Kedele Maut

Jilid 01
Perkembangan zaman berputar tiada hentinya, corak ragam
pembunuhan didalam dunia persilatan pun ikut berkembang makin
banyak macamnya, namun dari sekian banyak corak pembunuhan,
tak satupun peristiwa yang tampak lebih aneh, lebih keji dan lebih
misterius daripada peristiwa berdarah ini.
Disebuah tempat yang berpemandangan sangat indah dibukit
Eng tong coa, berdiri belasan orang kakek bertubuh kekar. Mereka
semua adalah ketua dari perguruan kenamaan serta mempunyai
nama besar dalam dunia persilatan, tapi saat itu semuanya berdiri
tenang disitu sambil melelehkan air mata bercampur darah.
Apakah kawanan jago lihai ini telah mengalami suatu tragedy
yang memedihkan hati? Mengapa mereka mengucurkan air mata
bercampur darah…..?
Tidak! Mereka bukan sedang menangis, tapi nyawa mereka telah
melayang meninggalkan raganya. Tempat yang mematikan persis
diatas mata, diantara cucuran darah tampak dua butir kedele
menancap dalam dalam disana.
Hanya saja mayat-mayat itu tidak roboh ketanah seolah-olah
mereka tak rela untuk mati, sukma mereka seolah-olah tak mau
buyar.
Sekalipun pemandangan yang aneh, keji dan misterios ini Belum
bisa dibilang sebagai suatu pemandangan luar biasa, paling tidak
belum pernah terjadi sebelum ini….
Peristiwa aneh ini baru diketahui orang sebulan kemudian, dunia
persilatan segera dibuat gempar.

Tak seorangpun tahu mengapa tokoh-tokoh silat yang berdiam
tersebar disegala penjuru dunia persilatan ini bisa berkumpul semua
disitu? Tentu saja tiada yang mengetahui siapa pembunuhnya.
Yang membuat orang lebih keheranan adalah tidak ditemukannya
tanda-tanda perlawanan dari kawanan tokoh sakti yang berilmu silat
tinggi ini, ataukah mereka rela dirinya dibantai orang? Berita
pembunuhan ini tersebar diseluruh negeri dalam waktu singkat,
menyusul kemudian peristiwa pembunuhan dengan senjata
kedelepun berlangsung disetiap wilayah. Nyawa demi nyawa
melayang meninggalkan raga. Perasaan ngeri dan ciut makin pula
mencekam perasaan tiap umat persilatan. Maka para jago dari
golongan putih dan hitam pun bersama-sama menyebar kartu
undangan Bu lim tiap untuk mengundang segenap umat persilatan
agar merundingkan persoalan ini, serta menyelidiki siapakah
pembunuh keji itu.
Oleh karena tak ada yang tahu identitas pembunuhnya sedang
pembunuh tersebut gemar membunuh orang dengan memakai
kacang kedele, maka orangpun menyebutnya dengan “Kedele Maut”.
Kedele maut… kedele maut……
Dedaunan dibukit Cuh wi san sudah mulai rontok dan berguguran
keatas tanah, angin augur berhembus kencang menerbangkan
dedaunan dan ranting semuanya, ini memberi perasaan murung bagi
setiap orang yang berada disana. Memandang dari kaki bukit,
tampaklah diantara hutan yang mulai gandul, dipunggung bukit
berdirilah sebuah perkampungan yang tidak terlalu besar juga tidak
terlalu kecil, didepan pintu perkampungan tergantung sebuah papan
nama yang bertuliskan “Sam Goan Bun”.
Warna emas diatas papan nama itu sudah mulai luntur, hal ini
membuktikan kalau partai Sam Goan Pay telah berdiri banyak tahun.
Menyinggung soal nama Sam goan pay dalam dunia persilatan,
meski banyak orang yang mengetahuinya, Namun segan orang
membicarakan, sudah tentu kekuasaan dan kemampuannya belum
bisa dibandingkan partai-partai besar seperti Bu tong pay atau Siauw
lim pay….
Meski begitu Sam goan bun pernah mempunyai sejarah yang
cemerlang, seratus tahun berselang bukan saja nama Sam goan bun
jauh lebih kesohor daripada partai besar, malah partai tersebut
menduduki cursi Bu lim bengcu yang terhormat.

Tapi mengikuti perputaran zaman, kekuatan perguruan itu lambat
laun makin melemah, nama besarnya ikut memudar. Apalagi saat ini,
sedemikian lamanya kekuatan Sam goan bun sehingga nyaris tak
mampu menancapkan kakinya lagi dalam percaturan dunia
persilatan.
Justru karena memudarnya kemampuan partai itu, Sam goan bun
juga Amat jarana embuta perselisihan didalam persilatan, sebab
peraturan yang berlaku dalam Sam goan bun sekarang amat keras
ingá membuat setiap orang harus berpikir tiga kali sebelum
melakukan sesuatu perbuatan.
Bagi anggota perguruan yang melakukan kesalahan ringan, dia
akan dijatuhi hukuman cacat dan bagi yang melakukan kesalahan
besar dihukum mati.
Tentu saja peraturan tersebut dapat diperlakukan seketat ini
karena partai Sam goan bun memang memiliki kesulitan yang tak
mungkin bisa diutarakan lepada orang lain.
Sesungguhnya jumlah semua penghuni dalam perguruan ini
hanya tiga empat pululan orang, itupun sudah termasuk para kaki
dan para pembantu, dengan kekuatan selemah ini, sedikit saja
melakukan kesalahan dalam dunia persilatan, bisa jadi akan
mengundang musibah besar bagi seluruh partai.
Apalagi Sejas Sam goan pay kehilangan ketiga jurus ilmu
pedangnya yang paling tangguh pada seratus tahun berselang,
delatan belas jurus Sam goan kiam hoat nya menjadi tak lengkap
dan akibatnya kemampuan itu tak bisa digunakan lagi untuk
melawan kekuatan partai lain, tak heran kalau para ciangbunjinnya
turun temurun selalu berusaha mengekang diri dalam percaturan
dunia persilatan.
Tapi belakangan ini, semenjak meletusnya geger “Kedele Maut”,
partai Sam goan pay telah menerima undangan dari tujuh partai
besar agar mengutus orang-orangnya turut serta didalam
penyelidikan tersebut.
Tentu saja mereka tak dapat menolak undangan ini kecuali
mereka berani memusuhi tujh partai besar, tapi beranikah Sam goan
pay berbuat begini?
Tentu saja tidak! Seandainya ada orang menuduh mereka
sebagai komplotan dari si “Kedele Maut”, bukankah urusannya akan
semakin berabe?

Perkampungan Sam goan bun terdiri dari lima bagian, walaupun
lingkungannya tidak terhitung besar, Namur selain memberi kesan
lenggang disitu, apalagi setelah anggota perguruan dikirim Turín
gunung secara beruntun, suasana lenggang makin mencekam
seluruh perkampungan.
Waktu itu malam telah tiba mendekati kentong pertama, tiba-tiba
tampak sesosok bayang manusia munculkan diri dari balik ruang
gedung melompati pagar pekarangan dan menyusup kedalam
halaman keempat, dimana bayangan tadi menyembunyikan diri
dibalik kegelapan.
Dilihat dari gerakan tubuh bayangan manusia tersebut, gerak
geriknya sangat lamban, lagipula ilmu meringankan tubuhnya jauh
lebih buruk daripada ilmu ringan tubuh pada umumnya, cuma ia bisa
bergerak dengan hati-hati sekali sehingga tidak sampai menimbulkan
suara sedikitpun.
Halaman keempat dari perkampungan ini merupakan tempat
kediaman ketua perguruan. Waktu itu tampak seorang murid Sam
goan bun sedang berlatih pedang ditengah halaman, diantara
cahaya pedang yang berkilauan, orang itu sedang melatih lima belas
jurus ilmu pedang Sam goan kiam hoat yang sudah tak lengkap lagi
itu.
Dihadapannya berdiri seorang kekek kurus berjubah putih, dia
ádalah ketua Sam goan bun saat ini, Sun Thian hong.
Sementara itu, bayangan manusia yang sedang bersembunyi
dibalik kegelapan itu membelalakkan matanya lebar-lebar sambil
mengawasi anggota Sam goan bun yang sedang berlatih pedang
ditengah halaman, tampaknya ia dibuat terpesona.
Tak sampai setengah jam kemudian, murid Sam goan bun itu
telah selesai memainkan ilmu pedang Sam goan kiam hoat tersebut.
Kemudian sambil memberi hormat lepada Sun Thian hong, ujarnya :
“Tecu mohon kritik serta petunjuk dari ciangbun suhu!”
Sambil mengelus jenggotnya Sun Thian hong manggut-manggut,
katanya :
“Ehmmm! Kemajuan yang berhasil kau capai sungguh hebat dan
diluar dugaan, ilmu pedang Sam goan kiam hoat pun telah mencapai
delapan bagian kesempurnaan, asalkan kau bersedia melatih diri
dengan lebih tekun lagi, tidak sulit bagimu untuk mencapai
kemajuan seperti apa yang kumiliki sekarang.”
Kejut dan bercampur gembira lelaki itu bertanya :

“Maksud ciangbun suhu, teca telah lupus ujian?”
“Benar!” Sun Thian hong manggut-manggut, “Besok kau boleh
turun gunung, kebetulan ketua Siauw lim pay sedang tak puas
karena jumlah anggota perguruan kita yang menggabungkan diri
kelewat sedikit, setelah turun gunung nanti kau boleh langsung
menggabungkan diri dengan suheng serta susiokmu sekalian.”
“Tecu terima perintah.”
“Ingat baik-baik, tugasmu kali ini meski mengikuti usaha
penyelidikan atas jejak si Kedele Maut, yang betul adalah menyelidiki
kitab pusaka ilmu pedang perguruan kita yang hilang. Kita tahu,
dalam tiga generasi ini, yang menjadi tujuan utama bagi perguruan
kita adalah menemukan kembali ketiga jurus ilmu pedang kita yang
hilang, karena itu kuharap kau dapat menyelesaikan tugas
perguruan kita dengan sebaik-baiknya.”
Sekali lagi lelaki itu memberi hormat sambil mengiakan,
kemudian setelah memberi hormat dia mengundurkan diri.
Dalam pada itu bayangan manusia yang mengintip dari balik
kegelapan tampaknya merasa bahwa tiada sesuatu lagi yang bisa
dilihat, sambil menghimpun tenaganya dia segera meloncat keatas
dahan pohon, bermaksud melompat pagar pekarangan.
Tapi saat itulah, terdengar Sun Thian hong menghela napas
sambil bergumam :
“Aaai, diantara puluhan muridku, tak seorangpun yang memiliki
kemampuan hebat, hanya bocah itu berotak cerdas dan berbakat
bagus…. Tapi aku membiarkannya hidup sebagai pembantu yang
menebang kayu dan memikul air dan tak berani menerimanya
sebagai murid. Ataukah kesemuanya ini sudah merupakan suratan
takdir?”
Bergetar keras seluruh badan bayangan hitam tersebut sehabis
mendengar ucapan itu, sehingga pikirannya bercabang, hawa
murninya menjadi buyar, ranting yang diinjak pun tak mampu
menahan berat badannya lagi hingga patah menjadi dua bagian.
Suara itu lirih, tapi ditengah kegelapan malam yang hening, suara
tersebut menimbulkan gema yang cukup keras.
Agaknya orang itu tahu kalau gelagat tidak menguntungkan,
cepat-cepat dia melompat turun dari atas pohon, menyambar sebutir
batu kemudian dilemparkan kebelakang tubuhnya.
Batu tadi segera terjatuh disudut halaman sambil menimbulkan
suara lagi, dan saat itupula Sun Thian hong telah membentak keras :

“Siapa yang berani mengintip kemari?”
Menyusul bentakan tersebut, ia menerjang kesudut halaman,
sepasang matanya mengawasi sekeliling tempat itu dengan
seksama, kemudian dengan gerakan cepat dia menerjang kehalaman
kelima.
Melihat Sun Thian hong tertipu oleh lemparan batunya, bayangan
hitam yang mendekam diatas tanah dengan hati berdebar keras itu
cepat-cepat melompat bangun dan ngeloyor pergi dari situ.
Ia langsung menuju kesebuah bilik dekat dapur, begitu masuk
ruangan, lampu dipasang dan pintu dikunci rapat-rapat.
Ternyata orang itu adalah seorang pemuda berusia belasan
tahun, meskipun pakaian yang dikenakan amat sederhana, namun
tidak menutupi ketampanan wajahnya.
Dengan muka merah padam, peluh dingin bercucuran membasahi
tubuhnya, ia menutup pintu rapat-rapat kemudian menghembuskan
napas panjang.
Sudah setahun ini dia berharap belajar silat, karena itu setiap
tengah malam ia selalu menyusup kedalam halaman belakang untuk
mencuri lihat orang belajar silat. Selama ini perbuatannya belum
pernah diketahui orang! Tapi peristiwa yang baru saja dialaminya
tadi membuat dia mandi keringat dingin dan hatinya berdebar keras.
Ia cukup mengetahui sampai dimanakah kerasnya peraturan
dalam perguruan Sam goan bun. Sekalipun dia tidak terhitung murid
Sam goan bun, tapi bila perbuatannya sampai ketahuan, sudah pasti
hukuman berat akan dijatuhkan kepadanya.
Tapi keluhan dari ketua Sam goan bun yang terdengar olehnya
tadi, membuat pemuda tersebut bimbang bercampur tak mengerti.
Sudah jelas bocah pemikul air, penebang kayu yang dimaksudkan
ciangbunjin adalah dia, sebab selain dia tak ada orang kedua yang
melakukan pekerjaan semacam itu disitu.
Kalau memang ketua Sam goan bun menganggapnya berbakat
untuk belajar silat, mengapa ia tidak menerimanya sebagai murid?
Ataukah ketua Sam goan bun itu takut akan sesuatu? Atau
mungkin dia mempunyai suatu rahasia yang membuat orang lain
takut padanya?
Lama sekali pemuda itu duduk termenung, tapi akhirnya setelah
menghela napas ia bergumam :
“Setelah bersusah payah setahun penuh, baru hari ini aku
berhasil mencuri lihat Sam goan kiam hoat secara lengkap, biar

kulatih dulu ilmu tersebut sebaik-baiknya, siapa tahu kalau suatu
ketika aku Kho Beng bisa menjadi hebat?”
Dengan membuang semua pikirannya yang masgul, pemuda itu
bangkit berdiri mengambil sebatang kayu kemudian mulai berlatih
diri dengan penuh semangat.
Biarpun tanpa bimbingan dan petunjuk seorang, berdasarkan
kecerdasan dan disertai bakat yang baik, pemuda itu danggup
memainkan ilmu pedang Sam goan kiam hoat secara sempurna.
Baik dalam gerakan langkah maupun dalam gerakan pedang,
semuanya menurut aturan, ringan berat cepat atau lambat,
semuanya dilakukan secara sempurna, malahan jah lebih sempurna
dan hebat daripada apa yang dilakukan murid Sam goan bun tadi.
Jurus demi jurus, gerakan demi gerakan semuanya dilakukan
sepenuh tenaga, dimana kayunya menyambar, anginnya menderuderu,
kehebatannya tak kalah dengan keampuan seorang jago
pedang.
Disaat Kho Beng sedang melatih diri dengan asyik sampai ia lupa
keadaannya, tiba-tiba dari balik jendela muncul sepasang mata yang
diam-diam mengintip keadaan dalam ruangan.
Tatkala sepasang mata itu mengikuti jalannya latihan dari Khong
Beng, sorot matanya yang selalu memancarkan sinar kaget segera
menjadi terkesiap.
Ternyata orang yang berada diluar itu tak lain adalah ketua
perguruan Sam goan bun, Sun Thian hong.
Rupanya disaat dia merasa ada orang sedang mengintip gerak
geriknya tadi, dengan kecepatan yang paling tinggi ia menerjang
kehalaman kelima kemudian melesat keluar dari perkampungan,
tentu daja dia tak menemukan apa-apa.
Namun dalam perjalanannya kembali keperkampungan, ia segera
dibuat tertarik oleh kilatan cahaya lentera yang sebenarnya lagi
terang dari dalam kamar Kho Beng.
Begitu ia mengetahui bahwa ilmu pedang Kho Beng tidak lain
adalah ilmu pedang Sam goan kiam hoat, dengan cepat ciangbunjin
itu sadar siapa gerangan yang telah bersembunyi dibalik kegelapan
tadi, kontan saja paras mukanya berubah menjadi terkesiap
bercampur kaget.
Pada saat itupun dari kamar sebelah dimana Kho Beng berada,
kedengaran suara orang berbatuk dan menegur :
“Kho Beng, malam sudah larut, apakah kau belum tidur?”

Kho Beng takut perbuatannya ini diketahui atasannya, Thio
Bungkuk yang tidur disebelah. Cepat-cepat ia memadamkan lentera
menyembunyikan tongkat lalu naik keatas pembaringan!
Suara batuk itu mengejutkan pula ketua Sam goan bun yang
sedang mengintip didepan jendela, biji matanya segera berputar dan
memeriksa sekejap sekeliling tempat itu, lalu secara kilat dia melesat
ketengah udara dan mundur kehalaman lapisan kelima, dimana
bayangan tubuhnya lenyap dibalik kegelapan.
Malam berlalu tanpa kejadian apa-apa.
Keesokan harinya, baru saja sang surya menyingsing diufuk timur
dan memancarkan cahayanya keseluruh penjuru dunia, dari balik
halaman lapisan kelima sudah kedengaran suara orang sedang
membelah kayu.
Tampak Kho Beng dengan mengenakan celana pendek sedang
mengayun kampaknya membelah setumpuk kayu bakar.
Memang inilah pekerjaannya sehari-hari, sejak fajar memikul air,
lalu membelah kayu bakar, baru setelah lewat tengah hari dia
mempunyai waktu senggang.
Kira-kira pukul tujuh pagi, tiba-tiba dari halaman gedung paling
depan berkumandang suara genta yang dibunyikan bertalu-talu.
Tanpa terasa Kho Beng yang bermandi peluh menghentikan
ayunan kampaknya dan mengangkat kepala sambil memperhatikan
dengan seksama.
Bunyi lonceng yang bertalu-talu tadi menandakan bahwa ketua
Sam goan bun sedang mengumpulkan segenap anggota
perguruannya untuk menghantar kepergian seorang muridnya turun
gunung.
Dengan beberapa bulan terakhir ini, setiap kali bunyi genta
menggema membelah angkasa, dari hati kecil Kho Beng segera
muncul perasaan kagum yang amat tebal.
Setiap kali dia selalu berpikir begini :
“Andaikata akupun bisa menyoren pedang dan berkelana didalam
dunia persilatan dengan menunggang kuda, betapa gagahnya aku
waktu itu, tapi kenyataannya aku tetap seorang kacung yang
kerjanya setiap hari Cuma memikul air dan membelah kayu bakar,
haruskah aku hidup terus dalam keadaan begini?”
Berpikir sampai disitu, semangatnya yang semula berkobar kobar
menjadi luluh dan pudar, helaan napas sedih bergema lirih.

Mendadak terdengar suara orang mendehem berkumandang
datang dari belakang tubuhnya, dengan perasaan kaget Kho Beng
segera berpaling dan melihat Thio bungkuk muncul disana, cepatcepat
ia membuang semua pikirannya dan meneruskan
pekerjaannya lagi.
Thio bungkuk adalah seorang kakek yang tinggi badannya
mencapai lima depa, tubuhnya kurus kering. Ia mempunyai jenggot
yang pendek seperti jenggot kambing dengan mata yang kecil
seperti mata tikus, baju hijaunya kasar lagi sederhana, tampangnya
tak berbeda seperti tampang orang-orang desa lainnya.
Tapi anehnya semua orang yang berada dalam perguruan Sam
goan bun sama-sama takut kepadanya, bahkan ketua mereka Sun
Thian hong sendiripun berlaku sungkan pula bila bertemu
dengannya.
Terutama sekali bagi Kho Beng, bagaikan tikus melihat kucing
saja....
Hal ini bukan saja dikarenakan Kho Beng merasa berterima kasih
padanya, dulu ketika Kho Beng baru mendapat pekerjaan, saban hari
dia pasti kecapaian hingga pinggangnya sakit dan tak mampu
merangkak bangun dari atas pembaringannya, tapi semenjak Thio
bungkuk mengajarkan bagaimana caranya bersemedi dan mengatur
pernapasan, dengan mengandalkan cara tersebut, Kho Beng bisa
mengatasi rasa lelah yang datang mengganggu setiap kali setelah
habis bekerja berat.
Malahan lambat laun dia tak pernah merasa lelah lagi meski
pekerjaannya makin banyak dan berat.
Akhirnya dia baru tahu kalau ilmu mengatur pernapasan yang
diajarkan kepadanya adalah dasar tenaga dalam, namun berhubung
Thio bungkuk tetap membungkam, diapun selalu berlagak pilon.
Tapi setiap malam tiba, ia selalu berlatih diri dengan tekun dan
rajin sehingga berhasil memupuk dasar tenaga dalam yang kuat, tapi
justru karena itu juga, terdorong olehnya ingatan untuk mencuri
belajar ilmu pedang Sam goan kiam hoat...
Disamping itu Kho Beng juga menyadari bahwa Thio bungkuk
yang bertampang sederhana itu sesungguhnya mempunyai asal usul
yang luar biasa, jelas dia bukan manusia tanpa memiliki reputasi
apa-apa.

Itulah sebabnya setiap kali dia melihat Thio bungkuk memaki dan
mendampratnya, Kho Beng selalu mengingat-ingat kebaikannya
untuk menekan rasa marah dan jengkelnya.
Namun hari ini dia melihat Thio bungkuk seakan-akan telah
berubah menjadi seperti orang lain, sambil memegang huncwee nya
dan menghisap beberapa kali, ditatapnya Kho Beng lekat-lekat,
kemudian baru katanya :
“Kho Beng, hari ini kau tak perlu bekerja lagi!”
Kho Beng tertegun dan membelalakkan matanya lebar-lebar, ia
hampir saja tak percaya dengan apa yang didengarnya, kalau
dimasa lalu, sikap yang diperlihatkan tadi tentu akan mengundang
dampratan serta makian tapi hari ini, mungkinkah Thio bungkuk
tiba-tiba jadi orang baik yang penuh welas asih?
Kho Beng meletakkan kampaknya keatas tanah serta
memandang kearah Thio bungkuk dengan pandangan curiga, lalu
katanya agak tergagap:
“Thio suhu, apakah ada pekerjaan lain yang harus kukerjakan?”
“Hmm! Kalau aku si Thio bungkuk mah tak ada urusan, tapi bagi
kau sikunyuk kecil, hati-hatilah dalam menghadapi urusan nanti!”
Sekali lagi Kho Beng tertegun, hati-hati menghadapi urusan
nanti? Siapakah yang akan dihadapi?
Belum lenyap ingatan tersebut dari benaknya, tiba-tiba muncul
seorang murid Sam goan bun dengan langkah tergesa-gesa, sejak
dari kejauhan orang itu telah berseru :
“Saudara Kho, cingbunjin sedang menanti kedatanganmu diruang
depan, hayo cepat ikut aku!”
Persoalan apakah yang hendak disampaikan ciangbunjin
kepadanya? Mengapa ia dipanggil secara tiba-tiba?
Kho Beng sedang termangu-mangu jadi curiga, seingatnya
semenjak ia tahu urusan, kecuali setiap tahun baru belum pernah
ciangbunjin mengundangnya untuk menghadap! Lalu apa sebabnya
dia dipanggil hari ini?
Tapi dia tak punya banyak waktu untuk berpikir lebih jauh,
setelah meletakkan kampak dan membereskan pakaiannya,
tergopoh-gopoh dia mengikuti petugas tersebut menuju kehalaman
muka.
Setelah terlepas dari pengawasan Thio bungkuk, Kho Beng baru
bertanya dengan cepat :

“Nyoo toako, tahukah kau ada urusan penting apakah sehingga
ciangbunjin mengundangku agar menghadap?”
Anggota perguruan she Nyoo itu segera menggelengkan
kepalanya berulang kali, sahutnya :
“Aku sendiripun tak tahu, tapi bisa kulihat bahwa paras muka
ciangbun suhu pada hari ini kurang baik, karenanya kau berhatihatilah
kalau sedang bicara nanti.”
Kho Beng segera merasakan hatinya tercekat, tanpa terasa
pikirnya dihati :
“Waaah....jangan-jangan suhu sudah tahu kalau selama ini aku
mencuri belajar ilmu pedangnya? Kecuali itu rasanya aku tak
melakukan kesalahan apapun.... tapi dalam setahun ini aku sudah
bertindak cukup hati-hati, tindak tandukku pun tak pernah ketahuan
orang, bagaimana mungkin ciangbunjin bisa mengetahui akan
perbuatan ini? Aaaaa...jangan-jangan karena urusan lain....”
Dengan pikirannya yang kalut serta membayangkan hal yang
bukan-bukan, pemuda itu menuju kehalaman depan. Tiba didepan
pintu ruang tengah, ia saksikan seluruh ruangan tersebut telah
penuh dengan manusia dua puluh empat orang anggota murid Sam
goan bun berdiri dikiri kanan ruangan, sementara bagian tengah
terdapat dua buah bangku yang diduduki dua orang kakek bermata
tajam.
Orang yang berada disebelah kiri adalah ketua Sam goan bun,
Sun Thian hong. Sedangkan kakek baju biru disebelah kanan adalah
adik seperguruan dari ciangbunjinnya, Lu Heng sia.
Walaupun ruangan tengah dipenuhi sekian banyak manusia,
ternyata tak kedengaran suara sedikitpun, suasana yang begitu
serius dan hening membuat Kho Beng yang berada didepan pintu
kembali merasakan hatinya tercekat.
Lelaki she Nyoo itu segera melangkah masuk kedalam ruangan
sambil melapor :
“Lapor ciangbun suhu, Kho Beng telah tiba....”
Kemudian ia segera mengundurkan diri kebarisan sebelah kiri.
Kho Beng tak berani ayal lagi, dia ikut melangkah masuk kedalam
ruangan, setelah memberi hormat, ujarnya :
“Ciangbunjin, persoalan apakah yang hendak kau sampaikan
kepadaku....?”
Sun Thian hong menatap wajah Kho Beng lekat-lekat, lalu
dengan suara dalam tanyanya:

“Kho Beng, sudah berapa lama kau mencuri belajar ilmu pedang
perguruan kami?”
Biarpun hanya serentetan pertanyaan yang singkat, namun ibarat
guntur yang membelah bumi disiang hari bolong, Kho Beng
merasakan hatinya tercekat dan wajahnya berubah hebat.
“Aduh celaka!....” pekiknya dihati.
Tapi kenyataan sudah berada didepan mata, mau tak mau dia
harus mengakuinya secara terus terang.
“Lapor ciangbunjin, sudah setahun lamanya aku mencuri belajar
ilmu pedang itu....”
“Dari kelima belas jurus ilmu pedang Sam goan kiam hoat,
berapa gerakan yang berhasil kau kuasai?” tanya Sun Thian hong
lebih jauh dengan nada suara dalam.
“Boanpwee telah berhasil menguasai seluruhnya....” Kho Beng
menundukkan kepalanya rendah-rendah.
Paras muka Sun Thian hong segera berubah menjadi hijau
membesi, sambil menggebrak meja keras-keras, bentaknya :
“Kho Beng, besar amat nyalimu…..!”
“Ciangbunjin…..” dengan tubuh gemetar keras Kho Beng segera
menjatuhkan diri berlutut katas tanah, “Boanpwee sama sekali tidak
bertujuan apa-apa….boanpwee hanya berniat untuk menyalurkan
hobby saja….”
Sebelum perkataan itu selesai diucapkan, Sun Thian hong telah
menukas dengan dingin, serunya penuh marah :
“Kalau toh kau gemar mempelajari ilmu silat, sudah sepantasnya
bila kau ajukan permohonan secara resmi, masuk dulu jadi anggota
peguruan lalu mengajukan permohonan tersebut kepadaku. Hmmm,
tapi sekarang…..kau telah melanggar peraturan serta mencuri
belajar secara diam-diam. Hmmm, Kho Beng delapan belas tahun
berselang aku hanya menampungmu, serta memeliharamu hingga
dewasa hanya berdasarkan belas kasihan saja, sungguh tak nyana
perbuatanmu begitu brutal dan kurang ajar.”
Makin berkata ciangbunjin itu semakin mendongkol, ketika selesai
mengucapkan perkataannya itu napasnya sudah terengah-engah
seperti napas kerbau.
Kho Beng membungkam dalam seribu bahasa, hatinya kebatkebit
tak karuan, sementara peluh dingin membasahi seluruh
tubuhnya.

“Kho Beng!” mendadak terdengar Sun Thian hong membentak
lagi dengan suara dalam, “Tahukah kau akan peraturan perguruan
kami?”
“Boanpwee tahu!” jawab Kho Beng dengan suara gemetar.
“Bagus sekali aku ingin bertanya kepadamu, apa hukumannya
bagi mereka yang berani mencuri belajar ilmu silat perguruan kami?”
“Ilmu silatnya dirampas kembali!”
“Bagus, bagaimana caranya merampas kembali ilmu silat yang
telah dipelajari?”
“Semua urat nadi penting diputuskan kemudian memotong
sepasang tangannya” sahut Kho Beng dengan peluh dingin
bercucuran keluar. “Tapi…ciangbunjin, mengingat usia boanpwee
masih muda…”
Sun Thian hong mendengus dingin, tukasnya :
“Darimana kau pelajari sim hoat tenaga dalam?”
“Sejak tahun lalu Thio suhu mewariskan ilmu tersebut kepadaku.”
Sun Thian hong nampak agak terkejut, lalu bentaknya lagi :
“Hmmm, sudah tahu akan peraturannya, masih mencoba untuk
melangar. Kesalahanmu ini tak dapat diampuni lagi, tapi mengingat
tenaga dalammu bukan berasal dari perguruan kami, maka
hukumannya hanya memutuskan semua urat nadi serta memotong
sepasang pergelangan tanganmu. Sute laksanakan hukuman!”
Lu Heng sia, adik seperguruan ciangbunjin yang duduk
disampingnya, nampak seperti menaruh simpati kepada Kho Beng, ia
segera bangkit berdiri setelah mendengar perkataan itu, sesudah
menghela napas panjang, katanya pada Sun Thian hong :
“Suheng, bagaimana kalau kesalahan bocah ini diampuni
saja….?”
“Sute, sudahkah kau dengar perintah yang kuberikan?” tukas Sun
Thian hong semakin gusar.
Menyaksikan kakak seperguruannya sudah naik darah, Lu jiya tak
berani banyak bicara lagi, dipandangnya Kho Beng sekejap dengan
perasaan sayang, lalu sambil mengulapkan tangannya dia berseru :
“Mana petugas pelaksana hukuman? Cepat siapkan alat
hukuman!”
Empat orang anggota perguruan yang berdiri dikiri kanan
ruangan serentak mengiakan dan lari menuju keruang belakang, tak
lama kemudian mereka telah muncul dihadapan Kho Beng dengan
alat hukuman yang telah siap digunakan.

Dua orang diantara mereka membawa dua buah alat pemotong
yang berkaki, benda tersebut diletakkan dikiri kanan Kho Beng.
Sementara dua orang lainnya membawa sebuah baki obat, diatas
baki itu sudah siap berbagai macam obat-obatan luka serta alat
pembungkus. Mereka berdiri dibelakang bocah tersebut dan siap
mengobati lukanya, bila pelaksanaan hukuman selesai dilaksanakan
nanti.
Dalam waktu singkat suasana dalam ruangan itu dicekam
keheningan yang amat sangat, sehingga napas setiap orang hampir
saja kedengaran nyata.
Berhubung sikap dan tindak tanduk Kho Beng dihari hari biasa
amat simpatik, selain ciangbunjin seorang, hampir semua pandangan
yang tertuju kearah bocah itu mengandung perasaan iba dan
kasihan yang amat tebal.
Kho Beng sendiri sudah dibuat ketakutan setengah mati, sukma
serasa melayang meninggalkan raganya, hampir saja ia roboh tak
sadarkan diri.
Dua bilah golok yang berkilauan tajam dihadapannya membuat
pemuda itu merasa amat sedih dan putus asa.
Bila sepasang pergelangan tangannya telah kutung, bukan saja
jerih payahnya selama setahun hanya sia-sia belaka, masa depannya
pun akan turut terkubur untuk selamanya disana, bila seseorang tak
mempunyai tangan, apalagi yang bisa diperbuat olehnya?
Ia berlutut diatas tanah, sementara sepasang matanya menengok
kekiri dan kanan mengharapkan ada orang yang memohonkan belas
kasihan baginya disaat kritis tersebut, namun sayangnya walaupum
semua orang menaruh simpati dan belas kasihan kepadanya,
ternyata tak seorangpun diantara mereka yang memohonkan
ampun.
Dalam sedih dan putus asanya, ia memejamkan matanya rapatrapat,
titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.
Pada saat itulah terdengar Lu Heng sia berseru keras :
“Laksanakan hukuman!”
“Kraakk….!”
Dua bilah golok tajam itu segera ditarik keatas, sementara kedua
orang petugas segera mencengkeram kedua belah tangan Kho Beng
dan diletakkan dibawah mata pisau tersebut. Hibur mereka dengan
suara lembut :

“Saudara Kho, tak usah takut, biarpun akan sakit sebentar, kau
tak akan lama menderita.”
Airmata bercucuran dengan derasnya membasahi wajah Kho
Beng, ditatapnya sekejap kedua orang petugas itu dengan putus
asa, lalu menggut manggut.
Kedua orang petugas tadi segera menggengam pisau dan
mengawasi Lu susioknya dengan pandangan tertegun, asalkan ia
mengulapkan tangannya mereka akan menekan gagang golok
tersebut kebawah….
Suasana murung dan seram menyelimuti seluruh ruangan
tersebut. Setiap anggota Sam goan bun sama-sama mengalihkan
pandangan mata kewajah Kho Beng yang pucat pias bagaikan mayat
itu. Rasa sedih mencekam perasaan setiap orang, banyak diantara
mereka yang segera menengok kearah lain dan tak tega untuk
menyaksikan pelaksanaan hukuman tersebut.
Sementara itu Lu Heng sia telah mengangkat tangan kanannya
keatas, asal dia mengulapkan tangannya kewabah, niscaya hukuman
akan segera terlaksana.
Disaat yang kritis inilah, tiba-tiba tampak seorang centeng
berbaju hijau berlarian masuk kedalam ruangan, kepada
ciangbunjinnya dia berseru :
“Toaya, Thio bungkuk menyuruh hamba mengantar surat
pesananya….!”
Seraya berkata ia persembahkan selembar kertas kehadapan Sun
Thian hong.
Diatas lembaran kertas itu hanya tertera beberapa huruf saja
yang antara lain berbunyi begini :
“Belasan tahun aku berbakti, tiada permintaanku yang lain
kecuali pembebasan hukuman bagi bocah she Kho itu.
Tertanda sibungkuk.”
Sun Thian hong nampak tertegun sehabis membaca tulisan itu,
akhirnya dia menghela napas panjang.
Semetara itu para jago lainnya yang berada didalam ruang
tengah tak ada yang mengetahui apa isi surat dari Thio bungkuk,
namun menyaksikan ketua mereka menghela napas panjang, rasa
kaget dan keheranan segera menyelimuti wajah semua orang.
Pelan-pelan Sun Thian hong menyimpan surat tersebut kedalam
saku bajunya, lalu ujarnya kepada sicenteng itu sambil mengulapkan
tangannya :

“Cepat undang Thio suhu datang kemari!”
Sambil menundukkan kepalanya, centeng itu segera menjawab :
“Thio suhu sedang berjalan-jalan diluar perkampungan, tapi ia
telah berpesan, bila ciangbunjin mengundangnya, hamba disuruh
menyampaikan jawaban, katanya maksud hati ciangbunjin telah
dipahaminya, bila ada persoalan lain, isi surat tersebut telah
menjelaskan semuanya….
Dengan perasaan berat, Sun Thian hong menggelengkan
kepalanya berulang kali. Setelah mengundurkan diri centeng
tersebut, ditatapnya Kho Beng sekejap dengan pandangan dalam,
lalu berkata :
“Batalkan hukuman!”
Begitu perintah diturunkan segenap hadirin bersama-sama
menghembuskan napas lega bagi keselamatan Kho Beng.
Sebaliknya Kho Beng sendiri pun bagai berada dalam mimpi,
sampai para petugas menyingkirkan alat pelaksana hukuman dari
hadapannya, ia baru tersadar kembali dari lamunan.
Tanpa terasa dia turut menghembuskan napas lega. Ia sadar
Thio bungkuklah yang telah menyelamatkan dirinya dari hukuman,
bisa dibayangkan betapa besar rasa terima kasihnya kepada Thio
bungkuk, pada hakekatnya tak terlukiskan lagi dengan kata-kata.
Mendadak terdengar Sun Thian hong berkata dengan suara
dalam,
“Kho Beng, walaupun ada orang yang mintakan ampunan
bagimu, namun aku mempunyai beberapa syarat yang harus kau
taati!”
Kho Beng segera memberi hormat seraya menjawab :
“Bila ciangbunjin ada pesan, silahkan saja diutarakan, boanpwee
pasti akan mentaatinya.”
“Bagus sekali, dengarkan baik-baik Kho Beng, sejak hari ini kau
dilarang menggunakan ilmu pedang perguruan kami lagi!”
“Boanpwee turut perintah!”
“Terhadap siapa saja kau dilarang menceritakan bahwa
perguruan kami pernah menerima dan memeliharamu....”
Kho Beng jadi tertegun, lalu serunya agak tergagap :
“Ciangbunjin, apakah kau bermaksud mengusir boanpwee dari
tempat ini?”
“Benar!” jawab Sun Thian hong, “Perguruan Sam goan bun sudah
tak sanggup menampungmu lagi, sekarang juga harus pergi

meninggalkan tempat ini, moga-moga saja kau bisa menjaga diri
baik-baik dikemudian hari!”
Kho Beng menjadi kelabakan setengah mati setelah perkataan
itu.
Walaupun dihari-hari biasa dia sangat berharap bisa terun
kedunia persilatan dan mengembara sampai keujung langit, tapi
setelah diusir dari perguruan hari ini ibarat sebatang pohon yang
dipotong akarnya, dia bakal menjadi seorang gelandangan yang
mengembara tanpa tujuan, siapakah yang takkan iba menghadapi
keadaan seperti ini?
Dengan wajah tertegun dipandangnya wajah Sun Thian hong
lekat-lekat, namun setelah menyaksikan paras muka ketua yang
hijau membesi dan sama sekali tidak memancarkan sedikit perasaan
pun, sadarkan bocah itu bahwa permohonannya pasti sia-sia belaka.
Oleh sebab itu ujarnya kemudian :
“Kho Beng akan melaksanakan perintah ciangbunjin dengan
sebaik-baiknya, tapi Kho Beng merasa tak tenang karena tak dapat
membalas budi kebaikan ciangbunjin yang telah menampung serta
memelihara ku selama hampir delapan belas tahun lamanya...”
Kata yang jujur dan nada yang sedih membuat Sun Thian hong
ikut merasa kecut hatinya, namun ia menguasai gejolak perasaan
tersebut dengan keras, setelah mendengus dingin, tukasnya :
“Asal kau dapat melaksanakan kedua syarat tadi, tidak
menggunakan ilmu pedang Sam goan kiam hoat lagi dan tidak
mengatakan kepada orang lain bahwa Sam goan bun pernah
menampung dan memelihara dirimu, ini sudah merupakan balas
budi bagi pemeliharaanku slama ini, Ingat! Bila kau berani bertindak
ceroboh dengan tidak mentaati kedua hal tersebut, hmmmm!
Biarpun kau lari keujung langit sekalipun aku tetap akan
mengejarmu untuk mencabut nyawamu. Nah, perkataanku hanya
sampai disini saja, sekarang kau boleh pergi dari sini!”
Dengan pandangan kaku, Kho Beng manggut-manggut, sekali
lagi dia menjura kepada Lu Heng sia serta para anggota sam goan
bun lainnya, kemudian berkata dengan sedih ;
“Delapan belas tahun sudah kita berkumpul, terima kasih banyak
atas perhatian para empek, paman dan toako sekalian terhadapku
dihari-hari yang lalu, setelah berpisah hari ini, entah sampai kapan
kita baru akan bersua kembali, tiada pemberian lain dari Kho Beng

kepada kalian kecuali sambutlah penghormatanku ini. Semoga para
empek, paman dan toako sekalian dapat menjaga diri baik-baik.”
Air mata serasa membasahi sepasang mata para anggota Sam
Goan bun tersebut, cepat-cepat mereka balas memberi hormat.
Walaupun tak seorangpun yang berkata-kata, naun dari mimik waah
mereka dapat terlihat betapa sedihnya perasaan mereka.
Manusia memang mahluk yang berperasaan, setelah berkumpul
selama delapan belas tahun, perpisahan memang dirasakan suatu
kejadian yang amat berat, meski perpisahan itu bersifat sementara.
Disamping itu mereka pun merasa heran dan tak habis mengerti,
mengapa sikap ciangbunjin mereka begitu keras? Mengapa ia
bersikeras hendak mengusir Kho Beng dari perkampungan Cui wi
san ceng?
Sekali lagi Kho Beng memberi hormat kepada semua orang,
kemudian sambil menggertak giginya kencang kencang dan
membawa rasa sedih yang mencekam, ia membalikkan badan dan
beranjak meninggalkan ruangan itu menuju kepintu gerbang, saat
itulah air matanya tak terbendung lagi, tanpa terasa jatuh
berceceran membasahi seluruh wajahnya.
Ia tak habis mengerti apa sebabnya ciangbunjin bersikap sejelek
ini kepadanya? Mengapa ia melarang dia menceritakan kepada orang
lain bahwa ia pernah ditampung oleh pihak Sam goan bun?
Mungkinkah mereka takut dketahui orang bahwa Sam Goan bun
telah menampung seorang anak yatim piatu?
Kho Beng merasa tak habis mengerti, ia benar-benar tidak
mengerti....
Angin gunung berhembus lewat menerpa wajahnya dan
mendatangkan rasa dingin, cepat-cepat dia membesut air matanya,
lalu berpaling dan memandang sekejap bayangan perkampungan Cui
wi san ceng nun jauh didepan sana.
Delapan belas tahun sudah ia berdiam disana, perpisahan
dirasakannya amat berat, ia tak akan bisa merasakan kehangatan
saudara-saudara perguruan lainnya, iapun tak dapat menikmati
kembali hangatnya kamarnya yang pengap....
Kini dihadapannya terbentang masa depan yang penuh tanda
tanya, kemanakah dia akan pergi?
Tiba-tiba rasa sedih menyelimuti seluruh perasaannya.
Terlepas dari baik atau buruk, manusia memang senang
mengenang kembali masa silamnya, terutama sekali bagi Kho Beng

yang kaya akan perasaan. Pikirannya saat ini terombang ambing
dalam kenangan lama yang penuh kegembiraan dimasa silam.
Pada saat itulah mendadak terdengar seseorang menegur dengan
suara dingin :
“Hmmm! Benar-benar tak becus, sudah diusir orang lain, apalagi
akan kau kenang? Dunia begini luas, apakah kau tak mampu berdiri
sendiri ditempat lain ? Apa kau lebih suka hidup bersembunyi macam
kura-kura didalam dapur yang apek baunya ? »
Dengan perasaan tertegun Kho Beng seera berpaling, entah sejak
kapan ternyata Thio bungkuk yangtelah menyelamatkan dirinya telah
berdiri disisi jalan gunung sambil memandang dengan pandangan
dingin.
Ia berdiri disitu dambil membawa sebuah bungkusan kecil
dibahunya dan menggenggam sebuah huncwee panjang.
Bertemu dengan Thio bungkuk, Kho Beng merasa seperti
bertemu dengan sanak keluarga sendiri, cepat-cepat dia lari kedepan
dan berlutut dihadapannya sambil memeluk sepasang lututnya eraterat.
Dengan airmata bercucuran, ia berpekik keras :
“ Thio suhu! “
Thio bungkuk menggelengkan kepalanya berulang kali,
diawasinya Kho Beng sekejap dengan penuh rasa kesedihan,
kemudian ia menghela napas panjang.
Sesaat kemudian dia baru berkata dengan suara dingin :
“ Hayo bangun! Cepat bangun, macam apakah kau berlutut
ditengah alan semacam ini? Seorang laki-laki sejati tak boleh meniru
lagak seorang wanita, bila aku menangis melulu hatiku menjadi
murung rasanya. “
Sekarang Kho Beng sudah tahu bahwa Thio bungkuk meski
dingin sikapnya namun sangat baik perasannya, segera ia membesut
air matanya dan bangkit berdiri sambil berkata :
“Budi pertolongan kau orang tua tak akan kulupakan untuk
selamanya.....aaaai, hanya saja setelah meninggalkan kau orang tua
hari ini, entah sampai kapan kita baru akan bersua kembali? “
Thio bungkuk segera tertawa.
“Tiada perjamuan yang tak bubar didunia ini, perpisahan atau
kematian memang sudah diatur oleh takdir, apalagi yang mesti kau
tangisi? Angkat kepalamu baik-baik dan adilah manusia yang
berguna bagi masyarakat, cerminkan jiwa kesatriamu!”

Kho Beng merasakan semangatnya bangkit kembali setelah
mendengar perkataan tersebut, dengan wajah serius dia berkata :
“Terima kasih banyak atas nasehat kau orang tua!”
Ketika melihat Thio bungkuk menggembol sebuah buntalan
dibahunya, dengan perasaan terkejut bercampur gembira ia berseru
lagi :
“apakah kau orang tua ikut turun gunung?”
Thio bungkuk menggelengkan kepalanya berulang kali,
diambilnya bungkusan itu lalu diserahkannya ketangan Kho Beng
sambil berkata :
“Bungkusan ini sengaja kusiapkan bagimu, hanya pakaian dan
beberapa tahil perak, pergunakanlah bila diperlukan diperjalanan
nanti.”
Kho Beng semakin terharu melihat kebaikan hati Thio bungkuk
terhadapnya, kembali sepasang matanya jadi basah, katanya segera
:
“Kau orang tua terlalu baik kepadaku, setelah berpisah hari ini
entah sampai kapan aku baru dapat membalas budi kebaikanmu
ini….!”
“Kau tak usah mengucapkan kata-kata yang tak berguna lagi,
sesungguhnya didalam peristiwa yang menimpamu hari ini, aku Thio
bungkuk turut memikul tanggung jawab. Terus terang saja aku
katakan, sejak kau mencuri belajar ilmu pedang tersebut pada
setahun berselang, ak telah mengetahui perbuatanmu itu secara
jelas…”
“Ooooh, rupanya Thio suhu sudah tahu,” bisik Kho Beng dengan
perasaan tertegun bercampur keheranan.
“Hmmm! Kalau hanya gerakanmu saja tidak kuketahui, percuma
aku berkelana selama puluhan tahun didalam dunia persilatan,
hanya saja setelah melihat kebulatan tekadmu yang besar, aku
menjadi tak tega untuk menghalangi niatm itu, setelah Sun Thian
hong mengintip dari luar kamarmu semalam, aku baru sadar bahwa
jejakmu telah ketahuan….”
Kho Beng menjadi tertegun, sekarang ia baru mengerti darimana
ciangbunjinnya mengetahui akan perbuatannya itu, diapun semakin
tertarik oleh asal usul Thio bungkuk yang dirasakan penuh dengan
misteri ini.
Terdengar Thio bungkuk mendehem beberapa kali, kemudian
berkata lebih jauh :

“Tapi beginipun ada baiknya juga, memang tiada rahasia yang
tak akan terbongkar didunia ini, dengan terjadinya peristiwa ini
berarti kaupun dapat membebaskan diri lebih cepat, bukankah hal ini
merupakan suatu keberuntungan bagimu?”
“Aku yang muda dapat memahami semua perkataanmu itu, tapi
ada satu hal yang tidak kumengerti, ditinjau dari kemampuan kau
orang tua, mengapa tidak hidup bebas merdeka, sebaliknya justru
rela mentaati perintah orang lain? Mengapa pula kau merahasiakan
identitasmu yang sebenarnya….?”
Thio bungkuk menghela napas panjang.
“Aku naik gunung setahun lebih awal darimu, sedangkan akupun
telah berhutang budi kepada Sun Thian hong, oleh sebab itulah
untuk membayar budi kebaikannya aku rela berbakti kepadanya
selama tiga tahun, tapi setelah berjumpa denganmu, akupun
mengambil keputusan untuk tinggal lebih lanjut disana!”
Berbicara sampai disitu, ditatapnya wajah Kho Beng lekat-lekat,
kemudian sambungnya lebih jauh :
“Kini aku telah melihat kau tumbuh dewasa, paling tidak
setengah dari harapanku pun sudah tercapai.”
“Tapi kau orang tua belum menyebut namamu,” ucap Kho Beng
dengan perasaan amat berterima kasih.
“Soal ini tak perlu diketahui, toh dikemudian hari kau akan
mengetahuinya sendiri, sudahlah sekarang boleh pergi dari sini,
baik-baiklah menjaga dirimu.”
Selesai berkata, Thio bungkuk segera mengulapkan tangannya
berulang kali memerintahkan Kho Beng untuk meneruskan
perjalanan turun gunung.
Tadi Kho Beng masih ingin menanyakan sesuatu, dengan
pancaran sinar memohon ia berkata lagi :
“Thio suhu, aku yang masih muda ada beberapa hal yang tidak
kupahami, harap kau orang tua sudi memberikan penjelasannya.”
“Persoalan apakah itu? Coba kau katakan!”
“Mengapa ketua Sam goan bun melarang aku untuk
menggunakan ilmu pedang Sam goan kiamhoatnya….”
Sambil tertawa dingin Thio bungkuk menukas :
“He..he…heeehh…ilmu pedang Sam goan kiam hoat telah
menjadi serangkaian ilmu pedang yang tak utuh. Kepandaian
tersebut bukan terhitung suatu kepandaian yang maha dahsyat, tak
boleh digunakan ya sudah.”

