Lembah 3 Malaikat [tamat]

Lembah Tiga Malaikat
Oleh: Tjan
Jilid 1
Kontributor penulisan: Agusis, Ngatasi, bintang73, kentir, maya, Hendra Tan,
axd002
Langit makin lama semakin menggelap, senja sudah lama lewat, dari ujung jalan
tiba-tiba muncul empat ekor kuda yang sedang dilarikan dengan kencang.
Makin lama kuda itu semakin mendekat dan penunggangnya makin lama semakin
jelas pula wajahnya.
Mereka terdiri dari empat orang, dua orang gadis dan dua lelaki.
Gadis yang berjalan paling depan berwajah cantik jelita bagai bidadari dari
kahyangan, dengan potongan tubuh yang ramping, ia adalah ketua dari suatu
organisasi besar dalam dunia persilatan, Bau-hoa-lengcu Nyo Hong-ling
julukannya. Di belakangnya mengikuti seorang lelaki kekar berwajah gagah dan
seorang gadis yang tak kalah pula kecantikan wajahnya, sedang dipaling belakang
mengikuti pula seorang pemuda sastrawan yang bertubuh lemah lembut serta
berwajah tampan.
Empat ekor kuda dengan empat orang penunggangnya yang aneh, melarikan
binatang tunggangannya itu menuju ke arah utara dengan kecepatan yang sangat
tinggi, tampaknya ada suatu urusan penting yang sedang mereka lakukan. Kurang
lebih belasan li kemudian, sampailah mereka di mulut sebuah lembah, si gadis
cantik atau Nyo Hong-ling itu segera menggebrak kudanya menerjang masuk ke
dalam lembah tersebut.
Tiga orang rekannya dengan cepat mengikuti pula di belakangnya menerjang
masuk ke dalam lembah tersebut.
2
Beberapa li kembali dilewatinya dengan cepat, akhirnya sampailah mereka di
depan sebuah kuil San sin-bio yang sudah bobrok, Nyo Hong-ling melarikan
kudanya ke arah sana, melompat turun dari kudanya dan melepaskan pelananya.
Tiga orang rekannya, meski merasa heran sekali dengan tindakan yang dilakukan
gadis itu, namun tak seorangpun yang buka suara, dengan cepat mereka menuruti
perbuatannya itu dengan menurunkan pelana dari atas kuda.
Memandang kuda jempolan itu, Nyo Hong-ling menghela napas pelan, gumamnya.
"Kalau kubunuh, rasanya terlalu kejam, dibiarkan hidup hanya akan meninggalkan
titik terang bagi pengejar-pengejar kita, aihh..... entah bagaimana baiknya?"
"Apakah kita akan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki?" tanya lelaki
bertubuh kekar itu.
"Ya, terpaksa kita harus berbuat demikian sebab tindak tanduk kita telah
menimbulkan perhatian dari lawan."
"Kau maksudkan orang-orang dari lembah tiga malaikat?"
"Sampai saat ini kita belum bisa menemukan bukti yang nyata, tapi yang pasti
mereka telah lama mengejar kita berempat.."
"Apakah diantara pengejar kita terdapat seorang gadis berbaju putih yang
menunggang kuda putih?" sela gadis berbaju hijau.
"Kalian berjumpa dengan mereka?" tanya Nyo Hong ling.
"Aku berjumpa dengannya ketika mereka sedang menanti kedatangan nona
ditempat pertemuan yang telah nona tentukan itu." jawab lelaki bertubuh kekar.
Lelaki ini she Tong bernama Thian hong, dia cukup tersohor dalam dunia
persilatan. Gadis baju hijau yang mendampinginya tadi she Khi bernama Li ji,
sedangkan pemuda sastrawan yang berwajah tampan itu bernama Buyung Im seng.
Mereka bertiga telah mengadakan suatu kontak rahasia untuk bertemu di suatu
tempat untuk menyelidiki letak dari lembah tiga malaikat yang belakangan ini
meraja lela dalam dunia persilatan.
Terdengar Nyo Hong ling bertanya lagi. "Tindakan apa yang dilakukan oleh
perempuan berbaju putih itu?"
"Ia bertanya kepada kami sekalian, mengapa ditengah malam buta begini duduk
ditengah pegunungan yang sepi."
"Lantas apa jawabanmu?"
"Aku lantas membohonginya, aku bilang kami akan pergi ke kota Kay-hong untuk
berkunjung ke rumah Be toa sianseng, oleh karena kuda kami terluka pada
kakinya, maka terpaksa beristirahat di sana." Setelah berhenti dan termenung
sejenak, dia melanjutkan. "Agaknya perempuan itu cukup memahami persoalan
dunia persilatan, setelah ku singgung nama Be toa sianseng dari Kay hong, dia
lantas membalikkan kudanya dan pergi."
"Kalau begitu, urusan sudah amat jelas sekarang, sudah pasti mereka berniat
untuk menguntit jejak kita berempat."
3
"Apakah kalian berdua juga telah berjumpa dengan gadis yang berbaju putih itu?"
Tong Thian hong balik bertanya kemudian. "Ya, kami telah berulang kali berjumpa
muka dengannya, malah sudah mengalami beberapa kali penghadangan ditengah
jalan yang memaksa terjadinya pertarungan, itulah sebabnya Tong Siau pocu
terpaksa harus menunggu agak lama."
"Aku sih tak menjadi soal," jawab Tong Thian hong sambil tertawa. "Yang pantas
dikasihani adalah nona Ki, ia merasa amat gelisah sekali."
"Hm, kau mengatakan siapa yang gelisah?" seru Ki Li-ji dengan cepat.
Menyaksikan wajah si nona yang galak bercampur gelisah itu, Thian hong
tersenyum dan tidak bicara lagi.
Nyo Hong ling lantas memandang sekejap ke arah Ki Li ji, lalu katanya. "Li-ji,
mengapa sikapmu terhadap Tong Sou pocu begitu tak tahu sopan?" Belum sempat
Ki Li ji menjawab Tong Thian hong telah berkata lagi. "Aah, tidak menjadi soal,
nona Ki dan aku sudah terbiasa saling bergurau."
Nyo Hong ling termenung kembali sesaat lamanya, sesudah itu dia menyahut
kembali.
"Dua orang manusia yang berbaju hitam menghadang kami itu memiliki ilmu silat
yang tangguh, tapi kami yang terpaksa harus merahasiakan identitas enggan untuk
turun tangan dengan sepenuh tenaga, kami sengaja bertarung seimbang dengan
mereka, benar juga, orang yang bertarung dengan Buyung kongcu itu sendirinya
menghentikan pertarungan setelah pertempuran berlangsung ratusan gebrakan
kemudian."
Sorot matanya dialihkan sekejap ke arah Buyung Im seng, kemudian melanjutkan.
"Kasihan saudara Buyung, kalau kita mengerahkan segenap tenaga untuk melawan
seseorang yang berilmu tinggi, keadaan masih muda dikuasai, tapi bila harus
bertarung seimbang melawan seseorang yang berilmu cetek tanpa memberi
kesempatan kepada musuh untuk mengetahui rahasia kita, apa lagi berlagak
kepayahan agar lawan percaya, mungkin perbuatan ini harus dilakukan sepuluh
kali lipat lebih payah bila dibandingkan untuk melawan seseorang yang berilmu
tinggi."
"Yaa, waktu itu aku memang kepayahan sekali sampai mandi keringat, susah juga
untuk berlagak seperti seorang yang berilmu cetek," sahut Buyung Im seng.
"Apakah nona tidak turun tangan?" tanya Ki Li ji
"Waktu itu aku sedang menyaru sebagai kacung bukunya, maka seorang kacung
buku juga berilmu?"
Mendengar itu, Ki Li ji diam-diam berpikir.
"Siapa suruh kau menyaru sebagai kacung buku? Coba kalau seperti aku,
menyambar sebagai saudaranya, tentu akan lebih bebas untuk bergerak ....."
Sementara itu Tong Thiang hong telah memeriksa cuaca dan bertanya.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan?"
4
"Kita akan beristirahat sebentar di sini," kata Nyo Hong ling, bereskan pelananya,
jangan lupa untuk bekerja yang cermat hingga tidak meninggalkan bekas,
kemudian kita harus menyaru kembali dengan dandanan yang lain, agar tidak
menimbulkan kecurigaan mereka terhadap identitas kita.
"Apakah Lembah tiga malaikat terletak di sekitar tempat ini?" tanya Tong Thian
hong.
"Aku tak terlalu yakin, menurut apa yang diketahui, agaknya lembah tiga malaikat
sudah tidak jauh letaknya, sebab penjagaan disekitar tempat ini sangat tangguh
dan berlapis-lapis."
"Jadi nona sendiripun kurang tahu?"
"Aku tak berani memastikan, cuma kita harus mencari akal agar mereka yang
membawa kita kesana."
"Agar mereka yang membawa kita kesana? pikir Tong Thian hong, "gampang
memang untuk dibicarakan, tapi untuk melakukan mungkin akan mengalami
kesulitan."
Terdengar Nyo Hong ling berkata lagi.
"Persoalan paling penting yang sedang kita hadapi sekarang adalah bagaimana
menyelesaikan ke empat ekor kuda ini."
"Bila tak ingin meninggalkan bekas, hanya ada satu cara untuk kita, bunuh ke
empat ekor kuda ini lalu di kubur di sini."
"Cara itu baik sih baik, cuma rasanya kelewat kejam."
"Kecuali berbuat begini, apakah nona mempunyai cara lain yang lebih baik?"
"Lepaskan mereka ke atas hutan dan biarkan mereka beradu nasib sendiri."
"Daripada dilepaskan di gunung, mengapa tidak dilepaskan saja dalam dusun,
paling tidak mereka bakal ditemukan orang dan dipeliharanya."
"Betul, inilah cara yang paling baik!"
"Kalau begitu, akan kulepaskan ke empat ekor kuda ini lebih dulu"
"Tak usah terburu napsu" tukas Nyo Hong ling, "menanti kami sudah berangkat, ke
empat ekor kuda itu baru dilepaskan."
Tong Thian hong termenung sejenak, kemudian menjawab.
"Perkataan nona memang benar!"
Pelan-pelan dia lantas duduk ke lantai.
"Menurut berita yang berhasil ku kumpulkan" kata Nyo Hong ling lagi, "lembah
tiga malaikat yang misterius itu letaknya ada dibukit Tay hu san di tengah sungai
Hu sian kang, letaknya tak jauh dari kota Kang ciu....!
"Apakah orang-orang Lembah Tiga Malaikat yang berkata demikian?"
"Yaa, cuma aku masih agak sangsi."
"Nona menganggap kata-kata dari anggota Lembah Tiga Malaikat itu bohong
semua?" tanya Buyung Im seng.
5
"Itu sih tidak, aku cuma berpikir mengapa ia harus bicara terus terang? Aku telah
menyelidiki keadaan dibukit Tay hu san tersebut, bukit tersebut merupakan bukit
karang yang berdiri ditengah sungai Hu sian kang, di atas bukit selain jarang sekali
terdapat pepohonan, yang ada hanya batu cadas yang berbentuk aneh, tempat itu
merupakan sesuatu tempat yang gersang dan berbahaya, aku heran kenapa
Lembah Tiga Malaikat bisa memilih tempat semacam itu sebagai markas besarnya?
"Ucapan nona memang benar" kata Tong Thian hong," menurut pendapatku bukit
Tay hu san memang tidak cocok untuk dipakai sebagai markas besar yang
memerintah seluruh dunia persilatan."
"Padahal nona beranggapan bahwa ucapan dari anggota Lembah tiga malaikat itu
tidak bohong" sambung Buyung Im seng. "Inilah yang membuat orang tak habis
mengerti."
"Aku sudah menanyakan persoalan ini pada belasan orang anggota tiga lembah
malaikat mereka semua menjawab kalau perguruan mereka ada di lembah Tay hu
san, hal ini membuktikan kalau di atas bukit Tay hu san tersebut benar-benar
memang terdapat sebuah markas."
"Seandainya dibukit Tay hu san benar-benar terdapat sebuah Seng tong (markas),
bukankah kita bisa menemukan secara gampang?"
Nyo Hong Jing tertawa hambar, sahutnya. "Cuma markas tersebut sudah barang
tentu bukan markas besar Lembah Tiga Malaikat yang sesungguhnya."
"Aaaiii.... " Ki Li ji menghela napas panjang, aku benar-benar dibuat kebingungan,
kalau memang di atas Tay hu san terdapat markas, mengapa pula markas itu
bukan markas yang sesungguhnya?"
"Sam seng Tongcu adalah seorang manusia yang begitu licik, bukan hanya musuh
saja yang telah mereka tipu, bahkan orang sendiripun juga turut mereka tipu."
"Lantas apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Dewasa ini kita hanya bisa memeriksa keadaan di bukit Tay hu san, seandainya
terbukti bahwa dugaan kita benar, maka kita harus berusaha dengan
menggunakan cara lain untuk menemukan markas mereka yang sesungguhnya."
Ada suatu hal yang membuat aku tak habis mengerti," ujar Buyung Im seng pula,
"mereka mempunyai organisasi yang sangat besar serta jumlah anggota yang
banyak, diantaranya sudah pasti banyak terdapat jago lihay, kalau markas besar
mereka benar-benar tak ada dibukit Tay hu san, padahal atas pertanyaan nona
kepada orang banyak mereka mengatakan markasnya ada dibukit Tay hu san, ini
membuktikan kalau paling tidak di sana pasti tinggal banyak sekali jago-jago
lihay."
Nyo Hong ling berpikir sebentar, kemudian menjawab.
"Justru disinilah letak kelihaian mereka, ternyata bukan saja mereka bisa
membuat musuh salah menganggap markas besar mereka berada di bukit Tay hu
san, sekalipun sebagian besar anak buahnya juga percaya kalau markas mereka
berada di bukit Tay hu san, mereka sengaja hendak menciptakan suatu anggapan
6
yang keliru, agar musuh serta anak buahnya penuh dengan siasat yang diaturnya
ini."
"Kalau dilihat dari keadaan bukit Tay hu san, aku juga tidak percaya kalau pihak
Sam seng bun (Lembah Tiga Malaikat) membangun markas besarnya disana, sebab
tempat itu adalah sebuah tempat yang gersang dan tandus, lagi pula selain harus
menggunakan perahu sebagai sarana pengangkutannya, boleh dibilang tiada jalan
lain untuk melewatinya, cuma selain itu aku tidak berhasil menjumpai alasan lain
yang membuat mereka tidak membangun markasnya di bukit tersebut."
Nyo Hong ling termenung sejenak, lalu berkata.
"Selain Sau pocu katakan sebagai tempat yang tandus, masih ada sebuah alasan
lagi yang lebih penting, pemimpin dari Sam seng bun ini jelas adalah seorang
bajingan licik yang tiada taranya dikolong langit, bukan saja setiap langkah yang
mereka lakukan diatur secara rapi, bahkan mempersiapkan pula jalan mundur bagi
dirinya sendiri, aku telah mencoba dengan berbagai cara tapi tidak berhasil untuk
membuktikan manusia macam apakah yang disebut Tiga Malaikat tersebut? Dalam
keadaan demikian, andaikata Sam seng bun mengalami kegagalan, kemusnahan
atau kehancuran, yang benar-benar terbasmi hanya anak buahnya belaka, sedang
pemimpin mereka tetap bersembunyi dibalik kegelapan, mereka tetap tidak
kehilangan kedudukan serta nama baiknya dalam dunia persilatan."
Tong Thian hong agak tertegun sesudah mendengar perkataan itu, serunya
kemudian.
"Setelah mendengar kata-kata dari nona ini, aku jadi teringat pula akan satu
persoalan....."
Tiba-tiba ia merasa salah berbicara, sehingga buru-buru membungkam kembali.
Melihat kegugupan orang, baik Nyo Hong ling maupun Buyung Im seng segera
mengetahui persoalan itu pasti merupakan suatu rahasia hatinya, maka
merekapun tidak mendesak lebih jauh.
Berbeda dengan Ki Li-ji, sambil berkerut kening ia segera mendesak, tanyanya.
"Kau teringat soal apa? Mengapa tidak kau lanjutkan?"
Tong Thian hong menjadi tersipu-sipu, serunya gugup. "Soal ini, soal ini, cayhe..."
"Hey, kenapa sih kau ini?" Ki Li ji semakin keheranan.
Dengan perasaan apa boleh buat, terpaksa Tong Thian hong berkata. "Berhubung
soal ini menyangkut persoalan ayahku, bila kukatakan nanti harap kalian
mengingatnya saja didalam hati dan jangan diberitahukan lagi kepada orang lain."
Satu ingatan segera melintas dalam benak Buyung Im seng, diam-diam pikirnya.
"Jangan-jangan benteng keluarga Tong mempunyai hubungan dengan pihak Sam
seng bun? Kalau memang demikian, persoalan ini pasti akan merupakan persoalan
yang merepotkan...."
Sementara itu terdengar Tong Thian hong telah berkata kembali, "Ayahku pernah
memberitahukan kepadaku..."
"Lagi-lagi berhenti," sela Ki Li ji, "Hmm.... kalau bicara mencla-mencle, sedikitpun
tidak memiliki sifat jantan seorang lelaki."
7
Nyo Hong ling segera berkata. "Kami bersedia merahasiakan persoalan ini, tapi bila
sau pocu merasa ada kesulitan untuk disampaikan lebih baik tak usah dibicarakan
lagi."
Melihat Nyo Hong ling bersedia untuk memegang rahasia, Tong Thian hong baru
berkata. "Bila saudara sekalian bersedia menutup rahasia, tak ada salahnya bagiku
untuk mengutarakan keluar."
Sesudah termenung sejenak, dia kembali pada kata-katanya. "Ayahku bilang, pihak
Sam eng bun telah cukup memberi muka kepada benteng keluarga Tong kami,
selain mengizinkan kami orang-orang keluarga Tong untuk berkelana dalam dunia
persilatan, juga tidak mendesak kami lagi untuk bergabung dengan perguruan Sam
seng bun, maka aku diminta agak berhati-hati bila berkelana didalam dunia
persilatan, berusaha keras untuk menghindari bentrokan dengan pihak Sam seng
bun, sebab pengaruh Sam seng bun terlampau besar dan tersebar di seluruh dunia
persilatan......."
Berbicara sampai di sini, tiba-tiba ia membungkam kembali.
KI Li ji sedang mendengar kan pembicaraan itu dengan seksama, ketika tiba-tiba
Tong Thian hong berhenti berbicara lagi ditengah jalan, ia menjadi gusar sekali,
sambil tertawa dingin serunya.
"Hai, apakah kau punya penyakit sinting?"
Nyo Hong ling dan Buyung Im seng memang ingin mengetahui kata-kata
selanjutnya, merekapun tidak mencegah gadis itu mengomel.
Tong Thian hong tertawa jengah, katanya kemudian.
"Ayahku telah memberitahukan sepatah kata kepadaku, ia berpesan bilamana aku
sedang bertarung dengan musuh tangguh, aku disuruh mencari peluang yang baik
dan tanpa menimbulkan kecurigaan untuk mengucapkan sesuatu kata sandi,
seandainya pihak lawan bukan anggota Sam seng bun, ia pasti tak akan memahami
arti dari perkataan itu, sebaliknya jika dia adalah orang Sam seng bun, sudah pasti
dia akan segera pergi, sehingga suatu kesalah pahaman sudah pasti tak akan
terjadi."
"Ohhh.......... begitukah? Apakah perkataan itu?"
"Perkataan itu aneh kedengarannya, aku sendiri juga tidak memahami artinya,
seperti sepotong kata sandi, seperti juga sepotong bait syair, pokoknya kata-kata
tersebut bisa membuat orang tidak habis mengerti."
"Apakah sau pocu merasa keberatan untuk mengutarakannya keluar?" tanya Nyo
Hong ling.
"Boleh saja aku ucapkan kata-kata tersebut, cuma aku minta kalian jangan
sembarangan menggunakannya."
Nyo Hong ling segera tersenyum.
"Sau pocu tak usah kuatir, Sam seng bun mempunyai organisasi yang amat rapat
dan sempurna, andaikata kata sandi itu bukan diucapkan oleh sau pocu, berita ini
8
dengan cepat akan tersiar sampai di markas besar mereka, aku pikir kejadian ini
bisa menimbulkan ketidak beruntungan bagi keluarga Tong kalian."
"Ucapan Hoacu memang benar, usia ayahku sudah lanjut, aku memang tidak ingin
mendatangkan bencana kemusnahan buat keluarga Tong kami..."
"Kesulitan sau pocu dapat kami pahami sekalipun tidak kau katakan, kami juga
takkan menyalahkan dirimu."
Tong Thian hong termenung sejenak, kemudian berkata. "Mungkin kata sandi itu
akan bermanfaat bagi kalian untuk memahami perguruan Sam seng bun, asal
kalian tidak menggunakannya sewaktu menghadapi mush, tiada salahnya bagiku
untuk mengutarakannya keluar."
Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan. "Kata sandi itu adalah Seng tong
sembilan pintu, delapan penjuru adalah tanah terlarang!"
"Seng tong sembilan pintu, delapan penjuru tanah terlarang?" gumam Ki Li ji,
"Kata-kata ini pada hakekatnya tidak bisa dihubungkan satu dengan lainnya."
"Akupun berpendapat demikian, rasanya tiada hubungannya satu dengan lainnya."
kata Tong Thian hong, "mungkin justru lantaran tidak adanya hubungan ini, maka
baru menimbulkan perhatian orang lain."
Tiba-tiba Nyo Hong ling memejamkan matanya dan tidak menggubris beberapa
orang itu lagi.
Ki Li ji segera mengulapkan tangannya memberi tanda dan berbisik. "Kalian
jangan bicara lagi, Hoa cu sedang menggunakan kecerdasan otaknya untuk
memecahkan arti dari ucapan tersebut."
Untuk sesaat lamanya, suasana di arena itu menjadi sepi, sedemikian heningnya
sampai tak kedengaran suara ringkikan kuda berkumandang datang dari balik
kuil, menyusul kemudian terdengar suara derap kaki kuda yang ramai
berkumandang memecahkan keheningan, tampaknya ke empat ekor kuda itu
seperti mengalami kekagetan sehingga melarikan diri dari situ.
Serentak Buyung Im seng dan Tong Thian hong melompat ke udara dan secepat
kilat menerjang keluar dari kuil tersebut.
Di bawah cahaya bintang, tampaklah beberapa ekor kuda sedang melarikan diri
menjauhi tempat itu.
Buyung Im seng hanya memandang sekejap ke arah kuda-kuda yang lari menjauh
itu, mereka tidak melakukan dan pelan-pelan membalikkan badannya.
Hampir pada saat yang bersamaan, Tong Thian hong juga menghentikan gerakan
tubuhnya dan saling bertukar pandang sekejap.
Dari balik kegelapan pelan-pelan muncul sesosok bayangan manusia yang tinggi
besar, di tangannya masing-masing menghela seekor macan kumbang.
"Sudah lama aku mendengar nama besar sungguh beruntung hari ini kita bisa
saling bersua!"
Pa-jin, Li Tat mendengus dingin, dengan suara serius balik tanyanya.
"Siapa pula engkau?"
9
Baru saja Tong Thian hong hendak menyebutkan namanya, tiba-tiba satu ingatan
melintas dalam benaknya, ia lantas berpikir.
"Sekarang aku harus merahasiakan identitasku jangan sampai namaku ketahuan
orang"
Berpikir demikian, sambil mengulapkan tangan kanannya ia menjawab.
"Aku tidak lebih hanya seorang prajurit tak bernama, sekalipun kusebutkan
namaku, belum tentu kau akan mengenalnya."
Sementara itu Buyung Im seng juga sedang berpikir.
"Diantara sekawan binatang buas, macan kumbang adalah jenis binatang yang
terganas, orang ini berjuluk Pa jin, si manusia macan kumbang, apalagi menuntun
dua ekor macan kumbang besar, sudah pasti dia bukan manusia baik-baik.
Sementara ia masih berpikir sampai di situ, Li Tat dengan dingin telah berkata:
"Kalau toh kau bisa mengetahui namaku, berarti kau bukan seorang manusia
sembarangan, mengapa kau tak berani mengucapkan namamu yang
sesungguhnya?"
"Seandainya aku menyebutkan sebuah nama secara sembarangan, memangnya kau
tahu?"
Si Manusia macan kumbang Li Tat segera mendongakkan kepala dan tertawa
terbahak-bahak.
"Haaahhhhaaa.....hahhhh....hahhh...... tampaknya kau sudah bosan hidup!"
"Sudah lama kudengar kau memiliki kepandaian melatih macan kumbang yang
cukup lihai, bisa membuat binatang buas menuruti perintahmu, hari ini bila aku
bisa menyaksikan kehebatanmu itu, sungguh merupakan suatu keberuntungan
bagi kami berdua."
Manusia macan kumbang Li Tat mendengus dingin.
"Hmmm! Sepasang macan kumbangku ini terlatih sekali dan pandai bekerja sama
untuk melawan musuh, sekalipun kau memiliki kekuatan untuk menaklukkan
harimau menjinakkan singa, belum tentu dianya itu sanggup untuk menghindari
serangan sepasang macan kumbangku ini.
Kembali Buyung Im seng berpikir.
"Tampaknya ia marah oleh perkataan Tong Thian hong, tapi belum juga
melepaskan macan kumbangnya, mungkin ia bermaksud untuk menggertak kami
lebih dulu..."
Sementara ia masih termenung, Tong Thian hong telah mengulapkan tangannya
seraya berkata.
"Aku juga tahu kalau kepandaianmu sebagai pawang macan kumbang tiada
taranya di dunia ini, memberi perintah macan kumbang seperti memerintah
tentara, cuma..."
"Cuma kenapa?"
10
Tong Thian hong menepuk pelan telapak tangannya, sambil tertawa ujarnya.
"Cuma didunia ini masih terdapat juga manusia yang tidak takut dengan macan
kumbang andai kata aku mampus di bawah cakar macan kumbangmu itu, anggap
saja nasibku yang jelek tapi bagaimana seandainya macan kumbang kalian yang
terluka di tanganku?"
"Kau tak akan mampu melukai mereka!" jawab Li Tat.
Tiba-tiba dia mengangkat tangan kirinya, macan kumbang yang berada di sebelah
kiri itu segera melompat ke udara dan menubruk ke depan dengan membawa
desingan angin tajam.
Waktu itu Tong Thian hong sudah mengadakan persiapan, telapak tangan kirinya
segera diayunkan ke depan melancarkan sebuah pukulan dahsyat, sementara
tubuhnya melompat ke samping untuk menghindarkan diri.
Perlu diketahui, ilmu pukulan dari keluarga Tong tersohor karena kemampuan
untuk membunuh kerbau dari seratus langkah, bila ilmu tersebut digunakan untuk
menghadapi macan kumbang maka hal itu malah sangat tepat sekali.
Tapi ia tak berani menggunakannya, sebab ia kuatir identitasnya akan ketahuan
lawan.
Tampak Li Tat mengayunkan tangan kanannya, macan kumbang yang berada di
sebelah kanan itu segera menubruk pula ke depan.
Pada saat itu, macan kumbang di sebelah kiri yang sedang menyerang ke muka itu
memiringkan kepalanya ke samping, wesss! Serangan dari Tong Thian hong tadi
segera menyambar dari sisi tubuhnya dan mengenai ditempat kosong.
Baru gagal dalam serangannya tersebut, Tong Thian hong merasakan cakar tajam
dari macan kumbang yang berada di sebelah kanan itu telah mengancam di depan
dadanya, dengan taring yang tajam makhluk ganas itu siap menggigit tubuhnya.
Tampak Pa Jin Li Tat menarik tangan kirinya, macan kumbang yang menyambar
lewat dari sisi tubuh Tong Thian hong itu segera membalikkan badan dan tanpa
menimbulkan sedikit suarapun menubruk dari punggung orang.
Buyung Im seng hanya memandang jalannya pertarungan itu dari samping,
menyaksikan kesemuanya itu, tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benaknya, dia
berpikir.
"Kedua ekor macan kumbang ini selain lincah gerak-geriknya, lagi pula bisa maju
mundur secara teratur persis seperti orang yang berlatih ilmu silat, bukan suatu
pekerjaan yang gampang untuk melatih dua ekor macan kumbang seperti itu...."
Tong Thian hong juga turut terperanjat setelah bertarung sekian lama melawan
kedua ekor macan kumbang itu, ia merasa kemampuan dari sepasang macan
kumbang itu bagaikan jago lihai dalam dunia persilatan, rasa memandang rendah
pada lawannya segera dipunahkan dengan menghimpun semua pikiran dan tenaga
dihadapinya serangan-serangan dari macan kumbang tersebut secara serius.
Dalam waktu singkat dua puluh gebrakan sudah lewat, kedua ekor macan kumbang
itu tidak berhasil melukai Tong Thian hong, sebaliknya Tong Thian hong
sendiripun tak berhasil menghantam sepasang makhluk buas itu.
11
Mendadak Pa Jin Li Tat menarik tangannya, dua ekor macan kumbang itu segera
melompat mundur ke belakang waktu itu Tong Thian hong sudah habis
kesabarannya setelah serangan tidak berhasil merobohkan makhluk buas itu, baru
saja ia hendak melancarkan serangan mematikan, tiba-tiba kedua ekor macan
kumbang itu mundur ke belakang, ini membuat hatinya menjadi tercengang, segera
teriaknya.
"Mengapa kau menarik kembali kedua ekor kumbangmu itu? Menang kalah toh
belum ketahuan?"
Tidak banyak manusia di dunia ini yang sanggup menghadapi serangan dari kedua
ekor macan kumbangku ini" kata Li tat dingin, kau sanggup bertarung sebanyak
dua puluh gebrakan melawan mereka tanpa memperlihatkan tanda-tanda
kekalahan, sudah bisa dipastikan kau adalah manusia yang tangguh dalam dunia
persilatan."
Tong Thian hong tertawa dingin dihati, pikirnya. "Hmmm... coba kalau kugunakan
ilmu pukulan Tong Keh sin kun, sedari tadi kedua ekor macan kumbangmu itu
sudah mampus di ujung pukulanku" Dalam hati dia berpikir demikian ujarnya.
"Saudara terlalu memuji."
"Apakah kau bersedia menyebutkan nama aslimu?"
"Aku toh sudah bilang, aku tak lebih hanya seorang prajurit tak bernama,
sekalipun kusebutkan namaku belum tentu kau akan kenal."
"Kalau kau memang enggan menyebutkan namamu, aku tak akan memaksa!" kata
Li Tat dingin.
Tiba-tiba dia membalikkan badan dan melompat pergi, kedua ekor macan
kumbangnya segera pergi pula, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya telah
lenyap dari pandangan mata.
Memandang bayangan punggung Li Tat yang berlalu, Tong Thian hong segera
berpikir dalam hati.
"Orang ini sangat mencurigakan, harus kubiarkan ia pergi atau menghalanginya?"
Tiba-tiba terdengar Nyo Hong ling berseru keras.
"Harap saudara sekalian kembali. Kita harus merundingkan siasat untuk
mengatasi keadaan ini."
Buyung Im seng dan Tong Thian hong segera melangkah balik ke dalam kuil itu.
"Maksud nona apakah Pa jin Li tat ada hubungannya dengan perguruan Sam seng
bun?" bisik Tong Thian hong.
"Aku rasa pasti sudah ada hubungannya....."
"Tahu begitu aku harus melancarkan serangan mematikan untuk membunuhnya,
kini ibaratnya melepas harimau pulang gunung, hanya akan meninggalkan bibit
bencana saja untuk kita."
Nyo Hong ling tertawa.
12
"Ada banyak perubahan situasi yang jauh berbeda dengan ap yang kuduga semula,
aku sendiripun merasa agak bingung, ktia sedang membutuhkan seorang petunjuk
jalan tahu-tahu Pa jin Li Tat muncul tepat pada waktunya coba kalian pikir apakah
keadaan ini tidak mengherankan?"
Tong Thian hong tersenyum.
"Barusan aku kuatir identitasku ketahuan orang, maka aku tak berani
mempergunakan ilmu silat keluarga Tong, siapa tahu justru tindakanku ini
rupanya sangat tepat."
"Setelah aku berpikir berulang kali, maka tiba-tiba saja kurasakan bahwa Tay hu
san seng merupakan suatu jebakan yang besar sekali, bagaimanapun cermatnya
kita menyaru, setibanya ditengah pulau Kang sim hu to tersebut jejak kita pasti
ketahuan."
"Jadi maksud Hoa cu, apakah kita harus membatalkan rencana kita untuk
berkunjung kebukit Tay hu san?"
"Dengan bersusah payah kita berusaha mencari mereka, mengapa kita tidak
membiarkan mereka yang membawa kita ke tempat tujuan?"
Maksud Hoacu, kita akan menguntil di belakang Pa jin Li Tat?"
Tidak, caraku ini rada kelewat menyerempet bahaya tapi rasanya cukup jitu, entah
bagaimana pendapat kalian?"
"Silahkan Hoacu menerangkan lebih jauh."
Nyo Hong ling termenung sebentar, lalu katanya, "Andaikata kita tertawan oleh
mereka, apakah menurut peraturan Sam seng bun kita akan segera dibunuh?"
Mendengar pertanyaan tersebut Tong Thian hong segera berpikir.
"Aaah, benar juga dugaanku, cara yang dia kemukakan sangat menyerempet
bahaya, tak nyana ia bisa menemukan cara semacam itu"
Berpikir sampai di situ, dia lantas berkata.
"Menurut pendapatku, ini tergantung manusia macam apakah yang mereka tawan,
kalau mereka cuma manusia yang tak bernama aku pikir mereka tak akan
menggusur kita ke markas besar, siapa tahu ditengah jalan sudah dibereskan dulu
jiwanya"
Seandainya orang yang mereka tawan adalah Buyung kongcu serta seorang Hoa li
dari Biau hoa lengcu, apakah kedudukan kedua orang ini cukup tinggi? Tentu saja
cukup tinggi!"
"Baik, kalau begitu kita boleh menyaru sekali lagi, aku dan Ki Li ji akan menyamar
sebagai dua orang hoa li dari perguruan Biau hoa bun, sedangkan sau pocu
terpaksa harus turunkan sedikit derajatmu untuk menyaru sebagai pelayannya
Buyung kongcu, kita menyerempet bahaya lagi, siapa tahu kalau lembah tiga
malaikat berhasil kita ketemukan?"
"Ada satu hal yang aku merasa kurang mengerti harap Hoa lengcu bersedia
memberi penjelasan."
"Katakan sau pocu!"
13
"Sewaktu di tawan oleh mereka, jalan darah kita akan tertotok, apakah dalam hal
ini Hoa cu pernah memikirkannya?"
"Sudah!"
"Andaikata mereka tidak turun tangan lebih lanjut, aku percaya kita berempat
memilih lanjut, aku percaya kita berempat memiliki kemampuan untuk
membebaskan diri dari totokan, asal kita diberi waktu selama setengah jam, jalan
darah yang tertotok pasti akan bebas dengan sendirinya, cuma dibalik kesemuanya
itu masih ada satu hal yang amat penting, yakni andaikata kita dihadapkan dengan
suatu ancaman keselamatan jiwa kita, apakah kita akan turun tangan untuk
melancarkan serangan balasan?"
"Tentu saja, kalau kita dihadapkan dengan ancaman jiwa, berpura-pura lebih
jauhpun tak ada gunanya, tapi harus diperhatikan bahwa kita harus meninggalkan
paling tidak dua orang musuh agar bisa dikorek keterangan...."
"ini yang dinamakan sekali timpuk mendapat dua ekor burung kata Tong Thian
hong," bila keadaan terjadi perubahan, kita bisa berusaha untuk membunuh orang
yang menawan kita serta menyamar sebagai anggota Sam seng bun, bukankah
begitu?"
"Benar, aku memang bermaksud demikian!"
Tong Thian hong segera tertawa lebar.
"Baik, kalau begitu aku bersedia menuruti usul dari Hong cu ini!"
Nyo Hong ling mengalihkan sinar matanya ke wajah Buyung Im seng, kemudian
tanyanya.
"Saudara Buyung, bagaimana pendapatmu?"
"Aku setuju!" jawab pemuda itu sambil tertawa.
"Baik! Jikalau kalian berdua telah setuju, mari kita laksanakan menurut rencana,
untuk sementara waktu harap kalian mengundurkan diri lebih dulu, aku dan Li ji
akan menyuruh sebentar."
Buyung Im seng saling berpandangan sekejap dengan Tong Thian hong, kemudian
mengundurkan diri keluar ruangan.
Tak lama kemudian, dari dalam kuil kedengaran Nyo Hong ling berseru.
"Sekarang kalian boleh turun tangan!"
"Saudara Tong, terpaksa menurunkan derajatmu" bisik Buyung Im seng kemudian.
"Pegang janji adalah suatu hal yang amat penting bagi kehidupan seorang manusia,
setelah aku menyanggupi permintaan Hoa lengcu, sudah barang tentu harus
kulakukan janjiku itu."
Penyamaran yang dilakukan Buyung Im-seng paling sederhana, dia hanya
membersihkan obat penyamar di atas mukanya dan memulihkan kembali wajah
aslinya.
14
Sedangkan Tong Thian hong bertukar pakaian dan menyamar sebagai seorang
pelayan.
Baru selesai kedua orang itu menyamar, tiba-tiba terdengar suara auman macan
kumbang yang berpuluh-puluh ekor banyaknya berkumandang datang dari
kejauhan.
Menyusul kemudian muncul beberapa sosok bayangan manusia mengikuti di
belakang rombongan macan kumbang tadi.
Buyung Im seng menengok ke depan, dilihatnya Pa jin Li Tat berjalan di paling
muka dengan di belakangnya mengikuti dua orang kakek berusia antara 50 tahun.
Tong Thian hong melirik sekejap ke arah ke dua orang kakek itu, dengan cepat dia
kenali kedua orang itu sebagai gembong iblis yang amat kesohor namanya dalam
dunia persilatan.
Orang yang berada di sebelah kiri adalah seorang yang bernama Si hu ciang
(pukulan pembetot sukma) Kim Cok, sedangkan orang yang berada di sebelah
kanan itu bernama Liu seng to (golok bintang kilat) Ong Thi san.
Diam-diam terkejut juga hatinya setelah menjumpai kedua orang itu, pikirnya.
"Sungguh lihai pentolan dari Sam seng bun itu, entah dengan cara apakah ia
berhasil membuat jago-jago lihai yang termasyhur akan kekejiannya dalam dunia
persilatan ini takluk kepadanya?"
Sekalipun ia kenal mereka berdua namun tidak menegur secara langsung, rahasia
itu hanya disimpan dalam hatinya belaka.
Terdengar Si hun ciang Kim Cok berada di sebelah kiri berseru.
"Dua orang inikah yang kau maksudkan?"
Walaupun si manusia macan kumbang Li Tat merasa bahwa dua orang yang berada
dihadapannya itu bukan mereka yang dijumpainya tadi, tapi keadaan memaksanya
mau tak mau musti mengakui, terpaksa dia manggut-manggut.
"Benar, kedua orang itu."
Tiba-tiba Kim Cok menerjang maju ke muka, setelah melewati Li Tat, ditatapnya
Buyung Im seng dan Tong Thian hong sekejap dengan sinar mata setajam sembilu,
kemudian tegurnya.
"Siapakah kalian berdua, mengapa ditengah malam buta begini datang kemari?
Mau apa kalian datang ke sini?"
"Aneh benar pertanyaan yang kalian ajukan itu, apakah tempat ini tak boleh
dikunjungi?" sahut Tong Thian hong.
"Dikunjungi sih boleh, cuma harus dilihat dulu kedudukannya serta saat
kedatangannya."
"Huh, sungguh besar amat lagakmu, siapa kau?"
"Si hun ciang Kim cok, ucapanku tidak kelewat bukan?"
"Hmmm, belum pernah ku dengar nama itu"
15
Kontan Kim Cok tertawa dingin, serunya,
"Sekalipun kau belum pernah dengar, sekarang mumpung belum mati, mendengar
agak terlambatpun tak menjadi soal."
Menyaksikan sikap orang, Tong Thian hong lantas berpikir dalam hati kecilnya.
"Bila ku ejek sekali lagi, sudah pasti suatu pertarungan akan terjadi...."
Untuk sesaat dia tak dapat mengambil keputusan, maka ia terus berpaling dan
memandang ke arah Buyung Im seng.
Pelan-pelan Buyung Im seng bertanya.
"Harus berasal dari kedudukan apakah baru boleh datang ke sini ditengah malam
buta begini?"
"Tentu saja harus mempunyai sedikit nama dan kedudukan dalam dunia
persilatan."
"Silahkan kau pertimbangkan sendiri bila kau merasa nama dan kedudukanmu
cukup mengejutkan orang, tak ada salahnya untuk disebutkan. Tapi kalau merasa
nama dan kedudukanmu belum cukup untuk disebutkan, lebih baik tak usah
mencari malu untuk diri sendiri."
Buyung Im seng segera tertawa hambar, katanya "Kalau Buyung Im seng dari
Kang ciu, apakah cukup besar nama serta kedudukannya dalam dunia persilatan?"
"Buyung kongcu?" Kim Cok tampak tertegun.
"Benar, bila nama serta kedudukanku kurang cukup, bagaimana kalau ditambah
dengan nama mendiang ayahku Buyung Tiang kim?"
"Cukup, cukup, hanya nama besar dari Buyung kongcu pun sudah lebih dari
cukup."
"Kalian berdua terlalu memuji, aku masih belum menanyakan nama besar kalian
berdua."
Pengalamannya selama bertahun-tahun membuat pemuda ini pandai sekali
membawa diri. Entah lantaran tergetar oleh sisa pengaruh Buyung Tiang kim
semasa masih hidupnya dulu, entah ia menaruh kesan istimewa terhadap Buyung
Im seng, tiba-tiba Kim Cok menjura seraya berkata "Aku bernama Kim Cok,
mempunyai sebuah julukan yang kurang sedap didengar bernama Si hun ciang!"
Sekalipun Buyung Im seng belum pernah mendengar nama orang itu, ia menjura
pula seraya berseru. "Selamat berjumpa, selamat berjumpa." Tidak menanti Kiim
Cok menyahut, Liu seng to Ong Thi san segera memperkenalkan pula dirinya.
"Siaute bernama Liu seng to Ong Thian san!"
"Sudah lama kudengar nama besar kalian berdua dalam dunia persilatan, sungguh
beruntung bisa saling bersua muka pada malam ini."
"Kemunculan Buyung kongcu didalam dunia persilatan juga sudah lama kami
dengar, tak disangka kita dapat berjumpa hari ini."
Melihat sikap orang yang sopan, Buyung Im seng segera berpikir.
16
"Aku harus berusaha untuk mengobarkan kemarahan mereka hingga terjadi
pertarungan, dengan demikian aku baru dapat kesempatan untuk membekuk
mereka."
Berpikir demikian, dengan dingin ia lantas berkata.
"Ditengah malam buta begini kalian membawa binatang buas datang mengganggu
kami, bahkan membuat kuda kami lari ketakutan, sesungguhnya apa tujuan
kalian?"
"Kalau cuma beberapa ekor kuda sih apa artinya?" jawab Kim Cok sambil tertawa,
"bila kongcu bersedia, besok pagi aku pasti akan mengambilkan kuda-kuda kongcu."
Buyung Im seng kembali berpikir.
"Sikapnya kepadaku begitu ramah dan mengalah, agaknya sulit untuk
melangsungkan suatu pertarungan dengan mereka."
Sambil mendengus dingin segera katanya.
"Aku inginkan kudaku yang telah kalian bikin lari ketakutan itu.....!"
"Baik! Besok pagi pasti kami kembalikan, kami tak akan membuat kongcu menjadi
kecewa."
"Bagus sekali!" kembali Buyung Im seng membatin," kalau kau bersikap begitu
sungkan terus kepadaku, mana mungkin pertarungan bisa dilangsungkan?"
Terdengar Kim Cok telah berkata lagi:
"Tolong tanya berapa ekor kuda kongcu yang telah hilang?"
"Empat ekor!"
Kim Cok segera tersenyum, serunya.
"Kongcu kan cuma dua orang? Kenapa kuda tunggangannya bisa berjumlah
empat?"
"Siapa bilang kami hanya berdua?"
"Bocah keparat" pikir Kim Cok dalam hati," ternyata kau betul-betul pandai sekali,
tampaknya kalau tidak kugunakan kata-kata untuk menjebakmu, sulit untuk
mengorek keterangan dari mulutmu."
Berpikir demikian dengan girang ia lantas melanjutkan.
"Apakah kongcu masih membawa pembantu?"
"Dua orang yang lain adalah temanku!"
"Kalau memang mereka adalah teman Buyung kongcu, sudah pasti kedua orang ini
bukan manusia tak bernama, dapatkah diundang keluar agar berkenalan dengan
kami?"
"mereka jarang sekali melakukan perjalanan didalam dunia persilatan, sekalipun
kalian bertiga menjumpai mereka juga belum tentu kenal."
17
Kim Cok berpaling dan memandang sekejap ke arah Ong Thi san, kemudian
katanya, "Kalau Buyung kongcu telah berkata demikian, sudah pasti tak bakal
salah lagi, dua orang itu pastilah jago-jago muda dari dunia persilatan..."
"Wah... kalau mereka sudah begitu merendah terus menerus, tentu sukar untuk
menciptakan suatu bentrokan kekerasan," pikir Buyung Im seng.
Terdengar Ong Thi san berkata. "Apakah rekan-rekan seperjalanan Buyung
kongcu....."
"Kenapa?" tiba-tiba serentetan suara merdu menukas.
Ketika menengok ke samping, tampak Nyo Hong ling dan Ki Li ji sedang
melangkah keluar dari balik ruangan kuil. Nyo Hong ling tak mau munculkan diri
dengan wajah aslinya, maka ia menutupi mukanya dengan obat-obatan, sedangkan
Ki Li ji telah memulihkan kembali wajah aslinya.
Kim Cok segera tertawa terbahak-bahak. "Haahhh... hahhh.... hahh... rupanya
mereka adalah dua orang nona."
Ong Thi san segera mengalihkan pandang matanya ke wajah Buyung Im seng,
katanya "Kedua orang ini adalah......."
"Hoa li (anggota perkumpulan) dari perguruan Biau hoa bun!"
Mendengar nama itu, diam-diam Kim Cok terperanjat, segera pikirnya. "Ternyata
pihak Biau hoa bun telah mengikat hubungan dengan Buyung kongcu."
Buru-buru dia menjura seraya berkata.
"Nona berdua, sungguh gagah sekali kalian berdua!"
"Sekarang, aku musti mencari alasan untuk turun tangan terhadap mereka..... pikir
Buyung Im seng.
Sambil tertawa dingin ia lantas berkata.
"Kalian bertiga sudah mengajukan pertanyaan yang amat banyak kepadaku,
sekarang tiba giliranku untuk bertanya kepada kalian bertiga.
"Baik!" kata Kim Cok sambil tertawa, apa yang Buyung kongcu ajukan, sedapat
mungkin akan kami jawab, cuma tempat yang cocok untuk berbicara, bagaimana
kalau duduk sebentar di rumah kami?"
"Kita tak pernah saling mengenal, mengapa aku musti saja mengganggu
ketenangan kalian?"
"Aaaah, empat samudra adalah sama-sama saudara," kata Ong Thi san, "apalagi
sudah lama sekali kami mengagumi nama besar Buyung kongcu.....!"
"Betul!" sambung Kim Cok pula," rumah kami ini adalah terletak tak jauh di
belakang bukit sana, bila kongcu tidak keberatan silahkan berkunjung ke rumah
kami sambil minum teh, Buyung Im seng berpaling dan memandang sekejap ke
arah Nyo Hong ling, kemudian tanyanya.
"Bagaimana menurut pendapat nona berdua?
"Terserah kongcu!" jawab si nona.
18
Buyung Im seng pura-pura berpikir sebentar, kemudian sahutnya.
"Baiklah mengingat kebaikan kalian bertiga kami akan datang mengganggu sekali
ini."
"Baik, mari ikut aku!" kata Kim Cok.
Dia lantas membalikkan badan dan berjalan lebih dulu.
Nyo Hong ling dan Ki Li ji dengan langkah lebar mengikuti di belakang Kim Cok.
Pa jin Li Tat juga membalikkan badannya sambil berlalu dari situ berbareng itu
pula ia memperdengarkan suara pekikan yang amat nyaring. Puluhan sosok
bayangan hitam segera bermunculan dari balik semak belukar dari bebatuan
sekeliling tempat itu, kemudian berlari mengikuti di belakang Li Tat.
Bayangan-bayangan hitam itu bergerak sangat cepat, ketika Buyung Im seng
mengenalinya sebagai macan-macan kumbang yang garang, diam-diam ia merasa
terperanjat, pikirnya.
"Hebat betul orang ini! Tak nyana ia sudah mengatur begitu banyak macan tutul di
sekeliling tempat ini tanpa kami sadari, seandainya ia memberi tanda tadi dan tibatiba
kawanan macan kumbang itu menyerang bersama, sekalipun ilmu silat kami
amat lihaipun belum tentu bisa menghadapi serangan itu.... untung aku tidak
bertindak gegabah tadi."
Berpikir demikian, dia lantas beranjak dan mengikuti di belakang Nyo Hong ling
berdua.
Sedangkan Tong Thian hong sengaja berada di belakang dengan berjalan disamping
Liu seng to Ong Thi san.
Ong Thi san melirik sekejap ke arah Tong Thian hong yang menyaru sebagai
seorang kacung buku itu, lalu pikirnya.
"Orang ini tidak lebih cuma seorang kacungnya Buyung kongcu, tapi begitu berani
ia berjalan di sampingku, Hmmm! Aku harus memberi sedikit pelajaran kepadanya
agar tahu diri."
Berpikir sampai di situ, dengan dingin ia lantas menegur.
"Sudah berapa lama kau mengikuti Buyung kongcu......?"
Tong Thian hong memandang sekejap ke arah Ong Thi san, kemudian jawabnya.
"Belum lama!"
"Oh...... berapa waktu?"
"Belum sampai setengah tahun!"
Kalau begitu ku bukan termasuk pembantu lama dari gedung Buyung hu......?"
"Jelas bukan!" jawab Tong Thian hong. Ketika gedung keluarga Buyung diserbu
orang dulu, laki perempuan tua muda semua anggota keluarga telah dibantai
orang. Buyung kongcu adalah satu-satunya orang yang berhasil meloloskan diri
dari musibah ini."
19
"Kalau begitu kau bersedia secara suka rela untuk menjadi kacungnya Buyung
kongcu?"
Tong Thian hong segera tersenyum.
"Benar!" sahutnya, "tampaknya saudara Ong amat menaruh perhatian kepadaku?"
Ong Thi san semakin naik pitam ketika mendengar dirinya dipanggil saudara,
pikirnya dalam hati.
"Sialan betul orang ini, seorang kacung pun berani menyebut saudara denganku.
Entah aku musti memberi sedikit pelajaran kepadanya." Karena mendongkolnya
dia tidak menggubris Tong Thian hong lagi, dengan langkah lebar dia melanjutkan
perjalanan ke depan.
ooooOOOOoooo
Bagian Kedua
Pada mulanya Tong Thian hong mengira Ong Thi san telah menaruh curiga
kepadanya, dia menyangka pihak musuh sedang berusaha menyelidiki asal
usulnya, maka ketika dilihatnya orang itu berlalu tanpa menggubris dirinya lagi, ia
menjadi senang dan lega.
Begitulah, setelah melewati dua buah bukit sampailah mereka di depan sebuah
perkampungan yang amat luas.
Perkampungan itu dibangun dalam sebuah lembah, empat penjuru sekelilingnya
penuh tumbuh pepohonan yang lebat lagi rimbun, tempat itu merupakan suatu
perkampungan yang rahasia sekali letaknya.
Pintu gerbang perkampungan telah terbuka lebar, sedang Pa jin Li Tat sudah
menunggu di depan pintu.
Kim Cok segera berhenti setibanya di depan pintu, sambil memberi hormat ujarnya.
"Buyung kongcu, silahkan masuk!"
Diam-diam Buyung Im seng mengerahkan tenaga dalamnya mengelilingi seluruh
badan, dengan kesiap siagaan penuh dia melangkah masuk ke dalam ruangan.
Tampaknya sikap Kim Cok terhadap Buyung Im seng amat menghormat, sambil
mengikuti di belakangnya ia berkata.
"Aku sudah lama hidup mengasingkan diri ditempat ini, jarang sekali kami
melakukan perjalanan lagi dalam dunia persilatan...."
Tapi aku lihat saudara Kim masih banyak mengetahui tentang kejadian dalam
dunia persilatan sambung Buyung Im seng.
"Yaa, teman-teman lamaku banyak yang mengetahui kami siaute hidup
mengasingkan diri di sini, mereka sering berkunjung kemari dan menginap selama
beberapa hari, dalam kesempatan itu mereka banyak bercerita tentang kejadian
20
dalam dunia persilatan, itulah sebabnya sekalipun sute telah mengasingkan diri
tapi masih banyak mengetahui tentang urusan dalam dunia persilatan."
"Ohh.... kiranya begitu!"
Kedua belah pihak sudah mulai saling membohong, tapi siapapun enggan untuk
membongkar kebohongan lawannya, karena itu dalam pembicaraan tersebut
semuanya berlangsung amat santai.
Masuk ke ruangan tengah, suasana terang benderang bermandikan cahaya lampu,
meja perjamuan telah dipersiapkan di sana.
"Sambil membungkukkan badan Kim Cok berkata:
"Silahkan saudara sekalian mengambil tempat duduk!"
Buyung Im seng berjalan masuk lebih dulu, sambil melangkah ke tengah ruangan
dia mengawasi keadaan di sekeliling tempat itu, tampak di atas dinding sebelah
depan situ tergantung sebuah lukisan gadis yang amat besar, kecuali itu tidak
nampak perabot yang menghiasi di sekitarnya. Dua orang dayang muda berbaju
hijau telah menunggu kedatangan tamunya di dalam ruangan.
"Buyung kongcu, silahkan duduk!" kata Kim Cok sambil mempersilahkan tamunya.
Tanpa sungkan-sungkan Buyung Im seng mengambil tempat duduk dikursi utama.
Nyo Hoa ling segera menarik Ki Li ji dan tanpa sungkan-sungkan mengambil
tempat duduk di hadapan Buyung Im seng.
Kalau Buyung Im seng duduk membelakangi lukisan gadis itu, maka Nyo Hong ling
dan Ki Li ji duduk dengan menghadap ke arah lukisan tersebut.....
Dengan langkah cepat Tong Thian hong segera maju ke depan dan duduk
disamping Buyung Im seng.
Dengan demikian Kim Cok serta Ong Thi san tak dapat memilih tempat duduk lagi,
kedua orang itu saling berpandangan sekejap kemudian masing-masing duduk di
sebelah kiri dan kanan.
Baru saja beberapa orang itu duduk, kedua orang dayang itu telah maju ke depan
memenuhi cawan mereka dengan arak.
Sambil mengangkat cawan araknya, Kim Cok berkata.
"Tempo dulu, sewaktu Buyung tayhiap masih menjagoi dunia persilatan, akupun
berkesempatan mendapat perjamuan dari Buyung tayhiap didalam gedungnya,
maka dengan secawan arak ini akan ku hormat kongcu sebagai tanda terima kasih
kepada ayahmu."
Buyung Im seng mengangkat cawan araknya melakukan suatu gerakan
menghormat, kemudian ujarnya sambil tertawa.
"Aku tidak terbiasa minum arak, maksud baik saudara Kim biar kuterima di hati
saja."
21
Kim Cok sekali teguk menghabiskan isi cawannya, kemudian ia berkata. "Kongcu
tak usah memaksakan diri, aku hanya bermaksud memberi hormat saja
kepadamu!"
Buyung Im seng segera meletakkan cawannya ke meja dan menjura, katanya,
"Kalau begitu kuucapkan banyak-banyak terima kasih kepadamu!"
Ong Thi san menggerakkan sumpitnya dan berkata pula.
"Kalau Kongcu memang tak pandai minum arak, silahkan mencicipi hidangan
kami, hanya masakan gunung yang kurang lezat, harap kongcu jangan
menertawakan." Sehabis berkata dia lantas menggerakkan sumpit dan bersantap
dulu.
Diam-diam Buyung Im seng berpikir.
"Seandainya meracuni hidangan tersebut tak nanti mereka akan bersantap dengan
begitu leluasa, jika aku tidak turut bersantap lagi pastilah mereka akan
memandang rendah diriku."
Berpikir demikian dia lantas menggerakkan sumpitnya dengan cekatan sekali ikut
bersantap tapi yang dimakan adalah hidangan yang telah disantap oleh Ong Thi
san tadi.
Kim Cok ternyata tidak menawari arak lagi sambil memandang ke arah Buyung Im
seng katanya lagi sambil tertawa. "Ketika ayahmu ketimpa musibah, semua umat
persilatan ikut merasa berduka cita, apakah kemunculan kongcu kali ini adalah
untuk menyelidiki, aku kuatir sekalipun berminat juga tak akan mampu untuk
mewujudkannya."
"Bukankah teman-teman ayahmu di masa lalu amat banyak sekali? Bahkan
diantaranya terdapat pula tokoh-tokoh sakti didalam dunia persilatan, asal kongcu
berseru minta bantuan, masakah mereka tak mau munculkan diri untuk membantu
usahamu itu?" Buyung Im seng termenung sejenak, kemudian katanya. "Apakah
Kim locianpwe juga berminat untuk berbuat demikian?"
Agaknya Kim Cok sama sekali tidak menyangka kalau dia akan mengajukan
pertanyaan secara berterus terang, untuk sesaat lamanya dia menjadi tertegun.
"Soal ini? Aku kuatir dengan kepandaian silatku yang biasa-biasa saja, mungkin
tak bisa banyak membantu diri kongcu."
Tiba-tiba Tong Thian hong menyela.
"Seandainya kongcu kami yang memohon bantuanmu?"
KIm Cok segera tertawa terbahak-bahak.
"Hahhhh.... hahhhh... hahhh...... andaikata Buyung kongcu bersedia memberi muka
kepadaku, sudah tentu akupun bersedia untuk membantu dengan sepenuh tenaga."
Mendengar itu, Buyung Im seng mendesak lebih jauh.
"Terima kasih banyak atas kebaikan Kim locianpwe, dewasa ini aku mempunyai
suatu kesulitan, apakah locianpwe bersedia untuk memberi bantuan.....?"
Desakan yang dilontarkan secara langsung ini dengan kontan saja membuat Kim
Cok tertegun di tempat, sampai lama sekali ia baru bisa berkata.
22
"Persoalan apa itu?"
"Kim locianpwe, bukankah kau sudah lama berkenalan dalam dunia persilatan?
Tentunya kau mengetahui bukan tentang perguruan Sam seng bun?
"Buyung kongcu tak usah sungkan-sungkan sebutan locianpwe tak berani ku
terima, meski aku lebih tua beberapa tahun, silahkan Kongcu menyebut Khim heng
saja kepadaku, ini sudah lebih dari cukup."
Setelah mendehem pelan, terusnya.
"Mengenai perguruan Sam seng bun, aku memang pernah mendengar orang
membicarakannya, cuma setelah banyak tahun mengasingkan diri persoalan dunia
persilatan yang kuketahui pun bertambah sedikit, aku cuma mendengar orang
berkata bahwa Sam seng bun merupakan kekuatan yang terbesar didalam dunia
persilatan dewasa ini, mengenai masalah selanjutnya, aku kurang begitu paham."
"Konon didalam perguruan Tiga malaikat tersebut bukan saja banyak jago lihai
yang telah menjadi anggotanya, bahkan memiliki organisasi yang amat rahasia,
bila tidak mengetahui cara mengadakan kontak, sekalipun ada orang dari Sam seng
bun yang berada disamping kitapun tidak kita sadari, benarkah itu?"
Didesak oleh ucapan Buyung Im seng yang tajam bagaikan pisau itu, hampir saja
Kim Cok tak sanggup mengendalikan diri, sambil tertawa paksa katanya,
"Soal itu sih saya kurang tahu!"
Buyung Im seng segera tertawa hambar.
"Tampaknya saudara Kim tidak berniat sungguh-sungguh untuk membantu diriku!
"Bukannya begitu, bila Buyung kongcu akan membalaskan dendam untuk kematian
ayahmu, tentu saja aku bersedia untuk membantu, tapi perguruan Sam seng bun
toh bukan musuh besar pembunuh ayahmu!"
Buyung Im seng segera berpikir didalam hati .
"Bila ku desak dirinya lebih jauh, sudah pasti keadaan akan berobah menjadi kaku
dan tidak menggembirakan "Berpikir demikian, sambil tertawa dia lantas berkata.
"Saudara Kim tak usah kuatir, aku tak lebih cuma bertanya saja, aku tahu bahwa
saudara Kim sudah lama mengasingkan diri dari keramaian dunia persilatan,
sekalipun kau benar-benar bersedia membantuku, aku juga tak akan berani
mengusik ketenanganmu."
Merah padam selembar wajah Kim Cok karena jengah ujarnya agak tersipu-sipu,
"Asalkan Kongcu telah berhasil menemukan pembunuh ayahnya sampai waktunya
aku pasti akan datang ditempat kejadian dan membantu dirimu.
Tiba-tiba Ong Thi san bangkit berdiri, lalu katanya. "Harap kalian duduk sebentar,
aku ingin mengundurkan diri sebentar!"
"Silahkan saudara Ong!" cepat Kim Cok berseru. Ong Thi san segera menjura dan
melangkah keluar dari ruangan dengan tindakan lebar.
Memandang hingga bayangan Ong Thi san lenyap diluar ruangan, Buyung Im seng
segera beranjak, katanya.
23
"Kami sudah menunggu kalian cukup lama, maksud baik kalian tak akan
kulupakan, nah kami sekalianpun ingin mohon diri pula." Kim Cok menjadi amat
gelisah, serunya cepat-cepat.
"Kongcu, mengapa kau harus terburu napsu? Duduklah sebentar, lohu masih ada
persoalan ingin dibicarakan."
"Persoalan apa?" tanya Buyung Im seng sambil tersenyum.
Kim Cok mendehem pelan, kemudian sahutnya
(Bersambung ke jilid 2)
24
Lembah Tiga Malaikat
Oleh: Tjan
Jilid 2
PERSOALAN tentang lembah tiga malaikat itu tiba tiba saja lohu teringat akan
beberapa hal.
Tubuh Buyung Im-seng yang telah bangkit berdiri itu segera duduk kembali,
katanya: "Kalau begitu aku siap mendengarkan penjelasanmu."
Kim Cok sendiri juga mengerti, apabila ia tidak singgung masalah lembah tiga
malaikat pada saat ini, mungkin sulit untuk menahan Buyung Im-seng di sana.
Maka katanya:
"Setengah tahun berselang, seorang teman lamaku kebetulan berkunjung
menengok ku"
"Tentunya temanmu itu secara kebetulan adalah anggota Sam-seng-bun, maka ia
mengetahui banyak tentang latar belakang perguruan itu. Betul bukan ?" Sambung
Tong Thian-hong.
Dengan dingin Kim Cok memandangi sekejap Tong Thian hong, agaknya ia hendak
mengumbar hawa amarahnya, tapi dengan capat perasaan itu ditekan kembali,
sambungnya: "Teman lamaku ini apakah benar-benar anggota Sam-seng-bun atau
bukan, lohu kurang tahu. Tapi ia memang banyak membicarakan masalah Samseng-
bun dengan lohu."
"Apa saja yang dibicarakan ?"
"Katanya seluruh dunia persilatan akan mengalami perubahan besar, sudah tentu
beberapa tahun Sam-seng-bun memupuk kekuatan secara diam-diam paling lama
dua tahun lagi, paling cepat satu tahun kemudian seluruh dunia persilatan pasti
akan terjatuh ke tangan mereka."
"Dia masih banyak membicarakan persoalan lain, sayang sudah terlalu lama
kejadian ini berlangsung, sehingga lohu sendiripun sudah banyak yang lupa."
25
"Terima kasih atas petunjukmu !" kata Buyung Im-seng, dia lantas beranjak dan
berlalu dari situ dengan langkah lebar.
Dengan cepat Kim Cok menghalangi jalan perginya, dia berseru:
Buyung Kongcu, kau hendak pergi kemana ?"
"Apa yang hendak Kim-seng katakan sudah habis diucapkan, sedang apa yang bisa
kudengar juga sudah selesai kudengar, tentu saja aku hendak memohon diri !"
"Kongcu, silahkan duduk dulu, mungkin bila kupikirkan beberapa waktu lagi ada
banyak persoalan yang bisa kuingat kembali."
"Tapi sayang aku sudah tidak mempunyai banyak waktu lagi untuk menunggu,
harap Kim-heng pikirkan secepatnya, bila dalam seperminuman teh kau masih
belum berhasil mengingat apa-apa, aku tak akan menunggu lagi." Kim Cok
termenung dan berpikir sejenak kemudian katanya: "Yaa, yaa, aku sudah teringat
lagi, dia masih memberitahukan suatu hal kepada lohu."
"Persoalan apa ?"
"Dia bilang separuh bagian jago lihay yang ada didalam dunia persilatan ini telah
menggabungkan diri dengan perguruan Sam-seng-bun dalam dunia persilatan
sudah tiada kekuatan lain lagi yang bisa menghalangi niat Sam-seng-bun,
sekalipun ayahmu Buyung tayhiap hidup kembalipun percuma saja."
"Apakah saudara Kim percaya dengan perkataannya itu ?"
"Sebenarnya aku tidak percaya, tapi setelah dijelaskan pelbagai masalah besar
lainnya, mau tak mau aku menjadi percaya juga."
"Jikalau kau sudah percaya, sepantasnya kalau menggabungkan diri dengan
perguruan Sam-seng-bun." sindir Tong Thian-hong.
"Pertama karena aku sudah mengundurkan diri dari keramaian dunia persilatan.
Kedua sekalipun aku ingin bergabung juga harus ada yang mengantar, maka... "
Buyung Im-seng tertawa lebar, tukasnya: "Kalau atap tidak terjatuh tak akan
pecah, seorang panglima perang besar kemungkinan akan tewas di medan laga,
kalau toh saudara Kim sudah mengundurkan diri dari dunia persilatan lebih baik
jagalah diri dengan waspada, jangan sampai mendapat suatu akhir yang
mengenaskan"
Kim Cok tertawa terbahak bahak ; "Haa... haah... haahh.. tapi bila tidak bergabung
dengan perguruan Sam-seng bun, besar kemungkinan kita akan mampus semakin
cepat lagi."
Buyung Im-seng tertawa dingin, katanya: "Setiap manusia mempunyai tujuannya
sendiri-sendiri, aku pun tak ingin banyak membujukmu lagi."
Kongcu, apakah kau mempunyai urusan penting lainnya ?"
"Kalau pembicaraan tidak mencocoki, banyak bicarapun tak ada gunanya, aku tak
ingin berdiam lebih lama lagi."
"Kalau memang begitu, akupun tak berani memaksa lebih jauh, cuma harap kongcu
menunggu sebentar, akan kuberi tanda dulu kepada Li Tat agar menyingkirkan
macam-macam kumbangnya, daripada kongcu kena dilukai nanti."
26
"Sekalipun aku menunggu lebih lama lagi belum tentu mereka bisa datang kemari."
"Kongcu, apa kau bilang ?"
"Aku bilang, orang-orang yang lebih garang dari binatang buas buas yang sedang
kau tunggu itu, aku rasa saudara Kim tak usah repot-repot lagi "
Melihat keadaan semakin runyam, terpaksa Kim Cok menarik mukanya seraya
berkata: "Seorang bocah yang masih muda belia, mengapa kata katanya begitu tak
tahu sopan santun ?"
Yang dikuatirkan Buyung Im-seng justru kalau dia dihantar keluar dari situ
dengan hormat, sebab kalau sampai demikian keadaannya, untuk mencari garagara
pasti akan sulit sekali. Oleh sebab itu, ketika pihak lawan berubah wajah, ini
justru berkenan dihatinya, maka sambil tertawa katanya: "Saudara Kim
maksudkan diriku?"
"Tentu saja kau !"
Tiba-tiba Tong Thian -hoang menerjang maju ke depan, serunya: "Besar amat
nyalimu, sungguh berani mendamprat kongcu kami !"
Telapak tangan kanannya segera diayunkan ke depan melepaskan sebuah pukulan
dahsyat.
"Bagus !" Seru Kim Cok. "Lohu akan memberi pelajaran dulu kepada kau si
pelayan, kemudian baru memberi pelajaran kepada majikannya!"
Sambil mengayun tangan, dia sambut datangnya serangan tersebut.
Serangan yang dilakukan kedua orang itu hampir diayunkan pada saat yang
bersamaan, "Blaaam... !" suatu bentrokan segera terjadi.
Hasil dari bentrokan kekerasan tersebut, baik Tong Thian hong maupun Kim Cok
sama-sama mundur selangkah.
Dengan bentrokan kekerasan tersebut, maka kedua orang itu lantas tahu kalau
kekuatan mereka seimbang alias setali tiga uang.
Diam-diam Kim Cok merasa terkejut, pikirnya: "orang ini tidak lebih cuma seorang
pembantunya Buyung kongcu, mengapa ilmu silatnya luar biasa hebatnya? Kalau
begitu Buyung kongcu sendiri pasti luar biasa!"
Berpikir demikian, ternyata serangan yang kedua tidak lagi dilancarkan.
Dalam anggapannya semula, sekalipun tidak berhasil melukai musuhnya dengan
serangan tersebut paling tidak bisa memberi pelajaran kepada orang itu, siapa
sangka dia sendiri malahan terdorong mundur selangkah ke belakang.
Dengan kening berkerut Buyung Im seng juga sedang berpikir.
"Tujuan kami adalah menangkap hidup-hidup diri mereka, tapi Tong Thian hong
telah saling beradu kekerasan dengannya, harapan tersebut tampaknya sukar
untuk diwujudkan."
Tapi berada di hadapan Kin Cok ia merasa sukar untk memberi teguran, hal mana
membuat hatinya merasa amat bersedih hati.
27
Pada saat itulah, tiba tiba tampak bayangan manusia berkelebat lewat tahu-tahu
Nyo Hong ling dan Ki Li ji sudah melompat keluar melewati beberapa orang.
Belum sempat buyung Im seng menegur Ki Li ji telah membalikkan badan sambil
menubruk ke arah Kim Cok.
Sepasang tangannya dipergunakan bersama, dalam waktu singkat dia sudah
melancarkan empat buah serangan berantai.
Ke empat buah serangan itu dilancarkan secara berurutan dan seakan akan
dilancarkan tanpa berhenti, hal ini memaksa Kim Cok secara beruntun harus
mundur sejauh empat langkah.
Paras muka Kim Cok segera berubah hebat, katanya dengan dingin: "Buyung
kongcu, memandang di atas wajah ayahmu lohu tak ingin turun tangan keji
padamu, tapi sobat dan anak buah kongcu bila mendesak terus menerus, jangan
salahkan kalau lohu tak akan mengenal belas kasihan lagi !"
Mendengar perkataan itu, Buyung Im seng lantas berpikir: "Dia tersohor sebagai Si
hun ciang, sudah pasti dia hendak mempergunakan ilmu pukulan membetot sukma
itu!"
Sementara dia masih memutar otak untuk mencari jawaban yang tepat, Tong Thian
hong telah berebut berkata lagi: "Saudara memiliki ilmu silat apalagi yang disebut
hebat? Mengapa tidak digunakan semua ? Dengan kepandaian yang kau miliki itu,
aku percaya masih sanggup untuk menyambutinya sendiri, tak usah kau mengusik
kongcu kami.
Pelan-pelan Kim Cok mengangkat tangan kanannya ke tengah udara, paras
mukanya juga turut berubah menjadi serius sekali.
Buyung Im seng mencoba untuk mengamat-amatinya, ia tengah saksikan telapak
tangan kanan Kim Cok yang sudah diangkat ke udara itu lamat-lamat
memancarkan cahaya merah yang kehijau-hijauan.
Tampak Kim Cok mengayunkan tangan kanannya dan langsung menghajar ke
tubuh Tong Thian hong.
Rupanya Tong Thian hong sudah tahu kalau dia telah mempergunakan ilmu
pukulan si-hun ciang, agak sangsi hatinya, dia tak tahu hatinya dia tak tahu
sampai dimanakah kelihaian ilmu pukulan itu dan harus menghadapinya dengan
cara yang bagaimana.
Sementara sekujur badan Nyo Hong ling gemetar keras, kemudian roboh
terjengkang ke atas tanah, Tong Thian menjadi tertegun, baru saja dia hendak
membangunkan gadis itu, tiba-tiba terdengar bisikan lirih berkumandang di sisi
telinganya. "cepat tutup napas dan melindungi denyut nadi!"
Suara itu adalah bisikan Nyo Hong ling dengan ilmu menyampaikan suaranya.
Ketika Buyung Im seng menyaksikan Nyo Hong ling roboh ke tanah, dengan hati
terkejut ia menerjang ke muka dan menubruk ke arah Kim Cok.
Sambil membalikkan badan Kik Cok menghindarkan diri dari serangan Buyung Im
seng itu, kemudian sambil melayang mundur katanya dingin: "Kongcu benar-benar
tak tahu diri, aku tak ingin melukai diri kongcu..."
28
Buyung Im seng berpaling dan memandang sekejap Nyo Hong ling yang tergeletak
di tanah itu, kemudian serunya: "Kau telah menggunakan cara yang keji untuk
melukainya."
Kim Cok tertawa terbahak bahak: "Haahh... hahh... hah... aku toh mempunyai
julukan sihun ciang, kau anggap julukan itu cuma suatu julukan belaka tanpa ada
kenyataannya?"
Baru saja dia hendak berkata lagi, tiba-tiba terdengar Tong Thian hong berbisik
dengan ilmu menyampaikan suara: "Lindungi denyutan nadi, jangan melawan
tenaga pukulannya dengan kekerasan!"
Tiba-tiba Ki Li ji menerjang maju ke depan melewat samping, kemudian tanpa
menimbulkan sedikit suarapun menyerang ke arah Kim Cok.
Dengan cekatan Kim Cok menghindarkan diri ke samping, kemudian sambil
membalikkan badan melepaskan sebuah pukulan.
Ki Li ji seakan akan tak mampu untuk menghindarkan diri lagi "Blaamm!"
tubuhnya segera roboh terjengkang ke atas tanah.
Walaupun Tong Thian hong bisa menduga bahwa Ki Li ji mungkin sudah mendapat
petunjuk dari Nyo Hong ling untuk berpura pura kena pukulan dan roboh ke tanah,
tapi ia merasa kuatir sekali, sehingga tanpa terasa tubuhnya turut menerjang pula
ke depan.
Tampak Ki Li ji membuka matanya kemudian dipejamkan kembali, sikapnya
seakan akan seseorang yang sedang terluka parah.
Agak lega juga Tong Thian hong menyaksikan keadaannya itu, belum sempat ia
mendongakkan kepalanya, tiba-tiba terasa desingan angin tajam menerjang
langsung ke arahnya.
Dibalik angin pukulan itu terbawa hawa dingin yang menyengat badan, ia tahu
Kim Cok lagi-lagi menggunakan tenaga pukulan Sihun ciangnya untuk melukai
musuh.
Buru buru dia mengerahkan hawa murninya untuk melindungi jantung kemudian
menyambut datangnya serangan itu dengan kekerasan.
Dimana angin pukulan Sihun ciang tersebut menyambar lewatm segulung hawa
dingin yang menyusup tulang langsung menerjang ke tubuhnya. Tong Thian hong
segera berpikir:
"Ternyata tenaga pukulan Si hun ciang adalah sejenis tenaga pukulan yang khusus
dipakai untuk menghancurkan nadi orang, sungguh hebat sekali kecerdasan Nyo
Hong ling, ternyata dalam satu bentrokan saja sudah berhasil mengetahui ciri-ciri
kekejaman ilmu pukulan ini"
Berpikir demikian, tubuhnya segera berputar putar pelan jatuh ke atas tanah.
Demikian dari empat orang yang hadir di situ tinggal Buyung Im seng seorang yang
belum roboh, ini membuat keberanian Si hun ciang Kim Cok bertambah besar,
sambil tertawa tergelak segera serunya: "Buyung kongcu, apakah kau ingin sekali
bertemu dengan anggota Sam seng bun ?"
29
"Yaa, dimana orangnya ?"
"Akulah orangnya ?"
"Saudara Kim ?"
"Betul, selain aku juga Ong Thi san dan si manusia macan kumbang Li Tat
semuanya adalah orang-orang Sam seng bun!"
Setelah tertawa gelak, terusnya: "akupun pernah mendengar tentang para Hoa-li
dari perguruan Biau hoa bun, aku mendengar ilmu silat mereka rata-rata sangat
lihay, sungguh tak disangka mereka tak lebih hanya manusia-manusia lemah yang
tak sanggup untuk menyambuti sebuah seranganku pun"
Setelah menengok sekejap ke arah Nyo Hong ling dan Ki Li ji yang menggeletak di
tanah lanjutnya: "Tentu saja Buyung kongcu jauh lebih tangguh dari pada mereka,
tapi bila ingin mempergunakan bantuan dari beberapa orang ini untuk
membantumu membalas dendam, aai... Hakekatnya perbuatan itu seperti orang
yang lagi mengigau!"
"Ilmu apakah yang telah kau gunakan untuk melukai mereka."
"Si hun ciang khusus suatu ilmu pukulan penghancur nadi!"
"Apakah saudara Kim juga telah bersiap siap untuk menjajalkan pula ilmu pukulan
Si hun ciang tersebut di atas tubuhku ?"
"mungkin kalau cuma aku seorang belum bisa menandingi kehebatan kongcu, cuma
aku tidak bermaksud untuk bertarung satu lawan satu melawan dirimu"
"Kalau begitu kau bermaksud untuk bermain kerubutan?"
"Benar, aku bermaksud untuk bertarung melawan kongcu dengan jalan
mengerubut, kecuali kongcu bersedia untuk menyerahkan diri"
Buyung Im seng mengalihkan sinar matanya untuk meneliti sekejap sekeliling
tempat itu, kemudian sambil berpaling katanya: "kecuali kau, Ong Thi san dan Pa
Jin Li Tat, masih ada siapa lagi ?"
"Dua puluh orang jago lihay telah mempersiapkan diri di balik ruangan ini, asal
aku memberi tanda, maka serentak mereka munculkan diri dari empat arah
delapan penjuru dan bersama menyerang diri kongcu"
Buyung Im seng segera memutar otaknya mencari akal guna menghadapi situasi
ini.
Tiba tiba menyaksikan Kim Cok memberi tanda dengan ulapan tangannya.
Ditengah kegelapan tampak cahaya golok berkilauan, benar juga, dari balik
kegelapan di luar ruangan sana segera bermunculan belasan orang lelaki kekar
berpakaian ringkas yang bersenjata golok.
Sambil tertawa terbahak bahak kata Kim Cok: "sekarang kongcu tentunya sudah
percaya bukan ?" Tiba tiba sambil menarik muka, katanya lagi dengan dingin: "Aku
percaya kongcu mempunyai kemampuan untuk menerjang keluar dari kepungan
kami, tapi kedua orang temanmu dan pembantumu itu sudah pasti tak akan
mampu untuk melakukan perjalanan bersama, bila kongcu sudah tak ambil peduli
30
lagi terhadap keselamatan mereka silahkan saja untuk melangsungkan
pertarungan"
"Kami akan baik-baik melayani diri kongcu serta teman dan pelayanmu itu!"
Selanjutnya ?"
"Aku akan segera mengirim burung merpati untuk melaporkan kejadian ini ke Seng
Thong dalam satu dua hari pasti ada surat perintah dari Malaikat untuk
menyelesaikan diri Kongcu, jadi aku tak bisa memutuskan sendiri persoalan ini."
"Mereka sudah terluka oleh ilmu pukulan Si hun pian apakah kau bisa
menyembuhkan lukanya itu ?"
"Bila bersedia untuk menyerahkan diri, tentu saja akupun akan menyadarkan
mereka, tapi bila kongcu sudah lolos dari kepungan, maka sahabat dan pelayan
saudara itu tak usah kulaporkan ke Seng thong lagi, siapa tahu kalau kita akan
segera menghukumnya di sini juga"
"Agaknya mereka terlalu menilai tinggi diriku!" Buyung Im seng kemudian.
Dia lantas berlagak agak sangsi, setelah memandang sekejap ke arah Nyo Hong
ling berdua serta Tong Thian hong, sambil menghela napas katanya: "Baiklah! Apa
yang hendak kau lakukan atas diriku ?"
"Tadi toh aku sudah berkata, akan ku sambut kongcu dan teman temanmu secara
baik baik." jawab Kim Cok sambil tertawa: "Cuma... "
"Cuma bagaimana ?" tanya Bunyung Im seng dengan suara dingin. "Cuma aku
harus menotok jalan darah kongcu !"
"Menotok jalan darahku ?"
"Benar kalau kongcu tidak bersedia untuk kutotok jalan darahnya, itu berarti kau
tak mau menyerahkan diri, maka pembicaraan kita tadi pun menjadi sama sekali
tak ada gunanya."
"Bila jalan darahku tertotok, waktu itu aku benar-benar akan menuruti semua
perkataan tanpa bisa melawan, aku tak bisa menyanggupi permintaannya itu"
Terdengar Kim Cok telah berkata lebih jauh: "Bila kongcu tidak bersedia kutotok
jalan darahnya, masih ada sebuah cara lagi yang lebih bagus"
"Apakah caramu itu ?"
"Akan ku ikat sepasang tangan kongcu dengan tali otot kerbau !"
Buyung Im seng kembali berpikir: "Andaikata mereka belum terluka, sekalipun
sepasang tanganku diikat juga tidak menjadi soal" Berpikir demikian, dia terus
mengiakan.
"Kalau Kim Heng memang begitu tak percaya dengan diriku, agaknya hanya cara
ini yang bisa dilakukan."
"Kelicikan dunia persilatan terlalu mengerikan, kongcupun demikian pula terlalu
halus, tapi aku tak bisa tidak harus sedia payung sebelum hujan, kita memang
31
selisih usia puluhan tahun, tapi kalau siaute sampai mengalami perahu yang
terbalik di selokan, bukankah kejadian ini akan ditertawakan orang ?"
Menyaksikan kegembiraan orang, Buyung Im seng merasakan kemarahannya
berkobar, tapi ia tetap menahan diri untuk tak sampai mengumbar kemarahan
tersebut, Kim Cok segera memberi tanda, kemudian katanya: "Buyung kongcu
bersedia menyerahkan diri, mengapa kalian tidak maju ke muka untuk mengikat
tangannya?"
Buyung Im seng tertawa dingin, pelan-pelan dia meluruskan tangannya ke depan.
Dua orang lelaki berbaju hitam segera tampil ke depan, kemudian dengan seutas
tali otot kerbau mengikat sepasang tangan Buyung Im seng erat erat.
Kim Cok memandang sekejap ke arah Nyo Hong ling sekalian, kemudian serunya
pula: "Masih ada beberapa orang itu, sekalian diikat juga !"
Dengan gusar Buyung Im seng segera berseru: "Orang She Kim, perkataanmu
masuk dalam hitungan tidak?"
"Perkataan apa ?" Jawab Kim Cok sambil tertawa seram. "Kau sudah bilang, bila
aku menyerahkan diri mengapa kau malahan mengingkari janji?"
"Itulah kesalahan kongcu sendiri !"
"Kesalahan aku sendiri ?"
"Kita kan sedang berhadapan sebagai musuh, dalam keadaan demikian
pembicaraan apalagi yang bisa dipercaya? Jika sebelum kongcu menyerahkan diri
tadi minta kepadaku untuk menyadarkan teman dan pelayanmu itu lebih dulu
terdesak oleh keadaan mungkin aku akan menuruti janji sayang sekali ternyata
kau tak pandai menggunakan kesempatan, sekarang tanganmu juga telah
dibelenggu, apakah aku musti memenuhi janjimu lagi...?"
"Kau amat rendah dan hina!" teriak Buyung Im seng gusar.
"Kalau tidak mengalami suatu kejadian, kecerdasanmu tak akan bertambah
matang, andai kata kongcu masih mempunyai kesempatan untuk hidup lebih maju,
nasehatku ini pasti akan banyak bermanfaat bagimu."
Diam-diam Buyung Im seng mencoba untuk mengerahkan tenaga dalamnya, tapi
otot kerbau yang membelenggu tubuhnya itu sangat kuat sekalipun memiliki
tenaga dalam yang lebih sempurna pun jangan harap bisa mematahkannya.
Sementara itu kedua orang lelaki kekar tadi sudah bekerja cepat, dalam waktu
singkat Nyo Hong ling bertiga sudah dibelenggu juga.
"Bimbing mereka bangun !" teriak Kim Cok.
Empat orang lelaki kekar segera lari maju dan masing-masing membimbing bangun
seorang diantaranya.
Kim Cok maju ke depan dan menghantam punggung Tong Thian hong lebih dahulu.
Melihat itu, dengan terkejut Buyung Im seng segera berseru: "Hey apa yang kau
lakukan ?"
Kim Cok tertawa, sahutnya: "Kongcu amat cerdik, sampai pelayanmu pun lihay
sekali, sedang kedua orang hoa-li dari Biau hoa-bun tersebut bisa melakukan
32
perjalanan bersama Buyung Kongcu, ini menandakan kalau merekapun bukan
manusia sembarangan, aku tidak percaya kalau mereka bisa jatuh pecundang di
tanganku secara gampang, maka aku harus menyadarkan mereka lebih dulu untuk
ditanyai lebih jelas !"
Buyung Im-seng merasakan hatinya bergetar keras, pikirnya. "Orang ini benarbenar
sangat licik, aku hampir saja terkecoh di tangannya... !"
Tampak sepasang tangannya bekerja cepat secara beruntun dia melepaskan pula
sebuah pukulan ke atas punggung Nyo Hong ling serta Ki Ji ji, tak lama kemudian
mereka bertiga pun secara beruntun sadarkan diri.
Buyung Im seng kembali berpikir. "Dari antara kami, ilmu silat Nyo Hong ling
terhitung paling lihay, entah apakah dia sanggup untuk memutuskan otot kerbau
tersebut atau tidak ?"
sementara itu Nyo Hong ling telah membuka sepasang matanya, ia memandang
sekejap ke arah Kim Cok kemudian memandang pula ke arah Buyung Im seng,
setelah itu pelan-pelan ia memejamkan kembali matanya.
Kim Cok segera tertawa terbahak bahak, serunya: "Kalian bertiga telah pulih
kembali kesadarannya seperti sedia kala, tak usah berlagak lagi."
Tiba-tiba suaranya berubah menjadi dingin menyeramkan, serunya lebih jauh:
"Kalian akan berjalan sendiri masuk ke dalam ruangan, ataukah membutuhkan
bantuanku ?"
Nyo Hong ling memandang sekejap ke arah Buyung Im seng, kemudian berjalan
lebih dulu menuju ke ruang tengah.
Ki Li ji, Tong Thian Hong dan Buyung Im seng secara beruntun ikut pula masuk ke
dalam ruangan.
Lim Cok berjalan dipaling belakang, sikap hormatnya tadi kini sudah tidak nampak
lagi, dengan gaya yang sok dia duduk dikursi utama kemudian serunya: "Manusia
yang tahu keadaan dia barulah orang yang pandai, aku tak ingin menyusahkan
kalian beberapa orang, tapi akupun tak ingin disusahkan oleh kalian semua."
Sementara pembicaraan masih berlangsung ke empat orang lelaki berbaju hitam
tadi sudah ikut masuk pula ke dalam ruangan dan berdiri disamping dengan
tangan lurus ke bawah.
Buyung Im seng berpaling dan memandang sekejap ke arah empat orang lelaki itu,
kemudian ujarnya: "apa yang kami ketahui sangat terbatas sekali, bila kau ingin
menanyakan sesuatu, tanyakan saja !"
Kim Cok segera tertawa terbahak bahak: "Haaahh... haaahh.. haaahhh... kongcu
memang seorang manusia pintar yang amat bijaksana, persis seperti ayahmu dulu,
aku merasa amat kagum."
Setelah berhenti sebentar, lanjutnya. "Kedatangan kalian berempat ke utara kali
ini sudah pasti ada tujuannya, dapatkah kongcu menjelaskan tujuanmu itu ?"
Buyung Im seng segera berpikir didalam hati: "Tampaknya aku harus mencari akal
untuk mengarang suatu cerita bohong..."
33
Belum sempat ia menjawab, Tong Thian hong telah menyela lebih dahulu.
"Kongcu kami telah mengajak beberapa orang teman untuk mengadakan suatu
pertemuan, secara kebetulan saja lewat di sini."
Kim Cok segera manggut-manggut: "Baik ! Siapa saja yang hendak kalian temui itu
?"
Rupanya Tong Thian hong kuatir kalau Buyung Im seng tak sanggup memberi
jawaban, maka sengaja dia memberi kata pembukaan agar pemuda itu bisa
melanjutkan karangan cerita bohongnya. Sebagai seorang pelayan sudah tentu ia
tidak bisa banyak bicara, kuatir jejaknya malah dicurigai orang, maka katanya
kembali: "Soal itu mah... aku kurang tahu."
"Kau amat jujur, bila berkata lebih jauh belum tentu lohu akan mempercayai
perkataanmu itu."
Sinar matanya segera dialihkan ke wajah Buyung Im seng, kemudian katanya
kembali: "Pelayan Kongcu telah membocorkan tujuanmu, aku lihat kongcu tak bisa
tidak harus berbicara lebih lanjut."
Buyung Im seng termenung sampai lama sekali, kemudian dia baru berkata: "Aku
ada janji dengan beberapa orang teman ayahku dulu."
"Sin Cu sian dan Lui Hoa hong ?"
Buyung Im seng diam-diam berpikir: "Aku pernah membuat keonaran di kota Hong
ciu, sudah pasti orang-orang Sam seng bun mendengar akan kejadian ini, asal dia
percaya saja aku harus mengarang cerita yang lebih bagus lagi."
Berpikir demikian, diapun lantas berkata: "Yaa, mereka telah mencarikan beberapa
orang sahabat lagi bagiku !"
Kim Cok tersenyum. "Apakah mereka juga telah berangkat ke kota Hong ciu semua
?"
"Benar, mereka sudah berangkat dua hari lebih pagi."
"Ehmm... dalam pertemuan yang akan diselenggarakan ini, siapa saja yang akan
turut menghadirinya ?"
"Dua orang pamanku yang mengatur kesemuanya ini, mereka tidak menyinggung
soal nama-nama mereka."
"Sin Cu sian, Lui Hua hong dan ayahmu adalah saudara angkat, tentu saja mereka
akan membantumu dengan sepenuh tenaga, cuma aku tidak percaya kalau mereka
tidak memberitahukan kepadamu, siapa-siapa saja yang telah diundangnya untuk
menghadiri pertemuan itu."
Kembali Buyung Im seng berpikir: "Kalau ku sebut dua nama secara sembarangan
bisa jadi rahasia kebohonganku bakal ketahuan, lebih baik berkeras mengaku tidak
tahu saja... "
Dia lantas menggelengkan kepalanya seraya berseru: "Kalau kedua pamanku itu
tidak menyinggung dan akupun tidak banyak bertanya, dari mana bisa kuketahui
nama-nama mereka ? Mau percaya atau tidak terserah kepadamu sendiri, itu kan
urusanmu sendiri."
34
Sambil tersenyum Kim Cok lantas manggut-manggut. "Ehmm... tampaknya
memang bohong." ia berkata: "tapi Sin Cu sian dan Lui Hua hong memang kelewat
gegabah, mengapa ia begitu tega membiarkan kau pergi seorang diri ? Aaai....,
seandainya salah satu diantara mereka berdua ada yang mengikuti di sampingmu,
rasanya malam ini sulit bagiku untuk menangkap kongcu"
"Bila sampai waktunya aku belum juga sampai di sini, mereka pasti akan
berangkat untuk datang mencariku."
"Tak menjadi soal." tukas Kim Cok: "Kongcu tak akan berdiam terlalu lama di sini,
paling cepat besok pagi, paling lambat besok malam Kongcu akan berangkat
meninggalkan tempat ini"
"Kau hendak membawa aku kemana ?" tanya Buyung Im seng pura-pura amat
cemas.
"Sampai waktunya Kongcu pasti akan tahu dengan sendirinya !" setelah
memandang sekejap sekeliling tempat itu, lanjutnya: "Bawa mereka ke dalam
penjara batu!"
Pembantu pembantunya mengiakan, masing-masing membawa seorang dan menuju
keluar, Buyung Im seng tertawa dingin, dia seperti hendak mengucapkan sesuatu
tapi kemudian niat itu dibatalkan.
Kim Cok mengelus jenggotnya sambil tertawa katanya: "Kongcu terhadap sahabat
dan pelayanmu itu aku tak akan risau, tapi aku harap kongcu bisa memikirkan
pula keselamatan mereka bertiga, aku minta kau jangan sembarangan berkutik.
Bagus sekali. pikir Buyung Im seng, "rupanya semua pikiran dan perhatiannya
hanya ditujukan padaku seorang"
Sementara itu Ong Thi san telah berjalan datang dengan langkah lebar kemudian
katanya: "saudara Kim, cukupkah hanya membelenggu tangan mereka saja ?"
"Menurut pendapat saudara Ong?"
"Lebih baik kalau ilmu silatnya dipunahkan saja!"
Kim Cok berpikir sebentar, lalu katanya: Aku rasa tidak perlu, yang kita kuatirkan
hanya Buyung Kongcu seorang, sisanya yang tiga orang tak perlu dikuatirkan,
apakah saudara Ong telah melepaskan merpati pos?"
"Secara beruntun aku telah melepaskan tiga ekor burung merpati pos, paling
lambat besok tengah hari kita sudah akan memperoleh surat perintah dari atasan"
Buyung Im seng berempat digusur oleh ke empat orang lelaki itu menuju ke sebuah
tebing karang di belakang perkampungan sambil membuka sebuah pintu baja,
serunya: "Harap kalian berempat masuk sendiri" Tong Thian hong, Nyo Hong ling,
Ki Li ji dan Buyung Im seng secara berurutan lantas masuk ke dalam gua batu itu.
"Blaamm..." diiringi suara keras pintu baja itu ditutup rapat. Gua tersebut adalah
sebuah gua batu yang dalamnya dua kaki dinding di sekeliling gua itu berupa batu
karang yang keras.
35
Tong Thian hong langsung berjalan menuju ke ujung gua itu, kemudian pelan pelan
duduk. "Li ji, kau terluka?" tanya Nyo Hong ling lirih.
Ki Li ji menggelengkan kepala berulang kali "Begitu mendapat petunjuk dari nona,
aku lantas mengarahkan tenaga untuk melindungi nadi" katanya "Meski badanku
terasa kurang enak setelah makan pukulannya, namun setelah ku atur pernapasan
secara diam-diam, kesehatan badanku sekarang telah pulih kembali seperti sedia
kala"
"Asal kita tak ada yang terluka, tak usah merasa khawatir lagi." kata nyo Hong ling
kemudian.
"Tapi otot kerbau yang membelenggu tangan kencang sekali, aku rasa tidak
gampang untuk memutuskannya" kata Buyung Im seng.
Nyo Hong ling segera tersenyum. "Tak menjadi soal" katanya "Asal menggunakan
ilmu penyusut tulang, tidak sulit untuk melepaskan ikatan otot kerbau tersebut
dari tangan, tapi dewasa ini aku tak akan melepaskan ikatan pada tangan kalian
itu"
Buyung Im seng lantas berpaling ke arah Tong Thian hong sambil bertanya.
"Saudara Tong, kau bisa menggunakan ilmu menyusut tulang?"
Tong Thain hong gelengkan kepalanya berulang kali.
"Siaute belum pernah melatih kepandaian seperti itu!" Buyung Im seng lantas
menengok ke luar, tampak dua buah lentera tergantung dimulut pintu penjara dan
menerangi lima enam jengkal di sekeliling pintu tersebut.
Melihat itu, sambil tersenyum lantas ujarnya: "kim Cok kuatir sekali kalau kita
kabur, sekalipun dia berhasil menangkap kita tapi pikirannya justru makin gundah
dan tidak tenang oleh sebab itu dia berusaha secepatnya menghantar kita pergi,
aku pikir kita bisa jadi akan dipisah-pisah, bila otot kerbau yang membelenggu kita
sekarang tidak dilepas, andaikata besok terjadi suatu perubahan, kita akan
terlambat untuk melepaskan diri dari belenggu ini"
Nyo Hong ling termenung sebentar, kemudian katanya: "Jika belenggu itu kita
lepas dalam sekilas pandangan saja orang akan mengetahui akan hal itu. Begini
saja! Akan kuberi kalian seorang sebilah pisau kecil yang kalau digenggam
ditangan tak sampai ketahuan mereka, seandainya ditengah jalan kita menjumpai
hal-hal diluar dugaan dan tak bisa saling menolong segera patahkan otot-otot
kerbau tersebut dengan pisau itu"
"Ya, tampaknya memang kita harus berbuat demikian"
Tiba-tiba sepasang tangan Nyo Hong ling yang terbelenggu itu menyusut dengan
sendirinya, ketika tangannya digoyangkan berulang kali, maka tali itupun lolos
dengan sendirinya.
Meskipun tangannya sudah lolos dari belenggu, namun tali otot kerbau itu masih
tetap utuh seperti sedia kala.
36
Nyo Hong ling segera merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan tiga pisau
yang amat tajam, sambil diserahkan ke tangan tiga orang itu, katanya sambil
tertawa:
"Pisau ini terbuat dari besi baja yang telah berusia seribu tahun, tajamnya luar
biasa di pakai memecahkan ilmu khikang sebangsa ilmu Kin ciong kay, Thi pu san
dan lain lainnya aku membawa enam bilah untuk persiapan, aku harap kalian bisa
baik baik menyimpannya dan jangan sembarang dibuang"
Tiga orang itu manggut-manggut dan segera di simpan dalam cekalan tangan.
Nyo Hong ling segera mengerahkan kembali ilmu menyusut tulangnya untuk
mengenakan kembali tali belenggu tangannya itu. Keesokan harinya mendekati
tengah hari Kim Cok, Ong Thi san dengan membawa empat orang anak buahnya
dengan bersenjata lengkap berjalan masuk ke dalam penjara.
Tampak Nyo Hong ling sekalian duduk bersandar di atas dinding batu, selain
Buyung Im seng hampir boleh di bilang yang lain berada dalam keadaan lemas
dengan mata pudar, keadaan mereka seperti orang yang keletihan.
Kim Cok segera tertawa terbahak bahak katanya: "Saudara Ong, bagaimana ?
Tidak meleset dari dugaanku bukan?"
"Menurut pendapatku lebih baik bersikaplah lebih berhati hari!"
X ooOoo X
* BAGIAN KE TIGA *
KIM Cok kembali menggelengkan kepala berulang kali katanya: "Asal seorang
sekali dan dua orang perempuan ini dibiarkan kelaparan barang dua hari lagi,
sekalipun tidak mati juga sudah hampir, bila kita putuskan nanti mereka
kemungkinan besar ketiga orang itu takkan tahu sampai di Seng thong. Satu
satunya yang paling menakutkan adalah Buyung kongcu, tetapi dalam firman yang
kita dapat dengan jelas diterangkan bahwa kita tak boleh melukainya terpaksa kita
harus membawanya dengan kurungan besi ditambah dua buah rantai baja yang
kuat."
Sambil bercakap cakap dengan Kim Cok sepasang mata Ong Thi san tiada hentinya
mengawasi ke empat orang tersebut, ketika kelihatannya otot kerbau yang
membelenggu tangan mereka masih utuh dan tak kelihatan bekas putus, dia baru
menghembuskan napas panjang.
"Mungkin Kim Heng memang benar, siaute yang kelewat banyak curiga!" Sinar
mata Kim Cok segera dialihkan ke tubuh Buyung Im seng kemudian sambil tertawa
katanya:
"Cuma, Buyung kongcu adalah seorang yang tahu gelagat, aku rasa kau pasti tak
akan menyusahkan kami bukan ?" Dengan kemarahan yang berkobar kobar,
Buyung Im seng berkata dingin.
"Kesuksesan yang berhasil dicapai seorang laki-laki sejati didapat dengan
merangkak selangkah demi selangkah, soal kecil itu mah tak akan sampai menodai
namaku"
37
"Benar, benar sekali perkataanmu itu !" kata Kim Cok sambil tertawa, seorang
lelaki sejati dia harus pandai menyesuaikan diri, itulah sebabnya aku minta kongcu
jangan mengacau kami sepanjang jalan nanti " Buyung Im seng mendengus dingin
dan tidak menggubris lagi.
Paras muka Kim Cok berubah hebat, dengan dingin katanya: "Saudara berempat
silahkan keluar ! Buyung kongcu harap berjalan yang paling muka. "Buyung Im
seng bangkit berdiri dan keluar dari penjara dengan langkah lebar.
Empat buah kerangkeng besi yang terbuat dari baja sebesar lengan telah tersedia di
depan pintu, kerangkeng-kerangkeng itu berada dalam keadaan terbuka lebar.
Buyung Im seng langsung masuk ke dalam kerangkeng yang pertama, sedangkan
Nyo Hong ling, Ki Li ji dan Tong Thian hong berurutan masuk pula ke dalam
kerangkeng lain.
"Pasang gembokan !" perintah Kim Cok sambil mengulap tangannya. Ke empat
orang lelaki itu segera mengiakan dan menutup pintu besi, kemudian diberi pula
gembokan besar yang beratnya sekitar lima belas kati. Didalam kerangkeng besi itu
terdapat sebuah kursi, jadi orang yang berada dalam kurungan itu bisa duduk.
"Turunkan tirai!" perintah Kim Cok lagi. Empat orang lelaki itu segera
menurunkan tirai yang sudah dipersiapkan di atas kerangkeng itu sehingga
pemandangan di empat penjuru sama sekali tertutup. Tirai yang diturunkan itu
sangat tebal, sehingga begitu diturunkan maka pemandangan menjadi gelap.
Terdengar Ong Thi san berseru dengan gembira "Kim heng, segala sesuatunya
berjalan amat lancar!"
Kim Cok tertawa terbahak bahak: "Haaah... Haaah... haaahhh... kalau saudara Ong
masih banyak curiga, baiknya siaute menghantar keberangkatan saudara Ong saja"
Tiba-tiba terdengar Ong Thi san berkata dengan suara lantang. Buyung Kongcu,
kami mendapat perintah dari atasan untuk tidak melukai dirimu, tapi dalam surat
perintah tersebut juga diterangkan bahwa andai kata kongcu melawan terpaksa
kami hanya akan menghantar mayat kongcu saja kesana.
Dua belas orang jago lihai lain berilmu tinggi juga membawa bwe-hoa ciam yang
sangat beracun, asal kongcu melakukan tindakan pembangkangan dua belas buah
tabung bwe hoa ciam segera kana memuntahkan enam puluh batang jarum beracun
dari empat arah delapan penjuru, bagaimanapun tingginya ilmu silat kongcu,
jangan harap bisa meloloskan diri dengan selamat"
"Aku sudah mendengarnya"
"Kalau sudah mendengar, itu lebih baik lagi, mari kita berangkat.
Buyung Im seng segera merasakan kerangkeng itu digotong orang bergerak ke
depan. Lebih kurang satu jam kemudian, berputarnya roda kereta beriring maju ke
depan.
Berada dalam keadaan begini, selain ke empat orang itu tak dapat saling
memandang ke arah rekannya, pemandangan di sekeliling tempat itupun tak dapat
dilihat.
38
Diam-diam Buyung Im seng berpikir. Nyo Hong ling memiliki ilmu menyusut
tulang, bisa saja dia melepaskan diri dari belenggu otot kerbau itu secara gampang,
tapi entah bagaimana dengan Ki Li ji dan Tong Thian hong ? Apakah mereka juga
berhasil memutuskan otot kerbau yang membelenggu tangannya..."
Sementara itu dalam hatinya sedang berpikir tiba-tiba iringan kereta kuda itu
terhenti secara tiba-tiba. Menyusul kemudian terdengar seseorang berseru dengan
suara yang keras dan kasar: "Tinggalkan ke empat buah kereta itu, kalian boleh
melanjutkan perjalanan !"
Kim Cok segera tertawa terbahak bahak: "Haah... haaah... hahhhh... sobat, tahukan
kau isi kereta ini ?"
"Sepuluh laksa tahil perak ditambah dengan sepeti barang mustika, kalau kami
tidak mendapatkan infi yang bisa dipercaya, buat apa datang menghadang
kepergian kalian ?"
"Bagus sekali! Sobat, pentang matamu lebar-lebar, perhatikan kami baik-baik,
jangan dianggap kami adalah orang piaukiok, aku orang she Kin sudah puluhan
tahun berkelana dalam dunia persilatan, belum pernah aku makan sesuap nasipun
dari perusahaan pengawalan barang."
Suara yang kasar dan nyaring itu kembali berkata dengan dingin: "Kami tak punya
waktu untuk ribut dengan kalian lagi, jika kamu sekalian tidak meninggalkan
barang-barang kawalanmu, terpaksa kita musti beradu kekuatan lewat ilmu silat."
"Budak-budak yang tak bermata, barang milik sam seng bun juga berani diincar..."
"Trang... !" suatu bentrokan senjata yang keras sekali memotong ucapan Kim Cok
selanjutnya.
Menyusul kemudian terjadilah suatu bentrokan senjata yang keras sekali
berkumandang dari empat arah delapan penjuru.
Jelas pembegal-pembegal itu sudah mempersiapkan orangnya disekitar sana, begitu
perintah penyerangan diturunkan, dua terus menyerbu bersama dari empat
penjuru.
Buyung Im seng merasa amat murung pikirannya. "Entah siapakah mereka ?
Mengapa menganggap kami sebagai uang yang akan dibegal?"
Saking ingin mengetahui keadaan, dia berusaha untuk menarik kain tirai hitam
yang menutup kerangkengnya itu dengan kedua jari tangannya.
Tapi tirai tersebut amat kuat dan sulit disingkap, sebab rupanya kain hitam itu
dikerudungkan dari atas kerangkeng besi itu sampai ke bawah, dengan begitu
sulitlah untuk menyingkapnya.
Buyung Im seng segera menghela napas panjang, perasaan ingin tahunya yang
begitu keras terpaksa hanya ditekan dalam hatinya saja, kain kerudung yang
ditarik tadipun segera dilepaskan kembali.
Karena tak dapat melihat pemandangan di luar, terpaksa dia harus memasang
telinga baik-baik untuk mendengarkan dengan seksama.
39
Terdengar suara bentrokan senjata berlangsung amat seru dan gencar, bahkan
sering terdengar jeritan-jeritan kesakitan yang memilukan hati, jelas pertempuran
yang sedang berlangsung di luar amat seru.
Tiba-tiba terdengar suara ringkikan kuda yang keras, menyusul kereta yang
ditumpanginya itu menerjang ke depan.
Tapi belum sampai beberapa kaki, tiba-tiba kereta itu menumbuk sesuatu dan
terbalik, kerangkeng besi itupun turut terguling keluar dari atas kereta.
Kerangkeng besi itu berguling beberapa kali di tanah dan akhirnya berhenti, tapi
dengan terjadinya peristiwa itu, kain hitam penutup tiraipun segera tersingkap
lebar.
Buyung Im seng mencoba untuk memeriksa keadaan di sekelilingnya, dilihatnya
dua ekor kuda yang menarik keretanya itu sudah roboh terluka parah, kereta itu
sendiri menubruk pohon besar dan terbalik, tampaknya setelah terluka kuda itu
lari kesakitan, akibatnya hilangnya kendali maka kereta itupun menubruk pohon.
Pertempuran sengit masih berlangsung di sekeliling tempat itu, dan orang manusia
berkerudung sedang melangsungkan pertarungan sengit melawan Ong Thi san dan
Kim Cok.
Dua belas lelaki yang mengiringi kereta tawanan itu ada delapan orang di
antaranya yang terluka parah, empat orang sisanya masih memberi perlawanan
yang sengit.
Pelan pelan Buyung Im seng bangkit dan duduk tampak dia tengah mengawasi juga
pembegal tersebut, ternyata mereka semua mengenakan baju ringkas berwarna
hitam dengan wajah masing-masing tertutup oleh kain hitam, senjata yang
digunakan adalah sebilah pedang.
Ada beberapa orang manusia berbaju hitam yang terluka, sekalipun sedang
membalut lukanya, mereka tidak melepaskan kain kerudung mukanya.
Terdengar jeritan-jeritan ngeri kembali berkumandang memecahkan kesunyian,
empat orang pengawal terakhir yang masih memberi perlawanan itu akhirnya kena
ditusuk juga oleh beberapa orang jago pedang berbaju hitam itu sehingga tewas.
Dengan demikian, selain Kim Cok dan Ong Thi san segenap anak buahnya telah
ditumpas habis oleh penyerang-penyerang gelap itu, anehnya ternyata penyergappenyergap
berbaju hitam itu sama sekali tidak mencampuri pertarungan sengit
antara Kim Cok dan Ong Thi san melawan dua orang manusia berkerudung itu,
sambil berpekik nyaring, mereka segera berlalu dari sana.
Buyung Im seng melihat ke arah lain, dia menjumpai ketiga kereta lainnya masih
utuh dan berada ditempat, sedangkan Nyo Hong ling sekalian masih menunggu di
atas kereta.
Sementara dia masih melamun, tiba-tiba terdengar jeritan kesakitan bergema
memecahkan keheningan, tiba-tiba Ong Thia san membalikkan badannya dan
melarikan diri.
40
Tampaknya manusia berkerudung itu telah bertekad untuk melakukan
pembunuhan sampai keakar akarnya, dengan cepat ia mengejar dari belakang.
Tampak Ong Thi san membalikkan tangan sambil melepaskan segenggam jarum
tajam ke belakang.
Manusia berkerudung itu segera memutar pedangnya untuk memukul rontok
jarum-jarum perak itu, tapi karena terhadang sebentar tadi, Ong Thi san telah
memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur empat lima kaki lebih ke depan.
Tampaknya ia sudah mengerahkan segenap kekuatannya untuk secepatnya
melarikan diri, sungguh cepat gerakan tubuhnya...
Manusia berkerudung itu seperti tahu bahwa dikejarpun tak ada gunanya,
sekalipun kurang berkenan dalam hatinya, terpaksa dia hanya bisa memandang
bayangan punggung Ong Thi san hingga lenyap tak berbekas.
Akhirnya dia membalikkan badannya dan ikut terjun karena pertarungan untuk
mengerubut Kim Cok.
Buyung Im seng kembali berpikir dihati: "Manusia berkerudung ini entah berasal
dari mana ? Serangan mereka sungguh amat keji, tampaknya aku tak bisa duduk
termenung sambil memasrahkan diri"
Berpikir di situ, dia lantas mengeluarkan pisau kecil yang disembunyikan dalam
genggamannya itu dan cepat-cepat memotong tali otot kerbau yang membelenggu
tangannya itu.
Baru saja tali otot itu di putuskan dua orang manusia berkerudung itu telah
berhasil membunuh Kim Cok kemudian bersama sama menghampirinya.
Kemunculan kawan manusia berkerudung itu terlalu tiba-tiba, Buyung Im seng
sendiripun tak bisa menentukan mereka adalah kawan atau lawan, terpaksa hawa
murninya dikerahkan keluar sambil bersiap siap menghadapi segala kemungkinan
yang tak diinginkan.
Dua orang manusia berkerudung itu berjalan ke depan kerangkeng besi Buyung Im
seng, kemudian menggerakkan pedangnya mematahkan gembokan di luar, setelah
itu katanya: "Buyung kongcu, silahkan menolong rekan rekanmu dan cepatlah
melarikan diri !" Dengan perasaan tercengang Buyung Im seng segera berpikir.
"Bagus sekali! Rupanya mereka sudah mengenali diriku"
Ketika selesai berbicara tadi, kedua orang itu segera angkat kaki meninggalkan
tempat itu, sedetikpun tidak mau berhenti.
"Hey, harap kalian tunggu sebentar!" teriak Buyung Im seng dengan lantang.
Salah seorang diantaranya tiba tiba mempercepat larinya terbirit meninggalkan
tempat itu.
Sedang lainnya berhenti, tapi ia tidak membalikkan tubuhnya.
"Buyung kongcu, kau masih ada urusan apa lagi?" tegurnya. "siapa namamu?
Mengapa bisa tahu kalau aku ketimpa musibah dan sengaja datang menolongku ?"
Manusia berkerudung itu belum juga membalikkan badannya, dia menjawab:
"Pengaruh dan kekuatan Sam seng bun amat luas, anak buahnya sangat banyak,
41
kini kongcu belum lagi meloloskan diri dari bahaya, maaf jika kami tak bisa
memberikan identitas kami semua, lebih baik kongcu baik-baik menjaga diri, di lain
waktu kau bakal tahu dengan sendirinya, nah selamat tinggal"
Tidak menunggu sampai Buyung Im seng berkata, cepat-cepat orang itu berlalu
dari situ.
Tetapi teringat akan kebaikan orang lain, dia tak tega untuk mengucapkan sesuatu.
Sungguh cepat gerakan tubuh orang itu, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya
sudah lenyap dari pandangan mata.
Memandang punggung bayangan orang itu, Buyung Im seng menghempaskan
napas panjang, baru saja dia akan membuka pintu kerangkeng besinya, tiba-tiba
terdengar seseorang menghela napas dari belakang tubuhnya.
"Aaii...! orang yang membantumu sangat banyak, sayang kekuatan itu bercerai
berai dan tak dapat dipersatukan"
Ketika ia berpaling, tampaklah orang itu tak lain adalah Nyo Hong ling.
Tampak kain kerudung kerangkeng besi lainnya berkarat pula, kemudian tampak
Tong Thian hong dan Ki Li ji berlompatan keluar.
Jelas mereka sudah memotong tali otot kerbau yang membelenggu mereka dan
menerjang keluar dari kerangkeng.
Sambil tertawa rikuh Buyung Im seng lantas berkata: "Orang-orang itu telah
merusak rencana kita! saudara Buyung, dapatkan kau memberitahukan padaku,
siapa gerangan orang-orang itu ?" tanya Tong Hian hong.
"aaii..., kalau kukatakan, mungkin kalian tak akan percaya "
"Kenapa?"
"Sebab seperti juga saudara Tong, aku juga tidak tahu siapakah orang-orang itu?"
Tong Thian hong menjadi keheranan: "Saudara Buyung juga tidak kenal ?"
Dari mimik wajahnya dapat diketahui kalau dia tidak percaya.
"Ucapan Buyung kongcu adalah kata-kata yang jujur." sela Nyo Hong ling, "Dia
sendiri mungkin tak tahu siapa gerangan orang-orang itu."
"Ooooh... !" sekalipun Tong Thian hong tidak banyak bertanya lagi, tapi dari mimik
wajahnya itu tampak sangat tidak puas.
"Asal usul beberapa orang itu tidak sulit untuk diduga." Pelan-pelan Nyo Hong ling
melanjutkan.
"Apakah nona sudah tahu ?"
"Ya, mereka adalah orang-orang Sam seng bun"
"Apa ? Orang-orang Sam seng bun ?"
"Betul, kedengarannya memang agak jengkel, tapi kalau diteliti lebih jauh tidak
sulit untuk memahaminya, kita kan belum sehari ditawan mereka ? Selain orang42
orang Sam seng bun, siapa lagi yang bisa mendengar kabar tersebut demikian
cepatnya ?"
"Benar, dugaan nona memang masuk akal" Tong Thian hong manggut-manggut
tanda setuju.
"Semasa masih hidupnya dulu. Buyung tayhiap adalah seorang yang arif bijaksana,
banyak orang yang pernah menerima budi kebaikannya, meski Buyung tayhiap
tidak membutuhkan balasan tapi mereka yang pernah menerima budinya pasti
ingatnya terus dihati. Semenjak Buyung tayhiap terbunuh, terdesak oleh keadaan
mereka terpaksa menggabungkan diri dengan Sam seng bun, tentu tak sedikit yang
memperoleh kedudukan yang tinggi, maka ketika dapat kabar kalau Buyung Im
Seng tertawan, serentak mereka mengumpulkan rekannya untuk memberi
pertolongan, mungkin juga mereka kenal dengan Kim Cok, maka sengaja mukanya
memakai kerudung hitam, kita tinjau cara kerjanya yang keji tanpa membicarakan
seorang manusia hiduppun, sudah jelas kalau orang-orang itu kuatir rahasianya
terbongkar..."
Kemudian sambil memandang ke wajah Buyung Im Seng, tersenyum sambil
tertawa.
Dia bisa menyebutmu Buyung Kongcu secara langsung, ini menandakan kalau dia
kenal denganmu."
Buyung Im seng tertegun, lalu katanya: "Perkataan nona memang singkat masuk
diakal, cuma mereka telah meninggalkan kembali rencana kita !"
"Di dunia ini memang tiada sesuatu kejadian yang bisa di bilang amat sempurna,
terpaksa kita harus menyusun suatu rencana lain yang lebih baik lagi... !"
"Masih adakah akal lain yang dapat membuat kita menyusup ke dalam perguruan
Sam Seng bun ?"
"Ada sih ada, cuma harus menurunkan derajat saudara Tong dan Buyung Kongcu!"
"apa maksudmu ?" tanya Tong Thian hong.
"Kau dan Buyung kongcu bisa menyamar sebagai kusir kereta dan tergeletak di sini
pura-pura terluka, aku pikir pihak Sam-seng-bun dengan cepat akan mengirim
orangnya kemari. Meskipun kedudukan kalian tidak terlalu tinggi, tapi berhubung
cuma kamu berdua yang hidup demi memberikan pertanggungan jawab,
kemungkinan besar kalian akan dibawa ke Seng-Thong"
"Akal ini memang bagus, tapi bagaimana dengan Hoa-cu serta nona Ki ?"
"Kami akan menyaru sebagai kalian berdua dan sengaja munculkan diri beberapa
kali agar memancing perhatian orang-orang Sam-Seng-bun, kemudian baru
mencari kesempatan lain untuk menyusup ke dalam Seng-thong mereka..."
"Ehmm...! Ini dinamakan sekali tepuk dapat dua hasil, selain bisa membuat orang
orang Sam-seng-bun mengira Buyung Kongcu dan pelayannya sudah kabur, juga
dapat menghilangkan kecurigaan kepada kami"
"Inipun bisa membuka kesempatan buat kita untuk menyusup ke dalam lembah
tiga malaikat" Nyo Hong ling menambahkan.
43
"Setelah menyusup ke dalam lembah tiga malaikat, apa yang harus kami lakukan?
Bagaimana mengadakan kontak ? Harap nona mengatur segala sesuatunya lebih
dahulu."
Nyo Hong ling termenung sebentar, kemudian jawabnya: "Bagaimanakah keadaan
dalam Sam-seng-bun, aku sendiripun tidak tahu, apa yang harus kalian lakukan
lebih baik hadapi saja menurut keadaan waktu itu, sedang soal mengadakan kontak
aku pikir tidak perlu, sebab bagaimanapun rahasianya cara kita mengadakan
kontak, bisa jadi akan diketahui orang-orang Sam seng bun"
"Maksud nona dapat kupahami, setelah kami masuk ke dalam lembah tiga
malaikat harus bekerja dengan kepandaian masing-masing untuk mengatasi
kesulitan bukan ?"
"Yaa, inilah suatu pertaruhan, bahkan pertaruhan yang amat besar, kita sama
sekali tidak memiliki keyakinan untuk menang, tapi kita harus menyerempet
bahaya dengan mengandalkan kecerdasan serta keberanian kita sendiri." Buyung
Im-seng menghela napas panjang.
"Aaai... kalau aku yang menempuh bahaya ini, hal mana sudah sepantasnya, tapi
Tong heng dan nona berdua... "
"Aku bukan demi kau, aku berjuang demi Biau hoa bun ku sendiri" tukas Nyo
Hong-ling, kalau kita tidak melawan kekuatan Sam-seng-bun, tak nanti Sam-sengbun
akan melepaskan kami, itulah sebabnya kau tak usah merasa sungkan."
"Tapi Tong-heng kan tidak ada sangkut pautnya dengan persoalan ini, agaknya dia
tak perlu untuk turut menyerempet bahaya"
Tong Thian-hong memandang sekejap ke arah Ki Li-ji, kemudian katanya:
"Tidak mengapa, sudah lama siaute menaruh perasaan ingin tahunya atas
perguruan Sam-seng-bun tersebut, aku ingin sekali bisa mendapat keterangan yang
lebih mendalam tentang kekuatan itu"
"Tapi terlalu berbahaya!" bisik Ki Li-ji.
"Seorang manusia, bisa hidup sampai seratus tahunpun akhirnya akan mati juga,
bila dapat menyingkap sedikit rahasia tentang kekuatan yang menguasai dunia
persilatan sekarang, sekalipun harus mati juga tak akan menyesal."
Ki Li ji segera tertawa manis. "Kau sangat gagah..." pujinya.
"Nona terlalu memuji."
"Aku berbicara sesungguhnya!" ucapan nona ini lembut dan penuh perasaan cinta.
Nyo Hong ling ikut berkata pula: "Kalau memang saudara Tong memiliki
kegagahan seperti ini, aku rasa saudara Buyung juga tak usah memikirkannya di
hati lagi"
Setelah menghela napas panjang, terusnya: "Dewasa ini kecuali kita beberapa
orang muda, kebanyakan jago-jago tua dan kaum locianpwe mungkin sudah tak
seorangpun yang berani bermusuhan dengan pihak Sam-sen-bun lagi"
Beberapa patah kata ini segera mengobarkan semangat Buyung Im-seng dan Tong
thian-hong, dia saling berpandangan sekejap lalu tertawa
44
Nyi Hong-ling melihat waktu sejenak, kemudian katanya: "Waktu sudah tidak pagi
lagi, kalian harus segera menyaru !"
"Hoa-cu dan nona Ki silahkan melanjutkan perjalanan ! Aku percaya kami masih
sanggup untuk menyelesaikan persoalan ini."
"Aku percaya, dengan kepandaian yang kalian miliki sekarang, sekalipun dikepung
orang-orang Sam-seng-bun, untuk meloloskan diri bukan suatu masalah sukar.
Ingat perkataanku, bila terjadi pertarungan jangan bertarung terlampau lama, kita
hanya ingin tahu letak sarang mereka saja."
(Bersambung ke jilid 3)
45
Lembah Tiga Malaikat
Oleh: Tjan
Jilid 3
Buyung Im-seng menghela napas panjang.
"Asal... andaikata kita gagal untuk menyelidiki keadaan Sam-seng-bun yang
sebenarnya, mungkin di kemudian hari akan susah untuk menemukan kesempatan
sebaik ini lagi."
"Kita menempuh bahaya hanya ingin menyelidiki keadaan musuh untuk
menambah pengetahuan kita dalam menyusun rencana besar kita bukan pergi
untuk mengadu nyawa, maka kalian berdua mesti mengutamakan keselamatan diri
terlebih dulu baru sial menaklukan musuh. Ingat perkataanku ini, nah mari kita
pergi!"
Selesai berkata, Nyo Hong-ling lantas mengajak Ki Li-ji untuk buru-buru berangkat
meninggalkan tempat itu.
Menanti bayangan tubuh kedua orang itu sudah lenyap dari pandangan mata, Tong
Thian-hong dan Buyung Im-seng baru turun tangan untuk menyaru diri, kemudian
mencari mayat kedua orang kusir itu, melepaskan pakaian mereka, menggeserkan
mayatnya ke tempat lain dan memberi beberapa bacokan luka di tubuh sendiri.
Seusai menyaru dan memeriksa sekejap bahwa tiada titik kelemahan yang terdapat
pada diri mereka, kedua orang itu baru membaringkan diri di atas tanah.
"Buyung-heng," bisik Tong Thian-hong, "tahukah kau mengapa nona Nyo suruh kita
menyaru sebagai kusir dan bukannya disuruh menyamar sebagai Busu yang
mengawal kereta?"
"Menurut pendapat saudara Tong?"
"Mungkin lantaran kedudukan seorang kusir kereta itu terlalu rendah,
pengetahuan tentang persoalan dalam suatu kantor cabangpun amat terbatas,
maka lebih mudah mengatasi masalahnya daripada kedudukan yang lebih tinggi...!"
"Siaute juga berpendapat demikian."
46
"Lebih baik kita gunakan kesempatan yang amat singkat ini menganalisa dulu
pertanyaan apa saja yang mungkin mereka ajukan, kemudian diatur jawaban yang
paling baik agar rahasia kita jangan sampai ketahuan...!"
"Tong-heng, memang amat seksama, sungguh membuat siaute merasa sangat
kagum!"
Dengan menggunakan kecerdasan masing-masing kedua orang itu mulai mendugaduga
pertanyaan apa saja yang mungkin diajukan lawan, kemudian dicarikan pula
jawabannya yang tepat.
Baru saja mereka selesai berunding, tiba-tiba terdengar suara derap kuda yang
amat ramai berkumandang datang.
Tempat dimana mereka berdua berbaring dipilihnya tempat yang strategis,
sekalipun mata dipentangkan lebar-lebar juga tidak gampang diketahui orang.
Tampak dua ekor kuda dengan cepat menghampiri tempat kejadian itu, kemudian
bersama-sama melompat turun dari kudanya.
Orang pertama adalah seorang pemuda berusia dua puluh lima-enam tahunan yang
berjubah putih, dia bertangan kosong dan tampak seperti seorang pelajar.
Di belakangnya mengikuti seorang bocah berbaju hijau yang usianya antara enamtujuh
belas tahunan.
Ketika pemuda berbaju putih itu melompat turun dari kudanya tadi, bocah baju
hijau itu buru-buru ikut melompat turun dan menerima tali les kudanya, kemudian
sambil menuntun dua ekor kuda itu dia berjalan mengikuti dibelakang pemuda
berbaju putih itu.
"Tambatkan dulu kuda itu!" bisik pemuda berbaju putih itu dengan suara lirih.
Bocah berbaju hijau itu segera mengiakan dan menambatkan kedua ekor kuda itu
di sebatang pohon, kemudian dari atas pelana dia mengambil sebilah pedang dan
kemudian menyusul pemuda tadi.
Dengan amat teliti pemuda berbaju putih itu memeriksa mayat-mayat tersebut satu
demi satu, ada kalanya dia malah berjongkok sambil memeriksa luka dimulut
mayat.
Lambat laun pemuda berbaju putih itu semakin mendekati dimana Buyung-Imseng
berdua pura-pura menggeletak.
Setelah jarak kedua pihak makin mendekat, Buyung Im-seng baru menetapkan
bahwa pemuda berbaju putih yang tampak halus itu sesungguhnya memiliki sinar
mata yang tajam sekali. Justru karena sinar matanya yang tajam itu, maka
pemuda berbaju putih itu kelihatan keren dan diliputi selapis hawa napsu
membunuh yang amat mengerikan.
Diam-diam Buyung Im seng merasa terkejut segera pikirnya. "Orang ini jelas bukan
manusia baik-baik!"
Sementara itu terdengar pemuda berbaju putih itu berkata dengan suara dingin.
"Cara kerja pihak lawan sungguh amat keji, bila tusukan pertama tidak mematikan
ternyata tusukan kedua menembusi tempat mematikan dari lawannya, aku sudah
memeriksa sembilan sosok mayat, semuanya berada dalam keadaan demikian."
47
Bocah berbaju hijau itu hanya mengiakan belaka, tak sepatah katapun yang
diucapkan.
Mendadak sinar mata pemuda berbaju putih itu menatap ke wajahnya tajam-tajam,
kemudian katanya "Di sana ada orang yang masih hidup, cepat bopong kemari!"
Bocah berbaju hijau itu mengiakan dan buru-buru lari ke depan untuk membopong
tubuh Buyung Im-seng.
Sementara itu Buyung Im Seng sudah menutup sebagian nadinya membuat
pernapasan menjadi lemah, agar orang mengira dia sedang menderita luka yang
parah.
Tiba di depan pemuda berbaju putih itu, pelan-pelan bocah berbaju hijau itu
membaringkan tubuh Buyung Im Seng ke atas tanah.
"Agaknya di sana masih ada seorang yang masih hidup lagi, cepat bawa kemari
juga orang itu!" kata pemuda baju putih itu lagi.
Bocah berbaju hijau itu segera mengiakan tak lam kemudian ia telah membopong
Tong Thian hong kemari.
Pemuda berbaju putih itu hanya mengawasi kedua orang tersebut dengan
pandangan dingin, lama sekali dia tidak berbicara.
Baik Buyung Im seng maupun Tong Thian hong sama-sama menyadari bahwa
mereka telah bertemu dengan seorang musuh yang tangguh, diam-diam mereka
mempersiapkan diri secara baik-baik, untung saja mereka sudah mengadakan janji
lebih dulu sehingga masih bisa menahan diri.
Kurang seperminuman teh kemudian, pemuda berbaju putih itu baru menegur
ketus. "Kalian adalah kusir kereta?"
"Benar!" jawab Tong Thian hong dengan suara yang lemas tak bertenaga. "Kau
dapat bersilat?" "Cuma ilmu silat kasaran!" jawab Tong Thian Hong dengan suara
yang lemas lagi.
Pemuda berbaju putih itu manggut-manggut, kemudian kepada bocah berbaju hijau
itu katanya "Bantu dia dengan sedikit tenaga, aku masih akan menanyakan banyak
persoalan kepadanya."
Bocah berbaju hijau itu mengiakan, dia lantas membangunkan Tong Thian hong
dan menempelkan tangan kanannya di atas jalan darah Mia bun hiatnya.
Tong Thian hong segera merasakan adanya segulung hawa panas yang kuat
menerjang masuk ke dalam tubuhnya, ia merasa amat terkejut, segera pikirnya.
"Seorang bocah saja sudah berilmu setinggi ini, bisa dibayangkan betapa
dahsyatnya tuannya, entah siapakah manusia berbaju putih ini?"
"Sekarang kau sudah bisa berbicara banyak bukan?" tegur pemuda berbaju putih
itu kemudian. Tong Thian hong manggut-manggut. "Ya, benar!"
"Baik, sekarang jawab semua pertanyaanku!"
"Siapa kau?" Tong Thian hong cepat bertanya.
48
"Kim Cok tak pernah membicarakannya denganmu?"
"Tidak!"
"Pemuda berbaju putih itu segera tertawa dingin.
"Siapa pun diriku, yang pasti dalam sekali ayunan tangan saja aku sanggup
merenggut nyawamu."
"Aku mengerti."
"Kalau sudah mengerti itu lebih bagus lagi, sekarang jawab siapa yang
menghadang kalian? Mengapa seluruh orang mati terbunuh? Dan mengapa cuma
kalian berdua yang dibiarkan hidup?"
Tong Thian hong segera berpikir: "Orang ini memiliki sinar mata yang tajam, jelas
tenaga dalam yang dimilikinya amat sempurna, ucapannya juga tajam, ini
membuktikan dia berotak cerdas dan jelas bukan seorang manusia yang gampang
dihadapi..."
Berpikir demikian, dia lantas melirik sekejap ke arah Buyung Im seng yang
berbaring di sisinya, kemudian menjawab.
"Mungkin lantaran mereka anggap hamba cuma seorang kusir kereta, maka
mereka tak sampai melancarkan serangan yang mematikan." Pemuda berbaju putih
itu termenung sejenak, kemudian sahutnya. "Siapa-siapa saja mereka itu? Apakah
kau masih ingat?"
Ketika Tong Thian hong mendengar pemuda berbaju putih itu tidak mendesak lagi
soal tidak terbunuhnya mereka berdua, hatinya menjadi agak lega, jawabnya
segera.
"Semua penyerang menggunakan kain kerudung hitam, hanya sepasang mata
mereka yang kelihatan, senjata yang dipakai adalah pedang. Ketika rombongan
kami baru tiba di situ, mendadak mereka melompat keluar dari tempat
persembunyian dia langsung menyerang kami, sejak awal sampai akhir mereka tak
berkata apa-apa sehingga hamba sendiri tidak tahu siapakah mereka.
"Diantara kalian apakah ada yang berhasil melarikan diri?"
"Waktu itu hamba kena dihajar roboh dari atas kereta lalu terasa seperti kena
sebuah tusukan pedang lagi, kemudian apa yang terjadi tidak hamba pahami,
cuma..."
"Cuma kenapa?"
"Cuma jumlah rombongan kami kan terbatas, asal mayat yang ditemukan dijumlah
semua, bila ada yang kurang itu berarti ada yang berhasil meloloskan diri."
"Berapa orang jumlah rombongan kalian?"
Tong Thian hong segera menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Jika hamba tidak bisa mengetahui kedudukanmu lebih dulu, sekalipun kau bunuh
aku juga tak akan banyak bicara."
Pemuda berbaju putih itu mengawasi wajah Tong Thian hong dekat-dekat,
kemudian bertanya.
49
"Kim Cok itu apa kalian?"
"Toucu!"
"Ia yang bertemu dengan akupun akan tundukkan kepala dan munduk-munduk...!"
Mendengar itu, Tong Thian hong terus berpikir. "Tampaknya kedudukan orang ini
tinggi sekali, entah siapa namanya? Aku tak boleh berlagak pintar, dari pada
ketahuan rahasianya."
Berpikir sampai di situ, pelan-pelan dia terus berkata: "Kedudukanmu sudah pasti
amat tinggi, tapi hamba rendah kedudukannya, entah sebutan apa yang harus
hamba gunakan?"
Di atas wajah sang pemuda yang dingin segera terlintas sekulum senyuman,
sahutnya: "Hoat-lun-tong tongcu, pernah mendengarnya dari Kim Cok?"
Tong Thian hong pura-pura merasa terperanjat, segera serunya: "Oh... rupanya
adalah seorang tongcu, hari ini hamba benar-benar terbuka matanya."
Dengan lagaknya itu, pemuda berbaju putih itu malah menjadi percaya penuh
dengan kedudukannya, tidak menegur lagi, sambil tertawa tanyanya.
"Berapa orang rombongan kalian?"
"Dengan dipimpin sendiri oleh Kim dan Ong dua orang Tuocu, ada dua belas orang
jago yang mengiringi, ditambah kami empat orang kusir kereta, jumlahnya menjadi
dua belas orang."
Pemuda berbaju putih itu segera berpaling sekejap ke arah bocah berbaju hijau
seraya berkata: "Coba kau periksa, ada berapa mayat ditemukan?" Bocah berbaju
hijau itu mengiakan dan segera melaksanakan perintah tersebut.
Tak lama kemudian dia datang melapor: "Lima belas sosok mayat ditambah mereka
berdua yang masih hidup, jumlahnya tujuh belas orang, ada seorang meloloskan
diri."
"Siapakah yang melarikan diri?"
"Tidak nampak mayat Ong Thi san Ong toucu!" Tong Thian hong yang mendengar
tanya jawab itu, segera berpikir kembali.
"Mereka kenal dengan Ong Thi-san berarti kenal juga dengan setiap orang yang
berada dalam perkampungan Kim Cok, aku musti berhati-hati dalam menjawab
semua pertanyaan selanjutnya."
Dalam pada itu, pemuda berbaju putih tersebut sudah memandang sekejap
sekeliling tempat itu, kemudian tanyanya lagi.
"Tinggalkan lambangku di sana, suruh mereka mengubur baik-baik semua jenasah
tersebut, kemudian baru melacaki jejak dari Ong Thi san"
"Bagaimana dengan kedua orang ini?" tanya bocah berbaju hijau itu kemudian.
Oran berbaju putih itu termenung sebentar kemudian jawabnya.
50
"Aku masih harus menanyakan beberapa persoalan lagi, coba kau periksa apakah
ke empat buah kereta itu masih ada yang beroda dan bisa dipakai lagi, masukkan
dia ke dalam kereta dan kita angkut pergi dari sini."
Sekali lagi bocah berbaju hijau itu mengiakan dan pergi untuk membuat persiapan.
Selang sejenak kemudian, bocah itu sudah muncul kembali sambil memberi
laporan: "Ada sebuah kereta yang masih dapat dipergunakan!"
"Bagus! Masukkan mereka ke dalam kereta tersebut..."
Tiba-tiba ia merendahkan suaranya dan berbisik.
Andaikata Tong Thian hong dan Buyung Im ceng mau mengerahkan tenaga
dalamnya untuk menyadap pembicaraan tersebut, kendatipun bisikan orang
berbaju putih itu amat lirih, dengan kemampuan dia yang sanggup menangkap
suara jatuhnya daun dari beberapa puluh kaki itu tak sulit untuk menyadap
pembicaraan tadi.
Akan tetapi mereka berdua tak berani berbuat demikian, sebab terhadap orang
berbaju putih itu mereka menaruh kewaspadaan yang besar, mereka tak berani
menyadap pembicaraan tersebut dengan mengerahkan tenaga dalam, sebab kuatir
ketahuan rahasianya.
Usia bocah berbaju hijau itu belum terlalu besar, tapi tenaga yang dimilikinya
sangat mengagumkan, dengan satu tangan mengempit sesosok badan, ia berjalan
menuju ke arah kereta dan memasukkan kedua orang itu ke dalam ruang kereta.
Sesudah itu katanya: "Harap kalian berdua baik-baik menjaga diri, kalau ada
permintaan yang mendesak harap memberitahukan kepadaku!"
Seusai berkata dia lantas menurunkan tirai di atas kereta.
Tong Thian hong dan Buyung Im seng saling berpandangan sekejap, kemudian
tersenyum bersama.
Dengan ilmu menyampaikan suara, Buyung Im seng lantas berbisik.
"Saudara Tong, tampaknya mereka akan membawa kita menuju ke ruang Sengthong."
"Orang berbaju putih itu tidak gampang dihadapi" sahut Tong Thian hong dengan
ilmu menyampaikan suara juga. "Sedangkan bocah berbaju hijau itupun seorang
manusia licik yang susah dilayani, kita musti bersikap lebih berhati-hati, jangan
terlalu gegabah, memanfaatkan kesempatan ini kita musti pelihara tenaga sebaikbaiknya,
tak usah perdulikan lagi mau dibawa kemanakah kita ini."
"Ehm.. betul juga perkataan saudara Tong!" sahut Buyung Im-seng kemudian.
Ia lantas memejamkan mata dan mengatur napas untuk mengumpulkan kembali
tenaganya.
Betul juga, bocah berbaju hijau itu kerap kali mengintip lewat celah-celah tirai
untuk memperhatikan gerak-gerik mereka berdua, tapi setelah menyaksikan tidur
mereka yang begitu nyenyak dan tidak mirip seseorang yang berilmu silat,
kewaspadaan mereka tampaknya agak mengendor.
51
Entah berapa saat sudah lewat, ketika kereta itu berhenti berjalan, waktu senja
telah menjelang tiba.
Bocah berbaju hijau itu tidak memperkenankan kedua orang itu turun dari
keretanya, semua makanan dan minuman dihantarkan masuk sampai ke dalam
kereta. Tak lama kemudian perjalanan kembali dilanjutkan, rupanya mereka
bermaksud untuk melanjutkan perjalanan malam.
Kali ini Buyung Im-seng merasa bahwa kereta itu berjalan lebih cepat lagi, tak
tahan dia lantas mengintip lewat balik tirai, ternyata kuda penghela kereta itu
telah ditukar dengan tiga ekor kuda jempolan. Melihat kesemuanya itu dia lantas
berpikir dihati.
"Tak lama setelah berhenti, secara gampang mereka dapat menukar kuda, daya
pengaruh dari Sam-seng bun ini betul-betul sudah meluas sampai di seantero
jagat..."
Demikianlah, perjalanan kereta dilanjutkan siang malam, bukan kecepatannya
semakin tinggi, baik Buyung maupun Tong Thian hong sama-sama tak tahu ke
arah manakah mereka dibawa dan sudah berapa lama perjalanan dilakukan.
Suatu ketika hanya menangkap suara deburan ombak yang amat keras dari tepi
sungai besar. Terdengar bocah berbaju hijau itu sedang berkata dengan dingin.
"Luka yang kalian berdua derita tidak terlampau parah, setelah beristirahat sekian
lama tentunya bisa melakukan perjalanan sendiri bukan...?"
00OO00
BAGIAN KE EMPAT
"Saudara ada urusan apa? Silahkan disampaikan!" Tong Thian hong segera
berkata.
"Sekarang kalian boleh keluar!"
Tong Thian hong mengiakan dan menyingkap tirai melompat keluar dari ruangan
kereta.
Dengan pandangan dingin, bocah berbaju hijau itu menatap Tong Thian hong
sekejap, kemudian tegurnya lagi. "Mengapa dengan yang satunya?"
"Luka yang dideritanya jauh lebih parah dari pada luka yang ku derita, gerakgeriknya
otomatis jauh lebih lamban." Buyung Im-seng yang masih berada dalam
kereta dapat menangkap pembicaraan itu dengan amat jelasnya, pelan-pelan dia
lantas merangkak turun dari kereta.
Ketika mendongakkan kepalanya, maka tampaklah sebuah perahu layar telah
berlabuh di tepi sungai. Dengan suara dingin bocah berbaju hijau itu kembali
berseru. "Sekarang berdiri dulu kalian di tepi kereta!"
Kemudian dengan langkah cepat dia berjalan menghampiri perahu layar tersebut.
Selang sejenak kemudian, bocah berbaju hijau itu muncul kembali dengan
membawa empat orang lelaki berbaju hitam, katanya "Dua orang itu orangnya!"
52
Ke empat orang lelaki itu memperhatikan Buyung Im-seng dan Tong Thian hong
sekejap kemudian orang yang pertama itu mengeluarkan dua buah handuk panjang
berwarna hitam dan menutupi mata mereka berdua.
Setelah itu mereka dibopong naik ke atas perahu.
Buyung Im seng kembali berpikir.
"Hingga saat ini mereka belum menaruh curiga terhadap kedudukan dan asal usul
kami, tapi sikap mereka masih begitu teliti dan berhati-hati... aiii! Kelihatannya
bukan suatu pekerjaan yang terlalu gampang untuk menyelidiki rahasia mereka."
Ia merasa tubuhnya dibopong orang naik ke atas perahu dan diturunkan dalam
ruangan, kemudian perahu itu menaikkan jangkar dan segera berlayar ke tengah
sungai.
Buyung Im-seng maupun Tong Thian hong sama-sama tidak mengetahui apakah di
sekitarnya ada orang yang sedang mengawasi mereka atau tidak, untuk
menghindari segala hal yang tidak diinginkan, mereka tak berani membuka kain
hitam yang menutupi matanya dan terpaksa cuma duduk tak berkutik saja di situ.
Kurang lebih satu jam kemudian, Buyung Im-seng dan Tong Thian hong kembali
merasakan tubuhnya dibopong orang menuruni perahu itu.
Sampai detik itu, kain hitam yang menutupi mata mereka berdua belum dilepas,
dengan sendirinya mereka pun tak dapat melihat pemandangan disekitar situ, tapi
dalam perasaan mereka berdua, dapat dirasakan kalau tubuh mereka sedang
dibawa menelusuri sebuah jalan setapak yang tinggi rendahnya tak menentu.
Lebih kurang sepertanak nasi kemudian, terasa mereka seakan-akan sedang
memasuki sebuah bangunan rumah.
Menyusul kemudian badan mereka diturunkan di atas pembaringan.
Terdengar seseorang berseru dengan suara dalam.
"Sekarang kamu berdua boleh beristirahat dulu sementara."
Seraya berkata, ia turun tangan melepaskan kain kerudung yang menutupi mata
mereka.
Ternyata tempat itu adalah sebuah ruang rahasia yang sangat kokoh, selain sebuah
jendela kecil dan sebuah pintu, tiada jalan lain yang bisa tembus keluar.
Setelah melepaskan kain kerudung hitam dari wajah Buyung Im-seng serta Tong
Thian hong, kedua orang lelaki itupun tidak banyak bicara lagi, mereka segera
membalikkan tubuh dan keluar dari ruangan itu sekalian merapatkan kembali
pintu ruangan.
Waktu itu fajar belum menyingsing, tapi dalam ruangan tiada cahaya lentera
sehingga suasana amat gelap.
Dengan suara rendah, Tong Thian-hong segera berbisik. "Mungkin lantaran
kedudukan kita terlalu rendah, maka orang-orang itu merasa enggan untuk
bercakap-cakap dengan kita."
"Hal ini menunjukkan kalau permainan sandiwara kita telah berhasil dengan
sukses..." sahut Buyung Im seng, ia lantas bangkit dan melongok lewat jendela.
53
Aneka bunga tumbuh di seputar ruangan tersebut, ternyata ruang rahasia itu
dibangun dalam sebuah kebun bunga.
Pelan-pelan Tong Thian hong juga turun dari pembaringan dan berjalan menuju ke
tepi pintu, setelah diamatinya sebentar dan tidak terdengar suara apa-apa, pelanpelan
dia membuka pintu dan melongok sekejap keluar, tapi kemudian dengan
cepat menutup pintu lagi dan membalik ke atas pembaringan.
"Saudara Buyung!" serunya lirih.
Buyung Im seng berjalan balik ke pembaringan dan duduk, lalu tanyanya
keheranan.
"Ada apa?"
"Mari kira berbaring sambil berbincang-bincang!"
Dua orang itu segera membaringkan diri dan menarik selimut untuk menutupi
badan.
"Menurut saudara Buyung, kita berada dimana sekarang?" tanya Tong Thian hong
kemudian.
"Ditengah sebuah kebun bunga, lamat-lamat ada sebuah bayangan bukit
dikejauhan sana, tapi jelas bukan bukit Toa-ho-san ditengah sungai...!"
"Sampai detik ini aku baru betul-betul merasa kagum atas kehebatan Sam-seng
bun, mereka memang sangat luar biasa."
"Apa maksud perkataanmu itu?"
"Sam-seng bun telah menyembunyikan sebagian besar kekuatannya diantara
kehidupan masyarakat, petani, nelayan dan perkampungan bahkan tempat-tempat
semacam itupun kemungkinan besar adalah markas besar mereka... aaii. Jika
ditinjau dari kesemuanya ini, aku jadi beranggapan bahwa letak Sang Chung
sesungguhnya bukan sesuatu yang penting."
"Ucapan saudara Tong ada benarnya juga, cuma Sam-seng-tong adalah letak
kepercayaan mereka semua, aku rasa ditempat itu pasti memiliki sesuatu
kemampuan yang bisa menaklukan hati orang."
"Sekalipun perkataanmu betul, tapi kalau dilihat keadaannya jelas kita tak akan
dikirim menuju ke Seng tong mereka, rupanya Sam seng bun tersebut bukan saja
merupakan suatu organisasi yang sangat rahasia, tindak tanduk merekapun sangat
hati-hati dan teliti, sekalipun terhadap orang sendiri, penjagaan juga dilakukan
secara berlebihan. Aku rasa hal pertama yang harus kita lakukan adalah mencari
tahu lebih dahulu dimanakah kita berada sekarang."
"Aku berpikir orang berbaju putih yang kita jumpai tadi adalah seorang Tongcu, dia
mengirim kita kemari, itu berarti tempat ini sudah pasti bukan suatu tempat
sembarangan."
"Makanya kita harus selidiki dulu."
"Tapi bagaimana caranya untuk melakukan penyelidikan itu?"
54
"Dalam sekilas pandangan tadi, kusaksikan kebun bunga itu diatur secara rapi
teratur sekali, ini membuktikan bahwa tuan rumah tidak saja bukan jago silat
kasaran, ia juga seorang manusia yang cerdas dan pandai mempergunakan
otaknya, sepintas lalu tempat ini seakan-akan tanpa penjaga, ada suatu yang
diandalkan untuk menjaga keamanan di sini, sebentar kita boleh keluar untuk
melihat-lihat kalau bisa ingat baik-baik letak kebun ini serta bisa menemukan
bagian-bagian yang mencurigakan, sehingga bila melakukan operasi malam nanti,
kita sudah mempunyai rencana yang baik."
"Sikap orang-orang itu terhadap kita berdua amat menghina dan memandang
rendah, aku kuatir kita dilarang meninggalkan ruangan ini dan melihat lihat ke
kebun."
"Kalau sampai demikian, terpaksa kita harus menghadapinya menurut keadaan!"
"Sstt... ada orang datang!" tiba-tiba Buyung Im seng berbisik.
Tong Thian hong juga segera merasakan hal itu, buru-buru ia menutup mulut dan
tidak berbicara lagi.
Terdengar suara langkah manusia berkumandang datang, menyusul kemudian
pintu ruangan dibuka orang.
Seorang lelaki berbaju hijau memelihara jenggot kambing dan berdandan seorang
congkoan, pelan-pelan masuk ke dalam, setelah memperhatikan mereka sekejap,
katanya.
"Bagaimana dengan keadaan luka yang kalian derita?"
Suaranya lembut dan nadanya ramah, bahkan tiada hentinya manggut-manggut
sambil tersenyum. Tong Thian hong tahu manusia yang termasuk dalam tipe
manusia "siau-li-cong-to" (menyembunyikan golok dibalik senyuman) adalah
manusia yang berbahaya sekali, mereka bisa membunuh orang sementara
senyuman ramah masih menghiasi di ujung bibir.
Maka sahutnya dengan cepat.
"Luka yang hamba derita itu sudah sembuh." Orang berbaju hijau itu lantas
berpaling ke arah Buyung Im seng kemudian tanya lagi.
"Bagaimana dengan keadaan lukamu?"
"Luka yang hamba derita agak parah, sampai sekarang belum sembuh sama
sekali."
"Baik! Kalau begitu, tinggallah di sini untuk beristirahat dengan tenang...!"
Sorot matanya segera dialihkan ke wajah Tong Thian hong, kemudian katanya lagi.
"Kau bisa turun untuk berjalan sendiri?"
"Kalau dipaksakan mah bisa!"
"Kalau begitu, ikutlah aku!"
Tidak menanti jawaban dari Tong Thian hong lagi, dia lantas membalikkan badan
dan berjalan keluar.
55
Pelan-pelan Tong Thian-hong turun dari pembaringannya lalu mengikuti di
belakang orang berbaju hijau itu menuju ke luar.
Dengan begitu dalam ruangan tersebut tinggal Buyung Im-seng sorang diri.
Lebih kurang setengah jam kemudian Tong Thian hong baru nampak pelan-pelan
berjalan kembali, pintu lantas ditutup dan ia langsung naik ke atas pembaringan.
"Saudara Tong, ada apa? Kenapa begitu lama?" Tegur Buyung Im seng kemudian.
Dengan wajah serius Tong Thian hong segera menjawab.
"Bila dugaanku tidak salah, agaknya orang itu sudah menaruh curiga kepada kita,
aaii Sam-ceng-bun betul-betul tak boleh dianggap enteng."
"Apa sih yang sebenarnya telah terjadi?"
Mereka telah memanggilku menghadap, di situ hampir setengah jam lamanya aku
diperiksa dan ditanyai dengan pelbagai macam pertanyaan."
"Siapa yang memeriksa dirimu itu?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu."
"Apakah kau tak melihat si pemeriksa itu?"
"Tidak, tempat itu merupakan ruangan yang sangat besar dan lebar, ditengah
ruangan terdapat sebuah kursi, orang berbaju hijau itu suruh aku duduk di atas
kursi itu kemudian berlalu. Setelah itu dari belakang tirai gelap berkumandang
suara pertanyaan, ia minta agar aku menjawab semua pertanyaannya, sayang tirai
tersebut sangat tebal dan gelap sehingga susah untuk mengetahui orangnya."
"Apa saja yang dia tanyakan?"
"Banyak sekali termasuk juga kisah sewaktu kita diserang dan juga keadaan
didalam perkampungan Kim Cok-ceng wan!"
"Padahal banyak yang tidak kita ketahui, bagaimana caramu untuk menjawabnya?"
"Tidak tahupun harus menjawab juga, ada sementara persoalan terpaksa harus
kujawab secara samar-samar."
"Benarkah jawabanmu itu?"
"Entahlah orang itu cuma bertanya dan sama sekali tidak membantah sepatah
katapun, jadi apakah jawabanku itu betul atau salah bahkan aku sendiripun tidak
tahu."
"Kalau begitu kita musti bersikap lebih berhati-hati lagi."
"Betul mulai sekarang kita harus bersikap lebih berhati-hati lagi, malam ini kita
keluar lebih dulu untuk melihat jalan keluar di depan sana, kita harus
mempersiapkan dulu jalan mundurnya sehingga setiap saat bisa kabur dari sini."
Buyung Im-seng manggut-manggut.
"Ucapan nona Nyo ada betulnya juga, kita memang tak boleh terlalu menyerempet
bahaya."
56
"Ssstt... ada orang datang lagi!" bisik Tong Thian ong tiba-tiba. Buyung Im seng
cepat menutup mulut. Pintu didorong orang dan seorang dayang muda masuk
sambil membawa rantang berisi makanan.
Mereka berdua tidak menyangka kalau orang yang mengirim nasi adalah seorang
perempuan, untuk sesaat mereka menjadi tertegun dibuatnya. Pelan-pelan dayang
itu meletakkan keranjang makanan ke meja kemudian katanya.
"Makanlah lebih dulu!" Kemudian ia membalikkan badan dan keluar dari sana.
"Nona harap tunggu sebentar!" tiba-tiba Tong Thian hong berseru sambil melompat
bangun.
Dayang itu berhenti sambil berpaling, tegurnya.
"Ada apa?"
"Aku ingin menanyakan sesuatu kepada nona."
"Bukankah aku sudah berdiri di sini?" seru dayang itu dingin. "Kalau ada urusan
cepat utarakan."
Tong Thian hong mendehem pelan, lalu katanya: "Nona mau mengirim nasi untuk
kami, sesungguhnya hal ini membuat kami berdua merasa amat berterima kasih."
Setelah mendengar perkataan ini, bukan saja dayang tersebut merasa sangat
keheranan, sekalipun Buyung Im-seng juga merasa tidak habis mengerti pikirnya.
"Bukankah sikapnya itu jelas tampak kalau tiada perkataan sengaja mencari
perkataan?"
Betul juga, sambil tertawa dingin dayang itu segera menjawab. "Tak usah
berterima-kasih, aku hanya mendapat perintah untuk mengantar makanan buat
kalian."
"Apakah nona dapat perintah dari hujin?"
"Eeeh... apakah kau kenal dengan nyonya kami?" Sesungguhnya Buyung Im-seng
sendiripun tak tahu permainan busuk apakah yang sedang dijalankan oleh Tong
Thian-hong, terpaksa dia hanya berpeluk tangan saja.
Kedengaran Tong Thian hong berkata lagi. "Hamba mohon kepada nona agar juga
menyampaikan kepada hujin, katakan bila secara tiba-tiba hamba telah teringat
akan suatu persoalan yang sangat penting, tapi persoalan itu harus disampaikan
sendiri di hadapan nyonya."
Dayang itu tampak termenung sejenak, lalu sahutnya. "Sayang hujin tak ada
dirumah!"
"Cuma boleh saja kusampaikan pesanmu itu kepada nona kami."
"Baiklah bila nona bersedia menyampaikan pesan ini, seandainya cayhe membuat
pahala nanti, nona pasti akan mendapat satu bagian."
Dayang itu kembali termenung beberapa saat, kemudian tanpa bicara lagi segera
berlalu dari sana. Menanti si dayang sudah pergi jauh, Buyung Im seng baru
berbisik, dengan suara lirih. "Saudara Tong sesungguhnya apa maksud dan tujuan
dengan tindakan itu?"
57
Tong Thian hong segera tersenyum.
"Sewaktu siaute mendapat pemeriksaan didalam ruangan tadi, secara lamat-lamat
kurasakan suara si pemeriksa adalah suara seorang perempuan, akan tetapi
berhubung nada suaranya waktu itu sangat rendah, siaute pun cuma mendengar
sepatah maka aku tak berani terlalu memastikan, maka ketika kulihat dayang itu
mengirim nasi buat kita, satu ingatan lantas melintas dalam benakku, maka
sengaja ku pancing dirinya dengan kata-kata, ternyata dugaanku tidak meleset, di
sini memang terdapat seorang perempuan yang memegang kekuasaan besar."
"Oooh... Kiranya begitu!" sekarang Buyung Im-seng baru dibuat mengerti akan
tujuan rekannya.
"Dewasa ini kebebasan kita telah dikendalikan orang, maka kita harus berusaha
untuk membuka suatu suasana yang baru."
"Tapi bagaimana caranya?" Tong Thian hong segera menempelkan bibirnya di sisi
telinga Buyung Im seng dan membisikkan sesuatu. Buyung Im seng tersenyum
sesudah mendengar bisikan itu.
"Baiklah!" dia berseru. Tak lama kemudian, dayang itu benar-benar telah muncul
kembali di situ seraya berkata.
"Nona kami mempersilahkan kalian berdua untuk menghadap."
Tong Thian hong segera bangkit berdiri, katanya: "Hamba sih masih bisa berjalan
sendiri, tapi luka yang diderita saudara ini amat parah, harap nona bersedia untuk
memayangnya."
Dayang itu segera mengalihkan sinar matanya ke tubuh Buyung Im seng, sesudah
memperhatikannya beberapa kejap, dia menegur.
"Apakah kau tak bisa berjalan sendiri?"
"Untuk berjalan hamba merasa kurang leluasa!" sahut Buyung Im seng dengan
cepat. Mendengar itu si dayang segera mengerutkan dahinya.
"Baiklah!" ia berkata kemudian. Ternyata wajah Buyung Im seng penuh berminyak
campur debu, bajunya juga kotor oleh noda darah, dayang itu kuatir mengotori
tangannya yang halus.
Buyung Im seng segera bangkit berdiri, tanpa sungkan-sungkan tangannya yang
sebelah menekan di atas dayang tersebut, meski tak mengerahkan tenaga dalam,
tapi hampir semua bobot badannya disandarkan ke atas badan dayang tersebut.
Dayang itu memalingkan wajahnya yang halus untuk menengok Buyung Im seng
sekejap, kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun berjalan menuju ke depan.
Tong Thian hong segera mengikuti di belakang Buyung Im seng dengan ketat.
Tampaknya dayang itu merasakan amat jemu terhadap Buyung Im seng, selembar
wajahnya ditengokkan jauh ke muka, seakan-akan kuatir kalau pipinya yang putih
dan bersih itu sampai tersentuh badan Buyung Im seng yang kotor.
Dengan demikian justru telah memberi suatu kesempatan yang baik buat Buyung
Im seng untuk memperhatikan di sekeliling tempat itu.
58
Ternyata tempat itu adalah sebuah kebun bunga yang luas, di tengah kebun
terdapat gunung-gunung dengan aneka bunga tumbuh di sekelilingnya, suasana
sangat indah dan megah.
Dayang itu membawa mereka menelusuri jalan setapak menuju ke depan ruang
tengah yang dibangun sangat megah, kemudian sambil menarik bahunya dan
mengibaskan lengan Buyung Im seng yang bersandar di atas bahunya itu ia
berkata dingin.
"Sudah sampai! Kalian tunggu sebentar di sini."
Dengan langkah pelan dia lantas masuk lebih dulu ke dalam ruangan megah itu.
"Bersabar sedikit!" Tong Thian hong segera berbisik.
Buyung Im seng manggut-manggut sebagai tanda jawaban.
Tak lama kemudian dayang itu telah muncul kembali sambil berkata dengan
dingin.
"Kalian boleh masuk!"
Tong Thian hong segera mengulur tangannya untuk memayang Buyung Im seng
dan pelan-pelan berjalan masuk ke dalam ruangan.
Ruangan tersebut sangat luas dengan dekorasi serta perabot yang mewah dan
indah, tirainya berwarna merah darah, empat buah pot bunga terletak ditengah
ruangan, dua pot ditanami bunga berwarna merah dan dua yang lain berwarna
putih, membuat suasana dalam ruangan tersebut tampak lebih nyaman.
Cukup dilihat dari dekorasi dalam ruang tersebut, bisa diketahui kalau rumahnya
seseorang yang tahu akan seni.
Sambil menunjuk dua buah bangku yang diletakkan berjajar ditengah ruangan,
dayang itu berseru.
"Kalian boleh duduk disitu!"
Tong Thian hong dan Buyung Im seng berdua segera mengiakan dan duduk dikursi
yang ditunjuk.
Pelan-pelan dayang itu baru membalikkan badannya seraya berkata.
"Lapor nona, kedua orang itu sudah tiba."
Tirai bergoyang-goyang, seorang gadis cantik berbaju hijau segera munculkan diri
ke dalam ruangan.
TOng Thian hong dan Buyung Im seng segera mendongakkan kepalanya dan
memandang wajah gadis itu sekejap, kemudian cepat-cepat kepalanya ditundukkan
kembali.
"Kalian adalah anak buah Kim Cok?" suara teguran yang merdu segera
berkumandang.
"Benar!" jawab Tong Thian hong sambil memberi hormat, "cuma sayang
kedudukanku sangat rendah!"
Nona berbaju hijau itu manggut-manggut.
59
"Siapa yang sedang kalian kawal pada waktu itu?" tanyanya kembali.
"Buyung kongcu serta seorang pelayannya dan dua orang Hoa-li dari perguruan
Biau hoa-bun"
"Soal itu semua sudah ku ketahui, bukankah kau mengatakan masih ada urusan
penting yang akan disampaikan kepadaku? Entah persoalan apakah itu?"
"Tentang Buyung kongcu..."
"Kena apa dengan Buyung kongcu? Apakah sudah kau temui?" seru nona berbaju
hijau itu gelisah.
"Sebenarnya Kim cengcu bisa menggusur Buyung kongcu kemari, siapa tahu ia
ditengah jalan ditolong orang."
"Hmm! Aku tidak percaya dengan kepandaian silat yang dimiliki oleh Kim Cok
serta Ong Thi san, mereka berhasil menangkap Buyung kongcu!"
"Bagaimanakah macam bentuk wajahnya?"
Tong Thian hong berpaling dan memandang sekejap ke arah Buyung Im seng,
kemudian menjawab.
"Wajahnya tampan sekali, ia duduk di atas keretanya, maka ia lebih jelas daripada
hamba, bila nona ingin mengetahui yang lebih jelas lagi, silahkan bertanya sendiri
kepadanya."
Betul juga, nona itu segera mengalihkan sinar matanya ke wajah Buyung Im seng.
"Siapa namamu?" tegurnya kemudian.
"Hamba bernama Kim Hok!"
"Benarkah Buyung kongcu naik keretamu?"
Terpaksa Buyung Im seng harus menganggukkan kepalanya.
"Benar!"
"Coba kau bayangkan bagaimanakah wajahnya!" Buyung Im seng merasa serba
salah, tapi dalam keadaan begini terpaksa ia harus keraskan kepala sambil
menjawab.
"Dia masih sangat muda, lebih kurang baru berusia dua puluhan tahunan..."
"Konon ilmu silatnya sangat lihai, bagaimana cara majikan kalian menawannya?"
"Hamba kurang jelas, mungkin mencampuri arak dan sayurnya dengan obat
pemabuk!"
"Aku sudah tahu kalau Kim Cok dan Ong Thi san sudah pasti tak akan mampu
menangkap Buyung kongcu bila harus mengandalkan ilmu silat yang mereka
miliki." Sesudah berhenti sebentar terusnya. "Ketika kalian diserang orang
ditengah jalan, apakah Buyung kongcu menderita luka?"
"Orang-orang itu memotong borgol dan melepaskan Buyung kongcu, kejadian
selanjutnya kurang begitu jelas, sebab waktu itu hamba sudah kena dihajar sampai
pingsan."
60
Nona berbaju hijau itu manggut-manggut, sinar matanya dialihkan kembali ke
wajah Tong Thian hong.
"Hanya soal-soal itukah yang hendak kau laporkan?" tegurnya.
"Selain itu juga akan hamba terangkan kemana Buyung kongcu telah pergi!"
"Ia pergi kemana?"
"Waktu itu luka yang hamba derita kebetulan agak ringan, pendengaran hamba
belum hilang sama sekali, dalam pembicaraan yang kemudian berlangsung, hamba
dengar orang-orang itu hendak membawa Buyung kongcu menuju ke suatu tempat
yang dinamakan Jit seng po (benteng tujuh bintang)..."
"Jit seng po? Dimana itu letaknya?" tanya si nona dengan kening berkerut.
"Soal itu mah hamba kurang begitu jelas."
"Masih ada yang lain?"
Tong Thian hong segera menggeleng.
"Sudah tidak ada lagi, barusan hamba merasa hal ini sangat penting maka hamba
berusaha untuk menghadap."
"Hmmm! Memang sangat penting, untuk sementara waktu jangan kau katakan soal
itu kepada siapapun!"
"Akan hamba ingat selalu!"
"Kau perintahkan ke dapur untuk menyiapkan arak dan sayur yang baik agar
mereka bersantap sekenyangnya, kemudian beri obat sian-hoat-wan untuk
menyembuhkan luka mereka!"
Selesai berkata, dia terus membalikkan badan berjalan masuk ke balik tirai.
Dayang itu segera memandang sekejap ke arah mereka berdua, katanya dingin.
"Sekarang kalian boleh kembali ke ruangan!"
Tong Thian Hong segera bangkit berdiri sambil membimbing Buyung Im seng,
katanya. "Saudara Kim, mari ku bimbing dirimu!"
Buyung Im seng segera bangkit berdiri, dengan dibimbing oleh Tong Thian hong
mereka berlalu dari sana.
Sekembalinya ke dalam ruangan, Buyung Im seng bertanya dengan suara lirih.
"Saudara Tong, dimana sih letaknya Jit-seng-po itu?"
"Sebenarnya apa yang telah terjadi? Semakin mendengar siaute merasa semakin
tidak habis mengerti."
"Sengaja kuajukan sebuah persoalan sulit untuk mereka, ingin kulihat dengan cara
apakah mereka akan mengatasi masalah itu."
"Maksudmu?"
"Siaute pernah mendengar ayahku membicarakan soal Jit-seng-po tersebut, konon
di atas loteng itu tinggal seorang manusia aneh yang lurus tidak sesatpun tidak, ia
bergelar Jit-seng-jiu (tangan sakti tujuh bintang) orangnya aneh dan suka hidup
menyendiri, selama ini tak berhubungan dengan dunia persilatan, cuma sayang
61
ketika ayahku membicarakan soal ini dengan beberapa orang temannya, siaute
cuma tahu kepalanya tak tahu buntutnya. Tapi justru karena itu, siaute baru bisa
berbicara dengan kata yang serius dan bersungguh-sungguh."
Buyung Im seng segera tersenyum setelah mendengar perkataan itu.
"Ide mu sih bagus, Ehmmm sayang kau telah mencelakai Jit-seng-jiu tersebut."
"Bila seseorang hidup menyendiri dengan watak yang aneh serta tak pernah
berhubungan dengan orang lain, dibalik kesemuanya itu tentu ada hal-hal yang
mencurigakan, kalau dibilang orang itu adalah seorang manusia baik-baik aku rasa
hal ini belum tentu."
"Paling tidak dia toh suka hidup menyendiri daripada bersekongkol dengan pihak
Sam-seng-bun."
"Dalam sarang yang porak poranda tiada telur yang utuh, bila Jit-seng-jiu masih
ingin hidup tenang dalam suasana dunia persilatan yang serba kalut ini, sudah
sepantasnya kalau kita suruh dia mencicipi bagaimana rasanya bila dikunjungi
tamu tak diundang."
Tiba-tiba Buyung Im seng merasa persoalan ini tidak baik dibicarakan lebih jauh,
dia lantas mengalihkan pembicaraan kesoal lain, katanya.
"Saudara Tong, menurut pendapatmu apakah kedudukan nona berbaju hijau itu di
sini?"
"Kalau dilihat dari keadaan tadi, tampaknya dia adalah adik dari tuan rumah."
"Yaa, akupun berpendapat begitu."
"Aku lihat nona itu seperti menaruh perhatian khusus terhadap saudara Buyung."
Buyung Im seng segera tertawa, katanya. "Mungkin pihak Sam seng bun telah
mengumumkan hadiah besar bila bisa menangkap diriku, maka setiap orang ingin
agar bisa membekuk hidup-hidup diriku."
"Orang takut menjadi ternama, Sam seng bun memang terlalu memandang serius
diri Buyung heng, tapi otak dari kesemuanya ini tidak menyangka kalau
perbuatannya itu justru telah menciptakan saudara Buyung menjadi lambang dari
seorang ksatria, semua orang berusaha untuk menangkap dirimu dengan harapan
bisa menaikkan derajat dan martabat mereka dimata masyarakat."
Kemudian sambil merendahkan suaranya, dia melanjutkan: "Seperti misalnya
dengan nona itu, mungkin dihati kecilnya juga muncul keinginan untuk bisa
menangkap dirimu, tapi dia lebih berharap bisa bersua muka denganmu, walau
begitu dia tentu tak akan menyangka kalau Buyung kongcu yang sangat
diharapkan itu justru telah berdiri di hadapan mukanya."
"Bagaimana jalan pemikiran orang, kita tidak bisa mencampurinya, yang paling
penting sekarang adalah bagaimana caranya kita mengadakan kontak dengan nona
Nyo, kemudian bagaimana pula caranya kita menyelusup masuk ke dalam Sengtong?"
62
"Sekarang kita sudah berada dalam lingkungan musuh, sesungguhnya tiada
peraturan khusus yang mengatur gerak-gerik kita, aku rasa lebih baik kita turun
tangan lebih dulu dari tubuh si nona berbaju hijau itu."
"Tapi, bagaimana caranya turun tangan?"
"Aku sendiripun belum mendapatkan sesuatu akal yang bagus, dewasa ini terpaksa
kita harus menghadapi keadaan menurut situasi saat itu."
Baru Buyung Im seng ingin bicara lagi, tiba-tiba di luar ruangan terdengar ada
suara langkah kaki manusia sedang berjalan mendekat, dengan cepat mereka tutup
mulut.
Pintu segera dibuka orang dan dayang itu pun masuk ke dalam ruangan.
"Apakah nona ada sesuatu petunjuk?" Tong Thian hong segera melompat bangun
sambil menegur.
Si nona yang selama ini bersikap dingin, tiba-tiba mengulum sekulum senyuman,
sahutnya:
"Nona kami suruh aku menghadiahkan dua butir pil untuk kalian berdua, pil ini
berharga sekali, dan paling mujarab untuk menyembuhkan segala macam
penyakit."
Dari sakunya dia mengeluarkan dua butir pil dan segera diangsurkan ke depan.
Sambil menyambut kedua butir pil itu, Tong Thian hong menyahut, "Terima kasih
nona!"
"Setelah minum obat dan beristirahat barang dua jam, akan kukirim sayur dan
arak untuk kalian berpesta pora, saat itu kesehatan kalian tentu akan pulih
kembali seperti semula."
"Budi kebaikan nona tak akan kami lupakan untuk selamanya."
"Mungkin nona kami masih ada urusan lain hendak disampaikan kepada kalian
berdua, sampai waktunya aku akan datang mengabarkan lagi kepada kalian."
Seusai bicara, dia lantas membalikkan badan dan berlalu dari ruangan itu.
Tong Thian hong segera berpaling dan memandang sekejap ke arah Buyung Im
seng, kemudian bisiknya. "Kelihatannya urusan telah mengalami perkembangan
lain!"
"Ia menghadiahkan obat kepada kita dengan tujuan untuk cepat-cepat
menyembuhkan luka yang kita derita, dengan kedudukan kita dalam Sam seng bun
sekarang, seharusnya tak perlu mendapatkan perhatian khusus darinya, apakah
kejadian ini tidak mencurigakan?"
Mendengar perkataan itu, tiba-tiba Buyung Im seng melompat ke depan secepat
kilat, tangan kanannya segera menyambar ke muka melancarkan sebuah
cengkeraman.
Terdengar keluhan tertahan, tahu-tahu dayang tadi sudah diseret masuk kembali
ke dalam ruangan.
63
Rupanya dayang tadi setelah pergi telah balik kembali kesana dan mencuri dengar
pembicaraan mereka.
Tak disangka sama sekali, ternyata ilmu meringankan tubuh yang dimiliki dayang
itu amat sempurna, hal mana mengakibatkan baliknya kembali dayang itu sama
sekali tak terdengar oleh Buyung Im seng maupun Tong Thian hong.
Akan tetapi disaat tubuhnya berkelebat lewat dari celah-celah pintu itulah,
bayangan tubuhnya tak berhasil lolos dari ketajaman mata Buyung Im seng.
Dengan suatu gerakan yang amat cepat Buyung Im seng berhasil menangkap
dayang itu dan menyeretnya masuk ke dalam ruangan.
Tong Thian hong yang menyaksikan kejadian itu diam-diam merasa terkejut
bercampur kagum, pikirnya "Kalau dilihat dari kepandaian silatnya itu, agaknya
dia masih jauh lebih tangguh daripada kepandaianku."
Ternyata sejak Buyung Im seng mempelajari ilmu pukulan dan ilmu pedang yang
diwariskan ayahnya, kepandaian silat yang dimilikinya telah memperoleh
kemajuan yang pesat, apalagi dibantu oleh Nyo Hong-ling yang lihai itu,
menyebabkan ilmu silatnya bertambah pesat lagi majunya. Setelah diseret masuk
ke dalam ruangan, dayang itu segera mendongakkan kepalanya dan memandang
sekejap ke arah Buyung Im seng, kemudian berseru keras.
"Lepaskan aku!"
Buyung Im seng tertawa hambar.
"Nona berapa banyak yang berhasil kau sadap dari pembicaraan kami tadi?"
tegurnya.
Dayang itu tidak menjawab pertanyaan yang diajukan Buyung Im seng, sebaliknya
malah tanya.
"Siapa kau?"
"Jika nona masih ingin hidup, lebih baik jangan banyak bertanya kepadaku."
"Aku tak percaya kalian benar-benar berani membunuhku!" "Kenapa kau tak
percaya?" tanya Tong Thian hong.
"Sebab nona kami sudah tahu bahwa aku datang kemari untuk menyampaikan obat
buat kalian, jika dalam seperminuman teh aku belum kembali juga, ia pasti akan
curiga, dan waktu itu dia pasti akan datang kemari untuk melakukan
pemeriksaan."
Mendengar itu Tong Thian hong segera tersenyum: "Kiranya begitu, cuma nona
sudah salah menghitung akan satu hal..."
"Soal apa?"
"Setelah jejak kami ketahuan, seandainya kami lepaskan nona, kami juga tak dapat
melepaskan diri dari sini, tentunya kau bisa memahami bukan bagaimana jika
seseorang sudah nekat karena cemas?"
Dayang itu menjadi termangu.
64
"Kalau begitu, kalian bertekad akan membunuh diriku?" Serunya agak gemetar.
"Itu mah belum tentu."
"Cepat kalian katakan, apa yang harus kulakukan?"
"Nona sendiri saja yang mencari akal untuk tidak membocorkan rahasia kami, asal
akalmu itu dapat membuat kami menjadi percaya maka kamipun pasti tak akan
mencelakai dirimu."
"Kalau aku sudah mengatakan tak akan bicara, yaa tak akan bicara, tapi kalau
kalian tidak mau percaya juga, lantas apa yang harus kulakukan?" Selama ini
Buyung Im seng tidak mengucapkan sepatah katapun, padahal dalam hatinya
sedang berpikir bagaimana caranya untuk menghadapi dayang tersebut.
Pelbagai akal sudah dia pikirkan, akan tetapi tidak sebuahpun yang berkenan
dihatinya, tanpa terasa dia lantas menghela napas panjang.
"Aaaiii... tampaknya, sekalipun kau tak akan kubunuh, paling tidak jalan darahnya
juga musti ditotok!"
"Ya, sekalipun musti ditotok paling tidak juga lebih mendingan daripada mati",
sahut dayang itu dengan sedih. Setelah manggut-manggut katanya lebih jauh.
"Baiklah! Jika kalian tak mau percaya juga silahkan menotok jalan darahku!"
"Kelihatannya nona pandai sekali untuk menyesuaikan diri." seru Tong Thian hong
kemudian. Sesudah berhenti sejenak dengan suara dingin: "Kami ingin mengajukan
beberapa buah pertanyaan kepada nona, bila kau bersedia untuk menjawab dengan
sejujurnya mungkin saja kami akan melepaskan diri nona."
"Baik, tanyalah!"
"Tempat manakah ini? Siapa nama tuan rumah di sini? Dan apa pula kedudukan
nona berbaju hijau itu?"
"Tempat ini bernama Cing-hong-po (bentangan sejuk), kepala kampungnya
bernama Im-hui, sedang nona kami adalah adik perempuan Im pocu...!"
"Apakah hubungan tempat ini dengan Sam seng po?" "Tempat ini adalah salah satu
kantor cabang dari Sam seng bun!" "Siapakah nama nonamu?" "Mau apa kau
menanyakan namanya?"
Tong Thian-hong segera merasakan paras mukanya menjadi panas dan agak
memerah karena jengah, tapi segera sahutnya.
"Tentu saja aku mempunyai tujuan tertentu!" "Ia bernama Im Siau-gwat!"
"Saudara Buyung, bagaimana kalau kita lepaskan dia?" tiba-tiba Tong Thian hong
berkata.
Buyung Im seng tertegun kemudian sahutnya.
"Ya, lepaskan!"
Seraya berkata dia lantas membebaskan dayang itu dari pengaruh totokan...
"Nona, siapa namamu?" tanya Tong Thian hong lagi. "Aku bernama Ciu Peng!"
"Nona aku ingin memberitahukan hal kepadamu." "Persoalan apakah itu?"
65
"Seorang manusia hanya bisa mati satu kali, oleh karena itu aku harap nona bisa
baik-baik menjaga diri!"
Ciu peng berpikir sebentar kemudian sahutnya: "Aku lagi heran kenapa kalian
bersedia melepaskan aku dengan begitu saja, tanpa melakukan sesuatu di atas
badanku?"
Sinar matanya segera menyapu sekejap wajah Tiong Thian hong dab Buyung Im
seng, kemudian melanjutkan: "Apakah kalian berdua bersedia menerangkan asal
usul kalian yang sesungguhnya?"
"Nona, besar amat nyalimu!" seru Tong Thian Hong dengan alis mata berkernyit.
Ciu Peng segera tersenyum: "Bukankah kau yang berkata sendiri, seorang hanya
bisa mati sekali...?" Sinar matanya segera dialihkan ke wajah Buyung Im seng,
kemudian lanjutnya.
"Kepandaian silat yang kau miliki sangat lihai, jauh berbeda dengan kawanan
persilatan biasa, bila dugaanku tidak salah, seorang diantara kalian berdua pasti
merupakan Buyung kongcu."
Dengan satu lompatan kilat, Tong Thian hong menghadang di depan pintu ruangan,
lalu katanya dingin.
"Nona terlalu cerdik, orang cerdik sukar berumur panjang."
Sikap Ciu Peng amat tenang, sama sekali tidak nampak gugup atau gelagapan,
setelah menghembuskan napas panjang, kembali ujarnya.
"Jika dugaanku salah, kalian berdua tak akan marah dan gugup sekarang." "Justru
karena dugaanmu benar, maka kau harus mati!" "Siapa yang merupakan Buyung
Kongcu?" "Aku..." jawab Buyung Im seng dingin. Pelan-pelan tampak tangan
kanannya diangkat ke udara.
Ciu Peng yang menyaksikan paras mukanya amat serius, lagi pula tangan yang
diayun ke atas berat bagaikan ada bandulan seberat ribuan kati, segera mengerti,
bila serangan itu diayunkan ke bawah, niscaya kekuatannya luar biasa sekali.
Buru-buru serunya dengan cepat.
"Budak mendapat perintah rahasia untuk menyambut kedatangan Buyung kongcu."
Buyung Im seng agak tertegun setelah mendengar ucapan itu.
"Kau mendapat perintah dari siapa?" tegurnya.
(Bersambung ke jilid 4)
66
Lembah Tiga Malaikat
Oleh: Tjan
Jilid 4
“Pangcu kami!”
“Kau dari perkumpulan Li-ji-pang (Perkumpulan putri-putri)?” bisik pemuda itu.
“Benar!”
“Darimana pangcu kalian bisa tahu kalau aku akan datang kemari?”
“Ia tidak tahu, tapi sejak beberapa bulan berselang budak mendapat perintah
rahasia untuk memperhatikan Buyung kongcu, apabila kau mendapat bahaya maka
budak harus berusaha untuk memberi pertolongan.”
“Kalau begitu, nona juga menyelundup kedalam Sam-seng bun sebagai mata-mata?”
Ciu Peng segera mengangguk.
“Budak sudah lima tahun bercokol di tempat ini, bahkan mendapat kepercayaan
penuh dari nona Im, seandainya bukan menghadapi urusan penting, pangcu tidak
memperkenankan budak untuk mencapurinya, dari pada rahasiaku ketahuan.”
“Nona mempunyai bukti apa yang menunjukkan bahwa kau benar-benar anggota
perkumpulan Li-ji-pang?” tanya Tong Thian hong.
BAGIAN KELIMA
“Sukar untuk dibuktikan, sekalipun bisa kubuktikan belum tentu kalian mengerti,
bila aku orang Sam-seng-bun, apalagi setelah menaruh curiga kepada kalian
berdua, tidak nanti akan kudatangi tempat ini seorang diri untuk menyerempet
bahaya, persoalan ini pasti akan kulaporkan kepada nona lebih dulu.”
“Nona pernah berjumpa dengan pancu kalian?” pelan-pelang Buyung Im seng
bertanya.
“Kedudukanmu didalam perkumpulan tidak rendah, kenapa belum pernah
berjumpa dengan pangcu?”
67
“Ehmm… bagaimana wajah pangcu kalian?”
“Ciu Peng segera tersenyum. Ia sebentar jelek sebentar cantik, wajahnya susah
diikuti”, Buyung kongcu bertanya begini kepadaku, apakah kau pernah berjumpa
dengan pangcu kami..? ia berpikir dalam hati.
“Betul, aku memang pernah bersua dengan pangcu kalian.”
“Apa saja yang pernah pangcu bicarakan denganmu?” tanya Ciu Peng tersenyum.
“Dia mengajarkan kepadaku agar mau bekerja sama dengannya, tapi aku belum
menyanggupinya.”
Ciu Peng termenung sejenak, kemudian katanya sambil tertawa. “Aku tak dapat
berdiam terlalu lama disini, semoga kalian berdua baik-baik menjaga diri, budak
akan pergi dulu.”
Seusai berkata dia lantas membalikan badan dan beranjak meninggalkan tempat
itu.
Dengan termangu-mangu Buyung Im seng dan Thian hong memperhatikan
bayangan punggung Ciu Peng hingga lenyap dari pandangan mata jauh didepan
sana.
Tong Thian hong segera berbisik kepada Buyung Im seng. “Saudara Buyung, bisa
dipercayakah orang itu?”
“Apa yang dikatakannya memang benar semua, aku rasa tak mungkin ada
persoalan.”
“Kalau orang tidak memikir jauh kedepan tentu ada kesedihan didepan mata, jika
budak itu menipu kita sehingga membocorkan rahasia kita berdua, apa yang
saudara Buyung siap lakukan?”
“Bila keadaan terlalu mendesak, terpaksa aku akan bertarung melawan mereka.”
“Benar! Kita boleh menggunakan kesempatan ini untuk melenyapkan kantor
cabang mereka dan melakukan pembunuhan secara besar-besaran.”
“Baik! Sampai waktunya kita boleh menghadapi menuruti situasi waktu itu.”
Setelah merundingkan cara yag paling baik untuk mengatasi keadaan, perasaan
mereka berdua malah menjadi lega, maka merekapun memejamkan mata untuk
mengatur pernapasan.
Lebih kuran sepertanak nasi kemudian, Ciu Peng dengan membawa dua orang
pelayan datang menghidangkan sayur dan arak.
Ciu Peng memandang kearah mereka berdua, lalu bisiknya. “Kalian boleh
bersantap dengan lega hati.”
Kemudian dengan membawa kedua orang itu berlalu dari ruangan tersebut.
Sepeninggal dayang itu, Tong Thian Hong mendehem pelan, lalu katanya lirih,
“Saudara Buyung, biar siaute mencicipi lebih dulu hidangan ini, jika ada racunnya,
maka saudara Buyung tak usah makan.”
“Tidak, lebih baik aku yang makan dulu.”
68
Mereka berdua segera turun tangan bersama melahap hidangan itu, setelah
bersantap kedua orang itu baru salaing berpandangan dan tertawa geli.
Setengah harian lewat dengan cepatnya.
Mendekati malam harinya, Ciu Peng mucul kembali dalam ruangan rahasia itu
sambil berbisik.
“Congcu kami telah pulang!”
“Lihaikah ilmu silat yang dimiliki cengcu kalian itu?” tanya Tong Thian hong.
“Ya, kungfunya sangat lihai, bukan cuma tinggi saja kepandaiannya bahkan cerdik,
licik dan banyak tipu muslihatnya, harap kalian suka bertindak berhati-hati.”
“Bagiamana berhati-hatinya?”
“Aku rasa malam nanti kalian berdua pasti akan melakukan sesuatu tindakan,
kuanjurkan kepada kalian lebih baik jangan sembarangan bergerak…”
Tong Thian Hong dan Buyung Im seng saling berpandangan sekejap, dalam hati
kecilnya mereka berpikir bersama.
“Cerdik betul budak ini!”
Tidak mendengar jawaban dari kedua orang itu, sambil tertawa ewa kembali Ciu
Peng berkata.
“Apa yang ingin berdua ketahui, aku dapat memberitahukan kepada kalian, dan
aku rasa kalian tak usah menyerempet bahaya dengan percuma.”
“Kami ingin mengetahui letak Sam seng tong, apakah nona tahu letak tempat itu?”
tanya Tong Thian hong.
“Waah.. baru pertanyaan yang pertama saja aku sudah dibikin kesulitan untuk
menjawab.” seru Ciu Peng sambil menghela napas. “Sudah banyak tahun aku
tinggal disini, banyak sudah yang kuketahui tentang perkampungan itu, tapi aku
tak pernah berhasil mengetahui letak Sam seng tong mereka, pangcu kami pun
berunlang kali mengajukan pertanyaan ini, tapi aku selalu gagal untuk memberi
jawaban.”
“Menurut apa yang kuketahui, agaknya Sam seng tong terletak dibukit Tay hu san
apa benar?”
“Tempo dulu akupun berpendapat demikian, tapi setelah memulai penyelidikan
seksama kutemukan bahwa Sam seng tong agaknya bukan berada dibukit Tay hu
san, seandainya diatas bukit iut benar-benar terdapat Sam seng tong maka jelas
tempat itu merupkan sebuah perangkap untuk menjebak orang.”
Tong Thian hong termenung sejenak lalu bertanya lagi.
“Apakah kedudukan cengcu dari perkampungan ini di dalam perkumpulan Sam
seng tong?”
“Salah seorang dari Sam toa tongcu, menurut kalian bagaimana kedudukannya?
Mungkin selain ketiga malaikat Sam seng, kedudukan mereka berada diurutan
kedua.”
69
“Aku ingin bertanya lagi pada nona,” sambung Buyung Im seng, yang dimaksudkan
sebagai Sam seng bun (perguruan tiga malaikat) tentunya diselenggarakan oleh
tiga orang, apakah nona juga mengetahui siapakah nama mereka?”
“Kalian berdua benar-benar sangat lihai, pertanyaan kedua kembali membuatku
sukar menjawab, kalau didengar nama perguruannya, semestinya perkumpulan itu
dipimpin tiga orang, tapi benarkah begitu, mungkin hanya beberapa orang saja bisa
menjawab.”
“Dengan kedudukan cengcu dari perkampungan ini apakah diapun tidak tahu?”
desak Buyung Im seng.
“Aku tak dapat bertanya kepadanya, dia sendiripun tak akan membicarakannya,
dari mana aku bisa tahu?”
“Selama banyak tahun ini, apakah nona pernah berhasil menemukan sebuah titik
terang?”
“Tidak!”
Buyung Im seng merenung sebentar, kemudian tanya lagi.
“Apakah tuan rumah ditempat ini seringkali berada dirumah?”
“Yang membuat orang tidak habis mengerti justru terletak disini, dia sebagai
seorang tongcu yang berkedudukan tinggi, seharusnya sering berada dalam
ruangan Sam seng tong tapi di dalam kenyataannya dalam satu tahun ada setengah
tahun dia berada dirumah.
“Benarkah demikian?”
“Benar! Selama beberapa tahun ini diam-diam budak berusaha untuk
menyelidikinya, akan tetapi aku tak pernah berhasil untuk menemukan dimana
letak alasannya.”
“Mungkin mereka mempunyai cara lain untuk mengadakan pertemuan.” sela Tong
Thian hong.
“Benar, cuma saja kami tak punya akal yang baik untuk menyelidiki persoalan ini
sejelasnya.”
Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan: “Cuma, aku tahu mereka seringkali
berhubungan surat dengan melalui merpati pos.”
“Aku dengar Sam seng bun memang amat ahli didalam menggunakan merpati pos,
tampaknya kita haru turung tangan lewat hal tersebut.”
“Baik! Pembicaraan kali ini sampai disini dulu, aku tak bisa berdiam terlalu lama
disini, semoga kalian berdua baik-baik menjaga diri, akupun berharap kalian mau
percaya dengan perkataan budak, jangan sembarangan melakukan gerakan,
mungkin kalian tepat sekali kedatangan untuk ikut menyaksikan suatau
keramaian.”
“Keramaian apa?”
“Sekarang aku sendiripun kurang jelas!” seusai berkata nona itu segera beranjak
pergi.
70
Sepeninggal dayang itu, Tong Thian hong berkata lirih.
“Walaupun Ciu Peng hanya berkedudukan sebagai dayang, tapi dia adalah seorang
manusia yang amat cerdas dengan pikiran yang cermat, kita tak boleh bersikap
terlalu pandang enteng terhadap dirinya.”
“Dia mengakui sendiri kalau kedudukannya dalam perkumpulan Li ji pang tidak
rendah kelihatannya ucapan tersebut bukan kata-kata bualan belaka.”
“Ia bilang kedatangan kita mungkin bertepatan dengan akan terjadinya suatu
keramaian entah apa yang dia maksudkan?”
Mungkin apa saja pada malam nanti ada orang yang akan datang menyatroni
tempat ini?
“Yang membuat kita tak habis mengerti kecuali kita, masih ada siapa lagi yang
bernai memusuhi orang-orang Sam seng bun?”
“Soal ini mah sulit untuk dibicarakan, bukankah orang-orang yang ingin menolong
kita ditengah jalan kemarin adalah musuh-musuh dari Sam Seng bun? Mereka juga
memusuhi pihak Sam seng bun, cuma saja tak berani memperlihatkan nama serta
kedudukan yang sebenarnya.”
Tong Thian hong termenung sejenak, lalu katanya, “Benar juga perbatasan saudara
Buyung kalau toh Ciu Peng tidak memperkenankan kita melakukan suatu gerakan
pada malam ini, mugkin saja ia telah memperoleh sesuatu kabar berita penting.
Tampaknya mau tak mau kita harus menuruti juga perkataanya itu…” Kata
Buyung Im seng.
Setelah berunding sebentar, mereka berdua lantas memutuskan untuk menuruti
anjuran Ciu Peng dan berdiam saja dalam kamar sambil menanti terjadinya
perkembangan selanjutnya.
Mereka berdua lantas duduk bersila diatas pembaringan sambil mengatur
pernapasan.
Kentongan kedua sudah lewat, akan tetapi tidak juga terjadi sesuatu peristiwa,
Tong Thian hong mulai agak tak sabar lagi, dengan suara lirih segera bisiknya.
“Saudara Buyung mungkin berita yang diperoleh Ciu Peng belum tentu benar, kau
berjaga-jagalah dalam ruangan ini, bagaimana kalau aku keluar untuk melakukan
pemeriksaan?”
“Lebih baik tunggu saja sebentar lagi, jika selewatnya kentongan kedua belum
terjadi sesuatu juga, saudara Tong baru keluar mencari keterangan.” Barus selesai
dia berkata, mendadak terdengar suara desingan angin tajam mendesis diluar
ruangan.
Tong Thian hong segera bangkit berdiri sambil berbisik: “Kau memeriksa dari
depan jendela, akan kulihat keadaan dari tepi pintu.”
Buyung Im seng segera bangkit berdiri dan melongok keluar dari daun jendela.
Tampak sesosok bayangan manusia secepat sambaran kilat meluncur keluar dari
balik gunung gunungan dan melayang ke bawah, lalu melompat kesuatu tempat
yang tak jauh dari ruang kecil itu.
71
Orang itu memakai baju serba hitam dengan wajahpun dibungkus kain hitam,
hanya sepasang matanya saja yang tampak, ia bersenjata sebilah pedang. Malam
itu adalah malam yang tak berbulan, dibawah cahaya bintang secara lamat-lamat
masih dapat terlihat pemandangan diluar ruangan tersebut.
Buyung Im seng menyaksikan orang itu hanya berada lebih kurang satu kaki dari
ruangan mereka berada, dengan cepat dia menutup semua pernapasannya. Tibatiba
terdengar suara teguran dingin berkumandang dari balik bangunan beberapa
kaki didepan sana.
“Lepaskan senjatamu!”
Mendengar teguran tersebut, Buyung Im seng menjadi tertegun, segera pikirnya.
“Sepintas lalu kebun bunga ini tampak tenang dan sepi, ternyata dibalik aneka
bunga tersebut telah dipersiapkan penjagaan yang sangat ketat, sungguh sesuatu
yang diluar dugaan.”
Sementara itu, orang berbaju hitam itu tidak menjawab, tiba-tiba ia menghimpun
tenaganya dan melompat kedepan, kemudian melayang naik keatas ruangan kecil
itu.
Pada saat yang bersamaan ketika orang berbaju hitam itu melayang naik keatap
atap, dua batang anak panah dengan membawa desingan angin tajam telah
menyambar.
“Plook! plook!” dua batang anak panah itu segera ditangkis oleh ayunan pedang
orang berbaju hitam itu sehingga rontok ke bawah.
Dari tempat Buyung Im Seng berada sekarang, sulit baginya untuk melihat
keadaan diatas atap rumah, tapi berdasarkan ketajaman pendengarannya ia tahu
dengan pasti bahwa orang berbaju hitam itu sudah melayang turun di atas atap
rumah.
Tampaklah dari balik bebungaan didepan sana, segera melayang keluar dua sosok
bayangan manusia yang segera menerjang kearah ruangan kecil itu.
Baru saja Buyung Im Seng akan duduk, mendadak… “Blaamm!” pintu kamar itu
diterjang orang sehingga terpentang lebar. Pada saat yang bersamaan ketika pintu
itu ditendang orang, dengan suatu gerakan yang sangat cepat Buyung Im Seng
menjatuhkan diri berbaring diatas ranjang.
Ketika Buyung Im Seng menengok kesamping maka tampaklah orang berkerudung
itu sudah menerjang masuk kedalam ruangan dengan langkah lebar, kemudian
menutup kembali pintu ruangan.
Buyung Im Seng kembali berpikir, “Dengan menghindarkan diri masuk kedalam
ruangan ini bukankah orang itu justru telah membawa dirinya masuk perangkap?
Entah apa maksudnya?”
Agaknya manusia berkerudung itu hanya memperhatikan musuh yang ada diluar,
ia tidak menyangka kalau dalam ruangan masih ada orang lain, dengan bersandar
dinding dan menggigit pedangnya dia menggerakkan tangan kanannya untuk
mencabut keluar sebilah anak panah yang menancap dilengan kirinya.
72
Kemudian dengan cepat tangan kanannya merogoh kedalam saku mengeluarkan
secarik sapu tangan untuk membalut lukanya itu.
Ternyata manusia berbaju hitam berkerudung itu telah terluka oleh bidikan panah.
Tiba-tiba Buyung Im Seng teringat dengan Tong Thian hong yang masih berada
didepan pintu, entah waktu itu dia menyembunyikan diri dimana?
Dengan sorot mata tajam dia mencoba untuk mengawasi sekeliling tempat itu, akan
tetapi bagaimanapun ia mencoba, tempat persembunyian Tong Thian hong belum
juga diketemukan.
Ia sudah amat lama berada dikamar gelap sinar matanya waktu itu sudah terbiasa
dengan keadaan gelap, maka pandangan disekitar tempat itu bisa terlihat olehnya
dengan jelas.
Terdengar serentetan suara yang dingin berkumandang datang dari luar ruangan
itu.
“Ruang kecil itu adalah sebuah tempat terpencil, kau sudah tidak ada kesempatan
untuk hidup lebih jauh, jika bersedia untuk melepaskan pedang dan menyerahkan
diri, mungkin selembar jiwamu masih dapat diampuni.”
Dengan suatu gerakan cepat manusia berkerudung itu membungkus lukanya,
kemudian sambil memegang pedanganya tiba-tiba ia melompat maju ketempat
pembaringan.
Pedangnya segera ditodongkan diatas dada Buyung Im Seng, bentaknya dengan
suara lirih, “Bila kau berani berteriak, akan ku renggut nyawamu!”
“Bagus sekali!” pikir Buyung Im Seng, “rupanya ia telah melihat kehadiranku
disini.”
Berpikir demikian ia lantas berkata.
“Sekeliling ruangan ini merupakan tanah kosong yang sangat luas…”
“Aku tahu, paling tidak kau dapat menemani aku untuk berangkat bersama ke
akhirat.”
Buyung Im Seng lantas berpikir, “Entah siapa saja orang ini dengan keberaniannya
untuk menyelidiki perkampungan ini, hal tersebut menunjukkan kalau dia berani
pula memusuhi pihak Sam seng bun, aku harus membantunya secara diam-diam,
tapi… jika aku membantunya berarti rahasiaku akan ketahuan.”
Untuk sesaat lamanya dia menjadi serba salah, dan tak tahu apa yang mesti
dilakukan.
Tiba-tiba terdengar orang berbaju hitam itu membentak lagi. “Lepaskan
pakaianmu!”
“Oh, rupanya dia hendak kabur dengan siasat coberet emas lepas kepompong, cara
ini memang merupakan suatu cara yang baik untuk membantunya meloloskan
diri.”
Berpikir demikian, ia lantas mengiakan.
“Baik!”
73
Baru saja ia akan bangkit berdiri, mendadak terdengar seseorang berseru dengan
suara nyaring: “Pasang lentera!”
Cahaya api memancar keempat penjutu, diluar ruang kecil itu segera muncul
sebuah lentera. Menyusul kemudian pintu dibuka dan sorang manusia baju putih
telah pelan-pelan berjalan masuk kedalam.
Buyung Im Seng segera mengalihkan sorot matanya kedepan, setelah mengetahui
bahwa orang itu tak lain adalah manusia baju putih yang pernah dijumpainya
ketika mereka pura-pura terluka dulu, dengan cepat ia berbaring tak berkutik.
Terdengar orang berbaju putih itu berkata dengan dingin. “Lepaskan senjata yang
ada ditanganmu!”
Ditengah ucapannya yang dingin bagai es itu, membawa suatu kewibawaan yang
membuat orang merasa tak bisa melawan, untuk sesaat lamanya orang
berkerudung itu menjadai tertegun.
Sementara ia sedang tertegun itulah, mendadak orang berbaju putih itu melakukan
suatu gerakan dengan kecepatan bagaikan sambaran petir, tangan kanannya tibatiba
mencengkram pergelangan tangan kiri orang berkerudung itu serta merampas
pedangnya.
Diam-diam Buyung Im Seng merasa terkejut, pikirnya.
“Cepat benar gerakan tangan orang ini!”
Rupanya orang berkerudung itu menyadari bahwa sulit baginya untuk meloloskan
diri, mendadak ia menubruk dada orang berbaju putih itu dengan kepalanya.
Cara bertarung semacam ini adalah suatu siasat pertarungan beradu jiwa, apalagi
jarak kedua belah pihak sangat dekat, orang itupun menyerang secara tidak
terduga semestinya ancaman semacam itu sulit sekali untuk menghindari.
Tapi orang berbaju putih itu memang benar-benar memiliki kepandaian silat yang
luar biasa sekali, tangan kanannya dengan enteng tapi cepat telah menyambut
tumbukan batok kepala orang berkerudung itu, menyudul kemudian dengan suatu
gerakan yang tak terduga dia menyambar cadar hitam yang menutupi wajah orang
itu.
Beberapa buah perubahan itu terjadi amat cepat dan diluar dugaan orang,
“Sreeet…!” terdengar suara mendesis, tahu-tahu kain cadar yang menutupi wajah
orang berkerudung itu sudah tersambar lepas. Selama pertarungan antara orang
berbaju putih melawan orang berkerudung itu berlangsung, tangan kirinya sama
sekali tak bergerak, malah masih memegang lampu lentera seperti sediakala.
Kemampuannya yang tenang bagaikan bukit karang, bergerak secepat sambaran
petir ini sungguh membuat Buyung Im Seng merasa terkejut bercampur kagum.
Tampak sekujur badan orang berbaju hitam itu mengejang keras, mendadak ia
roboh terkapar diatas tanah dan tewas seketika itu juga. Ternyata diantara selasela
gigi orang berbaju hitam itu telah dipersiapkan semacam obat racun yang
bhebat sekali daya kerjanya, begitu keadaan tidak menguntungkan, racun itu
segera digigit lalu ditelan kedalam mulut.
74
Pelan-pelan orang berbaju putih itu membungkukkan badan untuk memeriksa
dengusan napas dari orang berbaju hitam itu, setelah mendengus dingin, pelanpelan
iapun bangkit kembali.
Sorot matanya segera dialihkan kearah wajah Buyung Im Seng, katanya dengan
dingin, “Cukup lama kau berbincang-bincang dengannya?”
“Ya, senjatanya ditodongkan diatas dada hamba…” Buyung Im Seng menerangkan.
Orang berbaju putih itu tertawa dingin.
“Hee… hee… hee.. kau takut mati?” jengeknya ketus.
“Ia sama sekali tidak bertanya apa-apa kepadaku, bila masalahnya penting,
sekalipun hamba harus mati diujung pedangnya juga tidak akan hamba menjawab
pertanyaannya.”
Orang berbaju putih itu kembali tertawa dingin, katanya. “Tentu saja, karena apa
yang dia ketahui jauh lebih banyak daripada apa yang diketahui olehmu, maka dia
tak usah bertanya-tanya lagi kepada dirimu..”
“Kenapa?” tanya Buyung Im Seng tertegun.
“Karena dia sendiripun juga anggota Sam seng bun!”
Buyung Im Seng segera berpura-pura menunjukkan perasaan tercengang
bercampur tidak percaya, serunya. “Sungguhkah ini?”
Orang berbaju putih itu segera mendengus dingin. “Hmm…! Kurang ajar, kau
sedang berbicara dengan siapa? Berani benar begitu kurang adat?”
Buyung Im Seng berusaha keras menekan hawa amarahnya yang sedang berkobar
dalam hatinya, cepat dia berkata berulang kali.
“Hamba pantas mati, hamba pantas mati.”
Orang berbaju putih itu segera mengalihkan sinar matanya memperhatikan
ruangan itu sekejap, kemudian tegurnya.
“Kemana perginya yang seorang lagi?”
Buyung Im Seng sendiripun merasa heran dan tak tahu dimanakah Tong Thian
hong menyembunyikan diri, terpaksa ia menggelengkan kepalanya berulang kali.
“Hamba tidak tahu!” sahutnya.
“Sebelum meninggalkan ruangan ini, apakah dia tidak memberitahukan dulu
kepadamu?”
“Tidak, mungkin dia keluar ketika hamba sudah tertidur tadi!”
Orang berbaju putih itu tidak memperdulikan Buyung Im Seng lagi, sambil
berpaling keluar ruangan, katanya.
“Seret keluar mayat ini!”
Seorang lelaki kekar berbaju ringkas segera masuk ke dalam dan membopong
jenasah dari orang berbaju hitam itu keluar dari dalam ruangan.
Sesudah itu, orang berbaju putih itu baru mengalihkan sinar matanya kewajah
Buyung Im Seng, tegurnya.
75
“Kau kenal dengan Ong Thi-san?”
“Hamba kenal, didalam pertempuran waktu itu, Ong-ya mungkin berhasil lolos dari
musibah.”
“Ya, dia, cuma terluka! Aku telah mengirim orang untuk membawanya kemari,
besok mungkin dia sudah sampai disini.”
Sekalipun Buyung Im Seng merasa amat terperanjat setelah mendengar perkataan
itu, tapi diatas wajahnya sama sekali tidak menunjukkan perubahan apa-apa, rasa
kaget atau takut tidak pula melintas diatas wajahnya itu.
Orang berbaju putih itu gagal untuk menjumpai rasa takut diatas wajah Buyung
Im Seng, maka segera gumamnya seorang diri.
“Setelah Ong Thi san tiba disini, maka rasa curiga dalam hatikupun bisa segera
dibuktikan.”
Dari ucapan tersebut, jelaslah sudah persoalannya, tak bisa disangkal lagi terhadap
kehadiran Buyung Im Seng serta Tong Thian hong orang berbaju putih itu selalu
menaruh perasaan curiga. Tapi Buyung Im Seng berlagak seakan akan tidak
memahami perkataan itu, dia cuma berbaring diatas ranjang dengan sikap yang
sangat tenang sekali.
Tiba-tiba orang berbaju putih itu memutar badan berjalan keluar dari sana, ketika
tiba di depan pintu, mendadak ia membalikan badan seraya berkata.
“Seandainya rekanmu itu masih bisa pulang dalam keadaan hidup, suruh dia baikbaik
berada dalam ruangan, jangan lari kesana kemari secara sembarangan.”
“Akan hamba ingat selalu!” Buyung Im Seng mengiakan.
Sambil menenteng lampu lentera, orang berbaju putih itu baru berlalu dengan
langkah lebar.
Buyung Im Seng tahu bahwa ilmu silat yang dimiliki orang itu sangat lihai, tenaga
dalamnya juga amat sempurna, ia sama sekali tak berani bertindak secara gegabah.
Menanti orang berbaju putih itu sudah pergi jauh, dia baru bangkit berdiri dan
dengan hati-hati sekali mendekati pintu serta melongok keluar. Tampaklah
bayangan manusia secara lamat-lamat kelihatan dibalik semak belukar disekitar
kebun bunga itu, jelas dalam kebun itu telah dipersiapkan kawanan jago yang tak
sedikit jumlahnya.
Yang paling mengherankan Buyung Im Seng adalah ketidak munculan Tong Thian
hong, dengan suara lirih lantas ia berteriak.
“Saudara Tong!”
“Ada apa?” suara rendah yang berat segera mengiakan.
Tong Thian hong menampakkan diri dengan melayang turun dari atas atap,
rupanya dia telah menyembunyikan diri dibalik penyanggah ruangan.
“Sudah kau dengar apa yang dikatakan oleh Im tongcu tadi?” tanya Buyung Im
Seng sambil tersenyum.
Tong Thian hong manggut manggut. “Ya. sudah kudengar semua!”
76
“Rupanya selama ini dia selalu menaruh perasaan curiga terhadap kita berdua.”
“Benar, itulah sebabnya siaute sengaja menyembunyikan diri agar hal mana
mendatangkan pelbagai pikiran didalam benaknya.”
“Besok Ong Thi san sudah akan sampai disini, rahasia penyaruan kita sudah pasti
akan terbongkar.”
“Itulah sebabnya, sebelum Ong Thi san sampai disini, kita harus melakukan
pergerakan terlebih dahulu.”
“Tapi pergerakan macam apakah yang harus kita lakukan?”
“Itu yang akan saya rundingkan dengan saudara Buyung.” Mendengar perkataan
itu, Buyung Im Seng lantas berpikir didalam hatinya.
“Tong Thian hong berpengalaman banyak dan berpengetahuan luas, diapun berotak
tajam entah rencana apa lagi yang berhasil diperolehnya?” Berpikir sampai disitu,
dia lantas berkata.
“Saudara Tong mempunyai rencana apa? Silahkan kau utarakan keluar, siaute
pasti akan berusaha untuk melaksanakannya.”
Tong Thian hong segera tersenyum.
“Aaah, saudara Buyung terlalu sungkan.” katanya, “Akal yang siaute peroleh
semuanya tak lebih adalah mencari untung dengan menyerempet bahaya, aku
masih memohon banyak petunjuk dari saudara Buyung sendiri.”
“Situasi yang kita hadapi sekarang amat berbahaya sekali, kalau tidak mencoba
menyerempet bahaya, rasanya memang tiada kemungkinan buat kita untuk meraih
keuntungan.”
“Perkataan saudara Buyung memang tepat sekali, menurut siute, seandainya
rahasia penyaruan kita tak bisa diperhatikan lagi, maka lebih baik kita buat
keonaran saja ditempat ini.”
“Tapi keonaran yang macam apakah itu?”
“Barusan siaute sempat mengamati cara Im Hui merampas pedang ditangan orang
berkerudung itu, kepandaian yang dipergunakan memang luar biasa sekali,
andaikata kita musti bertarung dengannya satu gebrakan demi satu gebrakan,
mungkin kita semua masih bukan tandingannya.”
“Ya, siaute pun berpendapat demikian.”
“Itulah sebabnya, jika kita ingin meraih kemenangan, maka kita berdua harus kerja
sama.”
“Sekalipun kita berdua kerja sama, belum tentu bisa menandingi pula dirinya.”
pikir Buyung Im Seng dihati.
Namun diluar ia berkata sambil tertawa.
“Apakah kita berdua dapat menangkan dirinya?”
“Soal ini mah susah untuk dikatakan, sekalipun kita bisa menangkan dirinya,
itupun menyerempek bahaya, menurut pendapatku, lebih baik saudara Buyung
sengaja membeberkan sedikit masalah yang penting dikala bercakap cakap
77
dengannya, sementara pikirannya bercabang, siaute akan turun tangan secara tibatiba,
siapa tahu dengan mempergunakan siasat ini kita akan berhasil
membekuknya.”
Buyung Im Seng kembali berpikir.
Meskipun tindakan semacam ini kurang mencerminkan kejujuran seseorang, tapi
berbicara menurut keadaan yang terbentang saat ini, rasanya terpaksa kita harus
berbuat begini, apalagi orang-orang Sam seng bun bukan manusia-manusia lurus
yang berjiwa gagah.
Berpikir sampai disini, dia lantas mengangguk.
“Soal waktu adalah soal yang terpenting, saudara Tong mesti bertindak lebih
berhati-hati.”
Tong Thian hong tersenyum.
“Seandainya seranganku tidak mengenakan sasaran, saudara Buyung harus turut
melancarkan serangan kilat, tampaknya kita tak bisa berdiam terlalu lama lagi
disini, itulah sebabnya kita musti menerjang keluar dari tempat ini.”
“Andaikata rahasia kita masih dapat dipertahankan, apakah kita pun harus
bertindak demikian?”
“Andaikata Im Hui tidak menaruh curiga lagi terhadap kita atau seandainya situasi
sudah bertambah lunak tentu saja kita tak perlu untuk turun tangan lagi.”
Selesai berunding, kedua orang itu merasa pikirannya bertambah terbuka, masingmasing
lantas mengatur napas untuk bersemedi.
Ditengah semedi mereka, lamat-lamat dari tempat kejauhan sana mereka
mendengar suara bentrokan senjata yang sedang berlangsung dengan sengitnya.
“Ada pertempuran disana!” Tong Thian hong segera berbisik.
“Yaa, suara itu tampaknya berasal dari luar perkampungan ini, jaraknya amat jauh
dari sini.”
“Mungkin itulah keramaian yang dimaksudkan nona Ciu Peng tadi, tapi orangorang
itu sudah diluar perkampungan, Im Hui sendiripun tak ada kesempatan
untuk menjumpai kita lantas pergi dengan terburu-buru, mungkin hal mana ada
sangkut pautnya dengan persoalan ini.”
“Betul, Siaute sendiripun merasa heran, kalau Im Hui sudah tahu kalau salah
seorang diantara kita sudah lenyap tak berbekas, tanpa menyelidiki keadaan yang
sesungguhnya ia sudah pergi dengan terburu-buru, ternyata hal itu terpaksa
dilakukan karena harus menghadapi serbuan musuh tangguh.”
Tiba-tiba Tong Thian hong melompat bangun seraya berseru.
“Tidak bisa begini terus, kita harus segera memberi kabar pada nona Ciu Peng.”
“Im Hui tidak memeriksa soal ketidakhadiran Siaute hanya disebabkan dia harus
segera menghadapi serbuan musuh, karena itu tiada kesempatan baginya untuk
menghadapi kita berdua, tapi seandainya persoalan itu sudah selesai bila dugaan
siaute tidak salah, sehabis mengundurkan musuh tangguh dia pasti akan balik lagi
kemari, sekarang orang orang yang berada diluar ruangan sebagian ditujukan
78
untuk pertahankan perkampungan, separuh lagi untuk mengawasi gerak gerik kita
berdua.
“Tapi apa sangkut pautnya persoalan ini dengan nona Ciu Peng?”
“Seandainya Ciu Peng benar-benar mata-mata Li-ji-peng yang sengaja
diselundupkan kemari, sesungguhnya dia adalah seorang pembatu yang sangat
baik, kita tak boleh merusak posisi mata-mata ini, karenanya sebelum melakukan
tindakan kita harus berunding lebih dulu dengannya.”
“Tapi, bagaimana cara kita kesana? Jangankan disekitar ruangan ini sudah
dipersiapkan orang untuk melihat sikap kita hingga sulit buat kita untuk
melakukan suatu pergerakan, sekalipun kita berhasil menghindari pengawasan
orang-orang itu, masakah ditengah malam buta begini kita harus memasuki kamar
seorang nona untuk mencari dirinya…?”
“Aku lihat Im Hui adalah seorang yang cekatan dan pintar, otaknya penuh dengan
akal muslihat serta sangat lihai, bila Ciu Peng tanpa persiapan bisa jadi rahasianya
bakal ketahuan.”
“Kecuali Ciu Peng datang mencari kita, rasanya sulit buat kita untuk pergi
meninggalkan tempat ini secara diam-diam.”
“Kenapa? Apakah saudara Tong bermaksud hendak pergi meninggalkan tempat
ini?”
Bila kita tak dapat meninggalkan tempat ini sebelum Im Hui kembali kedalam
perkampungan, mungkin suatu pertempuran sengit tak bisa dihindari lagi.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki manusia berkumandang datang, cepatcepat
mereka berdua menutup mulut. Tong Thian hong segera berjalan kedepan
pintu dan melongok keluar, dilihatnya ada seorang lelaki yang menyoren pedang
panjang menempelkan telinganya diatas daun jendela dan berusaha untuk
menyadap pembicaraan mereka.
Rupanya orang itu sudah mendengar suara pembicaraan mereka berdua, tapi
lantaran jaraknya terlampau jauh sehingga tidak kedengaran apa yang sedang
dibicarakan, maka diapun lantas berjalan mendekat.
Tong Thian hong segera mengetuk diatas pintu dua kali, lelaki itu segera
mendorong pintu dan berjalan masuk dengan langkah lebar.
Tong Thian hong yang bersembunyi dibelakan pintu, dengan suatu gerakan cepat
segera meloloskan pedang yang tersoren dipunggung lelaki itu, kemudian tangan
kirinya ditempelkan diatas tubuhnya.
Mencabut pedang menempelkan tangan, hampir gerakan itu dilakukan bersamaan
waktunya…
Mimpipun lelaki itu tidak menyangka kalau dua orang kusir kereta yang berada
dalam ruangan itu sesungguhnya adalah jago persilatan yang berilmu tinggi, tanpa
terasa ia menjadi tertegun.
Dengan suara dingin Tong Thian hong mengancam: “Bila kau sampai bersuara,
segera kugetarkan jantungmu sampai putus…!”
79
Belum lagi lelaki itu sempat menyaksikan keadaan dalam ruangan itu, senjatanya
telah dilucuti dan jalan darahnya tertotok, maka segera tegurnya.
“Siapa kau?”
“Si pencabut nyawa!”
Hawa murninya segera dipancarkan lewat telapak tangannya, segulung angain
pukulan yang sangat kuat segera menerjang keluar dan menggetar putus nati
penting ditubuh lelaki itu.
Lelaki tersebut segera mendengus tertahan, darah kental meleleh keluar dari
hidung dan mulutnya, selembar jiwanya pun segera melayang meninggalkan
raganya.
Selesai membinasakan musuhnya, Tong Thian hong menyerahkan pedang
rampasannya itu ketengah Buyung Im Seng, kemudian katanya.
“Saudara Buyung, ambillah senjata ini. Siaute akan pergi mencari sebilah lagi, jika
Im Hui kembali kemari nanti, kita segera hajar dia bersama-sama.”
0OO0
BAGIAN ENAM
Buyung Im Seng tidak menjawab, sebaliknya segera berpikir.
“Kedatanganku kemari adalah bertujuan untuk menyelidiki dimanakah letak
markas besar Lembah tiga malaikat, andaikata sampai bertarung melawan Im Hui
bukankah tindakan semacam ini sama halnya dengan mengungkap rahasia
sendiri?”
Ketika Tong Thian Hong tidak mendengar jawaban dari Buyung Im Seng, tahulah
dia bahwa orang itu curiga maka katanya kemudian sambil tersenyum.
Seandainya dugaan siaute tidak salah, sedari permulaan Im Hui sudah tahu kalau
kita adalah musuh yang mengajak menyelundup kemari, maka kedatangannya tadi
kemari kalau bukan berniat untuk mencelakai kita, sudah pasti sedang berusaha
untuk menyelidiki keadaan latar belakang kita berdua, ketidak munculan siaute
tadi rupanya telah menimbulkan kecurigaan pula dalam hatinya, kebetulan ada
musuh yang menyerang tiba, maka hal mana membuat ia tak ada waktu untuk
tetap tinggal disini guna menghadapi kita, tapi bila musuh sudah terpukul mundur
nanti, aku yakin dia pasti akan datang kemari untuk menghadapi kita lebih
dahulu…”
“Dengan susah payah kita datang kemari, bukankah perjalanan kita akan menjadi
sia-sia belaka?”
“Walaupun kita sudah sampai disini, juga belum tentu bis mengetahui letak markas
besar Lembah tiga malaikat!”
Sekalipun Buyung Im Seng kurang setuju dengan pendapat itu, namun dia
sendiripun tidak banyak membantah lagi, terpaksa katanya kemudian, “Benar juga
perkataan saudara Tong, kalau ada persiapan musibah baru akan terhindari.”
Dengan suatu gerakan cepat mereka berdua menyembunyikan jenasah lelaki tadi,
kebawah kolong ranjang.
80
Kemudian berkatalah Tong Thian hong.
“Saudara Buyung mungkin kau masih belum terlalu percaya dengan perkataan
siaute bukan?”
“Bukannya begitu, siaute hanya merasa sia-sia belaka perjalanan kita yang telah
menyusup kemari dengan susah payah, seandainya setitik beritapun gagal
ditemukan, apalagi kalau sampai bentrok secara kekerasan dengan mereka.”
“Sebaliknya bila kita tanpa persiapan mungkin akan sulit sekali untuk pergi
meninggalkan tempat ini.” Sementara Buyung Im Seng akan berbicara lagi,
mendadak nampak sesosok bayangan manusia berkelebat lewat dan menerjang
masuk kedalam ruangan itu.
Ternyata setelah lelaki tadi memasuki ruangan tersebut, ia tak merapatkan
kembali pintu besar tersebut.
Sambil membalikan badan Tong Thian hong segera melancarkan sebuah pukulan,
serunya.
“Siapa?”
Pendatang itu mengangkat tangan kanannya dan menyambut datangnya ancaman
tersebut.
“Blamm!” suatu benturan keras segera mengema dalam ruangan itu dikala
sepasang tangan mereka saling membentur.
“Aku adalah Ciu Peng!” suara lirih seorang perempuan segera berbisik disisi telinga
mereka. Buru-buru Tong Thian hong menarik kembali serangannya seraya
bertanya.
“Ada urusan?”
“Yaa, ada!”
Tong Thian hong segera memusatkan perhatiannya untuk mendengarkan
keterangan gadis itu, ketika sampai lama sekali Ciu Peng belum juga menyambung
kata-katanya, tak tahan dia lantas bertanya:
“Mengapa tidak kau lanjutkan?” “Kau bukan Buyung kongcu!” “Aku berada disini!”
Buyung Im Seng segera menyambung. Ciu Peng memang sangat teliti sampai ia
mendengar suara tadi Buyung kongcu baru terusnya.
“Im tongcu telah mengetahui bahwa kalian adalah mata-mata yang khusus datang
untuk menyelundup kemari, perintah telah diturunkan untuk mengawasi gerak
gerik kalian lebih baik sebelum ia kembali kesini, berusahalah untuk kabur dari
sini.”
“Terima kasih banyak atas pemberitaan nona.”
“Dewasa ini, penjagaan disekitar kebun amat lemah sekali, jika ingin kabur maka
kaburlah sekarang juga, maaf aku masih ada urusan lain dan tak bisa menemani
kau lebih lanjut.”
Seusai berkata, secepat kilat ia lantas beranjak dan meninggalkan tempat itu.
Sepeninggal gadis itu, Buyung Im Seng baru memuji.
81
“Saudara Tong, kau memang hebat sekali, ternyata dugaanmu tak meleset,
sungguh membuat siaute merasa amat kagum.”
“Aaahh, terlalu memuji!”
Setelah berhenti sebentar, dia baru melanjutkan: “Persoalan paling penting yang
harus kita putuskan sekarang adalah perlu tidak kita melangsungkan pertarungan
melawan Im Hui?”
“Maksud saudara Tong?”
“Akan siaute terangkan untung ruginya, kemudian saudara Buyung memutuskan
sendiri.”
“Siaute siap mendengarkan keterangan itu.”
“Bila kita menitik beratkan pada meloloskan diri saja, maka sekarang kita harus
berangkat, biar Im Hui menebak sendiri indentitas kita, sebaliknya jika saudara
Buyung enggan meninggalkan tempat ini dengan begitu saja, maka kita bikin
keonaran disini dan bila perlu kita coba kepandaian dari Im Hui.”
“Menurut saudara Tong, bagaimana baiknya?”
“Im Hui sebagai seorang tongcu didalam perguruan Sam seng bun, sudah barang
tentu terhitung juga salah seorang jago lihai didalam perguruan tersebut.”
“Betul!” Buyung Im Seng manggut manggut.
“Andaikata kita bertarung dengannya, entah menang entah kalah, paling tidak kita
bisa menduga latar belakang dari perguruan Sam seng bun.”
Mendengar perkataan itu, Buyung Im Seng menjadi sangat tertarik segera serunya.
“Baik! Bila saudara Tong mempunyai semangat demikian, mari kita mencoba
sampai diman kehebatan dari Im Hui.”
“Cuma, ada suatu hal yang perlu saudara Buyung ingat!”
“Soal apa?”
“Bila gelagat tidak menguntungkan, kita harus bekerja sama untuk menerjang
keluar dari kepungan dan tak bertarung terus.”
“Baik, segala sesuatunya terserah pada keputusan saudara Tong.”
“Sekarang siaute akan memeriksa keadaan dulu disekitar kebun, sekalian akan
kucari sebuah senjata lagi.”
Seusai berkata tubuhnya lantas berkelebat keluar dari ruangan tersebut…
Memandang bayangan punggung Tong Thian hong yang menjauh, diam-diam
Buyung Im Seng berpikir.
Tampaknya pertarungan tak bisa dihindari lagi pada hari ini…
Tanpa terasa diam-diam ia mulai menimbang pedang yang berada ditangannya.
Kepergian Tong Thian hong sangat cepat, sewaktu kembalipun amat cepat, tak
sampai sesaat dia sudah muncul kembali sambil menenteng sebilah pedang.
82
“Lagi-lagi kau sudah membunuh orang.” bisik Buyung Im Seng setelah
menyaksikan kedatangannya.
Tong Thian hong segera menggeleng.
“Aku hanya menotok jalan darah kakinya, dua belas jam kemudian dia baru akan
sadar kembali.”
“Kau meletakkan tubuhnya dimana?”
“Ditengah kebun sana, rasanya tak akan diketemukan orang!”
“Ketatkah penjagaan diluar sana?”
“Tidak terhitung ketat, mungkin semua jago yang ada diperkampungan ini telah
dibawa Im Kui untuk melawan musuh.”
Tiba-tiba terdengar suara tertawa dingin berkumandang datang dari luar,
menyusul kemudian seseorang melanjutkan dari luar ruangan.
“Benar, tapi kalian tidak menyangka kalau Im Hui akan kembali kesini sedemikian
cepatnya!”
Tong Thian hong dan Buyung Im Seng sama sama merasa terperanjat, segera
pikirnya.
“Dengan ketajaman pendengaranku ternyat tak kuketahui sendiri kapan ia sampai
disitu, ilmu silat yang dimiliki orang ini betul-betul tak boleh dianggap enteng.”
Terdengar Im Hui berkata lagi dengan suara dingin.
“Rahasia kalian sudah ketahuan, rasanya tak ada gunanya untuk dirahasiakan
lagi, mengapa kalian tidak keluar untuk bertarung melawanku? Ataukah kalian
menginginkan agar aku yang masuk kedalam?”
Tong Thian hong tertawa dingin, ejeknya.
“Rupanya kau ingin sekali bertarung melawan kami?”
“Aku akan menangkap kalian hidup-hidup, akan kupaksa kalian untuk mengakui
asal usul kalian yang sebenarnya!”
“Im tongcu, tidakkah kau merasa bahwa ucapanmu itu terlalu berlebihan?”
“Kalian boleh segera turun tangan, aku hendak membekuk kalian berdua dalam
dua puluh gebrakan.”
“Seandainya dalam dua puluh gebrakan kau gagal menangkan kami?”
“Kulepaskan kalian dari sini!”
“Bagus, ucapan seorang lelaki sejati…”
“Bagaikan kuda yang dicambuk!”
Tong Thian-hong segera berpaling dan memandang sekejap kearah Buyung Im
Seng, lalu katanya.
“Aku akan turun tangan dulu, seandainya tak kuat, tak ada salahnya kau baru
turun tangan pada saat itu.”
Buyung Im Seng segera manggut2.
83
“Berhati-hatilah!”
Sambil menenteng pedang melindungi bada, pelan-pelan Tong Thian hong berjalan
keluar dari ruangan tersebut.
Buyung Im Seng mengikuti dibelakangnya.
Ketika menengokkan kepala, tampaklah Im Hui yang memakai baju putih itu
dengan pedang tersoren dan bergendong tangan berdiri ditengah sebuah lapangan
lebih kurang beberapa kaki dihadapan mereka sana.
Tong Thian hong berjalan terus kemuka dan berhenti lebih kurang lima depa
dihadapan Im Hui, katanya kemudian dengan lantang.
“Im tongcu, sekarang kau boleh meloloskan pedangmu.”
“Dapatkah memberitahukan kepadaku, siapakah kalian berdua?”
“Bila Im tongcu berhasil menawan kami hidup-hidup serta menyiksa secara keji,
memangnya masih kuatir untuk tidak mengetahui asal usul kami…?”
“Sekali lagi aku bertanya, siapakah diantara kalian yang bernama Buyung Im
seng?”
“Kedua-duanya ada kemungkinan adalah dia kemungkinan juga bukan.”
“Hmm! Berdasarkan perkataanmu itu, sudah cukup beralasan bagiku untuk
merenggut nyawamu.” seru Im Hui dingin.
Begitu selesai berkata tangan kanannya segera diangkat, pedangnya diloloskan dari
sarung dan melepaskan sebuah bacokan kedepan dengan disertai kilatan tajam.
Kecepatan serangan yang dilancarkan itu ibaratnya sambaran petir ditengah
udara.
Tong Thian hong segera mengangkat pedangnya untuk menangkis. “Trang…!”
suatu benturan yang memekikkan telinga berkumandang memecahkan keheningan.
Im Hui mengayunkan pedangnya berulang kali, cahaya pedang berkilauan, dalam
waktu singkat dia telah melancarkan belasan jurus serangan dahsyat.
Tong Thian hong harus menggunakan segenap kemampuan yang dimilikinya
sebelum berhasil membendung belasan jurus serangan lawan itu, kendatipun
demikian, ia sudah dipaksa mundur sejauh lima langkah lebih dari tempat semula.
Buyung Im seng sendiripun diam-diam merasa terperanjat setelah menyaksikan
betapa cepatnya serangan pedan Im Hui, segera pikir dalam hati.
“Ilmu pedang yang dimiliki orang ini sedemikian cepatnya, boleh dibilang jarang
sekali dijumpai dalam dunia ini, aaai…! Mungkin sulit buat Tong Thian hong untuk
menahan serangannya sebanyak duapuluh gebrakan.”
Berpikir demikian, dia lantas maju kemuka sambil mempersiapkan senjata,
serunya tiba-tiba.
“Aku ingin sekali minta petunjuk ilmu pedang dari Im tongcu!”
Gebrakan pedang Im Hui segera menampilkan dua kuntum bunga pedang yang
secara terpisah merusak dua buah jalan darah penting di tubuh Buyung Im seng.
84
Menghadapi ancaman tersebut, Buyung Im seng mengangkat pedangnya keatas,
dengan jurus Yah whe-sau-thian (api liar membakar langit) dia tangkis datangnya
ancama tersebut.
Im Hui mendengus dingin, pedangnya segera direndahkan kebawah lalu…
“Sreet! Sreet! Sreet!” secara beruntun melepaskan serangan berantai yang
kesemuanya tertuju bagian bawah tubuh si anak muda tersebut.
