantas menguntit mereka.

Dimuka tangga Pek Tjim Kok. kedua bajangan itu berhenti, untuk melihat kesekitarnja.
“Lao-djie, lekas kau bekerdja” berkata jang satu kepada kawannja, suaranja perlahan. “Aku rasa sekarang ini semua orang djaga musuh telah dirobohkan Tjhong-sie Koay-sioe dan Im-yang siang-kiam. Kalau kita terlambat, dikuatir mereka jang didepan keburu mendapat tahu.”
Atas itu, orang jang dipanggil Lao-djie itu lantas mengeluarkan goloknja, ia djongkok didepan undakan tangga, untuk menjongkel, sedang kawannja, dengan golok ditangan memasang mata.

Tahulah In Gak bahwa orang ketahui tempat simpan pedang itu disebabkan ada musuh jang bersembunji diri, jang bertjampuran dengan orang dalam. Ia tidak mau berajal lagi, ia mematahkan tjabang pohon didekatnja, lantas ia menimpuk.
si Lao-djie terkedjut, dia berlompat. Goloknja djatuh ketanah hingga bersuara njaring.
sang kawan pun kaget.
“Eh, Lao-djie, kau kenapa kah?” tegurnja.
“Setahu kenapa, mendadak lengan kananku kaku,” sahut kawan itu, si Lao-djie. “Tahu-tahu aku berlompat sendiri”

“Mungkin karena kau djeri” kata kawan itu,”Kita berdua pernah menempuh badai dan gelombang, kita tidak takut apa djuga dan Tjioe-kee-tjhung ini buka nnj a kedung naga atau guha harimau, apa jang mesti ditakuti? Pula kita terlindung Tjhong-sie Lootjianpwee Hajo, lekas bekerdja”
In Gak dapat mendengar kata-kata orang itu, ia segera berlompat kebelakang dia itu, tangannja menekan kepundak. Dia terkejut, dia memutar tubuh, mulutnja menegur: “Siapa?” Baru dia berkata begitu, mendadak tubuhnja roboh

Si Lao-djie terperandjat, apa pula kapan ia telah melihat orang adalah si orang luar biasa, jang tadi malam muntjul di Lioe sie Wan, saking takutnja, tanpa berpikir lagi, ia lompat kesamping, berniat menjingkir kerumpun pepohonan. Ia sebat, ia masih kalah dari si anak muda, jang mendahului menotok padanja, maka dengan merasakan sakit sekali, dia roboh terguling.

In Gak lompat menghampirkan, untuk menepuk bebas djalan darahnja.
“Sahabat, aku tahu kamulah orang pemerintahan belaka” katanja tertawa, “kamu tidak merdeka, maka itu tidak aku membikin kamu susah asal kamu menjebutkan kenapa kamu ketahui pedang disembunj ikan disini, dan siapa itu jang membuka rahasia.”
Lao-djie takut.”Kami diperintahkan Hoe-paytjoe Tjin Lok,” ia menjahut. “Tentang orang jang memberikan kisikan itu, aku tidak tahu dia siapa, tetapi menurut keterangan dialah Khiong Thian Yoe, seorang bertubuh kate dan kurus jang matanja tadjam bersinar kekuning-kuningan. Aku telah bitjara, tuan, maka tolong kau berlaku murah hati.”
“Kamu telah bitjara, tidak nanti aku membikin susah pada kamu,” sahut In Gak tertawa, hanja untuk dua hari ini, terpaksa aku mesti menahan dulu kepada kamu, nanti aku memerdekakannja “.
Habis berkata, In Gak menotokpula, maka dua orang itu lantas rebah bagaikan majat. setelah itu ia mengambil kedua pedang, untuk disembunjikan dilain tempat. Habis ini, ia memeriksa kelilingan, untuk menotok sadar orang-orang djaga jang dirobohkan musuh. sesudah memulangi Tjie Ek semua, baru ia pergi menjaksikan perlawanan Goat Go dan Lian Tjoe terhadap Tjhong-sie Koay-sioe bertiga serta menjadarkan TanBoen Han berempat. ia baru mengasi lihat dirinja ketika tiba saatnja menolongi kedua nona.

“Sekarang, nona Tjioe,” kata I n Gak perlahan, “Lekas kau kembali ketetarap timur, kau minta ajahmu melihat Leng-hoei-tjie Khiong Thian Yoe, dia masih ada atau tidak. kalau ada, lekas bekuk dia. Kau sendiri, Nona Tio, kau tunggu sebentar, sampai Tjhong-sie Koay-sioe bertiga telah dibawa kebawah panggung, Disana kau lihat, pihak musuh dapat melihat selatan atau tidak.Jang penting jalah memesan mereka jang melihat aku, agar mereka djangan membuka rahasia. sekarang aku ingin balik dulu kekamarku untuk menukar pakaian, sebentar kita bertemu pula.”
Begitu dia selesai berkata, begitu In Gak pergi, tjepat lenjapnja dia.

Goat Go menurut, ia lantas pergi kedepan. Pertandingan diatas loeitay masih belum dimulai tetapi para tetamu sudah memenuhi kedua tetarap. suara mereka bagaikan suara njamuk berisiknja. Ia lantas menghampirkan To Tjiok sam, jang berkumpul bersama ajahnja dan lainnja, ia mengisiki djago tua itu.
“Ah, kiranja binatang itu” kata Tjiok sam, alisnja berdiri, terus dia berlompat.
Leng-hoei-tjie Khiong Thian Yoe, si Tikus Terbang, mendjadi murid generasi ketiga dari Hoa san Pay. Dia sangat gesit, maka itu tepat dia mendjadi pentjuri. Baru beberapa tahun jang lalu dia masuk dalam kawanan Bendera Kuning. Tapi sekarang ini dia berdiam di Tjioe-kee-tjhung dengan nama paisu, sebagai Ong Yoe dari Ngo Bie Pay. Ia dagang, katanja, tjuma bermaksud menjaksikan orang-orang gagah. Tapi diam-diam ia membuat penjelidikan mengenai gera k- gerik pihak Tjioe-kee-tjhung. Kebetulan sekali ia dapat mempergoki Tjioe Wie seng memendam pedang, maka hampir djam dua, dia pulang ke Lioe sie Wan memberi kisikan pada Tjin Lok, dari itu Tjin Lok segera menugaskan Lao-djie berdua pergi mentjuri pedang itu. Ia tjerdik dan bermata tadjam, ia melihat muntjulnja Goat Go tergesa-gesa, ia djadi bertjuriga, maka begitu Tjiok sam bergerak. la djuga bergerak. berniat menjingkir. Ia si Tikus Terbang, ia kalah dari si Naga Mega, maka sebelum bisa molos, tubuhnja telah lantas kena disambar, terus dibawa balik kedepan Tjioe Wie seng, untuk dilemparkan.

Mukanja Tjin Lok mendjadi putjat. Dibekuknja Kh iong Thian Yoe itu mesti berarti gagalnja usaha mentjuri pedang, bahwa rahasia telah terbuka. Tapi ia menabahkan hati, beberapa kali ia bersuara: “Hm..Hm…”
Tidak lama muntullah Tio Lian Tioe, ^ang wad^ahnia berseri-seri, dibelakangnia
mengikut tiga tjhungteng jang masing2 menggendong Tjhong-sie Koay-sioe dan Im-yang Siang-kiam, jang tubuhnja lemas, hingga mereka bertiga dapat diletaki berbaris dengan Khiong Thian Yoe. Mata mereka itu berempat terpentang lebar, mulut mereka ternganga, dari mulutnia keluar ilar, tubuh mereka tak berkutik. Ditetarap barat semua orang kaget, sirap suara berisik mereka.

Tjioe Wie Seng berbangkit, untuk bertindak ketengah batas antara kedua tetarap. Ia berwadjah muram, ia mengangkat kedua tangannja, memberi hormat kepada semua hadirin. Ketika ia bitjara, suaranja perlahan:” Aku si orang she Tjioe mengadakan loeitay ini untuk mentjari persahabatan, untuk merekoki djodoh anakku, maka sajang sekali pihak Oey Kie Pay telah menganggu kami sedjak beberapa hari jang lalu, sama sekali mereka tidak menghormati aturan kaum Kang-ouw. Tentu sekali sulit untuk pihakku ber-djaga2 dari akal-muslihat itu. Maka itu sekarang, selagi semua rekan Rimba Persilatan hadir disini, aku mohon sukalah saudara2 mendjadi saksinja. Aku ingin ketahui apa kata pihak Oey KiePay?”
Setelah berbitjara, Wie Seng pun menitahkan orangnja membuka Tjie Ek dan semua orang tawanan lainnja, untuk dikumpulkan didekat Tjhong-sie Koay-sioe berempat, ia sendiri terus mengawasi tadjam kearah orang-orang Oey Kie Pay ditetarap barat itu.
Tiin Lok bingung bukan main. Terang ia pihak jang bersalah. Ia pun tidak mengerti kenapa Tjhong-sie Koay-sioe dan im- yang siang-kiam, jang demikian liehay, kena terbekuk djuga oleh musuh. Bagaimana kalau sebentar muntjul Tiie Ek semua? Karena sangsinja, ia berdiam sadja. Tapi tak lama, ia berlompat keluar dari tetarap. ia menghampirkan Wie Seng, untuk menuding dan berkata keras: “Memang, itu memang perbuatan kami kaum Oey Kie Pay Tapi ini disebabkan kelitjikanmu Kenapa kau menggunai akal litjin? Sien Tongtjoe kami melamar puterimu, telah beberapa kali kami mengirim wakil, apakah itu merendahkan kamu? Kenapa kau selalu menampik? sudah begitu, kenapa sekarang kau membangun loeitay ini? Bukankah itu berarti kau hendak mempersulit kami? Bukankah itu berarti penghinaan terhadap Oey Kie Pay? Kenapa kau mengadakan peraturan demikian sukarnja itu pertandingan mesti dimenangkan hingga sepuluh kali? Kau tidak adil, maka djangan kau persalahkan kami”

“Oh, begitu?” kata Wie Sseng.” Menurut kau, Tjin Paytjoe, mendjadi akulah jang tidak adil sekarang ingin aku menanja, bagaimana aku mesti berbuat baru dinamakan adil? Aku mentjutji telingaku untuk mendengar dengan hormat pendjelasanmu “. Ditanja begitu, Tjin Lok berdiam. Tidak dapat ia segera mendjawab.
Melihat orang berdiam sadja, Tjioe Wie Seng kata bengis: “Tjin Pa ytjoe, djikalau kau tidak dapat memberi pendjelasan, hari ini djangan kau harap dapat keluar dari Tjioe-kee-tjhung”

Ketika itu beberapa tjhungteng jang diperintah telah kembali dengan menggotong belasan orang Oey Kie Pay, dengan bergelutukan mereka diletaki ditanah berdampingan dengan Tjhong-sie Koay-sioe bertiga. Tjuma Tjie Ek seorang jang dapat berdjalan.
Tiin Lok berkuatir dan mendongkol bukan main. Dia berseru: “Segala Tiioe-kee-tjhung, jang sebesar peluruh, dapat menahan aku si orang she Tjin” Wie seng tidak gusar, ia sebaliknja bersenjum. “Djikalau kau tidak pertjaja, kau lihat sadja katanja.”

Ketika itu dari tetarap barat muntjul satu orang bermuka tampan, punggungnja menggendol pedang, pakaiannja putih dansingsat, romannja gagah, tjuma kedua matanja bersinar tadjam dan djahat. Dia menghadapi Wie Seng untuk mendjura dalam, terus dia kata: “Dalam urusan ini jang bersalah jalah partai kami, mau dibuat menjesal pun sudah kasip. tetapi karena dipihak Tjhungtjoe tidak ada kerugiannja, baiklah Tjhungtjoe suka membikin habis sadja. Aku jang muda, Sien It Beng, suka aku mentaati aturan bertanding diatas loeitay, andaikata dalam sepuluh rintasan aku tidak memperoleh kemenangan, nanti aku mengadjak kawan-kawanku berlalu dari sini. Aku berdjandji untuk selama- lamanja tidak mengganggu lagi pada Tjioe-kee-tjhung Bagaimana pendapat Tjhungtjoe?”

Twie-seng Tek-goat tidak menjangka Sien It Beng bakal berkata-kata demikian, hingga ia djadi mesti berpikir.
“Oleh karena Sien Tongtjoe suka mengaku keliru, baiklah, aku pun tidak sudi berlaku keterlaluan,” sahutnja sesaat kemudian “Tongtjoe, umpama kata kau tidak mempunjai urusan, silahkan kau pergi lebih dulu. Tentang pertandingan, baiklah itu tak usah dilakukan lagi. Tongtjoe tidak mempunjai harapan untuk memperoleh kemenangan. Tentang orang-orang kaummu ini, biarlah mereka ditinggal lagi beberapa hari disini, sampai Oe-boen Paytjoe datang sendiri kemari untuk membereskan urusan kita, itu waktu pasti aku akan merdekakan mereka.”

Sien It Beng berdiam, mukanja mendjadi merah. Ia serba salah.
Tjin Lok gusar, ia kata njaring. “Sien Laotee, buat apa kau adu bitjara dengan ini iblis tua? Lihat sadja dia sanggup menahan kami atau tidak?”
Tjioe Wie seng tertawa tergelak. dengan mata tadjam ia menjapu hoe-pa ytjoe Oey Kie Pay itu, kemudian ia menundjuk kepada tubuh Tjhong-sioe Koay-sioe dan im- yang siang-kiam, terus ia menanja: “Apakah kaupertjaja dirimu sanggup melawan menang mereka bertiga?”

Tjin Lok mendjadi putjat mukanja. seperti It Beng, ia mendjadi berdiam sadja.
Sjukur itu waktu datang seorang tjhungteng jang mewartakan tibanja Oe-boen Loei, ketua dari Oey Kie Pay, jang membuat kundjungan.
Wie Seng heran. ia tidak menjangka ketua Oey Kie Pay itu datang demikian tjepat. ia lantas memikir untuk mengambil sikap.

Dipihak Oey Kie Pay mereka itu girang sekali mengetahui datangnja ketua mereka, lantas terdengar pula suara mereka jang berisik.
Segera djuga terlihat muntjulnja Oe-boen Loei, jang diiring belasan orang partainja. Dia bermuka persegi dan besar telinganja, hidungnja apa jang dikatakan hidung singa dan mulut harimau, serta sepasang matanja sangat bengis. Dia memelihara kumis pendek. Badjunjajalah badju hitampandjang dilapis mantel merah tua jang gerombongan, tindakannja pun lebar.

Wie seng menjambut, sembari memberi hormat ia tertawa dan kata: “Aku si orang she Tjioe tidak ketahui Oe-boen Paytjoe datang, aku tidak dapat menjambut dari djauh-djauh, haraplah aku dimaafkan”
Pat-pie Kim-kong Oe-boen Loei telah lantas melihat bergeletaknja Tjhong-sie Koay-sioe beramai, air mukanja berubah, tetapi dengan lekas ia bersenjum, ia berkata manis:” Aku Oe-boen Loei, aku mendengar kabar Tjioe Tayhiap merajakan hari ulang-tahun sudah selajaknja aku datang untuk memberi selamat, akan tetapi urusan partaiku banjak jang mesti diselesaikan, menjesal aku datang terlambat, maka itu, aku mohon diberi maaf”

“Terima kasih, terima kasih,” kata Wie Seng. “Sebenarnja mengundang paytjoe pun aku tidak berani”
Oe-boen Loei tertawa, tapi mendadak ia mengerutkan alis, matanja terus menatap Tjin Lok dan Sien It Beng, sembari menundjuk orang-orangnja jang tidak berdaja, ia tanja: “Apakah artinja semua ini, Sien Tongtjoe?”
Muka It Beng mendjadi putjat pula, sekian lama ia tak dapat mendjawabi
Wie seng tertawa dalam hatinja, dengan sabar ia berkata, “Untuk menolongi orang” ia mendjawab: “Oe-boen Paytjoe, silakan kau menanja Tjie Ek. nanti segala apa mendjadi djelas” Ia pun menundjuk si radja pentjuri.

Tjepat bagaikan kilat, Oe-boen Loei menjambar tangan Tjie Ek. Lekas bitjara ia menitah, bengis.
Itu waktu keadaan sipentjuri harus dikasihani. Ia telah ditotok In Gak, benar ia sudah ditolongi To Tjiok sam, hingga ia bisa berdjalan, akan tetapi tenaganja sudah habis, tak dapat ia bertahan atas tjekalan bengis dari ketuanja itu. Tubuhnja lantas bergemetaran keras. ia lantas sadja mendjelaskan segala apa. Oe-boen Loei memandang bengis kepada Tjin Lok. habis itu ia menghela napas.

“Tjioe Tayhiap.” ia terus kata pada Wie Seng, “Menjesal, semua kedjadian ini berada diluar tahuku, tetapi walaupun demikian, aku nanti menggunai aturan perkumpulanku untuk menghukum bengis pada mereka ini. Hanja mengenai..” Ia berhenti sebentar, untuk mengawasti Tjhong-sie Koay-sioe bertiga, baru ia menambahkan: “Mengenai mereka ini, dengan memandang mukaku, aku harap kau suka mengidjinkan aku membawa mereka pergi, untuk dimerdekakan. Hoa san Pay itu bukan seperti Partai kami, jang dapat berlaku murah, maka itu ingin aku memberitahukan bahwa selandjutnja baiklah tayhiap berhati-hati untuk pembalasannja”

Wie seng tertawa lebar.
“Oe-boen Paytjoe, aku si orang she Tjloe girang untuk kedjudjuran kau ini” katanja. Ia lantas menundjuk pada Tjhong-sie Koay-sioe semua, ia berkata: “Oe-boen Paytjoe hendak mengurus mereka itu, baiklah, aku pun tidak akan menarik pandjang lagi. Tentang Tjhong-sie Koay-sioe dan orang-orang Hoa san Pay, apabila benar seperti kata paytjoe, mereka hendak datang pula kemari, baiklah, pada waktunja, aku nanti menjambutnja”

Oe-boen Loei tertawa.
“Djikalau tayhiap membilang demikian, baiklah, aku djadi mirip si orang Kie jang menguatirkan langit roboh,” katanja. Ia lantas membungkuk untuk membebaskan totokan atas dirinja Tjhong-sie Koay-sioe. Tapi djago itu ditotok In Gak menurut peladjaran Hian-wan sip-pat-kay, tak berdaja ia membebaskannja, hingga ia mendjadi heran. Ia kata dalam hatinja: “Dalam ilmu totok. perjakinanku ada dari banjak tahun, aku mengerti ilmu totok pelbagai partai diseluruh negara ini, dapat aku menotok, dapat aku membebaskannja, maka aneh sekarang ini, aku gagal Apakah disini ada menjelip keratjunan?”

Saking penasaran, ketua Oey Kie Pay mentjoba menolong im- yang siang-kiam. Ia tetap gagal. Bahkan kedua imam itu mendelik matanja, mengawasi ia dengan gusar sekali. Mereka itu mengasi dengar suara tidak njata, rupanja saking sakit dan mendongkol Mau atau tidak, dengan roman menanja, Oe-boen Loei mengawasi Wie Seng.
“Oe-boen Paytjoe,” berkata tuan rumah, tertawa, “Mereka ini semua telah ditotok seorang gagah jang aneh luar biasa Kedjadian itu aku si orang she Tjioe tidak menjaksikan sendiri, tjuma aku dengar, orang gagah aneh itu benar-benar luar biasa. sajang aku tak bertemu dengannja, djikalau tidak. pasti dapat aku mendjadi perantara untuk mengadakan pertemuan diantara paytjoe dan dia”

“Apakah benar dia Lootjianpwee TjiaBoen jang katanja telah muntjul pula dalam dunia Kang-ouw?” tanja Oe-boen Loei. Ia menanja tetapi parasnja berubah guram. Wie Seng menggeleng kepala, ia tertawa.
“Tjia Lootjianpwee seorang gagah, dia lagi mengurus urusannja sendiri bekas dikerubuti orang banjak, mana dia sempat membantu aku disini?” ia berkata. “Bukankah urusan disini urusan remeh? Pula ini terang bukan perbuatanTjia Lootjianpwee, karena biasanja ia bekerdja tanpa meninggalkan sisa hidup. Menurut katanja Tjie Ek dari partai paytjoe itu, orang itu masih berusia muda sekali.”

Oe-boen Loei mentjoba menjabarkan diri, tetapi mendengar perkataan Wie Seng ini, ia mendongkol bukan main. Kata ia dalam hatinja: Djikalau dibelakang aku tidak dapat membikin kau mampus tanpa tempat kuburanmu, aku sumpah sampai mati djuga aku tidak mau sudah. Walaupun demikian, ia dapat tertawa.
“Tjioe Tayhiap. kau memudji terlalu tinggi pada orang itu” ia kata. “Aku tidakpertjaja bahwa kau belum pernah bertemu dengannja”

Wie seng hendak memberikan djawabannja atau Tjin Lok. jang gusar bukan kepalang, mendahuluinja sambil berseru: “Paytjoe, djanganlah pertjaja ini bangsat tua Tadi malam orang aneh itu bersama-sama Hoei-in-tjioe Gouw Hong pioe dan Pat- kwa-too The Kim Go serta itu dua nona, jang hadir disini, telah datang ke Lioe sie Wan dimana mereka mengatjau Mana bisa dia membilangnja tidak kenal?” Oe-boen Loei memandang tuan rumah.
“Tjioe Tayhiap.” katanja,”Aku datang kemari untuk menjudahi peristiwa, maka itu paling benar kau sebutlah siapa orang itu?”

Baru berhenti pertanjaan itu, belum lagi Wie Seng memberikan djawabannja, dari tetarap timur terdengar suara tertawa njaring disusul dengan mentjelatnja satu tubuh, jang bagaikan bajangan turun didepannja ketua partai Bendera Kuning itu.
Saking herannja. Oe-boen Loei mundur dua tindak. setelah itu ia mengawasi, hingga ia melihat seorang dengan kulit muka seperti kulit majat berdiri didepannja laksana patung batu. Biar ia gagah, ia toh terperandjat. Baru sedjenak kemudian, ia tertawa dingin. “Kau siapa, tuan?” ia tanja. “Benarkah semua orangku dirobohkan kau?”

Orang dengan muka seperti majat itu, seorang muda, mengawasi tadjam.
“Tidak salah” dia mendjawab, dingin. “Semua itu perbuatanku Terhadap kawanan maling seperti tikus itu, jang tidak tahu malu, sebenarnja aku sudah berlaku sungkan Tentang namaku, kau tidak berderadjat untuk menanjanja”
Oe-boen Loei belum berumur empatpuluh tahun tetapi dia telah membangun Oey Kie Pay, dia mengepalai anggauta-anggautanja ditiga propinsi Kangsouw, Ouwpak dan Anhoei, jang berdjumlah dua- atau tigapuluh-ribu djiwa, maka dialah seorang besar.

Pula, tidak biasanja dia turun tangan sendiri, kalau sekarang dia telah datang ke Kho-yoe, itulah disebabkan berulang kali dia menerima laporan hebat dari Tjin Lok. ketua mudanja itu. Ketika dia tiba di Lioe sie Wan, dia diberitahukan Tjin Lok sudah pergi ke Tjioe-kee-tjhung, maka dia lantas menjusul. Tidak pernah dia menduga bahwa peristiwa ada demikian hebat. Biar bagaimana, dia mesti mendjaga diri, sebab kalau dia roboh, runtuhlah partainja. Umpama kata dia menang, dia masih kuatir orang mengatakan dia menghina Tjioe-kee-tjhung jang disatroni itu Dia memikir untuk melampiaskan kemendongkolannja dilain kesempatan. Dia tidak njana, sekarang dia dihadapkan si anak muda jang tak dikenal, jang sikapnja demikian djumawa. Dia berlenggak. mengasi dengar tertawanja jang menusuk telinga. “Tahukah kau, aku ini siapa?” dia tanja.

“Aku tidak perduli kau siapa” sahut si anak muda, suaranja dalam. “Tak lebih tak kurang, kau tentulah kepalanja sipendjahat” Oe-boen Loei sangat gusar.
“Aku kepala pendjahat, Aku Oe-boen Loei Kau sendiri apa? Kau berani begini kurang adjar didepanku?” dia berteriak.
“Oe-boen Loei?” si anak muda mengulangi. “Maaf, aku tidak kenal Mungkin ini disebabkan, aku muntjul belum lama. Ia lantas menoleh kearah tetarap barat dan menanja: Tuan-tuan, Oe-boen Loei itu machluk apa? Apakah kamu tahu?” Pertanjaan itu didjawab tertawa ramai ditetarap barat itu.

Hati Oe-boen Loei panas bukan main. Belum pernah orang menghina dia dimuka umum seperti kali ini. Mukanja mendjadi guram, alisnja bangun berdiri Tapi, belum lagi dia bertindak. dia sudah didului Sien It Beng.
Ketua Gwa sam Tong dari Oey Kie Pay itu sangat mendelu menjaksikan tingkah-polanja si pemuda berkulit majat, dilain pihak ia djeri, maka itu, timbul niatnja jang busuk, jaitu diam-diam ia menjerang dengan lima bidji sendjata rahasianja jang berupa piauw. Kebetulan ia menjerang, kebetulan suara riuh, maka suara menjambernja piauwnja itu saru dengan suara berisik itu

Si anak muda bermuka majat itu benar-benar liehay, matanja tadjam. Ia melihat ketjurangan Sien It Beng, segera ia mengulur tangannja, untuk menjerang. Tepat pundak Giok- bin Djie-long kena terhadjar, dia lantas merengkat tubuhnja, menggigil dan djongkok. sedang matanja mendelik, kulit mukanja keriput. Dia seperti menderita
kesakitan hebat. Lima buah piauwnja mengenai tubuh sasarannja tetapi kelima- limanja runtuh ketanah, orang jang diserang tidak kurang suatu apa.
Oe-boen Loei mengerutkan alis. Belum pernah ia menjaksikan orang dengan kepandaian seperti si anak muda, ia tidak pernah kenal partai jang mempunjai ilmu silat demikian liehay.

Ditetarap timur pun orang heran dan kagum, tak terketjuali beberapa jang mengenal pemuda itu.
Habis menghadjar Sien It Beng, si anak muda dengan dingin menatap Oe-boen Loei.
Bukan main sulitnja ketua Oey Kie Pay, jang untuk sementara berdiri tertjengang. Tindakan apa ia mesti ambil? Berdiam salah, berlalu salah. ia mesti mempersalahkan It Beng, jang main tjurang itu ia sendiri, kalau dibokong, pasti ia bertindak seperti anak muda itu.
Selagi orang berdiam itu, Wie Sseng mendjura kepada si anak muda, ia berkata: “Tayhiap. aku bersjukur untuk bantuanmu ini. Aku si orang she Tjioe, akan aku ingat budimu ini. Tapi aku tinggal disini, musuhku banjak. entah bagaimana djadinja nanti”

Maka si anak muda mengangkat tangannja, mentjegah orang bitjara. ia bilang: “Djikalau mereka mau pergi, tidak dapat aku mentjegah mereka, hanja lain ini Oe-boen Loei Bukankah tadi, dia jang menjuruh tjhungtioe menjerahkan aku padanja? sekarang aku ada didepannja, aku mau lihat, dia hendak mengatakan apa Tayhiap menjebut-njebut rumahmu, apakah itu disebabkan tayhiap kuatir pembalasan mereka dibelakang hari? Baiklah sekarang aku beritahu, kalau mereka mau pergi, mereka boleh pergi, hanja mesti mereka pergi semua, berikut tjabang-tjabangnja Dan mereka mesti pergi dari propinsi ini, tidak dapat mereka mengindjak sekalipun dengan sebelah kaki lagi”

Darahnja Oe-boen Loei mendjadi naik,
“Tuan, kau begini djumawa, kau tentu mengandalkan kepandaianmu, bukan?” ia kata. “Kau harus ketahui, didalam kalangan Kang-ouw, diluar orang ada orang lainnja, diluar langit ada langit lainnja lagi Maka itu, aku Oe-boen Loei, aku tidak puas Oey Kie Pay memang tidak terkenal, akan tetapi tidak dapat tjuma sebab kata-katamu ini aku mesti membawanja pindah dari sini”
Anak muda itu tetap tertawa dingin.
“Habis apa maumu maka kau menitahkan Tjioe Tayhiap menjerahkan aku?” ia tanja. “Aku bilang terus-terang, kau puas atau tidak. terserah kepada kau sendiri, djikalau kau tetap tidak puas, mari, mari kita mengadu kepandaian kita”

Oe-boen Loei tertawa, lebar. ”Aku Oe-boen Loei, tidak pernah aku bertempur dengan boe-beng-siauw-tjoet” katanja djumawa. ia menjebut orang Boe-beng-siauw-tjoetjaitu serdadu ketjil jang tidak mempunjai nama.
Anak muda itu gusar.
“Apa? Berani kau memandang enteng padaku?” Lantas sebelah tangannja melajang dimuka ketua Oey Kie Pay hingga ketua itu mesti mundur lima kaki, mukanja putjat. Dia terkedjut untuk serangan itu.
Si anak muda tapinja tidak menjerang terus, ia menahan tangannja, tubuhnja pun tidak
bergerak. Berdiri tetap ditempatnja, ia mengasi turun tangannja. ia bersenjum.
“Djangan takut” katanja halus. “Hari ini aku tidak bakal melukai kau Ada lain orang jang telah bersumpah untuk menurunkan tangan sendiri atas dirimu, djikalau aku mendahului, bukankah orang akan menjesal seumur hidupnja? Kau baik- baiklah dengar nasihatku, lantas kau menarik diri, berlalu dari wilajah Kangsouw ini, djikalau tidak. dibelakang hari kau bakal menjesal sesudah kasip”

Dibelakang Oe-boen Loei berdiri belasan kawannja, jang sikapnja garang. Mereka itu gusar, asal diberi titah, mereka segera akan turun tangan. Tapi Oe-boen Loei menghela napas.
“Didalam hal-hal selama beberapa hari ini, pihakkulah jang salah,” ia berkata, “Maka itu biar bagaimana, tidak dapat aku menempur kau, tuan- Hanja sajang, tidak dapat aku mengetahui she dan namamu Lain tahun, djikalau gunung hidjau tidak berubah, nanti kita bertemu pula” ia terus menoleh kebelakang, untuk menggapai. Maka belasan orangnja itu madju serentak.
“Bawa mereka ini semua!” ia menitahkan- ia memandang si anak muda dan Wie Seng untuk memberi hormat, untuk mengutjap: “Sampai ketemu”

Tjioe Wie seng membalas hormat, ia madju dua tindak.” Oe-boen Pangtjoe, maaf, tak dapat aku mengantar lebih djauh,” katanja.
Sebaliknja si anak muda berkata dengan dingin: “Oe-boen Loei, djikalau kau tidak menarik diri seperti perintahku ini djikalau nanti kita bertemu pula, itu artinja telah tiba saat kematianmu”
Sepasang alisnja ketua Oey Kie Pay itu bangun, air mukanja mendjadi guram, akan tetapi ia tidak membilang apa-apa, ia ngelejor terus.

Masih si anak muda mengawasi punggung orang, masih terdengar tertawa mengedjeknja atau kemudian terlihat tubuhnja bergerak. mentjelat terapung tinggi, berlompat ke kanan tetarap barat, maka dilainsaat, ia sudah lompat pula melewati tembok pekarangan, akan lenjap dilain sebelah.
Menjaksikan ilmu lompat tinggi dan djauh itu, semua hadirin dikedua tetarap berdiri tertjengang.

Baru lewat sesaat, Tjioe Wie Seng lalu memetjah kesunjian. ia menghadap para tetamunja ditetarap barat dan berkata: “Sekarang marilah kita mulai pula dengan pieboe diatas loeitay Andaikata ada saudara-saudarajang menganggap peraturan pieboe terlalu keras, silakannja mengutarakannja. Aku memberi waktu satu djam “ Habis berkata, ia kembali ketetarap timur.

In- liong sam-hian To Tjiok sam tertawa, ia kata pada orang banjak: “Anak muda itu liehay sekali, ia dapat membikin orang mundur tanpa bertanding lagi, itulah hebat, dia sungguh mengagumkan”
Kata-kata ini merupakan isjarat untuk mereka jang mengetahui agar mereka itu djangan membuka rahasianja si anak muda she Gan. Beberapa orang pula tahu In Gak mestinja liehay tetapi mereka ini tidak berani menjangka dia.

Untuk sementara ramailah orang berbitjara, sebab aneh mundurnja Oey Kie Pay itu. Baru kemudian terlihat seorang keluar dari tetarap berat, dia menghampirkan Wie
Sseng, untuk memberi hormat sambil berkata:” Aku jang rendah Kim-mo-houw ong Beng, aku mewakilkan pihak barat untuk mengutarakan sesuatu, harap Tjioe Tayhiap dapat menerimanja.”
Wie seng berbangkit membalas hormat itu. “Silakan bitjara, ong Giesoe,” katanja tertawa.
“Aku bitjara tentang batas pertandingan sepuluh kali”, kata Ong Beng. “Tak dapatkah itu diubah mendjadi hanja tiga kali? Djuga baiklah djangan dipakai djuga batas usia, tjukup asal seorang tidak mempunjai isteri. Umpama usul ini tak dapat disetudjui tayhiap. aku hendak menjarankan lainnja, jaitu supaja puteri tayhiap sendiri jang naik kepanggung sebagai taytjoe, siapa dapat mengalahkan taytjoe, dialah jang mendjadi menantu tayhiap. Bagaimana?”

Mendengar itu, Wie seng tertawa lebar.
“Usul jang pertama, perihal pengurangan batas pertandingan dan umur, masih dapat aku menjetudjui,” kata ia, “Hanja saran anakku mendjadi taytjoe, itulah sukar untuk dipertimbangkan. Anakku tjuma satu, dan manusia bukannja naga atau harimau, mana dapat ia melawan begitu banjak orang jang menantangnja? Tidakkah demikian, Ong Giesoe?”

Ong Beng hendak mendjawab, atau Hong pioe dului ia.
“Aku pikir begini sadja,” berkata pemilik peternakan ini: “Kita djangan mengubah sjarat-sjarat pertandingan, kita ubah itu dengan To Lootjianpwee jang mendjadi taytjoe, siapa dapat mengalahkannja, dia mendapat orang dan pedang. Tidakkah usul ini singkat?” Ong Beng menggojang kepala.
“Mengenai usul ini, aku tidak dapat mengambil keputusan sendiri,” ia bilang. “Nanti aku
berdamai dulu, baru aku memberikan djawaban kami.” Maka baliklah ia ketetarap barat.

Hong Pioe dapat membade hatinja Wie seng, maka ia turut membuka suara. Wie seng ingin memperoleh menantu jang tampan dan gagah, setelah melihat Gan G ak. ia lantas penudju pemuda itu. Goat Go pun sangat mengagumi kegagahannja si pemuda. Hanja satu kesangsiannja tjhungtioe itujalah Gan Gak suka naik keloeitay atau tidak- asal dia mau, perdjodohanpasti tak meleset lagi. Karena ini, orang she Gouw itu mengadjukan sarannja. Ia tahu, madjunja In-liong sam-hian bakal membikin banjak orang ditetarap barat itu mundur sendirinja.

To Tjiok sam dapat membade maksudnja Hong Pioe, ia mengawasi sahabat itu dan berkata: “Laotee, saranmu ini berarti menutup djalan”
Ketika itu dari tetarap barat muntjul tiga orang, satu antaranja lantas berkata pada tuan rumah: “Kami telah membuatpembitjaraan. sebenarnja kami mengetahui dibangunnja Wan-yo-tay ini disebabkan urusan tayhiap dengan pihak Oey Kie Pay, maka itu, kami pun datang untuk menonton sadja, sekarang urusan dengan Oey Kie Pay itu sudah beres, sjukur. Mengenai perdjodohan, kami merasa tayhiap sudah mendapatkan pilihan sendiri, dari itu, untuk apakah kami mesti naik pula dipanggang mendjadi perintang? oleh karena itu, kami memutuskan untuk pulang sadja. Hanjalah nanti, dihari kegirangan, kami berbesar hati menantikan untuk datang menggeretjok setjangkir arak”

Wie Seng mengurut djanggutnja, ia tertawa.
“Itulah pasti katanja. saudara-saudara sudi datang sendiri, itulah bagus. Memang
untuk mengundangnja aku kuatir tak aku berkesempatan.”
Tiga orang itu tertawa, mereka memberi hormat, lantas mereka mengundurkan diri, untuk pergi keluar. Maka jang lain-lain, jang menanti dibawah tetarap. lantas pada berbangkit, untuk turut berlalu.
Wie seng lekas-lekas pergi kepintu, guna mengantar mereka itu.

Badai sebenarnja dahsjat, tetapi setelah angin lewat dan hudjan berhenti, maka
langit djadi terang-berderang dan tenang.
Habis mengantar semua tetamunja, Wie seng menghampirkan Tjiok sam dan Hong Pioe, untuk berbitjara perlahan, setelah mana, dua sahabat ini pun mengundurkan diri dari tetarap timur.

Ketika itu In Gak sudah merebahkan diri didalam kamarnja, akan tetapi ia sadar, telinganja pun tadjam sekali, ia mendengar tindakan kaki orang. ia rebah terus, tubuhnja tak bergerak. sampai muntjullah To Tjiok sam dan Gouw Hong Pioe, jang masuk dengan menolak pintu sendiri, tanpa menggedur atau memanggilnja lagi. Tjiok sam tertawa lebar menjaksikan orang tengah rebah dengan tenang itu.
“Lao-teetay, djanganlah kau berlagak pilon” katanja gembira.”Sepak-terdjang kau barusan telah memadamkan api berkobar-kobar, sampaipun Oe-boen Loei si tjabang atas dapat dengan begitu sadja disuruh mengangkat kaki sungguh kau membikin kita sangat kagum Kau tahu,” ia menambahkan,”Tanpa memberi ketika orang merendah, urusan loeitay djuga turut mendjadi beres karenanja.”

In- liong sam- hian lantas menuturkan hal pembitjaraan diluar tadi.
In Gak bangun dari pembaringannja, ia mengawasi kedua orang itu. Tjiok sam dan Hong Pioe pun mengawasi, sambil bersenjum.”Lootjianpwee, ada apakah?” anak muda itu tanja.
“Aku si orang tua, aku mau minta setjangkir arak kegirangan” sahut Tjiok sam.
“Aku djuga” Hong Pioe turut berkata.
“Apa? Arak kegirangan apakah itu?” si anak muda tanja.

Tjiok sam mengawasi terus, tjuma sekarang ia berhenti tertawa.
“Lao-teetay, bagaimana, kau lihat ilmu silatnja Lian Tjoe dan Goat Go?” ia tanja.
Ditanja begitu, muka in Gak bersemu merah.
“Ilmu silat mereka tjukup,” sahutnja.
Tjiok sam bertepuk tangan, dia tertawa.
“Bagus “ serunja. “Maka djadilah aku si orang perantara”
In Gak menggojangi tangan.
“Tak dapat, lootjianpwee” katanja. “Nona itu masih ada orang-tuanja Pula aku sendiri, aku masih mesti melakukan sesuatu, jang tak akan selesai dalam waktu jang pendek. Aku menjesal mensia-siakan lootjianpwee” Tjiok sam tertawa pula.
“Apakah lao-teetay tidak dapat memberi muka kepada aku si orang tua?” katanja. “Tentang orang-tua nona Tio, djangan kau buat kuatir, aku jang akan mendjamin, Perihal urusan kau, itu tentu bukan lain daripada urusan budi dan penasaran, mengenai itu, aku tidak ingin merintangi kau, apa jang aku kehendaki jalah djodoh diikat dulu, habis itu baru kau pergi kekota radja. Rumah Nona Tio jalah didjalan Ong- hoe Toa-kay di Tjhong-tjioe, tak diauh dari kota radja, maka setelah urusan kau dikota radja itu beres, kau dapat lantas pergi ke Tjhong-tjioe, disana aku dan nona Tio akan menantikan kau”

Mendengar itu, In Gak tertawa. ia menganggap si orang tua djenaka.
“Lootjanpwee bitjara enak sadja” katanja.
“Gan siauwhiap. Hong Pioe turut bitjara, kau terimalah”
Sikap In Gak lantas bersungguh-sungguh, agak likat, ia kata: “Dengan adanja lootjianpwee berdua mendjadi orang perantara, segala apa pun dapat djadi, Hanja..” ia menambahkan, “Aku tengah merantau, aku lagi mentjari musuh besarku, aku tidak ingin tjita-tjitaku itu digerembengi urusan djodoh. Aku ingin seorang diri sadja mentjari musuhku itu. Djikalau mereka suka menerima baik keberatan ini, baru aku suka memberikan persetudjuanku.”

Tjiok sam dan Hong Pioe heran.
“Benarkah siauwhiap mempunjai musuh?” tanja mereka berbareng. “Siapakah musuh itu?” In Gak bersenjum, ia tidak mendjawabi Melihat demikian, Tjiok sam tidak mendesak.
“Urusan gampang,” katanja kemudian- “Kedua nona-nona itu dari keluarga baik-baik, mereka dapat diminta menanti dirumah.”
Selesai sudah urusan djodoh itu, maka bitjara lebih djauh, mereka memasang omong daribanjak hal lain, umpama tentang keramaian kota Kangtouw.

“Pernah aku berdiam disana beberapa hari, sajang aku belum dapat melihat semua,” kata in Gak.
“Tapi Kangtouw dekat, tjuma seperdjalanan satu hari, dapat siauwhiap kembali kesana”, berkata Hong Pioe. “Dengan pesiar lagi satu atau dua hari, kau akan menikmati segala keindahan itu.”
In Gak menggeleng kepala.
“Sajang keras sekali keinginanku pergi ke Utara,” bilangnja. “Sebegitu lama musuh belum dapat ditjari, satu hari pun tak dapat aku tidur senang. Untuk pesiar, aku lakukan itu sambil lalu sadja.”
Setelah itu, anak muda ini memberitahukan kemana ia telah pindahkan kedua pedang Kie Koat dan Tjeng Hong.
Tidak lama, Tjiok sam dan Hong Pioe mengundurkan diri.

Setelah berada sendirian, in Gak rebah pula, otaknja bekerdja. Berbajanglah didepan matanja segala usahanja selama setengah tahun merantau. Ia merasakan lebih banjak penderitaan daripada kesenangan, bahwa dunia Kang-ouw benar-benar banjak bahajanja. Mengingat itu, ia merasa djemu. Tapi ia mesti membalas sakit hati ajahnja, ia mesti merantau terus
Selagi melajangi pikirannja itu, In Gak ingat Goat Go dan Lian Tjoe. Mereka itu beda daripada Nie Wan Lan jang berandalan. ilmu silat mereka pun baik. Maka, sebenarnja, siapa tidak puas memperoleh isteri-isteri sebagai mereka itu? Ia ingat djuga jang ajahnja menjesal tidak dapat menikahkan ia, hingga sekarang ia harus menikah dengan ichtiar sendiri Karena ini ia menjesal tidak dapat segera ia membunuh musuhnja, agar ia bisa menuntun isterinja untuk tinggal ditempatjang sunji-tenang, supaia tak usah ia merantau lebih djauh. Mengingat ini, ia menghela napas. itulah tjita-tjita belaka. ia masih harus mendjalankan tugas.

Lewat lagi sekian lama, pemuda ini menutup diri dengan selimut, karena ingin beristirahat dengan tidur njenjak, ia tidak duduk bersamedhi lagi. Ketika dilain waktu ia mendusin, matahari sudah dojong rendah kebarat. Empat djam lamanja ia tidur, ia berbangkit dengan pikiran lega dan merasa segar. Tjepat-tjepat ia dandan. Ketika ia berkatja, ia melihat dirinja tak miripnja seorang jang mengarti ilmu silat.
Lantas ia mendengar suara tertawa jang ramai tetapi empuk. Tahulah ia kedua nona lagi mendatangi. Tiba-tiba sadja timbul pelbagai perasaan dalam hatinja. Tapi ia dapat menenangi diri, ia membuka pintu kamarnja untuk menjambut mereka itu.
Lian Tjoe dan Goat Go berdjalan denganperlahan-perlahan, terperandjat mereka waktu mendadak In Gak terlihat berdiri didepan mereka, tangannja si anak muda digendong kebelakang dan wadjahnja berseri-seri. Tanpa merasa, mereka berdiri tertjengang. Lagi pula sekarang mereka melihat tegas si anak muda djauh lebih tampan daripada hari-hari jang telah lalu.

Hari ini, habis membersihkan tubuh, In Gak mengenakan badju hidjau badjupakaiannja seorang peladjar, kedua matanja bersinar terang, hidungnja bangir, giginja putih, bibirnja dadu, sedang sebelah tangannja mentjekal sebuah kipas. Mana dia mendjadi seorang ahli silat, dia mirip peladjar, pikir kedua nona.
Achirnja Goat Go tertawa dan berkata: “Ajahku mengundang Gan Kongtjoe untuk memasang omong.”
Kata-kata kongtjoe itu diutjapkan dengan terlebih lama dan berat.
Lian Tjoe pun turut menjampaikan undangan itu.
Diwaktu berbitjara, kedua nona telah memberi hormat mereka.

Mereka ini nakal dan djenaka, kata In Gak dalam hati. Toh ia merasakan manis. Lantas ia berkata: “Sebutan Gan Kongtjoe itu sebutan baru dan indah, aku menerima nja dengan terpaksa. Tapi, lain kali, lebih baik kamu mengubah panggilan kamu”
Kedua nona itu merasa bahwa mereka dipukul sindiri, maka keduanja lantas mengawasi tadjam. Bahkan Lian Tjoe lantas kata: “Adik, mari Aku lihat orang ini bukan orang baik-baik”
Goat Go memutar tubuh, untuk berlalu, si Nona Tio mengikuti.

In Gak tertawa, sambil mengawasi, ia bertindak dibelakang mereka.
Tiba diruangan dalam, disana Wie Seng berada berlima dengan Tjiok sam, Hong Pioe, Kim Go dan Ha uw Lie Peng. Mereka itu asjik bitjara sambil tertawa-tertawa. Ketika mereka melihat kedua nona serta si anak muda, mereka berbangkit.
Sebuah lilin besar menerangi ruangan itu dan sepasang gedang Kie Koat dan Tjeng Hong diletaki dikedua sisi lilin itu

In- liong sam- hian tertawa ketika ia berkata: “Gan Laotee, dandananmu ini luar biasa, kau benarlah menantu Keluarga Tjioe” In Gak merasai mukanja sedikit panas.
“Ah, lootjianpwee gemar bergujon,” katanja terpaksa.
Gouw Hong pioe pun lantas berkata: “Gan Siauwhiap. kami si orang tua djuru perantara sudah selesai dengan tugas kami, karena itu kenapa kau tidak mau lekas-lekas memberi hormat kepada mertuamu?” Barusan pun Nona Tio sudah mendjalankan kehormatan kepada mentuamu, jang dia angkat sebagai ajah-angkatnja.”

6. Jilid 3.2 : Bentrok dengan Tjeng Hong Pay

Bacaan » PEMBALASAN SEORANG JAGOAN » Jilid 3.2 : Bentrok dengan Tjeng Hong Pay
Anggota masrizki
Waktu 30 Juni
Bab Sebelum 5. Jilid 3.1 : Penjusup-penjusup jang sial
Bab Sesudah 7. Jilid 4.1 : Dua jurus tambahan Bie Lek Sin Kang




Menuntut Balas
Karya : Wu Lin Qiao Zi
Terdjemahan : Oey Kim Tiang
Jilid 3.2. Bentrok dengan Tjeng Hong Pay

Mendengar itu, tanpa ajal lagi In Gak memberi hormat pada Wie Seng. ia paykoei tiga kali.
Wie Seng senang bukan main, sembari tertawa terbahak ia memimpin bangun mantunja itu. ia kata: “Sudah, anak. tak usah kau mendjalankan kehormatan”
In Gak mengenakan rantai kemala dimana ada gandulannja ikan2an dari batu permata, ikan-ikanannja indah sekali buatannja. Itulah warisan ibunja, warisan jang buat duapuluh tahun tak pernah berpisah daripadanja. sekarang ia meloloskan itu, dipersembahkan kepada mentuanja sebagai tanda matanja untukperdjodohannja.
Wie seng sebaliknja mengambil pedang Kie Koat, untuk diserahkan pada menantunja itu.
In Gak menjambuti, tapi setelah berpikir sebentar, ia mengembalikannya pada mentuanja.

Wie seng tertjengang, tetapi mantunja itu segera berkata: “Aku tidak mempunjai barang lainnja, maka itu aku minta pedang ini didjadikan tanda mataku untuk Nona Tio.”
Baru sekarang Wie Seng mengerti. ia tertawa. Lantas dua rupa barang itu diserahkan pada Goat Go dan Lian Tjoe.
Kedua nona itu menjambuti, terus mereka mengundurkan diri

Wie Seng tertawa, ia berkata:” Anak. sekarang telah ditetapkan, untuk pihak
laki-laki, orang perantara jalah kedua saudara Gouw danThe,dan untuk pihak perempuan, saudara-saudara To dan Hauw. Maka haruslah kau menghaturkan terima kasihmu kepada mereka.” In Gak menurut, sambil memberi hormat, ia mengutjapkan terima kasihnja.

Kim-bian Gouw-khong Ha uw Lie Peng memegangi tangan si anak muda, ia berkata: “Gan siauwhiap. kau muda dan gagah, kau sungguh mengagumi. Aku Hauw Lie Peng, aku dapat bertemu denganmu, aku girang bukan kepalang”
“Hauw Tayhiap tjuma memudji,” kata In Gak merendah, setelah mana ia menghampirkan mentuanja, untuk berkata: “Ada sesuatu jang aku hendak djelaskan. ini mengenai kepentingan pribadi. Aku minta sukalah gakhoe dan sekalian lootjianpwee merahasiakan, baru dapat aku menjebutnja.”

“Kita semua kaum Rimba Persilatan, kata-kata kita berat sekali,” kata Hauw Lie Peng tertawa lebar. “Siauwhiap. kau bitjaralah, kita pasti tidak akan membotjorkannja”
“Sebenarnja.aku she Tjia, bukannja she Gan,” In Gak menerangkan. “Tjia In Gak jang membinasakan Tjit-sat-tjioe Koet sin di Kim- hoa jalah aku sendiri”
Mendengar itu, orang heran- Baru sekarang mereka mengerti. “Kenapa kah laotee mengubah shemu?” tanja In- liong sam- hian.

“Itulah disebabkan setelah peristiwa di Kim- hoa itu, aku menguatirkan namaku mendjadi terlalu besar dan itu dapat mendatangkan kesulitan-kesulitan jang tidak diingin, jang bisa menghalang-halangi usahaku selandjutnja,” sahut In Gak. “Ketika pertama kali aku datang kemari, sebenarnja aku hendak bekerdja diam2, sesudah mana aku akan mengundurkan diri setjara diam2 djuga, siapa tahu ia melihat kesekitarnja: Nona Tio telah mengetahui rahasiaku. Sjukur melainkan gakhoe serta sekalian tjianpwee jang mendapat tahu sepak-terdjangku ini, djikalau tidak?”

Sampai disitu djelas sudah hal dirinja In Gak. tjuma orang masih tidak ketahui siapa musuhnja. Hal ini, Wie Seng tidak mau menanjakan melit-melit. “Sekarang marilah kita bersantap” ia mengadjak. Demikian orang pergi keluar.
Sedjak hari itu, In Gak pindah kamar kerumah besar. sedjak itu hari, ia pun mengadjari silat sungguh-sungguh kepada Goat Go dan Lian Tjoe, sebab mereka bukan lagi orang luar, selain ilmu bersamedhi, guna memperkokoh tenaga dalam, ia mengadjari djuga tipu silat Kim-kong Hok Houw Tjiang atau Kim-kong menaklukkan harimau, serta ilmu sendjata rahasia Boan-thian Hoe-ie say- kim-tjhie, atau Menjiram uang emas sebagai hudjan bunga.

“Peladjarilah ini terus-menerus setiap hari, djangan dialpakan,” dia memesan. Begitu djuga tentang peladjaran Kioe-kiong Tjeng-hoan fm-yang-pou dan Pat-kioe Leng-long-tjioe. Itulah dua matjam ilmu silat langka dalam Rimba Persilatan- setelah paham benar, taklah sulit untuk melajani djago-djago kelas satu. “

Selang tiga hari kemudian, In Gak pamitan dari kedua tunangannja, mentuanja dan sekalian kenalannja di Tjioe-kee-tjhung, untuk menudju ke Utara, dimana hawa udara hangat terlambat datangnja dibanding dengan Kang lam, selatan maka itu pemandangan alam disini masih menarik hati. ia melarikan kudanja keras sekali, hingga ia membuatnja seperti terkurung dengan debu, hingga kepala dan tubuhnja, djuga kudanja, tertutup seanteronja, tinggal matanja sadja jang bersinar. Inilah disebahkan selama tiga hari dan dua malam, ia kabur terus-terusan, ia tjuma singgah seperlunja. setelah masuk wilajah propinsi Shoatang, dari Liauw-shia ia memotong ke Tay-beng, melintasi Ham-tan, menudju ke Tjio-kee-tjhung. Tadi baru sadja ia singgah di see-hoo. Untuk tiba di Tjio-kee-tjhung, ia mesti melalui lagi perdjalanan dua- ratus lie lebih, sedang itu waktu, sudah lewat tengah hari. Ia menduga diwaktu magrib ia akan sampai ditempat tudjuannja. Karena ini, untuk minum pun ia tak menghentikan lagi kudanja, ia terus mengasi lari dengan keras.

Mulanja In Gak memikir dari Liauw-shia melintasi ketjamatan Tek-koan lalu kekota Tjhong-tjioe, terus ke kota radja. Kemudian ia pikir, setibanja di kota radja dimana ia bakal menemui Loei siauw Thian, ia perlu mampir dirumahnja Tio Lian Tjoe di Tjhong-tjioe, maka itu, ia mengambil djalanan ke Ham-tan ini. Ditengah djalan ini ia berpikir: “Entahlah, Kioe-tjie sin-kay Tjhong sie akan menjusul atau tidak, akan tetapi selagi lewat di Kho-yoe, aku telah memesan kata-kata kepada Lu Boen Liang, supaja dia memberitahukan arah tudjuanku”

Mulai lohor, tibalah In Gak di Kho-ip. Djauh didepannja, samar-samar ia melihat tembok kota ketjamatan itu, jang ia taksir masih ada seperdjalanan kira2 tigapuluh lie. Maka ia mentjambuk kudanja, mengasi kabur.
Djauh disebelah depan, In Gak melihat debu mengepul naik, selagi mendekati telinganja pun mendengar tindakan kaki banjak kuda, lantas ia melihat lima penunggang kuda lagi kabur mendatangi, dari dua jang terdepan, jang satu membawa seorang tua, sedang seorang jang lain membawa seorang wanita jang tengah menangis sedih.

“Pasti mereka orang-orang djahat”, pikir In Gak. Maka ia lantas menghadang ditengah djalan, tjambuknja disabarkan kedepan.
Dua penunggang kuda itu kaget, mereka menahan kuda mereka. Karena ini, mereka diterdjang tiga jang dibela kang, jang tak sempat menahan kudanja masing-masing. sjukur dua jang didepan itu tidak roboh, mereka tjuma berkaok-kaok.
Untuk sedjenak. kelima penunggang kuda itu melengak. mata mereka, menatap. sekarang mereka melihat, perintangnja itujalah satu penunggang kuda jang penuh debu hampir mirip mereka sendiri.
“He, botjah, kau tjari mampusmu sendiri” achirnja salah seorang membentak.” Apakah kau tidak mempunjai mata hingga kau berani merintangi Lim-shia Ngo-pa? Lekas minggir”

I n Gak memang seperti ingin mentjari gara-gara, tak sudi dia menjingkir. Pula djulukan Lim-shia Ngo-pa itu Lima djago dari Lim-shia menarik perhatiannja.
“Aku tidakperduli siapa Lim-shia Ngo-pa” sahutnja, berani. ia tertawa dingin. “Bukankah sekarang ini siang hari? Bagaimana kamu berani mentjulik orang? Bukankah ini berarti tak ada. lagi undang-undang negara? Djikalau kamu mau lewat, boleh, asal kamu tinggalkan itu dua orang”

“Rupanja botjah ini orang asing” kata penunggang kuda jang berbitjara itu. Dia terus tertawa terbahak. “Eh, apakah kau tidak mentjari tahu siapa kami ini? Apakah kau sudah bosen hidup? Kalau benar, botjah, kau serahkanlah djiwamu:”
Lantas dia madju, dia menghunus goloknja, untuk membatjok.
In Gak bersenjum, sembari berkelit, ia mengulur tangan kirinja, atas mana orang itu mendjerit setjara tiba-tiba dan goloknja terlepas, djatuh ketanah, sedang tubuhnja dibetot, hingga dilain saat, si wanita dapat ditolongi.

Penunggang kuda itu kaget. Dialah pentjulik, tetapi dia sekarang kena ditjulik Dia lantas mendjerit- djerit kesakitan, karena In Gak perkeras pentjetan tangannja itu.
Keempat penunggang kuda lainnja mendjadi terkedjut, lantas mereka mendjadi murka, hanja karena penuh debu, kemurkaan itu tak nampak njata pada wadjahnja. Melainkan mata mereka jang mentjorong. In Gak mengawasi, ia tertawa terbahak-bahak.
“Apa itu Lim-shia Ngo-pa?” ia mengedjek. “Tak lebih tak kurang, gentong arak dan kantung nasi Lekas kamu kasi turun orang tua itu”

Empat orang itu nampak bingung, mereka saling mengawasi. saudara mereka telah berada ditangan orang. Achirnja, terpaksa mereka menurunkan si orang tua. “Sekarang tolong lepaskan kakak kami” kata jang satu.
In Gak tertawa, tjekalannja dilepaskan, maka djatuhlah kurbannja bagaikan lajangan putus

“Baru ini pertama kali kamu berbuat djahat didepanku, suka aku memberi ampun” katanja bengis. “Lain kali, djangan kau mengharap pula sekarang tinggalkan dua ekor kudamu!”
Lim-shia Ngo-pa mati kutunja.”Baiklah,” kata mereka, jang lantas kabur dengan lima orang naik atas tiga ekor kuda.

In Gak mempertemukan si orang tua dengan si wanita muda, untuk menanjakan hal diri mereka. si orang tua menangis, ia kata: “Aku ThioThianPo dari Lou-san, Hoolam, kerdjaku djadi kuli tani, lantaran musim kemarau, aku djadi hidup sengsara. Dengan adjak tjutjuku ini, aku mau tiari adikku jang berdagang kuwe dikota Kho-ip. Kasihan saudaraku itu, dia telah menutup mata pada lima tahun jang lalu dan rumah-tangganja berantakan. Tjelaka untuk kami, kami keputusan uang belandja. Lebih tjelaka, kami bertemu Lim-shia Ngo Pa, tjutjuku ini hendak dirampas, karena aku melawan, aku pun dibawa lari sekalian. sjukur kau menolongi, tuan penolongku.”

I n Gak berkasihan. ia mengawasi si nona, jang rambutnia kusut dan mukanja kotor, matanja merah dan bengul, tapi romannja tjantik. ia lantas mengasikan sepotong emas seharga dua tahil serta perak hantjur, ia pun kata: “Sekarang pergi kamu menunggang kuda ini pulang ke Hoolam. Uang emas ini untuk modal dagang ketjil-ketjil dan perak hantjur ini buat belandja diperdjalanan.”

Thian Po sangat bersjukur, bersama tjutjunja itu ia memberi hormat, ia menghaturkan terima kasih mereka jang hangat.
“Sekarang lekaslah kamu pergi,” kata In Gak. Bahkan ia mengantarkan sampai diluar kota Kho-ip dimana kakek dan tjutjunja itu menudju kedjalan lain, ia sendiri terus menudju ke Tjio-kee-tjhung, sebuah tempat jang ramai. Dari sini, ke utara orang dapat menudju kekota radja, kebarat kekota Thay-goan. ia lantas mentjari rumah penginapan, untuk paling dulu membersihkan tubuh dan menjalin pakaian, kemudian ia pergi keruang besar, untuk bersantap. Disini ia menarik perhatian tetamu-tetamu lainnja, karena ia merupakan seorang muda jang tampan. Ia pesan makanan, ia dahar seorang diri, sambil ia sering melihat kelilingan. Dengan begitu ia lantas mendapatkan dua orang dimedja kiri tengah mengawasi padanja. Mereka itu masih muda, jang satu hitam- manis, matanja tadjam,jang lainnja tampan, matanja tadjam djuga, dan ada pedang dipunggangnja. Mereka itu mestinja mengerti silat.

Masih ada dua orang lain, jang agaknja memperhatikan anak muda ini jang satu jalah seorang tua kate gemuk. jang telah ubanan alis dan kumisnja, jang lanang embun-embunannja, tetapi kedua tangannja besar dan bersinar merah, sepasang matanja bertjahaja. Dia memandang sambil bersenjum. Jang lain lagi jalah seorang nona, badjunja abu-abu dan singsat, kepalanja dilibat sabuk kuning. Ia membekal pedang dengan runtje hidjau danpandjang tetapi romannja berduka. Ia mengawasi tetapi segera melengos ketika sinar matanja bentrok dengan sinar mata si pemuda.

“Pasti mereka semua orang Rimba Persilatan,” pikir In Gak. Ia kurang pengalaman tetapi luas pengatahuannja, jang mana membantu banjak padanja, hingga ia bukanlah seorang Kang-ouw hidjau. “Mereka pasti sama dengan aku Tjuma si nona, entah apakah kesulitannja” Karena ini ia pun mengawasi nona itu hingga beberapa kali.
Kedua pemuda itu, djuga si orang tua dan si nona, sama kesannja ketika mereka mendapatkan In Gakjang muda dan tampan itu Mereka tidak dapat melihat bahwa orang mengerti silat, maka mereka pikir: “Tjoba dia meninggalkan ilmu surat dan mempeladjari ilmu silat, dia berbakat baik sekali”

Habis menenggak arak. kulit muka In Gak bersemu dadu, menambah tampannja. Ia sudah lapar, ia pun berdahar dengan tjepat. Ketika ia hendak berbangkit, ia melihat satu pelajan menghampirkan si nona, menjerahkan selembar kertas, melihat mana, muka si nona mendjadi putjat.
“Mana dia si pembawa surat?” nona itu tanja perlahan.
“Sehabisnja menjerahkan surat, dia lantas pergi,” mendjawab si pelajan-
Nona itu mengangguk. semundurnja pelajan itu, alisnja berkerut.
Melihat roman si nona, In Gak memikir sesuatu.

Tiba-tiba si orang tua jang kate dan gemuk itu tertawa dan berkata: “Tak lain tak bukan tentulah kawanan tikus menghina seorang nona jang harus dikasihani Untuk apakah berduka? Apakah kau menjangka aku si orang tua tidak bakal mengulurkan tangan?”
Njaring suara orang tua itu hingga semua tetamu lainnja mengawasi ianja. ia tapinja bersikap seperti tak ada lain orang disitu, ia minum araknja dengan merdeka, ia menggajam makanannja dengan lahapnja.

Mendengar suara si orang tua, In Gak mengubah sikapnja. ia batal berbangkit untuk meninggalkan medjanja. ia mau melihat perkembangan terlebih djauh.
Segera terlihat si nona menghampirkan si orang tua, ia memberi hormat dan berkata perlahan- “Aku tahu kau bukanlah orang sembarangan, lotjianpwee, maka itu aku mohon pertolonganmu. Dari djauh aku tiba disini tetapi si djahat tidak sudi melepaskan aku”
“Kau duduk. Nona Kang,” berkata orang tua itu.”Aku tahu kau terpaksa masuk dalam rombongan Tjeng Hong Pay. Aku mengagumi kau jang keluar dari lumpur dengan tubuhmu tidak kena terkotorkan- Kau tahu, tanpa aku, tidak nanti kau dapat lolos sampai disini. Pasti aku nanti menolong kau sampai diachirnja meski aku tahu lawanmu itu liehay.”

Si orang tua berkata perlahan seperti si nona, tetapi In Gak dapat mendengar tegas. Maka ia pikir: “Baiklah aku pun membantu nona ini. Menurut katanja Djieko Loei Siauw Thian, dulu hari ajahku telah banjak menjingkirkan orang Tjeng Hong Pay hingga ia djadi bermusuh dengan mereka itu, karena mana, diantara musuh-musuh ajahku itu mesti ada orang partai ini”
Ketika itu kedua anak muda itu pun menghampirkan si orang tua, untuk memberi hormat sambil menanja: “Lootjianpwee, apakah lootjianpwee bukan siong-san Ay-hong-sok Kheng soepee?”

Orang tua itu mengawasi, dia bersenjum.
“Anak muda, tjara bagaimana kau ketahui nama dan djulukanku?” dia tanja.
Si anak muda muka hitam lekas menjahuti: “Akujang mudajalah Kiang YauwTjong, dan ini saudara Tong-hong Glok Koen. Sungguh beruntung kami dapat bertemu soepee disini”. Orang tua itu nampak girang, hingga dia berdjingkrak bangun dan matanja pun bersinar.

“Apa?” dia berseru. “Kamu djadinja si anak-anak muda dari Ngo Bie Pay jang baru mengangkat nama selama ini? Njata tadjam matanja Hoei Khong si tua kepala botak hingga dia berhasil mendapatkan kamu berdua Haha-haha Inilah kebetulan, aku memang lagi memikirkan pembantu Nona ini lagi didesak Tjeng l Hong Pay, baiklah kamu membantu dia.”

In Gak pun girang mengetahui orang tua itu jalah Kheng I Hong gelar Ay-hong-sok atau Tonghong Sok Kate dari gunung Siong San- Ia ingat, semasa hidupnja ajahnja, ajah itu pernah menjebut nama Kheng I Hong sebagai sahabat akrabnja, sebagai saudara angkat, bahwa sebelum ia dilahirkan, orang tua itu sudah hidup menjembunjikan diri, siapa sangka disini ia dapat menemukannja. Tjia Boen sendiri tidak tahu, diharian ia dikerojok, Kheng I Hong djusteru baru muntjul pula. Bahkan Kheng I Hong muntjul dengan terus mentjari tahu siapa musuh-musuhnja saudara-angkatnja itu, sedang mengenai Tjia Boen sendiri, tak tahu dia dimana sahabatnja berada, sahabat itu masih hidup atau sudah mati, maka dia mentjarinja disembilan propinsi selatan dan delapan propinsi Utara. Sekarang baru sadja Kheng I Hong habis menjelidiki gerak-gerik partai Tjeng Hong Pay digunung Lu Liang San,
sampai dia mengetahui urusan nona she Kang itu, hingga disepandjang djalan terus dia melindungi si nona.

In Gak pun lantas ingat siapa Kiang Yauw Tjong danTonghong Giok Koen ini. Ketika di Kim- hoa ia mendengar Phang Pek Hiong menjebut-njebut halnja orang-orang muda gagah dan nama mereka ini ada diantaranja, Kiang Yauw Tjong itu bergelar Hek mo-lek atau Koen loen Mo-lek Hitam, dan Tonghong Giok Koen, Thian-kong-kiam si Pedang Thian-kong.
“Eh, soetee, mengapa anak muda itu senantiasa mengawasi kita?” tanja Yauw Tjong pada Giok Koen- Mereka baru sadja merasa In Gak sering mengawaslnja.
“Dia tentu heran melihat gerak-gerik kita kaum Rimba Persilatan” kata si soetee, adik seperguruan, sambil tertawa. “Sinar mata dia pun tidak bertjahaja sesat, tak usah kita memikirkannja. Memangnja dapat kita melarang orang memandang kita?”

“Benar” kata Kheng Hong sambil menepuk medja. “Kau tidak adil, anak Kau boleh mengawasi lain orang, kenapa orang lain tak boleh melihat kau?” Giok Koen djengah, djuga Yauw Tjong.
Kheng Hong sendiri, habis berkata begitu, dia melirik tadjam pada In Gak. agaknja dia sangat ketarik hatinja, bahkan achirnja dia tertawa, dia menepuk medja dua kali seraja berkata seorang diri: “Kenapa dia mirip dengan dia sangat mirip? Heran?”

Sampai disitu, In Gak tidak berdiam lebih lama pula. Ia menghampirkan orang tua itu, untuk memberi hormat seraja menanja: “Bukankah lootjianpwee Ay-hong-sok Kheng Hong?” Kalau tadlnja ia melirik, Kheng Hong sekarang mementang matanja. “Anak. kau siapa?” tanjanja tadjam.” Mengapa kau kenal aku?”

In Gak bersenjum.
“Sudikah lootjianpwee turut aku sebentar, untuk aku bitjara?” ia minta. Kheng Hong mementang pula matanja.
“Kita bangsa laki-laki, kita mempunjai urusan jang tak takut lain orang mengetahuinja” katanja. “Apakah itu jang tak dapat kau bitjarakan disini? Mengapa kau ingin membilanginja dengan diam-diam?”
Muka In Gak merah, ia djengah djuga. Memang ia tahu dari ajahnja, orang tua ini liehay mulutnja, tetapi baik hatinja.

“Ada apa-apa jang sukar aku menjebutnja disini,” ia kata, memaksa bersenjum. “Sukakah lootjianpwee mengikut aku sebentar?” Kheng Hong mengawasi pula, tapi ia menjerah.
“Baiklah, anak. Lain kali tak dapat” katanja. Ia menoleh kepada Yauw Tjong berdua dan menambahkan- “Anak-anak. kamu tunggu sebentar. Djangan pergi, aku si orang tua akan sebera kembali”

In Gak adjak orang tua itu kekamarnja. Disini tak takut ia ada orang mendengar pembitjaraannja. Kamarnja itu mentjil sendirian-Kheng Hong lantas duduk diatas pembaringan orang.
“Botjah, kau membikin aku si tua berdjalan djauh sekali” katanja, bersenjum. “Nah, sekarang bolehlah kau membuka tjupu-tjupumu untuk mengasi keluar obatmu dari kulit andjing”
Didalam hatinja, In Gak tertawa. Djenaka orang tua ini, jang kata- katanja tadjam.
Tapi ia tidak mau turut bergujon- Maka ia memperlihatkan roman sungguh-sungguh. “Kheng siepee, masih ingatkah siepee kepada Twie-hoen-poan Tjia Boen?” ia tanja.
Belum berhenti suara anak muda ini, Kheng Hong sudah mentjelat bangun seraja tangannja menjamber kedua tangan orang dan matanja segera menatap. didalam situ air matanja nampak mengembeng.

“Apa?” katanja, suaranja menggetar. “Kaulah Pantas sekali melihat sadja, aku seperti mengenalimu Dasar Thian ada matanja” orang tua ini menangis saking girang.
In Gak terharu, ia berduka. Ia lantas menekuk kedua kakinja didepan sahabat ajahnja itu, ia memberi hormat sambil mengangguk-angguk.
Kali ini Kheng Hong tidak menundjuk lagi sifat djenakanja. Ia menarik anak muda itu, untuk dirangkul. Ia menangis terisak.
“Ajahku telah menutup mata pada tiga tahun jang lalu,” In Gak memberitahu. Air matanja orang tua itu berlinang-linang.

“Kasihan adik angkatku itu, setelah berpisah duapuluh-satu tahun, dia telah berpulang kelain dunia,” katanja. “Hiantit, tjobalah kau tuturkan segala apa kepada paman jang tidak punja guna ini”
In Gak suka meluluskan, dengan menahan kesedihannja, ia menuturkan nasib buruk dari ibunja, hingga ajahnja merantau mentjari balas, sampai diwilajah Sam-siang, ajahnja itu kena dikerejok hingga mesti menjingkir ke Kangsay selatan dimana dia ditolongi seorang pendeta jang tidak disebutkan siapa namanja, hingga tiga tahun kemudian, ajahnja menutup mata, sedang ia sendiri lantas beladjar silat pada pendeta jang tidak mempunjai nama itu Boe Beng.

“Baru berselang setengah tahun sedjak aku mulai berkelana,” In Gak kata achirnja. “Untuk usahaku ini, aku menggunai nama palsu.”
Setelah mendengar semua, di balik kedukaannja, Kheng Hong mendjadi girang sekali, hingga habis menangis, dia tertawa lebar.
“Bagus, hiantit, kau bersemangat” dia memudji. “Kau pertjaja, pamanmu ini pasti akan membantumu. Didalam Tjeng Hong Pay memang ada beberapa orang jang harus ditjurigai sudah membantu mengepung ajahmu itu, tetapi sekarang, selagi belum ada kepastiannja, kita tidak boleh, mengeprak rumput hingga ular djadi kaget dan kabur. Pula ini memang bukannja urusanjang dapat kita bitjarakan dalam sedikit waktu sadja. sang waktu masih pandjang. Baiklah lain kali kita berbitjara pula. Diluar, beberapa botjah itu lagi menantikan kita, mari kita menemukan mereka”

Maka baliklah mereka keluar. segera sambil menundjuk si anak muda, Ay-hong-sok kata sambil tertawa: “Inilah anaknja sahabatku jang telah menutup mata Dia she Gan, Gak Kamu anak-anak muda, hajolah kamu beladjar kenal dan mengikat persahabatan satu dengan lain”
Benar-benar mereka itu lantas beladjar kenal.
Nona dengan badju abu-abu itujalah Kang Yauw Hong.
“Nona Kang,” tanja Kheng Hong kemudian, “Dimana kawanan tikus itu mendjandjikan pertemuan denganmu?”

Yauw Hong mengeluarkan sehelai kertas, jang ia serahkan pada si orang tua, maka mereka melihatnja bersama-sama. Bunjlnja itu jalah:
“urat ini dikirim kepada Hian-ie Liong- lie Kang Yauw Hong jang telah lari merat sebentar djam tiga aku mesti datang melaporkan diri dimarkas tjabang. Djikalau kau melanggar perintah, kematianlah bagianmu”

Tanda-tangan dari surat itu adalah tanda tangannja Pekshouw Hiotjoe Tjie Tjoe Beng.
Djadlnja, Yauw Hong bergelar si Puteri Naga Badju Hitam, Hian-ie Liong-lie, dan hiotjoe, ketua tjabang Tjeng Hong pay itu, jalah si Harimau Putih, Pekshouw.
Dengan roman sangat berduka, Yauw Hong berkata: ”Tjie Tjoe Beng jalah satu diantara empat hiotjoe terkedjam darl Tjeng Hong Pay. Dia liehay sekali. Dengan datangnja dia, mungkin akan turut delapan belas Loo-han Totjoe serta jang lain-lainnja, jang berdjumlah tak kurang dari empat atau limapuluh orang. Maka itu djumlah kita mendjadi terlalu ketjil Ini benar djuga”
Kata Kheng Hong jang mengerutkan alis. “Mana dapat sekarang aku si tua-bangka menabuh gembreng untuk meminta bantuan?”
Ia berduka tetapi si Tonghong sok Kate ini bitjara setjara lutju, ia membikin orang tertawa.

In Gak berpikir. Ia lantas ingat sin-liong-say-houw-leng, lentjana hadiah dari Tjhong sie. Ia pertjaja ia akan dapat membantu, maka ia tanja Kheng Hong: “Siepee, kau memikir untuk melindungi nona Kang menjingkirkan diri atau kau berniat pergi kebukit untuk menempur mereka itu?”
Sebelum mendjawab, Kheng Hong sudah tertawa.
“Hiantit, mana dapat kita tidak menempurnja?” sahutnja. “Tjeng Hong pay telah mengatur orang-orangnja disekitar hotel ini. Tjoba mereka tidak melihat aku si tua bangka disini, mungkin mereka sudah menjerbu, tidak nanti mereka mau berlaku begini sabar.”
In Gak tertawa.
“Untuk mentjari bala-bantuan, gampang” katanja tertawa. “Nanti aku pergi sebentar”

Kheng Hong mengerutkan alis.
“Hiantit”, katanja, tak mengerti. “Kau baru sadja sampai disini, kaulah seorang asing, dimana kau dapat bala-bantuan?”
“Djangan kuatir siepee,” kata In Gak. jang tidak mau memberi pendjelasan- “Aku akan lekas pergi dan lekas pulang, tjuma sebentar”
Benar-benar pemuda ini lantas bertindak pergi.

Malam itu malam gelap bulan, bintang-bintang pun dj arang, tjuma ada lenteranja rumah penginapan jang menerangi djalanan. Adalah disebelah sana, dipusat jang ramai, nampak tjahaja penerangan. Pusat itu djauh djuga terpisahnja dari hotel. setelah bersangsi sebentar,In Gak menudju kesana. Belum ada sepuluh langkah, ia telah dihalangi seorang jang bertubuh djangkung, jang muntjul dari sebelah depan. ia mendjadi mendongkol. ia menganggap orang terlalu galak sudah mengganggu padanja. “Apakah kau memegat aku, tuan?” ia tanja. si djangkung- kurus itu tertawa.
“Andjing tjilik, bukankah kau kawannja si perempuan pemburon dan si andjing tua?” dia balik menanja, djumawa.

“Kalau benar, bagaimana?” In Gak tegaskan. “Kalau bukan, bagaimana?”
“Kalau benar, bagus Kau harus turut aku” Mendadak dia meluntjurkan tangan kanannja, akan menjambar lengan si anak muda.
In Gak tidak berkelit, ia membiarkan tangannja ditjekal, hanja ia kaget waktu ia merasakan tangan jang keras. Tangan orang itu njata ada memakai besi. Dengan lantas ia mengutik dua djari tangannja, atas mana si djangkung- kurus mengeluarkan seruan kaget, sebab seluruh tubuhnja mendjadi kaku tiba-tiba. selandjutnja dia tidak dapat bersuara lagi.

In Gak tertawa dan berkata: “Aku lihat baiklah kau menemani aku sebentar, tuan” Lalu ia balik menuntun tangan orang, untuk diadja k pergi. Diluar kehendaknja, si djangkung mengikuti.
Lutju In Gak. selagi orang diam sadja, ia mengotjeh sendirian, ia tertawa-tertawa, sebagai djuga dua kawan jang lagi berdjalan sambil mengobrol disebabkan merekalah kawan-kawan lama jang baru bertemu pula

Memang didjalan itu, dibagian mana sadja, ada mata-matanja Tjeng Hong Pay, dan mereka itu saban-saban melirik atau mengawasi dengan sinar mata heran atau bertjuriga sebab si anak muda berdjalan bersama si djangkung- kurus, kontjo mereka.
In Gak berdjalan terus sampai disebuah gang ketjil, disitu ia melepaskan tangannja untuk terus menepuk pundak orang seraja ia berkata: “Aku minta sukalah kau menanti aku disini,” sebentar sadja Lalu terus ia berdjalan dengan tjepat.
Si djangkung- kurus terus berdiri diam bagaikan patung, karena ia telah ditotok anak
muda itu. Ia tjuma bisa mengawasi dengan bengong.

Tiba ditempat ramai, In Gak bertemu seorang pengemis usia pertengahan. Dia bermuka dekil dan rambutnja kusut. Dengan mengulur sebelah tangannja, dia minta uang kepada orang-orang jang berlalu- lintas. Ia mendekati pengemis itu, ia meluntjurkan tangannja, untuk menjesapkan sesuatu dalam telapakan tangannja. Itulah bukan uang hanja sin-liong-say-houw-leng. Melihat lentjana itu, jang terbuat dari perunggu, kaget si pengemis, dia mengawasi tadjam.

In Gak tertawa. Ia menarik pulang tangannja, akan menjimpan lentjananja itu dalam sakunja, sambil berbuat begitu, ia kata:
“Aku mempunjai urusan saagat penting Tolong kau memberitahukan ketuamu, agar lantas dikirim anggauta-anggauta jang liehay kemarkas tjabang Tjeng Hong Pay diatas bukit. Aku bentrok dengan mereka, aku mohon bantuan. Djamnja jalah kira2 djam tiga. Pesan, sebelum aku muntjul, djangan turun tangan dulu”
Pengemis usia pertengahan itu lantas menekuk sebelah lututnja.
“Boanpwee akan turut perintah” katanja dtngan hormat. Ia menjebut dirinja boanpwee, orang jang lebih muda tingkatnja.

Tanpa membilang apa-apa, In Gak kembali kegang tadi, untuk menarik si djangkung- kurus, guna kembali ketempat semula mereka bertemu. Disini ia membebaskan orang dari totokan, dengan dingin ia kata padanja: “Dengan kepandaianmu ini kau berani main gila didepanku? Hm sekarang lekas bubarkan semua pendjagaanmu disekitar hotel Geng Pin ini, lekas kasi tahu TjieBeng Tjoe si bangsat tua bahwa sebentar djam tiga, Nona Kang bakal pergi kesarang kamu” Lantas ia memutar tubuhna, untuk masuk terus kedalam rumah penginapan.

Didalam, Kheng Hong semua lagi menantikan, roman mereka tidak tenang. Melihat si anak muda, semua berpaling.
“Bagaimana dengan bala- bantuanmu, hiantit?” tanja si orang tua, jang tapinja dapat bersenjum. Dia bitjara sambil mengerling mata. si anak muda bersenjum.
“Beres, siepee,” sahutnja. “Djam berapa kita berangkat?” Tonghong sok Kate tertawa lebar.
“Sekarang belum djam dua, buat apa kesusu?” sahutnja.” Aku si orang tua masih belum minum tjukup”

In Gak mengawasi Tonghong Giok Koen beramai, ia tertawa. Ia mau membilang orang tua itu sangat kemaruk dengan arak. Tonghong Giok Keen pun tertawa. “Saudara Gan, siapakah itu bala bantuanmu?” ia tanja. In Gak membuat main matanja, ia tertawa.
“Ilmu sedjati tak disampaikan kepada enam telinga, maka itu, setelah tiba saatnja, baru akan ketahuan” sahutnja.
Nona Kang merasa kurang enak dihati. Untuk urusannja, ia mesti membikin orang pusing dan mungkin menghadapi bahaja. Maka dengan sinar mata bersjukur, ia mengawasi si anak muda.

In Gak bisa melihat nona itu berduka dan berkuatir, ia tertawa terhadapnja.
“Djangan takut, nona” ia menghibur.” Malam ini bentjana akan berubah mendjadi keselamatan”
Nona itu, bersenjum tanpa kedukaannja lenjap. Dia masih menggeleng kepala dan menghela napas. Dia tetap mengawasi dengan roman bersjukurnja itu. In Gak merasakan itu, maka ia lantas menoleh kepada Tonghong Giok Keen dan Kiang Yauw Tjong. ia kata: “Nona Kang mendapat gempuran bathin hebat sekali, lihat, bagaimana dia sangat berduka.” Kedua anak muda itu tjuma bersenjum. Mereka tidak mau menggoda sahabatnja ini.

Kheng Hong sendiri terus menenggak araknja., sampai mendadak ia menepuk-nepuk tangan, sembari tertawa ia kata: “Anak-anak, djangan keterlaluan ja Hati-hati, nanti pembalasan datang”
Mendengar itu, Yauw Hong likat sendirinja. Ia tahu si orang tua telah dapat menangkap arti sinar matanja itu. Ia lantas tunduk. Tonghong Giok Koen berdua bersenjum.
“Baik, mari kita berangkat sekarang”, kata Kheng Hong kemudian- Ia tertawa lebar. Ia meletaki sepotong perak diatas medja, habis mana, ia bertindak lebih dulu. In Gak semua mengikuti tanpa banjak omong.

Ketika itu sudah djam dua. Diluar sudah djarang orang berlalu- lintas. Ketika In Gak memasang mata, ia melihat tak djauh dari situ ada si djangkung- kurus bersama lima kawannja. Ia mendjadi mendongkol. Ia lantas bertindak tjepat, lantas dengan satu lompatan, ia tiba kepada mereka itu, tepat didepan si djangkung- kurus. sembari tertawa dingin ia kata: “Aku lihat kau tidak kenal kapok, tuan Apakah kataku tadi?”
Si djangkung- kurus itu waspada sekarang.
“Tadi aku alpa” sahutnja, keras. “Djangan kau djumawa Aku menerima titahnja Tjie Hiotjoe untuk mendjadi penundjuk djalan”

In Gak mengasi dengar edjekan Hm.. Mendadak tangan kirinja, menjamber lengan orang, lalu tangan kanannja menggaplok. menjusul itu, tangan kirinja dilepaskan sambil didorongkan dan kaki kanannja terangkat. Tidak ampun lagi, si djangkung itu mendjerit:” Aduh!” dan tubuhnja terpental, membentur kelima kawannja, hingga mereka itu terhujung dan dua antaranja turut roboh terdjengkang.

In Gak terus memandang tadjam jang tiga. Ia tertawa dingin dan membentak mereka: Lekas kamu lari sambil menggojang ekor kamu atau kamu telah melihat tjontoh
Ketiga orang itu djeri, dengan masing-masing menolongi tiga kawannja, mereka lari ngatjir
Kheng Hong semua melengak. Hebat sepak-terdjangnja In Gak. Begitu sebat, begitu djitu tangan dan kakinja, begitu tadjam mulutnja.
Tonghong Giok Koen dan Kiang Yauw Tjong biasa mengagumi diri sendiri. Merekalah murid- muridnj a orang liehay, merekapun sudah berkelana. Tapi sekarang mereka heran. Nona Kang pun mengawasi tadjam, sinar matanja menundjuki dia kagum luar biasa. Bukankah In Gak mirip seorang peladjar jang lemah?

Mereka berdjalan terus kebukit, jang terpisahnja dari Tjio-kee-tjhung tjuma lima belas lie disebelah timur, sedang penduduknja tjuma kira2 empat ratus keluarga. Tempat itu dinamakan bukit karena disana-sini ada gundukan-gundukan tanah jang tinggi
dan sepi. Djadinja, untuk bertarung disana, tempat itu tepat.
Kheng Hong ingin mengudji ilmu ringan tubuh dari keponakannja itu, segera ia lari keras. sebentar sadja ia telah melalui tudjuh atau delapan lle. segera ia heran dan kagum. si anak muda dengan mudah dapat mendampinginja. Tonghong Giok Koen dan Kiang Yauw Tjong ketinggalan setombak lebih dan nona Kang, jang terbelakang, sengal-sengal napasnja. Untuk menunggui si nona, Kheng Hong memperlambat larinja. Yauw Tjong dan Giok Koen mentjekal tangan In Gak. “Saudara Gan, hebat ilmu ringan tubuhmu” mereka memudji. In Gak merendahkan diri sambil bersenjum.

Mereka berlari-lari terus. Angin dingin menjampok muka mereka.
Selagi mendekati bukit, dua bajangan muntjul dari pinggiran, lantas terdengar suara mereka jang tegas sekali: “Apakah ada tiangloo dari Kay Pang disana?”
In Gak menduga kepada pihak Kay Pang, Partai Pengemis, ia lantas berlompat, untuk mendahului keempat kawannja. Ketika ia sampai didepan dua orang itu, mereka menekuk sebelah lutut mereka seraja berkata: “Tjoe-soe Pa Kim dari Tjio-kee-tjhung bersama muridnja, Djie Liong, menjambut tiangloo”

In Gak lekas memimpin bangun.
“Djangan pakai adat-peradatan, Kim Tjoe-soe” katanja. “Malam ini kau mengadjak berapa banjak saudara?”
“Duapuluh-lima orang,” menjahut Pa Kim, kedua tangannja dikasi turun, tanda menghormat. “Mohon tanja tiangloo, mereka hendak diatur bagaimana?”
“Kamu bersembunji sadja disekitarku,” In Gak bilang. “Ketjuali aku keteter, djangan kamu perlihatkan diri Pengaruh Tjeng Hong Pay besar sekali, djangan kita menimbulkan antjaman bahaja dibelakang hari.”
Pa Kim mengangguk seraja memberikan djandjinja. In Gak memandang Djie Liong si pengemis usia pertengahan.
“Saudara Djie, pandai kau bekerdja,” katanja. “Aku mewakilkan Tiangloo kita memberi pudjian padamu”
“Terima kasih” berkata Djie Liong.
“Sekarang lekaslah kamu mengatur” In Gak berkata.

Kedua pengemis itu menekuk pula kaki mereka, lantas mereka menghilang ditempat dari mana tadi mereka muntjul.
Kheng Hong, jang telah menjusul, mementang matanja saking heran-
“Hebat, hiantit” katanja, kagum. “Kapannja kau mendjadi tiangloo dari Kay pang?”
In Gak tertawa.
“Aku ini jalah tiangloo tetiron” sahutnja. “Aku tjuma batoknja sadja”

Kheng Hong menduga, mesti ada rahasianja, ia terpaksa menutup mulut, melainkan alisnja berkerut. Karena In Gak sudah berlari pula, ia lantas menjusul. Demikian djuga ketiga muda-mudi.
Segera djuga mereka tiba dikota bukit itu. Dari djendela pelbagai rumah nampak sinar api. Lalu diantara suara ramai terlihat muntjulnja tudjuh atau delapan orang. Diantara mereka itu, seorang tertawa njaring dan berkata: “Kheng Lootjianpwee, maaf TjieTjoeBeng terlambat menjambut”

Tonghong sok Kate tertawa lebar dan menjahuti: “Tjie Hiotjoe kesohor diempat pendjuru lautan, aku si orang she Kheng telah lama mendengarnja Aku tidak sangka, bukan orang jang mendekati hanja djalanan, maka djuga dibukit ini kita bertemu satu dengan lain”
“Ooh, Kheng Lootjianpwee, bagus kata-katamu ini” kata orang she Tjie itu.
Tadinja mereka itu berada ditempat gelap. atau lantas mereka dapat melihat tegas satu pada lain. Pihak Tjeng Hong Pay telah menjalakan delapan buah obor besar.
Kapan TjieTjoeBeng melihat Nona Kang Yauw Hong, dia membentak:
“Kang Yauw Hong, partai kita memperlakukan baik padamu, kenapa kau minggat? Kenapa disepandjang djalan kau melukai saudara-saudara kita? Hari ini atas titah Paytjoe hendak aku membekuk kau, Apakah katamu?”

Yauw Hong pun gusar sekali melihat hiotjoe itu, hingga matanja bersinar dan giginja terkertak.
“Tua-bangka djahanam” ia berteriak. “Menjesal nonamu tidak dapat membeset kulitmu untuk gegarasi dagingmu Kenapa kau berulang kali membudjuki Paytjoe memaksa mengambil aku mendjadi gundiknja? Bukankah ini kedjahanamanmu?”

Dibeber keburukannja, TjoeBeng gusar. Tetapi dia dapat tertawa dingin, suaranja seram. Lantas menuding si nona, menjusul mana segera terlihat muntjulnja lima- atau enam puluh orang,jang terus melakukan pengurungan. ia kata, suaranja dalam: “Manusia mau mampus, lihatlah saudara-samdara ini jang akan membekuk kau untuk dibawa pulang kegunung Djangan kau menjeret-njeret tjelaka pada sahabat-sahabatmu, baik2 sadja kau turut kami, aku tanggung keselamatanmu”

Yauw Hong dj eri djuga melihat begitu banjak orang Tjeng Hong Pay, mukanja mendjadi putjat. Kheng Hong tapinja tenang-tenang sadja, bahkan dia dapat bersenjum-senjum. Yauw Tjong pula tertawa dingin. In Gak saling memandang dengan Giok Koen, keduanja memperlihatkan sikap memandang enteng. Kemudian Yauw Tjong madju kedepan TjoeBeng.
“TjieTjoeBeng, djangan kau mengandalkan djumlah jang banjak” katanja, tertawa dingin- “Dimata tuan mudamu ini, mereka bangsa tak berguna, Buat apa kamu banjak tingkah? Nona Kang nona merdeka, dia tidak mendjual dirinja kepada Tjeng Hong Pay, kenapa kamu hendak menawannja?”

Tjoe Beng pun tertawa dingin.
“Kau siapa, tuan?” tanjanja. Bagaimana, kau berani banjak lagak didepanku? sengadja Yauw Tjong bersikap djumawa.
“Tuan muda mu jalah Hek mo-lek Kiang Yauw Tjong” ia perkenalkan diri “Kau dengar njata sekarang?”
TjoeBeng terkedjut djuga.
Kabarnja dalam dunia Kang-ouw muntjul dua djago muda, adakah mereka ini? ia kata dalam hatinja. Ia lantas mengawasi tadjam. Ia terus tertawa kering dan berkata: “Kiranja kau, Aku ingin beladjar kenal dengan kepandaianmu” Hiotjoe ini mau madju atau seorang dibelakangnja berlompat kedepannja.
“Tongtjoe, serahkan dia padaku” katanja seraja perkenalkan diri sebagai Song KekBoen.

Ia lantas mendeliki si anak muda dan kata mengeduk: “Orang she Kiang, malam ini tanah munujul merah ini jalah kuburanmu”
Yauw Tjong tertawa dingin, lantas ia madju menjerang, kedua tangannja meluntjur kearah pundak.
Kek Boen kaget. Inilah ia tidak sangka. Tapi ia bisa mundur sambil kedua tangannja dirapatkan, untuk mengatjip tangan penjerangnja itu.

Yauw Tjong tertawa dingin pula, kedua tangannja ditarik pulang. Disamping itu, kaki kanannja digeser, kaki kirinja menj usul, untuk berada d isis i lawannja, untuk dengan tangan kirinja menindju kepunggung.
Sebat gerakan itu, sampai In Gak bersenjum memudjinja. Tidak ketjewa pemuda she Kiang itu mendjadi murid partai berkenamaan, bahkan djuga lekas kesohor.
Kek Boen menjabat tangan lawannja, tetapi dia kalah sebat, punggungnja kena terhadjar, ketjuali merasa sakit, matanja pun berkunang-kunang. ia berlompat, untuk menjing kir. Tapi Yauw Tjong menjusul dia, kempolannja kena didupak. maka sekalian sadja dia djatuh meloso tudjuh atau delapan tombak djauhnja.
Tjie TjoeBeng terkedjut. Terlalu tjepat achirnja pertempuran itu Song Kek Boen jalah satu diantara delapanbelas Lohan jang berada dibawahannja golongan Lo Han Tong. Ia tahu KekBoen telah menjampaikan tingkat enam atau tudjuh dalam ilmu dalam dan ilmu luar. Dengan terpaksa ia menjuruh menggotong sebawahan itu.

Lantas muntjul orang jang kedua, jang lantas memperkenalkan diri sebagai Tek-djiauw-sin Khong Yan si Malaikat KukuBeratjun. ia pun mendamprat Yauw Tjong sebagai binatang tjilik,
“Baik, Khong Totjoe” kata Tjoe Beng “Berhati- hatilah!”
Khong Yan mengangguk. lantas ia madju, kedua tangannja dibalik, hingga terlihatlah sendjatanja, itu Ngo-tok Kee-djiauw-liam, arit mirip tjeker ajam jang telah dipakaikan ratjun.
“Andjing ketjil, apa kau tidak mau mengeluarkan sendjatamu?” tegurnja djumawa. “Malam ini kau mesti mentjobai ratjunku jang memutuskan arwah”

Yauw Tjong gusar, tetapi waktu ia hendak menghunus pedangnja, Giok Koen sudah berlompat kedepannja.
“Soeheng, kasilah aku jang lajani bangsat ini,” katanja. Yauw Tjong tertawa, ia mundur.
Giok Koen menghunus pedangnja, ia ulapkan itu kedepan si orang djumawa. Itulah tantangannja setjara membungkam, sebab tak sudi ia banjak omong. Khong Yan mendj erit saking gusar, ia lantas menjerang.
Giok Koen menggeser kesamping, pedangnja membabat. Atas itu orang Tjeng Hong Pay itu pun berkelit, sesudah mana dengan gesit dia madju pula, untuk menjerang. Sekali ini, dia menjerang saling-susul, untuk mendesak. sendjatanja itu dipakaikan ratjun, siapa terkena itu, tjelakalah ia.

Giok Koen berlaku tenang tetapi gesit. Ia putar pedangnja, untuk membela diri. Itulah ilmu pedang Thian-kong-kiam dari NgoBiePay. sinar hidjau daripedangnja itu berkilauan, anginnja bagaikan menderu- deru. Maka hebatlah pertempuran mereka.

Dipihak Tjeng Hong Pay, Khong Yan memang lebih liehay daripada Song Kek Boen.
Achirnja Giok Koen mendjadi habis sabar. Tak sudi ia melajani terlalu lama. Mendadak ia bersiul, lantas ia menjerang, tiga kali beruntun. ia mengarah tiga djalan darah sin-tjiang, kie-boen dan khie-hay.

Baru sekarang Khong Ya n terkedjut. sinar pedang menjilaukan matanja, sambaran anginnja pun dingin. Tjepat-tjepat ia menutup diri dengan sepasang aritnja itu.
Giok Koen madju terus, pedangnja lantas meluntjur. sia-sia Khong Yan menutup diri, pedang toh menjambar djuga, hingga dia mendjerit dan mandi darah, tubuhnja roboh. Tapi selagi roboh, ia menerbangkan aritnja ditangan kanan. Untuk membela diri, Giok Koen mau menangkis. “Djangan..!” berteriak Yauw Hong.”Mundur!”

Giok Koen kaget, tak sempat ia menarik pulang pedangnja, maka kedua sendjata beradu, lantas ratjunnja arit menjambar kearah musuh ini.
Kheng Hong melihat antjaman bahaja untuk si anak muda, dia berseru sambil berlompat madju, kedua tangannja dipakai menjerang dengan pukulan Udara kosong. Maka itu, ratjun jang bagaikan pasir, meluntjur kelain arah, kearahnja TjieTjoeBeng.
Hiotjoe itu terkedjut, ia lompat mundur, sambil berlompat, ia pun menjerang dengan pukulan Udara Kosong itu. Maka pasir beratjun itu berhamburan ketempat kosong. Tjoba ada jang lolos dan mengenai tubuhnja, pasti tubuhnja mendjadi hitam dalam sekedjab. Ia kaget dan bingung, takutnja bukan main.

Giok Koen gusar sekali, maka itu ia lompat kepada Khong Yan, untuk menikam lehernja, hingga darah merah muntjrat.
TjoeBeng menginsafi bahaja, atas tandanja, orang-orangnja semua madju mengurung siap untuk menerdjang. Dia sendiri tertawa menghina, katanja:”Kheng Tayhiap. tak pantas perbuatanmu ini.Takpantas kau mentjampuri urusan orangku jang buron sedang sekarang, kau melukai dua orang kami, dua murid dari Lo Han Tong, Baiklah kau serahkan budak itu, supaja permusuhan dapat dibikin habis Djikalau tidak. Hari ini aku mau lihat apa kau bisa lolos dari bukit ini?”

Kheng Hong tidak takut, dia tertawa terbahak.
“Tjie Hiotjoe, urusan didalam dunia mesti diurus orang dalam dunia djuga” katanja. “Disini tidak ada soal anggauta buron atau bukan Aku malu untuk Tjeng Hong Pay, karena untuk seorang anggauta wanita, kamu datang dalam djumlah sangat besar, Baik kau ketahui, aku hendak mentjampur tahu urusan ini, Aku dengar liehay sekali tanganmu jang berpasir hitam Hek-see-tjiang maka itu djikalau kau tidak puas, kau keluarkanlah”

Tjie TjoeBeng gusar hingga tanpa mengutjap sepatah kata, dia menjerang Ay-hong-sok si Tonghong sok Kate
Kembali Kheng Hong tertawa, hanja sekarang sambil ia mengibas dengan tangan badjunja jang gerombongan. ia telah mengguna i ilmu silatnja, jang diberi nama Ngo-heng-tjiang atau Tangan Lima Logam. Mereka lantas bentrok, setjara hebat sekali, sama-sama mereka mundur dua tindak.

Kheng Hong kagum untuk ketangguhan musuh, maka itu, ia lantas menjerang. Dengan tangan kiri ia mengibas kekanan- dengan tangan kanan ia berbareng menjerang keiga musuh.
TjoeBeng tertawa, tangan kirinja menangkis. Ia menggunai djurus Burung hong menghadap kelangit. Tapi Kheng Hong bersiasat. Dengan tangan kirinja, jang tadi dipakai menggertak. la menjerang pula.

Inilah, tidak disangka TjoeBeng, dia kena terhadjar hingga tubuhnja mental, tapi dia tidak roboh, maka itu, musuhnja mendesak terus semakin seru. Dalam gusarnja, dia pun membikin perlawanannja sama serunja
Kheng Hong tidak menjajangi tenaganja, terus-menerus ia menjerang hebat. Maka itu, selang delapanpuluh djurus, TjoeBeng sudah bermandikan peluh, benar dia belum terkalahkan tetapi dia merasa bahwa tenaganja tak akan sanggup bertahan lebih lama pula. Njata dia terdesak.

Menampak demikian, kawanan Lohan berseru, lantas mereka madju, untuk mengerojok. semendjak tadi, mereka mengurung dengan waspada. Lantaran madjunja mereka, maka kira2 limapuluh kawannja, jang mengurung dari sebelah luar, djuga sudah mempertjiut kurungannja.
Kiang Yauw Tjong dan Tong hong Giok Koen mendjadi gusar sekali, sambil berseru, mereka madju untuk menghadang kawanan Lohan itu.

TjieTjoeBeng mendapat hati karena madjunja kawan- kawannja itu, perlawanannja mendjadi gigih, dari itu, tak dapat Kheng Hong segera merobohkannja.
Hati Nona Kang mendjadi tidak tenteram. Tak dapat ia berdiam sadja menjaksikan lain orang mengadu djiwa untuknja. Maka ia menghunus pedangnja, berniat berlompat madju.
“Tahan” berkata In Gak. jang mentjegah sambil menggeleng kepala tetapi bersenjum.
“Berbahaja untuk kau turut madju, nona, kau dapat menggagalkan siasatku. Djangan kuatir, musuh tak akan dapat mentjapai maksudnja”

Yauw Hong berdiam, tetapi ia tetap tak tenang hati. Ia mengawasi si anak muda. Karena orang bersenjum, ia bersenjum djuga.
In Gak tidak turut madju disebabkan madjunja Yauw Tjong dan Giok Koen- ia mengerti, apabila ia turun tangan, Yauw Hong tidak ada jang lindungi. ia lantas memikirkan daja lainnja. Ia segera memasang mata kesekelilingnja. Dengan tjepat ia telah mendapat djalan.
“Nona Kang,” ia berkata, “Aku hendak turun tangan, kau baik-baik djaga dirimu, djaga djangan sampai kau kena dibokong”

Habis berkata itu, anak muda ini mengasi dengar suara bagaikan naga mengalun lantas tubuhnja bergerak. sedjenak sadja ia sudah masuk dalam gelanggang pertempuran.
Yauw Hong heran dan kagum, Tjuma sekelebatan, atau orang telah lenjap dari dampingnja.
Tjie Tjoe Beng lagi hendak menjerang Kheng Hong atau mendadak ia merasakan lengannja jang kanan mendjadi kaku, didepan matanja berkelebat satu bajangan, bajangan dari seorang anak muda tampan jang muntjul tiba-tiba didepannja. Njata lengannja itu didjepit tiga djeridji si anak muda, dadanja terus terasa sesak. mengalirnja darahnja bagaikan mandek.

Semua berhenti si anak muda jalah In Gak berseru angker.
Kheng Hong heran dan kagum. Ia telah merasakan Tjoe Beng bakal sebera habis tenaganja, siapa tahu muntjullah si anak muda dengan gerakanjang luar biasa itu.
Didalam hatinja ia kata: “Anak ini benar-benar manusia, Tjia Hiantee mendapatkan anak seperti dia ini, ia boleh mati meram”
Yauw Tjong dan Giok Koen baru sadja merobohkan empat orang tatkala mereka melihat madjunja si anak muda, bukan main mereka girang dan kagum. Dengan berbareng mereka lompat mundur kesisi Yauw Hong.

Pertempuran berhenti dengan lantas. semua pendjahat tertjengang.
“Tjie Tjoe Beng, kau sekarang hendak membilang apa?” tanja In Gak pada pemimpin Tjeng Hong Pay itu. Ia tertawa dingin.
Mukanja TjoeBeng mendjadi muram danputjat. Ia kaget mendapatkan pemuda tidak dikenal ini demikian liehay. Ia mengerti, rusaklah lengannja andaikata ia berontak. Tapi ia berkepala besar.
“Aku alpa maka aku kena tertipu kau” katanja, berani. “Apa aku mesti bilang? Tak takut aku mati, hanja sajang dirimu, kau tidak bakal lolos dari tangan kami”
In Gak tertawa pula.
“Hm Kau djadinja mengandalkan djumlah jang banjak?” katanja. “Baiklah..!”

Ia lantas berpaling kesamping, untuk berkata njaring:”Ssaudara Djie Liong, dengar silahkan kamu perlihatkan diri kamu, supaja mereka ini bisa lihat”
Suara itu disambut seruan diempat pendjuru mereka, lantas terlihat bergeraknja duapuluh lebih bajangan orang, jang lantas mengambil sikap mengurung rombongan Tjeng Hong Pay itu. Melihat demikian, Tjoe Beng kaget.
“Tjie Tjoe Beng” kata In Gak tertawa mengedjek. “Ini dia, si tjengtjorang mau menangkap tonggeret, dibelakangnja ada si burung geredja Maka pertjuma sadja segala siasatmu”

Kata-kata ini disusuli dengan tenaga mendjepit jang diperkeras, atas mana pemimpin Tjeng Hong Pay itu lantas mengasi dengar d jeritan kesakitan jang hebat. Tiba-tiba sadja ia merasa digigiti ratusan ular berbisa, jang pagutannja terasa keulu- hatinja, membikin ia merasa gatal dan sakit luar biasa. Diluar kehendaknja, ia mengutjurkan air mata.
“Andjing tua, dengar” In Gak membentak.”Asal kau menerima baik dua buah sjarat, kau akan memperoleh keampunan, Djikalau tidak. kau rasakanlah siksaan tudjuh hari jang akan meminta djiwamu”

“Aku si orang she Tjie akan menerimanja, kau sebutkan sadja tuan,” kata Tjoe Beng lemah. Ia putus asa.
“Jang pertama,” kata In Gak keren, “Mulai hari ini dan seterusnja, tak dapat kau menjusahi lagi Nona Kang Yauw Hong, Apa djuga jang terdjadi atas diri Nona Kang, kau jang bertanggung-djawab, Jang kedua jalah, mulai besok, kau mesti bubarkan markasmu disini, sepak-terdjangmu selandjutnja tjuma berbatas dalam propinsi Shoasay sadja Bagaimana?” setelah berkata, In Gak mengawasi sambil tertawa, menantikan djawaban.
Tjoe Beng mati kutunja, ia mengangguk tanpa bersuara.
In Gak tertawa, ia melepaskan djepitannja, untuk dengan tjepat menotok djalan darah tjiang-boen dari orang itu. sembari tertawa, ia berkata: “Aku tahu kau sangat litjin, Aku terpaksa berbuat begini. Kau telah tertotok bujar tenagamu, maka itu selama setengah tahun, tidak dapat kau menggunainja pula, atau kau terluka ulu- hatimu Aku telah mengasi nasihatku ini, kau mesti turut, supaja djangan kau menjesal sesudah kasip. Supaja djangan kau nanti sesalkan aku Totokanku ini tidak dapat dibebaskan oleh lain orang”

la mengasi lihat roman bengis, ia kata pula: “Aku tahu kau tidak puas, maka hendak aku mengasi kau lihat, Kau kas i tahulah orang-orangmu untuk mereka berhati-hati”
Tjie Tjoe Beng takut bukan main, ia menarik napas berduka. setelah ditotok itu, ia merasakan tenaganja bujar, tangan dan kakinja semakin beku. Ia berdiam meskipun ia sangat mendongkol. Dengan sinar mata guram, ia memandang sekalian Lohan-nja.

Dengan sekonjong-konjong terdengar tertawa pandjang dari In Gak, tubuhnja berkelebat, atau sekedjab, ia sudah kembali ketempatnja dimana ia berdiri sambil menggendong tangan dan wadjah berseri-seri.
“Apakah artinja ini?” pikir Tjoe Beng, heran. Ia lantas memandang keenambelas Lohan, lantas ia mendjadi melongo. Mereka itu terlihat berdiri diam dalam pelbagai sikap jang berlainan. semua mata mereka mendelik, alis mereka terbangun, tangan mereka lagi mengantjam dengan sendjatanja masing2. Mereka benar2 mirip patung2 Lohan dirumah-rumah sutji

Djuga Kheng Hong berempat mendjadi tertjengang. Hebat anak muda ini.
“Tjie Tjoe Beng” kata pula in Gak, tertawa dingin, “Masih ada satu hal jang kau mesti ingat dan djangan melupakannja. Kalau nanti kau bertemu ketuamu, kau bilangi dia bahwa dalam waktu dua tahun, aku bakal datang berkundjung kegunungnja”
Kemudian, menoleh pada kawan- kawannja, pemuda ini kata: “Djie Liong, mari kita pergi”
Lantas dia bertindak, meninggalkan semua musuh itu.
Rombongannja Djie Liong lenjap. sedang Kheng Hong berempat mengikuti si anak muda, menghilang djuga didalam g elap- gulita.
****

IX
Itulah bulan keempat saat daripohon atau bunga yanglioe paling memantjing rupa-rupa perasaan manusia. Itu waktu, dalam sebuah rumah penginapan diselatan Tjio-kee-tjhung, dengan kedua tangan memegangi tiang pembaringan, In Gak tengah memandang keluar djendela dimana ada sebuah pohon yanglioe lagi tertiup angin hingga bergojang-gojang lembut dan lemb a ran2 bunganja terbang kedalam kamar, memenuhi lantai. Pula diwaktu pagi, langit terang dari sang mega, warnanja biru. Anak muda itu memandangi langit, ia lagi berpikir, ia lagi ngelamun- maka djuga terdengarlah suara senandungnja.

Malam tadi, In Gak pulang kehotelnja sesudah djam empat hampir lewat. Tak dapat ia memedjamkan mata. Disepandjang djalan tadi, semua orang bungkam, ketjuali Yauw Hong jang menghaturkan terima kasihnja. Kheng Hong bertiga bungkam karena mereka berpikir keras, semua heran memikirkan ia, sedang setibanja dihotel, setelah saling memberi selamat malam, mereka memasuki kamar masing2.

Kiang Yauw Tjong dan Tonghong Giok Koen heran atas kesebatan si anak muda. Dia tjuma berkelebat, lantas musuh mendjadi bagaikan sekumpulan patung. Mereka melainkan melihat bajangan melesat, tidak lebih. Toh mereka merasa ilmu silat mereka sudah mahir.
Demikian djuga anggapan Ay-hong-sok jang liehay. Pada duapuluh tahun dulu ia menemui kitab Ngo-heng Khie-kang Tjin-koat. Itulah kitab pemahaman tenaga dalam. Mulanja ia mau mejakinkan itu bersama Tjia Boen, adik-angkatnja. Maksudnja ini tidak kesampaian, lantaran Tjia Boen tak keruan parannj a. Maka ia mejakinkan sendiri, digunung siong san dimana ia hidup menjendiri. Ia berhasil mentjiptakan pukulan Ngo-heng-tjiang. Enam tahun kemudian ia turun gunung. Njata ia berpisah untuk selamanja dari adik-angkatnja itu. Lima belas tahun la manja ia berkelana. Ia niat membalas dendam untuk adik-angkat itu tapi ia menghadapi kesulitan. Musuh si adik-angkat banjak dan tak dikenal dan sukar menjelidiki hal mereka itu. sampai sekarang ia bertemu puteranja TjiaBoen dan lantas ia menjaksikan kepandaian orang, jang liehay tak terpikirkan olehnja. Ia sangat kagum. Belum pernah ia lihat lain orang, jang mempunjai kepandaian serupa itu Tak tahulah ia, In Gak dari partai persilatan mana, meskipun ia luas pengetahuannja. Pula aneh, belum berusia duapuluh tahun, pemuda itu sudah djadi tiangloo, suatu ketua, dari Kay Pang. Partai Pengemis itu, jang besar dan berpengaruh, mempunjai aturan jang keras. Kenapa seorang sangat muda mendjadi tiangloonja?

Untuk Kang Yauw Hong, disamping kekagumannja terhadap In Gak. la memikirkan dirinja. Ia muda dan sebatang- kara, tak mempunjai sanak atau kadang. setelah bebas ini, kemana ia mesti tempatkan dirinja? Maka itu, ia bersedih, tanpa merasa ia mengalirkan air mata.
In Gak masih lama djuga berdiam dalam kamarnja itu. Telah ia pikir untuk lekas berangkat ke Utara tetapi pertemuannja dengan Kheng Hong membuatnja terpaksa menunda. Ia harap saudara-angkat ajahnja itu dapat memberikan ia banjak keterangan mengenai ajahnja. Maka ia mengambil ketetapan, setelah menanjakan Ay-hong-sok. baru ia mau berangkat. ia menjesal, karena membelai Kang Yauw Hong, ia terpaksa mempertundjuki kepandaiannja, kepandaian jang ia ambil dari Hian-wan sip-pat-kay. Benar ia berhasil dan si nona bebas, tapi ia seperti telah membuka rahasianja, Achirnja ia berbangkit, untuk pergi keluar.

Baru ia mau bertindak, atau telinganja mendengar tindakan kaki. Lekas sekali, seorang tertampak berdiri dihadapannja. Ketika ia telah melihat orang itu, girangnja bukan buatan- Dialah Kioe-tjie sin-kay Tjhong sie. Ia lompat untuk mentjekal tangannja sang sahabat. Ia tertawa.
“Toako, kapannja kau tiba di Tjio-kee-tjhung ini?” ia tanja. “Kenapa kau ketahui siauwtee tinggal disini? silakan duduk”
Dengan sinar mata tadjam, Tjhong sie mengawasi adik-angkatnja itu. Ia tertawa.
“Tak usahlah,” katanja.” Tentang perdjalanan kau ini, hiantee, aku telah mengetahui semuanja. Lebih dulu aku hendak memberi selamat pada mu” Mukanja In Gak mendjadi merah, dia likat.

Tjhong si tertawa pula, terus ia melandjutkan- “Sekarang ini Oey Kie Pay sudah keluar dari wilajah Kangsouw Utara, tetapi Oe-boen Loei sangat bersakit hati, dia telah mengutus beberapa orang liehay mentjari tahu hal kau dan gurumu, hiantee. Dia hanja belum tahu bahwa kaulah si pemuda luar biasa itu, Hiantee tahu, peristiwa tadi malam sudah lantas tersiar luas. sekarang ini orang-orang Tjeng Hong Pa y sudah ditarik mundur. sajang kau telah kesalahan menjebut terang-terang Djie Liong, hingga mereka mendapat tahu Kay Pang membantui kau. Tjeng Hong Pay telah mengandjurkan An Tjeng Pay menegur Kay Pang, jang dikatakan sudah mengatjau ketenteraman disini, serta dia menanjakan hal-ichwal kau, hiantee. Partai An Tjeng ini besar pengaruhnja dipelbagai propinsi Utara ini, diam-diam dia telah mendjadi tulang punggung beberapa pangeran Boan golongan Pat- kie, Delapan Bendera. Karena itu, tidak menguntungi untuk Kay Pang bentrok dengannja. Aku telah mengirim Djie Liong untuk memberikan djawaban bahwa pihak kita tidak kenal orang jang membawa lentjana Partai kita itu, sebab kita tjuma mengenal lentjana, tidak mengenal orang, tetapi kalau An Tjeng Pay mau tahu djuga, dia dipersilakan mentjarinja sendiri dikuil Thian Tjee Bio dikota Utara. Maka sekarang aku pikir, baik hiantee seorang diri pergi kesana. An Tjeng Pay mempunjai orang-orang liehay tetapi akupertjaja hiantee dapat melajani mereka. Hanja mungkin disanapun ada beberapa guru silat ternama dari Yan- in, jang akan memaksa minta kau memberi pertundjukan. Hiantee tjerdas, tentu hiantee ketahui sendiri bagaimana harus bertindak. Tapi, hiantee, djangan kau salah paham terhadapku. Aku bukan menegur atau menjesali kau. Telah aku berikan lentjana sin-liong-say-houw-leng kepadamu, kau dapat menggunainja sesukamu, seperti jang kau rasa baik. Kali ini, aku minta kau suka bertindak bidjaksana. Didalam An Tjeng Pay ada seorang bernama Yang Hie Kiat. Dari dia itu, pernah tahun dulu aku menerima budi, maka untuk membalasnja, sebaiknja djanganlah hiantee bentrok dengan dia”

Belum lagi In Gak sempat berkata-kata, Tjhong sie sudah menambahkan: “Hiantee, untuk perdjalananmu ini menuntut balas, paling baik djangan kau berdjalan bersama-sama Ay-hong-sok Kheng Hong Kaum Rimba Persilatan ketahui dia telah mengangkat saudara dengan ajahmu, maka pergaulan kau dengannja dapat menjukarkan usahamu menrjari musuh-musuhmu. sekian sadja, hiantee, sampai kita bertemu pula di Lou Kauw Kio”
Habis berkata, Tjhong sie berlompat mundur, maka sedjenak kemudian, dia sudah menghilang diatas genteng.

In Gak terbengong. “Hebat orang kaum Rimba Persilatan- Urusan ketjil sadja dapat
Berekor pandj a ng. Bukankah ia tjuma menolongi orang? Kenapa sekarang orang hendak menjaterukanja? An Tjeng Pay terlalu” pikirnja. Ia mendjadi mendongkol. Maka ia memikir untuk memberi rasa.
Tengah anak muda ini berpikir itu, ia mendengar pula tindakan banjak kaki. Lantas nampak muntjulnja Kheng Hong beramai. Mereka itu pada bersenjum. “Saudara Gan, kau bangun pagi-pagi” kata Giok Koen tertawa.
“Sampai sekarang ini belum aku dapat tidur,” sahut In Gak. Karena sang fadjar lantas tiba, aku terus tidak tidur lagi.”

Kheng Hong bertindak masuk. lantas ia duduk ditepi pembaringan- Ia melirik djenaka ketika ia berkata: “Hiantit, aku si orang tua djuga tidak dapat tidur. Aku terus memikirkan ilmu kepandaianmu tadi malam. Dapatkah kau memberitahukan aku, kau sebenarnja asal partai mana?”
Inilah In Gak tidak sangka. Untuk sedjenak, ia melengak,
“Hal itu, aku sendiri pun tidak mengetahui djelas,” ia menjahut. “Ilmu kepandaian itu bukannja hal jang luar biasa, itu tjuma berpokok pada kesebatan kaki-tangan dan ketjelian mata, jalah menjerang selagi orang tidak bersiaga. Tjoba pihak sana sudah siap-sedia, pasti hasilnja tak ada seperti itu”
Kheng Hong menggeleng kepala. Ia bersangsi.
“Tidak disangka, hiantit, kau pandai menjembunjikan diri,” katanja, “Karena kau tidak sudi bitjara, aku si tua tidak berani memaksa. Masih ada satu. Kau begini muda, bagaimana kau dapat mendjadi tiangloo dari Kay Pang?”

In Gak tertawa.
“Djikalau aku bitjara siepee, kau tentunja tidakpertjaja” sahutnja. “Pernah aku menolongi seorang pengemis tua. Dia mau membalas budi, dia memberikan aku sebuah lentjana seraja membilang, apabila aku dalam bahaja, aku dapat gunai itu untuk minta bantuan kaum pengemis. Kalau pihak Kay Pang melihat lentjana itu, mereka menganggapnja aku sebagai seorang tiangloo partainja, sebagai wakil. Demikian apa jang terdjadi tadi malam.”

Kheng Hong masih menggeleng kepala, tetap ia bersangsi. “Alasan belaka” katanja.
Yauw Hong memberi hormat pada si anak muda, untuk menghaturkan terima kasih. “Djangan!” kata In Gak lekas, tangannja dikibaskan perlahan.
Nona Kang merasai dorongan tenaga, jang mentjegah ia mendjura. Ia djadi mengawasi dengan sorot mata heran.
“Nona Kang, djangan gunai banjak adat-peradatan,” kata In Gak. “Adalah keharusan kita untuk saling tolong.” Kemudian ia memandang Yauw Tjong dan Giok Koen, untuk meneruskan: “Saudara Kiang, saudara Tong hong Bukankah benar untuk menolong orang hingga diachirnja?” Kedua anak muda itu heran, mereka mengawasi.

In Gak berkata pula: “Nona Kang sudah lolos dari antjaman Tjeng Hong Pay, tetapi tetap ia sebatang kara, ia tidak bersanak-kadang, maka itu, aku pikir, baiklah kamu berdua suka terus menolongi ia. Dapatkah kiranja ia dipudjikan kepada partai kamu, supaja ia dapat berlindung dan beladjar silat lebih djauh?”
Mendengar begitu, kedua pemuda itu tertawa.
“Saudara Gan, biar umpama kata kau tidak mengatakan demikian, kami berdua sudah memikirnja,” mendjawab Yauw Tjong. “Djikalau Nona Kang dipudjikan kepada Ban in soethay kami, tentulah soethay sudi menerimanja. Kebetulan, soethay pun belum mempunjai murid jang mendjadi achliwarisnja.”

Yauw Hong girang mendengar pembitjaraan itu, sampai ia mengeluarkan air mata. Ia bersenjum, ia lantas menghaturkan terima kasihnja.
“Ah, tjelaka betul” mendadak Ay-hong-sok berseru. “Eh, anak-anak, kamu enak bitjara, kamu membuatnja aku si tua kesepian”
Anak-anak muda itu terkedjut, tapi achirnja mereka tertawa. Hebat si tua jang djenaka ini.
Baru orang berhenti tertawa, atau mereka mendengar suara jang seperti memetjah angkasa, hingga mereka terkedjut, lantas didepan mereka, diluar djendela, tampak tiga orang, jang dua tua, mukanja gelap. tubuhnja kurus, badjunja hitam.Jang satu djidat kirinja ada empat buah tai-lalatnja warna werah.Jang ketiga jalah seorang muda tampan dengan badju putih, sepasang alisnja pandjang, tjuma kulit mukanja jang putih, putih kebiru-biruan, sedang matanja jang tadjam memain tak hentinja, suatu tanda kelitjikannja. Dia terus memandang si nona, mulutnja bersenjum. Melihat orang muda Yauw Hong menggigil sendirinja, mukanja mendjadi putjat.

Ay-hong-sok sebaliknja tertawa lebar, terus dia berkata: “Aku kira siapa, tak tahunja
Thian-boen Hek-hiat siang-koay” sembari berkata itu, dengan tangannja menolak kedepan, ia berlompat keluar dari djendela. In Gak berempat menjusul lantas.
Pekarangan diluar djendela itu empat tombak persegi, dengan kedua pihak berdiri masing-masing, nampaknja mendjadi sempit.
Dua orang jang disebut Thian-boen Hek-hiat siang-koay itu sepasang siluman dari Guha Hitam dari Thian-boen lompat mundur dua tindak ketika Kheng Hong berlompat keluar itu. Di tempatnja berdiri, mereka bersenjum.

“Orang tua she Kheng, djanganlah berpandangan tjupat kata mereka. Belum apa-apanja, lantas kau menjerang kami Kami bukan mentjari kau, mengerti Hutang kita jang lama, nanti datang ketika nj a untuk dilunaskan Habis, mau apa kamu datang kemari?” Ay-hong-sok tanja.
Si orang tua muka hitam jang bertai-lalat merah itu tertawa.
“Orang tua she Kheng, inilah hotel” katanja. “Kau dapat datang kemari, kami djuga Mari kita omong terus-terang Kami datang kemari karena adjakan tuan ini Dia lantas menundjuk si anak muda dan menambahkan: Mari aku mengadjar kenal Inilah Pek san-sioe Lie Djie Yan, murid terpandai dari Hoan-oe sam-tjiat soat-san Djin-mo, jang datang kemari istimewa untuk Nona Kang Yauw Hong”

Terkesiap djuga Kheng Hong bertiga Yauw Tjong dan Giok Koen mendengar orang muda itu muridnja soat-san Djin-mo si Manusia Hantu dari soat san, Gunung saldju. Mereka pun pernah dengar nama Lie Djie Yan si Peladjar Berbadju Putih atau Pek san-sioe. Sedang soat-san Djin-mo itu kesohor gagah semendjak tudjuh- atau delapanpuluh tahun dulu dan tingkah-lakunja berpokok pada saatnja dia lagi senang atau lagi gusar, hingga dia tidak menghiraukan benar atau salah, siapa apes dan bertemu padanja, malanglah nasibnja, mungkin terbinasa djiwanja. siapa pun biasa menjing kir djauh-djauh dari ianja. sjukur dia sangat djarang muntjul, djikalau tidak. dunia Rimba Persilatan mestinja tidak aman.

Mengetahui siapa si anak muda, Ay-hong-sok menundjuki sikap menghormat, tetapi Lie Djie Yan tidak menghiraukannya, dia bahkan mengasi dengar suara dihidung, dengan mata tadjam dan galak. dia tetap menatap Yauw Hong, untuk achirnja tertawa dan berkata: “Adik Yauw, sekarang kau sudah keluar dari Tjeng Hong Pay, maka itu dapatlah kau mengikut kakakmu pulang ke soatsan- Kakakmu akan memberi djaminan kepadamu, untuk selandjutnja pihak Tjeng Hong Pay tidak akan mengganggu pula padamu”
Nona Kang berdiam. Ia sudah menduga orang bakal mengutjapkan demikian. Melihat si nona membungkam, Lie Djie Yan madju, tangannja diulur.
Yauw Hong menjingkir kebelakang In Gak, matanja menatap bentji.

Ay-hong-sok gusar menghadapi sikap djumawa dan galak serta tjeriwis dari orang she Lie itu, ia mendorong kearah dia sambil membentak: “Botjah jang baik, bagaimana kau berani berlaku kurang adjar dihadapanku si orang tua?”
Lie Djie Yan mengasi dengar suara dihidung, tangannja jang dipakai menjambar Yauw Hong diputar balik, buat dipakai menjambut dorongan orang tua. Kedua tangan itu lantas bentrok keras, lantas terlihat si orang tua mundur setindak dan si anak muda miring pundaknja. Itulah bukti liehaynja tenaga dalam mereka masing-masing.
Ay-hong-sok terkedjut. Pemuda itu tangguh sekali. Ia lantas melihat Hek hiat Siang-koay mengawasi ia sambil tertawa dingin, suatu tanda mereka memandang hina kepadanja. Ia mendjadi gusar.
“Baiklah, mari tjoba menjambut lagi satu kali” ia berseru serada ia menjerang.

Lie Djie Yan tertawa dingin, ia menjambuti. Bahkan terus sampai lima kali. Pertama kali bentrok. pundak mereka masing-masing terangkat,
begitu jang kedua, ketiga dan keempat kali. Kelima kalinja, Ay-hong-sok mundur empat tindak. Diluar dugaan, ia disusuli, diserang terlebih dulu.
Dengan air muka bengis, Lie Djie Yan kata: “Kheng Hong, kalau bukan tuan mudamu memandang Nona Kang, hari ini pastilah aku hadjar mampus padamu”
“Belum tentu, sahabat “Kheng Hong tertawa lebar.
“Orang tua she Kheng” berkata Hek-hiat siang-koay jang bertai-lalat merah, jang suaranja bernada mengedjek. “Djikalau kau menghendaki keputusan, disana ada tempat jang lega dimana kaki dan tangan dapat digeraki dengan merdeka, supaja kalau kau mampus, djangan kau penasaran”

“Hm Aku si orang she Kheng aku belum waktunja mati” kata Ay-hong-sok balik mentjemooh. “Radja Acherat membilangi, menangkap aku itu berabeh Maka djuga lebih baik kamulah jang pergi lebih dulu” Ia mengawasi Djie Yan, untuk menantang: “Kau berani pergi atau tidak?”
Orang she Lle itu tertawa terbahak.
“Karena kau ingin mampus lekas-lekas, mengapa tuan ketjilmu tidak suka pergi?” djawabnja. suaranja itu menj eramkan, membikin orang bergidik sendirinja.
Dengan mata tadjam dan membentji, Kheng Hong mengawasi Djie Ya n, habis mana ia berlompat melewati tembok pekarangan. sangat gesit gerakannja itu. Ia lantas disusul Hek-hiat siang-koay.

Lie Djie Yan berdiri tegak ditempatnja, ia mengawasi Nona Kang sambil tersenjum. Ia benar-benar tampan dan manis. Tjuma sinar matanja itu memain tak hentinja.
Yauw Tjong dan Giok Koen kuatir Yauw Hong nanti diterdjang, mereka mendjagai dengan pedang mereka terhunus.
Djie Yan mendelik terhadap anak muda itu, kembali ia mengawasi si nona. “Adik Yauw, katanja, untukmu, aku telah memikir banjak sekali, tak peduli bagaimana sikapmu terhadapku, hatiku tetap ada padamu, maka djuga selandjutnja, kemana kau pergi, kesana aku akan menjusul bahkan sampai diudjung langit, baru sekarang,” habis berkata itu, ia berlompat melewati tembok.

In Gak terus berdiam sadja. Menjaksikan kegesitan Lie Djie Yan, ia kagum. Dilain pihak, mesti ada sebabnja kenapa Yauw Hong agak djeri pada pemuda itu. Maka ia anggap mesti ia turun tangan pula. Achirnja ia bersenjum. “Mari kita menonton” katanja, mengadjak ketiga kawannja.
Berempat mereka lompat keluar. Mereka mendapatkan sebuah tegalan luas didekat mana ada kira2 tigapuluh rumah. Dikiri dankananada peng empang beserta rombongan bebek dan angsanja.

Kheng Hong dan Lie Djie Yan sudah bersiap-sedia. Mereka djalan berputaran dengan saling mengawasi tadjam, mulut mereka bungkam. setelah empat idaran, mendadak Ay-hong-sok berseru, kedua tangannja menjerang.
Lie Djie Yan tidak menjambuti serangan itu, dia berkelit, dia berputar terus. Baru setelah diserang pula, ia menangkis dan melajani berkelahi. Merekalah tandingan jang setimpal. sampai tigapuluh djurus, mereka tetap seimbang.
Sesudah menonton sekian lama itu, In Gak kata dalam hatinja: Kheng siepee kesohor, tak dapat dirusak karena botjah ini. ia terus kata pada Giok Koen dan Yauw Tjong: “Saudara, tolong lindungi nona Kang. Waspadalah kepada Hek-hiat siang-koay, agar
mereka dj angan main gila” setelah itu ia bertindak kedalam gelanggang seraja berkata: “Kheng siepee, buat melajani manusia djumawa ini tjukuplah aku seorang mari kasi siauwtit jang turun tangan”

Mendengar itu, Kheng Hong lantas lompat keluar gelanggang. Lompatannja itu jalah jang dinamakan Mengedjar gelombang seribu lapis. Ia pertjaja si anak muda sanggup melawan Djie Yan. Tapi ia memesan: “Hiantit, hati-hati!”
Melihat madjunja In Gak. hati Djie Yanpanas. Tanpa merasa ia mendjadi djelus dan tjemburu. sebab pemuda ini, jang tampan, selalu mendampingi Yauw Hong, hingga ia menduga, si nona tak meladeni ia karena adanja saingan ini.

“Siapa kau?” dia tanja bengis. “Mungkinkah kau orang jang semalam menunduki pihak Tjeng Hong Pay?”
“Tidak salah, itulah aku jang rendah” sahut In Gak tertawa. “Tentang siapa aku, kau tak berderadjat untuk menanjanja”
“Kau terlalu djumawa” kata Djie Yan dingin. “Lebih-lebih kau berlagak didepanku”
orang she Lie ini tahu musuh liehay, tetapi ia tetap pertjaja kepada diri sendiri Ia masih menjangsikan apa orang tidak menjiarkan berita setjara berlebihan tentang musuh ini, maka ingin ia mentjobanja. sikap pendiam dari In Gak pun mau membuatnja pertjaja orang terlalu memudji. In Gak tertawa dingin. “Kau djuga terlalu djumawa” katanja.

“Sudah sahabat djangan mengadu mulut” Lie Djie Yan membentak.
“Kau sambut dulu tanganku, masih ada waktu untuk berlaku sombong” Kata-kata ini segera diachiri dengan serangannja, jang mendatangkan sambaran angin.
In Gak berdiri tegak. sambaran angin tak mengganggunja. Ia telah menutup diri dengan Bie-lek sin-kang.
“Heran” pikir Djie Yan. “Tak tahu ia orang mengguna i ilmu apa.”
“Sekarang giliranmu menjambut aku” berkata in Gak tertawa. “Aku mau lihat kau benar berderadjat atau tidak untuk berlaku djumawa”
Kata-kata ini disusuli serangan Bek shok Kim-kong, atau setjara diam menakluki Kim-kong. Itulah jang ketiga, dari dua belas djurus Bie-lek sin-kang. Djuga digunakannja itu tidak dengan sepenuh tenaga.
Lie Djie Yan bukan sembarang orang, dia pun berbakat. Dalam usia enam tahun dia telah dibawa soat-san sin-mo naik kegunung, mulai dididik ilmu silat. Dia sedikit berbuat kedjahatan, tetapi dia ketjipratan tabiat gurunja, dan tjatjadnja jalah sangat membawa adatnja sendiri Kalau ada sesuatu jang dia sukai, biar bagaimana sulit, mesti dia mendapatkannya belum dapat, belum dia mau sudah. seperti keinginannja ini, mendapatkan Kang Yauw Hong, belum dapat, dia belum mau berhenti. Belum lama dia berkelana, lantas dikenal dan dia dimalui. sebab orang tahu dia muridnja
soat-san sin-mo jang ditakuti, orang pun djeri terhadap gurunja. Disebelah itu, dia sendiri memang liehay. Karena semua itu, menghadapi In Gak. dia mendjadi penasaran. Lantas dia menjerang pula, sekarang sambil menatap lawannja itu. Ia menggunai pukulan dari Tjin-san Khie-kang, atau Menggetarkan gunung. Itulah pukulan hebat, jang dapat meremukkan tulang.

Setelah menjerang itu, djago Soat San ini mendjadi heran. Akibatnja jalah seperti kerbau-kerbauan tanah lempung ketjemplung didalam laut, serangannja itu tidak mendatangkan akibat apa-apa. sebaliknja ada angin jang menjambar kemukanja, rasanja adem, disusul dengan tenaga lemah menolak tubuhnja, tenaga mana lama-lama berubah djadi kuat, makin kuat dan makin kuat. Dia mau melawan, tetapi sudah tak keburu lagi, lantas dia seperti ditindih gunung, kaki-tangannja kaku, mulutnja bungkam. Tubuhnja pun tertolak mundur perlahan-lahan. Berbareng dengan itu, dari mata, hidung, mulut, kuping dan lubang-lubang peluhnja keluar darah tak hentinja, hiagga dia tak lagisipemuda tampan, dia mirip hantu bermandikan darah. Pula mundurnja itu, dari perlahan, lantas mendjadi tjepat.

Achirnja, ketika In Gak menarik pulang tangannja, maka tubuh Djie Yan djatuh terguling ditepi empang, kepalanja masuk kedalam air.
Hek-hiat siang-koay kaget, mereka lompat, untuk menolongi. Mereka mendapatkan kedua mata si anak muda tertutup rapat, mukanja putjat seperti kertas. Darahnja semua telah tertjutji bersih sang air.
In Gak sangat mendongkol untuk kedjumawaan Lie Djie Yan dan kedjahatannja terhadap Kang Yauw Hong, ia anggap orang bakal merusak Rimba Persilatan, maka ia melajani dengan menggunai Bie-lek sin-kang. Mulanja ia menangkis serangan, untuk dipunahkan, lalu ia membalas. Ia menolak terus hingga lawan itu mati-daja. Ia memang dapat menempel, menarik dan menolak disamping menjentil dan menindju. Dengan Bek shok Kim-kong, ia memunahkan Tjin-san Khie-kang dari lawannja, lantas ia mendorong, dari perlahan mendjadi keras.
Maka robohlah djago Soat sanjang terkebur itu.

Hek-hiat siang-koay mengangkat tubuh Lie Djie Yan, mereka menolong sebisa mereka. Djie Yan tetap tak sadarkan diri Mereka mendjadi kaget.
Si tahi lalat merah lantas mengangkat kepalanja, mengawasi In Gak tadjam, terus ia berkata, menjeringai:”Tuan, kau menerbitkan onar besar Aku si tua berdua hendak mengantarkan Lie Djie Yan pulang kegunungnja. Djikalau soat-san Djin-mo menanjakan kami, bagaimana kami mendjawabnja?”
“Hm” djawab In Gak. “Siapa suruh kamu menjateroni orang dan menghinanja? onar ini kamu sendiri jang mulai Apakah kamu tidak dapat mendjawab dari hal jang sebenarnja kepada soat-san Djin-mo?”

Orang tua itu tertawa menjeringai.
“Walaupun demikian soat-san Djin-mo bukanlah orang jang gampang diadjak bitjara” katanja. “Ketika Lie Djie Yan, mau berangkat kemari, kami sudah mentjegah tetapi dia memaksa”
“Sudah, djangan kau bitjara terus” In Gak memotong. “Aku tahu kamu serba salah” sembari berkata pemuda ini menghampirkan musuhnja, terus ia menotok didadanja.
“Dilain djam dia bakal mendusin,” ia kata. Untuk sementara, habis tenaga dia, maka djangan dia menggunai tenaganja. Dengan kepandaiannja soat-san Djin-mo, tak sulit untuk mempulihkan dia. Tentang she dan namaku sukar untuk aku memberitahukannja. Tapi aku mengharap kamu nanti membawa kata-kataku: Achir-achirnja aku bakal pergi pesiar ke Soat san”

Hek-hiat siang-koay mengeluarkan napas lega.
“Tuan, tjukup sudah kata-katamu ini,” kata jang bermuka hitam. “Kami telah menerima budi kau tetapi dikuatir sukar kami membalasnja.” Kemudian dia berpaling kepada Kheng Hong, untuk berkata sambil bersenjum: “Orang tua she Kheng, sampai bertemu pula”
Lantas dia pondong tubuh Djie Yan, dibawa pergi bersama kawannja. In Gak lantas mengadjak semua sahabatnja kembali kekamar. Ay-hong-sok tertawa dan berkata: “Hiantit, aneh kepandaian kau, djangan kata sekarang ini, mungkin didjaman dulu, orang belum pernah melihatnja”
Sebagai orang tua dan achli silat kenamaan, djuga Tonghong Sok Kate tidak mengenal ilmu silat keponakannja ini. In Gak tertawa, ia tidak melajani djago tua itu.

“Nona Kang,” ia tanja Yauw Hong, kepada siapa ia, menoleh, “Dapatkah kau menuturkan apa hubunganja diantara Lie Djie Yan dengan kau?”
Yauw Hong sangat membentji Lie Djie Yan, ia tidak berdaja, mau ia menangis tetapi didepan banjak orang, ia mengerasi hati, sekarang ditanja si anak muda, tak dapat ia menahan pula, lantas ia menangis, air matanja mengutjur deras. Dengan ini dapat ia mengudal kesengsaraan hatinja. Baru setelah sedikit redah, baru ia bisa memberikan keterangannja .

Nona Kang jalah gadisnja Kang Hong, seorang guru silat jang masih rendah kepandaiannja. Tidak dapat Kang Hong mengangkat nama, terpaksa ia bekerdja sebagai tjinteng dirumahnja seorang hartawan dikampung asalnja, diketjamatan Pengyang, shoasay.
Ia mempunjai satu tjatjad dialah gemar minum arak. hingga ia senantiasa lupa daratan. Tapi ia berhati baik dan djudjur, maka madjikannja, si hartawan, menghargainja. Ia diberi dua ruangan rumah untuk ia mengadjak anak dan isterinja tinggal bersama. Maka itu, ia bekerdja sungguh-sungguh untuk madjikannja itu. Waktu Yauw Hong masuk umur tudjuh tahun, dia diberi peladjaran ilmu silat. sajang kepandaiannja sendiri rendah, ia tidak bisa mendidik anakperempuannja itu mendjadi pandai. sebaliknja Yauw Hong, dia ketarik dengan ilmu silat, dia beladjar radjin.

Pada suatu malam, tibalah saat malang. Malam itu Kang Hong minum banjak. diwaktu pulang kekamarnja, ia lantas tidur njenjak sekali. Djusteru malam itu, beberapa puluh orang djahat datang menjerbu. Mereka masuk dengan melompati tembok pekarangan. Mereka merampok sambil membunuh. Lima pendjahat masuk kekamar Kang Hong. Dia kaget dan bangun. Tapi belum apa-apa, dia sudah dibatjok mati. Njonja Kang Hong pun turut dibunuh. Yauw Hong kaget hingga ia pingsan. Ketika ia tersadar, ia mendapatkan tubuhnja rebah d ipembaringan. Kamar bukan lagi kamarnja.

Didepannja berdiri seorang imam tua, jang romannja luar biasa. Imam tua itu tertawa dan menanja:” Anak. kau sudah lapar atau belum?” Atas pertanjaan itu, ia mengangguk.
Dalam umur tudjuh tahun, Yauw Hong sudah mengerti banjak djuga. Ia mendapat kenjataan ia berada diatas gunung jang penuh dengan pepohonan. ia tidak menanjakan hal orang tuanja, jang ia tahu sudah terbinasa. Ia tjuma tahu, imam itu mesti ada hubungannja dengan ajahnja.
Seterusnja ia berdiam digunung itu bersama si imam. Baru setelah berselang lama ia
ketahui, si imam bernama TjiamBeng, gelaran sutjinja Hong LoeiToodjin, dan gunung itu pusatnja partai Tjeng Hong Pay. Nama gunung Lu Liang san, dan keletakan markas diselat Ouw A Tjoei. Dan Hong Loei jalah soeheng, atau kakak seperguruan dari Tjian-tjioe siauw-hoed Pok Hong siBuddha Tertawa seribu Tangan, paytjoe atau ketua dari Tjeng Hong Pay. semua orang Tjeng Hong pay beroman bengis, tetapi lama-lama, si nona biasa lagi melihat mereka itu.

Hong Loei menjukai Yauw Hong, ia mengadjari silat sungguh-sungguh. ia menganggap Yauw Hong sebagai anak. la minta ia dipanggil sebagai ajah-angkat. sepuluh tahun Yauw Hong berdiam diatas gunung, sampai ia berumur tudjuhbelas. Ialah seorang nona tjantik. Banjak orang Tjeng Hong Pay jang ketarik padanja. Malang ada Hong Loei dan si nona sendiri pun bagaikan mawar berduri, ia tidak ada jang berani ganggu.
Sebenarnja. Hong Loei djahat dan kedjam, tetapi dia melindungi Yauw Hong seperti anak sendiri

Kemudian atas permintaan Pok Hong, jang disetudjui Hong Loei, Yauw Hong dikasi pekerdjaan sebagai penulis partai, untak mengurus surat-surat. Hong Loei tidak mentjurigai si soetee, adik seperguruan. Karena ini, setiap Yauw Hong berada berdekatan dengan Pok Hong. sebenarnja ternjata, Pok Hong menggilai si nona. Yauw Hong sendiri tidak menghiraukannja. Pernah karena urusan si nona, Pok Hong bentrok sama Hong Loei, jang menegurnja. Masih Pok Hong mentjoba terus membudjuki si nona. Karenanja, saking berduka, sering Yauw Hong menangis sendirian.

Lantas pada suatu hari, selagi Yauw Hong bekerdja dikantornja, Hong Loei datang
bersama seorang muda tampan, jang diadjar kenal padanja. Dialah Pek san-sioe Lie Djie Yan- ia dapat kenjataan, Djie Yan ini bukan seorang benar. Djie Yan lantas suka mengadjak ia djalan-djalan. Digunung itu memang ada tempat-tempat jang indah pemandangannya. Karena memandang gurunja, Yauw Hong tidak menampik. Tapi satu kali, ia dipedajakan Lie Djie Yan- selindjutnja tak suka ia bergaul denganpemuda itu, bahkan ia takut.

Pok Hong mendapat tahu kelakuan Lie Djie Yan itu, ia menjindirnja, Djie Yan mendongkol, ia berlalu dari Lu Liang san. Diwaktu mau pergi ia bersumpah bahwa ia belum mau sudah sebelum mendapatkan si nona.
Tidak lama Hong Loei djatuh sakit. Yauw Hong merawatnja siang dan malam. Berat penjakit itu, si imam tidak mau sembuh. Maka satu kali, Yauw Hong pegangi tangan anak-pungutnja, sembari tertawa sedih ia kata: “Anak Yauw, aku tidak menikah, aku tidak punja turunan, tetapi aku mendapati kau, aku seperti mempunyai anak sendiri sajang aku sakit dan usiaku sudah landjut. Aku kuatir, kapan aku menutup mata, kau tidak ada jang lindungi. Mungkin setelah aku mati, kau bakal diganggu soetee-ku. Maka sekarang, sebelum aku mati, aku mau mendajakan. Dulu hari itu, sajang aku terlambat, tak dapat aku mendongi ajahmu. Itu pula sebabnja aku bawa kau kegunung ini. sebenarnja, madjikan ajahmu itu mendapatkan sebuah pedang mustika, hal itu diketahui partaiku. Lantas saudagar itu diserbu, dia dirampok dan dibunuh serumah-tangga. Ketika aku menjusul, aku terlambat, ajah dan ibumu sudah mati”
Yauw Hong menangis.

Hong Loei menghela napas.
“Sudah anak. djangan menangis” ia membudjuk. “Perkara sudah terdjadi, menjesalpun sudah kasip. Aku menjesal aku tersesat, tapi aku beruntung, aku bakal mati baik. Inilah sebab aku tidak biasa membunuh tanpa sebab. Aku mau mengubah tjara hidupku, pertjobaan itu sukar. Ada orang2jang membentjiku. Adalah karena terpaksa, aku menumpang pada Pok Hong. sudah sepuluh tahun aku tidak pernah turun gunung. Mungkin orang telah melupai aku. Karena ini, aku puas djuga”

Hong Loei berhenti sebentar baru ia melandjuti: “Aku tahu kau ingin dapat membalas sakit hati ajah dan ibumu, tapi sukar kau mentjari tahu siapa dia. orang pun tidak mau memberitahukan padamu. sekarang aku beritahukan kau, dialah Tjoei-beng Boe-siang Tong Kee Houw, tongtjoe atau ketua tjabang di soetjoan Barat. setelah aku merawat kau, dia dipindahkan ke soetjoan. selama sepuluh tahun, belum pernah dia datang pula kesini. sekarang ini kepandaian kau masih belum bisa melawan dia, maka kapan kau telah meninggalkan Lu Liang san, kau mesti berguru pula pada guru jang pandai, baru kau dapat menuntut balas. Tadinja aku ingin djodohkan kau dengan Lie Djie Yan, sajang kau tidak penudju dia. Dalam hal djodoh, aku tidak mau memaksa kau. Ini sehelai leng-kie, bendera-titah, kau simpan baik-baik, ia menambahkan. Aku rasa aku tidak dapat tahan sampai lusa, maka itu baiklah besok malam kau minggat dari sini. Leng-kie ini bisa mendong kau lolos. Kau boleh menjingkir kedjurusan kota radja. selandjutnja terserah pada peruntunganmu”
Yauw Hong menangis sedih sekali, ia sampai pingsan.

Hong Loei berduka, ia berdiam sambil meram sadja.
Besok malam, benar keadaan Hong Loei mendjadi buruk. beberapa kali ia pingsan. Paling belakang, setelah sadar, ia desak Yauw Hong untuk lekas mengangkat kaki. Kali ini si nona menurut, ia lantas menjiapkan buntalannja dan membekal sedikit perak hantjur. Ia minggat dengan membawa pedangnja. Ketika mau berpisah, tiga kali ia paykoei pada imam jang mendjadi guru dan ajah-angkat itu.

Untung bagi Yauw Hong, diwaktu la minggat, ia dapat dilihat Ay-hong-sok. Ia lantas dikuntit. Dibeberapa tempat djagaan, ia dihalang-halangi, tetapi dengan alasan mau tjari obat untuk Hong Loei, la dilepaskan djuga. Demikian setelah terang tanah, ia sudah tiba dikaki gunung, terus ia memasuki kota ketjamatan Lie-sek.

Dipagi hari ketiga, benarlah Hong Loei meninggalkan dunia jang fana ini. Pok Hong heran mendapatkan nona Kang tidak ada, ketjurigaannja lantas timbul. Ia segera memerintahkan mentjari tahu. Kapan ia ketahui minggatnja si nona, ia menugaskan orang menjusul dan mentjari kepelbagaipendjuru, sekalian untuk memberitahukan pelbagai tjabang, guna membantu mentjari. si nona mesti ditangkap hidup, sebab dia dikuatir membuka rahasia partainja.

Didalam kota Lie-sek. habis istirahat sambil bersantap. Yauw Hong melandjuti perdjalanannja, menudju ke Kauw-shia, melewati Thay-goan, keluar dari Tjeng-keng, tiba di Tjio-boen- selama itu ia terus dilindungi Ay-hong-sok. sampai ia tertjandak dan ditantang.
Menutur sampai disini, Yauw Hong menangis.

In Gak bertiga terharu.
“Sudah, Nona Kang, djangan kau berduka,”
Giok Koen menghibur. “Nanti kita mengantarkan kau pada soesiok Ban in- setelah kau menamatkan peladjaranmu, djangan kuatir sakit hatimu tak terbalas”
Yauw Hong mengutjap terima kasih. Ia terhibur djuga, hatinja mendjadi lega.
“Eh, anak-anak, kamu sudah bitjara habis atau belum?” Kheng Hong menegur. “Kamu tahu, ilarku sudah keluar”
In Gak tertawa.
“Siepee tidak tahu bahajanja arak” ia kata tertawa. “Mari aku buktikan dengan sjair:
Kaisar Peng bertjelaka karena arak ada ratjunnja,
Lie Thay Pek ditepi sungai rusak tubuhnja,
Maka, tuan djanganlah minum air tak berbudi,
setelah mabuk hati orang tak sehat lagi

Kedua matanja Ay Hong sok membelalak.
“Kau tahu apa, botjah tjilik” katanja. “Kebaikannja arak banjak sekali Nanti aku si orang tua memberitahukan kamu. Arak itu dapat membantu s i pendekar hingga njalinja mendjadi besar dan dapat membikin sipejadjar tambah indah gubahan sjairnja. Aku dapat melenjapkan duka, arakpun untuk menggadangi sang rembulan dan bunga. Ada djuga dibilang, minum arak tak dapa sinting itulah paling menjenangi. Maka itu bagaimana bisa dibilang arak djahat?”
Mendengar itu, semua orang tertawa.
“Benar, benar, siepee benar” kata In Gak. “Nah, mari kita pergi kedepan untuk minum”




7. Jilid 4.1 : Dua jurus tambahan Bie Lek Sin Kang

Bacaan » PEMBALASAN SEORANG JAGOAN »
Jilid 4.1 : Dua jurus tambahan Bie Lek Sin Kang
Anggota masrizki
Waktu 9 Juli
Bab Sebelum 6. Jilid 3.2 : Bentrok dengan Tjeng Hong Pay
Bab Sesudah 8. Jilid 4.2 : Jie In, ya Tabib ya Pelajar Menuntut Balas
Karya : Wu Lin Qiao Zi
Terdjemahan : Oey Kim Tiang
Jilid 4.1. Dua jurus tambahan Bie Lek Sin Kang

Habis bersantap. hari sudah lewat tengah- hari. Kiang Yauw Cong dan Tonghong Giok Koen mengajak Kang Yauw Hong berangkat, maka berpisahanlah mereka dari Ay-hong-sok dan In Gak. Nona Kang menepas air-matanya.

In Gak lantas mengatakan pada Kheng Hong bahwa ia ingin pulang kehotelnya buat beristirahat, lantaran ia letih dan ngantuk.
“Pergilah kau beristirahat” kata Ay-hong-sok tanpa curiga. “Aku belum minum cukup” Ia kembali keruangan makan. In Gak mengawasi sambil bersenyum. Seorang diri Ay-hong-sok minum sampai matahari doyong kebarat.

“Ah, heran itu bocah” pikirnya. “Dia tidur njenyak sekali” Lantas ia berbangkit, akan pergi kekamar orang. Ketika ia menolak daun pintu, ia mendapatkan kamar kosong. Diatas meja ada sehelai kertas. Ia ambil itu untuk dibaca. sekarang baru ia ketahui bahwa ia telah ditinggal pergi In Gak menjelaskan kenapa ia memisahkan diri, ialah lantaran Kheng Hong saudara angkat dari ayahnya dan tak merdeka untuk mereka berjalan bersama-sama . Kheng Hong menepuk meja.
“Setan cilik, kau berani menipu aku” bentaknya. Ia lantas berangkat kearah Shoasay, untuk mencari.

In Gak meninggalkan hotel bukan buat terus berangkat, ia hanya pindah kelain rumah penginapan yang terlebih kecil. Ia pun menjual kudanya. Ia tahu sudah baik, kalau ia pergi dengan menunggang kuda, ia gampang menarik perhatian umum. Ia mau berjalan kaki serta juga memotong jalan pegunungan.

Dihotelnya yang baru, ia lantas tidur, baru ia bangun sesudah sore. Terus ia dandan, untuk pergi keluar. setelah mencari keterangan, ia menuju ke Thian Cee Bio yang letaknya di utara, diluar kota, dekat Cio-kee-chung. Pula kuil itu berdiri mencil sendirian- Itulah sebuah kuil besar. Disitu sangat jarang ada orang. Ia berjalan cepat. Ia memakai topengnya. setibanya, langsung ia lompat naik kepayon, yang tingginya tujuh atau delapan tombak. Terus ia pergi ke pendopo.

Diatas kuil itu ada beberapa pos An Ceng Pay. Kecuali suara angin, kuil itu sunyi. Ia sengaja melintas didepan pos. Dengan menggunai tindakan Hian-thian Cit-seng-pou, ia bergerak sangat gesit, tubuhnya berkelebat seperti bayangan sampai mata penjaga pos kabur, seorang ngoceh sendirian: “Benar-benar aku melihat hantu, Rupanya kelelawar keluar membentur setan”

In Gak tertawa dalam hati. Ia maju terus, sampai dipendopo besar. Disini ia mendapatkan empat orang berdiri dimuka pendopo. Mereka membawa lentera yang mengeluarkan sinar kuning muda, yang saban-saban disorotkan keempat penjuru. Maka ia menjembunjikan dirinya. Ia mendengar suara orang didalam pendopo itu. Untuk mendapat dengar dan melihat dengan terang, ia mencari tempat dimana ia bisa berdiam tanpa terpergok.

Didalampendopo itu berkumpul kira2 tigapuluh orang, semua berduduk dibangku-bangku panjang. Dibangku kiri, kebetulan berbicara orang yang nomor tiga, seorang tua dengan jenggot- kumis panjang dan mukanya merah, yang matanya tajam.
Kata dia: “Sebenarnya kita pihak An Ceng Pay tidak bermusuhan dengan sipelajar luar biasa itu, maka itu tak perlunya kita mencari gara-gara, tetapi kita dengan pihak Ceng Hong Pay telah membuat janji, kalau ada musuhnya didalam daerah kita, mesti kita membantu padanya. Demikianlah kita mendapat permintaan dari Ceng Hong Pay itu, hanya kali ini dari cabangnya. sebenarnya kita dapat menolak, sebab permintaan bukan langsung dari Paycoe Pok Hong. Sekarang kebetulan hadir seorang cianpwee dari pihak kita, harus kita mendengar suaranya. Ialah Loocianpwee Kioe-sin Soh Cian Lie.”

Dari bangku kanan, seorang tua, yang rambut dan kumisnya sudah putih lantas berkata:”Ooh, loocianpwee itu muncul pula? sepuluh tahun sudah ia tak pernah terlihat dalam dunia Kang-ouw, aku kira ia telah berdiam digunung dan tidak bakal keluar pula. Aku dengar ia liehay ilmu silatnya terutama ilmu silat Lo- auw sat- kang. Kalau pukulan itu mengenai tubuh, lantas ketinggalan tapak tangannya yang hitam dan anggauta-anggauta tubuh bagian dalam lantas rusak-hancur, sekarang ia muncul pula, mesti ia menjadi terlebih liehay lagi”

Mendengar itu, In Gak bercekat hati. Ia berpikir: Bukankah dia orang yang mencelakai ibuku? Kalau benar, hmm.. Tak dapat dia lolos dari tanganku, ia mendengari terus.

“Benarlah Cio Loosoe banyak pendengarannya” kata orang tua yang pertama. “Tidak kecewa Loosoe menjadi salah satu dari Yan-san soe-lo” Ia berdiam sebentar, untuk melanjuti: “Dalam urusan ini paycoe berniat menampik, tetapi Soh Loocianpwee menganjurinya menerima seraya dia bersedia melayani sipelajar aneh itu. Hanya heran, sampai disaat ini, dia masih belum muncul”

“Mungkin dia bakal segera tiba,” berkata orang tua she Cio itu “Hanya sipelajar aneh, dia pun masih belum datang sampai waktu begini. Apakah boleh jadi warta yang dikirim telah tidak sampai kepada alamatnya?”

“Hm” bersuara si orang tua muka merah dan jenggot panjang. “Jikalau pihak Kay Pang berani main gila, aku si orang tua nanti mengubrak-abrik sarangnya yang butut”

“Besar sekali mulutnya orang tua ini” pikir In Gak. “Kenapa dalam Rimba Persilatan, semua orang begini jumawa?”
Belum berhenti si anak muda berpikir maka disana terlihat seorang lari masuk kependopo besar, kepada si orang tua muka merah itu ia memberi laporan: “Tongcoe, Soh Loocianpwee telah tiba”

Orang tua muka merah itu mengasi dengar suara tanda tahu, lantas dia berbangkit, untuk terus bertindak keluar. Semua orang lainnya mengikuti. Maka dilain saat, mereka sudah mengiringi masuk seorang tua muka keriputan.

In Gak mengawasi orang tua itu, dalam hatinya ia kata: “Kiranya dia dijuluki Kioe-sin sebab benar-benar mukanya mirip sekali”
Kioe-sin si Merpati sakti mengenakan baju warna biru, kepalanya hampir lanang, tinggal hanya dua tumpuk dipinggiran telinganya. Karena giginya dikedua pinggiran sudah copot, dia menjadi kempot hingga mulutnya mirip patuk burung dara. Sepasang matanya kecil tetapi bersinar tajam. Nampaknya dia licin- Ditangannya dia memegang sebatang hoencwee atau pipa panjang.