Kho Beng jadi tertegun, tapi ujarnya lagi :
“Setelah itu ciangbunjin melarangku untuk mengatakan kepada
orang lain bahwa selama ini aku ditampung diperguruan sam goan
bun, mengapa dia takut orang lain mengetahui akan persoalan ini?”
“Hmmm! Selama delapan belas tahun terakhir ini, dia selalu
menyembunyikan diri secara ketat dalam masalah yang menyangkut
soal dirimu, persoalan ini lebih tak berharga lagi untuk dibicarakan!”
“Kau orang tua maksudkan, ciangbunjin takut....takut
kepadaku...?” tanya Kho Beng keheranan.
“Bukan takut padamu, tapi takut orang tahu, dia kuatir Sam goan
bun dimusnahkan orang gara-gara kau!”
Kho Beng merasakan hatinya bergetar keras, kejut dan
keheranan, dia bertanya :
“Siapakah orang itu? Mengapa gara-gara urusanku, Sam goan
bun terancam dibasmi orang?”
Dengan cepat Thio bungkuk mengulapkan tangannya, seraya
menukas :
“Soal ini akan kau ketahui sendiri dikemudian hari, sekarang
masih belum waktunya untuk kau ketahui, tapi mengingat dia telah
memeliharamu selama delapan belas tahun, dikemudian kuharap
kau jangan mengingat dendam sakit hati yang kau alami hari ini....”
“Boanpwee tidak berani!” cepat-cepat Kho Beng berseru.
Thio bungkuk manggut-manggut :
“Bagus sekali begitu, aaaaai….! Terus terang saja kukatakan,
berbicara dari asal usulnya perguruan Sam goan bun yang kecil,
memang tak akan mampu menampungmu, seharusnya kau
mempunyai suatu lingkungan hidup lain yang berbeda sekali dengan
lingkungan hidupmu sekrang ini….”
Sekali lagi Kho Beng dibuat tertegun, baru saja dia akan
menanyakan soal asal usulnya, Thio bungkuk telah mengulapkan
tangannya sambil menukas :
“Aku hanya bisa berkata sampai disini, nah cepatlah turun
gunung aku tak bisa mengantarmu lebih jauh.”
Selesai berkata, ia segera membalikkan badan dan melayang
pergi kearah perkampungan.
Dibawah sorot cahaya matahari, bayangan tubuhnya yang kurus
kecil dan bungkuk itu makin lama semakin mengecil sebelum
akhirnya lenyap dikejauhan sana.

Biar begitu, dalam hati kecil Kho Beng telah tertera bayangan
tubuh Thio bungkuk yang anggun dan besar, dia tidak merasakan
keburukan wajah orang itu, sebaliknya justru merasa begitu hangat
dan akrab….
Tapi beberapa patah kata yang didengarnya tadi kembali
mendatangkan pelbagai persoalan didalam hati kecilnya, asal usul
apakah yang menyelimuti identitas dirinya?
Sun Thian hong bilang Sam goan bun tak mampu
menampungnya lagi, Thio bungkuk pun barusan berkata : Sam goan
bun yang kecil tak akan mampu menampungnya. Perkataan mereka
berdua diutarakan pada saat yang berbeda, meski nada
pembicaraannya berbeda, namun maknanya tak ada perbedaan
sama sekali.
Mungkinkah dia mempunyai asal usul dan riwayat hidup yang luar
biasa sehingga perguruan Sam goan bun tak mampu
menampungnya.
Dengan rasa curiga memenuhi seluruh benaknya, Kho Beng
berdiri termangu disitu sambil mengawasi bayangan tubuh Thio
bungkuk yang telah lama menghilang. Akhirnya dengan wajah
masgul dia membetulkan letak bungkusan pemberiab Thio bungkuk
tadi dan meneruskan perjalanannya menuruni bukit.
Sepanjang perjalanan dia mencoba untuk menyelami kembali
makna pembicaraan dari Thio bungkuk serta Sun Thian hong. Ia
merasa ucapan kedua orang itu seakan-akan saling berkaitan satu
dengan lainnya dan kuncinya terletak pada asal usul serta riwayat
hidupnya itu.
Tapi….kemanakah dia harus menyelidiki asal usul serta riwayat
hidupnya dulu? Diam-diam Kho Beng merasa kesal sekali.
Tanpa terasa ia telah menuruni bukit Cui wi san, sementara
perjalanan masih dilanutkan mendadak dari arah belakang terdengar
seseorang memanggilnya :
“Saudara Kho…..saudara Kho!”
Dengan perasaan tertegun Kho Beng segera berhenti seraya
berpaling, tampak seorang pemuda berbaju putih yang menggembol
pedang dipungungnya sedang berlarian mendekat.
Ternyata pemuda itu tak lain adalah murid sam goan bun yang
semalam diuji ilmu pedangnya serta diluluskan untuk turun gunung
itu, bernama Cho Liu San.
Dengan perasaan tertegun, Kho Beng segera menegur :

“Cho toako, ada urusan apa?”
Dengan wajah berseri dan senyuman dikulum, Cho Liu san
berkata :
“Oooh, tidak apa-apa, sejak belajar ilmu silat delapan tahun
berselang, baru hari ini aku turun gunung, karena kuatir tiada teman
seperjalanan maka aku buru-buru datang menyusulmu, dengan
menempuh perjalanan bersama, kita tentu tak usah takut kesepian
lagi!”
Jilid 02
Melihat rekannya mempunyai usia yang sebaya namun
mempunyai keadaan yang berbeda, rasa sedih Kho Beng makin
menjadi, tapi ia paksakan diri untuk unjukkan sekulum senyuman,
katanya kemudian seraya memberi hormat :
“Hari ini adalah hari bahagia Cho toako karena telah lulus ujian
dan turun gunung, aku harus menyampaikan ucapan selamat
kepadamu.”
Cho Liu san tertawa riang, ditepuknya bahu Kho Beng sambil
berkata :
“Kho Beng, sungguh beruntung kau dapat lolos dari musibah hari
ini, untuk itu aku patut menyampaikan selamat juga kepadamu,
selanjutnya kau bermaksud hendak kemana?”
Kho Beng menghela napas sedih, dipandangnya jalan raya yang
membentang jah kedepan sana, kemudian berkata :
“Dunia amat luas, empat samudera adalah rumah, aku sendiri
juga tak tahu kemana harus pergi.”
Mendengar ucapan tersebut, Cho Liu san segera turut menghela
napas, dengan rasa simpati hiburnya :
“Saudara Kho, yang sudah lewat biarkan saja lewat tak usah kau
pikirkan terus didalam hati, perahu yang tiba diujung jembatan akan
melurus dengan sendirinya. Kau toh bisa mencari tempat kediaman
yang lebih nyaman ditempat ini!”
Dengan mulut membungkam, Kho Beng manggut-manggut, tapi
hiburan yang kosong tak akan melenyapkan kemasgulan dalam hati
kecilnya, ia berjalan dengan harapan hampa, sementara pelbagai
masalah menyelimuti benaknya.
Mendadak terdengar Cho Liu san berseru tertahan, lalu ujarnya :
“Yaa! Aku teringat sekarang, saudara Kho ada dua persoalan, tak
ada salahnya kusampaikan kepadamu, siapa tahu dari kedua hal

tersebut kau dapat melampiaskan rasa kesalmu sekarang dan
berhasil menduduki kursi ciangbunjin dikemudian hari!”
“Soal apa itu?” tanya Kho Beng tertegun.
“Soal pertama menyangkut “Kedele Maut” yang telah
menghebohkan dunia persilatan belakangan ini, aku yakin kau
pernah mendengarnya bukan.....”
Kho Beng mengangguk.
Cho Liu san segera berkata lebih jauh :
“Menurut keterangan yang kudapat dari ciangbun suhu, konon
tujuh partai besar telah mengumumkan baru-baru ini, barang siapa
dapat membekuk si kedele maut yang gemar membantai orang
secara semena-mena itu, maka dia akan diangkat sebagai Bu lim
Beng cu, sebaliknya bagi mereka yang berhasil menyelidiki siapakah
kedele maut itu dan melaporkan dimanakah dia berada, maka orang
itu berhak mengajukan permintaan apa saja kepada tujuh pertai
besar. Saudara Kho, bagaimanapun juga kau toh tiada tujuan
tertentu, apa salahnya kalau ikut aku ke Kim leng dan bergabung
dengan para susiok dan suheng sekalian untuk bersama-sama
menyelidiki jejak si kedele maut itu?”
Kho Beng segera menganggap perkataan dari Cho Liu san itu
kelewat polos, kelewat lucu dan tak masuk akal.
Ketua Sang goan bun telah melarangnya menggunakan ilmu
pedang Sam goan kiam hoat dan melarang mengatakan kepada
orang lain kalau selama ini ditampung dalam perguruan itu,
bagaimana mungkin ia bisa berkumpul bersama-sama para jago Sam
goan bun?
Biarpun para jago dari sam goan bun menaruh kesan baik
kepadanya, tapi setelah mereka tahu kalau ia telah diusir pergi dari
perguruan, apakah mereka berani menampungnya lagi....?
Sementara itu Cho Liu san telah berkata lebih jauh :
“Persoalan kedua mungkin telah kau ketahui, yakni masalah yang
menyangkut lenyapnya ketiga jurus ilmu pedang perguruan kita, tadi
ciangbunjin telah mengumumkan barang siapa dapat menemukan
kembali jurus pedang yang hilang itu, maka dialah ahli waris
perguruan Sam goan bun, calon ciangbunjin kita semua. Saudara
Kho tak ada salahnya kau mencoba beradu untung, asal kau berhasil
melaksanakan salah satu diantara kedua hal ini, niscaya
keinginanmu untuk belajar silat akan terpenuhi dengan cepat.”

Semangat Kho Beng yang sudah lama terpendam dalam hati
kecilnya segera terpancing kembali oleh perkataan tersebut, ia
merasa dirinya tak harus menjadi murid sam goan bun, tidak mesti
jadi ketua Sam goan bun, tapi bila mampu menyelesaikan salah satu
diantara kedua tersebut, paling tidak rasa kesalnya selama ini dapat
terlampiaskan....
Maka ujarnya kemudian, sambil manggut-manggut :
“Betul juga perkataan Cho toako, bagaimanapun juga aku toh
tidak mempunyai tujuan tertentu, tapi kau jangan lupa dengan dua
larangan yang disampaikan ciangbunjin kepadaku....”
Sementara Cho Liu san termangu-mangu, Kho Beng telah berkata
lebih jauh dengan suara rendah :
“...oleh sebab itu aku hanya bisa membantu toako sekalian
melakukan penyelidikan secara diam-diam, tapi tak bisa berkumpul
bersama toako sekalian!”
“Betul!” seru Cho Liu san sambil bertepuk tangan, setibanya
dikota Kim leng nanti, kita menempuh perjalanan sendiri-sendiri tapi
secara diam-diam masih melakukan kontak satu dengan lainnya, ya
memang cara ini lebih tepat!” Maka berangkatlah kedua orang itu
melanjutkan perjalanan, ketika malam tiba mereka beristirahat
disebuah penginapan dikota Ci hui sia.
Malam sudah amat larut. Setitik cahaya lentera menerangi
sebuah kamar dirumah penginapan dalam kota Ci hui sia. Cho Liu
san yang berada dipembaringan sebelah kiri sudah lama
mendengkur, sebaliknya Kho Beng yang berada dipembaringan
sebelah kanan masih melotot besar, pikiran yang kalut embuatnya
tak mampu tidur dengan tenang. Pelan-pelan ia bangkit dari tempat
tidurnya sambil memandang keluar jendela dengan pikiran kosong,
suasana diluar kamar telah hening dan tak kedengaran sedikitpun
suara.
Mendadak sorot matanya terbentur dengan bungkusan
pemberian Thio bungkuk yang diletakkan dimeja. Sepanjang
perjalanan tadi Kho Beng tak sempat memeriksa isi buntalan
tersebut, maka dihampirinya bungkusan itu serta dibuka, ternyata
pakaian yang disiapkan Thio bungkuk baginya masih baru semua,
selain itu tedapat pula lima puluh tahil perak. Ia terkejut bercampur
rasa terima kasih yang tak terhingga, ketika ia memeriksa pakaian
tersebut, tiba-tiba ditemukan juga sejilid kitab tipis.

Dengan cepat kitab itu diambil serta diperiksa dengan seksama,
pada sampul depannya terbacalah beberapa huruf yang berbunyi :
Intisari ilmu pukulan telapak dan pedang dari pelbagai aliran.
Dibawahnya tertulis pula :
Dibuat dan dikumpulkan oleh Thi hong sia tou.
Dalam tertegunnya Kho Beng merasa sangat gembira, cepatcepat
ia membuka halaman berikutnya, ternyata ditengah halaman
terselip selembar surat yang isinya antara lain berbunyi demikian :
“Kho Beng :
Berat rasanya untuk berpisah denganmu, setelah delapan belas
tahun kita hidup bersama. Terimalah sedikit pemberian dari aku
sibungkuk sebagai rasa kasihku kepadamu….”
“Aaaai…suhu bungkuk benar-benar amat baik…” pikir Kho Beng
dengan penuh rasa terima kasih.
Kemudian dibacanya isi surat itu lebih jauh :
“….untuk berkelana didalam dunia persilatan paling tidak kau
harus memiliki sedikit ilmu untuk membela diri, aku tahu ilmu
pedang Sam goan kiam hoat tak mungkin bisa kau pergunakan lagi,
karena itu tak ada salahnya kau latihlah beberapa jurus silat yang
tercantum dalam kitab tersebut, sehingga dalam pengembaraanmu
nanti tak usah dianiaya orang lain.
Dalam kitab itu terdapat enam jurus ilmu pedang, enam jurus
ilmu pukulan tangan kosong serta ilmu meringankan tubuh dari
pelbagai aliran. Aku sengaja pilihkan beberapa diantaranya yang
hebat untuk kau pelajari, karena hal ini paling sesuai dengan
keadaan mu sekarang, disamping itu bila digunakanpun tak sampai
membocorkan identitasmu yang sebenarnya…. “
Membaca sampai disini, kembali Kho Beng jadi kebingungan,
rahasia apakah yang terkandung dibalik asal usulnya? Mengapa
identitasnya harus dirahasiakan seketat itu. “
Cepat-cepat ia membaca lebih jauh :
“….aku duga kau pasti ingin mengetahui asal usulmu bukan?
Tentang masalah ini, kau tak usah gelisah, karena gelisahpun tak
ada gunanya.
Aku sibungkuk akan menungumu selama tiga tahun
diperkampungan Cui wi san ceng, dalam tiga tahun ini tak ada
salahnya kau mencari guru kenamaan serta belajar silat dengan
tekun, bila telah berhasil datanglah menjumpaiku di Sam goan bun,

sampai waktunya aku akan menceritakan segala sesuatunya
kepadamu.
Tapi jika kau gagal dalam tiga tahun ini, lebih baik padamkan
saja keinginan menjadi seorang ahli silat, lupakan segala kenangan
lama dan hiduplah sebagai manusia biasa.
Tapi kau harus ingat, tidak ada orang didunia ini yang pantas
menjadi gurumu, kalau dihitung hanya tiga orang saja yang pantas
yakni sikakek sakti, sisesepuh sakti dan sidewa sakti.
Dewi payung perak tak mungkin menerima murid lelaki,
sedangkan kakek tongkat sakti dan Bu wi lojin adalah tokoh luar
biasa yang tak menentu jejaknya, mereka hanya bisa dijumpai tanpa
sengaja dan tak mungkin dicari, karenanya semuanya ini tergantung
pada nasibmu sendiri.
Tapi akupun mendoakan kepadamu, semoga kau bisa
menemukan penemuan lainnya yang lebih hebat. Nah, hanya sampai
disini saja pesanku ini, jangan lupa dengan janji tiga tahun
mendatang. “
“Tiga tahun…tiga tahun, aaai, betapa lamanya tiga tahun
ini….mengapa harus menunggu selama ini? “
…………….
…………….
Angin berhembus kencang, kuda meringkik nyaring.
Jalan raya yang membentang sepanjang jalan menuju Kim leng
penuh dengan para busu yang bermata tajam dan bersenjatakan
lengkap. Senjata itu, dari sebuah kota Kwan tong yang berada
delapan puluh li dari kota Kim leng muncul dua orang pemuda
berwajah tampan. Pemuda yang berada disebelah kiri memakai baju
biru dan menyoren pedang, sebaliknya pemuda yang berada
disebelah kanan membawa sebuah bungkusan kecil dan memakai
baju putih, meski tidak membawa senjata namun wajahnya jauh
lebih tampan daripada pemuda berbaju biru yang berada disisinya.
Pada saat itulah pemuda berbaju biru itu menunding kearah
sebuah rumah makan diseberang jalan sana sambil berkata kepada
pemuda disebelahnya :
“Saudara Kho, bagaimana dengan rumah makan ini?”
“Terserah kepada Cho toako,” sahut pemuda berbaju putih itu
cepat.
Pemuda berbaju biru itu segera tersenyum dan manggutmanggut.

“Baiklah, bagaimanapun juga kita sudah menempuh perjalanan
bersama selama beberapa hari, setibanya dikota Kim leng kita harus
minum dulu bersama sampai mabuk sebagai tanda perpisahan
sementara, mulai besok pagi, aku akan berangkat dulu disusul kau
beberapa saat kemudian, sampai waktunya kita akan berhubungan
kembali.”
Pemuda berbaju putih itu segera manggut-manggut tanda setuju.
Sementara pembicaraan berlangsung, kedua orang itu telah tiba
dimuka rumah makan tadi, pada papan nama besar yang terpancang
didepan pintu, terbacalah tiga huruf besar yang berbunyi :
“Cui sian kit”
Seorang pelayan segera munculkan diri menyambut kedatangan
mereka, kemudian sambil berpaling, teriaknya keras keras :
“Tamu...datang!”
Beberapa orang pelayan segera munculkan diri untuk menyambut
kedatangan kedua orang pemuda tersebut serta mempersilahkan
naik keatas loteng.
Tak salah lagi, mereka berdua tak lain adalah Kho Beng dan Cho
Liu san.
Tiba diatas loteng, Kho Beng emandang sekejap sekeliling
ruangan, ternyata delapan puluh persen meja kursi disitu telah diisi
tamu, bahkan sebagian besar menggembol senjata. Ini menandakan
bahwa kebanyakan mereka adalah anggota persilatan.
Pelayan mengajak mereka menuju kesebuah meja dibagian
tengah, lalu kedua orang itu memesan hidangan pelayan itupun
mengundurkan diri untuk mempersiapkan.
Sepeninggal sang pelayan, Kho Beng baru berbisik dengan lirih :
“Cho toako, mengapa begitu banyak jago silat yang berkumpul
disini…?”
“Kemungkinan besar telah terjadi sesuatu peristiwa ditempat
ini…” jawab Cho Liu san lirih.
Sementara pembicaraan berlangsung, hidangan telah datang,
maka sambil memenuhi cawan dengan arak, Cho Liu san segera
berkata kepada rekannya :
“Mulai besok kita akan berpisah dan lagi sepanjang jalan kaulah
yang menyukongi aku terus, maka sepantasnya bila aku yang
gantian menjamumu pada malam ini, nah saudara Kho, terimalah
penghormatan secawan arakku ini.”

Kho Beng segera menanggapi dengan meneguk habis cawan
araknya, maka mereka berdua pun segera bersantap dan minum
arak dengan riang gembira.
Pada saat itulah dari bawah loteng terdengar kembali suara
teriakan yang mewartakan ada tamu datang, disusul kemudian
muncul seorang tamu dari bawah loteng.
Tamu itu berwajah bulat dan berusia empat lima puluh tahunan,
dia membawa sebuah bungkusan karung dipunggungnya dan
mengenakan jubah berwarna abu-abu, kecuali sepasang matanya
yang bersinar tajam, dandanannya tak berbeda dengan saudagar
biasa.
Dengan pandangan yang tajam dia memandang sekejap
sekeliling ruangan lalu gumamnya :
“Waah…sudah penuh!”
“Maaf tuan” cepat-cepat sang pelayan berseru sambil tertawa
paksa, “Sejak tadi kan sudah hamba katakan bahwa loteng sudah
penuh, lebih baik tuan duduk dibawah saja….”
Saudagar it tak menggubris ocehan pelayan tersebut, pelan-pelan
dia mengalihkan pandangan matanya kesekeliling ruangan, ketika
memandang sampai dimeja Kho Beng, tiba-tiba ia tertegun, lalu
serunya sambil tertawa :
“Ha…ha…ha…. tak ada tempatpun tak apalah, biar aku
bergabung dengan orang lain saja…”
Dengan langkah cepat ia segera menghampiri meja dimana Kho
Beng berada.
Dengan perasaan apa bpleh buat, terpaksa pelayan itu
mendahuluinya dan berkata sambil tertawa paksa :
“Harap tuan berdua sudi memaafkan, maklumlah rumah makan
kami kelewat kecil sedang dagangan kami hari ini kelewat baik,
sudikah toaya memberi tempat untuk toaya ini.”
Belum lagi perkataan tersebut selesai diucapkan, saudagar itu
sudah menarik bangku dan duduk lebih dulu, sementara pandangan
matanya yang tajam mengawasi terus wajah Kho Beng dengan
pandangan tajam, sebentar ia nampak berkerut kening sebentar
kemudian manggut-manggut, seakan-akan diatas wajah Kho Beng
telah tumbuh sesuatu yang aneh.
Sementara Cho Liu san telah berkerut kening, wajahnya diliputi
hawa amarah dan ia sudah siap menegur orang tersebut yang
dianggapnya tak tahu sopan santun.

Tapi sebelum ia sempat berbicara, Kho Beng telah berkata lebih
dulu:
“Silahkan, silahkan, kami tidak keberatan, apa salahnya kalau
duduk semeja?”
Ia berpendapat bahwa keadaan semacam ini tak akan terhindar
dalam perjalanan diluar, sehingga persoalan kecil tak perlu
menimbulkan perasaan tak senang dihati, itulah sebabnya ia
menjawab dengan cepat.
Namun ketika merasa wajahnya diawasi terus oleh saudagar itu
dengan pandangan tajam, ia menjadi tertegun, pikirnya :
“Aneh betul orang ini, kenapa sih dia mengawasi aku terus?
Jangan jangan ada sesuatu yang aneh denganku?”
Ia mencoba untuk memeriksa tubuhnya, namun tak ada yang
aneh, pemuda itu menjadi semakin keheranan.
Baru saja dia akan bertanya, kedengaran Cho Liu san telah
menegur dengan suara dingin:
“Sobat, caramu memandang orang dengan sikap begini sungguh
tak tahu sopan….!”
Bagaikan baru mendusin dari lamunan, laki-laki bermuka bulat itu
mengiakan berulang kali, kemudian serunya sambil tertawa :
“Ha…ha…ha… maaf, maaf aku jadi kesengsem dengan wajah
tuan ini karena merasa seperti mengenalnya disuatu tempat…”
Ia segera menurunkan karungnya kelantai, kemudian sambil
menjura kepada Cho liu san kembali katanya :
“Beruntung sekali aku bisa duduk semeja dengan anda, bolehkah
aku tahu siapa nama lote?”
“aku dari marga Cho,” jawab Cho Liu san ketus.
“Oooh…ha…ha…ha…rupanya Cho lote, aku yang rendah bernama
Sie Put ku!”
Lalu sambil menjura kearah Kho Beng, ia bertanya lagi :
“Dan bolehkah aku tahu nama lote?”
“Aku bernama Kho Beng” sahut pemuda itu sambil tersenyum,
“Aku rasa kita belum pernah bersua!”
Berkilat sepasang mata Sie Put ku ketika mendengar nama Kho
Beng tadi, ia segera berseru sambil tertawa :
“Aku hanya merasa bahwa wajah Kho lote persis sekali dengan
wajah seorang sahabatku almarhum, itulah sebabnya aku sampai
memandangmu dengan kesengsem, untuk itu harap kau sudi

memaafkan, mari,mari biar kuhormati kalian berdua dengan
secawan arak!”
‘Tuan, kau belum memesan hidangan,” pelayan yang sudah
menanti tak sabar segera memanfaatkan kesempatan itu untuk
mengingatkan.
Cho Liu san yang pada dasarnya sudah mendongkol, kontan saja
menyindir sambil tertawa dingin :
‘Hmmm, kalau toh pingin numpang makan dan minum secara
gratis, kenapa mesti berlagak sok ramah?”
Sie Put ku segera berseru tertahan, buru-buru serunya kepada
sang pelayan :
“Hidangkan semua yang baik, hari ini aku she Sie yang akan
menjamu mereka berdua.”
Kemudian katanya lagi kepada Cho Liu san sambil tertawa lebar :
“Maaf, maaf…aku memang rada pusing kepala hari ini!”
Setelah itu dia baru bertanya lagi kepada Kho Beng :
“Saudara Kho, kau berasal dari mana?”
“Dari wan tiong.”
“Dari wan tiong?” Sie Put ku nampak rada kecewa, tapi kembali
desaknya, ‘bukan berasal dari Hang shin?”
Diam-diam Kho Beng merasa keheranan, dia menganggap Sie Put
ku kurang waras otaknya, sebab tingkah lakunya persis seperti
orang gila.
Tanpa terasa serunya kemudian sambil tertawa tergelak:
“Kitakan baru berjumpa untuk pertama kalinya, buat apa aku
mesti membohongimu?”
Seperti teringat akan sesuatu, kembali Sie Put ku
menganggukkan kepalanya berulang kali, tanyanya lebih jauh:
“Apakah orang tua lote masih sehat walafiat?”
Pertanyaan tersebut segera menyentuh perasaan sedih Kho
Beng, dia menghela napas panjang.
“Aaaai…sejak kecil aku hidup sebatang kara, hingga kini aku
belum tahu siapakah orangtua ku…”
Sepasang mata Sie Put ku sekali lagi bersinar terang.
“Ooooh….lantas lote berada dimana selama ini?”
“Empat samudra adalah rumahku, aku mengembara kemanapun
kakiku membawa....”
“Kalau dilihat dari gerak gerikmu, nampaknya lote pernah belajar
silat, entah kau menjadi anggota perguruan mana?”

Sekali lagi Kho Beng menggelengkan kepalanya dengan sedih.
“Aku Cuma mengerti ilmu silat secara kasar, belum pernah
menjadi anggota perguruan manapun.”
Hidangan telah disiapkan dari tadi, namun Sie Put ku seperti telah
melupakannya, ia sama sekali tak menyentuhnya, hampir seluruh
perhatiannya telah dicurahkan kepada Kho Beng seorang.
Keadaan tersebut tentu saja menjengkelkan Cho Liu san yang
berada disampingnya, selain menimbulkan pula perasaan curiga
dalam hati kecilnya.
Mendadak ia menegur sambil mendengus dingin :
“Hey sobat Sie, aku lihat kau seperti menaruh minat yang besar
sekali terhadap saudara Kho ini, sudah selesai belum dengan
pertanyaanmu itu? Sekarang giliran aku yang bertanya kepadamu!”
Sie Put ku nampak tertegun, tapi segera sahutnya sambil tertawa
bergelak :
“Ha...ha....ha....baru bertemu sudah merasa seperti kenal,
mungkin inilah yang dinamakan berjodoh...ha....ha....ha....mari,mari
kita bersantap dan minum arak lebih dulu sebelum berbincangbincang
kembali!”
Dengan cepat Cho Liu san menyilangkan tangannya menghalangi
orang itu bersantap, ucapnya ketus :
“Tak usah terburu-buru, darimana sobat?”
“Ha...ha....ha...dari Kim leng.”
“Selama ini apa pekerjaanmu?”
“Pedagang keliling!”
Cho Liu san tertegun, dia tak tahu apakah pekerjaan seorang
pedagang keliling, maklumlah sebagai anak muda yang baru turun
gunung, pengetahuannya memang amat cetek.
Tapi ia segera bertanya lagi dengan suara dingin:
“Apa isi kantung yang kau bawa itu?”
“Kedele!” jawab Sie Put ku sambil tertawa misterius. Untuk
kesekian kalinya Cho liu san dibuat tertegun.
Tapi jawaban tersebut segera memancing pula perhatian dari
kawanan jago silat yang berada disekeliling tempat itu, serentak
semua mengalihkan pandangan matanya kearah orang tersebut.
Kho Beng masih belum merasakan hal itu, ia segera berkata
sambil tertawa sesudah mendengar perkataan itu.
“Oooh, rupanya saudara Sie adalah seorang pedagang kedele!”

“Hmmm!” Cho Liu san segera mendengus, “kalau seorang
pedagang kedele hanya membawa sekarung kedele saja untuk
dijual, sejak dulu ia sudah mati kelaparan!”
Kho Beng segera merasa perkataan itu ada benarnya juga, maka
ia bertanya lagi kepada Sie Put ku :
“Jangan-jangan saudara Sie membuka usaha penggilingan tahu?”
“Ooooh tidak!” Sie Put ku segera menggeleng.
“Untuk dimakan sendiri?”
“Juga bukan!”
“Lalu buat apa kau membawa sekarung kedele? Ayo cepat
jawab!”
Bentakan tersebut berasal dari meja seberang, suaranya yang
keras dan penuh tenaga membuat semua pendengar merasakan
telinganya mendengung amat nyaring.
Dengan perasaan terkejut, Kho Beng berpaling, rupanya si
pembicara adalah seorang busu berbaju kuning.
Waktu itu sibusu berbaju kuning itu sudah berdiri sambil bertolak
pinggang, alis matanya yang hitam tebal berkenyit, wajahnya penuh
dihiasi napsu membunuh yang tebal. Dia sedang mengawasi Sie Put
ku dengan mata melotot.
Sie Put ku berpaling dan mengawasi busu itu sekejap, lalu
katanya sambil tertawa.
“Eeei, lucu amat saudara in, apa sebabnya kau marah-marah
seperti itu? Dan atas dasar apa aku mesti memberitahukan soal ini
kepadamu?”
Dengan mata mendelik besar, busu berbaju kuning itu tertawa
dingin tiada hentinya.
“Hey orang she Sie! Perhatikan baik-baik jika matamu buta,
seharusnya kau dapat menduga kedudukanku dari pakaian yang
toaya kenakan. Belakangan ini secara beruntun telah terjadi
pembunuhan berantai disekitar Kim leng, semalam tiga nyawa
melayang pula di Kwan tong tin oleh enam butir kedele, kini semua
jago persilatan sedang menelusuri jejak ari si kedele maut tersebut.
Karenanya kau harus menjelaskan identitasmu dengan seterangterangnya,
kalau tidak….hmmm…hmmm…jangan salahkan kalau
toaya tak akan berlaku sungkan-sungkan lagi kepadamu!”
Sie Put ku segera tergelak, “Apa sih yang sedang kau bicarakan?
aku Sie Put ku sama sekali tidak mengerti, tapi ada satu hal yang
kuketahui dengan jelas, dilihat dari pakaian berwarna kuning yang

kau kenakan serta tiga kuntum bunga bwee yang tersulam
didadamu, bisa jadi kau adalah orang ketiga dari Jit bwee jit kiam
atau ketujuh bwee tujuh pedang dari Hoa San pay yang disebut
orang Ki Hong bukan begitu?”
Mendengar pembicaraan yang sedang berlangsung, diam-diam
Kho Beng merasa terkejut.
Didengar dari pembicaraan busu berbaju kuning dari Hoa San pay
itu, ia baru tahu kalau disekitar tempat tersebut benar-benar sudah
terjadi peristiwa berdarah, mungkinkah si kedele maut telah beraksi
kembali disitu?
Tapi setelah mendengar dari Sie Put ku, hatinya semakin terkejut.
Tadinya ia mengira orang itu seorang saudagar keliling, tapi
kenyataannya orang itu dapat menyebutkan identitas busu berbaju
kuning dalam sekilas pandang, ini berarti orang tersebut merupakan
seorang jago silat berilmu tinggi yang sengaja merahasiakan
identitasnya.
Tanpa terasa ia berdiri tertegun untuk beberapa saat lamanya.
Sementara itu Khi Hong, sijago pedang berbaju kuning dari Hoa
San pay itu sudah berkata lagi sambil tertawa dingin :
“Hey orang she Sie, ternyata kau benar-benar anggota persilatan,
nyatanya kau mampu menyebutkan namaku secara jelas,
hmmm...rasanya kau tentu punya nama juga didunia persilatan. Nah
sekarang tolong jelaskan kepadaku, apa gunanya kedele sekarang
yang kau bawa ini?”
“Tak ada salahnya untuk memberitahukan kepadamu! Kedele ini
kugunakan untuk makan ternak.”
“Untuk makan ternak!”
Bukan Cuma Kho Beng yang tertegun, bahkan segenap umat
persilatan yang berada didalam rumah makan serta Khi Hong turut
tertegun dibuatnya.
Mendadak Khi hong meninggalkan tempat duduknya, kemudian
sambil berjalan mendekat, katanya lagi sambil tertawa dingin :
“Waaah….ternakmu itu tentu mahal sekali harganya, terbukti
untuk ternakmu itu anda bersedia menggotong sekarung kedele
menempuh perjalanan sejauh delapan puluh li lebih…aku Khi Hong
jadi kepingin tahu kedele macam apa yang berada dalam karung
itu.”
Tiba-tiba paras muka Sie Put ku berubah hebat, cepat ia
menghalangi perbuatan lawan sambil membentak :

“Jangan kau sentuh!”
“Mengapa tak boleh disentuh?”
Kali ini orang yang menegur adalah seorang kakek berbaju ungu
yang duduk dibelakang meja Sie Put ku, sambil menegur matanya
yang tajam mengawasi wajah orang she Sie itu tajam-tajam.
Sie Put ku segera menggenggam karungnya erat-erat, lalu
menjengek sambil tertawa dingin :
“Atas dasar apa kalian hendak memeriksa isi karungku ini?”
Kakek berbaju ungu itu mendengus dingin, tiba-tiba dia
melakukan sebuah sodokan kilat dengan menggunakan kedua buah
jari tangannya yang digunakan seperti tombak.
Serangan itu bukan ditujukan ketubuh Sie Put ku, melainkan
mengarah karung tersebut.
“Duuukkk…!”
Karung itu seketika berlubang dan kedele yang berada didalam
karungpun berceceran diatas tanah.
Semua pandangan mata kawanan jago yang berada dalam ruang
makan pun bersama-sama ditujukan kearah kedele yang berceceran
itu, namun dengan cepat mereka dibuat tertegun.
Isi karung tersebut memang berupa kedele yang cukup besar,
hanya warna kedele itu bukan kuning melainkan hitam berkilat.
Mana ada kedele berwarna hitam berkilat didunia ini?
Baru saja jago pedang dari Hoa San pay, Khi Hong
membungkukkan badan untuk mengambil kedele itu, tiba-tiba
terdengar seseorang membentak keras :
“Jangan disentuh, ada racun!”
Dengan perasaan terkesiap. Khi hong segera menarik kembali
tangannya cepat-cepat.
Sementara semua orang masih diliputi perasan tertegun, tahutahu
Sie Put ku telah menyambar karung kedelenya, sambil melejit
ketengah udara.
Kho Beng hanya merasakan pandangan matanya menjadi kabur,
tahu-tahu bayangan manusia itu sudah lenyap dari hadapannya,
cepat dia berpaling, tampak Sie Put ku sudah melompat keluar
jendela dan lenyap dari pandangan mata.
Disusul kemudian dari kejauhan dana berkumandang datang
suara nyanyian yang amat nyaring :
“Seluruh dunia takut dengan kedele
Hanya aku tersenyum seorang diri

Siapa bilang kedele adalah penyamun?
Kubilang kedele adalah jago yang gagah!”
“Aaah! Bajingan itu adalah kedele maut!”
Tiba-tiba suara nyanyian itu diputuskan dengan suara bentakan
keras yang berasal dari seorang laki-laki berbaju merah.
Tampak orang itu segera meloloskan senjata tajamnya sambil
membentak lagi:
“Hayo kejar!”
Secepat sambaran kilat dia meluncur keluar jendela dan
melakukan pengejaran dengan cepat.
Segenap jago persilatan yang berada dalam ruang loteng itu
segera tersadar kembali dari lamunan masing-masing, sambil
meloloskan senjata tajam, mereka segera melakukan pengejaran
ketat.
Tampak puluhan sosok bayangan manusia berkelebat keluar
jendela, dalam waktu singkat hampir semuanya telah berlalu dari
situ.
Kho Beng yang menyaksikan peristiwa ini Cuma bisa
membelalakkan matanya dan berdiri melongo, ia melihat Cho Liu san
telah meloloskan pedangnya sambil berkata:
“Saudara Kho! Tunggulah aku disini, aku akan pergi melihat
keramaian sebentar!”
Tidak menunggu jawaban dari Kho Beng lagi, dia turut melompat
keluar jendela dan menyusul kawanan jago persilatan lainnya.
Dalam waktu singkat, rumah makan yang semula amat ramai kini
jadi kosong melompong, yang masih tertinggal disana tinggal enam
tujuh orang saja.
Dengan cepat Kho Beng tersadar kembali dari lamunannya, ia
segera berpikir:
“Daripada duduk menunggu, kenapa kau tidak turut pergi melihat
keramaian? Orang bilang kedele maut adalah iblis jahat yang suka
membantai umat persilatan, andaikata aku bisa menyumbangkan
sedikit tenaga, bukankah hal ini bermanfaat bagi dunia persilatan
pada umumnya?”
Ia mengerti, Cho Liu san sengaja menyuruhnya menunggu disitu,
karena kuatir dia menjumpai bahaya mengingat ilmu silatnya yang
terlalu cetek, padahal selama berapa waktu terakhir ini, saban
malam dia selalu berlatih, kemampuan yang dimilikinya sekarang
tidak berada dibawah kemampuan Cho toakonya.

Berpikir demikian, diapun cepat-cepat bangkit, baru saja akan
melompat keluar lewat jendela, mendadak tampak tiga orang
pelayan berlari mendekat, sambil menghadang mereka berseru
bersama dengan muka merengek.
“Tuan, kalau kau pun pergi tanpa membayar, bagaimana
mungkin kami bisa bertanggung jawab kepada majikan kami nanti?”
Kho Beng tertegun lalu sadar kembali, cepat-cepat serunya
sambil tertawa:
“Berapa sih rekening kami?”
“Semuanya tiga tahil enam rence!”
Tapi setelah merogoh kedalam sakunya, merah jengah selembar
wajah Kho Beng, diam-diam ia mengeluh.
Ternyata uang sakunya sudah hampir habis terpakai untuk biaya
penginapan dan bersantapnya bersama Cho Liu san selama ini, yang
tersisa sekarang Cuma beberapa keping hancuran perak.
Paras muka ketiga orang pelayan itupun turut berubah setelah
menyaksikan kejadian ini.
Dalam cemasnya Kho Beng segera berpikir:
“Sekarang aku sudah kehabisan sangu, yang tertinggal pun
hanya sekeping kemala yang kukenang sejak kecil, biarlah
kugadaikan dulu untuk sementara waktu, bila Cho Liu san telah
datang nanti, biar kutebus kembali.”
Berpikir sampai disitu, dia segera mengeluarkan sisa uang yang
masih ada keatas meja, lalu sambil melepaskan untaian kemala yang
dikenakan itu ujarnya kepada si pelayan:
“Maaf kalau aku kehabisan uang tapi biarlah kugadaikan dulu
batu kumala ini, sebentar akan kutebus kembali.”
Selesai berkata dia segera melompat keluar jendela dan
menyusul Cho Liu san dengan cepat.
Ketiga orang pelayan itu menjadi tertegun untuk beberapa saat
lamanya, kemudian seorang diantara mereka memeriksa batu
kumala itu dengan seksama.
Belum selesai dia melihat, mendadak dari samping mereka
muncul sebuah tangan yang segera menyambar batu kumala itu
dengan kecepatan luar biasa.
Dengan perasaan terkejut para pelayan berpaling, ternyata
disamping mereka telah muncul seorang sastrawan setengah umur
berbaju hitam yang waktu itu sedang mengamati batu kumala
tersebut dengan penuh perhatian.

Batu kumala itu besarnya setengah telapak tangan, dibagian
tengah terukir dua huruf yang berbunyi “Kit siong” sedangkan
disekelilingnya berukiran naga sakti dengan delapan cakarnya, bila
digenggam batu kumala itu terasa hangat sekali.
Pelayan itu menjadi tertegun setelah menyaksikan kejadian ini,
segera teriaknya:
“Tuan, mau apa kau?”
Sastrawan setengah umur berbaju hitam itu sama sekali tidak
menggubris, ia termenung beberapa saat lamanya, kemudian baru
bergumam sambil mengangguk berulang kali:
“Ehmmm.....dinding naga kumala hijau (Cing giok liong pit)....tak
salah lagi.....pasti dia...”
Mendadak dia mengambil sekeping uang perak dan diserahkan
kepada pelayan itu sambil berkata:
“Sungguh tak kusangka pemuda tadi adalah putra sahabat
karibku, biar rekeningnya aku bayar sedang batu kemala ini akan
kusimpan untuk sementara waktu.”
“Tapi.....tapi....kalau orang itu minta kembali kepada kami,
bagaimana mungkin hamba bisa mempertanggung jawabkan diri?”
seru pelayan itu panik.
Sastrawan berbaju hitam itu segera melotot besar, tukasnya
dengan ketus:
“Kenapa tidak? Aku tinggal dirumah penginapan Put ji kui
diseberang jalan, apa bila pemuda tersebut telah kembali nanti,
suruh saja datang mencariku disana.”
Sepasang matanya yang bersinar tajam bagaikan sembilu
membuat ketiga orang pelayan tersebut menjadi ketakutan setengah
mati dan tak berani bicara lagi, mereka hanya bisa melihat bayangan
si sastrawan tersebut berjalan menuruni anak tangga.
Dalam pada waktu itu, ketika Kho Beng melayang turun dari
rumah makan, ia sudah tak melihat lagi bayangan tubuh dari
kawanan jago persilatan tersebut, yang ada hanya rakyat yang
sedang menonton keramaian disekelilingnya.
Setelah menentukan arah, ia segera berlarian menuju keluar
kota, dalam waktu singkat setengah li sudah dilalui, namun tak
sesosok bayangan manusia pun yang nampak.
Tanpa terasa dia menghentikan perjalanannya sambil berpikir
dengan keheranan:
“Sungguh aneh, kemana perginya orang-orang itu?”

Sementara dia masih termenung, mendadak terendus bau darah
yg amis sekali berhembus lewat terbawa angin.
Dengan hati terkesiap Kho Beng segera memperhatikan sekeliling
tempat itu, sejauh mata memandang hanya pepohonan bambu yang
lebat terbentang didepan mata, bau amis tadi tak lain berasal dari
balik hutan yang berjarak lima kaki dari posisinya.
Dengan perasaan hati yang kebat kebit, dia memburu masuk
kedalam hutan itu, benar juga, bau amisnya darah makin lama
semakin bertambah terasa, kemudian setelah berbelok tiga tikungan,
tampaklah dua sosok mayat membujur diatas tanah.
Dengan perasaan tercekat, Kho Beng segera menghentikan
langkahnya, kemudian perlahan-lahan ia berjalan mendekat.
Ketika diperiksa, ternyata kedua sosok mayat tersebut adalah Khi
hong sijago pedang dari Hoa san pay serta seorang kakek berbaju
hitam.
Namun luka yang menyebabkan kematian mereka terletak
didepan dada semua, mulut luka panjangnya mencapai setengah
depa dan kelihatannya terluka oleh bacokan senjata tajam, darah
kental masih mengucur keluar tiada hentinya, hal ini membuktikan
bahwa mereka belum lama menemui ajalnya.
Bergidik perasaan Kho Beng sesudah melihat peristiwa ini, segera
pikirnya:
“Benar-benar keji sekali cara membunuh orang ini, jangan-jangan
Sie Put ku adalah si kedele maut yang sedang dicari-cari oleh
segenap umat persilatan?”
Ia mulai mengkhawatirkan keselamatan jiwa Cho liu san, betapa
tidak! Dibawah kerubutan berpuluh orang jago lihay pun Sie Put ku
masih mampu membinasakan dua orang musuhnya, bagaimana
mungkin Cho toako dengan kepandaian silatnya yang begitu rendah,
akan mampu mempertahankan diri?
Angin malam terasa berhembus kencang,
-------missing page 48 – 57---------
....keperkampungan Hui im ceng di Hang ciu untuk melakukan
penyelidikan?
Maka tanpa menginap lagi, berangkatlah Kho Beng pada malam
itu juga menuju kekota Hang Ciu.

Pemandangan alam disekitar kota Hang ciu memang termasyur
diseantero jagat, sebuah telaga yang permai terbentang dikelilingi
tiga bukit, sementara sisi yang lain menempel dengan kota tersebut,
entah berapa banyak orang yang terpikat oleh keindahan alam
disitu.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya
sampailah Kho Beng diota Hang ciu.
Saat itu dia tak berminat untuk menikmati keindahan alam
disekitar sana, dia hanya ingin secepatnya tiba diperkampungan Hui
im ceng serta menyelidiki persoalan sekita asal usulnya.
Waktu menunjukkan menjelang tengah hari, Kho Beng pun
menuju kesebuah rumah makan untuk mengisi perut, kemudian
tanyanya pada si pelayan :
“Hey pelayan, aku ingin menanyakan sebuah alamat kepadamu,
apakah kau tahu?”
Sambil tertawa pelayan itu menyahut:
“Silahkan toaya bertanya, hamba memang penduduk asli kota ini,
asal tempat tersebut berada disekitar Hang ciu, hamba pasti akan
mengetahuinya.”
“Dimanakah letak perkampungan Hui im ceng?” tanya Kho Beng
sambil tersenyum.
Begitu mendengar nama “Hui im ceng” mendadak paras muka
pelayan itu berubah hebat, cepat-cepat ia berbisik dengan wajah
tercengang :
“Toaya, mau apa kau pergi ke Hui im ceng?”
Kho Beng yang belum pengalaman dan baru terjun kedunia
persilatan jadi tertegun, setelah melihat perubahan wajah pelayan
itu, segera pikirnya:
“Waaah....nampaknya Hui im ceng punya nama cukup besar
dikota ini, tapi mengapa pelayan ini berubah muka?”
Berpikir sampai disitu, diapun segera menjawab :
“Aku hendak mencari orang di Hui im ceng, hey pelayan apakah
ada sesuatu yang tak beres?”
Pelayan itu mula-mula tertegun, kemudian katanya sambil
tertawa geli :
“Mau mencari orang di Hui im ceng? Toaya, kau jangan
menggoda hamba. “
Kho Beng menjadi mendongkol sekali, segera menegur agak
marah :

“Hey pelayan, jauh-jauh datang ke Hang ciu, aku khusus hendak
mencari oran di hui im ceng, siapa bilang aku sedang
menggodamu…. ?”
Pelayan itu menjadi tertegun beberapa saat lamanya, setelah itu
ia baru berbisik.
“Toaya, terus terang saja kukatakan, Hui im ceng telah menjadi
rumah tanpa penghuni semenjak dua puluh tahun berselang, disitu
tak ada orang, tapi setan sih banyak sekali.”
Kho Beng terkesiap dan memandang pelayan itu dengan
termangu, kemudian serunya gelisah:
“Pelayan! Sebenarnya dimana sih letak Hui im ceng? Apa yang
telah terjadi dengan perkampungan tersebut?”
“Panjang sekali untuk diceritakan, Hui im ceng terletak dikaki
bukit Mao san, kurang lebih lima li ditimur kota, dulu penghuninya
adalah seorang yang ternama, kemudian entah bencana apa yang
telah menimpa keluarganya, pada delapan belas tahun berselang
semua penghuninya tewas tanpa sisa, dan perkampungan itupun
berubah menjadi gedung hantu....?”
“Apakah tak pernah ada orang yang berani masuk kesitu?” sela
Kho Beng.
“Hmm.... bukan saja tak ada yang berani masuk, beberapa tahun
belakangan ini malah muncul hantunya, setiap malam selalu
kedengaran ada orang menangis didalam gedung itu, lagi pula sering
ditemukan orang mati, entah dari mana datangnya orang-orang itu,
mereka pada tewas didepan gedung itu. Konon orang-orang itu mati
ketakutan ketika terdorong oleh rasa ingin tahunya melakukan
penyelidikan disitu, selama beberapa tahun terakhir, suasana
disekitar gedung tersebut tak pernah tenang sehingga rakyat
disekelilingnya banyak yang pindah, kini seputar tiga li dari gedung
tersebut menjadi sepi tanpa penghuni, suasananya menjadi lebih
mengerikan lagi.”
Kho Beng mendengarkan semua pembicaraan tersebut dengan
perasaan termangu, jauh-jauh dia datang kemari ternyata alamat
yang dituju adalah sebuah gedung hantu, lantas apa maksud orang
she Li itu menyuruhnya datang kemari?
Sementara itu terdengar si pelayan telah berkata lagi:
“Toaya, jika kedatanganmu pun disebabkan oleh rasa ingin tahu,
hamba anjurkan lebih baik jangan kesana, sebab kalau sampai
kehilangan nyawa dengan percuma kau rugi besar.....”