Dengan cekatan Buyung Im seng mundur lima langkah kebelakang dan
menghindarkan diri dari serangkaian srangan berantai dari Im Hui ini… Tapi
begitu mundur dia lantas maju kembali, serangan balasan segera dikembangkan,
pedangnya diputar bagaikan hembusan angin puyuh, serangannya benar-benar
amat gencar dan dahsyat.
Sekalipun ilmu pedang Im Hui mengandalkan kecepatan gerak, akan tetapi
dibawah serangkaian serangan cepat dari Buyung Im seng, ternyat ia tak mampu
melancarkan serangan balasan selain menangkis dan bertahan terus menerus.
Tong Thian hong yang nonton jalannya pertarungan itu diam-diam menghela napas
panjang, pikirnya. “Ternyata ilmu pedang yang dimiliki Buyung Im seng jauh lebih
tangguh daripada kepandaianku.”
Tampak kedua orang itu saling menyerang saling membacok dengan sengitnya,
angin pedang menderu-deru, hawa pedang menggulung-gulung dalam sekejap mata
pertarungan sudah bergerser hampir tujuh delapan depa dari tempat semula.
Ditengah pertempuran sengit, mendadak Im Hui mundur dua langkah ke belakang,
kemudian berntaknya dingin. “Tahan!”
Waktu itu Buyung Im seng sedang menyerang dengan sepenuh tenaga, seluruh
perhatiannya terpusat menjadi satu, sampai Im Hui berteriak tadi ia baru
menghentikan serangannya seraya bertanya. “Ada apa?”
“Buyung tiang kim tak punya keturunan, tapi ilmu pedang yang kau pergunakan
adalah ilmu pedangnya Buyung Tiang Kim!”
Buyung Im seng segera tertawa dingin.
“Ilmu silat yang ada didunia ini dasrnya adalah sama saja, toh sumbernya juga
satu!”
“Tapi ilmu pedagn dari Buyung Thiang kim jauh berbeda dengan ilmu pedang
lainnya.”
Setelah berhenti sejenak, mendadak hardiknya. “Sebenarnya siapakah kau?”
Buyung Im seng bukannya menjawab, sebaliknya malah bertanya. “Sudah berapa
gebrakan kita bertarung?”
“Tiga puluh lima gebrakan” “Apa yang telah Im Tongcu ucapkan apakah masih
masuk hitungan?” “Tentu saja!”
“Sekarang kita sudah bertarung sebanyak 35 gebrakan lebih bukan saja Im tongcu
tak mampu untuk menangkap kami, bahkan menangkan setengah juruspun tidak.”
“Jadi kalian hendak pergi?”
85
“Pergi atau tidak adalah urusan kami, tapi yang pasti Im Tongcu harus memberi
jalan lewat buat kami!”
Im Hui segera tertawa hambar.
“Baik!” katanya, “Apa yang telah kuucapkan tak akan kusesali kembali, cuma
sebelum mereka berdua pergi dari sini, terlebih dahulu aku ingin mengajukan satu
pertanyaan kepada kalian.”
“Itu mah tergantung pada persoalan apakah yang kau ajukan?”
“Konon dalam dunia persilatan tersiar berita yang mengatakan bahwa putra
Buyung Thiang kim telah munculkan diri dan ingin membalaskan dendam
ayahnya, apakah kau orangnya?”
Buyung Im seng termenung dan berpikir sejenak, kemudian ujarnya. “Benarkah Im
Tongcu ingin mengetahui siapa gerangan diriku ini?”
“Benar!”
“Bila Im tongcu bersedia pula untuk menjawab sebuah pertanyaan yang kuajukan,
akupun bersedia untuk memberikan namaku.”
“Persoalan apa?”
“Dimanakah letak marka besar lembah tiga malaikat?”
Im Hui segera tertawa hambar.
“Sekalipun aku berbicara yang sesungguhnya, belum tentu kau bersedia untuk
mempercayainya.”
“Aku merasa sebagai seorang tongcu tentunnya ucapanmu bukan suatu ucapan
kosong belaka.”
“Justru karena itulah, aku baru merasa bahwa kau tak akan percaya.”
“Mohon kau suka memberi petunjuk!”
“Aku sendiri juga tidak tahu!”
Buyung Im seng menjadi tertegun.
“Im Tongcu, bukankah kedudukanmu didalam perguruan Sam seng bun tinggi
sekali?”
“Betul, kedudukanku hanya tiga sampai lima orang, tapi diatas beribu ribu orang!”
“Dengan kedudukan Im Tongcu yang begitu tinggi didalam perguruan Sam seng
bun, ternyata kau tidak tahu dimanakah letak markas besarnya, apakah hal ini
mungkin terjadi? Sungguh membuat orang sukar mempercayainya.”
“Silahkan saja kau tidak percaya, tapi ucapanku orang she Im semuanya adalah
kata-kata yang jujur.”
“Kalau begitu Sam seng tong yang berada diatas bukit Tay hu san adalah palsu?”
Im Hui segera tertawa dingin, katanya. “Di atas bukit Tay hu san memang terdapat
sebuah Sam seng thong…”
86
“Kalau toh Im tongcu telah mengetahuinya mengapa kau katakan tidak tahu?”
tukas Buyung Im seng cepat.
Im Hui mendengus dingin. “Hmm! Selain diatas bukit Tay hu san, paling tidak
didunia ini masih terdapat dua tiga tempat Sam seng thong.”
“Im tongcu ternyata kau memang amat licik dan pandai sekali bersiasat…!”
Setelah berhenti sebentar, lanjutnya. “Buyung tayhiap tidak berahli waris, tapi aku
dapat mempergunakan ilmu pedangnya Buyung tayhiap, siapakah aku, silahkan Im
tongcu untuk memikirkannya sendiri!”
“Sekalipun kau adalah Buyung kongcu juga belum tentu bisa menguasai ilmu
pedangnya Buyung Tiang kim!”
Buyung Im seng tidak menanggapi ucapan orang lagi, dengan suara lantang dia
lantas berseru. “Im tongcu, sekarang kau boleh menyingkir!”
Ternyata Im Hui cukup memegang janji, benar juga dia lantas mundur sejauh dua
langkah.
Buyung Im seng segera berpaling sekejap kearah Tong Thian hong seraya berseru.
“Mari kita pergi!”
Buru buru Tong Thian hong maju dua langkah, kemudian mereka bersama-sama
meninggalkan tempat itu.
“Lepaskan dia untuk pergi, jangan dihalangi!” Im Hui segera berteriak keras.
Jelas disekitar kebun bunga itu masih banyak sekali jagoan lihai yang melakukan
pengepungan.
Buyung Im seng dan Tong Thian hong saling berpandangan sekejap, kemudian
dengan langkah lebar berjalan meninggalkan tempat itu.
Mereka berdua tidak kenal jalan, dengan langkah lebar mereka hanya tahu
berjalan terus ke depan, setibanya ditepi pagar dinding mereka segera melompat ke
atas dan melewati pagar tersebut.
Diluar dinding pekarangan adalah sebuah padang rumput yang sangat luas, sejauh
mata memandang tidak tampak setitik cahaya lampu maupun bayangan rumah.
Bersambung ke jilid 5
87
Lembah Tiga Malaikat
Oleh: Tjan
Jilid 5
Dengan langkah cepat Buyung Im seng berlarian ke depan, sementara Tong Thian
hong mengikuti di belakangnya.
Dalam waktu singkat mereka sudah berjalan sejauh tujuh-delapan li, saat itulah
Buyung Im seng baru menghentikan perjalanannya sambil menengok sekejap
sekeliling tempat itu.
Setelah yakin kalau tak ada yang menguntit, dia baru berbisik lirih.
"Saudara Tong, walaupun kita belum sampai menemukan letak Sam seng tong, tapi
bisa menemukan perkampungan dari Im Hui pun merupakan hasil yang lumayan."
"Mari kita mencari tempat yang agak tersembunyi untuk beristirahat semalaman."
usul Tong Thian-hong, "Besok kita periksa keadaan lagi, sehingga bila akan
kembali lagi di kemudian hari tak sampai salah jalan."
Buyung Im seng manggut-manggut, sahutnya: "Benar, kita memang harus mencari
tempat untuk beristirahat."
Tong Thian hong memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian katanya: "Di
depan sana terdapat sebuah hutan, hayo kita tengok kesana, siapa tahu tempat itu
cocok untuk kita bermalam."
Dengan langkah lebar mereka segera melanjutkan perjalanannya. Lebih kurang
beberapa li kemudian, benar juga sampailah mereka di tepi sebuah hutan.
"Aaah, ternyata di sana memang ada sebuah hutan...!" seru Tong Thian hong
kegirangan, "mari kita masuk ke hutan untuk beristirahat sebentar..."
Baru saja mereka akan masuk ke dalam hutan, mendadak terdengar seseorang
berseru sambil tertawa merdu.
"Ucapan cengcu memang benar, coba lihat mereka telah datang."
88
Menyusul suara tertawa merdu itu, dari balik hutan pelan-pelan muncul dua orang
gadis cantik. Orang yang berjalan dipaling depan adalah Ciu Peng, sedangkan di
belakang Ciu Peng mengikuti pula seorang nona berbaju hijau.
Terdengar nona berbaju hijau bertanya. "Siapa diantara kalian berdua yang
bernama Buyung Im seng?"
"Ada apa?" tanya Tong Thian Hong.
"Kau yang bernama Buyung Im seng?"
Ton Thian hong segera menggelengkan kepalanya: "Bukan!"
"Kalau bukan kau, tentunya yang ini?"
"Ada urusan apa kau mencari Buyung Im seng?" Buyung Im seng lantas bertanya.
"Sudah lama kudengar akan namanya, aku hanya berharap bisa bersua muka."
sahut si nona baju hijau itu sambil tertawa.
"Sayang sekali belum tentu Buyung Im seng bersedia untuk berjumpa dengan
nona."
"Mengapa ia tidak bersedia untuk bersua denganku?" seru si nona marah.
Buyung Im seng tertawa, sahutnya: "Sepengetahuanku, watak Buyung kongcu aneh
sekali."
"Bagaimana anehnya?"
"Dia kurang begitu suka berbincang bincang dengan kaum perempuan."
"Aaaahhh, omong kosong! Aku dengar hubungannya dengan Biau hoa lengcu baik
sekali, bukankah Biau hoa lengcu juga seorang wanita?"
"Ooohh, rupanya cukup jelas nona menyelidiki tentang diri Buyung Im seng!"
"Hmm! Orang persilatan pada bilang Biau hoa lengcu berilmu silat amat lihai dan
berwajah cantik jelita, ingin kulihat macam apakah tampang Buyung Im seng itu
sehingga ia memiliki kemampuan untuk menggaet hati Biau hoa lengcu."
Belum sempat Buyung Im seng menjawab, tiba-tiba Tong Thian hong sudah tertawa
tergelak.
"Apa yang sedang kau tertawakan?" si nona berbaju hijau itu menegur dengan
marah.
"Apakah mau tertawapun tidak boleh?"
"Hmm, jika kalian bermaksud untuk menggoda kami, itu berarti kalian sudah
bosan hidup di dunia."
"Lantas apa yang harus kulakukan sehingga kami bisa hidup lebih lanjut...?"
"Jawab semua pertanyaanku dengan sejujurnya, maka akupun akan melepaskan
kalian meninggalkan tempat ini."
"Baiklah, silahkan nona bertanya."
"Sungguhkah kalian kenal dengan Buyung Im seng?"
"Tentu saja sungguh-sungguh kenal."
89
"Dimana orangnya sekarang?"
"Sudah kukatakan tadi, dia telah dibawa orang ke Jit seng lo!"
"Baiklah! Kalau begitu, bawa aku menuju ke Jit seng lo!"
Tong Thian hong segera menggelengkan kepala berulang kali, katanya: "Tidak
bisa!"
"Kenapa?"
"Sebab aku sendiripun tidak tahu dimanakah letaknya Jit seng lo tersebut."
Buyung Im seng yang selama ini cuma membungkam, tiba-tiba mendehem pelan
lalu berkata. "Nona, aku ingin mengajukan sebuah pertanyaan kepadamu."
"Pertanyaan soal apa?"
"Nona toh tidak kenal dengan Buyung Im seng, tapi kau begitu menaruh perhatian
kepadanya, tolong tanya mengapa demikian?"
"Tentu saja ada alasannya."
"Dapatkah nona memberi tahu alasannya kepadaku?"
"Mengapa harus kukatakan padamu?"
"Sebab aku punya hubungan yang cukup akrab dengan Buyung Im seng, bila nona
bersedia mengemukakan alasannya, bila aku bertemu lagi dengan Buyung Im seng
di kemudian hari, bisa kusampaikan hal tersebut kepadanya..."
Nona berbaju hijau itu termenung sejenak, kemudian katanya: "Aku hendak
mengajukan suatu persoalan kepadanya."
"Persoalan apa?"
"Kau toh bukan Buyung Im seng, kusebutkan masalahnya belum tentu kau tahu."
"Sekalipun dia bukan Buyung Im seng," tukas Tong Thian hong, "tapi hubungannya
dengan Buyung Im seng bicarakan dengannya setiap masalah yang dihadapi
Buyung Im seng, tentu diketahui juga olehnya."
"Sungguhkah perkataan itu?"
"Benar, cuma perlu ditambahkan sekalipun aku tidak menguasai masalah yang
dihadapi Buyung Im seng sebesar 100%, paling tidak 70-80% kuketahui secara
pasti."
Nona baju hijau itu kembali menggeleng katanya, "Aku kuatir persoalan yang
kutanyakan belum tentu kau bisa menjawab."
"Apa yang ingin nona tanyakan boleh sampaikan kepadaku, mungkin aku bisa
memberikan jawabannya secara samar-samar."
"Yang kutanyakan adalah sial pribadinya, darimana kau bisa tahu?"
"Tanyakan saja, aku percaya masih dapat menjawabnya."
90
Ciu Peng yang berada disampingnya segera berbisik. "Kalau didengar dari nada
pembicaraannya, dia seperti punya keyakinan besar, mengapa nona tidak mencoba
untuk bertanya kepadanya, lihat saja ia lagi ngibul atau bukan."
Nona berbaju hijau itu termenung sebentar, kemudian sahutnya, "Baiklah!"
Dia lantas mengalihkan kembali sorot matanya ke wajah Buyung Im seng,
kemudian melanjutkan. "Aku ingin menanyakan sial hubungannya dengan Biau
hoa lengcu, tahukah kau?"
"Soal ini pernah ia bicarakan denganku."
"Sungguh!?" seru si nona baju hijau itu girang.
"Tentu saja sungguh!"
"Pernahkah Buyung Im seng mengatakan kepadamu, dia berasal dari marga
mana?"
"Berulang kali dia ingin menanyakan soal Nyo Hong leng, entah apa maksud
sebenarnya?" pikir Buyung Im seng.
Berpikir demikian, dia lantas menjawab. "Ia pernah memberitahukan soal ini
padaku, katanya Biau hoa lengcu berasal dari marga Nyo."
Nona baju hijau itu segera tersenyum. "Tampaknya memang kau bukan lagi
mengibul."
Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan. "Tahukan kau siapa namanya?"
Buyung Im seng kembali berpikir. "Masalah yang menyangkut Nyo Hong leng tak
boleh kubocorkan terlalu banyak."
Maka diapun menggelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya. "Aku tahunya sih
memang tahu, cuma soal ini tak bisa kuberitahukan kepada nona."
"Kenapa? Toh Buyung Im seng telah memberitahukan kepadamu? Kenapa kau tak
dapat memberitahukan kepadaku?"
"Sebab dia percaya aku tak akan memberitahukan pada orang lain, maka dia baru
memberitahukannya kepadaku."
Nona baju hijau itu termenung beberapa saat, lalu berkata.
"Ucapanmu itu memang ada benarnya juga." Sesudah berhenti sejenak, terusnya.
"Bukankah dia bernama Nyo Hong ling?"
Betapa terkejutnya Buyung Im seng setelah mendengar perkataan itu, pikirnya.
"Sam seng bun benar-benar sangat lihai, padahal jarang sekali orang persilatan
yang mengetahui nama Nyo Hong leng, ternyata pihak Sam seng bun berhasil
mengetahui juga..."
Sementara dia masih termenung, nona berbaju hijau itu sudah berkata lagi. "Betul
bukan perkataan itu?"
"Betul sekali!"
"Dalam waktu belakangan ini, apakah kau bisa bersua dengan Nyo Hong leng?"
91
Buyung Im seng termenung beberapa waktu lamanya, lalu menjawab. "Soal ini
sukar untuk dijawab."
Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan. "Cuma aku pasti dapat berjumpa
dengannya meski dilain waktu."
"Dapatkah kau berjumpa dengan Buyung Im seng?"
"Dengan Buyung Im seng si bocah keparat itu sih aku yakin dengan cepat dapat
bersua kembali dengannya."
"Hei, kenapa kau malah memakinya?" seru si nona berbaju hijau itu keheranan.
Tong Thian hong segera menyambung, katanya. "Hubungan mereka berdua terlalu
baik, tidak mempersoalkan adat istiadat, dan lagi sudah terbiasa dengan sebutan
itu, maka tak heran jika setiap kali menyebutnya lantas kelepasan bicara."
"Oooh, kiranya begitu."
Setelah menghela napas panjang, terusnya. "Aku sudah tak dapat membayangkan
wajah Siau-ling-ling lagi, tapi aku tahu wajahnya pasti jauh lebih cantik daripada
aku."
"Siapa Siau ling ling itu?" sela Buyung Im seng.
"Siau ling-ling adalah Nyo Hong-ling."
"Jadi kalian kenal?"
"Aku masih teringat dengannya entah dia masih teringat denganku atau tidak?"
"Bila nona bisa teringat kepadanya, tentu saja diapun masing ingat dengan nona."
Dengan cepat nona baju hijau itu menggelengkan kepalanya berulang kali."
"Belum tentu! Karena aku lebih besar tiga tahun dari dirinya, ketika itu dia masih
belajar berbicara."
Buyung Im seng merasa tiada perkataan lain yang bisa dibicarakan lagi, maka dia
lantas menjura, katanya.
"Baiklah! bila aku bertemu dengan nona Nyo nanti, akan kusampaikan pesan dari
nona ini, nah, kami akan mohon diri lebih dulu."
"Tunggu sebentar!"
"Nona ada pesan apa lagi?"
"Bila kau bersua dengan Buyung Im seng, beritahu kepadanya akan sepatah kataku
ini."
"Perkataan apa?" "Suruh dia bersikap baik pada Siau ling!"
Mendadak nona baju hijau itu merendahkan suaranya sambil berbisik lirih.
"Tolong sampaikan kepada Buyung Im seng, katakan bila dia ingin menancapkan
kakinya dalam dunia persilatan, dan masih akan membalas dendam kematian ayah
ibunya, hanya Siau ling ling seorang yang dapat membantu usahanya itu."
92
"Terima kasih atas petunjuk nona." kata Buyung Im seng dengan wajah serius,
"Bila aku bersua dengan Buyung Im seng, nanti pasti akan kusampaikan pesan ini
kepadanya."
Tiba-tiba Ciu Peng menimbrung dari samping.
"Apakah wajah Buyung Im seng sangat tampan?"
Nona baju hijau itu segera tertawa, katanya. "Budak bodoh, sepasang mata Siau
Ling ling tumbuh di atas kepala, dia cuma memandang ke atas tak pernah
memandang ke bawah, mana mungkin dia bisa salah memilih?"
Ciu Peng segera tersenyum. "Benar juga perkataan nona, cuma Buyung Im seng itu
sepantasnya kalau merasa berterima kasih kepadamu."
"Mengapa harus berterima kasih kepadaku tanya si nona berbaju hijau itu
keheranan."
"Secara diam-diam nona berniat membantunya tapi ia sama sekali tidak tahu, coba
kalau dia tahu bukankah dia akan merasa berterima kasih sekali kepadamu?"
"Aku sama sekali tidak kenal dengan Buyung Im seng, mengapa harus ku bantu
dirinya. Aku berbuat begini karena tak lebih demi Siau ling ling...!"
Sesudah berhenti sejenak, dia melanjutkan. "Cuma orang yang bisa disenangi Siau
ling ling sudah pasti naga diantara manusia, aku toh berharap sekali dapat bersua
dengannya, ingin kuketahui perbedaan apakah yang dimilikinya sehingga bisa
disenangi oleh Siau ling-ling."
"Menurut apa yang kuketahui, Buyung Im seng hanya seorang pemuda yang biasa
saja." kata Buyung Im seng kemudian. "Aku sudah lama bergaul dengannya, tapi
tidak kujumpai ada sesuatu yang berbeda dari orang lain."
Nona berbaju hijau itu segera menggelengkan kepala berulang kali, katanya.
"Soal ini mah tentu saja kau tidak mengerti!"
"Mengapa?"
"Sebab kau adalah lelaki, yang melihat lelaki tentu saja jauh berbeda dengan
perempuan melihat lelaki."
"Oooh, kiranya begitu..."
00oo00
BAGIAN KE TUJUH
"Pembicaraan diantara kita berdua kita akhiri sampai di sini saja", kata nona
berbaju hijau itu, kemudian, "Harap kalian berdua jangan lupa dengan pesanku
itu!"
"Kami pasti akan mengingatnya selalu." Tong Thian hong berjanji, selesai berkata
ia lantas membalikkan badan dan berlalu dari sana.
Buyung Im seng segera mengikuti di belakangnya.
"Berhenti!" mendadak nona baju hijau itu membentak dengan suara dalam.
Seraya berpaling Buyung Im seng bertanya, "Apakah nona masih ada pesan lain?"
93
"Kalian bisa meloloskan diri dari ujung pedang toako ku, hal ini menunjukkan
kalau kepandaian kalian hebat sekali, sekalipun kalian berdua tak sampai takut,
toh hal itu merupakan kerepotan juga bagimu, biar Ciu Peng yang mengantar
kalian sampai di depan sana."
"Maksud baik nona, ku ucapkan banyak terima kasih dulu!"
Nona berbaju hijau itu segera berpaling dan memandang sekejap ke arah Ciu Peng,
kemudian perintahnya.
"Hantarlah mereka melewati Sam cay-ting kemudian mereka melanjutkan
perjalanannya sendiri."
"Andai kata besok cengcu menegur, bagaimana budak bisa menanggungnya...?"
"Tak usah kuatir" kata nona baju hijau itu sambil tertawa, "tentu saja aku yang
akan menanggungnya!"
"Budak terima perintah!" Ciu Peng segera memberi hormat. Seusai berkata dia
lantas berangkat, dia lantas berangkat lebih dulu ke depan sana. Tong Thian hong
dan Buyung Im seng segera mengikuti di belakangnya.
Tak lam kemudian, mereka bertiga sudah ada tiga-lima li jauhnya dari tempat
semula.
Dengan suara lirih Buyung Im seng segera berbisik. "Kelihatannya nona Im sangat
mempercayai dirimu." Ciu Peng segera tersenyum.
"Budak memang bermaksud untuk mengikuti selera hatinya, tentu saja gampang
sekali untuk membaikinya."
"Ada satu hal yang tidak kupahami, apakah nona bersedia memberi petunjuk?"
Ciu Peng segera menghentikan gerakan tubuhnya, lalu berkata. "Jika ada
persoalan, lebih baik kita bicarakan selesai melewati tempat ini saja, seratus kaki
di depan sana ada barisan Sam cay tin yang amat lihai."
"Apa yang dimaksudkan dengan Sam cay tin?" tanya Tong Thian hong.
"Sebuah barisan yang penuh dengan jebakan serta alat-alat rahasia yang sangat
lihai."
Sorot matanya segera dialihkan ke wajah Buyung Im seng, kemudian katanya. "Apa
yang ingin kau tanyakan?"
"Dari mana nona Im kenal dengan Biau hoa lengcu? Apa lagi ia tampak begitu
menaruh perhatian kepadanya?"
"Kongcu-ya, jangan lupa aku cuma seorang dayang, bagaimana ceritanya sehingga
ia bisa berkenalan dengan Biau hoa Lengcu, mana mungkin akan diceritakannya
kepadaku, cuma..."
"Cuma kenapa?"
"Cuma ada seorang yang mungkin bisa menjawab pertanyaan itu."
"Siapa dia?"
94
"Biau hoa Lengcu nona Nyo, bila kau telah bertemu dengannya dan menanyakan
soal ini masalahnya kan menjadi terang? Yang bisa budak beritahu kepada kalian
adalah ilmu silat yang dimiliki Im cengcu kakak beradik sangat lihai, daripada
bermusuhan lebih baik berteman."
"Maksud nona apakah Im Hui bersaudara bisa saja menghianati perguruan Sam
Seng bun?" bisik Buyung Im seng lirih.
"Kalau dilihat dari keadaannya, hal ini susah untuk diduga, tapi tak ada salahnya
buat kongcu untuk mencobanya dengan mempergunakan sedikit akal."
Buyung Im seng segera manggut-manggut. "Terima kasih banyak atas petunjuk
dari nona."
"Im cengcu tampaknya tidak akan melakukan pengejaran terhadap kalian", bisik
Ciu Peng.
"Sedang nona Im juga mengucapkan kata-kata tulus."
Setelah berhenti sejenak, terusnya. "Nona Im adalah seorang yang berhati mulia,
sedangkan Im cengcu sendiri adalah seorang jago lihai yang berotak cerdas, ia bisa
mengambil keputusan untuk melepaskan kalian pergi, ini menunjukkan kalau dia
memang bermaksud untuk menjual muka kepada kalian."
"Aku mengerti, di kemudian hari aku pasti akan baik-baik menyelesaikan persoalan
ini."
"Nah, kalian boleh berangkat! Sekeliling tempati itu penuh dengan penjagaan yang
saling berhubungan satu sama lainnya, jika terlampau lama berada di sini, bisa
jaga rahasia budak akan ketahuan."
Setelah berjalan kurang lebih sepuluh menit kemudian, mendadak keadaan medan
berubah. Tampak gundukan tanah bermunculan dimana mana, semak belukarpun
mengitari sekeliling tempat itu.
Ciu Peng memandang sekejap ke arah kedua orang itu, kemudian manggutkan
kepala pertanda agar mereka berdua jangan banyak bertanya, Tong Thian hong
mendehem pelan, lalu katanya. "Bagaimana caranya untuk melewati tempat itu?"
"Silahkan kalian untuk mengikuti di belakangku." "Apakah selangkahpun tak boleh
salah?"
"Benar, selangkahpun tak boleh salah, sebab, sekali salah bisa mengakibatkan
kematian tanpa liang kubur."
"Baiklah! Kalau begitu harap nona suka membawa jalan."
"Kalian harus berhati-hati!" Dengan langkah yang pelan dia lantas berjalan ke
depan.
Secara diam-diam kedua orang itu memperhatikan keadaan di sekeliling sana.
Setelah memperhatikan dengan seksama, maka tampaklah bahwa jarak antara
gundukan tanah dengan semak belukar di sekelilingnya ternyata teratur sekali, ini
menunjukkan kalau gundukan tanah maupun semak belukar itu adalah hasil
bikinan manusia.
95
Rupanya Ciu Peng memang berniat untuk memberi kesempatan agar kedua orang
itu bisa menyaksikan keadaan di sekitarnya dengan lebih jelas lagi, perjalanan
ternyata tidak dilakukan terlampau cepat.
Kurang lebih beberapa ratus kaki kemudian, gundukan tanah serta semak belukar
itu baru terputus.
Ciu Peng segera menghentikan langkahnya kemudian berkata.
"Setelah berjalan lebih kurang lima puluh kaki lagi dan mengitari sebuah tebing, di
depan sana akan terbentang sebuah jalanan lebar, semoga kalian berdua baik-baik
menjaga diri, maaf budak tak bisa menghantar lebih jauh lagi."
"Terima kasih nona!" Buyung Im seng segera menjura.
"Nona Ciu Peng," kata Tong Thian hong pula, "Kecuali jalanan ini, apakah masih
ada jalan lain yang bisa berhubungan langsung dengan perkampungan itu?"
"Tidak ada." sahut Ciu Peng sambil menggeleng, "sepengetahuan budak, hanya ada
satu jalan lewat ini saja."
"Kecuali mendatangi perkampungan ini, entah masih ada cara apalagi untuk
menjumpai nona?"
"Kalian masih ingin bertemu denganku?"
"Daya pengaruh Sam seng bun kini sudah tersebar di seluruh dunia persilatan, baik
teman maupun lawan tak ada yang tahu dimanakah sarang komando mereka, boleh
dibilang peristiwa ini merupakan suatu kejadian yang sangat aneh didalam dunia
persilatan."
"Jadi kalian ingin menyelidiki rahasia Sam seng bun lewat diriku?" sambung Ciu
Peng.
"Nona bersedia membantu kami secara terang-terangan, hal ini sungguh membuat
aku merasa berterima kasih sekali..."
"Tapi hal ini kulakukan bukan dengan maksud untuk membantu kalian..." sambung
Ciu Peng.
"Kalau bukan membantu dengan maksudmu sendiri, apakah kau dipaksa untuk
membantu?"
"Boleh dibilang begitu, aku mendapat perintah dari pangcu kami untuk membatu
Buyung kongcu."
"Jadi pangcu kalian juga sudah tahu kalau aku terperangkap dalam sebuah kantor
cabangnya Sam seng bun?"
Cui Peng tidak langsung menjawab pertanyaan itu, katanya.
"Kekuasaan Sam seng bun amat besar dan kuat, Li ji pang tersohor karena
pencarian beritanya yang cepat dan tajam, bila kongcu ingin bermusuhan dengan
Sam seng bung, paling baik adalah bekerja-sama dengan perkumpulan Li-ji pang
kami."
96
"Pangcu kalian ibaratnya naga sakti yang kelihatan kepala tidak kelihatan
ekornya, sekalipun aku bermaksud mencarinya, belum tentu keinginanku ini bisa
tercapai."
"Tentang soal ini akan segera kulaporkan pada pangcu kami begitu kalian sudah
pergi nanti, pasti akan muncul anggota Li ji pang yang akan membawa kalian
untuk menjumpai pangcu kami."
Setelah berhenti sebentar terusnya.
"Budak sudah terlalu banyak bicara, apa yang bisa kukatakan juga sampai di sini
saja, harap kalian berdua baik-baik menjaga diri, budak akan pulang dulu."
Tidak menunggu kedua orang itu berbicara, dia lantas membalikkan badan dan
berlalu dari situ dengan langkah lebar.
Buyung Im seng berdiri di situ sambil memandang bayangan punggung Ciu Peng
menjauh dari sana, menanti bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan, dia
baru berkata.
"Sungguh tak nyana dalam perkumpulan Li ji pang bisa terdapat begitu banyak
jago yang berbakat."
"Hei, apakah saudara Buyung sudah banyak bertemu dengan anggota Li ji pang?"
seru Tong Thian hong.
Sambil tertawa Buyung Im seng manggut-manggut.
"Perkumpulan Li ji pang boleh dianggap sebagai suatu perguruan aneh yang sejak
dulu sampai sekarang belum pernah dijumpai, anggota perkumpulannya hampir
semua terdiri dari gadis-gadis berusia dua puluh tahunan, lagi pula sebagian besar
nona-nona cantik yang berotak cerdik."
"Saudara Buyung pernah berjumpa dengan pangcu mereka?"
"Pernah, sewaktu ada di kota Hong ciu dulu!"
"Pangcu itu tentunya amat cantik sekali!" kata Tong Thian hong ingin tahu.
Buyung Im seng segera tertawa setelah mendengarkan perkataan itu.
"Aneh sekali, hampir semua anggota perkumpulan Li ji pang berparas cantik jelita
bak bidadari dari kahyangan, akan tetapi pangcunya justru..."
Mendadak ia menutup mulut dan tidak berbicara lagi.
"Justru kenapa?" desak Tong Thian hong.
"Tak sedap dilihat!"
"Mungkin orang yang bersedih hati mempunyai tujuan lain, lantaran wajah sendiri
terlampau jelek, maka dibentuknya organisasi kaum wanita yang dari dulu sampai
sekarang baru muncul sebuah ini!"
"Orang yang berparas jelek, seringkali justru berotak cerdas dan berbakat bagus,
oleh sebab itu bila berbicara soal pekerjaan, jangan terlalu menilai orang dari
wajahnya saja."
Tong Thian hong tersenyum.
97
"Walaupun perkataan dari saudara Buyung benar, cuma akupun mempunyai
pandangan yang lain."
"Bagaimana pandanganmu?"
"Darimana kau tahu kalau Li ji pang pangcu bukan sedang menyaru dan sengaja
berubah wajah sendiri hingga menjadi jelek dan tak sedap dipandang?"
Buyung Im seng termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian
ujarnya.
"Tapi apa sebabnya dia harus menyaru dan merubah wajah sendiri? Aku dan dia
juga tidak saling mengenal, tiada hubungan apa-apa lagi, apa sebabnya dia harus
menyembunyikan wajah aslinya di hadapanku?"
"Dia adalah seorang ketua dari suatu organisasi yang besar dalam dunia persilatan
dewasa ini, mana ia sudi secara sembarangan menjumpai orang dengan wajah
aslinya?"
"Setiap orang perempuan selalu berharap wajahnya cantik dan menawan hati, aku
berjumpa dengannya juga tanpa maksud lain, kenapa dia malah berharap orang
tahu jika dia jelek?"
"Siapa tahu dibalik kesemuanya ini masih ada alasan lain yang tertentu?"
"Alasan apa?"
"Apa alasannya, aku sendiripun tidak jelas, aku hanya mempunyai perasaan
demikian saja."
Buyung Im seng segera tertawa.
"Soal ini sukar untuk dibuktikan, lebih baik kita buktikan sendiri dilain waktu."
"Tentu saja, aku pun bukan ingin bicara sembarangan, andaikata wajah pangcu
dari Li ji pang benar-benar amat jelek, aku rasa dia pasti akan memilih banyak
sekali perempuan-perempuan jelek, untuk masuk menjadi anggota
perkumpulannya, toh tidak harus memilih begitu banyak gadis yang cantik."
"Ehmm... ucapanmu itu masuk diakal juga."
Sementara pembicaraan masih berlangsung, mereka sudah membelok di suatu
tebing, mendadak dari kejauhan sana terdengar suara deburan ombak sungai yang
sangat keras.
Buyung Im seng segera memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian
katanya.
"Saudara Tong, sekarang kita akan pergi kemana?"
Tong Thian hong menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Apakah saudara Buyung telah menjanjikan tempat pertemuan dengan nona Nyo?"
tanyanya.
"Tidak!"
98
"Waaah... bisa repot kalau begitu, bila kita gagal untuk mengadakan kontak dengan
nona Nyo, maka dia pasti mengira kita masih berada dalam perkumpulan Sam seng
bun, jika kerja sama kedua belah pihak tak bisa teratur, bisa jadi semua urusan
akan terbengkalai."
"Bagaimana juga toh mustahil bagi kita untuk balik kembali ke sana..."
"Mengapa tidak?" bisik Tong Thian hong. "Asal kita bisa mencari sebuah akal agar
jangan sampai diketahui semua orang, bahkan Im Hui sendiripun tak akan
menyangka kalau kita yang sudah pergi akan balik kembali ke situ."
"Tapi dengan cara apa?"
Setelah berhenti sejenak, terusnya.
"Sekalipun kita dapat balik kembali ke perkampungan keluarga Im, apa pula yang
hendak kita lakukan?"
"Saudara Buyung, apakah kau sungguh-sungguh mempercayai ucapan dari nona
serta Ciu Peng?"
"Kenapa? Apakah mereka juga sedang mengadakan akal licik untuk membohongi
kita?"
"Dengan kedudukan Im Tongcu, aku tak percaya kalau mereka tidak tahu
dimanakah letak Sam seng bun tersebut, seandainya kita masih ingin menemukan
letak lembah tiga malaikat tersebut maka dua bersaudara Im merupakan titik
terang buat kita."
Sementara pembicaraan berlangsung, mendadak terdengar bunyi burung merpati
yang terbang melintasi udara meluncur lewat dari atas kepala mereka.
Melihat itu Buyung Im seng segera berbisik dengan lirih. "Sayang sekali kedua ekor
burung elang milik Ki hujin tidak kubawa serta, coba kalau kebetulan kubawa dan
berhasil menangkap burung merpati pos itu, kita bisa mengetahui apa saja yang
mereka bicarakan."
Tong Thian hong termenung beberapa saat lamanya, lalu ujarnya. "Merpati pos
yang barusan lewat di atas kita itu kalau bukan melaporkan suatu masalah besar,
tentunya surat yang dikirim dari Sam seng tong malam ini pasti ada urusan besar
yang akan terjadi."
"Darimana saudara Tong bisa mengatakan burung merpati pos itu berasal dari Sam
seng tong?"
"Ditengah malam buta begini ada merpati pos yang terbang melintas, itu berarti
persoalannya penting sekali, kecuali surat perintah dari tiga malaikat, siapa lagi
yang berani malam-malam buta begini mengganggu ketenangan Im Hui?"
"Aaaah... belum tentu begitu, apabila burung merpati pos itu juga belum pasti akan
mengganggu Im Hui."
"Berbicara soal kecerdasan dan ilmu silat, saudara Buyung jelas jauh melebihi
kemampuan siaute, akan tetapi kalau berbicara soal pengalaman dalam dunia
persilatan, aku berani mengucapkan sepatah kata sombong, saudara Buyung masih
jauh ketinggalan dari pada diriku", setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan.
99
"Jika saudara Buyung tidak percaya, apa salahnya kalau kita menyembunyikan diri
untuk melihat keadaan."
"Bersembunyi dimana?"
Tong Thian hong mendongakkan kepalanya dan memandang sekejap sekeliling
tempat itu, kemudian katanya. "Lebih baik kalau bersembunyi di atas pohon besar
di tepi jalan itu."
"Suatu akal yang bagus sekali, selain mengawasi gerak gerik musuh, kitapun bisa
menyembunyikan diri!"
"Tak jauh di depan sana agaknya terdapat sebatang pohon, mari kita bersembunyi
di atas sana, mungkin dengan cepat bisa kita lihat hasilnya."
Kedua orang itu segera berangkat menuju ke depan sana, benar juga di sana
tumbuh pohon yang amat besar sekali.
Buyung Im seng memandang sekejap batang pohon itu, kemudian katanya sambil
manggut-manggut. "Batang pohonnya besar dan dahannya banyak, daunpun amat
rimbun, kita bisa tiduran di sana, sungguh merupakan tempat persembunyian yang
bagus sekali."
Sambil bercakap-cakap kedua orang itu melompat naik ke atas pohon besar itu,
memilih suatu tempat yang lebat daunnya dan duduk bersila di situ untuk
mengatur pernapasan.
Betul juga, seperti apa yang diduga Tong Thian hong, tak lama kemudian terdengar
suara ujung baju tersampok angin berkumandang tiba, agaknya ada orang sedang
lewat di bawah pohon sana.
Buyung Im seng merasa girang sekali, segera teriaknya.
"Mereka telah datang!"
Buru-buru Tong Thian hong menarik tangan Buyung Im seng, sambil berbisik lirih.
"Jangan bertindak gegabah, kita cuma boleh bersembunyi sambil mengintip jangan
sampai menunjukkan jejak kita."
Benar juga tak selang beberapa saat kemudian kembali muncul beberapa sosok
bayangan manusia yang berlarian lewat di bawah pohon.
"Hei, coba lihat, mengapa mereka berlarian?" bisik Buyung Im seng keheranan.
"Walaupun siaute tak bisa menerangkan secara keseluruhan, tapi aku percaya di
sini pasti akan terjadi suatu peristiwa yang maha besar."
"Peristiwa apa?"
Mendadak Tong Thian hong membungkam dan tak berbicara lagi, tangannya
ditempelkan di depan bibir memberi tanda kepada Buyung Im seng agar jangan
bicara.
Pada saat itulah kembali ada dua sosok bayangan manusia berlarian dekat, saat
lari sampai di bawah pohon dimana kedua orang itu berada mendadak mereka
berhenti.
100
Buyung Im seng merasa heran sekali, pikirnya. "Mengapa kedua orang ini secara
tiba-tiba berhenti di sini? Mau apa mereka?"
Ia mencoba untuk menengok ke bawah, tampaklah seorang lelaki berbaju putih
sedang berdiri di bawah pohon besar itu sambil bergendong tangan..."
Rupanya orang itu bukan lain adalah Im cengcu, Im Hui.
Kemunculan Im Hui secara tiba-tiba ditempat itu menunjukkan bahwa persoalan
yang bakal terjadi bukanlah persoalan sepele.
Tong Thian hong segera berpaling memandang Buyung Im seng dengan ilmu
menyampaikan suara, katanya. "Ditengah malam buta begini Im Hui datang
kemari, ini menunjukkan bahwa suatu peristiwa besar bakal terjadi."
Buyung Im seng manggut-manggut.
"Dia berhenti tepat di bawah pohon besar ini, entah apa sebabnya?" ia balik
bertanya.
Belum sempat Tong Thian hong menjawab, tampak seorang lelaki berbaju hitam
lari mendekat dan memberi hormat kepada Im Hui, kemudian ujarnya. "Malaikat
kedua tiba!"
Mendengar disebutnya "Malaikat kedua", Buyung Im seng merasakan hatinya
bergetar keras hampir saja dia menjerit tertahan saking tak kuasanya menahan
emosi.
"Dimanakah kereta kencana dari malaikat kedua?" kedengaran Im Hui sedang
bertanya.
"Sudah berada seratus kaki dari sini."
"Baik, bawa aku untuk menyambut kedatangannya!"
"Tidak perlu!" mendadak dari kejauhan sana berkumandang suara sahutan yang
berat.
Menyusul kemudian terdengar roda kereta berputar dan sebuah kereta kencana
yang aneh sekali bentuknya meluncur tiba dengan kecepatan yang amat tinggi.
Sekeliling ruang kereta itu gelap dan berwarna hitam, sehingga membuat siapapun
sukar untuk melihat jelas keadaan didalam ruang kereta tersebut. Di sebelah
depan, belakang, kiri maupun kanan kereta itu tidak tampak ada pengawal yang
mengikuti kereta itu, yang ada cuma seorang kusir kereta berbaju hijau dan bertopi
kecil yang duduk di depan kemudi.
Im Hui yang jumawa dan tinggi hati itu segera maju ke depan dengan sikap hormat
sekali, setelah menjura dalam-dalam, katanya dengan suara lirih. "Im Hui
menjumpai Ji seng!"
"Im tongcu tak usah banyak adat!" suara yang berat dan berwibawa segera
berkumandang keluar dari balik kereta.
"Im Hui telah menerima surat perintah lewat burung merpati, apabila tak dapat
menyambut kedatangan Ji seng dari jauh, harap sudi dimaafkan...!"
Orang di dalam kereta itu segera tertawa.
101
"Sebetulnya aku tak ingin mengganggu ketenangan Im Tongcu, tapi berhubung ada
suatu urusan penting yang harus dibicarakan secara langsung dengan Im Tongcu,
terpaksa aku berkunjung kemari."
"Ji seng terlalu serius..."
Setelah berhenti sebentar dia bertanya. "Entah persoalan apakah yang hendak
dibicarakan? Silahkan Ji-seng mengutarakannya."
Mendadak suara orang didalam kereta itu berubah menjadi dingin sekali, katanya.
"Apakah Im Tongcu mengetahui tentang gerak-gerik dari adikmu selama ini?"
"Aku jarang sekali mencampuri urusan adikku, tidak kuketahui kesalahan apa
yang telah dilanggar oleh adikku?"
"Adikmu selalu merasa tidak puas dengan tindak tanduk dari Sam seng bun kita,
benarkah ini ada kenyataannya?"
"Soal ini aku kurang begitu jelas, sebab belum pernah adikku membicarakan
persoalan ini denganku!"
"Adikmu bukan anggota Sam seng bun, tapi tidak sedikit persoalan dari Sam seng
bun kita yang diketahui olehnya, tentang hal ini apakah Im tongcu juga tidak
begitu jelas?"
Im Hui termenung beberapa saat lamanya, kemudian menjawab. "Tentang soal ini
hamba benar-benar tidak tahu."
Mendengar jawaban tersebut, orang yang berada dalam kereta itu segera tertawa
terbahak-bahak.
"Haaaahh... haahhh... haahhh... Im tongcu adalah seorang yang amat cerdas,
akalmu cukup meyakinkan, ataukah didalam hal ini menjadi begitu bodoh?"
Buru-buru Im Hui merangkap tangannya sambil menjura.
"Harap Ji seng maklum, seandainya aku orang she Im telah melanggar peraturan
dalam perguruan Sam seng bun, silahkan Ji seng menjatuhkan hukuman yang
setimpal kepada hamba akan tetapi adikku bukan anggota Sam seng bun, terhadap
gerak geriknya Im Hui tak bisa terlalu banyak mencampurinya."
"Hmm! Kau tentunya juga mengerti, kau adalah salah seorang manusia yang
penting didalam perguruan kami!" seru orang dalam kereta itu dengan suara
dingin.
"Aku orang she Im tahu akan hal ini dan merasa bangga sekali karena mendapat
kepercayaan dari Sam ceng (tiga malaikat)."
"Bagus sekali, seandainya kuperintahkan kepadamu sekarang untuk
menyelesaikan suatu masalah pelik, bersediakah kau untuk melaksanakannya...?"
"Silahkan memberi perintah, sekalipun harus mati juga tak akan kutampik!"
"Usahakan agar adikmu juga masuk menjadi anggota perguruan Sam seng bun
kita."
102
"Seandainya hamba menggunakan hubungan pribadi minta kepadanya agar
berbakti satu kali demi perguruan Sam seng bun kita, mungkin dia tak akan
menampik, akan tetapi jika dia diminta masuk ke dalam Sam seng bun, secara
resmi, hamba rasa dia takkan meluluskannya."
Setelah menghela napas panjang, terusnya. "Dua tahun berselang, aku orang she
Im sudah menerima firman yang meminta kepadaku untuk mengajak adikku
masuk menjadi anggota perguruan segenap kemampuan untuk mengajaknya
masuk menjadi anggota, tapi usaha hamba selama ini tak pernah mendatangkan
hasil."
"Aku tahu!" kata orang didalam kereta itu dengan dingin. "Waktu itu agaknya dia
belum begitu banyak mengetahui tentang urusan dalam perguruan Sam Seng bun,
tapi keadaannya sekarang sudah lain."
Mendadak suaranya berubah menjadi dingin menyeramkan, pelan-pelan terusnya.
"Bila kau tak mampu menasehati adikmu agar masuk menjadi anggota perguruan
Sam seng bun, masih ada satu cara yang bisa dilaksanakan..."
"Membunuhnya untuk membungkamkan mulutnya bukan?" sambung orang she Im
itu dengan cepat.
"Im tongcu memang benar-benar seorang yang cerdik!" puji orang didalam kereta
itu dengan dingin.
"Perintah dari Ji-seng, aku orang she Im tak berani membangkang, cuma Im Hui
belum tentu bisa menangkan kelihaian dari adikku."
Ucapan tersebut bukan saja membuat orang didalam kereta itu tak sanggup
mengucapkan sepatah katapun, dalam waktu yang cukup lama sekalipun Buyung
Im seng dan Tong Thian hong yang bersembunyi di atas pohon pun menjadi
tertegun dibuatnya, pikir mereka.
"Kepandaian silat yang dimiliki Im Hui sudah mencapai tingkatan yang luar biasa
sekali, apakah nona Im itu benar-benar masih jauh lebih lihai daripada yang
dimiliki Im Hui?"
Sementara itu, orang yang berada dalam kereta itu sudah berkata lagi dengan
suara dingin.
"Sungguhkah perkataanmu itu?"
"Hamba tidak berani membohongi Ji-seng!"
"Selain mempergunakan ilmu silat, aku rasa masih ada cara lain untuk
membinasakan dirinya, misalkan meracuni dia, toh sama saja bisa merenggut
selembar jiwanya".
"Hamba dan adikku adalah saudara sekandung dari seorang ayah dan seorang ibu
yang sama, usia adikku itu selisih banyak sekali bila dibandingkan dengan usiaku,
apalagi sejak kecil akulah yang merawatnya hingga menjadi dewasa, soal meracuni
atau melukai secara diam-diam..."
"Kau tidak tega untuk turun tangan sendiri?" tukas orang didalam kereta itu.
103
"Aaaii...!" Im Hui menghela napas panjang, "hamba akan usahakan sekali lagi
untuk membujuknya agar mau masuk menjadi anggota perguruan Sam seng bun,
kalau dia tidak mau meluluskan lagi permintaanku ini terpaksa aku harus turun
tangan untuk membunuhnya."
"Semoga saja ucapanmu itu muncul dari hati sanubarimu!" kata orang dalam kereta
itu.
Im Hui segera menjura dalam-dalam. "Apakah Ji seng masih ada pesan yang lain?"
"Konon kalian berhasil menangkap Buyung Im seng?"
"Ya, ditengah jalan telah terjadi suatu perubahan tiba-tiba, semua orang yang
mengawal telah terbunuh habis, ketika hamba menyusul ke tempat kejadian hanya
berhasil menyelamatkan jiwa dua orang kuris kereta."
"Sudah kau selidiki siapa yang melakukan perbuatan itu?"
Im Hui menggeleng, sahutnya. "Hamba sedang melakukan penyelidikan sekarang."
"Titik terang sih belum ada, cuma kalau dilihat dari persoalannya, besar
kemungkinan dilakukan oleh orang-orang Sam seng bun kita sendiri."
Orang dalam kereta itu termenung sebentar, kemudian tanyanya. "Darimana kau
bisa berkata demikian?"
"Tertangkapnya Buyung Im seng dan Biau hong lengcu hanya diketahui oleh orangorang
Sam seng bun kita, hampir boleh dibilang orang persilatan tidak ada yang
tahu tentang persoalan ini, karena itu hamba berani mengatakan bahwa dalam
perguruan Sam seng bun kita sesungguhnya terdapat banyak musuh dalam
selimut."
"Peraturan dari perguruan Sam seng bun kita sangat ketat, siapakah yang berani
begitu bernyali untuk melakukan perbuatan semacam itu?"
"Soal ini hamba belum mendapat bukti dan tidak berani sembarangan menuduh."
"Kau sudah periksa kedua orang kusir kereta itu?"
"Sudah!"
"Apa yang mereka katakan?"
"Baru saja pertarungan dimulai mereka sudah kena dilukai orang, tentu saja
jalannya peristiwa tidak mereka ketahui."
Mendadak orang didalam kereta itu tertawa dingin, serunya. "Im tongcu, bila kau
mempunyai sesuatu kecurigaan dalam hatimu, tak ada salahnya untuk dibicarakan
secara blak-blakan!"
"Hamba tidak berani!"
"Tidak mengapa, cepat katakan!"
"Dari pihak Seng thong (ruang malaikat) konon telah mengutus serombongan besar
jago lihai untuk datang kemari, benarkah ada kejadian seperti itu?"
"Betul, memang ada kejadian seperti itu."
104
"Secara tiba-tiba mengutus orang yang begitu banyak kemari, dan lagi sebelum
kejadian tidak diterima surat pemberitahuan, tampaknya kalian sudah tidak
mempercayai hamba lagi?"
Seandainya Im tongcu dapat membujuk adikmu agar masuk menjadi anggota Sam
seng bun, atau membunuhnya demi keamanan kita semua, bukan saja pihak Seng
tong akan mempercayai dirimu kembali, bahkan kaupun akan diberi imbalan yang
besar sekali."
Buyung Im seng yang bersembunyi di atas pohon dapat mendengarkan semua
pembicaraan itu dengan sangat jelas, segera pikirnya.
"Ooohh... rupanya pihak Seng tong telah mulai menaruh curiga terhadap Im Hui."
Sementara itu Im Hui telah menjura seraya berkata. "Terima kasih banyak atas
nasehat Ji seng."
Tiba-tiba orang didalam kereta itu menghela napas panjang, katanya kemudian.
"Im Hui, moga-moga kau bisa menjaga dirimu baik-baik", setelah berhenti sejenak,
terusnya. "Mari kita pergi."
Tampak kusir kereta berbaju hijau itu tiba-tiba menyentak tali les kudanya, tibatiba
kereta itu membalik arah dan lari melalui jalan semula...
"Apakah Ji seng tidak duduk sebentar didalam perkampungan kami?" seru Im Hui.
"Tidak usah!"
"Hamba dengan hormat mengiringi kepergian Ji seng."
Sungguh cepat gerak lari kereta berbentuk aneh itu, baru dua patah kata Im Hui
berbicara, kereta itu sudah berada beberapa kaki jauhnya.
Terdengar orang didalam kereta itu kembali berkata. "Adikmu adalah seorang gadis
pintar yang mengetahui keadaan, seandainya kau menggunakan hubungan
persaudaraanmu untuk membujuknya, aku rasa kemungkinan besar dia bersedia
masuk menjadi anggota Sam seng bun."
"Je seng tak usah kuatir, hamba akan berusaha dengan sepenuh tenaga, bila mana
perlu akan kubunuh dirinya untuk memperlihatkan kebaktian hamba kepada Sam
seng bun."
Buyung Im seng yang mendengar pembicaraan itu amat terkesiap, diam-diam
pikirnya. "Entah menggunakan cara apakah pihak Sam seng bun menguasai anak
buahnya, ternyata terhadap manusia seperti Im Hui diperlakukan pengawasan
yang begitu ketat sekali... sungguh suatu kejadian di luar dugaan..."
Setelah memandang hingga kereta itu jauh meninggalkan pandangan mata, Im Hui
baru menarik napas panjang dan berlalu pula dari tempat itu. Setelah Im Hui pergi,
orang yang berjaga disekitar pohon pun segera bubar, dalam waktu singkat tak
seorang manusiapun yang kelihatan berkeliaran di sana.
Tong Thian hong memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, setelah yakin kalau
orang-orang Sam seng bun telah pergi semua, dia baru berbisik lirih.
105
"Sudah kau lihat saudara Buyung?" "Melihat apa?" "Im Hui kelihatan sangat
menderita, padahal kedudukannya dalam perguruan Sam seng bun tinggi sekali,
tapi ia toh tidak mampu melindungi adik kandungnya sendiri."
"Dari mereka berdua, yang seorang adalah Tongcu dari perguruan Sam seng bun
sedangkan yang lain tidak bersedia menggabungkan diri dengan perguruan Sam
seng bun, tetapi kedua-duanya tinggal ditempat yang sama, kejadian ini betul-betul
membuat orang tak habis mengerti saja..."
"Bila paham yang dianut berbeda, tak akan cocok untuk bersatu, meski mereka dua
bersaudara tapi masing-masing menempuh jalannya sendiri-sendiri, peristiwa
macam ini tidak jarang ditemui dalam dunia persilatan, jadi tiada sesuatu yang
perlu diherankan."
"Cuma, yang aneh sekarang dua bersaudara masih bisa saling hormat menghormati
meski masing-masing menempuh jalan sendiri, kalau didengar dari perkataan Im
Hui tadi, agaknya selain rasa hormatnya kepada adik perempuannya itu, diapun
menaruh rasa takut. Tapi perintah dari Ji seng sangat mendesaknya, Im Hui sudah
tak dapat bertahan lebih jauh, aku menguatirkan sekali bagi keselamatan nona Im
yang baik hati itu."
"Bagaimana? Masa ia benar-benar akan membunuh adik kandungnya sendiri?"
"Andaikata Im Hui tidak mampu membujuk adiknya agar bergabung dengan
perguruan Sam seng bun, maka dia hanya ada dua jalan yang ditempuh."
"Dua jalan yang mana?"
"Pertama, membunuh adiknya untuk merebut kepercayaan Sam seng kepadanya,
dan kedua menghianati perguruan Sam seng bun, tapi kalau dilihat dari keadaan
tadi, agaknya Im Hui tak akan sampai menghianati perguruan Sam seng bun, itu
yang berarti tinggal sebuah jalan saja yang bisa ditempuh olehnya, yakni
membunuh adiknya sendiri."
00oo00
BAGIAN KE DELAPAN
"Nona Im berhati bajik dan sangat mulia, andaikata Im Hui ingin mencelakainya,
hal ini bisa ia lakukan dengan gampang sekali, sekarang kita sudah mengetahui
akan kejadian ini, sepantasnya kalau kita sampaikan kabar ini kepadanya."
"Tapi perjalanan kembali penuh dengan rintangan, tak mungkin kita bisa balik
kembali ke perkampungan tersebut tanpa diketahui jejaknya oleh mereka."
Buyung Im seng segera mengerutkan dahinya rapat-rapat, keluhnya kemudian.
"Seandainya Nyo Hong ling berada di sini ia pasti mempunyai akal bagus untuk
mengatasi keadaan ini."
Tiba-tiba Tong Thian hong tertawa, katanya. "Siaute juga mempunyai suatu cara
yang bodoh, mungkin saja masih bisa dipergunakan untuk menolong nona Im."
"Bagaimana cara itu?"
"Kalau didengar ucapan Ciu Peng agaknya dia mempunyai cara khas untuk
mengadakan kontak dengan perkumpulan Li ji pengnya, asal kita bisa menemukan
106
pangcu dari Li ji pang serta minta bantuannya untuk menyampaikan berita ini
pada Ciu Peng, lalu minta Ciu Peng menyampaikannya pada nona Im bukankah hal
ini akan beres? Sekalipun Im Hui tega turun tangan keji terhadap adiknya sendiri,
juga tak akan melakukan dalam tiga lima hari ini, asal dalam tujuh hari kita bisa
berjumpa dengan pangcu dari Li ji pang, aku yakin 80% jiwa nona Im masih bisa
diselamatkan."
"Betul, siaute tak menyangka kalau kau bisa berpikir sampai ke situ..."
Mendadak dia menghela napas panjang, gumamnya lagi.
"Sayang, sayang!"
"Apanya yang sayang?" tanya Tong Thian hong agak tertegun.
"Sayang kepergian Im Hui terlalu lambat, coba kalau dia pergi agak cepat sedikit,
sudah pasti kita bisa menguntit di belakang keretanya Ji-seng."
Toan Thian hong menghela napas panjang. "Aaai.... kalau dibicarakan
sesungguhnya kejadian inipun merupakan suatu kejadian yang sangat aneh,
dengan kedudukan yang begitu tinggi kenapa pada sewaktu melakukan inspeksi
dia tidak membawa pengiring yang banyak, sebaliknya hanya membawa seorang
kusirnya?"
"Justru karena itu, andaikata kita menguntit ketika itu, banyak rintangan tak
diinginkan yang bisa kita hindari."
"Sekarang keadaan belum terlambat, bagaimana kalau kita mencoba
menyusulnya?"
"Betul, karena yang ditumpanginya sangat istimewa sekali, dalam sekilas
pandangan kita dapat segera mengenalinya kembali.
"Saudara Buyung, kalau memang kita akan menyusulnya mari kita sekarang juga
berangkat!"
Tanpa membuang waktu lagi dia lantas melompat turun dari atas pohon dan
mengejar ke depan.
Buyung Im seng juga tidak membuang waktu lagi, dia segera menyusul dari
belakang.
Mengikuti arah larinya kereta itu, dalam waktu singkat kedua orang itu sudah
melakukan pengejaran sejauh puluhan li, akan tetapi bayangan kereta itu belum
juga ditemukan.
Sambil menggelengkan kepala Buyung Im seng berseru.
"Sungguh mengherankan! Padahal sepanjang jalan sampai kemari tidak tampak
ada jalan persimpangan, kitapun sudah mengejar dengan secepat-cepatnya,
mengapa belum nampak juga jejaknya?"
Tong Thian hong mendongakkan kepalanya dan memandang cuaca sejenak,
kemudian katanya sambil tertawa.
"Asal kita ingat terus bentuk keretanya yang aneh itu, rasanya bukan suatu hal
yang sulit untuk menemukannya didalam waktu lain, sekarang kita tak usah
107
terlalu terburu napsu, yang penting sekarang berusaha mengadakan kontak dengan
orang-orang Li ji pang."
"Saudara Tong, tahukah sekarang kita berada dimana?" tanya Buyung Im seng
sambil ketawa. Tong Thian hong mengalihkan sinar matanya dan memperhatikan
sekejap sekeliling tempat itu kemudian menggeleng.
"Sekarang hari belum terang, mari kita lanjutkan perjalanan untuk mencari rumah
penginapan, kita harus merubah wajah kita."
Secara tiba-tiba Tong Thian hong seperti teringat sesuatu yang sangat penting,
buru-buru tukasnya.
"Saudara Buyung, walaupun nona Im mengutus Ciu Peng untuk mengantar kita
meninggalkan tempat berbahaya, tapi Im Hui sendiripun rupanya ada niat juga
untuk melepaskan kita pergi."
Buyung Im seng termenung beberapa saat, lalu menjawab.
(Bersambung ke jilid 6)
108
Lembah Tiga Malaikat
Oleh: Tjan
Jilid 6
CIU PENG menyuruh kita dari pada menanam bibit permusuhan lebih baik
mengikat tali persahabatan, aku pikir dibalik kesemuanya ini pasti ada rahasia
lain.
"Dengan dandanan kita sekarang, seandainya sampai diketahui oleh orang-orang
Sam Seng bun maka Im Hui sendiripun akan merasakan akibatnya. Ucapan
saudara Buyung memang benar kita harus berganti dengan dandanan lain, sebab
hal ini penting sekali artinya."
Maka berangkatlah kedua orang itu melanjutkan kembali perjalanannya, sampai
matahari sudah di atas awang-awang baru sampai didalam sebuah kota besar.
Kota itu ramai sekali, sepanjang jalan banyak sekali terdapat warung makan dan
rumah penginapan.
Tong Thian hong mencari sebuah rumah penginapan yang baru saja membuka
pintu, seorang pelayan sedang menyapu halaman, ketika melihat ada dua orang
lelaki berbaju compang camping akan masuk ke dalam penginapan, dia segera
melemparkan sapunya ke tanah dan menghadang jalan pergi kedua orang itu.
"Hei, mau apa kalian berdua ?" tegurnya.
Tong Thian hong segera merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan sekeping
perak yang dua tahil beratnya, sambil diangsurkan ke depan serunya: "Pelayan,
adakah kamar yang bersih? Sudah semalaman suntuk kami melakukan perjalanan,
sekarang hendak ganti pakaian dan membersihkan badan, hadiah kecil itu buat
kau membeli semangkuk teh"
Melihat ada uang, paras muka pelayan itu berubah menjadi ramah, dengan senyum
dikulum, katanya: "Sepanjang jalan kalian pasti lelah sekali, hamba akan
membawakan jalan untuk kalian berdua."
109
Seraya berkata tangan kanannya menyambut uang itu dan dimasukkan ke dalam
saku, kemudian dengan langkah lebar berjalan ke dalam.
Tong Thian hong dan Buyung Im seng saling berpandangan sekejap sambil tertawa,
mereka segera mengikuti di belakang pelayan itu melewati sebuah halaman dan
menuju ke dalam sebuah ruangan yang bersih.
Tampak aneka bunga bersemarak di sana sini, ternyata tempat itu adalah sebuah
ruangan tersendiri yang ada ruang tamunya.
Sambil tertawa pelayan itu berkata lagi: "Sebenarnya kamar ini sudah dipesan oleh
Kim-ji-ya dari toko emas untuk menyambut kedatangan seorang tamunya yang
datang dari jauh, besok orangnya tiba, tempat ini bersih dan tenang, silahkan
kalian berdua beristirahat, asal besok pagi bisa mengosongkan kembali kamar ini,
semuanya bakal beres."
"Besok kami pasti berangkat"
"Baik!" kata pelayan itu sambil tertawa. "Hamba akan mempersiapkan air teh
untuk kalian berdua"
Sepeninggalan pelayan itu Buyung Im seng lantas berkata: "Saudara Tong, kita
harus bertanya kepadanya kota apakah ini"
"Tong Thian hong tertawa: "Dia telah menganggap kita sebagai orang hitam kalau
begitu buka mulut kita menanyakan nama tempat, bisa jadi kita akan dianggap
enteng oleh pelayan itu."
"Benar juga perkataan saudara Tong, kita pun harus beristirahat dengan baik!"
Sungguh cepat gerak gerik pelayan itu, tidak selang beberapa saat kemudian dia
sudah muncul sambil membawa sepoci air teh, katanya sambil tertawa: "Api di
tungku sudah mulai dibuat, hamba telah berpesan ke dapur untuk mempersiapkan
hidangan buat kalian berdua"
"Bagus sekali!" Tong Thian hong manggut-manggut. "Kami butuh juga beberapa
stel pakaian, cuma waktunya tidak banyak, suruh penjahitnya kerja lembur..."
Pelayan itu segera memenuhi cawan tamunya dengan air teh lalu katanya pelan:
"Perawakan kalian berdua tidak tinggi juga tidak pendek, tidak sulit untuk
membeli pakaian jadi, cuma harganya..."
"Soal harga bukan menjadi masalah" tukas Tong Thian hong: "Kami berdua masingmasing
butuh dua stel, satu berwarna biru yang satu berwarna hijau. Selain itu
belikan celana panjang dan sepatu, sepuluh tahil perak cukup tidak?"
Pelayan itu kembali tertawa terkekeh, sahutnya: "Aaaah... tidak perlu sebanyak itu,
sisanya hamba pasti kembalikan.."
Tong Thian hong segera mengeluarkan sepuluh tahil perak sambil menukas dengan
cepat: "Tak usah dikembalikan lagi, sisanya persen buat kau minum arak."
Pelayan itu segera membungkukkan badan dan memberi hormat tiada hentinya:
"Harap kalian beristirahat dulu, hamba akan keluar sebentar." Dengan langkah
lebar dia lantas beranjak keluar ruangan.
110
Mendadak satu ingatan melintas dalam benak Tong Thian hong, serunya dengan
cepat: "Tunggu sebentar !"
"Toaya masih ada pesan lain ?" tanya pelayan itu sambil membalikkan badannya.
"Ditempat kalian ini apakah ada tempat untuk bersenang senang ?"
"Tempat bersenang senang ada dimana mana" sahut pelayan itu sambil tersenyum.
"Sebentar hamba pasti membawa kalian berdua mengunjungi tempat itu."
Memandang bayangan punggung pelayan itu sudah pergi jauh, Tong Thian hong
baru berkata sambil tersenyum. "Pelayan itu adalah orang yang paling jeli matanya
tapi juga paling sulit dihadapi, biji matanya tak boleh melihat uang, asal melihat
uang matanya lantas jadi hijau, cuma merekapun paling pandai bekerja, entah
persoalan yang bagaimana sulitnya, asal mereka bersedia untuk melaksanakannya,
maka mereka pasti bisa melakukannya dengan segera."
"Sekarang, apa yang harus kita lakukan ?"
"Setelah pelayan itu membawa pulang pakaian yang dibeli, kita pulihkan dulu
wajah kita, lalu berjalan jalan mengelilingi kota, siapa tahu bisa berjumpa dengan
orang-orang Li ji pang"
"Betul, kita memang harus berjalan jalan mengitari kota, mata-mata Li ji pang
paling banyak siapa tahu kita bisa bersua dengan mereka... ?"
Setelah menunggu beberapa saat lamanya, pelayan itu sudah kembali sambil
membawa pakaian yang dipesan. "Cepat amat cara bekerja pelayan ini!" seru Tong
Thian hong sambil tertawa.
"Ada uang setanpun bisa disuruh, apalagi cuma beberapa stel pakaian." jawab
pelayan itu cepat, "cobalah dulu, kalau tidak cocok hamba akan pergi menukarkan
yang lain. Sekarang akan kupersiapkan dulu hidangan untuk kalian berdua."
Dia lantas melangkah keluar dari ruangan itu. Dengan cepat Tong Thian hong serta
Buyung Im seng telah berganti pakaian baru. Cara bekerja pelayan itu memang
mengagumkan, baru saja kedua orang itu bertukar pakaian dan membersihkan
obat penyaru dari atas wajahnya, pelayan itu sudah datang menghidangkan nasi
dan arak.
Waktu itu wajah Buyung Im seng dan Tong Thian hong tampan dan gagah sekali,
seolah-olah sudah berganti orang saja. Pelayan itu sampai lama sekali berdiri
termangu-mangu sambil mengawasi kedua orang tamunya, kemudian ia baru
bertanya, "Apakah kalian berdua yang tidak itu?"
"Buddha memerlukan perlengkapan emas, manusia-manusia memerlukan pakaian.
Apanya yang salah?"
Pelayan itu tertawa. "Setelah berganti pakaian, hakekatnya kalian berdua telah
berubah muka, hamba percaya dengan ketajaman mata hamba ini, toh tidak
berhasil mengetahui juga." Sambil menghidangkan makanan ke meja, katanya lagi,
"Silahkan yaya berdua bersantap dan beristirahat sebentar. Setelah tengah hari
nanti hamba akan minta ijin untuk libur setengah hari dan mengajak yaya berdua
jalan keliling kota. Di sini terdapat seorang Siok cu poan cu yang bernama Siau
Ling2, seperti nama orang itu cantik dan ramping, persis seperti lukisan, cuma
111
perangainya rada jelek. Tapi dengan potongan kalian berdua, siapa tahu kalau
budak itupun akan terpikat."
Tong Thian hong cuma tersenyum dan tidak berkata apa-apa. Selesai berkata
pelayan itu juga mohon diri. Sepeninggal pelayan itu, Buyung Im seng lantas
bertanya, "Saudara Tong, apa yang dimaksudkan dengan Siok-cu poan cu?"
"Buat mereka yang berusaha di bidang pelacuran, istilah nona Siok cu di rumah
menjadi Siok-cu poan cu."
"Oh....., rupanya sarang pelacur." Buyung Im seng tertawa.
"Saudara Buyung belum pernah berkunjung ke rumah pelacuran?"
Buyung Im seng gelengkan kepalanya berulang kali. "Belum pernah, tempat seperti
itu lebih baik jangan dikunjungi saja...."
"Siaute dua kali pernah berkunjung ke tempat semacam itu bersama teman2.
Sarang pelacur hanya penuh dengan perempuan yang bergincu dan berdandan
menyolok. Jangankan saudara Buyung tak akan tertarik, sekalipun siaute juga
muak, cuma, kali ini kita patut berkunjung ke sana...."
"Kenapa?"
"Bila Li ji pang mengatur pula jaringan mata-matanya di sini, maka dia pasti akan
mengatur jaringan mata2nya di tempat yang paling ramai."
"Maksud saudara Tong, kemungkinan besar Siau Ling2 adalah mata2 dari Li ji
pang?"
"Siaute cuma berpendapat demikian, betul atau tidak, tak berani memastikan. Toh
tak ada salahnya kita berkunjung sekali ke sana ....."
Buyung Im seng tersenyum. "Baiklah," dia berkata, "memang tak ada salahnya
untuk mencari pengalaman dengan berkunjung ke tempat semacam itu."
Mereka berdua segera bersantap dan kemudian beristirahat. Selewatnya tengah
hari, pelayan itu telah bertukar pakaian baru, sambil tertawa dia muncul di dalam
kamar sambil katanya. "Hamba telah minta ijin kepada ciangkwe untuk libur
setengah hari, agar bisa menemani yaya berdua berpesiar sampai puas. Betul
tempat ini tidak besar, tapi terhitung juga sebuah bandar yang ramai, tempat
pelacuran, tempat bermain judi semuanya ada, tempat untuk mencari hiburan tak
sedikit jumlahnya."
"Hai pelayan, siapakah namamu?"
"Hamba Li-Ji hek, orang daerah menyebutku Li-Hek-cu!"
"Kelihatannya kau punya hubungan yang luas di tempat ini?"
Li-Ji-hek segera tersenyum. "Aaaah, mana, mana, seorang pelayan tidak terhitung
seberapa, cuma berkat cinta kasih teman, semua masyarakat akupun kenal teman2
mau membantu, sesungguhnya sudah memberi muka kepada hamba." Setelah
berhenti sebentar, dia melanjutkan. "Bicara setengah harian, hamba belum
menanyakan marga dari toaya berdua!"
112
Tong Thian hong segera menuding ke arah Buyung Im seng sambil berkata. "Dia
adalah Im toaya!"
"Im toaya?" Li-Ji-hek tampak agak tertegun.
"Yaa, betul! Im toaya, sedangkan aku? Aku she Che!"
Dengan sepasang matanya yang jeli Li-Ji-hek memperhatikan wajah Buyung Im
seng beberapa saat lamanya, kemudian berguman. "Oooh ..... rupanya Im dan Che
dua orang toaya!"
Mendadak ia menjatuhkan diri berlutut di atas tanah, sambil menyembah di
hadapan Buyung Im seng, katanya, "Hamba benar-benar punya mata tak berbiji,
tidak kenal dengan wajah Im ya, bila berbuat salah, harap kau sudi memberi maaf."
Mula-mula Buyung Im seng agak tertegun, kemudian tertawa hambar. "Bangunlah,
siapa tidak tahu dia tidak bersalah."
Li-Ji hek bangkit berdiri, kemudian bertanya lagi. "Hamba berjodoh untuk
berkenalan dengan Im ya, sesungguhnya hal ini merupakan suatu keuntungan bagi
hamba."
Buyung Im seng tahu bahwa orang itu sudah salah paham, diapun tidak
mengungkapnya, Cuma katanya sambil tersenyum. "Mari kita pergi!"
"Hamba akan membawakan jalan buat Im ya!" dengan langkah lebar buru2 pelayan
itu berjalan lebih dulu. Tong Thian hong dan Buyung Im seng saling berpandangan
sekejap, kemudian mengikuti Li Ji hek pergi meninggalkan tempat itu. Perkataan
dari Li-Ji hek memang tidak salah, meskipun kota itu tidak terlampau besar, tapi
ramainya bukan kepalang, orang yang berlalu lalang di jalan hampir mendekati
saling berdesakan.
Li-Ji hek memang tidak malu disebut penunjuk jalan yang berpengalaman, dia
selalu menghindari jalan yang ramai dan menerobos jalan lorong yang sempit.
Setelah melalui beberapa jalan dan lorong akhirnya sampailah mereka di depan
gedung yang besar sekali. Li-Ji hek segera berhenti, katanya, "Sudah sampai, biar
hamba pergi mengetuk pintu."
Ketika Buyung Im seng mencoba untuk mendongakkan kepalanya, terlihat
bangunan itu tinggi besar dengan pintu gerbang berwarna hitam yang tertutup
rapat, ia merasa heran sekali. Maka dengan suara lirih tanyanya,
"Tempat ini seharusnya ramai sekali, mengapa suasana begini sepi dan hening, tak
seorangpun manusia yang kelihatan?"
Sambil membungkukkan badannya, sahut Li-Ji hek. "Menjawab pertanyaan Im ya,
saat ini masih awal sekali, belum sampai waktu untuk menerima tamu."
"Aaaah....kalau memang terlalu pagi lebih baik kita balik lagi nanti saja!"
Li Ji hek segera tersenyum. "Punya uang setanpun bisa diperintah, germo yang
membuka rumah pelacuran ini lebih suka uang daripada setan, asal Im-ya bersedia
menghamburkan sedikit uang, sekalipun datang lebih awal lagi juga akan disambut
mereka. Bahkan kalau suasana makin tenang makin syahdu rasanya, toh toaya
berdua tidak kuatir menghamburkan uang....."
113
Ketika dilihatnya Li Ji hek cuma ngoceh melulu, Tong Thian hong segera
mendehem seraya menegur. "Cukup, sekarang ketuklah pintu terlebih dahulu!"
Li Ji-hek mengiakan dan segera mengetuk pintu gerbang berwarna hitam itu.
"Kreek..! pintu gerbang dibuka, seorang lelaki berbaju hitam membuka pintu
dengan wajah bengis. Rupanya Li Ji hek cukup berpengalaman, dia segera menjura
kepada lelaki itu sambil berseru. "Thio-heng selamat pagi!" Kemudian ia
membisikkan sesuatu di sisi telinga lelaki tersebut.
Sebenarnya lelaki itu berwajah dingin bagaikan es, tiba-tiba saja senyuman segera
menghias wajahnya, serunya dengan cepat. "Kalau yang dibawa saudara Li adalah
tamu agung mah tidak jadi soal, silahkan masuk!" Buyung seng segera berpaling ke
arah Tong Thian hong sambil berbisik, "Saudara Che, silahkan!"
Rupanya dia belum pernah masuk ke rumah pelacuran, hatinya merasa agak takut.
Tong Thian hong tersenyum, dia lantas melangkah masuk lebih dahulu ke dalam
ruangan. Buyung Im seng buru2 mengikuti di belakang rekannya itu, sedangkan Li-
Ji hek mengikuti paling belakang.
Dengan suara lantang orang berbaju hitam itu segera berteriak. "Suruh nona
sekalian berdandan untuk menerima tamu!"
Tampak seorang nyonya setengah umur berbaju biru menyongsong kedatangan
mereka dengan langkah lebar, kemudian membawa beberapa orang tamunya ke
dalam ruang tamu. Li-Ji hek lantas berbisik pada nyonya setengah umur itu. "Im
dan Che-ya adalah orang kaya yang banyak uang, nona biasa tak akan menarik
perhatian mereka, lebih baik suruh Siau Ling-ling saja yang menyambut mereka.
Nyonya setengah umur itu segera berkerut kening, lalu keluhnya. "Oooh Hek-cu!
Kau bukannya tak tahu betapa jeleknya adat Siau Ling-ling, kalau sampai
menyalahi toaya berdua, bagaimana mungkin aku bisa menanggungnya?"
"Tidak menjadi soal, nona yang cantik tentu jelek adatnya." seru Buyung Im seng
dengan cepat.
Nyonya setengah umur itu segera tertawa hambar. "Kalau memang begitu, aku
akan menyuruhnya menerima tamu."
Dia lantas membalikkan badan dan beranjak pergi dari ruangan tamu itu. Tong
Thian hong lantas berpaling sekejap ke arah Li Ji hek, kemudian katanya. "Di sini
tiada sayur dan arak?"
"Akan hamba pesankan di luar, suruh dia siapkan kamar yang besar." kata Li Jihek
tertawa.
Sementara pembicaraan berlangsung, tampak serombongan perempuan muncul
dalam ruangan dan berbaris rapi. Buyung Im seng mencoba untuk memperhatikan
perempuan-perempuan itu, tampaknya mereka berdandan aneka ragam dengan
mukanya memakai gincu dan bedak yang terlalu tebal, sekalipun begitu sedikitpun
tidak kelihatan menarik.
Tong Thian hong berpaling dan memandang Buyung Im seng sekejap kemudian,
tanyanya, "Bagaimana?"
114
Buyung Im seng menggelengkan kepalanya berulang kali. "Tidak berani
menerimanya!"
"Baik!" kata Tong Thian hong kemudian, "Kalau begitu akan kuberikan Siau Lingling
untuk Im heng, Siaute sudah pernah merasakan kenikmatan di tempat seperti
ini, biar aku pilih yang lain saja."
Dia lantas menuding ke arah seorang nona yang memakai baju serba hijau, sambil
katanya, "Nona, siapa namamu?"
Li Ji-hek yang berada di sisinya segera memuji. "Che ya, sungguh tajam amat
pandangan matamu, dia adalah orang kedua yang paling top di sini setelah Siau
Ling-ling, maka urutannya adalah nona Siau po cha ini."
Tampak Siau po cha memberi hormat lalu duduk di samping Tong Thian hong. Li
Ji-hek lantas berpaling dan membisikkan sesuatu ke sisi telinga lelaki berbaju
hitam di luar pintu itu, lelaki itu manggut2 dan mengulapkan tangannya, kecuali
Siau po cha, nona lainnya mengundurkan diri dari situ.
Buyung Im seng menghembuskan napas panjang. "Saudara Che, berapa lama kita
harus berada di sini." tanyanya.
"Sehabis berjumpa dengan Siau Ling-ling nanti, kita bicarakan lagi...!"
Siau Po-cha juga tersenyum, katanya pula, "Bila telah bertemu dengan Siau Lingling,
tanggung toaya ini tak akan ribut untuk pergi lagi. Im-ya ini berpandangan
tinggi, kuatirnya Siau Ling-ling pun tak sanggup menahannya. Siau Ling-ling
cantik dan cerdik, jauh berbeda dengan perempuan lainnya, entah berapa banyak
hartawan dan putra hartawan yang jatuh hati kepadanya, meski Im-ya
berpandangan tinggi tak akan sampai merasa kecewa setelah berjumpa
dengannya."
"Sungguhkah itu?" tanya Tong Thian hong sambil tersenyum.
"Kalau Che-ya tidak percaya tak ada halangannya untuk membuktikan sendiri
nanti."
"Aku lihat kata-katamu cukup terpelajar, agaknya pernah belajar ilmu sastra?"
"Aaaah... perempuan penghibur macam aku begini, sekalipun pernah belajar ilmu
sastra juga percuma, urusan masa lampau lebih baik tak usah disinggung lagi."
Buyung Im seng menjadi tertegun, pikirnya, "Kata2 perempuan itu menunjukkan
kalau ia terpelajar, sudah pasti dia pernah belajar ilmu sastra, tapi... heran, kenapa
perempuan terpelajar semacam itu bisa terjerumus dalam rumah pelacuran seperti
ini?"
Sementara dia masih melamun, terdengar Siau Po-cha berseru. "Im-ya, cepat lihat!
Nona Siau Ling-ling telah datang!"
Ketika Buyung Im seng berpaling, maka tampaklah seorang gadis cantik jelita
bergaun hijau yang bersanggul tinggi, sambil memegang seorang dayang cilik yang
berbaju hijau, dia melangkah masuk ke dalam ruangan. Tampak gadis itu hanya
memakai pupur yang tipis, tubuhnya ramping dan matanya jeli, tangan kanannya
memegang sebuah sapu tangan.
Sembari memberi hormat, katanya: "Hamba menjumpai saudara sekalian !"
115
Tong Thian hong tersenyum, pujinya: "Ehmm, memang tidak bernama kosong..."
Sambil menepuk bangku di sisi Buyung Im seng, terusnya: "Silahkan duduk di
sini!"
Siau Ling-ling berjalan ke depan dan duduk di sisi Buyung Im seng, kemudian
sambil tersenyum sapanya: "Kongcu she apa ?"
"Silahkan duduk nona, aku She Im" Jawab Buyung Im seng. "Oooh, rupanya Im
ya..."
"Sudah lama kudengar akan nama besarmu, sungguh beruntung hari ini kita bisa
bersua"
"Aaah cuma perempuan rendah seperti aku tidak berani menerima pujian dari
kongcu"
Belum pernah Buyung Im seng menghadapi suasana seperti ini, untuk sesaat
lamanya dia tidak tahu bagaimana harus melanjutkan pembicaraan, setelah
mendehem sejenak, akhirnya dia tutup mulut dan tidak berbicara lagi.
Tong Thian hong tertawa, katanya kemudian: "Im-ya belum pernah mengunjungi
tempat seperti ini, kali ini adalah kunjungan yang pertama kali, harap nona suka
memberi kehangatan kepadanya."
Siau Ling-ling tersenyum, katanya kemudian: "Im-ya sudah menikah ?"
Merah padam selembar wajah Buyung Im seng dengan ia menggelengkan
kepalanya berulang kali.
"Aku jelek dan bodoh, tak ada yang mau denganku !"
"Aaah, sungguh pilihan Im-ya terlampau tinggi"
"Im-ya" kata Siau Po cha pula: "Meskipun adik Siau Ling-ling adalah berasal dari
perempuan penghibur, tapi sesungguhnya dia adalah sekuntum bunga teratai putih
yang belum ternoda, bila Im-ya bersedia untuk menebusnya, budak bersedia
menjadi perantara."
"Nona Ling-ling adalah sekuntum bunga indah yang disenangi orang, sedang aku
tak lebih cuma seorang rudin..."
"Cici gemar amat bergurau" tukas Siau ling-ling. "Perempuan penghibur macam
aku mana pantas mendampingi Im toaya ?"
Mendadak Buyung Im seng merasakan urusan menjadi serius, walaupun terhadap
seorang perempuan penghibur, namun dia tak ingin sembarangan memberi janji,
maka sambil tersenyum dia tak memberi tanggapan lebih jauh.
Tong Thian hong tahu bahwa Buyung Im seng tidak terbiasa dengan suasana ini,
buru buru sambungnya:
"Nona Ling-ling, agaknya kau bukan berasal dari sini ?"
"Aku berasal dari kota Siok ciu !"
"Kenapa bisa sampai di sini ?" Sembari berbincang bincang secara diam-diam dia
memperhatikan diri Siau Ling-ling.
116
"Ayahku adalah seorang saudagar yang seringkali berkeliling, sayang ia meninggal
sejak aku masih kecil, tinggal kami ibu dan anak yang hidup berkelana tak
menentu..."
"Maka nona bersedia menjual diri sebagai wanita penghibur ?" sambung Tong
Thian hong.
Siau ling-ling segera menggeleng: "ibuku membawa aku melewati suatu kehidupan
yang sangat sengsara, mungkin karena terlampau letih akhirnya jatuh sakit dan
meninggal pula, tinggal aku seorang diri, waktu itu aku baru berumur sepuluh
tahun..."
"suatu pengalaman hidup yang pantas dikasihani !"
Siau Ling-ling tertawa sedih kembali katanya: "Setelah mengubur ibuku, akupun
menjadi pelayan orang, majikanku sangat baik terhadapku, apalagi mereka
memang tidak berputri maka dianggap bagaikan anak kandung sendiri, sayang
merekapun tidak diberkahi panjang umur, akhirnya aku ditinggal lagi seorang diri"
"Nona, jelek amat nasibmu!" kata Tong Thian hong.
"Aku tahu bahwa nasibku memang jelek, maka akupun bersedia menjadi wanita
penghibur untuk mencari sesuap nasi"
"Hidup sebagai seorang manusia, kesulitan dan kesusahan memang selalu ada"
kata Buyung Im seng dengan kening berkerut, tapi mengapa nona harus memilih
jalan yang begini ini ?"
Siau ling-ling tertawa: "Kalian berdua datang kemari toh mencari hiburan buat apa
musti membicarakan masalah yang menyedihkan hati ?" tukasnya.
"benar" sambung Siau Po-cha, Im-toaya baru pertama kali ini berkunjung ke tempat
seperti ini, kalau terlalu banyak membicarakan soal sedih bisa hilang selera Imtoaya,
lain kali mungkin ia enggan datang lagi"
Sementara itu lelaki berbaju hitam itu sudah masuk ke dalam ruangan, sambil
memberi hormat katanya: "Sayur dan arak telah dihidangkan, silahkan Im-ya, Cheya
masuk ke meja perjamuan"
"Hamba akan membawakan jalan untuk Im-ya" Li Ji-hek yang berada disamping
segera berseru.
Buyung Im seng dan Tong Thian hong saling berpandangan sekejap, kemudian
beranjak dan mengikuti di belakangnya. Tempat itu adalah sebuah ruangan kecil
yang sangat indah, sebuah meja berkaki delapan berada ditengah ruangan, sayur
dan arak telah siap dihidangkan.
Siau Ling-ling dan Siau Po-cha segera mengambil duduk mendampingi Buyung Im
seng dan Tong Thian hong.
Siau po-cha mengambil poci arak dan memenuhi ke empat cawan arak tersebut,
kemudian katanya sambil tertawa: "Mari, aku akan menghormati arak untuk
kalian semua"
Dia mengangkat cawan dan sekali teguk menghabiskan isinya.
117
Tong Thian hong mengambil cawan arak di depannya sambil berkata: "Im-ya tak
pandai minum arak, biar aku saja yang menemani kalian berdua...!"
Siau Ling-ling juga turut minum seteguk, pipinya langsung berubah menjadi merah
padam bisiknya kemudian: "aku juga tak pandai minum."
Diam diam Buyung Im seng berpikir: "andai kata kedua orang ini bukan anggota Li
ji pang bukankah perbuatan semacam ini hanya menghambur hamburkan waktu
dengan percuma..."
Ketika Siau Ling-ling tidak mendengar jawaban dari Buyung Im seng dia lantas
berkata lagi: "Im-ya kau menjadi kaya dimana ?"
"Aku hanya seorang penggede yang bekerja di sebuah rumah penitipan uang..."
Siau Ling-ling segera tertawa. "Im-ya gagah dan perlente, masa pegawai orang lain?
aku tak percaya"
"Nona terlalu memandang tinggi diriku"
"Aku tahu Im-ya memandang rendah kami perempuan penghibur, maka namapun
tidak mau mengaku terus terang."
Satu ingatan kembali melintas dalam benak Buyung Im seng, tanyanya dengan
cepat: "Mengapa nona berkata demikian ?"
Siau Ling-ling tertawa tawa, buka menjawab dia malah berkata lagi: "Teratai putih
berasal dari tanah berlumpur tapi tidak menodai kesucian dan kebersihannya,
entah Im-ya mau percaya atau tidak kalau aku tetap suci bersih?"
"Aku datang karena mengagumi nama besarmu, kini kita sudah bersua, mana
berani kupikirkan hal yang bukan-bukan."
Mendadak Siau Ling-ling menggulung baju lengannya sembari bertanya lagi. "Imya
kenal dengan benda ini?"
Ketika Buyung Im seng mengalihkan perhatiannya ke sana, maka tampaklah di
atas lengan Siau Ling-ling yang putih bersih bagaikan salju itu sebuah tahi lalat
sebesar kacang hijau yang berwarna merah.
Setelah termenung sebentar, sahutnya, "Itu kan tahi lalat Siu-kiong-sah?"
Siau Ling-ling manggut-manggut. "Benar, aku telah bersumpah di dalam hati, aku
hendak berkecimpung selama tiga tahun di tempat ini tanpa kehilangan
kehormatanku."
"Ehmm, tidak mudah, tidak mudah" kata Buyung Im seng.
"Apakah Im-ya tidak percaya?" tukas Siau Ling-ling sambil menurunkan kembali
gulungan bajunya.
Buyung Im seng kembali tertawa. "Aku hanya merasa bahwa hal ini bukan suatu
pekerjaan yang terlalu gampang."
Mendadak Tong Thian hing mencengkeram pergelangan tangan kiri Siau Po-cha,
kemudian katanya sambil tertawa. "Apakah di atas lengan kiri nona juga terdapat
tahi lalat Siu-kiong-sah..?" Tidak menunggu jawaban dari Siau Po-cha lagi dia
lantas menaikkan baju gadis itu.
118
Sambil berkerut kening Siau Po cha berseru, "Che-ya, pelan sedikit, hancur nanti
tulang pergelangan tanganku."
Walaupun mulutnya mengaduh, tapi dia tidak melawan dan membiarkan Tong
Thian hong menggulung lengannya. Tampak lengannya yang putih bersih itu halus
sekali, sedikitpun tiada cacatnya.
Kedengaran Siau Po-cha berseru. "Che-ya tak usah memeriksa lagi, aku sudah
merupakan perempuan yang ternoda, mana bisa dibandingkan dengan kesucian
Siau Ling-ling.."
Sementara itu Li Ji-hek dan dua lelaki lainnya telah mengundurkan diri dari situ.
Dalam kamar tinggal Buyung Im seng, Siau Ling-ling, Tong Thian hong dan Siau
Po-cha empat orang.
Pelan2 Tong Thian hong menurunkan kembali gulungan baju Siau Po-cha,
kemudian katanya, "Apakah nona bukan datang bersama Siau Ling-ling?" Kami
tidak saling mengenal, setelah sampai di sini baru kenal, aku datang tiga bulan
awal dari pada Siau Ling-ling!"
-ooo0ooo-
BAGIAN KE SEMBILAN
"Kalian berdua adalah bintang-bintang top di tempat ini," kata Tong Thian hong,
"sekalipun di luar bersahabat, tentunya dalam hati saling bersaing, bukan?"
"Aaaah, mana mungkin," tukas Siau Ling-ling, "aku bodoh dan tak tahu aturan,
semuanya adalah berkat petunjuk dari enci Po-cha."
"Aaaah, adik Ling-ling adalah pemimpin kita semua, aku mana berani menaruh
rasa dengki atau iri kepadanya..." bantah Siau Po-cha cepat.
Tiba2 muncul seorang nyonya setengah umur yang masuk sambil menyingkap tirai,
sambil memberi hormat, katanya, "Maaf toaya berdua, agak mengganggu sebentar,
seorang tamu Siau Po-cha yang datang dari jauh ingin bertemu dengan nona Pocha,
berilah kesempatan baginya untuk menjumpai sebentar."
Siau Po-cha segera berkerut kening. "Siapakah orang itu?" tegurnya.
"Thio toa-koanjin!"
Siau Po-cha segera beranjak. "Che-ya harap tunggu sebentar, aku hanya pergi
sebentar saja."
"Silahkan nona," kata Tong Thian hong sambil tersenyum.
Nyonya setengah umur itu menengok sebentar ke arah Siau Ling-ling, kemudian
berpesan, "Nona Ling-ling, baik-baik melayani tamu, jangan sampai menelantarkan
toaya berdua."
"Jangan kuatir, mama!"
Sambil tertawa nyonya setengah umur itu segera memberi hormat lalu
mengundurkan diri dari ruangan itu. Tiba2 Siau Ling-ling beranjak dan menuju ke
pintu, setengah mengintip sekejap sekeliling tempat itu, dia balik kembali dan
119
membelalakkan matanya lebar2, bisiknya, "Kalian berdua tidak mirip orang yang
datang mencari hiburan."
"Darimana kau bisa berkata begitu?" tanya Tong Thian hong.
"Sebab kalian berdua terlalu sopan dan terpelajar."
"Oooh... rupanya begitu."
"Apakah kalian berdua seringkali melakukan perjalanan di luar?" bisik Siau Lingling
lagi.
"Benar!"
"Aku ingin mencari tahu tentang seseorang, apakah kalian berdua kenal
dengannya?"
"Siapa?"
Siau Ling-ling menatap wajah Buyung Im seng tajam2, lama kemudian ia baru
balik bertanya. "Kau bukan she Im bukan?"
Buyung Im-seng termenung sebentar, lalu mengangguk. "Benar, aku bukan she Im,
tapi ada hubungannya dengan huruf Im!"
"Buyung kongcu bernama Im-seng juga ada hubungannya dengan huruf Im."
sambung Siau Ling-ling tiba-tiba dengan suara lirih.
Paras Buyung Im-seng berubah hebat, tangan kanannya dengan cepat diayunkan
ke depan mencengkeram pergelangan tangan kanan Siau Ling-ling... Siapa tahu
dengan sangat cekatan sekali Siau Ling-ling memutar jari tangannya lalu
menyongsong datangnya serangan dari Buyung Im-seng sambil bisiknya lirih.
"Kongcu, harap jangan melancarkan serangan dulu, masih ada perkataan yang
hendak disampaikan."
"Katakan nona !" ujar Buyung Im seng sambil menarik kembali pergelangan
tangannya ke belakang.
"Pagi ini aku mendapat perintah untuk menyelidiki jejak kongcu, dalam surat
perintah tadi terlampir juga gambar lukisan dari kongcu, oleh sebab itu setelah
berjumpa dengan kongcu tadi, aku lantas menduga kalau kongcu besar
kemungkinan adalah Buyung kongcu, ternyata dugaanku memang tidak meleset"
"Kau adalah... "
"Aku berasal dari perkumpulan Li ji pang!" tukas Siau ling-ling dengan cepat.
Tiba-tiba Tong Thian hong menimbrung. "Aku lihat nona Siau po cha seperti bukan
berasal dari golongan wanita penghibur"
Sudah lama aku menaruh curiga kepadanya, cuma dia menutup mulutnya rapatrapat,
meski aku sudah berulangkali memancingnya dengan kata-kata selalu gagal
untuk menemukan titik terang"
"Apakah dia bukan anggota Li ji pang ?" tanya Buyung Im seng.
"Bukan, setiap anggota li ji pang mempunyai kode rahasia untuk mengadakan
kontak, mustahil kalau dia tak tahu kedudukan masing-masing, setelah beberapa
kali melakukan pembicaraan, setelah berhenti sejenak, terusnya: "Setelah
120
mendapat perintah itu, sebetulnya aku sedang kesal bagaimana caranya
menemukan jejak kongcu, sungguh tak kusangka kalau kalian malah sengaja
datang mencari kami"
"Walau Po cha pandai bermain sandiwara" kata Tong Thian hong.
"Sayang dia tak dapat menutupi sinar matanya yang tajam dari balik matanya itu,
sinar mata setajam itu jelas bukan sinar mata manusia sembarangan..."
"Ucapan che-ya memang benar, ilmu silat yang dimiliki Siau Po cha lihay sekali,
menurut pengamatanku secara diam-diam, memiliki ilmu meringankan tubuh yang
amat sempurna"
"Mungkin kah mata-mata dari Sam seng bun?" Buyung Im seng menunjukkan
kekuatirannya.
"Aaku sendiripun menaruh curiga sampai ke situ!"
"Apakah Siau po che juga telah mengetahui rahasia penyaruan diri nona... ?"
"Soal ini sukar untuk dikatakan, paling tidak dia sudah menaruh curiga kepadaku"
Dia celupkan jari tangannya ke dalam cawan araknya, kemudian menulis di atas
meja. "Kentongan pertama malam nanti, pangcu kami akan mengadakan
pertemuan dengan kongcu di Giok pay hong"
Sehabis membaca tulisan itu, dengan cepat Buyung Im seng menyeka bekas arak
itu sampai kering.
Baru saja Tong Thian hong hendak bertanya lagi, mendadak Siau ling-ling
mengangkat cawan araknya sambil tertawa cekikikan.
"Aku akan menghormati Che-ya dengan secawan arak lagi...!" serunya.
Terdengar suara cekikikan lain berkumandang dari luar pintu, menyusul seseorang
berseru. "Bagus sekali, kau sudah mempunyai Im toya seorang masa tidak cukup ?"
Berani betul kau merampas Che toya itu"
Menyusul seruan tadi, siau po che dengan senyuman dikulum telah berjalan masuk
ke dalam ruangan.
"Apakah Thia toa koanjin sudah pergi " Tong Thian hong lantas bertanya dengan
cepat.
"Ia membawakan sebuah gelang kemala untukku, tapi berhubung aku tak berani
melupakan Che toya, maka aku sudah menyuruh dia pergi dulu"
"Gelang kemala pemberian dari Thia Toa koajin tersebut pastilah suatu benda yang
mahal harganya, nona, bagaimana kalau kau keluarkan agar menambah
pengetahuan kami ?"
"Aaah... Gelang tersebut tidak lebih cuma gelang kemala biasa saja..."
"Kami toh cuma ingin melihatnya sebentar, memangnya nona kuatir kalau kami
akan merebutnya setelah melihat gelang tersebut ?"
121
"Bukan, bukan begitu, gelang kemala sudah kusimpan dalam kamar, tapi jika cheya
ingin melihatnya, terpaksa aku harus kembali ke kamar untuk mengambilnya"
"Kalau begitu merepotkan nona untuk mengambilnya sebentar!"
Siau po cha memandang sekejap ke arah Tong Thian hong, kemudian dengan
perasaan apa boleh buat terpaksa bangkit berdiri, katanya: "Kalau memang che-ya
bersikeras ingin melihatnya, terpaksa aku akan pergi untuk mengambilnya"
Pelan-pelan dia berjalan keluar dari ruangan. Tong Thian hong dengan melalui
jendela mengawasi bayangan tubuh Siau po cha sehingga lenyap di sudut ruangan
sana, kemudian ia baru berpaling dan memandang sekejap ke arah Buyung Im
seng, katanya: "Kalian berdua tentu merasa heran bukan? apa sebabnya aku
bersikeras menyuruh siau po cha kembali ke kamarnya untuk mengambil gelang
kemala tersebut ?"
"Betul siaute merasa keheranan"
"Siaute yakin Thia toa koan jiu tiu pasti belum pergi... " ujar Tong Thian hong.
"Oooh... rupanya kau sedang cemburu!" sela Siau ling-ling sambil tertawa
cekikikan.
Dengan cepat Tong Thian hong menggelengkan kepalanya berulang kali "bukan,
aku tidak cemburu, aku hanya ingin membuktikan saja sebetulnya siapakah Siau
po cha tersebut."
"Bagaimana cara pembuktiannya?"
"Aku percaya didalam kamar tidur siau po cha tentu tersimpan banyak sekali
rahasia, harap kalian tunggu sebentar di sini, aku akan mengintip sebentar ke
situ."
Tidak menunggu jawaban dari kedua orang itu lagi, dia lantas beranjak dan
meninggalkan ruangan.
Dengan suara lirih siau ling-ling lantas berbisik: "Kongcu sudah ingat tempat
pertemuan dengan pangcu kami malam nanti ?"
"Tempatnya sih sudah teringat" jawab Buyung Im seng.
"tapi dimanakah letak Giok pay hong tersebut?"
"Lima lie di sebelah utara kota" Mendadak ia merendahkan suaranya, kemudian
melanjutkan.
"Bila kongcu pergi seorang diri, hal ini jauh lebih baik lagi"
"Kenapa? apakah dalam surat perintahnya pangcu kalian juga menerangkan
tentang soal ini"
"Sekalipun tidak diterangkan, tapi aku dapat merasakan bila kejadian ini
merupakan suatu rahasia besar, maka makin sedikit yang tahu semakin baik,
bagaimana menurut pendapat kongcu?"
"teori tersebut memang benar, tapi saudara che itu bukan orang luar, baiklah
sampai waktunya nanti aku baru mempertimbangkan lagi usulmu itu"
122
Siau ling-ling termenung dan berpikir sebentar, kemudian tanyanya lagi: "sekarang
kongcu tinggal dimana?"
"Di rumah penginapan Li ji hek!" Kembali siau ling-ling termenung beberapa saat
lamanya, kemudian ia berkata.
"aku mempunyai suatu usul yang mungkin bisa memberi kesempatan kepada
kongcu untuk berangkat memenuhi janji seorang diri tanpa menimbulkan curiga
temanmu itu.
"Apa usulmu itu ?"
"Lebih baik kalian menginap di sini "
"Menginap di sini ?" seru Buyung Im seng tertegun.
"Benar, bila chee ya tinggal di sini maka selain dia bisa mengawasi gerak gerik diri
au pho cha, kaupun bisa memperoleh kesempatan untuk pergi memenuhi janji
seorang diri bukankah cara ini sama halnya dengan sekali timpuk mendapatkan
dua hasil ?"
"Tapi antara lelaki dan perempuan ada batasnya, mana boleh aku berdiam dalam
sekamar denganmu ?"
"Asal hati kita suci bersih, sekalipun tinggal dalam sekamar apalah salahnya ?"
"Betul juga perkataan ini" pikir Buyung Im seng, asal aku berniat untuk menginap
di sini tentu saja aku bisa pergi memenuhi janji tersebut seorang diri.
Berpikir sampai di situ, dia lantas berkata: "Masalah ini sulit untuk diambil
keputusannya dengan begitu saja, bagaimana kalau dirundingkan dulu dengan
saudara Che, kemudian baru memberi jawaban kepada nona ?"
Siau Ling-ling segera tersenyum.
"Baik ! aku tak lebih cuma memberi usul saja" katanya, "soal bagaimana
keputusanmu, terserah kepada kongcu sendiri yang mengambil keputusan... "
Terdengar suara langkah kaki berkumandang datang, menyusul kemudian tampak
Tong Thian hong dan Siau poo cha muncul sambil bergandengan tangan... Kalau
dilihat dari wajah mereka yang berseri, tampaknya sedang gembira, jelas tiada
sesuatu bentrokan yang tak menyenangkan telah terjadi.
Kenyataan ini sangat mencengangkan Buyung Im seng, diam diam pikirnya dihati.
kalau bukan diantara mereka terdapat kecocokan satu sama lainnya, jelas
menunjukkan kalau Siau po cha juga seorang manusia lihay yang pandai sekali
menguasai perasaan.
Berpikir demikian, segera tanyanya sambil tertawa: "Nona, sudahkah kau temukan
gelang kemala itu ?" Siau Po che segera tertawa: "Aku tahu che-ya adalah seorang
lelaki yang satu tak akan menjadi dua, bila gelang kemala tersebut tidak
ditemukan, mana mungkin dia mau sudahi dengan begitu saja ?"
"Yaa memang begitulah watakku harap nona sudi memaafkan" kata Tong Thiang
hong sambil tertawa.
123
"Aku pikir gelang kemala tersebut sudah pasti adalah suatu benda yang luar biasa
sekali dapatkah kau mengeluarkannya agar akupun bisa turut membuka mataku ?"
pinta Buyung Im seng.
"Bila Im-ya ingin melihat, masa aku berani menampik?"
Dari sakunya dia lantas mengeluarkan sebuah gelang kemala hijau dan
diangsurkan ke depan Buyung Im seng segera menyambut dan diperiksanya
sebentar, ia merasa selain warnanya memang indah, tiada sesuatu yang
mencurigakan dengan benda itu, maka sambil mengangsurkan kembali gelang
kemala tersebut kepada pemiliknya dia berkata sambil tertawa: "Suatu batu
kemala yang indah, gelang kemala yang indah sekali..." karena dia tak tahu apa
yang musti diucapkan lebih lanjut maka setelah mengucapkan kata-kata tersebut,
diapun membungkam.
Setelah menerima kembali gelang kemala tadi, Siau Po-cha memasukkannya ke
dalam saku. kemudian katanya: "Im-ya terlalu memuji!"
Dalam pada itu, Buyung Im seng merasa makin dilihat Siau Po Cha semakin
mencurigakan, dalam hati kecilnya dia lantas berpikir; "Kalau toh pihak Li-ji pang
bisa mengutus anak buahnya untuk menyelundup ke dalam rumah pelacuran,
kenapa tidak pula dengan pihak Sam seng bun ? lebih baik ku usulkan saja untuk
menginap di sini coba lihat bagaimana reaksinya"
Berpikir sampai di situ, pelan-pelan dia lantas berkata: "Saudara Che, siaute ingin
menginap di sini malam nanti, entah bagaimana pendapat saudara Che?"
Dengan cepat siau po cha menyela: "Im-ya, maafkan aku kalau banyak bicara!"
"Nah, betul juga, ada reaksi dirinya..." Pikir Buyung Im seng segera diam-diam.
Sambil tersenyum dia lantas berkata: "Nona ada urusan apa ? silahkan diutarakan
saja!"
Siau po cha memandang sekejap ke arah Siau ling-ling, kemudian ujarnya:
"Padahal aku berbicara demikian hanya mewakili nona Siau ling-ling saja... Im-ya
tahukah kau apa maksud yang sebenarnya dari nona ling-ling ketika
memperhatikan tanda tahi lalat Siau kiong sah tersebut tadi ?"
"Aku tidak tahu !"
"Im-ya jarang sekali melakukan kunjungan ke rumah hiburan semacam ini, tentu
saja kau pun tak tahu seluk beluknya. Ketika dia memperhatikan tahi lalat Siau
kiong sahnya tadi, sesungguhnya dia hendak menerangkan bahwa dia masih
seorang perawan, maka bila Im-ya ingin menginap di sini. aku kuatir nona ling-ling
tak bisa melayani dirimu."
Siau ling-ling menyambung dengan suara lirih: "hidup dalam dunia hiburan seperti
ini, siau-moay pikir tak bisa mempertahankan kesucian tubuhku terus menerus... "
"Aaah... kalau begitu kau telah mengambil keputusan untuk mempersembahkan
kesucian tubuhmu itu untuk Im-toya?" seru Siau po-cha agak terperanjat.
Merah padam selembar wajah Siau ling-ling setelah mendengar perkataan itu,
sambil menundukkan kepalanya dia berbisik. "Salahkah perbuatan siaumoay ini ?"
124
Siau po cha segera mendongakkan kepalanya dan memandang sekejap ke arah
Buyung Im seng, kemudian katanya: "Im Toya memang seorang yang tampan dan
bermanis budi, cici merasa kagum sekali dengan ketajaman matamu, cuma Im toya
ialah seorang yang sangat repot, besok tentu akan berburu buru meninggalkan
tempat ini." Dalam pembicaraan tersebut, ia selalu berusaha untuk menghindari
kata menolak, sekali pun maksud dari ucapannya tersebut jelas berusaha
menghindarkan diri dari kejadian itu.
Siau ling-ling segera menghela napas panjang, katanya: "Sekalipun dalam rumah
pelacuran ini penuh dengan manusia yang berlalu lalang, tapi siau moay belum
pernah..."
Diam-diam dia melirik sekejap ke arah Buyung Im seng, kemudian menundukkan
kepalanya dan tidak berbicara lagi.
Pandai benar dia bersikap pura-pura, lagaknya waktu itu persis seperti seorang
gadis yang sedang merasa malu sekali.
Tiba tiba Siau po cha tersenyum, katanya: "Aaai... hal ini memang tak bisa
menyalahkan dirimu, manusia yang gagah dan tampan seperti Im Toaya, jangan
toh jarang sekali dijumpai dalam tempat kita ini, sekalipun kongcu dari keturunan
kenamaan juga belum tentu ada beberapa orang yang sanggup menandinginya, kita
cici dan adik cuma orang yang bernasib jelek, cepat atau lambat akan terlantar juga
akhirnya, bisa memilih kekasih yang dicintai untuk mempersembahkan kesucian
tubuhnya, sesungguhnya kejadian itu memang merupakan suatu hiburan ditengah
kesengsaraan"
Dengan cepat Buyung Im seng dapat menangkap kalau suara pembicaraan
perempuan itu telah berubah, nada mulanya dia masih berusaha untuk menampik,
tapi sekarang telah menyetujuinya, maka tanpa terasa diapun lantas berpikir.
"Pandai benar budak ini mengalihkan pembicaraannya menuruti keadaan, entah
apa masuknya dia bersikap demikian ?"
Sementara itu Siau Po-cha telah berkata lagi: "Tadi sewaktu adik Ling-ling
memperlihatkan tahi lalat Siu kiong sah di lenganmu itu, cici sudah merasa
keheranan, tapi sekarang kalau dipikir kembali, dapat ditarik kesimpulan bahwa
sedari tadi adik Ling-ling sudah mengambil keputusan untuk mempersembahkan
kesucian tubuhnya"
"Cici memang amat cantik, cuma waktu itu siaumoay merasa takut jika Im-ya tidak
memandang sebelah matapun kepadaku, maka aku tak berani mengatakannya
secara terus terang"
"Kenapa? Apakah sekarang semuanya telah beres ?"
"Yaa, untung saja Im-ya tidak menampik diriku dan bersedia untuk menginap di
sini !"
"Kalau begitu, malam ini cici tentu akan kebagian secawan arak kegirangan, akan
kusuruh mama untuk menyiapkan perjamuan besar, mengundang rombongan
pemusik dan kita meramaikan bersama sama secara meriah sekali.."
125
Terkejut sekali Buyung Im seng setelah mendengar perkataan itu, pikirnya: "Kalau
sampai dibuat meriah dengan apa yang diucapkan itu, kendatipun hubunganku
dengannya masih suci bersih, tapi jika sampai tersiar sampai ditempat luaran,
sudah pasti akan menodai juga nama baikku maupun nama baiknya"
Terdengar Siau Ling-ling telah berkata: "Enci Cha juga tahu, siaumoay bukan
dalam waktu pendek berdiam di sini, dengan caraku yang lihay bukan saja berhasil
mengelabuhi semua rekan-rekan yang lain, sekalipun Mama juga ku tipu mentahmentah,
coba kalau tadi siaumoay tidak memperlihatkan tahi lalat Siukiong sah ku
itu, mungkin cici sendiripun tak akan mengetahui akan rahasia ini..."
Siau Po-cha cuma tersenyum dan tidak berkata lagi.
Terdengar Siau Ling-ling berkata lebih jauh: "Oleh karena itu, Siaumoay tak ingin
kejadian ini sampai tersiar di tempat luaran, asal persoalan ini diketahui oleh Imya
dan cici, hal ini sudah lebih dari cukup"
"Apakah kejadian ini tak akan merugikan diri adik Ling ?"
"Asalkan siaumoay bersedia dengan hati yang gembira, tentu saja tak akan
merugikan diriku, cuma, hal ini musti memohon bantuan dari cici... "
"Kalian akan menjadi pengantin baru, apa pula bantuan yang bisa diberikan aku si
orang ini"
"Aku minta enci Cha suka tinggal pula di sini untuk menemani Che toaya..."
Siau Po-cha segera mengerutkan dahinya kencang-kencang, katanya:
"Hari ini aku tak bisa membantumu !"
"Haai... kita kan sesama saudara, lagi pula selama ini siaumoay belum pernah
meminta bantuan cici, sungguh tak disangka baru pertama kali membuka suara... "
"Adik Ling, kita berdua sama-sama adalah perempuan, kini cici tak lebih hanya
seorang perempuan yang tidak suci bersih lagi, dapat menerima tamu semacam Che
toaya sudah merupakan suatu kebanggaan bagiku, tapi hari ini justru aku tak
bisa."
"Kalau memang begitu, siaumoay merasa tak leluasa untuk memaksamu lagi..."
kata siau ling-ling dengan kening berkerut.
Selama ini Tong Thian hong cuma berdiri tenang disamping dengan senyuman
dikulum dan sepatah katapun tidak berbicara, dalam hati kecilnya ia telah
menduga kemungkinan besar hal ini merupakan rencana yang telah dipersiapkan
oleh Buyung Im seng dan Siau Ling-ling karena itu meski ditolak oleh Siau Po cha,
dia sama sekali tidak menjadi gusar, sebaliknya malah tenang saja tidak terjadi
perubahan paras-paras mukanya itu.
Walaupun di luar mereka berbicara sesuatu yang tidak penting, padahal masingmasing
pihak sedang mempergunakan kecerdasannya untuk beradu otak.
Tampak Tong Thian hong mengangkat cawannya dan meneguk habis isinya,
kemudian katanya sambil tersenyum: "Aku mah merupakan seorang yang sudah
sering kali masuk keluar rumah penghiburan semacam ini, peraturan tempat
inipun sudah cukup kuketahui, apa lagi perempuan yang termasyhur seperti nona
Siau Po cha, bila aku yang menjadi tamu baru ingin menginap di sini dalam
126
pertemuan pertamanya, sesungguhnya hal ini merupakan suatu tindakan yang
sedikit tak tahu diri."
"Khe-ya, mengapa kau mesti berkata begitu ? Lewat dua atau tiga hari lagi dengan
segala senang hati aku pasti akan menyambut kedatangan Che-ya untuk menginap
di sini. Tong Thian hong segera tersenyum: "Kalau begitu nona memang tiada
bermaksud untuk menjauhi diri aku orang she Che"
"Aaaah, perkataan Che-ya terlampau serius seru Siau Po Cha sambil tertawa, bila
che-ya bersedia menebus diriku, sampai mati aku pasti akan mengikuti kemana
saja aku pergi"
"Aaaai... susah-susah... setelah mendengar perkataan dari nona itu, aku merasa
benar-benar tak ingin pergi. Tapi tak mungkin bagiku pada malam ini, aku... !"
(Bersambung ke jilid 7)
127
Lembah Tiga Malaikat
Oleh: Tjan
Jilid 7
"Aku mengerti," tukas Tong Thian-hong sambil tertawa, "malam ini kita akan tidur
bersama sambil bermesraan, sebelum fajar menyingsing tak akan berpisah."
Agaknya Siau Po-cha tidak menyangka kalau Tong Thian-hong bakal menggunakan
cara semacam itu, untuk sesaat lamanya dia menjadi termangu-mangu.
Tapi ia memang seorang yang cerdas, setelah tertegun sejenak, dengan cepat
wajahnya telah pulih kembali seperti sediakala, setelah tertawa hambar katanya,
"Che-ya, aku rasa kurang leluasa!"
Dengan wajah bersungguh-sungguh Tong Thian-hong berkata, "Aku percaya masih
sanggup untuk menjaga diri dan takkan sampai mengusik kehormatan nona."
Siau Po-cha termenung beberapa saat lamanya, kemudian ujarnya sambil tertawa,
"Che-ya seandainya aku tidak akan meluluskan permintaanmu itu, apakah Che-ya
bakal marah ?"
"Bagus sekali," pikir Tong Thian-hong, "aku tak mau mencari gara-gara, justru dia
terus memaksa."
Berpikir sampai di situ, dengan suara dingin segera katanya, "Kalau aku bersikeras
hendak memaksamu tinggal di sini, mau apa kau ....?"
"Ah, tidak mungkin," kata Sian Po-cha sambil tertawa, "Che-ya bukanlah seorang
yang tidak tahu aturan."
"Dugaan nona keliru besar" kata Tong Thian-hong sambil menggelengkan
kepalanya berulang kali, "Bila aku sudah merasa bahwa jalan pikiranku betul,
sekalipun ada delapan ekor kerbau yang menyeretku juga tidak akan berpaling."
Siau Po-cha tertawa, sahutnya, "Che-toaya kau menganiaya seorang perempuan
penghibur bukanlah suatu perbuatan enghiong."
128
"Seorang enghiong tentu saja tak akan berbuat begitu, tapi sayang aku bukan
seorang enghiong."
"Che ya pandai amat bergurau!"
"Semua yang kuucapkan bukan kata-kata gurauan, aku berbicara dengan tulus hati
dan muncul dari hati sanubariku."
Sekarang, paras Siau Po Cha baru berubah hebat.
"Che-ya seandainya aku bersikeras tidak meluluskan che-ya tinggal di sini, mau
apa kau?"
Tong Thian-hong segera tertawa terbahak-bahak. "Haaah.... haaah... haaah... soal
ini tergantung pada kemampuan nona Po cha dengan cara apakah kau hendak
mengusir diriku?"
Mendadak Siau Po-cha bangkit berdiri, kemudian berseru, "Im-toaya, maaf aku
tidak bisa menemanimu!"
Sambil membalikkan badan dia lantas berjalan menuju keluar ruangan itu.
Tong Thian-hong berpaling ke arah Buyung Im-seng, pemuda itu segera manggutmanggut.
Manggut berarti dia memberi ijin kepada Tong Thian-hong untuk turun tangan
tanpa memikirkan hal-hal yang lain lagi.
Tong Thian-hong segera mendehem, kemudian bentaknya.
"Berhenti!"
Tanpa berpaling Siau Po-cha berseru, "Aku sedang tidak enak badan, maaf tidak
bisa menemani lebih lama, meski aku ini seorang pelacur, tapi tidak akan
mempersoalkan sedikit uang. Uang persenmu tidak usah dibayar lagi, silahkan
Che-ya pergunakan untuk kepentingan sendiri!"
Di desak oleh keadaan, mau tak mau Tong Thian-hong harus memperlihatkan ilmu
silatnya. Sambil menekuk pinggang, tubuhnya secepat anak panah yang terlepas
dari busurnya segera melewati tubuh Siau Po-cha dan membalikkan badan
menghadang jalan perginya.
"Seorang pelacur itu tidak boleh bebas semaunya sendiri." katanya dengan dingin.
"Sekalipun nona tidak suka dengan uangku, tapi tempat inipun bukan tempat nona
untuk mengumbar watakmu!"
"Mau apa kau ?" bentak Siau Po-cha dengan wajah penuh kegusaran.
"Memaksamu untuk tetap tinggal di sini dan menemani kami minum arak!"
"Aku tidak mau mendapat untung dari uangmu itu, harap segera menyingkir dari
hadapanku!"
"Apakah nona tidak merasa terlalu lambat berkata begitu?"
Mendadak Siao Po-cha memperkeras suaranya. "Che-ya kalau kau tidak mau
menyingkir lagi, jangan salahkan kalau aku akan berteriak."
129
"Cukup banyak sudah pengalamanku di dalam bidang ini, bila nona ingin berteriak,
silahkan saja berteriak!"
Ternyata Siau Po-cha benar-benar berteriak keras, "Ada pembunuh!"
Buyung Im-seng agak tertegun setelah menyaksikan kejadian itu, pikirnya.
"Menyentuh badannya saja tidak, kenapa dia berteriak semaunya sendiri.... ?"
Terdengar Tong Thian-hong tertawa terbahak-bahak.
"Haaaah....haaahhhh.... haaahhhh.... nona kau benar-benar amat keji!"
Terdengar suara langkah manusia berkumandang datang, lalu menyusul bayangan
manusia muncul di balik ruangan, lelaki baju hitam yang menjaga pintu serta Li Jihek
telah berdatangan di sana.
"Ada apa ?" lelaki berbaju hitam itu segera bertanya.
Tong Thian-hong tertawa dingin, katanya.
"Tanyakan sendiri kepada nona Po-cha!"
Lelaku berbaju hitam itu segera mengalihkan sinar matanya ke wajah Siau Po-cha,
lalu bertanya,
"Nona, apa yang telah terjadi ?"
"Uang Che-ya terlalu banyak, tapi aku tak ingin mendapatkannya, aku hendak
kembali ke kamar untuk beristirahat."
Lelaki baju hitam itu segera menengok kembali ke arah Tong Thian-hong,
kemudian katanya,
"Che-ya adat para nona memang agak jelek, harap Che-ya memakluminya."
"Aku hanya mendengar nona Ling-ling adatnya jelek, tapi belum pernah kudengar
nona Siau Po-cha juga adatnya jelek!"
"Sekarang toh sudah tahu, Che-ya punya uang, kamu punya nona, kaupun tak usah
memaksa aku untuk tetap tinggal di sini, daripada menghilangkan kesenangan
Che-toaya."
Mendengar perkataan itu, diam-diam Tong Thian-hong berpikir.
Budak ini sungguh pandai amat berbicara, air mukanya tidak nampak berubah
atau gugup, seakan-akan dia punya tulang punggung yang kuat di belakangnya,
mungkinkah dalam sarang pelacur ini terdapat juga orang-orangnya ?"
Berpikir demikian, dia lantas berkata.
"Oleh karena itu aku orang she Che tertarik padamu, maka aku baru bersedia
menghamburkan uang, kalau aku suka pada nona yang lain, buat apa pula kau
kusuruh tetap tinggal di sini ?"
Li Ji-hek yang berada disamping segera menimbrung.
"Nona Siau Po-cha, kalau begitu kaulah yang salah, Che tanya toh suka dengan
kau, orang lain mana bisa mewakili dirimu ?"
130
"Li Hek-cu!" bentak Siau Po-cha ketus. "di hari biasa kau mencari sesuap nasi
dengan mencari keuntungan di sini, hari ini berani betul berlagak cukong dengan
menjelek-jelekkan nona besarmu ?"
"Aaaah, aku Li Ji hek-cu tak pernah makan minum milik nona Po-cha dengan
percuma, tamu yang kucarikan untuk rumah pelacuran ini paling tidak juga sudah
mencapai delapan puluh orang."
Mendadak Siau Po-cha maju selangkah ke depan, tangan kanannya segera
diayunkan ke depan dan ... "Plok!" sebuah tamparan keras membuat Li Ji hek
terjungkal ke atas tanah, sebuah bekas telapak tangan yang merah membengkak
tertera jelas di atas pipinya.
Tong Thian hong yang menonton kesemuanya itu dari samping, dapat menyaksikan
betapa cepat dan tepatnya serangan dari Siau Po-cha tersebut, sudah jelas
perbuatan semacam ini tak mungkin bisa dilakukan oleh perempuan lemah biasa.
Dalam hati dia lantas berpikir.
"Budak ini jelas memiliki ilmu silat yang lihay sekali!"
Tampak Li Ji hek muntahkan segumpal darah dari mulutnya, dia gigi depannya
kena di gaplok sampai patah.
Sambil tertawa dingin Tong Thian hong segera berseru.
"Berat betul tamparan nona, rupanya kau juga seorang ahli silat, tak heran kalau
lagaknya tengik benar!"
Sementara itu Li Ji hek telah menyeka darah dari mulutnya, kemudian teriaknya
keras-keras.
"Lonte busuk, kau berani memukul orang ? Hari ini Li JI ya akan beradu jiwa
dengan mu."
Sambil berteriak keras, tiba-tiba dia menerkam ke tubuh Siau Po-cha dengan
garangnya.
Mendadak lelaki berbaju hitam itu melintangkan badannya ke depan, tangan
kanannya segera diangkat dan mencengkeram pergelangan tangan kanan Li Ji hek,
kemudian dibantingnya tubuh orang itu ke samping, serunya dengan keras.
"Li heng, kalau kau bikin gara-gara di sini, bukankah sama artinya dengan
berusaha menghancurkan mangkuk nasiku?"
"Bagaimana caramu mengurusi lonte busuk itu ..." teriak Li Ji hek dengan gusar.
Lelaki berbaju hitam itu segera mengerahkan tenaga dalamnya pada lengan
kanannya itu, kontan saja Li Ji hek menjerit kesakitan, air matanya sampai jatuh
bercucuran membasahi pipinya.
"Ooooh, rupanya lelaki itupun seorang jago silat." pikir Tong Thian hong.
Dihampiri lelaki berbaju hitam itu, kemudian serunya.
"Lepaskan dia!"
Lelaki berbaju hitam itu berpaling dan memandang sekejap ke arah Tong Thianhong,
kemudian, ujarnya.
131
"Che-toaya, kalau manusia masih makan nasi, tak urung suatu ketika badannya
akan panas atau sakit, lumrah jika Siau Po Cha tak sehat badan, mengapa Che ya
harus memaksakan terus kehendaknya .... "
"Darimana kau bisa tahu kalau badannya tidak sehat?"
"Selamanya Siau Po cha bersikap baik kepada tamunya..."
"Dan justru tidak baik hanya kepadaku" tukas Tong Thian-hong, "Siapa yang akan
tahan merasa rasa mendongkol ini ?"
Tangan kirinya lantas diangkat dan mencengkeram urat nadi pada pergelangan
tangan lelaki berbaju hitam itu, kemudian serunya dengan suara dingin.
"Lepaskanlah dia!"
Baru saja lelaki berbaju hitam itu hendak berbicara, mendadak Tong Thian-hong
memperkencang cengkeraman tangannya.
Lelaki berbaju hitam itu segera mendengus dingin, sambil melepaskan
cengkeramannya pada pergelangan tangan kanan Li Ji hek katanya.
"Che ya, apakah kau benar-benar ingin menerbitkan keonaran di tempat ini ?"
Tong Thian-hong segera mengayunkan tangan kanannya, "Ploook! Ploook!" dengan
telak pukulan tersebut menghajar di atas sepasang bahu lelaki berbaju hitam itu.
"Setelah kau berkata demikian, rasanya jika tidak ku bikin keonaran di sini, bisa
hilang nama baikku." katanya.
Tampak kelima jari tangan kanan lelaki berbaju hitam itu pelan-pelan mengendor
melepaskan cengkeramannya pada lengan Li Ji hek, kemudian sepasang lengannya
juga terjulur lemah ke bawah, peluh dingin jatuh bercucuran membasahi seluruh
tubuhnya.
Ternyata didalam dua tepukan yang dilancarkan Tong Thian hong tadi, secara
diam-diam ia telah menggunakan persendian tulang bahu dari lelaki berbaju hitam
itu.
Kontan saja lelaki berbaju hitam itu merasa kesakitan setengah mati, tapi sambil
menggigit bibir dia menahan diri dan tidak mengeluarkan sedikitpun suara. Tapi
tak selang beberapa saat kemudian, akhirnya dia tak kuasa menahan diri dan
mulai berteriak-teriak keras.
"Sungguh keji amat cara anda turun tangan !" seru Siau Po cha dengan kening
berkerut.
Dengan langkah-langkah lebar dia menghampiri lelaki berbaju hitam itu, sepasang
tangannya mencengkeram tubuh lelaki itu kemudian lengan kanannya diangkat ke
atas .... "Krak!" dia sambung persendian tulang si lelaki berbaju hitam yang
terlepas itu.
-ooo0ooo-
-Bagian ke SEPULUH132
Terdengar lelaki berbaju hitam itu mendengus tertahan, tahu-tahu persendian
tulang bahunya sudah disambung. Tong Thian hong sama sekali tidak menghalangi
nona itu, setelah melihat caranya menyambung tulang persendian di atas bahu
lelaki itu, dia baru berkata dengan dingin. "Nona, akhirnya kau memperlihatkan
juga kepandaianmu!"
"Rupanya Che toaya datang kemari dengan membawa jutaan tentara" kata Siau Pocha.
"Mana, mana....." Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan, "Apabila disini tiada
orang lain yang lebih tangguh daripada nona, sekaranglah saat nona untuk
memberi tanggungan jawab kepadaku."
Sementara itu, orang yang datang menonton keramaian makin lama semakin
banyak, dengan dingin Siau po-cha memandang sekejap ke arah lelaki berbaju
hitam itu, kemudian serunya lirih. "Manusia yang tak berguna, enyah dari sini."
Lelaki itu mengiakan dan segera dia putar badan meninggalkan tempat itu. "Suruh
semua orang yang menonton keramaian itu juga mundur semua dari sini." bisik
Siau po-cha lagi.
Kemudian sambil menggandeng tangan kanan Tong Thian hong, terusnya
"Che-ya, mari kita duduk di ruangan."
"Kalau dilihat, budak ini masih muda belia, tapi pandai sekali menyesuaikan diri
dengan keadaan, manusia macam ini bisa dihadapi dengan gampang" pikir Tong
Thian hong. Berpikir demikian, dia lantas mengulurkan tangan kanannya dan
bergandengan dengan Siau po-cha.
Dipandang dari luar, mereka berdua seakan sedang bergandengan tangan masuk
kamar, suasana amat akur dan mesra, padahal sewaktu tangannya saling
menggenggam itulah masing-masing pihak telah mengerahkan tenaga dalamnya
dengan harapan bisa menundukkan lawannya. Tong Thian hong pikir apa salahnya
mencoba kekuatan lawan? Maka dia tidak menggunakan seluruh kekuatannya
untuk melawan. Terasa olehnya tenaga jepitan dari ke lima jari tangan Siau po-cha
tersebut makin lama makin kuat, bagaikan jepitan baja saja, makin lama semakin
kencang.
Dari luar ruangan sampai ruangan dalam jaraknya paling banter cuma tiga sampai
lima langkah, meski dekat jaraknya tapi lama rasanya untuk dilewatkan. Agaknya
Siau po-cha sudah tahu kalau ia telah bertemu dengan musuh tangguh, terasa
makin lama cengkeraman jari tangannya kian kuat dan keras, dengan cepat dia
mengendorkan tangannya sambil berkata. "Pertanggungan jawab apakah yang
diharapkan Che-ya dari diriku ini...?"
"Dengan kepandaian silat yang nona miliki, seharusnya kau bukan seorang wanita
penghibur, aku yakin di balik kesemuanya itu pasti ada hal-hal lain yang rahasia
artinya."
"Daripada lebih banyak urusan lebih baik kurangi satu masalah, apakah Che-ya
tidak merasa persoalan yang kau campuri sudah terlampau banyak...?"
"Aku mempunyai alasan sendiri untuk mencampuri urusanmu itu."
133
"Kau petugas dari pengadilan?"
"Bila nona bersedia memberitahukan asal usulmu dan apa tujuanmu menyelundup
ke dalam rumah hiburan ini, tentu saja akupun akan memberitahukan asal usulku
yang sebenarnya kepadamu."
"Seorang perempuan penghibur yang lemah tak punya kemampuan apa-apa,
beruntung dapat berkenalan dengan seorang pendekar dunia persilatan, karena dia
kasihan kepadaku maka diwariskan serangkaian ilmu silat kepadaku untuk
melindungi keselamatan sendiri."
"Oooh... sungguh suatu cerita yang menarik sekali, cuma sayang waktu untuk
mengisahkan cerita tersebut kurang cocok."
"Saat macam apakah baru bisa dikatakan saat yang paling cocok?" tanya Siau pocha.
"Andaikata di saat kita berkenalan tadi nona sudah menceritakan keadaan
tersebut, waktu itulah baru bisa dikata sebagai saat yang paling tepat dan akupun
tak akan menaruh curiga apa2."
Mendadak dia maju dua langkah ke depan, kemudian serunya kembali, "Aku harap
nona bersedia untuk menerangkan asal usulmu yang sebenarnya daripada aku
musti melukai dirimu dengan kekerasan."
Siau Po-cha membelai rambutnya yang kusut, kemudian katanya sambil tertawa.
"Bagaimana? Apakah Che-toaya tidak percaya dengan perkataanku?"
Tong Thian hong segera menggerakkan tangannya, secara tiba-tiba mencengkeram
pergelangan tangan Siau Po-cha. Menghadapi ancaman tersebut, Siau Po-cha
menggerakkan pinggangnya dan secara lincah dan manis menghindarkan diri dari
cengkeraman ke lima jari tangan Tong Thian-hong tersebut. "Che toaya" katanya,
"seorang lelaki sejati menganiaya seorang wanita penghibur, kalau berita ini
sampai tersiar di luaran, jelas bukan suatu perbuatan yang mengagumkan."
"Aaaah, tak menjadi soal, aku tak lebih cuma seorang prajurit yang tak bernama,
bila berhasil menangkan nona, maka hal itu merupakan keberuntunganku, jika
kalah juga bukan suatu yang memalukan."
Sambil berkata dia lantas menerjang maju ke depan, dengan ilmu Ki-na jiu hoat
dicobanya untuk mencengkeram urat nadi penting pada pergelangan tangan Siau
Po-cha. Di bawah desakan Tong Thian hong yang gencar, mau tak mau Siau Po-cha
harus membalikkan tangannya melancarkan serangan balasan sambil berusaha
melindungi diri.
Tampak pergelangan tangannya digerakkan indah, jari tangannya yang lentik
menari-nari di udara, dengan suatu gaya serangan yang manis dia lepaskan
serangkaian serangan yang semuanya ditujukan pada jalan darah penting di tubuh
Tong Thian hong, hal ini memaksa lelaki itu mau tak mau harus menarik diri
untuk melindungi badan.
Dalam waktu singkat kedua belah pihak telah bertarung sebanyak dua puluh jurus
lebih, ternyata masing-masing pihak bisa memperhatikan diri dalam posisi
seimbang tanpa ada yang menang dan tidak ada pula yang kalah.
134
Sementara itu, Siau Ling-ling sudah ketakutan setengah mati, dia berbaring dalam
pelukan Buyung Im seng tanpa bergerak barang sedikitpun jua...
Agaknya Tong Thian-hong tidak menyangka kalau Siau Po-cha memiliki
kepandaian silat sedemikian gesit dan lincahnya, diam2 dia merasa terkejut
bercampur keheranan, pikirnya, "Kalau aku tak bisa memenangkan pertarungan
ini secepatnya, bisa jadi Buyung Im seng akan menertawakan ketidak-becusanku."
Berpikir demikian, gerak serangannya segera berubah, serangan2nya semakin
jarang dan ganas, diantaranya diselingi totokan dan bacokan ke arah nadi yang
aneh tetapi sakti, sesungguhnya sukar dilukiskan dengan kata2 serangannya itu.
Kembali Siau Po-cha bertahan belasan jurus lagi, tapi lama kelamaan dia makin
terdesak hingga kalang kabut tak karuan, peluh dingin membasahi sekujur
badannya.
Siau Ling-ling yang berbaring dalam pelukan Buyung Im seng, tiba-tiba berbisik
lirih, "Siapakah dia? Lihay amat ilmu silat yang dimilikinya."
"Temanku, sebelum memperoleh persetujuannya, aku merasa kurang leluasa untuk
menyebutkan namanya."
Siau Ling-ling manggut-manggut. "Cepatlah berusaha untuk membekuk Siau Pocha"
pintanya, "dia sedang mempergunakan siasat untuk menunggu datangnya bala
bantuan."
"Baik! Akan ku tawan dia." kata Buyung Im seng.
Baru saja akan bangkit meninggalkan tempat duduknya, mendadak terdengar Siau
Po-cha berseru tertahan, pertarunganpun segera berhenti. Ketika ia mencoba untuk
mendongakkan kepalanya, terlihat urat nadi pada pergelangan tangan kanan Siau
Po-cha sudah dicengkeram oleh Tong Thian hong. Ketika ke lima jari tangan Tong
Thian hong ditarik ke belakang, kontan saja Siau Po-cha bermandikan keringat
yang membasahi seluruh wajah dan tubuhnya. Tapi dia memang memiliki
kemampuan yang luar biasa sekali, kendatipun seluruh wajahnya basah oleh
keringat, akan tetapi dia masih menahan diri tanpa bersuara barang sedikitpun
jua.
Dengan suara dingin Tong Thian hong segera berkata. "Nona, bila kau tidak
bersedia menjawab pertanyaanku, hati-hati kalau sampai kupatahkan tulang
pergelangan tanganmu itu."
Siau Po-cha menggunakan tangan kirinya untuk menyeka keringat yang
membasahi wajahnya lalu berkata, "Che toaya, seseorang cuma bisa mati sekali,
aku sudah tahu ilmu silat yang dimiliki Che toaya sangat lihay, nyawaku saja
sudah berada dalam genggamanmu, apalagi cuma sebuah lengan."
Tong Thian hong segera tertawa dingin. "Heehhhh....heehhhh....heehhhh. nona,
tampaknya sebelum melihat peti mati kau tak akan mengucurkan air mata, bila
aku tidak memberi sedikit kelihayan kepadamu, mungkin nona masih mengira aku
tak berani turun tangan keji kepadamu."
135
"Sedari tadi sudah kukatakan, barang yang terkeji dari Che-ya paling tidak hanya
membunuhku, ketahuilah, nonamu sudah mengesampingkan masalah mati dan
hidup."
"Hmm....! Tidak akan segampang itu, aku tak akan membiarkan kau mampus
begitu saja."
"Memangnya di dunia ini masih ada kejadian lain yang lebih menakutkan daripada
kematian?"
"Betul, itulah ingin mati tak bisa, ingin hidup tak bisa. Tidak percaya nona? Baik,
akan kubuktikan nona, sekarang akan kutotok dulu jalan darah Ngo-im-ciat-meh
mu, agar peredaran darahmu mengalir balik ke dalam jantung."
Seraya berkata dia lantas turun tangan menotok dua buah jalan darah di tubuh
Siau Po-cha. Seketika itu juga Siau Po-cha merasakan peredaran darahnya
mengalir balik ke jantung, dia tahu penderitaan semacam ini melebihi penderitaan
apapun juga, kesemuanya ini membuat hatinya gelisah sekali....
Tanpa berpikir panjang, dia lantas berteriak-teriak keras, "Pembunuh...."
Tong Thian hong segera mengayunkan tangannya dan menotok jalan darah bisu di
tubuh Siau Po-cha. "Nona, sekarang kau sudah tak sanggup berbicara lagi"
demikian dia berkata, "tapi masih ada cara lain bagimu untuk menjawab
pertanyaan ini..."
Tampak sekujur badannya Siau Po-cha gemetar keras, peluh membasahi sekujur
badannya bagaikan hujan gerimis.
Jelas ia sedang merasakan suatu penderitaan dan siksaan yang luar biasa sekali.
Buyung Im-seng merasa tak tega menyaksikan siksaan dan penderitaan semacam
itu, dia lantas melengos ke arah lain dan memperhatikan tulisan yang digantung
pada dinding.
Tong Thian hong mendehem pelan, lalu katanya, "Andaikata nona bersedia
menjawab pertanyaanku itu, silahkan kau menganggukkan kepala, bila kau tidak
bersedia menjawab pertanyaanku, maka anggap saja tak pernah mendengar
pertanyaanku itu."
Ditunggunya beberapa saat dengan tenang, ketika tidak dijumpai suatu gerakan
dari Siau Po-cha, dia lantas mengulapkan tangan kanannya sambil berseru,
"Sekarang aku hendak menotok jalan darah Im-hiat di atas sepasang kakimu itu!"
Siau Po-cha menjadi ketakutan setengah mati, buru-buru dia menganggukkan
kepalanya. Tong Thian hong segera mengayunkan tangan kanannya dan menepuk
bebas jalan darah bisu di tubuh Siau Po-cha, kemudian tanyanya, "Nona
sesungguhnya siapa?"
"Bebaskan dulu jalan darahku yang tertotok."
"Baik!" kata Tong Thian hong sambil tertawa hambar, "jika nona berani
membohongi aku, maka akan kuhadapi dirimu dengan cara yang jauh lebih keji
lagi."
Seraya berkata dia lantas menotok bebas jalan darah di tubuh Siau Po-cha. Begitu
jalan darahnya bebas, Siau Po-cha segera menggerakkan sepasang lengannya untuk
136
melemaskan otot, kemudian setelah menengok sekejap ke luar jendela, katanya,
"Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Bila nona ingin kabur dari sini, itu berarti kau sedang mencari jalan kematian
buat diri sendiri!"
"Aku ingin tahu apa yang hendak kau tanyakan?"
"Asal usul nona siapa dan apa tujuanmu menyelundup ke rumah pelacuran ini?"
"Aku tidak lebih seorang wanita penghibur yang tak ternama, harap Che-ya jangan
menilai diriku terlampau tinggi."
Tong Thian hong segera menggerakkan tubuhnya dan melintang lewat sisi Siau Pocha,
kemudian sambil menghadang di depan pintu, katanya dengan dingin, "Nona,
bila kau tidak bersedia menjawab pertanyaanku ini, jangan salahkan bila aku
bertindak kejam terhadap seorang wanita seperti kau!"
"Che toaya, kau bisa berkata begitu kepadaku, tentunya kau sudah mempunyai
pegangan buka dalam hatimu?"
"Jika dugaanku tidak salah, tentunya nona adalah anggota Sam-seng-bun?"
Siau Po-cha berpikir sebentar, kemudian sahutnya, "Benar, dugaanmu tepat sekali,
aku adalah anggota perguruan Sam seng-bun!"
Tong Thian hong tertawa hambar, katanya kembali, "Nona pandai benar bekerja
sama!"
"Terima kasih atas pujianmu, sekarang aku sudah membuka kartu, aku minta
kalian berduapun mau menerangkan asal usul kalian...!"
Kontan saja Tong Thian hong tertawa dingin. "Jika nona merasa punya
kemampuan untuk memaksa kami bicara, tentu saja kami akan mengatakannya,
cuma sayang nona tidak memiliki kemampuan itu, jadi aku hendak berbicara atau
tidak, terserah kepada keputusanku sendiri."
Siau Po-cha termenung beberapa saat lamanya, kemudian katanya lagi, "Sekarang
kalian sudah tahu kalau aku adalah anggota Sam seng bun, apa yang diinginkan
juga sudah terpenuhi, entah apa lagi yang ingin kalian tanyakan?"
"Kalau didengar dari ucapan nona itu, tampaknya tidak sedikit yang kau ketahui
tentang..."
"Itu tergantung persoalan apa yang hendak kalian tanyakan."
"Apa saja yang nona ketahui?"
"Menurut apa yang kuketahui, setiap orang yang berani bermusuhan dengan Sam
seng-bun, maka dia tak akan bisa hidup selama sebulan lagi...!"
Mendengar perkataan itu, Tong Thian-hong segera tertawa ewa. "Nona tak usah
menakut-nakuti aku" jengeknya, "bila aku takut dengan gertakan semacam itu, tak
nanti kami berani memusuhi Sam seng-bun."
Kemudian sambil menarik muka, katanya lagi dengan suara dingin. "Sekarang, aku
mempunyai dua hal yang hendak ditanyakan kepada nona, bila nona bersedia
137
untuk menjawab dengan sejujurnya maka akan kulepaskan nona untuk
meninggalkan tempat ini, jika berani berbelit-belit dalam jawaban, maka aku tak
akan mengampuni jiwa nona."
Menyaksikan nafsu membunuh yang menyelimuti wajah Tong Thian-hong,
kemudian menyaksikan sorot matanya yang memancarkan sinar tajam, Siau Po-cha
merasa agak takut, pelan-pelan sahutnya. "Tanyalah!"
"Markas besar Sam seng-bun terletak dimana?"
"Tidak tahu!" jawab Siau Po-cha sambil menggeleng.
Tong Thian-hong termenung sebentar, kemudian sahutnya, "Aku percaya dengan
perkataan nona itu!"
Setelah mendehem pelan, lanjutnya, "Kau mendapat perintah dari siapa dan apa
kedudukanmu dalam Sam seng-bun?"
"Aku mendapat perintah dari Seng-tong, dalam perguruan Sam seng-bun
berkedudukan sebagai huhoat Seng-tong!"
Tong Thian-hong manggut-manggut. "Kalau memang perintahmu datang dari
markas, mengapa tidak kau ketahui letak dari Seng-tong?"
"Setiap kali memberi perintah kepada kami, pihak Seng-tong selalu menggunakan
burung merpati untuk menyampaikan perintah tersebut atau melalui kurir yang
menyampaikan perintah tersebut, tentu saja kami tak perlu berhadapan langsung
dengan Seng-cu!"
"Dalam rumah pelacuran ini selain kau, masih ada berapa orang lagi yang
bermukim di sini?"
"Pertanyaan ini seharusnya kau ajukan sedari tadi!" seru Siau Po-cha kemudian.
"Ditanyakan sekarang juga belum terlambat!"
"Terlambat setindak!"
"Kenapa?"
"Berikut aku, di sini ada tiga orang, tetapi sekarang dua diantaranya sudah pergi
meninggalkan tempat ini untuk mencari bala bantuan. Kalau dihitung-hitung bala
bantuan pun segera akan sampai di sini...."
"Oh.... jadi selama ini nona selalu mengulur waktu, tujuanmu adalah untuk
menunggu datangnya bala bantuan?"
"Benar, kalau dihitung waktunya mereka seharusnya sudah tiba, cuma heran,
kenapa sampai sekarang belum ada juga yang datang."
"Mungkin mereka tak akan datang lagi."
"Kenapa?" tanya Siau Po-cha dengan wajah tertegun.
Dalam hati Tong Thian hong segera berpikir. "Biasanya perhitungan waktu dari
orang2 Sam seng-bun selalu tepat, kali ini mengapa mereka belum juga datang?
Mungkin di tengah jalan sudah terjadi suatu peristiwa? Yaa, kenapa tidak
kugunakan kesempatan ini untuk menggertak mereka?"
138
Siau Po-cha merasa gelisah sekali, ketika dilihatnya Tong Thian hong cuma
membungkam melulu, tak tahan lagi dia lantas bertanya. "Apakah kalian telah
mengutus orang untuk menghadangnya di tengah jalan....?"
Baru saja Tong Thian hong menjawab, mendadak terdengar suara seseorang
berkata dengan dingin. "Kami sudah datang sendiri tadi, juga mendengar dengan
mata kepala sendiri nona membocorkan rahasia perguruan kita!"
Paras muka Siau Po-cha segera berubah hebat, tapi dalam waktu singkat telah
pulih seperti sedia kala, katanya kemudian dengan nada tenang. "Kalau memang
kalian sudah datang, kenapa membiarkan aku tersiksa tanpa bermaksud untuk
memberi pertolongan?"
Orang yang berada di luar itu segera menyahut dengan dingin. "Kami tidak melihat
nona tersiksa atau menderita, tapi kami mendengar nona sedang membocorkan
rahasia perguruan."
Menyusul suara tersebut, tirai pintu disingkap dan muncullah seorang kakek dan
seorang pemuda masuk ke dalam ruangan. Buyung Im-seng mengalihkan sorot
matanya ke wajah orang itu, tampak kakek itu berusia 50 tahunan, berjenggot
putih, bertangan kosong dan tidak membawa senjata.
Sedangkan si pemuda berusia dua puluh tiga empat tahunan, memakai baju
ringkas dengan sebilah pedang tersoren di pinggangnya, pemuda itu termasuk
ganteng, tapi sayang mukanya pucat agak kehijau-hijauan sehingga kelihatan agak
menyeramkan.
Dengan suara dingin Siau Po-cha berkata. "Sekarang, jangan singgung dulu
tindakanku untuk membocorkan rahasia perguruan, sebab ada peraturan
perguruan yang akan menghukum diriku, apa yang menjadi tugas kalian sekarang
adalah menaklukan musuh yang berada di depan mata."
Kakek itu mengalihkan sorot matanya memandang sekejap ke sekeliling ruangan,
kemudian tanyanya, "Cuma ke dua orang ini saja?"
"Siau Ling-ling juga ada persoalan, berikut dia tangkap semua, aku harus menanyai
mereka secara baik-baik."
Kakek itu segera mengalihkan sorot matanya ke wajah Tong Thian hong, lalu
tanyanya, "Sobat, kau berasal dari aliran mana?"
"Aku adalah seseorang yang berdiri diantara golongan putih dan golongan hitam."
jawab Tong Thian hong ketus.
Kakek itu tertawa hambar, lalu katanya lagi. "Orang yang berdiri diantara
golongan putih dan hitam itu termasuk golongan yang mana?"
Siau Po-cha segera tertawa dingin, tukasnya, "Bodoh, orang lain sengaja menggoda
kalian, kalian masih menanggapinya dengan serius, hayo cepat turun tangan,
apalagi yang harus ditunggu...?"
"Oooh, kiranya begitu!" kakek itu mendengus dingin.
139
Tangan kanannya segera digerakkan memberi tanda, pemuda itu segera melolos
pedangnya dan maju ke muka, tiba di hadapan Tong Thian hong, katanya,
"Silahkan kau meloloskan juga senjatamu."
Tong Thian hong segera tertawa hambar. "Kalau hanya untuk menghadapi manusia
seperti kau, aku masih belum perlu untuk memakai senjata tajam."
Pemuda berbaju hijau itu mendengus dingin, pedangnya segera digetarkan
menusuk dada Tiong Thian hong. Menghadapi tusukan tersebut, dengan cekatan
Tong Thian hong menghindarkan diri ke samping, kemudian sambil mengayunkan
tangannya melancarkan sebuah serangan balasan. Rupanya pemuda itu tak berani
menghadapi pukulan lawan dengan kekerasan, dengan cepat dia berkelit ke
samping, lalu ujarnya, "Kalau didengar dari nada ucapanmu, tampaknya kau punya
ilmu simpanan, terbukti kau memang hebat."
Pedangnya segera diputar kencang melancarkan serangan kilat.
Ilmu pedang yang dimiliki pemuda itu sangat aneh sekali, semua serangannya
boleh dibilang dilancarkan dengan ancaman yang sangat mengerikan hati.
Tampaknya Tong Thian hong merasakan kejadian ini sangat di luar dugaan,
sepasang telapak tangannya segera melancarkan serangan berantai, ditambah pula
dengan ilmu menotok jalan darah memutuskan nadi, dengan susah payah berhasil
juga ia bendung serangan pedang dari anak muda itu.
Secara beruntun pemuda berbaju hijau itu sudah melancarkan hampir dua puluh
jurus serangan pedang, tapi kenyataannya bukan saja gagal melukai Tong Thian
Hong, bahkan orang itu masih tetap berdiri di tempat semula tanpa mundur barang
setengah langkahpun.
Sekarang, pemuda berbaju hijau itu baru sadar bahwa ia telah berjumpa dengan
musuh tangguh yang belum pernah dijumpai selama ini, buru-buru sambil menarik
kembali serangannya mundur ke belakang, kemudian sambil berpaling ke arah
kakek itu, katanya, "Bocah keparat ini lihay sekali."
"Aku sudah tahu" jawab si kakek dingin, "mari kita kerubuti bersama-sama...."
Tong Thian hong segera berpikir. "Jurus pedang yang digunakan keparat muda itu
sudah aneh dan sukar dihadapi, ilmu silat yang dimiliki si kakek itu tentu tak
berada di bawah kepandaiannya, bila mereka berdua sampai turun tangan
bersama, terpaksa aku harus menghadapinya dengan mempergunakan Tong keh
sin kun (pukulan sakti keluarga Tong).
Berpikir sampai di situ, dia lantas tertawa dingin, lalu katanya, "Silahkan kalian
berdua maju bersama, daripada aku musti repot-repot, paling baik lagi kalau Siau
Po-cha juga turut maju!"
"Hmm, enak benar jalan pemikiranmu itu, cuma sayang aku tak bakal memenuhi
keinginanmu itu!" seru Siau Po-cha.
"Jadi kau merasa tak sudi untuk bertarung denganku?"
"Ilmu silat yang kau miliki lihay sekali, dengan tangan kosong bisa melayani
pedang dari Gi heng kiam hoat, ini menunjukkan kalau kau memang sangat hebat."
140
Mendengar perkataan itu, Tong Thian hong segera berpikir. "Oh, rupanya pemuda
itu berasal dari perguruan Gi heng bun, tak aneh kalau ilmu pedang yang
dimilikinya lihay sekali.
Terdengar Siau Po-cha berkata lebih jauh. "Bila mereka berdua turun tangan
bersama, maka paling tidak kau harus bertarung sebanyak ratusan jurus dengan
mereka tanpa diketahui yang menang dan siapa yang kalah. Bila ingin menentukan
mati hidup, tentu saja harus menggunakan waktu yang cukup lama."
"Yaa, tentunya nona ingin menggunakan kesempatan ini untuk mencari beberapa
orang pembantu lagi bukan?"
"Benar, kau memang cukup pintar."
"Nona terlalu memuji!"
"Siau Po-cha!" tiba-tiba Buyung Im-seng menyela, "kenapa kau melupakan diriku?"
"Tidak, tapi aku percaya bila sampai terjadi pertarungan, maka aku masih sanggup
untuk merobohkan dirimu."
Seraya berkata, mendadak ia melompat ke belakang kakek itu dan serunya
kembali. "Halangi mereka, jangan biarkan mereka mengikuti di belakangku!"
Pemuda berbaju hijau itu segera maju ke depan, pedangnya diayunkan dan
melepaskan Siau Po-cha lewat di sampingnya. Tong Thian hong menjadi gelisah
sekali, seraya miringkan badan dia menerjang lewat dari sisi tubuh pemuda berbaju
hijau itu, dia berharap masih bisa menghalangi jalan pergi Siau Po-cha.
Dengan suatu gerakan cepat, kakek itu segera mengayunkan telapak tangan
kanannya melancarkan sebuah pukulan kilat ke arah dada Tong Thian hong...
Menghadapi ancaman tersebut, Tong Thian hong segera mengayunkan tangan
kirinya untuk menyambut datangnya serangan dari kakek tersebut, kemudian kaki
kanannya dilayangkan ke depan menendang muka pemuda bersenjata pedang itu,
sedangkan telapak tangannya dengan disertai tenaga penuh melepaskan sebuah
pukulan sakti. Pukulan itu sebat sekali, begitu meluncur ke depan langsung
menghajar persendian tulang lutut dari Siau Po-cha.
Dalam perhitungan Siau Po-cha tadi, ke dua orang rekannya pasti bisa
menghalangi Tong Thian hong bila orang itu hendak melakukan pengejaran, bila
mereka bertiga sampai terjadi pertarungan, maka jalan keluar akan tertutup oleh
pertempuran itu, dalam keadaan demikian seandainya dia kabur maka Buyung Imseng
juga tak akan mampu menembusi gelanggang arena itu untuk mengejarnya
meski ilmu silatnya tinggi, kecuali kalau dia bisa keluar dengan menjebol dinding.
Dengan demikian, itu berarti dia mempunyai waktu cukup untuk meninggalkan
tempat itu.
Siapa tahu dalam cemasnya, Tong Thian hong telah menyerempet bahaya dengan
melepaskan sebuah pukulan sakti keluarga Tongnya.
Pukulan sakti dari keluarga Tong sudah puluhan tahun lamanya termasyhur dalam
dunia persilatan, bagaimana mungkin Siau Po-cha bisa menahan kedahsyatan
serangan itu, diiringi jeritan tertahan tubuhnya segera jatuh berlutut di tanah.
141
Ketika mendengar jeritan kaget dari Siau Po-cha, si kakek dan pemuda itu menjadi
tertegun, masing2 menarik kembali serangannya sambil mundur ke belakang.
Ketika berpaling, mereka saksikan Siau Po-cha sudah berlutut di atas tanah.
Ternyata dalam gelisahnya tadi, Tong Thian hong telah sertakan pukulannya
dengan tenaga serangan yang hebat, akibatnya tulang persendian lutut gadis itu
menjadi remuk yang menyebabkan Siau Po-cha untuk sesaat lamanya tak sanggup
berdiri.
Tong Thian hong segera melompat keluar dari ruangan itu dan menghadang di
depan Siau Po-cha.
Pada saat itu Siau Po-cha sedang berlutut dengan air mata jatuh bercucuran,
agaknya saking sakitnya yang tak tertahan.
Dengan cepat Tong Thian hong mengayunkan tangannya menotok jalan darah Siau
Po-cha.
Si kakek dan si pemuda itu menjadi termangu-mangu untuk beberapa saat
lamanya, mereka dibikin terkejut sekali oleh perubahan situasi yang terjadi secara
mendadak itu.
Menanti Tong Thian hong telah menotok jalan darah Siau Po-cha, ke dua orang itu
baru teringat untuk memberi pengetahuan, serentak mereka maju ke muka
menubruk diri Tong Thian hong.
Dengan cepat Tong Thian hong mencengkeram tubuh Siau Po-cha, lalu ancamnya
dengan ketus, "Jika kalian berdua berani turun tangan, kugunakan tubuhnya
untuk menangkis serangan kalian, agar mereka mampus di tangan sendiri, dengan
begitu mungkin hati kalian baru agak tenteram.
Mendengar ancaman itu, ke dua orang tersebut menjadi terperanjat dan tak berani
melancarkan serangan secara gegabah.
Pelan2 kakek itu berkata, "Saudara, kau telah melukai nona Siau Po-cha dengan
senjata rahasia apa?"
Tong Thian hong tidak menjawab langsung pertanyaan tersebut, sebaliknya
berkata dengan dingin, "Jika kalian berdua tidak mau menyerahkan diri, Siau Pocha
adalah contoh yang paling tepat untuk kalian berdua."
Kakek itu memandang sekejap ke arah pemuda berpedang tersebut, tiba-tiba ia
menerjang maju ke muka, kemudian sebuah pukulan langsung dihantamkan ke
dada Tong Thian hong.
Menghadapi ancaman itu, Tong Thian hong tidak menjadi gugup, dengan cepat dia
berkelit ke samping, lalu tangan kanannya mencengkeram ke depan dan dengan
paksa menarik rubuh Siau Po cha untuk menyambut datangnya serangan dari
kakek itu.
Menghadapi ancaman ini, si kakek menjadi terperanjat, dia kuatir serangannya
menghajar telak diri Siau Po cha, buru-buru serangannya ditarik kembali kemudian
mundur dua langkah ke belakang.
Di kala kakek tadi menyerang Tong Thian hong tiba-tiba pemuda berpedang itu
membalikkan badannya dan menerjang keluar dari ruangan tersebut.
142
Siapa sangka pada saat bersamaan Buyung Im seng juga sedang melompat ke
depan menyongsong tubuhnya.
Tangan kana di ayunkan sebuah pukulan segera dilancarkan secara dahsyat.
pemuda itu hanya memperhatikan Tong Thian hong, dia tidak menyangka kalau
dari belakang pun meluncur ancaman kilat, menanti ia menyadari akan hal itu,
keadaan sudah terlambat.
"Blammmm....." sebuah pukulan dahsyat dengan telak menghajar bahu kana
pemuda itu.
Rupanya Buyung Im seng tahu bila keadaan dibiarkan berlarut terus maka
keadaan akan sangat tidak menguntungkan dirinya, maka ia lantas mengambil
keputusan untuk melangsungkan pertarungan kilat, tak heran kalau serangan
yang di lancarkan itu luar biasa dahsyatnya.
Tampak pemuda itu maju beberapa langkah dengan sempoyongan, kemudian roboh
terjungkal ke atas tanah.
Setelah merobohkan pemuda bersenjata pedang itu, Buyung Im seng segera
membalikkan telapak tangannya mencengkeram urat nadi pada pergelangan
tangan si kakek.
Inilah ilmu Ki na jiu hoat yang lihay dari Buyung Im seng.
Kaget sekali kakek itu menyaksikan datang nya tangan musuh, belum sempat ia
menghindarkan diri, tahu-tahu urat nadi pada pergelangan tangannya sudah di
cengkeram oleh lawan.
Hanya dalam bua gebrakan saja, ia berhasil merobohkan satu orang dan membekuk
orang yang lain, bukan saja kejadian ini mengejutkan si kakek dan pemuda itu,
Siau Ling-ling sendiri pun diam-diam merasa sangat kagum.
Tong Thian hong dengan tangan kiri mengempit Siau Po cha, tangan kanan
mengempit pemuda berpedang itu, dengan langkah lebar segera berjalan masuk ke
dalam ruangan.
Sedangkan Buyung Im seng menarik jari tangannya, dengan paksa dia pun
menyeret kakek itu masuk ke dalam ruangan.
Siau Ling-ling segera memandang sekejap kepada Buyung Im seng, kemudian
bisiknya lirih.
"Im ya, Che ya, aku ingin memohon sesuatu kepada kalian, sudikah kalian
mengabulkannya?"
"Dalam soal apa?" tanya Buyung Im seng.
"Aku dan enci Po cha sudah lama bergaul aku harap kalian berdua sudi
memandang di atas wajahku dengan tidak melukai nona Siau Po cha ...!"
"Soal ini... soal ini harus bertanya kepada che toaya"
Tong Thian hong memandang sekejap wajah nona itu, Lalu berkata dengan dingin,
"Mati hidupnya tergantung pada nona Siau po cha sendiri"
143
Tangan kanannya segera diayunkan berulang kali dan menotok jalan darah
kematian di tubuh sang pemuda berbaju hijau itu serta si kakek, tanpa
menimbulkan suara kedua orang itu segera binasa.
Melihat rekannya turun tangan keji, Buyung Im seng menjadi tertegun, kemudian
diam-diam pikirnya "Kalau tidak kejam bukan lelaki sejati, nampaknya Tong Thian
hong jauh lebih hebat dari pada aku"
Setelah membunuh kedua orang itu, Tong Thian hong segera menepuk bebas jalan
darah Siau Po cha, kemudian katanya.
"Kedua orang rekanmu sudah mampus semua sekarang apa yang ingin kau
ucapkan boleh dikatakan dengan hati lega."
Siau Po cha mencoba untuk memeriksa dengusan napas kedua orang itu, ternyata
mereka benar-benar telah meninggal dunia.
Dengan wajah dingin dan kaku serta hawa pembunuhan menyelimuti seluruh
wajahnya, Tong Thian hong segera berkata. "Kami tak punya waktu terlalu lama
untuk tinggal di tempat ini lagi, sekarang hanya ada dua pilihan buat nona,
selamanya aku suka bekerja secara terang terangan dan berbicara jelas, asal nona
mau menjawab semua pertanyaan dengan jelas dan jujur, aku pun bersedia untuk
melepaskan kau pergi dari sini"
"Bila terlampau banyak yang ku beritahukan kepada kalian, sudah pasti aku akan
di hukum oleh peraturan perguruanku!"
"Itu masih urusan mu sendiri, dunia begini luas dan lebar, tidak sulit toh untuk
mencari suatu tempat untuk menyelamatkan diri"
Setelah berhenti sebentar, lanjutnya. "Pokoknya aku tak mau mencampuri
urusanmu, jika kau tidak mau menjawab pertanyaanku maka nyawamu akan
segera ku cabut, aku pun bisa menggunakan siksaan yang paling keji untuk
memaksamu mengaku, Atau kuambil cara yang paling cepat yakni menotok jalan
darah kematianmu, agar kau mampus tanpa mengeluarkan sedikit suarapun"
Ketika mengucapkan kata-kata tersebut wajahnya tampak dingin dan kaku,
membuat orang mendapat kesan seakan akan setiap saat mungkin dia akan turun
tangan.
Siau Po cha termenung sebentar, kemudian katanya, "Apa yang ku ketahui sangat
terbatas sekalipun akan ku beritahukan semuanya kepadamu, belum tentu kau
akan mempercayainya."
"Aku percaya masih sanggup untuk membedakan mana pengakuan yang palsu dan
mana pengakuan yang sebenarnya"
Baiklah! Aku akan menyerempet bahaya tanyalah apa yang ingin kau tanyakan!"
"Dimanakah letak markas besar Sam seng bun?"
"Aku tidak tahu, tapi ka tahu Seng tong yang berada di atas bukit Tay hu-san,
bukan lembah tiga malaikat markas besarnya perguruan Sam seng bun"
"Kau kenal Im Hui?"
144
"Im kongcu mempunyai kedudukan yang sangat tinggi, sukar rasanya untuk
berjumpa dengannya, tapi beruntung aku pernah menjumpainya satu kali....."
"kau ditugaskan dalam rumah pelacuran aku yakin pasti ada tujuan tertentu,
bolehkah aku tahu apa tujuannya?"
"Aku tak lebih cuma seorang mata-mata, seorang mata matanya dari Sam seng bun,
soalnya orang yang berlalu lalang dalam rumah pelacuran amat banyak dan terdiri
dari pelbagai lapisan manusia, paling gampang mencari berita dalam suasana
begini, bila mendapat berita besar maka berita itu segera kulaporkan ke seng tong
melalui burung merpati"
"Aku rasa kau tidak mirip seorang mata-mata, mendadak Buyung Im seng menyela.
"Aku adalah komandan mata-mata yang mengepalai wilayah seratus li di sekeliling
tempat ini di bawahnya masih ada puluhan cabang mata-mata yang mengepalai
ranting, jika mereka mendapat berita segera dilaporkan kepadaku dan akulah yang
melaporkan ke seng tong melalui burung merpati!"
"Andaikata kami lepaskan nona, apakah kau kan membocorkan rahasia hari ini
kepada atasanmu?"
"Kecuali kalau kau tidak takut mati"
"Aku ingin mengajukan pertanyaan terakhir, "Soal apa?"
"Belakangan ini berita apa yang berhasil kalian dapatkan?"
Sambil merendahkan suaranya Siau Po cha berbisik.
"Buyung Im seng yang berhasil ditangkap oleh perguruan kami, tapi kemudian
ditolong oleh orang ditengah jalan."
"Bagaimana dengan nasib Buyung kongcu?" Buyung Im seng segera bertanya
dengan cepat.
"Sampai sekarang masih belum diketahui, aku sedang melakukan penyelidikan"
"Tampaknya perguruan Sam seng bun kalian bertekad untuk mendapatkan Buyung
kongcu, sesungguhnya mengapa bisa demikian ?"
"Dari pihak Seng tong diturunkan perintah yang mengatakan barang siapa yang
dapat menawan Buyung kongcu, maka dia akan mendapat hadiah sebiji Hoo siu ho
dan sebilah pedang yang tajam, selain itu juga dinaikkan pangkatnya menjadi Siau
yau tongcu"
"Lagaknya sih besar sekali, pedang tajam meski bukan suatu benda yang hebat,
Hoo siu ho berusia seribu tahun merupakan benda langka dalam dunia persilatan,
yang paling kupahami adalah Siau yang tongcu tersebut, sebenarnya apa yang
dinamakan Siau yau tongcu san apa pula kedudukan tersebut?"
"Siau Yau tongcu adalah suatu kedudukan paling tinggi dalam perguruan Sam seng
bun ko tersebut hanya setingkat di bawah tiga malaikat sedemikian tingginya
kedudukan tadi bukan saja Seng tong tak bisa memberi perintah kepadanya,
diapun diperbolehkan berpesiar dimana saja dia inginkan, dimana dia berada di
145
situ orang-orang sang seng bun akan menghormatinya selain melindungi
keselamatannya dengan sepenuh tenaga.
"Ehmm, tak usah dijelaskan lagi, aku sudah mengerti sekarang!" tukas Tong Thian
hong kemudian. "Sekarang apa yang hendak kalian tanyakan lagi?" kemungkinan
yang kau ketahui tentang kekuatan Sam seng bun......!"
"Kalian sudah mengetahui kedudukanku, berapa banyak rahasia yang ku ketahui
aku rasa di hati kalian pun ada perhitungannya"
"Oleh karena itu, lebih baik kau saja yang mengatakan semua yang kau ketahui"
"Apa yang ku ketahui semuanya telah ku utarakan"
"menurut apa yang ku ketahui, paling tidak masih ada sedikit persoalan yang
belum kau katakan" tukas Tong Thian hong dengan suara yang dingin seperti es.
"Soal yang mana?" "Jika semua yang kau katakan itu jujur, maka kau tak akan
menerima perintah langsung dari Song tong, semestinya seorang atasan yang
mengurusi dirimu?"
Siau Po cha menjadi tertegun
"Soal ini....soal ini...
Ia menjadi tergagap dan untuk sesaat lamanya tak sanggup melanjutkan perkataan
itu.
"Nona, aku lihat usiamu masih sangat muda paling tidak juga bisa hidup puluhan
tahun lagi bila harus mati pada saat ini, tidakkah kau merasa kalau hal ini
terlampau sayang?"
Dengan kening berkerut Siau po cha lantas berseru, "Adapun atasanku
itu...dia....dia berada di...."Kau jangan sembarangan menuduh lagi aku bisa segera
mendapatkan bukti kebohonganmu itu!" seru Tong Thian hong memperingatkan.
Tiba-tiba Siau Po cha menuding ke arah kakek yang sudah menjadi mayat itu
sambil berseru, "Dia, dia yang sudah mampus itulah atasanku, Tong Thian hong
tertawa dingin, ia segera mencengkeram ibu jari tangan kanan Siau Po cha dan di
tekannya keras-keras.
"Kraaak...!" ibu jari kanan Siau Po cha itu segera patah menjadi dua.
"Aku rasa kedudukan nona jauh di atas kedudukan mereka bukan?" ejeknya sinis.
Dengan cepat tangan kanannya mencengkeram pergelangan tangan kanan Siauw
po cha, sementara tangan kirinya mencengkeram tulang persendian sikut tangan
kanan gadis itu seterusnya. Jika nona tidak mengaku secara jujur lagi, jangan
salahkan kalau ku patah kan tulang persendian sikut kananmu ini!"
Ketika jari tangan kanannya dipatahkan tadi, seluruh wajah Siau po cha sudah
basah oleh keringat, ketika didengarnya Tong Thian hong. mengancam akan
mematahkan juga tulang persendiannya, paras muka perempuan itu kontan saja
berubah hebat.
"Orang itu - - - orang itu juga berada dirumah pelacuran ini" buru-buru serunya.
"Siapa?"
146
"Mungkin kalian sudah tak akan menemukan orang itu lagi",
"Aku tanya siapakah orang itu?"
"Dia adalah perempuan tua yang membawa kalian berdua masuk ke dalam ruangan
tadi"
"Apakah germo tua itu mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari pada dirimu?"
Sekarang Siau po cha sudah makin keder oleh kebengisan dan keganasan Tong
Thian hong, semua pertanyaan yang diajukan pasti di jawab sejujurnya, ketika
mendengar pertanyaan itu, buru-buru dia mengangguk.
"Betul, dia mempunyai kedudukan satu tingkat lebih tinggi dari pada
kedudukanku" Setelah berhenti sebentar, terusnya.
"Cuma sepertanak nasi sebelumnya, ia telah mendapat panggilan lewat burung
merpati dan buru-buru pergi, coba kalau dia berada di sini, tak nanti dia akan
membiarkan kalian bikin keonaran di sini"
Satu ingatan segera melintas dalam benak Tong Thian hong, tanyanya.
"Siapa yang telah mengundangnya pergi?"
Dengan cepat Siau Po-cha menggelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya.
"Aku tidak tahu."
"Apa lagi yang kau ketahui ?" pelan-pelan Tong Thiang hong mengendorkan
cengkeramannya pada sikut orang.
(Bersambung ke jilid 8)
147
Lembah Tiga Malaikat
Oleh: Tjan
Jilid 8
BAGIAN KE SEBELAS
"Mungkin hanya itu saja yang kuketahui, mungkin aku malah tahu yang lain, tapi
jika kau tidak tanyakan, aku juga tidak tahu bagaimana musti menjawabnya."
Tong Thian hong segera memegangi kembali tangan kanan Siau Po cha dan
menyambungkan jari tangannya yang putus itu, pelan-pelan katanya. "Sekarang
kau boleh pergi! Ingatlah, di sini perbedaan antara Sam seng bun dengan kami, apa
yang telah kukatakan selamanya pasti akan kami pegang teguh"
Siau Po Cha berpaling dan memandang sekejap ke arah Buyung Im seng serta Tong
Thian hong, kemudian memandang juga kedua sosok mayat itu, setelah itu baru
katanya. "Kalian tidak usah mengurusi soal mayat-mayat itu lagi, mereka dapat
membereskannya sendiri."
"Nona boleh pergi dari sini," tukas Tong Thian hong sambil mengulapkan
tangannya.
Siau Po cha manggut-manggut, pelan-pelan dia berjalan keluar dari ruangan itu.
Memandang hingga Siau Po cha pergi jauh, Tong Thian hong baru berkata lagi.
"Im-heng, kita juga harus pergi dari sini."
"Kalian berdua akan pergi kemana...?" bisik Siau Ling ling dengan lirih.
"Entah kemana saja, sebab tempat ini sudah tak dapat ditinggali lebih lama lagi."
Siau Ling ling berpaling dan memandang sekejap ke arah Buyung Im seng,
kemudian ujarnya, "Kau harus ingat dengan janji pertemuan itu, Siau Po cha telah
menaruh curiga kepadaku, tempat ini tak bisa ku diami lebih lama lagi."
"Setelah kepergian kami nanti, mungkin kah mereka akan menyulitkan diri nona?"
148
"Sudah barang tentu akan menyulitkan diriku, oleh karena itu sebelum pergi
meninggalkan tempat ini, lebih baik kalian bisa membantu diriku lebih dahulu."
"Membantu apa?"
"Totoklah jalan darahku, cuma tenaga dalamku tidak begitu sempurna, maka
sewaktu turun tangan nanti harap pelan-pelan sedikit, sehingga andaikata tak ada
yang membebaskan jalan darahku, aku bisa membebaskan sendiri pengaruh
totokan itu."
Tong Thian hong memandang sekejap ke arah Buyung Im seng, kemudian katanya.
"Lebih baik kau saja yang turun tangan!"
Buyung Im seng segera mengayun tangannya menotok jalan darah di tubuh Siau
Ling ling setelah itu katanya, "Mari kita pergi!"
Dengan langkah lebar dia lantas berjalan ke luar dari ruangan itu...
"Tak usah memanggil Li Ji hek lagi." kata Tong Thian hong, "Orang ini seringkali
hilir mudik dalam sarang pelacuran, sudah jelas dia pun bukan manusia baik-baik,
biar saja merasakan sedikit siksaan, agar ia tahu bahwa kejahatan selalu ada
balasannya."
Dengan langkah tergesa-gesa kedua orang itu berjalan keluar dari rumah pelacuran
itu dan langsung menuju keluar kota, dalam waktu singkat mereka sudah berada
belasan li jauhnya.
Ketika tiba di sebuah tanah pegunungan yang sepi dan jauh dari keramaian
manusia, Buyung Im seng baru berhenti, katanya sambil tertawa. "Tampaknya
sarang dari Sam seng bun betul-betul sangat rahasia sekali, sehingga diantara anak
murid Sam seng bun sendiri juga sedikit sekali yang mengetahui dimana markas
besar mereka berada!"
Tong Thian hong manggut2, katanya: "Sepanjang sejarah dunia persilatan,
sekalipun dalam dunia ini sudah seringkali terjadi pelbagai peristiwa besar yang
beraneka macam, tapi belum pernah terjadi ada suatu perguruan yang begitu
rahasia dan misteriusnya seperti perguruan Sam seng bun..."
Mendadak ia seperti teringat akan suatu masalah besar, setelah berhenti sebentar,
katanya lagi. "Buyung heng, apakah Siau Ling ling adalah anggota perkumpulan Li
ji pang?"
"Benar!"
"Apakah ia telah menjanjikan saat pertemuan denganmu?"
"Yaa, pada malam ini, untuk menjumpai pangcu mereka!"
"Apakah siaute tidak diundang?"
"Soal ini tidak ia bicarakan, cuma aku rasa tak ada salahnya untuk pergi berdua."
"Aku rasa tak perlu," ujar Tong Thian hong, "kalau memang Siau Ling-ling tidak
mengundangku, mungkin hal ini dikarenakan kehadiran siaute pasti akan
membuat suasana menjadi canggung, lebih baik kira cari tempat untuk beristirahat
dulu, setelah nanti, kau pergi menjumpai Pangcu dari Li ji pang lebih dulu,
kemudian kita baru pergi meninggalkan tempat ini."
149
"Sam seng bun terkenal karena mata-matanya yang tersebar luas sampai dimanamana,
mungkin saja sekarang sudah ada orang yang mencari kita di sini!"
"Oleh karena itu kita tak boleh menuju ke tempat yang ada orangnya, tapi harus
pergi ke tempat yang tak ada orangnya, dengan begitu kita baru bisa beristirahat
dengan tenang, selihai-lihainya orang Sam seng bun, tak nanti ia bisa
menggunakan pepohonan sebagai pengganti mata-matanya."
"Pendapat Tong heng memang tepat sekali, mari kita cari sebuah hutan sebagai
tempat persembunyian, tak mungkin pihak Sam seng bun bisa menemukan jejak
kita."
Setelah berunding sejenak, Buyung Im seng berangkat ke tempat pertemuan
seorang diri."
Ketika Buyung Im seng tiba ditempat tujuan, Siau Ling-ling sudah lama menunggu
kedatangannya di sana.
Malam ini adalah malam yang gelap sebab rembulan tertutup awan yang tebal,
meski begitu suasana di sekeliling sana secara lamat-lamat masih bisa terlihat.
Dengan langkah cepat Siau Ling-ling maju menyongsong kedatangannya, kemudian
berbisik.
"Buyung kongcu, kau datang seorang diri?"
"Betul", Buyung Im seng manggut2.
"Pangcu kami merasa tempat ini kurang aman, maka saya diperintahkan supaya
mengantar kongcu pindah ke tempat lain!"
Mendengar perkataan itu, Buyung Im seng segera berpikir. "Tampaknya Pangcu
dari Li ji pang juga seorang yang terlalu banyak curiga!"
Berpikir sampai di situ, dia lantas berkata: "Kalau begitu merepotkan nona untuk
membawa jalan!"
"Silahkan kongcu mengikuti aku di belakang, seraya berkata perempuan itu lantas
beranjak pergi.
Buyung Im seng mengikuti di belakang Siau Ling-ling dengan ketat, lebih kurang
enam tujuh li kemudian, sampailah mereka di depan sebuah rumah pertanian.
"Harap kongcu tunggu sebentar!" Siau Ling-ling segera berbisik.
Ia mendekati rumah petani itu dan membunyikan gelang pintu. Terdengar pintu
dibuka orang dan seorang nona baju hijau yang menyoren pedang membuka pintu
dan menyambut kedatangan mereka.
"Buyung kongcu telah tiba" bisik Siau Ling-ling, "Pangcu telah menunggu lama,
cepat persilahkan kongcu masuk ke dalam...!"
Nona berbaju hijau itu mendorong pintu dan berbisik. "Silahkan kongcu!" Buyung
Im seng mengangguk dan pelan berjalan masuk ke dalam rumah gubuk itu.
Dengan cepat nona berbaju hijau itu merapatkan kembali pintu gubuk, kemudian
bisiknya, "Pangcu kami menunggu di ruangan dalam!"
150
Suasana dalam ruangan itu gelap gulita, sedemikian gelapnya sehingga melihat
lima jari tangan sendiripun tidak bisa.
Buyung Im seng segera berpikir. "Suasana dalam ruangan ini begini gelap, kemana
aku harus berjalan masuk?"
Sementara dia masih berpikir, terlintas setitik cahaya api, menyusul kemudian
suara gadis berkata dengan suara merdu.
"Kongcu, silahkan duduk di sini!"
Buyung Im seng menurut dan segera berjalan kesana.
Tampak seorang nona cilik berusia lima enam belas tahunan yang berkepang dua
sedang membuka pintu kayu. Cahaya lampu mencorong keluar dari balik ruangan
itu.
Buyung Im seng segera masuk ke dalam ruangan, dengan cepat ia memperhatikan
di sekeliling tempat itu, sekarang baru tahu kalau tempat itu sebuah ruangan kecil
yang diatur sangat bersih dan indah.
Empat penjuru ruangan dilapisi oleh kain tirai berwarna kuning, sebuah lilin besar
berwarna merah ada di atas meja kayu yang beralaskan kain kuning, beberapa
hidangan kecilpun sudah siap di situ.
Buyung Im seng segera berpikir. "Tak nyana kalau didalam rumah gubuk ini
terdapat sebuah ruangan yang begini indahnya, kalau diperiksa dari luarnya saja,
siapa pun tak akan menyangka sampai ke situ."
Menanti Buyung Im seng sudah masuk ke dalam ruangan, nona cilik berkepang
dua itu baru menutup pintu dan mengundurkan diri.
Di depan meja duduklah Pangcu dari perkumpulan Li ji pang yang memakai baju
berwarna kuning. Agaknya dia tidak membiarkan wajahnya yang amat jelek itu
sampai terlihat oleh Buyung Im seng, dia masih tetap duduk dengan membelakangi
si anak muda itu.
Buyung Im seng menjura, lalu ujarnya. "Aku Buyung Im seng memberi hormat
untuk pangcu!"
Nona baju kuning itu menggelengkan kepalanya sambil berseru. "Tidak berani ku
sambut hormat dari Kongcu itu!"
Buyung Im seng berjalan sendiri menuju kehadapan nona itu dan duduk, kemudian
sapanya. "Pangcu sejak berpisah dulu, baik-baikkah kau?"
"Terima kasih banyak atas perhatian saudara Buyung..." setelah berhenti sebentar,
terusnya. "Entah urusan apa kongcu ingin berjumpa denganku?"
Buyung Im seng termenung sebentar, lalu sahutnya. "Panjang sekali kalau
diceritakan."
"Situasi dunia persilatan sudah sering kudengar dari anak buahku," tukas nona
baju kuning itu, "lebih baik kongcu terangkan secara ringkasnya saja!"
"Aku mengucapkan banyak terima kasih dulu atas pertolongan pangcu, selain itu
ada satu hal ingin memohon bantuanmu!"
151
"Soal apa?" "Tolong pangcu suka mengusahakan kontak dengan nona Ciu Peng!"
"Apa yang hendak kau beritahukan kepadanya?" "Minta agar dia suka
memperingatkan nona Im agar lebih berhati-hati dalam beberapa waktu
belakangan ini, sebab Im Hui sudah dipaksa oleh Ji seng, bila nona Im tak mau
masuk menjadi anggota Sam seng bun, maka dia hendak direnggut jiwanya agar Im
Hui bisa memperkokoh kedudukannya sebagai seorang tongcu."
Nona baju kuning itu termenung sebentar, lalu berkata. "Belum ada laporan dari
anak buahku tentang masalah ini, tolong tanya kongcu memperoleh kabar ini
darimana?"
"Tanpa sengaja aku telah berjumpa dengan malaikat kedua dari Sam seng bun dan
turut mendengar pembicaraannya dengan Im Hui, jadi kabar ini tak mungkin bisa
salah lagi."
Pelan-pelan nona baju kuning itu berkata. "Im Hui dua bersaudara masing-masing
memiliki kepandaian silat yang hebat, andaikata benar-benar sampai terjadi
pertarungan, belum tentu Im Hui sanggup menangkan adiknya."
"Serangan secara terang-terangan bisa ditangkis tapi bagaimana dengan serangan
gelap? Untuk mempertahankan kedudukannya sebagai Tongcu di perguruan Sam
seng bun, hanya tersedia dua jalan bagi Im Hui yakni kecuali turun tangan untuk
melenyapkan adiknya, dia hanya bisa memakai bujuk rayu untuk menyeret nona
Im masuk ke dalam perguruan Sam seng bun."
"Nona Im suci bersih bagaikan bunga bwe di tengah salju, bukan hanya satu dua
kali Im Hui menganjurkan agar bergabung dalam perguruan Sam seng bun, akan
tetapi selalu ditampiknya dengan tegas."
"Justru karena itu, keadaan nona Im menjadi gawat dan sangat berbahaya, itu pula
sebabnya aku ingin berjumpa dengan pangcu!"
Nona baju kuning itu tertawa lirih, serunya kemudian. "Tampaknya selain berjiwa
pendekar, kongcu juga sangat romantis..."
Kontan saja Buyung Im seng merasakan pipinya menjadi panas, buru-buru
tukasnya. "Aku merasa bahwa nona Im adalah seorang yang baik sekali, setelah ku
peroleh berita tentang dirinya, sudah menjadi kewajibanku untuk menyampaikan
kabar ini padanya."
Kembali nona baju kuning itu tertawa cekikikan. "Aku toh cuma bergurau saja,
harap kongcu jangan menanggapinya secara serius."
Buyung Im seng menghela napas panjang, ujarnya kemudian. "Andaikata nona Im
sampai tertimpa musibah, aku kuatir anggota perkumpulan anda, nona Ciu Peng
juga sulit untuk meloloskan diri dari ancaman bahaya maut."
Pelan-pelan nona baju kuning itu mengangguk. "Baik!" katanya, "aku akan segera
turunkan perintah dan minta nona Ciu Peng menyampaikan kabar kepada nona Im
agar secara diam-diam ia melakukan persiapan."
"Terima kasih pangcu!" "Kongcu, apakah kau masih ada pesan lainnya?"
"Tidak berani, apa yang ingin ku utarakan kini sudah habis ku utarakan semua."
152
"Besok pagi, nona Im sudah akan mendapat tahu tentang kabar ini, harap kongcu
jangan kuatir."
Buyung Im seng segera merangkap tangan dan menjura. "Semua perkataanku telah
selesai ku utarakan, aku ingin memohon diri lebih dulu."
"Kongcu, pernahkah kau memikirkan tentang sesuatu?" mendadak nona baju
kuning itu menyela.
Mendengar pertanyaan itu, Buyung Im seng menjadi tertegun. "Memikirkan apa?"
tanyanya.
"Persoalan yang pernah kita bicarakan di kota Hong ciu tempo hari..."
Buyung Im seng segera tertawa hambar. "Aku masih tetap dengan pendirian
semula, pangcu terangkan dulu duduknya persoalan, kemudian aku
pertimbangkan."
"Buyung kongcu, ada satu hal aku rasa kau pasti mengerti dengan jelas."
"Persoalan apa?"
"Mata-mata Li ji pang tersebar dimana-mana, sekalipun didalam perguruan Sam
seng bun juga terdapat mata-mata dari Li ji pang kami."
"Benar, memang mata-mata perkumpulan pangcu ada dimana-mana, aku merasa
kagum sekali."
"Kongcu yang budiman selalu mendapat bantuan dari semua orang selain Bian hoa
lengcu beserta anak buahnya, pada budak dan Hoa linya, kaupun memperoleh
bantuan dari Tong sau cengcu dari benteng Tong kee ceng..."
Buyung Im seng agak tertegun, kemudian katanya, "Pangcu benar-benar sangat
lihai, bukan saja dalam Sam seng bun punya mata-mata, tampaknya di sekelilingku
pun terdapat orang-orangmu yang selalu melakukan pengintaian."
"Dalam ilmu silat, mungkin Li ji pang sanggup untuk beradu tanding, tapi kalau
berbicara soal ketajaman mata dan pendengaran, di dunia dewasa ini belum ada
partai atau golongan lain yang sanggup beradu kekuatan dengan kami, termasuk
juga Sam seng bun dan Biau hoa bun."
Sudah berulang kali Buyung Im seng mendapat bantuan dari pihak Li ji pang, ia
tahu bahwa ucapan tersebut bukan Cuma bualan kosong belaka.
Terdengar nona baju kuning itu berkata lagi dengan suara dingin dan kaku.
"Seandainya aku mau, asal kugunakan sedikit tipu muslihat dunia persilatan dapat
kubuat kacau balau tidak keruan, akupun bisa mengadu domba antara satu partai
dengan partai yang lain sehingga berkobar pertumpahan darah yang mengerikan."
"Aku percaya perkumpulan pangcu mampu berbuat demikian, tapi aku percaya
pangcu tidak akan melakukannya."
"Sulit untuk dikatakan, andaikata aku didesak oleh keadaan, terpaksa akupun
akan berbuat demikian."
153
Buyung Im seng termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian
berkata. "Jika ku dengar dari perkataan pangcu itu, tampaknya aku hendak
memaksa diriku untuk meluluskan satu hal?"
"Benar, ada persoalan yang penting sekali artinya bagi kami semua..."
Setelah berhenti sebentar untuk menarik napas, terusnya. "Persoalan itu selain
menyangkut mati hidup aku pribadi, juga menyangkut mati hidupnya perkumpulan
Li ji pang."
"Apakah ada sangkut pautnya dengan diriku?" "Sulit untuk kuterangkan."
"Kenapa?"
"Sebab bila kukatakan maka hal ini akan mendekati pemaksaan kepada kongcu
untuk mau tak mau harus menerimanya."
"Apa salahnya pangcu katakan dulu."
"Singkat saja, sekalipun kongcu enggan bekerja-sama dengan kami, paling tidak
kau harus membantu aku satu hal!"
Setelah berhenti sebentar, terusnya. "Sudah ku perhitungkan waktunya dengan
tepat, paling lama lima belas hari paling cepat sepuluh hari, dalam 15 hari ini asal
kongcu bersedia menuruti perkataanku dan menyelesaikan satu masalah buat
kami, tentu saja kamipun tak akan minta bantuan kongcu dengan begitu saja, kami
juga akan membalas jasa kongcu itu dengan memberitahukan alamat dari Seng
tong perguruan Sam seng bun kepadamu."
Tampaknya syarat ini sangat menarik perhatian Buyung Im seng, tampak
keningnya berkernyit, mimik wajahnya bergetar, ia tampak seperti girang tampak
juga seperti murung. Jelas dalam hati kecilnya telah terjadi pertentangan bating
yang sangat besar.
Pelan-pelan nona baju kuning itu berkata lagi. "Kongcu harap kau pikirkan dengan
seksama dan ambillah keputusan menurut suara hatimu sendiri, aku tidak
bermaksud untuk memaksa dirimu..."
Diam-diam Buyung Im seng berpikir. "Aku dan Nyo Hong ling telah
mempergunakan pelbagai cara untuk menyelidiki letak Seng tong dari Sam seng
bun, tapi usaha kami itu selalu gagal, sungguh tak kusangka pihak Li ji pang telah
berhasil mendapatkan berita itu, dari sini dapat diketahui bahwa ketajaman
pendengaran orang2 Li ji pang memang sungguh mengagumkan sekali, jika bisa
bekerja sama dengannya sehingga mengetahui siapakah pembunuh orang tuaku,
hal ini pasti akan banyak membantu diriku."
Berpikir sampai di situ, dia lantas menghembuskan napas panjang, katanya
kemudian. "Jika perkumpulan kalian memang sedang menghadapi persoalan, aku
bersedia untuk memberi bantuan."
"Jadi kau meluluskan permintaanku?" tanya nona baju kuning itu kemudian.
Buyung Im seng menggelengkan kepalanya berulang kali. "Cuma aku musti
melakukan pemilihan dulu antara yang jahat dan baik, jika perkumpulan kalian
menyuruh aku pergi melakukan kejahatan, sekalipun hal ini bisa membantuku
untuk membalaskan dendam, aku juga tidak akan menyanggupi!"
154
Nona baju kuning itu segera tertawa hambar. "Kalau tujuanku hanya ingin
melakukan kejahatan, tak usah merepotkan kongcu, kami juga bisa melakukannya
sendiri, toh dalam perkumpulan masih banyak terdapat jago-jago yang cekatan."
Agaknya ia merasa kata-kata tersebut agak berat, maka buru-buru sambungnya
lebih jauh. "Mungkin Buyung kongcu tak akan percaya dengan kemampuan ilmu
silat dari Li ji pang kami, tapi kecerdasan orang-orang kami rasanya kongcu juga
memaklumi, sekalipun rak bisa meraih kemenangan secara terang-terangan, kami
masih sanggup untuk meraih kemenangan dengan cara menggelap...!"
Mendengar perkataan itu, Buyung Im seng menjadi tertegun, segera pikirnya.
"Betul juga perkataannya itu, dengan organisasi Li Ji pang mereka yang begitu
rahasia rasanya serangan gelap dari mereka memang susah untuk diatasi."
Terdengar nona baju kuning itu tertawa merdu, lalu katanya. "Mungkin Buyung
kongcu tidak percaya, selain aku bisa mengatur orang-orang Li ji pang lagi pula
akupun bisa memperoleh banyak dukungan jago lihai dari pelbagai perguruan dan
partai yang ada di persilatan dewasa ini."
Buyung Im seng mendehem, lalu menjawab. "Yaa, aku memang merasa setengah
percaya setengah tidak dengan perkataanmu itu."
"Kongcu jangan lupa, seorang enghiong susah untuk melewati gadis cantik, kecuali
aku si pangcu seorang, hampir sebagian besar anggota perkumpulan Li ji pang
adalah gadis-gadis muda yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, betul
kalau mereka berdiri sendiri mungkin tak akan mampu, tapi ingat pohon tunggal
tak mungkin jadi hutan, di bawah pendidikan ku yang ketat, kecerdasan mereka
bisa mereka gunakan hingga sebagaimana mestinya, sekalipun seorang lelaki yang
gagah, jika sudah terpengaruh oleh rayuan perempuan cantik, sekali pun kau suruh
ia bunuh diripun mungkin ia tak akan menolak."
"Sekalipun 80-90% lelaki di dunia ini suka perempuan, toh masih ada satu dua
puluh persen yang tak terpengaruh oleh kecantikan perempuan."
"Ucapan kongcu memang benar, tapi kau telah melupakan sesuatu, selera setiap
orang meski berbeda namun anggota Li ji pang kami terdiri dari beraneka ragam
perempuan cantik yang cukup mendebarkan hati siapapun yang menjumpainya,
apalagi yang sudah mendapat pendidikan untuk merayu dan menarik hati lelaki,
kadangkala mereka bisa bersikap manja dan mempesona hati, kadangkala pula
mereka bisa menunjukkan sikap patut dikasihani, pokoknya secara ringkasnya
saja, asal mereka sudah menggunakan ilmu kepandaian tersebut, maka lelaki
macam apapun pasti akan tunjuk di bawah perkataannya dan bersedia digunakan
tenaganya oleh kami."
Buyung Im seng termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian
katanya. "Oooh... rupanya kalian orang-orang Li ji pang menggunakan cara
semacam itu untuk beradu kekuatan dengan orang-orang persilatan di dunia ini..."
Selama ini nona baju kuning itu tak pernah membalikkan badannya untuk
menengok Buyung Im seng barang sekejappun, maka hanya saja pemuda itu
menentukan sikap dan perasaan lawannya itu.
155
Terdengar ia berkata dengan suara dingin dan kaku. "Apakah kongcu merasa
bahwa cara yang dipergunakan orang-orang Li ji pang kami agak kurang sedap
didengar?"
"Aku hanya merasa cara yang dipergunakan kalian ini kurang begitu terbuka dan
jujur."
"Janganlah kau anggap orang2 Li ji pang kami Cuma perempuan2 liar saja,
sesungguhnya anggota perkumpulan kami hampir sebagian besar adalah gadis
yang masih suci bersih, misalnya saja Siau Ling ling sudah banyak tahun dia terjun
dalam rumah pelacuran, akan tetapi sampai sekarang dia masih tetap seorang
gadis yang perawan dan suci bersih."
"Pangcu jangan salah paham, yang kumaksudkan kurang jujur dan terbuka bukan
berarti orang-orangnya yang tidak suci dan liar."
Nona baju kuning itu termenung dan tidak berbicara, rambutnya yang panjang
tampak gemetar keras, hatinya sedang mengalami gejolak keras.
Buyung Im seng menjadi sangat tidak tentram, pikirnya. "Jika sikapku tetap keras
terus seperti ini, bisa jadi dia akan merasa tersinggung, padahal selama ini Li ji
pang selalu baik padaku, jika sampai bentrok pada malam ini, jadi posisiku dalam
dunia persilatan dikemudian hari akan bertambah sulit."
Sementara itu si nona baju kuning itu telah berkata lagi. "Kalau begitu, Buyung
kongcu merasa tidak sudi untuk berhubungan dengan orang-orang Li Ji pang?"
"Itu sih tidak, asal tujuan kalian demi kebenaran dan keadilan, sekalipun didalam
tindakan kurang terbuka, rasanya juga tidak terlalu menjadi persoalan."
Nona baju kuning itu segera tertawa cekikikan. "Suatu penjelasan yang bagus
sekali dari kongcu, Cuma persoalan dalam tubuh Li ji pang kami tak usah kau
pikirkan."
Mendadak suaranya menjadi dingin dan katanya lagi. "Sekarang kita hanya
membicarakan soal kerja-sama, apakah kongcu dapat mengambil keputusan...?"
"Sudah terlalu banyak bantuan yang diberikan perkumpulan kalian kepadaku,
sepantasnya akupun harus menolong kalian, Cuma sebelum kau terangkan bentuk
bantuan itu, sebenarnya sukar buatku untuk mengambil keputusan."
Mendadak nona baju kuning itu bangkit berdiri, lalu katanya. "Jika kali ini kongcu
enggan bekerja-sama dengan kami, di kemudian hari tentu sulit diketemukan
kesempatan baik untuk bekerja sama lagi."
Buyung Im seng juga pelan-pelan bangkit berdiri, lalu sambil menjura katanya.
"Terima kasih banyak atas bantuan perkumpulan anda selama ini kepadaku, budi
kebaikan ini pasti akan Buyung Im seng balas jika di kemudian hari ada
kesempatan, baik-baiklah pangcu menjaga diri, aku ingin mohon diri dahulu."
Sambil membalikkan badan dia lantas berjalan keluar dari ruangan tersebut.
"Berhenti!" mendadak nona baju kuning itu membentak keras dengan suara dalam.
Buyung Im seng segera berhenti, lalu tanyanya. "Pangcu, masih ada pesan apa?"
156
"Kongcu, bila engkau enggan bekerja-sama dengan perkumpulan kami, mungkin
kau segera akan merasa menyesal sekali."
"Apakah pangcu sedang menggertak aku?" "Bukan suatu gertakan, tapi setiap
patah kata yang kuucapkan dari hari sanubariku."
Buyung Im seng termenung sebentar, kemudian katanya sambil tertawa. "Mengapa
pangcu tidak bersedia untuk menerangkan dulu persoalan apakah itu dan
bagaimana kerja-samanya? Asal perbuatan itu tidak mengganggu ketentraman
umat manusia, aku pasti akan meluluskan permintaan pangcu itu."
Nona baju kuning itu segera menghela napas panjang. "Kau sangat keras kepala!"
keluhnya.
"Kalau aku tidak keras kepala, bukankah sedari tadi permintaan pangcu telah
kululuskan?" jawab Buyung Im seng sambil tertawa.
"Baiklah! Akan kujelaskan sebagian, soal meluluskan atau tidak, itu adalah
urusanmu sendiri!"
Tidak menanti Buyung Im seng memberi jawaban, dia telah berkata lebih lanjut.
"Kami ingin minta tolong kepada kongcu untuk mendapatkan kembali sejilid kitab
pusaka ilmu pedang dari perkumpulan Li ji pang kami."
"Dalam perkumpulan Li ji pang penuh dengan manusia lihai dan pintar, mengapa
kau malahan membutuhkan bantuanku?"
"Sebab semua anggota perkumpulan kami adalah perempuan, sedang orang itu juga
perempuan, maka terpaksa kami membutuhkan bantuan dari kongcu."
Buyung Im seng menjadi tertegun setelah mendengar perkataan itu, katanya
kemudian. "Untuk merebut kembali kitab pusaka, selain mengandalkan ilmu silat
juga mengandalkan kecerdasan apa pula bedanya lelaki dan perempuan?"
"Dia sudah tahu kalau aku sangat bernapsu untuk mendapatkan kitab pusaka ilmu
pedang itu, maka dia menaruh kewaspadaan yang khusus terhadap kaum wanita,
hanya lelaki saja yang bisa menyelundup masuk ke dalam penjagaannya yang
sangat ketat itu."
"Ada betulnya juga perkataannya itu." Diam-diam Buyung Im seng berpikir
didalam hati.
Berpikir demikian, diapun lantas berkata. "Tak terhitung jumlah lelaki di dunia ini,
dalam perkumpulan Li ji pang juga terdapat banyak anggota yang sanggup
menaklukan lelaki untuk berbakti kepadanya, mengapa pula kau harus memilih
diriku...?"
"Karena apa yang kulakukan ini merupakan siasat, bukan sembarangan orang yang
bisa melaksanakan siasatku ini."
"Siasat apakah itu?" tanya Buyung Im seng dengan sepasang alis matanya
berkernyit.
"Itulah yang musti kongcu pikirkan sendiri, tapi kongcu memang merupakan orang
yang paling cocok untuk melaksanakan siasatku itu."
157
"Dari tiga puluh enam macam siasat, terdapat siasat Bi jim ka (siasat perempuan
cantik) lantas apa pula namanya jika mempergunakan diriku?"
"Nona berbaju kuning itu segera tertawa terkekeh-kekeh. "Tentu saja Bi lam ki
(lelaki tampan). Kalau perempuan bisa dipakai untuk bersiasat, mengapa tidak
dengan lelaki?"
"Oooh... kiranya begitu!" seru Buyung Im seng dengan paras muka berubah hebat.
"Cuma kongcu juga tak usah kuatir, segala sesuatunya akan kami atur dengan
sebaik-baiknya, tak nanti kami biarkan kau menyerempet bahaya..."
"Aku tidak takut menyerempet bahaya, Cuma ku ragu cara begini kurang begitu
baik." "Bagaimana tidak baiknya?"
"Aku adalah seorang lelaki sejati, kalau sampai kalian gunakan sebagai umpan,
rasanya... yaaa, rasanya kurang sedap dipandang orang lain...!"
"Itulah sebabnya kenapa aku tak mau memberitahukan kepadamu, aku tahu
setelah memberitahukan hal ini kepadamu maka kau pasti enggan untuk
mengabulkannya."
Buyung Im seng menjadi amat sedih, dan serba salah, setelah termenung lama
sekali, katanya. "Soal ini sungguh membuat aku merasa serba salah..."
Setelah berhenti sejenak, terusnya. "Bagaimanakah watak orang itu?"
"Licik, banyak tipu muslihatnya dan banyak melakukan kejahatan dan kebuasan."
"Bolehkah kau menyebutkan juga nama dan julukannya?"
"Dia bernama Li Hui-nio julukannya Giok hong siancu (Dewi lembah kemala)"
"Dewi lembah kemala? Belum pernah kudengar nama orang ini disebut orang..."
"Giok hong siancu sudah lama mengasingkan diri, ia sudah tidak melakukan
perjalanan lagi didalam dunia persilatan."
"Sekarang dia diam dimana?"
"Buyung kongcu!" Pelan-pelan nona baju kuning itu bertanya, "Apakah kau tidak
merasa terlalu banyak bertanya? Ketahuilah, tempat tinggal dari Giok hong siancu
merupakan tempat yang ingin diketahui oleh banyak jago persilatan, bersediakah
kongcu meluluskan permintaanku, harap kau cepat mengambil keputusan."
"Baik! Aku masih akan mengajukan satu pertanyaan lagi!" "Apa yang ingin kau
tanyakan?"
"Giok hong siancu itu orang baik atau orang jahat?"
"Orang jahat, orang yang jahat sekali, jahatnya bukan alang kepalang...!"
"Baik, atas dasar perkataan pangcu itu, aku akan meluluskan permintaanmu...!"
"Sungguh?" perkataan nona baju kuning itu sangat girang.
"Tentu saja sungguh!"
Mendadak nona baju kuning itu membalikkan badannya dan menyingkap
rambutnya yang menutupi wajahnya itu, kemudian tertawa.
158
"Buyung kongcu, setelah kau meluluskan permintaanku itu, apakah kau tak
menyesal?"
Buyung Im seng memandang sekejap wajahnya yang jelek itu, kemudian
tersenyum.
"Setelah kululuskan permintaanmu itu, sekalipun harus naik ke bukit golok atau
turun ke kuali minyak, aku tak akan merasa menyesal, Cuma akupun berharap
nona jangan membohongi aku."
"Giok hong siancu adalah orang jahat, setiap orang persilatan mengetahui akan hal
ini, jika aku membohongimu, biar aku tidak mati dengan tenang."
"Baiklah kita tentukan dengan sepatah kata, bantuan apa yang harus kuberikan,
harap nona suka memberi penjelasan."
"Aku pikir kau pasti ada banyak persoalan yang harus diselesaikan, bagaimana
kalau bertemu lagi besok malam di sini?"
Dengan cepat Buyung Im seng menggelengkan kepalanya. "Tolong pangcu
perhitungkan dulu sebetulnya kau membutuhkan waktu berapa lama?"
Nona baju kuning itu termenung dan berpikir sebentar, kemudian jawabnya. "Bila
besok baru bertemu dengan segera berangkat, lebih kurang sepuluh hari kemudian
urusan pasti sudah beres."
"Kalau begitu aku akan beritahu pada rekanku sebentar kemudian segera balik ke
sini, bila kita bisa berangkat hari ini bukankah kita dapat memperpendek
waktunya dengan sehari lagi?"
"Tidak bisa, aku harus mengadakan persiapan dulu, paling tidak besok tengah hari
baru siap semuanya."
"Kalau begitu sekarang aku ingin mohon diri lebih dulu."
"Jika kau tidak merasa canggung untuk berhadapan dengan seorang perempuan
jelek, aku akan menyuruh mereka untuk siapkan hidangan dan arak, untuk
mengiringi kita bergadang."
Tiba-tiba Buyung Im seng dapat merasakan suatu kepedihan dibalik ucapan
tersebut, maka buru-buru sahutnya. "Jika pangcu mempunyai kegembiraan itu
tentu saja aku dapat mengiringi keinginanmu."
"Kongcu jangan berpikir demi aku, dapat kulihat kau terpaksa meluluskan karena
menaruh rasa kasihan kepadaku." Sehabis berkata ia lantas tertawa sehingga
kelihatan sebaris giginya yang putih.
"Baik, maksud hati pangcu akan kuterima."
Nona baju kuning itu segera bertepuk tangan dua kali. Seorang bocah perempuan
muncul dalam ruangan sambil bertanya.
"Pangcu kau ada pesan apa?" "Siapkan sayur dan arak, aku hendak bersantap
bersama tamu agung...!"
Bocah perempuan itu mengiakan, lalu membalikkan badan dan berlalu dari sana.
159
Tak lama kemudian bocah perempuan itu muncul kembali sambil membawa sebuah
baki kayu, di atas baki tersedia empat macam sayur, sepoci arak dan dua buah
cawan kecil.
Nona baju kuning itu mengambil poci arak dan memenuhi setengah cawan,
kemudian tanyanya. "Kongcu, bagaimana dengan takaran arakmu?"
"Jelek sekali!" "Baik, kalau begitu minum setengah cawan saja."
Memandang setengah cawan kecil arak yang berada di depannya itu, diam-diam
Buyung Im seng tertawa geli, pikirnya. "Sekalipun aku tak bisa minum arak, kalau
dengan cawan sekecil ini mah delapan sampai sepuluh cawan arak masih bisa
kuminum tanpa kuatir mabuk."
Sementara itu bocah perempuan tadi telah meletakkan cawan arak dan
mengundurkan diri.
- 0 -
BAGIAN KE DUABELAS
Agaknya nona baju kuning itu dapat menebak suara hari Buyung Im seng, sambil
tersenyum segera katanya.
"Arak ini merupakan sejenis arak istimewa dari perkumpulan Li ji pang kami yang
disebut Pek hoa lok, mungkin boleh dibilang merupakan arak paling mahal di dunia
ini, bukan saja harum baunya, setelah diminum pun besar sekali pengaruhnya,
arak ini dinamakan juga It ti cui (setetes pun memabukkan), toh selisihnya juga
tidak terlampau jauh."
"Kalau mendengar perkataan pangcu, agaknya kau punya takaran minum yang
hebat."
"Hebat sih tidak, Cuma sewaktu berada di Sui lo tay, aku seringkali mencoba untuk
meminumnya, memang kenyataannya lumayan juga takaranku."
"Selama melakukan perjalanan didalam dunia persilatan, apakah pangcu selalu
menyiapkan arak?"
Nona baju kuning itu menggeleng, sahutnya sambil tertawa. "Aku sih belum sampai
tergila-gila dengan arak, beberapa botol arak yang kubawa kali ini hanya
bermaksud untuk diberikan kepada orang lain."
"Hendak kau berikan kepada siapa?"
"Barang bermutu hanya dijual pada orang yang mengerti, tentu saja arak wangi ini
akan kuhadiahkan bagi mereka yang suka meminumnya."
"Kalau memang begitu, aku jadi ingin sekali mencicipinya."
Nona baju kuning itu segera mengangkat cawan araknya sambil berkata. "Akan
kulayani keinginanmu itu."
Buyung Im seng mengangkat cawannya, betul juga terhembus bau bunga yang
harum semerbak, ketika dicicipi setegukan ternyata rasanya memang juga enak
sekali, belum ia rasakan arak seenak itu.
160
Nona baju kuning itu meneguk pula setegukan, lalu tanyanya sambil tertawa.
"Bagaimana?"
"Sekalipun aku bukan seorang yang terbiasa minum arak, tapi bisa kurasakan
kalau rasanya sedap sekali, belum pernah kurasakan arak seharum dan seenak
ini."
Nona baju kuning itu segera menurunkan cawan araknya, lalu berkata sambil
tertawa. "Malam yang sepi dengan sinar lilin yang redup, suasana semacam ini
paling enak dilewatkan dengan bercakap-cakap, sayang wajahku amat jelek, jauh
bisa memenuhi selera kongcu, sedikit banyak hal ini tentu mempengaruhi suasana
bukan?"
"Cantik buruknya wajah seseorang hanya merupakan sebagian kecil dari
kepribadian seseorang, dengan kecerdasan dan keberhasilan yang nona capai
sekarang, lelaki manapun sukar untuk menandingimu, memang tiada sesuatu yang
sempurna di dunia ini, buat apa nona mesti memikirkan soal ini didalam hati?"
Nona baju kuning itu segera tertawa merdu, katanya. "Kongcu, seandainya aku
ingin mengikat tali persahabatan denganmu, apakah kau bersedia untuk
menerimanya?"
Buyung Im seng agak tertegun setelah mendengar ucapan tersebut. "Bukankah kita
sudah bersahabat sekarang?"
Nona baju kuning itu termenung lagi beberapa saat lamanya, kemudian berkata.
"Maksudku seandainya kau mempunyai teman seorang perempuan jelek seperti
aku yang tiap hari berada di sampingmu terus menerus, maka bagaimanakah
perasaanmu?"
Buyung Im seng menjadi termangu. "Soal ini... Belum pernah kupikirkan sampai ke
situ", katanya kemudian.
Nona baju kuning itu segera tertawa. "Kalau begitu sekarang pikirkanlah dengan
matang, aku berharap bisa mendengar jawaban yang muncul dari hati
sanubarimu."
"Memilih orang dengan memandang paras muka merupakan kebiasaan dari umat
manusia, aku..."
"Kongcu!" itukah nona baju kuning itu, yang kita bicarakan sekarang adalah
suasana pribadi antara kongcu dengan diriku."
Buyung Im seng segera tertawa.
"Setiap orang mempunyai sifat suka yang indah dan cantik, bila kita kesampingkan
soal baik buruknya watak manusia, sudah barang tentu kongcu terletak pada pihak
yang dirugikan."
Nona baju kuning itu segera tertawa hambar, katanya kemudian. "Oleh karena itu,
akupun cukup tahu diri, selama berada bersama kongcu kita hanya berbicara soal
dinas, tidak menyinggung soal perasaan pribadi."
161
"Mungkin lantaran nona merasa wajahnya kurang menguntungkan, maka
perhatianmu baru bisa tertuju ke dalam dunia persilatan, itu pula sebabnya usiamu
masih terlalu muda namun berhasil mendapatkan kesuksesan luar biasa."
"Itulah yang dinamakan orang jelek banyak tingkahnya." Kata nona berbaju kuning
itu sambil tertawa. "Hidup secara baik-baik tidak dicari, justru repot-repotnya
membentuk organisasi Li ji pang yang menyebabkan diriku semakin repot, paling
sibuk, tiap hari berkelana dalam dunia persilatan, hilir mudik kesana kemari,
wajah yang dasarnya sudah jelek, ditambah lagi timpaan hujan teriknya matahari,
makin lama wajah ini semakin bertambah jelek..."
Ia membereskan rambutnya yang panjang, kemudian pelan-pelan melanjutkan.
"Konon Biau hoa lengcu adalah seorang gadis yang cantik jelita bagaikan bidadari
dari kahyangan, bagaimana pendapat kongcu tentang hal ini...?"
"Betul, dia memang cantik dan diketahui setiap orang, rasanya akupun tak usah
banyak komentar lagi."
"Kalau begitu aku mengucapkan selamat kepada kongcu karena mempunyai
seorang kekasih hati yang cantik jelita bagaikan bidadari dari kahyangan, apalagi
gadis cantik itu memiliki pula ilmu silat yang tak terlukiskan kelihaiannya,
harapan kongcu untuk membalas dendam bila sudah terlaksanakan, kau tentu bisa
berpesiar kemana mana sambil menikmati kehidupan sorgawi, suatu kebahagiaan
hidup yang didambakan setiap umat manusia."
"Apa? Membalas dendam bukan suatu masalah yang gampang, Sam seng bun tidak
lebih hanya suatu titik terang yang ada saja, benarkah mereka adalah musuh besar
pembunuh ayahku, hal ini masih merupakan suatu tanda tanya besar."
"Kongcu tak perlu berputus asa, tiada pekerjaan sukar di dunia ini, yang penting
adalah kemauan, apalagi banyak jago persilatan di dunia ini yang membantu
dirimu."
"Terima kasih anjuran dari pangcu itu, di kemudian hari aku masih banyak
memerlukan bantuan dari perkumpulan anda."
Nona baju kuning itu tertawa, katanya. "Asal kongcu bersedia membantu Li ji pang
kami untuk mendapatkan kembali kitab pusaka ilmu pedang kami, sudah barang
tentu perkumpulan kami pun akan membantu kongcu dengan sepenuh tenaga."
"Kitab ilmu pedang itu disimpan dimana? Bagaimana pula caraku untuk turun
tangan?" tanya Buyung Im seng kemudian sambil tersenyum.
"Soal itu tak perlu kau pikirkan, semuanya aku telah mengatur secara sempurna,
yang kami nantikan sekarang adalah datangnya angin timur..."
Buyung Im seng merasa heran sekali, pikirnya kemudian. "Kalau didengar dari
ucapannya itu, menggunakan aku atau tidak, tampaknya bukan suatu urusan
penting, lantas mengapa dia selalu mendesakku untuk membantunya?"
Agaknya nona baju kuning itu dapat mengetahui kecurigaan didalam hati Buyung
Im seng, tak tahan ia segera melanjutkan. "Kongcu adalah angin timur yang sedang
kami nantikan, sudah berapa tahun aku mencari dimana-mana, kongcu adalah
satu-satunya orang yang berhasil kutemukan, juga merupakan orang yang paling
cocok untuk melaksanakan rencana itu."
162
"Keteranganmu itu semakin membuat aku tidak habis mengerti."
Nona baju kuning itu segera tertawa, sahutnya. "Sampai waktunya nanti, kongcu
akan tahu sendiri."
"Aku telah meluluskan permintaanmu itu, masa pangcu belum dapat
mengungkapkan sedikit latar belakang dari persiapan itu?"
Nona baju kuning itu termenung dan berpikir sejenak, kemudian jawabnya.
"Bukannya aku tak dapat mengatakannya, hanya saja bila keterangan kuberikan
terlampau pagi, maka kongcu malahan tidak akan tertarik lagi oleh tugas ini."
Buyung Im seng mengangkat cawannya dan menghabiskan separuh cawan arak
yang tersisa, kemudian berkata lagi. "Kalau begitu aku mohon diri dulu, sebelum
fajar nanti sebisanya aku akan balik kemari, harap nona juga membuat persiapan.
Aku berharap sebelum terang tanah nanti kita bisa melakukan perjalanan."
"Baiklah!" ucap nona baju kuning itu sambil tertawa, "aku akan sebisanya
melakukan persiapan."
Buyung Im seng segera beranjak dan melangkah pergi dari situ, tapi baru dua
langkah mendadak ia berpaling lagi sambil bertanya. "Nona dapatkah kau
memberitahukan letak markas Sam seng tong itu kepadaku?"
Nona baju kuning itu segera menggelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya.
"Bila kuberitahukan kepadamu sekarang, maka pikiranmu akan menjadi kalut,
lebih baik rahasia itu kuberitahukan kepadamu bila kau telah berhasil
mendapatkan kitab ilmu pedang itu saja."
"Betul juga ucapan pangcu!"
Dia lantas membalikkan badan dan melanjutkan langkahnya untuk berlalu dari
situ.
Buru-buru nona baju kuning itu memburu ke samping Buyung Im seng, kemudian
bisiknya. "Setelah melakukan persiapan nanti, aku akan pergi meninggalkan
tempat ini, bila kongcu datang kemari besok, mungkin aku sudah pergi dari sini."
"Lantas jika aku sampai di sini, siapa yang akan kujumpai?"
"Akan ku pilihkan seorang murid perkumpulan kami yang paling lemah lembut dan
paling cantik wajahnya untuk menemani dirimu."
Buyung Im seng tersenyum, katanya "Itu mah tidak perlu, asal ada seorang yang
bisa menjadi penunjuk jalan, itu sudah lebih dari cukup."
"Suka akan kecantikan adalah watak setiap manusia, apalagi kongcu sedang
bertugas demi kepentingan Li ji pang kami, paling tidak aku harus memberi
kepuasan kepadamu."
Dengan cepat ia mengulurkan tangannya yang putih halus sambil menambahkan,
"Sebelum fajar menyingsing besok, pasti ada orang yang akan menantikan dirimu
di sini. Nah, aku tak akan menghantar lagi."
Buyung Im seng mengulurkan juga tangannya untuk menggenggam tangan si nona
baju kuning itu, ia merasa tangan orang halus dan lembut, enak sekali digenggam.
163
Hal mana segera menimbulkan satu pikiran dalam benaknya, diam-diam ia pikir.
"Pangcu ini bertubuh lembut, bersikap halus dan menawan hati, Cuma sayang
wajahnya jelek dan tidak menarik hati."
Sementara dia masih melamun, nona baju kuning itu sudah menarik kembali
tangan kanannya dan berkata sambil tersenyum. "Kongcu, selamat jalan!"
"Tidak merepotkan pangcu!"
Buru-buru dia membalikkan badannya dan berjalan ke arah depan sana.
Nona baju kuning itu berdiri di depan rumah gubuk sampai bayangan tubuh
Buyung Im seng lenyap dari pandangan mata, kemudian baru membalikkan badan
dan masuk kembali ke dalam gubuk.
Dalam pada itu, Buyung Im seng telah berangkat menuju ke tempat dimana Tong
Thian hong sedang menunggu, setelah itu dia lantas menceritakan semua kejadian
yang telah dialaminya barusan.
Mendengar penuturan tersebut, Tong Thian hong tampak termenung dan berpikir
sebentar kemudian baru berkata sambil tertawa. "Saudara Buyung, apa yang
hendak kau lakukan sekarang?"
"Aku telah meluluskan permintaannya, tentu saja aku akan pergi memenuhi
janjiku."
"Seandainya benar-benar hanya sepuluh hari, hal itu mah tak akan mempengaruhi
keadaan, lantas saudara Buyung bermaksud kapan baru berangkat?"
"Aku pikir sekarang juga aku hendak berangkat!" jawab Buyung Im seng pelanpelan.
Kemudian setelah berhenti sejenak, terusnya. "Kalau mengikuti perhitungan
pangcu dari Li ji pang, mungkin sepuluh hari pun sudah cukup."
Tong Thian hong menghela napas panjang, katanya kemudian. "Saudara Buyung,
harap kau suka baik-baik menjaga diri, setengah bulan kemudian kita akan bersua
kembali dimana?"
Buyung Im seng termenung dan berpikir sejenak, lalu sahutnya. "Dewasa ini aku
masih belum tahu mereka hendak membawaku kemana, lebih baik waktu
perjanjian itu diperpanjang beberapa hari lagi. Tong heng lebih memahami situasi
dalam dunia persilatan, lebih baik kau saja yang memikirkan tempat pertemuan
tersebut, kemungkinan kau lebih gampang menemukan tempat yang ideal."
Tong Thian hong termenung sejenak, kemudian katanya. "Bagaimana kalau kita
bersua di gedung Li yong hu kota Lu ciu Propinsi An hui?"
"Gampangkah mencarinya?"
"Setiba di kota Lu ciu, asal kau menyebut nama Li Yong maka semua orang akan
tahu, jika siaute kebetulan tidak ada di sana, sudah pasti aku meninggalkan berita
tentang diriku di sana, saudara Buyung... andaikata aku belum sampai maka
katakan kalau kau akan menunggu kedatangan diriku, mereka pasti akan
melayanimu sebagai tamu agung, Cuma kau harus ingat, nama siaute baru boleh
kau sebut setelah berjumpa dengan Li Yong pribadi."
164
Buyung Im seng manggut2. "Siaute mengerti!"
"Andaikata aku bertemu dengan Biau hoa lengcu, siaute pasti akan suruh mereka
menanti kedatanganmu di gedung keluarga Li."
"Kalau begitu terima kasih kuucapkan."
"Harap saudara Buyung baik-baik menjaga diri."
Buyung Im seng buru-buru menjura seraya menjawab. "Siaute pun mohon diri lebih
dulu."
"Aku tak mau mengantar lebih jauh!"
Buyung Im seng segera membalikkan badan dan berangkat menuju ke rumah
gubuk dimana nona baju kuning itu berada.
Tong Thian hong memandang bayangan punggung Buyung Im seng sehingga lenyap
meninggalkan tempat tersebut.
Dalam pada itu, Buyung Im seng telah tiba di depan pintu rumah gubuk itu,
sementara fajar sudah mulai menyingsing.
Tampak seorang gadis berbaju hijau bertubuh ramping dengan ikat kepala warna
putih sudah menunggu kedatangannya di depan gubuk. Baru saja Buyung Im seng
menghentikan langkah kakinya, nona baju hijau itu telah menyongsong
kedatangannya, setelah menjura ia menyapa.
"Buyung kongcu!"
Buyung Im seng agak tertegun, lalu menegur. "Siapakah kau?"
Nona baju hijau itu tertawa ewa, sahutnya: "Aku anggota Li ji pang, mendapat
perintah dari pangcu untuk melayani kongcu."
"Tidak berani, apakah nona mendapat tugas untuk membawa aku menuju ke
tempat tujuan?"
Sambil tertawa nona baju hijau itu manggut-manggut. "Benar, aku mendapat tugas
untuk menerima perintah dari kongcu!"
Meminjam cahaya fajar, Buyung Im seng amati gadis itu tajam-tajam, tampak ia
berwajah cantik dengan rambut sepanjang bahu yang diikat dengan pita putih,
ujung rambut berkibar terhembus angin pagi yang lembut. Tanpa terasa Buyung
Im seng memuji didalam hati.
"Perkumpulan Li ji pang benar-benar penuh dengan perempuan cantik, berbicara
dari gadis yang berada di hadapanku sekarang, mana cantik ramping, memiliki
pula sikap anggun yang mempesonakan, tampaknya apa yang diucapkan Li ji
pangcu bukan Cuma bualan belaka.
Sementara itu, nona baju hijau berkata, "Aku yang rendah dapat perintah dari
pangcu untuk datang melayani kongcu, apalagi kongcu bersedia membantu partai
kami untuk menyelesaikan suatu masalah besar, pangcu telah berpesan agar aku
tidak melakukan segala perbuatan yang bisa menimbulkan ketidak senangan
kongcu."
165
Mendengar perkataan itu buru-buru Buyung Im seng berkata. "Nona siapa
namamu?"
"Aku yang rendah bernama Kwik Soat kun." Jawab nona baju hijau itu sambil
tertawa.
"Oooh... rupanya nona Kwik!" kata Buyung Im seng sambil merangkap tangannya
memberi hormat.
Nona baju hijau itu tertawa ewa. "Jika kongcu ada perintah, silahkan diutarakan
saja pada diriku yang rendah."
"Dimana ketua kalian?"
"Pangcu kami telah pergi karena masih ada urusan lain, segala diserahkan
kepadaku."
"Oooh, apakah kita berangkat?"
"Segala sesuatunya terserah pada keputusan kongcu!"
"Kita akan berjalan kaki saja?" "Tidak, pangcu telah menyiapkan kereta untuk
kongcu."
Sehabis berkata ia lantas bertepuk tangan dua kali.
Bunyi roda kereta bergema, sebuah kereta yang dihela seekor kuda muncul dari
balik rumah gubuk itu.
Buyung Im seng mendongakkan kepalanya dan memandang kereta itu sekejap, dia
lihat kusirnya adalah seorang manusia berbaju hitam memakai topi lebar, hampir
sebagian besar wajahnya tersembunyi dibalik topi lebar tersebut, dia membawa
sebuah cambuk panjang.
"Silahkan kongcu!" kata Kwik Soat kun lagi sambil membukakan tirai kereta.
Buyung Im seng tidak banyak bicara, ia lantas beranjak naik ke dalam kereta.
Kwik Soat kun mengikuti di belakang Buyung Im seng dan naik juga ke dalam
kereta.
Setelah menurunkan tirai kereta itu, dia baru berkata sambil tertawa. "Kongcu,
kau ingin makan sesuatu?"
"Masa dalam keretapun tersedia makanan?" Buyung Im seng balik bertanya dengan
wajah keheranan.
Kwik Soat kun segera tersenyum. "Yaa, kami memang sengaja menyiapkan
makanan dalam kereta, berhubung waktu yang tersedia bagi kongcu amat
mendesak, padahal kita harus melakukan perjalanan jauh, maka ada baiknya jika
kita selalu waspada... kongcu, pohon yang besar gampang memancing datangnya
hembusan angin, dengan nama besar kongcu, pihak Sam seng bun pasti akan
berusaha untuk melacaki terus jejakmu..."
"Kalau didengar dari perkataan nona, apakah sepanjang perjalanan aku dilarang
meninggalkan kereta ini barang selangkahpun?" tukas Buyung Im seng.
"Betul! Menurut apa yang telah dipersiapkan pangcu, kongcu memang
dipersilahkan makan tidur didalam kereta ini."
166
"Jika kita harus melakukan perjalanan siang malam tanpa berhenti, sekalipun ada
kuda yang jempolan rasanya lama-lama tak tahan..."
"Soal itu kongcu tak usah kuatir." Ujar Kwik soat kun sambil tersenyum, "pangcu
kami telah mempersiapkan segalanya dengan seksama, setiap enam jam sekali,
kuda penghela kereta itu akan mengalami pergantian, setelah melakukan
perjalanan siang malam selama dua hari, keretapun akan diganti, apalagi siang
dan malam kita akan naik kereta yang berbeda, selain makan minum, di atas tiap
kereta kami juga mempersiapkan tempat tidur."
Mendengar itu, Buyung Im seng manggut2. "Ehmm, aku lupa kalau pangcu kalian
seorang yang teliti dan cermat sekali."
"Sungguh beruntung aku yang rendah bisa menemani kongcu sepanjang jalan, bila
kongcu ada urusan, silahkan disampaikan kepadaku."
Dengan sorot mata yang tajam Buyung Im seng memperhatikan wajah Kwik Soat
kun tanpa berkedip, dipandang secara begini rupa, mengapa tiba-tiba merah padam
selembar pipi Kwik Soat kun karena jengah...
Kwik Soat kun mengedipkan sebentar sepasang matanya yang bulat besar,
kemudian pelan-pelan berkata. "Eeeh, apa yang kau lihat? Memangnya di atas
wajahku terdapat lukisannya...?"
"Apakah sepanjang perjalanan nona yang akan mendampingi diriku?"
"Kenapa? Apakah kongcu merasa tidak puas terhadapku"
(Bersambung ke jilid 9)
167
Lembah Tiga Malaikat
Oleh: Tjan
Jilid 9
"Aaah, mana, mana, Aku justru merasa berbangga hati karena siang malam
sepanjang perjalanan ada seorang gadis secantik nona yang mendampingiku."
Kwik Soat kun ternyata manis, setelah membereskan rambutnya yang panjang dia
berkata. "Aaah, mana bisa menangkan kecantikan Biau hoa lengcu mu itu? Aku
tahu, meski orangnya berada di sampingku, namun hatimu sudah melayang jauh ke
sisi tubuhnya."
Mendengar perkataan itu, Buyung Im seng menjadi tertegun. "Darimana kau tahu
kalau aku kenal dengan Biau hoa lengcu?" tanyanya.
"Hubungan kongcu dengan Biau hoa lengcu telah tersebar sampai di seantero jagat,
setiap orang tahu akan persoalan ini, setiap orang juga mengetahui akan hubungan
kalian berdua."
"Sungguhkah perkataan itu?" tanya Buyung Im seng agak tertegun.
Kwik Soat kun segera tertawa. "Bisa mendapat pasangan yang begitu cantik, lihai
dan berbudi luhur seperti Biau hoa lengcu, sesungguhnya merupakan suatu
kebanggaan bagimu, Mengapa kau takut diketahui orang?"
Buyung Im seng menggelengkan kepalanya berulang kali. "Harap nona jangan
salah paham, hubungan kami berlangsung belum lama, saat berkumpul pun cuma
beberapa hari, seandainya sampai tersiar berita sensasi didalam dunia persilatan,
hal itu akan merupakan suatu kejadian yang merikuhkan sekali."
Kwik Soat kun segera tertawa geli, "Jangan gelisah dulu," serunya, "Aku Cuma
membohongi mu, orang yang betul-betul mengetahui akan hubungan kalian
hanyalah perkumpulan Li ji pang kami, selain itu masih jarang sekali yang tahu!"