Selagi mengawasi hoencwee itu, hati In Gak bercekat, lantas darahnya mendidih. Ia melihat tangan orang ada dua jerijinya yang lebih.
Kioe-sin Soh Cian Lie sudah lantas duduk gembira menghisap hoencwee, dia nampak jumawa sekali.
“Lauw Tongcoe,” dia kata pada si orang tua muka merah, “Apakah itu bocah belum tiba?”

Belum habis perkataannya orang yang sikapnya sangat jumawa ini, mendadak dia merasai tangannya bergetar, lantas hoencwee ditangannya itu lenyap tanpa sayap. Begitu dia mengangkat kepalanya, didepannya terlihat seorang muda dengan pakaian hitam, yang mukanya beroman luar biasa. Apa yang aneh, orang tahu-tahu sudah berada didepannya itu serta tangannya mencekal pipa panjang kepunyaannya itu, si orang muda yang mengawasi ia dengan tajam, dua kali tertawa dingin, semua orang menjadi heran.

Soh Cian Lie menjadi pucat mukanya, lantas itu berubah menjadi guram. Cuma sejenak dia memandang si anak muda, tiba-tiba tubuhnya mencelat bangun dari bangku panjang, sambil berlompat itu kedua tangannya menyambar kepada si anak muda, guna merampas pulang pipa panjangnya. Dalam heran dan murkanya, ingin ia merampas hoencweenya itu.

Belum lagi Kioe-sin sampai kepada si anak muda, tubuh si anak muda sendiri sudah mencelat kedepannya si orang tua dengan muka merah, dari mana ia mengawasi si Merpati sakti. Dia menjadi kecele, tetapi sekarang dia tidak berlompat pulang, untuk mengulangi percobaannya, hanya dia berdiri diam, dia tertawa dingin dengan matanya menatap tajam kepada perampas pipa panjang itu.

“Lauw Tongcoe,” berkata si orang muda kepada si orang tua muka merah itu, yang dipanggil tongcoe, atau ketua bahagian, ia bicara dengan dibikin ayal-ayalan “Ada urusan apakah kau mengundang tuan mudamu?”

Orang tua dengan muka merah dan jenggot panjang itu adalah ketua bahagian cabang di Cio-kee-chung dari An Ceng Pay, dia she Lauw bernama Hay, gelarannya jalah Lauw-hay-kauw si Ular naga Pengacau Laut. Ditanya si anak muda, dia terguguh hingga dia berdiam saja.

“Apakah tuanyalah orang yang tadi malam sudah..” tanyanya sukar.
“Tidak salah” menyahut si anak muda getas. “Tuan muda kamu ini ialah yang tadi malam sudah menjadi musuhnya Ceng Hong Pay. Ada sangkutan apakah urusan kita itu dengan kamu dari An Ceng Pay?”

Lauw Hay menjadi likat sekali. Memang benar kata-kata si anak muda, tidak ada perlunya untuk An Ceng Pay membantu Ceng Hong Pay dalam urusan seperti itu. Hanyalah, sebagai tongcoe, dia besar hatinya, dia dapat segera mengendalikan diri. Maka dia tertawa lebar.
“Kau telah menerbitkan onar dalam daerah pengaruh An Ceng Pay” bentaknya. “Kami berhak untuk mencampuri-tahu urusan itu”

“Prak,” demikian suatu suara nyaring, dari ditepuknya meja suci disamping si anak muda ditepuk oleh anak muda itu, yang tertawa berkakak. nadanya mengejek. ”Angin busuk! Negara ini negara raya, hak apa An Ceng Pay mempunyai maka kamu berani melarang? An Ceng Pay bukannya pembesar negeri, bahkan dialah suatu perkumpulan bangsat- bangsat yang jahat orang she Lauw, jikalau kau masih ngaco dengan kejumawaanmu maka heranlah andaikata tuan muda kau tidak menghajar padamu”

Meja pujaan malaikat itu, lantaran ditepuk, telah mendapatkan tanda telapakan tangan bagaikan diukir. Itulah tanda dari tenaga dalam yang liehay. Maka itu, melihat demikian, semua orang menjadi tercengang, hingga ada yang menyedot hawa dingin atau menggigil sendirinya. Soh Cian Lie sendiri berdiam sambil mengerutkan alis, tak dapat dia mengucapkan sesuatu.

Anak muda itu menepuk dengan tenaga biasa saja, apabila ia mengerahkan tenaganya, pastilah meja itu ringsak atau pecah bolong dibagian yang terhajar itu.
Orang tua she Ciotadi lantas bertindak menghampirkan, ia memberi hormat dengan merangkap kedua tangannya, sembari tertawa ia berkata:
“Siauwhiap, mari duduk. Untuk kita berbicara dengan perlahan-lahan. “

“Sebenarnya semua hadirin disini mengagumi padamu, maka juga mereka datang berkumpul untuk dapat memandang dan aku Cio Cin Thian yang tua, yang disini membuka rumah perguruan, lantaran sangat kagum, dengan tergesa-gesa aku datang kemari, untuk belajar kenal, untuk bersahabat. Dalam hal ini, Lauw Tongcoe tidak dapat dipersalahkan oleh karena dia lagi menjalankan tugas, dari itu aku mohon siauwhiap suka memaafkannya.”

“Cio Loosoe, berat kata-katamu ini” berkata si anak muda tertawa. “Sekarang aku cuma hendak bertanya, Lauw Tongcoe hendak mengambil keputusan apa?”
Lauw Ha y hendak menjawab, atau Soh Cian Lie telah mendahului dia sembari tertawa aneh, Kioe-sin berkata: “Bocah, keputusan apa hendak diambil, kau baik menanyakan saja aku si orang tua”

Si anak muda berpaling. Dengan dingin ia berkata: “Soh Cian Lie, jangan kau terlalu mengandalkan ilmu silatmu yang dinamakan Lo-auw sat-kang dan menganggapnya kepandaian itu tanpa tanding. Dimata tuan muda kamu, kepandaianmu itu tidak ada artinya, tetapi jikalau tanganmu sudah gatal, kau tunggu dulu sampai urusanku dengan An Ceng Pay sudah selesai, sebentar kita menc ari satu tempat sepi dimana tidak ada lain orang, untuk kita main-main”

Cian Lie kaget, hingga hatinya terkesiap. Ilmusilatnya itu pernah digunai hanya tiga kali, dan selama lima belas tahun yang paling belakang belum pernah dipakai lagi. Kenapa si anak muda mengetahuinya?
Si anak muda lantas menatap Lauw Hay, ia berdiam tetapi la agaknya menanti jawaban, Lauw-hay-kauw juga mengawasi, akhirnya terpaksa ia memberikan penyahutannya.

“Menurut aturan Rimba Persilatan, yang menang ialah yang benar,” katanya, “Maka itu sekarang, tidak ada perlunya untuk banyak omong lagi silakan pergi keluar pendopo ini, untuk aku minta pengajaran dari kau. Umpama kata aku si orang she Lauw tidak dapat kemenangan, maka selanjutnya, buat selama-lamanya, partaiku tak akan mencampuri pula urusan ini”

“Baiklah, begitu janji kita” kata si anak muda tertawa. Lantas ia memutar tubuhnya untuk mendahului pergi keluar pendopo.
Diluar pendopo, itu ada sebuah tempat pemujaan terbuat dari batu lebar duapuluh tombak lebih, disitu telah dipasang empat batang lilin besar, yang memberi penerangan luas kepelbagai penjuru.

Lauw Hay muncul bersama delapan kawannya.Yang lain-lain berada ditempatnya
masing-masing. Ia merasa sulit karena pertanyaannya si anak muda kenapa dia dari An Ceng Pay mencampuri urusan Ceng Hong Pay. Dilain pihak. dia ingin sekali melihat kepandaiannya Kioe-sin Soh Cian Lie.
“Siauwhiap. Silakan” ia berkata, terpaksa, sambil tertawa dan merangkap kedua tangannya.

Si anak muda tidak lantas menyerang, ia telah mengambil keputusannya. Tidak ingin ia menanam bibit permusuhan.
“Lauw Tongcoe,” katanya tertawa, “Karena kita tidak bermusuhan, siapa pun terluka dalam pertempuran ini, buat kedua pihak sama tidak baiknya, dari itu aku pikir baik kita mengatur begini saja: kita sama-sama menggunai kegesitan kita. Tongcoe boleh menyerang aku, selama tigapuluh jurus, asal tongcoe dapat menowel bajuku, kaulah yang menang, nanti aku turut kau pergi menemui pangcoe kamu yang terhormat. Jikalau tongcoe tidak dapat menowel bajuku, anggaplah kita seri. Bagaimana?”

“Kau terlalu jumawa” pikir Lauw Hay. “Dengan mengandalkan latihanku limapuluh tahun, jikalau aku dalam tempo tigapuluh jurus tidak dapat melanggar bajumu, itulah terlalu lucu.”
Meski demikian, ia bersenyum. Ia kata: “Kaulah yang menghendaki ini, siauwhiap. baik, aku menerimanya Kau jaga, aku mau lantas mulai”

Si anak muda bersenyum, ia seperti tidak menghiraukan sesuatu.
Lauw Hay segera membuktikan perkataannya. Ia menyerang dengan dua-dua tangannya, dalam sikap Jit-goat-jip-hoay atau Matahari dan bulan terangkul. Dengan begitu ia mengancam dari kiri dan kanan, untuk mencegah orang berkelit kekedua samping. Ia girang sekali, sebab ia merasa pasti akan berhasil.

Tepat kira2 dua dim lagi, tangannya bakal mengenai ujung baju luar, mendadak tubuh si anak muda melesat, bagaikan bayangan- tubuh itu menghilang, hingga kedua tangannya beradu satu dengan lain. ia masih melihat tubuh si anak muda, atau mendadak dia lenyap pula dari depan matanya, Itulah ilmu ringan tubuh yang sangat mahir.

Tanpa merasa, ketua cabang An Ceng Pay ini mengeluarkan peluh dingin. Tapi, dalam herannya, ia menjadi penasaran, maka itu, ia lantas mengulangi serangannya. Ketika ini pun gagal, ia mengulangi terus-terusan, sampai belasan jurus.

Aneh anak muda itu. Tubuhnya saban-saban berkelebat, setiap kalinya dia bebas dari serangannya. Dia gesit luar biasa. Maka setelah belasan jurus yang dahsyat itu, ketua cabang An Ceng Pay itu sendiri yang matanya menjadi kabur dan kepalanya pusing

“Celaka” pikirnya Lauw-hay-kauw achirnya. Lawan bagaikan hantu, kalau ia mencoba terus-terusan, ia bisa roboh sendirinya saking letih. Ia lantas memikir buat menggunai siasat berlompat. inilah tipu silat Leng-khong-pak-kie yaitu menerkam dari udara, inilah cara yang berbahaya,yang dipandang sebagai pantangan. Cuma dalam keadaan terpaksa, orang suka menggunai itu. Dengan berlompat, tubuh menjadi seperti kosong. Yang diandalkan cuma kesebatan, untuk menang tempo. Ia berani mencoba ini sebab sianak muda sudah berjanji tidak akan membalas. Maka mendadak ia berhenti menyerang, dengan tajam ia mengawasi.

Si anak muda pun berdiam seraya memasang mata, agaknya ia menduga-duga apa yang bakal dilakukan lawannya. Justeru ia berdiam, justeru ia diserang. Sambil berseru nyaring Lauw Hay berlompat tinggi, untuk menubruk, kedua tangannya diulur panjang-panjang, sepuluh jarinya mengancam bagaikan kuku-kuku tajam. Arahnya jalah kedua pundak lawan.

Si anak muda tidak menjadi kaget dengan terjangan dari udara itu, sebaliknya dia tertawa berkakak, sangat gesit seperti tadi, dia telah berkelit, maka juga ketua cabang An Ceng Pay itu menjadi menubruk tempat kosong. Tepat ketika kedua kakinya menginjak tanah, ia melihat si anak muda berdiri sambil tertawa didepannya.

Dengan gerakan yang serupa anak muda itu meloloskan diri. Ia hanya berlompat tinggi untuk berkelit, lalu ia menyusul turun didepan Lauw-hay-kauw, si Ular naga Pengacau Laut, orang menjadi kagum, sorak-sorai adalah pujian mereka.

Soh Cian Lie berada diantara para hadirin, air mukanya nampak guram.
Baru sekarang Lauw Hay merasa si anak muda bukan sembarang orang. Ia berhenti menyerang lebih jauh, ia memberi hormat, sembari tertawa ia kata dengan jujur: “Tuan, kau sangat liehay, aku si orang she Lauw menyerah kalah. sekarang juga aku meminta diri. Jikalau kau sudi, begitu ada ketikanya harap kau sudi berkunjung ketempat kami.”

Si anak muda tertawa.
“Lauw Tongcoe,” katanya, “Tanpa bertempur tidaklah kita berkenalan Baiklah, lain hari aku akan berkunjung kepada tuan.”
Lantas ia menoleh kepada Soh Cian Lie, untuk berkata dengan nyaring. Beda daripada menghadapi Lauw Hay, kali ini ia berlaku bengis.
“Soh Cian Lie, sekaranglah giliran kita mengambil keputusan” demikian katanya.

Dengan hoencwee ditangannya, tak hentinya tangannya itu diputar-putar.
Muka Soh Cian Lie menjadi merah-padam. Terang ia tengah diperhina. Maka ia tertawa bergelak. untuk mengejek. Selagi tertawa itu, tubuhnya berlompat maju, untuk menj erang dengan dahsyat.

Si anak muda tidak menyambuti serangan- Dengan menggeser kaki, ia berkelit. Adalah setelah berkelit ini, terus sembari berputar ia menyerang, menotok kejalan darah siauw- kok.
Jalan darah itu berada dibelakang telapakan tangan- Dengan lantas Soh Cian Lie merasai belakang tangannya itu kaku, saking kaget, ia lompat mundur, matanya menatap anak muda itu, dalam hatinya ia kata: “Benar-benar aneh gerakannya, bocah ini”

Si anak muda tidak maju menyerang, ia tertawa dan kata: “Soh Cian Lie, mari kita mencari tempat yang sepi dimana kita boleh melanjuti pertempuran kita, untuk mengadu jiwa, siapa mati siapa hidup”
Belum lagi orang she Soh itu menyahuti, Lauw Hay menyelak dengan berkata: “Jikalau tuan-tuan tidak sudi kami melihat pertandingan kamu, baiklah, kami akan mengundurkan diri”
“Bagus” si anak muda menyahut tertawa.

Lauw Hay benar-benar menyingkir bersama rombongannya, hingga disitu tinggal empat batang lilinnya yang besar.
“Siluman burung merpati” si anak muda berseru dengan nada suara berat, “Sekarang dapatlah kau menggunai ilmu silatmu yang liehay, Lo-auw sat-kang, Tuanmu yang muda ingin belajar kenal dengan kepandaianmu itu”

Kemurkaannya Soh Cian Lie meluap dari takarannya, dengan sebat luar biasa, dia
berlompat maju, untuk menyerang. Dia benar hebat, tubuhnya berputar sangat pesat.
Si anak muda menduga kepada ilmu silat Bie- lie Hian-heng-ciang, dengan itu orang dapat membuat tubuhnya tampak samar2. ia tidak kenal ilmu silat itu, ia cuma pernah mendengar. ia mendapat kenyataan, benarlah ilmu itu liehay sekali. Untuk melayani ia bersiul panjang, tubuhnya mencelat tinggi. Inilah jurus sin- liong soan- khong atau Naga sakti berputaran diudara.

Perlawanan semacam itu membikin Soh Cian Lie terperanjat, selagi berkelit, ia lantas ingat satu orang, Maka itu begitu berkelit, ia menanya dengan bengis: “Kau pernah apa dengan Twie-hoen-poan Cia Boen?”
Anak muda itu tertawa terbahak. Ia tengah mencoba, nyata ia berhasil.
“Merpati siluman, matamu benar tajam” katanya. Lalu menambahkan, dia menjadi bersikap bengis: “Tuan mudamu ini turunan dari Twie-hoen-poan. Kau lihatlah, malam ini kau bisa lolos atau tidak dari ilmu silatku Kauw-cap-cit-sie Hoei-liong-ciang”

Benar-benar Soh Cian Lie kaget, hingga gentarlah hatinya. Tapi ia tidak takut, ia lantas tertawa dingin dan berkata: “Dulu hari itu, Twie-hoen-poan menjadi arwah berkeliaran dari aku, maka kau, berapa tinggikah kepandaianmu hingga kau berani bertingkah jumawa sebagai ini?”
Sekarang si anak muda telah memperoleh kepastian ia benar lagi menghadapi musuh ayahnya, tidak mau ia bicara pula, dengan lantas ia menyerang, tubuhnya berlompat tinggi. Ia menggunai jurus Naga dimega menggunai kukunya.

Ilmu silat Hoei-liong-tiang dari Cia Boen itu, yang terdiri dari sembilanpuluh-tujuh jurus (kauw-cap-cit-sie) terdiri dari jurus-jurus yang dilakukannya sambil berlompat tinggi, jadi tepat dengan namanya pukulan Naga Terbang (Hoei-liong-ciang). setiap kali habis berlompat, begitu menginjak tanah, kedua kaki menjejak pula, untuk berlompat lagi, sedang kedua tangan bergerak-gerak bagaikan kuku.

Soh Cian Lie tetap melayani dengan Bie-lie Yauw Hian Ciang, tapi saban-saban ia mesti berdongak akan melihat musuhnya. satu- dua kali masih tidak apa, setelah diserang terus-menerus, ia menjadi berkuatir juga. Itulah berbahaya untuknya. Pikirnya: “Celaka aku bisa-bisa aku terpedayakan anak muda ini”

Begitu berpikir, ia berlompat melesat, sebab justeru ia diserang dengan jurus Naga emas mengeluarkan kuku. Ia bebas tetapi segumpal rambutnya kena tertarik. Ketika ia berlompat, ia disusul si anak muda, hanya kali ini anak muda itu tidak mengulangi serangannya, dia melainkan menatap tajam, sikapnya memandang tak mata.

Soh Cian Lie juga mengawasi tajam, bahkan ia memusatkan perhatiannya. sinar matanya bengis, kedua tangannya dipentang, semua jerijinya ditekuk. Dari embun-embunannya mengepul uap putih. Mukanya yang pucat membikin ia mirip dengan mayat yang baru dibongkar dari liang kubur

Si anak muda lantas menduga: Dia tentu mau menggunai Lo-auw sat-kang. Baiklah, aku pancing padanya. Ia lantas mundur, setindak demi setindak. Kedua tangan orang she Soh itu mengeluarkan hawa yang panas.
Terus si anak muda mundur, sampai diloneng dari tempat pemujaan- Baru disini,
lantaran tidak ada tempat mundur lagi, ia tidak mundur lebih jauh. Ia berdiri tegak. matanya mengawasi musuh.

Soh Cian Lie maju terus. Ia menyangka si anak muda jeri. Ia menjeringai, hingga ia nampak bengis dan tak sedap untuk dipandang. ia maju sampai ia terpisah dua tindak darisianak muda, sekonjong-konjong kerongkongannya mengasi dengar suara nyaring dan bengis, terus tubuhnya bergerak. untuk dengan kedua telapakan tangannya menyerang kedada.

Si anak muda mendak dengan sebat.
Serangan Cian Lie tidak dapat ditarik pulang lagi, maka dengan satu suara keras, loneng batu kena terhajar, sampai muncratlah lelatu apinya. Akibatnya itu ialah berbekasnya dua tapak tangan, diantaranya ada tapak tujuh buah jeriji. Kedua tapak itu tampak lebih besar, suatu bukti pukulan Lo-auw sat-kang itu dengan sendirinya menyebabkan kedua tangan menjadi melar.

Si anak muda mendak bukan untuk mendak belaka. Dengan sebat ia menggeser tubuhnya kebelakang lawan. Dari sinilah ia melihat tapak tangan itu, hingga darahnya bagaikan bergolak. Itulah tapak yang sama benar dengan yang terdapat pada tubuh ibunya, maka terbuktilah, ini orang liehay ialah musuh besarnya. sejenak itu, sinar matanya bagaikan menyala.

Soh Cian Lie merasa bahwa bahaya mengancam ia karena gagalnya serangan itu Dengan sendirinya ia menjejak tanah, untuk berlompat menjauhkan diri setombak lebih, setelah mana segera ia memutar tubuhnya, untuk bersiap andaikata lawannya menyerang padanya. Ia melihat si anak muda tidak berlompat hanya maju satu tindak demi satu tindak.

lantas ia mendengar pertanyaan yang berat dan seram terdengarnya:
“Apakah kau si anjing tua yang dulu hari telah membinasakan seorang wanita yang lemah yang tak kuat sekalipun mengikat ayam didusun nelayan ditepi sungai Kee Leng?”

Benar-benar Soh Cian Lie besar nyalinya.
“Tidak salah” dia mengaku terus-terang. Ketika itu beruntung sekali Cia Boen si bocah telah dapat menyembunyikan dirinya. Dia tidak melainkan memberikan jawabannya, sambil berkata-kata itu dia terus mengerahkan tenaganya, untuk menyerang pula dengan Lo-auw sat-kang, pukulan dari kematiannya itu, bahkan kali ini ia menggunai tenaga yang berlebihan- Maka itu hawa yang panas segera menyerang si anak muda.

Si anak muda tertawa perlahan, dingin nadanya. Ia tidak berkelit atau menangkis, ia malah menyambuti serangan yang berbahaya itu.
Untuk terkejutnya orang she Soh itu, ia mendapatkan serangannya itu tertolak mundur dengan keras, dan selagi ia kaget itu, hingga ia belum sempat memikir apa-apa, ia merasakan matanya menjadi gelap. berbareng dengan mana, tubuhnya tergempur hebat sekali. Tidak tempo lagi, ia terpental mundur, jatuh menimpa undakan tangga batu. Ia mempunyai tenaga dalam yang mahir, begitu roboh, meskipun ia mengeluarkan suara tertahan, ia dapat segera mencelat bangun dengan gerakan ikan gabus meletik, Hanya ia mencelat bukan untuk menghadapi pula lawannya,yang ia tadi pandang enteng, hanya ia berniat menyingkirkan diri.

Si anak muda berlaku awas gesit luar biasa. Ia mencelat maju, untuk menguber. Nyata ia dapat bergerak lebih pesat lagi. Waktu ia mengulur kedua tangannya, bagaikan kilat cepatnya, ia dapat menyamber kedua pundak Cian Lie. Maka itu, disitu terdengarlah suara meretek yang mengakibatkan kedua tangan Kioe-sin si Merpati sakti menjadi mereyot turun bagaikan daun pintu terlepas engselnya.

Si anak muda tidak berhenti sampai disitu. Dengan kesebatan luar biasa, ia menyerang pula dengan pelbagai totokan, mengenakan sembilan jalan darah, hingga dalam sekejap itu juga, Soh Cian Lie tidak dapat bergeming lagi, jidatnya mengeteskan peluh sebesar-sebesar kacang kedele, dan mukanya mengkerut, tandanya dia merasa nyeri tak terhingga, sama sekali tak dapat dia mengeluarkan suaranya.

Walaupun keadaan dan roman orang demikian rupa itu, si anak muda. sedikitpun tidak mengasi lihat roman berkasihan, sebaliknya dengan tertawa dingin la berkata:
“Soh Cian Lie, hendak aku membuat kau mati dengan terang dan jelas. Aku beritahu kepadamu, tuan mudamu ini ialah turunan dari Cia Boen serangan ini ialah serangan ilmu silat Cit-jit souw-im Toan-hoen, artinya, dalam tempo tujuh hari jiwamu bakal dibikin putus. Walaupun malaikat turun kedunia, kau tak nanti terbebas dari totokanku ini. Baik kau ketahui, tuan mudamu berniat agar kau mati perlahan-perlahan, sebab tidak demikian, maka sakit hatiku ini sukar untuk dibikin lampias”

Kata-kata ini diachirkan dengan kesebatan- Dengan hanya satu gerakan berkelebat, lenyaplah tubuh si anak muda. suasana pun menjadi sunji sekali, kecuali suara menjereces perlahan dari keempat batang lilin besar yang hampir habis. suara itu juga hanya sebentar, lantas lenyap, lantas padam sang api, hingga tinggal nyala benang sumbuhnya. Atau dilain saat, gelap- gulitalah seluruh kuil itu.
Matahari baru muncul ketika dijalan kecil diantara Hoo-kan dan Jim-kioe terlihat seorang anak muda lagi berjalan dengan tindakan perlahan. Dialah seorang pelajar yang tampan, yang tangannya mencekal sebuah kipas, Nampaknya dia bertindak perlahan, tetapi buktinya, sebentar saja dia sudah melintasi tiga sampai limapuluh tombak.

Pemuda itu bukan lain daripada si pelajar yang luar biasa, jalah Cia In Gak alias Gan Gak. Memang ia sengaja mengambil jalan kecil itu untuk menuju kekota raja, lantaran ia tidak ingin menarik perhatian umum. Ia mengambil tepian sungai Houw To Hoo, yang menuju ke ibukota kewedanan Hoo-kan.
Jalan kecil itu menuju ke Jim-kioe, terus ke Pa-koan dan dan Kouw-an, lalu ke Hong-tay, untuk memasuki kota raja.

Ketika tadi malam habis membunuh Soh Cian Lie, ia kembali kehotelnya untuk mengambil buntalannya, diwaktu fajar ia berangkat, maka beradalah ia dalam perjalanan itu Ketika ia sudah melintasi kota Hoo-kan, ditempat duapuluh lie lebih dimana ada pepohonan tua yang lebat, ia mendapatkan sebuah dusun kecil. Itulah dusun Jie cap lie-pou yang menuju ke Jim-kioe, maka itu, walaupun tempatnya kecil, lalu- lintasnya ramai, tak sedikit kuda dan kereta kaum saudagar yang mundar- mandir.

Setibanya disitu, In Gak memasuki sebuah rumah makan yang merangkap penginapan- ia mendapatkan sudah ada banyak juga orang duduk bersantap. Ia mencari meja yang masih kosong. Ia lantas dilayani seorang tua yang rambut dan kumisnya ubanan, yang mukanya kuning dan tak hentinya batuk-batuk. sedang suaranya pun serak. Disamping itu, dia mempunyai sepasang mata yang tajam.

“Tuan ingin dahar apa?” tanya orang tua itu ramah-tamah.
“Aku habis jalan satu malaman, aku lapar, aku dapat dahar apa saja barang makanan yang tersedia,” sahut In Gak tertawa. “Tak usah loojinkee susah-susah menyiapkannya.”
“Begitu? Baiklah” kata empee itu yang terus berpaling kedalam, untuk berkata-kata dengan suaranya yang serak:
“Anak Wan, mari bawa bahpauw, poci arak dan daging untuk seorang tetamu kita ini”

“Ya, yaya” menyahut satu suara halus dari dalam, suaranya seorang nona.
“Tuan, duduklah sebentar” kata si empee tertawa kepada tetamunya.
“Cucuku akan segera datang dengan barang makanannya, Dia dapat menyalakan api dengan cepat”
Ia memandang tetamunya, ia bersenyum, lantas ia pergi kekursi bambu dipinggiran tembok. untuk duduk sambil meramkan mata, rupanya untuk beristirahat. Barusan ia masih batuk-batuk dua kali.

Sambil berduduk. In Gak memandang kearah semua tetamu. Rupanya mereka itu semua saudagar-saudagar hasil bumi. Ia melihat dua tetamu usia lebih- kurang empat puluh tahun, yang alisnya tebal, matania besar, dan pakaiannya singsat, sedang dipunggungnya tergendol golok. Anehnya sembari minum mereka saban-saban mengawasi si orang tua, mereka pun memperlihatkan senyuman dingin. ia heran hingga ia jadi bercuriga.

Mungkinkah orang tua ini orang Rimba Persilatan dan mereka ini datang kemari
mengandung suatu maksud? ia menduga-duga. Tengah ia berpikir itu, mendadak telinganya mendengar: “Yaya, ini barang hidangan, yang harus dimakan panas-panas, kalau sudah dingin, nanti tak lezat didaharnya”
Dan suara itu pun halus.

Begitu ia menoleh, In Gak melihat seorang nona umur empat- atau lima belas tahun. Benar dia mengenakan pakaian kain kasar, tetapi kecantikannya tak jadi lenyap karenanya. Dipandang si anak muda, dia agaknya likat, tapi matanya yang jeli mengawasi anak muda itu. Ditangannya ada penampan terisi barang makanan yang masih mengepulkan asap. Hanya sekejab, lekas dia meletaki penampannya itu, lalu dengan air muka bersemu dadu, cepat-cepat dia masuk kedalam, sambil tunduk dan bersenyum.

“Dia cantik sekali,” pikir In Gak. Tapi ia tidak dapat berpikir lama. Telinganya lantas mendengar satu diantara dua tetamu usia pertengahan itu berkata kepada kawannya.
“Lao Toa, aku tidak sangka sekali ini tua bangka berpenyakitan mempunyai seorang cucu wanita demikian elok dan manis”

“Hm Kembali penyakitmu kumat” kata sang kawan. “Tunggulah sebentar, sampai tibanya Tong-san Jie-niauw Kenapa mesti terburu napsu?”
In Gak heran, lantas ia bersenyum ewah. Bukankah dua orang itu bicara dari hal si nona? Kata ia dalam hatinya: Aku ada disini Kau lihat saja Ia menduga dua orang itu bangsa kurcaci.

Si orang tua pun dapat mendengar kata-kata orang itu. Mulanya ia terkejut, ia mengawasi mereka. Cuma sebentar, ia meram pula. Tapi barusan In Gak melihat mata yang bersinar, sedikitpun tidak ada tandanya sinar mata orang lagi sakit
sekian lama si orang tua rebah, mulanya masih terdengar batuknya, lalu ia berdiam saja, rupanya ia sudah kepulasan. Para tetamu bergantian melanjuti perjalanan mereka, masing-masing setelah meletaki saja uang diatas meja.

Paling akhir, karena tidak ada tetamu yang baru, disitu tinggal In Gak berdua dua tetamu yang mencurigai itu. Mereka berdua minum dengan hati tak tenang, mata mereka terus celingukan, mulut mereka mengoceh dan mengutuk.

Tidak antara lama, dari dalam terlihat lari keluarnya seorang bocah umur kira2 tujuh tahun. Dia beroman tampan dan manis. Kedua matanya besar dan jeli, biji matanya hitam dan terang. Dia mendatangi sambil tak hentinya berteriakan “Yaya.. Yaya” memanggil kakeknya. Menyusul dia terlihat si nona tadi. Ketika nona itu mendapatkan si anak muda belum pergi, dia likat, dia mengendorkan larinya.

Si orang tua dibikin mendusin oleh suara berisik cucunya, dia membuka matanya dan memeluk cucu itu, sembari tertawa dia berkata: “Anak Ceng, bukankah kau berbuat nakal pula hingga kau membuatnya kakakmu gusar?”
“Tidak, yaya, anak Ceng tidak nakal” menyahut anak itu sambil mengawasi kakeknya, mulutnya dibikin monyong. “Ceng cuma makan sepotong bahpauw, enci gusar, dia mau merangket tanganku Lihat yaya, bukankah encie galak? “

Orang tua itu girang, dia tertawa lebar, suaranya nyaring. si nona lantas menghampirkan.
“Yaya, batukmu belum sembuh, mengapa kau tertawa?” katanya, setelah mana, ia tarik si bocah.
Si empee menghela napas, lantas ia meram pula.

Dua tetamu itu agak terkejut mendengar suara tertawa si empee. Justeru itu
dari kejauhan terdengar siulan panjang, yang mendatangi, lalu tertampak munculnya empat orang. Mereka datang demikian lekas, suatu tanda mereka mahir ilmu ringan tubuh. Pula barusan, tindakan kaki mereka tidak menjebabkan mengepulnya debu.
Melihat empat orang itu, si nona terperanjat, mukanya menjadi pucat. Tanpa merasa, dia mundur kedekat meja In Gak.

“Nona, mari kasikan adikmu padaku” kata si anak muda tertawa.
Nona itu menoleh, nampaknya dia berduka, tetapi dia menyerahkan adiknya itu seraya berkata: “Paman, paling baik kau ajak adikku ini sembunyi didalam. Mereka itu orang-orang jahat, mereka datang untuk kakekku, mungkin mereka hendak melakukan kejahatan”

In Gak menggoyang kepala, ia tertawa.
“Jangan kuatir,” ia menghibur.” Asal nona sendiri menjaga dirimu baik-baik”
Nona itu tertawa. Dengan sekali menggeraki tubuhnya, segera ia berada dibelakang kursinya si orang tua. orang tua itu sendiri terus merapatkan matanya, ia seperti tidak ketahui adanya ancaman badai dan hujan lebat.

Empat orang itu sudah lantas berdiri berbaris didepan kursi si orang tua terpisah hanya lima kaki, semua dengan tertawa menyeringai mengawasi orang tua itu, tatkala si nona pergi kebelakang kursi, air muka mereka pada berubah menjadi guram dan bengis. Dua diantaranya mencekal keras golok mereka, agaknya mereka takut si orang tua nanti menyerang mereka secara tiba-tiba.

“He, Hoe Liok Koan” kemudian menegur orang yang satu, yang tubuhnya jangkung-kurus, “Jangan kau berpura-pura mampus. Kau ketahui aku Ho Tek Pioe, sudah lima tahun lamanya mencari kau. Baiklah kau tahu diri sedikit, lekas kau keluarkan kitab ilmu silat itu, dengan begitu aku masih dapat memberi ampun kepada selembar jiwamu”

Sekonyong-konyong saja si orang tua berseru nyaring bagaikan guntur, sembari berseru itu kedua matanya dipentang dan tubuhnya mencelat, dengan kedua tangannya yang diajukan kedepan, ia menyerang keempat orang itu.

Inilah tidak disangka sekali, maka mereka itu terkejut, meskipun mereka dapat berkelit mundur, tubuh mereka toh terhuyung.
Setelah itu si orang tua memisahkan diri dua tombak. dengaa sorot mata gusar ia mengawasi Ho Tek Pioe berempat itu.
Si nona terkejut, tetapi dia lantas bekerja, dengan berlompat kebelakang si orang she Ho, dia menyerang.
Ho Tek Pioe mendengar suara angin dibelakangnya, ia memutar tubuh, ia menangkis dengan kedua tangannya. si nona cerdik dan gesit, selagi ditangkis itu, hingga tangan mereka berdua bentrok. la meneruskan untuk berlompat jumpalitan, dengan begitu ia turun pula dibelakang si orang tua, kakeknya itu.

Menampak sepak-terjang si nona, si orang tua kelihatan gusar.
“Wan-jie, mengapa kau lancang turun tangan?” dia menegur. “Lebih baik kau melindungi Ceng-jie”
“Ya y a” menyahut si nona, air matanya mengembeng.
“Kenapa kau tidak dengar kata?” membentak pula si orang tua, matanya menatap tajam. “Lekas”
Menyusul itu, kerongkongan orang tua ini mengasi dengar suara serak. lalu itu disusul dengan batuk-batuk.

Nona itu terpaksa, dengan berduka ia menggeser tubuhnya kedepan In Gak.
Si bocah,yang dipanggil Ceng-jie, tak hentinya memanggil paman kepada In Gak dan berulang kali dia menanya ini dan itu. In Gak sendiri, sambil mengusap-usap kepala orang dan menyahuti secara sembarangan, setiap saat memasang mata kepada suasana dihadapannya itu.

“Tua-bangka she Hu” terdengar pula suara kasar dari si orang she Ho, yang tertawa terbahak-bahak. “Dulu hari itu beruntung kau lolos dari tanganku si orang she Ho, walaupun demikian, kau tidak lolos seluruhnya, kau telah merasai juga liehaynya Tangan Pasir Merah dari aku sebenarnya sulit untuk orang luput dari kematian, setelah dia terhajar tanganku, tak ada obat untuk itu, tetapi kau, mahir sekali tenaga dalammu, kau masih bisa mencari hidup sampai lima tahun. Kau hebat sekarang kau dapat dicari olehku, sekarang apa kau hendak bilang? Makin kau bergusar, makin lekas kau mampus Maka janganlah kau bandel dan tak mau sadar, baik lekas kau serahkan kitab ilmu silatmu itu. Didepan aku Tong-san Jie-niauw, cuma dengan bicara baik barulah kau mendapat kebaikan”

Napas memburu dari si orang g tua sudah berhenti, tetapi suara seraknya tetap tak mau hilang. Dia kata, sabar tetapi tetap: “Ho Tek Pioe, jangan kau mengandalkan jumlahmu yang banyak. Aku si orang tua, belum tentu aku jeri kepada kamu”

In Gak mendengar suara parau luar biasa dari orang tua itu, yang dipanggil Hoe Liok Koan, ia tahu itulah sebab si orang tua telah menggunai berlebihan tenaga dalamnya. Teranglah orang tua ini sudah bertahan terhadap pukulan Ang-see-ciang, atau Tangan Pasir Merah, dari orang she Ho itu, bahwa kalau tetap dia bertahan, akan ludaslah sisa tenaganya, akan melayanglah jiwanya. Tentu sekali tidak dapat ia menonton terus. Maka dengan perlahan ia kata pada si nona: “Nona, kau empo si Ceng ini” sembari berkata, ia serahkan bocah itu, menyusul mana, tangannya diarahkan kepada dua orang yang memegang golok. Ia seperti menotok dengan jari tangannnya.

Mendadak dua orang itu roboh terguling saling susul, hingga robohnya itu membikin debu mengepul naik, Maka kagetlah empat orang yang datang belakangan itu, mereka memutar tubuh dan melihatnya dengan tercengang. semua mata mereka lantas ditujukan tajam kepada si pemuda.

In Gak bersenyum, dengan tenang ia bertindak kedepan Tek Pioe, dengan tenang juga, ia berkata:
“Aku belum mendengar tentang sebab-musabab dari permusuhan kamu hingga kamu datang kemari untuk memperhebat permusuhan itu, akan tetapi melihat sikap garang dari kau musang sangat menghina seorang tua yang lagi sakit, aku dapat merasakan pastilah kamu bukan manusia baik-baik Maka itu tuan mudamu mempunyai satu perkataan: Baiklah kamu tahu diri, lekas-lekas kamu menggoyang ekormu, untuk ngeleyor pergi dari sini Ini hari, cuma inilah kata- kata ku yang manis”

Ho Tek Pioe tercengang. Inilah ia tidak sangka dari si anak muda tidak dikenal itu, yang ia anggap usilan dan sangat terkebur. selagi ia berpikir, maka seorang disampingnya maju setindak seraya mengasi dengar suaranya yang parau-nyaring:
“Binatang, kau berani mencampuri urusannya Tong-san Jie-niau? Apakah kau tidak pernah mencari tahu?”
Belum berhenti suara itu atau itu disusul dengan gaplokanyang nyaring, maka panas dan merahlah muka orang itu, yang menjadi bengkak-bengap. sedang dari mulutnya keluar darah lantaran giginya tergempur.

In Gakpanas sekali, sebelum orang bicara habis, ia sudah melayangkan sebelah tangannya, yang cepat dan mengenai tepat, sembari menghajar itu, ia menanya: “Mencari tahu apa? Lekas bilang?” Ia tidak memperdulikan orang menyebut dirinya Tong-san Jie-niauw Dua Burung dari Tong san.

Hoe Liok Koan dan kedua cucunya menjadi heran dan girang dengan berbareng. Si orang tua menjadi mendapat harapan pula. Ia tidak sangka sekali, pemuda yang mulanya nampak demikian halus gerak-geriknya ternyata mempunyai kepandaian yang luar biasa. Lihat saja gerakan tangannya yang cepat bagaikan angin itu.

Si Ceng menjadi demikian gembira, hingga dia bertepuk-tepuk tangan dan berkata dengan nyaring: “Paman, hajarlah mereka lebih banyak. Mereka sangat menghina kepada yaya kami”

Orang yang digaplok itu Kioe-tauw-siauw Tam Liong, si Kokok-beluk Kepala sembilan. Dialah salah satu dari Tong-san Jie-niauw yang paling telengas dan licin. Dia kaget dan kesakitan, dengan tangannya dia lantas mengusap-usap pipinya yang bengap itu, sedang dengan matanya dia mengawasi ketiga kawannya, maksudnya mengajaki untuk meluruk. guna mengerojok si anak muda. Tapi Ho Tek Pioe mengedipi mata, mencegah pihaknya lancang turun tangan.

Tek Pioe serta dua kawannya itu ragu-ragu. Mereka telah mendengar kabar angin halnya selama yang belakangan ini, dunia Kang-ouw sudah dibikin guncang oleh beberapa pemuda tidak dikenal, yang dikabarkan liehay luar biasa, bahwa Rimba Persilatan gempar karenanya. sekarang mereka menghadapi pemuda ini, mereka mau menduga mungkinlah dia salah satu diantaranya. Jadi Tek Pioe ingin ketahui dulu siapa guru si anak muda.

Tapi Tam Liong panas hati, melihat kawan- kawannya berdiam, ia lantas mengeluarkan senjatanya, sepasang poan-koan-pit, gegaman mirip alat tulis, lantas dia berseru:
“Mencari tahu apa? Mencari tahu apakah aku Kioe-tauw-siauw Tam Liong dari Tong-san Jie-niauw dapat dipermainkan atau tidak?”
In Gak tertawa lebar.
“Dapat dipermainkan atau tidak, tuan mudamu ini tetap hendak mempermainkannya” ia menjawab, halus dan jenaka.” Aku bilang padamu, jikalau hari ini kamu memikir untuk pulang dengan tubuh utuh, itulah pikiran ngaco-belo, khayal..”

Tam Liong tidak bicara pula, dengan tiba-tiba dia maju untuk menyerang dengan sepasang senjatanya yang liehay itu. Itulah salah satu dari tigapuluh-enam jurus si Raja-setan Ciong Hiok Menakluki iblis. Dan ketika serangannya yang pertama gagal, ia mengulangi dengan yang kedua, terus sampai yang keenam, selama mana ia mengarah enam jalan darah khie-hay, pek shwee, kin-ceng, sim-jie, cie-tong dan beng-boen. Itulah ilmu silat yang dulu hari membuat sin-pie- hiap Ciong Kie dari Boe Tong Pay mengemparkan Rimba Persilatan, hanya tidak diketahui, dari mana Tam Liong, dapat mempelajariny a. Biasanya siapa diserang dengan tipu silat itu dia mesti terbinasa atau sedikitnya terluka parah, sebab diujung poan-koan-pit ada alat rahasianya, disitu tersimpan duapuluh-empat batang jarum beracun Boen-sim-ciam. Begitu kena racun dapat merembes keulu-hati.

Tam Liong menanti ketika akan memencet alat-rahasianya itu. Didalam hatinya ia kata: “Kau tunggu, Kau lihat liehaynya Tam Liong, Hm!”
In Gak tidak mau mengasi hati kapan ia mendapatkan orang demikian kejam, selagi orang memikir untuk menggunai senjata rahasianya, ia sudah melakukan penyerangan membalasnya. Mendadak kedua tangannya bergerak.

“Bocah, kau cari mampusmu” kata Tam Liong dalam hati. Ia girang bukan main. Akan tetapi ia terlambat. Berbareng dengan niatnya memencet alatnya itu, ia merasai jantungnya terguncang keras, lantas matanya menjadi gelap. tahu-tahu tubuhnya terpental mundur tiga tombak dimana ia roboh bagaikan bukit ambruk. bahkan ia lantas putus jiwa dengan dari mulutnya keluar darah hidup.
Dengan kesebatan bagaikan kilat, in Gak maju untuk mencekal kedua nadi musuh, membarengi mana kaki kanannya terangkat, mendupak tubuh orang telengas itu, selagi tubuh itu mulai mental, ia merampas kedua poan-koan-pit selagi musuh roboh terkulai, In Gak berlompat mundur.

“Ini sepasang senjata aku hadiahkan kepada kau” ia kata pada Ceng-jie, kepada siapa ia menjerahkan poan-koan-pit. “Inilah hadiah dari pamanmu kepadamu” Ceng-jie berontak dari rangkulan kakaknya, ia menyambuti senjata itu. “Paman, terima kasih” katanya, tertawa girang.

Dilainpihak, Tek Pioe bertiga kaget sekali. Nyata benar kecurigaannya bahwa pemuda didepannya ini salah satu pemuda yang digemparkan. Bukankah Tam Liong terbinasa secara kecewa? Maka menyesallah mereka sudah turun tangan tanpa menanti orang pergi dulu, habis mana baru mereka menghajar si tua.

Mereka pun menjesal tidak mencurigai si anak muda semenjak tadi mereka baru sampai. sekarang sudah terlanjur terpaksa Tek Pioe membesarkan nyali.
“Kami Tong-san Jie-niauw, kami tidak bermusuh dengan kau, kenapa kau
menurunkan tangan jahat?” dia menegur si anak muda.
In Gak tidak menjadi gusar, bahkan sebaliknya, ia bersenyum.
“Apakah kau tidak dengar tadi apa katanya Tam Liong?” ia bertanya.
“Bukankah dia menyuruh aku mencari tahu siapa dia? Bukankah kau yang membilang bahwa dibawah tangannya Tong-san Jie-niauw tidak bakal orang dapat lolos? Karena itu tuan muda kamu menjadi jeri, dia terpaksa menggunai semua tenaganya Apa celaka, dia kesalahan tangan. Maka aku mohon sukalah kamu memaafkannya”

Baru habis berkata, si anak muda menambahkan bengis: “Apakah kamu tidak pernah mencari tahu, dibawa h tanganku, berapa orang jahat yang pernah dapat hidup?”
Tubuh Tek Pioe menggigil, peluhnya membasahkan pakaiannya.
“Aku si orang she Ho ketahui aku tidak dapat melawan, maka urusan ini baiklah ditunda,” katanya terpaksa. “Gunung hijau tidak berubah, dari itu dibelakang hari kita akan bertemu pula”

Habis berkata, tanpa menanti jawaban, Tong-san Jie-niauw memberi tanda kepada dua kawannya, untuk mengangkat kaki, ia sendiri segera memutar tubuhnya, akan tetapi belum lagi ia bertindak. atau ia merasakan berkesiurnya angin, lantas si anak muda telah berada didepannya dengan wajahnya berseri-seri. Mereka menjadi sangat kaget, ketiganya menyedot hawa dingin. Hebat kegesitan si anak muda.

“Tuan, mengapa kau terlalu menghina orang?” kata Tek Pioe, yang hatinya menjadi ciut. “Kau memegat kami, apa lagi yang kau hendak bicarakan?”
Sebelah tangannya In Gak melayang, atau pipinya orang she Ho itu berbunyi nyaring, hingga dia lantas membekapnya.
“Kau masih berani menyebut terlalu menghina orang?: tanya si anak muda.
“Hoe Tayhiap sudah menyembunyikan diri lima tahun lamanya, kau masih tidak mau mengasi ampun, Kenapakah? Dan sekarang kau bermuka begini tebal berani menegur aku? Aku ulangi pada kau, semenjak aku muncul maka tidak ada orang yang dapat lolos dari tangan tuan mudamu ini. Itulah aturanku dan tidak dapat aku merusaknya sendiri. Tapi aku masih hendak memberi muka kepada kamu sekarang lekas kamu membunuh dirimu, supaja tak usah aku sampai turun
Tangan”

Itulah desakan hebat, maka dua kawannya Tek Pioe menjadi kalap, dengan berbareng mereka menghunus senjata mereka, dengan berbareng juga mereka menyerang si anak muda.
Nona Wan menjadi sangat kaget hingga ia menjerit, tetapi jeritannya itu disusul dengan berkontrangnya dua senjata yang terlepas jatuh, disusul pula dengan robohnya kedua penyerang itu, yang terus rebah melingkar bagaikan ular.

Selama terjadi penyerangan itu, Tek Pioe berlompat menyingkir, dengan dua loncatan saja dia telah bisa memisahkan diri lima tombak lebih. Akan tetapi In Gak tak membiarkannya. Habis ia menotok roboh kedua penjerang, ia memutar tubuh menghadapi Tong-san Jie-niauw, kedua tangannya diluncurkan dan ditarik pulang dengan sebat. Dengan itu ia menggunai ilmu silat Bie-lek sin-kang bahagian menyedot. Maka tubuh Tek Pioe bagaikan tertarik. percuma dia meronta, dia terbawa balik ketempat dimana barusan dia berdiri, dia roboh terbanting hingga matanya kabur dan ingatannya terbang, belum lagi ia mendusin, si anak muda sudah menotok pinggangnya. Habis itu pemuda itu, sembari bersenyum, bertindak menghampirkan si orang tua she Hoe.

Liok Koan tercengang, lalu ia menghela napas panjang. Bukan main ia kagum untuk liehaynya si anak muda, sembari menggeleng kepala ia kata seorang diri: “Benar2, gelombang sungai Tiang Kang yang dibelakang mendampar yang didepan, orang lama menggantikan orang baru, dan orang sudah tua tidak ada gunanya”
Menampak si anak muda mendatangi, lekas2 ia maju memapak. baru dua tindak. ia sudah menjura dalam seraya berkata: “Siauwhiap. kau telah menolong i aku si orang tua, aku sangat berterima kasih”

In Gak mengulur kedua tangannya, untuk mengasi bangun pada orang tua itu.
“Inilah urusan sangat kecil, tak usah bicara dari hal terima kasih,” katanya.
“Hoe Tayhiap. kau terlalu merendah”
Tapi segera ia memandang kepada enam mayat, alisnya dikeruti, katanya: “Enam benda itu, berabeh juga untuk mengurusnya”
“Tidak berabeh, siauwhiap” berkata Liok Kean, yang terus merogo sakunya untuk mengeluarkan sebuah peles kecil, setelah membuka tutupnya, ia menggunai kukunya mengambil isinya, bubuk warna kuning, bubuk mana ia peluruki masuk kedalam hidungnya enam orang jahat itu. Maka berselang sekian lama, keenam majat itu lantas berubah menjadi cair kuning.

Ceng-jie telah menghampirkan In Gak. dengan kedua tangannya ia merangkul leher si anak muda.
“Jangan tidak tahu aturan” Liok Koan menegur cucunya itu, setelah mana, ia batuk2 hingga pinggangnya melengkung, mukanya merah, air matanya mengalir keluar. sampai beberapa saat, baru ia dapat berdiri pula dengan lempang, sedang Wan-jie lantas menumbuki punggungnya. Ia nampak berduka sekali.

In Gak mengawasi orang tua itu, lalu ia berkata: “Hoe Tayhiap, jangan bersusah hati, penyakitmu ini bukan penyakit yang bakal dibawa mati. Aku yang muda, dapat aku mengobatinya.”

Orang tua itu mengangkat kepalanya, ia mengawasi, lantas ia menghela napas.
“Ketika pertama kali aku terhajar Ang-see-ciang dari Ho Tek Pioe, lantas aku pergi minta pertolongannya Goei Peng Lok, tabib yang dijuluki say-hoa-to dikota Ciang-peng. Aku diberi ohat tetapi katanya cuma untuk bertahan selama enam tahun, maka itu, siauwhiap, walaupun mempunyai obat dewa, tak nanti kau dapat menolong aku”

In Gak tahu orang tidak percaya, ia tertawa.
“Hoe Tayhiap, janganputus asa,” ia berkata. “Nasib itu ada ditangan kita. Umpamakata penyakit tayhiap benar penyakit yang bakal dibawa mati, kau toh dapat membebaskan dirimu dari siksaan”
Mendengar demikian, Liok Koan tidak menolak lebih jauh.
“Dengan begitu kembali aku membikin kau berabeh, siauwhiap” katanya.

Lantas ia mengajak anak muda itu kekamarnya dimana ia membuka bajunya.
Apabila In Gak sudah memeriksa luka, ia mengerutkan alisnya. Luka itu dipunggung, disitu kedapatan tapak tangan warna merah tua, kapan ia menekan itu, ia membentur kulit-daging yang lembek sekali. Habis itu ia memeriksa kedua nadi, yang denyutannya sangat lemah.
“Hoe Tayhiap, jangan kuatir” katanya kemudian, bersenyum. “Masih ada harapan”

Ia ingat pada Hian-wan sip-pat-kay dalam mana ada pelajaran tentang nadi. Kemudian ia berpaling pada Nona Wan, sembari tertawa ia kata: “Hari ini jangan berusaha, pergi kau menutup pintu”
Nona itu menyingkap rambutnya yang turun, dia tertawa.
“Baiklah” sahutnya sambil ia terus berlari keluar bersama Ceng-jie.

In Gak lantas bekerja. Ia meloloskan baju dan celananya Hoe Liok Kean, untuk terus mengurut dipelbagai bagian tubuh, kalau perlu, ia memencet. sebat sekali ia bekerja. Hingga darahnya si orang tua berjalan dengan lurus. selama itu, orang tua ini menderita. Kalau panas, ia merasakan panas sekali, dan kalau dingin, ia merasakan dingin bagaikan es. Beberapa kali ia sampai merintih. Tapi ia bertahan.

Tidak lama Wan-jie dai Ceng-jie kembali, ketika si nona melihat tubuh telanjang lagi tengkurap dari kakeknya, ia batal masuk kedalam kamar. Ketika itu In Gak pun lantas menanya, ia mempunyai alat tulis atau tidak.
Wan-jie menyahuti, terus ia pergi, akan mengambil barang yang diminta. Ia masuk kedalam kamar sesudah In Gak menutupi tubuh si orang tua.
Nona dan bocah itu masih nampak berduka. Ceng-jie mendekat kakeknya dan menanya apa si kakek merasa baikan.
Liok Koan tidak menyahuti, ia bahkah merintih lebih keras.

“Sudah, adik, jangan ganggu kakek” si nona bilang seraya menarik tangan adiknya.
“Ah, encie banyak omong” kata bocah itu. “Pantas kakek pernah bilang, entah bagaimana kalau nanti kau sudah menikah”
I Gak tertawa. Bocah itu jenaka.
Mata Wan-jie mendelik. “Adik, jangan ngoco” tegurnya. “Apa kau mau dihajar? “
Ia membetot tangan orang.

“Lihat, paman” kata bocah jail itu. “Encie galak sekali, Apa paman tidak mau menghajar dia?”
In Gak tertawa. Ia tidak meladeni bicara, ia hanya menulis surat obatnya. Kemudian sambil menyerahkan itu pada si nona, ia kata: “Kau belikan obat ini, lantas masak menurut aturannya.”
Nona Wan menurut, ia berlalu dengan diikuti Ceng-jie.

In Gak memeriksa pula tubuh si orang tua. Tapak merahnya sudah berkurang. Kembali ia menguruti. Kali ini Liok Koan tumpah-tumpah, yang keluar ialah gumpalan-gumpalan darah mati yang sangat bau. Bersama itu berubah pula tapak tangan, dari merah gelap menjadi merah dadu.

Tidak lama Nona Wan datang dengan obat. In Gak lantas pakai itu untuk memborehkan ditempat yang luka. Liok Koan menahan sakit tetapi ia masih teraduh-aduh hingga Wan-jie meleleh air matanya dan Ceng-jie menangis saking berkasihan.

Akhirnya selesai sudah In Gak mengurut. Tapak merah dipunggung hanya tinggal berbayang. Tapi Liok Koan pingsan karenanya. Ia lantas ditusuk dengan jarum emas didua belas tempat, ketika ia mendusin, ia merintih pula. Ia dikasi makan obat godokan setelah semua jarum dicabut, terus ia diselimuti.

“Sekarang, tayhiap, tidurlah untuk kira2 dua jam” In Gak mengasi tahu. “Sebentar boleh makan obat lagi. Aku percaja kau akan segera sembuh.”
Liok Koan mengucap terima kasih. Ia menurut, ia terus tidur. In Gak mengajak Wan-jie dan Ceng-jie keluar, pintu kamar ditutup.

“Ceng-jie” tanya si anak muda setelah mereka diluar, “Apakah kau suka pamanmu mengajari kau menggunai poan-koan-pit?”
“Suka.. Suka..” menyahut bocah itu kegirangan. Ia lantas lari kedalam, untuk mengambil senjatanya Tam Liong, yang tadi diberikan padanya.
“Ini, paman, ini’”
Juga Wan-jie mengharap diajari silat, seperti Ceng-jie, ia sangat memuja pemuda itu.

Baru sekarang I n Gak sempat memperhatikan poa n- koan-pit itu, yang indah buatannya dan tepat dicekalnya. Ia lantas menuturkan ilmu yang ia mau mengajarinya yaitu Ciong Hiok Hok mo sha cap lak-to, setelah itu ia menjalankan itu untuk dilihat dan diperhatikan si Ceng. Tentu sekali, ia dapat menjalankan lain daripada Tam Liong.

Ceng-jie belajar sungguh2, berani ia menanya ini dan itu, cepat ia ingat, hingga In Gak girang. Pemuda ini memuji orang berotak terang. Wan-jie menyaksikan dengan perhatian.
“Nona Wan, apa kau pun suka pelajaran ini?” In Gak tanya. “Baik kau coba”
Wan-jie mengangguk. Ia nyata lebih cerdas daripada adiknya, ia bisa belajar dengan lebih cepat dan rapi. Hingga in Gak bertambah girang.
“Kamu gemar silat, baiklah, akan aku mengajari lagi” kata In Gak kemudian, sesudah keduanya ingat baik2 ilmu poa n- koan-pit itu. Ia mengajari ilmu pedang Pek wan-kiam atau Kera Putih yang sederhana, dan gerak-gerik tindakan kaki Kioe-kiong Im- yang Ceng-hoan Pou-hoat. Ia kata, dengan pandai ketiga ilmu silat itu, si nona dan si bocah belum dapat menjagoi, tapi cukup untuk membela diri andaikata mereka menghadapi jago kelas satu atau kelas dua.”

Wan-jie girang. ia mengambil pedangnya. Dengan sabar In Gak memberikan pelajarannya.
“Sekarang berlatihlah sendiri” katanya kemudian, selang dua jam. Ia terus masuk kekamar Liok Kean, yang sudah mendusin-
“Siauwhiap” berkata orang tua itu tertawa, “Sekarang aku merasakan napasku lega, aku telah menjadi seperti dua orang yang berlainan. Budimu sangat besar, entah bagaimana aku membalasnya”

Dengan tajam ia mengawasi anak muda itu, kemudian ia menghela napas dan kata: “Kau masih begini muda tetapi ilmu silatmu liehay sekali, kaulah seorang luar biasa. Coba aku tidak melihatnya sendiri, sukar aku percaya”
In Gak tertawa.
“Nah ini, tayhiap, minum pulalah obatmu” ia kata.
Liok Koan menurut, kemudian ia merapikan pakaiannya, untuk bertindak kepintu, hingga ia melihat kedua cucunya lagi berlatih. Ia heran dan kagum, kemudian sembari tertawa, ia kata: “Bagaimana beruntung kedua cucuku ini yang telah mendapatkan pendidikan kau, siauwhiap”
Ia girang dan bersjukur.

“Mereka itu berbakat baik, sayang mereka tidak menemui guru yang pandai” In Gak bilang.
“Ah,ya” kata si orang tua tiba-tiba.” Aku gila sekali. Aku tidak tahu aturan sudah sekian lama kita bertemu, aku masih belum menanyakan she dan namamu, siauwhiap. Maaf”
In Gak bersangsi sebentar, lantas ia perkenalkan diri sebagai Gan Gak.

Selagi mereka berbicara, Ceng-jie berhenti bersilat, ia lari pada kakeknya, untuk merangkul.
“Sudah baik, engkong?” tanyanya gembira. “Paman ini baik sekali, sudah dia menolongi engkong, dia pun mengajari aku dan encie ilmu silat, Engkong, coba tolong tanya paman, dia suka menerima aku sebagai murid atau tidak?”

In Gak menarik bocah itu, ia buat main pipinya yang merah-dadu.
“Dengar, anak Ceng” katanya riang. “Pamanmu suka mengajari kau silat, tetapi sekarang aku mempunyai urusan penting, tidak dapat aku menemani kau lama2. Aku mau berangkat sebentar malam. Asal kau rajin berlatih, tentu pamanmu girang.”
Mukanya Ceng- jie menjadi guram. Wan-jiepun masgul, ingin ia bicara, selalu ia gagal. Maka keduanya terus berdiam saja.

Liok Koanpun masgul, ia menggeleng kepala dan menghela napas. Ia pun ingat nasib cucunya yang perempuan itu, yang sudah berumur empatbelas tahun, sedang dihadapannya ada seorang muda yang tampan dan gagah. Tentu sekali, tidak berani ia sembarang membuka mulut. Maka ia masuk kedalam, akan keluar pula dengan sejilid buku yang berkulit kambing. Ia menyerahkan itu pada si anak muda seraya dengan roman berduka ia berkata:
“Inilah kitab ilmu pedang karena mana bukan saja anak dan mantu perempuanku telah terbinasa, aku si orang tua sendiri hampir hilang jiwaku. Kitab ini didapatkan anakku didalam guha dipuncak gunung Heng san. Ketika itu pun ada datang belasan orang lain, yang mencarinya. Mereka bentrok. Disana anak dan menantuku menemui ajalnya dan aku terkena pukulan Ang see Ciang dari Ho Tek Pioe, syukur aku sempat meloloskan diri. sayang sebuah pedang, yang bernama Thay-ko-kiam, sudah kena dirampas seorang jahat yang tidak diketahui. Tetapi dia gampang dikenali. Dia tinggi delapan kaki, macamnya mirip labu, dan mukanya bertitik bule.”

Ia menunjuk kedua cucunya dan menambahkan:
“Kami asal kota Lokyang, mereka ini ketolongan oleh seorang bujang wanita, setelah aku sampai dirumah, aku bawa mereka pergi kepada tabib di Peng-ciang untuk aku berobat, kemudian kita tinggal bersembunji disini. Aku tidak sangka, Tong-san Jie-niauw tidak mau melepaskan aku, mereka menyusul kemari. Kitab ini bertuliskan huruf-huruf Kah-koet-boen, aku tidak paham surat, percuma aku memilikinya, dari itu baiklah aku menghadiahkan kepada siauwhiap saja.”

In Gak menampik,
“Tak berharga untukku menerimanya” katanya.
“Jikalau kau menampik, siauwhiap, kau memandang asing kepadaku” kata si orang tua, membujuk. “Apakah kau tidak mengerti bahwa pedang itu harus dimiliki oleh orang yang bijaksana?”

Mendengar demikian, anak muda itu tidak dapat menampik terlebih jauh.
“Terima kasih” katanya. Lantas ia membalik-balik lembaran kitab itu, atau mendadak dia berseru seorang diri. Kitab itu ialah kitab Bie-lek sin-kang bahkan disitu ada dua jurus lainnya, ialah Im-kek yang-seng dan Liok-hap-hoa-it jurus2 yang istimewa. Ia lantas berkata: “Ini dia rupanya yang disebut peruntungan. Kitab ini kitab yang ilmu silatnya aku pelajarkan, maka kalau kitab ini didapatkan golongan sesat, tentu Rimba Persilatan bakal merupakan darah yang berbau amis. Tayhiap, aku mendapat hadiah ini, tidak dapat aku membalasnya, maka itu aku ingin mengajari ilmu tenaga dalam, untuk menyalurkan dan menguasai pernapasan, yang mana pasti besar faedahnya untuk tayhiap serta kedua cucumu.”

Habis berkata begitu, tanpa menanti lagi, In Gak mengajari kouw-koat, atau teori ilmu tenaga dalam itu. Ia pun membagi masing-masing sebutir obatnya kepada mereka bertiga, untuk mereka lantas menelannya, hingga mereka merasa lega dan harum mulut mereka.



8. Jilid 4.2 : Jie In, ya Tabib ya Pelajar

Bacaan » PEMBALASAN SEORANG JAGOAN » Jilid 4.2 : Jie In, ya Tabib ya Pelajar
Anggota masrizki
Waktu 9 Juli
Bab Sebelum 7. Jilid 4.1 : Dua jurus tambahan Bie Lek Sin Kang
Bab Sesudah 9. Jilid 5.1 : Empat Mestika Raja Naga




Menuntut Balas
Karya : Wu Lin Qiao Zi
Terdjemahan : Oey Kim Tiang
Jilid 4.2. Jie In, ya Tabib ya Pelajar

Hoe Liok Koan girang sekali, berulang kali ia menghaturkan terima kasih.
Setelah itu, Wan Jie, yang pergi kedalam, kembali dengan bahpauw yang masih mengepul-ngepul, melihat mana, In Gak tertawa dan kata pada si orang tua: “Lihat, tayhiap. cucumu pintar sekali, dia tahu yang pamannya sudah lapar”
Lalu, tanpa malu2, ia makan kuwe itu.

Si nona. tertawa, dia kata pada kakeknya: “Lihat, engkong, Gan siauwhiap tidak lebih tua banyak daripada cucumu tetapi dia banyak tingkahnya, orang sungkan padanya, orang memanggil dia paman, lantas dia menjebut dirinya paman, paman”
Habis berkata begitu, si nona bersenyum.

Liok Koan pun bersenyum, tetapi ia membungkam. Ia pikir cucunya itu benar juga. satu kali si cucu memanggil paman, itu berarti orang menjadi bertingkat lebih tua dan panggilan itu sukar diubahnya. Dilain pihak ia tidak mengerti si cucu, selagi ia sendiri memanggil siauwhiap. kenapa itu membahasakan paman.

In Gak tertawa bergelak. Ia memandang mereka, ia makan terus bahpauwnya. Ialah seorang cerdik, dapat ia membade apa apa yang dipikir Liok Koan dan Wan-jie. Karena ini ia masgul. Ia lantas ingat Tio Lian Coe si nakal dan Cioe Goat Goyang lemah gemulai. Ia tertawa melulu untuk menyembunyikan rasa hatinya itu.

Wan-jie merasa mukanya panas mendengar tertawa kakeknya. Ia percaya kakek itu telah dapat membade hatinya. Dalam usia empatbelas tahun, ia sudah dapat berpikir. Ia tahu ada nona-nona umur lima- dan enambelas tahun, yang sudah merantau. Ia sendiri, ia mesti berdiam saja didalam rumah. Lantas ia membentur lengan Ceng-jie, justeru adik itu lagi menyuap. hingga si adik heran.

Ia mengedipi mata dan kata: “Adik Ceng, coba pikir, kita mengubah panggilan apa yang tepat?”
Borjah itu juga cerdik sekali. Ia lantas melirik kepada In Gak. Mendadak dengan kedua tangannya ia sambar tangan kanan si anak muda. Ia kata: “Coba bilang, jikalau aku memanggil kau engko Gan- bagus tidak?”

In Gak tercengang. Ia berduka. Ia pikir: Usia mereka tak beda jauh dengan usiaku, pantas kalau mereka memanggil kakak. tetapi ini budak- dia mengandung maksud apakah? Jangan-jangan. Ia takut memikirnya, maka ia berpura-pura tertawa. Cepat ia menyahuti: “Kamu boleh memanggil apa saja, sesukamu. Kenapa kau main putar2 dan menyuruhnya adik Ceng?” ia tambahkan pada si nona. Wan-jie tidak menyahuti, ia tunduk dan bersenyum.

Liok Koan sebaliknya tertawa lebar. Katanya: “Ah, kamu berdua setan cilik Bagaimana kamu berani manjat cabang yang tinggi? Siauwhiap, tak usah kau layani mereka”
Ia berhenti sebentar, cepat ia menambahkan, “Siauwhiap. benarkah sebentar malam kau hendak berangkat pergi? Bagaimana kalau kau nginap satu malam, besok baru kau pergi?”
In Gak tertawa.
“Itu artinya aku mengganggu” sahutnya.
Itu artinya menerima baik permintaan, maka Ceng-jie girang tidak kepalang, ia tertawa tak hentinya.
“Kunyuk cilik, jangan terlalu bergirang” kata In Gak tertawa. “Habis dahar ini, aku mau pergi keluar, sebentar aku ingin lihat, kau bersamedhi sempurna atau tidak. jikalau tidak, awas, aku nanti hukum padamu”

Ceng- jie mengulur lidahnya, ia mementang matanya. Ia demikian lucu hingga Wan-jie tertawa, hanya si nona mesti lantas pergi kedalam, untuk menyiapkan barang hidangan buat sebentar malam.

In Gak pergi keluar. Ia berjalan cepat. Ia pergi kesebuah bukit kecil dimana ada banyak pepohonan serta selokan yang airnya mengalir. Ia mencari tempat yang sukar terlihat lain orang dimana segera ia mengeluarkan kitab hadiahnya Hoe Liok Koan- untuk membuka lembarannya. Ia memeriksa bagian sin-kang, yang terdiri dari empat belas jurus, duabelas antaranya sama dengan ajarannya Beng Liang Taysoe, bedanya ialah kepandaian Beng Liang itu didapat dari Boe Beng siangjin, dan Boe Beng siangjin mendapatkannya dari peryakinan sendiri selama beberapa puluh tahun digunung Thian san Utara, hingga seluruhnya ada juga beberapa gerak-geriknya yang kurang jelas untuknya. Baiklah nanti aku pulang kegunung untuk menanya jelas pada soehoe, pikirnya.

Kemudian ia lantas membaca dua jurus lagi, yang masih asing untuknya, ialah jurus- jurus Im-kek yang-seng dan Liok-hap-hoa-it. setelah dapat memahami, ia mencoba bersilat dengan itu. Nyata ia berhasil, bahkan hasilnya sangat menggirangkan padanya. Keras sambaran2 anginnya, sedang beberapa buah pohon didepannya roboh karena tinjunya.

Syukur kitab ini terjatuh dalam tanganku, pikirnya kemudian- Coba ini didapatkan oleh orang jahat, entah bagaimana bencana yang dia bakal terbitkan
Tentu sekali, bukan main berterima kasihnya ia terhadap Hoe Liok Koan- Ia tidak menyangka, baru ia menanam kebaikan, segera ia memperoleh buahnya.

Habis mempelajari dua jurus itu, In Gak duduk numprah untuk bersemadhi, guna menyedot dan mengeluarkan napasnya. Cuma sebentaran, lantas ia merasakan pernapasannya lega dan lenyap segera keletihannya. Maka itu, tak bosannya ia mengulangi berlatih semua empat belas jurus Bie-lek sin-kang itu. Berselang dua jam lantaslah ia apal sekali. Baru setelah itu, ia simpan kitab berharga itu dan berjalanpulang kerumahnya Liok Koan.

Begitu anak muda ini menolak daun pintu, ia mendapatkan sang kakek dan kedua cucunya lagi duduk bersamedhi. Dengan mengawasi sebentar saja, ia mendapat kenyataan mereka itu sudah apal dengan pelajarannya, maka senanglah hatinya. Ia tidak mau mengganggu mereka, ia pergi keluar pula, untuk duduk bercokol dikursi rotan dibawah para-para pohon beroyot, matanya jauh memandang kearah Utara.

Belum lama ia berduduk diam itu, telinganya mendengar siulan tajam dua kali. Ia heran- Itulah siulan orang Kang-ouw. Herannya ialah ia mendengar itu disiang hari bolong. Kenapa ditempat demikian, didekat jalan umum, orang berani memperdengarkan suara itu? Tapi ia tidak usah menduga-duga lama, atau lantas tertampak berkelebatnya dua bayangan didepan para-para.

Orang yang satu ialah seorang pendeta bertubuh kekar, jubahnya abu-abu, dipinggangnya tergendol senjatanya, sekop Hong-pian-san, yang berwarna hitam. Dia memiliki sepasang mata tajam dan bengis, hidungnya merah, mulutnya persegi lebar. Dia berumur lebih- kurang limapuluh tahun. Dan orang yang kedua, orang bukan pendeta, bermuka merah, jenggotnya pendek. alisnya tebal, matanya besar, hidungnya bengkang. Dia berumur hampir limapuluh.

In Gak duduk tak berkutik dikursinya, ia tidak menggubris orang mengawasi ia dengan tajam.
“Taysoe” berkata si muka merah, “Sampai saat ini Jie-niauw masih belum kembali, mungkinkah mereka telah berhasil dan timbul keserakahannya maka mereka lantas pergi menjingkirkan diri?”
“Hm” menjawab sipendeta, tertawa dingin “Biarnya Jie-niauw bernyali sangat besar, tidak nanti mereka berani main gila terhadap Hoed-ya. Pula kitab itu bertuliskan huruf-huruf Kah-koe-boen, selainnya Hoed-ya yang mengerti, lain orang percuma memilikinya. Disini mungkin terjadi sesuatu. Turut katanya Jie-niauw anjing tua itu tingggal disini, maka baiklah kita coba menanyakan keterangannya itu pelajar rudin”

“Hm” In Gak bersuara perlahan dihidungnya. Ia tetap berdiam saja.
Muka merah setujui si pendeta yang jumawa itu, yang berani menyebut dirinya Hoed-ya, sang Budhha. Dia lantas menghadapi pemuda kita, untuk menanya dengan keras dan kasar: “Eh, pelajar rudin, rumah ini rumahnya si orang she Hoe, benarkah?”
Baru sekarang in Gak mengawasi orang dengan matanya yang bersinar tajam, sebelah tangannya pun diangkat, dikibaskan kepada orang itu, atas mana si muka merah mundur terhuyung dua tindak. Ia berbangkit dengan ayal-ayalan, ia berkata dengan tertawa dingin:
“Jikalau kau menanya orang, menanyalah dengan cara tahu aturan. Kamu bangsa kurang ajar, tak sudi tuan muda kamu bicara denganmu. Lekas kamu menggelinding pergi!”

Si muka merah mencoba berdiri tegak. wajahnya bermuram-durja.
“Hm Hm” bersuara si pendeta beroman bengis itu. “Mata Hoed-ya tak ada pasirnya, cara bagaimana kau dengan kepandaianmu tidak berarti ini berani main gila dihadapanku? Benar-benar kau cari mampusmu sendiri, pelajar rudin”

Belum habis suaranya pendeta itu, atau “Plok” maka mukanya kena digaplok hingga dia menjadi kalap saking gusar, tanpa ngoceh lagi, dia mengibas dengan bajunya yang gerombongan, hingga si anak muda nampak seperti digulung angin puyuh.
Pemuda kita tidak takut, dengan berani ia menyambuti kibasan itu, untuk mencoba. Ia menggunai tenaga lima bagian- Tangan mereka lantas bentrok. sebagai akibatnya itu, pundak In Gak terangkat naik dan tubuh si pendeta terhuyung. Hal ini membuat keduanya terperanjat. Itu tandanya tenaga dalam mereka sama-sama mahir.

Menggunai ketika orang bentrok itu, si muka merah mengangkat kakinya. Dia ingin pergi kerumahnya Liok Koan, untuk nerobos masuk. Tindakan itu justeru yang dikuatirkan In Gak, sebab Liok Koan bertiga lagi bersamedhi, nanti mereka terganggu. Maka itu justera ia dikibas pula, ia tidak melawan lagi, hanya ia berkelit, untuk terus berlompat kearah si muka. merah, kepala siapa ia terus jambak. untuk ditarik keras, hingga si muka merah kembali roboh dengan terbanting keras, matanya sampai berkunang-kunang. Karena tubuhnya itu melanggar para2 pohon, para2 itu roboh ambruk.
Tangguh si muka merah ini, begitu ia memegang tanah, begitu ia lompat bangun, tetapi hatinya ciut, maka ia tidak berani menyerang si anak muda.

Si pendeta terkeujut menyaksikan gerakan tubuh dan tangan demikian sebat dari si pelajar rudin, didalam hatinya ia kata: Kepandaianku ini yang disebut Tiat-sioe Keng-kang, tenagaku kuat seribu kati, kenapa ini pelajar rudin tidak terluka atau roboh karenanya? Aneh.. maka sembari tertawa dingin, ia kata: “Aku tidak sangka bahwa aku, Ta y- liang Tiat-hoed, dapat bertemu orang berilmu tinggi, Mari, mari, Hoed-ya ingin ketahui berapa liehaynya kau”

Mendengar disebutnya gelaran orang, In Gak lantas mendapat tahu pendeta ini ialah satu diantara sip-sam-mo Tiga belas iblis. Pantas dia pandai ilmu silat Tiat-sioe Keng-kang, tenaga angin Tangan-baju Besi. Ia tidak takut. sambil berlenggak ia tertawa dan kata: “Tuan kecil kau menyangka siapa, tidak tahu kaulah si setan cilik yang jelek diantara tiga belas iblis, si siluman tua Chong-sie masih tidak sanggup melawan tuan kecilmu ini, cara bagaimana kau masih mencoba mementang bacot lebar bagaikan lautan?”

Kaget Tay- liang Tiat-hoed mendengar perkataan orang ini. ia lantas berpikir: Kabarnya Chong-sie Koay-sioe roboh ditangan seorang muda aneh, aku mengira itulah kabar angin belaka, yang tak ada kenyataannya, tetapi sekarang pemuda ini mengatakan begini, mungkin dia benar. Baik aku mencoba pula padanya, aku menggunai Tiat-sioe. Keng-kang dicampur dengan Hian-im Tok-cie. sjukurlah apabila aku berhasil, supaya aku tidak sampai kena digertak kabar angin itu
oleh karena memikir demikian, Tiat-hoed tidak mau banyak omong lagi, dia cuma mengasi dengar tertawanya yang seram, lantas dengan mendadak dia berseru nyaring dan lompat menyerang, menyerang dengan tangan bajunya yang lebar, berbareng dengan mana, ia pun menotok dengan jeriji tengahnya, mengarah buah-susu. Ia ingin mewujudkan apa yang ia pikir, menyerang lawan dengan jerijinya, dengan tipu silat jeriji beracun Hian-im Tok-cie.

Serangannya pendeta ini sangat sebat dan hebat. Akan tetapi In Gak sudah waspada. Ia tidak mau bertindak seperti waktu ia merobohkan Chong-sie Keay-sioe dirumahnya Cioe Wie seng. Ketika itu ia menyerang secara tiba2, hasilnya pun cepat dan diluar dugaan-semenjak itu, ia tidak ingin sembarang menggunai Hian-wan sip-pat-kay dan Bie-lek sin-kang. sekarang menghadapi si pendeta, ia berlaku sabar. ia bersenyum, dengan tindakan Hian-thian Cit-seng-pou, ia berkelit, untuk menggeser tubuh kebelakang lawan, baru setelah itu ia menyerang kepung gung dengan jurus Hok houw Kim-kong-ciang, tangan Arhat Menakluki Harimau, dan tenaganya pun dikerahkan sepenuhnya.

Tay-liang Tiat-hoed sudah memikir matang, dengan menggunai kedua kepandaiannya itu dengan berbareng, tidak nanti sipelajar rudin dapat meloloskan diri, maka terkejutlah ia, begitu ia menyerang, begitu lawannya lenyap dari hadapannya. Celakanya untuknya, karena ia menyerang hebat, tak dapat ia membatalkannya. Tengah ia kaget itu, ia merasai gempuran pada punggungnya, seperti ia dihajar dengan martil, hingga ia terjerunuk tiga tindak. matanya pun berkunang-kunang. Lekas2 ia menahan dirinya, jikalau tidak, tentulah ia roboh menubruk tanah. serangannya toh meminta kurban, ialah tembok didepannya, hingga tembok rumahnya Liok Koan gempur, ambruk dengan menerbitkan suara keras. Hingga karenanya, Liok Koan bersama dua cucunya lantas berlompat keluar.
Begitu ia melihat kakek dan cucu itu bertiga, ingatan jahat muncul dalam hatinya si pendeta, justeru ia lagi sangat mendongkol. Katanya dalam hatinya: Jikalau bukan karena kau, tua bangka, tidak nanti aku kena terhajar ini pelajar rudin, sekarang baik aku turun tangan terhadap si bocah, untuk memaksa dia menyerah. Cuma dengan begini maka Hoed-ya dan Cie-sat-sin dapat berlalu dari sini”

Cuma segebrakan itu, pendeta yang jumawa ini menjadi kecil hatinya, hingga dia takut menempur pula si pelaujar rudin, hingga dia merasa bahwa sulit untuknya mengangkat kaki dari situ. Maka tanpa malu lagi, dia berniat melakukan perbuatan yang hina itu mencekuk bocah cilik

Ceng-jie muncul dengan poan-koan-pit ditangannya. Biar bagaimana, ia kaget dan heran atas kejadian itu ia pun jeri ketika ia melihat roman bengis dari Tay- liang Tiat-hoed, yang mengawasi ia secara mengancam. Maka ingin ia menjauhkan dirinya. Ia mau mundur.
Tiat-hoed memikir cepat dan bekerja sebat. Begitu ia memikir, begitu ia meluncurkan tangan kanannya, ia menggeraki ujung jerijinya, guna mencekuk bocah yang diarah itu. Tapi baru ia mengerahkan tenaganya, mendadak ia merasakan lengannya itu sakit, lalu menjadi kaku tak bertenaga, disusul dengan rasa nyeri sekali didadanya, sampai ia bergemetaran. itu artinya ia telah tak dapat menggunai lagi tenaganya. Ia kaget berbareng takut. Tahulah ia hebatnya serangan si pelajar rudin itu Bahkan ia mau menduga, kalau ia tidak bakal lekas mati, ia pasti akan bercacad seumur hidupnya, hingga ludaslah kepandaian silatnya yang liehay itu. Ia lantas menjadi berduka, sambil menghela napas, tangannya dikasi turun, kedua matanya yang tajam dan bengis lantas menjadi guram. Dengan menyender disisa gempuran tembok. la berdiam dengan menjublak

Kapan si muka merah melihat munculnya Hoe Liok Koan, dia kaget hingga mukanya menjadi pucat. Tanpa pikir panjang lagi, ia memutar tubuh untuk berlompat pergi, buat lari menjingkirkan diri. Si muka merah ini sebenarnya Kie Keng gelar Cie-sat-sin si Bintang Jahat. Dialah seorang piauwsoe, yang pernah bekerja sama Liok Koan dalam sebuah piauwkiok dikota Lokyang. Dia berhati buruk. Maka dia bentrok dengan Liok Koan- Keduanya lantas berhenti bekerja. Kemudian pernah mereka bertemu satu dengan lain tetapi mereka bawa seperti orang-orang tak kenal satu dengan lain- Kemudian lagi dia mendengar dari Tong-san Jie-niauw halnya Liok Koan terlukakan pukulan pasirMerah, dia menjadi tidak takut, dia turut si pendeta datang menyateroni, siapa tahu, sekarang dia melihat orang she Hoe itu, segar-bugar, dia menjadi jeri, maka dia mau kabur. Dia maupergi, In Gak tidak mengijinkannya. si anak muda lompat menyamber dan membawanya kembali, kedepan Ceng-jie.

Bocah cilik itu kaget, ia menyangka ia mau dihajar, ia lantas berkelit seraya memutar tubuh, sembari berbuat begitu, ia menyerang dengan poan-koan-pitnya.
Cit-sat-sin ketakutan dan tidak berdaya, dadanya lantas tertikam gegaman mirip alat tulis itu, darahnya mengalir keluar, tubuhnya roboh, jiwanya lantas melayang pergi.
Inilah diluar sangkaannya Liok Koan. Ia menghela napas. “Hm” ia mengasi dengar suaranya.

“Engkong” kata si cucu, menyangkal, “Dia sendiri yang membentur poa n- koan-pitku” Kakek itu tertawa.
“Kakekmu tidak ngaco-belo” katanya. “Aku bukannya tidak dapat melihat.” “Baiklah,” lain kali jangan kau lancang turun tangan.”
In Gak tertawa, ia kata: “Ceng- ujie gesit dan lincah, sekarang dia masih begitu muda, dibelakang hari dia mesti liehay sekali, maka tak usahlah tayhiap menegur dia.”

Habis berkata, In Gak lantas bekerja, menggusur mayatnya Cie-sat-sin dan Tiat-hoed kedalam rumah. sebab juga si pendeta, setelah nyender sebentar ditembok. arwahnya sudah melayang ke Dunia Barat
“Tayhiap” kata In Gak kemudian, “Aku melihat tempat ini tak dapat ditinggali lebih lama pula. Baiklah tayhiap beramai pindah dari sini. Apakah tayhiap mempunyai sanak atau sahabat disuatu tempat lain dimana kamu dapat menumpang bernaung?”

Liok Koan berpikir. ”Aku lihat aku cuma dapat pergi kerumah say-hoa-to dikota Peng-ciang” katanya. “Wan- jie, mari kita bersiap-sedia, kita harus segera berangkat.”
Nona itu menurut, bersama kakeknya ia lantas pergi kedalam, guna menyiapkan buntalan mereka.
Syukur rumah orang she Hoe ini berada diujung gang yang sunyi dan banyak juga pepohonannya, maka selama terjadi peristiwa berdarah yang hebat itu, tidak ada orang lain yang mengetahuinya, jikalau tidak. mungkin mereka menemui kesulitan lain.

Liok Koan mempunyai dua ekor keledai, maka kedua binatang itu dipakai untuk mereka mengangkat kaki.
In Gak tertawa ketika ia berkata: “Kamu bertiga naik atas dua ekor keledai, inilah bagus. Nah, lekaslah kamu berangkat”
Ceng-jie mengawasi dengan matanya. Ia heran-“Gan Toako, bagaimana dengan kau?” ia tanya si anak muda.
In Gak bersenyum.
“Toakomu dapat berjalan cepat tak kalah dengan kakinya keledai kamu” ia menjawab. “Kamu harus ketahui, tidak dapat kita jalan bersama.”

Ceng-jie gelisah.
“Toako, secara begini saja kau mau meninggalkan aku?” dia tanya.
In Gak mengusap-usap kepala anak itu.
“Ceng-jie, baik-baiklah kau mendengar kakek dan kakakmu,” ia kata, “Sabar dan kau pelajarilah dengan sungguh2 ilmu silat yang toakomu ajari kau, Kau tahu, aku mempunyai urusan sangat penting. Tapi jangan kuatir, dalam tempo dua tahun, aku nanti datang kepada kamu di Peng-ciang.”

Ia merogo kesakunya, mengeluarkan sepotong emas, yang ia serahkan kepada bocah itu, sembari ia kata: Inilah untuk kau membeli bebuahan. Anak itu tahu diri, ia menampik,
“Terima, Ceng-jie” kata In Gak, sungguh2. “Jikalau kau tolak. toakomu marah”
Ceng-jie menerima dengan terpaksa, ia mengucapkan terima kasih. Tapi ia bersedih, air matanya lantas melele keluar.

Matanya Wan-jie pun merah, sedang Liok Koan menjadi sangat terharu.
“Nah, berangkatlah” In Gak mendesak. sebab ia pun berat untuk berpisah.

Mau atau tidak mau, kakek dan cucu2nya itu lantas mengeprak keledai mereka.
In Gak menanti sampai orang sudah pergi ujauh, ia lantas menggunai kedua tangannya menggempur ambruk sisa rumahnya Liok Koan, habis mana ia pergi meninggalkan Jie cap lie-pou, untuk diam2 menguntit tiga orang itu ia mengantar sampai dikota raja, baru ia memisahkan diri.
***

Pemandangan malam dijembatan Louw Kauw Kio dikota raja adalah pemandangan alam yang indah, akan tetapi In Gak menuju kesana diwaktu fajar, setibanya disana, sudah terang tanah, ia lantas mendengar dan melihat berlalu-lintasnya kereta2 diatas jembatan itu. Tepat ia menginjak ujung jembatan, ia mendengar suaranya dua orang yang tertawa dan berkata: “Sungguh sha-tee seorang yang dapat dipercaya. Begini pagi kau telah sampai disini”

Bukan main girangnya pemuda ini kapan ia telah mengangkat kepalanya. Kalau tadi ia baru mendengar suaranya, sekarang ia menampak wajahnya orang yang menegurnya itu ialah Kian-koen-cioe Loei Siauw Thian bersama Kioe-cie sin-kay Chong Sie.
Segera mereka membuat pertemuan, tetapi untuk berbicara, guna mencegah tertariknya perhatian orang lain, mereka lantas pergi kesebuah rumah penginapan kecil di Wan-peng. Disini barulah mereka dapat memasang omong, paling dulu tentang perpisahan mereka.

Tiba2 In Gak tertawa dan menanya Siauw Thian: “Jieko, kebinasaannya Sam-cioe
Gia- kang ditepi pengempang, bukankah itu hasil kerjamu yang gilang-gemilang?”
Siauw Thian bersenyum.
“Kau terkalah” sahutnya. “Jikalau bukan aku, siapa lagi? Setelah melakukan itu, aku berpikir. Aku berkuatir orang nanti menggunai nama palsu dan itu dapat merugikan kau dalam usahamu menuntut balas. Kau tahu, hiantee, setibanya dikota raja, lantas aku membikin penyelidikan. Dulu hari itu, yang mengeroyok Cia Peehoe berjumlah kira2 sembilan puluh orang, diantaranya ada tiga orang Cian san Pay dari Kwan-gwa. Pemimpin dari partai itu ialah Pek san it-ho Kiong Thian Tan. Dia bukanlah seorang jahat. Baiklah, hiantee pergi ke Khouw-kee-chung di Liauw-leng, untuk menyelidikinya. Bila orang-orang itu dapat menyingkir jauh, kau bakal menjadi berabeh. Menurut aku, paling baik kau menuntut balas satu demi satu. Aku telah pikir, biarlah aku bersama toako menjadi si tukang mencari rahasia, lalu kaulah yang turun tangan terhadap setiap musuhmu itu. Kau akur, bukan?”

In Gak setujui pikiran itu, ia girang sekali.
“Bagaimana dengan urusan jieko sendiri?” tanyanya kemudian.
Siauw Thian mengangguk. dia tertawa.
“Itulah bukan urusan terlalu besar” sahutnya.” Aku mempunyai seorang sahabat karib yang bekerja menjadi Cong-pouw-tauw dikantor Kioe-boen Teetok. dia bernama Poei Kiat. Dalam menjalankan tugasnya itu, dia bersikap bengis, maka dia dianggap sudah bersalah terhadap banyak sahabat kaum Kang-ouw. Begitulah selama pesta ulang-tahun kelimapuluh dari ia, ia telah kecurian seperangkat baju lapisnya hadiah dari sepnya. Kejadian sebenarnya biasa, pencurian itu dapat diselidiki dengan perlahan. Tapi si pencuri berguyon hebat, dia justeru mengumumkan itu. Peristiwa itu sudah berjalan hampir setengah tahun, Tahulah Peei Kiat bahwa sengaja orang hendak mencemarkan dan
bukan mencuri untuk mencuri. Dia lantas menyelidikinya sambil berbareng memohon bantuanku. siapa tahu, aku pun pusing dengan penyelidikan itu. Baru lima bulan yang lalu, diwilayah sam-siang, aku endusan. Poei Kiat sendiri habis daya, hingga dia cuma dapat menarik napas panjang pendek. tubuhnya jadi rongsok. hampir dia kehilangan pangkatnya. setelah aku tiba disini..”

“Lantas jieko berhasil bukankah?” In Gak memotong, tertawa.
Siauw Thian pun tertawa.
“Urusan tak ada sedemikian mudah” sahutnya. “Hanya setibanya aku, kebetulan aku bertemu toako, jikalau tidak. pasti aku tidak dapat bekerja licin”
In Gak melirik kepada Chong sie. “Bagaimana, toako?” tanyanya.

Chong sie menoleh pada Siauw Thian, dia tertawa dan berkata: “Kau bicara tidak jelas, kau dapat membuat shatee nanti menyangka aku, lantaran mengemis saja aku masih tidak cukup makan, bahwa aku pun mencuri barang orang”
“Ah, toako” kata In Gak. tidak puas. “Mengapa kau menduga demikian? Apakah kau mengira aku tidak kenal baik pada toako dan jieko?”
Chong sie tertawa, begitupun siauw Thian.

“Shatee, aku tidak permainkan kau” katanya. “Mari aku menjelaskan. Tujuh hari lamanya sia-sia belaka aku membuat penyelidikan dikota raja ini, lalu dihari kedelapan aku bertemu toako dikuil Tang Gak Bio kemana aku pergi berjalan-jalan. Belum sempat aku melihat toako, dia sudah lantas menghampirkanku. Lantas toako memuji kau, shatee. Tidak kusangka, kau pandai ilmu pengobatan. Maka aku pikir, kalau nanti urusan shatee sudah selesai, baiklah shatee tinggal disini selaku tabib, pasti orang-orang besar nanti berduyun-duyun datang padamu sambil mengangkut uang yang putih seperti salju”

“Jieko” In Gak memotong pula, hanya dia berkata sambil tertawa, “Kenapa kau masih berguyon saja? Apakah jieko mau aku hajar kau dengan ilmu Hoen-kin Co-koet-cioe untuk membuatnya kau salah laku?”
Kata-kata ini disusul dengan gerakan sebelah tangan. siauw Thian lompat mencelat.
“Aku tidak berguyon, shatee” katanya. “Baiklah nanti aku menutur pula. Aku lantas bicara dengan toako Toako kata ia mempunyai jalan. ia mengajak aku kemarkas Kay Pang, disana ia minta keterangan kalau-kalau ada salah seorang anggautanya ketahui urusan pencurian itu, sudah umumnya dimana ada pesta disana mesti kedapatan pengemis. Demikian malam peristiwa itu, ada tiga anggauta Kay Pangyang mendapat lihat lima orang bagaikan bayangan melompati tembok dan rumah, bahkan mereka itu diduga mestinya Touw-shia Ngo-cie, ialah Lima Tikus Kotaraja. Bersama-sama toako, aku lantas menyelidiki Ngo-cie. Mulanya mereka itu menyangkal, saking gusar, toako meng hajar dengan pukulan Kim-kong san-ciang, sedang aku, aku menasihatinya sambil mengancam, apabila mereka tidak menyerahkan pakaian itu, Tong-nie Poo-kah, tak ada tempatnya mereka dikota raja ini. sebaliknya, aku berjanji akan tidak menarik panjang dan tidak akan mengganggu sepak-terjang mereka. Demikian baju itu dibayar pulang dan aku mengembalikannya kepada Poei Kiat. Besoknya toako menjamu Touw-shia Ngo-cie didalam markasnya, disana secara kebetulan kita membicarakan hal ayahmu, shatee. Menurut Ngo-cie, jumlah pengeroyok ayahmu itu berjumlah lebih dari sembilanpuluh orang, diantaranya ada tiga anggauta Cian san Pay, hanya mereka tidak tahu siapa orang itu.”

In Gak menjura kepada kakak- angkat nomor dua itu, berulang kali ia menghaturkan terima kasih.
“Diantara saudara sendiri, mana dapat ada ucapan terima kasih?” Siauw Thian tertawa. “Ooh, hiantee, aku lupa menghaturkan selamat kepada kau.”
Muka In Gak menjadi merah.
“Sebelum sakit hatiku terbalas, tak dapat aku membangun rumah-tangga” ia berkata. “Jieko, toako, sekarang juga aku hendak berangkat, setelah menemui mentuaku, baru aku mau pergi ke Khouw-kee-toen.”

“Apakah hiantee tidak hendak menikmati dulu keindahan kota Pak-khia?”
Chong sie tertawa ia mendahului si anak muda berkata:
“Orang lagi kegirangan, mana dia mempunyai minat untuk pesiar? sudahlah, mari kita berangkat”
Kembali mukanya In Gak menjadi merah. Tak berdaya ia untuk godaan dua kakak-angkat itu. Dengan lantas katiganya berangkat ke Chong-cioe, kerumah Keluarga Tio, dimana mereka berkumpul dengan gembira sebab dua hari sebelum mereka, To Ciok sam bersama Gouw Hong Pioe, The Kim Go, Hauw Lie Peng, Tio Lian Coe dan Cioe Goat Go telah tiba terlebih dulu.

Tio Kong Kioe belum pernah bertemu dengan bakal menantunya, kapan ia sudah melihat roman, dan potongannya Cia In Gak. la girang bukan main. ia lantas saja penuju dan menyukai menantu itu dan ia bersyukur untuk peruntungan bagus dari puterinya. Tapi ia tengah sakit mengi, tidak dapat ia turun dari pembaringan untuk menyambut sekalian tetamunya itu.
“Tua-bangka she Tio, kau belum ketahui bahwa menantumu ini ahli ilmu pengobatan” kata Chong sie sambil tertawa. “Aku tanggung tidak sampai lewat tiga hari, kau akan sudah segar-bugar seperti naga dan harimau dahulu hari”

Kong Kioe heran, ia mengawasi menantunya itu.
Muka In Gak merah, ia likat, tetapi ia menghampirkan mentuanya itu, untuk ia periksa nadinya, sembari memeriksa ia menanyakan tentang keadaan penyakit sukar menyalurkan napas itu, setelah mana ia membuat dua macam resep. satu untuk dimakan, satu lagi obat luar. Dilain pihak segera ia mengobati dengan tusukan jarum hingga sembilan kali, yang mana dilakukan saling-susul dikedua jam ngo-sie dan jie-sie, tengah-hari dan lohor.

Benarlah seperti katanya Chong sie si Naga sakti Sembilan Jeriji, lewat tiga hari, Tio Kong Kioe telah sembuh dari sakitnya yang bandel itu, hingga ia menjadi girang sekali, sedang Lian Coe dan Goat Go girang dan bangga untuk tunangannya itu.

Akan tetapi In Gak sendiri tidak berdiam lama dirumah mentuanya, selang dua hari, ia meminta diri, berpisahan dari rombongan, untuk berangkat ke Tiang Pek san, gunung yang disebut juga Cian san.
XI

Pada suatu hari maka didusun Khouw-kee-toen di Liauw-leng, Kwan-gwa, telah datang seorang pelajar usia pertengahan, yang lantas meminta kamar dalam sebuah hotel kecil. Dia bicara dengan lagu-suaranya orang Kang lam. Besoknya dia memasang merek dipintu hotel, memberitahukan bahwa dia mengerti ilmu ketabiban serta bersedia juga menolongi orang menulis surat dan lainnya. Untuk itu dia katanya bersedia menerima uang sekedarnya. Dia memakai nama Jie In.

Ketika orang melihat mereknya itu, rata-rata orang memuji tak perduli mereka yang terpelajar, sebab huruf-hurufnya bagus sekali.
Khouw-kee-toen mempunyai cuma dua jalan besar tetapi karena letaknya dipesisir dan juga mulut gunung Cian san, ramai keadaannya. Kaum saudagar, yang mengusahakan kulit dan bulu ternak. juga obat-obatan jinsom dan yosom, berpusat disitu. Karena ini, setiap rumah memakai layar yang tebal didepan rumahnya, guna menjaga sampokan angin yang keras serta serangan debu disebabkan ramainya lalu-lintas kendaraan dan kuda. Angin pun menerbangkan pasir kuning yang halus, yang tak hentinya selama empat musim.

Justeru itu waktu bulan ketujuh, musim panas akan tetapi untuk wilajah Kwan-gwa orang tak terganggu teriknya sang surya, maka juga seperti biasanya setiap magrib semenjak kedatangannya, Jie In si tabib merangkap pelajar, telah pergi kesamping kiri hotelnya dimana ada rimba pohon cemara, dimana pun ada kali kecil beserta jembatannya, jembatan batu. Dibawah jembatan itu, dimana air berwarna hijau, dia berdiri menikmati keindahan alam. Disitu segala apa tenang dan tenteram. Angin bertiup halus. Matahari sore mengasi lihat cahajanya yang permai. Jie In menggendong kedua tangannya, dia memandang kelangit, mulutnya bersenandung. Atau dilain saat dia bercokol dijembatan, mengawasi air jernih yang mengalir tak hentinya.

Dihotelnya, Jie In dikenal sebagai seorang yang manis- budi. Ada yang memanggilnya sie-seng atau tayhoe (tabib), Ada yang membahasakan sinshe (bapak guru). semua itu ia terima dengan senang. saban ketemu orang tak ketinggalan anggukannya yang halus senyumannya yang manis.

Pada dua hari pertama, orang-orang yang datang berobat tidak banyak jumlahnya, setelah itu mulailah datang perubahan. Inilah disebabkan dia tidak memandang uang. Terhadap orang miskin, ia tidak minta bayaran, ia menolongnya sama seperti mereka yang dapat membayar. Terutama ialah resepnya, atau lebih benar obatnya, manjur setiap bungkus, karena sangat tepat pemeriksaannya. Maka itu ditempat sekitarnya sepuluh lie lantaslah terkenal Jie le-seng atau Jie sinshe.
Dengan lekas, dua bulan telah lewat.

Pada suatu hari selagi senggang, Jie In duduk bersantap bersama tuan rumah yang usianya sudah lanjut. Tiba-tiba diluar hotel terdengar berisiknya ringkikan kuda disusul dengan disingkapnya gorden serta munculnya tiga orang dengan tubuh mereka besar dan keren dan kepalanya ditutup tudung rumput yang lebar. Seorang diantaranya, yang usianya paling tua, lantas berkata dengan suara nyaring: “Loociangkoei, apa benar disini ada berdiam Jie Tayhoe?”

Loo ciangkoei ialah panggilan untuk pemilik hotel dan tayhoe, tabib. Tuan rumah itu segera berbangkit.
“Oh, kiranya Soen Tongkee” dia berkata, tertawa. “Inilah Jie Tayhoe”
la lantas menunjuki teman bersantapnya itu. Jie In segera berbangkit.
“Ada urusan apa tuan mencari aku?” ia menanya dengan hormat. Dengan aku ia menjebut hak-seng murid, suatu kata- kata yang merendah.

Orang she soen itu mengawasi, lantas dia tertawa berkakak.
“Jie sinshe, kau beruntung sekali” katanya, tertawa pula. “Cucu perempuan dari majjkan kami mendapat sakit, kau diundang untuk tolong mengobati dia, asal kau benar pandai dan berhasil menjembuhkannya, pastilah majikan kami bakal jadi sangat girang, kau tentulah akan peroleh hadiah perak yang putih- gemilang, hingga akan cukuplah hidupmu seumurmu”
Habis berkata, lagi dia tertawa.

Tapi Jie In menerimanya sebaliknya. Ia kata sungguh-sungguh:
“Tabib itu ada kewajibannya sendiri-sendiri. Tabib menolong si sakit, dia miskin, dia kaya, sama saja. Jikalau aku mesti menolong untuk uang, terima kasih, tidak sanggup aku. Dimanakah tinggal majikan tuan itu? Nanti aku pergi sendiri kesana”

Orang she Soen itu tidak jadi gusar. Kembali dia tertawa.
“Jie sinshe, aku tidak sangka kau bertabiat begini macam” katanya. “Majikanku itu Kiong Thian Tan, dan julukannya Pek san it-ho si Burung Jenjang dari gunung Pek san, dia tinggal dipuncak Pit-kee-hong diatas gunung Tiang Pek san. Manusia itu diketahui , pohon itu dikenal dari bayangannya, maka kau niscayalah pernah mendengarnya. Dan aku si tongkee Soen Kay Teng bertiga, kami sengaja datang kemari untuk memapak kau mendaki gunung, maka juga, jikalau sinshe mau menyusul belakangan, bagaimana dapat kau mendaki puncak itu?”

Jie In agaknya baru tersadar.
“Oh, kiranya Kiong sancoe” katanya separuh berseru.
“Benar-benar aku beruntung sekali, Soen Tongkee, sudikah menanti sebentar, aku hendak berkemas dulu”
Lantas ia masuk kedalam kamarnya. Tempo ia keluar pula, ia mengenakan baju luar dari kulit dantangannya mencekal beberapa jilid buku ketabiban yang sudah tua dan robek disana-sini

“Benar-benar aku tidak menyangka Jie sinshe seorang Kang-ouw sejati” kata Soen Kay Teng tertawa.
“Diatas gunung, angin besar dan hawa dingin, untuk kami penggemar ilmu silat, itulah tidak berarti, tidak demikian dengan sinshe yang tubuhnya lemah, maka jikalau sinshe tidak memakai baju lapis, ada kemungkinan sebelum sinshe memeriksa orang sakit, sinshe sendiri yang nanti roboh karenanya. Jikalau itu sampai terjadi, bukankah menggelikan?”

Tuan rumah dan dua kawannya Kay Teng ini tertawa.
Jie In pun turut tertawa. Ia kata: “Untuk kami tabib pengumbara dan sebangsanya, seperti tukang tenung, empat penjuru lautan ialah rumah kami, jikalau hal ini aku tidak ketahui, tak dapat aku dipanggil tabib yang biasa merantau.Benar bukan, soe Tongkee?”
Tanpa menanti jawaban, ia melanjuti kepada tuan rumah: “Loociangkoei, tolonglah kunci kamarku, sebentar setelah kembali kita nanti berkumpul pula“
“Baik sinshe” sahut tuan rumah.

Soen Kay Teng lantas mengajak si tabib keluar dimana sudah menantikan sebuah tandu yang dipikul empat orang. Itulah tandu istimewa untuk Kwan-gwa, tandu mana mirip joli tapi tanpa penutup, disitu orang dapat rebah menyender, tatakannya ialah rumput yang lunak dan hangat. Melihat tandu itu, Jie sinshe agaknya jeri.
“Aku mendaki gunung naik ini?” katanya.
Kay Teng tertawa.
“Jikalau sinshe takut, meramlah, tidak apa” katanya.

Jie In menggeleng kepala, tetapi ia toh naik ditandu dengan roman terpaksa. Begitu ia menaruh tubuhnya, begitu empat tukang gotongnya berseru dan bergerak. mengangkatnya dan berjalan, cepat seperti lari.

Diatas tandu, Jie In merasai tubuhnya terumbang- ambing, didalam hatinya ia kata: Liehay empat tukang gotong ini, disebelahnya biasa, kuat kaki mereka Ia diam saja. Inilah yang pertama kali ia naik kendaraan istimewa itu.

Soen Kay Teng bertiga menunggang kuda, mereka jalan didepan. Belum lima lie, tiba sudah mereka dimulut gunung Cian san dimana segera muncul seorang dengan sapanya: “Soen Tongkee, apakah Jie sinshe sudah sampai?”
Sudah” sahut Kay Teng cepat. “Lekas wartakan ke Cong-tong”
“Ya” menyahut orang itu, yang segera berlalu dengan cepat.

Kay Teng bertiga lompat turun dari kuda mereka, mereka lompat maju kedepan. Ketika tandu Jie sinshe tiba didekatnya, dari mulut pos jagaan terdengar mengaungnya tiga batang anak panah nyaring,yang lantas disambut di empat penjuru hingga suaranya menjadi ramai sekali.
Jalanan mendaki sulit, Kay Teng bertiga sering berlompatan. Tinggal si tukang-
tukang gotong. Dengan lekas pakaian mereka kujup dengan peluh. susah atau tidak, mereka maju terus. Diatas tandu, Jie sinshe tak hentinya mengasi dengar suara kagetnya. Sampai ditengah jalan, disana kedapatan pepohonan yang lebat, dimana pun terlihat adanya ular dan lain-lain binatang alas. Disini angin meniup keras, membuat rimba berisik sekali. saban-saban terdengar mengaungnya panah-nyaring tetapi pelepasnya, atau lain orang tak nampak satu jua.

Sekira perjalanan tiga jam barulah Jie In tiba diatas gunung. Melihat jauh kedepannya, ia menampak puncak gunung terselimutkan salju putih. Angin dingin menyampok muka tak sudahnya.
“Soen Tongkee” si tabib memanggil, tangannya memegang keras kedua pinggiran tandu, “Apakah masih belum sampai? Aku bisa mati bekuh ni”

Kay Teng, yang berjalan didepan, menoleh sambil tertawa.
“Jie sinshe, bukankah kita telah tiba?” dia menyahut.
“Kau lihatlah kebawah sana”
Jie In memang menanya sambil dongak, mendengar demikian, ia tunduk. maka ia melihatlah diba wah, didalam lembah, berderet- deretnya rumah-rumah, cuma sebab kealingan pepohonan, tidak dapat ia melihat tegas. Lembah itu mirip paso yang lebar. Rumah itu hitung ratus atau mungkin ribuan. Maka hebatlah Cong-tong, pusat atau markas besar dari Cian san Pay, berada didalam situ. Memang sukar mencarinya.

Sekarang orang mulai jalan mudun.. Kalau mendaki lambat, turun cepat. Maka Jie In merasa ia seperti terbang terbawa angin. Mukanya menjadi pucat. syukur lekaslah mereka sampai dibawah, ditanah rata. Maka dia mengeluarkan napas lega, mukanya nampak tenang. Kay Teng tertawa mengawasi tabib itu.
Sekarang orang berjalan berliku-liku dijalanan didalam pohon-pohon lebat. Jie In melihat jalanan, anehnya orang tidak ambil itu, orang bertindak disampingnya. Maka teranglah, orang lagi melewati tempat menurut garis-garis pat-kwa, segi delapan.

Sekeluarnya dari dalam rimba barulah orang melihat tempat yang kosong dan luas. Dis itulah nampak rumah-rumah yang tadi terlihat samar-samar. segera terdengar anjing menggonggong dan ayam berkokok. Dari setiap rumah terlihat asap mengepul naik, Agaknya orang berhadapan dengan rumah-rumah kampungan, maka siapa sangka itulah pusat dari sebuah partai kaum Kang-ouw.

Kay Teng bertiga tepat jalan dimuka. Tujuh atau delapan kali mereka main mengkol-mengkol, baru mereka itu tiba didepan sebuah rumah besar dan keren, yang terkurung tembok. Pintu pekarangan, yang besar dan lebar, berdaun dua, disitu tercantel gelang pegangannya yang merupakan kepala harimau. Pintu itu ditutup rapat, untuk masuk. orang mengambil pintu kecil dipinggirannya. Didepan rumah terlihat empat orang dengan golok ditangan. satu diantaranya segera lari kedalam begitu lekas mereka itu melihat Soen Kay Teng. Tiga kali terdengar suara gembreng, yang menyusuli dipentangnya pintu tengah.

Jie In menduga tuan rumah menyambut ia dengan cara hormat. Lantas ia melihat munculnya seorang tua usia tujuhpuluh kira-kira, diikut beberapa pengiring. Mereka itu bertindak dengan cepat.
Mengawasi si orang tua, Jie In melihat sebuah muka yang merah, sepasang alis putih yang panjang, yang ujungnya nempel kerambut didekat telinga, dan sepasang mata yang tajam. Dilihat sekelebatan, dia mirip dewa panjang umur. ia menduga kepada Pek san It-ho Kiong Thian Tan, maka ia lantas memberi hormat sambil menjura seraya berkata: “Aku Jie I n memohon maaf telah terlambat mengunjungi sancoe, hingga sancoe sendiri yang keluar menyambut. Aku berdosa harus mati”

Kiong Thian Tan tertawa lebar, matanya bersinar bagaikan kilat menatap si tabib.
“Jie sinshe, bagus kata-katamu” ujarnya. “Cucuku sakit berat, terpaksa aku mengundangmu. Tentulah sinshe menderita disepanjang jalan.”
“Tidak. tidak.” kata Jie In menjura pula. “Orang sakit perlu diobati, maka itu, tolong sancoe lekas mengajak aku melihat cucumu yang terhormat itu.”
Thian Tan tertawa sambil mengurut kumisnya. “Silakan,” ia mengundang, terus ia bertindak.

Jie In mengikuti tuan rumahnya. Ia melihat sebuah rumah yang besar dengan pekarangan dalam yang luas. Didalam pekarangan itu ada ditanam pohon-pohon cemara dan pek, juga pohon koei-hoa yang bunganya berbau harum, sedang jalannya ditaburi batu putih terbariskan pohonan tanhong. Dibulan sembilan, daun pohon itu merah indah seperti api marong.
Jie In langsung dipimpin kedalam sebuah kamar tulis. Ia kagum. Tak surup kamar semacam itu dipunyai oleh orang Kang-ouw kepala suatu perkumpulan besar. Mestinya itulah rumahnya seorang sasterawan- Ditembok tergantung banyak pigura gambar dan tulisan. sesudah kacung menjuguhkan teh, tuan rumah mengundangnya masuk keperdalaman, melintasi lorong berliku-liku, ranggon berkaca dan lainnya. Disitu kedapatan banyak pegawai, pria dan wanita.

Akhirnya tibalah mereka dalam sebuah kamar dimana ada seorang anak perempuan umur enam atau tujuh tahun lagi tidur nyenyak. tubuhnya dikerebongi selimut, hingga terlihat mukanya saja yang pucat-pias tak cahayanya.
Didalam kamar itu masih ada tiga orang lain lagi.Yang seorang ialah satu nyonya tua dengan sepasang mata celi dan tajam tetapi tangannya mencekal sebatang tongkat hitam-mengkilap yang gagangnya berkepala burung-burungan. Yang kedua jalah seorang njonya usia tigapuluh kira-kira, yang romannya cantik, dan yang ketiga seorang budak umur tiga belas tahun, yang duduk numprah diatas pembaringan. Atas datangnya tuan rumah dan si tabib, mereka berbangkit menyambut.

“Inilah isteriku” Thian Tan mengasi kenal. Ia menunjuk si njonya tua. Jie In memberi hormat sambil menjura seraya memperkenalkan diri.
“Inilah menantuku” kata pula Thian Tan menunjuk si njonya muda. Lagi sekali Jie In memberi hormat sambil menjebut.

“Sudah, sinshe, jangan pakai banyak adat-peradatan” kata si nyonya tua tertawa. “Tolong lihatlah cucuku ini.”
Jie In menyahuti sambil ia duduk ditepi pembaringan, selagi memeriksa nadi, beberapa kali ia menggeleng kepala. sekian lama barulah ia berbangkit, untuk terus berkata: “Inilah bukan penyakit berbahaya, cuma panas-dingin terkena angin jahat. Mungkin thaythay semua menyayangi cucu, dia dikasi makan obat kuat sebab disangka tubuhnya lemah, karena mana angin terdesak kedalam dan menyebabkan keadaannya parah. Coba dia dikasi obat mengusir panas, dengan lantas dia akan sembuh cukup dengan sebungkus obat. Mungkin dia diperbahayakan oleh tabib tolol”

Thian Tan masgul karena sakitnya sang cucu, mendengar suaranya Jie sinshe,
hatinya lega, tetapi mendengar pula kata-kata hal si tabib tolol, alisnya mengkerut. “Sinshe, apakah dia dapat ditolong?” ia tanya.
“Bisa, bisa” menyahut si tabib. “Dalam tempo tiga hari, anak ini akan sembuh.” Mendengar itu, senang hatinya tuan rumah.
Setelah memeriksa, Jie In meminta diri untuk pergi keluar. ia diantar kembali kekamar tulis. Ia cuma berpikir sebentar untuk menulis surat obatnya.
“Aha, sinshe” berseru tuan rumah ketika ia menyambuti resep dan melihat tulisannya. “Tulisanmu indah sekali, jarang aku melihat tulisan semacam ini”

“Tulisanku justeru buruk sancoe” Jie In merendah.
Ketika itu bersama tuan rumah dan tetamunya itu ada dua orang lain lagi, yang menemani, satu diantaranya, seorang tua, yang turut melihat resep itu, berkata: “Benar, tulisan ini sangat bagus. Tidak sembarang ahli dapat menulis seindah ini”
Thian Tan menatap tabib didepannya, matanya bersinar. ia sudah lantas dapat sebuah pikiran. Dengan tertawa manis, ia kata: “Kalau anakku dapat disembuhkan, aku pasti akan menghadiahkan kau, sinshe?”
Lantas ia menjuruh bujangnya pergi membeli obat.

Perkataannya Jie In benar. Lewat tiga hari, sembuh sudah si nona cilik, Ia dibawa engkongnya kekamar tulis, untuk menghaturkan terima kasih pada penolongnya.
“Terima kasih kembali?” berkata Jie In, seraya ia pondong anak itu untuk dicium, kemudian ia menurunkannya dan kata sambil tertawa: “Selesai sudah tugasku disini, aku memohon diri.”
Tuan rumah tertawa.
“Masih ada sesuatu untuk mana aku mau minta tolong pula” ia kata. “Aku harap sinshe jangan lekas pulang dulu. sinshe pandai surat, aku ingin sinshe suka tolong mengajari surat pada cucuku ini. suka aku membayar gaji dua ribu tail setahunnya. sinshe tidak menampik, bukan?”

Jie In lantas melengak sebentar, lantas ia menggeyang kepala.
“Aku beruntung dan girang atas penghargaan sancoe ini” katanya, “Hanya sayang aku sudah terlalu biasa merantau hingga tak dapat aku menetap lama disuatu tempat. Justeru semasa hidupku ini, ingin aku pesiar keseluruh negara, untuk menikmati keindahannya. Dalam hal ini maaf, aku jadi berlaku kurang hormat”

Thian Tan mengerutkan alis.
“Jie sinshe, aku sangat menyukai orang pintar, maka itu harap kau jangan menampik” ia membujuk. “Sinshe masih muda, masih banyak tempomu untuk pesiar. Biarlah aku memberi tempo tiga tahun. Kau bukan kaum persilatan, kau juga bukan orang partaiku, selama tiga tahun itu suka aku memberi kebebasan terhadapmu untuk keluar- masuk disini. Disinipun banyak orang yang sakit, sinshe dapat sekalian menunjuki kepandaianmu menolongi mereka, hingga kau jadi dapat sekalian melakukan perbuatan baik dan mulia.”
Selagi berkata begitu, tuan rumah mcngasi lihat sorot mata meminta sangat.

Jie In berpikir.
“Sancoe begini baik hati, jikalau aku menolak terus, aku jadi tak berbudi”katanya. “Melainkan ada satu permintaanku, yaitu aku biasa tidur tengah hari, selama itu tidak dapat orang mengganggunya. Dapatkah sancoe menerima baik permintaanku ini?”
Mendengar begitu, Thian Tan girang bukan main.
“Itulah perkara sangat kecil” katanya girang. “Baiklah, kamar tulis ini dan sekitarnya sampai kebelakang aku jadikan daerah terlarang, tanpa urusan penting siapapun tidak dapat mengganggu sinshe”

Jie In girang. ia lantas minta ijin buat pulang dulu ke Khouw-kee-toen, untuk mengambil semua barangnya serta mengurus lainnya, sebab disana masih ada beberapa pasien yang membutuhkan pertolongannya lebih jauh.
Thian Tan terima baik permintaan itu, bahkan ia memberikan uang lima- ratus tail perak guna si tabib membeli pakaian dan lainnya. keperluan.

Jie In pulang kehotel dimana sampai lima hari lamanya ia bergaul erat dengan pemilik hotel, baru ia kembali kegunung, kemarkasnya Cian san Pay yang diberi nama dusun Hoan-pek san chung. Maka semenjak itu, kecuali diwaktu mengajar surat kepada si nona cilik, la luang sekali temponya, yang mana ia gunai untuk menulis dan menggambar, atau minum arak atau jalan-jalan diluar sanchung.

Pek san It-ho menghargai tabib itu, ia memberikan sehelai leng-kie atau bendera-titah yang memakai buku merah dengan apa ia dapat keluar- masuk dengan merdeka. sebagai orang pelajar yang lemah, ia dianggap tidak nanti pergi menghilang dari gunung itu. Ia pun dapat seorang kacung umur dua belas tahun, untuk mengurus segala kebutuhannya.

Pada suatu hari Nona sioe, cucunya Thian Tan itu, lari berlompatan masuk kekamar gurunya. Ia berkuncir dua buah yang ngacir tinggi. Begitu melihat gurunya, ia berseru:
“Sinshe, ayahku sudah pulang Dia membawa banyak kembang gula untukku. Ayah mendengar sinshe telah menyembuhkan aku, ia ingin sangat menemui, maka itu marilah sinshe turut aku”
Habis berkata, ia samber baju gurunya, terus ia menariknya. Ia gembira sekali. sambil tertawa, Jie In mengikuti masuk keperdalaman.

Jauh-jauh telah terdengar suaranya tuan rumah, yang berbicara sambil tertawa-tertawa, ketika ia melihat guru cucunya, ia berbangkit menyambut dengan manis, katanya: “Anakku, Leng Hoei, baru pulang dari Tionggoan, ketika ia mendengar kepandaian sinshe, yang pun telah menolongi anaknya, ingin ia menghaturkan terima kasih sendiri pada kau, sinshe. Ini dia anakku, itu”

Memang Jie In telah melihatnya disamping Thian Tan seorang prja usia pertengahan, yang mukanya lebar dan telinganya besar, yang romannya gagah, dan tadi dia bicara riang dengan si nyonya tua dan nona menantunya, maka itu ia lantas memberi hormat pada orang yang ditunjuk itu.
Kiong Leng Hoei tertawa, ia membalas hormat dan kata: “Jie sinshe, kami kaum Rimba Persilatan, kami tidak kenal banyak adat-peradatan- sinshe, banyak-banyak terima kasih”

Jie sinshe merendah. Ia pun menanyakan kesehatannya si nyonya tua dan si nyonya muda, setelah mana ia meminta ijin mengundurkan diri
“Tunggu dulu, sinshe” kata tuan rumah tertawa. “Mari kita dahar disini”
Lantas ia menjuruh budak. menyajikan barang makanan.
Jie In tidak dapat menampik, ia mengucap terima kasih. Demikian mereka bersantap sambil memasang omong.

“Dalam perjalanan pulang dari Kanglam” berkata Leng Hoei, “Aku mendengar kabar bahwa musuh kita dulu hari, Hok-san Jin-sioe, telah mengundang kawan-kawan yang katanya liehay niat datang kemari untuk mencari balas”
Tertawa Thian Tan mendengar kabar itu:
“Tidak apalah jikalau Hok-san Jie-sioe tidak datang kemari” katanya, “Tetapi apabila benar mereka datang, tidak nanti aku beri hati kepada mereka. Kami dari pihak Cian san Pay, meskipun kami tergolong penjahat, kami tidak menghiraukan harta tak keruan asal-usulnya dan kami tak melakukan sesuatu yang tak lurus. Lain adalah Hok-san Jie-sioe, merekalah penjahat biasa, yang tak ada kejahatan yang tak dilakukannya. Dulu hari itupun mereka sendiri yang mengganggu kami maka aku telah menghajar dengan Tay-lek Koen-goan-ciang pada si tertua Wie Lin soei. Aku masih menyayangi dia mendapat nama tak gampang, aku menghajar dia dengan tenaga lima bagian, jikalau tidak. tidak nanti dia dapat pulang hidup-hidup”

“Kabarnya Hok-san Jie-sioe telah meyakinkan ilmu silat yang baru, dari itu tak dapat kita lengah” kata Leng Hoei tertawa.
“Biarlah mereka dating” Leng Hoei berkata. Si nyonya tua tertawa. “Kau nanti lihat berapa jauh sudah aku telah mendapat kemajuan dengan tongkatku sian-tian Thung-hoat yang terdiri dari duapuluh-delapan jurus”
Selagi berkata begitu, bangun rambut ubanan dari si njonya tua, suatu tanda dia sangat kegirangan dan bernapsu.

“Aku tidak sangka, ibu, kau demikian bersemangat” kata Leng Hoei girang.
Selama itu, Jie In dahar dan minum dengan anteng, ia tidak mengambil mumat pembicaraan diantara itu anak dan ayah-ibunya.
“Sekarang ini di Tionggoan telah terjadi dua peristiwa menggemparkan,” kemudian Leng Hoei berkata pula “Yang pertama halnya seorang pelajar muda yang aneh, yang tak ketahuan she dan namanya. Katanya dia telah merobohkan Chong-sie Koay-sioe, ketua dari sip-sam-sia, si Tigabelas sesat, si jago tua patah dua tangannya dan tertotok musna ilmu kepandaiannya. Berbareng dengan itu runtuh juga Hoa-san im- yang siang-kiam, karena mana Oe-boen Loei, ketua dari Oey Kie Pay, telah mendapat malu besar, yaitu dia kena dibekuk si pelajar aneh, hingga dia mesti membubarkan pengaruhnya di Kangsouw Utara. Pula sipelajar aneh, dengan bersendirian saja, sudah mengalahkan sembilanbelas ketua cabang dari Ceng Hong Pay di Cio-kee-chung, sedang besokannya Kioe-sin Soh Cian Lie terbinasakan ditangannya. semua peristiwa itu sangat menggemparkan wilayah selatan dan Utara sungai besar. Kabarnya lagi pelajar aneh itu berusia masih sangat muda, romannya tampan dan gagah. sayang aku tidak berkesempatan bertemu dengannya, jikalau tidak. suka sekali aku belajar kenal dan bersahabat padanya.”

“Kalau begitu bukan kau, aku pun ingin sekali berkenalan dengannya” kata Thian Tan tertawa. “Nah, apakah itu peristiwa yang kedua?”
“Itulah hal yang telah menggemparkan sangat kaum Rimba Persilatan” sahut Leng Hoei, yang kembali tertawa. “Itulah halnya Twie-hoen-poan Cia Boen jago Hoo-lok yang katanya sudah terbinasa digunung Boe Kong san tetapi dia sekarang muncul pula dalam dunia Kang-ouw”
Thian Tan heran-
“Dia?” tanyanya. “Ah, inilah sukar dipercaya”

“Memang, aku pun sukar mempercayainya” kata si anak. “Lim-chong siang-sat, NgoTok Cinjin dari Tong Pek san, serta sam-cioe Gia- kang Hok Leng Tok katanya telah terbinasakan ditangannya, tetapi tidak satu orang pernah melihat dia, cuma tersiar beritanya bahwa Cia Boen lagi mencari tahu orang-orang yang dulu hari mengeroyok dia, untuk satu demi satu dibalasnya”

Jago tua itu mengerutkan dahlnya, tetapi dia kata tertawa: “Kalau hal ini dapat didengar Hoan-thian-cioe Ang Ban Thong beramai, mungkin terjadi mereka tidak dapat tidur nyenyak tiga hari tiga malam”
Tanpa merasa Leng Hoei melirik keluar jendela. “Apakah Ang Toasiok masih ada di Kioe- kiong- kok?” ia tanya.
Kiong Thian Tan mengangguk.
“Ia masih ada disana” sahutnya. “Setengah tindak juga dia tidak berani meninggalkan gunung ini. semenjak beberapa musuhnya hendak membinasakannya, dia lari kemari untuk bersembunyi, sampai sekarang sudah sepuluh tahun, dia terus mengeram diri sekarang terdengar halnya Cia Boen itu, apabila ia mendapat tahu, pasti untuk selamanya dia tidak bakal mau berlalu dari sini. Benar dulu orang mengepung Cia Boen secara menyamarkan diri tetapi Cia Boen itu cerdik, pasti tak sukar untuknya membikin penyelidikan- sebenarnya kelirulah Ang Ban Thong. Urusan bukan urus annya sendiri, kenapa dia mencampur tangan?”

“Tentang adik seperguruannya itu, Kiang Hiong yang jahat, yang berdosa tak berampun, bukan saja Cia Boen, apabila ia bertemu dengan orang-orang sebangsaku, tak nanti ia dapat lolos Kenapa dia mau menuntut balas untuk adik seperguruannya itu? Dasar dia usilan, suka mencampuri urusan tidak keruan, sekarang dia mencari susahnya sendiri”

“Tetapi, ayah, tentang Ang Toasiok, tidak dapat kau mengatakan demikian. Adik seperguruannya terbinasakan orang, mana dapat dia tidak menuntut balas? Kalau orang dengar halnya, dimana dia mau menaruh mukanya?”
“Kau ngaco” kata ayah itu. “Kalau dia benar mau mencari balas untuk adik seperguruannya, dia boleh bertindak terus-terang, secara laki-laki Kenapa dia main kerojok? Kenapa dia main bokong? Itulah perbuatan paling hina”

Mukanya si anak muda merah. Ayahnya itu memang benar.
“Sudah, sudah” Njonya Kiong datang sama tengah. “Kamu ayah dan anak baiklah jangan duduk berkumpul, begitu berkumpul lantas bentrok. Kamu membikin Jie sinshe jadi kesepian, tahu?”
Jie In lagi bicara getol dengan Sioe In, tapi ia lekas berkata: “Tidak apa, tidak apa Tentang Rimba Persilatan, aku tak tahu suatu apa. Chungcoe muda baru pulang, sudah selayaklah ia anak dan ayah memasang omong. Tidak demikian dengan aku si orang perantauan, aku hidup sebatang kara, aku tidak berdaya”

Jie In mengatakan tepat rasa hatinya. Ia memang bersendirian saja.
Thian Tan kuatir membuat si guru sekolah kesepian, ia lantas menukar haluan bicara, saban-saban ia mencari jalan untuk beromong-omong dengan tetamunya ini, syukur ia luas pengetahuannya, sebagai orang Rimba Persilatan, dapat ia menemani si guru, bahkan ia berbicara dengan riang hingga beberapa kali mereka tertawa dan bertepuk tangan, sampai akhirnya tibalah saatnya Jie In minta mengundurkan diri.

Malam itu Jie In tak tenteram hatinya, hingga tak dapat ia tidur. Ia turun dari pembaringan, mengenakan bajunya, lalu duduk dikursi diluar kamarnya. Hawa udara dingin sekali. Ketika itu pun bulan kesepuluh. Apapula orang berada diatas gunung. Bintang-bintang jarang tetapi sang Puteri Malam jernih dan permai sekali, hingga didalam lembah itu, rumah-rumah dan pepohonan memain dengan bayangannya masing-masing. semua pohon, kecuali cemara dan pek. sudah mulai gundul, ada yang tinggal cabang-cabangnya saja. Dalam suasana itu, Jie In terus duduk terpekur, dia bagaikan lagi berpikir keras. Rupanya ada sesuatu yang memegang pikirannya. sampai lewat jam empat baru ia masuk kekamarnya, naik kepembaringannya dan tidur dengan perlahan-lahan.

Besoknya pagi, kesulitan pikirannya Jie In seperti telah lenyap semuanya. seperti
biasa, ia mengajari surat kepada Sioe In, habis mana ia minum teh wangi yang disuguhkan kacungnya. seperti biasa, ia pun bersendirian saja. Hanya hari ini mendadak ia melihat datangnya sancoe Kiong Thian Tan dengan romannya yang rada muram. Dengan tergesa-gesa ia berbangkit menyambut.

“Duduklah sinshe” kata Thian Tan seraya mengulapkan tangan dan bersenyum. “Dalam dua hari ini mungkin Hok-san Jie-sioe datang untuk mencari balas, maka itu apabila tak ada perlunya, aku minta sukalah sinshe jangan meninggalkan kamar tulis ini, supaja bila ada sesuatu taklah sampai kami tak dapat melindunginya. Umpamakata ada orang yang tidak dikenal, atau ada terdengar sesuatu, diangan sekali sinshe memperlihatkan diri, jangan melakukan sesuatu”

Ia menunjuk pada si kacung: “Ini si Pin- jie mengerti juga sedikit ilmu silat untuk menjaga diri, dia bolehlah diminta melindungi sinshe.”
Muka Jie In menjadipucat.
“Nanti, nanti aku berlaku hati-hati” katanya gugup. “Tentang diriku, harap loosancoe jangan menguatirkan apa-apa”
“Kalau begitu, baiklah,” kata tuan rumah, yang lantas berlalu.

Jie In melepaskan napas lega. Ia menoleh kepada Pin- jie, yang berada dipinggir pintu, yang mengawasi ia dengan roman jenaka. Lantas ia mengasi lihat roman sungguh-sungguh.
“Kunyuk cilik, kau berani kurang ajar terhadap bapak guru ya,” katanya, membentak tetapi perlahan- “Awas, satu hari kau bakal tahu rasa”
Tapi kacung itu tertawa.
“Sinhe, mana berani Pin- jie kurang ajar,” katanya.”Aku cuma tertawa sebab barusan waktu loosancoe mengatakan bakal ada orang datang, muka sinshe menjadi sangat pucat.”

“Kunyuk cilik” Jie In membentak pula, romannya gusar. “Barusan loosancoe bilang kau mengerti ilmu silat, coba kau pertunjuki beberapa jurus. Aku tidak mengerti silat tetapi dapat aku melihat kepandaianmu dapat dipakai atau tidak seandaikata kau tak sanggup melindung aku, nanti aku bersembunyi dikolong ranjang. Mau atau tidak?”
Kacung itu tertawa terkikik, hingga dia tampak jenaka.
“Sinshe,” katanya, perlahan, “Baru saja aku peroleh semacam permainan, tetapi tentang ini aku minta janganlah sinshe memberitahukan loosancoe, apabila dia mendapat tahu, aku bisa didamprat hebat”

Habis berkata, dia mengeluarkan dari tangan bajunya tiga panah-tangan panjang masing-masing lima dim, sembari tertawa dia menambahkan- “Sinshe telah melihatnya, bukan?”
Sembari berkata, kacung itu lantas memasang kuda-kudanya, tangan kanannya diluncurkan rata, terus mendadak ia memutarnya. Dan “ser..” maka ketiga batang panah tangan itu melesat menyamber boneka malaikat yang terbuat dari kayu cendana diatas meja.

Jie In terlihat kaget, tetapi ia terus mengambil patung itu, hingga ia melihat ketiga panah nancap masing-masing didada dan kedua mata, nancapnya tiga coen kira-kira. Maka heranlah la yang bocah itu, yang telah mempunyai tenaga cukup besar itu.
“Bagus” si sinshe memuji. “Siapakah mengajarkan kau ini?”
Pin-jie mencabut ketiga panahnya.
“Inilah pengajarannya loohoejin diluar tahunya loosancoe,” sahutnya tertawa.
“Kau maksudkan loothaythay?” tanya si sinshe heran- “Loothaythay demikian liehay?”

Pin-jie tertawa terkikik pula.
Pasti sinshe tidak ketahui katanya, lucu. “Keluarga loosancoe semuanya liehay. Umpama loohoejin, dialah Pek hoat Kioe-tiang-po Yap Han song yang kesohor di
Kwan-gwa. sinshe bukan orang Rimba Persilatan, tapi sinshe tentu telah mendengarnya”
Setelah berkata begitu, seperti dia mendengar suara apa-apa, si kacung lantas memasang telinganya, terus dia lari keluar.
Sendirinya, Jie In tersenyum.

Sang siang lewat dengan cepat, sang malam sebera menggantikan tugasnya. Dan malam itu, dibawah sinar rembulan, segera terlihat berkelebatnya bayangan dua orang, bagaikan burung garuda menyambar, lewat didepan kamarnya Jie sinshe. Menyusul itu terdengarlah bentakan beberapa kali, disusul lebih jauh dengan berisiknya bentrokan pelbagai senjata tajam. Kembali terdengar suara orang. Lalu sang malam sunyi seperti semula, kecuali suaranya angin

Sebaliknya, Pin Jie terlihat lari bergegas-gegas masuk kedalam kamar tulis, terus kekamar tidurnya Jie sinshe, dimana ia dapatkan keadaan sangat sepi. Untuk kagetnya, ia tidak melihat si guru sekolah, hingga ia berdiri melengak. Tidak lama ia tercengang itu, lantas ia lari keluar. Tapi tidak lama, ia telah kembali bersama-sama tuan rumah yang tua danyang muda.

“Jie sinshe” ia memanggil setelah mereka memasuki kamar tulis.
“Ya” terdengar jawaban perlahan dan menggetar, suara mana datangnya dari kolong pembaringan, menjusul mana lalu tertampak munculnya kepala si guru sekolah, yang merayap keluar dengan tubuh bergemetar.

Hampir ThianTan dan Leng Hoei tertawa, syukur mereka dapat mencegahnya. Mereka melihat Jie sinshe bermuka hitam dan bajunya penuh debu.
“Barusan datang dua sahabat yang membawa berita,” berkata tuan rumah yang tua. “Diantara kita telah terbit salah paham, kita telah bentrok sebentar karena kami merintanginya. Mereka itu mengabarkan bahwa Hok-san Jie-sioe beramai bakal tiba malam ini. Aku tidak sangka sinshe kena dibikin kaget karenanya.”

Jie sinshe tersenyum terpaksa.
“Aku mendengar bentrokan senjata, aku kaget, lantas aku menyembunyikan diri,” katanya. Mendengar itu, Pin-jie tertawa.
“Hus” Leng Hoei membentak kacung itu “Lekas ambil air untuk sinshe mencuci muka”
Pin-jie menurut, ia lantas pergi dan kembali dengan cepat dengan air yang diminta, tetapi dia lucu, dia masih tertawa sendirinya.
“ Anak nakal” Leng Hoei membentak.

Jie In sudah lantas membersihkan muka dan pakaiannya, setelah mana, kedua tuan rumah mengajaknya bicara. Tapi tak lama, ayah dan anaknya itu mengundurkan diri pula.
“Sinshe,” kata Pin-jie kemudian, “Besok bakal ada keramaian dipuncak Pit-kee-hong dibelakang sanchung ini. Apakah sinshe mau melihatnya? Kalau mau, aku dapat mengajak kau kesebuah tempat dari mana dapat kita mengintai.”

“Kunyuk” guru sekolah itu membentak. Kenapa kau ajak sancoe datang kemari? Apa sengaja kau hendak membuat aku malu? Kau mau pergi, pergilah. Aku sendiri tidak. Apakah yang bagus dilihat?”
Pin-jie tertawa pula, ia lantas ngelojor keluar.
“Dasar bocah” kata si guru, yang mengawasi orang berlalu.

Selanjutnya, malam itu dilewatkan dengan sunyi. Tapi besoknya, malam jam tiga, ramailah dipuncak Pit-kee-hong. Disana golok dan pedang berkelebatan, beradu satu dengan lain, ditambah berisiknya teguran dan dampratan, hingga umpama kata lembah menggetar. Lalu mendekati fajar, loosancoe pulang dengan mandi darah, lengan kirinya dipegangi. Dia memasuki kamar tulis. Terang dia telah terluka.

Ketika itu Jie In duduk dikursi, rupanya satu malam suntuk ia tidak tidur. Pin-jie menggeros dengan kepalanya terletakkan diatas meja. Melihat tuan rumah, guru sekolah ini sebera berbangkit.
“Oh, loosancoe terluka” katanya kaget. Ia lantas menepuk bangun pada Pin-jie.
“Inilah luka tak berarti” menyahut tuan rumah tertawa. “Coba sinshe tolong periksa, apa terluka juga otot-otot dan tulangnya. Mungkin aku telah mengeluarkan terlalu banyak darah. Akupercaya, setelah makan obat, dalam waktu tiga hari aku akan sudah sembuh. Hanya tadi, apabila tidak ada orang membantu aku, mungkin aku roboh diujung pedangnya Hok-san Jie-sioe, orang itu membantu secara diam-diam, tadi tak diketahui siapa dianya”

Jie In segera memeriksa luka. Dia tertawa.
“Loosancoe berejeki besar dan berumur panjang, pastilah dibantu Thian” katanya. “Luka ini tidak parah, nanti aku memberikan obat untuk menambah tenaga dan obat luar, tidak sampai dua hari, sancoe akan sudah sembuh”
Dan ia lantas membuat resepnya dan menitahkan Pin- jie mengurus obatnya. setelah itu Thian Tan menuturkan jalannya pertempuran.

Kira2 jam tiga malam, rembulan terang dan permai. Bintang-bintang sedikit dan bergemerlapan. Diwaktu begitu, ThianTan sudah siap. menantikan dipuncak. Ia ada bersama Leng Hoei serta orang-orangnya, berjumlah duapuluh lebih. Tak lama terdengarlah siulan nyaring, yang berkumandang didalam lembah, disusul sama datangnya beberapa puluh bayangan orang. sangat cepat datangnya mereka, dengan lantas mereka telah tiba dipuncak.

Melihat datangnya musuh dalam jumlah besar itu, Thian Tan terperanjat. la kata dalam hatinya: “Terang sudah Hok-san Jie-sioe ingin membumi- ratakan Hoan-pek sanchung, Heran orang ku yang dipasang disebelas tempat jaga kenapa tidak satu diantaranya yang memberi pertanda? Mungkinkah mereka telah bercelaka semua?”

Baru ia berpikir begitu atau Hok-san Jie-sioe sudah berdiri didepannya. Dibelakang kedua musuh itu Dua orang tua dari Gunung Hok san berbaris kawan-kawan mereka. Kumis mereka yang putih dan panjang memain antara sampokan angin, tangan baju mereka juga berkibaran-
Lao-toa, yang tua, Wie Lin soei, lantas tertawa dingin-
“Kiong Thian Tan, kembali kita bertemu” katanya, suaranya jumawa. “Ketika dulu hari kita berpisah, aku telah meninggalkan kata-kata. Kau masih ingat itu, bukan? Kata kata itu ialah, kapan nanti persaudaraan gunung Hok san munculpula dalam dunia Kang-ouw, itu artinya runtuhnya Hoan-pek san chung”

Thian Tan tertawa berlenggak.
“Wie Lin soei, kata-katamu itu masih terdengar ditelingaku” sahutnya, berani. “Mana dapat aku melupakan itu? Aku hanya mengira kata-kata itu untuk menutupi malu saja, tak tahunya benar-benar kamu telah mewujudkan sumpah mengunjungi rumahku ini .Tapi mungkin kau lupa bahwa kau menghendaki jiwaku seorang”

“Tutup mulut” Lin Soei membentak. “Dalam sarang yang jatuh mana ada telur yang utuh? Jikalau malam ini kau mengharap jiwamu lolos, itu cuma dapat terjadi seperti mencari jarum didalam laut”
Disamping tertua Hok san Jie-sioe berdiri yang kedua, Souw Lin siang. Dia turut bicara dengan berkata nyaring: “Lao-toa, mana ada begitu banyak waktu untuk mengadu mulut dengannya? Bereskan dulu mereka, baru kita bicara”

Lalu tanpa menanti jawaban lagi, dia mengulapkan tangannya, atas mana sekalian kambratnya lantas bergerak menyerang orang2nya Thian Tan- Diantaranya ada belasan yang menerjang kearah sanchung.
Melihat demikian, Thian Tan terkejut. Itulah cara membokong. Tapi, belum ia sempat mengambil tindakan, ia pun segera diserang Hok san Jie-sloe, yang telah menghunus pedangnya masing-masing dan maju dikiri dan kanan, pedang mereka menikam iga kiri dan lengan kanan.

Thian Tan tertawa berkakak. sambil tertawa ia berlompat mundur, untuk berkelit. Begitu lekas ia menggeraki sepasang tongkat peraknya, ia pun maju guna membalas menyerang.
Hok san Jie-sioe memisah diri, lalu merapat pula. Itulah permulaan mereka mengepung. Tak mau mereka bertempur satu lawan satu. Bahkan beramai bersama semua kawan mereka.

Thian Tan heran dan berkuatir.
“Entah dari mana, Hokssan Jie-sioe mempelajari ilmu pedangnya ini,” pikirnya. “Mereka rjerdik, mereka merasa pasti dengan tangan kosong sulit mereka menempur aku, sekarang mereka menggunai senjata. Kelihatannya mereka telah mencapai puncak kemahirannya.”
Dengan sebenarnya, pedang dua musuh itu digunai rapat dan dahsyat sekali.

Selagi pertempuran ramai itu berjalan, di Hoan-pek sanchung nampak berkelebatnya satu bayangan, yang mencelat naik keatas puncak dimana bayangan itu lantas bersembunyi diatas sebuah pohon cemara yang tua.
Kiong Thian Tan dapat melayani kedua musuhnya dengan seimbang, hanya ruginya untuknya ia harus memikiri juga rumahnya karena ada musuh yang menyerbu kesana. Ia tahu isterinya liehay tetapi si isteri pun pasti repot melayani banyak musuh. Nona mantunya mengerti silat tetapi nona mantu itu tidak dapat diandalkan, lantaran dia lagi hamil tiga bulan- Kalau menantu itu turun tangan- bagaimana nanti dengan kandungannya itu? Karena ini ia menjadi bingung, hingga tanpa merasa pedangnya Lin soei mampir dipundak kirinya, hingga darahnya lantas mengucur keluar. ia mengertak gigi, untuk menahan sakit. Ia lantas berkelit sambil tangan kanannya menyerang, niatnya berlompat keluar dari kalangan- Tapi ia kena dibarengi Lin siang, maka sikut kirinya kena tertikam hingga ia terhuyung dua tindak.

Girang Hok-san Jie-sioe, keduanya maju berbareng membacok musuhnya.
Dalam saat terancam itu, Kiong Thian Tan menggunai pukulannya yang istimewa, yaitu Tay-lek Koen-goan-ciang, untuk menyapu kedua lawannya. Celakalah siapa kena terhajar pukulan itu.
Hok-san Jie-sioe celi matanya dan sebat gerakannya. Kedua-duanya berkelit dengan cepat dengan berkelit mendak. Maka juga terus saja mereka dapat menyerang pula kekaki musuh.

Thian Tan terancam hebat. Tak dapat ia menangkis, tak keburu ia berkelit. Untuk menarik pulang tangannya saja sudah sukar. Maka ia menutup kedua matanya, untuk menantikan kebinasaannya. Akan tetapi ia tidak merasakan tertusuk atau tertabas, sebaliknya telinganya mendengar kedua lawannya menjerit kaget. Dengan lekas ia membuka matanya. Ia melihat Hok san Jie-sioe menutupi matanya sendiri, masing-masing yang kiri dan kanan, kedua mata itu mengeluarkan darah, seperti bekas kena senjata rahasia, terus mereka berlompat mundur, untuk lari kabur.

Ketua Cian san Pay itu menjadi heran, ia menenangkan diri. Ketika ia melihat musuh sudah lenyap. ia mengeluarkan napas. Benar ia telah bebas dari bahaya tetapi dengan musuh- musuhnya masih hidup, sampai kapan permusuhan itu dapat dihabiskan?
Segera Thian Tan menyaksikan satu kejadian lain. satu bayangan orang berkelebat didekatnya, diantara cahaja rembulan ia melihat bayangan itu memegang sesuatuyang hitam dengan apa dia menyerang kalang-kabutan kepada kawan-kawannya Hok san Jie-sioe, hingga mereka itu pada menjerit kesakitan, lantas semua lari serabutan untuk menghilang.

Heran Thian Tan untuk menyaksikan, antara orang-orangnya sendiri, tidak ada satu yang kena terserang senjatanya bayangan itu sebaliknya musuh, kebanyakan dari mereka terhajar matanya
Hebat orang itu, pikirnya mengenai bayangan. Dapatkah senjata rahasia membedakan musuh dan kawan? siapakah dia? Dia mestinya sahabat, Ah, bagaimanakah dengan isteriku?

Segera Thian Tan menjuruh Leng Hoei memeriksa pos penjagaan, ia sendiri mengajak beberapa orang lari pulang. Ia merasakan sangat sakit pada kedua lukanya,yang masih mengeluarkan darah, sedang angin keras menyampok giris. Dengan tangan kanannya ia memegangi tangan kirinya. Ditengah jalan pulang, ia melihat beberapa musuh roboh diselokan, dipinggiran pohon, diatas genteng juga. semuanya kurban-kurban totokan, ia heran dan kagum, ia bingung. siapa itu penolong yang liehay?

“Bawalah mereka pulang” ia memerintahkan orang-orangnya, untuk mengangkut semua musuh yang tak berdaya itu. Ia sendiri terus lari kedalam rumah. Tiba didalam, ia heran hingga ia tercengang. Isteri dan nona mantunya lagi duduk memasang omong sambil tertawa-tertawa, seperti juga dirumahnya itu tidak terjadi sesuatu.

Tapi Yap Han song kaget melihat suaminya pulang dengan mandi darah, ia lantas berbangkit menyambut.
“ Ah, kau terluka?” tanyanya.
“Ya, tetapi tidak apa” jawab suami itu tertawa. ia lega hati. “Semua musuh sudah dipukul mundur sekarang aku mau menemui dulu Jie sinshe” Dan ia lantas bertindak kekamar tulis.

Kapan Jie In telah mendengar habis ceritanya tuan rumah, ia mengatakan berulang-ulang: “Benar-benar, naga sakti itu terlihat kepalanya tidak ekornya Inilah mesti dipercaya”
Habis diobati, Thian Tan mengucap terima kasih, lantas ia kembali kedalam.

Di kanan dari rumahnya Kiong Thian Tan ada sebuah tangga batu yang berliku-liku, undakannya mungkin beberapa ribu tindak. naik hingga dipinggang gunung. Di situ tumbuh banyak pohon tua dan besar. Di situ pun ada bangunan lauwteng atau ranggonyang berwarna merah tua, yang diberi nama Kioe-kiong-kok. Dan malam itu, pintnnya yang timur terlihat terbuka, dari situ keluar seorang tua dengan rambut dan alisnnya putih semua, dengan mukanya kisutan dan kucal.

Rupanya dia telah lama sangat menderita. Dengan tangan dipunggung, dia berdiri didepan loneng, kepalanya diangkat, matanya mengawasi langit. sinar matanya itu guram. Di terangnya rembulan, makin nyata nampak kucalnya itu
“Sudah sepuluh tahun” katanya seorang diri, menghela napas panjang. “Inilah bulan dan tahun yang tidak pendek. Kapankah aku akan melihat pula kampung halamanku? Aku telah berbuat salah, aku terpaksa menyingkir ke Kwan-gwa ini dimana aku mesti menumpang pada orang lain sekarang aku menyesal, apa gunanya? sudah kasip”

Orang tua ini ialah Hoan-thian-cioe Ang Ban Thong si Tangan Membalik Langit. Dia tinggal menyendiri dilauwteng Kioe-kiong-kok ini sudah sebuluh tahun. Dia tinggal tanpa berdaya, bisanya cuma tidur dan bangun dan dahar dan ngelamun. Tidak berani dia berlalu dari tempat sembunyinya ini. Telah lenyap tulang-tulang kejumawaannya dulu hari. Dia telah menjadi putus asa meskipun benar kadang-kadang dia memikir untuk hidup pula. setiap malam dia berpikir tak keruan junterungannya. Demikian malam ini dia menggadangi si Puteri Malam, sampai dia ingat kampung halamannya, hingga dia mengenangkan segala lelakon hidupnya yang sudah-sudah.

Tengah jago tua ini menjublak itu, tiba-tiba ada suara halus berkerosek dibelakangnya. Biar bagaimana, dia ialah seorang yang mengerti ilmu silat, telinganya masih terang, matanya masih tajam. Dia tahu bahwa ada orang telah menyerangnya. Tak kecewa dia menjadi si Tangan Membalik Langit. Tangannya liehay sekali. Begitu memutar tubuh, begitu dia menyerang. “Brak” demikian suara nyaring terdengar. Celaka kedua daun pintu lauwteng, yang terhajar roboh pukulannya itu, hingga seluruh lauwteng turut menggetar. Tapi, dia tidak melihat setengah manusia juga. Maka dia berdiri melengak.

“Tangan yang liehay” mendadak telinganya mendengar suara pujian yang disusuli tertawa dingin- suara itu mirip suara nyamuk tetapi dia dapat mendengarnya tegas sekali. Maka kagetlah dia. Dengan sebat dia lompat kedepan, setelah mana dengan sebat dia memutar tubuh. Maka kagetlah dia, tubuhnya menggigil.

Di depannya berdiri satu tubuh mirip bayangan hitam, sebab orang itu tertutup kepala dan seluruh tubuhnya, sampai dikakinya. Cuma sepasang mata yang tajam molos mencilak, membikin siapa yang melihatnya ciut hatinya.
”Siapa kau?” dia menanya, suaranya menyatakan kagetnya.
Orang itu tertawa dingin pula.
“Ang Ban Thong” sahutnya. “Mimpi pun, kau tak akan menyangka aku siapa” Kata-kata itu belum diucapkan habis, atau tangannya orang itu bergerak.

(Bersambung ke Jilid 5)


















9. Jilid 5.1 : Empat Mestika Raja Naga

Bacaan » PEMBALASAN SEORANG JAGOAN » Jilid 5.1 : Empat Mestika Raja Naga
Anggota Masroni
Waktu 21 Juli
Bab Sebelum 8. Jilid 4.2 : Jie In, ya Tabib ya Pelajar
Bab Sesudah 10. Jilid 5.2 : Mengawal obat mestika ho-siu-ouw




Pembalasan Seorang Jagoan
Karya : Wul Lin Qiao Zhi
Terjemah : OKT
Jilid 5.1 : Empat Mestika Raja Naga

Ang Ban Thong sendiri pun bergerak untuk menyerang. Hanya untuk kagetnya dia mendapat kenyataan tubuh orang maju dan kedua lengannya segera tercekal keras, akibatnya yang mana dia merasakan sakit dan gatal sekali pada seluruh tubuhnya! Celakanya terus dia tidak berdaya, hingga tinggal air matanya yang menetes turun ke lantai lauwteng.

Orang tidak dikenal itu memegang dengan tiga jari dari masing-masing tangannya, semua jari tangannya itu dipencet dan dikendorkan bergantian.
“Sekarang kau dengar, aku akan memberitahukan kau!” berkata pula orang itu. “Kau perlu diberitahu supaya kau mati puas! Hendak aku Tanya kau: Dulu hari ketika orang mengeroyok Cia Bun, kau ada satu diantaranya atau tidak? Kau mesti omong terus terang, dengan jujur, supaya dapat aku memberi kepuasan kepadamu!”

Mendengar pertanyaan itu, Ban Thong merasa dia seperti mendengar Guntur. Dia lantas merasakan matanya berkunang-kunang.
„Apa ?" tanyanya, suaranya menggetar. “Kau…..kau pernah apa dengan Cia Bun?”

“Aku?” orang itu menyawab. “Si wilayah Sam siang pernah kita bertemu muka! Kau pasti tidak pernah melupakannya! Aku ialah itu bocah yang digendong di punggungnya Cia Bun!”

Bukan kepalang kagetnya Ang Ban Thong.
„Apt ?" katanya„ “Kamu jadinya tidak mati? Habis mayat kecil di gunung Bu Kong San mayat siapa ?''
Seperti melupakan sakitnya, Ban Thong lantas berpikir.

Orang itu tertawa dingin berulang-ulang. Tak sedap tertawa itu masuk kedalam telinga si orang she Ang.
„Benar, tuan kecil kau masih belum mati!” berkata orang itu,
bengis. “Kau tidak menyangkanya bukan? Sekarang tuan kecil kau dating kemari untuk menagih hutang lama! Sekarang aku Tanya lagi padamu! Di rumah ini masih ada dua orang lain yang pernah mengeroyok ayahku! Mereka itu tinggal di bagian mana dari Hoan Pek San Chung ini? Disamping mereka itu, siapa-siapa lagi yang telah turut mengepung ayahku itu? Kau bicaralah!”

Pertanyaan itu hebat tetapi itu seperti juga suatu keringanan untuk Ban Thong.
„Bencana itu tidak ada pintunya seperti juga rejeki," dia mengoceh seorang diri, „Bencana itu dicari oleh orang yang bersangkutan sendiri…malam ini aku menemui saatku ini, aku cuma harus menyesalkan diriku sendiri…” Lantas dia tertawa sedih, dia menyebutkan tentang dua orang yang ditanyakan itu. Dia menuturkan roman, usia dan tempat sembunyi mereka. Tentang yang lainnya, ia menunjuk lima orang Ceng Hong Pay.

„Lainnya aku tidak tahu," katanya akhirnya, terus ia meram, untuk menyambut kematiannya.
Orang itu menghela napas.
„Baiklah, aku menyempurnakan kau!" katanya seraya terus ia menotok didada, maka robohlah tubuh Ang Ban Thong, menyusul mana orang itu seperti bayangan seperti munculnya tadi, Iantas menghilang dari lauwteng Kioe Kiong Kok itu, lenyap diantara pepohonan yang lebat.

Besok pagi, gemparlah Hoan Pek San-chung. Telah didapat tahu bahwa tiga orang yang menumpangi diri, telah meninggal dunia tidak keruan paran. Merekalah Ang Ban Thong, Ong Soei dan Lee Siang.

Lo-sancoe Kiong Thian Tan kaget dan heran, dia sendiri Iantas pergi melihat, untuk. memeriksa. Semua mayat tidak ada tanda lukanya, cuma ada tanda
bekas totokan. Dan kecuali pintu lauwteng Kioe Kiong Kok yang gempur, dua kamar yang lainnya tak rusak sama sekali, dan tak ada juga tanda-tandanya bekas orang bertarung, sedang ketiga orang itu dikenal liehay, yang tak gampang-gampang orang merobohkannya. Maka diakhirnya tuan rumah ini ingat akan warta yang dibawa Leng Hoei, puteranya, hal dua peristiwa yang menggemparkan di Tionggoan.

“Benarkah ini perbuatannya Twie Hun Poan Cia Bun?” ia tanya dirinya sendiri, “Rupanya dialah yang itu malam membantui aku secara diam-diam. Sungguh hebat sepak terjangnya!”

Thian Tan menjadi masgul. Ban Thong bertiga menumpang padanya, sekarang mereka itu terbinasa diluar tahunya, sebagai tuan rumah, ia harus bertanggung jawab, menurut aturan kaum Kang Ouw, tidak dapat ia melepaskan diri. Tapi, bagaimana ia harus bekerja ? Siapa si pembunuh gelap ? Bagaimana kalau dia benarlah Cia Boen, yang pernah menolongnya dari ancaman Hok San Jie Sioe ? Pasti ia tidak dapat turun tangan terhadap Cia Boen.

Perdamaian lantas diadakan diantara ayah dan anaknya. Masih mereka tidak berdaya. Apa yang mereka bisa lakukan ialah mengirim beberapa orang untuk membuat penyelidikan.

Sang hari berjalan terus, cepat lewatnya. Satu bulan telah berselang semenjak peristiwa aneh dan hebat itu atas diri Ang Ban Thong bertiga. Sekarang ini gunung Tiang Pek San seperti ditutupi salju, yang terbang turun berhamburan. Seluruh gunung, seantero lembah, putih mengkilap dengan sinarnya benda dingin itu. Kapan hawa udara telah menjadi sangat dingin, berhenti!ah turunnya salju yang membeku. Malam itu pun angin keras. Salju tebalnya sampai satu kaki. Sampai matahari muncul, salju itu tak dapat lantas tersinarkan lumer. Hawa udara jadi semakin dingin. Baru belakangan terlihat jatuhnya tetesan-tetesan air.

Jie In dengan mengenakan baju kulitnya yang gerombongan pergi keluar kamarnya, ia berdiri diam dengan kedua tangannya dimasuki kedalam tangan baju. Ia melihat jauh ke sekitarnyarnya. Ia menikmati keindahannya musim dingin itu. Lama juga ia berdiam diluar itu, ia seperti memikir sesuatu, setelah batuk-batuk dua kali, ia bertindak masuk kekamar tulis.