Selesai berkata ia segera mengundurkan diri dari sana.
Kho Beng termangu beberapa saat lamanya, ia tahu sekalipun
ditanya lagipun tak akan banyak keterangan yang bisa dikorek, tapi
benarkah didunia ini ada hantunya?
Setelah berpikir lebih jauh, dia merasa tak baik kalau
mengundurkan diri dengan begitu saja setelah tiba di Hang ciu
sekarang, selain itu heboh hantu pun memancing rasa ingin tahu
dalam hatinya.
Jilid 03
Maka selesai mengisi perut, cepat-cepat dia membayar
rekeningnya dan meninggalkan rumah makan tersebut.
Sesudah keluar dari pintu timur, ia berjalan menelusuri sebuah
jalan besar, tanpa terasa dua tiga li telah dilalui.
Benar juga, suasana disekitar sana makin lama semakin sepi dan
menyeramkan, ini menunjukkan kalau perkataan si pelayan tadi
tidak bohong.
Sepanjang jalan dia menjumpai banyak rumah yang tanpa
penghuni, malah banyak pula yang sudah roboh, mungkin rumah
rumah itu adalah bekas rumah penduduk yang ditinggalkan
penghuninya.
Akhirnya dari kejauhan dana ia saksikan sebuah gedung
perkampungan yang megah, bangunan itu berdiri dikaki bukit,
semuanya terbuat dari batu yang kokoh dan megah, bisa diduga
pemiliknya dulu tentu merupakan seorang yang ternama dan kaya
raya.
Kho Beng tahu, gedung tersebut tentulah Hui im ceng yang
dimaksud, ia mencoba memperhatikan sekeliling situ, ternyata tak
sesosok bayangan manusia pun yang nampak. Suasana dimusim
gugur yang gersang menambah suasana ngeri dan menyeramkan
disekeliling gedung tersebut.
Ia mendekati pintu gedung, sarang laba-laba kelihatan menghiasi
setiap sudut bangunan, pintu gerbang setengah terbuka tapi terasa
mengerikan.
Lama sekali pemuda itu berdiri ragu didepan pintu, pikirnya
kemudian:
“Aaah…masa disiang aripun ada setan yang bakal muncul?”
Setelah menenangkan hatinya, diapun mendorong pintu gerbang
ang lapuk itu,

“Kraaak…”
Pintu segera terbuka lebar, pemandangan pertama yang
kemudian terpampang didepan mata adalah tumbuhan ilalang
setinggi lutut yang menyelimuti seluruh permukaan tanah, ketika
angin berhembus lewat menggoyangkan ilalang, lamat-lamat
terlihatlah tengkorak manusia berserakan dimana-mana.
Diam-diam Kho Beng merasa merinding, setelah melihat kejadia
itu, tanpa terasa bulu kuduknya pada bangun berdiri.
Sekalipun disiang hari bolong dia toh dapat merasakan betapa
seramnya dan ngerinya suasana dalam gedung tersebut.
Beberapa saat kemudian, dengan memberanikan diri ia
melangkah masuk kedalam gedung tersebut dengan langkah pelan.
Tiba-tiba terdengar suara mencicit muncul dari balik ilalang,
disusul bergelombangnya tumbuhan disekitar sana, Kho Beng
terkejut dan cepat-cepat melompat mundur.
Tapi ia menjadi geli sendiri setelah melihat apa yang terjadi,
rupanya ada bberapa ekor tikus yang lari ketakutan.
Sambil menghembuskan napas panjang, Kho Beng berpikir dihati
kecilnya:
“Kho Beng, wahai Kho Beng…kalau keadan seperti inipun sudah
membuat kau ketakutan, bagaimana mungkin kau bisa menjadi
seorang pendekar dan orang gagah didalam dunia persilatan?”
Berpikir sampai disitu, semangatnya segera berkobar kembali,
dengan langkah lebar dia meneruskan perjalanannya kedalam
gedung tersebut.
Setelah melewati pelataran, didepan sana merupakan sebuah
gedung besar yang berbentuk ruang tamu, kursi meja masih
tersusun rapi disekitarnya, namun debu setebal berapa inci
menyelimuti seluruh permukaan lantai, hal ini menunjukkan kalau
gedung tersebut sudah lama tak pernah dijamah manusia.
Dengan langkah yang santai dia berjalan memasuki ruang tamu,
sambil mengamati sekeliling dengan seksama akhirnya pemuda itu
masuk kedalam gedung kedua.
Tempat itu merupakan sebuah bangunan berloteng, sederet
jendela yang menghadap keluar meski sudah dilapisi debu tebal,
namun masih kelihatan sisa-sisa kemegahan dimasa lalu.
Pemuda itu mencoba untuk membuka pintu ruangan dan
melangkah masuk, tapi apa yang kemudian terlihat segera membuat
perasaannya menjadi tercekat.

Ternyata semua perabot disitu teratur rapi sekali, lantaipun amat
bersih, tak setitik nodapun yang nampak.
Benar-benar satu kejadian aneh, kalau dibilang disitu tak ada
penghuninya, mengapa ruangan tersebut begitu bersih dan terawat
baik? Kalau dibilang ada penghuninya, sudah sekian lama dia
memasuki gedung tersebut, namun tak setitik suarapun
kedengaran…
Semakin dipikir Kho Beng merasa semakin ngeri sehingga tanpa
terasa bulu kuduknya pada bangun berdiri, cepat-cepat dia kabur
keluar dari pintu ruangan.
Tapi setelah termenung sejenak pemuda itu meneruskan kembali
perjalanannya menuju keruang belakang.
Semakin kedalam ia berjalan, Hui im ceng begitu luas dan besar,
sepanjang jalan banyak pepohonan yang tumbuh rindang, jalannya
pun berliku-liku, kesemuanya ini membuat suasana disana terasa
makin menyeramkan dan menggidikkan hati…!
Selesai melakukan pemeriksaan disekeliling gedung, pemuda itu
balik kembali kegedung kedua.
Hingga kini dia masih bimbang dan tak habis mengerti, dia tak
berhasil menemukan titik terang yang menunjukkan bahwa antara
dia dengan hui im ceng tersebut mempunyai sangkut paut yang luas.
Selain itu, kecuali gedung bertingkat tersebut yang nampaknya
rada mencurigakan, ditempat lain ia tak berhasil menemukan
sesuatu yang menyolok.
Lalu apa yang harus diperbuatnya sekarang? Pergi meninggalkan
tempat tersebut atau tetap tinggal disitu? Apakah maksud orang
yang menyuruhnya datang kesitu hanya untuk menonton gedung
hantu ini?
Diliputi perasan ragu dan bimbang, Kho Beng masuk kembali
kedalam ruang gedung yg bersih tadi.
Namun secara tiba-tiba, ia berseru kaget dan mundur sejauh tiga
langkah lebih setelah pandangan matanya dialihkan kearah meja
besar.
Ternyata diatas meja tersebut telah bertambah dengan sederet
tulisan yg berbunyi begini:
“Jika masih sayang nyawa, pergilah meninggalkan tempat ini
sebelum matahari terbenam.”
Kho Beng benar-benar amat terperanjat, seingatnya sewaktu
masuk untuk pertama kalinya tadi diatas meja sama sekali tak

terdapat tulisan apa-apa. Ini berarti surat peringatan itu dibuat pada
saat dia sedang memeriksa bagian gedung yang lain.
Pemuda itu segera mengangkat kepalanya sambil mencoba untuk
memperhatikan keadaan disekitar situ, suasana terasa hening & sepi
sedang disekitar situpun kosong melompong, mustahil ada orang
kedua yg telah memasuki tempat itu, tapi…..siapakah yg telah
meninggalkan surat peringatan tersebut? Mungkinkah setan…..?
Dalam waktu singkat, Kho Beng kembali merasakan suasana
misterius menyelimuti seluruh perkampungan Hui im ceng tersebut.
Sesungguhnya pemuda itu telah bersiap-siap akan meninggalkan
tempat tersebut, tapi surat peringatan itu segera membangkitkan
kembali sifat ingin tahunya.
Sambil tertawa nyaring segera serunya dengan lantang:
“Selama hidup aku Kho Beng belum perna melihat setan, malam
ini ingin kusaksikan sampai dimanakah kehebatan setan dedemit
dalam menggoda manusia….”
Suasana disekeliling tempat itu tetap terasa hening, sepi dan tak
kedengaran sedikit suara pun.
Melihat tiada suara tanggapan, Kho Beng pun segera balik
kembali keruang semula, menurunkan buntalannya dan duduk
bersemedi diatas sebuah kursi.
Matahari senja telah condong dilangit barat, tak lama kemudian
cahaya kemerahan itupun lenyap dari pandangan mata, suasana
gelap segera menyelimuti seluruh angkasa.
Tatkala Kho Beng selesai dengan semedinya dan membuka mata,
ruang tersebut telah dicekam kegelapan malam.
Dia masih ingat ketika dalam perjalanan, maka diambilnya
ransum tersebut dan dimakan secara pelan-pelan sambil
memperhatikan suasana diluar gedung.
Biarpun ruangan itu tanpa cahaya lentera, sinar rembulan
diangkasa mendatangkan suasana cerah diseputar gedung tersebut.
Selesai bersantap, Kho Beng merasakan semangatnya berkobar
kembali, dia tak tahu apa yg mesti diperbuatnya dalam kegelapan
malam begini, maka dengan langkah pelan dia keluar dari ruangan
dan mengawasi keadaan di sekitar sana.
Tampak kegelapan malam telah menyelimuti setiap sudut gedung
itu, pemandangannya sepuluh kali lipat lebih menyeramkan dari
pada disiang hari tadi.

Dibawah timpaan sinar rembulan, bayangan pohon yang terbias
menciptakan bayangan aneh yang menyerupai setan, angin malam
yg berhembus kencang menimbulkan udara dingin yang
membekukan, ditambah pula dg suara jeritan tikus yg lebih mirip
jeritan setan. Kesemuanya ini membuat perkampungan Hui im ceng
seolah-olah berubah menjadi sebuah dunia setan.
Biarpun sewaktu siang tadi Kho Beng telah mengadakan kontrol
yg cermat disekitar sana, tapi dalam suasana begini, tak urung
bergidik juga hatinya.
Cepat-cepat dia kembali keruang tengah, menutup pintu depan
lalu bersemedi dikursi, walaupun perasaannya mulai gugup, namun
wataknya yg keras kepala membuatnya bertekad untuk bermalam
disitu. Dia ingin mengetahui sampai dimanakah kehebatan dan
keseraman gedung tersebut.
Malam pun makn lama semakin larut, suasana tenang dan sepi
makin mencekam seluru jagat, tunggu punya tunggu Kho Beng
belum juga menangkap sesuatu suara yang aneh, tanpa terasa
diapun berpikir:
“Konon hawa panas manusia membuat setan dedemit pada kabur
ketakutan, jangan-jangan setannya tak akan muncul pada malam
ini…”
Makin dipikir dia makin bernyali, akhirnya diapun terlelap dalam
ngantuknya.
Baru saja dia akan tertidur, mendadak segulung angin dingin
berhembus lewat menerpa tubuhnya, pemuda itu bergidik dan
segera mendusin ari tidurnya.
Dengan pandanga tajam diawasinya sekejap sekitar situ. Tampak
pintu ruangan yg semula tertutup rapat kini telah terbuka lebar,
hembusan angin diluar pintu mendatangkan suara yg mengerikan
hati.
Kho Beng sangat terkejut, belum sempat dia berbuat sesuatu,
mendadak terdengar olehnya suara langkah kaki manusia yg cukup
keras bergema memecahkan keheningan, suara itu seperti datang
dari atas loteng.
Deruan angin dan suara langkah kaki tersebut muncul sejenak
lalu lenyap, bila tidak diperhatikan dg seksama, sulit rasanya untuk
ditangkap secara nyata.
Tapi langkah kaki siapakah itu? Apalagi ditengah malam buta
begini, ditengah gedung yg disebut gedung hantu?

Dg bulu kuduk pada bangun berdiri, Kho Beng segera
membentak keras:
“Siapa disitu?”
Begitu suara bentakan berkumandang, suara langkah tersebut
segera lenyap tak berbekas.
Kho Beng mencoba untuk memperhatikan lagi beberapa saat,
namun tak kedengaran lagi suara apapun, dg perasaan ragu diapun
berpikir:
“Jangan-jangan aku salah mendengar?”
Siapa tahu belum habis ingatan itu melintas lewat, suara langkah
kaki itu kembali bergema, kali ini suara tersebut kedengaran nyata
sekali dan berasal dari lantai atas.
Kali ini, Kho Beng telah yakin kalau suara langkah tersebut
berasal dari atas loteng, ia tahu suara itu bukan khayalan belaka,
maka dg suatu gerakan cepat dia melompat keluar dari ruangan
tersebut.
Tampak dari balik jendela diatas loteng terlihat sebuah lentera
menyinari suasana disekelilingnya.
Lagi-lagi suatu kejadian yg sangat aneh, pemuda itu masih ingat,
loteng itu berada dalam kegelapan tadi, lalu siapa yg telah bermain
gila dgnya.
Dg suatu gerakan cepat, dia melompat naik keatas loteng,
kemudian menerobos masuk kebalik jendela dg suatu gerakan tipu
yg manis.
Dilihat dari bawah tadi, cahaya lentera tersebut kelihatan terang
benderang, tapi setelah berada dalam ruangan atas, ternyata
suasananya cukup remang-remang.
Dg cepat Kho Beng memeriksa sekejap disekitar sana, tapi
kembali ia dibuat terpeanjat sampai menjerit keras.
Dalam ruangan tersebut tidak ditemukan sesosok bayangan
manusiapun, tapi diatas ranjang duduklah seperangkat tulang
tengkorak manusia dalam posisi bersila, sisa daging yg membusuk
masih menempel diseputar tulang belulangnya, sehingga hal ini
membuat bentuknya lebih menyeramkan.
Benarkah duara langkah kaki manusia yg terdengar tadi adalah
langkah tengkorak tersebut? Benarkah dalam gedung ini betul-betul
terdapat setannya?
Begitu ingatan tersebut melintas didalam benaknya, Kho Beng
segera membentak nyaring:

“Lihat serangan!”
Sepasang tangannya diayunkan kedepan sekuat tenaga dan
menghajar tengkorak yg sedang duduk bersila diatas ranjang itu…….
Dimana angin pukulannya menyambar lewat, tengkorak tersebut
segera roboh berantakan diatas ranjang.
Dengan gerakan cepat Kho Beng memburu ketepi ranjang, dia
baru dapat menghembuskan napas lega setelah menyaksikan tulang
belulang itu berantakan tak karuan.
“Hmmm, akan kulihat apakah kau bisa bermain gila lagi!”
demikian pikirnya dihati.
Siapa tahu belum habis ingatan tersebut melintas lewat,
mendadak dari belakang tubuhnya berkumandang lagi suara tertawa
seram yg menggidikkan hati, menyusul kemudian cahaya lentera
bergoyang tiada hentiny seakan akan hendak padam.
Dengan perasaan terkejut Kho Beng segera berpaling….apa yang
terlihat?
Ternyata sesosok tengkorak telah berdiri tegak didepan pintu
kamar sambil menyeringai seram.
Sekujur badan tengkorak itu berlumuran cahaya pospor, sehingga
walaupun berada dalam kegelapan, namun bentuknya dapat terlihat
jelas.
Hampir terbang semangat Kho Beng setelah menyaksikan
kejadian ini, sambil memutar badannya cepat-cepat, ia segera
membentak nyaring, sepasang tangannya kembali diayunkan
kedepan melancarkan serangan dahsyat.
Dengan hasil latihannya selama dua tahun ditambah pula berada
dalam keadaan terkejut bercampur ngeri, tak heran kalau tenaga
serangan yang digunakan olehnya saat itu lebih hebat daripada
serangan jago-jago setarafnya.
Tapi apa yg dirasakan Kho Beng kali ini berbeda jauh dengan
keadaan semula, kali ini dia merasa tenaga pukulannya seperti tak
berhasil menyentuh sesuatu, sementara tengkorak bercahaya itu
malah melayang kesana kemari mengikuti hembusan angin
pukulannya.
“Aaaaah……”
Tak kuasa lagi Kho Beng menjerit kaget, peluh dingin bercucuran
membasahi tubuhnya, hampir saja ia jatuh pingsan.

Sekalipun dia tak percaya dg setan, namun berada dalam
keadaan seperti ini,mau tak mau dia membayangkan juga ceritacerita
seram tentang setan yg pernah didengarnya selama ini.
Dalam waktu singkat, dia merasa suasana disekeliling sana
menjadi gelap gulita, hawa setan menyelimuti sekitar situ,
sementara bayangan iblis seakan-akan siap menerkam serta
melahapnya.
Tengkorak bersinar itu lagi-lagi meluncur datang dg seramnya,
Kho Beng ingin lari tapi kakinya seperti berakar, sama sekali tak
mampu berkutik lagi, sehingga tanpa sadar dg tubuh gemetar keras
pemuda itu mundur kebelakang selangkah demi selangkah.
Pada saat itulah cakar tengkorak yg kurus kering itu menyambar
kewajahnya dg kecepatan bagaikan kilat, kemudian mencekik
tenggorokan Kho Beng dari arah belakang.
Dg perasaan seram Kho Beng segera menjerit:
“Aku toh tak pernah terikat dendam sakit hati dgmu, jangan kau
bunuh diriku!”
“Heeehh…..heeehh…..heeehh….” suara tertawa yg begitu
menyeramkan berkumandang dari belakang tubuhnya, “Siang tadi
aku toh sudah memperingatkan jangan tinggal disini sampai
matahari terbenam, tapi nyatanya kau tetap tinggal disini, jangan
salahkan kalau kucekik mampus dirimu sekarang!”
Napasnya menjadi sesak sekali dan kesadaran Kho Beng pun
lamat-lamat mulai menghilang, pada hakekatnya dia tak sempat lagi
untuk memperhatikan secara jelas apakah setan atau manusia yg
mencekiknya dari belakang.
Apa yang terpikirkan olehnya sekarang adalah bagaimana
caranya untuk melepaskan diri dari jepitan jari tangan lawan yg kuat
dan keras bagaikan jepitan besi tersebut serta mencari keselamatan
hidup bagi dirinya.
Mendadak……
Satu ingatan melintas didalam benaknya dengan sekuat tenaga ia
segera berteriak :
“Ampuni aku, bukan maksudku sendiri kemari........”
“Hmmm…hmmm…cepat katakan siapa yg menyuruh kau datang
melakukan penyelidikan disini ? “
Pertanyaan itu diucapkan dg suara yg menyeramkan, namun
cekikan tersebut mulai mengendur, seakan-akan dia kuatir kalau Kho
Beng benar-benar akan mati tercekik.

Menggunakan kesempatan itulah Kho Beng menarik napas
panjang, lalu dg sekuat tenaga kakinya menjejak tanah, dg
kepalanya dia menerjang kebelakang.
Oleh karena setan itu berada dibelakangny maka percuma dia
berilmu silat, karena mustahil dapat digunakan, maka diapun
mengambil keputusan untuk beradu nasib dg melakukan
terjangan…..
Buktinya terjangan tersebut segera memberikan hasil diluar
dugaan.
“Bruuukkk… ! “
Dibali suara benturan keras kedengaran pula jeritan kaget,
tangan yg mencekik Kho Beng tadi terlepas dari atas tengkuknya, dg
memanfaatkan kesempatan inilah dia membalikkan badan sambil
berkelit kesamping.
Akan tetapi disebabkan terjangan tersebut dilakukan dh sepenuh
tenaga, hal mana membuat pandangan matanya menjadi
berkunang-kunang, kepalanya pusing tujuh keliling, ditambah lagi
suasana dalam ruangan redup, hakekatnya dia belum sempat untuk
memperhatikan dg lebih jelas lagi siapakah lawannya itu….. ?
Menanti Kho Beng dapat menguasai diri kembali, tahu-tahu
desingan angin tajam telah melintas didepan tubuhnya, menyususl
kemudian urat nadai pada tangan kanannya telah dicengkeram dg
kuat sekali.
Kontan saja pemuda itu kehilangan seluruh kekuatan tubuhnya
dan duduk lemas.
Ternyata dihadapannya telah muncul seorang kakek berbaju
putih yg rambutnya telah beruban dan membawa sebuah tongkat
ditangan kanannya, hanya saja rambutnya menutupi seluruh
wajahnya hingga tak nampak jelas raut mukanya itu.
Biar begitu, sinar mata yg terpancar keluar dari balik matanya
justru mendatangkan perasaan bergidik bagi siapapun yg
melihatnya, hal mana membuat bulu kuduk Kho Beng segera pada
berdiri semua.
Sekalipun demikian, Kho Beng pun dapat menghembuskan napas
lega, karena biarpun orang ini lebih mirip setan, namun
bagaimanapun juga toh tetap sebagai manusia biasa, karenanya dia
segera berseru lagi:
“Empek, aku toh tak ada hubungan sakit hati atau permusuhan
dgmu, kenapa kau mesti berlagak menjadi setan untuk menakut-

nakuti diriku? Hampir saja aku mati ketakutan….cepat lepaskan aku,
bila ada urusan, mari kita bicarakan secara baik-baik!”
Kakek itu segera tertawa dingin.
“Hmmm, meskipun nyalimu besar dan tak sampai mati ketakutan,
namun aku mampu membunuhmu dalam sekali ayunan tangan saja,
cepat katakan siapa yg menyuruhmu datang kemari?”
Kho Beng segera menghela napas panjang.
“Aaaai.....orang yg menyuruhku kemari mengaku she Lie!”
“Hmmm, jangan berusaha membohongi aku, dia bernama Lie
apa...?” dengus kakek berambut putih itu.
Kembali Kho Beng tertawa getir.
“Aku juga tak tahu siapakah orang itu, bahkan wajahnyapun
belum sempat kujumpai.”
Kakek berambut putih itu segera menghentakkan toyanya keraskeras
keatas tanah, lalu bentaknya:
“Bajingan keparat, kau berani….”
Berbicara sampai ditengah jalan, toya ditangan kanannya segera
direntangkan kedepan.
Seketika itu juga Kho Beng merasa amat terperanjat, dia mengira
orang itu tak percaya dg kata-katanya dan sekarang bersiap siap
untuk melancarkan serangan mematikan.
Baru saja dia hendak membuka suara untuk membantah,
tampaklah si kakek itu sudah melemparkan toyanya lewat jendela.
Jendela yg setengah terbuka itu hancur seketika tersambar oleh
toya baja itu, ditengah ledakan keras yg memekakkan telinga
terdengar suara jeritan yg bergema membelah angkasa, disusul
kemudian tampak ada benda berat yg roboh terbanting diatas tanah.
Kho Beng menjadi terbelalak dan melongo oleh peristiwa
tersebut. Dia tak menyangka kalau dialam gedung tersebut kecuali
dia seorang, ternyata masih ada pihak lain yg melakukan
penyelidikan dari luar jendela.
Dia pun tak pernah menyangka kalau kakek berambut putih yg
manusia tak mirip manusia, setan tak mirip setan ini ternyata
memiliki tenaga dalam yg begitu sempurna, dimana dalam ayunan
toyanya dia sangup membunuh seseorang dalam waktu singkat.
Sementara dia masih tertegun karena kaget, mendadak cekalan
pada pergelangan tangan kanannya menjadi kendor, menyusul
kemudian tampak kakek berambut putih itu roboh terjungkal keatas
tanah.

Dg napas terengah-engah, kakek itu segera berseru :
“Aku sudah dicelakai orang, cepat….cepat katakanlah, dia
sia….siapakah kau?”
Sekali lagi Kho Beng dibuat tertegun, sebetulnya saat itu
merupakan kesempatan yg terbaik aginya untuk melarikan diri,
namun perasaan heran dan ingin tahunya membuat pemuda itu
melupakan ancaman bahaya atas keselamatannya.
Dg perasaan keheranan, ia segera bertanya:
“Lotiang, bukankah kau berada dalam keadaan sehat wal afiat?
Siapa yg telah mencelakaimu?”
“Aku sudah terkena jarum penembus tulang pembeku darah….”
Kata kakek berambut putih itu dg napas terengah-engah.
“Kau…kemarilah….mengingat aku sudah hampir mati, beritahulah
padaku, siapakah kau? Dan siapa yg menyuruhmu datang kemari?”
Diam-diam Kho Beng merasa terkejut sekali, pikirnya:
“Padahal kepandaian silatnya sangat hebat, tapi kenyataannya
dia telah dicelakai orang tanpa menimbulkan sedikit suarapun,
aaah…! Jarum penembus tulang pembeku darah yg dimaksudkan
pastilah sejenis senjata yg amat jahat.”
Ia merasa tak pernah mempunyai dendam sakit hati dg siapapun,
sekarang ia Cuma terlibat dalam peristiwa tersebut secara kebetulan
saja, apalagi setelah melihat kakek itu berusaha untuk mengetahui
identitasnya menjelang saat kematiannya, tanpa terasa timbul rasa
kasihan dalam hati kecilnya.
Setelah tertawa getir, diapun menjawab:
“Sesungguhnya aku sendiripun tak tahu mengapa aku Kho Beng
disuruh datang kemari, seseorang yg tidak kukenal telah
meninggalkan sepucuk surat kepadaku untuk datang kemari dan aku
pun segera berangkat kesini. Nah, silahkan lotiang memeriksa surat
ini seusai membaca isinya kau pasti akan mengerti dg sendirinya.”
Sambil berkata, dia mengeluarkan selembar surat dan mendekati
kakek tersebut.
“Aku sudah tak dapat melihat lagi, tolong bacakan isi surat
tersebut….” Kata kakek berambut putih itu dg nada lemah.
Dg cepat Kho Beng membaca isi surat tersebut.
“Aku tak dapat menunggu karena ada urusan penting, datanglah
keperkampungan Hui im ceng dikota Hang ciu seusai membaca
tulisan ini, sepuluh tahil perak kuhadiahkan sebagai ongkos jalan,

dinding naga merupakan warisan leluhur, jangan diperlihatkan
kepada siapapun. Nah, surat tersebut tanpa tanda tangan….”
Sekujur badan sikakek nampak bergetar keras selesai mendengar
isi surat itu, dg nafas tersengal dia berusaha meronta bangun, lalu
serunya sambil mengawasi wajah Kho Beng lekat-lekat:
“Dinding naga? Apakah dinding naga itu?”
Dg perasaan terkejut Kho Beng mundur selangkah, dia kuatir
kakek itu akan menyerangnya secara tiba-tiba kemudian baru
sahutnya:
“Benda itu tak lain adalah sebuah lencana batu kumala hijau yg
kukenakan sedari kecil dulu….”
Belum selesai perkataan tersebut, dua rentetan sinar aneh telah
memancar keluar dari balik mata kakek tersebut, serunya lagi dg
gelisah:
“Cepat…..cepat keluarkan dan tunjukkan kepadaku….aku…..aku
sudah hampir tak sanggup bertahan lebih lama lagi….”
Kalau dilihat dari sikapnya yg begitu gelisah, seakan-akan dia
merasa bakal mati tak tentram apabila tak sempat melihat lencana
naga itu menjelang ajalnya.
Satu ingatan segera melintas dalam benak Kho Beng, pikirnya:
“Jangan-jangan kakek ini mengetahui lencana kumala yg
kukenakan ini...?”
Berpikir begitu, cepat-cepat dia mengeluarkan lencana naga
tersebut dan ditunjukkan kepada kakek tersebut sambil katanya :
“Lotiang, silahkan kau periksa dg seksama!”
Waktu itu rembulan sudah condong kelangit arat, sinar yg
berwarna keperak perakan menyoroti lencana kumala tersebut dan
memantulkan selapis cahaya hijau yg berkilauan.
Biarpun Kho Beng tidak melepaskan lencana tersebut dari
gantungannya, akan tetapi kakek itu dapat menyaksikan dengan
sangat jelas.
Dg tubuh gemetar keras karena pergolakan emosi, ia segera
berseru:
“Aaah...ternyata benar-benar lencana naga kumala hijau..!
Ternyata benar-benar lencana naga kumala hijau…Oooh Thian! Kau
telah melindungi kami sehingga memberi petunjuk kepada Lie sam
untuk menemukan kau kembali….rasanya tak sia-sia aku menunggu
hampir belasan tahun lamanya dg penuh penderitaan!”

Mungkin saking emosinya, belum lagi perkataan tersebut selesai
diutarakan, tubuhnya sudah roboh terjengkang keatas tanah.
Timbul kecurigaan dalam hati Kho Beng setelah mendengar
ucapan tersebut, cepat-cepat dia memburu maju kedepan dan
berseru:
“Lotiang, siapa sih Lie Sam yg kau maksudkan? Siapa pula kau?
Kenapa kau bisa mengenali lencana naga kumala hijau milikku ini…?”
Secara beruntun dia telah mengajukan beberapa pertanyaan
sekaligus.
Namun keadaan kakek tersebut amat lemah, napasnya amat lirih
dan bibirnya yg mengering nampak bergetar lemah, mengucapkan
serentetan perkataan yg hampir saja susah terdengar.
“Hamba….hamba tak tahan untuk ba…banyak berbicara
lagi…ce…cepat kau ambil sesuatu dalam sakuku dan pergi ketebing
Siong hun gan dibukit Hong san…tee…temuilah Bu Wi
lojin…ingat…kau adalah maa…majikan muda..da….dari Hui im
…ceng…cepat tinggalkan tempat yg berbahaya ini…”
Ketika berbicara sampai disitu, ia sudah tak sanggup lagi untuk
menahan diri, kepalanya segera terkulai kesamping dan
menghembuskan napas yg penghabisan.
Kho Beng enjadi amat tertegun, cepat-cepat dia menggoyangkan
tubuh kakek tersebut sambil serunya:
“Lotiang, mana mungkin ak adalah majikan muda dari
perkampungan Hui im ceng? Katakanlah lebih jelas!”
Tapi sayang kakek yg tergeletak diatas tanah itu sudah tak
mampu menjawab lagi. Sinar rembulan yg menyoroti mayatnya
memantulkan cahaya pucat yg mengenaskan hati.
Dg perasaan hati yg berdebar, Kho Beng segera mendekati kakek
itu serta menyingkap rambut yg menutupi wajahnya.
Sekarang ia baru dapat melihat wajah kakek tersebut secara
jelas, kerutan yg dalam menghiasi hampir seluruh wajahnya, tapi
dibalik mukanya yg kurus kering justru memancarkan sifat
keteguhan yg kuat, wajah semacam ini sedikitpun tidak mirip dg
wajah seorang manusia licik yg berhati keji.
“Benarkah aku adalah majikan muda Hui im ceng?” dengan wajah
termangu-mangu Kho Beng berpiki, “Tapi bukankah pelayan rumah
makan dikota Hang ciu telah menerangkan tadi bahwa semua
penghuni perkampungan Hui im ceng telah ditumpas orang
semenjak delapan belas tahun berselang? Jika aku adalah keturunan

dari Hui im ceng, bagaimana mungkin bisa hisup sampai sekarang
dan dipelihara oleh perguruan Sam goan bun?”
Sementara pelbagai pikiran masih berkecamuk dalam benaknya,
tiba-tiba terdengar seseorang menjerit kaget dari luar loteng.
“Aaah! Khu losam telah mampus!”
“Benar-benar amat keji,” sambung yang lain, “Coba lihat,
mukanya hancur tak karuan, hantaman toya tersebut paling tidak
mencapai lima ratusan kati.”
Orang yg berbicara pertama kali tadi segera tertawa dingin:
“Nyatanya dugaanku tidak keliru, heboh setan yg telah
berlangsung empat lima tahun di Hui im ceng ternyata Cuma ulah
dari si toya baja pedang sakti Kho Po koan seorang budak yg
berhasil lolos dari musibah lalu.”
“Yaa benar! Toya besi itu memang merupakan senjata andalan
Kho Po koan dimaa lalu, saudara Lu! Mari kita selidiki keatas , baik
buruk persoalan ini harus kita selidiki sampai tuntas hari ini.”
Sekali lagi Kho Beng merasa tertegun setelah mendengar
perkataan itu, pikirnya:
“Aaah...rupanya kakek yg tewas ini dari marga Kho, kalau begitu
pemilik perkampungan Hui im ceng dimasa lalu pun berasal dari
marga Kho?”
Teringat dg pesan kakek tersebut menjelang ajalnya, cepat-cepat
ia merogoh kedalam saku kakek tersebut, berusaha untuk
memeriksa benda apakah yg diserahkan sikakek menjelang ajalnya
tadi?
Sayang sekali hal ini sudah terlambat selangkah, tampaklah dua
sosok bayangan manusia menerobos masuk kedalam ruangan dg
kecepatan tinggi.
Dg perasaan terkejut Kho Beng segera menarik kembali
tangannya sambil mundur kebelakang, ternyata pendatang tersebut
terdiri dari dua orang.
Yang satu adalah seorang kakek berbaju abu-abu yg membawa
pedang berjenggot hitam, bermata tajam dan bersikap keren serta
penuh wibawa.
Sedangkan orang kedua adalah seorang sastrawan berbaju putih
yg membawa kipas kumala. Walaupun gerak geriknya sangat lemah
lembut dan penuh sopan santun, namun tidak menutupi hawa sesat
dan kelicikan yg memancar keluar dari wajanya.

Kedua orang itu nampak tertegun setibanya diatas loteng,
kemudian kakek berpedang itu mmeriksa sekejap jenazah kakek
berambut putih, lalu katanya pada sastrawan berbaju putih:
“Ternyata orang ini benar-benar adalah Kho Po koan!”
Lalu sambil mengalihkan pandangan matanya ke wajah Kho
Beng, kembali bentaknya:
“Siapa kau?”
Belum selesai bentakan itu berkumandang, mendadak terdengar
sastrawan berbaju putih itu menjerit kaget:
“Liu toako, coba lihat tempat ini benar-benar ada setannya!”
Sambil berkata ia lantas menunding kedepan.
Mngikuti arah yg ditunuk, kakek berambut hitam itu segera
berpaling, tapi apa yg kemudian terlihat membuat paras mukanya
segera berubah hebat.
Sambil membentak keras pedangnya langsung disambit kedepan.
Kho Beng pun turut terperanjat dan segera berpaling kearah
mana semua orang tertuju.
Ternyata yg dimaksudkan sastrawan berbaju putih itu adalah
tengkorak putih yg dijumpainya tadi.
Sementara itu cahaya pedang telah berkelebat lewat dan…”Criit”
langsung menembusi tengkorak tersebut dn menancap diatas pintu,
gagang pedang bergetar tak hentinya, tapi tenggorokan itu Cuma
bergerak terombang ambing kesamping lain, berdiri kembali
ditempat semula.
Saat itupun mereka bertiga baru dapat melihat dg jelas, ternyata
tengkorak tersebut tak lain hanya selembar tirai pintu yang
diatasnya dilukis sebuah gambaran tengkorak dg kapur putih, oleh
sebab dilihat dari kegelapan maka seolah olah gambaran tersebut
merupakan tengkorak sungguhan.
Begitu rahasianya terbongkar, maka permainan yg terasa ngeri
dan menyeramkan tadipun sekarang menjadi sama sekali tak
berharga.
Kho Beng segera menghembuskan napas panjang, kemudian
serunya sambil menjura.
“Tak nyana kalau Cuma selembar kain hitam, hampir saja aku
dibuat mati saking kaget dan takutnya, tapi aku percaya selanjutnya
dalam perkampungan ini tak bakal ada setan yg menggoda orang
lagi.”

Sesudah menyaksikan semua yg terjadi dan mendengar
perkataan tersebut, sikap sikakek berjenggot hitam dan sastrawan
berbaju putih pun turut berubah menjadi lebih lembut.
Kakek itu segera menjura seraya menyapa:
“Siapakah nama siauhiap?Ada urusan apa datang kemari?”
“Aku yg muda Kho Beng, kebetulan saja lewat dikota Hang ciu,
berhubung kudengar digedung ini ada hantunya, maka dg perasaan
ingin tahu aku datang kemari untuk melakukan penyelidikan.”
Sastrawan berbaju putih itu segera tertawa terbahak-bahak,
katanya pula:
“Ha…ha….ha….ternyata Kho siauhiap! Maaf…maaf…siauhiap
memang sangat hebat, bukan saja berani melakukan penyelidikan
seorang diri digedung hantu ini, bahkan mampu membinasakan
sitoya besi pedang baja Kho Po koan yg sudah termashur namanya
dalam dunia persilatan. Bila berita ini sampai tersiar keluar, bukan
saja keberanianmu akan dikagumi orang banyak, kehebatan ilmu
silatmu tentu akan menggemparkan seluruh sungai telaga. Aku
sastrawan berkipas kemala Beng Yu percaya, tak sampai tiga hari,
nama besar siauhiap tentu sudah termashur diseluruh dunia
persilatan!”
Merasa tidak memiliki kemampuan tersebut, pujian itu justru
membuat Kho Beng tersipu-sipu, dg cepat dia menggoyangkan
tangannya berulang kali seraya berseru:
“Harap kalian berdua jangan salah paham, aku yg muda Cuma
seorang manusia yg baru terjun kedunia persilatan, kepandaianku
tak seberapa, sesungguhnya…”
Kakek berjenggot hitam itu tertawa terbahak-bahak, tukasnya:
“Buat apa saudara cilik merendahkan diri? Kau tahu betapa
hebatnya rekanku si jarum emas pencabut nyawa yg datang
bersamaku tadi? Tapi kenyataannya dia toh mempus juga oleh toya
besi budak tua ini, bila kau masih mencoba bersungkan terus, ini
namanya menganggap asing kami berdua.”
Sastrawan berbaju putih itu segera menyambung pula sambil
tertawa:
“Saudara memang mengagumkan sekali, biar berilmu tinggi tapi
tak sombong, sikap semacam inilah merupakan watak sejati seorang
pendekar, bisa kuduga gurumu pasti seorang tokoh yg luar biasa
sekali?”

Dari nada pembicaraa mereka, Kho Beng dapat menyimpulkan
kalau sang korban adalah musuh besar kedua orang ini, sebagai
orang luar yg belum mengetahui duduknya persoalan secara jelas,
dia tak ingin melibatkan diri dalam pertikaian itu.
Karena diapun tidak mencoba untuk memberi penjelasan lagi,
cepat-cepat katanya:
“Aku belum pernah mengangkat guru tapi pernah belajar berapa
jurus silat dari seorang Bu lim cianpwee!”
“Ooooh…” kakek berjenggot itu manggut-manggut, “Boleh kah
kami tahu nama besar dari locianpwee yg telah mengajarkan silat
kepadamu itu?”
“Cianpwee itu adalah siunta sakti berpungung baja!”
Paras muka kakek berjangggut hitam itu segera berubah hebat,
setelah berseru tertahan, katanya:
“Ooooh….rupanya Thio Kok tayhiap salah seorang diantara
sepasang unta utara selatan yg termashur namanya pada dua puluh
tahun berselang, tapi aku pernah dengar Thio kok telah tewas
dicelakai orang pada dua puluh tahun berselang?”
Sesungguhnya Kho Beng sama sekali tidak mengetahui soal masa
lalu Thio bungkuk, bahkan nama dan kedudukannya dalam dunia
persilatan pun tidak diketahuinya, karena nya dia berusaha
menghindari hal-hal yg tak jelas baginya setelah mendengar
perkataan tersebut.
“Aku yg muda baru beberapa bulan berpisah dg Thio
locianpwee.” Katanya, “Menurut apa yg kuketahui, dia orang tua
masih tetap berada dalam keadaan sehat walafiat.”
Kakek berjenggot hitam itu tertawa tergelak.
“ha….ha…..ha…..semasa masih muda dulu, aku pernah berjumpa
sekali dg Thio tayhiap, bila lain waktu kau bertemu lagi dengannya,
katakan saja sipedang tanpa bayangan Lu seng sin dan adik
angkatnya sastrawan berkipas kemala, Beng Yu titip salam untukdia
orang tua.”
Mengetahui kalau kedua orang ini pernah bersua dg Thio
bungkuk, sikap Kho Beng pun turut berbah menghormat, segera
sahutnya:
“Aku pasti akan menyampaikan salam anda berdua kepada
beliau.”
Kemudian dg memanfatkan kesempatan tersebut, ia bertanya
kembali:

“Lotiang, tolong tanya siapakah sipedang baja toya besi Kho Po
koan ini?”
“Budak tua ini adalah seorang budak dari perkampungan Hui im
ceng dimasa lalu,” Sastrawan berkipas kumala Beng Yu
menerangkan, “Tatkala tujuh partai besar menyerbu kemari,
rupanya dia berhasil lolos, bisa jadi si kedele maut yg misterius dan
belakangan ini banyak melakukan huru hara merupakan hasil
perbuatannya.”
“Aku baru pertama kali ini terjun ke dunia persilatan, banyak
persoalan yg tak kupahami, bolehkah aku tahu siapa pula pemilik
perkampungan Hui im ceng ini?”
Dg wajah serius sipedang tanpa bayangan Lu Seng im berkata:
“Pemilik Hui im ceng, dimasa lampau berasal satu marga dg lote,
ia bernama Kho Bun sin dan merupakan seorang jagoan persilatan
yg berilmu tinggi, sayang aku sendiripun kurang begitu mengerti
tentang peristiwa yg terjadi delapan belas tahun berselang, tapi
kuanjurkan kepada lote sebagai orang luar lebi baik jangan banyak
pencarian urusan ini.”
Berbagai kecurigaan segera melintas benak Kho Beng, ia tak
mengira kalau Hui im ceng berasal dari marga Kho, benarkah ia
mempunyai hubungan dg dirinya?”
Tapi kalau dilihat dari cara sipedang tanpa bayangan Lu Seng im
sewaktu bicara , sudah jelas masih ada banyak masalah yg enggan
dibicarakan olehnya, karena itu diapun tidak bertanya lebih jauh.”
Setelah menjura, diapun mohon diri.
Kini duduk persoalannya sekitar gedung hantu telah jelas, sedang
akupun masih ada urusan lain dan tak bisa berdiam lebih lama lagi
disini, biarlah aku mohon diri lebih dulu!”
Sesungguhnya si pedang tanpa bayangan dan sastrawan kipas
kumala memang sedang menunggu-nunggu perkataan Kho Beng itu
dg cepat, merekapun menjura seraya berkata:
“Kalau memang lote masih ada urusan, kamipun tak akan
menahanmu lebih lama lagi, sampai jumpa lain kesempatan.”
Mereka menunggu sampai bayangan Kho Beng lenyap dibalik
kegelapan, kemudian si pedang tanpa bayangan baru bergumam:
“Andaikata aku tidak menyaksikan dg mata kepala sendiri
bagaimana putra Hui im cengcu tewas diujung panah pengejar
sukma, aku pasti akan mencurigai orang itu sebagai keturunan Kho
Bun sin!”

Sastrawan kipas kemala Beng yu, tertawa tergelak:
“Kalau toh toako telah menyaksikan dg mata kepala sendiri, buat
apa mesti menaruh curiga lagi? Aku dengar, biarpun sancu(dewi)
berhasil memusnahkan Hui im ceng dg susah payah, namun tak
berhasil mendapatkan kitab pusaka Khian hoan bu boh, sekarang
Koh Po koan telah tewas, mengapa kita tidak memanfaatkan
kesempatan ini untuk melakukan pemeriksaan, sehingga kita dapat
memberi laporan sekembalinya dari sini nanti?”
Si pedang tanpa bayangan segera manggut-manggut, maka
kedua orang itupun menyulut lentera dan mulai menggeledah
seluruh bagian ruangan tersebut.
Setengah kentongan telah lewat, hampir setiap bagian ruangan
itu sudah mereka geledah, namun tiada sesuatu yg diperoleh tanpa
terasa mereka menjadi kecewa.
Tiba-tiba Sastrawan berkipas kemala berkata kepada si pedang
tanpa bayangan:
“Lotoa, mungkinkah sibocah muda itu datang dg suatu tujuan
serta betndak mendahului kita?”
Berubah hebat paras muka si pedang tanpa bayangan.
“Yaa, hal ini memang bisa jadi, aduh celaka….mengapa tidak
terpikirkan sejak tadi?”
“Siapa yg menyangka kalau bocah itu mampu bersikap acuh tak
acuh meski memiliki kepandaian silat yg hebat?” seru Sastawan
berkipas kemala sambil menghentak hentakkan kakinya dg
mendongkol.
“Aaai…kta benar-benar telah dipecundangi olehnya, toako,
rasanya belum terlambat bila kita kejar sekarang juga.”
Sipedang tanpa bayangan manggut-manggut, baru saja dia akan
melompat pergi, mendadak pandangan matanya tertumpuk dg
jenazah Kho Po koan, dg cepat ia berseru kepada rekannya:
“Tunggu sebentar loji!”
“Ada apa?” tanya sastrawan berkipas kemala tertegun.
Sambil menunding jenazah diatas tanah, pedang tanpa bayangan
segera berkata:
“Seluruh ruang telah kita periksa, tapi mayat budak tua ini belum
kita sentuh, apa salahnya kalau kta periksa dulu sebelum pergi dari
sini?”
Cepat-cepat sastrawan berkipas kemala mendekati jenazah
tersebut dan merobek pakaian yg dikenakan, pada pinggang mayat

itu mereka temukan sebuah bungkusan kecil, ketika bungkusan itu
dibuka maka isinya adalah sebuah lencana kemala sebesar lima inci.
Pada lencana tersebut terlihat gambar sederet pohon siong,
diatas pohon siong terdapat dua tiga buah gumpalan awan.
Melihat bentuk lencana tersebut, sastrawan berkipas kemala
segera berseru keheranan:
“Toako, cepat lihat!”
Pedang tanpa bayangan segera mendekati dan memeriksa
lencana tersebut, apa yg kemudian terlihat membuat keningnya
berkerut kencang, katanya kemudian:
“Sungguh aneh, mengapa lencana kemala Siong hun giok leng yg
menjadi benda pengenal dari Bu wi lojin yg sudah dua puluh tahun
lenyap dari dunia persilatan, bisa berada dalam saku budak tua
ini…?”
Sastrawan berkipas kemala termenung sejenak, lalu katanya:
“Mula-mula muncul seorang Kho Beng yg tak dikenal, lalu muncul
lagi lencana kemala Siong hun giok leng, hey lotoa, aku lihat apa yg
kita jumpai hari ini bukan suatu kejadian yg kebetulan.”
Pedang tanpa bayangan manggut-manggut.
“Yaa, persoalan ini menyangkut suatu masalah besar, kita tak
boleh menyimpulkan sendiri secara gegabah, hayo berangkat, kita
berbicara ditengah jalan nanti!”
Dg cepat kedua orang itu melompat keluar lewat jendela, lalu
membopong sesosok mayat yg berlepotan darah dari pelataran
kemudian beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
Tak lama mereka pergi, tampak sesosok bayangan manusia
melayang masuk lewat jendela, ternyata orang itu adalah Kho Beng
yg telah pergi dan kini balik kembali.
Rupanya setelah meninggalkan perkampungan hui im ceng tadi,
sepanjang jalan dia memutar otak terus membayangkan kembali
serangkaian kejadian yg dialaminya selama ini.
Menjelang memasuki kota Hang ciu, tiba-tiba ia teringat kembali
dg pesan terakhir Kho Po koan menjelang ajalnya, maka tergesagesa
dia balik kembali kesitu.
Ia tidak mengetahui benda apakah yg akan diserahkan kakek itu
padanya, tapi bila ditinjau dari sikap dan nada pembicaraannya,
sudah jelas benda itu mempunyai hubungan yg erat sekali dg Bu wi
lojin.

Ia baru tertegun setelah menyaksikan pakaian yg dikenakan
jenazah tersebut telah hancur tak keruan lagi bentuknya. Dari
kejadian tersebut jelaslah sudah bahwa benda tersebut telah diambil
oleh sipedang tanpa bayangan serta sastrawan berkipas kemala.
Sekalipun Kho Beng amat kecewa bercampur menyesal, tapi
karena nasi sudah menjadi bubur, menyesalpun tak ada gunanya
lagi.
Ia teringat kembali janji tiga tahunnya dg Thio bungkuk,
sekalipun ia tak dapat melaksanakan harapan kakek yang tewas ini,
namun ia bertekad akan mendatangi tebing Siong hun gay dibukit
hong san untuk menyelidiki persoalan ini.
Sebab masalah tersebut bukan saja menyangkut sikakek yang
telah tewas, siapa tahu dari situ dia akan berhasil mengetahui asal
usul yg menyelimuti dirinya selama ini.
Maka menempuh kegelapan malam yg mencekam seluruh jagat,
dg langkah tergesa-gesa, Kho Beng berlalu dari situ, setelah
menguburkan jenazah Kho Po koan, lalu tanpa berhenti langsung
berangkat ketebing Siong hun gay di Hong san.
Dalam waktu singkat, bulan dua belas telah menjelang tiba.
Angin dan salju telah berhenti, puncak bukit Hong san dilapisi
warna putih sampai diuung langit, pemandangan alam ketika itu
benar-benar indah dan menawan hati.
Ketika Kho Beng tiba dibukit Hong san, waktu sudah
menunjukkan tengah hari lewat, karena ia tak tahu dimanakah letak
tebing Siong hun gay, terpaksa sambil berjalan ia mencoba untuk
melakukan pemeriksaan.
Tiba-tiba ia menyaksikan sebuah bukit yg menonjol tinggi
menjulang ke angkasa, aneka pohon siong tumbuh disekitarnya,
awan putih menyelimuti sampai punggung bukit, bentuk maupun
panoramanya jauh berbeda dg keadaan disekitarnya, tanpa terasa
diapun berpikir :
“Konon tempat yg berpanorama indah sering digunakan para
tokoh dan pertapa untuk mengasingkan diri, jangan-jangan tempat
itu adalah tebing Siong hun gay yg sedang kucari ? “
Berpikir begitu, dia segera menghimpun tenaga dalamnya dan
meluncur naik keatas puncak itu.
Tebing itu curam dan amat berbahaya, apalagi dilapisi salju yg
tebal membuat keadaan menjadi lebih licin dan susah dilalui.

Kho Beng dg tenaga dalam yg tidak begitu sempurna harus
mengerahkan seluruh kekuatan yg dimiliki untuk mencapai puncak
tebing itu, tak heran kalau keringat berkucuran dg derasnya dan
napasnya tersengal sengal seperti napas kerbau.
Akan tetapi setibanya dipuncak bukit itu dan menyaksikan apa yg
terbentang didepan mata, seketika itu juga semangatnya menjadi
berkobar kembali, ia saksikan sebuah tempat yg berpanorama begitu
indah tak ubahnya seperti surga loka.
Ditengah rimbunnya pohon siong terlihat sebuah bangunan
rumah yg mungil tapi indah, seorang kakek berbaju putih sedang
berdiri memandang angkasa sambil menggendong tangannya.
Sikap maupun perawakan tubuhnya tak jauh berbeda dg bentuk
dewa yg sering didengar Kho Beng dalam dongeng.
Sementara Kho Beng masih terengah-engah dan tak mampu
berbicara, tiba-tiba terdengar kakek itu menegur dg suara nyaring:
“Hey bocah, ada urusan apa kau bersusah payah mendaki bukit
berkunjung kemari?”
Kakek itu tetap berdiri sambil menggendong tangan, meski tidak
membalikkan badan dan berjarak dua puluhan kaki, namun suara
pembicaraannya amat jelas dan terang, malah dari dengusan napas
Kho Beng, ia dapat menduga usia bocah tersebut bagaikan melihat
dg mata kepala sendiri, tak heran kalau kejadian ini amat
mengejutkan anak muda tersebut.
Dg perasaan gugup, ia segera berseru:
“Lotiang, bolehkah aku tahu, apakah tempat ini bernama bukit
Siong hun gay?”
Sementara berbicara, dg beberapa kali lompatan dia mendekati
sikakek berbaju putih itu.
“Benar!” sahut si kakek tanpa bergerak, “Kau datang dari mana
nak...?”
Dg wajah berseri cepat-cepat Kho Beng memberi hormat seraya
berseru:
“Kalau begitu cianpwee adalah Bu wi lojin, boanpwee Kho Beng
datang dari Hui im ceng…?”
Belum selesai perkataan itu diucapkan, Bu wi lojin telah berseru
kaget sambil membalikkan badan, lalu dg pandangan mata yg tajam
diawasinya seluruh wajah Kho Beng lekat-lekat, wajahnya
menunjukkan perasaan tercengang dan keheranan.