168
Buyung Im seng segera mengalihkan pokok pembicaraannya kesoal lain, katanya.
"Kini kita sudah berada di perjalanan, apakah nona bersedia memberitahukan
kepadaku, kemana sebenarnya kita akan pergi?"
Kwik Soat kun termenung sebentar, lalu menjawab. "Apakah pangcu kami tidak
memberitahukan kepadamu?"
"Tidak." Kata Buyung Im seng sambil menggeleng.
"Jika pangcu kamipun tidak menyinggung soal itu kepadamu, maka aku berani
untuk memberitahukan hal ini kepadamu pula?"
"Waktu itu pangcu kalian kuatir kalau aku sampai membocorkan rahasia tersebut,
karena itu ia tidak bersedia memberitahukan kepadaku, tapi sekarang aku telah
berada dalam satu kereta bersama nona, apakah nona masih kuatir juga?"
"Aku merasa percaya sekali dengan kongcu, cuma sayang peraturan yang berlaku
dalam perkumpulan Li ji pang ketat dan keras, segala sesuatu yang tidak
dipesankan pangcu kami, aku yang rendah tak berani memutuskannya."
Mendengar itu Buyung Im seng segera tersenyum. "Aaah, masa urusan kecil itupun
melanggar peraturan perkumpulan..."
"Yaa, karena aku percaya, ketidak-percayaan pangcu kami terhadap kongcu adalah
disebabkan karena dia kuatir kau membocorkan rahasia tersebut!"
Dengan sinar mata yang tajam Buyung Im seng menatap wajah Kwik Soat kun
lekat-lekat, setelah itu katanya sambil tertawa. "Kenapa kau begitu yakin?"
"Sudah lama sekali aku mengikuti pangcu akupun cukup mengetahui perangainya,
tak mungkin dia memberi jawaban secara blak-blakan begitu."
Buyung Im seng tertawa hambar. "Aku sendiripun menduga demikian."
Setelah berhenti sejenak dan termenung beberapa saat lamanya, kembali ia
berkata. "Sekarang pangcu kalian berada dimana?"
"Walaupun aku tidak mengetahui jejaknya tapi aku percaya sebelum kongcu naik
gunung pangcu kami sudah pasti telah sampai di sana."
"Oooh... rupanya Giok hong siancu tinggal di atas gunung!" seru Buyung Im seng,
Kwik Soat kun segera tertawa. "Banyak bicara pasti akan salah, ucapan tersebut
nyatanya memang tepat sekali, cuma gunung yang ada di dunia ini terlalu banyak,
kendatipun kongcu amat cerdik, sebelum tiba ditempat tujuan tak nanti kau bisa
menduga apa nama gunung itu."
Mendadak kereta yang ditumpangi itu berhenti.
"Aneh, kenapa begitu?" gumam Kwik Soat kun dengan kening berkerut.
Terdengar sang kusir berkata dari luar kereta, "Di depan ada sebuah kereta yang
merintangi jalan lewat kita!"
Dengan perasaan tergerak, pelan-pelan Kwik Soat kun menyingkap tirai dan
mengintip keluar. Betul juga, tampak sebuah kereta berhenti lebih kurang dua kaki
di depan sana dan menghadang lewat mereka.
169
Kwik Soat kun meneliti juga jalan lewat kereta tersebut, ternyata merupakan
sebuah jalan datar, entah mengapa kereta itu berhenti dan tidak berjalan.
Maka diapun berkata. "Coba kita lihat, apakah bisa melewati dari sampingnya!"
"Aku rasa sulit untuk melewati dari sampingnya!" sahut kusir itu setelah
memperhatikan sekejap keadaan di depan sana.
"Coba sajalah dulu! Seandainya tidak lewat, terpaksa kita dorong kereta mereka ke
samping..."
Kusir mengiakan dan pelan-pelan menjalankan keretanya maju ke depan. Sambil
menurunkan kembali tirai di depan kereta, Kwik Soat kun bergumam seorang diri.
"Aneh... sungguh aneh!"
"Ada apa?" tanya Buyung Im seng.
"Sebuah kereta berhenti tepat ditengah jalan dan merintangi jalan lewat kita."
"Macam apakah kereta itu?"
"Aaaa, kereta kan sama semua bentuknya, masa ada kereta yang bentuknya
istimewa?"
"Coba kulihat!"
Dia membuka tirai dan mengintip keluar. Tampak kereta tersebut berkerudung
kain hitam di sekelilingnya, bentuk maupun keadaannya persis seperti kereta yang
ditumpangi oleh Ji-seng (malaikat kedua) pada malam itu.
Buru-buru ia menurunkan kembali tirainya, dan berkerut kening, katanya
kemudian. "Nona kenal dari kereta itu?"
"Tidak kenal, cuma aku sedikit mengerti tentang kereta kuda, kalau dilihat dari
bentuknya yang istimewa, tampaknya kereta tersebut memang khusus dipakai
untuk menempuh jarak jauh."
"Selama ini kalian orang-orang Li ji pang tersohor karena ketajaman
pendengarannya, tahukah kau siapa penumpang kereta tersebut?" tanya Buyung
Im seng lagi.
"Soal itu aku tidak tahu!"
"Aku tahu!"
"Waah, kalau begitu tidak sedikit dunia persilatan yang kongcu ketahui?" seru
Kwik Soat kun sambil tersenyum manis.
Buyung Im seng berkata. "Bila dugaanku benar, tampaknya persoalan ini tidak
begini sederhana...!"
"Siapakah orang dalam kereta itu?"
"Ji-sengcu (malaikat kedua) dari Sam seng bun!"
Paras muka Kwik Soat kun segera berubah hebat.
"Kau tidak salah melihat?" serunya.
170
"Aku merasa kereta itu mirip sekali bentuknya, cuma dalam hati aku tak begitu
yakin."
Tiba-tiba Kwik Soat kun menggulung tirai dan berbisik kepada sang kusir kereta.
"Hati-hati sedikit, jangan sampai terjadi bentrokan kekerasan dengan mereka!"
Setelah menurunkan kembali tirainya, dia melanjutkan. "Kongcu, andaikata terjadi
sesuatu peristiwa, biar aku saja yang menghadapi, sedang kongcu dipersilahkan
beristirahat saja sambil menahan diri."
"Baik, aku akan mengintip Ji sengcu tersebut dari dalam kereta, ingin kulihat
bagaimanakah bentuknya."
Sementara pembicaraan sedang berlangsung, mendadak terdengar seseorang
membentak suara dingin.
"Hai, sudah butakah matamu? Tidak kau lihat di sini ada kereta sebesar ini?"
Kwik Soat kun segera menyingkap tirai dan pelan-pelan berjalan keluar dari dalam
kereta. Jelas perempuan itu tak ingin sampai terjadi bentrokan kekerasan dengan
pihak lawan.
Diam-diam Buyung Im seng juga menyingkap ujung tirai serta mengintip keluar.
Tampa seorang kakek berwajah bersih berdiri disamping kereta dan melotot ke
arah kusir kereta tersebut dengan wajah penuh kegusaran. Bocah kusir kereta
itupun tampak wajah gusar tampaknya kemarahan itu sudah hampir meledak.
Pelan-pelan Kwik Soat kun berjalan menghampirinya, setelah membentak mundur
si bocah kusir, dia menjura kepada kakek itu seraya berkata.
"Locianpwe, jangan marah, dia masih muda tak tahu urusan, buat apa cianpwe
musti ribut dengannya?"
Sementara Buyung Im seng sedang berpikir, "Sayang aku tak bisa melihat jelas
pada malam itu, entah betulkah kakek itulah si kusir kereta tersebut?"
Terdengar kakek bermuka bersih itu tertawa dingin, dengan cepat dia menangkap
pinggiran kereta tersebut, kemudian tanpa mengerahkan banyak tenaga, tahu-tahu
ia sudah menarik ke samping, lalu serunya. "Nah sekarang kalian boleh lewat!"
"Terima kasih banyak cianpwe!"
Kembali kakek itu mengalihkan sorot matanya ke wajah si bocah kusir tersebut,
kemudian katanya dingin. "Masih muda sudah tak tahu sopan santun coba kalau
tidak memandang di atas wajah nona ini, lohu akan penggal batok kepalamu itu."
Bocah kusir itu hendak membantah, tetapi segera dibentak Kwik Soat kun agar
mundur.
Kwik soat kun kuatir bocah kusir itu bentrok lagi dengan si kakek bermuka bersih,
sampai kereta mereka berada beberapa kaki jauhnya, ia baru naik ke dalam kereta.
Melihat itu, Buyung Im seng segera berkata. "Nona hati-hati benar kau!"
Bukan menjawab Kwik Soat kun, melainkan balik bertanya. "Apakah kau melihat
jelas, kereta tersebut adalah kereta yang ditumpangi Ji sengcu dari Sam seng bun?"
"Sampai sekarangpun aku masih belum begitu yakin!"
171
Kwik Soat kun tersenyum. "Perduli kereta itu adalah kereta yang ditumpangi Ji
sengcu dari Sam seng bun atau bukan, yang pasti kakek bermuka bersih itu adalah
seorang manusia yang amat sukar dihadapi."
"Kau kenal dengannya?"
Kwik Soat kun manggut-manggut. "Yaa, aku memang kenal dengannya, cuma dia
tidak kenal aku, meski dunia persilatan sangat luas, tidak sedikit gembonggembong
iblis dan jago-jago kenamaan dalam dunia persilatan yang diketahui oleh
perkumpulan Li ji pang."
"Siapakah kakek itu?"
"Thiau lui ciang (pukulan angin geledek) Sim Hong, wataknya persis seperti
pukulannya, panas, berangasan dan kasar, tiga patah kata salah berbicara, ia
segera turun tangan membunuh orang."
"Oleh sebab itu, sikap nona terhadapnya baru sangat berhati-hati?"
"Titik kelemahan yang paling besar dari orang ini adalah tidak tega menyerang
orang yang berwajah manis, sikapnya yang selalu sopan santun, senyuman dikulum
dan mengalah justru sangat mengena pada titik kelemahannya itu."
Mendengar keterangan tersebut, Buyung Im seng segera menghela napas panjang.
"Aaaaii... Li ji pang benar-benar sangat lihai, bukan cuma ketajaman mata dan
pendengarannya saja yang lihai, sehingga banyak jago kenamaan yang dikenal, lagi
pula memahami jelas semua watak dan titik kelemahan dari orang-orang itu... yaa,
jika tahu diri dari lawan, semua pertempuran baru bisa dimenangkan."
"Berbicara dari kemampuan Sim Hong, tak mungkin ia termasuk salah seorang dari
tiga malaikat, tapi kalau dia hanya berkedudukan sebagai kusir dari Ji sengcu,
kemungkinan tersebut besar sekali."
-ooo0ooo-
BAGIAN KE 13
"Bagaimanakah kedudukan Sim Hong dalam dunia persilatan?" tanya Buyung Im
seng kemudian.
"Kedudukannya tinggi sekali, baik golongan hitam maupun golongan putih
semuanya menaruh rasa was-was kepadanya."
"Kalau begitu , dia adalah seorang manusia yang sulit dihadapi..."
"Benar, siapa saja yang berani mengusik dirinya, sudah pasti akan dibikin pusing
juga kepalanya."
"Nona, tampaknya tidak sedikit jagoan dunia persilatan yang kau pahami."
"Sudah kukatakan tadi, perkumpulan Li ji pang kami sangat memperhatikan
keadaan situasi dalam dunia persilatan, serta gerak gerik dari orang kenamaan
dunia persilatan, asal orang itu merupakan salah seorang tokoh termasyhur dalam
dunia persilatan, dengan cepat kami akan mengingat raut wajahnya serta
keistimewaannya, dan keterangan tersebut kami sebar luaskan kepada semua
172
anggota perkumpulan kami, sehingga bila berjumpa di kemudian hari, dengan cepat
mereka dapat mengenalinya."
Mendengar perkataan itu, diam-diam Buyung Im seng merasa amat menyesal,
pikirnya. "Aku bisa bertemu dengan kereta itu tapi tak bisa memastikan apakah
Sim Hong adalah kusir kereta itu atau bukan, sesungguhnya tindakanku ini boleh
dibilang terlampau gegabah."
Berpikir sampai di situ, dia lantas berkata. "Aku hanya teringat dengan bentuk
keretanya, tapi tak bisa memastikan apakah kusir kereta itu adalah Sim Hong atau
bukan."
Kwik Soat kun segera tersenyum. "Aku rasa kusir itu pasti duduk di depan kereta
tanpa berkutik pada waktu itu, maka kau baru tidak menaruh perhatian
kepadanya."
Buyung Im seng menjadi tertegun. "Kagum, sungguh mengagumkan!" serunya
"kalau didengar dari ucapan tersebut seakan-akan waktu itu kaupun hadir di sana."
"Aaaah, aku cuma menduga saja, tak kusangka kalau dugaanku ternyata tepat
sekali."
"Perkumpulan kalian termasyhur karena ketajaman pendengarannya, tentunya tak
sedikit bukan masalah ketiga orang Sengcu dari Sam seng bun yang kalian
ketahui?"
"Demi masalah tersebut perkumpulan kami sudah mengerahkan banyak tenaga,
tapi belum pernah berhasil menjumpai raut wajah dari ketiga orang Sengcu dari
Sam seng bun itu."
Diam-diam Buyung Im seng berpikir kembali. "Tampaknya tidak sedikit rahasia
dunia persilatan yang diketahui budak ini, berbincang-bincang dengannya jauh
melebihi membaca buku selama sepuluh tahun, aku harus mengajaknya berbicara
baik-baik, dengan begitu baru banyak manfaat yang bisa ku petik darinya."
Berpikir sampai di situ, ia pun lantas bertanya. "Sampai sekarang aku masih tidak
mengerti, kenapa ketiga orang Sengcu itu selalu menyembunyikan diri, dan enggan
berjumpa dengan masyarakat...?"
"Tentu saja ada sebab musababnya." "Apa sebab musababnya?"
"Soal ini tak berani kukatakan, cuma kalau dipikir kembali ada tiga macam
kemungkinan."
"Tolong nona terangkan tiga macam apa saja?"
"Pertama, kemungkinan besar mereka tokoh-tokoh kenamaan dalam dunia
persilatan yang bahkan mungkin sekali mempunyai nama baik dimata umum,
maka mereka tak bisa menampakkan diri."
"Lalu?"
"Kemungkinan kedua adalah mungkin mereka sengaja menciptakan semacam
suasana yang serba misterius agar bisa mengelabui pendengaran para jago di dunia
ini. Sedangkan kemungkinan yang ketiga, kalau dibilang sesungguhnya agak
khayal"
173
"Kenapa?"
"Sebab alasan itu tidak masuk akal, malahan orang bisa tidak percaya bila kita
kemukakan keluar."
"Coba katakanlah kepadaku!"
"Aku curiga kalau beberapa orang itu adalah mereka yang sudah lama meninggal
dunia."
Buyung Im seng benar-benar terkejut sekali setelah mendengar perkataan itu.
"Ucapanmu benar-benar sangat mengejutkan sekali." Katanya. "Kau bilang orangorang
itu adalah sukma gentayangan, maka sengaja keadaannya menjadi serba
misterius?"
Kwik Soat kun segera tertawa. "Apakah Buyung kongcu percaya dengan setan?" ia
balik bertanya.
"Aku tidak percaya...!" dengan cepat Buyung Im seng menggelengkan kepala
berulang kali.
"Aku juga tak percaya ada setan, apalagi sekalipun ada setan, setan pun tidak akan
seseram manusia."
"Ucapan nona itu mengandung maksud yang sangat mendalam sekali, aku tak
mengerti."
"Sederhana sekali, aku mengatakan bahwa orang-orang itu cuma pura-pura mati,
padahal mereka masih segar bugar hidup di dunia ini, hanya saja orang di dunia ini
mengira mereka sudah mati, tentu saja takkan menduga kalau perbuatan tersebut
adalah hasil karya dari mereka."
"Siapa-siapa saja orang itu?"
"Setiap jago kenamaan dalam dunia persilatan yang dalam dua puluh tahun
terakhir ini mati tanpa ditemukan mayatnya, boleh dibilang mencurigakan semua,
termasuk ayahnya."
Paras muka Buyung Im seng berubah hebat, agaknya dia ingin mengumbar hawa
amarahnya tapi perasaan itu kemudian dikendalikan kembali, sambil tertawa ewa
katanya. "Yaa, alasan ini memang terhitung sangat khayal dan tidak masuk akal..."
"Aku juga tahu, sekalipun ku utarakan belum tentu orang akan mempercayainya!"
kata Kwik Soat kun sambil tersenyum.
"Setelah itu, kemungkinannya juga kecil sekali, apakah pemikiran ini adalah hasil
analisa dari pangcu kalian?"
"Aku sendiri yang memikirkan alasan tersebut."
"Sungguh mengagumkan, sungguh mengagumkan! Ucapanmu itu benar-benar amat
mengejutkan hati orang."
Kwik Soat kun sama sekali tak menjadi gusar, sambil tertawa manis kembali
katanya. "Kita tak usah membicarakan persoalan ini lagi, bagaimana kalau kita
berganti acara saja?"
174
"Yaa, bagaimana kalau kita membicarakan soal Giok hong siancu?"
Kwik Soat kun termenung dan berpikir sebentar, lalu jawabnya.
"Tidak banyak yang kuketahui tentang Giok hong siancu, harap kongcu jangan
menaruh harapan yang terlampau besar kepadaku."
"Biar sedikit asal tahu daripada sama sekali tidak tahu menahu tentang dirinya."
"Kalau begitu tanyalah! Apa yang kuketahui tentu akan kujawab dengan
semestinya."
"Bagaimana ilmu silat yang dimiliki Giok hong siancu?"
"Lihai sekali, sebab itu dalam tugas yang dilaksanakan kongcu kali ini, kau hanya
boleh menggunakan akal, tak boleh dengan kekerasan!"
"Mengapa dia dinamakan orang sebagai Giok hong siancu 'Dewi lembah kemala'?
apakah dibalik namanya itu masih ada hal-hal yang lain?"
"Berhubung dia pandai sekali memelihara lebah kuning, wajahnya juga cantik jelita
bak bidadari dari kahyangan, maka orang persilatan menyebutnya sebagai Giok
hong siancu."
"Memelihara lebah kuning? Suatu kepandaian yang menakutkan sekali", bisik
Buyung Im seng.
"Ya benar, memang menakutkan sekali, cuma kami sudah mengaturkan segala
sesuatunya buat kongcu secara baik dan sempurna, dua puluh empat orang anggota
perkumpulan kami akan menyambut kedatangan kongcu nanti."
"Waah... tampaknya kepandaian yang terutama dari perkumpulan kalian adalah
menggunakan gadis-gadis cantik untuk mengendalikan orang, agar kami orang
lelaki bersedia melakukan segala sesuatunya bagi kalian hingga sampai matipun
tidak menyesal!" keluh Buyung Im seng sambil tertawa.
"Aku yakin kongcu jauh berbeda dengan lelaki lain!"
"Tapi aku tidak merasa dimanakah letak perbedaan tersebut?"
"Tak ada lelaki di dunia ini yang tidak suka dengan perempuan, lagi pula
kebanyakan bersikap seperti monyet kepanasan bila bertemu perempuan, namun
sikap Buyung kongcu amat tenang dan kalem, tampaknya kau seperti tidak
tergerak sama sekali hatinya."
Agaknya dia merasa telah salah berbicara, sambil tersenyum segera ujarnya lagi.
"Mungkin kecantikan wajahku sama sekali tidak menarik perhatian kongcu?"
"Tadi pangcu kalian mengutus kedatanganmu kemari adalah bertujuan untuk
merayu diriku agar aku terpikat oleh kecantikan wajah nona itu...?"
"Walau pangcu kami tidak menerangkan apa-apa, tapi dia menyuruh aku baik-baik
'melayani' kongcu, kata 'melayani' di sini mengandung arti serta makna yang
banyak sekali."
Sesudah menghela napas panjang, terusnya. "Apalagi dalam usaha kongcu kali ini,
kau sudah terlalu banyak membantu perkumpulan Li ji pang kami."
175
"Maksudmu menceritakan kembali sejilid kitab ilmu pedang untuk perkumpulan
kalian."
"Yaa, kitab ilmu pedang itu mempunyai pengaruh yang amat besar buat
perkumpulan Li ji pang kami, bila kitab pusaka ilmu pedang itu berhasil kami
peroleh kembali, maka kamipun dapat beradu kekuatan dengan para jago dari
pelbagai perguruan besar serta merebut sedikit nama didalam dunia persilatan."
"Jadi kalau begitu, isi kitab ilmu pedang itu adalah intisari dari ilmu silat yang
dimiliki Li ji pang kalian?"
Kwik Soat kun termenung dan berpikir sebentar, kemudian sahutnya. "Benar, isi
kitab pusaka itu adalah serangkaian ilmu pedang yang justru merupakan semua
inti sari dari kepandaian silat perkumpulan Li Ji pang kami."
"Oooo... kalau begitu, tugas yang dibebankan di atas pundakku kali ini teramat
besar sekali, hal mana sedikit banyak menimbulkan rasa tidak tentram dalam
hatiku."
"Manusia berusaha Thian lah punya kuasa, asal kau sudah memperjuangkan
dengan segala kemampuan, hal mana lebih dari cukup buat kami."
Buyung Im seng memandang sekejap ke arah Kwik Soat kun, kemudian pikirnya.
"Kalau didengar dari ucapannya yang begitu besar, tampaknya tidak kecil
kedudukan gadis ini dalam perkumpulan Li ji pang."
Sementara dia masih termenung, Kwik Soat kun telah mendongakkan kepalanya
sambil membereskan rambutnya yang panjang terurai, kemudian sambil tertawa
katanya. "Kongcu, maafkan aku bila sikapku kurang menyenangkan..."
"Kenapa?"
"Aku merasa sudah terlalu banyak berbicara, sikapku menjadi mengambang dan
agak merayu, mungkin Buyung kongcu benar-benar menganggap aku sedang
merayu dirimu?"
"Aku sama sekali tidak mempunyai perasaan semacam itu."
Kwik Soat kun tertawa dan tidak berbicara lagi.
Tiba-tiba suasana didalam kereta itu berubah menjadi sepi, hening dan tak
kedengaran sedikitpun suara. Kwik Soat kun seolah-olah berubah menjadi seorang
yang lain, dengan wajah bersungguh-sungguh dia duduk tak berkutik di tempatnya.
Meskipun beberapa kali Buyung Im seng ingin mengajaknya berbincang-bincang,
tapi menyaksikan sikapnya yang serius itu, terpaksa dia membatalkan niat
tersebut.
Entah berapa lama sudah lewat, tiba-tiba kereta yang sedang melakukan
perjalanan itu terhenti.
Lalu kedengaran suara berkumandang dari luar kereta. "Silahkan kongcu untuk
berganti kereta!"
176
Kwik Soat kun menyingkap tirai dan meloncat turun terlebih dahulu dari dalam
kereta. Menyusul kemudian Buyung Im seng mengikuti di belakang Kwik Soat kin
melompat turun dari dalam kereta.
Di bawah sinar matahari senja, tampak sebuah kereta berwarna hijau telah
menanti di luar sebuah hutan di sebuah tanah pegunungan yang sangat sunyi...
Kusir kereta itu masih saja seorang yang masih muda, berbaju ringkas berwarna
hitam dan memakai topi hitam pula, orang itu berdiri di depan kereta dengan
tangan diluruskan ke bawah.
Setibanya di depan kereta itu, Kwik Soat kun segera menyingkap tirai seraya
berkata. "Kongcu, silahkan naik kereta!"
Setelah Buyung Im seng naik ke atas kereta, Kwik Soat kun turut juga naik ke
dalam kereta, tirai segera diturunkan dan kereta itupun meneruskan
perjalanannya dengan cepat.
Agaknya kereta itu memang khusus dipakai untuk melakukan perjalanan malam,
dalam kereta tergantung sebuah tempat tidur gantung yang dikedua belah sisinya
masing-masing diikat tali yang memantek di atas dinding kereta, bila seseorang
tidur diatasnya maka takkan terpengaruh akibat goncangan kereta.
Terdengar Kwik Soat kun berkata dengan lembut. "Kongcu, silahkan naik ke atas
pembaringan gantung itu untuk beristirahat."
"Bagaimana dengan nona?"
"Aku? Aku mempunyai tempat duduk lain," Buyung Im seng segera tersenyum.
"Nona, kau tampak teramat serius!" katanya.
Kwik Soat kun segera menghela napas panjang, sahutnya : "Aku merasa ada
baiknya untuk bersikap lebih serius selama berkumpul dengan seorang Kongcu
sejati seperti Kongcu."
Ketika Buyung Im seng menyaksikan wajahnya serius sekali ketika mengucapkan
kata-kata tersebut, bahkan jauh berbeda dengan sikapnya yang manja dan gent
ketika pertama kali naik ke atas kereta tadi, tanpa terasa dia lantas berpikir.
"Orang-orang Li ji pang memang pandai sekali bersikap, bahkan pandai pula
menyembunyikan perasaannya, sungguh membuat orang menjadi bingung dan tak
tahu apakah sikapnya sekarang itu bersungguh sungguh atau cuma bohong
belaka."
Berpikir sampai di situ, dia lalu berbicara. "Aku ingin sekali mengajukan satu
pertanyaan kepada nona, apakah persoalan itu boleh kuajukan?"
"Itu mah tergantung pada persoalan apa yang akan kau ajukan?"
"Selama ini pangcu kau bisa melakukan gerakan dengan sangat cepat, dalam satu
hari saja beberapa ratus li bisa dilampaui, apakah biasanya diapun
mempergunakan cara pergantian seperti ini?"
"Ehmmm... kadang kala iapun menunggang kuda, tapi biasanya ia bisa menjaga
kondisi badan dan kerahasiaan jejaknya sebagian besar adalah berkat kereta ini."
177
"Ooh... kiranya begitu!" "Kongcu, bila kau ada urusan silahkan katakan saja
kepadaku!"
Selesai berkata dia lantas bersandar di atas dinding kereta dan duduk sambil
memejamkan mata.
Buyung Im seng segera naik ke atas pembaringan gantung itu untuk beristirahat,
menanti sadar kembali, kentongan ke empat sudah lewat. Kereta itu masih jalan
terus tiada hentinya. Terasa goncangan pada kereta itu makin lama semakin keras,
agaknya mereka sedang menelusuri sebuah jalan sempit di tanah perbukitan.
Tanpa terasa hatinya kembali tergerak, pikirnya.
"Kelihatannya mereka membuat kereta ini secara khusus."
Ketika fajar telah menyingsing, kembali mereka bertukar kereta untuk
melanjutkan perjalanan.
Semua hidangan yang dipersiapkan dalam kereta rata-rata hidangan yang lezat
dan pilihan, dengan demikian waktu untuk bersantap pun bisa dia hemat untuk
melanjutkan perjalanan.
Setelah tujuh kali berganti kereta, mereka telah melakukan perjalanan selama
empat hari tiga malam. Hari itu, ketika senja menjelang tiba, sampailah mereka di
sebuah tanah perbukitan yang terjal.
Setelah turun dari kereta, Buyung Im seng tidak menjumpai kereta lain yang
menanti di situ, maka dengan suara rendah dia lantas bertanya. "Sudah sampai?"
"Ya, sudah sampai, kentongan ketiga malam nanti kongcu akan naik gunung."
"Tempat manakah yang akan ku tuju?"
"Lembah Giok hong kok, daerah terlarang yang diciptakan oleh Giok hong siancu,"
Buyung Im seng mendongakkan kepalanya dan memperhatikan sekejap cuaca di
sana, kemudian mereka berkata. "Saat ini masih terpaut jauh sekali dengan
kentongan ketiga."
"Kami telah mempersiapkan pakaian untukmu, kongcu harus mempergunakan
waktu ini untuk berganti pakaian, masih ada banyak perkataan yang hendak
kuucapkan pada kongcu."
Buyung Im seng memandang sekejap sekeliling tempat itu lalu katanya. "Tempat
ini amat sepi dan jauh dari keramaian manusia, rumah penduduk pun tidak
kelihatan..."
"Perkumpulan Li ji pang bisa tancapkan kaki didalam dunia persilatan, tentu saja
karena mempunyai banyak syarat yang tak bisa dilampaui orang lain, harap
kongcu bersedia mengikuti di belakangku."
Buyung Im seng tahu bahwa mereka pasti mempunyai sarang rahasia disekitar
tempat itu, maka tanpa banyak bertanya lagi dia berjalan ke depan mengikuti di
belakang Kwik Soat kun.
178
Dalam waktu singkat, Kwik soat kun telah mengajak pemuda itu menuju ke bawah
bukit, di situ tampak sebuah bangunan rumah gubuk yang dibangun dengan
menempel dinding bukit.
Ketika Buyung Im seng mencoba untuk memperhatikan ke depan, maka terlihatlah
seorang perempuan setengah umur yang berusia empat puluh tahunan sedang
duduk didalam ruangan sambil menjahit sepatu kain.
Kwik soat kun segera maju menghampirinya, sambil mendehem pelan katanya.
"Enso, numpang bertanya..."
Perempuan setengah umur itu mendongakkan kepalanya dan memperhatikan Kwik
soat kun sekejap, kemudian balik bertanya. "Nona datang dari mana?"
Mendengar pembicaraan tersebut, diam-diam Buyung Im seng berpikir kembali.
"Apa yang ditanyakan dan apa yang berhubungan, mungkin itulah kata sandi yang
mereka pakai untuk melakukan kontak rahasia."
Benar juga, terdengar Kwik soat kun segera berseru. "Thian lam Tee pak datang
dari Hu tiong."
Perempuan setengah umur itu segera meletakkan jahitannya ke meja dan bangkit
berdiri, katanya pula. "Tiada awan tiada bintang, malam bulan purnama."
Diam-diam Buyung Im seng tertawa geli, sesudah mendengar kata-kata itu,
kembali pikirnya. "Kalau tiada awan bulan sedang purnama, mana mungkin tiada
berbintang? Tak nyana pihak Li Ji pang bisa memikirkan kata-kata sandi yang
begini bagusnya."
Sementara itu terdengar Kwik soat kun telah menjawab. "Tengah hari panas
menyengat hujan terus dengan deras."
Buyung Im seng segera berpikir kembali. "Bagus sekali! Ternyata kata-katanya
cuma kata-kata yang ngaco belo belaka, orang bilang perempuan paling pandai
berbohong, ucapan itu ternyata memang benar, jika kau pria yang disuruh
membuat kata sandi, tak nanti mereka bisa menggunakan kata-kata seperti itu."
Tampak perempuan setengah umur itu menjura dalam-dalam lalu menegur.
"Tolong tanya kedudukan nona yang sesungguhnya?"
Tiba-tiba Kwik Soat kun maju beberapa langkah ke muka dan membisikkan
sesuatu dengan suara lirih.
Beberapa patah itu diucapkan dengan suara yang rendah sekali, sehingga Buyung
Im seng sendiripun tidak mendengar apa-apa.
Ia hanya melihat bahwa sikap perempuan setengah umur itu bertambah hormat,
setelah memberi hormat lagi kepada Kwik Soat kun, katanya. "Silahkan kalian
berdua masuk ke dalam ruangan!"
Kwik Soat kun lantas berbisik lirih kepada Buyung Im seng. "Sebenarnya Giok
hong siancu menyebar banyak sekali mata-matanya disekitar bukit, asal ada orang
berani mendekati lembah Giok hong koknya dalam jarak sepuluh li, dia pasti sudah
memperoleh laporan, tapi selama banyak tahun belakangan ini belum pernah
terjadi suatu peristiwapun dalam lembah Giok hong kok oleh karena itu tanpa
179
disadari penjagaan merekapun lambat laun menjadi makin mengendor, sekalipun
demikian kita tetap tak boleh bertindak gegabah."
Sembari berkata, dia sudah melangkah masuk ke dalam ruangan. Ketika Buyung
Im seng mendengar perkataan itu diucapkan dengan wajah serius, dengan langkah
cepat diapun turut melangkah masuk ke dalam ruangan.
Perempuan setengah umur itu langsung membawa kedua orang itu menuju ke
ruang dalam, lalu berkata dengan lirih. "Agar penyaruan tampak bersungguhsungguh
seperti aslinya, silahkan kalian duduk."
Buyung Im seng mencoba untuk memperhatikan keadaan sekeliling tempat itu,
tampak didalam ruangan dalam terdapat sebuah pembaringan kayu yang
sederhana sekali, di atas pembaringan itu ditutup dengan seprei yang sudah kumal
dan banyak tambalannya di sana sini.
Kwik Soat kun segera mengulapkan tangannya seraya berkata. "Kau duduklah di
luar sana, perhatikan dengan seksama apakah jejak kami sudah diketahui musuh
atau belum."
Perempuan setengah umur itu segera memberi hormat dan mengundurkan diri dari
situ. Menanti bayangan tubuh dari perempuan itu sudah lenyap dari pandangan,
Buyung Im seng baru bertanya dengan suara lirih.
"Apakah dia seorang anggota dari Li ji pang?"
"Perkumpulan Li ji pang kami mempunyai suatu peraturan yang boleh dibilang
sangat memenuhi perasaan manusia."
"Jika peraturan kalian bisa memenuhi perasaan anggotanya, hal ini semua
menunjukkan betapa bijaksana dan pandainya pangcu kalian."
"Mana, mana..!"
"Entah peraturan apakah yang kau maksudkan dapat memenuhi perasaan manusia
itu? Dapatkah kau terangkan kepadaku?"
"Tentu saja dapat..." sesudah berhenti sejenak, katanya lebih jauh.
"Dalam perkumpulan Li ji pang kami berlaku suatu peraturan, barang siapa sudah
mencapai usia 25 th maka dia akan dipunahkan ilmu silatnya, keluar dari
perkumpulan dan menjadi istri orang lain serta anak beranak, mereka bisa
melakukan kehidupan normal seperti juga perempuan-perempuan lainnya,
sebaliknya jika dia sudah pernah melakukan suatu usaha besar dan berjasa bagi
perkumpulan, maka ia boleh mengajukan permintaan untuk kawin dengan orang
sebelum tiba waktunya..."
"Dalam perkumpulan kalian terdapat banyak sekali rahasia besar, bila mereka
sampai meninggalkan perkumpulan, apakah kalian tidak kuatir mereka sampai
membicarakan rahasianya?"
"Selamanya Li ji pang kami menghadapi anggota dengan perasaan persaudaraan,
sekalipun sudah lepas dari perguruan, kehidupan mereka diatur pula dengan
sebaik baiknya dan ilmu silat yang mereka miliki telah punah, itu berarti mereka
tak akan mencampuri urusan dalam dunia persilatan lagi, selain dari itu cara kerja
180
Li ji pang kami cukup seksama, pengetahuan seorang anggota terbatas sekali,
sebelum meninggalkan perkumpulan merekapun diwajibkan mengangkat sumpah
besar yang melarang untuk membocorkan rahasia perkumpulan, oleh karena itu
kebanyakan mereka lebih suka mati bunuh diri daripada membocorkan rahasia
perkumpulan."
"Seandainya mereka enggan meninggalkan Li ji pang, bagaimana pula
tindakannya?"
"Tentu saja ada juga mereka yang enggan meninggalkan perkumpulan, pangcu
kami telah mempersiapkan juga suatu penyelesaian buat mereka secara baik-baik
seandainya usia anggota perkumpulan itu sudah melebihi 25 th, tapi dalam hatinya
masih belum menemui kekasih idaman hatinya, lagi pula mereka sudah terbiasa
dari penghidupan dalam perkumpulan Li ji pang, maka pertama tama mereka
harus masuk dulu ke dalam kamar dan menutup diri selama satu tahun, dalam
setahun ini kehidupan mereka akan terpisah dari keduniawian, setelah keluar dari
pengasingan apabila dia masih bertekad untuk tinggal dalam perkumpulan maka ia
mengangkat sumpah berat yang mana selama hidupnya tak akan kawin lagi, saat
itulah dia akan memperoleh warisan ilmu silat perkumpulan yang lebih dalam
sepanjang hidupnya berbakti untuk Li ji pang."
"Apakah semua tugas dan pekerjaan yang berada dalam anggota perkumpulan yang
berkeputusan tetap tinggal dalam perkumpulan?"
"Seharusnya demikian, cuma lantaran perkumpulan kami baru muncul dalam
dunia persilatan maka anggota yang sudah melewati usia 25 th pun baru tiga-lima
orang saja."
Buyung Im seng segera tertawa. "Berapa usia perempuan tadi?" tanyanya.
"Menurut pendapat kongcu?"
"Paling tidak usianya juga mencapai 30 th! Mungkin merupakan anggota yang
berusia paling besar didalam perkumpulan kalian."
Kwik soat tertawa hambar. "Soal ini lebih baik kita bicarakan lagi di kemudian
hari."
Kemudian sambil mengalihkan pokok pembicaraan, katanya. "Seandainya tiada
orang yang mengejar sampai di sini, kami akan segera turun tangan untuk
menggantikan kongcu dengan pakaian lain."
"Jika kau masih ada banyak persoalan hendak disampaikan kepadaku, katakanlah
sekarang."
"Tentu saja banyak yang hendak disampaikan kepadamu. Cuma kita harus
menunggu sampai sekembalinya nanti, aku harus mengetahui dulu apakah jejak
kita sudah ketahuan atau belum, setelah itu aku baru akan memberitahukan
kepadamu cara untuk mengatasi keadaan..."
Setelah tersenyum, terusnya. "Cuma, kau tak usah kuatir, selama bertugas kau tak
akan merasa kesepian, pangcu kami telah mengutus kedua puluh empat orang
anggotanya untuk membantu dirimu, kedua puluh empat orang itu semuanya
merupakan jago-jago kelas satu dalam perkumpulan kami, baik soal kecerdasan
181
maupun soal kepandaian silat, mereka boleh dibilang sangat hebat dan bisa
diandalkan."
"Tentang persoalan ini, nona telah memberitahukan kepadaku."
"Sebentar akan kuterangkan lebih teliti lagi kepadamu, meski mereka terdiri dari
24 orang namun kedudukannya saling berbeda, untuk mengadakan kontakpun
diperlukan kata-kata sandi, jika kongcu tidak mengetahui kata-kata sandi tersebut,
sekalipun mereka tahu kalau kau adalah Buyung kongcu, tidak ada bantuan yang
bisa mereka berikan kepadamu."
Sementara pembicaraan berlangsung, tampak perempuan setengah umur itu
berlari masuk ke ruangan dalam dengan langkah tergopoh-gopoh. Kwik Soat kun
segera bangkit berdiri seraya bertanya. "Ada yang tidak beres?"
"Yaa, agaknya gelagat kurang menguntungkan," sahut perempuan itu dengan suara
rendah, "hamba menyaksikan ada cahaya api di tempat kejauhan."
"Ada apa lagi?"
"Dari tebing curam sebelah depan sana meluncur datang dua sosok bayangan
manusia, jika mereka berdua tidak pandai ilmu silat tak nanti mereka berani
melayang turun dari atas tebing curam yang seribu kaki tingginya itu."
"Apakah mereka datang karena kehadiranku?" "Soal itu hamba masih kurang
jelas."
"Baiklah, kau boleh berdiri di depan pintu untuk melakukan pengawasan, kami
akan melakukan persiapan untuk menghadapi segala kemungkinan yang tak
diharapkan."
Perempuan setengah umur itu mengiakan dan segera mengundurkan diri dari
ruangan itu.
"Apakah yang harus kita lakukan untuk menghadapi kemungkinan yang tak
diinginkan?" tanya Buyung Im seng.
"Bersembunyi, agar dia tidak berhasil menemukan segala sesuatunya disekitar
tempat ini."
"Ruangan ini amat sempit, kita harus menyembunyikan diri kemana?"
"Tentu saja ada tempat persembunyian yang terbaik, cuma saja terpaksa harus
menyiksa kongcu sebentar."
Tidak menunggu Buyung Im seng menjawab, dia sudah merendahkan tubuhnya
lebih dulu dan menerobos masuk ke kolong ranjang.
Menyaksikan kejadian itu, Buyung Im seng mengerutkan dahinya rapat-rapat,
terpaksa diapun harus ikut menerobos masuk pula.
Sementara itu Kwik soat kun telah memindahkan sebagian barang yang berada
dikolong ranjang itu dan menyingkap sebuah papan penutup besi, dibalik lapisan
besi itu muncul sebuah mulut gua yang lebarnya sekitar dua jengkal.
"Kongcu silahkan masuk!" bisik Kwik soat kun kemudian dengan suara lirih.
182
Buyung Im seng mengiakan dan segera masuk ke dalam gua tersebut. Dibalik
mulut gua terbentang sebuah lorong bawah tanah yang membujur jauh ke dalam
sana.
"Lorong bawah tanah ini berhubungan dengan sebuah gua, harap kongcu berlega
hati!" kata Kwik soat kun.
Mendengar perkataan itu, diam-diam Buyung Im seng berpikir. "Setelah sampai di
sini, mau tak mau aku harus melanjutkan perjalanan ke depan."
Maka dia lantas mempercepat langkahnya bergerak menuju ke depan sana....
Sebaliknya Kwik soat kun berjaga-jaga di depan mulut gua sambil memasang
telinga memperhatikan keadaan sekeliling sana, menanti dari luar ruangan sudah
berlangsung tanya jawab, dia baru menutupkan tutup besi itu dan menyusul
Buyung Im seng,
Ketika berjalan 4-5 kaki kemudian, Buyung Im seng telah sampai di suatu ujung
lorong tersebut, sebuah dinding batu merintangi jalan perginya.
Dengan langkah cepat Kwik soat kun segera menyusul ke belakang Buyung Im
seng, kemudian bisiknya. "Di sudut kanan dinding sebelah kanan terdapat batu
tonjolan, tekanlah tonjolan batu itu kongcu, kemudian mendorongnya kuat-kuat
dinding batu itu akan membuka dengan sendirinya."
Buyung Im seng menurut dan segera menggerakkan tangan kanannya mendorong
kuat-kuat, betul juga dinding batu itu segera terbuka.
Kwik soat kun segera berjalan melewati Buyung Im seng dan melangkah masuk
lebih dulu ke dalam ruangan tersebut.
Di bawah sinar api, tampak di sudut ruangan tersebut sebuah meja batu, di atas
meja terdapat sebuah lampu lentera. Kwik soat kun menghembuskan napas
panjang, lalu berkata. "Silahkan duduk kongcu!"
Dalam ruangan batu itu selain terdapat sebuah meja batu, juga terdapat dua buah
bangku yang terbuat dari batu. Buyung Im seng mengambil tempat duduk di
bangku sebelah kiri, sebaliknya Kwik soat kun berjalan hilir mudik tiada hentinya
didalam ruangan itu sembari bergumam.
"Semoga saja dia sanggup menghadapi segalanya dengan beres, sehingga rencana
matang yang sudah dilakukan secara teliti dan cermat selama banyak tahun ini
tidak akan sia-sia belaka."
Sebetulnya Buyung Im seng ingin menanyakan persoalan itu dengan lebih jelas
lagi, akan tetapi setelah menyaksikan kegelisahan orang, terpaksa ia harus
menahan diri dan tidak bicara.
Kurang lebih sepertanak nasi kemudian, tiba-tiba terdengar suara ketukan
berkumandang datang. Kwik soat kun segera membuka pintu batu itu, tampak
perempuan setengah baya itu berjalan masuk dan memberi hormat, kemudian
ujarnya.
"Mereka telah melakukan penggeledahan tapi tidak berhasil menemukan apa-apa,
akhirnya mereka pergi tanpa membawa hasil."
183
Rasa murung dan kesal yang semula menghiasi wajah cantik Kwik soat kun segera
lenyap tak berbekas, bagaikan salju yang melumer, sekulum senyuman manis
segera menghiasi bibirnya.
"Apakah mereka berhasil menjumpai sesuatu yang mencurigakan?"
"Tampaknya mereka tidak berhasil menemukan apa-apa."
Kwik soat kun segera menghela napas panjang. "Aaaai... semoga saja demikian,
pergilah kau!"
Perempuan setengah baya itu mengiakan, kemudian setelah memberi hormat
mengundurkan diri dari sana.
Kwik soat kun segera menutup pintu kembali, kemudian katanya sambil tertawa,
"Kongcu! Sekarang kau boleh bertanya."
Buyung Im seng memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kemudian seraya
berpaling katanya. "Bertanya kepada siapa?"
"Bertanya kepadaku!"
"Semua gerak gerikmu setelah berada di sini akan menuruti perkataan dari nona."
"Tidak berani, aku akan berbuat sebaik mungkin demi kongcu."
"Baiklah, sekarang boleh kau katakan, apa yang harus kulakukan?"
"Harap kongcu bersedia menyaru menjadi seorang..." "Menjadi siapa?" "Seorang
yang jahat, jahat sekali, orang itu she Ong bernama Ciu dengan gelar Giok longkun
'lelaki tampan berwajah kemala'!"
"Kenapa kau mencampur baurkan antara orang ini dengan Giok hong siancu...?"
"Sesungguhnya antara Giok hong siancu dengan Giok longkun Ong Ciu punya
hubungan cinta yang amat erat, dasar setali tiga uang mereka berdua ibaratnya
lem yang saling melekat, begitu bertemu tak pernah berpisah lagi, malahan kedua
orang ini sempat mencicipi kehidupan berumah tangga yang cukup harmonis."
"Lantas apa hubungannya antara kisah tersebut dengan usahaku untuk mencuri
kitab pusaka ilmu pedang tersebut?"
"Erat sekali hubungannya, cuma Giok longkun Ong Ciu seorang yang bisa masuk ke
dalam lembah Giok hong kok dengan bebas serta memperoleh pelayanan langsung
dari Giok hong siancu sendiri, kitab pusaka ilmu pedang itu disimpan olehnya
didalam sebuah ruangan rahasia yang berada di dinding kamar tidur Giok hong
siancu."
Mendengar keterangan tersebut, Buyung Im seng menghembuskan napas panjang,
katanya. "Kalau begitu, untuk bisa memperoleh kitab pusaka ilmu pedang itu, aku
harus bisa masuk ke dalam kamar tidurnya?"
"Benar, cuma kongcu tak perlu kuatir, kami telah mempersiapkan sejenis obat
pemabuk yang sangat lihai, asal dia mengendus bau obat pemabuk itu niscaya dia
akan jatuh tak sadarkan diri."
- 0 -
184
BAGIAN KE 14
"Jadi aku juga harus mempergunakan obat pemabuk?" tanya Buyung Im seng
sambil membelalakkan matanya.
"Yaa, terpaksa kita harus bertindak demikian, sebab ilmu silat yang dimiliki Giok
hong siancu lihai sekali, andaikata sampai terjadi pertarungan, mungkin
pertarungan itu akan berlangsung lama, sengit dan ramai sekali."
Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Buyung Im seng berkata. "Baik,
lanjutkan kata-katamu!"
"Setelah kongcu berhasil membuka pintu ruangan tersebut, tak ada salahnya
bagimu untuk mengurus semua barang berharga yang ada di sana, Giok hong
siancu bukan orang baik, benda yang diperolehnya sudah pasti bukan diperoleh
dengan cara yang halal, jadi kongcu pun tak usah sungkan-sungkan terhadapnya."
"Sekarang Giok longkun berada dimana?"
"Disekap didalam kuil Siau lim si!"
"Oooh... jadi kau suruh aku membohongi Giok hong siancu dan mengatakan kalau
aku baru lolos dari kuil Siau lim si?"
"Jarang sekali jago dalam dunia persilatan yang tahu kalau Giok hong siancu
sendiripun belum tentu tahu, seandainya dia mengetahui akan hal ini, mungkin
semenjak dulu ia sudah turun tangan."
"Darimana pula perkumpulan kalian bisa mengetahui akan kejadian ini?"
"Ketajaman pendengaran dan penglihatan perkumpulan kami termasyhur dimanamana,
bukankah kongcu telah mengetahui tentang hal ini?"
Sesudah berhenti sebentar, dia melanjutkan. "Sekarang aku akan melayani kongcu
untuk berganti pakaian, kemudian merubah raut wajahmu, setelah itu kita boleh
berangkat!"
Diam-diam Buyung Im seng lantas berpikir. "Tak dapat disangka lagi aku sudah
naik di atas perahu penyamun, sekalipun tak kusanggupi sekarang juga tak bisa..."
Berpikir demikian, terpaksa katanya. "Baiklah! Bawa kemari pakaian tersebut."
Kwik soat kun segera mengeluarkan satu stel pakaian ringkas berwarna hitam
yang bersulamkan benang putih, sambil diangsurkan ke muka, katanya. "Kongcu
akan berganti pakaian sendiri, ataukah minta bantuanku?"
"Tak usah merepotkan nona,"
Kwik soat kun segera tersenyum dan melangkah keluar dari tempat tersebut.
Setelah menutup pintu batu itu, Buyung Im seng bertukar dengan satu stel baju
perlente yang berwarna hitam dengan tepi benang putih, ternyata pakaian itu cocok
sekali dikenakan dibadan, seakan-akan baru saja digunting.
Terdengar suara Kwik soat kun di luar pintu berkumandang kembali. "Kongcu, kau
telah selesai bertukar pakaian?"
"Sudah!" jawab Buyung Im seng sambil membuka kembali pintu batu itu.
185
Kwik soat kun memperhatikan sekejap dandanan dari Buyung Im seng, kemudian
katanya, "Pakaiannya sih cocok sekali, asal ku dandani sedikit raut wajahmu, kita
segera bisa berangkat."
Pelan-pelan Buyung Im seng duduk di bangku kemudian katanya. "Andaikata Giok
hong siancu mengetahui persoalan dari Giok longkun itu berarti kepergianku
sekarang lebih banyak bahayanya dari pada kemujuran."
"Seandainya keadaan tidak mengijinkan dan penyaruan kongcu ketahuan
belangnya, silahkan kau berteriak 'siapa berani membantuku' sebanyak tiga kali,
sudah pasti akan melompat keluar jago-jago yang akan membantu kongcu."
"Apakah ucapan itu selalu akan manjur, entah disaat dan tempat apapun juga?"
"Sesungguhnya perkataan itu suatu kata sandi, asal mereka mendengar perkataan
ini niscaya mereka akan datang membantumu, cuma yang paling di titik beratkan
oleh perkumpulan kami adalah disaat kongcu masuk ke lembah Giok hong kok
untuk pertama kalinya, sebab waktu itulah keadaan paling berbahaya, mereka
semua pasti bersiap siap di sekeliling tempat itu sambil bersiap sedia menghadapi
segala kemungkinan yang tak diinginkan..."
Sesudah berhenti sebentar, terusnya. "Andaikata waktu itu Giok hong siancu tidak
mengetahui kalau kau adalah Giok longkun gadungan, maka kesempatan di
kemudian hari tak akan terlampau besar."
"Menurut pendapatku, justru keadaan jauh berbeda dengan keadaan yang
dibayangkan oleh perkumpulan kalian."
"Harap kongcu bersedia memberi keterangan." "Menurut pendapatku, masih ada
satu kemungkinan jejakku bisa diketahui oleh Giok hong siancu." "Dimana?"
"Menurut pendapatku selama pembicaraan berlangsung antara diriku dengan Giok
hong siancu, justru merupakan saat-saat yang paling berbahaya, andaikata ia
menanyakan soal kejadian lama kepadaku, dan aku tak mampu menjawab,
bukankah kebohonganku akan segera terbongkar?"
Kwik soat kun termenung sebentar, kemudian sahutnya. "Walaupun ucapan kongcu
masuk diakal, cuma aku rasa hal ini termasuk dalam kemampuan dan
kecenderungan seseorang didalam menghadapi keadaan tersebut, misalkan saja
sikap atau perasaan kongcu, sangat mempengaruhi pertanyaannya yang bakal
diajukan."
Ganti Buyung Im seng yang termenung beberapa saat lamanya, kemudian ia
berkata. "Masuk diakal juga perkataan dari nona itu, cuma aku rasa perkumpulan
kalian pasti sudah mengumpulkan bahan-bahan yang menyangkut soal hubungan
Giok longkun dan Giok hong siancu dimasa lalu, bukan?"
"Tentu saja, cuma kalau musti diceritakan dengan terperinci, tiga hari tiga malam
pun belum tentu habis, tapi kalau garis besarnya saja, dalam dua tiga patah kata
saja segalanya telah beres."
"Kalau begitu ringkasnya saja!"
186
"Yang lelaki romantis, suka bermain cinta dan dimana mana punya perempuan,
sedang yang perempuan cabul, busuk, keji dan banyak tipu muslihatnya."
"Aku sudah mengerti sekarang!"
"Ingat dalam mengucapkan perkataan apapun asal dalam sekali hembusan napas
saja menyebut kata-kata timur, barat, utara, selatan, maka mereka semuanya
adalah orang-orang Li ji pang kami, dan mereka adalah bala bantuanmu!"
"Aku harus menjawab dengan perkataan apa?"
"Kau harus berusaha mencari akal untuk menjawab dengan kata mega, hujan,
guntur dan kilat, lebih baik lagi kalau perkataan ini pun bisa diselesaikan dalam
sekali hembusan napas."
"Selanjutnya?"
"Jika pihak lawan bukan anggota Li ji pang dan tak memahami kata sandi tersebut
tentu saja tak akan menunjukkan reaksi apa-apa, sebaliknya jika dia adalah
anggota Li ji pang kami, maka mereka akan belum berani mempercayai kongcu
100%, maka kongcu harus menyebut lagi kata-kata yang berbunyi: 'Gioklong bukan
datang memetik bunga'. Setelah mendengar perkataan itu, otomatis mereka akan
mengajakmu untuk berbincang-bincang."
Buyung Im seng segera mengangguk. "Yaa, aku ingat sekarang!"
"Ingat, dengarkan dulu nomor anggota mereka, bila tidak menyebut nomor anggota,
harap kongcupun jangan mengucapkan kata-kata sandi tersebut..!"
"Selain menyebutkan nomor anggota, apa pula yang mereka ucapkan?" tanya
Buyung Im seng lagi.
"Hanya melapor nomor anggota!"
"Baik, pesan nona itu akan kuingat didalam hati."
"Baik! Sekarang kongcu boleh pergi!"
Buyung Im seng bangkit berdiri dan segera beranjak keluar dari tempat itu.
Kwik soat kun segera menyambar sebilah pedang panjang bergagang emas dan
menyusul di belakang Buyung Im seng. Selesai menelusuri lorong rahasia dan
keluar dari rumah gubuk, tampak rembulan bergantung di atas awang-awang,
binatang bertaburan di seluruh angkasa.
Pelan-pelan Kwik soat kun menggantungkan pedang tadi dipinggang Buyung Im
seng, kemudian dengan suara rendah katanya. "Giok longkun paling suka dari
segala kebagusan, kalau bukan pakaian perlente, pedangnya pasti berbeda dengan
orang lain, pakaian yang dipakai selalu bertepi putih, sedang gagang pedangnya
terbuat dari batu kemala dan di ujung pedang terdapat tiga biji mutiara."
"Sreet...!" Buyung Im seng segera meloloskan pedang itu, di bawah sinar rembulan
pedang itu memancarkan sinar berkilauan, tiga biji mutiara sebesar kelengkeng
membuat pedang tersebut kelihatan mewah sekali.
Tanpa terasa ujarnya sambil tersenyum. "Tampaknya Giok longkun adalah seorang
manusia yang tidak jujur dan suka kemewahan."
187
"Tepat sekali, bagaimana watak Giok longkun yang sebenarnya, bisa dilihat dari
caranya berpakaian dan pedang yang digembol, bila kongcu dapat memahami maka
keadaan yang sebenarnya tak akan jauh berbeda..."
(Bersambung ke jilid 10)
188
Lembah Tiga Malaikat
Oleh: Tjan
Jilid 10
Sesudah berhenti sebentar, dia melanjutkan. "Silahkan kongcu melanjutkan
perjalanan ke depan, lima li kemudian kau dapat melihat lembah Giok hong kok
tersebut."
Buyung Im seng berpaling dan memandang sekejap ke arah Kwik Soat kun,
kemudian tanyanya. "Kenapa kau tidak menghantar aku?"
"Menghantar kekasih sampai seribu li, akhirnya berpisah juga, padahal bukan
cuma seribu li saja aku menghantarmu."
Terbayang kembali bagaimana selama beberapa hari ini hampir boleh dikata
mereka tak pernah berpisah, timbul perasaan berat dihati Buyung Im seng, tanpa
terasa ia menggenggam tangan Kwik Soat kun sambil tertawa, katanya. "Aneh
benar, entah siapapun orangnya, bila mengenakan baju milik Giok longkun,
sikapnya menjadi berubah agak romantis."
Kwik soat kun cepat menarik kembali tangan kirinya dan mendorong kelima jari
tangan Buyung Im seng ke samping, setelah itu ujarnya dengan wajah bersungguhsungguh.
"Besar amat nyalimu, apakah kau tak kuatir kalau di kemudian hari
kulaporkan kejadian ini kepada Biau hoa lengcu?"
Buyung Im seng agak tertegun dan segera lepaskan tangan, sahutnya kemudian,
"Padahal hubunganku dengan Biau hoa lengcu adalah putih bersih dan sama sekali
tiada hubungan apa-apa."
Kwik soat kun segera tertawa manis, katanya. "Yang paling penting sekarang
adalah pergi menyelesaikan tugas penting serta mendapatkan kembali kitab
pusaka ilmu pedang itu, bila kau telah berhasil dengan tugasmu, tentu saja aku
akan mengundang gadis-gadis cantik dari perkumpulan Li ji pang untuk
merayakan bersama kemenanganmu. Saat itulah gadis-gadis cantik akan
189
memenuhi ruangan, dan terserah apa saja yang hendak kau kerjakan terhadap
mereka."
"Andaikata aku mati di lembah Giok hong kok?"
Kwik soat kun segera menarik kembali senyumannya, dengan serius dia menjawab.
"Maka itu berarti Li ji pang telah berhutang budi kepadamu, dengan sepenuh
tenaga kami akan membantumu Sin Cu sian dan Lui Hua hong."
Mendengar ucapan tersebut, Buyung Im seng segera tertawa terbahak-bahak. "Ha..
ha.. ha.. setelah mendengar perkataan dari nona itu, rasanya aku jadi mau tak mau
harus mendapatkan kembali kitab pusaka ilmu pedang itu."
Setelah menjura, dia lantas membalikkan badan dan berjalan maju ke depan
dengan langkah lebat.
Kwik soat kun juga tidak berbicara lagi, ia membalikkan badan dan menyelinap
masuk ke dalam gubuk.
Mengikuti arah yang ditunjuk si nona, dengan cepat Buyung Im seng menelusuri
jalan setapak menuju ke depan. Lima li kemudian, betul juga sampailah dia di
depan sebuah lembah bukit yang indah permai. Di depan mulut lembah tersebut
berdiri tegak sebuah batu peringatan yang sangat tinggi, di atas batu peringatan itu
tertera tiga huruf besar yang berbunyi GIOK HONG KOK.
Buyung Im seng memperhatikan sekejap tulisan Giok hong kok itu, kemudian
melanjutkan langkahnya menuju ke dalam lembah, sementara dalam hati kecilnya
dia berpikir. "Aaah, kenapa aku lupa bertanya kepada nona Kwik, bila telah
berhasil merobohkan Giok hong siancu, apa harus kulakukan terhadapnya,
dibunuh? Atau dibiarkan hidup...?
Sementara dia masih melamun, mendadak terdengar seseorang membentak keras.
"Siapa?"
Buyung Im seng mendongakkan kepalanya memandang ke depan, dia saksikan
seorang perempuan setengah umur yang membawa tongkat dengan kain hitam
mengikat kepala, ikat pinggang berwarna hijau berdiri lebih kurang satu kaki di
depan sana dan menghadang jalan perginya.
Tanpa terasa Buyung Im seng berpikir didalam hati. "Kalau betul Giok longkun
adalah kekasih Giok hong siancu, sepantasnya kalau banyak anggota lembah Giok
hong kok yang mengenali dirinya..."
Berpikir demikian, dengan wajah dingin membesi dia lantas berseru: "Hai, sudah
berapa lama kau bertugas didalam lembah Giok hong kok ini...?"
"Aku sudah bertugas selama lima tahun dalam lembah Giok hong kok ini," sahut
perempuan setengah umur itu.
"Hmm, tak heran kalau kau tidak kenal dengan diriku." Setelah berhenti sebentar
dan sengaja mendehem berat, dia berseru lebih lanjut. "Sekarang laporkan ke
dalam, katakan kalau aku sudah kembali."
190
Tampaknya perempuan setengah umur itu sudah dibuat tertegun oleh perkataan
Buyung Im seng yang mengandung setengah gertakan tersebut, setelah termangu
sekian lamanya, dia baru bertanya, "Siapakah kau?"
"Giok longkun Ong Ciu!"
Mendengar nama itu, perempuan setengah umur tersebut menjadi amat
kegirangan, katanya. "Aku pernah mendengar kokcu membicarakan tentang
dirimu, sungguh tak disangka kau telah kembali!"
"Kurang ajar!" hardik Buyung Im seng dengan gusar.
Tampaknya perempuan setengah umur itu tahu kalau dirinya telah salah
berbicara, buru-buru dia menahan rasa gelinya dan berseru. "Harap kau suka
menunggu sebentar, budak segera melaporkan kehadiranmu ini ke dalam."
Selesai berkata, tiba-tiba ia merentangkan sepasang lengannya kemudian
melompat ke depan. Dengan tangan kiri memegang toya, tangan kanan menyambar
sebatang dahan pohon, dia berjumpalitan ke udara dan menyusup masuk ke balik
dedaunan pohon yang rimbun, sekejap mata kemudian bayangan tubuhnya telah
lenyap tak berbekas.
Ternyata dikedua belah sisi jalan lembah itu penuh tumbuh pepohonan yang besar,
para penjaga lembah rupanya pada menyembunyikan diri di atas pepohonan yang
lebat itu.
Tak lama kemudian, tiba-tiba berkumandang suara terompet yang dibunyikan tiga
kali pendek dan dua kali panjang.
Kembali Buyung Im seng berpikir dalam hati. "Entah apa arti dari bunyi terompet
itu?"
Tak lama kemudian dari kejauhan sana berkumandang pula bunyi terompet yang
dibunyikan tiga kali pendek dua kali panjang, begitu seterusnya, sambung
menyambung suara itu disampaikan jauh ke tengah lembah sana...
Perempuan setengah umur yang melompat naik ke pohon tadi, tiba-tiba melompat
turun lagi ke atas tanah sembari katanya. "Budak telah menggunakan tanda yang
paling cepat untuk mengabarkan kedatangan anda ke dalam lembah, harap anda
bersedia untuk menunggu sebentar."
"Aku sudah beberapa kali mendatangi lembah ini, tempat disekitar sini sudah
kuketahui dengan hapal, tak usah ditunggu lagi." Sembari berkata dia lantas
beranjak dan melangkah masuk ke dalam lembah.
Perempuan setengah umur itu tak berani menghalangi jalan perginya, tapi juga tak
berani melepasnya masuk ke dalam lembah, buru-buru dia mundur dua langkah
dan tetap menghadang di depan Buyung Im seng, ujarnya dengan perasaan berat
hati. "Sekarang dalam lembah telah terjadi banyak perubahan, alat rahasia sudah
diperbanyak jumlahnya, jika kau sampai terluka bagaimana mungkin budak bisa
mempertanggung jawabkan diri."
Buyung Im seng segera berhenti sembari memikir. "Terhadap keadaan dalam
lembah, boleh dibilang aku tidak tahu menahu, apabila aku bersikeras masuk
sendiri, kendatipun tak sampai terluka oleh alat rahasia, paling tidak rahasia
191
penyamaranku bisa ketahuan mereka, lebih baik aku menunggu saja sampai
kedatangan mereka, dengan begitu keselamatanku baru akan terjamin."
Berpikir sampai di situ, dia lantas menghentikan langkahnya sambil berkata
dengan suara dingin. "Berapa lama aku haru menunggu?"
"Tanda yang budak kirimkan tadi merupakan tanda yang paling penting dan cepat,
dengan cepat mereka akan datang kemari, sekalipun harus menunggu juga tak
akan terlalu lama."
Jelas dia sendiripun tak bisa mengatakan sampai kapan mereka baru sampai di
situ, maka jawabannya menjadi agak tergagap.
Diam-diam Buyung Im seng berpikir. "Usia perempuan ini sudah lanjut,
tampangnya juga jelek sekali, tapi caranya berbicara maupun tindak tanduknya
sangat genit dan cabul, tampaknya lembah Giok hong kok benar-benar bukan suatu
tempat yang baik, terhadap manusia yang licik, busuk dan berbahaya rasanya
akupun tak usah mempergunakan peraturan dan tindakan seorang Kuncu lagi.
Aaah... betul, kenapa aku tidak berusaha memancing sesuatu keterangan dari
mulut perempuan ini?"
Berpendapat begitu, sambil tersenyum dia lantas bertanya. "Tahun ini kau sudah
berumur berapa?"
Perempuan setengah umur itu menjadi tersipu-sipu, sambil berkata genit sahutnya.
"Budak mah... tahun ini sudah 48 th."
Ketika mengucapkan kata-kata tersebut, gaya perempuan itu makin genit dan
tengik sehingga tampak makin jelek, ini membuat Buyung Im seng hampir mual
rasanya.
Tapi dengan senyuman yang tetap dikulum, kembali katanya. "48 th mah
merupakan umur yang paling baik bagi seorang perempuan!"
"Benarkah begitu?" tanya perempuan itu dengan wajah berseri-seri.
"Kapan sih aku Giok longkun Ong Ciu pernah berbohong?"
"Betul usia budak sudah rada lanjut, tapi ilmu di atas ranjang yang kumiliki tak
akan kalah bila dibandingkan dengan para budak cilik yang masih muda belia, bila
Longkun bertemu dengan kokcu nanti, tolong sampaikan beberapa patah kata yang
indah untuk budak, asal budak bisa dipindahkan ke dalam istana, saban hari pasti
kulayani kebutuhan Longkun. Tanggung kau akan merasakan kenikmatan sorga
dunia yang belum pernah kau nikmati sebelumnya."
Buyung Im seng segera mengerutkan dahinya rapat-rapat, katanya kemudian.
"Baiklah! Cuma sudah cukup lama aku tak pernah bersua dengan kokcu, entah dia
masih teringat dengan aku Giok longkun atau tidak?"
"Masih ingat, masih ingat, budak jarang sekali berjumpa dengan kokcu, selama
lima tahun belakangan ini juga paling banter hanya berjumpa belasan kali, tapi ada
dua kali diantaranya kudengar ia membicarakan Longkun."
"Membicarakan soal apa saja?"
192
"Dia bilang lelaki di dunia ini, tak seorangpun yang mampu menandingi kehebatan
Longkun..."
Dia seperti merasa salah bicara, maka mukanya menjadi termangu dan untuk
sesaat lamanya tak tahu bagaimana harus menjawab.
Buyung Im seng sengaja tertawa terbahak-bahak kemudian berkata. "Tidak
mengapa, katakan saja secara terus terang, aku dengan kokcu kalian meski
mempunyai rasa kasih sayang, tapi banyak tahunpun sudah melakukan hubungan,
tapi masing-masing pihak memiliki kebebasan untuk berbuat apa saja, dia tak usah
setia terus kepadaku akupun tak usah menahan diri baginya..."
"Betul!" sambung perempuan itu, "nama besar Giok longkun sudah tersohor sampai
di seantero dunia persilatan, terutama keromantisannya terhadap perempuan,
entah berapa banyak gadis dan istri orang yang merindukan kau sepanjang
malam..."
Mendadak dari kejauhan sana berkumandang suara derap kaki kuda yang amat
kencang, buru-buru perempuan itu merubah kata-katanya dengan berkata: "Katakata
ringan yang kita bicarakan barusan, harap Longkun jangan sampaikan kepada
kokcu."
"Oooh... soal ini tentu saja tidak!" jawab Buyung Im seng dengan ramainya, tapi
dengan cepat telah tiba dihadapannya.
"Sungguh cepat lari kuda ini, baru kedengaran suaranya kini sudah tiba," pikir
Buyung Im seng.
Ketika dia mendongakkan kepalanya, nampaklah binatang tunggangan yang
mendekat itu berleher panjang dan lagi bertanduk, ternyata adalah seekor
menjangan yang tinggi besar. Di atas punggung menjangan itu duduklah seorang
gadis cantik bertubuh setengah telanjang, berambut panjang sebahu dan memakai
baju dalam yang ringkas.
Ketika Buyung Im seng masih memperhatikan gadis itu, si gadis di atas punggung
menjangan sedang memperhatikan Buyung Im seng dengan sepasang matanya
yang besar dan jeli.
Setengah harian kemudian, terdengar gadis berambut panjang itu menegur dengan
merdu. "Siapa kau?"
Buyung Im seng segera berpikir. "Aku musti menahan diri dan berpura-pura
menunjukkan sikap cabul yang tengik!"
Berpikir demikian, sambil membusungkan dada, katanya dengan suara dingin.
"Kau tak kenal denganku? Masa tidak kau lihat pakaian siapa yang kukenakan
ini?"
Gadis berambut panjang itu memperhatikan sekejap pakaian yang dikenakan oleh
Buyung Im seng, lalu katanya. "Meskipun pakaian ini sangat indah dan menyolok,
sayang sekali tak tercantum namanya."
Buyung Im seng segera tertawa dingin tiada hentinya. "Hmm... sudah berapa tahun
kau berada didalam lembah Giok hong kok ini?"
"Lima tahun!" "Tidak heran kalau kau tak tahu tentang diriku!"
193
Gadis itu tertawa dingin pula. "He... he...he.. sebutkan dulu siapa namamu, coba
lihat pernahkah kudengar namamu atau belum?"
"Cepat kembali dan laporkan kepada kokcu kalian, katakan kalau Giok long kun
Ong Ciu telah kembali!"
"Oooh... rupanya Giok longkun!"
"Aaai...! Setelah memandang pakaianmu itu, seharusnya aku sudah dapat menebak
asal usulmu."
Dia lantas melompat kembali ke atas punggung menjangan sambil melanjutkan.
"Seringkali boanpwe mendengar kokcu menyinggung nama besarmu, jika aku tak
tahu diri harap locianpwe suka memaafkannya...!"
"Eeeh.. memangnya aku sudah tua?" seru Buyung Im seng.
"Locianpwe sama sekali tidak kelihatan tua, tetap tampan, gagah dan menarik
hati."
"Kau memang pandai sekali berbicara!" seru Buyung Im seng kemudian sambil
tersenyum.
"Boanpwe bernama Sim Hong, murid dari kokcu yang berkedudukan nomor dua
belas.
Kembali Buyung Im seng berpikir. "Dia saja sudah merupakan anak muridnya yang
nomor 12, entah macam apa muridnya yang paling akhir?"
Berpikir demikian diapun lantas bertanya, "Kau masih punya sumoay?"
Sim Hong menggeleng, sahutnya sambil tertawa. "Boanpwe adalah anak murid
kokcu yang paling terakhir, sekarang hanya menerima murid-murid angkatan
ketiga, toa suci dan ji suci lah yang memberi pelajaran kepada mereka."
"Emmm... aku haru menunggu berapa lama lagi?" tanya Buyung Im seng kemudian.
"Menunggu apa?" "Kereta yang menyambut kedatanganku."
Sim Hong segera tertawa, "Jika locianpwe ingin cepat-cepat masuk ke dalam
lembah, silahkan saja naik tunggangan boanpwe itu. Tenaga menjangan ini sangat
besar, ia mampu membawa kita berdua."
"Baik!" seru Buyung Im seng kemudian sambil tersenyum. "Mari kita naik
menjangan bersama!"
Seusai berkata dia lantas melompat naik lebih dahulu ke atas punggung menjangan
itu. Menyusul kemudian Sim Hong juga melompat ke atas punggung menjangan, ia
melayang lewat atas kepala Buyung Im seng lalu duduk di depan pemuda itu, sekali
mengempit perut menjangan, larilah binatang itu menunggu ke dalam lembah.
Entah Sim Hong sengaja atau tidak, begitu menjangan mulai lari, dia segera
memanfaatkan kesempatan untuk menjatuhkan badannya ke belakang dan
berbaring didalam pelukan pemuda itu.
Sebenarnya Buyung Im seng ada maksud untuk mendorong badannya, tapi ingatan
lain segera melintas dalam benaknya. Ia teringat bahwa kedudukannya sekarang
194
adalah Giok longkun Ong Ciu, padahal Giok longkun merupakan seorang yang
romantis, masa ada kucing yang tak doyan ikan?
Sekarang, setelah dia memerankan kedudukan tersebut, bagaimanapun juga dia
harus menyesuaikan diri dengan perannya itu. Berpikir demikian dia lantas
menggerakkan tangannya untuk merangkul pinggang Sim Hong dan memeluknya
erat-erat.
Sim Hong merintih lirih, lalu sambil berpaling katanya seraya tertawa. "Aku
dengar dari toa suci, katanya kau adalah seorang lelaki yang suka bermain
perempuan, sepanjang hidupnya entah sudah berapa banyak kenikmatan yang
sempat kau rasakan."
Buyung Im seng tersenyum. "Selama hidup aku tak suka nama, tidak suka akan
kedudukan aku cuma suka kepada perempuan yang cantik. Jika ada gadis ayu
berada dalam pelukanku maka sekalipun ada orang menawarkan kedudukan Bulim
bengcu, belum tentu aku sudi menerimanya."
"Sepanjang hidupmu, sudah berapa banyak anak perempuan yang kau makan...?"
tanya Sim Hong lagi.
"Sukar dikatakan, sukar dikatakan, tentang soal tersebut aku sendiripun tak dapat
mengingatnya dengan jelas."
"Suhuku mempunyai rasa cemburu yang sangat besar, setelah kau mengadakan
hubungan dengannya, apakah masih berani main perempuan lagi ditempat
luaran?"
Buyung Im seng segera tertawa terbahak-bahak. "Haa.. haa.. aku Ong Ciu bukan
seorang lelaki yang harus diurus gerak geriknya, sekalipun suhumu itu lihai, paling
tidak ia akan mengalah tiga bagian terhadapku."
"Sungguhkah perkataanmu itu?"
"Setiap patah kata adalah kata yang sejujurnya."
"Ngo-suciku itu berparas cantik, ayu dan menarik hati, antara kau dengannya..."
Buru-buru Buyung Im seng mendehem untuk memotong ucapan Sim Hong yang
belum selesai, kemudian tegasnya. "Soal itu mah, aku merasa rikuh sekali!"
"Kenapa?"
"Sebab dia adalah muridnya Giok hong siancu dihari hari biasa mereka selalu
bersikap sopan bila bertemu denganku, sebagai seorang cianpwe masa aku berani
bertindak kurang ajar?"
Mendengar perkataan itu, Sim Hong tertawa cekikikan. "Sukar.. benar-benar
sukar! Tak nyana kalau Giok longkun dapat mengucapkan kata-kata seperti itu."
Tercekat perasaan Buyung Im seng setelah mendengar perkataan itu, segera
pikirnya. "Sebagai Giok longkun aku memang tidak seharusnya bersikap begini
serius!"
Tiba-tiba terdengar, Sim Hong berkata lagi, "Bagaimana sikapmu terhadapku?"
195
"Terhadap dirimu? Kesanku sih baik sekali!" "Omong kosong, Ngo-suciku beribu
kali jauh lebih baik daripada aku, tapi kau toh tidak menyukainya, mana mungkin
kau bisa menyukai aku si budak ingusan yang jelek?"
Buyung Im seng merasa persoalan ini sukar sekali untuk dijawab, manusia macam
apa yang dimaksudkan Sim Hong sebagai ngo-suci sama sekali tidak pernah
ditemuinya, lebih-lebih tidak diketahui benar atau tidaknya ucapan tersebut."
Maka sesudah termenung sebentar, dia menjawab "Dia sih jauh berbeda dengan
kau." "Dimana letak perbedaannya?"
"Kau hangat dan menggelorakan hati, sedang dia dingin bagaikan salju beku."
Tapi setelah ucapan tersebut diutarakan, hatinya baru merasa terbangun, pikirnya.
"Entah murid dari Giok hong siancu itu benar-benar seorang manusia yang berhati
dingin seperti apa yang kukatakan atau tidak...?"
Tentu saja perkataan dari Buyung Im seng ini bukan diucapkan tanpa dasar yang
kuat, dari pembicaraan yang dilakukannya dengan Sim Hong tadi, dia
mendapatkan kalau cuma ngo-sucinya saja yang disinggung singgung, itu berarti
ngo-sucinya sudah pasti adalah seorang manusia yang istimewa sekali.
Betul juga, terdengar Sim Hong perlahan-lahan menjawab sambil manggutmanggut.
"Yaa, benar, diantara kakak beradik sekalian memang ngo-suci agak
istimewa perangainya, cuma beberapa tahun belakangan ini perangainya itu sudah
banyak mengalami perobahan.
"Ooo... kejadian ini sungguh merupakan suatu berita yang hangat, dapatkah kau
menceritakannya kepadaku?"
"Tentu saja boleh..." Sesudah berhenti sebentar, dia melanjutkan.
"Walaupun watak ngo-suci agak aneh, tapi setelah melalui latihan yang bertahuntahun
lamanya, dia telah mengalami banyak sekali perubahan, sikapnya sekarang
sudah tak dingin dan kaku seperti dulu lagi. Beberapa tahun berselang ia masih tak
leluasa menyaksikan dari tingkah laku kami semua, cuma kita tak berani
mengutarakannya, tapi di belakang orang dia selalu banyak mengeritik tingkah
laku suhu dan suci. Cuma belakangan ini, dia sudah tak banyak berbicara lagi."
"Kenapa?" Sim Hong segera tersenyum. "Sebab kritikannya itu kemudian dapat
didengar oleh suhu..." katanya.
"Apa pula yang dilakukan sesudah mendengar semua kata-katanya itu?"
"Setelah mendengar kesemuanya itu, tentu saja kita punya cara untuk
menghadapinya."
"Manjurkah cara tersebut?"
"Tentu saja manjur sekali, dengan suhu menjadi pengganti orang tua, kami telah
mencarikan seorang kekasih teruntuk ngo-suci."
"Oooh... cara ini memang merupakan sebuah cara yang hebat sekali!" kata Buyung
Im seng, setelah tertegun sejenak, "Bagaimana cerita selengkapnya?"
196
"Kisahnya? Sungguh menggelikan sekali, teringat kejadian ini berlangsung pada
tiga tahun berselang, suatu hari suhu mengumpulkan kami suci-moay sekalian
untuk menyelenggarakan suatu pertemuan, dalam pertemuan itulah ditetapkan
ngo-suci kami akan dikawinkan."
Mendengar sampai di situ Buyung Im seng lantas berpikir. "Giok hong siancu
berbuat demikian pasti ada maksud tertentu."
Berpikir demikian, dia pun lantas mendesak lebih lanjut. "Manusia macam apakah
yang dijadikan suaminya?"
"Seorang kongcu anak sekolahan yang ganteng." "Dia bisa bersilat?" "Tidak bisa."
Sim Hong menggelengkan kepalanya berulang kali, "dia adalah 100% anak
sekolahan."
"Ehmm... besar sekali rejeki orang itu!"
"Sayang, dia hanya sempat mengecap kehangatan dan kenikmatan selama tiga
bulan..."
"Kemudian? Apakah dia diusir dari lembah Giok hong kok?"
"Dihitung sejak malam pengantin, genap tiga bulan kemudian, dia telah dibunuh
atas perintah suhu."
"Dibunuh...?" ulang Buyung Im seng dengan wajah termangu-mangu.
"Benar, dibunuh, gara-gara kejadian ini ngo-suci telah menangis lama sekali,
sepasang matanya sampai bengkak dan sedihnya bukan alang kepalang."
"Kalau begitu, ngo-suci kalian itu benar-benar seorang yang sangat halus
perasaannya."
"Betul! Semula kami mengira ngo-suci adalah seorang gadis suci yang sukar
dipengaruhi, siapa tahu dia adalah seorang nona yang sangat romantis sekali."
"Bagaimana kemudian?"
"Kemudian, suhu kamipun bilang hendak mencarikan seorang kekasih baru untuk
ngo-suci, mendengar kabar ngo-suci menjadi gembiranya bukan kepalang, hilang
lenyap semua kemurungannya, dan sejak itu dia mulai berseri-seri kegirangan tak
pernah terlihat ia bermuram durja lagi, malah dengan kami kakak beradikpun
menjadi cocok sekali."
"Kemudian apakah suhu kalian telah mencarikan seorang teman lagi buat ngosucimu
itu?"
"Itu sih tidak, ketika suhu melihat ngo-suci telah berubah menjadi gembira lagi,
persoalan tersebutpun tak pernah disinggung kembali."
"Kalau begitu, suhu kalian cuma membohonginya saja?"
"Soal itu mah aku kurang begitu tahu."
Sementara pembicaraan sedang berlangsung mendadak terdengar bunyi yang
sangat keras berkumandang disekitar tempat itu.
Tergerak hati Buyung Im seng setelah mendengar suara tersebut, segera tanyanya.
"Hei, suara apakah itu?"
197
Sim Hong segera menggerakkan matanya beberapa kali, kemudian tegurnya cepat.
"Hei, kenapa dengan kau? Masa lupa kalau suara itu adalah suara dengusan dari
lembah kemala?"
"Aaai... sudah hampir sepuluh tahun lamanya tak pernah kudengar suara semacam
itu lagi."
Dalam pembicaraan tersebut, mendadak dari depan sana berkumandang suara
bentakan nyaring. "Berhenti!"
Dua sosok bayangan berkelebat lewat, dari balik kegelapan di bawah bukit sana
melompat keluar dua orang gadis berbaju ringkas yang menyoren pedang dengan
cepat mereka menghadang jalan pergi dari Buyung Im seng.
Ketika Sim Hong menyaksikan jalan perginya dihadang orang, buru-buru ia
menarik tali lesnya dan menarik binatang tunggangannya, segera itu juga
berhentilah menjangan tersebut.
Sambil melompat turun dari atas punggung menjangan, kata Buyung Im seng
dengan lantang. "Aku she Ong bernama Ciu, orang menyebut diriku sebagai Giok
longkun, pernahkah kalian mendengar nama itu?"
Dua orang gadis berpedang itu saling berpandangan sekejap, lalu sahutnya.
"Sepertinya kami pernah mendengar nama itu disebut orang, tapi sayang kami
telah melupakannya."
Buyung Im seng tertawa hambar. "Aku sudah disekap orang selama sepuluh tahun
lamanya, benar-benar aku disekap sampai tak punya apa-apa, sampai namapun tak
kumiliki dan kedudukan juga tak dimiliki."
Sim Hong segera melompat juga turun dari punggung menjangannya kemudian
menegur. "Hei, apakah kalian berdua sudah buta?"
Dua orang gadis yang menyoren pedang itu tampak tertegun, kemudian serunya
bersama. "Sau-kokcu!"
Sim Hong tertawa dingin. "Hee.. hee.. hee.. dia adalah sobat karibnya kokcu kami,
Hmm! Kau berdua benar-benar punya mata tak berbiji, sampai Giok longkun saja
tak dikenali!"
Buyung Im seng segera tersenyum, ujarnya. "Sebetulnya persoalan ini tak bisa
menyalahkan diri mereka, sebelum aku meninggalkan lembah Giok hong kok,
mereka belum lagi menginjakkan kakinya di sini, kalau toh bertemu saja belum
pernah, tentu saja tak kenal jua kepadaku."
Mula-mula Sim Hong agak tertegun, menyusul kemudian katanya sambil tertawa
hambar. "Sungguh aneh sekali! Toa suci bilang tabiatmu jelek sekali, tapi aku rasa
perangaimu sangat baik dan halus budi."
Buyung Im seng tertawa setelah mendengar perkataan itu. "Pendeta-pendeta dari
kuil Siau lim si telah menyekap diriku selama belasan tahun, jika seseorang sudah
terbiasa hidup dalam sekapan selama waktu yang panjang sekalipun wataknya
sangat jelekpun lama kelamaan juga akan berubah menjadi baik."
198
"Lihai sekali kah ilmu silat yang dimiliki para hwesio dari kuil Siau lim si itu?"
tanya Sim Hong lagi.
"Yaa, selama ratusan tahun lamanya kuil Siau lim si selalu dianggap sebagai
tulang punggungnya dunia persilatan, tentu saja ilmu silat yang dimiliki para
hwesio dalam kuil itu lihainya bukan kepalang."
"Sangat benci kah mereka kepadamu?"
"Yaa, mereka sangat membenci terhadap setiap orang yang sesat dan cabul." "Kalau
begitu sangat aneh sekali!" "Apanya yang aneh?"
"Suhu pernah memberi tahu pada kami, bila menghadapi orang-orang yang benci
pada kita, jika ada kesempatan baik untuk membunuhnya maka berusahalah untuk
memanfaatkan kesempatan itu dan membunuhnya, tak perlu bersikap baik hati
lagi kepadanya sehingga meninggalkan bibit bencana di kemudian hari, kalau toh
hwesio2 dari kuil Siau lim si itu amat benci kepadamu, mengapa kau tak
dibinasakan mereka?"
"Inilah perbedaan antara lembah Giok hong kok dengan kuil Siau lim si!"
Sim Hong termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian katanya.
"Menurut pendapatmu, cara yang manakah yang lebih baik?"
"Kalau dulu, tentu saja aku sangat setuju dengan cara dari suhumu itu, tapi
sekarang, aku merasa agak kurang setuju."
"Dimanakah letak perbedaannya?"
"Sekarang aku merasa bahwa membunuh orang juga bukan suatu cara yang
terbaik."
"Aaai...! Setelah mendengar perkataan itu, aku sendiripun menjadi bingung. Aku
jadi tak tahu ucapan siapakah yang sesungguhnya paling benar?"
Diam-diam Buyung Im seng berpikir. "Watak dasar manusia sebenarnya mulia,
sejak kecil budak ini sudah dibesarkan dalam lingkungan lembah Giok hong kok,
apa yang dilihat dan didengar semuanya merupakan perbuatan-perbuatan keji,
jahat, dan cabul, bila disuruh menjadi perempuan mulia yang setia kepada suami
dan sayang anak di kemudian hari, tentu saja akan sedikit sulit. Untung saja
usianya masih kecil, liangsimnya belum ternoda, ia masih bisa ditolong..."
Sementara dia masih berpikir, kedua orang gadis yang menghadang jalan perginya
itu sudah menyingkir ke samping memberi jalan.
Sim Hong segera melompati lagi naik ke atas punggung menjangan, kemudian
serunya. "Locianpwe, mari kita pergi!"
Menyusul kemudian Buyung Im seng juga turut melompat naik ke atas punggung
menjangan kemudian melarikan binatang itu ke depan.
-ooo0ooo-
BAGIAN KE 15
Setelah menempuh perjalanan lagi selama seperminuman the, mendadak Sim Hong
menarik tali lesnya dan menghentikan larinya menjangan tersebut, lalu bisiknya.
199
"Sudah sampai, bangunan loteng yang tinggi besar di depan sana adalah istana
Giok hong kiong tempat kediaman suhu."
Buyung Im seng mencoba untuk memperhatikan bangunan tersebut dengan
seksama, dia saksikan bangunan besar berloteng dan yang sangat tinggi tersebut
berdiri dengan begitu angker dibalik kegelapan, tak tampak setitik cahaya apipun
yang menerangi tempat itu.
Tanpa terasa dia lantas bertanya. "Ruangan itu gelap gulita, tampaknya tak ada
cahaya lentera, apakah bangunan istana itu tiada yang menjaga?"
"Suasana dalam istana terang benderang bermandikan cahaya, saat ini suhu
sedang menjamu tamu dalam ruangan istana, cuma saja jendela dan pintu ditutup
oleh kain tirai yang tebal, sehingga sinar lentera tak mampu untuk menembusi
keluar."
"Siapa saja yang sedang dijamu oleh suhumu?"
Sim Hong segera menggelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya dengan
setengah berbisik. "Aku tak kenal dengan orang itu."
"Seringkah suhumu menjamu tetamu didalam istananya?" kembali Buyung Im seng
bertanya.
Sim Hong segera menggeleng. "Tidak, dalam lembah Giok hong kok ini jarang sekali
kedatangan tamu, seingat boanpwe dalam 4 tahun lebih belum pernah ada seorang
tamupun yang berkunjung kemari, tetapi beberapa bulan yang belakangan ini
secara beruntun telah kedatangan banyak tamu di sini."
"Apakah kebanyakan dia jago-jago persilatan?" "Yaa betul, semuanya adalah jagojago
persilatan." "Manusia dari mana saja mereka itu?"
"Pokoknya campur aduk entah dari aliran mana saja, pada sepuluh hari berselang,
disinipun telah kedatangan rombongan manusia yang terdiri dari 8-9 orang, mereka
berdiam hampir selama 6-7 hari didalam lembah sebelum pergi, sedangkan
rombongan yang baru berada dalam ruang istana sekarang baru tiba tengah hari
tadi..."
Sebenarnya Buyung Im seng ingin bertanya lagi, tetapi dia kuatir terlalu banyak
yang ditanyakan sehingga ketahuan jejaknya, terpaksa dia harus menahan diri,
sambil tersenyum diapun membungkam dalam seribu bahasa.
"Sekarang, perlukan kulaporkan kedatanganmu kepada suhu?" bisik Sim Hong
dengan suara lirih.
Buyung Im seng segera berpikir didalam hatinya. "Secara tiba-tiba Giok long siancu
membuka pintu gerbang Giok hong koknya lebar-lebar, jelas dia sudah ada niat
untuk menampilkan dirinya kembali dalam dunia persilatan, itu berarti juga orang
yang ada dalam ruangan sekarang ini terdiri dari beraneka ragam manusia yang
berasal dari macam pelbagai aliran, siapa tahu kalau salah seorang diantaranya
mengetahui akan diriku? Lebih baik aku jangan pergi dahulu kesana..."
Berpikir sampai di situ, dia lantas berkata. "Sekarang antarkan aku mencari
tempat duduk lebih dahulu, kemudian baru memberi laporan kepada suhumu!"
200
Sim Hong segera tersenyum. "Bagaimana kalau duduk didalam kamarku saja?"
"Baik! Mari membawa jalan untukku!"
Sim Hong segera membalikkan badannya dan berjalan maju ke depan, sambil
berjalan bisiknya dengan suara lirih.
"Andaikata suhu bertanya nanti, kau musti bertanggung jawab loh! Kau harus
bilang kalau kau yang minta aku untuk mengajakmu menuju ke dalam kamarku."
Buyung Im seng segera tertawa. "Baik! Katakan saja kalau aku yang memaksamu
untuk membawa diriku kemari."
Sim Hong segera tersenyum manis, dengan membawa Buyung Im seng ia lantas
berjalan menuju ke sebuah dinding bukit, ketika didorong tiba-tiba terbukalah
sebuah pintu batu dari atas dinding tersebut.
Buyung Im seng mencoba untuk menengok ke dalam, suasana dalam gua itu gelap
gulita tak tampak sesuatu apapun.
Sim Hong segera berpaling, sambil menggandeng tangan kiri Buyung Im seng
ditariknya pemuda itu masuk ke dalam gua.
Akan tetapi begitu tangannya saling bersentuhan dengan badan Buyung Im seng
dengan cepat menarik kembali tangannya sambil berbisik. "Bagaimana kalau kau
saja menggandengku?"
Mendengar perkataan tersebut, Buyung Im seng lantas berpikir. "Usia budak ini
masih sangat muda, tapi nyalinya sudah begitu besar, rupanya kecabulan orangorang
Giok hong kok benar-benar sukar dibayangkan dengan kata-kata."
Tapi dia masih ingat perasaannya sekarang sebagai Giok longkun, sebagai Giok
long kun maka tindak tanduknya harus romantis tidak menampik mangsa yang
dijajakan dihadapannya dan pandai memanfaatkan kesempatan baik yang ada di
depan mata.
Maka dengan cepat dia mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Sim
Hong kemudian bisiknya lirih. "Hei, budak cilik, apa yang sedang kau pikirkan
didalam hati?"
Sim Hong menghembuskan napas panjang, bisiknya. "Tak heran jika dalam banyak
tahun belakangan ini suhu selalu teringat akan dirimu, ya... kau memang benarbenar
memiliki daya tarik yang besar sekali terhadap kaum wanita, andai kata kau
bukan kekasih suhu, aku..."
Mendadak ia menutup mulut dan tak berbicara lagi.
"Mau apa kau?" Buyung Im seng segera bertanya.
"Aku hendak merampas dirimu dari pelukannya!" sahut Sim Hong sambil
merapatkan pintu batu.
"Kau berani...?" tanya Buyung Im seng sambil tertawa hambar.
Sim Hong segera menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Tidak, aku tidak berani..."
201
"Aku berani!" seru Buyung Im seng kemudian sambil tersenyum.
Dengan cepat dia sambar tubuh Sim Hong dan mendekapnya erat-erat.
Pelan-pelan Sim Hong memejamkan matanya kembali, bibirnya yang kecil mungil
dibuka sedikit, bersiap sedia menikmati kehangatan tubuh dari lelaki itu.
Siapa tahu Buyung Im seng menggelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya.
"Bawalah aku masuk ke kamarmu, aku ingin istirahat sebentar. Dan kau boleh
memberi laporan dulu pada kokcu, bila aku sudah mengetahui jelas keadaan situasi
didalam lembah ini, baru kita rundingkan kembali soal ini."
Pelan-pelan Sim Hong membuka matanya lebar-lebar, kemudian berkata lembut.
"Kau tidak berani, kau juga takut pada suhuku?"
Buyung Im seng segera tersenyum. "Aku tak takut padanya, tapi kau tak dapat
menentang dirinya, aku tahu dia itu keji dan berhati kejam, bila kau berani
menentangnya maka diapun tak akan mengingat hubungan guru dan murid lagi,
dia pasti akan merenggut selembar jiwamu."
Sim Hong menghela napas panjang dengan membawa Buyung Im seng masuk ke
dalam kamarnya, dia lantas memasang lentera.
Tampak ranjang berseprai putih teratur rapi dalam ruangan itu, tirai yang indah
menghiasi dinding, indah dan nyaman dekorasi dalam ruangan tersebut.
Sim Hong segera tersenyum, katanya. "Beristirahatlah di sini! Akan kulaporkan
kedatanganmu ini kepada suhu..."
"Kau masih muda berparas cantik dan bergaya menarik, di kemudian hari aku pasti
akan berkata pada kokcu kalian untuk menarik kau guna melayani diriku."
"Sungguh perkataanmu itu?" "Tentu saja sungguh!" "Semoga saja kau tak
membohongi aku."
Seusai berkata pelan-pelan dia melangkah pergi meninggalkan tempat itu.
Memandang hingga bayangan tubuh dari Sim Hong sudah jauh dari pandangan,
Buyung Im seng baru berpikir. "Lembah Giok hong kok ini benar-benar cabul dan
penuh perempuan jalang, selama berada di sini keadaanku amat berbahaya dan
setiap saat terancam jebakan-jebakan maut, aku harus bertindak lebih berhati-hati,
kalau bisa secepatnya mendapatkan kitab pusaka ilmu pedang itu."
Berpikir demikian, tanpa terasa dia meraba obat pemabuk yang diberikan Kwik
soat kun kepadanya itu, sementara dia masih melamun mendadak terdengar
langkah manusia berkumandang memecahkan keheningan.
Tergetar perasaan Buyung Im seng setelah mendengar suara langkah manusia itu,
pikirnya. "Cepat benar budak itu balik kembali."
Ketika dia berpaling, tampak seorang gadis berbaju hijau bergaun hijau sedang
pelan-pelan berjalan masuk ke dalam ruangan. Ternyata orang itu bukan Sim
Hong.
Dengan sepasang mata yang jeli, gadis berbaju hijau itu mengamati wajah Buyung
Im seng beberapa saat lamanya, kemudian menegur. "Siapa kau?"
202
Buyung Im seng mendehem pelan lalu menjawab. "Aku mah... Giok longkun Ong
Ciu!"
"Giok longkun?" bisik si nona berbaju hijau itu dengan wajah termangu-mangu.
"Benar!"
Nona baju hijau itu manggut, mendadak dia melangkah maju ke depan.
Sebenarnya Buyung Im seng ingin mundur ke belakang untuk menghindar,
mendadak pikirnya. "Giok long kun bukan seorang lelaki yang takut terhadap kaum
perempuan..."
Maka dengan lengan direntangkan, dia menyongsong kedatangan gadis berbaju
hijau itu. Mendadak nona baju hijau itu menghentikan langkahnya seraya
menegur. "Paman Ong, kau sudah tidak kenal lagi denganku?"
Buyung Im seng menjadi tertegun, kemudian pikirnya. "Dia menyebut paman Ong
kepadaku, sudah jelas merupakan boanpweku, lagi pula pasti kenal aku dimasa
lalu, yaa, aku musti menghadapinya secara berhati-hati."
Berpikir sampai di situ, dia lantas berkata. "Aku sudah sepuluh tahun lebih
meninggalkan lembah Giok hong kok ini..."
"Benar!" gadis baju hijau itu mengangguk. "Usiaku sudah lanjut, tentu saja tidak
akan terdapat perubahan banyak, tapi kalian masih muda-muda, perubahan
selama sepuluh tahun terlalu banyak bagiku, untuk sesaat aku jadi tak bisa
mengenali siapa dirimu..."
"Betul juga perkataan paman Ong, ketika kau pergi meninggalkan tempat ini, aku
masih berusia sepuluh tahun."
Meminjam sinar lentera yang menerangi ruangan, dia mencoba untuk mengamati
nona berbaju hijau itu sekejap, tampak matanya jeli dengan alis mata yang
melentik, cantik nian parasnya, cuma bedanya dia tidak memiliki sifat jalang
seperti yang dimiliki Sim Hong.
Tergerak hatinya secara tiba-tiba setelah menyaksikan hal ini, pikirnya. "Aaah,
benar, budak ini lembut dan bermuka polos, mungkin dialah ngo-suci yang
dimaksudkan oleh Sim Hong."
Berpikir sampai disitu, diapun lantas menegur. "Kaukah si lo ngo?"
Nona berbaju hijau itu segera tersenyum. "Betul! Paman Ong masih ingat
denganku."
Buyung Im seng tertawa. "Aku hanya teringat kalau kau adalah lo-ngo tapi aku
lupa siapakah namamu."
"Aku bernama Lau hong!" seru si nona berbaju hijau itu sambil tertawa manis.
"Betul, betul kau bernama Lau hong."
"Malam ini aku sedang mendapat tugas melakukan perondaan, kulihat Sim Hong
sumoay secara mencurigakan sekali masuk kemari membawa seseorang, tidak
kusangka kalau orang yang dia bawa kemari adalah paman Ong..."
203
Buyung Im seng segera berpikir, "Sewaktu Giok longkun meninggalkan lembah, ia
belum lagi berusia sepuluh tahun, sekalipun masih ada kenangan didalam hatinya,
tak akan terlalu banyak, kalau begitu akupun bisa berbincang-bincang dengannya
secara leluasa."
Sementara dia masih berpikir, terdengar Lau hong berkata kembali. "Kau sudah
lenyap lama sekali, konon kau tertimpa pula musibah, oleh kejadian ini, suhu
sudah lama sekali merasa sedih dan berduka."
"Aku kena ditangkap oleh hwesio-hwesio dari Siau lim si, kemudian disekap lama
sekali didalam kuil mereka."
"Oooo... rupanya begitu," kata Lau hong sambil tertawa. "Jika suhu mendapat tahu
tentang kabar ini, sudah pasti dia akan menyerempet bahaya untuk menyerbu kuil
itu dan berusaha untuk menyelamatkan dirimu."
"Didalam kuil Siau lim si penuh terdapat pendeta-pendeta yang berilmu tinggi,
sekalipun suhumu kesana, belum tentu dapat menyelamatkan diriku."
Setelah berhenti sebentar, lanjutnya. "Malam ini suhumu sedang menjamu tamu,
entah siapa saja yang sedang dijamu olehnya?"
"Tamu yang datang berkunjung terdiri dari beraneka ragam manusia, ada yang tua
ada pula yang muda, malah ada seorang Tau-to (hwesio yang memelihara rambut)."
"Sim Hong telah masuk istana untuk memberi laporan, jika suhumu masih teringat
dengan hubungan lama kami, dengan cepat dia akan datang untuk menjemput
aku."
Lan hong tertawa. "Dua bulan berselang, suhu masih sempat membicarakan diri
paman denganku, kelihatannya dia masih merasa kangen sekali denganmu."
Buyung Im seng menghembuskan napas panjang, katanya sambil tertawa. "Begitu
lolos dari kuil Siau lim si, aku langsung kembali ke lembah Giok hong kok,
andaikata suhumu telah melupakan aku, sungguh kejadian ini merupakan suatu
pukulan batin bagiku."
"Tak usah kuatir paman, cinta suhu kepadamu..."
Mendadak terdengar bunyi langkah kaki yang cepat berkumandang datang dan
memotong perkataan Lau hong yang belum selesai.
"Locianpwe, suhu kami mempersilahkan..."
Ketika dilihatnya Lau hong berada di situ, ia menjadi tertegun, buru-buru dia
membungkukkan badannya memberi hormat.
"Siau moay menjumpai ngo-suci!" Lau hong tertawa ewa, katanya. "Enci sedang
tuga meronda ketika secara tiba-tiba menyaksikan kau pulang membawa orang,
aku tidak tahu siapa yang kau bawa, maka sengaja datang kemari untuk
melakukan pemeriksaan."
"Siau moay sudah lupa melaporkan dulu kejadian ini kepada cici, harap cici jangan
marah."
Lau hong tersenyum.
204
"Kau telah membawa pulang paman Ong, bergembira saja aku tak sempat, masa
aku akan marah kepadamu?"
Sim hong tersenyum. "Masih ingatkah kau dengan paman Ong?" tegurnya. "Tentu
saja kenal, cuma paman Ong sudah tidak kenali diriku lagi..."
Buyung Im seng tersenyum, sinar matanya lantas dialihkan ke wajah Sim Hong,
kemudian tanyanya. "Apa yang dikatakan suhumu?"
"Sungguh amat kebetulan sekali kedatangan mu hari ini, andaikata kau tidak
pulang saat ini dunia persilatan bakal terjadi suatu badai pertumpahan darah yang
sangat hebat!"
"Apa yang terjadi?" "Diantara tamu yang datang pada hari ini ada seorang
diantaranya yang mengetahui akan kejadian yang menimpa paman, dia tahu kalau
paman telah disekap dalam kuil Siau lim si, mendengar berita tersebut suhu
menjadi naik darah dia mengajak orang untuk mendatangi kuil Siau lim si serta
menuntut pembebasan."
"Apakah suhumu akan pergi seorang diri?"
"Tentu saja dia akan membawa serta kami suci-moay sekalian, selain itu tamutamu
yang hadir hari ini juga bersedia membantu suhu."
"Kau telah berjumpa dengan tamu-tamu itu, tahukah kau mereka berasal dari
aliran mana saja?"
"Soal ini tidak begitu boanpwe ketahui, cuma didalamnya terdapat aneka macammacam
manusia dari pelbagai aliran."
Diam-diam Buyung Im seng amat kesal sekali, pikirnya. "Sekalipun rencana yang
diatur pihak Li ji pang sangat sempurna, tapi mereka tak mengira kalau pada
malam ini Giok hong siancu sedang melakukan perjamuan tamu agung, kata orang
manusia sejenis akan berkumpul menjadi satu, sudah pasti orang-orang yang
mengadakan hubungan dengan Giok hong siancu juga bukan manusia
sembarangan, siapapun tahu kalau diantaranya yang hadir ada juga teman-teman
dari Ong Ciu, sial jika sampai berjumpa muka, tak urung mereka pasti akan
mengajakku untuk membicarakan kembali kenangan lama, padahal aku tak tahu
apa-apa, bagaimana nanti caraku menjawab pertanyaan mereka?"
Terdengar Sim Hong berkata lagi dengan suara lirih, "Suhu merasa girang sekali
setelah mengetahui kedatanganmu kembali di lembah Giok hong kok, dia
menyuruh kau datang ke ruangan tengah untuk bersua muka, dengan tamu-tamu
agung itu, agar kaupun dapat mengisahkan kembali pengalamanmu sewaktu kabur
dari kuil Siau lim si kepada semua orang."
"Hmm, peristiwa terbekuk dan disekapnya aku dalam kuil Siau lim si merupakan
suatu kejadian yang memalukan, apanya yang bisa kubanggakan di hadapan
mereka?"
"Soal ini boanpwe kurang begitu tahu, tapi suhu menyuruh kau datang ke ruangan
tengah."
205
Buyung Im seng segera menggelengkan kepalanya berulang kali, "Tidak, aku tak
mau pergi!"
"Kenapa?" seru Sim Hong terperanjat.
"Kisah tertangkapnya aku oleh hwesio-hwesio Siau lim si telah diketahui oleh
orang-orang dalam ruangan itu, aku tak puny muka berjumpa lagi dengan mereka."
"Lantas apa yang musti kukatakan kepada suhu?"
Buyung Im seng termenung dan berpikir sebentar, lalu sahutnya. "Katakan kepada
suhumu bahwa aku baru akan berjumpa dengannya jika perjamuan telah bubar
nanti."
Sim Hong segera menengok ke arah Lau hong, mukanya penuh rasa ragu dan
bimbang.
Lau hong segera tertawa hambar, katanya. "Tidak mengapa, meski watak suhu
jelek, tapi sikapnya terhadap paman Ong sangat mengalah, katakan saja kepada
suhu apa yang paman katakan."
Sim Hong manggut-manggut, katanya : "Kalau memang cici berkata demikian, aku
rasa tak bakal salah lagi..."
Selesai berkata dia lantas membalikkan badan dan berlalu dari tempat itu.
Memandang bayangan punggung Sim Hong hingga lenyap dari pandangan mata,
Buyung Im seng baru menghela napas panjang, katanya. "Apakah suhumu masih
berdiam ditempat tinggalnya dulu?"
"Betul, dia masih tinggal ditempat semula."
Buyung Im seng segera menghembuskan napas panjang, katanya. "10 tahun sudah
lewat, mungkin aku sudah lupa dengan jalan menuju kesana."
"Aaah, mana mungkin?" kata Lau hong sambil tersenyum, "kau sudah tinggal
selama banyak tahun ditempat itu."
Terkesiap Buyung Im seng mendengar perkataan itu, pikirnya dengan cepat.
"Budak itu benar-benar seorang yang cerdik dan berotak encer, ternyata dia tak
mau menyebutkan dimanakah tempat tinggal Giok hong siancu, aku tak boleh
bertindak terlalu gegabah."
Berpikir demikian, sambil senyum, katanya "Tentu saja setelah kuperhatikan
sekali lagi suasana di sekeliling tempat itu, aku akan teringat kembali."
"Paman Ong, boanpwe ingin menanyakan satu hal kepadamu, entah bolehkah
kuajukan pertanyaan tersebut?"
Diam-diam Buyung Im seng telah mempertinggi kewaspadaannya, sambil tertawa
sahutnya. "Soal apa? Katakan saja!"
"Selama beberapa tahun ini, apakah paman Ong disekap didalam kuil Siau lim si?"
"Yaa, betul! Aku selalu disekap mereka didalam sebuah kamar rahasia yang
dikelilingi dinding tebal, boleh dibilang hubungan dengan dunia terputus sama
sekali."
206
"Apa pendeta-pendeta Siau lim si benci sekali terhadap tabiat dan tindak tanduk
paman itu?"
"Tentu saja, mereka telah menyekap diriku selama hampir sepuluh tahun lebih,
penderitaan semacam itu bukan suatu penderitaan yang enak dirasakan."
"Kalau memang pendeta-pendeta dari Siau lim si merasa benci sekali kepadamu,
mengapa mereka tidak membunuh dirimu?"
"Mungkin mereka merasa kehidupanku di dunia ini masih ada sedikit kegunaan."
"Agar lebih banyak perempuan yang kau perkosa?"
Buyung Im seng menjadi tertegun, sinar matanya segera dialihkan ke wajah Lau
hong dan menatapnya lekat-lekat, kemudian ujarnya. "Andaikata aku tak disekap
selama 10 th dalam kuil Siau lim si, dengan ucapan itu, aku sudah akan merenggut
selembar jiwamu."
Lau hong tertawa hambar. "Dalam ingatanku, diantara kerutan dahi paman Ong
selalu terbawa tiga hawa pembunuhan, tapi setelah berjumpa lagi dengan paman
Ong hari ini, kulihat hawa pembunuhan tersebut tampak sudah hilang tak
berbekas, oleh sebab itu aku baru memberanikan diri untuk mengajukan
pertanyaan tersebut."
"Nyalimu sungguh teramat besar!"
Lau hong tertawa hambar. "Tapi aku tetap beranggapan bahwa paman Ong sama
sekali berbeda dengan paman Ong yang dulu."
"Dimana letak perbedaannya?"
"Banyak sekali perbedaannya, kalau bukan watak paman memang mengalami
perubahan besar, itu berarti... itu berarti..."
"Itu berarti apa?" tukas Buyung Im seng ketus. "Itu berarti kau adalah paman Ong
palsu!"
Tercekat Buyung Im seng mendengar perkataan itu, segera bentaknya keras-keras.
"Kau bilang apa?"
Mendadak dia melancarkan sebuah cengkeraman untuk mencelakai tangan kanan
Lau hong.
Dengan suara dingin Lau hong berkata. "Kau sudah meninggalkan lembah Giok
hong kok selama 10 th, perubahan yang kau alami selama 10 th ini sungguh terlalu
besar, sekalipun kau adalah paman Ong yang sebenarnya, juga tak dapat
sembarangan turun tangan untuk membunuhku."
"Bila kubunuh kau, paling banter aku akan cekcok dengan suhumu, aku tak
percaya kalau dia akan mengusir diriku dari dalam lembah Giok hong kok ini."
"Seandainya kau benar-benar adalah paman Ong, kau takkan mempunyai
keberanian tersebut untuk membunuhku."
(Bersambung ke jilid 11)
207
Lembah Tiga Malaikat
Oleh: Tjan
Jilid 11
BUYUNG IM SENG menjadi tertegun, tapi sekuat tenaga dia berusaha untuk
menenangkan hatinya, kemudian katanya: "Kenapa?" "Sebab paman Ong... "
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki manusia yang sangat ramai berkumandang
datang, terpaksa Buyung Im seng melepaskan cekalannya pada pergelangan tangan
kanan Lan hong.
Tampak Sing hong dengan langkah cepat telah masuk kembali ke dalam ruangan.
"Apa kata suhumu ?" tanya Buyung Im seng.
"Suhu bilang dipersilahkan kau datang sebentar ke ruang tengah"
"Kenapa?" "Sebab di hadapan tamu agung, suhu telah mengumumkan kejadian ini,
bila aku tidak pergi maka suhu pasti akan merasa kehilangan muka..."
Buyung Im seng termenung dan berpikir sejenak, kemudian katanya: "Baiklah,
bawalah aku serta ke tempat pertemuan itu."
Sim Hong memandang sekejap ke arah Lan Hong, kemudian katanya: "Cici, aku
telah memberitahukan kepada suhu, bahwa kau sedang menemani paman Ong"
"Apa kata suhu ?" "Suhu bilang, kau juga dipersilahkan turut serta" "Tapi aku
sedang bertugas..."
"Suhu telah mengutus orang lain untuk menggantikan kedudukanmu" "Kalau
memang begitu, mari kita berangkat bersama"
Dengan Sim hong membawa jalan, Buyung Im seng mengikuti ditengah dan Lan
hong berjalan dipaling belakang, berangkatlah mereka menuju ke tempat itu.
Dalam pada itu Buyung Im seng telah meningkatkan kewaspadaannya terhadap
Lan hong pikirnya: "Tampaknya budak ini sudah menaruh rasa curiga kepadaku,
208
jika dia turut serta ke ruang tengah dan memberitahukan kejadian ini kepada Giok
hong siancu, sesungguhnya kejadian ini betul-betul merupakan sesuatu kejadian
yang merepotkan."
Terdengar Lang hong berkata dengan suara lembut: "Paman Ong, walaupun kau
sudah sepuluh tahun meninggalkan lembah Giok hong kok, tapi suhu sama sekali
tak nampak menjadi tua"
"Tenaga dalam yang dimiliki suhumu sudah mencapai puncak kesempurnaan, tentu
saja sepuluh tahun masih belum dapat menimbulkan perubahan besar baginya"
Diluaran dia berkata begitu, sementara dalam hati kecilnya diam-diam berpikir:
"Dibalik ucapan budak itu sudah jelas mengandung maksud lain, tapi aku tidak
mengerti apa maksud yang sebenarnya? Jika aku kena ditangkap basah selama
berada dalam lembah Giok hong kok, sudah pasti hal ini ada hubungannya dengan
budak tersebut".
Sementara masih termenung, mereka sudah tiba di depan sebuah ruangan besar.
Tampak Sim hong mendorong sebuah pintu dan melangkah masuk ke dalam...
Serentetan sinar lampu yang tajam dan kuat segera memancar keluar dari balik
ruangan.
Buyung Im seng melongok ke dalam, tampak ruangan tersebut bermandikan
cahaya lentera, ditengah ruangan diatur empat buah meja perjamuan... Sambil
tersenyum dan membungkukkan badan memberi hormat, Sim hong berkata:
"Silahkan paman !"
Sambil membusungkan dada dan mendongakkan kepalanya, Buyung Im seng
masuk ke dalam ruangan dengan langkah lebar. Sim hong maupun Lan hong segera
mengikuti di belakangnya masuk pula ke dalam ruangan.
Setelah berada ditengah ruangan, sekali lagi Buyung Im seng mengalihkan
perhatiannya untuk memperhatikan keadaan disekitar sana, tampak di kursi
utama duduklah seorang perempuan setengah umur yang berbaju tipis berwarna
hijau. Walaupun usia perempuan itu sudah mencapai setengah umur, namun
memiliki daya tarik yang cukup mempesonakan hati.
Dengan cepat dia berpikir: "Mungkin perempuan itulah yang bernama Giok hong
siancu !"
Benar juga, perempuan setengah umur itu pelan-pelan bangkit berdiri, kemudian
katanya: "Giok long, sejak perpisahan, baik baikkah dirimu ? Sudah sepuluh tahun
kita tak pernah bersua, kau masih tetap setampan dulu."
"Para hwesio Siau lim si telah menyekapku selama sepuluh tahun lamanya, dalam
sepuluh tahun ini aku selalu duduk menghadap dinding tentu saja dalam hal
tenaga dalam aku memperoleh sedikit kemajuan"
Menggunakan kesempatan ini dia memperhatikan sekejap para jago yang berada
dalam ruangan. Tampak di meja yang ditempati Giok hong siancu, kecuali
perempuan tersebut masih tampak seorang lelaki setengah umur berbaju biru yang
duduk di hadapan Giok hong siancu.
Orang itu masih tetap duduk ditempat semula sambil meneguk arak, jangankan
memperhatikannya, berpaling pun tidak.
209
Tampaknya orang ini adalah tamu utamanya selain itu masih ada pula tiga meja,
dalam setiap meja duduklah empat orang sehingga jumlahnya mencapai dua belas
orang.
Giok hong siancu segera menarik tangan Buyung Im seng sambil berkata dengan
merdu: "Giok longkun, mari kuperkenalkan beberapa orang kepadamu."
Sambil berkata dia menarik Buyung Im seng untuk duduk disampingnya. Lelaki
setengah umur berbaju biru itu duduk tepat di hadapan Buyung Im seng, namun
dia tidak pernah mendongakkan kepalanya untuk memperhatikan wajah Buyung
Im seng.
Sedang Giok hong siancu segera berkata dan tertawa sesudah memandang lelaki
setengah umur itu sekejap. "Dia adalah Giok long kun Ong ciu yang baru saja
kubicarakan dengan dirimu."
Lelaki setengah umur itu mendongakkan kepalanya dan memperhatikan Buyung
Im seng sekejap, kemudian manggut-manggut seraya berkata: "Sudah lama
kudengar akan nama besarmu, beruntung kita dapat berjumpa hari ini"
"Tidak berani, tolong tanya siapa kau ?"
"Dia adalah Tongcu Tuang Hoat lun tong dari perguruan Sam seng bun... " Giok
hong siancu segera menerangkan.
Belum lagi ucapan tersebut selesai, buru-buru lelaki setengah umur itu menukas.
"Siancu aku seharusnya menghormati saudara Ong dengan secawan arak."
Kemudian sambil mengangkat cawannya dia menambahkan.
"Saudara Ong, silahkan!"
"Silahkan", sahut Buyung Im seng sambil mengangkat pula cawan araknya.
Sementara dalam hati ia berpikir. "Tampaknya dia takut sekali jika Giok hong
siancu sampai menyebutkan namanya, entah apa maksud tujuannya?"
Oo0oO
BAGIAN KE 16
Sementara itu terdengar Giok hong siancu sedang berkata. "Giok long, untung saja
kau pulang pada malam ini, coba kalau kau belum pulang, aku sudah
menggabungkan diri dengan perguruan Sam seng bun..."
"Bagaimana dengan sekarang?" tanya lelaki setengah umur itu. "Apakah Giok hong
siancu hendak berubah pikiran?"
Giok hong siancu segera tertawa. "Berubah pikiran sih tidak, cuma aku akan
menunda keberangkatanku selama beberapa hari lagi.
"Siancu adalah seseorang yang mempunyai kedudukan tinggi." Ucap lelaki setengah
umur itu sambil tertawa hambar, "ucapan yang telah diutarakan masa diurungkan
kembali? Apakah kau tidak takut ditertawakan oleh orang persilatan?"
Giok hong siancu segera tersenyum. "Aku bersedia menggabungkan diri dengan
Sam seng bun, tak lain karena aku ingin menolong Giok long kun, tapi sekarang dia
telah pulang kembali."
210
"Maka siancu hendak membatalkan perjanjian itu..." tertawa sinis dan mendehem
beberapa kali, kemudian setelah menatap sekejap wajah Giok hong siancu dan
Buyung Im seng secara bergantian, sambungnya lebih jauh.
"Ibaratnya suatu perjudian besar, kami telah memasang suatu taruhan yang cukup
besar, andai kata Ong heng tidak kembali maka kami akan mengeluarkan sejumlah
kekuatan yang maha besar untuk menyerbu masuk ke dalam kuil Siau lim si guna
menyelamatkan saudara Ong, kalian toh tahu selama ini kuil Siau lim si dianggap
sebagai tulang punggungnya umat persilatan, seandainya sampai terjadi
pertempuran langsung dengan pendeta-pendeta Siau lim si, bayangkan sendiri
betapa sengitnya pertarungan yang bakal berlangsung, masa sebagai gantinya kami
hanya peroleh sepatah kata saja dari Siancu?"
"Tapi aku toh tidak mengingkari janji! Aku tak lebih hanya minta perpanjangan
waktu selama beberapa hari lagi." Sambung Giok hong siancu dengan cepat.
Lelaki setengah umur iru termenung dan berpikir sebentar, lalu ujarnya. "Jadi
siancu bersedia untuk berkata besok pagi?"
"Betul!"
"Begini saja, biar aku yang memutuskan bagimu, bagaimana jika keberangkatan
kita di undur sampai besok tengah hari?"
Giok hong siancu menggelengkan kepalanya. "Aku sudah sepuluh tahun tak
berjumpa dengan Giok long, entah berapa banyak perkataan yang hendak kami
bicarakan, apakah artinya perpanjangan waktu selama setengah hari itu?"
Lelaki setengah umur itu segera tertawa, ucapnya: "Waktu di kemudian hari toh
masih panjang, dan lagi kesempatan buat kalian untuk berbincang-bincang juga tak
akan terbatas, kenapa mesti terburu-buru pada saat ini?"
"Aku benar-benar tidak habis mengerti, jika kita berangkat beberapa hari lebih
lambat apa pengaruhnya terhadap perguruan kalian?"
"Sam seng tidak akan sembarangan berjumpa dengan orang luar, oleh karena
Siancu mempunyai nama yang terlalu besar maka beliau sengaja melanggar
kebiasaan dengan menerima kedatanganmu, apabila kita harus menyuruh mereka
untuk menunggu kedatangan siancu dengan sia-sia hal ini apakah tidak terlalu
berlebihan?"
Giok hong siancu mengerdipkan sepasang matanya yang besar dan bulat itu,
kemudian katanya sambil tertawa. "Ucapan tongcu terlampau serius, cuma ada
satu hal perlu kuterangkan terlebih dulu."
"Soal apa?" "Sebelum aku masuk menjadi anggota perguruan Sam seng bun,
agaknya akupun tak usah terlalu menuruti peraturan yang berlaku dalam
perguruan Sam seng bun, bukan? Kewibawaan tiga malaikat rasanya tidak pula
menjadi kewajibanku untuk melindunginya."
"Harap siancu maklum." Kata lelaki setengah umur itu dengan kening berkerut.
"Kalau toh Siancu dengan kami telah membuat perjanjian, berarti perjanjian itu
lebih berat dari bukit karang, apakah siancu dapat mengingkarinya dengan begitu
saja?"
211
Giok hong siancu segera menghela napas panjang, katanya kemudian. "Lantas
bagaimanakah menurut pendapatmu?"
"Aku harap siancu suka mengabulkan permintaanku dengan mengundurkan saat
keberangkatan menjadi sehari lebih lambat, kita berdua sama mengalah satu
langkah, toh apa gunanya jika sempat timbul pertentangan?"
"Jika aku tidak menyetujui usulmu itu?"
Lelaki setengah umur tadi segera tertawa terbahak-bahak. "Haa.. ha... kalau
sampai demikian, akulah yang menjadi serba salah."
"Aku tidak habis mengerti, kesulitan apakah yang bakal Tongcu hadapi...?" ujar
Giok hong siancu sambil tersenyum.
Paras muka lelaki setengah umur itu segera berubah. "Kalau kudengar
pembicaraan siancu, tampaknya kau ada maksud untuk mengingkari janji?"
"Aku tidak bermaksud demikian, tapi seandainya Tongcu bersikeras mengatakan
begitu, ya sungguh membuat aku merasa serba salah."
Dengan cepat lelaki setengah umur itu bangkit berdiri, lalu pelan-pelan berkata.
"Aku harap siancu bisa mempertimbangkan persoalan ini lebih matang lagi,
daripada salah langkah dan menyesal sepanjang masa."
Giok hong siancu tersenyum. "Baiklah!" ia berkata, "malam ini aku akan
memikirkan masalah tersebut dengan lebih seksama, bila aku beranggapan untuk
pergi, maka kita akan bersua muka di depan mulut Giok hong kok, jika selewatnya
tengah hari aku belum pergi, itu berarti jalan pemikiranku belum sampai di situ."
"Baiklah! Selewatnya tengah hari esok, bila kami tidak melihat kehadiran siancu,
itu berarti siancu bertekad mau membatalkan perjanjian."
"Bila besok tengah hari aku tak bersua dimulut lembah dengan Tongcu,
kemungkinan besar aku benar-benar telah membatalkan perjanjian, entah
tindakan apa yang akan kau tunjukkan kepadaku, dengan senang hati akan
kunantikan."
Lelaki setengah umur itu segera tertawa dingin. "Lembah Giok hong kok bukanlah
terbuat dari dinding baja beralas tembaga, aku harap nona berpikir tiga kali lebih
dulu sebelum mengambil keputusan."
"Aku mengerti, lembah Giok hong kok memang bukan terdiri dari dinding baja
beralas tembaga, tapi tempat ini bukan suatu tempat yang bisa didatangi semua
orang secara gampang."
"Baik! Aku berharap siancu bisa mengingat baik-baik ucapan ini daripada menyesal
kemudian tak ada gunanya, nah aku mohon diri lebih dulu."
"Silahkan, maaf jika aku tidak mengantar!"
Lelaki setengah umur itu tidak memperdulikan Giok hong siancu lagi, dia lantas
mengulapkan tangannya sambil berseru. "Hayo kita pergi!"
Selesai berkata dia lantas beranjak dan melangkah pergi lebih dahulu... Kawanan
jago yang berada di meja perjamuan pun serentak bangkit berdiri, kemudian
mengikuti di belakang lelaki setengah umur itu berlalu dari sana.
212
Tak selang beberapa saat kemudian, semua tamu agung yang berada dalam
ruangan itu sudah pergi semua sehingga tak seorangpun yang masih tertinggal.
Giok hong siancu segera berpaling dan memandang sekejap ke arah Buyung Im
seng, lalu ujarnya sambil tertawa. "Coba kau tidak pulang hari ini, aku benar-benar
sudah bergabung dengan perguruan Sam seng bun."
"Bagaimana sekarang? Kau benar-benar akan membatalkan perjanjian tersebut?"
tanya Buyung Im seng.
"Yaa, betul, aku hendak membatalkan perjanjian tersebut."
"Sepanjang jalan datang kemari, aku sering mendengar orang berkata bahwa Sam
seng bun memiliki kekuatan yang amat besar dengan anak buah yang terdiri dari
jago-jago tangguh, mana mungkin lembah Giok hong kok kita ini sanggup untuk
menandingi kehebatan Sam seng bun?"
"Jika mereka berani mendatangi lembah Giok hong kok, saat ini aku sudah bukan
orang bebas lagi, mungkin sedari dulu mereka sudah mengirim pasukannya kemari
untuk memaksaku menjadi anggota Sam seng bun..."
"Kenapa?" "Lebah kemala..."
"Aaah, masa beberapa lebah peti kemala itu sudah sanggup untuk menghalangi
serbuan dari para jago Sam seng bun?"
Giok hong siancu segera tertawa, katanya. "Sekarang bukan cuma seratus ekor
lebah lagi, asal kuturunkan perintah maka dalam waktu singkat didalam lembah
Giok hong kok ini akan banjir keluar berpuluh-puluh laksa ekor lebah kemala yang
akan menutupi jagat, sekalipun seseorang memiliki ilmu silat yang sangat lihai,
jika sudah dikerubuti oleh begitu banyak lebah, memangnya mereka masih bisa
bertahan terus?"
Buyung Im seng tersenyum, lalu katanya. "Selama banyak tahun belakangan ini,
banyak sekali perguruan dan partai yang dilalap Sam seng bun, apakah lembah
Giok hong kok kita ini bisa aman tentram lantaran mengandalkan kemampuan
lebah kemala tersebut...?"
"Betul!" sahut Giok hong siancu sambil tertawa, "lembah Giok hong kok memang
mengandalkan kemampuan lebah-lebah kemala tersebut untuk mempertahankan
diri, sehingga jago-jago persilatan tak ada yang berani masuk kemari secara
sembarangan. Ada suatu kali, entah jagoan lihai darimanakah yang telah datang ke
lembah ini, sungguh hebat sekali serbuan orang itu, sewaktu aku mendapat
laporan, dia telah berhasil menembusi tiga lapis pos pertahanan kita, lagi pula anak
murid kita yang menghalangi gerak majunya telah tewas semua di tangannya,
kemudian akupun melepaskan lebah kemala tersebut, mungkin karena sengatan
yang bertubi-tubi, kontan ia lari terbirit-birit, sejak kejadian itu tak ada orang yang
berani memasuki lembah Giok hong kok lagi."
"Selama beberapa tahun ini, apakah kau pernah melakukan perjalanan didalam
dunia persilatan lagi?"
213
Giok hong siancu segera menjawab. "Aku tak berani keluar, aku tahu banyak orang
didalam dunia persilatan yang ingin membunuhku, bila kutinggalkan lembah Giok
hong kok, hal ini akan terlalu berbahaya bagi keselamatan jiwaku."
"Bagaimana ceritanya sehingga kau bisa mengadakan kontak dengan orang-orang
Sam seng bun?"
"Aaai... apalagi kalau bukan gara-gara kau, ada orang dari pihak Sam seng bun
yang berkunjung kemari, kata mereka kau telah disekap didalam kuil Siau lim si,
mereka mengajakku untuk bekerja-sama, dan mereka akan bertanggung jawab
untuk menyelamatkan kau dari kuil Siau lim si..."
"Sungguh hebat dan tajam pendengaran dari orang-orang Sam seng bun." Puji
Buyung Im seng sambil tersenyum.
Agaknya secara tiba-tiba Giok hong siancu seperti teringat sesuatu, dengan sorot
mata yang amat tajam dia mengawasi raut wajah Buyung Im seng lekat-lekat.
Diam-diam Buyung Im seng merasa terkesiap, segera pikirnya. "Jangan-jangan ia
telah menemukan suatu titik kelemahan pada penyaruanku ini?"
Berbikir demikian, dia lantas menegur. "Hai, apa yang kau lihat? Setelah berpisah
sepuluh tahun, apakah wajahku mengalami perubahan?"
"Giok long, aku lihat makin lama wajahmu semakin bertambah muda!"
Buyung Im seng segera tersenyum. "Aku sudah disekap hampir 10 th lamanya
didalam kuil Siau lim si, dalam sepuluh tahun ini aku tiada pekerjaan yang lain
kecuali setiap hari hanya duduk dan bersemedi, lama kelamaan tenaga dalamku
bisa menjadi bertambah maju dengan pesatnya, mungkin itulah sebabnya wajah
makin lama jadi makin muda."
Pelan-pelan Giok hong siancu menyandarkan tubuhnya ke dalam pelukan Buyung
Im seng, kemudian katanya dengan aleman. "Giok hong, bagaimana dengan aku?
Apakah aku sudah bertambah tua...?"
Ketika Buyung Im seng menyaksikan dalam ruangan itu terdapat banyak dayang,
tanpa terasa dia sudah bersiap-siap untuk mendorong tubuh Giok hong siancu, tapi
ketika sepasang tangannya sudah menyentuh kulit badan Giok hong siancu
mendadak hatinya tergerak.
"Jika aku mendorong badannya dari rangkulan, maka aku bukanlah Giok hong
kun!" demikian dia berpikir. Maka secara tiba-tiba dia merapatkan tangannya dan
segera memeluk tubuh Giok hong siancu kencang-kencang, sahutnya. "Kau masih
seperti dulu saja!"
Giok hong siancu segera menghela napas panjang, katanya. "Kalau dibicarakan
sungguh aneh sekali, sesungguhnya aku adalah seorang perempuan yang suka
akan yang baru dan bosan dengan yang lama, tapi entah mengapa aku begitu
terpesona dan tergila-gila kepadamu."
"Akupun demikian! Kecuali kepada dirimu, tiada seorang perempuan lagi di dunia
ini yang bisa meninggalkan kesan mendalam didalam hati kecilku."
"Semoga saja apa yang kau ucapkan itu adalah kata-kata yang sejujurnya..."
214
"Aku telah kabur secara diam-diam dari kuil Siau lim si dan langsung datang
kemari, apakah kau belum percaya kepadaku?"
"Selama banyak tahun ini, sudah ada puluhan orang banyaknya yang berusaha
mendekati hatiku, tapi mereka tak pernah berhasil untuk merebut kedudukanmu
didalam hatiku."
"Yaa, akupun demikian!"
Giok hong siancu segera menegakkan kembali badannya dan menggandeng tangan
Buyung Im seng, lalu katanya. "Hayo! Kita kembali ke belakang saja!"
Diam-diam Buyung Im seng merasa kegirangan, pikirnya. "Aku memang lagi kuatir
tak berhasil menemukan tempat tinggalnya, dengan begini akupun tak usah repotrepot
untuk mencarinya sendiri.
Dengan lembut dan penuh kasih sayang Giok hong siancu menggandeng tangan
Buyung Im seng menuju ke belakang ruangan dengan langkah lebar, sambil
berjalan katanya sambil tertawa lirih. "Jangan kuatir, sekalipun Sam seng bun
akan memasuki lembah, kitapun tak usah takut kepada mereka, paling tidak kita
tak bisa keluar lembah saja, aku percaya dalam dunia persilatan dewasa ini masih
belum ada seorang manusiapun yang memiliki kemampuan untuk melawan
kerubutan berpuluh puluh laksa ekor lebah kemala..."
"Daya pengaruh dari Sam seng bun sangat luar dan kekuatannya sangat luar biasa
sekali, semua partai dan perguruan yang berada dalam dunia persilatan tiada yang
berani melawan kekuatan mereka."
"Entah pengaruh dari Sam seng bun besar atau tidak, entah berapa banyak jago
lihai yang mereka miliki, asal kita tidak meninggalkan lembah Giok hong kok,
merekapun akan kehabisan daya untuk menghadapi kita."
"Kalau kudengar dari perkataanmu itu, tampaknya kau sudah bertekad tak akan
pergi memenuhi janji itu?"
Giok hong siancu kembali tersenyum. "Menurut pendapatmu, haruskah aku turut
serta dalam perguruan Sam seng bun, atau lebih baik jangan?"
"Berbicara yang sebenarnya, kau toh jelek-jelek juga seorang ketua lembah, betul
lembah Giok hong kok belum membuka aliran secara resmi, tapi selama ini kita
telah membentuk suatu posisi tersendiri didalam dunia persilatan, entah siapapun
orangnya, mereka akan tetap menghormati dirimu sebagai kongcu, bila kau sampai
menggabungkan diri dengan pihak Sam seng bun..."
Berbicara sampai di situ, sinar matanya segera dialihkan ke atas wajah Giok hong
siancu, kemudian membungkam dan tak berbicara lagi.
"Mereka menawarkan kedudukan yang sangat tinggi kepadaku!" kata Giok hong
siancu sambil tersenyum.
"Kedudukan apakah itu?" "Toa-huhoat dari ruang Seng tung..."
Setelah tersenyum, dia melanjutkan. "Tapi kesemuanya itu bukan merupakan
alasan yang sebenarnya bagiku untuk menggabungkan diri dengan mereka, yang
terpenting adalah demi kau, terkecuali Sam seng bun, didalam dunia persilatan
215
dewasa ini masih belum ada perguruan lain yang sanggup dan berani untuk
bermusuhan dengan Siau lim si secara terang-terangan dan lagi, mereka berjanji
akan menyerbu ke dalam kuil Siau lim si untuk menyelamatkan jiwamu dari sana."
"Justru karena itulah, kita tidak seharusnya bermusuhan dengan pihak Sam seng
bun!"
"Itupun belum tentu," kata Giok hong siancu sambil tertawa. "dalam dunia
persilatan dewasa ini, aku tahu ada dua orang yang berani memusuhi kekuatan
Sam seng bun!"
"Siapakah kedua orang itu?"
"Yang seorang bernama.... Apa itu, ehmm... seperti Biau hoa lengcu atau apa,
pokoknya dia seorang gadis muda yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan,
ilmu silatnya juga sangat lihai, konon lencana Hoa leng yang dimilikinya juga tak
berani dibangkang oleh umat persilatan."
Setelah tertawa terkekeh-kekeh, dia melanjutkan. "Cuma saja, kau tak usah
mempunyai angan-angan yang bukan-bukan, sebab Biau lengcu ini sudah
mempunyai kekasih."
"Siapakah kekasihnya?"
"Putera tunggal dari Buyung Tiang Kim yang bernama Buyung Im seng, dia adalah
orang kedua yang berani menentang perguruan Sam seng bun dalam dunia
persilatan dewasa ini."
"Aaah...! Kenapa Buyung Im seng begitu bernyali besar berani memusuhi Sam seng
bun?"
Sementara pembicaraan berlangsung, sampailah ia di depan ruangan yang sangat
indah.
Pelan-pelan Giok hong siancu mengetuk pintu ruangan itu dua kali, pintu pun
segera dibuka orang.
Seorang dayang muda berbaju hijau segera muncul di depan pintu.
Buyung Im seng segera mengalihkan sinar matanya ke dalam, ia saksikan ruangan
yang sangat indah bermandikan cahaya lentera, ternyata empat dindingnya
berwarna hijau pupus.
Sambil tertawa Giok hong siancu lantas berkata. "Dekorasi ruangan ini masih
persis seperti dekorasi ketika kau belum pergi dulu, cuma warna serta
perabotannya telah kuganti semua dengan model baru."
Buyung Im seng segera tersenyum, "sudah sepuluh tahun aku tidak menginjak
ruangan ini, keadaan dan pemandangan didalam ruangan ini terasa menjadi
samar-samar kembali rasanya..."
"Kalau begitu perkataan yang mengatakan, Hati perempuan lebih mendalam dalam
soal cinta daripada hati pria memang tepat sekali." Sambung Giok hong siancu
sambil tertawa hambar.
Sambil menggandeng tangan Buyung Im seng, ia mengajak pemuda itu masuk ke
dalam kamar tidur.
216
Tampak dekorasi didalam ruangan itu sangat indah dan serasi, tirai hijau yang
melapisi dinding dibilang tidak ditemukan warna lainnya, sementara diatas lantai
tampak terhampar lapisan permadani elok begitu tebal yang berwarna hijau pula,
sebuah pembaringan besar diletakkan menempel dinding ruangan belakang, empat
sudut ruangan tergantung lentera kristal yang indah, sehingga suasana dalam
ruangan itu nampak syahdu dan menawan hati.
Giok hong siancu segera mengulapkan tangannya, kedua orang dayang cantik yang
berada disana segera menjura dan mengundurkan diri dari tempat itu.
Buyung Im seng berpaling sekejap ke sekeliling ruangan, kemudian ujarnya sambil
tertawa. "Sungguh tak kusangka sepuluh tahun kemudian aku masih bisa
menginjak kembali tempat lama, aiii... kejadian ini sungguh membuat hatiku terasa
terbuai dalam impian, sekalipun ditempat lain ada kelembutan bagaikan dalam
sorgawi, aku lebih suka memilih tempat ini bersamamu!"
"Yaa, sebab tempat ini adalah rumahmu!" kata Giok hong siancu dengan nada yang
lembut. Dia mengambil sebuah bangku kecil dan diletakkan di depan pemuda itu
sambil katanya dengan senyuman dikulum.
"Duduklah! Aku akan berganti pakaian dulu, kemudian baru menemanimu untuk
berbincang-bincang."
"Tak usah berganti pakaian lagi", cegah Buyung Im seng sambil menarik tangan
perempuan itu, "aku masih ada banyak persoalan yang hendak dibicarakan
denganmu."
Giok hong siancu segera tertawa. "Mengapa harus tergesa-gesa? Waktu di
kemudian hari toh masih panjang, mulai sekarang aku akan menemanimu
sepanjang masa, aku takkan membiarkan kau tinggalkan lembah Giok hong kok ini
seorang diri lagi!"
Mula-mula Buyung Im seng agak tertegun, menyusul kemudian sambil tertawa
hambar katanya, "Tidak bisa, kau besok harus pergi dari sini!"
"Kenapa?"
"Aku telah berpikir dan berpikir lagi, aku rasa lebih baik kau jangan menyalahi
pihak Sam seng bun!"
"Maksudmu kau suruh aku menggabungkan diri dengan pihak perguruan Sam seng
bun?"
"Benar, menurut apa yang kuketahui, daya pengaruh Sam seng bun terlampau
besar, kita tak boleh menanam musuh setangguh itu..."
Pelan-pelan Giok hong siancu berjalan kembali dan duduk disamping Buyung Im
seng, kemudian katanya, "Giok long benarkah kau tega membiarkan aku pergi,
meninggalkan dirimu?"
Buyung Im seng segera menggelengkan kepalanya berulang kali. "Tentu saja aku
merasa berat hati untuk berpisah denganmu, tapi kau harus pegang janji dan
memenuhi janjimu dengan Sam seng bun, kau toh bisa mempergunakan
kesempatan itu untuk menampik jabatan Tay-hohoat yang mereka tawarkan, lalu
217
tetap berdiam dalam lembah Giok hong kok. Dengan tindakan tersebut, selain kau
bisa hidup terus bersamaku di sini, kau pun tak usah mengikat tali permusuhan
dengan Sam seng bun, bukankah tindakan ini baik sekali?"
"Yaa, cara ini memang bagus sekali, cuma itu besok aku tengah hari harus
memenuhi janji!"
"Aku rasa dalam menghadapi masalah besar seperti ini, si Tongcu itu pasti tak
akan berani mengambil keputusan, maka kau pergi berangkat ke markas mereka
dan bersua sendiri dengan ketiga malaikat tersebut," kata Buyung Im seng lagi
sambil tersenyum.
Giok hong siancu termenung dan berpikir sebentar, kemudian ia pun mengangguk.
"Baiklah, besok tengah hari aku akan pergi menjumpainya, cuma aku agak takut."
"Apa yang kau takuti?"
"Konon orang-orang Sam seng bun lebih mengutamakan tujuan daripada
memikirkan soal tindakan apa yang harus dipergunakan, kalau berada dalam
lembah Giok hong kok, aku tak perlu takut kepada mereka, tapi setelah keluar dari
lembah keadaannya jadi berubah, kalau hanya mengandalkan ilmu silat saja, aku
sudah pasti bukan tandingan dari orang-orang Sam seng bun."
"Aku sih mempunyai akal bagus." Kata Buyung Im seng dengan kening berkerut.
Giok hong siancu segera tersenyum manis, serunya. "Kau memang selalu
mempunyai banyak akal busuk, ayo cepat katakan, apa akalmu itu!"
"Bila kau keluar dari lembah besok, berusahalah untuk membawa beberapa orang
muridmu yang berilmu silat paling tinggi, kemudian suruh mereka membawa dua
keranjang lebah kemala, seandainya terjadi bentrokan kekerasan, maka kaupun
lepaskan lebah-lebah kemala tersebut untuk menghadapi mereka."
"Bagus, memang cara ini sangat bagus sekali", puji Giok hong siancu sambil
tertawa, "sepanjang jalan kemari, aku rasa kau akan lelah sekali, mari kita pergi
istirahat!"
Mendengar ajakan tersebut, Buyung Im seng segera merasakan hatinya bergetar
keras, pikirnya.
"Waah, bisa celaka kali ini, apabila harus tidur seranjang dengannya, sudah pasti
badan menempel badan, saat itu seandainya aku sanggup menguasai diri, rahasia
perayuanku bisa ketahuan, aaiii... sewaktu datang tadi, kenapa tidak kupikirkan
hal tersebut... sekarang keadaannya ibarat jenggot yang sudah terbakar, kecuali
aku turun tangan secara tiba-tiba untuk membekuknya, aku rasa tidak ada cara
lain yang lebih baik lagi... aiii, kenapa sampai sekarang orang-orang Li ji pang
belum juga menampakkan diri? Tampaknya aku harus mengambil keputusan
sendiri..."
Berpikir sampai di situ, mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya, dengan
cepat diapun berhasil menemukan suatu cara pertolongan yang sangat bagus.
Dengan cepat dia lantas berkata. "Dalam melakukan perjalanan kali ini, aku lupa
makan lupa tidur, sebelum berjumpa denganmu, aku hanya merasa seluruh
benakku penuh berisi bayangan tubuhmu, tapi sekarang setelah bersua denganmu,
aku merasa mulai lapar sekali..."
218
"Aaiii.... Kenapa tidak kau katakan sedari tadi?" seru Giok hong siancu.
"Dikatakan sekarang toh belum terlambat?"
"Perpisahan melebihi pengantin baru, sudah sepuluh tahun kita tak pernah bersua
muka, setelah bertemu kembali hari ini aku benar-benar merasa bagaikan terbang
di tengah awan saja, kenapa dalam suasana begini kau malah teringat kalau perut
lagi lapar?"
Buyung Im seng tersenyum. "Yaa, apa boleh buat lagi!"
Giok hong siancu segera menghela napas panjang, kemudian bertepuk tangan dua
kali. Pintu segera terbuka dan muncullah seorang dayang berbaju hijau. Sambil
masuk ke dalam ruangan dan memberi hormat, katanya. "Siancu ada pesan apa?"
"Sediakan sepoci arak dan beberapa macam sayur!" "Siapkan saja dulu semangkok
bakmi!" timbrung Buyung Im seng.
Dayang berbaju hijau itu mengiakan, dan segera berlalu dari ruangan tersebut.
"Dalam lembah tersedia arak wangi yang sudah berusia tua, malam ini kita harus
minum sampai mabuk kepayang."
"Takaran arakku tidak becus..."
Giok hong siancu menjadi tertegun, sekali lagi dia menatap wajah Buyung Im seng
lekat-lekat sampai lama sekali, dia baru berkata. "Kau tidak pandai minum arak?"
Buyung Im seng tahu bahwa ia telah salah berbicara, tapi untuk sesaat diapun tak
mungkin meralat kata-katanya itu, maka pelan-pelan katanya lagi. "Sudah sepuluh
tahun lamanya aku disekap dalam kuil Siau lim si, didalam sepuluh tahun ini tak
setetes arakpun yang pernah kuminum, bayangkan sendiri bagaimana takaran
minum arakku sekarang?"
Giok hong siancu tertawa hambar, lalu ujarnya. "Sepeninggal dari kuil Siau lim si,
apakah kau tak pernah meneguk setetes arakpun?"
"Tidak, aku sangat merindukan dirimu, maka terburu buru aku berangkat menuju
ke lembah Giok hong kok, mana ada waktu bagiku untuk minum arak lagi?"
Kembali Giok hong siancu tertawa hambar. "Aku tahu kau adalah seorang lelaki
yang tidak serius dalam bercinta, sungguh heran, kenapa sekarang berubah
menjadi begitu romantis? Aiii... ucapan ini muncul dari mulutmu, kendatipun cuma
kata-kata bohong, kedengarannya juga begitu syahdu dan merdu."
"Setiap manusia pasti akan mengalami banyak perubahan, apalagi aku," kata anak
muda itu sambil tersenyum. "selama penghidupan yang tersiksa 10 th belakangan
ini, kendatipun banyak penderitaan yang telah kurasakan, namun akupun
mempunyai banyak kesempatan untuk memikir yang telah kulakukan selama ini,
meski terlalu berlebihan, tapi aku tahu cuma kau seorang yang sesungguhnya
sangat baik terhadapku."
"Semoga saja ucapanmu itu muncul dari dasar sanubarimu yang sejujurnya..." kata
Giok hong siancu sambil membereskan rambutnya yang kusut.
"Tampaknya kau masih juga seperti dulu, banyak menaruh curiga kepada orang."
219
"Aaaiii... tahu kalau kau bakal mengalami perubahan yang begitu besar, akupun
tak akan membuat anak kita..."
"Anak apa?" tanya Buyung Im seng tertegun.
"Aiii...! Sejak kau lenyap tak berbekas aku baru menemukan bahwa aku telah
berbadan dua."
"Anaknya sudah kau lahirkan belum? Lelaki atau perempuan?"
Tiba-tiba Giok hong siancu mengucurkan airmatanya dan menangis, bisiknya agak
terisak. "Anak itu... tak sampai dilahirkan..."
Sambil menyeka air matanya yang membasahi wajahnya, pelan-pelan dia
melanjutkan.
"Aku berpendapat bahwa kau adalah lelaki yang tak bertanggung jawab, jika anak
itu ku lahirkan maka dia pasti akan tersiksa di kemudian hari, apalagi sepanjang
hidup kita sudah banyak melakukan kejahatan, mungkin saja kita bakal mendapat
pembalasan di kemudian hari, kalau kita yang terkena masih tak mengapa, tapi
kalau sampai anakpun ikut berkorban, hal ini akan terlalu kasihan. Aku pernah
dengar orang berkata cinta kasih seorang ibu ke anak adalah cinta kasih yang
agung, di kemudian hari jika dia seorang ayah yang tak mau mengakui dia sebagai
anaknya, dan bocah itu bertanya kepadaku, bagaimana pula aku harus menjawab?"
Mendengar semua perkataan itu, diam-diam Buyung Im seng berpikir. "Tampaknya
Giok hong siancu bukanlah seorang manusia yang benar-benar berhati jahat, asal
dia bisa diberi pendidikan yang benar, tak sulit untuk membawanya kembali ke
jalan yang benar, siapa tahu kalau di kemudian hari dia malah akan berbakti demi
keadilan dan kebenaran dalam dunia persilatan?"
Sementara itu Giok hong siancu berkata lagi, "Sebenarnya aku yang melatih ilmu
Cay pun-khi khang tidak mudah untuk mengandung, hari-hari itu setelah cekcok
hebat dengan kau, kemudian malamnya kau rayu kembali diriku sehingga hatiku
merasa girang sekali, membuat aku tak bisa mengendalikan diri hingga menjadi
bunting, Aiii, siapa tahu keesokan harinya sewaktu aku masih tertidur pulas, kau
telah pergi tanpa pamit!"
Setelah menengok sekejap ke arah Buyung Im seng, katanya lebih lanjut. "Kejadian
semacam ini, mungkin sudah kau lupakan sama sekali bukan...?"
"Ooh, masih ingat! Masih ingat!"
"Kalau masih ingat, itu lebih baik lagi, Aaaii..! dalam anggapanku waktu itu, dalam
10 hari sampai setengah bulan kau pasti sudah kembali kemari, siapa tahu
kepergianmu itu tak pernah kembali lagi, kabar berita tentang kaupun seakan akan
hilang lenyap."
"Tapi apa hubunganmu dengan anak itu?"
"Oleh karena aku tak ingin anak itu ikut menderita nantinya, maka aku telah
menggunakan obat obatan..."
"Kau pergunakan obat-obatan untuk apa?"
220
"Kugunakan obat-obatan untuk menggugurkan kandungan itu!"
"Jadi mati?" seru Buyung Im seng tertegun. Ternyata dia masih belum memahami
arti hubungan antara lelaki dan perempuan, sehingga untuk sesaat dia belum bisa
menarik makna perkataan yang sebenarnya dari Giok hong siancu.
"Ketika aku pakai obat-obatan tersebut, usia kandunganku belum lagi mencapai
dua bulan..." sambung Giok hong siancu lebih jauh.
Tanpa terasa dua tetes air mata kembali menetes keluar membasahi pipinya.
Pelan-pelan Buyung Im seng berkata. "Seandainya bocah itu tidak kau gugurkan..."
"Yaa, tahun ini dia sudah berusia belasan tahun, aaiii... sejak dulu akupun sudah
dipanggil mama!" sahut Giok hong siancu dengan amat sedihnya.
"Sekarang, tentunya kau menyesal bukan?"
"Bukan cuma menyesal, kesedihan benar-benar tak terkirakan, hanya memikirkan
seorang anak, entah sudah berapa kali aku menangis tersedu-sedu..."
"Kalau tahu begini, kenapa harus berbuat diwaktu itu?"
"Yaa, kalau bukan gara-gara kau, juga takkan terjadi hal yang menyedihkan
macam ini."
"Aku?"
"Betul, andaikata kau tak pergi, akupun takkan sampai menggugurkan
kandunganku."
"Kraak... tiba-tiba terdengar pintu kamar dibuka orang dan dua orang dayang
berjalan masuk. Dayang yang pertama membawa sebuah mangkok sedangkan
dayang yang berada di belakangnya membawa sebuah baki, di atas baki telah siap
empat macam sayur dan sepoci arak panas. Sedangkan isi mangkuk itu adalah
semangkuk bakmi yang masih panas mengepul.
Cepat-cepat Giok hong siancu menyeka air matanya, dan berkata sambil
tersenyum. "Tak perlu disedihkan lagi, hayo cepat habiskan mie itu! Kejadian yang
sudah lewat biarkan saja lewat, sekarang asal kau mau baik-baik bersikap
kepadaku, aku masih dapat memberikan seorang anak untukmu!"
"Melahirkan seorang anak untukku? Waah... angkat tangan saja!" pikir Buyung Im
seng didalam hati.
Berpikir sampai di situ, dia lantas menerima mangkuk mie itu dan segera
melahapnya. Sesungguhnya Buyung Im seng memang benar-benar lapar maka dia
menyikat bakmi itu dengan lahapnya.
Tak selang beberapa saat kemudian, semangkuk mie sudah habis dimakan
sehingga tidak ada sisanya. Giok hong siancu menghembuskan napas panjang,
dengan lembut bisiknya. "Tampaknya kau lapar sekali?"
Ia mengambil poci arak dan memenuhi cawan Buyung Im seng, kemudian katanya
pula. "Giok long, minumlah secawan arak!"
Buyung Im seng tahu bahwa suguhan itu tak bisa ditolak, sebab jika ditampik lagi
niscaya akan mengakibatkan kecurigaan Giok hong siancu, maka sambil
221
mengangkat cawan araknya ia berkata. "Sudah lama kita tak pernah bersua, mari
kita keringkan secawan arak...!"
Pelan-pelan Giok hong siancu menjatuhkan diri ke dalam pelukan Buyung Im seng,
bisiknya. "Giok long kau benar-benar telah berubah!"
"Berubah dalam hal apa?" "Sejak kembali ke dalam lembah, kau tak pernah
mengucapkan sepatah kata mesrapun kepadaku!"
"Berubahnya lebih baik atau lebih jelek?" "Tentu saja berubah lebih baik, berubah
lebih gagah dan tegas, membuat orang merasa percaya untuk menggantungkan
nasibnya kepadamu..."
"Sungguhkah begitu?" kata Buyung Im seng sambil tersenyum. "Tentu saja
sungguh, memangnya aku bakal membohongimu?"
"Bila seseorang telah disekap selama sepuluh tahun lamanya, mana mungkin tak
akan terjadi perubahan pada dirinya?"
Giok hong siancu segera menarik napas panjang. "Aaaiii...kau telah berubah
menjadi begini baik, aku benar-benar merasa berat hati untuk menggabungkan diri
dengan perguruan Sam seng bun, aku ingin tinggal dalam lembah Giok hong kok,
melahirkan beberapa orang anak untukmu, dan hidup dengan penuh kebahagiaan
bersama anak-anak dan suami."
Setelah meneguk secawan arak, dia menggandeng tangan Buyung Im seng dan
diajak menuju ke pembaringan.
Buyung Im seng jadi amat gelisah, pikirnya. "Bila sudah naik ranjang, maka
kejadian selanjutnya pasti akan seram mana aku bisa menghadapinya?"
Berpikir sampai ke situ, hatinya menjadi tegang dan tanpa sadar sekujur badannya
gemetaran. Mendadak Giok hong siancu menghentikan langkahnya, lalu berpaling
tegurnya. "Giok long, apakah kau tidak enak badan?"
Tergerak hati Buyung Im seng setelah mendengar perkataan itu, sahutnya dengan
cepat. "Benar, setelah melakukan perjalanan jauh entah lantaran lapar atau
terkena angin malam, aku merasa badanku kurang segar."
Giok hong siancu segera mengulurkan tangannya untuk memegang kening Buyung
Im seng, setelah itu katanya. "Masih untung tak panas badan, cepat berbaring,
akan ku pijit badanmu agar segar..."
"Bagus, bukan mau pura-pura menjadi sungguhan...?" kata Buyung Im seng di hati.
Baru saja dia termenung, dia sudah didorong oleh Giok hong siancu sehingga
berbaring di atas ranjang. Dengan cepat Giok hong siancu menggunakan jari-jari
tangannya yang halus dan lembut untuk memijiti badan anak muda itu, ujarnya
sambil tertawa. "Pejamkan matamu!"
Dalam keadaan serta suasana begini, kendati Buyung Im seng merasa amat gelisah
dan cemas, namun di atas wajahnya tersungging sekulum senyuman, mau tak mau
dia harus menuruti perkataan Giok hong siancu dan memejamkan matanya.
222
Giok hong siancu segera bertekuk lutut dan berlutut di tanah, kemudian
melepaskan sepatu yang dikenakan Buyung Im seng.
Selama hidup baru pertama kali ini si anak muda merasakan kehangatan dan
kemesraan seperti itu, sehingga untuk sesaat lamanya dia tak tahu bagaimana
harus menghadapinya.
Giok hong siancu segera tertawa terkekeh-kekeh, serunya. "Bau amat kakimu,
sudah berapa hari kau tidak mandi?"
Buyung Im seng melompat bangun, serunya pula. "Benar, aku harus membersihkan
badan lebih dulu!"
Dengan cepat Giok hong siancu menekan dada Buyung Im seng, lalu katanya
dengan lembut. "Tak usah gugup, biar ku pijit dulu badanmu, kemudian baru
membersihkan badan."
"Tidak, kita toh sudah bertemu, kalau ingin bermesraan juga tak perlu tergesagesa,
biar aku membersihkan badan lebih dulu, kemudian baru kita berbincangbincang."
Giok hong siancu tersenyum, dia lantas bangkit berdiri seraya berkata pelan.
"Baiklah! Akan kutemani dirimu."
Buyung Im seng merasa amat gelisah, pikirnya didalam hati. "Waaah...makin lama
semakin runyam, aku benar-benar terjepit sekarang. Maksud mau menghindar,
jadinya malah menyongsong..."
Sementara itu Giok hong siancu telah menggandeng tangan Buyung Im seng seraya
berkata. "Mari, akan ku mandikan kau!"
Sementara suasana bertambah kritis dan Buyung Im seng benar-benar tak mampu
menghadapi Giok hong siancu, tiba-tiba terdengar suara langkah manusia datang,
menyusul suara seorang perempuan menegur. "Apakah suhu ada?"
"Siapa?" seru Giok hong siancu.
"Tecu, Lan hong."
Buyung Im seng segera berpikir didalam hati. "Semoga saja dalam lembah Giok
hong kok telah terjadi sesuatu perubahan yang di luar dugaan."
Sementara dia masih termenung, Giok hong siancu telah berkata. "Masuklah!"
Dengan cepat Buyung Im seng mengenakan sepatunya sambil berbisik. "Telah
terjadi sesuatu?"
Giok hong siancu manggut-manggut. "Yaa, andaikata tidak terjadi sesuatu, mereka
tak akan berani mengganggu ketenanganku."
"Sudah pasti orang-orang Sam seng bun yang sedang membuat kekacauan..."
Terdengar pintu terbuka, Lan hong melangkah masuk ke dalam, memberi hormat,
lalu katanya. "Tecu bertugas malam ini..."
"Ringkasnya saja, apa yang telah terjadi?" tukas Giok hong siancu.
"Tecu mendengar suara aneh bergema disekitar tempat bertugas, ketika berpaling
ternyata tidak nampak apa-apa, karena tidak puas maka tecu melakukan
223
pemeriksaan dengan seksama, ternyata dua orang dayang kita yang bertugas
menjaga gudang mustika telah dibunuh orang."
"Apakah gudang mustika sudah dibuka orang?" tanya Giok hong siancu dengan
kening berkerut.
"Belum, pintu gudang mestika masih tertutup rapat."
"Sudah kau periksa?"
"Sudah, pintu gudang masih tetap utuh dan tertutup rapat!"
-ooo0ooo-
BAGIAN KE 17
"Sudah kau periksa jenasah dari kedua orang dayang tersebut?" "Sudah, bahkan
tecu telah memeriksanya dengan amat teliti." "Sudah berapa lama kedua orang itu
terbunuh?" "Paling tidak sudah satu jam berselang."
Giok hong siancu segera tertawa dingin, katanya: "Ketika itu, mereka masih belum
pergi!"
"Sesudah terjadi peristiwa semacam ini, kita tak boleh cuma berpeluk tangan
belaka, pencarian dan pemeriksaan harus kita lakukan dengan lebih teliti lagi!"
sela Buyung Im seng.
Giok hong siancu manggut-manggut, sorot matanya segera dialihkan ke arah Lan
hong, kemudian tanyanya. "Apakah kau telah mengirim orang untuk melakukan
pemeriksaan?"
"Belum, tecu melaporkan dulu kejadian tersebut kepada suhu dan mohon petunjuk
kepada suhu."
"Perintahkan kepada segenap anggota lembah untuk bersiap sedia menghadapi
musuh, sedangkan dia yang tak bertugas dipersiapkan untuk melakukan pencarian
secara besar-besaran!"
Lan hong mengiakan dan segera mengundurkan diri dari situ.
Sepeninggal Lan hong, Giok hong siancu segera berpaling dan memandang sekejap
ke arah Buyung Im seng, kemudian katanya. "Giok long, aku akan pergi melakukan
pemeriksaan sebentar, kau tentu letih sekali, tunggulah saja di sini, sebentar aku
kembali."
Buyung Im seng termenung sejenak, kemudian mengangguk. "Baiklah! Cepatlah
pergi dan cepat kembali. Jika bertemu dengan musuh tangguh yang susah
dirobohkan, kirim seorang dayang untuk memberi kabar kepadaku, aku segera
datang untuk memberi bantuan."
"Aku rasa tak perlu sampai merepotkan kau dalam lembah Giok hong kok ini, kita
lebih mengandalkan lebah kemala daripada orang, jika pendatang itu benar-benar
seorang musuh tangguh, akan kulepaskan lebah kemala untuk menghadapinya."
"Aku rasa kurang cocok jika kita lepaskan lebah kemala ditengah malam begini."
224
Giok hong siancu segera tertawa. "Lebah kemala itu sudah mendapat pendidikan
yang cukup lama, terhadap pemandangan didalam lembahpun mereka sudah cukup
hapal."
"Tampaknya selama sepuluh tahun belakangan ini, kepandaianmu menjinakkan
lebah sudah memperoleh kemajuan yang pesat sekali."
"Benar, selama 10 th ini hampir segenap pikiran dan tenaga yang kumiliki telah ku
curahkan pada mengembang-biakkan lebah kemala tersebut, untuk memeliharanya
yang hari kian bertambah banyak, aku telah membuka tanah lembah sebelah
belakang sana dan merubahnya menjadi sebuah kebun yang sangat luas, untuk
membuat kebun itu saja aku telah mengerahkan beratus orang dan membutuhkan
waktu selama 5 th untuk mengumpulkan pelbagai bunga aneh dari seantero dunia.
Dalam kebun itupun aku telah membangun sebuah loteng yang sangat indah, besok
kita pindah ke loteng itu saja."
"Sekarang gudang mustika telah kedatangan pencuri, peristiwa ini merupakan satu
masalah yang sangat penting, lebih baik tengoklah dulu keadaan di situ."
Giok hong siancu segera tertawa manis, tanyanya. "Sekarang, aku baru merasa
bahwa diriku benar-benar mirip dengan seorang istri." Dia lantas membalikkan
badan dan keluar dari ruangan.
Menanti bayangan tubuh Giok hong siancu sudah lenyap dari pandangan mata,
Buyung Im seng baru berpikir.
"Menurut keterangan yang diberikan Kwik Soat kun kepadaku, katanya kitab ilmu
pedang milik Li ji pang itu disimpan dalam sebuah ruangan rahasia yang letaknya
berada didalam kamar tidurnya Giok hong siancu, tapi sekeliling ruangan ini telah
diberi tirai yang tebal, bagaimana caraku untuk menemukan tombol rahasia untuk
membuka ruang rahasia tersebut? Apalagi katanya dia sudah membuat gudang
mustika lain, siapa tahu kalau kitab itu sudah disimpannya didalam gudang
mestika tersebut?"
Berpikir sampai di situ, dia lantas menghampiri pembaringan dan mulai mengetuk
dinding ruangan itu. Setelah diperiksa sekian lama dengan teliti, akhirnya dia
menjumpai dalam dinding tersebut terdapat ruang kosong, hatinya menjadi girang
sekali, pikirnya.
"Apabila kitab itu dapat kutemukan dengan lancar, kenapa tidak kugunakan
kesempatan dikala Giok hong siancu belum kembali untuk pergi meninggalkan
tempat itu?"
Tapi dinding ruangan itu tertutup semua oleh tirai, empat penjuru tidak nampak
bekas robekan, hal ini membuat anak muda tersebut kembali mengerutkan
dahinya. "Jangan2 pintu rahasia tersebut tak pernah dibuka selamanya...?"
Untuk sesaat lamanya dia menjadi tertegun dan tak tahu bagaimana caranya
mengatasi keadaan tersebut.
Sementara dia masih sangsi, mendadak pintu kamar dibuka orang, dan seorang
dayang muncul dalam ruangan.
225
Buyung Im seng segera mengalihkan perhatiannya ke atas wajah dayang itu, dia
baru berusia 16 tahun, memakai pakaian ringkas dengan sebilah pedang tersoren di
punggungnya.
Begitu masuk ruangan, dengan sepasang matanya yang tajam dia mengawasi
sekejap wajah Buyung Im seng, kemudian tegurnya. "Apa yang hendak kau
lakukan?"
Buyung Im seng merasa terkejut, segera pikirnya, "Ternyata ia telah mengutus
orang untuk mengawasi aku secara diam-diam, kenapa tidak kuduga sampai ke
situ? Tapi urusan telah menjadi begini, terpaksa aku haru menghadapi sebisanya."
Berpikir sampai di situ, dia lantas berkata dengan dingin. "Apa kedudukanmu di
sini?"
"Aku adalah dayang kepercayaan dari Siancu!" sahut dayang itu sambil tertawa
hambar.
Buyung Im seng segera maju dan menghampiri dayang tadi, katanya lagi sambil
tertawa. "Masa kau tidak kenal padaku?"
Walaupun masih muda, ternyata dayang itu amat cekatan dan pintar, pelan-pelan
dia turut mundur pula, sahutnya. "Bila kau ada pesan silahkan diutarakan, aku tak
lebih cuma serang dayang, tidak berani terlalu dekat dengan dirimu."
Buyung Im seng segera berpikir lagi. "Dayang ini belum dewasa tapi
kewaspadaannya cukup tinggi, untuk menghadapi orang semacam ini aku tak boleh
bertindak terlalu gegabah."
Berpikir demikian, diapun lantas berhenti, lalu setelah tertawa hambar, katanya:
"Sudah lamakah kau tinggal bersama siancu?"
"Tidak terlalu lama, belum sampai tiga tahun", sahut dayang itu sambil tertawa.
"Nona datang dari mana?"
Dayang itu tertawa sahutnya: "Aku datang dari timur, barat, utara, selatan empat
arah !" Buyung Im seng agak tertegun, kemudian serunya: "Beberapa hari ini awan,
hujan, petir, guntur turut beruntun..."
Tidak sampai Buyung Im seng menyelesaikan kata katanya, dayang itu sudah
memberi hormat sambil menyela: "Budak bernomor induk tiga puluh tujuh !"
(Bersambung ke jilid 12)
226
Lembah Tiga Malaikat
Oleh: Tjan
Jilid 12
Buyung Im Seng memandang dayang itu sekejap, kemudian pelan-pelan bertanya
pula: "Giok long datang bukan untuk memetik bunga!"
Mendadak dayang berpakaian ringkas itu menghampiri Buyung Im Seng dengan
langkah cepat, kemudian bisiknya: "Budak siap menerima perintah."
Diam-diam Buyung Im Seng merasa kagum sekali, pikirnya: "Orang-orang Li ji
pang memang betul-betul sangat lihai, ternyata dia bisa menyelundupkan salah
seorang anggotanya untuk menjadi dayang kepercayaan dari Giok hong siancu."
Dalam hati ia berpikir demikian, diluaran katanya: "Nona, tahukah kau bagaimana
caranya untuk membuka ruang rahasia yang terdapat di sini?"
"Ruang rahasia yang berada dibalik dinding ini dibuat oleh seorang tukang yang
ahli, konon memerlukan waktu yang cukup lama sebelum ruang rahasia
penyimpanan harta mestika itu selesai dibuatkan, untuk membukanya terdapat
dua buah anak kunci, yang satu disembunyikan Giok hong siancu sedangkan yang
lain selalu dibawa di sakunya."
"Kau sudah datang cukup lama ditempat ini, dipercaya lagi oleh Giok hong siancu,
kenapa tidak kau usahakan sendiri untuk membuka pintu rahasia itu serta
membantu perkumpulanmu untuk mendapatkan kembali kitab pusaka ilmu pedang
itu?"
"Budak telah mempergunakan banyak pikiran dan akal untuk membuka pintu
rahasia tersebut tapi anak kunci tersebut selalu dibawa oleh Siancu, susah bagiku
untuk mendapatkannya."
"Mengapa kau tidak mencari si ahli pembuat ruang rahasia itu agar bisa dibuatkan
sebuah anak kunci lagi?"
227
"Si tukang yang ahli membuat ruang rahasia itu telah dibunuh oleh Giok hong
siancu. Dewasa ini, kecuali Giok hong siancu seorang, tiada orang kedua di dunia
ini yang mampu membuka rahasia dinding itu, kecuali kau bisa berhasil
mendapatkan kunci tersebut dari saku Giok hong siancu."
"Anak kunci itu disimpan dimana?"
"Di atas tali celana dalam yang dipakai Giok hong siancu, kecuali kau, sulit buat
orang lain untuk mendapatkannya."
"Mengapa perkumpulan kalian menyerahkan racun itu kepadaku dan bukannya
kepadamu, bukankah sama saja? Asal dia sudah dirobohkan maka kunci tersebut
otomatis akan didapatkan? Kenapa musti menyuruh aku yang melakukan tugas
ini?"
Gadis berbaju ringkas itu menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya. "Giok
hong siancu adalah seorang yang sangat teliti dan banyak curiga, sekalipun dayang
kepercayaannya juga tak mungkin bisa terlampau mendekatinya. Dihari-hari biasa,
sayur dan arak yang kami hidangkan selalu musti dicicipi dahulu dihadapannya,
bahkan setelah bersantap juga tak boleh segera meninggalkan tempat itu."
"Kenapa?" tanya Buyung Im seng.
"Sebab dia hendak melihat apakah makanan itu ada racunnya atau tidak, oleh
karena itu setiap orang haru berdiri beberapa waktu lebih dulu dihadapannya
sebelum diijinkan untuk pergi."
"Ooo... rupanya dia begitu berhati-hati."
Dayang berbaju ringkas itu memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, lalu
berkata. "Sekarang, agaknya kau sudah memperoleh kepercayaan penuh darinya,
cuma bila kau hendak mempergunakan obat pemabuk nanti, lakukanlah dengan
lebih berhati-hati."
Buyung Im seng mengangguk. "Akan kuingat selalu dan banyak terima kasih atas
petunjukmu. Apakah dayang penjaga gudang mestika itu kalian yang bunuh?"
Dayang berpakaian ringkas itu mengangguk, "Yaa, akulah yang melakukannya,
tapi kami hanya menotok jalan darahnya belaka, siapa tahu ternyata pada saat
itulah ada orang yang menyerbu masuk ke dalam lembah ini dan membunuh
dayang2 penjaga gudang."
"Hal itu malah lebih baik lagi, dengan begitu bisa mengurangi pula rasa curiga
mereka kepada kalian."
Dayang itu segera memberi hormat dan berkata. "Budak tak bisa berdiam terlalu
lama di sini, semoga kongcu baik-baik menjaga diri, setiap saat aku akan berjagajaga
di luar ruangan untuk menantikan perintah dari kongcu."
Seusai berkata, tanpa menantikan jawaban dari Buyung Im seng lagi dia lantas
membalikkan badan dan mengundurkan diri dari situ.
Dengan hati-hati sekali Buyung Im seng mengeluarkan obat pemabuk yang
disembunyikan dalam tubuhnya, kemudian melakukan persiapan, setelah itu
menghapus pula semua bekas bekasnya. Ketika semua persiapan telah selesai,
diapun berjalan hilir mudik di dalam kamar.
228
Lebih kurang seperminuman teh kemudian, tiba-tiba Giok hong siancu masuk
dengan langkah terburu-buru. Dengan cepat Buyung Im seng menyongsong
kedatangannya sambil tertawa, katanya. "Bagaimana? Sudah ditemukan
pembunuhnya?"
Giok hong siancu menggeleng. "Belum ditemukan, tapi aku telah menitahkan
segenap anggota lembah untuk melakukan pemeriksaan."
"Apakah memerlukan bantuanku?"
"Tak usah, aku sengaja memburu kembali ke sini karena hendak menemanimu..."
Setelah tersenyum tegurnya, "Sudah mandi?"
"Belum, kau pergi melakukan pencarian terhadap musuh yang menyusup kemari,
mana aku tega pergi mandi?"
Agaknya Giok hong siancu merasa terharu sekali, dia menghela napas panjang,
"Aiiii... bila pada sepuluh tahun berselang kau dapat bersikap demikian, sekarang
kita sudah mempunyai beberapa orang anak."
"Yah, sudah lewat biarkan saja lewat, yang akan datang masih bisa kita raih,
marilah kita mulai dari sekarang."
"Betul!, mari kita mandi dulu!"
Sekarang Buyung Im seng sudah mempunyai persiapan yang cukup matang, tindak
tanduknya sudah tidak gugup lagi seperti tadi, dia lantas memeluk dan membopong
tubuh Giok hong siancu, kemudian dibawanya ke atas ranjang...
Giok hong siancu memejamkan matanya rapat-rapat, wajahnya memancarkan sinar
kebahagiaan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.
Ketika mendekati pembaringan, tiba-tiba Buyung Im Seng menurunkan tubuh
perempuan itu, lalu merangkulnya dengan tangan kiri, sementara tangan
kanannya dengan kecepatan luar biasa menotok jalan darah Cian cing hiat di atas
bahu Giok hong siancu.
Mimpipun Giok hong siancu tidak mengira kalau dia bakal disergap orang ditengah
buaian mesra yang penuh kehangatan itu, sehingga untuk sesaat lamanya dia
menjadi tertegun.
Dengan cepat Buyung Im Seng merangkul tubuh Giok hong siancu lalu
membaringkan ke atas pembaringan, setelah itu ujarnya.
"Siancu bila kau tak ingin mati, lebih baik jangan berteriak!"
Giok hong siancu segera menghela napas panjang, katanya. "Seharusnya dari dulu
aku sudah tahu kalau kau bukan Giok long kun Ong Ciu, tapi aku sudah terpikat
oleh kobaran cinta sehingga beberapa kali titik kelemahan yang kau perlihatkan
sama sekali tidak ku tanggapi dengan serius, yaa... memang salahku sendiri kenapa
terlalu gegabah, kesalahan yang kecil berakibat besar seperti ini..."
"Sayang keadaan sekarang sudah terlambat." kata Buyung Im Seng.
"Beri tahu kepadaku, siapa kau yang sebenarnya, apakah anggota Sam seng bun?"
229
"Aku tak ingin berbohong, tapi akupun tak dapat memberitahukan hal ini
kepadamu."
Sesudah berhenti sebentar, terusnya. "Tapi ada satu hal aku ingin memohon
kepada siancu!"
"Persoalan apa?"
"Tolong buka kan pintu rahasia di atas dinding ruangan ini, aku ingin mengambil
dua macam benda dari situ."
"Tampaknya kau sudah mengetahui jelas keadaan didalam lembah Giok hong kok
ini?"
Buyung Im Seng tersenyum. "Benar!" sahutnya, "aku sudah tahu mengenai pintu
rahasia serta anak kunci itu, maka aku harap siancu mau diajak bekerja sama."
"Coba katakanlah, anak kunci itu dimana?"
"Di atas tali celana dalammu!"
Giok hong siancu tampak agak tertegun, kemudian ujarnya sambil menghela napas.
"Baiklah, tampaknya terpaksa aku harus bekerja sama denganmu, silahkan kau
ambil sendiri anak kunci itu!"
Tanpa sungkan-sungkan Buyung Im Seng lalu menyingkap gaun Giok hong siancu,
melepaskan pakaiannya dan mengambil anak kunci itu dari tali pengikat celana
dalamnya.
Setelah itu diapun bertanya. "Bagaimana caranya untuk membuka pintu rahasia
itu?"
Giok hong siancu segera tertawa ewa. "Tampaknya kau masih belum mengerti
tentang seluk beluknya..."
"Aku bukan anggota lembahmu, sudah barang tentu aku tak begitu mengetahui
tentang seluk beluk di tempat ini."
"Singkap kain tirai itu maka kau akan menyaksikan dinding itu yang warnanya
agak tua, gunakan tenaga tanganmu untuk memutarnya tiga kali ke kanan, maka
di atas dinding tersebut akan terbuka sebuah lekukan yang dalamnya setengah inci
dan panjangnya dua inci, setelah itu masukan anak kuncinya ke dalam dan
memutarnya ke kiri sebanyak tiga puluh enam kali, pintu batu itu secara otomatis
akan terbuka sendiri."
Buyung Im Seng menurut dan segera melakukan seperti apa yang dikatakan, benar
juga, pintu rahasia itu segera membuka sendiri secara otomatis...
Tampak dalam ruangan kecil dibalik pintu rahasia itu terletak empat jilid kitab dan
dua buah botol porselen.
Dua buah botol porselen itu mempunyai warna yang sama, entah apa isi kedua
botol porselen itu.
Buyung Im Seng segera mengambil salah satu botol porselen itu dan dimasukkan
ke dalam sakunya, kemudian mengambil pula ke empat jilid kitab tadi, setelah
menutup kembali pintu rahasia itu, sambil menghembuskan napas panjang
katanya.
230
"Sungguh tak kusangka kalau segala sesuatunya bisa berjalan dengan begini
lancar."
"Apakah aku Giok hong siancu pandai bekerja sama?" tegur perempuan itu
kemudian.
"Betul dan aku merasa berterima kasih sekali."
"Sekarang akupun ingin mengajukan satu permintaan kepadamu, entah
bersediakah kau untuk mengabulkannya?"
Buyung Im Seng termenung sebentar, lalu menjawab, "Seandainya permintaan
tidak terlampau menyusahkan aku, tentu saja akan kululuskan."
"Sebetulnya siapakah kau?"
Buyung Im Seng segera tertawa hambar. "Justru aku paling takut bila kau
mengajukan pertanyaan ini..." katanya.
"Jadi kau enggan mengatakannya?"
"Aku enggan berbohong, tapi aku segan memberitahukan nama asliku, oleh sebab
itu aku paling kuatir bila kau mengajukan pertanyaan itu..."
Sekalipun jalan darah Giok hong siancu sudah tertotok, namun sikapnya masih
tetap tenang sekali, dia kembali tertawa ewa.
"Baik! Kalau begitu, mari kita berganti dengan suasana yang lain saja..."
"Akupun hendak mengucapkan sepatah kata."
"Berada dalam suasana begini, tampaknya sekalipun tidak kuturuti juga tak dapat,
baiklah coba kau katakan!"
"Sebelum siancu mengajukan pertanyaan, aku harap kau suka memikirkan dulu
dengan seksama, bila aku bersedia menjawab, tentu akan kujawab dengan
sejujurnya, tapi bila tak bisa kujawab, harap siancu jangan mengajukannya lagi."
"Tampaknya aku tidak mempunyai banyak hak untuk berbicara, baiklah, mau
menjawab atau tidak terserah padamu."
Setelah berhenti sebentar, diapun bertanya: "Siapa yang menyuruhmu datang
kemari?"
Buyung Im Seng tertawa ewa, dia membungkam seribu bahasa. "Apakah Li ji pang
yang mengundangmu datang kemari?" sambung Giok hong siancu lebih jauh.
Buyung Im Seng menjadi tertegun setelah mendengar pertanyaan itu, sahutnya
kemudian.
"Tepat sekali dugaanmu itu."
"Selain Li ji pang, rasanya orang lain memang tak mungkin bisa meminta
bantuanmu."
"Kenapa?"
231
"Sebab Li ji pang adalah suatu perkumpulan yang anggotanya terdiri dari gadisgadis
tercantik di dunia, banyak sekali jago persilatan dari dunia ini yang terpikat
oleh mereka dan bersedia untuk menyumbangkan tenaganya bagi mereka."
"Aku membantu mereka lantaran alasan yang lain!" Buyung Im Seng
menerangkan.
"Aku tak ingin tahu alasan apakah itu, tapi aku ingin bertanya apa yang hendak
kau lakukan terhadap diriku?"
"Dimasa lalu kita tiada dendam, belakangan ini kitapun tak pernah berniat ingin
mencelakai dirimu, tapi kau harus meluluskan sebuah permintaanku."
"Apa permintaanmu itu?"
"Lepaskan aku untuk meninggalkan Giok hong kok, jangan turun tangan
menghalangi kepergianku."
"Seandainya aku tidak meluluskan?"
"Terpaksa aku harus mempergunakan kecerdasan serta kemampuanku untuk
melindungi diri."
"Aku bisa saja meluluskan permintaanmu itu tapi akupun mempunyai sebuah
syarat."
"Kalau urusan menyangkut perkumpulan Li ji pang, aku tak dapat mengambil
keputusan."
"Permintaan ini tiada sangkut pautnya dengan Li ji pang, permintaanku hanya
menyangkut persoalan pribadi.!"
"Bagus sekali kalau begitu, silahkan siancu utarakan!"
"Aku berharap bisa bersua lagi denganmu, lagi pula kau harus bertemu denganku
dalam wajah aslimu."
"Didalam lembah Giok hong kok inikah?"
"Waktu dan tempat boleh kau tentukan sendiri, dan akupun bertekad akan pergi
sendiri."
Buyung Im Seng segera tersenyum, dia tak berkata apa-apa. Tampaknya Giok hong
siancu belum menyelesaikan kata-katanya, kembali dia melanjutkan.
"Kau boleh bersembunyi dibalik kegelapan untuk mengintipku, jika aku membawa
seorang dayang saja, kau boleh tak usah menampakkan diri dan segera berlalu."
Buyung Im Seng termenung sebentar, kemudian sahutnya. "Boleh saja, tapi
bagaimanakah caraku untuk memberitahukan soal waktu dan tempat
pertemuannya?"
"Gampang sekali, asal kau menulis sepucuk surat dan mengutus orang
menyampaikannya ke lembah Giok hong kok, itu sudah cukup. Bila kau tidak lega,
dalam surat itupun kau tak usah mencantumkan tempat dan waktunya, katakan
saja harus menunggu kabarmu dimana."
"Tampaknya kau sangat menaruh perhatian kepadaku?" kata Buyung Im Seng
sambil tersenyum.
232
"Selama hidup belum pernah mengalami kekalahan total seperti hari ini, kejadian
tersebut segera membuat aku memahami akan suatu hal."
"Soal apa?"
"Aku baru meresapi sekarang bahwa cinta itu menyesatkan orang."
"Aku hendak pergi sekarang, bila siancu masih ada perkataan, kita perbincangkan
di kemudian hari saja."
"Baik, pergilah!" Giok hong siancu manggut2.
"Dapatkah aku meninggalkan tempat ini dengan selamat?"
"Bila kuturunkan perintah, maka tiada orang yang akan menghalangi lagi."
"Aku tetap merasa hal ini terlalu berbahaya."
"Aku harap kau bersedia mempercayaiku, tapi jika kau kurang percaya, aku toh
mempunyai suatu cara yang lebih baik lagi."
"Coba kau katakan!"
"Gunakan aku sebagai sandera! Bawa aku serta sampai di luar lembah Giok hong
kok, kemudian baru lepaskan aku kembali."
Sebenarnya Buyung Im Seng hendak mempergunakan obat pemabuk yang
diserahkan Kwik Soat kun kepadanya untuk merobohkannya, setelah itu baru
pergi. Tapi setelah mendengar perkataan itu, dia malah menjadi rikuh untuk
mempergunakannya.
Sesudah termenung sejenak, diapun berkata: "Baiklah, aku akan mempercayai
perkataan siancu untuk kali ini."
"Bagus sekali, di atas toiletku ada sebuah tanda perintah Leng pay, bawalah benda
itu untuk digunakan bila perlu, andaikata ada orang yang memeriksamu, gunakan
Leng pay tersebut, katakan kalau aku ada urusan penting yang menyuruhmu
keluar dari lembah."
Buyung Im Seng segera mendekati toilet, benar juga di situ ada sebuah tanda Leng
pay, setelah disimpan ke dalam saku, dia menjura seraya berkata. "Siancu, baikbaiklah
menjaga diri."
Seusai berkata dia lantas melangkah menuju keluar ruangan. Setibanya di depan
pintu, tiba-tiba dia berhenti seraya berpaling, lalu tanyanya: "Besok, apakah kau
akan pergi memenuhi janjimu dengan pihak Sam seng bun...?"
"Pergi..." sesudah berhenti sejenak, dia melanjutkan, "Kelihatannya kau menaruh
perhatian khusus terhadap perguruan Sam seng bun?"
"Oooh... aku tidak lebih cuma sembarangan bertanya saja."
"Lain kali, bila kita bersua kembali nanti, aku percaya banyak masalah tentang
Sam seng bun yang bisa kuberitahukan kepadamu."
"Paling lambat dua bulan, paling cepat tujuh hari, aku pasti akan mengirim kabar
sampai di sini."
233
"Moga-moga saja setiap perkataanmu itu bisa dipercaya, janganlah membuat aku
menjadi kecewa!" Buyung Im Seng segera tersenyum.
Akupun berharap agar kau bisa memegang janjimu dengan baik, biarkanlah aku
pergi meninggalkan lembah ini dengan selamat.
"Apakah kau masih merasa kuatir?"
"Yaa, berhubung kau terlampau bersedia untuk bekerja sama, membuat kelancaran
kerjaku sedikit di luar dugaan, maka mau tak mau timbul juga curiga dalam hati
kecilku."
Giok hong siancu segera tertawa hambar, katanya. "Aku adalah seorang perempuan
yang jahat sekali, tahukah kau akan hal ini?"
"Tahu, namamu memang kurang begitu baik."
"Bila seorang jahat secara tiba-tiba berubah menjadi baik, maka kebaikannya akan
jauh lebih baik daripada orang yang terbaik di dunia ini, bila seorang perempuan
dingin dan hambar secara tiba-tiba terpengaruh oleh rasa cinta, maka luapan
cintanya itu akan melebihi air sungai yang pecah bendungan atau letusan gunung
berapi, kekuatan macam apapun jangan harap bisa menahan lagi.
"Soal ini, aku kurang begitu mengerti."
"Seandainya seseorang belum cukup berpengalaman, dia memang tak akan
memahami perkataan itu, tapi pelan-pelan aku bisa membuatmu menjadi paham."
Pelan-pelan Buyung Im Seng berjalan balik kembali, ke samping pembaringan, lalu
memandang wajah Giok hong siancu sambil termenung dan membungkam dalam
seribu bahasa.
"Apakah masih tidak percaya?" tanya Giok hong siancu kemudian.
"Yaa, orang persilatan kebanyakan licik dan banyak tipu muslihatnya, aku merasa
sulit..."
Giok hong siancu manggut2, selanya. "Aku mempunyai dua cara yang bisa kau pilih
satu diantaranya."
"Dua cara yang mana?"
"Pertama adalah membinasakan diriku, bila kau membuat begini, maka urusan
akan beres sama sekali, bukan saja tiada orang yang akan menurunkan perintah
terhadap dirimu lagi, bahkan di kemudian haripun tak nanti ada orang yang akan
datang mencari balas kepadamu, aku rasa inilah cara terbaik yang bisa kau
gunakan."
"Walaupun namamu didalam dunia persilatan kurang baik, tapi aku belum pernah
menyaksikan kau melakukan perbuatan jahat, lagi pula kita tak pernah terlibat
dalam ikatan dendam atau sakit hati, mana mungkin aku bisa turun tangan untuk
membunuh dirimu?"
"Kalau begitu kau hanya bisa mempergunakan cara yang kedua, yakni menotok
jalan darah bisuku!"
"Cara tersebut memang bagus sekali, nampaknya terpaksa aku harus menyiksamu
sebentar."
234
Dia lantas menotok jalan darah bisu di tubuh Giok hong siancu, kemudian dengan
langkah lebar berjalan keluar dari ruangan itu.
Tampak seorang dayang muda menyoren pedang dipinggang telah menanti
ditempat kegelapan di luar pintu sana, begitu melihat pemuda itu menampakkan
diri, dia lantas menegur. "Telah berhasil?"
"Yaa, suatu kesuksesan serta kelancaran yang sama sekali di luar dugaanku!"
"Apakah memerlukan bantuan dari budak?"
"Yaa, aku memang sangat memerlukan bantuan nona!"
"Harap kongcu menyampaikan perintah." "Aku hendak pergi dari sini, tolong nona
bersedia menyiapkan seekor kuda untukku."
"Sudah kupersiapkan sedari tadi, harap kongcu mengikuti diriku."
Dengan mengajak Buyung Im Seng menuju ke sebuah dinding bukit yang terjal, dia
melanjutkan, "Sesudah melewati bukit sana, kau akan menjumpai seekor kuda.
Perlukan kuberitahukan kepada mereka semua agar berkumpul dan
menghantarmu keluar dari lembah?"
"Tidak perlu!" sahut Buyung Im Seng sambil tersenyum.
"Asal Giok hong siancu belum sadar dari mabuknya, sepanjang perjalanan selalu
ada saudara kami yang akan melindungi keselamatanmu, silahkan saja kau
melanjutkan perjalanan dengan berlega hati."
"Tampaknya kekuatan dan pengaruh kalian Li ji pang didalam lembah Giok hong
kok ini besar sekali, bukan begitu?"
"Ssst...! Jangan keras-keras..."
Buyung Im Seng tidak banyak bicara lagi, dia lantas membalikkan badan menuju
ke arah dinding bukit.
Setelah melewati sebuah tikungan, benar juga dia saksikan ada seekor kuda di
bawah pohon kecil di bawah tebing karang tersebut.
Buyung Im Seng segera melepaskan tali lesnya, melompat naik dan melarikannya
keluar dari lembah.
Di luar dugaan, sepanjang jalan ia tidak menjumpai penghadang-penghadang
menghalangi kepergiannya.
Sesudah keluar dari lembah Giok hong kok, dia membelokkan kudanya menuju ke
arah bangunan rumah gubuk tersebut.
Baru sampai setengah jalan, tampak sesosok bayangan manusia berkelebat lewat
dan muncul seseorang dari belakang sebatang pohon di pinggir jalan...
Orang itu mengenakan baju ringkas berwarna hitam, sambil menghadang di depan
kuda, bisiknya. "Buyung kongcu kah?"
Buyung Im Seng segera mengenali suara itu sebagai suara Kwik Soat kun, sambil
menarik tali les dan melompat turun, sahutnya. "Yaa, memang aku!"
235
"Tentu merepotkan kongcu!" buru-buru Kwik Soat kun membungkukkan badan
sambil memberi hormat.
"Tampaknya perkumpulan Li ji pang telah mempersiapkan kekuatan yang besar
sekali didalam lembah Giok hong kok, dimana saja aku tiba, di situ ada orang yang
membantuku, itulah sebabnya aku tak sampai menyia-nyiakan harapan kalian."
"Yang paling penting adalah berkat bantuan dari Kongcu yang berhasil
menaklukan Giok hong siancu."
"Konon orang persilatan mengatakan Giok hong siancu adalah perempuan keji yang
berhati buas, tapi setelah perjumpaanku dengannya, aku merasa bahwa perempuan
itu sebenarnya tidak terlampau bahaya atau kejam, dia cukup baik."
Kwik soat kun segera tertawa, katanya. "Kami sudah mencari selama banyak tahun
sebelum berhasil menemukan orang semacam kongcu tentu kemenangan ada
ditangan kita."
Buyung Im Seng menghela napas, katanya. "Setelah kuambil kitab pusaka ilmu
pedangnya aku kuatir kejadian ini akan memaksanya untuk menggabungkan diri
dengan perguruan Sam seng bun."
"Jika kongcu tidak datang, diapun sama juga akan menggabungkan diri dengan
perguruan Sam seng bun."
Pelan-pelan Buyung Im Seng merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan ketiga
jilid kitab serta sebuah botol porselen yang berhasil diperolehnya itu, lalu katanya.
"Benda mestika yang berada didalam ruang rahasia dibalik dinding kamar Giok
hong siancu hanya terdiri dari beberapa jilid kitab dan porselen ini saja, silahkan
nona menerimanya! Benda manakah yang merupakan benda milik Li ji pang?"
Kwik soat kun menerima kitab dan botol porselen itu, kemudian setelah diperiksa
sebentar, dia lantas memberi hormat seraya berkata. "Terima kasih banyak
kongcu!"
Buyung Im Seng tertegun, segera pikirnya. "Kenapa dia ambil semua? Masa botol
porselen itupun tidak..."
Berpikir sampai di situ diapun termenung saja, tak sepatah katapun yang
diutarakan.
Agaknya Kwik soat kun telah menduga suara hati dari Buyung Im Seng itu, sambil
ketawa hambar katanya. "Kitab ilmu pedang dan ilmu pukulan tersebut tidak
begitu kupahami maknanya, harus kulaporkan kepada pangcu serta dilakukan
penelitian."
"Sebenarnya aku tak akan banyak bertanya tapi setelah nona memberi penjelasan,
akupun ingin mengajukan satu pertanyaan kepadamu."
"Sudah pasti persoalan itu adalah suatu masalah yang tak sedap didengar." kata
Kwik soat kun sambil tersenyum.
"Agaknya nona sudah mempunyai firasat?"
"Aku hanya menduga bahwa pertanyaanmu itu pasti tak sedap didengar, tapi tak
bisa kuduga persoalan apakah itu."
236
"Beberapa jilid kitab itu hendak nona berikan pada pangcu kalian, apakah botol
porselen itupun hendak kau serahkan juga kepada pangcu kalian?"
Kwik soat kun segera tertawa. "Kongcu, kalau toh kau telah membantu
perkumpulan Li ji pang kami, mengapa tidak bersikap sedikit terbuka dan berjiwa
besar?"
"Kurangkah kebesaran jiwaku ini? Senya benda yang kuperoleh telah kukeluarkan
semua, tak sepotongpun yang kutinggalkan, bila berganti dengan orang lain, belum
tentu ia bersikap seperti ini."
"Aku rasa pangcu kami sudah pasti akan membalas budi kebaikanmu itu..."
Buyung Im Seng segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
"Ha.. ha.. itu mah urusan dari pangcu kalian!"
"Kongcu, bagaimana kalau kita jangan memperbincangkan persoalan semacam ini?"
"Kenapa?"
oo(0)oo
BAGIAN KE 18
"Sebab aku merasa mempunyai batasan-batasan tertentu hingga aku tak bisa
memberikan janji apa-apa terhadap kongcu." kata Kwik soat kun.
Buyung Im Seng segera tersenyum. "Mungkin sewaktu perkumpulan kalian
denganku sejak pertama kalian sudah mengambil keputusan untuk
mempergunakan diriku sebagai alat guna memenuhi harapan kalian, sebab itu pula
orang-orang kalian berulang kali memberi bantuan kepadaku secara diam-diam.
Jadi bantuan yang kuberikan kali ini, kepada perkumpulan kalian pun hitunghitung
sebagai suatu balas jasa dariku kepada kalian."
Kwik soat kun mengerdipkan matanya yang besar dan jeli itu, lalu berkata sambil
tertawa. "Aku rasa bila pangcu sudah bersua dengan kongcu nanti, sudah pasti dia
akan memberi sedikit pertanggung-jawaban kepadamu."
"Itu mah urusan di kemudian hari, biar kita bicarakan dilain saat saja, sekarang
aku hendak mohon diri lebih dulu."
Mendengar perkataan tersebut, Kwik soat kun menjadi tertegun, lalu serunya.
"Kongcu aku telah mempersiapkan satu perjamuan arak untuk merayakan
keberhasilanmu..."
"Tidak perlu." tukas Buyung Im Seng, "cukup asal kalian bersedia memberi seekor
kuda jempolan kepadaku saja, aku hendak segera berangkat melakukan perjalanan,
karena aku mempunyai janji dengan seorang sahabatku, aku tak ingin dia
menunggu terlalu lama..." "Apakah dengan Biau hoa lengcu?"
"Bukan."
"Apakah dengan sau pocu dari benteng keluarga Tong, Ton Thian hong?"
"Mata-mata dari perkumpulan kalian memang sungguh hebat dan luar biasa, mau
tak mau aku harus merasa kagum sekali!"
237
"Perjamuan telah dipersiapkan, harap kongcu bersedia memberi muka untuk
menghadirinya, besok pagi, aku pasti akan mengantar kongcu untuk berangkat
melanjutkan perjalanan."
"Apakah pangcu kalian akan turut hadir didalam pesta arak untuk merayakan
keberhasilanku itu?"
Kwik Soat kun termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian
menjawab. "Soal ini, sulit bagiku untuk memberi jawaban, aku tak tahu apakah
pangcu akan hadir disaat pesta perjamuan itu diselenggarakan atau tidak."
"Bila pangcu kalian akan menghadirinya, akupun berharap bisa mengajukan
beberapa pertanyaan kepadanya dalam pesta perjamuan tersebut. Tapi bila pangcu
kalian tidak menghadirinya, aku rasa akupun tak perlu untuk menghadiri pesta
perjamuan tersebut."
Kwik Soat kun segera tertawa hambar. "Buyung kongcu" katanya. "selama ini kerja
sama diantara kita berlangsung sangat baik, mengapa disaat saat terakhir justru
terjadi peristiwa yang tidak menyenangkan hati semacam ini?"
"Aku tidak mengerti dimana letak ketidak-senangan hati tersebut...?"
"Seandainya kongcu bersedia menghadiri pesta perjamuan yang kami
selenggarakan dan bergembira bersama dengan kami, tentu saja kerja-sama antara
kongcu dengan kami kali ini berlangsung dengan baik dan penuh kegembiraan,
sebaliknya bila kongcu tak mau menghadiri pesta perjamuan, hal ini membuktikan
kalau kongcu pergi dengan marah, bagaimana mungkin hatiku bisa menjadi tenang
dan aman...?"
Buyung Im Seng tertawa hambar. "Kalau begitu, nona memaksa aku untuk turut
menghadirinya?" dia mengejek.
"Memaksa sih tidak berani, aku hanya memohon pada kongcu agar mau
menghadirinya serta memberi muka kepada diriku."
"Baiklah!" kata Buyung Im Seng kemudian sambil tertawa hambar, "aku
meluluskan permintaan nona, cuma aku berharap didalam pesta perjamuan itu aku
bisa berjumpa muka dengan pangcu kalian."
"Aku akan berusaha dengan segala kemampuan untuk mewujudkan keinginan
kongcu itu, baik bukan?"
"Kalau toh demikian, aku merasa rikuh untuk menampik lagi." Kata Buyung Im
Seng kemudian.
"Aku akan membawa jalan buat kongcu!" sambil membalikkan badan dia lantas
berlalu lebih dulu.
Terpaksa Buyung Im Seng harus mengikuti di belakang Kwik Soat kun, sambil
berjalan tanyanya lagi dengan lirih. "Masih didalam rumah gubuk semula?"
Kwik soat kun segera menggelengkan kepalanya. "Tempat sejelek itu mana bisa
dipakai untuk menyelenggarakan pest perjamuan untuk kongcu."
"Aaah, itu berarti kita akan ganti tempat lagi."
"Sampai waktunya, kongcu akan mengetahui dengan sendirinya."
238
Sementara pembicaraan masih berlangsung, mereka sudah membelok pada sebuah
tikungan bukit, di situ tampaklah sebuah kereta sudah menunggu ditengah jalan.
"Kongcu, silahkan naik kereta!" kata Kwik soat kun kemudian dengan lembut.
Buyung Im Seng memandang sekejap ke arah itu, kemudian menyingkap tirai dan
melangkah naik.
Didalam ruangan kereta itu tampak seorang dayang berbaju hijau telah siap
menanti. Dayang tadi segera menyingkir ke pinggir dan berbisik dengan suara lirih.
"Buyung kongcu, tentunya kau merasa lelah sekali!"
Buyung Im Seng melihat jelas raut wajah dari nona itu, namun kalau didengar dari
suaranya yang merdu bagaikan kicauan burung nuri, bisa diketahui kalau nona itu
pasti menawan hati, sebab suara tersebut cukup menggetarkan perasaan bagi
siapapun yang mendengarnya.
Terdengar suara yang merdu merayu itu kembali berkumandang. "Kongcu, apakah
perlu makan sedikit?"
"Aku tak lapar!"
Nona itu tertawa, kembali tanyanya. "Kongcu merasa haus?"
"Aku tidak haus!" Buyung Im Seng menggeleng kepala beruang kali.
Nona itu segera menghela napas sedih, mulutnya membungkam dalam seribu
bahasa dan tidak berbicara lagi.
Buyung Im Seng menjadi keheranan setelah menyaksikan kejadian itu, segera
tegurnya. "Mengapa kau menghela napas panjang?"
"Budak tak pandai melayani orang, mungkin itulah sebabnya mengapa kongcu
merasa tak senang hati."
"Kapan sih aku merasa tak senang hati?" kembali Buyung Im Seng bertanya
keheranan.
"Kau tak mau minum, juga tak mau makan, bukan jelas kalau kau sedang marah
pada budak?"
Buyung Im Seng segera tertawa lebar setelah mendengar perkataan itu, katanya.
"Kalian orang2 Li ji pang memang betul2 sangat lihai, aku tidak lapar juga tidak
dahaga, apakah hal ini berarti marah kepada nona? Kita tak pernah saling
mengenal, sekalipun aku sedang marah juga takkan melampiaskan kemarahan
tersebut pada diri nona!"
Sementara itu terdengar suara roda kereta bergema, dengan gerakan yang sangat
cepat kereta itu sedang bergerak ke depan sana.
Tiba-tiba tampak cahaya api berkilat, tahu2 ruangan kereta itu sudah diterangi
dengan sebuah lentera. Itulah sebuah lentera kecil yang digantungkan di atas
kereta.
Di bawah cahaya lentera, tanpa sadar Buyung Im Seng telah berpaling dan
memperhatikan sekejap wajah dayang tersebut. Dia baru berusia enam-tujuh belas
239
tahun, alisnya lentik, kulitnya halus, sekalipun paras mukanya tidak terhitung
cantik, namun memiliki semacam daya tarik yang cukup mempesonakan hati orang
yang melihatnya.
Dayang itu sedang berlutut sambil memasang lentera, setelah memadamkan api di
tangannya, dia berkata sambil tertawa merdu. "Apa paras mukaku terlampau
jelek?"
Buyung Im Seng tertawa ewa. "Apakah nona menginginkan beberapa patah kata
pujian dariku?" dia balik bertanya.
Dayang itu segera mengangkat bahu. "Pujian sih tidak perlu, asal kongcu tidak
terlalu muak kepadaku, hal ini sudah lebih dari cukup."
"Ooh... apakah nona mendapat peringatan dari pangcu kalian untuk melayani serta
mendengar perkataanku?"
Gadis itu mengerdipkan matanya berulang kali, setelah termenung sejenak
sahutnya. "Kalau benar kenapa, kalau tidak kenapa?"
"Kalau kau mendapat perintah dari pangcu kalian untuk melayani diriku, maka
aku rasa hal ini tak perlu dilanjutkan."
"Seandainya atas dasar kehendak budak sendiri?"
"Maka nonapun tak perlu bersikap terlalu baik kepadaku."
Dayang itu segera menghela napas panjang. "Aiii... kongcu mengharapkan aku
berbuat bagaimana?" tanyanya kemudian.
"Silahkan nona duduk lebih dulu, bila aku membutuhkan bantuan dari nona, sudah
barang tentu akan kuminta bantuanmu nanti."
Dengan sepasang matanya yang tajam, gadis itu mengawasi paras muka Buyung
Im Seng beberapa saat lamanya, kemudian berbisik lirih. "Kongcu benar-benar
seorang lelaki sejati!"
Dia lantas duduk disamping kereta dan tak banyak bicara lagi.
Kereta itu meluncur dengan cepatnya ke arah depan, Buyung Im Seng segera
memejamkan matanya dan bersandar di dinding kereta untuk beristirahat.
Entah berapa lama kemudian, tiba-tiba kereta itu berhenti. Menyusul kemudian
dari sisi telinganya mendengar ada suara merdu lagi berbisik.
"Kongcu, bangun sudah sampai..."
Ketika Buyung Im Seng membuka matanya, tampak kalau tirai sudah disingkap
dan Kwik Soat kun sudah menanti di depan kereta.
Setelah turun, tampaklah sebuah gedung yang tinggi besar terbentang di depan
mata, pintu gerbang sudah terbuka lebar, dua orang gadis berbaju hijau dengan
membawa lampu teng, berdiri dikedua belah sisi pintu.
Dengan suara lirih Kwik Soat kun lantas berkata: "Meja perjamuan telah
dipersiapkan ditengah ruangan, silahkan kongcu menghadiri perjamuan akan
segera dimulai!"
240
Sambil tertawa Buyung Im Seng manggut2, "Aku tidak lebih hanya seorang
petualang dari dunia persilatan", katanya, "pemberian dan perhatian dari
perkumpulan kalian terhadap diriku, sungguh membuat aku merasa amat tidak
tenang."
Kwik soat kun tertawa. "Aaah, apa yang kami lakukan tak lebih hanya merupakan
suatu tanda hormat kami kepada dirimu, pangcu kami pernah berujar, bila kongcu
berhasil mendapatkan kembali kitab ilmu pedang itu, maka dia akan
menyelenggarakan suatu perjamuan mewah yang tak pernah terjadi selama ini."
"Soal ini, aku harap nona suka membantuku memberitahukan kepada pangcu
kalian, lebih baik urungkan saja niatnya itu."
"Perjamuan mewah yang belum pernah terjadi selama ini merupakan suatu
perjamuan yang luar biasa sekali, perkumpulan kamipun telah mempersiapkannya
selama banyak waktu, soal itu adalah persoalan di kemudian hari, harap kongcu
jangan menguatirkannya."
Sementara itu kedua orang sudah menaiki anak tangga dan masuk ke balik pintu
gerbang.
"Blamm!" dua orang gadis berbaju hijau yang membawa lentera itu segera menutup
rapat pintu gerbang dan mengundurkan diri ke dalam ruangan.
"Budak akan membawa jalan buat kongcu!" ujar Kwik soat kun kemudian.
Dia lantas maju selangkah mendahului Buyung Im Seng ke dalam ruangan lebih
dulu.
Tiba di ruangan dalam, tampak cahaya lilin terang benderang menyinari seluruh
ruangan, dalam ruangan yang lebah dan luas telah disiapkan lima buah meja
perjamuan.
Delapan orang gadis cantik jelita bak bidadari dari kahyangan yang mengenakan
baju biru, putih munculkan diri dari ruangan dan menyambut datangnya mereka.
Kwik soat kun maju dua langkah ke samping sambil bisiknya lirih. "Inilah Buyung
kongcu!"
Delapan orang gadis berbaju putih itu segera memberi hormat bersama sambil
berkata. "Menjumpai kongcu!"
Dengan suara rendah, Kwik soat kun berkata. "Mereka adalah delapan bidadari
yang menyelenggarakan nyanyian mereka maupun permainan musik mereka, boleh
dibilang tiada taranya di dunia ini, setelah perjamuan diselenggarakan nanti,
mereka akan memperlihatkan kebolehannya masing-masing untuk menghibur
kongcu."
"Aku tak berani merepotkan kalian semua!" buru-buru Buyung Im Seng menjura.
Delapan orang gadis berbaju putih itu segera balas memberi hormat, sahutnya.
"Cukup memperoleh senyuman dari kongcu, kami yang rendah merasa amat
bangga!"
Selesai berkata, mereka lantas mengundurkan diri dari kedua belah sisi ruangan.
241
Kwik soat kun dengan membawa Buyung Im Seng segera mengambil tempat duduk
di meja perjamuan utama. Waktu itu Buyung Im Seng ibaratnya orang yang tak
berpendirian lagi, dia hanya mendengarkan perkataan orang lain saja.
Sementara itu Kwik soat kun telah berseru dengan suara lantang. "Tamu agung
telah tiba, dipersilahkan cici dan adik sekalian memasuki ruangan perjamuan."
Irama musik segera bergema dan dari dua sisi ruangan pun tiba-tiba terbuka dua
buah pintu kayu. Terasa pandangan mata menjadi silau, lalu muncullah dua baris
gadis cantik yang pelan-pelan berjalan masuk ke dalam ruangan.
Ketika Buyung Im Seng mengalihkan sorot matanya ke depan, tampaklah dua
gadis cantik yang munculkan diri itu semuanya bergaun panjang, berbadan indah
dan berwajah cantik setiap baris terdiri dari dua belas orang yang langsung menuju
ke ruang tengah dengan langkah lemah gemulai.
Ketika dua baris gadis-gadis cantik itu berjalan lewat di hadapan Buyung Im Seng,
mereka segera menyingsingkan gaunnya untuk memberi hormat.
Sambil memberi hormat, kata Buyung Im Seng. "Nona Kwik, aku merasa
dimanjakan, tolong nona suka memberitahukan kepada mereka agar langsung
masuk ke perjamuan saja, tak perlu banyak adat lagi."
Kwik soat kun tersenyum. "Baiklah aku akan menuruti perintah kongcu!"
Dengan memperkeras suaranya, dia berseru. "Para cici dan adik sekalian, Buyung
kongcu itu adalah seorang pendekar sejati yang tidak suka segala adat
penghormatan, dipersilahkan kalian langsung memasuki meja perjamuan."
Dua puluh empat gadis-gadis cantik itu segera membagi diri dalam tiga meja
perjamuan dengan tiap meja perjamuan terdiri dari delapan orang.
Delapan orang bidadari cantik yang merupakan rombongan penghibur itu
menempati pula satu meja, dengan begitu meja utama saja yang dibiarkan kosong.
"Kongcu, silahkan masuk ke meja perjamuan!" bisik Kwik soat kun dengan suara
lirih.
Diam-diam Buyung Im Seng berpikir. "Tampaknya kedudukan Kwik soat kun
dalam perkumpulan Li ji pang tidak rendah."
24 orang gadis dan 8 orang penyanyi berbaju putih hampir semuanya berwajah
cantik jelita bagaikan bidadari dari kahyangan, mereka mengurung Buyung Im
Seng ditengah arena.
Buyung Im Seng segera celingukan kesana kemari dengan perasaan agak
melayang, timbul rasa tak tenang dalam hatinya.
Kwik soat kun mengangkat cawan arak dan tiba-tiba berkata. "Kongcu, kau telah
membantu Li ji pang untuk mendapatkan kembali kitab pusaka ilmu pedang kami,
atas jerih payah kongcu tersebut, kami segenap anggota Li ji pang dari pangcu
sampai ke bawah semuanya merasa berterima kasih sekali, dengan secawan arak
ini, aku ingin menyampaikan rasa terima kasih itu, kalau kongcu bersedia pula
mengeringkan secawan..."
242
Oleh karena permintaan itu tak mungkin ditampik, terpaksa Buyung Im Seng
mengangkat cawan araknya seraya berkata. "Nona, takaran arakku cetek sekali!"
"Tak usah kuatir kongcu, hari ini kau boleh minum sampai mabuk, aku percaya
dengan jumlah kami yang begitu banyak, masih sanggup untuk melindungi
keselamatan kongcu..."
"Tapi aku masih harus melanjutkan perjalanan." "Apakah kau merasa pelayanan
kami kurang baik?"
"Tidak, aku sudah merasa terlalu dimanjakan, sehingga bagaikan berada di surga
loka saja."
"Semoga saja ucapanmu itu adalah ucapan yang sejujurnya." Dia lantas
mengangkat cawannya dan meneguk isinya sampai habis.
Terpaksa Buyung Im Seng harus meneguk pula isi cawannya sampai kering.
Terdengar suara yang ramai, ternyata kedua puluh empat gadis cantik itu telah
berdiri sambil membawa cawan araknya masing-masing, kemudian dengan lemah
gemulai berjalan mendekat.
Menyaksikan medan seperti itu, Buyung Im Seng merasa terperanjat sekali, segera
pikirnya. "Kalau seorang secawan, berarti aku harus minum 24 cawan, kemudian
kalau ditambah lagi dengan 8 bidadari dan Kwik soat kun, berarti jumlahnya akan
33 cawan, Oohh... dengan takaran minumku, sudah pasti aku akan dibikin mabuk
hebat..."
Baru saja dia berpikir sampai di situ, mendadak seorang gadis cantik telah muncul
di sebelah kirinya sambil berkata dengan merdu. "Dengan tulus hati dan maksud
yang jujur aku ingin menghormat kongcu dengan secawan arak, harap kongcu
bersedia memberi muka."
Buyung Im Seng menjadi serba malu dibuatnya, sambil mengangkat cawan araknya
pelan-pelan dia berkata. "Nona takaran minumku tidak baik."
Perempuan cantik itu segera memberi hormat, katanya lagi. "Aku akan meneguk
lebih dulu sebagai tanda hormat, apakah kongcu akan mengeringkan atau tidak,
terserah pada kongcu sendiri."
Dengan perasaan apa boleh buat, terpaksa Buyung Im Seng mengangkat cawan
araknya dan meneguk isinya sampai habis.
Kalau hanya secawan masih mendingan, tapi ke 24 gadis lainnya saling menyusul
segera mengajaknya untuk mengeringkan cawan, setiap orang hadir semuanya
mengemukakan alasan yang kuat, hal ini membuat Buyung Im Seng merasa sulit
untuk menampiknya.
Ketika menghabiskan 24 cawan arak itu, Buyung Im Seng sudah mulai dipengaruhi
oleh air kata-kata, di hadapan puluhan orang gadis cantik itupun Buyung Im Seng
merasa kurang leluasa untuk menggunakan hawa murninya mendesak arak dalam
perut, terpaksa dia haru bersabar sambil duduk ditempat.
Kwik soat kun tersenyum, katanya kemudian, "Kongcu, bagaimana rasanya
sekarang?"
"Masih mendingan, masih mendingan!"
243
Kwik soat kun tertawa, kembali ujarnya. "Dengan membawa pengaruh arak
menyaksikan gadis cantik menari ditambah pula irama musik merdu menghiasi
ruangan, keadaan semacam ini benar-benar merupakan suatu keadaan yang
menarik hati, tapi jika sudah keburu mabuk, sudah pasti keadaan tersebut hanya
akan merusak suasana belaka."
"Aku belum mabuk!" kata Buyung Im Seng dengan cepat.
"Kalau begitu bagus sekali."
Dia lantas memberi tanda sambil menambahkan. "Bagaimana kalau dimulai?"
8 orang gadis berbaju putih itu segera mempersiapkan alat musiknya dan mulai
membawakan sebuah lagu yang indah.
Ditengah alunan musik yang merdu merayu 24 gadis cantik lainnya pun pelanpelan
menuju ke tengah arena dan menari.
Buyung Im Seng hanya merasakan warna merah, hijau saling bertumpukan, untuk
sesaat sulit baginya untuk membedakan paras muka gadis itu...
Kwik soat kun yang menyaksikan kejadian itu segera berkerut kening, bisiknya.
"Kongcu, hebatkah mabukmu?"
Buyung Im Seng menggelengkan kepalanya berulang kali. "Masih baikan, masih
baikan!"
"Mereka mendapat tugas untuk datang kemari menghibur kongcu, tinggal di sini
satu dua hari lagi juga tak menjadi soal, bila kongcu merasa mabuk hebat, lebih
baik beristirahat dahulu, besok akan kami selenggarakan lagi suatu pesta yang
lebih meriah untuk menghibur hati kongcu."
"Aku belum mabuk..." seru Buyung Im Seng sambil berusaha untuk bangkit berdiri.
Tiba-tiba ia merasakan kepalanya pusing sekali, seluruh jagat seolah-olah berputar
kencang, kepala menjadi berat dan kaki terasa enteng, tak ampun lagi tubuhnya
segera roboh terjengkang ke atas tanah.
Kwik soat kun segera berusaha untuk membimbing Buyung Im Seng bangun,
serunya. "Kongcu kalau sudah mabuk, marilah pergi beristirahat!" dalam keadaan
sadar, Buyung Im Seng merasa digotong masuk ke dalam sebuah ruangan yang
sangat indah.
Entah berapa lama sudah lewat... ketika ia sadar kembali, tampak tubuhnya
sedang berbaring di atas sebuah pembaringan yang sangat indah.
Dengan cepat dia mengalihkan sorot matanya untuk memperhatikan sekejap
sekeliling tempat itu, ruangan itu serba putih, lantai ditutup dengan permadani
berwarna putih, tirai juga berwarna putih, pokoknya di sana tidak nampak warna
lain kecuali serba putih mulus...
Pemuda itu menjadi termenung dan mulai membayangkan kembali apa yang
pernah dialaminya semalam, ketika teringat kalau dirinya sudah mabuk hingga tak
sadar, dengan perasaan kaget pemuda itu segera melompat bangun.
244
Terdengar seseorang menegur sambil tertawa merdu. "Kongcu, apakah kau
membutuhkan air?"
Kesadaran Buyung Im Seng segera pulih kembali seperti sedia kala, saat itulah dia
baru menjumpai dirinya berada dalam keadaan setengah telanjang, kecuali sebuah
celana pendek yang lainnya dalam keadaan bugil.
Dengan perasaan terkejut dia membaringkan dirinya kembali dan menarik selimut
untuk menutupi tubuhnya, setelah itu dia baru berpaling ke arah mana datangnya
suara itu.
Tampak seorang gadis muda sedang berjalan mendekati pembaringannya dengan
langkah pelan, kembali tegurnya. "Kongcu, masih ingat dengan diriku?" suaranya
merdu bagaikan burung nuri, indah dan menarik sekali.
"Ya, masih ingat, masih ingat", sahut Buyung Im Seng, "kemarin kita pernah
bersua didalam kereta."
Gadis itu tertawa genit, kembali bertanya. "Daya ingatan kongcu memang bagus
sekali."
Buyung Im Seng segera celingukan dan memandang sekeliling tempat itu,
kemudian serunya. "Kemana larinya baju dan sepatuku?"
Gadis itu tertawa ewa, sahutnya. "Ketika mabuk semalam, baju kongcu ternoda
oleh arak, sekarang sedang dicuci dan belum kering, tapi beberapa orang saudara
kami telah bekerja keras untuk membuat beberapa stel pakaian buat kongcu, cuma
sayang pakaian itupun belum jadi."
"Kalau begitu harap nona suka mencarikan satu stel pakaian apa saja untuk
kukenakan." Kata Buyung Im Seng dengan kening berkerut, "bagaimanapun juga
aku toh tak bisa berada dalam keadaan begini terus..."
Gadis itu tertawa. "Kongcu berbaring sambil berbincang-bincang toh sama saja."
"Tidak bisa!" seru Buyung Im Seng sambil menggelengkan kepalanya berulang kali,
"bila aku tak berpakaian..."
Tiba-tiba tirai disingkap orang dan Kwik soat kun muncul dengan wajah serius.
"Siau tin, mundur kau!" perintahnya.
Gadis itu segera memberi hormat dan mengundurkan diri.
Tidak menanti Buyung Im Seng buka suara, Kwik soat kun telah berkata lebih
dulu. "Ada suatu kejadian yang berlangsung di luar dugaan."
"Peristiwa apa?"
"Mungkin temanmu Tong Thian hong telah memberitahukan kepada Biau hoa
lengcu bahwa kongcu sedang mencari kitab pusaka ilmu pedang buat kami, dan
kejadian ini tampaknya telah menimbulkan kesalah pahaman bagi Biau hoa lengcu,
secara beruntun dia telah lukai dua belas orang murid Li ji pang kami."
"Aaah masa benar..?" seru Buyung Im Seng dengan suara terkejut, dia segera
melompat bangun.
Tapi ketika teringat kalau dia hanya mengenakan sebuah celana pendek saja, buruburu
ia membaringkan dirinya kembali.
245
Kwik soat kun segera berkata. "Pangcu kami telah menurunkan perintah setiap
anggota Li ji pang diwajibkan menghindar pertikaian dengan Biau hoa lengcu dan
berusaha untuk menjauhinya, namun sahabat mu belum mau berhenti, dia masih
terus menerus membunuh anggota kami dimana-mana."
"Kesalahan paham ini terlalu besar, cepat ambilkan pakaian dan sepatuku, aku
harus memberi penjelasan lebih dulu kepadanya."
"Tapi dengan peristiwa ini, kitapun dapat memperoleh suatu kenyataan bahwa
Biau hoa lengcu benar-benar amat mencintai kongcu."
"Aiii... sikap Nyo Hong leng kepadaku memang sangat baik, dan hal ini kuakui tapi
dia cantik bagai bidadari dari kahyangan, aku merasa tak pantas untuk
mendampinginya, hubungan kami selama ini adalah suatu persahabatan yang suci
dan bersih. Lagi pula aku masih mempunyai dendam kesumat sedalam lautan,
pembunuh orang tuaku belum ditemukan, apa yang kupikirkan sekarang tidak
lebih dari menuntut balas bagi kematian orang tuaku."
Kwik soat kun manggut2, katanya. "Kongcu memang pintar, berjiwa besar dan
amat berbakti kepada orang tua, kebijaksanaanmu sungguh mengagumkan
siapapun, tapi kongcu tak perlu kuatir, peraturan dalam perkumpulan kami sangat
ketat, setelah pangcu menurunkan perintah, tak nanti anak murid perkumpulan
kami yang akan mencari gara-gara dengan dirinya."
"Aku cukup memahami watak Nyo hong leng, seandainya tidak dibujuk cepat-cepat,
akhirnya hanya keadaan tragis saja yang akan terjadi..."
"Dengan cara apakah kongcu akan pergi mencarinya?" tanya Kwik soat kin sambil
tertawa hambar.
"Perkumpulan kalian terkenal karena pendengarannya yang tajam, aku yakin
kalian pasti tahu dimanakah Biau hoa lengcu berada, asal kalian bersedia memberi
petunjuk kepadaku, aku percaya pasti dapat menemukan dirinya...
Kwik soat kun tertawa ewa, lalu katanya. "Aku rasa biarpun urusan sangat kritis,
rasanya juga tak usah terburu sekali, seusai berpakaian nanti silahkan kongcu
bersantap lebih dulu, setelah cukup beristirahat barulah pergi mencarinya."
"Kalau begitu harap nona berikan pakaian kepadaku!"
"Silahkan kongcu beristirahat sebentar lagi baju baru akan segera selesai."
Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Buyung Im Seng berbaring kembali di
atas ranjang, dengan menutupi mukanya pakai selimut, dia tidak banyak bicara
lagi.
Kwik soat kun berdiri di depan pembaringan sambil memandang Buyung Im Seng
yang menutupi wajahnya dengan selimut itu, setelah memandang sebentar, pelanpelan
dia membalikkan badannya dan pergi.
Tak lama kemudian, Siau tin yang bersuara merdu bagai burung nuri itu telah
muncul kembali membawa pakaian dan sepatu.
Buyung Im Seng mendengar suara langkah Kwik soat kun yang berlalu dari sana,
juga dengar suara langkah Siau tin yang masuk ke kamar, tapi dia mengira Kwik
soat kun telah balik kembali, maka anak muda itu sama sekali tidak berkutik.
246
Ternyata dia merasa dirinya telah dibodohi oleh Kwik soat kun, maka terhadap
dirinya ia merasa sangat tidak puas.
Terdengar suara Siau tin yang genit berkumandang dalam ruangan. "Kongcu,
pakaianmu telah datang!"
(Bersambung ke jilid 13)
247
Lembah Tiga Malaikat
Oleh: Tjan
Jilid 13
Buyung Im Seng segera menampakkan diri dari balik selimut, setelah memandang
sekejap ke arah Siau Tin, katanya: "Letakkan saja di situ, kau boleh pergi!"
Siau Tin tertawa, katanya lagi: "Perlukan kulayani dirimu untuk berpakaian?"
"Tak perlu, tak perlu!" jawab Buyung Im Seng dengan gelisah, "aku bisa
melakukannya sendiri, harap nona mengundurkan diri lebih dahulu."
"Apakah kau takut aku melihat badanmu? Aiii...! Padahal setelah mabuk semalam
akulah yang melepas pakaian dan sepatumu, aku pula yang membimbingmu naik
keranjang."
Buyung Im Seng menjadi tertegun setelah mendengar ucapan tersebut, katanya
kemudian: "Waktu itu aku sedang mabuk hebat dan tidak sadarkan diri, tentu saja
akupun apa boleh buat, tapi sekarang..."
Siau Tin segera tertawa cekikikan: "Kau takut malu bukan? Kalau begitu aku akan
memejamkan mataku." katanya.
Selesai berkata dia benar-benar menutupi matanya dengan tangan, lalu
membalikkan badan dan berdiri menghadap ke dinding.
Melihat itu, Buyung Im Seng lantas berpikir. "Usia budak ini paling banyak cuma
lima-enam belas tahunan, masih polos dan kekanak-kanakan, kalau dia enggan
keluar, akupun dibuat apa boleh buat, yaa, tak perlu membuang waktu lagi."
Berpikir sampai di situ, dia lantas bangun berdiri dan buru-buru berpakaian.
Pakaian itu adalah sebuah pakaian baru yang dibuat oleh orang Li ji pang, warna
biru langit dan indah sekali.
"Sudah selesai?" terdengar Siu Tin bertanya dengan suara yang amat lembut.
"Sudah selesai!"
248
Siau Tin segera menurunkan tangannya dan berpaling, setelah memperhatikan
sekejap wajah Buyung Im Seng, ujarnya sambil tertawa: "Pakaian ini sangat
indah."
"Hanya pakaiannya saja yang indah?" tanya Buyung Im Seng tersenyum.
Siau Tin segera tertawa cekikikan, "Tentu saja orangnya lebih bagus daripada
pakaiannya."
"Siau Tin!" bisik Buyung Im Seng kemudian, "Aku ingin menanyakan satu hal
kepadamu, bersediakah kau untuk memberitahukan kepadaku?"
"Itu mah tergantung pada pertanyaan apa yang hendak kau tanyakan."
Buyung Im Seng tertawa hambar, katanya. "Apakah kedudukan nona Kwik Soat
kun didalam perkumpulan Li ji pang kalian?"
Tiba-tiba Siau Tin menarik kembali senyumannya ditatapnya wajah Buyung Im
Seng lekat-lekat, kemudian balik bertanya. "Dia tidak mengatakannya kepadamu?"
"Tidak!"
"Lebih baik kau tanyakan sendiri kepadanya!"
"Kau tak berani mengatakannya?"
Ternyata Siau Tin cukup jujur, sahutnya sambil mengangguk. "Yaa, benar, aku tak
berani untuk mengatakannya."
"Kalau begitu, kedudukannya didalam perkumpulan Li ji pang tinggi sekali."
Siau Tin segera menunjukkan sikap serba salah, setelah termenung beberapa saat
katanya. "Yaa, dia memang mempunyai kedudukan yang tinggi sekali."
Buyung Im Seng lantas berpikir. "Benar-benar lihai, aku harus berusaha keras
untuk mengorek keterangan dari mulutnya."
Berpikir demikian diapun lantas berkata. "Bagaimanakah kedudukannya bila
dibandingkan dengan pangcu kalian...?"
"Aku... aku tidak tahu." Siau Ting menggelengkan kepalanya berulang kali.
Tiba-tiba terdengar Kwik soat kun tertawa terkekeh-kekeh, kemudian berkata.
"Kongcu, dia masih suci dan polos, bila kau memaksanya lebih lanjut, ia pasti akan
menangis."
Tirai disingkap orang, pelan-pelan Kwik soat kun berjalan masuk ke dalam.
Buyung Im Seng tertawa hambar, katanya. "Kau sudah berdiri cukup lama di luar
pintu bukan?"
"Yaa, sudah datang sesaat sebelumnya, sebenarnya aku hendak menanyakan
dirimu akan sesuatu, tapi aku tidak berniat untuk menyadap pembicaraanmu."
Buyung Im Seng segera mengalihkan pembicaraannya kesoal lain, katanya
kemudian, "Sekarang aku boleh pergi bukan?"
"Kongcu hendak kemana?"
"Pergi mencari Biau hoa lengcu."
249
"Pangcu telah menurunkan perintah untuk melacaki jejak Biau hoa lengcu, hingga
kini belum ada kabar yang masuk, kami telah mempersiapkan santapan siang buat
kongcu, silahkan bersantap dulu sambil menunggu kabar, setelah mendapat kabar
nanti, kongcu baru berangkat."
"Sampai kapan baru ada kabar?"
"Paling cepat satu-dua jam, paling lambat kentongan kedua malam nanti kongcu
sudah dapat melanjutkan perjalanan."
"Setelah mabuk semalam, aku merasa perut masih kenyang, enggan rasanya untuk
bersantap lagi."
"Kalau begitu, silahkan kongcu beristirahat sebentar, kemudian baru bersantap."
Buyung Im Seng tertawa hambar.
"Soal makan mah tak perlu, tapi sebelum mendapat kabar sekalipun aku ingin
pergi juga tak bisa pergi, mumpung ada kesempatan, aku ingin bersemedi
sebentar."
Kwik soat kun tampak agak tertegun setelah mendengar perkataan itu, ujarnya
kemudian. "Kenapa sih kau?"
"Aku baik sekali."
"Walaupun kongcu pandai berlagak namun jangan harap bisa meloloskan diri dari
ketajaman mataku, aku lihat kongcu mempunyai sesuatu persoalan yang tak
menyenangkan hatimu."
ooo(O)ooo
BAGIAN KE 19
Setelah rahasia hatinya dibongkar oleh Kwik soat kun, Buyung Im Seng tak
menyangkal lagi, setelah tertawa hambar katanya.
"Ya, aku memang mempunyai perasaan tersebut."
"Tidak puas terhadap diriku?"
"Kau bukan pangcu, tentu saja tak bisa mengambil keputusan, seandainya aku tak
puas, maka hal ini hanya bisa ditujukan kepada pangcu kalian."
"Dapatkah kongcu mengungkapkan persoalan yang sebenarnya sehingga
menimbulkan ketidakpuasan hatimu?"
Buyung Im Seng menjadi tertegun, kemudian katanya. "Aku tak bisa mengatakan
keseluruhannya, aku hanya merasakan perasaan seperti diperalat dan dibodohi
orang."
Kwik soat kun menghela napas panjang, lalu katanya. "Kongcu jangan banyak
curiga, kau telah mencurikan kitab ilmu pedang buat kami, atas jasamu itu segenap
anggota perkumpulan kami merasa amat berterima kasih sekali, apa yang kami
lakukan semua ini atas dasar perintah pangcu, suatu ketika bila kongcu ada
urusan, maka setiap anggota Li ji pang kami pasti akan membantu kongcu dengan
sepenuh tenaga."