„Pin Jie !" ia memanggil.
Kacung itu berada disamping rumah, sambil jongkok ia tengah memasak teh, sekalian menghangatkan dirinya. Ketika mendengar panggilan, ia lantas menyahuti, panjang suaranya.
„Bukankah sinshe memanggil aku ? Baik, aku lantas datang..."
Dan ia masuk sambil membawa poci teh.
„Pin Jie," berkata si guru sekolah, "coba kau pergi melihat loo-sancoe, ia sedang luang temponya atau tidak, jikalau dia lagi senggang, kau undanglah ia datang kemari sebentar. Kau bilang saja bahwa aku ada satu urusan yang hendak dibicarakan dengannya."
Pin Jie terima titah itu, ia menyahuti dan lantas pergi keluar.

Tidak selang lama, muncullah Thian Tan bersama kacungnya . Ia tertawa
Ketika ia melihat guru cucunya.
„Jie Sinshe," katanya riang, “Pin Jie membilangi aku bahwa shinse mempunyai urusan yang hendak dibicarakan, benarkah ? Urusan apakah itu ?"
„Sabenarnya aku kangen pada kampong halamanku, “ ia menyahut, „Aku hendak minta cuti supaya aku dapat pulang menyambangi kuburan leluhurku. Lain tahun bulan tiga pasti aku akan kembali kemari. Bagaimana pikiran loo sancoe?”

Kiong Thian Tan pun tertawa.
“Aku kira urusan penting apa” katanya, “Biasanya saja kalau orang kangen dengan kampong halamannya. Cuma sekarang ini hawa udara sedang buruknya, tidak lama lagi akan tiba saatnya salju besar menutupi gunung, jalanan menjadi sukar dilalui. Untuk kami kaum rimba persilatan masih tidak apa, tidak demikian dengan sinshe seorang anak sekolahan…Apakah tidak lebih baik sinshe menunggu sampai musim semi lain tahun..?”

Tanpa menanti tuan rumah berhenti bicara, Jie In berkata: “Terima kasih untuk kebaikan loo-sancoe, aku bersyukur sekali, hanya apa mau dikata, keras sekali niatku pulang, jikalau mesti menunggu sampai lain tahun, tak sanggup aku. Perihal jalanan sukar, itu tak menjadi halangan untukku, itulah sudah biasa untuk kaum perantau."

Melihat orang demikian mendesak, Thian Tan tidak mau mencegah lagi.

“Jikalau demikian aku tidak bisa bilang apa-apa lagi” katanya, “Cuma aku minta sukalah sinshe menanti sampai tiga hari lagi, supaya cucuku dapat memberi selamat jalan”
“Oh loo sancoe, tak usahlah demikian berabeh!” kata Jie In mencegah, “Aku toh akan kembali dalam bulan ketiga lain tahun? Toh ini bukannya perpisahan untuk selama-lamanya? Aku anggap tak usahlah loo sancoe mengadakan perpisahan secara demikian”

Thian Tan berbangkit, ia tertawa.
“Putusan sudah tetap, tak usah sinshe pakai banyak aturan lagi” ia kata, lalu dengan perlahan-lahan ia bertindak keluar.
Jie In terpaksa menerima, dengan hormat ia mengantarkan majikannya pergi.

Syukur ada kelambatan tiga hari itu maka terjadilah Jie In dapat menolongi Kiong Thian Tan dari ancaman bahaya maut.

Beruntun dua hari telah diadakan perjamuan perpisahan, oleh loo-sancoe, oleh nyonya ru mah,, lalu oleh Leng Hoei, oleh isterinya tuan muda ini.
Selagi menghadiri pesta, Nyonya Leng Hoei, Jie In melihat perut si nyonya telah menjadi besar, ia agaknya terperanjat. Leng Hoei tajam matanya, ia melihat itu, hingga ia jadi heran. la lantas tanya kenapa si sinshe kaget.

Jie In bersenyum, ia bersuara perlahan, entah apa ia bilang. la tidak menjawab. Tentu sekali tuan muda itu jadi semakin heran dan penasaran juga.
“Sinshe, ada apakah?” ia Tanya, suaranya keras, “Omonglah, sinshe, kami kaum Rimba Persilatan, kami tidak mengenal pantangan!”

Jie In tertawa.
“Siauw sancoe, kau dengar” ia menyahut akhirnya, “Suatu soal, apabila ia tidak diperhatikan, tidak ada soalnya, tetapi sekali diperhatikan, dia dapat mengacaukan pikiran. Sebelumnya aku bicara, ingin aku memberi selamat kepada loo-sancoe, bahwa pada tahun yang mendatang kau bakal memperoleh cucu!”

Kata-kata itu menggirangkan Leng Hoei suami isteri begitupun Thian Tan dan Yap Han Song Sioe In pun girang, dia mengawasi gurunya.
„Anak, lain tahun kau bakal mendapat adik laki-laki!” kata Jie In „Tidakkah kau akan girang sekali?"
„Tentu, tentu!" kata anak itu, yang terus menghampirkan ibunya, sambil menunjuk perut ibunya yang besar ia tanya, Ibu, apakah adikku didalam situ?”

Nyonya Leng Hoei likat tetapi ia girang, ia tertawa seperti kedua mentuanya dan suaminya itu.

Jie In tidak menghiraukan orang tertawa riang. Ia mengawasi Nyonya Leng Hoei
dan nanya „Siauw-hoejin, didalam bulan ini kau pernah melakukan pertempuran atau tidak?"
Nyonya itu heran hingga tercengang. la menggeleng kepala.
„Tidak," sahutnya. „.Ah, pada sepuluh hari dimuka, pernah aku berlatih dengan suamiku. Apakah kandunganku tergerak?”i

“Kandungan tidak tergerak hanya kedudukannya tergeser” kata si tabib tertawa, “Kandungan bergeser artinya melahirkan sedikit sukar. Syukur aku melihatnya, menjadi masih ada daya memperbaikinya. Siauw sancoe, sebentar malam sukalah kau datang kekamarku, nanti aku mengajari kau ilmu memulihkan kandungan, setelah itu dengan makan beberapa bungkus obat saja, siauw hujien tak usah menguatirkan apa-apa lagi”

Leng Hoei girang,
“Budimu besar sekali, sinshe," ia kata, „Aku tak dapat balas budimu ini. Kalau nanti anakku terlahir, biarlah dia mengangkat kau sebagai ayah pungutnya."

Jie In tertawa.
„Aku tidak mempunyai rejeki itu, siauw-sancoe," ia kata. „Untukku cukup asal aku dapat dahar beberapa telur-merahnya ."
Belum berhenti suara guru sekolah ini atau Thian Tan mendadak menjerit dan tubuhnya terguling kebelakang bersama kursinya.
Jie In terkejut, mukanya pucat, tetapi segera dia melesat ke cim chee dimana dia berlompat naik, Ketika Kiong Leng Hoei lompat menyusul, guru sekolah itu sudah berada jauh beberapa puluh tombak dan didepan si guru ada tiga orang lagi berlari-lari. Mereka terlihat tegas sebab salju terang sekali.

Heran dan kaget menjadi satu dalam hati Leng Hoei. Selama beberapa bulan ia tinggal sama guru sekolah merangkap tabib itu, tidak ia ketahui orang sebenarnya liehay ilmu silatnya, baru sekarang ia mengetahuinya. Ia hanya heran kenapa guru itu menyimpan diri demikian rupa. Bukankah dia tidak mengandung maksud busuk apa-apa terhadap Hoan Pek San Chung?

Sembari berpikir, tak berhenti tuan muda ini dari larinya, bahkan ia lari sekeras bisa untuk menyusul. Ia mendapatkan Jie In sudah mendahului dua diantara tiga orang, dia memutar tubuhnya untuk memegat. Ia tidak lihat bagaimana orang turun tangan, ketika ia menyandak, dua orang itu sudah roboh tidak berkutik, demikian juga orang yang ketiga, yang dapat dicandak si guru sekolah.

Melihat tibanya Leng Hoei, Jie In berkata, “Aku mau lantas pulang menolongi loo-sancoe, tolong siauw sancoe membawa pulang mereka ini untuk mengompes keterangannya” Habis berkata dia lantas lompat. Sekali saja dia sudah pergi tujuh atau delapan tombak, maka dilain saat tubuhnya segera lenyap didalam san-chung.

Kembali Leng Hoei kaget dan heran. itulah ilmu ringan tubuh yang sangat mahir. Yang ia tahu, orang cuma dapat lompat lima tombak. Tapi ia tidak sempat berpikir, ia lantas bekerja.

Jie In sendiri, setibanya ia didalam rumah, ia melihat semua orang bergelisah. Loo-sancoe telah ditotok untuk tutup jalan darahnya oleh isterinya, dia telah dibawa masuk kedalam kamarnya dimana dia direbahkan diatas pembaringan. Disitu pun berkurnpul banyak anggauta Cian San Pay, yang mendapat kabar sancoe mereka terluka, tapi ketika mereka mau pergi menyusul si orang jahat, si guru mencegah.

“Ketiga penjahat itu sudah dapat ditotok siauw sancoe, sebentar mereka dibawa pulang” katanya. Ia sendiri menghampirkan Thian Tan yang rebah dengan gigi terkancing, matanya mendelik, tubuhnya menggigil tak hentinya. Nyonya sancoe tua nampak sangat berduka.

,,Jie Sinshe," kata nyonya itu, “Tidak aku melihat bahwa kau sebenarnya seorang luar biasa. Loo sancoe telah terkena pukulan tang pek koet Han Hong Ciang, kabarnya pukulan itu tidak ada obatnya, benar aku telah menotok menutup jalan darah suamiku, mungkin dia tak akan bertahan lama ...... ."

Habis berkata, tak dapat dicegah lagi, airmatanya si nyonya tua bercucuran.
„Aku bukan orang luar biasa, loo-hoejin," kata Jie In merendah. „Tentang sedikit luka dari loo-sancoe, janganlah dibuat kuatir, dapat aku mengobatinya."

Ketika itu Leng Hoei sudah kembaIi, sembari tertawa, tabib ini berkata: „Siauw-sancoe, hebat tanganmu, tak sampai sepuluh jurus telah berhasil kau membekuk mereka bertiga! Sungguh aku kagum!"

Leng Hoei melengak, tetapi lantas ia mengerti. „Tahulah ia guru sekolah ini tetap tak ingin orang mengetahui dia pandai silat, maka terpaksa ia berdiam, cuma ia bersenyum. Melihat keadaan ayahnya, sebaliknya ia berduka dan berkuatir.

„Bagaimana lukanya ayahku?" ia tanya.
Jie In mengangguk, terus ia berbisik„Siauw-sancoe, tolong ajak semua orang keruangan depan, dan jagalah agar mereka tak mengetahui aku mengerti silat."

“Aku mengerti” sahut Leng Hoei. “Hanya kenapa aku tidak dapat membebaskan totokan tiga orang itu?”
“Sebentar, sehabis menolongi loo-sancoe kita nanti bicara pula” kata si guru, tetap berbisik.

“Baiklah, tentang ayahku, aku mengandal pada sinshe” kata Leng Hoei, yang lantas mengajak semua orang keluar, hingga didalam kamar tinggal Jie In bersama kedua nyonya serta Sioe In. Diluar pintu berdiri satu orang, yaitu Pin Jie. Dia ini agaknya menyesal yang selama beberapa lama tidak mengetahui si guru sekolah demikian lihay. Maka tanpa merasa, ia sampok kepalanya sendiri.

Berselang dua jam maka di dalam kamar terdengar tertawa yang nyaring dari loo-sancoe Kiong Thian Tan. Itulah bukti yang san-coe tua itu sudah sembuh. Maka habis mendengar itu, Pin Jie Iari keluar keruangan besar untuk memberi kabar kepada tuan mudanya.

Menyusul kaburnya si kacung, Jie In muncul untuk pulang kekamarnya sendiri. Disini ia duduk menjublek dikursi malasnya, agaknya ia berpikir keras.
Tidak lama gorden tersingkap, sebuah kepala orang nongol. Hanya sebentar, kepala itu ngelepot lenyap.

“Ha, kunyuk kecil” berkata si guru sekolah. “Jikalau kau mau masuk, masuklah, jangan diluar saja dengan lagakmu sebagai setan! Awas nanti aku keset kulitmu!”

Pin Jie lantas muncul, ia lantas memberi hormat sehormat-hormatnya kepada si guru sekolah seraya ia berkata: “Sinshe, pandai sekali kau bersandiwara! Sungguh sinshe tega kepada Pin Jie tidak diberikann sesuatu yang ada harganya sebagai hadiah”
“Kunyuk cilik!” Jie In tertawa, “Beginilah lagakmu!”
“Tetapi sinshe,” kata kacung itu, “Pin Jie belum pernah mengabaikan kau…”
“Sudahlah!” kata guru sekolah itu. “Lain tahun aku akan datang pula, itu waktu kau pasti akan menerima sesuatu dari aku”
Belum sempat si kacung berkata apa-apa lagi, Leng Hoei telah datang masuk kedalam kamar Jie In, maka dia lantas mengundurkan diri, sedang si guru sekolah lantas mengajari sancoe muda itu caranya bagaimana harus memperbaiki kandungan, setelah mana ia membuatkan tiga macam resep, kemudian ia mengajari pula ilmu menotok bebas kepada ketiga orang tangkapan yang membokong sancoe tua.
Leng Hoei girang sekali, setelah mengerti semua, ia berlalu dengan cepat.

Besoknya pagi, Thian Tan bersama isterinya datang menemui Jie In untuk menghaturkan terima kasih mereka.
“Rupanya” berkata tuan rumah kemudian tertawa, “Ketika itu malam Hok San Jie Sioe datang, sinshe-lah yang telah menghindarkan aku dari mara bahaya!”
Guru sekolah itu tertawa, ia tidak menyahut.

“Jikalau aku tidak keliru menerka” kata pula Thian Tan tetap tertawa, “Kebinasaannya Ang Ban Thong bertiga tentulah perbuatan sinshe juga, sebab mereka itulah orang-orang liehay, lain orang tidak nanti demikian gampang dapat turun tangan atas diri mereka! Menurut anakku, sinshe sangat liehay, langka orang dengan kepandaian yang dimiliki sinshe”

Mendadak saja Jie In menatap tajam tuan rumahnya.
“Benar, itulah perbuatanku yang rendah!” katanya, tertawa, “Apakah loo-sancoe berniat membalaskan?”
“Jangan salah mengerti, sinshe!” kata tuan rumah itu, yang mengulapkan tangan dan tertawa manis, “Untuk kau, urusan bagaimana besar juga, aku bersedia bertanggungjawab! Aku hanya heran diantara sinshe dan mereka itu sebenarnya ada permusuhan apakah? Mungkinkah diantara sinshe dan Twie Hoen Poan ada sesuatu hubungannya?”
Ketika itu Leng Hoei pun muncul bersama isterinya, untuk menghaturkan terima kasih mereka.

Jie In tergerak hatinya mendengar pertanyaan tuan rumah yang tua itu, ia tertawa tetapi sedih tertawanya.
“Tentang hubunganku dengan Twie Hoen Poan Cia tayhiap, maaf tidak dapat aku menjelaskan sekarang ini!” sahutnya. “Asal sancoe sekalian suka berjanji akan tolong merahasiakannya, lain kali sancoe semua akan mengetahuinya”

Tuan tumah yang tua tertawa terbahak.
“Jie sinshe, kita kenal satu dengan lain sudah sekian lama, apakah sinshe masih tidak mempercayai Kiong Thian Tan? Asal kau tidak menyuruhnya aku pun tidak nanti membocorkan rahasiamu ini. Apa yang aku hendak minta ialah sudikah kau menjadi sahabatku untuk selama-lamanya?”

Jie In menggoyang kepala.
“Aku masih terlalu muda, sebenarnya pantaslah kalau aku menjadi keponakan sancoe” berkata ia. Dengan menjadi ‘sahabat untuk selama-lamanya’ itu Thian Tan maksudkan pengangkatan saudara.

Thian Tan heran tetapi ia tertawa seraya bertepuk tangan.
“Kau telah berusia empat puluh lebih, sinshe, mengapa kau mengatakan usiamu masih terlalu muda?” ia bertanya.

Jie In pun tertawa, lalu dengan tangannya ia merabah. kebelakang telinganya, untuk menariknya, maka Iocotlah topengnya, hingga Thian Tan suami-isteri, juga Leng Hoei dan isterinya, melihat seorang muda yang tampan.

Leng Hoei terkejut tetapi ia maju menghampirkan.
“Kau…kau..” katanya, seperti orang gugup, “Kau bukankah si pelajar aneh yang menggemparkan Sungai Besar Selatan dan Utara?”
Dengan cepat Jie In mengenakan pula topengnya. Ia tertawa tanpa menjawab.

Thian Tan heran sebentar, lantas ia tertawa lagi.
“Dengan begini mestilah kita menjadi saudara angkat!” katanya, suaranya tetap, “Biarlah aku membesarkan hatiku menyebut kau loo-teetay!”

“Loo sancoe” berkata Jie In, “Meskipun benar apa yang loo-sancoe katakana tetapi sepak terjang loo-sancoe ini akan menyulitkan kepada siauw sancoe! Aku lihat baiklah kita tetap seperti semula..”

“Kita tetap dengan kita, biarlah Leng Hoei memanggil apa yang ia suka!” kata tuan rumah yang tua itu, yang ngotot dengan keputusannya itu”
Jie In tidak membilang apa-apa, tetapi ia menimbulkan urusannya.
“Hari ini aku mau meminta diri untuk kembali ke Selatan” demikian katanya, “Lain tahun disaat loo-sancoe menggempo cucu, aku akan datang kemari untuk menggerecok secawan arak kegirangan Keluarga Kiong!”

“Loo-teetay,” berkata Thian Tan, „Kau hendak pulang ke Selatan, baiklah, kami tidak akan menahan kau, asal lain tahun kau pasti kembali ! Baiklah loo teetay ketahui, Hoan Pek san Chung kami ini ada seperti kepunyaan loo-teetay sendiri, jadi kapan kau sudi datang, kapan kau datang, dan kapan kau suka pergi, kapan kau boleh pergi!”

Sembari berkata, ketua Cian san Pay itu mengeluarkan sebuah leng-cian, yang ia serahkan pada si anak muda seraya ia menambahkan: “Inilah pertanda paling tinggi dan dimuliakan dari Partai kami, asal didalam wilayah Partai, dengan ini orang dapat lewat tanpa rintangan, serta kapan ada ditemukan orang-orang kami yang berbuat salah, loo-teetay dapat menggunai untuk menjalankan hukuman terhadapnya, guna membersihkan Partai kami dari anggauta-anggauta yang buruk”

Jie In tidak berani terima leng-cian atau panah-titahan itu, tetapi Kiong Thian Tan mendesaknya, akhirnya ia menerima juga. Untuk itu ia menghaturkan terima kasih, karena dengan itu telah dibuktikan yang ia diberikan kepercayaan sangat besar.

Sampai disitu pertemuan mereka, Jie In segera berkemas, lantas ia berangkat turun gunung dengan tetap menggunai tandu seperti pada waktu datangnya.
Thian Tan dan Leng Hoei mengantar sampai dimulut gunung, berat mereka mesti berpisah dengan si guru sekolah penolong besar dari mereka, hingga mereka mesti menepas air mata.

XII
Hari itu salju putih turun beterbangan seperti bulu angsa, salju itu ditiup angin keras hingga bagaikan lagi menari. Dibidang yang luas salju belaka yang tertampak. Hawa udara sebenarnya dingin akan tetapi di jalan besar Peng-ciu-too terlihat satu penunggang kuda lagi mengaburkan binatang tunggangannya dengan dia seperti mendekam di punggung kuda, dengan sebelah tangannya tak hentinya mengayun cambuknya hingga kabur tak perduli hidung dan embun-embunannya terus mengeluarkan uap putih. Dimana dia lewat, kuda itu meninggalkan tapaknya yang besar dan dalam.

Sesudah kabur setengah jam, penunggang kuda itu melihat samar-samar dusun kecil didepannya. Ia menghela napas lega, ia mengendorkan larinya kudanya. Ia menepuk-nepuk punggung binatang itu sambil berkata: “Mungkin hari ini kita tidak dapat tiba di San-im, maka baiklah didusun didepan itu aku memberikanmu ketika untuk beristirahat dan makan kenyang, besok baru kita melanjuti perjalanan kita ini.”

Kuda itu seperti mengerti perkataan majikannya, dia menggoyang-goyang kedua kupingnya, dia meringkik perlahan lalu dia menggeraki pula keempat kakinya untuk lari pula dengan keras.

Penunggang kuda itu ialah Jie In si guru sekolah atau In Gak kita, yang tetap menyamar sebagai seorang pelajar usia pertengahan. Sejak meninggalkan Hoan Pek San Chung, langsung dia menuju ke Charhar Utara, akan berdiam ditempat peternakannya Hui In Ciu Gouh Hong Piu, setelah tiga hari, ia melanjuti perjalanannya ke propinsi Shoasay, Hong Piu telah memberikan ia seekor kuda jempolan, ialah kuda yang ia tunggangi itu. Setelah melintasi Hoay-jin, ia memikir akan tiba di San-im, siapa tahu ia terhadang salju, ia kesasar, syukur ia bertemu serombongan saudagar yang menunjuki ia arah San-im. Tapi ia tetap terganggu benda putih yang dingin itu, hingga terpaksa ia mesti singgah di dusun di sebelah depan itu dimana cuma ada kira-kira lima puluh rumah. Ia berhenti di rumah yang ketiga, yang kebetulan losmen adanya, mereknya An Lie.

Pegawai hotel sudah lantas muncul, karena dia mendengar kelenengan kuda.
“Silahkan masuk, tuan, angin keras. !" dia menyambut.
Jie In menyerahkan kudanya seraya minta binatang itu dikasi makan, habis itu ia menyingkap gordrn untuk masuk kedalam rumah dimana ruangan dihangatkan tabunan kotoran-kotoran binatang, yang apinya berkobar-kobar. Diatas tabunan itu ada digantung teko besar dari tembaga, yang airnya melonjak-lonjak naik.

Tidak lama masuklahpelayan tadi maka Jie In minta arak dan nasi serta lauk-pauknya untuk ia dahar sendirian sambil menenggak arak perlahan-lahan. Ia memilih sebuah meja kosong. Ia memperhatikan setiap tetamu lainnya, yang umumnya terdiri kaum saudagar. Segera ia tertarik perhatiannya oleh seorang tetamu kurus, yang duduk mencil di pojokan, sebab dia terus mengawasi dua saudara diarah depannya.

Kedua saudagar itu dandan perlente, keduanya bicara asyik, meskipun perlahan suaranya sering-sering mereka tertawa. Mata mereka pun tajam, sikap mereka tawar ketika mereka memandang si kurus. Maka itu Jie In menduga orang mestinya orang Kang-ouw yang lagi menyamar.

“Mungkin bakal terjadi sesuatu,” Jie In berpikir pula.
Kedua saudagar itu gembira sekali, dari bicara perlahan, mereka omong keras dan nyaring juga tertawanya. Selagi begitu, gorden tersingkap angin menghembus masuk, dususul masuknya tiga orang, yang besar tubuhnya. Mereka ini lantas memandang kelilingan, hingga pandangan mereka tak lolos dari si kurus dan kedua saudagar itu. Mereka lantas menggebriki salju dipakaian mereka.

“Hawa udara dingin sekali, disini kita dapat minum untuk melawan hawa dingin itu!” kata satu diantaranya tertawa. “Mari!”
Dia bicara dengan lagu suara orang Hoo-lam.
Dua kawannya itu tertawa.
Ketiganya lantas duduk didekat pintu.
Si kurus, yang tubuhnya kate, mengawasi ketiga orang itu, lantas dia tunduk, tangannya membeset bahpauwnya.

Mata Jie In melintas dari tiga orang baru itu kepada si kate-kurus, didalam
Hatinya, ia kata : „Mereka bertiga dan si kurus ini orang satu golongan, sengaja mereka berpura-pura tak kenal satu dengan lain. Mungkin bakal terjadi lelakon yang menarik hati..” Ketika ia memandang kedua saudagar, diam-diam ia menggeleng kepala. Dua orang itu seperti tidak merasakan sesuatu, tetap mereka berbicara dengan asyik.
Jie In memperhatikan kedua saudagar, yang usianya masing-masing lebih kurang empat puluh tahun. Yang satu bermuka bundar, alisnya tebal, matanya jernih, jenggotnya pendek, tubuhnya ditutup baju kulit. Dia senantiasa bersenyum. Dan kawannya yang mukanya panjang, mempunyai kumis dan jenggot yang panjang yang terpecah tiga. Dia pun mengenakan baju kulit. Selalu dia mengawasi kawannya.

“Saudara Khoe,” berkata si muka bundar, setelah mereka bicara pula, “Dalam usaha pegadaian ada kata-kata terkenal, tiga tahun tidak berusaha, tiga tahun dapat hidup. Ketika dulu hari aku menjadi kuasa rumah gadai, majikanku menghargai aku, pendapatanku satu tahun, dapat dimakan untuk lima tahun. Thian memberkahi aku. Pada suatu hari kami kedatangan seorang yang mirip pemuda hartawan rudin, dia mau menggadaikan serenceng mutiara, untuk dua puluh ribu tail perak, untuk selamanya dia tidak mau menebusnya. Majikanku menggoyang kepala. Aku lihat mutiara itu ada harganya, majikanku tetap menolak. Pemuda itu mengurangi harga satu perlimanya. Majikanku tetap menolak. Akhirnya aku kata kalau majikanku tidak mau membeli, biarlah aku yang membelinya. Majikanku setuju, maka jadilah aku yang membelinya. Setelah orang itu pergi, majikanku bilang harga mutiara itu terlalu murah, bahwa harga sebenarnya mungkin delapan puluh sampai seratus ribu tail perak, ia tidak mau membeli sebab mungkin asal-usulnya tidak jelas, bahwa mungkin itulah barang dari keratin, jadi dia takut. Dia kata padaku, karena aku berani membeli, mungkin malaikat bintang terang datang padaku. Ketika aku masuk ke kamarku, aku meneliti mutiara itu. Bagaimana girangku! Benar-benar mutiara itu berharga, apapula empat diantaranya, yang besar, yang harganya sudah sukar untuk dinilai”

Si muka panjang tertawa.
“Apakah yang kau dapatkan itu?” tanyanya.
“Keempat butir itu berlainan satu dari lain, warnanya merah, ungu, biru dan putih masing-masing…”
“Saudara Lie kau belum menyebutkan khasiat atau kebaikannya…”

“Sabar, saudaraku,” kata si Lie tertawa lebar, “Mari aku beritahukan kau hal yang merah dulu. Itulah mutiara pemunah racun. Siapa keracunan, tak perduli lihaynya racun itu asal dia mengemu mutiara itu, dia sembuh seketika. Yang lainnya dapat menolong kita dari bahaya api, air dan pengaruh sesat. Itulah semua mutiara yang disebut Liong Kiang Su Po atau empat mustika raja naga. Syukur orang tak tahu aku memiliki mutiara mustika itu. “Ha..ha..ha..!”

Selagi orang itu, juga kawannya tertawa, Jie In mendengar satu suara perlahan: “Besok kamu bakal jadi mayat kaku, sekarang kamu masih tertawa riang..” Ia terperanjat, ia lantas memandang kearah darimana suara datang. Kata-kata itu diucapkan satu diantara tiga tetamu tadi.

Kedua orang itu juga dapat mendengarnya, sesaat mereka mengerutkan dahi, tetapi lekas gembira kembali, bahkan si muka bundar kata: “Saudara Khoe, maukah kau melihatnya? Nanti aku keluarkan..”

“Jangan!” kata si muka bundar, yang mengulapkan tangan, “Benda mestika mana dapat diperlihatkan ditempat terbuka? Biar, nanti saja aku melihatnya sesudah kita tiba ditempat tujuan..”

“Tempat apa…?” kata suara halus tadi tetapi tegas. “Tempat ini, Yoo Kee Cip, ialah tempat akhirmu..!”
Dua saudagar itu berbicara terus, mereka agaknya tidak mendapat dengar suara itu, yang mirip suara nyamuk.

Jie In memperhatikan kedua pihak. Dengan lantas ia mengerti kedua saudagar itu mempunyai barang berharga, dan keempat orang, si kate kurus dan tiga yang baru datang itu, menguntitnya. Mungkin kedua saudagar liehay, empat orang itu tidak lantas turun tangan, mereka menantikan ketika dan mencari bantuan, dari itu Yo Kee Cip dijadikan tempat yang terpilih untuk turun tangan.
“Entah bagaimana liehaynya kedua saudagar ini maka mereka bernyali begini besar dan si penjahat menjadi jeri karenanya.” Jie In berpikir.

Justeru itu diluar terdengar ringkikan kuda. Kaget Jie In. Ia mengenali suara kudanya. Lantas saja ia berbangkit dan lari keluar. Baru ia menyingkap gorden, ia sudah melihat kudanya dikurung empat orang, yang satu lagi menarik tali lesnya. Kuda itu seperti mengenali majikannya, dia tidak mau diseret pergi, dia meringkik seraya berjingkrakan.

Ketika itu salju sudah berhenti dan tinggal angin Barat daya yang masih bertiup terus, dan sang mega, yang melayang-layang, membuatnya cuaca mulai guram.
“Binatang!” membentak si pencuri kuda, yang menjadi panas hati karena bandelnya binatang itu. Dia mengangkat tangannya, hendak menyampok kuda itu atau mendadak angin bersiur kearahnya terus tangannya itu tak dapat turun, hingga dia menjadi kaget dan tercengang.

Jie In tiba tepat ketika kudanya hendak dihajar itu, tubuhnya mencelat dengan gerakannya “Leng Khong pou hie” atau “Tindakan kosong ditengah udara” terus tangannya menanggapi tangan si pencuri tanpa penjahat itu sempat melihatnya atau berkelit.

“Kuda yang bagus, siapa yang melihat, siapa yang menyukainya!” ia kata sambil tertawa dingin.”Meski demikian, jikalau kau menyukai kuda ini, harus kau tanya dulu pemiliknya, dia suka menyerahkannya atau tidak! Mana dapat kau berlaku sebagai tikus pencuri makanan? Adakah perbuatanmu ini ajarannya orang tuamu yang tolol?”

Pencuri itu kaget dan malu, ia menyesali dirinya karena kurang awas dan kurang gesit, tetapi mendengar teguran itu, darahnya naik. Dia pun tertawa dingin dan kata dengan tajam: “Orang tuaku ialah leluhurmu! Orangtuamu ini, asal dia melihat barang yang disukai, dia lantas hendak mengulur tangannya!”

Belum berhenti suara itu tetapi toh mesti mesti berhenti sendiri. Satu gaplokan yang nyaring yang membuatnya itu. Si pencuri kuda kesakitan tanpa bisa menjerit, lantas mukanya menjadi bengap dan merah, bahkan beberapa buah giginya goyah! Baru belakangan separuh merintih dia sambil memegangi pipinya itu!

“Dan orangtuamu paling gemar menggaplok orang!” kata Jie In tertawa. “Asal aku melihat sesuatu yang tak cocok dengan hatiku, lantas ingin aku turun tangan! Benar demikian bukan?”

Pencuri kuda bukan cuma bengap mukanya dan sakit rasanya itu, juga matanya berkunang-kunang, sesaat kemudian barulah dia menjadi sangat murka, maka sambil berteriak dia menghunus goloknya, untuk menyerang.

“Kau cari mampus?” kata Jie In dengan seraya dia mengajukan tangannya, untuk menanggapi tangan si penyerang di bagian nadi.

Penyerang itu menjadi kaget, percuma dia mau mengelakkan tangannya, dalam sedetik itu juga goloknya telah kena dicekal, dan ketika tangan kiri si pemilik kuda membarengi, tubuhnya terpental tinggi, jatuh terbanting didepan pintu losmen, hingga tubuhnya melesak diantara salju.

Jie In tidak berhenti sampai disitu, dengan mengerahkan tenaganya, ia membikin golok si pencuri menjadi patah beberapa potong, terus patahan itu ia lemparkan, kemudia ia mengawasi ketiga penjahat lainnya sambil ia bersenyum berseri-seri.

Tiga orang itu mendongkol, berbareng jeri hatinya karena mereka telah menyaksikan liehaynya si pemilik kuda. Sebenarnya tadi mereka hendak mencegah kawan mereka mencuri kuda itu, tetapi sebelum sempat mereka mencegah Jie In sudah keluar dan turun tangan. Lantas yang satu kata dengan dingin:
“Benar kawanku salah akan tetapi dia tidak melukai kudamu, mengapa kau melukai dia? Hari ini kami mempunyai urusan, urusan ini baik dicatat saja sampai lain waktu! Baiklah kami memberi batas tempo dua hari untuk hidupmu !”

Jie In gusar mendengar kata-kata galak itu.
“Kamu yang bersalah, kamu masih berani banyak tingkah?” katanya dalam hati. Maka ia lantas mengibas kepada tiga orang itu, atas mana mereka itu lantas terpelanting roboh jauhnya beberpa tombak. Tanpa memperhatikan lagi pada mereka, ia menuntun balik kudanya.

Apa yang kejadian itu membikin heran dan kagum beberapa orang lain, antaranya rombongan tiga orang lainnya serta kedua saudagar yang pakaiannya perlente itu, sebab ketika mereka mendengar ringkikan kuda serta larinya Jie In keluar, mereka lantas lari keluar juga untuk menyaksikan karena mereka percaya mesti terjadi sesuatu yang menarik hati untuk ditonton. Benarlah dugaan mereka, hanya kesudahannya itu diluar dugaannya.

Satu diantara yang tiga itu kata perlahan pada kawan-kawannya: “Kenapa si kunyuk kumat penyakitnya? Dia tengah bertugas, kenapa dia menimbulkan gara-gara?”
Kedua saudagar itu tidak berkata-kata, mereka cuma saling mengawasi saking herannya.

Si pencuri kuda pingsan karena terbanting itu, ketika dia mendusin, dia mengawasi tiga kawan, yang berdiri didepannya, yang memandangnya dengan sorot mata gusar. Dia hendak mengatakan sesuatu, ketika seorang meninju dadanya hingga dia terguling pula.

Jie In lewat disamping ketiga orang itu, ia tidak membilang apa-apa, Cuma dari hidungnya terdengar suara : “Hm!”
Kedua saudagar itu turut masuk, untuk mendapatkan Jie In lagi bersantap. Mereka saling pandang dan saling tertawa pula, terus mereka pun kembali ke meja mereka.

Masih ada tetamu lainnya, rata-rata mereka mengawasi dengan keheranan pada si pelajar usia pertengahan itu. Sedang diluar, masih ramai suaranya kawan-kawannya si pencuri kuda, yang masih memarahi kawannya yang bertangan panjang itu.
Api tabunan berkobar terus, kadang-kadang terdengar suara mereteknya.

Tak lama masuk pula tiga orang tadi. Untuk sekelebatan, mereka memandang bergantian kepada Jie In dan si kedua saudagar. Kedua saudagar itu berlaku tenang, tapi mereka agaknya dapat menerka tentulah mereka bertiga lagi menduga-duga Jie In itu kawannya atau bukan.

Si kate kurus, yang tadi keluar, tidak masuk pula, maka dapatlah diduga, dia tentu pergi untuk mencari bala bantuan.
Jie In dahar dengan lahapnya, ia masih meminta daging lagi. Diam-diam ia memperhatikan si kate kurus, yang tetap tak muncul, maka kemudian ia ngoceh sendiri:
“Sahabat yang baik, kau menanti aku menunggu, kau menghitung aku menghitung juga! Rupanya tak menanti terang tanah, hanya diwaktu malam, kamu hendak turun tangan ! Benarkah ? Apakah kamu menyangka aku tidak bakal mengulurkan tanganku? Baiklah! Mala mini tentu tidak ada yang akan masuk tidur..!”

Kedua saudagar itu heran, mereka mendongkol tetapi setelah mereka berpikir sejenak, diam-diam girang hati mereka.
Mereka menduga orang tentu bakal membantui mereka. Maka itu, kalau tadinya mereka rada berkuatir, sekarang hati mereka lega betul-betul.
Jie In masih terus ngoceh sendirian dengan suara tak tandas.

Ketiga orang itu, kawan penjahat, menjadi heran. Mereka pun dengar suaranya Jie In dan dapat menerka maksudnya kata-kata yang samar-samar itu. Memang tadi, selagi mau masuk kedalam, mereka telah memberi tanda dengan tangan mereka kepada si kate kurus yang terus tidak muncul lagi itu. Mereka heran kenapa Jie In dapat membade maksud mereka. Mereka mau turun tangan malam itu sebab mereka tahu, kalau mereka menanti besok sesudah memasuki kota Gan bun-kwan, sulit usaha mereka. Gan bun-kwan masuk wilayah Ceng Hong Pay dan mereka curiga Ceng Hong Pay nanti turun tangan juga, kalau mereka didului, pasti rugilah mereka. Mereka pun tahu baik, kedua saudagar itu licin sekali, semenjak dari kotaraja mereka menguntit, saban-saban dua orang itu dapat meloloskan diri. Mereka tidak takut kepada kedua saudagar tapi mereka jeri terhadap si pelajar usia pertengahan itu, yang kepandaiannya mereka telah saksikan sendiri.

Lewat lagi sekian lama, para tetamu mulai bubaran. Ada yang masuk tidur, ada yang pulang kerumahnya. Akhirnya tinggal tiga orang itu, si saudagar dan Jie In. Seorang pelayan menghampirkan Jie In, menanya kalau-kalau tetamu ini mau masuk tidur.

“Kau tidak tahu, sahabat, sekarang ini pikiranku lagi ruwet!” kata Jie In bersenyum. “Maka itu, meski aku ingin tidur, tidak nanti aku tidur pulas. Baik kau membawakan aku arak dan sayurannya, sebentar mungkin aku gembira dan membuka pertunjukan sulap, umpama bagaimana mempermainkan kunyuk atau rase! Sebentar kau boleh membuka matamu!”

Pelayan itu menyahuti “Ya” tapi ia heran. Ia heran karena sudah malam tetamunya masih mau main sulap.
Tiga penjahat itu kaget dalam hati. Kebetulan sekali Jie In menggedor hati mereka. Mereka justru Chin Pak Sam Ho, atau tiga rase dari Shoasay Utara, ialah Thong Thian Ho Cu Kwie, Bu Eng Ho Khouw Kiat dan Bong Tok Ho Teng Giok Hay.

Justru suasana sunyi itu, di kejauhan terdengar siulan yang nyaring dan panjang.
Jie In mengangkat kepalanya, ia tertawa dan berkata sendirian:
“Nah temponya telah sampai! San tuan telah tiba! Kenapa kamu berdiam saja? Aku telah menanti sekian lama! Bukankah bakal ada pertunjukan yang menarik hati? Kenapa kamu sengaja membuat aku menanti sia-sia belaka?”
Jie In orang Selatan, sekarang ia mengasi dengar logat suara orang Utara, suaranya jadi kaku, janggal didengarnya.

Hati Chin Pak Sam Ho berdebar, lantas mereka bangun berdiri, kepada Jie In mereka mendelik, terus mereka pergi kabur.
Kedua saudagar itu lantas berbangkit setelah mereka mendengar siulan itu. Untuk sejenak, mereka nampak sungguh-sungguh, tak lagi acuh tak acuh seperti tadi. Sebelum mereka berbuat apa-apa, dari luar mereka dengar suara nyaring ini:
“Khu Lin! Lie Siauw Leng! Ketua kami sudah tiba, silahkan kamu keluar untuk berbicara!”
Suara itu keras dan panjang.

Khu Lin dan Lie Siauw Leng, kedua saudagar itu, mengasi dengar suara tertawa mereka yang dingin, lantas keduanya lompat kearah pintu, lebih dulu keduanya menyerang gorden, lantas menyusuli terpentangnya kain itu, keduanya lompat keluar.

Jie In kagum menyaksikan gerak-geriknya dua orang itu. Mereka tabah hatinya dan berpengalaman.
Khu lin dan Lie Siauw Leng menduga tepat. Ketika gorden terpentang, mereka mendengar suara senjata rahasia, yang mengenai gorden, setelah itu, buru-buru mereka lompat keluar. Kembali mereka tertawa.

Jie In menyusul. Ia menduga, dua saudagar ini mesti menghadapi lawan berat. Benar saja, diluar, antara tanah bersalju, tertampak rombongan dari puluhan orang, yang seperti telah mengurung Hotel Lie An.
Kedua saudagar, dengan pedang ditangan, mengawasi sekalian musuhnya.

Diantara rombongan itu tertampak seorang tua yang romannya bengis sekali, matanya bersinar tajam, tubuhnya tinggi delapan kaki, dia nampak berdiri tegar seperti menara besi. Menghadapi kedua saudagar, dia tertawa dengan lagu suaranya tidak enak, kemudian dia membentak:
“Kedua sahabat, berlakulah tahu diri sedikit! Lekas kamu serahkan ho-siu ouw serta Liong Kiong Su Po yang kamu bawa itu! Ketahui oleh kamu, aku si orang tua masih hendak berbuat baik kepada kamu! Jangan kamu terlalu andalkan pelajarannya Thian Tie Tiauw Siu yang menjadi gurumu itu! Aku si orang tua, Leng-koan Kie Sat Ang Tiang Ceng, aku tidak memandang mata kepada gurumu itu! Lihat saja, kamu dapat lolos dari sini atau tidak?”

“Hm, bangsat tua!” Lie Siauw Leng mendamprat, “Kau jangan memikir yang tidak-tidak! Benda yang lain orang dengan susah payah mendapatkannya, mana dapat itu dengan gampang saja diserahkan kepada kamu? Baiklah, jangan kita membuang-buang tempo, mari kita mengandalkan kepandaian masing-masing! Apa maumu? Maju satu lawan satu atau kau hendak main keroyok?”

Sementara itu Ang Tiang Ceng heran menyaksikan Jie In berdiri di belakang dua saudagar itu, terpisahnya hampir lima tombak, hatinya bekerja: Turut katanya Siu long Touw Hoan, pelajar ini liehay tenaga dalamnya, dengan sekali bergerak saja dia dapat melemparkan Empat tikus tetapi aku tidak melihat tanda-tanda dari keliehayannya itu..Apa mungkin aku keliru? Karena ini, ia berlambat menjawab tantangan.

Maka Chin Pak Sam Ho yang berdiri di belakangnya, lantas lompat maju lalu satu diantaranya, yaitu Bu-eng Ho Khouw Kiat, kata sembari tertawa mengejek:
“Sahabat-sahabat, janganlah kamu tidak minum arak pemberian selamat, sebaliknya menenggak arak dendaan! Untuk kamu kami datang tanpa menghiraukan perjalanan jauh beribu lie! Untuk apakah? Maka kamu keluarkanlah dua barang kamu itu, urusan beres, jikalau tidak, kami dari Hek liong Pay, kami tidak mau mengerti! Penolakan kami berarti dusun Yo Kee Cip ini tempat pekuburan kamu!”

Khu Lin tertawa dingin.
“Memang aku telah melihatnya, kamu bukan orang yang dipelihara orang!” katanya, menghina. “Untuk urusan mala mini, tak usah kamu menggunai lidah kamu!”
Kata-kata itu disusuli serangan kepada Bu-eng Ho Khouw Kiat si Rase Tanpa Bayangan, yang ditikam pinggangnya.

Khouw Kiat mendapatkan julukannya itu disebabkan kegesitannya tetapi tikaman Khu Lin membuatnya kaget, dalam gugup dia menjejak tanah, untuk berlompat tinggi. Syukur untuknya, pedang lewat di bawahan kakinya. Tapi lawan tidak berhenti sampai disitu, dia ditikam pula, terus sampai tiga kali, megarah tiga jalan darahnya: kiu-bwee, ngo-kie dan ciang-bun. Baru dia bebas, atau tikaman yang keempat sudah menyusul lagi. Syukur dia lantas dapat membalas menyerang, hingga dia tak usah terdesak lebih jauh.

Pedang Khu Lin kalah berat, ketika bentrok, pedang itu mental.Senjatanya Khouw Kiat semacam tempuling long-gi-cie, yang panjang dua kaki lebih. Habis menyerang yang mana dapat digagalkan Khu Lin, dalam murkanya, dia terus menyerang dengan senjata rahasia, yang berupa besi cagak, yang jumlahnya dua belas buah.

Si Saudagar terancam bahaya. Karena mereka terpisahnya dekat, ia seperti dibokong. Disaat berbahaya itu, mendadak ia mendengar seruan di belakangnya, lantas terasa tubuhnya ditarik mundur. Ia pun masih mendengar sambaran angin, yang membikin senjata rahasia itu runtuh sendirinya, jatuh ke tanah.

Orang yang menolongi itu ialah Jie In, tidak bekerja kepalang tanggung. Ia melesat kepada Bu Eng Ho, tangannya diluncurkan. Sebelum si Rase Tanpa Bayangan tahu apa-apa, tangannya sudah kena ditangkap, cuma telinganya mendengar tertawa mengejek disusuli kata-kata ini: “Mala mini tidak dapat kamu menggunai senjata rahasia, atau Yo Kee Cip ini akan menjadi tempat runtuhnya kamu kaum Hek Liong Pay.” Kata-kata itu ditutup dengan samparan, sehingga Khouw Kiat terpelanting lima tombak lebih.

Kie Leng sat Sin menyaksikan bagaimana orangnya dihalang-halangi dan dirobohkan, dia heran sekali. Dialah satu ahli tetapi dia tidak dapat mengenali si pelajar menggunai ilmu silat dari partai mana. Dia pun lantas mengerti, kalau tetap pihaknya dirintangi, maksudnya pasti tak akan tercapai. Mendadak dia mendapat ingatan busuk. Ialah selagi Khu Lin terbengong dan Lie Siauw Leng keheran-heranan, ia berlompat maju, kelima tangannya yang besar, diulur kepada kedua saudagar itu untuk dicekuk.

Kedua saudagar itu kaget, dengan berbareng mereka menangkis dengan pedang mereka, tetapi hebat jago Hek Liong Pay itu, jago kawanan Naga Hitam, pedang mereka kena disampok patah, menyusul mana, serangannya dilanjuti.

Jie In melihat kedua saudagar terancam, ia mau menolongi.
Kedua rase lainnya melihat ketuanya bakal berhasil, mereka maju untuk mencegah si pelajar. Tindakan mereka ini disusul oleh mepat kawannya yang lain.

Melihat orang berlaku curang demikian, Jie In jadi gusar. Untuk menghalau perintang-perintang itu, sembari berlompat ia menyambut dengan tangan kiri dengan satu jurus dari Bie Lek Sin Kang. Tepat tangkisannya, ia membikin enam musuh itu terpental mundur, hingga dengan tangan kanannya, dapat ia bertindak terus terhadap Ang Tiang Ceng, lima jeriji tangannya dipakai menjambak pundak.

Ang Tiang Ceng kaget sekali. Ia merasakan pundaknya itu terjepit jeriji-jeriji tangan yang keras, hingga matanya kegelapan, batal menyerang kedua saudagar, ia menyampok ke belakang, sedang kakinya menjejak untuk berlompat ke depan.

Jie In tertawa, tangannya dilepaskan, maka itu Tiang Ceng terpental hanya dua tombak. Kepala Hek Liong Pay ini dapat memberatkan tubuhnya, hingga dia tak usah mental jatuh.

Khu Lin dan Siauw Leng tidak bebas seluruhnya. Karena Jie In dirintangi enam orang, ia terlambat. Maka itu leher mereka kena juga terlukakan sedikit hingga darahnya bercucuran. Tanpa pertolongan itu, benar seperti katanyaTiga Rase dari Shoasay Utara, Yo Kee Cip bakal jadi tempat dimana mereka dikubur, sebab tangannya Kie Leng Sat Sin sangat berbahaya.

Ang Tiang Ceng segera membalik tubuhnya, matanya mengawasi Jie In. Ia mendapatkan mata musuh ini sangat tajam, ia heran menyaksikan tujuh orangnya roboh dalam sekejap. Ia mengerti, ia lagi menghadapi musuh yang tidak dapat dipandang enteng.

Ketika itu angin Utara menderu-deru, menyapu mega hitam, maka langit menjadi terang, sang bulan yang tampak indah diatas langit. Jagat tampak putih, segala apa tampak tegas. Demikian tertampak orang-orang Hek Liong Pay ditempatnya masing-masing. Diatas salju, diatas wuwungan, diatas payon hotel.

Ang Tiang Ceng mengawasi orang-orangnya, ia merasa puas. Hanya sedetik kemudian ia agaknya masgul. Inilah sebab ia ingat liehaynya si pelajar usia pertengahan itu, yang tidak dikenalnya.

Jie In sebaliknya memasang matanya. Ia tidak mau bertindak sembarangan. Begitulah, ia melihat lima orang, yang baru muncul dari ujung salju yang jauh, yang lari menghampirkan Ang Tiang Ceng, untuk berhenti di depan ketua Hek Liong Pay itu.

Aneh semua kelima orang ini. Mereka semua keriputan mukanya, baju yang mereka pakai ialah baju panjang warna abu-abu, yang besar gerombongan hingga memain tak hentinya diantara sampokannya angin. Mereka mirip dengan Kie Leng Sat Sin. Alis mereka lanang, hidung mereka melesak, kulit muka mereka seperti tidak ada darahnya. Di antara kedua bibirnya terlihat gigi tonggos putih seperti caling. Di saat demikian, memandangi roman mereka, orang dapat menggigil bahna seramnya.

Ang Tiang Ceng tertawa lebar dan berkata dengan nyaring: “Sungguh aku tidak sangka juga, Liong-bun Kun Tiong telah tertarik hatinya! Benar-benar inilah diluar dugaanku!”

“Kiranya mereka bersaudara, pantas romannya mirip semua,” kata Jie In di dalam hatinya. Liong-bun Kun Tiong itu berarti persaudaraan dari Liong-bun.
Kelima orang baru itu dengan serentak mengasi dengar suara mereka yang dingin, “Ang Tong-kee! Di dalam hal ini, tindakanmu kurang tepat! Barang-barang ada demikian langka dan berharga, maka untuk kau memikirnya menelan sendiri, itulah tidak dapat!”

Kedua matanya Kie Leng Sat Sin bersinar menyala, kembali dia tertawa dan berkata, “Wilayah Shoasay Utara ini ialah wilayah pengaruh kami kaum Hek Liong Pay, maka itu apa yang aku orang she Ang suka lakukan, aku melakukannya! Tapi kamu…hm!..kamu hendak turun tangan didalam air keruh, kamu ingin mendapatkan barang yang tersedia, sungguh itu bukanlah soal yang mudah dan enak untuk kamu! Barang berharga luar biasa itu berada didalam tangannya itu tiga orang di hadapanmu, jikalau kamu hendak mengambilnya, kamu ambillah! Tapi harus diketahui oleh kamu, mereka bertiga adalah tangan-tangan yang keras, maka aku duga, baru kamu berlima, tidak gampang-gampang kamu berhasil!”

Suara yang tajam tadi lantas terdengar pula; “Kami lima saudara dari Liong-bun, asal kami mau turun tangan, walau pun orang sudah lari ke neraka, masih dapat kami membetotnya kembali! Biasanya tidak ada apa juga yang kami tidak dapat mengurusnya! Jikalau kau hendak meminjam golok lain orang untuk melakukan pembunuhan, bicara terus terang, artinya kau hendak menggunai tenaga kami, oh itulah tak dapat terjadi walaupun kau lagi bermimpi!”

Ang Tiang Ceng tertawa dingin pula: “Jangan kamu mengira yang manusia Liong-bun Ngo Koay sudah mengagetkan langit dan mengejutkan bumi!” katanya. “Omong terus terang. apakah kamu dapat membikin orang hanya terperanjat? Hm?”

Ang Tiang Ceng berlaku cerdik, ia lagi mengebor untuk membikin panas hatinya lima saudara Liong-bun itu yang dijulukkan Liong-bun Ngo Koay atau Lima Siluman dari Liong-bun. Ia tahu kegagahan mereka berimbang sama kegagahannya sendiri, maka biarlah mereka itu yang menempur lebih dulu pada orang aneh di depannya ini. Ia sendiri memang ragu-ragu dapat mengalahkan Jie In, maka kebetulan sekali datang lima orang ini. Ia telah memikir selagi Jie In dilibat Liong-bun Ngo Koay, hendak ia menyerbu Khu Lin dan Lie Siauw Leng. Ia hanya tidak memikir lebih jauh kepada pepatah yang membilang, sang cengcorang hendak menangkap sang tonggeret ada si burung gereja! Barang-barangnya kedua saudagar itu telah menyebabkan berkumpulnya orang-orang Kang-ouw kalangan Jalan Hitam di dusun Yo Kee Cip itu.

Liong-bun Ngo Koay bukannya tidak dapat menangkap maksud hatinya Ang Tiang Ceng itu hanya mereka memikir baik mereka merampas dulu barang berharga, baru mereka melayani ketua Hek Liong Pay itu.

Ketika itu Khu Lin dan Lie Siauw Leng sudah membalut luka di leher mereka. Syukur luka itu tidak membahayakan. Karena pedang mereka sudah patah dan berserakan di tanah bersalju, terpaksa dengan tangan kosong mereka berdiri di samping Jie In. Selagi menghampirkan, mereka mengangkat tangan memberi hormat.

Jie In memandang mereka, ia tertawa dan berkata: “Apakah luka tuan-tuan berdua tidak berbahaya? Jangan kuatir, peristiwa malam ini pastilah tidak ada bahayanya, cuma mengejutkan! Tuan-tuan baiklah berdiri di pinggiran untuk menonton saja!”

“Terima kasih!” berkata kedua saudagar itu. Memang luka mereka tidak berarti akan tetapi sekarang hati mereka tidak tenteram. Di depan sana ada musuh-musuh yang tangguh. Mereka harus mendengar si pelajar mengatakan, bahaya tidak ada, yang ada cuma hal yang mengejutkan.

Liong-bun Ngo Koay itu galak sekali. Dengan tindakan lebar, mereka maju hingga di depan Jie In dan kedua saudagar itu.

Jie In berlaku sangat tabah, tenang sekali sikapnya. Ia berdiri sambil menggendong tangan, ia memalingkan mukanya dan berkata sambil tertawa kepada kedua saudagar itu: “Saudara-saudara, tahukah kamu mala mini malam pesta besar? Inilah malam yang sukar didapatkannya! Kecuali Hek Liong Pay dan Liong-bun Ngo Koay, masih ada orang-orang lainnya yang datang hadir!”

Suara itu tidak nyaring tetapi terdengar nyata dan terdengarnya jauh hingga ke tegalan di sekitarnya.
Liong-bun Ngo Koay heran, mereka lantas berpaling. Benarlah, mereka melihat munculnya beberapa puluh bayangan lain, yang dengan lekas sudah datang dekat mereka. Mau atau tidak mereka begitu pun Ang Tiang Ceng berubah air mukanya. Orang-orang yang baru datang itu tinggi-kate dan gemuk-kurus tubuhnya masing-masing.

“Baiklah kita nerobos pergi!” kata kedua saudagar pada Jie In. Mereka bicara perlahan sekali, hati mereka berdebaran.
Jie In menggeleng kepala, dia tertawa.
“Meski kawanan bangsat ini besar jumlahnya, buat tempo sejenak tidak nanti mereka dapat mengganggu kita,” katanya tenang. “Baiklah kita menonton mereka itu saling bentrok sendiri! Jikalau kita menyingkir, itu justeru bakal mendatangkan bahaya…”

Dua saudagar itu bingung, mereka menghela napas.
Di sana lantas terdengar suara berisik. Itulah disebabkan mereka itu berebut omong. Akhirnya Ang Tiang Ceng tertawa berkakak dan berkata dengan suara nyaring: “Barang mestikanya cuma dua rupa, tetapi sekarang ini rekan-rekan yang datang, berikut kami dari pihak Hek Liong Pay, berjumlah tak kurang dari seratus lebih orang, maka itu ingin aku menanyai kamu, kalau nanti kita berhasil, bagaimana kita membaginya?”
Seorang yang suaranya nyaring berkata: “Setelah barang didapat, kita lantas mengadakan satu pertemuan mengadu kepandaian, siapa yang keluar sebagai pemenang nomor satu, mestika itu menjadi kepunyaannya! Sekarang ini percuma kita saling berebutan terlebih dulu, itulah angin busuk belaka!”

“Tuan, pikiran kau ini bagus sekali!” kata Ang Tiang Ceng, mengejek. “Sekarang aku hendak menanya, sebelum kita mengadu kepandaian, mustika itu hendak dititipkan kepada siapa?”
Tepat pertanyaan ini. Semua orang lantas bungkam, hingga redalah suasana kacau itu. Justeru itu dari wuwungan losmen terdengar suara nyaring ini: ”Jikalau itu dititipkan pada aku si orang tua, bukankah tepat?”

Kata-kata itu segera disusul dengan lompat turunnya tiga bayangan orang, selagi yang lainnya masih mengawasi. Jie In telah lantas mengenali siapa mereka itu, ialah Ay Hong Sok Kheng Hong bersama Hek Molek Kiang Yauw Cong dan Thian Hong kiam Tonghong Giok Kun.

Mendapatkan mereka ini, pemuda ini mengerutkan alis, ia jadi ingat kepada Kang Yauw Hong, Bagaimana dengan Nona Kang di Ngo Bie San di tempatnya Ban In Su-thay? ia pun merasa sulit, Tidak dapat ia segera memperkenalkan diri kepada mereka itu.

Sesudah Kheng Hong bertiga datang mendekat, maka berisik pulalah rombongan penjahat itu, segera terdengar satu suara nyaring: "Lihat, apakah kedua orang itu bukannya dua bocah dari Ngo Bie Pay? Susah-susah mereka dicari, siapa sangka mereka justru mengantarkan diri mereka Hahaha" orang itu tertawa bergelak, habis mana, teriihatlah majunya dua orang dengan senjata terhunus.

"Mundur" berseru seorang dari Liong-bun Ngo Koay, yang mengibaskan sebelah tangannya. Hebat kibasan itu, kedua orang tadi mundur terpelanting satu tombak jauhnya hingga muka mereka menjadi pucat.
"Kalau kalian mempunyai sangkutan, pergi kalian cari lain tempat di mana kalian dapat membuat perhitungan" berkata anggota Liong-bun Ngo Koay itu. "Malam ini kami lima bersaudara hendak bekerja, kami larang siapa pun campur tangan, jangan orang mengharap mengail Ikan diair keruh"

Diantara kedua orang itu, yang satu berkata keras: "Lao-su dari Keluarga Jim, jangan kau bertingkah Nanti kau akan menerima pembalasan Apakah kau kira pihak sana itu makanan yang empuk? Hm"
"Hm" bersuara pula kelima Siluman dari Liong-bun, Mereka tidak menggubrisnya, sebalik-nya, mereka mengawasi Khu Lin dan Lie siauw Leng sambil memperdengarkan tertawa mereka yang aneh.

Liong bun Ngo Koay baru muncul belasan tahun yang lalu, setiap keluar mereka tentu berlima. Mereka sama-sama telengas, kalau mereka turun tangan. tidak pernah mereka meninggalkan orang yang masih hidup,
Kalau satu diantaranya tak dapat melayani musuh, mereka lantas meluruk berlima sampai sebegitu jauh belum ada orang yang dapat lolos dari ilmu silat bersatu padu dari mereka, yang diberi nama Hong-in sip-pat Ciang, atau Delapan belas Tangan Bencana, itulah yang menyebabkan nama mereka tersohor dan disegani.

Daerah pengaruh mereka ialah daerah Hoo-lok. Mereka lima saudara, she mereka ialah Jim, dan nama mereka menuruti urutan Liong, Houw, Pa, Him dan Hong, atau naga, harimau, macan tutul, biruang dan burung hong, Merekalah murid- muridnya sam Cian Mo Kun dari gunung Kauw Louw san di propinsi Kwiesay.

Segera terdengar tertawanya Jim Him, yang terus berkata dengan dingini "Tuan-tuan, kafau kalian suka berjanji kedua mustika itu dibagi masing-masing separuh kepada kami, suka kami membantu kaliaa, membantu dari awal hingga diakhirnya dan kami menjamin keselamatan kalian sebaliknya, terserah kepada kalian kalian adalah orang-orang yang mengerti selatan, kalian pasti dapat mempertimbangkan dengan baik"

Dari samping kedua saudagar she Khu dan she Lie itu terdengar tertawa bergelak dan kata-kata nyaring: "Sunggun aneh, Liong-bun Ngo Koay dapat mengucapkan kata-kata manis seperti ini" itulah suaranya Ay Hong sok Kheng Hong, yang telah menempatkan diri di dekat kedua saudagar itu.
"Anjing tua, siapa kau?"Jim Liong membentak "siapa menghendaki kau ikut campur urusan."
suara itu keras dan tajam. Kheng Hong tertawa bergolak pula.

"Namaku si orang tua ialah Kheng Hong" sahutnya, " kalian tentu sudah pernah mendengar-nya Ketika aku si orang tua mulai muncul dalam dunia Kang-ouw, kalian masih berada dalam kandungku anjing, maka sampai sekarang ini kalian masih belum dapat bicara seperti manusia"

Jim Liong murka bukan buatan, dia lantas mengenjot tubuhnya melompat jauh, untuk dengan sebelah tangannya menghajar orang yang menghinanya. Bukan main sebalnya gerakannya itu.
Ay Hong sok menyambut dengan tertawa bergolaknya, Kedua pundaknya lantas bergerak. Belum lagi Jim Liong tiba, ia sudah mencelat mundur satu tombak. Dia mengawasi dengan mata dibikin kecil, dengan roman jenaka ia berkata: " Kabarnya kalian lima siluman biasanya menerjang bersama, kalian pun rada bersifat iblis, maka karena sekarang kau maju sendiri, aku si orang tua bukanlah tandinganmu. Kau harus mengetahui sekalipun si siluman aneh Sam Cian, mereka masih lebih muda dua tingkat dari aku"

Kelima siluman itu mendongkol bukan main, Di muka umum itu, mereka sangat dihina, Benar Kheng Hong berguyon, toh mereka merasa terejek, Maka empat siluman lainnya lantas maju, hingga mereka jadi berdiri berbaris dengan saudara tua mereka, lalu bersama-sama, dengan saling susul, mereka menyerang, hingga serangan mereka itu mendatangkan desiran angin yang keras.
Biasanya, siapa tenaga dalamnya belum mahir, terkena serangan anginnya saja dia dapat mati karena keluarnya darah dari mulut, hidung, mata dan lainnya lagi.

Ay Hong sok mengenali serangan itu, ia tidak takut. ia mengandalkan pada tenaga Ngo Heng ciang kepunyaannya sendiri, siapa tahu, hebat adalah Hong-in sip-pat CiaNg dari kelima siluman dari Liong-bun itu, ketika ia merasa dirinya mulai terkurung, ia mengerahkan tenaganya untuk bertahan. ia bergerak ke arah barat, guna meloloskan diri

Di sana pun ada tenaga yang mendesaknya balik Tapi ia tidak takut, ia mengerahkan pula tenaganya, untuk mendesak pada Jim Liong dan Jim pa, hingga mereka berdua mundur dua tindak. Akan tetapi, ia berhasil di sini, di sana datang desakan lain, dari Jim Houw dan Jim Him.
Kembali ia melawan, justru itu, dari belakangnya, datang desakan yang lainnya lagi, Karena itu, ia tidak berpikir lagi untuk menyerang, ia hanya berpikir untuk membela diri, Kembali ia mengerahkan tenaga dalamnya, yang telah ia latih selama dua puluh tahun, dengan itu ia melayani musuh-musuhaya yang tangguh itu. syukur ia lihay, kalau tidak, cepat juga ia akan kena dirobohkan.

Selagi kelima siluman itu menempur Kheng Hong, di pihak lain juga sudah mulai mau bergerak.
Ang Tiang Ceng melihat Liong-bun Ngo Koay ngotot melawan Ay Hong sok. Ia percaya mereka berlima tidak dapat memecah perhatian, maka sambil tertawa riang ia berkata: "Tuan-tuan Kita orang datang ke mari untuk kedua rupa mustika itu, oleh karena itu sudah selayaknya kita bekerja sama Kita ini, bergabung kita beruntung, bercerai kita gagal. Maka tindakan utama dari kita sekarang ialah lebih dulu membereskan itu lima orang lagi di pihak sana , setelah kita berhasil dan mendapatkan mustika mereka, baru kita berunding bagaimana harus mengatur pembagiannya tentang ho-siu-ouw, dapat kita membaginya dengan memotongnya, sedang mustika lainnya, aku pikir baiklah kita menggunakan cara undian, Bagaimana tuan-tuan?"

"Bagus" banyak suara menyatakan setuju, karena tampaknya tidak ada cara lain yang lebih baik dari itu, Bahkan lima orang lantas melompat ke arah Khu Lin berlima.

Tonghong Giok Kun dan Kiang Yauw Cong tertawa menyaksikan lagak kelima orang itu, mereka lantas maju untuk mencegat, tetapi karena mereka hanya berdua saja, ada yang lainnya yang maju terus kepada Khu Lin, Lie siauw Leng dan Jie In bertiga.
Ketika itu Jie In tengah berpikir la sendiri, ia tak takuti apa pun juga, akan tetapi untuk melindungi kelima orang itu, rada sulit. Pihak lawan terdiri dari orang-orang ternama, ia juga tidak mau menggunakan Bie Lek sin Kang atau Hian Wan sip-pat ciang, karena ia takut dikenali Kheng Hong.

Juga dengan digunakannya kedua rupa kepandaiannya itu, ia bakal semakin dikenal, hingga ia akan jadi kurang leluasa bergerak. Tapi la tak sempat berpikir terlalu banyak. Dua musuh sudah lantas tiba di depannya, ia tertawa panjang, ia menyambut mereka, ia masih belum berhenti tertawa atau kedua musuhnya sudah terpental, pedang mereka pindah ke dalam tangannya, hingga terus saja ia menyerahkan itu kepada si kedua saudagar.

Khu Lin dan Lie siauw Leng saling mengawasi, mereka menyambut pedang itu, tetapi mereka jengah, semenjak pedang mereka dirusak Ang Tiang Ceng, mereka sudah bingung, Atas datangnya musuh barusan, mereka terpaksa hendak menyambut dengan tangan kosong, Untuk herannya mereka. begitu si pelajar mendahutui melompat maju sambil tertawa, orang telah berhasil merampas senjata kedua musuh itu

Mereka juga kagum menyaksikan gerakan sangat cepat dari si pelajar, sampai mereka seperti tidak melihatnya Mereka merasa, sekalipun guru mereka, Thian Tie Tiauw su, si Pengail dari telaga Thian Tie, tidak selihay pelajar ini.

Habis menyerahkan pedang,Jie In berkata sambil tertawa pada kedua saudagar itu:
"Saudara berdua murid-muridnya Thian Tie Tiauw siu, aku percaya lihay ilmu silat kalian, akan tetapi sekarang tuan-tuan menghadapi musuh yang berjumlah jauh lebih besar, baiklah tuan-tuan memikirkan jalan untuk menyelamatkan diri sendiri saja, Terutama hadapilah musuh dengan tenang, Musuh berjumlah besar dan tangguh, tetapi aku percaya, mereka tidak dapat mengganggu kita dalam waktu yang pendek. Maka aku lagi berpikir supaya kita bisa mundur dari sini dengan tidak kurang sesuatu apa pun. Kie Leng sat sin Ang Tiang Ceng lagi meminjam tenaga orang untuk membunuh orang, supaya setelah kita letih, dia sendiri yang turun tangan.
Diantara musuh bukan cuma Ang Tiang Ceng dan Liong-bun Ngo Koay yang lihay, masih ada yang lainnya yang belum memperlihatkan diri, maka kita harus tenang, jangan kita mengobral tenaga kita."

Khu Lin dan Lie siauw Leng mengangguk seraya mengucapkan terima kasih.
Tonghong Giok Kun dan Kiang Yauw Cong sudah memperoleh kemenangan dalam beberapa gebrak, mereka dapat menabas kutung leher seorang musuh dan membuat cacad kaki dan tangan dua musuh lainnya, maka salju di dekat mereka menjadi merah tersemprot darah hidup, darah mana lantas beku sendirinya.

Di pihak Kheng Hong, pertempuran berjalan sangat hebat, Kelima siluman itu tidak dapat menerima penghinaan sambil bertempur mereka mengasih dengar suara mereka yang berisik, hingga suara itu berkumandang di empat penjuru.
Mereka maju merapatkan diri, Ay Hong sok memperlihatkan sorot mata yang bengis, setiap kali lawan merangsak. la menyerang dengan pukulannya yang lihay, hingga selalu salah satu lawannya terpukul mundur.

Hanya, setiap kali musuh mundur, setiap kali juga dia maju lagi, hingga mereka terus dapat mengurung, Maka percuma ia beraksi, ia tidak dapat memecahkan kepungan.
Jie In melihat. keadaannya si Tonghong sok Kiat, Di kepung secara demikian, dia akhirnya bakal jadi letih dan lelah dan akan roboh atau terbiasa karenanya Maka ia memikirkan jalan untuk memberi pertolongan supaya kawan itu selamat berbareng namanya tetap terhormat ia tidak mengambil waktu lama, ia telah mendapatkan jalan yang dicarinya itu. Demikianlah, di saat Kheng Hong menyerang, ia menyerang dengan diam-diam.

Jim Him adalah lawan pertama yang dijadikan korban, orang she Jim yang nomor empat itu lagi maju, dia diserang Kheng Hong. Berbareng dengan itu Jie In pun menyerang, menotok jalan darah sam-yang di dada nya. sambil menyerang itu Jie In berpura - pura tenang, berbicara sambil tertawa dengan Khu Lin dan siauw Leng.

Ketika itu Tonghong Giok Kun berdua Kiang Yauw Cong, setelah robohnya tiga penyerangnya, terancam akan dikeroyok enam orang lain, yang melompat maju ke arahnya.
Jie In melihat itu, lekas ia maju, tangannya ditolakkan ke depan. Tepat dia berhasil menahan mereka, hingga mereka menjadi heran.

Tanpa memperdulikan orang heran, si pelajar berkata dengan perlahan tetapi bengis: " Kalau kalian tidak menggunakan aturan Kang-ouw dan mau menang dengan main keroyok. itu artinya saat kematian kalian sudah tiba. Aku peringatkan kalian dapat berkelahi satu lawan satu, terutama jangan kalian menggunakan senjata rahasia Tahukah kalian?" Habis berkata Jie In mundur pula.

Keenam orang itu ialah Liang- ciu Liok sat, enam jago dari Liang ciu, Mereka biasanya besar kepala, sekarang mereka dicegah sipelajar, mereka jadi serba salah. Menempur mereka jeri, mundur mereka malu. Mereka lantas saling mengawasi, kemudian yang lima maju, yang satu mundur, Yang lima itu mau menempur terus pada Tonghong Giok Kun, Kiang Yauw Cong dan jie In serta Khu Lin dan Lie Siauw Leng.

Liok sat yang menghampiri Jie In tetap kecil hatinya, tangannya yang mencekal senjata bergemetaran, melihat mana, si pelajar tertawa dalam hatinya. Dengan cepat ia menggerakkan tangan kanannya, menggaplok kuping drang sambil membentak: "Apakah kau masih tidak mau mundur? Dapatkah manusia seperti mu melayani aku?"
Jago Liang cin ini tidak berdaya, terpaksa ia mundur, percuma ia memegang senjata. ia sekarang mesti mengusap-usap pipinya yang bengap.

Adalah empat Liok sat lainnya, yang jadi bertempur dengan seru, Kheng Hong terus menghadapi Jim Him. Musuh ini, yang terpukul mundur, karena dia tertotok Jie In, merasakan punggungnya dingin. Mulanya dia tidak menghiraukannya, dia menyangka punggungnya itu terkena angin oleh karena baju-nya tipis, hanya sesaat kemudian, dia menjadi heran, lantas dia menjadi kaget.

Perubahan perasaan datang dengan cepat, ialah terasakan otot-ototnya menjadi lemas dan ngilu, tenaganya berkurang sendirinya Jie In menotok jalan darah sam-yang, kalau dia di totok jalan darah kin-siunya, pasti dia roboh segera.
Orang menjadi heran menyaksikan keadaan Jim Him ini, mereka lantas menduga dia pasti terkena "tangan jahat", tetapi tidak ada orang yang melihat serangan gelap itu. sebaliknya, Kheng Hong yang melihat tenaga musuhnya berkurang, menjadi girang sekali, ia menggunakan waktunya untuk menyerang pula.

Jim Him kena terhajar, dia terpelanting lima tombak, terus roboh, tak dapat dia bangun pula.
Dengan robohnya satu orang, runtuhlah pengepungan persaudaraan she Jim itu. Ay Hong sok lolos, ia lantas menerjang dengan hebat, maka sekarang ialah yang sebentar-sebentar mendesak lawannya mundur.








10. Jilid 5.2 : Mengawal obat mestika ho-siu-ouw

Bacaan » PEMBALASAN SEORANG JAGOAN » Jilid 5.2 : Mengawal obat mestika ho-siu-ouw
Anggota masrizki
Waktu 29 Juli
Bab Sebelum 9. Jilid 5.1 : Empat Mestika Raja Naga
Bab Sesudah 11. Jilid 6.1. Thay oh Kiam milik keluarga Hu




Pembalasan Seorang Jagoan
Karya : Wu Lin Qiao Zhi
Terjemah : OKT
Jilid 5.2. Mengawal obat mestika ho-siu-ouw

"Tahan" Jim Liong berteriak ketika ia melirik kepada adiknya yang roboh itu, tubuh siapa rebah melingkar, sedang mulutnya memperdengarkan suara yang menyayatkan hati,
"Hari ini kami lima bersaudara mengaku kalah. Tapi ini bukan disebabkan kami kalah darimu, Kheng Losu, melainkan disebabkan adikku sakit mendadak Baiklah, Kheng Losu, kami tidak menghendaki pula barang-barang mustika itu sampai berjumpa pula"

Habis berkata, saudara tua ini lantas menghampiri adiknya, Ketika itu, tubuh Jim Him menjadi ciut, tenaganya habis sama sekali, hingga tubuh itu menjadi lemas dan lunak.
Dia pun tidak berteriak-teriak lagi, dia cuma bisa merintih perlahan, Tanpa merasa, Jim Liong mengucurkan air mata, juga tiga saudaranya yang lain, Berbareng dengan itu, mereka heran atas lihaynya Kheng Hong, Tentu saja, tidak dapat mereka berdiam lama-lama di situ Jim Him lantas dipondong, untuk di ajak pergi menghilang.

Ay Hong sok tertawa lebar, Tapi la tertawa dengan merasa heran, karena ia tak tahu sebabnya mengapa tubuh Jim Him menjadi ringkas.
Pertempuran diantara keempat Liok sat dan Tonghong Giok Kun beramai berjalan dengan seru tetapi kipa, inilah disebabkan jago-jago Liang- ciu itu sudah ciut hatinya, Maka setelah lewat dua puluh jurus, mereka kena dikalahkan. Liok sat yang kedua pun berkata di dalam hatinya: "Di sini ada sipelajar rudin, tidak ada harapan lagi untuk dapat merampas mustika, kalau kami tidak mengangkat kaki sekarang, mau menunggu kapan lagi?" Demikianlah, seperti Liong-bun Ngo Koay, ia mengajak lima saudaranya menyingkir untuk pulang ke Liang ciu.

Menyaksikan kesudahannya pertempuran itu, Ang Tiang Ceng girang berbareng berduka. Girang sebab ia telah berhasil menjalankan tipu dayanya, meminjam golok orang lain. Bersusah lantaran ia sudah kepalang tanggung, seperti orang yang menunggang harimau, sukar turun, Dalam keadaan bingung itu, sekian lama ia berdiam saja, ia seperti tidak melihat kaburnya Ngo Koay dan Liok sat.
Sikap Kie Leng sat sin ini membangkitkan amarahnya Thong Thian Keng Ong Ek. si ikan Hiu dari hulu sungai Hong Hoo serta siauwyauw Ie-su Pheng Hui, imam dari kuil Kim Thian Koan di Lian-ciu.

Mereka dapat melihat akal muslihatnya si orang she Ang. Pheng Hui lantas memandang tajam pada ketua Hek Liong Pay itu, sembari memperdengarkan tertawa dingin, dia berkata: "Ang Tongke, jangan kau diam-diam saja dengan akalmu ini Kami sudah menjual jiwa kami, kau sendiri tetap berduduk untuk menerima hasilnya Aku Pheng Hui tidak dapat terpedayakan olehmu. Malam ini kami tidak mau turun tangan dulu, ingin kami melihat lagak kalian kaum Hek Liong Pay. Andaikata kau merasa tidak mempunyai guna, baiklah kau lekas mengangkat kaki, supaya dengan begitu tak usahlah kau mencampuri urusan kami"
"Benar, saudara Pheng benar" Ong Ek menimpali "Ang Tongke, sungguh kau sangat tidak memandang sebelah mata kepada saudara-saudara kaum Kang-ouw"

Ang Tiang Ceng menunduk sambil meram, mendengar kata-kata kedua orang itu, ia mengangkat kepalanya, matanya lantas menjadi bersinar tajam.
"Tuan-tuan, kalian mau menang sendiri" ia berkata, tertawa dingin, " Wilayah shoasay Barat ini ialah daerah pengaruh kami, dan juga urusan ini termasuk urusan kami, untuk mana kami sudah berpikir masak lama-lama dan bekerja keras sekali, kalian tahu, kami sudah menguntit hampir satu bulan. Di sinilah, di Yo Kee Cip. kami telah bersiap-siap untuk turun tangan, tetapi kalian, kalian hendak enak saja, kalian mau mendapat bagian sambil duduk menganggur
kalian yang melanggar hak, kenapa sekarang kalian berani menegur kami? Coba aku tidak ingat kepada persahabatan lama dari kita, Yo Kee Cip ini dapat menjadi tempat penguburan tulang-tulang kalian"

Mulanya Tiang ceng bicara perlahan, lalu makin lama makin keras, ketika kawan-kawannya telah mendengar semua, mereka menjadi kurang senang, tampak kemurkaan mereka pada wajah mereka.
Muka Peng Hui dan Ong Ek menjadi merah sendirinya.
"Ang Tiang ceng" Peng Hui berseru, "Lain orang takut padamu, aku tidak. Mari kita lihat, siapa yang nanti dikubur di sini"
Kata-kata itu disusul dengan serangan kedua tangan ke arah dada ketua Hek Liong Pay itu, angin kepalannya menyambar lebih dulu.

BAB 13
"BAGUS" berkata Tiang Ceng tertawa dingin, tangannya diangkat untuk dipakai menangkis, hingga tangan mereka bentrok keras, atas mana keduanya sama-sama terpukul mundur,
Itulah tanda mereka berdua berimbang maka Pheng Hui lantas maju pula, guna menyerang lebih jauh, hingga Tiang ceng mesti melayaninya.

Jie In menonton dengan otaknya dikasih bekerja, ia tahu, itulah perbuatan Kheng Hong bertiga membikin runtuh penjagaan orang-orang Hok Liong Pay, yang pada kena ditotok hingga mereka berdiam bagaikan patung, cuma mata mereka yang menyatakan kemurkaan mereka. ia tidak berpikir lama untuk lantas bekerja, Maka ia mengisiki Khu Lin dan Siauw Leng: "Sahabat, kawanan penjahat lagi bentrok sendiri kita tak dapat berdiam terus di sini. Pergilah kalian mundur perlahan-lahan ke istal, tuntunlah kuda kalian ke belakang, untuk menyingkir nanti aku menyusul Kalau kita berdiam lama-lama, mungkin kita sukar lolos dari sini."

Kedua saudagar itu setuju maka dengan hampir tak terlihat, mereka main mundur.
Ketika itu Ay Hong sok mendongkol melihat Jie In bertiga tidak memperhatikan pihaknya, hingga dia berkata dalam hatinya: "Apakah pihakku salah? Gila betul" Karena itu, ia pun mengajak kawannya menjauhkan diri

Pheng Hui dan Ang Tiang Ceng masih bertarung terus, mereka sama-sama besar kepala, mereka pun sama-sama gagah, masing-masing mengeluarkan kepandaiannya.
Ong Ek tidak membantu kawannya, tetapi la berpikir lain, ia berpikir untuk merampas mustika, Maka diam-diam ia memberi isyarat kepada kawan-kawannya, lantas ia melompat ke arah Jie In bertiga, Belasan orang lantas menyusul dia.
Sang malam guram, si Putri Malam teraling gumpalan-gumpalan mega. Karena itu, orang-orang yang bergerak di atas salju tampak seperti sekumpulan setan saja.

Percuma Ong Ek maju, ia lantas kehilangan Jie In bertiga, ia menjadi heran, Maka tanpa menghiraukan lagi Kheng Hong bertiga, ia mengajak kawan-kawannya lari ke arah lain.
Kheng Hong sendiri telah melihat orang bergerak ke arah ia dan dua kawannya, ia lantas bersiap untuk menyambut serangan, maka heranlah ia ketika mendapat kenyataan orang pergi ke lain arah itu, Ketika ia melihat ke sekelilingnya, barulah ia terkejut, Jie In bertiga sudah tidak ada lagi diantara mereka semua. Maka mengertilah ia akan sepak terjang Ong Ek itu.

"Ke mana mereka pergi?" Ay Hong sok bertanya pada dirinya sendiri, ia tidak tahu, ia tidak melihat orang mengangkat kaki, Toh terpisahnya Jie In bertiga dari mereka cuma kira-kira dua tombak. ia jadi menggelengkan kepala, Ketika ia berpaling kepada kedua kawannya, ia, menyeringai dan berkata: "Anak-anak. kita keliru. Kita membantu orang, bukannya orang berterima kasih, mereka justru mabur. Buat apa kita berdiam lebih lama lagi di sini? Perlu apa kita makan angin saja? Tak ada faedahnya menonton orang berkelahi Mari"
Tonghong Giok Kun dan Kiang Yauw Cong tertawa, mereka turut menyingkir lenyap di tempat yang gelap.

Ang Tiang Ceng dan Pheng Hui, yang lagi mengotot itu tidak tahu menghilangnya dua rombongan orang itu, mereka masih bertempur Tiang Ceng berlega hati, ia percaya orang-orangnya. Bila terjadi sesuatu, pasti ada orangnya yang memberi laporan.
Hanya ia tidak mengetahui bahwa orang-orangnya itu sudah dibikin menjadi boneka-boneka hidup oleh Kheng Hong.

Akhirnya orangnya Pheng Hui yang berseru: "Tongke berdua, buat apa kalian berkelahi lebih jauh? Mereka sudah kabur semua"
Pheng Hui terkejut Dengan satu pukulan, ia membuat Tiang Ceng mundur satu tindak. la sendiri melompat hingga tiga tombak. terus berkata: "orang she Ang, urusan kita masih belum selesai, maka kau ingat saja"

Habis berkata, ia menggapai kepada kawan-kawan-nya, lantas mereka menyingkir pergi
Tiang Ceng mengasih dengar ejekan berulang kali, saking sengit, ia menghajar salju di depannya, hingga salju muncrat ke tubuh dan kepalanya, ini ada baiknya, ia lekas menjadi tenang, Angin pun membantu mendinginkan hatinya.

Ketika ia melihat ke sekeliling-nya, ia mendapatkan delapan orangnya, yang separuh telah terluka, Tanpa merasa, ia menarik napas panjang. ia telah kena dirobohkan.
"Pelajar berusia pertengahan itu lihay luar biasa, Ong Ek beramai menyusul dia, mereka tentu tidak akan mendapat hasil, mungkin mereka akan menerima pengajaran," katanya dalam hati,
"Baiklah aku mengenal selatan..." Karena itu, ia lantas mengurus orang-orangnya, buat terus pergi

Ketika matahari pagi mulai muncul, maka terlihatlah wilayah yang luas yang bercahaya putih dan angin yang menderu- deru keras, Hawa dingin melebihi hari kemarinnya. Dijalan antara kota Gan-bun-kwan dan kecamatan Tay-koan biasanya jarang dilalui disaat begitu, tetapi sekarang terlihat tiga penunggang kuda dengan kuda mereka lari berlompatan karena salju yang membeku mulai lumer, setiap menaruh kaki, kaki kuda itu terus melesak Maka ketiga binatang itu sebentar-sebentar meringkik panjang

Jie In berada di punggung salah seekor kuda, ia memutar cambuknya di atas kepalanya, beberapa kali cambuknya itu pun dikasih berbunyi menjeter, ia tampaknya tenang, Tidak demikian dengan Khu Lin dan Lie siauw Leng, Mereka agaknya tegang, hingga mereka tak dapat berbicara dan tertawa seperti waktu di Yo Kee cip tadi malam. Berulang kali mereka berpaling ke belakang, untuk melihat ada penjahat yang menyusulnya atau tidak

"Jangan takut, tuan-tuan" kata Jie In tertawa, "Majulah terus dengan tenang Kalau kawanan bermuka tebal itu menyusul, maka aku akan menuruti mereka seperti apa yang mereka kehendaki, akan kukirim mereka kembali. Atau baiklah aku mengantar kalian sampai di tempat tujuan kalian, Bukankah tuan-tuan mau pergi ke Thay-goan?"

Semenjak berlalu dari Yo Kee Cip. inilah yang pertama kali Jie In membuka pembicaraan, yang memecahkan kesunyian diantara mereka bertiga. Khu Lin tertawa.
"Tay-hiap." ia berkata, "atas bantuanmu tadi malam, tak usah kami menghaturkan terima kasih lagi. Kami melihat kau bukanlah orang biasa, maka kami pasti akan disangka berlaku palsu apabila kami menggunakan banyak peradatan, Meski begitu, kami masih mau meminta tanya she dan nama tayhiap. sudikah tayhiap memberitahukannya?"
Jie In tertawa lebar.
"Namaku Jie In," ia menyahut "Kau memanggil tayhiap. aku tidak berani menerimanya. Kau panggillah sembarang saja." ia berhenti sebentar, lalu ia tertawa pula dan ber-kata: "Tuan-tuan, besar nyali kalian Kenapa kalian dapat ngobrol leluasa di Yo Kee Cip? Kenapa kalian lancang bicara mengenai mustika kalian? Apakah itu bukan berarti mencari bencana sendiri?"

Khu Lin menyeringai ia likat, "itulah terpaksa," sahutnya, "Tak dapat kami tak berbuat demikian, sebenarnya tidak ada empat mustika dari raja naga, yang ada cuma ho-siu-ouw."
Jie In heran.
"Coba kalian jelaskan," pintanya.
Lie Siauw Leng mewakili kawannya, ia berkata: "Duduknya persoalan begini, Khu suheng berbicara tengah mabuk, tanpa ia mengetahuinya ia menimbulkan ancaman bahaya. Pada tiga bulan yang lalu, guru kami, yaitu Thian Tie Tiauw siu, telah menjanjikan pertempuran dengan Goan Cin Cu, ketua dari Ngo Tay Pay. Diantara mereka memang ada perselisihan pertempuran dilakukan di bawah gunung Ngo Tay san. Kesudahannya, Goan Cin Cu kena terhajar pundaknya dan guru kami terluka dadanya, obat untuk luka guru kami itu tidak lain ialah ho-siu-ouw. Mengenai obat itu syukur ada Ceng Tim Taysu, pendeta kepala dari Ceng sian sie yang menjadi sahabat guru kami, Ceng Tim Taysu memberi keterangan bahwa di kota raja di rumahnya Tan Kong Pou, menteri Kong-lok-sie, yang menjadi sahabatnya, ada dua buah pohon ho-siu-ouw itu, yang semua telah berumur seribu tahun.
Pada sepuluh tahun yang lalu, Ceng Tim Taysu pernah menolong keluarga Tan dari kebinasaan maka untuk membalas budi, Tan Kong Pou suka menghadiahkan sebuah ho-siu-ouw. Taysu menampik, katanya sebagai seorang su-ci, apalagi ia sudah berusia delapan puluh tahun, ia tak membutuhkan itu, tetapi ia berjanji apabila dilain waktu ia memerlukannya, ia akan mengirim orang untuk memintanya.
Maka taysu hendak menolong guru kami, Untuk meminta obat itu, taysu tidak dapat pergi sendiri, hanyalah kami yang diutus, Kepada kami diberikan serenceng mutiara sebagai tanda bukti, Tan Kong Pou memberikan ho-siu-ouw itu. Waktu kami mau meninggalkan kota raja, kebetulan kami bertemu dengan seorang sahabat yang telah tak bertemu dengan kami banyak tahun, dia mengundang kami berjamu, Di situ, selagi berjamu itu, sesudah minum banyak air kata-kata, Khu suheng memperlihatkan ho-siu-ouw dan berkata, serenceng mutiara itu dapat dibandingkan dengan empat mustika naga.
Diluar dugaan kami, di situ ada orang Hok Liong Pay, dia rupanya keliru mendengar maka dia pergi mengabarkan kepada ketuanya, Ketika kami insyaf, sudah terlambat Demikianlah di sepanjang jalan kami sebentar-sebentar menghadapi ancaman bahaya.
Terpaksa kami menyamar menjadi saudagar. Apa pun yang kami bilang, penjahat itu tidak mau percaya, Memang ada empat mustika naga itu, tetapi adanya di dalam istana kaisar."

"Luka guru kami itu berbahaya," Khu Lin menyambung, "Ceng Tim Taysu telah memberikan obatnya yang mujarab, tetapi obat itu cuma bertahan selama lima bulan, katanya selewatnya lima bulan, meski ada Ho-siu-ouw guru kami tak dapat sembuh seluruhnya, maka kami perlu lekas pulang, Tapi kami diganggu kawanan penjahat, selain menyamar kami pun mestijalan memutar, Berita telah tersiar luas, kecuali Hek Liong Pay, ada penjahat atau orang-orang lainnya yang menghendaki obat itu, karena itu kami dikuntit dan dicegat banyak musuh, Begitulah kami terancam bahaya hebat di Yo Kee Cip. Ho-siu-ouw dapat dimakan juga oleh sembarang orang kaum persilatan itulah sebabnya selain penjahat ada orang-orang kaum lurus yang mengincarnya, semua ini adalah salah kami, yang sudah berlaku sembrono, sekarang kami bebas, tetapi ini belum berarti bebas benar-benar, perjalanan keThay-goan masih jauh, kecuali di kiri ada gunung NgoTay san, dikananpun ada pegunungan In Tiong san, maka kami kuatir di tengah jalan masih akan dihadapi banyak ancaman-"

Baru sekarang Jie In mengerti ia lantas berpikir.
"Saudara-saudara, kalian benar-benar terancam bahaya," katanya sesaat kemudian, "Kalau kalian tetap berkuatir, sudikah kalian menerima bantuanku? Apakah kalian dapat mempercayai aku? Lebih baik ho-siu-ouw itu diserahkan padaku, apabila betul terjadi sesaatu, nanti aku yang menyerahkan kepada guru kalian di kuil Ceng sian sie."

Khu Lin dan siauw Leng tidak menyangsikan si pelajar, Yang pertama lantas merogoh sakunya dan menyerahkan obat yang dijadikan perebutan itu, Ho-siu-ouw mirip bayi, ada tangan, ada kakinya, dan warnanya abu-abu putih.
"Harap Jie Tayhiap tidak bergurau," kata dia. "Mana dapat kami tidak mempercayai tayhiap? Cuma inilah terlalu memberatkan tay-hiap. Bukankah, asal tayhiap menghendaki gampang saja kau merebutnya dari kami?"

jie In tertawa, ia meneliti obat itu, yang harum baunya, yang mendatangkan rasa segar, sembari menyimpan itu dalam sakunya, ia berkata: "Barang ini benar-benar sangat menarik hati, sampai hatiku pun tergerak, sekarang begini saja," ia menambahkan, sungguh-sungguh .
"Dalam perjalanan kita lebih jauh ini, kita harus menggunakan akal, selanjutnya, tak perduli kita bertemu dengan siapa saja, asal ada yang menanyakan, kalian boleh bilang ho-siu-ouw telah kena dirampas Hek Liong Pay, Kedustaan ini tak dapat dipertahankan, tetapi lumayan guna merebut waktu, Aku percaya, kalau nanti rahasia bocor, tentulah guru kalian sudah sembuh."
-00000000-

Khu Lin dan siauw Leng setuju, Mereka memuji si pelajar cerdik sekali, sedang orang pun gagah. selama dua puluh tahun, belum pernah mereka bertemu dengan orang pintar dan kosen seperti ini, Meski begitu, mereka tidak berani menanyakan asal-usul orang.
"Lagipula," Jie In memesan lagi, "Selama di tengah jalan, kita lebih baik berpura-pura tidak kenal satu dengan yang lain." Khu Lin dan Siauw Leng kembali setuju.

Baru sampai di situ mereka bicara, di belakang mereka terdengar suara berisik yang berupa dampratan, ketika mereka menoleh, mereka melihat belasan orang lari mendatangi.
Di kejauhan, mereka semua tampak bagaikan bayangan, cepat larinya mereka itu di atas salju.
Jie In tertawa dan berkata: "Hebat di kolong langit ini ada orang-orang tak takut mampus seperti mereka itu Biarlah, nanti aku si orang she Jie membuat mereka dapat menyampaikan maksud hati mereka Tuan-tuan, harap kalian menonton saja."

Kedua saudagar itu mengangguk. hati mereka pepat, berduka dan berkuatir, Baru mereka lolos dari bahaya, sekarang muncul yang tain, Mereka menginsyafi diri sendiri, dan diri merekalah yang dikuatirkan.
Mereka percaya Jie In akan dapat menyampaikan obat kepada guru mereka, tetapi, dengan berpisah dari Jie In, bagaimana nanti mereka melindungi diri mereka sendiri? Cepat sekali, belasan orang itu sudah sampai.

Jie In menyambut mereka itu sambil tertawa bergelak dan cambuknya diayun hingga terdengar suara anginnya dan juga suara menjeternya. Lalu, hebat lah kesudahannya, Dua orang yang di paling depan lantas menjerit menyayatkan hati, tubuh mereka terpelanting, terus roboh pingsan- Pipi kanan mereka terluka dan darah mengalir keluar karenanya. Karena kejadian itu, semua kawan mereka merandek.

Diantara mereka terdapat Ong Ek. Dia ini tertawa ingin, dia berkata: "Tuan, kau siapa? Aku si orang she Ong tidak berurusan denganmu, mengapa kau merintangi kami?"
"Tak usah kau perdulikan aku siapa" sahut Jie In, romannya bengis, "sekarang ini, selama hidupmu, jangan kau harapkan pula mustika naga dan ho-siu-ouw Lebih baik kalian turut nasehatku, lekas kalian pulang, supaya aku tak usah melakukan pembunuhan lagi"

Mata Ong Ek melotot, terus dia tertawa tergelak-gelak. Tak enak mendengar tertawanya itu. Terus dia berkata nyaring: "Aku Thong-thian-keng Ong Ek, baru pertama kali ini aku mendengar suara terkebur seperti suaramu ini. Hm. Meski benar kau lihay, di mataku kau tidak berarti banyak" ia lantas berpaling ke kiri dan kanannya, mendadak dia berseru: "Maju"
Dan bergeraklah belasan orang itu.

"Kalian mencari mampus? "Jie In membentak seraya tangannya diayun, hingga cambuknya meluncur seperti tadi, menyusul itu terdengarlah teriakan saling susul akibat terguling robohnya lima orang, hingga yang lainnya batal maju, bahkan mereka itu berebut melompat mundur.
Ong Ek jadi berdiri menjublek.

Jie In tertawa, ia berkata: "Ong Ek. kau dijuluki sebagai satu siluman dari sungai Hong Hoo, agaknya hatimu belum mati sebelum kau melihat sungai itu" Kata-kata ini disusul dengan diluncurkannya pula cambuk-nya, yang ujungnya menyambar ke pundak si orang she Ong itu, si ikan Hiu.

Ong Ek kaget, tanpa berpikir lagi, dia menjejak tanah, untuk melompat mundur dua tombak. Dia jeri melihat robohnya tujuh kawannya barusan, Tapi belum kakinya menginjak tanah, cambuk Jie In sudah meluncur tiba, Dia jadi kaget dan takut, dia pun mengetahui bahwa dia tak dapat mundur pula. Dia menjadi nekad, dia mengulurkan tangannya untuk mencoba menangkap dan merebut cambuk itu

Cambuk Jie In tak dapat dirampas, Ujung cambuk tertarik kembali, terus diputar lebih jauh, Maka sekarang Ong Ek terancam iga-nya. Dia menjadi kaget sekali, hingga dia mengeluarkan keringat dingin, secepatnya dia mendak sambil terus melompat mundur, nyatanya dia kalah cepat, Ujung cambuk lantas melilit tubuhnya.
Kaget semua kawan si ikan Hiu, beberapa diantaranya lantas melompat maju, guna menyerang, untuk menolong.

Jie In tertawa lebar, cambuknya digentak, maka tubuh Ong Ek terangkat naik melayang di tengah udara, sesudah mana, cambuk itu dipakai menangkis berbagai senjata tajam, hingga banyak senjata terlepas dari cekalan, dan telapak tangan mereka yang memegang senjata itu terasa sakit.

Sipelajar berusia pertengahan tidak berhenti sampai di situ, cambuknya terayun lagi, sekarang untuk menyambar tubuh orang, maka kawanan penyerang itu, sambil mengeluarkan teriakan tertahan- pada roboh terguling
Ong Ek baru merayap bangun atau Jie In sudah melompat ke depannya, ia ini tersenyum. Dia penasaran, dia pun takut, maka dengan nekad dia menyerang dengan kedua tinjunya, tenaganya dikerahkan semuanya .

Dia sangat ingin dapat menghajar mampus perintangnya ini. Tapi dia tak dapat mewujudkan niatnya itu, bahkan sebaliknya, dia menjadi kaget, Tinjunya tidak mengenai sasaran, bahkan tinjunya itu kena tertarik tenaga yang besar, hingga tak dapat dia menariknya pulang.
"Hm"Jie In tertawa menghina, tangan kirinya melayang...
Hampir Ong Ek menjerit kesakitan. Dia tergaplok hingga matanya berkunang-kunang dan kepalanya pusing, pipinya pun hengap. Gaplokan itu membuat telinganya berbunyi sekian lama.

"Apakah kau masih belum kapok? "Jie In bertanya, tertawa, ".Baiklah, kalau kau mempunyai kepandaian silat, kau keluarkanlah semuanya"
Ong Ek berdiam dengan napas mengeros, ia mengawasi dengan bengong, lenyap sudah kegarangannya.
"Kenapa kau tidak mau bicara?" tanya Jie In tertawa, "Ke mana perginya kegaranganmu? Aku menyangka kau lihay sekali, siapa tahu begini saja kepandaianmu Kenapa kau masih tidak mau mengangkat kaki? Buat apa kau tetap berdiri di depanku? Menjemukan saja" Kata-kata itu ditutup dengan gerakan tangan kiri.

Ong Ek takut nanti kena dihajar pula, karena sekarang hatinya sudah kuncup, ia lantas saja melompat mundur, untuk terus lari pergi, diturut oleh kawan-kawannya. Hanya sebentar, lenyap mereka semua, kecuali mayat kawan-kawannya yang bergelimpangan di atas salju.
Khu Lin dan Siauw Leng tercengang, mereka kagum bukan main. Mereka melihat orang cuma main-main dengan cambuknya, siapa tahu kesudahannya demikian hebat dan menakjubkan. Bukankah Ong Ek jago Hong Hoo Utara dan Barat? Bukankah orang ini jauh lebih lihay dari guru mereka? Maka malulah mereka mendua, mungkin orang she Jie ini seorang tertua yang baru muncul pula.

Toh usia orang belum lebih dari empatpuluh tahun. Jie In sudah melompat naik ke atas kuda-nya, ketika ia memutar kudanya itu, kedua kawannya bersikap sangat menghormat terhadapnya, hingga ia menjadi likat sendirinya. ia tertawa dan berkata: "Beginikah sikap kalian? Apakah kalian tak sudi bersahabat denganku ?"
"Di depan tayhiap mana berani kami berlaku kurang hormat?" sahut kedua orang itu. Jie In menggelengkan kepala.
"Aku tidak menyangka kalian menggunakan banyak aturan" katanya. Lantas mereka berjalan bersama.
Sampai sekian lama tidak tampak siauw Yauw Ie-su, maka diduga tentulah dia telah bertemu dengan Ong Ek dan menjadi tidak berani datang menyusul.

Ketika mereka bertiga lewat di Heng-koan- cuaca berubah guram, sebab sang mega menghalangi sang matahari itulah tanda sang magrib lagi mendatangi hingga tak lama lagi, langit bakal menjadi gelap.
Angin Utara menghembus keras, membuat pepohonan di sepanjang tepi jalan tertiup doyong, Angin pun membawa turun salju, Akhirnya turun hujan dengan tetesan-tetesannya yang besar. Maka salju yang baru bertumpuk-tumpuk lantas lumer, hingga di situ tampak seperti kebanjiran.

Ketiga ekor kuda itu tak usah berlompatan lagi, sekarang semuanya dapat berlari seperti biasa, Dengan begitu mereka melakukan perjalanan jauh lebih cepat, Tindakan kuda menyebabkan air muncrat berhamburan hingga pakaian mereka menjadi basah seluruh-nya. karena ditimpa salju dan hujan, lalu muncratan air itu.

Hujan lebat hingga orang cuma bisa melihat sekitarnya sejauh belasan tombak Jie In beda dengan kedua kawannya itu, ia dapat melihat sampai kira-kira empat puluh tombak. Maka ia dapat melihat mendatangnya tujuh atau delapan orang yang semuanya memakai tudung lebar ia menduga kepada musuh.
"Sahabat-sahabatku, di depan ada orang-orang lagi mendatangi" ia berkata pada Khu Lin dan siauw Leng. "Pergilah kalian maju dan berbicara seperti yang telah dijanjikan aku akan menyusul belakangan"

Kedua kawannya itu mengangguk. dengan menjepitkan kedua kaki mereka, mereka membuat kuda mereka masing-masing melompat maju, untuk lari lebih cepat,Jie In sebaliknya menahan kudanya, dalam hatinya ia berkata: "siapakah mereka itu? Mungkinkah mereka datang untuk ho-siu-ouw? Kalau benar, dari mana mereka mengetahui Khu Lin dan Lie Siauw Leng bakal lewat di sini? inilah rada aneh."

Segera ia melihat Khu Lin berdua sudah berhadapan dengan rombongan di depan dan mereka kedua belah pihak lagi berbicara, maka ia pun mengeprak kudanya, untuk menyusul. selagi mendekati ia melihat tujuh imam. Ia menduga kepada imam-imam dari Ngo Tay san.

Maka berpikirlah ia: " Kenapa bangsa imam pun kemaruk?" ia maju terus hingga ia berada di depan kedua kawannya, hingga imam-imam itu menjadi terbelakangi, ia lantas berteriak "Aku kira kalian dapat kabur ke atas langit Akhirnya kalian tercandak juga. Lekas serahkan ho-siu-ouw, dengan begitu kita masih dapat menjadi kawan"

Di dalam hatinya, Khu Lin dan Siauw Leng tertawa, Bagus sekali sandiwara Jie In ini. Mereka pun turut membawa peranan mereka.
"Tuan, mengapa kau tidak percaya orang?" Khu Lin menegur, Dia tertawa dingin, "Aku sudah bilang, kedua rupa barangku telah dirampas Kie Leng sat sin Ang Tiang ceng dari Hek Liong Pay Bukannya kau cari dia, kau cari kami, apa gunanya?"

Belum Jie In menyahuti, imam yang terdepan, yang kurus tubuhnya, tersenyum dan berkata: "Kedua sicu she Khu dan she Lie, mana dapat kalian menghina orang dengan kedustaan kalian ini? Kami baru saja menerima surat yang dikirim dengan perantaraan burung dari Ang Paycu yang mengabarkan ho-siu-ouw berada di tangan kalian Tentu saja, kami percaya Ang Pang cu itu Baiklah kalian mengerti andaikata kami mengijinkan kalian lewat di sini, di depan sana kalian tak bakal lolos dari pihak Ceng Hong Pay. Maka lebih baik kalian turut kami ke Ngo Tay san. Kami cuma minta separuh dari ho-siu-ouw. Bukankah itu tidak merugikan kalian? kalian dapat tinggal selama setengah bulan di gunung kami, nanti kami mengantarkan kalian keThay-goan. Untuk penyakit gurumu, separuh ho-siu-ouw pun sudah cukup, Dengan begitu, permusuhan gurumu dengan partai kami pun dapat dihabiskan. Bukankah itu berarti kebaikan kedua belah pihak?" selagi berbicara itu, si imam menatap tajam mata kedua orang di depannya itu.

"Hm Enak saja kau bicara" Jie In menyela, Dia tertawa dingin, "ingat, masih ada aku di sini Aku telah berlari lari ribuan li untuk menyusul, apa aku mesti makan angin saja."
Imam itu berubah air mukanya, ia berpaling dan mengawasi
"Siapa kau?" tanyanya bengis, "Cara bagaimana kau berani bersikap begini kurang ajar terhadap ceng Hie cinjin?"

"Hm Hm" Jie In mengejek berulang-ulang, "Kawanan hidung kerbau dari Ngo Tay San menjadi berandal dan tukang membegal? Sungguh sukar dipercayai Meminta makan dari kaum Kang-ouw, apakah itu aturannya Ngo Tay Pay? Mengapa aturan itu tidak diumumkan diantara kaum Rimba Pcrsilatan?"

Muka ceng Hie menjadi merah padam, ia lantas menghunus pedangnya, terus ia memasang kuda-kudanya. ia juga tertawa dingin,
"Kau bicara besar, tuan, kau pasti mempunyai kepandaian yang mengejutkan orang" katanya mengejek, "Sudah, jangan kau banyak omong lagi, coba kau kalahkan aku Kalau tidak, tak dapat aku membiarkanmu berjumawa begini"

Hujan besar masih terus turun,jubah ke-tujuh imam itu juga kuyup semuanya, Kaki mereka terpendam air dan salju sebatas mata kaki. Sang angin tetap menghembus dahsyat, hingga tudung semua imam itu keras tersampok mengeluarkan suara berisik, Suara mereka sama-sama keras, tetapi terdengarnya perlahan.
Jie In bercokol di atas kudanya, tangan kirinya sebentar-sebentar menyeka mukanya? ia bersikap sabar, tapi ketika ia mendengar tantangan si imam, parasnya berubah, mendadak ia mengayun cambuknya, sebagai kesudahannya, ada serupa benda yang tersambar terus terbang melayang

Ceng Hie Cinjin menjadi murid kepala dari Goan Cin Cu, ketua Ngo Tay Pay, maka dalam hal ilmu silat, kecuali gurunya itu, tidak ada yang melebihinya, Baik tangan kosong, maupun ilmu pedang dan senjata rahasia, ia telah dapat menguasainya dengan baik, Karenanya, biasanya ia sangat bangga dengan kepandaiannya itu.

Tapi sekarang, ia kena dibikin kaget, penasaran dan heran, Tak terlihat lagi gerakan tangan orang di depan, tahu-tahu pedangnya terbetot dan terbang, Cuma telapak tangannya tergetar sedikit, saking murka, tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia menyerang Jie In dan kudanya dengan berbareng, sambil menyerang ia bertindak maju, ingin ia dapat membekuk orang di depannya itu.

Jie In tidak berniat melukai imam itu, ia mengetahui adanya permusuhan diantara Thian Tie Tiauw siu dengan pihak Ngo Tay Pay, ia tidak mau memperbesar itu, ia ingin mengundurkan kawanan imam itu, supaya Khu Lin dan siauw Leng dapat lewat, siapa sangka Ceng Hie berlaku demikian telengas, maka ia menjadi kurang senang.
"Kenapa seorang imam telengas begini?" pikirnya, sambil berpikir itu, ia gunakan cambuknya untuk menghajar kedua tangan si penyerang.

Benar-benar Ceng Hie tidak menyangka cambuk orang demikian lihay, ia membatalkan serangannya, ia hendak menarik pulang kedua tangannya, akan tetapi ia kalah sebat, tahu-tahu tangannya telah terlibat ujung cambuk. keras dan sakit rasanya.

Jie In tidak mau berlaku keterlaluan, lekas-lekas ia menarik lolos cambuknya itu, maka si imam dapat melompat mundur, mukanya menjadi sangat pucat, syukur ada air hujan, orang tidak melihat perubahan air mukanya itu.
"Hm" kata Jie In, "aku kira pelajaran Nao Tay Pay lihay luar biasa, tidak tahunya cuma sebegini Ceng Hie, kau membuat muka Ngo Tay san menjadi guram"

Baru Jie In berhenti bicara, seorang imam yang berdiri di tengah-tengah kawannya melompat maju, Dia tampan dan ramah tamah romannya, Demikianiah dia tersenyum dan berkata dengan sabar: "Dalam kalangan Rimba Persilatan, siapa menang dan siapa kalah, sudah biasa, maka mengapa tuan menghina orang di muka umum? Tuan lihay sekali, tak sukar untukmu menjadi seorang ketua, maka apa gunanya sepak terjangmu ini? Tuan, kami turun gunung untuk menolong guru kami, Kami membutuhkan ho-siu-ouw, separuh saja Bukankah perbuatan kami ini perbuatan umum? Kenapa tuan bersikap begini keterlaluan?"

Mendengar kata-kata orang yang sabar ini, hati Jie In tertarik, ia tersenyum.
"Totiang, ucapanmu beralasan juga," katanya, ia pun bersikap sabar "Cuma cara kalian ini tidak tepat, Andaikata benar ho-siu-ouw berada di tangan mereka berdua, kalian pun tidak boleh mencegat dan merampasnya, Menurut pantasnya kalian mesti menyambut mereka, terus kalian mengantarkan ke tempat tujuannya, di sana dengan memakai aturan kalian menemui guru mereka, untuk meminta sedikit dari barang itu. Bukankah itu pantas?"

Imam itu mengenal aturan, jawaban Jie In membuatnya bungkam.
Mendadak Ceng Hie berteriak: "Tadi aku alpa, aku kena dicurangi olehmu. Apakah kau kira kau dapat berjumawa? Kalau aku tidak kasih rasa kepadamu lihaynya ilmu pedang Ngo Tay Pay, aku bersumpah tidak mau menjadi manusia"

Mendengar itu Jie In tertawa geli, ia menganggap Ceng Hie sangat terkebur, Hebat Jago Tay Pay andaikata dikemudian hari dia mendapat ketua seperti imam ini. Maka ia berpikir ia harus mengajar adat.
"Totiang" katanya, tertawa mengejek. "Pedangmu sudah terbang, kau masih berani bicara besar Kalau begitu, baiklah, mari aku belajar kenal dengan ilmu pedang partaimu"

Muka Ceng Hie menjadi merah, dia malu.
Tapi dia penasaran, Maka dia berkata: "Kami bertujuh saudara seperguruan mempunyai semacam barisan pedang, kalau kau dapat memecahkannya, ho-siu-ouw tak kami kehendaki pula dan kami pun akan segera pulang ke gunung kami Kalau kau kalah, maka..."
Jie In tertawa lebar.
"Kau menghendaki aku mengangkat kaki dari sini, bukan?" ia melanjutkan "Baiklah, aku terima tantanganmu ini silahkan mengatur barisanmu"

Imam yang pertama berbicara bergelisah. ia menganggap kawannya terlalu sembrono. Bagaimana kalau mereka gagal? Apa nanti yang terjadi dengan guru mereka, yang membutuhkan ho-siu-ouw? ia lantas mengedipkan mata kepada Ceng Hie, tetapi Ceng Hie berlagak pilon, dia bahkan melompat untuk memungut pedangnya tadi, untuk segera bersiap.
Dengan apa boleh buat imam itu menghela napas, lantas ia bersama lima saudaranya yang lain turut bersiap. mengatur barisan mereka.

Jie In dari atas kudanya menyaksikan Ceng Hie mengatur barisannya itu berdasarkan tujuh bintang, maka tahulah ia, itulah barisan pedang Cit Chee Kiam Tin. Di dalam hatinya ia berkata, tak mungkin barisan itu lebih lihay dari ilmu pedang ajaran kakek gurunya. ia lantas tertawa dan melompat turun dari kudanya, untuk memasuki barisan imam itu.

Ketika itu angin dan hujan masih meng-gema, suaranya berisik, Begitu Jie In datang, ketujuh imam itu menjadi terkejut Mereka telah melihat tindakan orang yang tubuhnya sangat ringan, karena air tak muncrat seperti biasanya diinjak oleh seorang yang kurang mahir kepandaiannya.

Khu Lin dan Lie siauw Leng pun turut menjadi kagum, hingga mereka berdua saling mengawasi .
Jie In mengangkat tinggi cambuknya, ia memutar tak hentinya. " Kalian yang memulai atau aku?" tanyanya tersenyum.
Ceng Hie tertawa menyeringai ia tidak menjawab, ia segera bertindak, atas mana, ia diturut enam saudaranya, Dengan begitu bergeraklah barisannya, yang terus berubah kedudukannya, sesudah itu barulah mereka menyerang berbareng.

Jie In ingin menyaksikan bekerjanya barisan, ia tidak lantas berkelit, menyingkir dari ujung pedang mereka itu. ia bergerak sangat lincah dan licin.
"Bagus" Ceng Hie memuji, menyaksikan kegesitan lawannya, Karena itu, ia menyerang dengan lebih bengis, begitupun keenam saudaranya.
Ketujuh imam itu mengambil kedudukannya masing-masing, dengan begitu, mereka pun menyerang masing-masing, dengan caranya sendiri

Setelah lewat beberapa jurus Jie In lantas dapat melihat nyata, orang bergerak dengan tujuh kali tujuh gerakan atau sama dengan empat puluh sembilan jurus, segera setelah ia mengerti, ia bersiul keras dan panjang, ia tidak lagi hanya main berkelit, sekarang ia mulai melakukan serangan.
Segera terjadi bentrokan Ujung cambuk hendak melibat ketujuh pedang. Akibatnya ia menjadi terkejut.

Ujung cambuk mendapat perlawanan keras, bahkan hampir cambuk itu terlepas dari cekalan Tapi ini membuatnya penasaran Tanpa bersangsi lagi, ia menggunakan Bie Lek sin Kang. Begitu tenaga tersalurkan ke ujung cam-buk. sekali lagi cambuk itu melibat, terus di-tarik.
suara berkontrangan lantas terdengar Ketujuh pedang itu tersambar terlepas dari tangan setiap imam, terbang tinggi, lantas turun pula,jatuh ke air hujan yang bagaikan air bah itu, Akan tetapi tangan kiri Jie In pun bekerja, menyambar maka semua pedang itu kena ia genggam.

Ceng Hie semua terkejut, Meski begitu, barisan mereka tidak lantas pecah, Mereka masih dapat mengepung dengan rapi. Cuma sekarang mereka tidak dapat menyerang dengan pedang.
Jie In mengerti orang belum mau menyerah, ia lantas bertindak. Ia mengincar si imam kepala.
Sekonyong-konyong Ceng Hie terperanjat Tak tahu ia bagaimana duduk perkaranya, mendadak sebelah tangannya kena tercekal, lantas dia ditarik, hingga tubuhnya keluar dari dalam barisannya, Keenam imam lainnya kaget, mereka mau mencegah tetapi sudah terlambat.

Jie In telah menggunakan satu jurus dari Hian wan Sip-pat Kay, cekalannya membuat si lmam merasakan tubuhnya kaku dan ngilu, hingga meskipun dia basah kuyup dengan air hujan, toh keringatnya mengucur keluar karena hebatnya penderitaan tercekat tangan lawan yang kuat itu.
Tapi tak lama dia tersiksa, tiba-tiba dia merasa tangannya bebas, sebab lawannya telah melepaskan cekalannya.

Dengan mata tajam Jie In menatap si imam, ia tersenyum. Imam Ngo Tay san itu menjadi merah mukanya. "Aku mengaku kalah " kata Ceng Hie.
"Sekarang juga kami berangkat pulang, lain kali kita bertemu pula." ia memutar tubuhnya, lantas ia melangkah pergi.

Keenam imam lainnya, setelah menoleh sebentar, lantas menyusul kakak seperguruannya itu. Tajam mereka itu mengawasi Ceng Hie, agaknya mereka mendongkol. Jie In tidak mencegah orang berlalu, ia terus menoleh kepada Khu Lin dan Siauw Leng.
" Kalau Ceng Hie si hidung kerbau tiba di gunungnya, dia bakal menderita lebih jauh," katanya tertawa, "Itu telah dapat diduga dengan melihat sikap keenam adik seperguruannya itu."
"Siapa suruh dia berkepala batu" kata siauw Leng tertawa, "Dia tidak dapat menyesalkan siapa pun" Kemudian ia mendongak melihat langit, ia menambahkan "Jie Tayhiap. hujan ini tidak bakal lekas berhenti, mari kita melanjutkan perjalanan kita."

Jie In mengangguk. la melompat naik ke atas kudanya, Maka mereka bertiga lantas berangkat bersama, menempuh angin dan hujan yang lebat itu, yang membuat jalan besar ber-lumpur dan sulit untuk dilalui.
Mereka tidak menemui rintangan lagi, kecuali berpapasan dengan beberapa orang yang mengenakan tudung bambu dan menggembol senjata, yang sikapnya saja mencurigakan hingga mereka tak sudi menghiraukannya.

Demikianiah mereka tiba di Heng-koan, sesudah cuaca gelap. Mereka terus mencari losmen-
Khu Lin dan siauw Leng tiba lebih dulu, lewat sekian lama barulah Jie In. Mereka tetap memakai siasat tak kenal satu dengan yang lain. Hanya sebab sama-sama ditimpa hujan, paling dulu mereka memerintahkan pelayan membeli seperangkat pakaian jadi, untuk mereka menukar pakaian mereka yang basah itu.

Jie In mengambil sebuah kamar sendiri ia memesan makanan, ia minta itu dibawa ke kamarnya, maka iapun dahar seorang diri, Rupanya disebabkan kedinginan dan perut kosong, ia bersantap dengan bernapsu, ia merasakan hidangan itu lezat sekali.
Hujan masih belum berhenti, juga sangat dingin, maka di luar jendela terdengarlah suara berisiknya yang tiada putusnya.
" Kalau cuaca tetap begini, mana bisa besok aku melanjutkan perjalanan."pikir Jie In yang melongok ke jendela, sebenarnya ia ingin sekali lekas tiba di Thaygoan. Habis bersantap. ia berdiri .
"Baiklah aku melongok sebentar keluar, di sana ada sesuatu yang luar biasa atau tidak." ia berpikir pula, Terus ia membuka pintu dan bertindak keluar.

Ia berjalan dengan perlahan, selagi lewat di depan kamar Khu Lin dan Siauw Leng, sengaja dengan sikutnya ia membentur pintu kamar itu hingga pintu terbuka. Tiba-tiba saja ia menjadi heran, Kamar kedua kawannya itu kosong, Dengan cepat ia pergi keluar, untuk mencari ke sekelilingnya Tapi ia tidak melihat mereka itu,
"Mungkinkah diwaktu hujan begini mereka berminat pesiar?" tanyanya pada diri sendiri "Aneh"

Ia lekas kembali ke dalam. Di dalam kamarnya ia merasakan bau hawa yang mendesak Tadipun ia merasakan itu, ia baru merasa lega setelah mementang pintu, ia percaya itulah disebabkan hujan, hawa menjadi ngelekap. Karena itu, daun jendela ia palang, untuk membukanya separuh.

Habis bersantap Jie In merasakan mukanya panas, setelah tadi ia keluar, ia merasakan hawa dingin dan lembab, ia tetap memakai topengnya, ia jadi merasa kurang enak. Maka ia membuka topengnya itu, untuk menyusuti mukanya dengan saputangan, hingga terlihatlah wajahnya yang asli, yang tampan sekali

Tiba-tiba di luar jendela terdengar suara kaget atau kagum perlahan: "Ih" saking perlahan suara itu dan terganggu suara angin dan hujan Jie in tidak mendengarnya.

Setelah memakai pula topengnya, pemuda ini, dalam rupanya seperti pelajar berusia pertengahan mengeluarkan mutiara yang disimpan dalam sakunya. itulah tanda mata dari Tio Lian cu, kekasihnya, yang diberikannya secara diam-diam selama di rumah Ciu Wie seng. ia pegangi itu dan mengawasinya, ia terbengong, ia terharu ketika ia ingat, diwaktu mereka mau berpisahan di Chongciu, mata Lian cu dan Goat Go merah disebabkan mereka itu berat untuk berpisah.

Tiba-tiba api di dalam kamar tersirap guram, angin terasa menyambar telinga, Di situ terdengar jatuhnya kayu ganjelan jendela, keras jatuhnya ke lantai, setelah jendela tertutup, api menjadi terang pula. Dalam sekejap itu, mutiara di tangan Jie In lenyap tidak keruan paran.
Mengingat Lian cu dan Goat Go, hati Jie In terbenam, ketika angin menyambar, ia merasa ada orang melompat masuk, hanya ia sadar sesudah kasip. orang sudah melompat keluar pula dan jendela tertutup digabrukkan, Lantas kamar itu memberi harumnya yancie dan pupur.

Tahulah ia bahwa yang datang itu wanita- adanya ia hanya merasa heran, orang tidak bermaksud jahat, ia cuma berpikir sejenak, lantas ia membuka jendela, untuk melompat keluar.
Hujan sudah mulai reda sedikit, Di bawah payon terlihat satu bayangan orang.
Sambil berseru Jie In lompat memburu. Tapi bayangan itu sudah mendahului mencelat, memisahkan diri sejauh tujuh atau delapan tombak.

"Bagus" ia memuji dalam hatinya, memuji entengnya tubuh orang, sejak merantau, inilah yang pertama kali ia menemui orang demikian gesit, Tapi ia menyusul.
sekarang ia menyaksikan kecerdasan si bayangan, yang berlari-lari sebentar ke timur sebentar ke barat, hingga tak dapat dia tercandak, Atau kadang-kadang dia bersembunyi, untuk kemudian memperlihatkan diri sendiri

Dengan main petak secara demikian, Jie In akhirnya terpancing sampai disebuah rumah besar di dekat tembok kota, Karena orang menghilang ke dalam rumah, ia menjadi sangsi. ia berpikir: "Masuk atau jangan? Kenapa aku dibawa ke mari?"
Baru setelah itu, ia mengambil putusan buat mencari tahu, Maka dengan berhati-hati, ia melompat turun dari atas genteng, ia menghampiri jendela sebuah kamar di dalam mana ada cahaya api. ia lantas memasang telinga, Di dalam situ ada tiga atau empat orang tengah berbicara.
"Dua makhluk itu mampus" terdengar suara seseorang, "Mereka justru mengambil kamar hotel yang dibuka tong-cu, hingga tanpa merasa mereka kena dibekuk. inilah selaron menubruk api sendiri, mengantarkan kematiannya"

Jie In terkejut, bukankah yang tertangkap itu kedua sahabatnya? ia memasang telinga lebih jauh.
Seorang lain tertawa dingin dan berkata: "Kau jangan puas tidak keruan. Masih ada kabar buruk. Barusan aku mendengar, katanya ditubuh kedua orang itu tidak terdapat ho-siu-ouw berusia seribu tahun itu serta mustikanya si raja naga, cuma terdapat serenceng mutiara yang biasa dimiliki keledai botak. Gui Tongcu gusar karenanya, Kedua orang itu dikompes, Mereka bilang kedua rupa barangnya telah dirampas Ang Tiang Ceng dari Hek Liong pay.
Tongcu tidak percaya pengakuan itu sebab tongcu justru mendapat kabar- kilat katanya Ang Tiang Ceng, Pheng Hui, ong Ek. Liong- bun Nao Koay serta murid-murid Ngo Tay san, semua pulang dengan tangan kosong, Kedua barang itu lenyap. bukankah aneh?"

Jie In mendapat kepastian dua orang yang tertawan itu benar Khu Lin dan Lie Siauw Leng, ia menjadi heran memikirkan wanita yang memancingnya ini, Apakah maksud ia itu? Jadi ia bukan hanya digoda.
"Apakah mungkin," berkata orang yang ketiga, "mereka itu menggunakan akal seperti caranya orang mengirim piauw gelap. yaitu diam-diam barang itu sudah dikirim lebih dahulu?"
"Belum tentu" kata orang yang kedua. "setibanya kedua orang itu, mereka disusul seorang pelajar rudin berusia pertengahan Ketujuh imam Ngo Tay san roboh di tangan pelajar itu, Katanya si pelajar sangat lihay, cuma dia belum ketahuan asal-usulnya, Menurut ketujuh imam itu, si pelajar mengakui diri sebagai begal tunggal, Anehnya belum pernah kita mendengar tentang dia. Yang lebih aneh lagi, dia berani turun tangan dalam daerah pengaruh kita Ceng Hong Pay. Tanpa bernyali besar dan lihay, siapa berani berbuat seperti dia? Karena itu Gui Tongcu tidak lantas turun tangan, ia hendak menanti sampai jam tiga nanti, untuk membikin dia roboh dengan hio pulas, untuk membekuk dan mengompesnya "

Mendongkol Jie In. jadi ia hendak ditawan dengan akal busuk. ia menganggap hina perbuatan Ceng Hong Pay. Musuh ayahnya berada dalam Ceng Hong Pay, juga musuh Kang Yauw Hong. sekarang timbul persoalan Khu Lin dan Lie Siauw Leng Maka ingin ia turun tangan. Lantas ia menyentil kertas jendela, terus ia sembunyi dipojokan.
"Siapa?" begitu pertanyaan dari dalam yang mendengar ketukan perlahan itu.

Menyusul itu pintu terdengar dibuka dan seseorang nongol, melihat ke depan, ke kiri dan kanan.
"Siapa ya?" katanya, pada diri sendiri. Ia tidak melihat siapa pun juga.
Apes orang itu, ketika ia bertindak keluar, segera ia dibekuk Jie In. Mulanya ia disambar tangannya, lantas ditarik kepojok. di sini, sebelum ia sempat berontak atau berteriak ia ditotok iganya, lalu dengan perlahan tubuhnya diletakkan ditanah. Jie In kembali kejendela, ia mengetuk empat lima kali.
"Lie Liu-cu, siapa?" tanya seorang dari dalam, "Kenapa main ketuk-ketuk? Kalau ada urusan, tak dapatkah kau masuk untuk bicara di dalam?"

Orang itu lagi duduk. kursinya digeser, tetapi ia tidak lantas bangkit berdiri, ia bahkan menenggak araknya.
"Lao ong, kau keluarlah" kata lain orang lagi, "Pergilah lihat, mungkin tongcu hendak memerintahkan apa-apa. Aku lagi berdinas menjaga, tak dapat aku meninggalkan tempatku."
Orang yang dipanggil Lao ong itu, si ong tua, menggerutu: " Kalau mau bicara boleh di dalam, Kenapa main ketuk-ketuk jendela?" Tapi kali ini ia bangkit berdiri, untuk pergi keluar.

Jie In lantas menyambut, untuk merobohkan orang seperti yang pertama, Lie Liu-cu.
Karena didalam tinggal satu orang, dengan berani Jie in menyelusup masuk. Ia mendapatkan seorang dengan tubuh besar, alis tebal dan mata besar, lagi duduk di atas bangku panjang, sebelah kakinya diangkat. Dia lagi minum arak dengan asyik, Di meja di depannya ada piring-piring daging dan lainnya, juga kwaci, Di lantai berserakan tulang-tulang dan kulit kwaci. Dia kaget ketika mendadak dia melihat masuknya seorang tak dikenal, dia melompat bangun, mulutnya dibuka untuk berteriak. Dengan sebat Jie in melompat kepada orang itu, untuk memencet pundaknya.
"Jangan bersuara, atau kau lantas mati" ia mengancam.

Orang itu kesakitan, sesaat tidak berdaya, "Ampun" katanya, Hampir dia pingsan karena rasa ngerinya itu, makanya menjadi pucat, tubuhnya gemetaran.
"Gampang untuk mengampuni tau," kata Jie In tersenyum, "Asal kau beritahu di mana dua orang yang ditangkap itu, yang kalian bicarakan barusan, kau akan mendapat pengampunan"
"Malam ini aku jaga bertugas di sini, ako tidak melihat mereka," orang itu menjawab? "aku cuma mendengar mereka katanya berada di ruangan Gie-su-tong di mana mereka disiksa dengan kompesan Hun Kin Co Kut Ciu oleh Gui Tongcu, sebab mereka ngotot menyangkal kedua mustikanya."
"Gie-su-tong itu di mana dan bagaimana harus pergi ke sana?"
"Dari sini ke kiri, lalu ke kanan, lewat lorong, itulah dia." Jie In tersenyum.
"Kau tidak mati tapi dapat hUkuman hidup," katanya, " Untuk sementara kau menderitalah"

Orang itu kaget, dia ketakutan, tapi dia lantas roboh pingsan karena Jie In telah menotok belakang kepalanya, setelah itu Jie In pergi dengan jalan mengikuti petunjuk tadi. Malam itu gelap dan hujan masih turun terus, angin pun keras. Karena itu tiga pos penjagaan tidak melihat lewatnya Jie In, yang dapat sampai di muka Gie Su-tong.

Di dalam ruangan terlihat api terang, Di luar, ada dua orang yang menjaga pintu, Tak sulit untuk Jie In merobohkan kedua orang itu, Mulanya ia berindap-indap untuk datang lebih dekat pada mereka, Sambil bersembunyi ia menepuk tangan dua kali, Mereka itu kaget, mereka berpaling, justru itu Jie In melompat kearah mereka, untuk menotok. Mereka tak berdaya, mereka roboh seketika, lantas keduanya digusur ke bawah payon, perbuatan itu tak diketahui siapa pun.

Di dalam ruangan itu teriihat Khu Lin dan Siauw Leng rebah di tanah, muka mereka meringis tanda kesakitan, Di depan mereka duduk empat orang. Pasti mereka orang- orang penting dari ceng Hong Pay. Yang ditengah beralis gompyok. matanya besar, dan berewokan-
"Kalau kalian tetap tidak mau memberi tahukan, lihatlah nanti aku si orang she Gui memberi rasa" katanya nyaring,

Jie In menjadi gusar sekali, la tidak dapat menahan sabar, Sambil berseru, ia mengayunkan kedua tangannya, membikin api padam, menyusul mana, ia melompat masukl Gui Gan kaget, Gelap ruangan itu.
"Anak-anak, ambil api" ia memanggil ia mengira angin menghembus masuk.

Menyusul itu, tongcu itu berdiam, lantas terdengar suara beberapa tubuh roboh, terus sunyi. Ketika seseorang datang masuk membawa lilin, dia kaget bukan main, Gui Tongcu berempat sudah roboh binasa dan kedua tawanan lenyap.
Dia lantas berteriak-teriak, hingga sebentar saja datang banyak orang, hingga ruangan itu meniadi kacau dan berisik, Semua orang bingung.

Jie In bekerja sangat cepat, Meski ruangan gelap. ia tahu di mana musuh berada, Paling dulu ia terjang Gui Tongcu dan tiga kawannya, baru dia membawa lari Khu Lin dan siauw Leng kepojok rumah di mana ia totok bebas pada mereka itu, terus ia berbisik: "Mari kita pergi"
Khu Lin berdua kaget dan heran- Mereka mengikuti tanpa bersuara Jie In mengajak orang ke kamarnya, Ketika itu hujan sudah berhenti, angin besar masih menderu-deru.
"Terima kasih" kata kedua orang itu, Lantas mereka bertanya, "kenapa sahabat itu mengetahui mereka ditawan musuh,"

Jie In menggoyangkan tangannya, "Tunggu sebentar," katanya, "Kalian tahu, inilah hotelnya Ceng Hong Pay di bawah penilikan tongcu Gui Gan, Kalian tunggu, aku hendak menghukum mereka, Nanti kita bicara pula." setelah berkata, ia lantas pergi keluar pula. Kedua orang itu melengak. Heran mereka untuk lihaynya kawannya ini. Tidak lama perginya Jie In, dia pulang dengan sikap tenang dan tertawa.
"Bagus, semua sudah beres" katanya, "semua telah aku totok urat gagunya dan memusnahkan juga ilmu silatnya, sekarang mari kita pergi ke istal, untuk berlalu dari sini, di tengah jalan nanti kita bicara" Kedua orang itu menginsyafi bahaya, mereka menurut.

Demikianlah dilain saat mereka bertiga sudah berada dalam perjalanan menuju ke Thay-goan.
"Bagaimana caranya kalian tertawan? " Jie In bertanya.
"Kami tak tahu," sahut Siauw Leng. " Habis bersantap kami merebahkan diri Memang-nya kami sudah letih, Tanpa merasa kami kepulasan. Ketika kami mendusin, kami berada di tempatnya Gui Gan di mana kami disiksa untuk mengakui di mana adanya ho-siu-ouw dan empat mustika naga, selanjutnya kau ketahui sendiri, Kenapa tayhiap mengetahui kami tertawan?"

Jie In menuturkan apa yang terjadi, "Berharga lenyapnya mutiara itu," katanya tertawa, "Cuma aku tidak tahu siapa dia."
Kedua orang itu berlega hati, tetapi mereka masgul, Mereka menduga tentu ada sebabnya yang menyulitkan maka penolong itu menyembunyikan diri.
Di dalam gelap. dijalanan yang becek dan berlumpur, ketiga orang ini melarikan kuda mereka, Di atas langit, bintang-bintang pun tidak ada. Cuma hawa dingin. Berisik suara tindakan kaki kuda mereka. Dua jam mereka kabur, tidak ada rintangan apa-apa. Mendekati fajar, jauh-jauh, lapat-lapat, terlihat kota Thaygoan,
"Kita menuju langsung ke barat daya," kata Khu Lin- "Sebentar lagi, kita akan sampai di Ceng sian sie"

Kuil Ceng sian sie kuil tua, dulunya bernama Thian Liong sie, dibangunnya dijaman Cee Utara, Di sana terdapat banyak gua dengan patung-patung sang Buddha dan lainnya. Sun Tie, kaisar pertama ahala Ceng, pernah berdiam satu tahun di dalam kuil itu. Nama Ceng sian sie diubah oleh kaisar Kong Hie. (Kemudian lagi, di akhir Kaisar Kian Liong, nama itu dikembalikan pada asalnya, menjadi Thian Liong sie).
"Baiklah," kata Jie In tertawa, "Kalian jalan lebih dulu, aku akan menyusul." Habis berkata, ia keprak kudanya lari menuju ke kota.

Khu Lin dan Siauw Leng menuju ke barat daya, Mereka menjalankan kuda mereka perlahan-lahan, guna mencegah orang mencurigai mereka. setengah jam kemudian, mereka sudah tiba di depan kuil, Mereka turun dari kuda mereka dan bertindak memasuki pintu pekarangan- segera mereka disambut Kong Goan Taysu, pendeta tukang menyambut tamu, Dia mengangguk
"Jie wie baru sampai" katanya, "Banyak capai Jie sie-cu sudah menantikan sekian lama"

Heran mereka berdua, hingga mereka melengak. Akhirnya mereka saling pandang dan tertawa, Hebat Jie In- segera setelah menanyakan kesehatan gurunya, mereka lari masuk, terus ke hong-thio, kamar pendeta kepala.
Dari luar mereka sudah mendengar suara guru mereka dan Jie In yang bicara dengan suara cukup keras dan sambil tertawa juga, Ketika mereka menyingkap gorden, Jie In berdiri dan berkata: "Maafkan aku, aku tiba lebih dulu"

Girang hatinya kedua orang itu, Mereka mendapatkan guru mereka sehat sekali, Tahulah mereka, tentu guru itu sudah makan ho-siu-ouw, Maka mereka berkata pada Jie In:
"Jie Tayhiap. banyak terima kasih atas budi pertoIonganmu. Terimalah hormat kami" Lantas mereka menjura dalam-dalam.
"Jangan- jangan" Jie In mencegah. Thian Tie Tiauw siu tertawa dan berkata:
"Memang pantas mereka menghaturkan terima kasih mereka kepada Jie Tayhiap janganlah tayhiap terlalu merendah," lalu ia menambahkan "barusan-aku diberitahu oleh pendeta penilik di sini bahwa di luar rimba cemara di sekitar kuil ini kedapatan bergelimpangan belasan mayat, pasti itulah perbuatan tayhiap yang sudah menyingkirkan orang-orang jahat."

"Siancay siancay" memuji seorang pendeta yang alisnya putih semua, yang duduk bersama mereka, "suruhlah Kong Goan bakar mereka itu menjadi abu. Mungkin aku mesti mendoa tiga hari untuk mereka itu."
"Ha, tua bangka botak. sejak kapan timbul pula ingatanmu yang baik?" kata Thian Tie tertawa lebar.
Pendeta itu, Ceng Tim siansu, memejamkan mata, dia berdiam saja.

Khu Lin dan siauw Leng heran dan kagum. Mereka tidak menyangka Ceng sian sie juga didatangi orang-orang Ceng Hong Pay itulah berbahaya, Syukur Jie In telah keburu sampai dan turun tangan, Tanpa orang she Jie ini, entah apa jadinya dengan mereka semua.
Kemudian mereka berbicara lebih jauh, sampai Thian Tie Tiauw siu berdiri, sambil tertawa, ia berkata pada penolongnya: "Jie Tayhiap. aku sudah sembuh, aku ingin segera pulang ke In lam, Aku harap. kalau nanti tayhiap pergi ke sana, sukalah kau mampir pada-ku, supaya sebagai tuan rumah, dapat aku melayani tetamuku."

" Itulah pasti" sahut Jie In tertawa, "Tanpa locianpwe mengatakannya, sudah selayaknya aku datang menjenguk."
Thian Tie berpaling kepada Ceng Tim dan berkata: "Taysu, buat banyak bulan aku telah mengganggumu, kau juga telah menolong mengobati aku, untuk itu aku tidak dapat mengucapkan terima kasih, maka biarlah lain tahun pada hari ini, aku datang berkunjung pula ke mari"

Tuan rumah membuka matanya dan tertawa.
" Kalau kau sudi datang, kau dapat datang sembarang waktu" sahutnya, "Pintu Ceng sian sie selalu terpentang lebar-lebar Aku pun tidak dapat mengucapkan apa- apa, asal kau tak kurang sesuatu apa pun di sepanjang jalan" ia terus mengantar tamunya sampai di luar.
selagi mau berpisahan, Thian Tie menghadiahkan Jie In sepotong ho-siu-ouw sebesar jeriji tangan serta pisau belati cula badak. sembari tertawa ia berkata: "Cukup untukku memakan separuhnya ho-siu-ouw, maka itu masih ada sisa tiga potong, ini yang sepotong untuk tayhiap makan, guna membantu tenaga dalammu, ini pisau belati cula badak aku dapatkan secara kebetulan saja di gunung Bong chong san, tajamnya dapat dipakai menabas emas atau batu kumala, Aku tahu, tayhiap gagah dan tak membutuhkan ini, tetapi aku minta sukalah kau menerima, sebagai tanda terima kasih ku."
Melihat orang bersungguh hati, Jie In menerima.
Khu Lin dan siauw Leng berat untuk berpisah dari Jie In, air mata mereka mengembeng karenanya.

Setelah keberangkatan Thian Tie Tiauw siu bertiga Jie In berpamitan dari Ceng Tim, terus ia pergi ke kota Thaygoan di mana ia menumpang di hotel Bouw Goan, ia dapat beristirahat, besoknya ia bangun, untuk keluar dan jalan-jalan-
Dijalan besar banyak air, hawa dingin, sedikit orang yang mondar mandir, Beberapa hari lagi akan tiba tanggal dua puluh empat bulan dua belas.

Kemudian ia menggunakan waktu tiga hari untuk pesiar di delapan tempat tersohor dari kota Thaygoan itu, Paling belakang ia pesiar di luar kota. Hari itu ia tiba di "Hong Tong" atau Gua Angin, belasan li di luar kota, itulah gua batu yang luas dan di dalamnya terdapat seratus lebih cio-pay berukiran isi kitab Buddhism tulisan dari banyak orang, hingga model suratnya tak seragam.

Tertarik akan menyaksikan demikian banyak cukilan, hingga lama ia menyaksikannya, sesudah setengah hari, selagi ia hendak pergi keluar, ia mendengar tindakan kaki, Cepat-cepat ia bersembunyi di belakang sebuah ciopay yang besar.
Yang datang itu dua orang, mereka bertindak masuk sambil berbicara gembira, sambil tertawa Jie In menjadi heran. Katanya dalam hatinya: "Kenapa bocah-bocah ini berada di Thaygoan?"

Mereka itu bukan lain daripada Hu Wan dan Hu Ceng, si Wan- Jie dan ceng- Jie. Mereka pergi kepojok di mana mereka itu lantas duduk numprah. untuk menangsal perut, Untuk itu mereka membekal dua bungkusan.
Segera terdengar suaranya Hu Ceng, yang bicara sambil tertawa: "Encie, bukankah pendeta itu mendustai kita? Dia kata Pat Ciu Thian-cun sudah pergi semenjak tiga hari yang lalu, Karenanya kita mesti menanti lagi dua hari, baru dia pulang Benarkah ada kejadian begini kebetulan? Menurut aku, ingin aku menggeledah setelah itu, baru aku mau percayai"

"Adik Ceng, beginilah tabiatmu" berkata sang kakak, "Tidak apa kita menanti lagi dua hari selewatnya itu baru kita mencari tahu si siluman tua Pat Ciu sudah pulang atau belum Pendek kata, sebelum pedang Thay oh didapat pulang, tidak nanti aku mau mengerti" si Ceng berdiam.

Mendengar itu, baru sekarang Jie In mengerti keterangannya Hu Liok Koan bahwa ada sebuah pedang Thay oh Kiam telah dirampas seorang penjahat tidak dikenal, penjahat itu beroman aneh, tinggi tubuhnya delapan kaki, kepalanya potongan labu, mukanya penuh titik-titik putih.

Rupanya sekarang telah ketahuan, pencuri itu ialah Pat Ciu Thian-cun, si Malaikat Tangan Delapan, Hanya ia tidak mengerti, kenapa Hu Liok Koan tidak bersama kedua bocah ini. Kenapa mereka berdua dibiarkan menempuh bahaya? Apakah ada terjadi sesuatu atas diri Liok Koan?
Sudah setengah tahun mereka berpisah, sampai di situ, ia tidak mau bersembunyi lebih lama lagi. Tapi ia ingin main-main. ia menggeser tubuhnya secara diam-diam.

Kedua bocah itu lagi bersantap dengan lahapnya tatkala Ceng- Jie kaget karena tahu-tahu ada tangan yang merampas paha ayam-nya. Keduanya kaget, lantas mereka melompat bangun, hingga mereka mendapatkan, siperampas ialah seorang pelajar rudin berusia pertengahan yang terus duduk numprah ditanah sambil menggeragoti paha ayam mereka. Mata Ceng- Jie melotot.
"Eh, kenapa kau begini kurang ajar?" dia membentak. " Kenapa kau merampas maka nan orang? Apakah kau sudah tidak gegares selama tiga tahun?"

"Anak, bagus pertanyaannya" sahut Jie In, yang menggunakan logat suara orang Utara, "Kalau sudah tiga tahun aku tidak gegares, mana dapat aku merampas barangmu?"
Ia lantas memandang Wan- Jie, ia berkata: "Nona, jangan gusar, ya? Barang ada dua bungkus, kalau itu dimakan hanya tiga orang, masih banyak kelebihannya. Mari, mari kita dahar bersama sesudah aku si orang tua bersantap. nanti akan memberikan sesuatu yang baik kepada kalian"

Sambil memandang itu, diam-diam ia memperhatikan si nona, setelah setengah tahun tidak bertemu, Wan Jie tampak semakin besar dan tinggi, kedua matanya hidup sekali, hingga dia bukan lagi nona berumur empat atau lima belas tahun, dia mirip gadis berusia tujuh atau delapan belas tahun.
Hu Wan mementang matanya mengawasi si pelajar rudin yang merampas paha ayam itu.
"Siapa mengharap kebaikan darimu?" katanya menyahut "Kalau kau mau makan, makanlah, kami pun sudah tidak membutuhkan nya"
Jie In tertawa tergelak.
"Sungguh menarik sungguh menarik" katanya, "Nanti kau jangan meminta apa-apa dari aku. Aku si orang tua, apa yang aku bilang, kalau sudah satu, tidak nanti menjadi dua"
"Siapa yang mau minta sesuatu darimu ?" Ceng Jie berseru, "Kau sendirilah yang datang kepada kami. Tidak tahu malu"

Jie In tersenyum. Hanya sejenak. mendadak romannya tampak kaget, secepat kilat dia melompat, menangkap kedua anak itu, untuk dibawa bersembunyi di belakang ciopay, sambil berbuat begitu, dia berbisik: "Jangah bicara. Ada orang" sekarang dia melepaskan tangannya, untuk menyenderkan di samping gua.

Wan Jie dan Ceng Jie kaget sekali, Tidak mereka sangka, mereka dapat dibekuk secara demikian, hingga mereka tidak berdaya, Wan Jie pun mendongkol. Bukankah ia telah menjadi gadis remaja? Dan tangannya disambar seorang yang tidak dikenali. Maka dia bergelisah.
Juga Ceng Jie penasaran, Tapi dia tanya kakaknya: "Encie, benarkah ada orang? Bukankah dia ini manusia busuk?"
Si nona membekap mulut adiknya, "Jangan bicara" bisiknya, "Awas, nanti orang jahat mendengarnya "

Ketika itu dari luar gua terdengar tindakan kaki orang, terdengar juga suara pembicaraan Rupanya mereka itu berdua, seorang pria serta yang lain wanita.
"Entah kenapa guru kita," berkata yang pria, "terhadap dua bocah cilik wanita dan pria itu, dia demikian takut? Coba suhu tidak memesan wanti-wanti, sungguh ingin suhengmu ini mencoba-coba mereka itu"

" Kau tidak tahu" berkata si wanita, sembari tertawa, "Peryakinan suhu atas ilmu Cu Ngo Hian Kang tinggal serintasan lagi dan selama dua belas jam yang mendatang ialah saatnya yang paling penting, andaikata perhatiannya terganggu, ada kemungkinan suhu tersesat Apakah kau kira suhu benar-benar jeri berhadap mereka? suhu bilang, maksud kedatangan mereka itu masih belum diketahui, tak dapat kita bertindak sembrono, juga masih harus diketahui, di belakang mereka pasti ada orang tua yang menjadi tulang punggungnya. Maka suhu kuatir kita menyebabkan timbulnya bahaya di belakang hari. Karena itu suhu melarang kita memperlihatkan diri"

Mereka tiba di mulut gua, di situ mereka berhenti, berbicara tak jelas. Wan Jie dan Ceng Jie menjadi tegang sendirinya. segera terdengar pula suara yang pria:
"Dasar kau wanita, kau lebih disayangi suhu. Cuma kaulah yang setiap pagi dan sore diijinkan naik ke menara menemui suhu Mungkin kau telah mendapat kebaikan apa- apa." Katanya kalau nanti sudah selesai peryakinan suhu atas Co Ngo Hian Kang, maka pedang Thay oh Kiam yang ia dapatkan beberapa tahun yang lampau hendak digabung dengan cu Ngo Hian Kang, buat dijadikan ilmu silat Cu Ngo Cap Jie Kiam, dengan begitu suhu jadi dapat membangun satu partai baru, ia sendiri menjadi seorang jago. Benar begitu, bukan?" Yang wanita tertawa.

"Kau benar-benar pintar" katanya, "Pantas suhu memuji kau Eh, ya, kau memanggil aku datang ke mari, mau apakah kau?"
"Tentu ada perlunya, sumoay" sahut yang-pria, yang lantas memberikan keterangannya.

BAB 14
Jie In mendengar pembicaraan kedua orang itu, ia menjadi gusar, dengan sebat sekali ia melompat keluar dari tempat sembunyinya, terus ia menotok mereka roboh sebelum mereka sempat berdaya, saking kagetnya, mereka cuma dapat berseru tertahan- pria itu roman-nya tampan dan yang wanita cantik,

Hu Wan dan Ceng Jie terperanjat mereka memburu keluar, maka di sini, di tempat yang terang Jie In melihat si Nona Hu menjadi jauh lebih elok daripada setengah tahun yang baru lalu,

Tentu saja, senang ia melihatnya. sebaliknya Wan Jie, dia jengah diawasi orang, hingga kedua pipinya menjadi merah. Tapi dia mendongkol untuk sikapnya pelajar rudin yang tidak dikenal ini, dia mengawasi tajam, demikian juga Ceng Jie.
"Mereka berdua ini ada faedahnya untuk kalian," kata Jie In tertawa, ia tidak mengambil pusing orang agaknya mendongkol "Aku si orang tua telah merampas barang makananmu, maka dengan ini aku menghaturkan terima kasih ku."

Mendadak dia berhenti bicara, dia menangkap pula tangan kedua anak itu, untuk kembali dibawa lari bersembunyi sembari berbuat begitu dia berkata: "Lekas masuk. Ada orang"
Karena ada pengalaman tadi, Wan Jie dan Ceng Jie menurut, Baru mereka bersembunyi di luar gua telah terdengar tindakan kaki orang serta suara ini yang menyusulnya: "Cie sute ,Yan sumoay suhu memanggil kalian"

Suara itu tidak memperoleh jawaban.
" Heran" kata pula orang itu. "Tadi aku melihat mereka menuju ke sini Ke mana perginya mereka? Apakah mereka terus pergi ke kota? Cie sute Yan sumoay"
Dua kali panggilan itu diulangi, masih tidak ada jawaban, Rupanya dia percaya sute dan sumoay nya itu, adik seperguruan yang pria dan wanita, sudah pergi ke kota, maka tanpa masuk lagi ke dalam gua, ia pergi dari situ.

(Bersambung ke Jilid 6)

11. Jilid 6.1. Thay oh Kiam milik keluarga Hu

Bacaan » PEMBALASAN SEORANG JAGOAN » Jilid 6.1. Thay oh Kiam milik keluarga Hu
Anggota masrizki
Waktu 3 Agustus
Bab Sebelum 10. Jilid 5.2 : Mengawal obat mestika ho-siu-ouw
Bab Sesudah 12. Jilid 6.2. Pertaruhan dengan pendeta cacad




Pembalasan Seorang Jagoan
Karya : Wu Lin Qiao Zhi
Terjemah : OKT
Jilid 6.1. Tay oh Kiam milik keluarga Hu

Jie In lantas keluar dari tempatnya sembunyi untuk menghampiri kedua korbannya, ia menotok bebas kepada si nona, hingga nona itu sadarkan diri ia berkata: "Kalau kalian ingin mengetahui tentang pedang Thay-oh Kiam, kalian tanyalah dia ini, nanti kalian dapat mengetahuinya Aku sendiri masih mau dahar." Lantas ia ngeloyor ke tempat bungkusan makanan, untuk menggeragoti lagi paha ayamnya

Si nona yang dipanggil Yan sumoay itu sadar dengan merasakan seluruh tubuhnya sakit ngilu bukan main, ketika ia membuka matanya, ia melihat seorang nona mengawasi ia dengan sinar mata bengis, sedang di sisi nona itu ada bocah berumur tujuh atau delapan tahun,
ia kaget, tetapi ia lantas bertanya: " Kalian menurunkan tangan jahat, kalian mau apa?"
"Hm" bersuara Hu Wan. "Kami tidak mau apa-apa Cukup kau memberitahu kami, di mana Pat Ciu Thian-cun menyimpan pedang Thay oh Kiam, nanti kami memberi ampun padamu"

Nona itu rupanya mengerti nasibnya, lantas ia menghela napas.
"Sejak guruku mendapatkan pedang itu, tak pernah ia memisahkan diri darinya," ia berkata, "Sekarang ini guruku berada di atas menara di belakang kuil, di tingkat ke enam di mana ada kamar istirahat, di mana ia lagi meyakinkan ilmu cu Ngo Hian Kang. Kalau kalian mau mencarinya, pergilah kalian ke sana"

Belum Hu Wan atau Ceng Jie mengatakan apa-apa, Jie In telah mengasih dengar perkataannya: "Ceng Jie, kau totok leher kedua bocah itu, di sebelah kanan, ototnya yang ke-tiga, supaya dengan begitu mereka akan berdiam di sini untuk selama-lamanya"
Ceng Jie heran berbareng girang, itulah ajaran ilmu menotok untuknya, Si nona sebaliknya kaget dan ketakutan-
"Aku mohon, jangan jangan-.." katanya. cuma sebegitu ia dapat berkata, Ceng Jie telah menotoknya, maka berhentilah ia bernapas.

Ceng Jie bekerja terus, ia pun menotok yang pria, hingga dia itu menyusul sumoaynya
Hu Wan hendak mencegah adiknya, tetapi ia menarik tangan si adik sesudah kasip, Maka ia cuma bisa mendelik terhadap Jie In si pelajar rudin. Kemudian ia menarik tangan adiknya itu seraya berkata: "Adik, mari kita mendaki menara di belakang kuil Tin Hong Sio itu untuk minta pedang kita dari Pat ciu Thian-cun"

"He, tunggu dulu" mendadak terdengar suara nyaring si pelajar rudin, "Dapatkah kalian bertindak sembrono cuma karena mengandalkan kepandaian Kiu Kiong Im yang Ceng-hoan Pou dan ilmu pedang Pek Wan, si Kera Putih kalian? Kalian dengar kata-kataku, nanti malam baru kalian pergi itu waktu akupun dapat membantu kalian mendapatkan pulang pedang kalian itu sekalian menyingkirkan Pat Ciu Thian-cun, supaya berbareng terbalas juga sakit hati orang tua kalian"

Hu Wan dan Ceng Jie terkejut bukan main, dengan mendelong mereka mengawasi si pelajar rudin, siapakah orang ini, yang mengetahui demikian jelas tentang diri mereka? Disamping itu, mereka pun menjadi curiga dan berkuatir pedangnya nanti dirampas orang ini. "
"Siapa kau?" tanya si nona kemudian dengan bengis, "Kenapa kau mengetahui urusan kami? Lekas bilang Kalau tidak. nonamu tidak akan berlaku sungkan-sungkan"
Ceng Jie sudah lantas mengeluarkan sepasang poan-koan-pit yang tempo hari dapat dirampas dari Tong san Jie Niauw, ia bersiap menerjang begitu ada perintah kakaknya Jie In tertawa lebar.
"Anak-anak. kenapa tabiat mu begini keras?" katanya, "Aku si orang tua berhati baik, akupun tidak mengganggu kalian Mari, mari keluar, nanti aku kasih kalian lihat, siapa, aku si orang tua ini"

Baru dia berkata begitu Jie In sudah mencelat keluar, cuma anginnya yang terasa menyambar.
Wan Jie menjadi heran, tapi justru itu, ia jadi terkenang akan engko Gannya. Tanpa ayal lagi, ia tarik tangan Ceng Jie untuk diajak lari keluar.
Di luar gua, si pelajar terlihat lagi berdiri anteng sambil menggendong tangan dan wajahnya tersenyum berseri-seri.
"Siapa kau?" Wan Jie membentak, "Lekas bicara"

Jie In tertawa.
"Nona Wan," sahutnya perlahan, "sampai sekarang kau masih belum mengetahui aku siapa?" Kali ini ia bicara dengan logat suara asalnya, logat suara orang selatan.
Wan Jie mendelong mengawasi ia ingat logat suara itu seperti pernah ia mendengarnya, Ceng Jie pun sama herannya.
Jie In pun mengawasi ia mengerti orang belum dapat mengingatnya.
"Sekarang lihatlah biar tegas, siapa- aku" katanya pula, tertawa, sekarang ia mengangkat tangannya dan dengan perlahan meloloskan topengnya.

Ceng Jie berteriak, tubuhnya lantas mencelat menubruk si pelajar rudin itu, merangkul batang leher, terus ia menggoyang-goyangkannya berulang-ulang dan berteriak: "Engko Gan Engko Gan"
Wan Jie pun heran, tetapi ia masih dapat menguasai diri untuk tidak menubruk seperti adiknya itu, ia cuma mencekal keras kedua tangan si anak muda, ia heran berbareng girang luar biasa.
"Engko Gan," katanya, "kau sungguh jail. Mengapa kau tidak mau menjelaskan siang-siang, supaya orang tidak sampai ragu-ragu dan berkuatir tidak keruan?"

Memang selama setengah tahun, kangen si nona terhadap si anak muda, bukan main keras nya ia memikirkannya, hingga ia pernah mengucurkan tidak sedikit air mata.
Jie In balas menggenggam tangan si nona, ia mengawasi saja sambil tersenyum.
segera Wan Jie sadar bahwa ia memegangi tangan orang itu, mukanya menjadi bersemu dadu, lekas-lekas ia menarik pulang kedua tangannya, tapi masih sekali lagi ia melotot terhadap anak muda itu.

Jie In lantas berpaling kepada si bocah.
"Eh, kunyuk cilik" ia berkata, "sekarang tahulah kau siapa aku si orang tua"
Ceng Jie melepaskan rangkulannya, ia berjingkrakkan.
"Engko Gan, kau tidak tahu malu" katanya, "Dulu kau menyebut dirimu paman, sekarang si orang tua"
"Adik, kau ngaco" Hu Wan membentak.

Jie In berdiam, ia memandang kakak dan adiknya itu bergantian Kalau tadi ia gembira, sekarang ia masgul. Ada kata-kata yang sukar ia mengeluarkannya, ia melihat si nona menunduk. kupingnya merah, Maka berdebarlah hatinya.
"Mari kita masuk pula ke dalam gua, untuk berbicara," katanya kemudian, iapun menuntun tangan Ceng Jie. Wan Jie mengikuti Di dalam, mereka numprah di tanah,
"Hu Tayhiap sehat-sehat saja, bukan?" tanya Jie In kemudian pada si nona, ia tersenyum, "Aku heran mengapa Hu Tayhiap mengijinkan kalian keluar berdua saja inilah berbahaya."

Wan Jie mengawasi si anak muda, lantas ia menunduk pula, ia tidak menjawab.
Adalah Ceng Jie, yang tertawa.
"Engko Gan, kau tidak tahu" katanya, "Bersama-sama encie aku mendustai yaya Kami mengatakan bahwa kami mau pesiar ke Pakkhia sekalian mencari tahu tentang kau, dan kami berjanji, lain tahun kami akan pulang. Mulanya yaya menolak. tetapi kami membujuk lalu kami pun dibantu Gui Yaya, akhirnya yaya meluluskan juga."
"Oh, kiranya begitu" kata Jie In. "Bagai-mana persoalannya maka kalian mengetahui pedang Thay oh Kiam berada di tangan Pat Ciu Thian-cun?"