Baru sekarang Kho Beng sempat melihat jelas paras muka kakek
itu, jenggotnya yg putih, wajahnya yg anggun membuat kakek itu
nampak sangat agung dan berwibawa.
Cepat-cepat dia memberi hormat seraya berkata:
“Boanpwee menjumpai locianpwee!”
Jilid 04
Bu wi lojin tertawa bergelak, sambil mengebaskan tangannya dia
berkata:
“Silahkan bangun nak, kehadiranmu yg tiba-tiba sungguh
membuat aku merasa keheranan!”
Dari nada pembicaraannya, seolah-olah mereka telah berkenalan
cukup lama.
Kho Beng menjadi tertegun, serunya kemudian dg wajah
tercengang:
“Boanpwee berkunjung kemari karena mengagumi nama besar
cianpwee, apa yg cianpwee herankan?”
“Mengagumi nama? Ha....ha.....ha.....perkataanmu kelewat
sungkan,” kata Bu wi lojin sambil tertawa, “Sudah sembilan belas
tahun lamanya aku hidup mengasingkan diri ditebing Siong hun gay
dan belum pernah ada teman yg berkunjung kemari, tapi hari ini
telah datang tamu agung secara beruntun, lagipula semuanya
mengaku datang dari Hui im ceng, apakah kejadian tersebut tidak
mengherankan...?”
Kho Beng semakin keheranan lagi sehabis mendengar perkataan
ini, tapi sebelum ia sempat berbicara, Bu wi lojin telah berkata lebih
lanjut:
“Yang kuherankan lagi adalah penguasa perkampungan kalian
baru saja berlalu dari sini, tapi keponakan telah datang berkunjung,
apakah telah terjadi suatu peristiwa di perkampungan Hui im ceng?”
Kho Beng semakin termangu, tanyanya keheranan:
“Locianpwee maksudkan Hui im ceng?”
“Hey keponakan Kho, bukankah aku telah menerangkan
sejelasnya, aku sedang bertanya tentang keadaan Hui im ceng
kalian?” seru Bu wi lojin dg kening berkerut.
Kho Beng semakin tidak mengerti, katanya kemudian:
“Maafkan aku cianpwee, boanpwee benar-benar dibuat
kebingungan setengah mati.”

“Kebingungan?Ha…ha…ha…setiap orang tentu akan
kebingungan.” Bu wi lojin tertawa bergelak,”Keponakanku, mungkin
tenaga dalammu yg kurang sempurna membuat kau letih karena
mendaki tebing tadi, mengapa tidak beristirahat dulu didalam
ruangan, kemudian baru pelan-pelan berbicara?”
Sambil berkata, dia segera menyingkir kesamping
mempersilahkan pemuda itu masuk kedalam.
Buru-buru Kho Beng berseru:
“Boanpwee bukan maksudkan begitu, tapi hendak menjelaskan
bahwa Hui im ceng sudah hampir dua puluh tahun lamanya
terbengkalai, malah belakangan ini telah berubah menjadi gedung
hantu, lalu darimana munculnya seorang pengurus gedung?”
Bu wi lojin menjadi tertegun.
“Jadi ayahmu telah meninggalkan Hui im ceng kemana dia telah
pergi…?”
Kho Beng semakin melongo, sahutnya tergagap:
“Cianpwee bertanya soal ayahku? Apakah kau mengetahui
siapakah ayahku?”
Sekali lagi Bu wi lojin terperangah, lalu gelengkan kepalanya
berulang kali:
“Aaaai…aku menjadi tak habis mengerti, sebetulnya kau yg pikun
ataukah aku yg sudah pikun, masa kau tidak kenal dg ayahmu
sendiri, kepala perkampungan Hui im ceng Kho Bun sin?”
Dg hati berdebar Kho Beng berseru keheranan:
“Boanpwee belum pernah menyebutkan asal usulku, darimana
cianpwee bisa tahu kalau boanpwee adalah putra Hui im cengcu?”
Bu wi lojin tertawa terbahak-bahak:
“Ha….ha….ha….biarpun sewaktu kujumpai dirimu dulu kau masih
berusia satu bulan, namun hingga kini wajahmu tak jauh berubah,
lagipula tampangmu kini tidak jauh berbeda dengan Hui im cengcu
Kho Bun sin pada sembilas tahun berselang, kalau bukan putranya
mengapa kalian begitu mirip?”
Kho Beng betul-betul tertegun saking tercengangnya oleh ucapan
tersebut, orang ini adalah orang keempat yg menganggap dia
sebagai keturunan Hui im cengcu.
Biarpun banyak kejadian yg kebetulan didunia ini, tak mungkin
begitu banyak orang menaruh salah paham kepadanya, lamat-lamat
pemuda itu mulai merasa bahwa identitasnya sebagai putra cengcu
dari Hui im ceng tak mungkin diragukan lagi.

Tapi kalau hanya dianggap orang saja belum menjadi bukti yg
bisa dipertanggungjawabkan, apalagi masih banyak pertentangan yg
terdapat didalamnya, karena itulah beberapa saat pemuda itu
menjadi tertegun dan sangat kebingungan.
Sementara itu Bu wi lojin telah berkata lagi:
“Sudah sekian lama kita berbincang, namun kau belum menjawab
pertanyaanku tadi, sebetulnya kemana ayahmu telah pergi. Mengapa
dia harus membengkalaikan hasil karyanya yg dibangun dg susah
payah itu?”
Kho Beng menghela napas panjang.
“Locianpwee, terus terang saja asal usulku hingga kini masih
merupakan sebuah teka teki besar, aku tidak tahu siapakah orang
tuaku, bahkan akupun tidak tahu siapakah manusia yg disebut Hui
im cengcu dan bernama Kho Bun sin itu...”
Bu wi lojin menjadi tertegun dan mengawasi Kho Beng dg
termangu-mangu, untuk beberapa saat lamanya dia sampai tak
mampu mengucapkan sepatah katapun.
Kho Beng berkata lebih jauh.
“Tapi sedikit banyak boanpwee pernah mendengar persoalan yg
menyangkut Hui im ceng, konon semua penghuni Hui im ceng telah
dibantai orang sampai ludes pada delapan belas tahun berselang.”
“Sungguhkah perkataan itu?” berubah hebat paras muka Bu wi
lojin.
“Benar atau tidak boanpwee tak berani memastikan, namun bila
ditinjau dari pengalaman yg boanpwee alami, rasanya berita itu tak
meleset dari kebenaran!”
Berbicara sampai disini, secara ringkas diapun mengisahkan
kembali semua pengalamannya selama berada didalam
perkampungan Hui im ceng, akhirnya dia menambahkan:
“Oleh sebab itulah boanpwee menjadi bingung dan curiga setelah
cianpwee mengatakan bahwa Hui im ceng mempunyai saorang
pengurus rumah tangga, tapi aku yakin orang yg menyaru sebagai
pengurus tersebut kalau bukan sipedang tanpa bayangan tentu si
sastrawan berkipas kemala!”
Dg wajah serius dan berat Bu wi lojin termenung, lalu katanya
sambil menggeleng:
“Orang itu bukan seorang pria.”
“Maksud cianpwee, orang yg menjadi pengurus gadungan dari
Hui im ceng adalah seorang wanita?” seru Kho Beng tercengang.

Bu wi lojin manggut-manggut, katanya sambil menghela napas
panjang:
“Lai-laki atau perempuan sudah tak penting lagi artinya, tapi aku
benar-benar penasaran karena setelah hidup mengasingkan diri
hampir dua puluh tahun dari keramaian dunia, hari ini mesti ditipu
orang mentah-mentah, selain itu akupun menyesal dan malu karena
tak dapat menjaga titipan Hui im cengcu dimasa lalu secara baikbaik.”
“Sebenarnya benda apasih yg telah ditipu perempuan itu?”
“Kitab pusaka Thian goan bu boh!”
“Sejilid kitab pusaka?”
“Ehmm, bukan saja sejilid kitab pusaka, bahkan merupakan
pusaka yg diimpi impikan dan diharapkan setiap umat persilatan
didunia ini, sebab barang siapa berhasil menguasai serta melatih
isinya dia akan menjadi perkasa dan tiada tandingannya dikolong
langit1”
Kho Beng menjadi terperanjat sekali, buru-buru serunya:
“Cianpwee, bagaimana ceritanya sampai kitab pusaka itu tertipu
olehnya?”
“Sebab dia mempunyai tanda pengenal milikku, aaai...mungkin
benda yg dipesan oleh orang tua menjelang ajalnya untuk kau ambil
adalah lencana kemala Siong giok leng tersebut?”
Sekarang Kho Beng baru mengerti, tak heran kalau Kho Po koan
meninggalkan pesan tersebut kepadanya, ternyata benda yg berada
dalam sakunya dapat ditukar dg sejilid kitab pusaka.
Berpikir sampai disitu, ia segera berkata dg serius:
“Bolehkah boanpwee mengajukan pertanyaan, bagaimanakah
tabiat Hui im cengcu dimasa lampau?”
Bu wi lojin menghela napas panjang.
“Dia adalah seorang pendekar sejati, bertenaga dalam sempurna
dan betul-betul merupakan seorang gagah yg hebat.”
“Andaikata kitab pusaka Thian goan bu boh sampai terjatuh
ketangan manusia bangsa kurcaci, bukankah hal ini dapat
menimbulkan bencana besar?”
“Bukan hanya bencana, pada hakekatnya seluruh dunia akan
kalut dan kehidupan manusia dilanda penderitaan besar.”
“Sesungguhnya maksud kedatanganku kemari adalah untuk
mencari guru pandai serta mempelajari ilmu silat, sungguh tak
disangka aku telah mendapatkan titik sedikit terang mengenai asal

usulku, biarpun hingga kini belum ada kepastian, namun bila
cianpwee mengijinkan, boanpwee ingin mengetahui lebih banyak
lagi!”
Bu wi lojin termenung beberapa saat, lalu mengangguk.
“Mari kita bebicara didalam rumah saja.”
Sambil membalikkan badan, ia masuk lebih dulu kedalam rumah.
Dg wajah serius Kho Beng mengikuti dibelakangnya, ia saksikan
ruangan tersebut teratur sangat rapi dan bersih, kursi meja dan rak
buku semuanya terbuat dari bambu.
Bu wi lojin menuang dua cawan teh, lalu duduh dihadapan
tamunya, setelah mempersilahkan pemuda itu meneguk air teh, ia
baru berkata:
“Kalau dilihat dari sikap pelayan tua keluarga Kho yg
mengenalimu sebagai sau cengcu Hui im ceng dari lencana yg kau
kenakan, ditambah pula pengamatanku lewat paras mukamu yg
mirip dg Hui im cengcu, aku rasa identitasmu sebagai keturunan Kho
tak jauh dari kebenaran. Tapi sudah hampir dua puluh tahun aku
hidup mengasingkan diri dari keramaian dunia, oleh sebab itu
akupun tidak tahu menahu tentang semua peristiwa yg terjadi di Hui
im ceng selama ini, jadi apa yg bisa kuungkap tak lebih hanya
hubunganku dg Kho cengcu.”
“Akan boanpwee dengarkan dg seksama.”
Bu wi lojin termenung sebentar, seakan-akan sedang
mengumpulkan kembali kenangan lamanya, lalu setelah menghela
napas ringan, dia berkata:
“Bila diceritakan rasanya memang susah diperaya, sesungguhnya
hubunganku dg Kho cengcu hanya didaari perjumpaan satu kali dan
berkumpul setengah hari lamanya. Biar begitu, dalam perjumpaan
yg hanya sekali, aku telah menjadi sahabat karib Kho tayhiap, lalu
dalam masa berkumpul selama setengah hari, kami menjadi sahabat
sehidup semati….aaai…sungguh tak nyana saat perpisahan waktu itu
ternyata merupakan perpisahan untuk selamanya….bila diingat
kembali sekarang, sungguh membuat hatiku pedih.
“Aaaai, sembilan belas tahun sudah lewat, kejadian ini harus
dikisahkan kembali sejak sembilan belas tahun berselang.
Waktu itu untuk membasmi manusia sesat dari golongan hitam,
aku telah mengembara sampai diwilayah Lam huang, meski
musuhku berhasil kutumpas, namun aku sendiri terkena serangan

beracun yg amat hebat sehingga jika tidak diobati dg segera, niscaya
jiwaku akan melayang.
Dg mengandalkan tenaga dalamku yg sempurna untuk
mengekang daya kerja racun tersebut, aku berusaha lari pulang dan
dalam tiga hari saja aku telah menempuh perjalanan sejauh ribuan
li.
Tapi akhirnya sewaktu lewat di Hang ciu meski racun belum
bekerja, aku justru sudah roboh tak sadarkan diri ditepi jalan.
Waktu itu secara kebetulan Kho tayhiap lewat disitu serta
menolongku, untung dia mempunyai obat mujarab yg habis
memunahkan racun, cukup menelan obatnya satu , tengah hari
kemudian lukaku telah sembuh sama sekali.
Setelah peristiwa itu, tiba-tiba dia mengeluarkan kitab pusaka
Thian goan bu boh dan mohon kepadaku untuk menyimpannya. Dia
bilang rahasia kitab tersebut sudah bocor sehingga banyak jago silat
yg sedang mengincarnya.
Aku yg selama hidup baru pertama kali ini memperoleh budi
orang tentu saja tidak mnyia-nyiakan kesempatan tersebut. Aku
segera menawarkan diri untuk membantunya menghadapi serbuan
jago-jago silat tersebut, namun tawaranku ini segera ditolaknya.
Padahal dg julukan Kiu hui sin kiam atau pedang sakti sembilan
terbang yg dimiliki Kho tayhiap waktu itu cukup disegani banyak
orang dan banyak jago lihay yg keok ditangannya.
Karenanya sewaktu melihat kekerasan kepalanya, akupun sadar
bahwa tindakannya itu pasti ada sebab musababnya, maka akupun
menerima permohonannya dg meninggalkan tanda pengenalku serta
memberikan alamat dimana aku berdiam, kami berjanji bila kitab
tersebut hendak diambil maka orang tersebut harus membawa tanda
pengenal itu.
Aaaai…sungguh tak disangka sejak berpisah, aku telah
menunggu sampai belasan tahun lamanya.
Pagi tadi tiba-tiba muncul seorang perempuan cantik yg mengaku
sebagai pengurus rumah tangga Hui im ceng, dia mohon bertemu
aku dan memperlihatkan lencana tersebut.
Karena tanda pengenal yg dibawa memang tak salah, maka
tanpa sangsi akupun menyerahkan kitab pusaka Thian goan bu boh
tersebut kepadanya,aaai…tak nyana rupanya aku sudah tertipu,
kejadian ini benar-benar membuat aku malu dg Kho cengcu
almarhum…”

Sekarang Kho Beng baru mengerti bahwa pesan yg ditinggalkan
pelayan tua itu menjelang ajalnya ternyata mempunyai pengaruh yg
besar terhadap masalah tersebut, dia menjadi amat menyesal karena
tidak melaksanakan pesa pelayan tua itu seketika itu juga.
“Apakah cianpwee kena dg perempuan itu?” tanyanya kemudian.
“Tidak! Aku tidak kenal.” Bu wi lojin menggelengkan kepalanya
berulang kali.
“Kalau begitu locianpwee telah bertindak kelewat gegabah,”
keluh Kho Beng sambil menghela napas.
Tapi setelah perkataan itu diutarakan, dia baru sadar kalau sudah
salah bicara, bagaimanapun tidak pantas dia menegur seorang
cianpwee dg ucapan sekasar itu.
Baru saja hendak memberi penjelasan sambil meminta maaf,
ternyata Bu wi lojin sama sekali tidak menjadi marah karena teguran
tersebut, malah ujarnya kemudian sambil menghela napas panjang:
“Padahal selamanya aku bekerja sangat teliti, karenanya
tertipuku pagi tadi, pertama dikarenakan sudah lama putus
hubungan dg dunia luar sehingga tidak mengetahui duduk persoalan
yg sebenarnya, kedua saat itu aku telah memutuskan akan hidup
mengasingkan diri untuk selamanya ditebing Siong hun gay ini dan
Cuma Kho tayhiap seorang yg tahu akan alamat ku ini. Itulah
sebabnya aku sama sekali tidak curiga kepadanya ketika perempuan
itu muncul dg membawa tanda pengenalku.”
Cepat-cepat Kho Beng mengangguk, dia menduga benda yg
disimpan disaku pelayan tua keluarga Kho itu pastilah tanda
pengenal Siong hun giok leng dan orang yg mengambil lencana
tersebut tak lain adalah si pedang tanpa bayangan serta sastrawan
berkipas kemala, tapi mengapa akhirnya bisa muncul seorang
perempuan? Persoalan inilah yg membuatnya tak habis mengerti.
Sementara itu Bu wi lojin telah berkata lagi setelah menghela
napas sedih:
“Lenyapnya kitab pusaka itu membuat aku malu dg Kho Tayhiap
almarhum, apalagi kalau kejadian tersebut mengakibatkan dunia
persilatan dilanda bencana, aku benar-benar akan menyesal
sepanjang masa.”
“Kejadian ini toh berlangsung diluar dugaan, locianpwee tak perlu
kelewat menyalahkan diri sendiri.” Cepat-cepat Kho Beng
menghibur, ”Berbicara sesungguhnya, akulah yg sudah teledor
waktu itu sehingga mengakibatkan terjadinya semua peristiwa ini.”

Bu wi lojin menggelengkan kepalanya, dg suara dalam dia
berkata:
“Satu-satunya jalan yg bisa kita lakukan sekarang adalah mencari
upaya untuk menanggulangi persoalan tersebut!”
Setelah mengangkat kepalanya dan menatap Kho Beng lekatlekat,
dia berkata lebih jauh:
“Aku pernah mempelajati isi kitab pusaka Thian goan bu boh
tersebut dan memberikan hasil yg lumayan, tapi bagaimanapun juga
usiaku sudah delapan puluh tahun lebih sehingga usiaku yg lanjut
membuat tenagaku bertambah lemah hingga tak mungkin bisa
memberikan hasil yg nyata, aku pikir satu-satunya jalan untuk
mengatasi masalah tersebut adalah mewariskan kepandaian itu
kepadamu!”
“Sungguh?” seru Kho Beng dg perasaan terkejut dan girang,
“Terima kasih banyak atas kesediaan cianpwee!”
Belum selesai perkataan itu diutarakan, Bu wi lojin telah
mengulapkan tangannya seraya berkata lagi:
“Kau jangan keburu bergirang hati dulu, ada sepatah kata hendak
kutanyakan lebih dulu, kalau toh kau tidak mengetahui siapa orang
tuamu, siapa yg telah memeliharamu sejak kecil hingga dewasa?”
Kho Beng menjadi termangu seketika itu juga, teringat olehnya
dg sumpah yg pernah diucapkan di Sam goan bun tempo hari.
Maka dg suara tergagap katanya:
“Harap cianpwee sudi memaafkan, boanpwee telah diusir dari
suatu perguruan karena mencuri belajar ilmu silat, waktu itu aku
telah bersumpah tak akan mengatakan kepada siapa saja orang yg
telah memelihara boanpwee selama ini.”
Dg perasaan tercengang Bu wi lojin berseru perlahan, kemudian
sesudah dipikirkan sejenak:
“Kalau memang kau punya janji demikian dimasa lalu, memang
paling baik kalau ditaati hingga kini, aku memang menduga kau
sebagai keturunan Hui im cengcu, namun sebelum memperoleh
bukti yg jelas, aku tak bisa tidak harus merubah niatku semula,
baiklah soal ilmu silat yg tercantum dalam kitab pusaka Thian goan
bu boh kuurungkan dulu sementara waktu.”
Sementara Kho Beng masih tertegun, Bu wi lojin telah berkata
lebih jauh:
“Kau tak usah kecewa, biarpun aku menunda saat mewariskan
ilmu silat Thian goan bu boh kepadamu, namun dg segenap

kemampuan yg kumiliki aku hendak menjadikan dirimu sebagai
seorang jago yg tangguh hanya dalam tujuh hari saja, aku berharap
dg modal kepandaian itu maka kau bisa turut terjun kedunia
persilatan serta menyelidiki teka teki sekitar asal usulmu.
Marilah…..!”
Selesai berkata diapun beranjak masuk kedalam rumah.
Cepat-cepat Kho Beng mengikuti dari belakang.
Ruangan belakang ruang utama ternyata merupakan dapur.
Waktu itu Bu wi lojin sedang mendekati sebuah gentong air dan
memandang sebuah batu tonjolan disisi gentong air tersebut...
“Bluummmm......!”
Diiringi suara gemuruh yg keras, tiba-tiba gentong air itu
bergeser kesamping dan muncullah sebuah lorong bawah tanah
undak-undakan batu yg membentang kebawah menghubungkan
tempat tersebut dg sebuah ruang batu.
Setelah kedua orang itu berjalan turun kebawah, gentong air
diatas permukaan tanahpun bergeser kembali keposisi semula, dg
demikian rumah diatas sana pun menjadi kosong tanpa penghuni.
Begitulah, waktu pelan-pelan berlalu, sehari.....dua hari....tiga
hari....
Menjelang tengah hari ketiga, Bu wi lojin muncul secara tiba-tiba
dirumahnya dg wajah penuh keringat dan cahaya muka yg lebih
redup, sikapnya berbeda sekali dg tiga hari berselang.
Menyusul kemudian hari keempat.....kelima.....keenam pun lewat
begitu saja.
Menjelang hari ketujuh siang, pintu ruang bawah tanah terbuka
dan muncullah Kho Beng.
Pakaian yg dikenakan meski tak berbeda dg tujuh hari berselang,
namun semangat maupun kekuatannya sudah berbeda jauh
bagaikan langit dan bumi.
Sewaktu tiba diruang utama, ia tidak menemukan Bu wi lojin, tapi
diatas meja ditemukan secarik kertas yg isinya berbunyi begini:
“Aku telah turun gunung sehari lebih cepat, aku belum tahu
sampai kapan baru kembali kesini, bila kau sudah melewati tujuh
hari latihan, tentukan sendiri langkah berikutnya dan tak usah
menunggu kehadiranku lagi.
Betul, diantara kita tak mempunyai ikatan hubungan sebagai guru
dan murid, namun dalam kenyataan aku pernah mewariskan ilmu

silat kepadamu, karenanya kuharap kaupun tidak melanggar tata
krama kehidupan manusia pada umumnya.
“Ingat !Apa yg diperbuat orang lain belum tentu harus dituruti diri
sendiri dan apa yg harus dilakukan mesti dipilih dulu persoalan
apakah itu, dg begitu kau tak akan sampai terjerumus kedalam
pergaulan yg keliru.
Diatas dinding ada pedang, dalam almari ada uang, ambillah
menurut kebutuhan dan tak usah berdiam lebih lama lagi disini.”
Ketika selesai membaca tulisan tersebut, Kho Beng merasa air
matanya jatuh berlinang karena terharu, dg sangat hormat dia
menyembah tiga kali kearah pintu ruangan, kemudian mengambil
pedang dan uang dan menuruni tebing Siong hun gay tersebut.
Setelah menuruni bukit Hong San, suatu hari tibalah Kho Beng
dikota Tong sia.
Waktu itu adalah hari tahun baru, salju yg tebal menyelimuti
seluruh permukaan tanah, namun anehnya justru pada masa
gembira seperti ini, ia lihat banyak jago persilatan yg bersenjata
lengkap berlalu lalang disekitar sana.
Kho Beng menjadi amat tercengang setelah menyaksikan
kesemuanya ini segera berpikir:
“Jangan-jangan sudah terjadi suatu peristiwa dikota Tong sia
ini...?”
Sementara dia masih menempuh perjalanan sambil melamun,
tiba-tiba seekor kuda berjalan melintas disisinya, penunggangnya
asalah seorang lelaki berpakaian sastrawan yg memakai baju putih
dan membawa kipas kemala.
Dilihat dari bayangan punggungnya, orang itu mirip sekali dg
sastrawan berkipas kemala yg pernah dijumpainya tempo hari.
Teringat dg peristiwa yg menimpa Bu wi lojin, cepat-cepat
pemuda itu berteriak keras:
“Beng jihiap....Beng jihiap....”
Waktu itu tenaga dalam yg dimilikinya sudah amat sempurna,
teriakan tersebut segera bergema sampai puluhan li jauhnya.
Betul juga, penunggang kuda itu segera menghentikan lari
kudanya setelah mendengar teriakan tersebut kemudian berpaling,
dia tak lain adalah Sastrawan berkipas kemala, Beng yu.
Agaknya ditengah debu yg beterbangan menyelimuti angkasa, ia
tak sempat melihat wajah Kho Beng secara jelas, dg secara lantang
dia berseru pula:

“Siapa yg sedang memanggil aku Beng Yu?”
Baru saja dia berkata, sesosok bayangan hijau telah berkelebat
lewat dan tahu-tahu Kho Beng sudah berdiri dihadapannya dan
menegur seraya menjura:
“Beng jihiap, baru berpisah beberapa bulan, masa sudah tak
kenal lagi dg Kho Beng?”
“Ooohh....rupanya Kho siauhiap!”
Gerakan tubuh Kho Beng yg cepat dan gesit membuat sastrawan
berkipas kemala ini merasa terkejut bercampur keheranan sehingga
setelah tertegun sejenak, cepat-cepat dia menjura seraya bertanya
lagi:
“Siauhiap hendak kemana?”
“Aku sedang menempuh perjalanan jauh sambil melewati hari
tahun baru ini, tapi....mengapa jihiap pun tidak melewati tahun baru
dirumah, sebaliknya melarikan kuda begitu tergesa-gesa ditempat
ini? Apakah sudah terjadi suatu peristiwa dikota Tong sia ini?”
Sastrawan berkipas kemala segera menghela napas panjang,
katanya dg suara berat:
“Siauhiap terus terang kukatakan, jejak iblis telah muncul dikota
tong sia, dan sekarang aku sedang mewakili kakak angkatku untuk
mengumpulkan para jago yg berada disekitar sini untuk bersamasama
menghadapi gembong iblis tersebut..”
“Siapa sih gembong iblis yg jihiap maksudkan?” tanya Kho Beng
keheranan.
“Dia tak lain adalah Kedele Maut yg membunuh orang tak
berkedip dan jejaknya amat rahasia itu...”
“Ooohh....jadi kedele maut telah mencari gara-gara pula dg kakak
angkatmu Lu tayhiap?”
“Begitulah kejadiannya.” Sastrawan berkipas kemala
mengangguk, “Jika siauhiap tak keberatan, Beng yu mewakili kakak
angkatku mohon bantuan anda, setelah berhasil memukul mundur
iblis tersebut, nanti kami baru berterima kasih kepadamu.”
Dari nada pembicaraan tersebut, jelas sudah bahwa dia
mengharapkan bantuan dari pemuda tersebut.
Kho Beng segera teringat kembali dg peristiwa dirumah makan
kota Kwan tong tin tempo hari, lelaki berdandan saudagar yg
membawa sekarung kedele itu pernah menanyakan nama serta asal
usulnya, bukankah orang itu justru merupakan orang pertama yg
menganggap dia sebagai sau cengcu dari Hui im ceng?

Seandainya orang itu benar-benar adalah penyaruan dari kedele
maut, bukankah saat ini merupakan kesempatan yg terbaik baginya
untuk menanyakan hubungannya dg Hui im ceng?
Lagipula kesempatan tersebut merupakan peluang yg sangat baik
baginya untuk menyelidiki jejak kitab pusaka yg hilang itu,
disamping menambah pengetahuan serta pengalamannya.
Mengenai asal usulnya dia tak merasa ragu, bagaimanapun juga
thio bungkuk telah berjanji akan membeberkan soal itu tiga tahun
mendatang, sementara Bu wi lojin telah mewariskan sebagian besar
dari tenaga dalam kepadanya, yg membuat kepandaian yg
dimilikinya sekarang bertambah tangguh, mengapa ia tidak
membuat kejutan sekarang dg mengandalkan kemampuan tersebut?
Pelbagai persoalan berkelebat lewat dalam waktu singkat
dibenaknya, Kho Beng segera memutuskan untuk menerima
undangan tersebut.
Maka sambil tertawa nyaring, diapun menjawab:
“Membasmi kaum iblis sudah menjadi kewajiban setiap umat
persilatan, biar kemampuanku masih rendah, namun aku tak ingin
ketinggalan dari yg lain. Beng jihiap! Silahkan kau berangkat duluan,
tinggalkan saja alamatnya, sampai waktunya aku pasti akan
menyusul kesana.”
Dg perasaan gembira sastrawan berwajah kemala segera
menjura berulang kali, katanya:
“Terima kasih banyak atas kesedian siauhiap, sekarang aku
belum bisa kembali kekota Tong sia, karenanya harap siauhiap
masuk kota sendiri, setelah melewati pintu gerbang, tanyakan
kepada orang gedung keluarga Lu, setiap penduduk kota
mengetahui letaknya dan pasti menunjukkan kepadamu. Setelah
senja nanti aku pasti akan bertemu lagi dg siauhiap. Nah, maaf kalau
aku tak bisa menemani lebih lama lagi.”
Selesai menjura ia segera melarikan kuda kembali meninggalkan
tempat itu, sekejap kemudian bayangan tubuhnya sudah lenyap dari
pandangan mata.
Sepeninggal Beng Yu dg langkah santai Kho Beng meneruskan
perjalanannya lagi memasuki kota.
Tak usah bersusah payah mencari, dg cepat ia telah tiba didepan
pintu gerbang gedung keluarga Lu.
Gedung tersebut sangat megah, pintu gerbang terbuka lebar dan
sepasang patung singa yg besar berdiri dikedua sisi pintu. Dua deret

centeng berbaju hijau dg mata yg tajam dan kesiap siagaan penuh
menjaga sekeliling gedung, semuanya ini memberi kesan bahwa si
pedang tanpa bayangan Lu seng sim pasti mempunyai kedudukan
dan nama yg tinggi dimata masyarakat.
Setelah membereskan pakaiannya dan membersihkan debu dari
pakaian, pemuda itu melangkah kedepan pintu dan menegur sambil
menjura:
“Aku Kho Beng atas undangan dari Beng jihiap sengaja datang
kemari, harap kalian suka memberi kabar kepada Lu tayhiap.”
Seorang centeng segera tampil kemuka dan menyahut sambil
menjura pula:
--------missing page 36-41 ----------
….acuh tak acuh, malah ujarnya sambil tertawa nyaring:
“Kuakui perkataan lote memang merupakan nasehat yg sangat
berharga semua, seandainya aku tak punya keyakinan tak nanti
sikapku begini santai dan percaya dg kemampuan
sendiri…..ha….ha….ha….nantikanlah hingga Beng loji pulang senja
nanti, lote pasti tahu apa sebabny sikapku begini santai dan percaya
dg kemampuan sendiri!”
Selesai berkata, kembali ia tertawa terbahak-bahak.
Kho Beng menjadi geli sendiri setelah mendengar perkataan itu,
pikirnya:
“Kalau toh sudah mempunyai keyakinan untuk menghadapi
serbuan iblis tersebut, buat apa kau menyuruh adik angkatmu
mencari bantuan dimana-mana? Ehmm....sikapnya benar-benar
bertentangan sekali dg kenyataan.....”
Tapi Kho Beng pun mengerti, si pedang tanpa bayangan bisa
bersikap begini bisa jadi karena dia menganggap kepandaian silat yg
dimilikinya cukup tangguh untuk menghadapi serangan lawan, atau
mungkin juga ia telah mendapat janji bantuan dari seseorang yg
tangguh dan mampu menghadapi ancaman si kedele maut.
Tapi kalau dilihat dari sikapnya yg menyuruh semua orang
menunggu sampai kembalinya Beng loji, besar kemungkinan dia
memang mengandalkan bala bantuan dari luar.
Tapi siapakah tokoh persilatan yg bersedia melindungi di pedang
tanpa bayangan? Kalau memang orang itu memiliki kepandaian yg
sanggup menandingi di kedele maut, mengapa umat persilatan tidak
meminta bantuannya untuk menumpas iblis tersebut, sebaliknya
membiarkan si kedele maut malang melintang hingga sekarang.

Kecurigaan tersebut melintas lewat didalam benak Kho Beng, tapi
berhubung senja sudah menjelang dan jawabanpun akan diperoleh
maka pemuda itu tidak berpikir lebih jauh.
Apalagi maksud kedatangannya yg terutama adalah mencari
kesempatan untuk menyelidiki soal kitab pusaka yg ditipu orang, ia
merasa tak berkepentingan untuk merisaukan kesulitan orang lain.
Oleh sebab itu, diapun tidak banyak berbicara lagi.
Agaknya sipedang tanpa bayangan sadar kalau ucapannya
kelewat memandang enteng bantuan orang lain sehingga
menyebabkan jago-jago yg telah hadir merasa sungkan untuk
berbicara. Melihat suasana dalam ruangan berubah menjadi
mengesalkan, cepat-cepat ia perintahkan orang untuk
mempersiapkan meja perjamuan.
Akhirnya senja pun menjelang tiba, sinar sang surya yg lemah
menyinari pelataran luar ruangan sementara angin malam yg dingin
terasa berhembus makin kencang dan tebal.
Perjamuan didalam ruangan telah selesai disiapkan, baru saja
tuan rumah dan tamu mengambil tempat duduk masing-masing,
tiba-tiba dari luar ruangan berkumandang datang suara langkah kaki
manusia yg terburu-buru menyusul kemudian terlihat seseorang
centeng berlari masuk kedalam ruangan sambil memberi laporan:
“Beng jiya telah kembali!”
Dg tak sabar lagi se pedang tanpa bayangan segera melompat
bangun dari tempat duduknya.
Ia saksikan sastrawan berkipas kemala dg wajah mandi keringat
berlari masuk kedalam ruangan, wajahnya merah padam tetapi
kelihatan amat serius.
“Loji bagaimana dg persoalan kita?” cepat-cepat si pedang tanpa
bayangan bertanya.
Sastrawan berkipas kemala menggelengkan kepalanya berulang
kali dan menghembuskan napas panjang yg amat berat.
Sikap yg diperlihatkan sastrawan berkipas kemala ini bukan saja
membuat paras muka sipedang tanpa bayangan berubah hebat,
bahkan eempat jago lainpun turut berubah muka.
Kho Beng menyaksikan kejadian tersebut segera berpikir dalam
hatinya:
“Ternyata apa yg kuduga semula memang tidak meleset!”
Tampak sipedang tanpa bayangan dg wajah hijau membesi
bertanya lagi:

“Apakah dia akan berpeluk tangan embiarkan aku orang she Ku
menjadi korban iblis tersebut?”
“Itupun tidak!” kembali Sastrawan berkipas kemala
menggelengkan kepalanya berulang kali.
Pedang tanpa bayangan menjadi tertegun.
“Ini bukan, itupun bukan, lalu apa yg sebenarnya terjadi?”
“Sebetulnya dia akan datang atau tidak?”
Sastrawan berkipas kemala menghela napas panjang.
“Tidak! Kedatanganku sungguh tidak kebetulan, baru saja
siancu(dewi) menutup diri untuk bersemedi, jelas keadaa begitu ia
tak bisa meninggalkan tempat karenanya berpesan agar kau
mengurungkan niatmu untuk melakukan perlawanan dan sementara
waktu pergi menyingkir dari sini?”
Hijau membesi selembar wajah si pedang tanpa bayangan
setelah mendengar ucapan tersebut, jenggotnya yg hitam kelihatan
bergetar keras, sesudah termangu-mangu berapa saat, ia segera
menggebrak meja dan berseru dg marah:
“Hmmm, perkataan macam apa itu? Aku manusia she Lu bukan
manusia yg tak bernama, kalau mesti kabur sebelum melangsungkan
pertempuran, bagaimana pertanggungjawabku nanti kepada
sahabat-sahabat dan sanak keluarga yg telah membantuku
sekarang? Beng loji, selain pesan itu apakah dia tidak
menyampaikan pesan yg lain lagi?”
Sastrawan berkipas kemala menghela napas panjang:
“Ada, siancu berpesan bila toako tetap berkeras akan memberi
perlawanan demi nama kosong, maka beliau pun tak bisa berbuat yg
lain kecuali mengijinkan toako bertindak sekehendak hati.”
“Hmmm, benar-benar ngaco belo belaka.” Teriak si pedang tanpa
bayangan penuh amarah, “Selama dua puluh tahunan hidup
bergelimpangan diujung senjata, beratus-ratus kali pertarungan
besar kecil telah kualami sebelumnya, akhirnya berhasil meraih
sedikit nama, kau anggap aku mesti melepas jerih payahku itu dg
begitu saja?”
“Toako, siapa tahu siancu mempunyai perhitungan lain.” Buruburu
sastrawan berkipas kemala menyela, “Kalau tidak diapun tak
akan mengutus keenam belas jago pedang berbaju kuning untuk
diserahkan penggunaannya kepadamu.”
“Hmmm, perhitungan kentut anjing!” Pedang tanpa bayangan
berteriak penuh kegusaran, “Setiap korban yg tewas ditangan kedele

maut rata-rata adalah jago yg bernama besar dan memiliki
kepandaian silat yg hebat, apa artinya keenam belas jago pedang
berbaju kuning itu? Hmmm....sungguh tak disangka meski aku telah
berjuang mempertaruhkan jiwa raga demi kepentingannya dimasa
lalu, kini habis manis sepah dibuang, ia sama sekali tidak
memperdulikan keselamatan jiwaku lagi....”
Tampaknya sastrawan berkipas kemala sudah tak mampu
mendengarkan perkataan itu lebih jauh, dg suara berat ia segera
menyela:
“Toako, kau kelewat emosi, jangan lupa dg peraturan yg telah
ditetapkan siancu dimasa lampau!”
Walaupu perkataan tersebut diucapkan dg nada yg lembut da
mendatar, namun bagi pendengaran si pedang tanpa bayangan, tak
ubanya seperti guntur yg membelah bumi disiang hari bolong.
Paras mukanya segera berubah menjadi pucat ke abu-abuan, ia
duduk kembali keatas kursi dan menghembuskan napas panjang.
Sikap santai dan acuh tak acuh yg diperlihatkan siang tadi, kini
sudah lenyap tak berbekas, sebagai gantinya dia nampak begitu
lemah dan ketakutan menghadapi kematian.
Dari pembicaraan yg barusan berlangsung serta perubahan mimik
muka si pedang tanpa bayangan, tanpa dijelaskan pun para jago
lainnya sudah mengerti apa gerangan yg telah terjadi. Jelaslah
sudah si pedang tanpa bayangan telah kehilangan pendukungnya yg
paling diharapkan sehingga keselamatan jiwanya kini sudah erada
diujung tanduk...
Si ruyung dan toya sakti Siau bin yg duduk disisi arena pertamatama
yg tak sanggup menahan diri lebih dulu, mendadak ia berkata:
“Saudara Lu, Beng jihiap, sebetulnya siapa sih siancu yg kalian
sebut-sebut tadi?”
Sastrawan berkipas kemala Cuma tertawa getir, gelengkan kepala
dan tidak menjawab.
Pedang tanpa bayangan yg duduk lemas dikursinya mendadak
melompat bangun, lalu sambil menjura kepada semua orang ia
berseru:
“Lu Seng sim mengucapkan banyak terima kasih kepada kalian
atas kesediannya datang membantuku, tapi sekarang ancaman
bahaya besar telah berada didepan mata, aku tak ingin melibatkan
kalian semua sehingga menjadi korban yg tak ada artinya. Oleh
sebab itu mumpung waktunya masih pagi, silahkan kalian beranjak

pergi lebih dulu dari tempat berbahaya ini. Tolong sekalian beritakan
kepada rekan-rekan diluar agar mereka yg ingin pergi silahkan pergi,
yg ingin tinggal silahkan tinggal. Pokokny aku tak akan mendendam
kepada siapa pun yg meninggalkan tempat ini, jika nyawaku berhasil
lolos malam ini, dikemudian hari aku tentu akan berkunjung lagi
kerumah kalian sambil menyampaikan terima kasihku.”
Si kakek sakti berambut putih, Ciu Cu in memandang sekejap
sekeliling tempat itu, kemudian menghela napas:
“Aaai...kalau toh Lu tayhiap berkata begitu, biar aku she Ciu
mohon diri lebih dulu.”
Disusul kemudian toya dan ruyung sakti Siau Bin, Piau sakti tujuh
bintang Kuang beng, Su beng kongcu Yu Bu secara beruntun mohon
diri pula dari situ.
Jelas mereka merasa tak puas karena si pedang tanpa bayangan
enggan menerangkan siapa gerangan “siancu” yg gagal diundang
itu, disamping mereka pun mengerti kalau kepandaian yg dimilikinya
belum mampu untuk menghadapi si kedele maut.
Tentu saja mereka tak ingin mengorbankan jiwa sendiri demi
keselamatan orang lain.
Kho Beng yg menyaksikan kejadian tersebut tanpa terasa timbul
perasaan simpatiknya kepada si pedang tanpa bayangan, sebab dia
menganggap orang ini masih belum kehilangan semangat jantannya
sebagai seorang laki-laki sejati.
“Biar kulepaskan budi lebih dulu kepadanya, bukankah diapun
akan menerangkan pula soal kitab pusaka tersebut kepadaku?”
demikian pikirnya dalam hati.
Sementara itu si pedang tanpa bayangan telah mengalihkan
pandangannya kewajah Kho Beng, setelah menyaksikan kepergian
rekan-rekan lainnya, kemudian menegur:
“Lote, mengapa kau belum pergi?”
Tatapan matanya penuh mengandung keresahan dan putus asa.
Rasa ingin tahu, iba ditambah semangat mudanya sebagai
seorang jago yg baru selesai belajar silat, apalagi diapun mempunyai
tujuan lain membuat Kho Beng segera tertawa nyaring:
“Lu tua, kau anggap aku yg muda adalah manusia kurcaci yg
mundur bila menemui kesulitan?”
Pedang tanpa bayangan segera menghela napas panjang,
katanya dg wajah bersungguh-sungguh:

“Lote masih muda, kesepatan hidup dikemudian hari [un masih
panjang, apa gunanya kau mesti menyerempet bahaya demi
kepentinganku?”
“Setelah mendengar ucapanmu itu, aku makin berkeras akan
tetap tinggal disini, kau tak usah kuatir, Kho Beng adalah seorang
manusia sebatang kara yg tanpa sanak saudara tanpa rumah
tinggal. Selama ini dunia persilatan sudah cukup dihebohkan oleh
ulah sikedele maut, namun hingga kini belum ada yg tahu siapakah
orang tersebut. Oleh sebab itu selain hendak berusaha melenyapkan
iblis tersebut dari muka bumi, akupun hendak menyingkap tabir
kerahasiaan dari iblis tersebut, agar umat persilatan bisa mempunyai
patokan yg tertentu didalam usaha pemburuannya tidak lagi asal
tubruk secara membabi buta seperti sekrang ini.”
Perkataan yg diucapkan dg bersungguh-sungguh dan penuh
semangat ini segera membuat perasaan si pedang tanpa bayangan
serta sastrawan berkipas kemala agak tergerak.
Cepat-cepat si pedang tanpa bayangan menjura dalam-dalam
seraya berkata:
“Siauhiap benar-benar perkasa dan berhati mulia, bila aku
beruntung dapat lolos dari musibah ini, biar jadi kuda atau anjing
pun aku rela!”
Cepat-cepat Kho Beng menukas:
“Kau jangan berbicara seperti itu dan lagi masih terlalu awal
untuk menjanjikan sesuatu, oh ya….jihiap apakah kau tahu si kedele
maut telah berjanji akan muncul pada pukul berapa?”
“Tengah malam nanti,” sahut si pedang tanpa bayangan.
“Darimana Lu tayhiap bisa tahu kalau dia bakal datang tengah
malam nanti?”
Pedang tanpa bayangan menghela napas panjang, dari sakunya
dia mengeluarkan selembar kertas surat berwarna merah dan
diserahkan kepada Kho Beng sambil katanya:
“Silahkan lote memeriksa isi surat ini, kau akan mengerti sendiri !
»
Kho Beng menerima surat tersebut dan diperiksa isinya, pada
sampul muka tertera nama si pedang tanpa bayangan, sedangkan
ditengah sampul tertera dua butir kedele berwarna hitam.
Disamping itu dalam sampul terdapat selembar kertas yg
bertuliskan begini :

“Nantikanlah kedatanganku pada tengah malam nanti, siapkan
batok kepalamu, bila mencoba kabur atau melawan seluruh
keluargamu akan kutumpas semua.”
Dibawahnya tertera tanda tangannya : Si Kedele Maut.
Dg kening berkerut, Kho Beng segera merobek-robek surat ini
menjadi beberapa bagian, lalu serunya sambil tertawa dingin:
“Hmm, ingin kulihat bagaimanakan tampang muka sigembong
iblis tersebut….enak benar kalau bicara, seluruh keluarga akan
ditumpas habis….emangnya dia anggap perintahnya adalah firman
dari sribaginda?”
Kemudian setelah memeriksa keadaan cuaca, ia berkata lebih
jauh:
“Malam baru menjelang, berarti kita masih mempunyai waktu yg
cukup lama, kurasa lebih baik kalian berdua kembali dulu kekamar
untuk beristirahat sambil menghimpun kekuatan, disamping itu
kumohon saudara Lu menyiapkan pula sebuah kamar untuk diriku,
akupun ingin beristirahat sebentar.”
Tuk, tuk, tuk, traaang, traang, traaang…..
Dari arah jalan raya sana berkumandang tiga kali kentongan yag
amat nyaring, mendadak kentongan ketiga telah menjelang tiba.
Cahaya lentera yg menerangi gedung keluarga Lu waktu itu
sudah amat redup, suasana amat hening tak ubahnya seperti sebuah
kota mati.
Kho Beng dg semangat menyala-nyala memakai jubah panjang
dg pedang tersoren dipunggung beranjak keluar dari kamarnya
menuju keruang tengah.
Disitu ia saksikan hanya si pedang tanpa bayangan seorang
duduk termenung ditengah ruangan dg pedang tergenggam
ditangan, wajahnya termangu-mangu dan pandangan kaku.
Suasana yg suram ini membuat Kho Beng menjadi tertegun,
segera tegurnya keheranan:
“Mana Beng jihiap?”
Dg sedih si pedang tanpa bayangan menggelengkan kepalanya
menghela napas tetap membungkam, mukanya kusut sementara
dua titik airmata jatuh berlinang membasahi pipinya.
Dari sikap sedih yg terpancar keluar ari wajah si pedang tanpa
bayangan ini, Kho Beng segera dapat menduga, Sastrawan berkipas

kemala tentu sudah kabur menyelamatkan diri tanpa mempedulikan
keselamatan kakak angkatnya lagi.
Keadaan tersebut segera membuat Kho Beng semakin simpatik,
buru-buru ia menghibur:
“Ketika membuyarkan rekan-rekan lain disenja tadi, sikapmu
begitu terbuka dan gagah, mengapa pula kau risau karena seorang
Beng Yu? Ha….ha….ha….biarpun kepandaianku amat rendah, jelekjelek
begini aku akan tetap mendampingimu untuk menghadapi
segala kemungkinan yg terjadi.”
Dg perasaan amat terharu dan berterima kasih, si pedang tanpa
bayangan segera berseru:
“Aku tak menyangka meski kita hanya berpisah satu kali, namun
kesetiaan kawanmu sangat mengagumkan, aaai…tapi berapa
banyakkah manusia dalam dunia saat ini yg memiliki sifat mulia
seperti lote….?”
Cepat-cepat Kho Beng menukas:
“Kalau toh kta sudah berniat sehidup semati, apa gunanya kau
mesti mengutarakan kata-kata sungkan seperti itu? Cuma ada satu
hal yg masih menjadi beban pikiranku selama ini, apakah kau
bersedia untuk memberitahu?”
“Katakan saja lote, asal aku tahu pasti akan kujawab.”
“Siapa sih siancu yg telah disinggung Beng jihiap senja tadi? Dan
apa pula hubungan dg dirimu?”
Pedang tanpa bayangan termenung beberapa saat lamanya
setelah mendengar perkataan tersebut, sesaat kemudian dia baru
menghela napas panjang dan berkata:
“Dia adalah seorang perempuan berusia tiga puluhan yg
berwajah cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, orang itu
bernama In in dan tidak diketahui asal usulnya, namun memiliki
kecerdasan yg hebat dan tenaga dalam yg mengerikan. Oleh karena
dia jarang berkelana didalam dunia persilatan maka sedikit sekali
umat persilatan yg mengetahui kalau didunia ini terdapat perempuan
semacam itu…..aaai….dulu aku pernah menjual nyawa baginya….”
Baru berbicara sampai disitu, tiba-tiba perkataan tersebut terhenti
oleh jeritan ngeri yg menyayat hati.
Jerit kesakitan tersebut berkumandang datang dari luar ruangan
dan bergema amat panjang, kalau didengar ditengah kegelapan dan
keheningan seperti ini suaranya terasa sangat mengerikan dan
mendirikan bulu kuduk siapapun.