250
"Ya, kedengarannya memang menarik sekali." kata Buyung Im Seng tertawa
hambar.
"Aiii...! tampaknya kesalah pahaman kongcu terhadap kami semakin besar..."
"Tidak, aku mendapat pesan dari pangcu kalian untuk melakukan suatu tugas,
beruntung sekali aku dapat melaksanakannya secara baik, bagaimana selanjutnya
akupun tak ingin banyak bertanya lagi."
Setelah berkata dia lantas memejamkan matanya dan duduk bersemedi, lalu
mengatur napasnya dengan pelan. Walaupun ia tak menitahkan untuk mengusir
tamu, tapi sikap tersebut, tak berbeda dengan mengusir tamu.
Memandang Buyung Im Seng yang sedang duduk bersemedi, tiba-tiba Kwik soat
kun merasa kehormatannya tersinggung, dari malu dia sampai gusar, mendadak
terlintas hawa membunuh di atas wajahnya, pelan-pelan dia mengangkat telapak
tangan kanannya ke tengah udara...
Asal serangan ini dilepaskan, dalam keadaan bersiap sedia begini, niscaya Buyung
Im Seng akan tewas di ujung telapak tangan Kwik soat kun.
Ketika ujung telapak tangan Kwik soat kun sudah mendekati jalan darah Thian
leng hiat di ubun-ubun Buyung Im Seng, mendadak ia menarik kembali
serangannya dan menghela napas, kemudian pelan-pelan mengundurkan diri dari
sana.
Sementara itu Buyung Im Seng membutuhkan waktu hampir satu jam lamanya
untuk mengatur pernapasannya.
Menanti dia selesai melatih diri dan membuka kembali matanya, tampaklah Nyo
hong leng dengan pakaiannya yang putih bagaikan salju itu berdiri di depan pintu.
Agaknya Buyung Im Seng tidak percaya dengan kenyataan yang berada di depan
mata, dia mengucek matanya berulang kali, ternyata tidak salah, itulah Nyo hong
leng.
Tak terlukiskan rasa kaget dan girang yang berkecamuk dalam benak pemuda ini,
sambil melompat turun dari atas ranjang, katanya. "Benarkah kau? Bagaimana
caranya kau bisa menemukan tempat ini...?"
Nyo Hong leng mendesis lirih, tiba-tiba ia menubruk ke dalam pelukan Buyung Im
Seng.
Dengan cepat Buyung Im Seng merentangkan tangannya untuk menyambut
kedatangan tubuh Nyo Hong leng, kedua orang itu segera berpelukan dengan
mesranya.
Semenjak dilahirkan Nyo Hong leng belum pernah dipeluk orang lelaki, saking
emosinya dia sampai merasakan sekujur badannya gemetar sangat keras.
Buyung Im Seng sendiripun merasakan dorongan emosi yang tak bisa dibendung,
tangan dan kakinya tanpa terasa gemetar keras.
251
Setelah berpelukan beberapa saat lamanya, pelan-pelan Nyo Hong leng
mendongakkan kepalanya sambil berkata. "Toako, entah mengapa, aku selalu
terbayang-bayang akan dirimu?"
Buyung Im Seng menghela napas panjang, dia ingin berbicara tapi niat itu lalu
diurungkan. Entah mengapa, tiba-tiba Nyo Hong leng mengucurkan air matanya
dengan amat deras.
"Hai, kenapa kau menangis?" Buyung Im Seng segera menegur dengan perasaan
kaget.
"Aku tidak tahu, aku hanya ingin menangis dengan sepuasnya."
"Apakah aku telah menyalahi dirimu?"
"Hal ini sama sekali tiada hubungannya dengan dirimu, aku hanya merasa hatiku
amat sedih dan tak terkendalikan, akupun merasa gembira sehingga tak tahan aku
ingin menangis sepuas-puasnya."
"Lantas mengapa kau menangis?"
"Entahlah aku tak dapat mengatakannya, aku hanya merasa hatiku amat kesal,
asal dapat terlampiaskan keluar, aku baru merasakan hatiku menjadi lega."
"Aiii... selama beberapa hari ini, akupun merasakan hatiku tidak tentram,
seringkali merindukan dirimu."
Tiba-tiba Nyo Hong leng tersenyum. "Benarkah itu?" dia bertanya.
"Tentu saja benar!"
Nyo Hong leng menyeka air matanya dengan ujung baju, lalu berkata: "Baikkah
sikap orang-orang Li ji pang kepadamu?"
Buyung Im Seng tertawa hambar. "Secara terang-terangan atau secara diam-diam
mereka selalu membantu diriku, tak ada salahnya jika akupun membantu mereka
satu kali."
"Aku tak menyalahkan dirimu, aku hanya ingin tahu, baikkah sikap dia
kepadamu?"
Buyung Im Seng termenung dan berpikir sebentar, lalu sahutnya. "Sikap mereka
kepadaku baik sekali."
"Kalau begitu betul sudah, ternyata mereka tidak membohongi aku."
Buyung Im Seng tertawa hambar, tanyanya. "Jadi kau sudah berjumpa dengan
orang-orang Li ji pang, siapa yang kau temui?"
"Seorang nona she Kwik, dia beritahu kepadaku bahwa semalam kau mabuk berat,
dia selalu melayani kau sebagai seorang tamu yang terhormat."
"Ooh... rupanya begitu."
Nyo hong leng tertawa, lalu katanya. "Berbicara bagi kaum lelaki seperti kalian,
tempat ini boleh dibilang sebagai tempat yang nyaman dan hangat, apalagi anggota
Li ji pang rata-rata cantik jelita..."
"Hei, kau sudah melantur sampai kemana?" tukas Buyung Im Seng.
252
"Apakah kau takut aku menjadi marah?" ujar Nyo hong leng sambil tertawa,
"Padahal aku merasa gembira sekali, bila setiap perempuan yang berada di dunia
ini menyukai dirimu, hal ini membuktikan bila pandangan dan pilihanku tidak
salah!"
setelah sering bergaul dengan wanita, lama kelamaan kulit muka Buyung Im Seng
menjadi jauh lebih tebal, dia lantas tersenyum seraya menggoda. "Kau benar-benar
tidak cemburu?"
Nyo Hong leng menggeleng. "Aku tak akan cemburu, tapi akupun tak akan
membiarkan mereka terlalu rapat bergaul denganmu, aku hanya memberi
kesempatan kepada mereka untuk memandangi saja dirimu."
Dengan pembicaraan yang berlangsung santai ini, tanpa terasa hubungan kedua
orang itu pun menjadi lebih pendek banyak.
Buyung Im Seng lantas mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain, ujarnya:
"Berapa banyak anggota Li ji pang yang telah kau lukai?"
"Ehmmm... memangnya kau sakit hati ya?"
"Bukan sakit hati, aku cuma merasa dalam keadaan begini, apalagi kita sedang
memusatkan semua tenaga dan pikiran untuk menghadapi Sam seng bun, agaknya
tak usah kita bermusuhan dengan Li ji pang, toh hal ini hanya merugikan kita
saja."
"Memangnya kau anggap aku ini bodoh?"
"Aku dengar kau telah melukai orang Li ji pang, apakah kesemuanya ini tidak
benar?"
"Benar sih benar, cuma aku hanya melukai urat nadinya saja, dan lagi caraku
bertindak pun sangat berhati-hati, asal mereka dapat beristirahat dalam waktu
yang cukup, tanpa obatpun mereka dapat pulih kembali kesehatannya seperti sedia
kala, mungkin pangcu dari Li ji pang memahami tindakanku itu, maka mereka
sama sekali tidak mencari kesulitan kepada diriku."
"Mereka selalu berusaha menghindari dirimu."
"Kenapa?" "Mungkin lantaran ilmu silat yang kau miliki sangat lihai, maka mereka
rada takut kepadamu."
"Kenapa tidak kau katakan, lantaran mereka membutuhkan kau, maka jadinya
enggan bentrok denganku?" goda Nyo Hong leng sambil tertawa cekikikan.
"Kedengarannya apa seperti lelucon dalam kenyataan memang begitu kejadiannya,
nama besar Biau hoa lengcu telah menggetarkan seluruh dunia persilatan."
"Sungguhkah perkataanmu itu?"
"Masa kau tak tahu?"
Dengan wajah serius Nyo Hong leng berkata. "Bila orang lain yang memujiku,
menyanjung diriku, aku tak pernah memikirkannya dihati, dengan perguruan besar
yang ada dalam dunia persilatan dewasa inipun tak dendam kesumat, tentu saja
akupun tak perlu bermusuhan dengan Sam seng bun atau Li ji pang..."
253
"Aku tahu, kau bersikap demikian karena aku."
Nyo Hong leng kembali menghela napas. "Dulu memang aku mempunyai banyak
kejelekan, seperti aku mempunyai sifat kebersihan, asal benda yang sudah disentuh
orang lain aku selalu merasa benda itu sangat kotor, entah dengan siapapun, aku
enggan bersentuhan badan."
Ditatapnya wajah Buyung Im Seng dengan penuh perasaan cinta dan kasih sayang,
kemudian melanjutkan. "Tapi semenjak berjumpa dengan kau, aku mulai merubah
diriku..."
"Kenapa? Bukankah hal ini malah menyiksa dirimu?"
"Sebab aku harus belajar untuk menyesuaikan diri dengan dirimu, aiiii! Seandainya
aku tidak merubah semua penyakitku itu, bagaimana mungkin bisa bergaul dan
hidup bersamamu?"
Tiba-tiba ia mengerutkan dahinya, kemudian menambahkan. "Hanya beberapa hari
tak bersua, tampaknya kau sedikit berubah."
"Dimana letak perubahan itu?" tanya Buyung Im Seng keheranan.
"Kau berubah menjadi lebih berani..." Kemudian sambil menutupi bibirnya sambil
ketawa, sambungnya. "Kaupun jauh lebih nakal daripada dulu."
Kontan saja paras muka Buyung Im Seng berubah hebat, dia lantas terbungkam
dalam seribu bahasa. Nyo Hong leng menghela napas panjang, katanya lagi.
"Mengapa tidak berbicara? Apakah lagi marah kepadaku?"
Buyung Im Seng mendongakkan kepalanya dan memandang sekejap ke arah Nyo
hong leng, kemudian sahutnya. "Aku mana berani marah?"
"Kalau kau tidak marah mengapa tidak berbicara?"
"Aku hanya merasa bahwa ucapanmu itu benar, dalam beberapa hari ini aku
memang benar-benar telah berubah."
"Berubah menjadi baik, atau berubah jelek?"
"Berubah mata keranjang dan suka menggoda perempuan!"
"Kalau toh sudah tahu kesalahannya, lain kali jangan dilanggar lagi..."
Kemudian setelah membereskan rambutnya yang panjang, dia melanjutkan. "Apa
yang kukatakan tak perlu kau masukan ke dalam hati, aku tak lebih hanya
bergurau saja."
"Aku tahu, kau tak lebih hanya memperingatkan diriku, cuma aku heran mengapa
aku bisa kehilangan ketenangan serta ketetapan hatiku?"
Tiba-tiba tirai disingkap, dan Siau Tin pelan-pelan berjalan masuk ke dalam,
setelah memberi hormat katanya. "Kongcu, Nona, perjamuan telah dipersiapkan,
dipersilahkan kalian berdua untuk menghadirinya."
Buyung Im Seng segera berpaling dan memandang sekejap ke arah Nyo Hong leng,
kemudian tanyanya. "Bagaimana kalau kita makan sedikit lebih dulu sebelum
berangkat?"
254
Tiba-tiba sikap Nyo Hong leng berubah menjadi lebih lembut dan halus, sahutnya
lirih. "Terserah kepadamu!"
"Aku yang harus mengambil keputusan?" tanya Buyung Im Seng keheranan.
"Betul, bila seorang gadis sedang berada bersama dengan seorang lelaki, jika si
gadis yang harus mengambil keputusan, bukankah sang pria akan merasa sedih
sekali?"
Buyung Im Seng tersenyum, katanya kemudian, "Sedari kapan sih kau berubah
menjadi begini lembut?"
"Sedari tadi!" "Sedari tadi?"
"Ya, sedari aku melihat kau tertunduk tanpa berbicara, hatiku merasa sedih
sekali."
"Urusan itu tak menyangkut kau, tak usah banyak curiga."
"Aku tahu, kau tak akan menyalahkan aku, cuma aku merasa tidak seharusnya
bersikap terlalu menyolok terhadap orang lain."
Buyung Im Seng manggut-manggut, katanya : "Menyembunyikan diri memang
agak baik, juga lebih gampang bergaul dengan orang lain."
"Kalau dengan orang lain aku tak ambil perduli, tapi terhadap kau aku merasa
takut apabila kau menjadi marah." kata Nyo hong leng seraya menggelengkan
kepalanya berulang kali.
Siau Tin sudah menunggu lama sekali di situ, melihat kedua orang itu hanya
berbincang-bincang sendiri seakan-akan telah melupakan dirinya, tak tahan dia
lantas berkata. "Hei, aku datang untuk mengundang kalian pergi makan!"
"Nona!" ucap Buyung Im Seng setelah melirik Siau tin sekejap, "Apakah pangcu
kalian sudah datang?"
Siau tin segera menggeleng.
"Belum, cuma ada nona Kwik pun sama saja."
Mendadak Nyo Hong leng mengalihkan sinar matanya ke wajah Siua Tin,
kemudian tanyanya. "Seandainya kubawa kau pergi, bersediakah kau mengikuti
diriku?"
"Membawa aku pergi? Pergi kemana?"
Nyo Hong leng melirik sekejap ke arah Buyung Im Seng, lalu sahutnya sambil
tertawa, "Dia tidak pernah memberitahukan kepadaku, tapi aku tahu dia amat
menyukai dirimu, maka kuajak kau pergi untuk merawat dirinya."
Urusan sebesar itu ternyata diucapkan olehnya dengan nada yang santai, seakanakan
suatu pembicaraan rutin saja.
Siau tin menjadi tertegun, "Santai betul perkataanmu itu," katanya, "Ketahuilah,
peraturan perkumpulan kami amat ketat, mana boleh aku pergi datang semau hati
sendiri?"
255
"Itu mah tidak menjadi soal, aku hanya ingin bertanya kepadamu, bersedia atau
tidak?"
Buyung Im Seng mengerutkan dahinya rapat-rapat, kemudian timbrungnya dari
samping, "Nona Hong leng jangan bergurau yang bukan-bukan."
Urusan diantara kami orang-orang perempuan, lebih baik jangan kau urusi..."
tukas Nyo hong leng.
Sorot matanya segera dialihkan ke wajah Siu tin, kemudian sambungnya lebih
jauh. "Beritahu saja kepadaku, bersedia atau tidak, soal selanjutnya tak perlu kau
campuri."
Siau tin tertawa hambar dengan perasaan serba salah, katanya kemudian, "Aku
tidak tahu, lebih baik kau bicarakan sendiri dengan pangcu kami..."
Mendadak sambil merendahkan suaranya dia melanjutkan. "Sekalipun aku
bersedia, juga tak berani kukatakan keluar."
Nyo hong leng segera mengangguk. "Aku sudah mengerti, mari kita pergi makan."
Mendadak dia berubah menjadi amat berani, sambil menggandeng tangan Buyung
Im Seng dia lantas beranjak keluar.
"Nona Hong, di luar banyak orang..." bisik Buyung Im Seng.
"Aku tahu." tukas Nyo Hong leng, "apa yang kau takuti? Aku seorang gadis saja
tidak takut." Setelah tertawa manis, selanjutnya. "Nama kecilku adalah Hong ji,
lain kali kau memanggil aku dengan nama kecilku saja, mau bukan?"
"Aku kuatir hal ini kurang begitu baik."
"Orang lain memanggilku sebagai nona Nyo, mengapa kau harus meniru orang lain
dengan menggunakan panggilan yang sama?"
Siau Ting yang mengikuti di belakang mereka dapat mengikuti pembicaraan
tersebut dengan cepat, diam-diam ia tertawa geli.
Sementara itu ia sudah melangkah masuk ke ruang tengah. Tampak Kwik Soat kun
dengan memimpin 12 orang gadis berpakaian ringkas menyambut kedatangan
mereka di luar ruangan.
Saat itu Nyo Hong leng baru melepaskan tangan kiri Buyung Im Seng, kemudian
katanya.
"Kami akan mengganggu nona!"
"Buyung kongcu telah membantu perkumpulan Li ji pang kami, mulai dari pangcu
sampai segenap anggota perkumpulan kami merasa berterima kasih kepadanya.
Terhadap Nyo pun sudah lama kami merasa kagum serta menaruh hormat, sudah
sewajarnya bila kami memberi pelajaran yang sebaik baiknya untuk kalian."
"Aaah.., kau terlalu sungkan." kata Nyo hong leng, "terhadap keberhasilan
perkumpulan kalian serta ketajaman pendengaran dari kalian, akupun merasa
kagum sekali, cuma sayang kami belum sempat untuk bersua dengan pangcu
kalian."
"Sudah lama sekali pangcu kami menaruh perasaan kagum terhadap nona, siapa
tahu dalam beberapa waktu belakangan ini dia akan menyambangi diri nona."
256
"Jejakku tak menentu, tempat tinggalku tak tetap, kemana dia akan datang
mengunjungiku?"
"Soal itu mah belum menyusahkan perkumpulan Li ji pang kami...!" sahut Kwik
soat kun.
"Aaah... betul, aku lupa kalau mata2 kalian tersebar sampai di seantero jagat,
setiap urusan yang terjadi di seantero jagat, setiap urusan yang terjadi dalam dunia
persilatan memang sukar mengelabui partai kalian."
Kwik soat kun tersenyum. "Kau terlalu memuji!" katanya.
"Nona Kwik, aku ingin mengajukan satu pertanyaan kepadamu, bersediakah nona
untuk menjawabnya?"
"Ini tergantung persoalan apakah yang sedang ditanyakan, asal aku tahu, sudah
barang tentu akan kusampaikan kepadamu."
"Selama pangcu tak ada di sini entah siapakah yang akan bertindak sebagai tuan
rumah?"
"Tentu saja siau-moay, bila nona ada suatu persoalan silahkan saja kau
sampaikan."
Nyo Hong leng berpaling dan memandang sekejap ke arah Siau Tin, kemudian
katanya.
"Aku ingin memohon kepada perkumpulan kalian, agar menyerahkan Siau Tin
kepadaku."
"Minta orang?"
"Benar, tapi nona tak usah kuatir, sudah tentu aku takkan melukai diri Siau Tin."
"Hoa-li dan dayang-dayang nona sudah tak terhitung jumlahnya, buat apa kau
menginginkan anggota perkumpulan kami?"
"Aku amat menyukainya, dan berharap dia bisa selalu mendampingi diriku...!"
"Aaah..." Kwik soat kun berseru tertahan, setelah menengok Siau Tin sekejap,
terusnya.
"Bagaimana menurut pendapatmu?"
Apa yang diajukan Nyo Hong leng benar-benar merupakan suatu persoalan yang
sama sekali di luar dugaan Kwik Soat kun, untuk sesaat lamanya dia menjadi
bingung dan tak tahu bagaimana harus menghadapi keadaan semacam itu.
Tampak Siau Tin segera membungkukkan badannya memberi hormat. "Tecu akan
menurut perintah!" sahutnya.
Kwik soat kun termenung beberapa saat lamanya, kemudian katanya lagi. "Nona
Nyo bermaksud meminjamnya ataukah memintanya?"
"Apa yang kukatakan sudah jelas sekali, aku meminta dirinya...!"
257
"Soal ini mah... maaf seribu kali maaf, siau moay tak dapat mengambil ketetapan,
tapi siau moay bersedia untuk menyampaikan tujuan nona itu kepada pangcu kami,
sebab segala sesuatu dialah yang lebih berhak untuk memutuskan."
"Aaaiii, nona Kwik, aku mempunyai beberapa patah kata yang kurang pantas
untuk disampaikan, bila ku utarakan nanti, kuharap kau jangan menjadi marah."
"Tidak berani, silahkan nona ucapkan!"
"Watakku terburu napsu dan tak sabaran, aku kuatir tak sempat lagi untuk
bertemu dengan pangcu kalian."
"Soal ini, soal ini..."
Dengan lembut kembali Nyo Hong leng berkata. "Nona Kwik, aku ingin
menerangkan kepadamu, bila kau bersedia, ini lebih baik lagi, bila kau tidak
meluluskan, akupun tetap akan membawanya pergi!"
"Maksud nona, bagaimanapun juga kau tetap akan membawanya pergi dari sini?"
"Begitulah kejadiannya, cuma aku ingin menyampaikan secara lebih sungkan saja."
"Hong ji!" Buyung Im Seng segera menimbrung, "setiap perkumpulan mempunyai
peraturan perkumpulan, setiap rumah mempunyai peraturan rumah, Siau tin
adalah anggota perkumpulan Li ji pang, sebelum memperoleh persetujuan dari
pangcunya, mana boleh kita membawanya pergi dari sini?"
Nyo Hong leng memandang sekejap ke arah Buyung Im Seng, lalu memandang
kembali kepada Kwik soat kun, kemudian dia baru berkata. "Nona Kwik, begini
saja, aku akan membawanya pergi lebih dulu, seandainya pangcu kalian merasa
keberatan, kau boleh membawanya pulang kembali."
"Nona Nyo, apa yang kau ucapkan benar-benar membuat siau moay merasa serba
salah..."
Nyo hong leng segera mengalihkan sepasang matanya yang jeli dan bening itu ke
atas wajah Kwik soat kun, diapun tidak berbicara apa-apa.
Kwik soat kun pelan-pelan membereskan rambutnya yang kusut, kemudian pelanpelan
melanjutkan. "Seandainya aku tidak meluluskan permintaan nona untuk
mengajak Siau Tin pergi, nona pasti tak akan berdiam diri belaka, siapa tahu hal
ini akan berakhir dalam suasana tak gembira..."
"Oleh sebab itu, aku harap kau mau meluluskan permintaan kami!"
"Begini saja!" kata Kwik soat kun kemudian, "Siau moay akan mengambilkan
keputusan kali ini dengan meminjamkan Siau Tin kepada nona, tapi statusnya
masih tetap anggota Li ji pang."
"Baiklah! Bila tiada cara lain yang lebih baik lagi, terpaksa kita harus bertindak
begitu."
"Kini keputusan telah diambil, suasana pun menjadi santai kembali, aku yakin
perasaan nona juga lebih lega, bagaimana kalau bersantap lebih dulu?"
"Maksud baikmu biar kuterima dalam hati saja, sayang siau moay masih ada
urusan lain, aku tak ingin berdiam terlalu lama lagi ditempat ini..."
258
"Masa waktu untuk bersantap saja tidak ada?"
"Urusan amat mendesak dan waktunya kebetulan, terpaksa siau moay akan
menerima maksud baikmu itu dihati saja."
"Kalau memang begitu, siau moay takkan menahan lebih jauh", ujar Kwik soat kun
hambar.
Nyo Hong leng segera memberi hormat. "Selamat tinggal!" katanya.
Seusai berkata, dia lantas membalikkan badan dan berjalan menuju ke luar.
Buyung Im Seng mengikuti di belakang Nyo Hong leng bertindak keluar,
bagaimanapun laparnya dia kini, bagaimanapun lezatnya hidangan yang
disediakan di atas meja, pemuda itu enggan untuk menahan Nyo Hong leng dan
memaksanya bersantap lebih dulu sebelum berangkat.
Ketika sampai di depan pintu gerbang, mendadak Nyo hong leng berhenti dan
berpaling sambil memandang Siau Tin sekejap, kemudian serunya dengan lantang.
"Hayolah!"
Siau Tin segera menunjukkan wajah serba salah, melihat wajah Kwik soat kun,
bisiknya. "Tecu, tecu..."
"Pergilah mengikuti nona Nyo!" tukas Kwik soat kun, "Dia pasti akan baik-baik
bersikap kepadamu, cuma kau harus ingat, hingga kini kau masih berstatus murid
Li ji pang."
"Tecu siap melaksanakan perintah" jawab Siau Tin setelah termenung sejenak.
Sorot matanya dialihkan sekejap memandang ke arah gadis-gadis berpakaian
ringkas yang berada di sekeliling ruangan, kemudian melanjutkan. "Para cici
sekalian, untuk sementara waktu siau moay ingin mohon diri dulu."
Selesai berkata, dia lantas melangkah menuju keluar.
Kwik soat kun mengantar beberapa orang sampai keluar dari ruang tengah,
tampak sebuah kereta berkuda telah menanti di depan pintu gerbang.
Nyo Hong leng lantas berpaling sambil mengulapkan tangannya. "Silahkan kembali
nona, Siau moay mohon diri lebih dulu."
"Semoga kalian selamat di jalan."
Nyo Hong leng segera melompat naik lebih dulu ke atas kereta, disusul oleh Siau
Tin di belakangnya.
Buyung Im Seng naik ke atas kereta paling belakang, sebelum naik, dia tertawa,
berpaling dan kemudian ujarnya. "Nona terima kasih atas pelayananmu yang baik
selama beberapa hari ini."
Kwik soat kun tersenyum. "Semoga apa yang kongcu ucapan itu benar-benar keluar
dari hati sanubari yang jujur"
Buyung Im Seng tidak menanggapi ucapan dari Kwik soat kun lagi, dia masuk ke
dalam kereta dan segera menurunkan tirai. Sang kusir mengayun cambuk, roda
kereta itu mulai berputar dan kereta itu meluncur ke depan. Memandang hingga
259
bayangan kereta itu lenyap dari pandangan mata, Kwik soat kun menghela napas
panjang dan balik kembali ke dalam perkampungan.
Sementara itu Nyo hong leng yang berada didalam kereta sedang menepuk tempat
duduk di sisinya sambil berseru kepada Buyung Im Seng. "Mari, duduklah kemari!
Buyung Im Seng menurut dan segera duduk disampingnya. "Apakah kereta ini
bukan kereta milik perkumpulan Li ji pang...?" tanyanya.
Nyo Hong leng menggelengkan kepalanya berulang kali. "Bukan, aku sendiri yang
membawanya kemari!"
Kemudian sambil berpaling dan memandang ke arah Siau tin, dia melanjutkan.
"Sebenarnya apa sih kedudukan Kwik Soat kun didalam perkumpulan Li ji pang?"
Siau Tin termenung dan berpikir sebentar kemudian, jawabnya. "Harap nona suka
memaafkan diriku, sampai kini budak masih berstatus anggota Li ji pang, budak
tidak berani membocorkan rahasia penting perkumpulan kami."
"Apakah kedudukan Kwik soat kun dalam perkumpulan termasuk juga rahasia
yang teramat besar?"
"Kami kakak beradik yang bergabung dalam perkumpulan Li ji pang mempunyai
hubungan yang serat sekali antara yang satu dengan yg lainnya namun peraturan
dari perkumpulan kamipun sangat ketat dan berdisiplin tinggi, kami tak ingin
melanggar peraturan2 tersebut."
"Apakah selanjutnya kau masih ingin balik kembali ke dalam perkumpulan Li ji
pang?" tanya Nyo Hong leng sambil tertawa.
"Tentu saja harus kembali, aku adalah anggota Li ji pang, kenapa tidak balik ke
situ?"
Nyo Hong leng menghela napas panjang, katanya. "Dilihat dari sini, dapat
diketahui bahwa pangcu dari Li ji pang benar2 merupakan seorang tokoh yang
amat cerdas sekali, tanpa suatu kemampuan serta kecerdasan yang luar biasa,
mustahil dia bisa membuat segenap anggotanya begitu sayang dan hormat
kepadanya."
"Setiap perbuatan dan tindakan yang dilakukan pangcu Li ji pang amat hebat dan
seksama, menandakan kalau dia memiliki kemampuan dan kecerdasan yang luar
biasa." Buyung Im Seng berkata pula, "tak nanti dia bukan pergunakan ilmu silat
untuk berebut nama dan kedudukan didalam dunia persilatan, tapi kewibawaannya
justru tersohor sampai dimana-mana, apa yang berhasil diraihnya itu tak lain
diperoleh berkat kecerdasan otaknya itu."
"Kami kakak beradik bergabung dalam perkumpulan Li ji pang, hampir seluruhnya
dipilih dan dicari oleh pangcu sendiri." kata siau tin pula. "yang dipelajari
bukannya ilmu silat saja melainkan setiap kepandaian yang bisa digunakan
terutama sekali mereka dipilih untuk mendalami salah satu macam kepandaian
sesuai dengan kelebihan yang dimiliki, itulah sebabnya dalam perkumpulan Li ji
pang kami, boleh dibilang hampir terdapat segala macam manusia dalam segala
bidang..."
"Lantas apa pula yang kau pelajari?" tanya Buyung Im Seng kemudian.
260
Merah padam selembar wajah Siau Tin karena jengah. "Kongcu, terus terang saja
yang kupelajari adalah bagaimana cara memanfaatkan kecantikan yang kumiliki."
Buyung Im Seng termenung sebentar, lalu sahutnya: "Oleh karena itu, mereka baru
mengutusmu untuk melayani segala kebutuhanku?"
"Benar, cuma kongcu amat berdisiplin dan amat ketat menjaga diri, budak tak
sanggup mempraktekkan kelebihan yang budak miliki."
"Sebenarnya apa yang hendak kau praktekkan kepadaku?"
"Merayu dan memikat dirimu!"
"Pangcu kalian memang sangat cerdik", kata Nyo Hong leng kemudian, "tapi cara
kerjanya itu sku nilai terlalu rendah mutunya, sebab itu setiap umat persilatan
yang menyinggung soal Li ji pang, lebih baik rasa takutnya dihati mereka daripada
rasa menghormat."
"Kami adalah perempuan-perempuan lemah yang tak bisa apa-apa untuk
mempertahankan kedudukan dan nama yang kami miliki dalam dunia persilatan,
jika tidak digunakan cara yang lain, memangnya kami harus beradu kekerasan
dengan mereka?"
Nyo Hong leng segera tersenyum. "Buka kalian dari Li ji pang berprinsip demikian,
hal ini memang tak bisa disalahkan, cuma aku masih tetap merasa kagum atas
kehebatan serta kemampuan yang dimiliki oleh pangcu kalian." Setelah berhenti
sebentar, terusnya. "Kau sudah pernah bertemu dengan pangcu kalian?"
"Tentu saja pernah, kami sebagai anggota Li ji pang masa tak pernah bertemu
dengan pangcu sendiri?"
"Bagaimana paras muka pangcu kalian?" tanya Buyung Im Seng.
Siau Tin agak tertegun kemudian tanyanya. "Buat apa kau ajukan pertanyaan
semacam itu?"
Agaknya Buyung Im Seng juga tak mengira kalau dia bakal balik bertanya, maka
setelah tertegun beberapa saat, dan termenung sejenak, sahutnya. "Sebab akupun
pernah berjumpa dengan pangcu kalian, namun aku curiga kalau dia tidak
menjumpai diriku dengan raut wajah yang sesungguhnya...!"
"Kau pernah bersua dengan pangcu kami?" "Betul!" "Coba kau terangkan,
bagaimana paras mukanya?"
"Ia berwajah jelek sekali, namun memiliki rambut yang sangat indah."
Siau Tin tertawa ewa, membungkam dan tidak mengucapkan sepatah katapun.
Dengan kening berkerut Buyung Im Seng lantas berkata. "Bagaimana? Apakah aku
telah salah bicara?"
"Aku tidak tahu, pangcu kami bisa berubah-ubah menjadi seribu satu macam
bentuk muka, kalau bukan anggota Li ji pang, sudah barang tentu tidak mudah
untuk dapat bersua muka dengan wajah aslinya."
261
"Oleh karena itu, aku ingin bertanya kepada nona, bagaimana paras muka pangcu
kalian yang sebenarnya?"
"Haruskah aku berbicara yang sebenarnya?"
"Tentu saja kau harus berbicara sejujurnya."
"Kalau harus berbicara sejujurnya, maka aku hanya bisa mengatakan tidak tahu."
"Nona, sewaktu pertama kali berjumpa denganmu, aku merasa usiamu masih kecil,
polos dan lucu, tak kusangka ternyata kau begini nakalnya..."
Sambil menutupi mulutnya Siau Tin tertawa cekikikan. "Setiap anggota Li ji pang
bisa bergerak dalam dunia persilatan, tak lain karena masing-masing memiliki
suatu keahlian khusus, sejak berusia tujuh tahun budak masuk anggota Li ji pang,
tahun ini telah 15 th, aku telah peroleh pendidikan yang ketat selama delapan
tahun, bayangkan saja bila kongcu ingin menemukan sesuatu dari luarku,
bukankah usahamu akan gagal total?"
"Lihai, lihai... kalau nona tak mengaku sendiri, aku benar-benar tak mengira
dengan usia nona yang masih begini muda, ternyata sudah memiliki kelicikan dan
kelihaian yang sedemikian hebatnya." seru Buyung Im Seng sambil gelengkan
kepala dan tertawa.
Siau Tin menggerakkan bibirnya seperti mau mengucapkan sesuatu, tapi niat itu
diurungkan. Nyo hong leng segera berkata sambil tertawa.
"Nona Siau tin, tahukah kau mengapa aku bawa kau untuk melakukan perjalanan
bersama?"
Siau Tin tertawa. "Aku tak tahu, entah disebabkan apapun juga, aku takkan
merasa takut."
"Kalau begitu, nyalimu benar-benar amat besar." "Bukan nyaliku yang besar,
adalah aku sudah mempunyai persiapan yang cukup matang."
Tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda yang ramai berkumandang dari
belakang kereta sana, menyusul kemudian terdengar seseorang dengan suaranya
yang parau dan tua berseru. "Nona, orang-orang Li ji pang telah mengejar sampai
di sini."
Paras muka Nyo Hong leng berubah hebat, sorot matanya segera dialihkan ke
wajah Buyung Im Seng seraya berkata. "Orang ini benar-benar harus dibunuh, kau
telah membantu mereka, sekarang bukan saja mereka tidak mengingat budi
kebaikan itu, malahan membawa orang melakukan pengejaran di sini, tampaknya
lantaran dia tidak melihat aku membawa pembantu, maka mereka lantas
bermaksud untuk main kerubut."
Siau tin segera menggelengkan kepalanya berulang kali. "Nona tak usah banyak
curiga," katanya. "Perkumpulan kami merasa berterima kasih sekali kepada
Buyung kongcu, tak nanti mereka akan bermain kerubut, lebih baik nona
menanyakan dulu duduknya persoalan, kemudian barulah turun tangan."
Nyo Hong leng segera tertawa dingin, "He.. he.. tentu saja harus kutanyakan dulu
sampai jelas..."
262
Sesudah berhenti sebentar, dia lantas berseru dengan suara lantang. "Berhenti!"
Kereta yang sedang lari kencang itu segera terhenti. Terdengar suara derap kaki
kuda bergema datang dengan cepatnya, beberapa ekor kuda melewati kereta itu
dan berhenti.
Buyung Im Seng kuatir Nyo Hong leng tanpa menanyakan dulu duduknya
persoalan lantas turun tangan melukai orang, maka dengan cepat dia menyingkap
tirai dengan menengok keluar.
Tampak Kwik soat kun dengan membawa empat orang gadis berpakaian ketat telah
menghadang jalan perginya.
Menyaksikan keadaan tersebut, ia menjadi tertegun. Pelan-pelan Nyo Hong leng
berjalan keluar dari kereta, kemudian ujarnya dengan dingin. "Nona Kwik dengan
membawa jago-jago lihaimu, kau telah menyusul kemari, boleh aku tahu apa
maksudmu?"
"Perkumpulan kami telah berjanji dengan kongcu, bila kongcu telah mendapatkan
kembali kitab pusaka ilmu pedang kami, maka pihak kami akan memberitahukan
alamat dari Sam seng tong..."
Rasa girang segera terlintas di wajah Buyung Im Seng, buru-buru tanyanya:
"Apakah perkumpulan kalian telah berhasil menemukan letak dari Sam seng tong
tersebut?"
"Benar, jika kalian berdua mau bersantap tadi, akupun tak usah terburu menyusul
kemari, belum lama kalian berangkat, aku telah memperoleh surat kiriman dari
anggota kami yang menerangkan letak alamat dari Sam seng tong."
"Dimanakah tempatnya?" tanya Buyung Im Seng lagi dengan gelisah.
Kwik soat kun segera melemparkan sebuah kantong sutera ke depan seraya
ujarnya: "Dalam kantong itu bukan saja diterangkan letaknya, bahkan disertai pula
dengan sebuah peta yang cukup jelas, silahkan kongcu memeriksanya sendiri."
Buyung Im Seng segera memeriksa kantong itu. "Terima kasih banyak nona!"
serunya. "Tidak berani, kami sudah berhutang budi kepada kongcu, sudah
sewajarnya kalau budi ini kami balas..."
Setelah berhenti sejenak, lanjutnya: "Apabila Kongcu ingin segera berangkat
menuju ke Sam seng tong, aku masih mempunyai waktu tiga hari untuk mengantar
kongcu sampai ke tempat tujuan."
Buyung Im Seng segera berpaling ke arah Nyo Hong leng sembari bertanya:
"Bagaimana menurut pendapat nona?"
Nyo Hong leng segera tersenyum. "Setiap saat aku siap untuk melanjutkan
perjalanan."
Buyung Im Seng termenung beberapa saat lamanya, kemudian dia bertanya lagi.
"Apakah dalam perkumpulan Sam seng bun terdapat anak murid dari perkumpulan
kalian?"
Kwik soat kun segera tertawa. "Setiap ada lubang, Li ji pang berusaha untuk
menyusupnya masuk, asal diriku ada perempuan, kemungkinan besar terdapat
pula mata-mata dari Li ji pang kami."
263
Nyo Hong leng melompat turun dari kereta, disusul Buyung Im Seng dan Siau Tin
dari belakang. "Nona Kwik, kapan kau bisa menemani kami untuk berangkat?"
tanya Buyung Im Seng kemudian.
"Setiap saat aku siap mengantar kalian!"
Nyo Hong leng segera membisikkan sesuatu kepada si kusir kereta, mendadak
kereta itu berangkat ke depan dan meninggalkan tempat itu.
Kemudian sambil memandang kembali ke arah Kwik soat kun, katanya lebih
lanjut. "Apakah nona bermaksud untuk membawa serta pula ke empat orang
pembantumu itu?"
Kwik soat kun segera menggelengkan kepala berulang kali, sahutnya sambil
tertawa. "Siau moay rasa sepanjang jalan menuju ke lembah tiga malaikat sudah
pasti akan melewati suatu penjaga yang sangat ketat, sehingga aku rasa tak bisa
membawa diri mereka..."
Kepada empat gadis berpakaian ringkas yang berada di belakangnya itu, pelanpelan
dia berseru. "Pulanglah kalian lebih dulu!"
Ke empat orang gadis berpakaian ringkas itu segera menjura, kemudian
membalikkan badan dan berlalu dari situ.
Sepeninggal ke empat orang itu, Kwik soat kun memandang sekejap ke arah Siau
Tin sambil bisiknya. "Nona Nyo, kau bermaksud membawanya serta?"
"Ini tergantung pada nona Kwik sendiri?" sahut Nyo Hong leng.
"Siau tin amat cerdas dan pandai menghadapi segala perubahan keadaan, tapi
sayang ilmu silatnya mungkin belum bisa memadai apa yang diharapkan."
Tiba-tiba Siau tin berkata dengan suara yang lembut dan halus. "Walaupun ilmu
silat yang budak miliki masih belum cukup apabila dipakai menghadapi musuh
tangguh, namun budak yakin masih sanggup untuk menjaga diri secara baik, budak
tidak akan berani merepotkan diri nona..."
"Dia sangat percaya pada kemampuannya sendiri, itu berarti hak penentuan berada
ditangan nona Nyo!" seru Kwik soat kun.
"Bila aku yang harus mengambil keputusan, aku lebih setuju untuk membawanya
serta."
"Baiklah, setiap anggota Li ji pang bila sudah sampai pada saatnya tidak mampu
melindungi diri, mereka memiliki kepandaian untuk menghabisi nyawa sendiri."
Nyo hong leng lantas berpaling sekejap ke arah Siau tin, lalu ujarnya dengan
lembut, "Kau memiliki kemampuan apa untuk menghabisi nyawa sendiri?"
"Aku membawa obat racun yang sangat lihai, asal ditelan ke perut, sudah pasti
jiwaku akan melayang."
"Apakah setiap anggota Li ji pang berbuat sama pula dengan apa yang kau
lakukan?"
264
"Budak membawa obat beracun, tapi tidak ku ketahui apakah orang lain juga
membawa obat beracun."
"Setiap anggota Li ji pang yang mengetahui rahasia besar perkumpulan,
kebanyakan selalu membawa obat beracun yang mematikan."
"Aku memahami maksud nona Kwik, mari kita berangkat."
"Kita harus memeriksa dulu peta rahasia yang berada dalam kantung sutera
ditangan Buyung kongcu itu sebelum bisa berangkat."
Buyung Im Seng dengan segera membuka kantung itu dan mengambil keluar
secarik peta, lalu dibentangkan lebar-lebar. Terlihatlah di atas kain putih itu
terlukis sebuah pohon Liu yang sangat luas, dibalik hutan itu nampak bangunan
dinding pekarangan yang tinggi. Di sebelah hutan nampak juga sebuah bukit yang
menjulang tinggi ke angkasa.
"Tempat apakah ini?" seru Buyung Im Seng kemudian, "apakah dinding bangunan
yang tampak itu adalah Sam seng bun?"
"Nona Kwik," kata Nyo Hong leng kemudian, "peta ini berasal dari anggota
perkumpulanmu, rasanya nona pasti dapat mengenalinya bukan?"
Kwik soat kun tertawa hambar, "Peta ini dibuat secara kasar, dibalik hal itu pasti
ada rahasia lainnya."
Dia lantas menerima peta tadi dari tangan Buyung Im Seng, kemudian merobek
menjadi dua bagian.
Betul juga, dibalik peta tersebut tersembunyi secarik kertas putih lainnya.
"Benar-benar hebat sekali cara kerja anggota perkumpulan kalian." Puji Nyo Hong
leng, "seandainya tiada nona Kwik, sekalipun kami berhasil mendapatkan peta ini
juga tak akan memahaminya."
Kwik soat kun tertawa. "Dengan kecerdasan nona Nyo, aku rasa tak akan sulit
untuk mengetahui rahasia tersebut, sekalipun benar-benar tidak mengerti sampai
akhirnya jika amarah telah meluap dan peta itu dirobek, rahasianya toh akan
diketahui juga."
"Benar2 sangat lihai hanya mempergunakan secarik peta kecil saja, kalian dapat
menyimpan rahasia besar didalamnya, untuk mewujudkan hal tersebut, entah
berapa besar tenaga yang digunakan oleh anggota kalian?"
Kwik soat kun tertawa ewa. "Nona Nyo, terus terang saja perkumpulan Li ji pang
kami muncul dikala pengaruh Sam seng bun makin meraja-lela, bila kami anggota
perkumpulan Li ji pang tidak mengandalkan kecerdasan, bagaimana mungkin kami
bisa berdiri dalam dunia persilatan?"
-ooo0ooo-
BAGIAN KE 20
Nyo hong leng segera tersenyum. "Nona amat berterus terang, mari kita periksa
apa yang dicantumkan di atas kertas putih itu."
Ketika Kwik soat kun merentangkan kertas putih tadi, maka terbacalah beberapa
tulisan:
265
"Nama hutan Ciu liu kok, nama kuil Ban hud wan, Sam seng thong terletak di
belakang Ban hud wan di atas puncak bukit tinggi, cuma menurut kabar, untuk
menuju ke pintu rahasia Sam seng thong di belakang bukit, orang harus melewati
dulu di kuil Ban hud wan."
Selesai membaca tulisan itu, Nyo Hong leng lantas berkata. "Apa yang dituliskan di
atas kertas itu jelas sekali, cuma sayang tidak diterangkan dimanakah letak
lembah Cui liu kok tersebut, padahal jagad begini luas, apakah kita harus
mencarinya dengan pelan-pelan?"
"Bukan suatu hal yang sulit untuk mencari letak lembah Cui liu kok tersebut", kata
Kwik Soat kun.
"Kalau begitu, harap nona suka membawa jalan!"
Sambil tertawa Kwik soat kun manggut2. "Aku tak akan menampik, cuma..."
"Cuma apa?" "Dibalik kesemuanya itu masih terdapat banyak hal yang belum
sempat kita pahami."
"Soal apa?" "Mungkin nona Nyo akan menganggap apa yang aku ucapkan adalah
persoalan-persoalan tetek bengek..."
"Lebih baik kau sebutkan lebih dulu!" tukas Nyo hong leng.
"Kita harus menyusup ke dalam kuil Ban hud wan dengan cara apa, serta bertindak
secara bagaimana agar para pendeta yang menghuni kuil tersebut tak sampai
menaruh curiga kepada kita?"
"Persoalan ini toh bisa saja kita rundingkan ditengah jalan nanti?"
"Disinilah terletak perbedaan antara cara kerja Li ji pang kami dengan kebanyakan
orang, selain teliti, serius juga seksama, mungkin nona menganggap persoalan ini
hanya suatu masalah kecil, setiap saat dapat dirubah menurut keadaan dan
menghadapinya menurut apa yang dihadapi ketika itu, dengan kecerdasan nona
sudah barang tentu hal ini bukan persoalan, tapi orang lain toh tidak memiliki
kemampuan serta kepandaian silat seperti apa yang nona miliki!"
Kening Nyo hong leng segera berkerut, seakan-akan hendak mengumbar hawa
amarahnya, tapi kemudian niat itu diurungkan, setelah tertawa hambar, sahutnya.
"Betul, apa yang kau ucapkan memang ada benarnya juga!"
"Nona pandai sekali menyesuaikan diri."
"Apakah kau merasa, aku adalah seorang perempuan yang suka menuruti adat
sendiri?"
Kwik soat kun segera tertawa, katanya "Karena kau terlampau cantik, kecantikan
yang membawa kedinginan dan keketusan, membuat orang tak berani menilai mu
secara langsung."
(Bersambung ke jilid 14)
266
Lembah Tiga Malaikat
Oleh: Tjan
Jilid 14
"Kau telah membawa bahan pembicaraan melantur sampai jauh sekali." tukas Nyo
Hong leng.
"Menurut nona Nyo, apa yang harus kita lakukan sebagai persiapan?" kata Kwik
soat kun kemudian kembali ke pangkal pembicaraan mereka.
"Dalam soal ini aku tak bisa melebihi kemampuanmu, lebih baik kau saja yang
mengaturkan untuk kami!"
Kwik soat kun kembali tersenyum.
"Selama ada non Nyo di sini, tidakkah kau terlalu meninggikan kedudukan siau
moay dengan mengaturkan segala sesuatu?"
"Gunakan mereka yang mampu, kalau toh nona Kwik memiliki kemampuan untuk
mengatur siasat, kenapa kami tidak meminta bantuanmu?" jawab Nyo Hong leng
sambil tertawa hambar.
"Siau moay akan mengajukan sebuah rencana, suka dipakai atau tidak, harap
kalian suka mengambil keputusan."
"Katakan!"
"Nama nona Nyo terlalu besar, mungkin orang-orang Sam seng bun sudah menaruh
perhatian atas gerak gerikmu, sudah barang tentu Buyung Kongcu pun tidak
terlepas dari pengawasan orang-orang Sam seng bun, andaikata kita kunjungi
lembah Cui liu kok dengan muka asli kita, tak bisa disangkal lagi, hal ini sama
artinya dengan memberitahukan kepada orang lain tentang asal usul kita."
"Jadi maksud nona Kwik, kita haru berangkat dengan cara menyaru wajah kita
yang sesungguhnya?"
"Paling baik memang begitu!"
267
"Kita berempat, tiga perempuan seorang lelaki harus menyaru sebagai apakah kita,
sehingga mengelabui ketajaman mata orang2 Sam seng bun?"
"Siau moay mempunyai suatu akal bagus, cuma saja terpaksa mesti merendahkan
derajat nona Nyo."
"Semenjak terjun ke dalam dunia persilatan, aku selalu melakukan perjalanan
dengan menggunakan wajah asliku dan belum pernah menyamar, aku pikir
menyamar tentulah suatu permainan yang sangat menarik hati."
Kwik soat kun tertawa. "Konon nona mempunyai suatu kebiasaan yang suka akan
kebersihan, apakah kau tidak risih untuk menempelkan obat-obatan itu di atas
wajahmu?"
Nyo Hong leng tertegun sejenak, kemudian sahutnya. "Kalian benar-benar sangat
lihai, sampai kebiasaan hidup dan kekurangan yang kumiliki pun dapat kau
selidiki dengan begitu jelasnya."
"Itulah sebabnya, terpaksa aku harus merendahkan derajatmu dengan menyarukan
dirimu sebagai seorang kacung bukan..."
"Aku akan menyamar sebagai kacung bukannya siapa?"
"Tentu saja Buyung kongcu!"
Diam-diam Nyo Hong leng menghembuskan napas lega, pikirnya: "Untung saja
sebagai kacung bukannya..."
Kwik soat kun telah berpaling ke arah Siau tin sambil berkata pula. "Kau juga
harus menyamar sebagai kacung buku!"
"Buyung Kongcu seorang masa harus membawa dua orang kacung buku? Terlalu
berlebihan rasanya! seru Siau tin.
Kwik soat kun segera menggeleng.
"Kau akan menyaru sebagai kacung bukuku!" katanya.
Kemudian sambil memandang lagi ke wajah Buyung Im Seng, katanya lebih jauh.
"Kau pun tak boleh muncul dengan wajah aslimu, aku hendak merubah wajahmu
sedikit tua, kemudian ditambah dengan sebuah jenggot panjang, dengan begitu
maka wajah aslimu akan tertutup."
"Tapi, kemana kita harus mencari barang kebutuhan tersebut?" tanya Buyung Im
Seng.
"Soal ini, tak perlu kongcu risaukan, segala sesuatunya telah dipersiapkan dari
tadi."
"Kalau begitu cepatlah turun tangan, agar kita pun segera melanjutkan
perjalanan."
"Sekalipun terburu napsu juga tak usah detik ini juga, kita musti mengatur dulu
segala sesuatunya sampai sempurna, jangan sampai ada yang bocor hingga rencana
kita berantakan di tengah jalan."
Kemudian sambil menuding ke arah sebuah perkampungan nun jauh di sana, dia
menambahkan. "Tuan rumah perkampungan itu mempunyai hubungan akrab
268
dengan perkumpulan Li ji pang kami, bagaimana kalau kita beristirahat dulu di
situ? Selesai menyamar kita baru melanjutkan perjalanan lagi?"
"Apakah perkampungan itupun merupakan salah satu kantor cabang dari Li ji pang
kalian?" tegur Nyo hong leng.
"Itu sih tidak." jawab Kwik soat kun sambil tertawa hambar, "terhadap nona Nyo,
siau moay rasa tidak usah berbohong lagi, sesungguhnya tuan rumah perempuan
dari perkampungan itu dulunya adalah anggota Li ji pang kami."
"Oooh, kiranya begitu!"
"Siau moay akan membawakan jalan."
Selesai berkata dia lantas berangkat lebih dulu menuju ke depan sana.
Begitulah tak selang beberapa saat kemudian sampailah mereka dalam
perkampungan itu, selesai beristirahat dan menyamar, menggunakan kegelapan
malam yang mencekam, mereka lanjutkan perjalanan menuju ke depan.
Sementara itu, dandanan beberapa orang itu telah mengalami perubahan, Buyung
Im Seng memakai jubah panjang dengan menunggang kuda jempolan, ia
mengenakan topeng kulit manusia yang berwarna tembaga dengan jenggot
sepanjang dada, di depan pelana kudanya tergantung sebilah pedang mustika.
Nyo Hon leng yang gemar akan kebersihan enggan memakai obat penyamar, di atas
wajahnya dia hanya mengenakan selembar topeng kulit manusia dan menyamar
sebagai kacung bukunya Buyung Im Seng, ilmu kepandaian menyaru yang dimiliki
Kwik soat kun memang sangat lihai, ia menyamar sebagai seorang kakek dengan
jenggot kambingnya yang panjang.
Siau tin juga menyamar sebagai seorang bocah lelaki kecil yang merupakan kakek
dan cucu dengan Kwik soat kun.
Empat orang dengan empat ekor kuda berjalan menyusuri jalan raya, tapi mereka
tetap mempertahankan suatu jarak tertentu.
Kwik soat kun benar-benar seorang yang amat teliti, sebelum berangkat ia telah
menjanjikan pula tanda rahasia untuk saling mengadakan hubungan, sehingga tak
sampai kedua belah pihak tersesat dan salah mengambil jalan.
Kwik soat kun dan Siau ting berjalan dimuka, sedangkan Buyung Im Seng Nyo
Hong leng mengikuti di belakangnya.
Belasan li setelah meninggalkan perkampungan, Kwik soat kun melarikan kudanya
menelusuri sebuah jalan kecil yang sempit dan sepi...
Sebenarnya Hong leng berjalan di belakang Buyung Im Seng, tiba-tiba mencemplak
kudanya dan melarikannya bersanding dengan pemuda itu, bisiknya: "Toako,
tahukah dimana letaknya lembah Cui liu kok tersebut?"
"Tidak tahu, nona Kwik tidak mengatakannya."
"Mereka sudah mempunyai rencana didalam hatinya, apakah kita harus mengikuti
di belakang mereka tanpa mengetahui keadaan yang sesungguhnya?"
269
"Menurut dugaanku mungkin Kwik soat kun sendiripun tidak tahu dimana
letaknya lembah cui liu kok itu, cuma dia enggan mengutarakannya keluar karena
kuatir hal ini akan menurunkan nama besar perkumpulan Li ji pang mereka, dia
ingin menggunakan ketajaman pendengaran mata-mata Li ji pang mereka untuk
menyelidiki letak lembah Cui liu kok tersebut, kemudian baru memberitahukannya
kepada kita."
Nyo Hong leng termenung dan berpikir beberapa saat kemudian, lalu sahutnya.
"Ehmm, benar juga perkataanmu itu!"
Mendadak terdengar suara derap kaki kuda yang amat ramai berkumandang tiba,
ternyata Siau tin telah melarikan kudanya mendekati dengan cepat.
Tiba di hadapan Buyung Im Seng, mendadak menarik les kudanya dan berhenti.
"Cepat bersembunyi!" serunya kemudian.
"Apa yang terjadi?" tanya Buyung Im Seng dengan wajah agak tertegun.
"Nona Kwik suruh aku memberitahukan kepada kalian bahwa Giok hong siancu
dari lembah Giok hong kok telah datang dari depan sana, sebentar lagi pasti akan
bertemu dengan kita."
"Haaah... Giok hong siancu telah sampai di sini? Mana mungkin ia akan sampai di
sini?" seru Buyung Im Seng dengan perasaan terperanjat.
"Bagaimana mungkin nona Kwik bisa tahu bila Giok hong siancu akan sampai di
sini?" sela Nyo Hong leng pula.
Siau tin menjadi tertegun, kemudian serunya, "Aku musti menjawab pertanyaan
siapa lebih dulu?"
"Sama saja, siapa duluan siapa belakangan bagiku sama sekali tak ada bedanya."
"Tempat ini terletak sangat dekat sekali dengan lembah Giok hong kok, asal Giok
hong siancu sedang keluar dari lembahnya, maka kita segera berjumpa dengan
mereka."
"Apakah sebelum pergi, Giok hong siancu memperlihatkan gejala atau tanda2
tertentu?"
Siau tin termenung dan berpikir sebentar, lalu sahutnya. "Bila kedatangan Giok
hong siancu tak menunjukkkan sesuatu pertanda, bagaimana mungkin enci Kwik
bisa mengetahuinya?"
"Apa pertandanya?"
"Didalam melakukan perjalanan, Giok hong siancu selalu diiringi oleh lebah
kemalanya dalam jumlah yang amat banyak, suara dengungan lebahnya lain
daripada yang lain, sehingga sekilas pendengaran saja dapat segera
membedakannya."
"Oooh, kiranya begitu."
Sementara mereka sedang bicara, Kwik soat kun telah berlalu pula dengan langkah
tergopoh-gopoh, sambil mendekati mereka, serunya dengan cemas. "Giok hong
siancu telah tiba, cepat kita bersembunyi, jangan sampai diketahui olehnya."
270
Buyung Im Seng mempunyai perhitungan sendiri dalam hatinya, kalau bisa
menghindari Giok hong siancu memang paling baik dihindari daripada tindak
tanduknya yang tak tenang menimbulkan kecurigaan orang.
Akan tetapi Nyo hong leng masih saja tidak habis mengerti, tak tahan ia lantas
bertanya. "Gilakah Giok hong siancu itu?"
"Bila mengandalkan ilmu silat yang sebenarnya, tentu saja dia masih belum
tandingan nona Nyo."
"Lantas apa yang mesti kita takuti?"
"Didalam lembah Giok hong kok, Giok hong siancu memelihara banyak sekali jago
lihai, dan lagi setiap bepergian tentu membawa lebah-lebah kemalanya, padahal
kita ada urusan penting perangi Giok hong siancu juga berangan-angan, seandainya
terjadi bentrokan, bukankah hal ini akan menunda perjalanan kita?"
Nyo hong leng mencoba untuk memasang telinga dan memperhatikan baik-baik, ia
dengar suara perputaran roda bergema makin mendekat, agaknya ada sebuah
kereta kuda yang datang dari arah depan.
Sambil tersenyum dia lantas berkata. "Baiklah, kita akan menaruh rasa jeri
kepadanya..."
Dia membalikkan badan dan lari masuk ke balik hutan di tepi jalan.
Kwik soat kun sekalian segera mengikuti pula di belakangnya, masuk ke dalam
hutan itu. Hutan itu letaknya di tepi jalan, tak lama setelah beberapa orang itu
masuk ke hutan tampaklah belasan ekor kuda mengiringi sebuah kereta kuda
berjalan lewat di atas jalan sempit tersebut.
Di atas masing-masing kuda duduklah seorang gadis berpakaian ringkas yang
menyoren pedang ditangan masing-masing membawa sebuah kurungan lebah,
bunyi dengungan keras menggema dari balik kurungan itu, suaranya memang lebih
keras dan berbeda sekali dengan suara lebah biasa.
Memandang hingga rombongan itu menjauh, Nyo hong leng menghembuskan napas
panjang, ujarnya kemudian, "Aku mengerti sekarang!"
"Apa yang nona Nyo pahami?"
"Semenjak perguruan Sam seng bun munculkan diri dari dalam dunia persilatan,
kecuali sembilan partai besar serta Kay pang, hampir semuanya mendengar
perintah dari Sam seng bun, hanya lembah Giok hong kok yang kecil saja tetap
berdiri sendiri, agaknya beberapa keranjang lebah kemala itulah yang diandalkan,
Aaiii...! Andaikata beribu-ribu ekor lebah kemala terbang dan menyerang bersama,
bagaimanapun lihainya ilmu silat yang dimiliki seseorang, akhirnya takkan tahan
juga."
Kwik soat kun tertawa. "Lebah kemala yang dibawa Giok hong siancu sekarang tak
lebih hanya satu dua diantara beribu lainnya, bila berada dalam Giok hong kok,
sekaligus dia dapat melepaskan lebah kemalanya sehingga menutupi angkasa."
"Betulkah di dunia ini tak terdapat kepandaian untuk menaklukan lebah-lebah
beracun itu?"
271
"Mungkin ada, tapi sampai detik ini belum pernah kudengar kalau dalam dunia
persilatan ini terdapat orang yang sanggup menghadapi lebah kemala dari lembah
Giok hong kok."
Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan, kitapun harus melanjutkan kembali
perjalanan kita."
Dia lantas melarikan kudanya meninggalkan tempat itu lebih dulu. Siau tin
menarik tali les kudanya dan menyusul di belakang Kwik soat kun.
"Mari kita juga berangkat!" bisik Nyo Hong leng. Kedua orang itu segera
menjalankan kudanya keluar dari dalam hutan itu.
Setibanya di luar hutan, Nyo hong leng berkata sambil tertawa. "Sekarang
kedudukan kita berbeda, kau adalah majikan sedang aku cuma seorang kacung
buku, sudah sepantasnya jika kau berjalan di depan."
Empat orang dengan terbagi menjadi dua rombongan melanjutkan perjalanannya.
Ada kalanya mereka berkumpul menjadi satu, ada kalanya selisih amat jauh,
mereka saling mengadakan hubungan dengan mengikuti tanda rahasia yang
ditinggalkan.
Akan tetapi bila tiba saatnya untuk beristirahat atau menginap, maka mereka
berkumpul di dalam sebuah rumah penginapan yang sama.
Tengah hari itu, sampailah mereka di tepi sebuah sungai kecil, Nyo hong leng
segera menyusul ke samping Kwik soat kun sambil bisiknya. "Nona Kwik, agaknya
hari ini sudah mencapai hari ketiga."
"Benar!" "Bila sebelum matahari terbenam nanti kau masih belum berhasil
menemukan letak lembah Cui liu kok itu, berarti batas waktu nona telah habis dan
kita akan berpisah."
"Itulah sebabnya Siau moay harus mengajak kalian masuk ke dalam lembah Cui liu
kok sebelum matahari terbenam nanti." jawab Kwik soat kun sambil tertawa
hambar.
"Sekalipun begitu kebetulan malam nanti kita berhasil menemukan lembah Cui liu
kok, tapi aku rasa nona Kwik tak usah turut kami untuk menyerempet bahaya
lagi."
"Kenapa?" "Sebab batas waktu nona Kwik telah habis, tentu saja kau harus pergi
meninggalkan kami."
"Sayang Siau moay telah memperoleh persetujuan dari pangcu untuk
memperpanjang cutiku menjadi setengah bulan." ucap Kwik soat kun sambil
tertawa lebar.
"Hanya khusus untuk menemani kami memasuki lembah Cui liu kok?"
"Omongnya saja cuti, sesungguhnya termasuk juga urusan dinas, oleh sebab itu
pangcu kami telah mengutus pula empat orang anggotanya untuk datang kemari
membantu kita."
Nyo hong leng segera berpaling sekejap ketika tidak nampak ada orang yang
berlalu lalang di situ, dengan suara rendah dia lantas bertanya. "Dimana
orangnya?"
272
"Mereka akan secara langsung berangkat menuju ke lembah Cui liu kok, mungkin
saja mereka telah menyamar pula menjadi orang lain dan sudah tiba cukup lama di
sana."
"Orang dipilih pangcu kalian untuk bertarung melawan orang-orang Sam seng bun,
tentunya merupakan inti kekuatan perkumpulan kalian bukan?"
"Itu mah tergantung dari sudut pandangan yang bagaimana? Kalau dibilang soal
ilmu silat, maka dalam perkumpulan kami sulit rasanya untuk menemukan
seseorang yang bisa menandingi kehebatan nona, apalagi kalau dibilang untuk
berhadapan dengan pihak Sam seng bun, cuma ke empat orang yang dikirim
kemari semuanya memiliki kemampuan khusus yang dapat diandalkan."
Nyo Hong leng tahu sekalipun ditanyakan lebih lanjut juga tak akan memperoleh
hasil apa-apa, maka sambil tertawa hambar, katanya. "Selama beberapa hari ini,
nona sudah berapa kali berhubungan dengan orang2 dari perkumpulanmu?"
"Cuma enam kali, apakah nona Nyo menemukan sesuatu yang tidak beres...?"
"Segala sesuatunya berjalan dengan baik, kita bekerja-sama dengan perkumpulan
kalian memang benar-benar lebih leluasa."
Pada saat itulah tiba-tiba tampak seekor kuda dilarikan kencang-kencang,
mendekat dari depan menyeberangi sungai kecil, dan lewat disamping beberapa
orang itu.
Memandang hingga bayangan kuda itu lenyap dikejauhan sana, Kwik soat kun
segera berbisik. "Kita juga harus segera berangkat."
Dia melompat naik ke atas kuda lebih dulu dan menyeberangi sungai kecil itu. Nyo
hong leng berpaling dan memandang sekejap ke arah Buyung Im Seng, kemudian
bisiknya. "Bila menghadapi sesuatu peristiwa, lakukanlah dengan berani, aku pasti
akan selalu berada di sisimu."
Suaranya lemah lembut tapi pada ucapannya gagah perkasa, membuat Buyung Im
Seng merasakan semangat jantannya berkobar kembali, dengan cepat ia
mencemplak kudanya dan melarikannya kencang-kencang.
Nyo hong leng segera mengejar dari belakang, betul juga dia mengikuti di sisi
Buyung Im Seng. Siau tin berjalan paling belakang, setelah menyeberangi sungai
kecil itu, dia baru menyusul ke belakang Kwik soat kun.
Empat ekor kuda dilarikan kencang2, entah beberapa saat sudah lewat, kuda-kuda
itu sudah basah bermandi keringat. Tiba-tiba Nyo hong leng berkata dengan
menyampaikan ilmu suaranya. "Toako, perhatikan baik-baik gerak-gerik Kwik soat
kun!"
Ketika Buyung Im Seng memperhatikan perempuan itu dengan seksama, maka
tampaklah setiap melakukan perjalanan sekian waktu, Kwik soat kun pasti
mengalihkan sorot matanya ke tepi jalan dan memperhatikan sekejap.
Jelas kedua belah sisi jalan yang ditinggalkan tanda rahasia perkumpulannya,
cuma saja tidak dikenali orang lain.
273
Buyung Im Seng manggut2 sebagai pertanda kalau dia memahami arti dari kata
Nyo hong leng.
Mendadak Kwik soat kun menarik tali les kudanya, binatang yang sedang dilarikan
kencang itu seketika terhenti secara tiba-tiba.
Siau tin yang mengikuti di belakang Kwik soat kun sama sekali tak menyangka ke
situ, hampir saja tubuhnya menumbuk diri Kwik soat kun yang berada
dihadapannya.
Dengan cepat Buyung Im Seng dan Nyo hong leng sama-sama menghentikan pula,
gerakkan tubuhnya.
Ketika mendongakkan kepalanya maka tampaklah di atas sebuah tebing yang
curam penuh tumbuh aneka bunga yang berwarna merah, jauh memandang ke
depan warna tersebut amat menyolok mata, tampak tebing yang ratusan kaki
tingginya itu hampir semuanya tertutup oleh bunga warna merah, hal ini jelas
menunjukkan kalau bunga itu ditanam dengan tenaga manusia.
Segulung angin gunung berhembus lewat menggoyangkan bunga-bunga berwarna
merah. Dengan suara lirih Kwik soat kun lantas berbisik. "Ang hoa gay (Tebing
bunga merah)!"
"Ang hoa gay bukan lembah Cui liu kok, apa sangkut pautnya tempat ini dengan
tujuan kita?" seru Buyung Im Seng.
Lembah Cui liu kok terletak di belakang tebing Ang hoa gay, cuma kalau dilihat
dari keadaan medan di sini..."
"Bagaimana?"
"Berbahaya sekali!" Buyung Im Seng segera mengalihkan sinar matanya ke depan,
tampak tanah pegunungan saling bersambungan dengan lembah nan hijau,
sejumlah mata memanjang bunga merah bertaburan dimana mana, betul-betul
suatu pemandangan alam yang sangat indah.
Dengan kegirangan pemuda itu lantas bertanya. "Kenapa aku tidak menamakan
sesuatu yang kurang beres?"
"Jika kongcu mau memperhatikan dengan seksama, maka tidak sulit bagimu untuk
mengetahuinya..."
Sambil menunjuk ke arah sebuah lembah di tempat kejauhan sana, katanya. "Jika
kita ingin menuju ke belakang tebing ang hoa gay tersebut, berarti kita harus
melewati lembah tersebut, bukan?"
Buyung Im Seng memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kemudian sahutnya.
"Benar, memang harus mengelilingi lembah tersebut."
"Nah, tempat yang amat berbahaya itu letaknya justru didalam lembah tadi."
"Sekarang kita toh belum sampai mendekat lembah itu, darimana kau bisa tahu
kalau tempat itu sangat berbahaya?"
Kwik soat kun segera tertawa. "Baiklah." dia berkata, "mari kita dekati tempat itu
coba kita buktikan benar atau tidak apa yang kukatakan itu."
274
"Bila kita harus melakukan perjalanan dengan menunggang kuda, aku rasa kita
musti mengelilingi suatu jalan yang panjang sekali."
"Bila kita tinggalkan kuda dan berjalan kaki, sepertanak nasi kemudian sudah
akan sampai di tepi lembah tersebut."
"Bagaimana pula dengan ke empat ekor kuda kita ini?"
"Ya, terpaksa kita tinggalkan," jawab Kwik soat kun sambil tertawa hambar.
Buyung Im Seng termenung beberapa saat lamanya, kemudian katanya. "Kalau
jurang yang dalam itu tak bisa diseberangi, lebih baik kita balik kemari dan
selanjutnya berjalan dengan memutar."
"Menurut apa yang kuketahui, disinilah terletak satu-satunya jalan menuju ke
lembah Cui liu kok.."
Setelah berhenti sejenak, lanjutnya. "Aku masih dapat memberitahukan satu hal
lagi untuk kongcu, yakni sebagian besar lembah Cui liu kok dibuat dengan tenaga
manusia."
"Bila lukisan yang dibuat anggota perkumpulan Li ji pang tidak keliru, seharusnya
pohon liu yang berada dalam lembah itu merupakan pohon-pohon tua yang sudah
berusia lama itu berarti Sam seng bun sudah bercokol didalam lembah Cui liu kok
semenjak puluhan tahun berselang."
"Dalam perguruan Sam seng bun terdapat banyak sekali manusia-manusia
berbakat mereka bisa saja memindahkan pohon-pohon tua yang sudah berusia
puluhan tahun ke dalam lembah tersebut."
"Aku tidak habis mengerti, kenapa mereka harus menanam pohon liu saja didalam
lembahnya, kenapa tidak menanam pepohonan yang lain?" sela Nyo hong leng
dingin.
"Hal ini merupakan suatu rahasia besar, juga merupakan kunci daripada persoalan
ini, bila rahasia ini bisa disingkap mungkin kita akan segera memahami duduk
persoalan yang sesungguhnya didalam perguruan sam seng bun tersebut."
Sinar matanya pelan-pelan dialihkan dari wajah Nyo hong leng ke wajah Buyung
Im Seng, kemudian katanya lebih lanjut. "Masih ada satu persoalan lagi, entah
apakah kalian berdua sudah tahu...?"
"Dewasa ini kita berada dalam keadaan senasib sependeritaan, aku rasa nona Kwik
juga tak usah berbicara secara berbelit-belit lagi." tukas Nyo hong leng.
"Nona cerdas dan hebat, siau moay rasa tentunya nona sudah tahu bukan...?"
"Apakah orang-orang Sam seng bun telah mengetahui identitas kita?"
Kwik soat kun segera mengangguk. "Kecerdasan nona memang luar biasa sekali,
hanya didalam sepatah kata saja sudah dapat menebaknya secara jitu!"
"Sungguhkah itu?" dengan wajah tertegun dan setengah tak percaya Buyung Im
Seng berseru.
275
"Sungguh!" "Soal ini, kenapa aku tidak tahu?" "Nona Nyo menduganya dengan
mengandalkan kecerdasan, sedangkan aku mendapat tahu dari laporan anak murid
perkumpulan kami."
"Tapi aku tidak melihat ada orang berbicara dengan dirimu!" seru Nyo hong leng.
"Mereka meninggalkan tanda rahasia ini untuk menyampaikan kabar kepadaku."
"Maksudmu kita telah terjerumus ke dalam kepungan perangkap yang sengaja
diatur oleh orang-orang Sam seng bun?"
"Mereka telah mementangkan jaringnya lebar-lebar dan sangat mengharap kita
bisa mengantar diri ke dalam perangkapnya."
"Apakah kita hanya mempunyai cara untuk menghantarkan diri saja?"
"Selain ini, kita masih mempunyai cara lagi."
"Apakah caramu itu?"
"Putar badan dan tinggalkan tempat ini."
"Dengan susah payah kita mencari sampai di sini, mana boleh pulang dengan
tangan kosong?"
"Kalau memang begitu, kita harus pergi mengadu nasib!" Mendadak Nyo hong leng
menyela.
"Nona, boleh aku mengajukan persoalan?"
"Tidak berani, silahkan nona Nyo utarakan!"
"Apakah orang-orang Sam seng bun mengetahui dengan jelas identitas dari kita
semua?"
"Siau moay cuma tahu kalau dia mengetahui identitasku, mungkin belum tentu dia
bisa mengetahuinya."
"Kenapa bisa demikian?"
"Alasannya gampang sekali, mustahil Biau hoa lengcu menyamar sebagai seorang
kacung buku, sebab hal ini sama sekali tak bisa diterima dengan akal sehat."
"Nona Kwik, keadaan yang terbentang di depan mata kini sudah amat jelas, kecuali
perkumpulan kalian sudah mempunyai kontak dengan pihak Sam seng bun,
seharusnya kita sudah berada dalam keadaan mati hidup bersama-sama bukan?"
"Apakah nona Nyo merasa tak berlega hati terhadap diriku?"
"Ini sih tidak, maksud siau moay, aku rasa dalam keadaan dan situasi seperti
sekarang ini, kita harus bekerja-sama dengan ketat, siapa punya kecerdasan
sumbangkanlah kecerdasan, siapa bisa menyumbangkan akal muslihat,
sumbanglah akal muslihat..."
Kwik soat kun termenung sebentar kemudian katanya. "Aku mengerti, mari kita
berangkat!"
Setelah berkata dia lantas berangkat lebih dulu menuju ke depan sana.
Dari atas pelana kudanya Buyung Im Seng mengambil turun senjata tajam serta
barang kebutuhannya, kemudian menyusul di belakang Kwik Soat bun...
276
Nyo hong leng berjalan di belakang Buyung Im Seng, sedangkan Siau Tin
mengikuti di belakang Nyo Hong leng.
Setelah melewati suatu tanah perbukitan, mereka tiba di depan sebuah jeram yang
dalam sekali, mencoba memperhatikan keadaan disekitar sana, tampak jeram itu
melingkar ke atas dan mengelilingi bukit tersebut. Apa yang diduga Kwik soat kun
memang tidak salah bila ingin melingkari jeram itu, entah berapa jauh mereka
harus menempuh dan berapa bukit lagi yang harus dilewati.
Nyo hong leng mencoba untuk melongok ke jurang itu, dalamnya tak terhingga,
mungkin mencapai beberapa ratus kaki lebih.
Dengan cepat dia pasang telinga dan mendengarkan dengan seksama, lamat-lamat
dari dasar jurang terdengar suara gemuruh yang keras sekali, jelas di bawah jurang
itu mengalir sebuah sungai dengan air yang deras sekali.
Buyung Im Seng lantas berkata. "Kecuali kita menuruni jurang ini dengan
mempergunakan rotan, rasanya aku tak bisa menemukan cara lain yang bisa
dipakai untuk menyeberangi jurang dalam ini."
Kwik soat kun memperhatikan pula tempat itu sekejap, kemudian ujarnya pelan.
"Rupanya di sini terdapat sebuah jembatan penyeberangan tapi sekarang jembatan
itu telah mereka hancurkan."
Nyo hong leng mencoba untuk menundukkan kepalanya, benar juga di sana ia
jumpai ada sebatang besi yang tergantung di bawah jurang, besi itu tertanam
dalam-dalam dibalik batu cadas yang kuat, jelas biasanya dipakai untuk tempat
gantungan rantai, cuma sekarang rantainya sudah diambil orang.
"Jika kita sedang menuruni jurang ini dengan rotan, kemudian mendapat serangan
ketika berada ditengah jalan, berapa bagian kah harapan kita untuk hidup?" kata
Kwik soat kun lagi.
Nyo hong leng menundukkan kepalanya dan memandang sekejap ke dasar lembah,
kemudian katanya, "Andaikata ditengah jalan ada orang melancarkan serangan
kepada kita, dan ilmu silat yang dimiliki orang itu hanya separuh saja dari ilmu
silat serta kepandaian yang kita miliki, maka sudah pasti kalian akan mati
terbunuh, sedangkan aku akan menjadi satu-satunya orang yang berhasil
meloloskan diri dari serangan ini."
Kwik soat kun tertawa hambar. "Menurut apa yang nona bicarakan, apakah kita
hanya bisa mengundurkan diri dari sini?" katanya.
"Tidak, aku akan turun lebih dulu, dan membantu kalian untuk membersihkan
dulu semua rintangan yang ada."
"Nona tidak boleh turun tangan secara sembarangan, menurut laporan anggota
perkumpulan kami, kau adalah satu-satunya orang yang belum berhasil mereka
tebak indentitasnya, bila kau sembarangan turun tangan, bukankah hal ini sama
artinya dengan membongkar rahasia sendiri? Lagi pula kalau toh kita sudah
diketahui lawan, tapi sepanjang jalan tak nampak ada yang menghadang, itu
berarti mereka memang ada niat untuk memancing kita memasuki lembah Cui liu
kok."
277
"Menurut pendapatmu, mereka tak akan melancarkan serangan kepada kita dikala
kita turun ke bawah nanti?"
"Siau moay memang berpendapat demikian."
"Andaikata mereka turun tangan?"
"Siau moay pun telah membuat persiapan yang matang, aku rasa selain
mengandalkan ilmu silat yang sesungguhnya, seharusnya masih ada cara lainnya
lagi."
"Kau hendak menghadapi mereka dengan memakai senjata rahasia?" tanya Nyo
hong leng.
"Mempergunakan senjata rahasia hanya merupakan salah satu cara yang bisa
dipergunakan, aku rasa semestinya masih ada cara yang lain lagi."
"Baiklah, nona begitu bersikeras dengan pendapatmu, tampaknya kau telah
mempunyai persiapan yang matang."
Kwik soat kun tertawa hambar. "Ya, terpaksa kita harus mengadu nasib!" katanya.
Oo(00)oO
Bagian ke 21
Beberapa orang itu segera bekerja keras dengan mengumpulkan banyak sekali
rotan-rotan yang sudah tua, kemudian disambungnya satu per satu hingga
mencapai ke dasar lembah.
Dengan berpegangan pada rotan itu, pelan-pelan Kwik soat kun merambat turun.
Diluaran dia tampak tenang seakan-akan tak pernah terjadi apa-apa, padahal
didalam hati kecilnya merasa tegang sekali, dengan memusatkan segenap
perhatiannya diam-diam dia mengawasi ke sekeliling tempat itu.
Siapa tahu apa yang kemudian terjadi sama sekali di luar dugaan beberapa orang
itu, sampai Kwik soat kun mencapai dasar jeram, ternyata tak ada seorang
manusiapun yang melancarkan sergapan.
"Sekarang giliranku!" kata Buyung Im Seng. Dengan berpegang pada rotan, diapun
meluncur turun. Ternyata dari atas tebing curam itu tak nampak ada orang yang
melancarkan serangan, Buyung Im Seng berhasil pula mencapai dasar lembah itu
dengan selamat.
Menyusul kemudian Nyo hong leng dan Siau tin juga meluncur turun serta berdiri
di atas sebuah batu cadas besar yang menempel di atas dinding tebing. Air di dasar
jeram itu mengalir dengan derasnya, ombak yang besar sangat mengerikan hati.
Batu cadas besar dimana mereka berada sekarang letaknya di atas sungai tersebut.
Nyo hong leng mendongakkan kepalanya dan memperhatikan puncak bukit di
depan sana, menyaksikan dinding yang licin dan curam itu, dia mengerutkan
dahinya, lalu berkata. "Nona Kwik kita sudah turun, tapi bagaimana cara untuk
menyeberangi sungai deras itu dan merangkak naik ke atas dinding tebing yang
curam di seberang sana?"
278
Dengan kening berkerut Kwik soat kun berseru. "Kita sudah tertipu, seharusnya
kita meninggalkan satu orang untuk berjaga di atas tebing sana!"
Belum habis dia berkata, rotan yang mereka pergunakan itu sudah diputus orang
dan terjatuh ke bawah, kemudian tercebur ke sungai dan dibawa arus, dalam waktu
singkat rotan tadi sudah lenyap tak berbekas.
Nyo hong leng mendongakkan kepala dan memandang sekejap ke arah dinding
curam di seberang sana, kemudian ujarnya. "Sekarang kita sudah tiada jalan
mundur lagi, satu-satunya jalan adalah maju terus."
Kwik soat kun tertawa. "Tapi siau moay tidak menemukan ada jalan di depan sana,
kalau bicara tentang bahaya maka maju jauh lebih berbahaya daripada mundur,
apalagi pertama kali yang harus kita hadapi terlebih dahulu adalah menyeberangi
sungai deras ini."
Arus sungai yang amat deras itu berwarna hijau membesi dengan buih-buih
gelombang berwarna putih, tidak diketahui berapa dalamnya sungai tersebut. Nyo
hong leng melirik sekejap ke arah Kwik soat kun, lalu ujarnya.
"Nona Kwik agaknya kau ada maksud untuk mempersulit diriku bukan? Jalan ini
adalah kau yang tunjukkan buat kami, sekarang kita sudah terjebak dalam posisi
yang amat terjepit, tapi kau malah tidak memperlihatkan rasa sesal barang
sedikitpun jua."
"Itulah disebabkan kabar berita dari Sam seng bun terlampau cepat dan tajam, dan
hal ini pula merupakan salah satu hal yang mencurigakan hati siau moay selama
ini."
"Apa pula yang kau curigai?" "Curiga kalau di dalam perkumpulan Li ji pang kami
juga terdapat mata-mata dari Sam seng bun."
"Betul!" seru Buyung Im Seng dengan cepat. "sepanjang perjalanan datang kemari,
kita sudah lakukan dengan sangat berhati-hati, sedikitpun tiada yang
mencurigakan, andaikata dalam tubuh Li ji pang tak ada mata-mata yang
membocorkan rahasia ini, dari mana mereka bisa tahu semua gerak-gerik kita?"
"Ia tak mau menyebutkan asal usul dari nona Nyo, ini menunjukkan kalau orang
itupun bukan orang penting dalam perkumpulan kami, asal aku dapat pulang
untuk melakukan penyelidikan, rasanya tak sulit untuk menemukan orang itu."
"Itu mah urusan perkumpulan kalian." Tukas Nyo hong leng, "persoalan terpenting
yang kita hadapi sekarang adalah bagaimana caranya untuk menyeberangi arus
sungai yang amat deras ini?"
"Aku mempunyai sebuah akal bagus!" kata Kwik soat kun kemudian.
Dia lepaskan jubah biru yang dikenakan dan merobeknya menjadi selembar tali
kain lalu diikatnya satu dengan yang lainnya membentuk seutas tali yang panjang,
setelah itu dia mencabut keluar pedang milik Siau tin, mengikat gagang pedang
tersebut dengan tali kain tadi lalu menengok ke arah Buyung Im Seng sambil
berkata.
"Tenaga sambitanku terlampau lemah, dapatkah kongcu menimpukkan pedang ini
melewati arus sungai deras ini?"
279
Buyung Im Seng segera mengalihkan sinar matanya ke depan, ia lihat selisih kedua
tepian sungai mencapai empat kaki lebih, andaikata tiada mempunyai ilmu
meringankan tubuh yang sempurna, sulit untuk menyeberanginya.
Diam-diam menilai kemampuan sendiri, dirasakan untuk menimpuk pedang
tersebut melewati arus deras rasanya masih berlebihan, tapi diapun tidak yakin
apakah pedang yang disambit ke depan tersebut mampu menembusi dinding batu
yang sangat keras itu.
Maka jawabnya kemudian. "Dapatkah pedang ini menembusi dinding tebing, sulit
bagiku untuk memberikan jaminan."
"Di depan sana dekat dinding tebing terdapat sebatang pohon siong yang rendah,
asal kau dapat melemparkan pedang itu pada dahan pohon siong tersebut, aku rasa
ini sudah lebih dari cukup."
"Jarak tempat ini dengan pohon siong rendah itu mencapai enam kaki lebih,
mampukah tali ini mencapai tempat tersebut?"
"Sewaktu membuat tali tadi, sudah mengukur panjang tali tersebut, tali ini ada
delapan kaki panjangnya, tak usah khawatir kekurangan, lemparkan saja ke situ!"
"Biar aku saja!" bisik Nyo hong leng tiba-tiba. "Tunggu sebentar!" cegah Kwik soat
kun.
Buyung Im Seng tertegun, lalu katanya. "Dalam keadaan dan situasi seperti ini,
soal mati hidup kita sudah merupakan masalah yang gawat, dapatkah kalian
berdua sedikit saling mengalah?"
"Kau salah paham", kata Kwik soat kun, "maksudku nona Nyo adalah satu-satunya
orang yang masih belum diketahui identitasnya oleh pihak lawan, diapun
merupakan orang yang berilmu silat paling tinggi diantara kita berempat, bilamana
keadaan tidak terlalu memaksa lebih baik jangan sampai ketahuan orang lain."
"Maksudmu disekitar tempat ini sudah ada orang yang sedang mengawasi gerakgerik
kita?"
"Aku yang rendah telah memeriksa sekeliling tempat ini, pada jarak sepuluh kaki
dari kita memang tiada musuh yang bersembunyi, tapi pada dinding seberang dan
puncak bukit itu sudah pasti ada musuh yang sedang mengawasi kita, mungkin
saja pihak lawan sengaja mengatur jebakan ini dengan tujuan hendak mencoba
kepandaian silat kita, hati-hati kan tak ada salahnya, bukan?"
Buyung Im Seng mengangguk berulang kali, setelah mendengar perkataan itu.
"Perkataan nona Kwik memang benar, baiklah terpaksa aku akan memperlihatkan
kejelekanku, harap kalian jangan menertawakan diriku..."
Setelah berkata, tangan kanannya digetarkan melempar pedang tersebut ke depan.
Dengan diiringi suara desingan tajam yang memekakkan telinga, pedang itu
meluncur ke tepi seberang sana dan menancap pada pohon siong pendek di tepi
seberang sana.
280
Kwik soat kun mencoba untuk menarik tali kain itu, terasa tali itu kuat sekali dan
pedang itupun menancap dalam sekali, maka sambil tersenyum katanya. "Tenaga
sambitan dari kongcu sungguh luar biasa sekali."
Sembari berkata, dia lantas mengikatkan tali kain itu pada sebuah batu cadas
besar dekat dinding tebing, kemudian melanjutkan. "Siapa yang akan menyeberang
lebih dulu?"
"Biar aku yang menyeberang duluan!" jawab Buyung Im Seng.
"Boleh, cuma sebelum kongcu menyeberangi sungai ini, terlebih dulu ingin
kuterangkan akan satu hal."
"Katakanlah nona!"
"Kalau dilihat dari situasi yang kita hadapi sekarang, sungai dengan arus deras ini
memang sengaja mereka persiapkan untuk menjajal kepandaian silat yang kita
miliki dengan maksud untuk mengetahui identitas kita yang sebenarnya, sebelum
diketahui lawan, aku sangat berharap agar nona Nyo bersedia merahasiakan
sedikit kemampuannya, agar tak sampai menimbulkan kecurigaan mereka."
"Aku mengerti." Ucap Nyo hong leng. "Bila nona dapat mengingat selalu kalau saat
ini dirimu bukan Biau hoa lengcu, melainkan seorang kacung buku saja, maka
sudah pasti penampilanmu tak akan terlampau menyolok."
Kemudian sambil mengulapkan tangannya dia berseru. "Silahkan kongcu!"
Ternyata dia kuatir Nyo hong leng enggan menuruti nasehatnya dan berang, maka
sengaja menahan Buyung Im Seng lebih dulu dengan tujuan untuk mengatasi halhal
yang tak diinginkan.
Diam-diam Buyung Im Seng menghimpun tenaga dalamnya, lalu melompat naik
tali kain dan mengerahkan ilmu meringankan tubuh Cau sung hui (terbang di atas
rumput) untuk menyeberangi sungai itu melewati tali kain tersebut.
Menyusul kemudian Kwik soat kun dan Siau tin juga ikut menyeberang. Tentu saja
ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Siau tin tidak sepadan bila dibandingkan
dengan Kwik soat kun, ketika hampir mencapai tepi seberang sana, ia merasa tak
tahan, terpaksa ia melompat ke depan.
Nyo hong leng adalah orang terakhir yang menyeberangi sungai tersebut, kalau
berbicara tentang ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya, jangankan melewati
tali kain tersebut, sekalipun melompati tali tersebut secara langsung pun bukan
suatu masalah yang sulit baginya, tapi sekarang dia harus bermain sandiwara,
dengan sepasang tangan memegang tali kain itu erat-erat, dia merangkak
selangkah demi selangkah ke seberang, kalau dilihat dari gayanya seakan akan dia
lebih jauh kepayahan dari pada Siau tin tadi.
Setelah semua orang tiba di pantai seberang, Nyo hong leng baru menghembuskan
napas panjang. "Mirip bukan dengan pemain sandiwara tadi...?" bisiknya kemudian
dengan suara lirih.
Kwik soat kun tersenyum, dia mendongakkan kepalanya memandang sekejap
sekeliling tempat itu, kemudian katanya. "Tampaknya kita harus mendaki
melewati tebing yang amat curam ini!"
281
Baru saja selesai berkata, tiba-tiba terdengar suara kelintingan berbunyi, dan tahutahu
ada empat buah keranjang bambu yang diturunkan dari dinding tersebut.
Menyusul kemudian kedengaran ada seseorang sedang berseru dengan suara yang
amat nyaring dari puncak tebing itu.
"Bila kalian berempat ingin naik ke atas tebing dengan menunggang keranjang
tersebut, maka harap kalian melaporkan nama serta asal usul yang sebenarnya,
terus terang kami sudah mengetahui identitas kalian yang sebetulnya, maka bila
ada yang mencoba untuk membohongi kami dengan menggunakan nama palsu,
maka terpaksa kamipun akan memutuskan tali keranjang tersebut, ditengah jalan
agar dia tercebur dalam sungai berarus deras di bawah tebing sana."
Kwik soat kun segera menghimpun tenaganya dan mendongak kepala lalu serunya
keras2. "Bila kami tidak bersedia melaporkan nama kami yang sebenarnya...?"
"Kalau memang begitu, maka terpaksa kami akan persilahkan kalian untuk
mendaki ke atas puncak tebing ini dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuh
yang kalian miliki, tapi sebelumnya akan kuterangkan lebih dulu, bila sampai
ditengah jalan nanti, bisa jadi kami akan jatuhkan dua belas balok kayu dan batu
cadas besar untuk menyerang kalian, kecuali kalian merasa yakin dapat mengatasi
serangan2 itu kalau tidak hanya satu jalan yang bisa kalian lewati, yakni
melaporkan nama kalian."
Kwik soat kun segera mengerutkan dahinya rapat-rapat, katanya kemudian setelah
termenung sejenak.
"Tebing karang itu ribuan kaki tingginya, lagi pula tegak lurus dan licin sekali,
untuk mendaki saja sudah tidak mudah, apalagi bila diserang dengan dua belas
batang balok kayu ditambah batu-batu cadas besar, aku rasa sulit buat
menghindari diri dari musibah tersebut."
"Bukan cuma sulit, pada hakekatnya kita sudah tidak punya kesempatan lagi
untuk menghindarkan diri." Kata Nyo hong leng.
"Ya, tampaknya kita memang harus menuruti perintah mereka itu!" kata Kwik soat
kun kemudian sambil mengangguk.
Dia lantas mendongakkan kepalanya memandang ke puncak tebing itu, lalu
serunya. "Aku tidak percaya kalau kalian sudah mengetahui identitas kami semua!"
"Tidak sulit bila kalian ingin membuktikannya." Sahut orang di atas puncak tebing
itu dengan lantang, "asal kalian berani melaporkan nama palsu, maka setibanya
ditengah bukit nanti kami akan perintahkan orang untuk menjatuhkan balok kayu
dan batu cadas besar untuk menyerang kalian."
"Ooh.. itu kan terlalu berbahaya!"
Orang yang berada di atas puncak tebing itu segera tertawa terbahak-bahak,
"Ha... ha.. jika kau takut bahaya, juga tak ingin menderita kerugian besar, sulit
juga untuk menghadapi keadaan begini!"
282
"Aku punya sebuah akal bagus yang dapat membuat kedua belah pihak sama-sama
tidak rugi, tapi menguntungkan pula masing-masing pihak, bersediakah kau
mendengarnya?"
"Baik! Coba kau katakan lebih dulu," ucap orang itu.
"Bila kau akan benar2 sudah mengetahui identitas kami yang sebenarnya, tak ada
salahnya bila secara langsung menyebut nama kami yang sebenarnya, maka kami
segera akan memulihkan kembali wajah kami yang sebenarnya dan naik ke atas
keranjang bambu itu."
Orang yang berada di atas tebing itu tampak termenung sebentar, lalu menjawab.
"Baiklah jika kami sekalian tidak meluluskan permintaan kalian mungkin kalian
masih menganggap kami sedang bersiasat untuk membohongi kalian."
"Aku yakin kalau caraku ini adil sekali, semua orang tidak bakal dirugikan dan
siapapun tak dapat bersiasat licik untuk membohongi pihak lawannya."
Tiba-tiba Nyo Hong leng berbisik lirih. "Cara ini bagus sekali, apakah mereka benar
mengetahui identitasku yang sebenarnya, dengan cara begini kita bisa mengetahui
dengan jelas dan pasti."
Sementara itu dari puncak tebing telah terdengar suara seseorang berseru dengan
lantang. "Wakil ketua dari perkumpulan Li ji pang, Kwik soat kun!"
Kwik soat kun segera tersenyum. "Betul, memang aku orangnya, kabar berita yang
kalian peroleh sungguh cepat." Serunya.
"Buyung kongcu, Buyung Im Seng!"
"Benar, aku berada di sini!" sahut Buyung Im Seng segera dengan suara lantang.
"Masih ada lagi nona Siau tin, juga berasal dari perkumpulan Li ji pang...!"
"Bagus sekali." Siau tin berseru lantang, "bahkan aku yang berkedudukan
rendahpun dapat kalian ketahui, sungguh luar biasa sekali pendengaran kalian."
Ketiga orang itu segera mendekati keranjang bambu tersebut siap untuk
menaikinya, tetapi ketika tidak terdengar suara teriakan lagi dari atas tebing,
Kwik soat kun segera berpaling ke arah Nyo hong leng dan berkata sambil tertawa
hambar.
"Kami semuanya berjumlah empat orang, kini kalian baru memanggil tiga orang
saja."
Suara di atas tebing itu segera menyahut. "Masih ada seorang lagi adalah seorang
yang tak tahu diri, tentu saja kamipun tak usah menyebutkan namanya lagi."
Mendengar ucapan tersebut, Kwik soat kun lantas berbisik dengan suara lirih.
"Tampaknya mereka masih belum tahu identitasmu, ilmu silat nona sudah
mencapai puncak kesempurnaan yang tak terhingga, aku rasa untuk merahasiakan
kemampuan sendiri tentu tak sulit bukan? Yang sulit adalah kalau perempuan
untuk menyamar sebagai laki-laki, gampang sekali hal ini diketahuinya, terpaksa
aku haru menurunkan derajatmu untuk sementara waktu menyaru sebagai seorang
anggota Li ji pang kami!"
"Tapi siapa namaku?"
283
"Kau bernama Sian hong saja! Dalam perkumpulan Li ji pang tiada pembagian
tingkat kedudukan tak sedikit diantara mereka yang mempergunakan nama
kecilnya sebagai sebutan, sebab di kemudian hari mereka harus kawin, maka
selama bekerja dalam Li ji pang mereka hanya numpang untuk sementara saja."
Sambil tertawa Nyo hong leng mengangguk. "Terhadap peraturan yang tertera pada
perkumpulan Li ji pang, Siau moay merasa kagum sekali, sayang pangcu kalian
selalu tidak bersedia untuk menjumpai Siau moay."
Dalam pembicaraan suatu perjalanan beberapa hari ini baik dalam tindak tanduk
maupun pembicaraan, Nyo hong leng dan Kwik soat kun boleh dibilang selalu
bentrok satu sama lainnya, berulang kali mereka saling beradu kecerdasan, meski
sering kali Kwik soat kun mengalah dikala keadaan sudah gawat dan menghindari
bentrokan yang tidak diinginkan, namun lambat lain Nyo hong leng dapat
ditaklukkan juga oleh Kwik soat kun.
Tampak Kwik soat kun mendongakkan kepalanya dan berseru dengan suara
lantang. "Yang ini, diapun seorang anggota perkumpulan kami yang bernama Sian
hong, sudah pernah mendengar?"
Dari atas puncak tebing itu segera berkumandang suara terbahak-bahak yang amat
nyaring. "Ha.. ha.. ha.. nama yang tidak pernah terdengar percuma saja disebutkan,
sebab tahu atau tidak toh sama saja bagi kami!"
Nyo hong leng tersenyum, dia lantas melangkah pula menuju ke arah ranjang
bambu tersebut.
Dalam waktu singkat ke empat buah keranjang bambu itu sudah ditarik naik ke
puncak tebing, cepat sekali gerakannya, hanya dalam waktu seperempat jam
mereka sudah tiba di atas puncak tebing itu.
Ketika Buyung Im Seng mendongakkan kepalanya, ia saksikan ada seorang kakek
berjubah abu-abu sedang berdiri di puncak sambil berpangku tangan, sementara
empat lelaki berpakaian ringkas yang menyoren golok masing-masing memegangi
seutas tali berdiri di tebing itu, sementara sebuah tiang kayu yang kuat terpancang
di sana, diatasnya melintang kayu besar pada kayu besar yang melintang tampak
enam buah roda berputar, ke empat orang lelaki tadi berdiri di ujung tali di bawah
derekan tadi, sementara dua yang lain tetap kosong.
Ternyata di atas puncak tebing itu memang sudah ada persiapan yang sempurna,
pada bersamaan waktunya mereka dapat menurunkan enam keranjang bambu dan
mengangkut enam orang naik ke atas puncak tebing.
Kwik soat kun dan Buyung Im Seng sekalian bersamaan waktunya segera
melompat turun dari dalam keranjang.
Dengan sinar mata yang tajam, kakek berjubah abu-abu itu memandang sekejap
wajah ke empat orang itu, kemudian tegurnya. "Bukankah kalian berempat
mengenakan topeng manusia?"
"Benar", sahut Kwik soat kun, "aku telah melaporkan identitas kami, rasanya tak
perlu melepaskan topeng kulit manusia yang kami kenakan ini lagi bukan?"
284
Kakek jubah abu-abu itu segera tertawa dingin, "He.. he... setelah kalian
menyebutkan nama dan identitas masing-masing, mengapa pula kamu semua
masih terus menyembunyikan wajah asli dibalik topeng?"
Buyung Im Seng segera menarik lepas jenggot palsunya dan melepaskan topeng
yang dikenakannya, kemudian memperkenalkan diri. "Aku adalah Buyung Im
Seng!"
Kakek jubah abu-abu itu memperhatikan Buyung Im Seng beberapa kejap, lalu
mengangguk. "Ehmm... tampan sekali, konon kau sudah menjadi anggota Biau hoa
bun, apakah kedatanganmu kemari telah diketahui oleh Biau hoa lengcu?"
"Apa maksudmu mengucapkan kata-kata tersebut?"
Kakek jubah abu-abu itu segera tertawa terbahak-bahak. "Ha.. ha.. kami sangat
berharap Biau hoa lengcu bisa mengetahui kalau kau telah datang kemari, dengan
demikian dia pasti akan menyusul pula kemari."
Kwik soat kun kuatir kalau sindiran dari kakek jubah abu-abu itu menimbulkan
rasa gusar bagi Nyo hong leng sehingga mengakibatkan terjadinya bentrokan yang
tidak diinginkan, buru-buru dia menukas.
"Seandainya Biau hoa lengcu benar-benar telah berada di sini, cukup dengan
beberapa patah katamu itu, niscaya batok kepalamu sudah berpindah rumah."
Kakek berjubah abu-abu itu kembali mendongakkan kepalanya sambil tertawa
tergelak. "Ha.. ha.. lohu juga mendengar orang berkata bahwa Biau hoa lengcu
selain berilmu tinggi, wajahnyapun cantik jelita bak bidadari dari kahyangan,
sayang lohu tak dapat meninggalkan tempat ini..."
Tak tahan Nyo hong leng segera menukas. "Seandainya kau dapat meninggalkan
tempat ini, apa pula yang hendak kau lakukan?"
"Bila lohu dapat meninggalkan tempat ini sudah pasti aku akan berusaha untuk
menjumpainya."
"Kini Buyung kongcu telah berada di sini, bila Biau hoa lengcu mendengar berita
ini, niscaya diapun akan menyusul kemari, suatu ketika keinginanmu itu pasti
akan terkabul."
Kakek baju abu-abu itu tertawa hambar, sorot matanya lantas dialihkan ke wajah
Buyung Im Seng, kemudian katanya. "Setelah kau menggabungkan diri dengan
perguruan Biau hoa bun, sekarang berkumpul pula dengan orang-orang Li ji pang,
lohu pikir seorang hoa hoa kongcu (lelaki hidung bangor) macam kau sudah pasti
takkan mampu untuk melakukan suatu pekerjaan besar."
Buyung Im Seng jadi tertegun setelah mendengar perkataan itu, pikirnya
kemudian. "Ucapan ini mirip suatu teguran, mirip juga sebagai peringatan, entah
apa maksud hatinya yang sesungguhnya?"
Sementara ia masih termenung, kakek jubah abu-abu itu telah berkata lagi.
"Diantara kalian berempat, tentunya ada seorang yang menjadi pemimpin bukan?"
Kembali Buyung Im Seng berpikir. "Berbicara soal pengetahuan dan pengalaman
dalam dunia persilatan aku masih kalah jauh bila dibandingkan dengan Kwik soat
285
kun, lebih baik biar dia saja yang menghadapi persoalan ini daripada aku mesti
turun tangan sendiri."
Sementara itu ketika Kwik soat kun tidak mendengar Buyung Im Seng bersuara,
dengan cepat sambungnya. "Buyung kongcu tak suka banyak bicara biar aku saja
yang akan berbincang bincang denganmu."
Kakek jubah abu-abu itu segera tertawa dingin, jengeknya. "Kaukah si wakil ketua
dari perkumpulan Li ji pang?"
"Benar, siapa nama anda sendiri?" "Lohu Ho heng hui, aku rasa dengan usiamu
yang begini muda belum tentu pernah mendengar nama julukan lohu?"
"Pek lek jiu (si tangan geledek) Ho Heng hui?"
Ho heng hui tampak gembira sekali setelah menyaksikan Kwik soat kun berhasil
menyebutkan nama julukannya, ia lantas tertawa terbahak bahak. "Haa... ha...
tampaknya keberhasilan Li ji pang untuk punya nama dalam dunia persilatan
bukan hanya kosong belaka, ada juga beberapa orang diantaranya yang berbakat
baik."
Tapi sejenak kemudian, paras mukanya telah berubah, dengan suara dingin ia
melanjutkan. "Perkumpulan Li ji pang termasyhur dalam dunia persilatan karena
ketajaman mata serta pendengarannya, tapi tak kalian sangka bukan gerakanmu
sebagai seorang wakil ketua ternyata kami ketahui pula dengan sejelas-jelasnya?"
Kwik soat kun tak menanggapi pertanyaan itu, sebaliknya malah balik bertanya.
"Sudah banyak tahu Ho locianpwe tidak melakukan perjalanan dalam dunia
persilatan?"
"Ada apa?" Ho Heng hui berkerut kening.
"Banyak sekali kaum muda dan angkatan muda dalam dunia persilatan yang
mendengar tentang keampuhan Pek leng sin kun (pukulan sakti tangan geledek)
dari locianpwe telah pulang ke alam baka dan selama hidupnya tak ada harapan
untuk menyaksikan kehebatan Pek leng sin kun lagi, tak disangka ternyata
locianpwe bersembunyi ditempat ini."
Beberapa patah kata itu meski diucapkan dengan nada yang lembut dan menarik
hati, tapi justru mengandung nada sindiran, membuat Ho heng hui merasa pedih
sekali hatinya.
Ia segera tertunduk dan menghela napas panjang, katanya. "Ada urusan apa kalian
datang menyerempet bahaya ket empat ini?"
"Bukankah locianpwe sudah mengetahui dengan jelas? Kenapa masih bertanya
lagi?"
"Apakah kalian ingin berkunjung ke kuil Ban hud wan...?" tegur Ho heng hui
dingin.
"Konon kuil Ban hud wan merupakan jalan rahasia terpenting menuju ke Sam seng
tong, setelah kami berterus terang, tentunya tak usah pergi ke Ban hud wan lagi."
"Sayang sekali lohu tak sanggup untuk menghaturkan segala sesuatunya bagi
kalian." Ucap Ho heng hui dingin.
286
Sekalipun beberapa patah kata itu diucapkan dengan suara yang dingin dan kaku,
namun paras mukanya secara lamat-lamat diliputi oleh perasaan malu bercampur
menyesal.
Kwik soat kun tahu kalau kakek itu bersedih hati, dia lantas mengalihkan pokok
pembicaraannya.
(Bersambung ke jilid 15)
287
Lembah Tiga Malaikat
Oleh: Tjan
Jilid 15
"Kalau memang begitu, tolong locianpwe sudi memberikan petunjuk jalan untuk
kami."
"Turunlah bukit dari sini, di situ akan kau temui kuil Ban hud wan dalam lembah
Cui liu kik, orang lain tidak seperti lohu, kalian mesti berhati-hati.
"Terima kasih banyak atas petunjukmu." Soat kun segera menjura dalam-dalam.
Selesai berkata, dia melangkah ke depan lebih dulu. Buyung Im Seng, Nyo hong
leng dan Siau tin secara teratur mengikuti di belakangnya, dengan menelusuri
sebuah jalan setapak mereka turun ke bawah sana.
Setelah melewati punggung bukit, pemandangan yang terbentang di depan mata
tiba-tiba berubah. Tampak pohon liu bergoyang-goyang terhembus angin bukit,
seluruh lembah itu berwarna hijau segar, diantara kerumunan pohon liu nan hijau,
di sudut lembah bukit sana tampak menonjol keluar dinding tembok berwarna
merah.
Sambil menuding ke arah dinding merah itu Buyung Im Seng segera berkata.
"Mungkin tempat itulah yang dinamakan Ban hud wan."
"Soal memasuki kuil Ban hud wan, tak usah kongcu kuatirkan, sudah pasti mereka
akan mengirim orang untuk mengajak kita masuk kesana, tapi harap kongcu
mengingat jalan masuk ke dalam lembah, menurut pengamatanku pohon liu yang
tumbuh dalam lembah ini bukan tumbuh secara alami, mungkin sebagian besar
diantaranya dipindahkan kemari dari tempat lain, siapa tahu kalau hutan pohon
liu buatan manusia ini masih ada kegunaan lainnya."
Sementara pembicaraan sedang berlangsung, tiba-tiba tampak ada dua sosok
bayangan manusia muncul dari balik hutan pohon liu dan lari menuju ke depan
mereka.
288
Cepat sekali gerakan tubuh dari kedua sosok bayangan manusia itu, dalam waktu
singkat mereka telah tiba di depan ke empat orang itu, rupanya mereka adalah dua
orang hwesio kecil yang berjubah abu-abu, bermuka bocah dan berkepala gundul
licin.
Waktu itu Buyung Im Seng telah memulihkan kembali paras mukanya, sambil
menjura dia lantas berkata. "Aku adalah Buyung Im Seng harap siau suhu berdua
bersedia untuk membawa jalan untuk kami."
Kedua orang hwesio cilik itu saling berpandangan sekejap, kemudian sambil
merangkap kedua tangannya di depan dada, mereka berseru memuji keagungan
Sang Buddha. "Omintohud!"
Kemudian kedua orang itu membalikkan badan dan melangkah ke depan. Dengan
langkah lebar Buyung Im Seng mengikuti di belakang kedua orang hwesio cilik itu
memasuki hutan itu.
Dua orang Hwesio cilik itu berjalan bersanding, mereka berputar-putar menelusuri
jalan setapak yang terbentang dalam hutan pohon liu tak selang sepertanakan nasi
kemudian, sampailah mereka di depan kuil Ban hud wan.
Sepanjang perjalanan, Buyung Im Seng tidak bertanya barang sekecappun,
sebaliknya kedua orang hwesio cilik itupun tak bersuara barang sepatah katapun.
Lingkaran bangunan kuil Ban hud wan tidak terhitung amat besar, namun
bangunannya sangat kokoh, di depan pintu gerbang terdapat tiga belas undakundakan
batu, di atas pintu gerbang terpancang sebuah papan nama kecil yang
bertuliskan tiga huruf dari tinta emas. "BAN HUD WAN"
Pintu gerbang yang berwarna hitam pekat telah terpentang lebar, seorang hwesio
setengah umur yang mengenakan jubah pendeta warna abu2 berdiri di depan pintu.
Kedua orang hwesio cilik itu segera mempercepat langkahnya menuju kehadapan
hwesio setengah umur itu, lalu membisikkan sesuatu dengan suara lirih, kemudian
mereka membalikkan badan dan mengundurkan diri kembali ke dalam hutan
pohon liu.
Tiba-tiba pendeta berusia pertengahan itu menyingkir ke samping, kemudian
ujarnya. "Silahkan Buyung kongcu!"
Buyung Im Seng tersenyum. "Apa sebutan taysu?" tanyanya.
"Pinceng Khong seng."
Agaknya dia enggan banyak bicara, setelah mengucapkan sepatah kata yang amat
sederhana itu, tiba-tiba dia membalikkan badan dan berjalan ke dalam, katanya.
"Pinceng membawa jalan untuk kalian semua.!"
Buyung Im Seng berpaling memandang sekejap ke arah Kwik soat kun, lalu
bisiknya. "Kelihatannya mereka semua enggan banyak berbicara."
Kwik soat kun segera tertawa, sahutnya, "Ya, hal ini disebabkan peraturan
ditempat ini terlampau ketat, sehingga siapapun enggan banyak berbicara."
Ucapan itu sengaja diutarakan dengan suara keras, Walaupun hwesio itu jelas
mendengar perkataan itu, namun dia berlagak tidak mendengar, bahkan
berpalingpun tidak, sekaligus dia menembusi dua buah halaman besar dan
289
membawa mereka menuju ke tengah sebuah halaman yang terapit dua buah
gedung.
Dalam halaman tersebut penuh ditanami aneka bunga yang berwarna warni serta
menyiarkan bau harum semerbak. Di sudut halaman terdapat sebuah kolam besar
yang terbuat dari batu bata merah, kolam itu khusus untuk mengalirkan sumber
air dari tebing menembusi bangunan gedung dan mengalir ke dalam.
Suara air yang bergemericik mendatangkan suasana yang hening, seram dan
mengerikan didalam halaman yang sepi itu.
Khong seng langsung membawa mereka menuju ke ruangan atas, membuka pintu
dan membawa tamunya masuk ke ruang dalam. Buyung Im Seng mencoba untuk
memeriksa keadaan sekeliling tempat itu, tampak didalam ruangan itu terletak
delapan buah kursi, di atas kursi-kursi itu dilapisi kasur berwarna kuning.
Bata merah melapisi lantai, tirai kuning menghiasi dinding, dekorasi di situ amat
antik, lantaipun disapu bersih sekali, tak sedikitpun debu yang terlihat. Anehnya
sejak masuk ke dalam hutan pohon liu itu, kecuali berjumpa dengan dua orang
hwesio cilik serta khong seng taysu, mereka tidak berhasil menjumpai orang ke
empat, tapi kalau dilihat dari kebersihannya yang juga dalam ruangan serta pohon
bunga yang digunting rapi, paling tidak harus ada puluhan orang yang
mengerjakannya.
Terdengar Khong seng berkata dengan dingin. "Silahkan saudara berempat duduk,
pinceng akan melaporkan kepada hong tiang kami. Tidak menunggu jawaban dari
orang, ia membalikkan badan dan berlalu dengan langkah lebar.
Melihat Hwesio itu sudah pergi, tiba-tiba Kwik soat kun bangkit berdiri lalu
mendekati pintu masuk menuju ke ruang dalam dan menyingkap tirai di situ.
Ketika melongok ke dalam, maka tampaklah dalam ruangan itu terdapat sebuah
rak kayu tempat buku dan sebuah meja besar, agaknya di situ merupakan kamar
tamu yang anggun.
Kwik soat kun segera menurunkan tirai itu lagi, kemudian berbisik dengan lirih.
"Apakah saudara sekalian merasakan sesuatu perbedaan dari kuil Ban hud wan
ini?"
"Yaa, selain bangunannya kokoh, pepohonannya lebat, terpencil pula ditengah
bukit, tempat ini memang merupakan tempat pemukiman..." jawabannya Buyung
Im Seng.
"Akupun berperasaan demikian, ternyata pihak lawan tak memberikan titik terang
yang dapat membuat kita membuat analisa atau dugaan apapun, berada dalam
keadaan seperti ini, siapapun akan merasakan suatu perasaan aneh yang sukar
diraba."
Nyo hong leng segera mencibirkan bibirnya seraya berkata. "Entah apa tujuan dan
maksudnya melakukan tindak tanduk semacam ini? Memangnya ia hendak
menakut-nakuti agar kita segera merat dari sini?"
Kwik soat kun segera menggelengkan kepalanya berulang kali. "Aku rasa dibalik
semua ini sudah pasti ada hal lainnya, dewasa ini kita hanya bisa menunggu
290
perubahan keadaan dan ketenangan dan berusaha mengatasinya menurut kondisi
ketika itu."
Sementara mereka masih bercakap-cakap, mendadak terdengar suara langkah kaki
manusia bergema datang. Buyung Im Seng mengalihkan pandangan matanya ke
pintu, ia saksikan seorang hwesio bermuka merah, beralis tebal, bermata jeli telah
muncul di situ, ternyata sulit baginya untuk menilai berapa besar usia hwesio
tersebut.
Sikap Kong seng taysu terhadap hwesio bermuka kuning ini amat hormat sekali,
dengan tangan menjulur ke bawah ia berdiri di sisinya dengan wajah serius.
Kwik soat kun maupun Buyung Im Seng tetap menahan diri, mereka hanya
memandang hwesio sekejap tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Kedua belah pihak saling bertahan beberapa saat lamanya, kemudian hwesio yang
bertubuh tinggi besar itulah yang membuka suara lebih dulu, tegurnya. "Siapakah
diantara kalian yang bernama Buyung kongcu?"
"Akulah orangnya!"
Hwesio tinggi besar itu segera merangkap tangannya di depan dada, katanya
dingin.
"Tak nyana kalau Buyung kongcu masih begitu muda!"
"Apakah Taysu menganggap aku masih kurang memadai untuk menerima
pelajaran?" dengus Buyung Im Seng dingin.
"Aaah... kongcu salah paham!" hwesio tinggi besar itu segera tertawa hambar.
"Maksudmu?"
"Pinceng hanya beranggapan bahwa dengan usia kongcu yang begitu muda,
ternyata rela datang menyerahkan diri pada nasib, hal ini sungguh pantas
disayangkan."
Kontan saja Buyung Im Seng tertawa dingin. "Ucapan dari taysu ini semakin
membuat aku tidak habis mengerti." serunya.
"Dengan cepat kau akan mengerti sendiri."
"Siapa sebutan taysu?" tiba-tiba Kwik soat menimbrung.
Hwesio bertubuh tinggi besar itu tertawa hambar. "Pinceng bergelar Bu tok, Bu tok
dalam arti kata menolong umat manusia terlepas dari kesengsaraan.!"
"Kalau kudengar dari nada perkataan taysu, yang begitu jumawa dan besar,
agaknya kaulah ciangbunjin dari kuil Ban hud wan ini?" Bu tok taysu mendengus
dingin.
"Hmm! Ciangbunjin kami jarang sekali bertemu dengan orang asing, kalau cuma
mengandalkan kedudukan kalian mah masih belum sampai merepotkan
ciangbunjin kami untuk datang menyambut sendiri!"
Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan. "Oya, pinceng lupa menanyakan siapa
nama li-sicu ini?"
291
"Aku rasa kalian pasti sudah tahu bukan?" tugas Kwik soat kun cepat.
Kembali Bu tok taysu tertawa hambar. "Kalau begitu kau adalah wakil ketua Li ji
pang, nona Kwik soat kun adanya?"
"Betul, apakah taysu tidak merasa telah mengucapkan banyak perkataan dengan
sia-sia?"
Kembali Bu tok taysu tertawa hambar. "Orang bilang bencana keluarga dari mulut,
aku harap nona suka berhati-hati dalam pembicaraan!" katanya.
"Aaah..., bila aku dapat berpikir sejauh itu, tak nanti aku bisa sampai di sini."
"Tampaknya nona keras kepala!"
"Aaah, taysu terlalu memuji, taysu terlalu memuji!"
Tampaknya Bu tok taysu ingin mengumbar hawa amarahnya, tapi kemudian
kobaran napsunya itu dikekang kembali, kembali ia berkata dengan suara dingin.
"Pinceng dengar Buyung kongcu selalu bekerja sama dengan Biau hoa lengcu, tak
kusangka kali ini bergumul dengan wakil ketua Li ji pang."
"Taysu, sebagai seorang pendeta, tidaklah kau rasakan bahwa ucapanmu itu terlalu
kurang sopan?"
Merah padam selembar wajah Bu tok taysu karena jengah, kemudian dengan
marah ia berseru. "Tempat ini adalah sebuah kuil hwesio, mau apa li-sicu datang ke
tempat ini?"
"Taysu", kata Buyung Im Seng segera, "dari beribu li jauhnya datang kemari, bukan
bermaksud kami untuk bersilat lidah dengan taysu, mengerti?"
"Lalu apa tujuan kalian datang kemari?"
Dari ucapan tersebut, dapat disimpulkan bahwa ia sama sekali tak memandang
sebelah matapun terhadap Siau tin serta Nyo hong leng.
"Kami hanya ingin menanyakan satu hal."
"Soal apa?"
"Dimanakah letak lembah tiga malaikat?"
"Di atas langit, menuju langit tiada jalan. Dalam neraka menuju neraka tiada
pintu..."
"Lantas Ban hun wan ini terletak di neraka atau surga?" ejek Kwik soat kun ketus.
"Nona tempat ini seperti dimana?" Bu tok taysu balas bertanya tak kalah ketusnya.
"Aku mah tempat ini merasa hanya sebuah kuil belaka, tidak disurga juga tidak
dineraka."
"Ehmmm... tampaknya tidak kecil nyali lisicu."
"Ucapan taysu sendiri terlalu takabur", ucap Buyung Im Seng, "apa bolehkah aku
tahu, mampukah kau mengambil keputusan?"
"Sekarang identitas kami sudah terang yang hendak kami bicarakan pun soal yang
serius, soal neraka atau surga bukan masalah yang penting bagi kami, adalah
292
minta kau berbicara jujur, kalau hanya bersilat lidah melulu tak akan berguna lagi
masalah ini." sambung Kwik soat kun.
Perkataan itu agaknya menimbulkan reaksi langsung, Bu tok taysu yang angkuh
dan takabur segera menarik kembali kepongahannya, kemudian berkata. "Baiklah
apa maksud kalian, sekarang boleh diutarakan secara langsung dan terbuka."
"Aku hendak mencari letak lembah tiga malaikat, orang harus melalui dulu kuil
Ban hud wan ini, betulkah berita tersebut?"
"Dapat pinceng beritahukan bahwa berita itu memang benar, tempat ini
merupakan satu-satunya pintu gerbang menuju ke lembah tiga malaikat..."
"Konon dibanyak tempat terdapat pula Sam seng tong, bahkan berjumlah puluhan
tempat banyaknya di seantero jagad, apakah semuanya itu hanya tempat palsu?"
tanya Kwik soat kun pula.
"Hal-hal yang sebenarnya dibalik kejadian itu amat panjang dan lebar, maaf kalau
pinceng tak dapat memberitahukan kepada kalian."
"Kalau enggan menerangkan ya, sudahlah. cuma ada satu hal yang mesti taysu
terangkan kepada kami"
"Soal apa?"
"Lembah tiga malaikat yang ditunjukkan taysu kepada kami itu sebenarnya
merupakan lembah tiga malaikat yang sesungguhnya atau palsu?"
"Di sini tiada perbedaan antara uang asli dan gadungan, yang ada hanyalah
Lembah yang sebetulnya dan Lembah tipuan."
"Apa yang dimaksud sebetulnya dan apa pula yang dimaksud tipuan? Apa pula
bedanya yang asli dan undangan?" tanya Buyung Im Seng.
"Bila tiga malaikat dalam lembah disebut sesungguhnya, bila tiga malaikat tidak
berada dalam lembah disebut tipuan."
"Oh, kiranya begitu, kalau begitu harap taysu suka memberi petunjuk kepada kami,
jalan yang diberikan taysu kepada kami jalan menuju ke lembah tiga malaikat yang
sungguhan atau tipuan?"
"Ini tergantung pada kemujuran kalian berdua!"
- 0 -
BAGIAN KE 22
"Baiklah ucap Buyung Im Seng, "Harap taysu bersedia menerangkan jalan yang
harus kami tempuh!"
Bu tok taysu termenung dan berpikir sebentar lalu katanya. "Bila pinceng tidak
bersedia mengabulkan?"
"Tak bisa taysu mengambil keputusan sesuka hati, bila sampai demikian, maka
terpaksa kami akan mengobrak abrik kuil Ban hud wan ini lebih dahulu."
293
Mendengar perkataan itu, Bu tok taysu segera menengadah dan tertawa terbahakbahak.
"Ha.. ha... ha... ada tamu mengusir tuan rumah, entah apa yang kalian
berdua andalkan?"
"Bila taysu tak dapat mengambil keputusan, lebih baik cepatlah minta petunjuk!"
kata Kwik soat kun, "Bila sengaja hendak mencari gara-gara, mari kita selesaikan
dengan kekerasan!"
"Ucapan nona sungguh tetap dan terbuka! Baiklah, harap tunggu sebentar, pinceng
akan pergi dulu sejenak."
"Silahkan!"
Bu tok taysu segera membalikkan badan dan keluar dari ruangan itu...
Memandang bayangan punggung Bu tok taysu yang menjauh, Kwik Soat kun
segera mendengus dingin, jengeknya.
"Kalau tak dapat mengambil keputusan, omong saja berterus terang, huuh!
lagaknya saja sok hebat, sok berkuasa, padahal tak punya kekuasaan apa-apa,
sebal!"
Tiba-tiba Nyo Hong leng berbisik, "Sebentar, seandainya terjadi pertarungan
apakah aku haru turun tangan juga?"
"Andaikata Siau moay mampu mengatasi pertarungan itu, lebih baik kau jangan
turut serta dalam pertarungan itu, andaikata aku dan Buyung kongcu sudah tak
sanggup menghadapinya sekalipun kau tak ingin turun tangan juga harus turun
tangan, dalam soal ini lebih baik kau mengambil keputusan sendiri."
"Ehmm, aku mengerti!" Nyo Hong leng tertawa dan manggut-manggut.
Sementara pembicaraan berlangsung, Bu tok taysu telah muncul kembali diiringi
seorang hwesio tinggi besar yang memakai kain lhasa warna merah.
Terdengar ia berseru dengan lantang. "Sudah lama pinceng mendengar nama besar
dari Buyung kongcu, entah siapakah diantara kalian?"
"Akulah orangnya, apakah taysu adalah hong tiang dari kuil Ban hud wan ini?"
Hweshio berbaju merah itu tertawa hambar. "Segala sesuatunya pinceng dapat
memutuskan sedang soal aku adalah hongtiang kuil Ban hud wan atau bukan, aku
rasa itu bukan soal yang penting!"
"Kedatangan kami kemari juga bukan lantaran hendak menyambangi kuil kalian,
jadi soal bertemu dengan ciangbun hongtiang atau tidak, rasanya bukan masalah
yang penting." sambung Buyung Im Seng.
"Konon Buyung kongcu dan wakil ketua perkumpulan Li ji pang hendak
berkunjung ke lembah tiga malaikat untuk menyambangi tiga malaikat...?"
"Memang itulah tujuan kami yang terutama."
Hwesio berbaju merah itu segera tertawa, katanya lagi. "Jika hanya mengandalkan
nama kecil Buyung kongcu, kau masih belum berhak untuk memasuki lembah tiga
malaikat, tapi kau berhubung mendapat sisa nama besar ayahmu sehingga begitu
masuk dunia persilatan lantas ternama pinceng bersedia mengatur segala
sesuatunya buat kongcu, cuma saja..."
294
"Cuma saja kenapa?"
"Perjalanan yang bakal kau tempuh adalah suatu perjalanan yang penuh rintangan
dan percobaan, yakinkah kongcu untuk melakukannya?"
"Bagaimana yang dimaksudkan dengan penuh rintangan dan percobaan itu?"
"Setiap langkah kemungkinan ada ancaman kematian setiap inci terselip hawa
pembunuhan."
"Ada petunjuk jalannya?" "Ada!" "Siapa?" "Pinceng!"
"Bagus sekali asal taysu mampu untuk menelusurinya, aku yakin dapat pula
menembusinya."
Hwesio berbaju merah itu mengalihkan sorot matanya ke wajah dua orang yang
lain lalu katanya. "Sayang sekali, pembantu2 kongcu tak dapat ikut dalam
perjalanan ini."
"Kenapa?"
"Memangnya lembah tiga malaikat tempat yang boleh dikunjungi setiap orang?"
kata hwesio berbaju merah itu sambil tertawa.
"Andaikata kami tetap bertekad untuk pergi bersama, aku rasa tentu ada caranya
bukan?"
"Cara sih memang ada." "Tolong jelaskan!"
"Bila dalam seratus jurus bisa menangkan pinceng, tanpa ditanya nama dan
kedudukannya, boleh masuk ke dalam lembah tiga malaikat."
"Bila hanya sebuah cara ini saja yang tersedia, terpaksa aku harus memohon
petunjuk dari taysu."
Dalam pada itu, Buyung Im Seng telah berpikir didalam hatinya. "Tampaknya
kedudukan hwesio ini didalam kuil Ban hud wan tidak rendah, bila didengar dari
pada ucapannya, ilmu silat yang dia miliki pasti amat tangguh, bila Kwik soat kun
harus bertarung melawannya, entah dapatkah dia melewati seratus jurus
gebrakan?"
Sementara ia masih termenung, hwesio berbaju merah itu telah berkata. "Entah
siapakah diantara kalian yang hendak bertarung lebih dulu melawan pinceng?"
Dari nada perkataan itu dapat didengar kalau dia mengikut sertakan pula Nyo
Hong leng. Nyo hong leng hendak turun tangan, Kwik soat kun telah berkata
duluan. "
"Taysu tentu saja aku akan bertarung melawan taysu lebih dulu, cuma kita harus
terangkan dulu persoalannya sebelum pertarungan tersebut dilangsungkan."
"Katakanlah!"
"Kedua orang ini adalah anggota Li ji pang kami, seandainya aku tak sanggup
menangkan dirimu, sudah barang tentu mereka lebih-lebih bukan tandinganmu."
295
"Maksudmu..." "Maksudku, menang kalah kita hanya bertarung satu babak,
seandainya kau yang menang maka silahkan membawa Buyung kongcu seorang
kedalam lembah tiga malaikat, tapi andaikata aku yang menang, maka kedua
orang perkumpulanku ini harus diijinkan pula untuk turut serta masuk ke dalam
lembah."
Hwesio berjubah merah itu termenung sejenak, lalu sahutnya. "Baik, bila kau yang
menang pinceng akan bertanggung jawab untuk membawa serta mereka berdua.
Nah, sekarang boleh turun tangan!"
"Kita hanya bertarung seratus gebrakan saja, bila dalam seratus jurus tidak ada
yang menang atau kalah, maka kau harus menganggap kemenangan berada di
tanganku."
"Baiklah! Orang beragama memang tak jadi soal untuk rugi sedikit."
"Aku berada di posisi yang lebih menguntungkan, maka akan kuberikan
kesempatan bagimu untuk melancarkan serangan lebih dulu."
"Ehmm, bila pinceng tidak mengabulkan, lagi-lagi kita akan saling mengalah,
baiklah harap nona berhati-hati."
Ditengah bentakan keras, tangan kanannya segera diayunkan ke depan
melancarkan sebuah pukulan yang dahsyat.
Dengan cepat Kwik soat kun mengelak ke samping, ujarnya. "Apakah kita harus
bertarung dalam ruangan ini?"
"Dimanapun sama saja, toh dalam ruangan ataupun di luar tak ada bedanya."
Secara beruntun dia lancarkan kembali tiga pukulan berantai, serangan demi
serangan yang dilancarkan olehnya itu kelihatan seperti tidak gencar atau tajam,
akan tetapi setiap ancaman yang dilancarkan justru memaksa Kwik soat kun harus
cepat-cepat menolong diri, selain beradu kekerasan, terpaksa Kwik soat kun hanya
bisa berkelit kesana kemari tiada habisnya.
Tiga serangan berantai yang dilancarkan itu segera memaksa Kwik soat kun
terdesak mundur sejauh enam langkah dan tersudut di ujung ruangan. Tampak
sepasang telapak tangannya diayunkan, selapis bayangan tangan yang rapat
menyelimuti angkasa dan menyumbat jalan mundur Kwik soat kun sekelilingnya.
"Nona!" ejeknya sambil tertawa dingin. "sudah tiada jalan mundur lagi bagimu,
yang terbuka hanya menuju ke atap rumah, kali ini terpaksa nona harus
mengandalkan kepandaianmu yang sebenarnya."
Dengan jurus Thay san ya teng (bukit thay san menindih kepala) tangan kanannya
langsung diayunkan ke bawah, sementara telapak tangan kirinya membendung
jalan mundur Kwik soat kun ke sudut kanan.
Ternyata sejak dua orang terlibat dalam pertarungan yang sengit, Kwik soat kun
terus menerus mundur dan tak sejurus seranganpun dilancarkan. Mendadak Kwik
soat kun berkerut kening, tangan kanannya diayunkan ke depan menotok urat nadi
penting pada pergelangan tangan kanan hwesio berbaju merah itu.
Pada waktu itu tinju maut dari hwesio baju merah itu sudah meluncur ke bawah
sedang tangan Kwik soat kun diayun ke atas menyongsong datangnya ancaman itu,
296
kelihatan kalau sepasang tangan mereka segera akan saling membentur satu sama
lainnya, mendadak hwesio itu menarik kembali pergelangan tangan kanannya dan
menarik kembali serangan yang dilancarkan.
Menggunakan kesempatan itu, Kwik soat kun melepaskan serangan balasan, tibatiba
tangan dan jari tangannya dilancarkan berbareng, selain gerakannya tajam
dan dahsyat, setiap jurus serangannya ditujukan ke jalan darah penting di sekujur
badan hwesio itu.
Serangan balasan yang dilancarkan ini dilakukan dengan kecepatan luar biasa,
seketika itu juga memaksa hwesio itu mundur tujuh delapan langkah dari posisi
semula, dengan begitu maka kedua belah pihakpun telah kembali ke tempat
semula.
Setelah mundur sejauh delapan langkah, hwesio itu baru menggerakkan kembali
tenaga dan kakinya, sepasang telapak tangan diayun ke depan mendesak mundur
ancaman berikutnya dari Kwik soat kun.
Sebenarnya Buyung Im Seng sangat kuatir kalau Kwik soat kun tak sanggup
menandingi kelihaian si hwesio itu, akan tetapi setelah menyaksikan serangan
balasan dari Kwik soat kun yang begitu gencarnya, lambat laun hatinya menjadi
tenang kembali.
Sementara si hwesio baju merah itu segera melancarkan serangan balasan setelah
berhasil membendung serangan dari Kwik soat kun, tenaga pukulannya kian lama
kian bertambah besar, setiap jurus serangannya bagaikan godam raksasa yang
terayun ke bawah, kehebatannya sungguh mengerikan.
Sebaliknya Kwik soat kun juga mengembangkan taktik pertarungan yang berbeda
pula, kali ini dia hanya berkelit kesana kemari dengan mengandalkan kelincahan
tubuhnya, semua ancaman dari hwesio tersebut segera dapat dihindari dengan
seksama.
Ditengah pertarungan, mendadak Kwik soat kun membentak keras. "Cukup!
Dia lantas melompat ke samping arena.
"Sudah cukup?" seru hwesio berbaju merah itu penasaran. "Tapi pinceng hanya
menyerang sebanyak enam puluh lima jurus saja." Seru sang hwesio berbaju merah
setelah termenung sebentar.
"Betul, kau memang hanya melancarkan 65 jurus, tapi aku telah balas menyerang
sebanyak 35 jurus, jadi total jendral genap seratus jurus."
Kontan saja hwesio itu tertawa dingin. "Yang kumaksudkan sebagai seratus jurus
adalah kau mesti menyambuti seratus jurus serangan dari pinceng."
"Aaaah, mengapa tidak taysu jelaskan sedari tadi?" seru Kwik soat kun sambil
tertawa. "Kalau kujelaskan sedari tadi lantas kenapa?"
"Tentu saja taktik pertarunganku akan jauh berbeda dengan taktik pertarungan
yang kupakai sekarang."
"Sekarang toh belum terlambat?" jengek hwesio itu dingin.
297
Sebuah pukulan dilancarkan kembali ke depan. Kwik soat kun melejit ke samping
dengan ilmu meringankan tubuhnya, agaknya perempuan ini hendak
mengandalkan kembali kelincahan tubuhnya untuk menghindari 35 serangan
lawan.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar seseorang berbisik dengan suara lirih. "Adulah
kekerasan dengannya, ilmu pukulan yang dimiliki hwesio itu beraneka ragam,
serangannya makin lama semakin ganas dan keji, bila kau harus bertahan terus
dengan taktik ini, akhirnya kaulah yang akan dirugikan."
Dia tahu kalau Nyo hong leng telah memberi keterangan dengan ilmu
menyampaikan suara, maka sewaktu dilihatnya si hwesio itu melancarkan
serangannya kembali, serentak dia mengayunkan pula tangan kanannya untuk
menyambut ancaman itu dengan kekerasan.
Diam-diam hwesio berbaju merah itu merasa girang sekali, pikirnya. "Jika kau
mengambil taktik bermain gerilya, belum tentu aku dapat melukaimu dalam
seratus jurus, tapi bila kau sambut pukulanku dengan kekerasan, ini berarti kau
ingin mampus secepatnya."
Berpikir sampai di situ, diam-diam ia menambahi tenaga pukulannya dengan dua
bagian lagi.
Pada saat sepasang telapak tangan kedua orang itu hampir saling bersentuhan,
mendadak hwesio berbaju merah itu merasakan iganya menjadi kesemutan,
kemudian tenaga pukulan yang dilepaskan itu menjadi lenyap tak berbekas lagi.
Padahal serangan yang dilancarkan Kwik soat kun telah meluncur datang, tak
ampun lagi pergelangan tangan kanannya telah terhajar telak.
Kedengaran hwesio berbaju merah itu mendengus tertahan, secara beruntun dia
mundur tiga langkah. "Nona berhasil menang." Katanya.
"Kalau begitu harap kau segera membawa jalan," kata Kwik soat kun sambil
mengulapkan tangannya.
Hwesio berbaju merah itu tertawa dingin. "Kemenangan nona diperoleh dengan
amat mujur sekali, sebaliknya pinto dikalahkan dengan sangat tidak puas."
"Tapi kau toh sudah mengaku kalah?"
Paras muka hwesio berbaju merah itu berubah menjadi dingin dan serius, dengan
sorot mata gusar, pelan-pelan menatap wajah Buyung Im Seng, setelah itu katanya.
"Buyung kongcu, kaukah yang melancarkan sergapan secara diam-diam...?"
Buyung Im Seng agak tertegun, tapi dia lantas mengerti kalau perbuatan ini pasti
merupakan ulah dari Nyo hong leng, maka sambil tertawa hambar dia berkata.
"Andaikata aku tidak mengikuti?"
"Pinceng dapat merasakannya, pemberian dari Buyung kongcu ini pasti akan
pinceng ingat selalu."
Buyung Im Seng hanya tersenyum saja dan tidak berkata apa-apa.
Hwesio baju merah itu tertawa dingin, dia segera membalikkan badan sambil
melangkah pergi, sambil beranjak katanya. "Pinceng mengharapkan kalian
berempat dapat melewati perjalanan ini dengan selamat!"
298
Buyung Im Seng segera berebut mengikuti dulu di belakang si hwesio itu. Nyo hong
leng, Siau tin dan Kwik soat kun segera mengikuti pula di belakangnya.
Hwesio baju merah itu membawa beberapa orang tersebut melewati sebuah
halaman yang lebar, kemudian menuju ke bawah tebing curam yang menjulang ke
angkasa.
Buyung Im Seng menengadah dan memandang sekejap ke arah tebing yang curam
itu, ia jumpai tebing tersebut licin bagaikan cermin, sekalipun memiliki ilmu
meringankan tubuh yang sempurna jangan harap bisa mendaki di situ.
Sambil berpaling hwesio itu tertawa dingin, lalu katanya. "Harap kalian tunggu
sebentar, pinceng akan mengetuk pintu."
"Dengan langkah lebar ia menuju ke depan dinding batu itu, setelah berdiri serius
sejenak, mendadak di atas dinding tebing yang licin itu terbuka sebuah pintu
rahasia.
Secara diam-diam Buyung Im Seng memperhatikan posisi mereka menghentikan
badannya, dan kemudian mengingatnya di dalam hati.
Tampak hwesio itu berpaling kemudian pelan-pelan katanya. "Tempat ini
merupakan pintu gerbang menuju ke dalam lembah tiga malaikat tapi menurut apa
yang pinceng ketahui, barang siapa memasuki pintu ini maka kalau bukan
bergabung dengan perguruan kami, sudah pasti jiwanya akan melayang
meninggalkan raganya."
"Itu berarti dalam pintu gerbang tersebut terdapat jebakan yang mengerikan?" ujar
Buyung Im Seng.
"Betul dan pinceng telah menerangkannya sedari tadi."
"Akan ku ingat selalu perkataan dari taysu ini, apakah kau akan masuk bersama
kami?"
"Tentu saja pinceng akan membawa jalan buat kalian!" selesai berkata dia masuk
dan memandang sekejap ke arah Nyo hong leng dan Kwik soat kun sekalian yang
berada di belakangnya, kemudian berkata. "Tak ada halangannya bila kalian
menunggu dahulu di luar pintu."
Nyo hong leng tersenyum, tiba-tiba dia menerobos maju melewati Buyung Im Seng
dan masuk pintu tersebut lebih dulu.
Melihat itu, sambil tertawa Kwik soat kun segera berkata. "Bila tidak masuk ke
dalam pintu gerbang, kitapun sulit untuk meninggalkan Ban hud wan, bila ingin
mati, marilah mati bersama-sama..."
Buyung Im Seng dibikin apa boleh buat, terpaksa dia menghela napas panjang.
"Berhati-hatilah kalian semua!" bisiknya kemudian.
"Blaamm...!" tiba-tiba pintu batu itu tertutup sendiri.
Dalam waktu singkat, suasana didalam gua itu jadi gelap gulita sehingga melihat
kelima jari tangan sendiripun sukar."
Tiba-tiba Kwik soat kun berhenti sambil bisiknya. "Tunggu sebentar!"
299
Kemudian terlihat cahaya api berkilat, cahaya terang benderang segera mengusir
kegelapan yang mencekam sekeliling ruangan rahasia tersebut.
Ketika cahaya api telah menerangi seluruh ruangan, maka tampaklah bayangan
tubuh dari hwesio berbaju merah itu telah lenyap tak berbekas.
Mereka mencoba untuk memeriksa sekitarnya, tapi dinding lorong itu amat licin
seperti cermin, tiada gua yang bisa digunakan untuk menyembunyikan badan, pun
tak tampak sesosok bayangan manusiapun.
Kwik soat kun segera berpaling dan memandang sekejap ke arah Nyo hong leng,
lalu bisiknya. "Apa yang telah terjadi?"
Diantara beberapa orang itu, ilmu silat yang dimiliki Nyo hong leng boleh dibilang
paling tinggi, ketajaman mata dan telinganya juga paling hebat, lenyapnya sang
hwesio berbaju merah itu secara tiba-tiba mungkin hanya akan diketahui oleh Nyo
hong leng seorang.
Dengan kening berkerut Nyo hong leng berbisik. "Andaikata dia mempunyai
kesempatan untuk menyembunyikan diri hanya ada dua kemungkinan, pertama
sewaktu pintu gerbang itu tertutup dan menimbulkan suara getaran keras, atau
kedua dikala kau berbisik sambil membuat api tadi, ia telah memanfaatkannya
peluang itu untuk kabur."
"Persoalan sekarang adalah dia telah kabur kemana?" ucap Buyung Im Seng,
"dinding di sekeliling tak nampak ada pintu rahasia, dengan meminjam sinar api
pun hanya bisa melihat benda dalam jarak lima kaki, aku tak percaya kalau dalam
waktu sedemikian singkatnya dia bisa kabur dari ketajaman pendengaran kita."
"Ssst, siapa tahu di atas kepala kita mungkin saja mereka memiliki tempat untuk
menyembunyikan diri!" bisik Nyo hong leng secara tiba-tiba.
Kwik soat kun mencoba untuk mendongakkan kepalanya, tampak permukaan gua
di atas kepalanya tinggi rendah tak rata, seandainya ada pintu rahasiapun sulit
rasanya untuk ditemukan.
Buyung Im Seng lantas berkata. "Hwesio itu telah kabur meninggalkan kita, aku
rasa dalam lorong rahasia ini pasti sudah disiapkan alat rahasia untuk mencelakai
kita, mulai detik ini kita harus bertindak berhati-hati lagi."
Kwik soat kun segera memadamkan alat penerangan, lalu berbisik. "Mari kita
persingkat jarak diantara kita semua, dengan begitu dapat saling membantu, biar
aku yang berada dipaling depan untuk membuka jalan."
"Aaah, tak jadi soal, biar aku yang berada dipaling muka!" kata Buyung Im Seng.
Selesai bicara dia lantas maju ke depan lebih dulu.
Kwik soat kun segera berkata kepada Nyo hong leng. "Ikuti di belakangnya dan
diam-diam lindungi keselamatannya, bila keadaan telah berubah dan harus
melukai orang, aku harap kau lancarkan serangan dengan meminjam tangannya,
kau haru tahu, bila identitasmu dapat dirahasiakan terus, hal ini besar sekali
manfaatnya untuk pihak kita..."
Nyo hong leng manggut2, dia segera menyusul di belakang tubuh Buyung Im Seng.
Kwik soat kun mengalihkan obor ke tangan kirinya, kemudian tangan kanannya
merogoh ke dalam saku dan mengeluarkan sebilah pisau tajam, senjata itu
300
digenggamnya erat-erat untuk menghadapi kemungkinan2 yang tidak diinginkan,
kurang lebih seperempat jam lamanya dia baru berjalan sejauh tiga kaki lebih.
"Jangan takut, aku berada di belakangmu" bisik Nyo hong leng kemudian, "Apapun
yang terjadi, aku akan membantumu dengan sepenuh tenaga."
"Hati-hati toh tak ada salahnya," kata Buyung Im Seng sambil tersenyum. "Mereka
pasti mempunyai banyak benda aneh yang bisa digunakan untuk melukai orang."
Sementara itu, mereka telah berjalan sampai di sebuah tikungan, tiba-tiba
terdengar seseorang berseru dengan suara yang dingin seperti es. "Berhenti!"
"Aku Buyung Im Seng bermaksud mengunjungi lembah tiga malaikat..." ucapnya
cepat.
"Setibanya di depan lembah tiga malaikat, harus dilihat dulu apakah kalian
sanggup menembusi pos penjagaan dari lohu atau tidak?"
"Tolong tanya, bagaimana cara kami untuk melewati pos penjagaan ini?" kembali
pemuda itu bertanya dengan suara lembut.
"Baik! Lohu akan memberitahukan kepada kalian, dalam perjalanan antara mati
dan hidup ini, dari setiap jengkal tanah yang ada di sini, kemungkinan besar akan
muncul kesempatan untuk menimbulkan kematian, ini termasuk serangan senjata
rahasia serta air beracun."
Buyung Im Seng segera tertawa dingin, katanya. "Aku masih mengira alat jebakan
yang berada dis ini terdapat perbedaan dengan tempat lain, ternyata yang
digunakan hanya benda2 kotor dan rendah dari kaum kurcaci dunia persilatan
seperti air beracun, senjata rahasia beracun dan sebagainya."
"Hmm...!" orang itu mendengus dingin. "Bila seseorang tak bisa menggunakan ilmu
silat, aku rasa penggunaan senjata rahasia merupakan suatu cara yang tepat!"
"Apakah senjata rahasia dan air beracun itu akan dipancarkan keluar dari atas
dinding lorong?"
"Lohu hanya akan menjawab satu kali saja, lain kali maaf kalau aku tak akan
menjawab lagi. Air beracun dan senjata rahasia yang akan lohu pancarkan itu
datangnya dari atas bawah serta empat arah delapan penjuru, lohu percaya
mungkin senjata rahasia tak akan mampu melukai kalian, tapi air beracun itu
ganas sekali, barang siapa kena air itu niscaya tubuhnya akan membusuk, selain
obat penawar khusus dari lohu, tiada orang lain di dunia ini yang sanggup untuk
menyembuhkannya."
"Bagaimana cara untuk melewati pos penjagaanmu itu?" bisik Buyung Im Seng
kemudian.
"Jika senjata rahasia itu mereka lancarkan dari empat arah delapan penjuru,
memang musuh buat kita untuk menghindarinya." Sahut Kwik soat kun.
"Bila mengurangi jumlah orangnya, bukankah hal ini akan mengurangi sebagian
mara bahaya yang mengancam?" ucap Buyung Im Seng.
301
"Bagaimana caranya pengurangan itu akan kau lakukan?" tanya Kwik soat kun
sehabis mendengar perkataan itu.
"Aku akan mengajaknya berbincang."
Setelah berhenti sebentar, dengan suara lantang ia lantas berseru keras. "Terima
kasih banyak atas petunjukmu itu, hal mana membuat kami sangat terharu."
"Lohu tak lebih hanya ingin memberi peringatan kepada kalian agar tahu diri dan
segera mengundurkan diri dari tempat ini." Suara yang dingin kaku itu segera
menyambung.
"Perduli apakah maksud dan tujuan anda yang sebenarnya, tapi aku tetap merasa
berterima kasih kepadamu, cuma sebelum pertarungan dilangsungkan, ada
beberapa perkataan perlu kubicarakan lebih dulu dengan dirimu."
"Persoalan apa?"
"Orang yang akan menembusi pos penjagaanmu hanya aku Buyung Im Seng
seorang, andaikata aku dapat menembusinya, aku mesti menganggap kami telah
menang, bila aku kena terluka oleh senjata rahasiamu, anggaplah kami yang
kalah."
"Baiklah!" kata orang itu dingin, andaikata aku dapat menembusi penjagaan ini,
lohu akan segera melepaskan semua orang termasuk pembantumu itu, sebaliknya
bila kau tak berhasil menembusinya, terpaksa aku akan menyuruh mereka
menggotong mayatmu meninggalkan tempat ini..."
"Baik, kita tetapkan dengan sepatah kata ini." Dia lantas berpaling dan
memandang sekejap ke arah Kwik soat kun sekalian, kemudian melanjutkan.
"Harap kalian suka menunggu di sini saja." Selesai berkata, dia lantas saja maju
lebih dulu.
Nyo hong leng maju menghalangi jalan pergi Buyung Im Seng, lalu ujarnya dengan
lembut. "Biar kutemati dirimu!"
"Tak usah," Buyung Im Seng menggeleng, "aku toh telah berjanji dengan pihak
mereka."
Tiba-tiba ia mempercepat langkah kakinya dan maju ke depan sana. Nyo hong leng
tertegun, baru saja ia akan menyusul, Kwik soat kun segera menarik ujung bajunya
sambil berbisik. "Biarkan dia pergi seorang diri!"
"Tidak bisa, kalau dia harus pergi sendirian mana mungkin bisa menghadang
serangan senjata rahasia yang datangnya dari empat arah delapan penjuru itu?"
"Mengapa kita tak membantunya secara diam-diam?" bisik Kwik soat kun.
Tidak menunggu jawaban dari Nyo hong leng, tangan kanannya segera diayunkan
ke depan, tiba-tiba cahaya api berkilauan dan menancap di atas batuan.
Benda yang terjatuh ke tanah itu ternyata memancarkan cahaya api yang sangat
terang, seperti semacam benda yang mudah terbakar, jilatan api segera menggelora
di sana.
Kobaran api itu sesungguhnya tidak terlampau besar, walaupun demikian dalam
lorong rahasia yang gelap gulita tersebut, amat besar manfaatnya, ditambah pula
302
tenaga dalam yang dimiliki orang itu memang sempurna, daya tangkap pandangan
matanya melampaui orang biasa, otomatis pemandangan di sekeliling tempat
itupun kelihatan makin nyata.
Ditengah api yang berkobar, tampak Buyung Im Seng dengan memegang pedang
ditangan kanannya pelan-pelan maju, pedang tersebut disilangkan di depan dada,
siap menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.
Nyo hong leng segera merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan segenggam biji
Budhicu yang sebesar kacang ijo, sambil diserahkan kepada Kwik soat kun ia
berbisik. "Bawalah benda ini!"
Pada mulanya Kwik soat kun tertegun, tapi kemudian dia lantas memahami
maksudnya, sambil tersenyum ia menerima Budhicu itu dan dimasukkan ke dalam
sakunya.
Nyo hong leng sendiri dengan menggenggam sepuluh biji budhicu, segenap
perhatiannya dipusatkan ke atas tubuh Buyung Im Seng.
Tiba-tiba Kwik soat kun mengayunkan kembali tangan kanannya ke depan, "Plakk,
plaak!" dua gulung cahaya api meluncur dari tangannya dan terjatuh di atas tanah
lebih kurang tujuh delapan langkah di hadapan Buyung Im Seng serta pada ujung
tikungan lorong sana.
Dengan begitu, bagian depan maupun belakang Buyung Im Seng semuanya tampak
cahaya api yang berkobar, pemandangan di sekeliling tempat itu menjadi terang
benderang, hal mana sangat bermanfaat dan membantu bagi Buyung Im Seng.
Tiba-tiba dari balik dinding seberang sana bergema suara bentakan yang dingin
menyeramkan. "Hati-hati..."
Menyusul peringatan tersebut, dari antara kedua belah dinding lorong tersebut
memancar keluar dua gulung cahaya perak yang menyambar ke atas tubuh Buyung
Im Seng dengan kecepatan tinggi.
Pedang yang disilangkan di depan dada Buyung Im Seng itu segera digetarkan,
mendadak terpancar selapis cahaya perak yang menyelimuti angkasa.
Lapisan pedang berwarna perak itu dengan cepat melindungi seluruh tubuhnya
dari serangan luar, cahaya perak yang menyerbu tiba dari kedua sisi lorong itu
seketika tergetar rontok.
Terkesiap juga hati Nyo hong leng menyaksikan begitu banyak jarum perak yang
keluar dari kedua belah sisi dinding lorong tersebut. Segera ia berbisik. "Enci Kwik,
apa dia terluka?"
Diam-diam Kwik soat kun tertawa geli, pikirnya. "Aaah... tak nyana Biau hoa
lengcu yang angkuh dan tinggi hati ini memanggil cici juga kepadaku, tampaknya
dia amat mencintai Buyung kongcu..."
Berpikir demikian dia lantas menyahut dengan suara setengah berbisik. "Aaah, kau
ini terlalu gugup dan tegang, dia tetap sehat wal'afiat, tanpa kekurangan sesuatu
apapun."
Nyo hong leng juga tidak menyangka, dia hanya terdiam sambil manggut2.
303
Sementara itu Buyung Im Seng dibuat terkesiap juga telah menghadang rontok
serangan jarum perak yang datang dari dua arah itu, pikirnya dalam hati. "Bila
serangan senjata rahasia ini dilancarkan dari jarak sedekat ini, apa lagi kalau
ancaman yang dilakukan makin lama semakin dahsyat, aaiii... sulit juga rasanya
untuk dihindari."
Namun diapun merasa agak keheranan, andaikata orang itu tidak memberi
peringatan lebih dulu, niscaya sulit baginya untuk meloloskan diri dari serangan
jarum perak yang memancar dari dua penjuru itu, tapi justru pihak lawan memberi
peringatan, ia menjadi bersiap sedia hingga jarum-jarum perak itu dapat dipukul
rontok semua.
Dalam hati dia berpikir demikian, langkah kakinya masih tetap berjalan terus ke
depan sana.
Dalam pada itu Nyo hong leng sudah tak kuasa mengendalikan rasa gelisah dalam
hatinya lagi, dia lantas berbisik. "Enci Kwik, aku tak dapat lagi menunggu lebih
lama lagi, aku harus membantu dirinya."
Kwik soat kun cepat menarik ujung baju Nyo hong leng sambil berseru. "Tunggu
sebentar!"
"Aku tak dapat menunggu lebih lama lagi." Bisik Nyo hog leng.
"Sudah kau dengar perkataan dari orang itu barusan?" "Sudah!"
Dengan suara lirih sekali Kwik soat kun segera berbisik. "Walaupun ucapan orang
itu kedengarannya seperti menakut-nakuti, padahal sebenarnya mengandung
peringatan, bila kau turut menerjang ke depan, aku kuatir hal ini justru malah
akan merusak persoalan."
Pada dasarnya Nyo hong leng memang seorang gadis yang amat cerdik, setelah
termenung sebentar, dia lantas memahami duduk persoalan yang sebenarnya,
diapun manggut2.
"Tapi kalau kita terlalu jauh ketinggalan di belakangnya, mana sempat menolong
dirinya bila diperlukan?"
Kembali Kwik soat kun menggelengkan kepalanya berulang kali. "Jangan terlalu
gelisah, kita tunggu sebentar lagi, perlu diketahui saat ini kita berada dalam
keadaan senasib sependeritaan, bila Buyung kongcu sampai ketimpa sesuatu,
kitapun jangan harap bisa keluar dari sini dalam keadaan hidup."
Sekalipun Nyo hong leng merasa bahwa perkataannya memang benar dan masuk
akal, namun hatinya masih tetap tidak tenang, tak tahan dia toh maju juga.
Dengan perasaan apa boleh buat, terpaksa Kwik soat kun harus mengikuti di
belakang Nyo hong leng.
Sementara itu, Buyung Im Seng telah mendekati sudut tikungan sebelah depan,
mendadak terdengar suara lirih yang amat lembut berkumandang di sisi
telinganya. "Dengan pertaruhan nyawa lohu hanya bisa memberi keterangan satu
kali saja kepadamu, aku minta dengarkan keteranganku ini baik-baik, senjata
rahasia yang berada di sini rata-rata keji dan amat beracun, sekalipun ayahmu
hidup kembali juga belum tentu dapat menghindarinya, oleh sebab itu kau harus
304
bersikap lebih hati-hati hanya ada satu cara saja untuk menghindari senjata itu,
yakni melompat ke atas dan menempel di atas atap lorong ini..."
Sampai di situ, mendadak ucapannya terputus ditengah jalan.
- 0 -
Bagian ke 23
Diam-diam Buyung Im Seng menarik napas panjang-panjang, dia maju lalu melejit
ke tengah udara, secara tiba-tiba dia melayang ke depan dengan tubuhnya
menempel di atas langit-langit lorong itu.
Terdengar suara desingan angin tajam menderu-deru, berpuluh puluh cahaya tajam
tiba-tiba memancar keluar dari kedua belah sisi dinding lorong serta dari tengah
tikungan tersebut.
Pada saat senjata rahasia tersebut saling beterbangan diangkasa, Nyo hong leng
mengayunkan pula tangan melepaskan segenggam biji budhi cu.
"Pluuuk, pluuuk, pluuuk!" sebagian besar senjata rahasia yang memancar itu kena
tersambit telah oleh timpukkan budhicu yang dilepaskan Nyo hong leng, sehingga
berguguran ke tanah, untuk sesaat terdengarlah suara senjata rahasia yang saling
membentur dan tersebar kemana-mana.
Dalam pada itu Buyung Im Seng telah melayang turun dengan selamat di atas
tanah, ketika berpaling dan menengok ke belakang, terkesiap hatinya, diam-diam
pikirnya. "Seandainya orang itu tidak memberi peringatan kepadaku, niscaya sulit
bagiku untuk meloloskan dari ancaman ini."
Ternyata senjata rahasia yang berserakan di atas tanah sekarang beraneka ragam
bentuknya, ada panah pendek, ada jarum rahasia, ada pula paku beracun Cu hu
teng, jumlahnya mencapai ratusan batang.
Sementara dia masih melamun, tiba-tiba tampak bayangan manusia berkelebat
lewat, tahu-tahu Nyo hog leng telah muncul di hadapan sambil mencengkeram
tubuh Buyung Im Seng. "Kau baik bukan?" tegurnya.
Memandang pada sorot matanya yang penuh kasih dan perhatian itu, Buyung Im
Seng sangat terharu, sambil tertawa ia mengangguk. "Ya, aku sangat baik."
"Oh... sungguh mengejutkan aku," bisik Nyo hog leng sambil menghembuskan
napas.
Kwik soat kun segera memburu datang dengan langkah lebar, bisiknya kemudian.
"Adikku yang baik, jangan aleman lagi, sekarang bukan waktunya untuk
bermesraan."
Merah padam selembar wajah Nyo hong leng karena jengah, kepalanya segera
ditundukkan rendah2.
Terdengar suara yang dingin itu berkumandang kembali. "Kongcu telah berhasil
melewati penghadangan senjata rahasiaku, berarti kau telah berhasil meloloskan
diri dari pos penjagaan lohu. Silahkan maju ke dalam sana, di depan ada pos
305
penjagaan yang dijaga orang lain, hanya sampai di sini saja ucapan lohu, silahkan
kalian berangkat melanjutkan perjalanan."
Sebenarnya Buyung Im Seng ingin mengucapkan beberapa patah kata untuk
menyatakan rasa terima kasihnya atas bantuan orang itu, tapi kata-kata yang telah
sampai di ujung bibir itu segera ditelan kembali, dia berpaling ke arah mana
berasal suara itu kemudian menjura setelah itu baru melanjutkan perjalanan
dengan langkah lebar.
Nyo hog leng yang menyaksikan Buyung Im Seng bisa lolos dari mara bahaya juga
tak banyak bicara, dengan ketat dia mengikuti di belakang tubuh pemuda tersebut.
Dalam pada itu, cahaya api yang dilepaskan Kwik soat kun sudah mulai padam,
suasana dalam gua batu itu pulih kembali dalam kegelapan yang mencekam, sambil
menghentikan langkahnya, Buyung Im Seng segera berbisik. "Lorong rahasia ini
terlalu gelap, bila muncul sergapan secara tiba-tiba sukar rasanya untuk dihindari,
lebih baik kita pertahankan suatu jarak tertentu, sehingga paling tidak kita tak
akan sampai terluka semua."
"Baik, biar aku berjalan dipaling depan!" seru Nyo hong leng dengan cepat.
Buyung Im Seng segera menyambar lengan Nyo hong leng dan menariknya ke
belakang. Entah sengaja atau tidak, menggunakan kesempatan itu Nyo hong leng
menjatuhkan diri ke dalam pelukan Buyung Im Seng, bau harum tubuh perawan
dengan cepat tersiar di sekelilingnya dan menyerang hidung pemuda itu.
Kontan saja si anak muda itu merasa terangsang, tanpa disadari dia mengulurkan
tangannya dan merangkul pinggang Nyo hong leng dengan mesranya. "Kau harus
merahasiakan dirimu," bisiknya lirih. "Dengan begitu musuh baru dapat kita bikin
kelabakan, biar aku saja yang berjalan dipaling depan."
Baru saja Nyo hong leng akan membantah, mendadak terdengar suara desingan
angin tajam berkumandang memecahkan keheningan. Kwik soat kun segera
mengayunkan tangannya melepaskan sebuah peluru cahaya api. Pada saat yang
bersamaan pula, Nyo hong leng menyelinap keluar dari rangkulan Buyung Im Seng
dengan gerakan paling cepat.
Di bawah cahaya api yang menerangi ruang rahasia itu, tampak dari depan lorong
sana tiba-tiba muncul segerombolan lelaki kekar, semuanya memakai baju hitam
dengan senjata diacungkan tinggi ke atas, untuk sesaat sulit bagi orang untuk
membedakan apa mereka orang sungguhan atau boneka belaka?
Kwik soat kun segera mengayunkan tangannya melepaskan sebatang paku
penembus tulang berbareng itu juga serunya keras. "Hati-hati dengan senjata
rahasia!"
"Trang...!" ketika membentur di tubuh orang itu, paku penembus tulang tersebut
segera mencelat balik menimbulkan suara dentingan yang amat nyaring.
Kwik soat kun segera berbisik lirih, "Awas orang-orangan dari baja!"
"Masa orang-orangan dari baja lebih tangguh daripada orang hidup?" tanya Buyung
Im Seng.
306
"Lorong rahasia begini sempit, bila orang2an baja itu dikendalikan oleh alat
rahasia, kehebatan mereka akan sepuluh kali lipat lebih dahsyat daripada orang
biasa."
Buyung Im Seng mencoba untuk memperhatikan dengan seksama, tampak orangorangan
baja itu sangat kekar dengan bahu yang lebar dan lengan yang kuat,
ketika berdiri di sana, hampir seperti ruang kosong dalam lorong rahasia tersebut.
(Bersambung ke jilid 16)
307
Lembah Tiga Malaikat
Oleh: Tjan
Jilid 16
Tanpa terasa ia berkerut kening, lalu katanya. "Akan kucoba sebentar, sampai
dimanakah keganasan orang-orang tersebut?"
Sambil meloloskan pedangnya, dia lantas melangkah maju. "Kau harus berhatihati."
Bisik Nyo hong leng dengan penuh perhatian. Buyung Im Seng berpaling
sambil tertawa kemudian melanjutkan langkahnya.
Ketika tiba lebih kurang tiga langkah dari hadapan orang orangan baja itu, dia
lantas berhenti, kemudian pedangnya digerakkan menusuk orang2an tersebut.
Dalam tusukan tersebut, diam2 Buyung Im Seng telah sertakan tenaga tusukan
yang amat besar sekali.
Ketika pedang dan orang2an baja itu saling membentur, terjadilah suara benturan
nyaring yang memekakkan telinga.
Namun orang orangan itu masih tetap berdiri ditempat tanpa bergerak barang
sedikitpun juga.
Menyaksikan kejadian itu, Buyung Im Seng segera berkerut kening, baru saja dia
akan memperbesar tenaganya untuk melancarkan sebuah tusukan kembali, tibatiba
terdengar suara seruan yang kecil dan lembut berkumandang tiba. "Jika kalian
ingin menuju ke Seng tong, mau tak mau harus melalui pos penjagaan yang lohu
jaga ini."
Buyung Im Seng segera menarik kembali senjatanya, lalu berkata. "bagaimana
caranya untuk menembusi barisan Thi jin tin (barisan orang2an baja) mu itu?"
"Maju saja terus, asal sudah masuk ke tengah barisan yang lohu atur ini, otomatis
orang2an baja itu akan memberikan reaksinya sendiri."
Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan. "Lohu selamanya paling tak suka
banyak bicara, maaf kalau aku takkan menjawab pertanyaanmu lagi."
308
Buyung Im Seng agak tertegun, segera serunya kembali. "Bolehkah aku
menembusinya seorang diri?"
Namun meski sudah ditanyakan beberapa kali, tidak terdengar lagi jawaban dari
orang itu. Kontan saja Buyung Im Seng naik darah, pedangnya diayun lagi ke
depan melancarkan bacokan.
"Trang...!" bunyi dentingan nyaring diiringi percikan bunga api. Orang2 yang
berdiri tak bergerak itu tampaknya sudah dibikin marah oleh bacokan pedang
Buyung Im Seng yang amat dahsyat itu, sepasang lengan yang segera digerakkan,
dengan mengayun sepasang kepalan bajanya, pukulan keras dilancarkan.
Buyung Im Seng telah bersiap sedia sedari tadi, sambil menarik napas, tubuhnya
mundur tiga langkah dan meloloskan diri dari ancaman sepasang tinju orang2an
baja itu.
Gagal dengan serangannya, orang2an baja itu segera kembali ke posisi semula.
Buyung Im Seng melancarkan empat buah serangan berantai yang semuanya
ditujukan ke dada, lambung dan bagian rawan dibagian orang2an itu, namun
orang2an tersebut tetap berdiri tak berkutik ditempat semula.
Pelan-pelan Kwik soat kun berjalan maju, kemudian berbisik lirih. "Kongcu,
orang2an baja ini dikendalikan oleh seseorang dari balik dinding."
"Bukankah kalau begitu, sulit bagi kita untuk menembusi barisan ini?"
"Ia menyembunyikan diri dibalik kegelapan, sebelum kita memasuki barisan
tersebut, ia enggan menggerakkan alat rahasianya, terpaksa kita haru saling
menunggu terus."
Buyung Im Seng segera memasukkan pedangnya ke dalam sarung, setelah itu
berkata. "Bik, aku akan masuk ke dalam barisan untuk mencobanya, akan kulihat
sampai dimana kelihaiannya?"
"Kongcu jangan masuk terlalu dalam", bisik Kwik soat kun, "sekalipun ilmu silatmu
lebih baik juga terdiri dari darah daging, mustahil kau dapat beradu kekerasan
dengan orang2an yang terbuat dari baja belaka..."
"Aku mengerti" Buyung Im Seng tersenyum. Diam-diam ia menghimpun tenaganya,
kemudian pelan-pelan berjalan maju. Setelah melewati orang2an baja yang
pertama, dia belum juga melihat adanya suatu gerakan, maka dengan sangat
berhati-hati si anak muda itu melampaui orang2an kedua. Ketika menengadah ia
temukan orang2an itu tetap berdiri kaku tanpa menunjukkan gejala apa-apa, maka
kembali dia beranjak melampaui orang2an ketiga.
Siapa sangka belum lagi dia berdiri tegak, mendadak berkumandang suara
gemerincingnya suara rantai yang bergesek kemudian tampak orang2an itu mulai
bergerak bersama.
Sambil menghimpun tenaga dalamnya, Buyung Im Seng menghentikan langkah
kakinya, ketika mengalihkan sorot matanya sekeliling tempat itu tampak olehnya
tiga buah orang2an yang berada di belakangnya tadi, kini telah membalikkan
badan, lalu sambil berdiri berjajar mereka menggerakkan tinju bajanya kesana
kemari.
309
Dengan berdiri berjajar tiga, otomatis jalan mundur Buyung Im Seng menjadi
tersumbat sama sekali. Ditambah pula dengan bergeraknya enam buah lengan baja
secara bersamaan dengan kecepatan luar biasa, hampir semua celah kosong di
sekeliling tempat itu tersumbat seluruhnya.
Padahal pada saat itulah orang2an yan berada dihadapannya sudah bergerak maju
sambil melakukan terjangan.
Dengan suatu gerakan cepat Buyung Im Seng menghitung jumlah mereka ternyata
dihadapannya masih ada enam orang ditambah tiga sosok yang menghadang jalan
mundurnya, sehingga jumlah mereka menjadi sembilan. Ke sembilan sosok itu
dengan delapan belas kepalan bersama sama diayunkan ke depan, bahkan
digerakkan semakin cepat.
"Blum, blum!" dua ledakan api memancar ke empat penjuru dan terjadilah dua
buah kobaran api yang segera menerangi seluruh lorong rahasia tersebut.
Menyaksikan betapa rapat dan ketatnya serangan gabungan dari ke sembilan
orang2an itu, diam-diam Buyung Im Seng merasa terkesiap, pikirnya kemudian.
"Tampaknya orang2an ini telah diatur menurut suatu perhitungan yang sangat
cermat, semua gerakan tangannya hampir menutup setiap celah kosong yang
berada di sana, anehnya gerakan tangan itu semua tidak kalut dan tidak saling
membentur... sungguh amat lihai!"
Sementara dia masih melamun, orang2an itu sudah menyerbu tiba dan semakin
mendekati tubuhnya. Mendadak tiga sosok orang2an yang menghadang jalan
mundurnya itu berhenti ditempat, sementara enam sosok yang datang dari depan
masih menerjang terus tiada hentinya.
Dalam waktu singkat, kedua belah pihak orang2an itu sudah saling berhadapan
dalam jarak lima depa. Buyung Im Seng berusaha keras untuk mempertahankan
ketenangannya, dia berharap dapat menemukan setitik harapan untuk hidup
dalam lingkungan situasi yang amat gawat tersebut.
Tapi sayang, orang2an itu tingginya hampir mencapai langit-langit gua, ruang
kosong yang masih tersisa pun paling banter cuma satu inci, mustahil ia dapat
melarikan diri lewat celah sekecil itu.
Sedangkan celah yang ada diantara orang2an yang satu dengan yang lainnya hanya
bisa dilewati sesosok tubuh manusia, itu berarti satu satunya harapan hanyalah
berusaha keras untuk merobohkan sesosok manusia besi itu kemudian baru
melompat keluar.
Meski pendapat itu baik, namun orang2an itu mempunyai perawakan yang tinggi
besar, kepala bajanya pun besar mengerikan, tipis harapannya untuk menang bila
dia ingin beradu kekerasan dengan orang2an itu.
Berpikir sampai di situ, hawa murninya segera dihimpun ke dalam sepasang
lengannya, kemudian bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tidak
diinginkan.
Tiga sosok orang2an yang berada di belakang masih tetap berdiri tak berkutik, hal
ini mengurangi kerisauan Buyung Im Seng untuk menguatirkan keselamatannya
dari belakang.
310
Segenap perhatian dan kekuatannya segera dihimpun menjadi satu untuk
menyongsong datangnya serangan dari depan. Tampak orang2an yang mendekat
itu bergerak dengan jalan bersanding, dua sosok di depan dan tiga sosok di
belakangnya, jarak diantara dua rombongan itu mencapai empat depa lebih.
Sekalipun jarak diantara kedua sosok orang2an di depan mempunyai ruang kosong
yang bisa dilalui orang, namun ruang kosong itu segera disumbat secara ketat oleh
tiga sosok orang2an yang berada di belakang.
Yang membuat Buyung Im Seng tidak habis mengerti adalah orang2an yang
terakhir itu, orang2an itu berdiri di belakang tiga sosok orang2an di depannya
sepintas lalu orang2an itu seperti sama sekali tak ada gunanya.
Sementara dia masih termenung, dua sosok orang2an yang berada dipaling depan
telah menerjang tiba, orang2an yang berada di sebelah kanan segera menggerakkan
sepasang kepalan raksasanya untuk menghantam ke depan.
Diam-diam Buyung Im Seng berpikir. "Pukulan yang dilepaskan orang2an ini
sangat dahsyat, tak baik untuk disambut dengan kekerasan, tapi kalau tak kucoba
kekuatan dari kepalan baja tersebut, takkan kutemukan cara untuk mematahkan
barisan orang2an besi ini, yaa, tampaknya aku harus menyerempet bahaya."
Ketika kepalan baja itu menyambar lewat dari depan dada Buyung Im Seng segera
memanfaatkan kesempatan itu untuk turun tangan, dia cengkeram pergelangan
orang2an tersebut.
Tiba-tiba orang2an itu menggerakkan lengannya ke bawah, kekuatan yang besar
sekali hampir saja menggerakkan tubuh Buyung Im Seng. Dengan cepat si anak
muda itu menggerakkan tenaga dalamnya, tenaga tekanan yang tercampur keluar
dari pergelangan tangannya bertambah besar, secara paksa dia tekan kembali
gerakan tangan orang2an tadi.
Sebenarnya selama ini orang2an besi hanya menggerakkan lengannya ke atas dan
ke bawah, tapi setelah Buyung Im Seng berhasil menangkap lengan orang2an
tersebut, mendadak lengan lain dari orang2an itu diayun ke samping membabat
pinggang.
Sejak semula Buyung Im Seng telah menduga sampai kesana, dia tahu bila
orang2an itu kena ditangkap, kemungkinan besar hal mana akan menimbulkan
permusuhan gerak dari lengan yang lain, meski demikian ia tak menyangka kalau
gerakan itu merupakan babatan ke samping, buru-buru ia menggerakkan tangan
kirinya untuk menyambut datangnya serangan lawan.
Begitu sepasang lengan orang2an itu tertangkap semua, agaknya gerakan dari
orang2an lainpun seperti kena dikendalikan pula, mendadak orang2an yang di
sisinya itu turut berhenti bergerak.
Buyung Im Seng dengan menggunakan sepasang tangannya masing2 menahan
lengan baja dari orang2an itu, betul orang2an tersebut berhasil dikuasai, namun
dia sendiripun telah mempergunakan segenap tenaga yang dimilikinya.
311
Seandainya bentuk orang2an itu dibuat lebih praktis lagi, sehingga mereka dapat
bergerak sendiri2 dan saling bantu membantu, niscaya Buyung Im Seng sudah
terluka di ujung orang2an baja itu.
Sayang orang2an itu bukan manusia sungguhan, bagaimanapun sempurnanya
gerakan dari alat2 rahasia tersebut, benda tersebut tak bisa bergerak menurut
keadaan yang dihadapinya.
Buyung Im Seng mencoba-coba untuk mengamati orang2an yang berada
disampingnya, ternyata orang2an itu bukannya sama sekali berhenti tak berkutik,
melainkan berputar dengan gerakan perlahan.
Pada saat yang bersamaan, tiga sosok orang2an yang berada di belakangnya masih
tetap bergerak dengan pelan2. mereka menghadang jalan mundur pemuda itu
sementara enam buah lengan bajanya bergerak kesana kemari makin lama makin
cepat.
Tiba2 cahaya api menjadi padam. Rupanya cahaya api yang dipancarkan oleh Kwik
soat kun sudah terkena pukulan orang2an tersebut, sehingga padam sama sekali.
Dalam waktu singkat seluruh gua itu berubah menjadi gelap gulita sehingga lima
jari tengah sendiripun sukar terlihat jelas. Begitu suasana menjadi gelap, Buyung
Im Seng segera mendengar suara benturan besi yang amat nyaring.
Setelah itu terdengar suara Nyo hong leng sedang bertanya. "Toako, baik-baikkah
kau?"
Buyung Im Seng merasa ada segulung angin pukulan yang sangat keras
menyambar tiba, tidak terlukiskan rasa terkesiap yang mencekam hatinya waktu
itu. Tak sempat menjawab teguran, sepasang tangannya segera mengendor dan
melepaskan cekalan pada sepasang lengan baja itu, kemudian seluruh tubuhnya
dijatuhkan berbaring ke tanah.
Kiranya secara tiba-tiba ia teringat bahwa orang2an itu hanya menggerakkan
sepasang tangannya, sedang sepasang kakinya sama sekali tak berguna, dengan
membaringkan diri ke tanah, berarti jiwanya untuk sesaat dapat diselamatkan.
Saat itulah terdengar Kwik soat kun berseru dengan suara keras. "Jangan
menyerempet bahaya!"
"Tak usah kau campuri urusanku!" sahut Nyo hong leng. Agaknya Nyo hong leng
hendak menyundul ke muka untuk memberikan pertolongan, namun dicegah oleh
Kwik soat kun, akibatnya, kedua orang itu bertengkar sendiri.
Dengan cemas Buyung Im Seng segera berteriak, "Aku baik-baik saja, kalian tak
usah bertengkar!"
Waktu itu Nyo hong leng sudah bersiap sedia menerjang ke depan, tapi setelah
mendengar jawaban dari Buyung Im Seng, niat tersebut segera diurungkan.
Terdengar Siau tin berseru tiba-tiba. "Kita lepaskan dua butir peluru api lagi untuk
membantu penerangan baginya."
"Aku rasa suasana gelap jauh lebih baik daripada terang." Kata Kwik soat kun
dengan suara dingin.
312
"Mengapa?" "Orang2an besi itu benda mati, ada sinar juga boleh tak ada sinar juga
boleh, baginya toh sama saja, berbeda dengan Buyung kongcu, ia butuh penerangan
untuk melihat keadaan musuh."
"Betul orang2an itu adalah benda mati, tapi toh ada orang hidup yang
mengendalikannya. Musuh ada di kegelapan sedang kita ada ditempat terang,
cahaya bisa menyinari gerak gerik orang2an itu serta bisa membantu Buyung
kongcu, tapi hal inipun bisa digunakan orang itu untuk mengendalikan alat
rahasianya. Bila orang yang mengendalikan orang2an itu tak dapat melihat
Buyung kongcu maka barisan orang besi itu pasti akan digerakkan menuruti
perubahan yang telah ditetapkan dengan kecerdasan yang dimiliki Buyung kongcu,
asal ia dapat menyelidiki cara serta sumber dari gerak gerik mereka itu, sudah
pasti diapun akan bisa menemukan cara terbaik untuk mematahkan serangan dari
barisan ini."
Perkataan itu diucapkan dengan suara keras, bukan saja dipakai untuk
menundukkan Nyo hong leng, agaknya juga dimaksudkan agar didengar oleh
Buyung Im Seng.
Benar juga, beberapa kata itu segera mendatangkan reaksi yang cukup besar bagi
si anak muda. Dengan menggerakkan ketajaman matanya dia mulai memeriksa ke
sekeliling tempat itu, dijamahnya orang besi yang sepasang tangannya kena
ditangkap olehnya itu, masih menggerakkan lengannya dengan gerakan pelan,
agaknya alat rahasia yang mengendalikan gerakan orang besi tersebut masih
belum dapat dipulihkan kembali.
Berbareng itu pula orang2an yang sedang berputar di sebelah kiri itupun sedang
berputar balik dengan gerakan lamban.
Dari pengamatan itu, Buyung Im Seng segera dapat menarik suatu kesimpulan,
tampaknya alat rahasia yang mengendalikan orang besi itu mempunyai kaitan
antara yang satu dengan yang lainnya, apabila ia dapat merusak salah satu alat
rahasia yang mengendalikan sesosok saja, maka segenap barisan orang2an itu akan
menjadi lumpuh, atau paling tidak akan mengurangi kelincahan mereka.
Dengan termangu pemuda itu mengawasi gerakan kaki dari orang besi tadi, tibatiba
ia menemukan sebuah rantai besi sebesar lengan anak yang mengendalikan
sepasang kaki orang besi itu, ujung rantai yang lain menembusi tanah
berhubungan langsung dengan balik dinding lorong, hal mana segera
menggerakkan hatinya.
Rantai besi yang bergerak di bawah tanah itu pasti berfungsi untuk mengendalikan
gerakan dari orang2an itu, jika kupatahkan rantai penghubung tersebut bukankah
secara otomatis orang2an itu akan lumpuh dan tak dapat bergerak lagi?
"Toako, kau dimana?" tiba-tiba terdengar Nyo hong leng berteriak dengan suara
keras.
Buyung Im Seng menyaksikan kedua sosok orang2an itu sudah hampir pulih ke
posisinya semula, dia tahu bila posisi tersebut sudah kembali ke tempat kedudukan
yang semula, sudah pasti serangkaian serangan yang cepat dan gencar akan
dilancarkan.
313
Atau dengan kata lain, sebelum kedudukan orang2an itu pulih kembali ke posisi
semula, dia harus mematahkan rantai pengendali itu. Keadaan makin kritis sekali,
bila dia harus menjawab pertanyaan Nyo hong leng, niscaya akan mengejutkan
orang yang mengendalikan alat rahasia tersebut serta meningkatkan
kewaspadaannya.
Berpikir demikian, dia lantas membungkam diri dalam seribu bahasa. Tangan
kanannya segera bergerak untuk meloloskan pedangnya, kemudian secepat kilat
ditusukkan ke atas rantai besi yang berada di kaki orang2an besi itu.
Didalam melancarkan tusukan ini, Buyung Im Seng telah sertakan tenaga
dalamnya sebesar tujuh bagian, pedangnya menusuk sampai sedalam dua depa
lebih. "Bluup, bluup..." dua benturan keras terjadi, suara itu mirip ada benda yang
putus.
Tiba-tiba saja bergema suara gemerincing nyaring yang memekakkan telinga,
orang2an besi dalam barisan thi jin tin itu segera bergerak dengan kencang.
Tampak dua sosok orang2an besi yang berada di hadapan berhenti secara tiba-tiba,
sedangkan tiga sosok di belakangnya segera menerjang ke muka.
"Trang..." suatu benturan benda keras yang amat nyaring berkumandang, enam
buah kepalan baja dari orang2an di belakangnya telah menghantam tubuh dua
sosok orang besi di depan.
Pukulan dari ketiga sosok orang besi yang ada di belakang itu amat keras dan
berat, membuat dua sosok orang besi lainnya bergoncang keras, seakan akan setiap
saat bakal roboh ke tanah.
Buyung Im Seng menjadi girang sekali, segera pikirnya. "Ternyata cara untuk
merusak orang2an besi ini terletak di kakinya."
Hawa murni segera dihimpun jadi satu, kemudian pedangnya diayunkan ke depan
menusuk bawah kaki orang besi kedua. "Trang..." kembali terjadi dentingan
nyaring, agaknya ada benda yang putus. Dua sosok orang besi yang berada dimuka
itu segera terhenti sama sekali, bahkan ke empat buah lengan merekapun turut
berhenti.
Diam-diam Buyung Im Seng tertawa geli, pikirnya. "Barisan orang2an ini
tampaknya menakutkan sekali, tapi asal dihadapi dengan hati yang tenang,
ternyata tidak sulit untuk mematahkannya..."
Peristiwa ini segera memberikan suatu pelajaran yang amat baik kepada Buyung
Im Seng, dia merasa bila seseorang berada dalam keadaan yang berbahaya, maka
semakin gawat keadaannya orang harus semakin tenang untuk menghadapinya.
Sementara itu tiga sosok orang2an lainnya secara tiba-tiba ikut berhenti. Ketika dia
mencoba berpaling, tampaklah ketiga sosok yang lainpun ikut berhenti.
Saat itulah Nyo hong leng berteriak lagi. "Toako, baik-baikkah kau?"
Buyung Im Seng tertawa terbahak-bahak. "Haa... ha.. aku baik sekali, ternyata
barisan orang besi ini cuma begitu saja."
"Buyung Im seng!" terdengar suara yang amat dingin bergema memecahkan
keheningan, "kau sudah berhasil melewati barisan orang besi."
314
"Terima kasih" sahut Buyung Im Seng sambil bangkit berdiri, terdengar serentetan
suara gemerincingan yang amat menusuk pendengaran bergema dalam lorong itu,
semua orang besi tersebut telah balik kembali ke posisi semula, cuma dua sosok
orang yang menyerang lebih dulu tetap berdiri tegak ditempat.
Tampaknya alat rahasia yang mengendalikan kedua orang besi itu sudah
mengalami kerusakan hebat. Kwik soat kun kembali melepaskan sebutir peluru
api, gua batu yang gelap itu kembali terang.
Kwik soat kun dan Nyo hong leng segera memburu ke depan dengan langkah lebar,
menyaksikan kedua orang besi yang berdiri melintang di depan mereka itu, mereka
memandang sekejap ke arah Buyung Im Seng, kemudian katanya sambil tertawa.
"Kongcu, benar2 memiliki tenaga sakti yang mengerikan..."
Buyung Im Seng segera menggelengkan kepalanya berulang kali. "Seseorang walau
memiliki tenaga dalam yang bagaimanapun lihainya, jangan harap dia bisa
melawan kekuatan dari orang2an yang terbuat dari baja, aku hanya berhasil
menemukan cara untuk mematahkan alat rahasianya belaka."
Setelah menghembuskan napas panjang, dia melanjutkan. "Barisan orang2an besi
ini telah memberikan suatu pelajaran yang besar bagiku, bila seseorang berada
dalam keadaan bahaya, semakin gawat keadaannya dia harus makin tenang untuk
menghadapinya."
"Lantas bagaimana caramu untuk mematahkan barisan orang2an besi itu?" tanya
Nyo hong leng.
"Hanya ada satu cara yang bisa dipergunakan yaitu aku lihat orang2an itu cuma
menggerakkan sepasang kepalannya belaka sementara kakinya tak menunjukkan
gerakan apa2, ku teliti bagian kakinya, dan disanalah kutemukan cara untuk
mematahkan serangan dari orang besi itu."
"Terlampau menyerempet bahaya." Bisik Nyo hong leng, "lain kali kau tak boleh
berbuat demikian, untung saja nasibmu makin mujur."
Buyung Im Seng dapat merasakan dibalik ucapan itu mengandung api cinta kasih
yang tebal, tanpa terasa dia tersenyum. "Tak usah kuatir, setelah berada di sini,
sekalipun tak akan menyerempet bahaya juga tak mungkin." Katanya
"Lain kali, biar aku saja yang menghadapinya, kau tak boleh berebut lagi
denganku."
"Baiklah, sampai waktunya kita tetapkan lagi." "Entah di depan sana masih ada
rintangan atau tidak?" kata Kwik soat kun.
Dengan langkah lebar dia berjalan lebih dulu. Buyung Im Seng segera mengikuti di
belakang Kwik soat kun, kemudian bisiknya. "Nona Kwik, ada satu hal aku merasa
agak keheranan,"
"Persoalan apa?" "Seandainya orang yang menjaga bagian senjata rahasia itu
menyerang dengan air beracun, aku rasa sulit buat kita meloloskan diri dalam
keadaan selamat."
315
"Dia selalu memberi peringatan kepada kita apakah kongcu masih belum
mengerti?"
Sementara pembicaraan masih berlangsung, tiba-tiba keadaan medan berubah,
lorong itu menjorok ke arah bawah.
Kwik soat kun segera berhenti, ujarnya. "Kalau dilihat keadaannya, makin dalam
keadaannya makin berbahaya, apakah kita bertekad akan mengunjungi Seng tong
mereka?"
"Mungkin saja setelah memasuki gua ini, jangan harap bisa keluar lagi dalam
keadaan hidup, tapi bagaimanapun kita harus membuktikan beberapa hal yang
mencurigakan."
"Setelah sampai di sini, apakah kita masih akan mengundurkan diri?" ucap Nyo
hong leng pula dengan suara dingin.
Kwik soat kun segera tertawa hambar. "Kini lorong rahasia ini secara tiba-tiba
menjorok ke bawah, bila kita berjalan makin ke depan maka kita akan masuk
semakin dalam lagi, seandainya di suatu tempat yang strategis tiba-tiba mereka
menurunkan pintu besi yang besar dan berat, lalu melepaskan air beracun,
bagaimanapun lihainya kita, aku rasa sulit buat kita untuk lolos dari tempat ini
dalam keadaan selamat."
"Andaikata kita benar-benar menjumpai situasi semacam ini, aku juga mempunyai
akal untuk menyelamatkan kalian semua dari situ" seru Nyo hong leng cepat.
"Ooh... nonaku yang amat baik, persoalan ini menyangkut mati dan hidup kita..."
"Aku tahu", sela Nyo hong leng, "apa yang telah kukatakan takkan kutarik kembali,
selama hidup aku tak pernah berbohong."
Kwik soat kun tidak banyak berbicara lagi, dia lantas beranjak maju. Kurang lebih
dua puluh menit kemudian, tiba-tiba di bawah sinar lentera yang redup tampak
keadaan medan di sana tiba-tiba menjadi lapang dan datar.
Di atas dinding batu sebelah timur, tampak sebuah lentera berkaca kristal, sinar
lentera itu menyinari sekeliling tempat itu seluas dua tiga kaki dengan terang
benderang.
Kwik soat kun memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kemudian ia berkata.
"Mungkin kita telah berada tiga puluh kaki dari permukaan tanah..."
Belum sempat Buyung Im Seng menjawab, tiba-tiba terdengar seseorang menjawab
dengan suara yang datar. "Kionghi saudara semua, kalian telah lolos dari tempat
berbahaya dan tiba dalam Seng tong."
"Di depan sini sudah tak nampak jalan keluar, bagaimana cara kami meninggalkan
tempat ini?" tanya Kwik soat kun cepat.
"Setelah kalian dapat sampai di sini, tidak usah kalian repot2 untuk mencari jalan
sendiri."
"Kalau kudengar dari nada pembicaraan anda, agaknya kalian telah
mempersiapkan kereta kencana untuk menyambut kedatanganku?"
316
Orang yang berada dibalik dinding batu itu rupanya mempunyai kesempurnaan
iman yang tebal, dia tak menjadi marah oleh sindiran tersebut, sebaliknya malah
tertawa. "Ha... ha... sekalipun tiada kereta kencana untuk menyambut kalian, tapi
kamipun takkan menyuruh kalian repot2 berjalan."
Setelah berhenti sejenak, ia melanjutkan. "Sebentar lagi, dari atas dinding batu
akan muncul sebuah pintu, dari pintu batu itu akan muncul sebuah kereta, kereta
tersebut dapat memuat kalian berempat sekaligus, kereta tersebut tak bisa
dikatakan megah atau mewah, tapi nyaman untuk diduduki."
"Setelah berada di sini, tentu saja segala sesuatunya kami akan menuruti
perkataanmu." Ucap Kwik soat kun.
Orang itu masih tetap berbicara dengan suara yang lembut dan halus. "Setelah
kalian berhasil menembusi barisan orang besi, maka selanjutnya tiada halangan
lagi, kamipun tiada bermaksud mencelakai lagi, jadi kamu semua boleh berlega
hati."
"Sampai kapan kereta itu baru akan muncul?"
Orang itu segera tertawa, "Sebentar lagi, harap kalian tunggu sejenak."
Baru selesai dia berkata, tiba-tiba berkumandang suara dinding yang merekah,
menyusul kemudian muncullah pintu batu di atas dinding. Di bawah cahaya
lentera, tampaklah sebuah kereta berada dibalik pintu batu itu, cuma bentuknya
jauh lebih kecil daripada bentuk kereta biasa, diatasnya tanpa atap dan
sekelilingnya mirip tirai besi, dalam kereta itu terdapat empat buah tempat duduk.
Suara yang lembut tadi kembali berkumandang. "Sekarang kalian boleh naik
kereta."
Kwik soat kun berpaling dan memandang sekejap ke arah Buyung Im Seng, lalu
ujarnya. "Mari kita naik kereta!" seraya berkata dia lantas berjalan menuju ke
pintu kereta itu.
Ke empat orang itu secara beruntun masuk ke dalam kereta. Kemudian Kwik soat
kun berseru dengan lantang. "Eeh, bagaimana caranya untuk menjalankan kereta
ini?"
"Duduk saja kalian secara baik. Kereta segera akan berangkat!" terdengar
gemerincing yang nyaring bergema, kereta itu mulai bergerak ke atas.
Terasa kereta itu makin lama makin cepat, kurang lebih setengah jam kemudian
mendadak pandangan mata mereka menjadi terang, ketika mendongakkan kepala,
tampak langit nan biru dengan awan putih yang melayang terhembus angin,
ternyata mereka sudah tiba di luar gua batu itu.
Kereta tadi berhenti di suatu tempat di luar gua batu, tapi di depan kereta tampak
sebuah tirai besi yang menghalangi jalanan mereka selanjutnya.
Empat orang bocah berbaju hijau yang menyoren pedang, pelan-pelan berjalan
menyambut kedatangan mereka, sambil membuka tirai besi tersebut mereka
menjura sambil menegur. "Siapakah yang bernama Buyung kongcu?"
"Akulah orangnya!" jawab Buyung Im Seng sambil bangkit berdiri.
"Masih ada seorang lagi yang merupakan wakil pangcu dari Li ji pang, siapa dia?"
317
"Akulah orangnya, ada urusan apa?"
Bocah baju hijau yang berada di sebelah kiri segera tersenyum, sahutnya. "Kami
mendapat perintah untuk menyambut kedatangan kalian berdua...!"
"Cuma kami berdua?"
"Dua orang pembantu hu pangcu harus ditinggalkan dibalik tirai besi dan tak boleh
ikut masuk ke dalam Seng tong."
Nyo hong leng sudah biasa dimanja oleh orang tuanya sejak kecil, dayang dan
pelayannya banyak tak terhitung, kewibawaannya sungguh menggetarkan hati
orang. Tapi setelah menyaru sekarang, berulang kali dia harus menerima cemoohan
orang, tanpa terasa keningnya berkerut, tampaknya dia hendak mengumbar hawa
amarahnya.
Tapi Siau tin segera menarik ujung bajunya sambil berbisik. "Jangan gara-gara
urusan sepele membuat urusan besar menjadi terbengkalai."
Sementara itu Kwik soat kun telah berkata dengan suara yang dingin. "Kami
serombongan terdiri dari empat orang, mana boleh terbagi jadi dua orang?"
"Hal mana sudah merupakan peraturan dari Seng tong kami!" jawab bocah itu
cepat. "kami hanya memperkenankan majikannya masuk, tapi melarang
pengikutnya turut masuk Seng tong."
"Aku rasa selain cara tersebut, tentunya masih ada cara yang lain bukan?" sela
Buyung Im Seng.
Bocah itu termenung sebentar, lalu menjawab. "Ada, dalam Seng tong kami
terdapat sebuah peraturan yang bisa menolong larangan tersebut."
"Peraturan apakah itu?"
"Kalian harus dapat mematahkan barisan pedang dari kami berempat, asal hal ini
dapat dilakukan, sekalipun kedudukan kalian hanya seorang pembantu sekalipun
diperkenankan juga masuk."
"Asal ada peraturan yang mengatur hal tersebut, itu sudah lebih dari cukup" kat
Nyo hong leng, "silahkan kalian loloskan pedang!"
Ke empat orang bocah berbaju hijau itu saling berpandangan sekejap, kemudian
bersama sama meloloskan pedang. "Baiklah!" kata bocah itu, "silahkan nona juga
meloloskan pedang!"
Rupanya sejenak rahasia mereka sudah terbongkar, baik Nyo hong leng maupun
Siau tin telah berdandan sebagai seorang gadis lagi, cuma Nyo hong leng masih
mengenakan topeng kulit manusia untuk menutupi raut muka sebenarnya.
Agaknya kwik soat kun sudah menduga kalau Nyo hong leng tersebut, bakal
menggunakan kekerasan dia segera meloloskan pedangnya dan diserahkan kepada
gadis itu sambil ketawa. "Gunakan pedangku ini."
Pelan-pelan Nyo hong leng menyambut pedang itu, kemudian sambil menggandeng
tangan Siau tin dengan tangan kirinya, dia berkata dingin. "Aku rasa kita tak perlu
turun tangan bersama, asal aku seorang saja sudah lebih dari cukup,"
318
Kemudian sambil berpaling kepada Siau tin katanya. "Adikku, kau tak usah turun
tangan, aku akan mengajakmu kesana."
Siau tin mengedipkan matanya lalu mengangguk. "Baiklah!"
Bocah baju hijau itu segera mengayunkan pedangnya lalu berkata. "Nona, senjata
tak bermata, salah-salah kalau tidak mati tentu akan luka."
"Akupun hendak menasehati kalian berempat, agar kalian pun sedikit berhatihati."
Bocah itu segera menyelinap maju, sambil memandang Buyung Im Seng dan Kwik
soat kun, ujarnya. "Harap kalian berdua lewat lebih dulu!"
Buyung Im Seng dan kwik soat kun segera keluar dari balik pintu besi itu dan
berjalan sejauh dua kaki dari tempat semula.
Ketika berpaling, tampaklah ke empat bocah itu telah membentuk barisan pedang
yang sangat tangguh.
"Kalian harus berhati-hati!" ujar Nyo hong leng dengan suara dingin.
Tiba-tiba ia mengayunkan tangannya, cahaya tajam segera berkelebat langsung
menerjang ke tubuh empat bocah itu.
"Trang..." bentrokan senjata yang amat nyaring berkumandang memecahkan
keheningan, kemudian terdengar serentetan suara dengusan tertahan menyusul
tiba.
Ketika menengok kembali ke arena, tampak ke empat orang bocah itu masih berdiri
dengan senjata terhunus, namun lengan kanan mereka sudah basah oleh darah.
Kwik soat kun menjadi tertegun setelah menyaksikan kejadian tersebut, diam diam
pikirnya. "Baru satu gebrakan, secara beruntun dia telah melukai empat orang,
bahkan semuanya terluka pada lengan kanannya yang memegang pedang, kalau
dilihat dari darah yang membasahi tubuh mereka, agaknya luka yang mereka
derita termasuk cukup parah."
Untuk melukai musuh dalam sekali gebrakan, sesungguhnya bukan suatu hal yang
sulit dilakukan bila seseorang te4lah memiliki kepandaian silat tingkat tinggi, tapi
kalau melukai empat orang sekaligus dalam sekali gebrakan dengan luka yang
semuanya terletak pada lengan kanan yang memegang pedang, jelas hal ini teramat
sulit sekali.
Tampaknya bocah baju hijau itu telah sadar bahwa mereka telah bertemu dengan
musuh tangguh, sesudah tertegun sesaat katanya. "Ilmu pedang yang dimiliki nona
benar2 lihai sekali, kami semua merasa sangat kagum."
Pelan-pelan Nyo hong leng menurunkan kembali pedangnya, kemudian berkata.
"Bolehkan kami menyeberang kesana?"
"Kami sudah kalah, tentu saja nona boleh pergi kesana." Jawab empat orang bocah
itu serentak.
Dengan cepat mereka menyingkir dan membuka jalan lewat... sambil menggandeng
tangan Siau tin, pelan-pelan Nyo hong leng berjalan dari balik tirai besi.
319
Bocah baju hijau itu segera menutup kembali pintu tirai, kemudian ujarnya. "Jurus
pedang yang nona pergunakan itu lihai sekali, belum pernah kutemui kepandaian
selihai itu."
Nyo hong leng segera tertawa hambar, "Dengan pelajaran yang kuberikan kepada
kalian itu, aku harap agar kalian semakin menyadari bahwa di atas langit masih
ada langit, di atas manusia masih ada manusia."
Bocah baju hijau itu segera tertawa. "Kami telah menyaksikan kelihaiannya ilmu
pedang nona, sekalipun kini nona berkata demikian, kami pun hanya bisa berdiam
diri saja."
"Nah, kalau begitu bawalah jalan untuk kami sekarang!"
Agaknya bocah itu sudah menaruh perasaan kagum terhadap Nyo hong leng, dia
segera mengangguk. "Aku turut perintah!"
Sambil membalikkan badan dan berjalan, kembali dia berkata. "Sekalipun ilmu
silat yang kumiliki terbatas sekali, namun masih banyak kepandaian sakti yang
pernah kujumpai..."
Sementara itu mereka telah tiba di hadapan Buyung Im Seng. Nyo hong leng segera
menyerahkan kembali pedang itu kepada Kwik soat kun, lalu katanya, "Kau
hendak menakut-nakuti kami?"
"Tidak," jawab bocah baju hijau itu dengan suara rendah. "aku sangat mengagumi
ilmu silat nona, aku ingin menasehati nona dengan beberapa kata"
"Katakanlah, soal apa?"
"Setelah kalian memasuki ruang Seng tong nanti, andaikata situasinya mengalami
suatu perubahan besar, aku rasa nona tak perlu untuk beradu jiwa dan mati
bersama mereka."
Ucapan yang terakhir itu diutarakan dengan suara yang teramat lirih. Sedemikian
lirihnya sehingga cuma Nyo hong leng seorang yang mendengar.
Nyo hong leng segera berkerut kening katanya. "Apa maksudmu mengucapkan
perkataan itu?"
"Aku sangat mengagumi kepandaian nona, aku tak mau menyaksikan kau
menerima nasib yang malang seperti mereka."
"Apakah ada suatu cara yang baik untuk menolong keadaan ini?"
"Bila nona sedang terjerumus dalam situasi yang amat gawat, silahkan kau
berteriak : 'harap Sengcu berbelas kasihan', teriakanmu itu akan menolong kau
untuk lolos dari keadaan gawat, selanjutnya terserah pada keputusan nona
sendiri."
Baru saja Nyo hong leng akan bertanya lagi, bocah itu sudah maju dan langsung
mendahului Kwik soat kun sekalian, katanya : "Harap kalian suka mengikuti di
belakangku!"
Setelah berjalan lebih kurang 50 kaki, tiba-tiba pemandangan berubah, tampak
lautan bunga terbentang luas di depan mata, beraneka warna bunga melambai
320
lambai terhembus angin dan menyiarkan bau yang semerbak, beberapa ekor
burung bangau dan ku tilang bermain disekitar bunga, sekalipun melihat ada
manusia menghampirinya, ternyata binatang2 itu tak tampak ketakutan.
Buyung Im Seng segera memperhatikan situasi di sekitarnya, tampak olehnya
kebun bunga itu paling tidak mencapai sepuluh hektar luasnya, bunga2 itu
beraneka warna, jelas ditanam dengan tenaga manusia.
Nyo hong leng paling suka dengan bunga, para hoa-li dan dayang bunganya ratarata
merupakan seorang ahli dalam hal menanam bunga.
Menyaksikan lautan bunga yang terbentang di depan mata itu, tanpa terasa
Buyung Im Seng berpaling dan memandang sekejap ke arah Nyo hong leng.
Sambil tertawa dingin Nyo hong leng segera berkata. "Kalau dilihat aneka warna
bunga yang ditanam di sini, rasanya sedap dilihat dan amat semarak, padahal
warna bunganya tidak lengkap dan keindahannya kurang, hmm... entah siapa yang
telah menanam bunga2 tersebut di sini? Untuk kebodohan dan ketidak-tahuannya
soal seni bunga, dia pantas untuk dijatuhi hukuman mati."
Walaupun perkataan tersebut tidak diucapkan dengan suara keras, namun bocah
baju hijau itu, toh sempat mendengarnya juga, sambil berpaling dia segera menyela,
"Kalau begitu nona pasti mempunyai kepandaian yang khas terhadap seni bunga?"
Agaknya Nyo hong leng enggan untuk banyak berbicara lagi dengan bocah berbaju
hijau itu, dia mendongakkan kepalanya memandang cuaca di langit dan berlagak
seakan akan tidak mendengar perkataan itu.
Ketika bocah pembawa jalan merasa ketanggor batunya, dia segera berpaling lagi
dengan tersipu-sipu dan tak bicara lagi.
Menelusuri sebuah jalan kecil ditengah kebun bunga itu, mereka berjalan terus,
sepanjang jalan Kwik soat kun mengalihkan sorot matanya untuk mengawasi
keadaan sekitarnya, tampak empat penjuru merupakan barisan pegunungan yang
menjulang tinggi ke angkasa dengan tebing yang curam, tampaknya tempat itu
merupakan sebuah lembah yang terbuat dari alam.
Siapapun pasti takkan menyangka kalau didalam lembah yang terpencil dan
dikelilingi oleh bukit yang terjal tersebut sesungguhnya terdapat sebuah markas
besar suatu perkumpulan yang menguasai dunia persilatan dewasa ini.
Setelah menembusi kebun bunga yang sangat luas, bocah itu mengajak mereka
memasuki sebuah hutan yang amat lebat. Sebuah jalanan kecil beralas batu putih
terbentang jauh ke depan menembusi hutan lebat itu. Setelah berputar dua kali,
pemandangan kembali berubah, tampak ditengah hutan yang lebat itu terdapat
sebuah tanah kosong yang luasnya tiga kaki, di atas tanah lapang itu tumbuh
rumput yang amat lembut, sebuah papan nama yang ditunjang dua buah kayu
berdiri ditengah tanah lapang itu. Di atas papan nama tertera tiga huruf besar yang
berbunyi.
"CIAT KIAM CU" (Tempat melepaskan pedang)
Bocah berbaju hijau itu segera berpaling dan memandang sekejap ke arah Buyung
Im Seng sekalian, setelah itu pelan-pelan ujarnya. "Andaikata kalian membawa
321
senjata tajam harap digantungkan ditempat ini, bila akan kembali nanti senjata
tersebut baru diambil kembali."
Buyung Im Seng dan Kwik soat kun sekalian saling berpandangan sekejap,
kemudian pelan-pelan mereka melepaskan senjata tajamnya dan digantungkan
pada sebuah rak kayu yang telah tersedia.
Kembali bocah itu memandang ke empat orang itu sekejap, lalu berkata lebih jauh.
"Selain pedang mustika, bila kalianpun menyimpan senjata rahasia, harap
disimpan pula ditempat ini."
"Apakah didalam Seng tong terdapat senjata tajam berupa pedang atau golok?"
tanya Kwik soat kun dingin.
"Tentu saja ada."
"Kalau toh orang-orang dari partai kalian boleh membawa senjata, mengapa kami
tak diperkenankan membawa secuil besipun?"
"Aku tak lebih cuma menasehati kalian saja, mau menurut atau tidak, terserah
pada kalian."
Tanpa menggubris Kwik soat kun lagi, dia segera melanjutkan perjalanannya
menuju ke depan.
Kwik soat kun, Buyung Im Seng, Nyo hong leng dan Siau tin mengikuti di
belakangnya. Lebih kurang belasan kaki kemudian, keadaan medan bertambah
lebar, sebuah dinding pekarangan yang terbuat dari batu hijau menghadang
perjalanan mereka.
Dinding pekarangan itu amat tinggi besar dan hampir boleh dibilang menutupi
semua pemandangan, tak nampak sebuah bendapun selain dinding itu.
Pintu batu yang besar berada dalam keadaan tertutup rapat, tidak tampak
bayangan manusia yang berlalu lalang, juga tak kedengaran sedikitpun suara,
suatu keheningan yang aneh, menciptakan suatu keseraman yang mengerikan.
Tiba-tiba saja bocah itu berhenti dari dalam sakunya dia mengeluarkan secarik
sapu tangan untuk membungkus mulut luka pada lengan kanannya, kemudian
berkata. "Setelah memasuki pintu batu itu, berarti kalian telah memasuki ruang
Seng tong, aku hanya bisa menghantar sampai di sini saja, semoga saja kalian bisa
baik2 menjaga diri."
Selesai bicara tanpa menunggu jawaban dia membalikkan badan memasuki hutan
dan lenyap dari pandangan mata.
o-O-o
Bagian 24
Sepeninggal bocah itu, Buyung Im Seng baru berkata dengan suara lirih.
"Sepanjang jalan kemari, tak seorang manusiapun yang kita jumpai, keadaan
semacam ini benar2 membuat orang sukar untuk mempercayainya."
322
"Mungkin mereka bersembunyi di atas pohon atau di semak belukar, hal ini bukan
suatu yang aneh, yang aneh justru pekarangan ini, belum pernah kujumpai dinding
pekarangan setinggi dan sebesar ini.." kata Kwik soat kun.
"Kenapa dengan dinding tersebut?"
"Kalau dilihat dari namanya lembah tiga malaikat, seharusnya ditempat ini
terdapat tiga buah istana yang berbeda-beda atau paling tidak terdapat sebuah
ruang megah yang dihuni tiga orang, tapi dibalik dinding pekarangan itu
tampaknya tidak ada bangunan yang lebih tinggi dari pada dinding ini."
Diam-diam Buyung Im Seng mencoba untuk menilai keadaan di sekitarnya waktu
itu mereka berdada lebih kurang sepuluh kaki di depan dinding itu, lagi pula
keadaan tanahnya agak tinggi, andaikata dibalik dinding tersebut ada bangunan
yang tinggi atau megah, sudah seharusnya kalau hal itu terlihat dari luar.
Tiba-tiba Nyo hong leng berkata. "Aku rasa dibalik dinding ini mungkin terdapat
keadaan yang sama sekali lain, mari kita masuk kita hadapi saja keadaan menurut
situasi yang kita hadapi nanti."
Kwik soat kun tersenyum, sahutnya. "Benar juga perkataan itu, masa sebelum
musuh menampakkan diri kita sudah ketakutan setengah mati."
Pelan-pelan Buyung Im Seng melangkah maju, sambil berjalan diam-diam dia
berbisik. "Sewaktu memasuki pintu batu nanti, lebih baik kita bisa
mempertahankan suatu jarak tertentu sehingga bila sampai terjadi suatu
perubahan yang tak diinginkan, orang yang berada di belakangnya bisa
menghadapi dengan sebaiknya."
Sementara itu ia telah mendekati pintu batu tersebut. Buyung Im Seng segera
mengerahkan tenaganya lalu menekan pintu batu tersebut dan di dorongnya,
menyusul gerakan tadi, secepat kilat dia menerobos ke samping untuk berjaga jaga
terhadap segala kemungkinan yang tidak diinginkan.
Ternyata sepasang pintu itu segera terbentang lebar, ketika melongok ke dalam,
ternyata dibalik pintu itu merupakan sebuah jalan besar yang beralaskan batuan
hijau, dikedua belah sampingnya berupa rumah2 baru yang rendah, tapi
bangunannya kokoh dan sangat rapi sekali.
Buyung Im Seng segera mendehem pelan, kemudian berseru. "Aku adalah Buyung
Im Seng, sengaja datang untuk menyambangi Seng tong!"
Sampai lama kemudian, dari balik lorong itu masih belum kedengaran suara
jawaban, juga tak nampak seorang manusiapun yang menampilkan diri untuk
menyambut kedatangan mereka.
Suasana yang begitu sepi dan hening ini mengingatkan orang pada neraka yang
mengerikan, memberikan suasana seakan akan di sana tiada kehidupan belaka.
Buyung Im Seng mencoba untuk menengok ke belakang, sehingga tampak olehnya
baik Kwik soat kun, maupun Siau ting sama2 menunjukkan sikap yang bingung
tapi amat serius.
323
Jelas pemandangan serta suasana semacam ini telah mendatangkan perasaan
seram dan aneh bagi mereka semua.
Diam-diam Buyung Im Seng menghembuskan napas panjang, kemudian setelah
tertawa, katanya. "Kalau memang tiada orang yang menjawab pertanyaan ini,
terpaksa aku akan masuk sendiri!"
Pelan-pelan dia lantas melangkah masuk. Nyo hong leng yang berada disampingnya
segera mendahului ke depan dan mengikuti di belakang Buyung Im Seng dengan
ketat, bisiknya kemudian. "Hati-hati dengan rumah2 rendah yang berada dikedua
samping jalan tersebut."
Kwik soat kun serta Siau tin segera menyusul pula, dengan langkah yang amat
hati-hati.
Setelah berjalan dua kaki, sampailah mereka di depan pintu ruangan yang besar,
mendadak Buyung Im Seng membalikkan badannya dan membelok ke arah sebuah
rumah kecil dari batu putih yang berada disamping ruangan, dengan cepat ia
mendorong pintu ruangan.
Ketika melongok, maka tampaklah dalam ruangan itu duduk seorang lelaki dan
seorang perempuan. Yang lelaki berusia 50 th dengan jenggot sepanjang dada dan
mengenakan baju biru. Sedang perempuan itu berusia 40 th memakai baju kasar
dengan dandanan yang amat sederhana sekali.
Diantara mereka berdua terletak sebuah meja kayu, dia tas meja itu tersedia empat
macam sayur kecil, sepoci arak dan mereka sedang bersantap.
Sewaktu Buyung Im Seng mendorong pintu dan melongok, lelaki maupun
perempuan itu seakan2 tidak merasakan kehadirannya, mereka sama sekali tak
menengok barang sekejappun.
Tampak yang perempuan sedang mengangkat cawan arak dan memberi tanda
kepada lelaki itu, sedang lelaki tadi segera mengangkat cawan araknya dan
meneguk isinya sampai habis.
Sebenarnya Buyung Im Seng bermaksud hendak menegur, tapi ketika dilihatnya
kedua orang itu hanya duduk saling berhadapan sambil mengeringkan cawan dan
selama ini tak mengucapkan sepatah katapun, tergerak juga hatinya.
"Mungkin mereka adalah orang yang bisu dan tuli, lebih baik tak usah marah pada
mereka." Berpikir demikian, dia lantas berusaha keras untuk menekan hawa
amarah yang berkobar di dadanya, setelah mendehem berat, diapun menegur.
"Locianpwe."
Pelan-pelan lelaki itu meletakkan kembali cawan araknya dan memalingkan
kepalanya, dengan sorot mata yang dingin dan hati bergidik dia memandang
sekejap ke arah Buyung Im Seng, kemudian tegurnya "Siapakah kau?" Suaranya
nyaring, nadanya jelas, sama sekali tidak berbeda dengan keadaan manusia biasa.
"Sewaktu aku membuka pintu tadi, apakah kau telah mengetahuinya?" tegur
Buyung Im Seng.
Kakek itu segera manggut-manggut. "Kau sama sekali tak tahu sopan santun!"
katanya.
324
"Aku telah berteriak beberapa kali namun sama sekali tidak terdengar suara
jawaban, apakah kaupun tidak mendengar teriakan tadi?"
"Sudah kudengar." Sahut kakek itu dingin. "Apakah lohu harus menjawab
teriakanmu itu?"
Mendengar ucapan itu Buyung Im Seng segera berkerut kening, lalu katanya.
"Kalau begitu kalian berdua sudah mendengar teriakanku, tapi sengaja tak mau
menjawab?"
"Benar!" kembali kakek itu manggut2.
Kontan saja Buyung Im Seng tertawa dingin tiada hentinya, dia berkata dengan
ketus. "Sungguh tak kusangka orang2 didalam Seng tong adalah manusia2 tak tahu
sopan santun seperti ini!"
Tiba tiba kakek baju biru itu mendongakkan kepalanya dan tertawa. "Ha.. ha...
bocah cilik, apakah kau sedang memaki lohu?"
"Locianpwe sudah hidup puluhan tahun lamanya, kenapa caramu berbicara sama
sekali tak tahu sopan santun? Sekalipun boanpwe sampai mendampratmu dengan
beberapa patah kata rasanya juga bukan suatu perbuatan yang kurang hormat."
Mendadak kakek itu melototkan sepasang matanya bulat2, kemudian serunya
dengan gusar. "Bocah cilik, nyalimu benar2 amat besar, berani benar kau bersikap
begitu kurang ajar terhadapku."
"Kau sendiri yang kurang hormat lebih dulu, mengapa aku mesti memegang tata
kesopanan lagi?"
Kakek berbaju biru itu semakin gusar serunya "Hei, orang muda, kau begitu kurang
ajar dan tak tahu diri, tampaknya lohu harus memberi pelajaran sebaik baiknya
kepadamu."
"Jika kau bersedia memberi petunjuk, dengan senang hati akan kulayani
keinginanmu itu."
Kakek berbaju biru itu segera bangkit berdiri, katanya dengan suara lantang,
"Masuklah kemari, lohu pasti akan memberi pelajaran yang sebaik2nya kepadamu."
"Baik! Aku akan menyaksikan sendiri sampai dimanakah kelihaianmu yang
sebenarnya."
Selesai bicara, dia benar2 melangkah masuk ruangan tersebut. Tiba-tiba Kwik soat
kun mengeluarkan tangannya menghalangi jalan pergi Buyung Im Seng, katanya.
"Tunggu sebentar."
Sorot matanya segera dialihkan ke arah kakek baju biru itu, kemudian lanjutnya,
"Aku lihat paras muka kalian berdua amat dikenal, apakah kamu berdua adalah
Liong Hong siang kiam (Sepasang pedang naga dan burung hong) yang amat
terkenal itu...?"
Kakek baju biru itu agak tertegun, kemudian serunya. "Siapakah kau? Kenapa
secara tiba-tiba bisa mengenali kami suami istri berdua?"
(Bersambung ke jilid 17)
325
Lembah Tiga Malaikat
Oleh: Tjan
Jilid 17
"Boanpwe adalah Kwik Soat kun..."
"Kwik Soat kun... Kwik Soat kun.." gumam kakek baju biru itu berulang kali.
"Aku lahir agak terlambat, sehingga ketika Locianpwe masih ternama dan
menggetarkan seluruh dunia persilatan dulu, boanpwe masih belum terjun ke
dalam arena dunia persilatan."
"Oh... kiranya begitu."
Kwik Soat kun segera mengalihkan sorot matanya memandang wajah Buyung Im
seng, setelah itu ujarnya: "Locianpwe, apakah kau tidak kenal dengan Buyung
kongcu ini?"
Kakek baju biru itu menggelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya pelan.
"Sesudah belasan tahun lamanya lohu menghuni tempat ini, terhadap dunia
persilatan boleh dibilang sudah jauh sekali. tentu saja tiada orang yang kukenal
lagi, terutama angkatan mudanya."
"Walau locianpwe tidak kenal dengan Buyung kongcu, tapi menggunakan nama
ayahnya sudah pasti locianpwe akan segera mengenalinya."
"Walaupun lohu sudah cukup lama berkelana didalam dunia persilatan, namun
tidak banyak yang kukenal, belum tentu lohu kenal dengan ayahnya."
"Nama ayahnya itu meski belum pernah locianpwe jumpai paling tidak pasti pernah
kau dengar."
"Oh... kalau begitu dia pastilah seorang manusia yang amat ternama sekali."
"Betul, apakah locianpwe pernah mendengar tentang Buyung Tiang kim?"
326
Seakan-akan dadanya secara tiba-tiba kena dihantam keras, mendadak kakek
berbaju biru itu melompat bangun, tapi sejenak kemudian pelan-pelan dia duduk
kembali ke tempat semula, katanya pelan. "Lohu memang pernah mendengar nama
Buyung tayhiap..."
Kemudian sambil mengulapkan tangannya, dia melanjutkan. "Kalian boleh segera
menutup pintu dan pergilah!"
Buyung Im seng yang menyaksikan kejadian itu menjadi agak tercengang dan tidak
habis mengerti, dengan termangu-mangu dia mengawasi sekejap wajah kedua
orang itu, akhirnya pelan-pelan dia menutup kembali pintu ruangan itu.
Kwik Soat kun segera menghela napas panjang, katanya. "Kongcu, untung saja kau
tak sampai bertarung melawan mereka, kalau sampai pertarungan berkobar tadi,
niscaya sulit buat kita meloloskan diri dari tempat ini."
"Kenapa?" tanya Buyung Im seng dengan suara lirih.
"Liong-hong siang kiam merupakan manusia yang termasyhur namanya dalam
dunia persilatan dimasa lalu, terutama sekali di kalangan wilayah Kang lam
maupun Kang pak, semua jago2 yang ada di dunia persilatan ketika itu, terutama
sekali kaum liok lim rata2 menaruh rasa segan dan takut yang besar terhadap
mereka."
"Siapa tahu kalau nama besar mereka itu hanya nama kosong belaka?" sela Nyo
hong leng.
"Perkumpulan kami bisa menanamkan kekuatannya didalam perguruan Sam seng
bun bukannya sama sekali tanpa sebab, bila berbicara soal ilmu silat bukan saja
sulit bagi kami untuk beradu kekuatan dengan pihak Sam seng bun, sekalipun
dengan perguruan lain yang lebih tangguhpun kami masih kalah, itulah sebabnya
kami mengesampingkan kekuatan dengan memilih kecerdasan otak untuk
menghadapi mereka, sekalipun Sam seng bun memiliki kekuatan yang sangat
tangguh, tapi mereka tak mampu untuk menekan dan mendesak Li ji pang kami
untuk keluar dari keramaian dunia persilatan, bukan saja perkumpulan kami
sangat menguasai tentang situasi yang berada dalam dunia persilatan dewasa ini,
lagi pula kamipun mempunyai catatan yang cermat dan seksama terhadap jago-jago
dunia persilatan selama puluhan tahun berselang ini, bukan saja kami berhasil
melakukan penyelidikan terhadap para jago-jago yang pernah tersohor pada lima
puluh tahun berselang lagi pula kamipun berhasil membuat catatan tentang raut
wajah mereka.."
"Oleh karena itu begitu berjumpa dengan mereka berdua, nona segera
mengenalinya sebagai Liong hong siang kiam?"
"Benar!"
Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan. "Hanya ada satu kasus dalam dunia
persilatan yang hingga kini tidak berhasil kami ketahui."
"Kasus apakah itu?"
"Tentang kematian ayahmu, walaupun perkumpulan kami telah mengerahkan
segenap kekuatan yang dimiliki untuk melakukan penyelidikan, tapi sampai kini
327
masih tetap merupakan teka teki yang tak terpecahkan, kami tidak berhasil
mengetahui keadaan yang sebenarnya."
"Buyung tayhiap mati karena dikerubuti orang banyak, tentu saja sukar untuk
diselidiki keadaan yang sebenarnya, sebab pelaku dari kejahatan itu bukan cuma
seorang saja." sela Nyo hong leng.
"Sekalipun begitu kenyataannya dan pangcu kamipun berpendapat demikian ketika
itu, namun setelah melakukan penyelidikan yang seksama, kemudian baru
diketahui kalau bukan demikianlah duduk persoalan yang sebenarnya, semua titik
terang yang berhasil kami kumpulkan atau kami lacaki itu, tahu-tahu sudah
terputus ditengah jalan, bahkan makin diselidiki keadaannya semakin kalut dan
membingungkan."
Tampaknya dia merasa sudah membeberkan rahasia terlampau banyak, maka
secara tiba-tiba dia membungkam diri.
Terdengar suara dari kakek baju biru itu berkumandang lagi dari balik pintu
ruangan yang tertutup rapat. "Buyung kongcu!"
Sekalipun suaranya tak terlalu keras, tapi Buyung Im seng dapat mendengar
dengan jelas sekali, bahkan Kwik Soat kun maupun Nyo hong leng juga dapat
dengar dengan jelas.
Buyung Im seng segera berhenti, ditengoknya pintu ruangan itu, kemudian
serunya. "Apakah locianpwe sedang memanggilku?"
Dari balik pintu ruangan kembali berkumandang. "Memandang muka ayahmu,
lohu bersedia memberitahukan beberapa persoalan kepadamu."
"Dengan senang hati boanpwe akan mendengar petunjuk tersebut."
Suara itu kembali berkumandang. "Bila kau dapat mengurangi rasa ingin tahumu
dan tidak mendorong pintu lain untuk mengetahui isinya, sebaliknya berjalan
menuju ke ruang Seng tong, maka hal ini justru akan memberi banyak keuntungan
bagi dirimu."
Sekalipun Buyung Im seng merasa keheranan setengah mati, namun diapun tak
banyak bertanya lagi, setelah menjura katanya. "Terima kasih banyak atas
petunjuk locianpwe.
Dari balik ruangan kembali terdengar. "Sekarang kalian boleh pergi, maaf kalau
lohu tak bisa memberi petunjuk lagi kepadamu."
"Tidak berani merepotkan cianpwe."
Kwik Soat kun segera menarik ujung baju Buyung Im seng dan berbisik lirih. "Mari
kita pergi!"
Beberapa orang itu segera membalikkan tubuhnya dan berjalan lebih jauh ke
depan.
Tempat itu bagaikan sebuah jalan raya saja, kedua belah sisi jalan penuh dengan
perumahan yang saling bersambungan satu dengan lainnya, dan bangunan tadi
328
kebanyakan adalah rumah-rumah batu yang rendah dan pendek dengan warna
yang sama.
Tapi pintu kayu tidak banyak, setiap pintu paling tidak berjarak antara empat kaki
lebih.
Oleh karena dalam ruangan batu pertama tadi mereka telah menemukan Liong
hong siang kiam, hal mana menimbulkan suatu keinginan dalam hati Buyung Im
seng untuk memeriksa ruangan yang lain, sebab dia merasa bahwa dibalik ruangan
tersebut besar kemungkinannya juga dihuni oleh orang.
Akan tetapi dalam harinya dia pun masih teringat dengan pesan si kakek baju biru
yang melarangnya untuk mendorong pintu kayu tersebut untuk menengok ke
dalam.
Padahal dorongan hati yang kuat mendorong dirinya untuk membuka pintu tadi
untuk melihat keadaan yang sesungguhnya.
Alhasil timbullah pertentangan batin yang cukup kuat didalam hatinya, hal mana
membuat pemuda itu menjadi sangsi, akibatnya setiap kali berada di depan pintu
kayu, tanpa terasa dia menghentikan sejenak langkah kakinya.
Kwik Soat kun, Nyo hong leng dan Siau tin tidak berkata apa-apa, namun dalam
hati merekapun timbul perasaan ingin tahu yang tak kalah besarnya daripada
perasaan Buyung Im seng sendiri.
Maka setiap kali Buyung Im seng berhenti sejenak untuk menengok ke arah pintu
ruangan itu, mereka turut berhenti sejenak, enam buah mata bersama sama
dialihkan ke arah pintu itu, sedangkan mimik wajahnya menunjukkan gejolak
perasaannya yang ingin maju dan menengok keadaan yang sebetulnya.
Secara beruntun mereka telah melewati empat buah pintu, tapi semuanya dilewati
saja tanpa dibuka untuk memeriksa keadaan yang sesungguhnya, setelah melewati
empat buah pintu tadi, sampailah mereka di perempatan jalan.
Ternyata bangunan rumah yang berada ditengah dinding pekarangan yang amat
tinggi ini aneh sekali, di sana terbentang sebuah jalan yang berbentuk
persimpangan, ketika Buyung Im seng berdiri ditengah persimpangan jalan tadi
dan memeriksa keadaan di sekelilingnya, maka dijumpainya pada ketiga buah jalan
yang lain pun mempunyai corak serta keadaan yang sama dengan bangunan
dimana mereka baru saja melewatinya.
Kecuali sebuah jalan raya yang membentang lurus dikedua belah sisinya juga
terdapat bangunan rumah yang terbuat dari batu.
Bangunan batu yang bersusun susun dibangun dalam satu deretan yang sama,
sepintas lalu tampaknya seluruh deretan penuh dengan bangunan, adalah yang
sebenarnya adalah terpisah-pisah.
Anehnya pintu yang ada di sana sangat sedikit sekali jumlahnya, sepertinya tiap
lima buah bangunan rumah baru terdapat sebuah pintu dan pintu itupun berada
dalam keadaan tertutup rapat.
Keanehan yang terdapat pada bangunan rumah batu adalah selain pintu, ternyata
di situ tak ada sebuah jendelapun, seakan akan tempat itu hanya sebuah gudang
penyimpanan barang saja.
329
Buyung Im seng memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kemudian pelan2
katanya. "Ditempat ini benar2 terdapat sebuah pemandangan lain dari yang lain,
bangunan rumah berwarna abu-abu, ditambah pintu yang tertutup rapat dan sama
sekali tidak ada bayangan manusia, tidak kedengaran sedikitpun suara, tapi dalam
setiap bangunan rumah tersebut kemungkinan besar dihuni orang, dalam suasana
yang begini misterius dan anehnya aku jadi bertanya tanya kepada diri sendiri,
sebenarnya tempat ini neraka ataukah surga?"
"Bukan neraka, juga bukan sorga." jawab Nyo hong leng cepat, "Tempat ini tak
lebih hanya sebuah penjara yang dibuat oleh seseorang manusia yang amat cerdas
untuk mengurung jago-jago persilatan."
"Setelah menyaksikan kehadiran Liong hong siang kiam suami istri di sana aku
merasa bahwa ucapan nona memang tepat sekali." kata Kwik Soat pula, "meskipun
aku tak dapat melihatnya, akan tetapi dapat kurasakan bahwa ditempat ini seakan
akan terdapat sesuatu kekuatan tak berwujud yang dapat membelenggu para jago
lihai seperti sepasang suami istri tadi, sehingga mereka sama sekali tak berani
keluar ruangan itu untuk melarikan diri."
Pelan-pelan Buyung Im seng mengangguk, "Benar" sahutnya, "setelah sampai di
sini sepanjang jalan kita tidak menjumpai alat jebakan atau penjagaan yang ketat,
tapi herannya kenapa para tawaran itu rela berdiam di sini dan mati ditempat ini
daripada mengambil keputusan untuk melarikan diri."
"Dimana tidak nampak suatu penjagaan yang berwujud, berarti di sana pasti
terdapat suatu kekuatan tak berwujud yang telah membelenggu mereka semua."
kata Nyo hong leng.
"Pendapat ini memang lihai sekali" bisik Kwik Soat kun, "tapi apakah kongcu telah
melihat bahwa di sana terdapat rantai atau borgol tak berwujud yang telah
membelenggu mereka?"
Nyo hong leng menggelengkan kepalanya berulang kali. "Aku sama sekali tidak
menemukannya, tapi asal aku diberi kesempatan dan waktu yang cukup, rasanya
tak sulit untuk menemukan sebab musabab yang membuat mereka berbuat
demikian."
"Kalau toh mereka sudah tahu akan kunjungan kita kemari, aku sungguh heran,
kenapa belum nampak juga ada manusia yang menampilkan diri untuk membawa
jalan?"
"Apakah merekapun bermaksud untuk membelenggu dan mengurung kita ditempat
ini?" kata Buyung Im seng.
Kwik Soat kun memeriksa dulu di situ, kemudian setelah menentukan arah dia
berkata: "Kita masuk dari pintu selatan, jika Seng tong tidak terletak didalam
halaman yang luas ini, berarti kita harus berjalan menunjuk ke sebelah utara."
"Yaa, tampaknya kita memang harus berbuat demikian sekarang!" sahut Buyung
Im seng.
330
Tanpa banyak bicara lagi dia segera melangkah menunjuk ke arah utara lebih
dahulu. Jalanan itu panjangnya hanya belasan kaki setelah melewati empat buah
pintu kayu, sampailah mereka di ujung jalan.
Tampak sebuah pintu batu yang menghalangi jalan pergi mereka pelan-pelan
membuka sendiri, lalu sebuah pemandangan lain yang luar biasa terbentang
kembali di depan mata.
Dibalik pintu batu itu terbentang sebuah jalan yang beralaskan batu putih, batu
putih beraneka warna bunga tumbuh dengan indahnya disekitar sana, jalanan tadi
langsung berkelok ke arah kerumunan bunga tadi, dibandingkan dengan suasana
menyeramkan di luar pagar dinding tadi benar2 jauh berlawanan.