Belum Ceng Jie menyahuti, Wan Jie sudah mendahului. ia berkata: "Kami berangkat pada setengah bulan yang lalu. Entah dari mana didapat kabarnya, say Hoa To Gui Yaya mengatakan pada kami bahwa pedang Thay oh Kiam adapada Pat Ciu Thian-cun Goh Hoa, bahwa Goh Hoa berdiam di kuil Tin Hong sie di luar kota Thaygoan, lalu Gui Yaya menganjurkan yaya pergi memintanya pulang- Diluar dugaan, yaya bersikap tenang saja, Yaya kata, pedang itu pedang mustika, maka orang bijaksanalah yang harus mendapatkan dan memilikinya. Yaya kata ia sudah tua, tak perlu ia berebutan pula, Yaya pun berkata, kalau Pat Ciu Thian-cun tidak bijaksana, dia bakal celaka, Karena itu, yaya tidak memperdulikannya lagi. Kami berdua menjadi bingung. Mana dapat pedang itu dibiarkan lenyap? Aku mengerti, dengan Cara terang-terangan tentulah kami tidak dapat pergi, maka kami lantas memperdayai yaya."

Jie In tertawa.
"Benar-benar besar nyali kalian" katanya, "syukur kalian bertemu aku, kalau tidak, entah bagaimana kesudahannya, mungkin kalian bakal mengantarkan jiwa kalian."
Sudah sekian lama Jie In menyamar sebagai pelajar berusia pertengahan tanpa merasa ia membawa kelakuannya si orang tua.

Wan Jie agak tidak puas.
"Kenapakah kau bawa lagak bertingkah ini?" katanya, "Jangan kau mengulanginya pula, nanti kami tidak menggubris padamu."
Jie In tersenyum.
"Baiklah, aku akan tidak bertingkah lagi," sahutnya. "Nanti malam aku akan membantu kalian secara diam-diam mendapatkan pedang kalian, cuma ada satu syaratnya Setelah berhasil mendapatkan pedang, kalian mesti segera pulang, supaya kalian jangan membuat yaya kalian memikirkan dan menjadi berkuatir karenanya."

Wan Jie tertawa.
"Kau ikut kami pulang, bukan?" katanya. Jie In agaknya gelisah.
"Mana bisa" katanya cepat, "Aku masih mempunyai urusan penting Nanti saja, setelah selesai, aku pergi ke rumah kalian, untuk berdiam sekian lama Tidak dapat aku turut kalian, jangan kau nanti aku tidak memperdulikannya"
Melihat orang bergelisah, si nona tertawa geli.
"Baik, aku turut kau" katanya, "Kenapa kau bergelisah? cuma ingat, kata- kata mesti dibuktikan dengan kepercayaan" Lega juga hati si pemuda.
"Aku si orang tua mana dapat mendustai kalian?" katanya.

Ceng Jie bertepuk tangan, Dia berteriak: "Nah, nah, engko Gan, kau kembali membawa tingkahmu Apa itu aku si orang tua, si orang tua? sebenarnya berapa tinggi usiamu?" Jie In tidak melayani sebaliknya, ia mengasah lihat roman sungguh-sungguh.
"Di manakah letaknya kuil Tin Hong sie itu?" tanyanya. Wan Jie tertawa.
"Pantas kau menyamar sebagai pelajar, kiranya kau mirip juga dengan si kutu buku" katanya, Lantas dia menunjuk:
"Itu, di sana" Jie In mengangkat kepalanya mendongak.
"Benarkah kuil itu berada di atas gunung ini?" katanya dalam hati, "Kenapa tadi aku tidak melihatnya?"
Ia lantas berdiri, ia mengenakan topengnya,
"Kalian berdiam di sini, jangan bergerak," ia berkata, "Aku hendak pergi, tetapi segera kembali"
Hanya dengan satu kali mencelat, ia sudah tiba di luar gua, untuk mendongak, mengawasi ke atas.

Di sebelah atas gua Hong Tong ini ialah lamping bukit, tingginya beberapa ratus tombak di mana tumbuh pepohonan, setelah mengawasi dengan tajam, baru di sana terlihat tembok merah, temboknya kuil. Baru sekarang Jie In mengerti kenapa tadi ia tidak dapat melihat kuil itu. setelah itu ia kembali ke dalam gua.
Wan Jie menyambut, ia lantas tanya hal ikhwal si pemuda selama setengah tahun mereka berpisah, ia juga bertanya kenapa orang menyamar jadi pelajar rudin berusia pertengahan itu.
Tidak dapat Jie In menuturkan segalanya dengan jelas, maka ia ngaco belo saja, ia berkata bahwa ia datang ke Thaygoan untuk membantu sahabat nya mencari tahu tentang musuh si sahabat, yang minta pertolongannya.
" Habis ini, aku akan pulang kePakkhia," katanya akhirnya.

Si nona dan adiknya mendengarkan dengan penuh perhatian, mereka tak menyangka bahwa mereka lagi didongengi, Kadang-kadang Jie in bicara dengan jenaka, hingga mereka menjadi gembira.
Dengan mengobrol itu Jie In menanti datangnya jam dua, lantas mereka bertiga keluar dari gua itu, Di luar, hawa udara dingin sekali, tak sehangat di sebelah dalam, Bintang-bintang menerangi pohon cemara . Jie In mengajak kedua kawannya lari sampai di mulut gunung.
"sekarang kalian berdua boleh mendaki seCara berterang," ia berkata, "Pat Cia Thian-cun belum selesai dengan peryakinannya, dia tidak bakal memperlihatkan dirinya, Kalau kalian ketemu orang, kalian lawan mereka dengan Kiu Kiong Im yang Ceng- hoan Pou. Dengan begitu, meskipun kalian tidak menang, kalian dapat membela diri, Kalau kalian mendengar siulan panjang dua kali dari aku, walaupun pedang belum berhasil didapatkan, jangan ayal lagi, kalian mesti lantas lari turun gunung, nanti kita bertemu di depan gua tadi"

Wan Jie dan Ceng Jie mengangguk. Mereka lantas melompat pergi, mendaki gunung itu, sedang Jie In melompat menghilang diantara pepohonan lebat.
Wan Jie dan Ceng Jie memperoleh kemajuan pesat setelah mereka dididik In Gak sepintas lalu itu, mereka dapat melompat tinggi dan jauh. sebentar saja mereka sudah mendaki dua puluh tombak lebih Jie In selalu mengintip senang ia melihat kemajuan mereka itu.
Tapi jalanan mendaki itu sangat sukar, nona dan bocah itu letih juga, terpaksa mereka beristirahat sebentar, Ketika mereka mau naik pula, tiba-tiba ada teguran dari sebelah atas: "Siapa di situ? siapa berani lancang mendaki gunung?"
Lalu teguran itu disusul dengan ancaman penyerangan, lantas terlihat menyambarnya dua benda berkilauan bagaikan bintang.

Wan Jie terperanjat, ia hendak menangkis, atau kedUa benda itu mental ke samping, menghajar batu gunung, sedang di atas itu lantas terdengar suara orang seperti menahan napas, terus terlihat jatuhnya suatu gumpalan hitam seperti tubuh manusia, tiba ke bawah, lalu terdengar jeritan hebat, yang menggidikkan tubuh.
Lega hati Nona Hu, Tahulah ia, itulah si engko Gan yang merobohkan musuh. ia lantas maju terus, Ceng Jie mengikuti.
-00000000-

Seterusnya, beberapa kali mereka mendengar jeritan hebat seperti tadi sepanjang mereka mendaki itu, dan sebentar-sebentar ada tubuh yang jatuh ke dalam jurang.
Dilain saat dari kuil Tin Hong sie terdengar suara genta berulang-ulang, memeCah kesunyian sang malam, berkumandang di lembah-lembah.

Tengah Wan Jie melompat naik, mendadak ada bayangan yang melompat kearah- nya.
Bayangan itu membentak dan kedua tangannya diluncurkan, Bentaknya: "Turun" ia tidak mau menyambut, ia melompat ke kiri sambil berseru: "Adik Ceng, awas"
"Jangan kuatir, encie" jawab si Ceng.
Bocah ini awas dan cerdik, ia melihat datangnya bokongan, ia tidak berkelit seperti encienya, ia justru lompat menyambut dengan sepasang senjatanya yang mirip alat tulis itu, ia mengincar ke arah dada.

Penyerang itu bukan sembarang orang, Dia terkejut melihat orang yang pertama berkelit dan sebagai gantinya datang serangan orang yang kedua, dtngan cepat dia merubah serangan menjadi sambaran, untuk merampas sepasang poan-koan-pit.
Ceng Jie kecil, tetapi ia cerdik sekali, ia dapat menerka lawan bakal bertindak bagaimana, Maka ketika ia menyambut serangan, ia menggertak, begitu senjatanya disambar, ia pun merubah gerakannya, sekarang ia meneruskan ke arah kedua mata, inilah jurus Jie-liong-chio-cu", atau "sepasang naga berebut mutiara". ia bergerak sangat cepat.
Musuh menjadi kaget, inilah di luar dugaannya, Terpaksa dia mengelak seraya terus melompat ke samping, Dia baru menaruh kaki, atau dia mendengar bentakan yang dibarengi sambaran angin ke dadanya.

Kembali dia kaget, dia mengertak gigi, kakinya menjejak. untuk melompat pula. Meski dia berlaku sangat cepat, dia masih didahului Wan Jie, ujung pedang nona itu menabas kempolannya, hingga dagingnya terpapas, hampir dia pingsan, tubuhnya terjatuh ke bawah.
setelah itu kedua nya maju terus. Dilain saat setelah mereka di atas, di tanah berlatar datar dan luas, Gelap sekitar mereka, angin bertiup keras, membawa datang suara berisik dari daun dan cabang pohon-pohon cemara.
"Bukankah tadi kita mendengar suara genta?" tanya Wan Jie perlahan, " Kenapa sekarang begini sunyi?"

"Perduli apa" sahut Ceng Jie, yang tidak kenal takut. "Engko Gan ada diantara kita, apa yang mesti kita takuti? Mari, Ceng Jie yang maju di muka" ia benar-benar bertindak maju.
sang kakak menarik tangan adiknya.
"Jangan sembrono" cegahnya, "Kalau terjadi sesuatu, tak dapat aku bertanggung jawab terhadap yaya"
Ceng Jie berdiam, ia tidak menjawab, sebaliknya, jawaban datang dari orang lain, suara yang tajam, Wan Jie terkejut, juga adik-nya. Ketika mereka menoleh, mereka melihat sekumpulan bayangan orang yang hitam.

Waktu itu rembulan tak bercahaya dan di situ tidak ada penerangan api. Coba semua bayangan itu tidak bergerak, tak nanti mereka terlihat.
Baru kemudian dari arah kuil terlihat munculnya beberapa buah lentera sorot khong-beng-teng, maka sekarang dapat dilihat tegas mukanya semua bayangan tadi, itulah wajah yang kekuning-kuningan, yang menyeramkan

Ceng Jie lantas mengenali orang yang menjadi kepala rombongan itu Dialah yang tadi siang mendustai ia bahwa Pat Ciu Thian-cun pergi dan belum pulang. Dia lah Tie Khong, pendeta kepala kuil Tin Hong sie itu.
Tie Khong pun segera mengasih dengar suara nya: "ohmie Too- hud Kembali kedua sie-cu cilik yang datang pula ke mari Tin Hong sie ini tempat suci dari sang Buddha, kenapa siecu berdua berani lancang datang ke mari serta melakukan juga pembunuhan banyak jiwa? Apakah kalian tidak takut sang Buddha nanti menghukum kalian?"

Wan Jie tersenyum.
"Meskipun kami lancang datang di waktu malam, tetapi kami datang tidak untuk mengganggu kau, taysu" jawabnya, "sebaliknya, mengapa orang-orang taysu mencegat dan membokong kami? Kenapa kami hendak dibikin mati? Memang banyak orang telah terbinasakan, tetapi mereka itu mencari mampus sendiri tak dapat kami disesalkan" Tie Khong tertawa seram.
"Enak saja kau bicara, nona" ia mengejek "Kau harus mengetahui membunuh orang mesti mengganti jiwa, berhutang emas mesti membayar Mana dapat kalian meloloskan diri? Tapi, tunggulah dulu sekarang aku hendak bertanya, maU apa siecu malam-malam lancang masuk ke mari mengganggu kesunyian Tin Hong sie?"

Bengis pendeta ini menatap si nona, yang ia panggil "sie-cu", penderma.
Hu Wan memperdengarkan tertawanya yang halus, tetapi nyaring, ia menyingkap naik rambut dijidatnya yang dipermainkan angin-
"Taysu, kau berpura-pura saja" jawab-nya. "Kau tahu, sebabnya tetapi kau masih menanyakan seorang pendeta tak boleh berdusta Coba aku kurang cerdik, tentulah aku telah terpedayakan terus Bukankah Pat Ciu Thian-cun berada di atas menara di mana ia menempati tingkat keenam untuk meyakini ilmu Cu Ngo Hian Kang?".

Jawaban itu membuat Tie Khong mundur dua tindak. Dia melengak saking heran, Tapi muka nya lantas berubah menjadi pucat dan muram, Dia bertanya: "Bagaimana kau mengetahui itu?"
Si nona belum menjawab, di belakang sipaderi terdengar suara seram ini: "sute, menghadapi kedua bocah itu, buat apa banyak omong? Bekuk dulu mereka, baru kita bicara" Latu kata-kata galak ini disusul dengan munculnya orangnya.

Wan Jie melihat orang itu bertubuh besar, berdada lebar, sepasang matanya tajam dan bengis, dan tangannya mencekal dua batang tombak cagak yang hitam mengkilap.
Ceng Jie menjadi habis sabar, ia melompat ke depan orang itu ia tak jeri walaupun orang bertubuh besar dan beroman sangat bengis, sembari tertawa, ia berkata: "He, makhluk tolol seperti kau berani mempertunjukkan kejelekanmu? Baiklah, tuan kecilmu nanti mengantarkan kau pulang ke rumah nenekmu"

Orang itu gusar bukan main. Memangnya dia beradat keras dan tak takuti siapa pun kecuali gurunya, Pat Ciu Thian-cun Goh Hoa. Maka dia berteriak sekuat-kuatnya:
"Anjing kecil, kau cari mampus" Lantas dengan tombak cagaknya, dia mengemplang
Ceng Jie tahu orang pasti bertenaga besar, maka ia berlaku cerdik, Tak sudi ia melawan keras dengan keras, Maka dengan lincah ia berkelit, terus ia berkelebat ke belakang lawannya itu.

Kaget sipenyerang ketika mendapatkan ia menghajar tempat kosong, mengertilah ia akan ancaman bahaya, maka dengan cepat ia memutar tubuh nya sambil mendahului mengayun tombaknya ke belakang, Begitu hebat serangannya ini, tombaknya sampai mengeluarkan suara angin keras
Ceng Jie benar-benar cerdik, ia tetap tidak mau menangkis, sambil tertawa ia berkelit pula, hingga lekas juga ia kembali berada di belakang lawannya itu

Penyerang itu kaget dan berkuatir, dia lantas melompat ke depan sejauh setombak lebih, setelah itu, baru dia memutar tubuh nya. sekarang dia melihat si bocah di depan-nya, lagi mengawasi dia sambil tertawa manis. Dia menyedot hawa dingin, Dia pun mau berlaku cerdik, dia lantas balik mengawasi
Tie Khong menyaksikan kejadian di depan matanya itu, ia mengerutkan alisnya, Luar biasa kegesitannya Ceng Jie itu ia tidak mengenali ilmu silat itu dari partai mana. Bukan-kah orang hanya seorang bocah cilik?

Si cilik sudah demikian lihay, bisa di mengerti si nona, orang yang terlebih tua itu Walaupun begitu, ia tidak takut, ia hanya belum tahu apa maksudnya orang mencari Pat Ciu Thian-cun gurunya itu. Gurunya tidak boleh diganggu, Gurunya membutuhkan waktu hanya satu atau dua jam lagi Jadi ia perlu mempermainkan sang waktu.
Lawan Ceng Jie itu tidak berdiam lama, Dia tak dapat membiarkan dirinya diejek bocah itu. Dia bergerak pula, Hanya dia tidak segera menyerang, Dia berjalan memutari si bocah. Tampaknya dia sabar sekali.

Ceng Jie pun bersikap tenang. Masih ia tersenyum-senyum, sikapnya ini mentaati ajaran Jie In, untuk ia berlaku tenang tetapi gesit.
orang itu bernama Mo Houw, dia murid kedua dari Goh Hoa, julukannya Tin san sin, Malaikat Penunggu Gunung, Dia berkepandaian tidak lemah, hanya barusan, lantaran menuruti adatnya, dia kena dipermainkan bocah she Hu itu, hingga dia menjadi rada jeri.
Dia tidak dapat berdiam lama-lama, sebab dia mendapat kenyataan kawan, atau saudara seperguruannya, semua mengawasi pada nya, Dia tahu malu, hingga muka nya menjadi merah dan terasa panas, Maka itu dia maju turun tangan.

Tapi dia pun ingat gurunya, yang lagi berlatih itu, tak mau dia menggagalkannya, Maka dia hendak mengulur waktu, Dilain pihak panas hatinya menyaksikan lagak si bocah, Di-lain pihak lagi, timbul kejelusannya terhadap Tie Khong, sang adik seperguruan yang ketujuh.
sute ini disayang gurunya, maka selama si guru berlatih, sang sute yang diberi kepercayaan, yang ditugaskan mengurus segala sesuatu di luar kuil, Tie Khong cerdik dan berpengalaman, maka ia bersikap sabar.

Sikap ini tak disenangi sang suheng, Karena itu akhirnya Mo Houw melupakan diri, setelah beberapa putaran, mendadak dia maju menyerang. ilmu tombak cagaknya itu terdiri dari empat belas jurus, ketika dia menyerang, dia lantas menyerang terus hingga tujuh kali, lantaran yang pertama dan kedua, yang lainnya, dapat dikelit lawannya.
Ceng Jie berlaku tenang, waspada dan gesit, Begitu ia diserang, ia mengerti bagaimana harus bertindak. Dengan poan-koan-pitnya, ia melawan dengan jurus-jurus "ciong Hiok si Raja setan Menaklukkan Iblis", yang terdiri dari tiga puluh enam jurus, sedang kakinya bergerak dengan gerakan Kiu Kiong Imyang Ceng-hoan Pou.

Sebagai kesudahannya itu, Mo Houw jadi terkekang poan-koan-pit, setiap kali dia menerjang, dia tentu menerjang sasaran kosong, sia-sia belaka semua serangannya itu.
sesudah menonton sekian lama, Tie Khong berkata kepada saudara-saudara seperguruan-nya: "llmu poan-koan-pit bocah ini rada mirip dengan ilmu silatnya Tong san Jie Niauw, apa yang beda ialah dia ini lebih aneh dan gesit, Mungkinkah anak ini ada sangkut pautnya dengan rumah perguruan Tam Liong?"

"Akupun menduga demikian," menyahut seseorang, "suhu bersahabat kekal dengan Tong san Jie Niauw, mungkin bocah ini muridnya mereka itu, hanya kenapa mereka datang mengacau disaat suhu berlatih? Maksud apakah yang dikandung mereka ini?" Tie Khong berdiam.
"Biar apa pun maksud mereka, mereka harus dicegah," sahutnya kemudian, "Tinggal sedikit waktunya Kalau kita tidak tahan sabar, bisa gagal Mereka ini tentu ada yang mereka buat andalan, mungkin ada si tua di belakang nya, pendek kata kita harus menanti sampai suhu yang menemui mereka."

"Suheng" tanya satu suara di belakang, "habis bagaimana dengan jiwa belasan saudara kita itu? Apakah kita mesti sudah saja?"
"Hm" Tie Khong mengasih dengar suara-nya, "Kiu-sute, kau harus sabar Hutang darah mesti dibayar dengan darah, bahkan mesti berikut bunganya Kenapa mesti menguatirkan itu? Tapi kau harus ingat, mesti dijaga agar suhu jangan menjadi tersesat .Dapatkah kau bertanggung jawab? "

Wan Jie sendiri, sambil memasang telinganya, memperhatikan Ceng Jie, setelah sekian lama itu, ia tertawa sendirinya, ia menganggap Ceng Jie jenaka sekali.
Sang adik itu bersilat dengan ilmu silat ajaran Jie In- sebenarnya, belum pernah Ceng Jie menggunakan itu seperti sekarang, maka itu, ada ketika nya ini, ia menggunakannya sebagai ujian, ia mengulangi dan mengulanginya, dari rada kaku, ia dapat menjalankannya dengan lincah. Lucu Mo Houw, yang berbalik mesti melayani orang, sedang mulanya dialah yang menyerang.

Wan Jie berpikir lebih jauh, ia memuji kecerdikan adiknya, Biarlah adiknya ini melayani supaya "engko Gan" mereka dapat turun tangan, ia hanya menduga-duga, Gan Gak sudah berhasil atau belum.
Tie Khong dan saudara-saudaranya bergelisah juga menyaksikan Mo Houw kena dipermainkan si bocah cilik, Beberapa saudaranya tampak menjadi habis sabar dan ingin turun tangan. sebisa-bisanya Tie Khong menyabar-kan diri, ia mencegah mereka itu.

Sekarang ia percaya, si bocah tidak berniat mencelakai saudara seperguruannya itu. itulah ada baiknya untuk gurunya. juga dengan begitu, saudara seperguruannya itu yang nomor dua,jadi mendapat pengalaman, supaya lain kali dia jangan suka terburu napsu. Akhirnya ia bertindak maju kepada si nona.
"Nona," ia berkata, tertawa, " guruku itu benar seperti kata nona, sekarang ia berada di tingkat keenam dari menara di belakang kuil di mana ia tengah meyakinkan ilmu silat Cu Ngo Hian Kang. inilah saat sangat renting untuk guruku itu. Kemarin aku mendustai kalian, itulah saking terpaksa,jadi bUkannya aku sengaja memperdayai, Dalam perkara ini, aku tidak tahu menahu, segala sesuatunya terserah pada guruku, Terserah kepada nona, nona suka percaya aku atau tidak..."

Wan Jie percaya Tie Khong bicara dengan sebenarnya, iapun dapat mengetahui maksud si pendeta, yang mau mengulur waktu, agar gurunya dapat menyelesaikan peryakinannya itu.
sampai waktu itu, pasti mereka bakal turun tangan untuk menempur padanya, Maka ia pun berpikir bagaimana harus melayani pendeta ini. Disaat ia hendak membuka mulutnya, tiba-tiba ia mendengar dua kali siulan yang jauh tetapi jelas, ia lantas menjadi girang, itulah tanda dari engko Gannya bahwa engko itu sudah berhasil, ia tidak memperlihatkan kegirangannya, ia menutupinya dengan tertawanya.
"Taysu, setelah mendengar keteranganmu ini, apabila aku tidak percaya kepadamu, aku sungguh keterlaluan," ia berkata, "sebenarnya kami berdua mendaki gunung ini cuma hendak menanyakan guru taysu tentang suatu kejadian tahun lalu, karena guru taysu berada di dalam menara, baiklah, besok kami datang kembali. Tentang perbUatan kami ini, kami harap sukalah diberi maaf"

Habis berkata, dia teriaki adiknya: "Adik Ceng, mari kita pergi"
Ceng Jie pun mendengar siulan itu, maka atas suara kakaknya, ia lantai melompat keluar gelanggang, untuk berhenti bertempur, bersama kakaknya itu, ia memberi hormat kepada Tie Khong, lantas kedua nya lari turun gunung
Tie Khong pun mendengar siulan itu, ia menyangka suara burung, ia tidak curiga apa-apa, melihat kepergian si nona berdua, ia menghela napas, dadanya menjadi Iega.
Mo Houw sebaliknya menjadi sangat letih, hingga dia lantas duduk mendeprok di tegalan itu, sedang dari mulutnya beberapa kali terdengar suara nya: "Bocah itu, bocah itu benar-benar lihay."

Tie Khong lantas memerintahkan beberapa kawannya pergi mengurus belasan mayat didalam jurang, ia pun berkata: "Kalau tidak salah, dua jam lagi, selesai sudah suhu dengan peryakinannya, maka kalau besok kedua bocah tadi datang pula, mereka tidak bakal lolos dari pukulan cu Ngo Hian Kang dari suhu."

Murid ini berkata demikian tanpa dia mengetahui bukan saja pedang Thay oh Kiam telah lenyap. bahkan gurunya, yang diandalkan itu, telah binasa di atas menara.
Pat Ciu Thian-cun Goh Hoa mengadakan aturan keras, semua murid nya dilarang sembarangan naik ke menara tempat dia meyakinkan ilmunya, kalau dia membutuhkan sesuatu, dia memanggil orang dengan tanda ketukan- Karena itu, sekian lama dia berdiam saja, Tie Khong semua tidak curiga, baru sesudah berselang tujuh atau delapan jam, murid nya itu heran, terpaksa ia memberanikan diri naik ke menara, menghampiri tingkat keenam itu, Akhirnya murid itu serta murid- murid yang lainnya menjadi kaget dan kelabakan, Guru mereka kedapatan sudah mati dan pedangnya lenyap, Baru mereka sadar bahwa mereka telah dipermainkan kedua bocah itu, Celaka nya, mereka tak dapat menyusul kedua bocah itu, yang tak ketahuan ke mana perginya, atau sedikitnya sudah pergi jauh enam ratus li lebih.

Tatkala Hu Wan berdua sampai di depan gua, Jie In sudah menantikan mereka, tangannya mencekal sebatang pedang, cuma diwaktu malam dan gelap seperti itu, mereka tidak dapat melihat jelas Jie In pun, begitu melihat mereka, lantas berkata: "Lekas" Dan ia lantas lari, untuk jalan di muka, buat kembali ke hotelnya.

Ketika itu sudah hampir jam empat, Tat kala mereka masuk ke dalam pekarangan, mereka mendapat kenyataan seluruh hotel sunyi senyap. semua penghuninya asyik tidur nyenyak.
semasuknya mereka ke dalam kamar Jie In menyalakan api, habis mana, ia mencabut pedang yang dicekalnya, Mereka lantas melihat sinarnya pedang itu, yang pasti tajam sekali.
"Sungguh pedang yang indah" Jie In memuji, sambil mengangsurkan pedang itu pada Wan Jie. ia tertawa, " inilah pedang mustika, pantas kalian melakukan perjalanan ribuan li mencarinya sekarang pedang ini telah didapatkan kembali, maka nanti, begitu terang tanah, lekaslah kalian berangkat pulang"
"Terima kasih" mengucap si nona, yang menyambut pedang itu, ia lantas menanyakan bagaimana pemuda itu merampas nya dari Goh Hoa.
***

Selagi mendaki gunung, tidak pernah Jie In memisahkan diri jauh-jauh dari Wan Jie dan Ceng Jie. ia menguntit dan memasang mata- ia melihat bergeraknya belasan bayangan, ia menduga kepada pihak gunung, Terus ia berwaspada. Dcmikianlah ia melihat kedua bocah itu dirintangi, maka ia lantas membantu senang ia menyaksikan Ceng Jie dibantu Wan Jie membinasakan musuh. Ketika musuh jatuh kejurang dan menjerit keras, lalu terdengar suara genta di dalam kuil, ia berpikir.
"Pasti musuh keluar untuk mencegat kedua anak ini," demikian pikirnya, " itulah berbahaya buat mereka."
Karena itu, ia lantas bertindak, ia mencegat lantas ia turun tangan, satu demi satu ia bekuk belasan musuh itu, sebentar-sebentar ia melemparkannya ke dalam jurang, Terhadap manusia jahat, ia tidak berbelas kasihan lagi. Wan Jie dan Ceng Jie mesti dibantu hingga maksudnya tercapai.
Lantas tiba saatnya Jie In menyaksikan Ceng Jie berdua dirintangi rombongannya Tie Khong, ia melihat aksinya bocah yang jenaka dan besar nyalinya itu. setelah menonton sekian lama, ia percaya Ceng Jie tidak bakal kalah dan Tie Khong pun tidak akan lekas turun tangan, maka ia berbesar hati meninggalkan kakak beradik itu, ia lantas pergi ke belakang kuil, ke menara, ia berlaku waspada, ia menggunakan kegesitannya, agar tidak ada orang yang melihat pada nya.
Dengan mudah Jie In dapat mencari menara, yang terdiri dari tujuh tingkat. Di dekat situ ia melihat seseorang bersembunyi di belakang pohon, ia menyingkir dari orang itu, Tiba di depan menara, ia tidak lantas naik, ia mendapat kenyataan, menara itu dipasangi lentera sampai di tingkat ketiga, yang lainnya semua ditinggal gelap. ia pun mendapat ke-nyataan, setiap tingkat ada orang yang menjaganya.
Walaupun penjagaan kuat, Jie In tidak mau mundur, ia cuma tetap waspada, Untuk dapat bekerja dengan leluasa, ia menghampiri setiap penjaga, yang ada belasan orang jumlah nya, ia datang dari belakang, lalu dengan sebat ia me-notok, hingga musuh roboh tanpa suara berisik, Cara ini diulangi hingga ia berhasil, Tinggallah penjaga di bawah menara, di tingkat pertama, sulit untuk merobohkan dia itu tanpa membikin sadar penjaga di tingkat kedua, demikian seterusnya, Maka ia lantas berpikir, matanya memandang ke depannya.
"Ah, itu dia" katanya dalam hati. ia melihat sebuah pohon tua, yang besar dan tinggi, yang tumbuh di samping menara, terpisahnya dari wuwungan menara kira-kira setombak. Di antara sampokan angin, cabang pohon itu ber-goyang-goyang tak hentinya.
" Kenapa aku tidak mau mengambil jalan dari atas pohon itu?" pikirnya kemudian ia lantas mengambil keputusan, ia lantas meneliti pohon itu kalau- kalau ada penjaganya, ia memperoleh kenyataan, tak ada penjagaan di situ.Maka ia terus menghampiri untuk memanjatnya. ia naik sampai di cabang yang paling tinggi, yang berada dekat dengan wuwungan menara. ia berada di atas wuwungan itu, inilah saatnya yang terakhir Dengan berani ia merayap di cabang tertinggi itu, lantas ia melompat ke wuwungan menara, Karena ia berada di sebelah atas, ia jadi melompat turun ia melompat sambil berjumpalitan untuk mencegah kakinya menerbitkan suara berisik, Ke-beraniannya itu memberikan hasil yang memuaskan ia berada di atas menara tanpa bahaya.
Sekarang Jie in bekerja lebih jauh. ia mesti turun ke tingkat ketujuh, ia menyantelkan kakinya di payon, tubuhnya diturunkan Di sini tidak ada penjagaan, ia dapat sampai di ruangan tingkat ke tujuh itu tanpa rintangan Ruangan itu kosong dan gelap.
Untuk sampai di tingkat keenam Jie In mesti bekerja keras, Tangga undakan ada pintunya, Daun pintu terbuat dari bahan besi tebal dua cun. Bagaimana harus membuka itu? ia ingat pisau belatinya, pisau belati cula badak, yang dapat melawan logam emas dan batu kumala.
Dengan menikam, ia berhasil membuat lubang. Setelah itu, ia memotong dengan periahan lahan Untuk kegirangannya, ia berhasil, Segera ia melihat cahaya terang. Lantas ia melompat turun- ia dapat tidak menerbitkan suara berisik.
Pat Ciu Thian-cun lagi duduk bersila, matanya ditutup rapat, Daging di mukanya ber-kedutan, Dia tetap duduk diam, dia seperti tidak mendengar apa-apa, Cuma kedua tangannya ditolakkan ke depan, Setelah melihat tegas muka orang Jie In terkejut Goh Hoa mirip dengan orang hutan.
Bulu putih hampir menutupi mata dan mukanya, jelas dia lagi berada pada saatnya yang sangat genting, Dia bakal lulus atau tersesat dari peryakinan ilmu pedang nya itu, Cu Ngo Hian Kang.
Jie In telah berpikir menggunakan Hian Wan sip-pat Kay untuk membuat orang itu lantas tidak berdaya, Untuk sejenak. la bersangsi, ia belum melihat pedang Thay oh Kiam. ia bisa berabe kalau ia gagal menyerang, Goh Hoa mati sebelum dia memberi keterangan tentang pedang mustika itu, Maka sambil menanti, ia berpikir.
Tiba-tiba Goh Hoa memperdengarkan suara dari kerongkongannya, mirip suara kerbau dan tubuh nya, lebih benar tulang-tulangnya, memperdengarkan suara meretek. setelah mana, kedua tangannya diangkat naik, karena mana bajunya yang gedombrongan turut terangkat juga.
Untuk girangnya Jie In melihat gagang pedang diantara baju yang tersingkap itu, ia percaya itulah pedang yang lagi ia cari. Karena Goh Hoa lagi menanti saatnya, ia juga tidak mau berayal lagi. Ketika ia hendak menggerakkan tangannya, mendadak ia melihat orang membuka kedua matanya dan mukanya tersenyum tanda girang. Tapi, begitu melihat Jie In, dia terkejut, tanpa berkata apa-apa, dia lantas mendorong dengan tangannya kepada orang asing di dalam kamarnya itu.
Jie In terkejut, tetapi ia tidak menjadi gugup, ia memang sudah siap sedia. ia membela diri dengan menyambut serangan yang berupa dorongan itu, meneruskan mana, ia menotok.
Pat Ciu Thian-cun berjengit, ia merasakan dada kanannya dingin dan kaku. Lantas kedua tangannya itu diturunkan, tenaganyapun lenyap seluruh nya, Menyusul itu, tubuh nya gemetaran Rupanya ia hendak mengerahkan tenaganya, tetapi sia-sia belaka, Dadanya telah kena ditotok. Ia tak dapat berdaya lagi. Cuma dengan mata yang bersinar guram, ia mengawasi lawannya itu.
Totokan Hian wan sip-pat Kay itu tak dapat dibebaskan sembarang orang, apa lagi untuk membebaskannya sendiri Demikianiah Goh Hoa gagal, ia mengerti akan nasibnya, maka sejenak kemudian, dia menghela napas dan berkata duka: "Aku Goh Hoa, telah banyak aku membunuh orang, orang mati tanpa merasa, aku tidak menyangka hari ini aku roboh secara begini, inilah pembalasan Thian, kita tidak mengenal satu dengan yang lain, tetapi maksud kedatanganmu dapat aku menerka, pedang Thay oh Kiam berada di tubuhku, kau ambillah sendiri" suara nya makin lama makin perlahan, napas nya lantas mendesak.
Dia menambahkan- "Muridku banyak. diantara mereka, separuhnya baik, separuhnya lagi jahat, maka terserah kepada tuan untuk memperlakukan mereka." Lantas ia berhenti, kedua mata nya ditutup rapat, ia tak dapat bicara lebih jauh, napas nya sudah berhenti,
Jie In mengawasi, ia menghela napas, ia menghampiri lebih dekat, tangannya diulur, untuk mengambil pedang mustika yang menjadi benda rebutan itu. setelah meneliti, ia gembol itu dipunggungnya. sekarang ia tidak mau membuang waktu lagi, ia naik pula ke atas untuk dari wuwungan melompat ke pohon tadi. ia berhasil dengan selamat. ia berdiam sebentar di atas pohon, mata nya memandang ke menara, ia sedikit menyesal ia terpaksa,sebab kalau tidak. Ia bisa gagal la terhibur juga ketika ia ingat penyesalannya Goh Hoa.
Biar bagaimana, ia telah menyingkirkan seorang yang sangat jahat, Lalu hatinya jadi lega pula, Lantas dengan cepat ia turun dari pohon itu. ia berlari-iari ke tempat Ceng Jie tadi, sembari lewat, ia menotok bebas korban-korbannya yang menjaga berbagai pos. ia melihat Tie Khong masih belum turun tangan.
Cuma Ceng Jie lagi mempermainkan Mo Houw, Kembali ia memuji bocah itu, yang ia kagumi.
Katanya dalam hati, sesudah besar, Ceng Jie mungkin menjadi jago.
Hari sudah jauh malam, gelap dan dingin Jie in memandang langit, ia tak dapat menduga waktu yang tepat, Mungkin sudah jam tiga lewat, ia tidak mau menanti lagi, maka ia meninggalkan Ceng Jie, ia lari ke kepala angin, Kira-kira tiga li, ia berhenti, Di sini ia mengasih dengar siulannya yang dua kali itu, setelah mana ia terus lari kembali ke gua Hong Tong, ia percaya Ceng Jie berdua mendengar isyaratnya itu. Ternyata dugaannya itu tepat.
Demikianlah, mereka pulang bersama-sama ke hotel. Wan Jie girang dan bersyukur ia memegangi Thay oh Kiam dan mengusap-usapnya.
Jie In mengawasi, ia tertawa dan berkata: "Nona, kau telah mencapai cita-citamu, aku percaya di belakang hari kau bakal menjadi nona yang gagah perkasa sekarang aku hendak memberi selamat lebih dulu padamu"
Wan Jie mengangkat kepala nya, ia tersenyum, lekas ia menunduk. Tapi lekas ia mengangkat pula kepala nya itu, untuk dengan matanya yang jeli menatap si anak muda. Tanpa merasa, hati Jie In berdenyut
" Kalian berdua tunggu disini," katanya kemudian- "Jangan kalian pergi ke mana- mana Aku hendak pergi sebentar, untuk mengatur keberangkatan kalian"
Begitu ia berkata Jie In lantas pergi keluar Tiba dijalan besar, ia ragu-ragu.
Angin yang dingin menyampok tak hentinya. Cuaca gelap. tapi untuknya tak menjadi rintangan besar, Dijarak sepuluh tombak. ia masih dapat melihat, ia hanya jalan seperti orang biasa, langkahnya naik dan turun dijalan besar yang tidak rata itu. Tiba-tiba ia mendengar suatu suara dari sebelah depan, ia merandek sejenak. terus ia berjalan pula. Tapi ia tidak usah berjalan lama, tiba-tiba sesosok bayangan melompat ke depannya, merintanginya, ia tidak kaget. ia lantas melihat seorang pengemis yang pakaiannya banyak tambalannya, yang pinggangnya dilihat tiga batang tali rumput, Dengan mata mendelong, pengemis itu mengawasi, mulutnya bungkam.
"Kebetulan" pikir Jie In, yang tertawa di dalam hatinya, "Aku memang hendak mencari anggota Kay Pang, kau justru datangi. Bagus, aku jadi tak usah berabe lagi"
Meski begitu, ia tidak lantas membuka mulut. ia menatap pengemis itu, mulutnya tersungging senyuman.
Pengemis itu heran melihat orang tidak merasa takut, ia berkata dalam hatinya: "si pelajar rudin ini besar juga nyalinya dengan romanku yang bengis, siapa tidak jeri terhadapku sam Ciat Koay Kit Beng Tiong Ko si pengemis Aneh? Di dalam propinsi shoa say ini, siapakah tidak mengenal aku? sekalipun Ceng Hong Pay, yang besar pengaruhnya, dia masih jeri terhadapku Malam ini aku tidak dapat menggertak pelajar rudin ini, benar-benar heran Dia tak bedanya orang kebanyakan tidak nanti dia adalah orang Rimba Persilatan, maka inilah rupanya sebabnya kenapa dia tidak kenal aku." Lantas ia membalik matanya dan bertanya:
"Tuan, malam- malam dan gelap begini kau keluar sendirian, apakah kau hendak melakukan sesuatu?"
"Dan kau?" Jie In balik bertanya, sembari tertawa.
pengemis itu menjadi tidak senang, hingga mukanya menjadi muram.
"Seorang pengemis tidak dapat melihat orang diwaktu siang, terpaksa dia mesti kelayapan diwaktu malam" sahutnya kaku. "Tetapi kau, pelajar rudin, bukannya tidur baik-baik di atas pembaringanmu, kenapa kau bergelandangan diwaktu malam gelap dan dingin begini? Kau menjadi si arwah bergelandangan kau pasti bukan manusia baik-baik"
Dikatakan begitu Jie In tidak menjadi gusar, sebaliknya, dia tertawa lebar.
"Oh, jadi kau menanyakan aku dengan maksud begini?" ia menegaskan "Tidak apa untuk memberi keterangan kepadamu pula sederhana sekali Aku si orang tua datang dari Sin Liong Tong, dari kotaraja, Aku baru saja tiba Aku si orang tua hendak menyelidiki ada atau tidak tukang minta-minta yang kelakuannya buruk Apa mungkin kau telah melakukan sesuatu yang tidak dapat diberitahukan orang lain, malah kau tampaknya sedikit takut ?" Sam Giam Koay Kit membelalakkan mata-nya. Dia tertawa aneh.
"Takut?" ulangnya, "Aku si orang tua, belum pernah aku mendengar kata-kata itu? Sungguh aku tidak menyangka, pelajar rudin, kau dapat menggertak aku dengan kata-kata- mu yang bagus ini Hm, apakah kau kira Sin Liong Tong dari Kay Pang dapat kau memasukinya? Awas, kalau kau tidak bicara terus terang, malam ini aku si orang tua pasti tidak akan mau sudah"
Jie In mengerutkan kening, Pikirnya: "Pantas Toako chong Sie mengatakan padaku, didalam Kay Pang itu ada hidup campur baur segala macam orang, ada yang lurus, ada yang tidak karuan, ada juga yang berani berbuat tidak pantas, cuma karena aturannya sangat keras, tidak sembarang orang berani melanggarnya. pengemis ini bertabiat keras, Baiklah aku coba memperlihatkan hu-leng untuk menguji dia."
Maka ia lantas merogoh sakunya, untuk mengeluarkan Sin Liong Say Houw Leng, lambang Partai Pengemis yang merupakan perunggu berukiran naga, singa dan harimau keramat, lalu sembari tertawa ia berkata: "Mendengar suaramu, agaknya kau bangga sekali akan dirimu Kau pasti orang dengan asal-usul yang besar sekali Maka cobalah kau menyebut gelaran serta kepandaianmu, supaya dapat aku mempertimbangkan apakah kau berharga untuk aku menggerakkan tanganku"
Pengemis itu tertawa lebar.
"Pelajar rudin, kau dengar" katanya jumawa. "Jangan kau kaget, ya Aku si orang, tua Beng Tiong Ko, gelaranku ialah sam Ciat Koay Kit Nah, apa lagi yang hendak kau tanya?"
"Hai, hebat gelaran itu" kata Jie In, agaknya dia terkejut, "Apakah artinya sam Ciat itu?"
Kulit mata si pengemis terbalik.
"Apa? Apakah kau tidak dengar jelas?" tunyanya, "Baik, aku si orang tua suka menjelaskan kepada kau sam Ciat itu terdiri dari Sim Ciat dan ciu Ciat, dan yang satu lagi yaitu kepandaian yang tersohor, Ciat Houw Ciang, Begitulah maka disebut sam Ciat"
Pengemis ini, Beng Tiong Ko, dijuluki sam Ciat Koay Kit. itu artinya, dialah Koay Kit atau Pengemis Aneh, dan sam Ciat berarti tiga macam kepandaiannya, sim Ciat ialah kepandaian menyerang hati, dan ciu Ciat ialah kelihayan tangannya, Kepandaian yang paling ia andaikan.
Mendengar keterangan itu Jie In percaya pengemis ini benar-benar lihay, tetapi ia sendiri belum pernah mencoba anggota Kay Pang, sekarang ini ada ketikanya, Maka ia tertawa dan berkata: "Ciat Houw Ciang? Ah" ia menggeleng-gelengkan kepala, " Kepandaian
semacam itu belum pernah aku dengar, Nah, cobalah kau keluarkan" sam Ciat Koay Kit jadi mendongkol.
"Pelajar rudin, kau benar-benar mencari mampus" katanya sengit, "Kepandaian apa ini kau kira dapat dicoba-coba? Tapi baiklah, kalau aku tidak memperlihatkan kepadamu, nanti kau menyangka aku si orang tua cupat pandangannya" ia lantas saja berseru:
"Kau sambutlah" Lalu tangan kanannya, dengan lima jarinya terbuka bagaikan gaetan, meluncur menyambar iga kiri si pelajar rudin di depannya itu. Cepat tangannya itu, bagaikan kilat, bagaikan angin, tetapi toh tak ada suara menyambarnya. "Dia benar-benar lihay," kata Jie In dalam hati.
Memang lihay si pengemis.. serangannya itu, sebelum tiba pada sasarannya, lantas dirubah. Tangannya, yang seperti gaetan atau cakar harimau, bukannya mencengkeram terus melainkan dengan tiba-tiba dirobah gerakan-nya, terus dipakai menyambar lengan kiri sasarannya itu
"Ah, apakah benar-benar pelajar rudin ini tidak mengerti ilmu silat sama sekali?" Beng Tiong Ko heran dan menanyakan dirinya sendiri ia kena mencekal lengan yang lunak, hingga ia melengak, "Kenapa aku mesti menempur seorang yang mengikat ayam pun tidak kuat?" Baru ia berpikir demikian, mendadak tangannya yang mencekal lengan Jie in itu seperti tertotok keras, terus ia merasakan tangannya itu kaku.
Dalam kagetnya, segera ia menarik pulang tangannya, Tapi belum ia berhasil tangan kanan si pelajar sudah berbalik menyambar lengannya syukur ia gesit, ia dapat berkelit, kalau tidak, mungkln tangannya patah, dalam kagetnya, ia membalas menyerang pula dengan tangan kirinya, hingga keduanya lantas saling serang, selama itu, tidak pernah kaki mereka bergerak.
Jie In menguji si pengemis dengan ilmu silat Kim Kong san Ciang, atau Tangan Arhat. ia membuat Tiong Ko heran dan kaget, hingga pengemis ini berpikir: "Kepandaianku ini bukanlah yang teristimewa, tetapi di dalam Rimba Persilatan, cuma beberapa gelintir orang saja yang dapat menghindarinya, maka aneh pelajar rudin ini. Dia mempunyai Kim Kong san Ciang yang istimewa, inilah di luar dugaanku." Karena itu, tanpa merasa, ia melompat mundur dua tindak, terus ia menegur: "Siapakah kau sebenarnya?"
Jie In tertawa, ia bukannya menyahuti atau mengangguk. la ustru bertanya: "Kau mengaku kalah, bukan?"
Mendengar itu, terbanguniah rambut sam Ciat Koay Kit.
"Apa kau bilang?" teriaknya, "Kau bergurau Aku si orang tua, mana dapat aku kalah?" Kata-kata ini disusuli serangannya, terus hingga tiga kali saling susul, dengan tiga rupa tipu silatnya, semuanya dari jurus-jurus Ciat Houw Ciang itu.
Jie In tersenyum, Dua kali ia berkelit, lalu pada yang ketiga kalinya, ia memapaki, ia me-nyambuti, hingga tangan mereka bentrok. demikian kerasnya, hingga si pengemis terpental mundur tiga tindak, ia sendiri, la berdiri tetap di tempatnya.
Beng Tiong Ko kaget, hingga mukanya berubah pias Jie In tidak menghiraukan keheranan orang itu, dengan tenang ia mendongak, untuk memandang langit. Waktu itu sudah jam lima kira-kira, tetapi di musim dingin seperti itu, lambat munculnya Batara surya, Coba di musim panas, pastilah sang surya sudah mengintai semenjak tadi. ia berpikir.
"Hari sudah siang, matahari akan segera muncul, cukuplah sudah aku main-main." Maka ia lantas mengeluarkan hu-leng seraya berkata: "Beng Pay-tauw, janganlah kau bergusar karena main-main kita ini, coba kau lihat ini, kau tentu akan mengetahui aku siapa."
Tiong Ko terperanjat lantas dia mengawasi dengan tajam tangan orang yang diangsurkan kepadanya, Biarpun cuaca gelap. dia masih dapat melihat sejauh tiga tombak, Maka dia menjadi semakin heran, sekarang dia memperlihatkan sikap menghormat akan tetapi dia tidak segera berlutut atau menjura.
"Oh, kiranya tuan mempunyai Cie-tang sin Liong Leng dari Partai kami," katanya sabar. "Menurut aturan Partai, siapa memegang hu-leng ini, ia mewakili tianglo kami dan tianglo itu dapat bertindak seperti apa yang ia rasa baik, baik untuk memberi hidup mati pun untuk menghukum mati, kekuasaannya itu, aku si orang she Beng tidak berani menentangnya, Andaikata tuan tidak puas dengan sikapku barusan, aku si orang she Beng bersedia akan menerima hukumanku.
Cuma ada satu hal, yang aku belum jelas, Sin Liong Leng ini terdiri dari tujuh buah, Yang empat terbuat dari cie-tang, atau perunggu, dan dipegang oleh su-tianglo kami. Kalau sin Liong Leng ini dipergunakan, sekalipun Pay-cu sendiri, dia mesti mentaati, dia mesti tunduk.
Tiga yang lain terbuat dari besi, yang menyimpannya ialah Pay-cu. Biar urusan bagaimana besar, untuk itu biasanya segala titah disalurkan dengan hu-leng besi itu, sebegitu jauh yang aku ketahui, hu-leng perunggu belum pernah digunakan selama dua belas tahun ini, Demikianlah aturan partai kami, siapa memegang hu-leng ini, ia mewakilkan tianglo, tetapi sekali- kali belum pernah tianglo meminjamkannya kepada orang lain.
Pada lima tahun yang lalu, su-tianglo menutup mata karena sakit, hu-leng nya lantas dipegang oleh Kiu Cie Tianglo, Baru satu bulan yang lalu aku bertemu dengan Kiu cie Tianglo di siamsay selatan, Waktu itu tianglo memberitahukan aku bahwa sebuah hu-leng telah diserahkan kepada Cia Tayhiap serta aku diberitahukan Cia Tayhiap ialah su-tianglo, maka aku dipesan untuk menantikannya dipropinsi shoa say ini. Apakah tuan ialah Cia Tianglo itu? Kenapa roman dan usia tuan tak mirip seperti yang dilukiskan Kiu Cie Tianglo? Harap tuan memaafkan aku untuk pertanyaanku ini."
Mendengar itu, in Gak tersenyum, ia menyimpan hu-leng nya, ia terus meloloskan topeng nya, hingga tampaklah wajahnya yang asli.
Melihat demikian, dengan tergesa-gesa Beng Tiong Ko menekuk lututnya, ia berkata dengan cepat: "Kiranya su-tianglo tiba Tongcu Beng Tiong Ko dari cabang shoa say menerima salah"
Jie In lekas memimpin bangun pengemis itu, sembari tertawa ia berkata: "Beng Tong cu tidak bersalah Bahkan sebaliknya akulah yang hendak memohon bantuanmu, Entah tongcu dapat memberikan bantuanmu atau tidak."
Dengan roman yang sangat menghormat, Beng Tiong Ko menjura dalam- dalam.
" Harap tianglo tidak mengatakan demikian," katanya, "Perintahkan saja, sekalipun mesti menyerbu api berkobar-kobar, aku yang rendah tak akan menampik."
"Terima kasih." berkata Jie In, yang lantas menuturkan hal perkenalannya dengan Hu Wan dan Hu Ceng, anak-anak dari sahabat-nya yang telah meninggal dunia, bahwa baru saja ia menolong mereka itu merampas pulang pedang Thay oh Kiam mereka dari tangan Pat Cia Thian-cun. ia berkata bahwa ia masih perlu berdiam lagi sekian lama di shoasay ini, maka itu ia perlu orang untuk mengantarkan anak-anak itu pulang ke kota kecamatan Peng- Ciang.
"Maka aku minta sukalah kau yang mengantarkan mereka agar tiba di kampung halamannya itu dengan tidak kurang suatu apa," katanya akhirnya.
Tiong Ko kelihatannya kagum, "Jadi benarlah aku mendengar pedang itu berada di tangannya Pat Ciu Thian-cun Goh Hoa. Pedang itu pedang mustika, siapa pun ingin memilikinya, bahkan aku sendiri, bicara terus terang, hatiku telah tertarik, hanya aku tidak mencoba untuk merampasnya, Aku kuatir pedang itu nanti mengakibatkan bencana atau keruwetan untuk Partai kami, Baiklah, tianglo, akan kuantarkan anak-anak itu Itulah pekerjaan gampang, Hanya mengenai pedang nya, aku minta itu disimpan baik-baik, Andaikata hal pedang itu tersiar dalam kalangan Rimba Persilatan, tidaklah dapat diterka bagaimana kesudahannya nanti, sebab pasti ada orang Rimba persilatan yang ingin merampasnya."
"Aku mengerti itu," katanya, ia melihat langit mulai berwarna abu-abu, ia menambahkan: "Beng Tongcu, silahkan ikut aku" ia lantas berjalan menuju ke hotel. sam Ciat Koay Kit mengikuti
Tiba di dalam hotel, Hu Wan dan Hu Ceng masih menantikan- Mereka lantas diperkenalkan pada Beng Tiong Ko, setelah itu, mereka diberitahuakan diantar pengemis itu.
habis berkata itu Jie In mengawasi si pengemis, sembari tertawa ia berkata: "Beng Tongcu, tak dapat kita berlambat pula, maka aku mohon sukalah kau mencapaikan dirimu"
"Hamba akan menurut perintah," berkata Tiong Kosambil menjura. "Hu Kouwnio, Hu siauwhiap. silahkan turut padaku Hu Kouw-nio baiklah menutup mukamu dengan jala hitam dan pedangmu dibungkus rapi, ditaruh di dalam pelana, supaya tak ada kekuatiran hilang."
"Bagus begitu." kata Jie In mengangguk. "Untuk segala apa di tengah jalan, terserah kepada kau saja."
Berat Hu Wan dan Hu Ceng berpisah dari si anak muda, Mata si nona merah, hampir dia mengucurkan air mata nya, Begitu pun Hu Ceng.
Jie In terharu, tetapi ia berkata sambil tertawa "Sudahlah, tak usah kalian bersusah hati, Begitu selesai urusanku, aku nanti menyusul kalian, Mungkin diakhir bulan pertama aku sudah dapat tiba di Peng- Ciang. Waktu itu aku pasti akan memberi suatu kebaikan kepada kalian."
Itulah janji, mendengar itu, HHu wan dapat juga tersenyum, Hu Ceng sebaliknya ber-kata: "Ingat engko Gan, tak dapat kau memperdayai kami"
Jie In mengusap-usap muka bocah itu.
"Kapan aku pernah mendustai kau?" katanya tertawa, ia memandang ke luar jendela, terus ia, meniambahkan: " Langit bakal menjadi terang, lekas kalian berangkat" sam Ciat Koay Kit lantas jalan di muka.
Ia baru tiba di luar, mendadak ia memutar tubuhnya, untuk kembali, sembari menjura kepada Jie In, ia berkata: "Aku yang rendah akan mengutus delapan saudara yang berkepandaian tinggi untuk mengantarkan anak-anak ini, aku sendiri perlu kembali dulu, sebab ada suatu urusan untuk mana aku masih minta keputusan Tianglo, dapatkah..."
"Asal yang aku mampu, mana tak dapat?" menjawab Jie In tertawa, "sekarang pergilah kau antar dulu mereka, nanti baru kau kembali."
Beng Tiong Ko memberi hormat pula, lantas ia bertindak keluar.
"sampai bertemu lagi" kata Wan Jie dan Ceng Jie, yang mata nya merah.
Begitu orang berlalu Jie In merasa dirinya sepi sekali, maka ia lantas menjatuhkan tubuhnya, rebah di atas pembaringan, mata nya dirapatkan. selang setengah jam, Beng Tiong Ko telah kembali.
"Apakah mereka telah pergi?" tanya Jie-In tertawa seraya bangun dari pembaringan.
"Sudah," menjawab pengemis itu sambil menjura.
"Beng Tongcu," tanya Jie In pula, "tahukah kau kalau-kalau di luar kota Thaygoan ini, di dekat-dekat kita, ada tempat yang sunyi di mana aku dapat berdiam untuk sedikit waktu? Coba..." ia lantas minta si pengemis memasang telinganya dan ia lantas mengisiki.
Tiong Ke berpikir sebentar, lantas ia menyahuti: "Ada, Tianglo, itulah sebuah kuil, sebenarnya tempat itu tersohor, biasa didatangi orang banyak untuk pesiar, cuma di musim dingin seperti sekarang ini, tidak ada orang yang kesudian pergi kesana, maka sekarang keadaannya sepi luar biasa. Penjaga kuil hanya seorang imam yang menjadi sahabat karibku dari banyak tahun. Aku pikir tidak ada halangannya andaikata Tianglo pergi kesana."
" Kalau begitu, tolong tongcu memujikan aku kepada nya," kata Jie In manis. "Ya, tong-cu, tadi kau menyebutkan suatu hal, Hal apakah itu? sekarang ada ketikanya, coba kau beritahukan padaku."
Tiong Ko berpikir pula sebelum ia berbicara.
"Baiklah aku mengajak Tianglo pergi ke kuil itu dulu, baru aku bicara," katanya kemudian. Jie In mengangguk
"Begitupun baik," katanya, "Tolong tongcu menantikan di luar, sehabis aku membayar sewa kamar dan uang makan, nanti kita pergi bersama." Tiong Ko mengangguk lantas ia bertindak keluar.
***
DI TEPI sungai Chin sui yang letaknya dua belas li di sebelah barat kecamatan Thay-goan di mana ada gunung dan rimba, di sanalah berdiri kuil yang umum menyebutnya Chin su, kuil mana ada panggungnya, ada ranggon-nya, yang indah buatannya, itulah tempat yang sunyi dan nyaman, indah kebun dan taman-nya. Maka penduduk sekitarnya gemar sekali pergi pesiar kesana.
Ketika itu dipaseban air dari kuil itu terlihat seorang pelajar berusia pertengahan lagi duduk bersama seorang pengemis tua yang rambutnya kusut dan pakaiannya banyak tambalannya, Mereka berdua berbicara dengan asyik sekali.
Tak usah dijelaskan pula, merekalah Cia in Gak alias Gan Gak alias Jie In si anak muda serta Beng Tiong Ko si pengemis ketua cabang shoa say dari partai Pengemis, Mereka telah dapat tempat di Chin su dan mereka tengah berbicara tentang halnya si pengemis. Beginilah urusannya sam Ciat Koay Kit itu:
"Ada tiga bulan yang lalu, Beng Tiong Ko pergi kepegunungan Thay Gak san. Di sana ia masuk jauh ke dekat bukit Bian san di mana ada sebuah puncak yang ia anggap luar biasa, bukit itu di atas besar, di bawah lancip. mirip dengan gendul arak, Dilihat dari jauh, dipuncak itu terdapat banyak batu pada berdiri bagaikan rimba, sedang lamping jurang nya tak ada tetumbuhan rumput atau rotan, lamping itu gundul, ia heran hingga ingin ia melihatnya dari dekat.
Tidak bersangsi lagi, ia pergi mendaki, ia berlari-lari, Dua kali ia melompati jurang, ia sudah naik jauh juga ketika mendadak ada suara angin yang samar-samar membawa suara pembacaan d^anya si orang suci."
"Heran, kenapa disini ada kuil?" pikirnya. "Bukankah jalanan pun tidak ada?"
Ia memasang kuping, ia ingin mengetahui dari jurusan mana datangnya suara itu. hanya sejenak. la lantas lari menuju ke timur, Di sini ia pun mesti mendaki tinggi. Akhirnya, walaupun tajam mata nya, puluhan tombak jauhnya, di sebelah depan, ia tak melihat bangunan tembok atau payon. ia jadi makin heran. Makin keras keinginannya untuk mengetahui.
Tengah ia memasang telinga lebih jauh, kembali ia mendengar pembacaan doa tadi. Maka tak bersangsi pula, ia lari terus ke timur itu, kearah tempat datangnya suara, sesudah lari kira-kira lima puluh tombak. Tiong Ko mesti membelok di sebuah tikungan yang merupakan jurang .
Di sini ia berhadapan dengan sebuah gua batu yang gelap. Herannya, gua itu berada di lamping jurang, Mungkin gua itu dalam, Di mulut gua terlihat jalanan yang kecil. "Mungkin suara tadi datangnya dari dalam gua ini." pikirnya.
Ia memperhatikan jalan kecil itu. Nama-nya jalanan, sebenarnya di atas jala nan itu banyak batunya, jalanan menjadi tidak rata, Di kiri jalanan itu batu gunung belaka bagaikan tembok, tidak ada tempat pegangannya, dan disebelah kanan, ialah jurang yang dalamnya ribuan tombak. Jadi hanya burung yang dapat terbang ke situ, manusia dan binatang lainnya tak dapat.
Tiong Ko mengawasi dengan melengak. "Di sini tidak ada rumput dan pohon, burung pun tak dapat hidup di sini." pikir-nya, "kenapa bisa ada orang berdiam di dalam gua itu? Toh aku mendengar jelas orang membaca kitab. Mungkinkah telingaku salah mendengar?"
Ia berdiam sekian lama, lantas ia berkata pula sendirian: "Aneh gua ini Pasti ada orang di dalamnya Hanya, dari mana dia masuk-nya? Apakah tak boleh jadi ada jalanan lainnya?"
ia menjadi curiga. Tanpa merasa ia bertindak maju. Mata nya mencari-cari, ia tidak mendapatkan jalanan lain yang ia curigai itu. Maka ia kembali ke tempat tadi ia berdiri, Di sini Ia berdiam, otaknya bekerja.
Tiba-tiba terdengar pula pembacaan doa tadi, sebentar putus, sebentar terdengar pula, Teranglah itu suatu bagian dari kitab Kim Kong Keng, Diamond Sutra. sekarang terdapat kepastian, suara itu datangnya dari dalam gua.
"Pasti dia seorang pendeta yang berilmu," pikir Tiong Ko. Lantas ia bertanya dengan nyaring: "Di dalam itu suhu siapa?"
Selang sekian lama, dari dalam terdengar suara jawaban: "Lolap bernama Poo Tan. Kalau tan-wat pandai ilmu Leng Hie Khie-kang atau Cit Kim sin-hoat, dapat tan-wat datang ke mari memasuki gua ini, kalau tidak. janganlah tan-wat lancang mencoba menempuh bahaya, Lolap telah dicelakai oleh muridku yang jahat, sebagian tubuhku kaku, hingga tak dapat aku meninggalkan gua ini, dari itu maafkanlah lolap..." suara itu makin lama makin perlahan, lalu tak terdengar pula.
Tiong Ko heran, ia pernah mendengar nama pendeta Poo Tan itu. ia mengawasi gua, ia masgul sekali, ia terpisah dari mulut gua cuma tujuh atau delapan tombak, ia pandai ilmu meringankan tubuh, tetapi ia cuma dapat melompat sejauh lima atau enam tombak. Jadi masih jauh untuk dapat melompat ke gua itu, di situ pun tidak ada tempat untuk menginjakkan kaki.
" Heran Poo Tan dapat masuk ke sana," pikirnya bingung, "Dia dapat masuk ke sana, itu membuktikan betapa lihaynya dia, Lalu kenapa dia dapat dicelakai muridnya? siapakah muridnya itu?"
ia berhenti berpikir Mendadak ia- mendengar pula suara lemah dari Poo Tan.
"Tan-wat dapat datang ke mari, itu tandanya tan-wat berjodoh denganku," demikian kata suara itu. "Dapatkah tan-wat memberitahukan she dan namamu?"
Tanpa bersangsi, Tiong Ko menjawab: "Akulah si pengemis tua Beng Tiong Ko." Hanya sebentar, terdengar pula suara pendeta itu.
"Jadi tan-wat ialah Beng Tan-wat dari Kay Pang?" katanya. "Kalau tan-wat tidak merasa jemu, sukalah kau mendengar keterangan tentang diriku, supaya tan-wat tidak lagi menyangsikan sesuatu, Lolap berasal dari India Tengah, Pada enam puluh tahun yang lalu, lolap telah menerima tiga orang murid, namanya Kim Goat, Gin Goat dan Beng Goat, Merekalah yang dikenal sebagai Thian Gwa Sam Cun-Cia.
Mereka berhasil mendapatkan kepandaianku delapan sampai sembilan bagian- Lalu belakangan mereka tersesat, Untuk membersihkan rumah tanggaku, aku turun gunung, Di luar dugaanku, mereka maju pesat sekali, tidak dapat aku mengalahkan mereka, sebaliknya, aku terhajar pukulan Cek Sat Mo Ka. Lukaku parah.
Oleh karena aku tahu tidak dapat aku berdiam lebih lama di India, aku berangkat ke Tiong kok, Ketiga muridku itu pun menyusup dan mencari aku. Ketika aku tiba di gunung Thian San, di dalam gua Soat Gay Tong di atas puncak, kebetulan sekali aku mendapatkan sejilid kitab suci Sang Buddha, diantaranya ada pelajaran ilmu silat.
Aku girang sekali, Aku percaya, setelah dapat memahami itu, aku akan dapat menguasai ketiga muridku, Celaka, aku telah tersusul mereka, Mereka menyerang, Aku melawan sambil lari mundur. Kembali aku terhajar Kim Goat, dengan pukulan Cek Sat Mo Kanya, itulah tipu silatku yang paling lihay.
Siapa terhajar itu, kalau tenaga dalamnya tidak mahir, lama-lama tubuhnya dapat menjadi lumer. sebenarnya lolap mempelajari itu tanpa dikehendaki maka tidak disangka, sekarang lolap sendiri yang kena terhajar, Mungkin itulah karma, Akhirnya lolap menemui gua ini.
Dengan mengeluarkan seluruh kepandaianku aku berhasil masuk ke sini, Hampir aku terbinasa di dalam-jurang, Ketiga muridku menyandak, mereka hendak masuk, tetapi aku dapat memukul mundur mereka, hingga mereka pergi, Aku dapat masuk ke dalam gua, tetapi aku telah menggunakan tenaga berlebihan, sakitku memburuk sampai separuh tubuhku tak dapat digerakkan lagi, sia-sia belaka aku mencoba menolong diri
Dengan begitu, kitab ku itu juga tidak dapat aku gunakan. sebenarnya, dengan mengandalkan tenaga dalamku, dapat aku memahaminya. Di situ ada pelajaran memulihkan diri yang dinamakan Hoan pun Hoan Goan, sayang sebentar-sebentar aku diganggu ketiga muridku.
Mereka datang dua kali setiap tahun, setiap mereka datang aku mesti mengeluarkan tenaga besar untuk mengundurkannya, Pernah aku berpikir pendek untuk menghabiskan kehidupanku tetapi aku terhalang, Aku ingat, satu kali aku mati, tidak ada orang lagi yang dapat menguasai ketiga muridku itu. Maka aku terpaksa hidup sampai sekarang ini..."
Baru sekarang Tiong Ko ingat, Poo Tan ialah si hantu yang tersohor di India Tengah, Dialah dari kalangan lurus dan sesat, dari golongan sang Buddha dan iblis, pernah ia mendengar dari Kim Beng Tay, gurunya, Katanya Poo Tan sedikit sekali berbuat jahat, tetapi dia sangat besar kepala, suka menang sendiri, dia tak mau mengalah dalam urusan kecil sekalipun Maka di India Tengah, dia disebut si hantu nomor satu. Tidak dinyana, dia telah terusir murid- muridnya sampai di Tiongkok.
Biar bagaimana, pengemis ini toh merasa terharu, Dilain pihak la masgul untuk ketiga murid si hantu itu, Memang hebat kalau Kim Goat bertiga tidak ada orang yang dapat menguasainya, ia jadi membenci mereka itu, yang dianggap keterlaluan terhadap gurunya, Karena itu ia menjawab pendeta itu, katanya:
"Siansu, kau bercelaka, aku menyesal Barusan siansu mengatakan ketiga murid mu tidak ada orang yang bisa menguasainya, inilah aku sangsi."
Dari dalam gua terdengar tertawa dingin dari si pendeta.
"Tan-wat, apakah kau kira ucapan lolap tidak benar?" dia berkata. "Sekarang ini dalam Rimba persilatan di Tiong kok mungkin ada orang yang lihay, begitupun dalam kalangan kaum beragama, tetapi jumlah mereka pasti hanya beberapa orang dan mereka tentu tak menghiraukan urusan lolap ini. selama ini, kalau bukannya ketiga muridku masih jeri terhadap aku, mungkin mereka sudah mengacau hebat di negara tan-wat ini." Tiong Ko bertabiat keras, ia menjadi gusar,
"Siansu, meski Partai kami tidak terlalu lihay, tetapi tidak boleh kau memandang enteng kepada Rimba persilatan seluruh negara-ku" katanya keras. Tapi Poo Tan tertawa.
"Beng Tan-wat, jangan kau anggap kata-kata ku tak beralasan," ia berkata, "sekarang ini usiaku sudah seratus tujuh tahun, meski benar dari sanubariku belum lenyap napsu tamak dan kejumawaanku, tidak dapat aku berdusta terhadap kau. Pendek kata, tan-wat boleh menganggap lolap banyak bicara, tetapi, apakah tan-wat berani bertaruh?" Mendengar begitu, Tiong Ko tertawa sendirinya.
"Kau di dalam gua, aku di luarnya, bagaimana kita dapat bertaruh?" pikirnya ia menganggap si pendeta benar-benar sangat jumawa, Tapi ia pun penasaran, Maka sembari tertawa, ia bertanya: "Siansu, aku mohon tanya, cara bagaimana pertaruhan itu?" setelah lewat beberapa menit, baru terdengar suara nya pendeta itu.
"Sebenarnya lolap menyesal atas perkataanku barusan," katanya, "Tetapi kau menanyakan penjelasan, tan-wat, hatiku menjadi tertarik pula, Baiklah, mari kita bertaruh, Ketiga muridku yang celaka itu biasa datang dua kali dalam satu tahun, Aku menduga, kalau mereka datang pula, pasti kira-kira diakhir tahun ini.
Sekarang begini. sebelum lewat akhir tahun, baiklah tan-wat datang pula ke mari, Bersama tan-wat, tan-wat mesti mengajak seorang kawan yang rasa nya dapat melawan murid-muridku itu, cukup dia berdiam di atas jurang untuk melindungi aku.
Setelah setengah tahun, lolap pasti akan dapat keluar dari gua ini. Apabila itu terjadi, maka lolap akan menghadiahkan kitab yang lolap dapatkan di gunung Thian san itu, sedang untuk Kay Pang nanti lolap memberikan bantuanku hingga nama kalian bakal menjadi gilang gemilang, Atau tan-wat berangkat ke India Tengah di mana sukalah tan-wat mencari adik seperguruanku dengan siapa sudah banyak tahun lolap berpisah, Maukah, tan-wat?"
Tiong Ko bersangsi.
"Inilah bukan pertaruhan..." pikirnya .
"Jelas aku hendak dijadikan- umpan pancing..."
Belum pengemis ini menjawab, dari dalam gua sudah terdengar pula suara si pendeta, Dia tertawa dingin dan berkata: "Tadi lolap mengatakan di dalam Rimba Persilatan di Tiong kok tidak ada orang yang lihay, itulah kata-kata yang lolap keluarkan saking, terpaksa. sudahlah, tan-wat, tak usah kau bersangsi, baiklah mari kita batalkan pertaruhan kita ini. selama lima tahun, kecuali murid- murid- ku yang jahat itu, tidak pernah ada orang lain datang ke mari, sekarang tan-wat datangi lega juga hatiku."
Mendengar itu, Beng Tiong Ko tertawa, "Siansu," ia berkata, "aku tahu siansu memancing aku, tetapi baiklah, aku terima pertaruhan ini. Nah, ijinkanlah aku berlalu"
Semenjak itu, dua bulan sudah Beng Tiong Ko merantau, untuk mencari orang yang lihay, belum pernah ia dapat menemui Memang itulah suatu pekerjaan sulit, ia sangsi mencari diantara kalangan sesat.
Siapa tahu bila yang dicari itu jadi bersatu dengan si murid- murid murtad dan jahat? Daripihak lurus, ia sangsi ada orang yang suka turun tangan, Kemudian di Siamsay selatan ia bertemu dengan Kiu cie sin Kay Chong sie. ia memberitahukan tentang pertemuannya dengan si pendeta cacad serta pertaruhannya itu.

12. Jilid 6.2. Pertaruhan dengan pendeta cacad

Bacaan » PEMBALASAN SEORANG JAGOAN » Jilid 6.2. Pertaruhan dengan pendeta cacad
Anggota masrizki
Waktu 3 Agustus
Bab Sebelum 11. Jilid 6.1. Thay oh Kiam milik keluarga Hu
Bab Sesudah 13. Jilid 7.1. Tiga murid durhaka Poo-tan siansu




Pembalasan Seorang Jagoan
Karya : Wu Lin Qiao Zhi
Terjemah : OKT
Jilid 6.2. Pertaruhan dengan pendeta cacad

"Kenapa kau menerima baik pertaruhan itu?" Chong sie menyesali "Kau tahu, Thian Gwa sam Cun-Cia lihay tak terkirakan Akupun tidak berani mengganggu mereka itu, Bukankah kau kata Poo Tan mendustai kau? Meski begitu, kau harus berusaha terus untuk memenuhi pertaruhan itu."

Disesali begitu, Tiong Ko berdiam.
"Sekarang lekas kau kembali ke shoasay," kata Chong sie kemudian, "Di sana kau menantikan adik angkatku, Cia In Gak. Coba kau minta bantuannya, mungkin dia suka membantu. sekarang aku mempunyai urusan lain, kalau tidak. suka aku menemani kau pergi bernama mencari adik angkatku itu." Chong sie lantas melukiskan roman dan usia Cia In Gak.

Beng Tiong Ko menurut, lekas- lekas ia pulang ke Thaygoan, satu bulan kira-kira ia menanti, akhir tahun mendatangi. Beberapa hari lagi, tahun baru akan tiba, selama itu, tak tampak Cia In Gak. ia menjadi putus asa, hingga ia berpikir ia mesti pergi ke India Tengah.
Untuk pergi ke India, ia berkuatir, Ada kemungkinan ia menjual jiwa nya disana, ia mendengar halnya jago-jago India tak menyukai jago-jago Tiong kok, Maka akhirnya kebetulan sekali ia ketemu In Gak dengan cara yang tidak disangka-sangka itu.

In Gak berpikir ketika ia sudah mendengar keterangan si pengemis.
"India itu tersohor sebagai negara tua yang luar biasa dan katanya penduduknya luar biasa juga sepak terjangnya" demikian pikirnya, "maka kata-kata Poo Tan mengenai ketiga muridnya itu mungkin bukan kata-kata mengangkat-angkat belaka, Tapi, biarpun begitu, karena Toako Chong sie telah menyebut-nyebut aku, baiklah, aku akan pergi kesana, untuk melihat apa yang aku bisa perbuat, Menurut Tiong Ko ini, Poo Tan ada menyebat-nyebut halnya sebuah kitab yang didapatkan di gunung Thian san, Mungkinkah itu kitab peninggalan su-couw Bu Wie siangjin? Kalau benar, itu artinya aku mendapatkan pulang mustika perguruanku. Karena itu, lebih-lebih aku mesti pergi kesana,"

Maka ia tertawa dan berkata pada si pengemis: "Beng Tongcu, besok aku akan pergi kesana, Cuma gunung Thay Gak san demikian luas, bagaimana aku harus mencarinya?"
Selagi orang berdiam, Tiong Kopun berpikir ia kuatir In Gak bersangsi untuk pergi, Hal itu membuatnya masgul, Maka mendengar suara si anak muda, ia girang bukan main,
"Terima kasih, tayhiap" ia berseru, "Tentang tempat itu, tak usah tayhiap kuatir. Ketika aku berlalu dari sana, aku telah memperhatikan jalan yang aku ambil, bahkan aku telah membuat petanya, Tayhiap harus masuk dari dusun Oey-chung di kecamatan Leng-sek, langsung memasuki gunung itu, lantas ikuti petaku ini, tidak nanti salah, sekarang ijinkanlah aku berangkat, aku hendak menyusul kedua anak she Hu itu, nanti pulangnya baru aku menjenguk tayhiap pula untuk memberi selamat pada tayhiap"

In Gak mengangguk sambil tersenyum, Tiong Ko menjura, lantas ia berlalu.
Hari itu tanggal dua puluh empat, seorang diri In Gak duduk di dalam ranggon air dari mana melalui jendela, ia memandang ke penumpang di mana ada ditanami pohon teratai cuma pohon itu sudah pada kering.
Ia menjublek. ia ingat halnya waktu ia turun dari gunung dan tiba di Lam- Ciang. semenjak itu, tepat satu tahun lamanya, selama itu, ia hidup dalam perantauan, sendirian saja. Benar ia telah mendapat sejumlah kawan, tetapi dengan mereka itu ia senantiasa berpisahan, maka ia berpikir, sampai kapan akhir perantauannya ini, ia bangkit berdiri, ia melempengkan pinggang nya, lantas ia keluar dari Chin Su. ia memandang ke sekeliling nya, ia tidak melihat seorang manusia pun. Lantas ia me-langkah, dengan cepat, menuju ke kota Thay-goan.

Hari itu hawa udara buruk, lebih buruk daripada beberapa hari yang lalu, Tidak ada cuaca yang cerah, Awan-awan bergumpal dan rendah, Angin sebaliknya meniup keras, menyampok-nyampok muka, tajam rasanya. syukur tidak ada salju, kalau tidak. entah buruknya udara itu.

In Gak menuju ke kota bagian selatan, Di sini barulah ia melangkah perlahan, orang berdesak-desakan, ia berjalan tanpa tujuan, ia menoleh ke timur dan berpaling ke barat, ia mendapatkan banyak rumah yang mengatur hio-toh, meja sembahyang.
Lalu tiba-tiba ia mendengar suara kelenengan nyaring, orang banyak pada lari minggir, ia mengangkat kepalanya, untuk melihat ada apakah?
"Ah " ia mengasih dengar suaranya perlahan.

Itulah seorang penunggang kuda yang lagi mendatangi, dan dialah si Nona Lan dengan siapa sudah lama ia tidak pernah bertemu.
Nie Wan Lan mengenakan baju dan celana singsat dari sutera, pinggangnya dilihat dengan ikat pinggang sutera putih yang pinggirnya bergigi balang, Di luar ia memakai mantel merah yang menyolok mata, Kuda nya pun seekor kuda pilihan, yang putih mulus dari kepala sampai ekornya, ia memainkan cambuknya berulang-ulang, nyaring suaranya.

Kudanya itu kabur ke luar kota selatan, ia tidak melihat In Gak tengah mengawasinya, Taruh kata ia melihat, tidak nanti ia mengenali si anak muda yang memakai topeng. Jie In agak heran, ia mengawasi si nona, hatinya bekerja.
"Dia datang ke shoasay ini, mau apakah dia?" ia berpikir. Lantas ia teringat akan kebandelan dan keberandalannya nona itu. Kemudian ia pun berjalan terus.

Di sebelah depan ada sebuah rumah makan dengan merek Liu Hiang Kie, benderanya yang hitam berkibar-kibar, ingin Jie in mampir di rumah makan itu, maka ia berjalan menghampiri.
Selagi ia mau bertindak naik di tangga lauwteng, di atas itu ia melihat muka seorang wanita, terus seluruh tubuhnya, yang tertutup pakaian hitam mengkilap. Nona itu bertindak turun dengan cepat, sebelah tangannya menenteng sepatu kecil yang bengkok. Jie In menarik pulang kaki kanannya yang sudah diangkat itu, ia minggir.

Si nona berbaju hitam turun terus, ketika tiba di depan Jie In, ia melihat muka orang, ia melengak. lalu mendadak ia tertawa.
Cepat bagaikan angin, ia turun terus, hanya sembari lewat ia berkata dengan perlahan: "Memakai kulit itu, orang melihatnya muak"
Jie In melengak. Segera ia ingat kejadian di hotel di Heng-koan, di malaman hujan angin, ketika mutiaranya ada yang merampas,
"Pastilah dia siperampas itu". pikirnya, Maka tanpa berpikir lagi, ia lari untuk memburu. Apa lacur, ia bertubrukan dengan seseorang, hingga orang itu jatuh terjengkang dan numprah di tanah

"Aduh" dia menjerit "Aduh" Dan dia memegangi dadanya.
Jie In melihat pelayan rumah makan, lekas- lekas ia membangunkannya, justru itu, orang yang hendak dikejar sudah lenyap.
Pelayan itu melihat ada tamu, dia menghampiri untuk melayani, maka apes baginya muncul si nona Jie In mau mengejarnya, jadilah ia korban tubrukan, ia tidak gusar, ia melayani terus Jie In pun terpaksa naik ke lauwteng, untuk minum dan dahar Tentu saja lenyap kegembiraannya.

Jie In terus berjalan-jalan di kota Thay goan itu. ia memasuki jalan-jalan besar dan gang- gang kecil, Selama itu, banyak yang ia dengar. Di sana-sini orang bicara tentang berbagai pencurian dan pembunuhan gelap. juga ada pemberitahuan di tembok. pemberitahuan dari pihak si penjahat.
Yang hebat ialah kejahatan di rumah Lie sie- long, yang hartawan tetapi busuk kelakuannya, Kejahatan itu membikin repot dan bingung kepada Sun Ho si kepala sersi.

Jie In tidak ada niat untuk mencampuri urusan itu, Maka dilain saat, ia sudah dalam perjalanan ke Oey-chung, dusun yang disebutkan Beng Tiong Ko, ia tiba setelah lewat tengah hari, Terus ia menuju kepegunungan Thay Gak san, Mengandalkan peta si pengemis, ia maju terus, ia tidak menghiraukan jalan yang sukar.
Selagi mendaki, pemuda ini, atau lebih benar si pelajar berusia pertengahan, berhadapan dengan angin Utara serta awan bergumpalan, di udara bunga-bunga salju beterbangan-

Ketika ia mendekati sebuah jurang, di sebelah depan terlihat berkelebatnya beberapa tubuh manusia, Mereka itu pasti lihay ilmu meringankan tubuhnya, ia menjadi heran.
"Siapakah mereka itu? Mau apa mereka di tempat sepi ini? Ah, apakah mereka pun mengetahui halnya pendeta Poo Tan?" demikian ia tanya dirinya berulang-ulang, Tapi ia maju terus, Dengan mengambil jalan samping, dapat ia mendahului mereka itu, lalu dari jarak tujuh tombak, ia mengawasi mereka, yang terdiri dari tujuh orang.

Untuk herannya, ia mengenali U-bun Li, ketua dari Oey Kie Pay partai Bendera Kuning, Sambil bersembunyi ia mengawasi terus, lalu ia menguntit.

U-bun Lui berjalan paling belakang, berendeng bersama seorang tua. Mereka berdua ini seperti mencium bau sesuatu, atau kecurigaannya sangat besar, selagi berjalan itu, mendadak mereka menoleh terus melompat ke kedua samping, Gesit sekali gerakan mereka, dan lompatannya pun jauh.

Akan tetapi mereka tidak melihat apa-apa kecuali batu yang berdiri tinggi bagaikan rebung, Roman mereka jengah sendirinya, setelah mengawasi dan menyeringai, tanpa mengucapkan apa-apa, mereka berjalan terus, menyusul kawan-kawan mereka, jelas mereka masgul dan heran.

Jie In terus bersembunyi, tetapi ia tidak diam saja. Kembali ia mendahulul mereka itu, ia tetap heran atas kedatangan mereka, ingin ia mengetahui, mereka itu mau mencari apa atau hendak melakukan apa.
Selama satu jam Jie In heran untuk apa yang ia lihat, Di sepanjang jalan itu, ia telah menemui dua rombongan lain, Mereka itu berpisahan tetapi pun mirip dari satu rombongan Mau apa mereka? Benarkah untuk Poo Tan siansu?

Tapi menurut Tiong Ko, ya, menurut Poo Tan sendiri, selama lima tahun, belum pernah ada orang lain datang kesitu kecuali murid- murid nya si pendeta.
"Ah, mungkin mereka bermaksud lain-.." akhirnya ia berpikir." Karena itu, ia melepaskannya, tak mau ia memperhatikannya pula, ia maju terus seorang diri mencari jurang atau gua tempat kediamannya si orang pertapaan dari India Tengah.

Lagi tiga puncak, maka Jie In akan sampai di tempatnya Poo Tan itu. Ketika ia hendak melompat turun ke lembah, mendadak ia melihat seseorang melompat di sebelah kirinya terpisahnya kira-kira empat puluh tombak. menyusul mana, ia mendengar bentrokan senjata. ia menjadi heran, maka ia melompat ke sana untuk melongok. Di tempat terbuka, yang penuh salju, dua orang lagi bertarung,
-00000000-

Bersembunyi di belakang sebuah batu besar Jie in mengawasi. ia cuma terpisah enam tombak dari mereka itu, tetapi mereka asyik mengadu jiwa, mereka tidak tahu adanya orang yang ketiga.
Tidak lama Jie In menonton, ia telah melihat perbedaan diantara kedua orang itu, ma-sing-masing seorang tua dan seorang muda, si orang tua berusia kira-kira lima puluh tahun, kumis nya kuning, matanya tajam.

Dia memegang pedang, yang bedadari pedang yang kebanyakan, si anak muda berumur dua puluh empat atau dua puluh lima tahun, bermuka putih dan tampan, cuma romannya bersedih, ia memegang pedang dengan tangan kiri, tangan kanannya dikasih turun, pedangnya itu sebentar dapat digerakkan dengan bertenaga, sebentar tidak.
Pasti itulah akibat totokan si orang tua diwaktu mereka mulai bentrok tadi, Karena itu Jie In jadi berkesan baik terhadap anak muda itu.

Berselang belasan jurus, muka dan telinga si anak muda menjadi merah, napasnya pun tidak teratur. itulah disebabkan hati yang panas, penuh dengan kemurkaan. Dilain pihak. si orang tua dengan sebentar-sebentar tertawa dingin, menyerang makin keras, Alis si anak muda lantas berkerut, giginyapun dirapatkan, akan tetapi perlawanannya tak berkurang, bahkan satu kali ia dapat memaksa si orang tua mundur sampai delapan tindak ia telah mendesak dengan jurus "Tawon gula bergeroyoksan"
Hanya celaka untuknya, habis mendesak dengan sia-sia, ia lantas muntah darah si orang tua tidak mau berhenti, selagi tubuh orang terhuyung, ia balas merangsak.

Sampai di situ Jie In tidak dapat menonton lebih lama pula, sambil berseru, ia melompat keluar dari tempat persembunyiannya, ia melompat ke arah si orang tua.
Orang tua itu terkejut, ia lantas menoleh ketika mendapatkan ada orang melompat kepadanya ia menyambut dengan pedangnya. ia belum tahu orang itu siapa, tetapi ia mau membela dirinya, sembari menyerang, ia lompat ke kiri.

Jie In tidak berniat membela salah satu pihak, ia tidak kenal mereka dan belum tahu duduk persoalannya, ia hanya hendak menolong si anak muda, maka ia tidak melayani si orang tua, ia terus melompat lagi kepada si anak muda, tanpa membilang apa-apa, ia menotok dengan dua jari, sampai tiga kali, dipinggang anak muda itu, habis mana ia melompat pula, balik ketempatnya tadi.

Hebat totokan itu. Begitu tertotok, si anak muda lantas merasakan dirinya bebas, hingga kesegarannya pulih. Dengan begitu pedang di tangan kirinya lantas ia pindahkan ke tangan kanannya.
si orang tua menjadi heran dan kaget, hingga ia mengawasi si pelajar rudin berusia pertengahan itu, ia melihat tegas caranya orang menotok bebas totokannya itu, Tentu saja, ia sangat membenci si pelajar itu.
setelah pulih tenaga nya, anak muda itu maju pula, untuk menyerang si orang tua.

Orang tua itu gugup, ia menangkis, senjata mereka bentrok keras sekali. Kaget si orang tua, rasanya pedangnya, tertempel, sukar untuk ditarik pulang. Dengan begitu segera dadanya yang kiri, jalan darah leng-tiong, terancam untuk tertikam. Asal pedang diluncurkan, celakalah dia.

Sekarang Jie in melihat, kalau dibandingkan dengan Tong hong Giok Kun dan Kiang Yauw Cong, mungkin pemuda ini lebih lihay, iapun melihat orang bersilat dengan ilmu silat Kun Lun Pay.

Segera terdengar bentakan si anak muda: „Cay-hun-kiam, Ouw Pin Bu, kau tidak tahu malu! Kenapa kau main membokong? Sungguh kau membikin malu gurumu, Hoa Hee Soe Ok! Apa, sekarang kau mau bilang?"
Orang tua itu, yaitu Ouw Pin Bu seperti katanya si anak muda, habis daya.
„Kat Siauwhiap, aku bukannya kalah dari kau," ia kata. „Aku pun telah terbokong olehmu. Apa aku bisa bilang? Jikalau kau berani, mari kita bertempur pula! Jikalau aku kalah, disini juga aku akan bunuh diri! Kau setuju ?" .

Anak muda she Kat itu tertawa lebar.
„Baik !” ia menerima tantangan. „Kau pasti tak lolos dari tanganku!" Ia lantas menarik pedangnya sambil berlompat mundur setombak lebih.
Mendadak si orang tua tertawa mengejek.
„Bocah yang baik, kau terpedaya!" dia berseru. Dia lantas memutar tubuh seraya mendak, terus kedua kakinya menjejak tanah, untuk berlompat dengan gerakannya ,.Cecapung menotol air tiga kali," maka setelah tiga kali lompatan beruntun, sejenak saja ia sudah memisahkan diri belasan tombak,

„Setan!" si anak muda berseru menyesal, sebab ia dijual. Ia tercengang sebentar, lantas ia mau berlompat, untuk mengejar. Belum lagi ia menjejak tanah, atau ia melihat si orang tua tak berlari terus — dia berhenti dengan tiba-tiba.

Itulah benar. Di depan orang tua itu, Ouw Pin Bu terlihat berdiri menghalanginya si pelajar rudin usia pertengahan. Dia kaget. Dia merandek tetapi dia mau menyingkir terus, dengan berlompat ke samping. Tapi, belum tubuhnya bergerak, terdengarlah suara plak-plok , mukanya dua kali telah kena tergampar, hingga ia berdiam dengan kepala pusing dan mata kegelapan, pipinya dirasai sakit dan panas.

„Pantas Kat Siauw hiap mengatakan kau tidak malu! kata si pelajar tertawa dingin, “Memang kau sangat tidak tahu malu! Apakah kau tidak mau lekas kembali untuk menempur Kat Siauwhiap itu? Jangan takut, aku tidak membantu dia!”
Habis berkata, Jie ln mengawasi tajam.

Pin Bu menghela napas, tanpa membilang apa-apa ia balik kepada si anak muda. la jalan baru mendekati satu tombak kira-kira, segera terjadi suatu perubahan. Disana datang beberapa rombongan orang yang tadi diketemukan Jie In, diantara mereka itu lantas terdengar satu suara nyaring: “Lihat, bukankah itu saudara Ouw'.'
Dan belum berhenti suara itu, satu orang sudah lompat kedepan Pin Bu. Dialah orang bertubuh, besar yang berewokan lebat.

Melihat orang itu, Pin Bu girang tak kepalang.
„Saudara In!" dia berseru. „Itulah Kat Thian Houw si bocah dari Kun Lun Pay yang telah membacok dengan pedang kepada keponakanmu ! Aku justeru hendak membekuk dia tetapi aku dihalangi oleh itu pelajar rudin!"
Dia lantas bergantian menuding kepada si anak muda dan si pelajar usia pertengahan.

Orangs itu segera Iompat ke-depan si anak muda, yang disebut bernama Kat Thian Houw.
“Bocah she Kat!" katanya sengit, “Pada tahun yang lalu keponakanku In Hoa, terbinasa, hebat di ujung pedangmu, kau tentunya masih ingat! Telah ke mana-mana aku pergi mencari kau, maka syukur kepada Thian, hari ini kau diketemukan juga olehku! Hahaa!”

Kata-kata itu ditutup dengan serangan lima jari tangan ke-arah kepala.
Melihat serangan itu, si anak muda menangkis dengan pedangnya, setelah mana, ia lompat ke belakang si penyerang, yang dengan cepat sudah mengulangi serangannya. Ia menggeser kekiri sambil menyerang seraya ia berkata nyaring : „In Tay Hong, masih ada muka kau menyebutkan peristiwa itu! Toh kau ketahui keponakan celaka dari kau itu, si bangsat tukang petik bunga, yang merusak, achlak yang dibenci oleh malaikat dan manuisia! Tidaklah keterlaluan dia terbinasa diujung pedangku!"

Orang bertubuh besar itu, yang dibilang bernama In Tay Hong, terkejut karena serangannya gagal berbareng dengan mana ia mendengar samberan angin. Ia lantas berkelit dengan memutar tubuhnya, sembari berkelit ia menyerang pula. Ia bersilat dengan ilmusilat Khong Tong Pay yang bernama „Hian Im Kwie Hoan" atau „Iblis Neraka" yang terdiri dari tiga jurus. Lagi-lagi ia, mengerjakan jari jari tangannya.

Pedang Kat Thian Houw kena tersampok, ia terperanjat.
Tidak saja pedangnya itu mental, juga dingin tersalurkan ke-lengannya, hingga lengan itu menjadi kaku dan ngilu, tanpa merasa, ia mundur dua tindak. Dalam hatinya ia memuji serangan musuh itu, yaitu jurus „Hian tan Kwie Jiauw" atau ,,Cengkeraman iblis."

Sementara itu, Jie In lantas ketahui si anak muda yang ia tolong! itu ialah Siauw-Pek-Liong
Kat Thian Houw si „Naga Putih Kecil" dari Kun Lun Pay, seorang pemuda yang mulai mengangkat nama. Diam-diam ia pun bersenyum mendapatkan ada orang-orang dari beberapa rombongan itu yang mengawasi padanya. Didalam hatinya ia kata : „Kawanan tikus, kamu berani main gila kepada Kat Thian Houw! Baiklah, aku nanti membikin kamu pada berdiam disini! "

Muka Thian Houw menjadi merah karena ia kena terpukul mundur itu. Ia tidak takut, bahkan ia menjadi penasaran. Lantas ia maju pula, untuk menyerang dengan pelbagai tipusilat dari ilmu pedang Kun Lun Pay, yaitu „Sin Yan Kiam-Hoat," ilmu pedang „Walet Sakti." Ia merangsak.

In Tay Hong itu menjadi adik seperguruan yang nomor tiga dari ketua Khong Tong Pay, ilmusilatnya itu, Hian Im Kwie Jiauw, telah ia yakinkan dengan sempurna, karena itu ia dimalui orang-orang Kang Ouw, yang memberi ia julukan Kwie Mo Ciu, si Tangan Iblis. Ketika ia melihat rangsakan si anak muda, ia tertawa dingin. Ia kata dengan jumawa: „Bocah, lain orang jeri terhadap Sin Yan Kiam-Hoat kamu, aku tidak! Baiklah kau rasai cengkeraman iblisku ini!"

Penyerangan In Tay Hong benar-benar liehay, kedua belah tangannya menyamber berulang-ulang, cepat dan berbahaya. Penyerangan itu dapat membuat penglihatan kabur, sedang itu waktu, bunga salju tetap beterbangan turun.
Kat Thian Houw terperanjat juga. Ia merasa bagaimana ia kena terdesak. Ia melihat gelagat orang lebih sering menyerang dengan tangan kanan, sebab tangan kirinya diperuntukan menjaga pedang. Dengan begitu, walaupun ia bersenjata, ia seperti kena terkekang. Coba ilmu pedangnya tidak mahir, sulit ia mempertahankan dirinya. Untuk, melayani terus, ia terpaksa menggunai tipusilat „Kioe Tay Kioe Beng" ialah „Sembilan kali menolong jiwa." Maka dengan tipusilat ini ia kembali dapat mendesak, hingga lawannya mesti mundur.

Tengah pertarungan, itu berjalan seru, tiba-tiba dari rombongannya In Tay Hong terdengar satu seruan nyaring: „Tahan!" Seruan itu disusul dengan lompat majunya satu orang yang bertubuh besar.
Kat Thian Houw melihat caranya orang berlompat itu, tanpa ayal lagi ia meninggalkan lawannya sambil ia berlompat mundur jauhnya satu tombak, begitu ia menaruh kaki, ia memandang tajam.
Jie In mendengar dan melihat. Ia lantas mengenali siapa orang itu, ialah Pat pie Kim kong U-bun Lui, ketua dari Oey Kie Pay. Ia pati segera mendengar U-bun Lui berkata kepada Thian Hauw: „Kat Siauw-hiap, benar-benar kau liehay, Aku U-bun Lui, aku kagum sekali. Sebenarnya, siauwhiap, di tempat ini dan disaat begini, tak tepat untuk kamu bertarung, dari itu aku minta sukalah kau memandang aku, sudilah kau menunda sebentar!"

Ia tidak menanti jawaban dari si anak muda, segera ia berpaling kepada Tay Hong untuk terus berkata: „Saudara In, kita mempunyai urusan penting, urusan apa juga baiklah kita tunda sampai lain hari! Nah, mari kita pergi!"
Ia menoleh pula pada si anak muda, sembari merangkap kedua tangannya memberi hormat, ia kata: „Kat Siauwhiap, sampai kita bertemu pula!"
Terus ia menyamber tangannya Tay Hong, untuk ditarik, hingga bersama- samalah mereka meninggalkan gelanggang pertempuran.

In Tay Hong berlalu sambil menoleh dulu kepada si anak muda, sinar matanya menunjuki ia gusar dan penasaran.
Cuma sebentar, lantas semua orang itu. menghilang ditikungan bukit. Berikut mereka, Liok-Hoen-Kiam Ouw Pin Bu menghilang juga.

Kat Thian Houw terbengong mengawasi orang mengangkat kaki, sampai sekian lama, baru ia mendusin. Dengan lantas ia memutar tubuhnya, guna mencari si pelajar yang menolong membebasi ia dari totokan. Lantas ia berdiri tercengang.
Tak ada orang didekatnya itu, suasana sangat sunyi, sedang tadi riuh suara bentrokan senjata dan suaranya U-bun Lui. Ia mencari dengan matanya kesekelilingnya, ia melainkan melihat salju putih bertaburan. Ia lantas menghela napas, suatu tanda ia sangat masgul. Tidak lama ia berdiri diam, lantas ia menuju kearah yang diambil rombongan U-bun Lui itu .........

Jie In sebenarnya tidak turut menghilang, ia cuma bersembunyi dibelakang batu besar tempat mengumpatnya tadi. Ia tidak ma menemui siapa juga, sedang tadi ia turun tangan saking terpaksa. Ia mempunyai urusan-nya sendiri yang penting dan tak ingin ia menggagalkan itu. Setelah berlalunya si anak muda, baru ia muncul, tangannya. membuat main salju yang menempel di-tangan bajunya.

Ketika itu cuaca makin guram, angin gunung bertambah santer. Tebalnya salju sudah se-tengah dim. Putih dimana-mana, kecuaii warna guram dari awan; sukar membedakan mana langit dan mana bumi .........
Hanya sebentar ia berdiam, Jie In pun mengangkat kakinya, ia cuma tidak mengikuti jalan yang diambil Thian Houw dan rombongannya U-bun Lui itu. Ia pergi kebelakang bukit, ia berlari-lari, baru melewati seratus tombak lebih, tibalah ia di-suatu tempat dimana….sejarak dua tombak — ada sebuah lengpay atau lencana yang luar biasa macamnya, yaitu mirip dengan tangan, warnanya hitam, terletak di atas salju yang putih mulus, tegas sekali lencana itu tampaknya.

Bukan main tertariknya perhatian Jie In. Ia lantas menghampirkan. Ia tidak mengulur tangannya untuk menjemput, sebaliknya ia mencontek dengan ujung sepatunya hingga lencana itu loncat meletik, setelah mana barulah ia menyamber dengan tangan kanannya. Untuk herannya, ia masih merasakan hawa hangat yang mana menyatakan, Iencana itu baru saja terpisah dari tubuh, orang yang membawa atau memilikinya. Tentu sekali itulah bukan benda kepunyaan rombongannya U-bun Lui, lantaran tujuan mereka bertentangan.
Habis, milik siapakah itu?

Selagi mengawasi, Jie In membawa lencana kedekat mukanya. Lantas hidungnya menang-kan bau yang harum.
..Ah. inilah kepunyaan wanita!" katanya dalam hati. Bahkan mungkin, lencana itu disimpan-nya didalam tubuh wanita itu. Ia mendapatkan kenyataan, bagian tengah Lencana itu berukiran lima kepala hantu yang matanya mendelik dan giginya bercaling, yang romannya sangat bengis, bercampur dengan ukiran sejumlah telapakan yang mirip telapakan tangan manusia. Ia heran. Lencana itu ia lantas simpan dalam sakunya.

Selama itu Jie In tidak melihat kesekitarnya, baru selagi memasuki lencana itu kedalam sakunya, ia mengangkat kepalanya, atau tiba-tiba ia melihat tubuh seorang berlompat pesat kearahnya. la tidak takut, ia hanya heran dan terkejut. Karena orang itu sudah lantas menyambut tanganya, untuk merampas lencana itu.

Hebat orang itu, samberannya itu telah berhasil, dia dapat memegangnya.
Jie In berdiri diam, mengawasi orang itu, yang membuat-nya heran sekali. Sebab dialah si nona dengan pakaian serba hitam, yang bersamplokan dengannya ditangga lauwteng rumah makan di kota Thaygoan!

Mereka saling mengawasi, tangan mereka seperti bersatu. Si nona masih memegangi lencana. itu dan tak melepaskannya, sedang Jie In masih menggenggam bagian yang lainnya.
Nona itu agaknya bergelisah, mukanya menjadi merah. Dengan mementang lebar kedua matanya, ia kata, nadanya aleman: „Kau ini orang macam apa? Benda yang lain orang da-patkan dengan susah-pajah, kau hendak menelannya! Sungguh tidak tahu malu! Hayo bilang, kau hendak mengembalikan kepada nonamu atau tidak?"

Jie In heran bukan main, ia melengak mengawasi. Tapi justeru karena itu, ia dapat melihat si nona tegas sekali. Ia mendapat kenyataan, nona ini terlebih cantik daripada Tio Lian Cu, ramping potongan badannya sangat menggiurkan airmukanya. Ia bukan si mata keranjang, ia toh tergiur. Memang sudah sifatnya manusia gemar akan kecantikan. Ia mengawasi terus, pikirannya bertentangan. Lencana itu milik si nona, sudah selayaknya ia membayar pulang. Tapi tak ingin ia memuianginya. Kalau ia membayar pulang, si nona bakai lenyap sekejab! Inilah tak ia kehendaki.
Achir-achirnya ia tertawa dan berkata: „Aneh, nona! Barang ini aku dapatkan dari atas salju, mengapa nona membilang inilah barangmu? Kenapa kau pun menuduh aku menelannya? Tak dapat tuduhan itu.."
Ditegur demikian, nona itu mendadak tertawa, la menarik tangannya, melepaskan lencana yang hendak direbutnya barusan — lencana yang sekarang menjadi barang perebutan. Ia bersenyum. Hanya sejenak, romannya berubah pula. Tiba-tiba ia menjadi gusar.
„Kau mau membayar pulang atau tidak?" dia tanya, suaranya perlahan, tetapi nadanya kaku. „Jikalau kau tidak bayar pulang, nanti nonamu berlaku telengas!"
Kata-kata itu disusul dengan tangan kanannya menghunus pedang!

Jie In agaknya bingung, berulang-ulang ia menggoyang tangan.
„Sabar, nona, sabar!" ia berkata. „Ada bicara! Mari kita omong baik-baik. Nona bilang lencana ini milik nona, yang hilang, inilah aku percaya, hanya mengenai ini ada sesuatu yang harus dibicarakan terlebih dahulu "
Heran nona itu. Mendadak dia bersenyum pula. Hanya agaknya dia masih mendelu.
„Apa?" tanya dia. „Lekas bicara! Nonamu masih mempunyai urusan penting!"

Jie In scbaliknya berayal-ayalan.
“Nona,'' katanya, bersenjum, “Dapatkah nona memberitahukan nama nona yang terhormat"
Nona itu tertawa. „Cuma itukah?'' dia tanya.
„Nonamu she.. “ Tiba-tiba ia berdiam. „Hm!" ia melanjuti „Nonamu tidak, mau mengikat persanakan dengari kau, buat apa kau tanya namaku?" Tetapi mukanya menjadi bersemu dadu, rupanya ia merasa kata-katanya itu tidak tepat .........

Jie In bersenjum, ia menatap nona itu.
„Eh, kau berani tertawai nonamu?"' tanya si nona. „Nanti urusanmu membikin kau tidak berani mentertawainya!”
Ia mengayun pedangnya, tetapi ia tidak menyerang, dengan cepat ia menarik pulang. Dengan mata mendelik, ia awasi si anak muda ...

Jie In tetap mengawasi. Nona ini aleman sekali, dia tidak memuakkan, dia sebaliknya me-narik hati, menggiurkan. Tanpa merasa, hatinya berdenyutan. Sambil mengawasi, ia mengangkat tangannya yang memegang lencana, agaknya ia hendak mengulurkan itu.

Dengan sebat sekali, si nona pun mengangkat tangannya, untuk menyambuti, untuk meram-pas. Tapi sekarang dia gagal. Hanya kacek dua detik, Jie In telah menarik pulang tangannya, untuk dibawa kebelakang, disembunyikan.
Dalam kewaspadaan, pemuda ini tak kalah sebat.

Nona itu menggerak! tangannya dengan bernapsu. tubuhnya terjerunuk karenanya, hingga mukanya maju kedepan, hampir mukanya itu menabrak muka pria didepannya!
Jie In minggir, maka ia bebas dari tabrakan.
„Galak!" katanya.
Nona itu malu, mukanya merah sampai ditelinganya. Ia menjadi gusar.
„Setan mampus, sebenarnya kau mau apa?" ia membentak.
“Aku tidak mau apa-apa ..." sahut Jie In tertawa. “Biarnya nyaliku sebesar langit, tidak nanti aku berani berlaku kurang ajar terhadap nona. Aku cuma minta supaya nona memberitahukan namamu yang harum…Lencana ini, segera aku akan membayar pulang!"

Senang si nona mendengar kata-kata manis itu. Ia bersenyum.
„Nonamu Kouw Yan Bun," achirnya ia memberitahukan. Ia lantas mengulur tangannya. Ia kata: „Mari!"
„Oh, kiranya Nona Kouw!" kata Jie Jn, tertawa. „Nama yang bagus sekali! Lencana ini ….Ia sudah mengulur tangan kanannya, atau ia menariknya kembali.

Nona Kouw mengawasi tajam.
„Kau sebenarnya mengandung maksud, apa?" dia tanya. „Apakah benar kata-katamu tidak dapat dipercaya?"
„Bukan begitu, nona," jawab Jie In, tertawa. „Aku masih hendak minta sesuatu. Ialah aku minta nona suka membayar pulang mutiaraku, untuk kita saling tukar”

In Gak menyangka pasti si nonalah yang merampas mutiaranya itu.
„Kau aneh!" kata nona itu, matanya mencilak. “Kau hilang mutiaramu, apa sangkutannya dengan nonamu? Toh nukannya aku yang menemuinya dengan kau yang mempergoki? Kenapa kau main tuduh?”

“Ya, benar juga…" kata Jie In dalam hati. “Malam itu aku tidak melihat tegas si perampas, aku menyangka dia sebab di waktu bertemu di tangga restoran dia menyebut-nyebut kedokku. Itulah bukan sesuatu yang pasti..”
Ia lantas menjadi jengah, ia berdiri bengong.

Si Nona memandang, ia tertawa. Lucu roman orang. Agaknya ia puas.
„Eh, topengmu ini, kapannya kau dapat menyingkirkannya?"
dia tanya. „Sungguh sangat tak sedap untuk memandangmu seperti sekarang ini”
Jie In memperlihatkan roman heran.
„Nona!" ia kata. „Nona, aku memakai kedok ini, siapa pun tidak mengetahui, maka cara bagaimana nona bisa mendapat tahu? Apakah nona mempunyai mata hoei-gan?"

Nona Kouw tertawa geli.
„Malam itu…” katanya.
Baru orang berkata begitu, Jie In sudah menangkap tangan kirinya.
„Jadi malam itu nonalah ..." katanya cepat. „Dengan begitu maka aku tidak membuat kau penasaran.."
Yan Bun menyeringai, mukanya merah, ia telah salah omong.
..Habis bagaimana?" ia tanya. Kembali keluar alemannya. “Benar bagaimana? Tidak bagaimana? Kau harus ketahui, orang bermaksud baik! Tidak demikian, apakah kau dapat menyusul?"
la berontak, ingin ia melepaskan tangannya. Tapi cekalan Jie In mantap, ia gagal. Maka ia lantas mendelik. „Kau.. kau mau melepaskan atau tidak?" tanyanya.

Jie In tertawa, dengan perlahan ia melepaskan pegangannya. Ia melihat kesekitarnya.
„Nona Kouw," ia berkata, „di-lembah sana ada sebuah guha, disana dapat kita berlindung dari angin dan salju, mari kita pergi kesana. Disana dapat kita bicara terlebih jauh."
Ia mengajak, tetapi tanpa menanti penyahutan, ia jalan mendahului.
Nona Kouw mengawasi punggung orang, ia tertawa, lantas ia bertindak mengikuti.

Gua yang disebutkan itu tidak besar tetapi cukup lebar untuk dua orang duduk bersila dengan tubuh mereka menempel, hingga rambut di samping telinga mereka pun beradu satu
dengan yang lain- saling menggosok.
Hati si pemuda berdebaran, ia merasakan hawa mulut dan tubuh si nona harum sekali, ia mengawasi dengan berdiam saja, tak tahu ia harus mengatakan apa.

Yan Bun juga mengawasi orang yang mendelong terhadapnya, ia berdiam, tapi ia merasakan hatinya bermadu, Tanpa merasa ia tersenyum, memperlihatkan sujennya yang manis, Akhirnya ia meninju orang sambil berkata sengit: "He, sungguh si dungu orang disuruh datang tetapi orang tidak ditanya"

Jie In mendusin seperti orang baru sadar dari mimpinya, ia jengah sendirinya, Tapi ia tertawa.
"Aku lagi berpikir tetapi aku tidak tahu harus mengatakan apa, ia menyahut "Kenapa nona mengetahui aku ada bersama-sama Khu Lin dan Lie Siauw Leng? Dan kenapa nona mengetahui mereka itu telah dibekuk pihak Ceng Hong Pay? Aku minta nona suka memberi penjelasan
Padaku?”

Yan Bun tidak lantas menjawab, ia menatap dengan matanya yang jeli. Tiba-tiba ia tertawa geli.
"Tidaklah sukar untuk kau minta nomamu menuturkan- katanya kemudian- " Lebih dulu aku minta kau meloloskan topengmu mukamu yang mirip papan mati sungguh membuat orang muak..."
Jie In tertawa, lantas ia menurunkan topengnya, hingga terlihatlah wajahnya yang cakap ganteng, alisnya "alis pedang", matanya "mata bintang bercahaya", ia mempunyai hidung yang bangir dengan dua baris gigi putih dan rata.
Yan Bun mengawasi dengan tercengang. Dibandingkan dengan waktu ia melihat malam itu,
pemuda inijauh lebih tampan.
"Bagaimana, nona, kau melihat rupaku ini?" ia bertanya, "Apakah aku menarik juga?"

Nona itu melirik.
" Kaulah orang yang tidak tahu malu." katanya, "Apakah yang menarik? Kau jelek seperti siluman Eh, ya, aku masih belum menanyakan shemu yang mulia dan namamu yang besar Kau pun harus menyebutkannya"
"Aku?" Jie In tertawa, " Untuk sementara ini, aku dipanggil Jie In."
"Ah, kau gila" berkata si nona. "Mana adashedan nama untuk sementara waktu? Kau sebenarnya lagi membawakan peranan apa?" Jie Injengah.
"Sebenarnya aku mempunyai kesulitan," katanya perlahan, "Nona sabar saja, di belakang hari nona bakal mengetahui sendiri, Baiklah nona menuturkan dulu tentang hal ikhwalmu..."

Yan Bun menatap dengan matanya yang jeli itu.
"Sekarang ini berapa usiamu?" ia bertanya, ia tidak lantas menjawab.
In Gak tertawa, ia mengulapkan dua jari tangannya.
"Duapuluh tahun, bukan?" si nona menegaskan, tertawa, "Kau lebih tua satu tahun daripada nonamu. Kalau begitu aku harus memanggil engko In padamu."
Si pemuda tertawa.
"Dengan memanggil aku engko In, aku tanggung kau tidak bakal rugi" katanya. Yan Bun melototkan matanya, tapi aksi-nya sangat menggiurkan

"Engko In," katanya kemudian, "dalam dunia Kang-Ouw ada seorang yang disebut Cit Kouw, tahukah kau?"
Orang yang ditanya menggeleng kepala, tandanya tidak tahu.
"Dialah Jim Cit Kouw yang kesohor teleng as sekali," si nona menambahkan "Dalam ilmu silat, dia telah mewariskan kepandaiannya Kwie Mo Tojin si imam hantu iblis.."
"Ooh " Jie In berseru tertahan "Bukankah Kwi Mo Tojin itu orang yang limapuluh tahun yang lalu sudah mengacau ruang Lo Han Tong dari siauw Lim sie di siong san dan dengan sebelah tangannya menghajar mati tiga lohan?"

Nona Kouw mengangguk.
"lbuku ialah murid termuda dari Jim cit Kouw itu," ia berkata lebih jauh. "Sejak masih kecil, ibuku yatim piatu, ia lantas diambilJim Cit Kouw sebagai muridnya, Baru kemudian ibuku mendapat tahu Jim Cit Kouw itu buruk dan kejam, semua perbuatannya bertentangan dengan pri- kebenaran- Malang ibuku, ia dipaksa untuk menikah dengan Jim Liong, anaknya Jim Cit Kouw mempunyai lima anak laki-laki, merekalah yang di dunia Kang-Ouw dijuluki Liong bun Ngo Koay"

"Oh” Jie In bersuara pula, sekarang nadanya lain- ia ingat itu hari di Yo Kee Cip. Ay Hong sok telah dikepung oleh Liong bun Ngo Keay, Lima siluman dari Liong bun-
“Jangan kau memotong" tertawa si nona sambil meninju, ia membikin mulutnya monyong, tandanya dia murka.
"Kau bicaralah" kata Jie In cepat. "Aku tidak nanti memotong lagi"

Nona Kouw melanjutkan- "ibuku suci murni, mana dapat dia menikah dengan Jim Liong?
Tapi ia menjadi murid, ia hidup menumpang, mana dapat ia menampik? Maka itu sembari tunduk ibuku mengatakan bahwa usianya masih teria lu muda, ia kata baiklah ditunggu lagi beberapa tahun untuk merundingkan soaljodoh itu. Lalu dua tahun lewat.Jim Liong itu, setiap hari dia membujuk ibunya untuk lekas menikah kan padanya, Kasihan, ibu, ia cuma dapat menangis diam-diam saking berduka, Kemudian datang saatnya cit Kouw tidak tahan sabar lagi, dia menetapkan hari pernikahan dengan paksa. Tidak ada jalan lain, dengan sangat terpaksa ibu minggat. Selang dua hari ibu bertemu dengan ayahku dan bersama-sama mereka tinggal sambil menyembunyikan diri, Ditahun kedua aku dilahirkan."

Jim Liong tidak puas, dia mencari ibuku, Ketika aku berumur lima tahun, berhasillah Jim cit Kouw bersama Liong bun Ngo Koay mencari kami. Ayahku tidak sanggup melawan mereka, ia kena dibinasakan ibuku kena ditangkap dan dibawa pergi, syukurlah aku dapat ditolong guruku..."
Menutur sampai di situ, si nona lantas menangis terisak-isak. Kesedihannya telah di-bangkitkan peristiwa hebat dan menyedihkan ayah dan ibunya itu.
"Pantas orang bilang dunia Kang-Ouw itu buruk, " Jie In berpikir, "Agaknya dia ini harus dikasihani tak kurang daripada aku..."

Ia berduka, ia terharu untuk kemalangan nona ini, yang piatu seperti ia sendiri. "Sudahlah, jangan bersedih," ia membujuk "Biariah lewat apa yang sudah lewat..." Si nona dapat dibujuk, Bahkan ia dapat tertawa.
"Semenjak aku ditolongi guruku, setiap hari aku ingat ibuku," ia melanjutkan ceritanya, "aku tidak tahu ibuku masih hidup atau sudah meninggal dunia."
Jie In tertawa, ia menganggap nona ini lucu. si nona mendelik.
"Aku tahu kau mentertawai aku," katanya, "Awas"

Pemuda itu tertawa sebab diwaktu menyebut ibunya, Yan Bun menggunakan kata-kata "lo-jin-kee", si "orang tua yang dihormati", sedang ketika itu, usia sang ibu belum lewat dari tigapuluh tahun, Hanya, lantaran si nyonya telah menjadi ibu, pantas kalau ia disebut "si orang tua"
Kembali si nona berduka, matanya menjadi merah.
"Barupada tahun yang lalu aku mendengar dari guruku tentang ibuku itu," ia mulai lagi penuturannya, " Katanya, meski ibu telah ditangkap dan dibawa pergi, dia tetap menolak dinikahkan denganJim Liong jim Cit Kouw menjadi gusar, dia memenjarakan ibu di mana ibu disiksa, hingga ibu jadi sangat menderita.." Lagi- Lagi ia menangis, air matanya membasahi mukanya.

Tanpa merasa In Gak mengeluarkan sapu tangannya, untuk menepas dan menyusun muka orang yang putih halus.
Rupanya senang si nona dengan perlakuan itu, ia mengangkat kepalanya dan tersenyum. Dalam kedukaannya itn, ia tampak manis-manis ayu, ia lembut sekali.
Entah disengaja, entah wajar saking terharunya, In Gak merangkul si nona erat-erat, Yan Bun merah mukanya, tetapi ia tidak meronta, bahkan ia menyenderkan kepalanya.
"Setelah mendengar kabar guruku itu, aku lantas hendak pergi menolong ibu," selang sesaat ia melanjutkan pula, " Guruku mencegah, ia membujuk aku untuk bersabar ia kata
ketika ituJim Cit Kouw telah maju pesat ilmu silatnya, dia menjadi jago wanita dalam dunia Kang Ouw, Guruku mengakui yang ia sendiri tidak sanggup melawan jago betina itu, Guru kata sia-sialah aku mengantarkan jiwaku. Aku tidak berdaya, Baru pada bulan sembilan yang baru lewat ini, guruku membicarakan soal ibuku, ia bilang, untuk menolong i, aku membutuhkan lencananya Kwie Mo Tojin, itulah lencana istimewa, katanya, namanya Ngo Kwie Tiat-ciu-leng, lencana lima setan serta tangan-tangan besi, Lencana itu cuma dua buah, yang satu dimilikiJim Cit Kouw, yang lain ada ditangannya Kouw-louw-pian Lou Kui si Cambuk Tengkorak, Katanya waktu dulu Lou Kui pernah menolong Kwie Mo Tojin, maka Kwie Mo membalas budi dengan lencananya itu.
Dengan mempunyai itu, kalau perlu, Lou Kui dapat memerintahkan semua muridnya Kwie Mo Tojin, Lou Kui itu hidup menyendiri dari dia tak terdengar warta beritanya, Mungkin, walaupun dia diketahui berada di mana, tak nanti dia sudi meminjamkan lencananya itu.
Habis mendengar keterangan guruku itu, aku mengambil keputusan untuk mencari si cambuk Tengkorak. Aku hendak mendapatkan lencananya, secara meminjam ataupun secara mencuri."

Ia berhenti sebentar, ia tetap menyenderkan kepalanya didadasi pemuda, kakinya pun dilonjorkan, hingga ia jadi terpangku pemuda itu, ia mendongak mengawasi In Gak. la tersenyum.
"Aku melakukan perjalanan ke kota raja," ia menutur lebih jauh, "Secara kebetulan aku mendengar kabar bahwa Lou Kui tinggal menyendiri di luar kota Thaygoan, Maka aku keluar dari kotaraja, terus aku menuju ke kota yang disebutkan itu, Di tengah jalan aku bertemu
dengan Khu Lin dan Lie siauw Leng, bahkan aku mendapat dengar mereka katanya mempunyai ho-siu-Ouw serta serenceng mutiara mustika. Aku mendengarnya dari pembicaraan dua kurcaci yang bermalam dalam sebuah rumah penginapan kecil, Aku lantas menguntit. Tapi itulah bukan urusanku, dan aku pun malas untuk menanam bibit permusuhan dengan segala kurcaci, Di samping itu? aku merasa ilmu silatku masih terlalu rendah, Begitulah di Yo Kee Cip. aku tidur saja dalam kamarku, Tapi aku melihat ketika kau menolongi kedua orang itu, Ketika orang-orang, Hek Liong Pay datang, aku sudah mengangkat kaki, Di Heng-koan, kita menumpang dalam hotel yang sama.
Tidak disangka sama sekali itulah hotelnya Gui Gan, Aku memergoki ketika orang menculik Khu Lin dan siauw Leng, Aku ingin tahu, aku menguntit mereka sampai mereka masuk ke dalam rumah yang besar itu Aku berpikir keras untuk menolong mereka, tetapi aku sendirian, aku bersangsi, Apa yang dapat aku perbuat? Lantas aku kembali ke hotel, justru aku melihat kau keluar.
Waktu kau kembali ke kamarmu, aku lantas menguntit, Aku mengintai di jendela, Aku mengawasi gerak-gerikmu, hingga aku melihat kau menurunkan topengmu. setelah berpikir, aku lantas merampas mutiaramu, seperti sudah kau ketahui, aku lantas lari, untuk membawa kau ke rumah besar itu, Hm Kau bukan mengucapkan terima kasih padaku, sebaliknya kau minta pulang mutiara itu Tak tahu malu."
Kembali si nona menunjukkan kenakalanny a, sifatnya yang aleman.

"Aku toh tidak membilang aku tidak mau menghaturkan terima kasih padamu" kata Jie In. "Mana berani aku memotong lagi? Nah, bagaimana kesudahannya?"
Nona itu menyingkap rambutnya "Lantas aku pulang ke hotel dan tidur," katanya tertawa, " Ketika esok pagi nya aku mendusin, kalian bertiga sudah berangkat pergi, Di rumah penginapan, ramai orang berbicara tentang Gui Gan terbinasakan, Aku tidak menggubris urusan itu, aku pun segera berangkai sesampainya aku di Thaygoan, malamnya aku pergi ke rumah Lou Kui, Beruntun tiga malam aku bekerja, baru aku berhasil mendapatkan lencananya. Dia benar-benar lihay, meski aku lari cepat sekali, aku masih kena terhajar dia,, hingga sekarang ini, bekas hajarannya masih terasa sedikit sakit......"

Jie In terkejut
"Kau terlukakan di bagian mana dari tubuhmu, adikBun?" ia bertanya, cepat, "Mari kasih aku lihat Aku tahu Kwie Mo Tojin lihay sekali, kalau dia menotok tepat, lama-lama lukanya itu membahayakan si korban, mungkin jiwa pun tak ketolongan-"
Si nona mendengar dengan puas dan likat. Enak mendengar tiba-tiba dipanggil "adik Bun-. Dilain pihak, ia malu untuk menunjukkan lukanya itu. "Aku tidak apa-apa," sahutnya jengah.
In Gak menduga orang terluka di bagian yang tak sembarangan dapat dilihat, ia menjadi masgul.
"Bagaimana itu dapat tak diobati." katanya. ia menggosok-gosok tangannya,

Nona Kouw merasa terharu sendirinya, ia juga senang sekali, Memang mengharukan mendapat tahu ada orang yang bersimpati dan berkasihan terhadap diri kita, apalagi di tempat si nona, pria macam In Gaklah yang mulia hatinya, ia mengangkat kepalanya.
"Engko In," ia bertanya, mendadak. "kau mencintai aku atau tidak?"
In Gak melengak. itulah pertanyaan yang tidak pernah ia sangka, ia menghela napas.
"Adik, aku sangat mencintaimu," sahutnya perlahan. "Hanya sayang, aku sudah mempunyai dua orang tunangan, Aku menyesal untuk cintamu."

Luar biasa nona itu. Bukan ia terkejut atau gusar atau masgul, sebaliknya, ia tertawa geli.
"Kau aneh engko In" katanya nyaring, "Aku tanya kau, kau cinta aku atau tidak siapa tanya kau sudah bertunangan atau belum?"
In Gak kembali melengak. hingga dia mengawasi nona itu, Coba dia dapat melihat hati orang, sebenarnya si nona bergelisah, cuma nona itu berpandangan jauh, dengan cepat ia dapat menguasai dirinya, ia telah berpikir: "Dia telah mempunyai dua orang kekasih. Kenapa dia tidak boleh mendapatkan yang ketiga dan yang keempat?"

In Gak berdiam, tetapi mulutnya mendumal: "Cia In Gak. Cia In Gak sakit hatimu. belum terbalas, kenapa kau main asmara begini rupa? Lalu bagaimana nanti?"
Yan Bun heran, ia menatap. "Siapa Cia In Gak?" ia bertanya, "siapa Cia In Gak?"
In Gak melengak sejenak, lantas dia tertawa bergelak. la menunjuk hidungnya, "Cia In Gak ialah aku" sahutnya, si nona bangkit berdiri dengan berjingkrak, jadi kaulah yang di Kim-hoa telah membinasakan cit sat Ciu?" ia bertanya.

Jie In mengangguk. la tersenyum, Nona itu membuka lebar matanya, ia mengawasi tajam.
"Mustahilkah kau ialah si pelajar aneh yang di Kho-yu telah menggempur pengaruhnya partai Oey Kie Pay?" ia bertanya pula.
In Gak tertawa.
"Banyak hal yang kau ketahui" katanya. Yan Bun menggeleng-gelengkan kepala.
"Akan tetapi di luaran orang bilang si pelajar aneh itu berwajah seram dan menakutkan?" katanya, " Ingat, seorang terhormat tidak boleh bicara dusta".. Pemuda itu tersenyum, ia mengangkat tangannya.
"AdikBun," katanya kemudian, "coba kau lihat, sekarang aku mirip tidak dengan si pelajar aneh yang kau dengar itu?"

Yan Bun memandang tajam, segera tangannya melayang, menyambar topengnya si pe muda.
"Hai, siapa suruh kau memakai benda memuakkan ini?" tegurnya, "Ya, kau toh tetap kau Tidak ada orang mema isukan dirimu sungguh menyebalkan , engko In-" ia bertanya, menambahkan, "apakah maksudmu dengan memakai topeng ini?"
Jie In berdiam. ia teringat akan nasibnya, Tapi ia tidak berkeberatan menuturkan segalanya kepada nona ini, maka ia menceritakannya dengan singkat tetapijelas.
Nona Kouw mendengarkan dengan diam saja, agaknya ia sangat tertarik. tetapi akhirnya ia tertawa.
"Engko In, sungguh hebat" katanya, "sudah ada kepastian dengan Nona Tio dan Nona Ciu, lalu ada lagi Nona Kang, lalu ada pula Nona Wan-.." Jie In tahu ia digoda, maka ia menyahuti: "Dan sekarang ada lagi Nona Kouw......"
"Hai, kau lihatlah kaca muka" berseru sinona, "siapa kesudian kau Tapi, ia lantas tertawa.

Kembali tanpa merasa In Gak merangkul nona itu, ia mencium rambut orang yang hitam lebat, si nona sangat manis dan menyenangkan walaupun dia berandalan. "Eh," tanyanya kemudian "Sebenarnya apa maksudmu datang ke gunung yang sepi ini?"
Nona itu memonyongkan pula mulutnya.
"Bukankah maksudmu sama dengan maksudku?" ia balik bertanya, "Kita sama-sama ingin mendapatkan kitab suci itu Kalau aku beruntung memilikinya dan dapat mempelajari itu, pasti aku tak usah takuti lagi Jim Cit Kouw."

Jie In mengawasi, dia tertawa, " Kalau aku mendengar suaramu Jim Cit Kouw itu lihay luar biasa" katanya.
"Hm" si nona mengasih dengar suaranya, Kembali muncul tabiatnya yang aneh, "siapa tidak mengetahui dia sangat lihay? Kalau kau tidak puas, kenapa kau tidak mau pergi mencoba dia?" Jie In tertawa lebar.
"AdikBun, tak usahlah kau memancing bangun kemarahanku" katanya, "Aku nanti membantu kau menolong i ibumu itu" si nona girang bukan kepalang. "Benarkah?" ia menegaskan. "Kau sungguh baik" Jie In tertawa perlahan-
"Maka bilanglah, adikBun- dengan cara bagaimana kau akan menghaturkan terima kasih padaku?" ia bertanya.

Si nona berdiam, tetapi la menatap dan tubuhnya dirapatkan- Tak ada kata-kata yang lebih berarti daripada sinar matanya itu.
Lama keduanya berdiam, akhirnya si nona menolak tubuh si pemuda, untuk berdiri.
"Sekarang sudah waktunya kita pergi," ia berkata, lembut. Janganlah kita membiarkan orang lain mendapatkan kitab suci yang berharga itu" In Gak merangkul erat, ia tidak mau lantas melepaskannya.

Jangan kesusu” katanya, tertawa, "Menurut dugaanku, Poo Tan Siansu serta Thian Gwa sam Cun-Cia itu pasti ada mengandung suatu maksud, Tadi aku melihat beberapa rombongan orang, diantaranya ada U-bun Lui dari Oey Kie Pay. Mana dapat Poo Tan Siansu dikelabui mereka? Kalau kita pergi siang-siang, mungkin kita kena terjebak. Ingat, selagi si cengcorang mau menawan tong geret, di belakangnya ada si burung gereja Maka marilah kita menjadi si tukang memasang jala"
Yan Bun mengawasi, ia tertawa.
"Hm, siapa tak tahu maksudmu?" kata-nya. Lalu tiba-tiba dia mengerutkan alisnya. In Gak terkejut.
"Apakah lukamu kumat?" dia bertanya.
Nona itu tidak menyahuti, ia cuma mengangguk Lantas saja mukanya menjadipucat dan peluh keluar deras.
"Bagaimana?" In Gak bertanya pula. Dia bingung, Hanya sejenak, dia lantas dapat menenteramkan hatinya, Dia merogoh ke saku-nya, mengeluarkan dua butir obat Tiang cun Tan.
"Kau makan ini," katanya.

Yan Bun mengunyah obat itu dan menelannya, Tidak lama kemudian, mukanya sudah menjadi bersemu dadu pula. Tiang CunTan ialah obat mujarab buatanBeng Liang Taysu yang untuk itu sudah menggunakan waktu lima tahun untuk mengumpulkan tigapuluh tiga macam bahan obatnya, yang dicarinya di berbagai gunung.
Obat itu dapat menolong segala luka dalam waktu tujuh hari untuk yang lukanya parah.
"AdikBun, kau duduklah bersila," kata Jie In kemudian, "Nanti aku bantu kau menyalurkan darah mu."

Yan Bun memandang wajah orang, lantas ia berduduk, maka In Gak lantas bekerja, untuk menyalurkan tenaga dalamnya. Kedua tangannya ditekankan di punggung si nona, sambil menutup kedua matanya, ia mengerahkan semangatnya.
Mulanya si nona merasakan tangan orang hangat, lalu menjadi panas, ia merasa sakit, ngilu dan kaku tubuhnya, Untuk melawan itu, ia mengertak gigi. ia bertahan untuk tidak menjerit atau mengeluh.

Tidak sia-sia ia menderita sekian lama itu, akhirnya lenyap semua rasa sakit dan ngilu, sirna hawa panas, sekarang ia merasakan tubuhnya sangat nyaman, hingga ia tidak merasa tangan si pemuda tidak menempel lagi dengan punggungnya Ketika ia berpaling ke blakang, ia terperanjat.
Jie In duduk bersila, matanya terpejam rapat, mukanya pucat, jelas karena menolong si nona, dia sudah mengorbankan tenaga dalamnya. inilah Yan Bun mengerti, maka ia jadi sangat bersyukur, ia terharu, ia tidak mau mengganggu, ia duduk diam saja, menemani.

Jie In bersemedhi terus hingga parasnya menjadi bersemu dadu seperti biasa. Tidak lama kemudian, si pemuda membuka kedua matanya. ia tersenyum.
"AdikBun, coba kaupergi ke luar gua," ia berkata, "Disana kau bersilat, dengan pedang dan tangan kosong, bagaimana kau rasa, beda dari biasanya atau tidak." Yan Bun menurut, ia pergi keluar, si anak muda mengikuti.
Ketika itu sudah magrib, cuaca suram cuma sang angin masih terus murka, tiupannya membuat rambut si nona berkibaran juga saiju masih terus turun, tebalnya di tanah sudah tiga dim.

Dengan tidak menghiraukan angin dan saiju, Nona Kouw mulai bersilat, ia menjalankan jurus-jurus Thay It Kie-bun Ciang ajaran gurunya, Lantas ia merasakan suatu perbedaan sekarang ia dapat menggerakkan kaki dan tangannya dengan leluasa.
Tadinya masih ada bagian-bagian yang janggal, Tenaganya pun seperti bertambah, Maka ia menjadi semakin gesit dan lincah.
"Bagus" Jie In memuji, sedang tangannya terasa gatal. Maka ia tertawa dan menambahkan "AdikBun, ilmu Thay It Kie-bun Ciang mu ini benar-benar hebat Apa yang kurang ialah tenagamu belum cukup, Baiklah kita berdua mencoba-coba. sudah tentu kau harus keluarkan semua tenaga dan kepandaianmujangan kau segan-segan- Aku tidak akan melakukan serangan membalas, aku akan melawan dengan main berkelit, Andaikata kau dapat menghajar aku satu kali saja, hitunglah aku yang kalah Maukah kau?"

Yan Bun berhenti bersilat, mendengar perkataan itu, ia tertawa.
"Kau meniup terlalu keras" ia berkata, "Adikmu benar-benar tidak percayai Apakah kau
berani menganggap aku masih hijau?" Jie In tersenyum.
" omong saja tak ada buktinya," ia berkata, "Mari kita mencoba dulu, baru kau akan mengetahuiny a . "
Timbullah kepala besar si nona, ia tertawa dingin, lalu dengan mendadak ia menyerang ia menggunakan kedua tangannya dan dengan jari tangan masing-masing ia menotok ke dada kiri dan kanan,

Jie In berdiri tegak. matanya mengawasi dengan tajam, tetapi disaat kedua tangan si nona hampir mengenai sasarannya, mendadak tubuhnya berkelebat, bergerak sangat cepat, lantas hilang dari pandangan mata si nona.
Yan Bun terkejut hingga ia melengak, tetapi dia lekas sadar, dia lantas memutar tubuhnya. Dia percaya orang tak menghilang ke lain tempat kecuali ke belakangnya.
Benarlah dugaan itu. Jie In terlihat lagi berdiri dengan wajah berseri-seri. ia mengawasi sambil tersenyum.
"Engko In, maafkan adikmu beriaku kurang ajar" berseru si nona, yang lantas menyerang pula, ia menggunakan ilmu silat Thay It Kie-bun Ciangnya itu. Hebat serangan nona ini, angin kepalannya sampai terdengar menderu.
Jie In berkelit dari serangan itu, tetapi inilan yang menyebabkan ia lantas diserang berulang-ulang, sebab setelah gagal serangannya yang pertama, si nona mengulangi terus, karena dia tidak mau memberi ketika untuk orang menghilang seperti semula tadi, Begitu menyerang dia berbalik dan menyerang. Demikian seterusnya.
Hebat Jie In. ia selalu berkelit ia lincah dan licin sekali. Tidak perduli serangan bagaimana gesit pun, ia tidak mau menyerahkan tubuhnya sebagai sasaran, Maka pertempuran mereka menarik hati untuk ditonton, I Hanya selama itu, si nona tampak seperti senantiasa ketinggalan.

Saking penasaran, terus menerus Yan Bun menyerang, maka lebih dari seratus j urus, ia bermandikan keringat, ia tidak dapat melanggar ujung baju si anak muda, hingga sambil menyerang terus tanpa merasa ia mengeluarkan pujian peria han-
Jie In berkata sambil tertawan "Syukur aku telah menyalurkan tenaga dalammu, membantu membesarkan tenaga dan keuletanrnu tidak sedikit, kalau tidak, pastilah siang-siang kau telah kalah sendirinya"
Si nona berdiam, tetapi ia memandang tajam, agaknya dia mendongkol.
Jie In dapat mengerti nona itu kalah tetapi penasaran, maka ia lekas berkata pula: "AdikBun,jangan gusar. Besok aku akan mengajarkanmu tiga macam kepandaian, mengenai tindakan kaki, pedang dan tangan kosong, bahkan kau dapat mempelajari itu dalam waktu yang singkat. Dengan kecerdasanmu, tak sulit untuk kau menguasainya, Maka kalau kemudian kau bertemu dengan Cit Kouw dan orang lihay lainnya, siapa pun juga, tak nanti kau gampang-gampang dikalahkan, atau sedikitnya kau dapat membela dirimu."

Mendengar ini, senang hati si nona. ia lantas saja menarik tangan si pemuda, ia menatap dengan mengangkat kepalanya.
"Engko In, benarkah?" ia menegasi, "oh, kau baik sekali" Tetapi mendadak ia tercengang, sinar matanya menunjukkan kesangsian. segera ia berkata: " Engko In, mengapa kau berkata begitu? Apakah kau tidak mau membantu aku menempur Jim Cit Kouw?" Jie In tahu si nona bersangsi, dia salah menyangka, maka ia lekas menjawab: "Bukan."

Ketika itu sang malam mulai tiba, bunga saiju menghujani muka mereka, Angin keras sekali, Diantara jagat yang gelap petang, terbawa sang angin, sayup,sayup terdengar suara binatang beburonan, kawanan serigala yang seperti kelaparan dan kedinginan di dalam lembah, suaranya menyayat hati, mengerikan.
Di dalam gua, kegelapan tak kalah dengan di luar,

"AdikBun, tadi kau keliru mengerti akan kata-kataku," berkata Jie In tertawa, "Aku maksudkan besok atau lusa, kita harus sudah tiba di puncak Ciu Auw Hong, Menurut letak di dalam peta, puncak itu terpisah dari kita ini cuma tiga atau empat rintasan jalan gunung ini.
Untuk kita, mungkin kita dapat tiba dalam waktu dua atau tiga jam, Hanya, semakin malam kita pergi, untuk kita makin menguntungkan Kau lihat sendiri, begitu banyak orang telah datang ke mari, Aku merasa bakal terjadi pertempuran yang dahsyat Aku tidak takuti apa-apa kecuali aku berkuatir kepandaian Poo Tan siansu terlalu lihay, hingga tak dapat diduga dari sekarang bagaimana kesudahannya nanti, siapa menang dan siapa kalah. Maka andaikata kita yang gagal, aku ingin kau nanti mengandaikan kepandaian yang aku ajari itu untuk kau meloloskan diri dari kepungan.
Andaikata aku dapat menolong diriku, kau dapat mencariku di kuil Chin su di luar kota Chin- yang. Atau kalau waktunya lewat terlalu lama, adikku, carilah aku di rumah say Hoa To di Ciang-ceng atau di rumah Tionggoan it Kiam Tio Kong Kiu di Chong-ciu."

Atas pesan itu, Yan Bun cuma mengasih dengar suara " hmm" perlahan. Demikianlah, dengan tidak berbicara lagi, mereka lewatkan sang malam.
Jie In tertawa ketika ia melihat pintu gua tertutup rapat oleh saiju yang beku bagaikan es, lantas ia menghajar dengan kedua belah tangannya, Dengan menimbulkan suara gemuruh, saiju itu hancur beterbangan, maka di depan mereka terbukalah suatu jalan terowongan.
YanBun masih layap-layap. ia terkejut hingga menjadi sadar betul. Diam-diam ia mengagumi si anak muda.
Jie In lantas memakai topengnya, ia memegang tangan si nona. "Adik Bun, mari kita keluar" ia mengajak. ia menarik.
Keduanya lantas keluar, terus mereka lari naik ke atas puncak di depan mereka, Maka dari situ, memandang ke sekitarnya, cuma warna putih yang dapat mereka lihat, Angin yang dingin meniup hingga mereka merasa menggigil Bunga saiju masih saja beterbangan Tebalnya saiju sampai empat dim.
"Adik Bun, sekarang mari aku mulai mengajarkanmu ilmu pedang, tangan kosong dari tindakan kaki," katanya, "Kau nanti merasakan kemajuannya." Nona itu girang bukan main, hingga ia berjingkrakan.

Jie In pinjam pedang si nona, Ketika ia menghunus, ia melihat berkilaunya sinar hijau.
"Pedang yang bagus" ia memuji, Ketika ia meneliti, ia melihat ukiran dua huruf, bunyinya "Leng Ku" atau "Kura sakti", pedang itu pun antap. cocok untuknya, Kemudian ia berkata: "Aku hendak mulai, kau perhatikan inilah ilmu Thay Kek Hoan Heng. Kelihatan-nya lambat, tetapi kenyataannya cepat, ilmu ini diciptakan berdasarkan penyelidikan atas ilmu pedang berbagai partai lainnya, sebab maksudnya ialah untuk melawan mereka itu. Kalau ini digunakan terhadap orang-orang kelas dua atau tiga, tak usahlah dikuatirkan nanti kalah."

Habis berkata, ia mulai bersilat, Benarlah, mulanya terlihat gerakan yang lambat,
tidak ada suara anginnya sama sekali, ilmu pedang membutuhkan kesebatan, maka luar biasa lah ilmu pedang yang lambat ini. Maka sambil memperhatikan Yan Bun bersangsi, hingga ia menduga si anak muda cuma membuka mulut lebar, Diam-diam ia memungut segenggam saiju, dengan mendadak ia menyerang, Kesudahannya ia menjadi heran. saiju itu bukan hanya terpental balik sendirinya, bahkan mental baliknya demikian cepat sampai mengenai muka si penyerang tanpa penyerang ini menduganya

Yan Bun terperanjat, ia melompat mundur Baru sekarang ia percaya anak muda itu, Karena itu, ia mengawasi d engan penuh perhatian, untuk mengingat-ingat dengan baik, ilmu pedang itu terdiri dari tigapuluh dua jurus, dan s etiapj urusnya, terpecah lagi dalam empat j urus kecil. Kelihatan semua sangat sederhana dan mudah untuk diingat, maka setelah si pemuda selesai bersilat dan si nona bersilat mengikutinya, ia lantas dapat menjalankan dengan baik, hingga ia tinggal melatihnya lebih jauh.
"Bagus, kau cerdas sekali" Jie In memuji selagi ia memberi petunjuk ini dan itu, guna memperbaiki untuk menunjukkan maksudnya jurus.

Baru lima kali Yan Bun mengulangi berlatih, lantas ia tak membutuhkan petunjuk lebih jauh.
"Bagus" berseru Jie In. "sudah cukup. kuu boleh berhenti, Aku hendak mengajari ilmu tangan kosong Ngo Heng Kun. AdikBun, kau lihatlah dengan seksama" Habis berkata, tubuh si anak muda segera bergerak.
Yan Bun berdiri terpisah kira-kira dua tombak. matanya mengawasi tajam. Kedua tangan si anak muda lantas berkelebatan dengan cepat, anginnya menyambar-nyambar ke delapan
penjuru, sampai baju si nona berkibar-kibar, hingga kagetlah nona ini, itulah ia tidak sangka, karenanya ia menjadi sangat kagum.
Jie In menggunakan tenaga dua-tiga bagian, kalau tidak, pastilah si nona mesti mundur menjauhkan diri, ia adalah seorang yang berbakat dan kuat ingatannya, Ketika di Yo kee-cip ia menyaksikan pertempuran antara Ay Hong sok dan Liong bun Nao Koay, ia memperhatikan ilmu silat mereka.

Ay Hong sok menggunakan Nao Hong Kun, ilmu silat Lima Logam, Lantas ia menciptakan Ngo Hong Kun ini macam, inilah Ngo Hong Kun dari Ay Hong sok dicampur dengan ilmu silat Ngo Koay, Dan inilah yang ia wariskan kepada si nona.
Habis bersilat, Jie In berkata sambil tertawa: "inilah ilmu silat Ngo Hong Kun dari Liongbun Ngo Koay dan Ay Hong sok yang aku gabung menjadi satu, kalau kau dapat memahami dan menguasainya, adik Bun, aku percaya kau akan dapat menjagoi sekarang marilah berlatih"
Nona Kouw tak menyangsikan lagi anak muda ini, ia bersilat mengikuti anak muda itu, Ngo Hong Kun ini terdiri dari limapuluh empatjurus dengan setiapjurusnya terpecah pula dalam lima jurus, maka semuanya menjadi dua ratus tujuhpuluh jurus, ia memperhatikan dengan sungguh-sungguh, maka setelah mendekati tengah hari, ia dapat mempelajarinya dengan baik,

"AdikBun, mari kita kembali, untuk bersantap." kata Jie In kemudian, " Nanti aku mengajarimu ilmu tindakan kaki."
Yan Bun menurut, ia girang bukan kepalang, hingga ia tersenyum berseri-seri tak
hentinya. Di luar dugaannya, ia mendapatkan guru yang luar biasa ini. Dengan berlompatan ia mendahului lari masuk ke dalam gua.
Habis bersantap. Nona Kouw lantas mendesak minta diajari pula Jie In berniat beristirahat tetapi ia tak dapat menolak nona itu yang agaknya manja tetapi tidak dibikin-bikin, dalam kemanjaan ada kelembutannya, maka bersama-sama mereka keluar pula. Jie In memilih tempat yang rada rata.

"llmu silat ini luar biasa, tak berlatih bersama tak dapat dipelajari," katanya, "Artinya kita mesti berlatih sambil bertempur. Adikku, kau seranglah aku dengan Nao Hong Kun, kau gunakan kemahiran ilmu meringankan tubuhmu, nanti aku melayaninya. sambil menyerang, kau perhatikan aku dan mengingatnya baik-baik. inilah ilmu yang dinamakan Kiu Kiong Ceng Hoan Im- yang Pou, artinya tindakan-tindakan yang bertentangan satu dengan yang laini Kalau nanti aku melompat keluar, kau berlatihlah terus sendiri dengan melihat dan mengikuti semua tapak kakiku, Asal kau dapat mengikuti dengan baik, itu artinya kau berhasil."
Habis berkata, ia mementang kedua tangannya dan berseru: "Adik Bun kau seranglah"

Nona Kouw menurut, tanpa bersangsi lagi, ia menerjang, inilah serangan hebat seumpama kata "gunung digempur roboh, lalu dibikin terbalik", Tapi ketika kaki Jie In bergerak dan tangannya mengibas, sedetik saja dia lenyap dari depan penyerangnya, Luar biasa sebatnya dia melompat mundur.
Yan Bun menyerang terus, ia menggunakan Nao Hong Kun- ia menggunakan juga ilmu meringankan tubuhnya, untuk dapat menghajar si anak muda, yang selalu melayani ia dengan
berkelit sana dan berkelit sini, tindakan kakinya tampak kacau, tapi tak pernah dia salah melangkah.
Lewat setengah jam, mendadak Jie In mencelat sejauh lima tombak. Ketika si nona mengawasi ke tanah, ke saiju, ia melihat tindakan kaki si anak muda, yang agaknya kusut. Tapak kaki itu dapat dibedakan sebab Jie In bergerak dengan memberati diri, tapaknya menjadi mendam lebih dalam. juga semua tapak itu tidak ada bekas-bekasnya yang tersusun. sekian lama YanBun diam mengawasi agaknya ia bingung juga. "Kau mulailah" berkata si anak muda menganjurkan

Nona Kouw menurut, ia mengambil kedudukan Jie In tadi, lantas ia bertindak. mulainya perlahan, ia mesti melompat sana dan melompat sini. Umumnya ialah habis melompat mundur, lalu maju, untuk melompat ke tempat asal. itulah arti pertentangannya, Ada kalanya dia melompat sembilan tindak. lalu la membalikinya, tetapi ada kalanya, ia hanya kembali dua tindak, Maka itu, sekian lama ia bergerak dengan perlahan.
Baru kemudian, dibantu kecerdasannya, ia mulai dapat melompat cepat, lalu akhirnya ia paham. Di akhirnya itu, ia bergirang bagaikan kalap. ia berjingkrakan.

Jie In berdiri mengawasi, tangannya digendong ke belakang, Ada kalanya ia memandang jauh ke sekitarnya, Tepat si nona sudah paham, ia melihat tajam ke depannya, jauh disana tampak sesuatu yang samar-samar, seperti titik-titik hitam yang beterbangan menuju ke puncak Ciu Auw Hong, ia lantas berpikir:
"Pasti Poo Tan melakukan sesuatu yang aneh, atau mungkin ia tiba pada saatnya menggabung yang sesat dengan yang lurus, hingga ia mesti bergulat, Mungkin ini
pergulatannya yang terakhir, yang dahsyat, juga inilah tentu saatnya murid-muridnya, yang dikatakan murtad itu datang mengacau padanya, Rupanya dia mau menggunakan ketika orang menempur Thian Gwa sam Cun-Cia, ia sendiri meloloskan dirinya. Tidak. jangan kau bermimpi sahabat, tak dapat aku membiarkanmu lolos"

13. Jilid 7.1. Tiga murid durhaka Poo-tan siansu

Bacaan » PEMBALASAN SEORANG JAGOAN » Jilid 7.1. Tiga murid durhaka Poo-tan siansu
Anggota masrizki
Waktu 22 Agustus
Bab Sebelum 12. Jilid 6.2. Pertaruhan dengan pendeta cacad
Bab Sesudah 14. Jilid 7.2. Ilmu baru, Pou-tee pwee yap sin kang




Pembalasan Seorang Jagoan
Karya : Wu Lin Qiao Zhi
Terjemah : OKT
Jilid 7.1. Tiga murid durhaka Poo-tan siansu

Karena berpikir demikian, pemuda ini bagaikan melamun. ia mendusin ketika kembang saiju menyampok mukanya, hingga ia merasakan dingin sekali. Ketika ia mengawasi Yan Bun, si nona tengah mengulangi latihannya, ia merasa puas melihat kemajuan nona itu, ia tidak mau mengganggu lantas ia bertindak cepat ke dalam gua.
Belum lama, Yan Bun masuk dengan menenteng pedangnya, dahinya penuh peluh.
"Ah, engko In, kau sungguh jahat" katanya manja. "kau enak-enakan bersembunyi disini"

Pemuda itu tertawa.
"Enak-enakan?" tanyanya, "Aku bikin apakah? Aku cuma beristirahat."
YanBun tersenyum ia merasa letih sekali.
Tanpa bilang apa-apa lagi, ia menjatuhkan diri, untuk rebah di dada si anak muda, matanya dipejamkan.
Jie In tertawa, hatinya terbuka, ia merasa kasihan berbareng menyayangi nona ini.
"Kau bangun," katanya, "Mari aku ajari kau ilmu menyalurkan napas yang dinamakan "Kwie Goau Touw-lap Co Kang", Dengan ini bukan saja keletihanmu bakal segera lenyap. bahkan asal kau melatihnya terus setiap pagi dan malam tanpa malas-malasan, selewatnya tiga hari tenagamu bakal bertambah satu kali lipat."

YanBun mementang kedua matanya yang jeli, yang hidup sekali, ia tertawa.
"Apa?" katanya, "Kau mempunyai kepandaian demikian banyak? Dapatkah kau menjadi guru orang?"
Jie In pun tertawa.
"Sudah, jangan bergurau, mari mulai" ia berkata, "Kau dengar, inilah teorinya, ingat baik-baik, Kau mesti duduk tegak begini, selagi berlatih, singkirkan segala pikiran lain-nya, supaya kau tak terganggu segala sesuatu yang sesat. Pusatkan perhatianmu, salurkan napasmu dengan perlahan dan beraturan."

YanBun tertawa tetapi ia menurut, ia lantas duduk diam dan matanya dirapatkan, hingga si anak muda dapat memandang dengan bebas wajahnya yang cantik.
cia In Gak sebatang kara semenjak masih kecil sekali, maka itu ia berdahaga untuk rawatan lemah lembut dan kasih sayang seorang ibu, Benar ia disayangi ayahnya, tetapi suatu ayah itu tak dapat dibandingkan dengan suatu ibu.

Lagi pula ayahnya telah terluka dan mesti merawat dirinya, Baru di dalam kantor sam Eng Piauw Kiok ia bertemu Nie Wan Lan, nona itu menarik perhatian nya, Begitu pula Lian Cu dan Goat Go dan yang lainnya, Syukur ia telah terdidik sempurna oleh B eng Liang Taysu, kalau tidak. mungkin ia tersesat oleh godaan nona-nona itu. " cinta itu benar-benar aneh," pikir nya.
"Menyinta dan dicintai. Belum lama aku merantau, aku sudah lantas menemui lima orang nona. Kalau aku tetap memikirkan mereka, mana dapat aku menuntut balas? Bukankah ini yang dinamakan iblis penggoda? Tidak. tidak. aku mesti dapat mengendalikan diri. Guruku telah berpesan, tidak boleh aku merasa puas dan bangga akan diri sendiri. Belum lagi aku selesai menuntut balas, aku telah mendapatkan musuh-musuh baru. Bagaimana kesudahannya nanti."
"Eh, engko In, kau tengah memikirkan apa?" suara YanBun menyadarkan si anak mu-da, "Kenapa kau diam saja?"
Nona itu membuka matanya dan mengawasi heran.

Jie In balik memandang, ia melihat paras si nona bersemu dadu, ia girang, itulah hasil latihan nona itu, walaupun belum lama. "Adik Bun, apakah keletihanmu sudah hilang?" tanyanya, tertawa. Nona itu tertawa, ia menyingkap rambut di dahinya,
"Benar, engko In, latihan bersemedhi ini berfaedah sekali," sahutnya, "Sekarang aku merasa tidak saja letihku lenyap. juga aku menjadi segar sekali. Rasanya hatiku bersih."
Anak muda itu mengangguk ia puas. "Sekarang kau berlatihlah terus," katanya.
YanBun menurut, ia berlatih sampai sang magrib tiba, diwaktu mana mereka menangsel perut, lalu mengobrol dengan gembira, sampai datang waktunya jagat menjadi gelap. justru itu tiba-tiba terdengarlah satu suara nyaring, yang memecahkan kesunyian. Habis suara itu yang mendatangkan rasa seram dan kecil hati. Maka YanBun menggigil sendirinya, terus ia sesapkan tubuhnya di dada si anak muda.

Jie In berdiam, telinganya dipasang, suara itu, siulan yang luar biasa, mendatangkan kecurigaanny a .
"Ada orang datang ke mari," katanya, berbisik "Dari siulannya tadi, teranglah ia
seorang yang mahir tenaga dalamnya."
Lantas siulan itu terdengar pula, terdengar lagi, mendatangi semakin dekat, sampai dapat diduga orangnya telah berada di sebelah kananpuncak. Di situ barulah suara itu berhenti.
"Adik Bun, kau tunggulah, " Jie In berbisik pula di telinga si nona dalam rangkulannya. "Aku mau lihat siapa dia itu, jangan kau pergi dari sini"

Lantas anak muda ini bangkit berdiri dan bertindak keluar gua, ia lantas melihat dua orang berdiri di atas puncak. tampaknya seperti bayangan hitam, Yang seorang membung-kuk. agaknya dia mencari sesuatu, orang yang kedua mengayun tangannya, melemparkan sesuatu yang bercahaya terang, di tempat sejauh lima kaki, benda itu meletus sendirinya memancarkan sinar terang warna biru, memancar ke empat penjuru.

Maka sekarang terlihat tegas orang yang melemparkan kembang api itu ialah seorang tua dengan alis dan kumis ubanan, tubuhnya tinggi dan besar, romannya agak bengis, Yang membungkuk itu bertubuh jangkung dan kurus.
"Di sini, lo-tongke" berkata si jangkung kurus itu. "Lihatlah tapak-tapak kaki kacau balau ini. Pasti di sini telah terjadi pertempuran itu. Benar ada gangguan saiju, tetapi tapak-tapak ini masih terlihat tegas, mungkin tapak ini terjadi sejak tiga jam yang lalu. Anehnya, lao-su mati di sini belum ada setengah jam."
Jie In memuji tajamnya mata si jangkung kurub, ia hanya heran yang ia tidak mengetahui bahwa tadi, setengah jam yang lalu, ada orang terbinasa di puncak itu. juga, entah siapa si "lao-su" itu, si "nomor empat", demikian juga ini orang tua dan si jangkung kurus.

Lantas terdengar suara si orang tua, suara yang keras, menyatakan kegusarannya: "Kalau ada tapak kakinya pasti ada orangnya Mari kita susul Aku mau lihat dia dapat lolos atau tidak dari tangan aku Kouw-louw-pian Lou Kui"
Ketika itu cahaya terang sudah mulai sirna, maka Lou Kui mengayun pula tangannya, hingga terlihatpula cahaya biru seperti tadi, hanya berbareng dengan itu, kedua orang itu lantas lari ke arah lembah.

Sekarang tahulah Jie In, orang tua itu ialah si Cambuk Tengkorak, ia lantas hendak melihat siapa itu lao-su yang telah menjadi mayat, tetapi belum lagi ia mengangkat kaki, pundaknya terasa tertekan oleh jari-jari yang lembut. ia lantas menoleh, maka terlihatlah YanBun berdiri di belakangnya dengan wajah tersungging senyuman.
"Adik Bun, mari kita lihat mayat siapa itu di puncak." la berkata, tersenyum juga sambil balas mencekal tangan si nona.
YanBun setuju, ia mengangguk. Lantas keduanya berlari-lari cepat sekali.