Berubah hebat paras muka si pedang tanpa bayangan saking
terperanjatnya, pembicaraanpun segera terputus ditengah jalan, dg
pedang terhunus dia melompat bangun namun tubuhnya kelihatan
genetar sangat keras.
“Bisa jadi sikedele maut telah tiba!” bisiknya dg perasan ngeri.
“Siapa saja yg berada digedung ini?” tanya Kho Beng sambil
melompat bangun pula.
“Kecuali enam belas jago pedang, tiada orang lain yg berada
digedung ini.”
“Hayo berangkat! Mri kita pergi memeriksa keadaan yg
sebenarnya...” seru Kho Beng kemudian .
Dg suatu gerakan yg cepat dia segera melesat keluar dari
ruangan langsung menerjang kepintu gerbang.
Dg ketat si pedang tanpa bayangan mengintil dibelakangnya, tapi
karena dia bergerak sedikit lamban maka tubuhnya tertinggal sejauh
tiga kaki lebih dibelakang.
Tiba didepan pintu gerbang, mereka saksikan diantara dua deret
pohon siong telah tergeletak sesosok mayat berbaju kining, ubunubunnya
telah hancur berantakan, isi benaknya berserakan dimanamana
dan mendatangkan suasana yg mengerikan sekali bagi yg
melihat.
Namun kelima belas jago pedang yg lainnya sama sekali tak
nampak batang hidungnya. Dengan kening berkerut Kho Beng
memperhatikan sekeliling tempat itu, lalu tanyanya dg kening
berkerut:
Jilid 05
“Lu tua! Kemana perginya jago-jago pedang lainnya”
Dg perasaan tegang si pedang tanpa bayangan menjawab:
“Aku telah menempatkan mereka didepan dan dibelakang gedung
ini, maksudku dg menyebarkan mereka disetiap sudut gedung yg
strategis, maka kedatangan si kedele maut akan segera ketahuan.”
Kho Beng segera menghela napas panjang:
“aaai...tindakan saudara Lu dg menyebarkan mereka disetiap
sudut gedung merupakan suatu tindakan yg keliru besar, untuk
menghadapi ancaman musuh yg sangat tangguh, kita wajib
menghimpun segenap kekuatan yg ada untuk menghadapi secara
bersama-sama”

Tampaknya waktu itu si pedang tanpa bayangan sudah
kehilangan pendirian saking gugup dan paniknya, mendengar
perkataan tersebut buru-buru katanya:
“Bagaimana kalau kukumpulkan mereka sekarang juga?”
Dg cepat Kho Beng menggeleng.
“Sekarang sudah terlambat, daripada bergerak lebih baik kita pilih
gerakan menanti saja, coba kita saksikan dulu tindakan apa yg
hendak dilakukan lawan.”
Kedua orang itupun segera berdiri penuh kewaspadaan sambil
mengawasi sekeliling arena dg pandangan tajam, mereka ingin tahu
dari arah manakah si kedele maut akan munculkan diri.
Namun suasana betul-betul mencekam hati, keheningan terasa
mencekam sekeliling tempat itu, bukan saja tidak dijumpai jejak
musuh, setitik gerakan pun tak nampak.
Dg sikap yg tegang Kho Beng bersiap sedia menghadapi segala
kemungkinan yg tak diinginkan, sementara benaknya terlintas
kembali dg peristiwa yg dialami dirumah makan Kwan tong tin
tempo hari.
Ia masih ingat, kedele maut yg dikirimkan kepada si pedang
tanpa bayangan sebagai ancaman, betul-betul tak berbeda dg keele
maut yg berada dalam karung yg dibawa saudagar tersebut,
mungkinkah iblis misterius yg disebut kedele maut adalah orang itu?
Sementara dia masih termenung dg penuh perasaan keheranan,
pedang tanpa bayangan yg berada disisinya juga mulai tak tenang,
wajahnya makin lama semakin tegang.
Menanti saat kematian memang merupakan saat penantian yg
paling menyiksa batin, sekalipun suasana disekeliling tempat itu
sangat hening sehingga tak kedengaran sedikitpun suara, namun
keheningan tersebut justru menambah suasana menyeramkan yg
mencekam tempat tersebut.
Terutama sekali bagi pedang tanpa bayangan, dia merasa
seakan-akan dari empat penjuru telah muncul cengkeraman iblis yg
siap menerkam serta merenggut nyawanya.
Ditengah keheningan yg mencekam seluruh jagad inilah,
mendadak dari arah ruang tengah berkumandang datang suara
langkah kaki manusia yg sangat lirih.
Kho Beng dan pedang tanpa bayangan dapat mendengar suara
tersebut dg jelas sekali, serentak mereka berpaling dg hati berdebar
dan perasaan terperanjat.

Dari kejauhan sana terlihatlah sesosok bayangan putih
munculkan diri dg langkah yg lembut, ternyata dia adalah seorang
nona berusia tujuh delapan belas tahun, wajahnya halus dan bersih,
rambutnya dikepang menjadi dua.
Betul-betul suatu peristiwa yg mencengangkan hati! Bukankah
dalam gedung tersebut selain lima belas jago pedang sama sekali
tiada orang lain? Mengapa dalam keadaan begini bisa muncul
seorang nona yg berdandan sebagai dayang?
Kho Beng segera membentak nyaring:
“Siapa kau?”
Dg suatu gerakan yg sangat ringan, nona berbaju putih itu
mendekati mereka berdua, kemudian setelah memandang sekejap
kearah Kho Beng, ujarnya kepada si pedang tanpa bayangan:
“Budah Bwee hiang mendapat perintah dari nona untuk
mengundang kehadiran Lu tayhiap kehalaman belakang.”
Sementara Kho Beng masih tertegun, pedang tanpa bayangan
telah membentak keras:
“Siapakah nona yg kau maksudkan? Darimana bisa muncul
disini….?”
Dg cepat paras muka nona berbaju putih itu berubah menjadi
dingin bagaikan es, kembali ujarnya:
“Seharusnya Lu tayhiap memahami persoalan ini dg sejelasjelasnya,
buat apa mesti banyak bicara lagi? Nona kami paling segan
untuk membuang waktu, katakan saja Lu tayhiap, kau bersedia
kebelakang atau tidak?”
Satu ingatan cepat melintas dalam benak Kho Beng, kepada si
pedang tanpa bayangan segera serunya:
“Jangan-jangan dia adalah…..”
Sebelum perkataan itu selesai diutarakan, si pedang tanpa
bayangan sudah menyadari pula akan sesuatu, dia berseru tertahan
dan segera tanyakan kepada nona berbaju putih itu sambil menjura:
“Jangan-jangan siancu telah tiba?”
“Lu tayhiap kalau toh sudah tahu, mengapa tidak segera
mengikuti budak untuk masuk kedalam?”
Selesai berkata dia lantas membalikkan badan dan beranjak pergi
dari situ.
Pedan tanpa bayangan cukup tahu bahwa gerak gerik siancu
memang selalu diliputi rahasia, lagipula bila bukan dia yg datang,

apa sebab jago pedang berbaju kuning yg ditempatkannya digedung
belakang sama sekali tidak menyiarkan tanda bahaya?
Merasa si dewi itu ternyata belum melupakan dirinya bahkan
telah hadir sendiri saat terakhir, semua perasaa kesal dan dendam
disenja tadi kini tersapu lenyap semua, dg semangat berkobar dan
sedikitpun tak sangsi, ia segera mengikuti dibelakangnya.
Otomatis Kho Beng mengikuti pula dibelakangnya, dia memang
ingin melihat manusia macam apakah siancu tersebut?
Siapa tahu baru saja kakinya maju selangkah, Bwee hiang telah
menghentikan langkahnya sambil membalikkan badan, kepada
pemuda tersebut tegurnya:
“Harap anda menghentikan langkah disitu!”
“Kenapa?” tanya Kho Beng tertegun.
“Nona kami tidak memberi perintah untuk mengajak serta dirimu,
karenanya budakpun tak ingin mengajak serta dirimu!”
Kho Beng segera berkerut kening, hatinya sangat gusar sehingga
tanpa terasa mendengus dingin.
Baru saja dia hendak mengucapkan sesuatu, si pedang tanpa
bayangan yg cukup mengetahui tabiat In in siancu, segera berpaling
dan katanya pula seraya menjura:
“Perkataan nona ini memang benar, harap siauhiap sudi memberi
muka kepadaku dg menanti sejenak diruang depan, sebentar saja
aku tentu akan balik lagi.”
Oleh karena tuan rumah telah berkata begitu, yg menjadi tamu
pun tak dapat berkata apa-apa lagi, betul Kho Beng merasa tidak
puas, tapi diapun Cuma bisa kembali keruang tengah dan
menyaksikan si pedang tanpa bayangan berangkat kehalaman
belakang mengikuti dibelakang Bwee hiang.
Kini Kho Beng berada dalam ruang tengah seorang diri, terasa
olehnya bukan saja si iblis kedele maut saja yg amat misterius gerak
geriknya, bahkan pedang tanpa bayangan dan In in siancu pun
dirasakan sangat misterius dan sukar diraba jalan pikirannya.
Mengapa si pedang tanpa bayangan menaruh rasa takut, ngeri
dan menurut perintah perempuan tersebut? Sudah pasti hubungan
mereka tidak sesederhana apa yg pernah diterangkan kepadanya.
Dg pikiran segala pertanyaan yg penuh tanda tanya, Kho Beng
berdiri termangu-mangu dg mulut membungkam, tapi pedang tanpa
bayangan yg sudah sekian lama masuk kehalaman belakang belum
juga ada kabar beritanya.

Menanti adalah pekerjaan yg paling membosankan, apalagi dalam
situasi yg amat kritis seperti saat ini, rasa gelisah dan cemas timbul
dalam hatinya betul-betul tak terlukiskan dg kata-kata….
Lama kelamaan Kho beng mulai tak sabar, apalagi
ketidakmunculan si kedele maut hingga kini membuatnya makin
keheranan, akhirnya tak bisa ditahan lagi, ia mulai beranjak
meninggalkan ruangan dan lari kehalaman belakang.
Pada saat itulah, ditengah kegelapan malam, terdengar jeritan
ngeri yg memilukan hati berkumandang datang dari gedung sebelah
belakang.
Bukan begitu saja, dari suara jeritan tersebut Kho Beng segera
mengenali sebagai jeritan si pedang tanpa bayangan.
Kho beng jadi tertegun, ia sadar keadaan tidak beres, dalam
terkejutnya dg cepat hawa murninya dihimpun, lalu seperti seekor
burung rajawali, tubuhnya melambung ditengah udara dan melesat
kedepan dg kecepatan tinggi.
Siapa tahu baru saja ia tiba diatas atap rumah, tiga titik cahaya
putih telah melintas datang dari hadapannya dg kecepatan bagaikan
sambaran petir.
Berhubung kedua belah pihak sama bergerak dg kecepatan
tinggi, sehingga nyaris mereka saling bertumbukan.
Jeritan kaget segera bergema memecahkan keheningan,
bagaikan hembusan angin lembut, ketiga sosok bayangan manusia
itu segera melayang turun keatas tanah…
Ternyata mereka adalah tiga orang nona cantik.
Sementara itu Kho Beng telah berjumpalitan pula ditengah udara
serta melompat mundur sejauh tiga depa lebih, begitu berdiri tegak
segera ia meloloskan pedangnya dan berdiri dg mata bersinar tajam.
Dg cepat ia melihat bahwa lebih kurang enam depa
dihadapannya telah berdiri tiga orang nona muda.
Kedua orang nona yg berada dikiri kanan berusia tujuh belas
tahunan serta memakai baju putih, seorang diantaranya tak lain
adalah Bwee hiang yg telah munculkan diri dan mengajak pedang
tanpa bayangan masuk kehalaman belakang.
Sedangkan nona yg berada ditengah berusia lebih tua dua tiga
tahun, ia mengenakan baju yg berwarna keperak-perakan, sekuntum
bunga putih menghias sanggulnya yg tinggi, sementara ditangannya
memegang payung bulat berwarna perak, bentuk maupun potongan
badannya mirip dg bidadari yg baru turun dari kahyangan.

Setelah melihat jelas keadaan tersebut, Kho Beng semakin
terkejut bercampur keheranan, pertama ia segera yakin kalau pihak
lawan bukan In in siancu yg dimaksud pedang tanpa bayangan,
sebab pedang tanpa bayangan pernah berkata, “In in siancu telah
berusia tiga puluhan tahun.”
Sebaliknya nona berpayung bulat warna keperak-perakan ini baru
berusia dua puluh tahunan, berwajah cantik namun sinar matanya
tajam menggidikkan hati.
Kedua secara lamat-lamat diapun telah merasa bahwa si pedang
tanpa bayangan bisa jadi telah dibunuh oleh dayang yg bernama
Bwee hiang tersebut.
Karenanya begitu ingatan tersebut melintas dibenaknya, dg suara
menggeledek ia segera membentak keras:
“Siapa kau?”
Dg wajah sedingin salju nona berpakaian perak itu berpaling
kearah Bwee hiang, kemudian tanyanya:
“Apakah Kho Beng yg dikatakan tua bangka she Lu tadi adalah
orang ini?”
Bwee hiang segera manggut-manggut.
Nona berpayung perak itu segera berpaling kearah Kho Beng, lalu
ucapnya dg suara dingin:
“Lebih baik kau jangan bertanya macam-macam, memandang
kau sebagai orang diluar garis, lagipula nona telah menyanggupi
permintaan tua bangka Lu untuk mengampuni selembar jiwamu,
lebih baik manfaatkanlah kesempatan ini untuk pergi dari sini,
mumpung aku belum berubah pikran….”
Dg kening berkerut Kho Beng segera tertawa nyaring:
“Selamanya aku percaya bahwa perkembangan suatu masalah
merupakan akibat dari perbuatan manusia, sedang nasib seseorang
ditentukan takdir, oleh sebab itu mati hidupku bukan kau yg
menentukan, tapi jika kalian bertiga ingin berlalu dari sini, beberapa
buah pertanyaanku harus kalian jawab dulu!”
“Kalau aku bersikeras menolak untuk menyebutkan identitasku?”
jengek nona berpakaian perak itu ketus.
“Kalau begitu bertanyalah dulu kepada pedangku ini, apakah dia
bersedia memberi jalan lewat untuk kalian bertiga.”
Tiba-tiba Bwee hiang menyela sambil mengumpat dg penuh
marah:

“Bocah muda! Kau benar-benar tekebur, memangnya kau sudah
bosan hidup didunia ini? Nona, budak rasa kalau kita tidak memberi
sedikit kelihaian kepadanya, dia masih belum mau tahu tingginya
langit dan tebalnya bumi.”
Nona berpayung perak itu segera mengulapkan tangannya,
kemudian tanya lagi dingin:
“Tunggu sebentar, Kho Beng kau berasal dari perguruan mana?”
“Aku tak punya perguruan…..”
“Kho Beng, aku dengar kau bermaksud akan menggabungkan diri
dg komplotannya tua bangka she Lu ini?”
“Siapa bilang berkomplot? Aku hanya merasa tak puas dg cara
kerja kaum iblis sehingga berniat membantunya.”
“Hmmm….” Nona berpayung perak itu tertawa dingin “Indah
betul perkataanmu itu, tapi apa pula yg dapat kau lakukan?”
Dg perasaan tergetar keras Kho Beng segera membentak:
“Aku memang ingin bertanya kepadamu, dimanakah Lu tayhiap
sekarang….?”
“Bila ingin mencari si pedang tanpa bayangan, terpaksa kau
harus pergi ke akhirat untuk menemaninya.”
Kho Beng tertegun, tapi dg cepat hatinya tergetar keras, serunya
kemudian tertahan:
“Oooh….rupanya kau adalah si kedele maut!”
Perasaan hatinya sekarang disamping keheranan, diapun merasa
peristiwa ini sama sekali diluar dugaannya.
Selama in dia selalu mengira manusia yg bernama “Kedele Maut”
adalah lelaki berpotongan saudagar yg membawa kantung berisi
kedele dan biasanya pembunuh semacam ini pasti seorang lelaki.
Siapa tahu apa yg dijumpai sekarang ternyata sama sekali
bertolak belakang, ternyata kedele maut yg ditakuti sekian banyak
jago tak lain adalah seorang perempuan, lagipula seorang nona
berusia dua puluh tahunan yg berparas cantik.
Dg usia semuda itu, ternyata dia mampu membunuh ratusan
orang jago lihay, apabila kabar ini sampai tersiar keluar, bukan saja
seluruh dunia persilatan akan jadi gempar, bahkan orang lainpun
belum tentu mau percaya.
Sementara Kho Beng masih mengawasi nona itu dg wajah
tertegun, paras muka nona berpayung perak itu telah berubah makin
dingin dan menyeramkan.
Tiba-tiba ia berkata:

“Tak aneh bila kau tercengang dan keheranan, dalam kenyataan
memang tak seorang manusia pun didunia ini yg bisa hidup terus
setelah bertemu dgku, kau adalah satu-satunya pengecualian, tapi
kalau melihat keadaanmu sekarang tampaknya akupun tak bisa
melepaskan dirimu dg begitu saja….”
Kho Beng segea tersadar kembali dari lamunannya, dia menjadi
sangat gusar dan geram setelah mendengar penjelasan tersebut.
Ia sedih karena gagal melindungi keselamatan jiwa si pedang
tanpa bayangan, dia membenci lawannya karena telah membunuh
pedang tanpa bayangan sehingga ia kehilangan sasaran yg utama
dalam usahanya menyelidiki soal kitab pusaka milik Bu wi lojin yg
tertipu.
Kerenanya setelah tertawa panjang dg penuh kegusaran, ia
segera membentak nyaring:
“Baik! Bagaimanapun juga kalau bukan aku yg berhasil
melenyapkan iblis dari muka bumi malam ini, akulah yg akan tewas
diujung tanganmu. Rasanya tiada masalah serius lain yg bisa
dibicarakan lagi, mari kalian ingin maju satu persatu ataukah akan
maju segera bersama-sama?”
Nona berpayung perak itu segera tertawa dingin:
“He….he…he….kau masih belum berhak untuk bertarung
melawanku. Sin Hong, Bwee hiang kalian segera bekuk bajingan cilik
ini!”
Kedua orang dayang baju putih itu segera mengiakan dan
serentak maju kedepan.
Kho Beng tak dapat menahan diri lagi, dia segera membentak
marah, tubuhnya menerjang kemuka dg kecepatan tinggi.
Pedangnya dg memancarkan cahaya bianglala berwarna merah
yg kemudian membentuk berpuluh-puluh bintang perak, segera
menyerang tubuh gadis berpayung perak itu dg jurus “Bunga
terbang memenuhi jambangan.”
Jurus pedang yg dipergunakan ini tidak lain merupakan salah
satu jurus pedang Lui sui jit kiam hoat yg telah diwariskan Bu wi
lojin kepadanya dalam tujuh hari berselang.
Selain itu, tokoh sakti tersebut telah menghadiahkan pula sepuluh
dari tenaga dalamnya kepada pemuda itu dg ilmu Kun goan kuan
teng, hal ini menyebabkan dia memiliki tenaga serangan yg benarbenar
amat tangguh.

Bagi seorang ahli silat, dalam sekilas pandang saja dapat
mengetahui apakah musuhnya berilmu atau tidak.
Begitu Kho Beng melancarkan serangannya, berkilat sinar aneh
dari balik mata nona berpayung perak tersebut, tanpa sengaja ia
berseru tertahan.
Hampir pada saat yg bersamaan, kedua orang dayang itu telah
mendesak kedepan.
Terlihatlah dua buah cahaya putih yg….
-------missing page 24 – 31 ----------
Sia Hong dan Bwee hiang melanjutkan serangannya, kemudian
sambil mengawasi Kho Beng lekat-lekat, serunya dg suara dingin:
“Tampaknya kau seperti tak takut menghadapi kematian?”
Kho Beng tertawa terbahak-bahak :
“Ha…..ha……ha…..manusia manakah yg tak takut mati, tapi Kho
Beng adalah seorang lelaki yg tak sudi tunduk kepada siapapun juga,
kalau toh sudah kuketahui takut mati tak ada gunanya, toh lebih
baik mencaci maki dirimu sepuasnya lebih dulu sebelum mampus,
paling tidak semua rasa mangkel dan mendongkolku dapat
terlampiaskan….”
Nona berpayung perak itu segera melotot besar penuh amarah,
serunya dingin:
“Terhadap orang yg tidak takut mati, aku mempunyai cara yg
paling bagus, apakah kau ingin merasakannya?”
“Tidak menjadi masalah, aku memang ingin tahu sampai
dimanakah kehebatan dari cara yg kau miliki itu, saksikan saja
apakah aku sanggup untuk menahan diri atau tidak. Terus terang
saja kukatakan, bila aku sampai mengerang kesakitan mulai hari ini
namaku akan kubuat secara terbalik.”
“Bersemangat1” jengek nona berpayung perak itu sambil tertawa
dingin.
Sementara berbicara, mendadak jari tangannya berkelebat dan
segulung desingan angin tajam pun meluncur kedepan dg kecepatan
tinggi…..
Dalam hati kecilnya diam-diam Kho Beng menghela napas, dia
sadar sejarah hidupnya sudah hampir berakhir, bahkan dia harus
mati secara tak jelas dan menahan rasa penasaran.

Siapa tahu begitu desingan angin tajam itu menyentuh tubuhnya,
ia segera merasakan peredaran darahnya menjadi lancar kembali,
dalam tertegunnya dg cepat dia melompat bangun dan mundur
sejauh satu kaki lebih dari posisinya.
Terdengar nona berpayung perak itu berkata lagi dg suara
sedingin salju:
“Memandang kau sebagai lelaki sejati, nona tak ingin
menyusahkan dirimu, ketahuilah meski korban yg tewas oleh kedele
pencabut nyawaku berjumlah sangat banyak, namun mereka semua
adalah manusia-manusia yg pantas untuk dibunuh…”
“Mengapa kau tidak membunuhku sekarang?” tanya Kho Beng dg
wajah tertegun.
Nona berpayung perak itu mendengus dingin:
“Karena kau belum berhak untuk dibunuh, tapi nona peringatkan
kepadamu, jika kau berani mencampuri urusanku lagi serta
membocorkan rahasia identitasku kepada orang lain,
hmmm…hmmmm…..bila kita bersua lagi untuk kedua kalinya, saat
itulah merupakan saat ajalmu!”
Seusai berkata dia segera mengulapkan tangannya kepada kedua
orang dayangnya seraya berseru:
“Mari kita pergi!”
Dg suatu gerakan yg amat cepat dia melesat ketengah udara dan
meluncur pergi dari situ, dalam waktu singkat ketiga sosok bayangan
manusia itu telah berada sejauh sepuluh kaki lebih dan lenyap
dibalik kegelapan malam.
Dalam malu dan mendendamnya, Kho Beng menggertak giginya
kencang-kencang menahan emosi, teriaknya lantang:
“Hey iblis perempuan! Kho Beng tak takut dg ancamanmu, cepat
atau lambat aku pasti akan menuntut balas sakit hati yg kuterima
hari ini.”
“Hmmm....hmmmm...kalau kau sanggup berusia panjang,
silahkan saja untuk mencariku.”
Jawaban yg dingin kaku dan bernada lembut ini bergema
ditengah kegelapan malam, tapi bayangan manusianya sudah lenyap
tak berbekas.
Dg termangu-mangu, Kho Beng berdiri membungkam ditempat.
Ia sadar dalam keadaan bertangan kosong, sekalipun dilakukan
pengejaran pun tak ada gunanya, apalagi dia baru terjun kedalam

dunia persilatan untuk pertama kalinya setelah belajar silat,
kekalahan yg diderita membuatnya masgul dan amat sedih.
Dg perasaan gemas dia melompat naik keatap rumah, memungut
kembali pedangnya yg terlepas dari genggamannya, kemudian
melakukan penggeledahan kedalam halaman belakang.
Gedung tempat kediaman si pedang tanpa bayangan memang
sangat luas, Kho Beng hanya memeriksa sampai kehalaman lapis
keempat setelah berhasil menemukan jenasah dari sipedang tanpa
bayangan yg roboh terkapar diberanda sebelah kanan.
Darah segar nampak bercucuran keluar dari matanya, seakanakan
sedang melelehkan air mata darah, sementara dua biji kedele
berwarna hitam telah menebusi kelopak matanya, persis seperti biji
mata yg telah memudar cahayanya.
Sampai disini, dia belum juga menemukan kelima belas orang
jago pedang berbaju kuning lainnya.
Kali ini merupakan saat pertama kali dia melihat jago persilatan
tewas secara mengerikan oleh kedele maut, hawa amarah yg
membara dalam dadanya segera meledak dan tak dapat terbendung
lagi.
Dalam sekejap itulah rasa bencinya terhadap kekejian si kedele
maut telah merasuk ketulang sum sum.
Terutama sekali kematian dair si pedang tanpa bayangan berarti
memutuskan titik terang menuju ditemukannya kembali kitab
pusaka, rasa jengkel Kho Beng semakin menjadi-jadi.
Dg penuh rasa iba Kho Beng mengubur jenasah si pedang tanpa
bayangan, dia telah memutuskan untuk secepatnya berangkat ke cui
wi san, dia berharap bisa mengetahui asal usulnya secepat mungkin,
ia ingin tahu apakah dia benar-benar adalah keturunan dari Kho
Beng sia, ketua perkampungan Hui im ceng?
Disamping itu, dia pun telah memutuskan untuk mengungkapkan
wajah asli dari si kedele maut kepada umat persilatan melalui mulut
orang-orang Sam goan bun, agar seluruh umat persilatan tahu dan
mereka mempunyai sasaran yg jelas tentang iblis yg harus diburu.
Ia sadar hal tersebut bukan saja akan memberikan manfaat yg
besar bagi usaha menangkap iblis, juga hal inipun merupakan suatu
tantangan yg jelas terhadap si kedele maut.
Ditengah keheningan malam yg mencekam, buru-buru Kho Beng
berangkat meninggalkan kota Tong sia menuju keperguruan Sam
goan bun.

Sepanjang perjalanan dia membayangkan terus, betapa
gembiranya ketua Sam goan bun setelah memperoleh kabar
tersebut.
Sudah hampir setahun lamanya tujuh partai besar dan para
gembong iblis dari kaum sesat berusaha menyelidiki jejak si kedele
maut, namun usaha mereka selama ini tak pernah mendatangkan
hasil, bahkan tak ada yg tahu siapa gerangan orang itu.
Andaikata pihak Sam goan bun mengumumkan soal bentuk asli
dari si kedele maut itu, niscaya seluruh dunia persilatan akan merasa
kagum dan terkejut pada mereka.
Pemuda itu beranggapan bahwa inilah kesempatan baik baginya
untuk membalas budi kebaikan dari Sam goan bun yg telah
memelihara selama delapan belas tahun dan merupakan semacam
pembalasan pula kepada ketua Sam goan bun yg telah mengusirnya.
Dalam situasi dan perasaan inilah Kho Beng mencapai bukit Cui
wi san dalam sepuluh hari.
Waktu itu musim gugur telah lewat, pepohonan yg semula gugur
kini sudah mulai tumbuh pucuk baru, melihat kesegaran alam yg
mulai nampak, tanpa terasa pemuda itu pun merasakan
semangatnya berkobar kembali.
Tiba dipunggung bukit gedung perguruan Sam goan bun telah
muncul didepan mata, perpisahan selama setengah tahun, ternyata
perkampungan Cui wi san ceng masih utuh seperti sedia kala.
Waktu itu sudah menjelang senja, pintu perkampungan tertutup
rapat, Kho Beng segera mendekati pintu gerbang, membenahi
pakaiannya yg kusut kemudian mengetuk pintu.
“Toook...toook...!”
Baru dua kali ketukan, pintu gerbang telah terbuka lebar, yg
membukakan pintu adalah seorang pemuda berusia dua puluh
tahunan.
Dalam sekilas pandangan saja Kho Beng telah mengenali orang
ini sebagai murid keempat belas dari ketua Sam goan bun yg
bernama Lu Bun hoan.
Cepat-cepat dia menjura seraya menegur:
“Saudara Lu, selamat bersua kembali!”
Mengetahui yg datang adalah Kho Beng, dg wajah tercengang Lu
Bun hoan segera menegur:
“Saudara Kho! Kenapa kau balik kembali?”
Kho Beng tersenyum.

“Aku ingin bertemu dg suhu bungkuk disamping itu......”
Belum selesai perkataan itu diutarakan, paras muka Lu Bun hoan
telah berubah hebat, bisiknya pelan:
“Saudara Kho, mengingat hubungan kita dulu, kuanjurkan
kepadamu tinggalkan saja tempat ini secepatnya, tak usah pulang
lagi untuk mencari penyakit.”
Selesai berkata, cepat-cepat dia menutup pintu gerbang kembali
tanpa menggubris kehadiran Kho Beng lagi.
Kho Beng menjadi tertegun, dia tak mengira akan memperoleh
perlakuan demikian, padahal dia cuma ingin ketemu dg ciangbunkin
saja.
Dalam marahnya tanpa berpikir panjang lagi, ia segera
menggedor lagi keras-keras.
Kali ini dia menggedor dg sekuat tenaga sehingga suaranya
menggetar sampai kedalam.
Tak selang berapa saat kemudian pintu gerbang dibuka kembali,
yg muncul kali ini ternyata adalah ketua Sam goan bun, Sun Thian
hong sendiri.
Hawa amarah tanpak menyelimuti seluruh wajahnya, sambil
menatap wajah Kho Beng lekat-lekat, dia membentak:
“Hey! Mau apa kau datang kemari?”
Sambil menahan hawa amarahnya, Kho Beng menjura dalamdalam,
setelah itu ujarnya :
“ Boanpwee khusus datang untuk menemui caingbunjin sekalian
menyampaikan salam. “
Pepatah kuno bilang : Jangan memukul orang berwajah senyum.
Meskipun ketua dari sam goan bun ini memperlihatkan sikap yg
gusar dan keras, namun setelah melihat sikap menghormat Kho
Beng, tak urung dia menjadi rikuh sendiri.
Karenanya sambil mengulapkan tangan dia berkata :
“Tak usah banyak adat, ada urusan apa kau datang kemari ? “
Sambil manggut-manggut pemuda itu berkata :
“Boanpwee khusus datang kemari untuk memberi kabar kepada
cianpwee tentang masalah kedele maut. “
Paras muka ketua Sam goan bun ini kelihatan berubah hebat,
serunya cepat :
“Lanjutkan perkataanmu ! “
“Jangan disini ! “ tukas Kho Beng sambil menggeleng,
“Berhubung masalah ini menyangkut keadaan yg luar biasa,

dapatkah cianpwee mengajak boanpwee untuk bicara didalam saja?

Ketua Sam goan bun kelihatan termenung sebentar, nampaknya
dia tertarik dg persoalan ini, akhirnya sambil miringkan badannya,
dia berkata :
“Silahkan masuk ! “
Sambil tersenyum Kho Beng segera melangkah masuk kedalam,
sementara dalam hati kecilnya berpikir :
“Ternyata perhitunganku tidak meleset, coba kalau tidak
memakai alasan tersebut belum tentu aku bisa memasuki pintu
gerbang ini serta bertemu dg Thio bungkuk. “
Setibanya diruang tengah, ketua Sam goan bun baru menegur :
“Kho Beng, sebenarnya kabar apa yg hendak kau sampaikan ? “
Dg wajah serius Kho Begn segera berkata :
“Boanpwee telah bertemu dg kedele maut ketika berada dikota
tong sia, ternyata gembong iblis tersebut adalah seorang nona
berusia dua puluh tahunan yg didampingi dua orang dayangnya,
seorang bernama Sin hong yg lain bernama Bwee hiang. “
Ketua Sam goan bun ini nampak semakin kaget bercampur
tercengang, serunya :
“Kedele maut adalah seorang nona muda ? Tahukah kau identitas
serta asal usulnya ? “
Kho Beng menggeleng, secara ringkas dia menceritakan apa yg
dialaminya, kemudian menambahkan :
“jurus serangan yg dipergunakan gombong iblis wanita itu dangat
aneh, senjata yg digunakan juga luar biasa, bentuknya tak berbeda
dg sebuah payung yg bulat berwarna perak, sedang senjata yg
dugunakan dayangnya berbentuk dua buah ikat pinggang, mungkin
cianpwee bisa menemukan sedikit titik terang dari benda –benda yg
mereka andalkan itu. “
Dg kening berkerut, ketua sam goan bun termenung sambil
berpikir seenak, mendadak dg wajah berubah hebat ia menjerit
kaget :
“Sungguh aneh, rasanya payung perak itu mirip sekali dg payung
Thian li san milik Gin San siancu (Dewi payung perak), sedang ikat
pinggang yg kau maksud adalah tali pengikat dewa, jangan-jangan
kedele maut adalah murid Dewi payung perak ? “
Dg perasaan terkejut Kho Beng turut berpikir :

“Thio bungkuk pernah menerangkan, Dewi payung perak
menempati kedudukan satu diantara tiga manusia aneh, tapi masa
dia mempunyai murid seperti ini.”
Sementara dia masih tercengang, ketua Sam goan bun telah
berkata lebih jauh dg suara dingin:
“Penemuan yg berhasil kau peroleh ini benar-benar luar biasa,
baiklah partai kami akan mewakilimu untuk menyampaikan berita
tersebut kepada seluruh partai lain agar kau memperoleh
penghargaan pula dari semua orang.”
Buru-buru Kho Beng menyela:
“Boanpwee sama sekali tidak berniat mencari nama dg berita
tersebut, disamping itu boanpwee pun tidak mempunyai ambisi apaapa,
oleh sebab itu bila cianpwee menyampaikan kabar tadi kepada
umat persilatan, jangan sekali-kali singgung nama boanpwee.”
“Lalu mengapa kau beritahukan soal ini kepadaku?” tanya ketua
sam goan bun dg wajah tertegun.
“Boanpwee tak lain hanya bermaksud membalas budi kebaikan
cianpwee yg telah memeliharaku selama delapan belas tahun.”
Untuk beberapa saat lamanya ketua Sam goan bun tertegun, tapi
segera ujarnya dg suara dingin:
“Apa yg kau sampaikan kepadaku pasti akan kukabarkan kepada
segenap umat persilatan, tapi iktikad baikmu itu biar kuterima dalam
hati saja, aku tak ingin merebut jasamu, nah sekarang kau boleh
turun gunung, biar kuhantar kau sampai dikaki bukit sana.”
“Tidak, boanpwee masih ada satu persoalan lagi.” Buru-buru Kho
Beng berseru.
“Persoalan apa?”
“Boanpwee ingin bersua dg Thio suhu yg bertugas didapur.”
“Sayang kedatanganmu terlambat selangkah....” ujar ketua Sam
goa bun dingin.
“Apakah Thio suhu telah pergi?” tanya Kho Beng tertegun.
“Tidak, Thio bungkuk telah berpulang kealam baka bulan
berselang.”
Jawaban itu seperti guntur yg membelah bumi disiang hari
bolong, hampir saja membuat pemuda itu jatuh pingsan....
Thio bungkuk telah mati? Baru berpisah setengah tahun ternyata
telah terjadi perubahan yg begitu besar dan hebat, hampir saja Kho
Beng tak sanggup menahan pukulan batin itu, dia terkejut
bercampur sedih.

Dg termangu-mangu diawasinya ketua sam goan bun itu tanpa
berkedip, dia tak tahu apaka ucapan tersebut benar-benar telah
terjadi? Ataukah ketua Sam goan bun itu mempunyai maksud serta
tujuan lain.
Namun paras muka ketua sam goan bun ini dingin kaku sama
sekali tak berperasaan.
Dari sikap tersebut Kho Beng segera mengerti, walaupun dia
datang dg maksud membalas budi serta mengutarakan seluruh isi
hatinya secara tulus, namun sikap mana bukan saja tidak membuat
ketua tersebut terharu bahkan kehadirannya jelas tidak pernah
disambut.
Dalam sekejap mata itu pula pelbagai peristiwa lama melintas
kembali dalam benaknya, pelbagai kecurigaan pun satu demi satu
muncul kembali. Kho Beng mulai membayangkan kembali kehidupan
Thio bungkuk selama belasan tahun terakhir ini yg selalu sehat dan
tak pernah sakit, mengapa dia bisa mati secara tiba-tiba ?
Apakah dia telah menemui suatu musibah yg tak terduga? Kalau
kematiannya benar-benar tertimpa musibah, apakah hal ini ada
sangkut pautnya dg teka teki sekitar asal usulnya ?
Makin berpikir Kho Beng merasa makin curiga, sehingga tak
tahan lagi ia bertanya :
“Dapatkah cianpwee jelaskan sebab-sebab kematian dari suhu
bungkuk…?”
“Dia mati karena terserang penyakit gawat.” Jawab ketua Sam
goan bun dg suara dingin dan hambar.
“Aku tidak percaya1” seru Kho Beng tanpa sadar.
Ciangbunjin dari Sam goan bun itu segera mendengus, katanya
lagi dg suara dalam:
“Mau percaya atau tidak terserah kepadamu, yg jelas antara
diriku dg sibungkuk mempunyai tali persahabatan selama dua puluh
tahun lebih, masa aku bakal membunuhnya secara licik?”
Pertanyaan yg diungkapkan ini segera membuat Kho Beng
menjadi tertegun dan seketika membungkam ribuan bahasa, oleh
karena apa yg ingin diutarakan sudah didahului lawan. Maka
walaupun dihati kecilnya dia menaruh curiga namun tak berani
diungkapkan sebab tanpa bukti yg jelas tak mungkin baginya untuk
menuduh orang secara sembarangan.
Dalam keadaan begini diapun sadar, bila ketua sam goan bun ini
ditegur secara langsung, maka bukan saja tak akan mendatangkan

hasil apa-apa malah sebaliknya justru akan menimbulkan bentrokan
secara langsung.
Oleh sebab itu berganti nada pembicaraan, dia berkata:
“Maafkan kehilapan boanpwee yg telah berbicara tanpa sadar,
maklumlah pikiran dan perasaan boanpwee saat ini amat kalut,
tapi......bolehkah cianpwee menunjukkan dimanakah jenasah Thio
suhu dimakamkan, agar boanpwee pun dapat berziarah didepan
pusaranya sebagai rasa duka citaku kepadanya?”
Dg suara hambar, ketua Sam goan bun berkata:
“Hmmm...coba kalau aku tidak memahami perasaan hatimu
sekarang, masa akan kubiarkan kau bertindak seenaknya seperti ini?
Pusara si bungkuk berada dibalik huta siong ditebing bukit sana,
pergilah seorang diri, tapi aku perlu memperingatkan kepadamu,
selanjutnya lebi baik tak usah berkunjung lagi kebukit Cui wi san ini
ketimbang mendatangkan rasa muak dan sebal bagiku!”
Sambil berusaha keras mengendalikan kobaran hawa amarah
didalam dadanya, cepat-cepat Kho Beng membalikkan badan dan
mengundurkan diri dari pintu gerbang, pikirnya dalam hati:
“Hmmmm, coba kalau aku tidak teringat dg budi pemeliharaan
selama delapan belas tahun...hari ini juga aku Kho Beng akan
membuat kau benar-benar muak dan sebal...”
“Blaaaammm...!”
Terdengar pntu gerbang dibanting keras-keras sehingga tertutup
kembali rapat-rapat.
Untuk beberapa waktu lamanya Kho Beng Cuma bisa berdiri
termangu-mangu didepan pintu sambil mengawasi papan nama
“Sam goan bun” yg terpancang didepan pintu itu tanpa berkedip,
rasa jengkel, marah, sedih dan benci terus bercampur aduk menjadi
satu, sampai-sampai dia sendiripun tak bisa membedakan
bagaimanakah perasaan hatinya waktu itu.
Dalam perasaan yg serba kalut dan kacau tak keruan itulah, dia
mengitari dinding pekarangan menuju kebelakang perkampungan.
Dibalik perkampungan, terdapat sebuah hutan siong yg rindang
serta sinar senja yg semakin redup menciptakan suasana suram
disekitar situ.
Sepanjang perjalanan menelusuri hutan, Kho Beng menyaksikan
pemandangan alam disana masih seperti semula, padahal apa yg
telah dialaminya kini telah berbeda seratus delapan puluh derajat.

Setelah menembusi hutan, terlihatlah sebuah kuburan batu
berdiri tegak didepan mata, batu nisan yg berdiri didepan pusara
tersebut terteralah beberapa huruf besar yg berbunyi demikian:
“Disinilah diunta sakti berpunggung baja Thio Cio lan
beremayam.”
Teringat kembali pergaulannya selama delapan belas tahun
terakhir serta budi kebaikan yg telah mewariskan ilmu silat
kepadanya, Kho Beng tak dapat menahan asa sedihnya lagi, ia
segera berlutut didepan pusara dan menangis tersedu-sedu.
Isak tangis yg memedihkan hati bergema diseluruh angkasa,
menambah seramnya suasana disitu, sampai lama sekali Kho Beng
menangis,, setelah semua rasa kesal dan sedihny terlampiaskan
keluar, pelan-pelan kesaarannya baru pulih kembali seperti sedia
kala, sekarang dia mulai berpikir bagaimana caranya untuk bertindak
menyelidiki sebab-sebab kematian dari thio bungkuk...
Dalam keadaan inilah, mendadak telinganya menangkap suatu
suara yg aneh sekali....
Kho Beng sekarang sudah bukan Kho Beng yg dulu, begitu suara
aneh tersebut terdengar olenya, dia segera mengerti kalau ada
orang sedang mengintip dan mengawasi gerak geriknya.
Waktu itu langit sudah gelap, namun sinar rembulan belum
muncul, dalam keadaa terkejut bercampur curiga, Kho Beng segera
meningkatkankewaspadaannya untuk menghadapi segala
kemungkinan yg tidak diinginkan....
Setelah menyeka air mata yg bercucuran dipipinya, dia
membalikkan badan lalu mengangkat kepala seraya membentak:
“Hey, sobat darimana yg sedang mengawasi diriku? Jika kau tidak
segera munculkan diri, jangan salahkan Kho Beng menaruh kesalah
pahaman kepadamu!”
Benar juga, begitu perkataan tersebut selesai diutarakan, sesosok
bayangan manusia segera melayang turun dari atas pohon dg
kecepatan tinggi, setelah tiba didepan mata pemuda itu segera
mengenalinya sebagai anggota sam goan bun, Nyoo To li
Dg perasaan tertegun Kho Beng segera menegur:
“Oooooh..rupanya Nyoo toako….”
Sambil tersenyun Nyoo To li segera menjura, serunya berkata:
“Saudara Kho, baru setengah tahun tak bersua, sungguh tak
disangka ketajaman pendengaranmu sudah begitu luar biasa,

nampaknya tenaga dalam yg kau miliki telah memperoleh kemajuan
yg amat pesat.”
“Nyoo toako terlalu memuji,” cepat-cepat Kho Beng balas
memberi hormat, kini hari sudah gelap, ada urusan apa Nyoo toako
bersembunyi diatas pohon?”
Merah jengah selembar wajah Nyoo to li, dia menghela napas
panjang:
“Aaaaai...sesungguhnya aku hanya melaksanakan perintah
ciangbun suhu untuk melihat, apakah kau sudah pergi atau
belum....”
Mendengar keterangan tersebut, Kho Beng segera mengerutkan
dahinya rapat-rapat, kemudian tertawa dingin:
“Ooooh...rupanya saudara Nyooo sedang melaksanakan perintah
untuk mengawasiku secara diam-diam..”
“Saudara Kho, kau jangan kelewat menaruh salah paham
terhadap ciangbun suhu,” buru-buru Nyoo To li berseru, “Sejak
kepergianmu suhu tak pernah teringat akan dirimu.....”
Sambil tertawa dingin kembali Kho Beng menukas:
“Saudara Nyoo, apa gunanya kau membelai suhu? Dari dulu
hingga sekarang bukti dan kenyataan telah terpapar didepan mata,
apa gunanya kau berusaha membelai serta menutupinya?”
“Aku berani bersumpah dihadapan Thian, semua perkataanku
kuucapkan dg kata yg sejujur-jujurnya.” Seru Nyoo To li dg wajah
amat serius.
“Kalau toh saudara Nyoo bersikap begitu jujur kepada siaute,
bersediakah kau untuk menjelaskan juga sebab kematian dari suhu
bungkuk...!” jengek Kho Beng dingin.
Sekali lagi Nyoo To li menghela napas panjang:
“Kisah kematian Thio bungkuk karena sakit tidak begitu kupahami
secara jelas, tapi aku dapat memberitahukan kepadamu, lebih
setengah bulan berselang, Bok sian tianglo ketua Tat mo wan dari
Siau lim si telah datang menyambangi suhu, bahkan telah terjadi
keributan dantara dia dg Thio bungkuk...”
Tergerak hati Kho Beng setelah mendengar keterangan itu, buruburu
ia bertanya:
“Karena persoalan apakah sehingga terjadi keributan diantara
mereka...?”
“Waktu itu, kecuali suhu, Bok sian tanglo dan sibungkuk sendiri,
dalam kamar Thio bungkuk tiada orang keempat, lagi pula pintu

jendela tertutup rapat, maka dari itu selain kadangkala terdengar
suara bentakan marah dari sibungkuk, persoalan lain tak pernah
diketahui orang luar….”
“Berapa lamakah selisih waktu antara kejadian tersebut dg saat
kematian Thio bungkuk?” tanya Kho Beng sesudah berpikir sejenak.
“Sejak sore itu Thio bungkuk pantang makan minum, setiap
orang dilarang memasuki kamarnya, kemudian setelah suhu
melakukan pemeriksaan sendiri, barulah diumumkan bahwa Thio
bungkuk telah sakit keras dan melarang siapapun datang
mengganggunya. Pada keesokan harinya tahu-tahu suhu
memerintahkan orang untuk menyiapkan petimati.
Aaaaai…..sungguh tak disangka Thio bungkuk telah dikebumukan
pagi hari ketika itu juga, menurut suhu Thio bungkuk
menghembuskan napas terakhir ditengah malam dan suhu sendiri yg
memasukkan jenasahnya kedalam peti mati.”
“Tatkala jenasah Thio suhu dimasukkan kedalam peti mati, selain
ciangbunjin, adakah orang kedua yg turut menyaksikan?”
“Menurut apa yg kuketahui, disaat Thio bungkuk
menghembuskan napas terakhir, tiada rang kedua yg tahu.”
“Kapan pula Bok sian tianglo dari Siau lim si meninggalkan
tempat ini?” tanya Kho Beng lagi.
“Dipagi hari saat suhu mengumumkan kematian dari Thio
bungkuk.”
Ketika berbicara sampai disitu, tiba-tiba dia berseru lagi dg
perasaan terkejut bercampur keheranan:
“Saudara Kho, apakah kau menaruh curiga kalau sebab kematian
Thio bungkuk mencurigakan dan suhu kau curigai terlibat dalam
peristiwa ini….”
Kontan saja Kho Beng tertawa dingin:
“He….he….he….menurut pendapatmu benarkah suhu bungkuk
meninggal karena terserang penyakit?”
Nyoo To li menghela napas panjang:
“Aaaai....cuaca dilangitpun susah diduga, apalagi nasib manusia,
siapakah yg bisa menjamin seorang manusia tetap sehat walafiat
sepanjang masa?”
Kho Beng mendengus dingin:
“Hmmm....suatu jawaban yg sangat bagus tapi sayang belum
bisa melepaskan kecurigaanku terhadap gurumu sebagai pembunuh
dari Thio suhu.”

“Saudara Kho!” Nyoo To li berseru dg nada tercengang, “Kenapa
kau berpendapat demikian? Dihari-hari biasa suhu selalu menaruh
sikap hormat kepadanya, mana mungkin beliau berniat
membunuhnya?”
“Murid membelai gurunya, hal ini memang lumrah dan tak aneh.”
Kata Kho Beng sambil tertawa dingin, “Tapi hati manusia sukar
diduga, tiada anginpun bisa timbul masalah, siapa yg bisa menjamin
kelak hubungan antara gurumu dg Thio suhu disamping rasa setia
kawan, masih terselip pula hubungan lain?”
Sementara Nyoo To li masih dibuat termangu-mangu, Kho Beng
telah berkata lebih jauh:
“Terima kasih banyak atas pemberitahuan saudara Nyoo pada
malam ini, kini ari sudah larut malam, biar siaute mohon diri lebih
dulu!”
Selesai berkata dia segera menjura dan berjalan keluar dari balik
hutan.
Jilid 06
Buru-buru Nyoo To li membalikkan badan seraya berseru:
“Saudara Kho, selanjutnya kau hendak kemana?”
Tanpa berpaling sahut Kho Beng:
“Langit sangat luas, dimanapun aku pergi disitulah aku menuju,
tolong sampaikan kepada gurumu, Kho Beng akan berkunjung dulu
ke Siau lim si, tiga bulan kemudian aku pasti akan berkunjung lagi
kemari, pokoknya sebelum persoalan ini berhasil kuselidiki hingga
tuntas, aku tak akan berdiam diri saja!”
Selesai berkata dia segera mempercepat langkah mengitari pagar
pekarangan dan segera melesat turun kebawah bukit.
Apakah Kho Beng benar-benar hendak berangkat ke Siau lim si?
Benar, tapi bukan sekarang.
Saat ini dia sedang melaksanakan siasatnya dg sengaja
melepaskan tabir untuk menyembunyikan jejak sendiri.
Begitu sampai dibawah bukit, dia segera mencari rumah makan
untuk mengisi perut, kemudian dg memanfaatkan kegelapan malam
dia balik kembali keatas bukit.
Kali ini dia meninggalkan jalan gunung yg lebar dan
menggunakan ilmu meringankan tubuhnya yg sempurna, ia bergerak
diantara semak belukar yg rimbun, dg gerakan yg sagat berhati-hati
dia bergerak menuju ke perkampungan Cui wi san.