Nyo hong leng memandang sekejap aneka bunga yang tumbuh di sana, kemudian
termenung beberapa saat lamanya, setelah itu sambil menghela napas panjang
katanya. "Aku mengerti sekarang aku mengerti..."
"Apa yang kau pahami?" tegur Buyung Im seng dengan wajah keheranan.
Pelan-pelan Nyo hong leng berjalan ke arah pintu batu itu, kemudian katanya.
"Coba kalian perhatikan dengan seksama warna dari bunga-bunga ini?"
"Adakah sesuatu yang tidak beres dengan warna bunga ini?"
Nyo hong leng mengulurkan tangannya untuk menuding sekelompok bunga,
kemudian katanya. "Coba kalian perhatikan warna dari bunga tersebut, bukankah
di setiap bagian tentu terdapat warna yang amat jelas? Walaupun sepintas lalu
nampak serabutan tapi sesungguhnya beraturan sekali."
"Kesemuanya itu melambangkan apa?" tanya Buyung Im seng setelah
memperhatikannya beberapa saat.
"Sesungguhnya tumbuh bunga yang berada di sini disusun menurut suatu
kedudukan ilmu barisan yang sangat lihai, tampaknya Sam seng tong memang
benar-benar luar biasa, pelbagai manusia berbakat tampaknya muncul di sini."
"Menggunakan bunga untuk membuat barisan aneh?"
"Ehm... aku kenal sekali dengan ilmu barisan ini dan aku yakin pandanganku tak
bakal salah lagi."
"Seandainya warna2 bunga itu luntur apakah barisan aneh ini masih digunakan?"
tanya Kwik Soat kun tiba-tiba.
"Sekalipun warna bunganya sudah luntur barisan aneh ini masih ada
kegunaannya."
Kwik Soat kun segera memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kemudian
katanya. "Kalau toh nona sudah mempunyai keyakinan terhadap ilmu barisan ini,
mari kita serbu saja ke dalam."
"Tampaknya mereka bermaksud untuk mengurung kita dalam barisan bunga ini,
maka mereka tidak mengirim orang untuk menyambut kedatangan kita ini."
331
Kwik Soat kun segera tersenyum, katanya, "Sayang mereka sama sekali tidak
menyangka kalau diantara mereka berempat masih terdapat seorang tokoh lihai
yang memiliki kecerdasan yang luar biasa sekali."
Nyo hong leng tersenyum. "Aaah... cici suka benar bergurau." katanya.
Sambil melangkah maju ke depan, bisiknya dengan suara lirih.
"Kalian harus perhatikan baik2 tempat dimana kakimu berpijak, jangan sampai
salah barang selangkahpun, sebab bila salah melangkah akibatnya akan
merepotkan sekali."
"Jangan kuatir nona, rupanya kami tak akan salah mengikuti jejakmu..."
Nyo hong leng tidak banyak bicara lagi, dia segera melangkah ke depan dan
menelusuri barisan bunga itu.
"Kongcu..." seru Kwik Soat kun sambil menjura.
Buyung Im seng juga tidak sungkan-sungkan lagi, dengan cepat dia mengikuti di
belakang Nyo hong leng.
Kwik Soat kun dan Siau tin segera menyusul di belakangnya, selangkah demi
selangkah mereka mengikuti terus dengan ketat di belakang tubuh Nyo hong leng.
Siau tin berjalan dipaling belakang, dia merasa beraneka bunga yang tumbuh di
sana menyiarkan bau semerbak, dan tak ditemukan sesuatu yang aneh, tanpa
terasa timbullah sifat kekanak-kanakannya.
"Dia bilang barisan bunga ini sangat lihai sekali" demikian nona itu berpikir.
"heran, kenapa aku sama sekali tak menemukan apa-apa? Mungkin ucapan
tersebut hanya tipuan belaka, kenapa aku tak mencoba-coba untuk membuktikan
sampai dimanakah kehebatan dari ilmu barisan yang dikatakan hebat ini?"
Berpikir demikian sengaja dia tak menuruti langkah kaki yang dilakukan Nyo hong
leng, sebaliknya malah melangkah dua tiga ke samping kiri.
Sekalipun hanya berbeda dua langkah ternyata pandangan yang dihadapinya
mendadak berubah sama sekali. Dia merasakan pandangan matanya menjadi
kabur, tahu-tahu ia sudah kehilangan jejak Nyo hong leng sekalian.
Mimpi pun Siau tin menyangka kalau perbedaan yang cuma dua langkah itu akan
mengakibatkan suatu perubahan yang begitu besar, tak tahan lagi dia segera
berteriak keras.
Mendadak Nyo hong leng berhenti dan berpaling ke belakang, ia saksikan Siau tin
yang berada ditengah kerumunan aneka bunga itu sedang menari-nari seperti
orang gila, tampaknya dia terperosok ke dalam barisan yang sangat lihai itu.
Kwik Soat kun yang menyaksikan Siau tin sedang tergagap seperti orang yang
tercebur ke dalam air juga turut keheranan, diam-diam pikirnya di hati. "Sudah
jelas tempat ini hanya kerumunan bunga belaka, kenapa bisa memperlihatkan
kehebatan seperti ini? Benar2 membuat orang tidak habis mengerti."
Tampak butiran keringat sebesar kacang kedelai sudah membasahi seluruh tubuh
Siau tin, agaknya dia sedang merasakan suatu penderitaan yang luar biasa sekali,
332
sikap seperti itu bukan sengaja dilakukan untuk berpura-pura tapi terasa kembali
dia berpikir.
"Jika aku mengulurkan tangan untuk menyelamatkan dirinya, kejadian ini pasti
akan merusak nama baik perkumpulan Li ji pang dimata orang lain."
Perempuan ini memang sangat cekatan dan cerdik sekali, walaupun dia berniat
untuk menolong orang, namun sebisanya dia berusaha untuk menghindarkan diri
dari suatu ancaman bahaya, maka sepasang kakinya dipantekkan lekat-lekat
ditempat semula sementara tubuhnya segera membungkuk ke depan untuk meraih
tubuh Siau tin.
Terdengar Nyo hong leng berbisik lirih. "Tidak usah Nona Kwik repot2."
Dia segera masuk kerumunan bunga itu, sekalipun jaraknya dengan Siau tin tidak
begitu jauh dan hanya memerlukan tiga lima langkah sudah akan mencapai tempat
dimana Siau tin berada, namun didalam kenyataannya dia harus berputar satu
lingkaran besar lebih dahulu sebelum mencapai tempat tersebut.
Kemudian setelah berhasil meraih tubuh Siau tin sekali lagi Nyo hong leng harus
berputar cukup jauh sebelum balik ke tempat semula.
Setelah sampai di sisi Kwik Soat kun, Siau tin seakan akan melihat matahari
kembali, sambil membesut keringat yang membasahi wajahnya dia bergumam.
"Sungguh lihai, sungguh lihai sekali!"
Ketika dilihatnya Kwik Soat kun sedang melotot ke arahnya dengan wajah gusar,
buru-buru dia menundukkan kepalanya sambil berseru. "Dosa tecu benar2 patut
dihukum mati!"
Kwik Soat kun segera mendengus dingin, tegurnya. "Kau terjebak dalam barisan
itu karena tidak sengaja, ataukah memang bermaksud untuk mencobanya?"
"Tecu..."
Buyung Im seng yang berada disampingnya segera menukas. "Sudahlah, harap
nona Kwik suka memandang wajahku untuk tidak memperpanjang persoalan ini
lagi."
Sambil tertawa Kwik Soat kun lantas manggut2, sahutnya. "Perintah kongcu tentu
saja akan kuturuti." Kemudian sambil mengalihkan sorot matanya ke wajah Siau
tin, dia melanjutkan. "Tempat ini adalah tempat yang sangat berbahaya, setiap
langkah berarti ancaman yang mematikan, sudah berhati-hati dan bertindak
cermatpun ada kalanya akan terperosok juga ke dalam perangkap, tak kusangka
kau berani mencoba-coba untuk menentang bahaya. Hm... kau harus tahu, soal
mati hidupmu adalah soal kecil, tapi kalau akibatnya sampai merembet kepada
orang lain, bukanlah kesalahanmu itu benar2 tidak terampuni?"
"Tecu tahu salah."
"Sudahlah" sela Nyo hong leng pula. "Bagaimanapun juga persoalan ini kan sudah
lewat, kini selanjutnya hati-hati. Mari kita berangkat!"
Selesai berkata dia lantas melangkah maju lebih dulu, Buyung Im seng dan lainlain
segera mengikuti kembali di belakang Nyo hong leng.
333
Waktu itu Siau tin sudah mengetahui akan kelihaian barisan bunga itu, maka kali
ini dia mengikuti petunjuk orang dengan seksama, sedikitpun tak berani bertindak
gegabah lagi.
Di bawah petunjuk Nyo hong leng, akhirnya beberapa orang itu berhasil keluar dari
barisan bunga itu dengan selamat.
Setelah melewati barisan bunga, pemandangan yang terbentang di depan mata
kembali berubah. Tampak dua orang bocah baju hijau yang masing2 menyoren
sebilah pedang sedang berdiri lurus lebih kurang dua kaki di luar barisan bunga
tersebut.
Sepanjang jalan yang terbentang sekarang merupakan pepohonan yang sengaja
dipotong rendah dan rata, tampaknya pepohonan rendah itu dipakai sebagai
pengganti dinding pekarangan, didalamnya terbentanglah tanah lapang berumput
yang indah.
Dimana dua orang bocah berpedang itu berdiri tak lain adalah pintu masuk dari
dinding pekarangan yang berupa pohon2 pendek itu.
Nyo hong leng segera berbisik kepada Kwik Soat kun. "Tampaknya kembali akan
terjadi perang mulut, cici, lebih baik kau saja yang menghadapi mereka."
Kwik Soat kun tersenyum, pelan-pelan dia melangkah ke depan dan langsung
menuju kehadapan dua orang bocah itu.
Dua orang bocah itu segera mementangkan matanya bulat2 dan mengawasi wajah
Kwik Soat kun tanpa berkedip.
Diam-diam Kwik Soat kun memperhatikan dua orang bocah itu sementara otaknya
sedang berputar bagaimana caranya untuk bicara menghadapi kedua bocah ini,
kalau dilihat dari pandangan yang terbentang di sana, tampaknya jaraknya dengan
Seng tong tak jauh lagi.
Dalam keadaan dan situasi semacam ini setiap perkataan maupun tindakan sudah
tak boleh melakukan kesalahan lagi.
Siapa tahu, apa yang kemudian terjadi sam sekali di luar dugaannya, ketika Kwik
Soat kun telah tiba di hadapan kedua bocah itu, ternyata mereka belum juga
mengucapkan sepatah katapun.
Ketenangan dan kemantapan yang diperlihatkan dua bocah itu membuat
kewaspadaan Kwik Soat kun meningkat, ia segera berhenti, kemudian setelah
memperhatikan sekejap kedua bocah itu tegurnya. "Mohon petunjuk dari kalian
berdua!"
Empat buah mata jeli dari kedua bocah itu bersama sama dialihkan ke wajah Kwik
Soat kun, kemudian manggut2 dan menyingkir ke samping untuk memberi jalan
lewat, jelas mereka bermaksud untuk mempersilahkan mereka melewati tempat
itu.
Cuma anehnya, kedua bocah itu sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun.
Dengan pandangan yang dingin Kwik Soat kun memperhatikan terus gerak gerik
dari dua bocah tadi, sewaktu dilihatnya mereka sama sekali tidak bermaksud jahat,
dia menjadi semakin keheranan lagi, pikirnya kemudian, "Heran, mengapa kedua
334
bocah ini tidak berbicara sebaliknya menggunakan gerakan tangan untuk
menggantikan ucapannya, apa arti dan tujuan mereka yang sebenarnya?"
Berpikir sampai di situ, sengaja dia bertanya "Maksud kalian apakah tempat ini
adalah jalan menuju ke ruang Seng tong?"
Dua bocah itu tertawa dan manggut2, namun mereka tetap membungkam dalam
seribu bahasa.
Dalam pad itu, Buyung Im Seng dan Nyo hong leng sekalian telah tiba di situ, dua
orang bocah itu segera memperhatikan beberapa orang itu sekejap, setelah itu
masing-masing mundur dua langkah.
Maksud dari tindakannya itu sudah jelas sekali, yakni bersiap siap untuk
mempersilahkan beberapa orang itu lewat, sama sekali tidak bermaksud untuk
menghalanginya.
Kwik Soat kun yang selama ini cekatan dan cerdik, pada saat ini dibikin tertegun
juga dibuatnya, dia benar2 dibikin tidak habis mengerti oleh sikap lawannya, maka
sambil mengerahkan tenaga dalamnya bersiap siaga, dia melangkah ke dalam.
Buyung Im Seng, Nyo hong leng dan Siau tin dengan cepat mengikuti pula. Benar
juga, dua bocah itu sama sekali tidak turun tangan untuk menghalangi jalan, apa
yang mereka lakukan hanya menyaksikan beberapa orang itu lewat dengan sikap
tenang.
Kwik Soat kun berpaling dan memandang sekejap ke arah Buyung Im Seng, lalu
bisiknya. "Kejadian ini benar2 aneh sekali."
"Bagaimana anehnya?"
"Kedua bocah itu sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun, sikap mereka
seperti orang bisu saja, tapi kalau kita lihat raut wajah mereka, tampaknya orang2
itu bukan seorang bisu, lagi pula tempat ini sudah merupakan Sam seng tong yang
paling keramat dalam pandangan mereka, mana mungkin mereka mengutus
penjaga pintu bisu untuk menyambut kedatangan kita? Kejadian ini benar2
membuat orang merasa tidak habis mengerti."
"Ya, tempat ini memang penuh diliputi oleh kemisteriusan dan keanehan yang luar
biasa, kita tak bisa menulisnya dengan menggunakan pikiran wajar, dan lagi
sekarang kita sudah memasuki daerah yang paling rawan, harapan untuk
meninggalkan tempat ini dalam keadaan selamat minim sekali, asal kita bisa
melihat sesuatu yang aneh tak anggap aneh rasanya hal mana cukup aman untuk
kita."
Kwik Soat kun segera tersenyum. "Kita datang kemari dengan menempuh marabahaya,
tapi bukan berarti sama sekali tiada harapan lagi untuk meraih
kemenangan, bukankah tujuan kongcu datang kemari hanya ingin menambah
pengetahuan dan pengalaman saja? Bukankah kau bermaksud untuk memecahkan
pelbagai kecurigaan yang mencekam hatimu?"
"Kecuali kalau pihak Sam seng tong ada maksud menghantar kita untuk
meninggalkan tempat ini, pada hakekatnya sukar untuk berlalu dari sini, apalagi
untuk melewati lorong rahasia di dalam lambung bukit tersebut."
335
"Kongcu, siapa yang berhati bajik dia akan memperoleh banyak bantuan, siapa
tahu kalau mara bahaya yang kita hadapi akan berubah menjadi suatu
kemujuran?"
Buyung Im Seng tertawa. "Ah... ucapan semacam begitu tak bisa dianggap sebagai
suatu kata yang benar, apalagi toh sama sekali tak ada hubungannya dengan
semua perhitungan dan akal manusia."
Kwik Soat kun membereskan rambutnya yang panjang, baru saja bersiap hendak
menjawab, tiba2 tampaklah seorang kakek jubah hijau telah muncul dari depan
sana.
Maka diapun segera menutup mulutnya rapat2. sungguh cepat sekali langkah kaki
si kakek itu, dalam waktu singkat telah tiba di hadapan mereka. Tampak ia
menjura kemudian tegurnya. "Siapakah diantara kalian yang bernama Kwik hu
pangcu?"
Kwik Soat kun segera memberi hormat sambil menyahut. "Akulah orangnya!"
Kakek itu segera manggut2, katanya. "Sekarang kalian telah tiba di suatu tempat
yang amat penting, di depan sana terbentang sebuah persimpangan jalan,
disanalah terletak persimpangan yang akan menentukan mati dan hidup kalian..."
"Ketika melewati jalan rahasia dalam lambung bukit tadi, pelbagai mara bahaya
telah kami hadapi, sampai detik inipun kami tak pernah berhasrat untuk mundur,
itu berarti kami sudah tidak mempersoalkan mati hidup lagi." Tukas Kwik Soat
kun.
"Oh... begitu, anggap saja lohu yang telah banyak mulut."
"Itu sih tidak, sekalipun kami tidak menerima anjuran baikmu itu, namun kami
merasa amat berterima kasih sekali atas maksud baik dari locianpwe."
Pelan-pelan kakek itu mengalihkan sorot matanya ke wajah Buyung Im Seng,
setelah itu tegurnya. "Apakah kau adalah Buyung kongcu?"
"Betul, boleh aku tahu siapa nama locianpwe?"
"Lohu sudah cukup lama berbakti kepada Seng tong, namaku sudah lama tidak
pernah digunakan lagi, lebih baik tak usah disinggung."
Kedengarannya hanya beberapa patah kata yang amat sederhana, padahal dibalik
perkataan itu terseliplah rasa sedih yang tebal.
Walaupun Buyung Im Seng tak dapat meresapi rasa kesal dan sedih yang sudah
lama mencekam perasaan si kakek itu, namun dia dapat merasakan bahwa orang
ini ramah dan sama sekali tak bersikap bermusuhan.
Maka sambil menjura katanya. "Bila locianpwe enggan untuk menyebutkan
namamu, boanpwe juga tidak akan memaksa, tapi kami tak tahu bagaimana
sebutan kami kepada locianpwe?"
Kakek itu tertawa, "Nama besar ayahmu sudah lama tersohor di seluruh dunia,
sikapnya yang ramah tamah dan tahu sopan santun sudah lama dipuji orang,
tampaknya kongcu telah mewarisi semua kebaikan ayahmu itu..."
336
Buyung Im Seng mendongakkan kepalanya dan memperhatikan kakek itu sekejap,
dia lihat kakek itu mempunyai alis mata yang panjang dengan sepasang mata yang
tajam, dia tampak berwibawa sekali, cuma sayang kemurungan dan kesedihan
mencekam wajahnya.
Mendadak timbul perasaan hormatnya terhadap kakek itu, sambil menjura
sahutnya. "Locianpwe terlalu memuji."
Kakek itu tertawa, katanya. "Lohu adalah hu-hoat dari ruang Seng tong, harap
kongcu memanggilku sebagai Im hu-hoat saja."
"Oh... rupanya Im locianpwe, maaf jika boanpwe kurang hormat."
Cepat2 Im hu-hoat mengulapkan tangannya. "Tidak berani." Dia menyahut,
"keberhasilan kongcu untuk mencapai tempat ini dengan selamat sangat
menggetarkan hati Seng tong oleh sebab itu lohu khusus diutus kemari untuk
menyambut kedatangan kongcu sekalian..."
"Kalau toh kau datang untuk menyambut kenapa pula kau singgung soal jalan
kehidupan dan kematian?" sela Kwik Soat kun.
"Kalian terlalu memperhatikan kemampuan yang kalian miliki, karenanya Sen-cu
telah memutuskan untuk menyambut kedatangan kalian untuk memasuki ruang
Seng tong, menurut apa yang lohu ketahui, barang siapa yang memasuki ruang
seng tong maka hanya ada dua jalan yang ditempuh, kalau bukan jadi anggota Sam
seng bun hanya kematian yang tersedia, selama dua puluh tahun belakangan ini
belum pernah lohu saksikan ada orang yang bisa mengundurkan diri dengan
selamat setelah memasuki ruang seng tong tersebut."
Setelah memandang sekejap ke arah Kwik Soat kun, dia melanjutkan. "Sebelum
lohu berangkat, mari untuk melaksanakan tugas, Seng cu telah berpesan, hanya
Buyung kongcu seorang yang diperkenankan masuk untuk menjumpainya, itu
berarti ia berhasrat untuk membebaskan hu pangcu sekalian dari kematian, asal
nona Kwik tidak memasuki Seng tong, berarti terbentang kesempatan untuk
meninggalkan tempat ini dalam keadaan selamat."
Buyung Im Seng mendengar perkataan itu segera berkerut kening, katanya.
"Siapakah Seng cu kalian? Sebetulnya dia itu orang atau dewa? Heran, kenapa
begitu banyak jago silat yang bersedia mendengarkan perintahnya?"
Im hoat memandang sekejap ke arah Buyung Im Seng, kemudian menghela napas
panjang, katanya. "Tentu saja Seng cu adalah manusia yang luar biasa sekali
kehebatannya."
Mendadak dia merendahkan suaranya sambil melanjutkan, "Bila kongcu masih
mau mempertahankan selembar jiwamu, lebih baik hadapilah kenyataan dengan
kecerdasan otak, ketahuilah sebagai seorang lelaki sejati kau harus bisa
mengimbangi keadaan..."
Sambil tertawa Buyung Im Seng manggut2, selanya. "Terima kasih banyak atas
petunjuk Im locianpwe, sayang boanpwe sudah memperhitungkan segala
sesuatunya."
337
"Kalau memang kongcu sudah mempunyai perhitungan yang matang, lohu pun tak
akan banyak bicara lagi."
Sorot matanya segera dialihkan ke arah Kwik Soat kun, Nyo hong leng dan Siau tin
bertiga, kemudian melanjutkan. "Aku rasa kalian bertiga sebagai anggota Li ji pang
tentunya tak usah mengikuti Kongcu memasuki Seng tong, bukan?"
Diam-diam Buyung Im Seng berpikir. "Walaupun kami sudah mempunyai janji
untuk bersama sama memasuki tempat berbahaya ini dan hidup mati bersama, tapi
sebelum benar2 melangkah ke dalam suatu keadaan yang tak menentu, memang
ada baiknya bila mereka sendiri yang mengambil keputusan."
Berpikir demikian ia lantas berkata sambil tertawa. "Tentang soal ini, lebih baik
mereka bertiga saja yang memutuskan sendiri."
Paras muka Im hu-hoat menjadi serius sekali, dipandangnya sekejap Kwik Soat
kun bertiga. Kemudian berkata. "Lohu rasa kalian tak perlu untuk bersama sama
menyerempet bahaya, sebab hal itu sama sekali tak ada gunanya."
Nyo hong leng memandang sekejap ke arah Kwik Soat kun, kemudian katanya.
"Cici dan Siau tin tak perlu memasuki ruang Seng tong, bagaimana kalau siau
moay seorang yang menemani Buyung kongcu?"
"Bukankah kita sudah mengadakan perjanjian sebelumnya, sekalipun ruang Seng
tong itu berbahaya, sudah sewajarnya kalau kita pergi bersama-sama?" kata Kwik
Soat kun.
Im hu-hoat yang menyaksikan keadaan itu segera menghela napas panjang,
katanya. "Baiklah, jikalau kalian memang sudah terikat janji, lohu akan
membawakan jalan buat kalian."
Setelah berkata dia lantas membalikkan badan dan berjalan ke depan sana.
Buyung Im Seng berpaling dan memandang sekejap ke arah Nyo hong leng, tampak
olehnya gadis itu bersikap amat tenang, sorot matanya memancarkan sinar
kelembutan, sama sekali tak nampak perasaan jeri atau ngeri barang sedikitpun
jua, hal mana segera mengobarkan dan menimbulkan kembali semangatnya, tanpa
banyak bicara lagi dia lantas melangkah pergi dengan tindakan lebar...
Im hu-hoat membawa mereka menuju ke persimpangan jalan itu, mendadak dia
berhenti dan mengalihkan sorot matanya memperhatikan raut wajah mereka,
ketiak dilihatnya mereka tidak menunjukkan reaksi apa-apa, dia baru
membalikkan badan dan berjalan menuju ke arah jalanan beralas batu putih yang
berada di bagian tengah.
Walaupun ia tidak mengucapkan sepatah katapun, namun Buyung Im Seng
sekalian tahu bahwa palingan tadi merupakan suatu anjuran terakhir tanpa katakata,
dia ingin tahu apakah ada diantara mereka yang berubah pikiran.
Tempat itu merupakan sebidang tanah lapang yang berumput halus, terdapat tiga
buah jalan kecil yang beralaskan batu putih, dua jalan kecil masing-masing
membentang ke arah timur laut dan barat laut, jalanan tersebut membentang ke
arah sebuah pepohonan yang jarang.
338
Sebaliknya jalanan yang berada dibagian tengah itu paling lebar, tapi juga penuh
dengan tikungan, pepohonan amat rapat dan persis menghalangi pemandangan
yang berada di depannya, sehingga siapapun hanya dapat memandang satu jarak
pandangan seluas lima kaki.
Buyung Im Seng maupun Kwik Soat kun tidak mengenal ilmu ngo heng atau ilmu
barisan sebangsanya, maka mereka tak merasakan apa2, hanya dalam hatinya
timbul satu perasaan yang aneh, seakan akan pepohonan tersebut diatur dengan
suatu maksud tertentu, sebab setiap pohon yang ada di sana seakan2 digunakan
untuk menghalangi pandangan orang lain.
Lain halnya dengan Nyo hong leng, diam-diam ia merasa terkejut sekali, sebab dia
tahu tempat itu merupakan barisan aneh yang luar biasa hebatnya, terpaksa dia
harus pusatkan semua perhatiannya untuk memperhatikan keistimewaan dari
barisan tadi.
Setelah berjalan lebih kurang beberapa ratus kaki dan melewati belasan tikungan,
akhirnya ia mendengar percikan air yang sedang mengalir, ketika mendongakkan
kepalanya, tampak sebuah jembatan terbentang di depan mata.
Di atas jembatan, di bawah gardu kecil duduklah seorang kakek baju merah yang
gundul dan berperawakan tinggi besar. Waktu itu, kakek itu sedang menyandarkan
kepalanya di punggung kursi dan memejamkan matanya rapat2, jenggotnya yang
putih dan sepanjang dada itu berkibar terhembus angin.
Tampaknya sikap Im hu-hoat terhadap kakek baju merah itu menghormat sekali,
tiba di ujung jembatan ia segera berhenti, kemudian sambil menjura, katanya.
"Saudara Thian heng, siaute mendapat tugas untuk menyambut tamu agung..."
0O0
Bagian ke 25
"Im lote, tak usah banyak adat." Tukas kakek baju merah itu sambil membuka
matanya. Pelan-pelan sorot matanya dialihkan ke wajah Buyung Im Seng, setelah
memperhatikannya beberapa saat, dia bertanya.
"Pemuda inikah yang dinamakan Buyung kongcu?"
"Betul, apakah saudara Thian heng hendak melakukan penggeledahan?"
Kakek baju merah itu mengerdipkan matanya, mendadak mencorong sinar tajam
dari balik matanya, sambil menatap Buyung Im Seng lekat2 katanya. "Sekalipun
kau adalah orang yang diundang oleh pihak Seng tong, tapi kaupun harus menuruti
juga peraturan yang ditetapkan pada jembatan kiu coan kiau yang lohu jaga ini!"
"Peraturan apa?"
"Tidak diperkenankan membawa sepotong besipun menyeberangi jembatan ini."
Buyung Im Seng segera menepuk sakunya seraya berkata. "Aku sama sekali tidak
membawa senjata."
"Senjata rahasiapun tidak boleh dibawa, seinci besi atau seinci emas pun tak boleh
dibawa."
"Oh... begitu keraskah peraturannya?" kata Buyung Im Seng sambil tertawa.
339
"Benar, lohu memang bertugas untuk melaksanakan kewajiban itu, harap kau suka
memahaminya."
"Perkataan locianpwe terlalu serius." Selesai mengucapkan perkataan itu, dia tidak
banyak bicara lagi.
Kakek baju merah itu segera mengerutkan dahinya rapat2, katanya lagi.
"Seandainya dalam sakumu terdapat senjata rahasia, atau benda yang termasuk
dalam jenis baja, sekarang juga boleh kau serahkan kepada lohu..."
"Jikalau peraturan yang berlaku ditempat ini begini keras, entah bolehkah aku
tidak menyeberanginya?"
"Nak, tahukah kau tempat apakah ini?" "Boanpwe tahu."
"Siapa yang tahu keadaan dialah lelaki yang pintar, sudah belasan tahun lamanya
lohu berada di atas jembatan ini, tapi belum pernah ada bersikap begini sungkan
terhadap orang lain."
"Buyung kongcu", kata Im hu-hoat pula dengan suara lirih, "bila kau membawa
senjata rahasia bagaimana kalau diserahkan saja?"
"Benar, sekalipun kau masuk ke dalam dengan membawa senjata, juga belum tentu
akan memberikan kegunaan yang besar bagimu." Kata kakek baju merah itu.
Untuk kesekian kalinya Im huhoat berbisik. "Kongcu, turutlah perkataan lohu,
keluarkan senjata rahasia yang berada dalam sakumu."
Pelan0pelan Buyung Im Seng merogoh sakunya dan mengeluarkan sebilah pisau
belati, kemudian sambil dibuang ke atas tanah katanya. "Demikian sudah boleh
bukan?"
Im huhoat segera mengalihkan sorot mata ke arah Kwik Soat kun, lalu katanya
pula. "Apa kalian bertiga juga akan turut serta Buyung kongcu untuk bersama
sama kesana?"
"Apakah Seng tong ada perintah?" tiba-tiba kakek baju merah itu bertanya.
"Walau Seng tong tidak menitahkan kepada siaute untuk membawa serta ketiga
orang itu, akan tetapi juga tidak diturunkan perintah melarang mereka ikut."
"Kalau begitu, Im lote sendiri yang memutuskan untuk membawa serta diri mereka
bertiga?"
"Mereka berempat sudah mempunyai perjanjian lebih dulu untuk sehidup semati
bersama, oleh sebab itu terpaksa siaute membawa serta mereka bertiga, harap
saudara Thian heng bersedia untuk melepaskan mereka lewat."
Kakek baju merah itu segera tertawa dingin, "Im lote", katanya. "tidakkah kau
rasakan bahwa tamu itu terlalu banyak?"
"Siaute hanya melaksanakan tugas seperti apa yang diperintahkan."
Kakek baju merah itu termenung dan berpikir beberapa saat, kemudian dia
berkata. "Baiklah, kesalahan memang bukan terletak pada diri Im lote, lohu tak
akan mempersoalkan denganmu."
340
Buru-buru Im huhoat memberi hormat sambil berseru. "Kalau begitu siaute
ucapkan terima kasih..."
Pelan-pelan kakek baju merah itu mengalihkan sorot matanya memandang Nyo
hong leng bertiga, kemudian katanya. "Lohu tak ingin banyak bicara lagi, senjata
tajam yang masih berada dalam saku kalian harap segera diserahkan."
"Aku memang membawa senjata rahasia dan senjata tajam." Kata Nyo hong leng
pelan, "tapi sayang, aku tak ingin menyerahkannya kepadamu."
"Apa kau bilang?" teriak kakek baju merah itu dengan melotot.
"Akupun tak ingin mengulangi perkataanku sekali lagi, aku rasa tentunya
ucapanku tadi sudah cukup jelas bagimu."
"Nona..." seru Im huhoat dengan cemas.
"Persoalan ini tidak menyangkut dirimu." Tukas Nyo hong leng cepat, kau hanya
mendapat tugas untuk membawa kami sampai di sini dan kami sudah mengikuti
kau sampai di sini maka urusan selanjutnya sama sekali tak ada sangkut pautnya
denganmu."
Mendadak kakek baju merah itu mendongakkan kepalanya sambil tertawa
terbahak2, suaranya keras bagaikan pekikan naga dan membubung tinggi ke
angkasa, siapapun yang mendengarkan suara tertawa tersebut segera merasakan
telinganya menjadi sangat sakit. Jelas dia mempunyai tenaga dalam yang
sempurna.
"Hmm. Apa yang kau tertawakan?" tegur Nyo hong leng dingin.
"Nona cilik, lohu benar-benar merasa kagum sekali kepadamu."
"Apa yang kau kagumi?"
"Lohu kagum sekali akan nyalimu yang amat besar."
"Oh... terlalu memuji!"
Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan. "Aku tak ingin bertarung denganmu,
tapi akupun tak ingin menyerahkan senjata rahasia dan senjata tajam yang berada
dalam sakuku, aku rasa kecuali cara ini, tentunya masih ada cara lain untuk
menyelesaikan persoalan ini, bukan?"
"Maksud nona?"
"Bagaimana kalau kita mencari suatu cara untuk bertaruh? Bila aku menang, tentu
saja aku tak usah menyerahkan senjata rahasia dan senjata tajam yang kumiliki."
"Bila lohu yang menang?"
"Terserah apapun keputusanmu."
"Selama hidup lohu hanya silat, sekalipun hendak bertaruh maka pertaruhan
tersebut harus berkisar pada ilmu silat."
"Sudah barang tentu."
"Pertaruhan ini tak boleh dilangsungkan." Dengan gelisah Im huhoat mencoba
untuk mencegahnya.
341
Tapi Nyo hong leng berlagak seakan tidak mendengar ucapan itu, sambil
memandang wajah kakek baju merah itu, tanyanya. "Bagaimana cara kita
bertaruh?"
Di dalam anggapan Im huhoat sikap kasar dari Nyo hong leng itu pasti akan
membangkitkan kemarahan kakek baju merah itu. Siapa tahu, kejadian yang
kemudian berlangsung sama sekali di luar dugaannya.
Sambil tersenyum kakek baju merah itu segera berkata. "Begini saja! Lohu akan
berdiri di ujung jembatan tersebut dan kau boleh berusaha untuk menerobosinya,
asal kau bisa mencapai belakang tubuh lohu, anggap saja kau menang."
"Baik! Dengan cara seperti itu kita harus turun tangan juga, namun baru berkisar
antara tiga lima gebrakan belaka, asal ada suatu batasan dan tak perlu saling
beradu jiwa, rasanya hal ini sudah lebih dari cukup."
Im huhoat berpaling dan memandang sekejap ke arah Buyung Im Seng, tampak
olehnya paras muka pemuda itu amat tenang sekali, seakan sama sekali tak
menguatirkan keselamatan Nyo hong leng, bahkan marahpun tidak, tanpa terasa ia
lantas bertanya. "Apakah nona itu anggota Li ji pang?"
"Soal itu aku kurang jelas." Jawab Buyung Im Seng.
Im huhoat segera menghela napas panjang, katanya. "Seorang nona cilik berani
berbicara sesumbar, aiiii... tak bisa disangkal lagi perbuatannya itu sama halnya
dengan mencari kematian sendiri..."
Buyung Im Seng merasa sukar sekali untuk menemukan jawaban yang cocok dan
tepat, terpaksa dia berlagak tidak mendengar.
Dalam pada itu, kakek baju merah telah berdiri di ujung jembatan, dengan dingin
dia lantas berkata. "Nona cilik, lohu hanya akan menggunakan telapak tangan kiri
saja menghadang terjanganmu."
"Jangan terlampau takabur", kata Nyo hong leng sambil tertawa, "siapa tahu kalau
nasibku lagi mujur dan bisa melewatinya dengan mudah?"
Paras muka kakek baju merah itu berubah hebat, katanya lagi. "Lohu yakin dengan
tangan sebelahpun sanggup untuk menghalangi jalan pergimu."
"Kalau memang begitu, mari kita buktikan bersama!"
Sambil menghimpun tenaga, pelan-pelan ia berjalan ke depan, ketika tiba lebih
kurang dua depa dari ujung jembatan, ia baru berhenti seraya berkata. "Masih ada
satu hal lagi yang ingin kukatakan lebih dulu."
"Persoalan apa?"
"Kami datang berempat, andaikata aku sampai kena kau lukai atau kau banting ke
bawah, mungkin saja mereka akan mencoba lagi atau melakukan seperti apa yang
menjadi peraturanmu, tapi bila aku beruntung dan berhasil menangkan dirimu,
apakah mereka bertiga masih perlu untuk melakukan pertandingan lagi?"
"Maksud nona?"
342
"Aku rasa lebih baik digabungkan menjadi satu saja, bila aku kalah maka mereka
akan menuruti peraturan yang berlaku, sebaliknya bila aku yang menang maka
mereka akan mengikuti aku untuk menyeberang jembatan bersama, ini berarti tak
usah dilangsungkan pertandingan lagi."
"Baik, akan kululuskan permintaanmu itu." Kata si kakek.
"Nah, bersiaplah, aku akan melakukan serbuan."
Ketika kakek baju merah itu mendengar ucapan Nyo hong leng makin lama makin
besar, tiba-tiba muncul kecurigaan didalam hatinya, setelah menatap wajah gadis
itu lekat2 tegurnya. "Kau bukan anggota Li ji pang?"
"Sayang sekali kita tak berjanji untuk saling menerangkan asal usul dan nama
masing2, aku rasa kaupun tak perlu banyak bertanya."
Begitu selesai berkata ia lalu melompat ke depan dan langsung menerjang ke arah
kakek itu.
Didalam pikiran kakek itu, gadis ini pasti akan menggunakan ilmu meringankan
tubuhnya untuk melayang melewati di atas kepalanya, siapa tahu dia menerjang
dengan kekerasan, kontan saja hawa amarah menyelimuti wajahnya, tangan kiri
diangkat dan segera melepaskan pukulan ke depan.
Nyo hong leng hanya merasakan tenaga pukulan itu kekuatannya besar sekali,
bagaikan gulungan ombak samudra yang menyambar, ia menjadi terkesiap sekali.
Dengan cepat pikirnya dalam hati. "Tak nyana kalau si kakek ini mempunyai ilmu
silat yang maha dahsyat, tak heran kalau dia berani omong besar."
Sementara itu tangan kanannya secepat kilat telah menyerang ke muka, jari2
tangannya yang runcing khusus mengancam urat nadi pada pergelangan lawan.
Kakek itu tertawa dingin. "Bagus!" serunya. Pergelangan tangannya diputar
kencang, kelima jari tangannya bagaikan kaitan langsung menyambar ke depan
dan balas mencengkeram pergelangan tangan Nyo hong leng.
Kedua pihak sama-sama mempergunakan serangan jarak dekat untuk merobohkan,
semua gerakan membacok, menangkap, menotok dan memapas digunakan secara
bergantian.
Menghadapi kelihaian lawannya itu, diam2 Nyo hong leng berpikir. "Tampaknya
kakek ini selain memiliki tenaga dalam yang sempurna, jurus serangannya juga
memiliki perubahan yang luar biasa sekali, aku tak boleh memandang enteng
dirinya."
Berpikir demikian, tangan kanannya segera melepaskan sentilan jari yang
dilepaskan secepat kilat. Beberapa desingan angin sentilan yang tajam segera
meluncur ke depan membelah angkasa.
Agaknya kakek baju merah itu sama sekali tidak menyangka kalau Nyo hong leng
memiliki kepandaian sedahsyat itu, dengan perasaan terkesiap ia segera menarik
kembali tangannya sambil berseru tertahan. "Haaah... ilmu Tan ci sin kang?!"
"Ehmm... pengetahuan yang locianpwe miliki benar2 luas sekali." Puji Nyo hog leng.
343
Tangan kirinya segera diangkat dan diayunkan ke depan, seperti menotok seperti
pula membacok, jari tangannya yang ramping bergerak kian kemari dengan
lincahnya.
Sekali lagi kakek itu berteriak keras. "Haah...! Ilmu totokan Lan hoa hud hiat jiu!"
Tangan kirinya segera diayunkan ke depan, bersiap siap menyambut serangan
tersebut dengan kekerasan, tampaknya dia sudah tiada kemampuan lain untuk
menghindari diri kecuali menangkis datangnya serangan itu.
Siapa tahu Nyo hong leng telah menduga sampai ke situ, pada saat tangan kirinya
melancarkan serangan tadi, jari tangan kanannya dilancarkan pula bersamaan
waktunya.
Baru saja kakek itu mengangkat tangan kirinya, jari tengah dan jari telunjuk Nyo
hong leng telah disentilkan ke depan menghajar jalan darah Ci ti hiat di bawah
sikut si kakek.
Walaupun tenaga sentilan yang digunakan Nyo hong leng kali ini tidak terlalu
kuat, tapi oleh karena jalan darah penting yang terkena, akibatnya lengan kiri
kakek itu tak sanggup diangkat kembali...
Dalam gugupnya kakek itu lupa dengan ucapan sendiri, buru2 tangan kanannya
didorong ke depan melancarkan sebuah pukulan.
Tapi dengan cekatan Nyo hong leng melompat mundur, serunya sambil tertawa.
"Kau sudah kalah, tangan kananmu telah kau gunakan."
Dengan wajah sedih kakek baju merah itu segera mundur dua langkah, katanya.
"Lohu benar2 telah salah melihat, tidak kuduga nona memiliki ilmu silat yang
maha dahsyat."
"Kau terlalu memuji."
Kakek baju merah itu menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya kemudian,
"Sekarang, kalian boleh menyeberangi jembatan ini."
Dengan langkah lebar dia lantas balik ke dalam gardu duduk kembali ditempat
semula.
(Bersambung ke jilid 18)
344
Lembah Tiga Malaikat
Oleh: Tjan
Jilid 18
Im Huhoat yang menyaksikan kejadian itu merasa sangat tidak tenang, serunya
cepat: "Saudara Thian heng..." Dengan cepat kakek berbaju merah itu mengulapkan
tangannya sambil menukas: "Kalian boleh segera menyeberangi jembatan ini."
"Tapi kau... " "Haaahhh... Haaahhh... Haaahhh... aku toh tak bisa menjaga
jembatan ini untuk selamanya" tukas kakek berbaju merah itu sambil tertawa
tergelak, "hari ini mereka tak bisa menembusinya, bukankah masih ada hari esok,
atau sebulan lagi atau mungkin setahun lagi, suatu hari akhirnya toh ada juga
yang menembusi jembatan ini. Cepat atau lambat lohu juga bermaksud untuk
meninggalkan tugasku menjaga jembatan ini."
Diam-diam Buyung Im seng mencoba untuk memperhatikan mimik wajah kakek
berbaju merah itu, dapat diketahui bahwa hatinya pasti kalut sekali, selain rasa
sedih, terdapat pula rasa gusar dan mangkel. jelas perasaan yang berkecamuk
dalam hatinya sekarang tak terlukiskan dengan kata-kata.
Tampaknya kakek berbaju merah itupun sedang berusaha keras untuk menjaga
ketenangan sendiri, agar perasaan yang sedang berkecamuk dalam hatinya jangan
sampai terlampiaskan keluar, dia duduk kaku ditempat semula dengan mata
terpejamkan.
Sementara itu Im Huhoat telah mengalihkan sorot matanya ke atas wajah Nyo
Hong leng, kemudian tegurnya.
Sekarang lohu sudah tahu kalau nona bukan anggota perkumpulan Li Ji pang
seperti apa yang diduga semula."
Nyo Hong leng hanya tersenyum belaka sementara mulutnya membungkam dalam
serbu kata.
"Lohu juga yakin wajah nona ditutupi oleh selembar topeng kulit manusia, sehingga
yang kami tampak sekarang sesungguhnya bukan raut wajahmu yang sebenarnya."
345
"Anggap saja apa yang kau tebak memang benar, tapi bukankah hal ini sama sekali
tak ada sangkut pautnya denganmu ?" ujar Nyo Hong leng cepat.
Pelan-pelan Im Huhoat berkata lagi, "nona, bersediakah kau untuk melepaskan
topeng kulit manusia itu agar kami dapat menyakinkan raut wajahmu yang
sebenarnya ?"
Nyo Hong leng menggelengkan kepalanya berulang kali, lalu tampiknya dengan
tegas.
"tidak bisa, lebih baik locianpwe membawa jalan saja !"
Im Huhoat tidak memaksa lagi, dia manggut dan segera melanjutkan
perjalanannya ke depan.
Buyung Im seng, Nyo Hong leng, Kwik soat kun dan Siau lin segera mengikuti di
belakang Im huhoat berjalan menyeberangi jembatan kiu coan cu kiau tersebut.
Setelah menyeberangi jembatan dan berjalan menelusuri sebuah jalan kecil beralas
batu putih mereka membelok pula pada suatu tanah perbukitan, disitulah
pemandangannya sudah kembali berubah.
Tampak sebuah bangunan aneh yang tinggi besar berdiri ditengah sebuah tanah
lapang yang dikelilingi oleh tiga buah bukit.
Bangunan tersebut tinggi besar dan berwarna hitam pekat, sehingga dalam sekilas
pandangan sukar untuk membedakan terbuat dari bahan apakah bangunan
tersebut.
Di atas ruangan gedung aneh yang tinggi besar itu terpancang sebuah papan nama
beralas hitam, di atas papan nama itu tercantum tiga huruf besar yang terbuat dari
emas.
"SAM SEM THONG"
Rupanya disinilah letaknya lembah tiga malaikat. Di bawah papan nama itu
terdapat sepasang pintu gerbang yang berwarna hitam, pintu gerbang itu berada
dalam keadaan tertutup rapat.
Pelan-pelan Im Huhoat berjalan menuju ke depan pintu gerbang tersebut, lalu
dengan serius katanya. "harap kalian semua bersedia tahu diri dan menjaga gerak
gerik sendiri, sebab kita telah tiba d iruangan Seng Thong !"
"Bagaimana yang kau maksudkan sebagai tahu diri dan menjaga gerak gerik
sendiri ?" tanya Buyung Im seng.
"Kalian sebagai anggota San seng thong tentu saja wajib menaruh rohmat terhadap
Seng Thong kalian sendiri, tapi kami toh bukan anggota lembah tiga malaikat,
mengapa kami harus bersikap hormat terhadap perkumpulan kalian ?" Im Huhoat
segera berkerut kening seperti hendak mengucapkan sesuatu namun niat tersebut
kemudian diurungkan, dia membalikkan badannya dan berjalan mendekati sebuah
rak kayu mengambil alat pemukul dan membunyikan sebuah lonceng tembaga yang
tergantung di atas rak kayu tersebut.
Sementara itu mereka sudah semakin mendekati gedung berwarna hitam itu.
Buyung Im seng segera mengawasi gedung itu lebih seksama, kemudian baru
diketahui kalau ruangan gedung yang berwarna hitam itu rupanya terbuat dari
346
batu berwarna hitam, hanya tidak dapat diketahui apakah batu cadas berwarna
hitam itu merupakan benda alam, ataukah memang sengaja dicat dengan warna
hitam.
Dengan bergemanya suara lonceng yang mendengung diangkasa, pintu gerbang
berwarna hitam yang tertutup rapat itu pelan-pelan terbuka lebar.
Terdengar suara yang dalam dan berat berkumandang datang dari balik ruangan
tersebut.
"Siapa ?" "Pelindung hukum bagian luar Im Cu siu. Im huhoat cepat-cepat
melaporkan diri.
Sambil menjawab dengan sikap yang sangat menghormat selangkah demi
selangkah dia jalan masuk ke dalam ruangan Seng thong tersebut. Nyo Hong leng
ikut maju ke depan dan menyusul di belakang Im cu siu, akan tetapi segera dicegah
oleh Buyung Im seng dan berbisik "Tunggu sebentar !"
Nyo hong leng segera tersenyum, katanya "ada apa ?" memangnya kita juga harus
turuti peraturan yang berlaku ditempat ini "
"Kita tak boleh membiarkan orang lain merasa tak senang dengan tindakan kita
yang lancang" sahut Buyung Im seng cepat.
Lebih kurang seperminuman teh kemudian tampak, Im cu siu melangkah keluar
dari dalam ruangan dengan langkah pelan, katanya dengan wajah amat serius.
"Seng cu mempersilahkan kalian semua masuk ke dalam ruangan Seng thong
untuk berbincang bincang.
"Apakah kau juga akan turut serta ?" tanya Nyoo Hong Leng.
"Maaf. Lohu tidak dapat menemani lagi"
Buyung Im seng segera berpaling dan memandang sekejap ke arah Kwik Soat kun
dan Nyoo Hong leng sekalian, lalu bisiknya lirih, "Kalian mesti bersikap lebih
berhati-hati"
Dengan langkah lebar ia masuk ke dalam ruangan Seng thong.
Nyoo Hong leng segera merogoh ke dalam sakunya dan diam-diam menggenggam
segenggam Budhi-cu untuk bersiap-siap menjaga segala kemungkinan yang tidak
diinginkan.
Pelan-pelan mereka memasuki ke dalam ruangan yang amat lebar itu, tampak
beberapa buah lilin yang tinggi besar memancarkan sinar dengan terangnya
menerangi seluruh ruangan tersebut.
Dikedua belah samping ruang tengah, berjajar dengan rapi delapan buah patung
dewa yang tinggi besar dengan mengenakan pelbagai macam pakaian yang berbedabeda.
Semua patung dewa itu duduk di atas sebuah kursi beralas emas yang dibuat
secara khusus, sedang dalam genggaman patung-patung dewa itu tergenggam
senjata tajam.
347
Kwik Soat kun mempunyai pengetahuan yang sangat luas, menyaksikan raut wajah
patung dewa tersebut bukan patung dewa dalam ruangan agama Budha, bukan
juga patung dalam kuil, sehingga terdapat kesan bahwa kawanan dewa tersebut
seakan-akan berkumpul dalam sebuah ruangan aneh yang bukan kuil Budha,
bukan pula kuil agama To.
Memandang kembali ke arah lain, tampaklah di belakang meja pemujaan, dibalik
kain tirai berwarna kuning, duduklah tiga buah patung dewa bertubuh emas.
Ketiga patung dewa ini amat tinggi besar, separuh bagian tubuh bawahnya
tertutup oleh meja pemujaan, sekalipun demikian, hanya separuh tubuh bagian
ataspun tingginya mencapai tinggi badan seorang manusia biasa...
Terdengar dalam patung dewa bagian tengah itu berkumandang suara teguran
yang sangat keren.
"Setelah berjumpa dengan para dewa, mengapa kalian berempat tidak memberi
hormat ?"
Di ruangan tersebut terasa diliputi oleh semacam suasana yang menyeramkan
sehingga membuat hati orang bergetar keras, ditambah lagi suara tersebut seolaholah
muncul dari bawah batu cadas tersebut, hal mana segera menimbulkan
perasaan yang lebih menggidikkan hati bagi siapapun yang mendengarnya.
Tanpa sadar ke empat orang itu segera berlutut di atas tanah depan meja pemujaan
tersebut.
Nyoo Hong leng yang pertama-tama melompat bangun dari atas tanah, lalu dengan
suara dingin menegur.
"Kami toh bukan anggota perkumpulan Sam-seng-bun, tentu saja kamipun tak
perlu berlutut di hadapan kalian !"
Begitu dia berseru Buyung Im seng, Kwik-Soat kun serta Siau tin segera
membatalkan pula niatnya untuk berlutut di tanah.
Buyung Im seng segera mendehem pelan lalu sahutnya
"Benar, kami sekalian memang tak perlu menyembah di hadapan kalian, toh kami
bukan anggota Sam-seng-thong."
Baru selesai dia berkata, tiba-tiba... "bilamana!" pintu gerbang itu menutup sendiri
secara otomatis.
Diam-diam Buyung Im seng menghembuskan napas panjang, kemudian katanya
dengan lantang
"Kalau dilihat dari kemampuanmu untuk berbicara, aku yakin engkaupun manusia
oleh karena itu kaupun tak usah berlagak menjadi setan menyaru sebagai dewa
untuk menakut-nakuti kami."
Orang yang berada dalam patung dewa tengah tertawa dingin.
"Heeehhh... heeehhh... heeehhh., rupanya kaulah yang bernama Buyung Im-seng."
tegurnya.
348
"Betul, akulah orangnya, tolong tanya apa kedudukan anda dalam perkumpulan ini
?"
Patung dewa yang berada di bagian tengah itu segera memperdengarkan kembali
suara yang dingin melebihi es, katanya.
"Sudah masuk ke ruang Seng-thong masih berani bersikap begini kurang ajar,
tampaknya kau sudah tak ingin hidup lagi."
Setiap patah katanya diucapkan bagaikan hembusan angin dingin yang
mendengarnya merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri.
Buyung Im-seng segera bersih beberapa kali, ketika dia berpaling, tampak Kwik
Soat kun serta Siau tin sedang menggunakan tangannya membenahi rambutnya.
Jelas mereka hendak mempergunakan gerakan itu untuk memperbesar keberanian
sendiri.
Hanya Nyoo Hong leng seorang yang sama sekali tak gentar. dia berdiri serius di
tempat itu.
Diam-diam Kwik Soat kun menghimpun hawa murninya lalu berkata dengan
lantang.
"Kami berani datang kemari, berarti soal mati hidup sudah tidak kami pikirkan
lagi, aku rasa kaupun tak usah menakut-nakuti kami lagi dengan lagakmu itu"
Bayangan lilin mendadak bergoyang kencang kemudian dari delapan batang lilin
yang menerangi ruangan tersebut, tiba-tiba padam empat batang diantaranya.
Ruangan semula terang benderangpun dengan cepat menjadi suram sekali.
Dengan terjadinya perubahan ini serta padamnya sebagian cahaya lilin, membuat
ruangan yang sesungguhnya memang diliputi suasana mengerikan terasa semakin
menyeramkan lagi.
Buyung Im seng segera mengalihkan sorot matanya memandang sekejap ke
sekeliling tempat itu, tiba-tiba dia jumpai letak posisi cahaya lilin itupun telah
diatur menurut suatu pemikiran yang amat teliti sehingga andaikata delapan lilin
disulut bersama, maka segenap sudut pandangan ruangan itu dapat terlihat amat
jelas.
Tampaknya setiap batang lilin itu menerangi suatu bagian ruangan yang memiliki
kegunaan lain, dengan padamnya empat batang lilin sekarang suasana dalam
ruangan tersebut otomatis berubah menjadi remang-remang dan tidak begitu jelas
lagi.
Terdengar orang yang berada dalam patung dewa sebelah tengah itu berkata lagi
dengan suara dingin dan serius.
"Untuk setiap orang yang berani memasuki ruang Seng-thong kami, hanya ada dua
akibat yang bisa dipilih... "
"Jalan pertama adalah bergabung dengan Sam Seng-bun, jalan kedua adalah jalan
kematian. Perkataan ini sudah kalian ulangi sampai beberapa kali" tukas Buyung
Im-seng.
349
"Bagus sekali, sekarang sudah sepantasnya jika kalian berempat memilih salah
satu jalan diantaranya."
"Seandainya di dalam Seng thong hanya berlaku dua jalan sekalipun kami segan
untuk memilih juga tak mungkin rasanya kaupun tak perlu terlampau tergesagesa..."
Sesudah berhenti sebentar, lanjutnya.
"Asal usulku tentunya sudah Seng-cu ketahui bukan"
"Kau menyebut diri sebagai Buyung kongcu, tentu saja kau merupakan putra
tunggal Buyung Tiang-kim."
Buyung Im-seng segera tertawa.
"Penggunaan kata "menyebut diri" dari Seng-cu barusan tepat sekali, tapi sebelum
membuktikan asli atau gadungannya diriku, terpaksa aku persilahkan kepada
Seng-cu untuk menganggap begitu kepada."
"Ehmmm ! Asli atau palsu yang ada di dalam dunia ini memang sulit untuk
diketahui dengan pasti, entah asal usulmu itu benar atau tidak, yang pasti kau
berbeda sekali dengan kebanyakan orang."
"Jikalau Seng-cu telah memastikan asal usulku yang sebenarnya, lantas tahukah
kau akan maksud kedatanganku kemari ?"
"Mengingat kalian mempunyai keberanian yang luar biasa untuk memasuki Sengthong
ku ini, aku akan melanggar kebiasaan dengan berbicara beberapa patah kata
lagi dengan kalian."
Setelah berhenti sejenak, lanjutnya.
"Apa maksud kedatangan kalian ?"
"Aku ingin membuktikan suatu persoalan."
"Kalau dilihat dari tekadmu untuk menyerempet bahaya, sudah pasti persoalan
tersebut merupakan persoalan besar."
"Bagi penglihatanku, persoalan ini tentu saja merupakan suatu masalah yang
sangat besar, tapi belum tentu orang lain berpendapat demikian."
Setelah menghembuskan napas panjang, dia melanjutkan.
"Aku ingin membuktikan sebab kematian dari mendiang ayahku."
Tiba-tiba patung dewa yang ada ditengah itu tertawa seram.
"Heeehhh... heehhh... heeehhh... kejadian ini sudah berlangsung hampir dua puluh
tahun lamanya. kebanyakan umat persilatan pun sudah banyak yang melupakan
peristiwa tersebut."
"Tapi aku tak dapat melupakannya", kata Buyung Im-seng.
"Kalau kulihat dari kehadiranmu dalam Seng-thong kami, tampaknya engkau
sudah timbul kecurigaanmu atas perguruan Sam Seng-thong kami."
Mendengar ucapan itu, diam-diam Buyung Im-seng lantas berpikir dalam hatinya.
350
"Andaikata tidak kugunakan taktik untuk memanasi hatinya, niscaya dia enggan
berbicara."
Maka sahutnya kemudian dengan cepat.
"Benar. Aku telah berhasil mengetahui bahwa Im Sang-Siang-tou (sepasang jagoan
Im dan yang) yang melindungi mendiang ayahku adalah anggota perguruan kalian,
pengaruh yang paling besar dalam dunia persilatan ini sehingga mendesak anak
murid sembilan partai besar untuk mengasingkan diri juga berasal dari perguruan
anda. Maka atas dasar berbagai gejala dan pertanda yang berhasil dikumpulkan,
dapat kutarik kesimpulan kalau partai kalian tak dapat melepaskan diri dari
kaitan masalah ini. Itulah sebabnya dengan menyerempet bahaya aku datang
kemari untuk menjumpai Seng-cu, aku harap Seng-cu bisa memberikan sepatah
kata kesaksian."
"Hanya mencari sepatah kata kesaksian belaka ?" tanya patung dewa yang ada di
bagian tengah itu.
"Ditinjau dari keadaan situasi yang terbentang di dalam mata sekarang,
tampaknya hanya itu saja yang bisa kulakukan, sebab walaupun mendiang ayahku
meninggalkan menjelang kematiannya, hal inipun akan terhapus oleh waktu yang
telah berjalan selama dua puluh tahunan serta pertarungan yang berlangsung
ketika itu."
"Jadi kau bermaksud untuk mendengarkan ucapanku untuk menentukan latar
belakang kematian ayahmu ?"
Buyung Im-seng mendongakkan kepala memandang sekejap patung dewa yang
tinggi besar itu kemudian sahutnya dengan wajah serius.
"Benar, tapi aku percaya dengan dasar kedudukanmu di dalam dunia persilatan,
tak mungkin kau akan berbohong."
Untuk sesaat lamanya suasana menjadi hening, tak kedengaran sedikit suarapun.
Kemudian terdengar patung dewa yang ada ditengah itu berkata lagi dengan suara
penuh kewibawaan.
"Apa lagi yang hendak kau ucapkan ?"
"Apa yang hendak kukatakan, ialah ku utarakan semua."
"Apa yang kau katakan, telah kudengar semua. Sekarang, kalian boleh segera
menentukan jaman manakah yang hendak kalian tempuh. Kini, perguruan kami
sedang membutuhkan orang, itulah sebabnya kami bersedia untuk bersikap lebih
lembut terhadap kamu semua, bila kalian bersedia menggabungkan diri dengan
Sam Seng-bun, semua kejadian yang telah lewat tak akan kami persoalkan lagi."
Buyung Im-seng menjadi tertegun, tegurnya dengan cepat,
"Kau belum menjawab pertanyaan yang kuajukan."
"Aku rasa, hal tersebut tak perlu dijawab lagi."
"Kenapa ?"
Sebab bila kalian memilih untuk menggabungkan diri dengan perguruan kami,
berarti kalian tak usah mempersoalkan semua budi dan dendam yang berlaku
351
dalam dunia persilatan lagi, sebaliknya jika kalian enggan masuk menjadi anggota
Sam Siang-bun, berarti jiwa kalian akan melayang di tempat ini, sekalipun sudah
tahu sama sekali tak ada gunanya."
Nyoo Hong leng yang selama ini tidak bersuara tiba-tiba menyela dari samping.
"Darimana kau bisa tahu kalau kami pasti akan mampus ditempat ini...... ?"
"Sebab selama banyak tahun, belum pernah terjadi pengetahuan dalam kejadian ini
setiap orang yang telah masuk ke dalam Seng Thong, jika tidak masuk menjadi
anggota perguruan kami, dia akan tewas ditempat ini juga..."
Nyoo Hong leng segera mengalihkan sorot matanya dan memperhatikan sekejap
sekeliling tempat itu, lalu memperhatikan pula dimana mereka sekarang, setelah
itu bisiknya lirih.
"Sekarang kita sudah dihadapkan pada ancaman maut yang setiap saat akan
menimpa diri kita, berhati-hatilah menghadap setiap perubahan alat rahasia yang
mungkin terpasang di sini, bila perlu gunakan senjata rahasia untuk melancarkan
sergapan."
Baru selesai ucapan itu diutarakan, mendadak ke empat batang lilin yang
menerangi ruangan gedung itupun menjadi padam secara tiba-tiba, seketika itu
juga suasana didalam ruangan tersebut berubah menjadi gelap gulita.
"Dekati meja pemujaan !" bisik Nyoo Hong leng lirih.
Begitu selesai berkata, dia lantas beranjak lebih dulu dari tempat tersebut.....
Buyung Im-seng, Kwik Soat-kun dan Siau-tin sekalian segera menghimpun tenaga
dalamnya bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan
kemudian menuruti pesan dari Nyoo Hong leng pelan-pelan mereka bergeser
mendekati meja pemujaan.
Buyung Im-seng segera menggerakkan tangan kirinya untuk memegang sudut meja
pemujaan tersebut kemudian sahutnya dingin.
"Kami telah memilih yang akan kutempuh."
"Kalian hendak bergabung dengan perkumpulan kami untuk mencari kehidupan,
ataukah menampik masuk ke dalam perkumpulan kami untuk mencari kematian..."
"Keputusan telah kami ambil, namun masih ada satu hal yang belum berkenaan
dengan hati kami, maka seandainya kau bersedia memenuhi keinginan kami ini
aku akan segera menyampaikan jalan pilihanku itu."
"Apakah mengenai mati hidupnya Buyung Tiang-kim ?"
"Benar, aku harap kau bersedia menerangkan sejelasnya kepada kami, sehingga
tidak menyia-nyiakan perjalanan kami kali ini."
Patung dewa yang berada di tengah itu tidak berbicara lagi, tiba-tiba saja suasana
dalam ruangan itu berubah menjadi hening, sepi dan tak kedengaran sedikit
suarapun, sedemikian heningnya sehingga jatuhnya jarumpun dapat terdengar
jelas.
352
Buyung Im seng mencoba untuk menahan diri, tapi toh akhirnya habis juga
kesabarannya sehingga akhirnya dia membentak keras.
"Hei, mengapa kau membungkam diri dalam seribu bahasa ?"
Bentakan itu dilakukan berulang kali, namun tidak terdengar suara jawabannya.
Dengan suara rendah Nyoo Hong leng berbisik..
"Tak perlu kau berteriak lagi, orang itu sudah meninggalkan patung dewa tersebut,
sudah pasti di sana terdapat sebuah jalan rahasia yang menghubungkan ke tempat
lain."
"Sekarang, apa yang hendak kita lakukan ?"
"Sekarang kita tak boleh salah bertindak lagi, makin tenang semakin baik. Sebelum
mengambil tindakan harus dipikirkan dahulu masak-masak" kata Kwik Soat kun
pula,
"Aku lihat ruangan ini sangat rapat tanpa ada angin yang berhembus lewat.
Bagaimanapun juga, harus diusahakan agar kita bisa keluar secepatnya dari sini,
tak boleh bertahan ditempat ini terlalu lama.
Pelan-pelan Kwik Soat kun berjalan mendekat, kemudian bisiknya dengan suara
lirih.
"Walaupun Seng-cu tersebut sudah pergi, tapi aku yakin dia pasti menitahkan
mata-matanya untuk mengamati gerak gerik kita dalam ruangan gedung ini."
"Benar" Nyoo Hong leng mengangguk, "Ketiga buah patung dewa yang tinggi besar
ini pasti melambangkan ketiga orang Seng-cu tapi dua baris patung dewa yang
berada disamping ruangan gedung, amat mencurigakan sekali."
"Saat ini suasana di ruangan ini gelap gulita, kita tak dapat memandang mereka,
mereka pun tak dapat melihat kita dengan jelas, dalam keadaan seperti ini, beradu
kecerdasan akan lebih unggul daripada beradu kekuatan, kita harus
mengusahakan suatu taktik suara di timur menyerang ke arah barat, agar mereka
tak dapat menduga dimanakah kita berada sekarang !"
"Pendapat dari enci Kwik memang sangat hebat, cuma Siau-moay rasa di dalam
ruang Seng-thong ini pasti banyak terdapat jebakan-jebakan yang hebat,
bagaimana juga kita harus bersiap sedia untuk menghadapi segala kemungkinan
yang tak diinginkan."
"Kalau kudengar pembicaraan nona ini tampaknya kau telah mempunyai sesuatu
rencana yang matang ?"
"Rencana matang sih tidak. Cuma Siau-moay berhasrat untuk mencoba-coba
kelihaian dari jebakan yang mereka atur dalam gedung ini." kata Nyoo Hong leng.
"Bagaimana caranya untuk mencoba ?" tanya Buyung Im-seng.
"Tentu saja mengelilinginya sambil melakukan pemeriksaan !"
"Seandainya di dalam ruangan gedung ini benar-benar terdapat jebakan, jika kau
sampai menginjak jebakan mereka, bukankah hal ini akan berbahaya sekali?" kata
Buyung Im seng dengan cemas.
353
Nyoo Hong leng merasakan hatinya menjadi hangat dan mesra ketika dilihatnya
anak muda itu demikian menaruh perhatian kepadanya.
"Aaahhh... tak menjadi soal, justru yang kukuatirkan adalah kalian." demikian dia
berseru.
Dengan pelan dia menggerakkan tangannya untuk menggenggam pergelangan
tangan kanan Buyung Im-seng, kemudian lanjutnya.
"Walaupun dalam ruangan ini benar-benar terdapat alat yang baik jebakan, selalu
nanti alat jebakan tersebut bisa melukai aku. Tadi kau telah menyerempet bahaya
dan menembusi barisan Thi jin tin, sekarang sudah sewajarnya kalau tiba pada
giliranku."
Buyung Im-seng menghela napas panjang katanya.
"Aku datang untuk membalas dendam bagi kematian ayahku, sekalipun harus mati
juga takkan menyesal, sebaliknya kau..."
Nyoo Hong leng menggenggam tangan Buyung Im-seng semakin erat, tukasnya
cepat.
"Jangan begitu, aku mengikutimu sampai di sini karena aku merasa sangat kuatir
dengan keselamatan jiwamu, seandainya kau sampai ketimpa sesuatu musibah,
apakah aku dapat hidup seorang diri di dunia ini ? Aaai... ! Hingga sekarang,
apakah kau masih belum memahami suara hatiku... ?"
Dalam keadaan kritis dan penuh dengan ancaman bahaya maut ini dengan nyata
cinta kasih mereka terutarakan keluar sehingga tanpa terasa kedua orang itu
saling mengungkapkan suara hati masing-masing.
"Aku mengerti kalau kau sangat baik kepadaku." kata Buyung Im-seng. "Selama
hidup, aku benar-benar tak tahu bagaimana caranya untuk membalas budi
kebaikanmu itu."
Nyoo Hong leng tertawa manis. Dia lantas menyandarkan tubuhnya ke dalam
pelukan Buyung Im-seng, setelah itu katanya.
"Asal kau bersikap baik kepadaku dimasa mendatang, itulah pembalasan yang
paling baik untukku."
Walaupun suara pembicaraan dari kedua orang itu diutarakan dengan suara yang
lirih, akan tetapi Kwik Soat kun yang berada begitu dekat dengan mereka dapat
mendengar dengan jelas, tiba-tiba timbul perasaan sedih dihatinya.
Sambil tertawa dingin katanya kemudian.
"Oooohhh... kongcuku dan siocia-ku di dalam situasi dan keadaan yang seperti ini,
dikala musuh tangguh berada di depan mata, masa kalian masih ada kegembiraan
untuk berpacaran..."
Nyoo Hong leng segera menggerakkan tubuhnya dan melepaskan diri dari pelukan
si anak muda itu. Dia merasa pipinya menjadi panas dan merah membara, untung
saja suasana dalam ruangan itu gelap gulita sehingga orang lain tak sampai
melihat rasa jengah yang menyelimuti dirinya itu.
354
Buyung Im-seng mendehem pelan, lalu katanya.
"Kalau hanya kami berdua yang menyerempet bahaya, hal ini masih mendingan.
Tapi jika nona Kwik dan nona Siau tin sampai harus menemani kami untuk mati
disini.... "
"Sekarang keadaan sudah terlambat" tukas Kwik Soat kun. "kini kita sudah masuk
ke dalam ruangan seng thong. Sekalipun kita ingin mengundurkan diri sekarang
juga tidak keburu lagi..."
"Masih keburu" tiba-tiba terdengar seseorang menanggapi dengan suara yang amat
dingin. "Asal kalian berdua bersedia untuk menggabungkan diri dengan perguruan
Sam-seng-bun kami, kematian sudah pasti dapat dihindari... "
Nyoo Hong leng segera berbisik lirih.
"Harap nona Kwik mengambil keputusan sendiri, hidup sebagai manusia hanya
akan mati sekali, masalah yang demikian besarnya ini tak mungkin bisa kami
berdua yang menentukan, maka harap kau mengambil keputusan sendiri sesuai
dengan selera hatimu."
"Kalau begitu, kita gunakan saja taktik melawan taktik" bisik Kwik Soat kun,
"Setelah itu kita mencoba untuk melakukan penelitian yang sekarang, coba dilihat
apakah masih ada kesempatan baik yang bisa kita manfaatkan !"
Tidak menunggu jawaban dari kedua orang itu lagi, tiba-tiba dia memperkeras
suaranya seraya berseru.
"Buyung kongcu adalah seorang enghiong hohan, seorang lelaki sejati, mustahil dia
sudi menggabungkan diri dengan perguruanmu, sedangkan kami berdua hanya
kaum perempuan yang lemah, tentu saja keadaannya jauh berbeda sekali..."
Dia berharap orang itu mau menjawab lagi sehingga dengan kemampuan yang
dimiliki Buyung Im seng dan Nyoo Hong leng, tempat persembunyian orang itu
sudah segera ditemukan.
oooOooo
Bagian ke dua puluh enam
Siapa tahu agaknya pihak lawan tahu akan kekhilafannya, dengan cepat dia
membungkam dalam seribu bahasa.
Kwik Soat kun segera menghela napas panjang sambil dia berkata. "Andaikata
kami bersedia untuk menggabungkan diri ke dalam perguruan Sam seng bun, entah
apa jabatan yang hendak kami peroleh dan pelayanan apakah yang bakal kami
alami?"
oooOooo
Menghadapi pertanyaan semacam ini, mau tak mau terpaksa orang itu harus
menjawab. "Asal kalian berdua mau menggabungkan diri dengan perguruan kami,
maka akan memperoleh pelayanan istimewa, jabatan sekarang adalah pelindung
hukum yang bisa meningkat ke jabatan lebih tinggi lagi, jika membuat pahala di
kemudian hari. Ketahuilah, kedudukan hu-hoat adalah suatu jabatan yang amat
tinggi, kalian tak usah mencampuri urusan apa-apa dan boleh hidup bersenang355
senang, tapi juga bisa memegang suatu tampuk pimpinan yang cukup tinggi dalam
perguruan."
"Entah persyaratan apa yang harus kita penuhi?"
Nyoo Hong leng yang memasang telinga baik-baik dapat mendengar bahwa
seseorang yang semula berada di tenggara tiba-tiba berubah menjadi barat laut,
melihat itu dia lantas berpikir. "Sekalipun dia berada di sebuah lorong sempit
dalam dinding, tak mungkin perjalanan bisa dilakukan secepat ini untuk berpindah
tempat, selagi langkah mereka sama sekali tidak menimbulkan suara apa-apa,
tampaknya ada dua orang yang berada di tempat yang menanggapi pertanyaan itu."
Terdengar suara yang dingin dan hambar itu kembali berkumandang datang.
"Gampang sekali caranya, kalian berdua cukup bersumpah setia kepada Sam Seng
(tiga malaikat) dan meneguk air suci, setelah itu kalian sudah dianggap sebagai
anggota perguruan kami.:
"Kalau begitu kunci dari persoalan ini terletak pada secawan air suci tersebut..."
pikir Buyung Im seng kemudian.
Diam-diam Kwik Soat kun juga berkerut kening, kepada Nyoo Hong leng bisiknya.
"Suara itu berasal dari dua orang yang berbeda namun memiliki suara yang hampir
sama bila tidak diperhatikan secara khusus, sukar rasanya untuk membedakan hal
itu."
"Ehmmm...hanya permainan setan belaka" sahut Nyoo Hong leng dengan suara
yang rendah pula.
Sesaat kemudian Kwik Soat kun berseru kembali dengan suara yang keras dan
lantang. "Apakah di dalam air suci tersebut beracun?"
Dengan dingin orang itu menyahut. "Setelah masuk menjadi anggota perkumpulan
kami berarti seluruh tubuhmu telah dipersembahkan untuk tiga malaikat, apakah
di dalam air suci ada racunnya atau tidak, buat apa musti kau persoalkan."
Dengan ilmu menyampaikan suara, Kwik Soat kun segera berbisik. "Untuk
menghadapi musuh, semakin licik suatu siasat yang dipergunakan semakin baik,
sekarang kita lagi beradu kecerdasan, rasanya tak perlu lagi buat kita untuk
mengutamakan soal kebenaran dan kejujuran."
"Silahkan enci lakukan saja menurut kehendakmu" ujar Nyoo Hong leng dengan
mempergunakan ilmu menyampaikan suara pula.
"Baik, akan ku usahakan untuk memancing kemunculan mereka..."
Setelah berhenti sejenak, dengan memperlantang suaranya dia berseru kembali.
"Walaupun pendapat kami berempat saling berbeda antara satu dengan yang
lainnya, namun sudah ada suatu kesepakatan diantara kami. Diantara kami
berempat terdapat dua macam keputusan yang saling berbeda, aku dan seorang
anggota perkumpulan kami, nona Siau tin, mengetahui bahwa setelah masuk ke
dalam ruang Seng thong, berarti tipis harapan kami untuk keluar dengan selamat,
sebaliknya Buyung kongcu dan seorang rekan yang lain tak sudi menyerahkan diri
dengan begitu saja."
356
"Bagaimana dengan kalian berdua?" tanya suara dingin itu.
"Kami telah bertekad untuk menggabungkan diri dengan perguruan Sam seng bun."
"Bagus sekali!" seru suara dingin itu, "kalau memang kalian berdua telah bertekad,
untuk menggabungkan diri dengan Sam seng bun, mulai sekarang harus menuruti
perkataanku."
"Apakah kedudukanmu dalam perguruan tiga malaikat ini?" tanya Kwik Soat kun
tiba-tiba.
"Aku adalah pelindung dari Seng tho ini."
"Apakah kau tidak bernama?"
"Nama nona dan asal-usulmu belum kau laporkan!"
"Aku adalah wakil ketua perkumpulan Li ji pang Kwik Soat kun, sudah kau dengar
jelas! Apakah perlu untuk melaporkan berapa usiaku tahun ini......?"
Orang itu segera tertawa terbahak-bahak. "Haaah... haaahhh... haaahhh... cukup,
sudah cukup. Aku mah Cap ji hui huan (Dua belas gelang terbang) Lian Giok seng."
Kwik Soat kun agak tertegun. "Dua belas gelang terbang....?"
"Benar, apakah nona pernah mendengar orang membicarakan tentang namaku
ini?"
Tapi ketika berbicara sampai di tengah jalan tiba-tiba suaranya berhenti... Dengan
suara lirih Kwik Soat kun lantas berbisik kepada Nyoo Hong leng. "Nona Nyoo,
ilmu silat yang dimiliki dua belas gelang terbang ini luar biasa sekali, seandainya
sampai terjadi pertarungan nanti, harap kau suka berhati-hati."
"Kau kenal dengan orang itu?"
"Tidak kenal, tapi aku pernah mendengar nama besarnya, dua belas gelang terbang
merupakan suatu kepandaian maha sakti, sungguh tak kusangka kalau dia telah
menggabungkan diri dengan pihak Sam seng bun sebagai seorang pelindung
hukum."
"Kraaak... kraaak..." tiba-tiba terdengar seperti ada suatu benda berat yang
bergerak, menyusul kemudian muncul sebercak cahaya api. Buyung Im seng dan
Kwik Soat kun sekalian segera berpaling, tampak seorang sastrawan setengah
umur yang berbaju biru berdiri pada kurang lebih satu kaki di hadapan mereka, di
tangan kirinya memegang sebuah kipas besar, sedang pada punggungnya tersoren
sebilah pedang. Tampak dia berwajah persegi dengan jenggot yang panjang, alis
matanya tajam dengan sorot mata yang berkilat, gagah dan perkasa sehingga
menimbulkan kesan baik bagi siapapun yang melihatnya.
Buyung Im seng segera menjura, kemudian ujarnya, "Sudah lama aku mendengar
nama besar Cap ji hui huan Lian Giok seng, selamat bersua."
Lian Giok seng tertawa hambar. "Kaukah yang bernama Buyung Im kongcu?"
tegurnya.
"Yaa, betul, akulah Buyung Im seng."
357
"Seandainya daya ingatanku tak salah, sewaktu aku masih melakukan perjalanan
dalam dunia persilatan dulu, kau masih belum dilahirkan dalam dunia ini.:
"Nama besar locianpwe sudah lama termasyhur dalam dunia persilatan, setiap
orang mengenalimu, walaupun boanpwe belum sempat bersua muka, namun sudah
lama mendengar akan nama besarmu."
Sambil tertawa Lian Giok seng segera manggut-manggut. "Oooh... kiranya begitu"
katanya.
Setelah berhenti sejenak, mendadak suaranya berubah menjadi dingin sekali,
tuturnya, "Semasa ayahmu masih hidup dulu, ia mempunyai hubungan
persahabatan yang baik cukup akrab denganku, maka memandang di atas wajah
sahabatku yang telah tiada, lohu bersedia untuk melanggar kebiasaan satu kali."
"Tiada seorang manusiapun yang dapat meninggalkan tempat ini, kecuali kalau dia
menggabungkan diri dengan perguruan Sam-seng-bun kami! Tapi bagimu, lohu
bersedia untuk memberikan kematian yang utuh bagimu."
Buyung Im seng segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
"Haaahh... haaahhh... betul-betul suatu nasehat yang amat berguna, rupanya kau
hendak memaksaku untuk melakukan bunuh diri..."
Lian Giok seng mendengus dingin. "Hmmm...! Bantuan yang dapat lohu berikan
kepadamu hanya terbatas sampai di sini saja, itupun sudah merupakan
kemampuan lohu semaksimal mungkin.
Tiba-tiba Nyoo Hong leng menyela. "Semut saja masih ingin hidup, apalagi
manusia, bila Buyung kongcu berniat untuk mati dia tak ambil perduli apakah
mayat yang utuh atau mayat yang hancur berantakan."
Dalam pada itu obor yang dibawa Lian Giok seng sudah habis, cahaya api segera
menjadi padam kembali. Terdengar Lian Giok seng berseru dengan suara lantang.
"Pasang empat buah lilin!"
Cahaya api segera berkilauan di angkasa dalam sekejap mata, seluruh ruangan
telah terang-benderang bermandikan cahaya lampu empat buah lilin raksasa telah
disulut.
"Nona, apa hubunganmu dengan Buyung kongcu?" tiba-tiba Lian Giok seng
bertanya lagi.
"Aku rasa hal ini tak ada hubungannya dengan dirimu, bukan? sahut Nyoo Hong
leng cepat.
"Baik! Kalau begitu nona sudah ditetapkan untuk mampus, bagaimana dengan
Buyung kongcu? Harap kau juga memberi keterangan sendiri kepada diriku....."
Buyung Im seng mendehem pelan, lalu katanya. "Locianpwe, maksud baikmu biar
kuterima dalam hati saja, boanpwe masih belum ingin mati dengan begini saja."
Lian Giok seng manggut-manggut, katanya, "Jadi kau ingin agar aku bisa
memenuhi keinginanmu itu? Aku tak ingin menyerahkan diri dengan begitu saja."
"Oooh.... jadi kau hendak melawan?"
358
Tiba-tiba Nyoo Hong leng menukas sambil tertawa dingin. "Sungguh besar amat
dari locianpwe itu sekarang, pertarungan saja belum dimulai, siapa menang siapa
kalah masih merupakan tanda tanya besar." Mencorong sinar tajam dari balik mata
Lian Giok seng, ditatapnya wajah Nyoo Hong leng lekat-lekat, kemudian serunya,
"Nona dapatkah kau menyebutkan siapa namamu?"
"Boleh saja cuma akupun ingin bertukar dengan sebuah syarat yang lain..."
"Oooh, ..... syaratnya apakah itu?"
"Kau kenal dengan Buyung Tiang kim, lagi pula mempunyai persahabatan yang
akrab, itu berarti kau pasti mengetahui sebab-sebab kematiannya, dapatkah kau
memberi keterangan kepada kami? Tentu saja aku akan menyebutkan pula nama
serta asal-usulku." Lian Giok seng segera tertawa dingin, ejeknya. "Nona,
perhitungan sie-poamu benar-benar luar biasa sekali.
"Aku rasa hal ini sangat adil, entah dimanakah letak ketidakberesan tersebut?"
Lian Giok-seng tertawa hambar.
"Kau bernyali besar, juga berani bersikap begitu kurang ajar terhadap diri lohu"
Sebentar lagi kemungkinan besar kita dapat melangsungkan suatu pertarungan"
kata Nyoo Hong-leng sambil tertawa.
"Oh, jadi kau hendak bertarung melawanku."
Didengar dari ucapan tersebut, tampaknya dia merasa terkejut bercampur
keheranan.
"Ada apa?" jengek Nyoo Hong-leng. "apakah kau anggap aku kurang pantas untuk
mengirimu melakukan suatu pertarungan?"
Lian Giok-seng mengawasi Nyoo Hong-leng sekejap dengan pandangan yang teliti,
kemudian seperti menyadari akan sesuatu, katanya.
"Tampaknya kaulah pimpinan dari rombongan ini?"
"Keliru besar. Buyung kongculah baru merupakan pimpinan kami!"
"Aaaah...!" Lian Giok-seng berseru tertahan, dia segera mengalihkan sorot matanya
ke wajah Buyung Im-seng, setelah itu katanya lebih jauh.
"Tampaknya sebelum melihat sungai Huang-hoo, kau belum akan merasa puas..."
Buyung Im-seng juga tidak segera menjawab, pikirnya.
"Semula aku menyangka, asal bisa masuk ke dalam lembah tiga malaikat maka
dengan cepat aku dapat mengetahui sebab musabab kematian dari ayah ibuku,
sungguh tak disangka kalau aku malah terpancing masuk kedalam Seng-hong ini,
tampaknya kecuali mereka kau menerangkan sebab-sebabnya kematian dari orang
tuaku, tiada cara lain lagi yang bisa kupergunakan lagi!
Berpikir sampai di situ, dia lantas tertawa hambar seraya berkata. "Lian locianpwe,
apakah aku sama sekali tiada harapan untuk melanjutkan hidup lagi?"
"Masih ada! Yaitu kau masuk menjadi anggota perguruan Sam seng bun."
"Kecuali itu?"
359
"Kecuali itu, hanya kematian saja yang segera kau jumpai""
"Tapi aku enggan bunuh diri."
"Ada orang yang bakal datang untuk membunuhmu."
"Jika kami lakukan perlawanan dengan sekuat tenaga?"
"Kalian pasti kalah, sama sekali tiada harapan untuk meraih kemenangan....!"
Buyung Im seng tertawa hambar, kembali katanya, "Kalau begitu, kamu sudah
ditakdirkan untuk mati di tempat ini?"
"Benar! Itulah sebabnya kuanjurkan kepadamu, lebih baik bunuh diri saja, dengan
begitu kau bisa mati dengan badan utuh."
"Kalau toh kau sudah memiliki keyakinan untuk membinasakan diriku, kenapa
tidak berani mengutarakan latar belakang kematian ayah ibuku serta siapa
gerangan pembunuhnya?"
"Kalau toh kau bakal mampus, mengapa harus mengetahui pula akan persoalan
ini?"
"Boanpwe baru akan mati dengan mata meram jika hal tersebut telah boanpwe
ketahui."
"Apalagi belum tentu kami akan mati." sambung Nyoo Hong leng.
Mendadak Lian Giok seng seperti teringat akan sesuatu persoalan, dia lantas
bertanya. "Siapa namamu?"
"Aku bernama Buyung Im-seng!"
"Seng dari tulisan mana?"
"Apa bedanya dengan huruf tersebut?" seru Buyung Im seng keheranan.
"Apakah huruf Seng tersebut berasal dari tulisan Tiok (bambu) ditambah dengan
huruf Seng (kehidupan) di bawahnya?"
"Betul!"
Lian Giok seng lantas bergumam seorang diri. "Itu berarti tulisan Seng yang kau
gunakan sama dengan huruf Seng yang kupakai sebagai namaku."
"Memangnya kau boleh menggunakan huruf "Seng" tersebut untuk namamu, orang
lain tak boleh menggunakannya pula?"
"Lohu benar2 merasa keheranan, apa sebabnya Buyung Tiang-kim memberi nama
Im seng kepadamu."
"Apa pula anehnya dengan persoalan ini?" pikir Buyung Im seng di dalam hatinya,
"sekalipun diantara nama kami terdapat sebuah huruf yang sama, toh hal itu
bukanlah suatu kejadian yang sangat aneh."
Berpikir sampai di situ, dia lantas berkata. "Locianpwe, kalau benar kau kenal
dengan ayahku dan lagi mempunyai hubungan yang sangat akrab, tentunya
kaupun harus menaruh perhatian khusus atas niat boanpwe yang ingin mengetahui
sebab-sebab kematian ayahku, entah akhirnya boanpwe dapat meninggalkan
360
ruangan Seng thong ini dengan selamat atau tidak, yang pasti boanpwe sangat
ingin mengetahui akan duduk persoalan yang sebenarnya, asal rahasia tersebut
telah kuketahui, sekalipun harus mati juga aku bisa mati dengan mata meram."
Lian Giok seng menghela napas panjang, katanya kemudian. "Aaai, ... apakah kau
inginkan agar lohu menerangkan dulu latar belakang dari kematian ayahmu,
kemudian baru berusaha untuk membinasakan dirimu?"
"Andaikata locianpwe bersikeras ingin membunuh boanpwe, hal mana memang ada
hubungannya dengan tugas yang sedang dilakukan locianpwe jadi boanpwe sama
sekali tidak berniat untuk membencimu, tetapi bila locianpwe enggan menerangkan
sebab2 kematian ayahku, boanpwe pasti akan merasa amat tak tenang."
Lian Giok seng termenung beberapa saat lamanya, mendadak ia mendongakkan
kepalanya dan memandang sekejap ke arah tiga buah patung dewa yang berada di
tengah ruangan itu, kemudian bisiknya, "Nak, kau tak akan menjumpai
kesempatan untuk meninggalkan tempat ini, lebih baik luluskan saja permintaan
mereka untuk bergabung dengan perguruan Sam seng bun!"
"Locianpwe tidak menjawab pertanyaan yang boanpwe ajukan, tampaknya kau
memang enggan untuk menuturkan hal itu."
Nyoo Hong leng yang berada di sampingnya segera maju ke depan dan menghadang
di hadapan Buyung Im seng, kemudian lanjutnya, "Dia tampak ragu-ragu untuk
berbicara terus terang, itu berarti ada suatu kesulitan yang terpendam di dalam
hatinya, siapa tahu kalau dia adalah salah seorang pembunuh yang turut
mencelakai ayahmu di masa lalu."
Melotot besar sepasang mata Lian Giok seng, sambil memancarkan sinar mata yang
tajam bagaikan sembilu, dia awasi Nyoo Hong leng sekejap, kemudian katanya.
"Tampaknya kau ingin sekali bertarung melawan lohu?"
"Yaaa, karena aku tak rela kau bunuh begitu saja, jadi cepat atau lambat suatu
pertarungan tidak dapat dihindari lagi."
"Baiklah! Kalau begitu, biar memenuhi harapan hatimu itu .....!"
"Seandainya kau tidak beruntung dan kalah, maka kau harus menerangkan latar
belakang dari kematian Buyung Tiang-kim."
"Baik, seandainya kau benar-benar bisa memenangkan lohu, maka kedudukanku
sebagai seorang pelindung hukumpun takkan bisa dipertahankan lagi."
Nyoo Hong leng segera maju ke depan, siap untuk turun tangan, tapi Kwik Soat
kun segera membentak keras. "Tunggu sebentar!"
"Ada apa?"
"Ada sementara orang yang berjiwa besar dan berpandangan luas, mereka
menganggap kematian bagaikan pulang ke rumah, tapi ada pula sementara orang
yang takut mati dan tak ingin menyerempet bahaya, jika kau termasuk golongan
pertama, maka aku dan Siau tin termasuk golongan kedua..."
Sorot matanya segera dialihkan ke wajah Lian Giok seng, kemudian melanjutkan.
"Kami telah bertekad untuk menggabungkan diri dengan perguruan Sam seng bun"
"Bagus sekali."
361
"Cuma, kami tak ingin menyaksikan kalian membunuhnya, sebab bagaimanapun
juga mereka adalah temanku, aku tak bisa menyaksikan mereka kalah dan mati
terbunuh tanpa memberi bantuan...."
"Lalu, menurut nona Kwik....?"
"Menurut aku sih gampang sekali, aku hendak masuk dulu menjadi anggota Sam
seng bun, kemudian kalian turun tangan."
"Soal keselamatan nona tak perlu dikuatirkan lagi, aku percaya kejadian ini takkan
sampai menyeret kalian berdua."
"Tapi kamipun tak ingin menyaksikan rekan sendiri mati dalam keadaan
mengenaskan tanpa ditolong."
"Sekalipun menunggu beberapa saat lagi juga tak menjadi soal, kalau toh kalian
sudah bertekad untuk menggabungkan diri dengan Sam seng bun kami, maka
kalian harus pula mendengarkan perintahku ini."
"Sebelum menjadi anggota Sam seng bun, kedudukan kami memang masih sebagai
tamu, rasanya kami tak perlu menuruti perintah itu.
Lian Giok Seng jadi marah sekali, serunya dengan lantang. "Hanya berdasarkan
perkataanmu ini saja, kalian sudah seharusnya mendapat hukuman yang berat."
Mendadak Kwik Soat kun memperkeras suaranya sambil berseru. "Kau sebagai
pelindung hukum, berani menentang perintah dari Tiga malaikat?"
Mendengar teriakan itu, Lian Giok seng benar-benar merasa agak takut, dia
mendehem berulang kali, seraya serunya. "Soal apa?"
"Tiga malaikat telah menurunkan perintah untuk mempersilahkan kami masuk ke
dalam keanggotaan Sang seng bun, tapi kau selalu berusaha untuk mengulur
waktu dan menunda terus menerus, sebenarnya apa tujuanmu?"
"Bila kalian berniat memasuki perguruan Sam seng bun, aku akan menyambutnya
dengan senang hati, masa sengaja mengulur waktu untuk mempersulit kalian?
Cuma saja, aku hanya meminta kepada kalian agar menunggu sebentar saja,
menanti aku telah berhasil membereskan mereka, barulah melangsungkan upacara
untuk menyambut kalian memasuki perguruan."
"Tidak bisa, aku tidak bisa menunggu walaupun hanya sedetik lagi, pokoknya aku
minta diselenggarakan pada saat ini juga." kembali Kwik Soat kun berteriak
lantang.
Dalam keadaan apa boleh buat, terpaksa Lian Giok seng berpaling dan memandang
sekejap ke arah Buyung Im seng, kemudian katanya. "Apakah kalian bersedia
untuk menunggu sebentar lagi?"
"Setiap orang mempunyai tujuan berbeda-beda dan tidak bisa dipaksakan, selama
dalam menghadapi situasi kritis yang mempengaruhi hidup mati seseorang" kata
Buyung Im seng, "itulah sebabnya kalau mereka berdua menganggap kami pasti
kalah sehingga mengambil keputusan untuk menjadi anggota Sam seng bun,
mereka itu tak bisa disalahkan....."
362
Lian Giok seng segera berpaling ke arah Nyoo Hong leng, kemudian tanyanya.
"Apakah nona dapat menunggu?"
"Baiklah! Menunggu sampai mereka menjadi anggota Sam seng bun, kemudian
pertarungan baru dilangsungkan pun bukan terhitung sesuatu yang terlalu
lambat."
"Sayang sekali, kalian berdua enggan untuk bergabung pula dengan Sam seng bun
kami."
"Aku masih ingat kalau kau telah menyinggung persoalan tadi, tapi telah kami
tampik."
"Yaa, akan tetapi upacara dari perguruan kami masih merupakan suatu rahasia
besar, selain anggota perguruan, dilarang mengikutinya!"
"Kau toh tak akan membukakan pintu gerbang untuk melepaskan kami
meninggalkan tempat ini? Yaa, kau harus menyuruh kami untuk turut
mengikutinya." kata Nyoo Hong leng.
Lian Giok seng segera berkerut kening, lalu katanya. "Bagaimana kalau sepasang
mata kalian ditutup saja dengan kain berwarna hitam?" Kontan saja Nyoo Hong
leng tertawa dingin, katanya, "Jangan lupa, kami bukan anggota Sam seng bun,
lagi pula kamipun selama hidup tak akan masuk menjadi anggota Sam seng bun
kalian, andaikata aku suruh kau menampar pipi sendiri sebanyak sepuluh kali,
apakah kau pun bersedia untuk melakukannya?" Paras muka Giok seng segera
berubah sangat hebat, katanya dengan dingin, "Sebentar, aku pasti akan menghajar
mulutmu sampai rontok semua gigimu...." Nyoo Hong leng juga naik darah, segera
balasnya,
"Aku harap kalau ingin berbicara, sedikitlah tahu kenyataan, kalau tidak, akulah
yang akan merontokkan gigimu terlebih dulu."
"Heeehhh... heeehhh... heeehhh, baiklah" Lian Giok seng tertawa dingin, "Kau boleh
mempersiapkan diri lebih dahulu, sebentar bila pertarungan dilangsungkan, kita
buktikan siapa yang berhasil merontokkan gigi siapa!"
Diam2 Buyung Im seng merasa kuatir sekali setelah menyaksikan ke dua belah
pihak, sama-sama diliputi oleh hawa napsu membunuh, pikirnya dengan segera.
"Pertarungan yang bakal berlangsung nanti sudah pasti merupakan suatu
pertarungan yang amat sengit."
Dalam pada itu, Lian Giok seng telah berusaha keras untuk menekan kobaran
hawa amarah dalam dadanya, pelan-pelan dia mengalihkan sinar matanya ke
wajah Kwik Soat-kun dan Siau tin, setelah itu ujarnya. "Apakah kalian berdua
berkeras akan memasuki perguruan Sam seng bun pada saat itu juga?"
"Benar!" sahut Kwik Soat kun sambil tersenyum, "aku lihat pertarungan yang bakal
berkobar pada hari ini pasti amat seru dan berbahaya, untuk menghindarkan diri
dari segala kemungkinan yang tak diinginkan, aku pikir ada baiknya kalau cepatcepat
bergabung dengan Sam seng bun lebih dahulu."
Lian Giok seng segera mendengus dingin. "Hmmm...! Semoga saja ucapanmu itu
muncul dari sanubari yang jujur..."
"Aku memang berbicara sejujurnya."
363
Lian Giok seng tak bicara banyak lagi, dengan suara lantang dia lantas berseru.
"Upacara dimulai!"
"Traaaaang..!" bunyi lonceng menggema dalam ruangan, lalu enam pasang mata
besar dari tiga buah patung dewa yang tinggi besar di belakang meja persembahan
sana memancarkan cahaya tajam, enam buah cahaya yang kuat sekali. Dengan
suara dingin Lian Giok seng berseru. "Kini sinar sakti dari ke tiga malaikat telah
memancar ke seluruh penjuru ruangan, mengapa kalian berdua belum juga
menjatuhkan diri untuk berlutut.....?"
(Bersambung ke jilid 19)
364
Lembah Tiga Malaikat
Oleh: Tjan
Jilid 19
Kwik Soat kun berpaling dan memandang sekejap ke arah Lian Giok seng,
kemudian tanyanya dengan suara hambar.
"Apakah diharuskan untuk berlutut ?"
"Benar !"
"Baiklah, berlutut yaaa berlutut."
Pelan-pelan wakil ketua dari perkumpulan Li ji-pang ini menjatuhkan diri berlutut.
Ketika Siau-tin menyaksikan Kwik Soat kun telah berlutut, terpaksa diapun ikut
berlutut.
"Persembahkan air suci !" seru Lian Giok seng kemudian.
Terdengar bunyi gemerincingan nyaring, dari balik meja persembahan pelan-pelan
muncul sebuah kaki kayu, di atas kaki kayu itu terletak dua cawan air teh.
"Upacara untuk memasuki perguruan Sam seng bun sederhana sekali..." ucap Liau
Giok seng "asal kalian berdua menghabiskan kedua cawan air suci tersebut, berarti
kalian sudah merupakan anggota perguruan Sam seng bun kami."
Pelan-pelan Kwik Soat kun mengambil secawan air suci. Diperiksanya dengan
seksama, tampak air suci itu berwarna hijau tua, ketika didekatkan terasa ada
segulung bau harum tersiar keluar dari dalam cawan tersebut.
Terdengar Lian Giok seng berkata lagi.
"Air suci di dalam cawan itu merupakan hidangan yang paling lezat di dunia ini,
asal diteguk maka seluruh tubuh akan terasa menjadi segar dan nyaman."
365
"Obat yang baik getir rasanya" ucap Kwik Soat kun. "Kalau dilihat dari air suci
dalam baki yang begitu harum, aku rasa cairan tersebut sudah pasti bukan suatu
minuman yang segar."
Sembari berkata, dia meletakkan kembali cawan air teh itu ke atas tempat semula.
Menyaksikan keadaan tersebut, Lian Giok seng segera menegur dengan kening
berkerut. "Nona Kwik, apa maksudmu ?"
"Aku kuatir dalam air suci itu ada racunnya."
"Bukankah kalian berdua ingin memasuki perguruan Sam seng bun ? Minum air
suci merupakan syarat yang terutama."
"Seandainya dalam air itu ada racunnya sehingga kami mati keracunan, bagaimana
jadinya nanti ?"
"Anak murid Sam seng bun tak terhitung jumlahnya, setiap orang pernah minum
air suci ini, tapi mereka toh tetap hidup segar bugar."
"Perasaan berjaga-jaga tak boleh lenyap dari hati kami, seandainya kau bersedia
untuk meneguk air ini lebih dulu, akupun akan turut meneguknya secawan."
Lian Giok seng mengerutkan dahinya semakin rapat.
"Tampaknya kalian berdua memang berniat mempermainkan lohu... ?"
Sembari berkata, sorot matanya segera dialihkan ke arah enam buah sorot mata
yang terang dan kuat dari ketiga buah patung dewa yang tinggi besar itu.
Tampak baki kayu tersebut pelan-pelan ditarik kembali, sementara sorot mata yang
tajam itupun tiba-tiba lenyap tak berbekas.
Kwik Soat kun segera mengerti bahwa suatu perubahan telah terjadi. Diam-diam
dia menghimpun hawa murninya untuk bersiap siaga, kemudian sambil berpaling
katanya tertawa.
"Locianpwe apa gerangan yang telah terjadi ? Kenapa air suci ditarik kembali dan
cahaya api padam dengan sendirinya ? Bukankah hal ini berarti kalau kami tidak
diperkenankan masuk jadi anggota perguruan Sam seng bun... ?"
Sementara itu Lian Giok seng telah mengerti bahwa dipadamkannya mati saksi
dan ditariknya air suci itu berarti semua tanggung jawab ruang Seng thong
tersebut telah diserahkan kepadanya untuk diputuskan sendiri, atau dengan
perkataan lain, hak membunuh atas ke-empat orang itu sudah berada di tangannya
sekarang.
Hawa amarah yang semula menyelimuti kini sudah mereda, katanya sambil
tersenyum.
"Silahkan bangun nona, sandiwaramu sudah lebih dari cukup. Apabila dilanjutkan
lagi, nanti bisa hilang keistimewaannya !"
Kwik Soat kun segera melompat bangun, katanya.
"Kalau begitu, para anggota perguruan Sam seng bun selalu di bawah perintah tiga
malaikat dan tak berani melepaskan diri lagi secara sembarangan karena mereka
sudah dicekoki air suci tersebut."
366
"Ehmmm... bagaimana dengan kau sendiri ?" ejeknya. "Apakah lantaran kau sudah
dicekoki air suci tersebut, maka kau rela menjadi pelindung dalam ruang malaikat
ini ? Nama besar Cap-ji-hui-huan bukan diperoleh secara gampang, tak nyana kalau
begitu tak sayang untuk merusak kembali nama besarmu itu hanya dikarenakan
ingin mencuri hidup beberapa tahun lagi."
"Bagus sekali dampratanmu itu, sudah puluhan tahun belum pernah ada orang
yang memaki diriku dengan kata-kata seperti itu."
"Setiap orang boleh memaki manusia macam kau !"
"Benar, bila seseorang sudah tak takut mampus untuk memaki siapapun berani,
seperti juga keadaanmu sekarang."
"Cukup !" sela Nyoo Hong leng secara tiba-tiba. "Mungkin keadaan seperti ini sudah
tak bisa dibiarkan berlarut-larut lagi, harap kalian berdua suka mundur selangkah
ke belakang !"
Kwik Soat kun dan Siau tin menurut, mereka lantas mundur dua langkah dan
bersembunyi di belakang Nyoo Hong leng.
Dalam pada itu, tampaknya Lian Giok seng malah tidak terburu napsu untuk turun
tangan dengan segera, diamatinya wajah Nyoo Hong leng beberapa kejap,
kemudian katanya.
"Nona, tampaknya kau mengenakan topeng kulit manusia ?"
"Ehmmm... ! Aku rasa persoalan ini sama sekali tak ada hubungannya dengan
pertarungan kita bukan ?"
"Seandainya kau berhasil kulukai mati, lohu akan mencopot topeng kulit manusia
dari wajahnya itu."
Nyoo Hong leng segera mengerahkan tenaganya untuk menekan topeng itu ke atas
wajahnya, kemudian berkata.
"Apakah kau bersikeras ingin menyaksikan raut wajahku yang sebenarnya... ?"
"Sekalipun kau membunuh akupun, aku tetap akan mencopot topeng kulit manusia
tersebut. Kenapa kau tidak melepaskannya sendiri ?"
"Beritahu dulu kepadaku, siapa pembunuh Buyung tayhiap, maka akupun akan
melepaskan topeng kulit manusia ini."
"Apa hubunganmu dengan Buyung im-seng ?"
Mendadak Nyoo Hong leng melompat ke depan sambil melepaskan sebuah bacokan
kilat kemudian serunya.
"Sambut dulu sebuah pukulanku ini, coba lihat apakah aku berkemampuan untuk
menanyakan persoalan tersebut kepadamu."
Lian Giok seng segera mengayunkan pula tangan kanannya menyambut datangnya
ancaman tersebut.
Blaamm... ! Diiringi benturan yang sangat keras, tubuh Lian Giok seng tergetar
mundur sejauh satu langkah dari posisi semula.
367
Tapi seluruh tubuh Nyoo Hong leng pun turut terpental sejauh tujuh delapan depa
dari permukaan tanah.
Buyung Im-seng merasa terperanjat sekali ketika dilihatnya tubuh Nyoo Hong leng
mencelat setinggi tujuh delapan depa oleh pukulan Lian Giok seng, buru-buru
serunya.
"Nona Hong..."
Dengan cepat dia memburu ke arah Nyoo Hong leng.
Tampak tubuh Nyoo Hong leng melayang sejauh lima enam depa dari tempat
semula sebelum melayang turun kembali ke atas tanah.
Buyung I-seng segera merentangkan tangannya lebar dan memeluk tubuh Nyoo
Hong leng ke dalam pelukannya, kemudian berbisik.
"Kau terluka ?"
Nyoo Hong leng merasa malu sekali ketika dilihatnya Buyung Im seng telah
memeluk tubuhnya erat, apalagi ketika teringat kalau disekitar sana banyak orang,
dia segera membalikkan tubuhnya dan menyembunyikan kepalanya di belakang
bahu anak muda tersebut.
"Aku tidak apa-apa" sahutnya kemudian.
Setelah mendengar suara gadis itu amat tenang dan tidak menunjuk gejala terluka,
Buyung Im-seng baru berbisik lagi.
"Jadi kau bukan dipentalkan oleh sapuan angin pukulan lawan ?"
"Bukan. Meskipun dia belum nampak tua, tapi aku tahu kalau usianya sudah amat
besar, jika aku harus beradu kekuatan dengannya, sudah pasti bukan
tandingannya. Oleh karena itu aku pergunakan taktik..."
"Apakah itupun semacam ilmu silat ?" sela Buyung Im seng. "Benar. Dan lagi
merupakan suatu kepandaian silat yang amat tinggi, bagaimanapun lihainya suatu
pukulan yang dilancarkan lawan, jangan harap bisa melukai diriku paling banter
tubuhnya saja yang terpental jauh."
Setelah berhenti sejenak, terusnya.
"Sekarang aku tak sempat untuk banyak berbicara lagi dengan dirimu, tapi dilain
saat kau akan tahu dengan sendirinya !"
Buyung Im seng menghela napas panjang, katanya kemudian.
"Asal kau tidak terluka, akupun berlega hati."
"Hei, masa kau memelukku terus menerus di hadapan orang banyak. Malu aku
rasanya...... cepat turunkan diriku."
Buyung Im seng menurut dan pelan-pelan menurunkan tubuh Nyoo Hong leng ke
atas tanah sedang Nyoo Hong leng memejamkan matanya sambil bersandar di
dalam pelukan Buyung Im seng, lagaknya seperti orang yang lagi terluka padahal
dia menggunakan kesempatan tersebut untuk menghilangkan rasa malunya.
Lian Giok seng berdiri serius disamping sambil mengawasi semuanya itu.
368
Sekarang dia sudah tahu, rupanya Nyoo Hong leng merupakan satu-satunya jago
yang paling lihai diantara beberapa orang itu, asalkan ia berhasil ditaklukkan,
maka yang lain secara otomatis lebih gampang untuk dibekuk....
Tampak Nyoo Hong leng menghembuskan napas panjang, lalu melompat bangun,
pelan-pelan dia berjalan ke hadapan Lain Giok seng dan ujarnya sambil tertawa.
"Tenaga pukulanmu sangat kuat, cuma sayang luka yang ku derita tidak parah,
terpaksa kita akan bertarung sekali lagi.."
"Apakah nona masih mempunyai kemampuan untuk melanjutkan pertarungan
ini........... ?"
"Kau anggap pukulanmu itu sudah benar-benar mampu untuk melukaiku ?"
Lian Giok seng segera berkerut kening, kemudian tegurnya.
"Jadi barusan kau tidak terluka ?"
oooOooo
Bagian ke dua puluh tujuh
"Aaaahhh.... hanya terluka sedikit saja." jawab gadis itu.
Lian Giok seng segera menggerakkan tangan kanannya, dengan kecepatan luar
biasa dia langsung mencengkeram pergelangan tangan kanan Nyoo Hong leng.
Nyoo Hong leng miringkan badannya ke samping, tangan kanannya bukan
menghindar sebaliknya malah maju menyongsong, dengan jari tengah dan jari
telunjuk dia babat urat nadi pada pergelangan tangan Lian Giok seng.
Semua gerakan tersebut dilakukan mereka berdua dengan kecepatan luar biasa
sehingga para penonton jalannya pertarungan tak sempat melihat jelas perubahan
jari tangan dari mereka berdua.
Tampak telapak tangan dan jari kedua orang itu saling menyambar, kemudian
dengan kecepatan tinggi masing-masing pihak mundur sejauh dua langkah dari
posisi semula,
Ternyata sewaktu Lian Giok seng menyaksikan Nyoo Hong leng bukannya
berusaha untuk menghindarkan diri, malahan jari tangan dan jari telunjuknya
balik membabat urat nadi sendiri, sadarlah dia kalau telah bersua dengan musuh
tangguh, terpaksa dari gerakan mencengkeram dia rubah gerakannya menjadi
serangan bacokan untuk membabat pergelangan tangan Nyoo Hong leng.
Siapa tahu pada saat itulah Nyoo Hong leng melepaskan sebuah sentilan ke muka,
segulung desiran angin tajam segera menyambar ke depan.
Agaknya Lian Giok seng sama sekali tidak menyangka Nyoo Hong leng bakal
melepaskan sentilan jari pada waktu itu, ketika menyadari akan datangnya
ancaman, keadaan sudah terlambat.
Tapi oleh karena jarak diantara kedua belah pihak sama-sama dekatnya, maka
sambaran ujung jari tangan Lian Giok seng pun berhasil pula mengenai tubuh Nyoo
Hong leng.
369
Seketika itu juga Lian Giok seng merasakan pergelangan tangannya menjadi kaku,
seluruh lengan kanannya menjadi lumpuh dan kesemutan, sebaliknya Nyoo Hong
leng juga merasakan punggung tangannya seperti tersayat pisau, sakitnya bukan
kepalang.
Setelah kedua belah pihak sama-sama terkena satu serangan, masing-masing
pihakpun mundur selangkah ke belakang.
Kedua belah pihak saling berpandangan beberapa saat lamanya, kemudian Lian
Giok seng baru tertawa dingin sembari berkata, "Nona, lihai benar ilmu sentilan
jari Tan Ci Sin kang mu itu."
Nyoo Hong leng memandang sekejap mulut luka di atas punggung telapak tangan
kanannya, timbul pula perasaan kagum dalam hati kecilnya atas kehebatan ilmu
silat lawannya, ia lantas berkata.
"Sesudah terkena sentilan jari tanganku, kau masih memiliki sisa tenaga untuk
melukaiku, hal ini menandakan bahwa tenaga dalammu memang telah mencapai
tingkat kesempurnaan."
Lian Giok seng menghembuskan napas panjang, setelah termenung sebentar, ia
berkata lagi.
"Selama puluhan tahun, belum pernah lohu seorang musuh yang begitu tangguhnya
seperti nona, aku harap pada hari ini kita bisa melangsungkan suatu pertempuran
yang hebat."
"Maksudmu, kita tak boleh mempergunakan siasat licik untuk meraih kemenangan
melainkan mengandalkan kepandaian yang sebenarnya untuk saling merobohkan
?" tanya Nyoo Hong leng.
"Betul, entah bagaimana pendapat nona ?"
"Boleh saja, cuma tenaga dalammu amat sempurna, bila aku mesti bertempur
dengan mengandalkan kepandaian silat yang sesungguhnya maka akulah yang rugi
besar lebih dahulu."
"Kalau begitu nona tidak setuju ?"
"Aku boleh saja menyetujui usulmu itu tapi kita mesti mempertaruhkan sesuatu"
"Kalau kudengar perkataan nona ini tampaknya kau sudah mempunyai keyakinan
untuk meraih kemenangan"
"Bukan begitu maksudku, aku hanya merasa pertarungan mempergunakan
kepandaian yang sesungguhnya merupakan suatu pengorbanan yang besar sekali
maka harus dipertaruhkan sesuatu biar semangat, andaikata aku tidak beruntung
dan menderita kekalahan di tanganmu maka aku tak akan melawan lagi tapi
menyerahkan nasibku untuk kalian tentukan..."
Buyung Im-seng yang mendengar perkataan itu menjadi gelisah sekali, buru-buru
teriaknya.
"Nona Hong, aku rasa soal ini...."
Sambil tersenyum Nyoo Hong leng segera menukas.
370
"Seandainya taruhanku tidak besar, mana mungkin dia bersedia untuk turut
taruhan ?"
Sorot matanya segera dialihkan ke wajah Lian Giok seng, kemudian melanjutkan.
"Aku rasa dalam hatimu pasti telah mempunyai perhitungan bukan ? Entah aku
dapat menangkan dirimu atau tidak, tapi yang pasti, bukan suatu yang gampang
bila kau ingin membunuhku atau menawanku hidup-hidup, maka kalahkan saja
aku, agar aku mengaku kalah, dengan begitu kesempatan bagimu akan menjadi
amat besar sekali. Lagi pula.... "
"Lagi pula kenapa ? "tanya Lian Giok seng.
"Lagi pula kau dan kau bakal bertarung dengan kepandaian silat yang asli, itu
berarti aku harus mempergunakan kelemahanku untuk menghadapi kelebihanmu."
"Dalam bidang apakah nona merasa memiliki kelebihan ?" tanya Lian Giok seng
kemudian setelah mendengar perkataan itu.
"Aku memiliki kelebihan dalam ilmu meringankan tubuh dan ilmu melepaskan
senjata rahasia sebab dalam bidang ini aku dapat terhitung jagoan nomor satu di
dunia."
"Nona terlalu mengunggulkan diri sendiri"
"Terserah kalau kau tidak percaya. Tapi yang pasti aku bicara apa adanya, bila kau
mengajak aku untuk beradu ilmu meringankan tubuh atau senjata rahasia, sudah
pasti kekalahan berada di pihakmu."
"Apakah nona menganggap pasti dapat menangkan aku ? Kalau memang begitu,
kita tak usah bertaruh lagi."
Ternyata secara tiba-tiba Lian Giok seng merasa bahwa Nyoo Hong leng adalah
gadis yang sangat pintar sekali, dia kuatir seumpamanya sanggup untuk bertaruh
dengannya maka besar kemungkinannya akan tertipu, itulah sebabnya dia tak
berani menyetujuinya.
"Kau tak berani ?" ajak Nyoo Hong leng.
"Lohu cukup mengetahui tentang keadaan sendiri, bila taruhanmu itu sampai
melewati batas kekuasaanku, kita toh tak mungkin bisa bertaruh lebih jauh."
"Sebenarnya permintaanku sederhana sekali" ucap Nyoo Hong leng. "Seandainya
kau sampai kalah, maka harap membuka pintu ruangan dan melepaskan kami
untuk meninggalkan ruangan Seng thong ini."
"Ehmm.... ternyata memang tak meleset dari apa yang kuduga."
"Begini saja ! Dikala kita sedang bertanding nanti, kau boleh mempergunakan
segala macam kepandaian yang kau kuasai, termasuk pula senjata rahasia, ilmu
meringankan tubuh dan lain-lainnya sedang kita pun tak usah bertaruh."
"Aku tahu kalau kau takkan berani sebab kau tak mempunyai keyakinan untuk
menangkan diriku bukankah demikian ?"
"Lohu sudah berusia lanjut, masa aku bakal termakan oleh hasutanmu itu.... ?"
371
Nyoo Hong leng segera tertawa dingin, katanya. "Haahhhhh.... haaahhhh....
haaahhhh... lagaknya saja seorang pelindung hukum dari ruang Seng thong,
padahal kalau dibicarakan yang sebetulnya", Lian Giok seng segera mendongakkan
kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhhh... haaahhhh... haaahhh... benar-benar makian yang merasuk ke dalam
tulang. Sungguh makian yang menggetarkan sukma........"
"Jika kau mengakui dirimu seorang budak, kita tak usah banyak bicara lagi."
Dalam keadaan begini sikap Lian Giok seng berubah menjadi tenang sekali, dengan
penuh keseriusan dia berkata, "Bila makian nona sudah cukup, kita boleh segera
melangsungkan pertarungan !"
Sementara itu Nyoo Hong leng telah merogoh ke dalam sakunya dan menggenggam
segenggam biji Bhudi-cu, kemudian ujarnya dingin.
"Sekarang kau boleh meloloskan pedangmu."
Walaupun Lian Giok seng tahu kalau kepandaian silat Nyoo Hong leng sangat lihai,
namun dia masih tak ingin kehilangan pamornya, maka ujarnya sambil tertawa
hambar.
"Bila nona tidak menggunakan senjata tajam, aku tak akan sampai
mempergunakan pedang untuk menghadapi dirimu."
"Tapi aku hendak mempergunakan senjata rahasia untuk menghadapimu !"
"kau telah mengatakan hal itu ! "
Nyoo Hong leng segera menggerakkan tangan kirinya, telapak tangan yang putih
bersih itu diayun ke depan menyerang ke dada lawan.
Sesudah bergebrak beberapa jurus, Lian Giok seng tak berani menaruh sikap
memandang rendah kepada lawannya lagi, tangan kanannya langsung saja dibalik
berusaha untuk mencengkeram pergelangan tangan kiri Nyoo Hong leng berbareng
itu juga tangan kirinya secepat kilat melepaskan sebuah pukulan.
Tampak Nyoo Hong leng memutar badannya dan menghindarkan diri dari serangan
Lian Giok seng tersebut dengan gesit, lalu tubuhnya melambung ke udara seperti
kupu-kupu dan menyelinap ke belakang punggung Lian Giok seng.
Pertempuran ini bukan saja mempengaruhi mati hidupnya Nyoo Hong leng. Lagi
pula mempengaruhi pula mati hidupnya Buyung Im-seng dan Kwik Soat kun
sekalian, oleh karena itu semua perhatian dari beberapa orang itu ditujukan ke
tengah arena pertarungan.
Tatkala menyaksikan gerakkan tubuh Nyoo Hong leng yang gesit, diam-diam
mereka mengaguminya.
Siapa tahu Lian Giok seng sama sekali tidak memalingkan kepalanya sambil maju
ke depan, dia berbalik melepaskan sebuah pukulan.
Agaknya dia seperti telah menduga dimana Nyoo Hong leng akan menghentikan
tubuhnya maka serangan yang dilancarkan olehnya persis diarahkan ke tempat
mana Nyoo Hong leng berada sekarang.
372
Dengan cepat Nyoo Hong leng menghimpun tenaganya dan melejit ke samping,
ternyata dia melompat naik ke atas meja pemujaan tangan kanannya diayunkan ke
depan, dua biji bhudicu tersebut dengan cepat meluncur ke depan dan menghantam
sepasang mata patung dewa yang berada di tengah ruangan.
Praaannnggg... praaaaangg..... Diiringi bunyi yang amat nyaring dari sepasang
mata patung dewa bagian tengah itu menyembur keluar hancuran batu kristal yang
segera akan tersebar kemana-mana.
Ternyata di dalam sepasang mata patung dewa itu terdapat lapisan kaca kristal
yang teba kena dihajar oleh dua butir bhudicu yang disambitkan oleh Nyoo Hong
leng itu. Kontan saja kaca tersebut hancur berkeping-keping.
Tak terlukiskan rasa gusar Lian Giok seng setelah dilihatnya gadis itu merusak
sepasang mata patung dewanya sambil membentak keras dia menyusul ke atas
meja pemujaan dan sepasang tangannya secara beruntun melancarkan beberapa
buah bacokan.
Nyoo Hong leng tertawa dingin, ejeknya,
"Hmmm... patung dewa itu tidak lebih cuma alat untuk membohongi orang. Tak
kusangka kalau kalian begitu mempercayainya."
Sambil membentak keras tangan kirinya segera diayunkan ke depan menyambut
datangnya telapak tangan kanan Lian Giok seng kemudian badannya melambung
ke udara dan melompat turun kembali ke atas tanah.
Lian Giok seng telah diliputi hawa amarah, dia turut melompat turun sementara
tangannya melancarkan serangkaian serangan berantai...
Suatu pertarungan yang amat sengit pun segera berkobar dengan sengitnya.... Di
bawah cahaya lilin tampak bayangan berlapis-lapis pertarungan yang berkobar
ketika itu benar-benar sengit sekali.
Tenaga serangan yang digunakan Lian Giok seng semakin bertambah dahsyat,
bahkan diiringi pula oleh deruan angin yang amat memekikkan telinga.
Dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya yang sempurna, Nyoo Hong
leng segera mengegos kesana kemari dengan kecepatan tinggi, ada kalanya oleh
karena terdesak oleh keadaan, maka diapun melancarkan serangan untuk
menyambut kemungkinan datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.
Tak selang berapa lama kemudian, kedua belah pihak telah bertarung hampir
seratus kali gebrakan lebih.
Lian Giok seng memang betul-betul memiliki tenaga dalam yang amat sempurna,
seratus gebrakan kemudian, bukan saja tenaga serangannya tidak nampak semakin
berkurang, malahan makin lama semakin bertambah dahsyat, makin bertarung dia
pun nampak makin gagah perkasa.
Sebaliknya Nyoo Hong leng seakan-akan terdesak oleh keadaan, dia selalu
berusaha untuk meloloskan diri dari serangan musuh, bahkan ia tak pernah
menyambut dengan kekerasan.
Kembali puluhan gebrakan sudah lewat, namun situasinya makin lama semakin
tidak menguntungkan bagi Nyoo Hong leng, serangan demi serangan dari Lian Giok
373
seng yang begitu dahsyat dan buas memaksa Nyoo Hong leng harus bertempur dan
menari kesana kemari bagaikan kupu-kupu mencari madu saja.....
Buyung Im-seng menjadi terkesiap sekali setelah menyaksikan kesemuanya itu,
tanpa terasa dia lantas menghimpun tenaga dalamnya dan selangkah demi
selangkah maju ke depan.
Agaknya Kwik Soat kun sudah dapat menduga maksud hati Buyung Im-seng,
dengan cepat ia menarik tangan anak muda itu sambil bisiknya.
"Jangan bertindak sembarangan sehingga akan dapat menghancurkan rencana kita
sendiri. musuh lebih banyak jumlahnya daripada kita, seandainya kau sampai
turun tangan, hal ini akan memberikan kesempatan kepada lawan untuk
melangsungkan pertarungan massal, seandainya sampai terjadi keadaan seperti
itu, niscaya posisi kita akan menjadi berbahaya sekali, keadaan seperti itu lebih
banyak ruginya daripada keuntungan buat kita."
"Apakah kita harus membiarkan dia terluka di tangan lawan ?" kata Buyung Imseng.
"Menurut penglihatanku, dia masih dapat mempertahankan diri beberapa waktu
lagi. Dalam keadaan seperti ini rasanya dia masih belum membutuhkan bantuan
kita."
Sementara kedua orang itu masih berbincang-bincang, mendadak terdengar suara
bentakan nyaring dan dengusan tertahan bergema di sisi telinga mereka....
Ketika semua orang menengok ke tengah arena, maka Lian Giok seng dan Nyoo
Hong leng menghentikan serangannya, masing-masing orang mundur dua langkah
ke belakang dan berdiri saling berhadapan muka. Nyoo Hong leng mengenakan
topeng kulit manusia pada wajahnya ditambah pula obat penyaruan, hal ini
membuat paras mukanya tidak tampak sesuatu perubahan. Berbeda dengan Liang
Giok seng tampaklah paras mukanya pucat pias seperti mayat, kalau bukan
lantaran terluka parah, sudah pasti disebabkan oleh rasa lelah yang kelewat batas.
Mendadak terdengar jeritan lengking yang amat memekikkan telinga
berkumandang memecahkan keheningan.
Ketika Buyung Im-seng berpaling maka tampaklah orang yang barusan menjerit
lengking itu adalah Siau tin.
Tanpa terasa dia lantas menegur dengan kening berkerut.
"Mengapa kau menjerit-jerit ?"
Siau tin merasa seperti amat ketakutan sahutnya agak tergagap.
"Patung dewa itu.... "
"Bukankah tetap sama saja ?" sahut Buyung Im-seng segera memperhatikan
sekejap ketiga buah patung dewa ditengah ruangan itu.
"Maksudku dua baris patung dewa yang berada di samping"
374
"Aaaaahhh,,," Buyung Im-seng segera berpaling ke samping, tampak olehnya
patung-patung dewa yang berada di kedua belah sisi ruangan telah bangkit berdiri
dari tempat masing-masing.
"Patung-patung dewa itu dapat bergerak" ucap Siau tin cepat. "mereka dapat
bangkit berdiri"
"Heehhhh.... heeeehhh... heeehhhh, apa yang mesti diherankan" kata Buyung Im
seng sambil tertawa dingin "dan hal itu hanya merupakan penyaruan orang saja"
"Hati-hati" bisik Kwik Soat kun, "mereka sudah mempersiapkan pertempuran
massal"
Sementara itu Lian Giok seng telah menegur dengan suara dingin.
"Nona, bagaimana dengan lukamu ?"
"Bila kau masih sanggup melanjutkan pertarungan, dengan senang hati aku akan
mengiringinya."
Lian Giok seng mengalihkan sorot matanya dan kemudian memandang sekejap
sekeliling tempat itu, kemudian serunya.
"Kalian tak boleh sembarangan turun tangan."
Tampak kawanan patung dewa yang telah beranjak dari tempatnya itu, kini balik
kembali ke tempat masing-masing dan duduk.
Tiba-tiba Nyoo Hong leng memalingkan kepalanya dan memandang wajah Buyung
Im seng dengan sorot mata yang tajam, setelah itu katanya,
"Toako melepaskan kita pula dari tempat ini"
"Dia hanya seorang pelindung hukum ruangan ini saja, tentu saja tidak berhak
untuk melepaskan kita."
"Toako bila aku mati, apakah kau masih bersedia untuk hidup terus di dunia ini ?"
Buyung Im seng agak tertegun setelah menghadapi pertanyaan tersebut, jawabnya
kemudian.
"Kau mati lantaran aku, mana mungkin aku masih bisa hidup lebih lanjut.... ?"
"Baik, kalau begitu mari kita melepaskan api dan membakar ruangan Sam seng
tong ini."
Lian Giok seng yang mendengar perkataan itu segera tertawa dingin, jengeknya.
"Sayang sekali ruangan Seng tong ini terbuat dari batu cadas yang tidak kuatir
dibakar, sekalipun nona membawa api juga percuma saja, tak nanti ruang Seng
tong ini bakal terbakar."
"Delapan orang menyaru sebagai patung dewa ditambah dengan kau seorang she
Lian berarti sembilan orang, sedang kami tiga orang perempuan dan seorang lelaki
berjumlah empat orang. Seandainya sampai terbakar dan mati semua, berarti kami
masih untung lima orang."
"Persoalan sekarang, apakah nona sanggup untuk melepaskan api dan membakar
bangunan ini." kata Lian Giok seng dingin.
375
"Kenapa tak dapat ?"
"Coba aku akan menghalangi niat itu. Bila nona berani melepaskan api untuk
membakar gedung ini, maka terpaksa aku akan menggunakan senjata tajam untuk
menghalangi niatmu itu."
"Aku pun berpendapat demikian, dalam kepalan, telapak tangan dan senjata
rahasia kita sudah mencoba dua babak, namun masih belum menentukan siapa
menang siapa kalah, bila kita harus melangsungkan pertarungan lagi aku memang
ada niat untuk mempergunakan senjata tajam."
"Bagus sekali kalau begitu, senjata tajam apakah yang hendak nona gunakan ?
Apakah sudah dibawa dalam saku ?"
Dari dalam sakunya Nyoo Hong leng mengambil keluar sebilah pedang emas yang
pendek dan kecil, kemudian sambil digenggam dalam tangan, sahutnya.
"Inilah senjataku !"
Lian Giok seng memandang sekejap pedang emas itu, panjangnya satu depa belaka,
tanpa terasa dengan kening berkerut katanya.
"Senjata tajam yang kau pergunakan bagus sekali, mirip sebilah belati, entah cocok
tidak untuk dipergunakan ? Bilamana membutuhkan, aku bersedia untuk
meminjamkan sebilah pedang buat nona."
"Kau jangan memandang rendah pedang pendekku ini, sebentar saja engkau bakal
tahu sendiri betapa lihainya senjata andalanku ini !"
"Aku ingin sekali menyaksikan keanehan dan keistimewaan apakah yang dimiliki
senjata tajam milik nona itu ?"
"Kalau begitu, saksikanlah sendiri !"
Lian Giok seng segera mengangkat tangan kanannya, pedangpun diloloskan dari
dalam sarungnya, kemudian ujarnya dingin.
"Walaupun ilmu silat yang nona miliki merupakan kepandaian tangguh yang
pernah kujumpai selama hidupku, namun sikap nona terlalu angkuh, terlalu latah."
Pedangnya segera digetarkan keras dan secepat kilat menusuk ke dada Nyoo Hong
leng.
Pedang pendek Nyoo Hong leng segera berkelebat lewat dan memancarkan cahaya
keemasan yang menyilaukan mata, kemudian..... "Trang" dia telah menangkis
serangan pedang dari Lian Giok seng tersebut.
Sambil tertawa dingin, Lian Giok seng berseru.
"Nona, sungguh hebat sekali ilmu pedangmu itu...."
Pedangnya digetarkan sekali lagi, dia mengembangkan suatu serangan kilat yang
amat gencar.
Tampak cahaya tajam berkilauan, hawa pedang menggulung-gulung, betul-betul
suatu serangan yang hebat sekali.
376
Nyoo Hong leng merasakan jurus serangan pedang yang digunakan Lian Giok seng
itu bukan saja dilancarkan dengan kecepatan luar biasa sebaliknya setiap jurus
pedangnya terbawa suatu daya tekanan yang sangat besar dan kuat, belum lagi
serangan mencapai sasaran, segulung desingan angin tajam telah menyambar.
Diam-diam bergidik juga perasaannya, dia lantas berpikir.
"Bukan saja jurus pedang yang digunakan orang ini sangat aneh, tenaga dalamnya
yang dimilikipun amat hebat, andaikata pertarungan ketat harus dilangsungkan
terus menerus, mungkin tidak besar kesempatan bagiku untuk meraih
kemenangan."
Berpikir demikian, mendadak timbul suatu keinginan untuk meraih kemenangan
yang amat kuat, pedang emasnya segera berubah dan dia kembangkan suatu
serangan balasan yang hebat sekali.
Dalam waktu singkat, cahaya emas berputar-putar sembilan pedang pendeknya itu
sudah berputar menciptakan selapis cahaya keemasan yang amat menyilaukan
mata.
Di bawah sorot cahaya lilin, tampak segulung cahaya putih dan segulung cahaya
emas bercampur aduk menjadi satu serta menggulung-gulung tiada hentinya.
Buyung Im seng dan Kwik Soat kun mengikuti jalannya pertarungan itu dari
samping arena, sedemikian tangannya mereka sampai peluh dingin tanpa terasa
jatuh bercucuran.
Kwik Soat kun sudah pernah menjumpai banyak sekali pertempuran sengit selama
ini, namun belum pernah menghadapi pertarungan yang begini bahayanya seperti
sekarang, tampak cahaya berkilauan saja yang menyelimuti angkasa, sementara
bayangan manusianya sama sekali tidak nampak.
Buyung Im seng mendehem pelan, lalu bisiknya kepada Kwik Soat kun.
"Nona Kwik, pertarungan yang sedang berlangsung pada saat ini berbahaya sekali
bukan ?"
"Belum pernah kulihat pertempuran itu yang begini dahsyat dan sengitnya seperti
saat ini, benar-benar membuat pandangan orang menjadi kabur dan pikiran turut
menjadi kalut."
"Menurut pendapatmu, siapakah diantara mereka yang lebih menguntungkan
posisinya ?"
"Sampai sekarang masih sukar untuk melihat siapa diantara mereka yang lebih
menguntungkan."
Setelah berhenti sebentar dia melanjutkan.
"Sepintas lalu kau tampak dingin, kaku. Sungguh tak disangka kalau rasa cinta
kau begitu tebal."
Buyung Im seng segera menghela napas panjang, katanya.
"Aaaii.. seandainya nona Nyoo sampai menderita kekalahan, maka siapapun
diantara kita jangan harap bisa hidup lebih jauh."
377
"Sejak kami mengikuti kau datang ke sini, siapakah yang masih mengharapkan
bisa pulang dalam keadaan hidup ?"
"Aaai.... terhadap kau, nona Kwik dan nona Siau-tin, aku tetap merasa berterima
kasih sekali."
Dia lantas menerima pedang dari tangan Siau-tin, kemudian sambungnya lebih
lanjut.
"Seandainya nona Nyoo mulai menunjukkan tanda-tanda kalah, aku akan segera
turun tangan untuk membantunya. Aku harap nona berdua pun suka bersikap
sedia menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan."
Sementara pembicaraan itu berlangsung, mendadak terdengar Lian Giok seng
membentak keras.
"Lepas tangan."
"Sret, sret, sret !" Secara beruntun dia melancarkan tiga buah serangan berantai.
"Belum tentu ! "jawab Nyoo Hong leng.
Pedang emasnya segera digetarkan dan secara beruntun dia melancarkan pula tiga
buah serangan berantai.
Tiga kali bentrokan nyaring bergema memecahkan keheningan, di dalam bentrokan
tersebut kedua belah pihak sama-sama telah mengerahkan segenap kekuatan yang
dimiliki,
Selewatnya tiga gebrakan itu tampak dua orang tersebut sudah tidak
berkemampuan lagi untuk melanjutkan pertarungan. Tanpa terasa kedua belah
pihak sama-sama mundur selangkah, pertarungan sengit pun tiba-tiba berubah
menjadi hening sekali.
Pelan-pelan Nyoo Hong leng memejamkan matanya lalu mengatur pernapasannya.
Buyung Im seng menjadi terperanjat sekali, diam-diam pikirnya.
"Dia pasti sudah kehabisan tenaga untuk melangsungkan pertarungan, maka tanpa
memperdulikan mara bahaya yang sedang mengancam dia lantas mengatur
pernapasannya, kalau bukan karena begitu berhadapan dengan musuh yang begitu
tangguh, apalagi terhitung jago kelas satu dalam dunia persilatan, dia berani
memejamkan mata untuk mengatur napas ?"
Lian Giok seng telah memandang sekejap pula ke arah Buyung Im seng. Kemudian
dia pun memejamkan matanya untuk mengatur pernapasan.
"Rupanya Lian Giok seng sendiri pun sudah berada dalam keadaan tidak tahan,
kelihaian ilmu silat orang ini paling tidak seimbang dengan kemampuan dari Nyoo
Hong leng. Seandainya membiarkan kedua orang ini melangsungkan kembali
pertarungannya setelah berhasil memulihkan kembali tenaga dimana dua harimau
bertarung, akhirnya satu diantaranya pasti akan terluka, padahal kami ada
ditempat bahaya, sedang jumlah musuh tak terhitung jumlahnya, aaai... diantara
kami cuma ada seorang Nyoo Hong leng yang berkepandaian tinggi, jelas dalam
pertarungan hari ini, kita ada di pihak yang kalah...."
378
Setelah berhenti sejenak diapun berpikir lebih jauh, "Lian Giok seng yang
merupakan pelindung hukum dari ruangan Sim seng thong, itu berarti dia
memperoleh kepercayaan dari ketiga malaikat, pelindung-pelindung hukum dalam
ruangan ini pun di bawah komandonya semua. Bila dia bisa kutangkap dan
memaksanya membuka pintu ruangan, siapa tahu kami akan lolos dari sini dengan
selamat ? Sekarang kami berada dalam sikap permusuhan, perduli amat dengan
tata cara dan sopan santun.."
Berpikir sampai di situ dia bersiap-siap untuk turun tangan, tapi sebelum tindakan
selanjutnya dilakukan mendadak terdengar suara bisikan yang amat lirih
berkumandang di sisi telinganya.
"Jangan sembarangan bergerak, kecuali bisa membunuhnya atau membekuknya
hidup-hidup. Kalau tidak, keadaan kita sangat berbahaya sekali.... !"
Buyung Im seng dapat mengenali suara bisikan itu berasal dari Nyoo Hong leng
yang mempergunakan ilmu menyampaikan suara yang berguna untuk memberikan
peringatan kepadanya agar jangan sembarangan bergerak, terbayang bagaimana
dia sedang memejamkan mata namun semua gerak geriknya untuk menyergap
sekali...
Tapi dia menuruti pesan tersebut dan berdiri tak berkutik di tempat semula.
Mendadak terdengar Siau-tin menjerit lengking, tubuhnya goncang keras lalu roboh
terjengkang ke atas tanah.
Perubahan ini berlangsung sangat tiba-tiba, hal ini membuat Buyung Im seng
sendiri pun merasa agak gugup dan gelagapan, buru-buru dia menghampiri Siautin
sambil menegur.
"Nona..."
Sementara itu Kwik Soat kun telah memegang tangan Siau-tin dan ingin
membimbingnya bangun, tampak tubuh Kwik Soat kun yang sedang membungkuk
itu mendadak tersungkur ke depan dan ikut roboh pula ke tanah.
Dengan hati terkesiap Buyung Im seng mundur selangkah ke belakang, kemudian
serunya.
"Nona Kwik..."
Setelah terjungkal ke tanah, Kwik Soat kun sama sekali tak berkutik lagi, separuh
tubuh bagian atasnya masih berada di atas kaki Siau-tin.
Semua peristiwa tersebut hanya berlangsung dalam sekejap mata saja, buru-buru
Buyung Im seng menenangkan hatinya dan berpaling ke arena. Ia saksikan Lian
Giok seng masih berdiri tak berkutik di tempat semula, sepasang matanya terpejam
rapat, tampaknya mustahil dia yang melancarkan sergapan tersebut.
Tapi ruangan itupun terang benderang bermandikan cahaya, selain Lian Giok seng
seorang, tidak nampak kehadiran orang lain.
Sementara dia masih kaget bercampur tercengang, mendadak salah satu jalan
darah penting di belakang tubuhnya menjadi kaku, segenap kekuatannya menjadi
lenyap tak berbekas, tangan kanannya mengendor dan pandangannya terjatuh ke
tanah, sepasang kakinya seakan-akan tak sanggup menahan kekuatan tubuhnya
379
lagi, ia roboh terjengkang ke tanah. Walaupun tubuh tak dapat bergerak, mulut tak
dapat berbicara, akan tetapi dia mengerti dengan jelas kalau dia sudah termakan
serangan gelap dari seseorang.
Benar juga, dari balik patung dewa di tengah ruangan itu segera terdengar
seseorang tertawa dingin, kemudian menegur.
"Lian Giok seng, tinggi sekali kah kepandaian silat yang dimiliki budak itu ?"
Lian Giok seng berkerut kening tapi dengan cepat wajahnya cerah kembali,
sahutnya dengan hormat.
"Benar, ilmu silat yang dimilikinya lihai sekali, sudah dua kali hamba
melangsungkan pertempuran dengannya, tapi menang kalah belum berhasil
ditentukan, cuma Seng cu tak usah kuatir, hamba yakin masih sanggup untuk
mengalahkan dirinya."
Dari balik patung dewa di tengah ruangan itu kembali berkumandang pembicaraan
yang sangat dingin.
"Aku tidak dapat menduga, masih ada manusia manakah dalam dunia persilatan
yang sanggup untuk bertarung seimbang dengan dirimu ?"
"Hamba sendiripun tak dapat menduga siapakah dia, tapi hamba dapat melihat
kalau dia mengenakan selembar topeng kulit manusia, seandainya bisa dibekuk
hidup-hidup dan melepaskan topeng kulit manusia, aku rasa kita akan segera
menyaksikan raut wajah aslinya."
Tiba-tiba orang di dalam patung dewa bagian tengah itu berseru sambil tertawa
dingin.
"Kalau begitu, suruh dia lepaskan topeng kulit manusia yang dikenakannya itu !"
"Soal itu tergantung pada kehendakku sendiri" sambung Nyoo Hong leng dengan
suara dingin, "jika kau tidak puas, kenapa tidak segera menampilkan diri untuk
bertarung melawan diriku ? menyembunyikan diri dalam patung berlagak menjadi
setan, apakah kau tidak merasa telah menurunkan derajatmu sendiri ?"
"Hmmm...kini aku dapat menduga siapa gerangan dirimu, aku menyuruh kau
melepaskan topeng tak lebih hanya ingin membuktikan kecurigaanku belaka, bila
kau tetap bersikeras terus menerus, jangan salahkan kalau aku segera akan
menurunkan perintah untuk membunuh ketiga orang rekanmu itu..."
Ucapan tersebut benar-benar merupakan sebuah senjata yang mematikan, Nyoo
Hong leng tertegun beberapa saat lamanya, lalu ujarnya. "Coba kau katakan,
siapakah diriku ini?"
"Kau adalah Biau-hoa Lengcu Nyoo Hong leng, bukankah begitu?"
Bukan menjawab pertanyaan itu, Nyoo Hong leng hanya berkata. "Baiklah! Aku
akan melepaskan topeng kulit manusia yang kukenakan agar kau bisa
membuktikan kecurigaanku di dalam hatimu, cuma kau ...."
380
Orang di dalam patung dewa itu segera tertawa terbahak-bahak. "Haaahhh...
haaahhh... haaahhh.. cuma aku harus melindungi keselamatan jiwa Buyung Im
seng bukan?" sambungnya.
Tergerak juga hati Nyoo Hong leng setelah mendengar perkataan itu, pikirnya.
"Orang ini betul2 sangat lihay, tampaknya dia sudah lama mengetahui rahasia
hatiku ini."
Berpikir demikian, dia lantas menjawab. "Masih ada satu hal lagi, akupun ingin
menjumpai dirimu yang sebenarnya."
"Sekarang kalian sudah terjebak dalam posisi yang berbahaya sekali, mati hidupmu
sudah dalam kekuasaan kami, berani betul mengajukan syarat kepadaku. Hmm..
kau benar2 tak tahu diri!"
"Jika kau enggan untuk mengabulkan permintaanku ini terpaksa harus menempuh
jalan untuk bertarung sampai titik penghabisan.."
"Aku tidak dapat memikirkan kemampuan apakah yang kau miliki sehingga bisa
memaksakan suatu kematian bersama dengan kami."
"Aku memiliki semacam api beracun, bila terbakar asap beracunnya akan
menyelimuti seluruh angkasa, barang siapa mengendus asap beracun itu, dia bakal
mati tanpa tertolong lagi"
Orang di dalam patung dewa bagian tengah itu segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... sekalipun apa yang kau katakan itu benar, juga
tak bakal bisa melukai diriku." Setelah berhenti sejenak, lanjutnya. "Cuma, kau
boleh melepaskan dulu topeng kulit manusiamu itu, setelah aku berjumpa
denganmu, baru akan kuputuskan apakah akan bertemu dengan kau atau tidak"
Terdengar Lian Giok seng turut berkata. "Seng-cu sudah bersikap luar biasa sekali
kepadamu, bila kau masih juga tidak menyetujuinya, hal ini sama artinya dengan
mencari kematian buat diri sendiri."
Nyoo Hong leng lantas berpikir. "Situasi yang kuhadapi saat ini sangat tidak
menguntungkan, seandainya aku tidak mengabulkan permintaannya, bisa jadi
mereka akan segera merenggut nyawa Buyung kongcu."
Berpikir sampai di situ, pelan-pelan dia melepaskan topeng kulit manusia yang
dikenakan itu. Selembar wajah yang cantik jelita bak bidadari dari khayangan
segera muncul di bawah sorot cahaya lentera. Lian Giok seng segera merasakan
wajah itu cantik jelita dan menggiurkan sekali, tanpa terasa diam-diam ia memuji
dalam hati.
Terdengar orang di dalam patung dewa itu segera menegur. "Kau adalah Siau-hoa
Lengcu?"
oooOooo
Bagian ke dua puluh delapan
"Benar" sahut Nyoo Hong leng, "sekarang aku telah melepaskan topeng kulit
manusia yang kukenakan, oleh karena itu aku harap kaupun dapat segera
menampilkan dirimu."
381
Orang di dalam patung di bagian tengah itu tertawa pelan, sahutnya. "Baiklah,
untuk menyambut kedatanganmu pada malam ini, akan ku selenggarakan suatu
perjamuan untuk merayakan kehadiranmu itu."
Selama ini dia selalu berbicara dengan suara yang dingin dan kaku, tapi dalam
gelak tertawanya kali ini agaknya muncul dari sanubarinya sehingga
kedengarannya membawa hawa manusia.
"Maksud baik anda biar kuterima dalam hati saja," ucap Nyoo Hong leng dengan
cepat, "cuma, aku ada satu syarat."
"Apa syaratmu itu?"
"Aku minta semua orang yang datang bersamaku harus turut menghadirinya,
seorangpun tak ada yang boleh ketinggalan."
Suara dari orang yang berada dalam patung dewa itu kembali menjadi dingin dan
kaku, kemudian sahutnya. "Ini merupakan suatu permintaan ataukah suatu
paksaan?"
"Bagaimana harus kukatakan, baru kau bersedia untuk mengabulkannya?" gadis
itu balik bertanya dengan suara mengancam.
Teringat akan keselamatan Buyung Im seng, diam-diam Nyoo Hong leng menghela
napas panjang. "Aaai... kalau begitu, anggap saja sebagai permohonanku" ucapnya
kemudian.
Orang yang berada di dalam patung dewa itu segera tertawa nyaring. "Haaahhh...
haaahhh... haaahhh.. baiklah! Memandang di atas wajah Lengcu, biarlah
merekapun menikmati santapan malam bersama-sama diriku." Setelah berhenti
sebentar, dia melanjutkan.
"Lian Giok seng, bawa nona ini menuju ke ruang tamu untuk duduk sebentar,
nantikan perintahku selanjutnya."
"Terima perintah!" sahut Lian Giok seng sambil membungkukkan badannya
memberi hormat. Sorot matanya segera ke wajah Nyoo Hong leng, kemudian
melanjutkan.
"Nona harap mengikuti diriku!" Seraya berkata dia lantas membalikkan badan dan
berjalan menuju ke sudut ruangan sana.
Nyoo Hong leng segera membangunkan Buyung Im seng, mengempitnya di bawah
ketiak, lalu katanya. "Bawa serta mereka semua!"
Liang Giok seng segera berhenti seraya berpaling, katanya. "Tidak bisa ruang tamu
itu hanya akan melayani nona seorang, lagi pula mereka sudah terkena jarum
beracun tak nanti nona sanggup memunahkan racun yang mengeram di tubuh
mereka setelah Seng-cu menyanggupi untuk membiarkan mereka menemanimu, itu
berarti beliau pasti akan mengutus orang untuk menyembuhkan luka racun yang
mereka derita, sekarang lebih baik kau ke ruang tamu sendirian saja, sebab jika
kau memaksa untuk membawa serta mereka semua, hal ini malahan justru akan
mencelakai jiwanya."
382
Nyoo Hong leng termenung dan berpikir sebentar, akhirnya dia menurunkan
kembali tubuh Buyung Im seng dan mengikuti di belakang Lian Giok seng menuju
ke sudut ruangan. Dari satu bagian rahasia pada sudut ruangan itu, Lian Giok seng
segera mengetuk dindingnya beberapa kali. Nyoo Hong leng sudah menduga dia
bakal membuka pintu rahasia itu dengan menekan tombol-tombol rahasia yang
berada di sana, maka dia terus memperhatikan dengan seksama, tai menanti jari
tangannya sudah menyentuh pada tombol rahasia itu, keadaan sudah terlambat,
dia tak sempat lagi untuk mengingat kembali berapa kali kah orang itu mengetuk
di atas dinding sebagai kode rahasianya.
"Kraaakk...!" Pintu rahasia di atas dinding itu segera terpentang lebar.
"Aku akan membukakan jalan untukmu." kata Lian Giok seng kemudian.
Dia segera melangkah masuk dulu ke dalam ruangan. Nyoo Hong leng mengikuti di
belakangnya, setelah melewati sebuah lorong sempit yang memanjang, akhirnya
sampailah mereka di dalam sebuah ruangan kecil.
Lian Giok seng lantas mengambil korek api dan segera memasang lilin yang berada
di sudut ruangan tersebut. Dengan cepat seluruh ruangan itu menjadi terang
benderang bermandikan cahaya. Diam-diam Nyoo Hong leng menarik napas
panjang-panjang, dia merasa ruangan tersebut sama sekali tidak terasa sumpek
atau menyesakkan napas, jelas memiliki peredaran yang amat sempurna.
Terdengar Lian Giok seng berkata. "Ruang Seng-tong merupakan tempat yang
paling penting dari perguruan kami, banyak sekali jebakan yang kami pasang di
sekitar tempat ini, aku harap yang tidak begitu hapal dengan jalanan di sekitar
sini, maka lebih baik jangan mengambil tindakan untuk mencoba-coba melarikan
diri dari tempat ini."
"Kau sangat hapal bukan dengan daerah di sini? Hanya sekali mengulurkan tangan
saja kau sudah dapat memasang api pada lilin ruangan ini."
"Benar! Setiap benda yang berada dalam ruangan ini benar2 telah kukuasai di luar
kepala."
"Malam ini Seng-cu kalian hendak mengadakan perjamuan bagiku, entah kau
sebagai komandan pengawal ruangan akan turut menghadirinya ataukah tidak
.....?"
"Soal ini....tampaknya nona sudah tahu, kalau aku tak dapat memberikan
jawabannya, maka sengaja kau ajukan pertanyaan tersebut kepadaku...?" "Ilmu
silat yang kau miliki sangat lihay, tenaga dalam yang kau milikipun jauh lebih
sempurna daripada tenaga dalamku, tapi aku merasa sayang untukmu" ucap Nyoo
Hong leng dingin.
Lian Giok seng tertawa hambar.
"Apa yang patut disayangkan?" tanyanya.
"Rela menjadi budak orang dan melakukan hidup yang rendah serta melakukan di
tempat semacam ini."
Ternyata Lian Giok seng sama sekali tak menjadi marah oleh hinaan tersebut,
maka sambil tersenyum tanyanya. "Sudah cukupkah nona memaki diriku?"
383
Tatkala dilihatnya orang itu sama sekali tidak nampak gusar oleh cemoohannya,
Nyoo Hong leng menjadi naik pitam sendiri, sambil tertawa dingin katanya, "Aku
lihat kau betul-betul sudah bertebal muka sampai mukamu mengering dan tak
mungkin akan merasa malu lagi, hmm.. betul-betul tak kusangka kalau dalam
dunia terdapat orang yang begitu tak tahu malu macam dirimu itu, sekalipun ku
caci maki dirimu sampai serak tenggorokanku juga percuma saja."
Lian Giok seng segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh.. benar-benar makian yang memuaskan hati,
selama hidup sekalipun belum pernah aku dimaki orang dengan makian seperti
ini."
Diam-diam Nyoo Hong leng lalu berpikir. "Orang ini benar-benar mempunyai muka
yang sangat tebal dan tidak takut dihina, percuma saja aku memakinya terusmenerus."
Karena kesalnya dia tidak memaki lebih jauh sambil membalikkan badan dia
lantas mengambil tempat duduk, memejamkan matanya dan sama sekali tidak
menggubris diri Lian Giok seng lagi.
Ternyata ruangan itu mempunyai dekorasi yang sangat indah dan mewah, selain
terdapat meja terbuat dari batu, juga terdapat beberapa buah kursi yang
beralaskan kasur dan kain pembungkus yang indah dan halus sekali..." Lian Giok
seng segera menutup pintu ruangan itu, kemudian sambil menghampiri gadis
tersebut, bisiknya lirih.
"Nona, apakah kau sangat menguatirkan keselamatan Buyung Im seng...?"
"Kalau benar, mau apa kau?" jawab Nyoo Hong leng dengan suara yang dingin dan
kaku.
"Ingin menyelamatkan dirinya?"
Nyoo Hong leng agak tertegun setelah dihadapkan pertanyaan tersebut. "Apa
maksudmu berkata demikian?" serunya kemudian setelah termenung sebentar,
"apakah kau ingin memancing sesuatu keterangan dari dalam mulutku ini...?"
(Bersambung ke jilid 20)
384
Lembah Tiga Malaikat
Oleh: Tjan
Jilid 20
Tiba-tiba saja paras muka Lian Giok seng berubah menjadi serius sekali, katanya.
"Aku harap nona bersedia untuk mempercayai semua perkataan yang kuucapkan!"
Tatkala Nyoo Hong leng menyaksikan sikapnya jujur dan bersungguh-sungguh,
sama sekali tak terlintas sikap yang sengaja, dia menjadi semakin keheranan. "Kau
pandai amat bersandiwara?"
"Aku dan Buyung Tiang kim adalah sahabat lama!" ucap Lian Giok seng
menerangkan.
"Kalau memang demikian, apa sebabnya kau tak berusaha untuk menyelamatkan
puteranya?"
"Andaikata aku berani bertindak secara gegabah dan tanpa suatu perhitungan yang
masak, maka akibatnya bukan saja takkan berhasil untuk menolong jiwanya,
malahan justru akan mempercepat kematian bagi mereka."
Untuk kesekian kalinya Nyoo Hong leng menjadi tertegun dibuatnya, dia berkata
kemudian. "Sebenarnya apa yang kau ucapkan itu sungguh-sungguh atau palsu?
Aku benar-benar tak dapat membedakannya."
"Berada dalam keadaan dan suasana seperti sekarang ini, aku rasa akupun tak
usah mengucapkan kata-kata seperti itu dengan diri nona bukan?"
"Kalau memang begitu, kenapa tidak kau katakan semenjak berada di ruang
tengah tadi."
"Dalam ruangan itu penuh dengan mata-mata yang tersebar di sekeliling ruangan,
setiap gerak-gerik lohu sesungguhnya berada pula dibawah pengawasan mereka."
"Kau toh komandan pengawal ruangan Seng-tong? Masa sedikit hak dan kekuasaan
pun sama sekali tidak kau miliki."
385
Lian Giok seng segera tertawa getir setelah mendengar pertanyaan tersebut. "Pada
saat ini, waktu lebih berharga dari emas, lebih baik kita jangan membicarakan
persoalan semacam itu, sebab terlalu sayang kalau waktu yang demikian
berharganya ini dipakai untuk mempersoalkan hal-hal yang sama sekali tak ada
sangkut-pautnya." Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan.
"Walaupun ilmu silat yang sekarang nona miliki termasuk sangat lihay sekali,
namun kau masih bukan tandingan dari tiga malaikat...."
"Kau sedang mencemooh diriku?" tukas Nyoo Hong leng.
"Tidak, aku sedang membantumu!"
"Apa maksudmu?"
"Sengcu bukan terhitung seorang manusia yang suka akan kecantikan perempuan,
akan tetapi nona terlampau cantik."
"Kau minta padaku...."
"Yaa, kau harus berusaha untuk merayu dan memikatnya, nona, kau harus
mengerti, inilah satu2nya kesempatan yang kau miliki sekarang..." Nyoo Hong leng
segera mengerutkan dahinya rapat2 setelah mendengar perkataan itu, katanya
kemudian.
"Sebagai seorang anak gadis, apakah yang merupakan hal terpenting baginya?"
"Soal ini.... soal ini ....... aku tak dapat memikirkannya...." sahut Lian Giok seng
agak tergagap.
"Nah, kalau kau tidak tahu maka aku akan memberitahukan kepadamu, bagi
seorang anak gadis yang paling penting baginya adalah nama baik dan kesucian."
"Benar, tapi kaupun harus ingat bahwa mati hidupnya Buyung Im seng dan Kwik
Soat kun sekalian berada di tanganmu, aku hanya bisa memberi petunjuk ini
kepadamu, harap nona memikirkannya tiga kali lebih dulu sebelum memutuskan."
Selesai berkata dia lantas membalikkan badannya dan berlalu dari situ.
memandang hingga bayangan punggung Lian Giok seng lenyap dari pandangan
mata, Nyoo Hong leng baru menghela napas panjang, pelbagai kekesalan dan
kemurungan dengan cepat menyelimuti seluruh benaknya. Sejak bertarung dengan
Lian Giok seng, dia hingga saat ini telah mengetahui bahwa dalam ruang Sam seng
tong tersebut sesungguhnya banyak terdapat jago-jago persilatan yang memiliki
ilmu silat yang sangat tinggi, entah bagaimana pula dengan kepandaian silat yang
dimiliki Seng cu nya sendiri? Cukup Lian Giok seng seorangpun sudah lebih dari
cukup untuk menandingi kemampuannya. Apa yang dikatakan Lian Giok seng
barusan memang benar, kecuali mempergunakan kecantikan wajahnya, dia sudah
tidak memiliki kemampuan lainnya lagi untuk berusaha meraih kemenangan.
Dalam lamunan itu, entah berapa waktu sudah dilewatkannya tanpa terus.
Mendadak terdengar suara langkah kaki manusia berkumandang memecahkan
keheningan, kemudian tampaklah Lian Giok seng telah muncul kembali di situ.
Ketika Nyoo Hong leng mendongakkan kepalanya maka tampaklah di belakang
tubuh Lian Giok seng mengikuti dua orang manusia.
386
Ke dua orang itu sudah berusia lima puluh tahunan, sepasang matanya
memancarkan cahaya tajam yang menggidikkan hati, jelas mereka adalah jago-jago
yang memiliki tenaga dalam yang sudah mencapai kesempurnaan.
Sambil mendehem pelan, Lian Giok seng lantas berkata. "Kami akan menyiksa
nona sebentar !"
Dua orang kakek yang berada di belakangnya segera mengangkat sepasang tangan
mereka, seorang diantaranya membawa borgol sedangkan yang lainnya membawa
penutup kepala yang aneh sekali bentuknya, sebab penutup kepala itu menyerupai
sebuah tong besi.
Dengan pandangan dingin Nyoo Hong leng memandang sekejap kepada Lian Giok
seng serta ke dua orang kakek itu, kemudian tegurnya. "Apakah kalian hendak
memakaikan borgol itu di atas tanganku?"
"Sudah kukatakan tadi, terpaksa kami akan menyiksa diri nona sebentar."
Nyoo Hong leng segera mendengus dingin. "Hmmm...andaikata aku menolak?"
"Apabila nona bersedia untuk mendengarkan nasehatku, lebih baik jangan ditolak!"
Nyoo Hong leng termenung dan berpikir sejenak, akhirnya pelan-pelan dia
meluruskan tangannya ke depan.
Dari tangan kakek yang ada di sebelah kiri itu, Lian Giok seng mengambil borgol
tersebut, kemudian dipasangkan di atas tangan Nyoo Hong leng. Kemudian dari
tangan kakek yang berada di sebelah kanan, Lian Giok seng mengambil penutup
kepala tersebut, katanya kemudian. "Nona harus mengenakan pula penutup kepala
ini!"
Nyoo Hong leng tertawa dingin, dia tidak banyak berbicara lagi dan membiarkan
Lian Giok seng mengenakan penutup kepala tersebut di atas kepalanya. Penutup
kepala itu terbuat dari besi, selain dalam juga tinggi, begitu dikenakan pada kepala
Nyoo Hong leng segera menutupi kepala gadis itu sampai batas bahunya.
Dengan suara dalam, Lian Giok seng segera berkata. "Nona, bolehkah aku
menuntun dirimu untuk berjalan?"
"Jangan kau sentuh tanganku!" seru Nyoo Hong leng dengan suara keras.
Lian Giok seng segera mengeluarkan sebuah ikat pinggang dan menyerahkan ujung
yang satu ke tangan si gadis, kemudian katanya. "Aku akan menuntun nona untuk
melakukan perjalanan, peganglah ikat pinggang ini erat2."
Terpaksa Nyoo Hong leng harus memegang tali pinggang itu dan berjalan
mengikuti di belakang Lian Giok seng.
Dalam perasaannya, mereka berjalan pada sebuah jalanan yang penuh dengan
berliku-liku, lagi pula jalanan itu banyak batunya serta naik turun tidak rata.
Lebih kurang sepertanak nasi kemudian, Lian Giok seng baru melepaskan tali
pinggang itu sembari berkata.
"Harap nona suka mengangkat tanganmu ke atas."
387
"Kenapa?"
"Aku hendak membukakan borgol di atas tangan nona."
Diam2 Nyoo Hong leng kembali berpikir. "Sekarang urusan sudah menjadi begini
rupa, tampaknya menggunakan kekerasan pun tak ada gunanya, terpaksa aku
harus bersabar terus...."
Maka tanpa membantah dia lantas mengangkat sepasang tangannya ke atas.
Lian Giok seng membebaskan dulu Nyoo Hong leng dari belenggu borgol, setelah itu
baru membukakan penutup kepala itu dan membukakan sebuah pintu ruangan.
"Silahkan masuk nona!" katanya.
Nyoo Hong leng tidak langsung masuk ke dalam ruangan, dia mendongakkan
kepalanya dan memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, ternyata ia berhenti di
depan sebuah bangunan gudang yang tinggi besar, empat penjuru tidak nampak
langit, di balik pintu terlihat cahaya lentera yang terang benderang, tanpa terasa
dia lantas berpikir. "Tampaknya di dalam ruangan besar terdapat ruangan kecil."
Berpikir demikian ia lantas melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut.
Dengan suara yang rendah, Lian Giok seng kembali berkata. "Seandainya nona
mau mempercayai diriku, harap kau memohon kepada Seng cu nanti agar
memindahkan tugasku kemari."
Rupanya Lian Giok seng hanya boleh menjaga di luar pintu dan tak boleh masuk ke
dalam.
Pelan-pelan Nyoo Hong leng masuk ke dalam ruangan, ketika mendongakkan
kepalanya tampak lampu keraton memenuhi seluruh ruangan itu, suasana dalam
ruangan terang-benderang bermandikan cahaya lampu.
Dengan cepat dia memperhatikan sekejap sekeliling ruangan itu, ia jumpai ruangan
yang indah hanya sekian lima kali belaka. Selain tirai berwarna kuning, di atas
lantaipun berlapiskan permadani berwarna merah, di tengah ruangan tampak
sebuah meja persegi panjang. Di sekeliling meja itu terdapat empat buah kursi yang
berlapiskan kain kuning, jelas tamu yang diundang malam ini tidak banyak
jumlahnya. Waktu itu, suasana di dalam ruangan itu sunyi senyap tak kedengaran
sedikit suarapun, bahkan sesosok bayangan manusiapun tidak nampak.
Pelan2 Nyoo Hong leng berjalan masuk ke dalam ruangan, mendekati meja dan
duduk di atas sebuah kursi. Dia memilih tempat duduk di sebelah timur yang
menghadap ke arah barat, sedang dalam hatinya dia berpikir. "Di dalam ruangan
ini hanya terdapat sebuah pintu belaka, kecuali kalau di balik kain tirai tersebut
masih terdapat pintu yang lain..."
Sementara dia masih termenung, mendadak dari belakang tubuhnya
berkumandang suara ucapan dari seseorang. "Kebetulan ada seorang teman lama
yang berkunjung datang, membuat aku harus datang lebih lambat beberapa saat..."
Nyoo Hong leng merasa terkejut sekali, pikirnya. "Sejak kapan dia muncul di sini?
Kenapa aku sama sekali tidak mengetahui akan kehadirannya?"
388
Bagaimana terkejutnya hati gadis itu, akan tetapi Nyoo Hong leng tetap menjaga
ketenangan sikapnya di luaran, pelan2 dia memalingkan kepalanya.
Tampak seorang manusia berbaju serba hitam telah berdiri lima depa di
belakangnya. Dia memakai sarung tangan berwarna hitam, kain cadar berwarna
hitam dan baju serba hitam sehingga raut wajah aslinya sama sekali tidak
kelihatan, selain daripada itu diapun tak nampak membawa senjata tajam...
Sambil tertawa dingin Nyoo Hong leng segera menegur. "Tamu harus menunggu
tuan rumah, apakah kau merasa telah bertindak kurang sopan?"
Pelan-pelan manusia berbaju hitam itu berjalan ke arah barat dan duduk di
hadapan Nyoo Hong leng, setelah itu katanya, "Ya, memang terhitung kurang
hormat, sebentar aku akan menghukum diriku dengan tiga cawan arak."
Walaupun dia menggunakan kain kerudung sehingga tidak nampak raut wajah
aslinya, namun tindak-tanduknya mendatangkan perasaan yang luwes bagi yang
memandangnya, suara pembicaraannya pun lembut dan penuh perasaan.
Nyoo Hong leng mengerdipkan sepasang matanya yang besar dan bulat, kemudian
ujarnya. "Dalam tiga malaikat, kau menduduki kursi ke berapa?"
"Atas kesudian mereka untuk memandang wajahku, maka aku menduduki kursi
pertama."
"Lantas dalam patung dewa di ruangan Sam seng tong tadi, kau menempati
kedudukan yang mana?"
"Di tengah."
"Kalau begitu, kaulah yang lama berbincang denganku sewaktu berada dalam
ruangan Sam seng tong tadi?"
"Benar."
"Hmmm, kau menipu!"
"Rasanya aku tak perlu untuk berbohong padamu, bukan?"
"Raut wajah seorang kemungkinan besar bisa diubah, namun suaranya sama sekali
bukan suaramu."
"Siapa bilang suara manusia tak dapat diubah? Asal seseorang memiliki bakat
untuk mengubah suaranya, tentu saja dia dapat mengubah suara pembicaraannya."
"Memang seseorang bisa berbicara dengan menggunakan puluhan dialek kata, tapi
jangan harap bisa mengubah nada suaranya."
"Bila nona tidak percaya, aku dapat segera mengubah suaraku dengan
menggunakan nada sewaktu berbicara dalam ruangan Seng tong tadi..."
"Yaa, aku memang ingin sekali membuktikan kecurigaanku itu."
Orang berbaju hitam itu tertawa nyaring, mendadak suaranya berubah menjadi
dingin menyeramkan, katanya. "Dalam keadaan saat seperti ini, aku rasa tak
mungkin ada orang yang berani menyaru sebagai diriku" katanya.
389
Beberapa patah kata itu diucapkan dengan suara yang dingin, aku dan
menyeramkan. Betul juga suara tersebut persis dengan suara menyeramkan yang
terdengar di dalam ruangan Seng-tong tadi.
"Ehmmm..., agak mirip juga" kata Nyoo Hong leng kemudian sambil manggutmanggut.
Orang berbaju hitam itu segera tertawa. "Agak mirip? Jadi nona masih belum juga
mempercayaiku?"
"Asal kau dapat mewakili Sam seng bun, perduli siapakah dirimu, hal itu sama
sekali tidak penting bagiku."
Orang berbaju hitam itu manggut-manggut. "Betul juga perkataanmu itu."
"Aku masih mempunyai suatu permintaan lagi, apakah kau bersedia untuk
mengabulkannya?"
"Apakah kau menghendaki agar aku melepaskan kain kerudungku dan berjumpa
dengan nona menggunakan raut wajah asliku?"
"Benar, kalau toh kau telah menganggap diriku sebagai tamumu, kenapa kau harus
menyembunyikan diri dengan menggunakan kain cadar untuk menutupi raut wajah
aslimu?"
"Bila arak sudah diminum, sayur sudah dimakan, dan nona sudah dapat membuang
jauh-jauh sikap permusuhanmu terhadap diriku, tentu saja aku akan melepaskan
kain kerudungku ini dan bertemu dengan nona dengan wajah asliku."
Mendengar perkataan itu, Nyoo Hong leng lantas berpikir di dalam hatinya. "Apa
yang dia katakan memang ada benarnya juga, tampaknya aku tak mungkin bisa
memaksakan permintaanku lagi."
Berpikir sampai begitu, tiba2 ia menghela napas panjang.
Sambil tertawa ringan, orang berbaju hitam itu segera bertanya, "Nona, mengapa
kau menghela napas panjang?"
"Kau enggan melepaskan kain kerudung mukamu, hal ini membuat aku merasa
dirugikan."
Orang berbaju hitam itu segera tertawa. "Kalau aku yang kalah nona tak mungkin
akan menjamu diriku sebagai seorang tamu agung!"
Mendengar itu, kembali Nyoo Hong leng berpikir, "Perkataan ini pun betul juga,
seandainya kami yang menang, sudah pasti kami tak akan bersikap demikian baik
kepada dirinya."
Dia merasa setiap perkataan dari orang berbaju berwarna hitam itu sangat tajam
setiap patah katanya, seakan-akan tertuju pada titik kelemahan orang, membuat
siapapun tak sanggup untuk membantahnya lagi.
Sementara gadis itu masih termenung, orang berbaju hitam itu telah bertepuk
tangan dua kali sambil berseru. "Hidangkan sayur!"
390
Kemudian sambil tertawa nyaring, lanjutnya. "Apakah perlu untuk mengundang
Buyung kongcu dan nona Kwik untuk mendampingi nona?"
"Bukankah kau telah meluluskan permintaanku ini? Memangnya kau sudah lupa?"
"Tidak, aku tidak lupa, cuma ada satu hal perlu kuterangkan dahulu, harap nona
suka mempertimbangkannya."
"Aku akan mendengarkan dengan seksama!"
"Apabila nona bersikeras ingin agar Buyung Im seng dan nona Kwik mendampingi
dirimu dalam perjamuan, maka akupun tak dapat melepaskan kain cadarku dan
menjumpai kau dengan raut wajah asliku."
Nyoo Hong leng segera berkerut kening, serunya, "Maksudmu...?"
"Aku telah berjanji kepada nona untuk mengundang Buyung Im seng dan Kwik
Soat kun sekalian menemanimu dalam wajah asliku, itulah sebabnya diantara
kedua hal ini, aku minta kepada nona untuk memilih satu diantaranya."
Nyoo Hong leng termenung dan berpikir sebentar, kemudian sahutnya. "Aku telah
mendapatkan sebuah cara yang sangat baik."
"Apa caramu itu?"
"Sebelum mereka datang kemari, kau boleh melepaskan kain kerudungmu itu agar
aku bisa menyaksikan raut wajah aslimu."
Mendengar perkataan tersebut, orang berbaju hitam itu segera tertawa terbahakbahak.
"Haaah... haaahh.. nona memang pintar sekali!"
Nyoo Hong leng turut tertawa pula. "Apakah caraku ini tak bisa jalan?" tanyanya.
Orang berbaju hitam itu menggelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya seraya
tertawa. "Kau tak boleh meraih keuntungan yang demikian besarnya."
"Kalau begitu, pembicaraan kita menjadi gagal total" seru Nyoo Hong leng dengan
suara dingin.
"Nona keliru besar, dalam keadaan seperti ini, sesungguhnya kau sudah berada di
sarang harimau..."
"Aku mengatakan kau yang keliru besar" tukas sang nona.
"Aku masih membawa senjata dan senjata rahasia, aku masih memiliki
kesanggupan untuk bertarung melawanmu, disinipun kau tak mempunyai
pengawal, itu berarti kau harus turun tangan sendiri untuk menghadapi
seranganku."
"Nona!" kata orang berbaju hitam itu dengan suara dingin, "ketahuilah, aku telah
memberi pelayanan istimewa dan paling baik bagimu, bila nona masih saja kelewat
batas...."
"Mau apa kau?" tukas Nyoo Hong leng.
"jika sampai membangkitkan kemarahanku, hal ini tak akan mendatangkan
keuntungan apa-apa bagimu."
391
Teringat, kalau keselamatan Buyung Im seng masih berada di tangannya, terpaksa
Nyoo Hong leng harus menahan kobaran hawa amarah yang berkecamuk dalam
dadanya, lalu katanya sambil tertawa.
"Sebenarnya, apa maksud dan tujuanmu yang sebenarnya? Mengapa kau bersikap
istimewa kepadaku?"
Pertanyaan ini diajukan amat mendadak sekali, membuat orang berbaju hitam itu
harus termenung beberapa saat lamanya, sebelum menjawab dengan pelan.
"Bagaimana pula dengan perasaan nona sendiri?"
"Aku tidak merasakan apa-apa, sebab diantara orang yang kukenal, kau memberi
kesan terjelek bagiku."
Orang berbaju hitam segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahakbahak.
"Haaahh... haaahhh... haaahaa.. nona tentunya telah melupakan sesuatu."
"Melupakan apa?"
"Lupa kalau kita sedang berhadapan muka sebagai musuh, nona adalah musuhku,
maka apakah kau harus memimpin seluruh anak buahku untuk menyambut
kedatanganmu dari tempat kejauhan?"
Dalam hati Nyoo Hong leng kembali berpikir. "Perkataan yang dia ucapkan ini
benar juga bagi tindakan yang diambil seorang musuh terhadapku, boleh dibilang
sikapnya ini tidak termasuk amat jelek."
Berpikir demikian, dia lantas berkata lagi dengan suara kaku dan dingin.
"Selamanya aku tak pernah punya musuh, juga tidak pernah ada orang yang
bersikap lebih jelek daripada sikapmu itu.:
"Aku rasa persoalan ini bukan merupakan pokok persoalan yang pantas untuk
diperdebatkan, yang paling penting sekarang adalah nona sudah berada dalam
posisi yang terjepit, kemungkinan besar santapanmu kali ini akan merupakan
santapanmu yang terakhir, tapi mungkin juga.."
"Cukup!" tukas Nyoo Hong leng cepat, "aku tak ingin digertak orang, selain itu
akupun merasa bahwa cepat atau lambat kita harus melangsungkan juga suatu
pertarungan sengit."
Orang berbaju hitam itu segera tertawa tergelak-gelak. "Haaahhh... haaahhh...
haaahhh... baiklah, aku bersedia untuk memenuhi keinginanmu itu, sebelum
bersantap malam kau masih tetap merupakan tamu agung ku, selesai bersantap
malam nanti, engkau sebagai teman atau sebagai musuh, terserah keputusan nona
saja."
Berbicara sampai di situ, dia lantas memperkeras suaranya sambil berseru.
"Silahkan Buyung kongcu dan nona Kwik masuk ke dalam !"
Tak selang beberapa saat kemudian, benar juga, tampak Buyung Im seng dan Kwik
Soat kun berjalan masuk ke dalam, di belakangnya mengikuti pula nona Siau tin.
Dengan langkah lebar Buyung Im seng berjalan ke depan menuju ke arah meja
perjamuan, kemudian berhenti.
392
Dengan suara dingin dan kaku orang berbaju hitam itu segera berseru. "Silahkan
kalian berdua ambil tempat duduk!"
Kemudian sambil menatap wajah Siau tin, lanjutnya. "Nona Siau tin, di tempat ini
tidak disediakan tempat duduk bagimu, terpaksa kau dipersilahkan berdiri saja."
Di luar dugaan, Siau tin kelihatan menurut sekali dengan dia, lantas berdiri di
belakang Kwik Soat kun.
Terdengar orang berbaju hitam itu tertawa dingin, kemudian serunya kembali.
"Sekarang kalian sudah boleh bersantap !"
Tampaknya Buyung Im seng dan Kwik Soat kun sangat menurut sekali dengan
perkataan dari orang berbaju hitam itu, mereka segera menggerakkan sumpit dan
mulai bersantap.
Nyoo Hong leng yang menyaksikan kejadian itu menjadi sangat heran, segera
tegurnya. "Nona Kwik, Buyung toako, apakah kalian tak kuatir keracunan? Kenapa
kalian membungkam terus?"
Buyung Im seng dan Kwik Soat kun hanya memandang sekejap ke arah Nyoo Hong
leng, tak sepatah katapun yang diucapkan. Nyoo Hong leng semakin gelisah setelah
menyaksikan kejadian itu, serunya lagi.
"Enci Kwik, kau selalu bertindak hati2 dan cermat, sekarang kenapa kau tidak
bertindak berhati-hati?"
Kwik Soat kun meletakkan sumpitnya ke meja berpaling ke arah Nyoo Hong leng
dan agaknya seperti mengatakan sesuatu.
Tapi orang berbaju hitam itu keburu membentak dengan suara dingin. "Lanjutkan
santapanmu!"
Sekalipun hanya sepatah kata yang amat singkat, akan tetapi se-akan2 memiliki
suatu kekuatan yang amat besar sekali, bagaikan mendapat perintah dari
atasannya saja. Kwik Soat kun dan Buyung Im seng segera melanjutkan kembali
santapannya tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Braaakk..." Nyoo Hong leng segera meletakkan kembali sumpitnya ke atas meja,
kemudian tegurnya,
"Dengan mempergunakan cara apakah kau telah menguasai mereka?"
Orang berbaju hitam itu segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahakbahak.
"Haaahhh... haaahhh... haaahh.. nona Nyoo, apa salahnya kalau kau
pergunakan kecerdasan otakmu untuk menduga sendiri, dengan menggunakan cara
apakah aku telah mengendalikan mereka?"
"Kalau kau tidak bersedia untuk menjelaskan keadaan sebenarnya, darimana
mungkin orang lain bisa mengetahuinya?" Kembali orang berbaju hitam tertawa
terbahak-bahak.
"Haaahh... haahaa.. nona masih berusia muda, tak heran kalau ucapanmu masih
membawa sifat kekanak-kanakanmu."
"Apa maksudmu?"
393
Setiap pertanyaan dan setiap patah kata yang kau ucapkan membuat aku
merasakan amat geli sekali. Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan. Misalnya
aku berniat untuk menerangkan padamu apa sebabnya mereka mau menuruti
perkataanku, bukankah aku tak perlu lagi untuk mencoba kecerdasanmu?"
Nyoo Hong leng termenung sebentar, kemudian ujarnya. "Aku tak ingin
menghamburkan waktu yang terlalu banyak, aku harap kau suka mengatakannya
kepadaku, bukankah dengan demikian akan mengurangi banyak kesulitan?"
"Memang benar perkataan dari nona" seru orang berbaju hitam itu pelan.
"Memangnya ada sesuatu yang tidak benar?"
"Aku tidak tahu" kata orang berbaju hitam itu sambil tertawa, "kita berhadapan
sebagai musuh, mengapa pula aku mesti memberitahukan rahasia ini kepadamu."
Pelan-pelan Nyoo Hong leng bangkit berdiri, lalu berkata. "Aku rasa pasti ada suatu
cara lain untuk mengetahuinya."
"Kau mempunyai cara apa?"
Mendadak Nyoo Hong leng mengayunkan tangan kanannya, sebatang sumpit
secara tiba-tiba meluncur ke depan secepat kilat dan menyambar ke tubuh orang
berbaju hitam itu.
Menghadapi datangnya serangan tersebut, orang berbaju hitam itu sama sekali tak
bergerak, ia tetap duduk di tempat semula, sementara tangan kanannya diangkat
ke atas dan secara manis sekali menangkap sambitan sumpit yang tertuju ke
arahnya tadi.
Menyaksikan kepandaiannya dalam menyambut sumpit tersebut, Nyoo Hong leng
merasa terkesiap sekali, diam-diam pikirnya. "Telinganya masih mengagumkan,
jelas dia adalah manusia yang berbahaya sekali."
Berpikir sampai di situ, ia lantas menyelinap maju ke depan sambil melakukan
terkaman, tangan kanannya diayunkan ke depan langsung mencengkeram
pergelangan tangan orang itu.
Tiba-tiba orang berbaju hitam itu bangkit berdiri, tangan kanannya diangkat dan
kelima jari tangannya berbalik mencengkeram di atas pergelangan tangan kiri
Nyoo Hone leng, ujarnya sambil tertawa.
"Nona, benarkah kau hendak mencoba sampai dimanakah taraf kepandaian silat
yang kumiliki ?"
Nyoo Hong leng tidak banyak bicara lagi, sepasang telapak tangannya melancarkan
serangan berantai mendesak orang berbaju hitam itu habis-habisan....
Orang berbaju hitam itu tetap berdiri tegak di tempat semula, dengan suatu
gerakan tangan yang sangat enteng dia mengayunkan tangannya kesana kemari
membendung semua ancaman dari Nyoo Hong leng yang tertuju ke arahnya.
Secara beruntun Nyoo Hong leng telah melancarkan puluhan jurus serangan,
namun semuanya dapat ditangkis dan dibendung orang berbaju hitam itu dengan
mudah.
394
Anehnya orang berbaju hitam itu tidak pernah melancarkan serangan balasan, dia
hanya menangkis dan mematahkan setiap serangan dari Nyoo Hong leng yang
ditujukan kepadanya.
Makin lama serangan yang dilancarkan Nyoo Hong leng semakin cepat, ancaman
demi ancaman yang dilancarkannya pun semakin gencar dan dahsyat.
Akan tetapi, orang berbaju hitam itu masih tetap berdiri tegak di tempat semula,
entah bagaimanapun dahsyat dan gencarnya serangan yang dilancarkan Nyoo Hong
leng, namun orang berbaju hitam itu tetap melayani dan menghadapi dengan
berdiri tegak di tempat semula.
Setelah melancarkan puluhan jurus serangan berikutnya, Nyoo Hong leng baru
sadar kalau dia telah berjumpa dengan seorang musuh tangguh yang belum pernah
ditemuinya selama ini, diam-diam diapun berpikir.
"Kalau dilihat dari situasi yang terbentang di depan mata sekarang, orang aneh itu
tampaknya bila tidak kugunakan serangan yang mematikan, bila dia sampai
membuka serangan balasan, sudah pasti akan sulit bagiku untuk
menghadapinya...."
Berpikir sampai di sini, tangan kanannya segera diayunkan ke depan melepaskan
segulung desingan angin tajam yang langsung menyergap ke dada orang berbaju
hitam itu.
Serangan itu dilancarkan dengan ganas dan dahsyat, tampaknya orang berbaju
hitam itupun dapat merasakannya, maka kali ini dia tidak membendung serangan
tersebut. Sebaliknya tubuh yang selama ini berdiri tak berkutik itu mendadak
bergeser ke samping dan menghindarkan diri dari serangan lawan.....
Pergeseran langkah tubuhnya kali ini dilakukan dengan sangat aneh tapi jitu,
bukan mundur ke belakang, juga bukan menghindarkan diri dari ancaman dengan
begitu saja, melainkan memanfaatkan kesempatan baik itu untuk bergerak ke
depan dan mencari posisi yang baik untuk melancarkan serangan balasan.
Jelas serangan berantai dari Nyoo Hong leng yang begitu dahsyat dan gencar itu
telah memaksanya untuk melancarkan serangan balasan guna meraih
kemenangan, sebab sistim pertahanan sudah tak mungkin akan dapat
dipertahankan lebih jauh.
Benar juga, setelah menghindarkan diri dari serangan musuh, sambil tertawa
dingin orang yang berbaju hitam itu berkata.
"Tak aneh kalau nona berani berbicara sombong dan lagakmu besar, rupanya
kepandaian silat yang kau miliki memang benar-benar sungguh hebat sekali....."
Selesai mengucapkan perkataan itu, sepasang tangannya secara beruntun telah
melancarkan tiga kali jurus, ke enam jurus serangan tersebut dilancarkan pada
saat yang bersamaan waktunya, tak terlukiskan kecepatan geraknya.
Begitu dahsyat dan gencarnya serang mana akan bisa memaksa Nyoo Hong leng
harus mundur terus ke belakang untuk menghindarkan diri.
Begitu orang berbaju hitam itu melancarkan serangan balasan, Nyoo Hong leng
segera merasakan daya tekanan yang sangat berat menindih tubuhnya, semua
395
kepandaian silat yang dimilikinya selama ini seolah-olah tak dapat dikembangkan
kembali,
Sadarlah gadis itu bahwa baik dalam soal tenaga dalam maupun dalam hal jurus
serangan dia masih tertinggal jauh sekali dari lawannya serta sesudah mendesak
mundur Nyoo Hong leng tadi, orang berbaju hitam itu tidak melanjutkan
desakannya, tapi sambil menarik kembali serangannya ia berkata sambil tertawa.
"Diantara anak buahku walau terdapat banyak sekali wanita cantik.... "
Nyoo Hong leng memusatkan segenap perhatiannya ke depan, sementara otaknya
berputar kencang mengulangi kembali segenap kepandaian silat yang pernah
dipelajarinya selama ini. Dia berharap bisa menemukan semacam kepandaian sakti
yang bisa dipakai untuk menaklukan lawan, sedemikian seriusnya dia memeras
otak sampai-sampai dia tak mendengar lagi apa yang dikatakan orang berbaju
hitam itu.
Tatkala orang berbaju hitam itu tidak berhasil mendapatkan jawaban dari Nyoo
Hong leng pelan-pelan dia melanjutkan kembali. "Tapi belum pernah kujumpai ada
seorang perempuan cantik yang luar biasa seperti nona !"
"Ehmm.... lantas kenapa ?" kata Nyoo Hong leng. Dia tidak mendengar kata-kata di
atas namun dapat mendengar kata-kata selanjutnya ini dengan jelas sekali.
"Itulah sebabnya mengapa kau bisa bertarung sekian lama denganku tanpa
menderita luka barang sedikitpun jua."
"Tampaknya kepandaian tangan kosong, aku memang sulit untuk mencari
kemenangan darimu."
"Siapa yang tahu keadaan, didalam seorang manusia pandai, aku merasa kagum
sekali dengan pandangan dari nona itu."
"Cuma, toh masih ada senjata tajam, aku yakin memiliki kesempurnaan yang luar
biasa dalam permainan ilmu pedang, karena itu aku harap bisa menangkan kau di
ujung pedang."
"Kalau berbicara dalam soal ilmu pedang akupun yakin masih melebihi
kemampuanku dalam permainan tangan kosong, apakah nona masih bermaksud
untuk mencobanya ?"
"Mungkin kita masih bertarung untuk beradu jiwa."
"Lohu enggan untuk melangsungkan pertarungan yang bisa berakibat kematian di
kedua belah pihak, cuma.... "
"Cuma kenapa ?" tukas Nyoo Hong leng.
"Seandainya kau menderita kekalahan lagi di ujung pedangku, apakah kau bersedia
untuk mengaku kalah ?"
Nyoo Hong leng sama sekali tak mempunyai keyakinan untuk menang, maka
sahutnya.
"Menang kalah adalah suatu kejadian yang lumrah dalam suatu pertarungan,
mengaku kalah bukan sesuatu yang menyulitkan."
396
"Bagus sekali, bawa pedang kemari !"
Menyusul teriakannya itu, dua orang nona berbaju putih segera munculkan diri
dari balik pintu rahasia di ujung ruangan sana.
Ditangan kedua orang gadis itu membawa sebilah pedang dan memburu datang
dengan langkah cepat, kemudian dengan serius mereka berdiri di samping orang
berbaju hitam itu.
Sambil tertawa dingin Nyoo Hong leng segera menyindir.
"Tampaknya di sekitar ruang tamu yang luas ini, kau telah persiapkan banyak
jebakan."
Orang berbaju hitam itu tertawa.
"Jebakan mah tak bisa dikatakan, cuma arsitek pembangunan gedung ini memang
dilakukan secara istimewa disertai perlengkapan pelbagai alat rahasia. Tempat ini
pun merupakan tempat beristirahatku, sekalipun pemimpin dari pasukan
pengawalku juga tak akan berani menyerbu masuk kemari sebelum memperoleh
panggilanku."
Sementara orang berbaju hitam itu berbicara, diam-diam Nyoo Hong leng
memperhatikan gerak gerik dari Buyung Im seng dan Kwik Soat kun sekalian,
namun paras muka ketiga orang-orang itu masih tetap kaku tanpa emosi, seakanakan
sama sekali tidak mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh mereka
berdua.
Kejadian tersebut segera membuat hati Nyoo Hong leng merasa terkesiap sekali,
tapi hal ini pun membuatnya menjadi teringat kembali dengan Lian Giok seng yang
berada di luar.
Setelah kehilangan keyakinan untuk meraih kemenangan di situ pun dia hanya
seorang diri tanpa teman, maka timbullah ingatan untuk beradu nasib, maka
katanya kemudian.
"Sebelum kita berdua melangsungkan pertandingan pedang ini, paling baik jika
diundang seseorang untuk bertindak sebagai saksi."
"Aku rasa tak perlu." sahut orang berbaju hitam itu sambil tertawa, "menang kalah
diantar kita berdua, lohu terasa pasti dapat dibedakan dengan jelas sekali."
"Tidak bisa jadi ! Aku rasa sudah sepantasnya jika ada seseorang yang bertindak
sebagai saksi, daripada menang kalah sukar untuk dibedakan secara jelas..........."
Orang berbaju hitam itu termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian
ia berkata.
"Kau memang cerdik sekali, tampaknya kau sengaja berbuat demikian dengan
tujuan agar aku akan menyembuhkan kembali kesadaran Buyung Im seng
bukan...?"
Nyoo Hong leng segera menggelengkan kepalanya berulang kali,
"Tidak, aku tidak bermaksud demikian" katanya, "saksi tersebut tidak seharusnya
dipilih dari kita berdua !"
397
"Tapi ditempat ini hanya hadir temanmu atau anak buahku, bagaimana pula
caranya untuk melakukan pemilihan ini ?"
"Kalau begitu pilih saja seorang diantaranya dari anak buahmu !" Jawaban ini di
luar dugaan orang berbaju hitam itu, dia menjadi tertegun untuk beberapa saat
lamanya, setelah itu katanya, "Baik, katakanlah nona, siapakah orang yang kau
pilih?"
"Aku mana kenal dengan anak buahmu ? Tapi aku dapat merasakan kalau orang
yang bertarung melawanku di ruang besar tadi berilmu sangat tinggi. Bagaimana
kalau kita suruh dia saja yang bertindak sebagai saksi di dalam pertarungan adu
pedang yang kita lakukan nanti."
"Baik, aku akan menyuruhnya datang kemari."
Dia lantas berpaling memandang sekejap ke arah nona berbaju putih yang berada
di sisinya.
Orang itu membungkukkan badannya dan segera berlalu.
Tak lama kemudian, dia telah mengajak Lian Giok seng masuk ke dalam ruangan.
Ketika tiba pada jarak delapan depa dari orang berbaju hitam itu, Lian Giok seng
segera menghentikan langkahnya, kemudian sambil menjura dengan penuh rasa
hormat dia berkata.
"Seng cu ada pesan apa ?"
"Aku hendak melakukan pertarungan adu pedang dengannya. Aku minta kau
bertindak atas saksinya."
"Tentang soal ini..... hamba tidak berani" sekali lagi Lian Giok seng
membungkukkan badannya dalam-dalam. Nyoo Hong leng yang mendengar ucapan
itu jadi naik darah, tak tahan lagi dia tertawa dingin tiada hentinya.
"Heeehhh.... heeehhh... heeeehhhhhh.... katanya saja seorang lelaki sejati, tak
tahunya menjadi seorang saksipun tak berani, buat apa kau hidup di dunia ini ?
lebih baik mampus saja."
Dampratan tersebut diutarakan amat kasar dan bernada tajam, kontan saja pipi
Lian Giok seng berubah menjadi merah padam karena jengah sekali.
Tapi dia malah dapat menahan sabar dan tak sampai mengumbar hawa
amarahnya, sambil menengadah dia memandang sekejap ke arah Nyoo Hong leng,
sementara mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.
Orang berbaju hitam itu segera manggut-manggut katanya.
"Nona Nyo lah yang telah meminta kepadamu untuk menjadi saksi bagi
pertarungan adu pedang yang hendak kami lakukan, aku rasa engkaupun tak usah
menampik lagi."
Buru-buru Lian Giok seng membungkukkan badannya memberi hormat.
"Perintah seng cu tak berani hamba tampik"
Kembali orang berbaju hitam itu manggut-manggut.
398
"Dalam bertindak sebagai saksi dalam pertandingan adu pedang kami nanti, kau
harus bertindak seadil-adilnya, tidak boleh ada maksud berat sebelah."
"Hamba terima perintah."
Orang berbaju hitam tadi segera tertawa nyaring katanya kemudian.
"Nah nona, sekarang kau boleh memilih senjata lebih dulu, kedua belah pedang ini
mempunyai bobot yang sama beratnya, silahkan nona untuk memilih lebih dahulu."
Nyoo Hong leng pun tak sungkan-sungkan lagi, dia maju menghampiri gadi berbaju
putih yang membawa pedang itu dan menimang-nimang kedua bilah senjata tadi,
setelah diperhatikan dengan seksama akhirnya dia memilih salah satu
diantaranya.
Sambil mengambil pedang sisanya, orang berbaju hitam itu berkata lagi.
"Nona, sekarang kau boleh melancarkan seranganmu !"
Nyoo Hong leng meloloskan pedangnya dari sarung, kemudian berkata dingin.
"Lepaskan dulu kain cadar yang menutupi wajahmu sebelum pertarungan dimulai."
"Sudah kukatakan tadi, kain cadar ini tak dapat dilepas."
"Sekarang temanku sudah kau lukai, membuat mereka kehilangan daya
kemampuan untuk berpikir dan berbuat, apa pula yang kau takuti ?"
"Aku tidak takut, melainkan tidak mau....."
"Apakah kau merasa tampangmu terlampau jelek dan malu bertemu dengan orang
?"
Orang berbaju hitam itu menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya
kemudian.
"Kau tidak mengerti, tapi jika kau bersedia tinggal di sini lebih lama lagi, suatu
ketika, kau pasti dapat melihat raut wajah asliku....."
Nyoo Hong leng segera mengalihkan sorot matanya ke arah Lian Giok seng,
kemudian berkata lagi.
"Apakah kau hendak samakan aku dengan mereka, bila berjumpa dengan kau
sikapnya mesti munduk-munduk macam budak belian ? Aku lebih suka mati
dengan tubuh tercincang daripada menjadi budak belian orang."
Orang berbaju hitam itu segera tertawa.
"Tentu saja kau tak usah seperti mereka itu."
Setelah berhenti sejenak, lanjutnya.
"Mari kita beradu pedang lebih dulu ! Menanti kau sudah takluk, baru akan ku ajak
kau untuk melihat-lihat."
"Melihat apa ?" tanya Nyoo Hong leng keheranan.
"Agar menambah pengetahuanmu bahwa kekuatan perguruan tiga malaikat yang
berambisi untuk menguasai seluruh dunia persilatan bukanlah cuma suatu cita-cita
yang muluk."
399
"Aku tidak akan ambil perduli terhadap ocehanmu yang sebukit itu, pokoknya
sebelum kau lepaskan kain cadar itu, kita pun tak usah beradu pedang lagi."
"Apakah hal ini pun merupakan suatu gertakan terhadap diriku ?" Tanya orang
berbaju hitam itu sambil tertawa.
"Aku tidak bermaksud menggertakmu, cuma sekali aku bilang tidak bertanding,
aku tetap tak akan bertanding."
Sambil memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung, dia segera berjalan
kembali melalui jalan yang semula.
"Hei, kau akan pergi kemana ?" orang berbaju hitam itu segera berseru keras.
"Aku hendak pergi, pergi meninggalkan tempat ini."
Orang berbaju hitam itu segera tersenyum katanya.
"Semua pintu di dalam ruang rahasia ini terbuat dari baja asli, barang siapa tidak
mengetahui cara untuk membukanya, maka jangan harap dia bisa pergi
meninggalkan tempat ini."
Nyoo Hong leng menjadi tertegun.
"Sungguhkah ini ?" serunya kemudian.
"Bila kau tidak percaya dengan perkataanku ini, kenapa tidak kau lanjutkan
langkahmu untuk memeriksanya sendiri ?"
Nyoo Hong leng termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, lalu katanya.
"Aku percaya apa yang kau katakan itu merupakan ucapan yang sejujurnya....."
"Ooh... tak kusangka, ternyata kau bersedia untuk mempercayai perkataanku !"
"Berada dalam keadaan dan situasi seperti ini, sekalipun aku tak ingin
mempercayai juga tidak bisa."
Orang berbaju hitam itu segera tertawa terbahak-bahak.
"Haahhh.... haaahhh... haaahhh... nona memang benar-benar pintar sekali, bila kau
dapat mempercayai semua perkataanku, bukan saja dapat menikmati kekayaan
yang melimpah lagi pula temanmu juga takkan mengalami celaka apa-apa, cuma.."
oooOooo
Bagian kedua puluh sembilan
"Cuma kenapa ? tanya Nyoo Hong leng.
"Cuma, kita harus melangsungkan suatu pedang terlebih dahulu, sebab bila kau
sudah menderita kekalahan di tanganku, barulah akan kau percayai bahwa setiap
perkataanku bukanlah kata-kata yang bohong belaka..."
Dengan pandangan dingin Nyoo Hong leng memandang sekejap ke arah Lian Giok
seng, kemudian ujarnya.
"Suruh pengawalmu itu menyingkirkan semua meja dan kursi !"
Orang berbaju hitam itu segera berpaling ke arah Lian Giok seng sambil katanya.
400
"Harap kalian berdua berdiri dulu dan berdirilah di sudut dinding ruangan situ !"
Anehnya ternyata Buyung Im seng serta Kwik Soat kun menuruti perintah dari
orang berbaju hitam itu, serentak mereka bangkit berdiri dengan kedua belah
tangan lurus ke bawah.
Nyoo Hong leng yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa merasa terkejut, heran
bercampur sakit hati, bentaknya kemudian dengan penuh kegusaran.
"Hai, apakah kalian sama sekali tidak bersemangat jantan lagi ?"
Buyung Im seng memandang sekejap ke arah Nyoo Hong leng dengan kaku, dia
seperti hendak mengucapkan suatu namun niat itu kemudian diurungkan.
Nyoo Hong leng semakin naik darah, pedangnya segera diloloskan dari sarungnya
dan berkata dengan dingin.
"Suruh Lian Giok seng pindahkan semua meja itu !" "Lian hu-hoat turutlah
permintaannya itu " Kata orang berbaju hitam itu dengan nada tenang.
Dengan perkataan apa boleh buat terpaksa Lian Giok seng harus memindahkan
meja-meja tersebut ke sudut dinding sana.
"Hati-hati !" bentak Nyoo Hong leng kemudian.
Pedangnya digetarkan keras-keras, kemudian melancarkan sebuah tusukan ke
tubuh orang berbaju hitam itu.
Dengan cekatan orang berbaju hitam itu segera menggeserkan badannya ke
samping, pedangnya digetarkan ke muka dengan membawa serangan dahsyat,
seketika itu juga dia memaksa serangan Nyoo Hong leng harus ditarik kembali.
Sebelum sepasang pedang itu saling membentur, Nyoo Hong leng sudah didesak
hingga mundur selangkah.
Orang berbaju hitam itu segera manfaatkan peluang yang ada dengan menyerbu ke
muka. Pedangnya langsung diayunkan melepaskan bacokan kilat.
Desingan angin tajam yang menyayat badan segera berhembus lewat....
Diam-diam Nyoo Hong leng berpikir.
"Setiap gerakan pedang yang dilancarkan orang ini selalu disertai segulung hawa
pedang yang sangat kuat, jelas tenaga dalam yang dimiliki telah mencapai puncak
kesempurnaan, aaai... tampaknya pertarungan ini lebih banyak berbahayanya
bagiku dari pada suatu keberuntungan."
Berpikir sampai di situ, tubuhnya segera menyelinap dua langkah ke samping
untuk menghindarkan diri dari serangan lawan.
Orang berbaju hitam itu segera tertawa nyaring, ujarnya, "Nona, silahkan kau
menyerang dengan sepenuh tenaga, aku akan mencoba untuk mempertahankan
diri, aku ingin melihat kau gunakan segenap kepandaian yang kau miliki untuk
menyerangku."
Mendengar ucapan tersebut Nyoo Hong leng lantas berpikir. "Sekalipun kepandaian
silat yang kau miliki jauh lebih tangguh dari pada kepandaianku pun, tidak
seharusnya bicara sesumbar semacam ini."
401
Pedangnya segera digetarkan dan cahaya tajam berkilauan memenuhi seluruh
angkasa, selapis demi selapis bagaikan gelombang dahsyat langsung menyerang
tiba-tiba.
Orang berbaju hitam itu pun menggerakkan pula pedangnya menciptakan selapis
kabut cahaya untuk melindungi badan.
Kini, Nyoo Hong leng telah mempergunakan semua jurus serangan yang paling
sakti dan paling dahsyat untuk melepaskan puluhan jurus ancaman maut, namun
gerakan pedang dari orang berbaju hitam itu membawa segulung tenaga serangan
yang dahsyat sekali, membuat Nyoo Hong leng merasakan pedang yang berada di
tangannya kian lama kian bertambah berat sekali.
Mendadak orang berbaju hitam itu melancarkan serangan balasan. Trang ! Trang....
! benturan demi benturan bergema memecahkan keheningan semua orang.
Begitu pedang Nyoo Hong leng tertangkis miring, cahaya tajam segera berkelebat
lewat, cahaya pedang yang dingin tahu-tahu sudah mendekati dada seorang gadis
itu.
Padahal pada waktu itu pedang Nyoo Hong leng telah dipaksa berada di luar
lingkaran, jelas tak mungkin bisa dipakai lagi untuk menyelamatkan diri,
andaikata tepat pada waktunya orang berbaju hitam itu tidak akan segera menarik
kembali serangannya, niscaya dia dapat membuat Nyoo Hong leng tewas di ujung
pedangnya.
Sejak terjun ke dunia persilatan, belum pernah gadis itu mengalami kekalahan
seperti ini, dia pun belum pernah menjumpai manusia berilmu tinggi seperti ini,
dalam gusar dan cemasnya tanpa terasa air matanya jatuh bercucuran.
Orang berbaju hitam itu tertawa nyaring, ia segera menarik kembali serangannya
dan berkata sambil tertawa.
"Berbicara soal kesempurnaan dalam permainan pedang, nona memang tidak
berada di bawah kepandaianku. Cuma tenaga dalam yang nona miliki masih selisih
jauh sekali dengan kemampuanku, padahal dalam ilmu pedang hal tersebut
teramat penting, apalagi di dalam penggunaan ilmu pedang tingkat tinggi."
"Tutup mulut !" bentak Nyoo Hong leng dengan gusar, "sekarang aku telah
mengakui kalah di tanganmu, mau bunuh mau cincang terserah padamu."
Dia lantas membuang pedang itu ke atas tanah.
Kembali orang berbaju hitam itu ketawa, katanya.
"Cukup dipandang dari sikapmu yang berangasan dan penuh emosi, dapat
diketahui kalau kau sukar untuk mempelajari ilmu pedang tingkat tinggi...."
Pelan-pelan dia serahkan pedangnya ke tangan si nona berbaju putih yang berada
di sisinya, kemudian berkata,
"Kalian semua boleh mengundurkan diri !"
Dalam waktu singkat, berapa orang dayang itu telah meninggalkan ruangan
tersebut.
402
Kini dalam ruangan itu tinggal Buyung Im seng, Kwik Soat kun, Siau tin serta Lian
Giok seng.
Agaknya Lian Giok seng kuatir kalau orang berbaju hitam itu pun menyuruh dia
mengundurkan diri, diam-diam ia mengundurkan diri ke sudut ruangan dan berdiri
bersama-sama Buyung Im seng sekalian.
Baru saja akan mengumbar hawa amarahnya, mendadak satu ingatan melintas
dalam benak Nyoo Hong leng, dia lantas saja berpikir.
"Ilmu silat yang dimiliki sangat lihai, kecerdasan otaknya yang luar biasa sekali,
baik beradu kepandaian maupun beradu kecerdasan, aku bukan tandingannya,
padahal kita berhadapan sebagai musuh, kenapa dia tidak sungguh-sungguh
membunuhku ? Atau paling tidak, dia toh bisa menghadapi aku bagaikan
menghadapi Buyung toako dan nona Kwik sekalian ? Membuatku tak berdaya,
menuruti semua perintahnya dan menguntungkan pula posisinya ? Yaa, aku mesti
tenangkan dulu hatiku, sekarang aku baru lolos dari bahaya, maka aku mesti
berusaha keras untuk menemukan titik-titik kelemahannya, sebab bagaimanapun
sempurnanya kepandaian yang dimiliki seseorang sudah pasti dia memiliki titik
kelemahan tertentu. Bagaimanapun sempurnanya kepandaian silat yang dimiliki,
sudah pasti ada cara untuk mematahkannya...."
Tiba-tiba terdengar orang yang berbaju hitam itu menegur dengan secara lantang.
"Nona, kau sedang mempersiapkan rencana busuk apa lagi ?"
Sementara itu, Nyoo Hong leng telah berhasil menenangkan hatinya, setelah
berpikir demikian, pelan-pelan sahutnya.
"Aku sedang memikirkan satu persoalan."
"Memikirkan apa ? katakanlah kepadaku."
"Aku sedang berpikir apa yang hendak kau lakukan terhadap diriku ? Aku tak ingin
menjadi anak buahmu, pelayanmu, akupun tak ingin menjadi seperti Kwik Soat
kun sekalian, kehilangan kesadaran dan kemampuan untuk mengambil tindakan
sendiri, aku rasa tampaknya hanya ada sebuah jalan saja yang tersedia bagiku."
"Jalan apa ?"
"Mati ! Asal aku sudah mati, maka urusan akan selesai dan beres."
Mendengar perkataan itu, orang berbaju hitam itu segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaaahhhh.... haaahhhh..... haaahhhhh... semua orang yang berada di dunia ini
boleh mati, tapi kau boleh mati dan lagi kau pun tak akan mati..... "
"Mengapa ?" tanya Nyoo Hong leng keheranan.
"Sebab lelaki paling keji yang ada di dunia ini pun tak akan membunuhmu dengan
pedang. Kau adalah seorang gadis yang cantik jelita, seorang gadis yang gagah
perkasa, mungkin saja mereka tega untuk membunuhmu, tapi mereka tak akan
bertenaga untuk membinasakan orangmu."
"Menurut perkataanmu itu, jadi banyak sekali orang di dunia ini yang dapat
membunuhku ?"
403
"Tidak banyak, tidak banyak," jawab orang berbaju hitam itu sambil tertawa,
"misalnya saja dengan perguruan tiga malaikat kami, manusia yang sanggup
membunuh nona paling banter cuma ada tiga sampai lima orang saja."
Diam-diam Nyoo Hong leng merasa terkesiap juga setelah mendengar perkataan
itu, pikirnya.
( Bersambung ke jilid 21)
404
Lembah Tiga Malaikat
Oleh: Tjan
Jilid 21
Andaikata apa yang dia katakan itu benar, itu berarti di dalam perrguruan tiga
malaikat ini paling tidak ada empat atau lima orang yang bisa menangkan aku.
Berpikir demikian, dia lantas berkata "Apakah kau tidak bermaksud untuk
membunuhku? tidak bersiap-siap bagaimanakah caranya untuk menghadapiku?"
Orang berbaju hitam itu tertawa. "Kau menyebut dirimu sebagai Biauhoa leng cu,
mengumpulkan kawanan jago persilatan untuk memusuhi aku, aku rasa kau pasti
seseorang yang berambisi besar dan ingin menciptakan suatu kekuatan besar untuk
menguasai seluruh dunia persilatan, bukan?"
"Kalau benar, kenapa?"
"tapi sekarang, paling tidak kau sudah mengerti bahwa cita-cita dan ambisimu
untuk menguasai dunia persilatan, sudah tak mungkin terwujud lagi ..."
"Mungnkin kau sendiripun sudah mengerti bahwa duania persilatan pada saat ini
sudah bukan milikmu. Tapi bila kau bersedia untuk bekerjasama denganku, kita
bisa membagi rata dunia persilatan ini untuk diperintah bersama"
"Mengapa kau minta aku berbuat demikian?
"Tentu saja dengan beberapa syarat."
"Kalau begitu coba kau sebutkan dulu syaratnya, coba kulihat apa aku bisa
melakukannya atau tidak."
"Walaupun aku sudah menguasai dunia persilatan, tap berhubung harus melatih
semacam tenaga dalam tingkat atas yang maha dahsyat, sampai sekarang belum
pernah menikah, dan lagi akupun belum pernah bertemu dengan orang yang
menarik perhatianku. Oleh sebab itu bila kau bersedia kawin dengan aku, sekarang
juga aku akan mengangkatmu menjadi orang kedua di lembah tiga malaikat ini."
405
Nyoo Hong Leng segera berpikir. Ternyata memang permintaan inilah yang dia
ajukan. dilihat dari situasi yang terbentang di depan mata sekarang, jelas aku
sudah tak dapat menangkan dirinya lagi, tampaknya aku mesti mempergunakan
kecantikanku untuk meredakan dulu suasana disini.
Tapi tak urung paras mukanya berubah menjadi merah padam karena jengah.
Terdengar orang berbaju hitam itu memuji lagi, “Dalam keadaan malu, kecantikan
nona berlipat ganda, betul-betul suatu kecantikan yang tiada taranya di dunia ini,
ibarat bidadari yang baru turun dari kayangan.”
Kontan saja Nyoo hong Leng tertawa dingin. "Heeehhh... heeehhh... heeehhh... ,
tak usah kau meuji-muji, lepaskan dulu kain kerudung yang menutupi wajahmu
dan perlihatkan tampang aslimu kepadaku."
"Tampaknya nona sepertinya amat menaruh perhatian terhadap bentuk
wajahku...?"
"Bagaimana tampang wajahmu pun tak berani kau tunjukkan kepadaku, tak
nyana kau berani mengajukan ...,"
Sebenarnya dia hendak mengatakan “mengajukan pinangan” tapi ketika kata-kata
tersebut sudah sampai di depan bibir ternyata ia tak sanggup untuk melanjutkan
kembali kata-katanya.
Orang berbaju hitam itu mangut-mangut, "Ehmm, apa yang nona bilang itu
memang benar." Pelan-pelan ia lantas melepaskan kain kerudung mukanya.
Ketika Nyoo Heng leng mengamati wajah orang itu, tampaklah dia adalah seorang
lelaki setengah umur yang berkulit putih, berwajah persegi, dan bersih dari jenggot
dan kumis. Setelah kain cadarnya dilepaskan, bukan cuma nyo Hong leng yang
dibikin tertegun, bahkan Lian Giok seng sendiripun hatinya tergetar keras. Sebab
baik Lain Giok seng maupun Nyo Hong leng sama-sama tidak menyangka kalau
pemimpin dari perguruan tiga malaikat tak lain adalah seorang lelaki yang masih
muda uisianya. Pelan-pelan Nyoo Hong leng berusaha untuk menenangkan kembali
persaannya, kembali dia mengamati wajah orang itu denga seksama.
Walau dipandang secara bagaimanapun, uisa orang itu tidak akan lebih dari tiga
puluh tujuh delapan tahunan, hal ini yang membuatnya jadi sangat keheranan.
"Berapa usiamu tahun ini?", tanya gadis itu kemudian.
Orang berbaju hitam itu segera tersenyum. "Menurut pendapat nona, berapa pula
usiaku tahun ini?" dia balik bertanya pula.
"Aku tidak menebaknya."
"Tapi paling tidak aku belum berubah dan tubuhk belum tua renta dan
berkeriput."
"Perguruan Sam-seng bun sudah berdiri sejak dua puluh tahun berselang, aku
tidak percaya kalau dalam usia belasan tahun kau telah mampu untuk memimpin
perguruan Sam-seng bun."
"Kalau begitu, nona sudah dapat menduga berapa udiaku dalam tahun ini?"
406
Nyoo Hong leng menjadi tertegun, kemudian tanpa menjwab pertanyaan tersebut
itu dia berkata, "Kecuali kalau di tengah jalan terjadi perubahan besar dalam tubuh
perguruan Sam-seng bun, dimana kau telah berhasil merebut kedudukan sebagai
Sengcu."
Orang berbaju hitam itu segera tertawa riang. "Kecerdasan dan kepintaran nona
sungguh membuatku merasa amat kagum", cuma dugaanku terlalu dibuat-buat itu
sulit untuk membuat orang menjadi percaya."
Nyoo Hong leng tertawa dingin. "Heeehhh ... heeehhh ..., semoga saja kau tidak
menjadi ketakutan oleh ucapanmu itu."
Terdengar gelak tawa orang berbaju hitam itu setelah mendengar sindiran
tersebut. "Haaahhhh ... haaahhh ... haaaha aku sangat tenang, seluruh perguruan
San seng bun telah berada di bawah kekuasaanku, sekalipun kata-katamu dapat
mempengaruhi jalan pemikiran orang banyak, toh mereka tak akan berani
memandang aku.”
Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan.
“Aku rasa apa yang hendak nona sampaikan telah selesai diutarakan, aku rasa kita
harus membicarakan persoalan yang sesungguhnya sekarang.”
“Persoalan apa ?”
Dengan wajah yang berubah menjadi dingin, orang berbaju hitam itu berkata lagi.
“Nona memang berwajah cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, cuma bila kau
enggan untuk meluluskan permintaanku, toh kau sama saja tak akan lolos dari
tanganku.”
Nyoo Hong leng tahu bahwa ucapan tersebut bukan hanya gertak sambal belaka,
dia telah menyaksikan musibah yang menimpa Buyung Im seng serta Kwik Soat
kun dan dia pun tahu bahwa lawannya benar-benar memiliki suatu kemampuan
untuk memaksa orang lain menuruti perintahnya.
Maka setelah berpikir sebentar, dia berseru sambil mencibirkan bibirnya yang kecil.
“Hmm…. seperti manusia buas macam dirimu itu ?” Orang berbaju hitam itu
merasa bahwa tindak tanduk gadis itu sangat polos dan sedikitpun tidak dibuatbuat,
hal mana menambah daya tarik gadis itu semakin besar.
Untuk sesaat lamanya dia menjadi tertegun, kemudian katanya, “Kenapa dengan
aku ?”
“Kukungan dan cara mungkin bisa merubah jalan pemikiran seseorang mungkin
juga dapat menundukkan tubuh seseorang, seperti juga sikapmu terhadap Buyung
Im seng dan Kwik Soat kun, kau telah membuat mereka tunduk seratus persen
terhadap perintahmu, tapi mereka toh kaku dan bodoh seperti sebuah patung
belaka, aku tidak mengerti apakah cara ini dapat dianggap sebagai keberhasilanmu
?”
Orang berbaju hitam itu menghela napas panjang.
“Aaaai.. apa yang kau katakan memang benar, aku memang tak bisa hidup senang
dengan seorang istri yang kehilangan daya dan kesadarannya, hidup hanya
bagaikan sebuah robot belaka…”
407
“Kau….”
“Ketika pertama kali kulihat raut wajahmu tadi, aku telah bertekad akan
mengambilmu sebagai istriku !”
“Tapi, apakah kau tak berpikir pula atas diriku ?”
“Berpikir masalah apa ?”
“Berpikir apakah aku akan meluluskan permintaanmu itu atau tidak.”
“Aku yakin, apa yang telah kuucapkan pasti akan kuwujudkan sampai berhasil.”
“Atas dasar apa kau berani mempunyai keyakinan sebesar ini ?”
Orang berbaju hitam itu segera tertawa.
“Dalam sejarah hidupku belum pernah kulakukan sesuatu pekerjaan yang
mendatangkan kegagalan.”
“Bila aku tidak meluluskan permintaanmu itu ?”
Orang berbaju hitam itu segera tersenyum.
“Tentu saja aku mempunyai cara yang jitu untuk membuatmu harus meluluskan
permintaanku itu.”
“Apa caramu itu ?”
“Baik akan kuberitahukan kepadamu, bila kau menolak permintaanku itu, maka
akan kubunuh Buyung Im seng lebih dulu, kemudian kubunuh pula Kwik Soat kun,
tentu saja kematian Kwik Soat kun tak akan kau pikirkan di dalam hati, tapi
dengan ancaman jiwa terhadap Buyung Im seng aku percaya hatimu pasti akan
merasa sedih sekali.”
“Kau sangat yakin akan keberhasilanmu ?”
“Benar, bila kau tetap berkeras kepala, boleh saja kita buktikan sekarang juga !”
Nyoo Hong leng menjadi tertegun, dia terbungkam dalam seribu bahasa dan tak
sanggup berbuat apa-apa lagi.
Orang berbaju hitam itu tersenyum, dia lantas menggape ke arah Buyung Im seng
sambil berkata.
“Buyung Im seng, kemari kau !”
Buyung Im seng mengiakan, pelan-pelan dia berjalan ke depan orang berbaju hitam
itu dan berhenti di depannya.
Pelan-pelan orang berbaju hitam itu mengangkat telapak tangan kanannya dan
berkata.
“Nona Nyoo, cukup kutekankan telapak tanganku ini diatas ubun-ubunnya, maka
batok kepalanya pasti akan hancur.”
Sabil berkata, telapak tangannya benar-benar ditekankan ke bawah dan
menghantam batok kepala Buyung Im seng.
Melihat kejadian itu, Nyoo Hong leng menjadi amat cemas, buru-buru serunya
lantang.
408
“Hei, hei, tunggu sebentar !”
Orang berbaju hitam itu segera menghentikan gerakan tangannya, kemudian
bertanya.
“Kau merasa takut, bukan ?”
Nyoo Hong leng merasakan dadanya penuh dengan perasaan kesal yang
mengganjal hatinya, titik air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya, dengan
sedih ia berkata.
“Mereka berdua sama sekali tiada sangkut pautnya dengan urusan kita, kenapa
kau hendak membunuhnya ?”
“Sebab ancaman jiwanya dapat memaksamu untuk meluluskan permintaanku dan
kawin dengan aku.”
Mendengar itu, Nyoo Hong leng lalu berpikir.
“Aku bukan tandingannya, juga tak bisa dipaksa menggertak untuk menakutnakuti
dia, tampaknya aku mesti menahan aib untuk menolong Buyung Im seng
lebih dahulu.”
Berpikir demikian, dia lantas berkata dengan suara sedih.
“Bolehkah kau memberi waktu dua hari kepadaku, agar persoalan ini bisa
kupikirkan dengan seksama ?”
oooOooo
Bagian ketiga puluh
“Tentu saja boleh,” jawab orang berbaju hitam itu sambil tertawa, “perkawinan
merupakan suatu peristiwa besar dalam kehidupan manusia, tentu saja aku harus
memberi kesempatan kepadamu untuk memikirkan persoalan ini dengan seksama,
apakah kau merasa waktu yang cuma dua hari itu cukup ? Bila kau merasa kurang,
aku pikir memang ada baiknya bila kuberi waktu beberapa hari lagi kepadamu
agar persoalan ini bisa kau pikirkan lebih matang lagi.”
Ucapan tersebut sama sekali diluar dugaan Nyoo Hong leng, ia merasa cara kerja
orang ini memang lain dapada yang lain dan sama sekali di luar dugaan orang,
tanpa terasa dia menjadi tertegun dan berdiri termangu-mangu….
Sesaat kemudian, dia baru berkata.
“Kau hendak memberi waktu selama berapa hari kepadaku ?”
“Soal itu mah terserah pada nona sendiri, sepuluh hari juga boleh, satu dua bulan
juga boleh, aku bisa mempersiapkan suatu tempat yang sepi dan tenteram bagimu
untuk memikirkan persoalan ini pelan-pelan.”
Nyoo Hong leng yang keras hati dan angkuh tampaknya sama sekali sudah
ditundukkan oleh sikap orang berbaju hitam itu, dia menghela napas sedih, setelah
memandang sekejap ke arah Buyung Im seng dan Kwik Soat kun, tanyanya.
“Bagaimana dengan mereka ?”
“Untuk sementara waktu akan kujebloskan dulu ke dalam penjara sambil
menunggu keputusan dari nona.”
409
Setelah mendengar perkataan dari orang yang berbaju hitam itu, Nyoo Hong leng
menghembuskan napas panjang, sepasang matanya yang jeli dialihkan ke wajah
orang itu, lalu ujarnya lembut.
“Dapatkah kau memulihkan dulu kesadaran Buyung Im seng agar aku dapat
berbicara beberapa patah kata dengannya ?”
Orang berbaju hitam itu tersenyum.
“Soal itu mah, boleh saja kusanggupi, cuma, hal ini harus menunggu sampai nona
sudah mengambil keputusan, aku baru melakukannya dengan segera…..”
Ucapan ini diutarakan dengan suara yang lembut, akan tetapi sama sekali tiada
kesempatan untuk dirundingkan kembali. Agaknya sekarang Nyoo Hong leng
mengerti, baik di dalam ilmu silat, kecerdasan maupun ketajaman bersilat lidah, ia
masih bukan tandingan dari orang yang berbaju hitam itu, dalam keadaan
demikian, terpaksa dia harus berusaha untuk mempertahankan keselamatan jiwa
Buyung Im seng sekalian, kemudian baru diusahakan dengan cara lain.
Dlam keadaan demikian, tiba-tiba dia teringat kembali dengan diri Lian Giok seng,
maka ujarnya kemudian.
“Kau bermaksud hendak menghantarku ke tempat mana ?”
“Tentu saja suatu tempat yang berpemandangan alam sangat indah, sekalipun tak
bisa dikatakan sebagai suatu tempat yang indah sekali, namun semua
kebutuhanmu tak akan kekurangan.”
Nyoo Hong leng lantas berpikir.
“Andaikata aku menunjuk secara langsung agar Lian Giok seng menghantarkan
diriku, mungkin tindakan ini akan menimbulkan kecurigaan.”
Berpikir demikian, sambil tertawa dingin, dia lantas berkata.
“Apakah aku akan ke sana seorang diri ?”
“Tentu saja ada orang yang akan mengantarmu !”
“Kapan aku berangkat ?”
“Menurut pendapat nona ?”
“Aku tak ingin menyaksikan sikapmu yang sangat angkuh dan sok berlagak besar
ini.”
Tersenyumlah orang berbaju hitam itu.
“Baiklah !” ia berkata, “waktu yang kusediakan bagimu cukup panjang, nona
bolehlah memikirkan pelan-pelan.”
Sambil berpaling ke arah Lian Giok seng dia menambahkan, “Hantarlah nona Nyoo
menuju Teng-cian-siau-cu untuk beristirahat.”
“Apakah diharuskan mengenakan alat borgol ?”
Orang berbaju hitam itu menggelang.
“Tidak usah, mulai detik ini kalian harus baik-baik melayani nona Nyoo….”
“Hamba menurut perintah.”
410
Dengan suara dingin Nyoo Hong leng segera saja berseru.
“Suatu ketika bila aku berhasil merebut kekuasaan tertinggi dalam perguruan Sam
seng bun ini, maka orang pertama yang akan kubunuh adalah engkau, Lian Giok
seng !”
Lian Giok seng seperti agak tertegun oleh ucapan itu, dia menggerakkan bibirnya
seperti hendak mengucapkan sesuatu, namun keinginannya itu kemudian
diurungkan.
Nyoo Hong leng kuatir kalau orang berbaju hitam itu berubah pikiran, maka cepatcepat
dia membalikkan badan dan berlalu lenbih dulu meninggalkan tempat itu.
Lian Giok seng memandang sekejap ke arah orang berbaju hitam itu kemudian
berbisik lirih.
“Nona Nyoo amat membenci hamba.”
Orang berbaju hitam itu tersenyum, tanpa menjawab pertanyaan itu dia lantas
berkata.
“Hantarlah dia ke sana.”
Lian Giok seng segera mengiakan, dengan langkah lebar dia segera memburu di
belakang Nyoo Hong leng.
“Kraaak… !” sebuah pintu baja pelan-pelan naik ke atas…..
Lian Giok seng segera memburu ke depan dan berjalan di muka Nyoo Hong leng,
katanya.
“Aku akan membawakan jalan buat nona.”
Nyoo Hong leng dengan mengikuti dibelakang Lian Giok seng segera berjalan
menelusuri jalan kecil beralaskan batu kerikil.
Ketika angin berhembus lewat, terendus bau harum semerbak yang membuat
segarnya suasana.
Lian Giok seng segera berbisik.
“Harap nona mengikuti dibelakangku dan perhatikan setiap langkah kakiku….”.
Kenapa ?” seru Nyoo Hong leng dengan gusar, “tempat ini adalah tanah lapang
yang luas, sekalipun aku hendak kabur, aku tidak percaya kalau kau dapat
menyusulku.”
Lian Giok seng tersenyum.
“Seandainya Seng cu tidak mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang,
apakah dia tetap akan membiarkan kau pergi dengan bebas merdeka seperti
sekarang ini ?”
“Kau suruh aku berusaha untuk mengundangmu masuk ke ruang rahasia…..”
Ketika mendengar perkataan itu, Lian Giok seng menjadi terperanjat, buru-buru
bisiknya.
'“Ssstt…! Jangan keras-keras.”
“Kau merasa takut ?” Nyoo Hong leng malah sengaja memperkeras suaranya.
411
Diam-diam Liang Giok seng mengerutkan dahinya rapat-rapat, kemudian ujarnya.
“Bila kau tidak ingin menolong Buyung kongcu, silahkan saja berteriak-teriak
keras.”
Ucapan tersebut seketika itu juga membuat Nyoo Hong leng menjadi tertegun.
“Aku ingin menolongnya !” dia berseru.
“Kalau begitu, dengarkan perkataanku.”
“Mendengar kata-kata setanmu ! Kau minta aku berusaha untuk mengundangmu
masuk, dan aku telah melakukannya, bantuan apakah yang telah kau berikan
kepadaku ?”
Kendatipun nadanya masih marah dan mendongkol namun suaranya jauh lebih
lirih.
Dengan mempergunakan suara yang paling lirih Lian Giok seng menjawab.
“Paling tidak, aku toh tidak berniat mencelakaimu….”
Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan.
“Usia Sengcu benar-benar berada diluar dugaanku.”
“Sudah sekian lama kau mengikutinya, apakah selama ini belum pernah melihat
raut wajah aslinya ?” seru Nyoo Hong leng dengan nada tercengang. “Belum. Dan
apa yang kusaksikan hari ini membuat aku merasa terkejut bercampur keheranan.”
“Betul-betul seorang budak yang berbakat, sudah belasan tahun menjadi pengawal
pribadinya, maka bagaimanakah raut wajah majikannya tidak pernah diketahui ?”
Dampratan ini benar-benar sangat tajam dan menusuk perasaan, kontan saja paras
muka Lian Giok seng berubah menjadi merah padam seperti kepiting rebus,
hatinya bagaikan tertusuk-tusuk dengan pisau belati.
Bagaimanapun tebalnya iman orang itu, toh gusar juga setelah mendengar
dampratan tersebut, untung saja dia masih dapat mengendalikan diri katanya,
“Bangunan Teng-cian-siau-cu merupakan suatu tempat yang terpenting dan sepi,
walaupun sekilas pandangan seolah-olah nona bebas merdeka, sesungguhnya dari
empat arah, delapan penjuru terdapat orang-orang yang mengawasi semua gerakgerikmu
itu, maka kuanjurkan kepada nona agar lebih berhati-hati dalam setiap
tindakanmu…..”
Setelah memeriksa sejenak keadaan disekeliling tempat itu, dia melanjutkan.
“Ilmu silat yang dimiliki Sengcu telah nona saksikan kendatipun aku bekerja sama
dengan nona, juga belum tentu dapat menandinginya.”
“Oleh karena itu kau takut, kau bermaksud hendak menjadi budaknya selama
hidup.”
“Nona berhati-hatilah sedikit kalau berbicara, ketahuilah dalam keadaan seperti
saat ini, bila tiada bantuanku bukan saja kau tak akan berhasil menolong Buyung
Im seng bahkan nona sendiripun jangan harap bisa meninggalkan tempat ini dalam
keadaan selamat kecuali kau benar-benar bersedia menjadi isterinya.”
Nyoo Hong leng kontan saja meludah ke tanah, sumpahnya.
412
“Sialan ! Mungkin dia lagi bermimpi di siang hari bolong, sampai mati pun aku tak
akan kawin dengannya.”
“Persoalan ini merupakan kejadian yang luar biasa, salah melukis harimau bisa
jadi anjing, bila tiada tunjangan suatu rencana yang matang, lebih baik janganlah
bertindak secara gegabah.”
“Kalau begitu, kau benar-benar bersedia untuk membantuku ?”
“Dalam keadaan dan situasi sekarang ini, aku rasa tak perlu untuk membohongi
nona lagi. ”
“Bila kau bersungguh hati untuk membantu kami, seharusnya bisa kau tunjukkan
suatu tindakan yang berwujud, kalau hanya berbicara melulu, bagaimana mungkin
aku dapat mempercayai dirimu.”
“Nona, sudah engkau saksikan keadaan dari Buyung Im seng dan Kwik Soat kun ?
Hanya setengah harian mereka tidak bersua dengan nona, tapi sikap mereka tibatiba
berubah menjadi asing sekali dengan dirimu, bukankah demikian ?”
“Betul, aku benar-benar tidak habis mengerti cara apakah yang telah ia guanakan
sehingga apat membuat kesadaran mereka punah sampai-sampai diri sendiripun
dilupakan, apalagi terhadap sanak keluarga.”
“Itulah salah satu cara terutama yang diandalkan oleh Sam seng bun menguasai
seluruh anggotanya.”
“Kau adalah pengawal pribadinya, seharusnya terhitung orang yang paling dekat
dengannya, apakah kaupun tidak tahu cara apakah yang telah dipergunakan
olehnya ?”
“Jangankan aku, sekalipun Ji-sengcu dan Sam-sengcu sendiripun tidak mengetahui
keadaan yang sebenarnya.”
Sementara pembicaraan masih berlangsung, mereka telah tiba di depan
pesanggrahan Teng-cian-siau-cu.
Yang dimaksudkan sebagai pesanggrahan ini merupakan sebuah ruang kecil yang
berdiri tersendiri, ruangan itu sangat indah dan menawan, aneka bunga tumbuh di
sekeliling tempat itu, pemandangannya indah menawan.
Cahaya lilin telah disulut dalam ruangan mungil itu. Seorang dayang-dayang
berbaju hijau dengan membawa sebuah lentera keraton yang berwarna putih
sedang menanti di depan pintu.
Dengan suara lirih Lian Giok seng segera berbisik, “Hati-hati nona, jangan biarkan
tindak tanduk kita diketahui oleh dayang tersebut.”
Kemudian dengan langkah cepat dia memburu ke depan ruangan dan menegur.
“Siapa namamu ?”
“Budak adalah Pek Hap hoa !” sahut dayang berbaju hijau itu sambil
membungkukkan badan memberi hormat.
“Eh,,… Nona Nyoo mempunyai perangai yang kurang baik, kalian mesti
melayaninya dengan berhati-hati.”
413
Sekali lagi Pek Hap hoa membungkukkan badannya memberi hormat.
“Budak mengerti”
Lian Giok seng segera membalikkan badan dan berkata dengan penuh rasa hormat.