Tidak lama kemudian sampailah mereka di puncak tempat Lou Kui berdua tadi. Benarlah, di situ meraka mendapatkan satu tubuh yang telah tak ber jiwa lagi, yang rebah dengan roman bengis, hanya karena tidak ada penerangan, sukar untuk melihat tegas wajahnya. Pada mayat itu juga tidak terlihat tanda-tanda luka.
"Lou Kui muncul di sini, ia pasti ada hubungannya dengan tiat-ciu-Ieng di tanganmu, adik Bun," kata Jie In kemudian. "Hanya mayat ini, entah siapa dia."
-00000000-

Yan B un tidak menyahuti, ia mengeluarkan hwee-ie-cu, begitu ia mengayun tangan- ny a, bahan api itu lantas menyala. Jie In terkejut, ia merampas, terus ia meniup. "Ah, adikBun, kau sembrono" tegurnya.
"Kau tahu, Lou Kui berdua belum pergi jauh, begitu melihat api, mereka bisa kembali. Mari lekas kita kembali ke gua"
YanBun tertawa perlahan.
"Buat apa kuatir tak keruan" katanya aleman, "Dengan kepandaianmu engko In, apakah kau masih jeri dengan Keuw-louw-pian?"
"Bukan begitu," sahut Jie In. Mendadak ia menambahkan: "Lekas"

Bagaikan terbang, keduanya lari turun, Begitu mereka tiba di gua, di puncak itu muncul pulalah Lou Kui bersama si jangkung kurus.
"Aneh" kata jago tua itu. "Nyata sekali aku melihat cahaya api serta bayangan orang. Kenapa mereka lenyap cepat sekali?" ia mengayun pula tangannya, membikin meletus kembang api yang lebih besar, hingga terangnya luar biasa, sedang waktu jatuh ke saiju, kembang api itu tidak lantas padam, bahkan terdengar suara merumbusnya terkena tiupan angin”

Jie In berpikir: "Kembang api Lou Kui ini tentulah api ajaib yang orang Kang-Ouw namakan peluru Im-lin Lan-hwee-tan, yang pembuatannya sukar, yang tak sembarang orang dapat memilikinya. Api itu, kalau dipakai menyerang orang, tidak saja apinya dapat membakar, juga ada racunnya yang dapat menyerang jantung dan membuat orang putus jiwa."

"Lo-tongke, inilah aneh," kata si jangkung kurus, "Kalau benar ada dua orang di sini, kenapa tidak ada tapak kakinya?"
Mendengar itu Jie In berkata dalam hatinya: "Mana dapat kalian melihat tapak kaki kami? Kami mempunyai ilmu enteng tubuh mahir yang tak meninggalkan bekas."
"Lo- Jie, kenapa kau jadi tolol?" kata si orang tua keras, "Lao-su begitu lihay, kalau bukan musuh gelap itu lihay luar biasa, mana bisa dia gampang dapat turun tangan? Tidak heran kalau dia tidak meninggalkan tapak kaki."

Ketika itu sinar api baru padam, tinggal sisa asapnya yang terbang terbawa angin. Si jangkung kurus berdiam, sejenak kemudian, baru ia berkata pula.
"Lo-tongke," katanya, "coba bilang, mungkinkah kematian lao-su ada hubungannya dengan si wanita yang mencuri Ngo Kwie Tiat-ciu-Ieng?"
"Sedikitnya mungkin ada. Aku duga kedua orang tadi masih berada di dekat-dekat sini, Mari kita cari"

YanBun tertawa di telinga si anak muda dan berkata: "Gila benar. Mana ada hubungannya aku dengan orang yang membunuh Liang-tauw-toa Lim Cian?"
"Oh, diakah Liang-tauw-coa Lim Cian?" tanya Jie In. "Teranglah kau yang telah membawa gara-gara, Lim Cian itu pasti terhajar hebat, maka dia mati kecewa, Lou Kui hendak mencari kita, pasti dia bakal berhasil, maka itu nanti aku pancing dia supaya mereka pergi jauh"

Habis berkata, Jie In melompat menuju ke puncak, Di mata YanBun, dia mirip lagi terbang karena gesit dan cepatnya luar biasa, sebentar saja dia lenyap dari pandangan mata. Dilain saat, ia lantas mendengar suara si anak muda, suara yang seperti mengalun di tengah udara.
Lou Kui mendengar itu, ia menjadi sangat gusar, ia rupanya menduga suara itu pasti suara musuh. ia juga lantas mengasih dengar seruannya, yang menyatakan kegusarannya, terus ia lari untuk menyusul.
Untuk sekian lama, sunyilah sang malam yang gelap itu.

YanBun menantikan dengan tidak sabaran, karena untuk setengah jam lamanya ia mesti berdiam sendirian di dalam gua itu. ia pergi ke mulut gua, tiba-tiba ia merasa angin menyambar dibarengi dengan berkelebatnya satu bayangan hitam, ia mengawasi tajam, lantas ia menjadi girang sekali.
"Itulah Jie In-" Maka ia segera mencekal keras tangan si anak muda. "Bagaimana?" tanyanya. Jie In tertawa.
"Sekarang ini bangsat tua itu telah terpisah dari kita sejauh beberapa puluh li," ia menjawab, "tetapi dialah jago tua, dia banyak pengalamannya, mungkin sebentar kemudian dia insaf bahwa dia telah dipermainkan maka dia pasti datang pula, Mari kita berlalu dari sini"
Lalu tanpa menanti jawaban si nona, ia menarik untuk mengajak berjalan keluar dan berlari pergi.

Di tengah jalan, YanBun heran, ia mendapat kenyataan ia bukan diajak menuju ke puncak Ciu Auw Hong, melainkan ke arah yang bertentangan. "Engko In, mungkinjalanan ini keliru” katanya.
"Tidak. Adik, si anak muda tertawa, "Selagi aku kembali habis memperdayakan Lou Kui, memang aku berniat mengajakmu ke Ciu Auw Hong, hanya kemudian, aku berpikir lain. Di sana pasti berkumpul banyak orang lihay, kalau aku membawa kau ke sana, aku kuatir banyak kesulitannya, Hal itu akan membuat hatiku tidak tenang, Maka aku pikir, adikku, lebih baik kau pulang ke oey-chung, untuk mengambil kudaku dan berdiam di kuil Chin su, guna menantikan kembalinya aku."
"Ah, aku tidak mau" kata si nona, yang timbul kemanjaannya pula.
“Jangan begitu, adikku," kata Jie In, membujuk . "janganlah kau membuat perhatianku terpecah dua. Tidak apa aku kehilangan kitab, tetapi tidak kau, Dan, bagaimana nanti andaikata aku gagal karena kau?"

Tergetar hati si nona mendengar perkataan itu, Tahulah ia bahwa pemuda itu sangat mencintainya, Tanpa merasa, kedua belah pipinya menjadi merah.
"Baiklah, aku turut kehendakmu," katanya kemudian, tersenyum, "Kenapa kau bicara begini rupa? Engko In, aku minta kau bekerja tidak kepalang tanggung. Aku minta kau antar aku dulu sampai di chin su baru kau kembali ke mari."

Jie In berpikir, Hari itu bulan duabelas-tanggal duapuluh tujuh- Untuk pergi dan pulang, ia membutuhkan waktu empat hari. pikirnya tak apalah kalau ia terlambat sedikit, Maka ia mengangguk
Demikianlah ketika sang fajar mulai muncul, keduanya berangkat menuju ke oey-chung, jalananpenuh saiju. Dibandingkan dengan di atas gunung, di sini turunnya saiju kurangan. Ketika akhirnya mereka tiba di tempat menitipkan kuda Jie In mengetuk pintu.
"Siapa?" tanya suara dari dalam, Suara itu disusul dengan suara tindakan kaki yang berat. Lantas pintu dibuka dengan bersuara juga. Muncullah kepalanya seorang tua. "oh, Jie siang kong pulang" katanya, "Begini pagi"
Sembari berkata, orang tua itu menatap Yan Bun, hingga Nona Kouw likat dan mukanya bersemu dadu.
"Yo Lotiang, inilah adikku" kata Jie In cepat. "Kami berdua hendak berangkat ke Thaygoan, Aku datang untuk memberitahukan mu, supaya kau jangan menyangka kudaku ada yang curi, silah kan lotiang.. tidur pula, nanti aku ambil sendiri kudaku sendiri" ia merogoh sakunya dan memberikan uang sekitar sepuluh tahil, ia menambahkan- " Harap lotiang tidak berkecil hati, sukalah kau terima ini."

Orang tua itu menampik,
Jangan Jie siang kong, terima kasih" katanya, "Uang yang kemarin ini pun masih ada kelebihannya."
Jie In tertawa.
"Inilah untuk cucu lotiang membeli kembang gula," ia mendesak, "Aku hendak mengantar adikku ini, dua hari kemudian aku bakal datang pula ke mari, maka kalau lotiang menampik, aku malu buat menjenguk pula padamu, silahkan masuk. lotiang, kami hendak berangkut sekarang."

Terpaksa orang tua itu menerima uang itu, untuk mana ia kembali menghaturkan terima kasih.
Jie In menanti s ampai pintu sudah dikun-ci, baru ia dan YanBunpergi ke istal,
untuk mengambil kudanya, ia juga mengeluarkan sehelai topeng yang jelek sekali dan
menyuruh si nona memakainya.
"Ah" kata nona itu, matanya mendelik.

Tapi ia toh pakai juga, lantas ia tertawa, ia mengetahui hati laki-laki. Kalau seorang pemuda mencintai seorang gadis, kalau ada orang lain yang mengawasi gadis itu, dia jadi jelus.
Demikianlah dua orang naik di atas seekor kuda berangkat ke Thaygoan, Di tengah jalan itu Jie In melihat banyak tapak kuda, yang semua menuju ke gunung, maka ia menduga orang tentulah pada menuju ke Ciu Auw Hong, mereka itu pasti ada hubungannya dengan kitab sucinya Poo Tan. ia juga melihat sejumlah penunggang kuda yang mengambil arah ke gunung.
Diantara jam empat atau lima lohor Jie In berdua sampai di Chin su. selagi bertindak ke ruang belakang, mereka berpapasan dengan imam kepala, yang berusia kurang lebih limapuluh tahun- imam itu memandang si anak muda, lalu si pemudi. ia tidak mengatakan apa-apa, ia cuma tersenyum, terus ia bertindak keluar.

Tiba di dekat kamar, Jie In bertemu dengan kacung satu-satunya di kuil itu, ia memesan sesuatu kepada kacung yang terus pergi untuk menyediakan santapan malam.
"Barusan imam kepala itu bermata tajam, dia tentulah orang Rimba Persilatan," kata YanBun tertawa. Pemuda itu mengangguk.
"Matamu tak beda dari mata orang kebanyakan," kata si nona pula, "Mengapa matamu
tajam?"
"Itulah disebabkan pengaruh tenaga dalam, " Jie In menjelaskan "Dibandingkan dengan mereka yang lihay, aku masih belum berarti."

YanBun tahu orang bicara dari hal yang benar, tetapi dia jail, dia tertawa dan berkata: "Sudah la h, jangan kau ngibul.Buat apa menempel emas di muka sendiri?" Jie In cuma tersenyum.
Tidak lama kacung tadi muncul dengan barang hidangan, keduanya lantas bersantap. Kemudian, dengan berpisahan pembaringan, mereka naik tidur. Keesokan pa ginya Jie In berangkat Dengan rasa berat, Yan Bun mengantar pemuda itu sampai di depan kuil.

Saiju telah berhenti turun, cuaca tampak turut berubah sedikit, Awan masih melayang-layang, karena sang angin bertiup keras, Melarikan kudanya dijalan umum Leng-cio-koan, Jie In mesti melawan angin, maka ia mestijalan dengan perlahan, saiju bercampur lumpur, warnanya menjadi abu-abu gelap.

Dihari kedua, pagi-pagi, kembali pula Jie In di oey-chung, maka lagi-lagi ia mengirim kudanya di rumah si orang tua she Yo, lantas seorang diri ia mendaki gunung, ia menggunakan tipu enteng tubuh Leng Hie Pouw-hoat, dengan begitu ia dapat manjat cepat, ia melihat banyak tapak kaki, itulah tanda bahwa tak sedikit orang lain yang telah datang ke situ.
Selagi mendekati puncak Ciu Auw Hong, pemuda ini mendapatkan di sana orang sudah bertarung. Beberapa rombongan berdiri berpisahan, Mereka ada yang lagi bertempur, ada juga yang sudah roboh, sebagaimana terlihatnya belasan mayat di sisi gelanggang.

Ia bersembunyi di belakang batu besar, untuk dapat mengintai mereka itu, ia pun melihat sekelilingnya, terutama ke arah lamping gunung di mana ada gua yang mencil sendirian seperti kata sam Ciat Koay Kit Beng Tiong Ke. Benarlah di sana tidak ada tempat untuk menaruh kaki atau berpegangan, cuma burung yang dapat terbang ke sana, Maka heran, bagaimana caranya Poo Tan dapat memasuki gua itu.. Diam-diam ia mengasah otak memikirkan jalan untuk dapat pergi ke situ.

Di atas puncak itu, ada tiga rombongan orang yang lagi bertempur, dalam setiap rom-bongan, satu diantaranya ialah seorang pendeta asing dengan jubah kuningnya, yang tubuhnya besar dan romannya bengis, maka bisalah diduga bahwa mereka itu ialah yang disebut Thian Gwa sam Cun-cia.

Kedua pihak menggunakan tenaga dalam masing-masing. Hobat serangan mereka, Kalau sasaran ialah batu gunung, terdengar nyata bagaimana sasaran itu kena terhajar, suaranya keras dan nyaring.
Di dalam satu rombongan ada seorang imam yang rambutnya tergelung tinggi dan kumisnya hitam terpecah tiga, dibandingkan dengan dua yang lain, rombongannya la h yang bertempur seru sekali, Keras sekali tangan bajunya bergerak-gerak.

Hebat dia mendesak tak kurang dahsyatnya perlawanan si pendeta- yang tampaknya berimbang kekuatannya.
"Kelihaiannya si imam dari kalangan tenaga dalam HianBun Keng Khie" kata in Gak dalam hatinya, "Dan gerak-gerik s i pendeta mungkin yang guruku menyebutnya Thian Liong Patsie, ilmu itu belum pernah akupelajari, maka tak ada halangannya apabila sekarang
aku mencuri lihat, guna memahaminya secara diam-diam." Maka ia memasang mata.
Dua rombongan yang lain sudah lantas memperoleh keputusan Kedua pendeta asing itu,
Hoan-ceng, telah memperoleh kemenangan mereka lantas melompat ke ujung batu karang,
agaknya mereka hendak menjaga jangan ada orang yang menerobos masuk ke gua.

Kedua orang yang dikalahkan itu jadi bermuka pucat pasi dan dari mulutnya keluar darah hitam, suatu tanda mereka telah terluka tak enteng.
Sekarang tinggal rombongan si imam dan si pendeta, Hoan-ceng itu menjadi agak tidak sabaran, sudah sekian lama ia masih belum dapat merobohkan lawannya, ia lantas menyerang dengan lebih hebat. Lawannya pun berlaku gesit tetapi dia tampak tenang-tenang saja melayaninya.

Sementara itu Jie In girang sekali, Dalam waktu yang singkat itu, ia telah berhasil menyangkok jalannya ilmu silat Thian Liong Pat sie it-u, Delapan Naga Langit.
Tiba-tiba terdengar suara mengejek si Hoan-ceng, yang tubuhnya mencelat tinggi, untuk menyerang ke pundak si imam. imam itu terkejut, tetapi ia dapat berkelit, hingga ia cuma terhuyung, Batu besar di belakangnyalah yang kena terhajar pecah
"Haha-haha" pendeta itu tertawa lebar, "Buddha kalian menyangka akhli-akhli silat di Tiongkok lihay luar biasa, tidak tahunya kau Hui In Koan-cu, ketua Khong Tong Pay, tidak berani menyambut tanganku"

Mendengar itu Jie In berpikir: "Kiranya imam itu ialah Hui In cinjin dari Khong Tong Pay."
Imam itu menjadi gusar.
"Kim Goat, kau berani memandang enteng padaku?" ia berkata sengit. "Baiklah, mari kau rasakan sia uw Ceng Keng Khie dari aku si imam" Kim Goat, si pendeta asing, atau Hoan-ceng, tertawa pula.
"Koan-cu, meski siauw Ceng Keng Khie- mu lihay, sayang kau belum sempurna mempelajarinya" ia berkata, "Apa yang dapat kau perbuat terhadap Buddhamu? Baiklah kau rasakan saja Cek sat Mo ka dari aku"

Kata-kata itu segera diwujudkan. si imam lantas menolak dengan kedua tangannya. Kedua telapak tangan si pendeta, yang tadinya, tampak putih seperti saiju, sekarang berubah menjadi merah mirip bara.
Muka Hui In lantas menjadi pucat, Dengan sia uw ceng Keng- khie tidak dapat ia menahan Cek sat Moka, sia-sia ia bertahan, ia kena dipaksa mundur, ia pun merasakan hawa panas dari tangan si pendeta asing.

Terpaksa ia mengerahkan seluruh tenaganya, guna memaksa bertahan diri, ia membuka lebar kedua matanya, ia tampak jadi bengis.
Kim Goat juga tidak mau berhenti, ia mengerahkan tenaganya, akan akhirnya ia berseru keras, kedua tangannya yang seperti membara menolak dengan keras sekali.
Atau mendadak Hui In berlompat mundur, terdengar seruannya, lantas dia lari, hingga sekejap saja ia sudah lenyap dari pandangan mata.

Menyusul kaburnya jago Khong Tong Pay itu yang lain-lainnya dengan serentak lari s era buta n hingga dilain saat, merekapun lenyaplah. Hingga disitu tinggal ketiga Hoan
ceng beserta balasan mayat yang malang melintang. Ketiga pendeta itu tidak mengejar sekalian lawannya.
"Loo-kwie-cu benar jahat" kata Kim Goat kemudian, suaranya dalam, ia menyebut "Ioo kwie cu" si iblis tua. "Dia rupanya telah menduga disaat dia bakal selesai peryakinannya, kita bertiga bakal datang pula kemari maka dengan mengguna i kitabnya sebagai umpan, dia memancing datangnya jago-jago Tionggoan supaya mereka bisa melihat kita supaya selama itu dia dapat mempercepat peryakinannya, supaya nantinya dia dapat menghukum kita siapa tahu gagallah perhitungannya, maka sia-sia belaka segala suaranya itu"

" Kakak," kata satu pendeta " bukankah aku telah bilang, untuk turun tangan baiklah kita maju satu bulan, tidak usah menanti sampai sekarang. Kau lihat, tidakkah kita menjadi tergesa- gesa? Bagaimana kalau lain orang mendahului kita mendapatkan kitab itu?"
" Heran, Thian Gwa sam Cuen cia, mereka dapat omong Tiooghoa begini baik" pikir Jie
In di tempatnya sembunyi "Coba mereka bicara dalam bahasanya sendiri tentu lagu suara mereka lak sebagus ini."

Kim Goat tertawa terbahak "Adik, tak tepat perkataan kau tadi," ia kata "Apakah kau tidak ingat bunyinya kitab yang membutuhkan tempo seratus delapan puluh hari dan bahwa sepuluh hari yang paling belakang ialah yang paling penting, maka kalau si setan tua tidak tenang hatinya, dia bisa gagal dan tersesat. Biasanya dapatkah kau melawan pukulannya yang dinamakan POuw-tee sin- cia ng? Adik, sudah kita j angan berayal pula Tolong kamu berdua menjaga di sini, aku kuatir nanti ada lagi yang mengganggu Aku masuk sekarang"

Tanpa menanti penyahutan, pendeta ini bertindak maju, ia mau pergi ke ujung jurang.
Jie In menganggap saatnya sudah tiba, ia lantas keluar dari tempatnya sembunyi ia bertindak ke belakang ketiga pendeta itu lanbil ia batuk-batuk tertahan.
Kaget mereka itu dengan sebat mereka berbalik, Apa yang mereka lihat ialah seorang pelajar usia pertengahan yang berdiri tenang sambil menggendong tangan yang wajahnya memperlihatkan senyuman.

Pelajar itu terpisah tak ada tiga kaki dari mereka, Tentu sekali mereka heran, sebab mereka tak mengetahui datangnya orang, "Aku bukannya seperti Hoei ia Keio-coe yang dapat berbicara dengan baik itu." berkata Jie in tertawa, "Kitab suci itu berada di wilayah Tiongkok. atas itu kau tidak dapat mencampuri tahu, lebih-lebih tidak selayaknya kamu menjagoi disini Kamu telah menumpahkan banyak darah, kamu sudah mengambil banyak kurban, tetapi itu bukan urusanku, itulah urusan pelbagai partai, tak mau aku mencaritahu sekarang ini aku cuma mempersilahkan kamu lekas berlalu dari sini"

Kim Goat Coen cia berjingkrak bahna gusarnya.
"Pelajar melarat, enak kau bicara" bentaknya "Kitab itu merupakan mustika rumah perguruan kami, mana dapat kami melepas tangan daripadanya? jikalau kau dapat bertahan dari Cek sat Moka, mungkin kita masih dapat berbicara pula"
Gin Goat danBeng Goat menjadi heran, "Kenapa kakak bicara begini lunak" pikir mereka masing-masing.

Kim Goat ada pikirannya sendiri maka ia bersikap lunak itu. ia percaya orang lelah
menyaksikan pertempurannya barusan melawan Hoei In Koan coe. ia pikir, tanpa mempunyai kepandaian tinggi, tidak nanti pelajar ini berani menghampirkan mereka.
"Bagus kata katamu" kata Jie In dingin, Jadi kamu menyebut mustika rumah perguruan Dangan begitu kamu ialah murid-muridnya Poo Tan Kenapa gurumu tidak mewariskan kepandaian atau pusaka kepada muridnya? Kenapa kamu pun menyebut gurumu sebagai si setan tua? sungguh aku tidak mengerti Tak dapat kamu membuatnya aku percaya kamu"

Belum lagi Kim Goat menjawab, dari dalam gua sudah terdengar suara orang berdoa, itulah suaranya Poo Tan, yang lagi memahamkan ilmu kepandaiannya Maka Gin Goat danBeng Goat menjadi pucat.
" Kakak, lekas" mereka berkata, "Buat apa mengadu lidah? si setan tua bakal lekas lolos dari kekangannya. Mari lekas singkirkan pelajar melarat ini supaya dia sadar dari impiannya"
"Sabar, kedua adikku" berkata Kim Goat tertawa, "sebelum lagi dua jam, si setan tua tak nanti dapat berjalan, sekarang dia lagi mendesak darah di kakinya Barusan dia mendosa, itu cuma akalnya untuk membikin orang bergeIisah. Lain orang dapat diperdayakan, aku tidak."

Kemudian dia tertawa kepada Jie In dan berkata:
"Tak ada halangannya aku omong terus terang kepadamu Apakah kau sangka gampang saja memasuki gua si setan tua? Lorongnya sempit sekali, cuma satu orang dapat berjalan disitu Disana banyak batu batu tajam yang di namakan rebung batu, siapa kebentur tubuhnya terluka juga, asal orang mendekati si setan tua ia bakal disambut dengan pukulannya yang di namakan POuwtee sian ciang. pukulan itu akan mendesak orang mundur ke mulut gua, dari itu asal dia teruskan menyerang, celakalah orang itu."
Ia bakal terjungkal ke dalamjurang dari ribuan tombak siapa juga tak dapat melawan POuw-tee siao-ciaog itu Daa siapa terjatuh kejurang hancur leburlah tubuhnya dan jiwanya melayang pergi Tidak demikian, pada lima tahun dulu pasti kami telah mendapatkan kitabnya itu, tak usah kami menunggu hingga ini hari.
Tentang kami murtad, halnya kami melawan guru kami, itulah kesulitan kami yang tak dapat kami jelaskan kepada kau. Kau keliru besar jikalau kau memandang enteng kepada si setan tua."

Jie In mengangkat kepalanya, dia tertawa bergelak.
"Mau aku percaya kau," ia kata, "cuma kalau kamu hendak menyuruh aku jangan mencampur-tahu, itu artinya kamu terlalu memaksa aku"
"Aku tidak memaksa," bilang Kim Goat, "cuma kalau kalau kau dapat melawan cek Sat Moka dapat kau mencoba masuk ke dalam gua. Di dalam hal itu, pengharapan dalam sepuluh cuma satu. jikalau kau dapat melawan kita bertiga, itu berarti kau dapat bertahan dari Pouw-tee Sian ciang dari si setan tua.
Begini saja, kalau suka, coba kamu masuk, kami mau lihat kamu bisa mendapatkan kitab itu atau tidak, hanya baik dijelaskan dulu, umpama kata kau gagal, silahkan kau mundur, jangan kau merintangi kami lagi Bagaimana?"

In Gak bersenyum, ia lantas dapat mererka kenapa Kim Goat suka mengalah itu. Rupanya mereka berpikir kalau mereka kalah, mereka akan membiarkan ia masuk, tetapi selagi ia masuk itu mereka hendak membokong, menyerang ia dengan pukulan Udara Kosong, Tentu sekali tak sudi ia diakali mereka itu
"Baik" ia menerima tantangan "Mari kita mencoba-coba dulu, lalu kamu bertiga maju berbareng. jikalau aku kala aku akan mengundurkan diri."

Tanpa merasa Kim Goat mengasi lihat roman girang Jie In melihat itu, ia menduga terkaannya tidak meleset.
"Tuan, kata-katamu ini masuk hitungan atau tidak?" Kim Goat tegaskan-
Jie ln tertawa lebar.
"Aku mengepalai soat san Pay, mengapa kata-kataku tidak masuk hitungan?" ia balik menanya, sengaja ia menyebut soat san Pay, seperti juga benarlah ia ketua partai itu. Ketiga coen cia melengak, tapi Kim Goat lantas tertawa.
" Kiranya tuanlah soat san sin Mo dari Tiongkok" katanya, "sudah lama memang aku mendengarnya."

Soat san sin Mo ialah Hantu dari soat san.
Jie In merangkap kedua tangannya.
"Sekarang sudah siang, silahkan taysoe mulai." ia kata menantang.
Sekarang Kim Goat tidak sungkan lagi. ia mengulur tangannya yang lantas terlihat menjadi merah, hingga Jie In merasai hawanya yang panas. "Cek sat Moka benar hebar," pikirnya Maka tak berani ia alpa.

Kim Goat berseru, terus ia menyerang. Hawa panas dari tangannya menyerang ke muka.
Dengan Hian Thian cit seng Pou Jie In berkelit, sekejap saja ia berada di belakang lawan, lantas ia menyerang ke punggung dengan pukulan Kim-kong Hok Houw, Arhat Menakluki Harimau.
Kim Goat juga sangat gesit. Begitu lawan lenyap ia memutar tubuhnya, untuk menyerang pula dengan kedua tangannya, Rupanya ia sudah menduga kemana musuh menghilang, bahwa musuh bakal meneruskan menyerang padanya.

Hebat serangan ini. bisa celaka Jie In, sebab dia belum menggunaiBie Leksin Kang untuk menutup diri, lantaran dia lagi hendak mencoba musuh ini. Dengan sebat ia berkelit
pula, Tak sudi ia bentrok tangan.
Benar-benar Kim Gon gesit setiapkali orang berkelit dan menghilang, setiap kali ia memutar tubuhnya dan menyerang, tak ingin ia kena di dahului. Jie In menjadi kagum.
"Belum pernah ada lain orang dapat menduga gerak-gerik ilmu silatku ini," pikirnya. "Kim Goat Coen cia benar benar liehay. Kalau begini benarlah ilmu silat India tak dapat dipandang ringan-"

Walaupun Kim Goat sangat gesit belum pernah satu kali juga ia berhasil menghajar lawannya yang lincah ini, yang membuatnya kagum sekali, maka itu selang belasan jurus ia menjadi kagum berbareng berkuatir, Diakhirnya ia lompat mundur satu tombak lebih.
"Tuan, kau hebat" ia kata, tertawa, "Aku kagum padamu Hanya aku kuatir, semasukmu ke dalam gua tak nanti ilmumu ini dapat digunai, Apakah tuan memikir untuk kita beradu tangan?"

Jie In tahu orang licik, bahwa ia hendak di tipu, Iapun tertawa.
"Aku tidak perca ya kau sanggup bertahan dari gempuran tanganku" ia kata mengejek.
"Silat Cek sat Moka dari aku memang tidak berarti tetapi itu bukanlah berarti tak sanggup aku bertahan" menjawab Kim Goat.
Jie In tertawa dingin.
"Bagaimana kalau sekarang kita mencoba?" ia tanya, sekarang ia telah mengerahkan bie Lek sin Kang ia berdiri dengan kedua tangan digendong di belakangnya. sebaliknya wajahnya memperlihatkan roman jumawa.
Dua-dua pihak menggunai siasat untuk memperayal waktu. Sama-sama mereka ingin melihat, bagaimana mereka masing-masing memasuki gua . Jie In ingin menyaksikan orang masuk dan menempur Poo Tan, untuk nanti ialah yang menghajar salah satu pihak yang menang tapi tentunya sudah letih.

Selama itu sering ia mendapat lihat Gin Goat danBeng Goat suka melirik ke arah gua, roman mereka berkuatir dan ragu-ragu- iapun heran kenapa mereka bertiga ingin sangat mendapat kan kitabnya Poo Tan itu.
Segera juga pertempuran dimulai Kim Goat, panas hatinya, ia lantas menyerang. Mukanya Jie In yang mau dijadikan sasaran.

Pemuda itu membalik tangannya, menyambuti tangan lawan yang panas, ia menolak, ia mengguna i bagian jurus "Meng gempur" dariBie Leksin Kang, Hebatlah kesudahan bentrokan itu. sama-sama mereka mundur dua tindak, Maka keduanya sama-sama melengak. Kim Goat maju pula.
Jie In tidak mau menyerah, ia kembali menyambut, Tentu sekali mereka telah sama-sama menyiapkan tenaga mereka.

Mereka bentrok berat tetapi sama-sama mereka dapat bertahan, karena itu mereka lantas saling serang terus menerus Disamping tenaga. mereka mempergunakan kegesitan mereka, supaya lebih gesit dialah yang menang.
Jie In penasaran, maka ia mengguna i tenaga sepenuhnya, ia mengguna i keempat huruf: menggempur, meloloskan diri, menempel dan menyedot untuk melayani musuh yang liehay ini. Kim Goat dapat bertahan- Hanya kemudian ia terlibat lebih mengutama kan perlindungan pada iga kirinya. Melihat itu Jie In mengerti, itulah mesti anggauta tubuh yang lemah dari lawannya.

Mendadak Jie In lompat mundur sembari tertawa ia berkata: "Taysu dengan bertempur cara begini sampai tiga hari dan tiga malam juga tidak ada faedahnya, kita jadi mensia-siakan waktu, maka itu baiklah kamu bertiga maju berbareng"
Kim Goat sementara itu berpikir: "orang ini liehay sekali, dia jauh lebih menang daripada Hoey in Koan coe dari Khong Tong Pay Heran ilmu soat san Pay begini liehay. "Aku bertiga telah memperhatikan semua ilmu silat tiongkok. tidak demikian dengan soat san Pay ini. Tapi dia berimbang dengan aku, maka itu, kalau kita bertiga dapatkah dia bertahan terus?" Karena ini hatinya jadi besar. ia tertawa.
"Benar liehay ilmu silat soat san Pay" katanya, "Kau telah membuka mataku Memang kita telah membuang-buang waktu, Baiklah tuan, aku terima tantanganmu Maafkanlah kami"

Berbareng dengan itu Gin Goat danBeng Goat maju berendeng dengan kakaknya, lantas tanpa ayal pula mereka mulai menyerang. Maka enam tangan mereka lantas bergerak-gerak di muka Jie In. Yang hebat ialah hawa panas diri tangan mereka itu sampai saiju di dekat mereka menjadi lumer.
Biar bagaimana hati Jie In bercekat juga. Ketika ia mencoba menangkis, ia kena tertolak mundur dua tindak, ia merasakan napasnya sesak, Maka lekas-lekas ia menyalurkannya, Karena mata nya Kim Goat liehay, dia itu dapat melihat lawannya sukar bernapas itu, Dia menjadi mendapat hati, dia mempergencar serangannya.
Biarnya ia terdesak, Jie In tidak menjadi gugup, Lekas-lekas ia menutup jalan darahnya, sekarang ia tidak mau menyambut keras dengan keras, ia mencelat mundur hingga ia bebas dan ancaman cik sat Moka, Hanya ia tidak dapat lolos terus.
Ketiga lawan itu berlompat menyusul guna mengulangi serangan mereka yang bersatu padu yang dahsyat sekali.

Untuk membela dirinya Jie In mengandal pada tindakan kaki Hian Thian cit seng Pou ia selalu mengelit diri, Untuk sementara ia bersangsi buat mengenai Hian Wan sip-pat Kay atau Tie Liong cioe, Tangan Mengekang Naga.
Untuk itu ia mesti menyiapkan diri dengan Bie Lek sin Kang, Untuk dapat mengenai Hian Thian cit seng Pou. buat sementara ia melepaskan Bie Lek sin Kang itu."

Selagi bersangsi begitu, pemuda ini berlaku sedikit lambat, Diluer dugaannya ia kena disamberBeng Goat. Tangannya Coencia ini sama Iihaynya seperti tangannya Kim Goat, Tidak ampun lagi ujung baju si anak muda terbakar menyala
Jie In kaget, ia membuang diri ke tanah, untuk bergulingan sambil berguling ia berlompat bangun, Lantas ia menjadi kaget sekali, Begitu ia berlompat ia mendapatkan ketiga lawan menyerang tepat ke tempat dimana barusan tubuhnya b er- guling, Kalau tidak, celaka la h ia.
sekarang Jie In lantas mengguna i ilmu silat Thian Liong Pat sie, yang ia cangkok dari Hoei In Kian-coe. saban-saban ia lompat mencelat mirip dengan gerakannya naga, ia dapat b erlompat tinggi, hingga serangannya ketiga lawan tak berdaya mengenakan tubuhnya.

Kim Goat menjadi heran dan penasaran, Dia tertawa dingin dan kata: "Apakah dengaa cara ini kau hendak masuk kedalam g uh a untuk mengambil kitab? Hm Kau mimpi"
Jie In berpikir keras, ia mengerti tidak dapat terus terusan ia meng andali Thian Liong Pat sie, sekarang ia merasa tangannya panas. Kedua tangannya itu tadi telah bentrok hebat dengan tangan ketiga lawannya itu.

Lebih dulu coba bertahan diri tangannya Kim Goat seorang. Perlu ia mendapatkan daya. Mendadak ia menjejak tanah, untuk berlompat mundur, setelah menaruh kaki, ia tertawa lebar
"Taysoe bertiga, kamu menduga keliru" ia kata, "Kamu lihat sendiri ditangan Cek Sat Moka kamu tidak bisa berbuat apa-apa terhadap aku. Paling juga kamu dapat membikin kita bercelaka bersama. Apakah faedahnya itu? Dengan begitu siapapun tidak akan mendapatkan kitab. Bukankah Poo Tan yang bakal beruntung seorang diri? sekarang baiklah, suka aku mengalah. Taysu, pergilah taysu masuk lebih dulu untuk mengambil kitab itu Umpamakata kamu gagal barulah datang giliranku"
Habis berkata Jie In bertindak pergi dengan perlahan.

Kim Goat bertiga menjadi heran, hingga mereka berdiri tercengang. Benarkah ada orang demikian baik hati? Bukankah tadi orang ini berkeras berniat mendapatkan kitabnya Poo Tan itu? Mereka juga heran yang Cit sat Moka mereka tidak berhasil merobohkan lawan ini.
Belum-pernah ada lain orang yang dapat bertahan seperti dia, Biasanya orang terluka d idala m tubuh dan mukanya lantas menjadi pucat pasi dan peluhnya mengucur deras, Tidak demikian dengan soat San sin-Mo.

Kim Goat percaya orang yang dihadapinya ialah soat sin-Mo dari soat san pay, ia tidak pernah menyangka bahwa ia tengah dijebak. ia juga tidaktahu Jie In memakai kedok
karena mana ia tak melihat wa^ah orang yang sejati.

Sebenarnya itu waktu Jie ln telah pucat mukanya dan keringat membikin demak pakaiannya. Hanja saja kuat hatinya dan cerdik, dapat bertahan. Beng Goat lebih cerdik dari pada dua saudaranya, dia licik. Dia lantas bercuriga. "Apakah soat san sin Mo tidak main gila?" ia tanya. Kim Goat mengangguk.
"Aku lihat dia sangat pintar, baiklah kita jangan-jangan sampai kita terjebak." sahutnya. "Dia bersikap ramah begini, siapa tahu hatinya memikir lain? Baiklah kita robohkan dulu padanya, baru kita pikir pula bagaimana baiknya"

“Jangan kita berbuat demikian," Gin Goat berkata, Dia menggeleng kepala, "Dia sangat liehay, agaknya kita bertiga tidak dapat merobohkannya dengan mudah Baiklah kita mencegah dia dapat menduga kita tak dapat merobohkan nya kita harus jaga, andaikata si setan tua sampai dapat lolos, kita terancam bahaya, hingga mungkin terjadi tak ada tempat untuk mengubur mayat kita."

Kim Goat menjadi ragu-rapu. Tidak berani ia lantas memasuki gua, ia menganggapJi ln adalah paku dimatanya, tak dapat tidak, orang mesti di singkirkan lebih dulu, ia mengawasi anak muda yang lagi mengawasi mereka, ia melihat orang tenang-tenang saja tak bergusar, tak tertawa.
Sulit untuk menerka hati orang ini, karenanya ia menjadi berkuatir sendirinya..
Jie In berdiri dekat sebuah karang besar. ia memang bersikap sangat tenang. Untuk sejenak ia memutar tubuh, lalu ia memandang Ketiga Cun cia itu. Dengan dingin ia kata:
"Kenapa kamu bertiga masih belum mau turun tangan? ingatlah tempo sangat berharga tempo tidak dapat dilenyapkan Tidakkah kamu akan mensia-siakan maksud baik dari aku"
"Apakah kamu menyangka aku takut kepaia kamu? jikalau kamu tidak kuatir guru kamu nanti keburu lolos, marilah, mari kita bertempur pula"

Mendadak Gin Goat tertawa bergelak "jangan berpura bohong besar, tuan" katanya nyaring, "Baik kau ketahui, sekarang ini tubuh mu bagian dalam sudah pada rusak.Biarnya kau tunggu, tak nanti dapat bertahan lebih lama pula"
Jie In bersenyum. Entah bagaimana bergerak nya, tahu tahu dia sudah lompat maju, menghampirkan ketiga lawan di jarak dua kaki.

Tentu sekali Kim Goat bertiga tidak ketahui orang pandai ilmu "Leng Hie Liap Pou" atau tindakan "Melayang di udara" Dengan ilmu silat itu Jie In dapat mencelatjauhnya lima atau enambelas tombak. Cuma ilmu itu sempurna di gunai di tanah datar. Untuk berlompat tinggi, ia tak dapat mencelat sejauh itu.

Kim Goat bertiga terkejut dengan sendirinya mereka masing-masing mundur satu tindak. mata mereka mengawasi tajam, untuk bersiaga, Gerakan lawan itu menandakan dia tak terluka sama sekali, sedang mereka menyangka orang telah terluka di dalam tubuh,
"Hmm kamu bertiga" kata Jie In mengejek.
"Kamu menggunai akal apakah? Kenapa bertempur kamu tidak mau, mundur tidak mau juga ? Kalau begitu, baiklah kamu lekas pulang ke India supaya kamu tak usah mendatangkan tertawaan orang"
"Tuan, kau sangat jumawa" berteriak Kim Goat, gusar sekali " Kalau begitu baiklah,
aku tidak mau sungkan lagi"

Jie In tertawa dingin.
"Memangnya siapa kesudian dikasihani kamu. kamu lihat, apakah kamu dapat melukai aku Tidak demikian, kamulah katak-katak dalam tempurung Mana kamu ketahui liehaynya ilmu silat Tiongkok."
Menutup kata-katanya itu mendadak tangan kanan anak muda ini diluncurkan, cepat luar biasa, Tangan itu mengeluarkan tenaga menolak yang besar sekali. sebab inilah Bie Lek Sin Kang jurus ketiga belas, jurus yang didapatkan secara kebetulan rt i tempatnya IHoe Liok Koan, itulah jurus Im Kek yang Seng," atau "Im lebih Yang lahir"

Ketiga coencia terkejut Belum pernah mereka melihat serangan semacam itu, Dengan berbareng enam tangan mereka diajukan untuk memapaki. Tangan mereka lantas saja beradu dengan tangan penyerangnya. Untuk kagetnya, mereka mundur tiga tindak. Lawannya itu sebalik nya berdiri tegak.

Setelah itu, tanpa menanti lagi, In Gak melanjuti serangannya “Im Kek Yang Seng" disusul dengan Liok Hap Hoa It, ia terus bertindak dengan "Hian Thian Cinleng Pou." sambil maju itu, dua dua tangannya bekerja sekarang ia dapat mendesak.
Ketiga coencia menjadi kena terangsak, sulit mereka menggunai Cek Sat Moka, Dengan sendirinya mereka menjadi repot, sebab berbareng dengan itu mereka sama sama menggunai tangan kiri mereka untuk senantiasa menjagai iga masing masing.

"Inilah heran" berpikir Jie In, "Kenapa mereka sama sama menjagai satu tempat?" Karena berpikir keras, lantas ia insaf. Katanya dalam hati: "teranglah mereka telah tertotok hebat Poo Tan siaosoe, Mereka berkeinginan keras merampas kitab, mungkin didalam situ termuat resep untuk pengobatannya..."

Setelah berpikir demikian, Jie in menggunaipula Liok Hap Hoa It, jurus ke empat belas itu, ia mengerahkan tenaga yang besar sekali, Dengan begini ia paksa ketiga lawannya mundur terus.
Kim Goat bertiga berkuatir berbareng penasaran, dalam gusarnya mereka berseru seru.
Masih Jie In mendesak. sampai mendadak ia mencelat maju sebelah tangannya diluncurkan dengan jurus "Tie Liong cioe Hoat" atau "Mengekang Naga", sebuah jeriji tangannya menotok ke iga kanan Beng Goat.
Pendeta asing itu terkejut. Tanpa berdaya dia kena tertotok. Dengan tiba-tiba dia merasai ngilu pada dadanya, terus menjadi kaku, akan akhirnya buyarlah tenaga di seluruh tubuhnya. Menyusul itu, tubuhnya terpental, roboh terbanting dengan napasnya tersengal-sengal. Syukur untuknya, musuh tidak menyerang terus, bahkan dia dikasi ketika untuk berdiri bangun.

Bukan main malunya Beng Goat, muka namenjadi merah.
Jie In tertawa berlenggak.
"Apa aku kata?" katanya "sayang kamu tidak mau percaya aku"
Kim Goat berdiri, diam mereka heran sekali, Mereka tidak sangka Beng Goat kena didesak demikian rupa dan terhajar hebat.
"Tuan tuan mengerti tentang kamu bertiga” Jie In berkata pula. “pasti kamu pernah terluka oleh Poo Tan siansoe hingga kamu membutuhkan kitab didalam mana mestinya ada
cara pengobatan untukmu. Baiklah, suka aku memegang kata-kataku, sekarang kamu boleh pergi memasuki gua. Percayalah, aku bukan itu macam orang yang nanti menggunai ketikanya selagi orang terancam bahaya"

Kim Goat bertiga terkejut, terutama Beng Goat, pertama-tama mereka kagum untuk liehaynya lawan ini, yang tadi nampak sudah ter desak hebat tetapi dalam sejenak berbalik menjadi pihak yang unggul.
Mareka heran kenapa orang tahu mereka bekas dihajar Poo Tan siansoe, Karena ini, tak lagi mereka dapat berjumawa atau bersikap galak. Dengan paksakan tertawa Kim Goat berkata:
"Kau baik sekali suka mengalah tuan baiklah, maafkan kami, kami bertindak terlebih dulu”
Lantas ia mengajak dua saudaranya pergi ke ujung jurang.

In Gak girang sekali, sedang tadi ia sudah tak berkutik, ia terluka didalam karena bertahan atas gempuran ketiga lawan tangguh itu. Untuk menolong diri, tidak ada jalan lain, diam-diam ia makan ho-sio-ouw.
Luar biasa mujarab obat itu, sebentar saja, ia merata kesehatannya pulih, tetapi la belum berlega hati benar-benar, maka ia makan juga lima butir pel Tiang CoenTan-Disebelah itu. ia telah memikir tipu untuk menghajar lebih dulu salah satu musuh. Begitulah ia menggunai dua jurus terakhir dari Bie Lek sin Kang dan ia berhasil.

Sesudah ketiga coencia pergi keujung jurang, ia mengikuti dengan perlahan, ia tidak mau datang terlalu dekat pada mereka itu Karena ia menghampirkan maka ia pun mendengar ketika dari gua terdengar pembacaan doa.

Tatkala itu Kim Goat Coencia tidak berayal pula, ia tidak bersangsi lagi. ia menjejak tanah untuk berlompat ke arah gua, ia tidak lompat langsung, hanya sambil berjumpalitan tujuh atau delapan kali, ketika ia sampai dimulut gua, tepat kedua kakinya menginjak tanah. Dengan lantas ia masuk kedalam.
"Hahaha" kata Jie ia dalam hatinya, ia mesti mengagumi cara berlompatnya Kim Goat itu. Sekarang tahulah ia caranya lawan memasuki gua nya Poo Tan.
Gin Goat dan Beng Goat tidak turut berlompat, maka itu bersama-sama Jie In mereka cuma mengawasi tanpa berkesip. Rupanya mereka mau menantikan hasil usahanya kakak seperguruan itu.

Tidak lama maka dari dalam gua terdengar jeritannya Kim Goat, beruntun beberapa kali.
" Celaka?" berteriak Gin Goat dan Beng Goat.
Belum berhenti teriakan dua saudara ini atau dari dalam gua lantas terlihat terlempar keluarnya sebuah tubuh yang bermandikan darah, yang terjatuh ke dalam jurang, dari mana lantas terdengar jeritan yang lebih hebat cuma satu kali, tetapi berkumandang suara itu dapat membikin bangun bulu-roma orang

Gin Goat dan Beng Goat berdiri menjubIak. Tak berdaya mereka untuk menolongi kakak seperguruan itu. Untuk memasuki gua mereka dapat berlompat indah dan tepat, sebab itulah lompatan "Thian Liong sin hoat" atau si "Naga Langit", Untuk berlompat mencegah jatuhnya Kim Goat, mereka putus asa.

Jie In pun kaget dan giris hatinya. ia juga tidak berdaya, siapa terjatuh ke dalam jurang itu dia bagian mati, kecuali dia dapat tersangkut di pohon atau dia sebat dan tabah dan dapat berjumpalitan berulang- ulang kali mungkin dia dapat ketolongan jiwanya.
Meski begitu, orang mesti tahu juga tiba di bawah, dia jatuh di air atau di batu wadas.

Selagi si anak muda menghela napas saking berduka, ia melihat Gin Goat danBeng Goat berpaling kepadanya, mata mereka itu mengembeng air, lalu air matanya itu mengucur deras.
“ Jiewie Taysoe, janganlah kamu terlalu bersusah hati.” ia menghibur, "Kakak seperguruan kamu telah menerima tangan jahat, tetapi dia gagah, mungkin dia dilindungi Thian, mungkin dia ketolongan sekarang silahkan kamu melanjuti usahanya itu.”

Kedua pendeta itu mengangguk.
"Adik,." kata Gin Goatpada Beng Goat, "mari kita masuk berbareng, dengan tangan kanan mu, kau menjaga punggungku. Dengan kita berdua bekerja sama mustahil kita tidak sanggup bertahan dari serangan si setan tua itu"
"Itu benar," Beng Goat menyahut. "Mari kita masuk"

Keduanya lantas bersiap sedia. Mereka menyedot napas habis itu dengan saling susul mereka menjejak tanah untuk berlompat. Mereka juga berjumpalitan seperti Kim Goat tadi. Karena sama-sama mereka menggunai lompatan "Thian Liong sinhoat" seperti Kim Goat.

Jie ln berdiri mengawasi dengan mata tajam, hatinya sembari bekerja: "Mereka ini lagi menempuh bahaya, semangat mereka baik sekali. Apakah benar, tanpa pertolongan kitab itu, luka mereka tidak dapat disembuhkan? selama lima tahun mereka memikir dan berdaya, kesudahannya ialah begini rupa, impian belaka...."
Tidak lama pemuda ini berpikir atau ia dikejutkan dua jeritan yang mengerikan lalu
tertampak dua tubuh terlempar ke luar saling susul, sama dengan tubuhnya Kim Goat tad i, jatuh ke dalam jurang...
"Hebat ..." pikir anak muda ini, hatinya gentar.

Ketika itu angin bertiup keras, ujung baju berkibar-kibar, sang angin membawa juga perubahan pada cuaca. sang awan mulai menebal, sang saiju turun beterbangan, melayang layang, Dengan begitu, hawa lantas menjadi dingin sekaii, Tubuh Jie In kuat tetapi ia toh sedikit menggigil.
"Kelihatannya sekarang ini giliranku." ia berpikir, “Untuk mendapatkan kitab, atau sedikit nya menemui Poo Tan, ia mesti lompat masuk ke dalam gua itu seperti Kim Goat bertiga itulah berbahaya, Kim Goat bertiga lihay luar biasa. Dapatkah ia bertahan dari serangannya si pendeta tua? ia juga tidak tahu jelas, di antara guru dan murid muridnya itu, siapa yang benar, siapa yang salah, Heran mereka sanpai bentrok untuk mati dan hidup,...
Mereka itu tidak dapat kasihannya Thian-.. Bagaimana dengan aku?" pikirnya lebih jauh, "Tentang mereka itu baiklah aku jangan ingat pula, Mereka ada urusan mereka sendiri, Aku harus menjaga diriku saja..."

Maka ia mengawasi tajam ke mulut gua, ia juga berpikir, kalau sebentar ia sudah berada di dalam gua, bagaimana ia harus bersikap terhadap Poo Tan siansoe. Bagaimana andaikata ia mendapat nasib seperti Kim Goat bertiga itu. Masih ia mengawasi hatinya berpikir keras.
"Biarlah aku berserah kepada Thian" pikir nya akhirnya. Maka ia mengertak gigi,
segera juga ia menjejak tanah, untuk berlompat. ia tidak berjumpalitan seperti Kim Goat bertiga, ia dapat lompat langsung.

Cuma ketika ia tiba di mulut gua, ia lantas menggeraki kaki dan tangannya, kaki memasang kuda-kuda, tangan untuk bersiap jikalau ketika pendeta tadi menggunai lompatan si "Naga langit" ia menggunai jurus "Elang Berputar Tiga Kali" dari ilmu silat "Cit Khim sin hoat" atau Tujuh Telapak. Dengan enteng kakinya menginjak mulut gua.

Benar sekali katanya Kim Goat, gua itu gelap sekali dan tak rata, terowongannya juga sempit, cuma muat satu orang, Benarlah itu tempat yang berbahaya.
Tapi ia sudah sampai disitu, jeri atau tidak, ia mesti maju terus, Maka ia bertindak dengan hati-hati, matanya dipasang, telinganya mendegar, ia bersiap sedia untuk sesuatu serangan-

Belum dua tombak ia berjalan, atau ia lantas mendengar suara yang keras tetapi parau, itulah suaranya Poo Tan sia nsoe, yang berkata," Tan-wat, aku minta kau menghentikan tindakanmu. Lebih dulu loolap ingin mendengar maksud kedatangan tan-wat kemari."
Tan wat ialah panggilan pendeta kepada penderma, suara itu tajam dan bernada seram. Jie In menghentikan tindakannya dengan hatinya berdenyutan, itulah sebab orang segera melihat padanya sedang ia tidak dapat melihat lain orang.

Maka ia lantas mengawasinya dengan tajam, Baru kemudian ia menampak didepannya, sejarak dua puluh tombak kira kira, ada seorang pendeta tua lagi duduk bersila.
" Hebat," pikirnya, "Dia di tempat gelap. sebaliknya aku dari mulut gua, pantas dia
dapat lihat aku melihat. Herannya kenapa dia tidak lantas menyerang aku sebagaimana tadi dia merobohkan satu demi satu Kim Goat bertiga? Apakah di dalam jarak ini tenaganya belum sampai kepadaku?... Ah, mengapa aku tidak mau mendekati ia untuk menyerang dengan tiba tiba?"

Pikiran ini lantas diwujudkan, ia lantas maju. Tapi baru kira setombak, lantas ia merasa kan dorongan, yang menahan tubuhnya, yang mana disusul dengan bentakan Poo Tan: "Tan wat, mengapa kau tidak dengar perkataanku. Lagi satu tindak kau maju, terpaksa looIap mesti menurunkan tangan jahat atas dirimu"
Bukannya ia mundur menjadi jeri Jie In justeru tertawa riang.
"Siansoe, mengapa kau pelupaan sekali" katanya, "Bukankah pada tiga bulan yang baru lewat ada seorang anggauta dari Kay Pang yang kebetulan datang ke sini hingga di antara siansoe dan dia telah dibuat perjanjian? Benarkah siansoe telah lupa?"

Mendadak terdengar tertawa nyaring dari si pendeta. "Benar, itulah benar" katanya, "Hanya sekarang itu sudah tak perlu lagi".
Jie In menjadi tidak senang,
"Siansoe" katanya keras. "siansoe orang suci, mengapa kau tidak menegang kepercayaan?
Aku datang kemari justeru karena memenuhi ajakannya Beng Pay tauw Bukankah siansoe yang membilang, siapa dapat menasuki gua ini berani dia berjodoh?.."

Belum berhenti kata katanya Jie In atau ia mesti mendengar tertawa yang lama dan tajam yang seram, disusul dengan kata kata ini: "Bicara tentang jodoh, itulah benar, cuma sekarang ini orang yang berjodoh itu sudah rebah untuk selama-lamanya di dasar jurang, arwahnya sudah pergi ke nirwana yang kekal abadi...”

Mendengarjawaban itu maka tahulah In Gak bahwa Pok Tan ini benarlah seorang hantu yang lihay, Bagaimana gampang dia menyangkal kata-katanya, ia percaya jikalau pendeta ini dikasih ketika mendapatkan pulang kesehatannya, dia bakal jadi ancaman bahaya untuk orang orang Rimba PersiIatao. Karena ini lantas ia ingin menyingkirkannya. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia menyiapkan diri, lantas tangan kanannya diajukan untuk dengan jurus "ln Kek Yang seng" menggempur tenaga menolak dari si pendeta yaog tak dapat di percaya itu, berbareng dengan mana, ia maju hingga dua tombak. Di sini kembali ia kena tertahan.

"Ah.." ia mendengar suaranya Poo Tan.
"Aku tidak sangka tenagamu jauh lebih besar dari tiga manusia murtad itu jikalau kau tidak disingsirkan, mana dapat kau membuat hati loolap tenang? Haha."
Jie In segera merasai tolakan tenaga yang kuat sekali, hingga ia hampir tak sanggup mempertahankan dirinya, Lekas lekas ia menggerak jurus ke-empatbelas dari Bie Lek sin-Kang. Dengan begitu, tenaga Poo Tan itu kena dihambat, sampai si pendeta mengasi dengar suara heran, ia lantas meneruskan menyerang, sekarang dengan kedua tangannya berbareng, sambil tubuhnya maju pula.

Poo Tan kaget. Inilah ia tidak sangka, Dengan begitu ia seperti membiarkan si anak muda mendekati ia sampai hampir lima tombak. ia heran, ia tadinya percaya, dengan ketiga Coencia dapat disingkirkan, ia bakal mendapatkan kebebasannya, siapa tahu sekarang datang orang yang ke empat yang tidak dikenal, ia lantas mempertahankan diri, ia menyerang dengan tangan kirinya. ia mengguna i tenaganya yang dinamakan "POuw-tee Ciang Lek." atau "TanganBuddha.

Sekali ini ia menyerang sambil bersenyum, karena ia percaya orang tak akan dapat bertahan lagi.
Jie In mempertahankan diri, Ketika si pendeta menambah tenaganya, ia tetap tidak bergeming.
Poo Tan heran berbareng girang, Ketika ia menyerang itu, darahnya terasa mengalir ke mata kakinya, itu artinya darahnya mulai tersalurkan, ia girang sebab segera ia bakal sembuh seluruhnya. Tapi justeru ia bergirang,justeru ia merasa kan pula dorongan yang keras, la terkejut Dengan lekas ia mengulangi serangannya.

Jie In merasakan serangan itu, la mengerti bahwa ia lagi menghadapi bahaya, ia berlaku s ebat, ia mengegos, habis itu ia merangsakpula.
Maka sekarang ini, Ketika ia mengulur tangan kanannya, dua jarinya dapat menyamber ke pundak kiri si pendeta, Tapi sipmdeta justeru telah menyerang pula, seperti tanpa rintangan, dia mengena kan j itu Jie In kena terpukul, ia terpental mundur dua tombak, terus ia jatuh numprah di tanah. sesudah tubuhnya membentur dinding batu, ia merasakan kepalanya pusing dan matanya berkunang-kunang. Bumi seperti terbalik...

Poo Tan puas dapat merobohkan musuh. Tapi ia masih ingin merampas jiwa orang, Maka mau mengulangi serangannya yang terakhir.
Ketika ia mengerahkan tenaganya, ia terkejut, Tiba tiba ia merasa tubuhnya menggigil, tenaganya tak dapat dikumpul, dadanya menjadi sesak. Menyusul itu, seluruh tubuhnya menjadi kaku atau mati..
"HabisIah aku..." ia mengeluh ia ingat kecewalah peryakinannya selama lima tahun, Nyata ia tidak dapat bertahan lebih lama pula. ia mengerti, samberan dua jerijinya musuh ke pundaknya tadi berkesudahan hebat.

Akhirnya ia menghela napas dan berkata perlahan: "Anak muda, dari mana kau dapat pelaja ri ilmu totok mu barusan? Loolap ketahui baik segala ilmu silat Tiongkok akan tetapi aku tidak kenal kepandaian kau ini, Maukah kau memberi keterangan pada ku?"
Aneh pendeta ini, Habis berkata itu, ia tertawa perlahan, sedih suaranya, ia tidak menanti jawaban, ia berkata pula: "Seumurku loolap belum pernah tunduk terhadap siapa juga, adalah sekarang ini, sebelum aku menghembuskan napas ku yang terakhir, aku takluk terhadapmu. Tentang aku, mengapa aku menyembunyikan diri di wilayah Tiongkok ini, itulah sebuah teka teki."
Anak muda. baik kau ketahui, setelah kau terhajar pukulan ku ini, tiada harapan lagi untukmu memperoleh pertolongan- Apa yang aku sesalkan ialah kitabku ini, yang aku dapatinya secara kebetulan, inilah kitab Poutee Pwee-yap Cin Keng. Kitab ini akan menemani tulang-tulangku menjadi abu. Hanya di sebelah itu, girang juga aku, karena di sini aku, kau si orang muda, kaupun menjadi tetanggaku yang akrab..."
Kata-kata itu disusuli tertawa yang lama yang nadanya sedih.

Jie In mendengari kata-kata itu, ia merasa kepalanya pusing sekali. ia berkuatir tetapi ia berdaya. Dengan lantas ia menjalankan pernapasannya. ia berhasil bisa menyalurkan napasnya. Cuma ia merasa sakit sekali di dada dan perutnya ia ingat perkataannya Poo Tan lantas ia mendapat akal. Maka ia terus berpura-pura bahwa ia benar terluka parah. Dengan sikutnya, ia menunjang tubuhnya pada dinding. ia baru mencoba untuk merayap bangun- sebaliknya, sembari menyalurkan napasnya, ia mengasi dengar suara bernapas keras, seperti orang yang napasnya sesak. Diam-diam ia mengawasi si pendela. sekarang, setelah berdiam lama di tempat gelap. ia dapat melihat tegas.

Poo Tan siansoe bertubuh kecil dan kurus1 tetapi dia bercokol tegak. mukanya keriputa n. jubahnya ialah jubah kuning yang sudah rombeng. Apa yang liehay ialah matanya yang hitam dan bersinar tajam.

Setelah sama-sama berdiam sekian lama, In Gak mengasi dengar suaranya, ia mulanya berkecii hati sebab sipendeta berniat memusnahkan kitabnya, baru ia merasa lega ketika orang mengatakan akan mati bersama.
"Siansoe, dugaan kau tepat," ia kata, sengaja membikin suaranya tidak lancar. "llmu totok aku ini memang luar biasa, Aku dapatkan ini dari seorang asal luar negeri, aku mempelajarinya dengan jalan mencuri, Bagaimana paadanganmu mengenai ilmu totok ini."

Setelah putus asa itu, terbuka hatinya Poo Tan, Dia tertawa.
"Hebat ilmu totok kau ini" katanya, "Bukti nya totokanmu dapat membikin loolap binasa, Tetapi, anak muda bukanlah pukuIanku pun enak diterimanya."
"Benar" sahut In Gak lekas. "Kalau tidak, mana dapat aku menemani siansoe mati? Eh, loosiaosoe. Aku bakal mati maukah kau melemparkan kitabmu padaku, untuk aku dapat melihatnya, satu kali saja...”.
Habis berkata begitu, anak muda itu roboh.
Poo Tan merasa penderitaannya hebat sekali, ia mau bertahan tetapi tidak dapat. Ia
mesti menyenderkan kepalanya ditembok dinding di belakangnya Mendengar permintaan si anak muda ia menyedot napas.

14. Jilid 7.2. Ilmu baru, Pou-tee pwee yap sin kang

Bacaan » PEMBALASAN SEORANG JAGOAN » Jilid 7.2. Ilmu baru, Pou-tee pwee yap sin kang
Anggota masrizki
Waktu 23 Agustus
Bab Sebelum 13. Jilid 7.1. Tiga murid durhaka Poo-tan siansu
Bab Sesudah 15. Jilid 8.1. Menolong sahabat ayah




Pembalasan Seorang Jagoan
Karya : Wu Lin Qiao Zhi
Terjemah : OKT
Jilid 7.2. Ilmu baru, Pou-tee pwee yap sin kang

"Anak muda. ini, kau ambillah.,." sahutrya. ia menggeraki sebelah tangannya, akan merogoh ke sakunya, lalu ia melemparkannya ke depan anak muda itu, ia menambahkan,” Jikalau bukan karena kitab ini, tidak nanti loolap dicelakai ketiga murid ku yang murtad itu dan sekarang terbinasa ditanganmu: Pergi pulang, semua itu disebabkan ke serakahanku: Di mataku, kitab ini ialah benda yang membawa alamat jelek, dari itu haruslah lekas-lekas dimusnahkan. Anak muda, sehabis kau melihat, lekas kau lemparkan pula kepadaku, hendak aku menggunai sisa tenagaku buat merusaknya, supaya tidak sampai terjatuh ke tangan orang jahat dan tak usah meninggalkan bahaya di belakang hari.." suaranya pendeta itu makin lama makin lemah.

Kitab itu jatuh di depan Jie In sejarak lima kaki. si anak muda menggeraki tubuhnya, ia merayap. tangan kanannya diulur untuk menjemputnya. selama itu napasnya memburu, agaknya ia menggunai terlalu banyak tenaga, Kitab itu dapat juga diambil, itulah sebuah buku dengan kulitnya kulit kambing dan isinya dalam bahasa sangsekerta huruf hurufnya sangat halus.
"Siansoe, huruf hurufnya kitab ini sangat kecil, tak nyata aku melihatnya," ia kata.
Pendeta itu tertawa perlahan "Memang huruf-hurufnya halus sekali bagaikan kepala laler," katanya. "Matamupun sudah kabur, mana dapat kau melihatnya tegas..."

Jie In lantas merayap ke mulut guha, "Hei" bentak Poo Tan mendadak.
"Kenapa kau tidak mau melemparkan balik kitab itupadaku?" Jie In merayap terus.
"Aku hendak melihatnya ditempat terang" ia berkata. "Aku hendak melihat dengan nyata sekali, Kalau tidak, matipun aku tidak puas .." ia lalu merayap terus.
Wajahnya Poo Tan mendadak berubah. "Kau mau kabur?" dia berseru. Mendadak dia menyerang.

Sambil merayap itu Jie In mencoba menyalurkan pula napasnya. ia tidak merasakan sesuatu halangan kecuali dadanya masih sakit. Maka ia kata dalam hatinya: "Asat aku sampai di depan gua, selamatlah aku, Dia bisa mati, umpama kata dia menyerang aku, tidak nanti tenaganya cukup kuat..."
Ia girang sekali, maka selagi mendekati mulut gua, ia merayap bangun, untuk berlompat.
Justeru itu ia mendengar bentakan si pendeta dan segera terasa satu tenaga besar mendorong tubuhnya.
Tidak ampun lagi, tubuhnya terhuyung kedepan. ia mencoba mempertahankan diri, ia gagal, maka tidak ampun lagi, terus ia terkusruk ke mulut gua, hingga ia menjerit keras, sebab segera tubuhnya terjatuh ke dalam jurang...
"Habis aku" demikian pikirnya. "Kecewa aku terbinasa dengan cara begini."

Dalam keadaan tinggal mati itu, anak muda ini tidak melupakan kitab yang dipegang tangan kanannya, bahkan ia masih meraba ketika sang angin yang biasa terdapat di dalam jurang, yang berputar sendirinya lantaran arahnya terkekang dinding bukit. Dengan lantas ia menggeraki kedua tangannya, juga kedua kakInya, untuk memutar tubuhnya, guna mengikuti aliran angin yang ada seperti angin puyuh itu.

Kalau tadinya ia menutup matanya, sekarang ia melek. untuk melihat ke bawah. oleh sang angin, ia menjadi seperti terbawa turun dengan terputar terus.
Maka tak lama tibalah ia di bawah di dasar jurang itu. ia menginjak tanah cuma dengan terbanting sedikit, meski begitu, ia menjadi lemas sekali, tenaganya seperti habis, kepalanya pusing matanya berkunang-kunang. Untuk sejenak ia kegelapan. Tidak ada salju turun di dalam jurang itu semuanya gelap. Dengan perlahan lahan ia menetapkan hati.
Kitab di tangan kanannya dipindahkan ke tangan kiri lalu dtngan tangan kanan ia merogoh kesaku nya,

Di sana ia dapatkan sepotong ho-sioe-ouw, sisa yang ia telah makan tadi, ia lantas masuki itu ke dalam mulutnya untuk dimamah dan di telan hingga ia merasakan bau harum dan dadanya dirasai lapang.
Dalam tempo yang sangat pendek. lenyap rasa sakitnya.
"Adakah ini takdir?" ia berpikir, "Aku menyimpan ho-sioe-ouw dengan maksud nanti dipakai menoIongi orang, siapa tahu sekarang akulah yang menggunainya sendiri .Dua kali aku terluka parah, siapakah yang menyangka?"
Lantas ia mengeluarkan Tiang coen Tan, ia telan empat butir, Habis itu ia duduk bersila, matanya dirapatkan, pikirannya dipusatkan ia bersemedhi tanpa menghiraukan lagi segala apa di sekitarnya.

Berselang satu jam baru anak muda ini membuka matanya, ia mengeluarkan napas panjang, Terus ia berbangkit berdiri, Ketika ia mengangkat kepalanya, la melihat mulut
jurang yang menjulang tinggi, sendirinya hatinya bercekat, ia membayangkan bagaimana hebat ia telah terjatuh dari dalam gua.
"Benar-benar hebat tenaga dalam dari Poo Tan" ia pikir, "Dibanding dengan Bie Lek sin Kang, dia masih terlebih unggul...Entahlah sekarang dia masih hidup atau sudah mati.,."
sekarang pemuda ini ingat bagaimana tadi, ketika ia mencampuri pundak pendeta itu, ia sudah menyerang dengan tipu silat Hian wan sip-pat Ciang yang dinamakan "Memutus otot dan nadi," hingga ia dapat membikin putus tiga lembar ototnya musuh, Karena alpa saja, ia kena dihajar si pendeta, ia girang, maka ia lantas tertawa.

Mendadak ia berhenti tertawa, Tiba-tiba ia ingat Thian Gwa sam Coencia. Maka ia lantas melihat kesekitarnya. ia tidak melihat mayat-mayatnya ketiga pendeta itu, ia heran.
"Aku terjatuh dan tertolong angin, mungkin kah merekapun begitu?" ia kata dalam hatinya, "Ah, sudahlah, buat apa aku pikirkan mereka itu.." ia lantas ingat Kouw Yan Boen, sInona yang cantik dan manis itu.
"Dia tentu lagi menunggui aku, dia pastilah tidak sabaran . . . " pikirnya pula, Maka ia lantas simpan hati-hati kitabnya, lalu mulai mencari jalan untuk keluar dari jurang itu, ia menuju ke selatan.

Syukur jurang itu bukan mati, Ke arah selatan, jurang itu sampai kepada lembah terbuka, Maka keluarlah Jie In dari tempat maut itu, Hawa udara dingin sekali, ia jalan terus, ia tiba disebuah desa di mana rumah pada tertutup pintunya, ia jala n terus kecuali ia mengetuk pintu, guna menanyakan^ala nan kearah kecamatan Leng cio, ia minta keterangan di setiap dusun yang dilewati.

Umumnya orang memandang heran kepada-nya, sebab setelah jatuh di jurang, ia dandan tidak keruan, Bajunya pecah di sana sini, baju dalamnya sampai kelihatan iapun luka disikut dan dengkul, bahkan kaki kanannya terluka dalam bekas terbanting di dinding batu lorong gua, ia menggeleng kepala kapan ia menyaksikan romannya sendiri. Maka ia berjalan secepatnya bisa. Ketika akhirnya ia tiba di rumahnya Yo Loo-tiang, si orangtua sbe Yo di Oey chung, itu waktu sudah jam dua malam, tuan rumah semua sedang tidur nyenyak. maka ia menggedor pintu membuatnya orang mendusin dengan kaget.

"Tuan Jie diluar?" tanya Yo Loo-tiang dari dalam selagi ia menghampirikanpintu sambil mengenakan baju luarnya. ia segera menduga pada tetamunya itu.
"Ya," Jie Io menyahut, ia malu hati sebab ia mesti mengganggu tuan rumah. "Maaf aku mengganggu kau. Tolong buka pintu."
"Tidak apa, tidak apa." sahut tuan rumah berulang-ulang seraya ia membuka i pintu, sebelah tangannya memegangi lilin. Maka kagetlah ketika melihat roman orang, hingga ia menanya: "Ah, tuan Jie Kau kenapakah?"
"Aku terpeleset jatuh kejurang," Jie In mendusta, mukanya merah, "syukur aku tidak mati . . ."
"Oh" orang tua itu berseru kaget, "Syukur syukur silahkan masuk. Nanti aku suruh nona mantuku masak air untuk tuan membersihkan tubuh."
"Terima kasih, Lootiang." kata Jie In, menampik "ltulah tak usah. Aku mau berangkat
sekarang juga."
"Ah, mana dapat, tuan" tuan rumah mencegah, "Hari masih gelap dan hawapun dingin sekali Baikah kau berangkat besok pagi-pagi,"

Tuan rumah ini memaksa menahan, sedang anak isterinya telah bangun, di antara siapa ada yang repot menyalakan api dan memasak air. Terpa ksa Jie In menurut. ia ambil buntalannya untuk salin pakaian- Habis ia minum arak yang disuguhkan, ia diantar ke kamarnya, disilakan tidur.
Di dalam kamarnya Jie In tidak merebahkan diri, Duduk menghadapi api, ia mengeluarkan kitab Pou-tee Pwee-yap cin-Keng, untuk diperiksa, Namanya kitab, itu sebenarnya terdiri tiga helai, Memang benar, huruf-hurufnya sangat halus.
"Sy ukurlah dari Beng Liang Taysoe aku memperoleh pelajaran bahasa sangsekerta," katanya dalam hati, "jikalau tidak, kitab ini pastilah akan menjadi kertas sampah."

Ia lantas membaca. Tidak perlu banyak waktu untuk membaca habis, itulah ajaran Sang Buddha, untuk orang memelihara d irinya, bagian dalam dan bagian luar, pokoknya ialah huruf "Ceng," atau Tenang"
Ajaran itu dapat membikin hati bersih dan tubuh sehat, itu artinya, penyakit atau lukapun dapat disembuhkan kecuali luka sampai otot putus.
Pantas Kim Goat bertiga ingin mendapat kan itu. rupanya mereka ingin mengobati luka di dada mereka, khasiat lainnya, yaitu setelah hati bersih dan tubuh sehat, orang dapat membikin dirinya seperti muda pula.

Asalkan terus menerus orang membaca kitab itu, guna berlatih, Tentu sekali, tubuh sehat berarti tenaga brtambah. Bedanya ini dari pada Bie Lek Sio Kang yalah tenaga dapat digunai sambil duduk bersila saja.
Jie In memang rajin dan tekun, maka itu terus ia membaca, untuk mengingat dan mengapal diluar kepala, itu artinya, ia terus berlatih.
Untuk ia segala apa berjalan licin karena ia berbakat dan telah mempunyai dasar juga, Dengan cepat ia dapat menangkap artinya setiap pengajaran- Setelah mendapatkan ketenangannya dan pernapasannya sudah pulih seperti sediakala, ia memperoleh kefaedahan lain, ialah ia merasa matanya menjadi terlebih tajam lagi.
Sampai fajar Jie In tidak tidur, maka ketika tertampak sinar terang di Jendela, ia membuka pintu,

Yo Lop-tiang semua sudah bangun tidur, nona mantunya sudah repot bekerja di dapur, ketika dia melihat tetamunya muncuf, lantas dia menyediakan air dan lainnya.
Jie In merasa tidak enak sendirinya, ia tidak dapat mencegah kebaikannya tuan rumah itu. ia sebenarnya mau berangkat pagi-pagi kesudahannya ia pergi sesudah siang, ia meminta diri, ia pergi dengan naik kudanya.

Tidakperduli angin keras dan salju turun, ia melarikan kudanya keras, selewatnya kecamatan Leng cio.. ia berada di jalanan yang sepi, yang dikiri kanannya berbaris lebat pepohonannya, Tiba tiba ia ingat suatu apa.
" Kenapa aku tidak mau berhenti disini dan mencoba Poutee Ciang Lak di dalam rimba ini?" demikian pikirnya, "Perlu aku tahu, kemajuan apa aku telah peroleh..."

Begitu ia berpikir, begitu ia mengambil putusan, ia putar kudanya masuk ke dalam rimba, ia memilih satu tempat yang tidak terlalu lebat, setelah menambat kudanya, ia pergi duduk bersila di tempat di mana tidak ada salju. Mulanya ia berdiam, untuk mengerahkan tenaga di tangannya, lalu mendadak menolak keras. "Brak" begitu ia rnendengar. sebuah pohon di depannya tumbang karenanya.
" Hebat" pikirnya, ia girang bukan main. Apa yang aneh, serangan itu tidak mengeluarkan suara angin, pukulan Bie Lek sin Kang masih ada iringan anginnya.
"Baik aku mencoba," pikirnya, ia lalu menyerang dengan pukulan Liok Hap Hoa it. Di depannya, pohon tumbang pula, Tapi ia dapat kenyataan, pukulan Poutee Ciang Lek lebih dahsyat dan tenang.
"Pastilah ini hasilnya Poutee Pwee-yap Cin Keng," kata ia dalam hatinya, ia girang bukan buatan, sebegitu sudah cukup, maka ia naik pula kudanya, untuk melanjuti perjalanannya, ia kabur ke arah Thaygoan.

Kapan akhirnya In Gak sampai di kuil Chin soe, di belakang kuil itu ia mendapatkan Yan Boen tengah berlatih tindakan "Kioe Kioug Ceng Hoan im yang Pou" di atas peka rangan yang beramparkan salju. ia lihat orang berlatih dengan sungguh-sungguh. Di dalam tempo dua hari, pesat sekali kemajuan sinona. Tentu saja ia girang sekali. "Adik" ia memanggil, Yan Boen berhenti bersilat dengan lantas.
"Engko In" ia berseru kapan ia melihat si anak muda kepada siapa ia berlompat menubruk. hingga mereka menjadi saling rangkul. "AdikBoen" kata In Gak tertawa, "Mari masuk." Yan Boen menurut.

Di dalam kamar Jie In duduk di atas pembaringan. "Bagaimana, engko In?" tanya sInona.
" Hebat," sahut si anak muda, yang terus menuturkan pengalamannya.
Maka sInona mengawasi, sinarnya kaget dan girang Benar-benar si engko In mirip sudah mati hidup pula, Diakhirnya, hatinya lega. Habis menutur Jie In menghela napas, lalu ia tertawa. "Adik Boen, mari kita pergi pesiar ke kota Thaygoan" ia mengajak. Nona itu menatap. mendadak dia tertawa.
"Bukankah engko ingin menyelidiki gerak-geriknya Ceng Hong Pay?" ia tanya. Jie In mengangguk. la tertawa pula, Maka sInonapun tertawa. "Marilah" Nona Kouw mengajak.

Maka dengan merendengi kuda mereka menujulah mereka ke dalam kota, yang dari jauh-jauh telah terlihat sayup-sayup. nampaknya kokoh dan teguh, sekitarnya luas duapuluh empat lie
Tiga arahnya timur, barat dan utara bergunung cuma bagian selatannya yang berdatar panjang dan sempit. Dan inilah jalanan yang diambil muda mudi itu.

Gunung-gunung bersalju, diatasnya terlihat burung beterbangan sedap untuk memandangi pemandangan alam itu. Maka juga, ketika di belakang mereka terdengar berisiknya kelenengan kuda, mereka tidak menoleh untuk melihat, mereka terus bicara sambil tertawa dan bersenyum, tangan mereka tunjuk sana dan unjuk sini.

Segera juga lewatlah rombongan yang menunggang kuda itu, yang terdiri dari belasan orang. Ketika mereka sudah lewat sekira lima tombak. semua menahan kuda mereka secara mendadak. terus mereka berpaling mengawasi pemuda dan pemudi itu.
-00000000-

"Ha " berseru satu penunggang kuda yang usianya muda. "Di mana di dunia ada wanita begini jelek romannya Ha ha ha ha"
Yan Boen memang memakai topeng pemberiannya In Gak. Tapi la tidak senang, maka ia mau majukan kudanya, Alisnya pun sudah lantas bangun berdiri
"Hus" In Gak berkata seraya tangannya menarik sInona "AdikBoen, kau lihat aku." ia
lantas mengajukan kudanya untuk ditahan di depan si anak muda. "Tuan, di maka umum ini kau berani bicara tentang orang, apakah kau tidak takut pada undang-undang negara?"

Pemuda itu tertawa pula, ia menoleh kepada kawan-kawannya dikiri dan kanannya.
"Kamu lihat" ia berkata temb erang "Peajar rudin ini mungkin telah makan hatInaga dan nyali harimau maka dia berani kurang ajar di depanku" Lantas dia mengawasi In Gak, matanya mendelik: "Eh,pelajar rudin, aku Heng Toaya, aku gemar membicarakan halnya wajah wanita, aku tidak mengambil mumat pada undang-undang negara Habis kau mau apa, ..?
“Aduh"
Belum berhenti suara anak muda itu atau dia lantas menjerit keras bahwa kesakitan, sebab cambuknya In Gak sudah menyamber pipinya yang kiri, hingga pipi itu berbekas digaris merah, Celakanya untuk dia, tubuhnva terhuyung dua kali, tergelincir dari atas kudanya
Jie In sebal melihat keceriwisan orang, maka ia lantas menghadiahkan satu cambukan.

Belasan kawan si anak muda menjadi gusar.
" Hajar" mereka berseru-seru lantas mereka mau maju.
Si anak muda sehabis menubruk tanah, lantas berlompat bangun, Dia tidak takut, dia menjadi sangat gusar.
"Bagus, pelajar rudin" dia berteriak. tangannya yang sebelah menutup pipinya, "kau berani pukul orang?"
Jie In tertawa.
"Memang biasa aku suka menghajar orang di muka umum" sahutnya. "Tabiatku sama dengan tabiatmu"

Bukan main gusarnya si arak muda, dia lompat maju, tangannya dilunjurkan, niatnya menyamber pemuda kita, guna ditarik terjungkal dari atas kudanya.
Jie In bersenyum. cambuknya diayun, Belum lagi tubuhnya kena d isamber, atau tubuh orang itu, yang sebenarnya bernama Heng Coan, sudah kena terlibet, maka ketika cambuk d ig entak. dia lantas terangkat dan terlempar, jatuh belasan tombak jauhnya, terbabat diantara salju
Kejadian cepat sekali, kawan-kawannya Heng Coan tak dapat mencegahnya, Lalu satu diantaranya, yang sudah setengah umur, yang mukanya bundar, berkata r "Tuan, walaupun kau liehay, kami dari pihak Ceng Hong Pay, kami bukannya orang-orang yang dapat dipermainkan perbuatanmu ini, tuan ialah gara-gara diantara kita." Maka kau tunggu dan lihatlah"

Jie In menjadi gusar mengetahui orang adalah orang-orang Ceng Hong Pay, tanpa membuka mulut lagi, ia mengayun cambuknya, terus hingga tiga empat kafi. Maka ramailah suara belasan orang itu, yang berteriak teriak teraduh-aduh bahwa kesakitan, sebab cambuk itu merabu mereka, tubuh mereka terjungkal roboh dari atas kuda masing-masing.. Habis itu, dengan satu lompatan, Jie In tiba di depannya si orang muka bundar usia pertengahan itu.
orang itu, yang barusan mengeluarkan kata-kata mengancam juga turut roboh, ia tengah berlompat bangun kapan ia melihat musuh berada di depannya, saking kaget, mukanya menjadi pucat, untuk membela diri, ia menggeraki kedua tangannya berniat turun mangan terlebih dulu.

"Kau mau mampus" membentak Jie In yang tangan kanannya menyamber.
Dengan menjerit keras, kedua tangannya orang itu patah seketika dan darahnya pun mengalir Dia roboh pingsan
"Ceng Hong Pay itu benda apa?" tanya Jie In bengis, mengawasi semua orang Ceng Hong Pay itu yang telah pada merayap bangun, " Kamulah tukang berbuat sewenang-wenang yang tidak mengindahkan undang-undang negara sekarang aku beri ampunjiwa kamu, supaya kamu dapat membuat laporan kepada ketua kamu. Bilanglah supaya dia tahu diri dan membataskan sepak-terjangnya. Dapatkah kamu dibandingkan dengan tujuh imam darIngo Tay san? jikalau kamu tidak puas, kamu boleh cari aku? Aku si orang she JieBila nanti kamu ketemu ketua kami sampaikanlah hormatku"

Mendengar suara orang itu, mukanya orang-orang Ceng Hong-Pay itu menjadi pucat, dengan memayang simuka bundar, yang mereka kas Inaik atas kudanya, dengan terbirit-birit mereka menyingkirkan diri, itulah sebab berita hal Jie In dengan sebatang cambuknya mengundurkan ke tujuh imam darIngo Tay san telah menggemparkan dunia Kang ouw, bahkan pihak Ceng Hong Pay telah memesan semua anggautanya, apa bila mereka bertemu Jie In, mereka dilarang turun tangan, mereka diharuskan melaporkan kepada markas mereka.

Di luar sangkaan, kali ini mereka justeru main gila di depan si orang she Jie sendiri, Heng Coan sangat ketakutan dia mendahului lari sampai dia lupa pada kudanya. Menyaksikan kejadian itu, Yan Boen tertawa bergelak di atas kudanya Jie In melihat kejenakaan sInona, iapun tertawa, Tapi ia fekas berkata: "sekarang tak dapat kita pergi terus ke kota Thaygoan, -Mari kita kembali dulu ke Chin soe”

Yan Boen menurut tanpa mengatakan sesuatu. Untuknya, asal ia berada disisi si anak
muda sudah puaslah hatinya, Begitu si anak muda lompat naik kepung g ung kuda, ia menarik les-nya, untuk membikin binatang itu membalik arah, untuk kabur kembali ke kuil. " Heran, heran..." kata Jie In seorang diri di atas kudanya. Ia seperti mendumal.
"Heran apa, engko In?" sInona nanya. Dia menatap dengan tak mengerti "Apakah itu yang dibuat heran?"
"Aku merasa aneh," menyahut si anak muda "Ketika aku turun tangan dirumah Liesielong, aku menggunaInama Ceng Hong Pay, karenanya pembesar negara barulah mencari dan membekuk orang orang Ceng Hong Pay. sekarang buktinya mereka dapat kemerdekaan mereka, bahkan mereka jadi galak sekali. Kenapa kah?tidakkah itu aneh?"

SInona tertawa.
"Engko In, kau terlalu jujur" katanya, "Seharusnya kau memikir. Ceng Hong Pay itu telah kokoh- kuat dasarnya dan pengaruhnya besar sekali, sudah wajar jikalau mereka bersekongkol dengan pembesar negeri, jikalau tidak. mana dapat mereka dibiarkan saja? Bahkan mungkin Ceng Hong Pay justeru lagi berdaya- upaya untuk membekuk kau, engko"
Jie In bagaikan baru sadar, ia tertawa.
"Kau benar, adikBoen" katanya, "Kenapa aku tidak memikir demikian? Dasar kau cerdas" sInona tertawa pula.
"Sudahlah, jangan kau mengangkat-angkat aku" katanya, "Engko In, kau harus ajarkan aku ilmu cambuk mu tadi kau gunakan"
"Baik, nona manis." kata In Gak tertawa, ia menjiterkan cambuknya hingga kudanya berlompat dan lari keras, hingga lekas juga mereka kembali ke kuil, selagi mereka bertindak masuk ke dalam kuil, dari sana muncul tiga orang yang menyambut mereka sambil tertawa berkakak.

Bukan main girangnya si anak muda kapan ia telah melihat ketiga orang itu, yang bukan lain dari pada Kioe Cie sin- Kay Chong sie dan Kit Koen Coe Loei Siauw Thian beserta imam dari Chin soe. ia lompat untuk menyamber tangannya Siauw Thian seraya berseru: Toako Jieko Kapankah kamu tiba?"
Sia uw Thian tidak lantas menjawab, hanya ia mengawasi tajam kepada Yan Boen.
"Shatee" katanya kemudian, "kau telah mempunyaInona yang manis sekali kau sampai melupai kedua kakakmu"
Yan Boen masih memakai topengnya yang membuat mukanya sangat jelek mendengar kata-katanya Siauw Thian, ia likat sekali akan tetapi tidak dapat ia bergusar karena orang adalah kakak-angkat engko In-nya, ia tunduk dan diam.

Jie in dapat menduga tentulah si imam yang membuka rahasia, ia tertawa dan kata, “Jieko, masih saja kau tak dapat mengubah adatmu. Kau suka sekali menggoda orang Awas, jikalau adik Yan gusar dan dia menghajar kau, aku tidak akan bertanggung jawab"
Siauw Thian menggeleng kepala, "Aku tidak takut" katanya, lagaknya tetap jenaka. "Di kolong langit ini mana ada tee-hoe yang menampar Jiepeenya?"

Terus ia berpaling kepada Yan Boen dan berkata dengan ramah: "Benar bukan, teehoe?" Yan Boen berdiam cuma matanya melotot kepada Jiekoe itu, paman yang nomor dua. Kioe cie sio Kay sebaliknya mengerutkan kening.
"Banyak yang harus kita bicarakan." katanya. "Mari masuk" Maka masuklah mereka, untuk duduk berkumpul di ruang dalam.
"LooSam" kemudian si pengemis tanya, Sekarang ia tertawa. "Bagaimana dengan urusan yang dikatakan si pengemis sheBeng?"
"Sudah beres." menjawab Jie in, " Hanya hampir saja jiwaku lenyap. .." ia lantas menuturkan pula peristiwa di puncak CioeAuw Hong itu.

Chong sie dan Siauw Thian mengawasi adik angkat ini. Benar- benar pengalaman itu hebat. syukur adik ini selamat.
Jie In kemudian tanya: "Bagaimana dengan kedua bocah she Hoe itu?"
"Kau jangan kuatir," menyahut Chong sie, "Mereka sudah sampai di rumah mereka, Beng Tiong Ko telah menerima baik kata-kataku, untuk sementara dia berdiam di ciang peng, setelah kita kembalInanti, baru dia akan balik ke shoasay. Hanya sekarang ini, Lao sam, kau telah mendatangkan ancaman bahaya yang bukan kecil.."

Jie in heran.
"Bahaya apakah itu?" tetapi Siauw Thian sebaliknya tertawa terbahak, "shatee liehay ilmu silatmu tetapi pengalamannya dalam dunia Kang ouw masih sangat kurang" berkata ini kakak angkat yang nomor dua.
"Selama yang belakangan ini, apapun yang terjadi didalam dunia Kang ouw, semua itu ada perbuatan kau. Coba kau pikir-pikir apa yang kau lakukan terhadap Liong bun Ngo Koay? Bagaimana dengan Imyang siang Kiam? Kau membikin Siauw Yauw Iesoe kabur dengan mengandung penasaran. Dengan cambukmu kau mengundurkan tujuh imam darIngo Tay siu. Bukankah Goan cin coe ketua Ngo Tay Pay terluka dan terbinasa karena kau? Di kecamatan Heng koan kau telah membinasakan ketua cabang Ceng Hong Pay yang bernama Goei Gio dan
dua kawannya, meski benar mereka terbinasa tanpa luka-luka, Dan Pat Cioe Thiam coe Goh Hoa telah menemui ajalnya diatas menara.
Semua itu mereka duga adalah buah pekerjaan kau. Kau tahu selagi bersama toako aku memasuki wilayah - shoasay ini ditengah jalan aku melihat jago-jago dari lima propiosi Utara, Maka aku percaya di kota Thaygoan tentulah ada bahaya besar yaog mengancammu, shatee julukanmu Koay Cioe sie seng di Pelajar Tangan Aneh telah menjadi sangat terkenal di mana-mana"

Jie In berdiam hatinya bercekat, ia tidak menyangka ia telah menanam demikian banyak permusuhan.
Chong sie mengerutkan kening tetapi ketika ia berkata ia tertawa.
"Loo Jie, masih ada latu hal yang kau belum menyebutnya." katanya. "Nanti aku si pengemis tua yang menambahkannya. Loo sam, pekerjaan mu di rumah Lie sie loog bukanlah pekerjaan yang sempurna. Kau tahu di hari besoknya Pok Loo Jie ketua Ceng Hong Pa y sudah lantas datang menghadap pembesar negeri untuk menyangkal, sebagai kesudahan dari pertemuan itu telah diadakan batas tempo satu bulan untuk menangkap kau.
Kejadian itujuga diketahui oleh kota raja, pemerintah menjadi gusar maka telah dikirim sembilan belas pengawal keamanan dan istana untuk mencari kau, Demikianlah urusan sangat menggemparkan."

Jie In berdiam, tetapi akhirnya ia tertawa. "Selama mereka itu bertindak secara terang-terangan, aku tidak takut" katanya, "Bukankah tidak dapat mereka itu main menduga-duga saja dan bertindak membabi buta? Aku akan meminta kesaksian berikut bukti-buktinya, jikalau mereka main paksa, biarlah mayat-mayat pada bergelimpangan pula."
Kioe cie sin Kay tertawa bergelak. dia menunjuki jempolnya.
"Sungguh kau gagah, shatee" ia memuji. "Menyangkal ialah jalan utama tetapi itu bukan berarti tersingkirnya pertempuran. Kau tahu, juga jago-jago dari Oey Kie Pay telah turut datang ke shoasay ini ketika ini hendak aku si pengemis tua menggunainya buat aku membereskan perhitungan lama, cuma aku kuatir karenanya aku nanti merembet- rembet Cee Lootee, Akupun menguatirkan nanti terulang peristiwa dua puluh tahun dulu itu..."

Mendengar perkataannya si pengemis, imam dari Chin soe, yang sedari tadi berdiam diri, lantas tertawa lebar.
"Chong Loosoe- kau nyata terlalu tak melihat mata pada aku. Kiauw cioe Koen loen cee Hong" ia kata nyaring. "Apakah kau kira aku si orang she Cee takut perkara?"
Siauw Thian tertawa, ia mengulapkan tangannya.
"Semua yang hadir disini, semua tidak takut perkara" ia kata nyaring.
"Bukankah benar demikian nona?" ia menambahkan pula Yan Boen kepada siapa ia menoleh, iapun bersenyum.

Nona Kaouw tidak betah memakai topeng, ia menyingkirkan itu, atas pertanyaan Siauw Thian ia bersenyum maka terlihatlah kecuali kecantikannya sInona juga manis dan ayu.
"Au dia begini cantik...." kata Siauw Thian di dalam hati. pantaslah shatee jatuh hati padanya..."
Habis itu Yan Boen memakai pula topengnya dia tertawa, Rupanya senang menyaksikan Siauw Thian dan chong sie mengagumi keelokannya itu.

Justeru itu diluar terdengar suara seperti barang jatuh. Angin lagi meniup keras tetapi itu tidak dapat mengelabui orang orang kosen di dalam kuil Cee Hong, yang air mukanya berubah, lantas mengayun sebelah tangannya, menerbangkan tiga batang paku Gin-teng.
Diluar jendela lantas terdengar suara tertawa dan kata-kata ini, "Cee Loo te, inilah bukan caranya menyambut sahabat baik. Kenapa sebelum bertemu, kau lantas menggunai tiga batang paku ini? Kalau begitu, nyata kau berpikiran cupat sekali."

Cee Hong merasa bahwa ia kenal suara itu, sayang ia tidak bisa lantas mengingatnya. Maka itu sembari mengayun pula tangannya, ia lompat kejendela, untuk lompat keluar sambil menanyai "siapa di luar?"
Jie In dan yang lainnya sudah lantas menyusul ke luar.
Diluar jendela itu terlihat delapan orang, di antaranya ada Hong Coan yang tadi diajar adat oleh in Gak. seorang lagi diantaranya yang tubuhnya tinggi dan besar yang mukanya merah dan hidungnya seperti hidung singa yang kumisnya putih semua mengawasi In Gak dengan tajam.

Ditangannya dia mencekal tiga batang paku ialah senjata rahasianya Cee liong barusan.
"Cee Lo too" kata dia sambil terus tertawa terbahak " baru dua puluh tahun kita berpisah lantas kau sudah tidak mengenali orang?" Dia tetap memanggil "loo-too" atau Imam tua.
sekarang cee Hong kenali orang itu, maka ia tertawa.
"Aku tadinya menyangka siapa." ia kata, "tidak tahunya yang berkunjung ini ialah
sao-coe Coa Hok dari gunung Ya Jin san san-coe, apakah datangmu ini untuk membuat perhitungan perkara dua puluh tahun yang lampau?"
Coa Hok tertawa dingin.
"Ce Lotoo, apakah kau sangka aku si orang she Coa orang yang berpikiran cupat?" ia berkata mengejek. "Dulu hari itu kau telah terkena sebelah tanganku, maka dengan itu perhitungan sudah lunas, Kali ini aku datang kau tahu, ialah untuk si orang she Jie" ia lantas menuding In Gak.

Selagi dua orang itu berbicara, Siauw Thian membisiki adik angkatnya "Lao sam, kau lihat empat diantara mereka itu yang memakai ikat kepala hitam dan putih, Merekalah Biauw Kiang soe Yauw, empat siluman dari wilayah bangsa Biauw. Kecuali liehay ilmu silatnya, mereka itu liehay juga jarum rahasianya yang dinamakan Boe eng san hoa Ciam atau jarum Menabur Bunga Tanpa bayangan yang hebat ialah jarumnya ada racunnya, racun mana, kalau mengenai tubuh, tak terpikirkan akibatnya, Maka itu hati-hatilah kalau sebentar kau menempur mereka itu. Kalau dapat baiklah mereka disingkirkan siang-siang..."

In Gak mengangguk. matanya mengawasi Biauw Kiang soe Yauw, tubuh siapa rata-rata jangkung kurus, muka mereka merah, kaki mereka bertelanjang, bajunya panjang sampai di lutut, sinar matanya kebiru-biruan, romannya sangat bengis.
Pula di dalam rombongan itu ada dua orang wanita, yang romannya cantikjuga, yang mengasi lihat senyuman tawar. Rupanya mereka itu mentertawakan Yan Boen, yang romannya sangat jelek. Dari bersenyum, mereka terus tertawa,

Nona Kouw sangat mendongkol, hingga ingin ia menghampiri kan mereka, untuk mengajar
adat, guna menggaplok mereka, Dengan menguasai diri sendiri, ia cekal keras tangannya In Gak.
Jie In tengah memperhatikan musuh ketika ia merasai tangan lunak mencekal tangannya itu, ia lantas membalas memegang erat erat.
Ketika itu Chong sie berkata pada Loei Siauw Thian- "orang yang berdiri di sampingnya Coa Hok ialah siang Kauw sin san Kwee Hong Coen, ketua dari Kwee Kee Po dari siangpay. Dialah seorang baik, pernah aku bertemu dengannya, heran, kenapa dia bercampuran dengan rombongannya orang she Coa ini...."
Jie In lantas memandang orang she Kwee itu, yang ia lihat benar beroman jujur, maka itu ia memperhatikannya. segera ia dapat kenyataan orang beroman duka tetapi itu tak mudah terkentara. ia menduga itulah mesti ada sebabnya.
Oleh karena Coa Hok menyebut langsung nama Jie In, sebelum Cee Hong sempat membuka mulut lagi, si anak muda lantas mengajukan dirinya.
"Aku Jie In, aku tidak berselisih dengan kau, orang she Coa, mau apa kau cari aku?" ia menegur, tertawa dingin-
"Ya Jin san coe bersenyum. "Apa yang kau lakukan, tuan kau harus mengerti sendiri" ia bilang "Apakah kau hendak tunggu sampai aku si orang she Coa menggoyang-goyang membikin capai lidahku?"
Jie In tertawa berlenggak, "Kau aneh, tuan- ia kita, "Apa yang aku si orang she Jie lakukan apakah aku mesti membiarkannya kau campur tahu? Kau telah menyebut-nyebut aku, baiklah sekarang kau boleh mengutarakan maksud kedatanganmu ini"
Kata-kata itu membuat Coa Hok heran, orang tak sedikitpun terlihat gentar, orangpun tak nampak luar biasa, Maka berpikirlah dia: "Kaum Kang ouw ramai bicara tentang dia, katanya dia sangat liehay, tetapi heran, sinar matanya biasa saja, iapun belum berusia cukup empat puluh tahun, Benarkah dia liehay? Ah, mungkin orang berbicara berlebihan...."

"Tuan, mengapa kau agaknya galak sekali?" ia tanya, tertawa, "Kau harus ketahui urusan di dunia itu haruslah diurus oleh orang di dalam dunia Aku si orang she Coa menempatkan diriku dalam Rimba Persilatan, aku lelah dimintai tolong, dari itu tak dapat aku tidak datang ke sini Tentang lainnya aku tidak mau tahu-menahu sekarang yang nomor satu: aku mau bicara perihal terluka dan terbinasanya Goan Cin cioe ketua darIngo Tay Pay, Dia memang bukan langsung terbinasakan kau tetapi toh secara tidak langsung dia terganggu olehmu, hingga karenanya lenyaplah ho-sioe-ouw itu. Kau toh tidak dapat mencuci tangan, bukan?
Lalu halnya Pat Cie Thian-coen Goh Hoa mati tak keruan di dalam menaranya. Hebat pekerjaan kau tuan, kau tidak meninggalkan bekas apa juga sebenarnya aku tidak ketahui hal itu tetapi kau tidak dapat mengelabui Thian, Di sana masih ada dua orang yang belum mati dan mereka dapat melihat wajah kau. sedangkan mengenai pedang Thay oh Kiam... Hm h m Pedang itu telah dapat dicuri pulang."
Oh kini sekarang ini baiklah omongan panjang dipersingkat. soal Goan cin coe dan Goh Hou itu saudara-saudara angkat aku si orang she Coa maka itu apakah aku tidak berhak untuk mencampuri urusan mereka? Tak berlebihan bukan?" Habis berkata, kembali dia tertawa, lama tertawanya itu.

Mendengar halnya masih ada dua orang yang belum mati," tahulah Jie In bahwa pekerjaannya Hoe Ceng kurang sempurna ia tidak menghiraukan ini, hanya ia kaget mendengar pedang Thay oh Kiam kena dicuri kembali oleh Coa Hok. maka ia berpaling kepada Kioe Cie sin Kay dan Kian Koen cioe. Tetapi dua saudara itu berdiam saja, suatu tanda merekapun tidak ketahui hal itu.
"Ah, inilah tentu hasil kelicikannya Coa Hok, maka juga dua saudaraku ini kena dikelabui," pikirnya, " KaLau begini, dia benar tidak dapat dipandang enteng..."

Ia lantas mengawasi Ya Jin san-coe, hingga ia melihat dibebokong orang ada tersendoI sebatang pedang panjang yang terbungkus kantung biru, Tahulah ia pedang itu pedang apa. Maka mendadak ia mengasi dengar suara "Hm" dan sebelum tertawanya san Coa itu belum berhenti, tubuhnya sudah berkelebat maju.
Coi Hok heran, sebab mendadak ia melihat bayangan berkelebat ke belakangnya ia bercuriga tanpa bersangsi lagi, ia memutar tubuh sambil menyampok. Tetapi ia tidak mengenai sasarannya tubuh Jie Injuga tidak nampak.
Melainkan ia merasai bebokongnya enteng. Ketika ia meraba, ia kaget bukan kepalang, pedang yang digendolnya itu lenyap tanpa sayap. la lekas berpaling pula, uutuk mendengar tertawa dingin, tertawa ejekan-
Jie in berdiri di depannya, wajahnya tersungging senyuman dan tangannya memegang pedang yang barusan saja masih tergendol olehnya. Hanya sebentar Jie In bersenyum, lantas wajahnya menjadi sungguh-sungguh.
" Harap san coe maafkan Jie In" katanya, "Kita cuma saling tukar tangan saling memindahkan"
Coi Hok gusar luar biasa, sambil berseru ia lompat menyerang. Maka di depan matanya si anak muda lantas bergerak banyak bayangan tangan, itulah ilmu silat "Hoei Koa Ciang," atau "Bunga-bunga Beterbangan." siapa terkena pukulan itu, dibagian mana saja mestinya tulang tulangnya patah dan remuk.

Jie In tidak mau menyerahkan tubuhnya menjadi kurban, ia lompat mundur, berbareng dengan mana, Thay oh Kiam telah dihunusnya hingga dibadapan mereka terlibat berkelebatnya cahaya kepera k perakan yang menyilaukan mata, hawa anginnya pun dingin sekali.
Ya Jin san coe lantas lompat mundur. ia tahu baik, tangannya itu tak dapat melawan pedang mustika, Tapi ia tertawa dingin dan kata: "Tuan yang baik, kau jadi hendak menggunai pedang Thay oh Kiam melawan tangan kosong yang berdarah daging?Hm"

Jie In mengasi lihat roman dingin, Dengan sebat ia masuki pula pedangnya kedalam sarung-nya, sebab iapun cuma hendak memeriksa pedang itu tulen atau palsu, ia lantas menanyai "San coe, kau menghendaki bagaimana?"
Hati Coa Hok menjadi besar pula, ia menggerakipula kedua tangannya, untuk menyerang seperti tadi.
Jie In mau maju untuk melayani ketika Cee Hong berlompat maju sambil mengulapkan tangan dan berkata nyaring: "Tuan tuan, tahan dulu. Dua-dua pihak adalah tetamu-tetamuku dari jauh, baiklah kamu jangan bentrok, "Mari kita bicara baik baik" Coa Hok berhenti menggeraki tangannya, Dia mengasi lihat roman gusar.
"Cee Loo too, aku tidak akan mengganggu kau" katanya nyaring, Lantas dia menuding Jie In dan menambahkan- "orang she Jie, dalam tempo sepuluh hari, pasti aku si orang she Co akan mengambil pulang pedang Thay oh Kiam itu Untuk sementara aku si orang she Coa suka melepaskan kau tetapi kau tidak bakal lolos di tangannya sembilan belas siewie dari istana serta orang-orang Ceng Hong Pay Kau catatlah, mengingat pertemuan kita hari ini, nanti aku orang she Coa akan menolongi kau mengurus jenazahmu"

Jie In gusar mendengar kata-kata itu, ia lompat maju.
"Orang she Coo, bicaralah dengan jelas" ia membentak "Apa hubungannya sekalian siewi dari istana itu serta orang orang Ceng Hong Pay. Ah, teranglah, kau juga menggunai daya busuk memfitnah orang"
YaJin san coe tertawa terbahak.
"Aku si orang she Coa, aku bekerja belum pernah meminjam tangan orang" ia bilang. "Baiklah aku menjelaskan, kawanan siewie dan Ceng Hong Pay itu bekerja mengenai urusan Lie sie Iong. Tentunya kau sudah tahu sendiri tetapi kau masih menghendaki kubicara"
"Benarlah seperti dugaan toako" kata Jie-In dalam hati, Tapi ia bersenyum dan berkata: "Kau berguyon, perbuatan itu tak nanti di lakukan Jie In, atau kalau ia melakukannya, tidak nanti ia pinjam tangan orang memfitnah Ceng Hong Pay jikalau kau tetap menuduh aku boleh menyampaikannya bahwa aku bersedia menyambut mereka "

Coa Hoa mengangguk.
"Bagus" katanya "Beg inilah pembicaraan kita Tuan, andaikata kau beruntung memperoleh keselamatan dirimu, nanti malam tanggal tujuh kita bertemu pula di gelanggang di Poan-Coan Hip peng"
Jie ln tertawa lebar.
“Jikalau Coa san- coe tetap menjual tenagamu untuk sahabat." katanya menyambut tantangan "baiklah, nanti tanggal tujuh malam di Poan Coan aku si orang she Jie akan memberi keadilan kepada kau"
Coa Hok tidak mau banyak omong lagi, ia merangkapkan kedua tangannya, tanda memberi hormat sampaInanti mereka bertemu pula.

Justeru itu, di dalam rombongannya terdengar orang menjerit keras, lalu tubuhnya Heng Coa n nampak terpental roboh
Yan Boen benci betul pada Heng Coan bukan saja sebab mulutnya usil, juga sekarang dialah yang datang membawa kawan untuk membikin rewel, maka itu selagi Jie in melayani Coa Hok bicara, dengan tiba tiba ia lompat kepada orang yang dibenci itu, tanpa membilang apa apa, ia menyerang dengan pukulan "Lima Kali Mementil Tali Tetabuan," ia menghajar dada.

Tepat serangannya itu, maka pada patahlah tulang tulang dada si orang she Heng, yang tubuhnya terpental dua tombak lebih, mulutnya menyemburkan darah hidup, hingga salju yang putih berubah menjadi merah.
Coa Hok mendongkol bukan main tetapi ia dapat menahan sabar, Dengan mengeluarkan tertawa dingin dua kali, ia kata: "Urusan kamu dengan Ceng Hong Pay, aku si orang she Coa tidak mau mencampur tahu Di antara kita berdua. lihat saja lain hari"
Selagi tertawa itu, ia berlompat melewati tembok pekarangan dengan disusul kawan-kawannya, kecuali siang cauw sin Tao Kwee Heng Coen, yang mana berdiri menjublak saja.

Kioe Cie sin Kay lantas memberi hormat, sembari tertawa ia kata: "Kwee Poo coe, sudah lama kita tidak bertemu Poo coe, agaknya ada apa-apa yang membuat kau masgul. sudikah kau memberi keterangan padaku?" Hong Coen lekas lekas membalas hormat.
"Sa udara Chong, dengan sesungguhnya aku mempunyai satu urusan," ia menyahut sabar, "Aku tidak sangka bahwa kau dapat melihatnya. Aku lelah berusia lanjut tetapi aku tidak dapat menenangkan diri, karenanya aku menjadi buah tertawaan-..."

Kiaw Cioe KoeoIoen tertawa "Kwee Poo coe," katanya, "di luar sini angin besar, mari masuk untuk kita dapat memasang omong di dalam." Kwee Hong Coen menerima undangan itu. Maka masuklah mereka semua.
Ketika itu kacung sudah menyajikan barang hidangan serta araknya, mereka lantas duduk ber-cakap2.
Setelah minum arak tiga takaran, Hong coen menghela napas.
"Sebenarnya urusanku ini menyulitkan aku." katanya, "tidak seharusnya aku mencampur tahu tetapi juga tak dapat aku tidak menanyakannya JieTayhiap. aku minta janganlah kau keliru mengerti dan menduga bahwa aku mempunyai sesuatu kepentingan dengan Ceng Hong Pay."

Jie in tertawa riang.
"Kwee Poo coe, jikalau kau ada bicara, bicaralah" ia menjawab. "Apa juga urusan itu,
asal yang aku Jie in dapat, pasti suka aku membantu kau."
Masih Kwe Hong coen merasa sulit, beberapa kali ia hendak menbuka mulutnya, selalu ia gagal, baru kemudian ia menanya juga: Jie Tayhiap. pencurian di rumah Lie sie long itu, benarkah perbuatan Tayhiap?"
Jie ln nampak terperanjat "Benar itu perbuatanku." ia mengaku. "Mungkinka h perkara itu ada sangkut pautnya dengan poo coe? jika Lau poo coe terseret-seret tidak keruan, suka aku menyerahkan diri untuk membebaskannya..."

Tetapi Hang Coen tertawa lebar, ia menggoyang- goyangi tangannya.
"Bukannya begitu, tayhiap" ia bilang. "Tentulah tayhiap menyangka aku lagi bekerja untuk pembesar negeri guna memecahkan perkara curi itu, Hal yang sebenarnya tidak demikian Dengan kawanan anjing itu aku tidak bersekongkol. Aku justeru mengagumi kau... Tayhiap. aku mohon tanya, ketika malam itu kau bekerja, apakah di antaranya kau mendapatkan sebuah patung Bie Lek Hoed perunggu?"

Jie In tertawa tawar.
"Benar," ia mengaku pula. "Aku ketarik dengan buatan halus dan indah dari patung itu, aku mengambilnya untuk aku membuat main. Kecuali indah, aku tidak melihat apa apa yang luar biasa, maka itu, mengapa poo coe agaknya memandangnya berharga sekali? Apakah ada rahasia apa apa mengenai patung itu?"

Hal telah menjadi menarik hati, maka semua orang mendengari dengan penuh perhatian. sebaliknya Yan Boen, sinar matanya yang bagus belum pernah berkisar dari mukanya Jie In.
Mengetahui patung Bie Lek Hoed itu sudah ketahuan di mana adanya, hati sing Kau sio Tio menjadi lega, maka ia dapat tertawa lebar.
" Karena patung berada di tangan tayhiap. tak usahlah aku berkuatirpula" katanya. "sekarang ijinkan aku menghormati tuan-tuan dengan secawan arak. sebentar aku nanti memberikan keteranganku"
"Bagus" berkata Siauw Thian gembira "Kita sebenarnya berada di tempat yang berbahaya, tetapi kita dapat duduk minum dengan tenang dan gembira, inilah sungguh hal yang menarik hati siapakah menduga kalau umpamanya kuil ini tengah diintai mara bahaya?"

Hong coen berhenti tertawa.
"selagi aku datang ke mari, kuil ini memang telah diawasi sejumlah orang," ia berkata." Tuan tuan semua orang-orang Rimba Persilatan yang lihay, nyata tuan-tuan tidak gentar hati, Memang juga, tuan-tuan mana takuti segala ras e dan kelinci? si orang tua she Coe benar teleng as. tetapi dia tidak dapat bekerja sama dengan mereka itu. satu hal dapat aku sebutkan dialah seorang j umawa, dari itu, mungkin dia dapat mencegah mereka itu bertindak sembrono. Harus diakui pula, selama ini Ceng Hong Pay lagi mengalami kemalangan-"
"Tadi ada disebut sembilan belas siewie yang dikirim oleh kota raja," berkata chong sie " bukankah mereka itu yang disebut Tiat-wiesoe? Di manakah adanya mereka sekarang? Apa benar diantaranya ada Tiat-pie Kim kiam Ho sin Hok dan Ho Hong sat Ciang Tian Can Hiong? mereka itu murid-murid Siauw Lim sie bukan pendeta, tinggi tingkat derajat mereka menjadi paman dari ketua Siauw Lim sie sekarang.
Turut dugaanku, tidakperduli yang mana satu, dia mesti lebih liehay daripada aku si pengemis tua. Maka itu, Lao sam. aku mau tanya kau, sanggupkah kau melayani mereka?" In
Gak tertawa.
"Toako perlu apa kau mengeluarkan kata-kata yang melenyapkan kegembiraan kita?" ia menjawab "Aku bukannya si orang terkebur, tetapi dapat aku bilang, bagaimana mereka datang, bagaimana aku menyambutnya, untuk menyuruh mereka kembali" ia tertawa ia berpaling kepada Kwee Hong Coen, menambahkan "Kwee Poo coe, aku minta sukalah kau omong tentang patung Budha perunggu itu"
Mendapatkan orang demikian berani dan sikapnya sangat tenang Hong ceon bertambah kagum, la tertawa ketika ia menyahuti: "Patung itu asalnya ialah bingkisan dari pembesar berpangkat hoan-tay propiosi HooIam terhadap pangerao Kee Cin ong, itulah patung buatan jaman coe, itu dapatlah dikatakan harganya yang tidak dapat di taksir. Di dalam perut patung itu ada tersimpan sebuah mutiara mustika pie haa coe yang dapat melawan hawa dingin..."
"Pantaslah," kata In Gak. yang seperti baru sadar, "Ketika akupegang itu, aku merasakan hangat luar biasa, itulah sebabnya."
Kwee Hong coen menjelaskan lebih jauh "Anakku si siang telah membuka perusahaan Lok Siauw Pia uwkiok didalam kota Kayhong, syukur karena ia memperoleh tunjangan dari sahabat-sahabatnya, meski usahanya tak maju, tempat-tempat yang dilalui banyak dan jaraknya jauh, jarang sekali dia mendapat kesukaran" Maka itu terjadilah boantay dari HooIam itu mempercayai dia meng angkutan patung Buddha itu, Cara pengangkutannya yaitu yang dibilang pangangkutan secara menggelap.
Oleh karena tanggungjawabnya besar, anakku telah menghentikan untuk sementara waktu
piauwkloknya, ia memusatkan semua orangnya yang terpilih untuk pengangkutan itu. Di tengah jalan tidak terjadi sesuatu, Menurut dugaan ditengah hari kedua dia bakal tiba dikota raja, apa mau malamnya terjadilah pencurian ditempat bermalam.
Semua barang tidak ada yang kurang kecuali patung itu, Penjahat licin sekali, tidak ada tanda-tanda parbuatannya, tidak ada sesuatu yang mencurigai. oleh karena itu, anakku telah ditangkap dan ditahan di kantor Kioeboen tetok kemudian ia diberi waktu setengah tahun untuk mendapatkan patung mustika itu..."

Hong Coen menghela napas, ia tuang hirup araknya.
"Oleh karena kecelakaan itu, buat beberapa bulan lamanya aku mesti membantu." kemudian ia melanjuti, "Akhir- akhirnya aku mendapat keterangan patung berada dalam tangannya Liesie long. Aku lantas membikin penyelidikan tetap tidak ada hasilnya. syukurlah sekarang mustika berada ditangan tayhiap. Umpama kata tayhiap sudi membayar pulang itu padaku, aku sangat berterima kasih."

Mendengar itu Jie In tertawa lebar.
" Untukku itulah barang tidak berharga seberapa." ia kata, "Nanti aku mengambilnya." ia lantas bertindak ke luar. Tidak lama ia telah kembali, tetapi sekarang ia telah menukar pakai baju serba putih, baju dan celananya sampai pun sepatunya.
Juga topengnya ia tukar dengan yang ia pakai di cioe Kieo chung, hingga mukanya terlihat pucat pasi dan menyeramkan. Di tangannya mencekal patung Bie Lek Hoed tinggi satu kaki, patung mana terlihat tertawa gembira, dadanya terbuka, nampaknya bagus dan hidup sekali, sembari bertindak masuk. la tertawa dan kata: “Jikalau poocoe tidak menerangkan, sampai sekarang pastilah aku tetap tidak ketahui di dalam patung ini ada mutiara mustikanya, cuma diwaktu baru mendapatkannya aku heran hawanya hangat."
Lantas dengan kedua tangannya ia menyerahkan patung itu pada jago she Kwe itu.

Hong Coen menyambuti, ia tidak mengucap terima kasih, hanya sejak orang muncul, terus ia menatap wajah orang, ia heran bukan main. Jie In tertawa, ia berdiam saja.
Jie Tayhiap" kata jago itu akhiroya, "adakah ini wajahmu yang asli."
Jie In tertawa pula, ia tidak menjawab hanya ia menyingkirkan topengnya, hingga tertampaklah wajahnya yang muda dan tampan.
"Aku hendak keluar sebentar" kemudian In Gak berkata "kalau ada orang datang kemari harap jangan memberitahukan aku telah pergi..." Habis berkata ia lantas melompat "Engko In" YanBun memanggil.
Tapi cuma sedetik, anak muda itu sudah keluar darijendela, lenyap di tempat gelap diantara angin dingin...
***
BAB 18
Kiu Cie sin kay mengangkat cawan arak nya, untuk menenggak isinya, kemudian dia tertawa dan berkata:
"Kwee Poo cu, adikku ini luar biasa sekali. Baik tenaganya maupun kecerdasannya, dia mengatasi kebanyakan orang. Di dalam hal ilmu silat, aku si pengemis tua, aku tidak nempil satu cacadnya adikku ini ialah dia rada besar kepala, dia suka membawa maunya sendiri sekarang dia pergi, aku kuatir kota Thaygoan bakal dilanda badai atau gelombang dahsyat"

Sembari berkata begitu, pengemis ini melirik Yan Boen, maka melihat sInona yang bertingkah kemanja-manjaan itu, mulutnya dimonyongkan tandanya dia lagi mendongkol. Maka ia tertawa dan meneruskan berkata "Nona Kouw yang baik, engko In-mu itu tidak bakal cepat-cepat pulang, meski begitu kau tenangkanlah hatimu, terhadap dirinya tidak bakal terjadi suatu yang diluar dugaan. “

Siauw Thian sembari bersenyum, menambahkan si pengemis yang jail itu "Kalau sampai terjadi sesuatu, aku Loei Siauw Thian, pasti aku akan mencarikan gantinya yang jauh melebihkan tampannya engko In- mu itu. Bicara dari hal yang benar nona, kalau dia bilang, bukan cuma kau, akupun bakal jadi sangat bersusah hati"

Kata-kata itu membikin Kiau cioe Koenloen ceo Hong dan Siang Kiauw Sin Tai Kwee Hong coe menjadi tertawa berkakak hingga sInona turut tertawa tetapi mukanya bersemu dadu, karena dia girang berbareng jengah ....
Berlima orang itu minum terus, mereka bicara dengan asyik, Ya n Boen pun cukup kuat minum arak maka dapat ia menemani terus.

Apa yang mereka bicarakan ada prihal dalam kaum Rimba Persilatan atau kalangan Kang ouw sama sekali mereka tidak menimbulkan urusan mereka sendiri, dengan begitu dapatlah mereka melewatkan sang waktu dengan gembira.

Tanpa merasa satu jam telah lewat, Mereka tentu masih berbicara terus dengan asyik kalau tidak telinga mereka mendengar suara yang mencurigai diluar di dekat jendela. ceo Hong yang airmukanya lantas berubah hingga ia mau lantai bertempat bangun, ia dicegah chong Sie, siapa mengangkat tongkatnya dan berkata sambil tertawa," Kwe Poocoe, jikalau kau tidak sudi memaafkan kami, baiklah, lain tahun diharian Toan Ngo, aku si pengemis tua pasti akan berkunjung ke gedungmu untuk menerima pengajaran dan kau"

Kwee Hong Coen melengak, tetapi hanya sejenak segera ia sadar, Maka ia lantas tertawa dingin.
“Jikalau demikian, Chong Losoe baiklah aku si orang she Kwe akan bersedia menyambut kedatanganmu nanti." ia berkata.
Baru jago she Kwee itu berkata demikian tiga orang terlihat bertindak masuk, Yang satu adalah Ya Jin san-coe Coa Hok. Dua yang lain yang tubuhnya besar dan sikapnya keren ialah:
Yang satu berpakaian abu abu gelap. alisnya gompyok. matanya bengis, hidungnya bengkok. mulutnya lebar. Dia berkumis putih pendek dan kaku. Dia bermuka kasar dan tertawanya tertawa licik. Di punggungnya dia meng g endol sepasang senjata luar biasa, yang biasa disebut tombak long-gee-sok atau gigi serigala.

Yang satunya pula seorang tua berkumis ubanan, sepasang matanya tajam tanda dia bergusar. dia nampak bengis. Dia membekal sebatang pedang, yang juga berada di bebokongnya.
"Kwee Poo-coe." semasuknya mereka, Coa Hok lantas menanya, "ke mana perginya si orang sheJie."

Hong coen terperanjat, syukur ia tabah, parasnya tidak menunjuki sesuatu, bahkan ia lantas bersenyum, Ia mau memberikan jawabannya hanya sebelum ia sempat membuka mulut dari luar lantas terdengar suaranya Jie In: "siapa tuan yang mencari aku si orang she Jie?"

Kata kata itu belum berhenti mendengung atau orangnya sudah berada di dalam. Ketika
ia melihat Coa Hok mendadak menjadi gusar. segera ia menegur bengis: “San-coe benarkah kau tidak dapat menanti sampai janji kita tanggal tujuh lain tahun? jadi kau telah mencari bala bantuan untuk kita segera memutuskan siapa tinggi siapa rendah?"
Melihat Jie In, Coa Hok melengak. la lantas melirik kepada dua kawannya.
Ketika itu Cong sie berbangkit berdiri, dia menghadapi Coa Hok untuk tertawa dan menanya: "Coa san-coe. bukankah kedua sahabatmu dengan siapa kau datang bersama ini ialah Ho Tayjin serta Tian Tayjin dari istana kaisar?"
Suara tertawa itu mengandung ejekan, Coa Hok mengerutkan kening, Dia agak jengah, tapi dia tertawa. "Benar, inilah Ho Tayjin dan Tian Tayjin" sahutnya, "Nah, kamu belajarlah kenal satu sama lain"

Chong sie mengulur tangannya, "silahkan duduk silahkan duduk" ia mengundang.
Ho sio Hok dan Tian Ban Hiong tetap berdiri tegak. muka mereka bermuram-durja, mulut mereka mengasi dengar suara yang tak sedap: "Hm"
Kian Koan coe menjadi tidak puas, alisnya terbangun, akan tetapi diwaktu ia hendak membuka mulutnya. ia mendengar Coa Hok berkata pada Jie In: "sahabat she Jie, kita orang benar kita tidak dapat mendusta. Aku numpang tanya kau barusan kau pergi keluar atau tidak?"

Jie In mengasi lihat roman sedikit kaget.
"Benar" katanya cepat, "Tadi aku merasa perutku kurang enak. aku pergi untuk membuang air kecil, Aku pergi tak lama, cuma sebentar, Apakah ada sesuatu yang tidak layak?"
Sekarang ini Jie In telah menukar topengnya hingga ia tampak seperti pelajar usia pertengahan, bajunya hitam, sepatunya hitam juga. Im Hong sit ciang mengurut kumis jenggotnya, Dia tertawa dingin. "Coa san coejangan kau kasi dirimu diperdayakan pelajar rudin ini" katanya nyaring.
"Menurut aku, paling benar kita bawa dulu dia pulang ke kantor, disana baru kita bicara"

Jie In mendengar kata kata jumawa itu dengan ia tertawa dingin.
"Tunggu sebentar." menyahut Coa Hok yang tertawa. "Kita harus omong dulu biar jelas Apakah para hadirin disini dapat memberi kesaksian bahwa sahabat Jie telah tidak pergi keluar?"
“Kita kaum Rimba Persilatan, kita harus omong terus terang" berkata Siauw Thian yang tertawa lama, "sebenarnya ada urusan apakah kamu datang secara tiba-tiba, lantas kamu garang begini? Datang datang kamu menegur orang she Jie, si orang sheJie lagi minum arak disini dan dia keluar untuk membuang air kecil. Aku hendak tanya, apakah itu melanggar undang undang?"

Coa Hok tertawa.
"Menyesal aku terburu napsu, hingga aku omong belum jelas" ia kata. "Baiklah kamu ketahui baru saja setengah jam yang lalu, di kantor soenboe telah terjadi peristiwa hebat. Disana ada sembilan belas siewie tayjin kecuali ini kedua tayjin she Ho dan sho Tian, tujuh belas siewie telan ada yang menotok urat gagunya dan dimusnahkan ilmu silatnya, bahkan yang dua, bebokongnya dihajar dengan tangan yang berat sampai mereka terbinasa seketika. Di tembok telah di tinggalkan tulisan yang menyebut namanya pay-coe dari Ceng Hong Pay serta empat enghiong lainnya yang berkenamaan. Membunuh pembesar negeri sama saja dengan pemberontakan, maka pikirlah kamu apakah namanya kedosaan semacam itu?"

Jie In tertawa.
"Apa juga yang aku bilang, kamu bertiga tentu tidak mau percaya" ia kata. "Bukankah kamu hendak menangkap aku si orang sheJie? Tapi dapatkah orang dipersilahkan tanpa sebab dan bukti? Coa san coe kaulah orang Kang ouw tersohor, kenapa kau berkonco dengan segala anjing?"
Coa Hok kena dibikin bungkam, mukanya merah lantaran ia panas Ho sia Hok menjadi sangat gusar, ia dikatakan anjing.
" Cukup karena kata katamu ini, kau dapat digusur ke depan pembesar negeri" dia berteriak.

Mata Jie in membelalak. la tertawa mengejek.
"Apakah kau yang dinamakan Tiat pie Kim-koog Ho sio Hok?- ia tanya, Jangan kau banyak lagak Dimata aku si orang sheJie tidak ada manusia semacam kau"
Dengan kedoknya itu Jie In sekarang dengan tertawanya, dengan aksinya itu, ia menjadi menyeramkan.
Loe Siauw Thian nimbrung. ia kata. “Jie Tayhiap. tepat apa yang kau bilang. Terhadap manusia semacam ini, yang menghina rumah perguruannya, aku si orang sho Loe juga tak berkesan baik."

Hebat kata-kata itu untuk Ho Sio Hok dan Tiao Ban Hiong, dibilang menghina murid-murid murtad dari Siauw Limpa y, ilmu silat Siauw Lim sie terdiri dari tujuh puluh dua rupa di antaranya ada sepuluh rupa yang tak boleh di turunkan kepada murid bukan pendeta. Pula ilmu silat itu tidak dapat diwariskan semua kepada satu orang untuk itu perlu ditilik bakatnya si murid.
Sio Hok dan Ban Hiong berbakat baik, tetapi mereka tidak suka menjadi pendeta, mereka tidak puas tidak mendapatkan beberapa ilmu yang terlarang itu, oleh karena pikiran mereka cupat, diam-diam mereka mencuri lihat ketika di ruang Lo han tong orang lagi berlatih.
Perbuatan ini kepergok. mereka dihukum dengan dipenjarakan dipendopo Kouwsian lian. Mereka tidak diam saja. Dengan pukulan Tatmo sian ciang, mereka merusak pintu dan kabur, wakf u mereka dirintangi mereka sudah melukai tiga puluh enam saudara seperguruan mereka, lantas mereka merantau.
Lebih jauh mereka berhasil menciptakan pukulan mereka masing masing yaitu Tiat pie Kim kiam dan Im Hong sat Ciang, Mereka masih dicari oleh pihak Siauw Lim sie, lantaran sangat terdesak. lantas mereka masuk bekerja di istana.

Karena mereka menjagoi, mereka lantas dikenal sebagai Kiong boen siang Kiat, dua jago dari istana. Mereka bercacad, mereka paling takut mendengar pembeberan kemurtadan mereka, sekarang rahasia mereka dibuka Loei Siauw Thian, bahkan mereka dicaci, bukan main gusarnya mereka, muka mereka menjadi merah padam. Ban Hiong lebih aseran, maka ia sudah lantas menyerangJie In. ia menyamber.
Sambaran itu samberan lihay, karena dbarengi dengan totokan, untuk itu orang mesti berlatih duapuluh tahun. Untuk Rimba Persilatan, itulah ilmu yang langka.

Jie In terkejut melihat datangnya samberan, tetapi ia ingin menguji. ia memasang mata. Sebelum lengannya tersamber ia berdiam saja, baru kemudian, ia kas i turun lengannya, sembari tertawa, ia membalas menyerang dengan jeriji tengahnya, menusuk telapakan tangan penyerangnya itu.
Tian Yan Hiong tidak menduga bahwa orang demikian berani, tidak sempat ia menarik pulang tangannya, dengan lantas ia merasa telapakan tangannya kaku. Ketika ia menarik pulang serangannya, mukanya pucat.

Jie In mengawasi sambil tertawa.
"Can Tayjin, di sini bukan tempat untuk kau banyak lagak" ia berkata. "Aku si orang sheJie suka memberInasihat padamu, baiklah kamu lekas pulang ke kota raja, dengan begitu kamu masih dapat memegang kekal nama baikmujikalau kamu tetap hendak meng andali pangkat dan memaksa menuduh orang sebagai penjahat, aku si orang sheJie tidak menerimanya Baiklah kamu ketahui, kuil Chia soe ini ialah kuil di mana nama baikmu akan ambruk"

Ban Hiong berdiam begitu juga Hosin Hok. Keduanya kaget sekali, samberan Ban Hiong barusan ada samberan "Twie hong kim hiat" yang hebat dari Siauw Lim sie dan digunakannyapun secara mendadak tetapi orang tidak takut, bahkan orang memapakinya dengan berani.
Coa Hok pun kaget hingga air mukanya berubah, ia dapat melihat lebih tegas lagi,
Diam-diam ia menghela napas, Di punggungnya si orang sheJie ada tergendol Thay oh Kiam, pedang mustika yang ia arah. Itulah pedang yang di rampas darinya dimuka orang banyak, Bagaimana ia malu.

Sekarang ia ingin merampas pulang pedang itu dan baru pertemuan juga telah dijanjikan. Tetapi di saat ini ia menyaksikan kepandaiannya Jie In, ia menjadi putus asa.
Jie In juga mengagumi Tiao Ban Hiong, Benar ia dapat menotok tetapi iapun tersamber sedikit dan ia merasa sedikit sakit pada lengannyaJadijago itu benar liehay.
Meski demikian, mendengar perkataannya Jie In itu. Ban Hiong tertawa tergelak, ia anggap orang terlalu tekebur.
"Kau memang liehay, tuan, cuma kau terlalu mengangkat dirimu" ia kata, "selama belasan tahun, belum pernah aku menemui orang sekurang ajar seperti kau terhadap aku si orang she Tiao.
Di luar, Udara bersalju itu bagus sekali, mari kita pergi kesana jikalau aku tidak dapat membekukmu, tanpa kau mengatakannya lagi, selain kami akan menghapus nama ka kami juga akan pergi menyembunyikan diri"

Habis mengucap. tanpa menanti jawaban, ia lantas memutar tubuhnya untuk pergi ke luar, ia lantas diturut kawannya sesudah kawan ini memandang Jie In sambil bersenyum.
Coa Hok terus berdiam. Dia memandang Chong sie, agaknya dia mau membuka mulutnya tetapi gagal, dia cuma menghela napas panjang.

Kioe Cie sin Kay dapat melihat sikap orang, ia percaya orang buruk tetapi belum terlalu buruk. Maka ia tertawa dia kata: "Saudara Coa jangan kau berkuatir, Aku tanggung saudaraku tidak bakal kalah"
Coa Hok bersenyum.
"Aku tahu kamu bakal menang hanya urusan menjadi bertambah besar," ia kata. "Tidak perduli kamu bakal menang atau kalah tetapi satu hal sudah pasti, yaitu semenjak ini kamu bakal tidak mempunyai kaki untuk ditaruh di dalam kalangan Rimba Persilatan..."
Mendengar perkataan itu, Loei Siauw Thian tertawa.
"Coa San coe" ia berkata, "dengan kata-kata mu inInya ialah kau bukannya seorang buruk jangan san coe berkuatir. Bukankah setiap orang dapat main sulap? Kami mau tetap dengan sepak terjang kami, cuma sayang Kiong boen Siaog Kiat, mereka bakal menemui keruntuhannya.”

Coa Hok kenal baik Siauw Thian, ia mau percaya perkataan orang ini. ia mengangguk. "Baiklah" ia bilang, "Mari kita ke luar" ia memutar tubuhnya dan bertindak pergi.
Jie In dan kawan kawannya bertindak keluar, Kiong boen Siang Kiat sudah menantikan dengan tidak sabaran, mata mereka mendelik. Ban Hiong tertawa dingin begitu lekas ia melihat munculnya musuh.

Ketika itu angin menderu deru, kembang salju beterbangan, maka di depan mereka cuma terlihat benda putih melayang layang. Jie In menghampirkan, ia memberi hormat.
"Tian Looya, silahkan kau memberikan pengajaranmu" ia berkata, bersenyum, "Aku si orang she Jie, yang terlebih muda tingkatnya, tidak berani lancang mendahului"

Suara itu mengandung sindiran, panas hati Ban Hiong, maka sambil berseru, "Baik" ia
lantas menyerang. sebelah tangannya dibuka kelima jerijinya, dengan itu ia menyambar iga kiri lawannya.
Jie In menyambut serangan sambil tertawa. Tanpa menggeser kaki, ia mmggeraki tubuhnya ke kanan. Ban Hiong menyangka orang bakal menggeraki tangan kanannya, merangkap lima jerijinya lalu ia menyerang dari kiri ke kanan, ia berlaku cepat dan keras.
Kalau ia berhasil, tangan lawan pasti patah tanpa ampun lagi. NyatanyaJie In cuma menggertak. tangannya segera ditarik pulang.

Ban Hiong kecele, ia gagal dengan serangannya itu, ia mendongkol dan gusar, la malu sebab tubuhnya turut maju, Mukanya menjadi merah.
Jie In tertawa.
"Bagamana, Tian Looya?" ia tanya, Loo ya itu panggilan yang mulia, ia berdiri tenang sambil menggendong tangan.
Ban Hiong mengerutkan kening. sekarang tahulah ia musuh benar benar lihay, jadi inilah saat ia bangun atau roboh. Dengan waspada tetapi pun dengan keras, ia menyerang pula, pukulannya ialah yang dinamakan "Tiga kali melihat rembulan."
Dengan bersuarakan angin kedua tangannya menyerang kedua iganya lawan, itulah serangan berikut gertakanjikalau lawan kena diancam, celakalah dia.
Pula serangan itu, apabila mengenai telak. tidak ada bekas atau tapaknya, cuma tahu-tahu anggauta tubuh di dalam luka dan rusak. Jie In tertawa mengejek tangannyapun diajukan.
Ban Hong kaget. Tadi ia telah kena diselomoti. ia melihat bergeraknya tangan lawan sangat cepat, Dalam kagetnya, ia lompat mundur tiga tindak. Tak sudi ia kena dihajar pula.

Jie In tidak merangsak. la membiarkan orang sempat menaruh kaki.
"Kamu berdua bukanlah tandinganku" katanya sabar, "sekarang aku Jie In, suka aku memberikan kamu ketika yang terakhir, segera kamu pulang ke kota raja, lantas kamu meletaki jabatan, terus kamu tinggal menyembunyikan diri untuk selama-lamanya, jangan lagi kamu membantu orang jahat mengganas .Dengan begitu mungkin aku dapat pergi ke siong san untuk bicara baik dari hal kamu..." siong san ialah gunung di mana terletak kuil Siauw Lim sie. selagi bicara ini, luar biasa In Gak. Mata-bersinar tajam dan bengis.
Chong sie dan kawan-kawannya menjadi sangat kagum. Mereka merasa hebat sekali adik angkat ini.
Yan Boen kagum berbareng girang dan puas, hingga tak dapat ia berkata apa apa.

Tiao Ban Hiong menyedot hawa dingin, ia melirik pada Sio Hok. yang menyambatinya. Keduanya menginsyafi bahwa musuh tangguh luar biasa. Kemudian ia tertawa dan kata, "Tuan, meskipun kau lihay sekali, kau masih belum berhak untuk memandang terlalu enteng kepada kami. Apakah kau merasa pasti bahwa kau bakal dapat kemenangan?"
Kata-kata itu aneh, Apakah Kiong boen siang Kiat mengaku kalah atau mereka cuma lagi ber-lagak?

Sementara itu, mereka semua berdiam. Tiba tiba mereka mendengar suara berisik di
luar tembok. lantas beberapa bayangan terlihat berlompat masuk. berhenti di depannya Kiong boen siang Kiat. Yang terdepan ialah seorang tua jangkung kurus dengan kumis dan jenggot hitam, Dia memberi hormat seraya lantas meDanya: " Ke dua tayjin, benar- benarkah si orang she Jie berada di sini?"
Tian Ban Hong dan Ho sin Hok belum menjawab Ya Jin san sin-coe Coa Hok mendahului mereka.
"Tok Paycoe mari aku mengajar kenal" kata nya. ia mengajukan dirinya, "lnilah Jie Tayhiap" ia menunjuk Jie In. Kemudian berpaling kepada Jie In, ia berniat memperkenalkan si orang tua. Tapi orang she Pok itu mendahului ia memandang tajam orang sheJie itu, sikapnya memandang hina sembari menyeringai ia kata: "Tuan, bagus sekali perbuatanmu"

Jie In berpura heran.
"Pok Paycoe" ia berkata "aku si orang she Jie, belum pernah aku bertemu dengan kau, kenapa datang-datang kau bersikap begini garang? Apakah yang aku telah lakukan maka Paycoe menjadi tergesa gesa begini? Coba jelaskan"
Orang yang dipanggil Pok Pay coe, atau paycoeshe Pok itu, menjadi bertambah gusar.
"Dua kali bekerja di Thaygoan, dua-dua kalInya kau memakai nama partai kami" ia berseru, "Tak tahukah kau hal itu?”
"Aku tahu" sahut Jie In tertawa " Aku telah mendengar hal itu. Tapi apakah sangkutannya itu dengan aku orang she Jie?"

Paycoe itu ialah Pok Hong, melengak.
"Memang juga tuduhan itu tidak ada saksi atau buktinya.." pikirnya. Tapi ia melengak hanya sejenak ia membentak "Bukankah di depannya tujuh imam dari Ngo Tay san telah kau mengaku sendiri bahwa kaulah si begal tunggal?"
Jie In tertawa bergelak. Lalu mendadak ia mengasi lihat roman bengis.

(Bersambung ke Jilid 8)

15. Jilid 8.1. Menolong sahabat ayah

Bacaan » PEMBALASAN SEORANG JAGOAN » Jilid 8.1. Menolong sahabat ayah
Anggota masrizki
Waktu 26 Agustus
Bab Sebelum 14. Jilid 7.2. Ilmu baru, Pou-tee pwee yap sin kang
Bab Sesudah 16. Jilid 8.2. Membantu kekasih menolong ibundanya




Pembalasan Seorang Jagoan
Karya : Wu Lin Qiao Zhi
Terjemah : OKT
Jilid 8.1. Menolong sahabat ayah

"Pok Paycoe, bagus kata-katamu ini" ia membentak. "Bagus perbuatan kamu ya? Kamu yang bekerja, sekarang kau memfitnah aku sungguh tidak tahu malu. Baiklah, jikalau tidak dibikin patah tulang-tulang lenganmu, kamu tentulah belum kenal keliehayanku"

Sikap In Gak ini berubah sudah, ia mengawasi Pok Hong dan kawan-kawannya yang berjumlah lima orang. la kenali mereka itu sebagai musuh-musuhnya yang dulu telah mengeroyok ayahnya. Hal ini ia ketahui sebelum ia tiba di Thaygoan, ketika ia membuat penyelidikan roman mereka itu tepat seperti orang yang melukiskannya.

Pok Hong habis sabar, sambil berseru ia menyerang, Kedua tangannya bergerak dengan jurus "Menentang langit membuka bumi. Ia menggunai dua tangan tetapi sasarannya ialah empat anggauta berbahaya dari Jie In- diatas dan di bawah.

Jie In memasang mata tajam. Begitu orang menyerang, begitu ia mendahului dengan tangan kanannya, ia menindih kedua tangan lawan- sambil bergelak begitu ia menggeser tubuhnya, lalu tangan kirinya menyusul membacok.
Sembari membacok tangan kiri itu diluncurkan terus hingga dadanya paycoe Ceng Hong Pay itu kena terhajar, hingga orang mundur tiga tindak
"Pok Hong." ia berkata selagi orang terkejut "bukannya aku memandang tidak mata padamu, tetapi aku kuatir kau bukanlah tandinganku oleh karena Ceng Hong pay terkenal sebagai tukang keroyok, paling baik kau majulah semua"

Hati Pok Hong berdebaran, Hebat tangannya Jie In itu, Tapi ia gusar sekali, ia
mengibas tangannya, atas mana kelima kawannya maju serentak mengurung musuhnya, ia tertawa dan kata: "Aku si orang she Pok biasa tidak menolak permintaan orang, karena itu baiklah, aku nanti penuhkan pengharapanmu"
Jie In tersenyum, Ia mendadak tangannya dibawa kebelakang, tubuhnya diajukan membungkuk ke depan, maka dilain saat, dengan terdengarnya suara "sret" pedang Thay oh Kiam di punggungnya telah terhunus.

Orang-orang ceng Hong Pay juga lantas mencabut senjatanya masing-masing, Pok Hong sendiri mengeluarkan gegaman yang istimewa, sepasang sian-jin-ciang yang terbuat dari pada baja pilihan sinarnya putih mengkilap.
Jie In mengawasi bengis ia telah mengambil ketetapan untuk membereskan semua musuh ini, tak perduli apa akibatnYananti, Maka begitu lekas musuh pada menghunus senjata, ia menyerang mereka.
Dengan cepat pedangnya itu berkelebatan bagaikan kilat menyamber-nyamber. ia menggunai jurus "Thaykek Hoa Liok Hiauw" atau "Thaykek berubah menjadi enam garis" dengan begitu sebuah pedangnya dapat terus menyerang enam musuh saling susul.

Pok Hong menangkis, ia diturut lima kawannya, Mereka pun jago-jago kenangan. Tapi ketika senjata mereka beradu mereka kaget. Tidak melainkan senjata mereka terpental, tubuh mereka kena tersampok miring.
Kiong Bun siang Kiat kaget, hati mereka berdenyutan- Penglihatan itu hebat sekali.
Chong sie dan Siauw Thian sudah mengangkat saudara dengan In Gak tetapi belum pernah mereka menyaksikan orang bertempur begini rupa, mereka menjadi heran dan kagum, sekarang mereka mengetahui baik liehaynya adik itu.
Yan Buntidak kurang kagumnya.

Begitu orang mundur begitu In Gak merangsak.
Kali ini mereka itu terdesak. terpaksa mereka menangkis.
Thay oh Kiam berkelebatan dengan dibarengi suara berisik. Tanpa ampun lagi, semua senjata musuh kena ditebas kutung, semua kutunganny a jatuh kesaiju, sepasang sian jin-ciangnya Pok Hong menjadi buntung hingga seperti gagangnya saja, ia melengak karenanya.

Kelima kawannyapun melengak tetapi serentak mereka menimpuk dengan gegaman buntung itu, yang dijadikan serupa senjata rahasia, Dengan itu jalan mereka mengharap dapat merobohkan musuh, atau sedikitpun mengundurkannya, Mereka sendiri berniat lompat mundur.
Jie In tertawa tajam, pedangnya berkelebat pula, ia menyerang begitu lekas ia mengelit diri dari semua timpukan, Pedangnya itu menyamber pergi dan pulang. Hebat kesudahannya ini, Lima buah kepala orang jatuh bergelutukan, disusul dengan robohnya lima buah tubuh tanpa kepala yang mandi darah. Darah merah muncrat menyembur membikin saiju berubah warnanya

Pok Hong bergelar cian cioe Siauw Hud, atauBuddha Tertawa seribu tangan- ketua Ceng Hong Pay, kuat hatinya, ia biasa membunuh orang dengan mata tidak berkedip.
Akan tetapi menyaksikan jago-jago Ceng Hong Pay roboh secara demikian cepat, hatinya memukul keras. Tapi ia tidak kuat bahkan dia berteriak:” Jie In percuma kau kosen. Kau mengandalkan pedangmu. Baiklah aku nanti adu jiwaku"

Jie In tertawa, ia masuki pedangnya ke dalam sarung.
"Pok Hong" ia berkata, "aku masih menghargai kau sebagai ketua satu partai, suka aku memberi ampun, tidak mau aku membinasakan kau tetapi jikalau kau, membilang aku mengandali pedang kau keliru senjatamu sudah rusak, sekarang aku berikan ketika padamu, Baiklah kau boleh pinjam senjata apa juga, kau boleh melawan aku dengan aku bertangan kosong, jikalau di dalam tiga jurus aku tidak dapat membikin senjatamu terlepas, mulai hari ini aku tidak akan injak lagi wilayah shoasay Kau setuju?"

Pok Hong tidak mau mengakui kelemahannya meski ia tahu mungkin Jie In bukanlah membuka mulut lebar, Barusan ia telah menyakinkannya.
"Aku tidak suka meng gunai senjata melayani orang yang bertangan kosong" ia kata tertawa dingin- "Begini saja: Mari kita bertempur dengan tangan kosong"
Jie In tertawa menyambut tantangan itu. "Baiklah silahkanpaycoe mulai."
Biar bagaimana Pok Hong ialah seorang ketua partai, kepandaiannya bukan kepandaian yang biasa maka itu tanpa membilang apa-apa lagi, ia menyerang. ia meng gunai kedua tangannya bareng, Itulah jurus "Ciongkouw cee heng"
" Genta dan tambur berbunyi berbareng." sasarannya yaitu kedua pempilingan.

Jie In hendak melampiaskan sakit hatinya Kang Yauw Hong, ia juga ingin membikin ciut hatinya Kiong Bun siang kiat, supaya kedua orang itu mundur sendirinya, ia bersiap menghadapi lawan ini. Mulanya ia berdiri tegak, atas datangnya serangan ia tidak menangkis hanya ia mendak.
Selagi mendak itu kakinya bergerak cepat. Tahu-tahu ia sudah berada di belakang
musuh. Baru dari sini, ia mengerjakan kaki dan tangannya. Dengan tangan kirinya ia menyamber baju yang panjang dari Pok Hong, berbareng dengan itu kaki kanannya menendang. itulah jurus "Membidik rembulan memanah bintang".

Pok Hong terkejut karena serangannya mengenai tempat kosong. ia menduga musuh berkelit kebelakang, maka dengan sebat menutar tubuhnya. sayang ia kalah sebat, Belum lagi ia berbalik tubuhnya telah tertarik. lantas tubuh itu dipapaki tendangan, demikian keras, hingga tanpa ampun lagi, ia mengeluarkan seruan tertahan dengan tubuhnya itu terpental tinggi terus jatuh terbanting

"Benar Loo sam hebat" kata Chong siepada Sia uw Thian- "Dia begitu tenang tetapi toh demikian gesit Kalau aku..."
Kiong-Bun siang Kiat sebaliknya berdiri mengaso.
Pok Hong liehay, dia jatuh tak terluka, cepat dia merayap bangun- sembari menyeringai dia kata: "Sahabat, kau benar liehay, aku Pok Hong pelajaranku tidak sempurna, aku takluk Baiklah, lagi tiga tahun, aku tentu datang pula mencari kau buat meminta pulang pedang sekalian menagih hutang darahnya lima kawanku ini"

Dia mengawasi kelima mayat, air matanya turun bercucuran, habis itu tanpa mengatakan apa-apa lagi, dia ngeloyor pergi.
Jie In membiarkan orang berlalu, baru ia menoleh kepada Ho sin Hok dan Ban Hiong.
"Kedua tayjin, sekarang sudah tidak siang lagi," ia kata, "maka itu aku mohon tanya, tayjin berdua hendak memberi pengajaran apa kepadaku?"
Tiat pe Kimkong tertawa nyaring.
"Sahabat sheJie, benar-benar kau dapat menggertak kami" ia kata "Meng ingat bukti tidak ada biarlah untuk sementara kami melepaskan tangan kami, tetapInanti, apabila penyelidikan kami berhasil, kau pasti tidak bakal lolos dari tangan kami"
Habis berkata begitu, dengan mengajak Tian Ban Hiong, ia mengangkat kaki. Ketika itu Kioe Cie sin Kay menghampirkan Coa Hok. ia memberi hormat.
"Coa san coe," kata ia, tertawa, "aku pikir baiklah janji lain tahun tanggal tujuh di Poan coan Hiepeng dibatalkan saja dan dengan ini dibikin habis. Buat apakah kau mengajukan dirimu untuk urusan lain orang,”

Coa Hok tertawa.
"Chong Loosu, urusannya saudara angkatku tak dapat dihabiskan secara begini saja," ia menjawab. "Pula di dalam urusan ini, aku tidak dapat mengambil keputusan sendiri. Apakah loosoe maksudkan kamu mempunyai urusan hingga waktu perjanjian kita itu terlalu kesusu?Jikalau demikian, baik, suka aku mengubahnya, sampaInanti tanggal sembilan bulan sembilan.
Berhubung dengan ini baikan Jie Tayhiap berhati-hati untuk murid-murid Ngo Tay Pay serta kaum Rimba Hijau di hulu sungai Hoang Hoo, karena aku kuatirkan mereka itu nanti main sembunyi sembunyi"
Habis berkata begitu, ia memberi hormat terus ia menambahkan: "sampai kita bertemu pula, maafkan aku" Kata-kata ini disusuli jejakan kaki kepada tanah, maka mencelatlah tubuh san coe ini, melewati tembok pekarangan.

Koe cioe Koen coen tertawa dan berkata: "orang tua she Coa itu mempertontonkan
kepandaiannya enteng tubuh, maksudnya ialah untuk tidak menunjuki kelemahannya, tetapi hal yang benar ialah dia jeri sebab terang sudah, untuk pertempuran tangga tujuh itu dia tidak mempunyai harapan. Dia mengubah tanggal menjadi bulan sembilan tanggal sembilan tidak lebih tidak kurang, itulah untuk dia mendapatkan ketika mencari bala bantuan. Bagus juga akalnya ini"

Chong sie menggeleng kepala.
"Benar benar, menjadi manusia bukannya mudah" ia kata, "Tadinya dia telah membuka mulut lebar, kalau perginya dia secara kuncup, mana dia mempunyai muka."
Loei Siauw Thian sebaliknya tertawa, ia menarik Jie In dengan sebelah tangan dan membetot Kouw Yan Bun dengan tangan yang lain, ia kata: "Mari tuan, arak kita sudah dingin. Mari masuk ia lantas menarik, untuk sesampainya di dalam ia menjatuhkan diri dikursinya, ia kata pula pada adik angkatnya itu: "shatee, selama satu tahun ini kaum rimba persilatan belum mengenal kau siapa, akan tetapi sepak terjangmu hebat, kau telah menggetarkan dunia Kang ouw, oleh karena itu selanjutnya baiklah kau membataskan diri, kau harus berhati-hati.. ." ia berhenti tiba-tiba sebab ia melihat yang lainnya telah bertindak masuk.

Lantas ia memandang Kwee Hong Coen dan berkata sembari tertawa kepada tetamunya itu: "Kwee PooCoe, aku numpang tanya, mengenai patung perunggu itu. Apakah kau hendak mengantarkan itu habis tahun baru atau langsung sekarang kau mau pergi ke kotaraja?"
Hong Coen melengak sebentar, lalu cepat ia menjawab: "Tentu saja aku mesti berangkat langsung sekarang saudara Lo, ada apakah pengajaranmu?" Kiong Bun siang Kiat mengundurkan diri, tentu kini mereka tak puas." berkata Kan Koen cio? "oleh karena itu
baiklah poo coe bertindak mendahuluI naik kepada Kee cin ong, kau memberitahukan bahwa patung itu dicuri anak buah Lie sie long. Kau boleh sebut sebut nama mereka-mereka itu. Mungkin urusan ini berkesudahan baik untuk kau ..."

Kwee Hong coen tertawa.
"Saudara Loei, kau benar-benar cerdik" ia memuji "baiklah, aku nanti turut pikiran kau ini. Nah sekarang baiklah aku pergi"
Orang tidak mencegah keberangkatannya orang she Kwee ini, bahkan Siauw Thian mengantar sampai diluar, ketika ia sudah kembali, ia kata pada Jie In: "shatee, sekarang ini sudah lewat tengah hari, bagaimana tindakanmu selanjutnya"

Jie In tertawa.
"Akulah seorang perantauan, aku belum memikirkan tindakan apa apa." ia menjawab.
Siauw Thian menggeleng kepala, "Aku tidak maksudkan demikian," katanya "Aku tahu niatmu menuntut balas, tetapi guna itu tak usahlah kau kesusu, sekarang inI nama Koay cioe sie seng telah menjadi terlalu besar, aku pikir baik kau beristirahat dulu, Lusa tanggal satu, menurut aku baik kau temani nona Kouw pergi ke Congpeng kerumah keluarga Hoa. Kamu boleh pesiar dimana barang sepuluh hari atau setengah bulan, lantas dari sana kamu pergi ke Chongcioe kerumah mertuamu untuk tinggal sekian lama.
Tentang segala urusan diluaran, nanti aku bersama toako yang melihatnya. Kita tunggu sampai nanti bulan sembilan tanggal sembilan, baru kita bertemu pula di poan coan, Bagaimana?”

Jie In tertawa.
Jieko, tanpa kau mengatakannya, dapat aku mengerti maksudmu." ia kata "Memang sudah seharusnya aku lekas lekas pergi ke Ciang-peng dan chongcioe, cuma sekarang belum dapat. sekarang ini aku mesti aku menemani nona Kouw pergi ke Liong Bun-."
Pemuda ini lantas menuturkan hal ibu sInona terjatuh dalam tangannya Jim cit Kouw, bahwa nyonya itu perlu lekas ditolong i.

Jim cit Kouw itu terlebih gagah daripada Kiong Bun siang Kiat," kata Chong sie, "tapi aku percaya shantee dapat melayani dia, jadi tak perlulah kita membantu kau. Dilain pihak. kita sekarang mesti berhati-hati membawa diri, sebab kita telah berada dalam perhatian orang Kang ouw,jadi ada faedahnya dia turut kau.
Dengan kita pergi bersama, ada kemungkinanJim Cit Kouw membuat persediaan lainnya. Memang lebih baik shatee pergi berdua saja, Cuma aku pikir, baik shatee menggunai akal, jangan menggunai kekerasan.
Tentang Nio Kwee Tiat cioe leng, aku pikir lencana itu tak usahlah di gunai, hanya buat dibawa-bawa tidak ada halangannya, shatee, mengenai kecerdikan, aku kalah dari Jie-tee, mengenai kepandaian, aku kalah dari kau tetapi didalam halnya pengalaman, kau masih kurang banyak. maka itu diwaktu pergi kesana, kau baik memperlihatkan wajahmu yang asli, gunailah waktu mereka tidak menyangka-nyangka.
"Kau tolong i sinyonya. Aku bersama Loei Loo Thian akan menantikan kamu dirumahnya say Hoa To di Cing peng."

Jie in tertawa.
"Bagus betul pikiran kamu" ia bilang, "Kita berdua segera akan menghadapi bahaya tetapi kamu berdua mau mengawasi saja, benar-benar kamu tega."
Chong sie tertawa, begitu juga yang lainnya
Selanjutnya mereka berkumpul sampai malam diwaktunya tidur.
Besok harian Tie sik, atau malaman tahun tmu, Cie Hong menyiapkan segala apa guna melewatkan tahun yang lama. Maka itu, seperti rakyat yang kebanyakan, mereka pun merayakan tahun baru dengan meriah.

Tanggal dua, pagi-pagi, orang berpisahan.Jie In menyerahkan kudanya hadiah dari Hong Pioe ketika Siauw Thian untuk kakak itu pakai ke ciang peng.
Chong sie diberikan kudanYanona Kouw. setelah mereka itu diantar pergi, menanti sampai tengah hari Jie In bersama Yan Bun pamitan dari Cee Hong, untuk berangkat berduaan. Mereka menurut pikiran chong sie, mereka tidak mengenakan topeng.
Sekeluarnya dari kuil, mereka jalan disaiju, di tempat dimana tak ada orang lain-Pedang mereka disimpan di dalam sebuah kotak panjang, hingga mirip khim. Mereka berdandan sebagai pemuda danpemudi dari golongan hartawan. Dengan melintasi jalan kecil, mereka memasuki jalan besar.

Sudah dua hari saiju berhenti turun, hawa udara tetap dingin. Jalananpun basah, dari itu sepatu dan kaos kaki mereka menjadi demak. Jalanan yang becek menyusahi mereka. Mereka menuju ke kecamatan Kie-koan. Di sepanjang jalan, mereka menemui orang-orang yang pergi menjenguk sanak pamili guna memberi selamat tahun baru, dari itu jalanan ramai karenanya.
-00000000-

Kadang-kadang ada lewat orang Rimba Persilatan, yang melarikan kudanya keras, akan tetapi tidak ada yang menduga atau mencurigai Jie In adalah orang yang telah menerbitkan kegemparan dalam wilayah shoasay, Kalau toh mereka menarik perhatian juga itulah disebabkan tampan dan cantiknya mereka yang merupakan pasangan sembabat.

Jarak diantara Chin soe dan Kie koan cuma kira tigapuluh lie dengan jalan seperti biasa cukup dengan waktu 7-jam. Ketika mereka tiba, mereka cari sebuah hotel, Pelayan menyangka mereka pengantin baru, mereka diantar kesebuah kamar.
Seberla lunya pelayan itu ia Gak tertawa, hingga muka Yan Bun menjadi merah sendirinya, hingga ia mendelik kepada engko In-nya itu

In Gak kuatir sI nona keliru sangka, maka ia kata: "Adik Bun, sudah setengah tahun aku menyamar jadi si pelajar rudin, selama itu aku mesti mengenakan topeng, aku merasa tidak leluasa maka itu sekarang setelah bebas dari siksaan itu, aku girang sekali."
Nona Kouw mengerti, maka ia kata dalam hatinya: "Dasar aku curiga tidak keruan, Memang kalau dia berniat buruk tak usah dia menunggu sampai ini hari..."

Ia lantas mengawasi pemuda itu yang sebaliknya mendelong mengawasi keluar jendela tangannya digendongkan,
"Engko In" tanyanya kemudian, " ketika kemarin kau menggunai pedang menghajar orang-orang Ceng Hong Pay itu adakah itu jurus lt-goaoseng Liok Hiauw dari ilmu pedang Thay Kek Kiam?"
In Gak berpaling dan mengangguk "Benar." ia menyahut, -jurus itu bergerak enteng tetapi sangat cepat dan rapat, Untuk melayani enam musuh itulah yang paling tepat,
Bukankah kau melihatnya sendiri aku nampak ayal tetapinya sebat sekali? Dengan itu yang sedikit dapat melawan yang banyak. orang mesti menyingkir tetapi tak keburu atau mereka bakal jadi korban dirinya."