Cerita tentang kematian si Unta sakti berpunggung baja
menimbulkan pelbagai kecurigaan dalam hati Kho Beng, dia sadar
dibalik peristiwa tersebut tentu terdapat hal-hal yg tidak beres.
Ia belum dapat menduga tenaga dalam siapakah diantara ketua
Sam goan bun dg Thio bungkuk yg lebih tinggi, karenanya semula
dia cuma menaruh kecurigaan saja terhadap ciangbunjin dari Sam
goan bun tersebut.
Sebab dia berpendapat bahwa dg kemampuan seorang ketua
sam goan bun, rasanya tidak besar kesempatan baginya untuk
berhasil membinasakan si Unta sakti berpungung baja yg
mempunyai nama amat termasyur didalam dunia persilatan.
Tapi setelah mendengar keterangan dari Nyoo To li, anggota
perguruan Sam goan bun itu, Kho Beng merasa bahwa apa yg
dicurigai sudah hampir mendekati kenyataan.
Sebab bila ia ditambah dg kemampuan Bok sian tianglo seorang
jago lihay dari Siau lim si, maka kemungkinan berhasil didalam
usaha pembunuhan itu menjadi bertambah besar.
Yg menjadi persoalan sekarang tinggal siapakah pembunuh
utama dan siapakah pembantunya diantara Bok sian tianglo dg
ketua Sam goan bun itu.
Bintang dan rembulan bersinar cerah, meskipn sudah malam
namun waktunya masih dini.
Dg hapal sekali Kho Beng menelusuri jalan setapak menuju
kebelakang perkampungan, kemudian melompat keatas dan
menyembunyikan diri diatas sebatang pohon besar, dari situlah dia
mengintip keadaan dalam gedung.
Tampak olehnya dapur dalam gedung dimana selama banyak
tahun ia pernah berdiam, kini bermandikan cahaya lentera, banyak
orang nampak berlalu lalang disitu. Jelas, saat ini masih belum
saatnya untuk melakukan penyelidikan.
Diam-diam Kho Beng duduk diatas dahan pohon sambil menanti,
mendadak teringat olehnya akan seseorang yg dirasakan penting
dalam usahanya melakukan penyelidikan kali ini, agaknya ia teringat
dg selembar wajah gemuk yg merah segar.
Sambil bertepuk tangan pelan, diam-diam serunya:
“Ya betul! Aku harus mencari sigemuk Oh, meskipun suhu
bungkuk jarang berbicara dan bergurau dg orang lain, tapi dia cocok
sekali dg sikoki ini, seringkali mereka duduk menum arak sambil
berbincang bincang. Disamping itu, kamar tidur sigemuk Oh persis

terletak disebelah kamar tidur suhu bungkuk, siapa tahu dia
mengetahui sedikit banyak tentang latar belakang peristiwa
tersebut....”
Ketika keputusan diambil, waktu sudah menunjukkan kentongan
pertama, lambat laun sinar lentera dalam gedung itupun mulai
redup.
Kho Beng segera menghimpun tenaga dalamnya sambil melejit
naik keatas wuwungan rumah, dari situ dia menyusup masuk
kedalam gedung dekat dapur.
Saat itu sinar lentera didalam dapur telah padam, suasana
disekeliling sana amat hening dan tak nampak sesosok bayangan
manusiapun, tapi dibalik jendela kamar sigemuk Oh terlihatlah sinar
lentera masih menerangi ruangan, jelas dia belum tidur.
Dg suatu gerakan ringan Kho Beng mendekati pintu,
mendorongnya, menyelinap masuk kemudian merapatkan kembali
pintu kamarnya.
Tampak sigemuk Oh sedang duduk seorang diri sambil minum
arak, diatas meja telah dihidangkan dua tiga macam sayur.
Ketika melihat Kho Beng menyerbu masuk kedalam ruangan
secara tiba-tiba, ia sama sekali tidak nampak terkejut atau
keheranan malah sambil tertawa serunya:
“Baru setengah tahun tak bersua, nampaknya kau sudah berubah
seperti orang lain, ehm..tampaknya memang memperoleh kemajuan
amat pesat....”
Penampilan seperti ini sudah barang tentu sangat
mencengangkan Kho beng, dia jadi tertegun dan serunya
keheranan:
“Oh suhu, nampaknya kau seperti telah menduga kalau aku bakal
datang kemari?”
Sigemuk Oh segera manggut-manggut, sahutnya sambil tertawa:
“Cuma aku tak menyangka kedatanganmu begitu awal, nah
silahkan duduk, sayur dan arak telah kupersiapkan, mari kita
bersantap sambil berbincang-bincang.”
“Tidak!” tampik Kho Beng dg perasaan sangat tegang, “Oh suhu,
walaupun aku pernah menjadi seorang pembantu dari Sam goan
bun, tapi sekarang telah berubah menjadi duri dalam daging bagi
ciangbunjin, karenanya aku tak berani berdiam terlalu lama, aku
hanya ingin bertanya tentang sesuatu.”
Sigemuk Oh meneguk araknya secawan kemudian balik bertanya:

“Apakah dikarenakan persoalan sibungkuk?”
Air mata segera jatuh berlinang membasahi wajah Kho Beng,
ujarnya dg sedih:
“Oh suhu, kalau toh kau telah memahami maksud kedatanganku,
tolong beritahukanlah kepadaku keadaan yg sebenarnya,
sesungguhnya apa yg menyebabkan kematian suhu bungkuk?”
Oh gemuk segera menggelengkan kepalanya berulang kali:
“Dalam soal ini aku sigemuk pun kurang jelas, tapi sibungkuk
memang meninggalkan pesan agar kusampaikan kepadamu.”
“Apa pesannya?” buru-buru Kho Beng bertanya dg semangat
berkobar kembali.
Oh gemuk menyumpit sebuah daging dan dikunyahnya lebih
dulu, setelah ditelan ia baru berkata:
“Dia menyuruh aku bertanya dulu kepadamu, dalam bidang ilmu
silat, apakah kau telah berhasil mencapai apa yg diharapkan?”
Kho Beng manggut-manggut:
“Beruntung sekali aku dapat memenuhi pengharapan suhu
bungkuk, itulah sebabnya aku baru berani pulang untuk menjenguk
dia orang tua, sungguh tak disangka dia telah berpulang kealam
baka....”
Ia tak dapat menahan rasa sedihnya lagi sehingga air matanya
jatuh bercucuran membasahi pipinya.
Dg nada serius Oh gemuk segera berseru:
“Lote, sekarang bukan saat bagimu untuk menangis, kalau toh
kau mengatakan tidak menyia-nyiakan harapan sibungkuk, coba
tunjukkan dulu kemampuanmu itu dihadapan aku sigemuk.”
Berbicara sampai disitu, dia segera mengeluarkan sebuah batu
sebesar telur ayam yg diletakkan diatas meja sambil katanya:
“Inilah cara mencoba kepandaianmu yg dipesankan sibungkuk,
sekarang remas dulu batu itu sampai hancur!”
Dg termangu-mangu Kho Beng menerima batu tadi kemudian
mengerahkan tenaga dalamnya ketelapak tangannya, sekali pencet
batu tersebut segera hancur menjadi bubuk dan berserakan lewat
celah-celah jari tangannya.
Melihat keberhasilan pemuda tersebut, Oh gemuk segera
manggut-manggut, kemudian sambil menunding kearah lilin yg
berada dimeja, ia berkata lagi:
“Sekarang coba kau papas kutung separuh batang lilin ini
menjadi enam potong, tapi hal ini harus kau lakukan dalam sekali

gerakan, lagipula setiap potong harus mempunyai panjang yg sama.
Bila kutungan lilin tersebut tak sampai ambruk dari tumpukannya,
hal tersebut baru dianggap berhasil!”
Kho Beng menjadi tertegun.
“Memotong lilin tanpa roboh serta mempunyai kepandaian yg
sama tidak terlalu sulit untuk kukerjakan, tapi mana mungkin dalam
sekali tebasan pedang lilin tersebut dapat dipapas menjadi enam
potongan?”
“Sibungkuk telah berpesan, cara ini bukan saja menguji
kepandaian silatmu, juga menguji kecerdasan otakmu, bila kau tidak
lulus maka pesannya tak boleh disampaikan kepadamu, pesan
tersebut baru dapat kusampaikan apabila hal mana sudah kau
pahami.”
Kho Beng menjadi terbungkam dalam seribu bahasa, dia tahu
kata-kata yg dirahasiakan sigemuk pasti mempunyai arti penting dg
dirinya, tapi bagaimana mungkin dia dapat memapas kutung
separuh batang lilin menjadi enam bagian dalam sekali tebasan saja?
Dalam lamunannya mendadak dia teringat kembali dg catatan
ilmu silat pemberian Thio bungkuk tempo hari, diantaranya
tercantum sebuah jurus pedang dari Hoa san pay yg disebut “Angin
puyuh menggulung debu”, gerakan pedang itu didasari pada
gerakan berputar, apabila pedangnya tidak ditarik, tubuhnya
memang akan berputar sebanyak enam kali, bukankah gerakan
tersebut cocok sekali dg sekali tebasan enam kali memapas?
Berpikir sampai disitu, dia tak berani membuang waktu lagi,
pedangnya segera diloloskan dari sarungnya, kemudian setelah
memusatkan seluruh perhatiannya, dia himpun hawa murninya
kedalam pedang dan pedangnya langsung dibabat kearah separuh
batang lilin itu diiringi perputaran badan.
Tampak cahaya tajam berkilauan, dalam waktu singkat Kho Beng
telah menarik pedangnya, lalu sambil menyarungkan kembali
pedangnya, ia berkata:
“Silahkan Oh suhu memeriksanya.”
Lilin itu nampak masih tetap utuh seperti sedia kala dan sama
sekali tidak kelihatan cacad.
Sambil melototkan matanya lebar-lebar, sigemuk Oh mengangkat
lilin tersebut pada bagian paling ujung, ternyata bagian tersebut
sudah terpapas kutung.

Demikian seterusnya, ternyata lilin tadi memang terbagi menjadi
enam potong dg panjang yg sama, hal ini menandakan kalau
permainan pedang pemuda tersebut memang sudah amat mantap.
Si gemuk Oh segera bersorak memuji:
“Suatu kepandaian yg sangat hebat lote, meskipun aku sigemuk
belum pernah belajar silat, namun jarang sekali kujumpai kehebatan
seperti ini, kau memang sangat hebat….”
Padahal Kho Beng sendiripun tidak terlalu yakin dg kemampuan
sendiri, kini dia baru dapat menghembuskan napas lega, buru-buru
katanya:
“Oh suhu, semua syarat telah berhasil kulaksanakan, sekarang
tolong sampaikan pesan terakhir dari dia orang tua.”
Sigemuk Oh segera manggut-manggut:
“Sibungkuk berpesan : Jika kedua ujian tersebut berhasil kau
atasi, silahkan datang kekuburannya untuk bersembahyang.”
Kho Beng menjadi tertegun.
“Siang tadi aku telah berjiarah kesitu!” serunya.
“Tak ada salahnya kau berjiarah sekali lagi, jika menemukan
sesuatu pergilah ke pohon siong ketiga disisi kiri kuburan, disana
akan kau temukan barang yg dibutuhkan.”
“Hanya perkataan ini saja?” tanya Kho Beng tercengang.
Sekali lagi sigemuk Oh manggut-manggut:
“Yaa, hanya kata-kata itu, sekarang semua pesan sibungkuk telah
kusampaikan kepadamu, mumpung waktu sudah larut dan orang lain
belum menyadari akan kehadiranmu pergilah kesana dg cepat.”
Kho Beng memang ingin secepatnya mengetahui benda apakah
yg berada dibawah pohon ketiga disisi kiri kuburan, tentu saja
diapun tak ingin berdiam terlalu lama disitu sambil menjura segera
ujarnya:
“Terima kasih banyak atas bantuanmu, budi kebaikan ini pasti
akan kubalas dikemudian hari.”
Selesai berkata, dia segera membalikkan badan dan membuka
pintu, kemudian setelah celingukan sekejap kesekeliling sana, dg
suatu gerakan cepat tubuhnya melesat pergi meninggalkan tempat
itu.
Suasana tengah halaman gedung amat sepi, Kho beng berhasil
keluar dari dinding pekarangan tanpa menjumpai kesulitan apa-apa.
Setelah masuk kedalam hutan, sesuai dg petunjuk dia menuju

kepohon siong ketiga disisi kiri kuburan dan melompat naik keatas,
tapi setelah diperiksa sekejap dia menjadi tertegun.
Apakah diatas pohon tak ada barangnya? Bukan, barang tersebut
memang berada disana, tapi jenisnya sama sekali diluar dugaan Kho
Beng, sebab benda itu ternyata tak lain adalah sebuah sekop bulat.
Selain sekop bulat, disana tidak ditemukan benda lain.
Kho Beng menjadi kecewa sekali, pada mulanya dia mengira
benda yg disembunyikan si Unta sakti berpunggung baja diatas
pohon itu meski tiada hubungan dg asal usulnya paling tidak
menyangkut sebab-sebab kematiannya. Sungguh tak disangka
ternyata benda itu adalah sebuah benda yg sama sekali tak ada
sangkut pautnya dg masalah tersebut.
Lalu sekop bulat yg karat ini melambangkan apa?
Mungkinkah sigemuk Oh sedang bergurau dgnya?
Kho Beng merasa sangat curiga, tapi setelah dipikirkan lebih
jauh, dia merasa tak mungkin sigemuk Oh sengaja bergurau dgnya,
mengingat persoalan ini menyangkut suatu masalah yg besar.
Lagipula ditinjau dari wataknya sehari-hari biasa yg terbuka dan
polos, tak mungkin dia sengaja menyiapkan rencana busuk untuk
menjebaknya.
Kho Beng segera mencabut keluar sekop bulat itu, lalu dalam
keadaan bimbang dia melayang turun kembali kebawah pohon.
Dalam keadaan begini tanpa terasa dia teringat kembali dg pesan
kedua si gemuk Oh:
“....tak ada salah kau berjiarah kepusara tersebut, bila
menemukan sesuatu...”
Berpikir sampai disitu, dia segera menggelengkan kepalanya
sambil menghela napas panjang, pikirnya:
“Bila menemukan sesuatu, apakah benda yg kubutuhkan adalah
sekop bulat ini? Apakah Thio bungkuk menyuruh aku menggali
kuburan da merampok isi peti mati? Benar-benar suatu kejadian yg
membingungkan hati!”
Sambil berpikir Kho Beng mundur terus hingga didepan kuburan,
dia mencoba untuk memperhatikan keadaan disekeliling tempat itu,
namun kuburan itu masih utuh seperti sedia kala, bentuknya tak
berbeda seperti apa yg dilihatnya siang tadi.
Memandang pusara yg sendu tanpa terasa pemuda itu teringat
kembali dg pengalaman hidupnya selama ini, bagaimanapun juga
mereka telah hidup bersama hampir delapan belas tahun lamanya.

Kini memandang gundukan tanah yg sepi, rasa sedih tiba-tiba
menyelimuti perasaannya, dia segera berlutut dan diam-diam
berkata:
“Cianpwee, bila kau benar-benar mati dibunuh, mati lantaran
urusanku, beristirahatlah dg tenang, aku bersumpah akan
membalaskan dendam bagi kematianmu, akan kugusur pembunuh
tersebut dan membunuhnya dihadapan pusaramu....”
Baru selesai dia berdoa, mendadak berkilat sepasang mata Kho
Beng, dia seperti telah menemukan sesuatu.
Apa yg dijumpanya ternyata tulisan Unta sakti berpunggung baja
diatas batu nisan itu mirip sekali dg gaya tulisan sibungkuk sendiri.
Penemuan yg sama sekali tak terduga ini bukan saja membuat
Kho Beng terperanjat, bahkan semakin menambah perasaan
bingungnya.
Mana mungkin ada orang mati yg bisa mengukir batu nisan
sendiri, jelas hal ini tak mungkin terjadi.
Menurut pengakuan Nyoo To li, jenasah Thio bungkuk dikubur
sendiri oleh ketua Sam goan bun, ini berarti tulisan diatas batu nisan
tersebut seharusnya merupakan tulisan dari ketua Sam goan bun,
tapi mungkinkah gaya tulisan dari ketua Sam goan bun mirip sekali
dg gaya tulisan Thio bungkuk?
Atau mungkinkah dia telah salah melihat?
Cepat-cepat Kho Beng memburu kedepan dan mengamati gaya
tulisan diatas batu nisan itu lebih seksama, makin dipandang dia
merasa tulisan itu makin mirip dg gaya tulisan Thio bungkuk.
Dalam sekejap mata Kho Beng segera teringat kemabli dg sekop
bulat yg berada disisinya, dg cepat hatinya bergetar keras, segera
pikirnya:
“Dia bilang kalau ditemukan sesuatu, benda yg kau butuhkan
berada diatas pohon siong ketiga disisi kiri kuburan....yaa benar,
kalau begitu dia orang tua telah memutuskan agar aku menggali
kuburan ini untuk melakukan pemeriksaan terhadap jenasahnya!”
Sekarang dia baru merasa mustahil ada orang mati yg
menyiapkan batu nisannya sendiri, satu-satunya dugaan yg masuk
diakal adalah si Unta sakti berpunggung baja telah menduga akan
kematiannya, maka menyiapkan batu nisan lebih dulu dan secara
diam-diam berpesan kepada Oh gemuk untuk menyiapkan sekop
bulat ditempat yg telah ditunjuk....

Jelas sudah semua persiapan yg dilakukan secara cermat dan
rahasia ini disamping untuk menyelamatkan jiwa Oh gemuk, selain
itu juga merupakan petunjuk yg kuat bahwa asal kuburan itu
dibongkar maka siapa pembunuh dia orang tua yg sebenarnya akan
segera terbongkar.
Bahkan bisa jadi teka teki sekitar asal usulnya juga akan
diperoleh jawaban dari dalam peti mati itu....
Makin berpikir Kho Beng merasa hatinya semakin tegang, dia
segera bangkit berdiri, menyambar sekop dan m ulai mencangkuli
kuburan tersebut.
Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar seseorang membentak keras
dari dalam hutan.
“ Manusia keparat! Besar amat nyalimu, malam-malam begini
berani datang bongkar kuburan, Hmmm! Cepat hentikan
perbuatanmu itu!”
Menyusul suara bentakan itu, tampak belasan sosok manusia
bermunculan dari balik hutan, semuanya bersenjata pedang dan
secepatnya menerjang kedepan kuburan melakukan pengepungan.
Dg perasaan terkesiap, Kho Beng membuang sekopnya sambil
meloloskan pedang, tapi apa yg kemudian terlihat membuat paras
mukanya berubah hebat.
Ternyata kawanan manusia tersebut bukan lain adalah anggota
perguruan Sam goan bun sedang sebagai pemimpinnya tak lain
adalah ketuanya sendiri, Sun Thian hong.
Begitu bersua dg Sun Thia hong, hawa amarah Kho Beng segera
berkobar kembali, serunya sambil tertawa dingin:
“Ciangbunjin, tajam benar kabar beritamu.”
Dg wajah dingin kaku bagaikan salju, Sun Thian hong
membentak keras:
“Bocah keparat, sudah berulang kali kuperingatkan kepadamu,
jangan mencoba-coba datang lagi keperkampungan Cui wi san ceng,
tak nyana kau begitu berani datang menyatroni kami, bahkan
berniat untuk menggali kuburan....hmmm!”
“He....he....he.....boleh aku bertanya kepada ciangbunjin, apakah
bukit ini milik pribadimu?” jengek Kho Beng sambil tertawa dingin.
Kemudian setelah berhenti sejenak, dia berkata lebih jauh dg
suara ketus:

“Pokoknya, asal Kho Beng tidak melangkah masuk kedalam
perkampungan Cui wi san ceng, rasanya aku toh belum sampai
melanggar janjiku terhadap ciangbunjin?”
Dg penuh kegusaran, ketua Sam goan bun berseru:
“Tajam betul selembar mulutmu! Aku tak mengira kau adalah
seorang manusia yg tak kenal budi, air susu dibalas dg air tuba.....”
“Tutup mulut!” dg kening berkerut Kho Beng membentak nyaring,
“Aku Kho Beng adalah seorang lelaki sejati, siapa menanam pohon
kebaikan akan ku balas dg kebajikan, siapa menanam pohon
kejahatan akan kubayar pula dg uah kejahatan. Tapi kau mesti tahu,
usahaku membongkar kuburan malam ini tak ada sangkut pautnya
dg budi dan dendam, harap ciangbunjin jangan mencampur
baurkannya menjadi satu masalah yg sama....”
Dg suara menyeramkan ketus, Sun Thian hong tertawa keras:
“Bagus…bagus sekali, kalau toh kau sudah tahu budi harus
dibalas dg budi, mengapa kau berniat membongkar kuburan? Kau
toh tahu, siapa yg telah mati dia yg harus dihormati, apalagi setelah
masuk ketanah, sudah sepantasnya diberi kedamaian dan
ketentraman, apalagi Thio bungkuk mempunyai budi kepadamu….”
Kho beng segera tertawa bergelak:
“Ha…ha….ha….perkataan ciangbunjin kali ini memang sangat
tepat, justru karena aku tak rela si bungkuk cianpwee mati
penasaran diakhirat sehingga tak bisa beristirahat dg mata meram,
maka aku telah bersiap-siap akan membongkar kuburan serta
memeriksa jenasahnya.”
Mendadak nada pembicaraan ketua Sam goan bun itu berubah
menjadi dingin menyeramkan, serunya :
“Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bungkuk mati karena
terserang penyakit gawat, apalagi yg hendak kau periksa?”
“Hmmm, siapa yg berani menjamin akan kebenaran hal ini?”
jengek pemuda itu dingin.
“Toh aku yg mengetakan si bungkuk mati karena sakit, tentu saja
aku berani menjamin,” jawab Sun Thian hong marah.
“Tapi siapa pula yg berani menjamin kebenaran dari perkataan
ciangbunjin?” jengek Kho Beng lagi sambil tertawa dingin.
Sun Thian hong segera berkerut kening, dg mata melotot besar
karena marah ia membentak:
“Oooh, jadi kau anggap sibungkuk mati dibunuh dan akulah
sipembunuhnya?”

“Tidak berani, sebelum melakukan pemeriksaan, Kho Beng tak
berani mencurigai siapa saja, tapi tak bisa pula menghilangkan rasa
curigaku terhadap setiap orang.”
Mendadak Sun Thian hong mendongakkan kepalanya lalu tertawa
tergelak, ditundingnya Kho Beng dg ujung pedang, lalu serunya:
“Bagus sekali Kho Beng, beranikah kau bertaruh dgku?”
“Bagaimana bertaruhnya?” sahut Kho Beng, meski agak tertegun
didalam hatinya.
“Mari kita bongkar kuburan it, jika keadaannya sesuai dg apa yg
kau curigai, saat itu juga aku akan menggorok leher untuk bunuh
diri, tapi kalau tak sesuai dg apa yg kau duga, maka kau harus
mendirikan gubuk disini dan hidup mengasingkan diri selama tiga
puluh tahun tanpa boleh meninggalkan tempat ini selangkah pun.
Beranikah kau menerima tantanganku ini?”
Orang bilang: Jika seseorang telah melakukan kejahatan, maka
dia pasti ragu da cemas dalam setiap perkataan maupun tindakan,
tapi perkataan Sun Thian hong sekarang diucapkan secara gagah
dan tegas, tentu saja hal ini membuat Kho Beng menjadi tertegun.
Tanpa terasa pandangannya semula mulai goyah, dia mulai ragu
dg penilaian sendiri, tapi sebagai pemuda cerdik, setelah termenung
sebentar ia segera menggeleng:
“Maaf jika Kho Beng tiada kegembiraan untuk melayani
taruhanmu itu…”
Sun Thian hong segera tertawa mengejek, tukasnya :
“Aku tahu kau tak berani menerima taruhanku ini karena kau
belum mempunyai keyakinan, nah sekarang kuperingatkan
kepadamu untuk terakhir kalinya, segera tinggalkan tempat ini
daripada mendatangkan maut bagi diri sendiri!”
Dg dingin Kho Beng menggelengkan kepalanya berulang kali:
“Maaf kalau aku tak bisa menuruti keinginanmu, aku telah
bertekad akan membongkar kuburan tersebut, sekalipun ada
ancaman seperti apapun, tekadku ini tak akan berubah.”
“Kho Beng!” bentak Sun Thian hong sambil melotot, “ Kau harus
tahu, kesabaran orang ada batasnya…”
Setelah ciangbunjin dari Sam goan bun ini berulang kali berusaha
menghalangi niatnya, kepercayaan Kho Beng yg semula mulai goyah
kini menjadi mantap kembali.
Mendengar perkataan tersebut, ia segera menjawab dg suara
dingin:

“Kho Beng pun hendak memperingatkan kepada ciangbunjin, bila
ciangbunjin merasa tak pernah melakukan kesalahan, seharusnya
kau tidak menghalangi niatku untuk membongkar kuburan.”
“Aku tak bisa membiarkan kau berbuat semena-mena.” Kembali
Sun Thian hong membentak keras, “ Aku tak tega menyaksikan
sahabatku selama puluhan tahun yg telah mati ternyata tak bisa
peroleh ketenangan diakhir hayatnya, bahkan setelah dikuburpun,
kuburannya masih dibongkar orang....”
Dg angkuh Kho beng segera bangkit berdiri, kemudian serunya:
“Ciangbunjin tak usah banyak bicara lagi, pokoknya segala
sesuatunya biar aku seorang yg menanggung.”
Agaknya kesabaran Sun Thian hong pun telah mencapai
puncaknya, dg mata mendelik karena marah, dia berseru penuh
nada menyeramkan.
“Jadi kau memaksa akan bertarung melawanku?”
Kho Beng tertawa seram.
“Bila keadaan memang menghendaki demikian dan bagi Kho
Beng tiada pilihan lain, terpaksa aku akan pertaruhkan selembar
jiwaku untuk menghadapi ancaman macam apapun.”
Dg pedang terhunus Sun Thian hong maju dua langkah kedepan,
kemudian serunya:
“Bagus, bagus sekali, wahai Kho Beng asal kau sanggup
melampaui diriku, segala sesuatunya terserah kehendakmu sendiri!”
Selesai berkata ia segera melintangkan pedangnya sambil bersiap
sedia menghadapi segala kemungkinan yg tidak diinginkan.
Menyaksikan hal tersebut, Kho Beng segera menjura seraya
berkata:
“Sudah lama Kho Beng mengagumi kelihayan ilmu pedang Sam
goan kiam hoat, beruntung sekali aku bisa peroleh petunjuk
langsung pada hari ini sehingga tidak menyia-nyiakan serih payahku
selama setengah tahun. Ciangbunjin sebagai angkatan lebih tua
silahkan turun tangan lebih dulu!”
Sun Thian hong tidak malu menjadi seorang ketua dari suatu
perguruan, menghadapi pertarungan yg segera berkobar ternyata ia
tak nampak gusar atau mendongkol, tidak panik ataupun gelisah,
sikapnya kelihatan sangat tenang dan penuh kemantapan, tak malu
menjadi seorang tokoh ilmu pedang yg berpengalaman.
Dg sikap yg dingin dan hambar dia berseru:

“Kau tak perlu sungkan-sungkan, dg usiaku diatas enam puluh
tahun bila sampai melancarkan serangan terlebih dahulu kepada
seorang pemuda ingusan macam kau, berita yg tersiar dalam dunia
persilatan dikemudian hari bisa mambuat aku malu menjadi seorang
ciangbunjin lagi!”
Kho Beng segera mendengus dingin:
“Hmmm, kalau begitu maafkan aku!”
Pedangnya segera diangkat keatas kemudian dg langkah Bwee
hong poh dia mendesak maju kemuka secepat hembusan angin dan
sebuah bacokan kilat dilancarkan.
Deru angin tajam menyambar ditengah udara, sinar tajam
berkilauan menusuk pandangan mata, menyusul perbuatan tersebut,
pedangnya membentuk satu gerakan lingkaran huruf besar. Inilah
jurus angin berhembus debu menggulung dari aliran Hoa san pay.
Menyaksikan gerak serangan Kho Beng tersebut, Sun Thian hong
menjadi sempat terperanjat, dia bukannya takut dg gaya pengaruh
jurus ilmu pedang tersebut, tapi kaget dan bingung setelah melihat
hembusan hawa pedang yg begitu kuat dari ujung senjata lawan.
Biarpun ketua yg berusia lanjut ini memiliki pengalaman yg cukup
luas dalam dunia persilatan, bagaimanapun juga dia tak menyangka
kalau seorang pemuda ingusan seperti ini ternyata memiliki tenaga
dalam yg jah lebih sempurna daripada tenaga dalam yg dimilikinya.
Apalagi menurut apa yg diketahuinya, pada setengah tahun
berselang Kho Beng baru sempat mempelajari dasar-dasar tenaga
dalam saja, mana mungkin dalam waktu singkat ini kemampuan
tenaga dalamnya dapat meningkat sehebat ini?
Sementara itu serangan pedang dari Kho Beng sudah keburu
datang sehingga tidak memberi kesempatan lagi bagi ciangbunjin
tersebut untuk berpikir lebih jauh.
Namun bagaimanapun juga , jahe yg tua memang lebih pedas,
dalam waktu yg amat singkat inilah ketua Sam goan bun telah
mengambil keputusan bagaimana cara untuk mengatasi keadaan
tersebut.
Tampak dia menghindar kesamping, kemudian diantara
hembusan angin serangan lawan, pedangnya melakukan tangkisan
berulang kali dan secara beruntun melancarkan tiga buah serangan
berantai untuk memunahkan semua ancaman yg datang dari Kho
Beng.

Setelah itu diiringi suara bentakan keras, tak menanti sampai Kho
Beng berubah gerak serangan, tubuhnya telah mendesak maju dg
melancarkan serangan menggunakan jurus sam goan ci ti.
Secara beruntun dia melepaskan tiga buah serangan berantai
hingga dalam waktu singkat cahaya berkilauan telah menciptakan
selapis kabut pedang yg mengurung tubuh Kho Beng rapat-rapat.
Ilmu pedang sam goan kiam hoat terdiri dari tiga kali tiga jurus
berantai dg enam jurus terbalik, sedangkan keistimewaannya adalah
menyerang dalam bertahan dan sekali menyerang tiga jurus
serangan akan meluncur secara berantai sehingga tidak memberi
kesempatan kepada musuhnya untuk melancarkan serangan
balasan.
Setelah menderita kekalahan ditangan kedele maut dalam
pertarungan yg pertama, sedikit banyak Kho Beng merasa tegang
juga menghadapi pertarungan kali ini tapi dia tak pernah menyangka
kalau begitu bertarung segera akan terlibat dalam suatu pertarungan
yg sengit.
Berulang kali dia mencoba untuk menembusi pertahanan lawan
dg menerjang kekiri dan kekanan, namun selalu tak berhasil. Dalam
keadaan begini terpaksa dia harus mengandalkan kesempurnaan
tenaga dalam untuk mempertahankan diri sehingga tak sampai
menderita kekalahan total….
Benarkah Kho Beng bukan tandingan dari ketua Sam goan bun?
Tidak! Kecuali merasa agak tegang diapun merasa agak sangsi.
Kesangsian ini membuat hatinya jadi ragu-ragu untuk mengeluarkan
ilmu pedang Lui siu jit si yg maha dahsyat itu.
Sekalipun ketua Sam goan bun ini dicurigainya sebagai
pembunuh Unta sakti berpunggung baja, namun diapun telah
melepaskan budi pemeliharaan dan pendidikan selama delapan belas
tahun, oleh karena itu sebelum duduk persoalannya menjadi jelas,
dia tak tega untuk melancarkan serangan secara keji, kuatirnya bila
salah bertindak maka akibatnya dia akan menanggung penyesalan
sepanjang masa.
Tapi Sun Thian hong, ketua dari Sam goan bun itu justru tidak
memahami bagaimana perasaan lawannya, pedang digetarkan dg
enteng dan cekatan, begitu sepuluh jurus lewat sedangkan serangan
yg digunakan Kho Beng pulang pergi hanya tiga jurus tersebut
sehingga sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk melancarkan

serangan balasan, tanpa terasa semangatnya menjadi berkobar
kembali.
Sambil tertawa seram dia segera berseru:
“Tadinya kukira kau sudah memiliki kepandaian yg luar biasa
sehingga berani melakukan perlawanan, tak tahunya hanya sedikit
kepandaian tersebut saja yg kau miliki, hmmm....mengingat aku
telah memeliharamu selama delapan belas tahun asal kau bersedia
meyesali perbuatan ini, akupun bersedia pula memberi sebuah jalan
kepadamu.”
Kho Beng yg sebetulnya sedang bimbang karena pertentangan
batinnya, kini menjadi naik darah setelah mendengar perkataan itu,
dia merasa tak bersalah lalau apa yg mesti ditakuti?
Tiba-tiba saja dia menyadari bahwa pertarungan ini bukan
perebutan menang kalah, juga bukan pertarungan antara hidup mati
tapi memperebutkan kebenaran.
Apabila dia tetap ragu untuk mengambil keputusan sehingga
menyebabkan menderita kekalahan, soal mati hidup jangan
dibicarakan dulu, tapi yg pasti soal misteri kematian si Unta sakti
berpunggung baja akan tetap tenggelam didasar liang untuk
selamanya, sedangkan niatnya yg luhur bukan saja tak bakal
dipahami orang lain, malah sebaliknya akan dituduh orang sebagai
manusia berdosa.
Dalam waktu singkat pertentangan batin dalam hatinya lenyap
tak berbekas, sambil tertawa nyaring segera serunya:
“Ilmu pedang Sam goan kiam hoat memang nyata sekali
kehebatannya tapi menang kalah belum diketahui, kalau ingin
membicarakan masalah tersebut rasanya terlalu dini, harap
ciangbunjin merasakan pula serangan balasan yg akan kulancarkan
segera.”
Belum selesai perkataa tersebut diucapkan, gerak serangan
pedangnya telah berubah, dg jurus “Seratus aliran kembali ke
samudra” dia lancarkan serangan balasan terhadap ketua dari Sam
goan bun tersebut.
Begitu serangan tersebut dilancarkan, nyata sekali perbedaannya,
dalam waktu singkat seluruh angkasa telah dipenuhi dg kilauan
cahaya pedang yg menyusup seperti ular perak, begitu dahsyat dan
banyak kilauan cahaya tadi sehingga sudah untuk diikuti secara
pasti.

Kejadian tersebut bukan saja mengejutkan ketua sam goan bun
tersebut, bahkan dari posisi menyerang dia harus merubah taktik
menjadi posisi bertahan, selapis kabut pedang yg kuat melindungi
seluruh tubuhnya secara ketat dan kuat.
Sementara itu belasan anggota Sam goan bun yg menonton
jalannya pertarungan dari sisi arena pun sama-sama berseru kaget ,
perasaan tegang pun segera mencekam wajah mereka semua.
Kho Beng semakin bersemangat lagi setelah jurus serangannya
yg pertama membawa hasil, keberaniannya juga semakin
meningkat.
Secara beruntun dia segera mengeluarkan jurus-jurus serangan
“Ombak dahsyat menghantam karang” dan “Air terjun bunga
terbang” untuk mencecar lawannya, serangan demi serangan seperti
gulungan air sungai Tiang kang, membanjir tiba tiada habisnya.
Perubahan jurus yg dahsyat dan hebat ditambah pula dg
desingan angin tajam yg memekakkan telinga, segera membuat
ketua Sam goan bun in harus mempertahankan diri secara cermat
dan berhati-hati sekali.
Ketujuh jurus serangan dahsyat yg diciptakan oleh Bu wi lojin ini
sengaja diberi nama tujuh jurus air mengalir karena begitu serangan
pedang dilancarkan, maka seperti gulungan bah yg mengalir, semua
lobang dan celah akan dimasuki dan sebuah benda akan terhanyut
olehnya.
Kendatipun pertahanan yg dilakukan Sun Thian hong boleh
dibilang cukup tangguh, nyatanya dia toh tak sanggup
mempertahankan diri terhadap desakan lawannya, setelah
mempertahankan dri sebanyak tiga jurus secara payah, dia mulai
merasakan matanya berkunang-kunang dan hatinya berdebar-debar
keras.
Pada saat jurus keempat dilancarkan itulah, medadak.....
“Traang! Traang! Traang!”
Secara beruntun terjadi tiga kali bentrokan nyaring, tahu-tahu
pedang Sun Thian hong sudah terpental ketengah udara dan
berubah menjadi serentetan cahaya perak yg terjatuh sejauh tiga
kaki dari posisinya.
Peristiwa ini tentu saja menggemparkan segenap anggota Sam
goan bun yg hadir disana.

Ditengah suara jeritan kaget, tahu-tahu pedang Kho Beng telah
digetarkan kemuka dan ujung pedang tersebut telah menempel
diatas dada Sun Thian hong.
Pantulan cahaya perak yg memancar dari balik pedang, menyinari
paras muka Sun Thian hong yg pucat pias seperti mayat, membuat
segenap anggota Sam goan bun terbungkam dalam seribu bahasa
dan detak jantungnya serasa hampir berhenti.
Kini menang kalah sudah terlihat dg jelas.
Kalau tadi yg tua bersikap angker dan menegur secara kasar!
Sedang yg muda berusaha melawan dg posisi dibawah angin. Maka
sekarang justru kebalikannya, yg tua nampak loyo dan masgul
seperti orang yg kehilangan semangat, sebaliknya yg muda justru
sampak gagah perkasa.
Perubahan yg sangat mendadak ini segera membuat ketua Sam
goan bun menjadi lemas dan tiba-tiba menghela napas panjang,
katanya kemudian dg suara gemetar:
“Yaa sudahlah...selama hidupku aku berusaha bertindak secara
hati-hati, sungguh tak disangka karena kurang berhati-hati, nama
baik yg sudah kupupuk selama puluhan tahun akhirnya harus hancur
dalam semalam!”
“Apakah ciangbunjin tidak puas?” seru Kho Beng sambil tertawa
dingin.
Sun Thian hong tertawa getir.
“Ilmu pedang Lui sui Jit si memang suatu ilmu pedang yg
menggetarkan seluruh jagat, menang kalah kini sudah ditentukan,
terbukti akulah yg berada dipihak yg kalah,kenapa mesti tak puas?
Kho Beng kau boleh turun tangan dg segera.”
Dg suara dingin yg menyeramkan, Kho Beng berkata:
“Mengingat ciangbunjin telah memeliharaku selama delapan belas
tahun, akupun menyudahi persoalan ini sampai disini saja, kuharap
ciangbunjin dapat melaksanakan janji semula dg tidak menghalangi
pekerjaanku lagi.”
Selesai berkata dia segera menarik kembali pedangnya dan
segera membalikkan badan berjalan menuju ketepi kuburan.
Sementara itu belasan anggota Sam goan bun yg berada didepan
kuburan telah memisahkan diri menjadi dua rombongan, mereka
berdiri dg wajah serius dan pedang terhunus.
Melihat hal ini, Kho Beng segera berhenti lalu menegur dg kening
berkerut:

“Toako sekalian harap segera kembali keperkampungan, seusai
bekerja nanti, siaute pasti akan mohon maaf kepada kalian.”
Kawanan anggota Sam goan bun itu tetap membungkam diri
dalam seribu bahasa dan berdiri serius ditempat tanpa berkutik
terhadap teguran Kho Beng tersebut, mereka bersikap seolah-olah
tidak mendengar.
Seketika itu juga Kho Beng mengerutkan dahinya rapat-rapat,
kemudian bentaknya:
“Suhu kalian telah memberikan janjinya dan kurasa toako
sekalian telah mendengar secara jelas, bila kalian tidak menyingkir
lagi, jangan salahkan kalau Kho Beng akan menggempur kalian dg
kekerasan……”
Sekalipun ancaman telah diberikan, namun reaksi tak jauh beda
seperti permulaan tadi, kawanan anggota Sam goan bun itu tetap
tak bergerak dari posisi semula.
Kho Beng semakin gusar, namun dalam amarahnya diapun
merasa serba salah.
Semua anggota Sam goan bun yg berdiri dihadapannya sekarang
boleh dibilang merupakan sahabat-sahabatnya yg sudah banyak
tahun hidup bersama serta memiliki hubungan persahabatan yg erat,
apabila mereka bersikeras akan menghalanginya, apakah dia benarbenar
akan menggempur mereka dg kekerasan?
Dia mengerti, dg tenaga dalam yg dimilikinya sekarang, untuk
menghadapi kawanan jago dari Sam goan bun tersebut bukanlah
suatu pekerjaan yg sulit. Yg menjadi masalah sekarang adalah dia
tega tidak untuk menggempur sahabat-sahabatnya itu?
Dalam waktu singkat pelbagai ingatan telah melintas didalam
benaknya, mendadak dia teringat, bisa jadi sikap dari anggota Sam
goan bun ini terpaksa dilakukan karena telah mendapat perintah dari
ketuanya untuk bersikap begitu.
Bedebah ciangbunjin itu!
Dg penuh amarah, Kho Beng membalikkan tubuhnya, dia
saksikan Sun thian hong masih berdiri kaku ditempat tanpa terasa
hardiknya:
“Ciangbunjin! Apakah semua perkataan yg telah kau ucapkan
masih bisa dipercaya?”
Bagaikan baru mendusin dari impian, Sun Thian hong segera
menghela napas panjang, tiba-tiba serunya kepada segenap anggota
Sam goan bun yg berdiri dimuka kuburan itu:

“Masih ingatkah kalian dg pesanku tadi?”
“Tecu masih teringat” sahut segenap anggota Sam goan bun
bersama-sama.
“Kalau memang masih ingat, kenapa tidak segera turun tangan?”
Perkataan yg terakhir ini sekali lagi mengobarkan hawa amarah
Kho Beng, dia tak sanggup menahan diri lagi.
Dia menganggap sikapnya sudah cukup bijaksana mengingat
kesetiaan kawan, tapi kenyataannya musuh begitu munafik dan tak
tahu malu.
Sekarang jelas sudah duduknya persoalan, Sun thian hong pasti
kuatir dia membongkar kuburan tersebut sehingga perbuatan kejinya
ketahuan.
Dalam keadaan begini, otomatis dia harus menghadapi setiap
perubahan sesuai dg keadaan, disamping itu diapun ingin tahu
permainan busuk apakah yg sedang dilakukan lawan?
Berpikir sampai disini, Kho Beng segera tertawa seram penuh
kegusaran, matanya berapi-api da mukanya meringis, dia bertekad
akan membekuk Sun Thian hong lebih dulu untuk memaksa anak
buahnya menyingkir semua dari sana.
Dg pedang terhunus diapun bersiap-siap untuk mendesak maju
kemuka, tapi sebelum perbuatan tersebut sempat dilakukan, tibatiba
dari belakang tubuhnya terdengar suara jeritan kesakitan
berkumandang silih berganti.
Dg perasaan tertegun ia segera berpaling, tapi apa yg kemudian
terlihat segera membuatnya menjadi tertegun.
Ternyata belasan anggota Sam goan bun itu telah berdiri saling
berhadapan dan tusuk menusuk sendiri, tentu saja tusukan itu
bukan bermain sandiwara, tapi benar-benar dilaksanakan, dari bekas
tusukan setiap orang nampak darah segar memancur keluar dg
derasnya.
“Hey, apa-apaan kalian semua?” pemuda itu segera menegur dg
kening berkerut.
Tiada jawaban yg terdengar selain teriakan dari Sun Thian hong:
“Kalian cepat kembali keperkampungan dan balut luka
tersebut….”
Serentak belasan jago dari Sam goan bun itu membalikkan badan
dan mengundurkan diri dari situ sambil memegangi bekas luka
dilengannya.

Kho Beng benar-benar dibikin kebingungan dan tak habis
mengerti terhadap peristiwa tersebut, ketika melihat Nyoo To li yg
semalam pernah dijumpainya lewat disisi tubuhnya, cepat-cepat dia
menarik tangan pemuda tersebut sambil bertanya:
“Saudara Nyoo, sebenarnya permainan apa sih yg sedang kalian
perbuat?”
Luka yg diderita Nyoo To li waktu itu terletak diatas bahunya,
karena ditarik Kho Beng dia segera mengeluh kesakitan, kemudian
sambil tertawa getir sahutnya:
“Inilah siasat menyiksa diri dari suhu ! “
Habis berkata cepat-cepat dia memburu rekan lainnya
meninggalkan tempat tersebut.
“Siasat menyiksa diri ? “ sekali lagi Kho Beng berpikir dg wajah
termangu, “Apaka dia menggunakan siasat menyiksa diri ini untuk
menghadapi diriku ? “
Berpikir sampai disini, pemuda tersebut segera berteriak keras :
“Ciangbunjin, harap tunggu sebentar ! “
Sun Thian hong yg berjalan paling belakang segera
menghentikan langkanya, setelah mendengar seruan tersebut,
tanyanya sambil berpaling :
“Siauhiap masih ada pesan apa ? “
“Huuuh, cepat benar dia merubah panggilannya terhadapku ? “
pikir Kho Beng diam-diam sambil tertawa dingin.
Kemudian dg suara dalam ia berkata:
“Aku harap ciangbunjin tetap tinggal disini. “
“Apakah kau kuatir aku kabur ? “ seru Sun Thian hong sambil
tertawa pedih.
“Hmmm, susah untuk dikata ! Jika duduknya persoalan telah
menjadi jelas, sedang ciangbunjin sudah keburu melarikan diri,
bukankah aku mesti meluangkan waktu lagi untuk melakukan
pengejaran terhadapmu….”
Seketika itu juga Sun Thian hong tertawa seram:
“Ha…ha…ha…kau tak usah kuatir, sekalipun si hwesio sudah
kabur, dia tak akan kabur dari kuil. Asal kau berhasil menemukan
sesuatu, akan kutunggu kedatanganmu dalam perkampungan.”
Selesai berkata dia meneruskan perjalanannya kembali, dalam
waktu singkat bayangan tubuhnya telah lenyap dibalik kegelapan.
Kho Beng menjadi tertegun setelah menyaksikan kejadian ini,
pikirnya kemudian:

“Persoalan yg paling mendesak saat ini adalah membuka peti
mati tersebut secepatnya, setelah duduk persoalannya menjadi jelas,
rasanya tidak sulit untuk bertindak selanjutnya….”
Terpengaruh oleh tindak tanduk orang-orang Sam goan bun yg
dinilai sangat aneh ini, dg membawa perasaan tak tenang, Kho Beng
memungut kembali sekopnya dan menggunakan kecepatan paling
tinggi untuk membongkar kembali kuburan tersebut.
Waktu berlalu dg cepatnya.
Kuburan yg semula merupakan gundukan tanah tinggi, kini telah
berubah menjadi sebuah liang yg sangat dalam.
Akhirnya sudut peti mati pun mulai kelihatan.
Dg terlihatnya peti mati tersebut, Kho Beng merasa hatinya
semakin tegang, dia tak tahu jenasah didalam peti mati tersebut
telah berubah menjadi seperti apa? Adakah luka bekas bacokan ?
Atau sama sekali tak ada luka ? Bagaimana seandainya jenasah itu
telah membusuk sehingga sukar dilakuka pemeriksaan ?
Dg hati-hati sekali dia membersihkan penutup peti mati itu dari
tanah liat, lalu setelah berdoa sebentar dg perasaan tegang, dia
memegang penutup peti mati itu, mengerahkan tenaga dalamnya
dan mengangkatnya kuat-kuat keatas.
“Kraaaakk….. ! “
Penutup peti mati itu segera terbuka lebar.
Meminjam cahaya rembulan yg memancar masuk dia mencoba
mengintip kedalam peti mati itu tapi ia segera tertegun dan cepatcepat
membuang penutup peti mati tadi kesamping.
Dibawah sinar rembulan yg redup, dapat terlihat bahwa dibalik
peti mati tersebut sama sekali tidak ada mayatnya, tapi terdapat
sepucuk surat dan sebuah bungkusan.
Dalam bungkusan tersebut entah berisi apa, tapi pada sampul
surat tersebut tertera dg jelas beberapa huruf yg berbunyi demikian:
“Ditujukan kepada Kho Beng:
Dari Thio bungkuk”
Apa yg terjadi dg cepat membuat Kho Beng semakin termangumangu
lagi, dia benar-benar tak habis mengerti terhadap peristiwa
yg berlangsung didepan matanya sekarang.
“Mungkinkah sibungkuk belum mati? Tapi apa sebab ketua Sam
goan bun mengumumkan kematiannya dan mendirikan batu nisan
baginya?”