“Silahkan nona Nyoo !”
Tanpa mengucapkan sepatah katapun Nyoo Hong leng langsung berjalan masuk ke
dalam ruangan. “Lian ya, apakah kau tidak duduk-duduk dulu dalam ruangan ?”
kata Pek Hap hoa kemudian.
Lian Giok seng memperhatikan wajah Pek Hap hoa beberapa saat lamanya,
kemudian balik bertanya, “Nona pernah berusaha denganku ?”
“Oooh.. kiranya begitu, hati-hati melayani nona Nyoo, aku hendak pergi dulu.”
Beberapa patah kata diutarakan dengan suara keras, agaknya dia ada maksud agar
perkataan itu didengar oleh Nyoo Hong leng.
“Lian huhoat, kau masuk !” tiba-tiba Nyoo Hong leng berseru.
“Lian Giok seng mengiakan dan segera melangkah masuk ke dalam ruangan itu.
Pek Hap hoa mengikuti pula dibelakang Nyoo Hong leng melangkah masuk ke
dalam ruangan.
Sementara itu Nyoo Hong leng telah duduk dalam ruangan tengah.
Empat buah lentera berbentuk keraton tergantung dalam ruangan itu dan
menyinari seluruh bagian ruangan.
Lian Giok seng segera maju ke depan, lalu sambil memberi hormat katanya.
“Apakah nona hendak memesankan sesuatu ?”
“Aku ingin berpikir tenang, tak usah meninggalkan seorang manusia pun disini,
suruh mereka semua berlalu dari tempat ini.”
“Tentang soal ini, aku tak berani ambil keputusan.”
Pek Hap hoa segera memberi hormat sambil berseru dengan cepat.
“Budak mendapat perintah dari Sengcu untuk datang kemari melayani keperluan
nona.”
“Bagaimana pesan Sengcu kepadamu ?”
“Dia suruh budak menuruti semua perintah dari nona dan tak boleh
membangkang.”
Nyoo Hong leng segera mendengus dingin.
“Hmm… ! Sekarang aku memerintahkan kepadamu untuk mengundurkan diri dari
sini, jika kau tak bersedia itu berarti kau telah membangkang perintahku.”
“Kalau soal ini mah berbeda. Sebelum budak datang kemari, Sengcu telah berpesan
agar budak mengikuti nona dan tak bolah meninggalkan walau selangkahpun.”
“Lian Giok seng !” Nyoo Hong leng segera berseru dingin, “cepat katakan kepada
Toa-sengcu kalian, katakan kalau aku bersedia kawin dengannya, tapi ia mesti
414
mencincang dulu tubuh Pek Hap hoa si budak ini sehingga hancur berkepingkeping.”
Diam-diam geli juga Lian Giok seng setelah mendengar perkataan ini, pikirnya.
“Hebat juga siasat yang digunakan olehnya ini, tak nyana kalau akal muslihatnya
begitu banyak.”
Sedang di mulut dia menyahut.
“Akan kulaporkan hal ini kepada Sengcu !”
Selesai berkata dia lantas membalikkan badan dan beranjak pergi dari ruangan itu.
Pek Hap hoa menjadi amat gelisah, tiba-tiba teriaknya.
“Lian-ya, tunggu sebentar.”
Lian Giok seng segera berhenti, lalu tanyanya sambil tertawa.
“Nona, ada pesan apa lagi ?'
“Ada beberapa patah kata ingin budak sampaikan dulu, selesai mendengar ucapan
budak nanti, Lian-ya baru pergi memberi laporan.”
“Aku pernah mendengar orang berkata, Sengcu mempunyai empat orang dayang
yang menggunakan nama bunga sebagai namanya, aku rasa nona pastilah salah
seorang diantaranya.”
Pek Hap hoa manggut-manggut.
“Benar, budak adalah salah satu diantara empat bunga.”
“Dayang empat bunga merupakan dayang-dayang kesayangan Sengcu, apakah kau
benar-benar takut kepadanya ?”
Beberapa patah kata itu diutarakan dengan suara lirih, agaknya sengaja diucapkan
agar jangan sampai kedengaran Nyoo Hong leng.
“Kau tidak mengerti tentang watak Sengcu,” kata Pek Hap hoa sambil menggeleng,
Lian-ya suka menanti sebentar, budak akan pergi memohon kepada nona Nyoo agar
dia sudi menarik kembali perintahnya.”
Kemudian sambil membalikkan badannya dan menghampiri Nyoo Hong leng, dia
melanjutkan.
“Sebesar-besarnya nyali budak, budak juga tidak akan berani memusuhi nona,
hanya Sengcu memang berpesan demikian. Budak tak berani membangkang maka
harap nona memakluminya.”
“Aku paling benci dengan orang yang berani membangkang perintahku….” ucap
Nyoo Hong leng dengan suara dingin.
TIba-tiba Pek Hap hoa maju selangkah dan mengayunkan telapak tangannya
menghantam dada Nyoo Hong leng.
Serangan ini dilancarkan sangat mendadak, jarak antara kedua belah pihak pun
amat dekat ditambah lagi serangan dari Pek Hap hoa itu cepat bagaikan sambaran
kilat, belum lagi serangannya tiba segulung tenaga pukulan yang amat tajam telah
meluncur tiba.
415
Jelas di dalam melancarkan serangannya itu dia dalam sertaan segulung tenaga
pukulan yang maha dahsyat.
Nyoo Hong leng segera mengayunkan tangan kanannya sambil menggeserkan
badan kesamping, dengan keras lawan keras dia sambut datangnya serangan dari
Pek Hap hoa tersebut!
“Blaaammm…. sepasang telapak tangan telah saling membentur hingga
menimbulkan suara yang dipancarkan oleh dayang itu kuat sekali membuatnya
mundur selangkah tanpa sadar.
Pek Hap hoa sendiripun turur tergetar keras sehingga mundur dua langkah
sebelum dapat berdiri tegak.
Dengan kening berkerut Lian Giok seng segera menegur.
“Pek Hap hoa, besar amat nyalimu.”
Sambil berseru tubuhnya segera menerjang maju ke depan.
“Kau tak usah mencampurinya….” tukas Nyoo Hong leng sambil mengulapkan
tangannya.
Lian Giok seng segera menarik napas panjang-panjang dan menghentikan
terjangannya, lantas mundur ke samping.
Dalam pada itu, Pek Hap hoa telah menerjang maju ke depan, sepasang tangannya
diayunkan berbaring dengan melepaskan tiga buah serangan berantai.
Ketiga jurus serangan itu dilancarkan amat gencar dan dalam sekejap mata, semua
ancaman tertuju pada bagian-bagian yang mematikan dari tubuh Nyoo Hong leng.
Agaknya Nyoo Hong leng memang berhasrat untuk menyaksikan kepandaian silat
dari dayang tersebut, maka satu jurus seranganpun dia tidak melepaskan serangan
balasan, tapi selama ini, dia hanya mengandalkan ilmu meringankan tubuh yang
dimilikinya untuk berkelit dan menghindarkan diri dari semua ancaman yang
dilancarkan oleh Pek Hap hoa.
Setelah berhasil menghindarkan diri dari ketiga serangan itu, mendadak Nyoo
Hong leng mengembangkan serangan balasan, sepasang telapak tangannya secara
beruntun diayunkan ke depan melancarkan lima buah serangan berantai.
Kelima buah serangan tersebut dilancarkan dengan anteng, gesit, cepat dan
bagaikan sambaran kilat, memaksa Pek Hap hoa mundur tiga depa dari posisi
semula.
Mendadak Pek Hap hoa menarik kembali serangannya kemudian mundur pula
sejauh lima depa, katanya.
“Ooohh… tak kusangka kalau kepandaian silat yang nona miliki sesungguhnya
begini lihai.”
Nyoo Hong leng pun dapat merasakan juga betapa lihainya kepandaian silat yang
dimiliki dayang tersebut, maka ujarnya sambil tersenyum.
“Kenapa ? Apakah kau merasa tidak puas ? Kalau begitu, bagaimana kalau kita
mencoba beberapa gebrakan lagi ?”
416
“Aku tak mengira kalau kepandaian silat yang nona miliki sudah mencapai
tingkatan sedemikian hebatnya.”
“Akupun tak habis mengerti, mengapa secara tiba-tiba kau melancarkan beberapa
jurus serangan terhadap diriku ? Sesungguhnya apa maksud dan tujuanmu ?
“Aku hendak membunuh kau !”
“Membunuh aku ?”
“Benar.”
Lian Giok seng yang berada disampingnya segera berkata dengan suara dingin.
“Bila kau telah membunuh nona Nyoo, apakah kau tak kuatir jika Sengcu pun akan
merenggut nyawamu ?”
“Aku mengetahui dengan jelas tabiat dari Sengcu, dia tak pernah melakukan suatu
perbuatan yang menyesal di kemudia hari, seandainya aku berhasil melukai nona,
bukan merusak paras mukamu mungkin saja aku akan mendapat hukuman yang
sangat berat, atau mungkin saja dia akan benar-benar mencincang tubuhnya jadi
hancur berkepung-keping.”
“Seandainya kau membunuhku dalam sekali pukulan ?”
“Keadaannya pasti akan jauh berbeda.”
“Mengapa ?”
“Bila aku benar-benar membunuhmu, maka aku takkan memperoleh hukuman paapa,
sedang Sengcu pun takkan mempersoalkan peristiwa ini lagi….”
Setelah menghembuskan napas panjang, dia melanjutkan.
“Aaaaii…. ! tak kusangka, ilmu silat yang kau miliki ternyata begitu hebatnya.”
“Bagaimana sekarang ?”
“Sekarang keadaannya berbeda, asal kau laporkan kejadian ini kepada Sengcu dan
melaporkan jika aku telah menyergapmu, dia akan jatuhkan hukum mati
kepadaku.”
“Aku toh tak cedera atau menderita kerugian apa-apa, mengapa dia harus
merenggut nyawamu ?”
“Justru karena kau tak mati dan dia ingin merebut hatimu, maka aku akan
membunuhnya, apa kau merasa lega dan senang, sebab kau adalah orang baru,
sedang budak hanya orang lama !”
Nyoo Hong leng segera mendengus dingin. “Hmmm, rupanya begitu.”
Mendadak Pek Hap hoa mencabut keluar sebilah pisau belati dari dalam sakunya,
kemudian katanya.
“Cuma aku takkan memberi kesempatan kepadanya untuk membunuhku, sebab
aku akan menghabisi nyawaku sendiri.”
Sehabis berkata dia lantas mengayunkan pisau belatinya dan menusuk ke dadanya
sendiri.
417
Nyoo Hong leng bertindak cepat dengan melancarkan sebuah sentilan jari yang
dengan cepat menotok jalan darah pada pergelangan tangan kanan Pek Hap hoa.
Begitu jalan darahnya kena tertotok, kontan genggaman tangan Pek Hap hoa
mengendor dan pisau belati itupun segera jatuh ke atas tanah.
Sambil tertawa hambar Nyoo Hong leng berkata.
“Menang kalah adalah masalah yang umum dan lumrah, toh kamu belum
menderita kalah mengapa harus cari kematian buat diri sendiri ?
Pek Hap hoa menghela napas panjang.
“Aaaaiiii… andaikata kau laporkan kepadanya kalau aku telah menyergap dirimu,
akupun akan mengalami kematian, mungkin saja demi merebut hatimu dia akan
membuat kematianku lebih mengerikan, daripada kau menyiksa diriku biarkan aku
mati dengan membunuh diriku sendiri.”
Nyoo Hong leng segera tertawa, katanya.
“Darimana kau bisa tahu kalau aku akan memberitahukan hal ini kepada Sengcu ?”
“Aku gagal membunuh dirimu, aku pasti akan membencimu tentu saja kaupun
akan memberitahukan hal ini kepadanya.”
“Sebenarnya aku hendak melaporkan hal ini kepadanya, tetapi setelah berhasil aku
tebak dengan jitu, aku justru tak mau memberitahukan hal ini kepadanya !”
“Lalu engkau hendak menggunakan cara apa untuk menghadapi diriku ?” tanya
Pek Hap hoa sambil tersenyum.
“Itu mah urusan pribadiku sendiri, aku tak ingin memberitahukan kepadamu.”
Kemudian sambil mengulapkan tangannya dia melanjutkan.
“Mundurlah dulu kau dari sini !”
Agaknya Pek Hap hoa sudah menaruh perasaan kagum serta hormatnya kepa Nyoo
Hong leng, dia segera mengiakan dan segera mengundurkan diri dari tempat itu.
“Aku pun hendak mengundurkan diri pula….” ucap Lian Giok seng kemudian.
Kemudian sambil merendahkan suaranya dia melanjutkan, “Harap nona suka
melayani dia secara baik-baik selama tiga hati, dalam tiga hari aku pasti ada kabar
yang akan kusampaikan kepada nona.”
Mendengar itu, dengan mempergunakan suara yang lirih pula Nyoo Hong leng
menjawab.
“Engkau harus tahu, hidup sehari disini bagiku sama dengan setahun, semoga kau
bertindak cepat karena semakin cepat semakin baik.”
Lian Giok seng manggut-manggut, “Lebih luweslah menghadapi setiap perubahan
yang mungkin kau hadapi, asal nona dapat menempatkan dirimu pada posisi yang
benar, aku rasa semua kesulitan dapat teratasi.”
“Aku mengerti !”
Lian Giok seng lantas membalikkan badan terus beranjak keluar tempat tersebut.
418
Memandang hingga bayangan tubuh dari Liang Giok seng telah lenyap dari
pandangan, Nyoo Hong leng baru membungkukkan badan mengambil pisau belati
Pek hap hoa yang terjatuh di lantai, kemudian serunya dengan lantang.
“Masuklah kau !”
Pek Hap hoa mengiakan dan melangkah kedalam, sesudah memberi hormat
katanya.
“Nona, kau ada pesan apa ?”
“Berapa usiamu tahun ini ?”
“Tahun ini budak berusia delapan belas tahun.”
“Aaaahh, sulit betul dengan usia muda itu, ternyata berhasil memiliki serangkaian
ilmu silat yang begitu hebat.”
Pek Hap hoa tertawa cekikan.
“Kalau kulit wajah nona, rasanya umurmu juga takkan lebih besar dari pada usia
budak, tapi nyatanya ilmu silatmu masih jauh berada diatas kemampuan budak.”
“Keadaan kita berbeda, ilmu silatku berasal dari warisan keluarga, semenjak kecil
sudah mulai berlatih diri, sebaliknya kau belajar lewat guru, nyatanya kau berhasil
mencapai kepandaian setingkatan begini tinggi.”
“Dulu, ilmu silatku amat cetek, tapi dua tahun belakangan ini, terutama setelah
terpilih menjadi dayang pribadinya, ilmu silatku memang memperoleh kemajuan
yang amat pesat.”
Dari pembicaraan orang, Nyoo Hong leng tahu kalau dayang itu bukan seorang
yang licik dan suka main akal muslihat, maka sambil tersenyum lantas bertanya.
“Dia, dia melulu, sebenarnya siapakah 'dia' yang kau maksudkan ?”
“Tentu saja Toa sengcu !”
“Ooohh.. kalau begitu Toa sengcu baik sekali kepadamu ?”
Pek Hap hoa segera tertawa rawan.
“Itu mah kejadian sebelum nona kemari, tapi sekarang, keadaannya telah berubah,
diantara empat bunga, Toa sengcu paling sayang kepada budak, tetapi selanjutnya
semua kasih sayangnya tentu akan dilimpahkan pada nona seorang.”
“Dari mana kau bisa tahu ?”
“Aku sudah berkumpul banyak tahun dengannya, cukup jelas kupahami jalan
pikirannya.”
Mendengar sampai disini, diam-diam Nyoo Hong leng lantas berpikir, “tampaknya
budak ini banyak mengetahui tentang keadaan Toa Sengcu, bila kau ingin
mengetahui lebih banyak tentang dia, aku harus berusaha mengorek keterangan
dari mulut dayang ini.”
Sementara itu, Pek Hap hoa juga sedang mengamati Nyoo Hong leng dari atas
hingga bawah lalu menarik napas panjang-panjang, “Yah, hal inipun tak bisa
419
disalahkan, nona memang cukup cantik dan menarik, jauh melebihi kecantikan
kami empat bunga sekaligus, tentu saja nona lebih unggul dalam persaingan ini.”
Nyoo Hong leng segera tertawa hambar, “Kau terlalu memuji” katanya, “Padahal
kau lebih cantik daripada diriku.”
“Sebelum bertemu dengan nona, aku memang berpendapat demikian, tapi setelah
bersua dengan nona, budak baru sadar bahwasanya aku tak lebih hanya seorang
budak kecil yang jelek mana bodoh lagi.”
Dengan lemah lembut Nyoo Hong leng menarik kedua tangan Pek Hap hoa, lalu
digenggamnya erat-erat, kemudian itu ujarnya.
“Ucapanmu kelewat sungkan, terus terang, potongan wajahmu membuat hatiku
iba, meskipun kau berusaha untuk membunuhku, namun aku tetap menyukai
dirimu.”
Pek Hap hoa segera mengedipkan sepasang matanya yang bulat besar, lalu berseru.
“Sungguh perkataanmu itu ?”
“Mengapa aku harus membohongimu ?” sahut Nyoo Hong leng sambil tertawa,
“aaii… kau memang kelewat bodoh ! ”
“Mengapa ?”
“Tampaknya antara kau dan Toa sengcu masih belum menentukan tingkat
kedudukan.”
“Tingkat kedudukan apa ? Dalam pandangan orang, aku hanya seorang dayang
pribadinya belaka.”
“Bila kau dapat menentukan tingkat kedudukanmu dengannya, maka kendatipun
dia adalah seorang yang baru bosan yang lama, tak nanti dia dapat menyingkirkan
dirimu dengan begitu saja.”
Pek Hap hoa segera tertawa hambar.
“Dia adalah sebuah bukit yang tak dapat kucapai ketinggiannya, sedangkan kami
adalah sekuntum bunga liar yang tumbuh diatas bukit tersebut.”
“Jika kau memandang rendah dirimu sendiri, sampai kapan kedudukanmu baru
dapat berubah? Selama hidup kau hanya bisa menjadi seorang nona mengenakkan
yang biasanya menuruti perintah orang.”
“Yaa, mungkin saja nasibku memang baru ditakdirkan begini.”
Agaknya perkataan itu belum selesai dia utarakan, secara tiba-tiba saja dayang itu
membungkam diri dalam seribu bahasa.
Nyoo Hong leng pun segera meningkatkan kewaspadaannya, dia tahu urusan ini
boleh kelewat keburu napsu, sebab akibatnya masalah besar dapat menjadi
berantakan.
Maka setelah tertawa hambar diapun berkata.
“Baiklah, selanjutnya kau boleh ikut aku, sudah pasti akan kubantu dirimu dengan
sepenuh tenaga.”
420
“Terima kasih banyak nona, atas bantuanmu.” Pek Hap hoa segera
membungkukkan badannya memberi hormat.
“Sebentar dia akan kembali kemari, cepat kau simpan pisau belati itu.”
Pek Hap hoa segera menyimpan kembali pisau itu, kemudian menggeleng katanya.
“Sekarang dia belum akan kemari!”
“Mengapa?”
“Ia sedang melatih sejenis ilmu sakti dan kebetulan sudah mencapai tingkatan yang
paling kritis, oleh sebab itu saban hari dia mesti duduk bersemedi sebanyak dua
kali didalam kamar rahasianya, sekarang adalah saatnya melatih diri untuk kelima
kalinya.”
“Berapa waktu yang dia butuhkan setiap hari untuk melatih diri?”
Pek hap hoa ragu-ragu sebentar, kemudian baru menjawab.
“Kurang lebih dua jam!”
Nyoo Hong leng segera berpikir.
“Ilmu silatnya telah mencapai ke tingkatan yang luar biasa, bila aku harus
bertarung melawan dirinya, dengan mudah ia pasti dapat merobohan diriku. Saat
itu, bila ia sampai memaksaku dengan kekerasan, sudah pasti aku dapat bunuh
diri, tetapi kehormatanku toh sudah ternoda terlebih dahulu. Yah, aku musti sedia
payung sebelum hujan, persiapan yang penting mesti disiapkan lebih dulu. Paling
baik jika kutarik Pek Hap hoa agar berada disisiku, kemudian baru menghadapi
segala perubahan dengan menuruti keadaan.”
Sejak kecil ia sudah dimanja oleh kedua orang tuanya sehingga bukan saja berhasil
memiliki ilmu silat yang tinggi, lagipula pembantunya banyak tak terhitung, ratarata
berilmu tinggi. Ini semua membuat gadis itu bukan cuma angkuh dan tinggi
hati, diapun tak pernah memandang sebelah mata terhadap orang-orang persilatan.
Tapi, sejak dia bertemu Buyung Im seng dan tubuhnya terasa cinta didalam
hatinya tanpa sadar ia telah menerjunkan dirinya kedalam pergulatan dunia
persilatan. Dengan mengandalkan kecerdasan serta kepandaian silatnya dia
bersedia menyerempet bahaya sehingga menambah pengetahuannya. Kesemuanya
itu membuat dia semakin sadar akan kelicikan dan kebusukan orang-orang dunia
persilatan.
Kendatipun demikian, keunggulan musuh yang dihadapinya sekarang serta
ancaman bahaya maut yang terbentang dihadapan matanya akan membuat ia
merasa tergagap, juga untuk menghadapinya.
Ketika Pek Hap hoa menyaksikan Nyoo Hong leng hanya termenung belaka tanpa
berbicara, dengan cepat dia berkata.
“Nona tentunya kau lapar bukan, budak akan pergi menyiapkan sayur dan nasi.”
“Tidak usah” sahut Nyoo Hong leng, “Baru saja aku bersantap, yang kubutuhkan
sekarang adalah petunjukmu tentang manusia dan persoalan yang berada disini.”
“Aaaah, nona terlalu sungkan. Bila kau ingin membutuhkan suatu keterangan
dariku, silahkan saja nona utarakan!”
421
Toa sengcu masih sangat muda, usianya paling banter baru tiga puluh dua - tiga
tahunan, tapi dia telah berhasil mencapai suatu sukses yang luar biasa. Pada
hakekatnya ia seorang manusia aneh yang luar biasa”
“Jadi nona sudah pernah melihat raut wajah aslinya?” tanya Pek Hap hoa agak
tertegun.
“Yaa, sudah pernah” sahut Nyoo Hong leng.
“Agaknya dia sangat baik kepadamu, baru sehari berjumpa sudah bersedia
menjumpai dirimu dengan wajah aslinya. Padahal dua tahun kami mengikutinya
belum juga berhasil melihat raut wajah aslinya.”
“Dalam hatiku pun selalu merasa keheranan”
“Apa yang kau herankan?”
“Sudah hampir dua puluh tahun lamanya Sam seng bun muncul dalam dunia
persilatan. Kalau sebagai Toa sengcu usianya cuma tiga puluh tahunan, lantas
pada usia berapakah dia mendirikan perguruan Sam seng bun? Masa dalam sebelas
dua belas tahun dia sudah mampu mendirikan kekuatan maha besar”
Agaknya Pek Hap hoa tidak pernah menduga sampai kesitu, untuk sesaat lamanya
ia tertegun.
“Yaa, benar peristiwa ini memang aneh rasanya”
Melihat kebingungan yang menghiasi wajah Pek Hap hoa dia tahu bahwa persoalan
itu kelewat mendadak baginya, maka buru-buru dia mengalihkan pembicaraan
kesoal lain, tanyanya.
“Apakah dia adalah seorang yang amat menyukai perempuan?”
Pertanyaan ini segera membuat Pek Hap hoa menjadi sangat tertegun.
“Soal ini mah sukar untuk dijawab. Kalau dibilang tidak menyukai perempuan,
kami empat dayang bunga sudah dinodai semua olehnya. Bila dibilang menyukai
perempuan, maka sudah dua tahun kami tinggal disini, dia tak pernah mengusik
kami lagi, bahkan dikarenakan apa hingga sampai sekarangpun tak bermesraan
dengan kami. Dalam satu tahun belum tentu kami bisa menemaninya selama
beberapa kali.
Agaknya dia merasa kalau pengakuannya itu terlampau blak-blakan sehingga
tanpa terasa sepasang pipinya berubah menjadi merah padam. Untuk sesaat
lamanya dia menjadi amat jengah sehingga tak mampu untuk melanjutkan kembali
kata-katanya.
Nyoo Hong leng sendiripun merasa turut jadi jengah setelah mendengar perkataan
itu, dia segera menarik napas panjang, katanya.
“Kalau begitu, dia adalah seorang manusia yang sangat aneh?”
“Sedikitpun tak aneh” mendadap terdengar suara tertawa ringan berkumandang
memecahkan keheningan.
Menyusul suara jawaban itu, seseorang berbaju hitam, berkain kerudung warna
hitam pula pelan-pelan berjalan masuk kedalam ruangan.
422
Melihat dari potongan badannya, Nyoo Hong leng tahu kalau dia adalah Toa
sengcu, sambil tertawa hambae segera serunya.
“Oooh, rupanya kau!”
Orang berbaju hitam itu segera melepaskan kain kerudung hitam penutup
wajahnya, kemudian setelah tersenyum ia berkata.
“Benar, aku hanya menengok nona sebentar, kemudian akan memohon diri!”
“Tempat ini adalah tempat milik pribadimu, mau tinggal atau tidak toh terserah
kehendak hatimu sendiri…”
Mendadak ia merasa ucapan tersebut seperti ada titik lemahnya, buru-buru ia
lantas membungkam.
“Maksud nona apakah kau merasa amat girang kalau aku tetap tinggal ditempat
ini?” sambung orang berbaju hitam itu cepat.
“Mengapa aku harus mengurusi dirimu?” tukas Nyoo Hong leng sambil tertawa
dingin.
Orang berbaju hitam itu segera berpaling dan memandang sekejap terhadap Pek
Hap hoa setelah itu ujarnya sambil tertawa.
“Kau boleh mengundurkan diri dari sini!”
Paras muka Pek Hap hoa berubah hebat, tapi dia toh menurut juga untuk
mengundurkan diri dari situ.
“Hei apa yang hendak kau lakukan?” Nyoo Hong leng segera menegur.
“Aku hanya ingin berbincang-bincang empat mata dengan noa!”
“Apa yang hendak diperbincangkan?”
“Bagaimana kalau memperbincangkan tentang diriku lebih dahulu?”
Nyoo Hong leng segera berpikir dalam hatinya.
Dalam dirinya memang banyak hal yang terasa misterius, hal-hal tersebut tidak
kupahami hingga terangan, akupun merasa kurang leluasa untuk menanyakan
secara langsung kepadanya, lebih baik memang membiarkan dia membicarakannya
sendiri.
Meskipun berpikir demikian, dimuka ujarnya.
“Persoalan apa yang bisa diperbincangkan lagi?”
Orang berbaju hitam itu segera tertawa ramah, sahutnya.
“Nabi besar Khong Hu Cu pernah berkata 'Makan, minum, lelaki, perempuan
merupakan bencana besar bagi manusia', barang siapa suka akan perempuan,
napsu namanya, aku toh bukan malaikan atau nabi….”
“Lantas mengapa kau harus menyebut dirimu sebagai Toa sengcu (malaikat
pertama)?” tukas Nyoo Hong leng sambil tertawa dingin.
“Agar supaya orang awam menganggapku agak misterius, terpaksa aku harus
menggunakan nama tersebut. Padahal aku juga seorang manusia yang terdiri dari
darah dan daging, akupun punya perasaan cinta dan napsu birahi”
423
“Aku lihat kau bukan seorang manusia?”
“Ooooh… lantas apa?”
“Seorang manusia munafik, setan perempuan, mahluk aneh yang menggidikkan
hati orang saja”
Orang berbaju itam itu segera tertawa.
“Tampaknya Pek Hap hoa sudah banyak memberitahukan soal-soal tentang diriku
kepadamu?”
Nyoo Hong leng segera meningkatkan kewaspadaannya, tak tahan dia berseru.
“Orang lain toh gadis baik-baik, juga tak mau mengawininya cukup dilihat dari
sikap serta perbuatanmu itu hal mana menunjukkan kalau kau bukan seorang
enghiong bukan seorang hohan sejati”
“Dia mah belum pantas untuk mendampingi diriku, sebenarnya aku menyangka
kalau didunia ini tak nanti ada orang yang bisa meluluhkan hatiku, sungguh tak
disangka hari ini aku berhasil menemukannya juga”
Ntoo Hong leng menjadi tertegun.
“Maksudmu…?”
“Kau” sahut orang berbaju hitam itu dengan cepat. “Mungkin selain kau, dunia ini
sudah tak ada orang kedua lagi.” Setelah terbahak-bahak dia melanjutkan, “Hai Po
Tong Cu Im Hui mempunyai adik perempuan, Im siau Gwat. Dia memang berwajah
cantik sayang kecantikan wajahnya sedikitpun tidak menarik hatiku.”
“Kau sedang memuji kecantikanku?” jengen Nyoo Hong leng sambil tertawa dingin.
“Benar! Orang kuno bilang setiap sepuluh langkah terdapat rumput muda, tapi aku
berbeda dengan orang biasa. Dalam perguruan Sam seng bun kami banyak terdapat
anggota perempuan, diantaranya banyak juga yang disebut cantik. Namun dalam
pandanganku mereka hanya biasa saja, dalam anggapanku di dunia ini sudah tiada
perempuan cantik lagi, siapa tahu setelah berjumpa dengan nona hari ini…”
“Kenapa?” tukas Nyoo Hong leng dingin.
“Aku baru tahu kalau didunia ini memang terdapat perempuan cantik….”
Setelah tersenyum, sambungnya lebih jauh.
“Aku bukannya tiada cacad, tapi aku adalah lelaki yang berpandangan tinggi.
Seandainya nona tidak memiliki kecantikan yang luar biasa, tak nanti hatiku bisa
tertarik.”
“Empat dayang bunga telah kau nodai semua, apakah kau masih belum merasa
puas?” Kembali orang berbaju hitam itu tertawa hambar.
“Apakah Pek Hap hoa telah memberitahukan kesemuanya itu secara jelas
kepadamu?”
“Kalau kau berani berbuat, mengapa kuatir diketahui orang lain?”
Kembali orang berbaju hitam itu tertawa.
424
“Apa yang dikatakan Pek Hap hoa memang semuanya kenyataan dan jujur, aku
enggan mengawini mereka karena aku merasa bahwa didunia ini tiada orang yang
pantas menjadi istriku!”
“Apakah aku pantas?”
Orang berbaju hitam itu kembali tersenyum.
“Bagaimanakah perasaan nona sendiri?” dia balik bertanya.
“Ilmu silatmu sangat tinggi, lagipula menguasai perguruan Sam seng bun yang
mempunyai kekuasaan terbesar didunia persilatan, syarat tersebut sudah cukup
untuk menggetarkan hatiku.”
Orang berbaju hitam itu segera tersenyum.
“Dan akhirnya kau masih tetap enggap untuk mengabulkan permintaanku…?”
katanya.
“Perkataanmu itu terlampau tergesa-gesa!”
“Jadi kau meluluskan permintaanku?”
“Aku hanya memikirkan persoalan ini secara pelan-pelan dan seksama kemudian
baru dapat memberikan keputusannya”
“Kalau begitu berpikirlah pelan-pelan, cuma aku ingin memberitahukan satu hal
kepadamu.”
“Persoalan apa?”
“Tentang Buyung Im seng…”
Mendadak dia membungkam dan mengalihkan sorot matanya yang tajam keatas
wajah Nyoo Hong leng.
Sekuat tenaga Nyoo Hong leng berusaha untuk mengendalikan perasaannya, lewat
lama kemudian ia baru berkata.
“Bagaimana dengan Buyung Im seng?”
“Dalam lima hari kemudian Buyung Im seng sudah tak tertolong lagi jiwanya.”
Dalam hati kecilnya Nyoo Hong leng merasa sangat terkesiap namun diluaran
berlagak seolah-olah tenang sekali, tanyanya sambil tersenyum.
“Mengapa dia?”
(Bersambung ke jilid 22)
425
Lembah Tiga Malaikat
Oleh: Tjan
Kontributor penulisan: Bintang73
Jilid 22
OBAT RACUN dimana olehnya dalam lima hari kemudian sudah tak dapat
ditawarkan lagi satu berarti dia akan selamanya menjadi anak murid perguruan
Sam seng bun kami. Oleh karena itu. Dalam lima hari nona harus mengambil suatu
keputusan.”
“Hmmm, tampaknya wajahmu saja berlagak baik dan bijaksana, padahal hatimu
keji, licik dan busuk…..
“Dimana kesalahanku?”
Kau sudah bilang berapa lamapun aku hendak mempertimbangkan persoalan ini
tak menjadi soal, tapi sekarang kau memberikan batas waktu selama lima hari
saja”.
“Aku toh tidak memberikan batas waktu untukmu? Aku hanya memberitahukan
soal Buyung Im Seng kepadamu, tentang persoalan berapa lamakah nona hendak
mempertimbangkan masalah ini, itu kan urusan nona pribadi.
Lantas apa maksudmu memberitahukan hal tersebut padaku?”
“Buyung Im seng datang bersama-sama, aku mersa sudah seharusnya
memberitahukan hal ini kepadamu, tahu kalau begitu tidak memperhatikan
keselamatan jiwanya, aku pasti tak akan memberitahukan soal ini kepadamu ….”
426
Tergerak juga hati Nyoo hong leng dia lantas berpikir. “Bila aku menyatakan tidak
menaruh perhatian, mulai sekarang sudah pasti dia tak akan memberitahukan
soal-soal yang menyangkut tentang Buyung Kongcu, sebaliknya jika aku kelewat
terburu nafsu pasti akan mempergunakan titik kelemahan tersebut untuk
mendesakku”
Berpikir akan hal itu, dia menjadi terganggu dan tak tahu bagaimana harus
menjawab.
Agaknya orang berbaju hitam itu sudah merasakan pertentangan batin yang
berlangsung dihati Nyoo Hong leng, sambil tersenyum dia lantas mengalihkan
pokok persoalan ke masalah yang lain, katanya : “Nona, pikirlah persoalan ini
pelan-pelan, aku hendak mohon diri terlebih dahulu”
Dia lantas memberi hormat, mengenakan kain serudung hitamnya dan
membalikkan badannya berlalu dari situ.
Berhenti !” tiba-tiba Nyoo Hong leng membentak.
Orang berbaju hitam itu berhenti dan membalikkan badannya. Lalu ia menegur
“Ada urusan apa nona?”
Nyoo Hong leng mengigit bibirnya menahan diri, beberapa saat kemudian ia baru
bertanya.
“Benarkah kau ingin mengawini diriku?”
“Mungkin !”
Nyoo Hong leng segera tertawa dingin, tukasnya.
“Kata mungkin hanya menunjukkan kalau kau belum tentu”
“Bagaimana dengan nona? Apakah kau telah mengambil keputusan ?” orang
berbaju hitam itu segera balik bertanya.
“Hal ini tergantung berapa bagiankah kejujuran hatimu, kemudian baru bisa
ditentukan keputusanku”
“Baiklah, bila kau meluluskan permintaanku maka aku kena membubarkan
perguruan Sam seng-bun, melepaskan ambisiku menguasai dunia persilatan dan
bersamamu mengasingkan diri ditempat yang terpencil untuk menikmati hidup”
427
Nyo Hong-leng tampak agak tertegun setelah mendengar perkataan itu, setelah
termangu sebentar kemudian serunya.
“Sungguhkah perkataanmu itu?”
“Setiap patah kataku muncul dari sanubari yang sejujurnya.
“Aku tak seperti keempat dayang bungamu yang mudah tertipu, aku ingin
menyaksikan dahulu kau membubarkan perguruan Sam Seng-bun.”
Dengan kata-kata yang amat serius, orang berbaju hitam itu segera berkata.
“Dalam perguruan Sam Seng-bun ini banyak terdapat manusia buas yang berhati
keji, sebelum perguruan Sam Seng-bun dibubarkan, orang-orang semacam itu harus
dibunuh terlebih dahulu atau kalaupun tak dibunuh paling tidak ilmu silatnya
harus dipunahkan, agar mereka tak bisa melakukan perbuatan yang merugikan
masyarakat banyak lagi.
Nyoo Hong leng segera mengedipkan sepasang matanya yang bulat besar kemudian
ujarnya dengan bersungguh-sungguh.
“Tampaknya kau bicara dengan amat serius ?”
“Yaa, benar. Bila aku telah melakukan permintaanmu, maka setiap perkataan yang
kuucapkan merupakan kata-kata yang bobotnya melebihi sebuah bukit karang.
Tampaknya Nyoo Hong leng merasa tercengang dan sama sekali diluar dugan atas
keputussan yang diambil oleh orang berbaju hitam itu, dia lantas menghela napas
panjang, katannya kemudian :
“Benarkah aku mempunyai gaya pengaruh yang begitu besarnya ?”
“Dalam hatiku kau seorang perempuan yang paling cantik di dunia ini.
Kedudukamu dalam hatiku, jauh lebih penting daripada ambisiku untuk menguasai
jagad”
“Bila apa yang kau ucapkan adalah kata-kata yang sejujurnya, hal ini benaarbenar
membuat aku akan menilai waktumu”
“berpikirlah pelan-pelan ! Bila sudah mengambil keputusan. Beritahulah kepadaku
!” Dia lantas membalikan badannya dan pelan-pelan berjalan keluar dari situ
428
Memandang bayangan si orang berbaju hitam yang menjauh, tiba-tiba dari dalam
hati kecil Nyoo Hong-leng muncul suatu perasaan sedih yang aneh sekali, dia
merasa pelbagai persoalan secara tiba-tiba datang bersamaan waktunya dan
terkumpul semuanya di dalam hatinya.
Mendadak terdengar suara langkah kaki manusia bergema memecahkan
keheningan, Pek Hap hoa pelan-pelan berjalan masuk kedalam. “Nona Nyoo!”
bisiknya kemudian Lirih.
Nyoo Hong leng berpaling dan memandang sekejap kearah Pek Hap Hoa kemudian
tanyanya “Sudah kau dengar apa yang telah kubicarakan dengan dia ?”
“Sudah kudengar sedikit”
Sekarang aku merasa agak bimbang, aku tidak tahu apakah dia ini orang baik atau
dia jahat ?”
Pek hap hoa segera tertawa.
“Aku sendiripun kurang begitu memahami tentang dia, tetapi dalam perasaanku
dia adalah lelaki yang amat memikat hati”
Aku mah tidak mempunyai perasaan tersebut . aku hanya ingin membedakan
apakah dia orang baik, atau orang jahat.
Setelah berhenti sejenak lanjutnya.
“Pergilah beristirahat ! Akupun merasa amat lelah, aku ingin tidur sebentar untuk
memulihkan kembali tenagaku”
“Nona” Bisik Pek hap Hoa
Nyoo Heng leng telah membalikkan badannya dan pelan-pelan berjalan masuk ke
ruangan dalam, sambil berjalan dia mengulapkan tangannya seraya berseru.
“Kalau ada urusan lain, lebih baik kita berbincang lain hari …. !”
Pek Hap hoa menghela napas panjang, dia lantas membalikkan badannya dan
berlalu dari situ.
Nyoo hong leng segera menutup pintu kamarya, dimana sudah tersedia sebatang
lilin merah yang besar.
429
OoooOOOoooO
Bagian ke tiga puluh Satu
DIBAWAH cahaya lilin, terlihatlah seluruh ruangan itu berwarna merah darah,
dindingnya merah, lantainya merah, bahkan cermin dan kursi pun dilapisi oleh
kain merah.
Seluruh ruangan itu hampir semuanya berwarna merah, kecuali cermin sendiri.
Semestinya ruangan dengan dekorasi semacam itu merupakan suatu tempat yang
sangat nyaman, akan tetapi Nyoo Hong leng sedang diliputi oleh pelbagai perasaan
yang memusingkan dan mengesalkan pikirannya, maka hal-hal yang semacam itu
tidak lagi diperhatikan secara serius.
Bayangan tubuh dari buyung Im Seng serasa berkecamuk dalam hatinya.
Kemudian diapun teringatpula akan Toa sengcu yang memiliki ilmu silat yang
tiada taranya itu.
Dia berbaring dengan mengenakan pakaian lengkap, tetapi walaupun sudah bolakbalik
kesana kemari, sulit rasanya untuk tidur pulas. Entah berapa lama sudah
lewat, tatkala di ufuk timur sana sudah mulai memancarkan setitik cahaya terang,
dia baru terlelap tidur.
Ketika mendusin kembali, matahari sudah berada diatas awang-awang.
Dengan senyuman dikulum Pek Hap hoa berdiri didepan pembaringannya, begitu
dia membuka mata, dayang itu segera menyapa dengan suara lirih.
“Nona, kau telah mendusin?”
Nyoo Hong leng membereskan rambutnya yang kusut, kemudian pelan-pelan
berkata : “Sekarang sudah jam berapa ?????”
“Sudah mendekati tengah hari !”
“Aaaaah, sudah begini siang ?” Nyoo Hong leng berseru tertahan.
“Ya benar, dia sudah hampir satu jam menantimu.”
“Siapa ?”
“Ditempat ini kecuali budak seorang yang boleh masuk keluar dengan bebas dan
leluasa masih ada satu orang lagi yang dapat berbuat demikian, tentu saja dia
adalah Toa sengcu.”
430
“Mau apa dia datang kemari ?” Tanya Nyoo Hong leng dengan wajah berubah
menjadi dingin seperti es.
“Aku tak tahu, ketika ia melihat nona masih tidur, diapun duduk menunggu disana
bahkan tak membiarkan aku untuk membangunkan dirimu, dengan sabar sekali ia
menunggu di ruangan tengah.”
Nyoo Hong leng segera menggerakkan tangan kanannya untuk membenahi
rambutnya yang kusut, kemudian pelan-pelan berjalan keluar.
Tampak olehnya Toa Seng-cu yang mengenakan jubah panjang berwarna hitam
dengan kain kerudung yang telah dilepaskan duduk di ruang tengah sambil
membaca buku.
Dengan suara dingin Nona Nyoo segera menegur “Mau apa lagi kau datang kemari
?”
Orang berbaju hitam itu segera meletakkan bukunya sambil bangkit berdiri, lalu
katanya seraya tertawa.
“Aku datang untuk menyampaikan salam pada nona.”
“Aku baik sekalai, tak usaha.”
Orang berbaju hitam itu segera bangkit berdiri mengenakan kembali kain kerudung
hitamnya. Kemudian ujarnya.
Kalau begitu aku mohon diri terlebih dahulu.”
Seraya berkata lantas membalikkan badannya dan berjalan keluar dari situ.
Berhenti bentak Nyoo Hong-leng tiba-tiba.
“Nona masih ada pesan apa lagi?” Tanya orang berbaju hitam itu sambil
membalikkan badannya dan tertawa.
“Aku harap kau membalaskan racun didalam tubuh Kwik Soat Kun lebih dulu dan
mengirimnya kemari, aku ada urusan yang hendak dirundingkan dulu dengannya.”
431
Orang berbaju hitam itu segera manggut-manggut.
“Dalam satu jam, aku akan mengutus orang uuntuk menghantarnya kemari.”
“Yang kuminta adalah orang yang waras otaknya, sehat dan normal sebagai
manusia biasa.”
“Maksudmu racun dalam tubuhnya harus dipunahkan agar dia dapat pulih kembali
seperti sediakala bukan ?” kata orang berbaju hitam itu sambil tertawa.
“Tepat sekali !”
Bersantaplah dengan hati tenang !” dengan langkah lebar dia lantas berlalu dari
situ.
Dalam pada itu. Pek Hap hoa telah menyiapkan hidangan diatas meja, meski
macam sayurnya terlalu banyak, namun macamnya merupakan menu pilihan.
Dalam keadaan seperti ini, walaupun Nyoo Hong leng merasa perutnya lapar,
tetapi sulit rasanya untuk menelan hidangan yang lezat itu, setelah makan
beberapa suap, dia lantas meletakkan kembali mangkuk dan sumpitnya.
Ternyata orang berbaju hitam itu amat memagang janji, tak sampai satu jam
kemudian. Lian Giok seng telah mengajak Kwik Soat kun datang. Dengan hormat
Lian Giok seng menjura, kemudian katanya :
“Nona Kwik telah datang.”
“Baik, kau boleh mengundurkan diri !” kata Nyoo Hong-leng sambil mengulapkan
tangannya.
Sekali lagi Lian Giok seng menjura, kemudian baru mengundurkan diri dari sana.
“Kau pun boleh pergi beristirahat !”
Pek Hap hoa segera mengiayakan dan mengundurkan diri dari situ, menyusul
kemudian diapun merapatkan pintu ruangan.
Nyoo Hong-leng segera menggandeng tangan Kwik Soat kun dan mengajak duduk
di kursi, kemudian tegurnya.
432
“Cici, kau sudah baik?”
“”Aku telah minum obat penawar racun”.
Dengan mengerdipkan matanya yang besar, Nyoo hong leng bertanya :
“Cici, obat apakah yang diberikan mereka kepadamu??” mengapa engkau bisa
begitu menuruti perintah dari Toa-sengcu?”
“Hanya secawan air teh, entah didalam air teh tersebut dia telah mencampurinya
dengan obat apa, tapi yang jelas setelah meneguk air teh itu, serta merta aku
menjadi menuruti semua perintahnya.”
Setelah menghela napas panjang sambungnya :
“Dalam perkumpulan Li Ji-pang kami sesungguhnya terdapat pula semacam obat
pembingung sukma yang merupakan semacam obat andalan-andalan kami,
sungguh tak disangka kali ini akupun kena dipecundangi orang lain padahal tak
usah menggunakan obatpun kami tak berkutik, dengan mengandalkan ilmu
silatnya yang lihay, mereka masih mampu membinasakan kita semua.
Sampai sekarang Nyoo Hong leng masih menaruh curiga, apakah kesadarannya
telah pulih kembali atau belum, maka terhadap semua pembicara orang dia hanya
mendengarkan saja dengan tenang tanpa memberikan komentar apa-apa.
Kwik Soat-kun memandang sekejap kearah Nyoo hong leng, kemudian lanjutnya
kembali. “Bukankah Toa sengcu telah jatuh hati padamu.
Nyoo Hong leng menjadi sangat girang sekali, katanya kemudian :
“Aku takut mereka menipuku, tapi setelah mendengar beberapa patah katamu itu,
aku merasa berlega hati.”
“Apa yang kau legakan?”
Terbukti kalau kesadaran otakmu telah pulih kembali, asal ! Siau moay sedang
gundah dan bingung oleh masalah ini, harap enci suka memberi petunjuk !”
433
“Persoalan ini pasti ada sangku pautnya dengan masalah Toa-sengcu, kalau tidak,
tak nanti akan memberikan obat pemunahnya kepadaku …….”
Paras muka Nyoo hong leng berubah menjadi sedih, ujarnya lebih lanjut :
“Persoalan ini benar-benar merupakan masalah besar yang sangat pelik, Siau-moay
benar? Tidak tahu caranya bagaimana untuk mengatasi hal seperti ini. Maka aku
ingin sekali mempergunakan kecerdasan otak cici untuk mengambil suatu
keputusan bagiku, masalah ini selain menyangkut hidupku dan Buyung Im-seng,
hal inpun menyangkut soal dunia persilatan.”
Kwik Soat kun memejamkan sepasang matanya, setelah termenung sebentar,
pelan-pelan dia berkata :
“Dapatkah kau terangkan lebih jelas lagi ?”
“Tentu saja aku akan memberitahukan kepada enci dengan sejelas-jelasanya ……”
Dengan cepat dia lantas mengisahkan pengalamannya mulai dari ditangkap hingga
sekarang, bahkan tak segannya dia menceritakan pula setiap gerak-gerik tingkah
laku Toa-sengcu.
Selesai mendengar keterangan tersebut, Kwik Soat kun termenung sebentar, lalu
katanya :
“Kalau apa yang telah terjadi persis apa yang kau terangkan barusan, paling tidak
hal ini menunjukkan kalau Toa sengcu benar-benar telah menaruh hati kepadamu.”
“Ia memberitahukan kepadaku bahwa didalam lima hari harus sudah ada
keputusannya, sebab racun yang diminum Buyung Kongcu sudah tak dapat
dipunahkan lagi selewatnya lima hari.”
“Apakah kau percaya dengan apa yang dia katakan ?” Tanya Kwik Soat kun
kemudian.
“Apakah enci juga percaya?” Nyoo Hong leng segera balik bertanya.
“Aku percaya apa yang dia katakan merupakan suatu perkataan yang sejujurnya.”
“kalau berbicara menurut keadaan yang terbentang didepan mata sekarang,
agaknya tak dapat mempercayai perkataannya.”
“Apa rencanamu sekarang?”
434
“Itulah yang ingin kutanyakan kepada enci sekarang, aku tak ingin menyaksikan
Buyung kongcu menderita ….?”
“Dan kaupun bertekad untuk masuk kedalam neraka guna menyelamatkan umat
persilatan dari kehancuran?” sambung Kwik Soat kun.
Dengan sedih Nyoo Hong leng menghela napas panjang “Aaaai ….siau moay
memang pernah mempunyai jalan pemikiran sedemikian kecuali itu, siau-moay pun
tak pernah dapat menemukan cara lain yang menyelamatkan Buyung kongcu dari
keadaan semacam ini.”
Setelah menghembuskan napas panjang dia melanjutkan.
“Dia adalah seorang jago berilmu sangat tinggi yang pernah kujumpai selama ini,
berbicara kekuatan, jelas pihak kita tak akan mampu untuk memberikan
perlawanan padanya.
Kwik Soat kun tertawa, tiba-tiba selamanya “Leluasakah kita berbicara dalam
kamar ini, nona “Aku telah melakukan pemeriksaan terhadap keadaan sekeliling
tempat ini, asal pembicaraan kita dilangsungkan dengan suara lirih, aku rasa
mereka tak akan bisa menyadap pembicaraan kita ini.”
“Apakah kau telah bersiap-siap untuk kawin dengan Toa sengcu?” Bisik Kwik Soat
kun kemudian.
“Bila aku tidak meluluskan permintaannya mungkin Buyung kongcu akan
terjerumus dalam keadaan yang semakin gawat, sedang encipun jangan harap bisa
meninggalkan tempat ini lagi ……………”
“Nona masalah ini menyangkut kehidupanmu selanjutnya, kau tak boleh
mengambil keputusan secara sembarangan.”
“Aaai, selama hidup belum pernah kujumpa masalah yang begini sulit dan sukar
diputuskan seperti apa yang yang kujumpai sekarang ini.”
Kau tidak kuatir kalau dia membohongimu ?”
“Aku harus melihat dulu sampai dia mengantarmu dan buyung kongcu
meninggalkan tempat ini, lagipula harus membuyarkan dulu perguruan Sam-seng
bun yang dia dirikan setelah itu.”
435
“Setelah itu kau baru akan kawin dan jadi isterinya ?” kata Kwik Soat kun setelah
termenung sejenak, “apakah kau tak memikirkan diri Buyung Im-seng ?”
“Setelah itu aku masih harus melakukan suatu pekerjaan lagi, yakni menyingkap
tabir kematian dari Buyung Tiang kim, membalaskan dendam bagi Buyung Im-seng
dan akhirnya baru kawin dengannya.”
“Andaikata kau menjumpai kalau orang yang melukai Buyung Tiang Kim adalah
Toa Sengcun?”
“Maka akupun terpaksa harus membalaskan dendam bagi Buyung Im-seng.”
“Tapi pada waktu itu kau telah menjadi isterinya, apakah kau hendak turun tangan
untuk membunuh suamimu sendiri?”
“Bila aku bersedia kawin dengannya, maka yang kawin adalah tubuhku, dia tidak
akan dapat merebut hatiku.”
Kwik Soat kun segera menggelengkan kepalanya berulang kali, kemudian ujarnya :
“Persoalannya tak akan begitu sederhana, bila kita anak gadis sudah dinodai
kehormatannya oleh lelaki, keadaannya kan sama sekali berbeda, apa yang kau
pikirkan sekarang, sampai waktunya belum tentu bisa dilakukan.”
“Itulah sebenarnya Siaumoay merasa kesulitan untuk mengambil keputusan ini,
aku harap enci bersedia untuk membantuku.”
Kwik Soat kun sebentar, ujarnya, keadaan yang kita hadapi sekarang ibarat burung
didalam sangkar, sekalipun mempunyai kekuatan juga tak ada gunanya, apalgi
ilmu silat yang dimilki Toa sengcu lebih tangguh banyak sekali dari pada kita,
tampaknya kita mesti mempertaruhkan modal yang kita miliki sekarang …….”
Ketika berbicara sampai disitu, mendadak dia membungkam.
Nyoo Hong leng segera berkata :
“Kendatipun kita pertaruhkan seluruh modal yang kita miliki, paling tidak juga
mesti mempunyai rencana yang matang.”
436
“Serangan secara terang-terangan mudah dihindar , serangan gelap sukar dijaga,
bila nona turun tangan menghadapinya secara diam-diam, dengan ilmu silat yang
kau milki, rasanya tak sulit untuk melukainya, apalagi jika bisa menguasai dirinya
sehingga dapat kita gunakan hal ini lebih baik lagi.” Nyoo Hong leng segera tertawa
getir.
“Aku cukup memahami maksud hati dari cici, katanya, “Cuma, aku merasa cara ini
kurasa kurang baik, tampaknya siaumoay harus mencari akal lagi.
Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan :
“Cuma siaumoay berharap cici bersedia meluluskan sebuah permintaanku ….”
“Permintaan apa ?”
“Walaupun antara aku dan Buyung kongcu tidak pernah mengadakan perjanjian,
tapi aku sangat mencintainya, dia gagah dan berjiwa pendekar, bila tahu aku
berkorban demi menolong jiwanya, sudah pasti dia enggan meninggalkan tempat
ini …..”
“Maksud nona …….?”
“Maksud Siaumoay, harap cici bersedia mengabulkan permintaanku, untuk
sementara waktu jangan membicarakan apa-apa dengannya, aku bertekad akan
tetap tinggal disini dan memaksanya untuk melepaskan cici dan Buyung kongcu
meninggalkan tempat ini, siaumoay akan mengawasi secara diam-diam dan tak
akan membiarkan kalian menderita siksaan.”
Dua titik air mata tanpa terasa jatuh berlinang membasahi pipinya yang putih dan
halus.
“Masalah ini menyangkut kehidupan selanjutnya, aku harap kau berpikir tiga kali
lebih dulu sebelum bertindak,” ucap Kwik Soat kun.
“Siaumoay sudah mempunyai rencana sendiri, cici tidak usah kuatir, pasti aku
hanya mohon kepada cici agar mengabulkan satu permintaan saja”
“Katakanlah! Asal aku sanggup untuk melaksanakannya, sudah pasti akan ku
kabulkan permintaanmu itu.” Berjanjilah kepadaku untuk merawatnya sepanjang
hidup !” Ucapan tersebut segera membuat Kwik Soat kun tertegun.
“Kau bilang aku harus kawin dengannya? Dia berseru. Nyoo Hong leng
mengangguk.”
437
“Paras muka cici amat cantik dan menarik bila kau bersedia membantunya akupun
dapat berlega hati”
Setelah tertawa getir Kwik Soat kun berkata :
“Bila Buyung Im seng hanya mencintai kau seorang mana mungkin cici bisa
mewakili kedudukanmu? Kendatipun aku mengabulkan, belum tentu Buyung Im
seng bersedia mengawini aku bila kau benar-benar menganggap diriku seberani
encimu, dengarkanlah nasihatku,….. marilah ikut kami melarikan diri bersamasama.”
“Dengan cepat Nyoo Hong leng menggelengkan kepalanya berulang kali.”
“Tempat ini ibaratnya dinding baja tembok tembaga, jangan harap kita bisa lolos
dari tempat ini, sebab bila kita berkumpul bersama maka ada satu akibat yakni
kita akan mati bersama.”
Kwik Soat kun segera menghela napas, katanya :
“Walaupun caramu itu bisa menolong kami, tapi apakah tidak terlalu menyiksa
nona?”
“Apakah kau dapat menemukan suatu cara lain yang jauh lebih baik?”
Menghadapi pertanyaan tersebut, Kwik Soat kun segera bungkam seribu bahasa.
“Cici, kau tak berpikir keras lagi” tukas Nyoo Hong leng kemudian, “baiklah kita
tetapkan begini saja jangan sampaikan perkataanku ini kepada Buyung Im seng,
bila aku benar-benar dapat mempengaruhi Toa Sengcu agar dia bersedia
membatalkan niatnya untuk merajai dunia persilatan, aku pasti akan berusaha
untuk mewujudkan hal ini menjadi kenyataan. Kemudian aku baru akan
membereskan diriku sendiri.”
“Kau hendak bunuh diri ?”
“Apa yang kuinginkan bisa tercapai, apa yang kucita-citakan tersebut, tampaknya
sekalipun aku mencoba untuk menasehati juga tak ada gunanya.
“Itulah sebabnya lebih baik kau jangan banyak bicara lagi.”
“kalau memang begitu, cici juga tak akan menasehati dirimu lebih jauh, entah kau
masih ada urusan apa lagi yang hendak diserahkan kepadaku?”
“Dua hal, pertama adalah merawat Buyung Im Seng yang memberi kegembiraan
bagi kehidupan”.
438
Kwik Soat kun manggut-manggut,
“Aku dapat berusaha keras untuk mewujudkan hal ini, masih ada persoalan yang
lain ?”
Dari dalam sakunya Nyoo Hong leng mengeluarkan sebuah mainan Giok bei, sambil
diserahkan kepada Kwik Soat kun katanya :
“Serahkan mainan Giok bei ini kepada Hu hoa li Tong leng !”
“Akan kuingat selalu, entah apa yang mesti aku lakukan kepadanya?”
“Tak usah banyak bicara lagi, katakan saja kepadanya kalau aku berada dalam
keadaan bahaya dan menyerahkan mainan ini kepadamu.”
“Apakah hal ini tak akan menimbulkan kesalahan paham?”
“Kau boleh beritahukan kepadanya, ibuku paling menuruti suara hatiku, asal
beliau melihat mainan Giok bei ini, dia pasti akan memahami sekali maksud hatiku
itu.”
Kwik Soat kun segera menyimpan baik-baik mainan Giok bei itu kemudian
tanyanya lagi.
.
“Masih ada pesan lain ????”
Sudah tak ada lagi, buat cici baik-baik menjaga diri, siaumoay tak akan
mengantarmu lagi.”
Kwik Soat kun segera bangkit berdiri, katanya kemudian :
“Cici mohon diri lebih dulu, aaai ! sewaktu datang perkiraan kita terhadap
kekuatan lawan kelewat jauh, waktu itu tidak menyusun rencana dengan
bersungguh-sungguh dan tindakan kita kurang pintar, demikian juga dengan cici
sendiri. Tapi setelah berjumpa dengan Toa sengcu aku baru tahu kalau diriku
menjadi suatu kekuatan yang besar untuk merajai dunia persilatan dikolong langit
sudah tak ada orang lagi yang bisa menandingi mereka”.
“Cara yang paling baik adalah menerbitkan pemberontakan dari dalam, agar
mereka saling getok-getokan sendiri.”
Kwik Soat kun membalikan badannya kemudian berkata :
439
“Mungkin kau masih mempunyai kesempatan untuk selalu mengundurkan diri
dengan teratur, semoga kau bisa manfaatkan kesempatan tersebut dengan sebaikbaiknya,
kau mesti tahu aku bukanlah kau, bagaimanapun kasih sayangku
kepadanya, tak mungkin aku dapat menghentikan kedudukanmu dalam hati
Buyung Im seng, bila kau amat mencintainya, sudah sepantasnya bila kau memberi
kegembiraan kepadanya …..
Nyoo Hong leng mengedipkan matanya, kemudian melanjutkan :
“Kau bilang aku dapat menentukan kegembiraannya?”
“Benar, apakah kau sendiri tidak tahu?”
“Ia belum pernah membicarakan soal itu denganku, apa yang barusan kuucapkan
hanya berdasarkan dari jalan pemikiranku sendiri.”
“Apa yang kau bayangkan sedikitpun tidak salah.”
“Darimana kau bisa tahu?” tanya Nyoo Hong leng setelah termenung beberapa saat.
“Aku dapat melihatnya, meski Buyung Im seng tak pernah dia membicarakan hal
itu dengan diriku, tapi aku yakin apa yang kulihat tak salah.”
Nyoo hong leng termenung lagi beberapa saat lamanya, sampai lama kemudian dia
baru berkata:
“Pergilah kau! Ingat, untuk sementara waktu jangan kau katakan keadaan yang
kuhadapi sekarang kepada Buyung Im seng.”
“Mungkin kehadiran kami disini malah akan mengganggu gerak-gerik nona
selanjutnya, baiklah, aku akan mohon diri lebih dulu.” Sahut Kwik Soat kun
dengan suara lirih.
Setelah memberi hormat, dia lantas melangkah keluar dari tempat tersebut ……”
Mendadak Nyoo Hong leng berebut untuk berjalan didepan Kwik Soat kun,
kemudian serunya :
“Mana Lian huwi (Pengawal Lian)”
Tampak Lian Giok seng menggembol pedangnya berdiri dibawah sebuah gardu kecil
lebih kurang dua kaki diluar ruangan, agaknya dia sedang mengawal
keselamatannya disitu.
440
Begitu mendengar suara panggilan, Lian Giok seng segera membalikkan badannya
sambil mendekat tanyanya :
“Nona kau pesan apa? Hantar nona Kwik pulang !”
“Apakah hamba harus kembali kesini?
Nyoo Hong leng segera mengangguk
“Baik kau boleh datang kembali kesini !”
Lian Giok seng segera mengiakan dengan langkah lebar dia mengajak Kwik Soat
kun berlalu dari sana. Memandang hingga bayangan punggung dari kedua orang
itu lenyap dari pandangan Nyoo Hong leng baru membalikkan badan dan kembali
kedalam kamarnya.
Sementara itu Lian Giok seng telah mengajak Kwik Soat kun berjalan kebawah
sebuah tebing curam, kemudian sambil membuka pintu batu katanya :
“Nona lebih baik kau masuk sendiri!
Walaupun kesadaranmu telah pulih kembali, aku harap kau jangan mempunyai
ingatan untuk melarikan diri dari sini, penjagaan yang dilakukan disekitar tempat
ini cukup ketat, bila nona berani punya niat tersebut hanya jalan kematian saja
yang terbentang didepan matamu.”
“Darimana aku datang. Kemana pula aku pergi? Kata Kwik Siat kun dingin.
“Mungkin aku masih harus merpotkan pengawal Lian untuk menghanta kami
keluar dari bukit ini.”
Lian Giok seng tersenyum.
“Nona, silakan kembali masuk kedalam penjara !” katanya.
Kwik Soat kun manggut-manggut dengan langkah pelan ia masuk kembali kedalam
ruangan yang telah disediakan.
Dia cukup mengerti, dengan ilmu silat yang dimilikinya sekarang, sudah jelas ia
bukan tandingan Lian Giok seng, itu berarti tiada harapan pula baginya untuk
melarikan diri, terpaksa gejolak perasaannya musti ditahan.
441
Rupanya gua tersebut merupakan sebuah goa dalam yang kokoh dan besar sekali,
oleh pihak perguruan tiga malaikat, goa tadi telah dirubahnya menjadi sebuah
penjara batu.
Baru saja Kwik Soat kun maju beberapa langkah, mendadak dari arah belakang
kedengaran suara langkah manusia, lalu tampak Lian Giok Seng memburu datang
dengan langkah cepat dan berbisik lirih :
“Nona, disini masih ada sebutir pil penawar lagi harap kau suka berikan kepada
Buyung Im kongcu.”
Mendengar perkataan itu Kwik Soat kun menjadi tertegun.
“Kau ……”
“Dia sudah kehilangan kesadarannya, Lian Giok seng melanjutkan, mengapa aku
mesti mencelakainya? Harap nona menerima pil ini !
Cuma, tolong beritahu kepadanya, bila kesadarannya telah pulih nanti, tolong ia
suka bersikap seperti sekarang ini.”
Dia lantas menjejalkan pil tersebut ke tangan Kwik Soat kun, kemudian tanpa
menantikan jawaban dari perempuan itu lalu dia membalikkan badan dan
mengunci kembali pintu batu tersebut.
Kecuali sehari tiga kali makan, muncul orang yang menghantarkan makanan untuk
mereka penjara batu itu boleh dibilang lepas dari penjagaan. Tapi Kwik Soat kun
cukup mengerti tempat yang seolah-olah tanpa penjagaan sesungguhnya
mempunyai persiapan yang mengerikan sekali, apalagi mereka sedang terjebak
dalam suatu tempat yang berbahaya, sekalipun berhasil melarikan diri dari penjara
batu itu, belum tentu bisa melewati pos-pos penjagaan yang berlpis-lapis.
Sementara dia masih termenung, tubuhnya telah tiba diujung penjara batu
tersebut.
Tampak olehnya Buyung Im seng masih duduk termangu-mangu disitu sambil
memandang dinding batu tanpa berkedip, terhadap kepada kehadiran Kwik Soat
kin dia seperti sama sekali merasakannya.
Kwik Soat kun memandang sekejap kearah Buyung Im seng, kemudian pikirnya.
“Bila seorang harus hidup macam bodoh terus menerus, maka keadaan ini tak ada
bedanya dengan orang mati, sekalipun pil ini kemungkinan adalah racun, paling
tidak aku harus mencoba menolongnya. Apalagi apa yang dikatakan Lian Giok seng
ada benarnya juga, dalam keadaan dan suasana seperti ini, hanya dia tak perlu lagi
untuk mencelakai Buyung Im seng.
442
Berpikir sampai disitu, dia lantas mengambil keputusan, pil penawar racun itupun
segera dijajalkan kedalam mulut Buyung Im seng.
Sesudah menelan obat penawar tersebut, lebih kurang sepertanak nasi kemudian
mendadak anak muda itu menghembuskan napas panjang, peluhpun jatuh
bercucuran.
Kwik Soat kun sudah pengalaman, dia tahu itulah saat menjelang datangnya
kesadaran, buru-buru serunya :
“Saudara Buyung, apakah engkau telah sadar kembali ?”
“Buyung Im seng menepuk kepalanya sendiri beberapa kali, lalu sahutnya :
Yaa, sudah sadar kembali, aku seperti mendapatkan satu mimpi yang sangat
buruk”
Walaupun ketika itu kesadarannya dikendalikan oleh obat beracun, namun bukan
berarti sama sekali kehilangan kesadarannya, terhadap keadaan yang terjadipun
lamat-lamat dia masih bisa mengingatnya kembali.
”Walaupun kita telah sadar kembali, namun masih belum mampu untuk kabur
meninggalkan tempat ini.”
”Nona Kwik, agaknya kau telah memberikan sebutir obat kepadaku ?”
”Yaa, obat penawar yang membuat kesadaranmu pulih kembali.”
Selama kesadaranmu hilang dan tak terkendali, banyak peristiwa yang telah
terjadi.”
”Mana Nyoo Hong leng dan Siau-tin?”
”Siau-tin entah sudah diatur mereka kemana, aku belum sampai berjumpa
dengannya., tapi aku telah berjumpa dengan nona Nyoo.”
Tanpa terasa Buyung Im seng berseru tertahan. Ah, dimana nona Nyoo sekarang?”
Pelan-pelan Kwik Soat kun mengalihkan sinar matanya yang jeli keatas wajah
Buyung Im seng setelah diamatinya beberapa saat ia menjawab.
”Dia yang telah menolong kita.”
443
Bagaimana dengan dia pribadi? Apakah mendapat celaka gara-gara ingin menolong
kita.
Kwik Soat kun menghela napas lega.
”Aaaai .... dia masih berada dalam keadaan baik-baik Cuma saja dia tidak disekap
bersama kita.
”Berada dalam keadaan seperti ini apalah artinya menanyakan persoalan semacam
ini lagi! Tiba-tiba terdengar seseorang menimbrung.
Ketika mereka berpaling, tampaklah Lian Giok Seng sambil tertawa hambar
sedang melangkah masuk kedalam.
Buyung Im seng menegur ”Ada urusan apa kau datang kemari?”
Menjemput kalian untuk meninggalkan tempat ini”
”Apakah kau mendapat perintah dari nona Nyoo ?”
”Waktu yang tersedia bagiku sudah tidak banyak lagi” tukas Lian Giok Seng
dengan kening berkerut, ”harap kalian berdua mau segera berangkat .....”
”Bila kau tidak menjelaskan dulu perkataanmu itu, aku bertekad tak akan
meninggalkan tempat ini.” ucap Buyung Im seng dingin.
Dengan perasaan apa boleh buat, terpaksa Lian Giok seng menjawab :
”Yaa, benar, Nyoo Hong leng yang menyuruh aku datang kemari.
”Kini Nyoo hong leng berada dimana ?” aku hendak menjumpainya” seru Buyung
Im seng sambil beranjak.
”Sekarang dia repot, mungkin tak punya waktu untuk menjumpai dirimu.”
Setelah berhenti sejenak, mendadak nada suaranya menjadi lembut dan halus.
”Nak, ayahmu adalah sahabat karibku !”
”sayang sekali ayahku sudah tiada.” tukas Buyung Im seng, ”sehingga sulit bagiku
untuk membuktikan apakah perkataanmu itu benar ataukah tidak?”
”Ayahmu tidak mati?” ucap Lian Giok seng dengan wajah serius.
Ucapan tersebut diutarakan dengan nada pelan, tapi akibatnya justru ibarat guntur
yang membelah bumi disiang hari bolong, amat menggetarkan perasaan Buyung Im
seng, membuat wajahnya menjadi kaku dan sesaat lamanya sanggup mengucapkan
sepatah katapun.
Sampai lama sekali dia baru tertawa rawan, katanya kemudian :
”Aaaah, kau sedang bergurau.”
”kenapa aku mesti membohongi dirimu?” seru Lian Giok Seng dengan wajah gusar.
Kembali Buyung Im seng seng tertegun
444
Benarkah itu ?’ pikirnya kemudian, “Yaa, apalah gunanya dia membohongi diriku ?
berada dalam keadaan seperti ini, rasanya dia memang tak perlu membohongi
diriku !”
Sementara itu, terdengar Lian Giok seng sedang berkata lagi dengan wajah dingin
dan serius.
“Nak ! kau harus percaya kepadaku sebab tiada pilihan lain bagimu kecuali
mempercayainya” mendadak Buyung Im seng berteriak keras :
“Ayahku berada dimana sekarang, cepat ajak diriku untuk pergi menjumpainya.”
Mendadak Lian Giok seng membalikkan tubuhnya sambil mengayunkan tangan
kanannya, serentetan cahaya tajam yang berkilauan segera berkelebat membelah
angkasa.
Cahaya itu meluncur kedepan dengan kecepatan bagaikan sambaran petir.
Mengikuti kilauan cahaya tajam itu berkumandang suara dengusan tertahan,
menyusul kemudian. “Blaam !” sesosok bayangan tubuh manusia terkapar keatas
tanah.
Ketika semua orang menengok, maka tampaklah seorang lelaki kekar sudah
terkapar diatas tanah dengan sebilah belati diatas dadanya, pisau belati itu tembus
hingga tinggal gagangnya kalau dilihat dari keadaannya jelas lelaki tersebut sudah
menghembuskan napasnya yang penghabisan.
Dengan gerakan tubuh seenteng hembusan angin Lian Giok seng segera lari keluar
seperminum teh kemudian dia lalu kembali sambil berkata :
Nak, tempat ini penuh dengan hawa pembunuhan, sedikit lengah berarti selembar
jiwamu terancam maka aku minta kau suka menguasai diri sedapat mungkin.”
“terima kasih atas nasehat locianpwe !” jawab Buyung Im seng.
Setelah memandang mayat itu sejenak dia melanjutkan “Siapakah orang ini ?”
Salah seorang anak buahku, pengawal dari cu kang seng tong !”
Ia mencabut kembali pisau belati tersebut dari atas tubuh mayat itu, setelah
membersihkan noda darahnya lalu disembunyikan dibalik ujung bajunya.
“Bagaimana kita mesti membereskan mayat ini ?’ Tanya Kwik Soat kun tiba-tiba.
445
“Tak usah kuatir, dalam perguruan Sam seng bun terdapat semacam obat
penghancur mayat.”
Seraya berkata tangan kanannya segera merogoh kedalam sakunya dan
mengeluarkan sebuah botol porselen, kemudian menebarkan semacam bubuk putih
disekitar mulut luka.
Kemudian dia berkata lagi : “Lebih kurang satu jam kemudian, mayat ini baru akan
mencair dan hancur sebagai segumpal air, kita tak boleh lama lagi tinggal disini.”
Setelah menyaksikan Lian Giok seng turun tangan membereskan anak buahnya
sendiri rasa percaya kepada orang itu mulai tumbuh buru-buru anak muda tersebut
menjura dalam-dalam kemudian serunya :
“Locianpwe kau bermaksud hendak mengajak kami pergi kemana ?”
“Mengajakmu pergi menjumpai ayahmu !”
“Apa ? jadi ayahkupun berada disini ?” seru Buyung Im seng dengan wajah tertegun
“Ya dia berada disini …….?”
Mendadak berkumandang suara gelak ketawa yang amat nyaring berkumandang
dating dan memotong perkataan Lian Giok seng yang belum terselesaikan itu.”
Buyung Im seng dan Kwik Soat kun yang mendengar gelak tertawa tersebut
menjadi terkesiap sekali.
Sebaliknya Lian Giok seng masih tetap tenang pelan-pelan dia membalikkan
badannya sembari berkata :
“Sudah lamakah kau dating kemari ?”
Dari sudut dinding batu sana, nampak bayangan manusia berkelebat lewat dan
melayang turun seorang lelaki setengah umur berperawakaan kurus ceking dan
pendek yang berdandan setengah sastrawan.
Kwik Siat kun mengamati orang itu dengan seksama, ia saksikan orang itu
menerjang kedepan dada Lian Giok seng dan berhadapan muka, selisih tinggi
badan hampir terpaut separuh bagian, namun orang itu justru mempunyai
sepasang lengan yang panjangnya luar biasa sehingga melebihi lututnya.
Tampak orang kurus pendek berlengan panjang itu tertawa hambar kemudian
ujarnya :
“Lian heng, aku rasa semua tindak tandukmu itu kau lakukan atas perintah
rahasia dari Toa sengcu bukan ?”
446
“Sekalipun berhasil kau tebak jitu, saying sekali rahasiaku sudah kau ketahui.
Orang yang kecil pendek itu tertawa hambar.
“Dalam perintah rahasia Toa sengcu yang disampaikan kepadamu itu apakah
diperintahkan juga untuk membunuh orang ?”
“Kalau tidak membunuh, bagaimana mungkin aku bisa merebut kepercayan
darimereka ?”
Ooooh ….. kalau begitu siute harus minta maaf yang sebesarnya karena aku telah
mengacaukan jerih payah darimu ?”
“Phu tongcu berbicara terlalu serius !”
Begitu dia memanggil nama dan tingkat kedudukannya, Buyung Im seng dan Kwik
Soat kun baru tahu kalau si pendek ceking ini sesungguhnya adalah seorang
tongcu.
Tampak Phu tongcu tertawa hambar, lalu sahutnya :
Lian Hu Cok, jika kau sampai mengucapkan beberapa patah kata yang sedap dari
siaute sudah pasti siaute takkan kuasa menahan diri.”
Siaute tak habis mengerti apa maksud dan tujuan Phu Tongcu dengan
perkataanmu itu ?”
“Haaahhh ……. Haaahhh …..haaaaahhh ……. Ucapku tadi sudah jelas telah
termasuk rencana bagus dari Lian Hu Cok, terpaksa aku mesti mengharap Soa
sengcu untuk memohon maaf.”
“Phu heng menempati kedudukan yang sangat penting, masa aku orang she Lian
berani melakukan kesalahan kepadamu ?”
oOo
(bagian ke tiga puluh dua)
447
PHU TONGCU segera tertawa dan menggelengkan kepalanya berulang kali.
“Aaah, saudara Lian, terlalu memandang tinggi diriku …………”
Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan :
“Siaute ingin mengajak saudara Lian untuk bersama-sama menjumpai Toa sengcu,
sebelum duduk perkara ini dibikin jelas, Siaute tidak berlega hati rasanya.”
Lian Giok seng termenung dan berpikir sebentar, lalu sahutnya :
“Baik ! Jika Phu Tongcu tak percuma kalau sianio dating atas perintah, tampaknya
terpaksa kita memang harus berbuat demikian.”
Agaknya Phu tongcu sama sekali tak menyangka kalau Lian Giok seng bakal
menyanggupi permintaan dengan begitu saja, keningnya segera berkerut kencang.
“kalau begitu harap saudara Lian suka membawa jalan …… “
Lian Giok seng berpaling dan memandang sekejap kearah Buyung Im seng serta
Kwik Soat kun, kemudian tanyanya :
“bagaimana dengan kedua orang ini ?”
“Mari kita bekuk mereka dulu, kemudian baru pergi menghadap Toa sengcu.” Kata
phu tongcu tertawa.
Sepasang bahunya segera digerakkan dan menerjang kehadapan Buyung Im seng,
lengannya yang panjang segera diangkat lalu diayunkan ke depan melepaskan
sebuah pukulan.
Walaupun Buyung Im seng telah mengerahkan tenaganya untuk bersiap-siap,
namun ku yang leluasa baginya untuk menyambut datangnya ancaman tersebut
dengan kekerasan, dengan cepatnya dia mengigos kesamping untuk
menghindarkan diri.
“Tahan !” tiba-tiba terdengar Lian Giok seng berseru dingin.
Agaknya Phu tongcu merasa agak jeri terhadap Lian Giok seng, mendengar
bentakan tersebut dia lantas menghentikan serangannya.
Dengan suara berat Lian Giok seng berkata :
448
“Toa sengcu tidak memerintahkan kepadaku untuk melukai mereka berdua, jika
Phu tongcu sampai melukai mereka, bagaimana caranya Siaute untuk memberikan
pertanggungan jawabnya kepada Toa Sengcu nanti ?”
Phu tongcu tersenyum.
“Apa susahnya tentang soal ini ? Asal kita bekuk mereka hidup-hidup, toh urusan
akan beres dengan sendirinya.”
“Saudara Phu” kata Lian Giok Seng kemudian dengan suara dingin, sekalipun kau
seorang Tongcu, tapi bukan hakmu untuk mencampuri dari ruang Seng Tong?”
“Aaaah, ucapan Suadara Lian terlalu serius, siaute datang kemari untuk membantu
saudara Lian.”
“Kalau memang begitu, aku tak berani merepotkan saudara Phu.”
Phu Tongcu termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian serunya
cepat :
“Apa maksud ucapanmu itu ?”
“Siaute yakin masih sanggup untuk menghadapi sendiri mereka berdua, jadi
saudara Phu tak perlu membantu ?
Phu Tongcu tertawa dingin, katanya tiba-tiba :
“barusan sudara Lian telah membunuh anak buah sendiri, aku rasa saat ini ……”
Mendadak Lian Giok seng mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
“Haaahhh ……. Haaahhh …..haaaaahhh …….kelihatannya Phu thongcu ada niat
untuk menyusahkan Siaute ?”
“Aaah, mana, mana, bila saudara Lian tidak cemas, tangkap saja dua orang itu
lebih dahulu, kemudian kita baru bersama-sama menghadap Toa Sengcu untuk
menyelesaikan persoalan ini.”
Tiba-tiba Lian Giok seng bergerak maju kemuka, lalu serunya :
“Saudara Phu, tampaknya salah seorang diantara kita harus ada yang mampus
dalam penjara ini ?”
449
Tampaknya Phu tongcu cukup tahu kalau ilmu silat yang dimilikinya amat lihay,
menyaksikan cahaya pembunuhan yang terpencar keluar dari matanya, tanpa
timbul perasaan tercekat dan rasa jerinya.
Dengan cepat dia mendehem, lalu ujarnya :
“Bagaimana ? Apakah saudara Lian bersiap-siap untuk bertarung melawan
Siaute?”
“Phu tongcu telah memaksa Siaute sehingga tiada pilihan lain kecuali bertarung.”
Ucapan tersebut kontan saja membuat Phu tongcu tertegun.
“jadi maksud saudara Lian, kau betul-betul sudah berhianat terhadap perguruan
Sam seng-bun ?” tegurnya
“Kalau benar kenapa ?”
Paras muka Phu tongcu segera berubah hebat.
“Saudara Lian merupakan orang kepercayaan dari Toa sengcu, masa kau akan
berhianat terhadap perguruan Sam seng bun ? Aaaah, hal ini mustahil bisa terjadi,
sungguh membuat orang tidak habis percaya.” Katanya cepat.
Dalam pada itu, secara diam-diam Lian Giok seng telah menghimpun tenaga
dalamnya siap melancarkan serangan, sekali lagi dia maju selangkah ke depan,
kemudian serunya :
“Serangan, tentunya kau sudah percaya bukan?”
Pelan-pelan dia mengangkat telapak tangan kanannya siap melancarkan serangan.
“Saudara Lian” kata Phu tongcu dengan suara dingin, “Jika kau begitu memaksa
kepadaku untuk bertarung juga, terpaksa siaute akan meniringi keinginanmu itu.”
“Kalau begitu, berhati-hatilah !”
Telapak kanannya segera diayunkan kedepan melepaskan pukulan kedada lawan.
Serangan ini dilancarkan dengan sepenuh tenaga, selain jurus serangannya lihay,
kekuatannyapun mengerikan sekali, diiringi segulung sedingan angina pukulan
yang sangat kuat segera menerjang kedepan.
450
Phu tongcu mempunyai perawakan yang kurus pendek, gerakan tubuhnya sangat
gesit dan cepat, begitu memutar badannya sudah berkelit kesudut ruangan batu
itu, kemudian lengannya diayunkan kedepan, kelima jari tangannya dipentangkan
lebar-lebar ia langsung saja mencengkeram lengan kanan Lian Giok seng.
Sepasang telapak tangan Lian Giok Seng segera diayunkan ke depan dan secara
berantai melancarkan bacokan yang bertubi-tubi satu jurus serangan lebih hebat
dari jurus serangan sebelumnya, bahkan tubuhnya pun bersamaan waktunya
mendesak maju lebih kedepan.
Sudah jelas pertarungan semacam ini merupakan suatu pertarungan beradu jiwa
Setelah menerima lima-enam buah serangan berantai dari lawannya tiba-tiba Phu
tongcu berteriak keras “Tahan !”
Agaknya Lian Giok seng sudah terlanjur kalap, bukannya menghentikan serangan
malah tangan kanannya segera merogoh kedalam sakunya mengeluarkan sebilah
pisau belati lalu pisau dan telapak tangan dipergunakan bersama melancarkan
serangkai serangan yang gencar.
Didesak seperti ini terpaksa Phu tongcu harus mengembangkan pukulan demi
pukulannya untuk melakukan pertahanan yang gigih, sementara dimulai dia
berteriak keras.
“saudara Lian, aku suruh kau menghentikan serangan, sudah kau dengar belum ?”
Lian Giok seng menarik kembali serangannya, kemudian menegur dengan suara
dingin :
“Ada urusan apa ?”
“Kelihatannya saudara Lian telah bersungguh hati untuk membantu Buyung
kongcu dan berhianat terhadap perguruan Seng bun ?”
“Jawabanku masih tetap seperti semula dan kaupun sudah menyaksikan dengan
sangat jelas, bukankah pertanyaanmu itu sama sekali tak ada artinya lagi ?”
Tiba-tiba Phu tongcu menghela napas panjang.
“Aaaai ….. dulu, Buyung Tiang kim pernah menolong selembar jiwaku satu kali dan
membebaskan aku dua kali, atas budi kebaikannya itu Siaute selalu mengingatkan
dihati dan tak pernah bisa melupakan …………..”
451
Setelah memandang sekejap kearah Buyung Im seng, lanjutnya :
Kali ini, setelah siaute mendengar kalau Buyung kongcu disekap disini, akupun
khusus dating kemari dengan maksud untuk menolongnya.”
Tentu saja Lian Giok seng tak akan mempercayai perkataan itu dengan begitu saja,
dia segera berkata :
“kalau toh maksud kedatanganmu kemari adalah untuk menolong Buyung kongcu,
lagipula kaupun menyaksikan kisah perbuatanku sewaktu menolong Buyung
kongcu, mengapa pula maksudmu itu engkau kemukakan setelah aku membunuh
anak buahku.
Phu tongcu segera menghela napas panjang.sekarang ?”
“Aaaai ……. Saudara Lian merupakan salah seorang kepercayaan dari Toa sengcu.”
Katanya, “bila siaute tidak mengetes dengan seksama, masa berani untuk
mempercayainya dengan begitu saja ????”
“Dan sekarang ?”
“Sekarang ? tentu saja siaute sudah percaya.”
Setelah percaya, apa rencanamu selanjutnya ?”
“Apa pula rencana saudara Lian ? Siaute bersedia menjadi panglima pembuka
jalan, segala sesuatunya siap menerima perintahmu.”
“Dalam ruanganmu, ada berapa banyak jago kah yang kira-kira berpihak
kepadamu ?”
“Anak buah siaute, mungkin ada belasan orang yang boleh dipercaya dan bisa
dipakai tenaganya.”
“bagaimana dengan ilmu silatnya ?”
“Semestinya terhitung jago-jago kelas dua.”
“Sekarang, dimanakah orang-orang itu?”
“Mereka semua sudah berkumpul dan siap menantikan perintah.”
“Apakah orang-orang itu semua dapat dipercaya?”
“Semuanya dapat dipercaya.”
“Bagus sekali ……” seru Lian Giok seng.
Setelah berhenti sebentar, kemudian dia melanjutkan :
“Semula siaute bermaksud untuk menolong Buyung Koncu keluar dari sini,
kemudian mengaturnya agar berdiam untuk sementara waktu di suatu tempat,
akan tetapi setelah memperoleh bantuan dari saudara Phu sekarang, tentu saja
keadaannya menjadi sama sekali berubah, harap saudara Phu suka membawa
452
Buyung kongcu dan nona Kwik menuju keruangan Hoat butong dibawah
pengaruhmu itu ……”
“Saudara Lian, persoalan ini dapat dirahasiakan berapa lama ?”
“Kemampuan dari Toa sengcu sukar diduga sebelumnya, jadi berapa lamakah
persoalan ini dapat dirahasiakan, siute betul-betul tak sanggup untuk
menjawabnya.”
“Baiklah, bagaimanapun juga siute akan segera mempersiapkan perlawanan
sedapat mungkin terhadap perbagai serbuan setibanya di dalam kantorku nanti,
Cuma siute sukup memahami kemampuan untuk mempertaruhkan diri, mustahil
dengan kekuatan yang ada, kami bisa bertahan kelewat lama itulah sebabnya
saudara Lian mesti memberikan bantuan secepatnya”
“Aku telah mengadakan kontak dengan beberapa orang lainnya, tetapi beberapa
buah pos penting masih belum berhasil kutembusi hingga sekarang sampai
waktunya, apakah mereka bersedia membantu atau tidak, hingga sekarang masih
merupakan suatu tanda Tanya besar.”
Di dalam perguruan Sam seng bun meski terdapat banyak sekali jago lihay, tapi
percaya bila sampai bertarung melawan mereka maka aku masih sanggup untuk
mempertahankan diri sebanyak beberapa gebrakan. Hanyalah ketiga orang
malaikat itu justru mempunyai kepandaian yang sukar diraba sebelum Saudara
Lian, kau sudah banyak tahun mengikuti mereka, apakah kau bisa memberi
penjelasan tentang ilmu silat yang dimiliki tiga orang itu?” Lian Giok seng segera
menggelengkan kepalanya berulang kali.
“Ilmu silat yang dimiliki Toa sengcu sangat lihay sukar diukur, tampaknya diapun
mahir mempergunakan inti sari jurus serangan dan pelbagai, sebaliknya
bagaimanakah ilmu silat Jie Sengcu Sam sengcu sukar kukatakan, sebab aku
sendiripun belum pernah menyaksikannya.”
“kalau begitu, ilmu silat yang dimiliki Toa Sengcu sudah pasti telah mencapai
ketingkatan yang sukar diduga dengan kata-kata ?”
(Bersambung ke jilid 23)
453
Lembah Tiga Malaikat
Oleh: Tjan
Jilid 23
Betul, cuma aku percaya seorang manusia toh terdiri dari darah dan daging,
bagaimanapun lihainya ilmu silat yang dimilikinya, dia tetap adalah manusia,
apabila kita pergunakan taktik rada berputar untuk bertarung melawan dirinya,
lama kelamaan toh ia pasti akan kehabisan tenaga juga.
Mendadak dia membungkam seribu bahasa.
“Ada orang yang datang kemari!” Phu tongcu segera berbisik.
Dengan suara lirih Lian Giok seng segera berbisik kepada Buyung Im Seng dan
Kwik soat kun. “Kalian berlagak seolah-olah masih terpengaruh oleh obat pemabuk,
kecuali keadaan yang terpaksa atau terancam jiwa kalian, paling baik kalian
jangan sampai menegur atau melakukan reaksi.
Buyung Im Seng dan Kwik soat kun mengiakan, dia segera duduk kembali ditempat
semula dengan bersandar diatas dinding.
“Kraaak…!” agaknya ada orang membuka pintu batu.
Menyusul kemudian terdengar suara langkah manusia bergema mendekat,
ternyata benar benar ada orang sedang menuju kedalam penjara batu.
Lian Giok seng serta Phu toangcu itu serentak menarik napas panjang2 dan
menempelkan punggungnya pada dinding batu.
Tampak dua sosok bayangan manusia, satu dimuka yang lain dibelakang berjalan
mendekat. Orang yang berjalan paling muka berjubah panjang dengan tangan
telanjang. Sebaliknya orang dibelakang mengenakan pakaian ringkas dengan
sebilah pedang tersoren dipunggungnya.
Ketika tiba kurang lebih empat-lima langkah dihadapan Buyung Im Seng, leleki
berjubah panjang itu mendadak berhenti, lalu sambil berpaling dan memandang
sekejap kearah orang yang menggembol pedang itu bisiknya.
454
“Apakah kau sudah merapatkan kembali pintu batu itu?”
“Pintu sudah tertutup” sahut pemuda berpedang sambil memberi hormat.
“Bagus sekali, coba kau nyalakan api biar kuperiksa keadaan disini lebih dahulu.”
Orang yang membawa pedang mengiakan dan segera menyulut api. Dalam waktu
singkat, ruangan penjara batu itu sudah bermandikan cahaya lampu.
Sewaktu Buyung Im Seng mencoba untuk mengawasi orang yang berada
didepannya itu, tampaklah lelaki berjubah panjang itu berusia enam puluh tahun,
jenggotnya panjang sedang dia bukan lain adalah Im Cu siu yang pernah memberi
petunjuk kepadanya sewaktu menyebrangi jembatan tempo hari.
Pemuda berpakaian ringkas itu berusia antara dua puluh tahunan, wajahnya
tampan dan bersih, dia berdiri dan mengangkat obor ditangan kirinya tinggi2.
Dengan suatu gerakan cepat Buyung Im Seng telah memperhatikan keadaan
tempat itu, kemudian buru-buru dia memejamkan matanya kembali, sedang dalam
hati kecilnya berpikir. “Heran mengapa Im Cu siu turut datang kedalam penjara
batu ini…?”
Sementara itu Im Cu siu telah memeriksa raut wajah Buyung Im Seng dengan
seksama, kemudian setelah mendehem pelan katanya. “Buyung kongcu!”
Buyung Im Seng berlagak seakan akan pengaruh racun yang berada didalam
tubuhnya belum punah, dia membuka matanya memandang sekejap kearah kedua
orang itu kemudian buru2 dipejamkan kembali.
Pemuda berpakaian ringkas itu segera berbisik lirih. “Dia telah diberi obat
pemabuk dari Seng tong, mungkin hingga sekarang belum sadar.”
“Apakah kau membawa obat penawarnya?”
“Tecu telah berpikir sampai disitu, maka aku sengaja mencuri beberapa butir dan
kubawa serta didalam saku.”
“Bagus sekali, cepat bawa keluar dan berikan sebutir dahulu kepadanya…!”
Pemuda berpakaian ringkas itu mengiakan, dari saku bajunya dia lantas
mengambil keluar sebutir pil dan pelan2 mendekati Buyung Im Seng, beberapa
lama kemudian seperti ini, Buyung Im Seng segera berpikir. “Aku telah menelan
obat penawar dan kini berada dalam keadaan waras, sekalipun pil itu benar2
merupakan obat penawar yang asli, aku tak boleh makan sebutir lagi!”
Berpikir sampai disitu, dia membuka matanya lebar2 sambil melompat bangun,
ujarnya tiba2: “Aku amat baik! Locianpwe ada pesan apa?”
“Kau tidak minum obat pemabuk?” tanya Im Cu siu seperti agak tertegun melihat
hal itu.
“Obat pemabuk sih sudah minum, tapi sekarang aku telah waras kembali.”
“Ooh, aku tahu” ucap pemuda berpakaian ringkas itu kemudian, “obat pemabuk itu
berdaya kerja amat keras, sekalipun hanya menelah sebutir, paling tidak harus
menunggu sampai tujuh hari kemudian baru sadar kembali, padahal kau baru
beberapa hari tiba disini, jika pernah menelan obat pemabuk tak nanti bisa sadar
kembali sebelum menelan obat penawarnya.”
455
Im Cu siu manggut2, pelan2 dia berkata “Siapakah orang yang telah memberikan
obat penawar itu kepadamu?”
Buyung Im Seng termenung dan berpikir beberapa saat lamanya.
“Siapakah orang itu, sulit buat boanpwe untuk memberitahukannya kepada
kalian.”
Setelah berhenti sebentar, dia bertanya lagi. “Apakah kedatangan locianpwe
kedalam penjara batu ini untuk menengok boanpwe?”
“Di dalam penjara ini hanya terdapat kalian berdua, tentu saja kedatangan lohu
kemari adalah untuk menengok dirimu.”
“Boanpwe betul2 merasa berterima kasih sekali.”
“Kalau toh orang itu sudah memberi obat penawar kepadamu, sudah pasti dia telah
mempunyai cara untuk membantu kabur dari sini bukan?”
“Agaknya dia pernah menyinggung soal melarikan diri, tapi boanpwe kurang begitu
jelas.”
Im Cu siu segera melirik sekejap kearah pemuda berpakaian ringkas itu, kemudian
tanyanya. “Obat penawar itu disimpan dimana?”
“Dalam saku ketiga orang Sengcu terdapat obat penawar!”
“Kalau begitu orang yang bisa mengambil obat penawar hanyalah orang orang yang
berada disisi ketiga orang Sengcu itu, atau paling tidak harus ada bantuan dari
mereka.”
“Benar, kecuali ketiga orang Sengcu, dalam seluruh perguruan Sam seng bun ini
tidak terdapat orang keempat yang memiliki obat penawar tsb.
Im Cu siau segera manggut2. “Benarkah kau adalah putranya Buyung Tiang kim?”
tanyanya kemudian dengan nada hati2.
“Apakah boanpwe harus mencatut nama putra orang lain.”
“Semasa ayahmu masih hidup dulu dia pernah menolong selembar jiwaku, budi
kebaikan ini tak pernah kulupakan selamanya tapi tak pernah berhasil kubalas,
hari ini aku sengaja datang menolongmu, akibat perbuatanku ini mungkin lohu
akan mati, tapi budi pertolongan yang pernah aku terima tak bisa tidak mesti lohu
bayar lunas…”
Mendengar perkataan itu, Buyung Im Seng segera berpikir. “Kebanyakan orang2
itu pernah menerima budi pertolongan dari ayahku, tampaknya semasa hidup dulu
ayahku benar2 telah berbuat amal dan banyak melakukan kebaikan.”
Berpikir demikian, dia lantas berseru. “Locianpwe…”
“Dengarkan dulu perkataanku,” tukas Im Cu siu, “lohu cukup lama hidup didunia
ini, sekalipun harus mati juga tak bakal menyesal, persoalannya sekarang adalah
lohu tak mampu untuk membantumu meninggalkan sarang iblis ini, kemampuanku
ini sayang sekali, hanya terbatas bila untuk menolongmu keluar dari dalam penjara
batu ini, sanggupkah kau meninggalkan tempat ini, terpaksa haru tergantung pada
nasibmu sendiri.”
456
“Locianpwe, benarkah ayah boanpwe telah mati?”
“Tentang soal ini lohu sendiripun sukar untuk memberitahukan kepadamu secara
pasti, cuma menurut apa yang lohu ketahui, ayahmu adalah seorang jago yang
tidak mudah dibunuh.”
“Kalau ayahku belum mati sekarang dia berada dimana?”
Im Cu siau segera menghela napas panjang. “Aiii… kalau dibilang ia betul2 masih
hidup didunia ini, maka kejadian tsb boleh merupakan suatu rahasia yang amat
besar bagi dunia persilatan, dalam dunia persilatan dewasa ini mungkin jarang
sekali ada yang mengetahuinya.”
Ketika Buyung Im Seng menyaksikan kalau orang itu benar2 tak tahu, diapun tak
banyak bertanya lagi, pelan2 ujarnya.
“Maksud baik locianpwe akan kuterima dalam hati, cuma setelah locianpwe
menolong boanpwe, kalau toh tiada keyakinan untuk mengantar boanpwe
meninggalkan tempat ini, bukankah hal tsb sama dengan menjerumuskan
locianpwe?”
“Kau tak usah memikirkan tentang diriku.” Tukas Im Cu siu “sebelum datang
kemari, lohu berpikir tiga kali sebelum bertindak, dari empat orang yang datang
bersamamu, kecuali nona Nyoo yang tak sanggup lohu tolong, kalian bertiga dapat
lohu tolong untuk keluar dari penjara batu, Nah urusan sudah menjadi begini,
terpaksa kita mesti beradu nasib.”
Buyung Im Seng segera berpikir lagi. “Tanya jawab antara dia dengan ku sudah
pasti akan terdengar pula oleh Lian Giok seng dan Phu tongcu dengan jelas, mereka
tak mau bersuara itu berarti mereka enggan untuk berjumpa dengan Im Cu sui…”
Sementara dia masih termenung, terdengar Im Cu siu telah berkata lagi. “Apakah
nona Kwik sudah minum obat penawar?”
“Kalau toh orang itu sudah datang mengantar obat penawar buat kalian, mengapa
ia tak bersedia untuk berjumpa dengan kami berdua?”
“Jika mereka sudah mendapat pesan dari orang lain, sudah barang tentu rahasia
ini tak akan dibocorkan.” Terdengar seseorang menyambung dari belakang
tubuhnya.
“Ooo, rupanya saudara Lian sudah datang!” serunya.
Tidak menunggu jawaban dari Lian Giok seng lagi, tangan kanannya segera
diayunkan ke depan melancarkan sebuah pukulan.
Segulung angin dahsyat dengan cepatnya menerjang maju kedepan….
Lian Giok seng segera maju dua langkah sambil menghindarkan diri dari ancaman
tsb, kemudian serunya. “Saudara Im…”
“Hari ini kalau bukan kau yang mati adalah aku yang mampus, tak usah banyak
bicara lagi, lihat serangan!” tukas Im Ciu siu dengan dingin.
Sambil berkata dia menerjang maju sepasang telapak tangannya dilancarkan ke
muka secara berantai, bahkan semua jurus serangan yang digunakannya tertuju
kebagian bagian yang mematikan ditubuh Lian Giok seng.
457
Jelas Im Cu siu ada maksud untuk beradu jiwa. Serangan ganas dengan jurus
serangan yang aneh meluncur tiada hentinya, Lian Giok seng yang pada dasarnya
memang tidak berniat untuk bertarung melawannya, segera kehilangan posisi yang
menguntungkan.
Dengan kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki Im Cu siu serta jurus
pukulannya yang aneh, seketika itu juga Lian Giok senga terdesak hebat sehingga
tak sanggup memberi penjelasan.
Dalam keadaan demikian, terpaksa dia mesti memusatkan semua perhatiannya
untuk menghadapi lawan sambil berusaha pula melancarkan serangan balasan.
Setelah bertarung puluhan gebrakan kemudian, pelan2 Lian Giok seng baru
berhasil menguasai kembali keadaan yang dihadapinya, dia lantas berkata.
“Saudara Im, apakah kau ingin tahu siapakah orang yang telah memberikan obat
penawar kepada Buyung kongcu?”
Im Cu siu memperketat serangannya melepaskan tiga buah serangan berantai
hingga memaksa Lian Giok seng mundur sejauh dua langkah, kemudian tanyanya.
“Siapakah orang itu?”
“Akulah orangnya.”
“Kau?” Im Cu siu nampak seperti tertegun.
“Orang lain tak akan bisa memperoleh obat penawar dengan begini gampang.”
Mendadak Im Cu siu menarik kembali serangannya, kemudian berkata. “Kalau
begitu, kaulah yang telah menolong Buyung kongcu?”
“Aiii, tentunya saudara Im juga pernah mendengar bukan hubungan antara siaute
dengan Buyung Tian kim dimasa lalu?”
Im Cu siu manggut2. “Semasa hidupnya dulu, Buyung tayhiap banyak berbuat
amal dan kebajikan bagi umat persilatan, entah berapa banyak orang dari umat
persilatan yang memperoleh budi kebaikan darinya, tak disangka seorang pendekar
yang berbudi luhur harus diberi umur yang begitu pendek.”
“Buyung tayhiap masih hidup segar bugar didunia ini.” Lian Giok seng segera
berbisik.
Ucapan itu segera membuat Im Cu siu jadi tertegun. “Kau bilang Buyung Thiang
kim masih hidup?” serunya. “Sekarang dimana orangnya?”
“Tempat itupun belum pernah kukunjungi.”
“Lantas darimana saudara Lian bisa mendengar kabar itu?”
“Dari toa sengcu, suatu ketika tanpa disengaja ia telah membocorkan rahasia ini.”
“Kalau ucapan tsb berasal dari mulut koncu, rasanya tak mungkin bisa salah lagi.”
Lian Giok seng manggut2. “Walaupun tempat ini tak besar, namun menyimpan
banyak sekali rahasia besar, selain Toa seng seorang mungkin tiada duanya yang
bisa mengetahui semua persoalan itu dengan jelas.”
“Saudara Lian sudah banyak tahun mengikuti Toa sengcu, tentunya kau sudah
pernah bertemu dengan wajah asli dari Toa sencu bukan?”
458
Lian Giok seng manggut2. “Kalau dibicarakan sungguh menyesal sekali andaikata
saudara Im mengajukan pertanyaan ini, dua hari lebih awal, mungkin siaute
sendiri pun sama seperti saudara Im.”
“Kalau begitu pada dua hari belakangan ini saudara Lian baru berhasil
menyaksikan raut wajah asli dari Toa sengcu tsb?”
“Betul..”
Tampaknya dia tidak ingin menjelaskan tentang persoalan yang menyangkut Nyo
hong leng, dengan cepat dia berkata kembali.
“Sungguh tak kusangka bakal berjumpa kesempatan ini, Toa sengcu telah
melepaskan kain cadar yang menutupi wajahnya.”
“Selama banyak tahun ini, bukan main banyuak pembicaraan tentan asal usul dari
Toa sengcu itu, tentunya saudara Lian juga pernah mendengarnya bukan?”
“Betul, siaute memang pernah mendengar tentang pembicaraan tsb, hanya
sayangnya pendapat2 tsb semuanya keliru besar…”
“Apa? Apakah saudara Lian tahu, berapa orang menurut kabar yang tersiar tentang
Toa sengcu?”
“Menurut apa yang kudengar, konon Toa sengcu terdiri dari empat orang…”
“Betul, siaute pun pernah mendengar tentang dongeng yang menyangkut soal
empat orang tiu.”
“Kabar berita yang tersiar diluaran belum tentu benar, sebab Toa sengcu tak lebih
hanya seorang pemuda yang baru berusia tiga puluhan tahun.”
“Seorang pemuda yang berusia tiga puluh tahunan? Apakah saudara Lian tak salah
melihat?”
“Tidak, siaute melihat dengan jelas sekali.”
“Waah, kalau begitu, aneh sekali.”
“Siaute pun pernah merasakan keheranan, siaute pernah melakukan pemeriksaan
yang sempurna, meski dia memiliki ilmu merawat muka yang lihai, tak mungkin
usianya akan lebih rendah dari empat puluh tahunan, siaute yakin tidak salah
melihat.”
“Kalau memang saudara Lian sudah meneliti dengan seksama, aku rasa tak
mungkin bisa salah lagi. Tapi kalau dihitung dari waktu yang berlalu, paling
sedikit usia Toa sengcu tsb harus diatas empat puluh tahunan.”
“Siaute sendiripun mempunyai dugaan begitu.”
Im Cu siu termenung beberapa saat lamanya, kemudian katanya kembali. “Rahasia
dibalik kesemuanya ini mungkin sukar untuk dipecahkan dalam waktu singkat,
dewasa ini soal Buyung kongcu kurasa merupakan persoalan yang paling penting.”
Sesudah berhenti sebentara, dia melanjutkan. “Setelah saudara Lian memberi obat
pemunah untuk Buyung kongcu, aku pikir tentu kau juga sudah mempunyai
rencana tentang keselamatan Buyung kongcu selanjutnya bukan?”
459
“Untuk sementara waktu siaute bermaksud untuk menyembunyikan mereka di
dalam ruangan Hoat lun tong”.
“Hoat lun tong?” Im Cu siau tertegun, “kau maksudkan ruangan yang dipimpin Phu
Thian khing?”
“Betul, walaupun kita dapat menolongnya keluar dari penjara ini belum tentu dapat
mengantar mereka untuk keluar dari tempat berbahaya ini.”
“Sekalipun demikian, tidak seharusnya kau sembunyikan mereka dalam ruangan
yang dipimpin Phu Thian king, orang ini kejam, berpikiran sempit.”
Tiba-tiba terdengar suara tertawa merdu berkumandang memecahkan keheningan
menyusul kemudian seseorang berseru. “Saudara Im, kekurangan siaute
tampaknya sudah kau damprat semua sampai habis.”
Im Cu siu segera berpaling, ketika dilihatnya Phu Thian king dengan senyuman
dikulum telah muncul dihadapannya, ia menjadai tertegun. “Kau…”
“Tampaknya kehadiranku sama sekali berada diluar dugaan saudara Im…” tukas
Phu Thian king, “kalau tidak kenal memang tidak berkomplot, kali ini nampaknya
kita mempunyai cita2 yang sama dalam usaha menolong Buyung kongcu.”
Agaknya Im Cu siu masih belum mempercayainya dengan begitu saja, sambil
mengawasi wajah Lian Giok seng katanya. “Saudara Lian, apa yang sebenarnya
telah terjadi?”
“Saudara Phu seperti juga saudara Im, dimasa lalu pernah menerima budi
pertolongan sampai beberapa kali dari Buyung tayhiap, budi kebaikan itu selalu
mengganjal hatinya sebelum dibalasm maka ketika mengetahui bahwa Buyung
kongcu menjumpai kesulitan disini, sengaja dia datang kemari dengan maksud
untuk menolongnya, tak disangka ia telah berjumpa dengan siaute tampa
disengaja. Semua persoalan sudah terbentang secara gamlang, aku harap saudara
Im jangan menaruh curiga lagi kepada siaute…”
“Sungguh tak kusangka”, gumam Im Cu siu.
“Soal apa?” Phu Thian king lalu bertanya.
“Ternyata Phu Thian king masih bisa teringat akan budi pertolongannya.”
Phu Thian king segera tersenyum. “Kalau lampu tidak disulut tak akan terang,
kalau persoalan tidak dijelaskan tak akan terang, kalau toh kita sama2 mempunyai
niat untuk membantu Buyung Im Seng, mengapa tidak bersatu padu saja untuk
bekerja sama?”
“Tentu saja hal ini harus dilakukan, entah apa yang telah saudara Phu persiapkan
dalam usaha melindungi keselamatan Buyung kongcu?”
“Pertama-tama siaute akan mengajak Buyung kongcu untuk kembali keruangan
Hoat lun tong untuk dilindungi keselamatan jiwanya, sekalipun terjadi suatu
gerakan yang besar, siaute akan tampil diri guna melindungi keselamatannya,
cuma terus terang siaute katakan, kemampuan yang kumiliki amat terbatas, hal ini
berarti harus membutuhkan pula bantuan dari saudara Im dan Lian.”
460
“Ooh… hal itu sudah barang tentu.” Sahut Giok seng sambil tertawa. “tapi dengan
kehadiran saudara Im disini, siaute jadi mendapat suatu ilham tentang suatu siasat
memancing untuk menangkap…”
“Waktu yang tersedia buat kita tak banyak, bila saudara Lian mempunyai suatu
pendapat harap segara saja diutarakan keluar.”
“Kenapa saudara Im tak usaha untuk cari jejak melarikan diri yang palsu agar
mereka melakukan suatu pengejaran yang keliru pula?”
“Walaupun siasat semacam ini dapat mengelabui sementara orang, namun aku rasa
tak akan mampu untuk mengelabui Toa siangcu.”
“Yaa, di dalam hal ini terpaksa kita mesti beradu nasib, meski manusia berusaha,
Thianlah yang berkuasa, kita usahakan sedapat mungkin saja.”
Im Cu siu termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian katanya.
“Baiklah, siaute akan segera melakukan persiapan.”
Dengan membawa pemuda berpakaian ringkas itu, buru2 dia membalikan badan
dan berlalu dari situ.
Menunggu bayangan tubuh Im Cu siu sudah lenyap dari pandangan, Phu Thian
king baru berbisik lirih. “Buyung Im heng, kita pun harus segera berangkat!”
Buyung Im Seng segera berpaling kearah Kwik soat kun sambil berbisik pula. “Mari
kita berangkat!”
Pelan pelan Kwik soat kun bangkit berdiri lalu tanyanya. “Bagaimana dengan nona
Siau tin?”
“Aku akan berusaha keras untuk menolongnya pula lolos dari penjara, cuma setelah
kupikirkan kembali, rasanya lebih baik kalau kalian bertiga dipisah pisahkan saja.”
Kwik soat kun manggut2 dan tidak bertanya lagi, dia segera mengejar dibelakang
Phu Tian king.
Buyung Im Seng segera jalan pula kesamping Lian Giok seng, kemudian bisiknya
lirih. “Locianpwe, aku sangat mengharapkan bisa berjumpa dengan ayahku.”
“Aku akan mengusahakan hal itu dengan sepenuh tenaga.” Sahut Lian Giok seng.
“tapi benarkah dia berada disini, aku tak berani menjamin seratus persen.”
“Kalau begitu boanpwe akan menantikan kabar gembira darimu.”
“Kalian boleh segera berangkat, begitu ada kabar, aku akan segera menyusul ke
Hoat lun tong untuk berjumpa dengan kalian.”
“Baikl baiklah jaga dirimu locianpwe!” ucap Buyung Im Seng kemudian sambil
menjura.
Sambil tertawa Lian Giok seng segera mengangguk, kemudian dengan mengikuti
dibelakan Kwik soat kun berjalan keluar dari dalam penjara tsb.
Dalam pada itu, malam sudah makin larut, awan gelap menyelimuti seluruh
angkasa langit tak berbulan juga tak nampak setitik cahaya bintangpun.
461
Phu Thian king segera berpaling sambil berkata. “Harap kalian berdua suka
mengikuti dibelakangku, jangan sampai salah jalan sehingga timbul hal2 yang tak
diinginkan.”
“Kami pasti akan berhati-hati.”
“Sepanjang perjalanan nanti, entah peristiwa apapun yang terjadi, biar aku yang
menghadapi, asalkan saja pertarungan tak sungguh sungguh berkobar, lebih baik
jika kalian tak berbicara maupun turun tangan.”
“Andaikata pertarungan sungguh2 terjadi?” tanya Kwik soat kun cepat.
Phu Thian king segera tersenyum. “Andaikata pertarungan benar2 terjadi bukan
saja kalian boleh turun tangan, bahkan makin keji makin baik, mengulur banyak
waktu sama artinya dengan memberikan ketidak beruntungan buat kita, nah
ikutilah dibelakang lohu.”
Dia lantas balikkan badan dan berjalan keluar dari sana.
“Biar aku berjalan bersama saudara Phu.” Kata Im Cu siu sambil memburu
kedepan.
Phu Thian king menghela napas panjang, sahutnya. “Tidak usah saudara Im, kami
sudah cukup mampu untuk menghadapinya!”
Melihat Phu Thian king tidak memerlukan dirinya untuk mendampingi, dengan
serius Im cu siu lantas berkata. “Toh hun suo (peluru pencabut nyawa) dari saudara
Phu telah merajai dunia persilatan, sekalipun ditengah jalan menghadapi
peristiwa, rasanya kau sanggup untuk menghadapinya, akan tetapi jembatan Kiu ci
kiu merupakan pos yang berbahaya, ilmu silat Thoan Thian heng sangat lihai, aku
kuatir kalau peluru pencabut nyawa dari saudara Phu belum tentu sanggup
menghadapinya, kebetulan siaute mempunyai hubungan pribadi yang cukup
akrab.”
“Toan Thian heng adalah seorang manusia yang tidak kenal kepada saudara
sendiripun, sekalipun saudara Im mempunyai hubungan pribadi yang cukup baik
dengannya, aku kuatir hal ini bukan suatu pekerjaan yang amat gampang.”
“Sekalipun demikian, dengan turut sertanya siaute, maka hal ini sedikit banyak
akan memperbesar kekuatan kita, jika Toan loji benar2 tak mau memberi muka
kepadaku terpaksa kita mesti turun tangan untuk beradu jiwa dengannya.”
“Sebenarnya siaute tidak mempunyai rencana untuk bertarung melawan Toan loji,
tetapi setelah saudara Im berkata demikian, siaute rasa ucapanmu memang masuk
diakal juga.”
Im Cu siu segera berpaling dan memandang sekejap kearah Buyung Im Seng serta
Kwik soat kun, lalu tanyanya. “Apakah kita akan membawa mereka dengan begini
saja?”
“Siaute sudah mempunyai persiapan, sengaja aku telah membawa dua stel pakaian
dari anak buah ruang Hoat lun tong kami.”
“Sekalipun demikian, aku kuatir tak akan terlepas dari ketajaman mata Toan loji.”
462
“Siaute pun mempunyai pikiran demikian, tapi kaeadaan sudah berkembang
menjadi begini rupa, rasanya terpaksa kita mesti mencoba dengan menyerempek
bahaya.”
“Baik, aku akan berjalan lebih dulu, akan kunantikan kedatangan kalian diujung
jembatan.”
“Silahkan saudara Im.” Ucap Phu Thian king seraya menjura.
Im Cu siu segera membalikkan badannya kemudian berlalu dengan langkah lebar.
Dari sudut ruangan batu, Phu Thian king mengambil keluar pakaian yang telah
dipersiapkan dan diserahkan kepada Buyung Im Seng berdua, kemudian setelah
kedua orang itu bertukar pakaian, perjalanan kembali dilanjutkan.
Sementara itu tengah malam sudah lewat, awan gelap yang semula menyelimuti
angkasa, kini sudah membuyar, bintang mulai bermunculan memancarkan sinar
yang redup, pemandangan disitupun lamat2 dapat terlihat.
Phu Thian king dengan mengajak kedua orang itu berjalan menelusuri sebuah
jalanan kecil menuju kedepan. Sepanjang jalan, meskipun mereka dihadang oleh
beberapa orang untuk diperiksa, tapi berhubung Phu Thian king memang
berpangkat cukup tinggi, maka semuanya dapat diatasi dengan mudah.
Tak selang beberapa saat kemudian mereka telah tiba diatas jembatan Kiuci kiau.
Dengan jalan beriring ketiga orang itu telah menyebrangi jembatan itu sampai
setengah jalan, mendadak terlihatlah seorang kakek yang berbaju merah dan
bertubuh tinggi besar, berkepala botak berdiri ditengah jalan menghadang jalan
mereka.
Ketika Phu Thian king mendongakkan kepalanya, tampak Im Cu siu sudah berada
dibelakang kira kira lima-enam depa dari tubuh Toan Thian heng, hal ini membuat
keberaniannya semakin besar.
Sambil menjura, katanya kemudian. “Saudara Toan belum beristirahat?”
“Lohu sedang menunggu orang disini.” Jawabnya cepat.
“Siapakah orang yang sedang ditunggu oleh saudara Toan?”
“Siapa lagi? Tentu saja Phu tongcu!”
Sementara itu Im Cu siu sudah menunggu disisi jembatan, pada saat itulah tiba2
melejit keudara dengan gerakan Tan Cu sam biau sui (burung walet menutul air
tiga kali), setelah melewati diatas kepala Kwik soat kun dan Buyung Im Seng dia
melayang turun disisi Phu thian king, kemudian bisiknya.
“Saudara Phu, aku telah mempersiapkan jejak melarikan diri mereka, asalkan pos
penjagaan dari saudara Toan dapat dilalui, mungkin saja kita dapat mengelabui
mereka untuk sesaat.”
Phu Thian king memutar biji matanya dan memperhatikan sekejap sekeliling
tempat itu, kemudian bisiknya. “Saudara Im, orang tadi…”
“Dia sudah pergi” sahut Im Cu siu cepat.
Kemudian sambil berbalik menghadap Toan Thian heng, katanya sambil menjura.
“Saudara Thian heng…”
463
“Im Cu siu, ilmu meringankan tubuh burung walet melejit tiga kali mu itu cukup
bagus.” Tukas Toan heng dingin.
Ooo0ooO
“Aaah… saudara Thian suka menggoda saja.” Ucap Im Cu siu sambil tertawa.
Kembali Toan Thian heng mendengus dingin. “Emmm, sungguh tak kusangka
kalau Im Cu siu telah mengadakan hubungan persahabatan pula dengan Phu
tongcu, tampaknya kedudukan seorang yang berkuasa, tentu saja nilainya sama
sekali berbeda.”
Phu Thian king mendengus dingin dengan hati mendongkol, agaknya dia hendak
mengumbar amarahnya, akan tetapi niat itu kemudian diurungakn kembali.
Buru2 Im Cu siu berseru. “Saudara Thian heng, walaupun dimasa lalu Phu tongcu
tidak cocok dengan diriku, tapi selama ini kita toh sama2 berada dalam suatu
perguruan yang sama, apalagi setelah berkumpul selama belasan tahun lamanya,
kendati pun ada perselisihan, sudah seharusnya kalau persoalan tsb dipudarkan.”
“Bagaimana hubungan perselisihan diantara kalian berdua, lohu tidak mau ambil
tahu, yang pasti lohu berkewajiban menjaga jembatan ini, entah siapa saja yang
ingin menyebrangi jembatan ini harus melaporkan dulu identitasnya.”
“Siaute dan Phu tongcu toh sudah saudara Thian heng kenal, masa kami berdua un
harus diperiksa lagi?”
“Siapa dua orang yang berdiri dibelakang Phu thian king itu?” tegur Toan thian
heng.
“Mereka adalah dua orang hiangcu dari ruang Kim lun tong kami.”
“Kalau aku tak salah ingat sewaktu menyebrangi jembatan tadi sendirian, mengapa
sewaktu kembali bisa bertambah 2 orang?”
“Ketajaman mata Toan heng benar2 luar biasa.” Seru Im Cu siu dengan cepat,
“harap kau sudi bermurah hati dengan melepaskan kami berempat.”
Sepasang mata Toan Thian heng yang tajam bagaikan sembilu itu segera dialihkan
ke wajah Buyung Im Seng, setelah itu katanya. “Sekalipun malam sangat gelap,
jangan harap mereka dapat mengelabui diriku, hayo jawab siapakah kedua orang
itu?”
“Saudara Toan, kalau toh kau sudah mengetahui duduk persoalannya yang
sebenarnya mengapa kau mesti menanyakan terus dengan teliti?”
“Kalau lohu tidak bertanya sampai jelas, bila dikemudian hari timbul kesulitan dan
pihak seng tong datang menegur, siapakah yang akan tanggung jawab?”
“Bila pihak Seng tong menegur, saudara Thian heng boleh melimpahkan semua
dosa itu kepada diriku.”
“Hanya dengan sedikit kemampuan Phu thian king, memangnya tanggung jawab
ini boleh kau pikul?” kata Toan thian heng dengan suara dingin.
“Mengapa tidak sanggup? Siaute akan mempertaruhkan selembar jiwaku ini, asal
tidak sampai menyeret sama saudara Thian heng, urusan tentu beres.”
464
“Kecuali kau tidak akan menyebrang lewat jembatan ini, kalau tidak, lohu pun tak
akan lepas dari persoalan ini.”
Paras muka Im cu siu segera berubah hebat, katanya tiba2. “Selama ini aku selalu
menghormati saudara dan…”
“Sekalipun demikian lohu tak dapat pilih kasih dengan memberi jalan lewat buat
kalian.” Tukas Toan Thian heng dengan dingin.
“Jadi kalau begitu, saudara Toan benar2 tak sudi memberi muka kepadaku?”
“Kalian toh berjumlah empat orang, sekalipun benar2 bertarung belum tentu lohu
merupakan tandingan kalina.” Sahut Toan thian heng.
Im Cu siu agak tertegun setelah mendengar perkataan itu, kemudian bisiknya lirih.
“Terima kasih atas petunjuknya.”
Weesss…! Sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan ke depan.
Toan Thian heng menggerakkan pula tangan kanannya untuk menyambut
datangnya serangan itu. Ketika sepasan telapak tangan saling bertemu, Im Cu siu
segera merasakan tenaga pukulan yang beberapa kali dilancarkan oleh Toan Thian
heng sangat lemah sekali, sadarlah dia, kalau lawannya bermaksud untuk
mengalah, maka sepasang telapak tangannya segera berputar makin kencang
melepaskan serangkaian serangan berantai.
Toan Thian heng menggerakkan pula sepasang telapak tangannya, namun dia
mengambil posisi bertahan, selama pertarungan berlangsung dia hanya
membendung datangnya serangan dari Im Cu siu tampa ada maksud untuk
membalas.
Sambil selancarkan serangkaian serangan gencar untuk mendesak lawah, Im Cu
siu segera berseru lirih. “Saudara Phu, cepat bawa mereka menyebrangi jembatan.”
Phu Thian king mengiakan, dia segera menghimpun tenaga dalamnya lebih dulu
untuk menyebrangi jembatan tsb dengan melewati batok kepala kedua orang itu.
Buyung Im Seng dan Kwik soat kun segera menyusul dibelakang Phu Thian king,
bersama sama menyebrangi jembatan itu.
Setelah terburu-buru mereka bertiga menyebrangi jembata Kiu cu kiau, dengan
cepat mereka berpaling. Tampak Im Cu siu dan Toan Thian heng masih terlibat
suatu pertarungan yang sengit diatas jembatan.
“Apakah kita akan pergi dengan begitu saja?” tiba2 Kwik siat kun bertanya.
“Nona masih ada urusan apa lagi?” tanya Phu Thian king cepat.
“Apakah locianpwe tidak pergi membantu Im losiansing terlebih dahulu?”
Sambil tertawa lirih Phu Thian king menjawab: “Bilamana kedua orang itu harus
bertarung secara sungguhan, sejak tadi Im Cu siu sudah dipaksa Toan thian heng
untuk mencebur ke dalam sungai, tak usah menggubris mereka lagi, mari kita
cepat pergi.”
Sambil membalikkan badan dia berlalu lebih dulu.
Buyung Im Seng dan Kwik soat kun segera menyusul pula dari belakannya.
465
Phu thian king hapal sekali dengan daerah disekitar tenpat itu dengan gerakan
yang sangat cepat dia maju sedemikian cepatnya sampai Kwik soat kun dan
Buyung im seng tak sempat lagi untuk memperhatikan daerah serta pemandangan
disekitar tempat yang dilewatinya.
Mendadak Phu thian king memperlambat gerakan tubuhnya kemudian terdengar
seorang membentak dengan suara rendah.
“Siapa disitu?”
“Aku!” Seorang lelaki berpakaian ringkas segera melompat keluar dari balik semak
belukar sambil menjura katanya. “Hamba menjumpai Tongcu.”
Phu thian king segera mengulapkan tangannya. “Hati-hati menjaga disini.”
pesannya “entah siapapun yang mendekat sebelum memperoleh ijin dariku dilarang
memasuki wilayah sekitar ruangan kita.”
Lelaki itu melirik sekejap kearah Buyung Im Seng lalu tanyanya. “Bagaimana jika
utusan ruang Seng tong?”
“Mereka baru boleh masuk setelah memperoleh ijin dariku.”
“Biasanya para utusan atau para huhoat dari ruang Seng tong berwatak
berangasan, bila mereka dilarang memasuki tempat ini, bisa jadi akan terjadi
bentrokan secara kekerasan.” Kata lelaki itu dengan suara dalam.
Phu Thian king termenung sambil berpikir sebentar, lalu katanya. “Kalian harus
berusaha keras untuk menghindari suatu bentrokan secara kekerasan dengan
mereka, bila keadaan tidak terlalu memaksa lebih baik jangan sampai mencari
perselisihan.”
Tampaknya lelaki itu seperti hendak mengucapkan sesuatu tetapi niat itu
kemudian diurungkang, setelah memberi hormat dia lantas mengundurkan diri
balik ke belakang semak.
Phu Thian king sendiripun tidak banyak berbicara lagi, dia segera melanjutkan
perjalanannya ke depan. Setelah melewati semak belukar yang lebat dan
menembusi sebuah hutan bambu, sampailah mereka di depan sebuah kompleks
perumahan.
“Nah, sudah sampai!” kata Phu tian kin kemudian, “disinilah tempat tinggal lohu.”
“Apakah tempat ini adalah Hoat lun tong?” tanya Kwik soat kun.
“Bukan, tempat ini adalah Kim lun tong, kalau dibilang merupakan pemimpin dari
tiga ruangan lainnya.”
“Bagaimanakah hubungan antara tiga orang tongcu dari ruang Kim lun, Hoat lun
dan Hui lun?”
“Kami jarang sekali berhubungan, semua tindak tanduk harus menuruti perintah
dari Seng tong.”
Sementara pembicaraan berlangsung, Phu thian kin telah membuka sebuah pintu.
Kwik soat kun mendongakkan kepalanya untuk mencoba memperhatikan keadaan
disekitar tempat itu, ternyata yang dimaksudkan sebagai ruangan Kim lun tong
tidak jauh berbeda dengan sebuah bangunan biasa. Hanya bedanya dengan
466
bangunan biasa adalah bangunan yang terbesar dipaling depan tampaknya
digunakan sebagai balai pertemuan.
Suasana ruangan itu gelap gulita tidak nampak cahaya, tapi Phu thian king hapal
sekali dengan tempat itu, dengan cepat dia menghampiri sebuah meja dan
memasang lentera, setelah itu baru katanya. “Tentunya kalian berdua merasa
keheranan bukan, mengapa ruangan Kim lun tong ku ini begitu sederhana dan
biasa tanpa sesuatu keistimewaan?”
“Mungkin sejak Sam seng bun didirikan tempat ini belum pernah mendapat
serangan dari luar?” kata Kwik soat kun.
“Betul, tempat ini sesungguhnya merupakan suatu tempat yang amat strategis, bila
diberi perubahan sedikit saja dengan tenaga manusia, maka tempat ini akan
merupakan suatu tempat rahasia yang tidak gampang diserbu orang.”
Meminjam cahaya lentera, Buyung Im Seng mencoba untuk memperhatikan
sekejap sekeliling ruangan itu. Tampak pada kedua belah sisi ruangan itu terdapat
dua buah rak kayu tempat menyimpan senjata, baik golok, pedang, tombak, ruyung
maupun senjata kaitan, semuanya komplit tersedia disana.
Kecuali dua buah rak kayu yang penuh berisikan senjata tajam itu, terdapat pula
beberapa puluh buah kursi. Dekorasinya amat sederhana dan bersahaja.
Setelah tertawa hambar, Phu thian kin berkata. “Nama besar perguruan Tiga
malaikat amat termashur di dunia, tapi orang tak akan menyangka kalau orang
Kim lun tong dalam perguruan Tiga malaikat sesungguhnya suatu tempat yang
begini sederhana, cuma selain ruangan Seng tong, lohu masih mempunyai suatu
alamat lain, tempat itu boleh dibilang merupakan suatu tempat yang megah dan
mewah sekali.”
“Apkah ketiga orang tongcu dari ketiga ruangan ini masing masing mempunyai
tempat tinggal diluar kantor?”
“Betul, setiap bangunan yang berada disini baik soal corak maupun dalam dekorasi
tak boleh melebihi kemegahan dari ruang Seng tong itu sendiri.”
“Boanpwe mempunyai sepatah kata yang rasanya kurang pantas untuk diutarakan,
bila kuucapkan nanti harap locianpwe jangan marah.” Kata Kwik soat kun.
“Katakan saja, tak mengapa.”
“Di bawah ruangan Kim lun tong ini, seluruhnya terdapat berapa orang anak
buah?”
“Yang termasuk jagoan tangguh ada tiga puluh orangan, tapi kalau dihitung
dengan pelayan, pengawal dan anak buah, paling tidak jumlahnya mencapai ribuan
orang.”
“Apakah mereka semua berada disini?”
“Kebanyakan berdiam diluar kantor Kim lun tong.”
“Yang ada disini?”
“Mungkin enam sampai tujuh puluh orang.”
467
“Aaah, itulah dia.” Seru Buyung Im Seng tiba2. “tak heran kalau orang persilatan
sukar untuk menemukan letak yang sebenarnya dari Lembah tiga malaikat ini,
rupanya kalian masing2 pihak saling mendirikan kekuasaan ditempat luar.”
Phu Thian king menghela napas panjang. “Yang paling penting adalah beberapa
orang utusan serta sekawanan huhoat dari ruang Seng tong, kerap kali membangun
istana ditempat luaran untuk saling mengembangkan kekuasaan, sehingga hal ini
menimbulkan suatu anggapan yang salah dari kaum persilatan, di istara2 semacam
itu mungkin dalam satu atau setengah tahun lagi akan terbengkalai semua.”
Ketika Kwik soat kun mendengar apa yang dibicarakan kedua orang itu sama
sekali tak ada sangkut pautnya dengan persoalan yang mereka hadapi sekarang,
tak tahan segera berkata. “Bagaimanakah ilmu silat yang dimiliki ke enam tujuh
puluh orang yang berada disini ini?”
“Mereka yang boleh dianggap sebagai jagoan lihai hanya belasan orang saja,
sedangkan sisianya meski terhitung jago kelas tiga atau empat, namun mereka
melatih semacam ilmu kerja sama yang lihai, dengan gabungan kekuatan empat
lima orang diantara mereka, masih cukup mampu untuk menahan serangan dari
seorang jago lihai.”
“Apakah orang2 ini adalah orang kepercayaanmu, menuruti perintahmu dan setia
kepadamu?”
“Soal itu sukar untuk dibicarakan, dihari hari biasa mereka memang menghormati
aku dan melaksanakan perintahku, tapi pada waktu itu aku adalah Kim lun tongcu,
bila saat ini mereka kusuruh berhianat terhadap Sam seng bun, apakah mereka
bersedia menuruti perintahku atau tidak hal ini masih sukar untuk dibicarakan.”
“Apakah diantara orang2 itu tak ada seorang pun yang bersedia mati demi dirimu?”
“Berbicara menurut orang2 yang berada disini sekarang, lohu hanya merasa yakin
kalau tiga sampai lima orang diantaranya benar2 rela berkorban demi diriku.”
“Itu berarti kecuali kita bisa membohongi pihak Seng tong sesungguhnya tidak
mempunyai kekuatan untuk melawan pihat Seng tong.”
“Lohu pernah menguatirkan tentang soal ini, itulah sebabnya aku lantas mencari
akal lain.”
“Apa akalmu itu?”
“Lohu bermaksud untuk memilih dua orang diantara orang2 kepercayaanku dengan
menggunakan cara menyaru muka, mereka menjadi kalian berdua, sedangkan
kalian berdua menyaru menjadi mereka dan menyelundup keluar dari Kim lun tong
ini, kemudian lohu akan berusaha mengabarkan kepada Lian Giok seng dan Im Cu
siu agar membantu kalian berdua meninggalkan tempat ini.”
“Aku rasa cara ini kurang begitu baik.”
“Bagaimana tidak baiknya?”
“Aku rasa penjagaan yang diatur disekitar ruangan Seng tong pasti ketat sekali,
untuk berlalu lalang pasti ada kata sandi, padalah kami tidak tahu, bukankah hal
ini akan lebih mudah diketahui oleh orang lain?”
468
“Yaa, malahan bisa jadi akan menyeret locianpwe kedalam persoalan ini.” Sambung
Buyung Im Seng.
“Keselamatan lohu tak perlu kalian berdua pikirkan, setelah kuambil keputusan
untuk berkhianat terhadap Seng tong, sejak itu pula aku sudah dipastikan akan
mati, dalam dunia ini tiada tempat yang aman lagi bagiku, maka lohu telah
persiapkan obat racun bunuh diri, bilamana perlu lohu akan menelan racun itu
untuk menghabisi nyawaku sendiri.”
“Soal ini mana bisa membuat boanpwe merasa tentram?” keluh Buyung Im Seng.
Phu thian king segera tertawa terbahak2. “Haa… haa… dalam kehidupan lohu
selama ini sentah berapa banyak kejahatan yang telah kulakukan, dan entah
berapa orang yang telah kubunuh, jika dibilang hukum karma itu berlaku bagi
umat manusia, maka kematianku merupakan suatu karma yang sudah seharusnya
kuterima.”
“Mengapa Locianpwe tak meninggalkan kehidupanmu itu untuk melakukan suatu
perbuatan yang berguana…?”
“Kalian berdua tak usah kuatir, sekalipun lihu ada niat untuk bunuh diri, bila
keadaan tidak mendesak dan harapan tidak punah sama sekali lohu takkan
melakukannya, selama lohu masih berkesempatan untuk melakukan pertarungan,
selembar jiwaku tetap akan kupertahankan dengan segala cara.”
Setelah berhenti sebentar, kembali dia berkata. “Sekarang bukan saatnya untuk
berdebat, bila kalian berdua tidak menolak, turutilah perkataan lohu itu.”
“Kecuali cara tsb, apakah masih ada cara lainnya?” tanya Buyung Im Seng.
“Lohu tidak berhasil menemukan cara lain yang lebih baik lagi, bila kalian berdua
bersedia lohu akan segera mengundang mereka datang.”
“Aku kuatir ilmu menyaru muka yang biasa mungkin tak akan mengelabui orang2
ruang Seng tong.”
“Dalam keadaan seperti ini, rasanya sulit buat menemukan suatu cara yang paling
baik, kalau dibilang cara paling sempurna yang bisa ditemukan, rasanya cuma cara
ini saja.”
Sorot matanya segera dialihkan ke wajah Buyung Im Seng, kemudian melanjutkan.
“Selama ribuan tahun, dalam dunia persilatan dengan banyak bermunculan
pendekar hebat, namun tak seorangpun yang bisa dibandingkan dengan ayahmu,
menurut apa yang lohu ketahui, dalam generasi kami, entah dia berasal dari
golongan lurus atau sesat, bila membicarakan tentang ayahmu, mereka pasti akan
menunjukkan perasaan kagum.”
Sesudah menarik napas panjang, lanjutnya. “Dia telah menolong banyak sekali
manusia didunia ini, entah orang itu baik atau jahat, asal dosanya tidak kelewat
batas ia selalu bersedia memberi suatu kesempatan guna bertobat dan memperbaiki
kesalahannya, belum pernah dia bunuh orang secara ngawur, sebagai contohnya
adalah lohu sendiri, sudah tiga kali dia menolong jiwaku. Pertama kalinya lohu
sama sekali tidak berterima kasih kepadanya, kuanggap dia menolongku karena
ingin mencari nama dan membuat tenar nama besarnya, tapi ketika dia
menolongku untuk kedua kalinya mau tak mau aku harus berterima kasih
469
kepadanya, waktu itu aku masih berpikir perbuatan Buyung Tiang kim menolong
Phu Thian king pasti sudah akan tersiar dengan cepat kedalam dunia persilatan.”
“Bagaimana kemudian?” tanya Kwik soat kun kemudian.
“Setelah kejadian itu, ternyata tak seorang manusiapun dalam dunia persilatan
yang mengetahui akan peristiwa tsb. Hal ini berarti perbuatan Buyung tayhiap
menolong diriku sama sekali tak diketahui oleh seorang manusiapun, siapa tahu dia
masih menolongku untuk ketiga kalinya. Ditolong satu kali saja, budi tersebut
sudah menumpuk bagaikan bukit, apalagi sebanyak tiga kali? Bila ayahmu tidak
menolongku dulu, hari ini apakah Phu thian king masih bisa bernapas?”
“Jadi kau hendak membalas budi pertolongan dari ayahku itu kepada diri
boanpwe?” kata Buyung Im Seng.
“Aku berbicara kembali tentang peristiwa lama, tujuannya hanya berharap agar
kongcu tak usah menguatirkan tentang keselamatanku. Apalagi peristiwa telah
berkembang menjadi begini, sekalipun aku tidak menolong kalian berdeua pun aku
tak akan memperoleh pengertian lagi dari pihak Seng tong.”
“Kalau memang begitu, kami akan menurut perintahmu.” Ucap Kwik soat kun
kemudian.
Pada saat itulah, mendadak terdengar bunyi sumpritan bambu berkumandang
datang.
Paras muka Phu thian kin segera berubah hebat, serunya dengan cepat. “Mungkin
pihak Seng tong sudah mengirim orang untuk datang mencari kesini.”
Kemudian setelah termenung sesaat. “Keponakan Buyung, lohu teringat akan satu
persoalan…”
“Persoalan apa?” “Kalian berdua tak usah menyamar lagi.” “Mengapa?”
“Jika kalian berdua harus menyamar, itu berarti hanya mengandalkan kekuatan
aku Phu thian king seorang yang mesti melindungi kalian berdua, sebaliknya jika
Buyung kongcu tak menyaru, paling tidak Lian Giok seng dan Im Cu siu pasti akan
membantu dengan sekuat tenga, oleh karena itu aku percaya dalam ruang Seng
tong masih terdapat banyak orang yang pernah mendapat budi kebaikan dari
ayahmu dan aku yakin jika asal usulmu sudah tersiar luas, orang akan
membantumu secara diam2 tentunya masih banyak sekali.”
Mendadak dia berseru keras. “Siapa yang sedang bertuga?”
Bayangan manusia berkelebat lewat, seorang pemuda berbaju hitam yang
menyoren pedang dipunggungnya mucul dari luar.
“Hamba yang bertuga!” jawabnya seraya menjura.
“Baik, kumpulkan semua orang yang berada dalam ruangan dan katakan kalau
Tongcu ada urusan.”
Pemuda itu mengiakan, dengan langkah lebar dia segera berjalan. Tak selang
berapa saat kemudian, tampak bayangan manusia berkelebat lewat, dalam waktu
singkat dalam ruangan itu telah berkumpul dua tiga puluhan orang.
470
Setajam sembilu pelan2 Phu thian king menyapu sekejap kawanan jago yang hadir
dalam ruangan, lalu ujarnya dingin. “Siapkan senjata masing2!”
Para jago mengiakan, masing2 segera mengeluarkan senjata andalannya.
Kemudian Phu thian king berkata. “Kalian berjaga jagalah disetiap jalan masuk
serta tempat penting yang berada disekitar tempat ini, sebelum mendapat
perintahku siapapun dilarang memasuki tempat ini, barang siapa berani
membangkang hukum mati…!”
Tampak seorang kakek berjubah abu2 segera bangkit sambil memberi hormat,
katanya. “Hamba ada urusan hendak tanyakan kepada Tongcu”
“Ada urusan apa?”
“Seandainya yang datang adalah huhoat dari ruang Seng tong, apa yang mesti kami
lakukan?”
“Entah siapapun orangnya, barang siapa yang berani membangkang, sekali lagi
kuulangi, hukum mati mereka!”
Selesai berkata dia lantas memberi tanda para jago segera mengundurkan diri dari
situ. Dalam waktu singkat dua tiga puluhan orang itu sudah berlalu, dalam
ruanganpun tinggal Buyung Im Seng, Kwik soat kun serta pemuda berbaju hitam
itu.
Dengan wajah serius Phu thian khing memandang kearah pemuda itu, lalu
katanya. “Kau segera undang datang delapan jago pelindung pribadiku, suruh
mereka berjaga-jaga diluar ruangan Kim lun tong, entah siapapun sebelum
mendapat perintahku dilarang mengundurkan diri, siapa berani membangkang
hukum mati.”
Pemuda itu nampak agak ragu, akhirnya diapun membalikkan badan dan berlalu.
Sepeninggal anak buahnya, Phu thian king baru menyeka air keringat yang masih
membasahi jidatnya, dengan pelan2 dia merogoh kedalam sakunya dan
mengerluarkan sebuah roda dari emas, sambil diberikan kepada Buyung Im Seng
katanya.
“Inilah tanda kekuasaan roda emasku, setiap anggota Kim lun tong yang berjumpa
dengan tanda ini akan menuruti perintahmu padalah anggota kami mencapai
ribuan orang, bila dihitung dengan kaum keroconya mungkin mencapai puluhan
ribu orang, mungkin tanda perintah roda emas itu akan berguna bagimu, baik
baiklah kau terima.”
“Locianpwe, kau yang bawapun sama saja.” Ucap Buyung Im Seng.
“Menurut apa yang kuketahui, barang siapa berani menghianati perguruan Sam
seng bun, entah bagaimanapun lihainya kepandaian silat yang dia miliki, tak
seorangpun dapat lolos dalam keadaan hidup.”
“Jika locianpwe sampai tertimpa sesuatu yang tak diinginkan, kami toh sama saja
takkan terlepas dari musibah ini.”
“Keponakan Buyung, dengarkanlah perkataanku.”
“Boanpwe akan mendengarkan.”
471
“Aku akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk melawan orang2 Seng tong,
sebaiknya kau tak perlu untuk berjuang mati matian bersamaku, kau harus
memahami maksud dan tujuanku adalah melindungi kalian berdua, kau harus
cepat pergi tak usah kau risaukan tentang keselamatan jiwaku.”
“Kami merasa asing sekali dengan tempat ini sekalipun meninggalkan tempat ini
belum tentu bisa hidup terus, mengapa locianpwe tak bersedia meninggalkan
tempat ini bersama kami.”
“Bila aku bertahan disini, mungkin serbuan orang2 Seng tong masih bisa
terbendung untuk sementara waktu, sebaliknya jika aku pergi orang2 itu akan
menjadi naga tampa kepala, aku kuatir kalau mereka tak akan sanggup untuk
menahan serbuan dari para Huhoat dari ruang pusat.”
Setelah menghela napas panjang lanjutnya. “Satu menit aku bisa bertahan, berarti
pula kalian punya kesempatan selama satu menit untuk melarikan diri.”
“Mengapa kalian tidak pergi dulu mumpung pihak ruang pusat belum mengetahui
hal ini?”
“Tidak bisa” kata Phu thian king sambil menggelengkan kepalanya, “Sebelum pihak
Seng tong melakukan suatu gerakan, bahkan kalian pun tak dapat pergi dari sini.”
“Mengapa?”
“Jika pihak Seng tong melakukan suatu gerakan, Lian Giok seng dan Im cu siu
pasti akan tahu dan merekapun pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk
membantu kalian secara diam-diam. Sebaliknya bila persoalan ini bisa terkelabui
untuk sementara waktu dan mereka tahu kalau kau berada dalam ruanganku,
sudah pasti mereka tidak akan melakukan sesuatu gerakan apa-apa, sebagai
anggota Seng tong mereka lebih banyak bergerak terhadap setiap orang dan setiap
persoalan yang ada sini jauh lebih hapal dari pada diriku, aku pikir mereka pasti
sudah mempersiapkan segala sesuatunya bagi kalian”
Sembari berkata dia lantas mengangsurkan tanda perintah Kiam lun tsb kepada
Buyung Im Seng. Terpaksa anak muda itu menerimanya dan menyimpan kedalam
saku, kemudian katanya.
(Bersambung ke jilid 24)
472
Lembah Tiga Malaikat
Oleh: Tjan
Jilid 24
BAIKLAH LOCIANPWE, akan boanpwe simpankan buat sementara waktu
dikemudian hari tentu akan kuserahkan kembali kepada Locianpwe.”
“Bila kau dapat manfaatkan benda tersebut manfaatkanlah sekehendak hatimu”
kata Thian khing, “Bila aku masih dapat lolos dari sini dalam keadaan selamat,
rasanya benda tersebut sudah tak dibutuhkan lagi ……”
Setelah berhenti sebentar dia melanjutkan :
“Ketiga orang Seng-cu tersebut merupakan orangorang yang suka mencari
menangnya sendiri, mustahil mereka akan menyiarkan penghianatanku terhadap
Sam seng bun kedalam dunia persilatan, mungkin dengan keadaan seperti ini,
lencana roda emas itu masih dapat kami manfaatkan untuk sementara waktu,
Cuma, aku lihat kau kelewat jujur tak tahu menggunakan kelicikan, moga-moga
nona Kwik sudi memberi petunjuk.”
“Akan boanpwe laksanakan ajaran tersebut.” Kwik Soat kun segera mengiakan.
Sementara itu, si pemuda berbaju hitam yang menggembol pedang telah menyusup
masuk lagi secara tiba-tiba, setelah memberi hormat katanya.
“Delapan orang gagah pelindung junjungan telah menyebarkan diri berjaga-jaga
diluar istana Kim lun tong.”
473
Phu Thian Khing manggut-manggut, belum sempat dia menjawab, suara bentrokan
senjata tajam telah berkumandang dari luar istana, dalam kegelapan malam, suara
itu kedengaran sangat nyaring.
“Dari pihak Seng tong telah ada orang kemari” Kwik Soat Kun segera berbisik.
“Cepat atau lambat, memang bakal terjadi pertarungan semacam ini.” Kata Phu
Thian Khing dengan wajah serius.
Dia menyambar sebilah golok dari atas rak senjata, kemudian lanjutnya.
“Harap kalian berdua menyiapkan senjata pula!”
Kwik Soat kun dan Buyung Im seng segera mengambil sebilah pedang dan disoren
pada pinggannya.
“Sebentar, bila kalian berdua harus bertaruh melawan musuh jangan sekali-kali
turun tangan dengan belas kasihan…..” kembali Phu Thian King menambahkan.
Belum habis dia berkata, mendadak ……” Blaammmm !” suara benturan senjata
tajam telah berkumandang dari luar ruangan.
Tampaknya sudah ada orang yang berhasil menmbusi hadangan yang berlapis-lapis
dan berhasil menyusup keluar gedung Kim lun tong.
Menyaksikan hal itu, Kwik Soat kun segera berpikir didalam hati kecilnya.
“Ilmu silat yang dimiliki orang ini sangat lihay, cepat sekali kedatangannya!”
Terdengar bentrokan senjata tajam memecahkan keheningan, lalu terdengar
seseorang menjerit kesakitan, rupanya ada orang telah terluka parah.
Phu Thian khing segera menenteng goloknya melangkah keluar menuju keluar
gedung.
Siapa tahu, baru saja dia menggerakkan tubuhnya untuk melangkah keluar,
nampak bayangan manusia berkelebat lewat, seorang pemuda berbaju putih
melompat masuk kedalam ruangan.
Tampak dia membawa sebilah pedang yang penuh berlepotan darah, titik-titik
darah masih menetes tiada hentinya.
Keadannya waktu itu benar-benar menggidikan hati siapa yang melihatnya.
474
ooOoo
BAGIAN KE TIGA PULUH EMPAT
PHU THIAN KING tertawa dingin tiada hentinya, katanya.
“Heeehh ….. heehh …. Heehh …. Aku kira siapa yang dating, rupnya Thio heng
yang telah berkunjung kemari, tak heran kalau mereka semua menghalangi
dirimu.”
Dengan pandangan dingin pemuda berbaju putih memandang sekejap ke arah
Buyung Im seng serta Kwik Soat kun, lalu ujarnya.
"Siapakah lelaki dan perempuan ini ?"
"Siapa pula yang sedang kau cari ?" Phu Thian khing balas menegur dengan suara
dingin.
"Aku mendapat perintah dari Seng tong untuk membekuk kembali dua orang
tawanan yang kabur."
"Kalau begitu saudara tidak salah mencari, walaupun pihak Seng tong menuduh
mereka berdua sebagai buronan, tapi tahukah kau asal usul mereka yang
sebenarnya ?"
"Aku tak ingin tahu."
"Tapi aku harus menerangkannya juga kepadamu."
Sambil memandang ke arah Buyung Im seng, dia melanjutkan:
"Dia adalah Buyung Im seng, putra kesayangan Buyung Tiang kim tayhiap..."
"Kalau anaknya Buyung Tiang kim, lantas kenapa ?" dengus orang berbaju putih
itu.
Dengan wajah serius Phu Thian khing berkata.
Buyung tayhiap adalah seorang toa enghiong yang disegani dan dihormati oleh
setiap umat persilatan, kau berani bicara kurang hormat kepadanya... ?"
Tiba-tiba orang berbaju putih itu menundukkan kepalanya sambil termenung
sebentar, kemudian pelan-pelan menjawab.
"Sekalipun Buyung Tiang kim mempunyai banyak hal yang patut dihormati namun
Buyung kongcu bukanlah Buyung Tiang kim, harap saudara Phu maafkan siaute
bila terpaksa mesti bertindak kasar."
Tiba-tiba dia maju menghampiri Buyung Im seng, kemudian ujarnya dengan suara
dingin.
"Saudara, bila kau tidak segera menyerahkan diri untuk dibelenggu, silahkan
untuk meloloskan senjata...."
475
Buyung Im seng berpaling dan memandang sekejap ke arah Phu Thian khing
kemudian pelan-pelan meloloskan pedangnya.
Dengan suara dingin kembali orang berbaju putih itu berkata.
"Senjata tak bermata, bila pertarungan sampai berkobar maka siapa luka siapa
tewas pasti tak bisa dihindari, cuma kau tak usah kuatir, paling tidak aku hanya
melukai dirimu, tak sampai merenggut selembar jiwamu."
Phu Thian khing mengayunkan goloknya dan... Sreet, sreet ! secara beruntun
melancarkan dua buah bacokan kilat yang memaksa orang berbaju putih itu
terdesak mundur dua langkah.
"Tidak sulit bila saudara Thio ingin bertarung melawan Buyung kongcu. Cuma, kau
mesti menangkan dulu golok di tanganku."
Orang berbaju putihpun tidak banyak bicara, dia segera menggerakkan senjatanya,
mendadak saja tampak selapis cahaya pedang berkilauan di udara, lalu dengan
merubah diri menjadi titik-titik cahaya tajam langsung menyerang tubuh Thian
khing.
Phu Thian khing tak mau menyerah begitu saja, dia segera menggerakkan goloknya
sambil melancarkan serangan balasan, seketika itu juga berkobarlah suatu
pertarungan yang amat seru.
Dengan tatapan mata yang sangat dingin sekali, Buyung Im seng memperhatikan
jalannya pertarungan dari sisi arena, dia menjumpai jurus pedang yang digunakan
orang berbaju putih itu amat cepat dan lincah, benar-benar jarang dijumpai di
dunia ini, setiap kali dia telah melancarkan serangan sebanyak tiga kali, Phu Thian
khing baru sempat membalas dengan sebuah bacokan golok.
Walaupun begitu, permainan golok Phu Thian khing amat mantap dan bertenaga,
sekalipun masih belum mampu untuk menandingi kelincahan serta kecepatan
gerak ilmu pedang dari orang berbaju putih itu, namun pertahanannya boleh
dibilang amat ketat.
Bagaimanapun cepatnya serangan pedang dari orang berbaju putih itu, namun dia
selalu gagal untuk menembusi lapisan golok yang melindungi sekeliling badan Phu
Thian khing.
Pertarungan yang berlangsung dalam ruangan berkobar dengan serunya, tampak
cahaya golok bayangan pedang menyelimuti wilayah seluas berapa kaki lebih,
sementara benturan senjata tajam di luar ruangan pun berkumandang makin
nyaring.
Jelas, di luar ruanganpun sedang dilangsungkan suatu pertarungan yang tak kalah
serunya.
"Saudara Buyung" dengan suara pelan Kwik Soat kun segera berbisik, "situasinya
telah berkembang sampai suatu detik yang tak dapat di ulur lagi, rasanya kitapun
tak usah terlalu menuruti peraturan dunia persilatan lagi..."
Buyung Im seng mengangguk, sambil menggetarkan pedangnya dia berkata cepat.
"Phu locianpwe, boanpwe akan datang membantu !"
Dia segera menerjang ke depan dan turut menyerang si orang berbaju putih itu.
476
Melihat datangnya serangan tersebut, orang berbaju putih itu segera tertawa
terbahak-bahak, permainan pedangnya diperketat dan dia menghadapi serangan
gabungan dari kedua orang itu dengan serius.
Ilmu pedang yang dimilikinya sungguh hebat dan luar biasa, sekalipun harus
menghadapi pula serangan gencar Buyung Im seng, namun dia tetap lebih banyak
melancarkan serangan dari pada bertahan, posisinya jauh lebih menguntungkan.
Sejak menerima warisan ilmu pukulan dan ilmu pedang peninggalan ayahnya,
hingga kini Buyung Im seng tak pernah bertarung secara sungguh-sungguh
melawan orang lain, begitu mendapat kesempatan untuk melangsungkan
pertarungan, dengan cepat dia mengembangkan ilmu pedang yang pernah
dipelajarinya itu.
Seluruh perhatian dan pikirannya dipusatkan ke ujung pedang, terhadap situasi
pertarungan disekitar arena boleh dibilang seakan-akan tak acuh sama sekali.
Sekalipun demikian, ilmu pedang hasil ciptaan Buyung Tiang kim yang menyerap
inti sari ilmu pedang dari pelbagai aliran perguruan di dunia itu justru semakin
menunjukkan kehebatannya.
Benar baru pertama kali ini Buyung Im seng mempraktekkan kepandaian tersebut
sehingga semua kelihaiannya belum dapat dipergunakan sebaiknya, namun orang
berbaju putih itu makin lama merasakan daya tekanan yang menindih badannya
makin berat.
Pada mulanya pertarungan masih belum terasa seberapa, setelah dua puluh jurus
kemudian, ilmu pedang Buyung Im seng semakin berkembang, bagaikan awan
putih yang menyelimuti angkasa saja, hawa pedang membentuk lingkaran cahaya
yang makin lama makin membesar.
Menghadapi keadaan seperti ini permainan pedang si orang berbaju putih yang
lebih mengutamakan kecepatan gerak itu lambat laun semakin terdesak dan
semakin sempit lingkaran pengaruhnya.
Seolah-olah terbelenggu oleh suatu kekuatan yang tak berwujud, perubahan gerak
tubuhnya serta sistem pertahanan dan pengerahan tenaganya sukar untuk
mengikuti kehendak niat sendiri.
Rupanya permainan pedang Buyung Im seng selalu berhasil merebut posisi yang
lebih menguntungkan, membuat perubahan jurus pedang orang berbaju putih
makin lama semakin kacau balau.
Pada saat itulah Phu Thian khing merasakan juga timbulnya suatu kekuatan yang
maha besar yang memaksa permainan goloknya tak sanggup dikembangkan lebih
jauh.
Daya pengaruh yang besar itu datangnya bukan dari pihak lawan melainkan dari
permainan pedang Buyung Im seng makin lama semakin berkembang sehingga
terbentuklah suatu kekuatan yang maha besar dan kuat.
Dalam pertarungan, gerakan golok yang semula menyelimuti suatu ruangan gerak
yang amat besar, lambat laun semakin mengecil sehingga akhirnya Phu Thian
khing merasa bahwa kehadirannya dalam pertarungan tersebut sama sekali tak
477
ada artinya lagi, malahan besar kemungkinan akan mempengaruhi perubahan
jurus pedang dari Buyung Im seng.
Berada dalam keadaan seperti ini, terpaksa dia menarik kembali serangannya
sambil mundur.
Sementara itu Buyung Im seng sendiri semakin lancar mempergunakan ilmu
pedangnya sesudah melalui suatu pertarungan yang sengit, bagus di dalam hal
perasaan maupun permainan, dia sudah dapat menyesuaikan diri dengan sebaikbaiknya
dengan perubahan jurus pedang itu.
Maka diapun lantas memiliki sisa kekuatan untuk mulai dan memperhatikan
perubahan situasi pertarungan ditengah arena.
"Tapi justru demikian, permainan ilmu pedang yang meliputi inti sari ilmu pedang
pelbagai aliran ini justru memancarkan kekuatan serta pengaruh yang lebih jauh
lebih besar.
Permainan pedang si orang berbaju putih yang lincah dan cepat itu seolah-olah
sudah ketinggalan jaman, bagaikan seekor binatang buas yang dikurung dalam
terali besi saja, meski sudah menerjang kesana kemari, namun belum berhasil juga
untuk meloloskan diri dari kurungan.
Menyaksikan permainan pedang Buyung Im seng yang begitu dahsyat dan
mengagumkan itu tanpa terasa Phu Thiang khing segera bergumam.
"Betul-betul suatu permainan ilmu pedang yang luar biasa, betul-betul suatu
permainan pedang yang hebat."
"Locianpwe, ilmu pedang apakah yang kau maksudkan ?" Kwik Soat kun menegur.
"Yang kumaksudkan adalah permainan pedang Buyung Im seng, jurus serangan itu
benar-benar merupakan jurus pedang yang dipergunakan Buyung tayhiap dimasa
lalu."
Mendadak terdengar orang berbaju putih itu membentak keras, secara ketat dia
lepaskan tiga buah serangan berantai, kemudian hardiknya.
"Tahan !"
Buyung Im seng segera menghentikan permainan pedangnya sambil menegur.
"Saudara, kau ada petunjuk apa ?"
"Kau benar-benar adalah Buyung kongcu ?"
"Sebagai putra manusia, buat apa aku mesti mencatut nama orang lainnya." jawab
Buyung Im seng dingin.
"Menurut apa yang kuketahui, Buyung tayhiap tidak berputera putri, maka dari
itu, sewaktu dalam dunia persilatan tersiar berita yang mengatakan munculnya
seorang Buyung kongcu untuk membalaskan dendam kematian ayahnya, aku sama
sekali tidak memikirkannya dihati, akan tetapi setelah kusaksikan permainan
pedangmu sekarang, terbukti sudah bahwa ilmu pedang itu benar-benar adalah
ilmu pedang ciptaan Buyung tayhiap."
478
Tergerak juga hati Buyung Im seng setelah mendengar perkataan itu, pikirnya.
"Kalau didengar dari ucapannya itu, agaknya dia mengenal sekali dengan ayahku."
Berpikir demikian, diapun berkata.
"Bagaimana sekarang ? Kau sudah percaya ?"
"Masih sulit untuk membuatku percaya, karena sekalipun bukan Buyung kongcu,
orang juga dapat mempelajari pedang warisan Buyung Tiang kim...."
"Bila kau memang tidak percaya, buat apa kita mesti banyak berbicara lagi ?
Hayolah kita lanjutkan pertarungan yang belum selesai !"
Orang berbaju putih itu mencoba untuk pasang telinga dan memperhatikan
keadaan disekitar tempat itu secara seksama, dirasakan suara bentrokan senjata
yang sedang berkumandang di luar gedung makin lama semakin santer, jelas
pertarungan yang sedang berlangsung di luar sana telah mencapai puncaknya.
Dengan suara rendah Kwik Soat kun segera berbisik.
"Dia sedang menggunakan taktik mengulur waktu sambil menunggu datangnya
bala bantuan, Saudara Buyung, kau tak boleh menuruti kemauannya."
Sementara itu orang berbaju putih itu telah berkata lagi.
"Seandainya engkau mempunyai cara untuk membuktikan bahwa kau adalah
Buyung kongcu, lebih baik segera perlihatkan bukti tersebut kepadaku, betul kau
mewarisi ilmu silat dari Buyung Tiang tayhiap, bukan berarti kau bisa merenggut
nyawaku, bila kau bertahan mati-matian, paling tidak kita melangsungkan
pertarungan sebanyak dua tiga ratus gebrakan lagi sebelum menang kalah bisa
ditentukan."
"Aku tidak mengerti, bukti tersebut akan mendatangkan manfaat apa bagi diriku ?"
"Besar sekali manfaatnya, bila benar-benar kau Buyung kongcu, keadaannya akan
sama sekali berbeda."
"Aku bersedia mendengarkan penjelasanmu."
Dengan wajah serius orang berbaju putih itu berkata.
"Bila kau dapat membuat aku percaya bahwa kau adalah Buyung kongcu,
keadaannya akan mengalami perubahan yang besar sekali."
"Apa yang kau kehendaki sehingga mau percaya ?"
"Bila kau dapat menunjukkan suatu kode rahasia di atas badanmu, aku baru
mempercayainya."
Setelah tertawa, dia melanjutkan.
"Seandainya kau adalah Buyung kongcu asli, aku percaya kau tak akan
menyebutkan kode rahasia yang palsu di atas badanmu, karena dengan cepat aku
dapat mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya."
"Darimana kau bisa tahu ?"
"Maaf tak dapat kuungkapkan sekarang..."
479
Mendadak orang berbaju putih itu memperkeras suaranya sambil menegur keraskeras.
"Sebenarnya kau ini Buyung Im seng apa bukan ?"
"Kenapa tidak ? Tapi bila kau tidak jelas alasannya, akupun tak akan mengatakan
apa-apa" jawab pemuda itu dengan dingin.
Belum habis dia berkata, sesosok bayangan manusia berkelebat lari lewat, seorang
lelaki berbaju hitam secepat sambaran kilat telah menerobos masuk ke dalam
ruangan gedung.
Orang itu membawa pedang berkait yang aneh sekali bentuknya.
Begitu sampai di dalam ruangan, lelaki itu memandang sekejap ke arah orang
berbaju putih itu, kemudian katanya.
"Thin heng, bala bantuan telah datang secara besar-besaran...."
Kemudian sambil menatap wajah Buyung Im seng, dia menambahkan.
"Diakah Buyung kongcu ?"
"Benar" orang berbaju putih itu mengangguk.
Mendadak ia membalikkan tangannya sambil melancarkan serangan, tahu-tahu
orang berbaju hitam itu sudah roboh terkapar di atas tanah dalam keadaan tak
bernyawa lagi.
Serangan ini dilancarkan dengan kecepatan luar biasa, dalam keadaan sama sekali
tak siap, orang berbaju hitam itu segera kena tertusuk dadanya hingga tembus dan
tewas seketika.
Kejadian ini tentu saja membuat Buyung Im seng tertegun.
"Kau..."
"Sekarang, tentunya kau sudah dapat menerangkan ciri rahasiamu bukan ?" tukas
orang berbaju putih itu dingin.
"Saudara, kau mendesakku terus menerus, sesungguhnya apa maksud tujuanmu
yang sebenarnya ?" Buyung Im seng bertanya dengan wajah keheranan.
"Karena di dunia ini banyak terdapat orang-orang yang mencatut nama Buyung
kongcu, bila sekali bertindak gegabah, niscaya akan mudah masuk perangkap."
"Apa enaknya menjadi Buyung kongcu ? Dimana saja dia berada, yang datang
selalu bencana, pembunuhan dan usaha yang tiada habisnya...."
"Benar, tapi banyak orang juga yang berusaha dengan sepenuh tenaga untuk
melindungi keselamatannya, entah menang entah kalah, mereka akan berbakti
dengan mati-matian. Padahal orang-orang itu adalah mereka yang pernah
menerima budi kebaikan dari Buyung Tiang kim. Justru budi kebaikan dari
Buyung Tiang kim itulah, Buyung kongcu memperoleh manfaat dan bantuan dari
banyak orang. Meski benar, kehadirannya selalu menimbulkan pelbagai persoalan
dan kejadian, tapi kenyataannya semakin banyak kesulitan yang dijumpai, semakin
banyak pula yang secara diam-diam melindungi keselamatannya."
480
"Dan kau adalah salah seorang diantaranya ?" sela Kwik Soat kun dengan suara
dalam.
"Justru karena itulah aku harus bertanya sampai jelas, aku tak ingin menyerempet
bahaya dan mengorbankan tenaga dan pikiran sendiri demi membela seorang
Buyung kongcu gadungan."
Mendengar sampai di situ, Buyung Im seng lantas berkata.
"Tindakan orang ini dalam membunuh rekannya tadi, jelas bukan dilakukan secara
berputar-putar, sejak tadi dia menanyakan terus ciri rahasia di badanku, mungkin
itulah tujuannya untuk membuktikan keaslianku...."
Berpikir demikian, diapun lantas berkata.
"Ciri rahasiaku berada dimata kaki sebelah kiri."
"Kau benar Buyung Im seng atau bukan, aku percaya dapat membuktikannya."
"Betul, toh urusan di kemudian hari, seandainya pada suatu hari kau benar-benar
dapat membuktikan identitasku yang sebenarnya, entah aku benar adalah Buyung
Im seng atau bukan, yang pasti aku sama saja akan berterima kasih kepadamu.
Tapi sekarang apa yang anda siap lakukan ?"
"Aku bernama Koey kiam (pedang cepat) Thio Kin, setelah kau berani
mengungkapkan ciri rahasia di atas badanmu, terpaksa untuk sementara
waktupun akan kupercayai dirimu sebagai Buyung kongcu."
Sorot matanya segera dialihkan ke wajah Phu Thian khing, kemudian melanjutkan.
"Harap saudara Phu suka melindungi Buyung kongcu, siaute akan membersihkan
jalan keluar."
Tidak menunggu jawaban dari orang itu lagi, dia segera membalikkan badannya
dan berjalan keluar gedung. Sementara itu suara bentrokan senjata yang
berlangsung di luar gedung Kim lun tong berlangsung makin seru, tapi begitu orang
berbaju putih itu menampilkan diri keluar gedung, suara bentrokan senjata secara
tiba-tiba berkurang banyak, malah kerap terdengar suara jeritan yang menyayat
hati.
Dengan suara lirih Phu Thian khing segera berbisik "si pedang kilat Thio Kin
benar-benar lihai sekali, kelihaiannya justru terletak dalam permainan pedangnya,
dimana ia berjumpa dengan orang yang bukan tandingannya, dengan cepat korban
akan berjatuhan tanpa ampun, meski pihak lawan baru mati bila bertarung
sebanyak ratusan gebrakan denganku, biasanya orang itu tak akan tahan
menghadapi sepuluh jurus serangan dari Thio Kin."
Ketika Buyung Im seng menyaksikan Phu Thian khing sama sekali tidak
menyinggung soal keberangkatan mereka tinggalkan tempat ini, hatinya menjadi
keheranan, diam-diam pikirnya.
"Kalau memang sekarang tidak akan pergi, akan menunggu sampai kapan lagi ?
Entah apa sebabnya ternyata ia tidak menyinggung soal keberangkatan kita
meninggalkan tempat ini?"
Meski dalam hati kecilnya mempunyai banyak persoalan yang mencurigakan hati,
namun dia merasa kurang leluasa untuk banyak bertanya.
481
Agaknya Phu Thian khing dapat merasakan pula kecurigaan didalam hati Buyung
Im seng, sambil tersenyum katanya kemudian.
"Lohu percaya Liam Giok seng dan Im Cu siu pasti akan mengirim kabar beritanya
kemari dengan cepat".
Mendadak dia mengayunkan tangan kanannya ke depan, dua titik cahaya tajam
segera lewat dan meluncur ke depan dengan kecepatan luar biasa.
Terdengar dua kali dengusan tertahan berkumandang memecahkan keheningan.
Dua orang lelaki bersenjata pisau terbang tahu-tahu menggelinding jatuh dari atas
atap rumah.
Ternyata meski dia sedang bercakap-cakap dengan Buyung Im seng, sepasang
matanya masih mengawasi perubahan di luar ruangan sana, diapun melihat
bagaimana tingkah dua orang lelaki berbaju hitam yang berhasil menerobos
pertahanan anak buahnya serta bersiap-siap melancarkan serangan itu.
Kwik Soat kun memandang sekejap ke tubuh dua orang lelaki yang terkapar di atas
tanah itu, kemudian pelan-pelan berkata:
"Phu tongcu, bila kau sudah mempunyai rencana yang matang, dan kira akan
menunggu kedatangan Loan Giok seng serta Im Cu siu untuk menjemput kita,
sepantasnyalah bila kita memberi kabar kepada si pedang cepat Thio Kin....
"Biar boanpwe yang pergi mengundangnya kembali", seru Buyung Im seng dengan
cepat.
Phu Thian king segera menghalangi kepergian Buyung Im seng, katanya sambil
tertawa.
"Kau tak perlu memanggilnya lagi, asal dibiarkan membunuh beberapa orang
anggota Seng tong lagi, niscaya orang itu tak akan membalik lagi....
Buyung Im seng berseru terhadap dan segera berhenti, pikirnya dengan cepat.
"Yaa, nampaknya jahe tua memang selalu lebih pedas daripada jahe muda..."
Mendadak suara bentrokan senjata yang sedang berlangsung di luar gedung
berhenti semua secara serentak.
Paras muka Phu Thian khing segera berubah hebat.
"Aaaaah, terjadi perubahan yang besar.....", bisiknya.
Belum habis dia berkata tampak bayangan putih berkelebat lewat, si pedang cepat
Thio Kin telah melompat balik ke dalam ruang gedung.
"Saudara Thio, siapa yang datang?" Phu Thian khing segera menegur dengan cepat.
Belum sempat Thio Kin menjawab pertanyaan itu, dari luar ruangan sana telah
terdengar suara jawaban yang berat dan berwibawa.
"Aku!". Menyesal! jawaban tersebut, tampak Toa sengcu yang berkain kerudung
hitam pelan-pelan berjalan masuk ke dalam.
"Toa sengcu..?" bisik Phu Thian king tertegun.
482
Orang berkerudung hitam itu segera tertawa dingin.
"Betul memang aku!"
Setelah berhenti sebentar lanjutnya.
"Phu Thian khing, kau sebagai kaucu suatu ruangan gedung tentunya tak pernah
menerima pelayanan yang kurang baik dariku selama ini bukan?".
Kegagahan Phu Thian khing mendadak sontak hilang lenyap tak berbekas, ia
segera menundukkan kepala dan menjawab dengan cermat.
"Budi kebaikan Sengcu tak terkira besarnya"
"Hmmm, tapi kau berani menghianati aku sekarang!" dengus orang berbaju hitam
itu cepat.
"Hamba pernah menerima budi pertolongan dari Buyung tayhiap dimasa lalu, budi
pertolongan yang berulang-ulang itu membuat hamba berhutang budi sebukit
kepadanya, karena itu hamba tak tega menyaksikan Buyung kongcu disekap dan
sengaja menolong sekalian".
Tergelak tawalah orang berbaju hitam itu setelah mendengar perkataan tersebut.
"Haaahhhh......haaahhh....haaahhhhh, enak benar perkataanmu itu".
"Hamba berbicara dengan sejujurnya !"
Orang berbaju hitam itu termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian
ujarnya lagi.
"Anggap saja jawabanmu itu memang jujur, tapi kenyataannya kau telah
menghianati perguruan kami."
"Hamba tahu salah!".
"Tahukah kau, apa hukumannya bagi mereka yang telah berkhianat dan melanggar
dosa besar?".
"Kau akan urus tangan sendiri, ataukah aku yang harus turun tangan...?.
Puh Thian khing termenung dan berpikir beberapa saat lamanya cuma....
"Cuma apa?..."
"Sudah banyak tahun hamba mengikuti Seng Cu betul selama ini tiada pahala yang
ku perbuat, namun suatu jasa yang telah ku sumbangkan selama ini untuk
perguruan, sebelum hamba bunuh diri untuk menebus dosa, mohon Sengcu bersedia
mengabulkan permohonan itu.
"Apa permintaan itu??""
"Lepaskan Buyung Im seng! bila Sengcu bersedia meluluskan, meski hamba harus
mati, hamba akan mati dengan mata meram."
Orang berbaju hitam itu memandang sekejap ke arah Buyung Im seng berdua, lalu
tegurnya.
"Apakah kau hanya memohonkan pengampunan buat Buyung Im seng seorang..?"
483
Phu Thian king agak tertegun setelah mendengar perkataan itu, cepat-cepat
sahutnya:
"Bila akupun ingin memohonkan permohonan bagi nona Kwik, apakah Sengcu
bersedia pula untuk mengabulkannya?"
"Aku sedang bertanya kepadamu"
Phu Thian king kembali termenung, kemudian ujarnya.
"Hamba tak berani memohon kelewat batas banyak, asal Sengcu bersedia
melepaskan Buyung Im seng hal ini sudah lebih dari cukup".
Orang berbaju hitam itupun termenung beberapa saat lamanya, kemudian ia
berkata.
"Phu Thian king, sebelum kuambil suatu keputusan ingin kuajukan sebuah
pertanyaan lagi kepadamu."
"Hamba siap mendengarkan pertanyaan itu".
"Seandainya tidak kululuskan permintaanmu itu, apa yang hendak kau lakukan?"
"Jika Sengcu bersedia meluluskan permintaan hamba, maka seketika itu juga
hamba akan bunuh diri, tapi bila Sengcu tidak bersedia meluluskan, terpaksa
hamba harus memberikan perlawanan sampai titik darah penghabisan".
Orang berbaju hitam itu segera tertawa dingin.
"Heeh.. heeh...heeh... kau bermaksud hendak melakukan pertarungan melawan
diriku?"
"Keadaan yang memaksa hamba untuk bertindak demikian, disebabkan hamba
sudah disudutkan hingga hamba tidak memiliki pilihan lain".
Sorot mata orang berbaju hitam itu dengan cepat dialihkan ke wajah si pedang
cepat Thio Kin, kemudian ujarnya dengan dingin.
"Berapa orang yang telah kau bunuh?"
Meski wajahnhya tertutup oleh kain kerudung hitam, namun masih mendatangkan
suatu perasaan yang menggidikkan hati bagi siapapun yang dipandangnya,
terutama sekali sepasang matanya yang memancarkan cahaya tajam, betul-betul
mencarikan bulu roma semua orang.
"Hamba telah membunuh delapan orang" jawab s ipedang cepat Thio Kiok cepat.
Kembali orang berbaju hitam itu tertawa dingin.
"Heehh... heeehhh.. heehhh.... bagus orang bayar nyawa, hutang benda bayar uang,
apa yang siap kau lakukan?".
"Dimasa lampau hamba pernah menerima budi kebaikan Buyung tayhiap, selama
ini hatiku murung karena tak dapat balas budi kebaikan ini, maka budi tersebut
terpaksa harus kubayarkan kepada keturunannya. Bila Sengcu bersedia lepaskan
Buyung kongcu meninggalkan tempat ini, hamba bersedia mengikuti jejak Phu
Tongcu, mati dengan mencincang tubuhku sendiri, terpaksa hamba akan
484
berhadapan dengan Pha Tongcu untuk melakukan perlawanan terhadap diri
Sengcu !"
"Bagus punya semangat !" puji orang berbaju hitam itu.
Sorot matanya segera dialihkan ke tubuh Buyung Im seng, kemudian melanjutkan.
"Sudah hampir dua puluh tahun ayahmu tak pernah munculkan diri di dalam dunia
persilatan, namun kewibawaan serta kekuasaannya masih tetap amat besar, boleh
dibilang dia adalah pendekar besar yang tiada duanya di dunia ini."
"Boanpwe menyesal tak dapat meniru keadaan ayahku meski sepersepuluhnya
pun."
"Walaupun hubungan persahabatan yang dijalin ayahmu dimasa lalu sangat luas,
berarti mereka sanggup menyelamatkan selembar jiwamu, apa yang siap kau
lakukan untuk menghadapi situasi seperti pada malam ini ?"
"Tujuan boanpwe datang kemari hanya bermaksud untuk membuktikan suatu
persoalan bila persoalan tersebut bisa kupahami, sekalipun mati juga tak akan
menyesal !"
"Lagi-lagi kau hendak menanyakan soal pembunuh yang telah menyerbu gedung
keluarga Buyung."
"Inilah keinginan boanpwe yang paling besar dalam kehidupan kali ini..."
"Aku hanya dapat memberitahukan kepadamu, peristiwa itu bukan perbuatanku.
Tapi sudah pasti kau tak akan percaya sebab dalam dunia persilatan saat ini,
kecuali pihak Sam seng bun, agaknya memang tidak terdapat orang lain yang
memiliki ilmu silat yang amat lihai serta sanggup membunuh ayahmu."
"Kecuali kau dapat menyebutkan orang yang telah membunuh ayah ibuku, kalau
tidak, hal ini memang sukar untuk membuatku percaya."
Orang berbaju hitam itu segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaahh..... haaaahhh.... haaaahhh... mau percaya atau tidak terserah kepadamu,
aku hanya ingin mengungkapkan persoalan ini saja dan tidak berniat untuk
meminta pengertian orang lain."
"Kalau begitu kau sendiripun tak tahu siapakah orang tersebut ?"
"Kau belum pantas untuk memperbincangkan persoalan ini berhadapan dengan
diriku." tukas orang berbaju hitam itu dingin.
Diam-diam Buyung Im seng berpikir,
"Bila tidak kutanyakan persoalan tersebut sampai jelas pada hari ini, mungkin sulit
untuk menemukan lagi kesempatan sebaik ini di kemudian hari....."
Berpikir sampai di situ, pelan-pelan dia lantas berkata.
"Apa yang harus kulakukan sebelum dapat berbincang-bincang dengan dirimu ?"
"Bila kau sanggup bertahan sebanyak sepuluh gebrakan di ujung tangan lohu, lohu
bersedia pula memperbincangkan persoalan ini dengan dirimu...."
"Aku bersedia untuk bertarung sebanyak sepuluh gebrakan melawan dirimu ?"
485
Phu Thian khing yang mendengar perkataan itu jadi cemas, buru-buru serunya.
"Keponakan Buyung, kau bukan tandingannya, bukan aku memandang rendah
dirimu, tapi kenyataannya lima jurus pun belum tentu kau mampu untuk
membendungnya."
Buyung Im seng segera tertawa getir.
"Demi mencari tahu keadaan yang sebetulnya dari ayahmu, akan kuberitahukan
kepadamu nama-nama pembunuh yang telah mengerubuti Buyung Tiang kim
dimasa lalu." kata orang berbaju hitam itu lagi.
"Baik ! Entah Toa sengcu hendak beradu jiwa dengan diriku, ataukah hendak
beradu tangan kosong ?"
"Soal itu mah terserah pada pilihanmu sendiri" ucap orang berbaju hitam itu sambil
tertawa dingin.
"Buyung Im seng termenung dan berpikir sebentar, kemudian ujarnya.
"Aku ingin mencoba ilmu pedang dari Toa sengcu !"
Orang berbaju hitam itu segera mengalihkan sorot matanya ke arah rak senjata,
kemudian sambil mengambil sebilah pedang katanya.
"Baiklah, sekarang kau boleh turun tangan !"
"Sreet !" Buyung Im seng melepaskan pedangnya sambil berkata dengan suara
dingin.
"Toa sengcu hati-hatilah kau !"
Pedangnya segera digetarkan sambil melepaskan sebuah tusukan kilat ke muka.
Orang berbaju hitam itu hanya mengangkat pedangnya sejajar dengan dada tanpa
bergerak barang sedikitpun jua, menanti pedang Buyung Im seng sudah hampir
menusuk ke atas dadanya, mendadak ia baru membalikkan pedangnya sambil
menekan pedang Buyung Im seng ke samping.
"Traang... !" mengikuti gerakan tersebut mata pedangnya langsung membabat ke
atas pergelangan tangan kanan Buyung Im seng.
Walaupun serangan ini yang dilancarkan amat sederhana dan biasa, namun
dimainkan oleh Toa sengcu yang lihai, ternyata pengaruh serta daya kekuatannya
jauh sekali berbeda.
Buyung Im seng amat terkejut, buru-buru dia menarik kembali tangannya sambil
melompat mundur sejauh dua langkah.
Kembali orang berbaju hitam itu menggetarkan pedangnya menciptakan tiga
kuntum bunga pedang, dimana secara terpisah mengancam tiga buah jalan darah
penting di tubuh Buyung Im seng.
Andaikata Buyung Im seng tak pernah bertarung melawan Thio Kin tadi, serangan
tersebut niscaya akan melukainya, tapi sekarang dia sudah banyak mendalami
makna dan arti yang sesungguhnya dari jurus pedang warisan Buyung Tiang kim
ini, perubahan jurus serangannya otomatis jauh sekali berbeda.
486
Buru-buru pedangnya digetarkan keras menciptakan selapis kabut pedang untuk
melindungi badan.
"Traaang, traaaang !" benturan keras yang sangat memekikkan telinga
berkumandang memecahkan keheningan, Buyung Im seng kena digetarkan
sehingga dia mundur dua langkah dari posisi semula.
Tampaknya orang berbaju hitam itu merasa tercengang dan tidak menyangka
kalau Buyung Im seng mau menghindarkan diri dari serangan tersebut dengan
sangat cepat, dia menghentikan serangannya sambil memuji.
"Suatu permainan ilmu pedang yang sangat bagus !"
Begitu selesai berkata, pedangnya kembali bergetar ke depan dengan cepat.
"Sreeet.... sreettt ! Sreeet !" Secara beruntun dia melancarkan dua buah tusukan
maut.
Kedua buah serangan pedang itu datangnya sangat aneh, dahsyat ibarat gulungan
air bah yang menyapu daratan, selapis cahaya tajam segera saja berkilauan
diangkasa lalu menyergap tiga dari empat penjuru.
Bunga pedang yang menyilaukan mata segera membuat orang sukar untuk
menentukan dari arah manakah serangan itu datang.
Buyung Im seng pun selama hidupnya belum pernah menjumpai gerakan pedang
sedahsyat ini, untuk sesaat dia menjadi terkesiap.
Dengan gugup dan terburu napsu, mendadak ia teringat akan jurus Hwe pau kim
hoa (letupan api menimbulkan bunga emas) dalam ilmu pedang ayahnya, tiba-tiba
saja pedangnya digetarkan keras, kemudian langsung menusuk masuk ke balik
kabut pedang tersebut, bersamaan itu juga tenaga dalamnya disalurkan dan
menggoyangnya ke kiri dan ke kanan.
"Traaang, traaang.... !" serentetan suara bentrokan senjata yang amat nyaring
bergema memecahkan keheningan, kabut pedang yang melanda tiba bagaikan
gulungan air bah itupun mendadak buyar tak berwujud lagi.
Buyung Im seng segera merasakan lengan kanannya kaku dan kesemutan, hampir
saja pedangnya lepas dari cekalan.
Sambil menggertak giginya kencang-kencang, dia segera menggenggam pedang itu
erat-erat.
Orang berbaju hitam itu segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh... haaahhh... haaaaahhh... tidak kusangka, benar-benar tak kusangka !
Secara beruntun sanggup menahan dua buah serangan pedangku."
Diam-diam Buyung Im seng menarik napas panjang, sahutnya.
"Kita telah beradu tenaga sebanyak tiga gebrakan."
"Betul, masih ada tujuh gebrakan."
Buyung Im seng segera berpikir didalam hati.
487
"Bila ia lancarkan dua buah serangan lagi, kendatipun tak sampai melukaiku di
ujung pedangnya niscaya senjataku akan terlepas, aku harus mendahului dia lebih
dulu."
Berpikir sampai di situ, tanpa menggubris apakah lengannya masih kaku dan linu,
pedangnya kembali digetarkan keras, lalu dengan jurus Thian gwa lay im (mega
tebal dari luar langit) dia menyerang ke depan.
"Apakah serangan yang kulancarkan juga masuk hitungan ?" serunya.
"Tentu saja masuk hitungan."
Pedangnya diangkat dan menyapu secara datar ke atas pedang Buyung Im seng.
Buyung Im seng cukup mengerti, bila senjatanya sudah tersapu secara telak oleh
serangan musuh, sudah dapat dipastikan pedangnya akan terlepas dari genggaman.
Buru-buru dia menghindar ke samping untuk meloloskan diri dari serangan orang
berbaju hitam itu.
"Inilah jurus yang ke empat !" serunya lantang.
Orang berbaju hitam itu mendengus dingin, pedangnya dengan cepat segera
digetarkan menusuk ke dada Buyung Im seng.
Sedemikian dahsyatnya serangan itu tiba, Buyung Im seng hanya merasakan
betapa ganasnya ancaman tersebut, ternyata ia tak sempat melihat jurus apa yang
digunakan orang itu.
Buru-buru dia menarik napas panjang, lalu berkelit tiga depa lebih ke samping.
Siapa tahu pedang yang berada ditangan orang berbaju hitam itu seakan-akan
mempunyai mata, ternyata diapun turut berputar mengikuti gerakan putaran dari
Buyung Im seng.
Padahal serangan tersebut sangat sederhana dan boleh dibilang sama sekali tidak
disertai perubahan apapun, namun keanehannya justru terletak pada
kemampuannya untuk menempel terus di belakang tubuh lawan.
Buyung Im seng segera berkelit ke kiri menghindar ke kanan, secara beruntun dia
sudah berpindah enam tujuh tempat, akan tetapi pedang ditangan orang berbaju
hitam itu masih saja mengikuti dengan ketat, tak pernah senjata tersebut berada
lebih dari setengah depa di depan tubuh si anak muda tersebut.
Kwik Soat kun maupun Phu Thing khing yang menonton jalannya pertarungan itu
dari sisi arena menjadi terkejut sekali.
Sebab dalam keadaan seperti ini, setiap saat kemungkinan besar Buyung Im seng
bakal terluka di ujung pedang orang berbaju hitam itu.
Walaupun mereka berdua merasa amat terkejut menyaksikan adegan tersebut,
namun tak seorangpun yang berani berteriak, kuatir kalau teriakan tersebut justru
akan memecahkan perhatian dari Buyung Im seng.
Sementara itu, seluruh jidat Buyung Im seng sudah mulai basah oleh air keringat,
tapi gerakkan tubuhnya yang berkelit justru nampak semakin cepat lagi.
488
Diam-diam Phu Thian khing menghimpun hawa murninya dan menyalurkan ke
ujung golok, dia telah bersiap turun tangan untuk mewakili Buyung Im seng guna
menyambut datangnya tusukan maut yang mengejar terus bagaikan bayangan itu.
Tapi sebelum dia turun tangan, kepalanya sempat berpaling dan melirik sekejap ke
arah si pedang kilat Thio Kin.
Tampak seluruh perhatian Thio Kin ditujukan ke atas badan Buyung Im seng,
pedangnya kelihatan bergetar keras, agaknya dia sudah bersiap-siap untuk turun
tangan.
Melihat itu Phu Thian khing merasa agak lega juga, pikirnya dengan cepat.
"Walaupun ilmu silat Toa sengcu miliki sangat lihai, tapi bila kau dan si pedang
cepat Thio Kin turun tangan bersama, ditambah pula dengan
Buyung Im seng, dengan kekuatan kami bertiga rasanya masih sanggup untuk
membendung serangan."
Baru saja ingatan tersebut berputar, tiba-tiba Buyung Im seng membentak keras,
tubuhnya berputar kencang dan.... "Triiingg, tring.... trang, trang !" ditengah suara
dentingan nyaring, ancaman pedang si orang berbaju hitam yang menempel terus
bagaikan bayangan itu tahu-tahu sudah kena ditangkis oleh Buyung Im seng.
Agaknya jurus serangan tersebut sama sekali tak beraturan, seingat Phu Thian
khing maupun Thio Kin, belum pernah mereka jumpai gerakan tubuh semacam ini.
Ketika perhatian mereka dialihkan kembali ke tengah arena, tampaklah beberapa
bagian tubuh Buyung Im seng telah robek dan berlepotan darah, agaknya dia sudah
menderita banyak sekali luka-luka kulit.
Akan tetapi Buyung Im seng masih tetap berdiri tegak di tempat semula, sepasang
matanya memancarkan sinar yang sangat tajam, maka jelaslah walaupun lukanya
banyak, tak sebuahpun yang mengenai bagian yang mematikan.
Thio Kin dan Phu Thian khing sebenarnya ingin turun tangan membantu Buyung
Im seng guna meloloskan diri dari ancaman pedang itu tapi setelah dilihatnya
Buyung Im seng sedang kekuatan sendiri masih sanggup untuk menghindarkan
diri dari ancaman maut lawan, untuk sementara waktupun mereka urungkan niat
itu.
Orang berbaju hitam itu mendehem pelan, lalu ujarnya.
"Aku lihat, ilmu silatmu secara tiba-tiba seperti bertambah kuat...."
Dengan wajah yang gagah dan sama sekali tidak menggubris luka yang diderita di
atas tubuhnya, sahut Buyung Im seng.
"Apakah kita masih akan melanjutkan pertarungan ?"
"Tentu saja, kan batas sepuluh jurus belum dilampaui" jawab orang berbaju hitam
itu sangat hambar.
"Ketika aku menghindarkan diri dari ancaman pedangmu tadi apakah gerakangerakan
mana tak mencapai sepuluh jurus lebih ?
489
"Itu mah urusanmu pribadi" tukas orang berbaju hitam itu dingin, "gerakan
pedangku sama sekali tak berubah, aku hanya menganggapnya sebagai satu
gebrakan."
Buyung Im seng termenung dan berpikir sebentar, kemudian sahutnya.
"Ehmm, ada benarnya juga perkataanmu itu !"
Tiba-tiba nada suara orang berbaju hitam itu berubah menjadi lebih lembut dan
halus, katanya.
"Cara yang dipergunakan tadi merupakan satu-satunya cara yang bisa digunakan
untuk menghindari jurus seranganku tadi, entah siapakah yang telah mewariskan
jurus serangan tersebut kepadamu ?"
"Bila toa sengcu berhasil membunuh diriku dalam beberapa jurus berikutnya,
mungkin selama hidup jangan harap kau bisa mengetahui keadaan yang
sebenarnya."
"Itulah sebabnya, kuajukan pertanyaan tersebut sekarang !"
"Andaikata setitik rahasia ini dapat menambah kesempatanku untuk meloloskan
diri, tentu saja aku tak akan mengungkapkannya keluar."
Pelan-pelan orang yang berbaju hitam itu mengangkat kembali pedangnya ke
udara, kemudian berkata.
"Akan kulihat masih ada cara apa lagi yang bisa kau gerakkan untuk menyambut
serangan pedangku ini."
"Toa sengcu, ampunilah selembar jiwanya" buru-buru Phu Thian khing berseru
dengan cemas.
"Phu Thian khing, bila kau ingin membantunya, lebih baik turun mengalah
bersama dia untuk menghadapi diriku."
Yang dinantikan Phu Thian khing selama ini justru ucapan tersebut, dengan cepat
dia berkata.
"Tampaknya Toa sengcu merasa enggan untuk melepaskan hamba"
Orang berbaju hitam itu segera mendengus dingin.
"Hmm, kalian sudah jelas berniat menghianati aku, bahkan di depan mataku pun
berani bicara terang-terangan, sudah barang tentu aku tak dapat mengampuni
dirimu dengan begitu saja."
"Demi membalas kebaikan di masa lalu, aku harus menolong jiwa Buyung kongcu
dan demi menyelamatkan selembar jiwaku sendiri, mau tak mau aku harus bekerja
sama dengannya untuk menghadapi dirimu."
"Paling baik lagi kalau Thio Kin pun ikut turun tangan daripada aku mati repotrepot
melayanimu seorang" seru orang berbaju hitam itu dingin.
"Kalau memang begitu aku akan turut perintah !"
Walaupun dimulut dia menjawab pertanyaan dari Toa sengcu, namun sepasang
matanya justru dialihkan ke wajah Thio Kin.
490
Tiba-tiba si pedang cepat Thio Kin berkata.
"Perintah dari Toa sengcu, tak berani hamba bantah !"
Sambil mempersiapkan pedangnya dia segera maju ke depan dan berdiri di samping
Buyung Im seng.
Phu Thian khing berdiri pula disamping Buyung Im seng dengan golok terhunus,
katanya kemudian.
"Setelah kami bertiga bekerja sama, apakah janji Toa sengcu dengan Buyung Im
seng tadi masih berlaku atau tidak ?"
Yang paling dikuatirkan Buyung Im seng adalah persoalan ini, dendam kesumat
orang tuanya dinilai lebih dalam dari samudra, sebagai seorang putra yang
berbakti, ternyata ia tak tahu siapakah pembunuhnya, hal ini dinilai suatu
kejadian yang mengenaskan sekali.
Itulah sebabnya dia berani mempertaruhkan selembar jiwanya untuk menyambut
sepuluh jurus serangan dari mereka itu.
Terdengar orang berbaju hitam itu berkata lagi dengan nada suaranya yang sangat
dingin.
"Setiap orang sepuluh jurus, berarti bila kalian bertiga bergabung menjadi satu
seharusnya menjadi tiga puluh jurus baru adil, tapi aku hendak memberikan
kesempatan lagi bagimu, bila kalian bertiga bisa menahan sepuluh jurus
seranganku saja, tentu kupenuhi janjiku dengan
Buyung Im seng tadi, bahkan melepaskan pula kalian berdua dari sini...."
"Sungguhkah ini ?" Phu Thian khing berseru.
"Kapan aku pernah berbohong ?"
Phu Thian khing melirik sekejap ke arah Thio Kin, lalu ujarnya.
"Saudara Thio, urusan sudah menjadi begini, kita mesti cari kehidupan ditengah
kematian."
Si pedang cepat Thio Kin segera mengangguk mengiakan.
"Baik ! Dengan Buyung kongcu sebagai titik pusat, kita berdua membantunya dari
samping !"
Pelan-pelan orang berbaju hitam itu mengangkat kembali pedangnya ke tengah
udara, kemudian ujarnya.
"Nah, sekali lagi akan kuberi kesempatan saat kalian bertiga untuk turun tangan
terlebih dahulu."
Thio Kin maju selangkah ke depan, kemudian ujarnya.
"Maaf !"
Pedangnya digetarkan, lalu secara beruntun melancarkan tiga kali bacokan kilat.
491
Dia tersohor sebagai si pedang cepat, nyatanya serangan pedang yang dilancarkan
memang cepat lagi ganas, tampak selapis cahaya pedang yang amat tebal secara
terpisah menyerang tiga buah jalan darah penting di tubuh Toa sengcu.
Tatkala Phu Thian khing menyaksikan Thio Kin sudah mulai menyerang, goloknya
secara diayunkan pula ke depan mengancam tubuh bagian bawah dari orang yang
berbaju hitam itu.
Cahaya golok, sinar pedang dalam waktu singkat bercampur aduk menjadi satu.
Tampak Toa sengcu menggetarkan pedangnya, sekilas cahaya bianglala berwarna
perak menggulung ke depan, ke atas membendung serangan pedang, ke bawah
mendesak serangan golok.
"Traaang, traaaang !" dua kali benturan nyaring berkumandang memecahkan
keheningan, cahaya pedang, sinar golok segera terpental balik ke belakang.
Padahal serangan gabungan dari dua orang jago lihai itu amat ganas dan dahsyat,
tapi toh sulit untuk menghadapi ancaman dari Toa sengcu, nyatanya hanya dalam
sekali tebasan saja serangan lawan kena dipunahkan semua.
Tergerak hati Buyung Im seng, mendadak dia maju selangkah, kemudian
pedangnya diayunkan ke depan melepaskan sebuah serangan dahsyat.
Ternyata didalam menggetarkan golok dan pedang lawan tadi, bukan saja Toa
sengcu berhasil mendesak mundur Phu Thian khing serta Thio Kin, bahkan diapun
berhasil memaksa kedua orang itu untuk membuka sendiri titik kelemahannya.
Meski Buyung Im seng hendak melancarkan serangan untuk membuka
pertolongan, sayang keadaan sudah terlambat, tampak orang berbaju hitam itu
telah menggetarkan pedangnya dan memancarkan selapis bunga pedang yang amat
menyilaukan mata.
Diantara kilatan bunga pedang tersebut, terdengar dua kali dengusan tertahan
berkumandang memecahkan hening, tahu-tahu Phu Thian khing dan si pedang
cepat Thio Kin sudah terkena tusukan.
Luka Phu Thian khing berada di atas kaki kiri, sedangkan luka Thio Kin berada di
atas lengan kanan yang menggenggam pedang.
Agaknya orang berbaju hitam itu bermaksud untuk menggunakan jurus pedang
yang cepat untuk menghadapi Thio Kin yang termasyhur sebagai si pedang cepat,
sewaktu serangan pedang dari Buyung Im seng menyerang tiba tadi, orang berbaju
hitam itu telah menarik kembali pedangnya untuk menangkis datangnya ancaman
dari anak muda tersebut.
Melihat serangan pedangnya kena ditangkis orang, Buyung Im seng tak berani
menggunakan jurus pedang itu, cepat-cepat dia menarik kembali pedangnya sambil
mundur.
Ternyata orang berbaju hitam itu tidak segera melancarkan serangan balasan,
setelah memandang sekejap ke arah Thio Kin dan Phu Thian khing, ujarnya.
"Hanya mengandalkan sedikit kepandaian silat yang kalian berdua milikipun, ingin
melindungi keselamatan dari Buyung kongcu ?"
492
Luka tusukan yang diderita kedua orang itu cukup parah, darah kental telah
membasahi separuh bagian tubuhnya, namun mereka masih tetap menggertakkan
gigi menahan diri dan berdiri tak berkutik di tempat semula.
Buyung Im seng menghela napas panjang, katanya kemudian.
"Ilmu pedang yang sengcu miliki memang benar-benar lihai sekali, dalam gerakan
tangkisan ternyata masih mampu untuk memancing timbulnya titik kelemahan
pada permainan pedang mereka, kemudian dengan suatu gerakan yang cepat
berhasil melukai kedua orang itu...."
Orang berbaju hitam itu nampak sangat tertegun, setelah termenung sesaat pelanpelan
dia berkata.
"Sekalipun kau benar-benar putra Buyung Tiang kim, namun sewaktu Buyung
Tiang kin diserang orang sepantasnya kau masih bayi, sudah barang tentu
mustahil bagimu untuk mempelajari ilmu pedang dari Buyung Tiang kim,
sebenarnya siapa yang telah mengajarkan ilmu silat tersebut kepadamu ?"
"Toa sengcu, apa maksudmu untuk mengajukan pertanyaan ini ?"
"Aku tidak dapat menduga siapakah gerangan orang yang telah mewariskan
rangkaian ilmu pedang tersebut kepadamu, sehingga pertahananmu bisa begitu
ketat tanpa titik kelemahan ?"
Mendadak Buyung Im seng seperti teringat akan sesuatu, sekulum senyuman
bangga segera menghiasi wajahnya, mendadak ia menggetarkan pedangnya sambil
berkata.
"Kita masih ada enam jurus serangan yang belum diselesaikan !"
Begitu selesai berkata, pedangnya sudah meluncur ke depan melancarkan serangan
kilat.
Buru-buru orang berbaju hitam itu mengangkat pedangnya untuk menangkis,
kemudian bersiap-siap menggunakan kesempatan itu untuk melancarkan serangan
balasan.
Siapa tahu, begitu Buyung Im seng melihat pedangnya bergerak, dengan cepat dia
berganti jurus sambil melancarkan serangan kembali.
Setiap serangan yang dilancarkan olehnya hampir semuanya tertuju ke bagian
penting yang harus diselamatkan oleh orang berbaju hitam itu.
Terpaksa orang berbaju hitam itu harus menarik kembali pedangnya untuk
melakukan pertolongan, belum lagi serangan balasan dilancarkan, untuk ketiga
kalinya Buyung Im seng telah berganti jurus.
Begitulah seterusnya, sehingga hampir boleh dibilang, orang berbaju hitam itu
sama sekali tak berkesempatan untuk melancarkan serangan balasan.
Setelah melepaskan tujuh buah serangan secepat sambaran petir, tiba-tiba Buyung
Im seng menarik kembali pedangnya sambil mundur ke belakang, katanya.
"Bila seranganku barusan masuk dalam hitungan pula, semestinya aku sudah
melepaskan tujuh buah serangan pedang !"
493
Mendadak orang berbaju hitam itu mengangkat pedangnya kemudian mematahkan
menjadi dua bagian, setelah itu sambil membuang kutungan pedang tadi ke atas
tanah, dia berkata.
"Benar, kau sudah melebihi sepuluh jurus."
"Nah, Toa sengcu telah mengaku sendiri, dan berarti kau pun boleh segera
memperbincangkan soal mati hidup ayahku, bukan ?"
"Apa yang telah kululuskan, tentu saja takkan kusesali kembali."
Tiba-tiba paras muka Buyung Im seng berubah menjadi amat serius, selama dua
puluh tahun ia berharap-harap bisa membongkar rahasia besar itu dan sekarang
rahasia tersebut sudah hampir terbongkar. Bagaimana pun juga hatinya terasa
menjadi tegang disamping gembira tentu saja.
Setelah termenung beberapa saat lamanya, sepatah demi sepatah dia bertanya.
"Siapakah pembunuh yang telah membinasakan mendiang ayahku ?"
"Buyung Tiang kim tidak mati, darimana bisa muncul pembunuhnya ?" jawab orang
berbaju hitam itu dingin.
Buyung Im seng segera merasakan hatinya bergetar keras, tanpa terasa sepasang
matanya yang tajam mengawasi wajah orang berbaju hitam yang berkerudung itu
tanpa berkedip, untuk beberapa saat lamanya diapun tak sanggup untuk
mengucapkan sepatah katapun.
Sampai lama kemudian, ia baru bisa bertanya.
"Sungguhkah itu ?"
"Tentu saja sungguh"
Sekalipun Buyung Im seng telah mendengar kalau Buyung Tiang kim belum mati,
namun dia tak berani percaya seratus persen
oooOooo
Akan tetapi setelah perkataan tersebut diutarakan oleh Toa sengcu dari perguruan
tiga malaikat, bagaimanapun juga. mau tak mau dia harus mempercayainya.
Setelah berhasil menenangkan hatinya yang bergolak keras, pelan-pelan katanya
lagi.
"Kalau ayahku masih hidup di dunia ini, tolong tanya dia ini berada dimana ?"
oooOooo
BAGIAN KETIGA PULUH LIMA
"Soal ini, maaf kalau aku tak bisa memberitahukan kepadamu" ujar orang berbaju
hitam itu dingin.
Buyung Im seng segera menarik napas panjang-panjang, katanya kemudian.
"Seandainya mendiang ayahku masih hidup di dunia ini, apa gunanya penjagaan
yang sangat ketat di luar kuburannya ?"
"Aah, itu hanya suatu perangkap belaka, salah mereka sendiri kenapa tak tahu diri
dan mudah terpancing. Bayangkan saja, andaikata Buyung Tiang kim benar-benar
494
dikubur dalam kuburan tersebut, jenasahnya pasti sudah membusuk, apa gunanya
kuburannya dijaga orang ?"
"Orang-orang yang menjaga kuburan itu adalah jago-jago yang diutus pihak Sam
seng bun, entah benarkah kabar ini ?"
Orang berbaju hitam itu segera tertawa dingin.
"Betul, memang perguruan kami yang mengirim orang-orang itu."
"Selama dua puluh tahun belakangan ini, telah puluhan orang jago persilatan yang
tewas karena hendak menyambangi kuburan ayahku, apakah hal inipun perbuatan
Toa sengcu ?"
"Jika tidak berbuat demikian, mana mungkin kami bisa memaksa orang persilatan
percaya kalau kuburan tersebut adalah kuburannya Buyung Tiang kim ?"
"Jadi kuburan itu adalah sebuah kuburan yang kosong ?"
"Dalam kuburan itu mah ada jenazahnya, cuma jenazah tersebut bukan jenazah
Buyung Tiang kim."
"Maksud tujuan orang itu benar-benar amat kejam, sekalipun puluhan tahun
kemudian ada oaring yang membongkar kuburan untuk melakukan pemeriksaan,
dengan adanya jenasah dalam kuburan itu, sudah pasti jenazah itu tinggal
setumpuk tulang putih belaka, apakah jenazah itu adalah ayahku atau bukan,
orang lain jelas tak akan bisa membedakannya. Bagus, bagus sekali, siasat ini
memang amat tepat."
"Banyak sudah yang telah kuberitahukan kepadamu, mengingat kau masih
sanggup untuk bertarung sebanyak sepuluh gebrakan denganku, aku bersedia
melepaskan kau untuk pergi meninggalkan tempat ini," Selesai berkata dia lantas
membalikkan badan dan berjalan keluar dari situ
.
(Bersambung ke jilid 25)
495
Lembah Tiga Malaikat
Oleh: Tjan
Jilid 25
Buru-buru Buyung Im seng membentak keras.
Pelan-pelan orang berbaju hitam itu membalikkan badannya, kemudian katanya.
“Ada urusan apa ?”
“Apakah ayahku disekap disini ?”
“Bila kau ingin tahu jejak ayahmu, hanya ada satu cara yang dapat kau tempuh.”
“Bertarung sepuluh jurus lagi denganmu ?”
“Betul !”
“Baik, siapkan pedang anda !”
Mendengar perkataan itu, Phu Thian khing serta Thio Kin segera berseru keras.
“Buyung si heng, jangan bertindak gegabah….”
Buyung Im seng tertawa getir, tukasnya.
“Bila aku tak berhasil mengetahui jejak ayahku, aku tak punya muka untuk
bertemu dengan orang. Harap kalian berdua tak usah mengurusinya…..”
“Ketahuilah, seseorang tak mungkin akan selamanya mujur, kau tak akan
mempunyai kesempatan untuk menahan sepuluh jurus seranganku lagi” kata orang
berbaju hitam itu dingin.
“Jika kau yakin dapat menangkan aku, agaknya tak usah menasehatiku lagi”
“Ehmm, tampaknya kau percaya dengan apa yang kukatakan ?”
“Aku percaya, cuma demi mengetahui jejak dari ayahku, kendatipun harus terluka
diujung telapak tangan Toa sengcu, sampai matipun aku tak akan menyesal”
“Ehmm…. kau memang cukup gagah dan berjiwa jantan.”
496
“Toa sengcu, silahkan mencabut pedangmu !” ucap Buyung Im seng dengan wajah
serius.
Orang berbaju hitam itu tertawa dingin, dia menyambar sebilah pedang dari atas
rak senjata lalu ujarnya :
“Baik ! Berhati-hatilah kau”
“Tahan….!” tiba-tiba Kwik Soat kun membentak keras.
Sementara itu, si orang berbaju hitam itu sudah mengangkat pedangnya ke tengah
udara, mendengar bentakan tersebut segera ia berhenti seraya bertanya.
“Nona, kau ada petunjuk apa ?”
“Bertanding dengan cara seperti ini ini kurang adil rasanya.”
“Dimanakah letak ketidakadilan tersebut ?”
“Sudah jelas diketahui kalau ia bukan tandinganmu, bila kau sudah jelas tahu
bahwa kemampuanmu bisa membunuh seseorang secara mudah, tetapi justru kau
gunakan alasan tersebut untuk menantangnya beradu kepandaian, apakah adil itu
namanya ?”
“Buyung kongcu toh rela menerima syarat tersebut, apa sangkut pautnya hal ini
dengan nona ?” orang berbaju hitam itu segera tertawa.
“Kau jangan melupakan tingkat kedudukanmu sekarang, bagaimana juga, kau
adalah Toa sengcu dari perguruan tiga malaikat.”
Agaknya beberapa patah kata itu mendatangkan suatu kekuatan yang amat besar,
kontan saja orang berbaju hitam itu tertegun.
“Lantas apa maksudmu ?” serunya kemudian.
“Bila kau bunuh Buyung Im seng pada hari ini, sudah pasti selamanya kau akan
ditertawakan oleh semua orang.”
“Maksud nona ?”
“Kau harus mengutarakan lebih dulu jejak Buyung Tiang-kin, setelah itu baru…”
“Baru kenapa ?”
“Setelah itu kau baru boleh turun tangan, sekalipun kami mati terbunuh, kami pun
akan mati tanpa menyesal.”
“Orang berbaju hitam itu termenung beberapa saat lamanya, kemudian katanya :
“Agaknya apa yang kau ucapkan itu memang agak masuk diakal.”
“Bila apa yang kukatakan masuk diakal, sudah sepantasnya bila Toa sengcu
menurutinya.”
Orang berbaju hitam itu kembali termenung, lantas katanya kemudian ”
“Buyung Im seng kau masih mempunya sebuah cara lain untuk mendapat tahu
kabar tentang ayahmu itu dari mulutku…..”
Setelah berhenti sejenak, kemudian lanjutnya.
497
“Apa yang nona Kwik katakan memang benar, dalam kenyataan bila kita bertarung
sepuluh gebrakan lagi, maka jangan harap kau bisa mengetahui kabar tentang
ayahmu selamanya.”
“Aku cukup memahami tentang hal ini, bila masih ada cara yang lain, aku bersedia
untuk mendengarkannya.”
“Masalah itu menyangkut dari Nyoo Hong leng, bila kau membujuknya maka aku
akan segera memberitahukan kabar berita tentang ayahmu itu kepadamu”
“Membujuknya kenapa?”
“Membujuknya agar menuruti perkataanku.”
Buyung Im seng jadi tertegun, serunya dengan cepat.
“Nyoo Hong leng, nona Nyoo pada saat ini berada dimana ?”
“Dia baik, tak usah kau kuatirkan.”
Dengan serius Buyung Im segera berkata.
“Nona Nyoo sama sekali tak ada hubungan apa-apa dengan diriku dan akupun
tidak mempunyai hak apa-apa untuk membujuknya, sekalipun kululuskan
permintaanmu, belum tentu dia bersedia menuruti bujukanku itu.”
“Lantas bagaimanakah menurut pendapat Buyung kongcu?” orang berbaju hitam
itu menyela dengan suara dingin.
“Aku rasa, persoalan diantara kita tak usah disangkutpautkan pada masalah orang
lain, oleh sebab itu aku rasa lebih baik kusambut kesepuluh jurus serangan Toa
sengcu saja, kalau menang juga gagah, kalau kalah juga tenteram.”
Orang berbaju hitam itu segera melirik sekejap ke arah Kwik Soat kun, kemudian
ujarnya.
“Nona, kau sudah dengar sendiri, Buyung Im seng gagah dan bersedia hancur
sebagai kemala dari pada utuh sebagai batu bata, sekalipun aku bakal melukainya
diujung pedangku, tapi hatiku merasa kagum oleh kegagahannya itu.”
“Kau mungkin beranggapan setelah membunuh Buyung Im seng berarti akan
mengurangi suatu penghalang yang amat besar, bila kau berpendapat demikian,
maka pendapatmu itu keliru besar.”
“Agaknya nona mempunyai banyak pendapat ?”
“Aku harap pendapatku ini bisa membuat kau jadi percaya.”
“Bila kau bunuh Buyung Im seng, sudah pasti Nyoo Hong leng akan membencimu
sepanjang masa.”
Orang berbaju hitam itu termenung sebentar, kemudian katanya.
“Seandainya tidak kubunuh ?”
“Siasatku tidak baik didengar oleh telinga ke-enam orang ini, harap Toa sengcu
dekatkan telingamu kemari.” kata kwik soat kun dingin
oooOooo
498
Sesudah melalui suatu ruangan yang cukup lama dan panjang, akhirnya lelaki
berbaju hitam itu maju juga menghampiri Kwik Soat kun.
Kwik Soat kun segera membisikkan sesuatu disisi telinga lelaki berbaju hitam itu,
ternyata sambil manggut-manggut lelaki berbaju hitam itu balik lagi ke tempat
semula.
“Buyung kongcu” katanya kemudian, “kecuali dia sendiri, mungkin dalam dunia
persilatan dewasa ini tak ada orang yang mengetahui kisah yang sebenarnya
tentang kisah dikerubutinya ayahmu !”
Beberapa patah kata itu sama sekali diluar dugaan Buyung Im seng, dia menjadi
tertegun untuk beberapa saat lamanya.
“Maksud Toa sengcu…” katanya kemudian.
“Lebih baik mintalah penjelasan Buyung thayhiap sendiri, dengan demikian
tentunya kau akan mempercayainya seratus persen.”
“Tapi mendiang ayahku…..”
“Dia berada disini !”
“Itu dia mendapat perlindungan yang berlapis-lapis dengan mengandalkan sedikit
kepandaian silatku, rasanya sulit untuk menembusi pertahanan yang berlapis-lapis
itu.”
“Tidak perlu demikian, aku dapat menurunkan perintah kepada beberapa orang
pelindung hukum dari perguruan untuk membukakan jalan bagi dirimu !”
Tampaklah Buyung Im seng seperti tidak percaya dengan apa yang didengarnya
itu, setelah termangu sesaat katanya.
“Mengapa kau bisa berubah menjadi begini rama dan baik hati secara tiba-tiba ?”
“Aaai… sebenarnya aku pun bukan seorang jahat !” sahut orang berbaju hitam itu
sambil menghela napas.
Sorot matanya segera dialihkan ke wajah Phu Thian khing serta si pedang cepat
Thio Kin, kemudian lanjutnya.
“Bagaimana dengan keadaan luka yang kalian derita ?”
“Lukanya tidak terlalu parah” jwab Phu Thian khing dan Thio Kin hampir
bersamaan waktunya.
“Buyung kongcu” ujar orang berbaju hitam itu lagi. “sebenarnya aku dapat
memenggal kutung lengan mereka, tapi aku hanya melukai kulit luar mereka saja.”
“Hal ini membuktikan apa ?”
“Membuktikan kalau aku bukan seorang manusia yang haus darah dan suka
membunuh.”
Buyung Im seng termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian
berkata.
499
“Bukan saja dalam kesempurnaan ilmu silat kau ketinggalan jauh bila
dibandingkan dengan Toa sengcu, dalam hal kecerdasan otak pun masih selisih
jauh sekali.”
“Aku pikir, nona Kwik lebih memahami maksud yang sebenarnya dibalik
kesemuanya itu, bilamana kau merasa leluasa, tak ada salahnya untuk meminta
petunjuk dari nona Kwik.”
Buyung Im seng tampak bertanya lagi, dia segera mengalihkan pokok pembicaraan
ke soal lain.
“Sampai kapan aku dapat berjumpa dengan ayahku ?”
“Kau ingin kapan berjumpa dengannya ?”
“Tentu saja detik ini juga.”
“Hal itu mustahil bisa dilakukan, bagaimana kalau selewatnya tengah hari nanti ?”
“Berada dalam keadaan dan situasi seperti ini, aku hanya menantikan jalan ini
saja.”
Orang berbaju hita itu segera berpaling sambil berseru.
“Phu Thian khing, Thio Kin !”
Phu Thian khing dan Thio Kin segera mengiakan bersama.
“Hamba menunggu perintah !”
“Kalau toh luka yang kalian derita tidak terlalu parah, maka wakililah diriku untuk
melayani nona Kwik serta Buyung kongcu.”
“Hamba turut perintah.”
“Wakili aku melayani tamu dan berbuatlah pahala untuk menebus dosa, nah aku
pergi dulu.”
Selesai berkata, dia lantas membalikkan badan dan berjalan menuju ke luar.
Phu Thian khing serta si pedang cepat Thio Kin kembali membungkukkan badan
sambil menjura.
“Menghantar keberangkatan Sengcu !”
Orang berbaju hitam itu tidak berpaling lagi dengan langkah lebar dia segera
berlalu dari situ, sekejap mata kemudian bayangan tubuhnya sudah lenyap tak
berbekas.
Menyaksikan orang berbaju hitam itu sudah pergi jauh, Phu Thian khing baru
berpaling dan memandang sekejap ke arah Thio Kin, kemudian katanya.
“Saudara Thio, apa yang sebenarnya telah terjadi ?”
Dengan cepat si pedang cepat Thio Kin menggelengkan kepalanya berulang kali.
“Siaute sendiripun dibikin kebingungan setengah mati dan tidak habis mengerti,
belum lagi aku bertanya kepada saudar Phu, saudara Phu malahan bertanya lebih
dulu kepadaku.”
“Kalau begitu, mari kita bertanya kepada nona Kwik.”
500
Sorot mata mereka segera dialihkan ke wajah Kwik Soat kun, kemudian
lanjutannya.
“Nona Kwik, cara apa yang kau pergunakan sehingga bisa merubah watak Toa
sengcu menjadi begitu ramah dan baik hati ?”
“Bukan aku, melainkan kekuatan dari Nyoo Hong leng !”
Sorot matanya segera dialihkan ke wajah Buyung Im seng sekejap, kemudian
melanjutkan.
“Dalam hati kecilnya itu sudah mempunyai suatu janji, hanya aku menganjurkan
kepadanya agar mempercepat gerakannya saja.”
Buyung Im seng membungkan dalam seribu bahasa, sementara hatinya bagaikan
ditusuk dengan pisau belati, amat sakit, sekalipun dia telah berusaha keras
menenangkan hatinya, namun tak bisa menutupi wajahnya yang diliputi oleh
perasaan sedih dan murung yang sangat tebal.
Phu Thian khing segera termenung dan berpikir sejenak, kemudian baru bertanya.
“Sayang sekali aku belum pernah berjumpa dengan nona Nyoo Hong leng.”
“Lebih baik jangan kau jumpai” cepat Kwik Soat kun buru-buru menukas.
“Kenapa ?”
“Bayang saja betapa angkuh dan tinggi hatinya Toa sengcu tapi dia toh tak dapat
melawan kecantikan wajah Nyoo Hong leng.”
Mendadak Thio Kin menyela.
“Aneh, sungguh aneh…… !”
Ucapan yang diutarakan tanpa ujung pangkal kini kontan saja membuat tiga orang
lainnya jadi sangat tertegun.
“Apa yang aneh ?” Kwik Soat kun bertanya.
“Tampaknya Toa sengcu telah berubah menjadi seseorang yang lain.”
Kwik Soat kun segera memandang sekejap ke wajah dari Phu Thian khing serta
pedang kilat Thio Kin, kemudian katanya.
“Apakah kalian sudah pernah menyaksikan raut wajah toa sengcu yang sebenarnya
?”
“Belum, belum pernah” dengan cepat Phi Thian khing menggelengkan kepalanya
berulang kali.
Sedang Thio Kin berkata begini.
“Walaupun aku bekerja di ruang Seng thong, akan tetapi belum pernah kujumpai
raut wajah Toa sengcu yang sebenarnya”
“Lantas darimana kalian tahu kalau itu Toa sengcu gadungan…. ?” seru Kwik Soat
kun dengan cepat.
Kwik Soat kun menjadi tertegun dan tak sanggup menjawab pertanyaan tersebut.
Si pedang cepat Thio Kin segera berkata.
501
“Kami toh tidak mengatakan Toa sengcu gadungan, kami hanya mengatakan dia
telah berubah.”
“Dalam hal apa dia telah berubah ?” tanya Kwik Soat kun sambil tertawa hambar.
“Bayangkan saja, dalam perguruan Sam seng bun kita yang begitu besar, selain
ruang Kim lun, hoat lun dan Hui lum tiga buah ruangan, masih ada lagi para
huhoat ruang seng tong yang bisa disebut jagoan lihai, jumlahnya mencapai
ratusan orang, bila termasuk juga anak buah yang berada diluar lingkaran maka
jumlahnya mencapai puluhan ribu, bahkan kekuatan besar yang melebihi kekuatan
perguruan lain ini sedang berkembang, bila terhadap orang yang beraneka ragam
ini tidak diterapkan suatu peraturan yang kuat, mana mungkin mereka bisa
dikendalikan secara baik dan ketat ?”
“Dalam perguruan kalian tidak bisa bilang tak berperaturan ketat, seperti misalnya
barisan pedang baju hijau, utusan rajawali sakti, masing-masing mempunyai
peraturan yang tersendiri, pelaksana hukuman itupun tidak banyak, namun
kekerasan disiplinnya boleh dibilang sangat mengagumkan sekali.”
“Seingatku Toa sengcu adalah seorang manusia yang tegas dan tidak berperasaan,
lagipula apa yang telah diputuskan biasanya pernah bisa dirundingkan kembali,
kenyataan tersebut jauh sekali berbeda dengan apa yang ditunjukkan Toa sengcu
barusan.”
Kwik Soat kun kembali tertawa.
“Kalau seseorang sudah mencapai usia lanjut, biasanya kalau dia akan menjadi
lebih baik, ramah dan baik hati, hal semacam ini bukan sesuatu yang patut
diherankan.”
Thio Kin termenung dan berpikir sebentar, kemudian sambil menggelengkan
kepalanya berulang kali dia menghela napas panjang.
“Apakah ucapanku keliru ?” tanya Kwik Soat kun dengan wajah tertegun.
Dia berusaha untuk memancing sesuatu hal yang lebih mendalam dari mulut Thio
Kin sebab itu sikapnya seakan-akan tertegun dan seperti merasa keheranan. Thio
Kin berpaling dan memandang sekejap ke arahnya, kemudian ujarnya lagi dengan
suara rendah.
“Sekalipun aku belum pernah berjumpa dengan raut wajah Toa sengcu, namun
sudah seringkali kudengar suaranya, aku merasa logat pembicaraan Toa sengcu
tadi jauh sekali berbeda dengan logat pembicaraan Toa sengcu yang dulu.”
Mendengar hal itu, Kwik Soat kun segera berpikir di dalam hati.
“Kalau ditarik kesimpulan dari pembicaraan tersebut, tampaknya Toa sengcu dari
lembah tiga malaikat telah berubah orang, dibalik dari kejadian ini sudah past
terdapat latar belakang yang amat rumit sekali.”
Sementara itu, Phu Thian khing berkata.
“Aku pun merasa gelagatnya sedikit agak aneh, tapi tak berhasil kujumpai dimana
letak ketidakberesan tersebut, setelah diungkap kembali oleh saudara Thio
sekarang, akupun merasa, mungkinkah….. mungkinkah….. ”
502
Setelah mengucapkan dua kali kata “mungkinkah”, tiba-tiba saja dia membungkam
dalam seribu bahasa.
“Organisasi perguruan kalian kelewat misterius,” kata Kwik soat kun kemudian,
“Toa sengcu kalianpun selalu menggunakan kain cadar warna hitam untuk
merahasiakan raut wajah aslinya, jelas tujuan dari perbuatannya ini agar anak
buahnya tidak mengenal raut wajah aslinya, entah siapa saja, asal bisa
mendapatkan rahasia di dalam ruang Seng tong maka dia bisa saja menjadi
pemimpin dari perguruan tiga malaikat, cuma masih ada satu hal, akupun kurang
begitu jelas…”
Suatu dorongan perasaan ingin tahu yang begitu besar dengan cepat muncul dihati
masing-masing membuat Phu Thian khing serta Thio Kin berdua tanpa terasa
bertanya bersama.
“Dalam hal mana kau tidak jelas ?”
Kwik Soat kun tertawa.
“Aku pernah berkunjung ke ruang Sam seng tong, kalau dilihat dari keadaan
disana tampaknya ada tiga orang pemimpin tertinggi dalam perguruan Sam seng
bun ini, seandainya terjadi suatu perubahan bukankah berarti pada diri malaikat
kedua dan malaikat ketiga pun seharusnya terjadi suatu perubahan pula”
“Ya, masuk diakal” Phu Thian khing manggut-manggut.
Sorot matanya segera dialihkan ke arah Thio Kin, kemudia sambungnya lebih jauh
:
“Saudara THio, aku tinggal diluar ruang seng tong, terhadap kejadian didalam
ruang Seng tong otomatis jarang mengetahui dengan pasti, sebaliknya saudara Thio
sebagai pelindung hukum dalam ruang Seng tong, kaupun seringkali berada
didalam ruangan itu, aku rasa tentunya kau lebih mengerti tentang soal ini
daripada diriku bukan ?”
“Siaute belum pernah mendengar terjadinya suatu peristiwa besar didalam ruangan
Seng tong, seandainya terjadi suatu gerakan, entah bagaimanapun kecilnya
gerakan tersebut, siaute pasti percaya akan mendengar beritanya.”
“Phu tongcu” Kwik Soat kun segera berbisik, “sudah berapa lama kau
menggabungkand iri dengan perguruan tiga malaikat ?”
“Dua puluh lima tahun lebih, waktu itu perguruan tiga malaikat baru saja
didirikan, banyak sekali jago yang dibutuhkan, maka siaute lantas memperoleh
kedudukan sebagai tongcu ruang Kin lun ini.”
“Toa sengcu yang kau jumpai waktu itu seharusnya berusia beberapa tahun… ?”
“Waktu itu kami sering kali berjumpa dengan Toa sengcu, kalau dilihat potongan
badannya seperti jauh berbeda dengan keadaan sekarang. sedangkan mengenai soal
umur, aku belum pernah melihat raut wajah asli dari Toa sengcu, sehingga sukar
menentukan.”
“Usia seseorang haruslah dapat didengar dari nada pembicaraannya, mengapa Phu
tongcu tidak memberikan suatu kesimpulan saja ?”
503
“Peristiwa ini berlangsung pada dua puluh tahun berselang, selama dua puluh
tahun belakangan ini, aku sudah amat jarang bertemu dengan Toa sengcu.” Kwik
Soat kun tidak banyak bicara lagi, dia lantas berpaling dan memandang ke arah
Buyung Im seng.
Tampak Buyung Im seng sedang berdiri disampingnya dengan wajah termangu
seperti ada sesuatuyang dipikirkan sehingga ia sama sekali tak mendengar apa saja
yang dibicarakan beberapa orang itu.
Pelan-pelan Kwik Soat kun segera mendekati kesisi Buyung Im seng. kemudian
tegurnya dengan suara lirih.
“Mari kubalutkan lukamu itu, agar darah jangan mengalir terus menerus.”
Seperti baru sadar dari impian, Buyung Im seng segera berseru tertahan karena
kaget.
“Aah, cuma luka luar saja, tidak terasa sakit” sahutnya cepat.
“Malam ini kau hendak pergi menjumpai ayahmu, maka keadaan tak boleh begini
mengenaskan.”
Kembali Buyung Im seng tertawa getir.
“Moga-moga saja janji yang diucapkan Toa sengcu tak diingkari lagi sampai
waktunya.”
“Soal ini tak usah Buyung si heng kuatirkan.” kata Phu Thian khing cepat,
“menurut apa yang kuketahui, setiap janji yang telah diucapkan oleh Toa sengcu,
belum pernah ada yang diingkari.”
Dari dalam sakunya Kwik Soat kun mengeluarkan secarik saputangan dan dipakai
untuk membersihkan noda darah dari badan Buyung Im seng, gerak geriknya
sangat lemah lembut.
Phu Thian khing segera tertawa terbahak-bahak, tegurnya kemudian.
“Saudara Thio, bagaimana pula dengan keadaan lukamu ?”
“Aah, lukaku tidak terlalu parah.”
“Siaute akan suruh mereka siapkan sayur dan arak, mari kita sambil membalut
luka sambil minum arak, entah bagaimana menurut pendapat kalian ?”
“Bagus sekali ! Arak bisa menyembuhkan luka. aku kira obatpun tak usah
dibutuhkan lagi diatas luka.”
Phu Thian khing segera memerintahkan anak buahnya untuk mempersiapkan
sayur dan arak, kemudian memerintahkan pula untuk mengambil beberapa stel
pakaian yang bersih, selesai berganti pakaian, mereka pun duduk sambil minum
arak.
Ketika hidangan sudah berlangsung sekian lama, tiba-tiba Kwik Soat kun berkata.
“Saudara Buyung nampaknya ada sesuatu yang sedang kaupikirkan, arakpun
rasanya tak dapat menghilangkan kemurunganmu itu, lebih baik beristirahat
dulu.”
504
“Perkataan nona Kwik benar” sahut Buyung Im seng cepat, “siaute sudah cukup
minum arak dan sekarang memang ingin sekali pergi beristirahat untuk beberapa
waktu.”
Phu Thian khing segera bangkit berdiri, katanya.
“Kalau begitu, biarlah aku membawa jalan untuk Buyung si heng….”
Dia mengantar sendiri Buyung Im seng ke dalam sebuah ruangan yang mungil,
bahkan memerintahkan anak buahnya untuk memperketat penjagaan disekitar
tempat itu sehingga setiap saat bisa menghadapi hal-hal yang tidak diinginkan.
Kalau semua perubahan yang terjadi selama ini diluar dugaan siapa pun, bila Phu
Thian khing membayangkan kembali semua peristiwa tersebut, hampir saja ia tak
berani mempercayainya.
Sementara itu Buyung Im seng segera duduk bersemedi di dalam kamar setelah
berada dalam ruangan seorang diri, dia berusaha keras menenangkan hatinya yang
kalut serta mengembalikan kondisi badannya, agar didalam menghadapi
pertarungan sengit berikutnya, dia sudah mempunyai tenaga baru.
Sekalipun ia sudah mendapatkan pemeriksaan yang seksama dari Song Cu sian
atas diri khas didalam tubuhnya, namun di dalam hati kecilnya dia masih menaruh
perasaan curiga terhadap asal usul sendiri, kalau dihari-hari biasa tidak
dipikirkan, keadaan masih mendingan, tapi bila dipikirkan dengan seksama, maka
dia merasa menjumpai banyak sekali titik-titik kelemahan.
Buyung Im seng harus menggunakan kekuatan yang paling besar untuk menekan
gejolak pikiran yang berkecamuk di dalam benaknya, dia harus mengorbankan
waktu yang cukup banyak dan lama sebelum bisa menenangkan batinnya dan
membawa diiri menuju ke keadaan tenang.