Nona itu sangat ketarik hati tetapi ia kata: "Mengapa jangan kau terkebur saja, kenapa aku tidak dapat menjalankan jurus itu sehebat kau?"
In Gak tersenyum.
"Itulah sebab tenaga dalammu belum cukup, Kau berlatih terus nanti kau dapat tambah tenaga. Kau pun harus rajin bersamedhi aku tanggung tak sampai tiga bulan kau akan berhasil."
Nona Bun berdiam, tetapi matanya menatap dan wajahnya bersenyum. si anak muda juga membalas mengawasi.
"Engko In, aku sungguh tidak mengerti." kemudian kata pula si pemudi " kedua saudara- angkatmu itu semua orang berkenamaan kenapa ketika kau bertempur mereka diam saja" Dan sekarang kita membikin perjalanan kenapa merekapun membiarkan kita pergi berdua?"

In Gak tertawa.
"Semua itu memang aneh nampaknya." ia berkata, "Baiklah kau ketahui adik Bun, dengan dua saudaraku itu aku telah membuat janji, ialah mereka tidak berhak mencampuri tahu segala sepak terjangku, kecuali aku mohon bantuan mereka. Mengertikah kau sekarang?"
Nona itu tertawa, tetapi la menggeleng geleng kepala.
"Itulah namanya saudara-saudara angkat yang aneh" katanya, itulah langka"
In Gak mengawasi terus, ia sampai ter-sengsam, Di matanya. disaat itu, Kouw Yan Bun cantik luar biasa. Nona itu mengena i pakaian serba hijau, cuma mantelnya hitam, Dia memang elok sekali, dandanannya itu menambah kementerengannya. Melihat kelakuan orang itu, Yan Bun makin menatap.

Mereka baru sadar tatkala keduanya mendengar suara berisik yang seperti mendatangi ke kamar mereka, waktu mereka, mendengar suara pintu dibuka, lalu di kamar sebelah terdengar suaranya empat atau lima orang yang terang orang-orang Kang ouw adanya, Keduanya lantas memasang kuping.
"Benar-benar gila" terdengar satu suara tajam, "Diwaktu tahun baru begini kita diberi tugas orang sudah menghilang, kita masih dimestikan mencarinya. Apakah yang dapat kita lakukan? Lihat Kiong- Bun siang Kiat, Di depan orang mereka tidak berani turun tangan mereka bersikap seperti cucu kura-kura tetapi sekarang mereka banyak lagak. mereka sesumbar hendak membekuk si orang she Jie, Gila tidak?"
"Tian le, jangan kau umbar kemendongkolanmu" berkata seorang lain, yang suaranYanyaring, "Kau bilang Kiong Bun siang Kiat tidak berani melawan si orang she Jie, kau bukan menyaksikannya sendiri, cara bagaimana kau berani membilang demikian?"

Mendengar itu Jie In dan Yan Bun bersenyum "Hm kata orang yang pertama, yang suaranya tajam itu, "Aku mendengarnya dari Coa sa n-Coe sendiri .Mustahilkah itu dusta? Memang benar si orang she Jie sangat liehay Lihat saja ke-enam jago Ceng Hong Pay, cuma Pok Paycoe sendiri yang selamat peristiwa itu menggemparkan Rimba Persilatan Coa san Coe juga menegaskan, ketika dia bertempur, si orang she Jie cuma menyerang pergi pulang tiga kali, tidak lebih"
"Apa? Cuma tiga kali?"
"Ya Bagaimana hebat Coa san Coe pun liehay tetapi dia tidak melihat bagaimana orang menggeraki tangannya hingga taklah ia melihat tipu pedang apa itu yang digunakan"
"Benar benar aneh"
"Dengan tabasan yang pertama keenam jago Ceng Hong Pay itu dipaksa mundur. Dengan tabasan yang kedua, senjata mereka semua kena di bikin buntung Lalu dengan tabasan yang ketiga, batang lehernya yang lima dibikin putus, Coa sa n-Coe bilang agaknya si orang she Jie sengaja tidak hendak mengambil jiwa Pok Pa yCoe"

"Kiong-Bun siang Kiat hadir bersama, mengapa mereka tidak turun tangan?"
"Menurut Coe saa Coe, Kiong-Bun siang Kiat sendiri setengah mati, setelah mengatakan beberapa patah kata, lantas mereka ngeloyor pergi, Kabarnya tadi pagi-pagi Kioe Cie sin Kay bersama Kiao Koen Cioe terlihat naik kuda menuju ke Utara, Mereka berdua saja.
Hebat itu tujuh belas siewie, kecewa mereka kerja di totok tak berdaya siapa dapat melakukan itu kalau bukan si orang she Jie? Tidakkah semua itu aneh? Kiong Bun siang Kiat telah pergi pula ke Chin soa tetapi mereka tidak mendapatkan si orang she Jie, yang entah telah kemana Bahkan imam dari Chin soe, yaitu Kiauw Cioe Koencoen Cee Hong, lenyap juga." sekarang cuma ada kabar bahwa rombongan Rimba Persilatau di Yan in berniat menyelidiki halnya si orang she Jie itu untuk mereka nanti turun tangan terhadapnya, Yang sial ialah kita ini yang diberi tugas begini macam"

"Loo Tian, jangan kau berpandangan cupat kau seorang lain "Kita dapat makan, kita dapat minun, apakah yang dibuat tidak puas. Cukup asal di tengah jalan kita tidak usilan Kalau kita minum mabuk-mabukan, nah. itu baru bisa mendatangkan bahaya Kalau kita bertemu orang she Jie itu, jangan kata kita, sekalipun ketua kita pasti tak akan berdaya...."
Untuk sejenak mereka itu berdiam, kemudian ketika mereka bicara pula, mereka ngoceh tentang wanita..."

Jie In dan Yan Bun mengerutkan kening.
"Nama Jie In itu tak dapat dipakai lagi," kata Jie In selang sesaat, juga di tengah jalan lebih baik kita jangan melakukan sesuatu. Besok pagi-pagi baiklah kita berangkat ke Lokyang dengan naik kereta.”
SInona tertawa.
"Dalam hal ini kaulah yang berkuasa" bilangnya, "Untuk aku, aku cuma mengharap agar siang-siang aku dapat menolongi ibuku yang lagi menderita itu. Habis kau hendak pakai nama apa, engko In? Apakah kau hendak pakaI nama aslimu Cia ln Gak?”
Jie In mengangguk.
Ketika itu pelayan muncul menanya apa sudah waktunya menyajikan barang hidangan. Jie In melongok ke luar jendela, Ia menggapai.
"Aku minta barang santapan diantar ke mari, sekarang tolong kau pasang lampu dulu" katanya-pelayan itu mengangguk, terus ia mengundurkan diri, tapi tak lama ia datang dengan lilin menyala ditangan kiri dan tangan kanannya membawa penampan ketika Yan Bun melihat, diatas penampan ada dua helai kertas merah dengan masing-masing tulisannya. "Kiat Siang Jie dan "Hoo hap Ban Hok," ialah pujian selamat dan berbahagia sebagaimana itu biasa dituturkan selamat tahun baru.

In Gak bersenyum setelah pelayan selesai menyajikan, ia memberi persen sepotong perak seharga sepuluh tail seraya berkata: "Terima kasih, sahabat uang ini untuk kau membeli arak"
Pelayan itu membuka mulutnya tetapi tak dapat ia mengatakan sesuatu, sebaliknya tangannya menyambut membawa uang masuk ke dalam sakunya.
Melihat demikian. Yan Bun tertawa geli.
"Sahabat," kata Jie In, yang kuatir orang malu, " besok pagi tolong kau carikan kami sebuah kereta untuk Lokyang, tentang harganya tak apa kau memberinya lebihan. Terima kasih"
Pelayan itu mengucap terima kasih setelah memberi janji ia mengundurkan diri dengan kegirangan, pintu kamar dirapatkan dengan perlahan. Yan Bun tertawa pula, si anak muda menimpalinya. Habis itu mereka lantas bersantap sembari memasang omong dengan asyik.

Di kamar sebelah terdengar pula suara yang tajam tadi, dia memanggil pelayan, yang datang dengan cepat.
"Siapa itu dikamar sebelah?" tetamu itu tanya, "sepasang mempelai" sahut si pelayan. "Mereka baru tiba"
"Nah, pergilah" kata orang itu. pelayan itu terdengar berlalu dengan tindakan berat...
In Gak mengerutkan alisnya.

"Saudara Tia n, janganlah kau menerbitkan gara gara," terdengar pula suara di kamar sebelah itu, "jikalau perbuatanmu diketahui ketua kami, kita tidak dapat melindungi kau .."
Si orang suara tajam itu terdengar tertawa. "Aku cuma mau melihat satu kali, mengapakah..." katanya.
Lantas terdengar tindakan kaki menuju ke luar kamar.
Matanya in Gak bersinar tajam, tubuhnya lantas mencelat ke pintu.
Segera juga terdengar pintu kamarnya itu diketuk dua kali.
"Siapa?" ia tanya. "silahkan masuk" ia tertawa perlahan, nadanya dingin.

Daun pintu lantas tertolak. lalu muncul seorang lelaki dengan pakaian singsat, bajunya hitam dan matanya, apa yang dikatakan "mata tikus". Dia memandang In Gak. yang berupa sebagai seorang pelajar muda, dan tentunya juga dia menganggapnya lemah, terus dia bertindak masuk, si anak muda mementang kedua tangannya. "Tanpa urusan kau lancang masuk ke kamar orang, tuan, kau mau apa?" ia menegur.

Orang itu melihat Yan Bun, lantai dia menatap tajam, sinar matanya memain. Tapi karena ditegur, dia melirik si anak muda. Dia menyahuti dingin: "Kami lagi mencari seorang pemburon Kami mau lihat dia bersembunyi di dalam kamar ini atau tidak, pelajar rudin, kenapa kau begini galak?"
In Gakpun tertawa dingin, "oh kiranya tuan hamba negara yang ditugas kan melakukan pemeriksaan? Maaf, maaf" katanya, Mendadak ia mengasi lihat roman bengis dan berkata keras. “Apakah kau membawa surat perintah? Mana kasi aku lihat"

Orang dengan bermata tikus itu melengak, cuma sejenak, lantas dia tertawa, menyeringai.
"Pelajar rudin. aku tidak sangka kau dapat menggertak orang" katanya, "baik aku beritahu kan kau, bukannya hamba negara, aku ialah Tian le, to-Coe dibawahan Hui Thian Auw Coe Lew Keng Tek. ketua rimba Persilatan di Hoo lok.. “
Belum habis suaranya orang she Tian itu dari luar datang seorang yang lantas menyamber lengan nya, setelah mana orang itu memandang in Gak dan berkata sembari tertawa.
"Harap maafkan, tuan Adikku ini telah minum banyak air kata-kata dan di luar kesadarannya dia mengganggu kau. Terus dia memandang bengis kawannya itu dan kata dengan keras ,
" Ketua kita sudah tiba, dia berada di Hotel sam seng sekarang Lekas pergi menemui"
Tian le kaget, mukanya menjadi pucat, lekas-lekas ia pergi bersama kawannya itu. segera tindakan kaki berisik yang berlalu pergi, maka sedetik kemudian, sepilah kamar sebelah itu.

In Gak menoleh kepada kawannya.
"Di sini Law Keng Tek bermarkas, aku tidak mendengarnya," ia kata.
" Kecewa kau menjadi tay-hiap yang kesohor." sInona tertawa "Law Keng Tek bermarkas di gunung Him Jie an di propinsi Hoolam..."
Pemuda itu agak tersadar
"Oh kiranya dia Him Jie It Koay" Kalau begitu perlu aku mencari tahu apa perlunya dia datang kemari"
"Nah, kau kumat" kata sInona, "Dia mencari Jie In, bukannya Cia In Gak" Dia ia bersenyum juga.
“Biarnya aku tidak ingin mencari gara-gara tetapi ingin aku ketahui perlu apa dia mencari Jie In. Kau tunggu, aku pergi untuk lekas kembali.,." ia lantas lompat ke luar jendela.
Yan Bun berdiam, sambil menunjang janggut matanya mengawasi ke luar jendela iiu, Ruwet pikirannya, ia bukan memikirkan In Gak hanya ibunya yang lagi bersengsara, bahkan mungkin ibu itu sudah tidak ada dalam dunia sebab tak tahan siksaan, kalau benar ibunya sudah tidak ada," bukankah sia-sia belaka segala ikhtiarnya?Tanpa merasa airmatanya melele ke luar, ia menghela napas.

Tiba-tiba api lilin berkelebat kembali di depannya. Melihat di sampok angin, lalu in Gak nampak anak muda itu, tanpa merasa ia bersenyum. "AdikBun, mengapa kau berduka?" tanya si pemuda, suaranya halus. Yan Bun menatap. Ia heran. Agaknya pemuda itu masgul. "Engko In, ada terjadi apakah? ia balik menanya.
"Aku tidak sangka Kiong-Bun siang Kiat sangat jahat," sahut anak muda itu. " Ketika kita meninggalkan Chio sie, mereka datang pula, lantas mereka menguntit kedua saudara Chong sie dan Loei Siauw Thian. Mereka bermaksud mendapatkan keterangan hal Jie In dari dua saudaraku itu... Mereka menyangka Jie In telah menuju ke Lokyang maka itu mereka mewajibkan Hoan Thian Auw coe menyerap-nyerapi kabar perihal Jie In itu sepak terjangnya ini menandakan KiongBun siang Kiat benar cerdik..."
" Habis bagaimana?" tanya si pemudi. " Kalau mereka dapat menerka, kenapa mereka tidak datang sendiri? Bukankah itu berarti mereka semakin menjauhi Jie In?"

"ltu dia kecerdikan mereka. Mereka keluaran Siauw Lim sie, rumah perguruannya itu justeru di Hoolam, Merekalah murid murid murtad, mana mereka sudi seperti mengantarkan diri dalam mulut harimau? Maka itu mereka menugaskan Law Keng Tek membuat penyelidikan. Kalau kabar didapat mereka ingin segera diberi kabar ke kota raja. Di wilayah Yan-in mereka berpengaruh sekali, mereka berniat membekuk kedua saudara itu, supaya mereka dapat dijadikan umpan atas datangnya Jie In... coba pikir, tidakkah tipu itu busuk sekali?"

"Mungkinkah mereka ketahui kaulah saudara angkatnya Ciong soe dan Loei Siauw Thian?" ia tanya.
" Itulah aku sangsikan. Ketika kita berkumpul di Chin soe, mereka memanggil aku Jie Tayhiap. Mungkin pihak sana menduga perhubungan kita adalah persahabatan kekal. Untuk mereka, itu pun ada faedahnya.”
"Aku pikir baiklah kau tak usah terlalu berkuatir untuk kedua saudara angkatmu itu," kata Yan Bun kemudian. "Mereka berpengalaman, tak mungkin mereka tidak bercuriga, lebih-lebih Jie ko mu itu, dia sangat cerdik, Chong Toako gagah, dia pun tianglo dari Kay Pang, tidak nanti Kiong-Bun siang Kiat berani lancang turun tangan terhadapnya. Taruh kata mereka bekerja belum tentu mereka berhasil. Yang harus dijaga ialah supaya mereka tidak ketahui segala perbuatanmu."

"Akupun tidak terlalu menguatirkan kedua saudara angkatku itu," In Gak kata, "Yang aku kuatirkan ialah janji kita untuk nanti bertemu di Ciang peng dirumah Say Hoa To Goei peng Lok. jikalau Kiong-Bun siang Kiat turun tangan atas diri kedua anak she Hu disana, bagaimana?"
Mendengar itu, yang beralasan Yan Bun ber kuatir juga. ia lantas berpikir. sepasang matanya yang jeli memain berputaran, Mendadak ia menepuk tangan.
"Ada, ada jalan" serunya, tertawa, "Bukankah kau membawa lencana partai peng emis? Di dalam kota Kie koan mesti ada pengemisnya, asal kau dapatkan satu diantaranya, yang gesit, cukup kau menitahkan dia segera pergi ke Clang peng untuk mengisiki keluarga Hu buat mereka pindah sementara waktu, Dua saudara Chong dan Loei mestinya ayal ayalan ditengah jalan, mereka pun dapat diperintah orang mencarinya danpasti bakal dapat d iketemuka n. "

In Gak setujui pikiran sInona yang ia puji pintar.
"Kenapa aku tidak memikir begini?" katanya- "inilah pikiran bagus" ia lantas menepuk tangan beberapa kali, memanggil pelayan Dengan hormat dan bersenyum, pelayan bertindak masuk.
"sahabat, aku minta tolong," kati si anak muda. "Hari ini tanggal dua, aku hendak melakukan amalku sebagaimana biasa aku lakukan setiap tahun, Tolong kau carikan beberapa pengemis untuk aku menderma kepada mereka.”

Pelayan itu menerima, tetapi ketika ia mengundurkan diri ia kata perlahan: "Luar biasa tuan muda ini Ada uangnya tetapi tak tahu dia bagaimana harus menggunainya, bolehnya dia hendak mengamal kepada segala pengemis inilah tak tepat" Tapi ia pergi bekerja.
Seberla lunya si pelayan, sembari tertawa Yan Bun kata pada pemudanya: "sekarang, Engko In, pergilah kau ke hotel sam Seng, Coba kau lihat Hui Thiak Auw Coe Law Keng Tek ada disana atau tidak ..."
"Ada ada saja" kata ln Gak seraya menggeleng kepala, tetapi ia bertindak keluar, setibanya di jalan besar, ia melihat suasana ramai, jalan besar dilalui cuma oleh beberapa orang, sebalik nya tiap rumah menggantung tengloleng, yaitu lentera merah, tanda dari tahun baru, dan petasan berbunyi berisik disana sini. Dengan tanya-tanya orang, ia menuju kejalan besar di mana pernahnya Hotel sam seng, Ia berjalan perlahan. Angin tidak meniup keras tetapi hawa udara dingin.
Dijala nan masih ada saiju yang belum lumer. Dari setiap rumah pun sering terdengar suara anak anak yang bergembira.

Sesudah menikung dua kali, in Gak dapat melihat sebuah rumah dimana ada digantungi dua buah tengloleng besar dengan huruf-huruf " Hotel sam seng" ia menghampirkan. selagi ia bertindak ia melihat munculnya orang tadi yang bernama Tian le, si "mata tikus" Cepat jalannya dia menuju ke arahnya, ia tidak mau kas i dirinya terlihat, lekas lekas ia minggir untuk bersembunyi diujung tembok. Tian le tidak melihat orang, dia berjalan terus.
Tepat dia sampai diujung tembok. In Gak muncul dibela kangnya, untuk terus menepuk punggungnya sambil menepur: "E h, sahabat she Tian, tunggu sebentar. Aku numpang tanya"

Tian le kaget, dia berlompat maju, untuk lekas-lekas membalik tubuh, Tapi bagaikan bayangan, in Gak pun lompat menyusul, hingga mereka berdua terpisah tak ada satu kaki. Dia takuti hingga tubuh nya menggigil ketika dia telah melihat tegas siapa yang menegurnya itu, Dia kata dalam hatinya:
"Dasar aku tidak mengenali gunung Tay san Aku mendengar suara merdu dikamar sebelah, hatinya gatal, aku menghampirkan, Aku lihat dia muda dan lemah, aku tidak memandang mata, syukur kawanku menarik lenganku... Nyata dia gesit sekali...sekarang... kenapa aku bertemu pula denganny a? Bagaima na? "

In Gak mengawasi tajam, ia melihat orang jeri, ia bersenyum.
Tian ia menjadi semakin takut, dia lantas berteriak niatnya untuk memanggil kawan kawannya yang berada didalam hotel. Tapi, belum suara nya keluar, tenggorokannya sudah ditotok dua jerijinya si anak muda, hingga dia cuma dapat menganga saja dan kedua matanya terbuka lebar suaranya tak dapat keluar.
Dalam takutnya, matanya memperhatikan sinar mohon dikasi ampun...
"Tuan, kau cari mampusmu sendiri jangan kau sesalkan aku" kata Jie In tertawa dingin, ia menyamber tangan orang di bagian nadi, lantas ia menarik.
Tien ie mati kutunya, tanpa berdaya dia di seret masuk kedalam sebuah gang yang gelap. Dia merasakan tubuhnya ngilu dan kaku dan peluhnya keluar dengan deras.

Ditempat gelap itu, in Gak menepuk batok kepala orang, membikin bebas totokannya tadi yang membikin si mata tikus menjadi gagu, sekarang walaupun dia bermata kekunangan dan kepalanya pusing dia dapat bersuara. In Gak memandang tajam.
"Kau masih tidak mau bicara tuan," katanya "Apakah kau tak sudi bersahabat denganku?" ia tertawa.
Tubuh Tian ie menggigil. Dia jeri untuk mata bengis dari si pemuda.
"Aku telah minum arak aku telah berbuat kurang ajardidalam hotel tadi, aku minta maaf," dia kata.
"Itulah tak apa," kata in Gak tangannya di ulapkan, "Cuma aku hendak menanyakan sesuatu..."
Tian ie menghela napas lega, tubuhnya tak lagi menggigil, la heran hingga ia tanya
dirinya sendiri: "Aneh pemuda ini. Mau apakah dia?"
Maka ia lantas menanya: "Ada urusan apa, tuan? Tanyakanlah Asal yang aku ketahui suka aku memberitahukan."
In Gak bersenyum.
"Bukan tuan adalah sebawahan dari Him Jie san-Coe Law Keng Tek?" ia tanya. "Aku
mengagumi Law sanijoe untuk kegagahan dan kebijaksanaannya."
"Aku memang sebawahan Law LootongCoe," menjawab Tian ie. hatinya lega. "Apakah itu yang tuan hendak tanyakan?"

Lagi-lagi In Gak tertawa.
"Tadi didalam hotel kebetulan saja aku mendapat dengar pembicaraan kamu." ia kata sabar, "Katanya ketua kamu itu telah diperintahkan Kiong-Bun siang kiat mencari seorang yang bernama Jie In, Bagaimana duduknya itu? Apakah tuan suka memberi keterangan padaku?"
Tian ie terperanjat, hingga dia mundur setindak.
"itulah urusan ketua kami sendiri" dia kata ragu-ragu, "oleh karena adanya larangan partai, tidak dapat aku bicara suatu apa, Tuan, sukar untuk aku memberitahukan sesuatu kepadamu..." suaranya mengeras.
"Hm" In Gak mengasi dengar dingin. "Tuan, kau bicara bertentangan dengan dirimu sendiri Barusan kau sendiri yang membilang bahwa kau suka omong segala apa Apakah kau tidak ketahui lihaynya Koay Cioe sie seng, ai Pelajar Tangan Aneh?"

Tian Ie kaget pula, dia meringis. Jadi tuanlah Jie ..?" katanya, ia memperkenalkan dirinya.
"Benar" sahut In Gak bengis, "Maka sekarang kau mesti omong semua dengan terang, baru kau dapat ampun"
Siapa takut mati dia dapat lenyap liangsimnya, demikian Tian ie. dia kata di dalam hatinya:
"Di sinilah Jie In, Loo tongke mengutus dua puluh empat tocoe mencarinya, dia bertindak berlebihan, Bukanka h aku berjas a jikalau aku pergi melaporkan sekarang?" Lupa bahwa mungkinkah dia akan dikasi hidup, lantas dia memutar tubuhnya, buat berlompat dan lari.

Baru dia lari dua tombak. di telinganya terdengar suara tertawa dingin yang menyeramkan, lalu dia merasa tubuhnya terbetot balik, takperduli dia meronta-ronta. setindak demi setindak. dia dipaksa kembali ke tempat yang gelap tadi. Habis tenaga melawannya, Baru sekarang dia ingat takut pula. Baru dia berdiri, dia merasa tangan orang diletaki dipunggungnya.
"Kau memikir yang tidak-tidak" kata In Gak bengis. "Kau mau kabur buat memberi kabar pada Law Keng Tek. bukan? Teranglah kau sudah bosan hidup sekarang rasai tanganku di punggung mu Kau ketahuilah, sekarang tak dapat kau tidak menjawab pertanyaanku.”
Timbullah takut matinya Tin Ie, maka dia lantas memb enkao keterangannya. Dia membeber kelicikannya Kiong Bun siang Kiat, yang menugaskan Law Keng Tek.
In Gak telah kembali ke hotelnya di mana ia lantas menemui Yan Bun, ia lantas menuturkan kepada si nona tentang pertemuannya dengan Tian ie. Habis memberi keterangan ia ber-senyum.

Nona Kouw mementang matanya.
"Kau baru bicara separuhnya." katanya, "Bagaimana dengan Tian ie?" In Gak tertawa, matanya bersinar.
"Segala manusia busuk, buat apa dikatakan lagi?" sahutoya. "Dia harus menerima pembalasanny a "
Yan Bun tahu orang tentulah telah dihukum, ia tidak menanyakan lebih jauh.

Tidak lama, pelayan datang sama beberapa pengemis, yang berkumpul di depan pintu. Jie In mengawasi mereka itu di antara siapa, seorang yang usia pertengahan bermata tajam, romannya cerdik, ia percaya pengemis itu mahir tenaga dalamnya.
"Sekarang kau tolong aku berbelanja," kata si pemuda pada pelayan. ia menyebut beberapa rupa barang untuk bekal dijalan. Pelayan itu mengerutkan kening, Dimasa tahun baru di mana ia dapat membeli barang-barang itu? Tapi ia diperintah, ia dapat mengharap persen lebih jauh, ia pergijuga.

In Gak memberi persen dua tahilperak kepada setiap pengemis, yang ia suruh mengundurkan diri, kecuali ia menahan yang usia pertengahan itu Kepada dia ini ia memberikan sepotong emas, katanya untuk bekal dijalan, ia pesan si pengemis apa yang dia mesti kerjakan.
Pengemis itu menjura, lantas dia mengundurkan diri dengan cepat.
Selang sekian lama, pelawan kembali dengan tangan kosong, tak dapat ia membeli apa juga. In Gak tertawa, "Tidak apa" katanya.
Yan Bun memberi upah setahil perak, hingga pelayan itu girang sekali.

Selanjutnya In Gak dan Yan Bun tidak keluar lagi dari kamar mereka, mereka
menantikan sang pagi untuk membuat perjalanan ke Lokyang dengan naik kereta yang dipesan.
Justeru itu malam, selagi kamar mereka sunyi, ada dua orang yang mencari jalan untuk masuk kedalamnya, Mereka itu memakai topeng, Tepat terpisah lima kaki dari meja, mendadak mereka berlompat kepembaringan seraya menikam "Aduh" demikian jeritan yang menyayatkan

Malam sudah larut, angin meniupkan hawanya yang dingin dan bersuara dikertas jendela. Di waktu begitu, In Gak dan Yan Bun di dalam kamarnya dihotel di Kiekoan sudah pulas, tetapi segera mereka dibikin mendusin oleh suara berkeresek perlahan di atas genting, mereka lantas menduga jelek.
Memangnya mereka tidur tanpa menukar pakaian lagi, maka lantas mereka merayap turun, untuk pergi kepojok kamar, Di situ mereka berdiam sambil memasang mata.
Umumnya jendela rumah dipropinsi shoasay terdiri dari dua lembar daunnya yang panjang, yang dibuka keluar, keatas dan kebawah. sekarang daunjendela hotel terdengar berkeretek. Lantas kelihatan yang sebelah diangkat, rupanya untuk ditunjang In Gak melihat bergerak- geraknya sebuah tangan, Yan Bun lantas menyiapkan satu biji uang tembaga.
Dengan daun jendela terbuka angin dingin masuk kedaIam. In Gak dan sInona merasakan itu, mereka berdiam saja.

Orang jahat tidak mendengar gerak-gerik apa juga didalam kamar itu, hati mereka menjadi besar, lantas terlihat mereka masuk. Mereka berdua, tangan mereka mencekal pedang, muka mereka ditutup topeng.
Dengan perlahan, mereka menghampirkan pembaringan lalu dari dekat meja, mereka lompat menikam kearah pembaringan itu, hingga terdengar tegas pedang mereka menancap dikayu, mereka kaget. Mereka bukan menyerang tubuh orang Keduanya lantas lompat mundur untuk kabur d ari jendela atau segera terdengar jeritan mereka, yang satu roboh ke lantai.

Yan Bun menimpuk jitu pada kaki penjahat itu. orang yang kedua kaget dan bingung, tetapi dia menginsafi bahaya, terus tanpa menghiraukan kawannya, diapun lompat ke jendela.
"Balik" dia mendengar bentakan bengis, lantas terasa kakinya terjepit sakit, lantas tubuhnya tertarik keras, hingga dia membentur tembok setelah merasai mata berkunang dan kepala pusing, dia roboh tak sadarkan diri.
Berbareng dengan itu, Yan Bun menghampirkan kedua penjahat, dengan ujung sepatunya ia menyongkel topeng orang, setelah mana ia agaknya terkejut. Penjahat yang terluka kakinya dan matanya mendelik, terus dia tertawa dingin.
"Nona Kouw, sekarang kau baru mengerti. katanya, "Bukankah adikku tidak buruk? Kau boleh membenci dia, itu adalah urusan lain,tetapi itulah bukannya sebab untuk kau ingin membinasakannya, sekarang baik kau lepaskan kami"

Alisnya si nona bangun berdiri, tangannya melayang. "Adik bangsatmu itu mirip binatang" ia membentak. “BeruIangkali dia main gila di depan nonamu, untuknya mati masih kurang tepat Kenapa kau ada muka berani datang kemari guna menuntut balas terhadapku? Baiklah, malam ini aku berikan kau kematian utuh, supaya selanjutnya kau tak usah meninggalkan bencana untuk khalayak ramai"
Habis berkata, nona itu mau menotok jalan darah mati si peniahat.
"Tahan dulu” ln Gak mencegah. ia telah mendengar pembicaraan singkat itu, ia dapat menerka duduknya hal. Tapi mereka berada di hotel. la kata pula, "Di sini tak dapat kita sembarang membunuh orang...." ia menghampirkan, ia menepok pundak orang itu seraya berkata: "Sahabat, kau pergilah Lain kali, apabila kau bertemu pula denganku, tak nanti kau mendapatkan kebaikan seperti sekarang"

Penjahat yang pingsan mulai mendusin, dia merayap bangun- Dia gusar, hendak dia melampiaskan itu, Atau In Gak memimpin dia bangun dengan pundaknya ditepuk, sembari tertawa, anak muda ini kata: "Tuan, harap kau jangan membuka mulutmu.Justeru sekarang adikku ini belum berpikir lain, lekas kau mengangkat kaki”
Penjahat itu batal mencaci atau menegur, matanya mendelik, mulutnya mengejek beberapa kali: "Hm" Kemudian dia kata pada kawannya, "Jietee, kita pergi-“
Orang yang dipanggil Jiete itu menurut maka sejenak kemudian, keduanya sudah berempat keluar darijendela, untuk menghilang ditempat gelap.
Yan Bun lantas menjatuhkan diri dikursi, ia duduk menangis terisak, ia agaknya sangat berduka dan penasaran, In Gak mengusap usap.
"AdikBun, apakah kau meny esa ikan aku melepaskan mereka?" ia kata sabar, "Kau jangan salah mengerti. Kau tahu, sebelum mereka menyingkir seratus tombak, mereka akan sudah sampai dipintu kota negara iblis jangan kau menyesal dan penasaran, jangan bersusah hati.."

Yan Bun mengangkat mukanya, ia menyusut airmatanya, Tiba tiba ia tertawa.
"Aku mengerti" katanya, "Benar-benar kau membunuh orang tanpa berdarah"
In Gak bersenyum, tapi ia kata dengan sungguh-sungguh: " Untuk membasmi manusia jahat, aku terpaksa berbuat demikian."
Kemudian ia pergi kepembaringan, untuk mencabut pedangnya kedua penjahat itu yang tadi orang tak sempat mencabutnya. Kedua pedang nancap dalam sekali.
Yan Bun memandangi si anak muda ia tidak mendengar orang menanyakan hal ikhwalnya mengenai pembicaraannya tadi dengan si penjahat, ingin ia menjelaskan tetapi In Gak mencegah "Sudah, adik In. Tanpa kau menuturkan aka telah bisa menduga delapan sampai sembilan bagian," ia kata
"Bicara tentang itu cuma mendatangkan keruwetan pikiran saja, Mana penjahat dapat berbuat baik? lihat pembuatannya barusan perbuatan itupun sudah menjadi alasan cukup untuk menyingkirkan mereka itu"

Yan Bun tahu orang tak ingin ia berduka, ia bersenyum, ia tidak mau mengatakan apa apa lagi ia lantas merebahkan diri di pembaringannya. Jie In pun turut rebah, tetapi terus sampai pagi ia tidak tidur pulas, ia kuatir nanti ada lain penjahat, maka ia berjaga jaga.
Pelayan hotelpun tidak muncul sebelumnya pagi rupanya tadi malam dia tidur nyenyak sekali dan tidak mendengar suara apa-apa, hingga dia tidak tahu apa yang telah terjadi di rumah penginapannya itu. Dia lantas mencari sebuah kereta keledai yang memakai tutup. Baru setelah mengetuk pintu, untuk mengasi bangun kedua tamunya, dia kaget melihat daun jendela menjeblak. Dia melongo.

Si nona tertawa. "Tadi malam datang penjahat tetapi aku telah mengusirnya," ia kata. "Rupanya kau tidak mendengar apa-apa .Jangan takut, aku nanti mengganti kerugianmu."
"Oh, oh, nona, jangan" kata pelayan itu gugup, "Tak usah nona mengganti. Kereta sudah siap. apa nona dan tuan mau berangkat?" ia mengawasi ia heran kenapa orang demikian lemah dan ayu dapat mengusir penjahat.
Yan Bun mengangguk. lantas ia memberesi buntalannya, yang ia suruh si pelayan bawa ke kereta, In Gak sendiri membawa kedua pedang Thay oh dan Leng Ko, Berdua mereka bertindak keluar.

Di muka hotel terlihat kereta yang dipesan yang tendanya hitam dan keledainya empat, kelihatan binatang itu pilihan. Tukang keretanya dua orang. sebagai orang utara, mereka bertubuh besar, Tangan mereka mencekal cambuk:
In Gak mengasi persen lagi sepuluh tahil pada pelayan, lantas ia pimpin Yan Bun naik kereta, ia sendirI naik belakangan-
Tukang kereta lantas menggeprak keledainya, cambuknya dibunyikan, membikin roda-roda kereta menggelinding cepat dan keras.
Kereta keledai terus dilarikan keras. Tukang kereta mencambuk dan beseru berulang kali.
selang dua jam, Yan Bun menyenderkan diri untuk tidur.

In Gak tidak mau mengganggu ia sebenarnya tak tidur tadi malam, tapi sekarang ia tidak tidur seperti si nona terus ia suka mengintai ke luar, ia memikirkan keras gerak-geriknya orang-orang Rimba persilatan itu.
Setelah melalui duapuiuh lie, In Gak mulai mengerti duduknya hal, jauh di depan, di tengah jalan, terlihat beberapa puluh kereta piauwkiok beserta belasan piauwsoe atau pengiringnya, yang dengan senjata terhunus lagi menjagal disekitarnya. Teranglah mereka itu lagi bersiap untuk suatu penyerbuan.
"Saudara," In Gak tanya kusir, "didepan kita ini ada tempat perhentian atau tidak?"
"Ada, tuan," menyahut salah satu kusir sambil membungkuk. "itulah Kho kee-keuw, lagi sepuluh lie dari sini, tempatnya baik ..."
"Sudah, kamu j angan berkuatir" kata in Gak kemudian, tertawa, "Kalau didepan tidak ada tempat perhentian, tidak nanti kawan penjahat bekerja sebelum lewat Kho ke kauw, Lagi pula kitalah orang orang pelancongan, kita tidak campur urusan mereka, Kamu boleh jalan terus."

Lega hati si kusir. orang demikian besar hati, ia mau menduga penumpangnya ini bukan sembarang orang.
Yan Bun tidak pulas, dia mendengar pembicaraannya itu, lantas dia membuka matanya untuk memandang ke luar tenda.
"Engko In," katanya tertawa, "aku dapat menerka kau. Kembali kau mau usil, bukan?" In Gak tidak menjawab, ia melainkan tertawa.
Ketika itu kereta mereka lari keras sekali, dengan cepat mereka tiba di belakang rombongan kereta piauwkiok, tempo sInona melihat ke luar, ia agak terkejut. "Aih" serunya. "Engko In, kau lihat."
Bendera piauwkiok cuma sulaman empat ekor kuda, tak ada lainnya lagi, itulah sangat beda daripada yang kebanyakan. Apakah tidak aneh?"

In Gak melihat berkibar kibarnya bendera yang dimaksudkan kawannya itu, itulah bendera dari sutera putih, sulamannya benar merupakan empat ekor kuda yang berlainan sikapnya, ia ketahui itulah sulaman yang menyontoh lukisan "Delapan ekor Kuda" dari pelukis Han siang.
Tiba-tiba ia ingat keterangan Siauw Thian selama mereka memasang omong dalam kantor Cin Tay piauw Kiok, bahwa di propinsi Hoolam disamping kuil siang Kok sie di kota Kayhong, ada sebuah piauwkiok yang memakai merek Thian Ma Piauw Kiok. artinya piauwkiok Kuda Langit, artinya lebih jelas "Kuda Langi Jalan di udara perjalanannya senantiasa berhasil, piauwkiok itu dipimpin oleh Suma Tiong Beng yang dunia Kang ouw juluki Poen Loet Kiam-kek. jago Pedang pengejar Guntur, yang katanya gagah dan cerdik, yang usianya sudah tujuh puluh lebih, bahwa dialah sahabat ayahnya.
"Kalau dia benar Suma Tiong Beng, tak dapat tidak aku mesti bantu padanya." demikian ia pikir.

Kereta piauw kiok sudah mengalah, maka itu keretanya pemuda ini dikasi lewat. selagi lewat itu, ia melihat seorang tua duduk didalam kereta piauwkiok itu. Dia telah ubanan rambut dan kumisnya, mukanya bersemu dadu, sepasang matanya tajam, tubuhnya kekar, tak miripnya orang tua. Dia membekal pedang dipunggungnya akan tetapi pedang itu tidak dihunus, bahkan dia sangat tenang sikapnya.
Tidak lama tibalah orang di Kho-kee kauw. Benar dimulut dusun ada sebuah losmen merek Kho seng, Kereta dihentikan di depan losmen, In Gak membantu sInona turun untuk masuk kedalam rumah penginapan itu.

Seorang pelayan menyambut memimpinnya kedalam, Dipertengahan sudah ada lima tetamu yang semua beroman bengis, tubuhnya besar-besar sambil duduk di bangkupanjang, mereka bicara pertahan. Berhenti suara mereka begitu mereka melihat masuknya muda-mudi itu, agaknya mereka terpesona si nona cantik manis.

In Gak berdua bertindak terus, mereka ditunjuki dua kamar disebelah timur dan barat. ia memilih yang di timur, terus ia memesan barang santapan, sekalian juga untuk kedua kusirnya.
Selagi menanti barang makanan seorang diri ia bertindak keluar lagaknya untuk melihat-lihat hotel itu, diam-diam ia memperhatikan kelima tetamu tadi, ia ingin menerka mereka itu ada maksud tujuannya atau tidak terhadap Thian Ma Piauw Kiok.

Piauwkiok itu mempunyai pegawai yang jalan didepan yang biasa mengatur penginapan dan lain2 nya, pegawai itu sudah lantas tiba dilosmen. Ketika kelima orang tadi melihat dia mereka bersenyum ramah. in Gak dapat melihat sikap mereka itu ia lantas mengerti. Lekas juga tibalah rombongan piauwkiok, maka berisiklah suara kereta dan kudanya.

Congpiauwtauw Suma Tiong Beng masuk kedalam losmen, ia bertindak dimuka diikuti orang-orangnya, Nampaknya ia bersungguh-sungguh. Ketika ia melihat ln Gak berdiri disamping, sejenak ia mengawasi.
Agaknya ia kagum untuk ketampanan dan ketenangan anak muda itu. ia lantas tersenyum dan mengangguk sebagai tanda menyapa hormat.
In Gak pun tersenyum dan mengangguk ia anggap si orang tua manis budi.
"Banyak capai loopiauwtauw" katanya, "Beginilah aku si orang tua." Katapiauwsoe itu, menghentikan tindakannya, "Setiap tahun, setiap bulan, aku mesti membuat perjalanan jauh hidup diujung pedang, maka untukku tak ada kata-kata capai, Laotee, dapatkah aku mengetahui she- mu yang mulia?"
Sembari menanya begitu, matanya piauwsoe ini melirik kekereta orang di depan losmen.

"Akushe Giam, Ioo-piauwtauw. Gia m dari Giam Coa Lang," In Gak menjawab. "Kami berdua suami isteri berangkat kemarin dari Thaygoan niat pergi ke Lokyang, Waktu aku melihat loo-piauwtauw ditengah jalan, aku kagum sekali."
Suma Tiong Bong mengurut kumisnya dan bersenyum.
"Giam Laotee, girang aku dengan pertemuan ini." katanya. Karena orang tidak menanyakan she dan namanya, ia memperkenalkan diri:
"Namaku si orang tua yang rendah ialah Suma Tiong Beng. Kebetulan sekali akupun mau pergi ke Lokyang, jikalau laotee tidak sesuatu urusan mari kita jalan sama-sama ." selagi berkata begitu, jago tua ini diam-diam melirik kepada kelima tetamu itu. In Gak tertawa.
" Loo-piauwtauw, meski aku cuma seorang anak sekolah tetapi nama loopiauwtauw aku kenal baik sekali." katanya, " Untuk wilayah Hoolok. anak kecil sekalipun mengenalnya juga, Maka itu beruntung aku dapat berkenalan dengan loo-piauwsoe" Loo piauwsoe masih ada banyak urusan, persilahkan sebentar saja aku memohon."
"Kau baik sekali, laotee," kata si piauwsoe tertawa "Nah, maafkanlah aku." ia memberi hormat, lantas ia bertindak masuk.

Kelima tetamu itu mengawasi punggung si orang tua sambil bersenyum tawar, setelah
itu, mereka berlalu.
ln Gak pun kembali kedalam, Thian Ma Piauw Kiok hampir memborong losmen itu. Dari kamarnya sembari bersantap. sering ln Gak dan Yan Bun mendengar suara dan tertawanya si piauwsu tua.
"Coba terka, engko ln, siapakah musuh Thian M a Piauw Kiok?" tanya sInona bersenyum. "Apakah penjahat akan mencari tahu lebih jauh baru mereka mau turun tangan? Menurut dugaanku, pihak piauwkiok ini lebih banyak menghadapi bahaya daripada keselamatan, bahkan mungkin besok magrib ini terjadinya peristiwa..."

In Gak terlihat heran-"Bagaimana kau menduganya, adikBun?" ia tanya.
Nona itu bersenyum.
"Menurut rasaku, mereka itu pasti sudah menetapkan tempat dan telah membuat penyelidikan cukup," ia menyahut, "Kau kesohor mengapa kau tidak melihatnya? Empatpuluh lie dari Kho-kee-kauw ini ialah jalanan pegunungan dan disana ada lembah Gia Kang kiap. itulah tempat yang bagus untuk mereka bekerja.
Setelah berhasil, mestinya penjahat menyingkir ke ong ok san, gunung di barat daya itu, Aku tahu gunung Ong ok san itu ada berdiam Kioe-coe bo Lian Hoan ie Goan Kay, begal yang menjagoinya, dari itu kecuali dia, tidak ada penjahat lainnya yang nanti berani turun tangan di dalam wilayah pengaruhnya itu."

ln Gak tertawa, "Aku tidak sangka kau kenal baik kaum Rimba Hijau" katanya, Jadi pastilah mereka bakal bekerja di Gia Kang Kiap?" sInona mengangguk pemuda itu berdiam,
Ketika itu terlihat pelayan datang bersama Suma Tiong Beng di belakang siapa turut
seorang piausu usia lebih kurang empat puluh tahun yang romanya bersih. "oh" In Gak berseru, lekas-lekas ia berbangkit, juga sInona.

Suma Tiong Beng tertawa, ia kata: "Giam Laotee, maafkan aku. Beginilah tabiatku, asal aku kenal orang, aku menganggapnya sebagai sahabat kekal. Aku ingin bicara dari satu hal yang ingin bicara dari satu hal yang tak selayaknya aku menyebutkannya tetapi toh aku mesti menyampaikannya. Aku ingin ketahui kapan lotee berdua hendak meneruskan perjalanan kamu, hari inijuga atau besok? Menurut aku, baiklah lotee beristirahat satu hari disini."

In Gik berpura-pura heran-
"Loo piauiwtauw, kata katamu ini mesti ada sebabnya" katanya. "Maukah loo piauwsoe menjelaskannya? "
"Sayangnya panjang untuk berbicara," kata si piauwsoe, sikapnya menjadi sungguh-sungguh, "Baiklah aku perkenalkan dahulu sahabatku ini." ia lantas memutar tubuh dan menunjuk orang dibelakangnya untuk menambahkan " inilah pembantuku yang aku hargai, Jit Goat sien-Jin Ciang Louw Keen-"
In Gak memberi hormat pada piauwsoe itu, yang pun memberi hormat padanya, ia lantas mengajar kenal Yan Bun.
"Silahkan duduk" ia mengundang, "Loo piauwsoe minta kami menunda penjelasan satu hari, mungkinkah itu disebabkan perjalanan kurang aman?" orangtua itu menghela napas, tapi ia tertawa.
" Entah kenapa, loote, begitu melihat kau jadi sangat suka bergaul denganmu," ia
kata. "Mungkin ini disebabkan romanmu mirip dengan seorang sahabatku dulu hari, Terdengar kabar angin sahabatku itu telah mencari tahu tentang dia, tetapi belum ada hasilnya, Mungkin itu kabar angin belaka..."

In Gak tahu yang dimaksudkan itu tentu ayahnya, maka ia terharu sendirinya, ia bersyukur kepada piauwsoe tua ini.
Piauwsoe tua itu berkata pula: "Seperti aku bilang barusan, panjang untuk menutur, Memang sudah umum kami bangsa piauwsoe, kami hidup diujung senjata. sudah beberapa puluh tahun aku membangun Thian Ma Piauw Kiok. selama itu bukannya aku belum pernah menerima gangguan hanya syukur berkat kecintaan sahabat-sahabat Rimba Persilatan, semua itu bisa dihindarkan urusan besar dapat dibikin kecil, urusan kecil dapat dilenyapkan.
Begitulah perusahaanku tetap maju, sekarang aku telah berusia lanjut, sudah selayaknya aku beristirahat untuk hidup tenang dan berbahagia serumah tangga, Apa perlunya aku terus merantau menghadapi ancaman bahaya? memang, sejak sepuluh tahun yang lalu, aku sudah mengundurkan diri Tapi piauwkiok tidak aku tutup aku serahkan kepada anakku, Kali ini kami menerima angkutan kebetulan anakku sakit, tak dapat ia ke luar, terpaksa aku si tua mesti mewakilkannya.
Kami mengantar piauw kekotaraja, Diwaktu pulang kami mendapat pula angkutan, seorang saudagar perlu mengirim permata dan uang ke Lokyang, dia tidak dapat piauwkiok lain, sebab disaat akhir tahun, semua perusahaan berhenti bekerja.
Kami mesti melakukan perjalanan pulang, lalu seorang sahabat memujikan kami. Tak dapat aku menampik permintaan sahabat itu maka itu kami menerimapula tanggung jawab ini.
Kami ingin lekas sampai ditempat tujuan, sengaja aku memotong jalan.
Di luar dugaan, kali ini aku menghadapi ancaman bahaya, Aku telah beberapa kali melihat oraog-orang yang dapat dicurigai, tetapi aku masih belum memastikan mereka mengarah kami atau bukan.
Oleh karena itu aku menduga di sebelah depan mungkin terjadi peristiwa, ini pula berbahaya kenapa aku minta laotee suka singgah di malam ini”

Pemuda itu berpura-pura kaget.
“Jikalau jalanan tak aman tak dapat kami berdua melanjutkan perjalanan seorang diri.." katanya "Apa..."
Jit jit sian-Jiu-Ciao Louw Keen tertawa dan menyela. "Loo-piauwiauw keliru melihat Giam Laote berdua adalah akhli-akhli silat yang lihay Lihat saja sinar matanya Giam tajam"
In Gak kagum untuk piauwsoe ini, ia tadInya mau minta diajak jalan bersama, karena Louw Keen mengatakan demikian, ia bilang, "Louw Laotoe benar tetapi tidak seluruhnya, isteriku bukannya akhli, dia cuma mengerti silat kasar kasar, Aku sebaliknya, aku benar benar tidak tahu apa-apa"

Suma Tiong Beng tertawa.
"Benar-benar mataku si orang tua lamur. Kenapa aku tidak dapat mengenali teeHu? Lotee, bukankah kau pun .. Ah. mungkin kau merendah saja."
In Gak hendak menjawab piauwsoe itu atau ia tercegah suara berisik diluar dimana terdengar orang berselisih mulut, selagi Tiong Beng terperanjat, seorang pegawainya lari masuk sambil berkata: "Can-piauwtauw, lekas Disana ada seorang pengemis serta kawannya, yang romannya bengis, datang-datang meraba barang kita di atas kereta, waktu Oey Piauwsoe mencegah, mereka lantas menyerang, pengemis itu bersenjatakan seekor ular, sudah empat orang kita roboh, Oey Pauwsoe sendiri roboh juga.."

"Itu" bersuara si piauwsoe tua, yang terus bertindak keluar cepat, diikut Lauw Koen sampai lupa meminta diri dari In Gak.
Mendengarkan diantara pengacau ada pengemis In Gak mengajak Yan Bun turut ke luar.
Di dalam pekarangan hotel orang ramai ber kumpul, orang-orang piauwkiok mengurung dua orang, roman mereka heran danjeri, orang yang dikatakan bengis itu berdiri sambil bertolak pinggang, tak hentinya dia tertawa mengejek.

Lima kaki terpisah daridia ada si pengemis yang matanya merah, hidungnya lancip, mukanya tirus kulitnya bersemu merah, Benar ia memegangi seekor ular dengan tangan kanannya, ular itu melilit-lilit dan mengulur-ulur lidahnya yang lentik. Di tanah rebah lima pegawai piauwkiok itu waktu terdengar si pengemis berkata-kata keras: "Kamu orang piauwkiok. jangan kamu bermata anjing tak melihat mata pada lain orang Aku si pengemis telah banyak penglihatanku, maka juga barang-barangmu ini tak ada di mataku sebaliknya benar di sebelah depan sana ada seorang sahabat baik yang ingin menemui si orang tua she Suma.
“Aku justru datang guna menyampaikan kabar. Kenapa kamu galak tidak keruan? Hm sudahlah, aku si tukang minta-minta mau pergi sekarang "

Dia melihat Tiong Beng mungkin muncul, sengaja dia mengucap demikian, Dan benar dia sudah melangkahkan kakinya.
Suma Tiong Beng melompati orang-orangnya, ia berhenti d idepa n pengemis itu.
"Tuan siapakah yang hendak menyampaikan kabar pada aku si orang tua?" ia tanya, "sebelum kau memberi keterangan, tak dapat kau berlalu dari sini"
Pengemis itu memutar balik biji matanya, "Aku kira siapa yang berani main gila terhadap aku si tukang minta-minta" katanya dingin, "Kiranya Poen Loei Kiam kek siapa sahabat itu, sebentar kau akan mendapat tahu sendiri, jadi tak usahlah aku si pengemis menggoyang goyang lidah lagi"

Itulah penghinaan hebat maka juga tanpa membilang apa apa lagi, Tiong Beng maju sambil menyerang jalan darah hok kiat kiri dan kanan dari pengemis mulut besar itu.
Tak perduli agaknya si pengemis gesit sekali, dia tak dapat berkelit seluruhnya. Dapat dia mengegos di kanan tetapi di kiri tidak. maka sasaran kirinya itu kena tertotok. hingga saking sakit matanya mendelik ke luar dan mulutnya memperdengarkan seruan kesakitan, berbareng dengan mana ular di tangan kanannya dilemparkan ke arah si piauwsoe tua

Tiong Beng heran orang tertotok tetapi tidak roboh, ia tercengang. Biasanya ia tidak pernah gagal, ia mendapatkan julukannya itu justeru disebabkan kemahirannya tenaga dalam dan luarnya serta ia pandai menggunai kepalan telunjuk pedang dan senjata gelap, sebab kesebatannya.
Justeru ia tercengang itu ular sudah terlempar hingga dua dim di depan matanya. Tak sempat lagi ia menangkis, sambil melengak ia terus berjumpalitan. Tetapi liehay ular itu, yang terus mengejar seraya meleletkan lidahnya.
Semua orang piauwkiok kaget sekali, semuanya berteriak.

16. Jilid 8.2. Membantu kekasih menolong ibundanya

Bacaan » PEMBALASAN SEORANG JAGOAN » Jilid 8.2. Membantu kekasih menolong ibundanya
Anggota masrizki
Waktu 1 September
Bab Sebelum 15. Jilid 8.1. Menolong sahabat ayah
Bab Sesudah 17. Jilid 9.1 : Ibunda Yan Bun tertolong




Pembalasan Seorang Jagoan
Karya : Wu Lin Qiao Zhi
Terjemah : OKT
Jilid 8.2. Membantu kekasih menolong ibundanya

Tepat lagi setengah dim kepalanya Suma Tiong Beng bakal kena dipagut ular itu, mendadak binatang lugat-legot itu merengket sendirinya, badannya lantas jatuh ke tanah, cuma satu kaki dia diam tak berkutik lagi, Dia mati seketika
Menyusul menyambernya ular itu si pengemis dan kawannya juga beriompat maju, Mereka menggunai ketikanya yang baik untuk merobohkan piauwsoe kesohor itu.

Tiong Beng heran menampak binatang berbisa itu roboh tidak keruan-ruan, ia tercengang. Justeru itu, ia menampak menerjangnya dua orang itu, ia terkejut. Tapi ia berpengalaman dan tabah dengan cepat ia menggeser sebelah kakinya, guna memperbaiki diri, berbareng dengan mana, kedua tangannya diluncurkan, guna menyambut serangan dengan serangan. Jurusnya ini adalah "Kuda liar menggibrik suri."

Segeralah terjadi hal yang luar biasa. Mendadak terdengar jeritan hebat dari kedua penyerang itu, tubuh mereka terpental melayang bagaikan layangan putus, jatuh di tempat beberapa tombak.
Tapi mereka tidak terluka rupanya, begitujatuh mereka merayap bangun, terus mereka
membuka langkah panjang, buat merat pergi.
Piauwsoe tua itu tercengang pula. Barusan ia menyerang tetapi ia kalah cepat, Baru ia menyerang, atau dadanya sudah terasa sesak, itulah pertempuran angin dari tangan kedua musuhnya.

Tepat ia hendak menggeser tubuh, mendadak tubuh dua orang itu terpental. Kejadian itu kejadian cuma sedetik, ia heran tetapi segera ia menduga sebabnya, hanya ketika ia menoleh, ia tidak melihat ln Gak dan Yan Boen, ia menjadi mengerutkan kening.
"Bawa masuk mereka itu" ia memerintahkan orang-orangnya, guna menggotong kelima pegawainya buat ditolongi. sambil bertindak masuk. la menanya Louw Kunn siapa yang telah membantu padanya .
"Apa?" balik tanya Jit Goat sian jie ciang, heran, "Bukankah mereka itu roboh oleh hajaran piauwtauw? Ah, kalau begitu, ular itu juga bukan dibunuh plauwtauw sendiri."

la menggeleng kepala, ia menambahkan: "Aku berdiri di sampingnya Giam Laotee berdua, aku tidak, melihat mereka itu menggeraki tangan mereka... Mungkinkah ada lain orang yang membantu secara diam-diam?"
Piauwsoe tua itu heran bukan main. Tapi ia mesti menolongi orang-orangnya, tak sempat ia menanya lebih jauh atau memikirkannya pula. sebenarnyalah, Suma Tiong Beng telah dibantu ln Gak dan Yan Boen, si nona yang menghajar ular dengan jarum rahasia Bwee hoa ciam, dan si pemuda yang membikin si pengemis dan kawannya terpental dengan gempuran Poutee sian Ciang, untuk mana cukup ia menggunai dua jari tangannya, tak usah ia bersikap sebagai lagi menyerang hebat.

ln Gak telah lama lantas dapat membaca bunyinya kitab Poutee Pwee Yap Cin Keng di luar kepala, iapun dapat menangkap artinya, tak perduli kitab itu ditulis dalam bahasa sangsekerta biarnya semua hurufnya berjumlah kira-kira lima ribu kata-kata.
Di sebelah itu, dengan kecerdasannya, ia dapat menggabung Poutee siao Ciang dengan Bie Lek sin Kang, sedang tenaga dalamnya telah dibantu ho sio ouw dan pel Tiang Coen Tan.

Tak puas ln Gak menyaksikan kegalakan dan keganasan si pengemis, ia sudah lantas mengerahkan tenaga Poutee sian Ciang di dua jari tangannya yang kanan, begitu lekas si pengemis dan kawannya lompat menerjang, ia memencil dengan dua jerijinya itu ke arah mereka masing-masing, maka tak tempo lagi, mereka itu kena dibikin gagal dan tubuh mereka mental, sendirinya ln Gak heran dan kagum atas lihaynya jerijinya itu, inilah percobaannya yang pertama lagi.
Oleh karena itu cuma menggeraki dua jeriji tangan tidak aneh Louw Koen tidak melihatnya, setelah itu ia tarik tangan Yan Bun, buat diajak lekas kembali ke kamar mereka.

Nona Kouw heran, sampai di dalam kamar, ia diam menjublak. In Gak dapat mengerti keheranan si nona.
"Aku telah pikir," kata ia bersenyum, " karena Suma Tiong Beng sahabat kekal ayahku, ingin aku membantu dia, Kasihan kalau ia sampai roboh di tangan orang-orang jahat. Tapi di depan kita ada urusannya Djim Cit Kouw, inilah sulit. Tak dapat kita membantu dia secara terang, kecuali terpaksa.
“Aku memikir untuk berjalan sama dengan rombongan piauwsoe itu, pada saatnya, kita bekerja cepat, supaya urusan kita jangan terintang karenanya, maka..."

"Maka apa?" tanya si nona, menatap muka nya sendiri merah sebab ln Gak terus mengawasi ia tajam, "Dengan mata bangsatmu kau menatap saja, sebenarnya kau hendak membilang apa?.." Pemuda itu tertawa.
"Aku pikir dandananmu seperti sekarang sangat menyolok mata, ia menjawab "Aku kuatir nanti muncul gangguan yang memusingkan kepala dari orang orang Rimba Hijau... Baik kau menyamar menjadi pria saja..."
Yan Bun melirik pemuda itu tanpa membilang apa apa, ia pergi ke meja dan duduk di depannya, menghadapi kaca muka, ia terus membuka kuncirnya, buat dijadikan kundai yang gepeng, setelah mana ia membeletaki kopiah yang si pemuda beli di Kwan gwa di atas kepalanya, hingga kundai itu tertutup semua, habis mana ia menutup tubuhnya dengan jubah kulit, sedang sepatunya juga ditukar.

Maka dilain saat jadilah ia seorang muda yang tampan yang berimbang tampannya dengan engko In-nya itu. Dimuka kaca- rias ia tertawa sendirinya. ln Gak pun kagum hingga tak hentinya dia memuji Tidak lama terdengarlah pintu diketuk. "silahkan masuk" kata in Gak setelah melirik si nona.
"Giam Laotee, aku" terdengar suara di luar suaranya Suma Tiong Boen yang terus menolak daun pintu dan bertindak masuk- - ia memandag ketika ia melihat In Gak berada
bersama seorang pemuda lain hingga ia mengawasi tajam.
Hanya lantas saja ia mengenali, maka ia kata dalam hatinya: "Mereka ini sangat setimpal jarang pasangan sebagai mereka, cuma mengapa ia menyamar menjadi pria?" Biarnya ia heran, piauwsoe ioi tidak berani menanyakan.

In Gak menyambut sambil bersenyum. "Baiklah mereka yang terluka itu?" ia menanya, Piauwsoe itu mengerutkan alis ia menghela napas, "Dapat dibilang mereka baru terlolos dari kematian " sahutnya duka, "Ularnya si pengemis ialah ular Ngo-hoa Kim-in asal tanah Biauw, ular itu sangat berbisa, siapa terpa g ut asal racunnya bercampuran dengan darahnya nyelusup kejantung, dia akan binasa.

Syukur mereka itu dapat lantas menutup jalan darah mereka, Aku mesti bekerja keras sekali menyedot keluar racun itu mungkin lewat dulu beberapa bulan sebelum mereka dapat sembuh seperti sediakala.."
"Sukurlah kalau begitu," kata In Gak. menghibur "Sekarang ini tak usahlah piauwtauw terlalu berkuatir, Tadi kami menyaksikan lagaknya kedua orang itu, kami tidak puas maka itu barusan kami telah berdamai, isteriku ini telah lantas menyamar sebagai pria, suka ia membantu dengan sedikit tenaganya." Tiong Beng girang.
"Sungguh itu tak berani aku mengharapnya" katanya. "Terima kasih."

Mesti ia berkata demikian, orang tua ini tetap curiga, ia percaya mestinya mereka ini yang membantu padanya, walaupun benar Louw Koen tidak melihat, sekarang terang si nona mengerti silat, Hal ini menambah kepercayaan atas terkaannya. Tinggal si anak muda,
Mau ia menyangka, pemuda ini telah demikian mahir hingga dapat dia menyembunyikannya dalam lagak wajahnya itu.
Mau tak mau Tiong Beng mengawasi tajam pemuda itu, Masih ia tidak melihat sesuatu pada sinarmata orang.

In Gak bersenyum dan berkata: "Membantu kesulitan orang itu menolongi bahaya itulah kewajiban setiap orang oleh karena itu kami harap loopiauwsoej angan mengucapkan terima kasih, silahkan loopiauwsoe bersiap, lebih cepat kita berangkat berarti lebih lekas
tugas kita selesai."
"Baiklah" kata plauwsu itu sambil memberi hormat, sambil mengundurkan diri, ia masih berpikir, ia kecele, ia yang demikian ternama, sekarang menerima bantuan anak-anak muda...
seberla lunya si orang tua, In Gak kata pada kekasihnya: "sebenarnya ditengah jalan, kalau benar terjadi sesuatu, kau sendirilah yang turun tangan, engkomu cuma mau berpeluk dagu.."

Yan Bun terkejut.
"Hii, mana dapat.." katanya bingung. jangan bergelisah" kata In Gak. mencegah orang bicara lebih j a ub, "Kau harus mengerti, setelah disalurkan olehku. sekarang ini tenagamu telah bertambah satu lipat, sesudah diyakinkan Kioe King Ceng Ha u Imyang Pou Ngo Heng Koan dan Thaykek Haan Hoi Heng Kian ilmu silatmujuga sudah majujauh.
Benar kau belum tergolong kelas satu tetapi kau dapat melayani jago-jago kelas satu itu. Maka itu jangan kau berkecil hati, besarkan nyalimu dan berlaku tabah dan tenang"

Yan Bun mengawasi.
"Kau demikian mempercayainya" katanya.
"Kau lihat saja" ln Gak memastikan. Tiba-tiba terdengar tertawanya Suma Tiong Beng diluar kamar, sembari mendatangi dia berkata:
"Giam Laotee, apakah kamu sudah siap sedia? sekarang juga kami niat berangkat" ln Gak berdua lantas membuka pintu kamarnya dan ke luar.
"Kami sudah siap. loopiauw soe" jawabnya, "Kami memang tidak mempunyai bekal apa-apa, kami dapat berangkat sembarang waktu"

Cuma si nona, yang baru pernah menyamar menjadi pria, tindakannya kurang leluasa maka itu ia bersenyum berseri-seri.
Tatkala mereka tiba diluar, kereta-kereta sudah mulai berangkat, pegawai yang jalan dimuka asik memperdengarkan teriakannya: "soe...ma.. hoet..teng ..." itu artinya "etnpat ekor kuda terbang naik", itulah isyaratnya rombongan piauwkiok yang memakai gambar empat ekor kuda sebagai lambangnya...
Keempat orang yang terluka telah digotong beberapa kawanaya,

Suma Tiong Beng berjalan sambil saban saban mengawasi kotak panjang di tangannya in Gak. Ia tidak berani menanya apa-apa. Habis In Gak berdua naik di keretanya, ia lompat naik atas kuda nya, Ketika si tukang kereta berseru sambil menggetarkan cambuknya, bergeraklah keempat keledainya untuk menyusul kereta-kereta piauw.
Tenda kereta disingkap. maka itu angin yang keras meniup niupsipemuda dan pemudi walaupun mereka bertubuh kuat, mereka toh merasakan sedikit dingin. Tapi mereka perlu
melihat kesegala arah, terpaksa tenda itu dipentang terus.
Kho kee-kauw merupakan suatujalan panjang mirip lorong di mana terdapat seratus lebih rumah penduduk, tapi sebentar saja mereka telah melalui ujung jalannya. Ketika itu jalanan becek maka itu tertampak bekas bekas roda2 kereta lain serta tapak tapak kaki kuda. Cuaca terang benderang.

Sekeluarnya dari batas Kho- kee-kauw di sepanjang jala n terlihat penduIuk setempat ^ria dan wanita dalam rombongan-rombongan dari tiga atau lima orang dengan membawa kartu nama, berkunjung ke rumah-rumah sanak atau sahabat mereka untuk memberi selamat tahun baru. Atau mereka yang baru pulang, maka ramailah dijalan itu
In Gak dan Yan Bun mengawasi mereka yang cara berdandannya beda dari pada penduduk lain propinsi Mereka mengenakan baju merah dan celana hijau, jalannya elok. Lengan dan jari tangan mereka seperti ditabur dengan gelang dan cincin, Rambut merekapun ada perias nya, seperti telinga mereka ada giwang atau anting-antingnya. Mereka seperti lagi memamerkan kemewahan mereka. Yang paling menarik hati lagi ialah wanitanya yang jauh lebih kecil daripada kakinya wanita lain wilayah.

"Apakah yang bagus dilihat" kata Yan Bun ketika ia mendapatkan pemudanya mengawasi saja wanita-wanita di sepanjang jalan itu. In Gak menoleh, ia tertawa.
"Aku merasa aneh" katanya. " Kalau mereka itu dapat keluar apakah mereka tidak boleh di pandang?"
"Tapi kau mengawasinya mendelong-delong" kata si nona, matanya melotot, "Apakah kau
tidak takut loo piauwsoe nanti mentertawai?"
"Tak apa" kata ln Gak. tertawa pula, "Aku bahkan dengar di kota Taytong pada tanggal enam bulan enam bakal diadakan perlombaan kaki kecil untuk ditonton orang banyak. siapa yang kakinya paling kecil dan mungil, dialah yang menang. Yang nomor dua dan nomor tiga juga masih dapat hadiah. Kalau sampai waktunya, mari kita pergi menyaksikan itu..."
"Cis" si nona kewalahan, Terus dia melengos, in Gak tidak melayani, ia cuma tertawa terus.
Kereta-kereta berjalan terus, Tanpa merasa tiga puluh lie sudah dilalui, Karena keledai membuntuti semua kereta piauw yang jalannya lambat, maka terlihat di sana Suma Tiong Beng berdua Louw Koen menjalankan kuda mereka berendeng, Mereka itu bicara sambil tertawa-tawa entah apa yang diomongkan.
Di depan itu, perjalanan mulai tak rata, Di kiri daun pepohonanpun lebat, maka mulailah mereka merasai kesukaran perjalanan, Dengan adanya bukit-bukit di kedua sisi itu artinya mereka lagi jalan di selat atau lembah. Diantara pohon-pohon cemarapun terdengar suara angin keras.
"Tak jauh lagi ialah selat Gia Kang Kiap" kata Yan Bun-
Belum berhenti suara si nona dibela kang mereka mendadak terdengar derapnya beberapa ekor kuda sebentar saja kereta kereta piauw dilewati. Muka mereka itu dapat dikenali sebagai lima orang yang tadi di ketemukan di losmen.

Mereka itu membunyikan cambuk mereka berulang-ulang dan berseru-serujuga. Rupanya mereka lagi mengeluarkan gertakan mereka..
Tidak jauh mereka berlima melewati rombongan kereta piauw, lalu mereka menghentikan
kuda mereda, terus mereka memutarnya untuk lari balik..
"Mereka menyebalkan" kata Yan Bun sengit. "Mereka harus dikasi rasa"
Ketika lima penumpang kuda itu sampai di depan kereta keledai, mendadak yang satu berseru: "Eh, heran" Lantas dia menahan kudanya, dituruti empat kawannya, Lantas dia menambahkan "Bukankah tadi kita melihat satu nona manis? Kenapa sekarang dia salin rupa?.."

Kata-katanya orang itu diserukan bentakan nyaring tapi halus, mendadak mereka berlima roboh dari kuda mereka, dengan masing-masing menutup mata, mereka berkoseran ditanah, Dan antara jari-jari tangan mereka lantas terlihat mengalirnya cairan merah. Mereka pun lantas menjerit-jerit teraduh-aduh...
Diatas keretanya, Yan Bun tertawa dingin dan kata: "Nonamu masih baik budi maka dia membiarkanjiwamu masih hidup, sahabat, kusir, jalankan terus kereta kita"

Kereta itu berhenti dengan tiba-tiba sebab kelima penumpang kuda berhenti itu. sementara itu Nona Kouw sudah menyiapkan belasan batang jarumnya, ia benci keciriwisan dan ketengikan mereka itu, menimpuk sebelum orang menutup rapat mulutnya maka mata mereka kena tertusukjarum, saking sakit, mereka terguling jatuh dan berguling sambil berteriakan kesakitan itu"
Suma Tiong Beng dan Louw Koen lari balik dengan kudanya ketika mereka melihat kelima penunggang kuda itu, yang sikapnya mencurigakan, menghentikan kudanya di dekatnya keretanya si pemuda she Giam suami isteri.
Tatkala mereka menyaksikan kesudahan itu meski mereka berkasihan, mereka tidak
bilang apa apa, cuma s i piauwsoe tua menghaturkan terima kasih, lantas dia ajak kawannya lari pula ke depan.

Rombongan kereta berjalan terus sepertijuga tidakpernah terjadi sesuatu peristiwa. selang empat atau lima lie, kembali terdengar suara berisik di sebelah belakang, Kali ini muncul belasan penunggang kuda, di antaranya ada yang membawa kelima penunggang kuda tadi.
Ketika mereka tiba di sisi ketua piauwkiok. satu diantara nya berkata, keras: "Tua bangka she Suma, di depan kau nanti saksikan sesuatu yang bagus di lihat" Terus mereka kabur dengan kuda mereka

Suma Tiong Beng tidak melayani bicara, ia berjalan terus.
Lagi sekian lama tibalah mereka di mulut selat, yang kiri dan kanannya berlamping tajam.
"lni dia mulut Gia Kang Kiap" kata Yan Bun- "inilah tempat yang dipilih si penjahat untuk mereka turun tangan”
Ketika itu terdengar serunya Suma Tiong Beng, atas mana semua keretanya berhenti berjalan untuk terus dikasi berkumpul

In Gak memandang ke sekitarnya. selat itu berimba di kiri dan kanan, Di situ tidak ada rumah orang. Di sebelah kanan ada jalanan cagak dua, yang nampaknya naik ke atas bukit. ia heranjuga sebab sampai sekian lama ia tidak mendengar suara apa apa.
Tengah ia menduga-duga, baru ia lihat munculnya beberapa puluh orang, yang berlari-lari mendatangi dari dua arah kiri dan kanan, darijauh mereka nampak seperti bayangan.
Dari kerasnya lari mereka, teranglah mereka itu mahir ilmu ringan tubuh.
Cepat sekali mereka sudah sampai, lantas satu diantaranya menghampirkan Suma Tiong Beng, Dia telah berusia enampuluh kira kira, tubuhnya kekar, sebagaimana dia memiliki apa yang dinamakan punggung harimau dan pinggang biruang, cuma dia sedikit bungkuk. Kumis dan jenggot nya sudah putih semua. Dia lantas tertawa lebar dan kata: "saudara Suma, baru berpisah belasan tahun, tak kusangka kau masih tetap gagah sebagainya dulu sungguh kau berbahagia.”

Cuma sejenak. lantas dia menambahkan mukanya sungguh sungguh, suaranya keras: "saudara Suma baiklah kau mengerti Di antara kau dan aku si orang she le tidak ada sangkut pautnya tetapi kati ini aku menerima permintaan seorang sahabat, permintaan mana sulit untuk ditolak. sebenarnya ada niatku untuk mengadakan perdamaian, supaya urusan dapat disudahi, apa mau kau telah melukai orang-orangku, hal mana tak dapat dibiarkan saja, Maka itu, saudara Suma, sukalah kau memberi keadilan padaku...."

Tiong Beng terperanjat kapan ia kenali orang ialah Kioe coe bo Lian Hoan ie Goan Kay dan ong oi San yang tersohor teleng as. ia memberi hormat dan menyahuti sambil tertawa: "oh, kiranya Ie Tong kee Memang sudah lama kita tidak pernah bertemu, Tapi, I e Tong ke, mengenal urusan ini, ^ulit untuk aku berkata, Sudah tiga hari lamanya, dalam perjalanan ini. Tiong Beng menemui orang orang yang mencurigai yang senantiasa mengawasi kami.
Sukar untuk aku mengenali mereka lawan atau kawan sebab mereka itu tidak sudi
memperkenalkan diri Tentang kejadian di tempat penginapan itu, di sana seorang pengemis yang membawa bawa ular berbisa telah melukai beberapa orangku, karena itu terpaksa aku turun tangan-.. ia berhenti sebentar.

Ia mengasi lihat roman heran Terus ia tanya: "Mungkinkah orang Kay Pay pun berada di bawah perintahmu. Ie Tongkee?" ia berpaling kepada pihaknya dan berkata keras: "Coba bawa kemari mereka yang terluka terpagut ular, Tolong kasi lihat pada Ie Tongkee" Perintah itu dijalankan dengan cepat, Empat buah gotongan segera dibawa dagang.
Mukanya Ie Goan Kay menjadi merah alisnya yang tebal dikerutkan, ia menggeleng kepala.
"Pengemis itu bukan orangku." ia Kata. "Aku cuma menanya lima orangku yang kena dilukakan-."
Ditanya begitu, Suma Tiong Beng tertawa lebar.
"Pertanyaan kau ini aneh, Ie Tongkee" sahutnya. " Kenapa sebelum kau menanyakan jelas lantas kau menegur aku si orang tua? orang orangmu itu sudah berlalu kurang ajar, mereka telah mengganggu dua orang muda gagah yang naik kereta keledai Mereka mencari bahaya sendiri, dari itu tak dapat dipersalahkan lain orang siapa juga. Akupun hendak menjelaskan, kedua orang muda itu bukanlah rekanku ie Tongkee, urusan telah menjadi jelas, Barusan kau menyebut kau telah menerima permintaan orang, sahabat baikmu, mengapa dia tak nampak disini?"

Ie Goan Kay tidak menyahuti dia lantas memandang bengis kepada in Gak berdua, yang kereta keledainya dihentikan di dekat mereka.
Ditanya begitu, le Goan Kay tertawa berkakak itulah tertawa ejekkan.
"Sahabat baik itu telah menantikan lama." katanya nyaring Lantas ia bersiul keras dan lama, makin lama makin keras, terbawa angin sampai jauh, hingga kemudian mendapat sambutan dari atas jurang, dari mana lalu tertampak berlomba turunnya satu orang, berlompat jumpalitan tiga kali.
Ketika dia sampai d iba wah, terlihat dia mengelakkan baju panjang warna kuning emas, yang bergemerlapan disinari matahari, bagus dilihatnya.

Suma Tiong Beng sudah lantas mengenali orang itu, ialah Twie Hong sam Kiam Tan Goan Keng, yang dulunya sama terkenalnya dengan ia sendiri, karena orang pun liehay kepandaiannya ilmusilat pedang dan tangan kosong, j erij i tangan dan kepalan, juga senjata rahasia.
Dialah orang Khong Tong pay, jadi dia ada di golongan sesat dan lurus, perbuatannya baik danjahat bercampur baur. Dialah satu diantara Tionggoan Kioe Tay Kiam-kek, sembilan jago pedang di Tionggoan, jago nomor satu yaitu Tio Kong Kioe, mertuanya ln Gak.
Nama Goan Keng ada di bawahan Tiong Beng, dia tidak puas, tiga kali pernah dia mencari Tiong Beng di Thian Ma Piauw Kiok. selamanya Tiong Beng menampik tantangannya bahkan dia suka mengalah, namanya jatuh di sebelah bawah, tetapi Goan Keng tidak mau mengerti, dia mendesak untuk bertanding, kesudahannya dia dilayanijuga.
Di dalam semua pertandingan dia kalah seurat, karena penasaran, selagi beradu pedang dia berlaku teleng as. Terpaksa akhirnya, Tiong Beng melukai kempolannya.

Baru setelah itu dia menyingkirkan diri Tidak dinyana sekali, sekarang ini, selang belasan tahun, dia muncul pula. Tentu sekali Tiong Beng jadi mendongkol.
"Tan Loosoe, Suma Tiong Beng telah mengetahui maksud kedatangan ini" berkata si piauwsoe tua seraya maju setindak. menghampirinya. "peristiwa yang sudah lama telah lewat, sudah habis seperti asap dibawa angin, mengapa sekarang loosoe mencari alasan untuk mengganggu aku?"
"Tutup mulut" bentak Twie Hong Sin kiam, tertawa dingin, "Di dalam Rimba persilatan lebih baik orang mati daripada namanya rusak. Untuk sakit hati tikaman pada kempolanku dulu hari itu, aku telah berdiam diri di dalam gunung sampai sepuluh tahun, aku telah meyakinkan ilmu pedang, maka itu sekarang, jikalau kau dapat mengalahkan aku pula, nanti aku menghapus sendiri gelarku Twie Hong sin Kiam itu"

Gelaran itu berarti "pedang pengejar Angin-" Mau atau tidak. Tiong Beng menjadi gusar, "Tan Goan Keng, dengan kata katamu ini tidak dapat kau memperdayai aku" ia kata, -jikalau benar kau hendak mencari balas kau boleh cari aku di kantorku, aku Suma Tiong Beng setiap saat aku bersedia melayani kau Tapi caramu sekarang ini, teranglah kau mengguna i akal muslihat Kau telah membujuki dan gunai akal muslihat Kau telah membujuki dan menganjurkan ie Tongkee merampas piauwku, supaya dengan begitu kau dapat membikin aku malu dan celaka, Benar bukan?"
"Kau ngaco belo" Goan Keng berseru "Aku bukannya orang semacam itu Aku cuma menjadi tetamu dari le Tongkee le Tongke telah menerima baik undangannya Kiong boen siang Kiat serta Hoei Thian Auw coe La w Keng Tek buat mencariJie I n si penjahat peristiwa berdarah di Th a y goan, untuk itu le Tongkee sudah mengirim orangnya ke pelbagai penjuru
meny elid ikiny a .
Kebetulan saja aku mendengar kau tengah mengantar piauw dan bakal lewat di sini, dari itu aku lantas melayani perjalanan jauh untuk melakukan pertempuran yang menentukan dengan mu seorang laki laki mesti bekerja secara laki laki, kau mengatakan aku hendak merampas piauwsatmu, itulah lucu. Aku cuma kebetulan saja datang bersama le Tongkee"
selagi mereka itu mengadu mulut, le Goan Kay sudah berlompat maju ke depan kereta keledainya In Gak. dia mengawasi si anak muda dan kawannya, terus dia tertawa, sembari tertawa seram, dia kata "Dua anak muda, benar benar kamu tak tahu tingginya langit tebalnya bumi. Cara bagaimana kamu berani melukai orang-orangku? Apakah mungkin kau tidak ketahui aturanku"
-ooo00ooo-

In Gak dan Yan Bun tertawa dengan berbareng, mendadak saja tubuh mereka mencelat dari keretanya, lompat ke depan orang yang membuka mulut besar itu.
Goan Kay orang kenamaan tetapi dia heran dan terkejut, Dia tidak melihat bagaimana cara nya orang bergerak, tahu-tahu mereka sudah berdiri didepannya.
setelah menyalin pakaian, berdiri berendeng dengan In Gak, Nona Kouw dan pemuda itu mirip anak-anak kembar, sama-sama muda, sama sama tampan, disinari matahari wajah mereka mentereng. Mengawasi mereka, jago itupun kagum, Tapi ia mundur setindak. ia mengawasi tajam.
"Hm si nona memperdengarkan ejekannya. "Siapa sudi memperhatikan segala aturanmu? sekalipun ada aturan itu cuma untuk mengurus segala maling ayam dan pencuri anjing
sekarang aku hendak tanya kau, sebenarnya mau cari siapa?" Goan Kay tertawa keras tetapi dingin.
"Aku tidak dapat menetapkannya" ia menjawab, "cuma satu hal sudah pasti siapa main gila terhadapku dialah yang aku cari"

Suaranya jago dari ong ok San ini belum berhenti benar atau mendadak pipi kirinya mengasi dengar suara menggelepok nyaring pada pipi itu lantas berbekas tapak tangan yang merah. Dia merasai kepalanya pusing dan matanya kabur. ln Gak sebal untuk kejumawaan orang maka ia mengirim tamparannya itu orang menjadi kaget dan heran- Gerakannya si anak muda hampir tak terlihat.
Jit Goat Sian-jin-ciang Lauw Koen berkuatir melihat Koen coe-bo Lian-Hoan ie Goan Kay menghampirkan keretanya in Gak berdua, ia kuatir mereka itu nanti dapat celaka maka diam-diam ia memberi isyarat dengan tangannya kepada dua piauwsoe untuk mereka itu menghampirkan guna membantu kapan perlu tapi menyaksikan orang digaplok pipinya ia terkejut ia heran bukan main-ia mengawasi dtngan menjublak.

Ie Goan Kay berdiam sekian lama karena gaplokan itu, setelah sadar dia berteriak keras. dia mementang kedua tangannya, mau dia berlompat untuk menyerang.
"Plok" kembali terdengar suara gaplokan dan gaplokan yang kedua mampir di pipi kanannya sebelum ia berlompat.
Yan Bun menyaksikan caranya ln Gak berlompat dan menyerang, ia menjadi kagum dan gatal maka ia meng geraki kaki kirinya dengan ilmu silat Kioe Kiong Ceng Hou Imyang Pou, setelah mencelat bagaikan kilat menyamber, tangan kirinya terayun mampir di pipi kanan
orang, hingga lagi-lagi Goan Kay kesakitan dan menjublak disebabkan kepalanya pusing dan matanya berkunang-kunang.
Ie Goan Kay seorang berkenamaan, sekarang ia diperhina begitu rupa. tak dapat ia mengendalikan diri lagi. Dengan lantas kedua tangannya me raba pinggangnya, untuk meloloskan senjatanya ysng istinewa, yang telah mengangkat namanya, ialah rantai Kioe-coe bo Lian Hoan.

Hanyalah belum lagi senjatanya itu terloloskan, ln Gak sudah lompat ke depannya memegang kedua tangannya sembari berbuat mana sambil bersenyum si anak muda kata sabar "le Goan Kay jangan kesusu. Terus ia menunjuk dengan tangan kirinya ke arah Suma Tiong Beng dan Tan Goan Keng, untuk menambahkan: "Kau tunggu sampai mereka itu sudah bertemp dan ada keputusanny a, mas ih belum terlambat untuk kau geraki tanganmu"
Habis berkata begini, tanpa menanti jawaban In Gak melepaskan tangan kanannya, sedang tangan kirinya menyambar Yan Bun buat diajak berlompat mundur.
Goan Kay berdiri diam, kedua tangannya di pinggangnya ia mengawasi kedua anak muda itu.

Pikirannya kacau. ia mengerti liehaynya pemuda yang memegang tangannya itu. Entah kenapa tangannya seperti kehilangan tenaga, seumurnya belum pernah ia mengalami kejadian seperti itu. Diakhirnya ia menghela napas dan kata pada dirinya sendiri:
"le Goan Kay buat apa kau banyak lagak? Kedua anak muda ini liehay sekali. lihatlah gerakannya barusan Apakah kepandaianmu sendiri? Kau tak nempil rerhadap mereka...." Lantas dia tunduk dengan lesu ia mengangkat kakinya, untuk ngeloyor ke luar gelanggang.
Selama itu, Suma Tiong Beng dan Tao Goan Keng telah berhadapan dengan pedang di tangan masing-masing, Mereka jalan berputaran tanpa ada salah satu yang mau turun tangan terlebih dulu hingga mereka mirip si tukang latih binatang lagi melatih binatang piaraannya.
In Gak melihat kelakuan orang itu ia tertawa, ia ingat Hoe Ceng yang di Tin Hong sia telah mempermainkan Mo Houw.

Baru kemudian dengan sekonyong-konyong Tan Goan Keng memutar pedangnya hingga terlihat sinarnya berkelebat bundar dia suaranya seperti menderu m dari mana bisa diduga lihaynya ilmu silatnya "pedang Mengejar Angin-"
Menyaksikan gerakan itu In Gak lantas mengerti itulah ilmu pedang Ho Loe Kiam-Hoat dari Khong Tong Pay, cuma oleh orang she Tan ini telah di ubah dan dimahirkan menjadi begitu rupa.
Suma Tiong Beng juga sudah lantas menggeraki gedangnya mengimbangi lawan itu, ia memutar pedangnya guna menutup dirinya sebab penyerangan lantas datang bertubi-tubi, Dengan begitu berulang kali terdengar suara bentrokan disampingnya, anginnya pedang mereka.

Demikianlah kalau kedua jago bertempur hebatnya bukan buatan, setiap kali pedang mereka beradu selain suaranya yang nyaring lelatu apinya pun berpeletikan indah dipandang disinarnya Sang surya.
sambil menyaksikan in Gak tertawa, ia kata pada Yan Bun- "Hebat ilmu pedang mereka itu, mereka bukan sembarang jago.Jikalau dua harimau bertempur, salah salu mesti
bercelaka, demikian mereka ini. sayang tak perduli pihak yang mana yang terluka."

Nona Kauw Cerdik, dapat ia menangkap maksud terlebih dalam dari kata-kata si anak muda. ia diajarkan buat memikirkanjuga berbareng memamerkan ilmu silatnya yang ia baru dapat dari anak muda itu untuk mencoba ilmu pedangnya, maka ia bersenyum.
Lantas ia pinjam pedangnya salah satupiauwsoe, dengan apa ia berlompat ke dalam
gelanggang. Belum lagi kedua kakinya menginjak tanah, ujung pedangnya sudah menyepak di
antara kedua pedang Tiong Beng dan Goan Keng secara lincah tetapi keras, ia memaksa
kedua jago itu mundur tiga tindak masing masing.

Suma Tiong Beng telah mengenal kedua anak muda itu, ia tidak menjadi terlalu heran, tetapi Goan Keng lantas berpikir: "Entah siapa anak ini Kenapa ilmu pedangnya begini liehay sedang kelihatannya ia bergerak secara sederhana sekali? siapakah dia?" Karena berpikir itu, ia jadi berdiri diam saja.
Yan Bun berdiri diantara mereka itu, sembari tertawa manis ia berkata:
"Tuan-tuan, bukannya gampang kamu mengangkat nama kamu, dari itu buat apa kamu mengumbar angkara- murka kamu? Menurut aku baiklah sekarang kamu saling menggenggam tangan, untuk kamu damai dan akur pula seperti sediakala"
^ona ini tidak ketahui sebab bentrokan diantara mereka itu. ia cuma menduga saja sedang disebelah itu, ia telah mendengar pembicaraan di antara mereka, maka tahulah ia, si penjahat ialah le Goan Kay.
"inilah urusan aku dtngan si tua-bangka she Suma, denganmu,apa sangkut-pautnya?" Goan Keng menegur gusar.
Yang Bun tidak gusar, ia tertawa pula. ia kata "Tan Loo-soe, diantara kau dan Suma Loo-piauwsoe ada urusan apakah? suka sekali aku mendengarnya?"

Mukanya Goan Keng menjadi merah, Malu ia untuk menutur, itu artinya ia membuka rahasia.
Lagi-lagi si "pemuda" tertawa.
"Kita orang belajar silat, tak lain tak bukan untuk menyehatkan tubuh, buat menjaga diri. Kalau kepandaian silat kita digunai untuk berebut nama, sungguh belum pernah aku mend engarny a "
"Kenapa kau belum mendengarnya?" teriak Goan Keng, "Bukankah selama dua ratus tahun telah terjadi pertempuran berulang-ulang diantara sembilan partai besar di puncak Hoe Yong Hong digunung Hoa san? Bukankah itu hanya untuk berebut nama?"
"itulah urusan partai-partai besar itu yang lagi mengajukan ilmu silatnya masing-masing" kata si nona, tetap dia bersenyum manis, Mereka itu beda daripada kita orang perseorangan? Mengapa kau memikir demikian jauh? Apakah bukannya kau mengandang maksud untuk mengacaukan Rimba persilatan supaya mereka bentrok satu pada lain?"

Masih panas hatinya Tan Goan Keng, hingga rambut dan kumisnya bangun berdiri
"Menurut kau jadinya sia-sia belaka aku menyimpan diri sepuluh tahun memahamkan ilmu pedangku?" dia tanya berteriak. Yan Bun tertawa, hanya kali ini ia tertawa dingin-
"Bukannya aku yang rendah memandang tak mata padamu. sebenarnya ilmu pedangku masih banyak yang lowong" ia kata, suaranya keras Jadi benar-benarlah kau kecewa sudah
menyepi diri sepuluh tahun untuk meyakinkannya Kau menyebut dirimu si pengejar angin, itu artinya kau mengutamakan kecepatan, akan tetapi buktinya, permainan silatmu kacau, ngambang tak ada isinya Coba kau bertemu ahli pedang yang melebihkan kau, dengan satu tusukan saja kau dapat dibikin mati. Umapama kata aku, meski aku tidak berani mengaku diri ahli toh ilmu pedangku dapat dipakai untuk membela diriku, Apakah kau tidak percaya? Mari kita coba Mari kita bertanding selama sepuluh jurus, asal itu waktu kau dapat mendekati aku dan menikam satu kali saja, suka aku menyebut dan menghormati kau sebagai ahli pedang nomor satu dalam Rimba Persilatan"
Goan Keng berpikir. ia mau percaya anak muda ini bukannya lagi omong besar. Barusan ia lelah menyaksikan bagaimana ia dan Tiong Beng dipaksa memisahkan diri, hingga mereka mundur tiga tindak. Tengah berpikir itu, ia melihat ke arah In Gak. la mendapatkan anak muda itu berdiri tenang, mengawasi ia sambil bersenyum. ia berpikir pua, "ke dua anak muda ini ada bersama, ilmu silat mereka pasti berimbang, Yang satu masih sulit dilawan dua duanya . . .jikalau aku kalah ditangan Suma Tiong Beng tidak apa, tetapi..." ia menjadi serba salah tetapi ia mesti segera mengambil keputusan.

Akhirnya ia menghela napas dan berkata "Benar seperti katamu, laotee, aku bentrok dengan Suma Loo soe melainkan disebabkan kita masing masing membawa adat kita sendiri Lebih tegas, kita berebut nama, Demikian tigapuluh tahun dulu. demikianjuga tiga puluh tahun nanti cuma kalau orang tidak bersaing, apakah artinya? Bicaramu ini, laotee menandakan kesabaranmu Hanya pembilanganmu tentang pertandingan sepuluh jurus itu, aku sangsikan betul.
Aku percaya itulah berbau kejumawaan Baiklah, laotee, kau boleh mulai menyerang aku. Baik dijelaskan dulu, aku sama sekali tidak menghendaki nama sebagai ahli pedang nomor satu Rimba persilatan Aku cuma ingin belajar kenal dengan ilmu pedangku yang liehay"
Yan Bun girang, ia telah mendapatkan maksudnyaJago itu telah berubah pikirannya inilah ketika untuk ia menguji ajarannya In Gak. ia bersenyum dan berkata:
"Tan Loosoe, aku cuma dapat membela diri, tidak menyerang, silahkan loo soe yang mulai " "Baiklah" kata jago tua itu "
Dia tidak sabaran- ini pun ketika untuk menguji si anak muda, Dengan mendadak dia menggeraki tangan kanannya, lantas pedangnya meluncur, cepat luar biasa serangannya itu.
Yan Bun bersenyum. ia menarik mundur kaki kanannya, tubuhnya mendak sedikit, la pun mengangkat berdiri ujung pedangnya buat dari kanan digeser ke kiri, lalu ditolak perlahan kedepan. itulah sikap pembelaan diri, tak ada maksud untuk menyerang.

Kelihatannya Nona Kouw bergerak dengan perlahan, tetapi pedang mereka bentrok keras suaranya nyaring, lelatunya muncrat, Yang hebat ialah Goan Keng terpukul mundur sendirinya, Maka heranlah dia. Dia menjadi penasaran.
Lagi sekali dia menyerang, dengan tenaga yang dikerahkan delapan bagian. Mulanya dia bertindak. terus pedangnya menikam.
Yan Bun tertawa. Kali ini ia menangkis dengan pedangnya ditudingkan kebawah lantas dari bawah dia putar naik, terus dipakai menolak. Lantas Goan Keng mundur satu tindak ?

Jago tua itu masih penasaran ia menyerang pula, berulang ulang, ia mengguna i pelbagai jurus atau tipu pedangnya, Hanya heran, setiap kali ia menyerang tentu ia
dipukul mundur, ia tak dikasi merangsak sekalipun satu tindak. Dengan begitu tak sanggup ia mendekati tubuh pemuda itu...
Selama itu, setiap janjinya, Yan Bun cuma membela diri. ia tetap mengguna ilmu pedang Thaykek Hoan Heng Kiam, Diam-diam ia girang sekali.

In Gak menonton sambil bersenyum sedang Suma Tiong Beng mengurut-urut kumis-jengotnya .
Kioe-coe-bo Lian Hoau le Goan Kay pun turut menyaksikan maka sendirinya mukanya pucat. Hebat ilmu pedang si anak muda. Coba dia membalas menyerang, tentulah gampang saja dia merebut kemenangan... Juga piauwsoe lainnya turut menjadi kagum.

Sebentar saja sudah lewat delapan j urun, Hati Goan Keng berdebar, wajahnya menjadi suram, ia heran dan penasaran, ia menjadi berkuatir, ia berduka kapan memikir keruntuhan namanya, sudah delapanjurus tanpa ada hasilnya, Tmggal lagi dua jurus Bagaimana hasilnya ini.
"Ah, habislah aku, habislah aku..." pikirnya akhirnya. ia jadi putus asa.
Tepat jago ini mau menyerang untuk ke sembilan kalinya, mendadak terlihatlah datangnya tujuh orang gerakannya sangat cepat, Dengan berlompat dari tempat yang tinggi, sampailah mereka itu di antara mereka ini. Goan Keng dan Yan Bun mundur sendirinya.
Kapan Kioe - coe-bo Lian Hoan le Goan Kay telah melihat tegas rombongan itu dia berseru dengan kegirangan "Goh soepee.."

Yan Bun sebaliknya lantas mengawasi tajam, hingga ia dapat melihat nyata mereka itu.
Empat orang iniah orang-orang tua yang lanang alis dan kumisnya. bajunya serupa yaitu baju panjang warna kuning, cuma roman mereka yang berlainan, Yang satu belang mukanya. pipi kirinya warna merah ungu, banyak bekas tapaknya.
Yang kedua matanya besar-besar sipit, Yang ketiga muka keriputan- Dan yang ke empat seorang pendeta mukanya celong dan matanya tajam. Tiga yang lain, Usia pertengahan. berdiri dibelakang keempat orang tua itu pakaiannya hitam, romannya licin.
Habis dia berseru memanggil itu, le Goan Kay melompat menghampirkan keempat orang tua ita, guna memberi hormat.

Si muka belang tertawa dan menanya. "Kay Hiantit apakah gurumu baik-baik saja?" Lantas matanya menyapu, lantas ia menanya pula " Kenapakah kamu bentrok?"
“Terima kasih, soepee guruku baik," menyahut Goan Kay sambil berdiri hormat kedua tangannya diturunkan lurus. setelah itu ia memberikan keterangannya. si muka belang itu tertawa. "Sudah beberapa puluh tahun aku tidak turun gunung, aku tidak sangka sekali sekarang ada beberapa bocah yang berani menyebut dirinya ahli pedang" katanya j umawa, "Dan orang pun berani berebutan?" Lagi sekali dia tertawa, keras dan lama.
Ketiga orang tua lainnya berdiam saja, romannya dingin, hingga mereka mirip mayat-mayat hidup,..

Ketika itu wajah Tan Goan Keng berubah, dia agaknya mendongkol. Suma Tiong Beng sendiri lantas mendekati ln Gak.
"Aku telah mendengar kabar di Tionggoan muncul Djie In orang yang menyebut dirinya si Pelajar Aneh," terdengar pula si muka belang, rdan dia telah memuncratkan darah hingga menjadi berbau bacin, bahkan satu sanakjauh dari aku, Goh Hoa, telah terbinasa di tangannya Justeru itu, karena menerima permintaan bantuan dari Tie Khong, muridnya Goh Hoa, serta Kiong boen siang Kiat maka kita berempat yang tua tak mau mampus sudah terpaksa turun gunung.."

"Akujuga telah menerima serupa permainannya Kiong boen siang Kiat," I e Goan Kay memberitahukan. "Untuk itu aku telah mengirim orang kepelbagai penjuru guna menyerap- nyerapi kabar, hanya sampai sekarang ini aku masih belum menerima sesuatu laporan tentang dimana adanya orang yang bernama Djie In itu..."
Mendengar semua itu, diam-diam in Gak bersenyum dingin, hingga Yan Bun melirik padanya.

Si muka belang tertawa nyaring, dia berkata pua: "Tidak perduli dia pandai menyembunyikan diri, dia tidak bakal lolos dari mataku yang tajam, kecuali dia sudah mampus hingga tak dapat dia dicari lebih jauh" "Hm" In Gak mengasi dengar suara di-hidung.
Si muka belang mengawasi pemuda ini, lalu dia kata: "Tapi inilah bukan urusan terlalu kesusu, Tunggulah sampai aku si orang tua telah pergi ke Tin Hong sie baru bicarakan terlebih j a uh," ia memandang pula In Gak, lalu Yan Bun. ia tertawa dan kata:
"Ke dua anak muda, kamu tampan sekali, jikalau kamu memikir untuk menjadi jago, baiklah selang lagi satu tahun kamu cari aku seorang tua dicuncak soBoe Hong digunung
Kong san, Kho-Iee"

Habis berkata dia berlompat, diturut enam orang dibela kang nya, maka sebentar saja mereka sudah memisahkan diri beberapa puluh tombak.
Berulang - ulangi In Gak mengasi dengar suara. "Hm" seraya ia terus mengawasi mereka itu.

“Giam laotee.” berkata Suma Tiong Beng, yang tak mengerti sikap si anak muda, “empat orang itu ialah orang-orang yang empat puluh tahun dulu sudah merobohkan lima pendeta dari Siauw lim Sie dalam pertandingan di puncak Hu Yong Hong di gunung Hoa Snn. Merekalah Kholee Kong San Su Loo yang namanya menggetarkan dunia kita! Semenjak itu waktu mereka berempat terus hidup menyendiri, tidak pernah mereka turun gunung, sampai sekarang mereka mendengar halnya Koay Ciu Sie-seng Jie In. Aku lihat dunia Rimba Persilatan bakal bermandikan darah pula . ..."

“Hm!" In Gak bersenyum- Tak lebih.
Ketika itu Tan Goan Keng menghadapi Yan Bun, sembari tertawa ia kata: “Laotee, ilmu pedangmu benar liehay, aku kagum sekali! Baiklah, dengan memandang kau, suka aku menyudahi perselisihanku dengan Suma LooSu, Sampai bertemu pula?" Ia memutar tubuhnya, lantas ia pun ngeloyor.
Selama itu Goan Kay semua sudah tak terlihat lagi sekalipun bayangannya.

Suma Tiong Beng memandang ke sekitarnya, ia mengerutkan alis.
“Ie Goan Kay itu bangsa licik," ia berkata, “barusan ia mengangkat, kaki karena dia melihat gelagat. Lain kali, Iaotee, baiklah kamu waspada."
“Terima kasih." In Gak menyahut. “Sekarang ini jalanan sudah aman, karena keretaku dapat jalan lebih cepat, ijinkan kami berjalan lebih dulu, supaya kami lekas tiba di Lok-yang, Iain kali, bila ada ketikanya, pasti kami akan pergi berkunjung ke Kayhong!"

Tiong Beng berat untuk berpisahan,
“Aku harap Iaotee berdua datang pasti, supaya aku si orang tua dapat menantikan,"' katanya.
In Gak merasa terharu karena ia dipanggil lao-tee, ia pun malu sendirinya. Tak dapat ia dipanggil dengan panggilan itu, ,,adik," karena ia seharusnya dipanggil keponakan. Orang tua itu ialah sahabat kekal ayahnya. Tapi ia tidak dapat memberi penjelasan terpaksa ia membiarkan saja. Bersama Yan Bun ia naik keretanya, ia bersenyum ketika keretanya itu diberangkatkan.
Kereta dilarikan kearab kecamatan Tiang-tie. Angin meniup keras, hawa udara pun dingin. Langit bersinar layung.
***

Hari itu tanggal lima bulan pertama, akan tetapi di gunung Kwat Say San tak terdapat suasana musim semi. Puncak gunung penuh dengan salju, pepohonan pada gundul atau kering. Cuma sang angin yang memberi hawa dingin disamping dinginnya salju. Burung-burung pun tak terdengar suaranya. Suasana tetap suasana musim dingin.

Justru itu di jalan pegunungan itu terdapat dua orang muda yang berlari-lari. Pakaian mereka sama, warnanya abu-abu. Di punggung mereka ada tergendol pedang, kepala mereka tertutup kopiah bulu. Muka mereka dilapis dengan topeng. Yang beda dari mereka ialah yang satunya lebih langsing tubuhnya., Mereka itu tidak bicara satu dengan lain. Sesudah melintasi rimba dan jurang, baru mereka berhenti di depannya sebuah gu ha. Namanya guha, itu sebenarnya sebuah. Selokan besar lebar dua tombak, berliku-liku, ada airnya mengalir, airnyapun jer nih hingga tampak dasarnya.

Memandangi selokan itu, anak muda yang satu bersenandung perlahan: “Air yang jernih sebenarnya tak ada kedukaannya, adalah sang angin yang membuat mukanya berkerut-kerut ...Gunung hijau sebenarnya tidaklah tua, adalah sang salju yang membuat kepalanya putih”
Pemuda yang satunya tertawa dan berkata: “Engko ln, kau hebat! Diwaktu begini kau masih mempunyai kegembiraan untuk bersyair! Sebenarnya juga selokan ini indah sekali, maka aku percaya di dekat sini mesti ada rumah orang. Menurut dugaanku, sarangnya si bangsat Jim
Cit Kouw tentulah tak jauh dari sini!"

Si anak muda berhenti bersenandung, dia tertawa. Dialah Cia In Gak, sebagaimana kawannya ialah Kouw Yan Bun, yang menyamar menjadi pria.
“Mari kita jalan mengikuti selokan ini," katanya. “Sarang itu tentulah tak lebih dari di tempat sepuluh lie disekttar sini” Ia mengangkat kepalanya, melihat cuaca. Ia menduga waktu sudah mendekati tengah hari.
Kawan itu mengangguk, lantas mereka berjalan bersama di tepian selokan, yang mirip kali kecil.

Mereka ini berada di Liong-bun atau pegunungan Kwat Say san, duapuluh-lima lie di selatan kota Lokyang di kota mana mereka telah tiba dan lantas mereka bekerja mencari tempatnya Jim Cit Kouw, musuhnya Yan Bun, untuk nona itu menolongi ibunya. Gunung Kwat Say San terpecah dua oleh kali Ie Sui itu, yang katanya di jaman dahulu digali Kaisar le, untuk mencegah bahaya banjir. Dibagi dengan selat atau lembah ditengah-tengah, bagian barat dipanggil Liong-Bun, bagian timur ialah Biang San. Lembah itu besar dihulu, sempit dihilir. Kali le Sui datangnya dari barat-daya. Liong-Bun terkenal sebagai tempat yang sulit untuk dilalui, itulah benar.

Ketika itu kacau pikirannya Yan Bun. Ia berduka bercampur girang, atau sebaliknya. Ia mirip orang mencegluk air godokan oey-nie dicampur gula madu, pahit-manis, manis-pahit. !a memikirkan ibunya, yang tentu bersengsara sangat. Atau mungkin ibu itu sudah tak ada di dalam dunia ini karena tak tahan siksaannya Jim Cit Kouw. Tapi ia mendapatkan ln Gak, yang suka membantu padanya, ia menjadi mendapat harapan, ia menjadi lega hatinya dan girang. Ibunya tentu bakal dapat ditolongi.

In Gak berjalan di sebelah belakang si nona, tak tahu ia hati orang.
"Tiba-tiba Yan Bun berseru:
“Engko In! Kau lihat!”
Tangannya pun menunjuk.
In Gak memandang kearah yang ditunjuk itu. Disana, tak jauh dari ujung selokan, ada jurang, dan dari jurang itu meluncur air tumpah, jatuhnys keras, suaranya nyaring, berkumandang di-lembah. Karena ketika itu angin Utara meniup santer, suaranya berisik diantara daun-daun dan cabang pepohonan dirimba situ, suara berisik itu sering kesaman. Itulah sebabnya kenapa mereka tak dapat mndengarnya dari jauh-jauhh. Pula uap air merupakan seperti mega yang tebal, hingga tak mudah untuk mata melihatnya tegas di sekitar air tumpah itu.

In Gak memandang tajam sekian lama. Dibalik uap air itu, ia melihat sebidang tempat bagaikan paso- Ditengah-tengah itu ada sekelompok rumah. Yan Bun tak dapat melihat setegas ia. Ia jauh lebih mahir tenaga-dalamnya, ia pun telah makan ho-sioe ouw serta banyak pel Tiang Coen Tan.
“Pastilah itu sarangnya Liong-Bun Ngo Koay!" katanya dengan girang sesudah ia mengawasi terus sekian lama. “Mari kita pergi lihat”
Ia lantas menarik tangan si nona guna diajak lari separuh diseret.
Yan Bun pun mulai dapat melihat lebih tegas, hatinya memukul keras.

Begitu sudah datang dekat, dengan berani In Gak mengajak si nona untuk lompat turun ke tempat yang tadi mereka awasi itu, yang diduganya sarang musuhny Nona Kouw,
Justrui itu terdengarlah satu seruan: “Tahan dulu!"'
Keduanya lantas menunda gerakan mereka. Segera dari sisi air tumpah terlihat munculnya tiga orang usia pertengahan, yang tubuhnya kurus. dan semua matanya tajam dan bengis. Salah satunya mempunyai apa yang dikebut kumis kambing gunung.
“Tuan-tuan, kenapa kamu tidak dengar kata?' orang itu menegur. “Kami memanggilnya beberapa kali, kenapa kamu diam saja? Apakah kamu kira ln Bu San-chung dapat sembarang didatangi?''
Suara orang itu keras dan dingin, dia jumawa sekali.
ln Gak menjadi tidak senang. Ia tertawa dingin.
“Tuan, mengapa kau bicara begini tidak tahu aturan?"' ia balik menegur. “Kau dengar sendiri, suara air tumpah demikian berisik, mana kami dapat dengar suaramu yang seperti suara nyamuk?"

Si kumis kambing gunung menjadi gusar, tetapi dia tertawa bergelak.
“Anak muda. kau benar-benar tidak tahu langit tinggi bumi tebal!" dia kata keras. “Kami Liongsee Sam Niauw, kami bukannya sahabat, bahkan musuh dari In Bu San-chung, karenanya kami berlaku baik hati mencegah kami? Kamu tahu, asal kamu lompat turun dan memasuki tempat itu tiga lie, kamu bakal terbinasakan panah beracun! Lagi pula disana, kecuali Jim Cit Kouw, ada lagi dua orang yang liehay sekali ialah Bin San Jie Tok! Pit toaya dapat menerka kamu datang guna menuntut balas, jikalau tidak, tidak nanti aku mau mencapaikan lidah terhadap kamu!"

Dua orang yang lain tertawa, “Tuan-tuan jangan kecil hati!'" katanya. “Beginilah tabiat keras dari Pit toako kami ini, dia omong seenaknya saja, tanpa pikir-pikir! Sebenarnya seharusnya kita bekerja sama, sebab bergabung kita untung, bercerai kita buntung, Tak usah tuan-tuan memperdulikan maksud kami maksud apa tetapi singkatnya maksud kami tidaklah baik untuk keluarga Jim itu. Maka itu bagaimana pikiran jiwie?"

In Gak bersenyum. Karena mereka iiu musuh Jim Cit Kouw, dengan mengajak bekerja sama, terang mereka hendak menggunai tenaganya berdua. Dari itu, kenapa pihaknya pun tidak mau menggunai ketika untuk menggunai tenaga mereka itu.
“Samwie, siapakah kamu?'! ia balik bertanya. “Apa samwie sudi menyebut she dan namamu yang mulia? Samwie suka bekerja sama, tolong samwie utarakan bagaimana caranya itu?"
“Aku bernama Pit Louw." kata si orang dengan kumis kambing gunung. Lantas ia menunjuk kedua kawannya bergantian: “Inilah Lo Hong dan itu Lui Yan! Jiwie she dan nama apa?"

In Gak memberi hormat.
“Terima kasih, itulah nama-nama yang telah aku dengar lama." sahutnya. “Aku sendiri she Giam nama Gak, dan ini adik-angkatku, Kouw Bun."
Yan Bun berdiam, didalam hatinya ia tertawa. Pandai engko In-nya bersandiwara.
“Oh, Giam Siauwhiap dan Kouw Siauwhiap!" Aku girang sekali dengan pertemuan ini!"
katanya. Ia berhenti sebentar, terus ia menambahkan: “Ketika kami belum datang kemari, telah kami mendengar hal liehaynya Liong Bun Ngo Koay terutama Jim Him si Siluman Kelima,
katanya ilmu totoknya biasa meminta jiwa dan liehay sekali barisan Ngo Heng Ciang mereka.
Kami bertiga, Liongsee Sam Niauw, kami tldak jerikan Ngo Heng Ciang itu tetapi Jim Cit Kouw dibantu Bin San Jie Tok, dia benar tidak dapat dipandang ringan… Sekali-pun kita bekerja sama berlima, jikalau kita kurang berhati-hati, kita sukar berhasil.."

In Gak mengawasi ke rimba disamping kanannya, sikapnya acuh tak acuh. Dengan lekas ia berpaling pula.
“Segala apa di dunia ini bergantung kepada usaha manusia," katanya bersenyum. “Jikalau orang main jeri, takut kepala dan takut ekornya, lebih baik orang jangan datang kemari..."
Pit Louw jengah, mukanya merah sendirinya.
Justeru itu di arah kanan mereka terdengar tertawa ejekan, lantas lompat keluar orang imam dengan roman menakuti. Dia lompat ke dekat Liongsee- Sam Niauw, Tiga Burung dari Liongsee, tetapi dia tidak memandang mata kepada tiga jago Liongsee itu, dia bahkan bertindak secara jumawa. Dia bukan menghadapi mereka itu, dia justeru memandang enteng kepada In Gak dan menegurnya dengaa bengis: “Bocah cilik, besar bacotmu ! Benarkah kau percaya di In Bun San-chung tak ada orang yang dapat menguasai kau?"

“Tua-bungka, siapa kau?" menegur si nona dalam penyamaran.
Imam itu lantas menjadi gusar sekali, lantas saja ia mengulur sepuluh jari tangannya.
Melihat itu, ketiga Burung dari Liongsee terkejut, hingga mereka mundur tiga tindak.
Melihat sepuluh jari tangan yang hitam dari orang itu, Yan Bun lantas ingat satu orang. Ia tidak takut. bahkan ia lantas menanya: “Bukankah kau Kwie-Jiauw-Coe Lim Ceng, murid paling muda dari Kwie Mo Toojin?"

Imam itu meluncurkan sepuluh jerijinya perlahan-lahan, ujung jarinya itu bergerak-gerak. Atas pertanyaan itu, dia berhenti sebentar.
“Eh. bocah, matamu tajam!" dia menyahut. Segera dia maju pula, berbareng dengan tindakan kakinya yang maju setindak demi setindak.
Kwie Jiauw Coe si Kuku Setan tersohor urtuk kekejamannya. Dia maju tanpa bisa diterka apa sasaran penyerangannya. Sikapnya itu dapat membuat orang bingung menerkanya. Begitu biasanya, setelah datang dekat barulah ia menyerang secara tiba-tiba. Juga kali ini. Siapa terserang dia mesti celaka sebab sepuluh jari tangannya ini ada racun.
Ketika itu angin gunung bertiup keras, ditambah berisiknya suara air tumpah,
Liongsee Sam Niauw mengawasi dengan muka muram, hatinya tegang.

Yan Bun bersikap sungguh-sungguh, ia menanti serangan.
In Gak menonton dengan kedua tangan digendong dan air-muka bersenyum tawar.
Sekonyong-konyong tangannya Kwie Jiauw Coe diluncurkan kemuka Nona Kouw.
“Ah!" menjerit Liongsee Sam Niauw.
Kwie Jiauw Coe berhenti didepan Yan Bun tak ada satu kaki jaraknj.a, maka itu tangannya dapat meluncur kemuka si “pria" yang tampan itu, akan tetapi belum lagi si nona bergerak, In Gak yang berdiri disisinya sudah berseru seraya tangannya menyamber kedua lengan si Kuku Setan. Dia menyamber luar biasa cepat karena dia menggunai jurus Tie Liong Cioe atau “Mengekang Naga" dari Hian Wan Sip-pat Kay.

“Krek!" demikian suara keras terdengar. Maka patahlah lengan nya Tam Ceng. Menyusul itu sebelah kakinya si pemuda terangkat naik. Tubuhnya si Kuku Setan lantas terpental melayang, dari mulutnya terdengar jeritan dahsyat. Tubuh itu jatuh kedalam rimba jauhnya belasan tombak!
Liongsee Sam Niauw heran bukan kepalang. Bukankah Kwie Jiauw Coe sangat liehay dan kesohor? Kenapa dia roboh dalam hanya segebrakan? Mereka pun terkejut. Coba tadi Pit Louw, kakak mereka, main gila terhadap pemuda itu, tidakkah cade? Syukur Lo Hong, sang adik angkat, keburu datang sama tengah.

Liongsee Sam Niauw telah banyak pengalamannya. Mereka menganggap sepasang anak muda itu masih hijau. Bukankah mereka masih muda sekali? Maka mereka pikir baiklah kedua pihak bekerja sama, supaya kedua pemuda itu yang maju didepan, mereka sendiri akan jadi si nelayan yang menerima hasil wajar. Sekarang ternyata dua orang itu liehay sekali, mereka lantas menukar siasat.
“Sungguh kau liehay sekali, Giam Siauwhiap!" kata Lui Yan.
In Gak berdiam, juga si nona.

Pit Louw melihat dua anak muda itu berdiam saja, roman mereka sungguh-sungguh, ia tahu apa ia mesti bikin. Ia tertawa dan kata: “Jiewie, kami bertiga kenal baik tempat ini, mari kami yang membuka jalan!” Ia lantas menggapai kepada dua saudaranya, ia terus berjalan didepan.
Dengan lantas ketiganya berlompat turun kebawah.
Sebelum menyusul tiga orang itu, Yan Bun mencekal lengan engko In-nya.
“Engko In, hebat gerakan tanganmu barusan” katanya perlahan. “Dapatkah kau memberi petunjuk padaku?"
“Baiklah!" sahutnya. Tapi ia bukan lantas mengajari, sebali knya ia berbalik mencekal tangan si nona, untuk ditarik, maka dilain saat mereka sudah bersama-sama lompat turun kebawah.

Di situ si pemuda membawa kawannya kedalam pepohonan yang lebat.
“Begini!" katanya. Ia mengajari jurus yang barusan, jurus “Memutus Otot, Memotong Nadi," yang terdiri dari tiga gerakan.
Yan Bun girang sekali, apa-pula ketika ia segera dapat menggunainya. Ia sangat cerdas, sedang satu jurus dengan tiga gerakan adalah pelajaran yang sangat luar biasa.
“Jurus ini dapat digunai berbareng dengan Kioe Kiong Ceng Hoan Im yang Pou," kata In Gak tertawa. “Kau gunailah secara bertentangan. Kau cerdik, adik Bun. tentu kau dapat menjalankannya tanpa petunjuk lebih jauh dari aku. Nah, mari kita maju!"
Pemuda itu berlompat ke depan, diikuti si nona yang lincah.

Liongsee Sam Niauw telah pergi jauh, mereka tak tampak bayangannya, tetapi In Gak berdua dapat mengikuti tapak kaki mereka.
In Bun San-chung dari Liong-Bun Ngo Koay mempunyai hawa udara yang istimewa. Disini, sekalipun dimusim dingin, matahari keluar seperti biasa dan hawanya hangat. Dilain pihak, di dalam ketiga musim semi, panas dan rontok, seluruh hari nampak kabut, jarang ada satu hari saja yang bercuaca cerah. Maka itu, tempat itu menyenangi sekali untuk ditinggali. Letaknya rendah tetapi hawa tak semak dan demak.

Tengah maju itu, In Gak dan si nona mendengar suara bentakan-bentakan yang samar. Si pemuda pegang tangan kawannya, untuk mengajak berhenti Ia pun lantas kata perlahan: “Rupanya Liongsee Sam Niauw terpergok. Kita belum tahu maksud mereka bertiga, baik kita jangan sembrono turun tangan. Mari kita maju dengan jalan diatas pohon. Lebih dulu kita mesti lihat orang-orang liehay macam bagaimana yang berada di dalam In Bu San-chung ini, kemudian baru kita menolongi ibumu. Kau setuju?""

Yan Bun berpikir.
“Tetapi, engko In," katanya, “bukankah kau telah menjanjikan untuk bekerja sama, untuk membantu Liongsee Sam Niauw? Aku pikir baik kita bekerja begini. Kau pergi menghampirkan mereka, buat membantui mereka melibat musuh, aku akan masuk sendiri dengan diam-diam, untuk menolongi ibuku. Bukankah itu lebih mudah untuk usaha kita?"
“Begitupun baik, adik Bun," kata In Gak bersenyum. Ia mendapat kenyataan ilmu silat si nona telah maju pesat, boleh ia mengandalkannya. “Baik, aku nanti membantu mereka, lalu aku akan mencari kau kedalam. Umpama kau gagal, kita bertemu pula dimuka air tumpah tadi!"

“Baik!" berkata si nona yang sangat bernapsu menolongi ibunya, maka juga habis menyahuti, ia lantas lompat pergi, ia menuju kesamping.
In Gak menanti sampai si nona sudah tak terlihat pula, baru ia pergi kearah dari mana bentak-bentakan tadi datang. Segera ia telah tiba disana, tetapi ia menyembunyikan diri dibeiakang pepohonan.

Pertempuran lagi berlangsung, diantara Pit Louw dan Jim Houw, Siluman kedua dari Liong-Bun Ngo Koay. Sekarang tidak lagi mereka saling mendamprat. Dipihak In Bu San-chung, dusun Mega dan Kabut, terlihat belasan orang. Empat Siluman lainnya hadir bersama. Diantara mereka ada seorang nyonya tua yang tubuhnya katai dan kurus, yang mukanya keriput dan rambutnya ubanan semua, tangannya mencekal sebatang tongkat panjang berkepala naga-nagaan. Dia bermata sangat tajam.
“Wanita tua itu mungkin Jim Cit Kouw," kata In Gak didalam hati. “Entah diantara mereka ini ada Bin San Jie Tok seperti dikatakan Liongsee San Niauw atau tidak.."
Pit Louw lagi menggeraki tangan kirinya dengan jurusnya “Kuncii Besi Tenggelam di 5ungai" untuk menutup tangan kanannya Jim Houw, tangan kanannya berdiri lantas meninju kedada lawan. Ia telah mengerahkan tenaganya dan menggunai kecepatannya, sedang kakinya bertindak mengiringinya.

Jim Houw terkejut. Itulah ia tidak sangka. Tak keburu ia menangkis. Maka itu ia melengak, lompat jumpalitan, setelah menaruh kaki di tanah, ia menekuk kedua dengkulnya guna memasang kuda-kuda itu. Dengan begitu ia pun dapat mempertahankan diri supaya tidak menjadi roboh.
Pit Louw bertabiat keras, ingin ia segera merobohkan lawannya, tidak mau ia memberikan ketika. Maka ia merangsak, tangan kanannya diajukan ke muka, untuk menghajar pula. Jikalau ia berhasil, mestilah patah atau remuk tulang-tulang dadanya Siluman ke-dua itu.

Jim Houw bukan musuh en teng. Dimana ia sudah sempat memasang kuda-kuda, ia menyambut i serangan itu. la menggeser tubuhnya, tangan kirinya menangkis, tangan kanannya membalas menyerang. Dengan dua jari ia menotok jaian-darah khie-hay dari penyerangnya yang galak itu.
Pit Louw terkejut. Ia tidak sangka musuh demikian sebat. Ia menarik pulang tangannya itu sebelum mengenai sasarannya ia pakai untuk menangkis, berbareng dengan mana, ia pun lompat kekiri.
Jim Houw ingin menyelamatkan diri, ia juga lompat ke kanan.
Diam-diam In Gak memuji kesebatannya Pit Louw.

Setelah itu terdengar tertawa dingin dari ketua Liongsee sam Niauw yang berkata,“Aku tidak sangka Liong-Bun Ngo Koay yang namanya kesohor dalam dunia Kang Ouw sudah melakukan perbuatan hitam makan hitam! Sekarang lekas kamu keluarkan itu sebuah peti emas dan mutiara, untuk membeber itu di muka kaum Rimba Persilatan, dengan begitu ada jalan untuk kamu berdamai dengan kami dari Liongsee Sam Niauw!"

Mendengar itu, ln Gak kata dalam hatinya: “Htn, kiranya kamu. ada satu bangsa! Jikalau begitu, Liongsee Sam Niauw juga bukan orang baik-baik!"
Jim Houw tertawa lebar menyambut kata-kata mengejek dari lawannya.
“Sahabat Pit, kau keliru! Harta itu bagian yang menemukannya, dan siapa yang mendapatkan, dialah yang liehay! Kamu harus menyesalkan kepandaian kamu yang tidak mahir, barang yang telah didapatkan telah kena kami rampas! Siapakah kamu hendak sesalkan? Bahkan itu waktu, karena mengingat kamu sesama rekan, Jim Jieya sudah tidak mau mencelakai kamu! Siapa nyana sekarang, perbuatan baik dari aku tidak mendapat pembalasan baik, buktinya kamu berani datang ke In Bu San-chung untuk mengacau! Hm! Apakah kamu memikir untuk kamu semua berdiam disini?"

Pit Louw menjadi gusar sekali, hanya belum lagi ia membuka mulut, ia sudah didului Lui Yan. Burung ketiga yang paling sabar tetapi sekarang tak dapat menguasai diri lagi. Dia lantas lompat kedepan musuh dan berkata nyaring; “Jim Loo-jie, siapakah rekanmu? Kami Liong-see Sam Niauw, kamilah lak i-laki sejati! Benar kami menjadi penjahat tetapi kami cuma merampas harta, kami tidak biasa melukai atau membunuh orang! Kami tidak seperti kamu orang dengan muka manusia tetapi berhati binatang! Bukan saja kamu telah rampas barang yang didapati kami, kamu juga sudah membunuh habis orang tua dan muda, lantas kamu memfitnah kami! Apakah maksud sebenarnya dari kamu?"

Baru Lui Yan menutup mulutnya, Jim Cit Kouw, ialah si nyonya tua, sudah berlompat ke-depannya. Ia berada lima tombak jauhnya tapi sekejab saja ia telah sampai didekat Burung yang ketiga itu.
Menyaksikan kesebatan si wanita tua, ln Gak kagum.
Jim Cit Kouw memandang tajam Liongsee Sam Niauw.
“Sahabat-sahabat, kamu masih belum ketahui aturan yang diadakan di ln Bu San chung ini," katanya. “Adalah aturan kita, habis bekerja. kita mesti membekap mulut orang, guna mencegah ancaman malapetaka dibelakang-hari! Kamu toh bukannya orang-orang yang tersangkut, buat apa kamu tampil kemuka, untuk memaksa kami? Benar apa yang dibilang anakku ini, maka lekaslah kamu berlalu dari sini! Hari ini aku si perempuan tua tidak mau membuka larangan membunuh!"

Belum lagi Pit Louw, atau salah satu saudaranya, menjawab orang tua itu, dari arah rumah terlihat seorang berlari-lari mendatangi, setelah datang dekat, dia berbisik pada Jim Liong- Dia ini menjadi kaget.
“Ibu, ada bahaya di rumah kita!" ia berkata. “Anak Hee telah ada yang rampas! Liongsee
Sam Niauw tak dapat dibiarkan hidup, maka itu lekaslah bereskan mereka!”
Air mukanya Jim Cit Kouw pun berubah. Ia terkejut. Dengan tiba-tiba ia geraki tongkatnya, menyerang melintang kepada Liongsee Sam Niauw. Ia menggunai jurus “Naga gusar menggoyang ekor."
Hebat serangannya, anginnya tongkat sampailah berderum.
Sam Niauw tidak sangka mereka bakal diserang secara demikian. Ketika itu mereka lagi berbaris bertiga. Tapi mereka tabah dan gesit, dengan serentak mereka berlompat mundur. Dengan lantas mereka menghunus senjatanya masing-masing.

Ketika itu In Gak melihat Jim Liong lari pulang. Ia menduga tentulah Yan Bun sudah berhasil. Ia cuma tidak tahu, yang dipanggil “anak Hee'" itu atau “Hee Jie,” ibunya si nona atau bukan. Ia lantas memikir untuk menyusuL Akan tetapi, belum lagi ia bertindak, ia ingat pesan si -nona untuk jangan melenyapkan kepercayaan terhadap Liongsee Sam Niauw. Sekarang ia dapat kenyataan, meskipun sama-sama menjadi penjahat, ketiga Burung itu beda daripada Liong bun Ngo Koay yang telengas. Lengah ia berpikir itu, ia mendapatkan Jim Cit Kouw sudah menyerang pula Sam Niauw, yang seperti dikurung tongkat. Jago wanita ini agaknya mau mentaati kata-kata puteranya, Jim Liong, untuk tidak membiarkan hidup kepada tiga musuh itu.

Liongsee Sam Niauw benar liehay. Dengan gesit dan liehay mereka membuat perlawanan. Mereka pun tidak sudi kena dikurung. Serangan mereka liehay semuanya.
Demikian mereka bertempur sampai belasan jurus.
Rupanya habis sabarnya si nyonya tua, dia kata dengart nyaring: “Kamu bertiga tidak tahu gelagat mesti maju atau mundur, maka jangan kamu sesalkan aku si wanita tua tidak suka berbuat baik lagi!" Kata-kata itu disusul dengan rambutnya pada meringkik bangun dan kedua matanya bersinar sangat bengis.

“Hm!" Sam Niauw menjawab. Bukannya mereka mundur, mereka mencoba merangsak. Meski begitu, walaupun roman mereka tenang, hati mereka sudah gentar.
Jim Cit Kouw sudah lantas membuktikan ancamannya. Ia menyerang dengan tangan kanannya, yang diluncurkan.
Sam Niauw lantas merasa tubuhnya seperti tertolak keras, hingga tubuh mereka terhuyung, hanya sedikit, mereka berdiri pula dengan tegak. Pit Louw menyerang dengan Coa -tauw-pian. cambuknya yang berkepala ular-ularan. Ia mencari jalan darah kie-Bun. Lo Hong dengan tempuling Sam-leng Ngo-bie cee menikam kejalan darah hok-kiat, Dan Lui Yan, dengan tombak Long-gee-sok, menusuk jalan darah giok-cim dibatok kepala, untuk mana ia sudah mencelat ke belakang si nyonya. Maka terancamlah njonya tua itu-.

Tidak kecewa Jim Cit Kouw menjadi jago. Walaupun ia wanita dan usianya sudah lanjut, hatinia tabah, tubuhnya gesit. Ia memutar tongkatnya dengan jurus “Badai mengebut yanglioe," dengan begitu dengan satu kali bergerak saja ia dapat menutup dirinya, membikin gagal serangan ketiga lawan.

Ketika itu Jim Liong sudah pergi jauh, ia lantas disusul ketiga Siluman lainnya. Mereka ini bertiga berani meninggalkan ibu mereka sebab mereka percaya ibu itu dapat melayani Liongsee Sam Niauw. Yang masih menanti adalah beberapa kawan, yang rata-rata mengagumi ilmu tongkatnya si nyonya tua.
Sam Niauw terkejut. Ilmu silat musuh tua itu membikin mereka tak dapat menyerang masuk,
senjata mereka juga saban-saban tertangkis terpental, hingga sering-sering tubuh mereka menjadi terbuka. Mereka tahu itulah ancaman bahaya.
Dugaannya jago-jago Liongsee itu lekas juga merupakan kenyataan, Jim Cit Kouw tidak mau memperlambat waktu. Kembali ia meluncnrkan tangan kanannya, dari kanan ke kiri, ia menyabet dengan jurusnya “Menyapu tentara seribu jiwa." Untuk merobohkan ketiga musuh, ia pikir untuk jangan berlaku sungkan lagi.

Sam Niuaw kaget, semuanya lantas lompat mundur. Disaat itu, senjata mereka sudah tersampok mental, hingga tubuh mereka menjadi kosong. Mereka berlompat dengan cepat akan tetapi anginnya pukulan toh mengenai pundak mereka ....
Sekonyong-konyong terdengarlah siulan jernih dan nyaring, selagi Sam Niauw terancam itu, terlihat satu orang berlompat bagaikan terbang, hingga dia nampak seperti bayangan.
Lantas Sam Niauw menjadi kaget dan heran. Mereka bebas dari serangan anginnya Jim Cit Kouw, tubuh mereka mental tiga tombak, hingga mau atau tidak, mereka terhuyung dan akhirnya roboh. Meski begitu, mereka tidak takut, bahkan mereka merasa lega hati. Teranglah mereka telah ditolong keluar dari Kota Iblis.

Setelah berlompat bangun dan melihat, mereka menjadi girang.
Didepannya Jim Cit Kouw berdiri si anak muda yang mereka tahu liehay. Dialah In Gak, yang berdiri tenang, mengimplang si nyonya tua sambil kedua tangannya digendong kebelakang, cuma wajahnya terlihat keren.
Jim Cit Kouw sudah kena dipaksa mundur dua tindak, karenanya dia tercengang. Dia merasakan orang bertenaga-dalam kuat sekali. Ketika dia mengawasi orang didepannya, dia heran. Dia mendapatkan orang masih muda. Tentu sekali dia tidak tahu orang lagi memakai topeng. Dia menjadi gusar.
“Bocah, berhakkah kau mencampuri urusanku si orang tua?" dia menegur.

In Gak tertawa, ia bersikap memandang enteng. .
Cit Kouw menanti jawaban, sambil menanti, dia mengawasi tajam. Dia tidak puas terhadap si anak muda, untuk sikapnya yang menghina itu. Tapi dia tidak dapat membaca hati orang. In Gak berkata juga kemudian, perlahan.
“Jim Cit Kouw, aku tidak perduli urusan kamu kedua pihak!” katanya, benar perlahan tetapi tajam, “Aku datang untuk urusan lain. Aku hendak Tanya kau. Ketika empat belas tahun dulu, kau bersama anakmu yang celaka sudah merampas seorang wanita di Gan-giam? Sekarang mana wanita itu?”

Tatkala itu angin menghembuskan hawa hangat, sinar matahari tengah hari pun memancar di tubuh orang, hawanya panas, akan tetapi tanpa merasa si nyonya tua menggigil seperti kedinginan. Sebisa-bisa ia berlaku tenang.
“Wanita itu muridku yang murtad." sahutnya. “Itulah urusan rumah-tanggaku, kau tidak berhak mencampurinya!"
In Gak tertawa terbahak.
“Benar, itulah benar urusan rumah-tanggamu!" katanya- “.Tetapi menghancurkan rumah tangga orang dan membinasakan suami orang, adakah itu juga urusan rumah-tangga?"

Jim Cit Kouw heran, hatinya guncang. Dia mengawasi tajam pemuda di depannya ini, dia mendapat perasaan luar biasa, dia merasa tak wajar sendirinya. Tapi dia besar nyalinya dan tabah, dia mencoba menguasai diri.
“Binatang!" bentaknya. “Apakah kau menganggap dirimu gagah? Kau hunuslah pedangmu! Mari kita main-main! Apakah kau sangka aku si orang tua jeri?"
Kali ini suara si nyonya berubah luar biasa, Itu bukan lagi suara seorang wanita, apa pula wanita tua seperti dia. Itu mirip suaranya serigala. Bahkan orang-orang In Bu san-chung sendiri turut terkejut karenanya.

In Gak tidak kaget atau gentar, dia bahkan tertawa.
“Pedang sakti tak tepat untukmu!” katanya, “Pedang sakti tak ada lawannya di kolong langit ini!”
Orang heran mendengar kata-kata itu. Liongsee Sam Niauw tidak terkecuali. Jago-jago Liongsee ini malah mau percaya si anak muda sangat tekabur.

Tubuhnya Jim Cit Kouw bergerak., berlompat maju, tongkatnya bergerak pula, mendadak. Teranglah dia murka melewati batas, hingga dia tak dapat menguasai diri lagi.
ln Gak tenang menghadapi serangan itu, serangan dari kematian, ia bersenyum. Tubuhnya bergerak gesit ke samping, membuatnya tongkat tak mengenai sasarannya, cuma lewat disisinya. Sementara itu tangan kanannya bergerak, tiga buah jari tangannya bekerja sebat, menjepit ujung tongkat lawannya itu!

Itulah tidak disangka sekali, baik oleh Cit Kouw sendiri mau pun oleh sekalian hadirin. Bukankah mereka baru saja bergebrak? Bukankah tongkat itu sangat liehay?
Tanpa membilang apa apa Cit Kouw menarik tongkatnya itu. la telah mengerahkan tenaganya, hingga otot-otot di jidatnya terlihat tegas. Tidak berhasil ia dengan percjobaannya itu.
Tongkatnya tak dapat digemingkan.

(Bersambung ke jilid 9)

17. Jilid 9.1 : Ibunda Yan Bun tertolong

Bacaan » PEMBALASAN SEORANG JAGOAN » Jilid 9.1 : Ibunda Yan Bun tertolong
Anggota masrizki
Waktu 8 September
Bab Sebelum 16. Jilid 8.2. Membantu kekasih menolong ibundanya
Bab Sesudah 18. Jilid 9.2 : Tabib muda yang liehay dan sakti




Pembalasan Seorang Jagoan
Karya: Wu Lin Qiao Zi
Saduran : OKT
Jilid 9.1 : Ibunda Yan Bun tertolong

In Gak juga tidak berdiam saja mempertahankan diri. Habis orang menarik keras, ia mengerahkan tenaga di tiga jerijinya itu. Lalu "Tak" maka patahlah ujung tongkat sepanjang lima dim. ia terui melemparkan patahan itu, yang terbang menyambar batang pohon tak jauh dari mereka, nancap masuk ke dalamnya orang kaget dan heran, semuanya sampaikan menahan napas.

Diam-diam si nyonya itu menyedot napas dingin. Benar-benar ia tidak menyangkanya. Karena nya mendadak ia melemparkan tongkatnya yang sudah buntung itu dengan kedua kakinya lantas menjejak tanah untuk berlompat mundur, keluar dari gelanggang.
Lagi-lagi orang heran.

Dibenaknya In Gakpun segera muncul pikiran: "Jim Liong bilang bahwa si anak Hee kena orang rampas. Bukankah dia ibunya adik Bun? Kenapa aku melayani dia ini dan bukannya pergi masuk untuk memperoleh kepastian?" ia tidak berpikir lama guna mengambil putusan-
Tanpa menghiraukan lagi si nyonya tua, ia berlompat buat terus lari ke arah rumah. Bagaikan terbang melayang, ia lewat di depannya nyonya itu.

Jim Cit Kouw terkejut, dia tersadar. Dengan wajar dia mengayun sebelah tangannya menghajar ke punggung musuh yang tangguh itu, Dialah satu jago, dapat dimengerti jikalau hajaran ini dahsyat sekali.
In Gak tidak menghiraukan serangan itu, ia cuma menangkis ke belakang dengan tangan kirinya, ketika kakinya berlari-lari terus, tubuhnya tetap lari juga.

Hebat adalah si nyonya tua, Dia menyerang keras kesudahannya dia sendiri yang tertolak mundur dua tindak hingga dia menjerit saking kaget, heran dan kagum, sekarang dia tidak tercengang lagi maka itu diapun lari untuk menyusul.
Ketika dia didalam In Bu San Chung terlihat asap mengepul di empat penjuru, api nampak mulai berkobar-kobar.

In Gak telah lantas sampai di dalam. ia mendapatkan sebuah rumah yang besar dan indah yang balok-baloknya berukiran, tetapi tak sempat ia menikmati itu semua, ia masuk terus mencari nona Kouw.
Ia telah menemui beberapa orang yang rebah di lantai, tangan atau kaki mereka itu
pada patah, jiwa mereka belum lenyap cuma darahnya berlepotan. Diantara mereka juga terdengar rintihan yang menyayatkan hati, ia mengarti pastilah Yan Bun sudah membuka pantangan membunuh dengan mengerjakan pedangnya, pedang Leng Koe atau si Kura kura sakti.

Ketika ia masuk terlebih jauh ke dalam ia masi h menemukan orang orang yang luka mungkin sampai lima puluh orang, di antaranya ada beberapa kurban wanita.
Di pojok tembok. di luar ia melihat seorang bocah lagi merungkut ketakutan ia menghampirkan dan menanya dengan bengis: "Apakah kau melihat seorang nona ..-.ah...seorang muda yang membawa pedang?" Hampir ia membuka rahasia penyamarannya Yan Bun.

Bocah itu lagi ketakutan dia tidak dapat menyahuti bahkan dia menggigil, matanya membelalak.
"Kau mau bicara atau tidak?" bentak In Gak kakinya dibanting.
Masih bocah itu ketakutan tetapi sekarang dia dapat juga membuka mulutnya, Dia kata, “Jangan gusar tuan, jangan bunuh aku...Dia telah menggendong Hee Ie pergi lari."
"Dia lari ke mana?" in Gak tegaskan.
"Aku tidak tahu, Habis melukai orang dia pergi. Aku cuma lihat keempat ChungCoe muda bersama kedua loosoe dari Bin sanp pergi memburu dia, ia mengangkat tangannya menunjuk ke arah timur.

Tanpa membuang tempo lagi in Gak memburu ke timur, Di belakangnya terlihat Jim Cit Kouw serta orang orangnya lagi menyusul, wanita tua itu berteriak-teriak: "Bintang kau telah membunuh orang dan membakar rumah, apakah dapat kau lolos sedia begini saja?"
In Gak dengar suara itu, ia berpaling, matanya memandang tajam.
"Bangsat wanita tua, jangan sembarang bicara" ia kata "Apakah kau kira tuan mudamu ini yang membunuh orang dan membakar sarangmu? Baiklah kau ketahui di dalam In Bu san Chung itu semua orang dibunuh mampus Layak"
Karena ia berpaling dan berhenti In Gak kena disusul Lantas ia dikurung.

Seorang yang berpakaian hitam dan kumisnya hitam juga menghunus pedang, ia maju mendekati
"Tuan, kau bicara besar sekali. Mengapa kau tidak mau menyebutkan she dan namamu?" ia kata, "seharusnya kau memperkenalkan diri supaya dikenal orang-orang gagah di kolong langit ini"
Jadinya kau tepat disebut orang gagah?" In Gak tertawa menghina. "Hm" orang itu gusar.
" Ketahui olehmu, akulah Wan Kong-Kiam Coa Heng" dia berkata memperkenaikan diri, "Aku bukan orang besar tetapi aku ada namaku juga. Bukan seperti kau yang takut menyebut diri tetapi berani mengepul Di kolong langit ini belum pernah aku mendengar nama besarmu"

Bukannya ia murka, In Gak sebaliknya tertawa geli. ia menatap.
"Coe Laosoe" katanya menggoda, "kau jadinya mirip dengan Bu Toa Lang yang makan obat. Makan kau mati tidak makan kau mati juga" Kata kata itu ditutup dengan dihunusnya pedang Thay oh Kiam hingga sinarnya berkeredepan, menyorot keempat penjuru. Kebetulan itu waktu, malahan bercahaya sangat terang.
Coe Hang kaget melihat pedang itu yang menyilaukan matanya, ia tahu itulah pedang
tua, pedang mustika. Tapi dia telah menantang, tidak dapat dia mundur tanpa alasan-Bahkan dia memikir untuk turun tangan terlebih dahulu. Maka mendadak dia lompat maju dengan tikamannya serupa jurus yang bernama "Kera terbang jatuh dari cabang."
Karena dia berlompat, dia menikam dari atasi ke bawah. Dia gesit sekali, serangannya pun sangat cepat.

In Gak berdiri tegak tak bergerak, ia menanti datangnya tikaman. Tepat orang tiba di mukanya kaki kanannya berkibar ke kanan hingga ia lantas berada di samping orang, terus menggeser pula ke belakang, tangan kirinya lantas membacok ke pundak bagian belakang dari Wan Kong Kiam
Sembari membacok dengan tangannya itu, yang di buka, ia mengasi dengar tertawa dingin.
Coe Heng kaget bukan main. Begitu sebat orang berkelit dan tahu-tahu orang telah berada di belakangnya, ia seperti merasa bajunya sudah terbentur tangan musuh itu.

Dengan gugup ia lompat mencelat denganjurusnya "Burung jenjang menyerbu langit" terus ia mengubah itu dengan jurus "Burung elang menyamber kelinci," itu artinya ia terus berjumpalitan kepala di bawah kaki di atas. Ketika ia turun, dengan pedangnya ia membalas menyerang.
In Gak kagum juga untuk kegesitan lawan ini, ia tidak takuti tikaman itu, ia berkelit untuk mengasi lewat, kembali berkelit, ia menggempur batang pedang untuk membikin pedang itu mental ke samping.

Coe Heng kaget, buru-buru ia menaruh kakInya di tanah. Ketika ia mengangkat muka
melihat ke depan ia menjadi kaget, Musuh tidak ada di depannya itu Dengan cepat ia memutar tubuh, untuk melihat ke belakang Lagi-lagi ia tidak mendapatkannya ia heran dan berkuatir. ia memutar pula, sia-sia belaka, si anak muda tetap tak tampak. Hal ini berulang hingga lima kali

Wan- Kong Kiam Coe Heng sangat gesit, setiap kali ia memutar tubuh, ia pun membabat dengan pedangnya, guna menjaga diri supaya musuh tak sempat menikam ia. ia tidak melihat orang, ia tidak dapat membacok. Akan tetapi telinganya itu saban-saban dapat mendengar tertawa mengejek dan bajunya di bagian belakang baju itu terasa kena ditowel.
Maka mukanya menjadi pucat biru seperti hati babi dan peluhnya keluar mengalir membasahkan dahinya. ia masih berputar putar membela dirinya dengan sia-sia belaka.

In Gak menjadi sebal melihat orang demikian tak tahu gelagat, ia bersiul keras, dan pedangnya menambah maka berbareng dengan berkelebatnya sinar hijau, pedangnya Wan Kong Kiam putus separuhnya.
Selagi Coe Keng melengak. tahu-tahu terasa dingin-dingin sakit pada telinganya hingga dia kaget tak terkira. Dia melemparkan pedangnya dia membekap telinganya itu. Maka tangannya lantas berlepotan darah hidup, sebab telinganya telah lenyap sebelah
"Akan ku ampuni jiwamu, aku pinjam mulutmu” berkata Jie In, "Umumkanlah bahwa pedang ku tak ada tandingannya di kolong langit ini siapa tidak puas dia boleh datang cari tuan muda mu semua nama itu kosong belaka, akupun tak ketentuan tempat kediamanku, maka siapa mau cari aku, dia kenali saja rupaku."

Belum hilang suaranya anak muda ini atau ia melihat menyambarnya tujuh buah titik
hitam, cepatnya seperti bintang jatuh, itulah senjata rahasia paku Hek bong-leng dari Jim Cit Kouw. Nyonya ini penasaran sekali, dia tahu musuh terlalu liehay maka dia menyerang dengan seraup pakunya itu.
Dia menyerang dengan timpukan "Hoan thian hoa ie," atau " Hujan bunga memenuhkan langit."

Paku itu panjang satu dim, telah direndam di dalam racun, ujungnya persegi enam, di peruntukan merusak khie-kang atau tenaga dalam kalau mengenai paku itu terbelah dan nancap ke dalam, si apa terkena itu, dia sukar dapat pertolongan.
Juga penyerangan biasa dilakukan saling susul, ada kalanya yang belakangan melombai yang terdahulu.

In Gak menduga kepada senjata rahasi a, maka ia memutar diri seraya memutar juga pedangnya, Akibatnya ialah suara tingtong nyaring yang berulang-ulang lantas semua paku itu runtuh ke tanah.
Cit Kouw penasaran ia mau mengulangi serangannya, fa memang menyiapkan banyak paku beracun itu, ia pandai melepaskan sembilan sampai sebelas batang paku dengan kedua tangannya.

Tapi timpukannya dengan senjata rahasia itu membikin In Gakgusar sekali sebelum ia menimpuk pula ia sudah diserang. Luar biasa gesitnya si anak muda, tahu-tahu dia sudah berada di depan orang danpedangnya menyamber
Cit Kouw kaget dan berteriak, ia berkelit tetapi tidak urung, lengan kirinya telah terbabat kutung-lengan yang lagi diangkat itu diayun itu, Membarengi itu tangan kiri In Gak pun melayang menghajar pundak kanan si nyonya tua maka menjeritlah dia, tulang pundaknya remuk.
Tubuhnya teriempar, lengan kirinya yang buntung terus mengalirkan darah, tangan buntungnya menggelelak di tanah, jari-jari tangannya masih mengepal Hek bong teng.,..

Semua orangnya wanita jago itu menjadi kaget semua berdiri menjublak, muka mereka pucat-pias.
Dengan mata bengis In Gak mengawasi mereka itu, ia tertawa mengejek, kemudian ia masuki pedangnya ke sarungnya, terus ia lari pula ke arah timur. Tidak ada orang yang berani menghalang- halanginya.

Cit Kouw lantas ditolongi, untuk dipimpin bangun dari tempatnya roboh numprah. Tapi ternyata dia telah putus jiwa.
Coe Heng membanting-banting kaki, ia sangat penasaran, maka juga ketika kemudian meninggalkan In Bu San-Chung, ia mencoba menghasut ke sana-si ni untuk mengacau Rimba persilatan guna menyeterukan si anak muda.

In Gak lari terus ke timur tanpa menghiraukan apa yang terjadi di belakangnya itu, hanya sekarang ia lari sembari memperhatikan jalanan untuk mencari tapak-tapak kaki atau bekas-bekas pertempuran.
Kalau Yan Bun dikejar banyak orang, ada kemungkinan dia kecandak dan mesti mengadu jiwa untuk membela dirinya. Bukankah si nona menyingkir dengan menggendong atau memanggul ibunya? Tapi ia telah lari kira- kira tiga puluh lie tanpa mendapatkan sesuatu, ia heran.

Itu waktu matahari sudah mulai selam di arah barat, angin gunung bertiup santer, Awan putih saban-saban melayang dalam gumpalan-gumpalan.
Untuk memasang mata In Gak berhenti di atas sebuah batu besar, ia tidak melihat si nona kecuali di kejauhan tampak sungai Hong HHoo berliku bagaikan ikat pinggang. saking heran dan berkuatir ia mestijadi berpikir keras.
"Bukankah si bocah mengatakan dia lari ke timur? Kenapa aku tak menemuinya? Kenapa dia tak ada bekas-bekasnya? Mungkin bocah itu mendustai aku?" berulang-ulang ia tanya dirinya sendiri

Bocah itu tidak membohong. Yan Bun benar menyingkir ke arah timur, Hanya kemudian mengalih lain arah tanpa merasa. La menggendong ibunya, ia mesti menjauhkan diri dari pengejar-pengejarnya, terpaksa ia lari sana dan lari sini kesudahannya ia lari ke arah yang bertentangan.
Setelah memandang sekian lama in Gak lari balik. selagi mendekati InBoesan-chung, ia menampak orang repot memadamkan api yang berkobar kobar dan asap mengepul ngepul, Tak mau ia menonton, ia meninggalkannya, ia pergi ke tempat yang dijanjikan di depan air tumpah.

Di situ ia tidak mendapatkan si nona, cuma sang air tumpah serta muncratannya yang mirip kabut ia berdiri diam, ia bagaikan kehilangan suatu apa.
Tidak lama pemuda ini berdiam di si tu bagaikan orang baru sadar, ia lari ke arah In Bu san Chung, ia melihat sarangnya Liong Bun Ngo Koay rusak tiga bagian, tinggal yang bagian barat tertolong.

Disaat itu penjagaan menjadi kendor sendirinya. Tanpa rintangan ia pergi ke rumah bagian barat itu. Di depan jendela ia bersembunyi di cabang pohon gouwtong, Haripun sudah magrib maka semakin sulit untuk mengetahui ada orang mengumpat di pohon itu. sebaliknya dari situ orang dapat memandang kedalam rumah dengan leluasa.
Dengan dibantu tiga saudaranya, itu waktu Jim Liong terlihat masuk ke dalam ruangan untuk dia berduduk. Dia dibalut lengan dan pahanya yang kanan, balutannya demak dengan darah hitam.

Tiga yang lainnya bermuram durja, Mereka duduk mengitari sebuah meja marmer putih. Jim Houw masih gusar sekali, ia menepuk meja dengan keras hingga meja itu rengat.
"Aku tidak percaya pemuda itu demikian liehay ilmu pedangnya" katanya sengit. "Besok aku nanti cari dia, sampaipun keliling jagat aku mesti dapatkan dia.”
"Jieko, jangan kau membuat orang menertawakan kau." berkata Jim Pa yang mengasi dengar suara dari kemendongkolan: "Hm" ia menambahkan, "Lihat ibu yang demikian gagah, ibu masih tak dapat menangkis satu tebasan saja. Umpama kata kau dapat menemui dia, kau bisa bikin apa?"

In Gak tertawa dalam hati, orang lagi membicarai tentang ia, ia memasang telinga, Jim Houw gusar, matanya mendelik,
"Habis??" tanyanya. "Sakit hati begini besar, apakah kita sudahkan saja."
"Siapa bilang sudah saja?" sahut Jim Pa dingin, "Kita harus berpikir dulu, Jangan seperti kau cuma menuruti adat."

Mata Jim Houw mendelik, mau ia mengutarakan kemurkaannya tetapi Jim Liong mengulapkan tangannya.
"Sabar," katanya, "Benar juga apa yang adikmu bilang. Kau tidak sabaran adik Houw, kau harus dapat mengubah tabiatmu itu, Kedua anak muda itu dua-duanya liehay sekali. Yang harus disalahkan ialah kita sendiri yang terlalu besar kepala. Kita menganggap. siapa melanggar In Bu san-chung dia bagian mati.
Untuk banyak tahun orang mentaati aturan kita tanpa perkenan tak ada yang diijinkan masuk. tak ada yang berani lancang memasukinya. Kita lalu menjadi alpa sendirinya, sampai sekarang muncullah kedua pemuda itu." ia berhenti untuk menghela napas.
"Kau tahu," ia menyambungi "kalau tidak Bin san Jie Loo datang cepat, tentulah jiwaku tak dapat ditolong lagi, Kau sebaliknya bicara enak saja, adikku...." Jim Houw berdiam.

"Entah bagaimana dengan Bin san Jie-loo cianpwee?" kata Jim Pa: "Entah mereka berhasil atau tidak...." Jim Liong menggeleng kepala.
"Gunung Bong san lebat dan disana banyak kuburannya, disana gampang sekali orang menyembunyikan diri," ia bilang "Sudah begitu, magribpun telah tiba. Pula, kedua pemuda liehay sekali...."

Mendengar disebutnya gunung Bong san, In Gak lantas saja berlompat turun, untuk segera pergi kesana, Tanpa merasa, ia membuatnya cabang cabang pohon dan daunnya bergerak.
Jim Houw melihat bergoyangnya pohon segera ia menyerang dengan paku Hek bong-teng. serangan ini disambut dengan tertawa menghina lantas pakunya itu menyambar balik, menghajar meja didepannya, hingga muncratlah lelatu api-nya.

Berbareng dengan Jim Pa, Jim Houw berlompat keluar tetapi tanpa hasilnya, Daun-daun pohon bergoyang karena sampokan angin, orang tak nampak, bayangannya pun tidak ada, Dengan lesu mereka kembali ke dalam, Tahulah mereka sia-sia belaka untuk menyusul musuh yang tak terlihat.

In Gak berlari terus, Ketika ia ditimpuk ia menangkis kebelakang tanpa memutar tubuh, ia menggunai jurus huruf "Gempur" dari Bie Lek sin-Kang, maka paku Hek- bong-teng kena di sampok kembali. Tidak ada tempo untuk melayani persaudaraan Jim itu. Keras luar biasa ia lari kearah gunung Bong san-
Ketika ia sampai langit sudah gelap. jagat diterangi kelak- keliknya bintang bintang serta si Puteri Malam yang guram. sebab rembulan masih rembulan si si r seperti gaetan.... Angin Utara bertiup santer sekali.

Diantara berbagai kuburan, In Gak mencari. Beberapa kali ia terhuyung, bukan karena letih, hanya disebabkan hati yang kosong, Tak juga ia melihat Yan Bun- Disanapun tak ada Bin san Jie Tok serta lainnya orang In Bu san- chung yang mengejar nona Kouw.
Luasnya pegunungan empat ratus lie lebih, sulit untuk menjelajahnya semua, Mencari empat orang disana mirip dengan mencari jarum di dasar laut....,.

Tak puas in Gak sebelum ia dapat mencari kekasihnya itu, ia mencari terus, Paling
belakang ia berdiri atas tempat yang tinggi, sembari menenangkan hati, ia memandang ketinggian. Tiba-tiba ia melihat dua bayangan berkelebat, didepannya, terpisahnya belasan tombak. Disana kedua bayangaa itu lantas berhenti.

Tiba tiba saja ia menjadi girang, ia menduga kepada Bin san Jie Tok. la percaya kalau kedua jago Bin san itu ada disi tu pastilah Yan Bun dan ibunya tak kurang suatu apa, hanya tak diketahui dimana ibu dan anak itu bersembunyi.
Dua bayangan itu ruginya tak melihat ada orang lagi mengawasi mereka, mereka tetap berdiri tak berkutik,

In Gak menggeraki tubuhnya. ia berlompat maju dengan pesat kearah kedua bayangan itu. Tanpa terpergok. lamendekati belakang mereka sejauh satu tombak lebih kurang, ia menyembunyikan diri, karena ia ingin melihat dulu gerak-gerik orang atau mendengar perkataannya.
Kecuali suara angin, gunung itu sunyi, Kedua orang itu, yang benar-benar Bin san Jie Tok adanya, akhir-akhirnya berbicara juga.
"Loo-jie, baiklah kita jangan berdiam di sini saja minum angin Barat daya" demikian berkata yang satu, yang suaranya keras, "Marilah kita kembali. Bukankah dia pun tak bermusuhan dengan kita."

"Akutahu, Loo-toa," berkata orang yang kedua. " Kalau kejadian ini teruwar, bisa terjadi orang Kang ouw mengatakan kita menghina seorang bocah, itulah pasti tak sedap didengarnya, Cuma aku lihat bocah itu terkebur sekali, maka aku ingin beri rasa peluruh Ngo Tok san-hwee-tan kepadanya...."
Walaupun mereka sudah lama berdiam di Bin San, Bin San Jie Tok. -Dua Racun tetap berlagu suara orang Utara.

In Gak sudah memikir untuk mempermainkan mereka itu, sekarang ia mendengar suara mereka yang berniat pulang, ia batalkan niatnya, ia cuma masih mengawasi tajam hingga ia melihat di pinggang mereka tergantung kantung kulit, ia percaya kantung itu banyak isinya, lantaran tak bergoyang-goyang tersampok angin. Mendadak ia mendapat pikiran. Bukanlah peluru itu jahat dan dapat mencelakai banyak orang?
Dengan mengguna Hian Thian Cit seng Pou ia berlompat maju, tubuhnya lantas melesat kedepan-

Bin san Jie Tok membelakangi si anak muda, dengan begitu ia tidak mendapat lihat anak muda itu cuma ketika mereka merasai berkesiurnya angin, mereka heran hingga mereka melengak.
Segera mereka menyampok kebelakang, dengan tipu silat "Ular naga emas menggunting pohon bwee."
Mereka menyampok dengan sebat, akan tetapi mereka mengenai sasaran kosong. Atas itu keduanya saling mengawasi sambil tertawa bergelak. Mereka menganggap bahwa mereka bercuriga tak keruan.

Kemudian keduanya berlompat, untuk meninggalkan gunung Bong san itu Mereka bangsa liehay tetapi mereka tidak mendusin yang kantung-kantung mereka sudah terlepas dari pinggang mereka, kedua kantung sudah pindah ke tangan in Gak yang liehay.
"Adik Bun" In Gak memanggil sesudah ia merasa Jie tok telah pergi jauh.
Tidak lama maka diantara siuran angin terdengar pertanyaan- "Apakah engko In disana?" Itulah suaranya Yan Bun- Bukan main girang nya si anak muda.
"Adik Bun” ia berseru, lantas ia lompat, lari ke arah kepala angin, dari mana jawaban itu datang.

Ia tidak usah larijauh akan melihat satu bayangan berkelebat, terus Nona Kouw berdiri dihadapannya.
"Mana peebo?" adalah pertanyaan si anak muda yang pertama, meskipun luar biasa girangnya telah berhadapan dengan si pemudi.
Yan Bun tidak menjawab, dia hanya menyamber tangan orang, untuk dituntun.

Maka bersama-sama mereka lari ke kanan, ke arah sebuah kuburan tinggi sepuluh tombak lebih, pastilah itu kuburannya raja, panglima perang atau perdana menteri di suatu jaman dulu, In Gak tidak sempat memperhatikan batu nisannya, untuk membaca dan mengetahui si apa yang rebah dengan damai di dalam pekuburan itu, sebab ia, terus memperhatikan nona di sampingnya.