Satu hal yg membuatnya tak mengerti adalah mengapa
sibungkuk meninggalkan surat baginya itu didalam peti mati?
Siapakah yg telah mengatur segala sesuatunya ini?
Dg perasaan bimbang, cepat-cepat dia merobek sampul surat
tersebut dan mengeluarkan isinya.
Terbacalah surat itu, berbunyi demikian:
“Kho Beng jika kau dapat membaca surat ini berarti kau dapat
melenyapkan semua rintangan yg ada, ini menunjukkan kalau
tenaga dalammu secara paksa masih dapat menghadapi segala
sesuatu.
Saat ini perasaanmu tentu diliputi rasa cemas, bingung dan tidak
habis mengerti bukan ? Tapi aku dapat memberitahukan kepadamu
sesungguhnya aku sibungkuk belum mati…. “
Ketika membaca sampai disini, meskipun Kho Beng semakin tak
habis mengerti, namun rasa sedih yg semula mencekam
perasaannya seketika tersapu lenyap tak berbekas.
Cepat-cepat dia membaca lebih jauh :
“....selama puluhan tahun terakhir ini sudah banyak kesulitan yg
kualami dan banyak masalah pelik yg pernah kuhadapi, namun
belum pernah mengalami situasi pelik seperti apa yg kualami pada
beberapa hari belakangan ini, kesulitan dan kepelikan tersebut
terjadi karena aku harus memenuhi janjiku kepadamu, yakni
menanti selama tiga tahun.
Namun oleh karena situasi yg begitu mendesak sehingga
memaksa aku mau tak mau harus meninggalkan Sam goan bun,
padahal aku harus bertemu lagi dgmu, maka aku semakin bertekad
untuk memenuhi janjiku dulu kepadamu.
Setelah berpikir keras dua malam, akhirnya akupun membuat
batu nisan dan liang kubur untuk melaksanakan siasat ini.
Andaikata apa yg terjadi kemudian diluar dugaanku sehingga kau
tak dapat membaca surat ini, yaa...kita hanya bisa dikatakan takdir
menghendaki demikian.
Sekarang, semua rahasia asal usulmu berada dalam bungkusan
itu, bila benda itu dapat kau terima, anggaplah aku sibungkuk dapat
memberikan pertanggungan jawabnya.
Selesai membaca tulisan ini, kau jangan emosi dan tak usah
melakukan perbuatan ceroboh yg bisa menimbulkan amarah umat
persilatan, cukup selidikilah otak dibelakang layar yg mendalangi

semua peristiwa tersebut, dg begitu kau akan menghibur arwah
kedua orang tuamu dialam baka.
Nah, aku tak ingin membuang waktumu lagi, akhirnya aku dapat
memberitahukan kepadamu, asal usulmu sudah menjadi jelas dalam
dunia persilatan, saat itulah merupakan waktu kita untuk bersua
kembali.
Tertanda : Thio Bungkuk “
Selesai membaca tulisan tersebut, Kho Beng menjadi terkejut
bercampur gembira, cepat-cepat dia mengambil bungkusan tersebut
dan membukanya.
Ternyata isi bungkusan itu adalah sebuah kain putih dan sebuah
baju penuh noda darah.
Kain putih itu sudah menguning, jelas benda tersebut sudah lama
tersimpan, sedang diatasnya terlihat beberapa tulisan yg dibuat dg
darah, isinya adalah sebagai berikut:
“Tahun Ka sang, anak Beng persis berusia satu tahun ketika
serombongan jago menyerbu perkampungan gara-gara kitab Thian
goan bu boh, segenap jago perkampungan yg memberikan
perlawanan tewas tertumpas musuh. Daam gawatnya kuserahan
putra putriku kepada mak inang nyonya Hee dan pelayan Kho Po
koan untuk melindungi nyawanya serta melarikan diri.
Moga-moga Thian maha pengasih dan melindungi anak
keturunanku ini, jika mereka dapat lolos dari maut, masing-masing
telah diberi sebuah tanda sebagai tanda pengenal mereka setelah
dewasa nanti. Dikemudian hari yg perempuan harus selalu emakai
bunga seruni putih diatas sanggulnya, empat musim bunga tersebut
tak boleh dirubah, sedang yg lelaki mempunyai lencana Liong pit dan
panji kebesaran.
Bagaimana nasib putra putriku dimasa mendatang, biarlah Thian
yg menentukan, anggap suratku ini sebagai pesan yg terakhir,
Tertanda : Kho Bun sin
Pemilik Hui im ceng “
Setelah membaca tulisan ini, pucat pias wajah Kho Beng, hampir
saja ia menangis tersedu, sekarang dia baru tahu ternyata dia
memang putra Kho Bun sin, majikan dari perkampungan Hui im
ceng.
Jilid 07

Dalam sedihnya dia mengeluarkan pula baju darah yg penuh dg
noda darah hitam itu, diatas baju itupun tertera beberapa huruf yg
berbunyi demikian:
“Aku adalah Hee si, mak inangmu, sebelum menemui ajal
kuberitahukan kepadamu, sekalipun kau hidup dalam
kesederhanaan, tapi jangan lupa bahwa dirimu adalah sau cengcu
dari perkampungan Hui im ceng, putra kesayangan dari Kho Bu sin,
pendekar besar yg namanya menggetarkan seluruh dunia persilatan.
Biarpun dendam kesumat sedalam lautan tak bisa dituntut balas,
kau harus beristri dan punya anak keturunan sebagai kelanjutan dari
keturunan keluargamu…
Ketika membaca sampai disini, Kho Beng merasakan darah yg
mengalir didalam tubuhnya mendidih, bibirnya digigit kencang,
setitik darahpun bercucuran membasahi ujung bibirnya.
Sekalipun Ko Po koan adalah pelayan keluargamu namun dalam
kenyataan dia mempunyai hubungan yg lebih akrab daripada
sesama saudara dg ayahmu, untuk menyelamatkan jiwa kalian
berdua, dia telah mengorbankan putra putrinya demi keselamatan
kalian, dia memerintahkan putrinya membopong puta putri sendiri
untuk memancing perhatian jago sementara kalian telah dibawa
kabur dg selamat….
Mambaca sampai disini, tanpa terasa pemuda itu teringat kembali
dg kematian yg menimpa Kho Po koan dalam perkampungan Hui im
ceng tempo hari.
Ia menjadi sedih sekali, sehingga hampir saja menangis tersedusedu,
namun dg sekuat tenaga pemuda itu menahan diri, dg mata
yg berkaca-kaca dia membaca surat wasiat tersebut lebih jauh…
…Oleh sebab itu kau sama artinya dg memikul dendam kesumat
dua keluarga, baik-baiklah menjaga diri setelah dewasa nanti.
Untuk menempuh perjalanan jauh tanpa berhenti, ditambah pula
setiap hari dicekam rasa takut dan ngeri, jiwa dan semangat
akhirnya runtuh dan hancur, sekalipun kami berhasil lolos dalam
keadaan selamat…..
Tulisan tersebut terhenti ditengah jalan, jelas mak inang yg setia
ini baru menemui ajalnya sebelum sempat menyelesaikan tulisannya
itu.
Kini segala sesuatunya telah menjadi jelas, bila teringat kembali
dg pemberian uang dan surat dari Li sam yg belum pernah
ditemuinya itu, serta ulah Kho Po koan yg menyaru jadi setan

diperkampungan Hui im ceng, nyata sekali kalau kesemuanya ini
mempunyai hubungan yg erat sekali dg dirinya.
Rasa sedih dan terkejut membuat Kho Beng termangu-mangu
entah berapa lamanya.
Ia merasa dirinya begitu mengenaskan dimasa lalu, betapa tidak,
selama delapan belas tahun hidup tanpa mengetahui asal usul
sendiri, baru sekarang segala sesuatunya menjadi jelas kembali.
Teringat akan kehidupannya selama delapan belas tahun, tanpa
terasa dia teringat dg ketua Sam goan bun, Sun Thian hong yg telah
memeliharanya selama ini, tanpa terasa dia berpikir kembali:
“Mengapa dia tidak memberitahukan kesemuanya ini kepadaku?
Atau mungkinkah diapun turut ambil bagian dalam pembunuhan
berdarah itu?”
Dalam waktu singkat dia terbayang pula dg peristiwa yg dialami
setengah tahun berselang, andaikata Thio bungkuk tidak
memintakan ampun, niscaya tangan kanannya sudah kutung.
Tanap sadar pemuda itu berpikir lebih jauh:
“Hmmmm, dia tahu secara pasti bahwa aku gemar belajar silat,
namun engga mewariskan kepadaku, diapun berusaha keras
menghalangi niatku untuk membongkar kuburan, kalau begitu dia
juga yg memaksa Thio bungkuk cianpwee untuk meninggalkan
perkampungan Cui wi san ceng serta berusaha memutuskan
pengharapanku untuk mengetahui asal usulku yg
sebenarnya....bukankah kesemuanya membuktikan kalau dia
mempunyai dendam dgku atau paling tidak terlibat peristiwa ini?”
Berpikir sampai disitu, Kho Beng tak sanggup mengendalikan diri
lagi, dg cepat dia masukkan baju berdarah, kain putih serta surat
peninggalan Thio bungkuk kedalam sakunya, setelah itu memapas
kutung baru nisan didepan kuburan dan meninggalkan tempat
tersebut dg cepat, langsung menuju keperkampungan Cui wi san
ceng.
Siapa sangka baru saja dia siap melompat naik keatas wuwungan
rumah, mendadak tampak sesosok bayangan manusia meluncur
datang dan berdiri dihadapannya.
Waktu itu Kho Beng telah diliputi perasaan gusar yg membara,
dalam kagetnya dg cepat dia melintangkan pedangnya didepan dada
lalu mengawasi lawannya dg seksama.
Ternyata orang itu tak lain adalah Nyoo to li yg bahunya kini
dibalut kain putih.

Sambil tertawa dingin ia segera menegur dg suara dalam:
“Ooooh, rupanya saudara Nyoo yg menunggu kedatanganku dg
membawa luka, apakah kau berniat menghalangi usahaku memasuki
perkampungan ini?”
Nyoo to li tertawa getir dan menggelengkan kepalanya berulang
kali, sahutnya:
“Harap saudara Kho jangan salah paham, suhu sudah tahu kalau
kau pasti datang kembali oleh sebab itu sengaja menitahkan
kepadaku untuk menanti.”
“He...he.....he...” Kho Beng segera tertawa dingin, “Kalau tadi
gurumu sudah melaksanakan siasat menyiksa diri sekarang siasat
apa pula yg hendak dilakukan?”
Padahal pemuda inipun tidak habis mengerti mengapa ketua Sam
goan bun memerintahkan anak buahnya saling melukai.
Terdengar Nyoo to li menghela napas panjang:
“Aaaai...tampaknya kesalah pahamanmu sudah terlalu
mendalam, sebetulnya perbuatan suhu bukan ditujukan kepadamu,
dikemudian hati kau bakal mengetahui dg sendirinya.”
Selesai berkata dia lantas membalikkan badan dan melayang
turun dari wuwungan rumah, kemudian tanpa berhenti dia
melangkah masuk kedalam perkampungan.
Kho Beng sendiripun telah mengambil keputusan untuk
menjadikan Sun Thian hong, ketua dari Sam goan bun ini sebagai
sasaran pertama dalam usaha penyelidikannya, oleh sebab itu
diapun tidak banyak berbicara dan mengikuti dari belakang dg mulut
membungkam.
Sepanjang jalan, dg sinar mata yg tajam dia memperhatikan
terus keadaan disekelilingnya, kewaspadaan ditingkatkan, dia tak
ingin sampai dipecundangi musuh.
Setibanya dihalaman keempat, dimuka rumah kediaman
ciangbunjinnya, Nyoo to li berhenti dan mengetuk pintu.
Tapi sebelum pintu sempat dibuka, Kho Beng dg sekali
tendangan telah mendobrak pintu serta menyerbu masuk kedalam
ruangan.
Tampak olehnya ketua sam goan bun itu duduk bersila diatas
sebuah pembaringan dg wajah serius tapi tenang, saat itu dia
sedang mengawasi anak muda tersebut tanpa menunjukkan sesuatu
reaksi.

Dg langkah cepat Kho Beng memburu kehadapannya dan
menempelkan ujung pedang diatas tenggorokan Sun Thian hong,
setelah itu bentaknya:
“Sun Thian hong! Aku tak ingin banyak berbicara, aku harap kau
sendiri yg mengungkapkan semua peristiwa tersebut dg sejujurjujurnya....”
Tampaknya Sun Thian hong sudah tidak memikirkan mati hidup
sendiri sama sekali tidak terpengaruh oleh gertakan tersebut, malah
ujarnya dg tenang:
“Kau telah berhasil membongkar kuburan, asal usulmu juga telah
menjadi jelas, apalagi yg mesti kukatakan?”
Dg suara yg menyeramkan Kho Beng segera tertawa dingin:
“Terlalu banyak persoalan yg tidak kupahami, jika aku bermaksud
tak mengetahui sampai jelas, mungkin batok kepalamu sekaran telah
berpisah dg badan.”
“Ooooh, tampaknya kau telah menganggap diriku sebagai musuh
besarmu....?” tegur Sun Thian hong dg tenang.
Kho Beng tertawa seram:
“Kalau tidak menganggap bajingan tua macam kau sebagai
musuh besarku, memangnya aku mesti menganggapmu sebagai
teman atau angkatan yg lebih tua?”
“Kho Beng” Sun Thian hong segera menegur dg wajah serius,
“Bagaimanapun juga aku telah memeliharamu selama delapan belas
tahun….”
“Tapi kaupun telah membohongi aku selama delapan belas
tahun” tukas Kho Beng cepat, “Aku ingin tahu apa sebabnya kau
merahasiakan asal usulku hingga sekarang?”
Sekujur badan Sun Thian hong gemetar keras, tapi setelah
menghela napas panjang, katanya:
“Aku berniat untuk melenyapkan sebuah badai pembunuhan yg
mengerikan dari dunia persilatan, ketahuilah bila balas membalas
berlangsung terus, maka dunia persilatan tak akan pernah
mengalami kedamaian…”
Kho Beng tertawa seram:
“He….he….he….perkataanmu itu kedengarannya menarik hati,
siapa tahu kau masih mempunyai tujuan lain? Kau kuatir Kho Beng
melakukan pembalasan dendam bukan?”
Sun thian hong tersenyum, tiba-tiba ia balik bertanya:

“Coba pikirkan persoalan ini dg kepala dingin, bila berniat
membunuhmu, bukankah hal ini lebih baik kulakukan disaat kau
masih orok dulu?”
Kho Beng tertegun sejenak, kemudian serunya:
“Siapa tahu kau tak berani melakukannya waktu itu?”
“Mengapa aku tak berani?”
“He….he….he….bukankah waktu itu si Unta sakti locianpwee juga
hadir disana?” jengek Kho Beng sambil tertawa dingin.
“Betul disaat mak inang pengasuhmu sampai diperkampungan,
dia memang hadir pula disini.”
Sebetulnya Kho Beng hanya bermaksud melakukan penyelidikan,
siapa tahu apa yg diduga ternyata benar, sambil tertawa dingin ia
berkata:
“Kau anggap si Unta sakti locianpwee akan membiarkan dirimu
berbuat kejahatan dg seenaknya?”
“Aku dapat memberitahukan kepadamu waktu itu si Unta sakti
baru sembuh dari luka dalam akibat keracunan, seandainya aku
berniat membunuhmu hal tersebut dapat kulakukan tanpa
membuang banyak tenaga.”
Karena merasa tak mampu mengunggulinya, hawa amarah Kho
Beng segera memuncak, bentaknya:
“Sekalipun kau pandai bersilat lidah, jangan harap bisa
melenyapkan kecurigaan didalam hatiku, andaikata kau tidak pernah
berbuat kejahatan, mengapa pula kau paksa si Unta sakti locianpwee
sehingga pergi meninggalkan tempat ini?”
“Kau salah menduga, kepergian si bungkuk sama sekali tiada
sangkut pautnya dgku.”
“Lalu ada sangkut pautnya dg siapa?”
Sun Thian hong menghela napas panjang:
“Aku rasa kaupun sudah tahu, dia adalah Bok sian tianglo dari
Siau lim pay.”
Kontan saja Kho Beng tertawa seram.
“Hmmm…kau anggap aku adalah seorang bocah berusia tiga
tahun yg gampang dibohongi?”
“Aku hanya mengucapkan keadaan yg sesungguhnya.”
“Sesungguhnya?” kembali Kho Beng membentak keras,
“hmmm…walaupun tianglo dari Siau lim si mempunyai nama dan
kedudukan terhormat, namun dia bukan ketua dari Sam goan bun,
andaikata dia tidak bersekongkol dg tuan rumah sebagai tamu,

apakah dia berani berbuat semena-mena? Apakah dia tak kuatir
diusir?”
Sun Thian hong menghela napas panjang:
“Kau belum lama terjun kedalam dunia persilatan, tentu saja
tidak memahami situasi dunia persilatan yg sebenarnya, ketahuilah
semenjak perguruan kami kehilangan tiga jurus ilmu pedang yg
paling diandalkan, selama tiga generasi ini nama kami sudah dicoret
dari urutan tujuh partai besar, daya pengaruh kamipun bertambah
lemah, seandainya aku tidak menjaga diri baik-baik dan mengurangi
ruang gerak kami, mungkin perkampungan Cui wi san ceng sudah
sejak lama tidak bisa dipertahankan lagi.”
“Kau memang tak malu menjadi seorang ciangbunjin, tak nyana
kau bisa membantah dg mempergunakan kata-kata yg begitu tak
bersemangat.”
Dg wajah serius Sun Thian hong berseru:
“Biarpun aku hidup dalam kesempitan, tapi bukan berarti mau
diperintah orang lain.”
“hmmm..bukannya jawabanmu ini menjadi mencle-mencle tak
karuan….?”
“Sesungguhnya kepergian sibungkuk secara tiba-tiba dikarenakan
alasan lain.”
“Apa alasannya?”
“Bok sian tianglo mendesaknya agar mengungkapkan identitasmu
yg sebenarnya, tapi sibungkuk selalu menolak untuk menjawab,
akhirnya peristiwa tersebut menyebabkan terjadinya pertarungan
diantara mereka berdua.”
“Kau sebagai tuan rumah, mengapa tak berusaha melerai?” tanya
Kho Beng sambil tertawa dingin.
Sun Thian hong menghela napas panjang:
“Waktu itu tiada tempat untuk turut berbicara.”
“hmmm, jelek-jelek Sam goan bun termasuk sebuah perguruan,
kalau kau membiarkan orang lain bertempur dirumahmu, apakah
tidak takut hal ini akan menimbulkan tertawaan dari umat
persilatan?”
Sun Thian hong tertawa getir:
“Siau lim pay adalah pimpinan dari tujuh partai, tulang punggung
dari dunia persilatan, aku tak sanggup untuk menghadapi mereka,
sedang sibungkuk orangnya tinggi hati dan keras, apalagi dalam

marahnya, mana mau dia turuti nasehatku? Kecuali berpeluk tangan
belaka, apapula yg bisa kuperbuat.”
“Akhirnya siapa pula yg unggul dan kalah?”
“Sibungkuk kelewat memandang enteng musuhnya, sehingga
menderita kekalahan total.”
“Menang kalah adalah satu persoalan, pergi atau tidak
semestinya adalah persoalan lain.”
“aaai…panjang sekali untuk menceritakan keadaan yg
sebenarnya….”
“Aku tak ingin mendengarkan cerita yg bertele-tele, harap kau
membicarakan yg penting-penting saja.”
“Aku tak terbiasa berbicara seperti itu, lebih baik kau saja yg
mengajukan pertanyaan dan aku menjawabnya.”
Kho Beng berpikir sebentar, kemudian katanya:
“Kalau toh sibungkuk cianpwee hanya terlibat dalam pertarungan
melawan Bok sian tianglo, apa sebabnya dia harus angkat kaki dari
sini?”
Sun Thian hong menghela napas panjang.
“Sibungkuk tidak seharusnya terlalu yakin dg kemampuan sendiri
sehingga termakan oleh siasat memanaskan hati dari Bok sian
tianglo…”
“Bagaimana cara Bok Sian tianglo menggunakan siasatnya?”
“Bok sian tianglo mengusulkan agar mereka saling beradu tenaga
satu kali, dia bertanya kepada sibungkuk apakah berani bertaruh
sebelum bertarung, sibungkuk yg tinggi hati tentu saja menerima
tantangan tersebut.”
“Apa yg mereka pertaruhkan.”
Setelah menghela napas panjang dg suara dalam Sun Thian hong
berkata:
“Pihak yg kalah harus melaksanakan dua permintaan dari pihak
yg unggul, aaai…sungguh tak disangka sembilan bagian tenaga
pukulan Kim khong khi dari sibungkuk ternyata kalah ditangan
sepuluh bagian Bu sian singkanng dari Bok sian taysu.”
“Setelah kemenangan diraih oleh Bok sian taysu, apa yg mesti
dilaksanakan oleh sibungkuk?” tanya Kho Beng tegang.
“Pertama sibungkuk harus mengatakan asal usulmu.”
“Apakah sibungkuk cianpwee telah mengatakannya?” tanya
pemuda itu tegang.
Sun Thian hong manggut-manggut:

“Selama hidup sibungkuk enggan mengingkari janji, setelah dia
berada dipihak yg kalah, tentu saja apa yg dijanjikan harus dipenuhi
olehnya.”
Kho Beng menekan perasaan hatinya, segera sambungnya:
“apa yg harus dilakukan kemudian?”
“Bok sian taysu bertanya kepada sibungkuk, apakah kau sudah
memahami asal usulnya, sibungkuk menjawab hal tersebut belum
sempat dijelaskan kepadamu, maka Bok sian taysu pun minta
kepada sibungkuk untuk meninggalkan dirimu serta tidak bertemu
lagi dgmu untuk selamanya, bahkan pula minta jaminannya.”
“Menurut pendapatmu, sibungkuk terpojok sehingga dia penuhi
semua permintaannya?”
“Itupun tidak .”
“Apakah sibungkuk telah merahasiakan sebagian dari asal
usulku…?” tanya Kho Beng tertegun.
“Sibungkuk tidak merahasiakan apa-apa, tapi ada hal telah
dilakukan secara jitu.”
“Bagaimana jitunya?”
Kedua hal tersebut tidak dijawab oleh sibungkuk dg perkataan
melainkan dg tindakan, terhadap pertanyaan Bok sian taysu yg
pertama sibungkuk hanya menyerahkan sebuah panji Hui im ki leng
kepadanya sambil berkata kepada pendeta tersebut:
“Apa yg ditanyakan taysu semuanya berada disini.” Selesai
berkata diapun tidak memberi penjelasan lagi.”
“Apa itu panji hui im ki leng?” tanya Kho Beng dg wajah tertegun.
“Panji Hui im ki leng adalah salah satu benda yg ditinggalkan mak
inang untuk mu, yakni tanda pengenal ayahmu dimasa jaya dulu.
Tapi berhubung sibungkuk yakin Bok Sian tianglo belum tahu
tentang siasat yg telah dilakukan pelayan keluargamu dg menukar
kalian putra putrinya, maka meskipun dia hanya mengeluarkan panji
tersebut sebagai jawaban, Bok sian taysu sama sekali tidak menaruh
curiga.”
“Jadi menurut pendapatmu, Bok sian taysu sama sekali tidak
mencurigai diriku sebagai putra dari Hui im cengcu?”
“Tentu saja, orang yg mengetahui isi surat wasiat peninggalan
pengasuhmu selain aku dan sibungkuk tiada orang ketiga yg
mengetahuinya. Padahal menurut apa yg diketahui khalayak ramai,
hanya empat orang yg berhasil lolos dari perkampungan Hui im ceng
ketika itu, yakni mak inangmu, Kho Po koan serta putra putrinya.

Waktu itu Bok sian taysu hanya mencurigai dirimu sabagai putra dari
pelayan setia perkampungan Hui im ceng, tentu saja dia tidak
menyangka kalian telah ditukar dan orang lain telah menggantikan
dirimu untuk menerima maut.”
Setelah berhenti sejenak, dia berkata lagi lebih jauh:
“Untuk memenuhi perintah kedua dari Bok Sian taysu, sibungkuk
telah putar otak selama dua hari semalam, sebelum berhasil
menemukan suatu siasat yg sempurna untuk mengatasinya.”
“Maksudmu siasat sibungkuk cianpwee yg menyiapkan kuburan
untuk dirinya sendiri?”
“Benar, membuat kuburan untuk diri sendiri adalah sebagai
jaminan kepada Bok sian taysu bahwa dia akan mentaati janjinya,
tapi dia justru memasukkan semua benda yg kau butuhkan kedalam
peti mati tersebut dg harapan kau bisa menemukannya sendiri, dg
begitu diapun tidak sampai mengingkari janjinya dg dirimu.”
“Kalau toh kau telah mengetahui semua periapannya ini,
mengapa hal tersebut tidak kau jelaskan padaku sejak pertemuan
kita yg pertama..?” tanya Kho Beng sambil berkerut kening.
Sun Thian hong kembali menghela napas panjang
“Disinilah letak kemulyaa hati sibungkuk, dia sadar kekuatan Sam
goan bun sangat minim, dia tak ingin menyeret diriku terlibat pula
dalam pertikaian tersebut, karenanya dia tidak menyuruh aku yg
menyampaikan pesannya kepadamu, tapi menyuruh sikoki Oh
gemuk. Padahal sewaktu kau pergi mencari si Oh gemuk, aku telah
mengetahui semua gerak gerikmu secara jelas, Cuma saja aku tetap
berlagak pilon.”
Kho Beng tertawa dingin:
“Hmmm..tampaknya selain memikirkan keselamatan dari
perguruan Sam goan bun, kau sama sekali tidak menaruh niat jahat
terhadapku?”
“Kalau toh kau sudah memahami perasaanku, tariklah kembali
pedangmu itu?”
Kho Beng mendengus dingin:
“Seandainya kau benar-benar tidak berniat jahat, mengapa pula
kau menghalangi niatku untuk membongkar kuburan?”
“aku sengaja menghalangi niatmu karena aku sedang berusaha
melindungi keselamatan jiwamu, kalau diriku saja tak mampu kau
hadapi, setelah mengetahui asal usulmu sendiri, bukankah hal
tersebut bukannya menguntungkan malah merugikan?”

Sekali lagi Kho beng mendengus:
“Tapi dilihat dari sikapmu memaksa aku turun tangan, rasanya
bukan Cuma bermaksud mencoba saja.”
Sun Thian hong menghela napas panjang:
“Benar, sebelum pergi dari sini Bok sian taysu telah berpesan
kepadaku agar mengawasi gerak gerikmu, diapun memperingatkan
kepadaku, bila aku berani membongkar rahasia kuburan kosong itu,
berarti aku hendak memusuhinya. Sebagai orang yg tetap berada
diluar garis tentu saja aku mesti berusaha untuk memberikan
pertanggung jawaban kepada Bok sian taysu agar dia tidak
menaruh curiga.”
“Waah, kalau begitu kau adalah seorang manusia plin plan yg
berpihak sana sini?” jengek Kho Beng sambil tertawa dingin.
“Aku bukan manusia tak tahu malu, bukankah sudah kau
saksikan sendiri persiapan yg kulakukan? Siasat menyiksa diri yg
kulakukan dg menyuruh anak muridku saling menusuk tak lain
merupakan sebagai usahaku memberikan pertanggungan jawab
kepada Siau lim pay.
“Kau mesti memaklumi keadaanku sekarang, aku hanya bisa
menandingimu secara sungguh-sungguh, jika tidak bagaimana
mungkin orang lain mau percaya? Apalagi dg sikapku ini justru
mendatangkan manfaat dan keuntungan bagimu.”
Sampai disini, Kho Beng baru memahami secara jelas semua
kejadian yg sesungguhnya.
Pelan-pelan dia menarik kembali pedangnya, tapi rasa curiganya
terhadap Sun Thian hong belum hilang sama sekali, katanya lagi
dingin:
“Moga-moga saja sehala sesuatunya hanya merupakan
kecurigaanku sendiri. Kalau toh hanya ciangbunjin dan sibungkuk
cianpwee yg mengetahui asal usulku, darimana tianglo dari Siau lim
si itu bisa memperoleh kabar tentang diriku? Dan lagi mengetahui
juga hubungan sibungkuk dgku?”
Sampai saat inilah ketua Sam goan bun baru dapat
menghembuskan napas panjang, mendengar pertanyaan itu dia
segera menjawab:
“Dalam soal ini aku sendiripun merasa heran, yg lebih aneh lagi
darimana Bok sian taysu bisa menduga kalau kau adalah anak murid
sibungkuk...?”

“Ketika mendengar perkataan tersebut, Kho Beng jadi sangat
terperanjat, segera pikirnya:
“Sewaktu berada diperkampungan Hui im san ceng, pernah
kuungkapkan kalau guruku adalah Unta sakti berpunggung baja,
jangan-jangan mereka berdua yg menyampaikan kabar ini kepada
Siau lim si?”
Ia lantas teringat kembali dg peristiwa lama, dimana sipedang
tanpa bayangan serta sastrawan berkipas kemala telah melakukan
penyelidikan keperkampungan Hui im san ceng ditengah malam.
Lalu teringat pula lenyapnya lencana Siong im giok leng milik Kho
Po koan dan hilangnya kitab pusaka yg disimpan Bu wi lojin,
bukankah kesemuanya ini menunjukkan kalau sipedang tanpa
bayangan serta sastrawan berkipas kemala amat mencurigakan?
Diam-diam ia menghentakkan kakinya sambil tertawa getir,
mimpipun tak pernah disangka bahwa akhirnya dia bahkan siap
menjual nyawa untuk mereka.
Berpikir sampai disitu, dia baru sadar bahwa kecurigaannya
terhadap Sun Thian hong sebenarnya tidak beralasan, maka dg
wajah bersungguh-sungguh katanya:
“Terima kasih banyak atas penjelasan ciangbunjin pada malam
ini, budi kebaikanmu pasti akan kubalas dikemudian hari, aku hanya
berharap, disaat Kho Beng melakukan pembalasan dendam nanti,
harap ciangbunjin tidak melibatkan diri dalam pertikaian itu.
Sun Thian hong menghela napas panjang.
“membangun suatu perguruan adalah sulit, aku sadar kalau tak
punya harapan lagi untuk membangun perguruanku lebih besar, oleh
sebab itu harapanku sekarang tinggal mencari pewaris buat
jabatanku ini, buat apa aku melibatkan diri dalam pertikaian seperti
ini?”
“Ciangbunjin, dapatkah kau jelaskan siapa-siapa saja yg terlibat
dalam penyerbuan dan penumpasan terhadap Hui im ceng pada
masa itu…?”
Sun Thian hong menggelengkan kepalanya:
“Sejak aku menjabat sebagai ketua sam goan bun hingga kini
kami tak pernah tinggalkan pintu perguruan baran selangkah pun,
terhadap musibah yg menimpa gedung kalianpun hanya kudengar
beritanya saja.
Tapi yg pasti musuhmu sangat banyak dan mencakup banyak
dan mencakup banyak perguruan kenamaan, kalau menurut

nasehatku bertindaklah dg hati-hati dan tak usah gegabah, apalagi
kau sudah tahu kalau Siau lim si terlibat didalamnya, tak salah jika
kau lakukan penyelidikan lewat situ, aku yakin tak sulit bagimu untuk
mengetahui duduk persoalan yg sebenarnya.”
Dg jawaban tersebut, sama artinya dia menolak untuk memberi
jawaban.
Dari perkataan tersebut, Kho Beng segera memahami
maksudnya, dia mengerti bahwa Siau lim si mempunyai daya
pengaruh yg besar dan kuat, rasanya sulit untuk mencari urusan dg
mereka, ini berarti lebih baik mencari sasaran lain yg lebih lemah
untuk melakukan penyelidikan tersebut.
Tiba-tiba ia teringat kembali dg sastrawan berkipas kemala,
bukankah orang ini merupakan satu-satunya titik terang yg bisa
digunakan sebagai langkah pertama penyelidikannya?
Berpikir sampai disitu, cepat-cepat dia menjura seraya berkata:
“Kalau memang ciangbunjin merasa keberatan, akupun tak akan
memaksa lebih jauh tapi dapatkah kau memberi petunjuk dimanakah
alamat seseorang?”
“Coba kau sebutkan namanya?”
“Apakah ciangbunjin mengetahui seseorang yg bernama
Sastrawan berkipas kemala?”
Sun Thian hong segera manggut-manggut:
“Sastrawan berkipas kemala Beng Yu berdiam di Hway sang, tak
ada salahnya kau mencari tahu disekitar kota Yang ciu, mungkin
alamatnya segera akan kau temukan.”
“Terima kasih atas pemberitahuanmu dan akupun hendak mohon
diri lebih dulu.” Kata Kho Beng seraya menjura.
Dg cepat dia membalikkan badan dan siap beranjak pergi dari
situ.
Tiba-tiba terdengar Sun Thian hong berkata:
“Aku tak bisa memberi apa-apa kepadamu, hanya kudoakan
semoga kalian kakak beradik dapat segera berkumpul kembali dan
membangun perkampungan Hui im san ceng seperti dahulu.”
Kho Beng sudah hampir melangkah kelar dari pintu ketika
mendengar perkataan tersebut, dg cepat dia menghentikan
langkahnya, sementara perasaan hatinya bergetar keras.
Apakah ada sesuatu yg tak beres dg perkataan dari Sun Thian
hong itu?

Tidak! Tapi kata “Semoga kalian kakak beradik dapat segera
berkumpul kembali” membuat Kho Beng teringat kembali dg kedele
maut, terutama sekuntum bunga putih yg menghiasi sanggulnya.
Bukankah bunga putih tersebut mirip sekali dg bunga putih yg
dipesankan ayahnya dulu?
“Bunga serunai putih menghiasi sanggul, siang malam empat
musim tak pernah berubah…”
Benarkah kedele maut yg menggemparkan dunia persilatan
selama ini sesungguhnya adalah kakak perepuannya?
Penemuan yg mendadak dan sama sekali tak terduga ini segera
membuat Kho beng terperanjat dan gemetar keras saking emosinya.
Dg suatu gerakan cepat pemuda itu berpaling kearah Sun Thian
hong, kemudian serunya:
“Ciangbunjin, apakah kabar tentang kedele maut yg kusampaikan
kepadamu pagi telah kau sebarkan luaskan?”
Ketika melihat perubahan diatas wajah Kho Beng, diam-diam Sun
Thian hong ikut terkejut, berbicara sesungguhnya ia merasa tak
sanggup menghadapi pemuda ini.
Karenanya cepat-cepat dia menjawab:
“Sesudah kau meninggalkan diriku tadi, berita tersebut segera
kusebar luaskan dg mengutus beberapa orang muridku.”
Dg wajah berubah hebat Kho Beng segera membentak:
“Harap ciangbunjin segera menarik kembali berita tersebut.”
Sun Thian hong menjadi tertegun, dg keheranan ia segera
bertanya:
“Apakah ada sesuatu yg tak beres?”
Tentu saja Kho Beng tak ingin menjelaskan kalau kedele maut
sebetulnya adalah enci kandungnya dg keras dia membentak lagi:
“Tidak ada yg tak beres! Aku hanya menyuruh kau menarik
kembali berita tersebut secepatnya.”
Sun thian hong mulai tak tahan dg sikap kasar itu, dg suara
dalam dia berkata pula:
“Kho Beng, berita tersebut telah kusebarkan kemana-mana,
bahkan kujelaskan pula kalau orang yg berhasil menemukan raut
wajah kedele maut adalah kau. Begitu hal tersebut merupakan suatu
pahala besar. Dg begitu bukan saja pihak Siau limsi akan
mengurangi sikap tegangnya dg dirimu, seluruh umat persilatan pun
akan mengetahui jasa mu terhadap dunia persilatan. Ini berarti akan

mempersulit juga niat Siau lim pay untuk menyusahkan dirimu, masa
dalam hal inipun kau menaruh curiga kepadaku?”
Dg perasaan tak sabar Kho Beng berkata:
“Aku tidak butuh segala macam jasa atau pahala, kau tak usah
ribut lagi, cepat kirim orang untuk menghentikan penyebaran berita
tersebut, selain itu akupun minta kepadamu untuk menarik kembali
segenap anggota Sam goan bun yg ditugaskan mengawasi kedele
maut, apakah kau sanggup melaksanakan hal tersebut?”
Mendengar perkataan ini, Sun Thian hong menjadi tertegun.
Tapi bagaimanapun juga jahe makin tua makin pedas, setelah
embayangkan kembali gambaran tentang kedele maut yg
didengarnya dari Kho Beng pagi tadi, kemudian menyaksikan sikap
tegang dari pemuda tersebut, jago tua tersebut segera dapat
menduga apa yg teradi.
Tapi berhubung Kho Beng enggan menjelaskan, Sun Thian hong
pun tak ingin membongkarnya pula, dg nada yg sangat tenang dia
berkata:
“Kalau toh kau tak ingin kulakukan hal tersebut, tentu saja akan
kuturuti kehendakmu itu, Cuma aku kuatir sudah tak sempat lagi.”
“Kenapa tak sempat?” seru Kho Beng sambil melotot.
“Aku telah mengutus tiga orang yg terbagi dalam tiga jurusan
untuk menyampaikan berita tersebut, dua jurusan menuju ke bu
Tong pay dan Siau lim pay, tapi karena perjalanan yg jauh mungkin
juga mereka masih bisa dicegah kembali, tapi yg menuju kearah
Tong ting oh justru paling sukar dikejar sebab jaraknya dekat sekali,
hanya dua ratus li. Sekalipun dikejar belum tentu dapat disusul.’
Kho Beng menjadi sangat gelisah, setelah berpikir sejenak buruburu
katanya:
“Kalau begitu harap ciangbunjin segera mengirim orang untuk
memanggil pulang utusanmu yg pergi ke Bu Tong pay dan Siau lim
pay, sedang aku akan mengejar kearah Tong ting oh.”
Tanpa membuang waktu lagi dia segera melompat keluar dari
pintu dan secepat kilat menuruni bukit.
Fajar telah menyingsing.
Sudah semalam suntuk Kho Beng menempuh perjalanan cepat
tanpa beristirahat, dia tak ingin kakak kandungnya terancam bahaya
gara-gara perbuatannya.

Maka tanpa mengenal lelah, dia menempuh perjalanan terus
tanpa berhenti, begitu tiba dikota dia membeli ransum dan dua ekor
kuda, kemudian meneruskan pengejaran kearah telaga Tong ting.
Tapi setelah melakukan pengejaran seharian, tiba-tiba pemuda
itu jadi tertegun, rupanya karena begitu tergesa-gesa menempuh
perjalanan dia telah lupa untuk menanyakan siapa yg membawa
berita untuk wilayah Tong ting oh dan kemanakah dia mesti
menemukan orang tersebut?
Namun nasi sudah jadi bubur, sekalipun kesal dan murung Kho
Beng tak bisa berbuat apa-apa.
Untung saja dia cukup kenal dg setiap anggota Sam goan bun,
asalkan sebelum orang itu tiba ditelaga Tong ting, dia yakin orang
tersebut pasti dikenalinya.
Namun pemuda tersebut lupa akan satu hal, jika dia mampu
melakukan perjalanan cepat, apakah orang lain pun tak mampu
melakukan hal yg sama?
Apalagi sebelum dia mulai melakukan pengejaran, orang itu
sudah menempuh perjalanan sejauh seratus li lebih, betapapun
cepatnya pengejaran yg dilakukan mana mungkin bisa menyusul
orang tersebut?
Sambil mengayunkan cambuknya, Kho Beng melarikan kudanya
cepat-cepat, satiap kali satu jam lewat, dia segera menukar kudanya
dg kuda yg lebih segar.
Begitu seterusnya sehingga menjelang senja, telaha Tong ting
sudah nampah dikejauhan sana.
Dalam waktu sehari dia telah menempuh perjalanan sejauh dua
ratus li, jarak tersebut boleh dibilang cukup cepat, tapi Kho Beng
tetap merasa kesal dan kecewa.
Sebab sepanjang jalan dia sudah memasang mata baik-baik,
namun tak seorangpun anggota sam goan bun yg ditemukan.
Keadaan sudah semakin jelas, biarpun dia telah berusaha
melakukan pengejaran, namn hasilnya dia masih tetap ketinggalan
satu langkah.
Tiba ditepi telaga Tong ting, kedua ekor kudanya sudah mandi
peluh dan berbuih dari mulutnya, begitu lemas kedua ekor binatang
tersebut sehingga boleh dibilang tak berkekuatan lagi untuk
meneruskan perjalanan.

Demikian pula dg Kho Beng sendiri, seluruh tubuhnya sudah
basah kuyup oleh keringat, napasnya tersengal sengal dan matanya
terasa berat sekali.
Biarpun pemandangan alam disekelilingnya tampak indah dibulan
ketiga ini, Kho Beng sama sekali tak berminat untuk menikmatinya,
sambil mementangkan matanya yg berat dan penat, ia
memperhatikan sekeliling tempat itu penuh rasa tegang dan panik.
“Apa yg harus kulakukan sekarang?” sambil termangu mangu dia
mengawasi kedua ekor kudanya yg tergeletak ditepi jalan itu tanpa
berkedip.
Pertama-tama dia harus dapat menduga lebih dulu kemanakah
tujuan berita yg dikirim ketua Sam goan bun untuk wilayah telaga
Tong ting itu?
Bila hal ini tak dapat terpecahkan, maka sekalipun dia panik dan
bingung pun tak ada gunanya.
Dalam keadaan begini, terpaksa Kho Beng harus beristirahat
sejenak, dia ingin menggunakan kesempatan tersebut untuk
menenangkan kembali pikirannya serta berusaha untuk mencari
jalan guna mengatasi persoalan ini….
Pada saat itulah, tiba-tiba ia mendengar ada suara langkah
manusia berhenti disisi tubuhnya, menyusul kemudian terdengar
seseorang menyapa:
“Hey sobat, kalau kulihat tubuhmu basah oleh keringat dan
kudamu tergeletak kepayahan ditepi jalan, apakah ada suatu berita
penting yg hendak kau sampaikan kemari?”
Dg perasaan tertegun, cepat-cepat Kho Beng membuka matanya
kembali, terlihatlah tiga otang telah berdiri dihadapannya.
Ketiga orang itu rata-rata berusia tiga puluh tahunan, bertubuh
kekar berwajah keren dan berbaju ringkas berwarna kuning, sebuah
ruyung emas bersinar kekuningan memancar ari pinggangnya.
Saat itu mereka dg keenam sorot matanya sedang mengawasi
Kho Beng tanpa berkedip, bila dilihat dari wajahnya yg gelisah
seakan-akan mereka ingin mengetahui sesuatu dg cepat.
Dalam lelahnya Kho Beng merasa pikirannya agak bebal melihat
keadaan tersebut, dia segera berseru:
“Apakah kalian bertiga sedang bertanya kepadaku?”
Melihat hal ini lelaki yg berada ditengah itu segera tertawa
terbahak bahak”

“Ha…ha….ha….walaupun kita tak pernah bersua, umat persilatan
kan bersumber satu, apalagi setelah kami saksikan wajahmu gelisah
bercampur panik, itulah sebabnya secara gegabah kami telah
menegur anda untuk itu harap anda jangan marah atas kecerobohan
kami bertiga ini.”
Setelah mendengar perkataan tersebut, pikiran Kho Beng jga
menjadi sadar, setelah berpikir sejenak ia segera menjadi paham
kembali.
Karenanya dg sikap tegang Kho Beng segera menjawab:
“Benar aku memang membawa berita penting, tapi bolehkan aku
tahu siapa nama anda bertiga?”
Lelaki ditengah itu segera tertawa terbahak-bahak:
“Ha….ha….ha….siaute adalah Kim Han bersama Liat dan Kim Yog
disebut orang sebagai Kim kong sam pian(tiga ruyung raksaa), tapi
orang diwilayah Sam siang memanggil kami Kim toa, Kim ji dan Kim
sam, boleh aku tahu siapa nama anda?”
Kim lotoa mempunyai suara yg lantang sedang ketiga bersaudara
itu sama-sama mempunyai perawakan tubuh yg tingi besar seperti
raksasa, memang sesuai sekali dg nama julukannya.
Sebelum tersenyum, Kho Beng segera menjura, katanya:
“Oooh, rupanya tiga pendekar dari keluarga Kim, selamat bersua,
selamat bersua, siaute Kho Beng.’
Begitu namanya disebutkan, paras muka tiga bersaudara dari
keluarga Kim ini segera berubah hebat, tubuh mereka bergetar keras
dan keenam buah mata mereka bersama mengawasi wajah Kho
Beng tanpa berkedip.
Selang beberapa saat kemudian Kim lotoa baru menjura lagi
seraya berkata dg sikap sangat menghormat:
“Oooh, rupanya anda adalah Kho sauhiap, sejak masih berada
dikota Gak yang tadi, siaute sudah mendengar tentang nama besar
anda yg dikirim dari bukit Kun san, sungguh tak disangka baru saja
namanya terdengar, orangnya sudah tiba, beruntung sekali kami tiga
bersaudara dapat bertemu dgmu secepat ini.”
Berbicara sampai disini, dia segera berpaling kekiri kanan sambil
membentak:
“Loji, losam mengapa kalian tidak segera maju untuk memberi
hormat kepada Kho siauhiap? Mari kita pergunakan kesempatan ini
untuk bersahabat lebih akrab dgnya.”

Kho Beng sangat terkejut setelah mendengar perkataan yg penuh
sanjungan itu, buru-buru dia membalas hormat Kim lotoa sambil
cegahnya:
“Kalian tiga bersaudara tak usah banyak adat...”
Tapi kim loji dan Kim losam telah keburu maju kemuka dan
menjura seraya berkata:
“Kho siauhiap tak usah merendah, kami bertiga bisa berkenalan
dulu dg siauhiap jauh sebelum umat persilatan lain mengenalimu,
boleh dibilang hal ini merupakan suatu keberuntungan dan
kehormatan bagi kami.”
Terpaksa Kho Beng membalas hormat sekali lagi, kemudian dg
berlagak keheranan dia berseru:
“Kita belum pernah bersua, lagipula aku tak pernah berjasa apaapa,
mengapa kalian bertiga menaruh sikap begitu hormat
kepadaku?”
Kim loji segera tertawa terbahak-bahak:
“Ha...ha...ha...sekalipun orang pandai segan menunjukkan
kepandaiannya, namun sikap saudara Kho kelewat merendah, dalam
setengah tahun terakhir ini, ulah si kedele maut sudah cukup
menggetarkan seluruh dunia persilatan dan membuat hati orang tak
pernah tenang, tapi hanya saudara seorang yg berhasil menyelidiki
iblis tersebut serta menyingkap wajah aslinya. Jasamu besar sekali
dan namamu telah menggetarkan selurh dunia persilatan, bukan
hanya kami tiga bersaudara yg menaruh perasaan kagum
kepadamu, aku percaya setiap umat persilatan akan menyanjung
serta menghormatimu...”
Sesungguhnya perkataan ini sangat memabukkan dan bisa
membuat seseorang dalam alam nirwana, tapi bagi Kho Beng,
ucapan tersebut seperti guntur membelah bumi disiang hari bolong,
seketika membuat hatinya tercekat dan senyumannya menjadi getir.
Kenyataan membuktikan bahwa apa yg dikuatirkan selama ini
memang nyata terbukti, anggota Sam goan bun yg ditugaskan
menyampaikan berita tersebut telah tiba lebih dulu guna menyebar
luaskan berita itu kemana-mana.
Ini berarti gerak gerik encinya dikemudian hari akan memperoleh
hambatan yg sangat besar, malah bisa jadi jiwanya akan terancam
bahaya maut.