Begitu semedinya dimulai, waktupun berlalu tanpa disadari olehnya, ketika
mendusin kembali cahaya lenetera sudah disulut kembali dalam ruangan itu,
bahkan dalam ruangan itu hadir banyak orang.
Phu Thian khing, si pedang cepat Thio Kin, asih ada lagi Lian Giok seng, Im Cui
sui, Kwik Soat kun serta Siaujin sekalian.
Sambil mengucek matanya, Buyung Im seng segera mendongakkan kepalanya
sembari menegur.
“Sudah lamakah kalian menunggu ?”
“Kami pun baru saja datang !” sahut Lian Giok seng cepat.
Buyung Im seng segera bangkit berdiri, katanya lagi.
“Sekarang sudah jam berapa ?”
“Sudah mendekati malam”
“Apakah kita akan pergi menjumpai ayahku ?”
“Sudah terjadi suatu perubahan yang sangat besar” kata Lian Giok seng cepat
dengan wajah amat serius.
505
“Terjadi perubahan ? Apakah Toa sengcu akan mengingkari janji ?” seru Buyung Im
seng agak tertegun.
Lian Giok seng menggelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya.
“Toa sengcu mah tidak mengingkari janji, bahkan telah menurunkan perintah agar
aku menemanimu untuk pergi menjumpai ayahmu”
“Bukankah hal ini sangat baik ?” tanya Buyung Im seng.
Lian Giok seng menghembuskan napas panjang, dia seperti ingin mengucapkan
sesuatu namun niatnya itu kemudian diurungkan.
Buyung Im seng menjadi sangat keheranan menyaksikan sikapnya yang ingin
berbicara tapi kemudian mengurungkan niatnya itu, segera ujarnya dengan cepat.
“Lian locianpwe, apa yang terjadi ? Silahkan kau ucapkan secepatnya, boanpwe
sudah banyak menjumpai peristiwa-peristiwa besar dan cukup mengetahui akan
berbagai macam kesulitan, aku percaya masih dapat menahan pukulan batin
macam apapun juga.”
Lian Giok seng mendehem pelan, lalu katanya.
“Hal ini menyangkut soal nona Nyoo…”
“Maksudmu Nyoo Hong leng ?”
“Benar. Nona Nyoo Hong leng.”
“Kenapa dia ?”
Lian Giok seng ragu-ragu sejenak, kemudian sahutnya.
“Buyugn si heng, menurut pendapatmu kebahagiaan seseorang yang penting
ataukah keselamatan dunia persilatan lebih penting ?”
“Boanpwe tidak habis mengerti terhadap maksud perkataan locianpwe itu…”
“Maksud lohu, disatu pihak adalah Nyoo Hong leng yang cantik jelita bak bidadari
dari kayangan, sedang dipihak lain ada mati hidupnya beribu-ribu orang umat
persilatan, bagimu kau akan memilih pihak yang mana … ?”
“Siautit masih belum habis mengerti, apakah hubungan antara kecantikan nona
Nyoo dengan keselamatan umat persilatan ?”
Lian Giok seng segera menghela napas panjang.
“Toa sengcu telah jatuh cinta kepada nona Nyoo tapi nona Nyoo mengajuka sebuah
syarat yakni ingin berjumpa dengan dirimu. dapatkah kau menasehati kepada nona
Nyoo agar mau menuruti semua keinginan Toa sengcu ? ketahuilah, persoalan ini
menyangkut tentang keselamatan dari umat persilatan…”
Buyung Im seng menghela napas panjang.
“Apakah perkataan dari Toa sengcu dapat dipercayai ?” tanyanya.
“Menurut apa yang kuketahui, Toa sengcu adalah seorang yang tidak gampang
memberikan janjinya, tapi bila dia telah menjanjikan sesuatu selamanya tak
pernah diingkari kembali.”
506
“Apakah locianpwe yakin kalau aku mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi
jalan pemikiran nona Nyoo ?”
“Jangankan Toa sengcu mempunyai pendapat dmeikian, sekalipun lohu sendiripun
mempunyai perasaan bahwa kau memang memiliki kekuatan yang besar sekali
untuk mempengaruhi jalan pemikirannya.”
“Tapi aku tidak mempunyai perasaan demikian….”
“Buyung huantit” kat Im Cu siu pula, “lohu rasa di dunia ini tiada sesuatu yang
sempurna, kalau toh Toa sengcu telah mengemukakan maksud hatinya, lohu rasa
tiada pilihan lain kecuali kita ikuti keinginannya itu, berbicara bagimu, mungkin
hal ini merupakan yang berat sekali, meski perempuan cantik banyak di dunia ini,
namun sukar menemukan Nyoo Hong leng kedua, tetapi berbicara bagi umat
persilatan, hal ini justru merupakan warta gembira, sejak sekarang dunia
persilatan akan melewati suatu suasana yang penuh ketenangan dan kemudian,
kalian ayah dan anakpun bisa berjumpa kembali, hal ini merupakan suatu
melampiaskan rasa baktimu kepada orang tua, mengenai berbakti memang beribu
bahkan berpuluh ribu orang akan menerima manfaatmu, bayangkan saja betapa
besarnya arti pengorbananmu itu.”
Buyung Im seng segera mendongakkan kepalanya dan menghembuskan napas
panjang, katanya.
“Sebenarnya siautit sama sekali tidak mempunyai keyakinan untuk bisa
mempengaruhi jalan pemikiran Nyoo Hong leng, tapi demi bisa berjumpa dengan
ayahku, siautit bersedia untuk mencobanya dengan sepenuh tenaga….”
“Saudara Buyung, jangan kau luluskan dulu permintaan itu” tiba-tiba Kwik Soat
kun berseru.
Lian Giok seng segera menjura sambil bertanya.
“Nona kwik, kau ada petunjuk apa ?'
“Bila nona Nyoo sudah menuruti kemauan Toa sengcu, apakah perguruan tiga
malaikat masih ada di dalam dunia persilatan ?”
“Perguruan tiga malaikat akan segera dibubarkan dan istana seng kiong akan
dibakar hancur…..”
“Itu berarti kalian pun akan mendapatkan kebebasan kembali” sambung Kwik Soat
kun cepat.
Paras muka Lian Giok seng dan Im Cu siu segera berubah menjadi merah padam,
mereka hanya mengangguk tanpa menjawab.
“Aku masih ada suatu persoalan yang perlu dikuatirkan”
“Silahkan nona katakan !”
“Benarkan Toa sengcu mempunyai kemampuan untuk membuyarkan perguruan
tiga malaikat ?”
“Kekuataan paling besar terletak ditangannya. dia merupakan pemimpin nomor
satu dalam perguruan tiga malaikat, mengapa hal ini bisa dilakukan olehnya ?”
kata Im Cu siu.
507
“Menurut pendapatku, aku rasa kejadian ini tidak akan sedemikian sederhananya.”
Lian Giok seng menjadi tertegun.
“Tolong tanya nona atas dasar apa kau berkata demikian… ?” tanyanya.
“Aku tak dapat mengemukakan bukti. aku hanya merasa kalau persoalan tidak
akan sesederhana ini. aku percaya kalianpun merupakan jago-jago persilatan yang
sudah berpengalaman luas dalam dunia persilatan. coba pikirkan dengan seksama,
dengan susah payah dan mengorbankan banyak tenaga dan pikiran Toa sengcu
membangun perguruan tiga malaikat. kini kekuasaannya sudah hampir meliputi
separuh dari dunia persilatan, kekuatan apa yang bisa mendorongnya untuk
melepaskan kekuasaan yang begini besarnya itu ?”
Lian Giok seng maupun Im Cu siu segera merasa kalau ucapannya ini sangat
masuk diakal, mereka jadi saling berpandangan dengan wajah tertegun, untuk
beberapa saat lamanya mereka tak tahu bagaimana mesti menjawab.
Kwik Soat kun segera berkata lebih lanjut.
“Masih ada satu hal lagi, aku merasa sikap serta tindak tanduk Toa sengcu kelewat
halus dan ramah, hal ini sama sekali berbeda dengan kekejaman, kebuasan serta
keganasannya dimasa perguruan Sam Seng bun mulai mencari kekuasaan dalam
dunia persilatan.”
Mendengar perkataan tersebut, Lian Giok seng, Im Cu siu, Phu Thian khing
maupun Thio Kin sekalian merasakan matanya terbelalak lebar dengan mulut
melongo, mereka tahu bagaimana harus menanggapi perkataan tersebut……….
Tapi dalam hati kecil masing-masing dapat merasa bahwa apa yang diucapkan oleh
Kwik Soat kun barusan memang sangat benar dan masuk diakal.
Kwik Soat kun memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kemudian
melanjutkan.
“Maksudku, kemungkinan besar Toa sengcu yang sekarang bukanlah Toa sengcu
yang mendirikan perguruan tiga malaikat dimasa lampau.”
“Sejak aku memasuki perguruan Sam Seng bun, selama ini tugasku adalah
pemimpin para pelindung hukum dalam ruang Seng tong, boleh dibilang aku
merupakan orang yang paling dekat denga Toa sengcu selama ini.”
“Apakah kau berhasil menemukan sesuatu perbedaan pada diri Toa sengcu yang
sekarang ini ?”
“Aku tak pernah menemukan sesuatu perbedaan antara Toa sengcu yang sekarang
dengan yang dulu.”
“Kau mengakui sebagai pemimpin para pelindung hukum dalam ruangan Seng
tong, apakah selama ini kau berkesempatan untuk berjumpa pula dengan malaikat
kedua dan malaikat ketiga ?”
“Ya, aku pernah menjumpainya.”
“Manusia seperti apakan Ji sengcu itu ?”
“Walaupun ji sengcu dan sam sengcu tak pernah menggunakan kain cadar untuk
menutupi seraut wajahnya, namun mereka seperti bermaksud untuk
508
menghindarkan diri dari pengamatan orang lain, seolah-olah tak pernah memberi
kesempatan kepada orang lain untuk melihat jelas-jelas paras muka aslinya….”
“Itu berarti walaupun kau sudah pernah berjumpa dengan Ji sengcu dan Sam
sengcu, namun sama sekali tidak tahu bagaimanakah raut wajah mereka yang
sebenarnya ?”
“Tampaknya Ji sengcu adalah seorang kakek, aku sudah pernah bertemu beberapa
kali dengannya, dia selalu mengenakan pakaian warna hijau dan jenggotnya
sepanjang dada.”
“Jika ji sengcu tidak mengenakan jenggot tiruan, tentunya usia orang itu dengan
usia Toa sengcu selisih banyak sekali bukan ?”
Lian Giok seng segera manggut-manggut.
“Ya, seharusnya memang demikian. Kecuali ilmu silat yang dimiliki Toa sencu
sudah mencapai ke tingkatan bisa memudakan kembali wajah yang tua………”
ooOooo
Orang lain belum pernah bertemu dengan wajah Toa sengcu. Oleh karena itu tidak
ada yang memahami maksud perkataan dari Kwik Soat kun tersebut.
“Bagaimana pula dengan Sam sengcu ? Dia adalah seorang manusia macam apa
……………. ?” kembali Kwik Soat kun bertanya.
“Dia adalah seorang sastrawan setengah baya, cuma ada suatu kali tampaknya dia
mengenakan jubah tosu”
“Itu berarti dia adalah seorang tojin” Lian Giok seng tertawa.
“Aku sudah dua kali berjumpa dengan Sam sengcu tapi setiap kali dia muncul
dengan pakaian yang berbeda.”
oooOooo
Bagian Ketiga Puluh Enam
“Kakek berjengkot putih dan sastrawan berusia setengah baya, dua macam
manusia seperti ini tidak banyak dijumpai dalam dunia persilatan.” kata Kwik Soat
kun lagi.
“Seandainya aku bisa berjumpa dengan ayahku, mungkin kita dapat memperoleh
latar belakang dari peristiwa ini.” sela Buyung Im seng secara mendadak.
“Persoalannya sekarang, bila Buyung si heng tidak bisa membujuk Nyoo Hong leng
agar menuruti kemauan Toa sengcu, mungkin malam ini sukar buat kita untuk
berjumpa dengan Buyung tayhiap.”
Buyung Im seng segera tertawa getir.
“Kalau begitu, janji dari Toa sengcu pun belum tentu dapat dipercaya
kebenarannya.”
“Buyung si heng, menurut pendapatku, tidak ada salahnya kalau kau pergi
membujuk nona Nyoo.”
509
Buyung Im seng termenung beberapa saat lamanya, kemudian dia pun
mengangguk.
“Baiklah ! Cuma terlebih dulu aku harus mencari tahu dulu persoalan yang bisa
menghilangkan kecurigaanku.”
“Silahkan kau tanyakan.”
“Aku hanya bersedia untuk membujuk, apakah berhasil untuk membujuknya atau
tidak, aku tak berani menjamin.”
“Ya, asal kau sudah berusaha dengan segala kemampuan, rasanya hal itupun lebih
dari cukup.”
“Kapan kita akan berangkat ?”
“Lebih cepat lebih baik.”
“Apakah hanya Buyung kongcu seorang yang boleh kesana ?” tanya Kwik Soat kun.
“Toa sengcu hanya berperan demikian, maka aku hanya akan mengajak Buyung
kongcu seorang.”
“Kalau begitu harap locianpwe segera membawa jalan begiku.” seru Buyung Im
seng sambil mengulapkan tangannya.
“Harap saudara sekalian menunggu disini, aku akan mengajak Buyung kongcu
kesana sebentar.”
“Apakah saudara Lian akan balik kembali kemari ?” tanya Phu Thian khing cepat.
“Tentu saja. Buyung kongcu pun takkan terlalu lama tinggal disana, paling cepat
setengah jam, paling lama satu jam, aku pasti akan mengajaknya kembali ke sini.”
“Bila saudara Lian tak kembali kemari dalam satu jam, apakah itu berarti telah
terjadi suatu peristiwa ?”
“Aku rasa satu jam sudah lebih dari cukup bila aku belum juga kembali, harap
saudara sekalian bersiap-siap untuk menghadapi segala kemungkinan yang tak
diinginkan.”
“Baik, kita tetapkan demikian saja.” seru Im Cu siu kemudian, “kalian boleh segera
berangkat !”
Lian Giok seng segera mengajak Buyung Im seg menyeberangi jembatan merah Ku
ci cu kau dan menuju pesanggrahna Teng ciau siau cu.
Ditengah ruang tamu yang indah, tampak dua batang lilin merah sedang
memancarkan sinarnya dengan terang benderang.
Nyoo Hong leng dengan mengenakan pakaian berwarna putih sedang duduk
termangu di dalam ruang itu.
Buyung Im seng berjalan langsung menuju ke ruangan itu, meski sepanjang jalan
tidak nampak ada manusia yang menghalangi perjalanannya, namun dalam hati
kecilnya dia tahu, dibalik kegelapan sudah pasti terdapat banyak jago lihai yang
sedang mengawasi gerak-geriknya.
Dengan suara lirih Lian Giok seng berbisik.
510
“Pergilah berbincang-bincang nona Nyoo ! Aku akan menjaga segala kemungkinan
yang tak diinginkan diluar sana !”
Buyung Im seng tertegun, baru saja dia hendak bertanya, Lian Giok seng telah
membalikkan badan dan berlalu dari situ.
Kalau diingat kembali ucapan dari Lian Giok seng tersebut, tampaknya
mengandung suatu maksud yang amat dalam tapi ia tak sampai untuk menanyai
sampai jelas lagi, terpaksa dengan langkah lamban dia berjalan menuju ke ruang
tengah.
Entah apa yang sedang dipikirkan oleh Nyoo Hong leng waktu itu, dia tampak amat
terpesona sehingga sama sekali tidak tahu kalau Buyung Im seng sedang masuk ke
dalam ruangan.
Buyung Im seng mendongakkan kepala dan tiba-tiba memandang sekejap ke arah
Nyoo Hong leng, kemudian setelah mendehem pelan tegurnya.
“Nona Nyoo !”
Pelan-pelan Nyoo Hong leng memalingkan wajahnya, dengan sorot mata yang
diliputi kemurungan dan rasa sedih, dia awasi wajah Buyung Im seng tanpa
berkedip.
Ketika empat mata saling bertemu, untuk sesaat lamanya siapapun tak tahu
bagaimana mesti membuka suara.
Sampai lama, lama kemudian, Nyoo Hong leng baru mengerdipkan sepasang
matanya yang besar dan bulat itu, dua titik air mata segera jatuh berlinang
membasahi pipinya.
“Dia benar-benar menyuruhmu datang kemari ?”
“Siapa yang kau maksudkan ?”
“Toa sengcu dari perguruan tiga malaikat !”
“Dia suruh aku datang membujukmu.”
“Soal ini aku tahu, bahkan akupun tahu kalau ayahmu masih hidup di dunia ini,
bahkan sebentar lagi kau dapat berjumpa muka dengannya.”
Buyung Im seng menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya.
“Hal ini sukar untuk dikatakan, sampai sekarang aku belum dapat mengambil
keputusan apakah aku akan berjumpa dengan Buyung tayhiap atau tidak.”
“Hei, kaupun memanggul sebagai Buyung tayhipa ?” seru Nyoo Hong leng tertahan.
“Hingga sekarang aku belum dapat membuktikan benarkah aku adalah putra dari
Buyung tayhipa atau bukan, hal ini harus berjumpa dulu dengan Buyung tayhiap
baru bisa diketahui keadaan yang sebenarnya.”
Nyoo Hong leng menghela napas panjang.
“Aaai, selama beberapa hari ini banyak persoalan yang lebih kupikirkan, aku
merasa amat menderita tapi aku merasa keheranan, banyak perasaan aneh yang
511
baru serasa menyerang diriku, perasaan aneh semacam ini belum pernah kujumpai
sebelumnya.”
“Aaai, sebenarnya aku hendak membujukmu tapi sekarang agaknya aku harus
mendengarkan perkataanmu.”
“Aku minta kepadanya agar mengundangmu kemari, tujuannya tak lain adalah
ingin memberitahukan kepadamu persoalan yang dimasa lalu kuanggap suatu
persoalan yang sangat sederhana, sekarang ternyata sudah berubah menjadi suatu
persoalan yang paling sukar untuk diselesaikan.”
“Persoalan apakah itu ?” tanya Buyung Im seng keherana, “kalau toh dimasa
lampau kau anggap suatu persoalan sederhana, mengapa sekarang bisa berubah
menjadi persoalan yang amat menyulitkan dirimu.”
“Aku punya kebiasaan yang menjaga kebersihan, aku paling tidak suka berkumpul
dengan orang lain kecuali kadangkala rindu kepada ibuku, belum pernah aku rindu
kepada orang lain, tapi sekarang keadaannya jauh berbeda.”
Sorot matanya segera dialihkan ke wajah Buyung Im seng, sinar mata yang jeli itu
segera memancarkan perasaan cinta yang amat tebal dan mendalam, pelan-pelan
katanya lebih jauh.
“Selama beberapa hari ini, entah apa sebabnya aku sering kali merasa rindu
kepadamu.”
Buyung Im seng menghela napas panjang, sambungnya cepat.
“Akupun selalu menguatirkan keselamatanmu.”
“Aku sama sekali tidak menyangka kalau rindupun bisa menyiksa batin,
perasaanku betul tersiksa hebat sekali.”
Mendadak dari kejauhan sana terdengar suara dari Lian Giok seng berkumandang
datang.
“Menyambut kedatangan sengcu !”
Buru-buru Nyoo hong leng menyeka air matanya setelah mendengar perkataan itu
bisiknya.
“Dia telah datang.”
Tanpa terasa Buyung Im seng mundur dua langkah ke belakang dan berdiri
disamping.
Terdengar suara langkah kaki manusia berkumandang memecahkan keheningan,
Toa sengcu
yang berbaju hitam dan mengenakan kain cadar berwarna hitam pelan-pelan telah
berjalan masuk ke dalam.
Nyoo Hong leng segera membereskan rambutnya yang kusut, kemudian menegur.
“Mau apa kau datang kemari ? Pembicaraan kami toh belum selesai ?”
“Cuaca pun bisa berubah-ubah setiap saat, aku tidak menyangka akan menjumpai
begitu kejadian yang sama sekali diluar dugaanku” kata orang berbaju hitam itu
dengan dingin.
512
“Perosalan apa ?”
“Tentu saja ada sangkut pautnya dengan nona.”
“Apakah ayah ibuku telah datang kemari ?”
Dengan cepat orang berbaju hitam itu menggelengkan kepalanya berulang kali.
“Mungkin saja ilmu silat yang dimiliki ayah ibumu mempunyai kelebihan yang luar
biasa, namun aku yakin masih sanggup menghadapi kelihaian mereka.”
“Kau kelewat sombong !”
“Aku tak dapat membuang waktu terlalu banyak lagi, maka aku minta nona bisa
secepatnya mengambil keputusan dalam persoalan ini.”
“Kau suruh aku memutuskan persoalan apa ?”
Orang berbaju hitam itu melepaskan kain cadar yang menutupi wajahnya, tampak
diatas wajahnya yang tampan terlintas perasaan gelisah yang amat tebal, butiran
keringatpun telah membasahi jidatnya.
Buyung Im seng yang menyaksikan wajah asli dari orang itu, diam-diam segera
memuji.
“Ehmm, selain masih sangat muda, ternyata diapun tampan sekali.”
Sambil menyeka keringat yang membasahi jidatnya, orang berbaju hitam itu
berkata lagi.
“Entah bagaimana ceritanya, janji yang kukuatirkan kepada nona ternyata sudah
bocor ditempat luaran, sekarang di dalam perguruan Sam seng bun telah terjadi
suatu perubahan besar yang sama sekali belum pernah terjadi sebelumnya,
situasinya sekarang sudah mendekati suatu ancaman yang sangat gawa.”
“Apakah mereka telah menghianati dirimu ?” sela Nyoo Hong leng cepat.
“Boleh dibilang akulah yang telah menghianati perguruan tiga malaikat…”
“Toa sengcu, kekuasaan terbesar dari perguruan ini toh berada ditanganmu,
siapakah yang berani menantang dirimu ?” sela Buyung Im seng dari samping.
“Sekalipun kekuasaan yang kumiliki amat besar tapi dalam perguruan Sam seng
bun pun terdapat banyak sekali batasan-batasan atas kekuasaan yang dimiliki
seseorang, padahal kekuasaanku belum mencapai puncak diatas segala-galanya.”
“Bagaimanakah sikap Ji sengcu dan Sam sengcu ?” tanya Nyoo Hong leng
kemudian.
Tiba-tiba saja paras muka orang berbaju hitam itu berubah menjadi amat serius,
sahutnya.
“Justru mereka berdualah yang telah membawa anak buahnya mendesak diriku…”
“Mengapa tidak kau lanjutkan perkataanmu itu ? Mereka mendesak apa kepadamu
?” tanya Nyoo Hong leng.
“Mereka mendesak padaku untuk membunuh kalian berempat, agar dapat
memperoleh kembali kepercayaan dari segenap anggota perguruan.”
513
“Kalau memang demikian, silahkan mempertimbangkan sendiri keputusanmu itu,
kenapa malah aku yang kau paksa mengambil keputusan ?”
Mencorong sinar berkilat dari balik mata Toa sengcu, ujarnya setelah hening
sebentar.
“Bila nona bersedia meluluskan permintaanku itu, maka akupun akan
melaksanakan terhadap tekanan mereka.”
“Ilmu silatmu sangat tinggi, bila bertarung dengan mereka, kemenangan sudah
pasti ditanganmu, apa pula yang mesti kau kuatirkan lagi ?” kembali Nyoo Hong
leng menyela.
Dengan cepat Toa sengcu menggelengkan kepalanya berulangkali.
“Kesempatan untuk mencapai kemenangan masing-masing pihak memegang
separuh bagian, sebenarnya dibalik persoalan ini masih mencakup masalah
keadaan yang sangat rumit, mustahil bagiku untuk memberi penjelasan kepada
disuatu saat.”
Nyoo Hong leng memandang sekejap ke arah Buyung Im seng, kemudian tanyanya.
“Seandainya aku tidak meluluskan ?”
Toa sengcu termenung dan berpikir sebentar, kemudian jawabnya.
“Cara yang paling mudah adalah kuperintahkan kepada Ji sengcu dan Sam sengcu
untuk membawa jago-jago lihainya mengerubuti kalian, entah ditangkap entah
dibunuh, bukan saja hal ini dapat menyelamatkan suatu pertumpahan darah dalam
tubuh perguruan Sam seng bun sendiri bahkan dapat memupuk kekuasaan yang
lebih kuat lagi bagiku dalam perguruan ini.”
“Tapi yang jelas kamipun tak akan menyerah begitu saja tanpa melawan.” kata
Nyoo Hong leng sambil mengerdipkan matanya.
“Aku tahu, bahkan diantara pelindung hukum ruang Seng tong kami akan muncul
banyak orang untuk membantu kalian, terutama Buyung Im seng, tapi kekuatan
semacam itu masih belum cukup menguatirkan, mereka tak akan nanti bisa
menangkan kelihaian dari Ji sengcu maupun Sam sengcu.”
Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan.
“Cuma, aku tak akan berbuat demikian.”
“Apa yang hendak kau lakukan sekarang ?”
Sekali lagi paras muka orang berbaju hitam itu berubah menjadi amat serius,
katanya.
“Aku telah mempersiapkan dua orang kepercayaanku untuk menghantar kau turun
gunung dan salah seorang diantara empat dayangku akan mewakilimu untuk
mampus disini.”
“Mengapa ?” tanya Nyoo Hong leng dengan sedih.
Orang berbaju itam itu menghela napas panjang.
“Selamanya aku tidak mempunyai beban pikiran, persoalan dan manusia macam
apapun yang ada di dunia ini tak pernah kupikirkan didalam hati, tapi sejak
514
bertemu dengan kau, tiba-tiba saja antara dalam hatiku seperti mula, muncul suatu
beban tanggung jawab yang berat dan hal ini membuat aku lebih merasakan makna
dari kehidupan manusia di dunia ini, ada kalanya walaupun jelas aku tahu kalau
itu merupakan suatu perangkap, tapi mau tak mau toh melompat turun juga.”
Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan.
“Nah, waktu yang tersedia tidak banyak lagi. bagaimanakah keputusan nona harap
segera ditetapkan dengan segera.”
“Jangan mendesak aku, aku harus memikirkan persoalan ini dengan sebaikbaiknya
!” jerit Nyoo Hong leng dengan suara lengking.
Orang berbaju hitam itu menghela napas panjang.
“Mereka telah menghimpun anak buahnya dan siap melakukan penggrebekan, tak
sempat lagi aku memberi waktu kepadamu, entah bagaimanapun keputusanmu
pokonya sekarang aku harus segera mengambil keputusan.”
Buyung Im seng cepat-cepat menjura dan berkata.
“Toa sengcu telah meluluskan permintaanku untuk mengajak aku menjenguk
ayahku, tampaknya kau akan mengingkari janji.”
Orang berbaju hitam itu segera menggelengkan kepalanya berulang kali.
“Perubahan ini sama sekali tak kuduga, dalam keadaan seperti ini mau tak mau
terpaksa aku harus mengingkari janji.”
Rasa sedih segera menyelimuti wajah Buyung Im seng, katanya dengan amat pedih.
“Semoga saha apa yang kau katakan itu merupakan suatu kenyataan.”
Tiba-tiba dua baris air mata jatuh berlinang membasahi wajah Nyoo Hong leng
yang halus, katanya.
“Apakah kau bertekad hendak menjumpai ayahmu ?”
“Andaikata dia masih hidup di dunia ini, berjumpa dengan ayahku merupakan
keinginan yang paling besar dalam hidupku.”
“Seandainya kau tak berhasil menjumpai Buyung Tiang kim ?” tanya Nyoo Hong
leng lagi dengan wajah sedih.
“Maka aku takkan bisa tidur nyenyak, makan terasa sekam dan matipun takkan
memejamkan mata.”
“Begitu pentingkah ?”
“Bila kau sampai menyia-nyiakan kesempatan kali ini , maka kemungkinan besar
aku tak akan mempunyai kesempataan lagi dalam hidupku kini untuk bersua lagi
dengan ayahku.”
“Entah aku dapat membantumu atau tidak ?”
Sorot matanya segera dialihkan ke wajah orang berbaju hitam itu, kemudian
ujarnya.
“Toa sengcu, seandainya aku bersedia meluluskan permintaanmu itu, apakah
kaupun dapat meluluskan sebuah permintaanku ?”
515
“Katakanlah !”
“Ajaklah Buyung Im seng untuk berjumpa dengan ayahnya.”
Buyung Im seng yang mendengar perkataan itu segera merasakan hatinya bergetas
keras, segera pikirnya.
“Ternyata dia hendak membantuku dengan cara begini…”
Sementara itu orang berbaju hitam tersebut telah menjawab setelah termenung
sebentar.
“Untuk bersua muka tentu saja boleh, tapi kita bakal menemui bahaya lebih
banyak lagi.”
“Bahaya apa ?”
“Bila mereka tahu kalau Toa sengcu yang memimpin perguruan tiga malaikat
ternyata hendak menghancurkan hasil karya yang berhasil ditegakkan selama ini,
sudah pasti aku tak akan mampu untuk menguasai semua jago lihai yang berada di
dalam perguruan ini lagi.”
“Aku tahu kalau kau mempunyai banyak alasan yang sangat menarik hati tapi aku
tak mau mendengarnya, aku hanya ingin bertanya kepadamu bersedia atau tidak
dan mampukah kau untuk melaksanakannya ?”
“Aku bisa saja meluluskan permintaanmu itu, tapi apakah bisa terlaksana, aku
sendiripun tidak mempunyai keyakinan yang terlalu besar.”
Nyoo Hong leng menghela napas panjang.
“Akupun bersedia meluluskan permintaanmu bila urusan disini telah selesai dan
kita berdua masih hidup, aku akan menjadi isterimu.”
Orang berbaju hitam itu tertegun sesaat, rasa kejut dan gembira segera
berkecamuk dalam benaknya.
“Sungguhkah itu ?” serunya tak tahan.
“Tentu saja sungguh, mengapa aku harus membohongimu ?”
Tiba-tiba senyuman yang menghiasai ujung bibir orang berbaju hitam itu lenyap
tak berbekas, pelan-pelan dia berkata lagi.
“Aku rasa nona pasti akan mengajukan suatu persoalan yang amat sukar padaku.”
“Jika kau tak mampu membubarkan perguruan Tiga malaikat, hal ini merupakan
kesalahanmu sendiri yang telah mengingkari janji, masakah hendak menyalahkan
aku ?”
Orang berbaju hitam itu menghela napas panjang.
“Ya, tentu saja tak dapat menyalahkan dirimu, katakanlah sekarang ! Apa yang
harus kulakukan ?”
“Pertama, aku minta kepadamu untuk secara resmi membuyarkan perguruan tiga
malaikat entah harus bertarung denang Ji sengcu atau Sam sengcu sekalipun aku
juga akan membantumu dengan sepenuh tenaga.”
“Katakanlah lebih lanjut ! Apakah permintaanmu yang kedua ?”
516
“Ajaklah Buyung kongcu untuk menjumpai Buyung Tiang kim !”
“Selain itu ?”
“Cukup, asal kau sanggup melaksanakan dua hal tersebut, kau sudah cukup untuk
kusebut sebagai seorang pahlawan !”
Orang berbaju hitam itu termenung dan berpikir sebentar, kemudian sahutnya.
“Sebelum segala sesuatunya terjadi, aku merasa perlu untuk menerangkan dulu
keadaan yang sebenarnya, meskipun aku adalah Toa sengcu dari perguruan tiga
malaikat, namun sama sekali tidak mengendalikan perguruan tiga malaikat ini.”
“Sejak kami melangkah masuk kedalam ruang Seng tong, apa yang kulihat dan apa
yang
kudengar, seakan-akan menunjukkan kalau kekuasaan terbesar dari seluruh
perguruan Sam seng bun ini berada ditanganmu seorang.”
“Perguruan Sam seng bun merupakan suatu organisasi rahasia yang luar biasa,
entah siapa saja, bila dia sanggup mengenggam kunci dari organisasi tersebut,
maka dia dapat menguasai kekuatan yang paling besar dari perguruan Sam seng
bun ini.”
Setelah berhenti sebentar dia melanjutkan.
“Seringkali aku mengenakan kain cadar, tujuannya tak lain adalah untuk
mempertahankan suasana kemisteriusan tersebut.”
“Apakah sekarang kau telah kehilangan kunci dari kekuatan untuk menguasai
perguruan ini ?”
Orang berbaju hitam itu tertawa getir.
“Ya, karena aku telah menyampaikan janjiku kepadamu untuk membubarkan
perguruan sam seng bun, ternyata kabar ini telah didengar pula oleh Ji sengcu dan
Sam sengcu, demi melindungi keselamatan sendiri, sudah barang tentu mereka
harus bersatu padu untuk menghadapi diriku.”
Belum sempat Nyoo Hong leng bertanya lagi, mendadang terdengar suara dari Lian
Giok seng berkumandang datang.
“Toa sengcu sedang berada dalam pesanggrahan Teng cian sian cu, berani betul kau
membikin onar disini !”
Buru-buru orang berbaju hitam itu mengenakan kain cadar hitamnya dan berkata.
“Kejadian dibalik perguruan Sam seng bun sesungguhnya sangat kalut dan
mustahil bisa dijelaskan sepatah dua patah kata, tapi aku tak sempat untuk
banyak bicara dengan dirimu lagi, semoga kau dapat mempercayai diriku.”
Mendadak dia membalikkan badan dan keluar dari ruangan tersebut dengan
langkah lebar.
Tiba-tiba terdengar suara bentakan yang dinign menyeramkan berkumandang
datang.
“Lian Giok seng minggir kau !”
517
Menyusul bentakan tersebut tampak dua bayangan manusia, muncul bersama.
Belum sempat orang berbaju hitam itu keluar dari pintu ruangan, si pendatang
sudah masuk ke balik pintu gerbang.
Ketika diperhatikan, ternyata orang yang berada disebelah kiri adalah seorang
kakek berbaju hijau, berjenggot putih sepanjang dada yang membopong sebuah
kotak kayu merah.
Sedangkan orang yang berada disebelah kan adalah seorang lelaki berjubah pendek
dengan rambut disanggul keatas, sepasang pedang tersoreng dipunggungnya.
Menyaksikan adegan tersebut, Buyung Im seng segera berpikir.
( Bersambung ke jilid 26 )
518
Lembah Tiga Malaikat
Oleh: Tjan
Jilid 26
Mungkin kedua orang inilah yang dilukiskan Lian Giok seng sebagai Ji sengcu dan
Sam sengcu.
Mendadak orang yang berbaju hitam itu segera menghentikan langkahnya dan
menegur dengan suara dingin.
"Kalian hendak berjumpa denganku ???"
Kakek berjubah hijau dan lelaki berdandan tocu ini segera menghentikan
langkahnya dan bersama-sama membungkukkan badan memberi hormat.
"Menjumpai Toa sengcu!" katanya hampir bersama.
"Tak usah banyak adat" tukas orang berbaju hitam itu sambil mengulapkan
tangannya, "ada urusan apa kalian datang kemari ? Sekarang boleh kalian
utarakan."
Tampaknya kakek berbaju hijau itu menaruh perasaan was-was dan keder
terhadap orang berbaju hitam itu, pelan-pelan dia mundur dua langkah ke belakang
sambil katanya.
"Belakangan ini, didalam ruang Seng tong tersiar banyak berita, tentunya Toa
sengcu juga sudah mendengarnya bukan ?"
"Berita apa ? Aku tak pernah mendengar apa-apa." tukas Toa sengcu sambil
tertawa dingin.
"Konon Toa sengcu telah berjanji kepada seorang nona she Nyoo akan
membubarkan perguruan Sam seng bun, entah berita ini benar ataukah tidak ?"
Lelaki setengah umur yang berada di belakangnya, ikut berkata pula dengan cepat.
519
"Kami tak ingin mencampuri urusan pribadi Toa sengcu, akan tetapi bilamana hal
tersebut menyebut soal perguruan Sam seng bun sekalipun tidak akan kau
rundingkan dengan kami, agar kamipun melakukan suatu persiapan yang matang."
Sembari berkata, sepasang matanya segera dialihkan ke wajah Nyoo Hong leng dan
menatapnya lekat-lekat.
Orang berbaju hitam itu segera menghembuskan napas panjang.
"Darimana kalian dengar kalau aku hendak membubarkan perguruan tiga malaikat
?" tegurnya.
"Berita ini sudah tersebar luas di seluruh ruang seng tong, puluhan orang
pelindung hukum dan empat orang utusan khusus semuanya berkumpul di ruang
seng tong dan memukul tambur mohon bertemu, bahkan delapan panglima utama
dari ruang Seng tong pun sudah mendengar kabar ini, apakah Toa sengcu benarbenar
tidak mendengar apa-apa ?"
Buyung Im seng merasa keheranan sekali seketika dia menyaksikan kakek berbaju
hijau itu selalu menyungging kotak kayu di tangannya sepanjang pembicaraan
berlangsung. pikirnya kemudian.
"Tampaknya kotak kayu yang berada di tangannya itu adalah benda mustika tapi
mustika apakah itu ?"
Tiba-tiba terdengar orang berbaju hitam itu berkata lagi.
"Oooh... kalau begitu kalian datang menegurku karena mendapat pesan dari
mereka semua."
Sam sengcu yang memakai baju berdandan tosu dan menyoren sepasang pedang itu
segera tertawa dingin, tukasnya.
"Andaikata kami tidak menaruh perasaan curiga terhadap Toa sengcu, sekalipun
mereka mengajukan permohonan, kami juga takkan berani datang menegur Toa
sengcu."
"Kalau begitu, kalian berdua pun menaruh rada curiga terhadap diriku ?"
"Benar."
"Sekarang waktu belum terlambat Toa sengcu masih dapat mengemukakan isi
hatimu secara blak-blakan." kata kakek berbaju hijau itu lagi.
"Yaa, benar" sambung Sam sengcu, "budak ini berada di depan mata, bila Toa
sengcu tidak menaruh maksud apa-apa kepadanya, sekarang juga kau boleh
membunuhnya di hadapan kami."
Orang berbaju hitam itu melongok keluar ruangan dan memandang sekejap,
kemudian katanya.
"Aku tidak percaya kalau cuma kalian berdua saja yang datang."
"Dugaan Toa sengcu tepat sekali." sahut Sam sengcu, "delapan panglima dari ruang
Seng tong dan empat utusan khusus telah siap sedia di luar pesanggrahan Teng
cian siau cu ini."
520
"Aku rasa kalau cuma kalian berdua, tak nanti akan memiliki nyali sebesar ini."
jengek Toa sengcu dingin.
Kakek berjubah hijau ini mendehem pelan, lalu katanya lagi.
"Toa sengcu harap kau jangan bertindak menuruti emosi, pemimpin dari perguruan
Sam seng bun adalah suatu kedudukan yang sangat tinggi dengan kekuasaan yang
maha besar, mengapa gara-gara seorang gadis....."
Sambil menggelengkan kepalanya orang berbaju hitam itu menukas.
"Tampaknya kalian sudah lama merasa tidak puas kepadaku, maka kejadian ini
kalian gunakan sebagai alasan."
"Bukannya tidak puas, melainkan curiga." Sam sengcu menanggapi.
"Oooh, apa yang kalian curigakan atas diriku ?"
"Selama banyak tahun, seringkali kami merasa bahwa watak Toa sengcu sama
sekali berbeda dengan watak Toa sengcu ketika mendirikan perguruan Sam seng
bun, oleh karena itu......"
"Oleh karena itu kenapa ?" desak Toa sengcu.
"Oleh karena itu kami sudah menaruh curiga kepada Toa sengcu semenjak dulu,
apalagi penampilan Toa sengcu kali ini semakin nyata lagi, kami merasa yakin
kalau antara Toa sengcu dengan Toa sengcu yang dulu ketika mendirikan
perguruan merupakan dua orang yang berbeda."
"Mengikuti bertambahnya usia, maka watak seseorang akan mengalami pelbagai
perubahan, apakah watak kalian berdua masih seperti dulu juga ?"
"Tapi perubahan yang diperlihatkan Toa sengcu sama sekali luar biasa dan jauh
dari kebiasaan."
Toa sengcu tertawa dingin.
"Kalau sedang berbicara hatilah-hatilah sedikit, jangan sampai mengobarkan
kemarahanku !" tegurnya.
Sam sengcu tertawa dingin pula, dia telah bersiap-siap untuk balas mendamprat,
tapi Ji sengcu buru-buru menukas.
"Harap saudara Toa sengcu jangan salah paham, maksudku Sam sengcu adalah
menyelesaikan persoalan ini secara baik-baik sehingga kecurigaan kami selama ini
pun bisa terhapus sama sekali."
"Bagus sekali" pikir Buyung Im seng di dalam hatinya, "rupanya pihak Sam seng
bun sudah menaruh rasa curiga pula kepadanya."
Terdengar Toa sengcu berkata.
"Bagaimanakah cara penyelesaiannya ???"
"Aku harap Toa sengcu suka melepaskan kain cadar yang menutupi muka, agar
kami dapat memeriksa raut wajah aslimu."
521
"Perubahan wajah seseorang dalam beberapa tahun bukanlah suatu perubahan
yang sedikit. Sekalipun kalian dapat melihatnya juga belum tentu bisa
menghilangkan rasa curiga didalam hati kalian."
"Terhadap persoalan ini kami sudah membicarakannya dengan seksama, bagi
seseorang yang memiliki tenaga dalam yang amat sempurna, rasanya mustahil bila
raut wajah seseorang bisa mengalami perubahan besar dalam dua atau tiga puluh
tahun."
":Jadi kalian berdua masih dapat mengingat-ingat raut wajahku ?"
"Benar. Dua puluh tahun berselang, Toa sengcu pernah berjumpa satu kali dengan
kami serta raut wajah yang asli, kesan yang kau berikan waktu itu cukup dalam.
Malah aku dan Ji sengcu telah melukis wajah Toa sengcu sebagai kenangkenangan,
setelah itu lukisan mana kami dapat cocokkan satu sama yang lainnya
menurut ingatan kami, sekalipun berbeda rasanya juga tak akan kelewat jauh, oleh
karena itu Toa sengcu tak usah kuatir."
Toa sengcu segera menghembuskan napas panjang, tanyanya kemudian.
"Bagaimana dengan kalian berdua ?"
"Tentu saja kamipun akan bersama-sama melepaskan pula kain cadar yang
menutupi wajah kami." jawab Ji sengcu.
Sekali lagi Buyung Im seng masih terperanjat, pikirnya.
"Ternyata ketiga orang pemimpin dari perguruan tiga malaikat ini tak pernah
saling berjumpa muka dihari-hari biasa dengan raut wajah aslinya."
Waktu itu Ji sengcu telah menggerakkan tangan kanannya siap-siap melepaskan
topeng kulit manusia yang menutupi wajahnya.
"Ji sengcu, harap jangan kau lakukan dulu." mendadak Sam sengcu membentak
dengan suara dalam.
"Ada urusan apa ?"
"Siaute masih ada beberapa patah kata yang harus diterangkan lebih dulu, bahkan
mengharapkan agar Toa sengcu mengabulkan terlebih dulu...."
"Persoalan apa ? Cepat katakan !"
"Setelah siaute melepaskan topeng kami nanti, maka selain Toa sengcu, dalam
ruangan ini masih ada dua orang yang akan turut mengetahuinya, Toa sengcu,
tolong tanyakan hukuman apakah yang hendak kau jatuhkan kepada mereka itu ?"
Toa sengcu berpaling dan memandang sekejap ke arah Nyoo Hong leng serta
Buyung Im seng, kemudian sahutnya.
"Setelah kulepaskan kain cadar yang menutupi wajahku nanti, mereka toh juga
dapat melihatnya."
"Itulah sebabnya, menurut pendapat siaute, kita harus merundingkan dahulu suatu
cara untuk menghadapi mereka."
"Apakah Seng cu berdua mempunyai pendapat lain ?"
522
"Pendapat siaute mah.... mungkin Toa sengcu takkan menyetujuinya....." kata Sam
sengcu.
"Coba kau katakan dulu !"
"Entah perubahan apa saja yang sedang berlangsung dalam perguruan Sam seng
bun, rasanya tak perlu orang lain turut mengetahuinya, cara yang lebih baik adalah
membunuh mereka terlebih dahulu, cuma...."
Tergerak hati Buyung Im seng setelah mendengar perkataan itu, segera pikirnya.
"Diantara ketiga orang ini, tampaknya Sam sengcu merupakan orang yang paling
keji dan buruk hatinya."
Terdengar Toa sengcu sedang bertanya.
"Cuma siapa ?"
"Cuma, siaute dapat menduga kalau Toa sengcu takkan menyetujuinya....."
Toa sengcu segera manggut-manggut.
"Dugaan Sam sengcu memang benar, aku rasa kecuali membunuh mereka,
sesungguhnya masih terdapat cara lain yang lebih baik lagi."
Ji sengcu dan Sam sengcu saling berpandangan sekejap, kemudian bertanya.
"Bagaimanakah menurut pendapat Toa sengcu ?"
"Biarkan mereka untuk menyaksikan raut wajah asli kita terlebih dahulu,
kemudian baru membunuhnya !"
Tampak jawaban ini sama sekali berada di luar dugaan Ji sengcu maupun Sam
sengcu, tanpa terasa kedua orang itu saling berpandangan sekejap. Sam sengcu,
pertama-tama melepaskan topeng kulit manusianya paling dulu." katanya.
"Aku mempercayai ucapan dari Toa sengcu !"
Buyung Im seng dan Nyoo Hong leng bersama-sama segera mengalihkan sorot
matanya ke wajah orang itu.
Ternyata orang itu mempunyai selembar wajah aneh yang mengerikan sekali,
mukanya penuh dengan lubang berdarah yang dalamnya tak tentu, seolah-olah
kena dipatuk oleh burung elang.
Baik Nyoo Hong leng maupun Buyung Im seng, keduanya menjadi tertegun,
agaknya mereka berdua tidak menyangka kalau di dunia ini terdapat manusia aneh
yang bertampang begitu jelek.
Terdengar Sam sengcu tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh.... haaahhhh.... haaahhhh.... Toa sengheng, raut wajah siaute yang
sangat istimewa ini membuat orang tak akan melupakannya setelah memandang
sekali saja, aku rasa kau pasti masih mengingatnya dengan baik bukan ?"
Paras muka Toa sengcu tertutup oleh kain cadar berwarna hitam sehingga sukar
untuk melihat perubahan wajahnya, dia hanya manggut-manggut sambil
menyahut.
523
"Yaa, tentu saja aku mengingatnya."
Ji sengcu segera menggerakkan pula tangannya untuk melepaskan topeng kulit
manusia yang menutupi wajahnya, lalu berkata.
"Toa sengheng, masih teringat dengan siaute ?"
Buyung Im seng dan Nyoo Hong leng sekali lagi mengalihkan sorot mata ke wajah
Ji sengcu.
Walaupun paras muka Ji sengcu tidak sejelek wajah Sam sengcu, tapi cukup jelek
kalau dipandang, dua jalur bekas robekan yang sangat dalam melintas di atas
wajahnya dalam bentuk salib.
oooOooo
Bagian ketiga puluh tujuh
Buyung Im seng mencoba memperhatikan bekas luka yang memerah di atas wajah
kedua orang itu, ternyata bekas tadi merah membara sehingga mengerikan bagi
yang melihatnya, tanpa terasa ia lantas berpikir.
"Luka yang berada di wajah mereka jelas bukan didapat semenjak dilahirkan, tapi
kalau didengar dari pembicaraan Sam sengcu, paling tidak luka itu sudah
diperolehnya sejak dua puluh tahun berselang, sekalipun lukanya tak akan sembuh
secara sempurna, rasanya juga tak akan seperti luka yang terjadi belum lama,
selalu merah membara sehingga tampaknya menyeramkan, sudah pasti mereka
terluka oleh semacam benda aneh atau mungkin mereka berdua terluka ditangan
orang yang sama atau benda yang sama, sehingga keadaan jadi begitu."
Terdengar Sam sengcu telah berkata lagi dengan dingin.
"Toa sengheng, kau telah menyaksikan raut wajah kami berdua yang sebenarnya,
sekarang tiba giliranmu untuk melepaskan kain cadarmu itu agar kamipun dapat
turut menyaksikan dengan jelas."
Sekali lagi Buyung Im seng berpikir di dalam hati.
"Seandainya dia adalah Toa sengcu yang mendirikan perguruan Sam seng bun,
sudah pasti tanpa ragu wajahnya akan diperlihatkan kepada mereka berdua,
sebaliknya jika dia tak berani melepaskan kain cadarnya, itu berarti bukanlah Toa
sengcu yang sesungguhnya..."
Sementara itu Toa sengcu telah berkata dengan suara yang ramah dan lembut.
"Seng te berdua, masih ingatkah kau dengan raut wajah siau heng...???"
"Mungkin kami sudah kurang jelas, tetapi garis besarnya masih dapat dibedakan."
Toa sengcu segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
"Haahhh..... haahhh... andaikan daya ingatan kalian tidak benar, maka diantara
kita bertiga bersaudara segera akan berlangsung suatu pertarungan saling
membunuh yang amat sengit dan mengenaskan, oleh karena itu siau heng tiba-tiba
merasa, lebih baik jangan dilihat saja."
Kulit wajah sam sengcu yang penuh dengan lubang berdarah segera berkerut
kencang, kemudian katanya dengan dingin.
524
"Toa seng heng kelewat banyak memikirkan hal-hal yang bukan-bukan, sekalipun
daya ingatan siaute kurang baik, masa raut wajah Toa sengheng pun bisa
dilupakan ?"
"Kalau begitu, seng te berdua bersikeras hendak melihatnya ?"
"Padahal kemungkinan sekali tindakan Toa heng seng yang tak berani melepaskan
kain cadar hitammu baru terhitung suatu tindakan yang tidak cerdas, sebab hal
mana semakin menebalkan kecurigaan kami terhadap dirimu, kami kuatir.... kini
kuatir......"
"Kalian kuatir kenapa ?" tukas Toa sengcu sambil tertawa dingin.
Ji sengcu dengan cepat menyahut terlebih dahulu.
"Toa sengheng, jika kau tidak mempunyai sesuatu rahasia yang kuatir diketahui
orang, mengapa pula kau tak berani melepaskan kain kerudung hitam tersebut ?"
"Seandainya kau memang mempunyai rahasia hati yang takut diketahui orang lain
?" Toa sengcu balik bertanya.
Jawaban tersebut sama sekali berada di luar dugaan Ji sengcu maupun Sam
sengcu, kontan kedua orang itu selain berpandangan sekejap, kemudian secepat
kilat mengenakan kembali topeng kulit manusia.
Buyung Im seng yang menyaksikan jalannya peristiwa itu segera tahu bahwa suatu
pertarungan sengit tak mungkin bisa dihindarkan lagi, diam-diam dia lantas
berpikir.
"Andaikata ketiga orang ini sampai bertarung, aku harus membantu pihak yang
mana ? Kalau Ji sengcu dan Sam sengcu yang menang, jelas aku dan nona Nyoo
pasti menderita kematian yang keji, sebaliknya kalau Toa sengcu yang menang,
suatu akibat yang belum bisa diramalkan juga bakal menimpa kami..... aai... apa
yang harus kulakukan sekarang ?"
Untuk sesaat dia merasa sangsi dan tak tahu apa yang harus dilakukan.
Sementara itu tampak Sam sengcu telah mengangkat sepasang tangannya dan
mencabut keluar sepasang pedangnya yang tersoren di atas punggung.
Buyung Im seng mencoba untuk memperhatikan dengan lebih seksama lagi,
tampak olehnya sepasang pedang itu masing-masing berbentuk aneh sekali.
Pedang berada di sebelah tangan kiri lebih pendek, warnanya putih keperakperakan
dan memancarkan hawa dingin yang mendinginkan hati, dalam sekilas
pandang saja dapat diketahui kalau benda tersebut merupakan sebilah pedang
mestika yang luar biasa tajamnya.
Sedangkan pedang yang berada ditangan kanan berwarna kebiru-biruan, jelas
merupakan sebilah senjata yang telah diberi racun obat yang sangat ganas.
Sebaliknya Ji sengcu dengan tangan kiri menyangga dasar kotak, tangan kanannya
menekan pada penutup kotak itu, diapun tidak berbicara atau berbuat sesuatu,
hanya sikapnya seakan-akan sudah siap untuk membuka penutup kotak tersebut.
525
Buyung Im seng mencoba untuk memutar otak dan menduga benda atau senjata
tajam apakah yang tersimpan didalam kotak milik Ji sengcu tersebut, tapi ia belum
juga berhasil.
Kotak kayu itu panjangnya cuma satu depa dengan lebar hanya beberapa inci,
sesungguhnya amat sulit untuk digunakan sebagai tempat penyimpan senjata.
Tapi segenap perhatian Toa sengcu nampaknya telah tertuju semua di atas kotak
kayu itu, seolah-olah dia merasa was-was dan jeri terhadap kotak kayu itu, rasa
was-wasnya bahkan jauh melebihi senjata pedang di tangan Sam sengcu yang
beracun.
Pelan-pelan Ji sengcu yang bersikap lebih lembut menghela napas panjang,
katanya.
"Toa sengcu, harap kau suka berpikir tiga kali sebelum bertindak, ketahuilah kami
berdua sama sekali tidak mempunyai ambisi apa-apa, kami hanya berharap bisa
menyaksikan raut wajah Toa seng heng yang sebenarnya. Selama banyak tahun
Toa seng heng selalu bertindak dan mengambil keputusan sendiri, kami tak pernah
mengucapkan sepatah katapun yang bersifat tak puas, tapi hari ini.... aai, jika kita
mesti saling menjegal hanya dikarenakan persoalan kecil, apa hal ini berharga
untuk dilakukan ?"
"Bila pertarungan sudah berkobar, apakah Toa seng heng merasa mampu untuk
menangkan tenaga gabungan dari kami berdua ?" sambung Sam sengcu dengan
suara dingin, "apalagi masih ada empat utusan khusus serta delapan panglima dari
Seng tong yang sekarang ini masih berada di luar pesanggrahan Teng sian siau cu
sebagai bala bantuan kami berdua."
Toa sengcu mendongakkan kepalanya dan sekali lagi tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh...... haaahhhh.... haaahhh... bila kita sampai saling bentrok dan saling
bertarung, aku yakin bukan kalian berdua saja yang akan melibatkan diri."
"Benar. Mau bertarung atau mau damai, semuanya terserah pada keputusan Toa
seng heng sendiri, asal kau bersedia melepaskan kain kerudungmu itu agar kami
dapat menyaksikan raut wajah Toa seng heng, sekarang juga suasana tegang akan
berubah menjadi suasana damai.
Tapi Toa sengcu kembali menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Sayang sekali keputusan mau bertarung atau damai sudah tidak berada di
tanganku sekarang." katanya.
"Lantas sudah berada ditangan siapa ?" tanya Ji sengcu dengan wajah keheranan.
Tiba-tiba Toa sengcu memandang ke arah Nyoo Hong leng, kemudian katanya.
"Keputusan bertarung atau damai kini sudah mencapai pada titik yang paling kritis
atau gawat, kuharap kau jangan berpikir lebih jauh lagi, cepatlah mengambil
keputusan."
Sam sengcu yang menyaksikan kejadian itu segera tertawa dingin, teriaknya.
"Bagus sekali, tampaknya tak salah lagi kalau orang mengatakan perempuan
cantik paling gampang membuat orang menyeleweng. Seorang gadis cantik berusia
belasan tahun mengapa bisa menempati kedudukan paling tinggi dalam pikiran
526
Toa seng hen, bahkan lebih jauh penting artinya daripada kami berdua. Hm,
seandainya budak ini sudah mampus, mungkin hubungan diantara kita bersaudara
dapat menjadi rukun kembali."
Begitu selesai berkata, pedang panjang ditangan kanannya mendadak menekan ke
bawah lalu ditusukkan ke arah Nyoo Hong leng.
Terdengar beberapa kali desingan angin tajam berkumandang memecahkan
keheningan, lalu tampak tiga buah titik benang perak yang berkilauan langsung
meluncur ke arah tubuh Nyoo Hong leng.
Tampaknya didalam pedang beracun di tangan keduanya itu tersembunyi pula
sejenis senjata rahasia sehingga jarum beracun yang lihai sekali.
Terperanjat sekali hati Buyung Im seng setelah menyaksikan kejadian itu, segera
pikirnya.
"Benar-benar sebuah senjata tajam yang sangat keji...."
Dia ingin maju untuk memberi pertolongan tapi sayang keadaan sudah tak sempat
lagi.
Tampak Toa sengcu mengangkat tangan kanannya ke atas dan..... Plaak, plaak,
plaak ! tiga batang jarum perak sepanjang dua inci lima hun itu tahu-tahu sudah
menancap semua di atas sarung tangan kulit berwarna hitam.
Toa sengcu segera menggetarkan ibu jari tangan kanannya, sarung tangan kulit itu
segera terlepas dan muncullah sebilah pisau belati sepanjang delapan inci.
Tiba-tiba Sam sengcu melancarkan serangan lagi, senjata rahasianya berkelebat
lewat dengan kecepatan luar biasa, dalam keadaan begini Toa sengcu tak sempat
membuka sarung tangan kulit pada pisau belatinya lagi, cepat dia gunakan sarung
berikut senjata itu untuk menangkis ancaman senjata rahasia tersebut.
Dalam pada itu, Nyoo Hong leng telah mencabut keluar sebuah pedang pendek
berwarna kuning emas dan siap sedia merontokkan senjata lawan.
Ketika menyaksikan senjata rahasia yang tertuju ke arahnya sudah dihadang oleh
Toa sengcu, dia segera membentak nyaring.
"Kukembalikan senjata rahasiamu itu !"
Ditengah bentakan keras, pedang emas itu telah meluncur ke depan secepat kilat
dan langsung meluncur ke arah Sam sengcu.
Dengan cepat Sam sengcu mengayunkan pedang di tangan kirinya, diantara
kilauan cahaya emas yang memenuhi angkasa, pedang emas tersebut sudah kena
terpapas kutung menjadi dua bagian oleh ayunan pedang mestikanya, diiringi
suara gemerincing, kutungan senjata tersebut segera rontok ke atas tanah.
Toa sengcu segera tertawa dingin, katanya.
"Sam seng te, kenapa mesti terburu napsu sekali ? Bilamana kau memang
bersikeras hendak melangsungkan pertarungan, sudah barang tentu siau heng
akan melayani keinginanmu itu."
527
Pelan-pelan Ji sengcu mundur dua langkah ke belakang kemudian katanya cepat.
"Sam seng te, lebih baik kita beri kesempatan lagi kepada Toa seng heng untuk
berpikir beberapa saat lagi."
"Sekarang Toa sengcu sudah dipengaruhi oleh kecantikan wajah seorang gadis, aku
rasa pertarungan hari ini sudah tak bisa dihindarkan lagi."
Ucapannya itu seakan-akan ditujukan kepada Toa sengcu, tapi seperti juga
diutarakan kepada Ji sengcu.
Selama ini penampilan dan sikap Ji sengcu selalu lebih lembut dan lunak daripada
Sam sengcu, mendengar itu dia lantas berkata.
"Sam seng te, jangan kelewat emosi, bagaimanapun juga kita harus memberi waktu
yang cukup bagi Toa seng heng untuk mempertimbangkan keputusannya..."
"Menurut pandangan siaute, Toa seng heng telah terpikat oleh kecantikan Nyoo
Hong leng, aku rasa dia sudah melupakan sama sekali sumpah yang pernah kita
ucapkan dimasa lalu, selain daripada itu, diapun enggan melepaskan kain
kerudung yang menutupi wajahnya, sehingga benarkah dia adalah Toa sengcu asli
atau bukan sampai sekarang masih tetap merupakan suatu tanda tanya besar."
Agaknya dia merasa ucapannya belum selesai diutarakan, maka setelah berhenti
sebentar, dia berkata lebih jauh.
"Menurut pandangan siaute, delapan puluh persen dengan orang ini sudah bukan
Toa seng heng yang asli lagi !"
Selama ini Buyung Im seng hanya menonton dari samping arena, tiba-tiba dia
berhasil menemukan sesuatu, yakni Sam sengcu selalu berusaha untuk membujuk
Ji sengcu agar turun bersama. Hal ini membuktikan kalau dia sendiri mempunyai
sesuatu yang ditakuti sehingga tak berani turun tangan sendiri.
Mendadak Toa sengcu termenung dan membungkam dalam seribu bahasa, dia
hanya berdiri terus ditempat semula tanpa bergerak, tak berkutik maupun
melancarkan serangan.
Ji sengcu segera mendehem pelan, katanya lagi.
"Toa seng heng, sudahkah kau pikirkan masak-masak ?"
"Apa yang harus kupikirkan ?" sahut Toa sengcu dengan suara dingin.
"Melepaskan kain kerudung mukamu dan membuktikan kedudukanmu yang
sesungguhnya !"
Toa sengcu segera mengulapkan tangannya, lalu berseru.
"Sekarang kalian boleh mengundurkan diri lebih dulu, berilah kesempatan bagiku
untuk berpikir dengan tenang, sepertanak nasi kemudian, bagaimana kalau kalian
baru datang lagi ?"
"Toa seng heng..."
"Kalian toh membawa empat utusan khusus dan delapan panglima dari ruang Seng
ong ? Kurung saja sekeliling pesanggrahan Teng cian siau cu ini, niscaya aku tak
bakal lari lagi."
528
"Toa sengcu, berapa lamakah yang kau butuhkan untuk mempertimbangkan
persoalan itu ?"
"Sepertanak nasi, aku rasa waktu sepertanak nasi akan lewat dalam sekejap mata,
kalian pun boleh menggunakan kesempatan tersebut untuk mempersiapkan diri
dengan sebaik-baiknya."
"Dalam sepertanak nasi kemudian, seng heng dapat mengambil keputusan..." tanya
Sam sengcu.
Toa sengcu segera manggut-manggut.
"Aku pasti akan memberikan suatu jawaban yang memuaskan hati, entah
bagaimanapun persoalannya, sudah pasti ada suatu keputusan dan jawaban yang
kuberikan kepada kalian."
"Baik !" kata Ji sengcu kemudian, "tapi kami tetap berharap Toa seng heng bisa
menyelamatkan diri dari tepi jurang kehancuran serta melanjutkan kedudukanmu
untuk memimpin perguruan Sam seng bun kita."
Setelah berpaling dan memandang sekejap ke arah Sam sengcu, mereka segera
mengundurkan diri dari situ.
Dengan suara keras Toa seng cu sempat berteriak kembali.
"Lebih baik kalian berdua bisa mengundurkan diri agak jauh, jangan menyadap
pembicaraan kami lagi."
"Jangan kuatir, kami akan mengundurkan diri sejauh lima kali lagi dari sini..."
Menanti kedua orang itu sudah mengundurkan diri, Toa sengcu baru menghela
napas panjang, katanya.
"Nona Nyoo, kau sudah menyaksikan semua kejadian tadi ?"
"Ya, sudah."
"Tentunya apa yang terjadi bukan cuma sebuah sandiwara bukan ?"
"Ya, memang tidak mirip."
"Aku harap dalam seperminuman teh nona bisa memberi jawaban yang memuaskan
hatiku."
Nyoo Hong leng termenung dan berpikir beberapa saat lamanya kemudian
bergumam.
"Aku mengerti sekarang.... aku mengerti...."
"Kau mengerti apa ?"
"Tampaknya kau ingin sekali mempersunting aku, tapi merasa berat hati juga
untuk melepaskan kekuasaanmu terhadap perguruan Sam seng bun. Oleh karena
itu kau baru berpikir untuk menggunakan cara ini guna memaksaku."
Di bawah desakan-desakan kedua orang sengcu lainnya tadi, Toa sengcu selalu
berhasil mempertahankan ketegangan hatinya, akan tetapi beberapa patah kata
529
dari Nyoo Hong leng sekarang ini membuat Toa sengcu hampir saja tak sanggup
mempertahankan diri, sekujur badannya gemetar keras.
Sampai lama kemudian, dia baru berkata lagi.
"Sekalipun hanya berpura-pura saja, tetapi saat ini toh belum terlalu terlambat,
apa rencana nona harap segera dibeberkan secara terus terang kepadaku."
"Hantar aku meninggalkan tempat ini, bersediakah kau ?"
Toa sengcu termenung dan berpikir sebentar, kemudian sahutnya.
"Baik, kita segera berangkat ! Aku akan membukakan jalan untuk nona...."
Tampaknya kesediaan toa sengcu tersebut sama sekali di luar dugaan Nyoo Hong
leng, dia sampai tertegun dibuatnya.
"Kita boleh berangkat sekarang juga ?"
"Aku tidak tahu, tapi paling tidak kita harus melewati dulu sebuah pertarungan
yang amat sengit dan harus menembusi dulu hadangan yang berlapis-lapis."
"Kalau toh dalam hatimu tak punya keyakinan untuk berhasil, mengapa kau
hendak mengajakku pergi ?"
"Aku ingin membuktikan satu hal di hadapan nona."
"Membuktikan apa ?"
"Membuktikan kalau aku tak pernah mempergunakan akal muslihat terhadap
dirimu !"
"Kau sangat dungu juga tak punya otak !" seru Nyoo Hong leng cepat.
Toa sengcu segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhhh... haaahhh... haaaahhh... seseorang yang dungu dan tak punya otak
mana mungkin bisa memimpin perguruan Sam seng bun yang merupakan
perkumpulan yang terdiri dari beraneka macam manusia... ?"
TIba-tiba Buyung Im seng mengulapkan tangannya, kemudian berkata.
"Toa sengcu, kau pernah meluluskan permintaanku untuk mengajakku bertemu
dengan ayahku, apakah janjimu itu masih tetap berlaku ?"
"Perubahan situasi yang kuhadapi sekarang kelewat cepat, sedemikian cepatnya
sampai dalam waktu singkat aku kehilangan sama sekali atas kemampuanku
untuk mengendalikan Sam seng bun. Barusan bukankah kau dapat menyaksikan
sendiri semua kejadian yang berlangsung di sini ? Apakah kau menganggap mereka
masih dapat menuruti perkataanku ?"
"Mereka sudah tahu kalau kau mempunyai janji semacam itu terhadap diriku,
dapatkah akibat dari peristiwa itu, maka kemarahan mereka lantas dilampiaskan
kepada ayahku dengan membinasakan dirinya ?" ucap Buyung Im seng.
Toa sengcu termenung dan berpikir sebentar, kemudian sahutnya.
"Hal ini tak mungkin terjadi, harapan saudara tak usah kuatir......"
Tampaknya apa yang dikatakan belum selesai, tapi dia tidak banyak berbicara lagi.
530
"Kita tak bisa pergi, tak bisa pula bertahan di sini, sekarang apa rencanamu
selanjutnya ?" tanya Nyoo Hong leng kemudian.
"Aaai... sebenarnya aku ingin menggunakan kesempatan ini untuk memaksamu
memenuhi permintaanku, dengan demikian meskipun aku kehilangan kedudukan
sebagai Toa sengcu dari perguruan Sam seng bun, aku masih punya isteri yang
cantik jelita...."
"Sekalipun berhasil, apa yang berhasil kau dapatkan hanya badanku, selama hidup
jangan harap memperoleh hatiku." tukas Nyoo Hong leng cepat.
"Aaaai... perkataanmu memang benar, maka sekarang aku pun telah merubah jalan
pikiran."
"Apa yang hendak kau lakukan ?"
"Membantumu tanpa syarat !"
"Oooh... hal ini sungguh sangat sukar untuk dipercaya. Bila kau ingin
menggunakan tipu muslihat untuk menjebak orang, lebih bagus katakan saja
berterus terang."
Agaknya Toa sengcu merasakan hatinya terluka sekali, bahkan terluka hebat
setelah mendengar ucapan itu, sekujur badannya gemetar keras. Tapi dia berhasil
mengendalikan emosinya dan menahan dirinya agar tidak mengumbarnya keluar.
Sampai lama kemudian, dia baru menghela napas panjang, katanya.
"Berada dalam keadaan dan situasi seperti ini, tampaknya aku tak usah
menggunakan tipu muslihat lagi, apa gunanya berlagak baik hati kepadamu setelah
situasi berubah menjadi begini rupa ?"
Nyoo Hong leng berpaling dan memandang sekejap ke arah Buyung Im seng,
kemudian pelan-pelan berjalan kehadapan Toa sengcu, katanya lembut.
"Jika kau benar-benar mempunyai niat semacam itu, aku pasti akan berterima
kasih sekali kepadamu, tapi sekarang kau sendiri sudah terkepung, kedudukanmu
sudah dicurigai apakah kau masih mempunyai sisa kemampuan untuk melindungi
kami ?"
Mendengar ucapan "kami", tanpa terasa Toa sengcu memalingkan wajahnya yang
berkerudung dan memandang sekejap ke arah Buyung Im seng, setelah itu ujarnya.
"Walaupun aku dicurigai mereka, tapi masih belum kehilangan sama sekali
kedudukanku sebagai Toa sengcu, aku masih dapat memanfaatkan sisa kekuatanku
untuk menghantarmu pergi meninggalkan tempat ini."
"Tapi apakah mereka bersedia untuk menuruti perkataanmu ?"
"Seandainya aku bersedia meluluskan sesuatu syarat kepada mereka, rasanya
mereka pun pasti akan meluluskan pula permintaanmu."
"Hanya menghantar keluar aku seorang ?"
"Maksud nona ?"
"Aku minta semua temanku yang masuk ke dalam Sam seng bun bersamaku
dibebaskan semua !"
531
"aku rasa hal ini tak mungkin bisa mereka kabulkan."
Kecuali ini, masih adakah cara lain yang bisa digunakan ?"
"Masih ada sebuah cara lagi."
"Dapatkah diutarakan keluar ?"
"Bertarung ! Masing-masing mengandalkan kepandaian silat yang dimilikinya
untuk menentukan menang kalah !"
"Apakah kau menganggap mempunyai keyakinan untuk berhasil mengalahkan
lawan ?"
"Peluangnya tidak begitu besar, kecuali didalam perguruan Sam seng bun masih
terdapat orang yang bersedia membantu kita."
"Menurut apa yang kuketahui Phu tongcu dari ruang Kim lun tong, Lian Giok seng
locianpwe, Im Cu siu masih bisa membantu usaha kita ini...." kata Buyung Im seng.
"Aku rasa kalau hanya beberapa orang saja masih sulit untuk berhasil menarik
kemenangan."
"Tapi aku toh masih bisa menahan seorang jago lihai mereka ?" kata Nyoo Hong
leng.
"Sekalipun kau dan Buyung Im seng terhitung juga, kekuatan kita masih terlalu
minim, cara yang lebih aman ada menyanggupi syarat-syarat mereka, lalu kita
bertukar syarat pula dengan meminta kepada mereka agar melepaskan kalian
untuk berlalu dari sini."
"Dengan tetap tinggalnya kau disini, akibat apakah yang bakal kau alami... ?"
"Sulit unuk dikatakan, setelah kalian meninggalkan tempat ini, keselamatanku tak
usah kalian kuatirkan lagi."
tiba-tiba Buyung Im seng menyela.
"Hantarlah nona Nyoo keluar dari sini, sedang aku akan tetap tinggal di sini !"
"Kita sudah mengetahui letak dari markas besar perguruan Sam seng bun, apa
gunanya kau tetap tinggal di sini ?"
"Aku ingin berjumpa dengan ayahku !"
"Tempat ini berbahaya sekali, dengan kemampuanmu seorang mana mungkin hal
mana bisa kau lakukan ?"
"Sekalipun harus mati, asal bisa berjumpa dengan wajah ayahku, matipun aku
akan mati dengan mata yang meram."
Paras muka Nyoo Hong leng segera berubah menjadi amat sedih sekali, bisiknya.
"Aku dapat memenuhi keinginanmu itu !"
"Bagaimana caramu untuk memenuhi keinginanku ini ?" seru Buyung Im seng
keheranan.
532
"Asal kau bisa berjumpa dengan ayahmu, soal lain tak akan kau pikirkan dalam
hati lagi bukan ?"
"Berjumpa dengan ayahku merupakan satu-satunya keinginanku selama hidup,
untuk memenuhi keinginanku ini, sekalipun harus mati, aku akan mati dengan
puas."
Sekali lagi Nyoo Hong leng menghela napas sedih.
"Aaaii... seandainya ada orang yang dapat membantumu untuk bertemu kembali
dengan ayahmu, apakah kau akan sangat berterima kasih kepadanya... ?"
"Yaa, aku akan merasa berterima kasih sekali."
"Sepanjang masa berterima kasih kepadanya?"
"Tentu saja sepanjang masa berterima kasih kepadanya."
Pelan-pelan titik air mata jatuh berlinang membasahi pipi Nyoo Hong leng, katanya
lagi dengan suara lembut.
"Apakah hal ini tak akan kau pikirkan lagi ?"
"Pikirkan apa ?"
"Pikirlah, apakah masih ada persoalan lain yang lebih penting lagi.... ?"
"Berbicara menurut keadaan sekarang, bertemu muka dengan ayahku merupakan
satu-satunya keinginanku !"
"Coba pikir sekali lagi, apakah ada lainnya ?"
Buyung Im seng segera menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Sudah tidak ada lagi !" sahutnya.
Rasa sedih yang amat sangat segera menghiasi wajah Nyoo Hong leng yang cantik,
pelan-pelan dia membalikkan badannya menyeka air mata dengan ujung bajunya.
Kemudian sambil melangkah ke depan menghampiri Toa sengcu, ujarnya dengan
dingin.
"Bersediakah kau mati demi aku ?"
"Aku bersedia !" Toa sengcu manggut-manggut.
"Dan bersedia pula menyerempet bahaya bagiku ?"
"Benar."
"Seandainya masih kurang beruntung hingga tewas dalam melaksanakan tugas ?"
"Aku mati tanpa menyesal."
"Baik, kalau begitu bantulah aku untuk menemukan Buyung Tiang kim....." pinta
Nyoo Hong leng.
"Harus kesana ?"
"Sulitkah ?" si nona balik bertanya.
"Andaikata aku tidak pergi bersama kalian, maka kesempatanku sampai empat
puluh persen."
533
"Andaikata kau tidak pergi bersama kami ?"
"Kalian berdua tak ada harapan lagi untuk hidup."
"Kalau begitulah ajaklah kami untuk pergi bersama !"
"Baik ! Nona bermaksud akan berangkat kapan ?"
"Sekarang juga !"
Toa sengcu termenung dan berpikir sejenak kemudian sahutnya.
"Boleh saja, cuma kalian harus menuruti perkataanku."
Nyoo Hong leng tertawa sedih.
"Asal dapat bertemu dengan Buyung Im seng, entah bagaimanapun kau hendak
mengatur kami, kami akan menurutinya."
"Baik, kita tetapkan begitu saja, mari kita berangkat sekarang !"
Tanpa banyak bicara lagi, dia segera keluar dari ruangan tersebut.
"Tunggu sebentar" tiba-tiba Nyoo Hong leng berbisik.
"Masih ada urusan apa lagi ?" tanya Toa sengcu.
"Seandainya kita dapat keluar dari tempat itu dalam keadaan hidup, aku akan
segera menikah denganmu...."
Kain kerudung hitam yang menutupi wajah Toa sengcu nampak bergetar keras,
jelas parasnya mengalami suatu gejolak yang sangat keras, pelan-pelan katanya.
"Kawin dengan aku ?"
"Ucapan nona masa tidak kupercayai ?"
"Aku berbicara dengan sejujurnya, maka dari itu kau harus tetap hidup !"
Toa sengcu tertawa sedih.
"Seandainya aku tidak beruntung, mati dalam pertarungan, nona pun tak usah lagi
memegang janji tersebut."
"Dengan mulutku sendiri kuucapkan perkataan ini, itu berarti sekalipun lautan
tadi kering, batu membusuk, ucapanku tak akan pernah dirubah kembali."
"Bagaimana dengan Buyung Im seng ? Aku tahu, dalam hati kau sangat menyukai
dia."
"Benar, itulah sebabnya kau hendak membantunya agar bisa berjumpa dengan
Buyung Tiang kim dan memenuhi keinginan hatinya."
Buyung Im seng yang mengikuti tanya jawab tersebut segera merasakan hatinya
bagaikan ditusuk-tusuk dengan pisau belati, hampir saja dia tak sanggup untuk
berdiri tegak.
Tapi dia masih berusaha keras untuk mengendalikan gejolak perasaan dalam
hatinya, dia berusaha untuk berdiri tegak.
Terdengar Nyoo Hong leng menghela napas pedih, kemudian berkata lebih jauh.
534
"Toa sengcu, Buyung Tiang kim disekap dimana ? Berapa banyak pula jago lihai
yang disekap didalam perguruan Sam seng bun kalian ini ?"
"Kalau dibicarakan tak ada sepatah kata saja, biarlah kemudian hari saja
kuceritakan kepadamu."
Nyoo Hong leng manggut-manggut.
"Yaa, pertempuran memang berada di depan mata sekarang, dalam keadaan seperti
ini memang tak perlu dibicarakan persoalan-persoalan tak penting semacam ini."
Sesudah berhenti sebentar, dia melanjutkan lagi, "Aku sudah mengambil keputusan
untuk kawin denganmu, tapi sehingga sekarang belum kuketahui siapakah
namamu yang sebenarnya."
Baru saja Toa sengcu hendak menjawab, tiba-tiba terdengar suara dari Lian Giok
seng berkumandang datang.
"Lapor Toa sengcu...."
"Ada urusan apa ?" tukas Toa sengcu.
"Bolehkah hamba masuk ke dalam ?"
"Baik, masuklah !"
Lian Giok seng segera melompat masuk ke dalam, setelah itu baru ujarnya.
"Ji sengcu dan Sam sengcu telah membentuk barisan yang kuat untuk mengepung
tempat ini."
"Hanya terdiri dari empat utusan dan delapan panglima ?"
"Kecuali empat utusan dan delapan panglima, masih ada dua puluhan lebih
pelindung hukum dari ruang seng tong yang berdatangan disekitar pesanggrahan
Teng cian siau cu, jumlahnya mencapai empat puluh orang lebih."
"Waah, nampaknya pertarungan sudah tak dapat dielakkan kembali..." gumam Toa
sengcu.
Dia lantas berpaling dan melirik sekejap ke arah Nyoo Hong leng, kemudian
sambungnya.
"Nona Nyoo, Buyung kongcu, andaikata sampai terjadi pertarungan nanti, aku
minta kamu berdua suka mengikuti di belakang tubuhku, jaraknya harap jangan
kelewat jauh."
"Kau sebagai seorang Toa sengcu, masakah tak punya berapa orang kepercayaan
yang bersedia untuk menjual nyawa mereka untukmu ?"
"Aku tidak menyangka bakal berjumpa denganmu, maka... aku tak pernah
mempersiapkan hal ini. Sekarang keadaan sudah dikuasai oleh mereka, rasanya
untuk mencari orang didalam keadaan seperti ini, sudah bukan suatu pekerjaan
yang mudah lagi."
Sorot matanya segera dialihkan ke wajah Lian Giok seng, kemudian lanjutnya.
"Lian huhoat, bagaimanakah rencanamu yang selanjutnya ?"
"Hamba siap mengikuti Toa sengcu !"
535
Toa sengcu segera tersenyum.
"Tampaknya kita sudah tak bisa meloloskan diri dari pertarungan hari ini lagi."
Dia segera merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan sebuah botol porselen,
kemudian sambil menuangkan sebutir pil katanya lagi.
"Telanlah !"
Lian Giok seng menyambut pil itu kemudian berkata.
"Bolehkah hamba mengajukan sebuah pertanyaan ?"
"Tanyalah !"
"Pil ini adalah..."
"Pil ini merupakan obat pemunah yang dapat menawarkan pengaruh racun yang
mengeram didalam tubuhmu, setelah menelan pil tersebut, maka selamanya kau
tak usah dikekang lagi oleh kekuasaan perguruan Sam seng bun....."
"Kalau begitu dalam tubuh kami semua sesungguhnya sudah diberi racun jahat ?"
"Benar, setiap orang yang memasuki perguruan Sam seng bun, entah
bagaimanakah kepandaian silat yang dimilikinya dan entah bagaimanakah
cerdasnya, jangan harap dia dapat melepaskan diri dari pengaruh racun tersebut,
hanya saja mereka pribadi sama sekali tidak mengetahui akan hal ini."
"Aku benar-benar tidak mengerti, dengan cara apakah Toa sengcu melepaskan
racun tersebut ke dalam tubuh kami ?"
"Di dalam sayur dan arak, cuma sari racun tersebut sangat enteng sehingga orang
yang bersantap sama sekali tidak merasakannya. Tapi bilamana kelamaan
dibiarkan terus berlangsung maka dari sedikit akhirnya membukit dan kalianpun
keracunan."
"Bagaimanakah keadaannya orang yang keracunan obat tersebut ?"
"Ada dua hal yang paling membahayakan, pertama jika sari racun tersebut telah
meningkat hingga ke suatu tingkatan tertentu, maka si korban akan keracunan dan
tewas, Kedua begitu melepaskan dari perguruan Sam seng bun sehingga tidak
makan nasi dan arak yang ada racunnya lagi, maka dalam tujuh hari kemudian dia
akan kehilangan semacam tenaga didalam tubuhnya, membuat sang korban
mengantuk dan ingin tidur terus, akibatnya kecerdasan otaknya serta kepandaian
silatnya akan semakin melemah, bahkan kian hari kian bertambah parah
keadaannya....."
"Oooh, rupanya terdapat kejadian seperti ini, anehnya sampai sekarang hamba
baru tahu akan hal ini, cuma...."
"Cuma kenapa ?"
"Secara lamat-lamat hambapun merasa ada semacam kekuatan yang secara diamdiam
mengendalikan kami, hanya kekuatan apakah itu sulit bagi kami untuk
mengatakannya."
536
"Itulah sebabnya perguruan Sam seng bun tak pernah takut menghadapi mereka
yang berkhianat, bagi mereka yang berilmu silat rendah, tentu saja mereka
memahami kemampuan yang dimilikinya sehingga tak berani berkhianat,
sebaliknya bagi mereka yang berilmu tinggi, seorangpun tak ada yang tahu kalau
dalam tubuh mereka sesungguhnya telah dikendalikan oleh semacam obat beracun,
oleh karena itu setiap para jago lihai dari Sam seng bun yang berani berniat, tak
selang beberapa lama pasti berhasil ditangkap kembali untuk dijatuhi hukuman
mati. Karena sebelum kemudian, mereka sudah tak mempunyai kemampuan untuk
melancarkan serangan balasan."
Lian Giok seng segera manggut-manggut tanda mengerti, katanya kemudian.
"Terima kasih banyak atas petunjuk Toa sengcu !"
Sedang dalam hatinya dia berpikir.
"Benar-benar sebuah tindakan yang sangat lihai !"
Pada saat itulah dari luar ruangan mendadak terdengar suara langkah manusia
berkumandang datang.
Kemudian terdengar seorang menegur dengan suara dingin dan kaku.
"Toa seng heng, sudah selesai mengambil keputusan ?"
"Sudah !"
Tampak bayangan manusia berkelebat lewat, Ji sengcu dan Sam sengcu telah
munculkan diri di depan pintu.
"Toa sengcu bermaksud hendak berbuat bagaimana ?" tanya Ji sengcu kemudian
sambil menjura.
"Bertarung ! Kalian boleh memanfaatkan kesempatan baik ini untuk
menyingkirkan aku dan merebut kedudukan Sengcu, aku sebagai toako kalian
tentu saja akan berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi keinginan kalian itu."
"Dewasa ini, selain empat utusan dan delapan panglima, masih terdapat banyak
sekali pelindung hukum yang telah berkumpul di luar pesanggrahan Teng cian siu
cu ini, Sam seng te yang tak sanggup mengendalikan emosinya juga telah
membeberkan Toa sengcu untuk menghancurkan perguruan Sam seng bun kepada
mereka, cuma..."
"Cuma kenapa ?" tukas Toa sengcu dingin.
"Toa seng heng adalah seorang yang berwibawa, dihari biasa kau sudah
memperoleh kepercayaan anak buah, maka walaupun Sam seng te telah
membeberkan kejadian ini, mereka masih setengah percaya setengah tidak, apabila
sekarang Toa seng heng mempunyai pendapat hendak melepaskan diri dari ikatan,
bukankah hal ini sama artinya dengan membeberkan hati Toa sengcu kepada
mereka ?"
"Lantas, bagaimana menurut pendapat Ji sengcu ?" seru Toa sengcu sambil tertawa
dingin.
537
"Maksud siaute, lebih baik Toa seng heng melepaskan kain kerudungmu agar kami
bisa menyaksikan raut wajah Toa seng heng yang sebenarnya, kemudian kau tetap
memimpin perguruan Sam seng bun kita ini."
"Kecuali itu, apakah masih ada cara lain ?" kata Toa sengcu sambil mengulapkan
tangannya.
"Siaute benar-benar tak berhasil menemukan cara lain yang lebih baik daripada
cara ini."
"Aku mah mempunyai sebuah cara bagus, entah Ji seng te bersedia untuk
meluluskannya atau tidak ?"
"Silahkan kau utarakan !"
oooOooo
Bagian ketiga puluh delapan
"Sekalipun kuserahkan kedudukanku sebagai Toa sengcu kepada kalian, kamu
berdua juga tak akan bisa hidup tenteram dan aman dalam waktu yang cukup
lama." ujar Toa sengcu kemudian, "maka cara yang paling baik adalah serahkan
Sam seng bun ke tangan satu orang saja."
"Oooh, kalau begitu Toa seng heng ada memang ada maksud untuk menyingkirkan
kami berdua ?" seru Sam sengcu dingin.
Toa sengcu sama sekali tidak menggubris ucapan dari Sam sengcu, kepada Ji
sengcu kembali katanya.
"Siauheng bersedia menyerahkan kedudukan Toa sengcu ini kepadamu dan
mengundurkan diri dari tempat ini, cuma aku harus membawa serta nona Nyoo..."
"Bila ucapan dari Toa sengcu memang benar-benar muncul dari hati sanubarimu,
tentu saja kami akan menyetujuinya." sela Ji sengcu cepat.
"Tapi, apakah kau dapat selamanya memimpin perguruan Sam seng bun ini...?"
"Soal ini..."
"Kecuali kalau saat ini juga kau bisa turun tangan keji dengan menyingkirkan Sam
sengcu dari muka bumi." tukas Toa sengcu cepat.
Terkesiap sekali Sam sengcu setelah mendengar perkataan itu, cepat-cepat
teriaknya.
"Ji seng heng, kau jangan sekali-kali percaya dengan hasutannya yang jahat itu."
"Dari dulu sampai sekarang sudah banyak sejarah yang menjadi kenyataan, apakah
kau anggap siauheng hanya berbicara sembarangan tanpa sadar ?"
Ji sengcu mendehem pelan, kemudian katanya.
"Toa seng heng, apakah kau masih ada perkataan lain ?"
Pertanyaan tersebut kedengarannya sangat biasa dan sederhana, padahal dibalik
pertanyaan tersebut justru mengandung maksud yang lebih mendalam, tujuannya
juga lebih buas dan kejam.
538
Toa sengcu termenung dan berpikir beberapa saat, kemudian katanya.
"Bila kau percaya dengan perkataanku, aku dapat membantumu untuk
membereskan dirinya lebih dulu...."
Buru-buru Sam sengcu berteriak.
"Setelah membunuh aku, dengan kekuatanmu seorang yang amat minim, jangan
harap kau sanggup untuk menandinginya."
"Empat utusan dan delapan panglima tentunya sudah berhasil kalian suap, dengan
kekuatanku seorang, mana mungkin aku sanggup melawan musuh tangguh yang
begitu banyak ?"
Sam sengcu segera berpaling dan memandang sekejap ke arah Ji sengcu, kemudian
serunya.
"Ji seng heng, kalau toh Toa sengcu telah berkeputusan demikian, lebih baik kita
segera turun tangan !"
Seraya berkata dia lantas meloloskan sepasang pedangnya, kemudian dengan cepat
dia memburu dua langkah ke depan.
Ketika berpaling dilihatnya Ji sengcu sambil memegang kota kayunya masih berdiri
tak berkutik di tempat semula, bahkan kalau dilihat dari mimik wajahnya, dia
seakan-akan tidak bermaksud turun tangan, kenyataan ini membuatnya tertegun.
Dengan cepat dia menghentikan langkahnya, kemudian berkata lebih lanjut.
"Ji seng heng, mengapa kau tidak turun tangan ?"
"Aku sedang merenungkan ucapan Toa seng heng, agaknya perkataan tersebut ada
benarnya juga." ujar Ji sengcu dengan paras muka serius.
Mendengar perkataan itu, Sam sengcu menjadi tertegun.
"Kita toh sudah berunding secara matang, mengapa Ji seng heng, secara tiba-tiba
mempercayai hasutan serta adu domba dari Toa sengcu ?"
"Aku takkan menerima hasutan atau adu domba dari orang lain." seru Ji sengcu
dengan suara dingin, "aku hanya merasa bahwa apa yang dikatakan Toa seng heng
ada benarnya juga, kalau kita berhasil mengusir Toa sengcu dari jabatannya
sekarang, lantas diantara kita berdua siapakah yang berhak untuk memimpin
perguruan Sam seng bun ?"
"Tentu, Ji sengcu yang memimpin Sam seng bun, sedang siaute akan menjadi
pembantumu."
"Sam seng te, benarkah perkataanmu itu muncul dari hati sanubarimu yang
sebenarnya ?"
"Ucapan tersebut muncul dari bibir siaute, masa bisa tidak benar.... ?"
Mendadak Ji sengcu mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
"Haahhh... haaahhh... haaahhh.. Toa seng heng, Sam seng te telah memberikan
jaminannya sekarang, aku rasa tak mungkin bisa terjadi perubahan lagi."
539
"Hmm, jika persoalan semacam inipun bersedia kau percayai tentu saja aku tak
dapat berbuat apa-apa lagi." kata Toa sengcu dengan suara dingin.
Ji sengcu segera tertawa.
"Setelah siaute pikirkan kembali, aku rasa saya dan Sam seng telah berhasil
menguasai keadaan kini, bagaimanapun juga hari ini kita harus berhasil
mendapatkan suatu penyelesaian yang pasti. Bila Toa sengcu bersikeras hendak
turun tangan, terpaksa kami akan melayani keinginanmu itu."
Toa sengcu segera berpaling dan memandang sekejap ke arah Nyoo Hong leng dan
Buyung Im seng kemudian katanya.
"Kalian berdua boleh segera mempersiapkan senjata, bila kalian sanggup menahan
Sam sengcu sebanyak lima puluhan gebrakan, kita sudah pasti dapat
memenangkan pertarungan ini."
Mendadak Nyoo Hong leng membungkukkan badannya dan mencabut keluar dua
bilah pedang dari bawah meja, kemudian katanya.
"Apakah kau membutuhkan senjata ?"
"Tangan kanannya segera digetarkan, pedang tersebut sudah meluncur ke arah Toa
sengcu.
Setelah menerima pedang itu, Toa sengcu merentangkan senjata sejajar dengan
dada, kemudian selangkah demi selangkah dia berjalan ke depan menghampiri Ji
sengcu, katanya.
"Sekarang, kau masih mempunyai kesempatan terakhir."
Sementara itu, Nyoo Hong leng dan Buyung Im seng telah mengangkat pula senjata
masing-masing untuk menghadang jalan pergi Sam sengcu.
Suatu pertarungan seru antara sekawanan jago persilatan pun segera akan
berlangsung di depan mata.
Ji sengcu telah meletakkan sepasang tangannya di atas kotak kayunya, kemudian
dengan memancarkan sinar tajam dari balik matanya dia berseru keras.
"Lian Giok seng, kau akan membantu siapa ?"
Lian Giok seng segera mengendorkan sebuah benda dari pinggangnya, ternyata
benda itu sebilah pedang lemas yang tipis bagaikan kertas dengan panjang tiga
depan enam inci serta lebar dua jari, kemudian sahutnya.
"Aku..? Tentu saja aku akan menuruti perintah Toa sengcu...."
Pelan-pelan Toa sengcu mengangkat pedangnya ke atas, ujung pedangnya
diarahkan ke tubuh Ji sengcu, akan tetapi dia tidak melancarkan serangan apaapa.
Tampak empat buah mata kedua orang itu saling bertatapan tanpa berkedip,
siapapun tak mau melancarkan serangan lebih dahulu.
Buyung Im seng dan Nyoo Hong leng juga telah mendekati tubuh Sam sengcu,
masing-masing mengambil posisi kedua belah sisi dengan kesiap-siagaan penuh,
siapapun tak mau turun tangan lebih dulu.
540
Mendadak terdengar Sam sengcu berpekik panjang, pedang ditangan kanannya
digetarkan keras, kemudian menusuk ke arah dada Buyung Im seng....
Cahaya pedang berkelebat cepat lewat, secepat sambaran kilat segera meluncur ke
depan.
Buyung Im seng segera menggerakkan pula pedangnya menciptakan selapis kabut
pedang yang sangat tebal untuk melindungi keselamatan badannya.
Buru-buru Nyoo Hong leng berseru dengan cemas.
"Hati-hati dengan jarum beracun yang berada dalam pedangnya !"
"Tranng !" terdengar suara dentingan nyaring berkumandang memecahkan
keheningan, tahu-tahu sepasang pedang mereka sudah saling membentur antara
yang satu dengan yang lainnya.
Agaknya Buyung Im seng juga telah bersiap siaga terhadap jarum beracun yang
bisa dipancarkan keluar dari balik pedangnya itu, sementara senjatanya diayunkan
keluar, tubuhnya juga turut menyingkir dua depa ke samping arena.
( Bersambung ke jilid 27)
541
Lembah Tiga Malaikat
Oleh: Tjan
Jilid 27
Sam sengcu tertawa dingin, pedang mestika ditangan kirinya secepat kilat
menerobos ke depan lalu membacok ke samping.
Serangan mana datangnya tepat sekali, yakni sebelum jurus pedang Buyung Im
seng sempat berubah kembali.
"Traaang... ! diiringi suara dentingan nyaring, tahu-tahu pedang ditangan Buyung
Im seng telah terpapas kutung sebagian oleh senjata mestika dari Sam sengcu.
Begitu pedang ditangan Buyung Im seng terpapas kutung, belum sempat dia
merubah jurus serangannya, sepasang pedang Sam sengcu telah dilontarkan
bersama ke depan melancarkan sebuah serangan dahsyat.
Sejak kedua orang itu bertarung sampai Buyung Im seng terjerumus dalam situasi
yang amat berbahaya, waktunya hanya berlangsung dalam sekejap mata.
Nyoo Hong leng menjadi terkejut sekali setelah menyaksikan kejadian itu,
pedangnya segera diayunkan ke depan menusuk punggung Sam sengcu dengan
jurus ki-hong-teng-ciau (burung hong terbang, ular melingkar).
Dalam keadaan demikian, bila Sam sengcu melanjutkan terus serangan
gabungannya, walaupun dia dapat melukai Buyung Im seng, tapi dia sendiri akan
tertusuk oleh pedang Nyoo Hong leng.
Berada dalam keadaan seperti ini, melindungi nyawa sendiri tentu saja jauh lebih
penting, buru-buru Sam sengcu memutar pedang mestika ditangan kirinya untuk
menangkis pedang Nyoo Hong leng.
Tapi dengan begitu justru telah membuka jalan kehidupan bagi Buyung Im seng,
pedang kutungnya segera diayunkan ke atas dan..."Trang" dia telah menangkis
pedang beracun itu sambil melompat ke samping untuk meloloskan diri.
Sam sengcu memutar pedangnya secepat angin puyuh, Nyoo Hong leng tak sempat
untuk berkelit lagi, "Trang" pedangnya kena terpapas pula sepertiganya.
542
Tiba-tiba terdengar suara Toa sengcu berseru dengan suara dalam :
"Buyung kongcu, ilmu pedangnya tidak berada di bawah kepandaiannya, asal kau
dapat menghadapinya dengan pikiran yang tenang, dan tidak sampai terpengaruh
oleh kelihaian jarum beracun serta ketajaman senjatanya, tak sulit bagimu untuk
mengimbangi permainannya itu."
Sebenarnya semangat Buyung Im seng sudah patah ditengah jalan setelah dalam
dua gebrakan saja senjatanya kena di kutungi lawan, tapi setelah mendengar
perkataan dari Toa sengcu, semangatnya segera berkobar kembali, pedang
pendeknya segera diayunkan kembali ke muka sambil melancarkan serangan
balasan.
Kali ini dia sudah mempunyai persiapan cukup matang, kecuali memperhatikan
senjata lawan yang tajam, hampir segenap perhatiannya ditunjukkan kepada
permainan jurus pedangnya.
Nyoo Hong leng yang pedangnya kena terpapas, sesungguhnya juga merasa agak
putus asa tapi setelah dilihatnya Buyung Im seng melancarkan serangan kembali
dengan gagah berani, diapun segera menggerakkan kembali senjatanya untuk
membantu dari samping.
Sam sengcu yang berhasil menggertakkan hati lawan dengan senjata tajam serta
pedang beracunnya sedang gembira karena keberhasilannya tadi, tapi begitu
Buyung Im seng dan Nyoo Hong leng berhasil menenangkan kembali hatinya,
malah melancarkan serangan balasan secara mantap, keadaan segera berubah,
posisi merekapun untuk sementara waktu menjadi berimbang.
Tak selang sejenak kemudian, mereka telah bertarung belasan jurus lebih.
Setelah pedangnya terpapas kutung, pada mulanya Buyung Im seng dan Nyoo Hong
leng merasa gerakan serangannya kurang leluasa, tapi belasan jurus kemudian
lambat laun hal mana menjadi terbiasa juga, kekuatan yang terpancar keluar dari
jurus pedangnya pun makin berkembang, sehingga baik sewaktu bertahan maupun
sewaktu menyerang, semua gerakannya bisa dilakukan dengan mantap.
Sam sengcu sama sekali tidak menyangka kalau muda mudi ini mempunyai ilmu
pedang yang begitu lihai dan sempurna, diam-diam hatinya merasa terperanjat
sekali.
Pada saat itulah Toa sengcu dan Ji sengcu masih tetap saling berhadapan dengan
sikap kaku.
Agaknya kedua orang itu sama-sama merasa takut terhadap sesuatu dari
lawannya, sehingga masing-masing pihak enggan untuk turun tangan lebih dahulu.
Sedangkan Lian Giok seng dengan pedang lemas ditangan berjaga-jaga di depan
pintu gerbang, hawa murninya telah dipersiapkan untuk menjaga segala
kemungkinan yang tak diinginkan.
Pelan-pelan Ji sengcu berkata :
"Toa sengcu, mengapa kau tidak melancarkan serangan lebih dulu ?"
"Aku sebagai Toa sengcu sudah sepantasnya kalau mengalah kepadamu, maka
silahkan Ji sengcu untuk melancarkan serangan lebih dulu."
543
"Senjata tajam yang siaute pergunakan tidak cocok kalau digunakan untuk
melancarkan serangan lebih dulu, maka Toa sengcu tak perlu sungkan-sungkan
lagi." kata Ji sengcu dingin.
Toa sengcu segera mengalihkan dulu sorot matanya ke arah yang lain. Ketika
dilihatnya kerja sama dari Nyoo Hong leng dan Buyung Im seng secara lamat-lamat
telah berhasil merebut posisi yang lebih menguntungkan, legalah hatinya, pelanpelan
dia menggerakkan pedangnya dan masuk ke tubuh Ji sengcu.
Tusukan tersebut dilancarkan dengan gerakkan yang pelan sekali, ujung
pedangnya pun kelihatan agak bergetar keras.
Ji sengcu dengan sepasang tangan memegang kotak kayu berdiri tegak bagai bukit
karang sementara sepasang matanya mengawasi ujung pedang Toa sengcu yang
sedang bergetar itu tanpa berkedip.
Menanti cahaya tajam telah berkilauan dan jaraknya dengan dada tinggal setengah
depa, secara tiba-tiba dia baru membuka penutup kotak tersebut....
Begitu kotak kayu itu terbuka, dengan cepat terlihat cahaya tajam yang disertai
dengan suara dengungan keras meluncur ke angkasa.
Toa sengcu sedang menggerakkan pedangnya, walaupun dia ingin menghindarkan
diri dari serangan selapis hujan perak yang terbang keluar dari kotak kayu
tersebut....
Ji sengcu membalikkan badan dengan cepat, menggunakan kesempatan itu dia
menutup kembali kotak kayunya.
"Traang, traaang, traaang..." diantara dentingan nyaring, hujan dan cahaya perak
yang memancar keluar dari dalam kotak tadi telah menyambar ke depan dan
menancap semua di atas dinding kayu di belakangnya.
Ternyata cahaya perak itu adalah jarum-jarum perak yang berwarna kebiru-biruan,
semuanya kini sudah menancap dalam-dalam di atas dinding, hal ini dapat
disimpulkan bahwa pegas yang dipasang dalam kotak kayu itu benar-benar
berkekuatan besar sekali.
Gerakan ji sengcu sewaktu membuka dan menutup kembali kotak kayunya itu
dilakukan dalam waktu singkat, sehingga sulit buat orang lain melihat jelas
keadaan yang sebenarnya didalam kotak itu.
Toa sengcu memandang sekejap pedangnya yang terjatuh di tanah, kemudian
sambil tertawa dingin katanya :
"Jarum perak yang memancar keluar dari kotakmu benar-benar luar biasa, jauh
lebih hebat daripada dulu."
"Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Toa sengcu juga benar-benar cepat sekali,
ternyata kau sanggup menghindarkan diri dari serangan jarum perak dari Pek Po
hap yang kulancarkan dari jarak sedekat ini." sambung Ji sengcu.
"Jarum perak itu berjumlah puluhan batang, nyatanya dalam jarak begini dekat
pun tidak berhasil melukai diriku, aku tidak habis berpikir kelihaian apa lagi yang
masih terdapat dalam kotak tersebut ?"
544
"Kotak ini dinamakan seratus mestika, tentu saja mempunyai perubahan yang tak
terhitung jumlahnya, tak ada salahnya Toa sengcu ingin mencoba kembali." kata Ji
sengcu dingin.
Lengan kanannya segera diangkat, sekilas cahaya merah tiba-tiba meluncur keluar
dari balik ujung bajunya dan langsung menyambar ke atas dada Ji sengcu.
Tampaknya Ji sengcu merasa tindakan ini sedikit di luar dugaan, dengan kening
berkerut dia segera membuka kota kayunya untuk menyongsong datangnya cahaya
merah tersebut.
"Plaak !" ternyata kotak kayu yang terbuka itu berhasil menghisap cahaya merah
tersebut hingga masuk ke dalam kotak.
Toa sengcu mengira dari dalam kotak kayu itu bakal memancar keluar senjata
rahasia, cepat-cepat ia ke samping untuk menghindar.
Siapa tahu apa yang terjadi sama sekali di luar dugaan, dari dalam kota kayu itu
sama sekali tak memancar keluar senjata rahasia.
Ji sengcu segera tertawa dingin, serunya :
"Toa sengheng tampaknya engkau mengerti akan takut ?"
Waktu itu Toa sengcu sudah melompat tujuh depa ke samping, ketika tidak
nampak ada senjata rahasia yang ditujukan ke arahnya, dia menjadi naik pitam,
serunya dingin.
"Ji sengte, masih ingatkah kau dengan sepatah kata-kataku ?"
"Perkataan apa ?"
"Aku menyuruh mereka berdua untuk menyambut lima puluh jurus serangan dari
Sam sengcu, karena saat itulah aku memenangkan pertarungan ini."
"Ya, benar. Siaute masih ingat jelas perkataanmu itu. Toa sengcu memang telah
mengucapkan perkataan ini."
"Jika kau tak sanggup mengalahkan dirimu, terpaksa aku harus membinasakan
kau."
"Dengan cara apa kau hendak membunuhku ?"
"Ilmu pedang terbang !"
"Kau sudah bisa menggunakan ilmu pedang terbang ?" seru Ji sengcu tertegun.
"Jika kau tidak percaya, mari kita buktikan bersama."
Dengan cepat Ji sengcu melompat mundur sejauh satu langkah, kemudian pelan
berkata :
"Aku harap kau jangan hanya gertak sambal belaka."
Pelan-pelan Toa sengcu mengangkat pedangnya ke tengah udara, kemudian
katanya :
"Aku rasa kau pasti sudah mengerti bukan apa sebabnya aku tak ingin
membunuhmu ?"
545
Sekali lagi Ji sengcu sudah mundur selangkah, sekarang ia tinggal beberapa depa
saja dari tubuh Lian Giok seng.
Diam-diam Lian Giok seng menghimpun tenaganya sambil bersiap-siap
melancarkan serangan dahsyat untuk membunuh Ji sengcu.
Baru saja ingatan tersebut melintas lewat, mendadak terdengar Ji sengcu
membentak keras.
"Lian Giok seng, menyingkir dari situ !"
Sambil membentak keras tubuhnya sudah berputar kencang sambil membuka
kotak kayunya.
Lian Giok seng hanya merasakan selapis cahaya tajam yang menyilaukan mata
menyambar tiba dengan kecepatan tinggi, buru-buru dia melompat ke samping
untuk menghindarkan diri.
Menggunakan kesempatan itulah Ji sengcu segera melompat keluar dari ruangan
itu, sambil melompat teriaknya keras-keras :
"Sam seng te, cepat mundur dari dalam pesanggrahan Teng Cuan siau cu....."
Akhir dari perkataan itu berkumandang datang dari jarak tiga kaki dari tempat
semula.
Mendengar perkataan itu, Sam sengcu segera meningkatkan kewaspadaannya,
cepat tangan kanannya diayunkan ke depan melancarkan tiga batang jarum
beracun, serangan mana segera memaksa Buyung Im seng dan Nyoo Hong leng
bersama-sama mundur dua langkah.
Menggunakan kesempatan itu, Sam sengcu segera melompat ke tengah udara,
pedang ditangan kirinya diputar membentuk satu lingkaran cahaya perak, langitlangit
rumah yang termakan oleh sambaran pedangnya itu segera ambrol dan
muncul sebuah lubang besar.
Dengan melewati lubang itulah buru-buru dia melarikan diri ke atas atap rumah.
Pedang yang berada di tangannya memang tajam sekali, walaupun bangunan dari
pesanggrahan Teng cian siau cu itu dibangun sangat kuat, akan tetapi tak mampu
juga membendung ketajaman senjatanya itu.
Dalam pertarungan ini, walaupun Nyoo Hong leng dan Buyung Im seng tak sempat
menderita kekalahan, namun mereka juga tidak berhasil meraih keuntungan apaapa,
maka itu melihat orang itu melarikan diri dengan menjebolkan langit-langit
rumah, mereka tidak melakukan pengejaran lebih jauh.
Nyoo Hong leng segera berpaling memandang sekejap ke arah Toa sengcu,
kemudian katanya.
"Masih adakah hubungan persaudaraan diantara kalian seng heng dan seng te ?"
"Sekalipun pertarungan yang berlangsung tadi sangat seru dan mengerikan, tapi
aku masih sempat mendengarkan pembicaraan dari kalian berdua." Toa sengcu
termenung sebentar, kemudian bertanya:
546
"Apa yang sempat kau dengar ?"
"Kalau toh bisa mempergunakan ilmu pedang terbang, mengapa tak digunakan
sebaliknya memberi peringatan saja kepada Ji sengcu agar dia tahu diri dan
mengundurkan diri dari pesanggrahan Teng cian siau cu ?"
"Aku telah mencoba ilmu silatnya, kendatipun kugunakan ilmu pedang terbang
juga jangan harap bisa merenggut selembar jiwanya."
"Paling tidak kau toh bisa melukai jiwanya ?" sambung Nyoo Hong leng dengan
cepat.
"Benar, walaupun tak sampai mematikan, tapi paling tidak aku dapat membuatnya
terluka parah."
"Mengapa kau tidak melukainya tadi ?"
"Sekalipun berhasil melukai seorang juga tak akan bisa menyelesaikan persoalan
ini. Lebih baik biarkan saja mereka tinggalkan tempat ini dan mewakili diriku
menyiarkan berita tentang ilmu pedang terbang ini kepada semua orang, dengan
demikian semangat tempur lawan pasti akan mengalami kegoncangan hebat.
Dengan begitu, seandainya mereka sampai membuka pertarungan baru melawan
kita, sedikit banyak dalam hati kecilnya akan timbul perasaan jeri, hal mana justru
akan memecahkan perhatian mereka sendiri. Nah, pada saat itulah sekalipun aku
tidak menggunakan ilmu pedang terbang juga sama saja dapat menghancurkan
pertahanan mereka dan menembusi bloknya mereka."
Nyoo Hong leng segera manggut-manggut.
"Ya, memang masuk diakal juga !"
Setelah berhenti sejenak, kembali dia berkata.
"Konon ilmu pedang terbang cuma bisa digunakan satu kali, sebab akan banyak
tenaga dalammu yang berkurang akibat melancarkan serangan tersebut."
"Kau sudah pernah melatih kepandaian ini, tentunya kaupun sudah berpengalaman
bukan ?"
"Benar. Itulah sebabnya walaupun aku berhasil memiliki ilmu pedang terbang,
namun tak berani mempergunakan secara sembarangan. Kendatipun seseorang
telah berhasil melatih ilmu pedang terbangnya hingga mencapai tingkat yang
sesempurna apapun, dalam satu jam mustahil baginya bisa mempergunakan
sebanyak dua kali. Maka dari itu, bila aku tidak berjumpa dengan musuh yang
benar-benar sangat tangguh, tak nanti ilmu tersebut akan kupergunakan."
"Dapatkah kau menjelaskan lebih jauh ?" pinta Nyoo Hong leng.
Toa sengcu termenung dan berpikir sebentar kemudian katanya :
"Ringkasnya begini, bila seseorang menggunakan ilmu pedang terbang untuk
menghadapi lawan, maka sekali menggunakannya paling tidak akan
menghilangkan satu bagian tenaga dalamnya, dengan begitu di dalam menghadapi
musuh selanjutnya, kekuatan yang dimilikinya akan semakin berkurang."
"Andaikata dipergunakan sebanyak dua kali ?"
547
"Maka dia tak akan memiliki kekuatan untuk melakukan perlawanan lagi, dia
membutuhkan kekuatan orang lain untuk melindungi jiwanya."
"Masa seserius itu ?"
"Benar. Paling tidak jurus antara pegunungan yang pertama dengan pegunungan
yang kedua harus selisih satu jam, dengan begitu kekuatannya baru bisa
dipulihkan kembali. Tapi sekarang keadaan kita berbeda, tak mungkin kita bisa
mengumpulkan waktu selama satu jam untuk mengumpulkan kembali tenaga
dalam kita."
"Ehmm, memang masuk diakal."
Toa sengcu segera menghela napas panjang.
"Aaai... tampaknya nona selalu merasa kurang percaya kepada ucapanku ?"
"Hal ini dikarenakan kau sudah menjadi calon suamiku, bagaimana juga aku harus
banyak memahami tentang gerak gerik suamiku. Apakah tindakanku ini salh ?"
"Kalau begitu mah tak bisa dianggap salah."
"Nah, sekarang apa yang harus kita lakukan ?" Toh kita tak bisa berdiam diri
belaka sambil menunggu terjadinya perobahan ?"
Toa sengcu termenung sebentar, kemudian katanya :
"Bila kita ingin berjumpa dengan Buyung Tian kim, rasanya kitapun tak usah
menyusun rencana lagi untuk menghadapi musuh, asal mengandalkan kepandaian
untuk menerjang lewat, segala sesuatunya akan menjadi beres..."
"Sudah kukatakan, aku harus berjumpa dengan Buyung Tiang kim !" Nyoo Hong
leng.
"Baik, kalau begitu aku dan Lian Giok seng akan membuka jalan di depan, sedang
kalian boleh mengikuti dari belakang."
Ketika tiba di depan pintu, mendadak dia berpaling lagi sambil melanjutkan.
"Didalam kotak kayu ditangan Ji sengcu itu selain tersimpan senjata rahasia
beracun juga terdapat sebuah cermin dan sebuah batu kaca. Bila bertarung di
bawah sinar matahari atau cahaya lentera, kalian harus lebih berhati-hati."
"Kelihaian dari kotak pusakanya itu terletak pada kerja sama antara senjata
rahasia, cermin serta batu kaca tersebut, bagaimana lihainya kepandaian ilmu silat
yang dimiliki seseorang, bila sampai terkena cahaya pantulan yang memancar dari
balik kotak akibat sinar matahari atau cahaya api, maka sepasang matanya akan
menjadi buta dan ia tak akan bisa melihat datangnya senjata rahasia lagi. Maka
disaat itulah Ji sengcu akan memanfaatkannya dengan melepaskan senjata rahasia
untuk merenggut nyawa orang."
Setelah berhenti sebentar, kembali dia melanjutkan.
"Mungkin didalam kota kecil itu masih terdapat perubahan lain, tapi
bagaimanapun banyaknya perubahan tersebut, semuanya berkisar pada
penggunaan senjata rahasia untuk melukai orang."
548
"Di kemudian hari, bila kami sampai berjumpa lagi dengannya, kami pasti akan
menghadapi dengan berhati-hati."
Toa sengcu manggut-manggut.
"Bila aku bernasib buruk, kau dan Buyung..."
"Bila kau sampai menderita luka atau tewas, aku pasti akan mendampingimu, jika
kau mati aku akan turut mati, jika kau terluka aku akan mendampingimu sampai
lukamu sembuh. Kau tak usah menguatirkan lagi soal ini...."
Mendengar perkataan itu, Toa sengcu segera mendongakkan kepalanya dan
tertawa terbahak-bahak.
"Haah....haaah...haaah... sungguhkah perkataanmu itu ?"
"Tentu saja sungguh, kini kau sudah menjadi suamiku, akupun telah mengucapkan
sendiri kesediaanku menjadi isterimu. Buyung kongcu menjadi saksi dalam hal ini,
masa aku masih dapat membohongi suamiku sendiri ?"
Ucapan ini sama sekali tidak mengandung rasa cinta yang mesra, tapi justru
merupakan suatu janji kesetiaan yang tegas dan berat.
Diam-diam Buyung Im seng menarik napas panjang, dia berusaha untuk berdiri
tegak agar jangan sampai jatuh terjengkang, sementara dalam hati kecilnya diapun
berusaha untuk mengendalikan emosi, sedih dan murung di atas wajahnya.
Sementara itu, Toa sengcu mengayunkan pedangnya secara tiba-tiba sambil
berkata :
"Setelah mendengar sumpah setiamu, walaupun harus mati, aku akan mati dengan
hati puas."
Dia segera melangkah maju ke depan dengan buru-buru Lian Giok seng
mengikutinya sambil berkata :
"Toa sengcu, di dalam Seng tong masih terdapat banyak sekali huhoat yang condong
kepada Toa sengcu, jumlah tidak berada di bawah jumlah lawan, perlukah kita
untuk mengundang kehadiran mereka guna melindungi keselamatan sengcu ?"
Toa sengcu segera tertawa.
"Ji sengcu dan Sam sengcu tak mungkin tidak berpikir sampai ke situ, persoalan
yang paling sulit yang berada di depan mata kita sekarang adalah menerjang
keluar dari kepungan mereka."
Baru selesai dia berkata, mendadak terlihat bayangan manusia berkelebat lewat,
keempat utusan khusus dan delapan panglima telah bermunculan disana dan
menghadang jalan pergi mereka.
Dengan sorot mata yang tajam, Toa sengcu memandang sekejap ke arah orangorang
itu, kemudian katanya.
"Kalian masih kenal dengan aku ?"
"Toa sengcu ?" jawab lelaki kekar bersenjata golok itu dengan cepat dan hormat.
"Benar, kau sudah mengetahui siapakah diriku, tapi berani menghalangi jalan
pergiku, tahukah kau berapa besar dosamu itu ?"
549
"Kami sekalian mendapat perintah untuk datang kemari, sekalipun berdosa, dosa
itu juga bukan dosa kami."
Buyung Im seng berpaling dan mencoba mengamati si pembicara itu, ternyata dia
adalah seseorang lelaki bertubuh kekar, beralis tebal, bermata besar dan membawa
sebuah golok besar yang beratnya mencapai lima enam puluh kati.
Dalam sekilas pandangan saja dapat diketahui kalau orang ini memiliki tenaga
kekuatan yang mengerikan.
Selain lelaki tersebut, orang-orang yang berjaga di sekeliling tempat itu sudah
meloloskan senjata mereka.
Toa sengcu segera berpaling dan memandang sekejap ke arah Lian Giok seng dan
Nyoo Hong leng sekalipun, kemudian katanya.
"Walaupun empat utusan delapan panglima memiliki kepandaian silat yang lihai,
tapi mereka tak akan sanggup membendung musuh bersama-sama, kalian bertiga
boleh menghadapi ke empat utusan khusus, sedang aku akan menghadapi ke
delapan panglimanya."
Lelaki berbaju hitam yang membawa golok besar itu mendadak mengangkat
senjatanya, kemudian berkata :
"Toa sengcu berilmu silat amat tinggi, bila kami harus bertarung satu lawan satu
jelas bukan tandingan, untung saja Toa sengcu sudah menjelaskan kalau kau
hendak bertarung melawan kami berdelapan, saudara sekalian mari kita mulai !"
Tampak bayangan manusia berkelebat lewat dalam waktu singkat mereka telah
membentuk sebuah barisan.
Buyung Im seng, Lian Giok seng serta Nyoo Hong leng segera tergiring masuk ke
dalam barisan aneh itu.
Tapi ke empat orang lainnya berbaju ketat, berotot kulit dan menyoren pedang
tetap berdiri di empat penjuru dan mengurung mereka semua.
Buyung Im seng pernah berjumpa dengan Sian ciau si ci (utusan khusus rajawali
sakti), tetapi empat orang yang berada di hadapan mereka sekarang rata-rata
mereka mengenakan pakaian yang sama, topi kulit menutupi muka ditambah lagi
perawakan tubuh mereka hampir seimbang sehingga sulitlah bagi dia untuk
mengenali siapakah diantara ke empat orang itu adalah utusan khusus rajawali
sakti.
Kepada Lian Giok seng, diapun lantas berbisik, "Ilmu silat yang dimiliki ke empat
utusan khusus sudah pernah boanpwe saksikan, bila benar-benar terjadi
pertempuran, mereka masih bukan tandingan dari nona Nyoo, tapi entahlah ke
empat orang ini mempunyai suatu ilmu kerja-sama atau tidak ?"
"Ilmu silat yang dimiliki ke empat utusan khusus itu sangat lihai, seringkali
mereka berkelana dalam dunia persilatan, ada kalanya mereka berempat
melakukan perjalanan bersama, adakalanya pula mereka memiliki semacam ilmu
kerja sama, aku tidak begitu jelas. Tapi ilmu silat mereka sering mendapat
petunjuk dari Ji sengcu."
550
"Sekalipun mereka memiliki kerja sama yang kuat, namun kita dengan tiga lawan
empat masih tak usah takut kepada mereka, cuma bagaimana dengan Toa sengcu
sendiri ? Apakah dia sanggup menangkan ke delapan panglima itu ?"
"Sukar untuk dikatakan, Seng-tong-pat-ciang (delapan panglima dari ruang pusat)
merupakan jago-jago nomor satu didalam perguruan Sam seng bun, keistimewaan
mereka adalah didalam permainan senjata rahasia dan kerja sama yang baik."
"Ke delapan orang itu berbentuk badan sangat aneh" kata Nyoo Hong leng pula,
"apakah mereka orang-orang yang selama ini menyaru sebagai patung arca dalam
ruang Seng thong ?"
"Sungguh tajam penglihatan nona, benar, memang ke delapan orang itulah yang
menyaru sebagai patung."
"Sepanjang hari mereka berjaga di dalam ruang Seng thong, mengapa mereka
berani membangkang perintah Toa sengcu ?"
"Ji sengcu dan Sam sengcu memang sudah berniat untuk memberontak, dihari-hari
biasa mereka sering mengadakan pendekatan dengan semua anak buahnya, sedang
Toa sengcu orangnya berpandangan tinggi, ia jarang sekali berbincang-bincang
dengan anak buahnya."
Sementara itu, ke empat orang utusan khusus tersebut masih berdiri di empat
penjuru mengurung mereka bertiga, tampaknya mereka hendak menyaksikan lebih
dulu hasil pertarungan antara delapan panglima melawan Toa sengcu lebih dulu,
kemudian baru mengambil tindakan selanjutnya.
Ke empat orang itu tidak menyerang, Buyung Im seng sekalian pun segera
manfaatkan kesempatan itu untuk mengatur napas, mereka pun bersama-sama
mengalihkan perhatiannya menyaksikan pertarungan yang sedang berlangsung
antara Toa sengcu melawan delapan panglima dari ruang Seng thong.
Setelah memperhatikan sekejap situasi dalam arena, Nyoo Hong leng segera
berbisik dengan ilmu menyampaikan suara :
"Saudara Buyung, kerja sama antara empat utusan khusus delapan panglima
dengan Ji sengcu serta Sam sengcu tidaklah kelewat cepat, agaknya masing-masing
pihak mempunyai perhitungannya sendiri, ditinjau dari sini, dapat diketahui
bahwa Sam seng bun bukanlah suatu organisasi yang teramat rahasia, asal kita
mau perhatikan dengan seksama maka dimana saja akan kita jumpai kesempatankesempatan
yang bisa dimanfaatkan..."
Buyung Im seng hanya manggut-manggut tanpa menjawab. Mendadak terdengar
seruan deruan angin pukulan memecahkan keheningan. Rupanya Toa sengcu dan
delapan panglima tersebut sudah mulai melangsungkan suatu pertempuran seru.
Delapan panglima dengan menempati posisi barisan masing-masing maju
menyerang bersama-sama, tampak bayangan manusia berkelebat lewat bagaikan
putaran roda, sebentar maju sebentar mundur, delapan macam senjata berkelebat
lewat kian kemari memancarkan cahaya keperak-perakan yang amat menyilaukan
mata.
551
Pertarungan yang sedang berkobar sekarang merupakan suatu pertarungan paling
seru yang dijumpai dalam dunia persilatan, delapan panglima itu benar-benar
memiliki kepandaian silat yang luar biasa, terutama sekali barisan kerja sama yang
mereka kembangkan, benar-benar merupakan suatu ancaman yang mengerikan.
Rupanya Toa sengcu bersikap mempertahankan diri, dengan tenang melawan gerak
dan sekaligus menghadapi serangan-serangan dari ke delapan orang panglima
tersebut, sementara pedang di tangannya dengan taktik menekan, mematahkan,
menutul, membabat, berputar menciptakan berkuntum-kuntum bunga pedang yang
menyelimuti angkasa.
Sekalipun pertarungan yang berlangsung sekarang teramat sengit, namun yang
terdengar hanya suara deruan angin dan tak pernah terdengar suara bentrokan
senjata walau hanya sekali saja.
Jelas kedua belah pihak sedang mengembangkan suatu pertarungan cepat lawan
cepat.
Kurang lebih seperminuman teh lamanya, pertarungan masih berlangsung dengan
seru, sementara menang kalah masih belum diketahui.
Serangan berantai yang dilancarkan oleh delapan orang panglima itu cepat
bagaikan sambaran petir, tampaknya mereka berhasil juga mengurung Toa sengcu
sehingga membuat ia hanya bisa bertahan dan sukar untuk melancarkan serangan
balasan.
Nyoo Hong leng memperhatikan sekejap situasi dalam arena, setelah itu sambil
menghela napas katanya :
"Betul-betul sebuah barisan yang amat ketat dan lihai sekali, membuat orang tak
mampu berkutik rasanya."
"Nona, sungguh tajam penglihatanmu itu." puji Lian Giok seng dengan suara lirih,
"barisan kerja-sama dari delapan panglima merupakan gubahan dari dua macam
barisan terlihai yang ada dalam dunia persilatan dewasa ini. Setelah digabungkan
menjadi satu, maka terbentuklah sebuah barisan aneh yang tiada ada taranya di
dunia ini."
"Sesungguhnya dibentuk dari gubahan dua macam ilmu barisan apa saja ?" tanya
Nyoo Hong leng.
"Barisan Lo han lin dari Siau lim pay serta barisan Ngo heng kiam tin dari Bu tong
pay."
Tergerak juga pikiran Buyung Im seng setelah mendengar perkataan itu, pikirnya :
"Kalau begitu, perguruan Sam seng bun juga telah mengadakan hubungan dengan
pihak Siau lim pay serta Bu tong pay ?"
Lian Giok seng termenung dan berpikir sebentar, kemudian jawabnya :
"Aku hanya sempat mendengar asal-usul dari barisan Pa Kwa tin ini, jadi benar
atau tidak, aku sendiri pun tidak berani memastikan."
Buyung Im seng segera berusaha untuk menahan apa yang berkecamuk di dalam
benaknya dan tidak berbicara lagi.
552
Terdengar suara Nyoo Hong leng yang merdu kembali terdengar :
"Dia hanya membutuhkan sedikit tenaga lagi untuk bisa menembusi kepungan
tersebut, biarlah aku pergi membantu dirinya."
Selesai berkata dia lantas melangkah maju ke depan.
Dengan cepat Buyung Im seng merentangkan tangan kanannya menghadang jalan
pergi Nyoo Hong leng, kemudian serunya :
"Nona, harap tunggu sebentar !"
"Mengapa ?" tanya Nyoo Hong leng sambil mengerdipkan matanya.
"Biar aku saja yang maju."
"Bila gagal didalam sekali penyerangan maka kita akan terjerumus dalam mara
bahaya, buat apa kau mesti berbuat demikian ?"
"Apakah nona sendiri tidak takut akan mara bahaya ?"
"Tentu saja kau tak bisa dibandingkan dengan diriku, dia adalah suamiku, sudah
selayaknya jika suami isteri menghadapi mara bahaya bersama-sama."
Setiap patah kata itu bagaikan pisau yang amat tajam menusuk ke dalam hati
Buyung Im seng. Tapi diluarnya dia bersikap seolah-olah wajar, sahutnya sambil
tersenyum :
"Benar juga perkataan nona."
Pelan-pelan dia mengundurkan diri ke belakang.
Nyoo Hong leng juga dapat melihat kalau senyuman tersebut terlalu dipaksakan,
senyuman mana jauh lebih tak sedap dipandang daripada isak tangis.
Hal mana segera membuat gadis itu merasakan pula bahwa kehadirannya di dalam
hati Buyung Im seng sebetulnya menempati posisi yang penting sekali, kontan saja
hatinya menjadi pedih dan titik-titik air mata bercucuran.
Tapi dasar wataknya yang keras, gadis itu tak mau membiarkan Buyung Im seng
tahu kalau dia sedang mengucurkan air mata, mendadak dia menerjang maju ke
depan.
Empat orang utusan khusus yang berjaga-jaga di sekeliling arena segera
mengangkat pedangnya dan bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan.
Nyoo Hong leng menerjang ke arah barat, kutungan pedang yang berada di
tangannya langsung diayunkan ke depan menusuk si utusan khusus yang
menghadang jalan perginya itu.
Tampaknya sejak permulaan tadi orang itu sudah bersiap sedia, pedangnya segera
diayunkan ke depan membendung datangnya tusukan pedang dari Nyoo Hong leng.
Dengan cepat gadis itu merendahkan pergelangan tangannya ke bawah sambil
menarik kembali kutungan pedangnya, dengan cepat dia kembangkan serangkaian
serangan berantai yang amat gencar.
553
Sekalipun senjata yang dipergunakan gadis itu hanya sebilah pedang kutung,
namun oleh karena perubahan jurus serangannya yang amat lihai, otomatis
ancaman-ancaman yang dilontarkan pun teramat dahsyat. Hal ini membuat utusan
khusus tersebut sudah keteter hebat sehingga cuma mampu bertahan dan tak bisa
berkemampuan melancarkan serangan balasan.
Tampak dua orang lelaki berbaju hitam yang berjaga-jaga di sebelah utara dan
sebelah selatan segera memutar pedangnya dan menyerang tiba dari sayap kiri dan
kanan.
Dengan suara dingin Buyung Im seng segera berseru :
"Hm, tiga orang lelaki mengerubuti seorang nona, betul-betul suatu perbuatan
memalukan !"
Seraya berseru, tubuhnya segera menerjang ke muka, sambil memutar senjatanya
yang kutung dia hadapi lelaki berbaju hitam yang datang dari sebelah utara, suatu
pertempuran sengitpun segera berkobar.
Sedangkan Lian Giok seng dengan pedang lemas ditangan mengawasi orang
berbaju hitam yang berada di sebelah timur.
Dengan mengandalkan sepotong kutungan pedang, Nyoo Hong leng bertarung
sengit melawan dua orang utusan khusus.
Sementara itu Buyung Im seng yang sudah dua kali terlibat dalam suatu
pertarungan yang seru, dia sudah hapal sekali dengan permainan ilmu pedang
warisan ayahnya, dengan cepat dia kembangkan permainan ilmu pedangnya untuk
meneter diri si lawan.
Dalam waktu singkat pertempuran telah berlangsung hampir dua puluh gerakan
lebih.
Nyoo Hong leng dengan satu melawan dua berhasil mempertahankan posisinya
dengan seimbang, untuk sesaat sulit baginya untuk menentukan kemenangan.
Sebaliknya Buyung Im seng dengan satu melawan satu berhasil merebut posisi di
atas angin, pedang kutungnya berhasil menguasai keadaan dan mendesak
musuhnya sampai tak mampu melakukan serangan balasan lagi.
Orang berbaju hitam yang berjaga di sebelah timur segera mengayunkan
pedangnya sambil menyerbu ke depan setelah menyaksikan rekannya mulai tak
sanggup mempertahankan diri. Lian Giok seng tidak ambil diam, dia segera
menggetarkan pedang lemasnya dan menusuk lurus ke depan.
"Pingin berkelahi ?" ejeknya, "baik lohu akan melayani keinginanmu itu !"
Orang berbaju hitam yang berada di timur segera menggetarkan pedangnya
menangkis pedang lemas Lian Giok seng, yang kemudian sambil membalikkan
tangannya dia melepaskan sebuah serangan balasan.
Pedang lemas dari Lian Giok seng panjang bentuknya, dia berdiri tak bergerak dari
posisi semula, sementara pedang lemasnya seperti ular yang keluar dari gua
langsung menyergap tubuh bagian atas dan bawah lawan untuk menghadang jalan
perginya.
554
Sementara pertarungan sedang berlangsung, mendadak terdengar suara bentakan
nyaring bergema tiba :
"Berhenti !"
Mendengar perintah itu, empat utusan khusus segera menghentikan pertarungan
dan mundur delapan depa dari arena.
Buyung Im seng segera berpaling, ternyata orang yang barusan membentak adalah
Sam sengcu, dengan sepasang pedang terhunus pelan-pelan dia masuk ke dalam
arena.
Ji sengcu mengikuti di belakang Sam sengcu turut memasuki pula ke dalam arena.
Nyoo Hong leng berpaling dan memandang sekejap ke arah Buyung Im seng, lalu
katanya :
"Kau dan Lian cianpwe sementara menahan mereka sebentar, aku harus membantu
dia untuk lolos dari barisan lebih dulu, kalau ia masih tetap terkurung dalam
barisan, tak sampai sepertanak nasi kemudian, kita pasti akan mampus semua di
sini."
"Silahkan nona turun tangan !"
Pemuda itu segera maju ke depan dan menghadang jalan pergi kedua orang sengcu
tersebut.
Nyoo Hong leng tidak ragu-ragu lagi, sambil membentak keras dia segera terjun ke
dalam barisan dengan memutar pedang kutungnya.
Sejak tadi dia telah menghimpun tenaga dalamnya sambil melakukan persiapan,
dia telah menyiapkan diri untuk menerjang masuk ke dalam barisan delapan
panglima itu dengan mengesampingkan jiwa sendiri.
Dengan tubuh dan pedang melebur menjadi satu menciptakan segudang cahaya
tajam, dia langsung menerjang ke muka.
"Traaaang" terdengar suara benturan nyaring bergema memecahkan kesunyian,
Nyoo Hong leng yang menyerbu ke dalam barisan telah berhasil membuka sebuah
titik kelemahan didalam barisan lawan.
"Nona Nyoo, jangan bertindak sembarangan !" buru-buru Toa sengcu berseru
dengan cemas.
Pedangnya diputar bagaikan baling-baling dan menciptakan serangkaian cahaya
bintang yang amat menyilaukan mata.
Terdengar suara jerit kesakitan yang lirih berkumandang silih berganti, darah
segar memancar ke empat penjuru dan pertahanan ilmu barisan aneh itupun
menjadi porak poranda.
Tiba-tiba cahaya pedang lenyap dan bayangan manusia tampak kembali, tahu-tahu
suasana dalam arena telah menjadi suatu perubahan yang sangat besar.
Tampak Nyoo Hong leng berdiri dengan pedang kutung masih ditangan, namun
lengan kirinya telah basah oleh darah.
555
Sedangkan dari delapan panglima tersebut, ada satu orang kehilangan kepala,
seorang terluka parah di dada dan tergeletak di tanah, sedang dua lainnya
menderita luka ditangan kanan.
Dalam waktu singkat suatu perubahan drastis telah terjadi, dari delapan orang
panglima yang terjun ke arena, seorang mati, seorang terluka parah, dua orang
terluka pada lengan kana, untuk sementara waktu mereka kehilangan kemampuan
untuk bertarung lebih jauh, empat macam senjata aneh mereka pun tergeletak di
tanah.
Empat orang sisanya yang sehat tanpa cidera sudah kehilangan keberaniannya
untuk melanjutkan pertarungan, tiba-tiba mereka membalikkan badan dan berlalu
dari situ, diikuti pula oleh dua orang yang terluka ringan.
Waktu itu, Toa sengcu amat menguatirkan keadaan luka yang diderita Nyoo Hong
leng, diapun tidak mengejar ke enam orang itu lebih jauh, buru-buru dihampirinya
gadis itu, lalu tegurnya.
"Nona, parahkah luka yang kau derita ?"
Nyoo Hong leng membuang pedang kutungnya dan memegangi mulut luka dengan
tangan kanan, lalu sahutnya :
"Cepat turun tangan hadapi Ji sengcu dan Sam sengcu, asal kau berhasil
membunuh salah seorang diantaranya berarti kita akan kehilangan seorang musuh
yang amat tangguh."
Toa sengcu manggut-manggut.
"Baik, akan kubunuh salah seorang diantara mereka untuk melenyapkan rasa
jengkelmu."
Dia lantas mendongakkan kepalanya seraya berseru dengan suara lantang :
"Buyung kongcu, menyingkir kau !"
Ternyata Sam sengcu dan Ji sengcu sudah bersiap hendak melancarkan serangan,
tapi berhubung ditengah arena sudah terjadi perubahan maka mereka lantas
mengurungkan niat tersebut sembari mengawasi arena menantikan terjadinya
perubahan lebih jauh.
Mendengar seruan tersebut, Buyung Im seng segera mengundurkan diri dan
menyingkir ke samping.
Pelan-pelan Toa sengcu mengangkat pedangnya ke atas, kain kerudung hitam yang
menghiasi wajahnya bergerak-gerak tanpa terhembus angin.
Mendadak Ji sengcu menjerit keras.
"Dia hendak mengeluarkan ilmu pedang terbang, cepat kilat mengundurkan diri !"
Seusai berkata ia telah membalikkan badan can melompat pergi lebih dulu, dalam
waktu singkat tubuhnya telah berada tiga kaki jauhnya dari tempat semula.
Sam sengcu dan ke empat utusan khusus yang mendengar pekikan itu, buru-buru
membalikkan pula badannya sambil melarikan diri, dalam waktu singkat bayangan
tubuh mereka sudah lenyap tak berbekas.
556
Begitu Ji sengcu dan Sam sengcu kabur, dalam arena pertarungan pun tinggal Toa
sengcu, Nyoo Hong leng, Buyung Im seng, Lian Giok seng, sesosok mayat serta
seorang musuh yang terluka parah.
Sambil membuang pedang yang berada dalam genggamannya, buru-buru Toa
sengcu mendekati Nyoo Hong leng, kemudian tegurnya :
"Nona, bagaimana keadaan lukamu ?"
ooOoo
Bagian Ketiga Puluh Sembilan
"Aah, tidak terlalu parah." jawab Nyoo Hong leng sambil menyingkirkan tangan
kanannya yang menekan di atas mulut lukanya, "tapi juga tidak bisa dibilang
terlalu ringan."
"Barisan aneh dari delapan panglima tersebut mempunyai perubahan yang tak
terukur, aku sendiripun tak sanggup untuk menjebolkan pertahanan ilmu mereka
yang tangguh, tapi setelah kau menyerbu ke dalam barisan sehingga membuat
barisan mereka terhambat, maka muncullah titik kelemahan dalam barisan itu."
"Kalau begitu, hal mana tak ada sangkut pautnya sama sekali dengan keadaanku
yang terluka ?"
"Seandainya aku tidak mendengar jeritan kesakitanmu, mungkin akupun tak akan
sampai terpengaruh oleh hawa napsu membunuh."
"Tampaknya kau berhati bajik ?"
"Paling tidak aku toh bukan seseorang yang gemar membunuh, bukan demikian ?"
"Tapi nama Sam seng bun di dalam dunia persilatan kurang begitu baik, anggota
perguruan inipun gemar membunuh orang dan tindak-tindakan yang kejam."
"Semua kejadian tersebut boleh saja kalian catat atas namaku, aai..."
"Mengapa kau menghela napas? Apakah mereka yang bertindak semena-mena dan
sekehendak hatinya bila kalian orang-orang di dalam Seng thong tidak
menurunkan perintah ?"
"Dalam perguruan Sam seng bun telah didirikan pengaturan yang sangat ketat, ada
banyak persoalan bisa mereka laksanakan tanpa mendapat perintah dahulu dari
pihak Seng tong lagi, mereka dapat melaksanakan kehendak hatinya dengan begitu
saja, lagi pula organisasi ini begitu luasnya dengan beraneka ragam manusia, maka
Seng thong selalu terpisah dari dunia luas, selama ini kami selalu memberi kesan
misterius terhadap mereka, kecuali beberapa orang pemimpinnya, kebanyakan
anggota tidak mengetahui banyak tentang persoalan dalam Seng thong, itulah
sebabnya selama ini tiada yang berani memberontak, tapi secara otomatis banyak
pula tindak-tindakan mereka yang menjadi brutal dan tak berperikemanusiaan..."
"Bukan cuma kelewat batas, perbuatan mereka pada hakekatnya benar-benar
sudah tak bisa dilukiskan lagi dengan kata-kata" sambung Nyoo Hong leng cepat.
"Tapi diantara sekian banyak persoalan, kau tak dapat mengetahui secara
keseluruhannya."
557
Tiba-tiba terlintas satu perubahan aneh di atas wajah Nyoo Hong leng, pelan-pelan
ujarnya.
Toa sengcu manggut-manggut.
"Benar, tapi seandainya nona tidak datang kemari, paling tidak mereka baru akan
menaruh curiga kepadaku setelah melewati suatu jangka waktu yang sangat lama."
"Lantas dimanakah Toa sengcu yang sesungguhnya ?"
"Dia telah menderita luka yang sangat parah, sudah tak sanggup untuk memimpin
urusan dalam perguruan Sam seng bun lagi."
Nyoo Hong leng menjadi keheranan setelah mendengar perkataan itu, katanya lagi.
"Begitu banyak jago lihai yang melindungi keselamatan jiwanya, dia sendiripun
memiliki ilmu silat yang maha sakti dan melebihi kepandaian siapapun, mengapa
dia bisa terluka parah ?"
"Keadaan yang sebenarnya tak akan habis dibicarakan dalam satu dua patah saja,
sekarang bukanlah waktu yang baik untuk berbincang-bincang, setelah kita
tinggalkan tempat ini nanti, semua peristiwa tersebut baru akan kuceritakan lagi
sejelas-jelasnya kepada nona."
"Baiklah, tapi dalam hatiku terdapat beberapa kecurigaan yang amat penting
artinya, aku harap kau bisa memberikan penjelasan lebih dahulu...."
Toa sengcu manggut-manggut.
"Apa yang harus kuterangkan kepadamu ?"
"Hubungan apakah yang sesungguhnya terjadi antara kau dengan Toa sengcu yang
sebenarnya ? Mengapa kau yang dicari untuk menggantikannya setelah dia
mengalami luka parah ?"
"Aku dan dia tidak mempunyai hubungan secara langsung, dia memilih aku untuk
menggantikan kedudukannya, hal ini hanya untuk memudahkan penyaluran
belaka, sebab ilmu silatku tinggi, caraku turun tangan amat keji dan bukan seorang
lelaki sejati, dengan kecerdasan dan kemampuanku masih bisa menghadapi setiap
perubahan situasi, oleh karena itu dia memilih aku."
"Waktu itu, mengapa kau berada di dalam perguruan Sam seng bun ?"
"Aku baru saja ditangkap mereka...."
"Sebenarnya manusia macam apakah Toa sengcu yang sebenarnya itu ?" tiba-tiba
Buyung Im seng menimbrung.
"Soal ini ? Aku merasa sulit untuk mencari jawaban, sebab aku telah bersumpah
tak akan membocorkan rahasianya."
"Kalau toh dia berani mendirikan perguruan Sam seng bun, mengapa takut
diketahui orang lain ?"
"Tentu saja ada alasannya, cuma, cuma...."
"Cuma kau tak dapat mengatakannya bukan ?" sambung Nyoo Hong leng dengan
cepat.
558
"Saat ini waktu amat berharga bagaikan emas, kita tak boleh membuang waktu
yang berharga ini dengan begitu saja..." seru Toa sengcu kemudian.
Selesai berkata dia lantas melangkah pergi dari situ. Buru Nyoo Hong leng maju
dua langkah sambil menghalangi jalan pergi Toa sengcu, serunya :
"Kenapa kau mesti terburu-buru ? Bila persoalan sudah menjadi jelas, kita baru
dapat saling percaya mempercayai, paling tidak kau harus mengungkapkan
keadaan yang sejujurnya kepadaku."
Toa sengcu segera berhenti, lalu katanya.
"Apakah nona kurang percaya kepadaku ?"
"Benar, bila kau masih tetap merahasiakan persoalan tersebut, sulit bagiku untuk
mempercayai dirimu."
"Kecuali menanyakan asal Toa sengcu yang sebenarnya, soal-soal yang lain boleh
kau tanyakan kepadaku..."
Lalu setelah berhenti sejenak, lanjutnya.
"Padahal setelah kalian berjumpa dengan Buyung Tiang kim, tidak sulit untuk
mengetahui keadaan yang sebenarnya, buat apa kalian mesti terburu napsu ?"
"Baiklah, kita tak usah memperbincangkan soal Toa sengcu lagi, kalau begitu kita
berbicara soal dirimu saja, nama aslimu tentunya dapat kau beritahukan kepadaku
bukan ?"
Toa sengcu termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian berkata,
"Aku Seh Khong, bernama Bu siang !"
"Kho Bu siang ? Ehmm, nama dan orangnya sesuai..?"
"Nona masih ingin menanyakan soal apa lagi ?"
Nyoo Hong leng segera menghela napas.
"Aaai... kesempatan di kemudian hari masih panjang, biarlah kutanyakan lagi
pelan-pelan di kemudian hari, apa yang kau katakan memang benar, waktu yang
tersedia buat kita sekarang amat berharga sekali, kita memang tak boleh
membuangnya dengan percuma...."
"Mumpung mereka belum selesai melakukan persiapan-persiapan, kita harus
bertindak dengan lebih cepat, harap kalian semua mengikuti di belakangku."
Selesai berkata, dia maju ke depan lebih dulu.
Dengan saura lirih Buyung Im seng segera berbisik kepada Lian Giok seng.
"Locianpwe, tahukah kau tentang nama Khong Bu siang ini ?"
Lian Giok seng menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Sudah hampir dua puluh tahun lamanya aku terjun dalam Sam seng bun ini,
selama berada di sini, aku amat jarang meninggalkan tempat ini, andaikata aku
masih melakukan perjalanan dalam dunia persilatan sudah pernah mendengar
nama Khong Bu siang ini, paling tidak, usianya pasti sebaya dengan usiaku."
559
Buyung Im seng segera menghela napas panjang.
"Aaai, sayang sekali paman Seng Ji siok, Lui Ngo siok serta Sin tiau (pancingan
sakti) Pau Heng tidak berada di sini, kalau tidak, niscaya mereka akan mengetahui
siapakah Khong Bu siang ini."
Sengaja Lian Giok seng memperlambat langkahnya sehingga dapat berpisah dalam
suatu jarak tertentu dengan Khong Bu siang serta Nyoo Hong leng, kemudian
dengan suara rendah, ujarnya :
"Nak, ada satu persoalan, apakah sudah kau pikirkan masak-masak ?"
"Persoalan apa ?"
"Persoalan yang menyangkut nona Nyoo Hong leng."
"Mengapa dengan dia ?"
"Jika ia benar-benar kawin dengan Khong Bu siang, dapatkah kau menahan
penderitaan dan kesedihan tersebut ?"
"Soal ini... belum pernah boanpwe pikirkan."
"Aku cukup memahami perasaanmu. Sekarang kau hanya memusatkan segenap
pengharapanmu agar bisa bersua dengan ayahmu, sedang masalah lain kau
kesampingkan semua."
"Akan tetapi setelah kau berjumpa dengan ayahmu, persoalan-persoalan yang lain
pasti akan berdatangan semua."
Buyung Im seng tertawa getir.
"Apa yang locianpwe katakan memang benar, namun tiada suatu kejadian yang
sempurna di dunia ini, apa yang sedang boanpwe harapkan hanyalah bisa bersua
dengan ayahku dan ayahku dalam keadaan awan tenteram tanpa sesuatu
kejadian."
Mendengar perkataan itu, Lian Giok seng segera menghela napas panjang, katanya.
"Nak, kau harus pikir kembali persoalan ini masak-masak, menurut apa yang
kulihat, tampaknya perasaan cinta nona Nyoo kepadamu sudah teramat dalam, lagi
pula kau pun menaruh perasaan cinta yang dalam pula kepadanya. Mumpung
keadaan pada saat ini masih belum mencapai suatu tingkatan yang lebih jelek lagi."
"Maksud baik locianpwe biar boanpwe terima di dalam hati saja" kata Buyung Im
seng sambil tertawa getir, "boanpwe rasa persoalan ini bisa kelewat dipaksakan,
lebih baik biarkan saja masalah tersebut berkembang apa adanya."
Sementara pembicaraan masih berlangsung, tiba-tiba Khong Bu siang yang
berjalan di depan menghentikan langkahnya.
Lian Giok seng segera berkata :
"Saat ini bukan saat untuk ribut dengan dorongan emosi, aku harap kau suka
memikirkan sekali."
Tidak menanti Buyung Im seng menjawab, tiba-tiba ia mempercepat langkahnya
maju ke depan.
560
Melihat itu, Buyung Im seng berpikir di dalam hati :
"Secara tiba-tiba Khong Bu siang menghentikan langkahnya, jelas hal ini
dikarenakan sesuatu hal."
Berpikir demikian, dia segera mempercepat langkahnya memburu ke depan....
Tiba di situ, dia saksikan Khong Bu siang sedang menundukkan kepalanya sambil
memeriksa keadaan di permukaan tanah, seakan-akan berusaha untuk
menemukan sesuatu benda yang hilang.
Padahal Buyung Im seng menyaksikan jalanan itu datar dan rata, sama sekali
tiada hambatan apa-apa, maka dengan keheranan dia lantas berpikir :
"Aneh, apa yang sebenarnya dia cari ?"
Sembari berpikir, dia melangkah maju ke depan.
Tiba-tiba terdengar Khong Bu siang membentak keras," Buyung kongcu, berhenti !"
"Ada apa ?" tanya Buyung Im seng sambil berhenti.
"Buyung kongcu, aku rasa kau pasti sudah melihat bukan kalau aku sedang
melakukan pemeriksaan ? Mengapa kau begitu berani menempuh mara bahaya ?"
"Karena aku tidak melihat ada sesuatu yang tidak beres di atas jalan darah ini."
"Hmm, coba aku terlambat sedetik saja menyuruhmu berhenti sehingga kau maju
dua langkah saja..."
"Ada pa ?" tukas Buyung Im seng.
"Hal itu akan membuat aku menjadi repot dan tidak dapat memberikan
pertanggung-jawaban kepada nona Nyoo. Sedangkan kaupun jangan harap bisa
bersua lagi dengan ayahmu."
Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan.
"Mungkin Buyung si heng tak mau mempercayai perkataanku....."
Mendadak dia mendongakkan kepalanya dan memperhatikan sekeliling tempat itu
kemudian sambil menatap ke arah utara katanya :
"Kalian jangan bergerak secara sembarangan !"
Kemudian sekali melompat dia sudah berkelebat pergi dengan kecepatan bagaikan
sambaran petir.
Ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya memang sangat lihai, hanya di dalam
waktu singkat, bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas.
Nyoo Hong leng segera berpaling dan memandang sekejap ke arah Buyung Im seng,
dia seperti ingin mengucapkan sesuatu, namun akhirnya niat tersebut diurungkan.
Sungguh cepat gerakan tubuh dari Khong Bu siang, waktu pergi ia pergi dengan
cepat, waktu kembali diapun kembali dengan cepat, hanya kali ini dia muncul
sambil mengempit sesosok tubuh manusia.
Begitu sampai di tempat semula, dia lepaskan orang berbaju hitam yang
dikempitnya itu, kemudian menepuk bebas jalan darahnya, setelah itu dengan
suara dingin dia berkata :
561
"Kaburlah menuju ke arah barat... !"
Orang berbaju hitam itu mengawasi wajah Khong Bu siang yang berkerudung
dengan sorot mata ketakutan, sementara kakinya pelan menggeser mundur, setelah
mundur sejauh satu kaki mendadak ia membalikkan badan kemudian melarikan
diri terbirit-birit.
( Bersambung ke Jilid 28)
562
Lembah Tiga Malaikat
Oleh: Tjan
Jilid 28
Buyung Im seng memperhatikan lelaki itu dengan seksama, puluhan langkah
sudah dilalui namun tidak terjadi perubahan apa-apa, baru saja akan mengejek
mendadak terlihat olehnya lelaki berbaju hitam itu jatuh terjengkang ke tanah
dengan badan tertelungkup, kemudian setelah meronta sebentar akhirnya dia tak
berkutik lagi.
Dengan suara dingin Khong Bu siang lantas berkata :
"Seandainya tadi Buyung kongcu tak mau mendengarkan perkataanku, maka orang
yang tergeletak di sana sekarang bukanlah lelaki berbaju hitam itu, melainkan
saudara."
Buyung Im seng membungkam dalam seribu bahasa, sementara dalam hati
kecilnya berpikir.
"Jika dia tidak memperingatkan diriku, aku pasti akan menyerbu ke depan, saat itu
niscaya aku sudah keracunan dan mati. Bagaimanapun juga, ia memang
mempunyai budi pertolongan kepada diriku."
Sementara dia masih termenung, Nyoo Hong leng telah berkata kembali :
"Di depan sana kalau memang ada racun, katakan saja toh sudah cukup. Kenapa
kau mesti pergunakan begitu banyak tenaga untuk menangkap seseorang lalu
menggunakannya sebagai kelinci percobaan ?"
"Andaikata sekarang aku masih seorang Toa sengcu, aku percaya kalian akan
mempercayai perkataanku, tapi aku sekarang tak lebih hanya Khong Bu siang, aku
rasa kalian tentu merasa ragu terhadap setiap perkataan yang kuucapkan. Oleh
karena itu mau tak mau aku harus membuktikannya dengan suatu kenyataan."
Setelah berhenti sebentar, pelan-pelan sorot matanya dialihkan ke wajah Buyung
Im seng dan Lian Giok seng, kemudian melanjutkan :
563
"Entah bagaimanakah jalan pemikiran kalian tapi yang pasti keadaan kita
sekarang adalah senasib sependeritaan. Aku percaya baik kepandaian silat maupun
kecerdasanku melebihi kalian berdua, aku harap di dalam keadaan seperti ini
kalian berdua mau menuruti perintah dariku meski untuk sementara saja."
"Toa sengcu..." seru Lian Giok seng.
"Aku adalah Khong Bu siang" tukas orang itu cepat, "kau tak usah menyebut aku
sebagai Toa sengcu lagi, selanjutnya kita boleh saling membahasai dengan sebutan
saudara."
Liang Giok seng menjadi tertegun, kemudian sahutnya :
"Soal ini... baiklah, hamba akan menuruti perintah."
Khong Bu siang segera mendongakkan kepalanya memperhatikan cuaca, tanpa
senja telah menjelang tiba, matahari sorepun memancarkan sinar yang indah.
Melihat senja telah menjelang tiba, dia menghembus napas panjang, kemudian
katanya.
"Moga-moga saja sebelum menjelang tengah malam nanti kita sudah dapat bersua
dengan Buyung Tiang kim, kemudian sebelum fajar telah meloloskan diri dari mara
bahaya."
"Kita harus berusaha melewati daerah beracun dulu sekarang." tukas Nyoo Hong
leng.
"Racun yang disebarkan disekitar tempat ini memang sangat lihai, asal kena
tersentuh sedikit saja maka racun itu akan segera mulai bekerja. Aku harus
memeriksa dulu berapa besarkah daerah yang disebari racun itu. Tapi kalau dilihat
dari jenis racun yang tidak gampang dalam pembuatannya, jelas tempat yang
disebar pun tak akan terlalu besar."
Nyoo Hong leng berpaling dan memandang sekejap ke arahnya, kemudian katanya :
"Andaikata meraka tak bisa menyebarkan seluruh wilayah di sekitar tempat ini
dengan racun, asal kita melingkari daerah ini, bukankah urusan menjadi beres ?"
Dengan cepat Khong Bu siang menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Bila kita masih bisa menghindari tempat ini, tak nanti mereka akan menyebari
tempat ini dengan racun."
Kemudian sambil membungkukkan badan ia mengambil dua macam senjata,
setelah itu katanya lagi "Aku akan pergi melihat keadaan, kemudian baru kita
putuskan lebih jauh."
"Kau harus berhati-hati !" pesan Nyoo Hong leng.
"Tak usah kuatir, kalian jangan bergerak, berdiri saja ditempat masing-masing."
Walaupun mukanya ditutupi dengan kerudung hitam sehingga sulit buat orang lain
untuk mengetahui mimik wajahnya, namun kalau didengar suaranya dapat
didengar kalau dia merasa amat gembira.
564
Tampak dia melompat ke udara lalu berjumpalitan dengan kepala di bawah, kaki di
atas kemudian dengan kedua macam senjata itu sebagai pengganti kaki, dia
berjalan menyelusuri tempat itu.
Gerakan badannya amat cepat dan lagi amat lincah, dalam waktu singkat dia
sudah berada sejauh tujuh delapan kaki dari tempat semula kemudian setelah
memeriksa sebentar, dia berjalan balik lagi dengan waktu yang sama, setelah itu ia
baru berjumpalitan dan melayang turun ditempat semula.
"Bagaimana ?" tanya Nyoo Hong leng.
"Daerah yang disebari racun mencapai delapan kaki lebih, bagaimanapun bagusnya
ilmu meringankan tubuh seseorang, jangan harap bisa melampaui tempat itu dalam
sekali lompatan."
"Dengan senjata menggantikan kaki, kau berhasil melewati daerah beracun dengan
selamat, mengapa kami tidak menirukan pula caramu itu untuk menyeberangi
wilayah yang beracun ini ?"
Khong Bu siang berpikir sebentar, lalu katanya :
"Untuk menyeberangi daerah beracun ini jelas bukan suatu pekerjaan sukar, yang
terpenting adalah bisa mendapatkan benda sebagai pengganti kaki serta waktu
menyentuh tanah jangan terlalu berat sehingga menyebabkan debu beterbangan,
asal hal ini bisa dilakukan, niscaya daerah tersebut bisa dilewati dengan selamat."
"Berbicara menurut kemampuan yang dimiliki kami beberapa orang, rasanya
bukan sesuatu yang sulit untuk melaksanakan hal tersebut, cuma sayang senjata
yang bisa digunakan sebagai pengganti kaki terlampau sedikit jumlahnya."
"Itu mah bukan soal sulit" kata Lian Giok seng, "disekitar pesanggrahan Teng cian
siau cu penuh tumbuh pepohonan bambu, biar aku mengambilnya beberapa sebagai
pengganti kaki."
Selesai berkata, dia lantas membalikkan badan dan berlalu dari tempat itu.
Menanti Lian Giok seng sudah pergi jauh, Khong Bu siang baru berkata dengan
suara rendah :
"Buyung kongcu, untuk menjumpai ayahmu, kita bakal melewati tempat-tempat
berbahaya yang jauh lebih sukar dibandingkan dengan tempat bahaya yang bakal
kita lalui jika meninggalkan tempat ini. Aku sudah kehilangan pamorku sebagai
Toa sengcu di hadapan Lian Giok seng, apa yang ku ucapkan juga belum tentu akan
diturut, bagaimana agar dia mau membantu dengan sepenuh tenaga, hal ini
terpaksa harus tergantung pada dirimu sendiri."
Buyung Im seng termenung sebentar lalu berkata :
"Perkataanmu terlalu kabur, dapatkah kau jelaskan lebih terang lagi ?"
"Lian Giok seng mempunyai banyak teman lama di dalam perguruan Sam seng bun,
kita membutuhkan bantuan mereka agar dapat berhasil dengan sukses...."
Agaknya perkataan itu belum selesai diutarakan, karena secara tiba-tiba dia tutup
mulut.
565
Buyung Im seng kembali berpikir sebentar, lalu katanya lagi :
"Ada beberapa hal aku masih kurang begitu jelas."
Mendadak suara Khong Bu siang berubah menjadi dingin dan kaku, tegasnya :
"Apakah aku harus mengatakannya jelas ?"
"Kecerdasan dan kemampuanku tak bisa menandingi kehebatanmu, sudah barang
tentu jika kau bisa menjelaskan lebih jelas, hal tersebut justru jauh lebih baik
bagiku."
"Menurut perhitunganku, untuk berjumpa dengan ayahmu maka kita harus
melewati dulu beberapa buah tempat yang amat berbahaya, menurut
perhitunganku, paling tak ada berapa orang diantaranya bakal mati, kau Buyung
kongcu jelas tak boleh mati, akupun tak ingin mati, sedangkan nona Nyoo lebihlebih
tidak boleh mati, namun dalam kenyataan harus ada yang mati, kalau kami
tak boleh mati, otomatis kita harus mencari beberapa orang untuk menggantikan
kita."
"Kalau didengar dari pembicaraan itu, agaknya mereka bakal mampus" kata
Buyung Im seng.
"Kesempatan untuk hidup hanya dua puluh persen, kau harus menyuruh Lian Giok
seng untuk mencari beberapa orang teman."
"Kalau suruh mereka datang hanya untuk menghantar kematian saja, hal ini mana
bisa ku utarakan ?"
"Aku hanya memberitahukan keadaan yang sebenarnya, sedang bagaimanakah
cara untuk mengatasinya, hal ini lebih baik diputuskan sendiri oleh Buyung
kongcu."
"Di dalam perguruan Sam seng bun toh banyak terdapat manusia-manusia yang
jahat dan banyak melakukan kejahatan, kematian mereka sudah merupakan suatu
yang pantas, mengapa saudara Buyung harus menaruh kasihan terhadap mereka ?"
kata Nyoo Hong leng pula.
Sementara pembicaraan berlangsung, Lian Giok seng dengan membopong
segenggam bambu telah muncul kembali.
Terdengar Khong Bu siang berkata lebih jauh.
"Bila kita sedang berjalan sampai ditengah jalan lalu diserang orang, bisa jadi kita
akan dibikin gelagapan, maka aku harap bila kalian membawa senjata rahasia,
siapkan senjata rahasia untuk menghadapi lawan, bila tidak membawa senjata
rahasia, harap siapkan batu untuk menjaga segala kemungkinan dan lagi nanti kita
harus berjalan beriring, nah aku akan berjalan lebih duluan."
Sambil membalikkan badan ia segera melompat ke udara, lalu dengan
mempergunakan senjata sebagai pengganti kaki, dia menyeberangi tempat itu lebih
dulu.
Buyung Im seng segera mengambil pula sebatang bambu dan menirukan cara
Khong Bu siang mengikuti di belakangnya, hanya jarak berselisih hampir dua kaki.
Dengan suara lirih Hong leng segera berbisik.
566
"Lian locianpwe, harap kau berjalan empat kaki di belakang Buyung kongcu,
seandainya terjadi sesuatu perubahan, kitapun masih mempunyai kesempatan
untuk menghadapinya."
"Aku rasa lebih baik kita menunggu sampai kedua orang itu mencapai seberang
sana lebih dulu baru kita menyusul di belakang." kata Lian Giok seng cepat.
Nyoo Hong leng berpikir sebentar, kemudian mengangguk.
"Ucapan locianpwe memang ada benarnya."
Dalam perkiraan kedua orang itu, Khong Bu siang dan Buyung Im seng pasti akan
mendapat serangan setelah berada ditengah jalan nanti, siapa tahu apa yang
kemudian terjadi sama sekali di luar dugaan, ternyata mereka berdua berhasil
menyeberangi daerah beracun itu dengan cepat dan selamat tanpa mengalami
serangan apapun.
Nyoo Hong leng segera memandang Lian Giok seng sekejap, kemudian pelan
katanya.
"Tampaknya Ji sengcu dan Sam sengcu bukan seorang manusia yang pintar dan
berakal."
"Dari mana kau bisa tahu ?"
"Sekalipun mereka menyebarkan racun di sini, tetapi tidak tahu untuk
mempersiapkan orang di sekitarnya, coba jikalau mereka melancarkan serangan
maut dikala kita sedang menyeberangi daerah beracun ini, niscaya keadaan kita
akan berbahaya sekali."
Sembari berkata dia lantas melompat ke depan dan mempergunakan sepasang
bambu untuk menyeberangi tempat itu.
Lian Giok seng ikut menghimpun tenaga, menutup pernapasan dan menyusul di
belakang Nyoo Hong leng.
Ternyata mereka berdua berhasil mencapai tempat seberang dengan aman dan
selamat.
Khong Bu siang segera memandang sekejap ke arah Nyoo Hong leng dan Buyung
Im seng, kemudian katanya.
"Kejadian ini rada aneh"
"Apanya yang aneh?"
"Aku tidak percaya kalau Ji sengcu dan Sam sengcu bisa melupakan tempat
jebakan ini"
"Dengan kemampuan dari Ji sengcu, seharusnya hal ini memang tak akan bisa
dilupakan, mungkin dibalik kesemuanya itu masih terdapat alasan yang lain." seru
Lian Giok seng.
"Maksudmu ada orang yang secara diam-diam membantu kita untuk membersihkan
semua jebakan-jebakan yang berada di sini ?"
"Ya, hamba berpendapat demikian."
567
Khong Bu siang segera termenung dan berpikir sebentar, kemudian katanya lagi.
"Aku tak bisa menduga, siapakah yang bersedia membantu kita."
"Hamba rasa Toa sengcu sudah lama menanamkan pengaruhnya dalam Seng thong,
mungkin ada orang yang secara diam-diam membantu dirimu."
Khong Bu siang mendehem pelan, lalu berkata :
"Jika ada orang yang membantu kita secara diam-diam, sudah pasti mereka
membantumu, mereka membantu diriku ? Jelas hal ini tiada hubungan dengan
aku."
Lian Giok seng hanya tertawa dan tidak membantah lagi.
Tiba-tiba Khong Bu siang melompat ke udara dan menerjang ke balik semak
belukar lebih kurang dua kaki dari situ.
Tampak tangan kanannya diayunkan ke depan melancarkan sebuah pukulan,
dimana angin pukulannya berhembus lewat, semak belukar segera bertumbangan,
tangan kirinya cepat menyambar ke depan mencengkeram seseorang.
Nyoo Hong leng sekalian segera mengalihkan sorot matanya ke arah depan,
ternyata punggung orang itu sudah basah kuyup dengan darah.
Dengan seksama Khong Bu siang perhatikan sekejap mulut luka di punggung
mayat itu tiba-tiba kain kerudung hitamnya bergetar keras, jelas perasaannya
sedang bergejolak keras, hal ini menunjukkan kalau dia merasa amat terperanjat.
Nyoo Hong leng berpaling dan memandang sekejap ke arah Lian Giok seng,
kemudian tanyanya dengan suara rendah :
"Apa yang telah membuatnya terperanjat ?"
"Entah !" Lian Giok seng menggelengkan kepalanya berulang kali.
Agaknya Khong Bu siang mendengar jelas pembicaraan kedua orang itu, dengan
cepat dia menyambung :
"Kemarilah kau, coba kau periksa luka yang diderita orang ini.."
Dengan langkah lebar Lian Giok seng segera maju ke depan, setelah memeriksa
mayat itu sekejap, ujarnya :
"Dia terluka oleh sejenis senjata rahasia yang berbentuk bulat."
"Hanya begitu saja ?"
"Soal yang lain tidak berhasil kulihat."
"Coba kau periksa sekitar mulut lukanya."
Nyoo Hong leng dan Buyung Im seng sama-sama melongok ke depan, betul juga
disekitar mulut luka itu ditemukan segulung warna hitam yang amat lekat.
"Aku tidak mengerti, lingkaran hitam itu sebenarnya melambangkan soal apa ?"
kata Buyung Im seng.
"Tampaknya seperti luka terbakar...."
568
Mendadak Lian Giok seng seperti memahami akan sesuatu, segera serunya dengan
cepat :
"Aaah, aku mengerti sekarang, aku sudah mengerti !"
Sembari berkata, wajahnya segera memperlihatkan perasaan kaget dan seram yang
amat tebal.
"Apa yang kau pahami ? Cepat katakan !" seru Nyoo Hong leng dengan perasaan
tercengang.
"Mo gan wi, Mo gan wi..."
"Apa sih Mo gan wi itu ?" seru Buyung Im seng keheranan, "dia manusia atau nama
julukan ?"
"Semuanya bukan, Mo gan wi adalah sejenis senjata rahasia, senjata rahasia yang
mematikan !"
"Berjuta-juta manusia di dunian ini pandai mempergunakan senjata rahasia, aku
rasa pasti terdapat sejenis senjata rahasia lain yang jauh lebih lihai daripada Mo
gan wi tersebut."
"Kau tidak mengerti...."
"Itulah sebabnya aku ingin memohon petunjuk dari locianpwe !"
"Sayang, dalam keadaan dan situasi seperti ini, tak ada waktu lagi bagiku untuk
memberi penjelasan."
"Paling baik tak usah dijelaskan lagi" tukas Khong Bu siang, "kalau dijelaskan
hanya akan membingungkan jalan pemikiran manusia saja."
"Aaai... perkataan Toa sengcu memang benar !" Lian Giok seng menghela napas
panjang.
Khong Bu siang tidak berbicara lagi, dia membaringkan mayat itu ke tanah,
kemudian berkata :
"Aku rasa disekitar tempat ini nanti banyak terdapat mayat manusia, semua
penjaga di sini telah tewas semua oleh senjata rahasia Mo gan wi, karena itu tak
ada orang yang menyerang kita"
Selesai berkata dia lantas melangkah maju ke depan.
Nyoo Hong leng berpaling dan memandang sekejap ke arah Buyung Im seng,
kemudian bisiknya lirih.
"Hati-hati sedikit !"
Lalu dia menyusul di belakang Khong Bu siang.
Setelah berjalan sekian lama, akhirnya sampailah mereka di ujung jembatan Kiu ci
kiau.
Tampak Toan Thian wi yang mengenakan baju berwarna merah itu berdiri di ujung
jembatan sambil menghadang jalan pergi mereka...
Dengan suara lirih Khong Bu siang berbisik :
569
"Kalian berhenti dulu"
Kemudian dia berjalan mendekati jembatan dan menegur dingin :
"Minggir kau !"
Toan Thian wi buru-buru menjura sambil berseru :
"Menjumpai Toa sengcu !"
"Tak usah banyak adat, aku minta kau minggir dari situ !"
Toan Thian wi ragu-ragu sebentar, kemudian menegur :
"Siapakah kau ?"
"Sudah begini lama kau berada didalam perguruan Sam seng bun, masa siapakah
aku juga tak kau ketahui ?"
"Kau adalah Toa sengcu"
"Benar, kalau toh sudah mengetahui siapakah aku, apakah kau juga berani
membangkang perintahku ?"
"Aku belum pernah menyaksikan paras muka Toa sengcu yang sebenarnya, hari ini
aku berharap bisa berjumpa muka denganmu sehingga apa yang menjadi
harapanku bisa terpenuhi !"
"Sudah berapa lama kau menyimpan harapan tersebut ?" tegur Khong Bu siang
dingin.
"Sudah dua puluh tahun aku menjaga jembatan ini, keinginan itupun sudah dua
puluh tahun kusimpan di dalam hati."
"Mengapa tak kau utarakan keinginanmu itu sedari dulu ?"
"Aku tak punya kesempatan"
"Sekarang kau anggap kesempatan telah tiba ?"
"Benar. Ji sengcu dan Sam sengcu bersama-sama menghadapi Toa sengcu, hamba
mendapat perintah untuk menahan jembatan ini."
"Besar benar perkataanmu itu."
Toan Thian heng tertawa hambar.
"Terus terang kukatakan, terhadap Ji sengcu dan Sam sengcu pun aku tidak
berniat untuk berbakti kepadanya sampai mati, begitu juga terhadap Toa sengcu,
aku dapat membantu mereka, berarti dapat juga membantu dirimu...."
Mendadak Khong Bu siang menghela napas panjang, katanya :
"Apakah semua orang yang berada dalam Sam seng bun sama semua seperti kau ?"
"Menurut apa yang kuketahui, Sam seng bun bisa menguasai anak buahnya karena
suatu sistim yang rahasia, seperti siksaan, peraturan dan lain sebagainya, tapi
begitu rahasia tersebut terbongkar maka mereka pun tak akan lagi berbakti kepada
Sam seng bun"
570
"Tapi yang jelas kalian dipengaruhi oleh semacam obat beracun yang bersifat
lamban. karena pengaruh racun itu maka kalian tak akan bisa meninggalkan Sam
seng bun lagi"
"Oleh karena itu banyak orang lantas bertekad untuk membalas dendam. Bila
mereka mendapat kesempatan, maka serentak mereka akan berbalik arah..."
Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan :
"Sudah dua puluh tahun lamanya, Sam seng bun menjagoi dunia persilatan, setiap
orang yang mendengar nama Sam seng bun, tentu akan mengalah dan mundur
teratur, padahal anggota Sam seng bun sudah bertekad untuk berontak, bila
saatnya sudah tiba, maka keadaannya pasti akan berubah jadi mengerikan sekali"
"Sayang sekali waktu yang tersedia bagiku amat terbatas, aku tak dapat banyak
berbicara lagi denganmu."
"Apa yang kuucapkan juga sudah selesai, bila Toa sengcu ingin menggunakan
kepandaian silat untuk menyeberangi jembatan ini, silahkan saja untuk turun
tangan"
Pelan-pelan Khong Bu siang menyingkap kain kerudung mukanya, kemudian
berkata :
"Bukankah kau ingin menyaksikan raut wajahmu yang sebenarnya"
Toan Thian heng memperhatikan beberapa saat lamanya, kemudian baru menegur.
"Siapakah kau ?"
Khong Bu siang tidak menjawab pertanyaan itu, dia menurunkan kembali kain
kerudungnya lalu berkata.
"Kau sudah melihat wajahku dan apa yang menjadi harapanmu selama dua puluh
tahunpun sudah terpenuhi."
Toan Thian heng manggut-manggut.
"Baik, aku akan menyingkir !" katanya.
Kemudian dengan cepat dia menyingkir ke samping.
"Kami serombongan terdiri dari empat orang" kata Khong Bu siang kemudian.
"Apakah para huhoat dari Sam seng thong ?"
"Selain Lian Giok seng, juga terdapat Buyung Im seng dan Nyoo Hong leng."
Toan Thian heng berpikir sebentar, kemudian katanya :
"Suruh mereka menyeberang semua ! Melepaskan seorang atau empat orang juga
sama saja akan mati."
Waktu itu malam hari sudah menjelang tiba pemandangan pada jarak dua sampai
tiga kaki di sekeliling tempat itu sudah menjadi samar dan tak bisa terlihat jelas.
Khong Bu siang segera memberi tanda, Lian Giok seng, Nyoo Hong leng dan
Buyung Im seng segera menyeberangi jembatan itu semua.
571
Mendadak Toan Thian heng kembali ke ujung jembatan dan menghadang jalan
pergi mereka.
Sambil tertawa dingin Khong Bu siang segera menegur :
"Mengapa ? Apakah kau menyesal ?"
"Bukan begitu, aku ingin menanyakan tentang satu hal." sahut Toan Thian heng.
"Soal apa ?"
"Benarkah kau adalah Toa sengcu yang asli ?"
"Dua jam berselang aku masih berada dalam ruang Seng thong sambil memberi
peringatan tapi sekarang Ji sengcu dan Sam sengcu sudah tidak mengakui
kedudukanku sebagai Toa sengcu lagi. Menurut pendapatmu apakah aku masih
terhitung Toa sengcu atau bukan ?"
"Seharusnya kau bukan karena usiamu terlalu muda, sudah dua puluh tahun aku
berjaga di jembatan Kiu ci kiau ini, padahal sewaktu masuk ke dalam perguruan
Sam seng bung, aku masih berusia lima puluhan tahun, sedang kini aku sudah
berusia lanjut, walaupun di dunia ini terdapat ilmu awet muda, tidak seharusnya
bekas-bekas ketuaan bisa dihilangkan sama sekali, tapi aku lihat usia Toa sengcu
memang belum begitu tua."
"Baiklah, kalau begitu kukatakan bahwa aku bukan Toa sengcu yang sebenarnya."
"Kalau begitu, bolehkah aku tahu nama Toa sengcu ?"
"Kalau orang merasa tak puas, hal ini merupakan sesuatu yang tidak benar..."
"Tapi kalau ada kesempatan untuk mengetahui sesuatu rahasia, mengapa aku tak
memanfaatkan ?"
"Aku bernama Khong Bu siang" katanya kemudian, "apakah kau pernah
mendengar nama itu ?"
Toan Thian heng termenung sebentar, kemudian menjawab :
"Khong Bu siang.... ? Khong Bu siang ..." Agaknya pernah mendengar orang
membicarakan soal ini, sayang aku sudah tak ingat lagi siapa yang pernah
menyebut nama ini."
"Apa lagi yang hendak kau tanyakan ?
"Kamu mau membawa Buyung kongcu kemana ?"
"Membawanya untuk berjumpa dengan Buyung Tiang kim"
"Membutuhkan bantuanku ?"
"Bila kau berminat untuk membantu kami, jagalah di jembatan ini dan jangan
biarkan orang-orang dari Ji sengcu dan Sam sengcu melewatinya, sebab bantuanmu
ini sangat berguna buat kami."
"Baik, aku akan berusaha dengan sepenuh tenaga."
Kemudian sambil menjura kepada Buyung Im seng katanya lagi :
"Jika berjumpa dengan Buyung tayhiap, tolong sampaikan salamku untuknya."
572
"Boanpwe mewakili ayahku mengucapkan banyak terima kasih." dengan cepat
Buyung Im seng menjura.
Toan Thian heng segera menyingkir ke samping sambil berseru.
"Silahkan saudara sekalian lewat."
Dengan dipimpin Khong Bu siang, serentak Buyung Im seng sekalian mengikuti di
belakangnya berlalu dari situ.
Terdengar Toan Thian heng berseru dengan lantang :
"Jika Ji sengcu dan Sam sengcu sekalian dapat menyeberangi jembatan ini, hal
tersebut berarti aku sudah tewas di ujung jembatan Kiu ci kiau ini."
Beberapa patah kata itu diucapkan dengan suara lantang dan gagah, tak bisa
disangkal lagi dia sedang memberitahukan kepada Khong Bu siang sekalian bahwa
dia akan bertahan di jembatan tersebut sampai titik darah penghabisan.
"Bila kami bisa memecahkan kekuatan yang ada, pasti akan kuutus orang untuk
membantu dirimu."
Mendengar perkataan itu, Toan Thian heng segera tertawa terbahak-bahak, "Haah,
haaah, haah, setelah mendengar perkataanmu itu, sekalipun harus mati aku akan
mati dengan perasaan lega." katanya kemudian.
Khong Bu siang berpaling dan memandang sekejap ke arah Lian Giok seng,
kemudian katanya lirih, "Bagaimana dengan ilmu silat yang dimiliki Toan Thian
heng ?" tanyanya.
"Lihai sekali !" jawabnya dengan tegas.
"Sampai seberapa lihai kepandaian silatnya ?"
"Sepuluh kali lipat lebih hebat daripadaku."
Mula-mula Khong Bu siang agak tertegun kemudian serunya.
"Kau bukan sengaja mengunggul-unggulkan kepandaiannya ?"
"Sama sekali tak bermaksud untuk mengunggulkan, bila terjadi pertarungan
antara kau melawan dia, dalam dua puluh gerakan saja aku sudah akan kehilangan
kemampuanku untuk menangkis."
"Wah, kalau begitu dia akan bertahan di jembatan Kiu ci kiau ini sampai mati, itu
berarti dia akan bertahan dalam waktu yang sangat lama sekali....."
Mendadak Khong Bu siang menghentikan langkahnya lalu berkata :
"Kembalilah dan beri tahu satu hal kepadanya."
"Beri tahu soal apa ?"
"Katakan kepadanya agar berhati-hati terhadap kotak kayu ditangan Ji sengcu,
dalam kotak itu berisi senjata rahasia yang sangat beracun, terutama sekali
terhadap pantulan sinar dari kaca bening yang berada di dalam kota tersebut, dia
harus berhati-hati."
Setelah berhenti sejenak, lanjutnya :
573
"Senjata rahasia yang terpancar dari kotak kayu itu bila tertangkis oleh senjata,
maka senjata rahasia tersebut akan meluncur keluar dengan mengikuti senjata
tajam, hal ini penting diperhatikan, cepat kau sampaikan."
Lian Giok seng manggut-manggut dan segera berlalu.
oooOooo
Setelah beberapa orang itu menyeberangi jembatan Kui ci kiau, dipimpin Khong Bu
siang mereka melanjutkan perjalanan ke depan.
Ketika Buyung Im seng menyaksikan jalan yang mereka lewati adalah jalan ketika
datang, tergerak hatinya, ia lantas berseru :
"Hei, kau hendak membawa kami kemana ?"
"Pergi menjumpai ayahmu."
"Bila ingatanku tak salah, jalanan yang kita tempuh sekarang adalah perjalanan
meninggalkan Sam seng thong ?"
"Benar, sewaktu kalian datang kemari, kalian telah melewati sebuah kota batu
yang rendah dan pendek ? Masih ingat ?"
"Ya, masih ingat dengan jelas" sahut Nyoo Hong leng, "tampaknya tempat itu
memang merupakan sebuah tempat yang aneh sekali."
"Bila di dalam dunia persilatan benar-benar terdapat tempat berkumpulnya
kawanan jago lihai, maka tempat tersebut sudah pasti adalah tempat tersebut."
"Aku sungguh merasa heran, Sam seng bun mengurung begitu banyak jago lihai di
sini, sebenarnya apakah maksud dan tujuan kalian ?"
"Suruh mereka untuk menyerahkan ilmu silat yang dimilikinya."
"Aaah..." Nyoo Hong leng berseru tertahan, "tak heran kalau ilmu silat yang
dimiliki orang-orang Sam seng bun beraneka raga dari pelbagai perguruan
manapun ada."
"Aaai, kepandaian silatku ini sesungguhnya berhasil kuperoleh sesudah memasuki
perguruan Sam seng bun" kata Khong Bu siang cepat.
"Hanya dalam hal ambisi, perguruan Sam seng bun memang melebihi siapa pun,
tapi kehidupan seorang manusia paling cuma puluhan tahun belaka, sekalipun ilmu
silatnya berhasil dilatih hingga mencapai nomor satu di dunia, tapi toh akhirnya
tak akan lolos dari kematian."
"Tentu saja bukan cuma sampai di situ sana, masih ada hal-hal lainnya lagi" kata
Khong Bu siang.
"Dapatkah kau katakan kepada kami ?"
"Tentu saja boleh, tapi dalam keadaan dan situasi seperti ini, kita mana dapat
membicarakan soal-soal besar dalam dunia persilatan dengan leluasa..?"
"Baiklah," ujar Nyoo Hong leng kemudian, "soal ini boleh kita bicarakan kembali
lain waktu, tapi yang tidak kupahami adalah mengapa tempat seperti ini bisa
mengurung begitu banyak jago lihai dari dunia persilatan ?"
574
Di tempat ini mempunyai semacam belenggu tak berwujud yang membelenggu
segenap jago silat yang terkurung di dalam kota batu itu."
"Ditempat itu penuh dengan jago-jago luar biasa dari dunia persilatan, tokoh-tokoh
persilatan yang maha hebat dari kolong langit, sekalipun tubuh mereka dibelenggu
rantai emaspun, belum tentu dapat membelenggu mereka, tapi sewaktu kami
melalui kota batu itu, mengapa tidak kami jumpai bekas-bekas belenggu di tubuh
mereka semua. ?"
"Baiklah, untuk mencapai kota batu dimana orang-orang itu disekap masih cukup
jauh, menggunakan kesempatan ini baiklah kita bicarakan keadaan yang
sebenarnya dari kota batu yang banyak orang tersekap didalamnya."
"Aku pernah membuka salah satu pintu rumah untuk diperiksa isinya" sela Buyung
Im seng, "tetapi kujumpai orang di dalam ruangan itu masih tetap duduk tenang
saja, tangan tanpa belenggu, tubuh tanpa ikatan, tapi anehnya mengapa mereka
justru rela dibelenggu di tempat semacam itu ?"
"Jangankan seseorang yang memiliki ilmu silat sangat lihai, sekalipun seorang
manusia biasapun, jika dikurung sepanjang tahun dalam rumah batu itu, dia pasti
akan berusaha keras untuk melarikan diri, mana mungkin mereka bersedia tinggal
sepanjang tahun di dalam ruangan tanpa melakukan suatu gerakan apapun ?"
"Yang kami ingin ketahui sekarang adalah belenggu macam apakah yang telah
mengikat mereka serta bagaimana caranya untuk memecahkan belenggu tersebut
?"
"Walaupun sudah kuucapkan, belum tentu kalian mau mempercayainya dengan
begitu saja."
"Coba kau katakan dulu."
"Sekalipun aku adalah Toa sengcu dari perguruan tiga malaikat ini, tapi
kepandaian semacam apakah yang telah dipergunakan untuk mengurung orang
dalam kota batu itu serta bagaimana cara pemecahannya, hingga sekarangpun aku
tidak tahu."
"Kalau begitu, apakah kau tahu mengapa mereka sampai tersekap di tempat itu ?"
Kembali Khong Bu siang menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Andaikata aku tahu bagaimana mereka sampai terkurung, sudah pasti kuketahui
juga bagaimana caranya untuk memecahkan cara tersebut secara baik."
Nyoo Hong leng segera menghembuskan napas panjang sesudah mendengar
perkataan itu.
"Benar-benar suatu persoalan yang membuat orang tidak habis mengerti tapi aku
mengerti bahwa apa yang kau katakan itu adalah kata-kata yang sesungguhnya."
Khong Bu siang segera berpaling dan memandang sekejap ke arah Lian Giok seng,
kemudian katanya :
"Mungkin kau pernah mendengar cerita tersebar dari seorang lain..."
575
"Aku memang pernah mendengar orang bercerita, konon orang-orang yang disekap
dalam kota batu itu agaknya dikuasai oleh semacam ilmu pembetot sukma."
"Apa yang dinamakan ilmu pembetot sukma ?" tanya Nyoo Hong leng, "dalam ilmu
silat, belum pernah kudengar nama semacam itu."
"Menurut kabar yang tersiar, kecuali ketiga orang sengcu, tiada orang lain yang
mengetahui keadaan yang sebenarnya, tak nyana Toa sengcu sendiripun tak tahu."
"Sudah berapa kali dalam kesempatan berbincang-bincang, aku ingin sekali
mencari tahu keadaan yang sebenarnya dari mulut Ji sengcu maupun Sam sengcu,
tapi mereka pun tak mampu menjawab pertanyaan tersebut, agaknya mereka
sendiripun kurang begitu tahu."
"Kalau toh ada cara untuk menguasai, tentu ada pula cara untuk
membebaskannya, jika kalian semua tidak memahami, bukankah kejadian ini
benar-benar merupakan sesuatu lelucon yang tak lucu ?" kata Nyoo Hong leng
cepat.
"Persoalannya sudah amat jelas, sebelum orang-orang itu turun tangan, mereka
bertekad untuk mengurung orang-orang itu sepanjang masa dalam kota batu dan
tak boleh keluar barang selangkahpun, maka cara tersebut tak pernah diwariskan
lebih lanjut."
Mendengar itu, Nyoo Hong leng segera menghela napas panjang.
"Aaai.... kalau berbincang menurut apa yang kau katakan, sekalipun kita dapat
memasuki kota batu, belum tentu bisa menyelamatkan orang.. ?"
Khong Bu siang tidak langsung menjawab, dia termenung dan berpikir sesaat
kemudian baru katanya :
"Ya, terpaksa kita harus pergi mengadu nasib, aku pikir, asal kita mempunyai
cukup waktu, sudah pasti kita akan berhasil melihat keadaan yang sebenarnya."
Nyoo Hong leng menghela napas panjang.
"Aaai... dalam dunia persilatan perguruan tiga malaikat sudah termasyhur sebagai
suatu perkumpulan yang penuh diliputi kerahasiaan serta kemisteriusan, sungguh
tak disangka kalian sebagai pentolan dalam perkumpulan Sam seng bun pun hanya
mengetahui satu tak tahu lainnya. Aaai, sungguh bikin orang tak habis
mengerti....."
Sesudah berhenti sejenak, dia berkata lebih jauh.
"Sebenarnya siapakah orangnya yang benar-benar mengetahui keadaan yang
sebenarnya dari perguruan Sam seng bun ?"
"Soal ini.... termasuk aku sendiri pun tidak mengerti. Orang yang memberi
kedudukan kepada itu hanya memberi tahu padaku bagaimana cara
mengendalikan serta cara menghadapi Sam seng bun, tapi dia tak pernah
mengungkapkan latar belakang yang sebenarnya dari perguruan Sam seng bun ini."
"Kalau begitu, Ji sengcu dan Sam sengcu masih mengerti jauh lebih banyak
daripada dirimu ?"
Khong Bu siang termenung sejenak, katanya :
576
"Mungkin memang begitu, tapi yang pasti....mereka tidak akan mengetahui rahasia
sekitar kota baru yang digunakan untuk menyekap orang. Kehebatan dari
perguruan Sam seng bun adalah setiap orang dapat melaksanakan tugasnya
masing-masing dengan sebaik-baiknya, tetapi kecuali persoalan serta tugas-tugas
mereka masing-masing, jarang sekali ada yang mengetahui persoalan lainnya."
"Tampaknya di atas kalian tiga orang Sengcu masih ada seorang pentolan lain yang
menguasai seluruhnya ?"
Khong Bu siang segera tertawa getir.
"Ucapanmu memang tepat sekali."
Mendadak Nyoo Hong leng menghentikan langkahnya dan membelalakkan
matanya lebar-lebar, serunya cepat :
"Siapakah orang itu ?"
"Entahlah, mungkin dia hanya seorang huhoat di dalam ruang Seng thong,
mungkin juga dia seorang pengawal biasa, tiada orang yang dapat menemukan
setitik jejakpun untuk menduga-duga kedudukannya."
"Aah, makin berbicara rasanya semakin misterius, sungguh membuat orang sukar
buat mempercayainya."
Khong Bu siang termenung dan berpikir sebentar, kemudian katanya kembali :
"Kalau mau berbicara baiklah aku bicarakan seluruhnya dengan terus terang,
daripada kau menaruh curiga terhadap diriku."
Sesudah menghembuskan napas panjang, lanjutnya :
"Ia tak pernah munculkan diri, tapi setiap tiga bulan sekali yakni pada tanggal lima
belas tengah malam, kami pasti akan menemukan sepucuk surat rahasia didalam
hiolo kecil di dalam ruangan Seng thong, ada kalanya hanya sepucuk, tapi ada
kalanya dua pucuk, malam pengambilan surat rahasia biasanya merupakan suatu
masalah besar yang amat rahasia, dalam ruangan Seng tong kecuali kami bertiga,
dilarang ada orang lain yang turut mengetahuinya."
"Apakah setiap pucuk surat rahasia dibaca bersama oleh kalian bertiga..?" sela
Nyoo Hong leng.
Dengan cepat Khong Bu siang menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Belum tentu, di atas sampul surat rahasia itu sudah tertera jelas sekali, ada
kalanya di atas sampul itu bertuliskan hanya aku seorang yang boleh membacanya,
ada kalanya hanya ditujukan buat Ji sengcu atau Sam sengcu pribadi, pokoknya
jarang sekali kami bertiga disuruh membaca surat itu bersama-sama."
"Apa saja yang tercantum didalam surat itu ?"
"Memberi petunjuk kepada kami untuk melaksanakan tugas dalam perguruan Sam
seng bun, juga memberi batas waktu buat kami untuk menyelesaikan tugas
tersebut, kamipun mengatur dan memerintah Sam seng bun atas dasar surat
rahasia itu/"
577
Sekali lagi Nyoo Hong leng menghembuskan napas panjang.
"Aaai, sungguh penuh dengan liku-liku yang aneh, penuh dengan misterius yang
menggetarkan hati, tentunya banyak sudah surat rahasia yang simpan bukan ?"
"Tak ada sama sekali, karena setiap surat rahasia yang selesai dibaca harus
dikembalikan lagi ke dalam hiolo emas dan tak boleh dibawa keluar dari ruang
Seng tong."
Nyoo Hong ling segera berpaling dan memandang sekejap ke arah Lian Giok seng,
dan kemudian tanyanya :
"Tentang soal-soal seperti ini, apakah kalian tahu ?"
"Aku hanya tahu setiap tengah malam tanggal tiga, enam, sembilan, dua belas dan
lima belas, ketiga sengcu pasti mengadakan rapat bersama dalam ruang Seng tong,
setiap kali rapat baru selesai selewatnya tengah malam, apa yang sebenarnya
terjadi, aku mah tidak mengetahui dengan pasti."
Nyoo Hong leng tertawa dingin.
"Kalau begitu, kau si Toa sengcu tidak lebih cuma seorang boneka, seorang antek
manusia yang kau sendiripun tidak mengetahui."
"Hmm... andaikata kekuasaan besar benar-benar berada di tangan seorang Toa
sengcu, tak nanti orang lain akan benar-benar menyerahkan kedudukan Toa sengcu
ini padaku."
Diam-diam Nyoo Hong leng segera berpikir.
"Ternyata kedudukannya sebagai Toa sengcu inipun hanya sebuah nama kosong
yang sama sekali tak mendatangkan perasaan apa-apa baginya, sehingga sudah
sejak lama dia telah mempunyai niat untuk berkhianat...."
Sementara itu, Khong Bu siang telah berkata :
"Sekalipun di belakang kami masih terdapat seorang lain yang mengatur segalagalanya,
tapi itupun hanya dia lakukan setiap tiga bulan sekali, sedang dihari
biasa, bila mana terjadi suatu persoalan maka akulah yang mengatur segalanya,
jadi boleh dibilang kedudukan aku sebagai seorang Toa sengcu pun boleh bilang
bukan suatu kedudukan boneka atau nama kosong belaka."
Sementara pembicaraan masih berlangsung mereka sudah berada di kota batu
tempat para jago silat disekap.
Waktu itu kentongan pertama sudah hampir tiba, di bawah kerlipan cahaya
bintang, pemandangan disekitar tempat itu secara lamat dapat terlihat jelas.
"Mari kita tunggu sebentar sebelum memasuki kota batu itu !" bisik Khong Bu
siang.
Buyung Im seng ingin cepat-cepat berjumpa dengan ayahnya, buru-buru dia berseru
kembali.
"Kalau toh sudah sampai di sini, rasanya makin cepat semakin baik, mengulur
waktu hanya akan merugikan diri kita saja."
578
"Buyung kongcu, bila kau masih teringat dengan perkataanku, tentu saja kau tak
akan terburu-buru memasuki kota batu itu" pelan-pelan Khong Bu siang berkata.
Buyung Im seng termenung dan berpikir sebentar, kemudian ujarnya :
"Aku sudah tidak teringat lagi apa yang kau katakan, dapatkah kau mengulangi
sekali lagi ucapanmu ?"
"Sudah kukatakan tempat ini berbahaya sekali, siapa yang berjalan paling dulu,
kemungkinan besar akan menjumpai ancaman bahaya maut, sebetulnya aku ingin
mencari beberapa orang untuk mewakili kita mampus, tapi sepanjang jalan
ternyata kita tidak berhasil menemukan orang yang bisa dipergunakan."
"Jika kita menunggu sebentar lagi, bantuan dan manfaat apakah yang bisa kita
petik ?" tanya Buyung Im seng kemudian.
"Sebentar lagi rembulan akan muncul, bila cahaya rembulan telah memancar ke
empat penjuru maka paling tidak kita masih mempunyai beberapa bagian
kesempatan untuk melanjutkan hidup."
"Seandainya Ji sengcu dan Sam sengcu sampai membawa orang menyusul kemari,
bukankah kita bakal repot sendiri ?"
"Aku saja tidak mengetahui seluk beluk yang sesungguhnya dari kota batu dimana
para jago persilatan itu disekap, aku yakin mereka lebih-lebih tidak
mengetahuinya, mereka harus menyerempet bahaya juga bila ingin datang kemari."
Buyung Im seng berseru tertahan dan tidak banyak berbicara lagi, setelah
termenung dan memperhitungkan sebentar, dia lantas berpikir :
"Seandainya benar-benar ingin menyerempet bahaya, sudah sepantasnya kalau aku
yang turun tangan lebih dahulu."
Dalam pada itu, terdengar pula Nyoo Hong leng berkata.
"Kalau toh kau sendiripun tidak mengetahui dengan pasti keadaan yang
sebenarnya dari kota batu ini, darimana kau bisa bilang jika dalam kota batu ini
terdapat banyak sekali mara bahaya yang amat luar biasa.... ?"
"Ada berapa orang huhoat dari Sam seng bun yang tersesat di tempat ini, akibatnya
mereka tewas secara mengenaskan."
Tiba-tiba Buyung Im seng berkata.
"Konon setiap tengah malam, pintu-pintu yang berada di dalam kota batu ini
dibuka bersama-sama, entah benar atau tidak kabar berita ini...?"
"Ya, tengah malam setiap tanggal tiga, enam dan sembilan."
"Hamba tidak mengerti..." sela Lian Giok seng.
"Jangan bertanya kepadaku, yang kuketahui pun tidak lebih banyak, mungkin
rahasia terbesar dari perguruan Sam seng bun terletak di tempat ini, dan malam
ini kita akan melakukan penelitian yang seksama dalam kota batu ini."
"Lantas, mengapa kita tidak segera masuk ke dalam ?"
579
"Bila kita lebih awal memasuki tempat itu, berarti kita akan lebih awal pula
menjumpai mara bahaya."
"Maksudmu, setelah tengah malam lewat nanti, kita baru memasuki kota batu ?"
"Kalau saat itu baru masuk aku rasa kelewat malam, lebih baik kita tunggu sampai
rembulan sudah muncul, selewatnya kentongan kedua, kita baru bertindak."
"Hari ini sudah tanggal berapa ?" kembali Nyoo Hong leng bertanya.
"Tanggal dua puluh tiga. Dikala rembulan sudah muncul nanti berarti sudah
kentongan ke
Nyoo Hong leng mencoba untuk memperhatikan sekeliling tempat itu dengan
seksama, terdengar suara deruan pohon siong dan angin yang berhembus lewat,
kecuali itu sekeliling sana terasa sepi dan hening tak ada sesuatu suarapun, sambil
menghela napas katanya :
"Sewaktu datang kemari, kamipun pernah melewati kota batu ini tapi kami tidak
mengetahui bahaya maut apakah yang tersembunyi dibalik kesemuanya ini, maka
kami melewatinya secara santai dan tenang, selain merasa agak seram, sepi dan
heran terhadap bangunannya yang aneh, kami sama sekali tidak menemukan
sesuatu keanehan apapun. Akan tetapi setelah mendengar keteranganmu sekarang,
agaknya kota batu yang sepi itulah baru merupakan tempat yang paling penting
dari perguruan Sam seng bun kalian."
"Bila dapat menyingkap rahasia dari kota batu tempat penyekapan para tawanan
ini, maka dalam sekejap mata saja semua rahasia dari perguruan Sam seng bun
akan tersingkap."
Dengan sorot mata berkilat Nyoo Hong leng mengawasi wajah Khong Bu siang
lekat-lekat, kemudian katanya :
"Bagaimanapun juga, aku dapat merasakan bahwa kau masih mempunyai banyak
rahasia yang tak dapat diungkapkan secara keseluruhan dalam sekejap mata."
Khong Bu siang segera menghela napas panjang.
"Sudah berapa tahun aku menjadi Toa sengcu dari perguruan Sam seng bun, tentu
saja banyak rahasia yang kuketahui. Cuma, apa yang kuketahui sebagian besar
hanya terdiri dari sepotong-sepotong, oleh karena itu aku tak bisa mengingat
kesemuanya itu secara keseluruhan, tapi bila kalian bisa menanyakannya, mungkin
aku akan teringat kembali. Aaai, sekalipun aku ingin memberitahukan kepadamu
juga tak tahu bagaimana cara untuk mengemukakannya !"
"Kau sudah menjadi Toa sengcu selama banyak tahun, anggap saja sebagai seorang
boneka, apakah selama ini belum pernah mendatangi kota batu tempat penyekapan
kawanan jago ini ?"
"Pernah datang sekali, peristiwa ini terjadi pada setahun berselang, waktu itu aku
bersama Ji sengcu dan Sam sengcu datang kemari bersama-sama..."
Setelah menengok sekejap ke arah Lian Giok seng, dia menambahkan :
"Agaknya kau pun diajak bersama ?"
580
"Benar" sahut Lian Giok seng cepat, "hanya waktu itu aku menjaga di luar kota dan
tidak ikut masuk ke dalam."
"Aku masih ingat, waktu itupun tanggal dua puluh tiga, ketika rembulan muncul,
waktu sudah menunjukkan kentongan kedua, kami memasuki kota batu ketika
rembulan sedang terbit."
"Apakah waktu itu tak ada mara bahaya ?" tanya Nyoo Hong leng.
"Kami datang untuk melaksanakan perintah, apakah sudah diatur semuanya
secara diam-diam, rasanya hal ini sudah cukup jelas."
Sesudah berhenti sejenak, lanjutnya :
"Aku masih ingat, waktu itu aku, Ji sengcu dan Sam sengcu bersama-sama
melewati tiga tempat yang amat berbahaya, kalau dipikir kembali setelah kejadian,
dalam hati kecil kami masih terasa agak ngeri..."
"Apa yang kalian takutkan ?"
"Aku rasanya seandainya sebelum kejadian kami sudah mengetahui bagaimana
cara untuk mengatasinya, dengan mengandalkan kepandaian silat yang kami
miliki, maka untuk melewati pos-pos berbahaya itu dengan selamat sangat sulit
sekali, paling tidak ada satu dua orang diantaranya akan tewas secara
mengenaskan."
"Siapakah yang memberitahukan cara mengatasi tempat-tempat berbahaya
tersebut kepada kalian ?"
"Surat rahasia yang ditinggalkan di dalam hiolo emas dalam ruang Seng tong itu
tercantum jelas cara untuk mengatasi kesulitan tersebut, cuma peristiwa itu telah
berlangsung setahun berselang, apakah mereka masih menggunakan cara yang
lama untuk menghadapi keadaan tersebut, hal mana sukar untuk diduga."
"Paling tidak kau toh memahami salah satu cara diantaranya ?"
"Malam ini, aku memang bersiap-siap untuk menggunakan cara ini.."
Setelah menengok sekejap ke arah Buyung Im seng dan Lian Giok seng, dia
menambahkan :
"Aku harap kalian berdua suka membantuku."
"Mengapa aku tidak dimasukkan dalam hitungan ?"
"Taktik tersebut hanya bisa digunakan oleh tiga orang dan kami bertiga sudah
sanggup untuk melaksanakannya, sebab itu harap nona menjadi pengintai saja
yang mengawasi dari sisi arena."
"Aku ingin menerangkan satu hal, yakni dalam pandangan kami Buyung kongcu
seharusnya hanya seorang tamu, ia tak bisa disuruh untuk melaksanakan sesuatu
tugas kewajiban."
Buyung Im seng yang segera mendengar perkataan itu, buru-buru menukas :
"Mara bahaya yang kita jumpai pada malam ini timbul gara-gara diriku, aku
sebagai seorang manusia bila sedikit bahaya pun enggan dilewati, bukankah hal ini
merupakan suatu perbuatan yang amat tidak berbakti..."
581
"Kali ini tak usah dibicarakan lagi, lain kali tak mungkin akan terjadi lagi peristiwa
semacam ini."
Khong Bu siang manggut, katanya pula :
"Ya, lain kali, aku pasti akan menanyakan maksud hatimu terlebih dahulu."
Sorot matanya segera dialihkan untuk memandang sekejap ke arah Buyung Im
seng serta Lian Giok seng, setelah itu sambungnya lebih jauh :
"Bagian yang paling bahaya akan kuhadapi keadaan bahaya itu, harap Toa sengcu
suka memberi petunjuk." kata Lian Giok seng.
"Aku bernama Khong Bu siang, dari sejak dua jam berselang aku sudah bukan Toa
sengcu dari perguruan Sam seng bun lagi."
Kemudian setelah mendehem pelan, sambungnya lebih jauh.
"Kita harus melewati sebuah pintu batu, sesaat ketika kita lewati pintu batu itu
pada saat yang bersamaan ada dua belas macam senjata tajam yang bersama-sama
akan menyergap datang."
"Dua belas macam senjata tajam yang dimaksudkan adalah senjata dari jenis yang
sama ataukah ada beberapa macam senjata tajam yang berbeda-beda ?"
"Seingatku, senjata tajam itu bukan terdiri dari semacam senjata, tapi ada golok,
ada pedang, masih ada toya besi dan senjata-senjata berat sejenisnya yang akan
menyerang bersama, enam macam menyerang bagian tengah, enam macam sisanya
menyerang kiri dan kanan. Serangan itu mereka pergunakan dengan ilmu silat
yang berbeda-beda tapi semuanya merupakan suatu kerja sama yang amat hebat,
hampir semuanya menyerang pada saat yang bersamaan. Untungnya saja mereka
cuma menyerang satu jurus, asal kita dapat menahan serangan gabungan dari
mereka bebarapa orang, maka orang-orang itu akan segera membubarkan diri dan
tidak melancarkan serangan lagi."
"Itu berarti dalam saat bersamaan kau hendak membendung enam macam senjata
tajam, sedangkan aku dan Buyung kongcu harus menahan tiga macam senjata
bersama-sama."
"Benar, dari kedua belas macam senjata tajam tersebut, serangan yang manapun
sudah cukup untuk mematikan orang, apalagi kalau beberapa senjata itu
menyerang bersama-sama, tentu saja kehebatannya lebih mengerikan, bila salah
satu diantaranya tak terbendung, kemungkinan besar kita akan tewas secara
mengerikan atau paling tidak pun bakal terluka parah dan cacad."
Lian Giok seng segera manggut-manggut, katanya.
"Apakah kita harus bertarung sendiri-sendiri ataukah turun tangan secara
bersama-sama ?"
"Tentu saja harus ada serangkaian ilmu kerja sama yang baik untuk bisa menahan
kedua belas macam senjata tersebut sehingga tak sampai menjadikan timbulnya
suatu titik kelemahan."
Setelah berhenti sejenak, lanjutnya :
582
"Sekarang kita bertiga harus melatih dulu ilmu kerja sama untuk menghadapi
serang gabungan lawan nanti."
Buyung Im seng dan Lian Giok seng saling berpandangan sekejap, kemudian
mereka bersama-sama maju mengerumuni.
Pelan-pelan Khong Bu siang berkata.
"Sekarang kalian harap perhatikan dahulu dengan seksama, aku akan
menggambarkan dulu cara bekerja sama dan berpisah yang diperiksa dalam ilmu
kerja sama tersebut. Setelah garis besarnya kalian ketahui aku baru akan
menerangkan lagi, dengan kecerdasan otak kalian berdua, aku percaya pasti dapat
memahami dengan cepat."
Waktu rembulan belum muncul, penerangan yang mereka andalkan pun hanya dari
cahaya bintang, oleh sebab itu walaupun Lian Giok seng dan Buyung Um seng
memiliki ketajaman mata yang luar biasa, toh mau tak mau mereka harus pasang
telinga dan memperhatikan dengan seksama.
Dengan cepat Khong Bu siang membuat garis di atas tanah untuk menerangkan
cara kerja sama diantara mereka bertiga, bahkan menjelaskan pula satu sama
lainnya secara terperinci, sekalipun mereka hanya terdiri dari tiga orang, tapi
diantara serangan-serangan mereka untuk menghadapi gabungan kedua belas
macam senjata tajam tersebut, jurus serangan yang digunakan justru berkaitan
antara yang satu dengan lainnya..."
Buyung Im seng serta Lian Giok seng adalah jagoan kelas satu di dalam dunia
persilatan, setelah Khong Bu siang memberikan sedikit keterangannya, kedua
orang itu segera menjadi paham dan mengerti.
Lian Giok seng, kemudian katanya dengan suara dalam,
"Saudara Lian, agaknya pedang lemasmu tak dapat digunakan didalam
pertarungan ini."
Ketika Lian Giok seng mendengar orang itu secara tiba-tiba memanggilnya sebagai
saudara, hatinya kontan saja bergetar hebat, buru-buru serunya.
"Tidak berani, tidak berani.... Toa seng..."
Sambil menggelengkan kepalanya berulang kali Khong Bu siang menukas cepat :
"Jangan sebut aku sebagai Toa sengcu lagi, sekarang kita sedang menghadapi
kesulitan yang sama, mati hidup kitapun tergantung dalam tindakan selanjutnya,
sudah sepantasnya bila kita saling menyebut sebagai saudara."
Lian Giok seng segera mendehem beberapa kali, kemudian katanya :
"Kalau toh saudara Khong bersikeras untuk berbuat demikian, siaute pun terpaksa
harus turut perintah."
"Jika kita dapat melewati ketiga tempat pos penjagaan yang amat berbahaya itu
dan berhasil menjumpai Buyung tayhiap, siaute pun akan segera mengembalikan
wajah asliku dengan tidak mengenakan kain cadar warna hitam lagi."
583
"Saudara Khong berpesan agar siaute jangan melawan musuh dengan
mempergunakan pedang lemas, tapi dewasa ini akupun tidak dapat menemukan
senjata yang lain, apa yang mesti ku perbuat ?"
"Soal ini tak perlu digelisahkan, di dalam kota batu, senjata tajam bisa ditemukan
setiap saat."
"Kau hanya membicarakan satu tempat berbahaya, bagaimana dengan tempat yang
lain ? Bagaimana pula berbahayanya ?"
"Dua tempat yang lain kecuali harus mengandalkan ilmu silat juga membutuhkan
kecerdasan otak, aku yakin masih sanggup mengatasinya. Bila dibicarakan
sekarang rasanya cuma akan membingungkan jalan pemikiran kita saja, maka
lebih baik tak usah dibicarakan dahulu."
"Bagilah sedikit pekerjaan bagiku, jangan terlalu menganggap diriku sebagai nona
besar."
Mendadak Khong Bu siang menempelkan jari tangannya di atas bibir sambil
berbisik.
( Bersambung ke jilid 29)
584
Lembah Tiga Malaikat
Oleh: Tjan
Jilid 29
“Ssstt… Hati-hati, ada orang yang berjalan mendekati !”
Beberapa orang itu segera memasang telinga dan mendengarkan dengan seksama,
benar juga, mereka segera mendengar langkah kaki manusia yang amat pelan
berkumandang datang.
“Hanya seorang yang datang” bisik Nyoo Hong leng kemudian, “tapi sudah pasti
bukan dua orang sengcu mu yang menyusul kemari.”
“Ya, benar” Khong Bu siang manggut-manggut, “dia berjalan sangat lamban,
seakan-akan merasa takut akan sesuatu.”
Buyung Im seng segera memusatkan perhatiannya ke arah depan, dibawah cahaya
bintang tampak sesosok bayangan manusia berperawakan kecil dan berambut
panjang sedang berjalan mendekat dengan langkah lamban.
“Aaah, dia adalah seorang perempuan !” bisik Nyoo Hong leng.
Sementara pembicaraan sedang berlangsung, bayangan kecil itu sudah berada
empat lima depa di depan beberapa orang itu.
Tampak ia menghentikan langkah kakinya sambil membereskan rambutnya yang
kusut kemudian bertanya.
“Apakah Buyung Kongcu berada disini ?”
Pelan-pelan Buyung Im seng bangkit berdiri lalu menjawab.
“Aku adalah Buyung Im seng, siapakah kau ?”
“Buyung Kongcu orang terhormat yang banyak urusan, apa lagi sekarang lagi masa
jayanya, mana mungkin masih bisa teringat dengan diriku ini ?” kata perempuan
berambut panjang itu.
585
Buyung Im seng mencoba untuk mengamati dengan seksama, tampak rambut yang
kusut menutupi sebagian mukanya, ditambah lagi malam amat kelam sehingga
untuk sesaat sulit baginya untuk mengawasi wajah orang itu dengan jelas.
“Sebetulnya siapakah kau ? Maaf, aku bodoh dan benar-benar tak dapat
mengingatnya lagi.”
“Apakah perempuan yang kau kenal jumlahnya banyak sekali sampai tak terhitung
?” kata perempuan berambut panjang itu dingin.
“Yang kukenal tidak begitu banyak.”
“Kalau begitu tak ada salahnya kalau kau sebut satu persatu, toh akhirnya pasti
akan teringat juga akan namaku.”
Mendadak satu ingatan melintas dalam benak Buyung Im seng, baru saja dia akan
mengutarakannya keluar, mendadak Khong Bu siang telah menukas dengan suara
dingin;
“Apakah kau adalah anggota perguruan Sam seng bun ?”
“Kalau bukan anggota perguruan Sam seng bun, masa dapat sampai di tempat ini
?”
“Kalau begitu, tentunya kau kenal dengan aku bukan ?”
Perempuan berambut panjang itu mendongakkan kepada dan memandang sekejap
ke arah Khong Bu siang, kemudian sahutnya.
“Ya, agaknya seperti pernah kukenal.”
“Kalau begitu coba kau katakan.”
“Agaknya kau adalah Toa sengcu dari perguruan Sam seng tong.”
“Bagus sekali, kalau toh sudah kenali siapakah aku, cepat laporkan siapa nama dan
kedudukanmu.”
“Coa Niocu (perempuan ular), dahulu menjabat sebagai pelindung hukum dalam
ruang Seng tong diperguruan Sam seng bun.”
“Berapa lama kau menjabat kedudukan itu ?”
“Sepuluh tahun lebih.”
Khong Bu siang memandang sekejap kearah Coa Niocu, kemudian tanyanya lagi.
“Kita pernah saling bersua ?”
“Pernah bersua beberapa kali, tapi kau adalah Toa sengcu sedang aku tak lebih
cuma seorang pelindung hukum yang rendah kedudukannya di dalam rumah Seng
tong, mana mungkin Toa sengcu dapat mengingatnya ?”
“Sekarang apa jabatanmu ? mengapa berdandan seperti itu ?”
“Aku sedang melaksanakan hukuman, dihukum menjadi budak perempuan dalam
kota batu ini.”
“Dalam ingatanku, belum pernah kudengar tentang peristiwa semacam ini….”
586
“Mati hidup seorang pelindung hukum yang kecil kedudukannya bukan suatu
masalah yang besar, mana mungkin akan mengejutkan hati Toa sengcu ?”
Khong Bu siang termenung dan berpikir sebentar, kemudian ujarnya.
“Apakah dalam kota batu ini terdapat banyak sekali budak-budak perempuan ?”
“Benar, menurut apa yang kuketahui, seluruhnya terdapat dua puluh empat orang
budak perempuan.”
Setelah menghela napas panjang, lanjutnya.
“Tapi keadaan yang mereka lalui jauh lebih tragis lagi, tidak seperti aku yang dapat
keluar masuk dengan bebas.”
“Tentang soal-soal tersebut semuanya aku tidak tahu, bagaimanakah tragisnya
budak-budak perempuan itu ?”
Coa Niocu membereskan rambut panjangnya dulu, kemudian baru ujarnya dengan
dingin.
“Toa sengcu benar-benar tidak tahu ataukah sudah tahu tapi pura-pura bertanya
lagi ?”
“Tentu saja benar-benar tidak tahu.”
“Semua budak perempuan itu dirantai tulang pia pa kutnya dengan rantai besi
yang besar, bahkan rantai itu diberi beban dengan bandulan besi yang beratnya
sampai berapa ratus kati, berat atau tidaknya bandulan besi itu tergantung pada
tinggi rendahnya ilmu silat yang dimiliki masing-masing pihak…”
Nyoo Hong leng menjadi gusar sekali setelah mendengar perkataan itu, tak tahan
dia lantas berseru.
“Siapa-siapa saja yang termasuk dalam budak-budak perempuan itu… ?''
Coa Niocu mengalihkan sorot matanya ke wajah Nyoo Hong leng, lalu katanya.
“Apakah kau adalah Biau hoa Lengcu ?”
“Benar”
Coa Niocu segera tertawa getir.
“Kau yang membawa Buyung Im seng datang kemari ?”
“Benar.”
Setelah tertawa getir lagi, Coa Niocu baru melanjutkan.
“Budak-budak perempuan itu merupakan anggota perempuan dari perguruan Sam
seng bun yang melanggar peraturan.”
“Banyak manusia dan masalah yang berada dalam perguruan Sam seng bun tidak
begitu kuketahui dengan amat jelas.” sela Khong Bu siang tiba-tiba.
“Sekarang kau sudah tahu, apa yang hendak kau lakukan ?” tanya Coa Niocu.
“Besar amat nyalimu, berani berbicara dengan sikap seperti itu dengan diriku.”
587
“Benar, nyaliku memang besar, karena aku sudah tak dapat membayangkan
penderitaan lain yang jauh lebih tragis daripada dihukum menjadi budak dalam
kota batu ini.”
“Kalau kudengar dari nada pembicaraanmu itu, agaknya kau mengetahui amat
jelas terhadap semua persoalan dalam kota batu ini.”
“Masa kau sebagai Toa sengcu dari perguruan Sam seng bun malah tidak
mengetahui keadaan yang sebenarnya dari kota batu ini ?” seru Coa Niocu
keheranan.
“Mungkin kau tidak percaya, tapi dalam kenyataannya aku memang benar-benar
tidak tahu.”
“Karena persoalan apa kau datang kemari malam ini ?”
“Aku bermaksud untuk mengunjungi kota batu ini secara diam-diam….”
Coa Niocu termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian baru berkata.
“Aku merasa keheranan.”
“Apanya yang heran ?”
“Kau adalah Tong sengcu dari perguruan Sam seng bun, mengapa bisa berjalan
bersama-sama dengan Buyung Im seng sekalian ?”
“Apakah kau tidak merasa bahwa apa yang kau tanyakan itu kelewat banyak ?”
tegur Khong Bu siang dingin.
Buyung Im seng yang berada disisinya segera menjuta seraya berkata.
“Cici, Toa sengcu mengajak aku untuk berjumpa dengan ayahku.”
“Buyung Tiong kim ?” Coa Niocu berseru.
“Apakah cici pernah berjumpa dengannya ?” tanya Buyung Im seng lagi.
“Belum, belum pernah kujumpai, tapi aku pernah mendengar orang menyinggung
tentang dirinya, dia memang berada di dalam kota batu ini” setelah berhenti
sejenak, lanjutnya.
“Demi menyelamatkan ayahmu, apakah kau telah menggabungkan diri pula
dengan perguruan Sam seng bun ?”
“Tidak, aku masih tetap merupakan Buyung Im seng yang semula.”
“Darimana kau bisa kenal dengan Toa sengcu dari perguruan Sam seng bun kami ?”
“Kami berkenalan belum lama.”
“Kau bukan anggota Sam seng bun ?”
“Paling tidak hingga detik ini aku masih bukan terhitung anggota perguruan Sam
seng bun.”
“Coa Niocu”, sela Nyoo Hong leng tiba-tiba, “dalam ingatanku, agaknya kau sudah
terkena.”
588
“Ya, tapi aku belum mati” tukas Coa Niocu dingin, “racun yang berada diatas
bungamu itu toh bukan racun yang tiada taranya dikolong langit, di dunia ini masih
ada orang yang sanggup untuk membebaskannya….”
“Tampaknya kau seperti amat mendendam kepadaku, bukan begitu ?”
“Benar, aku memang amat membencimu.”
Nyoo Hong leng segera tertawa rawan.
“Apakah disebabkan Buyung Im seng ?”
“Seandainya kau berkata demikian, anggap saja memang dikarenakan Buyung Im
seng !”
Nyoo Hong leng segera menghela napas panjang.
“Aai… seandainya dikarenakan persoalan itu, maka kau pun tak usah membenci
diriku lagi.”
“Kenapa ?”
“Karena aku sudah mempunyai suami !”
“Buyung Im seng ?”
“Bukan, bukan Buyung Im seng.” Nyoo Hong leng menggeleng, “dia adalah Toa
sengcu kalian.”
Coa Niocu menjadi tertegun untuk beberapa saat lamanya, kemudian baru berseru.
“Sungguhkah perkataanmu itu ?”
“Buat apa aku mesti membohongi dirimu ?”
Coa Niocu segera mengalihkan sorot matanya ke wajah Kho Bu siang, setelah itu
katanya.
“Toa sengcu, sungguhkah perkataannya itu ?”
“Benar, memang ada kejadian seperti ini.” Khong Bu siang segera mengakui.
“Sekarang, Buyung Im seng masih tetap bebas, bila kau senang padanya….”
“Aku tidak pantas, aku pun tak berani mempunyai ingatan seperti itu….” tukas Coa
Niocu cepat.
Buyung Im seng hanya merasakan jantungnya seperti ditusuk dengan pedang
tajam, ibaratnya orang bisu makan empedu, sekalipun kepahitan namun tak dapat
mengutarakan suara hatinya.
Terdengar Nyoo Hong leng berkata lagi.
“Kau sudah tinggal cukup lama di dalam kota batu tempat penyekapan para jago,
sudah pasti hapal sekali, aku harap kau sudi membawa kami untuk memasuki kota
batu tersebut.”
“Kau toh istrinya Toa sengcu, mengapa kau tidak menyuruh Toa sengcu yang
membawa kalian memasuki kota batu ?”
589
“Buyung Im seng ingin memasuki kota batu untuk menengok ayahnya, bila kau
bersedia membawa kami untuk memasuki kota batu, hal mana berarti pula telah
membantu Buyung Im seng.”
Coa Niocu termenung dan berpikir sebentar, kemudian katanya lagi.
“Buyung kongcu, apakah kau yang ingin memasuki kota batu ini ?”
“Benar,” sahut Buyung Im seng, “andaikata cici bersedia untuk membantu, aku
pasti akan merasa berterima kasih sekali.”
“Cukup mendengar kau memanggilku sebagai cici, sudah sepantasnya kalau kuajak
kau masuk, cuma…”
“Cuma kenapa ?”
“Kau harus menyaru.”
“Menyaru sebagai apa ?”
“Sebagai perempuan.”
Buyung Im seng menjadi tertegun setelah mendengar perkataan itu, serunya tanpa
terasa.
“Suruh aku menyaru sebagai perempuan ?”
“Benar, bahkan menyaru seperti perempuan seperti aku, rambut panjang terurai,
baju compang camping dan keadaannya mengenaskan seperti aku, hanya dengan
cara ini kau baru bisa memasuki kota batu.”
Dengan cepat Buyung Im seng menggelengkan kepalanya berulang kali, serunya.
“Kalau aku disuruh menyaru sebagai perempuan, hal ini benar-benar agak sulit
bagiku.”
“Kalau begitu jangan harap kau bisa memasuki kota batu, kau tak akan
mempunyai kesempatan untuk memasuki ketiga buah pos penjagaan yang amat
ketat itu.”
“Kami dapat menembusi ketiga buah pos penjagaan tersebut, cuma saja setelah
berhasil menembusinya, kami malah menjadi lebih tidak leluasa untuk maju atau
mundur lagi.” kata Khong Bu siang kemudian.
“Kalau begitu, kau benar-benar tidak mengetahui akan rahasia kota batu tempat
penyekapan kawanan jago persilatan ini ?”
“Aku benar-benar tidak tahu.”
Coa Niocu tercenung sejenak, lalu katanya.
“Baiklah, asal kalian dapat menembusi ketiga buah pos penjagaan tersebut dengan
selamat, aku akan menyambut kedatangan kalian di dalam sana.”
“Setelah urusan ini bisa teratasi, aku pasti akan berusaha untuk mempergunakan
dirimu dengang sebaik-baiknya.”
“Itu urusan dikemudian hari, lebih baik dibicarakan dikemudian hari saja.”
“Kalau begitu kau boleh pergi,” ucap Khong Bu siang kemudian sambil
mengulapkan tangannya.
590
Coa Niocu membalikkan badan dan berjalan beberapa langkah ke depan, mendadak
sambil berpaling katanya.
“Saudara Buyung, coba kemarilah.”
Pelan-pelan Buyung Im seng maju ke depan menghampiri perempuan tersebut….
Dengan suara rendah Coa Niocu segera membisikkan sesuatu kepada Buyung Im
seng, lalu dia baru membalikkan badan dan melompat masuk ke dalam kota batu.
Hanya dalam waktu singkat, bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan
mata.
Perkataannya itu diutarakan dengan lirih, walaupun Khong Bu siang dan Nyoo
Hong leng memiliki ilmu silat yang sangat lihai, toh mereka tidak berhasil untuk
menangkap apa yang sedang dia katakan.
Menanti bayangan tubuh dari Coa Niocu sudah memasuki kota batu, pelan-pelan
Buyung Im seng berjalan kembali ke tempat semula.
Nyoo Hong leng mencoba untuk menahan diri, tapi akhirnya tak kuasa juga untuk
menahan diri, maka segera tanyanya.
“Apa yang dia katakan ?”
“Ia memberitahukan padaku bagaimana caranya untuk melarikan diri, ia tak
percaya jika kami dapat menembusi ketiga buah pos penjagaan tersebut.”
“Tampaknya dia amat menguatirkan keselamatan jiwamu ?”
Buyung Im seng tertawa getir dan bungkam dalam seribu bahasa.
“Aku merasa amat heran,” kembali Nyoo Hong leng berkata.
“Heran soal apa ?”
“Menurut apa yang dia katakan, menjadi budak perempuan di dalam kota batu
merupakan suatu pekerjaan yang tersiksa lahir maupun batin, tapi anehnya
mengapa dia masuk kembali ke dalam perangkap setelah meninggalkan tempat itu
?”
“Aku pikir dibalik kesemuanya itu pasti ada alasannya,” ucap Khong Bu siang
kemudian, “hanya kita tak dapat memahaminya, terhadap persoalan seperti ini,
rasanya kita pun tidak usah membuang banyak pikiran dan tenaga, asalkan sudah
memasuki ke dalam kota batu bukankah segala sesuatunya akan menjadi jelas ?”
Nyoo Hong leng mendongakkan kepalanya memandang cuaca, setelah itu katanya.
“Rembulan sudah keluar, kitapun harus segera berangkat !”
Khong Bu siang segera menghimpun hawa murninya dan melompat lebih dulu ke
atas kota batu. Tiga orang lainnya pun buru-buru menghimpun tenaga dan
menyusul pula dari belakang.
Ketika mereka alihkan perhatiannya ke depan, tampaklah suasana di kota sunyi
senyap tak kedengaran sedikit suarapun, rumah-rumah bagaikan gudang itu
tampak setengah terang setengah gelap di bawah sinar rembulan selain tidak
terdengar suarapun, juga tak tampak setitik cahya lampu pun.
591
“Aku tidak melihat adanya suatu ancaman bahaya di tempat ini !” kata Nyoo Heng
leng kemudian.
Khong Bu siang berpaling dan memandang sekejap ke arahnya, kemudian katanya
pula.
“Seingatku keadaan luar dari kota batu ini tiada sesuatu keistimewaan apa-apa,
tapi di bawah kota batu ini terdapat sebuah kota batu lain dan disitulah baru
terletak inti dari kota batu tersebut.”
“Oooh, kiranya begitu.”
“Aku tidak dapat memahami maksud dan tujuan orang yang mendirikan kota batu
tersebut di masa lalu, tapi tempat ini memang merupakan sebuah bangunan yang
luar biasa, suatu bangunan alam yang dikombinasikan dengan arsitek manusia
sehingga terwujudlah sebuah kota batu yang nampak biasa dipandang dari luar
tapi dahsyat di dalamnya, bagaimana pintar dan lihainya seseorang, jangan harap
mereka dapat memahami keadaan yang sebenarnya dari kota batu ini meski dia
sudah tiba disini.”
“Ooh, jadi maksudmu kota batu yang berada di sebelah atas sama sekali tidak
mempunyai suatu keistimewaan apa-apa, tapi di dalam ruangan batu itu justru
disekap jago-jago lihai dari kolong langit ?”
Kong Bu siang tersenyum.
“Andaikata dalam barak batu di dalam kota tidak dijumpai apa-apa, bukankah hal
ini akan menimbulkan kecurigaan orang lain ?”
“Agaknya rahasia dari kota batu ini jarang yang mengetahui termasuk juga orangorang
dari perguruan kalian sendiri.”
Khong Bu siang memandang sekeliling tempat itu tiada hentinya, seakan dia
sedang menantikan sesuatu, sementara itu mulutnya tetap menjawab.
“Di dalam perguruan Sam seng bun terdapat suatu peraturan yang amat keras,
yakni sebelum mendapat ijin dari Seng tong, siapa pun dilarang memasuki kota
batu ini.”
“Apakah ada juga yang nekad dan melanggar peraturan tersebut ?”
“Tentu saja ada, cuma orang-orang itu tak perlu dihukum oleh pihak Seng tong,
karena setelah memasuki kota batu, tiada seorang pun yang bisa keluar dalam
keadaan hidup.”
“Mengapa kami bisa selamat tanpa cedera apa-apa walaupun sudah menembusi
kota batu itu ?” tanya Nyoo Hong leng.
Khong Bu siang tertawa getir.
“Tidak banyak yang kuketahui tentang rahasia dalam kota batu itu tapi jika kita
melewati kota itu dalam siang hari, kebanyakan tak kan mengalami kejadian tragis
sebab semua rahasia di dalam kota batu ini baru akan muncul di malam hari saja.”
Sementara itu dari sudut kota batu itu muncul segulung cahaya lentera yang
berwarna biru.
“Waktunya telah tiba, mari kita segera berangkat.” kata Khong Bu siang kemudian.
592
Selesai berkata dia segera berangkat lebih dahulu.
Nyoo Hong leng mengikuti di belakangnya Khong Bu siang, sambil berjalan
katanya.
“Mungkin dalam ruang Seng tong ada orang yang mengurusi kota batu ini, jika
tidak siapa yang mengirim Coa Niocu yang mendapat hukuman ke dalam kota batu
sebagai budak ?'
“Perkataanmu memang benar tapi kau jangan lupa akan surat rahasia yang
ditinggalkan seseorang dalam hiolo emas di ruang Seng tong, sebab orang itulah
yang benar-benar merupakan otak dari perguruan Sam seng bun ini.”
Sementara pembicaraan berlangsung, mereka telah tiba di tempat lentera berwarna
biru itu berada.
Tampak sebuah tiang besi yang menjulang tinggi ke angkasa menggantungkan
sebuah lentera yang terbuat dari kain biru.
Nyoo Hong leng mencoba untuk memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, ia
saksikan tempat tersebut merupakan sebuah tanah datar yang kosong, sekeliling
tempat itu tiada sebuah bangunan apapun, dengan keheranan dia lantas berpikir.
“Mungkinkah bangunan di dalam kota batu ini disusun menurut barisan Patkwa
atau Kiu kiong dan lain sebagainya ?”
Berpikir sampai disitu, dia lantas bertanya dengan cepat.
“Bagaimana caranya memasuki kota batu di dalam tanah ?”
“Tempat inilah pintu masuknya, bila lampu biru sudah dinaikkan itu berarti
saatnya telah tiba.”
“Tempat ini merupakan sebuah tanah datar, lima kaki disekeliling sini tiada
bangunan apa-apa, coba bayangkan sekali lagi, mungkinkah kau tidak salah
mengingat ?”
“Tidak bakal salah, aku masih teringat amat jelas tempat inilah yang kudatangi,
mungkin juga kedatangan kita terlalu awal.”
“Maksudmu di tempat ini bakal muncul sebuah pintu ?”
“Ya, sebuah pintu untuk masuk ke kota batu bagian bawah.”
Tergerak hati Buyung Im seng seolah mendengar perkataan itu, katanya kemudian.
“Seandainya dia sudah tahu kalau kau telah berkhianat kepada perguruan Sam
seng bun, apakah tidak mungkin kalau secara diam-diam ia sengaja
mempermainkan diriku ?”