Yan Bun menyalakan api, terus ia menggeser batu nisan, maka di depannya mereka lihat tangga batu terdiri dari belasan undak dari atas turun ke bawah di mana terlihat tempat rata lebar dua kaki, tempat itu gelap dan nampak menyeramkan-Tapi keduanya masuk ke situ, bertindak di tangga.
Segera in Gak melihat seorang wanita yang berpakaian hitam lagi rebah meringkuk di tanah. Yan Bun lompat kepada wanita itu. "Ibu" ia memanggil.
"Ya..." menyahut wanita itu lemah.

Si nona memegang tubuh wanita itu, untuk dikasi bangun, hingga dia dapat duduk sambil menyenderkan tubuh.
Sekarang In Gak dapat melihat seorang nyonya yang romannya juga kecantikannya sangat mirip Yan Bun- Hanya, disebabkan penderitaan belasan tahun, dia kucal dan lesu, dijidatnya ada garis garis tanda dari penderitaan dan kemasgulan-cuma matanya yang agak tajam. Nyonya itu lantas mengawasi padanya.

In Gak menduga orang ingin melihat wajahnya yang tulen, maka ia lantas menyingkirkan topengnya, Atas itu si nyonya berseru: "Oh” dan matanya bersinar, senyumnya pun lantas Nampak, hanya sejenak kemudian dia menghela napas dan berkata dengan perlahan- "Yan Bun, sekarang ini ibumu mirip sampah. Apakah gunanya kau menolongi ibumu? Tapi lega hatiku melihat kau telan mempunyai andalan..."
"Ibu," berkata si anak. "jangan ibu berkata begini, Biarnya anakmu hancur lebur, anak mendayakan supaya ibu dapat disembuhkan-“

In Gak telah lantas melihat, nyonya itu lemas tubuhnya akibat totokan di bagian im hiat, bahagian terlarang maka ia tidak bisa lantas menanyakan, baru sekarang ia berani campur bicara.
"Adik Bun, apakah peebo terluka?" tanyanya.
Nona itu berpaling, mengawasi anak muda, ia agaknya berduka tercampur penasaran
"Ketika ibu ditawan, ibu dipaksa menikah dengan Jim Liong," sahutnya seogit, "lbu berkeras menolak, Atas itu ibu ditotok pelbagai jalan darahnya, hingga tangan dan kaki ibu tak dapat digeraki lagi. ibu mau dipaksa, ibu di ancam, katanya satu hari ibu tidak menerima, satu hari ibu tak akan dibebaskan- Coba pikir, mana dapat ibu menerima? Begitulah sekian lama ibu dibikin tidak berdaya, Untunglah ibu masih dikasi makan tiga kali setiap hari hingga jiwa ibu ketolongan dan wanita tua bangsat itu juga melarang Jim Liong memperkosa, jikalau tidak“
Tanpa tertahan lagi, nona ini menangis. Tapi ia memaksa menguati hati, ia tanya: "Engko In- dapatkan say Hoa To Goei Peng Lok menolongi ibu?"

In Gak terharu, setelah berpikir sebentar ia menjawab: "Jikalaupebo ditotok belum lama, Ia dapat disembuhkan dalam waktu dua tiga hari tetapi sesudah bertahun-tahun, hingga ia menjadi lemah sendirinya waktu kesembuhannya tak dapat dalam waktu yang singkat.
Untuk itu dibutuhkan obat yang mujarab, yang dapat menyalakan darah dengan baik serta daya menambah kekuatan. Mungkin say Hoa To dapat menolong tetapi lama untuk pergi ke tempatnya.... Mana dapat peeboo melakukan perjalanan demikian jauh? Aku mengerti juga tentang ilmu pengobatan, hanya sini ada soal pria dan wanita.”

"Cia Hiantit," tiba-tiba berkata si nyonya, yang pun langsung memanggil hiantit atau keponakan, "di dalam Rimba Persilatan tak ada pantangan demikian hebat, laginya kau dengan Yan Bun..."
Mendadak nyonya itu berhenti agaknya dia likat.

In Gak cerdas, ia lantas dapat membade hatInyonya, Nyatalah ia sudah dipandang sebagai separuh anak. Tentulah Yan Bun sudah bercerita jelas pada ibunya tentang ia dan nona itu dan ibu itu sekarang menganggapnya sebagai bakal mantu, hingga terhadapnya nyonya itu sang bakal mertua sudah tidak malu malu lagi. ia menjadi terharu tetapi tetap ia ragu ragu.

Yan Bun mendengar perkataan ibunya, di sinar api terlihat mukanya menjadi merah tetapi girang, maka kemudian ia tertawa dan kata: "Oh, engko In, kau juga mengerti ilmu pengobatan? Tapi Jim Cit Kouw itu luar biasa, kepandaiannya istimewa, orang lain tak dapat membebaskan totokannya.... Kau mengerti ilmu pengobatan kenapa sebelumnya aku belum pernah mendengar kau mengatakannya?"

In Gak tidak lantas menjawab. Ketika itu, sumbu api mereka mulai guram, tandanya penerangan bakal lekas padam.
"Tempat ini bukan tempat di mana kita dapat berdiam lama lama," ia berkata. "Aku percaya Bin san Jie Tok bakal lekas kembali ke mari, Barusan aku telah samber kantung obat mereka maka begitu mereka mengetahuinya mesti mereka datang mencari. sekarang, adik Yan Bun, mau aku pergi keluar untuk menjaga mereka, kau sendiri lekas kau siap. ibumu harus dibawa ke Thian Ma Piauw Kiok di Kayhong, Disana kita nanti mendamaikan lagi urusan menyembuhkannya""

Tanpa berayal lagi, pemuda ini lari keluar guha kuburan itu, Batu nisan ia rapikan pula.
Ketika itu langit penuh dengan bintang-bintang dan bulan sisir terlihat dengan cahayanya yang guram. Angin bertiup terus menerus, menerbangkan pasir halus. Dibelakang gunung terdapat kabut berwarna kekuning-kuningan- Didalam kesunyian, tempat kuburan itu agak menyeramkan....

ln Gak pergi ketempat dimana tadi ia turun tangan terhadap Bin san Jie Tok. ia menanti sambil memasang mata dan telinga, ia tidak usah menunggu lama tatkala ia mendengar dua kali suara siulan- suara mana disusul dengan munculnya dua bayangan orang yang lari mendatangi. Lekas sekali dua orang itu tiba didekatnya.
Benarlah mereka si Dua Racun dari gunung Bin san. Karena ln Gak tidak menyembunyikan diri, ia segera terlihat mereka itu.

Mereka lantas menghampirkan sambil berseri, mereka lantai berlompat naik, untuk terus menerkam. Keduanya sama-sama meluncurkan ke dua tangannya masing-masing.
"Hm" ln Gak mengasi dengar suaranya, selagi tubuhnya berkutik, Begitu lekas empat tangan penyerang sampai, baru ia menggeraki kedua tangan nya untuk menyambut, ia menyamber nadi lantas ia melempar, dari mulutnya terdengar tertawa nyaring.

Bin san Jie tok kaget, mereka melihat tubuh terpental tinggi, terus jatuh ditempat beberapa tombak, itulah gerakan "Naga" berputar naik ke langit. Mereka pun mendengar orang itu tertawa berkakak. Di dalam hati mereka heran dan kagum. orang itu mempunyai kepandaian enteng tubuh yang lihay sekali.

Mereka juga heran untuk diri mereka sendiri. Ketika tangan mereka disambuti, habis tenaga mereka, tubuh mereka menjadi lemas, tetapi selekasnya mereka terlepas dari cekalan, mereka merasa sehat seperti biasa, ini menyatakan lihay nya orang itu.
Dengan tertawa meringis mereka saksi kan orang berdiri diam seraya mengawasi mereka sambil tersenyum.

Meski juga mereka menginsafi orang- si anak muda liehay sekali, si Dua Racun ini tak dapat mengendalikan hawa amarah mereka-Mereka merasa terhina sekali, serentak sambil berseru mereka lompat pula untuk menubruk. kali ini mereka melesat jauh terlebih pesat daripada tadi. sembari berlompat itu, mereka mengasi dengar suara dari kemarahan mereka.

In Gak hendak mempermainkan orang, inilah cara untuk menang waktu, ia melihat orang berlompat naik, ia berdiri tak bergerak
si Dua Racun dari Bin san berlompat ditimur satu dan d ibarat satu. Rupanya mereka hendak menggencet, Lekas mereka sampai, maka tak ampun lagi mereka lompat pula untuk menerjang. Tak mau lagi mereka berbicara. Mereka merasa pasti si orang muda ialah musuh.
In Gak menanti tepat waktunya, mendadak ia menggeraki kedua tangannya, menolak. Kali ini ia menggunai Bie Lek sin Kang bagian huruf "Menempel."
Kedua tangannya menyambuti, dari dipentang lantas dirangkap lantas dibuka pula seraya menolak.

Bagaikan dua batang anak panah terlepas dari busurnya. Demikian tubuh Bin san Jie Tok, tanpa berdaya tubuh itu melayang seperti layangan, ketika mereka jatuh ke tanah, pusing kepala mereka. Dengan paksakan diri mereka merayap bangun, Mereka gusar sekali. Mereka menyangka bahwa saking keras lompatnya mereka, mereka telah saling tubruk dan jatuh sendirianrya, Maka mereka berlompat pula, untuk menyerang lagi.

In Gak mengawasi , ia tertawa perlahan. ia tidak menyambuti sebagai tadi, ia hanya berkelit dengan tindakan Hian Thian Cit seng pou atau Tujuh Bintang. Dengan begitu ia dapat membebaskan diri Tatkala serangan diulangi, ia tetap bebas dan merdeka.

Jin tok penasaran tetapi heran sekarang, Mereka mengingat kegagalan mereka, jadi tadi mereka bukannya saling bentur, sudah belasan kali mereka menyerang saling susul, belum pernah mereka berhasi l mengenakan sasarannya.
Menowel pun tidak. judi musuh liehay dan mereka kalah jauh, Karena ini mereka lantas mengerti juga.
Rupanya musuh tidak mau mencelakai, musuh melainkan mengganggu. Musuh main berkelit walaupun mereka bersikap telengas. Bukankah itu tanda orang suka mengalah? Kalau orang mau berkelahi, tidakkah mereka sudah bercelaka?
Akhirnya keduanya berhenti menyerang mereka lompat mundur. Mereka berdiri diam sambil mengawasi tajam.

In Gak berdirijauh kira tiga tombak, ia bersikap tenang, kedua tangannya diletaki dipunggungnya. ia mengasi lihat senyuman Dengan begitu ia tertampak tampan dan manis.
Bin san Jie Tok kejam tetapi tidak terlalu jahat, ada kalanya mereka dapat menimbang. Merekalah Theng Ceng dan Theng Cong, sejak kecil mereka sudah yatim-piatu, hidup dalam kelaparan dan kedinginan, hidup terhina.
Baru belakangan mereka ditolong oleh seorang berilmu. Lantaran pernah hidup sengsara dan terhina, tabiatnya menjadi sifatnya. Mereka menganggap banyak orang palsu, Mereka percaya orang tingkat bawah lebih jujur. Maka setelah turun gunung dimana mereka di rawat dan di didik, mereka lebih suka bercampuran dengan orang-orang Kang ouw, mereka menyingkir jauh-jauh dari kaum yang di katakan lurus.

Kemudian lagi, setelah usianya meningkat, baru mereka dapat membedakan- Nyata
anggapan mereka terdahulu itu keliru.sebaliknya kaum lurus menganggap merekalah bangsa sesat, sebab sepak terjang mereka menyalahi kebenaran, ma reka digolongkan kaum hantu, sebenarnya belum pernah mereka sembarangan membunuh orang.
Anggapannya yang belakangan yang membuatnya dapat menimbang ln Gak tidak bermaksud mencelakai mereka, malu sekali waktu mereka melihat ln Gak tidak mengejar mereka, hanya dia berdiri dan tertawa seraya menggendong tangan...
"Jiewie, mengapa datang-datang kamu menyerang aku ganas sekali?" kemudian ln Gak tanya tertawa, "Bukankah aku belum kenal kamu?"

"Ah, dia benar" mereka pikir ketika ditegur itu " Kantung kita hilang tanpa ketahuan si apa yang curi, kenapa sebelum menanya jelas kita lantas menyerang dia dan secara hebat?"
Maka itu merahlah muka mereka.
"Kau benar, tuan," kata Toa Tok. Racun yang nomor satu "Kejadiannya adalah begini: Tadi kami berdua berada disi ni, tanpa ketahuan kantung kami yang digantung dipinggang lenyap tak terasa, Tak tahu Kami si apa yang curi, Kami lekas kembali kemari Lantas kami melihat tuan berada disi ni seorang diri. Kami lagi gusar, kami lantas menerka kau, maka itu kami lantas menyerang. Hanya..."

In Gak tertawa.
"Mungkinkah isi kantung itu barang-barang berharga?" ia kata, "jikalau tidak, tidak nanti loo enghiong menjadi demikian gusar,"
Ia lantas memanggil loo- enghiong, jago tua, ia pun bertindak maju beberapa tindak.
"Hanya itu kebanyakan barang-barang tidak berarti." menyahut Theo Ceng, yang turut tertawa." Tidak kami sayangi kalau itu sampai hilang. Hanya barang itu beracun, racunnya sangat berbahaya, bila ada yang menemui dan dia memakainya keliru atau dia pakai untuk malang melintang, itulah berbahaya untuk umum. Kamilah Bin san Jie Tok, kami biasa menyayangi sekalipun sayap dan bulu, dari itu tak dapat kami membikin lenyap barang kami itu.
Tegasnya, kantung kami itu berisikan beberapa puluh pel Hee ie tan serta sejilid kitab guru kami namanya kitab racun Hap jok sek Coe, jadi itulah barang-barang yang tak boleh terhilang. jikalau tuan yang menemukannya, sudikah tuan memulanginya? Kami pasti akan sangat berterima kasih dan akan membalas budi kebaikanmu itu” sembari berkata, dia mengawasi tajam.
"Oh, kiranya loo-enghiong berdua ialah Bin san Jie Loo" kata In Gak tertawa.
"Benar sekali kantung itu aku yang dapat memungutnya, menurut keterangan loo enghiong, terang loo enghiong berdua berhati pemurah. ia merogo sakunya, ia melemparkan kantung orang.
Bin san jieTok menyambuti dengan tangan mereka, lantas Theng Cong merogo ke dalam kantungnya, mengeluarkan empat butir pel yang merah sekali, sambil meletaki itu di telapakan tangannya, ia menghampirkan si anak muda. sembari tertawa, ia berkata: "Banyak tahun dulu kami pesiar kelaut Tang Hay, kebetulan sekali disebuah pulau terpencil ditengah laut, diatas puncak bukit. menemui lima biji kemala Lie hwee Ceng- giok.
Itulah kemala mustika, Kemala itu kami lantas gunai sebagai campuran pel Hwee- in tan
ini, khasiatnya ialah untuk mengobati luka diotot dan tulang-tulang, buat melumerkan darah yang sudah beku, Untuk membalas budi mu, sukalah kau terima pel ini."

ln Gak mau percaya keterangan itu, ia menyambuti, Ia lantas ingat ibunya Yan Bun, Bukankah obat ini dapat dipakai mengobatInyonya itu? "Aku tidak sangka loo enghiong yang begitu baik hati" kata ia. "Bukan saja loo enghiong tidak menggusari bahkan menghadiahkan obat ini. sebenarnya aku malu, Tapi, ia berhenti sebentar ia tertawa dan berkata pula: "Kita dapat bertemu, jiewie too enghiong, inilah jodoh kita. sebenarnya juga, obat ini ada perlunya untukku, yang hendak segera menggunainya, Akupun merasa malu karena aku tidak dapat membalas budi loo enghiong ini, maka haraplah j iewie ingat saja, apabila dibela kang hari jiewie membutuhkan bantuannya Koay Ciu sieseng, tidak nanti aku berpeluk tangan saja..."
Oleh karena ia tetap memakai topengnya, meski apa pun ia biiang, In Gak tidak mengasi kentara apa juga pada mukanya.

Bin san Jie Tok kaget sekali, hingga mereka mengeluarkan seruan tertahan.
"Tidak aneh sekarang." kata Theng Ceng, "Kalau tuan ialah Koay Ciu sieseng yang demikian kesohor, tidaklah aku malu yang kami kena dikalahkan kami bahkan takluk benar benar, Tuan, kalau nanti kamu pesiar ke Soe Coan, sukalah kamu pergi ke Bin san. Di sana kami ingin sekali menerima pergajaran dari kau."
Habis berkata, dia memberi hormat demikian juga Theng Ciong, sang adik, lantas keduanya memutar tubuh, untuk berlompat pergi, hingga sebentar saja mereka sudah lenyap diantara banyak kuburan,

In Gak mengawasi sambil berpikir: "Benar-benar aneh. Adakah ini takdir? Sejak aku mengembara, biasa berlaku telengas begitu lekas aku menemui bangsa hantu, tetapi terhadap mereka ini berdua, aku berlaku murah hati sekali. Rupanya karena sikapku ini, aku menjadi mendapatkan pel Hwee in tan ini..."
Senang hatinya anak muda ini, lantas ia lari ke arah kuburan tempat sembunyi Yan Bun dan ibunya. ia terus masuk ke dalam di mana ia mendapatkan si nona dan ibunya lagi duduk berendeng di tangga batu, keduanya asyik bicara. Ketika mereka mendengar tindakan kaki, lantas mereka menoleh,
"Engko In, apakah kau telah selesai mengusir Bin san Jie Tok?" Yan Bun menyambut sambil tertawa.

"Sebaliknya" sahut si anak muda tertawa juga, "Kita justru menjadi sahabat-sahabat baik, sekarang ini mereka itu sudah pulang ke Bin san, Adik Bun, aku hendak menyampaikan kau kabar baik ibumu bakal segera ketolongan. Tak usah lewat tujuh hari, aku tanggung peebo dapat bergerak dan berjalan seperti sediakala.." Nona Kouw kaget, ia heran matanya bercahaya. ia berlompat bangun-
"Benarkah, engko In?" ia tanya. "Sungguh kau baik sekali..Tapi, ah..jangan kau membohongi aku.,"

Nyonya Kouw menoleh, ia menghela napas.
"Sulit, hiantit" ia berkata "Pertama-tama totokannya si wanita tua bangsat sukar dibebaskan- Disebelah itu sudah belasan tahun tubuhku seperti mati, otot ototku sudah kaku, darahku sudah kering .Mana dapat itu dilumerkan dalam tempo tujuh hari? Kau tentu kuatir aku menjadi tawar, hatiku menjadi putus harapan, maka kau hendak menghibur aku, Benar bukan?"

Yan Bun pun mau percaya ibunya, tanpa merasa airmatanya mengembeng. ln Gak mengasi lihat roman sungguh-sungguh.
"Tidak. peebo, tak aku mendustai" ia kata, "Bukan kebiasaanku untuk omong dari hal yang tidak benar, Baiklah peebo legakan hati. Aku berani menjamin, dalam waktu tujuh hari peebo akan sudah sembuh"

Habis berkata ln Gak memberikan dua butir pel pada Yan Bun dengan minta nona itu segera minta ibunya lantas menelannya.
Nyonya Kouw makan obat itu, matanya menatap si anak muda, agaknya ia bersangsi .
In Gakpun mengawasi , ia bersenyum, ia berdiam beberapa saat atau mendadak ia menyerang ke arah nyonya itu, ia menggunai pukulan "Leng khong tay-hiat sin kie Ciu bun" yaitu ilmu membebaskan totokan " Udara Kosong" artinya tanpa tangan mengenai sasarannya.
sasarannya ini adalah empat jalan darah Nyonya Kouw di kedua si si tubuhnya, yakni thian kie, kie Bun, khie-shia dan si e-kie.

Nyonya Kouw makan pel HHwee in-tan, obat itu lantas bekerja di dalam perutnya. lamerasakan hawa panas sekali seperti dibakar, hingga sulit ia bertahan. ia mengertak gigi, Tepat ia lagi menderita itu, mendadak ia merasakan jalan darahnya terbuka, hawa panasnya itu lantas buyar dan lenyap.
Dari tidak karuan rasa, tiba-tiba ia merasa "enak" seluruh tubuhnya. sekarang ia cuma merasa masih lemas.

In Gak mengawasi nyonya itu lalu ia kata pada Yan Bun- "Adik Bun coba kau duduk di belakang peebo, kedua tanganmu letaki dijalan darah beng-Bun- Kau salurkan tenaga dalammu, nanti aku bantu kau dengan menunjang punggungmu. Aku percaya, dengan kita bekerja berdua, peebo akan sembuh sedikitnya separuh."

Nyonya Kouw heran, ia tidak sangka anak muda ini demikian gagah dan pandai dan banyak pengetahuannya. sungguh sukar dicari anak muda sepandai dia. Menyaksikan totokan "udara kosong" saja sudah luar biasa sekali.
Biasanya kepandaian itu baru didapat setelah peyakinan lima puluh tahun, coba ia tidak melihatnya sendiri, tak dapat ia mempercayainya.

Yan Bun sudah lantas duduk di belakang ibu nya. ia percaya betul si anak muda, ia mentaati perintahnya ia menekan jalan darah beng Bun di punggung ibunya dibetulan dada lantas ia mengumpul tenaga dalamnya terus ia menyalurkannya.
Tengah ia mengumpul tenaga itu mendadak ia merasai punggungnya ada yang tekan. Mulanya ia terkejut tetapi setelah hatinya tenang ia merasai tubuhnya tak tegang seperti semula, lalu selanjutnya ia dapat menyalurkan tenaganya dengan lancar.

Di pihak lain nyonya Kouw juga merasakan perubahan, ia merasa sedikit ngilu dan lemas lalu datang hawa yang hangat mengalir di seluruh tubuhnya. ia berdiam saja, iapun mengerti ilmu tenaga dalam, ia mencoba mengerahkannya, ia ingin membantu.
Lama cara pengobatan ini dilakukan sampai kira-kira satu jam lantaInyonya Kouw merasa ia dapat mengutik-utik jeriji tangan dan kakinya. Tentu sekali ia girang bukan main. sudah sepuluh tahun lebih ia seperti mati, segalanya kaku. tetapi sekarang ia bagaikan pohon kering hidup pula.
"Anak Bun" katanya mendadak. "Kau lihat jari tangan dan kaki ibumu ini.Bukankah semua dapat digeraki?"

Kapan In Gak mendengar itu, ia menarik pulang tangannya dari punggung di sana. Yan Bun pun memutar tubuh ibunya. "Benarkah ibu?" ia Tanya.” Mari aku lihat"
Nyonya Kouw menurut.
Yan Bun mengawasi . Benar-benar ibunya dapat menggeraki semua jari tangannya, hanya perlahan sekali agaknya memerlukan banyak tenaga, ibu itu mengangkat tangannya lalu jatuh pula. Tapi itulah alamat baik. saking girang, si anak merangkul ibunya. Anak dan ibu lantas mengucurkan airmata. airmata kegirangan. ln Gak membiarkannya sekian lama.

"AdikBun" ia kata kemudian, “Peebo sudah sembuh seharusnya kau bergirang. Tinggallah waktu untuk berobat terlebih jauh, sekarang kau tunggu aku mau pergi ke Lokyang, guna menyewa kereta untuk menyambut kamu, Kau temanilah peebo beromong-omong.”

Habis berkata, anak muda itu lantas meninggalkan kuburan Bagaikan bayangan ia berlari lari kearah kota, Di atas si Puteri Malam membayangInya. di bawah sang angin meniup tak hentinya, ia pergi tanpa tak berpikir, ia anggap Yan Bun lebih berbahagia daripadanya, Bukankah si nona telah menemui ibunya dan sekarang ibu itu dapat di anggap sudah sembuh betul? ia mengira ketika tadi ia menyaksikan ibu dan anak itu saling merangkul ia sendiri tak dapat berbuat begitu Maka tanpa merasa air matanya bercucuran.

Syukur ia lantas sampai di kota tujuannya. Untuk itu ia memakai waktu tak lebih dari setengah jam ia tiba di luar kota timur di mana ada terdapat seratus lebih rumah penduduk. Hari sudah tengah malam, sudah sepi, Rumah-rumah telah mengunci pintu. Di jalan besar ada kertas sisa perakan, udaranyapun masih berbau belirang, Disana sini terdengar suara anjing menggonggong. Jadi disitu cuma ia sendiri yang masih bergentayangan-

Ia menghampirkan sebuah rumah yang menyewakan kereta keledai, ia mengetuk pintunya, yang muncul ialah seorang tua yang sudah ubanan rambut dan kumisnya. Dengan mengangkat lentera nya ia mengawasi si anak muda.
"Tuan, baru malam tanggal tujuh, apakah kau hendak menyewa kereta?" tanyanya.
"Benar" si anak muda mengangguk "Aku ingin sewa kereta keledai empat. Aku hendak mengantarkan sanakku yang lagi sakit ke kota Kayhong."
Orang tua itu berdiam sekian lama, agaknya ia ragu ragu.
" Kereta dan keledainya tersedia..." katanya kemudian, "Hanya ini masih subuh baru kusirnya masih ingin makan dan minum.. habis menenggak arak. dia pulang, dia tidur...mereka juga tinggal di dalam kota sedang pintu kota tak dibuka sebelumnya terang tanah. Tuan, kalau kau mau cepat cepat coba kau cari di lain rumah.."

In Gak menyodorkan sepotong emas, ia tertawa dan kata: Tak usah aku cari lain rumah, sanakku itu terpisah cuma tiga puluh lie dari sini, maka aku sendiri dapat mengendarainya. Pergi dan pulang aku akan kembali d iwaktu terang tanah, maka tolong lootiang memberitahukan kepada kusirmu untuk dia menantikan di sini saja"

Emas itu bergemerlap. meskipun potongannya kecil, harganya di atas enam tahil perak.
Dijaman itu, siapa mempunyai emas sepotong itu, untuk keluarga terdiri dari delapan jiwa dapatlah senang hari dilewati tiga tahun. Maka itu teranglah si orang tua, yang bersenyum berseri-seri.
" Kalau kau sangat membutuhkannya, tuan, baiklak" katanya.
"Baiklah, nanti aku siapkan keretaku, silahkan duduk didalam, untuk menanti sebentar Hanya uang ini ... inilah terlalu banyak.."
"Tidak apa," kata ln Gak. "Uang lebihnya lootiang boleh pakai untuk belanja lainnya, silahkan pasangi kereta, aku akan menantikan disi ni." ia bertindak maksud dan duduk di bangku panjang.

Tuan rumah bertindak cepat ke istalnya. ia bekerja sebat. Tidak lama ia sudah muncul dengan keretanya yang ditarik empat ekor keledai.
ln Gak tidak menyianyiakan waktu, ia keluar, sambil menyambuti cambuk ia lompat naik keatas kereta itu, maka dilain saat ia sudah kabur kearah Bong san, ia membunyikan cambuknya, yang membikin keempat keledai kabur.

Tiba dikaki gunung, In Gak dapatkan sudah kira-kira jam empat, Yan Bun mundar-mandir didepan kuburan, untuk menunggui. ia lantas lari ke dalam untuk memberitahukan ibunya yang ia terus gendong untuk dibawa ke kereta. Maka lekas juga Nyonya Kouw sudah duduk menyender di dalam kendaraan itu.

In Gak menanti sampai ibu dan anak itu sudah duduk rapi, ia menurunkan tenda kereta, ia terus menjalankannya pula kembali ke Lokyang. sekarang kereta tidak lagi dikaburkan, hanya dikasi jalan perlahan, Maka setelah jauh pagi tibalah mereka di rumah sewaan kereta di mana kusir menanti.

Dengan begitu, dilain saat rombongan ini sudah menuju ke kota Kayhong. Kusirnya dua orang, mereka saban-saban menjabat keledai mereka...
Di dalam kereta barulah Yan Bun sempat menuturkan bagaimana ia memasuki In Bu san Chung guna menolongi ibunya: sembari tertawa si nona berkata: " Engko In, hebat itu tiga jurus ilmu silat Memotong otot dan memutuskan Nadi yang kauajari aku. Diwaktu aku masuk kedalam aku tidak menemukan perlawanan yang berarti. Adalah ketika aku lari keluar sambil menggendong ibu, aku mesti bekerja keras. Aku dikejar banyak orang, aku lari tak keruan jurusan, aku cuma mencari arah yang dirasai sepi. Tanpa aku merasa aku sampai di Bong san-
Keempat siluman tak mau berhenti mengejar aku. sulit aku menggunai pedang, terpaksa aku bertangan kosong. Mereka berempat aku sendirian, aku kena didesak. Aku pun capai. Akhirnya terpaksa aku menurunkan ibu, aku menghunus pedang, Baru setelah itu dapat aku memukul mundur empat musuh itu. siluman yang tertua terkena tusuk pedangku. setelah itu aku gendong ibu pula. Lantas aku dikejar Bin san Jie Tok. Tapi aku sempat menjauhkan diri, aku lari dengan Kioe Kiong Ceng Hoan Im yang Pou.
Baru setibanya di kuburan aku dapat bersembunyi. coba aku tidak menguatirkan ibu, tentu aku binasakan keempat si luman itu "
Sengit si nona ketika mengakhirkan penuturannya itu.

"Syukurlah denganpertolongan Thian kita semua selamat" berkata si anak muda, bersenyum. "Sudahlah, sekarang tak usah kita timbulkan pula urusan itu Aku sendiri jikalau aku tidak kembali ke In Bu san Chung dan mendengar perkataannya Jim Liong, tidak nanti aku dapat mencari kau ke gunung itu." Asyik mereka itu berbicara.

Di tengah jalan mereka saling berpapasan dengan orang-orang Rimba persilatan akan tetapi tidak ada yang menduga kereta empat keledai itu memuat diantaranya Koay Ciu sie-seng si Pelajar Tangan Aneh yang menggemparkan dunia Kang ouw dan Rimba persilatan yang menimbulkan peristiwa hebat di kota Thaygoan.

Banyak orang Rimba persi latan yang berlalu lintas untuk urusan pribadinya tapi ada juga yang menyelidiki s i pelajar hanya mereka itu tidak menyangkanya, sebaliknya ln Gak juga belum tahu hebatnya kegemparan itu, bagaimana orang mencarinya.

Di dalam kereta, ln Gak dan YaoBun banyak bicara. Mereka diliputi kegembiraan Nyonya Kouw lebih banyak beristirahat, karena itulah dibutuhkan untuknya, Di dalam hati ia girang sekali.
Demikian mereka membuat perjalanan sampai matahari mulai selam, sampailah mereka di kota Kayhong.

Thian Ma Piauw Kiok kesohor sekali, dengan gampang piauw-kiok itu dapat dicari. Kereta di arahkan langsung ke sana, ketika ln Gak menyingkap tenda kereta sinar matanya lantas bentrok dengan bendera besar dari piauw kiok yang bersulamkan empat ekor kuda
pilihan.
Ketika pegawai piauw kiok melihat datangnya kereta, dia lari menghampirkan untuk menanyakan maksud kedatangan orang.

In Gak memberi hormat sembari tertawa, ia kata: "Toako tolong sampaikan kepada Suma Loo piauwiauw, bilang bahwa seorang she Giam mohon bertemu dengannya."
Mendengar she itu s i pegawai mengimplang lantas dia tertawa dan kata: "Tuan-..bukankah kau adalah Giam siauwhiap yang membantu kami selama di Kho kee kauw?"

In Gak mengangguk. ia bersenyum. Begitu mendapat kepastian itu pegawai itu kaget dan girang berbareng, lantas seperti angin puyuh, dia lari ke dalam sambil berseru-seru. Maka sebentar saja terlihatlah Loopiauwsoe, Suma Tiong Beng bersama-sama Louw itsu dan lainnya piauw soe dengan tindakan lebar, menghampirkan kereta.
Suara nyaring dari tuan rumah juga terdengar: "Giam Lotee, Giam Laotee, bikin apa kau menanti kan saja di luar? silahkan masuk silahkan”Lantaslah mereka tiba di luar In Gak memberi hormat.
"Loopiauwsoe baik?" ia menanya, "Ciongwie loosoe, baik"
Habis saling memberi hormat, Loew Koen bertanya. "Giam si auwhiap mana..."
"Ada" In Gak jawab tertawa, ia tahu maksudnya piauwsoe ini, "lsteriku dan mertuaku masih ada di dalam kereta,.."

Belum berhenti suara anak muda ini, Yan Bun sudah turun dari kereta seraya memayang ibunya.
Suma Tiong Beng melihat nyonya itu tak dapat jalan benar ia segera perintahkan memanggil bujang-bujang perempuan untuk membantu.
Yan Bun dan ibunya bertemu sebentar dengan tuan rumah lantas di dalam mereka berkumpul bersama nona mantunya Tiong Beng. Tiong Beng sendiri dan lainnya menemani si anak muda di ruang depan.
Tuan rumah ini menanyakan hal kepergian si anak muda ke Lokyang dan kenapa mertuanya tak dapat jalan.
“Banyak untuk menutur itu” sahut si anak muda tertawa. “Karena kami bakal berdiam enam atau tujuh hari di sini, nanti saja kami menutur dengan perlahan-lahan”

Suma Tiong Beng mengangguk. Lalu mendadak ia menghela napas.
“Sepulangku ke Kayhong ini, kembali muncul peristiwa lain” katanya kemudian.
In Gak terkejut.
“Sebenarnya itulah Koay Ciu sieseng Jie In di Thaygoan”
“Dia toh tak ada hubungannya dengan loopiauwsu?” Tanya In Gak. “Mau apa orang menyatroni Thian Ma Piauwkiok?”

“Aku si orang she Louw juga mengatakan demikian!” Louw Kun menyelak, tertawa. “Sebenarnya urusan mengenai kejadian di Kho-kee-kauw itu Kiu cebo Lian Hoan mencurigai kamu suami isteri, dia menduga Giam siauwhiap ialah Jie In yang menyamar, hal itu dia memberitahukan Law Keng tek. Maka tadi malam Law Keng Tek mengutus Pek-lek-ciu Yo Pek datang kemari menanyakan tentang Siauwhiap berdua. Yo Pek itu jago Kwantiong selama beberapa puluh tahun, orangnya licik dan busuk, sepak terjangnya selamanya dalam rahasia, sebab dia bisa bekerja seorang diri. Dialah seorang berbahaya. Setahu bagaimana, Hui Thian Auwcu Law Keng Tek boleh mendapatkan dia sebagai tangan kanannya. Ketika dia datang, dia bertingkah jumawa. Loopiauwsu bilang bahwa Loopiauwsu tidak kenal siauwhiap berdua, bahwa kita baru saja bertemu satu dengan lain. Kita cuma dapat menerangkan siauwhiap pergi ke Lokyang. Lantas Yo Pek menjadi gusar, lantas dia mengancam, katanya, tidak apa kalau Loopiauwsu tidak mau memberitahu hal dimana adanya siauwhiap berdua, tapi hati-hatilah akan loopiauwsu celaka tubuhnya, rusak namanya! Karena itu kemarin hamper terjadi bentrokan. Ketika dia pergi dia meninggalkan tanda mata yang menakuti orang. Coba siauwhiap lihat…!”
Louw Kun menunjuk ke pintu dimana terdapat tapak tangan.

In Gak mendekati, untuk memeriksa. Tapak jari itu jelas sekali. Teranglah Yo Pek mahir tenaga dalamnya. Tapi ia tertawa dan kata: “Jikalau dia datang pula, serahkkan dia padaku. Cuma aku menyesal karenanya piauwkiok menjadi banyak pusing…”
Suma Tiong Beng mengurut kumisnya dan tertawa besar.
“Untuk kita kaum rimba persilatan, itulah hal biasa!” katanya, gembira. “Itulah urusan kecil. Aku minta siauwhiap tak usah memperdulikannya. Biarnya kau tidak datang hari ini, laotee, aku tidak takut. Siapa dia dapat gertak?”

18. Jilid 9.2 : Tabib muda yang liehay dan sakti

Bacaan » PEMBALASAN SEORANG JAGOAN » Jilid 9.2 : Tabib muda yang liehay dan sakti
Anggota masrizki
Waktu 10 September
Bab Sebelum 17. Jilid 9.1 : Ibunda Yan Bun tertolong
Bab Sesudah 20. Jilid 10.1 : Kay pang dipecah belah penguasa




Pembalasan Seorang Jagoan
Karya: Wu Lin Qiao Zi
Saduran : OKT
Jilid 9.2 : Tabib muda yang liehay dan sakti

In Gak tertawa, ia terus mengawasi semua piauwsu.
"Apakah keempat saudara yang itu hari dipagut ular sudah sembuh?" ia tanya. Kenapa aku tidak melihat mereka?" Ditanya begitu, Tiong Beng terlihat berduka.
"Mereka itu telah terlalu banyak mengeluarkan darah, mereka masih lemah, maka itu mereka masih rebah di pembaringan," ia menjawab. “Tidak dapat mereka sembuh seperti biasa dalam waktu pendek. Aku merasa, ilmu silat mereka juga bakal dapat gangguan, tentang anakku. dia terluka didalam, dia muntahkan terlalu banyak darah. Aku telah mengundang semua tabib pandai dikota ini tetapi mereka putus daya.”
"Aku lihat tak lama lagi dia.." Menggetar suaranya jago tua ini ia mau bilang tak lama lagi anaknya itu tentu akan berpulang kelain dunia...

In Gak dapat menduga kekuatirannya piauwsu itu, ia tertawa.
"Loo-piauwtauw haraplah kau ingat itu pepatah yang membilang obat menyembuhkan penyakit yang tidak membawa kematian dan sang Buddha menolong orang yang berjodoh" ia kata, “Lopiauw sujujur dan berhati baik, mana dapat loopiauwsu berperuntungan malang? sukakah loopiauwsu mengijinkanku melihat puteramu itu untuk aku mencoba menolongnya?".
Suma Tiong Beng girang mendengar tawaran itu
"Suka, suka" katanya, iapun berbareng heran sianak muda mengerti ilmu obat obatan.

In Gak mengulur tangannya mengambil cawan teh, ia genggam itu. hingga terdengar suara remasan, hingga cawan menjadi hancur remuk. selagi si piauwsu tua heran, mendadak ia bersenyum tangannya diulapkan keatas shiaoche, menyusul mana terdengar suara jeritan hebat, yang disusul pula dengan suara barang berat jatuh digenteng, yang pada pecah lalu tertampak bergelindingan jatuhnya empat tubuh manusia.

Sekalian piauwsu terperanjat. Hanya sejenak semua lantas berlompat, guna membekuk empat orang itu, yang terus digusur kedalam ruang.
Melihat mukanya keempat orang itu, semua hadirin heran. Muka itu seperti tertancap penuh pecahan beling cawan teh tadi, hingga darahnya sukar mengucur keluar. Muka orang tampak menjadi jelek sekait, Tentu sekali mereka tersiksa sangat rasa nyerinya.

In Gak memandang bengis pada keempat orang itu, ia kata: "Kamu harus sesalkan diri kamu sendiri, kenapa kamu berani main gila terhadap tuan muda kamu? Tapi aku tidak mau mengganggu lebih jauh kepada kamu, pergilah kamu pulang. Kamu bilangi Pek-lek-ciu Yo Pek supaya dia datang menemui aku. Pergilah!"
Usiran itu dibarengi dengan tangan menunjuk.
Keempat orang itu takut, tanpa membilang apa-apa mereka berlalu dengan cepat. Mereka memang orarg orangnya Law Keng Tek yang ditaruh dibawahannya Yo Pek.
Law Keng Tek ialah seorang lihay, gagah dan cerdik, Maka juga namanya terkenal dan di mulai dalam kalangannya, terutama di wilayah Hoo-lok dimana dia menjadi kepala selama tiga puluh tahun.

Ayahnya In Gak, Twie Hun-Poan Cia Bun, pun roboh ditangan dia. Karena itu dia telah didatangi Ie Kay Goan, yang meminta pikiran dan bantuannya.
Kapan Keng Tek telah mendengar segala penjelasan Kay Goan, dia tertawa dan kata: "Saudara Ie, kau tidak keliru, Memang mesti ke dua anak muda itu ada hubungannya dengan Koay Ciu sie seng Jie In, Kemarin inipun aku telah mengirim duabelas orangku ke Lokyang guna membuat penyelidikan, asal dua pemuda itu masih ada di dalam kota itu, dalam satu hari ini pastilah aku bakal dapat kabar baik."

Keng Tek bekerja, ia lantas kirim pesuruh untuk lekas pergi ke Lokyang, guna menemui duabelas orangnya itu, guna memberikan mereka lukisan romannya si dua anak muda, untuk mempermudah penyelidikan mereka itu.
Besoknya Keng Tek menerima laporan tentang musnanya sebagian dari In Bu san-chung, bahwa menggunai saat celaka itu, Liongsee sam Niauw sudah melakukan perampokan, Laporan terakhir ialah tentang kedua anak muda belum ada kabar ceritanya.

Warta ini membikin kaget pada Hui Thian Auw-Cu, si Elang Menerbangkan Langit, Bukankah Jim Cit Kouw lihay sekali? ia tidak menyaksikan jalannya pertempuran tetapi ia biasa membayangi bencananya si nyonya she Jim, maka ia menjadi berduka sekali.
"Loo-tongkee," berkata Yo Pek. yang gusar sekali, "menurut aku mestinya Jim Cit Kouw terbokong. Tidak demikian, tidak nanti anak muda itu berhasil mengalahkannya. Menurut saudara Ie kedua pemuda itu kenal Suma Tiong Beng, maka itu baiklah kita bekerja mulai dari Thian Ma Piauw Kiok. Aku bodoh tetapi suka aku menerima tugas, nanti aku pergi bersama sejumlah saudara. Aku percaya, tidak sampai lewat tujuh hari, aku akan sudah memperoleh keterangan jelas."

Law Keng Tek berpikir, ia berkata: "Pikiranmu baik, tetapi ingat kecuali sudah sangat terpaksa, jangan kau bentrok dengan Suma Tiong Beng Begitu kau dapatkan warta yang boleh dipercaya, begitu kau mengirim kabar padaku."
"Baiklah" Yo Pek tertawa. "Aku percaya aku mempunyai cukup kesabaran Pun-lui Kiam kek namanya saja besar, tak nanti aku sembarang melayani dia maka baiklah loo-tong-kee jangan buat kuatir"
Begitu Yo Pek berangkat dengan belasan orang pilihan. Begitu tiba di Pian-keng, atau kota Kayhong, langsung ia menuju ke Thian Ma Piauw Kiok. mencari Suma Tiong Beng,
menanya melit tentang si kedua anak muda, ia bicara secara jumawa sekali, hingga pihak tuan rumah jadi sangat mendongkol.

Melulu karena menahan sabar, Tiong Beng bisa menghindarkan pertempuran- Yo Pek pun mendongkol maka juga ketika ia meninggalkan tapak tangannya itulah pukulan tapak Kim-kong-Ciu. iapun tidak berlalu dengan begitu saja, ia meninggalkan beberapa orangnya untuk terus mengawasi orang orang yang keluar masuk dipiauwkiok itu, supaya setibanya kedua anak muda, dia segera diberi kabar.

Demikian sudah terjadi, ketika I n Gak tiba bersama Yan Bun dan Nyonya Kouw, orang-orangnya Yo Pek naik kegenting untuk mengintai.
Celaka untuk mereka itu, In Gak waspada. Begitu mendengar keterangan tuan rumah tentang aksi Yo Pek. si anak muda lantas bercuriga dan memasang mata, selagi lain orang tidak tahu apa-apa, ia mendengar sedikit suara berkeresek serta lantas melihat empat pasang mata bersinar maka diam-diam ia menggenggam remuk cawan arak dan menimpuk merobohkan keempat pengintai itu.

Perbuatan ln Gak ini membikin kagum orang Thian Ma Piauw Kiok. Suma TiongBeng menatap si anak muda dengan hatinya berpikir "Heran anak muda ini. Dia tampan dan lemah agaknya, siapa nyana dia begitu liehay, Dia sangat mirip dengan Cia Bun sahabat kekalku ituI Teranglah dia jauh terlebih liehay daripada Cia Bun"
Sekarang ada banyak anak muda yang gagah tetapi aku rasa taklah ada yang dapat menyaingi dia ini. Entah dari mana ia memperoleh kepandaiannya.”
Ia cuma menduga duga, tidak berani ia menanyakannya. sebaliknya, ia menitahkan lekas
menyiapkan barang hidangan guna menjamu tetamunya ini.

Sebentar kemudian ramailah ruang besar itu, terang apinya. suara tertawa sampai memenuhi ruang.
Yan Bun hadir bersama- sama nyonya muda, nona mantunya Tiong Beng.
In Gak menduga kepada menantu tuan rumah ketika ia melihat munculnya Yan Bun bersama si nyonya muda, maka itu ia berbangkit untuk memberi hormat, sedang Tiong Beng lantas memperkenalkan sembari tertawa katanya: "Laotee, inilah menantuku, Couw Beng Kie."
Nyonya itu sudah berumur tiga puluh tahun, pakaiannya sederhana, ia tak memakai pupur atau yancie, toh ia tampak masih cantik. Cuma walaupun ia bersenyum, ia nampak berduka. itulah bisa dimengerti. Tentu ia menduka kan suaminya yang lagi sakit berat itu.

Melihat nyonya ini, ln Gak ingat suami orang, maka ia tertawa dan kata pada Suma Cong Beng: "Selama ditengah jalan aku sudah dahar, sekarang aku masih kenyang, maka itu marilah kita melihat siauw-piauwtauw dulu begitupun keempat piauw su lainnya, habis itu baru kita bersantap."
Tiong Beng tidak mau memaksa, ia mengiringi kehendak itu, Didalam hati, ia bahkan girang sekali.
Tepat selagi orang mau pergi kedalam seorang pegawai lari masuk dengan wartanya tentang datangnya tetamu, yaitu Pek-lek Ciu Yo Pek toogkee nomor dua dari Him Jie san.

In Gak biasa bersenyum, tetapi segera wajahnya menjadi guram. Teranglah ia sangat gusar karena ia mengingat kecongkakan Pek-lek Ciu, si Guntur itu.
Tiong Beng lekas pergi keluar menyambut tetamunya, Ia tidak mau alpa sebagai tuan rumah yang kenal adat istiadat sopan santun-
In Gak tidak turut keluar, ia bersama Yan Bun tetap menemani nyonya muda, Mereka memegang omong.
Tidak lama terdengarlah banyak tindakan kaki mendatangi, lalu nampak masuknya beberapa orang, diantaranya Tiong Beng jalan di depan dengan tindakan berat, diturut oleh seorang mata besar dan berewokan, yang romannya bengis, begitupun beberapa orang lain, Tidak salah lagi orang itu ialah Yo Pek. "Lote, "kata Tiong Beng tertawa, "inilah..."

In Gak mengulapkan tangan-
"Tak usah disebutkan lagi, aku sudah tahu" katanya, memotong, Tapi ia tertawa, Lantas ia awasi Yo Pek. matanya bengis. iapun kata keras "Yo Pek kau mencari aku, kau mau apa?"
Mau atau tidak. Pek-lek-ciu terkejut juga. itulah teguran terlalu mendadak untuknya. Maka ia melengak mengawasi anak muda itu, ia paksakan diri untuk tertawa ketika ia berkata: "Giam siauwhiap, cara begini kau perlakukan akusitua kau kurang hormati ..." ia berlaku tenang tetapi wajahnya muram.
"Terhadap orang semacam kau apa masih di butuhkan adat sopan-santun?" tanya In Gak tertawa tawar "jikalau kau ada bicara, lekas bicara.Jikalau tidak. lekas kau pergi"

Bukan main gusarnya Yo Pek. ialah seorang jago Rimba Hijau yang biasa memandang enteng kaum Rimba persilatan tapi sekarang ia ketemu batunya. Beberapa kawannya juga
menjadi tidak senang.
Suasana buruk itu membikin tegang hatinya sekalian orang piauwkiok.
Suma Tiong Beng kata dalam hatinya: "Dasar anak muda, dialah si anak kerbau yang takut harimau. Aku mesti malu sebab aku yang telah memperoleh nama. aku masih mundur-muju. Benar benar bedalah orang muda"

Pek- Iek ciu gusar bukan kepalang, matanya memperlihatkan sinar pembunuhan- Tapi ia tertawa lebar.
"Selama tigapuluh tahun, belum pernah aku melihat orang yang berani berlaku kurang ajar begini di depanku...." katanya.
"Bukankah sekarang kau melihatnya?" In Gak memotong, "HHm sekarang lekas kau menyebutkan maksud kedatanganmu. Tuan mudamu muak melihat tingkah polamu ini" "Bocah, kau terlalu galak" Yo Pek membentak
Habis sabar dia. "Kau tidak tahu bahwa orang hendak membekukmu sebelum itu, tak puas mereka. Datangku kemari ialah untuk membekuk padamu"

In Gak tertawa besar.
"Loopiauwtauw dengar atau tidak?" dia tanya Tiong Beng, "Lihatlah, sekarang ini tubuh ku menjadi naik harga sekali" Tiong Beng kuatirkan suasana bertambah buruk,
"Yo Tongkee, mungkin ada jadi salah mengerti" ia datang sama tengah, "ini saudaraku yang muda jarang sekali muncul dalam kalangan Kang ouw, cara bagaimana dia mendapat salah dari golonganmu? Taruh kata benar aku rasa, tak usahlah sampai kau yang turun tangan-"

Mukanya Yo Pek menjadi merah, walaupun dia bandit besar dia toh menginsafi kesembronoannya, Lantas dia tertawa kepada tuan rumah.
Dia kata sabar: "saudara Suma, bocah ini baru dikenal olehnya, kau tidak ketahui keadaannya yang sebenarnya. Dialah Koay Ciu sie seng Jie In yang telah mengacau dikota Thaygoan"
Mendengar keterangan ini, semua mata lantas menuju si anak muda. In Gak berlaku sabar dan tenang.
"Bangsat tua, matamu kabur" ia kata, tertawa tawar, "Kau cuma melihat separuh saja Koay Ciu sie seng yang kau sebutkan itu ialah pamanku. Kalau aku benar Koay Ciu sie seng, kau benar bernyali besar berani menemukan aku. Dapatkah kau menenangkan Pok Hong dari Ceng liong Pay? Biar bagaimana orang sebangsa kau, bangsa maling tikus danpencuri anjing.... kau tidak sepadan menemui pamanku Koay Ciu sie seng Tapi kau sudah datang, baik aku beritahu padamu, jikalau kau ketemu dengan pamanku itu pasti kau lantas mati, tak ampun lagi"

Yo Pek mengawasi tajam dan bengis.
"Aku si tua tidak percaya Koay Cie sie seng demikian liehay" ia kata keras, "Kau sendiri yang membilang kaulah keponakannya Keay Ciu sie seng, baiklah, baik aku mulai dari dirimu saja" ia lantas meluncurkan tangan kanannya, dengan lima jeriji tangannya ia menjambak ke dada si anak muda. Tapi belum lagi ia dapat menjambak. mendadak ia mundur tiga tindak. mulutnya memperdengarkan suara kaget tertahan-

In Gak sendiri berdiri tak bergeming Adalah Yan Bun, yang berada disampingnya yang
mendahului ia turun tangan, Nona ini sebal sangat melihat lagak tengik dari Pek Lek Ciu, maka itu ia meluncurkan tangannya dengan jurus Tio Liong Cie ajaran engko In-nya itu, suatu jurus dari "Memutuskan otot, Mematahkan Nadi."
Yo Pek kaget sekali, ia telah mundur dengan cepat, ia sudah menarik pulang tangannya, toh ia merasakan sakit sekali pada jalan darah kek kie disikut kanannya yang terlanggar jari tangan si nona, Mulanya ia tidak tahu siapa yang menyerangnya, sampai sambil mundur ia melihat Yan Bun. Maka ia lantas memandang dengan bengis.
"Dengan kepandaian begini saja kau berani main gila di depan orang banyak, sungguh tak tahu malu" katanya mengejek. memandang tajam.

Untuk sejenak Yo Pek menyesal sekali atas kedatangannya ini secara sembrono sekarang sudah terlanjur, tidak dapat ia mundur tanpa melakukan sesuatu, maka dengan gusar ia kata.
"Baik, baik. Kau anggaplah aku si orang tua tidak tahu diri. Tapi aku si orang tua ingin melihat berapa liehay kepandaianmu "
Kata-katanya dibarengi majunya tubuhnya yang sangat pesat, sampai tak terlibat bagaimana ia menjejak tanah. Tahu-tahu ia sudah sampai di depan si nona dan kedua tangannya meluncur kedua pundak nona itu. Kedua tangan itu menyamberkan juga angin yang keras.

Itulah dia Pek lek ciu. Tangan Guntur yang menjadi julukan Yo Pek. yang membuatnya mendapat nama untuk Gwa Kee, kaum "Luar" itulah kepandaian mahir yang telah mencapai puncaknya, pukulan itu didahului anginnya.
Yan Bun melihat orang menyerang, ia pun tahu, kalau ia sampai kena dihajar, celakalah ia maka ia tidak mau berdiam saja. ini pula ketikanya untuk menguji lebih jauh kepandaian yang ia dapat dari In Gak.

Ketika kedua tangan musuh hampir mengenai pundaknya, mendadak ia mendak. kedua kakinya bergerak hampir saling susul dari melejit kesamping ia meloncat ke belakang orang
Suma Tiong Beng kagum bukan main, ia melihat bagaimana nona itu bergerak, ia bersorak didalam hatinya.

Yo Pek pun kaget mendapatkan serangannya gagal, ia mengerti ancaman bahaya maka itu tanpa menarik pulang lagi, tangannya diteruskan diayun ke bela kang, tubuhnya turut bergerak untuk mengimbangi iapun berseru tajam mengerahkan tenaganya.
Yan Bun tiba di belakang lawan, ia raaa musuh membela diri dengan menyerang, ia tidak mau menyambuti keras dengan keras, maka ia menjejak tanah, untuk lompat mundur dua tindak dimana ia berdiri diam sambil tertawa perlahan- "Haaha"

Panas hati Yo Pek. maka dia bergerak pula untuk menyerang lagi. ia juga mengasi dengar tertawa yang tak sedap. Hanya mendadak seketika itu ia merasa sakit pada kedua pundaknya, yang seperti kena digaet-gaetan baja.
Terus ia merasa tubuhnya kaku, hingga habislah tenaganya justru itu, tubuhnya juga terasa terdupak, hingga tahu-tahu ia sudah terpental keluar ruang, terbanting roboh di lantai thianche dimana ada sumur batu. sampai sekian lama barulah ia dapat merayap bangun-

Suma Tiong Beng mementang mulutnya. Dia heran dan sampai tak dapat mengatakan suatu
apa.
Seumurnya belum pernah ia menyaksikan ilmu silat demikian liehay, yang membikin Yo Pek yang kesohor kecewa, ia cuma tahu, serangan yang dilaksakan itu ialah serangannya In Gak atau lebih benar Giam Gak, untuk mencegah Nona Yan Bun menjadi kurbannya si Tangan Guntur yang terlepas itu,
Ketika Yo Pek akhirnya dapat bangun berdiri dia menyeringai "Beginikah aku si tua dibokong" dia kata sengit, saking penasaran. "Adakah ini perbuatan satu enghiong?" Dia berkata terhadap In Gak.

Untuk sejenak alisnya si anak muda bangun berdiri, tetapi akhirnya ia tertawa.
"Baiklah, aku akan membikin kau puas bilangnya. "Hanya jangan kita mengacau didalam piauwkiok. Mari kita pergi ke tegalan sana"
Kata-kata ini ditutup sama lompatnya, tahu-tahu si anak muda sudah berada di atas- genting dari mana dengan sama cepatnya ia menghilang.
Yo Pek tertawa meringis. Tahulah ia bahwa ia lagi menghadapi bencana. inilah ia tidak sangka sekali, sudah terlanjur ia tidak bisa berlompat naik, guna pergi keluar ia tahu betul, lagi dua puluh tahun ia berlatih, tak nanti ia mencapai kemahirannya si anak muda.

Yang lain-lainnya turut lompat keluar hingga disitu tinggal Yan Bun bersama Beng Kie, nona mantunya Suma Tiong Beng.
Tatkala Yo Pek tiba diluar, In Gak sudah berdiri di hadapannya. ia penasaran, ia lari sekuat-kuatnya untuk menyusul. Maka dilain saat tibalah mereka dikota selatan, di tempat yang bertandakan banyak kuburannya.
Di sana si anak muda berdiri menunggu dengan airmukanya berseri-seri sedang diatas mereka, dilangit, rembulan sisir menerangi dengan cahayanya serta bintang bintang berkelak-kelik.
Angin meniupkan hawa yang dingin.

"Yo Pek." berkata si anak muda, menyambut tibanya orang, "kau sekarang bekerja untuk lain orang, aku anggap perbuatanmu sangat tidak cerdik. Tidak perduli aku benar Koay Ciu sie-seng atau orang yang ada hubungannya dengannya, toh kita berdua tidak ada sangkut-pautnya. Maka menurut aku, baiklah kita sudahi saja, kau lantas pulang ke Him Jie san, dimana tolong kau sampaikan pesanku kepada Hui Thian Auw cu Law Keng Tek bahwa sekarang ini dunia Rimba Persilatan bakaljadi kacau balau, bahwa dia tak dapat mencampurinya, karenanya baiklah dia berdiam dirumah dengan damai dan tenang untuk dia menjaga diri sendiri baik baik. Tidakkah itu bagus?"

Hati Yo Pek bergerak, itulah nasehat benar. Memang benar, Memang bukankah benar ia dan Koay Ciu sieseng tidak ada hubungannya apa-apa? Bukankah benar Koay Cio sie seng sangat kesohor lihay dan belum pernah terdengar terkalahkan siapa juga? Bukankah benar juga si anak muda turun tangan secara aneh, hingga ia roboh tanpa merasa?
Dia mengaku menjadi keponakannya Koay Ciu sie seng. mungkio dia benar, pikirnya lebih jauh. Dia begini muda, dia begini liehay juga- belum pernah aku menemui pemuda lain selihay dia. Hanya, sejak aku mengangkat nama, siapakah pernah sanggup melayani aku? Cuma ketika pertama kali aku bertemu Hui Thian Auw Cu sesudah tiga jam. baru aku kena dikalahkan, hingga aku kalah dengan puas. Dia ini liehay. baik aku lawan dia dengan kecerdikan, cukup asal aku tidak kena dikalahkan..." oleh karena ini, ia bersenyum ewah.

"Sahabat, tajam lidahmu" katanya. "Dengan kata saja mana dapat kau membikin aku si orang tua mengangkat kaki? Tak sedemikian mudah sedikitnya aku harus belajar kenal dulu denganmu. Apakah kau telah tau bahwa aku sebenarnya tak berkuasa sendiri?"
In Gak menjadi tidak puas.
" Heran" katanya, " Kau tak berkuasa sendiri, Habis siapakah yang berkuasa? Kalau begitu, mengapa kau membabi buta?"

Pek Lek Ciu tertawa.
"Sahabat, kau berlagak saja hilangnya paman mu yang bernama Jie In itu tempatnya Poo Tan, siansu telah mencuri kitab Pou Tee Cin Keng itulah kitab yang tak ada orang yang tak menghendakinya. Kau tahu, sancu kami pernah bersama-sama ketua Khong Tong untuk pergi ke Ciu Auw Hong untuk mengambilnya, apa mau mereka telah didahului oleh pamanmu itu itulah kitab luar biasa, mana dapat pamanmu membawa sendiri. Maka itulah yang membikin sekarang aku tidak berkuasa lagi."

In Gak heran, "Dari mana teruwarnya kabar itu? Apakah Thian Gwa sam Cun-Cia masih belum mati?" ia lantas berpura pilon.
" Heran- dari mana kau tangkap kabar angin demikian itu?" ia kata tertawa, " KaLau benar kejadian itu, siapakah yang pernah menyaksikan dengan matanya sendiri?"
Ketika itu orang orang piauwkiok serta orang-orangnya Yo Pek tiba saling susul, mereka lantas berkumpul.
Yo Pek berseru ketika ia berkata pula: " Kata- katanya Thian Gwa Sam Ciu-cia toh bukan kedustaan belaka?"

In Gak heran tetapi ia mengerti sekarang, Rupanya ketiga pendeta murtad itu tidak mati.
"Sudahlah, tak usah kau ngaco belo lebih lama." ia kata "orang macam kau orang macam apa? orang macam kau mana surup memiliki Poa Tee Cin Keng? Bukankah kau mengharap yang tidak tidak?"
Yo Pek gusar sekali. ia dihina didepan banyak orang. ia berjingkrak.
"Binatang" seraya tangannya diluncurkan, itulah pukulan gunturnya, kearah dada si anak muda. Anginnya itu menyambar sangat cepat dan keras.

Biarnya begitu, Pek Lek ciu mengganti tenaganya lima bagian, ia tahu lawan liehay sekali, ia ingin berjaga untuk menarik pulang tangannya apabila ia memerlukan itu, ia hanya heran, selagi ia menyerang itu, lawannya diam saja, menangkis atau mengegos tubuh, untuk menghindarinya.
"Kau terlalu besar kepala" pikirnya." jikalau aku kerahkan semua tenagaku, batu pun hancur, dan tubuhmu biarpun tubuhmu tubuh besi, tak nanti kau sanggup bertahan" Maka ia berseru: "Awas" itu artinya ia mengerahkan tenaga sepenuhnya. Hebatnya pukulan Guntur ini yalah kedua tangan menghajar berbareng.

Disaat Yo Pek merasa serangannya akan mengenai sasarannya, tubuh lawan lenyap dengan tiba-tiba sebaliknya di belakang kepalanya terasa angin menyamber, mengenai jalan darah bong-hu, yang menjadi seperti beku.
Tentu sekali ia menjadi kaget, cepat ia tunduk dan tangannya di sampokkan kebelakang, berbareng dengan mana, tubuhnya berputar. ia tidak melihat lawannya itu.
Kembali terasa angin menyamber kebelakang kepala. Kembali ia kaget, sebab berbareng dengan itu, ia merasakanjalan darahnya jalan darah hot twie kena tertowel, disusul dengan ditowelnya jaian darah Ce tiong ia merasakan juga sambaran angin dingin, sendirinya ia menggigil, bulu roma bangun berdiri.

ln Gak hendak membikin runtuh pamor, ia mempermainkannya. Kalau ia menggunai jurus-jurus dari Hian Wan sip-pat Kay, pastilah orang akan roboh dan musnah ilmu kepandaiannya, Dimana urusan mengenai Thian Ma Piauw Kiok. ia hendak bertindak berhati hati. Maka ia melainkan memperlihatkan kegesitannya.
Yo Pek gentar hati tetapi terus ia membuat perlawanan- Ia hendak melindungi dirinya. Dengan menyerang dengan tangan kiri tubuhnya ikut berputar. Dengan tangan kanannya, menjaga diri dari serangan dibawah, Penjagaannya ini ialah jurus "Macan tutul Kuning Mengeluarkan Kuku," sedang kedua kakinya mengimbangi gerakan tubuhnya,

Tiga kali jago Him Jie san ini berputar cepat, selama itu tidak pernah ia melihat tubuh si anak muda bagaikan bayangan, anak muda itu berputar juga, tubuhnya terus berada dibelakang orang, hingga leluasalah dia mengancam jalan darah sam Ciauw, sin-kwee, sim Jie dan lengtay di punggung.

Cuma anehnya. setiap totokan berupa hanya towelan, kenanya perlahan, melainkan beku sedikit. Teranglah orang berniat mencelakainya. Hebatnya untuknya karena ia terus berputaran, kepalanya menjadi pusing, penglihatannya menjadi berbayang.
Akhirnya, dengan hati dingin, ia berhenti berputaran.

Melihat orang berhenti, I n Gak pun berhenti dengan tindakannya Hian Thian Cit seng Pou. ia berdiri sembari mengawasi dengan bersenyum. Yo Pek mengawasi juga, hatinya berdebaran-
Pemuda itu tenang tenang saja, ujung bajunya memain diantara sampokan angin dingin, ia mengawasi tidak lama, lantas ia menangkap kedua tanganaya memberi hormat.
"Sahabat, kau benar lihay,..." katanya. Mendadak ia berhenti setengah jalan, sedang sinar matanya guram. Dia lantas menggapai kepada kawan kawannya, kedua tangannya dibuka, tubuhnya mencelat ke kiri di mana ada banyak pohon rotan- maka sekejap saja, lenyaplah dia, lenyap diikuti kawan kawannya.

"Inilah berarti urusan selesai tetapi belum beres" kata In Gak pada tuan rumahnya, Tapi ia berkata sambil tertawa, menyatakan ketabahaannya. "Dunia Rimba persilatan terancam bahaya besar, Tapi tak ingin aku peristiwa terjadi lantas maka itu hendak aku mencari pamanku, Jie In, untuk dapat menghilangkan ancaman itu. Aku akan pergi selang tiga hari." Tiong Beng tertawa.
"Aku kira Laotee, tak usahlah kau terlalu repot" ia berkata. "Aku tahu pamanmu itu liehay maka aku percaya juga ia pasti telah siap sedia menghadapi segala apa. Untukku aku cuma mengharapi penghidupan yang tenang, sekarang sudah malam, anginpun dingin, mari kita pulang ke kantorku."

In Gak mengangguk. Maka berjalanlah mereka pulang kepiauwkiok, Ketika mereka sampai, terlihat disana Couw Beng Kie dan Yan Bun tengah menemui seorang tua yang kumisnya putih semua dan bajunya kuning semua."
"Apakah aku berhadapan dengan Gan siauwbiap? orang tua itu menanya. ia berbangkit menyambut begitu lekas melihat masuknya In Gak beramai iapun lantas merogo sakunya dan mengeluarkan sepucuk surat, diserahkan kepada anak muda itu.

"Itulah aku yang rendah." menjawab in Gak manis, "Aku mohon tanya she dan nama loo-sianseng serta bagaimana aku harus memanggilnya?" ia menyambuti surat itu seraya menatap si orang tua, yang alisnya panjang sampai dipipi, mulutnya lebar, giginya rata, sedang matanya tajam dan berpengaruh. Dia bertubuh jangkung dan tegar. Kedua tangannya yang putih, memelihara kuku-kuku panjang dua dim. si orang tua mau menjawab tetapi Yan Bun mendahului memperkenalkannya: "Loocianpwee ini yalah Yan In Tay-hiap Tiat Cie sin Wan Pek le."
-00000000-

SUMA TIONG BENG juga tidak kenali si orang tua, mendengar disebutnya nama itu, ia terperanjat dan kata:
“Jadinya saudara Pek ialah tayhiap yang dulu hari di puncak Cian Hud Teng di Cee lam telah menghajar limabelas penjahat besar sungguh girang, sungguh girang aku dengan penemuan ini"
Habis itu, jago tua itu diajar kenal dengan semua piawsu.

In Gak memeriksa surat. ia mengenali tanda dari Chong sie, maka ia pergi ke samping untuk segera membuka dan membacanya. Kiu Cie sin Kay menulis:
"Hiantee yth, semenjak kita berpisah dikuil Chin tu bersama adik Siauw aku berangkat terus pulang ke Utara, Di tengah jalan kami menemui rintangan tetapi syukur dapat di hindarkan dengan tempo kami tak terhalang. Demikian kami tiba dengan selamat di Ciang peng. Kami sampai setengah hari lebih dulu daripada Kiong Bun siang Kiat.
Kwee Poo Cu juga sudah sampai dikota raja, Dengan berkah perlindungan Kee Cin Ong, Kiong- Bun siang Kiat tidak berani mengganggu dengan mengandal pengaruh kepangkatan, Mereka sekarang tidak mau memperlihatkan diri, merekah selalu bekerja dibelakang layar.
Diam-diam mereka bersekongkol sama penjahat-penjahat besar dari lima propinsi Utara untuk mengganggu keluarga Hu di Ciang-peng, keluarga Co di ChongCu serta partaiku. syukur aku dapat melihat gelagat, maka kedua keluarga itu telah aku singkirkan kelain tempat, hingga dua kali penjahat menyerbu tempat kosong. Perkara darah dirumah Lie siang-sie di Thaygoan sudah ditutup,
Sekarang Kiong- Bun siang Kiat lagi mengarah kitab Pou - Tee - Cin - Keng, kitab mana sudah menarik perhatian umum, hingga bukan melainkan orang Kang ouw yang kebanyakan juga sekawan hantu yang berdiam d igunung- gunung turut repot turun gunung menceburkan diri dalam pusar air.... Maka itu, hiantee, untukmu ada ancaman bahaya d iempat penjuru, Aku tahu kau dapat melayani mereka tetapi baiklah kau waspada. Menurut aku, hiantee, untuk selanjutnya baiklah kau merantau seorang diri saja.
Kebetulan Tiat Cie sian Wan Pek Tay-hiap ada urusan di Hoo-lok. maka aku kirim surat int dengan perantaraannya. D^ samping utu, Pek Tayhiap hendak menuturkan kau sesuatu yang mengenai ayahmu almarhum. ia akan menuturkannya sendiri kepada hiantee."

Habis membaca, In Gak sesapkan surat itu ke dalam sakunya, Ketika itu, Pek le-pun meng hampirkan ia untuk membisikinya: "Lewat tiga hari aku menemui siauwhiap di Liongteng, di sana aku ingin bicara sendiri denganmu-" Habis beikata, ia memberi hormat seraya berkata: "Sampai bertemu pula" lantas ia, berlompat ke atas genting dimana ia menghilang di belakang wuwungan.

Orang heran, tetapi sembari tertawa in Gak kata pada tuan rumah: "Pek Tayhiap itu satu sahabat sejati, entah dari mana dia ketahui aku berada disini, barusan aku lupa menanyakannya..." ia berhenti sejenak. ia tertawa pula dan berkata lagi: "Barusan karena urusan Yo Pek kita sampai melupakan urusan siauwpiauwsu maka itu, loopiauwsu, mari sekarang kita melihatnya."

Mendengar itu, Beng Kie lantas mendahului bertindak kedalam, ia menarik tangan Yan Bun untuk jalan bersama.
Suma Tiong Beng kata sembari tertawa: " Jikalau anakku sembuh ditangan kau, siauwhiap kaulah tuan penolong kami yang menghidupkan pula anakku itu..."
Tiong Beng cuma mempunyai itu satu anak dan nona mantunyapun belum memperoleh turunan maka itu sangat berduka yang anaknya terluka parah.
"Orang baik dipayungi Thian” kata in Gak bersenyum, "Aku percaya menantumu juga akan memperoleh turunan, hingga lain tahun loopiauwsu bakal mengempo cucu laki laki"
Senang jago tua itu, ia tertawa.

Segera mereka sampai didalam kamar dimana lantas tersiar bau obat-obatan, ketika dapat mencium bau itu, yang ia kenali bangsa jinsom, In Gak menghela napas seraya menggeleng geleng kepala dan berkata: "Tabib dogol dapat mencelakai orang..."
Beng Kie dan Yan Bun sudah menantikan di sisi pembaringan, ketika si nyonya muda mendengar perkataan in Gak. la lantas menanyai "sauwhiap. dapatkah kau menolong suamiku?"
"Sabar, enso," kata In Gak bersenyum, "Aku si tabib masih belum memeriksanya..."
Mukanya Beng Kie merah, dia jengah.

Yan Bun berkata kepada si anak muda: "Habis apa perlunya kau ngoceh tidak keruan? suami orang sakit, bagaimana dia tidak berduka dan berkuatir?"
Tiong Beng menganggapnya jenaka, ia tertawa.
In Gak bertindak ke depan pembaringan ia menyingkap klambu, maka ia melihat si piauwsu muda rebah dengan kepala madap keluar, mukanya perok dan pucat, rambutnya kusut. Mengetahui ada orang datang, dengan susah ia membuka matanya dan mengangguk lantas ia meram pula, Benar-benar ia telah sakit parah, sudah lama dan tak dapat obat yang tepat.
Beng Kie lantas mengucurkan airmata.

In Gak duduk disamping pembaringan ia menarik tangannya si piauwsu muda, guna meraba nadinya.
Tiong Beng berdiri disamping In Gak. la berbisik, "Ketika anakku ini dilahirkan, tukang tenung bilang ia tidak bakal berumur panjang maka itu ia diberi nama Tiang siu..."
Orang tua ini nampak sangat bersusah hati,
"Segala tukang tenung tak dapat sembarang dipercayai kata In Gak tertawa. "Manusia bergantung kepada dirinya sendiri, kepada Thian siapa yang hatinya baik, dia tentu diberkahi siapa dapat memastikan orang baru dilahirkan lantas usianya pendek? Adalah benar orang dapat menutup mata karena usia lanjut dan sakit, tetapi sesuatu manusia ada takdirnya, jadi kita cuma dapat berkata dari hal untung baik dan untung malang. Umpama siauw-piauwsu ini, dia kebetulan menemui kemalanganny a .”

Sementara itu selesai sudah ini tabib memeriksa nadi, ia terus memeriksa lidah, habis mana ia berbangkit dan sembari tertawa berkata pada Beng Kie: "Enso, dapatkah aku melihat resep obat yang obatnya telah dimakan?"
Beng Kie menarik laci meja untuk mengeluarkan susuna resep. In Gak menyambuti itu, ia periksa sehelai demi sehelai, Tiong Beng mengawasi ia agak berduka pula.
"Tabib yang diundang tentulah tabib terkenal." kata In Gak kemudian- "Resepnya ada sedikit kekeliruannya tetapi itu tidak menyebabkan si sakit meroyan. Pada ini mesti ada sebab lainnya."
"Untuk kota kita ini tabib itu memang terkenal” sahut Tiong Beng. "Dialah Loa Cun Kui usianya sudah delapanpuluh tahun, biasanya kalau dia mengobati orang cukup dengan tiga bungkus obatnya, Tidak demikian dengan anakku ini rupanya sudah nasibnya dia."

In Gak tidak menjawab ia tidak berkata apa-apa, ia hanya berpikir. Mendadak ia memutar tubuhnya, lompat ke depan pembaringan, begitu ia menyingkap kelambu ia membalik
tubuhnya Tiang siu untuk merobek baju di punggungnya untuk diperiksa. Tiba tiba ia mengeluarkan seruan kaget

Tiong Beng dan Beng Kie kaget, Mereka pun lompat ke pembaringan untuk melihat. Keduanya terkejut bukan main. Di punggung si sakit ada tapak dari lima jari tangan "
In Gak menghela napas, ia berkata:
"lni tanda dari tangan jahat siauw-piauw su sendiri pasti tidak mengetahuinya. Tabib Loa tidak tahu pokok sebab penyakit, ia mengobati dengan segala kui-kie dan moa-bong, baiknya ada campurannya juga obat yang menguatkan tubuh. syukur aku tidak terlambat kalau tidak entah apakah jadinya..."

Hati Tiong Beng menjadi lega.
"Siauwhiap benar," ia bilang, "Siauwhiap. gurumu pastilah seorang pandai yang luar biasa, dia mengajarkan kau ilmu silat dan juga ilmu tabib"
In Gak bersenyum.
"Tetapi penyakit itu memang berlainan-" ia kata, ia tidak menjawab langsung bahkan ia lantas mengeluarkan kotak kecilnya dimana ada dua belas batang jarum emas halus panjang empat dim, dengan itu ia terus menusuk dua belas jalan darahnya Tiang siu, si piauwsu muda.
setelah itu ia minta Tiong Beng menyuruh orangnya lekas membeli tin-bia simpanan tujuh tahun serta jahe tua, makin banyak makin baik, Beng Kie lari keluar, guna menyuruh orangnya membeli obat-obatan itu.
Kira-kira seminuman teh, Tiang siu terdengar merintih.

Tidak lama pegawai yang diperintah membeli lin hia danjahe sudah pulang.
"Mari kita bekerja." kata In Gak. ia minta Beng Kie dan Tiong Beng memegangi dan mecekal tubuh Tiang siu, katanya supaya jangan dikasi bergerak, kemudian ia meletaki tiga lembar jahe ditempat yang luka, lalu diatas itu ia menaruh tin-hia dan membakarnya, terus hingga tiga kali tukar.

Tiang siu kesakttan, dia berkaok-kaok. dia meronta-ronta, matanya pun mendelik. sang ayah dan isteri terus memegang dan menekan, dia tak dapat berkutik.
In Gak membakar pula tin hia, terus sampai sembilan kali tukar, ketika tenaga dan suara si piauwsu muda habis, baru ia berkata: "Sekarang luka di dalamnya sudah sembuh bahaya tidak ada lagi."
Beng Kie dan Tiong Beng melepaskan tangan mereka.

In Gak mencabut duabelas jarumnya, terus ia angkat tubuh si sakit buat dikasi berduduk untuk ia menepuk punggungnya satu kali. Atas ini, Tiong siu muntah, Yang keluar ialah segumpal darah hitam, yang bau hingga orang mau muntah muntah. Dia lantas direbahkan pula perlahan-lahan-
Sesudah ini, si tabib minta kertas dan pit. ia berpikir dulu ketika ia menulis dua macam resep. Untuk muntah darah buat sakit di dalam, ia menulis cepat dan huruf hurufnya indah hingga Tiong Beng menjadi kagum. "Hebat" ia kata, menghela napas.

"Makanlah obat ini." kata In Gak. "Tak usah lewat tujuh hari, siauw-piauwsu akan sudah sembuh" ia hening sejenak. la mengangkat pitnya pula. sembari tertawa, ia berkata lagi: "Sudah terlanjur, baiklah aku menolong terus" Lalu ia menulis pula resep. obat hamil setelah itu, ia menambahkan, "Lain tahun di bulan lima, aku yang rendah hendak minta minum arak moa-gwee"
Arak moa gwce ialah arak pesta sebulan usianya seorang bayi, Beng Kie jengah, tetapi Tiong Beng tertawa. "Pasti Pasti" katanya.

Sampai disitu, In Gak keluar dari kamarnya Tiang siu, untuk memeriksa lukanya keempat piauwsu, yang ia bikinkan surat obatnya.
Sementara malam itu, In Gak menolongi pula Nyonya Kouw, yang ia tusuk dengan jarum jarumnya serta menyalurkan pula tenaga dalamnya, hingga bakal mentua itu dapat berjalan tinggal kelemahan tubuhnya saja.

Selesai mengobati mertuanya, in Gak ajak Yan Bun dan Tiong Beng berdamai di kamar tulis. perlahan sekali mereka bicara, setelah itu ketika fajar menyingsiog, In Gak bersama si nona, dengan mengajak nyonya Kouw, berlalu dengan diam diam dari Thian Ma Piauw Kiok. tak ada orang lain tahu kemana arah tujuannya.

Begitu sang pagi muncul ramailah lalu lintas di depan kantor Thian Ma Piauw Kiok, Dekat dengan kuil siang Kok sie, jelai besar dibagian situ memang lebih hidup daripada jalan lainnya, orang berduyun-duyun berlalu lintas, diantaranya tercampur pekik berisik anak-ansk yang berlari-larian serta tukang jualan keliling, begitu juga suara genta dan gembreng dari dalam kuil.

Pagi itu langit terang, angin sejuk. Biar bagaimana, masih ada suasana tahun baru. Di muka bendera dengan sulaman atau lukisan empat ekor kuda jempolan berkibar kibar dengan megahnya nampaknya menyolok mata.

Justru itu maka orang mendengar suara berisik dari kaki-kaki kuda yang berketoprakan di batu hijau yang ditabur di jalan besar, mendengar mana orang repot pula menyingkir ke tepi jalanan. Louw Kun lagi berdiri di depan piauwkiok sambil ia menggandeng tangan di punggungnya ketika perhatiannya ketarik suara berketoprakan itu, hingga ia lantas menoleh. Begitu ia melihat tegas, ia terkejut, tetapi dengan lekas ia dapat menenteramkan diri.
Rombongan penunggang kuda itu, yang semua kudanya pilihan, mengenakan baju panjang yang serupa warnanya, dan yang berada di paling depan, kudanya lari pesat sekali.
Rombongan itu terdiri dari empat penunggang kuda. Tiba di bawah bendera, mereka pada berhenti dan berlompat turun dari kudanya masing-masing.
Sama sekali kaki mereka tidak menerbitkan suara apa-apa, suatu tanda merekalah bukan sembarang orang. Mereka lantas mengawasi bendera tanpa mempedulikan Louw Kun.
orang yang menjadi kepala, yang sudah berusia lanjut, panjang mukanya dan berewokan pendek matanya celong hingga terlihat tulang tulangnya tetapi mata itu bersinar tajam.

Sesudah mengawasi bendera, dia mengasi dengar suara di hidung terus dia kata nyaring: "Tan Peng kau wakikan aku menurunkannya."
Seorang kurus umur lebih kurang empat puluh tahun menyahuti lantas dia memandang Louw Kun. bibirnya tersungging senyuman memandang enteng, kemudian memandang pula
kebendera.

Bendera Thian Ma Piauw Kiok beda daripada bendera kebanyakan piauwkiok lainnya. Kalau bendera lain orang dikerek naik dan diturunkan dengan memakai tambang, maka bendera "Kuda Empat" ini mesti dipasang dengan orang yang mengerti ilmu enteng tubuh harus berlompat naik turun untuk diikat dan di loloskan.
Orang yang dipanggil Tan Peng itu meraba tiang bendera, yang terbuat dari besi, ia merasa tidak sanggup untuk mematahkan dengan kekuatan tenaganya, jadi ia perlu memajat naik, ia agaknya bersangsi, Tak sudi ia manjat, mungkin itu dia anggap akan merurunkan martabatnya.

Dekat tiang bendera itu ada sebuah pohon kayu, yang tinggi lima tombak. yang daunnya sudah rontok, tinggal batang serta sedikit cabang gundul. Melihat itu, Tan Peng anggap dia boleh memakainya sebagai perantara akan mendapatkan bendera, Maka ia lantas lompat naik, untuk manjat di pohon itu.

Si orang tua tertawa, ia kata pada dua kawannya, " Hebat, ilmu ringan tubuh dari Tan Peng maju pesat sekali..." Hanya, belum pujian itu berhenti atau mendadak orang yang dipuji telah jatuh dari atas pohon itu
Sukur ia tidak jatuh terbanting dia masih dapat menaruh kaki dia cuma terhuyung, Tapi dia jadi merah mukanya saking malu, Dia sebenarnya sudah sampai diatas, Untuk menyambret bendera hingga tak ampun lagi cekalannya terlepas, tubuhnya meluncur kebawah.

Melihat itu orang-orang yang berlalu- lintas, yang tadi pada berdiri dipinggiran menonton, pada tertawa perlahan.
Si orang tua mata celong, heran, ia bercuriga. Percaya cabang itu mesti ada yang bikin patah, Tidak nanti cabang patah secara kebetulan. sebaliknya cabang itu cukup tinggi dan tangguh. siapa dapat mematahkannya ? Dengan cara apa? Ia sendiri tidak mempunyai tenaga dalam demikian mahir hingga dapat mengenai pukulan "Udara Kosong" seliehay itu. Maka ia lantas melihat kelilingan.

Terpisah kira tiga tombak dari si mata celong itu terlihat seorang tua bertubuh katai ditemani dua orang muda, orang tua itu bermata kecil dan hitam kulitnya.
Mereka menggondol pedang dipunggungnya masing-masing. Ada lagi seorang nona yang cantik, yang dilihat dari romannya, mesti nona yang nakal, ia juga membawa pedang dipunggungnya, mereka berempat bersenyum seperti bukan bersenyum...

Segera si mata celong menerka si orang tua katai itu tetapi disaat ia hendak menegur atas mendamprat mendadak ia mendengar si orang tua katai tertawa dan berkata kepada si nona. Katanya: "Bocah kau telah melihat tegas atau tidak? itulah mesti perbuatannya seorang liehay yang menggunai sentilan peluru merontokkan cabang itu Dia demikian hebat maka aku si orang tua, terbukalah mata ku"
Kata-kata itu membuat Tan Peng berempat malu sekali, muka mereka menjadi merah-padam sendirinya.

Justeru itu Louw Kun di depan pintu kantornya berkata dengan dingin: "Hmm.. Hm. Ditempat dimana orang tidak dapat main-main kenapa mesti mempertunjukkan keburukan sendiri di depan piauwkiok kami?"
Jit cit sian- jing ciang juga menduga kepada perbuatan orang gagah liehay, maka itu ia sengaja berjenaka, untuk mengejek.

Mendadak Tan Peng menjadi gusar, dia ber-lompat ke arah pintu piauwkiok, untuk menerjang Louw Kun, selagi ia bertempat itu dibelakangnya ada lain orang berlompat juga menyerang punggungnya. Dia kaget, Mendadak dia merasa sangat sakit. Dia lantas lompat kesamping untuk berkelit.
"Bret" terdengar suara maka baju dipunggung Tan Peng robek. pundak kirinya luka berdarah-Dia lompat ketangga kanan. Louw Kun sudah bersiap untuk menangkis serangan tatkala ia melihat ada orang membantu padanya ia lantas membatalkan persiapannya, ia berdiri diam sembari tertawa mengangguk.

Tan Peng gusar hingga wajahnya merah-padam, Belum pernah ia dirobohkan secara begini, ia berpaling bengis kepada orang yang membokongnya itu.
Untuk herannya ia mendapatkan seorang nona yang matanya jeli, yang tangannya mencekal pedang panjang. Nona itu berdiri bersenyum sejauh empat kaki lebih daripadanya.

Nona itu bukan lain daripada Nona Lan dari Kim-hoa yang sangat berandalan, nakal dan doyan guyon. Dia mendengar hal perbuatan Koay Ciu sie-seng si Pelajar Aneh di kota Thaygoan dia lantas menduga kepada In Gak.
Kebetulan sekali dia bertemu dengan Ay Hong sok Kheng Hong yang ada bersama sama Tonghong Giok Kun dan Kiang Yauw Cong lantas mereka mempersatukan diri selagi bersantap dia menyebut-nyebut perbuatan Koay Ciu sie seng dan mengutarakan dugaannya kepada In Gak, Ay Hong sok menjadi ketarik hati.
"Tidak salah, benarlah dia" katanya seraya menepuk meja, "Pasti bocah itu Di Yang Ke Cip dia mendustai aku hingga aku jadi bersengsara sangat. Coba pikir kenapa si nomor empat dari Liong bun tak keruan-keruan roboh kehabisan tenaga. Benar bocah itu, aku mesti cari dia"

Maka berempat mereka pergilah ke Lokyang untuk mencari, Di sini mereka mendengar hal pembakaran In Bu san-cung hingga Jim Cit Kouw terbinasa. Mereka pergi ke tempatnya Liong bun Ngo Koay dan menyaksikan sendiri keruntuhannya san-chung yang kesohor itu, yang sekarang telah menjadi kosong sebab keempat siluman dari Liong bun sudah pindah ke lain tempat. semua orangnya telah mereka bubarkan.
"Marilah kita pergi ke Thian Ma Piauw Kiok di Kay Hong" Ay Hong sok mengajukan sarannya.

Mereka berangkat ke Kayhong untuk lantas menghadapi peristiwa itu.
Si orang tua berewokan kaku seperti duri badak itu bersama dua kawannya, melihat robohnya Tan Peng itu lantas bertempat ke hadapan Nona Lan. Mereka mengasi dengar suara mengejek.
Melihat demikian, dua tubuhpun berlompat maju dengan pedang mereka berkelebatan itulah Tonghong Giok Kun dan Kiang Yauw Cong yang hendak mencegah orang menghampirkan Nona Lan.

Orang tua bermata celong itu berseru, tangannya mengibas, Maka berkibarlah tangan bajunya yang panjang.
Pedangnya Giok Kun dan Yauw Cong kena tersampok tubuh merekapun mental lima kaki.
Mereka menjadi terkejut. Ay Hong sok tertawa lebar.
"Ca siu Keng Kang yang mahir" ia memuji "Aku tidak sangka Hui Thian Auw-cu kembali ke luar dari Him Jie san sungguh beruntung aku dengan pertemuan ini"

Memang juga si orang tua mata celong dan berewokan kaku itu ialah Hui Thian Auw-cu Law Keng Tek si Elang Menerbangkan Langit, yang lihay ilmu mengebutnya itu, yaitu Tiat siu Keng Kang atau Tangan-baju Besi.
"Kau siapa?" Keng Tek membentak. matanya menyala.
Ay Hong sok tertawa pula, tertawa mengejek "Kau tidak kenal aku. aku kenal kau" katanya jenaka, mencemoohkan. "Aku si tua bangka tidak mau mampus ini ialah kakak- angkatnya musuh mati hidup dari kamu, Twie Hun-Poan Cia Bun. Akulah Ay-Hong-sok Kheng Hong" ia berhenti untuk tertawa, lantas ia menambahkan
"Adik angkatku itu kabarnya mau menjenguk kau di Him Jie san, kau sebaliknya, buat apa kau nongkrong saja di sini? ingatlah, jangan kau mengasi lewat ketika yang baik untuk bertemu pula dengan sahabatmu itu."

Law Kheng Tek terperanjat. Ketika dulu hari itu ia dapat menyerang Cia Bun satu kali, ia tidak puas. Hasilnya itu bukan hasil yang gilang gemilang.
Ia bahkan jengah karenanya sampai sekarang, kalau ia ingat itu hatinya tidak enak. sekarang ia mendengar CiaBun masih hidup dan bakal menemuinya, ia tercengang.
Memang ia tahu Cia Bun lihay dan sekian lama ia sangsikan kematiannya, Tahun yang sudah ia mendengar Cia Bun muncul pula, selalu ia bersedia-sedia untuk membela dirinya, ia takut Cia Bun nanti menyateroni Him Jie san, sarangnya itu, ia tidak sangka sekarang ia mendengar perkataannya Kheng Hong ini.

Tapi ialah satu jago, kemudian ia tertawa dan kata dengan nyaring "Terhadap sahabat yang berkunjung, pihak Him Jie san selalu akan menyambut dengan baik. Baiklah aku akan berdiam di tengah gunung menyambutnya sahabat she Kheng jikalau kau tidak berbuat celaan silahkan kaupun datang bersama"
Kheng Hong tertawa pula, ia terus menggoda.
"Aku si tua bangka tidak mau mampus tidak mempunyai kegembiraan akan menjengukmu di gunungmu" sahutnya, "Adalah adik angkatku itu pun sudah cukup untuk membuat kau sakit kepala"
Keng Tek tertawa dingin, ia tidak menggubris godaan itu. ia terus memandang kepada Louw Kun.

Jit Goat sian-jin teng memang terus mengawasi Keng Tek. buat menonton lagak-laguknya, sekarang ia dipandang, ia tertawa dingin dan kata: "Law Lootong-kee, kenapa perkara kecil kau besar besarkan? Bendera piauwkiok kami itu tidak berharga seberapa tetapi untuk kau merurunkannya itulah tak mudah jikalau kau mau tahu halnya si pemuda yang kemarin mengajar adat kepada si orang sho Yo, dapat aku terangkan, tadi pagi ia telah berangkat ke Utara ia telah memesan andai kata loo-tongke berani, silahkan lootongkee menyusul ke kota raja"

Memangnya La w Keng Tek datang buat mencari In Gak. kecelakaannya Tan Peng dan gangguannya rombongannya Kheng Hong membuatnya mendongkol dan pusing, iapun tengah
bersangsi. Robohnya Tan Peng meski perbuatan orang-orang liehay yang belum dapat dipastikan siapa adanya.
Maka kebetulan sekali keterangamya Louw Kun ini ia dapat ketika untuk mengegos, ia lantas tertawa dan kata: " Kawanan bocah itu dapat melihat gelagat mereka mendahului menyingkir Tapi lihatlah bagai mana dia dapat lolos dari tanganku"

Louw Kun tertawa di dalam hati mendengar seorang berkenamaan mengucapkan demikian rupa, ia tidak mau melayaninya, ia berdiam saja.
Law Keng Tek cerdik, ia dapat mengennai baik-baik setiap ketika nya, ia mencari In Gak bukan tanpa kesangsian, keterangannya Yo Pek yang pulang dengan kegagalan, membuatnya berpikir banyak. jadinya telah muncul anak-anak muda yang liehay.

Kalau keponakannya Jie In demikian liehay, bagaimana lagi dengan Jie In sendiri, Maka di samping membuktikan sendiri, ia memikir daya lainnya ia menyesal sekali Yang Tan Peng pun roboh.
Habis mendengar keterangannya Louw Kun itu, ia melirik kepada Tonghong Giok Kun, Kiang Yauw Cong dan Nona Lan, ia kata di dalam hatinya: "Aneh anak-anak ini, mereka mempunyai pedang-pedang yang bagus. Aku sendiri, aku mencarinya sia-sia buat banyak tahun... Baiklah aku gunai Tiai Sioa Ceng Kang terhadap mereka, biar ilmu ringan tubuh mereka mahir, mustahil mereka lolos.dari aku, selagi mereka berkelit, akan aku rampas salah satu pedangnya.”
Setelah berpikir itu, ia kata keras: "Mari kita pergi"
"Baiklah" sahut Tan Peng bertiga. Ketiganya lantas lompat naik atas kuda mereka.
Law Keng Tek memutar tubuhnya, berbareng dengan itu tangan kanannya mengibas, tangan
baju nya yang panjang berkibar.

Mendadak Nona Lan bertiga merasa samberan angin, tak sempat mereka berdaya mempertahankan diri, tubuh mereka terhuyung. Akan tetapi Kiang Yauw Cong tidak menjadi mati daya, maka ia terus berlompat untuk menyerang ke pundak kiri Keng Tek. ia menggunai jurus "Naga memain di tengah langit."
Kheng Hong terperanjat. itulah kejadian di luar sangkaannya. Keng Tek sebaliknya mewujudkan rencananya. Habis menyerang dengan tangan bajunya ia menggunai "Kim-na Ciu Hoat" tipu silat "Menangkap" guna merampas pedang orang.

Demikian ia meluncurkan tangan kirinya ke arah pedang di tangan Nona Lan. Di dalam keadaan seperti itu ia tidak menggubris serangan Yauw Cong.
Kheng Hongpun tidak berdiam saja, sambil berseru ia lompat menyilang dengan kedua tangannya, ia menggunai tipu lat Ngo Heng Cia Lek, ia ingin melindungi pedang si nona.
Law Keng Tek sangat liehay mendahului segala apa, jeriji tengahnya telah berhasil menotok jalan darah keng liang dari Nona Lan, Tanpa berdaya pedang si nona terlepas dari tangannya, maka di lain saat pedang itu, Ciu seng Kiam dipungut si burung elang yang tubuhnya membungkuk cepat bagaikan kilat.

Hanya baru saja pedang tercekal, lantas terlepas pula jatuh kembali di tangga batu, keras hingga muncrat lelatunya, inilah disebabkan disaat itu, Keng Tek merasai punggungnya sakit dan ngilu. Menyusul itu, dia merasai nyeri lainnya dan kagetnyapun tidak terkira, punggungnya itu terjambak dengan lima jari tangan yang kuat seperti gaetan, lantas tubuhnya terangkat dan terlemparkan tinggi mengenai cabang-cabang pohon lima tombak jauhnya, sampai cabang cabang itu patah dan jatuh hingga dia turut jatuh bersama.
Debu muncrat dan mengepul karena kejatuhan itu.

Ay Kong sok melihat sebuah tubuh mencelat lantas lenyap. ia liehay tetapi ia tidak ketahui, orang datangnya dari mana dan ke mana lenyapnya lebih jauh, sebab dia menghilang di belakang banyak orang, yang sementara itu pada mengawasi peristiwa itu.
Hui Thian Auw cu berlompat bangun, sambil tunduk ia berlompat naik ke atas kudanya, ia terus kaburkan di belakangnya, tiga kawannya lantas menyusul. Ketiga kawan ini juga bungkam seperti ianya, mereka cuma memperlihatkan sorot mata heran dan bingung...

Ay Hong sok berempat tidak jadi pergi ke Thian Ma Piauw Kiok, Mereka lelah mendengar halnya si anak muda sudah pergi ke utara, Mereka cuma memandang ke pintu piauwkiok di mana nampak Louw Kun lagi berdiri disana.
Adalah si Nona Lan,yang menanya: "Numpang tanya, apakah di dalam piauwkiok tuan ada seorang muda she Cia? Dia baru datang dari Lokyang."
Louw Kun menggoyang kepala. sembari tertawa ia menyawab: "Sebenarnya nona, di kantor kami tidak ada orang she Cia, hanya ada juga seorang she Giam yang datang bersama isteri dan mertua perempuannya. datangnya dari Lokyang, tetapi tadi pagi-pagi mereka sudah berangkat ke kotaraja."

Nona Lan menjadi masgul ia kecele. Kheng Hong menduga kepada In Gak, tetapi orang ditemani isteri dan mertuanya...Ia lantas membungkam, air mukanya suram.
Melibat roman nona itu Kheng Hong masgul, ia berkasihan- Benar nona ini luar biasa tetapi dia berhati baik, dia sangat memuja In Gak. Untuk dijodohkan dengan In Gak, dia cocok.
"Terima kasih" ia berkata kepada Louw Kun, sedang kepada si nona ia membilang: "Nona, mari kita jalan-jalan dulu di siang Koksie, dari sana baru kita menetapkan pula kita pergi ke mana lebih jauh.”
Nona Lan menurut, maka pergilah mereka. Mereka bercampuran diantara banyak orang.

Kuil siang Kok sie yang berdiri tak jauh dari kantor Thian Ma Piauw Kiok, dibangun ditahun Thiao-po kennam darijaman dinasti selatan dan Utara, mulanya bernama Kian Kok sie lalu di ubah menjadi siang Kok siepada tahan Keng in ke dua ahala Tong, tetapi selanjutnya di jaman Goan Beng dan Ceng terus di rawat baik,
Pintu tengahnya biasa ditutup, untuk masuk dan ke luar, dipakai kedua pintu samping barat dan timur, Dari pintu tengah menuju ke utara, ada dua pendoponya ialah pendopo utama dan pendopo Pak Kak Tian yang kesohor, habis itu ialah lauwteng Cong Keng Lauw peranti menyimpan kitab-kitab.

Setiap hari raya bukan main ramainya kuil ini menerima kunjungan orang-orang yang bersujut, maka itu di bagian luar, ramai juga orang yang menjual cerita bernyanyi main sulap. tukang tenung, tukang silat dan pedagang pedagang, keramaian itu hingga ada yang membandingi dengan keramaian agama di kuil di Pakkhia atau keleteng Khong Hu Cu di Kimleng.

Ketika Ay Hong sok bersama ketiga kawannya memasuki pekarangan siang Koksie, mereka
mengambil pintu timur. Mereka melihat orang semua bergembira, Mereka sendiripun ketarik hati kecuali Nona Lan yang masgul. Dari dalam tak hentinya terdengar suara pendeta-pendeta membaca mantera diiringi tetabuan suci.

Di tempat di mana ada seorang penjual cerita lagi bercerita, Ay Hong sok berhenti mendengari. Tonghong Giok Kun melihat kelilingan, Tiba-tiba ia terkejut. ia menampak dua orang yang datang bersama ia lantas mengikuti Kiang Yauw Cong dan memberi isyarat dengan matanya.
Setelah melihat dua orang itu, Yauw Cong juga terperanjat.
Dua orang itu yang bertubuh jangkung, yang lagi berjalan dengan perlahan, ialah Cio Tiong siang Koay, sepasang siluman dari Cin Tiong.

Mereka mengenakan pakaian mewah yang bersorot mentereng disisinya matahari. Untuk mereka dandanan itu tak surup sekali, karena itulah sangat menyolok mata.
Toa Koay siluman pertama Tong siangkan dan Jie Keay siluman kedua, Pa san Tiauw dikenal sebagai hantu atau iblis. Yang dimalui dari mereka yaitu ilmu pedang mereka, yang diberi nama Hui Hong Kiam Hoat, burung Hong terbang. Merekalah musuhnya Giok Kun dan Yauw Cong berdua, disebabkan mereka ini telah melukai murid kedua siluman itu, ketika kedua pihak benirok di Pookui.

Ketika itu Giok Kun dan Yauw Cong baru mulai mengembara. Mereka disusul siang Koay, bertempur belum ada sepuluh jurus mereka telah kena dikalahkan, syukur ada orang yang menolongi jikalau tidak pastilah mereda binasa, sekarang kedua pihak bertemu pula dan siang Koay melihat kedua anak muda itu, tidak heran Giok Kun berdua terkejut.

Dengan tindakan jumawa Siang Koay mendekati kedua anak muda, lalu Toa Koay berkata mengejek: "Bocah-bocah, disini kita bertemu pula sungguh kita berjodoh"
Kun Lun Molek Kiang Yauw Cong menunjuki keberaniannya, "Tidak salah" sahutnya gagah, "Kita telah bertemu pula Kau mau apa?"
Tong siang tertawa bergelak.
"Aku tidak mau apa apa" sahutnya. "Asal kamu masing masing menguntungkan sebelah tanganmu lantas kami pergi"

Segera mereka menarik perhatian orang, banyak mata lantas mengawasi mereka.
Nona Lan menjadi gusar.
"Kamu orang apa?" ia menegur "sungguh jumawa" Kata-kata itu ditutup dengan tinju ke dada siluman yang pertama.
Nona ini lagi masgul dan uring-uringan maka itu ia menjadi sembrono. Coba ia tahu dua orang itu dua jago dari Cin-tiong sianmo, tidak nanti ia berkata sembarangan tentulah ia menanti dulu tindakannya dua kawannya itu.

Tepat dadanya bakal menjadi sasaran, Tong siang berkelit maju kesamping hingga tubuh si nona terjerunuk maju berbareng dengan itu, dia menangkap tangan orang, kelihatannya tak ampun lagi tangan Nona Lan bakal kena dicekal. Tapi tangan Tong siang seperti mendapat rintangan gerakannya menjadi ayal secara tiba tiba dengan begitu nona itu dapat menarik pulang tangannya itu, ia hanya kaget sekali hingga mengeluarkan peluh dingin.

Samberan angin saja dari si siluman kepala telah memberikan ia merasa tangannya risi, itulah Ay Hong sok yang lantas bersenyum dan berkata: "sungguh benar-benar arwah-arwah yang tidak mau buyar. sahabat-sababat lama kembali disini saling bertemu Tong Lao toa namamu sangat kesohor, kenapa kau menurunkan tangan atas dirinya satu nona cilik? Apakah kau tidak takut orang tertawa hingga giginya copot jatuh?"

Ay Hong sok tukang berkelakar, demikian kali ini, untuk itu ia tidak biasanya memilih tempat.
Tong siang melengak. tetapi Jie Keay tertawa dingin-
"Hai, kiranya kau ketarik hati terhadap si bocah cilik " kata dia, "Aku telah mendengar halnya kau di Yang Kee Cip telah menempur Liong bun Ngo Koay, pertempuran itu membuat namamu sangat terkenal sekarang kita bertemu di sini, kebetulan Memangnya perhitungan kita dulu hari belum beres Kau boleh kasih lihat Ngo Heng Kean kau, aku ingin ketahui bagaimana liehainya"

Kheng Hong tertawa pula.
"Asal kau mempunyai kegembiraan kamu, aku si orang tua tidak mau mampus bersedia melayani kamu" sahutnya menyambut tangannya.
"Bagus" berseru Tong siang. "Mari kita bertemu pula di menara" ia tidak lantas bertindak pergi, agaknya ia bersangsi, ia terus mengawasi Giok Kun berdua untuk menantang dengan tawar: "Kamu berdua juga boleh datang berdamai"
Baru setelah itu keduanya berlalu dengan perlahan-lahan- Mereka ini belum pergi jauh, lantas ramai suara tertawanya banyak orang, tangannya pada menunjuk ke punggung Cin Tiong siang Koay di belakang siapa baru saja ada orang lewat cepat lantas orang itu lenyap seperti bajangan.

Ay Hong sok berempat mengawasi lantas mereka bersenyum.
Di punggung kedua siluman ada menempel masing masing secarik kertas kuning panjang satu dim kertas itu ada gambarnya kepala orang yang romannya mirip dengan mereka itu berdua dan dibawahan gambar itu aia empat huruf yang berarti: "Mau dijual: kepala orang"
A y Hong sok heran untuk orang yang menempel kertas itu mengingat kedua siluman itu liehay sekali

Cio Tiong siang Koay mendengar suara tertawa ramai itu mereka heran, lebih lagi mereka mendapatkan semua mata diarahkan kepada mereka, sebagai orang-orang cerdik mereka lantas bercuriga.
Tidak ayal lagi keduanya saling berbalik, hingga mereka menyamber gambar itu. sudah tentu mereka jadi sangat heran, mendongkol dan malu. Mereka telah dipermainkan- Maka mereka seperti mau lompat melejit.

Ay Hong sok lantas berkata: "Tuan tuan kamu telah bertemu dengan titik keras. Didepan orang banyak ini terjadi peristiwa begini, sungguh hilanglah muka terang kamu. Daripada mengalami ini kejadian lebih baik kamu diam nelusup didalam sarang setan digunung Kie san"
Habis berkata ia tertawa lantas sambil menoleh kepada ketiga kawannya ia kata: "Mari kita lekas pergi kekaki menara. Mungkin Cin Tiong siang Koay menjadi tidak berani pergi kesana..."
Lalu tanpa memperdulikan lagi kedua siluman, mereka pergi dengan cepat.
Tong sian dan Pa san Tiauw melengak mereka saling mengawasi:
"Aku kira si orang tua she Kheng ada maksudnya," kata Tiong sian kemudian- "Mari kita susul dia"
Pa san Cauw setuju maka keduanya lantas pergi dengan cepat.

Matahari bersinar keras akan tetapi hawa udara tetap dingin kalau angin sedang bertiup, orang merengkal atau menggigil. Para pengunjung tetap pesiar hanya mereka yang mendapat tahu atas yang gemar silat, lantas pergi ke menara untuk menonton pertempuran.
Diantara sekalian pendengar cerita, seorang yang duduk di bangkupanjang sudah ingin berbangkit. Dialah seorang dari usia pertengahan orangnya pendiam dengan kedua tangannya di masuki dalam tangan bajunya, ia batuk batuk. lalu terus ia bertindak kearah barat.
Menara yang disebutkan Cin Tiong siang Keay ialah menara Boan Tah. Tidak ada pemandangan yang menarik hati disitu, Menara itu dipilih sebab keletakannya ditempat yang tinggi, kalau angin bertiup keras bertiupnya, Maka tak ada orang yang senang makan angin disana. Pernahnya pun di luar kota, kira-kira tiga lie di tenggara.

Menara itu dibuat pada tahun Thay-peng kedua dari ahala Tong, nama benarnya ialah Hia Coa tah, tingginya sembilan tingkat tetapi di lima tingkat ada ahli bumi yang mengatakan susunan itu bertambah jelek maka telah dibuang enam tingkat, menjadi tinggal tiga.
Tengah-tengah menara kosong untuk mendaki orang mesti naik mutar, tangganya juga cuma satu kaki lebih, jadi banyak orang takut memanyatnya. Tingkat teratas dibikin rata mirip dengan panggung. Karena itu, dari atas itu orang dapat memandang j a uh kesekitanya dengan leluasa, nama "Hoan- didapat sebab dulunya pernah bertinggal seorang she Hoan di tepinya menara itu

Di jaman dulu huruf "Hoan" itu dibaca juga "Po," maka itu, nama lain dari menara itu ialah Po Tah, Di sebelah timur menara ada panggung le ong Tay, ialah panggungnya Kaisar le, tingginya dua tombak lebih, lebarnya seratus dua puluh tindak. Di sana orang biasa menyembahyangi kaisar bijaksana itu.
Ketika Kheng Hong berempat tiba di kaki menara, Cia Tiong siang Koay belum nampak maka jago tua itu lantas kata pada tiga kawan muda mudinya: " Kamu tahu ilmu pedang Cin Tiong siang Koay hebat, kamu harus waspada ilmu pedang mereka. Pui Hong Kiam-Hou namanya sangat - diaguli mereka, Katanya, namanya mereka dapat mewariskan orang itu di gunung Kie san, dari seorang tua yang berkepandaian luar biasa sedang orang tua itu mempelajarinya dari kitab Toan Kong souw sie yang dia dapatkan sebagiannya, siang Koay sendiri, kecuali cupat pandangannya, sedikit kejahatannya dan biasanya mereka lebih suka menutup diri, maka kalau sekarang mereka muncul itu mungkin disebabkan hati mereka ketarik oleh nama besar Koay Ciu sieseng.
Di waktu menempur mereka, baiklah kamu bertiga bekerja sama, tujuannya ialah jangan mengharap menang asal jangan kalah. Bicara sejujurnya, aku si tua juga tidak berani mengganggu mereka, coba tadi tidak ada orang permainkan mereka itu, aku bersangsi untuk melayani berkelakar...."

Nona Lan yang rambutnya ditiup kusut sang angin, membuka matanya.
"Ah, Kheng Loopee" katanya " apakah tadi loopee melihat orang yang menempel kertas di punggung mereka itu. Jangan-jangan orang itu ialah dia..."
Kata kata "dia" itu sengaja diperdengarkan lebih tegas, itu tentu saja, dimaksudkan In Gak.

Mendengar itu Kheng Hong terharu, ia juga mau menduga si anak muda tetapi karena ia tidak melihat orang itu, tidak berani ia sembarangan bicara maka ia menggeleng kepala, Rimba Persilatan itu luas, orang pandai pun banyak. mungkin bukan dianya.."
Nona itu berdiam. kepalanya tunduk. Terang ia sangat bersusah hati, ia membiarkan dirinya ditiup sang angin tak hentinya
Yang lain lainpun berdiam saja, cuma mata mereka yang melihat kelilingan. Tiba tiba Kun Lun Molek mengasi dengar seruan tertahan.
"Lihat, Kheng Locianpwee Cio Tiong siang Keay lagi mendatangi. Di belakang mereka itu ada beberapa rombongan orang, rupanya oraog orang Rimba Persilatan...."

Ay Hong sok mengawasi, ia mengangguk. "Ya, rupa rupanya mereka datang untuk menonton" sahutnya.
Cin Tiong siang Koay datang dengan cepat, pakaiannya yang tidak sembabat dengan romannya berkilauan di sinar matahari. Lekas juga sampailah mereka di depan keempat orang yang ditantangnya.
"Tuan tuan, benar besar kamu bernapsu sekali" Kheng Hong menyambut sambil tertawa, ia lantas menunjuk ke timur, untuk menambahkan, " orang dulu menyebut hal di panggung Hong Hong Tay meniup seruling maka kita, marilah kita mengadu pedang di atas panggung Kaisar le itu. Tidakkah bagus kalau peristiwa kitapun nanti dibuat ceritaan?"
"Tunggu dulur kata Tong siang.
"Kenapa, eh?" tanya Keng Hong, yang matanya membelalak. romannya jenaka.
" Kita jangan terburu napsu," kata Tong Siang. "Bukannya aku memandang enteng kepada kamu, biarnya kamu maju semua melawan ilmu pedang ku, kamu tak akan bertahan sampai sepuluh jurus. Baik kamu ketahui, kami datang kekota Kayhong ini ada maksudnya...." ia hening sejenak, la mengawasi tajam keempat orang itu.
"Bukankah tadi di siang Kek sie ada orang mempermainkan kami?" ia tanya selang sesaat.
"Apakah kamu lihat orangnya? kamu sudi memberitahukan maka urusan ini suka kami menghabiskannya."

Kheng Hong tertawa geli.
"Aku tidak mau mendustai kau, benar - benar akujuga tidak mendapat lihat." ia menyawab. "Cuma dapat aku bilang, orang itu jauh terlebih liehay daripada kamu, jadi kalau kamu menemui dia, kamu tentulah tak dapat berbuat apa apa, atau mungkin kamu nanti kehilangan muka. Maka itu, kalau kamu suka mendengar nasihatku, baiklah kamu jangan menariknya panjang"
Pa san Tiauw menjadi gusar dengan tiba tiba, "Kalau begitu kau tentunya tahu dia siapa?" dia membentak.

Kheng Hong tertawa pula, geli tertawanya, Jenaka lagaknya.
"Tidak salah, dapat aku menduga dia delapan bagian” ia kata. “Juga kalian tentunya menerka dia juga"
Mendengar itu, Nona Lan bertiga heran- Cin Tiong siang Koay melengak. akhirnya Jie Koay berteriak: " Lekas bilang- dia siapa?” iapun tidak cuma berteriak. dia mengulur tangannya menyamber tangan Ay Hong sok. Terlihat nyata tangannya itu lebih besar dari tangannya kebanyakan orang lain.

Kheng Hong tidak pernah menduga orang bakal menyamber tangannya itu, tahu-tahu telah terasa anginnya mengenai lengan kanannya, Tidak ada tempo lagi untuk berkelit maka ia menggertak gigi, ia mengerahkan tenaga Ngo Heng Kun dia tangan kanannya itu untuk menyambuti
Tanpa dapat dicegah lagi, kedua tangan bentrok satu dengan lain, Pa san Tiauw merasa ia seperti memegang besi atau batu, maka lekas lekas ia mengerahkan tenaganya lebih jauh. Kheng Hong pun tidak berdiam saja, ia menggunai tipu huruf "Lolos" maka tangannya itu melejit dari lima jerijinya si siluman, terus lompat mundur lima kaki

Ketika itu para penonton, yang berjumlah tiga puluh orang, menyaksikan dengan kekaguman- Mereka terdiri dari orang orang pelbagai partai atau golongan, ada yang sesat ada yang lurus. Ada mereka yang tahu atau kenal Tonghong Giok Kun berdua ada pula yang mengenali Cio Tiong siang Koay, tetapi mereka semua berdiam. Biar bagai mana, mereka jeri juga terhadap kedua siluman dari propinsi siaoosay itu, yang terkenal keras tabiatnya.

Kheng Hong lolos dari cekalan dengan ia mengeluarkan keringat dingin- ia merasa lengannya itu sakit dan kaku, ia jadi telan kenyataan dari liehaynya musuh. Tapi pada parasnya ia tidak mengentarakan apa-apa, Bahkan ia lantas tertawa pula seperti biasanya.
“Jikalau aku tidak salah bade, kamu siang Koay, timbul pula tabiatmu suka menang sendiri"
ia kata, "Rupanya diam-diam takut orang itu nanti dapat merampas julukan kamu sebagai
ahli pedang nomor satu dikolong langit ini-Thian Hu tee It KiamBenar, bukan? Tapi julukan itu kamu menamakannya sendiri- bukan didapat dari pertandingan atau pertarungan secara umum, Hui Hong Kiam Hoat memang liehay tetapi belum tentu itu dapat ditaruh di sebelah atas ilmu pedang partai partai besar diTionggoan”

Tong siang mendongkol sekali, lebih-lebih Pa san Tiauw, sampai dia menggertak gigi.
Jadi kau maksudkan dialah Koay Ciu sieseng Jie In?" tanyanya tegas.
Kheng Hong mengangguk.
"Benar, dia?" sahutnya.
Siluman yang tua itu mengasi lihat roman sangsi.
"Habis siapa sianak muda she Giam yang di In Bu san chung membinasakan Jim Cit Keuw?" dia tanya pula.
Kheng Hong tertawa.
"Dalam hal ini aku si orang she Kheng mengetahui lebih jelas daripada kamu si orang she Giam dengan Jie In itu asal satu turunan- Maka juga ia berani menyebut diri sebagai Thian Hu."

Agaknya Tong siang mau percaya keterangan itu, tanpa parasnya berubah.
Jika yang tadi mempermainkan kami itu kalau bukan si orang Jie, ia tentulah si orang she Giam itu"
Kheng Hong tertawa berkakak.
"Kau terlalu mengagulkan diri" katanya tanpa menyawab lantang. "Rupanya kamu menganggap. kecuali Jie In dan orang muda she Giam itu, lantas tak ada lain orang yang
berani membentur kamu, sekarang ini rimba Persilatan telah diliputi angin dan mega,
karena banyak orang-orang kosen luar biasa, yang buat banyak tahun mengumpatkan diri,
telah pada kembali kedalam dunia Kang ouw siapa siapakah diantaranya yang tak lebih
tangguh daripada kamu? Lihat umpama Kholeo Kong saniu Loo Kamu bukanlah tandingan
mereka berempat jangan disebut pula yang lain-lainnya. Kabarnya kedua orang she Jie dan
she Giam itu telah berangkat pagi ini ke Utara, maka itu yang tadi mempermalukan kamu
sebenarnya orang lain, karena si orang the Kheng tidak melihat tegas, sukar aku
menentukannya." ia lantai ngoceh seorang diri: “Baru mengerti Hui Hong Kiam Hoat saja
sudah berani menyebut diri Thian Hee Tee lt Kiam?."

Tong siang dan Pa san Tiauw mendongkol bukan main- orang telah bicara putar balik, tak lebih tak kurang untuk menghina mereka, yang dilihat tak nyata.
"Kholee Kong san su Yauw itu mahluk apa?" kata siluman yang nomor dua sengit, ia menyebutnya su Loo, empat jago tua, menjadi su Yauw, empat siluman.
“Tidak dapat tidak. kami nanti bertempur mereka itu orang she Kheng jangan kau menggertak kami dengan segala omong gedeh kau ini siapa tidak puas dengan Hui Hong Kiam Hoat dari Cin Tiong sang Koay, dia boleh maju untuk mencoba-coba"
Kheng Hong mengimplang keseluruh tegalan mulutnya dicibirkan.
"Semua hadirin di bawah menara ini, tak ada satu bukannya orang-orang pandai di jaman ini" ia kata nyaring, "jikalau mereka jeri terhadap Cin Tiong siang Koay, tidak nanti mereka berani datang kemari"

Sengaja si tukang berkelakar ini menyebut-nyebut para penonton itu, Mereka itu mengerti, didalam hati mereka mengutuk orang jail ini yang dikatakan banyak tipu muslihatnya. Dengan terpaksa mereka menunjuki sikap jumawa. Tong siang mendongkol sekali. "segala gentong arak dan kantong nasi" dia berteriak. "Dimulutmu. Mereka menjadi orang-orang pandai di ini jaman- Hayo siapa tidak puas, dia boleh naik keatas panggung"
Habis berkata begitu Toa Keay menarik tangannya Jie Keay, Pa san Tiauw, dengan begitu dengan berbareng keduanya berada diatas Ze ong Tay.

Lantas panggung terbuat dari batu hijau, tebal rata dan mengkilap, kalau ditotok lantai itu bersuara nyaring.
Sebaliknya Cin Tiong siang Keay, orang banyak lantas maju ke bawah panggung.
Pa san Tiauw menghunus pedangnya, pedang itu bersuara dan bersinar seraya mengulapkan itu ia kata nyaring: "jikalau kamu tidak ungkulan, siang-siang kamu mundur, supaya jangan kamu mencari malu sendiri dan merusak juga nama perguruan kamu?"

Banyak orang yang mukanya menjadi merah padam, kecuali mereka yang berpihak pada kedua siluman- Begitulah tiga orang dari usia belum tigapuluh masing-masing lompat naik berbareng.
Mereka semua bersenjatakan pedang. Lalu yang satu memberi hormat sambil berkata: "Kami bertiga Tiam Thong sam Kiam ingin memohon pengajaran dari Pa Loosu"
Pa san Tiauw tertawa.
"Aku si tua pernah mendengar liehay nya ilmu pedang Tiam Chong Kiam Hoat, maka hari ini dapatlah aku berkenalan dengan kamu" ia berkata: "Kamu mau maju berbareng bertiga, apakah demikian aturan perguruan kamu?"
Merah mukanya orang Tiam Chong Pay itu, Chong Hiong namanya tetapi ia berkata: "Kami tahu ilmu pedang kami tidak berarti, kamipun tidak berani mengakui diri sebagai jago nomor satu, tetapi karena barusan mendengar Tong Loosu bahwa dikepung beramai, orang tidak dapat melawan Hui Hong Kiam Hoat sampai sepuluh jurus, kami menjadi membesarkan nyali memohon pengajaran-"
Pa san Tiauw tertawa dingin
Jikalau begitu, hunuslah pedang kamu" katanya jumawa.

Mendengar orang menyebut nama Tiam Chong sam Kiam, Nona Lan lantas ingat peristiwa di Tanah Lapang di Kim-hoa dimana In Gak telah mematahkan pedangnya sin Kiam Chiu shie Goan Liang, jago Tiam Chong Pay. Maka pikirnya, kalau In Gak berada disini, pastilah itu akan menjadi menarik sekali.
Ketika itu diatas panggung Ciong Hiong bertiga sudah mengurung Pa san Hauw. itulah kurungan yang dinamakan kedudukan "sam Cay" yakni Thian Tee Jin atau langit bumi dan manusia. Tong siang sendiri mundur kepojok.

Tong sam Kiam lantas menyerang berbareng dari tiga arah, pedang mereka berkelebatan sinarnya, itulah jurus sam Cay Toat Beng-- "sam Cay Merampas jiwa."
Tidak ada tempat untuk Pa san Tiauw berkelit, pula sulit untuk ia menangkis berbareng, akan tetapi dia tabah, dia tidak kekurangan akal, Tepat saatnya tubuhnya mencelat tinggi lewat di atasan ketiga gedang maka itu dengan hilangnya sasaran - ketiga pedang bentrok satu dengan lain-

Dilain pihak, tidak menanti ia menginjak tanah, Jie Koay sudah menghunus pedangnya
dengan apa ia membabat untuk membalas menyerang itulah jurus "Hong siang Loan Bu" atau "Burung hong menandak burung lain menarik sinar pedang itu berkilauan dan anginnya menderu.
Semenyak kekalahannya shie Goan Liang di tangan ln Gak, Tiam Chong Pay memperoleh kemajuan. Goan Liang kalah dan pulang untuk mengadu kepada gurunya, ia tidak mendapat mata bahkan ia ditegur gurunya. ia dikatakan telah bercampuran dengan kaum sesat.

Meski begitu, sang guru menginsafi kemundurannya maka diam-diam dia lantas memperhatikan dan meyakinkannya pula. sekarang sam Cay Kiam dikirim turun gunung, untuk mendengar gerak-gerik Rimba Persilatan, kebetulan ada urusan Cin Tiong siang Keay ini, mereka ingin mencoba Hui Hong Kiam Hoat.

Tiga saudara itu kaget mendapatkan serangan-serangan mereka gagal, justru itu, merekapun diserang, sebenarnya mereka sudah lompat mundur masing-masing, tetapi pedangnya Pa san Tiauw terlebih cepat, maka ujung pedang mereka kena dibikin sapat sepanjang sebutir beras.
Tiga saudara itu menyedot hawa dingin, Tetapi mereka tidak suka menyerah, ketika Ciong HHiong berseru, berbareng mereka menyerang pula, masing-masing mengarah jalan darah kio-ceng khie-hay dan chang-bun-

Terbangun alisnya Jie Koay melihat serangan itu, dengan kaki kiri ia menggeser tubuh, berbareng ia menikam kea lis nya Ciong Hiong, ia mengerahkan tenaga latihannya beberapa puluh tahun di lengan kanannya, ia menggunai tipu silat "Pek niauw tiauw hoog" atau "seratus burung menghadap burung hong," suatu jurus lain dari Hui Hong Kiam Hoat.

Hebat perlawanan Pa San Tiauw ini. Ketiga pedang lawan kena dibabat kutung, semua kutungannya terbang ke bawah menara, yang diserang Tiong Hiong bertiga ialah buntungan yang ada pada gagangnya. Maka itu, mereka merasai dada mereka sesak. saking kaget dan malu.
"Beginilah kiranya ilmu pedang Tiam Chong Pay" kata Pa san Tiauw tertawa dingin, "Belum tiga jurus, sudah kalah sendirinya Hari ini aku si orang tua tidak mau membuka larangan membunuh untuk sementara kamu diberi ampun."

Cin Tiong siang Keay tidak berkumis nampaknya usia mereka belum lebih dari empat puluh tahun tetapi Pa san Tiauw menyebut dirinya si orang tua loohu" inilah sebab dia sebenarnya sudah berumur enam puluh lebih.
Dengan mendongkol dan malu Ciong Hiong bertiga lompat turun dari panggung akan ngeloyor turun gunung.
Pa san Tiauw berdiri tegak dengan pedang ditangan romannya jumawa, ia menantikan gerak-gerik orang banyak. sang angin santer meniup, niup tubuhnya.

Tengah orang semua berdiam itu, mendadak pedangnya Pa san Tiauw berbunyi terus jatuh ke panggung. Dia kaget. juga semua orang lain, tak terkecuali Ay Hong sok Pa san Tiauw melengak. kakaknya berlompat maju matanya dibuka lebar.
Tadi itu angin bersiur santer membawa pasir terbang, pedang kena tersampok dan jatuh. semua tampak wajar, cuma Jie Koay yang tahu sampokan itu keras, kalau tidak tak nanti pedangnya terlepas, ia merasakan telapakan tangannya sakit sampai tak bisa ia menyamber pedangnya itu.
"Siapakah si orang jail?" Pa San Tiauw berpikir, ia menduga jelek. cuma ia tak dapat melihat si jail itu, ia tahu, kalau orang tidak jail, orang akan berterang naik di panggung, ia heran sekali air mukanyapun berubah.
Terpaksa ia membungkuk, menjemput pedangnya, Setelah itu, ia jadi tenang pulang.

Ay Hong Sok jail, ia tertawa dan berkata: ,.Cian Tong Lao Koay. kau lihat adikmu itu, jangan-jangan dia terkena angin jahat! Lihat, angin begini keras, hawanya begini dingin! Kau tahu, angin jahat dapat membuat orang mati di tengah jalan! Maka baiklah kamu lekas-lekas pulang Ke sarang kamu digunung Kie San! Kamu telah berusia tinggi, inilah kamu mesti ketahui. Kematian kamu tidak lama lagi, jangan kamu tetap membawa adat suka menang sendiri. Apakah artinya kemenangan kosong demikian? Sudah lama kamu tidak muncul dalam dunia Kang Ouw, bukankah itu disebabkan kamu kuatir nanti ada orang curi kitab kamu Thay Kong Souw Sie yang kamu sayangi seperti separuh jiwa kamu? Kitab itu memang justru ada yang arah! Ha-ha-ha-ha!"
Nyaring suara tertawa itu, sampai terdengar kumandangnya.

Untuk sekejab, parasnya Cin Tiong Siang Koay menjadi pucat, tapi lekas juga mereka menjadi tenang kembali.
“Hm” kata Toa Koay, keras-„Siapakah yang berani pergi ke-gunung Kie San? Disana, dilembah Ban Ciang Kok, ada ancaman-ancaman kematian!"
Tong Siang omong dari hal yang benar mengenai lembahnya itu.
Gurunya Cin Tiong Siang Koay jalah Koay Ie Loojin. Dialah seorang aneh yang lain orang, tak tahu asal-usulnya. Dia menerima Cin Tiong Siang Koay sebagai muridnya dan mengajari sebagian dari kitabnya, kitab Thay Kong Soiw Sie itu. Dia belum pernah mengembara, dia meninggal dunia setelah kedua muridnya lulus. Mereka ini lantas pesiar sambil membawa-bawa kitabnya, yang cuma sebagian. Belum tiga tahun, mereka berhasil mengalahkan banyak jago, dari itu nama mereka menjadi terkenal, mereka dimalui. Sementara itu, mereka pun mendapat sahabat-sahabat, dari kalangan sesat. Satu waktu, selagi sinting, Siang Koay menyebut nama guru mereka dan halnya kepandaian mereka berpokok pada kitab yang tinggal separuh itu. Lantas ada orang-orang yang niat mencuri kitab itu- Satu kali hampir kitab itu lenyap. Maka belakangan, menuruti nasihat satu sahabat, Siang Koay pulang kegunungnya dimana mereka menyekap diri. Mereka lantas perkuat lembah Ban Ciang Kok.
Itulah kejadian empatpuluh tahun dulu, lalu duapuluh tahun kemudian, lembah itu meminta jiwanya beberapa orang yang mencoba masuk, untuk mencuri kitab. Siapa lancang masuk, dia terjebak, dia menjadi kurban. Perangkap itu diatur oleh Siang Koay sendiri, yang memperoleh ajaran dari kitab pusakanya itu. Mereka merasa syukur, sampai sebegitu jauh mereka berhasil melindungi kitab itu.
Selama empatpuluh tahun. Siang Koay cuma menerima lima orang murid, bersama anak-isteri mereka serta hamba-hambanya, jumlah mereka tak lebih daripada enampuluh orang- Aturannya pun keras sekali. Cuma sebab pandangannya cupat yaitu mereka suka mengeloni pihak sendiri. Lantaran aturan keras itu, lima muridnya suka melakukan sesuatu secara mencuri, karenanya, Siang Koay tidak tahu keburukannya murid-muridnya itu, sedang orang luar, yang tahu tabiat mereka, tidak ada yang berani datang mengadu. Kali ini Siang Koay turun gunung, cita-citanya ialah untuk merebut gelaran Thian Hee Tee It Kiam.

Ay Hong Sok tidak ketahui semua maksudnya Cin Tiong Siang Koay tetapi karena dia cerdas dan jenaka, dia dapat menjaili kedua Siluman hingga hati mereka itu menjadi panas.
Mendengar Tong Siang membanggai lembahnya, dia tertawa pula dan berkata: „Kau terlalu jumawa! Lithatlah, selama tempo satu tahun, aku si orang she Kheng nanti mendatangi lembah kamu, untuk jalan-jalan. Barisan semacam kepunyaan kamu itu bisa bikin apa atas diriku!"
Yang dinamakan barisan itu jalah tin atau perangkapnya Cin Tiong Siang Koay, nama barisan itu yaitu „Thay Kong Tin-sie," atau „Tin Kiang Thay Kong."

Tong Siang tertawa.
„Baik, baik, nanti kita bertemu pula dtdalam Ban Ciang Kok!" katanya. „Barusan kau menyebut halnya Koay Ciu Sie-seng berangkat hari ini ke Utara, adakah itu benar?"
Kheng Hong mengangguk.
„Jikalau begitu, kami juga mau pergi ke Utara!" "kata Tong Siang. Lantas dia mengawasi semua orang. Dia tertawa, dia kata pula: „Sekarang aku percaya sudah tidak ada orang yang berani mengatakan Hui Hong Kiam Hoat bukannya ilmu pedang paling luar biasa dikolong langit ini!"
Habis mengucap begitu, kedua Siluman menjimpan pedang mereka, terus mereka lompat turun dari panggung. Mereka melompati kepala orang banyak. Terus mereka lari turun gunung.

Diantara sinar matahari hari, terlihatlah baju mereka berkilauan.
Diantara banyak orang itu ada seorang yang bertubuh besar yang alisnya gomplok, sembari madapi kedua Siluman dia tertawa dingin, dia berludah seraya berkata: „Kedua siluman itu sangat jumawa, coba bukannya aku tak ingin menanam permusuhan, suka aku mencoba menempur mereka! Tadi pedangnya siluman itu jatuh, entah apa sebabnya!"

(Bersambung ke-jilid 10)

20. Jilid 10.1 : Kay pang dipecah belah penguasa

Bacaan » PEMBALASAN SEORANG JAGOAN » Jilid 10.1 : Kay pang dipecah belah penguasa
Anggota masrizki
Waktu 16 September
Bab Sebelum 18. Jilid 9.2 : Tabib muda yang liehay dan sakti
Bab Sesudah 21. Jilid 11.1 : Aksi Jie In di kota raja




Pembalasan Seorang Jagoan
Karya: Wu Lin Qiao Zi
Saduran : OKT
Jilid 10.1 : Kay pang dipecah belah penguasa

Banyak orang mentertawai si alis gomplok ini, tidak ada yang menyahuti dia, orang lantas pada turun gunung untuk berlalu. Tetapi mereka yang kenal Tong hong Giok Kun dan Kiang Yauw Cong, yang menghormati Ay Hong sok menghampirkan mereka bertiga serta sI nona untuk bertemu dan berbicara.
Di antara mereka itu ada Giok Siauw Hiap su Kheng Tiang siu, muridnya Kim Teng siang jin, ketua darIngo Bie Pay. Dia baru berumur dua puluh lebih, romannya tampan sekali, hingga dia terkenal sebagai pria cakap ganteng.

Selagi menonton pertempuran di atas panggung barusan, tak hentinya dia mengawasInona Lan yang dia kagumi. Dia lantas memberi hormat sambil menjura pada Ay Hong sok dan kata: "Aku yang muda Kheng Tiang su darIngo Bie san, telah aku mendengar dari guruku, Kim Teng siangjin tentang loocianpwee, maka itu sekarang aku dapat bertemu dengan loocianpwee, aku bersyukur sekali."

Kheng Hong mengangguk dan tertawa, "Sebelum gurumu itu mengetuaIngo Bie Pay. pernah tiga empat kali aku bertemu dengannya, ia bilang. "Sekarang ini tentulah ia telah maju pesat dan tetap sehat walafiat."
"Terima kasih, loocianpwe, guruku itu tidak kurang suatu apa," sahut anak muda itu, yang lantas berpaling kepada Nona Lan. Kheng Hong dapat menduga hati si anak muda.
"Kheng Hiantit telah turun gunung, adakah kau sedang menjalankan tugas dari gurumu?" ia tanya.
Tiang siu menjura pula.
"Tidak. loocianpwee, cuma untuk merantau saja." jawabnya,
"Bagus Aku juga tidak ketentuan tujuanku, melainkan sekarang kami lagi mau pergi ke Utara mencari satu orang. jikalau hiantit suka, mari kita pergi bersama."

Tiang siu girang sekali, itulah apa yang ia harap. "Aku suka sekali, loocianpwee," katanya, mengucap terima kasih. "Baiklah, Mari aku ajar kau kenal dengan ke tiga kawanku."
Ketika diajar kenal dengan Nona Lan, sInona cuma bersenyum, tetapi mata si anak muda bercahaya, Nona itu tidak memperhatikan sinar mata orang itu, ia tidak mengerti, sebenarnya pikirannya lagi diamuk peristiwa-peristiwa aneh hari itu, ialah tentang patahnya cabang pohon tidak keruan, kertas yang nempel dipunggung Cin Tiong siang Koay serta jatuhnya pedang Pa san Tiauw barusan.
Ia menduga ada orang yang main gila, siapakah orang itu? Pada otaknya melainkan berpeta wajahnya seorang yang ia kenal.

A y Hong sok mengeluh perutnya iapar, ia berjalan dengan berlari lari menuju ke kota Kay hong, Kheng Tiang siu lari di belakang orang tua ini. Nona Lan mengikutinya.
Tonghong Giok Kun dan Kiauw Yauw Cong berjalan bersama dengan beberapa kenalan mereka yang pun lekas meninggalkan panggung Ie ong Tay, hingga suasana di panggung itu menjadi sunyi lenyap seperti sediakala kecuali siurannya sang angin.

Ketika sang pagi muncul, dijalan gili Si Liong Teng atau Paseban Naga, terlihat seorang pelajar umur lebih kurang tigapuluh tahun, ia berkulit kuning gelap. Baju luarnya yang panjang terbuat dari sutera putih, ia mempunyai dada lebar dengan pinggang ceking.
Ia berjalan perlahan tetapi sang angin meniup hingga tangan bajunya berkibaran-Nampaknya ia tenang sekali.
Kiri dan kanan gili gili adalah air telaga yang bening dan tenang, airnya berombak-ombak. Di situ ada sejumlah bebek putih berenang pergi datang. Kedua tepi telaga gundul, rumput rumput belum bersemi

Tiba tiba terdengarlah suara genta dari kuil Hauw Giam sie di sebelah barat telaga. Mendengar itu, si pelajar menoleh ke arah kuil itu. Tengah ia memandang itu tiba tiba telinganya mendengar suara penggayu, apabila ia berpaling, ia melihat munculnya sebuah perahu kecil dari antara gumpalan pohon gelaga.
Cepat lajunya perahu ke arahnya, Di atas perahu nampak seorang tua dengan kumis jenggot panjang sampai di dada. Lekas perahu tiba di pinggiran, dekat s pelajar.
"Eh, Cia Laotee, apakah kau tidak mau turun ke perahu ini untuk memasang omong?" tanya orang tua itu.

Pelajar itu yang bukan lain daripada Cia In Gak bersenyum. si orang tua juga bukan lain orang daripada Yan-in Tayhiap. jago dari Yan-in, ialah Tiat Cie sian wan Pek Ie si Kera sakti Jeriji Besi, orang yang menjanjikan pertemuan di Liong Teng itu.
In Gak melihat ke sekitarnya, Tidak ada orang lain di situ, ia menyingkap ujung bajunya, ia menjejak tanah, lalu dengan enteng ia lompat ke perahu.
"Pek Tayhiap. lihay matamu" ia kata tertawa. "Cara bagaimana kau dapat mengenali aku yang muda?"

Pek le tertawa sambil bertepuk tangan.
"Dari mulutnya Kiu Cie sin Kay Chong sie aku mendapat tahu laotee gemar menyamar, oleh karena itu aku senantiasa mengingati saja kepada potongan tubuhmu," ia menjawab, “Begitulah satu kali lihat saja aku mengenali kau. Mari kita pergi ke tengah telaga kedalam rujuk gelaga."
In Gak bersenyum, ia mengangguk.
Maka menggeleserlah kendaraan air itu ke tengah-tengah telaga...
-0O0000OO-

Untuk kota Kay-hong, Liong Teng ialah suatu tempat terkenal. Telaga bagian timur ialah yang disebut Phoa ouw, sedang yang bagian barat dinamakan Yo ouw, Phoa ouw didapat darInamanya Phoa Jin Bie, dan Yo ouw darInama Yo Giap, keduanya orang kenamaan dari jaman Pak song, Song Utara.
Dan kuil Hauw Giam sie itu termasuk sebagian bekas gedung keluarga Yo di jaman dahulu itu. Yang sedikit luar biasa ialah Phoa Jin Bie itu penghianat dan Yo Giap adalah jenderal yang setia, sekarang In Gak dan Pek Ie berkumpul di tengah-tengah telaga.

Tiat Cie sin wan mengurut kumisnya. "Aku si orang tua ialah sahabatnya mendiang ayahmu, maka itu suka aku membantu kau hiantit," berkata ia tertawa, "Pasti sekali sakit hati ayahmu mesti dibalas, hanya pada itu harus hiantit ingat pembilangan bahwa buat seorang kuncu pembalasan dilakukan sampai sepuluh tahun masih belum terlambat.
Apapula di dalam halnya sakit hati ayahmu ini, mereka yang mengeroyoknya terdiri dari pelbagai partai, sesat dan lurus. Dengan sebatang kara mengguncangkan Rimba Persilatan, itu bukanlah perbuatan yang cerdik. Menurut aku, meski urusan besar sekali bekerja perlahan adalah paling sempurna." ia berhenti sebentar, ia tertawa pula, baru ia melanjuti.
"Sekarang ini orang orang dari tingkat tua, yang biasa berdiam diri diatas gunung atau di dalam rimba, banyak yang muncul pula dalam dunia Kang ouw, sepak terjang mereka itu tak ada yang tiada sangkutannya dengan dua hal, yang pertama yaitu urusan kitab Pou Tee pwee yap Cin Keng.
Yang kedua ialah urusan bentroknya Hoo Kun si perdana mentri dorna dengan Pangeran Kee chin ong, hingga keduanya berebut mengundang orang-orang lihay, untuk membikin pepak sayap masing-masing, saudara Chong sie dan saudara Lui Siauw Thian mengetahui keguncangan itu, maka juga mereka minta aku si orang tua berangkat ke Utara mencari kau, hiantit. Menurut saudara Chong lebih baik kita bekerja dengan akal muslihat, kita memindahkan bencana untuk menyingkirkan si jahat, inilah lebih baik daripada hiantit terus terusan merantau sendirian"

"Chong Toako benar," pikir In Gak. "Di antara orang-orang gagah yang diundang Hoo Kun dan Kee Cin ong ada orang-orang yang menjadi musuh ayahku, maka baik aku turut pikirannya itu, aku memindahkan bahaya satu pada lain, supaya mereka saling bunuh sendiri.."
Maka ia lantas mengangguk "Baiklah, aku setuju," ia memberikan jawabannya.
"Ada sebab lain lagi kenapa saudara Chong sie menghendaki hiantit lekas pulang kekota raja" Pek le berkata pula, "Itulah karena di dalam Partai Pengemis ada ancaman bahaya perpecahan diantara golongan selatan dan golongan Utara. Tentang jelasnya, aku tidak tahu, saudara Chong tidak mau menerangkan padaku, Rupanya urusan sulit sekali, maka itu membutuhkan bantuan hiantit."

In Gak lantas ingat peristiwa di Kho-kee-kauw halnya si pengemis yang mengganas dengan ular berbisa, Perbuatan pengemis aneh itu bertentangan sama maksud tujuan Kay Pang.
Jikalau didalam Kay Pang benar terjadi ancaman hebat itu, baiklah hari ini juga aku nanti berangkat kekotaraja." ia berkata.
"Memang, lebih cepat hiantit berangkat, lebih baik lagi," kata Pek lepula. "Sekarang soal lain lagi, ialah urusan pribadi kau, hiantit, Aku telah bersepakat dengan saudara Chong sie dan saudara Siauw Thian bahwa kau harus lekas-lekas menyelesaikan perangkapan jodoh mu. Kau harus tahu, didalam kebaktian ada tiga dosa dan yang paling besar ialah siapa tidak mempunyai turunan. Aku percaya, sekalipun mendiang ayahmu ditempat baka pasti memikirkan juga urusan pernikahanmu ini."

Mukanya In Gak menjadi merah, mulutnya kemak kemik.
"Tentang itu pernah aku pikir," sahutnya perlahan- "Baiklah hal ini dibicarakan pula setelah aku tiba dikotaraja. siepee, kau berniat berdiam berapa hari lagi disini?"
"Aku juga mau lantas berangkat kekota raja" sahut si paman tertawa dan menggeleng kepala, "Aku cuma tidak mau berjalan bersama kau, sebab itulah menarik perhatian umum."
In Gak berpikir.
"Aku hendak mohon sesuatu, dapatkah siepee meluluskannya?" ia tanya.
Pek le tertawa tergelak "Bukankah urusanmu urusanku juga?" katanya, "Apakah itu?"
In Gak lantas tuturkan perkenalannya dengan Nona Yan Bun anak dan ibu, bahwa ia ingin titipkan mereka itu di rumah Kiong Thian Tan di Hoan Pek san-Chung di gunung Tiang Pek san. Disana Nyonya Kouw nanti dapat beristirahat.
"Dapatkah siepee tolong mengantarkan mereka ke sana?" tanya ia diakhirnya.

Pek le melirik. ia bersenyum, lalu ia mengangguk.
In Gak jengah tetapi ia bersenyum.
"Ssst" mendadak ia berseru perlahan, tangannya di mulutnya. Tiba-tiba mereka mendengar suara air digayu perlahan.
Lantas saja si anak muda menjejak perahu, untuk berlompat ke gelaga, dari mana ia berlompat lebih jauh kearah dari mana suara datang.
sSara menggayu itu terdengar semakin nyata. Rupanya orang diperahu itu menggayu terlebih cepat dan keras, mungkin dia bercuriga, Tapi In Gak telah lantas dapat menyusul dia, dari gelaga si anak muda lompat keperahu orang, untuk mencekuk tukang perahu itu, yang ternyata seorang pendeta yang tubuhnya besar.
Tak dapat dia berkelit pundaknya segera terjambak. hingga dia meringis kesakitan.

Ketika itu Pek le telah menyusul dengan perahunya, ia tertawa dan kata: "Aku telah menduga, kau tidak bakal gagal hiantit, dan benarlah dugaanku"
Sambil terus menjambak pendeta itu, In Gak tanyai. "Perlu apa kau datang kemari? siapa menitahkan kau? Lekas bicara"
Pendeta itu mengangkat kepala, dia tertawa mengejek.
"Aku merdeka, empat penjuru lautan ini ialah rumahku" sahutnya jumawa, “Aku gemar pesiar, aku pergi kemana aku suka. Hari ini aku pesiar disini, apa salahnya? Kenapa kau heran tidak keruan? Bukankah telaga ini bukan milik-mu? Kau dapat pesiar disini, kenapa aku tidak? Mana ada itu aturan?"

In Gak bersenyum melihat lagak orang. ia mengawasi, ia percaya pendeta ini bukan orang beribadat tulen-
"Habis, kenapa kau melarikan diri?" ia tanya lagi bengis. Pendeta itu mendelik,
"Siapa bilang aku lari? siapa pesiar dengan perahu dia mesti menggunaipenggaju, bukan? Aku mengaju menurut suara hatiku, dasar kau yang curiga tidak keruan?"

Mendengar itu, Pek le tertawa, ia mengurut urut kumisnya, tetapi ia tidak membuka suara.
"Alasanmu bagus" kata in Gak. Tapi kau ketahauilah, sudah kebiasaan tabiatku, jikalau aku meakukan sesuatu, aku lebih suka kesalahan membunuh orang daripada melepaskan secara sembrono. jikalau kau tidak omong benar-benar, baik kau rasai saja ilmuku yaitu Cit Jit souw im Toan Hun. Ilmu itu yaitu ilmu " memutus arwah dalam tujuh hari."

Si pendeta kaget, tetapi ia menyaksikan kepandaian si anak muda, ia berdiam, matanya dirapatkan. In Gak tertawa.
"Kau tidak mau bicara, baiklah" la lantas menotok kesembilan jalan darah sipendeta, habis mana sambil menggendong tangan ia berdiri berendeng dengan Pek le, sembari bersenyum ia mengawasi korbannya itu.
Pendeta itu merasa tubuhnya ditotok berkali-kali, tetapi la tidak merasakan apa apa yang luar biasa, ia membuka matanya, ia melihat lagak orang Jenaka dan tenang, ia heran tetapi ia berpikir.
“Jikalau aku tidak mau lari sekarang, aku mau tunggu kapan lagi?" demikian pikirnya, Begitu ia berpikir, begitu ia menggeraki tubuhnya. ia mau lompat ke air. Tapi begitu lekas ia mengerahkan tenaganya. begitu juga ia kaget-tak terkira kagetnya. ia tidak bisa lompat. Tenaganya habis. bukan ia terjun ke air, ia justeru jadi merungkut la mirip ular melingkar, In Gak tertawa.
"Sekarang lekas kau bicara, masih belum kasip" katanya, memberi ingat, "Berbicara berarti kau menderita sedikit"

Pendeta itu seorang tauwto, ialah pendeta yang memelihara rambut ia membandel. Dia tertawa dingin.
"Selama satu hari aku tidak mati maka kau pun satu hari juga tak nanti hidup tenteram" katanya bengis.
In Gak tertawa pula.
"Belum tentu" Katanya. "Aku nanti lihat" la menatap tajam.
Hanya sebentar, lantas pendeta itu menjadi bergelisah, tubuhnya bergerak-gerak. la merasakan sakit seperti ditusuk jarum pada semua jalan darahnya, ia juga merasa gatal hingga mau menggaruk-garuknya.
Matanya lantas dibuka lebar, keringatnya lantas mengucur lalu ia mulai merintih, rintihnya sangat tak sedap didengar telinga.
"Tayhiap... tolong... bebaskan totokanmu.." katanya kemudian terputus-putus.

In Gak tertawa.
"Aku menyangka kau berotot baja bertulang besi" katanya, kiranya kau tidak sanggup bertahan” ia lantas menotokjalan darah yang dipinggang. Dengan cepat lenyap siksaan si tauwto, ia mengeluarkan ludah Iender.
"Aku menerima perintahnya Kiong bun siang Kiat," ia kata, "aku ditugaskan mencari Koay Ciu sie sieng Jie In. sudah dua hari aku tiba di kota ini, belum ada hasilnya, Tadi selagi duduk dipaseban Liong Teng, aku melihat tuan ini..." ia menunjuk pada Pek le.
"Aku ketarik melihat dia seorang diri main perahu, lantas aku memasang mata dan menguntitnya. Aku menyewa sebuah perahu, yang aku pakai bersembunyi dihutan gelaga tadi. Aku melihat dia menyambut kau, tayhiap. lalu aku mendengar, kaulah orang yang dicari Kiong bun siang Kiat, saking girang, aku membikin sedikit berisik, karena tayhiap curiga, aku ingin kabur, sekarang aku kena ditangkap. apa aku mau kata..."
"Apakah Kiong bun siang Kiat cuma menugaskan kau seorang?"
"Semuanya enam belas orang, Mereka dikirim ke shoasay dan lainnya, Yang dikirim kemari cuma aku sendiri.

In Gak tertawa puas.
"Kau dapat bebas dari hukuman hidup, tidak dari hukuman mati" katanya, lalu tangannya di ulur, menotok jalan darah Cong bun, maka sekejap saja matilah tauw too bandel itu, ia mengeluarkan satu peles kecil dari sakunya, isinya itu serupa bubuk kuning, sedikit dari bubuk itu dituang ke dalam hidung si tauwto, habis itu ia tutup pelesnya dan menyimpannya pula disakunya. Akhirnya ia mengangkat kepalanya dan tertawa. "siepee, mari kita pergi" ia mengajak.

Pek Ie mengawasi bengong, ia merasa pemuda ini benar benar luar biasa, gagah gesit dan cerdik, Dan telengas juga... tapi itu terhadap manusia terkutuk. ia anggap. itulah boleh juga.....
"Kau hebat, hiantit" katanya kemudian, tertawa, "Pantas saudara Chong sie memuji tinggi sekali padamu" In Gak tertawa, ia tidak bilang suatu apa.
Lantas perahu kecil mereka digayu pergi, untuk kembali ke kota Kayhong, di mana suasana tahun baru masih belum lenyap. Maka itu mereka melenyap di antara orang banyak yang berseliweran tak putusnya . . .

Bulan pertama di kota raja Pakkhia, meski namanya musim semi, atau permulaan tahun, hawa udaranya tetap dingin sekali, Di luar kota, sungai sungai beku hingga kuda kereta dapat berjalan di atasnya. Di permukaan kalipun orang dapat berolah raga, untuk melemaskan otot otot, guna mencari kegembiraan.

Pada suatu hari, selagi angin tak meniup keras dan mega mendung, maka dari sebuah gedung besar di dekat sip sat nay terlihat ke luarnya seorang tua umur kira kira tujuhpuluh tahun, tubuhnya jangkung, dan tegar, baju kulitnya dilapis jubah biru, tangan kirinya di masuki ke dalam baju kulitnya, tangan kanannya membuat main sepasang peluru besi, maka di antara lima jarinya, peluru itu berputaran tak hentinya dan bersuara juga.

Di tengah jalan itu, siapa yang mengenal dia tentu menegurnya sambil tertawa: “Selamat pagi Tan samya. Ke warung teh, bukan? Ditanya bagitu, dia tertawa dan menyahuti: "Udara hari ini bagus, tak gembira berdiam di dalam rumah, ingin aku menjenguk sahabat sahabat"
Dan dia bertindak terus dengan tindakannya yang lebar.

Di gang-gang ada kedapatan salju tebal kira satu kaki, di atas itu tertampak banyak tapak kaki, sebaliknya dari tembok dipinggir jalan muncul cabang bunga bwee yang memberi bau harum.
sesudah melalui beberapa gang, orang tua she Tan itu keluar di jalan besar di mana ia menghadapi sebuah warung teh yang berloteng, yang cat merahnya sudah tua dan gugus, Tak salah lagi, itulah rumah sudah sangat tua.
Di Pakkhia itu biasanya orang ramah tamah, di warung atau toko apa saja, asal orang menolak pintu dan masuk- lantas pegawainya menyambut seraya menunjuki jempol dan berkata : "Toko kami toko tua, bukan saja harganya pantas, barangnya pun pilihan. Cobalah tuan membeli pasti tuan puas”
Juga di rumah makan dan warung tadi, pelayanannya manis.
Ketika si orang she Tan memasuki warung teh di depannya itu, di sana sudah ada beberapa tetamu, kebanyakan yang dikenal, maka mereka itu pada menyapa atau memberi hormat, ia menyambut sambil mengangguk dan bersenyum. Begitu ia memilih meja, pelayan datang dengan sapanya:
"Selamatpagi, samya" seraya terus menyuguhkan teh dan siomai.

Habis meniup daun teh dicawannya, si Tan ini minum, lalu ia mengunyah siomai, ia memandang ke sekitar ruang, tangan kanannya tetap memutar-mutar sepasang peluru besinya yang licin mengkilap itu.
"Sam ya," tiba tiba menyapa seorang yang yang duduk di dekannya. Dialah seorang usia sekitar tigapuluh tahun, "sudah beberapa hari samya tidak nampak, apa samya mengeram di rumah saja? Tentulah samya tak ketahui segala kejadian yang terbaru di kota raja, kalau tidak, pastilah samya sudah berceritera kepada kita" samya itu melirik.
"Ah, bocah, kau benar tidak pandai bicara" tegurnya, "siapa bilang aku si orang tua ngeram di rumah saja? Kemarin aku ke luar dan dahar daging kambing dan aku melihat sesuatu yang aneh juga"
Ia berhenti bicara untuk memasuki pula siomai ke mulutnya.

Orang yang menegur itu nampak girang, demikian juga lain-lain tetamu, Mereka lantas menanti akan mendengar ceritanya Tan samya ini.
Dia sebenarnya bekas ciateng di istana sam pwelek. beileh ketiga, seorang pangeran Boan Ciu. Dia bernama Tan Kwee, ilmu silatnya dari bagian luar. Dialah seorang polos, yang kerjanya setia.Justeru karena dia setia, dia merasa tugasnya berat.

Ketika itu dia sudah berusia lanjut, tak dapat dia bergadang setiap malam, sedang diwaktu siang, dia mesti bertugas juga, Karena tugasnya itu, dia menjadi kurang tidur, Maka pada sepuluh tahun yang lalu, dia minta berhenti sendiri.
Meski begitu dua kali setiap bulan dia biasa pergi ke istana beileh untuk menghunjuk hormat pada bekas majikannya. setiap hari dia pergi ke warung teh, untuk membasahkan tenggorokan atau pergi menonton wayang, Dia ramah tamah, dia pun suka ditanggap. Demikian hari ini.
"Kejadian apa tadi itu, samya?" orang bertanya.
"Sabar, Untuk berbicara, perutku mesti di tangsal dulu sekarang ini di kota raja berkumpul banyak orang gagah, ada yang sangat ringan tubuhnya, ada yang liehay senjata rahasianya, hingga kita sukar mempercayainya. Dulu dulu kecuali Kiong bun siang Koay, jarang yang melebihi aku.
Di antara kepandaian senjata rahasia itu, ada ilmu "Menerbangkan bunga memetik daun-yang aku belum pernah dengar..."

Ia berhenti untuk menghirup tehnya, ia memandang kepada semua orang, Mereka itu pada berdiam sambil memasang telinga. ia tertawa ketika ia mulai bicara pula.
"Diantara orang-orang gagah itu ada Huo-goan Ci Koay Cun keluaran partai Kiong Lay Pay, sekarang dia menjadi Ciangbunjin, dari Kay Pang cabang propinsi In lam. Atas permintaan kami beramai, dia telah mempertunjuki kepandaiannya.
Aku sudah begini tua, baru sekarang aku dapat membuka mataku, Koay Cun pergi ke latar dimana ada sebuah pohon cemara tinggi lima atau enam belas tombak. Aku cuma melihat dia membungkuk dan menekan tanah dengan kedua tangannya lantas tubuhnya melesat naik berjumpalitan itulah gerakan Burung Elang berjempalit. sekejap saja dia sudah sampai diatas pohon di puncaknya. Angin kebetulan meniup santar tetapi dia dapat berdiri tegak bagaikan dipaku. Kami memang mengutamakan ilmu ringan tubuh, tetapi dia tak sekali-kali meminjam cabang pohon, langsung dia melesat ke atas..."

"Tan samya," sambil berkata seorang yang menyelak. "Ketika dulu samya masih bertugas." katanya dengan sekali lompat saja samya dapat melintasi tembok Kota terlarang, kenapa sekarang samya memuji tinggi lain orang, hingga samya seperti merendahkan diri sendiri?"
Mukanya Tan samya menjadi merah, dia jengah, tetapi dia tertawa. "Hai kunyuk" serunya, "Bagaimana kau berani mencabut topengku"
Orang yang dipanggil si kunyuk itu merengka tetapi dia bersenyum, maka tertawalah yang lain-lain.
Tan samya melanjuti ceritanya. " Ketika Koay Cun lompat turun dia memetik seraup daun cemara yang tajam mirip jarum, Ketika dia mengayun tangan kirinya maka daun cemara itu pada nancap di tiang. Heran daun demikian lemas dapat menembusi balok, Tapi masih ada yang terlebih aneh. Ketika dia mengayun tangannya yang kanan, maka daun cemara yang nancap itu kena terhajar hingga keluar semuanya.
"Ai, tentulah samya menambahkan lagi garam dan kecap" berkata seorang menggoda. "Dimanakah ada orang dengan kepandaian begitu liehay? sudahlah jangan mengepul, supaya jangan orang nanti tertawa sampai giginya copot"
Lain-lainnya tetamu turut tertawa hingga riuhlah warung teh itu.

Justeru itu seorang tetamu yang duduk sendirian dipojokan berbangkit untuk bertindak keluar. Dia mengenakan kopiah pet yang dikenakannya rendah sekali hingga hampir menutup seluruh mukanya hingga sukar dilihat wajahnya, sekeluarnya dari warung itu yang memakai merek Ceng Hoo Lauw dia berjalan diantara salju.
Sama sekali dia tidak menghiraukan angin santar dan hawa dingin, Dia keluar dari pintu kota barat, terus dia menuju kebukit Siauw Ceng Ling san.

Didepan itu bagaikan dunia dari beling atau gelas. Itulah disebabkan diwaktu seperti itu melainkan es atau salju yang terlibat pada beberapa hari yang lalu angin besar menurunkan salju hingga dibukit itu salju tebalnya beberapa kaki lalu karena serangan angin Utara yang keras beberapa malam, salju itu berubah menjadi es.
Sebenarnya, jangan kata manusia, binatang pun sukar berjalan di atas es itu. Akan tetapi orang ini luar biasa, dia dapat jalan dengan leluasa dan cepat. Dia terus mendaki.

Bukit Siauw Ceng Liang san dipanggil juga see san, Gunung Barat, letaknya di barat nya kecamatan Wan-peng, puncaknya tinggi umpama menempel dengan langit. Di Ya khia ada delapan tempat yang pemandangan alamnya tersohor dan see san salah satunya, untuk keindahan esnya ini.
Dilamping bukit ada pula kuilnya dengan patung Budha yang besar serta ribuan pohon bwee. Di ketiga musim lainnya, tak putusnya orang pesiar ke sana terutama selama musim semi, Hanya disaat ini bukit sepi dari manusia, kecuali orang ini, yang akhirnya berhenti di depan kelenteng Cui Goat Am yang terbenam dalam hutan bwee yang bunganya indah dan harum itu.

Berbareng dengan tibanya orang ini, dari dalam hutan bweepun muncul satu orang yang segera mendahului menegur: "Oh, Lui Jie-tee. Begini pagi kau telah sampai?"
Orang itu memang Kian-kun Ciu Lui Siauw Thian dan si penegurnya ialah Kiu Cie sin-Kay Chong sie kakak angkatnya. Siauw Thian mengipriti kopiahnya. Dia tertawa.
"Memang aku datang pagi-pagi" sahutnya, "Aku toh harus membawa kabar. Dengan berendeng mereka berjalan masuk ke dalam kelenting.
"Benarlah, tidak salah warta yang didapat Twie-Hong Cie wie Cian Leng" kata Siauw Thian pula, "Koay Cun ketua cabang Partaimu di selatan telah tiba di sini dan kabarnya dia mengambil tempat di istananya sam Pwelek. Turut rasaku, jumlahnya anggauta Kay Pang selatan itu yang datang kemari tak sedikit tentunya.”

Matanya Chong sie terbuka lebar, "HHm" ia memperdengarkan suara, "Dengan datangnya dia pasti bakal ada pertunjukan yang menarik untuk ditonton-"Bagus kalau shatee dapat datang, entahlah warta yang disampaikan Pek Tayhiap."
"Aku percaya dia dapat menyampaikannya" kata Cong sie setelah berpikir sejenak. "Tiat Cie sin Wan itu cerdik sekali, pasti dia dapat bekerja baik. Aku percaya shatee bakal tiba dalam satu dua hari ini. cuma sebelum tibanya shatee, kira harus bersiap sedia terlebih dahulu kita mesti menjaga agar jangan ada korban, orang-orang tak perlunya diantara orang-orang Partaiku." Siauw Thian mengangguk.

Bicara sampai di situ mereka melihat munculnya dua orang yang keluar dari perdalaman. Di belakang mereka itu turut seorang pengemis umur lebih kurang limapuluh tahun yang rambut dan kumisnya sudah putih seluruhnya.
Ternyatalah mereka semua dari kalangan Kay Pang, partai Pengemis, Yang dua yaitu Jie-tiang-loo seng Hoo Tiauw Kek Liauw Yong, si pengait dari seng-Boo dan Sam tiang lo Tek-tiang siu Ang Hong si Tongkat Bambu, pengemis itu ialah Pak Thian It Gan Sun su Wan si belibis Utara, kepala pengemis di kota raja, Seng Hoo Tiauw- Kek Liauw Yong tertawa.
"Lui Losu datang pagi-pagi, entah kabar apa yang dibawa" katanya.
"Kabar genting" sahut Siauw Thian yang mengulangi keterangannya tadi.
Liauw Yong tertawa dingin, “Pengemis she Koay itu datang dia mencari mampusnya sendiri" katanya mengeluh, Dia mengandalkan pengaruhnya sam Pweelek dan Hoo Kun, memisahkan diri dari Partai kita, dia mengangkat diri menjadi kepala dari cabang selatan, sungguh dia mimpi"
Tek tiang siu Ang Hong menggeleng kepala " Liauw Loojie jangan memandang enteng kepadanya" bilangnya, "Kepandaiannya Koay Cun berada di atasan kita, dia juga sangat licin. Mungkin dia juga mengandung maksud lain lagi. ini sebabnya kenapa kemarin aku menitahkan sun su Wan membawa lencana Cie Tang Leng hu guna di tunjuki kepada semua anggauta kita di kota raja ini supaya mereka tetap menyembunyikan diri dan jangan sembarang bertindak..."

Belum berhenti suaranya Ang Hong atau ke dalam situ terlihat lari masuknya seorang
pengemis dengan tubuh berlepotan darah dan tubuhnya pun limbung. Dia roboh dan merayap maju seraya berkata dengan susah: "samwie Tiangloo di kuil malaikat bumi di pintu Tay ang mui telah terjadi bencana hebat. Koay Cun ketua cabang seatan telah datang bersama lima kawannya mereka lantas melakukan penyerangan hingga Lie Hiu-Cu kena ditawan begitupun Lian Leng yang lebih dulu sudah dihajar lengan kanannya hingga patah. Cuma aku yang dapat lolos...."

Mendengar itu parasnya Tek-tiang siu Ang Hong menjadi merah padam mendadak tubuhnya mencelat untuk lari ke luar ke arah rimba pohon bwee. Menampak demikian, Kiu Cie sin Kaypun lari ke luar ke sebelah kiri.
Chong sie dapat menerka sikapnya tiangloo itu. Aneh si pengemis pembawa berita dapat lolos dari tangan Koay Cun hingga dia dapat menyingkir ke kuil Cui Goat Am ini. Pastilah ini disengaja dikasi lolos supaya dia lari pulang, hingga gampang saja dia dikuntit, Maka si penguntit itu mesti dicari dan dibekuk sebab berbahaya apabila dia dapat lolos dengan selamat.

Benarlah segera Ang Hong melihat seorang di jarak tiga tombak maka sambil membentak.
“Kau mau lari kemana?" dia berlompat untuk menubruk. orang itu berlompatan sambil
berteriak mengancam dia mengayun tangannya. Dengan begitu tujuh titik hitam menyamber ke arah tiang loo yang nomor tiga itu.

Ang Hong menangkis sambil mengibaskan tangan bajunya, karena mana penyerangnya dapat berlari hingga jauhnya belasan tombak. Dia gesit sekali hingga dia membuatnya si tiangloo heran. Tapi tiangloo ini terus mengejar.
Keduanya lantas berlari-lari bagaikan orang berkejar-kejaran main petak, jarak diantara mereka selalu kira-kira delapan tombak. Tapi tak lama di ujung sana nampak munculnya Kiu-Cie siu-Kay. orang itu melihat ada lain musuh, dia berlompat ke samping rupinya dia ingin tidak kena dipegat. Bagaikan terbang Chong sie berlompat menerkam, seculuh jari tangannya dibuka bagaikan cengkeraman burung atau gaetan besi. Dia berlompat dalam gerakan "sin liong tam djiauw" atau Naga sakti mengulur kuku."

Orang itu tajam matanya dan gesit gerakannya. Dia berlompat ke samping, setelah mana tangannya yang kanan menyambar keatas menerkamnya itu saat mana tangkai-tangkai bunga pada rontok akibat anginnya serangannya itu.
"Sahabat, hebat Pek Hong Ciang kau" kata Chong sie, yang tertawa berkakak. "Aku si orang tua ingin bertemu dengan kau, mengapa kau tidak mampir saja? Kalau begitu, cupat pandanganmu"
Pek Hong Ciang itu ialah pukulan Angin. Habis menyerang, orang itu lari terus tanpa menoleh lagi, Dia lari ke arah rimba, Atau di sana telinganya mendengar tertawa dingin, yang menyambutnya sebab didepannya itu sudah berdiri menantikan seng Hoo Tiauw- Kek Liauw Yong
Dia kaget hingga dia melengak, Karena ini, segera dia terkurung, Chong sie dan Ang Hong segera dapat menyandak.

Liauw Yong bersenyum dan menanya "sahabat, mengapa kau main sembunyi-sembunyi hingga kau tak sudi menemui orang?"
Memang orang itu selain tak sudi menemui orang juga mukanya ditutupi topeng. Tapi
setelah terdesak itu, dia membuka topengnya, sambil tertawa dingin, dia berkata, "Kamu bertiga pengemis tua, beranikah kau melawan dan membunuh hamba negara?"
Kiu Cie sin Kay menatap orang itu, akhirnya dia tertawa terbahak. matanya pun dipentang lebar.
"Oh, kiranya Lie Looya" dia berkata nyaring. "Maaf, maaf" Lantas dia menoleh kepada Lauw Yong dan Ang Hong, untuk berkata: "Mari aku ajar kenal Inilah...."
"Tak usah" Ang Hong memotong, tertawa dingin- "siapakah tidak mengenal Yo eng-cu Lie Cin Tong yang berkenamaan, kepala serse dari kantor Kie-bun Teetok. Kami si pengemis tua tidak membunuh orang, kami tidak membakar rumah, kenapa kami dibilang melawan diri dan bunuh pembesar negeri? Tuduhan ini mesti di jelaskan jikalau tidak jangan harap kau dapat berlalu dari gunung Siauw Ceng Liang san ini"

Mukanya orang itu, Lie Cin Tong menjadi merah. Tapi ia tertawa dingin.
"Tiga orang memegat aku si orang she Lie sendirian, apa itu namanya kalau bukan melawan dan membunuh hamba negara?" dia tanya.
"Kata-kata menuduh ini cuna kamu bangsa pembesar negeri yang dapat mengucapkan” kata Chong sie bengis, “Jikalau kau tidak datang kemari dan memperlihatkan diri asalmu, siapa ketahui kaulah Paduka Cin Lie?"

Lie Cin Tong menjadi jengah sekali. Memang dia terlepasan omong, untuk mengancam siapa tahu dia dibaliki Chong sie, Mukanya menjadi merah dan ia merasanya panas, dari mulutnya cuma terdengar dumalan.
Ketika itu Lui Siauw Thian menyusul. Dia tertawa dan kata: "Paduka tuan Lie, hebat dingin-dingin kau mendaki gunung menjenguk kami. Pastilah kau datang kemari karena ada maksudmu. Baiklah kita bicara dengan mementang jendela. Kau menyebut-nyebut pembunuh hamba negara, apakah artinya itu? Hm Marilah"

Cin Tong heran, ia tidak melihat muka orang, hingga ia tidak mengenalinya, Muka itu ketutupan kopiah yang dilurunkan rendah sekali. Tanpa merasa, ia menggigil sendirinya hatinya berdebaran-
"Bagaimana?" tanyanya, membesarkan nyali. ia tidak mengerti untuk kata-kata orang itu. "M arilah?"
Siauw Thian tertawa pula, "Paduka Tuan Lie, kau keluarkan surat perintah penangkapanmu” ia berkata, sekarang ia membuka petnya, hingga tampak wajahnya.

Lie Cin Tong tak usah menatap untuk mengenali orang ini. Kembali ia kaget, ia tahu Kian Kun Ciu, yang kaum Kang ouw kenal sebagai orang yang tak dapat dibuat permainan. Ketiga tiangloo masih dapat ia pengaruhi.
Dengan meminjam pengaruh Kiu bun Teetok, dapat ia membekuk semua pengemis di dalam kota, Tidaklah demikian dengan si orang she Lui ini. Siauw Thian tidak mau membiarkan orang menjublak saja.
" Lie Cin Tong" katanya bengis, "Jangan kau bermuka tebal. Dengan pengaruhnya Kiu bun Tee-tok, siapakah yang kau hendak ancam? Aku tidak takut, Lekas kau orang, kau jelaskan maksud kedatanganmu kemari, atau kau nanti lihat lihaynya Kian Kun Ciu Lui Siauw Thian jikalau hari ini kau dapat berlalu dari gunung Siauw Ceng Liang san ini, aku akan menghilang dari dunia Kang ouw"

Biar bagaimana, Lie Cin Tong toh gusar, Maka ia nekad.
"Orang she Lui, jangan mengepul" katanya nyaring. "Aku tidak percaya kau dapat berbuat sesuatu pedaku Lie Cin Tong" Dia lantas maju tangannya digeraki untuk menyerang.
Siauw Thian menggeser tubuhnya, ia nyamping dua tombak.
Hebat pukulannya kepala serse ini, pohon bwee dibelakang Siauw Thian itu roboh, daun dan kembangnya rontok berhamburan, begitu pula air esnya muncrat.

Tapi Siauw Thian berkelit bukan untuk menyingkir saja, segera ia maju guna melakukan penyerangan membalas. Tangan kanannya menyerang sambil tubuhnya berloncat sedang tangan kirinya menyamber ke bawah, menotok jalan darah hiat hay di paha orang polisi itu.
Itulah satu diantara tiga puluh enam jurusnya "Kian Kun Ciu" atau "Tangan Im Yang " namanya "Cie thian wa tee," jurus "Menunjuk langit, mengaum bumi."
Cin Tong pernah mendengar lihaynya Siauw Thian, belum pernah ia melihat sendiri, baru sekarang ia membuktikannya. Benar benar, orang gesit luar biasa dia lihay. "Kalau ia kena terserang itu, pasti ia bakal roboh. Maka ia mengertak gigi, ia mementang kedua tangannya, guna menangkis diatas dan dibawah.

Siauw Thian heran. Tidak disangka sekali, orang berani keras lawan keras, Karena penasaran ia mengerahkan tenaganya, ia kata didalam hatinya: Jikalau aku tidak ajar kenal lihayku terhadapmu, aku mesti jual tanganku kepadamu"
Maka terjadilah bentrokan hebat, Tubuh Lie Cin Tong terhuyung mundur tiga tindak, kedua tangannya dirasakan sangat panas pahanya mengeluarkan darah. Luka itu cuma terpisah
sedikit dari jalan darah hian-hay yang di arah.

Siauw Thian menyerang dengan jari tangan Kim Kong Cie, dari pinggang kebawah dengan begitu ikat pinggang Cin Tong kena dibikin putus, dia tergurat kepaha. Meski begitu, ia sendiri kena tertolak mundur hingga dua tindak sebab perlawanan si serse pun hebat.
Bukan main gusarnya Cin Tong, ia jeri berbareng mendongkol. Perutnya yang terlanggar pun terasa sakit, Dalam nekadnya, ia mengayun tangannya, hingga tiga buah senjatanya menyamber dengan berkeredepan, berbareng dengan mana ia lompat kesamping,untuk terus lari kedalam rimba.

Selagi Siauw Thian bertempur ketiga tiangloo dari Kay Pang sudah mengundurkan diri jauh-jauh, cuma tepat mereka mengambil sikap mengurung. Tindakan ini tindakan penjagaan sebab mereka curiga Lie Cin Tong bukan datang sendirian saja.
Mereka ingin membiarkan orang lolos, supaya mereka dapat menguntit untuk mencari tahu dimana ditahannya Lie Hiocu dan Cian Leng.

Siauw Thian terkejut atas serangan senjata rahasia musuh. Senjata rahasia itu meledak sebelum mengenai sasarannya. Dalam kagetnya, ia membuang diri ke tanah untuk bergulingan, setelah mana ia lompat bangun. Apa yang ia lihat membuatnya giris.
Es yang terkena senjata rahasia itu lumer seketika, rumput dibawahnya menjadi hangus berwarna kuning. Tentu sekali, ia menjadi panas hatinya. Kapan ia melihat sikapnya ketiga tianloo, ia dapat membade maksud mereka. Meski begitu ia mengejar.

21. Jilid 11.1 : Aksi Jie In di kota raja

Bacaan » PEMBALASAN SEORANG JAGOAN » Jilid 11.1 : Aksi Jie In di kota raja
Anggota masrizki
Waktu 1 Oktober
Bab Sebelum 20. Jilid 10.1 : Kay pang dipecah belah penguasa
Bab Sesudah 22. Jilid 11.2 : Mengobati Kaisar Kian Liong




Pembalasan Seorang Jagoan
Karya: Wu Lin Qiao Zi
Saduran : OKT
Jilid 11.1 : Aksi Jie In di kota raja

Karena mereka berlari-lari keras, akhirnya mereka tiba diluar kota. Dari sini In Gak lari terus kegunung Bong Hiang san.
Sang fajar telah menyingsing, matahari mulai mengintai. Angin dan salju tetap santer. Maka itu dimana-mana terlihat warna putih abu-abu...
Liok Koan dan cucunya pun mengagumi ilmu larinya penolong itu. Mereka sudah lari sekuat-nya, mereka tetap ketinggalan tujuh atau delapan tombak, Mereka jadi heran.

Dengan lekas mereka bertiga tiba digunung, mendadak orang itu berhenti lari, sembari memutar tabuh, dia tertawa dan berkata: "Hu Tayhiap, Nona Wan, Kalian kaget, bukan ?"
Kakek dan cucu itu melengak, sekarang si nona mengenali suara orang. ia berseru tertahan, lantas tubuhnya melompat menubruk, dengan keras, ia memegang pundak si anak muda, untuk digoyang-goyang.
"Engko In.... kau...." serunya. Dan ia bersenyum, matanya dibuka lebar, mata itu terus mengeluarkan air mata, ia terharu saking girangnya.

Sejak berpisah di Thaygoan, Hu Wan selalu memikirkan si anak muda, sampai ia tertawa dan menderita, baru sekarang ia menemukan pula, justru ia ditolongi dari bahaya, bagaimana ia girang dan bersyukur. Tak dapat bicara banyak. In Gak pun terharu, ia ingat bagaimana si nona menderita.
Liok Koan mengenali setelah ia menyaksikan kelakuan cucunya itu, ia mengusap-usap kumisnya, sembari tertawa lebar ia berkata: "Cia siauwhiap, kiranya kau jikalau tidak anak Wan, mungkin aku tetap tak mengenali kau" sejenak itu, lupa orang tua ini bencana yang menimpa dirinya.

In Gak turut tertawa.
"Hu Tayhiap. aku ingin kau suka mendengar pikiranku," katanya kemudian. "Sekarang ini kota raja bersuasana buruk. Disana kaum Rimba persilatan lagi mengancam dengan peristiwa-peristiwa yang dahsyat, maka itu kau dan Nona Wan, tak selayak kamu berdiam lebih lama pula dikota raja.
Turut aku baiklah tayhiap berdua lekas berangkat ke Hoan Pek san-chung di gunung Tiang Pek san, untuk berdiam disana sedikitnya tiga bulan, Bagaimana ?"
Liok Koan berpikir.
"ltulah bagus," sahutnya selang sesaat, "Aku si orang tua kenal Kiong Thian Tan, banyak tahun aku tidak pernah pergi kesana, mungkin dia tidak akan menampik kami. ini pun berarti sekalian pesiar Hanya anak Ceng..."

"Serahkan si Ceng padaku" kata In Gak cepat. "Aku nanti cari dia, setelah ketemu, aku akan menitahkan dia lantas menyusul kesana" ia berhenti sebentar, untuk menurunkan pedang dari pundaknya, sembari mengangsurkan itu pada Hu Wan, ia kata tertawa: "Nona, inilah barangmu aku kembalikan kepada kau. Aku harap lain kali janganlah pedang ini kena diambil orang pula."

Mukanya si nona merah, tetapi ia mengangkat kepala mengawasi orang dengan mata yang jeli, ia berduka karena mereka bakal terpisah pula, Tapi ia bersenyum dan kata: "Encie Tio dan encie Ciu ada di peternakan di chahar Utara lagi balap dengan kuda mereka, apakah kau menghendaki aku memberi kabar pada mereka itu bahwa kau berada disini?"
In Gak menggeleng kepala.
"Aku harap kau mengajak mereka sama sama pergi ke Hoan pek san-chung," ia bilang, "tetapi janganlah memberitahukan bahwa aku berada disini."

Nona itu agaknya tak mengerti maksud orang tetapi ia mengangguk ia tak tahu mengapa pemuda ini tak suka kedua tunangannya mengetahui dia berada dimana. Dilain pihak, ingin sekali ia memandang wajah tampan dari sianak muia, akan tetapi didepan kakeknya ia malu hati, tak dapat ia membuka mulutnya hingga ia cuma bisa mengawasi dengan sinar matanya yang berarti....
In Gak tersenyum.
"Hu Tayhiap." katanya, ramah " waktu untuk kita bertemu pula telah tak lama lagi, maka itu silakan tayhiap berangkat sekarang."

Hu Liok Koan percaya anak muda ini hendak melakukan sesuatu dikota raja, bahwa beradanya ia dan cucunya dapat merintangi sepak terjangnya itu, dari itu ia memberi hormat dan mengajak Hu Wan lantas berangkat pergi.
Nona Hu merasa barat sekali, sering ia menoleh ke belakang Untuknya rupanya, lebih banyak memandangi si anak muda lebih baik....
In Gak mengawasi orang berlalu ia pun merasa berat untuk perpisahan itu, ia terharu untuk itu nona dan kakeknya, yang mesti menderita dari tangan orang jahat.

oooOOOOooo

Ditepi gunung tak jauh dari tempat ia berdiri itu, In Gak melihat sebuah rumah berhala, maka ia lantas bertindak kesana, ia berjalan perlahan setelah memasuki kuil tak lama, ia sudah keluar pula, sekarang ia bukan lagi seorang usia pertengahan beroman sangat jelek hanya seorang muda melainkan wajahnya tetap jelek tidak keruan.

Sang waktu adalah tengah hari dan walaupun angin keras dan salju terbang melayang-layang, daerah Ta-mo-Ciang ramai sekali, itulah pusat dari pelbagai piauw-kiok. usaha pengangkutan, dimana pun ada banyak rumah makan dan warung teh. Maka disitu pun biasa berkumpul orang orang Bu lim atau Rimba Persilatan.

Lebih-lebih itu waktu negara aman, disitu juga kedapatan tukang-tukang tenun yang menggunai perantaraan burung, tukang jual silat pelbagai pertunjukan dan tukang tukang menyanyi, Tempat demikian ramai tapi luar biasalah sebuah rumah makan yang letak diujung jalan sebelah selatan dari Ta-mot-Ciang.
Sebab rumah makan ini, yang mendapat banyak kunjungan tetamu, bagian lauwtengnya justru sunyi . .. .

Didekat jendela diatas lauwteng ada berduduk seorang muda yang romannya jelek sekali Dia berduduk seorang diri, dia tengah berdahar, Agaknya dia tidak bernapsu, tidak bergembira, Dahar-nya perlahan-lahan, matanya pun dibuka kecil. sama sekali tak pernah dia berbicara.
Diatas lauwteng itu tidak kurang tetamu tetapi suasana sangat sunyi. Disana ada empat buah meja lain dengan tetamu-tetamunya orang Bu Lim, sedang pada sebuah meja ada empat pendeta dan tujuh imam, Dua meja lagi sudah disiapkan piring mangkuknya hanya kursi-kursinya masih kosong, rupanya sang tetamu-tetamunya masih dinantikan kedatangannya,
semua pendeta dan imam itu berbicara kasak-kusuk saja, Roman mereka nampak tegang.

Sebelum orang orang Bu Lim dan kawanan pendeta dan imam ini datang, semua tetamu diatas lauwteng itu telah diminta pelayan untuk pindah kebawah melainkan si pemuda beroman jelek itu yang tidak mau pindah yang tetap bercokol dikursinya, itu mungkin yang membuatnya tidak puas dan tidak bergembira itu. Karena ini, ia sering sering diawasi atau dilirik para tetamu lainnya itu, yang rupanya merasa heran.

Akhir-akhirnya kesunyian itu tak dapat dipertahankan 1ama-lama. Dengan berisik maka terdengarlah suara banyak kaki lagi mendaki tangga lauwteng, Dengan cepat muncullah beberapa orang dengan yang berjalan dimuka seorang tua usia lebih kurang limapuluh tahun, mukanya merah kumisnya pendek putih.
Dia bertubuh besar dan kekar. Dia pun membawa dua rupa senjata dipundaknya, dikiri golok go-leng-too, dan dikanan cagak sam leng-cee, panjangnya tidak ada lima kaki, Begitu dia melihat kawanan pendeta dan imam itu, terdengarlah suaranya yang nyaring bagaikan genta:
"Ah, Hoat It siangjin dari Siauw Lim Pay pun datang, inilah sungguh tidak disangka-sangka. Maka benarlah manusia itu, biar dia telah mencucikan diri, yang hatinya betul-betul kosong, tidak ada" Habis kata itu, dia tertawa pula, sikap itu terang sangat mengejek.

Diantara keempat pendeta, yang seorang bertubuh katai dan kurus, dia lantas berbangkit seraya merangkap kedua tangannya, dengan kepalanya tunduk, dia memuji kepada sang Buddha, cuma sebegitu tingkahnya, lantas dia berduduk pula.
Mendengar disebutnya nama pendeta dari Siauw Lim Pay, si pemuda jelek melirik. Justeru ia melirik, lantas matanya bersinar tajam, ia mendapat lihat dibelakang si orang tua ada seorang nona. Hanya habis meririk itu, ia lantas mengangkat cawannya untuk minum dengan tenang seperti biasa.

Dengan tibanya rombongan si orang tua, kesunyian tambah menjadi-jadi, sekarang ini umpama-kata sebatang jarum jatuh suaranya pasti dapat terdengar. Bahkan dibawah lauwteng, dimana tadi berisik suara tertawa, sskarang mulai reda...
Tiba-tiba seorang usia pertengahan bertindak kemeja si anak muda jelek itu. Dilihat dari tindakannya, dia mahir ilmu enteng tubuh. Dia berdiri didepan si anak muda untuk lantas tertawa dengan dingin.
"Eh tuan " katanya kaku, "jika kau sudah minum dan dahar cukup, silakan kau berlalu dari sini Kami mempunyai urusan yang hendak didamaikan, urusan mana tak suka lain orang mendapat tahu, Aku minta tuan suka maafkan" Kecuali sikapnya, kata kata orang hormat dan manis.

Si anak muda mengangkat kepalanya, ia mengawasi dengan dingin.
"Maaf," katanya, "Ada satu hal yang aku masih belum jelas, tolong tuan suka menjelaskan. Bukankah rumah makan ini Ceng Hong Lauw namanya?" Pertanyaan itu aneh, orang yang ditanya itu heran, Tetapi ia mengangguk. "Benar ini Ceng Hong Lauw," ia menyahut "Ada apa tuan menanyakannya?" Tiba-tiba anak muda jelek itu tertawa lebar.
"Karena ini rumah makan, yalah tempat umum, dapat kita berbicara" katanya, "Bukankah ada pembilangan, siapa datang lebih dulu dialah yang duduk? Maka itu alasan apa kau mempunyai menitahkan aku berlalu dari sini? Kamu hendak berapat, ditempat mana kamu tak dapat berkumpul. Kenapa kamu justeru memilih rumah makan ini? Benar-benar tidak ada aturan"

Orang itu malu hingga mukanya menjadi pucat-biru. Hebat kata-kata itu yang dikedepankan di-depan banyak orang, ia menjadi gusar sekali.
"Bocah" serunya "Dikasih minum arak kehormatan kau tampik, kau justeru, ingin arak dendaan"
Kata-kata itu disusul dengan sambaran tangan kepada pundak, cepat sekali, anginnya pun bagaikan menderu.

Si anak muda melihat itu, ia bersenyum, sembari bersenyum, ia mengangkat tangan kirinya, dengan dua jerijinya ia menotok kejalan darah hok kiat penyerang itu la bersikap tenang tetapi gerakannya itu tak kalah sebatnya.
Penyerang itu kaget, inilah ia tidak kira. Dengan cepat ia membatalkan tepukannya, sebaliknya tangannya itu dipakai membabat serangan si anak muda.

Dia ini tertawa, sembari menarik pulang tangan kirinya, tangan kanannya diluncurkan, sebat luar biasa, ia menangkap lengan orang, untuk terus dilempar hingga tubuh orang itu terlempar kearah mejanya si orang tua
semua orang heran, tanpa disengaja mereka mengisi dengar seruan mereka, sebab mereka tahu orang usia pertengahan itu bukan sembarang orang tetapi dia kini dilempar hanya dalam segebrakan. Mereka heran saking kagum.
Si orang tua terbang itu, dengan kedua tangan ia menanggapi tubuh orang yang dilemparkan ke-arahnya itu

Kedua matanya si nona bersinar mengawasi si anak muda yang jelek itu, hanya sebentar kemudian, sepasang alisnya yang bangun berdiri lantas turun pula. Didalam hati kecilnya ia kata: "Kenapa orang muda demikian liehay demikian buruk wajahnya?...." Ia penasaran dia menyesalkan Thian kenapa anak muda itu diberi roman demikian rupa... Kawanan pendeta dan imam turut mengawasi si anak muda, tapi mereka berdiam saja.

Tiba-tiba terdengar satu suara, yang tak ketahuan siapa yang mengucapkannya "Siapa pun tidak menyangka Tian Cie Pa-Cu Souw Tong mendadak tumbuh sayap" Kata-kata ini membangkitkan tertawanya banyak orang hingga ruang menjadi ramai.
Si orang tua, yang tadinya beroman tegang sebab ia mesti menanggapi si orang usia pertengahan, dengan cepat menjadi biasa pula, bahkan seperti tidak menggubris si anak muda, ia tertawa nyaring.
"Sekalian cian-pwee dan sahabat" ,ia terus berkata, "aku merasa beruntung sekali yang kalian sudah memenuhkan undangan dan datang hadir di rumah makan Ceng Hong Lauw ini Kenapa kah aku tidak mengadakan pertemuan di tempatku sendiri? itulah melulu guna mencegah salah mengerti. Aku tidak ingin menyebabkan orang bercuriga dan nanti menyangka aku Imyang Twie-Hong Bok Heng Ek nanti menggunakan akal muslihat di tempatku di se-hoo poo, Begitulah aku memakai rumah makan ini."

Ia hening sejenak, baru ia menambahkan:
"Aku telah berbuat kurang hormat barusan aku mohon maaf dengan satu cawan dengan apa aku menghormati kalian" ia mengangkat cawannya dan menghirup kering isinya.
Agaknya sederhana saja tingkahnya Bok Heng Ek itu, tetapi seorang tua katai dampak dan bermuka putih, yang duduk di sebuah meja sebelah kiri, berbangkit dengan gusar, Dia lantas menggebrak meja hingga cangkir dan mang kok lompat menari.
Dia kata dengan berteriak: “Bok Poocu, kami datang kemari guna membereskan perselisihan bukannya untuk berjamu. Justeru sekarang kita sudah berkumpul, aku mohon semua tuan tuan sukalah memberi pengutaraannya yang pantas dan adil.
Akulah Hwee gan Kim ciu Lim Bong, digunung Beng Tong san aku mendapatkan kitab Bu siang Kim-Keng Ciang Kang. ketika aku lewati dikecamatan Bit-in maka Kitab itu kena dicuri oleh orangnya Imyang Twie Hong Bok Heng Ek yang namanya sangat kesohor diwilayah Yan In.
Syukur aku lantas mendapat tahu, maka aku mengejarnya. Sampai diluar kota, aku dapat menyandak. Heran adalah sikapnya Bok Poocu, ia menyangkal sudah mencuri, ia kata ia dapat pungut kitab itu. Demikianlah maka kita berselisih."

Dia lantas mengawasi kearah rombongan pendeta dan imam romannya tetap gusar, dia meneruskan: "Tengah kita berselisih itu makan datanglah Siong Pek Too-jin dari Bu Tong san, Tahukah tuan tuan apa katanya imam itu?
Katanya, " Kitab ini yalah kitabnya yang hilang, siapakah yang dapat menyangka Bu Tong Cit Too, tujuh imam dari Bu Tong san, yang kesohor dikolong langit ini, dapat mengatakan perkataan demikian rendah.”
Kata-kata ini di susul dengan suara tertawa kering oleh salah satu imam, Rupanya dialah Siong Pek Tejin yang disebut itu. semua mata lantas diarahkan kepada si imam.

Perselisihan di antara kaum Rimba Persilatan adalah umum akan tetapi caranya Siong Pek Tojin dianggap hina, itulah pelanggaran pantangan besar, Apapula dialah imam kenamaan. Siong Pek Toojin-pun bersikap aneh, ia cuma tertawa dua kali, lantas dia berdiam, Maka orang percaya benar bersalah.
Melihat sikapnya si imam, Hwe-gan Kim Cu agaknya puas sekali, ia mendapatkan kebanyakan hadirin bersimpati kepadanya, Maka ia lantas menyambung kata-katanya:
"Ketika itu aku si orang she Lim menanya Siong Pek Too-tiang, kalau kitab itu benar kitab suci, kenapa kitab berada dirumah si hidung kerbau..."
Mendengar ini banyak orang tertawa tergelak. bahkan si nona yang duduk dimejanya

Im-yang Twie Hong tertawa terpingkal-pingkal.
Si anak muda muka jelek memandang nona itu, mungkin di sebabkan lebih banyak oleh paras si nona.
Si nona mendapat tahu si muka jelek mengawasinya, ia berhenti tertawa, tetapi ia masih tersenyum...
Lim Bong menjadi semakin puas. ia menganggap orang banyak itu mengatakan ia dipihak benar, ia lantas mengurut-urut jenggotnya.
Lantas ia berkata pula : "Atas pertanyaan itu, Siong Pek Tootiang memberikan jawabannya, Dia kata: "Kenapa pintoo tidak tahu kitab yalah kitab suci? sebenarnya kitab Bu Heng Kim kong Ciang Keng itu awalnya yalah milik Siauw Lim sie digunung siong san. Ialah satu diantara tujuh puluh dua kitab yang disimpan didalam lauwteng Cong Keng Lauw.
Pada delapan belas bulan yang berselang, kitab itu dicuri oleh seorang yang tidak diketahui, untuk itu Siauw Lim sie telah mengirim banyak muridnya untuk mencari. Bu Tong Pay masuk Too Kauw tetapi ketiga agama pokoknya satu, sebagian bunga merah, daun hijau dan ubi teratai putih asalnya, maka untuk melindungi kehormatan Bu Lim, pihak kami telah memberi bantuannya.
Untuk itu pintoo sudah pergi mengembara. Kebetulan sekali pintoo berhasil mendapatkan kitab itu, ditemuinya pada tubuhnya mayat dari seorang pencuri yang menggeletak digunung Hong san, pinto ambil itu, untuk dibawa pergi, buat dikembalikan kepada pihak Siauw Lim sie.
Diluar dugaanku, diluar kota Bit-in aku kecurian. Rupa-nya kitab itu didapatkan Lim Pocue, maka aku telah minta kedermawanannya untuk membayar pulang. Terdengarnya kata kata itu pantas sekali, tetapi ketika aku minta keterangannya, jawabannya tidak memuaskan. Aku tanya mayat si pencuri diketemukan digunung bagian mana dan kapan waktunya, dia tidak bisa menjawab.
Pula aneh sikapnya sesudah dia mendapatkan kitab, Kalau dari ouwlam kita menuju ke ouwpak terus ke Hoolam, untuk tiba di siong san, bukankah terlebih dekat? Kenapa dia justeru pergi ke Bit-in? itu namanya meninggalkan yang dekat mencari yang jauh. Perbuatannya itu tak pantas, bukan melainkan aku si orang she Lim, para hadirin tentu tak menyetujuinya"
Habis berkata, dengan mata tajam dia mengawasi si imam.

Ketujuh imam serta keempat pendeta pada tunduk dan berdiam, hingga orang tak tahu mereka tengah memikirkan apa.
Si anak muda jelek berpikir: "Kata-katanya siong Pek Toojin mungkin benar sebagiannya. Ketika baru-baru ini di Sam Eng Piauw Kiok di Kota Kim-hoa aku bertemu Hoat Hoa Taysu dari Siauw Lim-sie, dia pernah menyebut-nyebut kitab Bu siang Kim Kong Ciang Hoat itu, benar dia ada tidak membilangi kitabnya hilang tetapi dia turun gunung pastilah untuk mencarinya. siapa sebenarnya yang curi kitab itu? Sekarang mereka bertiga bertengkar. Mungkin ketiganya tidak benar seluruhnya. Aku orang luar, baik aku tidak campur mulut, biar aku mendengari saja..."
Meski ia berpikir demikian, seriang ia mengawasi si nona manis. ia melakukannya tanpa diingini Tapi ia membangkitkan perhatiannya nona itu hingga nampaknya hangat sinar matanya si anak dara. Ia melihatnya, diam-diam ia bersenyum. Ia anggap aneh kelakuan si nona...

Lantas seorang yang tubuhnya berpunggung harimau dia berpinggang biruang," turut bicara, katanya. "Menurut pandanganku, Siong Pek Tootiang mungkin belum menjelaskan urusan peribadinya sendiri maka dia telah membawa-bawa kitab itu pergi ke Bit-in, baru dari sana dia akan pulang langsung ke Siong-san. Lim Loo-enghiong, mungkin teguran kau ini terlalu keras."

Matanya Lim Bong bersinar.
"Chie Loosu bicara gampang saja" katanya. "Kalau begitu, apakah alasan belaka ketika aku bilang aku mendapat kitab itu digunung Bong Tong san?"
Orang she Chie itu berdiam, mukanya berah. Mungkin dia merasa sudah salah omong. Tapi kata-katanya itu beralasan. siapa punya urusan, dia tentu bereskan dulu urusannya sendiri, baru urusan orang lain. Ketika itu see Hoo Poo Cu Bok Hong Ek tertawa lebar.
"Lim Loosu semua tentu kena dibikin kacau kata-katanya Lim Loosu" dia bilang. "Loosu pastilah merasa aneh dan ragu-ragu. Di dalam satu hal, turut pantas, aku mesti berurusan dengan siong Pek Tootiang, tetapi dengan si orang she Lim main berkeras, dia membuatnya aku menjadi serba salah..."

"Brak" demikian suara meja di keprak. Itulah Lim Bong yang menjadi sangat mendongkol. Terus dia kata keras: "Bok Loosu, mengapa kau berkata begini, Kitab itu dicuri dari sakuku, kaulah yang mencurinya, mengapa kau bilang aku yang berkeras? Itulah hakku"
Bok Heng Ek tertawa tawar alisnya memain, Dia menyapu dengan sinar matanya kepada para hadirin.
"Segalanya yalah Lim Loosu yang menyebabkannya" ia kata, "Aku si orang she Bok bukan orang kenamaan tetapi aku juga bukannya seorang perempuan atau bocah cilik. Aku tidak dapat ngoceh tidak keruan"

Panas hatinya Lim Bong. Ia sangat terejek.
Seorang dari mejanya Lim Bong terlihat berlompat, dia menyerang Heng Ek. Dia berlompat pesat sekali.
"Kembalilah kau" demikian satu bentakan, maka tubuh orang itu, belum lagi tiba pada Heng Ek. sudah mental kembali mental jempalitan.
Lim Bong gesit dan kuat, ia lantas menanggapi tubuh kawannya itu, orang itu meringis, saking malu dan kesakitan.

Si anak muda muka jelek melihat, orang yang memukul balik orang itu yalah seorang tua yang kepalanya gundul separuh, ketika dia menyerang itu, dia duduk terus dengan sikapnya tenang saja, melainkan suaranya berpengaruh.
Lim Bong gusarnya bukan main, akan tetapi ketika ia telah melihat si orang tua, ia agaknya jeri, ia mengawasi dengan mata bengis, dia bungkam.
Maka sejenak itu, sunyilah lauwteng itu. Cuaca pun gelap bagaikan magrib, Apa yang terdengar yalah suara orang bernapas...

Lalu si pemuda jelek mendapatkan orang yang dipukul balik lagi mengawasi ia, matanya bersorot mendongkol.
Kawanan pendeta dan imam, hweeshio dan toosu itu, masih tunduk dan diam saja. Mengenai kejadian barusan, mereka seperti tidak melihat dan tidak mendengar. Rupanya mereka sungkan menceburkan diri didalam air keruh.
Akhirnya kesunyian dipecahkan tertawa terkikik dari si nona, Dia anggap lucu bungkam-nya semua orang, hingga tak dapat dia tak tertawa dan mulutnya pun dibikin monyong.

Lalu see Hoo Poocu Bok Heng Ek berbangkit, dia tertawa dan berkata seenaknya: "Barusan It Goan Kie-su Ouw Loocianpwee, dengan satu gerakan tangannya, telah melepaskan aku dari ancaman bahaya, bantuan itu akan aku si orang she Bok mengukir dalam hatinya."
"Ah, kiranya dialah It Goan Kie-su" pikir si anak muda. "Dialah Ouw Kong yang saudara Siauw Thian bilang liehay terutama ilmu-silatnya yang dinamakan Hi Goan Cin Khio, karena pernah tiga kali dia menyatroni gunung Kun Lun san dan mengacau di gunung itu.
Hanya heran, habis itu untuk tigapuluh dia seperti menyembunyikan diri, atau sekrang dia muncul diatas Lauwteng ini. Ah, urusan agaknya tak sederhana seperti dilihatnya..."

Tidak cuma si anak muda, hadirin yang lainnyapun heran mendengar orang tua itu adalah It Goan Kie-su, semua pada mengawasi ke arahnya. Tiba-tiba Lim Bong menggebrak meja.
"Bok Heng Ek, kau memikir yang bukan-bukan" dia menegur bengis. "Cara bagaimana kau dapat memakai nama It Goan Kie-su untuk menggertak aku?"
Belum berhenti suaranya jago she Lim itu, atau seorang dengan rambut kusut bagaikan hantu telah berlompat ke belakangnya, matanya bersinar sangat tajam, terus dia menyerang ke kedua jalan darah yang berbahaya sekali, Hong Hu dan thiin-cu.

Kaget Lim Bong, ia tahu datang bokongan dan ia tidak takut, hanya itu wakti ia lagi berkedudukan sulit, didepan ada serangan dibelakang ada serangan itu yang sukar ditangkisnya. Tidak ada jalan lain, terpaksa ia membuang diri kesamping kanan hingga ia membentur dan menindihkan seorang yang duduk dikanannya itu, lalu sambil menekan maju, tubuhnya melesat terus hingga tiga kaki jauhnya. Dengan begitu bebaslah-ia dari bahaya.

Si anak muda bermuka jelek terkejut, penyerang itu yalah si nona manis. Yang mengherankan ia yalah keringanan tubuh si rona, gerakannya sangat lincah dan cepat, jarang nona segesit dia. Kedua tangan nona itu juga menyekal sepasang pedang pendek tak ada satu kaki lima dim dan bengkok. jadi itulah juga senjata yang langka.

Lim Bong tidak lolos seluruhnya. Baru ia bebas, ia sudah diserang pula si nona, yang tanpa mengucap sepatah kata terus mendesak kepadanya. Kali ini ujung pedang stel itu meluncur ke kedua jalan darah sam yang dan yang kwan, la menjadi repot meski sebenarnya ia kesohor selama beberapa puluh tahun karena "Kie Hong Tjiang Kiam," yaitu ilmu silatnya tangan kosong dan pedang yang luar biasa, Untuk wilayah KwanTiong, dulu hari itu ia terkenal jago kelas satu.

Saking terdesak akhirnya ia berseru nyaring, dengan tangan kirinya ia membalas menyerang, itulah jurus "Raja setan mengipas" salah satu jurus dari Kie Hong Ciang Kiam. Dengan itu ia mengetok kedua pedang bengkok. Itu pula jurus yang biasa digunai untuk Jalan kekalahan mencari kemenangan."
Sejumlah hadirin berseru kagum melihat serangan membalas dari Hwee gan Kim coa itu.

Justeru itu mendadak si nona menjerit bahna kaget, tubuhnya mencelat mundur dua kaki, mukanya menjadi merah sekali bahkan malu, dengan mata berputar ia membentak: "Kau... Bagaimana kau..."
Kejadiannya ialah dua-dua Lim Bong dan si nona terancam bahaya. Tangan Lim Bong dapat di papas pedang, sebaliknya lebih dulu dada si nona bakal tertotok. Dialah seorang nona, bagaimana dadanya dapat ditowel seorang pria?

Maka itu dia kaget dan menjerit. Dia tidak memperdulikan bahwa saking gusar, Lim Bong sudah melanggar pantangan Rimba Persilatan, ia mau menarik tangannya tapi sudah tak keburu, Syukur si nona lompat mundur. Dia bermuka pucat dan merah, saking kaget, malu dan mendongkol.
Lim Bong melihat semua mata mengawasi tajam padanya, ia merasa tak enak, akan tetapi ia membawa tabiatnya. Maka itu ia tanya si nona sambil membentak:
"Nona kecil, aku si tua tidak bermusuhan denganmu, mengapa kau membokong aku? Syukur aku ingat kau muda dan belum tahu apa-apa, aku tidak mau membinasakan kau Sekarang pergilah kau pulang aku tidak mau membikin susah padamu"
Diperhina dimuka orang banyak secara begitu, nona itu mendongkol hingga ia mengeluarkan airmatanya.

Selagi begitu, It Goan Kie-su Ouw Kong berkata dingin: "Lim Loosu, terima kasih untuk pengajaran dan nasehatmu atas anakku yang memang bertabiat bandel ini tetapi anakku juga sangat terhinakan, maka aku kuatir didalam tempo tiga hari ini kau mungkin tidak bakal lolos dari kematian. inilah sungguh sayang..."
Ia tertawa, lalu berkata-kata pada si nona. "Anak Lan, kau boleh pulang lebih dulu. Urusan mesti dulu diurus perkara umum baru urusan pribadi sendiri sekang kita hendak menanti Lim Loosu menjelaskan dan membereskan urusan kitab Bu siang Kim-kong Ciang-Keng."

Lim Bong terkejut, ia tidak sangka sekali si nona adalah gadisnya It Goan Kie-su. Tengah ia berdiam itu, mendadak si nona berlompat kepadanya, menggampar mukanya hingga tak sempat ia menangkis atau berkelit maka ia merasa mukanya sakit danpanas. si nona sendiri, habis menggaplok itu, lekas kembali ke tempatnya. Lim Bong mengusap-usap pipinya, ia tertawa meringis.
"Salah paham ini terlalu besar" katanya kemudian, Jikalau aku tahu si nona yalah mustikanya Ouw Locianpwee, biar nyaliku besar tidak nanti aku berani menyalahi dia. Baiklah, sebentar aku akan menghaturkan maafku."
Ia berhenti sebentar, lalu ia berkata pada orang banyak: "Sekarang urusan salah pahamku ini sudah jelas, sekarang aku si orang she Lim..."

"Siapa bilang sudah beres?" kata si nona itu, " Kenapa kau tidak memikirkan tempat di mana tubuhmu dapat dikubur? Kenapa kau masih recoki kitab Bu siang Kim-kong Ciang Keng itu? Benarkah kau tidak mau sadar?"
Lim Bong mengerti bahwa permusuhan telah tertanam, ia telah memikirkan jalan untuk meloloskan diri, cuma karena sangat terpaksa, ia membawa sikap mengalahnya itu. Biar bagaimana, ia mesti memegang derajat. maka itu, mendengar suara si nona, ia tertawa bergelak.
"Seorang laki-laki hidup dia tak usah bergirang, mati dia tak usah takut" katanya, Jadi untukku, tak usahlah aku berbuat seperti katamu, nona. Para hadirin telah melihatnya, kalau bukan si nona membokong, tidak nanti aku turun tangan nona, Kau jangan kuatir, aku nanti memberikan keadilan kepadamu"
Si nona tertawa dingin. "Baiklah nonamu menantikan" bilangnya.

Dengan begitu maka suasana di Ceng Hong Lauw ini menjadi panas, umpama panah, jemparing telah dipasang dibusurnya, sudah ditarik. tinggal dilepaskan saja. semua hadirin merasa tegang, Mereka diundang untuk memberi pertimbangan tentang urusan berpindah ke urusan pribadi.

Cuma si pemuda muka jelek yang berdiam sambil memperhatikan setiap orang.
Kembali sunyi sejenak. Lalu kesunyian dipecahkan dengan pujian Bu Liang siu Hud" Lalu Siong Pek Toojin berbangkit berdiri.
Dengan suaranya sungguh-sungguh, ia berkata: "Pintoo tidak suka banyak omong tetapi pintoo rasa perlu pin-too bicara, Pintoo kuatir tuan-tuan kurang jelas dan nanti keliru mengerti terhadap Bu Tong Pay hingga selanjutnya tak dapat pintoo menjelaskannya pula. itulah dibikin-bikin ketika Lim siecu mengatakan pin-too mendapatkan kitab di gunung Hong san, Urusan telah menyebabkan Bok siecu mengundang rapat ini, untuk membereskannya. Untuk ini, Lim siecu pun mengundang Gan Kek siecu dan Hong san Pay menjadi saksi sebenarnya, soal siapa yang mendapatkan kitab itu bukan soal lagi, soalnya adalah siapa pemilik asal kitab itu, maka..."
Ia berhenti untuk memandang ke sekelilingnya ketika ia meneruskan, ia bersenyum:
"Maka juga Piotoo mengirim surat kilat mengundang datangnya keempat hoat su dari siauw Lim Pay, Bukankah barusan Hoat It siang-jin berdiam saja? Inilah dsebabkan ia tidak ingin urusan menjadi bagaikan gelombang besar, Baiklah diketahui, kitab itu tidak dapat diyakinkan kecuali orang lebih dulu sudah belajar dua puluh tahun lamanya di dalam Siauw Lim sie, belajar tentang ilmu kebatinan sesudah orang tak menghiraukan lagi soal mati atau hidup, oleh karena itu, untuk Lim sie-cu atau Bok siecu, kitab itu ada bagaikan sampah saja, tak ada faedahnya, maka juga aku pikir baiklah kitab diserahkan kepada Siauw Lim Pay, pemiliknya. Dengan begini juga perselisihan dapat dihabiskan, hingga keutuhan kaum Bu Lim tidak terganggu Tidakkah ini baik?"

Imam itu lantas memandang tajam kepada Lim Bong, Ketita ia melanjuti kata-katanya, sikapnya kaku, ia kata: "Begitulah maksudku, untuk menghindarkan persengketaan terlebih jauh. Di luar dugaanku, Lim Siecu benar benar hendak memperolehnya. Dia sudah menganjurkan atau menghasut keempat Hantu dari Kholo Kong san Cin Tiong siang Niauw dan Kiong-bun siang Kiat.
Mereka itu didustakan dengan berkata bahwa kedatangannya keempat hoat su dari Siauw Lim Sie dan kami ke mari adalah karena kami mengandung suatu maksud lain, kami difitnah hendak mempersatukan semua orang Bu Lim guna mengusir mereka itu dari wilayah Tionggoan.
Fitnahan itu sungguh memalukan dan hebat akibatnya, empat Hantu Khole Keng san tdak tahu duduknya hal, mereka main percaya saja, tadi malam dengan berombongan mereka sudah membokong keempat hoat su dari Siauw Lim sie, hingga dua orang murid Siauw Lim sie, Siong Lim dan Siong ko, telah terbinasakan, Berbareng dengan itu ada seorang bocah she Hu tengah dikejar Loosu Sim Siang Kiu dari istana Sam Pweelek. oleh karena merasa kasihan, keempat hoat su menolongi bocah itu.
Perbuatan itu membikin gusar Sim Loo-su, yang menjadi percaya keempat hoat su benar mengandung maksud lain, maka dia sudah menggunai saat rapat ini untuk secara diam-diam membasmi kami. Alasan belaka ketika dia menyatakan, Undangan ada untuk pertemuan persilatan. Maka dari itu aku bilang, kitab bukan menjadi soal pokok lagi Kita sekarang harus berdaya bagaimana harus menyambut dan menghindarkan diri dari takdir celaka itu Demikian kata-kataku, sekarang terserah kepada para hadirin untuk memikirkannya."
Habis berkata si lmam berduduk pula seraya merapatkan kedua matanya.

Para hadirin pada mengasi dengar suara "oh" lalu separuhnya mengawasi tajam kepada Lim Bong. si anak muda muka jelek lega hatinya mendengar Hu Ceng ditolongi pendeta-pendeta Siauw Lim Sie itu, sebaliknya ia mendongkol mendengar halnya Sim Siang Kiu berkomplotan memusuhkan pelbagai partai lainnya. Itulah perbuatan hina dan jahat dan akibatnya bakal jadi hebat sekali.

Lim Bong telah dibeber rahasianya, ia bukan takut, ia justeru girang sekali.
Setelah sunyi sejenak, It Goan Kiesu Ouw Kong berkata sambil tertawa: "Aku si orang tua bukan asal kaum lurus tetapi aku tidak senang dengan sepak terjangnya keempat Hantu dari Kholo Kong san dan Cio Tiong siang Niauw beramai itu, maka itu kalau sebentar mereka datang, ingin sekali aku main-main dengan mereka itu"
Ouw Kong benar, ia memang bukan kaum lurus tetapi walaupun demikian sepak terjangnya selalu sama tengah.
Baru terhenti Ouw Kong bicara, ditangga lauwteng terdengar tindakan sangat berisik, itulah tanda datangnya banyak orang, Tatkala si anak muda memandang ke muka tangga, terperanjat.
ooooo

Rombongan orang yang baru tiba itu dikepalai oleh Ok suya Sim Siang Kiu, sebagaimana dialah yang jalan dimuka. Habis dia yalah Thian Gwa sam Cuncia tiga pendeta liehay yang di-kaki puncak Ciu Auw Hong hampir menbuat In Gak terbinasa, Dibelakang mereka terlihat Khole Kong san sie Mo, empat Hantu dari Khole Kong san, lalu Cin Tiong siang Niauw, sepasang burung dari Cin tiong siamsay. Yang paling belakang yaitu sam Ciat Koay-kit Beng Tiong Ke.

Si anak muda heran atas datangnya ketiga cuncia dan Beng Tiong Ke. Kenapa mereka ada bersama. Ketiga cuncia itu hebat sekali. Mengenai Beng Tiong Ke, ia mesti berpikir keras.
Adakah pengemis ini menghamba kepada Sim Siang Kiu? Atau dia lagi menjalankan siasat, dimuka umum dia bekerja untuk Ok suya, diam-diam dia membelai Kay Pang, partainya? Atau lagi, dia bekerja untuk kepentingannya sendiri? sulit untuk diketahuinya.

Atas munculnya Khole Keng sin sie Mo dan rombongannya itu, mereka lantas disambut sambil berdiri bormat oleh Hwee Gan Kim-Coa Lim Bong dan sie Hoo Poocu Im yang Twie Hong Bok Hong Ek serta orang orangnya mereka itu. Yang lainnya tetap duduk diam saja.
Keempat Hantu tidak puas mendapatkan tidak semua orang menghormati mereka, dengan mata tajam dan bengis mereka mengawasi kepada mejanya rombongan pendeta dan imam.

Sebenarnya mereka berempat asal suku Biauw dan mereka bersaudara satu ibu berlainan ayah, kepandaian mereka didapat karena diambil menjadi murid oleh seorang berilmu dari gunung Kho-lo Keng san, yang memberinya she baru yaitu Hoa dan namanya masing-masing yalah Ie, Cu, Hong dan Bong
Hoa Ie mengawasi Hoat It siangjin, dia tertawa dingin.
"Kiranya ada Hoat It si keledai gundul yang menjadi tulang punggungnya" katanya, "Tidak heran semua anak muda lainnya tidak memberi hormat kepada aku si orang tua"

Untuk si pendeta dan yang lainnya, itulah penghinaan hebat, akan tetapi semua pendeta dan imam itu tetap tunduk dan bungkam, mata mereka tetap ditutup rapat.
Melihat orang berdiam saja, mata Hoa Ie lantas menyapu ke arah It Goan Kiesu Ouw Keng, Mendapatkan orang tua itu, dia terkejut tetapi cuma sebentar, ia lantas tertawa lebar dan kata : "Aku tidak sangka sekali Ouw Kiesu muncul pula Eh, ya, mengapakah aku tidak melihat tulang punggungmu Touw Liong Kiesu Chio Thay Hie?" It Goan Kie-su tak berkutik dari kursinya, ia bersenyum.
“Jikalau Toaw Liong Kiesu datang ke mari, mana kamu orang datang ke Ceng Hong Lauw ini?" katanya. "Pastilah kamu sudah menggoyang-goyang ekor kamu dan ngeloyor pergi."
"Belum tentu" kata Hoa le tertawa dingin.
Bok Hong Ek dan Lim Bong lantas mengantarkan rombongan baru itu ke meja yang telah
disiapkan.

Setelah semua berduduk. Kim Goat Cun-cia berbicara, ia menggunai bahasa Tionghoa yang fasih, Katanya: "Pinceng mendengar kabar bahwa telah terbit perselisihan di antara poocu dan Lim Loosu disebabkan sebuah kitab Bu siang Kim-kong Ciang Keng, Menurut pinceng, baiklah hal itu tidak ditarik panjang pula. Baik diketahui bahwa selama ini pamornya Siauw Lim Pay sudah mulai runtuh, sama sekali Siauw Lim Pay tidak dapat menandingi ilmu suci dan luhur dari India, Begitulah kitab warisan guru kami, yang dinamakan kitab Poutee Pweeyap Cin Keng, adalah kitab yang sempurna, sebab isinya menggenggam semua sari ilmu silat di kolong langit ini.
Hanya sayang sekali, sekarang ini kitab itu tidak ketahuan di mana adanya, Ketika guruku yang berdiam di dalam gua di puncak Ciu Auw Hong lagi melatih diri, ia telah tersesat, Guruku itu ialah Poo Tan siang jin. Tengah guruku tersesat itu, ia telah didatangi Koay Ciu sie-seng Jie In, yang dibenci kaum Bu Lim kamu. ia dibokong dan kitabnya itu dicuri, dirampas. Karena lukanya yang tidak mendapat obat, guruku itu mati karenanya, sekarang ini kami lagi mencari Jie In. Kami mengharap. siapa saja yang mengetahui di mana sembunyinya dia, sukalah kiranya memberitahukannya pada kami, Atau kalau suka, orang dapat bekerja sama kami guna membekuk dia. Untuk itu, jikalau kita ber-hasil, pinceng bersedia membagi sebagian dari pelajaran-pelajaran yang menjadi isinya kitab itu. Nah, bagaimana pikiran loosu sekalian ?"

Mendengar perkataan pendeta itu, matanya si pemuda jelek menyala, siapa melihatnya pasti akan jeri sendirinya, Dialah bukan lain daripada Jie In atau benarnya Ca In Gak. Dia sudah merantau lama, dia telah memperoleh pengalaman, akan tetapi dasar anak muda, ada kalanya sulit untuk dia mengatasi dirinya ini sebabnya kenapa matanya menyala itu. Dia gusar sebab Kim Goat telah memutar balik duduknya kejadian dan kata katanya itu menghina sangat.

Semenjak dia duduk bercokol, Sim Siang Kiu sudah memperhatikan si anak muda jelek itu, Kenapa ia duduk sendirian saja? Dia menjadi heran, dia menjadi bercuriga, Lantas dia melihat sinar mata orang yang bengis itu, maka kecurigaannya menjadi bertambah sambil terus memasang mata, dia menanya perlahan kepada Bok Hong Ek : "Siapakah anak muda itu?”
Orang yang ditanya menggeleng kepala, tandanya dia tidak tahu, Siang Kiu mengawasi pula si anak muda,

Ketika itu ouw Keng tertawa, terus dia berkata, menanya Hong Ek : "Bok Poocu, hari ini kau menjadi tuan rumah, silahkan kau mengajar aku kenal kepada ketiga taysu itu, Mataku masih hijau, aku tidak mengenali mereka Mengapa kau tidak lekas mengajar kenal?"
"Oh, ya " kata Hong Ek. agaknya terkejut. "Dasar aku mau mati, saking girang, aku sampai lupa mengajar kenal kamu satu dengan lain" ia lantas tertawa, dengan suara nyaring ia berkata pula: "Ketiga taysu ini ialah Thian Gwa sam Cuncia, Kim Goat, Gin Goat dan Beng Goat. Merekalah guru-guru besar dari kuil Porselen Emas di India Tengah di wilayah Barat yang namanya sangat kesohor..."
Belum berhenti suaranya Hong Ek atau orang mendengar jeritan, yang keluar dari mulutnya Kim Goat Cuncia, hingga orang kaget. Pula orang lantas melihat tubuhnya mencelat bangun dari kursinya, tingginya tiga kaki, lalu roboh di lantai lauwteng, Hebat jatuhnya tubuh itu, lauwteng sampai bergoyang dan debu mengepul.

Gin Goat dan Beng Goat kaget bukan main. Mereka menduga ada orang yang membokong kakak seperguruannya itu, mereka lantas lompat bangun, guna melihat ke sekitar ruang. guna mencari si penyerang gelap.
Kim Goat tak rebah lama atau dia sudah berlompat bangun, untuk duduk kembali di tempatnya, Dia membungkam dan mukanya tampak menyeringai.
Dua saudara itu heran, mereka lantas menduga sesuatu, keduanya terus mengawasi untuk lantas menanya, mereka sangsi, Melainkan sinar mata mereka yang menunjuki mereka menanti jawaban.

Tiba-tiba si nona tertawa terkekeh, Dia berkata : "Orang ada guru besar dari wilayah Barat, maka ahli-ahli yang pelajarannya masih rendah dari Tiong goan menghormatinya sekali. Akan tetapi melihat apa yang terjadi ini, kelihatannya ketiga taysu tak cocok untuk menempur jago-jago Tiong goan, Hawa udara di sini beda dengan iklim di Barat itu. Umpama selagi bertempur lantas taysu mendadak kegatalan, hingga kepandaian taysu tak dapat digunakan lagi, lantas taysu kena terlukakan bagaimana? Kaum Rimba persilatan di Tiong-goan pastilah tak akan dapat bertanggung jawab"
Mendengar kata-kata Jenaka itu, orang tertawa. Mukanya ketiga cuncia menjadi pucat.
Keempat pendeta dan ketujuh imam, yang selalu menutup mata, juga turut tertawa, sebab barusan, mendengar jeritan dan suara roboh terbanting, sendirinya mereka membuka mata, untuk melihat apa yang terjadi.

Amarahnya Kim Goat bukan main, sambil mementang kedua tangannya, dia berlompat ke arah si nona, untuk menghajar
Menampak demikian Ok suya Sim Siang Kiu berlompat maju, guna menghadang di depan jago India ini, kedua tangannya dipentang juga, hingga mereka seperti lagi bertempur. Keduanya bentrok. keduanya mundur sendirinya dua tindak. si nona sendiri, yang diserang itu, sudah berkelit ke belakang Hoat It siang djin.

Pendeta itu beroman sabar dan murah hati, ia memandang si nona dan berkata : "Nona kecil, kau sangat cerdik, bukan kau menyingkir ke belakang ayahmu, kau justeru terus lari ke belakang loolap. Mungkinkah ada maksudmu?"
Nona itu menyingkap rambutnya, ia bersenyum.
"Sebenarnya, loosiansu, aku ingin sekali menyaksikan kepandaian liehay dari Siauw Lim Pay," sahutnya.
Pendeta itu tertawa bergolak. Dengan tenang ia berbangkit bertindak ke depan Sim Siang Kiu dan Kim Goat Cuncia.
Ketika itu, karena bentrokan mereka berdua hebat sekali, Siang Kiu dan Kim Goat tengah menyalurkan napas mereka, Hoat It tidak mau datang dekat, sebagai seorang suci, yaog tidak ingin berlaku curang, ia berhenti bertindak lima kaki dari mereka itu, ia memandang mereka sambil bersenyum, tangannya mengurut- urut kumisnya.

Semua orang dari ke dua pihak mengawasi dengan hati tertarik, Majunya Hoat It berarti satu pertempuran dahsyat bakal mengambil tempat, Bukankah mereka itu bertiga dari kalangan atas?
Lekas juga Siang Kiu dapat menyalurkan napasnya, ia membuat main kumisnya, ia pun bersenyum, hanya sebagai orang licin, senyumannya itu tengah. "Tayue, hari ini dua kali kita dapat bertemu, inilah jodoh " ia kata. "Apakah tay-su hendak menunjuki sesuatu kepadaku?"
Pendeta itu merangkap kedua tangannya.
"Amitaba Buddha " ia memuji, "Loolap ialah orang di luar garis, loolap tak dapat saling berebutan lagi, akan tetapi hatiku belum bersih betul, kembali aku menginjak dunia kekacauan sebenarnya tidak dapat aku menunjuki sesuatu kepada tan-wat, hanyalah karena loolap kebetulan mengingat sesuatu, tak dapat loolap tak membilanginya."
Habis berkata itu, ia bersenyum pula.

Sim Siang Kioe mengawasi, ia agaknya bingung atau tak mengerti.
Hoat it bersenyum pula, baru ia berkata lagi: "Pada sepuluh tahun yang lalu loolap telah pesiar ke Thian san. Di sana kebetulan sekali loolap bertemu dengan Bu Liang Tay-su, pendeta kenamaan dari gunung itu. Ketika itu loolap menerima pelbagai petunjuk hingga hati loolap menjadi terbuka, Tentu sekali loolap ingat untuk budinya taysu. Tempo taysu meninggalkan dunia yang fana ini, lolap mendampinginya, maka itu loolap telah menerima pesannya yang terakhir. Taysu bilang bahwa Taysu mempunyai hanya seorang murid, Taysu mengatakan, karena ia kenal baik sifat muridnya, murid itu sudah disuruh turun gunung. Kemudian taysu mendengar berita hal muridnya sudah tersesat, Disebabkan hati taysu sudah tawar, tak ada niatnya turun gunung mencari murid itu,
Kebetulan taysu bertemu denganku, taysu memesan untuk muridnya dikasih nasihat, bahwa siapa tersesat dia bakal menerima pembalasannya,
Murid itu bakal ada orang yang menghukumnya apabila dia tak dapat merubah cara hidupnya, Loolap seorang yang pemurah hati maka itu loolappun merasa kasihan terhadap-nya. siapa murid itu, tan-wat tentu ketahui sendiri, dari itu sekarang, loolap minta sukalah tan wat memikir masak-masak." Habis berkata itu, kembali pendeta ini bersenyum.

Mukanya Siang Kiu menjadi pucat, Para hadirin lantas dapat menduga, murid itu ialah Sim Siang Kiu ini. Mereka pun dapat menangkap sari kata katanya Hoat it siang-jin walaupun pendeta ini bicara demikian halus."
Si anak muda bermuka jelek lantas berpikir: Jikalau Bu Liang Taysu itu saudara seperguruannya kakek guruku, maka Sim Ssiang Kiu ini ialah orang yang bertingkat terlebih tua daripada aku. Aku tidak mengerti mengapa suhu tidak menuturkan padaku tentang peristiwa Sim Siang Kiu ini?"

Ketika itu Siang Kiu telah dapat menenteramkan hatinya.
"Taysu," ia berkata, tertawa, "taysu baik. sekali, hanya sayang aku bukanlah orang yang taysu sebutkan itu, karena mana menyesal aku mesti mensia-siakan nasihat dan kebaikan hatimu ini "
Dari bersenyum, Hoat It mengerutkan alis, Tapi cuma sebentar, ia kembali seperti biasa. ia merangkap kedua langannya, sekarang ia menghadapi Bok Heng Ek.
"Bok Tan-wat," katanya, bersenyum, "oleh karena kitab Bu siang Kim-kong Ciang Keng itu kitab tidak ada faedahnya, loolap mohon sukalah tan-wat menyerahkannya pulang pada loo-lap. sekarang juga Loolap beramai hendak berangkat pulang ke gunung kami."

Mendengar itu, Hoa Ie, si ketua dari empat Hantu dari Khole Keng san mendahului Hong Ek. Dia tertawa aneh, dia kata jumawa: "Hoat It, enak saja kau membuka mulut. Lebih dulu daripada ini kau telah menyiarkan berita bahwa kau hendak mengusir kami kaum hantu jahat, supaya kami tidak dapat menaruh kaki dalam dunia Rimba Persilatan, sekarang kau bicara begini manis, artinya kau tahu kesukaran dan hendak mengundurkan diri Mana dapat. Keledai gundul, tidak dapat kau omong sesuka hatimu. Baiklah kau menyebutkan syaratmu, untuk kita bertempur mati atau hidup, jikalau tidak. percayalah tidak nanti partaimu dapat hidup senang dan tenteram"

Hoat It tertawa nyaring, kedua matanya bersinar tajam.
Jikalau demikian pembilangan Hoa Tan-wat, baiklah, loolap tidak bisa bilang apa-apa lagi" katanya, "Sekarang silahkan tan-wat yang menunjuki syaratmu, Loolap akan mentaati" ujarnya sang Buddha, Jikalau bukan aku yang masuk ke neraka, siapa lagi? Loo-lap suka berkurban untuk orang ramai, nanti loolap yang pergi ke neraka " Lagi sekali pendeta ini tertawa, riang gembira nadanya.
Sim Siang Kiu menyelak di sama tengah, "Tuan-tuan, buat apa kamu bicara dari hal hidup dan mati?" ia berkata, tertawa lebar, "Apakah halangannya jikalau kita main-main saja, untuk memajukan kepandaian kita? Tapi memang benar pembilangan orang jaman dahulu, kesesatan dan kelurusan tak dapat hidup bersama, sebagaimana api dan air tak dapat hidup bersama juga, maka itu kalau sekarang kita berlaku sabar, di belakang hari toh gunung
akan meletus juga, daripada menanti sampai kelak di belakang hari, baiklah kita membereskannya sekarang saja"

Ouw Kong tertawa, ia pun menyelak: "Apa juga katamu, semua balik pada pokoknya orang she Sim, apakah kau mengaku dirimu pihak sesat?"
Parasnya Ok suya menjadi guram, "Sebenarnya tidak tegas perbedaan di antara sesat dan lurus," katanya. "Itu bergantung pada orangnya sendiri, sekarang kita jangan menarik urat dalam hal itu. Aku si orang she Sim mempunyai satu jalan. sekarang ini telah terjadi pemecahan di antara Kay Pang, mereka menjadi selatan dan Utara, dan mereka sudah berjanji akan nanti bulan tiga tanggal tiga mengadu kepandaian di puncak Tiang Jin Hong di gunung Tay san, katanya siapa yang menang dialah yang akan berkuasa atas kaum pengemis di seluruh negeri, maka itu kenapa loosu sekalian tak mau menggunai ketika itu untuk memastikan juga siapa si jago? Di sana aku si orang she Sim akan menyaksikan tampangnya orang-orang kosen. Tidakkah itu bagus?" Ouw Kong tertawa lebar.

"Ha, kelinci yang cerdik " dia kata nyaring, Jadinya kau hendak sekali menyapu membikin habis pada kita Mana dapat Thian memenuhkan keinginan kau ini? Kau justeru memikir yang tidak-tidak. Tapi mengenai pertemuan di Tay san itu, aku si orang tua pasti akan pergi menghadirinya. Pergi pulang, kau mengandung maksud busuk sekarang mari kita membereskan urusan sekarang, urusan kitab"
Kali ini air mukanya Sim Siang Kiu tidak berubah, dia dapat terus tertawa licik. "Pertemuan di Tay san itu ada kehendaknya Hoa Tayhiap sendiri," ia bilang, " Untuk semua loosu, siapa suka menghadirinya atau tidak, terserah kepada masing-masing. Tentang kitab baiklah sekarang kitab itu disimpan dahulu oleh Hoa Tayhiap akan tetapi jikalau Hoat It Taysu ingin lekas-lekas mengambil-nya, Hoa Tayhiap dapat menantikannya besok di bukit Giok Coan San"
"Baiklah " Hoat It menerima tantangan itu, setelah mana ia memutar tubuhnya untuk berlalu dari lauwteng, ia disusul ketiga kawannya dan ketujuh imam.

Sampai disitu, si anak muda mengangkat cawan araknya dan bersenandung, "Tahun dan bulan itu lama adalah orang yang mendesaknya membikin pendek Dunia itu luas akan tetapi si serakah yang membuatnya sempit"
Orang semua heran mendengar suara itu, ia yang mengalun seperti genta di waktu pagi. Kim Goat pun tidak menjadi kecuali, bahkan dia timbul kecurigaannya.
Tatkala tadi cuncia ini lompat melejit dan roboh, itu disebabkan ia merasakan gigitan seperti antuk tawon kepada jalan darahnya tiang kiang dan tian-bun. jalan darah tian-bun itu terasa sakit yang kiri dan kanan, ia berlompat tanpa merasa, begitu juga jeritan-nya itu, ia merasa sakit dan tidak enak.

Ketika ia sudah kembali ke kursinya, perasaan itu mengganggu seluruh tubuhnya, baru setelah lewat sekian lama, ia bebas sendiri dari gangguan itu. Tapi kejadian itu membuatnya berpikir : "Seumurku belum pernah aku dapat gangguan kesehatan seperti ini. Adakah aku diganggu setannya Poo Tan yang telah menotok jalan darahku --jalan darah tian-Hu, hingga jalan darah itu tertutup dan sekarang begini akibatnya? -- Ah, tidak mungkin Aku telah menutup jalan darahku itu. Kenapa sekarang terjadi pergeseran ke jalan darah tiang-kiang dan tian-bun ini? Bukanlah Gin Goat dan Beng Goat tidak terganggu seperti aku ini? Mungkinkah ada orang yang mengganggu aku dengan cara membokong?"

Karena kecurigaan ini, ia menjadi memperhatikan ke sekelilingnya, ia menoleh kepada si pemuda jelek, yang duduk di meja di belakang-nya. Anak muda itu duduk tenang, wajahnya bersenyum seperti biasa, ia tidak berani menyangka sembarangan, sekarang ia mendengar senandung pemuda itu, ia heran, Beda dari lain orang, ia merasakan artinya senandung itu, ia merasakan juga suara itu dikeluarkan dengan tekanan tenaga dalam, maka ia menarik tangannya ok suya dan berbisik di telinganya.

Sim Siang Kiu berpaling kepada si anak muda, mengawasi dengan tajam ia pun mengasih lihat senyuman licik,
Si nona dapat melihat gerak geriknya Sim Siang Kiu, ia menduga orang hendak melakukan sesuatu yang tak selayaknya, ia tidak berkesan baik terhadap si anak muda, tetapi ia pun tidak membencinya. Bahkan ia lebih membenci si orang she Sim,

Ouw Kong melihat anaknya seperti lagi berpikir, ia mau percaya anak ini bakal menunjuki pula kenakalannya, maka ia mengurut kumisnya dan bersenyum.
It Goan Kiesu itu pada empat puluh tahun dulu mendapat nama bersama sama Tou Liong Kiesu Chio Thay Hie. ia terkenal buat ilmu silatnya "It Goan Chin Khie" dan Chio Thay Hie untuk "Touw Liong Ciu." yang terdiri dari lima puluh delapan jurus. Merekalah yang dikenal sebagai Lo Houw Jie It, dua jago dari Lo Houw san.
Tiga kali It Goan Kiesu pernah mendaki gunung Kun Lun san bertempur dengan Kun Lun su Kie, empat jago dari Kun Lun san. Mereka bertempur sampai tiga hari tiga malam. Kelihatannya mereka seri tapi sebenarnya Kun Lun su Kie yang terdesak. Dengan Chio Thay Hie, Ouw Keng tinggal di satu tempat akan tetapi di waktu bekerja, mereka masing-masing.

Tiga puluh tahun dulu, Tjio Thay Hie masih suka terlihat It Goan Kiesu sebaliknya seperti menghilang, hingga orang menduga mungkin dia tawar hatinya dan hidup bersembunyi di atas gunung yang tak tersampaikan lain orang.
Kabar angin mengenai It Goan kiesu itu benar tetapi tidak seanteronya. sebenarnya ia telah menikah dan karena ia gemar akan keindahan pemandangan alam, ia tinggal menyendiri di bukit Pek Hong Nia di tepi sungai Yang sok, Sampaipun Chio Thay Hie tidak ketahui tentang kepindahannya itu. ia saling mencinta dengan isterinya, maka itu ia berduka sangat waktu satu kali sang isteri keguguran dan jatuh sakit karenanya.
Dengan banyak susah ia dapat tolong jiwa isterinya itu, hanya karena lemahnya, sang isteri mesti rebah saja di atas pembaringan ia menyesal karena ia mengharap anak. anak laki-laki maupun perempuan. Karena itu, hatinya menjadi tawar.
Kemudian Ouw Keng mendapat satu resep obat untuk isterinya itu, bahan obatnya belasan rupa, diantaranya mesti dicari di tanah pegunungan ia tidak berkecil hati, ia mencari untuk merawat isterinya, ia menerima seorang bujang perempuan.
Tujuh tahun lamanya ia mencari obat-obatan, baru ia berhasil isterinya itu dapat disembuhkan sampai dia bisa berjalan pula seperti biasa. Bahkan selang dua tahun, nyonya Ouw hamil pula, Bukan kepalang girangnya Ouw Keng, demikian pula isterinya itu,
Lewat sepuluh bulan, sang isteri melahirkan seorang bayi perempuan. Kegirangannya Ouw Keng hanya separuh, ia sebenarnya ingin bayi laki-laki guna menyambung turunannya.
Tidak beruntung ia, selang dua tahun kemudian, isterinya menutup mata, Maka ia mesti merawat sendiri puterinya itu yang ia beri nama Kek Lan, artinya bunga anggrek yang harum dari lembah yang sunyi.
Anak itu pintar, Dia dididik ilmu silat. setelah besar, dia menjadi cantik sekali, Mengingat yang anaknya mesti menikah, maka Ouw Keng keluar dari tempat "persembunyiannya", membawa puteri itu merantau, Demikian ia muncul pula dalam dunia Kang ouw.

Pada suatu hari tiba di kota Hang-ciu, Ouw Keng bertemu dengan Gan Keng Loodjin dari Hong san Pay. Mereka memasang omong tentang pelbagai kejadian antaranya mengenai kitab Bu siang Kim-kong Ciang Keng yang terlenyap itu. Lalu Gan Keng kata dia mau pergi ke kota raja dan mengajak Ouw Keng pergi bersama, ia memang lagi pesiar, ia menurut.
Demikian itu hari mereka berada di rumah makan Ceng Hong Lauw di mana orang tidak mengenali ia. orang pun umumnya memperhatikan hanya puterinya.

Ouw Kek Lan menjadi besar di gunung, dia sangat disayang orang tuanya, di samping jujur, dia merdeka, dia manja, Dia biasa membawa adatnya sendiri Di medan rapat ini dia berbicara asyik dengan Gan Keng Loodjin, mereka sering tertawa tanpa menghiraukan orang-orang di sekitarnya.
Dihatinya, si nona sebenarnya kurang puas. Di situ ia mendapatkan segala orang tua, segala pendeta dan imam, ada juga yang muda, orangnya tolol... Cuma si orang muda muka jelek menarik perhatiannya, sebab ia berkasihan, Kata ia dalam hatinya: "Benarkah didalam dunia ada pemuda sejelek dia? Ah..." Dan dia melirik anak muda itu.

Manusia itu aneh, yang bagus mau dilihat, yang jelek mau dilihat juga- yang bagus sebab hati tertarik, yang jelek karena ingin tahu. Dan si nona Lan disebabkan dia berkasihan dan heran, Karena ia telah mencuri lihat sekian lama, lalu timbul herannya, ia menjadi tidak mengerti.
Muka si anak muda benar jelek luar biasa, tetapi kenapa sebatas leher, kulit leher itu beda dari kulit mukanya? Kenapa juga tangan orang putih dua-duanya, putih seperti kemala? Ya, kenapa? Tak dapat ia menerkanya Maka itu, melihat sikap si orang, she Sim, lantas ia berbangkit berlompat ke depan si jelek itu.

Sim Siang Kiu heran melihat kelincahan si nona. sejenak ia melengak. lantas ia tertawa.
"Nona, adakah pemuda ini sahabatmu?" ia tanya. Merah muka si nona, ia menggeleng kepala. "Tahukah nona tentang dia?" Siang Kiu tanya pula. Nona itu tertawa.
"Hak apa kau mempunyai untuk mencari tahu hal ikhwal lain orang?" dia balik menanya.
Siang Kiu jengah, hingga ia melengak. Tapi ia seorang berpengalaman dengan lekas ia mendapat pulang kesadarannya, ia dapat menguasai diri, ia tidak mau mengentarakan mendongkolnya, ia pula percaya, pasti bukan tak ada sebabnya, It Goan Kiesu muncul pula dalam dunia Kang ouw. ia bersenyum.
"Tak dapat aku bilang, nona," sahutnya kemudian, "Aku berbuat karena aku melakukan permintaan orang. Aku lihat, nona, sikapmu ini usilan, bukan?"

Kok Lan tidak menjadi gusar, sebaliknya ia tertawa, Mukanya menjadi merah dadu, maka ia nampak semakin cantik dan manis, ia mengasi lihat kemanjaannya.
“Jadinya kau menganggap nonamu usilan?" tanyanya, "Baiklah, biar aku usilan ingin aku campur tahu urusan kamu ini "
Siang Kiu melengak. Khole Keng san sie Mo mengerutkan alis.
"Sudahlah, Sim Laote," berkata Toa-Mo Hoa Ie, Hantu yang tertua, "sudah, buat apa berebut omong dengan segala bocah. Kami mau pulang, sebentar kita harus mendamaikan urusan penting."

Inilah ketika baik untuk Ok suya memutar kemudi, ia tertawa dan kata: "Nona, tak kecewa kau menjadi mutiara mustika dari It Goan Kiesu Nyalimu besar melebihkan nyali lain orang " ia lantas merangkapkan kedua tangannya untuk memberi hormat seraya menambahkan " Nah. nona, sampai kita ketemu pula "
Lantas suya licik ini mengikuti Cin-tiong siang Niauw semua berlalu.

Ketika Kim Goat Cuncia mau berlalu, dia mendelik terhadap si anak muda dan berkata dengan sengit, "Binatang, besok aku menunggu kau di puncak Giok Coan san " Terus dia membuka tindakan lebar.
Melihat si nona dan Ok suya bentrok orang menyangka bakal terjadi onar, siapa tahu urusan beres sendirinya.
See Hoo Poo-cu Bok Hong Ek menghampirkan It Goan Kiesu ia memberi hormat.
"Aku tidak tahu Ouw Loosu juga mempunyai kegembiraan untuk datang ke sini, aku minta diberi maaf," ia kata, " Kapan saja loo-su mempunyai ketika luang, aku undang kau berkunjung ke tempatku, aku akan menerimanya dengan girang "

Ouw Keng berbangkit seraya tertawa, Jangan sungkan, Bok Loosu," ia kata. "Baiklah, bila ada ketikanya, lain hari aku berkunjung ke rumah kau, sekarang loosu mempunyai urusan, silahkan mengurusnya."
Hong Ek memberi hormat pula, lantas ia turun dari lauwteng.
Mukanya Lim Bong merah, dia berlalu sambil tunduk, Nona ouw mengawasi dengan roman murka.

Sebentar saja, buyarlah awan yang gelap, maka ruang menjadi tenang dan sunyi, Di situ tinggal si nona dan ayahnya serta Gan Keng Loojin, orang yang keempat ialah si anak muda, yang terus minum araknya dengan perlahan, sikapnya terus sabar dan anteng.
"Ho " mendadak si nona berkata, kakinya msnjijak lantai "Bagaimana dengan kau? Nona-mu telah melepaskan kau dari kurungan, mengapa mengucap terima kasih pun tidak?" Kata-kata itu ditujukan kepada si anak muda, yang ia awasi tajam, si pemuda jelek tertawa, terus dia berbangkit untuk menjura dalam. "Kalau begitu, di sini aku menghaturkan terima kasihku " ia kata. Tapi si nona berkelit, dia tertawa. "siapa kesudian menerimanya " katanya Jenaka.

It Goan Kiesu tertawa.
"Anak Lan, kau berkuatir tidak keruan " ia berkata, "Sebenarnya Sim Siang Kiu tak ada di mata orang"
Anak muda jelek itu agaknya likat, ia tertawa menyeringai dan kata. "Loocianpwee, mata loocianpwee tajam bagaikan kilat, aku kagum sekali, sebenarnya juga, jikalau tidak ada puteri loocianpwee ini, yang menghadang disaat yang tepat, mungkin aku yang muda terlukakan tangannya Sim Siang Kiu."

It Goan Kiesu tertawa lebar. Jangan terlalu merendahkan diri, laotee," ia kata. "Tadi diwaktu melayani orangnya See Hoo Poocu, kau telah menunjuki kepandaianmu yang mahir." ia berhenti sebentar, lantas ia menoleh kepada kawannya dan menambahkan " Inilah Gan Keng Loojin dari Heng san, silahkan laotee berkenalan dengannya "
Si anak muda memberi hormat kepada jago dari Heng san itu, ia mengucapkan kata-kata memuji.
Ouw Kong berkata pula. "Kami menumpang di rumah penginapan sam Goan di depan itu maukah lootee datang kesana untuk kita berduduk dan memasang omong?"

Si anak muda hendak menampik atau ia lantas mendengar suara si nona, suara seperti lagu suaranya si burung kenari, "Ayah, lihat, orang ini luar biasa sekali. Kenapa ya, kulit mukanya beda dengan kulit di bawahan lehernya?"
"Hus, anak Lan, jangan kurang ajar " kata sang ayah perlahan: ia berkata begitu tetapi ia tahu, anaknya yang teliti itu, pasti telah melihat sesuatu, ia pun lantas menatap leher si anak muda, hingga ia melihat perbedaan kulit itu. Cuma leher baju yang membikin orang kurang perhatian.

Si anak muda tertawa, ia kata perlahan:
"Aku tidak berani mendusta terhadap loocian-pwee, sebenarnya aku memakai topeng. Aku mempunyai kesulitanku. Nanti saja, apabila sudah tiba saatnya, loocianpwee akan mendapat tahu sendiri.."
Ouw Keng dan Gan Keng heran, mereka mengawasi. Kemudian si orang tua dari Heng san mengurut kumisnya dan tertawa.
"Selama yang belakangan ini, anak-anak muda memang biasa membawa tabiatnya sendiri,” dia kata, "Kita si bangsa tua bangka, kita tidak dapat mengikuti zaman, kita tak masuk hitungan lagi...."
Berkata demikian, ia agaknya masgul, si nona sebaliknya menatap si anak muda, " Kenapa kau tidak mau meloloskan topengmu, supaya kita melihatnya?" ia kata, ia kau mau melihat topeng, sebenarnya ia ingin menyaksikan wajah orang.

"Maaf, nona," kan si anak muda, tertawa. "Aku bukannya tidak mau meloloskan topengku ini tetapi sekarang, di sekitar musuh, tidak mau aku berlaku alpa, bahayanya kealpaan itu ialah bahaya kebinasaan...."
"Hm " bersuara si nona, mulutnya mencibir "Apa yang ditakuti? Di sini ada ayahku "
"Kau ngaco, anak " Ouw Keng menegur, akan tetapi dia tertawa, "Apa artinya ayahmu ini? Barusan ada Khole KLong san su Mo, Cin tiong siang Niauw dan lainnya, mereka itu tak ada satu yang tidak terlebih liehay daripada ayahmu. Budak ciiik, jangan coba mengundang bahaya untuk dirimu sendiri " ia menoleh kepada si anak muda, untuk meneruskan "Kami beramai mau pergi terlebih dulu jikalau laotee mempunyai tempo, untuk mengulangi aku minta sukalah kau datang ke tempat kami buat duduk-duduk sebentar."

"Pasti aku akan datang " kata si anak muda, cepat dan hormat, "Pasti aku akan datang" Lantas ia mengawasi ketiga orang itu turun di tangga lauwteng, habis mana ia menghela napas.
Seorang diri, ia menganggap si Nona Ouw sama wajar dan nakalnya seperti si nona Nie dari kota Kim-hoa, sedang nama mereka sama-sama memakai huruf "Lan", Bedanya ialah nona ini terlalu polos.
Sampai di situ, In Gak tidak berani ngelamun terlebih jauh. Hebat untuk mengingat bagaimana ia menolongi nona di antara salju, karena peristiwa itu lantas berbayang di depan matanya, ia seperti mendengar Wan Lan memanggil-manggil ia...
Kemudian ia ingat Hu Ceng, ia merasa lega anak itu telah ditolongi Hoat It siangjin.

Besok ia akan menanyakan si pendeta di mana adanya bocah itu, ia merasa baik sekali Hu Ceng diterima pihak Siauw Lim Sie, hingga kepada Liok Koan ia pun dapat menyelesaikan tugas.
Habis itu anak muda ini ingat Chong sie dan Siauw Thian, Lantas ia menjadi heran. Heran, di kota raja yang luas ini, ia tidak mendapatkan walaupun seorang pengemis juga, Habis ke mana ia harus mencarinya? Karena ini ia memikir, ia sendiri harus waspada.
"Tapi biarlah," ia menghibur diri. "Pada tanggal tiga bulan tiga mereka bakal bertempur di puncak Tiang Jie Hong, mesti saudara Chong sie dan saudara Siauw Thian turut hadir, pasti aku dapat menemukan mereka. Sekarang ini tak usahlah aku terlalu memikirkan mereka itu….”
Maka ia pun lantas turun dari lauwteng.


oooOOOooo

22. Jilid 11.2 : Mengobati Kaisar Kian Liong

Bacaan » PEMBALASAN SEORANG JAGOAN » Jilid 11.2 : Mengobati Kaisar Kian Liong
Anggota masrizki
Waktu 20 Oktober
Bab Sebelum 21. Jilid 11.1 : Aksi Jie In di kota raja
Bab Sesudah 23. Jilid 12 : Terbokong musuh lama




Pembalasan Seorang Jagoan
Karya: Wu Lin Qiao Zi
Saduran : OKT
Jilid 11.2 : Mengobati Kaisar Kian Liong

SALJU sudah berhenti, tinggal sang angin masih meniup-niup. Mega tebal dan gelap hingga cuaca pun menjadi gelap juga, Hawa udara itu membuat orang tak gembira, Dijalan tampak Cia In Gak sedang berjalan.
Ketika itu seluruh kota nampak putih seperti kemala, putih cemerlang. Maka itu meski mega seperti mendung, keindahan alam itu tak dapat dihilangkan.

Di luar pintu kota barat itu ialah tempat yang indah, Di sana pernahnya taman Wan Beng Wan tempat kediaman kaisar Yong Ceng. Di situ ada istana Kong Beng Tian yang agung dan permai.
In Gak tidak mau pesiar, maka itu ia menuju langsung ke gunung Giok Coan San dan lantas mendaki. Di tengah gunung ia berhenti untuk menoleh ke bawah, dengan begitu ia dapat memandang bukit Ban Siu San, kota terlarang Cie Kim Shia, taman Wan Beng Wan dan Ie Ho Wan.

Tapi ia tidak mau membuang-buang tempo, ia mendaki terus, maka di lain saat sampailah ia di bawah menara Liu Lie Tah di mana suasana sunyi, Tidak ada seorang juga di sekitarnya itu.
"Mungkin mereka bakal lekas tiba," pikirnya. "Baiklah aku menanti di atas menara ini. Dari atas dapat aku menyaksikan jelas gerak-gerik mereka..."
Maka naiklah ia ke atas menara, Tiba di undakan paling atas, ia melihat ke bawah.

Wan Beng Wan ada di depan matanya, salju putih seperti menutupi pohon-pohon yang berdaun hijau dan merah, maka putihlah segala apa.
Angin bertiup santer, pemandangan itu membuat hatinya terbuka,
Belum lama In Gak berada di situ atau dari bawah gunung ia mendengar siulan beberapa kali, apabila ia mengawasi ke bawah, ke arah darimana suara datang, ia melihat beberapa tubuh bagaikan bayangan lagi berlompatan mendaki, gesitnya luar biasa.

Hanya sebentar, mereka sudah sampai di kaki menara, Dengan begitu mereka lantas terlihat tegas, Merekalah Khole Kong san su Mo serta Thian Gwa Sam Cun Cia.
Jie Mo, Hantu yang nomor dua, bersenyum, ia kata: "Lootoa, pastilah keempat kepala keledai gundul itu tidak berani datang ke mari "
Belum berhenti suaranya Hantu ini, dari gundukan salju tak jauh dari dianya, terdengar suara memuji sang Buddha, sebab keempat pendeta Siauw Lim sie tengan duduk bersila di situ, Mereka tak segera terlihat lantaran jubah mereka abu-abu warnanya dan rambut dan kumis jenggot mereka pun ubanan. Dengan lantas mereka berempat bangun berdiri, keempatnya berlompat, lalu mereka berada di depan keempat Hantu beramai.

Hoat It siangjin merangkap kedua tangannya, ia kata tenang: "Loolap berempat sudah sekian lama menantikan di sini, harap dimaafkan yang kami telah terlambat menyambut." ia berhenti sebentar, alisnya yang panjang bergerak-gerak. Tanpa menanti jawaban, ia menambahkan "Sebenarnya kami telah memikirkan urusan kita ini, Kamilah orang-orang di luar garis, buat apa kami turut menceburkan diri dalam keruwetan? Maka itu, Hoa Tan-wat, mengingat kamulah orang-orang gagah yang kenamaan, yang tidak ada tandingannya, kami suka menyerah kalah, asal tan-wat suka menyerahkan kitab Bu siang Kim-kong Ciang Keng kepada kami, Dengan demikian juga persahabatan dan keakuran Rimba persilatan jadi dapat disempurnakan."

Mendengar itu, Hoa Ie mencibir, dia tertawa,
"Sebenarnya kitab itu aku siorang she Hoa pernah melihatnya," ia kata, "aku mendapatkan isinya tidak ada yang luar biasa, mungkin cukup menggunai itu terhadap orang lain, tetapi terhadap aku, tidak ada gunanya sama sekali"
Keempat pendeta bersenyum oleh ucapan itu, Di dalam hati mereka, mereka kata: " Kitab itu mempunyai arti yang dalam, yang pasti tidak dimengerti oleh bangsa hantu sebagai kamu"

Meski mereka berpikir demikian, mereka tidak mengentarakan itu pada paras mereka.
"Memang kitab itu tidak ada faedahnya," berkata Hoa Ie, "Hanya kalau kitab itu mesti dikembalikan sekarang, masih ada halangannya, sebab kami telah memutuskan untuk berdasarkan itu melakukan pertandingan di atas puncak Tiang Jin Hong di gunung Tay san, untuk menguji kepandaian kita, guna memilih seorang, si nomor satu yang paling liehay, yaitu Thian-hee Tee It Bu-kong. Aku tahu kitab itu mengenai kehormatannya Siauw Lim Pay dan partai kamu mesti menghendakinya, akan tetapi mengingat soal di atas, terpaksa aku mesti menyimpannya dulu, sehabisnya pertandingan tentu aku akan membayarnya pulang."

Hoat It siang Jin mengerutkan alis pula.
"Siauw Lim Pay adalah partai di luar partai, dia tidak mau berebutan dengan siapa juga," katanya, "Umpama kata Siauw Lim Pay tidak turut dalam pertandingan itu, Hoa tan-wat toh tidak akan menentangnya, bukan?"
Hantu pertama itu tertawa bergelak. "Taysu, mengapa kau mengatakan begini?" dia tanya, "Penganut Buddha dilarang bicara dusta. Taysu telah mengetahui kitab sudah terjatuh ke dalam tangan kami, apakah benar tanpa memperdulikan segala kesukaran yang diderita Taysu suka mengalah dan kembali ke Siauw Lim sie?"

Wajahnya pendeta itu menjadi sungguh-sungguh.
"Inilah urusan Siauw Lim Pay, maka aku percaya lain-lain partai tak akan turut ambil bagian." kata ia. "Tidakkah Hoa Tan-wat bicara berlebihan?" Kembali Hantu itu tertawa.
"Ada cara dengan apa aku si orang she Hoa dapat membikin lain-lain partai datang hadir," ia bilang, "Baiklah taysu jangan kuatir, sekarang silahkan taysu berempat pulang dulu ke Siauw Lim sie"

Hoat Ie siangjin belum memberi jawaban atau seorang paderi di sisinya, yang alis dan kumisnya putih semua, berkata dengan nyaring: "Sam-suheng, karena kitab berada pada Hoa Tan-wat, baiklah urusan dibereskan sekarang juga. Buat apa kita membikin banyak berubah?"
Hoa Ie mengawasi tajam kepada pendeta itu, ia tertawa bergelak-gelak.
"Hoat Leng, besar mulutmu " ia berkata, "Sekalipun ketuamu sendiri, Pce Bie siansu, datang ke mari, belum tentu urusan dapat dibereskan semudah pikiranmu."

Pendeta alis ubanan itu, ialah Hoat Leng, mengibas tangannya, maka tangan bajunya lantas berkibar dengan mengeluarkan angin santer, itulah kibasan "Sang Buddha mengambil tempat duduk." suatu jurus dari ilmu silat "Tatmo sip-samsie," tiga belas jurus dari ilmu silat Tatmo couwsu, sambaran itu, dengan tangan kanan, menuju ke arah dada.

Si pemuda jelek di atas menara melihat tegas segala apa demikian pun serangan itu, maka itu ia mengerti, pendeta itu sama liehaynya dengan Hoat Hoa siangJin, pendeta yang pernah bertempur dengannya di kota Kim-hoa. ia mengerti, pertempuran ini bakal mengakibatkan urusan menjadi semakin ruwet.

Dan ia mengerti juga, atas serangan itu Hoa Ie tidak bakal menangkis hanya berkelit, berkelit ke belakang si pendeta.
Benarlah dugaan itu, Hoa Ie tertawa dingin ketika ia diserang ini, lantas kakinya bergerak. tahu-tahu ia sudah di belakang penyerangnya, terus ia membalas menyerang dengan pukulan "sie ciang pat sie, Empat telapakan tangan berubah menjadi delapan"

Hoat Leng menyerang hanya menggertak. Ia menduga si hantu mestinya liehay, dia tentu tak dapat dirobohkan dengan satu serangan saja, dari itu ia telah berjaga-jaga.
Demikianlah begitu lekas tubuh orang bergerak dan kakinya menggeser, ia membarengi menyerang pula, sekali ini dengan sungguh-sungguh, sebelumnya menyerang, dan ia menggeser diri sambil membalik tubuh, hingga umpama kata kalah sebat, ia sudah mendahului berkelit.

Hoa Ie tertawa, ia berkelit pula, Maka serangan hebat dari si pendeta mengenai saiju di mana ia barusan menaruh kaki, hingga saiju itu terbongkar dan bermuncratan. ia tidak hanya berkelit.
Begitu lekas serangan lewat, begitu lekas ia merangsak untuk menyerang, ia tahu tenaga besar luar biasa dari s i pendeta, ia tidak mau melayani secara keras juga, hanya dengan kelincahan.
Kalau ia melawan keras, taruh kata ia menang, ia akan menghamburkan terlalu banyak tenaganya, ia meluncurkan kedua tangannya, lalu yang kanan mendahului yang kiri, menotok ke kerongkongan dijalan darah ouw-kiat, sedang tangan kiri menyusul mengarah jalan darah ciang-bun.

Hoat Leng menjadi satu di antara keempat pendeta Siauw Lim Pay dengan kedudukan pelindung, ia pun mengerti keliehayannya lawan ini, dari itu ia tidak mau membiarkan dirinya didesak.
Karena sulit untuk menangkis tangan kanan lawan, dengan sebat ia lompat mundur hingga lima tindak.
Hoa Ie melihat orang mundur, ia girang sekali, inilah keinginannya, ia lantas merangsakpula, terus menerus, kedua tangannya menyerang saling susul.

Hoat Leng mundur, dengan begitu ia memberi ketika dirinya didesak, Tapi ia melawan, ia menggunai Tatmo sip-sam sie. Hanyalah karena ini, ia tidak dapat kesempatan untuk membalas menyerang. Cepat sekali dan hebat pertempuran ini.
Jikalau mereka tetap bertempur secara begini, ada kemungkinan Hoat Leng bakal kena dikalahkan, "pikir si pemuda muka jelek sambil mengawasi dengan tajam, "Katanya Siauw Lim Pay mulai mundur inilah benar, sedang Hou Ie ini sangat liehay. Coba bukan pendeta dari Siauw Lim sie, tidak sampai sepuluh jurus, tentunya lawan sudah roboh. jikalau Siauw Lim sie tidak mengadakan perubahan, untuk mempertahankan martabatnya sepuluh tuhun lagi akan hilanglah Siauw Lim Pay dari muka bumi ini....

Hoat It Siangjin dan dua saudaranya menonton dengan alis berkerut, Mereka ini menginsafi kemunduran mereka semenjak Kaisar Yong Ceng membakar kuil Siauw Lim sie di- gunung Siong san, kemunduran itu nampak nyata. Ilmu silat Siauw Lim sie tetap liehay hanyalah itu tidak diwariskan kecuali kepada murid yang berbakat, ilmu silat itu lebih suka dikeram dalam kitab daripada diajari kepada sembarang murid.

Pertempuran di antara Hoa Ie dan Hoat Leng berjalan terus, jurus lewajurus, tanpa merasa mereka sudah menghabisi lima puluh jurus, hal itu benarlah dugaan si pemuda jelek. Hoat Leng nampak mulai kendor gerakannya.
Lantas datanglah saat yang berbahaya, Hoa Ie mau menggunai ketikanya, tangan kanannya mengancam, lalu tangan kirinya menyamber ke ubun-ubun si pendeta di mana ada jalan darah sin-kong yang berbahaya.

Tangan kanannya itu, yang menggertak. tidak cuma menggertak. hanya lalu menyusul menyerang benar-benar, kedua jerijinya mencarijalan darah hok-kiat, itulah totokan jeriji Hian-im. Tapi inilah bukan yang terhebat.
Menyusul kedua tangan, si Hantu menggeraki kedua kakinya, menendang bergantian ke jalan darah hwee-im. Tendangan itu ialah "Wanyoh twie" atau tendangan "Kaki burung wanyoh",
Biarnya ia liehay, setelah sekian lama lebih banyak terdesak, Hoat Leng repot juga. Dapat ia menangkis kedua tangan lawan tetapi sulit untuk menyingkir dari kedua kaki orang, yang dapat menendang saling susul seperti tak hentinya.

Hoat It kaget. Biar bagaimana, tak dapat ia membiarkan adik seperguruannya dirobohkan. Hoat Leng bukan terancam roboh saja hanya kecelakaan. Tepat ia hendak berlompat maju, ia mendengar siulan nyaring dari atas menara dari mana terlihat berlompat turunnya orang yang bersiul, yang melayang bagaikan bayangan maka dilain saat, Hoa Ie dan si pendeta dapat dibikin terpisah. Mereka itu terkejut.

Si pemuda muka jelek menjadi terkejut ia tidak menyangka sekali, di menara itu ada bersembunyi orang lain, bersembunyi di belakang patung sang Buddha. Kalau orang bermaksud jahat, itulah berbahaya untuknya.
Hoa Ie kaget, Pertama ia tidak menyangka ada orang yang menyelak di antara mereka. itu waktu ialah detik-detik kemenangannya. Kedua ia heran untuk tenaga besar dari orang yang memisahkan mereka, ia merasakan tenaga yang jauh lebih besar daripada tenaganya sendiri.
Lebih dulu daripada itu, telinganya juga dibikin seperti tuli oleh siulan orang itu, Maka itu ia berlompat mundur dua tindak. terus ia mengawasi orang itu.

Hoat Leng mundur tetapi ia sangat bersyukur ia hanya heran, waktu ia memandang penolongnya itu, ia tidak mengenalnya, orang itu seorang wanita dengan pakaian hitam seluruhnya, rambutnya yang panjang sudah ubanan, sebab usianya mesti di atas enam puluh tahun, sebaliknya kulit mukanya segar, bersih dan botoh, sedang sepasang matanya celi, Coba rambut itu tidak putih, dia dapat diduga seorang nyonya muda.

Hoa Ie mengawasi dengan heran berbareng mendongkol, ia menganggap ia bukan cuma dipisahkan hanya diganggu, dibikin rusak rencananya...
Nyonya itu mengawasi kepada kedua orang itu, mendadak ia tertawa terhadap si Hantu dari Khole Kong san.
"Eh, mau apa kau mengawasi aku saja?" tegurnya, sabar, "syukur kita bukannya seteru bukannya sahabat, jikalau tidak. bukankah kau akan terbinasa oleh pukulanku, pukulan Hui-si Pa uw-lui?"
Kata-kata itu tidak melainkan perlahan, bahkan merdu, Nama ilmu silatnya itu pun berarti "sutera terbang, guntur menggelegar.

Hoa Ie heran, Belum pernah ia mendengar nama ilmu silat itu. Maka ia mengawasi bengong juga ketiga Hantu lainnya turut heran. tak terkecuali Thian-gwa sam Cuncia yang adalah orang asing. Keempat pendeta turut heran juga.
Si nyonya tua dapat menebak bahwa orang keras memikirkan tentang dirinya, ia lantas tertawa geli,
"Kamu tidak dapat menerka, aku pun malas menerangkannya" katanya Jenaka. Akhirnya Toa-Mo, si Hantu kepala, tertawa dingin.
"Karena kau tidak mau memberi keterangan aku si orang she Hoa hendak menegur kelancanganmu sudah merintangi aku" ia kata bengis.

Mendadak air mukanya si nyonya menjadi dingin dan bengis, tak lagi manis seperti semula.
"Hm, segala empat hantu dari Khole Kong san." katanya, tertawa mengejek. "Kamu tak sederajat untuk bertempur denganku Kalau kamu menghendaki sebentar kita boleh mencoba-coba. sekarang aku si orang tua hendak menanya keterangan dulu..." ia lantas menoleh kepada Hoat It Siangan, terus ia tertawa.
"Hoat It," ia tanya, "Hendak aku menanya kau, kamu telah menawan anak anaknya Kiong-bun siang Kiat, ke mana kamu telah membawa pergi mereka itu?"
Ditanya begitu, pendeta itu terkejut. Dengan cepat ia merangkap kedua tangannya.
"Amitaba Buddha Siancay" pujinya, "Kami orang yang mencucikan diri, mana dapat kami berbuat demikian, perbuatan sangat melanggar yang tak mengenal undang-undang dari Th ia n? Maaf, li-tanwat. Kiong bun siang Kiat ialah murid-murid murtad dari Siauw Lim si, kami telah menerima perintah dari ketua kami, untuk menangkap mereka, Kami telah diberikan tempo satu tahun, Mereka mesti dibawa pulang ke gunung kami, untuk dihukum. Meski begitu, itulah untuk kejahatan mereka sendiri, kejahatan mereka tidak mengenai anak isteri mereka, dari itu tidak berani kami menangkap keluarga mereka."
Hoat It berlaku hormat, terutama karena ia menduga orang terlebih tua daripadanya.

Nyonya itu mengawasi dengan tajam, ia tertawa pula.
"Aku si orang tua suka mempercayai kata-katamu ini," katanya, "Kamu bangsa lurus, tidak nanti kamu berdusta, Rupanya ada lain orang yang merampas keluarganya Kiong-bun Siang Kiat, Kalau kamu pulang ke gunung kamu, tolong sampaikan hormatku kepada Lu Kun Peng, bilang bahwa sahabatnya, keluarga Siang, mengharapi kesehatannya" Hoat It terkejut, sampai ia mundur satu tindak. "Locianpwe," katanya, "bukankah kau Biauw Nia Siang... Sian?"
Mendengar itu, Khole Kong san su Mo kaget.
Jadinya nyonya tua ini ialah Hek Ie Hian-li In Hian Bi si jubah Hitam, isteri dari Kim Hoat san-jin siang Yu dari bukit Biauw Nia, hingga keduanya mendapat gelaran Biauw Nia siang Yau, sepasang siluman dari Biauw Nia.

Tapi Hoat It tidak mau menyebut "siluman" (yauw), maka ia menyebut "sian" (dewi, atau dewa- dewi, sebab mereka suami isteri), Pada seratus tahun yang lampau mereka sudah menggemparkan kalangan Rimba Persilatan atau Kang ouw kepandaian mereka ialah gabungan lurus dengan sesat.
Tertang asal usul mereka, tidak ada yang dapat menjelaskan. Mereka telengas, asal musuh, takperdulisesat dan lurus, mereka menghajarnya hebat, sikap mereka itu membuat mereka ditakuti juga dihormati sepak terjang mereka hebat sekali.
Setelah sadar, baru mereka mau mengundurkan diri. Justeru itu, di jamannya itu, ada hidup seorang liehay lainnya, ialah Khi Lian Ik siu, orang gagah luar biasa dari gunung Ki Lian san. Dia ini tak menyetujui sepak terjang Biauw Nia siang Yauw, hendak ia menaklukinya,
Biauw Nia siang Yauw tidak ketahui siapa adanya Ki Lian Ik siu, oleh karena sebelumnya itu, si orang tua tidak pernah tampak di muka umum, maka mereka menyangka saja orang ialah bangsa mulut besar atau berandalan, mereka menjadi tidak menghiraukannya.
Celaka untuk mereka, lantaran mereka berdiam saja, selama tiga tahun murid-murid mereka hampir habis di tangannya orang tua tak dikenal itu, Baru kemudian mereka mencari dan menempurnya.
Dua hari satu malam mereka bertanding mati hidup, Kesudahannya Ki Lian Ik siu dapat hajaran tiga kali ilmu silat Hut si Pauw Lui itu, sebaliknya siang Yu patah sebelah kakinya dan In Hian Bi terhajar hampir menemui ajalnya di gunung Ki Lian sin di mana mereka bertarung mati-matian itu.
Dengan mengempit siang Yu, suaminya, Hian Bi kabur menyingkirkan diri
Pertempuran itu tidak ada orang lain yang menyaksikan orang mengetahuinya dari kabar angin saja, Ki Lian Ik Siu memang tidak pernah muncul secara umum, habis pertarungan danterluka itu, ia lenyap pula hingga tak ada yang ketahui ia masih hidup atau sudah mati.
Sepulangnya In Hian Bi ke gunungnya, selang dua tahun, siang Yu menutup mata disebabkan luka di kakinya membuatnya sangat berduka. Dia sendiri hidup terus, terus dia meyakinkan ilmu ajaran gurunya, luka-lukanya pun sembuh Ada yang membilang dia sesat.
Semenjak itu, dia pun hilang dari dunia Kang ouw, Baru sekarang dia muncul secara tiba-tiba.

Ln Kun Peng itu namanya PeBi Siansu sebelum dia masuk menjadi pendeta, ketika dulu hari Biauw Nia Siang Yauw berunding ilmu silat dengan pihak Siauw Lim Pay, ia baru berusia belasan tahun, dia masih menjadi se-bie, kacung.
"Apa kau bilang, Biauw Nia Siang san?" katanya si nyonya tua tertawa. "Aku tidak pantangan orang merdeka menyebutnya Siang Yauw" Syukur Lu Kun Peng masih mengingat aku. Baiklah kau ketahui," katanya, menambahkan, sembari bersenyum.
"Kiong-bun siang Kiat ialah murid akuan dari Biauw Nia, dengan begitu anak-anak mereka menjadi cucu-cucu murid akuan dari aku, Aku telah berusia seratus tahun lebih, meski aku dapat melindungi paras mukaku tetapi manusia itu tak ada yang tak mati, karenanya sayang apabila kepandaianku aku bawa ke liang kubur, Karenanya aku ingin mewariskan kepada anak-anak dari murid-murid angkatku itu, supaya mereka dapat memajukan ilmu silat kami."

Hoat It merangkap tangannya.
"Itulah rupanya maka lojinke turun gunung?" katanya. Hian Bi bersenyum pula.
"Orang bilang si keledai kepala gundul cerdas sekali, itulah benar" katanya, "Kamu jangan takut, aku si orang tua turun gunung bukan untuk mengganggu kamu, hanya siapa main gila terhadap Kiong-bun siang Kiat, maka dia tak dapat menyesatkan aku"
Hoat It menyedot napas dingin, di dalam hatinya ia kata: "Pantaslah Kiong-bun siang Kiat tidak memandang mata lagi kepada Siauw Lim pay, kiranya mereka mempunyai tulang punggung ini...

Wanita tua itu berkata pula: "Kabarnya dalam Rimba persilatan sudah muncul Koay Ciu si-seng Jie In. Aku si orang tua tetap dengan tabiatku yang suka menang sendiri, maka itu aku ingin sekali menemui dia."
Mendengar itu, kata Hoat It dalam hati-nya: "Kau tinggal di gunung, kau mana tahu keadaan Rimba persilatan sekarang ini? Tentu-nya Kiong-bun Siang Kiat sudah menulis surat menyampaikan berita kepadamu dan mengundang kau turun gunung..."
Walaupun ia berpikir demikian pendeta ini tidak mau mengutarakannya.

Tiba-tiba In Hian Bi melakukan perbuatan yang di luar dugaan, Mulanya tampak air mukanya berubah, tiba tiba dia lompat naik ke atas menara, ke tingkat yang ke dua yang tingginya sepuluh tombak lebih.
Khole Kong san su Mo menjadi kaget, mereka cemas. Mereka liehay tapi mereka cuma bisa lompat tinggi tujuh atau delapan tombak. tidak sampai belasan. Maka itu, mereka menjadi jengah, mereka merasa sendiri diri mereka kecil...

Keempat pendeta sia uw Limsi kagum, mereka mendoa memuji.
Di atas menara, In Hian Bi tidak berdiam saja, dia mencari sesuatu, dia naik sampai di tempat bersemayamnya patung Buddha tadi. Dia rupanya mendapatkan sesuatu yang mencurigakan hingga perhatiannya menjadi demikian tertarik,

Itulah sebab si pemuda jelek. mendengar orang hendak mencari Koay Ciu si-seng Jie In sudah menjemput tiga potong es kecil dan menimpuk ke bawah, mengenai rambutnya nyonya tua itu, mendatangkan rasa sakit, ia mendengar suara anginnya serangan itu, hanya sebab itu tercampur suara angin, ia tidak menyangka jelek. sampai ia kena tertimpuk.

Ketika tadi si muka jelek naik di tingkat tertinggi, HianBi masih belum sampai, itulah sebabnya dia tidak tahu ada lain orang di atas menara, sebaliknya si muka jelek tak mendapat tahu datangnya dia, yang naik dari sebelah belakang, Keduanya pun sama-sama tidak memperdengarkan suara apa juga.
Dalam penasarannya, In Hian Bi naik terus hingga di tingkat paling tinggi, ia tetap tidak melihat ada orang lain, ada juga seorang hanya dia itu lagi jalan di kaki gunung, ia lantas turun, untuk menyusul, ia tidak mau memikir, kalau serangan datangnya dari atas menara, tak nanti orang dapat turun demikian cepat. sebentar saja ada di kaki bukit.

Seberlalunya si nyonya, pertempuran pun tak berlanjut lagi, Kedua pihak mengundurkan diri, untuk menantikan tibanya tanggal tiga bulan ketiga, guna bertemu pula di gunung Tay san, akan mengadu kepandaian di puncak Tiang Jin Hong.
Hoat It suka berlaku sabar karena ia merasa pasti, dengan melanjuti pertempuran belum tentu pihaknya berhasil merampas pulang kitab mereka dari tangan keempat Hantu yang berkeras kepala itu.
****
BAB 2
DENGAN begitu sunyilah pula suasana di Liu It Teh itu. Hanya di taman Wan Beng Wan di atas lauwteng Hong Hong Ceng Teng, si anak muda muka jelek lagi menunda diri di loneng lauwteng itu memandangi keindahan alam. Tadi ia menyingkir ke sini tanpa diketahui si nyonya tua.

Setelah sekian lama, anak muda itu menghela napas, terus ia mengangkat tangannya ke mukanya, untuk meraba mukanya, maka di lain saat, tangannya itu sudah meloloskan sehelai topeng, hingga sekarang terlihat romannya yang tampan sekali, ia menyimpan topengnya ke dalam sakunya, dengan tindakan perlahan ia turun di undakan tangga.

Oleh karena ia tahu sedikit sekali orang yang mengenal romannya yang asli, In Gak tidak takut melepaskan topengnya itu. ia berjalan sampai di luar pendopo Hi Siu Tong yang letaknya di sebelah barat telaga, telaga itu memakai papan merek "Hu-yong Ceng ci-auw" Ketika ia memandang ke arah gelong, ia melihat ada seorang di muka jendela pendopo memandang ke luar.
Dia mengenakan baju kulit terlapis dengan mantel, dan kepalanya tertutup apa yang dinamakan kopiah angina. Muka orang itu bersih, pada kumisnya ada sejumlah lembar uban, Dia mestinya seorang bangsawan, hanya ketika itu kulitnya pucat, matanya layu, sering dia batuk-batuk, itulah tanda bahwa dia sedang terganggu kesehatannya.

Beberapa kali In Gak memandang orang itu, yang sebaliknya pun mengawasi padanya, Tatkala ia berjalan sampai di dekat jendela, mendadak dia bersenyum dan menggapai, dan terdengar juga suaranya menyapa:
"Tuan, kau gembira sekali pesiar ke mari, mungkin kau mempunyai kegemaran sama denganku yang menyukai pemandangan pemandangan alam yang permai jikalau kau suka, marilah mampir untuk duduk sebentar di sini"

In Gak memang lagi merasa kesepian, undangan itu baik sekali untuknya. "Baiklah." sahutnya seraya ia menghampiri, setelah saling memberi hormat, mereka berduduk untuk paling dulu menanyakan she masing-masing. orang tua itu menyebut she Ouw.
Mereka lantas bicara, mulanya tentang pemandangan alam yang indah itu, lalu beralih kepada ilmu main khim, catur dan melukis, tak dilupai ilmu surat, Mereka membicarakan juga soal ketiga agama.

In Gak mendapat tahu orang terpelajar diam-diam ia menghargai sebaliknya si orang she Ouw pun berpikir demikian, karena ia merasa pemuda ini berpendidikan baik.
"Tuan Cia," kata dia kemudian, tertawa, "Kau terpelajar, mengapa kau tidak mau bekerja untuk negara? Aku percaya, tak sampai sepuluh tahun, kau bakal manjat tinggi. jikalau tuan berminat, suka sekali aku membantu padamu."
"Terima kasih," kata In Gak bersenyum. "Hatiku tawar dengan kepangkatan, tidak ada minatku sama sekali, Menyesal aku mensia-siakan pengharapan kau."

Orang tua itu tertawa, ia tidak mendesaknya. Maka mereka bicara terus dengan asyik. Selama itu si orang tua masih saja suka batuk-batuk. suka ia berludah ke luar jendela. In Gak melihat kadang-kadang ludah orang ada darahnya.
"Kau sakit, lotiang, mengapa kau tidak berobat?" si anak muda tanya kemudian, "Lo-tiang sering batuk, itu namanya pernapasanmu kurang sempurna: Kalau penyakit ini di-alpakan- lama-lama bisa mendatangkan gangguan lebih hebat."

Orang tua itu heran, ia memandang tajam, "Buat orang dengan usia lanjut, penyakit batuk biasa saja," ia kata. "Mengapa tuan Cia mengatakan penyakitku ini dapat menjadi berlarut-larut? Mungkin tuan mengerti ilmu ketabiban?" ia berhenti sebentar, tanpa menanti jawaban, ia kata pula sambil menghela napas:
"Penyakitku ini bandel sekali, aku mengundang tabib-tabib terkenal, tidak ada faedahnya, maka itu meskipun aku bercita-cita, hatiku menjadi tawar. Begitulah aku mengiringi kegemaranku dengan keindahan alam, hingga aku menjadi suka pesiar di sini..."

In Gak percaya orang ini bukan sembarang orang, mungkin dia benar orang bangsawan atau sedikitnya dia bekas menteri yang mengundurkan diri,
"Lotiang," katanya bersenyum, "mengapa lotiang tidak mencoba mengundang Say-Hoa-To Gui Peng Lok dari kota Ciang-peng?"
"Pernah aku mengundangnya," sahut orang itu, "Dia memberikan aku obat" guna menghancurkan reak. habis makan obatnya itu, aku merasa baikan, akan tetapi ketika aku mengundang pula, dia katanya sudah pergi ke Kwan-gwa."

In Gak heran mengapa Say Hoa To tidak mengobati secara sungguh-sungguh pada orang tua ini. Tapi ia tahu, orang pergi guna Hu Ceng. Maka ia mengawasi orang di depannya ini. "Aku mengerti sedikit perihal obat-obatan," katanya bersenyum, "Apabila lotiang tidak menampik, maukah kau aku coba menolongnya?"
Alisnya orang tua itu terbangun.
"Kau sungkan sekali, tuan Cia," katanya, "Ada pepatah yang membilang, obat mujarab dapat dibeli dengan harga ribuan tahil emas, tabib pandai sukar didapatkannya dalam seratus tahun, maka itu, aku girang sekali hari ini aku dapat bertemu denganmu Tuan Cia, mungkin aku bakal ketolongan, dari itu besarkanlah hatimu, kau cobalah"

In Gak mengangguk ia lantas pegang nadi kenalan ini. Tiba-tiba ia terkejut dan berkata: "Ooh, aku salah mata. Mulanya aku menyangka lotiang ialah seorang berpangkat atau hartawan besar, kiranya lotiang seorang Rimba Persilatan" Lalu ia bersenyum dan menambahkan: "Di masa mudanya lotiang terlalu mengumbar napsu hatimu, maka itu anggauta tubuhmu mendapat gangguan hingga kau mirip dengan pelita yang kekeringan minyak. hingga air ludahmu menjadi keras, menjadi riak..."

Si orang tua tertawa.
"Betul Betul" katanya memotong, "Silahkan bicara terus, jangan kuatir"
Tetapi In Gak tidak bicara terus, ia hanya merogo sakunya, mengeluarkan obatnya, pel Tiang cun Tan-
"Coba lotiang makan dulu obat ini," katanya, Begitu lekas orang menelan obatnya, mendadak ia mencekal jalan darah pek-hwe.
Dengan cepat si orang tua merasai napasnya tersalurkan rapi, ada hawa hangat yang membawa obat turun ke dalam perutnya, lalu sejenak kemudian, batuknya berhenti, dan tubuhnya terasa nyaman.

Masih sekian lama baru In Gak melepaskan cekalannya, ia berbangkit untuk menghampiri meja tulis, guna menulis resepnya, kemudian sambil menyerahkan itu pada si orang tua she Ouw, ia bersenyum dan kata: "Coba lotiang makan terus obat seperti tertera di sini, pantangannya ialah dalam waktu tiga bulan jangan sekali lotiang mendekati wanita, setelah itu pasti kau akan sembuh seluruhnya bahkan akan tambah umur. Aku masih mempunyai urusan buat mana aku telah berjanji dengan suatu orang, dari itu maafkan aku, tidak dapat aku menemani lebih lama, Maaf" ia memberi hormat, untuk meminta diri.

Orang tua she Ouw itu tertawa: "Tunggu sebentar, tuan Cia" katanya, "kau telah menolong mengobati penyakitku, tidak dapat aku membalas budimu, maka itu sukalah kau menerima ini satu tanda mata."
Sembari tertawa, orang tua ini merogo sakunya, untuk mengeluarkan sebuah kantung sulam yang indah, ia tertawa pula dan berkata lagi:
"Isinya kantung ini barang biasa saja, mungkin tidak ada di mata kau, akan tetapi untuk pengembaraan kau, ini akan ada faedah-nya. sebenarnya aku mengagumi kepandaian kau, maka semasa aku masih ada umur, aku mengharap nanti dapat bertemu pula dengan kau. segala apa mengenai diriku berada di dalam kantung ini, aku harap tuan jangan menanyakannya lagi padaku..."
Ia menyesapkan kantung itu di tangan si anak muda, lantas ia memutar tubuh untuk bertindak ke luar dari pendopo Hi sui Tong itu, untuk menuju ke lain bagian dari taman itu.

In Gak heran tetapi ia menduga kata-kata si orang tua ada artinya, ia simpan kantung itu dalam sakunya, ia hanya berpikir sebentar lantas ia memakai pula topengnya, ia berlalu dengan cepat dari Wan Beng wan untuk pulang ke hotelnya.
Baru setelah berada didalam kamarnya ia keluarkan kantong tadi. ia lantas mengeluarkan isinya, ia melihat suatu barang yang bersinar berkemilau, yang membikin seluruh kamarnya menjadi terang benderang, ia menjadi terkejut saking heran, ia lantas meneliti barang itu, ialah sepotong giok-pwe warna hijau untuk sabuk.

Sabuk itu disulam dengan seekor naga-nagaan berkuku lima, di betulan mulutnya tersebut sebutir mutiara, dan itulah mutiara yang mendatangkan cahaya terang itu, ialah ya-beng-cu. mutiara mestika, yang dapat membikin malam bagaikan siang karena cahaya terangnya itu.
Tapi yang hebat adalah ukiran delapan huruf pada tubuh naga, bunyinya: "Kian Liong gie-pwe, ji tim cia lim," yang berarti "Inilah sabuk Kian Liong, seperti tim hadir sendiri"
"Kian Liong" ialah Kaisar Kian Liong, dan "tim" itu adalah sebutan "aku" atau "kau" yang biasa digunakan seorang raja..

Untuk sejenak In Gak duduk melongo. Jadi tadi ia telah bertemu dengan orang paling mulia dan paling besar pengaruhnya di dalam negeri. Lekas lekas ia menyimpan giok-pwe itu, menyimpan dengan hati-hati.
"Tadinya aku menyangka aku berhadapan dengan bekas seorang berpangkat atau seorang bangsawan anak raja, siapa sangka dialah sri Baginda Raja sendiri. Kenapa dia berada dalam taman itu dan sendirian saja"
Habis berpikir begitu, ia tertawa sendirinya. ia pikir pula. "Pantas Say Hoa To tidak berani mengobati sungguh-sungguh. Aku sendiri, kalau aku tahu dialah raja, tentu aku tidak suka menolongi dia. Kaisar Yong Ceng berasal dari murid Siau lim-si, pantas kalau Kian Liong pun pandai ilmu silat. Pula pantas sebagai kaisar, ia tidak berani sembarang memakai tabib untuk mengobati padanya, ia tentunya kuatir nanti di racuni..."

In Gak berhenti ngelamun karena kupingnya mendengar suara ramai dari luar hotel, lalu samar-samar ia mendengar terlebih jauh, "Hari ini kita golongan piauwkiok terbuka matanya siapa sangka nona yang demikian manis dan lincah demikian lihay ilmu silatnya..."
Mendengar itu In Gak menduga kepada It Goan Kisu serta puterinya yang Jenaka, si Nona Ouw Kok Lan yang termanjakan, Tidak heran kalau nona itu menerbitkan kekacauan...
Lantas ia meraih topengnya Lalu pergi ke luar.

Di satu bagian dari Ta-mo-ciang terlihat bmvak orang berkerumun In Gak nelusup di antara orang banyak itu, untuk maju ke muka, guna dapat melihat tegas siapa yang lagi ditonton itu Segera ia melihat Kok Lian lagi melayani dua orang yang tubuhnya besar dan kekar, sebaliknya It Goan Kisu berdiri di pinggiran, b ersenyum-senyum seraya meng urut- urut kumis jenggotnya.

Kedua orang itu baik ilmu silatnya, akan tetapi melayani si nona mereka keteter. It Goan Kisu tajam matanya, ia lantas mengenali si anak muda, ia segera menggapai. In Gak menghampiri.
"Kenapa puterimu itu, Ouw Locianpwe? ia tanya bersenyum.
"Tak lebih tak kurang karena urusannya Hwe gan Kimcu Lim Bong" sahut orang tua itu tertawa, "Dua orang itu mengirim surat undangan katanya mereka dititahkan mengundang aku dan anakku pergi ke rumah makan Tong sun di mana Lim Bong mengadakan perjamuan. Anakku tidak senang, katanya Lim Bong tidak datang sendiri. Dia mau Lim Bong datang, atau dia hendak mengambil kepala orang, Dua orang ini berkeras kepala, mereka gusar, maka itu bertempurlah mereka. Anak ini milikku satu-satunya, aku sangat menyayangi dia. Harap lote tidak menertawakan aku..."

In Gak bersenyum, Terus ia memandang ke gelanggang.
Dua orang itu bersilat dengan ilmu silat Yo Ke Ciang, keluarga panglima perang she Yo dari sm-co yang tersohor dijaman dulu. Kelihatannya mereka dapat bekerja sama, akan tetapi waktu itu, peluh mereka sudah mengucur deras, jidat mereka gelap karena berpetanya otot-otot mereka. Meski tenaga mereka sudah mengurang. mereka masih mereka ngotot.
Nona Ouw sebaliknya lincah sekali, ia tidak letih, bahkan sering ia tertawa, ia menyerang ke setiap lowong m kedua lawannya ia menyerang sambil menggoda.

Kedua lawan itu mengerti mereka lagi di-permainkan. Baru setelah itu, mereka memikir untuk menyingkirkan diri. Yang seorang mencari lowongan, setelah mendapatkan itu, ia lompat ke luar, Tapi ia terlihat si nona, ia dipegat.
Ia lantas merasakan tenaga mendorong yang keras, hingga kembali ia masuk dalam kalangan Akhirnya mereka jadi sangat menolongkol, sembari berkelahi mereka mendekati Ouw Kong, untuk berkata dengan keras: "It Goan Kisu, kecewa kau menjadi orang Rimba Persilatan yang kenamaan Mengapa kau tidak menghargai lagi persahabatan kaum Kang ouw? Mengapa kau umbar anakmu ini? Kau ketahui sendiri, jikalau kami mati, kami mati dengan hormat Tapi kau, adakah kau mempunyai muka untuk hidup terus dalam dunia Kang ouw?"

Orang yang ditegur tidak menjadi gusar, ia cuma tertawa, sebaliknya Kok Lan menjadi gusar, alisnya bangun berdiri.
“Jahanam" ia mendamprat lantas ia menjejak tanah, untuk berlompat tinggi, tubuhnya terapung.
Dua orang itu terkejut, keduanya lantas lompat mundur, akan tetapi mereka lantas didesak-lalu barusan mereka dibacok. sekarang mereka ditikam, masing-masing jalan darahnya thian-kiu di teng gorokan- Kembali mereka berkelit, Tidak urung mereka kaget pula.
Tikaman, yang berupa cahaya hijau yang berkeredep. dari tenggorokan menyambar ke samping muka mereka masing-masing, hingga keduanya lantas menjerit.

Baru setelah itu, si nona tidak mendesak lagi. Dia berdiri terpisah dua tombak. mukanya tersungging senyuman, tangannya mencekal dua batang pedang yang luar biasa, panjang tak ada lima kaki, romannya bengkok, bersinar terang, In Gak heran akan senjata itu, yang ia belum pernah lihat atau dengar.
Dua orang itu telah lantas meraba kuping mereka yang kanan, nyata kuping itu sudah lenyap. tangan mereka lantas berlumuran darah-Mereka menjadi terlebih kaget, muka mereka pucat, alis mereka berkerut.

Selagi mereka masih belum tahu harus berbuat bagaimana, telinga mereka mendengar suara siulan dari luar gelanggang, nyaring dan terang, tanda suara itu di-keluarkan oleh yang mahir ilmu tenaga dalamnya, sampai It Goan Kisupun heran.
Menyusul berhentinya siulan itu, terlihatlah datangnya beberapa orang, memasuki gelanggang dengan murka itu melompati kepala orang banyak yang berkerumun menonton pertempuran. Dengan begitu lantas terlihat tegas, merekalah Kiong-bun siang Kiat, cintiong siang siauw. Hwe-gan Kim-cu Lim Bong, serta seorang pendeta Lhama berjubah kuning, memakai anting-anting dan tubuhnya besar dan gemuk. orang banyak kaget, mereka berebutan mundur.

Lim Bong lantas melihat dua orangnya kehilangan daun telinga mereka yang kanan, darahnya mengalir ke sebelah muka mereka itu, sedang si nona, dengan pedang aneh di tangan nampak muram, ia gusar sekali.
Tapi ia malu untuk melayani seorang wanita maka ia lantas menghadapi Ouw Kong. "Ouw Kisu, caramu ini keterlaluan" katanya sengit.

It Goan Kisu tertawa terbahak.
"Ini pun disebabkan kami masih menaruh belas kasihan" sahutnya.
Kok Lan memang membenci orang ini, sekarang ia melihat orang berlaku galak terhadap ayahnya, ia bertindak maju, sembari membentak ia lompat menyerang.
Lim Bong terkejut, ia berkelit dengan lompat mundur sambil berlenggak. itulah lompatan "Ikan gabus menembusi gelombang." Dengan begitu sepasang gedang si nona cuma berkelebat di depan mukanya.
Ia baru menaruh kakinya dan berniat mendamprat, lalu serangan datang pula, kembali cahaya hijau berkemilau memain di depan matanya, Kali ini ia tak sempat berkelit lagi, mungkin ia bakal menerima bagiannya, syukur Cin-siong Siang Niauw menolong padanya.

Cintiong siang Niauw yang tertua, Cin siang, melihat pedang aneh si nona, dia menjadi ketarik hati dan ingin merampasnya, justeru ia melihat kawannya terancam bahaya ia lompat maju, tangannya diulur ke tangan si nona, guna merampas pedang yang luar biasa itu.
Kok Lan melihat datangnya serangan, ia lantas membalik tubuh, guna menyambuti, untuk menikam jalan darah khi-hay dari penyerang itu. Cin siang batal merampas pedang tapi ia mengetuk ke lengan.

Si nona terkejut, kedua tangannya kena terpukuL hampir pedangnya terlepas. la lompat mundur, mukanya berubah.
Cin siang tidak berhenti karena mundurnya nona itu. sambil berlompat maju, ia menghunus pedangnya, terus ia menikam ke arah alis orang, itulah satu tikaman dari "Hui Hong Kiam-hoat," ilmu pedang "Burung Hong Terbang." itu juga ilmu yang membikin siang Niauw menjadi kesohor kosen-
Menghadapi lawan bengis itu, Kok Lan mengeluarkan It Goan kiam-hoat, ilmu pedang "It Goan" ajaran ayahnya.
"Hanya segala mutiara sebesar beras berani mengeluarkan sinarnya" kata Cin siang sambil tertawa dingin, terus ia menyejang tak hentinya hingga tiga kali beruntun dengan tiga jurusnya "Burung hong datang memberi selamat," "Burung hong bersuara di tengah langit," dan "Burung hong menanti di istana rembulan," semuanya jurus-jurus yang berbahaya dari Hui Hong Kiam-hoat.

Ouw Kok Lan kena terdesak. Biar ia mengerti ilmu silat ayahnya, ia kalah latihan-Dengan lantas ia merasa sukar bernafas, hingga gerakannya menjadi ayal. Dengan begitu juga pecahlah pembelaan dirinya.
Cin siang melihat lowongan, segera dia menikam ke pundak kiri lawannya itu.
Dengan berseru, Ouw Kong dan In Gak lompat berbareng guna menolongi si nona, In Gak sampai terlebih dulu, dengan ilmu jarinya ia terus menyerang.

Cin siang kaget sekali, Tiba-tiba ia merasa tolakan yang keras, hingga ia mesti mundur empat tindak, sedang serangannnya gagal dilanjuti kepada Kok Lan. ia lantas melihat, perintang-nya ialah si anak muda muka jelek yang kemarin terlihat di atas Ceng Hong Lauw. Yang membikin ia kaget sekali dan heran ialah pedangnya terpegang kelima jarinya anak muda itu.

Si anak muda tertawa dingin dan kata: "Kau tahu, kau terkenal untuk ilmu silat Hui Hong Kiam-hoat yang kesohor sebagai yang nomor satu di kolong langit ini, tetapi nyata kepandaianmu begini saja, jikalau kau hendak mengangkat namamu, kenapa kau tidak mau menunggu sampai pertemuan di gunung Tay san nanti, kau mengaku gagah tetapi kau menghina seorang nona, kau sungguh manusia tak tahu malu"

Mukanya Cin siang bermuram durja, itulah cacian hebat, yang takparnah ia menerimanya. ia lantas mengerahkan tenaganya untuk menarik lolos pedangnya.
In Gak tertawa b erg elak. mendadak ia melepaskan cekalannya, inilah tidak disangka tertua Cin-tiong Siang Niauw, karenanya dia terhuyung mundur tiga tindak, hampir dia terguling di saiju yang kotor.
Kiongbun Siang Kiat saling mengawasi, sedang si pendeta lama tercengang dengan mulutnya menganga.

It Goaa Ki-su tiba belakangan, segera ia menarik tangan puterinya buat diajak keluar dari gelanggang. Di dalam hatinya jago tua ini heran sebab si anak muda dapat mendahului ia. Putrinya pun heran seperti ia.
Ji-Koay Pa San liuw burung yang nomor dua, berlompat maju dalam kemurkaan- Dia berkata dengan nyaring. "Tuan, kau lihay, tetapi kau main bokong, aku tidak puas"
In Gak menyambutnya dengan tertawa lebar.
"Aku hanya menelad contoh " sahutnya, “Jikalau kau tidak puas, baiklah, kau tunggulah aku di puncak Tiang Jin Hong Tay San nanti"
“Jikalau begitu" kata Pa San Tiauw dingin "baik, aku akan nantikan kau di gunung Tay San” ia memberi hormat, buat ia mengajak kawannya berlalu, dengan melompati kepala orang bagaikan terbang.

Kiongbun Siang Kiat yaitu Tiat Pi Kim-kong Mi San hok dan Im Hong Sat-ciang Tian Ban Hiong, semenjak tadi mengawasi dan mendengar saja, seberlalunya cin tiong Siang Niauw, maka Tian Ban Hiong lantas mendekati si anak muda. "Kau hebat, tuan" katanya dingin.
"Diam" In Gak membentak, "Tian Ban Hiong, Ho Sia Hok, kamu telah melalui wewenangmu Ke cin-ong telah berulang kali melarang kamu menggunai pengaruhnya pembesar negeri mencampuri urusan kalangan Rimba Persilatan, kenapa masih saja kamu saban-saban menerbitkan onar? Kamu tahu, kejahatan kamu itu inilah hukuman picis Aku telah ditugaskan menilik kamu, maka itu apakah kamu masih tidak mau lekas pergi?"
Sambil berkata itu, In Gak mengasih lihat sinar matanya yang bengis, Tanpa merasa Kiong-bun Ji Kiat menggigil sendirinya.

Di pihak lain- si Lhama tertawa berkakak, "Bocah ini berani menipu" teriaknya, "Sungguh dia sudah bosan hidup sang Buddha kamu biasa keluar masuk di istana raja dan istana-istana pelbagai pangeran akan tetapi belum pernah aku melihat kau"
In Gak tertawa dingin-
"Untuk mengenal aku mudah sekali" katanya. Mendadak ia mengulur kedua tangannya, dengan sepuluh jarinya ia meryamber ke kedua nadi pendeta itu.
Pendeta itu ialah yang disebutBuddha Hidup Huchakdu, kedudukannya sebagai taysu, kepala dari kuil Lhama Yong Ho Kiong di dalam istana, Mengenai ilmu silat, dia pandai ilmu yang dinamakan "See Thian Hud Ciu In", yaitu "Cap tangan Buddha dari langit Barat". Dia berimbang dengan Kiong bun siang Kiat, tetapi karena sangat diandalkan raja, dia menjadi besar kepala.

Dia juga sangat kemaruk paras elok, maka itu semenjak tadi matanya terus mengincar Kok Lan. Dia terkejut melihat sambaran sepuluh jari In Gak, tapi karena dia tidak takut, dia menyambutnya, Dia pernah melatih ilmu kedot "Kim-kong put Hoay sin-hoat", tubuhnya jadi "tidak bisa rusak", yaitu tak mempan senjata. Ketika dia menyambut itu, dia menggunakan jurus dari see Thian Hud Ciu In- Dia ingin dengan sekali menghajar membinasakan si anak muda.

In Gak tidak membatalkan serangannya dengan menggeser sedikit tangannya, tangan mereka menjadi tidak beradu, di lain pihak, ia teruskan menyergap.
Huchikdu kaget, lalu dia menjerit kesakitan, matanya dipentang, mulutnya dibuka, peluhnya mengucur ke luar seperti hujan. In Gak tertawa dingin-
"Kau ini keledai gundul dari istana mana?" dia tanya bengis, "Lekus bilang"
Huchakdu merasakan sakit sampai di ulu hatinya, ia merasa seperti digigit ribuan ular berbisa tubuhnya kaku dan ngilu, Biarpun dia mau mati, dia tak dapat mewujudkan keinginannya itu. Dia tidak berdaya sekali, bahkan buat berontak juga tak sanggup, Dengan suara menggelap ia menjawab: "Aku si pendeta kecil bernama Huchakdu, aku berasal dari kuil Yong Ho Kiong..."

"Oo, kiranya kau" kata In Gak, "Dengan mengingat kepada panghargaan sri Baginda atas dirimu, suka aku memberi ampun pada jiwamu lekas kau mengangkat kaki"
Pemuda ini melepaskan cekalannya dengan menolak, lantas mana tubuh besar pendeta Lhama itu terpental empat tumbak, terbanting ditanahsaiju hingga dia terpendam sebatas pinggang.
Lekas sekali Huchakdu merayap untuk bangun berdiri, buat segera lari kabur.
Kiong bun siang Kiat kaget hingga mukanya menjadi berubah, sedang Lim Bong pucat pasi, itulah hebat, tak dapat mereka berani banyak omong lagi.

It Goan Ki-su menghela napas melihat lihaynya si anak muda, memandang puterinya ia kata: "Kepandaiannya pemuda ini tak dapat di-jajaki. Aku percaya, lagi sepuluh tahun, dia tak akan ada tandingannya."
Kok Lan mengawasi anak muda itu.
“Bagaimana, ayah?" katanya manja. "Biasa-nya ayah tidak suka mengalah kepada orang lain, tetapi sekarang ayah memuji orang begini hebat..."
Ayah itu bersenyum.
"Kau benar, tolol" katanya "Tapi ayahmu bukan cuma memuji, Anak muda ini telah memberi bukti kenyataan, Kau perhatikan saja, dia benar luar biasa."
Puteri itu bersenyum.

In Gak sendiri menghadapi Kiong bun siang Kiat, ia tertawa dan menanyai Jiwi loya apakah kamu masih hendak mengajari sesuatu kepadaku?"
Dua jago itu serba salah, lalu Ho sin Hok menenangkan diri dan menyahuti: "Tuan, kepandaian kau memang lihay sekali, cuma beberapa kali kau bergerak bagaikan membokong, hingga orang sukar takluk..."
Kalau tadinya jago ini menyangsikan kedudukan orang, sekarang dia menyangsikan kepandaiannya.
In Gak bersenyum.
“Jikalau jiwi hendak main-main pula, itulah gampang, sekali. Untuk itu baiklah jiwi melepaskan dulu pangkatmu di istana, Kau tahu sekarang juga pangkatmu dapat dihapus dan segera kamu dapat menjalankan hukumanmu" sembari berkata, anak muda ini mengawasi bengis.

Mukanya dua kawan itu menjadi pucat, akhirnya Hosin Hok menjura dan berkata: "Kalau demikian, tuan, baiklah, kita tunggu saja lain hari" Terus dia ajak saudaranya ngeloyor pergi.
Lim Bong menjadi jeri lekas-lekas ia memutar tubuh, untuk mengangkat kaki. ia baru bertindak satu kali, atau ia merasa angin lewat di sisinya, lantas si anak muda menghadang di depannya, tangannya yang kanan menyambar pundaknya yang kiri. ia merasakan demikian sakit hingga ia tak dapat bersuara,
"Perkara kemarin tinggal perkara kemarin, tetapi perkara hari ini tak dapat melindungi pula padamu" kata si anak muda bengis, "Kau telah mendustai Ouw Locianpwe dan puterinya, kau hendak mencelakainya, Untuk itu kau mengharapkan pengaruh orang, kamu pun datang ke mari sekarang apa kau mau bilang?"

Lim Bong berdiam. Dia baru saja diangkat menjadi ketua dari perkumpulan sam Tiam Hwe di empat propinsi Barat, biarpun dia bersalah, dia berkepala besar, tidak mau dia sembarang merendahkan diri
"Aku mau lihat, sampai berapa lama kau dapat berkepala batu" kata In Gak tertawa dingin-
Lim Bong lantas merasakan pundaknya tertekan, lalu tenaganya seperti lenyap secara tiba-tiba. Mukanya lantas menjadi pucat, Tubuhnya pun terhuyung seperti mau roboh. Melihat siksaan itu, tak tega hatinya Ouw Kong.
"Laote, baik beri ampun padanya" ia minta. "inilah pelanggarannya yang pertama Kalau lain kali dia berani berbuat pula, aku sendiri tak akan mengampuninya"

In Gak menurut, ia melepaskan tangannya, terus ia memutar tubuh, ketika It Goan
Kisu mengundangnya, untuk pergi ke kamarnya, ia mengikut ke hotel mereka.
Lim Bong pun lantas ditolongi, diajak pergi oleh dua orangnya yang hilang kupingnya itu.
Sampai disitu, orang banyak pun bubar.

Ouw Kong dan puterinya bersama In Gak masuk ke kamarnya di hotel sam Goan, lantas mereka duduk di atas pembaringan tanah di bawah mana apinya berkobar-kobar hingga kamar menjadi hangat seperti di musim pertama. pelayan telah dititahkan lekas menyajikan barang hidangan dan arak. untuk mereka berbicara sambil minum dan dahar.
Sementara itu In Gak heran, Semenjak tadi ia tidak melihat Gan Keng Lojin- Mau tak mau, ia menanyakannya kepada ouw Kong It Goan Kisu mengurut kumisnya dan tertawa.
"Sahabatku itu tadi malam telah kembali ke sam-siang " ia memberitahukan "Dia kata dia mau mendesak kepada ketuanya supaya murid-murid Heng san Pay, menggunakan waktu sebulan ini melatih sungguh-sungguh ilmu silat mereka, yaitu ilmu pedang Liang Gi Kiam-hoat, ia ingin supaya Heng san pay tidak dipandang enteng selama pertemuan di Tay san itu"

Ia berhenti sebentar untuk menatap anak muda di depannya, habis itu ia berkata pula: "Laote, sampaipada detik ini aku yang dianggap luas pengetahuannya dan banyak pendengarannya masih tidak dapat tahu tentang gurumu, kecuali aku merasa dalam segala hal kau melebihi lain orang, sebenarnya aku mengagumi kau. Pasti laote mempunyai suatu kesulitan, kerenanya kau menyembunyikan dirimu, tetapi kau boleh percaya, aku akan menjaga mulutku seperti botol disumpal, tidak nanti aku membuka rahasia. Maukah laote menuturkan tentang dirimu kepadaku?"
It Goan Kisu termasyhur, apalagi setelah tiga kali ia mendaki gunung Kun Lun san. ia banyak pengalamannya, luas pengetahuannya.
Ia bertabiat keras, maka itu Touw Liong Ki-su Chio Thay Hi menjadi sahabat akrabnya, tetapi meski mereka berdua seperti saudara-saudara kandung, mereka membawa dirinya masing-masing, mereka tidak saling mengusik, itu pula tabiat yang membikin ia mempunyai sedikit sahabat.

Karena luasnya pengetahuannya, ia kenal ilmu silat banyak partai lainnya. sekarang, baru ia muncul pula dalam dunia Kang ouw, ia mendapatkan In Gak dengan kepandaiannya, ia menjadi kagum dan takluk, hingga beda daripada biasanya, mau ia mendesak menanyakan hal ihwal si anak muda.

Pemuda itu menjadi serba salah, "Sebenarnya tidak berani boanpwe mendusta." ia menjawab akhirnya, "Kepandaianku ini separuh didapat dari ayahku almarhum, yang selebihnya dari guruku seorang pendeta. oleh karena aku lagi bertanggung jawab atas sakit hati keluargaku, menyesal aku mesti menyembunyikan diriku..."
Ouw Kong terharu mendengar keterangan itu. ia hanya masih heran siapa pendeta itu. ia mau menduga kepada pendeta pihak Siauw Lim Pay tetapi kepandaian si anak muda beda, inilah tidak heran karena Hian wan sip-pat Kay ialah ilmu silat yang sudah lama lenyap dari dunia Kang ouw.
"Kau she apa, laote?" kemudian ia tanya mengenai diri orang.
"Boanpwe she Cia," In Gak menjawab bersenyum.
"Oh" kata si orang tua. ia lantas berdiam, karena ia tidak bisa menduga orang tua pemuda ini. selama dua puluh tahun ia menyembunyikan diri, ia terputus dari dunia Kang ouw, ia tidak mendengar segala kejadian, hingga ia tidak tahu juga peristiwa pengeroyokan atas dirinya Cia Bun, sedang Cia Bun itu ia tidak kenal.

Ouw Kok La n berdiam saja mendengar orang berbicara, akan tetapi matanya tidak berdiam seperti mulutnya, matanya terus bekerja mengawasi si anak muda, Hatinya turut bekerja juga, Akhirnya dia mencibir mulutnya dan kata: "Ayah, sekalipun di dalam kamar dia masih memakai topengnya, bukankah itu disebabkan dia takut orang lihat wajahnya?"
Ouw Kong tidak menjawab puterinya, ia melainkan bersenyum, cuma matanya menatap tetamunya itu, Matanya itu bersinar terang.
Benar benar In Gak menjadi serba salah. Akhirnya tanpa bilang apa-apa, ia meloloskan topengnya

Kok Lan terkejut bukan kepalang, ia melongo dengan muka merah karena jengah sedang hatinya berdebaran, Di dalam hatinya ia memuji: "sungguh tampan" Dengan menjublak ia menatap pemuda di depannya itu
In Gak melihat sikapnya si nona, lekas-lekas ia mengenakan lagi kedoknya, ia memikir untuk tidak menanam pula bibit asmara. sebab itu dapat meruwetkan pikirannya, ia tidak ingin sampai menggagalkan penghidupan orang. ia lantas teringat kepada Wan Lan.

Ouw Kong heran dan kagum Diam-diam ia menghela napas, ia menyesal untuk puterinya, ia melihat jelas kekaguman sang puteri, yang pasti tertarik pada anak muda ini. Tentu anaknya telah mencintainya. Di lain pihak. la merasa In Gak tidak tergiur akan puterinya itu
Biasanya pemuda, dia tertarik terlebih dulu, tetapi pemuda ini lain, la hanya sangsi apa benar benar In Gak tidak tertarik hati sedang Kok Lan demikian cantik, botoh, dan manis.
Maka ia menduga mungkin anak muda ini telah mempunyai pacar...

In Gak tidak mau memberi kesempatan si orang tua banyak pikir, ia tertawa dan berkata: " Kiong bun siang Kiat mundur saking terpaksa, mereka tentu tidak puas, bahkan gusar sekali, maka itu boanpwe percaya mereka bakal datang pula."
Ouw Kong heran-
"Kenapa laote berpendapat demikian?" dia tanya.
"Mereka bangsa keras hati, mereka pasti menyayangi anak mereka," sahut In Gak. "Sekarang anak mereka itu lenyap. bagaimana mereka tidak mencarinya?" ouw Kong heran pemuda ini mengetahui urusannya kedua jago itu.
"Karena kebetulan sekali aku mendapat dengar hal mereka," sahut In Gak. ia lantas menuturkan apa yang ia dengar di Glok Coan san. Tapi ia menutup halnya ia mempermainkan In Hian Bi dan telah bertemu dengan Kaisar Kian Liong, ia cuma bilang ia melihat Hek Ie Hian-li, si Wanita serba Hitam.

Mendengar disebutnya in Hian Bi, Ouw Kong ingat sesuatu, ia tertawa. "Laote, tahukah kau tentang diriku?" ia tanya. In Gak menggeleng kepala.
"Di kolong langit ini mungkin cuma satu orang yang ketahui asal-usulku yang benar" kata It Goan Kisu, "Sekalipun chin Thay Hi masih belum mengetahui jelas" ia tertawa, ia kata pula: "Aku ialah muridnya Ki Lian Ik siu yang tersohor pada seratus tahun yang lampau itu. Guruku itu belum pernah merantau dalam dunia Kang ouw, kecuali satu kali ia merobohkan Biauw Nia siang Yauw, peristiwa mana telah mengangkat namanya. Sayang aku sendiri tidak dapat menyaksikan pertempuran itu Pernah guruku menceritakan padaku, sebenarnya ia berniat membinasakan siang Yauw tetapi kemudian, melihat siang Yauw demikian lihay, ia menyayanginya, ia batal mewujudkan pikirannya itu, dengan begitu di luar keinginannya, ia meninggalkan ancaman malapetaka... “

Kok Lan heran, ia tertawa.
"Ayah, mengapa aku belum pernah mendengar ayah bercerita tentang peristiwa itu?" Ayah itu tertawa.
"Percuma aku menuturkan, kau toh tidak tahu" sahutnya, "Lagipula anak perempuan apa perlunya untuk mengetahui begitu banyak"
Mulut Kok Lan monyong.
"Lihat, engko Cia, bagaimana sikapnya ayah" katanya pada si anak muda. In Gak bersenyum.
Ouw Kong bergembira, maka banyak ia bercerita tentang peristiwa-peristiwa kaum Rimba Persilatan di jamannya, hingga ia membuat puterinya girang sekali.

In Gak turut mendengarkan tetapi ia tetap memikirkan hal anak-anaknya Kiong bun siang Kiat, Coba ia bertemu Lui Siauw Thian-pikirnya, pasti saudara angkat itu dapat membantunya.
Tidak lama, pintu kamar terdengar terketuk. "Siapa?" Ouw Kong tanya, "Masuk"
Pintu tertolak, nongollah kepalanya seorang bocah umur kira-kira tiga belas tahun, yang mukanya hitam.
"Apakah di sini ada Cia Tayhiap?" dia tanya perlahan, agaknya ragu-ragu. In Gak heran tetapi ia bersenyum,
"Itulah aku. Ada apa, sahabat kecil?" ia tanya,

Melihat ada si orang tua dan si nona, ia mencibir mulutnya.
"Dapatkah tayhiap keluar sebentar?" ia kata. "Aku hendak menyampaikan sesuatu...."
In Gak menurut, ia ajak bocah itu keluar, ke pojok pekarangan
Bocah itu lantas berbisik: "Apakah Cia Tayhiap mempunyai lencana Kay Pang? Bolehkah aku melihatnya?"
In Gak percaya orang ialah pesuruhnya Chong si atau siauw Thian. ia tidak bersangsi akan memperlihatkan ci tang Hu-leng, lencananya itu.
Anak itu lantas merogo sakunya, mengeluarkan sepucuk surat, sambil menjura dalam, ia menyerahkan pada si anak muda seraya berkata: "Aku masih mesti pergi ke shotang, maka itu sampai lain kali" Kata-kata itu ditutup dengan tubuhnya lompat melewati tembok pekarangan-

In Gak kagum ia lantas melihat sampul surat dimana ia mengenali tulisannya Lui Siauw Thian, maka ia lekas-lekas membukanya, untuk membaca suratnya, Akhirnya ia mengerutkan alis.
Lui Siauw Thian mengabarkan bahwa dia sudah pergi dari kota raja menuju ke Celam, bahwa Hu Ceng telah diambil Hoat It siangjin menjadi murid bukan pendeta dari Siauw Lim Pay, ia tahu bahwa Hu Liok Koan dan Hu Wan sudah ketolongan dan menduga adik angkat ini yang menolongnya. Karena lenyapnya itu kakek dan cucunya, Sim siang Kiu menjadi panas hati dan sekarang lagi mencari adik angkatnya ini. Maka adik ini dipesan buat waspada- Lebih jauh Siauw Thian menuturkan perselisihan di antara Kay Pang sendiri, bahwa ialah yang menculik anaknya Kiong bun siang Kiat, maksudnya untuk dipakai sebagai ancaman
agar Liok Koan dan cucunya dimerdekakan, karena mereka itu sudah ditolongi, anak itu sudah diperintah dimerdekakan juga, ia pergi ke Celam tanpa menemui adik angkat ini sebab ia tidak mau ia nanti dicari Kiongbun siang Kiat karena diketahui ia dan adik angkat ini bergaul erat, ia pun ingin membantu Tio Kong Kiu, calon mertua si adik angkat yang tinggal di Tiongciu. Kong Kiu dan ciu Wi seng tidak mau turut Lian cu dan Goat Go, puteri-puteri mereka, pergi ke peternakan Gouw Hong piu di utara, mereka mau pergi nanti di musim semi, sementara itu Ciu Wi seng terancam bahaya, sebabnya ialah U-bun Lui,
ketua Oey Ki Pang bersakit hati mengenai peristiwa di Ciu Ke Chung dan katanya U-bun Lui lagi bersiap sedia menuntut balas. Telah dijanjikan pertandingan di puncak gunung cian Hud san. Maka dia mau pergi memberikan bantuannya.
Menulis akhirnya, Siauw Thian mengasi tahu bahwa Koay Cun, anggauta Kay Pang yang murtad itu berada di Celam, maka Chong si beramai pergi untuk menyusulnya, Maka itu, kalau urusan In Gak sudah selesai, ia diminta lantas menyusul ke shoatang.

Habis membaca, In Gak menyimpan surat itu di dalam sakunya, ia kata dalam hatinya. "Urusanku sudah selesai, hari ini juga dapat aku berangkat" Maka ia kembali ke dalam hotel, ia melihat Ouw Kong dan puterinya menyambutnya sambil tertawa.
Hati In Gak bercekat, ia likat hingga mukanya menjadi merah. itulah sebab ia mendapatkan mata Kok Lan tajam seperti mau menembus hatinya, sebisa-bisa la berlaku tenang, "Barusan aku dipanggil sahabatku," ia kata, bersenyum, "Ada urusan yang mesti aku selesaikan, maka itu aku meminta diri sekarang, Nanti saja kita bertemu pula di gunung Tay san."

It Goan Kisu heran, tapi sejenak. la dapat menenangkan diri.
"Kalau laote ada urusan, silakan" kata-nya, bersenyum, "Kita toh akan bertemu pula sampai ketemu lagi"
Ouw Kok Lan heran akan sikap ayahnya itu. ia kaget si anak muda mau pergi begitu mendadak. ingin ia pergi bersama, ia dan ayahnya tidak punya urusan lain, Karena kata-kata ayahnya itu, terpaksa ia berdiam saja, cuma matanya menatap si anak muda.

In Gak harap semakin cepat ia pergi semakin baik, maka ia memberi hormat kepada si nona dan kata: "Nona, nanti kita bertemu pula di Tay san" ia lantas memudar tubuh, untuk bertindak keluar.
Mukanya si nona menjadi merah, ia mengawasi orang berlalu, Kemudian ia hendak menanya ayahnya, ayah itu mendahuluinya: "Anak tolol Dia mau pergi, mana kita bisa cegah? jikalau kita tidak berjalan bersama, dapatkah dia mencegah kita? Lekas berkemas, aku sendiri mau lihat dulu ia menuju kemana?"
Ayah itu lantas lari ke luar.

Kok Lan bersenyum, dengan sebat ia membereskan buntalannya, terus ia lari ke luar, guna menyusul ayahnya, sebagaimana biasanya orang perantauan, bungkusan mereka masing-masing kecil dan ringkas.
Sebenarnya tadi, selagi In Gak diajak ke luar oleh si bocah, Ouw Kong telah tanya puterinya, si puteri telah mencintai In Gak atau tidak. la dapat melihatnya dari gerak-gerik puteri itu. Kok Lan likat