“Bila dia mengetahui hal itu, sudah pasti dia akan memusuhi diriku, dulu aku
dikuasai oleh semacam kekuatan gaib, tapi belakangan ini aku telah berhasil
menghayati suaut hal dan persoalan itu telah berhasil kupahami, hal ini membuat
aku semakin memahami apa makna yang sebenarnya hidup di dunia ini.”
“Kau dapat membuang kedudukan yang tinggi untuk bertindak menuruti
kebebasan hati, hal ini mencerminkan suatu keberanian yang sangat besar dan
dibalik hal ini mengandung suatu teori yang mendalam sekali.”
593
Khong Bu siang tersenyum.
“Sejak masuk menjadi anggota Sam seng bun ilmu silatku memperoleh kemajuan
yang sangat pesat, semua jago-jago lihai dari seluruh kolong langit berkumpul
disini, setiap orang tak berani menyimpan kepandaiannya dan segenap kepandaian
yang dilatihnya sepanjang hidup dipersembahkan semua kepada Seng tong, hingga
kepandaian yang terkumpul boleh dibilang tak terhitung jumlahnya. Asal seorang
yang gemar belajar silat yang menghadapi keadaan seperti ini, niscaya dia akan
dibikin tergila-gila.”
“Oleh karena itu, selama banyak tahun aku selalu melatih ilmu silatku dengan
sebaik-baiknya, semua kepandaian ilmu silat yang kusenangi hampir semuanya
kulatih dengan sebaik-baiknya, andaikata menjumpai hal-hal yang kurang jelas,
segera kuundang semua orang yang memiliki kepandaian itu dan memintanya
menerangkan kepadaku.”
“Keberhasilan yang dapat kuraih selama beberapa tahun ini, tak ubahnya seperti
pendidikan yang sekaligus kuperoleh dari beberapa orang. Tapi belakangan ini aku
mulai merasa semacam keterbatasan yang hanya bisa kurasakan sendiri, jika
keterbatasan tersebut kulanggar maka akibatnya hal mana akan memancing
timbulnya suatu peledakan yang diluar dugaan yaitu akan mengalami jalan api
menuju neraka yang amat berbahaya itu yang enteng paling banter akan cacat, tapi
kalau sampai parah bisa berakibat kematian sebab bagaimanapun juga setiap
manusia pasti memiliki suatu keterbatasan tertentu yang tak mungkin bisa
dilanggar setiap orang.”
“Apakah kau merasa bahwa dirimu sudah berada di tepi batas kemampuan yang
bisa kau terima dengan kemampuanmu ?” tanya Nyoo Hong leng kemudian.
“Benar, bilamana aku bersikeras untuk melatih diri lebih jauh, kendatipun tak
sampai menderita jalan api menuju neraka, aku bakal diidapi penyakit gila silat,
kalau sampai begitu maka kecuali berlatih silat tiada persoalan lain lagi di dunia
ini yang kupikirkan.”
“Untung saja kau belum sampai memasuki keadaan gila seperti yang kau
maksudkan.” kata Nyoo Hong leng sambil tertawa.
“Sebenarnya maksud mereka semula adalah ingin menciptakan diriku menjadi
seorang yang gila silat, sayang mereka lupa memperhitungkan akan sesuatu hal.”
“Soal apa ?”
“Mereka tak pernah memperhitungkan kalau kau bakal muncul di dalam Sam seng
tong, coba kalau kemunculanmu terlambat setengah tahun saja niscaya akan
muncul suatu keadaan yang lain pula, kalau bukan badanku yang tak kuat
menahan beban itu sehingga terluka, pikirankulah yang kena terseret ke dalam
lingkungan yang melupakan segala-galanya karena hanya dua macam akibat saja
yang bisa kualami.”
Buyung Im seng sekalian mendengarkan dengan penuh perhatian, ketika
mendengar sampai disitu tanpa terasa selanya.
“Akibat macam apakah itu ?”
594
“Pertama akan menjadi cacat badan dikirim ke dalam kota batu untuk dikurung,
ketika aku berhasil menembusi keterbatasan tubuhku sehingga menjadi seorang
manusia yang gila dan melupakan segala-galanya…”
“Orang gila,” sela Nyoo Hong leng, “orang itu toh menyerahkan kedudukan Toa
sengcu dari Sam seng bun kepadamu dan minta kau melaksanakan tugasmu
sebagai orang Toa sengcu, andaikata kau berubah menjadi seorang manusia gila
yang tak beres ingatannya, bukankah hal ini menjadi sangat bertentangan sekali
dengan maksud dan tujuannya semula ?”
“Mungkin saja mereka memang berharap aku bisa berubah menjadi seorang
manusia, agar bisa mewakili mereka untuk membantai orang-orang yang berani
menentang perguruan Sam seng bun.”
“Banyak hal-hal yang diluar dugaan sekarang telah menjadi paham kembali, tapi
kunci yang terpenting justru tak kau utarakan secara terus terang ?”
“Kunci apa ?”
“Yakni apa yang menjadi maksud dan tujuan Sam seng bun yang sebenarnya ?
Kalian mengumpulkan sekalian bajingan-bajingan cilik dari Liok lim menjadi satu
wadah, kemudian menyekap jago-jago lihai dari dunia persilatan dalam kota batu,
kalau dibilang tujuannya untuk menguasai dunia persilatan dan memerintah
dunia, tapi ada beberapa hal justru tak mirip. Hal ini sungguh membuat orang
sukar untuk menduga maksud tujuan mereka yang sebenarnya.”
“Aku sendiripun tidak mengetahui apa yang menjadi maksud dan tujuan dari
perguruan Sam seng bun !”
“Tapi jika kau bersedia menerangkan siapakah orang yang memberikan kedudukan
tersebut kepadamu, kita pun tak akan sukar untuk menduga maksud tujuan yang
sebenarnya dari Sam seng bun.”
“Aku telah berjanji kepadanya, bahkan sudah bersumpah untuk merahasiakan hal
ini, entah apakah maksud tujuan yang sebenarnya, tapi sikapnya kepadaku justru
baik sekali.”
Mendadak terdengar suara gemerincing nyaring berkumandang dari bawah tanah.
Tergetar hati Khong Bu siang, segera serunya.
“Mari kita menyembunyikan diri lebih dahulu.”
Empat orang itu segera melompat dan menyembunyikan diri keempat penjuru.
Ketika semua orang mencoba untuk menengok ke depan, terlihatlah di bawah
lentera berwarna biru itu telah muncul di mulut gua.
Mulut gua itu luasnya tiga depa dan cukup untuk dilewati dua orang secara
bersama-sama.
Orang yang pertama-tama muncul dari balik gua itu adalah seorang lelaki berbaju
putih yang membawa sebuah lentera warna merah.
Menyusul kemudian muncul empat orang manusia berbaju putih…
Kecuali orang pertama mengangkat lentera merahnya tinggi-tinggi, tiga orang
lainnya boleh dibilang menggembol pedang semua.
595
Tampak orang yang membawa lentera itu membalikkan badan dan berjalan menuju
arah barat.
Tiga orang manusia berbaju putih yang membawa pedang itu segera mengikuti pula
dibelakang orang yang membawa lampu itu.
Tak selang berapa saat kemudian mereka sudah berbelok ke belakang rumah, ke
empat orang itu segera tertutup oleh sebuah bangunan rumah sehingga yang
nampak tinggi lentera merah yang bergoyang ditengah angkasa.
“Apa yang telah terjadi ?” tanya Nyoo Hong leng dengan suara rendah.
“Entahlah, ketika aku datang kemari malam itu, yang kulihat hanya lentera biru
itu saja, sedang lentera merah dan manusia berbaju putih itu sama sekali tidak
kelihatan.”
“Aku sih merasa agak mengerti sekarang.” kata Nyoo Hong leng lebih lanjut.
“Apa yang kau pahami ?”
“Di dalam kota batu dibawah tanah sana ada orang yang mengurusi, bahkan
semuanya diatur dengan sangat beraturan dan disiplin sekali…”
Mendadak Khong Bu siang menarik turun kain cadarnya sembari berseru lirih.
“Ayo berangkat, kita masuk ke dalam !”
Setelah bangkit berdiri dia segera berjalan lebih dahulu ke arah depan.
Lian Giok seng dan Buyung Im seng segera mengikuti di belakang Khong Bu siang
dengan ketat, dengan demikian Nyoo Hong leng malah tertinggal sendiri dipaling
belakang.
Nyoo Hong leng mengetahui betapa berbahayanya keadaan waktuitu, dia kena
didesak kebelakang karena semua orang kuatir kalau dia akan menjumpai mara
bahaya nanti.
Sementara itu Khong Bu siang telah memasuki gua itu lebih dahulu….
Tampak sebuah tangga batu menjulur ke bawah sana, ketika Buyung Im seng
menghitung secara diam-diam ternyata berjumlah empat puluh sembilan buah
sebelum tiba di dasar gua.
Dua buah tiang kayu yang menggantungkan lampu berwarna biru menerangi
seluruh gua.
Tempat itu merupakan sebuah tanah yang dasar seluas tiga kaki dengan sebuah
dinding berwarna abu-abu menghalangi jalan pergi mereka.
Diatas dinding berwarna abu-abu itu terdapat lima buah pintu yang terbagi
menjadi pintu berwarna merah, kuning, biru, putih dan hitam.
Warna diatas pintu amat menyolok sekali. Ditambah lagi dibawah sinar lentera
berwarna biru, hal ini menciptakan semacam warna warni yang sangat aneh.
Khong Bu siang memandang sekejap sekeliling tempat itu dengan celingukan,
wajahnya kelihatan agak bimbang.
Nyoo Hong leng segera berbisik lirih.
596
“Kita harus masuk melalui pintu yang mana ?”
“Aku lihat keadaannya sedikit tidak beres.”
“Bagaimana tidak beresnya ?” tanyanya.
“Seingatku ketika memasuki kota batu tempo hari, disini hanya terdapat sebuah
pintu kayu saja, mengapa sekarang dapat berubah menjadi lima buah pintu yang
berwarna warni ?”
“Hal ini membuktikan kalau apa yang kuduga memang tidak salah, sudah pasti ada
orang yang secara diam-diam mengurusi kota batu di dalam tanah ini !”
Khong Bu siang termenung dan berpikir sejenak, kemudian katanya.
“Ketika aku memasuki pintu dulu, agaknya pintu tersebut adalah pintu yang
berwarna kuning itu.”
“Perduli pintu yang manapun, kalau satu pintu bisa diubah menjadi lima pintu
berwarna warni, itu berarti tempat kedudukannya sudah mengalami pergeseran,
kita boleh saja memasuki salah satu diantaranya secara sembarangan, toh akhirnya
kita mesti beradu nasib juga.”
“Kalau rejeki pasti bukan bencana, kalau sudah bencana dihindari, sauda Khong
tak usah ragu-ragu lagi.” sambung Lian Giok seng pula.
“Benar, sekalipun malam ini aku harus mati di dalam kota bawah tanah ini, toh
aku sudah menunjukkan baktiku kepada ayahku, sekalipun harus mati juga tak
akan menyesal” sambung Buyung Im seng.
Mendengar semuanya itu, Khong Bu siang segera menghela napas panjang.
“Aaai…. agaknya bukan saja kalian bertiga tidak menyalahkan aku malah justru
menaruh rasa percaya yang sangat besar terhadap diriku.”
“Ya, walalupun kasih sayang kalian bertiga amat mengharukan, tapi perubahan
yang terjadi sekarang jauh diluar dugaan, aku kuatir kalau setiap bagian dalam
kota batu sudah mengalami perubahan pula.”
“Menurut ingatanku, ketika pertama kali tiba di kota batu maka diluar pintu akan
terlihat sebuah rak senjata dan diatasnya berjajar aneka senjata tajam. Sekarang
rak senjata itu sudah dihapus, mungkin dibalik pintu sudah mengalami perubahan
besar, sekalipun demikian aku rasa kita tak usah bersama-sama pergi
menyerempet bahaya.”
Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan.
“Warna kuning sebagai sasaran utama, aku bertekad akan memasuki pintu kuning
tersebut terlebih dahulu.”
“Kenapa saudara Khong mesti pergi menyerempet bahaya seorang diri ?” seru Lian
Giok seng cepat, “kami sudah berunding tadi bahwa kami bertiga akan bersamasama
masuk ke pintu.”
“Situasi yang kita hadapi sekarang telah perubahan besar, tentu saja kita tak boleh
melaksanakan menurut rencana semula, aku harap kalian berdua suka berada
dibelakang untuk membantu diriku bilamana diperlukan saja.”
597
Selesai berkata dia lantas berjalan lebih dulu menuju ke pintu berwarna kuning.
“Mengapa kau tidak pergunakan kain kerudungmu itu ?” tiba-tiba tanya Nyoo Hong
leng.
Dengan cepat Khong Bu siang menggelengkan kepalanya berulang kali.
“Sekarang aku sudah menjadi Khong Bu siang yang mempunyai kepala dan punya
kaki, aku sudah bukan seorang Toa sengcu yang punya nama tapi tak punya
kekuasaan sehingga hakekatnya seperti boneka saja.”
Sembari berkata dia sudah mendekati pintu kuning itu, kemudian kaki kirinya
diayunkan ke depan menendang pintu tersebut.
“Blaaamm,” diiringi suara benturan nyaring, ternyata pintu kuning itu masih tetap
utuh tanpa bergeming barang sedikitpun juga.
Dari suara pantulan yang bergema dalam ruangan, Khong Bu siang dapat
mendengar kalau pintu kuning itu terbuat dari besi baja, hal ini membuatnya
menjadi tertegun.
“Saudara Buyung,” katanya kemudian, “pintu besi itu kuat dan kokoh, untuk
menjebol pintu saja tidak gampang, tampaknya janjiku untuk menemukan kau
dengan ayahmu sebelum kentongan ketiga nanti menjadi sukar untuk diwujudkan.”
“Perubahan situasinya sama sekali diluar dugaan orang, hal mana tak dapat
menyalahkan Khong cianpwe, marilah kita bekerja sama saja dan berusah untuk
menjebolkan pintu besi ini.”
Mendadak Khong Bu siang membalikkan tubuhnya dengan kecepatan luar biasa,
lalu sepasang kakinya melancarkan serangkaian tendangan berantai, dalam waktu
singkat dia telah melancarkan empat buah tendangan ke atas empat buah pintu
yang berbeda.
Terdengar suara dengungan keras berkumandang tiada hentinya, jelas keempat
buah pintu yang lainpun terbuat dari baja semua.
Diam-diam Buyung Im seng lantas berpikir.
“Lima buah pintu semuanya terbuat dari baja asli, kecuali itu tiada jalan tembus
lainnya lagi, jika ingin memasuki lewat pintu besi itu, bukan saja membutuhkan
alat juga tak akan selesai di dalam waktu singkat, tampaknya harapanku untuk
memasuki kota batu pada malam ini sukar untuk diwujudkan menjadi kenyataan.”
Sementara dia masih berpikir, Khong Bu siang telah berkata lagi.
“Satu-satunya jalan sekarang adalah berusaha untuk merebut kembali pedang
mestika dari tangan Sam sengcu guna mendongkel pintu besi itu.”
“Tidak usah” mendadak terdengar suara sedingin es berkumandang memecah
keheningan.
Pintu baja yang berwarna biru itu tahu-tahu sudah terbuka dengan sendirinya.
Diam-diam Khong Bu saing menghimpun tenaga dalamnya sambil bersiap siaga,
setelah itu tegurnya : “Siapakah kau ?”
598
Suara yang dingin bagaikan es itu kembali berkumandang dari balik pintu besi
berwarna biru, “tak usah kau tanyakan siapa namaku, tapi kau adalah Khong Bu
siang, kini kau sudah melepaskan kain cadar dan tidak mempergunakannya lagi,
hal ini membuktikan kalau kau sudah terang-terangan hendak menghianati Sam
seng bun kami, bukankah demikian ?”
Khong Bu siang segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
“Haah….. hah… hah… benar, aku memang sudah berhianat. kalau didengar dari
nada pembicaraanmu, agaknya kau adalah orang penting di dalam kota batu ini,
mengapa tidak segera menampilkan diri untuk berjumpa ?”
Suara yang dingin itu kembali berkata.
“Menanti saatmu untuk berjumpa denganku sudah sampai, aku pasti akan
menampilkan diri untuk menemui kau, cuma sekarang belum saatnya….”
“Kalau toh kau tak mau berjumpa denganku, tentu saja aku tak akan memaksa,
tetapi kau membuka pintu besi itu, apakah ada maksud untuk menyambut kami
masuk ke dalam ?”
Ketika mencoba untuk melongok ke dalam, tampak di balik pintu biru yang terbuka
lebar hanya kegelapan yang nampak, suatu kegelapan yang sedemikian pekatnya
sampai melihat lima jari tangan sendiripun tak bisa, tentu sama pemandangan
disitupun tak nampak jelas.
Suara yang dingin kaku bagaikan salju itu tak lain berkumandang dari balik
kegelapan tersebut.
Terdengar orang yang bersuara dingin bagaikan salju itu kembali berkata.
“Setiap manusia yang masuk melalu pintu besi ini, belum pernah bisa
mengundurkan diri lagi dalam keadaan utuh, tapi kini kau masih memiliki
kesempatan terakhir, asal kau dapat melakukannya, bukan saja kedudukan toa
sengcu mu bisa pulih kembali, bahkan kau pun diijinkan untuk turut mengetahui
rahasia batu ini.”
Khong Bu siang termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian ia
bertanya :
“Kesempatan apakah itu ?”
“Membunuh ketiga orang yang berada dibelakangmu sekarang.”
Dengan cepat Khong Bu siang menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya.
“Aku tidak bersedia lagi memperoleh nama serta kedudukan sebagai seorang Toa
sengcu !”
Suara yang dingin, kaku dan hambar itu menjadi marah sekali. “Kau benar-benar
ingin memusuhi perguruan Sam seng bun ?”
“Soal itu mah tidak berani, tapi aku ingin sekali menyelidiki latar belakang yang
sebenarnya dari perguruan Sam seng bun.”
Lama sekali dinantikan namun belum kedengaran juga suara jawabannya,
mungkin orang itu sudah berlalu dengan gusar.
599
Akan tetapi pintu besi itupun tidak ditutup kembali, jelas orang itu memang ada
maksud untuk membiarkan mereka masuk ke dalam.
Tiba-tiba Khong Bu siang tersenyum.
“Aaai, nampaknya perhitungan manusia tak dapat melawan perhitungan langit,
diluar kota tadi kita sudah berunding hampir setengah harian lamanya entah
berapa banyak tenaga dan pikiran telah terbuang dengan percuma, nyatanya
setibanya dalam kota ini, semua pemandangan telah berubah, otomatis rencana
yang kita susun dengan bersusah payah pun menjadi tak berguna sama sekali.”
Berbicara sampai disitu, dia lantas beranjak dan masuk ke dalam pintu lebih dulu.
Buyung Im seng, Nyoo Hong leng dan Lian Giok seng segera mengikuti dari
belakang dengan ketat turut masuk ke ruangan dalam.
Dalam hati kecil ketiga orang ini, secara diam-diam mereka dapat merasa bahwa
semenjak Khong Bu siang melepaskan kain kerudung mukanya, maka segenap
keanehan serta kemisteriusan yang semula masih tersisa di wajahnya kini sama
sekali tersapu lenyap.
Dengan begitu ia sudah tidak lagi membawa kemisteriusan dan kerahasiaan
sebagai Toa seng cu, melainkan mencerminkan kegagahan dan keperkasaan
seorang jago persilatan.
Demikianlah, baru berjalan sejauh dua kaki cahaya lampu diluar pintu besi sudah
tak dapat menembusi lebih ke dalam, seketika itu juga suasana terasa gelap luar
biasa.
Dengan suara rendah Nyoo Hong leng segera berbisik.
“Aneh betul, tempat ini gelapnya bukan kepalang… ”
Khong Bu siang segera menghentikan langkah kakinya dan menyebut.
“Benar, andaikata dugaanku tidak seharusnya tempat ini telah diatur secara
istimewa oleh seseorang yang ahli.”
“Aku membawa korek api, tapi… bolehkah kupergunakannya ?” tanya Lian Giok
seng.
“Coba bawa kemari, serahkan kepadaku !” pinta Khong Bu siang.
Lian Giok seng segera mengeluarkan alat pembuat api itu dan menyerahkan ke
tangan Khong Bu siang.
“Untuk menghindarkan diri dari segala sesuatu yang tak diinginkan, harap kalian
segera menyebarkan diri ke sekitar tempat ini.” bisik Khong Bu siang kemudian.
Selesai berkata, tangan kanannya segera diayunkan dan setitik cahaya api
mendadak memancar kemana-mana dan menerangi ruangan lorong yang gelap
gulita itu.
Dalam pada itu, Buyung Im seng, Nyoo Hong leng dan Lian Giok seng telah
menyebarkan diri ke sekeliling tempat itu, sejauh mata memandang yang napak
hanya dinding lorong berwarna hitam pekat, dinding itu bukan terbuat dari batu
bukan pula dari tanah liat, tak bisa dijelaskan terbuat dari pecahan apakah itu.
600
Tanpa terasa Buyung Im seng mendekati dinding tersebut dan mencoba untuk
merabanya.
Mendadak Nyoo Hong leng mengayunkan tangan kanannya mencengkeram tangan
kiri Buyung Im seng, serunya.
Tatkala jari tangan kedua belah pihak saling bersentuhan, bagaikan dialiri listrik
bertegangan tinggi saja, kedua belah pihak sama-sama merasakan suatu perasaan
yang aneh sekali.
Tanpa sadar Buyung Im seng membalikkan jari tangannya dan balas menggenggam
tangan Nyoo Hong leng, seolah-olah dia merasa kuatir kehilangan gadis itu.
Apalagi ketika empat mata saling berpandangan, mimik wajah mereka segera
berubah memperlihatkan suatu perubahan yang aneh dan sukar dilukiskan dengan
kata-kata.
Seperti sahabat lama yang sudah banyak tahun tak bersua, ketika suatu ketika
bersua kembali, kedua belah pihak sama-sama menunjukkan luapan perasaan yang
amat besar.
Seperti juga sepasang kekasih yang menghadapi mara bahaya dan jiwanya
terancam, ketika mereka saling berpisah untuk menyelamatkan diri, tahu-tahu
disuatu tempat bersua kembali tanpa sengaja.
Mendadak saja Nyoo Hong leng mengerdipkan matanya yang besar dan bulat, dua
baris air mata segera jatuh bercucuran membasahi pipinya.
Pelan-pelan dia melepaskan diri dari genggaman tangan Buyung Im seng seraya
berkata.
“Jangan kau sentuh dinding tersebut, mungkin dinding itu sudah dipolesi oleh
racun yang amat keji.”
Buyung Im seng menghela napas sedih.
“Aaaiii… terimakasih banyak atas teguran dari nona” sahutnya lirih.
Wwalaupun hanya sepatah kata yang hambar, namun seakan-akan telah
menciptakan suatu jurang pemisah yang amat dalam diantara mereka berdua….
Pelan-pelan Nyoo Hong leng mundur dua langkah dari tempat semula, lalu berkata
lagi.
“Tempat ini sangat berbahaya dan aneh, jangan sekali-kali kau bertindak secara
gegabah.”
Selesai mengucapkan perkataan itu, pelan-pelan dia mengundurkan diri lagi ke sisi
tubuh Khong Bu siang.
Tioba-tiba saja Buyung Im seng seperti kehilangan keberaniannya, dia segera
melengos dan tak berani memandang lagi ke arah Nyoo Hong leng walau hanya
sekejap pun.
Sementara itu Khong Bu siang telah menengadah dan tertawa terbahak-bahak.
“Hahahaha… siapa yang sedang bertugas disini lebih baik tak usah bersembunyi
macam cucu kura-kura lagi. Kami hanya berempat, bila kalian tidak berharap kami
601
masuk kedalam, harap tunjukkan diri untuk menghadang dan langsungkan suatu
pertarungan, bila ada niat untuk memberi petunjuk kepada kami agar menambah
pengalaman, harap kirim orang menjadi petunjuk jalan kami.”
Baru habis dia berkata terdengar seseorang telah menyahut dengan suara yang
dingin dan dalam.
“Cepat padamkan api yang berada ditanganmu itu, dalam loroang ini penuh dengan
benda yang mudah terbakar, sekali terkena api maka kendatipun tubuhmu terbuat
dari baja asli, jangan harap bisa lolos dari tempat ini dalam keadaan selamat.”
“Andaikata lorong ini sampai terbakar, bukankah saudara pun akan turut terbakar
dan mati di tempat ini ?”
Berbicara demikian, kelima jari tangan kiri segera direntangkan dan pelan-pelan
mencengkeram api yang masih membara itu hingga padam seketika, selain ringkas
juga tak setitik cahaya apipun yang sempat melompat keluar dari balik telapak
tangannya.
Begitu api padam, suasana di dalam lorong tersebut pulih kembali dalam kegelapan
yang mencekam, sedemikian gelapnya sampai untuk melihat kelima jari tangan
sendiripun sukar.
Khong Bu siang segera mendehem pelan, katanya.
“Kini aku telah memadamkan api penerangan kami, sekarang apa yang hendak
saudara lakukan untuk menghadapi kami ?”
“Sebelum aku memperoleh perintah, paling baik kalau kalian jangan bergerak dari
tempat masing-masing” kata orang itu dengan suara yang dingin dan berat.
“Andaikata aku tak bersedia untuk tinggal ditempat ?”
“Kalau kalian benar-benar sudah tidak memikirkan soal mati hidup lagi, silahkan
saja untuk berjalan lewat, aku tak nanti akan menghalangi jalan pergi kalian.”
Khong Bu siang tertawa hambar.
“Kalau begitu, saudara seperti amat menguatirkan keselamatan jiwa kami, kalau
toh kita bisa berbincang-bincang, mengapa tidak segera memunculkna diri untuk
bersua ?”
Tiba-tiba orang itu menghela nafas panjang.
“Aai, bukan lohu enggan untuk menampakkan diri dan berusa dengan kalian,
sesungguhnya aku tak dapat untuk bersua dengan kalian semua.”
Walaupun suaranya masih tetap dingin dan dalam, akan tetapi nadanya sudah jauh
lebih lunak dan lembut, sehingga kedengarannya dia adalah seorang yang ramah.
Khong Bu siang termenung sejenak, kemudian berkata.
“Dahulu akupun pernah berkunjung satu kali ke dalam kota batu ini, hanya saja
kedudukanku pada waktu itu sama sekali berbeda dengan kedudukanku sekarang.”
“Aku tahu, waktu itu bukankah kau masih menjabat sebagai Toa sengcu dari
perguruan sam seng bun ?”
602
“Ya, seorang Toa sengcu yang punya nama namun tak memiliki kekuasaan apaapa.”
Orang itu seperti merasa gembira sekali, mendadak ia tertawa tergelak.
“Haah… haah… haaah.. konon nama besar Sam seng bun di dalam dunia persilatan
dewasa ini makin tenar dan ditakuti banyak orang, entah benar tidak kabar
tersebut ?”
“Nama besarnya memang semakin tenar dan cemerlang, bukan saja melebihi nama
besar Siau lim pay serta Bu tong pay bahkan hampir menguasai separuh dari dunia
persilatan.”
Orang itu segera menghela napas panjang.
“Aaai, sayang sekali sudah hampir tiga puluh tahun lamanya lohu tak pernah
berkelana lagi di dalam dunia persilatan, entah bagaimanakah pemandangan dunia
persilatan dewasa ini ?”
“Pemandangannya masih tetap seperti sedia kala” sahut Buyung Im seng tiba-tiba,
“hanya manusia dan keadaannya saja yang berubah, kini seluruh dunia persilatan
telah diobrak-abrik oleh Sam seng bun hingga suasananya kacau balau tak karuan.”
Nada suara orang itu kembali berubah, berubah menjadi dingin dan berat seperti
sedia kala,
“Siapakah kau ?” tegurnya.
“Aku adalah Buyung Im seng.”
“Lohu belum pernah mendengar nama ini.”
“Kau pernah mendengar nama Buyung Tiong kim ?” sela Nyoo Hong leng tiba-tiba.
“Buyung Tiong kim, buyung tayhiap ? Lohu pernah mendengar orang menyebutnya,
cuma sayang tak berjodoh hingga belum pernah menjumpainya.”
“Buyung Im seng adalah kongcu dati Buyung Tiong kim, Buyung tayhiap tersebut.”
Orang itu termenung beberapa saat lamanya, lalu berkata.
“Harap kalian tunggu sebentar ! Setelah membiarkan kalian masuk, itu berarti ia
ada maksud untuk membiarkan kalian masuk ke dalam kota batu untuk melihatlihat
keadaan.”
“Kalau toh sudah memutuskan untuk membiarkan kami masuk ke dalam kota
batu, mengapa pada saat ini tidak membiarkan kami masuk ke dalam ?”
“Lohu cuma berpikir demikian, benarkah dia telah mengambil keputusan untuk
membiarkan kalian masuk ke dalam kota batu ini, lohu belum berani untuk
menyatakan secara tegas, paling banter sepertanak nasi kemudian, ia pasti sudah
mengirim perintah kemari, kalau toh kalian berniat untuk memasuki kota,
sekalipun terburu-buru rasanya juga tak perlu terburu nafsu
“Seandainya perintah yang tiba disini tidak memperkenankan kami masuk ke
dalam kota batu, apa yang harus dilakukan ?”
603
“Hanya ada dua cara yang bisa ditempuh, pertama adalah kalian harus segera
mengundurkan diri dari sini atau saudara sekalian harus mengandalkan ilmu silat
untuk menerjang masuk ke dalam.”
“Sekarang, mengapa kami tak boleh menerjang masuk dengan kekerasan…. ?”
“Sebab tindakan tersebut kelewat berbahaya” kata orang itu sambil tertawa. “buat
apa kalian pasti bersikeras untuk menyerempet bahaya dengan menyerbu masuk
secara kekerasan, toh kemungkinan besar kalian akan diijinkan untuk masuk ke
dalam kota.”
“Saudara, kendatipun kau tak bisa munculkan diri untuk bersua dengan kami, toh
kami boleh tahu nama aslimu bukan ?” sela Buyung Im seng lagi.
Orang itu termenung sejenak, kemudian baru katanya.
“Lohu adalah Kiu ci ang (kakek berjari sembilan) Siau sam san !”
Lian Giok seng segera menjura sambil berseru :
“Oooh, rupanya Siau locianpwe, maaf, maaf !”
Siau sam san tertawa terbahak-bahak.
“Hahaha.. lohu betul-betul sudah hidup kelewat lama, puluhan tahun lamanya
hidup terkurung dalam ruangan ini tak pernah melihat matahari, rembulan
ataupun bintang, siapa tahu justru aku makin hidup usiaku rasanya semakin
panjang saja.”
“Bila seseorang ingin cepat mati, aku rasa hal mana bukanlah suatu pekerjaan yang
kelewat susah, mengapa kau tidak bunuh diri saja ?” tanya Nyoo Hong leng.
Kembali Siau Sam san tertawa,
“Lohu pernah mempunyai pikiran semacam itu tapi bila kubayangkan kembali ada
suatu ketika bisa meninggalkan tempat ini, maka akupun urungkan niat tersebut
dan hidup lebih lanjut, siapa sangka sekali melanjutkan hidup, puluhan tahun
sudah lewat tanpa terasa.”
Bergerak hati Nyoo Hong leng setelah mendengar perkataan itu, diam pikirnya.
“Sekarang, secara resmi kami sudah menjadi musuhnya orang-orang kota batu,
tampaknya kita pun tak usah kelewat merisaukan segala sesuatunya, mengapa aku
tidak mencoba untuk mengadu domba ? Siapa tahu kalau hal ini bisa
mendatangkan suatu hasil yang sama sekali diluar dugaan..”
Berpikir demikian, dia lantas berkata.
“Kalau kudengar pembicaraan Locianpwe, agaknya kau adalah salah seorang yang
ikut tersekap ditempat ini dan kau merasa sangat tidak puas bukan ?”
“Apakah kalian orang-orang perempuan bisa menaruh perasaan terharu terhadap
orang yang sudah puluhan tahun lamanya disekap disini ?”
“Dan kau telah kehilangan ilmu silatmu bukan ?”
Siau Sam san segera tertawa dingin.
604
“Heeehhh…. heeeeehh.. heeeehhh… jika lohu sudah kehilangan ilmu silatku, tak
mungkin aku bisa hidup sampai hari ini, anehnya bukan saja lohu makin hidup
usiaku semakin panjang, bahkan semakin tua ilmu silatku juga semakin tangguh
saja.”
“Kalau memang begitu, mengapa kau tidak memberontak ? Toh kau sudah tidak
jeri menghadapi kematian ?”
Lama sekali Siau Sam san termenung, kemudian ia berkata.
“Untuk mati di dalam perjuangan memang gampang, tapi kalau sampai melanggar
sesuatu dan gagal dalam usaha itu baru sulit. Bila pemberontakan lohu menderita
kegagalan, bukankan aku akan menerima siksaan hidup yang lebih parah lagi ?
Nah, disinilah susahnya.”
“Ooohh, kiranya begitu, tapi pandangan boanpwe terhadap soal kematian agak
berbeda dengan jalan pemikiranmu.”
“Orang bilang lidah perempuan tak berujung, nampaknya ucapan ini memang
benar, kamu mempunyai pendapat apakah yang sangat hebat ? Coba katakan
kepada lohu.”
“Boanpwe rasa, bila seseorang ingin mati, ditusuk dengan satu bacokan juga mati,
dicincang dengan seribu bacokan juga mati, perduli bagaimanakah cara
kematiannya, toh kematian yang dialami manusia tetap sama saja. Lagi pula kau
masih punya ilmu silat, bila benar-benar ingin mati, tidak seharusnya menempuh
kematian tersebut dengan jalan membunuh diri.”
“Bila lohu sampai mati, bukankah selama hidup aku tak bisa menyaksikan lagi
matahari, rembulan serta bintang ?”
“Ooh, rupanya kau hanya ingin melihat matahari dan rembulan saja, apakah di
dunia ini kau sudah tidak mempunyai sanak keluarga lagi ?”
“Usia lohu sudah begini lanjut, mana mungkin aku masih mempunyai sanak
keluarga lagi ? Mungkin mereka telah mati semua sebelum lohu memasuki kota
batu ini.”
“Sekalipun sanak keluarga sudah mati semua, tentunya kau masih mempunya
beberapa orang sahabat bukan ?”
“Tentu saja lohu mempunyai teman, cuma selama puluhan tahun kami tak pernah
bersua, aku tak tahu apakah mereka amsih hidup di dunia ini atau tidak, oleh
karena itu satu-satunya pengharapan lohu adalah ingin sekali melihat matahari
dan rembulan.”
“Aaah.. kalau begitu kau adalah seorang yang bernasib patut dikasihani.”
“Dalam hal yang mana lohu patut dikasihani ? Bocah perempuan, kau jangan
sembarangan mengaco belo” teriak Siau Sam san dengan gusar.
“Eeehh.. eeh, kenapa mesti gusar ? Ucapanku yang manakah yang tidak benar ?
Orang yang bagaimanapun kesepiannya, dia pasti masih memikirkan seseorang,
tapi kau hanya ingin melihat rembulan dan matahari saja, apakah hal ini tidak
patut dikasihani ?”
Buyung Im seng yang menyaksikan kejadian ini, diam-diam lantas berpikir dihati.
605
“Orang tua ini sudah puluhan tahun lamanya disekap di dalam kota batu,
wataknya pasti berangasan sekali, bila dia menggodanya dengan ejekan-ejekan
semacam itu, bukankah hawa amarahnya akan segera berkobar ?”
Baru saja ingatan tersebut melintas lewat, mendadak terdengar Siau Sam san
membentak marah.
“Budak busuk, kau berani bersikap kurang ajar kepadaku ? Rasakan sebuah
pukulanku ini.”
Ditengah bentaknya nyaring, segulung angin pukulan yang maha dahsayatnya
dengan cepatnya menerjang ke depan.
Walaupun terasa serangan itu ditujukan ke tubuh Nyoo Hong leng, namun
gelombang angin serangannya yang kuat membuat setiap orang yang berada di
dalam lorong itu dapat merasakannya semua.
Nyoo Hong leng segera mendorong sepasang telapak tangannya bersama ke depan,
dia maju selangkah lalu melepaskan pula sebuah pukulan yang sangat dahsyat….
Lalu segera Buyung Im seng menghimpun tenaga dalamnya sambil melepaskan
sebuah pukulan untuk membantu Nyoo Hon leng secara diam-diam……….
Ketika tenaga kekuatan dilancarkan kedua belah pihak sudah hampir saling
membentur, Nyoo Hong leng baru tahu kalau dia bukan tandingan lawan, terasa
angin pukulan yang dilepaskan musuhnya sangat kuat dan dahsyat, membuat
darah di dalam tubuh Nyoo Hong leng bergetar keras dan tanpa sadar mundur
selangkah dari posisi semula,
Serangan yang dilancarkan Buyung Im seng meski bukan dilancarkan langsung ke
arah tenaga lawan, akan tetapi diapun dapat merasakan getaran lawan yang
memantul balik, hal mana kontan saja membuat hatinya bergetar keras, pikirnya.
“Tenaga dalam yang dimiliki orang ini benar-benar lihai dan mengejutkan hati.”
Setelah menyambut sebuah serangan tadi, Nyoo Hong leng pun secara diam-diam
merasa terkejut sekali, akhirnya dengan cepat.
“Seandainya dia melancarkan sebuah serangan lagi, niscaya aku bakal terluka di
ujung telapak tangannya.”
Tapi keadaan yang dihadapinya kini ibarat menunggang diatas punggung harimau,
terpaksa ia harus mempersiapkan diri secara diam-diam untuk menyambut
serangan berikutnya.
Siapa tahu keadaan sama sekali diluar dugaannya, mendadak Siau Sam sam
tertawa terbahak-bahak.
( Bersambung ke Jilid 30 )
606
Lembah Tiga Malaikat
Oleh: Tjan
Jilid 30
"Haaah.... haah.... haah.... bocah perempuan, kau bisa menyambut sebuah serangan
lohu, hal ini menunjukkan kalau ilmu silat yang kau miliki memang amat
mengagumkan"
Sesudah menghela napas panjang, sambungnya lebih lanjut:
"Lohu telah memikirkan ucapanmu itu dengan seksama, dan aku merasakan apa
yang kau katakan memang betul."
"Bagus sekali, aku masih mengira kau ini si pikun tua yang selama hidup tak akan
bisa memahami keadaan yang sebenarnya."
Musuh semakin mengalah, gadis ini memaki semakin galak, hal mana membuat
Buyung Im seng diam-diam harus berkerut kening. Dia kuatir kalau sampai
perkataan itu akan membangkitkan hawa nafsu membunuh dalam hati Siau Sam
san.
Khong Bu siang seperti Lian Giok seng hanya membungkam diri saja selama ini,
mereka pun bermaksud untuk menghalangi Nyoo Hong leng untuk berbuat
demikian.
Suasana sepi dan hening yang panjang membuat lorong gelap gulita itu serasa
tercekam dalam ketegangan dan keseraman yang mengerikan hati.
Tiada orang yang bisa menduga bagaimanakah reaksi dari Siau Sam san sesudah
mendengar perkataan dari Nyoo Hong leng itu, tiada orang yang dapat menduga
pula apakah dia akan melancarkan serangan ataukah bersabar terus untuk
menahan diri.
Akhirnya helaan napas panjang merobek keheningan lorong gelap itu, kemudian
terdengar Siau Sam san berkata:
607
"Bocah perempuan berapa usiamu tahun ini?"
Waktu itu Nyoo Hong leng telah menghimpun segenap tenaga dalamnya untuk
bersiap siaga menyambut serangan dahsyat dari lawannya, sebab ia tahu
seandainya pihak lawan sampai melepaskan sebuah serangan yang dahsyat sudah
pasti serangan itu mengerikan hati.
Di luar dugaan Siau Sam san hanya menanyakan usianya, ini semua membuat
hatinya merasa agak lega.
"Buat apa kau menanyakan usiaku?"
"Lohu ingin mengetahui umurmu, apakah ini tidak boleh?"
"Aku berumur delapan belas tahun."
Mendadak Siau Sam san tertawa terbahak-bahak memotong ucapan Nyoo Hong
leng yang belum selesai diucapkan.
"Apa yang kau tertawakan?" Nyoo Hong leng bertanya dengan wajah keheranan.
"Lohu bila mempunyai istri dan berputera mungkin cucu perempuanku akan
berusia sebaya denganmu, oleh karena itu lohu pun tak ingin terlalu ribut
denganmu."
Nyoo Hong leng menundukkan kepala sambil berpikir sebentar, kemudian dia
berkata:
"Bila kau punya putra dan cucu, merekapun akan datang kemari untuk mencarimu
dan menengokmu. Buktinya Buyung Tayhiap juga mempunyai seorang putra yang
mencarinya sampai di sini, tapi nyatanya kau tak punya sanak keluarga, aku
mengatakan kau patut dikasihani, tapi kau masih merasa amat tidak puas bukan?"
Mendadak dari balik lorong yang gelap gulita berkumandang suara isak tangis yang
rendah dan berat, suara itu memilukan hati siapa saja yang mendengarnya.
"Hei, mengapa kau malah menangis?" Nyoo Hong leng segera menegur dengan
wajah tertegun.
"Apa yang kau katakan memang masuk diakal, kasihan lohu bukan saja tak
bersanak tak bercukur, mungkin kepandaian silat yang kumiliki pun tak bisa
diwariskan kepada orang lain. Aaai, dahulu lohu selalu melatih diri dengan tekun
dan rajin, siapa tahu sekalipun berhasil kumiliki kepandaian silat yang begini
hebat, namun akhirnya hanya bisa terpendam di sini dan akhirnya bakal lenyap
dan punah mengikuti kematian lohu."
Buyung Im seng yang berada disamping mendadak berbisik dengan suara lirih:
"Lian locianpwe, orang ini betul-betul merupakan seorang yang berwatak terbuka,
ingin menangis lantas menangis, ingin tertawa segera tertawa."
"Seandainya Kiu ci ang (kakek berjari sembilan) Siau Sam san tidak memiliki hati
yang tabah, setelah disekap selama puluhan tahun ditempat ini, mungkin dia sudah
lama mati karena kesepian didalam kota batu ini." sahut Lian Giok seng.
Terdengar Nyoo Hong leng telah berkata lagi dengan suara lantang.
608
"Siau locianpwe, jangan menangis lagi, setelah kami masuk ke kota batu dan
berjumpa dengan Buyung tayhiap, sebelum meninggalkan tempat ini pasti akan ku
ajak serta pula dirimu."
"Sungguhkah perkataanmu itu?" tanya Siau Sam san sambil menghentikan isak
tangisnya.
"Tentu saja sungguh."
"Bocah perempuan, kemarilah agar lohu bisa melihat dirimu"
Nyoo Hong leng segera maju ke depan sembari berkata:
"Locianpwe, kau berada dimana? Boanpwe tidak dapat melihat kau berada
dimana?"
Siau Sam san segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaah, haaah, haaah, lohu akan bertepuk tangan sebagai tanda. Kau datanglah
mengikuti arah sumber suara tepukan tangan itu."
Selesai berkata dia benar-benar bertepuk tangan dengan nyaring.
Khong Bu siang melompat ke muka secara tiba-tiba dan menghadang jalan pergi
Nyoo Hong leng, serunya dengan cepat:
"Biar aku pergi bersamamu."
"Jangan, biarkan aku kesana seorang diri."
Siau Sam san sendiripun tidak berbicara lagi. Dia hanya bertepuk tangan tiada
hentinya.
Dengan mengikuti sumber suara tepukan tangan itu, Nyoo Hong leng berjalan
sejauh dua kaki lebih sebelum akhirnya berhenti.
Mendadak ia mendengar Siau Sam san berkata lagi:
"Bocah perempuan, ulurkan tanganmu!"
Tampaknya lorong tersebut telah diatur dengan suatu dekorasi yang istimewa,
hitam pekat sehingga tak setitik cahaya pun yang tembus. Empat penjuru seakan
akan dilapisi oleh kain terpal hitam yang sangat tebal, sehingga saking gelapnya
membuat orang tak dapat melihat pemandangan sejauh tiga depa di depannya.
Nyoo Hong leng menurut dan segera mengulurkan tangannya ke depan.
Ia merasa ada sebuah telapak tangan yang besar sekali telah menggenggam
tangannya yang kecil, halus dan lembut.
Nyoo Hong leng segera mengalihkan sorot matanya dan mengawasi hadapannya
dengan seksama, ia lihat di atas dinding yang gelap mencorong keluar dua buah
sorot mata yang tajam dan berkilat.
Pantulan cahaya mata yang saling membentur membuat Nyoo Hong leng secara
lamat-lamat dapat menyaksikan pemandangan dihadapannya.
609
Ia lihat di atas dinding hitam itu terbuka sebuah lubang panjang yang sempit sekali
dengan kepanjangan dua kaki, dari balik lubang itulah muncul sebuah batok kepala
yang besar.
Sambil tertawa Siau Sam san berkata,
"Bocah perempuan, sudahlah kau melihat wajah lohu ?"
"Sudah, apakah locianpwe mempunyai sesuatu petunjuk ?"
"Tempelkan telingamu kemari, lohu ingin memberitahukan beberapa persoalan
kepadamu."
Nyoo Hong leng segera menempelkan kepalanya ke atas dinding tersebut...
Khong Bu siang yang merasa kuatir, sementara itu telah mengerahkan segenap
kemampuan yang dimilikinya untuk menatap ke arah depan, tapi itupun hanya
berhasil melihat bayangan punggung Nyoo Hong leng secara lamat-lamat. Dia tak
dapat melihat gerak gerik lainnya, ketika mencoba untuk memasang telinga baikbaik
maka yang bisa terdengar olehnya hanya sedikit suara yang sangat lirih, dia
tidak berhasil menangkap pembicaraan mereka.
Sementara itu mereka bertiga sudah mengerahkan segenap tenaga dalam yang
dimilikinya untuk melakukan persiapan, akan tetapi berhubung tidak mendengar
jeritan minta tolong dari Nyoo Hong leng, maka semua orang hanya berdiam diri
saja ditempat semula.
Lebih kurang seperempat jam kemudian, baru kedengaran Nyoo Hong leng
menghembuskan napas panjang,
"Terima kasih banyak atas petunjuk dari locianpwe !"
"Nah, lohu pun telah berusaha untuk membantumu dengan segala daya upaya yang
bisa kulakukan, apakah bisa berhasil dengan sukses atau tidak, hal itu tergantung
pada kemujuranmu sendiri."
Baru selesai dia berkata, mendadak tampak sekilas cahaya kuning memancar
datang dari tempat kejauhan sana.
Meminjam cahaya lentera tersebut, beberapa orang itu dapat melihat jelas
pemandangan di dalam lorong itu.
Tampak Siau Sam san yang berambut awut-awutan memiliki kepala yang besar
sekali, sepasang matanya bersinar tajam dan di bawah dagunya memelihara
jenggot berwarna hitam.
"Locianpwe" Lian Giok seng segera berkata, "kalau dilihat dari rambutmu yang
telah berubah menjadi hitam, tampaknya tenaga dalammu telah berhasil mencapai
ke tingkatan yang amat sempurna."
"Rambut lohu sudah pernah di semir jadi warnanya tetap hitam, dalam lorong ini
selain hitam tidak diperkenankan ada warna lainya, coba kalian lihat, lentera
penyambut tamu telah dipasang, kini kalian boleh berangkat ke situ."
Selesai berkata, "Blaamm!" pintu besi pada lubang dinding itu segera ditutup rapat.
Dari kejauhan sana berkumandang suara seruan yang nyaring dan tajam :
610
"Lampu penyambut tamu hanya berlangsung dalam waktu yang terbatas, harap
kalian segera berangkat."
Mendadak Khong Bu siang mempercepat langkahnya dan bergerak menuju ke
depan.
Nyoo Hong leng segera mengikuti di belakang tubuh Khong Bu siang, menyusul di
belakangnya Buyung Im seng serta Lian Giok seng.
Setelah berjalan lebih kurang lima enam kaki, lorong itu tiba-tiba saja menikung ke
kanan. Cahaya lentera berwarna kuning yang menerangi sekeliling tempat itupun
mengikuti keadaan medan, turut membelok pula ke sebelah kanan mengikuti
gerakan tubuh dari beberapa orang itu.
Kembali lewat beberapa kaki kemudian, jalan di depan sana tiba-tiba menyempit,
cahaya kuning yang menerangi sekitar tempat itupun mendadak saja menjadi
padam, tapi menyusul kemudian muncul sekilas cahaya putih yang sangat kuat
memantul datang, sedemikian tajamnya cahaya itu sehingga menyilaukan mata
setiap orang.
Bersamaan itu pula, kedengaran seseorang berkata dengan suara yang dingin dan
nyaring.
"Untuk sementara waktu harap kalian berhenti dulu, kenakan topi besi sebelum
melanjutkan perjalanan."
"Topi besi ?" seru Khong Bu siang.
"Benar, topi besi ! Harap kalian berdiri ditempat masing-masing tanpa bergerak,
pejamkan mata dan ada orang yang akan mengenakan topi besi tersebut ke atas
kepala kalian."
"Kau menyuruh kami menyerahkan diri untuk dibunuh begitu saja ?"
Orang itu tertawa dingin.
"Seandainya kau hendak membunuh kalian buat apa mesti mengajak kalian masuk
?"
"Moga-moga saja apa yang kau ucapkan itu dapat dipercaya."
Setelah maju ke depan, terusnya :
"Biarlah aku duluan !"
Setelah berhenti sejenak, sambil berpaling ke arah Nyoo Hong leng katanya lagi :
"Bila aku sampai kena disergap, sudah pasti akan membalikkan tubuh sambil
melancarkan serangan, dalam keadaan begini kalianpun tak usah turut terjebak
pula."
Nyoo Hong leng menghela napas panjang, dia ingin mengucapkan sesuatu, namun
akhirnya niat tersebut diurungkan.
Ternyata orang itu tidak menggunakan siasat licik untuk menjebak mereka, dengan
cepat dia mengenakan topi besi di atas kepala masing-masing orang.
611
Topi besi itu dikenakan dari atas kepala sampai pada batas tangkai leher, hingga
sinar mata mereka tak dapat menyaksikan pemandangan di sekeliling tempat itu.
Terdengar suara yang dingin dan nyaring itu kembali berkumandang :
"Harap kalian memegang tali ini untuk melanjutkan perjalanan, barang siapa
berani melepaskan topi besi itu tanpa seijinku, jangan salahkan kalau aku akan
turun tangan keji !"
Khong Bu siang mendengus dingin tanpa menjawab perkataan itu.
Tapi dia menurut dan segera memegang tali dan melanjutkan perjalanan tanpa
berkata apa-apa lagi.
Dalam hati mereka semua cukup mengerti, mereka diharuskan memakai topi baja
karena tujuannya yang terutama adalah agar mereka tak bisa mengingat-ingat
jalanan yang telah dilewatinya.
Orang itu berjalan dengan sangat lamban, kurang lebih setengah jam kemudian
perjalanan mereka baru berhenti.
"Sudah sampai ?" tanya Khong Bu siang.
"Sudah !" suara yang merdu, lembut dan nyaring menyahut secara tiba-tiba.
"Apakah aku boleh melepaskan topi besi yang harus kami kenakan ini ?"
"Boleh, tapi tak usah merepotkan kalian untuk melakukan sendiri, sebab di luar
topi besi itu sudah dipolesi dengan racun yang amat keji, untung saja kalian adalah
orang yang bisa memegang janji, andaikata ada yang nekad dan melanggar janji
dengan melepaskan topi tersebut, niscaya kalian sudah keracunan hebat dan mati."
Sementara pembicaraan berlangsung, topi baja yang dikenakan beberapa orang itu
telah dilepaskan.
Dengan cepat mereka mengawasi sekeliling tempat itu, ternyata mereka berada di
suatu ruangan batu dengan dekorasi yang amat sederhana, kecuali sebuah meja
kayu dengan empat buah kursi bambu, di situ tidak nampak benda lainnya.
Di atas meja terdapat sebatang obor yang memancarkan api dengan sangat terang.
Seorang perempuan berambut panjang yang berpakaian compang camping berdiri
di depan pintu dengan senyum dikulum.
Meski pakaian yang dikenakan perempuan itu compang camping, namun ia tidak
mengenakan alat siksaan, dan tidak tercermin pula kesan tragis seperti keadaan
Coa Niocu.
Buyung Im seng memperhatikan sekejap keadaan dari perempuan itu lalu ujarnya
dengan dingin :
"Apakah kau adalah budak perempuan dari kota batu ini ?"
Perempuan berambut panjang itu segera tersenyum.
"Darimana kau bisa tahu kalau didalam kota batu terdapat budak perempuan ?"
"Dalam kota batu ini penuh dengan aneka rahasia, mengetahui tiga atau lima
macam diantaranya bukanlah suatu hal yang aneh."
612
Perempuan berambut panjang itu segera mengerdipkan matanya yang bulat dan
besar, lalu serunya sambil tertawa :
"Besar amat lagakmu."
Mendadak paras mukanya berubah, dengan dingin lanjutnya :
"kau adalah Buyung kongcu ?"
Diam-diam Buyung Im seng merasa terperanjat sekali setelah mendengar
perkataan itu, segera pikirnya :
"Tampaknya, orang-orang yang berada dalam kota batu di bawah tanah ini
menaruh perhatian yang khusus terhadap gerak gerik kami sehingga sesuatunya
tentang kami bisa diketahui dengan jelas sekali."
Sementara dia masih berpikir, terdengar Khong Bu siang telah bertanya :
"Kau kenal dengan diriku ?"
"Kau adalah Toa sengcu dari perguruan Sam seng bun !"
"Benar, tetapi aku rasa pentolan atau otak yang sebenarnya dari perguruan Sam
seng bun agaknya berada di dalam kota batu di bawah tanah.."
Setelah berhenti sejenak, sambungnya lebih jauh :
"Sekarang kedua belah pihak telah mengetahui identitas masing-masing dengan
jelas, rasanya kita pun tak usah merahasiakan sesuatu lagi, tolong nona suka
memberi laporan ke dalam, katakan saja kami ada urusan penting ingin berjumpa."
"Ingin berjumpa dengan siapa ?"
"Ingin berjumpa dengan majikan dari kota batu di bawah tanah ini, pentolan yang
sebenarnya dari perguruan Sam seng bun ini."
Perempuan berambut panjang itu tertawa.
"Lebih baik tak usah memperhitungkan segala sesuatunya seenak sendiri,
ketahuilah, kini kalian sudah berada di tempat yang sangat berbahaya, apakah bisa
menyelamatkan jiwa sendiripun masih merupakan suatu tanda tanya besar."
"Kami cukup memahami keadaan yang kami hadapi sekarang, tapi kamipun telah
membuang jauh-jauh pikiran tentang mati hidup kami dari dalam benak..."
"Ehmm, kau nampak sangat perkasa."
"Kalau memang begitu, merepotkan nona untuk memberi laporan ke dalam..."
Nona berambut panjang itu tidak menggubris diri Khong Bu siang lagi, sorot
matanya segera dialihkan ke wajah Nyoo Hong leng dan menatapnya lekat-lekat,
kemudian dia bergumam :
"Nona berwajah kelewat cantik !"
"Terlalu memuji, terlalu memuji...."
"Bila kau ingin meminta bantuanku, maka kau harus meluluskan sebuah
permintaanku."
613
"Apa syaratmu ?"
"Merusak raut wajahmu yang cantik itu."
"Kenapa ?" tanya Khong Bu siang.
"Urusan ini tak ada sangkut pautnya dengan dirimu, lebih baik kau tak usah
mencampuri, aku sedang bertanya kepadanya."
"Berapa besarkah bantuan yang bisa kau berikan kepada kami, hal ini mesti
kuketahui lebih dulu, ingin kuperhitungkan dulu untung ruginya, kalau kelewat
rugi buat apa ?" kata Nyoo Hong leng kemudian.
"Aku dapat mengatur suatu pertemuan antara kalian dengan pentolan dari kota
batu ini, cukup ?"
"Tidak cukup, harus ditambah lagi dengan yang lain."
"Baiklah, akan ku ajak pula kalian untuk berjumpa dengan Buyung Tiang kim"
gadis berambut panjang itu menambahkan.
Nyoo Hong leng tertawa rawan.
"Baik ! Kita akan melakukan pertukaran tersebut, aku akan merusak wajahku
setelah mengajak kami untuk menjumpai Buyung Tiang kim."
"Tapi aku hendak turun tangan lebih dulu." kata perempuan berambut panjang itu
cepat.
"Mengapa kau hendak merusak wajahnya ?" tiba-tiba Buyung Im seng menegur
dengan wajah penuh kegusaran.
"Karena dia kelewat cantik, aku tak ingin di dalam dunia ini terdapat perempuan
lain yang jauh lebih cantik daripada aku."
Buyung Im seng segera tertawa dingin.
"Heeehhh.....heeehh.... heeeehh.. karena wajah yang kelewat cantik merupakan
suatu dosa pula...." sahutnya.
Perempuan berambut panjang itu merasa seperti kehabisan sabar, dengan suara
dingin segera tukasnya :
"Dia punya mulut untuk berbicara, dapat menerima syaratku juga dapat
menampik, apa hubunganmu dengannya, mengapa kau harus mencampuri
urusannya ?"
"Apa hubunganmu dengannya ?" Pertanyaan ini kontan saja menusuk perasaan
Buyung Im seng diam-diam ia menghela napas panjang, pikirnya.
"Ya, benar, apa hubunganku dengannya ? Bukankah dia mempunyai suami yang
berada disampingnya, mengapa aku harus banyak mencampuri urusannya ?"
Berpikir sampai di situ, dia lantas mundur dua langkah ke belakang dan tidak
banyak bicara lagi.
Pelan-pelan perempuan berambut panjang itu mengalihkan kembali sorot matanya
ke wajah Nyoo Hong leng, kemudian bertanya :
"Bagaimana ? Kau bersedia untuk meluluskan permintaanku itu atau tidak...?"
614
"Setelah kululuskan permintaanmu itu, tentu saja tidak akan menyesal, cuma kau
harus memberitahukan dulu kepadaku, mengapa kau ingin turun tangan sendiri ?"
"Sebab aku tidak percaya kepadamu, aku ingin turun tangan sendiri karena aku
hendak membuat cacat di mukamu itu tak pernah akan bisa disembuhkan lagi."
"Oooh.... kiranya begitu."
Setelah berhenti sejenak, katanya lebih lanjut.
"Sekarang, seharusnya kau mengajak kami untuk menjumpai Buyung Tiang kim
lebih dulu ataukah hendak merusak wajahku lebih dahulu...?"
"Tentu saja aku akan merusak raut wajahmu lebih dulu."
"Bila kau telah merusak wajahku, kemudian enggan mengajak kami untuk
menjumpai Buyung Tiang kim, bukankah aku bakal menderita kerugian besar....?"
"Keadaan kalian pada saat ini sudah berada dalam keadaan yang berbahaya sekali,
kini aku sudah punya perasaan dengki kepadamu maka aku pasti berusaha keras
untuk membinasakan dirimu, entah menyerang secara terang-terangan atau
menyerang secara gelap. Sebaliknya bila kau merusak wajahmu lebih dulu, berarti
aku sudah tidak menaruh perasaan dendam atau dengki lagi kepadamu, itu berarti
kesempatan untuk hidup menjadi jauh lebih besar."
"Kalau toh dalam hatimu sudah mempunyai keyakinan yang begitu besar untuk
merenggut nyawaku, apa lagi yang kau risaukan atau takut lagi."
"Maksudmu..." si gadis berambut panjang itu tertawa hambar.
Sebelum menyampaikan kata-katanya, Nyoo Hong leng telah menukas dengan
cepat :
"Berusahalah untuk mengajak kami menjumpai Buyung Tiang kim lebih dulu,
kemudian baru merusak wajahku, dan kemudian mengatur pertemuan kami
dengan pentolan dari kota batu, dengan begitu kita kedua belah pihak sama-sama
tak akan menderita kerugian apa-apa."
Perempuan berambut panjang itu termenung dan berpikir beberapa saat lamanya,
kemudian katanya :
"Ucapan itu memang masuk diakal juga, aku akan keluar untuk melihat keadaan,
sebentar aku akan balik lagi kemari."
Selesai berkata dia lantas membalikkan badan dan berlalu dari situ....
Menanti bayangan tubuh dari perempuan berambut panjang itu sudah pergi jauh,
Khong Bu siang baru bertanya :
"Kau benar hendak merusak wajahmu ?"
"Kau adalah suamiku, sebenarnya aku harus minta persetujuanmu lebih dulu
sebelum merusak wajahku ini, cuma...."
"Cuma kenapa ?" tukas Khong Bu siang.
"Apakah kau menyukai aku karena wajahku cantik ?"
615
"Bukan, bukan begitu, bagi seorang perempuan maka selain wajah yang cantik,
juga harus memiliki gaya yang menarik serta tindak tanduk yang menawan."
"Nah, itulah dia, sekalian aku telah merusak wajahku, aku masih tetap aku, cuma
wajahnya saja yang rada sedikit lebih jelek."
Khong Bu siang termenung sambil berpikir sejenak, lalu katanya lagi :
"Seandainya kau bersedia merusak wajahmu atas prakarsamu sendiri, tentu saja
aku tak berani melarang. Tapi bila kau berbuat demikian atas dasar paksaan atau
ancaman, tentu saja aku akan tampilkan diri untuk membela dirimu."
"Gara-gara aku, nona harus merusak wajahmu, hal ini akan membuat aku merasa
menyesal sepanjang masa" ucap Buyung Im seng.
Nyoo Hong leng tertawa hambar.
"Asal suamiku tidak keberatan aku kehilangan wajah asalku, sedang aku
sendiripun tidak sayang untuk kehilangan wajah ini, apa urusannya dengan dirimu
?"
Buyung Im seng tertegun.
"Perkataan nona ada betulnya juga" dia berkata, "tapi kalau kami beberapa orang
lelaki harus melihat kau menderita sehingga cacat tanpa memberikan pertolongan,
bila berita ini sampai tersiar ditempat luaran, sudah pasti hal tersebut akan
merusak nama baik kita semua, lagi pula akan dijadikan lelucon bagi orang
banyak."
"Oooh... jadi kau takut persoalan ini dibicarakan orang sehingga akan merusak
nama baik Buyung kongcu ?"
"walaupun perkataanmu itu benar, tapi tujuanku..."
"Bila apa yang kau pikirkan dan kau ucapkan tak bisa seia sekata, terhitung
seorang enghiong macam apakah dirimu itu ?" tukas Nyoo Hong leng cepat. Selain
ucapannya tajam juga nadanya amat menyudutkan orang, kontan saja Buyung Im
seng dibuat terbelalak dan gelagapan sendiri sampai tak tahu apa yang mesti
diucapkan.
Walaupun dia merasa perkataan dari perempuan itu kelewat menyudutkan orang,
sehingga membuat hati merasa tak puas, namun untuk sesaat dia pun tidak
berhasil menemukan kata-kata yang sesuai untuk membantah perkataan itu,
terpaksa sambil mundur berapa langkah dia membungkam dalam seribu bahasa.
Untuk sesaat suasana dalam ruangan itu menjadi hening, sepi dan tak kedengaran
sedikit pun suara.
Sampai lama kemudian, akhirnya Khong Bu siang baru menghela nafas panjang
seraya berkata, "Coba pikirkan persoalan ini sekali lagi, pikirkan dengan seksama
dan dengan pikiran yang dingin, ketahuilah soal merusak muka adalah suatu
peristiwa yang luar biasa, bila di kemudian hari sampai menyesal maka sepanjang
tahun kau akan menderita selalu, apalagi nona itu belum tentu benar bisa
membantu usaha kita."
616
Diam-diam Buyung Im seng berpikir dihati :
"Gara-gara persoalanku, dia rela merusak wajahnya dengan harapan gadis itu mau
mengajak kami menjumpai ayah. Bagaimana pun juga, aku tak boleh membiarkan
dia menderita kerugian sebesar ini..."
Berpikir demikian, dia lantas bertekad untuk merusak rencana tersebut secara
diam-diam.
Terdengar Nyoo Hong leng menghela nafas panjang, lalu berkata "
"Belakangan ini, aku merasa mempunyai banyak persoalan yang memusingkan
hatiku, selain membuatku resah, hatiku pun sangat risau bila dipikirkan lebih jauh,
aku merasa bahwa kesemuanya ini adalah gara-gara kecantikanku ini."
Sementara pembicaraan sedang berlangsung, gadis berambut putih itu gelah
berjalan balik kembali ke tempat semula.
Nyoo Hong leng segera memandang sekejap ke arah gadis berambut panjang itu,
lalu bertanya :
"Apakah segala sesuatunya telah kau persiapkan ?"
"Sudah. Aku dapat membawa kalian segera menjumpai Buyung Tiang kim..."
"Kapan ?"
"Sekarang juga !"
Kemudian setelah berhenti sejenak, sambungnya lebih jauh :
"Kapan pula kau hendak melaksanakan janjimu tadi untuk merusak wajahmu yang
cantik ?"
"Setelah berjumpa dengan Buyung Tiang kim."
Gadis berambut panjang itu termenung dan berpikir sejenak, kemudian ujarnya :
"Bila kau berubah pikiran setelah berjumpa dengan Buyung Tiang kim nanti,
bukankah aku bakal tertipu mentah-mentah ?"
Mendadak Buyung Im seng maju beberapa langkah ke depan, setelah menjura
katanya :
"Buyung Tiang kim adalah ayahku, persoalan ini sama sekali tak ada hubungannya
dengan nona Nyoo, jika nona ingin mengadakan transaksi, silahkan dibicarakan
denganku."
Gadis berambut panjang itu memperhatikan Buyung Im seng sekejap, lalu ujarnya
sambil tertawa :
"Tampaknya kau amat menyukai dia ?"
"Kalau benar, mau apa kau ?"
Gadis berambut panjang itu termenung dan berpikir sejenak, lalu katanya :
"Begini saja ! Bagaimana kalau ku ajak kau seorang untuk berjumpa dulu dengan
Buyung Tiang kim ?"
"Beginipun boleh juga"
617
"Kemudian kau balik lagi kemari dan memberitahukan kepadanya."
Gadis berambut panjang itu sama sekali tidak memperdulikan Buyung Im seng,
seraya berpaling ke arah Nyoo Hong leng katanya.
"Hitung-hitung aku telah membayar dulu setengah dari janjiku, dan kau pun boleh
berlega hati membiarkan wajahmu ku rusak."
Dengan cepat Nyoo Hong leng menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Tidak bisa...." tolaknya.
"Tidak bisa ? Kau bakal menyesal nantinya."
"Bukan begitu maksudku...."
"Lantas apa yang siap kau lakukan ?"
"Aku ingin bersamanya pergi ke sana untuk menengok keadaan."
Gadis berambut panjang itu termenung dan berpikir sebentar, kemudian sahutnya :
"Boleh saja, mari kita segera berangkat !"
Dia segera membalikkan badan dan beranjak pergi dari situ.
Nyoo Hong leng berpaling dan memandang sekejap ke arah Khong Bu siang, lalu
dengan sorot mata memohon, ujarnya lembut :
"Boleh bukan aku pergi sebentar ke sana bersama mereka ?"
Khong Bu siang tertawa rawan.
"Asal kau senang, terserah apa yang hendak kau lakukan, aku dapat menantimu
dengan tenang, entah laut akan kering, batu akan lapuk, aku akan menunggumu di
sini sepanjang waktu."
Nyoo Hong leng menyeka air mata yang menderai keluar dengan ujung bajunya dan
berkata :
"Aku tahu, kau seorang suami yang sangat baik sekali, aku sudah menjadi istrimu
dan aku tak akan berubah hati sepanjang waktu, aku berani bersumpah tak akan
melakukan perbuatan yang akan merugikan kau."
Sambil tertawa Khong Bu siang mengulapkan tangannya, ia berkata :
"Pergilah... ! Bila berjumpa dengan Buyung tayhiap nanti, sampaikan salamku
untuknya."
Waktu itu sebenarnya Buyung Im seng sudah siap beranjak pergi dan menyusul di
belakang tubuh gadis berambut panjang itu, sementara dalam hatinya ia berpikir :
"Walaupun nona ini berhati sangat keji, namun sebetulnya bukan seorang yang
berotak cerdas."
Tapi setelah mendengar pembicaraan antara Khong Bu siang dengan Nyoo Hong
leng tersebut, seketika itu juga hatinya merasa seakan-akan tenggelam dan diberi
beban seberat ribuan kati yang menindih tubuhnya, tanpa sadar peluh dingin
mengucur keluar membasahi seluruh badannya.
618
Berada dalam keadaan seperti ini, dia tak berani berdiam terlalu lama lagi di situ,
dengan cepat ia memburu di belakang gadis berambut panjang tersebut.
Di luar ruangan tiada cahaya lampu, suasana gelap gulita tak nampak setitik
cahaya pun.
Dengan langkah sempoyongan Buyung Im seng menerjang keluar dari dalam
ruangan, karena terburu nafsunya, tak bisa dihindari lagi, dia menubruk ke dalam
rangkulan si nona berambut panjang itu.
Buru-buru gadis itu memayang bangun tubuh Buyung Im seng seraya berkata
pelan :
"Tak nyana nyalimu begitu kecil, coba lihat saking takutnya tubuhmu sudah
bermandi keringat."
Ternyata pipi kanannya kebetulan menyentuh ditangan kiri si nona yang sedang
membereskan rambut hingga air keringat membasahi jari tangan gadis tersebut.
Buyung Im seng mendengus dingin sambil mundur dua langkah, katanya :
"Maaf !"
Tapi ia segera merasa punggungnya kembali dipegang orang sehingga badannya
bisa tegak kembali.
Rupanya karena terlampau tergesa-gesa, lagi-lagi dia menumbuk tubuh Nyoo Hong
leng yang kebetulan sedang memburu keluar dari dalam ruangan.
Tak usah berpaling lagi Buyung Im seng sudah tahu siapakah gerangan orang yang
berada di belakangnya, dengan cepat dia segera menghindarkan diri ke samping.
Tampak sebuah tangan yang halus dan lembut mengulur ke depan dan
menyekakan air keringat di atas wajahnya.
Semua peristiwa itu berlangsung hanya di dalam sekejap mata, kedua belah pihak
sama-sama tidak mengucapkan sepatah katapun.
oooOooo
Tiba-tiba terdengar nona berambut panjang itu berkata.
"Jalanan yang akan kita lalui berikut ini gelap sekali, mari ku gendong kalian
untuk melewatinya !"
Tampaknya didalam hati perempuan itu sama sekali tiada ingatannya untuk
membedakan antara lelaki dan perempuan, tanpa menunggu Buyung Im seng
menyelesaikan kata-katanya dia segera menggenggam pergelangan tangan kiri
Buyung Im seng dan berjalan ke depan.
Baru saja Buyung Im seng hendak meronta dan melepaskan diri dari cekalan,
tangan kanannya telah digenggam pula oleh Nyoo Hong leng sembari berbisik :
"Ikuti saja kemana dia pergi !"
Nona berambut panjang itu menarik Buyung Im seng melakukan perjalanan cepat
ke depan.
619
Lorong tersebut masih tetap gelap gulita, Buyung Im seng serta Nyoo Hong leng tak
mampu melihat jelas keadaan di depan sana, tapi nona berambut panjang itu masih
saja melakukan perjalanan cepat, sedikitpun tiada bermaksud untuk berhenti.
Setelah membeloki dua buah tikungan, mendadak nona berambut panjang yang
berjalan dimuka itu menghentikan langkahnya secara tiba-tiba.
Perempuan itu berhenti secara tiba-tiba dan sebelumnya sama sekali tidak
memberi tanda apa-apa, tak bisa dicegah lagi Buyung Im seng segera menumbuk di
atas badan nona berambut panjang itu.
Kejadian itu kontan saja membuat Buyung Im seng merasa amat menyesal, tapi
nona berambut panjang itu seperti tak merasakan hal itu, bisiknya lirih :
"Kalian berhenti di situ, jangan bergerak, aku akan membukakan pintu."
Berbicara sampai di situ, dia lantas melepaskan genggamannya pada pergelangan
tangan kiri Buyung Im seng.
Suasana di dalam lorong itu kelewat gelap, sedemikian gelapnya sehingga Buyung
Im seng tak dapat menyaksikan gerak gerik si nona berambut panjang yang cuma
berada beberapa depa dihadapannya itu, tapi di dalam perasaannya dia nampak
gadis itu seperti lagi berjongkok.
Lalu terdengar suara gemerincingan yang amat nyaring berkumandang
memecahkan keheningan, disusul serentetan cahaya tajam memancar masuk ke
dalam lorong itu.
Ketika dia mencoba untuk mengamati kembali suasana di depan, dilihatnya nona
berambut panjang itu sedang membuka sebuah pintu.
Ketika Buyung Im seng menyaksikan gadis itu seakan-akan kepayahan, ia segera
turut berjongkok sambil berkata :
"Bagaimana kalau kubantu usaha nona ?"
Dengan cepat nona berambut panjang itu menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Pekerjaan semacam ini bukan pekerjaan yang menggunakan tenaga, tak perlu kau
bantu."
Setelah ketanggor batunya, Buyung Im seng segera mengundurkan diri ke samping
dan tak banyak bicara lagi.
Tampak nona berambut panjang itu membuka pintu itu setinggi tiga depa ke atas,
kemudian sambil menghentikan gerakannya dia berkata : "Cepat membungkukkan
badan dan menerobos masuk."
Nyoo Hong leng dan Buyung Im seng menurut, mereka segera membungkukkan
badan dan menerobos masuk ke dalam.
Pemandangan di luar pintu itu nampak sekali tidak berubah.
Tempat itupun merupakan sebuah lorong yang panjang sekali, hanya saja setiap
jarak empat kaki tampak sebuah lampu lentera model keraton memancarkan
sinarnya, terang.
620
Dengan sangat berhati-hati sekali nona berambut panjang itu menurunkan kembali
pintu tadi, kemudian baru berkata :
"Kalian ikuti saja di belakangku, entah perubahan apapun yang bakal terjadi, lebih
baik jangan banyak bicara ataupun turut menimbrung."
Lalu dia mengambil seutas tali berwarna putih dari dalam sakunya dan
melanjutkan :
"Silahkan kalian membelenggu tangan sendiri, tapi harus dibelenggu sedemikian
rupa sehingga orang lain sama sekali tidak tahu kalau tali itu bisa dibuka setiap
saat."
Nyoo Hong leng menyambut tali itu dan mengikatnya menjadi beberapa macam
simpul hidup, kemudian diikatkan pada sepasang tangan Buyung Im seng dan
tangannya sendiri.
Nona berambut panjang itu memeriksa sekejap tali simpul mana, lalu berkata :
"Sekarang, mari kita berangkat !"
Selesai berkata, dia lantas beranjak pergi dulu ke depan.
Nyoo Hong leng serta Buyung Im seng segera jalan berunding mengikuti di
belakang gadis tersebut.
Setelah melalui sebuah lentera lagi, kali ini mereka belok ke lorong sebelah kanan.
Tampak seorang kakek berjubah hijau duduk di atas sebuah kursi kayu
menghalangi jalan pergi mereka.
Kakek itu berwajah membesi sedemikian hijaunya hingga mirip dengan warna
pakaiannya, cukup memandang wajahnya yang hijau, orang sudah merasa ngeri
rasanya.
Tampak dia mengalihkan sorot matanya memandang ketiga orang itu, memandang
dengan sorot mata yang dingin, sementara mulutnya membungkam dalam seribu
bahasa.
Dengan langkah pelan nona berambut panjang itu berjalan ke depan kakek
berjubah hijau itu, setelah menjura dalam-dalam, dia mengucapkan sesuatu dengan
nada yang lirih.
Kakek berjubah hijau manggut-manggut, dia memandang sekejap ke atas tali
temali di atas tangannya Buyung Im seng dan Nyoo Hong leng, kemudian sesudah
mengangguk kembali, matanya segera dipejamkan.
"Kemarilah kalian." nona berambut panjang itu segera mengulapkan tangannya.
Buyung Im seng dan Nyoo Hong leng menurut dan segera melangkah ke depan dan
mengikuti di belakang nona berambut panjang itu.
Kembali mereka membelok suatu tikungan, mendadak Buyung Im seng buka suara
sambil berkata :
"Kakek itu berwajah keren dan penuh wibawa, tentunya kedudukan yang di pangku
dalam kota batu ini tinggi sekali."
621
"Dia mempunyai raut wajah yang istimewa, bagi orang yang seringkali melakukan
perjalanan dalam dunia persilatan, dalam sekilas pandangan saja sudah dapat
mengenalinya."
"Sayang sekali waktuku melakukan perjalanan di dunia persilatan belum terlalu
lama, belum pernah kudengar nama orang ini."
Nona berambut panjang itu segera mendengus dingin.
"Hmm, tampaknya kau sama sekali tak berpengetahuan apa-apa, masa Cing bing
giam ong (Raja akhirat berwajah hijau) pun tidak kau ketahui."
Buyung Im seng tertawa hambar.
"Terima kasih banyak atas petunjukmu."
Sementara pembicaraan berlangsung, mendadak nona berambut panjang itu
berhenti, lalu sambil menuding ke depan katanya.
"Di ujung lorong sana terdapat sebuah pintu batu, di atas pintu tertulis "Kamar
tahanan nomor satu", disitulah tempat tinggal Buyung Tiang kim, kalian pergilah
sendiri !"
"Mengapa kau tidak mengajak kami ke situ ?" tanya Nyoo Hong leng dengan cepat.
"Aku toh tidak bermaksud untuk menjumpai Buyung Tiang kim, mengapa harus
mengikuti kalian untuk pergi menyerempet bahaya ?"
Sebenarnya Buyung Im seng telah beranjak pergi, ia segera berhenti setelah
mendengar perkataan itu, serunya:
"Menyerempet bahaya ? Menyerempet bahaya apa ? Masa ayahku sudah tak waras
otaknya sehingga sering melukai orang ?"
"Buyung Tiang kim masih berada dalam keadaan baik-baik, tapi si pengemis tua
yang gemar bermain ular benar-benar menjemukan, ia berdiam di kamar tahanan
nomor tiga persis di depan kamar Buyung Tiang kim, sering kali melepaskan ular
untuk menakut-nakuti orang."
"Oooh, kiranya begitu." Buyung Im seng berseru tertahan. "tapi dengan
mengandalkan kepandaian silat yang nona miliki, masakah kau akan takut untuk
menghadapi seekor ular ?"
"Siapa bilang cuma seekor ? Kecuali pengemis tua itu, dalam ruangannya penuh
dengan kawanan ular."
Setelah berhenti sejenak, sambungnya lagi :
"Kalian hanya memiliki waktu selama seperminuman teh saja, mengapa tidak
segera pergi ? Bila waktunya ditunda-tunda lagi, mungkin untuk berjumpa muka
saja tak bisa."
Mendengar itu Buyung Im seng segera berpikir :
"Setelah kau mengajakku kemari, pergi atau tidak pergi, bukan kau yang bisa
mengendalikannya."
622
Berpikir demikian, dia lantas beranjak pergi dengan langkah lebar.
Ketika Nyoo Hong leng mendengar ada ular, timbul perasaan takut pula di dalam
hatinya, maka dia lantas berjalan ke sebelah kanan Buyung Im seng...
Buyung Im seng yang terbayang sebentar lagi akan berjumpa dengan ayahnya dan
pelbagai teka teki akan segera terpecahkan, dalam hatinya entah harus merasa
girang atau murung, pedih ataukah girang..."
Tiba di ujung lorong tersebut, betul juga disamping kiri dan kanan masing-masing
terdapat sebuah pintu batu, sedangkan di sebelah kanan bertuliskan kamar
tahanan nomor satu, sedangkan di sebelah kiri merupakan kamar tahanan nomor
tiga, segala sesuatunya persis seperti apa yang dikatakan gadis berambut panjang
itu.
Baru saja Buyung Im seng hendak mengetuk pintu nomor satu, mendadak dari
balik kamar nomor tiga berkumandang suara teguran yang amat dingin bagaikan
es :
"Siapa di situ ?"
"Aku !"
"Aku sudah tahu kalau kau, siapakah kau ?"
"Aku Buyung Im seng !"
Tampak pintu ruangan nomor tiga dibuka orang, lalu muncul seorang manusia
aneh berambut kusut dan berpakaian compang camping di atas badannya
melingkar dua ekor ular raksasa sebesar cawan air teh, kepala ular itu melongok
keluar dari balik ruangan sambil menjulurkan lidahnya yang merah, sedangkan di
belakangnya nampak pula banyak sekali kepala ular yang saling berebut melongok
keluar.
Tampaknya apa yang dikatakan nona berambut panjang sebagai seisi ruangan
penuh dengan ular bukan cuma omong kosong belaka.
Tampak sepasang mata yang memancarkan cahaya tajam memancar keluar dari
balik wajah yang penuh bercambang, setelah mengawasi Buyung Im seng beberapa
saat, ia berkata :
"Apakah kau bukan datang kemari sebagai mata-mata ? Kuku garuda dari kota
batu ?"
Dengan cepat Buyung Im seng menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Bukan, aku datang untuk menengok keluargaku."
"Kau datang menengok siapa ?"
"Buyung Tiang kim"
"Apa hubunganmu dengannya ?"
"Dia adalah ayahku."
"Aku rasa di kolong langit tak mungkin ada orang yang menyaru menjadi anak
orang lain. Kalau begitu ketuklah pintu !"
623
Selesai berkata dia lantas masuk kembali ke dalam ruangan dan... "Blaamm"
menutup kembali pintu kamarnya.
Buyung Im seng segera mendekati kamar tahanan nomor satu dan mengetuk
pintunya.
Tak selang berapa saat kemudian, pintu ruangan itu baru pelan-pelan dibuka.
Tampak seorang kakek berbaju hijau berambut putih berdiri di depan pintu sambil
bertanya :
"Kalian berdua hendak mencari siapa ?"
Buyung Im seng menatap kakek itu beberapa saat, lalu balik bertanya pula :
"Apakah locianpwe adalah Buyung Tiang kim ?"
Kakek berbaju hijau itu mengangguk pelan.
"Ya, betul, akulah Buyung Tiang kim, kau adalah...."
"Menjumpai ayah," buru-buru Buyung Im seng menjatuhkan diri ke atas tanah dan
memberi hormat.
Terlintas rasa heran dan tercengang di atas wajah kakek berbaju hijau itu, namun
hanya sekilas pandangan belaka, kemudian dengan cepatnya telah pulih kembali
seperti sedia kala.
"Kau adalah..."
"Aku adalah Buyung Im seng."
"Ooh, masuklah lebih dulu, kita berbincang-bincang pelan di dalam ruangan saja."
kata kakek itu lebih jauh.
Buyung Im seng segera bangkit berdiri dan melangkah masuk ke dalam ruangan
itu.
Nyoo Hong leng segera menyusul di belakang Buyung Im seng turut masuk pula ke
dalam.
Pelan-pelan kakek berbaju hijau itu merapatkan pintu ruangannya dan berjalan
menuju ke sebuah pembaringan batu dekat dinding ruangan dengan langkah
sempoyongan, kemudian duduk di situ.
Selama ini Nyoo Hong leng hanya mengawasi semua gerak geriknya dengan
seksama, melihat orang itu sukar untuk berjalan atau melangkah seakan-akan
segenap kepandaian silat yang dimilikinya telah punah, hal mana membuat hatinya
semakin terperanjat, pikirnya :
"Seandainya ilmu silat yang dimilikinya telah punah, maka sudah jelas bukan
suatu masalah yang gampang untuk menolongnya meninggalkan tempat ini..."
Sementara itu air mata telah bercucuran membasahi seluruh wajah Buyung Im
seng, dalam keadaan seperti itu pada hakekatnya dia tak sempat untuk
memperhatikan gerak gerik si kakek itu lagi.
Setelah duduk tenang di atas pembaringannya, kakek berbaju hijau itu baru
mengalihkan sorot matanya ke wajah Nyoo Hong leng, kemudian tegurnya lirih :
624
"Nona adalah...."
"Boanpwe Nyoo Hong leng, dengan saudara Buyung adalah sahabat karib,
hubungan kami melebihi hubungan saudara sendiri," sambung Nyoo Hong leng
cepat.
Kakek berbaju hijau itu manggut-manggut.
"Oooh, rupanya begitu ?"
Mendadak Nyoo Hong leng merubah wajahnya menjadi amat serius sekali,
kemudian dengan bersungguh-sungguh dia menegur.
"Locianpwe, benarkah kau adalah Buyung tayhiap yang sedang kami cari-cari ?"
Sejak mengalami banyak pengalaman pahit dan percobaan-percobaan yang penuh
rintangan, Buyung Im seng berubah pula menjadi orang yang sangat berhati-hati,
begitu mendengar suara teguran Nyoo Hong leng yang bernada curiga, segera itu
juga timbul kewaspadaan di dalam hatinya, dengan cepat dia mendongakkan
kepalanya dan berusaha keras menenangkan hatinya yang bergolak keras.
Begitu kepala didongakkan dia lantas menyaksikan si kakek berbaju hijau itu
sedang duduk di atas pembaringan sambil mengelus jenggot panjangnya yang
terurai sepanjang dada, dia termenung dan membungkam seribu bahasa.
Tampaknya pertanyaan yang diajukan oleh Nyoo Hong leng tersebut telah
membuatnya menjadi serba salah sehingga tak sanggup untuk menjawab lagi.
Tiba-tiba Buyung Im seng merasa curiga pula, dengan wajah serius dia pun
bertanya :
"Locianpwe, sebenarnya kau adalah Buyung Tiang kim atau bukan ?"
Pelan-pelan kakek berbaju hitam itu mendongakkan kepalanya dan membuka lebar
sepasang matanya yang sayu, seperti menjawab bukan menjawab, dia berkata :
"Kau adalah putra Buyung Tiang kim ?"
"Benar, bilamana locianpwe bukan Buyung Tiang kim, aku harap kau suka
berbicara terus terang saja, daripada mendatangkan bencana pembunuhan yang
mengerikan."
Tiba-tiba kakek berbaju hijau itu mendongakkan kepala dan tertawa terbahakbahak.
"Haah, haah, haaah, semenjak lohu disekap di sini, aku sudah tidak mengetahui
perubahan waktu maupun cuaca, kecuali bersantap, pada hakekatnya keadaanku
tak ubahnya seperti sesosok mayat berjalan, aku sudah tidak mempunyai
kegembiraan untuk hidup lebih lanjut di dunia ini, seandainya kau ingin
menggertak aku dengan ancaman jiwa, haaah, haaah, haaah, kuanjurkan
kepadamu lebih baik ganti saja dengan cara lain, karena lohu bukan seorang
manusia yang takut menghadapi kematian lagi."
Buyung Im seng menjadi tertegun.
625
"Kalau kudengar pembicaraan locianpwe, agaknya kau sudah mengakui kalau
dirimu bukan Buyung Tiang kim ?"
Kakek berbaju hijau itu segera menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Lohu toh belum pernah menerangkan kalau aku adalah Buyung Tiang kim ?" dia
balik berkata.
Buyung Im seng segera berkerut kening.
"Seandainya kau bukan Buyung Tiang kim, tentu saja kau tak akan mengetahui
semua persoalan yang pernah dialami oleh Buyung Tiang kim dimasa lampau
bukan ?"
Dengan sorot mata setajam sembilu, kakek berjubah hijau itu menatap wajah
Buyung Im seng lekat-lekat, kemudian menggelengkan kepalanya berulang kali,
katanya sambil menghela napas panjang :
"Perduli apakah aku adalah Buyung Tiang kim atau bukan, asal kau adalah putra
Buyung Tiang kim, hal mana sudah lebih dari cukup."
"Boanpwe tidak memahami maksud dari perkataan locianpwe tersebut" kata
Buyung Im seng dengan wajah tertegun.
Kakek berbaju hijau itu manggut-manggut katanya :" jauh dari ribuan li kau
datang kemari, entah berapa banyak penderitaan dan siksaan yang telah kau alami
sebelum berhasil menemukan tempat ini, yang jelas tindakanmu itu sudah
mencerminkan jiwa kebaktianmu kepada orang tua, asal kau punya ingatan untuk
berbakti saja, hal mana sebetulnya cukup."
Kemudian setelah menghembuskan napas panjang, sambungnya lebih lanjut :
"Sekarang.... kau telah menyampaikan rasa baktimu itu, aku anjurkan lebih baik
janganlah berdiam terlalu lama lagi di sini."
Perubahan yang terjadi sama sekali di luar dugaan namun dia tak pernah
menyangka bakal terjadinya banyak perubahan di luar dugaan, namun dia tak
pernah menyangka bakal dihadapkan dalam situasi seperti ini.
Untuk sesaat lamanya dia berdiri tertegun di tempat semula dan tidak tahu apa
yang mesti dilakukan untuk menghadapi perubahan semacam itu.
Pelan-pelan Nyoo Hong leng menggerakkan tangannya untuk menyeka air mata
yang membasahi wajah Buyung Im seng, setelah itu ujarnya dengan lembut :
"Tenangkan dulu hatimu, beristirahatlah lebih dulu, biar aku yang berbincangbincang
dengan locianpwe ini."
Buyung Im seng menghela napas panjang, dia segera mengundurkan diri ke
samping.
Dengan sorot mata yang jeli, Nyoo Hong leng mengawasi wajah Buyung Tiang kim
lekat-lekat kemudian pelan-pelan berkata :
"Locianpwe, perduli kau adalah Buyung Tiang kim yang sebenarnya ataukah
bukan, tapi dia adalah putra Buyung Tiang kim yang sesungguhnya dan
mempunyai banyak persoalan yang hendak dibicarakan, berbeda sekali dengan
aku."
626
"Kenapa dengan kau ?"
"Aku tidak mempunyai kekuatiran apa-apa, aku bisa berbicara dengan bebas, dapat
pula bertindak sesuai dengan kehendak hatiku sendiri..."
Kakek berjubah hijau itu tertawa hambar.
"Baik, lohu siap mendengarkan perkataanmu itu" katanya.
"Andaikata kau bukan Buyung Tiang kim, aku berharap kau suka memahami
bagaimanakah beratnya dia menderita dan bersusah payah mencari ke tempat ini,
kebaktiannya sangat mulia dan jiwanya pun dijadikan sebagai taruhan dari
perbuatannya itu, maka kuharap kau sukalah tahu diri dan berbicara keadaan yang
sesungguhnya."
Agaknya kakek berjubah hijau itu kena didesak oleh perkataan Nyoo Hong leng
yang tajam bagaikan sembilu itu sehingga tak sanggup untuk menjawab
sebagaimana mestinya.
Setelah termenung berapa saat, dia baru berkata.
"Andaikata lohu tak bersedia untuk menjawab ?"
"Kalau begitu kau bukan Buyung Tiang kim."
"Sekalipun kau dapat membuktikan kedudukan lohu yang sebetulnya dan
membuktikan bukan Buyung Tiang kim, apa pula yang bisa kau perbuat ?"
"Kalau begitu mah urusan lebih mudah untuk diselesaikan."
"Aku siap mendengarkan penjelasanmu."
Mendadak Nyoo Hong leng mengayunkan tangan kirinya dan mencengkeram urat
nadi pada pergelangan tangan kanan kakek berbaju hijau itu, kemudian katanya :
"Aku hendak mencabuti jenggotmu itu satu per satu, kemudian mencabuti pula
rambutmu yang beruban, dan terakhir kucabuti gigimu dan mengorek keluar
sepasang matamu."
Kakek berbaju hijau itu agak tertegun, serunya cepat-cepat.
"Lohu sudah bosan hidup, aku tidak takut mati."
"Siapa sih yang menginginkan kematianmu ? Aku menginginkan kau berada dalam
keadaan tidak mati pun tidak hidup, tapi hidup menderita lagi selama sepuluh
tahun."
Sembari berkata secara diam-diam dia mengerahkan tenaga dalam ke telapak
tangan.
Terdengar kakek berjubah hijau itu menjerit kesakitan, air mata sampai
bercucuran karena amat menderita, paras mukanya berubah sangat hebat....
"Pelan sedikit" seru Buyung Im seng dengan gelisah, "jangan sampai kau lukai dia
orang tua."
"Orang ini bukan ayahmu, ayahmu memiliki kepandaian silat yang sangat hebat,
tak mungkin dia begini tak berguna !"
627
"Siapa tahu kalau mereka telah memusnahkan ilmu silat yang dimiliki dia orang
tua ?"
"Lantas menurut pendapatmu ?"
"Tanyalah pelan-pelan, jangan kau lukai dia"
"Kalau kita mengajaknya berbicara secara halus dan pelan-pelan, mungkin dua hari
dua malampun tak akan berhasil menemukan sesuatu keterangan yang
diperlukan... "
"Aku berani memastikan, delapan puluh persen dia bukan Buyung Tiang kim, kau
tak perlu menguatirkan keselamatan jiwanya lagi."
"Aku benar-benar tidak habis mengerti, apa sebabnya mereka harus mengirim
seseorang untuk menyaru sebagai Buyung Tiang kim dan kemudian menyekapnya
di sini ?"
"Seandainya persoalan ini gampang dipahami, kita pun tak usah menanyai dirinya
lagi."
Mendadak gadis itu menggerakkan tangan kanannya dan mencabut dua batang
jenggot kakek itu.
Kontan saja kakek berjubah hijau itu menjerit keras karena kesakitan, air mata
sampai jatuh bercucuran membasahi seluruh wajahnya.
Menyaksikan hal itu, Buyung Im seng segera berpikir.
"Ayahku adalah seorang pendekar besar yang dihormati setiap manusia di dunia
ini, sekalipun dia telah kehilangan ilmu silatnya, bukan berarti dia bakal berteriakteriak
seperti ini, yang tampaknya orang ini memang bukan ayahku."
Sementara itu Nyoo Hong leng telah berkata lagi dengan suara sedingin salju :
"Kakek tua, aku mengerti kalau kau tidak percaya dengan perkataanku, kalau
memang begitu, marilah kita buktikan bersama-sama."
Tangan kanannya segera diayunkan berulang kali, dalam waktu singkat dia sudah
mencabuti belasan batang jenggot kakek itu.
"Cukup, cukup, jangan dicabuti lagi, mari kita bicara secara baik-baik" buru-buru
kakek berjubah hijau itu berseru dengan gelisah.
Nyoo Hong leng tersenyum.
"Nah, begitu baru benar ! Sekarang katakan dulu, benarkah kau adalah Buyung
Tiang kim ?"
Cepat-cepat kakek berbaju hijau itu menggelengkan kepalanya berulang kali,
"Bukan, aku bukan !"
Walaupun Buyung Im seng sudah menaruh curiga kalau kakek ini bukan Buyung
Tiang kim, akan tetapi setelah mendengar pengakuan langsung dari kakek berbaju
hijau itu, sedikit banyak timbul juga rasa sedih di dalam hatinya, dia segera
menghela napas panjang dan mengunjukkan rasa kecewa yang amat sangat.
628
Dalam ruangan batu itu terdapat sebuah lentera yang menerangi sekeliling tempat
itu, maka rasa sedih dan kecewa yang terlihat di wajah Buyung Im seng dapat
dilihat dengan jelas.
Dengan suara rendah Nyoo Hong leng berbisik :
"Toako, janganlah kau bersedih hati dulu, walaupun dia bukan Buyung Tiang kim,
tapi aku percaya ayahmu sudah mesti berada didalam kota batu ini."
"Betul juga perkataan ini" Buyung Im seng segera berpikir cepat, "seandainya dia
tidak berada dalam ruangan sekapan, mana mungkin dia bisa menyembunyikan
diri di tempat lain ?"
Sementara itu Nyoo Hong leng telah bertanya pula :
"Sudah berapa lama kau berdiam di dalam ruangan batu ini ?"
Kakek berbaju hijau itu termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian
baru menjawab :
"Mungkin kurang lebih empat lima tahun lamanya."
"Baru empat lima tahun ?"
"Mungkin lebih pendek lagi, sesungguhnya lohu tak ingin terlalu jelas, mereka
hanya mengurungku di sini dan mengajarkan serangkaian perkataan kepadaku dan
minta aku menyaru sebagai Buyung Tiang kim, siapa tahu pertanyaan yang kalian
ajukan hari ini sama sekali di luar dugaan orang, oleh karena itu lohu tak sanggup
menjawab pertanyaanmu itu, akhirnya rahasia penyaruanku pun terbongkar pula."
"Apakah titik kelemahanmu adalah kau sama sekali tidak mengerti akan ilmu silat
?"
Kakek berbaju hijau itu manggut-manggut.
"Ehmm... selama hidup lohu tak pernah belajar ilmu silat, pada hakekatnya aku
lemah tak bertenaga, sampai tenaga untuk membunuh seekor ayam pun tak
punya."
"Mungkinkah karena tampang wajahmu hampir mirip dengan Buyung Tiang kim ?"
"Benar, tampaknya kau si gadis muda pintar sekali"
"Bagaimanakah sikap mereka terhadap dirimu ?"
"Sewaktu baru datang, sikap mereka terhadap diriku cukup baik, setiap kali
bersantap tentu dihidangkan sayur dan arak baik, tapi dua tahun belakangan ini
segala sesuatunya telah berubah, kehidupanku sehari-hari tak ubah seperti para
tawanan lainnya."
"Mungkinkah hal ini dikarenakan selama dua tahun belakangan ini, mereka sudah
tidak memerlukan dirimu sebagai Buyung Tiang kim lagi ?"
Sesudah berhenti sejenak, dia melanjutkan :
( Bersambung ke jilid 31)
629
Lembah Tiga Malaikat
Oleh: Tjan
Jilid 31
"Sewaktu kau datang kemari, apakah di sini disekap seseorang ?"
"Tidak, tempat ini merupakan sebuah ruangan kosong."
Nyoo Hong leng segera membebaskan cengkeramannya pada pergelangan tangan
kakek berbaju hijau itu, kemudian menghela napas panjang.
"Aaaaiii... saudara Buyung," katanya. "Mungkin yang diketahui olehnya hanya itu
saja, sekalipun ditanyakan lebih lanjut juga tak akan menghasilkan pa-apa, aku
rasa kita harus berganti dengan cara lain."
"Saat ini pikiranku sedang kalut dan perasaanku tak tenang, bagaimana baiknya,
terserah nona saja yang memutuskan."
"Mula pertama lebih baik kita tanyakan dulu persoalan ini kepada pengemis ular di
seberang sana, siapa tahu nasib kita beruntung, kemudian baru pergi mencari si
nona berambut panjang."
"Yaa, tampaknya dewasa ini hanya sebuah jalan ini saja yang bisa kita tempuh."
"Saudara Buyung, kau harus membangkitkan kembali semangatmu, meskipun
duduk perkaranya semakin lama semakin aneh tapi kini sudah mendekati saat-saat
terakhir untuk terungkap semuanya."
"Yaa, perkataan nona itu memang benar," Buyung Im seng menghembuskan napas
panjang, "mari kita mencari si pengemis ular tersebut."
"Sekarang kita sedang berusaha membongkar rahasia paling besar dari sebuah kota
batu, berarti kita telah menjadi musuh besar yang wajib mereka bekuk dan bunuh,
maka setiap saat kemungkinan besar suatu pertarungan sengit akan berlangsung,
kuanjurkan kepadamu lebih baik tenangkan hatimu dulu."
"Ucapan nona memang benar," kata Buyung Im seng cepat-cepat dengan perasaan
terkesiap.
630
Nyoo Hong leng segera mengayunkan jari tangannya menotok jalan darah dari
kakek berjubah hijau itu, kemudian katanya:
"Mari kita berangkat, sekarang kita mencari dulu si pengemis pemain ular,
andaikata dia juga tak tahu, baru kita berusaha menanyakan persoalan ini kepada
si nona pembawa jalan."
Buyung Im seng memandang kakek berjubah hijau itu sekejap, kemudian
melangkah keluar dari ruangan itu.
Nyoo Hong leng mengikuti di belakangnya turut keluar pula dari ruangan tersebut.
Ketika menengadah, tampak si pengemis aneh itu sudah membuka pintu
ruangannya dan berdiri menanti di depan pintu.
Puluhan ekor ularnya yang menjulurkan lidah bergerak kian kemari seakan-akan
siap melakukan sergapan maut.
Nyoo Hong leng kuatir Buyung Im seng yang sedang tak tenang salah bicara, buruburu
serunya:
"Locianpwe..."
Pengemis aneh itu tertawa dingin, tukasnya cepat.
"Budak busuk, tutup mulutmu, selama hidup lohu paling segan berhubungan
dengan kaum wanita."
Nyoo Hong leng memandang sekejap kawan ular yang berada disekitar tubuhnya,
ia menjadi jijik dan tak berani membantah.
Terpaksa Buyung Im seng harus melangkah maju ke muka, kemudian setelah
menjura, katanya:
"Locianpwe, kau ada petunjuk apa yang hendak disampaikan kepada kami berdua
?"
"Bukankah kau mengatakan dirimu sebagai putra Buyung Tiang kim ?" tegur si
pengemis.
"Benar."
"Lantas dimanakah Buyung tayhiap sekarang ?"
"Sedang beristirahat di ruang dalam sana."
Kontan pengemis aneh itu tertawa dingin.
"Heeehh... heeehh... heeeh... kalian telah mencelakainya ?" dia berseru.
"Dia bukan Buyung Ting kim ! Meski begitu, kamipun tidak mencelakainya."
"Apa ?" Pengemis itu melotot besar, "dia bukan Buyung Tiang kim.. ?"
"Dia sudah mengakui kalau dirinya bukan Buyung Tiang kim, lagi pula diapun
tidak mengerti ilmu silat."
"Aaah, masa ada kejadian seperti ini ? Sungguh membuat orang tidak percaya."
"Apa yang kuucapkan semuanya adalah kata-kata yang sejujurnya."
"Baik, kalau begitu suruh dia keluar, aku ingin bertanya sendiri kepada dirinya."
631
"Mengapa kau tidak datang kemari dang menengok sendiri ?"
Belum sempat pengemis aneh itu menjawab, mendadak terdengar serentetan suara
merdu berkumandang datang:
"Batas waktu untuk kalian sudah sampai, harap segera kembali lagi kemari !"
Ketika Nyoo Hong leng berpaling, dilihatnya gadis berambut panjang itu sedang
menggapai ke arah mereka dari sudut tikungan sana.
Tampaknya dia seperti takut dengan ular-ular tersebut maka tak berani datang
mendekat.
Buyung Im seng memandang pengemis aneh itu sekejap lalu katanya dengan suara
rendah.
"Locianpwe apakah kau tidak bersedia melepaskan diriku ?"
"Sekalipun lohu harus menerima siksaan yang paling kejipun tak akan melepaskan
pembunuh yang telah mencelakai Buyung tayhiap dengan begitu saja, cepat kalian
bawa keluar orang itu."
Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Buyung Im seng harus kembali ke dalam
kamar untuk membebaskan kakek berbaju hijau itu dari pengaruh totokan.
Nyoo Hong leng yang menyaksikan semuanya itu diam-diam lantas berpikir:
"Pengemis aneh pemain ular ini meski nampaknya seorang jago lihai yang
bertenaga dalam amat sempurna, tetapi dia pun tak dapat meninggalkan ruangan
batu ini, berarti dia hanya seorang tawanan yang disekap dalam suatu ruangan
dengan perlengkapan yang ketat, jika dilihat pula dari sikapnya yang tidak ambil
perduli terhadap keselamatan jiwa sendiri, tapi seratus persen Buyung Tiang kim,
bisa disimpulkan pula kalau dia adalah seorang yang amat setia kawan..."
Berpikir sedemikian rasa jerinya terhadap pengemis tua itupun menjadi jauh
berkurang, katanya kemudian dengan suara rendah:
"Locianpwe, boanpwe telah menanyakan persoalan tersebut dengan jelas sekali,
terbukti kalau orang itu memang bukan Buyung tayhiap"
"Bimbinglah orang itu keluar, dalam sekilas pandang saja lohu sudah dapat
menentukan apakah dia Buyung tayhiap atau bukan."
"Ada satu hal, apakah locianpwe sudah pernah memikirkan ?"
"Soal apa ?"
"Lebih baik kita jangan membocorkan dulu rahasia tentang penyaruan Buyung
Tiang kim ini sehingga diketahui oleh mereka."
Pengemis aneh itu agak tertegun, kemudian dia mengangguk seraya menyahut:
"Ehmm, memang masuk diakal, kalau begitu jangan kalian dorong dia hingga
keluar dari ruangan."
Sementara pembicaraan berlangsung, Buyung Im seng telah membebaskan jalan
darah kakek berbaju hijau itu dan berjalan keluar.
632
Nyoo Hong leng segera merentangkan tangannya menghadang jalan pergi Buyung
Im seng dan tidak memperkenankan dia keluar ruangan.
Pengemis aneh itupun mundur dua langkah, ketika tangannya diayunkan ke muka,
ular beracun sepanjang tiga depa yang tujuh ekor banyaknya itu segera meluncur
ke depan dan merambat ke sudut ruangan dimana perempuan berambut panjang
itu berada.
"Lepaskan pakaian dibagian dadanya !" bisik pengemis aneh itu kemudian dengan
suara lirih.
Buyung Im seng agak tertegun, tapi dia menurut membuka pakaian yang
dikenakan kakek berbaju hijau itu sehingga terlihat dadanya.
Pengemis aneh tersebut mengawasi beberapa saat, kemudian katanya.
"Yaa, benar, dia bukan Buyung Tiang kim, terserah apa yang hendak kalian berdua
lakukan terhadapnya."
Tampaknya kecuali melindungi keselamatan Buyung Tiang kim, masalah lain
hampir tak dipikirkan olehnya, tidak menanti Buyung Im seng banyak
bertanya..."Blaam !" dia menutup pintu ruangannya dengan keras-keras.
"Locianpwe..." buru-buru Nyoo Hong leng berseru dengan nada gelisah.
Dari balik ruangan yang tertutup rapat, terdengar pengemis itu berkata.
"Tak usah bertanya lagi kepadaku, sekarang kalian boleh segera pergi
meninggalkan tempat ini"
Tatkala Nyoo Hong leng berpaling ke samping, ia saksikan gadis berambut panjang
itu telah membinasakan ke tujuh ekor ular beracun yang menyergap ke arahnya,
kemudian pelan-pelan berjalan menghampiri mereka...
Kepada Buyung Im seng, Nyoo Hong leng segera berbisik.
"Turunkan kakek berjubah hijau itu dan kita totok jalan darah perempuan itu
dengan suatu sergapan kilat, kalau dilihat dari kebebasannya berjalan kian kemari
dalam kota bawah tanpa hadangan, bisa disimpulkan kalau dia adalah seorang
yang berkedudukan istimewa, siapa tahu dari mulutnya kita akan berhasil
mengetahui kabar berita tentang ayahmu ?"
Buyung Im seng segera menurunkan manusia berbaju hijau itu, kemudian bisiknya:
"Siapa yang akan turun tangan ?"
"Tentu saja kau, itulah sebabnya kau harus bersikap lebih mesra dan hangat
kepadanya."
Buyung Im seng masih ingin bertanya lagi, tapi gadis berambut panjang itu sudah
keburu mendekati ruangan batu.
Terdengar gadis itu menegur:
"Hei, apakah kalian sudah mendengar teriakanku tadi ?"
"Dengar sih sudah dengar" jawab Nyoo Hong leng, "tapi si pemain ular itu melarang
kami ke situ !"
633
Dalam pada itu, Buyung Im seng telah menyongsong kedatangan gadis itu, segera
tanyanya.
"Nona, apakah kau pernah bersua dengan Buyung Tiang kim ?"
Gadis berambut panjang itu lalu manggut-manggut.
"Yaa, pernah, tapi aku tidak terlampau memperhatikannya, sehingga bagaimana
wajahnya pun sudah lupa."
"Penyakit yang diderita Buyung tayhiap ini parah sekali !" ucap Buyung Im seng
kemudian.
Gadis berambut panjang itu berseru tertahan, dia segera melangkah masuk ke
dalam ruangan tengah sambil berjalan katanya:
"Mari kuperiksa !"
Buyung Im seng segera menggerakkan tangan kanannya dan menotok jalan darah
gadis berambut panjang itu dengan suatu sergapan mendadak.
Siapa tahu gadis berambut panjang itu seperti sudah melakukan persiapan, dengan
cepat dia mengayunkan tangan kanannya untuk menyambut datangnya serangan
tersebut.
Kemudian sambil tertawa dingin katanya:
"Kau hendak menyergap diriku ?"
Belum habis dia berkata, mendadak lengan kanannya menjadi kaku, otomatis
tangannya yang mencengkeram tubuh Buyung Im seng pun turut mengendor.
Ternyata Nyoo Hong leng dengan satu gerakan yang sangat cepat, telah menotok
jalan darah di atas lengan kanan gadis berambut panjang itu, katanya dingin:
"Nona berjaga-jaga terhadap serangannya, mengapa tidak berjaga-jaga terhadap
seranganku ?"
Gadis berambut panjang itu membuka mulutnya siap berteriak, tapi kembali Nyoo
Hong leng mengayunkan jari tangannya menotok jalan darah bisu dari gadis
tersebut, katanya lebih jauh.
"Seandainya nona sudah bosan hidup tak ada salahnya untuk berteriak lagi !"
Jari tangannya segera diayunkan ke depan menotok beberapa buah jalan darah
penting di tubuh gadis berambut panjang itu, kemudian setelah membebaskan jalan
darah bisunya, dia berkata lagi,
"Bila kau tak ingin mati, lebih baik jawablah beberapa pertanyaan yang kami
ajukan."
"Apa yang ingin kalian tanyakan ?"
"Buyung Tiang kim yang berada di dalam ruangan ini bukan Buyung Tiang kim
yang asli. Sekarang Buyung Tiang kim yang asli berada dimana ?
Gadis berambut panjang it menggelengkan kepalanya berulang kali.
634
"Aku tidak tahu, karena setiap orang yang berada dalam kota batu ini sudah tahu
kalau orang yang disekap di kamar pertama adalah Buyung Tiang kim, tiada orang
yang curiga dan tiada orang yang tak percaya, karena semua menganggap
kenyataannya memang begitu."
"Tampaknya kau mempunyai kedudukan yang istimewa sekali di sini, bukankah
begitu ?"
"Darimana kau bisa tahu ?"
Nyoo Hong leng tertawa dingin, "Setiap budak perempuan yang berada di kota batu
mengenakan pakaian compang camping serta mengenakan alat borgol, sedangkan
pakaian yang kau kenakan sekarang meski tidak terlalu ribut, namun bukan
pakaian compang camping pula, bahkan tidak mengenakan borgol pula, dari sini
bisa disimpulkan kalau kedudukanmu jauh berbeda dengan budak-budak
perempuan lainnya."
oooOooo
"Tahukah kau, dalam kota batu ini terdapat banyak rahasia ?" kata gadis berambut
panjang itu.
"Kami pun tahu kalau keadaan kami sekarang berbahaya sekali, setiap saat
kemungkinan besar akan tertimpa kematian, oleh karena itu kami tak punya
kesabaran untuk berbincang-bincang denganmu, lebih baik lagi kalau kau bisa
menjawab pertanyaanku sejujurnya, mengulur waktu hanya berarti mencari
penyakit buat diri sendiri."
Gadis berambut panjang itu termenung sebentar, kemudian tanyanya:
"Apa yang ingin kau tanyakan ?"
"Buyung Tiang kim yang asli berada dimana sekarang ?"
"Aku tidak tahu." gadis berambut panjang itu menggelengkan kepalanya berulang
kali.
"Siapakah orang yang mengepalai kota batu di bawah tanah ini ?"
"Ayah angkatku !"
"Yang kutanyakan adalah namanya !"
"Aku tidak tahu !"
"Sekalipun kau tidak mengetahui namanya tentunya mengetahui bentuk tubuh,
wajah dan usianya bukan ?"
Baru saja gadis berambut panjang itu hendak menjawab, mendadak terdengar
suara yang amat nyaring tapi dingin menyambut perkataan tersebut.
"Lepaskan dia, yang dia ketahui hanya terbatas sekali."
Kedatangan orang ini sama sekali tidak menimbulkan suara apa-apa, baik Buyung
Im seng maupun Nyoo Hong leng sama sekali tidak menyadari sebelumnya.
Ketika mereka berpaling, tampak orang itu berjubah hijau, jenggot putih sepanjang
dada.
635
Buyung Im seng berusaha keras untuk melihat jelas paras mukanya, akan tetapi
wajah itu miring separuh ke samping sehingga sulit untuk dilihat dengan jelas.
Nyoo Hong leng dan Buyung Im seng sama mempunyai suatu perasaan yakni ilmu
silat yang dimiliki orang ini lihai sekali, tapi tidak bermaksud untuk mencelakai
mereka.
Sebab seandainya dia mempunyai niat untuk membinasakan mereka berdua, saat
ini mereka berdua sudah pasti tak bernyawa lagi.
Untuk sesaat kedua orang itu hanya berdiri tertegun ditempat semula dan lupa
berbicara.
Terdengar suara orang berjubah hijau itu berubah menjadi halus dan lembut,
lanjutnya.
"Bukankah kalian ingin berjumpa dengan Buyung Tiang kim ?"
"Benar"
"Boleh saja bila ingin berjumpa dengan Buyung Tiang kim, cuma kau harus
mempunyai sesuatu yang bisa diandalkan, coba katakan, apa yang kau andalkan ?"
"Aku adalah putranya !"
"Ehmm..." manusia berjubah hijau itu segera berpaling ke wajah Nyoo Hong leng,
kemudian tanyanya lagi.
"Dan kau ? Apa yang kau andalkan ?"
"Apa yang kau minta ?"
"Apa yang kamu miliki, apa pula yang kau kemukakan, tapi yang terburuk adalah
mengandalkan ilmu silat."
"Kau hendak memunahkan ilmu silat yang kumiliki ?"
"Tidak dipunahkan pun boleh saja, tapi kau harus memiliki suatu nilai yang lebih
berharga dari ilmu silat."
Nyoo Hong leng termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian berkata.
"Aku adalah teman perempuan Buyung Im seng, sahabat karib yang sependapat
dan sealiran."
"Ehm, nona mengatakan kau sebagai teman perempuannya, kalau begitu tak salah
lagi."
"Jadi kau setuju ?"
Orang berjubah hijau itu manggut-manggut.
"Anggap saja lohu memang setuju."
Nyoo Hong leng segera menepuk bebas jalan darah gadis berambut panjang itu,
kemudian katanya lagi.
"Kami tidak melukainya, cuma menotok jalan darahnya saja."
"Bagus sekali" kembali kakek berjubah hijau itu manggut-manggut.
636
Gadis berambut panjang itu melompat bangun, bibirnya bergerak seperti hendak
mengucapkan sesuatu, tapi belum sepatah katapun diutarakan keluar, manusia
berjubah hijau itu telah mengulapkan tangannya sambil menukas.
"Tak usah banyak bicara lagi"
Mendadak gadis berambut panjang yang masih duduk itu gemetar keras, lalu roboh
terkapar ke atas tanah.
Nyoo Hong leng meraba denyutan nadinya, namun gadis berambut panjang itu
sudah putus nyawa, hal mana membuatnya tertegun, diam-diam diapun berpikir:
"Ilmu silat yang dimiliki gadis berambut panjang ini terhitung cukup ampuh tapi
dalam sekali kebutan tangan saja orang ini berhasil merenggut nyawanya, aaai...
tampaknya ilmu silat yang dimiliki orang ini benar-benar menakutkan sekali."
Berpikir sampai di situ, dia lantas menegur dengan suara dingin.
"Mengapa kau membunuhnya ?"
Orang berjubah hijau itu berpaling, lalu katanya sambil tertawa hambar.
"Anak perempuan memang selalu lebih teliti."
"Ketika aku berkata hendak mengajak kalian menjumpai Buyung Tiang kim, ia
sempat mendengar pembicaraan tersebut dengan jelas bila tidak kurenggut
nyawanya, bukankah berita ini akan dibocorkan olehnya ke tempat luaran sana ?"
"Kalau begitu, tindakanmu mengajak kami pergi menjumpai Buyung Tiang kim
adalah suatu kejadian yang amat rahasia sekali ?"
"Ya, menurut pendapat lohu, makin sedikit orang yang mengetahui persoalan ini
semakin baik."
Mendengar sampai di situ, Buyung Im seng berpikir dalam hati kecilnya.
"Tampaknya selain berilmu tinggi, orang inipun membawa hawa kemisteriusan
yang luar biasa, semoga saja pengemis tua itu dapat mengandalkan kawanan
ularnya untuk membantu kami dan menghadang orang ini bila sampai terjadi suatu
pertarungan, siapa tahu dari permainan kepalanya kita akan berhasil menemukan
sesuatu petunjuk."
Belum habis dia berpikir, kakek berjubah hijau itu sudah berkata lagi.
"Ikutlah diriku baik-baik, jangan banyak bertanya, bila saat buat kalian untuk
bertanya sudah tiba, tentu saja lohu akan bertanya langsung kepada kalian."
Seusai berkata, dia lantas beranjak lebih dulu menuju keluar, Buyung Im seng dan
Nyoo Hong leng segera mengikuti di belakangnya.
Perubahan selanjutnya sama sekali di luar dugaan mereka, pengemis pemain ular
itu tidak munculkan diri lagi, suasana dalam lorong pun diliputi keheningan.
Sejak beranjak pergi, kakek berjubah hijau itu tak pernah berpaling lagi, dia seperti
tak pernah memandang sebelah matapun terhadap mereka berdua.
637
Buyung Im seng yang mengikuti di belakangnya ikut merasakan pikirannya sangat
kalut, diam-diam dia berpikir.
"Seandainya kulancarkan sergapan secara diam-diam, mungkin dalam sekali
penyerangan akan berhasil menotok jalan darahnya, dalam keadaan begini
berbahaya, rasanya aku pun tak usah membicarakan soal kejujuran lagi."
Pelbagai pikiran berkecamuk di dalam benaknya, tapi ia tak bisa mengambil
keputusan dengan cepat, sampai akhirnya sebuah dinding batu telah menghalang
jalan pergi mereka.
Kakek berjubah hijau itu segera berhenti sambil berkata:
"Selewatnya dinding batu ini, kita akan sampai di tempat yang paling penting dari
kota batu, sebentar kalian benar-benar akan terbuka matanya untuk menyaksikan
pelbagai kejadian dan benda aneh yang terdapat di sini..."
"Di depan situ sudah tiada jalan lewat, bagaimana cara kita untuk melewatinya ?"
"Segera pejamkan matamu dan ada orang yang akan menyambut kalian untuk
masuk ke situ."
Ditempat seperti ini, sekalipun dia pasang seribu lentera atau selaksa lampu belum
tentu bisa mengusir hawa dingin yang menyeramkan, pada hakekatnya tempat ini
tidak mirip alam semesta, tapi lebih cocok dikatakan neraka, di kemudian hari,
sekalipun kalian mengundang kami sebagai tamu agung pun belum tentu aku
bersedia kemari" kata Nyoo Hong leng cepat.
"Jikalau kau memang berniat untuk menambah pengetahuan kami, mengapa kami
harus memejamkan mata ?" tanya Buyung Im seng pula.
Orang berbaju hijau itu segera tersenyum.
"Kesemua ini demi kebaikan sendiri, andaikata aku ingin membunuh kalian,
rasanya tak usah menggunakan banyak akal muslihat lagi, cukup mengandalkan
ilmu silat, nyawa kalian berdua sudah dapat kucabut..."
"Kalau memang begitu, kami toh tak usah memejamkan mata ?"
"Aku rasa kalian tak akan tahan menghadapi rasa kaget dan ngeri yang bakal
kalian hadapi, sebab itu lebih baik pejamkan saja sepasang mata kalian."
Buyung Im seng dan Nyoo Hong leng saling berpandangan sekejap, akhirnya pelanpelan
mereka memejamkan mata.
"Paling baik lagi kalau jangan membuka mata kalian sebelum mendengar
perkataanku." pesan orang berbaju hijau itu lagi.
Kedua orang itu segera memasang telinga dan memperhatikan dengan seksama,
tiba-tiba terdengar suara gemerincing yang amat nyaring berkumandang
memecahkan keheningan.
Setelah itu secara tiba-tiba mereka rasakan ada sebuah lengan yang besar dan
kasar merangkul pinggang mereka berdua.
Nyoo Hong leng segera berpikir.
"Aneh, tangan siapakah ini ? Rasanya bukan lengan manusia.... "
638
Tanpa terasa dia membuka matanya dan mengintip, tapi begitu dipandang, hatinya
kontan terdekat sehingga tak kuasa lagi dia menjerit lengking dengan sekeraskerasnya.
Ternyata lengan yang memeluk mereka bukan lengan manusia, melainkan sebuah
tangan makhluk berbulu.
Dengan suara dingin manusia berbaju hijau itu segera berseru.
"Tenangkan hatimu ! Jikalau sampai membangkitkan sifat buas dan liarnya, kalian
berdua bakal mengalami penderitaan yang sangat besar."
Buru-buru Nyoo Hong leng memejamkan matanya dan tak berani mengintip lagi.
Terdengar suara manusia berbaju hijau itu berkumandang kembali.
"Sekarang kalian harus berhati-hati, selanjutnya terdapat kabut beracun yang
khusus untuk menyerang mata manusia, bila kalian berdua berani membuka mata,
kemungkinan besar mata kamu berdua buta untuk selamanya, aku harap kalian
sudi mempercayai perkataan lohu."
Walau Buyung Im seng dan Nyoo Hong leng tak bisa membedakan apakah suara itu
gertak sambal belaka atau sungguhan, tapi mengingat hal tersebut menyangkut
keselamatan mereka sendiri, maka tak seorangpun yang berani menyerempet
bahaya.
Dalam perasaan mereka, tubuh mereka berdua dibawa lari dengan kecepatan luar
biasa lalu terendus bau busuk dan amis yang sangat memualkan perut.
Kemudian mereka berhenti secara tiba-tiba dan tubuh merekapun diturunkan, lalu
terdengar orang berbaju hijau itu berkata:
"Sekarang kalian berdua sudah boleh membuka mata kembali."
Buru-buru Buyung Im seng membuka matanya dan memandang sekejap sekeliling
tempat itu, dia melihat ada sesosok bayangan manusia berkelebat lewat dan lenyap
dari pandangan.
Meskipun demikian, secara lamat-lamat pula Buyung Im seng dapat melihat kalau
bayangan tersebut tidak mirip manusia.
Pemandangan dalam ruangan dimana mereka berada sekarang amat megah,
lentera yang indah terbuat dari kristal menghiasi mana-mana empat penjuru
ruangan tersebar mutiara yang berkilauan, di bawah cahaya lampu, mutiaramutiara
itu memantulkan cahaya putih yang membuat ruangan itu terang
benderang.
Orang berbaju hijau itu duduk di atas sebuah tempat duduk batu, lalu berkata
sambil mengangguk.
"Silahkan kalian duduk seadanya!"
Kembali Buyung Im seng dan Nyoo Hong leng saling berpandangan sekejap,
kemudian pelan-pelan mereka duduk.
"Bagaimana keadaan tempat ini ?" tanya orang berbaju hijau itu kemudian.
639
"Sangat megah dan mewah, cuma sayang tidak nampak cahaya matahari..."
Kembali orang berbaju hijau itu tertawa hambar.
"Langit tetap luas, matahari dan rembulan silih berganti, setiap orang yang berada
dalam kota batu, asalnya datang dari bawah cahaya matahari.."
"Jika kudengar pembicaraan anda, rupanya kau mempunyai kedudukan yang amat
tinggi di kota batu ini ?" kata Buyung Im seng kemudian dengan kening berkerut.
Nyoo Hong leng yang berada di sisinya segera menyambung.
"Kalau kau tidak berkedudukan tinggi, masa dia berani menghukum mati gadis
berambut panjang itu ? Sekalipun dia bukan pentolan yang memimpin kota batu,
paling tidak juga menempati kursi nomor dua."
Orang berbaju hijau itu segera tertawa.
"Aku tak ingin membuktikan apakah ucapan kalian itu betul atau salah," katanya.
"Kami pun tak ingin mengenali asal usulmu." tukas Buyung Im seng, "tapi kau
membawa kami kemari adalah untuk menjumpai Buyung Tiang kim, maka
kuharap, kaupun dapat menepati janji."
Orang berbaju hijau itu termenung sebentar, katanya kemudian:
"Benarkah Buyung Tiang kim masih hidup di dunia ini ?"
Pertanyaan tersebut segera membuat Buyung Im seng tertegun.
"Hey, bukankah kau mengajak kami untuk menjumpainya ?" dia berseru.
Kembali orang berbaju hijau itu tertawa hambar.
"Seandainya dia benar-benar masih hidup di dunia ini, tentu saja kalian dapat
menjumpainya..."
Nada pembicaraannya mendadak berubah, lanjutnya:
"Tapi sebelum bertemu dengan Buyung Tiang kim, kuharap kalian berdua suka
tinggal dulu di sini sebagai tamu agungku."
Mendadak dia melompat bangun dan melangkah keluar dari tempat tersebut...
Nyoo Hong leng segera melompat bangun sambil menghadang jalan pergi orang
berbaju hijau itu, serunya keras-keras.
"Tunggu sebentar !"
"Nona" kata orang berbaju hijau itu sambil tersenyum, "tempat ini mewah dan
megah, apalagi ditemani oleh kekasih hatimu, meskipun berada di bawah timpaan
sinar matahari, belum tentu kau akan mengalaminya, masakah kau tidak puas ?"
"Kau telah salah paham." kata Nyoo Hong leng dingin.
"Salah paham ? Bagaimana salah pahamnya ?"
"Buyung kongcu adalah kakak angkatku, hubungan kami melebihi hubungan
saudara kandung, sekalipun diantara kami mempunyai perasaan, itupun hanya
perasaan suci dan tulus dari seorang adik terhadap kakaknya.."
Orang berbaju hijau itu tertawa.
640
"Andaikata kalian berdua bakal mati bersama dalam ruangan ini, aku tak percaya
kalau hubungan batin kalian tak berubah."
"Walaupun aku masih bertubuh seorang dara, namun aku sudah mempunyai
suami."
"Siapa ?"
"Khong Bu siang !"
"Toa sengcu dari perguruan tiga malaikat ?"
"Dia tak lebih cuma seorang boneka bodoh yang dikuasai dan diperintah orang,
pentolan yang sebenarnya dari perguruan tiga malaikat tak lain adalah kalian yang
berada di kota batu ini."
Orang berbaju hijau menengadah dan tertawa terbahak-bahak.
"Haah.... haaaahh..... haaaaah... kau tak usah kuatir !"
Ucapan yang sukar dimengerti artinya ini segera membuat Nyoo Hong leng
tertegun.
"Aku tidak memahami maksudmu, kau suruh aku jangan kuatir ? Apa yang ku
legakan ?" katanya.
"Khong Bu siang tak akan hidup lebih lama lagi. Seandainya dia telah mati dan kau
serta Buyung kongcu hidup selamanya di sini, bukankah kalian bisa melewati sisasisa
hidup dengan tenang dan penuh kedamaian ?"
"Pernahkah kau dengar jika seorang perempuan yang setia tak akan mempunyai
dua suami ?"
"Janda saja masih boleh kawin lagi, apalagi kau masih bertubuh perawan"
"Tapi aku bukan manusia semacam itu"
Tiba-tiba Buyung Im seng menukas dengan suara dingin:
"Persoalan diantara kami berdua lebih baik tak usah kau kuatirkan."
"Pikirkan dulu dengan tenang, selewatnya dua tiga hari, aku akan datang lagi
untuk mendengarkan jawaban kalian"
Dia lantas miringkan tubuhnya ke samping dan beranjak keluar dari ruangan
tersebut.
Nyoo Hong leng segera merentangkan tangan kanannya sambil melancarkan
sebuah pukulan, serunya:
"Kalau toh memang tak bisa berjumpa dengan Buyung tiang kim, kami tak ingin
berdiam terlalu lama lagi di sini"
Orang berbaju hijau itu segera mengayunkan tangan kanannya dan memunahkan
serangan dari Nyoo Hong leng dengan suatu gerakan yang sangat enteng dan
gampang, katanya sambil tertawa.
"Kau bukan tandinganku"
641
Nyoo Hong leng hanya merasakan datangnya segulung tenaga tekanan yang sangat
kuat menyusul ayunan tangannya, kekuatan mana langsung menghantam tiba dan
membendung serangan yang dilepaskan.
Menghadapi kenyataan tersebut, diam-diam gadis itu merasa terkejut sekali.
Buyung Im seng tidak berdiam diri belaka, tangan kanannya segera diayunkan ke
muka dengan jurus Ngo sian lian tan (lima senar dipetik bersama), seperti menotok
seperti pula membacok, dia langsung menghantam punggung orang berbaju hijau
itu sambil berkata:
"Jangan lupa masih ada aku !"
Orang berbaju hijau itu sama sekali tidak berpaling, tubuhnya bergerak maju ke
depan, lima jari tangannya balas mencengkeram mengancam pergelangan tangan
kanan Buyung Im seng.
Menghadapi ancaman tersebut, Buyung Im seng terdesak hebat sehingga harus
menarik kembali serangannya sambil mundur.
Nyoo Hong leng menggetarkan tubuhnya menerjang ke depan, secara beruntun dia
lepaskan tiga buah bacokan berantai.
Semua totokan, bacokan maupun sodokan yang dilakukan orang berbaju hijau itu
dilakukan dengan tubuh sama sekali tidak bergerak, setelah memunahkan
serangan berantai dari Nyoo Hong leng, dia tidak melakukan serangan balasan
barang satu juruspun.
Menggunakan kesempatan dikala kedua orang itu terlibat dalam pertarungan
sengit, Buyung Im seng berputar ke depan dan berdiri berjajar dengan Nyoo Hong
leng.
Orang berbaju hijau itu melangkah ke belakang, setelah memperhatikan kedua
orang itu sekejap, katanya sambil tertawa.
"Sekalipun kalian bekerja sama mengerubuti diriku pun, belum tentu kalian
sanggup menghadapi lohu, cuma lohu tak ingin bertarung dengan kalian..."
Setelah melancarkan beberapa serangannya yang gagal semua, Nyoo Hong leng
segera menyadari kalau ucapan lawan bukan cuma gertak sambal belaka, pelanpelan
dia bertanya:
"Mengapa ?"
"Sebab lohu tak ingin melukai kalian."
Kontan saja Nyoo Hong leng tertawa dingin.
"Mungkin di suatu hal kami masih menguntungkan bagimu, maka kami sengaja
dimanfaatkan."
Orang berbaju hijau itu terbahak-bahak.
"Heeeh.... heeeehh... heeehh... jago lihai selalu muncul pada golongan anak muda,
kalian memang benar-benar terhitung manusia luar biasa dalam dunia persilatan,
tapi aku tahu kalian bukan masuk ke dalam lembah tiga malaikat ini dengan
mengandalkan kecerdasan serta ilmu silat."
642
"Tapi nyatanya kami dapat pula masuk kemari bahkan tidak mengalami kerugian
apapun."
Sekali lagi orang berbaju hijau itu tertawa.
"Kalian hanya mencatut nama Buyung Tiang kim serta membonceng nama
besarnya belaka karena orang-orang persilatan dari angkatan tua, entah dia dari
golongan lurus atau sesat, kebanyakan menaruh perasaan hormat dan kagum
terhadap Buyung Tiang kim, apalagi banyak diantara mereka yang pernah
menerima budi kebaikan darinya, bila mereka tahu kalau Buyung kongcu sedang
dalam keadaan bahaya sekalipun tak berani membantu terang-terangan, diamdiam
mereka pasti telah membantu kalian berdua, itulah sebabnya kamu berdua
berhasil melampaui beberapa buah penjagaan secara mudah."
"Betul juga apa yang dia ucapkan" pikir Nyoo Hong leng, "orang ini bisa mengetahui
segala persoalan tentang perguruan tiga malaikat bagaikan melihat jari tangan
sendiri, hal ini menunjukkan kalau dia bukan seorang manusia sembarangan.
Berpikir sampai di sini, diapun lantas berkata:
"Apakah kau pun pernah menerima budi kebaikan dari Buyung Tiang kim.. ?"
Lama sekali orang berbaju hijau itu termenung sambil memutar otaknya lalu
sahutnya:
"Kalian berdua telah menerima sambutan dan perlakuan seperti sekarang ini, buat
apa mesti banyak berpikir lagi ?"
Mendadak dia beranjak dan melangkah keluar dari ruangan tersebut.
Baru saja Buyung Im seng hendak turun tangan untuk menghalangi jalan perginya,
Nyoo Hong leng telah menahannya sambil berbisik:
"Biarkan saja dia pergi !"
Ketika itu si orang berbaju hijau tersebut sudah berada di luar ruangan, tiba-tiba
dia berpaling dan berkata sambil tertawa.
"Nona memang pintar sekali, aku harap kau suka banyak menasehati Buyung
kongcu agar jangan bertindak dengan sembrono."
"Kau suruh aku menasehati apa lagi kepadanya ?"
"Nasehatilah kepadanya agar jangan mempunyai ingatan untuk melarikan diri,
tempat ini hanya tersedia sebuah jalan kehidupan belaka, dan jalanan tersebut
telah dipasang kabut beracun, sekalipun kalian memiliki ilmu silat yang maha
dahsyat pun jangan harap bisa kabur meninggalkan tempat ini."
Selesai berkata dia lantas membalikkan badan dan berlalu dari situ, dalam waktu
singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap dibalik kegelapan sana.
Menanti bayangan tubuh orang itu sudah lenyap dari pandangan, Buyung Im seng
baru berpaling dan memandang sekejap ke arah Nyoo Hong leng, kemudian
berkata:
"Dengan tenaga gabungan kita berdua, belum tentu kita bakal keok di tangannya,
mengapa kau malah membiarkan dia pergi meninggalkan tempat ini ?"
643
"Anggap saja kita bisa menangkap dia, tapi kita toh tak dapat meninggalkan
tempat ini dengan begitu saja, apalagi dengan tenaga gabungan kita berdua belum
tentu bisa menangkan dirinya."
Pelan-pelan gadis itu duduk ditempat duduk batu, lalu katanya lebih jauh.
"Sekarang duduklah lebih dulu, berada dalam keadaan seperti ini kecerdasan otak
jauh lebih penting daripada kelihaian ilmu silat, kita harus berpikir yang cermat
untuk mencari akal guna melarikan diri dari sini...."
Buyung Im seng tertawa getir.
"Bila Khong Bu siang dan Lian Giok seng melihat lama sekali kita belum juga
kembali."
"Kecerdasan otak Khong Bu siang tidak berada di bawah kita berdua," sela Nyoo
Hong leng cepat, "dia percaya kepadaku. sudah pasti tak akan memikirkan yang
bukan-bukan. Ia pasti bisa menduga kalau kita sudah menjumpai mara bahaya di
sini, justru manusia berbaju hijau itulah yang tingkah lakunya agak
mengherankan."
"Mungkin, diapun pernah menerima budi kebaikan dari ayahku ?" Buyung Im seng
mengemukakan kecurigaannya.
Dengan cepat Nyoo Hong leng menggelengkan kepala berulang kali.
"Tidak mungkin sedemikian sederhananya. Bila dugaanku tidak salah,
kemungkinan besar dialah pentolan dari kota batu ini."
"Kau bilang dia adalah pentolan dari kota batu ini ?" Buyung Im seng mengulangi.
"Benar, entah bagaimanakah pendapat saudara Buyung ?"
"Seandainya dia adalah pentolan dari kota batu ini, aku rasa dia tidak usah
menguatirkan segala sesuatunya lagi, mungkin saja sejak tadi kita berdua sudah
dibantai olehnya."
"Seandainya dia dan kita berdua masih mempunyai hubungan famili atau
hubungan lain ?"
Buyung Im seng menjadi tertegun setelah mendengar perkataan itu, serunya
tercengang:
"Maksud nona... dia mempunyai hubungan famili denganmu ?"
"Bukan dengan siaumoay, tapi dengan saudara Buyung."
"Semenjak kecil keluargaku sudah tercerai berai, sekalipun mempunyai sanak
keluarga juga belum tentu akan kenal."
"Seandainya dia adalah orang yang paling dekat hubungannya dengan dirimu ?"
"Aah, mustahil," Buyung Im seng menggelengkan kepalanya berkali-kali.
"Aku mempunyai suatu pemikiran yang sangat aneh, bila kuucapkan nanti, harap
saudara Buyung jangan marah."
644
Berada didalam keadaan seperti ini, mati hidup kita sudah bersama, nona tak usah
ragu-ragu lagi, bila ingin mengucapkan sesuatu... harap utarakan saja dengan
berterus terang."
"Menurut pendapatmu, mungkinkah orang itu adalah Buyung Tiang kim ?"
"Kau maksudkan dia adalah ayahku ?" seru Buyung Im seng semakin tertegun.
"Ya, aku berpendapat demikian."
Sesudah menghembuskan napas panjangnya, lebih jauh:
"Cuma aku berpendapat saja, bukan berarti aku yakin kalau hal ini sudah pasti
benar, mungkin juga pikiranku tersebut tak benar."
"Tapi persoalan ini luar biasa sekali, apakah kau mempunyai sesuatu bukti yang
menunjukkan kalau dugaanmu itu memang benar ?"
"Kalau didengar dari nada pembicaraannya, dia seperti orang yang paling berkuasa
didalam kota batu ini, dia bisa menghukum mati nona berambut panjang itu dalam
sekali tindakan, hal ini membuktikan kalau dia memiliki kekuasaan untuk
membunuh orang sendiri setiap saat dan setiap detik bila dia inginkan."
"Ya, masuk diakal juga perkataan ini" katanya.
"Terhadap anak buah sendiri pun setiap saat dia bisa turun tangan untuk
menghukum matinya, hal ini membuktikan pula kalau dia adalah seorang manusia
yang bengis yang berhati sedingin es, meski begitu, pelayanan serta sikapnya
terhadap kita justru baik sekali."
"Dia telah menyekap kita di sini, apakah penyekapan ini dianggap sebagai suatu
pelayanan yang baik ?"
Nyoo Hong leng tertawa hambar.
"Hal ini harus ditinjau dari karakter seseorang, bila dilihat dari sikap kejinya
dalam membunuh anak buah sendiri, maka pelayanan semacam ini terhadap kita
boleh dibilang merupakan suatu pelayanan yang sangat baik sekali..."
Sesudah menghela napas panjang, lanjutnya:
"Seandainya aku masih berada dalam status bebas, apalagi bisa hidup bersamamu
sepanjang masa ditempat ini, bagi seorang wanita, keadaan seperti ini boleh
dibilang suatu keadaan yang cukup memuaskan."
"Hal ini pernah nona kemukakan kepada diriku, hal ini harus disalahkan aku
kelewat bodoh sehingga tidak memahami maksud hati nona yang sebenarnya..."
ucap Buyung Im seng dengan sedih.
"Sekarang aku sudah menjadi istri Khong Bu siang !" Nyoo Hong leng melanjutkan.
"Aku mengerti, tapi aku masih tetap menghormati diri nona seperti juga sikapku di
masa-masa lalu."
"Khong Bu siang cukup mengenaskan nasibnya, gara-gara aku dia telah kehilangan
kedudukannya sebagai toa sengcu dari perguruan tiga malaikat, kehilangan empat
orang dayangnya yang cantik jelita, bila aku harus mati di sini, maka dia tak akan
memperoleh apa-apa lagi."
645
Selama ini perasaan cinta mereka hanya tertanam selalu dalam hati masingmasing,
tapi begitu terungkapkan, ibaratnya bendungan yang jebol, semuanya
segera terurai keluar, sehingga mereka seakan-akan sudah lupa kalau sedang
berada dalam keadaan yang berbahaya.
Tampak Buyung Im seng tertawa getir, kemudian berkata:
"Aku rasa dalam dunia dewasa ini masih terdapat berapa orang yang merasa
kagum kepadanya."
Nyoo Hong leng merasa keheranan, serunya:
"Sebagai seorang toa sengcu dari perguruan Sam seng bun, walaupun dia hanya
bernama kosong belaka, tapi jauh lebih baik hidup bermewah-mewah dari pada
terkurung dalam ancaman bahaya maut gara-gara seorang perempuan, apanya
yang patut dikagumi ?"
Buyung Im seng tersenyum.
"Dia telah memperoleh perasaan cinta dari nona, telah memperoleh seorang istri
seperti kau, apakah hal ini masih tak cukup puas baginya.. ?
Tiba-tiba air mata jatuh bercucuran membasahi seluruh wajah Nyoo Hong leng,
katanya:
"Dia adalah suamiku, tapi dia..."
Mendadak terdengar suara langkah kaki manusia berkumandang datang, buruburu
Nyoo Hong leng menyeka air matanya dan berpaling,
Tampak dua orang bocah perempuan kecil berbaju hijau munculkan diri sambil
membawa sebuah baki kayu.
Di atas baki terdapat delapan macam hidangan lezat serta sepoci arak wangi.
Begitu masuk ke dalam ruangan, bocah perempuan yang berada di sebelah kiri itu
segera memberi hormat, kemudian berkata:
"Kami yakin perut kalian berdua pasti sudah lapar sekali, budak mendapat
perintah untuk menghidangkan sayur dan arak buat kalian berdua, harap kongcu
dan nona segera bersantap."
"Kalian mendapat perintah dari siapa ?" Buyung Im seng segera bertanya.
"Kami adalah dayang, orang yang memberi perintah kepada kawanan dayang
seperti kami banyak sekali." sahut bocah perempuan di sebelah kiri.
"Yang kutanyakan, kali ini kau mendapat perintah siapa ?"
Kedua orang dayang cilik itu berdiri tertegun, setelah saling berpandangan sekejap,
dayang cilik yang berada di sebelah kiri kembali menjawab.
"Dalam sayur dan arak tidak dicampuri racun, harap kalian berdua suka bersantap
dengan berlega hati, sedang mengenai siapa yang memerintahkan kami kemari,
sebelum mendapat ijin, budak tak berani memberitahukan..."
Buyung Im seng termenung lagi berapa saat lamanya, kemudian berkata lebih jauh:
646
"Menurut apa yang kuketahui, ditempat ini hanya ada sebuah jalan keluar saja."
"Benar !"
"Jalanan itu sudah dilapisi dengan kabut beracun bukan ?"
"Benar !" sekali lagi dayang cilik yang berada di sebelah kiri itu mengangguk.
"Bagaimana cara kalian sampai di sini dan apa sebabnya tidak terluka oleh kabut
beracun ?"
"Budak sekalian sudah makan obat penawar racun."
"Tapi, mungkinkah sayur dan arak ini sudah terpengaruh oleh kabut beracun itu ?"
Dayang cilik yang berada di sebelah kiri itu segera tertawa.
"Soal ini tak perlu kongcu kuatirkan, sewaktu melewati kabut beracun itu, semua
sayur dan arak telah ditutupi dengan rapat, lagi pula setelah melewati daerah
kabut beracun, sayur dan arak ini telah diperiksa pula oleh juru obat."
"Lebih baik kalian bawa pulang saja." seru Buyung Im seng sambil mengulapkan
tangannya.
Agaknya dayang cilik yang berada di sebelah kiri itu sudah menduga sampai di situ
dia segera tersenyum, katanya.
"Kongcu, kau harus berdiam diri cukup lama di sini, bila tidak bersantap, bukankah
kalian bakal mati kelaparan ?"
Baru saja Buyung Im seng hendak menghardik kedua orang dayang itu agar
mundur, Nyoo Hong leng telah berseru lebih dulu.
"Letakkan sayur dan arak itu di sini !"
Kedua orang dayang itu mengiakan, setelah meletakkan sayur dan arak, mereka
membalikkan badan mengundurkan diri keluar ruangan, satu di kiri, yang lain di
kanan berjaga di depan pintu.
"Pulanglah kalian berdua" kata Nyoo Hong leng lagi, "sayur dan arak ini sangat
lezat, kami dapat bersantap dengan pelan-pelan"
Dayang cilik yang berada di sebelah kiri kembali berkata.
"Kami telah mendapat perintah untuk menunggu sampai kalian berdua selesai
bersantap dan membereskan mangkuk serta cawan, sebelum mengundurkan diri
dari sini."
"Kalau begitu, kalian berdua mendapat perintah untuk melihat kami bersantap
lebih dulu baru meninggalkan tempat ini ?"
"Kami berdua hanya mendapat perintah untuk menghidangkan sayur dan arak,
membereskan sayur dan mangkuk cawan sebelum mengundurkan diri dari sini,
budak berdua tak berani membangkang perintah, terpaksa akan menunggu terus di
sini."
"Kejadian ini benar-benar merupakan suatu peristiwa yang aneh sekali.."
"Betul", sambung Buyung Im seng, "Kalau begitu meskipun dalam sayur dan arak
tersebut terdapat racun pun, kita harus mendaharnya sampai habis ?"
647
"Dalam kota batu ini, orang yang berilmu silat lebih lihai dari kalian berdua terlalu
banyak jumlahnya", kata dayang cilik di sebelah kiri itu, "banyak orang yang bisa
turun tangan membinasakan kalian berdua, budak rasa untuk membereskan
kalian, rasanya tak perlu meracuni sayur dan hidangan kalian."
"Siapa tahu kalau racun yang dicampurkan di dalam sayur dan arak itu hanya
sejenis racun yang bersifat pelan, tujuannya hanya berharap agar kami keracunan
?"
"Sewaktu kami datang kemari tadi telah dipesankan, bila kongcu merasa curiga,
maka budak berdua diwajibkan mencicipi sayur dan arak ini terlebih dahulu."
"Benar-benar seorang yang bermulut tajam, siapa namamu ?"
"Budak bernama Cun Gwat"
"Seandainya sayur itu tidak beracun, berarti permainan busuknya ada di atas
cawan dan mangkuk" kata Nyoo Hong leng.
"Kalian berdua selalu menduga yang bukan-bukan saja, aku rasa tak perlu
dipikirkan lagi, kalau toh sudah datang kemari, mengapa tak menuruti saja apa
yang berada di depan mata ? Apalagi kalian berdua toh tak bakal bisa keluar dari
kota batu ini, serahkan saja nasib kalian pada takdir."
Nyoo Hong leng tertawa dingin.
"Tampaknya kalian berdua bukan datang untuk melayani kami, melainkan datang
untuk mengawasi gerak gerik kami berdua ?" serunya.
"Ucapan nona kelewat serius, budak berdua tak berani menerimanya...."
Selesai berkata dia lantas memejamkan matanya dan tidak menengok ke arah
tamunya lagi.
Budak yang lain seakan-akan menirukan saja semua yang diperbuat Cun Gwat,
dengan cepat dia ikut memejamkan matanya.
Buyung Im seng memandang sekejap ke arah kedua orang dayang cilik itu,
kemudian berkata.
"Kalau begitu tunggu saja kalian berdua di sana ! Bila kami tak sudi bersantap, aku
tidak percaya kalau kamu berdua mempunyai upaya untuk memaksa kami
bersantap."
"Betul !" sambung Nyoo Hong leng sambil tertawa, "mari kita beradu kesabaran
dengan mereka."
Dia lantas menjatuhkan diri duduk bersila di atas tanah dan memejamkan mata
untuk mengatur pernapasan.
Untuk sesaat lamanya suasana menjadi hening, sepi, tak kedengaran sedikit suara
pun.
Nyoo Hong leng telah merasakan pula suasana kaku yang mencekam sekeliling
tempat itu, suasana semacam ini tak mungkin bisa ditembusi dengan
mempergunakan kecerdasan maupun ilmu silat yang dimilikinya, dalam keadaan
648
demikian, terpaksa ia harus bersabar untuk sementara waktu sambil menunggu
kesempatan untuk merubah situasi di sana.
Buyung Im seng mengikuti jejak Nyoo Hong leng dengan duduk kembali ditempat
semula.
Kini situasi yang amat kritis telah berada di depan mata, mati hidup mereka sudah
tak mungkin dikendalikan oleh kemampuan sendiri, berada dalam keadaan begitu,
kedua orang tersebut harus berlapang dada dengan mengesampingkan segala
kemungkinan yang terjadi, mereka duduk bersila dan mulai mengatur nafas.
Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya pertama-tama Nyoo Hong leng yang
mendusin lebih dahulu.
Dia menyaksikan kakek berbaju hijau itu masih duduk di tempat duduk
berkasurnya dengan mata terpejam dan mengatur napas.
Ia mencoba untuk menghentikan sekejap suasana dalam ruangan itu, kemudian
baru menengok kembali ke arah Buyung Im seng, tampak uap panas berwarna
putih mengepul keluar dari ubun-ubunnya, dari situ dapat disimpulkan bahwa
semedinya sedang mencapai puncak yang paling penting.
Suasana dalam ruangan sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, sedemikian
heningnya sampai jatuhnya jarum pun dapat terdengar amat jelas.
Tiba-tiba kakek berjubah hijau itu membuka matanya memperhatikan wajah Nyoo
Hong leng, kemudian sambil tertawa dia manggut-manggut, tidak bersuara
maupun menegur, seakan-akan orang itu kuatir kalau suara pembicaraannya akan
mengganggu ketenangan Buyung Im seng.
Nyoo Hong leng menggerakkan bibirnya seperti hendak mengucapkan sesuatu,
namun sebelum ucapan mana sempat diutarakan keluar, kakek berbaju hijau itu
telah menggoyangkan tangan kanannya berulang kali, seperti memberi tanda agar
dia jangan berbicara.
xxXxx
Sewaktu dia perhatikan pula keluar ruangan, dijumpainya dua orang dayang
tersebut masih berdiri di sisi kiri dan kanan di luar pintu ruangan tersebut.
Hidangan dan sayur yang berada dalam ruangan masih berada di atas meja seperti
keadaan semula.
Kembali lewat berapa saat kemudian, Buyung Im seng baru mendusin dari
semedinya, dia menghembuskan napas panjang lalu pelan-pelan membuka kembali
matanya.
Kakek berbaju hijau itu segera bangkit berdiri, kemudian ujarnya sambil tertawa:
"Setelah bersemedi dan mengatur nafas sedemikian waktu, aku pikir kesehatan
maupun kesegaran tubuh kalian pulih kembali banyak bukan ? Kalau ku tinjau
wajah kalian semua segar dan bersinar, bila diisi lagi dengan makanan niscaya
kesehatan dan kesegaran tubuh kalian akan bertambah baik."
Nyoo Hong leng tertawa hambar.
649
"Begitu pula yang dikatakan kedua dayang penghantar arak dan sayur tadi, mereka
menganjurkan kami untuk bersantap lebih dulu."
Kakek berbaju hijau tertawa.
"Sekarang arak dan sayur telah dingin, tentu saja tak enak kalau disantap lagi."
Kemudian sambil memperkeras suaranya, ia berseru: "Cun gwat, kemari kau !"
Cun gwat mengiakan dan melangkah masuk ke dalam ruangan, sahutnya sambil
menjura:
"Budak menanti perintah."
"Kau perintahkan kepada koki untuk membuatkan beberapa macam sayur dan
sebotol arak madu yang terbaik, aku hendak menemani kedua orang tamu agung
ini untuk bersantap>"
"Budak terima perintah !"
Dia sudah membereskan sayur dan arak yang dihidangkan semula, kemudian
membalikkan badan berlalu dari sana.
Menanti kedua orang budak itu sudah pergi, kakek berbaju hijau itu berkata sambil
tertawa.
"Mungkin sudah hampir dua puluh tahunan lohu tak pernah makan bersama
dengan orang lain."
"Waah, hal ini berarti suatu pelayanan yang amat istimewa bagi kami berdua." seru
Nyoo Hong leng.
Kakek berbaju hijau itu segera tertawa.
"Mungkin aku dan kalian berdua memang mempunyai sedikit jodoh !"
"Daripada jodoh lebih cocok kalau dibilang mempunyai sedikit hubungan
kekeluargaan."
Kakek berbaju hijau itu nampak agak tertegun, tapi selang sesaat kemudian paras
mukanya telah pulih menjadi tenang kembali, pelan-pelan dia berkata:
"Bocah perempuan, apa yang sedang kau duga ?"
"Aku hanya berpendapat demikian, andaikata kau benar-benar adalah Buyung
Tiang kim mengapa tak mengakui hal tersebut ? Mengapa pula kau tak berani
mengakuinya sebagai putramu ?"
Kembali kakek berbaju hitam itu tersenyum
"Nona, lebih baik jangan berlagak sok pintar," serunya.
"Seandainya kau bukan Buyung Tiang kim, mengapa pula kau tak berani
menyangkal ?"
Ketika Buyung Im seng menyaksikan Nyoo Hong leng mengajak kakek berbaju
hijau itu berbicara secara langsung dan blak-blakan, dia malahan merasa sedikit
kelabakan dan tak tahu apa yang mesti dilakukan, untuk sesaat pemuda itu hanya
berdiri disamping dengan wajah termangu-mangu.
650
Seakan-akan kakek berjubah hijau itu memang berniat menghindari persoalan,
sambil tersenyum tiba-tiba menukas:
"Nona, bila ada persoalan yang hendak dibicarakan, lebih baik kita perbincangkan
selesai bersantap nanti."
"Di dunia ini penuh dengan makanan dan hidangan yang lezat, mau minum arak
wangi atau mencicipi hidangan enak rasanya ditempat mana saja dapat kami
lakukan, tak usah mesti mempertaruhkan jiwa dan raga datang ke kota batu di
bawah tanah ini."
Dengan secara tiba-tiba kakek berbaju hijau itu memejamkan matanya sejenak,
untuk menahan amarah itu, ditahan kembali, pelan-pelan dia berkata:
"Setelah selesai bersantap nanti, lohu pasti akan menjelaskan semua persoalan
yang mencurigakan hati kalian."
"Aku benar-benar tidak habis mengerti." seru Nyoo Hong leng lagi.
"Apa yang hendak kau pahami ?"
"Mengapa kami harus bersantap lebih dulu ?"
Mendengar perkataan itu, kakek berbaju hijau itu tertawa dingin.
"Heeh... heeehh.. heeh, nona, sudah terlampau lama lohu tinggal di kota batu ini
sehingga muncul watak berangasan pada diriku, seandainya nona terus menerus
tidak tahu diri sehingga membangkitkan amarah lohu, jangan salahkan bila kau
akan merasakan suatu penderitaan yang akan menyiksa dirimu."
"Kami berani datang kemari, berarti soal mati hidup sudah tak kami pikirkan lagi."
Kakek berjubah hijau itu tidak memperdulikan ucapan Nyoo Hong leng lagi, sorot
matanya dialihkan ke wajah Buyung Im seng, lalu ujarnya.
"Kemarilah kau !"
Pelan-pelan Buyung Im seng maju mendekat.
"Locianpwe, kau ada perintah apa ?"
"Sebagai seorang lelaki sejati, kita tak boleh menggubris kemangkelan dari kaum
wanita, benar bukan ?"
Buyung Im seng termenung dan berpikir sebentar, kemudian katanya.
"Boanpwe tidak mengerti apa yang locianpwe maksudkan ?"
Belum sempat kakek berbaju hijau itu memberikan jawabannya, dua orang dayang
tersebut telah muncul kembali membawa sayur dan arak.
Dalam ruangan tersedia sebuah meja pendek, dua orang dayang tersebut segera
menghidangkan sayur dan arak di atas meja pendek itu, kemudian setelah memberi
hormat mengundurkan diri dari situ.
Kakek berjubah hijau itu mengambil sumpitnya dan mencicipi lebih dulu tiap
macam sayuran dengan satu suapan, lalu katanya:
"Nah, setiap macam sayur dan arak telah kucicipi, terbukti dalam sayur dan arak
tiada racunnya, kini kalian boleh bersantap dengan perasaan lega."
651
Buyung Im seng berpikir:
"Dia telah bilang, setelah selesai bersantap sayur dan arak nanti, dia hendak
menghilangkan semua kecurigaan yang mengganjal dalam hati kami, entah
janjinya itu sungguhan atau tidak ?"
Berpikir demikian, dia pun berkata:
"Locianpwe, tadi kau berjanji akan menghilangkan semua persoalan yang
mencurigakan hati kami seusai kami bersantap, janjimu itu masih masuk hitungan
atau tidak ?"
"Tentu saja masih terhitung," jawab kakek berjubah hijau itu sambil tertawa
hambar, "cuma kalian jangan terlalu mengharapkan yang kelewat muluk !"
"Maksud locianpwe..."
"Sudahlah, bersantaplah lebih dulu !" tukas kakek berbaju hijau itu. "sebelum
selesai bersantap, maaf kalau lohu tak akan menjawab pertanyaanmu lagi."
Buyung Im seng segera mengulapkan tangannya dan berkata:
"Nona Nyoo, seratus li yang harus kita tempuh sembilan puluh li sudah dilewatkan,
kalau toh sekarang locianpwe ini telah berjanji akan menghilangkan rasa
kecurigaan yang mencekam dalam hati kita seusai bersantap nanti apa salahnya
kalau.."
"Ya, kebetulan perutku memang sedang merasa lapar," sela Nyoo Hong leng cepat.
Begitu selesai berkata, dia lantas mengambil sumpit dan mulai bersantap dengan
lahapnya.
Buyung Im seng segera mengikuti jejaknya dengan mengambil sumpit dan mulai
bersantap.
Pada dasarnya kedua orang itu sudah merasa lapar setengah mati, maka begitu
bersantap dengan perasaan lega, tak selang berapa saat kemudian semua hidangan
yang tersedia telah disapu sampai ludes.
Dengan tenang kakek berbaju hijau itu memperhatikan dua orang itu bersantap
sampai selesai, kemudian ujarnya sambil tersenyum.
"Kalian berdua sudah bersantap kenyang ?"
"Tidak kenyang pun boleh dianggap sudah kenyang, aku berharap bisa cepat
mengetahui hal-hal yang mencurigakan dalam hatiku."
"Baik ! Cuma lohu masih mempunyai sebuah syarat."
"Syarat apa ?" tanya Buyung Im seng.
"Ditinjau dari kemampuan kalian menemukan tempat ini, terlepas bagaimanakah
kepandaian silat yang kalian miliki, yang pasti kamu berdua tentu memiliki
kecerdasan yang amat tinggi" kata si orang berbaju hijau itu.
"Kenapa ?" tanya Buyung Im seng lagi.
652
"Aku tahu persoalan yang mencurigakan hati kalian amat banyak, mustahil buat
lohu untuk menjawabnya satu persatu, oleh karena itu aku hanya memberi batasan
seorang hanya boleh mengajukan satu pertanyaan saja." jawabnya.
Mendengar syarat itu Buyung Im seng lantas berpikir:
"Padahal persoalan yang mencurigakan hatiku bukan cuma dua hal saja, bila kau
hanya diperbolehkan mengajukan satu pertanyaan saja, tak mungkin semua
persoalan yang membingungkan hatiku dapat terpecahkan."
Tampaknya kakek berbaju hijau itu dapat menebak apa yang dipikirkan sang
pemuda, sambil tersenyum dia lantas berkata:
"Waktu di kemudian hari masih panjang, perduli berapa banyak kecurigaan
mencekam dalam hatimu, asal kalian bersedia tinggal di sini dalam jangka waktu
lama, pelan-pelan semua persoalan dapat terselesaikan dengan sendirinya."
Tiba-tiba Nyoo Hong leng menimbrung:
"Baiklah, kalau memang hanya diperbolehkan mengajukan satu pertanyaan saja,
biar aku yang bertanya lebih dulu."
"Tunggu sebentar !" cegah kakek berbaju hijau itu sambil menggoyangkan
tangannya berulang kali.
( Bersambung ke jilid 32)
653
Lembah Tiga Malaikat
Oleh: Tjan
Jilid 32
"Kenapa ? Masa kaupun hendak mengingkari janjimu memperbolehkan kami
bertanya tentang satu hal."
Kakek berbaju hijau itu tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut, dia
memanggil dua orang dayang yang berada di pintu luar, seraya perintahnya:
"Kalian bereskan dulu mangkuk dan cawan yang ada di meja dan segera
mengundurkan diri, sebelum mendapat panggilan dari lohu, siapapun dilarang
masuk kemari mengusik ketenangan kami."
Dua orang dayang tersebut mengiakan, selesai membereskan cawan dan mangkuk,
mereka segera mengundurkan diri.
Memandang hingga kedua orang dayang itu pergi jauh, kakek berbaju hijau itu
berkata.
"Sekarang nona boleh mengajukan pertanyaan."
"Apakah Buyung Tiang kim masih hidup di dunia ini ? Sekarang dia berada dimana
?"
Kakek berbaju hijau itu termenung dan berpikir sebentar, kemudian sahutnya :
"Nona mengajukan dua pertanyaan, sedang lohu hanya dapat menjawab satu saja
diantara kedua pertanyaanmu itu."
"Putra Buyung Tiang kim berada di sini sekarang, apakah dia masih hidup di dunia
ini semestinya yang menjadi putranya lebih menaruh perhatian daripadaku, maka
aku hanya ingin tahu saat ini dia berada dimana ?"
Kakek berbaju hijau itu tersenyum.
654
"Dia berada didalam kota batu ini" jawabnya.
"Aku maksudkan sekarang dia berada dimana ?" seru Nyoo Hong leng dengan suara
dingin.
Kakek berbaju hijau itu kembali tertawa.
"Dia berada didalam kota batu di bawah tanah ini, lohu toh tidak salah menjawab !"
"Aku tahu aku bakal tertipu, maka itulah kuajukan pertanyaan ini paling dulu."
Sorot matanya segera dialihkan ke wajah Buyung Im seng, kemudian ujarnya lebih
jauh.
"Kau harus berpikir lebih dulu sebelum mengajukan pertanyaanmu, ketahuilah
pertanyaanmu itu menyangkut suatu akibat yang besar sekali, bila pertanyaanmu
itu benar, maka perubahan situasi maupun pertikaian yang ada dalam dunia
persilatan meski belum bisa dipahami secara keseluruhan, namun sudah bisa dicari
setitik cahaya terang, sebaliknya bila kau salah bertanya maka kita harus
menduga-duga saja, kesempatan baik semacam ini belum tentu ditemukan secara
mudah."
Dengan sorot mata yang tajam bagaikan sembilu, Buyung Im seng memperhatikan
wajah kakek berbaju hijau itu lekat-lekat kemudian berkata :
"Aku sangat berharap kau bukan Buyung Tiang kim !"
Kakek berbaju hijau itu tertawa hambar.
"Apa yang hendak kau tanyakan ? Kalau lohu menjawab pertanyaanmu itu, berarti
kau sudah tidak memiliki kesempatan lagi untuk mengajukan pertanyaan."
"Apakah kami berdua hanya diperbolehkan mengajukan dua pertanyaan saja ?"
kembali Buyung Im seng bertanya.
"Benar"
"Aku ingin menyerahkan hak pertanyaanku ini untuk nona Nyoo seorang.."
"Bila kau percaya kalau pertanyaannya itu dapat mengungkapkan seluruh keadaan
yang sesungguhnya, tentu saja kau boleh berbuat demikian."
"Kecerdasan nona selalu jauh melebihi diriku, biarlah dia saja yang mewakili aku
mengajukan pertanyaan itu !"
"Baik !" kata Nyoo Hong leng kemudian sambil mengangguk, "ada beberapa
persoalan mungkin kau memang merasa kurang leluasa untuk menanyakannya.."
Sambil menumpangkan tangannya di atas meja pendek, dia bertopang dagu dan
termenung sambil memutar otak.
Menyaksikan keadaan nona itu, dengan suara rendah Buyung Im seng segera
bertanya.
"Apa yang sedang kau pikirkan ?"
"Aku sedang berpikir bagaimana harus mengajukan pertanyaan kepadanya ? Kini
sudah mengetahui Buyung Tiang kim berada didalam kota batu ini, maka aku
harus mencari suatu pertanyaan yang tak mungkin bisa dihindari lagi."
655
"Betul" ujar kakek berbaju hijau itu sambil tertawa hambar, "walaupun hanya
sepatah kata saja, namun harus dipikir dahulu dengan kecerdasan otak tingkat
tinggi."
Nyoo Hong leng tersenyum.
"Bertaruh kelicikan, bertaruh akal bulus, tidak bertaruh dengan orang yang
mengingkari janji, kau tak boleh memutar balikkan duduknya persoalan yang
sebenarnya..."
"Setiap jawaban yang lohu berikan, sudah barang tentu dapat dipertanggung
jawabkan"
"Kau tak dapat menampak suatu jawaban, juga tak dapat mengatakan kata tidak
bukan ?"
"Baik, tanyalah !"
"Aku hanya ingin beradu satu jurus ilmu pukulan dengan Buyung Tiang kim !" kata
Nyoo Hong leng pelan.
Begitu mendengar perkataan itu, kakek berbaju hijau itu berdiri tertegun, jelas dia
sama sekali tak menyangka kalau Nyoo Hong leng bakal mengajukan pertanyaan
itu.
Tampak sepasang matanya berkilat tajam, pelan-pelan ujarnya :
"Boleh saja, cuma lohu pun harus menerangkan satu hal dulu kepadamu"
"Soal apa ?"
"Ilmu silat yang dimiliki Buyung Tiang kim sangat lihai, bila nona bersikeras
hendak beradu satu jurus serangan dengannya, kemungkinan selembar jiwamu
akan melayang."
"Aku tidak takut !"
Mendadak kakek berbaju hijau itu membalikkan tubuhnya sambil mengusap ke
atas wajahnya sendiri, setelah melepaskan selembar topeng kulit manusia pelanpelan
dia membalikkan tubuhnya sembari berkata.
"Lohulah orangnya !"
Nyoo Hong leng segera menghela napas panjang.
"Sejak tadi sudah kuduga kalau kaulah orangnya, aku tidak habis mengerti
mengapa kau mesti memperlihatkan pelbagai permainan semacam ini kepada kami
?"
Walaupun semenjak tadi Buyung Im seng juga berpendapat demikian, tapi setelah
kakek berbaju hijau itu mengakui asal usul sendiri yang sebenarnya, tak urung dia
merasakan juga hatinya bergetar keras.
Lama sekali dia berdiri termangu sebelum akhirnya menjatuhkan diri berlutut
seraya berkata :
"Ananda menjumpai ayah !"
656
Dengan wajah amat serius Buyung Tiang kim berkata dingin.
"Jika aku ingin mencelakai kalian berdua, pada hakekatnya kalian tak akan
sanggup memasuki kota batu itu"
Dia mengulapkan tangannya, segulung tenaga pukulan yang sangat kuat segera
menahan tubuh Buyung Im seng.
"Kau boleh berdiri saja" tukasnya.
Buyung Im seng merasakan tenaga yang menahan tubuhnya itu kuat sekali,
sehingga tanpa bisa dicegah tubuhnya segera terangkat kembali dari atas tanah.
Tiba-tiba Nyoo Hong leng mendongakkan kepalanya dan menghela napas panjang.
"Aah... selama hidup kau berbuat kebajikan dan mulia, entah berapa banyak jago
persilatan yang menaruh perasaan terima kasih kepadamu, aku benar-benar tidak
habis mengerti mengapa kau harus mendirikan perguruan Sam seng bun untuk
mengobrak abrik dunia persilatan hingga kacau balau tak karuan ?"
Paras muka Buyung Tiang kim amat dingin seperti es, seperti menjawab tidak
menjawab ia berkata :
"Kalau toh dalam hati kecil kalian sudah menduga kalau aku adalah Buyung Tiang
kim, tidak sepantasnya jika kalian memaksa diriku untuk mengakui identitasku
yang sebenarnya sehingga terpaksa harus menjumpai kalian dengan raut wajah
yang sebenarnya."
"Walaupun lautan penderitaan tidak bertepian, berpaling adalah daratan...."kata
Nyoo Hong leng.
"Tutup mulut, lohu dengan usia setua ini, masa tidak mengerti akan arti perkataan
itu ?"
"Lantas apa yang hendak kau lakukan ?"
"Lohu hendak menyaksikan kalian mati di hadapanku !"
"Sebuas-buasnya harimau, dia tak akan menerkam anaknya sendiri, aku tidak
percaya kalau kau begitu tega untuk membunuh putera kandungmu sendiri..."
"Dia bukan puteraku !" seru Buyung Tiang kim tiba-tiba.
Perkataan tersebut bagaikan godam seberat ribuan kati yang menghantam di atas
dada Buyung Im seng, kontan saja membuat dia sedih, terperanjat dan tercengang.
Tapi justru perubahan yang terjadi sangat tiba-tiba ini membuatnya bersikap jauh
lebih tenang.
Pelan-pelan dia menyeka noda air mata yang membasahi wajahnya, kemudian
berkata :
"Ananda membawa sepucuk surat, bagaimana kalau locianpwe memeriksanya lebih
dahulu ?"
Dengan cepat Buyung Tiang kim menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya
:
657
"Tak usah dilihat lagi, apa yang telah terjadi selama ini sudah kuketahui cukup
jelas."
Nyoo Hong leng yang berdiri disamping, pelan-pelan bergeser ke sisi Buyung Im
seng, kemudian hiburnya dengan suara lembut :
"Ooh, toako ! Sekalipun kita enggan menyerah kalah dengan begitu saja, tentunya
kau juga tahu bukan bahwa kesempatan bagi kita untuk meninggalkan tempat ini
kecil sekali ?"
Buyung Im seng merasa yaa kagum yaa malu setelah menyaksikan sikap si nona
yang luar biasa tenangnya itu, diam-diam pikirnya :
"Aaai, tampak aku memang seorang lelaki lemah, sampai seorang anak gadis pun
tidak sanggup ku ungguli."
Dan berpikir sampai di situ, perasaan hatinya yang berat mendadak menjadi lebih
terbuka dan enteng, sambil tersenyum sahutnya kemudian, "Setelah berhasil
kutemukan kita ilmu pedang dan kitab ilmu pukulan yang ditinggalkan Buyung
Tiang kim serta melatihnya dengan tekun selama banyak tahun, aku yakin masih
memiliki sedikit simpanan, akupun tak sudi menyerah kalah dengan begini saja,
sekalipun harus mati, aku akan mati dengan gagah dan ksatria, cuma saja, banyak
persoalan yang masih mencekam perasaanku, sebelum semua kecurigaan tersebut
terpecahkan, aku tak akan mati dengan mata meram."
Nyoo Hong leng mengerdipkan matanya yang jeli lalu berkata :
"Orang lain mengharapkan kita mati, hal ini disebabkan apa yang kita ketahui
sudah kelewat banyak, jangan berharap bisa mendapat kesempatan lagi untuk
melenyapkan kecurigaan yang mencekam perasaanmu sekarang..."
Kemudian setelah tertawa manis, dia melanjutkan :
"Kejadian yang tidak berkenan di hati dalam dunia ini, dari sepuluh kejadian ada
delapan sampai sembilan yang begitu, sebelum aku berjumpa denganmu,
kehidupanku selalu riang gembira. Tapi setelah bertemu kau dan merasakan apa
artinya cinta, banyak kemurungan dan kesulitan yang mulai mencekam benakku,
apalagi kita bersusah payah mencari letak perguruan tiga malaikat, untuk
membantu kau menemukan kembali ayahmu, aku telah menyanggupi untuk kawin
dengan Khong Bu siang, sekarang Buyung Tiang kim telah ditemukan tapi ia
enggan mengakui kau sebagai putranya. Aai... siapakah yang bisa menduga
sebelumnya atas semua perubahan yang berlangsung selama ini ?"
Buyung Im seng tertawa getir.
"Bagiku, sekalipun tubuh harus hancur dan remuk redam berkeping-keping, aku
rela mati. Hanya saja justru karena perbuatanku ini, aku telah menyusahkan
nona."
Pelan-pelan Nyoo Hong leng menjatuhkan diri ke dalam pelukan Buyung Im seng,
tukasnya :
"Ooh, toako ! Walaupun siang malam kita berkumpul terus, tapi kau adalah seorang
kongcu, seorang lelaki sejati yang amat jujur, selama ini kau belum pernah
memelukku barang sekali saja. Sekarang kita sudah hampir mati, aku ingin
memohon kepadamu agar mau memeluk tubuhku, bersediakah kau ?"
658
"Soal ini... soal ini... aku kuatir."
"Tak usah ini itu lagi, sekalipun Khong Bu siang hadir di sini sekarang, dia tak
nanti akan menyalahkan dirimu."
Buyung Im seng tak tega menampik permintaannya itu, dia segera memeluk tubuh
Nyoo Hong leng erat-erat.
Mendadak Buyung Tiang kim berkata :
"Baik ! Setelah kalian mati nanti, lohu pasti akan mengubur jenasah kalian berdua
didalam satu liang."
Nyoo Hong leng memejamkan matanya rapat-rapat, wajahnya menampilkan suatu
perasaan puas dan gembira yang tak terlukiskan dengan kata-kata, seakan-akan
kehangatan yang sebentar itu sudah cukup untuk membayar penderitaan dan
siksaan menjelang saat kematian.
Tampak gadis itu berkata dengan wajah berseri :
"Apakah kau pun hendak mendirikan sebuah batu nisan untuk kami berdua ?"
"Permintaan tersebut bukan suatu pekerjaan yang susah."
Mendadak Nyoo Hong leng meluruskan badannya dan meronta dari pelukan
Buyung Im seng, sesudah membereskan rambutnya yang kusut, dia berkata
singkat"
"Cukup !"
Sorot matanya dialihkan ke wajah Buyung Tiang kim, lalu tanyanya.
"Apa yang hendak kau tulis di atas batu nisan kami itu ?"
"Nona menginginkan lohu menulis apa saja di atas batu nisan kalian itu ?" Buyung
Tiang kim balik bertanya.
Mendadak Buyung Im seng menukas :
"Kau tak usah menulis apa-apa di sana, seandainya kau benar-benar Buyung Tiang
kim yang asli, seandainya kau sungguh-sungguh kesan baik terhadap kami berdua,
aku berharap kami berdua mati, kau sudi memberitahukan duduk perkara yang
sebenarnya dari semua peristiwa ini. Bagi diriku, hal ini seratus bahkan seribu kali
lebih berharga daripada kau mendirikan batu nisan untuk kami dan
mencantumkan kata-kata yang muluk diatasnya."
Buyung Tiang kim memandang kedua orang itu sekejap, kemudian membungkam
diri dalam seribu bahasa.
Ketika Buyung Im seng tidak mendengar jawaban dari Buyung Tiang kim, dengan
cepat dia berkata lagi :
"Aku tahu locianpwe tak lebih hanya kuatir kami membocorkan rahasia tersebut
kepada orang lain, tetapi kalau toh kau berkeyakinan bisa membunuh kami berdua,
tentunya kau tak usah takut kami akan membocorkan rahasiamu lagi bukan ?"
Buyung Tiang kim tertawa hambar.
659
"Maksudmu kau berharap lohu membeberkan dahulu duduk persoalan yang
sebenarnya sebelum membunuh kau berdua ?"
"Ehmm.... ! Seandainya kami dapat mati dalam keadaan seperti ini, paling tidak
kami bisa mati sebagai sesosok setan yang memahami duduknya persoalan, saat itu
walaupun harus mati, kami akan mati dengan tenteram."
"Boleh" kata Buyung Tiang kim dengan wajah dingin dan serius, "tapi kalian pun
harus memenuhi dahulu sebuah permintaan lohu."
"Permintaan apa ?"
"Lohu tidak tega membunuh kalian berdua, karena itu aku berharap setelah kalian
mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya, kamu berdua harus bunuh diri."
"Aku setuju !" Buyung Im seng segera berseru.
Buyung Tiang kim mengalihkan sorot matanya ke wajah Nyoo Hong leng, lalu
katanya :
"Bagaimana dengan nona Nyoo ?"
"Seandainya akupun meluluskan permintaanmu itu, tapi apakah kau bersedia
untuk mempercayainya ?" tanya Nyoo Hong leng.
Buyung Tiang kim menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak percaya. Oleh karena itulah aku minta kepada kalian untuk menelan
sebutir pil beracun lebih dahulu, racun itu baru akan bekerja satu jam kemudian,
dalam waktu satu jam lohu percaya apa yang harus kuterangkan sudah selesai ku
utarakan semua."
"Dengan menyerempet bahaya dan mempertaruhkan jiwa raganya Buyung kongcu
berusaha untuk menjumpai ayahnya, sekarang ayahnya telah ditemukan di sini,
tapi sebaliknya kau justru menyangkal kalau dia adalah putra kandungmu,
kejadian ini memang benar-benar merupakan suatu peristiwa aneh. Dalam dunia
ini hanya kudengar ada anak yang tak mau mengakui orang tuanya, tapi tak ada
seorangpun yang bersikeras mengaku orang lain sebagai bapaknya. Dalam hati
kecilnya bisa mengakui kau sebagai ayahnya, tentu saja hal ini berdasarkan banyak
bukti dan kenyataan. Sekarang pelbagai bukti dan kenyataan yang memenuhi
benaknya itu telah berubah menjadi pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan
hatinya, semua persoalan mana harus dibereskan dulu olehnya sampai jelas,
sehingga dengan begitu, sekalipun harus mengorbankan jiwanya, dia akan mati
dengan hati rela. Sebaliknya aku ?"
"Perkataan nona Nyoo memang benar" tukas Buyung Im seng cepat, "dia adalah
orang yang berada di luar garis dari persoalan ini, rasanya tidak perlu
mengorbankan pula selembar wajahnya."
"Kalian keliru besar", tukas Buyung Tiang kim, "sekalipun dia tak ingin tahu
persoalan ini, toh ia sama saja harus mati."
"Sekalipun begitu, tapi dalam hal mati pasti ada bedanya." kata Nyoo Hong leng
pula.
"Soal mati, apa pula bedanya antara yang satu dengan lainnya ?"
660
"Aku dapat mengajakmu berkelahi, bila tak mampu menangkan dirimu, aku masih
bisa kabur, seandainya gagal kabur dari sini, aku baru akan mati, bukankah begitu
?"
Buyung Tiang kim segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh.... haaaahhhh.. haaahhh... tampaknya kau seperti tidak percaya kalau
lohu dapat membunuh kau ?"
"Seandainya kau bekerja sama dengan Buyung kongcu, aku percaya kami masih
mempunyai setitik harapan untuk melanjutkan hidup."
"Kalau toh kau memiliki kepercayaan untuk berbuat demikian, apa salahnya kalau
kau tuturkan lebih dahulu semua persoalan yang sebenarnya sebelum pertarungan
ini dilanjutkan. Karena Buyung kongcu baru bersedia melancarkan serangan
dengan sepenuh tenaga setelah dia yakin benar kalau dia bukan putra
kandungmu."
Buyung Tiang kim menggelengkan kepalanya lagi.
"Aku tak bisa memberi setitik kesempatanpun bagi kalian untuk melanjutkan
hidup, bila ingin bertarung, lohu akan menemani, pokoknya sebelum kalian
menelan pil beracun itu, jangan harap bisa mendengar kisah penjelasan dari lohu
itu."
"Hmmm ! Sungguh tak disangka seorang tokoh persilatan yang disanjung dan
dihormati oleh beribu-ribu bahkan berjuta-juta umat persilatan, tak lebih hanya
seorang manusia pengecut yang munafik."
Paras muka Buyung Tiang kim berubah hebat, selanya :
"Kau berani memaki lohu ?"
"Kalau memakimu lantas kenapa ? Hmm, untuk menjadi seorang manusia laknat
yang berhati baja pun kau belum pantas, karena untuk menjadi seorang manusia
laknat yang berhati bejad pun dia harus memiliki gaya dan sikap seorang manusia
laknat."
Sebenarnya Buyung Tiang kim hendak mengumbar hawa amarahnya tapi setelah
mendengar makian terakhir dari Nyoo Hong leng ini, semua amarahnya tiba-tiba
malah lenyap tak berbekas.
Dia tersenyum, katanya kemudian :
"Baiklah ! Lohu akan membiarkan kau memaki diriku beberapa patah kata, orang
yang bisa tidak marah meski dicaci maki tentunya seorang manusia yang
mempunyai gaya bukan ?"
Mendadak Nyoo Hong leng seperti teringat akan suatu masalah yang amat penting,
alis matanya berkernyit, kemudian termenung dan membungkam dalam seribu
bahasa.
Buyung Im seng kuatir kedua orang itu kembali berbicara keras sehingga suatu
pertarungan tak bisa dihindari, buru-buru selanya :
661
"Locianpwe, bila aku telah menelan pil beracun itu, apakah kau bersedia
menerangkan duduk persoalan yang sebenarnya ?"
"Bila cuma seorang yang menelan pil beracun itu, maka lohu hanya bisa
membicarakan separuh saja."
"Baiklah, daripada mati tanpa mengetahui apa-apa, mengetahui separuh pun tak
ada salahnya, locianpwe, serahkan pil beracun itu kepadaku !"
Buyung Tiang kim merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan botol porselen,
lalu sambil menuang keluar sebutir pil berwarna merah, katanya :
"Terima obat ini dan segera kau telan !"
Buyung Im seng menyambut pil tersebut, setelah tertawa getir ujarnya :
"Setelah kutelan pil beracun ini, aku harap locianpwe bersedia menepati janji."
Mendadak terdengar Nyoo Hong leng berseru dengan suara dingin :
"Jangan telan pil tersebut !"
"Nona !" ujar Buyung Im seng, "sudah lama aku ingin mengetahui asal usulku,
kendatipun harus dibayar dengan selembar nyawaku, aku takkan keberatan."
Mendadak Nyoo Hong leng melompat bangun, teriaknya :
"Toako, kita sudah ditipu olehnya !"
"Kau bilang apa ?" Buyung Im seng nampak agak tertegun.
"Aku mengatakan kita sudah ditipu olehnya !"
"Darimana kau bisa berkata begitu ?"
"Karena dia bukan Buyung Tiang kim."
Mendadak Buyung Tiang kim menjadi naik pitam sesudah mendengar perkataan
itu, serunya.
"Budak busuk, apa yang kau ngaco belokan ?"
"Nah, nah, semakin marah kau, semakin kentara kalau bukan Buyung Tiang kim."
Dia berharap Buyung Tiang kim bisa menyambung ucapannya itu, sehingga dalam
keadaan gusar dia bisa mencari penyakit tersebut dari kata-katanya.
Siapa sangka Buyung Im seng telah menimbrung lebih duluan :
"Kenapa ?"
Nyoo Hong leng menghela napas panjang.
"Aaai... dimasa lampau Buyung Tiang kim disanjung dan dihormati oleh setiap
umat persilatan, dia kalau bukan seorang yang sangat baik seperti rasul, tentu
jahat sebagai manusia laknat, mustahil bobotnya terkatung-katung ditengah jalan
macam dia sekarang."
Buyung Im seng mengerdipkan matanya berulang kali, kemudian katanya lagi :
"Aku masih tidak habis mengerti, dapatkah nona memperjelas perkataanmu itu ?"
662
Sebelum si nona sempat berbicara Buyung Tiang kim telah mengayunkan tangan
kanannya sambil berseru dingin :
"Budak cilik yang bicara seenaknya, lohu akan membunuhmu lebih dulu."
Wess ! Sebuah bacokan dahsyat telah dilontarkan ke depan.
Segulung tenaga pukulan yang sangat tajam dan kuat, mengikuti serangan bacokan
itu meluncur ke depan.
Nyoo Hong leng segera merasakan betapa kuat dan beratnya tenaga serangan itu,
namun ia tetap menggerakkan tangannya dan menyongsong ancaman dengan
keras.
Belum serangan mereka beradu, Nyoo Hong leng merasa segulung tenaga serangan
yang maha berat dan kuat mendesak tiba dan menekan tubuhnya, memaksa
serangannya terpental balik dan tubuhnya terdorong ke belakang.
Kembali Buyung Tiang kim terbahak-bahak.
"Budak ingusan yang cerewet dan banyak bicara, lohu akan membacok mati dirimu
di ujung telapak tanganku !"
Telapak tangan kirinya diayunkan ke depan, sekali lagi dia melancarkan sebuah
pukulan ke arah tubuh gadis tersebut.
Berada di bawah tekanan pukulan yang maha dahsyat dari telapak tangan kanan
pihak lawan, Nyoo Hong leng merasa tak kuasa menahan diri, apalagi menyaksikan
telapak tangan kiri lawan sudah membacok di atas kepalanya, berada dalam
keadaan seperti ini, tidak mungkin lagi baginya untuk memisahkan diri guna
membendung datangnya ancaman tersebut.
Tiba-tiba terdengar Buyung Im seng membentak keras, telapak tangan kanannya
diayunkan ke depan menyambut datangnya serangan tersebut.
Dengan cepat Buyung Tiang kim menarik kembali telapak tangannya sambil
mengundurkan diri, jengeknya sambil tertawa dingin :
"Kalian berdua memang sudah seharusnya bekerja sama semenjak tadi !"
"Locianpwe, harap kau dengarkan dulu penjelasan boanpwe...." kata Buyung Im
seng.
Tapi sebelum si anak muda itu menyelesaikan kata-katanya, Buyung Tiang kim
telah menukas kembali :
"Lohu tidak punya waktu untuk mengajak kalian bersilat lidah, sedangkan kalian
berdua jika tidak turun tangan lagi, lohu tak akan memberi kesempatan baik untuk
kalian lagi."
Nyoo Hong leng segera berseru dengan suara lantang :
"Toako, bertarunglah dengan perasaan lega, dia bukan Buyung Tiang kim yang
asli."
Buyung Tiang kim tertawa dingin, sepasang telapak tangannya telah direntangkan
melancarkan serangan gencar ke arah kedua orang muda mudi itu....
663
Sementara itu, Buyung Im seng telah mulai menaruh curiga pula terhadap
kedudukan yang sebenarnya dari orang yang mengaku bernama Buyung Tiang kim
ini, di bawah desakan lawan dengan serangan yang gencar, terpaksa ia harus turun
tangan melancarkan serangan balasan.
Nyoo Hong leng mengigos ke samping, lalu menyerang dari sisi kanan Buyung
Tiang kim.
Menghadapi sergapan tersebut, Buyung Tiang kim segera merubah gerakan
serangannya, jurus-jurus serangan aneh digunakan secara beruntun, semua
ancamannya hampir sebagian besar tertuju ke jalan darah kematian ditubuh kedua
orang itu.
Di bawah ancaman dan desakan yang beruntun dari pihak lawan, apalagi
semuanya ditujukan ke bagian tubuh yang mematikan, terpaksa Buyung Im seng
dan Nyoo Hong leng harus turun tangan juga.
Pertarungan ini benar-benar amat seru, pada hakekatnya merupakan pertarungan
paling sengit yang belum pernah dialami Buyung Im seng maupun Nyoo Hong leng
sebelumnya.
Pada permulaan pertarungan, kerja sama antara kedua orang itu masih asing dan
kurang ada kerja sama yang baik, seringkali posisi mereka terjepit dan malahan
kena didesak lawan sehingga mundur kalang kabut.
Tapi setelah bertarung puluhan jurus kemudian, kerja sama Buyung Im seng
dengan Nyoo Hong leng sudah bertambah erat, mereka pun sudah terbiasa dengan
suasana yang dihadapinya, sehingga usaha mereka untuk saling tolong menolong
makin matang dan cekatan.
Dalam waktu singkat, ketiga orang itu sudah bertarung sengit mencapai seratus
gebrakan lebih.
Kakek tersebut benar-benar memiliki tenaga dalam yang amat sempurna,
sekalipun sudah bertarung ratusan jurus melawan dua orang muda tangguh,
bahkan saja tak nampak gejala mulai letih, malahan makin bertarung ia kelihatan
bertambah perkasa, tenaga pukulan yang dilancarkannya makin lama semakin
bertambah tangguh.
Sebaliknya Buyung Im seng dan Nyoo Hong leng yang ditekan dan didesak terus
menerus oleh tenaga pukulan lawan yang kuat dan dahsyat, nampak sudah
keletihan, peluh telah membasahi seluruh tubuh mereka, apa yang masih tersisa
sekarang tak lebih cuma sisa-sisa kekuatan untuk menangkis belaka.
Buyung Im seng sendiri telah mengeluarkan segenap jurus pukulan dan jurus silat
yang dia hapalkan selama ini di bawah tekanan lawan yang sangat tangguh,
meskipun keringat sudah membasahi seluruh tubuhnya, akan tetapi jurus serangan
dan perubahan gerak yang dipakai pun makin lama bertambah makin sempurna.
Waktu itu rambut Nyoo Hong leng sudah terurai tidak karuan, peluh membasahi
seluruh tubuhnya membuat pakaiannya basah kuyup, ibaratnya orang yang baru
naik dari dalam kolam, kendatipun demikian, dia masih tetap bertempur tiada
hentinya.
Tiba-tiba ia berseru sambil tertawa :
664
"Hei toako, masih punya tenagakah kau untuk melanjutkan pertarungan ini... ?"
"Aku percaya masih sanggup untuk bertarung sebanyak berapa ratus jurus
gebrakan lagi, apakah kau sudah sangat lelah ?"
"Walaupun aku sudah merasa agak lelah, tapi semangat bertarungku justru makin
lama semakin berkobar."
"Dalam seratus gebrakan permulaan tadi, kau sudah menyambut sebagian besar
pukulan yang dilontarkan olehnya, maka dalam seratus gebrakan berikut ini sudah
sepantasnya kalau akulah yang menyumbangkan sedikit tenagaku."
Habis berkata, jurus pukulannya diperketat, benar juga dia telah menyambut
hampir sebagian besar pukulan yang dilepaskan Buyung Tiang kim...
Nyoo Hong leng dapat merasakan pula keadaan dari rekannya itu, dia merasa
didalam pertarungan sengit yang sedang berlangsung sekarang, Buyung Im seng
makin bertambah perkasa, perubahan jurus serangannya pun makin lama semakin
aneh dan hebat.
Melihat hal mana, nona itu jadi berlega hati, maka disamping mengendorkan
serangannya membiarkan Buyung Im seng menyambut hampir sebagian besar
serangan yang dilancarkan pihak lawan, diam-diam ia mulai mengatur
pernapasannya untuk memulihkan kembali kesegaran badannya.
Tak selang berapa saat kemudian, ketiga orang itu sudah bertarung lagi sebanyak
lima puluh gebrakan.
Ketika Buyung Tiang kim menyaksikan pertarungan yang telah berlangsung
hampir mencapai seratus lima puluhan jurus ini belum bisa diakhiri dengan suatu
kemenangan, bahkan bukan saja ia tak berkeyakinan tentang hasil pertarungan
nanti, malahan pihak lawan bertarung semakin nampak perkasa.
Dengan perasaan bergetar keras lantaran terperanjat, ia lantas berpikir :
"Bila aku tak dapat melukai parah salah seorang diantara dua orang musuh yang
sedang kuhadapi sekarang dalam dua ratus jurus mendatang, mungkin sulit bagiku
untuk meraih kemenangan dari pertarungan yang sedang berlangsung hari ini."
Ternyata disaat permulaan pertarungan itu dilangsungkan, dia merasa Nyoo Hong
leng selain memiliki kecerdasan otak yang luar biasa bahkan memiliki pula ilmu
silat yang jauh lebih tangguh dari pada kepandaian Buyung Im seng.
Asal ia sanggup melukai Nyoo Hong leng, kemudian baru menghadapi Buyung Im
seng, maka suasana pasti dapat dikuasai lebih gampang lagi.
Siapa tahu meski sudah bertarung ratusan gebrakan, kenyataannya Buyung Im
seng bertarung setangguh baja, makin bertarung semakin tangguh malahan secara
lamat-lamat dia berperasaan kalau kepandaian anak muda ini agaknya masih
berada di atas Nyoo Hong leng.
Kenyataan yang terbentang segera timbul niatnya untuk menyelesaikan
pertarungan ini secepat mungkin, jurus-jurus serangan yang tangguh dan
mematikan segera digunakan beruntun, dia berharap bisa melukai Buyung Im seng
lebih dahulu.
665
Siapa tahu justru sikapnya yang tak menentu dan berubah kesan kemari inilah,
selain memberi kesempatan yang sangat baik buat Buyung Im seng, juga memberi
kesempatan yang baik untuk Nyoo Hong leng.
oooOooo
Pada umumnya kawanan jago lihai tentu memiliki dasar tenaga dalam yang
sempurna.
Begitu Nyoo Hong leng memperoleh peluang untuk beristirahat, secara diam-diam
ia lantas mengatur pernapasannya untuk memulihkan kembali kesegaran
tubuhnya, benar ia tak bisa mengatur napas sambil berhenti bergerak hingga
kekuatan tubuhnya benar-benar pulih kembali seperti sedia kala, tapi justru
karena adanya kesempatan ini maka keletihan yang semula mencekam tubuhnya
sudah jauh berkurang.
Tatkala dia merasa kemampuannya untuk bertempur telah pulih kembali, dengan
cepat sepasang telapak tangannya digetarkan semakin kencang, dari taktik
bertahan kini dia berubah menjadi posisi menyerang, serunya dengan lantang :
"Hai toako ! Dugaanku tidak salah bukan ?"
Agak tertegun Buyung Im seng menghadapi pertanyaan tersebut, dengan
keheranan ia bertanya :
"Apa yang kau maksudkan ?"
Karena pikirannya bercabang, Buyung Tiang kim segera manfaatkan kesempatan
itu untuk menyarangkan kedua buah pukulannya, nyaris anak muda itu termakan
sodokan lawan.
Dalam terkesiapnya buru-buru Buyung Im seng mengerahkan segenap perhatian
dan tenaganya untuk melakukan perlawanan.
Akhirnya setelah dibantu oleh Nyoo Hong leng dan melepaskan dua belas buah
pukulan berantai, mereka berhasil juga mengendalikan kembali posisi mereka yang
terdesak dan kritis tadi.
Sambil menghembuskan napas panjang dia pun berseru :
"Oooh, sungguh berbahaya sekali, kita tak boleh membiarkan dia merebut setitik
keuntungan pun dari kita."
"Kau hanya tahu berbicara, tak tahu bagaimana mesti mempergunakan otak, coba
kalau meniru caraku, tanggung jalan pikiranmu tak akan sampai bercabang,"
Setelah berhenti sejenak, kembali ujarnya.
"Tadi aku mengatakan kalau dia bukan Buyung Tiang kim yang asli, nampaknya
dugaanku itu tak bakal salah."
"Atas dasar apa kau berkata demikian ?"
"Semua kitab silatmu diperoleh dari kitab pusaka yang ditulis sendiri oleh Buyung
Tiang kim, seandainya dia benar-benar Buyung Tiang kim yang asli, masa tidak ia
ketahui bagaimana cara untuk mematahkan seranganmu itu ? Padahal
kenyataannya dia seperti sama sekali tidak tahu menahu akan hal ini."
666
"Ucapan nona ada alasannya juga, yaa, betul, hampir saja aku terkecoh olehnya."
Mendadak ia merasakan semangatnya berkobar kembali, serangan-serangan yang
dilancarkan pun bertambah menghebat.
Terdengar Nyoo Hong leng berkata lagi :
"Bila kita berdua dapat berhasil menguasainya, rahasia yang meliputi perguruan
tiga malaikat ini pasti dapat kita ungkap sampai tuntas."
"Betul juga apa yang nona katakan."
Dalam pembicaraan yang berlangsung antara kedua orang itu, mereka saling
menambah semangat rekannya sehingga semangat bertarung mereka tampak
makin berkobar.
Buyung Tiang kim sama sekali tidak menyangka kalau ilmu silat yang dimiliki
muda mudi ini demikian lihainya, bahkan kepandaian silat yang mereka berdua
miliki nampaknya mengalami kemajuan yang sangat pesat dalam pertarungan itu.
Makin lama dia merasa gelagat semakin tidak menguntungkan, maka sesudah
melancarkan dua buah serangan gencar, mendadak tubuhnya melompat mundur
sejauh lima langkah dari posisi semula.
"Kenapa tidak bertarung lebih jauh ?" tegur Nyoo Hong leng sambil tertawa
hambar.
"Hm, sekalipun pertarungan dilangsungkan lebih jauh, belum tentu kalian berdua
mempunyai kesempatan untuk menangkan diriku." sahut Buyung Tiang kim tawar.
"Kalau memang begitu, apa salahnya bila pertarungan dilanjutkan lebih jauh."
"Lohu segan bertarung lebih jauh dengan kalian berdua !"
"Kami tak sudi menyerahkan diri dengan begitu saja." sela Nyoo Hong leng cepat,
"kecuali menggunakan cara kekerasan, sebelum kau berhasil menangkan kami
berdua, rasanya tiada cara lain yang lebih baik lagi untukmu..."
Para muka Buyung Tiang kim berubah menjadi hijau membesi. Jelas dia sudah
dibikin gusar oleh ejekan dan sindiran dari Nyoo Hong leng itu, sambil tertawa
dingin serunya.
"Aku mempunyai banyak kesempatan untuk membinasakan kalian berdua, tapi
mengingat hatiku memang bajik..."
Agaknya Nyoo Hong leng memang berniat memancing kobaran hawa amarahnya,
belum selesai orang itu berbicara, dia telah menukas dengan cepat :
"Hal ini hanya bisa menyalahkan dirimu yang kurang dalam kecerdasan, sehingga
perhitunganmu sama sekali meleset."
Kemudian setelah berhenti sejenak, sambungnya lebih jauh.
"Sekarang kami sudah berada dalam keadaan bahaya, soal mati hidup merupakan
suatu pertanyaan besar, bila kami dapat menangkan dirimu berarti kami akan
memperoleh harapan untuk melanjutkan hidup. Oleh karena itu kecuali kau dapat
membunuh kami berdua, kalau tidak, hari ini jangan harap bisa meninggalkan
ruangan batu ini."
667
"Baik ! Loloskan senjata kalian !" seru Buyung Tiang kim dengan amat geramnya.
Nyoo Hong leng memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, lalu berkata :
"Pedang kami telah ditahan di luar ruangan, berarti sekarang kami tidak
membawanya, cuma..."
Buyung Im seng berseru cepat dengan perasaan gelisah :
"Locianpwe, senjata tajam tak bermata, jika digunakan tentu ada yang jatuh
korban, apa gunanya mesti beradu jiwa ?"
"Hm, sungguh tak kusangka kau adalah seorang manusia pandai yang bisa
merahasiakan diri" ucap Buyung Tiang kim dingin, "setelah lohu tertipu satu kali,
tak nanti aku akan tertipu untuk kedua kalinya..."
Mendadak Nyoo Hong leng mengunci pintu ruangan tersebut, kemudian ujarnya
dengan wajah serius :
"Toako, percuma banyak bicara, hati orang ini sekeras baja, jangan harap
perkataanmu dapat meluluhkan hatinya, terpaksa kita harus berjuang untuk
mempertahankan hidup dengan melangsungkan pertarungan mati hidup
melawannya."
Mendadak tangannya merogoh ke saku, tahu-tahu dari balik celana dalamnya dia
telah mengeluarkan sebuah sarung pedang yang berwarna hijau muda.
Panjang sarung pedang itu hanya delapan inci dua hun. Itu berarti pedang yang
sudah diloloskan dari sarungnya hanya sepanjang delapan inci belaka. Ketika Nyoo
Hong leng menekan tombolnya, pedang pendek itu segera lolos dari sarungnya,
bahkan merupakan pedang jantan betina yang bersatu padu.
Tubuh pedang itu amat tipis, tetapi mendengungkan segulung hawa dingin yang
menggidikkan hati.
Nyoo Hong leng memberikan sebilah pedang pendek yang jantan kepada Buyung Im
seng, kemudian berkata :
"Ibuku pernah bilang bila jiwaku tidak benar-benar terancam, pedang ini tak boleh
digunakan secara sembarangan, sebab pedang ini membawa hawa jahat, setelah
diloloskan dari sarung, maka sebelum mengendus darah, senjata mana tak akan
masuk kembali ke dalam sarungnya. Hari ini situasi yang kritis telah memaksaku
mengeluarkan pedang ini, karena mati hidup kita benar-benar terancam.
Tampaknya sebelum darah berceceran, keadaan tak bakal berakhir."
Kemudian dia mengayunkan pedangnya menuding ke arah Buyung Tiang kim,
serunya :
"Sekarang kau pun boleh meloloskan senjatamu."
Dengan sorot mata tajam Buyung Tiang kim mengawasi pedang pendek tersebut
tampak berkedip, sikapnya nampak tegang sekali.
Nyoo Hong leng berkerut kening, lalu bentaknya dengan suara nyaring :
668
"Jika kau tidak meloloskan senjatamu lagi, jangan salahkan kalau kami akan turun
lebih dulu !"
Seperti baru mendusin dari impian, buru-buru Buyung Tiang kim berseru dengan
gugup.
"Darimana kau peroleh pedang pendek ini ?"
Nyoo Hong leng tertawa hambar.
"Apakah kau ingin mengetahui riwayat pedang pendek ini ?"
"Benar !"
"Darimanakah pedang pendek ini kudapatkan, mungkin hanya kau seorang yang
tahu, bila aku tidak mengatakannya, maka selama hidup jangan harap kau bisa
mengetahuinya, cuma aku masih mempunyai satu cara yang mungkin bisa
membuatku untuk membereskan keadaan yang sebenarnya."
"Bagaimanakah cara tersebut ?"
"Kau memberitahukan rahasia tentang perguruan tiga malaikat tersebut kepadaku
dan aku akan memberitahukan keadaan yang sebenarnya dari pedang pendek ini
kepadamu, dengan demikian kedua belah pihak sama-sama tidak menderita
kerugian."
"Bagaimana caranya lohu bisa mempercayai dirimu ? Kau si bocah perempuan
meski berusia sangat muda, namun liciknya bukan kepalang."
"Ya, sama-sama, akupun sama saja tak mempercayai dirimu, tapi hal tersebut
bukan merupakan sebuah simpul mati yang tak dapat dipecahkan, aku telah
menemukan sebuah cara untuk menyelesaikan persoalan ini."
"Aai... kau memang sangat pintar" seru Buyung Tiang kim, sesudah berseru
tertahan, "entah bagaimanakah caramu itu ? Coba kau katakan lebih dulu kepada
lohu."
"Kita seorang mengucapkan dua patah kata, masing-masing pihak pasti tak bakal
rugi."
"Cara ini memang bagus sekali, hanya tidak kuketahui siapakah yang harus
berbicara lebih dulu."
"Mengapa ?"
"Seluk beluk tentang perguruan tiga malaikat pasti rumit dan banyak perihal yang
pelik, berapa puluh patah kata tak mungkin bisa diselamatkan, berbeda dengan
riwayat pedang pendekku ini, hanya berapa patah kata saja segala sesuatunya
akan beres, mungkin saja kau baru berbicara sampai setengah jalan, aku telah
menyelesaikan penuturan ku."
"Coba kau hitung lebih dahulu, kurang lebih berapa patah kata yang kau butuhkan
untuk menjelaskan riwayat pedang pendekmu itu ?"
Nyoo Hong leng berpikir sebentar, kemudian sahutnya,
"Lebih kurang puluhan patah kata, aku rasa segala sesuatunya sudah dapat dibikin
jelas."
669
"Baik ! Kalau begitu lohu akan berbicara lebih dahulu."
"Tunggu sebentar," mendadak Nyoo Hong leng kembali berseru.
"Hm ! Kau si budak kecil memang paling banyak permainan busuknya...."
"Kau harus ingat baik-baik, meskipun pembicaraan ini dimulai dari kau, jika
ucapanmu tidak benar dan memutar balikkan fakta, maka jangan harap kau bisa
mendengar sesuatu keterangan dari mulutku."
"Lohu telah mencoba kelihaianmu itu" sahut Buyung Tiang kim.
Kemudian setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan.
"Lohu dengan dua orang yang lain bekerja sama menciptakan perguruan tiga
malaikat ini."
Kemudian setelah mendehem pelan, dia meneruskan :
"Keterangan lohu ini cukup jelas bukan ?"
Nyoo Hong leng termenung sejenak, kemudian berganti dia yang memberi
keterangan tentang pedangnya, ia berkata begini :
"Pedang pendekku ini terbagi menjadi pedang jantan dan pedang betina, keduaduanya
tersimpan didalam sebuah sarung."
Mendengar ucapan mana, Buyung Tiang kim segera berkerut kening, serunya
cepat.
"Walaupun kau memberi keterangan cukup jelas, namun apa yang kau terangkan
itu diketahui pula setiap orang."
"Itukan cuma pembukaannya saja ! Tentu tak bisa dianggap sebagai suatu rahasia
besar. Apalagi kau sendiripun hanya mengucapkan basa basi belaka dalam
permulaan keteranganmu tadi, itu namanya setali tiga uang, kita sama-sama tak
bakal menderita kerugian."
"Kami bertiga mempunyai kedudukan yang jauh berbeda," Buyung Tiang kim
melanjutkan kembali keterangannya, "yakni seorang pendeta, seorang tojin dan
seorang preman, orang yang preman itu tak lain adalah lohu sendiri."
Sekarang gantian Nyoo Hong leng yang memberi keterangan :
"Sepasang pedang jantan betinaku ini kuperoleh dari hadiah seorang cianpwe dunia
persilatan, tokoh persilatan yang baik hati itu adalah seorang perempuan."
"Siapakah nama perempuan itu ?"
"Maaf, aku sudah menyelesaikan kedua patah kata yang wajib kuucapkan..."
"Aaah !" Buyung Tiang kim berseru tertahan, "kau masih membutuhkan berapa
kali bicara untuk menyelesaikan semua keteranganmu itu ?"
Nyoo Hong leng tertawa hambar.
"Itu mah tergantung pada dirimu sendiri, seandainya keteranganmu cukup jelas
dan memuaskan, siapa tahu aku hanya membutuhkan dua kali kesempatan
berbicara untuk menyelesaikan keteranganku itu ? Tapi bila keteranganmu sendiri
670
tidak jelas dan berusaha untuk memutar balikkan keadaan, siapa tahu kalau
keteranganku itu tak pernah akan selesai."
"Padahal lohu hanya ingin memahami dua hal itu" ucap Buyung Tiang kim
kemudian.
"Aku mengerti !"
"Budak yang pandai bersilat lidah, katakanlah apa yang lohu ingin ketahui itu
secepat mungkin !"
"Aku mengerti persoalan apa yang hendak kau tanyakan, pertama bukankah kau
ingin mengetahui siapakah orang yang menghadiahkan pedang pendek ini
kepadaku dan kedua, kau ingin mengetahui dia berada dimana sekarang, bukan
demikian ?"
Buyung Tiang kim tertegun untuk beberapa saat lamanya, lalu mengangguk
berulang kali.
"Betul, betul !"
Dengan paras muka amat serius Nyoo Hong leng berkata :
"Kau tidak seharusnya memaksa aku untuk bersantap, kaupun tidak seharusnya
membawa dirimu masuk ke dalam suasana yang terjepit seperti ini, sekarang lebih
baik tak usah membeberkan rahasia tentang perguruan tiga malaikat, kalau tidak,
jangan harap kau dapat mengetahui rahasia yang ingin kau ketahui itu."
Buyung Tiang kim manggut-manggut.
"Sewaktu kami mendirikan perguruan tiga malaikat, tujuannya semula adalah
mulia, kami berharap dapat menciptakan suatu kekuatan yang sangat besar dan
istimewa di dalam dunia persilatan hingga dapat menggetarkan seluruh sungai
telaga, kami pun berharap semua pertikaian dan persengketaan yang seringkali
terjadi dalam dunia persilatan bisa dihindari, agar dunia persilatan selalu berada
dalam keadaan damai, tentram, jauh dari persengketaan dan balas membalas yang
berakibat banyak korban berjatuhan."
Mendengar sampai di situ, Nyoo Hong leng lantas berkata :
"Kali ini keterangan yang kau ucapkan memang tidak hanya dua tiga patah kata
saja, namun isinya justru amat miskin, bila kita terus bersilat lidah dengan cara
semacam ini, berbincang semalam suntuk pun belum tentu dapat diperoleh suatu
keterangan secara lengkap."
"Lantas bagaimana menurut kehendak nona ?"
"Lebih baik kita bertukar cara saja."
"Baik akan kudengarkan penjelasanmu yang sebenarnya."
"Kedua belah pihak harus memberikan keterangan dengan sejujurnya dan setulus
hati mungkin, masing-masing pihak tidak boleh bersilat lidah dengan kata-kata
yang bernada diplomatis, kalau bisa dalam tiga sampai lima patah kata segala
sesuatunya sudah menjadi jelas.:
"Bagus sekali ! Bagus sekali ! Tapi siapakah diantara kita yang harus mulai
berbicara lebih dulu ?"
671
"Kali ini tentu saja kau yang bertanya lebih dahulu."
"Ehmm, memang sangat adil !"
Sesudah berhenti sejenak, Buyung Tiang kim mulai bertanya :
"Orang yang menghadiahkan pedang jantan dan betina ini, kini berada dimana ?"
"Dia berada di lembah May-hoa-kok di tebing Sian-soat-nia !"
"Lembah May-hoa-kok ? Mengapa lohu belum pernah mengetahui letak lembah
tersebut."
"Soal itu mah terpaksa harus kau tunggu sampai tiba giliranmu untuk bertanya
nanti !"
Setelah berhenti sebentar, gadis itu melanjutkan :
"Dimanakah si pendeta dan si tosu yang bekerja sama denganmu mendirikan
perguruan tiga malaikat tersebut sekarang ?"
"Suatu pertanyaan yang sangat bagus, sekarang mereka masih tetap berada di
dalam kota batu di bawah tanah ini"
"Ooh... mereka terjebak oleh siasatmu dan disekap ditempat ini.. ?"
Buyung Tiang kim tidak menjawab pertanyaan itu, dia segera mengajukan
pertanyaannya lagi :
"Dimanakah letak lembah May-hoa-kok tebing Sian-soat-nia tersebut ?"
"Eee... bagaimana ini ? Apakah ucapanmu tersebut dianggap pula sebagai sebuah
jawaban ?"
"Jawabanku sudah kuberikan sejelas-jelasnya. Asal kau mau berpikir sebentar
dengan mempergunakan otak, seharusnya hal mana bisa kau ketahui dengan amat
jelas."
Kemudian setelah termenung dan berpikir sebentar, dia bertanya lagi :
"Kau bilang dia gemar sekali menanam bunga."
"Baiklah", kata si nona kemudian, "biar aku yang rugi sedikit dengan memberi
keterangan lebih lengkap kepadamu."
Sesudah termenung beberapa waktu, dia melanjutkan :
"Tebing Sian-soat-nia terletak di atas tanah perbukitan karang yang tandus dan
curam, dimanapun dapat mengubur bunga?"
"Mengapa begitu ?" tanya Buyung Tiang kim.
"Locianpwe yang menghadiahkan pedang pendek tersebut kepadaku sangat gemar
bebungaan, oleh karena itu setiap bunga mulai layu dan berguguran di atas tanah,
diapun membawa cangkul dan keranjang untuk menjelajahi seluruh lembah untuk
mengubur bunga-bunga yang telah berguguran ke atas tanah, itulah sebabnya
lembah yang dihuni olehnya dinamakan lembah pengubur bunga.
"Ooh.. kiranya begitu."
672
Sekarang tiba giliran Nyoo Hong leng yang bertanya :
"Pendeta dan tosu yang bersama-samamu mendirikan tiga malaikat apakah masih
sehat walafiat sampai sekarang ?"
"Benar, mereka masih tetap hidup segar sampai sekarang."
"Aku sudah mengerti. Mungkin lantaran cita-cita kalian semula sewaktu
mendirikan perguruan tiga malaikat adalah kebajikan dan bertujuan mulia,
selanjutnya pandangan masing-masing pihak berbeda, maka kaupun menyekap
mereka ditempat ini, apakah begitu ?"
Buyung Tiang kim termenung lagi sesaat, kemudian katanya :
"Baiklah ! Lohu pun menderita sedikit kerugian, kau berhasil menebaknya secara
jitu."
Nyoo Hong leng tersenyum.
"Sekarang giliranku yang bertanya"
"Siapakah nama orang yang menghadiahkan sepasang pedang kepadamu...?"
"Dia she Tian bernama Ciat yok !"
"Tak bakal salahkan nama tersebut,"
"Nama tersebut bukan samaran, melainkan nama sesungguhnya dari orang itu."
"Baik ! Sekarang giliran kau yang bertanya."
"Benarkah kau Buyung Tiang kim yang asli ?"
Tampaknya pertanyaan tersebut benar-benar merupakan suatu pertanyaan yang
sangat telak, Buyung Tiang kim jadi tertegun dan untuk sesaat lamanya tak
mampu mengucapkan sepatah katapun.
Dengan suara lembut Nyoo Hong leng segera berkata, "Apa yang kuberitahukan
kepadamu semuanya adalah kata-kata sejujurnya, maka kaupun tak boleh
membohongi aku."
"Kau budak cilik benar-benar pintarnya bukan kepalang, sekalipun lohu ingin
membohongi dirimu, rasanya juga belum tentu bisa berhasil..."
"Aah, kalau begitu mengakulah secara berterus terang."
"Lohu bisa mengatakan kalau bukan...." kata Buyung Tiang kim pelan.
Selama ini Buyung Im seng memperhatikan terus perkataan lawan, terutama
ucapan yang terakhir ini, dengan cepat ia menimbrung :
"Mengapa kau harus menyaru sebagai Buyung Tiang kim ?"
"Aku sedang berbincang-bincang dengan nona Nyoo, lebih baik kau tutup mulut !"
tukas Buyung Tiang kim dingin.
Nyoo Hong leng menjadi marah.
"Aku lihat, lebih baik kita tak usah melanjutkan perbincangan ini lagi..."
"Mengapa ?"
673
"Aku tidak mengerti apa yang dimaksudkan dengan " Boleh dibilang bukan itu !"
"Beritahu dulu kepadaku, apa hubunganmu dengan Thian Ciat yok tersebut.
Kemudian lohu baru mengungkapkan latar belakang dari peristiwa ini..."
"Dia adalah ibuku."
"Seharusnya lohu sudah dapat menduga ke situ."
"Aku rasa pertanyaanmu sudah habis kau tanyakan, bila kau adalah seorang yang
memegang janji, sekarang boleh kau ungkapkan latar belakang dari persoalan ini,
tapi kalau kau menganggap dirimu adalah seseorang yang tidak usah memegang
janji, maka kau pun tak usah mengungkap hal mana. Padahal kau hendak
berbicara atau tidak, hal tersebut sudah bukan suatu hal yang penting lagi,"
"Mengapa ?"
"Sebab sekalipun tidak kau katakan, akupun dapat menduga enam tujuh puluh
persen diantaranya, tentu saja dibalik kesemuanya itu masih terdapat banyak halhal
yang tak mungkin bisa kutebak."
"Ehmm, kalau begitu coba kau katakan dahulu !"
"Pertama, aku berani memastikan kalau kau bukan Buyung Tiang kim yang asli."
Buyung Tiang kim tertawa hambar.
"Lanjutkan. Asal kau benar-benar bisa menduga garis besarnya, andaikata
diantaranya terdapat hal-hal yang kurang, lohu bersedia untuk menambahkannya,
cuma..."
"Cuma kenapa ?"
"Seandainya kalau salah, lohu pun tak akan menyambung apa-apa."
"Baiklah, mari kita coba."
"Lohu akan mendengarkan dengan seksama."
"Kalian bertiga yang menyaksikan dunia persilatan penuh dengan pertikaian dan
pembunuhan, maka timbullah niat bajik untuk mendirikan perguruan tiga
malaikat, maksudnya untuk melenyapkan pertikaian yang terjadi dalam dunia
persilatan, hingga pembunuhan dan pertikaian yang tidak diperlukan bisa
dihindari."
Buyung Tiang kim manggut-manggut.
"Semula tujuan lohu memang demikian !"
"Tapi kemudian kau telah berubah, karena kedua orang rekanmu tidak bersedia
menyelewengkan cita-cita dan tujuan yang semula ketika mendirikan perguruan
tiga malaikat tersebut, maka kaupun menggunakan cara keji menyekap mereka
berdua di sini, bahkan dijebloskan ke dalam kota batu di bawah tanah.
Buyung Tiang kim segera tersenyum.
"Kau hanya berhasil menebak benar separuh, sebab orang yang mula-mula ingin
menyelewengkan cita-cita dan tujuan semula dalam mendirikan perguruan tiga
malaikat bukanlah lohu !"
674
"Bukan kau ? Lantas siapa ?" seru Nyoo Hong leng dengan kening berkerut
kencang.
"Soal ini lebih baik nona duga sendiri." Buyung Tiang kim tertawa.
"Peraturan partai Siau-lim selamanya ketat dan disiplinnya tinggi, ilmu silat
perguruan inipun terhitung paling top dan paling berjasa dalam usaha mendirikan
perguruan tiga malaikat ini, itu berarti orang yang berasal dari kuil Siau-lim-si ini
mempunyai kedudukan amat tinggi, menurut dugaanku, sudah pasti orang tersebut
bukan seorang hwesio dari Siau-lim-pay."
"Lagi-lagi tembakannya tepat sekali, dari kami bertiga, lohu tidak bermaksud
menyeleweng tujuan perguruan, pendeta agung dari Siau lim pay pun tidak, berarti
orang itu adalah pihak yang ketiga, cuma siapakah aku rasa tak usah diterangkan
lagi. Namun lohu merasa heran, pendeta dikolong langit ini berjumlah puluhan
ribu, dan sebagian besar tidak termasuk anggota Siau-lim, darimana kau yakin jika
pendeta itu berasal dari perguruan Siau-lim ?"
"Jika aku disuruh menjawab sejujurnya maka jawabanku adalah untung-untungan
saja. Karena pendeta dari Siau-lim-si paling tidak mempunyai kemungkinan yang
jauh lebih besar daripada orang lain."
"Lanjutkan perkataanmu !"
Jelas perubahan dibalik kejadian tersebut membuat Nyoo Hong leng merasa
kesulitan untuk menjawab lebih jauh, setelah termenung sampai lama sekali, dia
baru melanjutkan.
"Kau tak ingin cita-cita dan tujuan semula sewaktu mendirikan perguruan tiga
malaikat diselewengkan orang maka kaupun mencelakai mereka, akan tetapi
setelah kau berhasil mengendalikan perguruan tiga malaikat seorang diri, kau
sendiripun turut berubah, kau berambisi untuk menguasai seluruh jagad dan
memerintah semua umat persilatan, bukankah demikian ?"
"Kali ini dugaanmu hampir sebagian besar benar, tapi diantaranya masih terjadi
lagi suatu peristiwa lain yang menyebabkan aku segera merubah tujuanku semula."
"Sudah kukatakan tadi, diantaranya mungkin saja terjadi peristiwa-peristiwa lain,
dan aku tak mungkin bisa menebak seluruh peristiwa kecil tersebut."
"Maka dari itulah lohu harus memberikan keterangan tambahan, yakni aku
terpengaruh oleh seorang perempuan."
Ketika berkata sampai di situ, sepasang matanya segera dialihkan ke atas pedang
pendek yang berada ditangan Nyoo Hong leng itu.
Menyaksikan tindak tanduk orang, Nyoo Hong leng merasakan hatinya bergetar
keras, serunya kemudian :
"Apakah perempuan itu ada hubungannya dengan pedang pendek ini ?"
"Lohu hanya bilang, ketika itu perempuan tersebut memang membawa sepasang
pedang pendek tersebut, tapi pedang adalah benda, bisa jadi dia akan berganti
pemilik, maka sebelum berjumpa dengan orang itu, lohu tak berani memastikan."
675
"Ehmm, agak bisa diterima dengan akal ucapanmu itu !"
"Baiklah, sekarang kau boleh melanjutkan perkataanmu, cuma lohu tak bisa
selamanya tetap tinggal di sini."
"Keadaan secara garis besarnya sudah kuketahui, hanya ada satu hal yang masih
tak aku pahami."
"Dalam hal apa ?"
Buyung Tiang kim mengangkat kepalanya dan tertawa terbahak-bahak, suaranya
nyaring dan menggema sampai lama sekali.
Begitu ia tertawa, kontan Nyoo Hong leng yang cerdas dan cekatan ini dibuat
kebingungan setengah mati dan tidak habis mengerti, akhirnya karena tak tahan
diapun menegur :
"Apa yang kau tertawakan ?"
"Sesungguhnya hal ini tak sulit diduga cuma kemungkinan yang terselip dibalik
peristiwa itu kelewat banyak, hingga kalau harus ditebak sudah pasti akan
membuang banyak waktu."
Buyung Tiang kim segera tertawa.
"Nona sudah pernah jumpa dengan Buyung Tiang kim ?"
"Belum pernah>"
Kemudian sambil berpaling dan memandang sekejap ke arah Buyung Im seng, dia
bertanya :
"Toako, masih ingatkah kau dengan raut wajah ayahmu ?"
Buyung Im seng segera menggeleng.
"Kami ayah dan anak belum pernah jumpa muka, aaii... seandainya salah seorang
saja diantara ketiga orang pamanku ada yang hadir di sini, niscaya dalam sekejap
mata dapat mengenali identitasnya."
"Dalam kota batu di bawah tanah ini tersekap puluhan orang lihai yang termasyhur
namanya dalam dunia persilatan, tetapi tiada seorang pun yang memahami
identitas lohu."
"Kalau begitu, hanya kau sendiri yang dapat mengatakan hal ini."
"Budak, tak nyana kecerdasanmu hanya terbatas sampai di sini saja, lohu tak akan
beradu mulut dengan kalian lagi."
Nyoo Hong leng segera tertawa dingin.
"Sayang sekali kau sudah tidak dapat meloloskan diri dari sini lagi" serunya.
"Jadi kalian benar-benar hendak menghalangi kepergian lohu ?"
"Kalau tidak percaya silahkan saja dicoba sendiri, sebelum kami meninggalkan
tempat ini, jangan harap kaupun bisa meninggalkan tempat ini."
Buyung Tiang kim menggetarkan pedangnya, mendadak terlintas cahaya perak
yang membelah ke tengah angkasa.
676
Nyoo Hong leng menggerakkan pula pedang pendeknya untuk menangkis "Traaang
!" suatu benturan nyaring yang memekakkan telinga berkumandang memecahkan
keheningan, tahu-tahu ia telah menangkis datangnya ancaman itu.
Buyung Tiang kim kembali menggetarkan pedangnya kesana kemari, dalam waktu
sekejap dia melancarkan lagi tiga buah serangan berantai yang maha dahsyat.
Ketiga buah serangan tersebut semuanya dilancarkan dengan amat dahsyatnya.
Nyoo Hong leng yang menggunakan senjata kelewat pendek sulit untuk
membendung ancaman tersebut dia segera terdesak sampai mundur beberapa
langkah.
Buyung Im seng membentak keras, dia maju sambil melancarkan serangan. Dalam
waktu singkat ketiga orang itu sudah terlibat dalam suatu pertempuran yang amat
seru.
Hawa pedang segera mengembang dalam seluruh ruangan batu, cahaya kilat
beterbangan kemana-mana dan menyilaukan mata, benar-benar suatu pertarungan
yang mengerikan hati.
Sekalipun jurus serangan yang digunakan Buyung Tiang kim rata-rata sangat
tangguh dan hebat, akan tetapi setelah dikerubuti oleh Nyoo Hong leng dan Buyung
Im seng yang menyerang dengan sepenuh tenaga, meski dua ratus gebrakan sudah
lewat, nyatanya menang kalah masih belum bisa ditentukan.
Sekarang Buyung Tiang kim baru benar-benar merasakan kelihaian dari kerja
sama muda mudi itu.
Pedang pendek Nyoo Hong leng lebih mengutamakan kelincahan serta kegesitan di
dalam gerakan, sebaliknya Buyung Im seng lebih mengutamakan kesempurnaan
tenaga dan kemantapan dalam melancarkan serangan, kerja sama yang amat jitu
dari kedua orang ini dengan persis berhasil saling menutupi kekurangan kedua
belah pihak hingga terciptalah suatu kerja sama yang amat sempurna.
(Bersambung ke Jilid 33)
677
Lembah Tiga Malaikat
Oleh: Tjan
Jilid 33
Lima puluh jurus kembali lewat, sekarang Buyung Tiang kim telah yakin kalau dia
tak akan berhasil menaklukan kedua orang itu dalam permainan ilmu pedang dan
ilmu pukulan, kina satu-satunya cara yang masih bisa diandalkan adalah
mengandalkan tenaga dalam yang sempurna untuk melukai salah seorang
diantaranya, asal salah satu diantara mereka sudah terluka, maka kesempatan
untuk meraih kemenangan akan segera terbuka.
Namun kerja sama kedua orang itu benar-benar amat lihai, mereka selalu berusaha
keras menghindarkan diri dari suatu pertarungan adu kekerasan dengan Buyung
Tiang kim.
Apa yang diucapkan Nyoo Hong leng tadi memang benar, seandainya tidak terjadi
suatu kejutan, sulit bagi Buyung Tiang kim untuk menerjang keluar dari ruangan
batu itu.
Peristiwa yang sama sekali di luar dugaan ini kontan membuat Buyung Tiang kim
merasa amat menyesal, dia menyesal tidak seharusnya menitahkan dua orang
dayangnya pergi jauh.
Seandainya kedua orang dayang tersebut masih berjaga di luar pintu, maka
pertarungan sengit yang tidak menguntungkan semacam ini pasti bisa diselesaikan,
tanpa disuruh pun mereka pasti akan pergi mencari bala bantuan.
Asal ada orang yang sanggup menghadapi Nyoo Hong leng atau Buyung Im seng
sebanyak sepuluh jurus saja, dia pasti bisa memanfaatkan kesempatan selama
sepuluh jurus itu untuk melukai salah seorang diantara mereka berdua, dan bila ini
sampai berhasil, niscaya situasinya akan mengalami perubahan besar.
Sebenarnya dia ingin berteriak memanggil datang kedua orang dayangnya tapi
diapun merasa cara seperti ini hanya akan menurunkan derajatnya dimata orang,
apa lagi Nyoo Hong leng telah menutup rapat pintu ruangan tersebut, apakah
678
kedua orang dayangnya bisa mendengar suara panggilannya masih merupakan
sebuah tanda tanya besar.
Karena ingatan mana melintas dalam benaknya, tanpa terasa perhatiannya
menjadi bercabang, seketika itu juga Buyung Im seng dan Nyoo Hong leng
memanfaatkan peluang itu untuk menyerang lebih gencar dan berusaha merebut
posisi yang lebih menguntungkan.
Sepasang pedang bergerak kian kemari, tekanan diperhebat beberapa kali lipat,
seketika itu juga dia kena didesak mundur sejauh lima langkah ke belakang.
Buyung Tiang kim benar-benar merasa amat terperanjat, buru-buru dia
menenangkan hatinya, kemudian dengan sepenuh tenaga melancarkan lima buah
serangan balasan.
Setelah bersusah payah, akhirnya dia berhasil juga memaksakan suatu posisi yang
seimbang dengan lawan-lawannya.
Kini kedua belah pihak sama-sama telah mengerahkan segenap kepandaian silat
serta tenaga dalam yang dimilikinya hingga mencapai puncak yang dimiliki, dalam
keadaan seperti ini kedua belah pihak sama-sama tak berhasil memaksakan
musuhnya untuk mundur lagi.
Justru selisih yang kecil diantara mereka berdualah yang bakal menentukan kunci
dari menang dan kalah berhasil pertarungan ini.
Mendadak Buyung Tiang kim membentak dengan suara menggeledek:
"Tahan !"
Dia menarik serangannya lebih dulu sambil melompat mundur ke belakang...
Nyoo Hong leng memandang sekejap sekitar tempat itu, melihat kunci besi pada
pintu ruangan masih terpantek seperti semula, dia lantas berkata :
"Mereka tak mungkin bisa mendengar suara bentakanmu itu, kendatipun bisa
mendengar juga tak mungkin bisa memasuki tempat ini."
Diam-diam Buyung Tiang kim merasa terperanjat sekali, pikirnya :
"Budak ini benar-benar lihai sekali, setiap langkah setiap tindakan dia selalu
berhasil merebut posisi yang lebih menguntungkan."
"Kendatipun demikian, di luar wajahnya dia masih tetap mempertahankan
ketenangannya seperti semula," serunya.
"Budak cilik, kau berlagak sok pintar saja !"
Nyoo Hong leng sama sekali tidak memperdulikan ucapan Buyung Tiang kim, dia
berpaling dan katanya kepada Buyung Im seng.
"Ooh toako ! Tadi aku bilang dia bukan Buyung Tiang kim yang asli, sekarang
tentunya kau sudah percaya bukan ?"
"Ya, tampaknya mau tak mau harus mempercayai kenyataan tersebut...."
"Sekarang aku sudah mendapatkan sebuah cara yang baik untuk membunuh dia,
apakah kau tega untuk turun tangan ?"
679
"Soal ini, soal ini..."
"Cara terbaik tak mungkin bisa dicoba, oleh karena itu sebelum diputuskan harus
kau pikirkan dulu masak-masak."
"Mengapa ?"
"Sebab kesempatan untuk meraih kemenangan hanya ditentukan dalam waktu
singkat, jika kau tak tega turun tangan, maka aku akan segera terluka atau bahkan
tewas di ujung pedangnya, bila aku tak mampu bertempur lagi maka kau
sendiripun tak akan mampu bertahan sepuluh gebrakan lagi.."
"Lohu tidak percaya ada kejadian seperti ini