Sekalipun perasaan Kho Beng saat ini sangat gelisah, namun
perasaan tersebut tidak sampai diperlihatkan diwajahnya, sambil
tertawa paksa segera ujarnya:
“Jihiap terlalu memuji diriku, padahal kejadian tersebut hanya
kuketahui secara kebetulan, jadi bukan atas dasar kemampuan
sendiri, urusan sekecil ini tidak sepantasnya disanjung sanjung.”
Kim Lotoa dan Kim loji telah angkat bicara, maka Kim losam pun
tak tahan ikut menyanjung pula.
“Ha...ha....ha...saudara benar-benar kelewat merendah, padahal
pihak Siau lim si telah menyiapkan Budha emas, pihak Bu Tong pay
menyiapkan panji kebesaran, semuanya itu dihadiahkan bagi para
pendekar yg berjasa. Siapa sih yg tak ingin memperoleh
penghormatan seperti ini? Dan sekarang anda telah mendapat
penghormatan itu, apakah hal ini tak pantas disanjung?
Ha...ha....ha....”
“Tapi siaute sama sekali tidak berharap mendapatkan panji emas
atau perak, aku tidak mengharapkan apa-apa.”
Kim Lotoa jadi termangu, kemudian serunya keheranan:
“Harap anda jangan salah mengerti, Budha emas dan panji perak
bukan saja menjadi lambang penghormatan umat persilatan
kepadanya, juga menjadi lambang rasa hormat dan kagum tujuh
partai besar kepadanya. Dg membawa Buddha emas panji perak
tersebut, kemanapun anda hendak pergi disitulah segala sesuatu
akan tersedia bagimu, bila menghadapi kesulitan macam apapun dg
memperlihatkan kedua macam benda itu, maka semua kesulitan
akan hilang dg sendirinya, kami tiga bersaudara berharap bisa
mendapatkannya pun tak punya kesempatan, masa kau malah
menolak pemberian itu.”
Sekarang Kho Beng baru tahu, rupanya hal tersebut bisa
mendatangkan penghormatan sedemikian tinginya, tak heran kalau
ketua Sam goan bun menyebutnya sebagai suatu pahala besar dan
umat persilatan banyak yg rela mempertaruhkan jiwa raga untuk
mendapatkannya.
Tapi apa yg bisa diperolehnya sekarang? Sekalipun ingin
mendapatkannya pun belum tentu mampu diterimanya.
Rasa masgul dan kesal yg menyelimuti perasaan hatinya
sekarang sungguh tak terlukiskan dg kata-kata, cepat-cepat dia
mengalihkan pembicaraan tersebut kesoal lain, katanya:

“Sudah setengah harian lamanya kita berbicara, tapi hampir saja
melupakan suatu persoalan penting, boleh aku tahu saat ini anggota
Sam goan bun yg bertugas menyampaikan berita itu berada
dimana?”
“Sebenarnya siauhiap telah membawa berita apa lagi?” Kim lotoa
segera bertanya dg perasaan tegang.
Kho Beng segera menggeleng.
“Dijalanan banyak telinga dan mata, tak baik kita bicara ditempat
semacam ini.”
Kim loji segera manggut-manggut.
“Ya betul! Bagaimana kalau kita pergi kerumah makan Ui hok lu
didepan sana...”
Kho Beng jadi tertegun.
“apakah Ui hok lo bukan tempat umum yg lebih terbuka dg aneka
macam manusia? Mau apa kita kesana?”
Kim Losam tersenyum.
“Tampaknya Kho Siauhiap masih belum tahu tentang duduk
persoalan yg sebenarnya, kini segenap umat persilatan yg sedang
mencari jejak iblis tersebut telah berkumpul semua ditelaga Tong
ting ini dg mengangkat Liong kiong siancu Kiong Ceng san loya cu
dari Kan san sebagai pimpinan sambil melanjutkan usahanya
mencari jejak iblis tersebut. Hari ini sudah mencapai hari ketiga,
kiong tayhiap sengaja menjadi tuan rumah borong rumah makan Ui
hok lo tersebut, selain untuk menjadi tuan rumah yg baik hingga
bisa menjamu sesama rekan persilatan dg sebaik-baiknya, disamping
itu juga bisa digunakan sebagai tempat bertukar pendapat, kami
justru sedang mendapat tugas untuk menerima tamu sebelum
bertemu dg siauhiap secara kebetulan tadi.”
Dg perasaan terperanjat buru-buru Kho Beng berseru:
“Jadi semua rekan persilatan telah berkumpul diwilayah ini,
apakah kalian telah menemukan sesuatu.”
Kim Lotoa menghela napas panjang, katanya:
“Lima hari berselang, Tui hun jit kiau(tujuh keahlian pengejar
nyawa) Cia tayhiap telah menemui ajalnya dikota Gak yang, oleh
sebab itu Siau lim tianglo yg bertanggung jawab dalam soal ini
segera menurunkan perintah agar segenap umat persilatan
berkumpul disekitar telaga Tong ting dan kota Gak yang sembari
melakukan pengepungan, dg cara demikian diharapkan si kedele

maut segera akan unjukkan diri, sehingga berita yg anda kirim boleh
dibilang tiba tepat pada saatnya, nah silahkan.”
Kho Beng semakin gelisah lagi setelah mendengar perkataan itu,
dia tak mengira kalau peristiwa tersebut akan berkembang sampai
begini, tak heran kalau ketua Sam goan bun mengirim utusan
khusus ke telaga Tong ting.
Namun segala urusan menjadi gawat dan amat mendesak untuk
beberapa saat pun dia tak berhasil menemukan cara terbaik untuk
menanggulangi kejadian tersebut, sampai-sampai berita penting yg
semula telah dipersiapkan secara matangpun sekarang jadi bubar
tak karuan.
Ya, hal ini memang bisa dimaklumi, persoalannya sudah
menyangkut keselamatan jiwa kakak kandungnya tapi semakin dia
panik, pikirannya semakink alut dan tak mampu dikonsentrasikan
kembali, otomatis diapn tak berhasil menemukan suatu jalan
keluarnya.
Sementara itu tiga ruyung raksasa telah mempersilahkan Kho
Beng untuk berjalan didepan sedang mereka bertiga mengiring
disampingnya, melihat rumah makan Ui hok lo kian lama bertambah
dekat, hampir saja Kho Beng kabur dari situ agar bisa berpikir secara
tenang.
Tapi dia mengerti, keadaan dan kondisi tidak mengijinkan dia
berbuat begini, terpaksa dia melompat langkahnya dg sengaja, agar
waktu yg tersisa itu dapat dimanfaatkan untuk mencari jalan keluar.
Betapapun panjangnya jalan yg harus dilalui, akhirnya bakal
habis juga, apalagi jarak sejauh seratus kaki sebetulnya dekat sekali.
Akhirnya Kho Beng melangkah masuk kedalam pintu gerbang
rumah makan Ui hok lo, pakaiannya yg kering terhembus angin kini
basah lagi oleh keringat.
Tapi yg mengalir sekarang bukan keringat panas melainkan
keringat dingin karena dia kelewat tegang dan gelisah.
Meski begitu diapun berhasil juga menemukan dua cara terbaik
untuk menangulangi dua kemungkinan yg terjadi.
Setelah masuk kepintu gerbang Ui hok lo, Lo sam dari tiga
ruyung raksasa dg memburu masuk lebih dulu kedalam ruangan.
Menanti Kho Beng sudah naik ketangga, terdengar suara Kim
losam berseru lantang:
“Cianpwee dan rekan-rekan sekalian, Kho siauhiap yg berhasil
menemukan jejak iblis itu sudah tiba dibawah loteng ini, kini ia

ditemani toako dan jiko ku, siaute sengaja mengabarkan dulu
sehingga kita dapat memberikan sambutan yg meriah.”
Perkataan itu diucapkan dg penuh rasa bangga dan gembira
seakan-akan bisa berjalan bersama Kho Beng sudah merupakan
suatu kebanggaan baginya.
Menanti Kho Beng mencapai ujung loteng, tampaklah lima
puluhan jago yg berada dalam ruangan tersebut seretak telah
bangkit berdiri untuk memberikan sambutannya.
Sambutan yg begitu meriah dan diluar dugaan ini benar-benar
mengejutkan Kho Beng, sekalipun dia sudah mempunyai gambaran
sebelumnya dari pembicaraannya dg ketiga ruyung raksasa tersebut.
Dibawah sinar lentera yg terang benderang menerangi seluruh
ruangan, ditengah ruangan sudah disediakan enam buah meja
perjamuan. Laki perempuan, tua muda meski tidak menunjukkan
sikap yg sama ada yg menatap ada juga yg berdiam, ada yg gagah
tapi ada juga yg tenang, naun sorot mata mereka rata-rata tajam
seperti sembilu.
Dari sini dapat diketahui bahwa sebagian besar yg hadir adalah
jago-jago persilatan kelas satu yg memiliki kepandaian silat amat
tinggi didalam dunia persilatan.
Tampak seorang kakek bermuka merah berjenggot panjang yg
duduk dimeja tengah segera menjura kepada Kho beng sambil
tertawa terbahak-bahak, kemudian serunya:
“Baru siang hari tadi beritanya tiba, kini orangnya sudah mncul,
siauhiap benar-benar naga diantara manusia, mewakili segenap
umat persilatan yg hadir kuucapkan salut dan kegembiraan kami
untuk menyambut kedatangan anda.”
Kim Lotoa yg berada disisinya segera menyela:
“Siauhiap, cianpwee ini adalah Liong kiong sincu, Kiong tayhiap
dari Kun san yg termasyur diseantero jagat.”
Kho Beng segera menjura pula kepada kakek itu sambil sahutnya:
“Kiong locianpwee terlalu memuji, padahal menyelidiki jejak iblis
sudah menjadi kewajiban dari kita umat persilatan, janganlah
bersikap begitu menghormat, aku yg muda menjadi rikuh
rasanya....”
Kemudian sambil menjura kepada kawanan jago lainnya, ia
berkata pula:
“Silahkan cianpwee sekalian melanjutkan daharnya, maaf bila
kehadiran aku yg muda telah mengganggu kegembiraan kalian.”

Lima puluhan jago persilatan itu segera membalas hormat,
suasana menjad gaduh.
Sambil tertawa tergelak kembali Kiong Ceng san berkata:
“Bagus, bagus sekali, meski membuat pahala namun tidak
sombong, memang begitulah ciri sejati dari seorang pendekar muda,
mari kita siapkan tempat duduk buat Kho siauhiap, aku mesti
menghormatinya dg tiga cawan arak.”
Seruan tersebut segera disambut dg kerepotan sangat, para
pelayan segera menyiapkan kursi sumpit dan cawan, sementara para
jago yg duduk dimeja utama sama-sama bergeser untuk
meluangkan sebuah tempat kosong.
Tiga ruyung raksasa segera mempersilahkan Kho Beng enempati
meja perjamuan utama, persis duduk bersebelahan dg Liong kiong
sincu, sementara mereka sendiri duduk diluar lingkaran meja
perjamuan yg tersedia.
Situasi seperti ini tentu saja amat mengejutkan Kho Beng, sampai
dia menjadi tegang sekali.
Sejak kecil dia sudah hidup terlantar dan menyendiri, setelah
terjun kedalam dunia persilatan, diapun belum pernah menjumpai
keadaan seperti ini, terutama sanjungan serta penghormatan seperti
yg begini tinggi.
Apalagi setelah dia saksikan pembagian tenpat duduk berbentuk
bunga bwee itu, sekalipun sepintas lalu tak nampak perbedaannya,
namun dalam kenyataan pembagian dalam tingkatan kedudukan
dilakukan sangat telit.
Seperti halnya dg tiga ruyung raksasa, mereka hanya kebagian
tempat duduk diurutan paling bawah dekat mulut tangga, jelas
menunjukkan kalau kedudukan mereka adalah tingkat paling rendah
diantara para jago yg hadir.
Padahal saat ini dia duduk dikursi utama, hal ini menunjukkan
kalau dia sangat dihormati,
Jilid 08
Apa sebabnya dia bisa peroleh penghormatan setinggi ini? Tak
perlu ditebak pun sudah jelas. Hal ini disebabkan Kho Beng berhasil
membongkar kedok rahasia daei si Kedele Maut hingga membuat
sebuah pahala besar.

Atau dg kata lain dialah yg kemungkinan besar akan
mendapatkan Buddha Emas dari Siau lim pay dan panji perak dari Bu
tong pay, jelas masa depannya amat cemerlang.
Tapi siapa pula yg menduga bahwa sesungguhnya Kedele Maut
adalah kakak kandung Kho Beng sendiri?
Kho Beng yang berada dibawah perhatian beratus mata benarbenar
merasa sangat tidak tenang, bagaikan duduk dikursi berjarum,
dia tidak bisa melukiskan bagaimanakah perasaannya waktu itu.
Ketika melihat Kiong ceng san menghormatinya dg arak, meski
Kho Beng tak pandai minum, dalam keadaan demikian dia memang
perlu meminjam pengaruh alkohol untuk membangkitkan
semangatnya, maka tanpa berpikir panjang dia meneguk tiga cawan
arak dan membalas dg tiga cawan pula.
Setelah enam cawan masuk keperut, mukanya mulai merasa
panas dan semangatnya berkobar pula, tapi ketika jago lain ikut
menghormatinya dg arak, pemuda itu mulai mengeluh.
Bila ditolak hal ini berarti tidak menghormati orang lain, jika tidak
ditampik, ia pasti akan mabuk padahal keselamatan jiwa encinya
sedang terancam…
Untunglah disaat inilah tiga ruyung raksasa dapat menyelamatkan
Kho Beng dari kesulitan.
Buru-buru Kim lotoa berdiri seraya berkata:
“Para cianpwee dan saudara sekalian, baru saja Kho siauhiap tiba
disini, sewaktu ditemukan kedua ekor kudanya sudah roboh dan
siauhiap sendiri mandi peluh, konon ada berita yang lebih penting
lagi hendak disampaikan, aku rasa kita tidak boleh menunda-nunda
kesempatan siauhiap untuk berbicara.
Ternyata perkataan tersebut segera mendatangkan hasil yg luar
biasa, diiringi seruan kaget para jago bersama-sama menghentikan
perbuatannya dan duduk kembali dg wajah tegang.
Dibawah perhatian begitu banyak orang, seketika itu juga Kho
Beng merasakan tekanan yg sangat berat, buru-buru dia berkata:
“Yaa, hampir saja aku melupakan suatu persoalan besar padahal
sejak pagi tadi aku menyusul kemari dg menggunakan dua ekor
kuda secara bergantian dg menempuh perjalanan sejauh dua ratus li
lebih, sebetulnya ada berita tentang Kedele Maut yg hendak
kusampaikan...”
Begitu perkataan tersebut diucapkan, seruan kaget kembali
bergema memenuhi seluruh ruangan.

Sekali lagi paras muka Liong kiong sincu Kiong ceng san berubah
hebat, segera tanyanya:
“Apakah kau berhasil mendapatkan penemuan baru?”
Dg berlagak serius Kho Beng berkata:
“Pagi tadi aku telah mendapat serangan gencar, pihak lawan dg
segenggam kedele yg dusebarkan seperti bunga hujan mengancam
tubuhku dg hebat, andaikata aku tidak tahu diri dan pandai
menunggang kuda, mungkin jiwaku telah melayang sejak pagi tadi.”
Dg wajah berubah hebat Liong kiong sincu berseru tertahan:
“Kau mengatakan si Kedele Maut telah menyergapmu?”
Kho Beng manggut-manggut.
“Yaa, yg kumaksudkan memang Kedele Maut, disamping itu
akupun perlu menerangkan kepada cianpwee sekalian bahwa Kedele
Maut telah muncul dg wajah aslinya, ternyata dia adalah seorang
peempuan berambut hitam yg berusia tiga puluhan dan bermuka
jelek seperti kuntil anak, sebaliknya dua perempuan yg meski
berparas agak lumayan namun dandananya justru kebanci-bancian,
mirip sekali dg bocah bodoh…”
Keterangan bohong yg diutarakan olehnya ini segera
menimbulkan seruan kaget daris seluruh jago yg ada.
Tak tahan lagi Liong kiong sincu berseru:
“Menurut utusan yg dikirim dari Sam goan bun dijelaskan bahwa
Kedele Maut adalah seorang nona berusia dua puluhan berwajah
cantik jelita dan menggunakan payung sebagai senjata, sedang dua
orang dayangnya menggunakan ikat pinggang perak, apakah utusan
dari Sam goan bun telah salah menyampaikan…?
“Tidak, berita dari utusan Sam goan Bun memang begitulah
keterangannya.”
“Lalu apa sebabnya wajah kedele maut bisa berubah lagi?” tanya
Liong kiong sincu tak habis mengerti.
“Menurut dugaanku, bisa jadi Kedele maut yg kujumpai untuk yg
pertama kalinya dikota Tong sia tempo hari adalah wajah
penyamaran mereka.”
Mendengar keterangan tersebut, Liong kiong sincu segera
menghela napas panjang:
“Aaaai, kalau begitu pengepungan kita yg ketat disekitar Gak
yang dan telaga Tong ting kembali akan sia-sia belaka?”
“Kiong tayhiap jangan keburu putus asa!” mendadak dari sisi Kho
Beng berkumandang seruan yg berat tapi penuh bertenaga.

Cepat-cepat Kho Beng berpaling, ternyata sipembicara adalah
seorang pendeta tua beralis mata putih yg waktu itu sedang
mengawasi kearahnya dg pandangan tajam.
Kho Beng sangat terkejut setelah menghadapi kejadian ini, dia
tak tahu siapakah pendeta tua ini sebab Kiong ceng san belum
sempat memperkenalkan kawanan jago itu satu persatu kepadanya.
Yg membuat dia tak tenteram adalah ketajaman mata sang
pendeta yg ibarat pisau tajam siap menyayat hatinya itu, pandangan
semacam itu terasa tajam dan menggidikkan hati.
Dia seakan-akan mencurigai Kho Beng tapi seperti juga sedang
mencari sesuatu dari tubuh pemuda tersebut, pokoknya pandangan
tersebut mengartikan banyak sekali tapi justru karena banyak
mengandung maksud hingga pada hakekatnya susah dicernakan dg
begitu saja.
Satu ingatan dg cepat melintas dalam benak Kho Beng, pikirnya:
“Mungkinkah dibalik keteranganku tadi terdapat titik
kelemahannya? Ataukah mungkin dia sudah mengetahui
rencanaku?”
Sementara dia termenung, pendeta tua itu sudah berkata dg
suara dalam:
“Siau sicu banyak hal yg tidak kupahami, bersediakah sicu
memberi keterangan?”
“Tentu saja, silahkan taysu bertanya?”
“Darimana siau sicu bisa mengatakan bahwa orang yg
menyerangmu pagi tadi adalah si kedele maut?”
Terhadap pertanyaan semacam ini Kho Beng memang telah
menyiapkan jawabannya, maka sambil tersenyum segera jawabnya:
“Dalam dunia persilatan dewasa ini, selain Kedele Maut, siapa
pula yg menggunakan biji kedele sebagai senjata rahasianya?
Apalagi sekalipun wajahnya telah berubah namun senjata yg
digunakan tetap berupa payung bulat, kalau tidak mana berani
kukatakan seyakin ini?”
Pendeta itu segera manggut-manggut, dia kembali berkata:
“Perkataan itu benar juga, apalagi jika dilihat dari tindakan Kedele
Maut yg melanggar kebiasaannya dg menyerangmu disiang hari,
jelas kalau dia telah berniat membunuhmu, hanya saja masalah yg
ingin kuketahui adalah atas dasar apa sicu dapat mengatakan secara
yakin bahwa kedele maut yg kaujumpai hari ini adalah wajah aslinya

sedang wajah yg kau jumpai dikota Tong sia adalah wajah palsu
hasil penyaruannya?”
Dg cepat Kho Beng telah menyadari akan kelihaian si pendeta tua
ini, sebab setiap pertanyaannya boleh dibilang seperti pisau tajam yg
langsung menusuk ulu hati, andaikata ia tidak melakukan persiapan
secara matang sudah pasti semua kebohongannya akan terbongkar.
Maka dg wajah yg kalem dia menjawab:
“Memang sangat beralasan bila taysu mengemukakan
kecurigaannya, tapi aku bisa berkata demikian karena berdasarkan
dua buah kesimpulan yg kubuat.
Pertama, kejadian yg berlangsung pada hari ini terjadi dipagi
hari, aku dapat melihat wajahnya dg lebih jelas, terbukti pihak lawan
memang tidak mengadakan penyamaran karena kulit wajahnya
sewarna dg kulit tangannya, jadi dia tidak mungkin memakaii kedok,
sebaliknya dikota Tong sia, hal itu terjadi tengah malam, segala
sesuatu yg terlihat sukar dipastikan kebenarannya.
Dg dua kali perjumpaan dalam saay yg berbeda serta bentuk yg
berbeda pula, maka setelah kupikirkan kembali secara masak-masak,
akhirnya kusimpulkan penampilannya pagi tadi barulah merupakan
wajah aslinya.
Kedua, biarpun dalam dua kali perjumpaan ia muncul dg dua
wajah yg berbeda, semua senjata yg digunakan tak berubah, sedang
jumlah mereka yg bertiga satu majikan dua dayang pun tak berbeda
pula, ditambah lagi nada perkataannya sewaktu hendak
membunuhku, sudah pasti dia adalah Kedele Maut. Nah, atas dasar
dua hal inilah kusampaikan beritaku tadi. Apakah taysu masih ada yg
tidak jelas?”
Pendeta tua itu terbungkam dalam seribu bahasa, tapi wajahnya
masih susah diduga bagaimanakah perasaannya sekarang, mukanya
tetap tawar dan tatapan matanya tetap tajam, kesemuanya ini
membuat Kho Beng tak bisa menduga apa gerangan yg sedang
dipikirkan hwesio tersebut.
Liong kiong Kiong ceng san segera menghela napas panjang,
katanya:
“Sekalipun penjagaan dan pengepungan yg kita lakukan sangat
rapat, mata-mata tersebar dimana-mana dan pos penjagaan
berlapis-lapis, namun setelah dilihat dari kenyataannya sekarang,
sekalipun Kedele maut belum sampai lolos dari wilayah disekitar sini,

rasanya untuk berhasil menangkap mereka pun belum tentu menjadi
kenyataan.”
Para jago lainnya sama-sama terbungkam dg wajah lesu, jelas
keputus asaan Kiong ceng san telah mencerminkan pula perasaan
dari kawanan jago lainnya.
Kho Beng segera merasa inilah saat baik untuknya
mengundurkan diri, mencari tempat dan berdiam sendirian untuk
berpikir lebih jauh, dia ingin memeriksa apakah semua rencananya
telah sempurna atau belum, bila terjadi perubahan berarti dia masih
sempat menghadapinya dg cara kedua yg telah dipersiapkan.
Tapi ia percaya, dg perbuatannya itu maka tujuannya
mengacaukan berita yg sesungguhnya telah tercapai, paling tidak,
hal tersebut akan menambah kesulitan dan kebingungan kawanan
jago tersebut.
Dg demikian iapun berhasil pula merebut sedikit waktu, agar
kakak kandungnya berupaya untuk meloloskan diri dari kepungan
pengawasan kawanan jago yg berada seratus li disekeliling telaga
Tong ting dan kota Gak yang.
Maka dg berlagak sangat lelah karena menempuh perjalanan
jauh, ia menjura kepada para jago disekeliling tempat itu sambil
katanya lagi:
“Sejak mengalami penyergapan sampai melakukan perjalanan
jauh ketempat ini, aku yg muda belum sempat beristirahat barang
sekejappun, aku merasa amat lelah dan mohon maaf jika aku yg
muda harus undur diri lebih dulu untuk beristirahat.”
“Aaaai benar! Aku tidak berpikir sampai kesitu.” Liong kiong sincu
Kiong ceng san segera berkata, “Kalau begitu biar kumohon tiga
bersaudara Kim untuk menemani siauhiap beristirahat ditepi telaga,
besok pagi aku akan mengirim orang lagi untuk mengundang
sauhiap.”
Kho Beng mengucapkan terima kasih dan segera meninggalkan
tempat duduknya.
Saat itulah pemuda itu merasa ada sepasang mata yg amat tajam
sedang mengawasinya tanpa berkedip. Pandangan semacam itu
delapan puluh persen persis seperti pandangan si pendeta tua tadi.
Pandanga itu beraal dari meja kedua dekat dinding, maka buruburu
ia melirik sekejap kesana, ternyata dia adalah seorang
sastrawan setengah umur yg memakai baju hitam, wajah orang itu
terasa asing baginya.

Sekali lagi Kho Beng merasakan hatinya bergetar keras, tanpa
terasa kewaspadaannya ditingkatkan…
Ia sadar, berhasil atau tidaknya tipu daya yg sedang dilaksanakan
untuk melindungi keselamatan jiwa encinya, bisa jadi akan
tergantung pada tindakan yg akan dilakukan sastrawan berbaju
hitam serta pendeta tua itu.
Biarpun hati kecilnya merasa terkejut, namun paras mukanya
sama sekali tidak berubah, dg langkah yg amat santai ia menuruni
rumah makan Ui hok lo.
Dibawa bimbingan tiga cambuk Kim kong sam pian, berangkatlah
pemuda itu menuju kewisma yg berada ditepi telaga.
Jarak antara wisma dg rumah makan Ui hok lo hanya beberapa
kaki, bangunan itu menghadap kearah telaga dg sisi kanannya
menghadap pintu gerbang kota Gak yang, sebelah kiri menghadap
rumah makan Ui hok lo dan belakangnya menempel bukit Kun san.
Sesungguhnya tempat itu merupakan tempat yg amat strategis.
Akhirnya Kho Beng diajak masuk keruang sebelah kiri dideretan
kedua wisma itu.
Sebelum berpamitan, Kim lotoa sempat berpesan:
“Sauhiap, bila kau membutuhkan sesuatu, silahkan saja minta
kepada petugas wisma, besok pagi kami akan datang menjenguk
sauhiap lagi.”
Buru-buru Kho Beng mengucapkan terima kasih.
Sepeninggalnya Kim kong sam pian, iapun menutup pintu dan
naik kepembaringan untuk mengendorkan urat-urat badan.
Walaupun rasa lelah dan mengantuk datang menyerang secara
bertubi-tubi, Kho Beng tak berani memejamkan mata barang
sekejappun, sorot mata sastrawan berbaju hitam dan pendeta tua yg
tajam mengiriskan itu selalu berkecamuk didalam benaknya.
Kesemuanya itu membuat anak muda ini mau tidak mau mesti
meningkatkan kewaspadaannya agar dapat menghadapi setiap
perubahan setiap saat.
Maka dia memaksakan diri menahan rasa kantuk dan lelah yg
luar biasa dan duduk bersila diatas pembaringan, lalu mengatur
napas menurut ajaran si Unta sakti berpunggung baja.
Setelah mengatur pernapasannya tiga kali, pelan-pelan Kho Beng
mulai merasakan hatinya tenang, pikirannya kosong dan memasuki
tahap lupa akan sekelilingnya.

Siapa tahu pada saat itulah tiba-tiba pintu kamar dibuka orang,
kemudian tampaklah sesosok bayangan manusia menyusup kedalam
kamar...
Mendengar desingan suara itu segera Kho Beng membuka
matanya kembali, ternyata orang yg menyusup kedalam ruangannya
tak lain adalah sastrawan berbaju hitam.
Dg perasaan terkesiap cepat-cepat ia melompat bangun lalu dg
lagak keheranan ia menegur:
“Ooooh rupanya saudara, ada urusan apa sih?”
Setelah merapatkan kembali pintu kamar, Sastrawan berbaju
hitam itu mengawasi wajah Kho Beng dg pandangan yg amat tajam,
kemudian pelan-pelan ia baru bertanya dg suara berat dan dalam:
“Aku hanya ingin bertanya kepada sauhiap, apakah dalam
sakumu terdapat suatu benda?”
“Benda apa yg saudara maksudkan?” tanya Kho Beng setelah
diam-diam tertegun sejenak.
“Sebuah lencana kemala hijau bergambar naga.”
Sekali lagi Kho beng merasakan hatinya bergetar keras, segera
tegurnya dg suara dalam:
“apa maksudmu menanyakan persoalan ini?”
Dg sikap yg tetap dingin dan kaku, sastrawan berbaju hitam itu
berkata:
“Sauhiap masih ingat dg orang yg meninggalkan uang di Kwan
tong dan tak pernah muncul kembali?”
Kho Beng menjadi tertegun, setelah agak ragu sejenak, bisiknya:
“Jadi kau....kau adalah...”
“Aku Li sam” tukas sastrawan berbaju hitam itu, “Nah sekarang
sauhiap dapat memberi penjelasan.”
“Li sam..? Li sam..?” Kho Beng mengulangi nama tersebut sampai
beberapa kali. Mendadak ia merasakan semangatnya berkobar, kejut
dan gembira segera serunya:
“Jadi kau adalah Li sam yg dimaksudkan Kho lo tia.”
Sikap sastrawan berbaju hitam yg semula dingin dan kaku, tibatiba
saja berubah menjadi amat sedih, bisiknya lirih:
“Kalau begitu, sauhiap adalah majikan kecil dari Li sam, sungguh
amat sengsara hamba mencari jejakmu...”
Sembari berkata, ia segera menjatuhkan diri berlutut diatas
lantai...
Buru-buru Kho Beng membangunkannya, seraya berbisik:

“Kakak Li sam, harap kau jangan memanggil aku dg sebutan
tersebut, bolehkah aku tahu apa hubunganmu dg Kho lo tia?”
“Kami adalah guru dan murid” sahut Li sam dg sikap
menghormat, “Hamba sudah lima belas tahun lamanya belajar silat
dari dia orang tua...”
“Kho lo tia sangat berhati baik dan setia kepada ayahku, diapun
banyak melepaskan budi kebaikan kepada aku Kho beng, dan
selanjutnya kita saling menyebut saudara saja, biar kusebut kau Sam
toako.” Beberapa patah kata itu diucapkannya dg nada tulus dan
jujur.
Dg perasaan gugup Li sam segera berseru:
“Aaaah, hal ini mana boleh jadi? Selama lima belas tahun terakhir
hamba selain mendengar suhu membicarakan soal majikan muda, ia
minta kepadaku untuk berbakti dan setia kepadamu, hubungan kami
tak boleh lebih dari hubugnan antara majikan dan hamba, biar
hamba bernyali setinggi langit pn tak berani membangkang pesan
guruku ini.”
Dalam keadaan seperti ini Kho Beng enggan ribut dgnya, maka
kembali ujarnya dg sedih.
“Apakah kau sudah tahu bahwa Kho lo tia tewas dibokong
orang?”
Dg air mata bercucuran Li sam mengangguk:
“Gara-gara ada urusan, hamba datang terlambat, waktu majikan
telah pergi meninggalkan tempat tersebut. Tapi dari penyelidikan
hamba sudah terbukti bahwa suhu tewas dikarenakan jarum
pembeku darah penghancur tulang Kiang Thian kut, kini jenasah
suhu sudah kukebumikan!”
“Sam ko, segala sesuatunya tak usah terburu-buru diselesaikan,”
hibur Kho Beng dg suara dalam, “Semua dendam sakit hati mari kita
catat dulu menjadi satu, kemdian baru kita tuntut balas satu persatu,
mari kita duduk dulu sambil berbincang bincang.
“Tidak” tukas Li sam cepat, “Kedatangan hamba kemari karena
ingin memberitahukan suatu urusan penting kepadamu, Majikan kau
segera meninggalkan tempat ini!”
“Sebenarnya apa sih yg terjadi?”
“Tahukah majikan muda bahwa Kedele Maut yg digembar
gemborkan orang selama ini sesungguhnya enci kandungmu
sendiri?”
Kho Beng segera menghela napas panjang.

“Aaaai...justru lantaran aku terlambat mengetahui asal usulku yg
sebenarnya sehingga kesalahan yg amat besar ini telah kuperbuat.
Justru karena persoalan inilah tergesa-gesa aku datang kemari dg
maksud hendak menanggulanginya secepat mungkin...”
“Majikan muda” kata Li sam sambil menghela napas pula,
“Walaupun tindakanmu ini sangat pintar, namun dapatkah kau
kelabui kawanan rase-rase tua itu? Mumpung sekarang masih ada
kesempatan, cepatlah pergi meninggalkan tempat ini, aku kuatir bila
sedikit terlambat lagi, kau tak akan punya waktu untuk meloloskan
diri.”
Biarpun dalam hati kecilnya Kho Beng merasa amat tegang,
namun setelah dipikir sebentar, segera jawabnya lekas:
“Tidak! Aku mesti menyelesaikan dulu persoalan ini sampai
sejelas-jelasnya, aku rasa bohongku barusan sangat rapi dan tiada
hal-hal yg mencurigakan, bagaimana mungkin mereka bisa
mengetahui kebohonganku itu?”
“Majikan muda, walaupun alasan yg kau kemukakan memang
sangat jitu dan hebat, namun gerak gerikmu justru sangat
mencurigakan.”
“Apakah maksudmu si pendeta tua yang menaruh curiga
kepadaku?” tanya Kho Beng kemudian sambil berkerut kening.
Li sam manggut-manggut:
“Majikan muda, tahukah kau siapakah si keledai gundul itu?”
“Siapakah dia?”
“Dia adalah Bok sian tianglo, salah satu diantara Ngo heng ngo
cun lima sesepuh lima unsur dari ruang Tat mo wan kuil Siau lim si”
Kho Beng merasa terperanjat sekali, serunya tertahan:
“Aaai, rupanya dialah Bok isan tianglo dari Siau lim pay,
waaah....celaka!”
“Persoalannya mah belum sampai serunyam itu, meski si keledai
gundul itu sudah menaruh kecurigaan terhadap majikan muda,
namun ia belum berani memastikan secara seratus persen bahwa
apa yg dikatakan majikan hanya bohong belaka.”
“Sebetulnya dari persoalan manakah, si keledai gundul itu bisa
menemukan penyakitku?”
“Keledai gundul itu beranggapanmeski apa yg dikatakan majikan
masih sukar dibedakan antara sungguh dan tidaknya, namun
tindakanmu datang ketelaga Tong ting ini justru menimbulkan
masalah besar. Sebab kalau dibilang kau sedang kabur

menyelamatkan diri, jalan raya yg menebus keseluruh negeri toh
luas dan banyak, mengapa kau justru begitu kebetulan memilih jalan
yang yang menuju ketelaga Tong ting? Sebaliknya kalau dibilang kau
khusus datang kemari untuk menyampaikan kabar, mengapa berita
tersebut tidak kau sampaikan dulu kepada rekan-rekan persilatan yg
lain tapi justru jauh-jauh datang ketelaga Tong ting ini? Bukankah
tindakan semacam ini jauh dari kebiasaan?”
Kho Beng segera merasakan hatinya menjadi lega setelah
mendengar perkataan itu, katanya sambil tertawa ringan:
“Siapa bilang didunia ini tiada kejadian yg kebetulan? Kalau
hanya masalah ini yg menjadi titik pangkal kecurigaan keledai
gundul itu, aku percaya masih mampu merebut kepercayaan orang
lain terhadap diriku!”
“Majikan” kembali Li sam memperingatkan dg suara
dalam,”konco sikeledai gundul itu sudah mengetahui asal-usulmu yg
sebenarnya, malah sejak mula pertama ia sudah menaruh curiga
kalau sikedelai maut sebenarnya adalah enci kandungmu. Atas dasar
inilah ia lantas menduga kalau kedatanganmu kemari bisa jadi ada
sangkut pautnya dg Keledai Maut itu!”
Sekali lagi Kho Beng merasakan hatinya tercekat, agak
terperanjat ia berseru:
“Lihay benar bajingan gundul itu, jadi persoalan inilah yg kau
kuatirkan? Tahukah kau tindakan apakah yg hendak mereka perbuat
terhadap diriku?”
“Tadi Bok sian sipendeta bajingan itu telah menyelenggarakan
rapat rahasia dg ketua istana naga sekalian beberapa orang
penanggung jawab dalam operasi ini, hasil rapat tersebut ditetapkan
bahwa penjagaan yg dilakukan sekarang tetap dilangsungkan seperti
semula, bahkan mereka pun akan mengutus orang untuk mengawasi
majikan secara diam-diam, setelah itulah mereka akan mengirim
utusan menuju ke Pek eng tong.”
“Mengapa mengirim utusan ke Pek eng tong?”
“Dewasa ini, hanya anak murid yg berasal dari Gin san siancu
(Dewi payung perak) yg mempergunakan senjata payung dan angkin
sebagai senjata andalannya untuk mengarungi dunia persilatan. Oleh
sebab itulah keledai gundul itu memutuskan akan mengirim utusan
kesana untuk mencari bukti atas hal tersebut.”
“Apakah enciku memang anak murid Dewi payung perak?”
Li sam manggut-manggut.

“Yaa benar, dugaan mereka kali ini memang tepat sekali.”
Kho Beng segera menghela napas panjang:
“Aaaai....kalau begitu, asal usul cici bakal terbongkar sama
sekali...?”
“Dalam soal ini majikan tidak perlu kuatir” kata Li sam sambil
tersenyum. “Keberangkatan mereka ke Pek eng tong kali ini pasti
tidak menghasilkan apa-apa!”
“Mengapa demikian?”
“Sebab Dewi payung perak telah menghadiahkan segenap tenaga
dalam yg dimiliki kepada cicimi dg ilmu Kay goan koan tong, atas
perbuatannya ini beliau telah menghembuskan napasnya yang
terakhir, itulah sebabnya utusan mereka bakal Cuma menemukan
sebuah kuburan dg batu nisan belaka.”
“Darimana sam toako bisa memperoleh begitu banyak kabar
berita?” tanya Kho Beng sesudah termangu sejenak.
Sekulum senyum bangga segera menghiasi wajah Li sam.
“Saat ini hamba sudah menjadi salah satu orang kepercayaan
dari Bok sian sibajingan gundul itu, jadi semua rahasia mereka tak
akan lolos dari pendengaranku, he...he....he...., tentu saja mereka
tidak pernah akan menduga kalau aku Li sam adalah mata-mata dari
Kedele Maut!”
“Bagus sekali perbuatanmu ini” puji Kho Beng sambil menepuk –
nepuk bahunya, “Perbuatan sam toako memang tak bakal diduga
sama sekali olehnya, mereka pasti akan kebobolan kali ini..”
“Ketika hamba kemari mereka sedang melakukan perundingan
rahasia” tukas Li Sam tiba-tiba ,”Aku rasa perundingan itu sudah
pasti sudah usai sekarang, nah majikan muda kau harus segera
mengambil keputusan!”
Setelah termenung sejenak, Kho Beng bertanya lagi:
“Sam toako, dimanakah ciciku sekarang?”
“Nona masih berada didalam kota Gak yang. Aaai….sebenarnya ia
telah memutuskan akan berangkat malam ini, tapi sejak berita yg
dibawa pihak Sam goan bun tiba disini, ketua istana naga Kiong
Ceng san telah menyebar luaskan identitas Kedele Maut kepada
segenap umat persilatan yg berada diseputar kawasan ini, aku rasa
penjagaan yg mereka lakukan telah diperketat sehingga sulit rasanya
bagi nona untuk meloloskan diri.”
Baru selesai itu diutarakan, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki
manusia bergema dari luar pintu kamar.

Li sam kelihatan amat terkejut, buru-buru bisiknya lagi:
“Ada orang datang, hamba tak bisa berdiam lagi disini. Majikan,
lebih baik kau segera tinggalkan tempat ini, soal keselamatan nona
serahkan saja kepada hamba, nah aku pergi dulu.”
Habis berkata ia segera membuka jendela belakang, lalu tanpa
menimbulkan sedikit suarapun ia menyelinap dan lenyap dibalik
kegelapan sana.
Sementara itu suara langkah menusia telah tiba dimuka pintu,
Kho Beng berpikir sejenak lalu cepat-cepat naik keatas pembaringan,
melepaskan pakaian dan sepatunya lalu menyelimuti badannya dg
selimut dan pura-pura tidur.
Hampir pada saat yg bersamaan tiba-tiba pintu kamar dibuka
orang dan masuklah seorang pendeta gundul beralis putih yg
membawa sebuah tongkat.
Ternyata orang ini tak lain adalah Bok sian tianglo dari Siau lim
pay, orang yg mendatangkan was-was bagi Kho Beng.
Disatu pihak Kho beng baru saja berpura-pura tidur, dipihak lain
pintu dibuka orang secara tiba-tiba, kedua kejadian tersebut boleh
dibilang berlangsung pada saat yg hampir bersamaan.
Diam-diam Kho Beng merasakan hatinya berdebar keras, ia tak
tahu siapakah yg munculkan diri waktu itu, sedang dalam hati
kecilnya diam-diam mengkuatirkan identitas sendiri yg terbongkar.
Sementara itu Bok sian tianglo nampak agak tertegun ketika
melihat Kho Beng sedang tidur nyenyak diatas pembaringan, alis
matanya segera berkerenyit, selintas perasaan bimbang menguasai
hatinya.
Tapi sesaat kemudian ia telah menegur dg lirih:
“Sau sicu, apakah kau belum mendusin?”
Dari suara teguran itu, Kho Beng segera mengenali suara Bok
sian tianglo, jantungnya berdetak makin keras.
Dalam detik itu, ia tak bisa menduga apa maksud dan tujuan
kedatangan hwesio itu kedalam kamarnya, iapun tak tahu jawaban
apa yg mesti diberikan atas pertanyaan itu, menyahut? Ataukah
membungkam saja?
Dalam waktu singkat ia dapat menarik kesimpulan, andaikata ia
bangun untuk memberikan jawaban, perbuatannya ini bakal
mendatangkan banyak titik kelemahan, tapi andaikata berlagak pulas
dg nyenyak, hal inipun dangat mencurigakan, sebab mana ada orang
persilatan yg tidak menaruh kewaspadaan meski selagi pulas?

Dari dua pertimbangan ini, Kho Beng merasa lebih baik memilih
sikap yg lebih gampang dihadapi, ia merasa ada baiknya segera
bangun dari tidurnya dan menghadapi hwesio tersebut.
Sebab ia berpendapat, bila ia tetap berlagak tidur terus, tindakan
ini dimata seorang jago kawakan yg berpengalaman luas justru akan
menimbulkan kecurigaan yg jauh lebih besar lagi.
Begitu keputusan diambil, dia pura-pura menguap keras dan
menjawab sekenanya:
“Siapa disitu?”
Pelan-pelan ia bangkit dari tidurnya dan menatap wajah Bok sian
tianglo sambil mengucek-ngucek matanya.
Bok sian taysu tersenyum, sambil merangkap tangannya didepan
dada ia memberi hormat, sapanya:
“Sau sicu, nyenyak benar tidurmu, maafkan kedatangan lolap yg
kelewat ceroboh…”
Kho Beng tidak membiarkan hwesio itu menyelesaikan katakatanya,
dg berlagak terkejut buru-buru ia mengenakan sepatunya
lalu turun dari pembaringan dan memberi hormat sambil berkata:
“Ooooh, rupanya taysu. Maaf kalau aku yg muda kurang hormat
karena terlelap tidur.”
“Sau sicu kelewat merendah” Bok sian taysu tersenyum ,”Apakah
sau sicu sudah merasa segar kembali?”
Sambil berkata ia duduk ditepi meja.
“sEtelah beristirahat sebentar, rasa penat memang rada hilang,
tapi....ada urusan penting apakah taysu datang kemari?”
Walaupun diluar ia bersikap sopan dan merendah, padahal diamdiam
hawa murninya telah disiap-siagakan, dg tenang ia siap
menghadapi segala kemungkinan yg tak diinginkan.
Tampaknya Bok sian taysu tidak menaruh niat jahat, sikapnya
tetap ramah dan serius ketika mendengar pertanyaan itu, ia segera
menyahut sambil tersenyum:
“Oooh, ketika pertemuan baru bubar tadi, lolap hanya sekalian
datang menjengukmu, aku kuatir sau sicu kelewat penat sehingga
aku sengaja datang untuk menghadiahkan sebutir pil Gi goan kim
wan untukmu.”
Sambil berkata ia segera merogoh kedalam sakunya dan
mengeluarkan sebutir pil emas sebesar kacang kedele yg segera
diangsurkan kehadapan Kho Beng.

Penghormatannya ini bukan saja membuat Kho Beng menjadi
tertegun, bahkan satu ingatan segera melintas didalam benaknya:
“Bukankah dia berniat hendak menghabisi nyawaku? Mengapa
malah menghadiahkan sebutir pil mestika dari Siau lim pay? Janganjangan
isi pil tersebut adalah obat beracun?”
Tapi diluarnya ia bersikap ramah, malah tanpa ragu diterimanya
pil itu sambil mengucapkan terima kasih tiada habisnya:
“Maksud baik taysu tak berani kutampik, pemberian ini cukup
membuat aku yg muda merasa bahagia sekali!”
Habis berkata ia segera memasukkan pil itu kedalam mulut dan
menelannya dg cepat.
Diam-diam ia telah memutuskan, demi keselamatan encinya,
sebelum rencana keduanya berjalan menjadi kenyataan, dia tak
ingin memperlihatkan sesuatu perbuatan yg mencurigakan.
Ini berarti, sekalipun pil itu benar-benar racun, dg pertaruhkan
selembar jiwanya, ia tetap akan menelannya, paling banter disaat
racun itu mulai bekerja, dia akan melancarkan serangan terakhir dg
sepenuh tenaga.
Ketika pil itu menggelinding masuk kedalam perutnya, bau harum
segera menyebar kemana-mana, semangatnya menjadi segar
kembali, terbukti betapa mujarabnya pil mestika dari Siau limpay.
Kho Beng yg dicekam rasa tegang, pelan-pelan menjadi lega
kembali. Ia tahu pil tersebut bukan racun, tapi apa maksud Bok sian
taysu yg sebenarnya? Persoalan ini menimbulkan tanda tanya besar
dalam benaknya....
Sementara itu Bok sian taysu berkata sambil tersenyum ramah:
“Sau sicu, kau jangan kelewat merendah kepada lolap. Oya...mari
duduk, kita berbincang-bincang sebentar.”
“Terima kasih taysu” sahut Kho Beng dg sikap menghormat.
Diluar ia bersikap sungkan-sungkan dan menaruh hormat,
sebaliknya secara diam-diam tenaga dalamnya telah dihimpun
menjadi satu siap menghadapi segala kemungkinan yg tak
diinginkan.
“Bagaimana perasaan sau sicu sekarang?” tanya Bok sian taysu
lagi.
“Tubuhku menjadi segar, kepenatan hilang tak berbekas, nyata
sekali obat mestika dari Siau lim pay memang sangat hebat.”
Kembali Bok sian taysu tersenyum:

“Barusan lolap telah cekcok dg Kiong tayhiap gara-gara satu
masalah, sau sicu kau sebagai anak muda tentu berpandangan lebih
terbuka, lolap harap sau sicu dapat memberikan pula pendapatnya
tentang persoalan tersebut.”
“Taysu terlalu memandang tinggi kemampuan aku yg muda,
padahal aku masih muda, kurang pengalaman dan berpengetahuan
sangat rendah, bagaimana mungkin bisa dibandingkan dg Kiong
locianpwee? Aku kuatir harapan taysu akan menjadi sia-sia belaka!”
Walaupun dia ingin mengetahui persoalan apakah yg dimaksud
Bok sian taysu, akan tetapi diapun sadar bahwa lawannya licik dan
lihay, dalam menghadapi setiap masalah dia harus hati-hati,
karenanya daripada mencari permusuhan atau menyakiti hati lawan,
lebih baik ia berusaha mengumpak dan memakaikan topi kebesaran
diatas kepalanya.
Benar juga umpakan tersebut segera termakan, sambil tertawa
terbahak-bahak Bok sian taysu segera berkata:
“Sau sicu sendiri pun kelewat merendah, pernah kau dengar
pepatah yg mengatakan Sepandai-pandainya tupai melompat
akhirnya toh akan terjatuh juga? Siapa bilang orang pintar tak bisa
menjadi bodoh disuatu ketika….?”
“Kalau toh taysu ingin bertanya, tentu saja aku yg muda akan
berusaha memberi jawaban sedapatnya, tapi bolehkah aku tahu
persoalan apakah yg menjadi pangkal keributan antara taysu dg
Kiong locianpwee.”
Bok sian taysu menghela napas panjang:
“Keributan itu terjadi berpangkal pada berita yg dibawa sau sicu
barusan, setelah menerima berita itu, Kiong lo sicu segera mengajak
lolap dan sekalian jago persilatan mengadakan perundingan rahasia
membahas kedudukan kami saat ini, ia berpendapat kalau toh sau
sicu telah menemukan jejak Kedele Maut yg telah muncul dua ratus
li dari kawasan ini, berarti musuh telah lolos dari jaring atau dg
perkataan lain semua persiapan dan penjagaan yg dilakukan dalam
kawasan seratus li diseputar telaga tong ting dan kota Gak yang
menjadi tak ada artinya, karenanya dia memutuskan untuk
membubarkan saja penjagaan disini dan mengalihkan perhatian
ketempat lain, tapi lolap segera menentang usulan tersebut,
akibatnya muncullah dua golongan manusia yg bertentangan
pendapat serta ngotot dg prinsip masing-masing, hingga rapat bubar
tadi kami belum dapat mengambil suatu keputusan. Nah sau sicu,

bagaimana menurut pendapat pribadimu? Tindakan mana yg
rasanya paling sesuai untuk kita ambil…”
Diam-diam Kho Beng merasa amat terkejut, pikirnya:
“Hwesio gundul ini benar-benar racun tua yg licik dan lihay,
tampaknya dia bermaksud menjebakku dg kata-kata, ini berarti tidak
gampang untuk menghadapi keledai gundul yg licik ini...”
Berpikir sampai disitu, ia segera tersenyum jawabnya:
“Semestinya usul Kiong locianpwee untuk membubarkan
penjagaan disekitar kawasan ini adalah berdasarkan laporan yg
kuberikan tadi, jadi seharusnya usul ini kudukung, tapi aku rasa
pandangan taysu atas usul inipun didasarkan oleh sesuatu alasan,
jadi bukan sengaja hendak mencari keributan. Oleh karena itu
bolehkah aku mengetahui lebih dulu apa yg menjadi alasan
penentangan taysu itu sebelum aku memberikan pandangan?”
Bok sian taysu manggut-manggut:
“Lolap menentang hal ini karena atas dasar pemeriksaan dari
utusanku atas semua penjagaan dan pos yg berada disekitar sini,
menurut laporan hingga sekarang mereka belum pernah
menemukan seorang perempuan yg mencurigakan melewati pos
penjagaan mereka, bukan saja tak pernah menjumpai perempuan
bermuka seram seperti apa yg sau sicu lukiskan tadi, mereka pun
tidak menjumpai gadis-gadis muda berparas cantik, oleh sebab itu
lolap tak percaya kalau Kedele Maut benar-benar sangat ampuh
sehingga dapat lolos dari penjagaan yg demikian ketat ini tanpa
ketahuan jejaknya. Maka dari itu aku berpendapat lebih baik semua
penjaga yg berada diseputar kawasan ini jangan dibubarkan lebih
dulu sambil kita nantikan perkembangan lebih lanjut!”
“Kalau begitu taysu menaruh curiga atas berita yg kusampaikan
tadi..?” tanya Kho Beng pura-pura sangsi.
Sambil tersenyum Bok sian taysu menggelengkan kepalanya
berulang kali:
“Bukan demikian, ketika berada dikota Kwan tong tempo hari,
ada orang yg memberitahukan kepada lolap bahwa jejak Kedele
Maut telah muncul disitu, waktu itu adalah seorang lelaki yg
berdandan sebagi saudagar. Tapi berdasarkan pemeriksaan atas
korban yg berjatuhan ketika itu, kebanyakan mereka tewas oleh
tusukan pedang dan tak seorangpun memperlihatkan tanda kalau
tewas ditangan iblis tersebut. Karenanya lolap tak percaya kalau
saudagar itu adalah Kedele Maut. Kini sau sicu telah memberikan

dua berita yg saling bertentangan pula satu dg yg lainnya, karena itu
lolap berkesimpulan bahwa pihak musuh tentu mempunyai
komplotan. Atas dasar pandangan itulah lolap bersikeras tetap
mempertahankan penjagaan diseputar telaga Tong ting dan kota
Gak yang, asal kita berhasil membekuk komplotan itu tentu tak sulit
pula untuk mencari tahu dalangnya, entah bagaimana menurut
pendapat sau sicu?”
Kho Beng segera memuji:
“Kecerdikan taysu memang sangat mengagumkan, belum tentu
orang lain bisa mengunggulinya, Kiong locianpwee serta taysu sama
pintar, sama-sama lihay. Tapi aku rasa aku yg muda lebih setuju dg
usul dari taysu tadi...”
Bok sian taysu tertawa terbahak-bahak:
Ha…ha….ha…..sau sicu, kau jangan rikuh menentang usulku itu
karena sudah mendengar pendapat lolap barusan. Ketahuilah lolap
selalu mengutamakan kenyataan daripada orangnya. Asal alasan yg
dikemukakan bisa diterima dg akal sehat, lolappun bersedia
melepaskan pendapat sendiri dg mendukung usul orang lain.”
“Kebesaran jiwa taysu benar-benar mengagumkan, selain cerdas
kaupun bijaksana…aaai terus terang saja kukatakan taysu, aku bisa
setuju dg usul taysu bukanlah berdasarkan atas alasan yg taysu
kemukakan tadi.”
“Oya?” Bok sian taysu kelihatan agak terkejut, “Sau sicu bila kau
ingin mengemukakan sesuatu, katakan saja secara blak-blakan, tak
perlu merasa rikuh dan sangsi.”
Kho Beng manggut-manggut.
“Semenjak Kedele Maut mulai membunuh orang, apakah taysu
berhasil menemukan sesuatu gejala tertentu?”
“Gejala apa maksudmu?”
“Walaupun Kedele Maut gemar membunuh tapi ia tak pernah
turun tangan terhadap jago kelas dua atau kelas tiga, setiap kali
melakukan pembunuhan, korbannya selain tokoh dunia persilatan
atau pemimpin dari suatu perkumpulan.”
“Benar!”
“Kini seluruh jago-jago pilihan dari lima propinsi telah berkumpul
disini, kecuali Kedele Maut harus mengubah arah tujuannya untuk
melakukan pembunuhan di utara, aku rasa diwilayah timur maupun
selatan sudah tiada sasaran lagi yg bisa dibunuh, oleh sebab itu aku
berpendapat, asal kegemarannya membunuh masih belum berubah,

akhirnya ia tentu akan muncul dikawasan telaga Tong ting untuk
melakukan pembunuhan. Daripada kita mesti menyebar kekuatan
untuk melakukan pelacakan tak menentu, toh lebih baik memasang
perangkap disini sambil menunggu kedatangannya? Itulah sebabnya
aku rasa usul dari taysu memang tak malu kalau dikatakan suatu
usul yg hebat dan jitu!”
Bok sian taysu menghela napas berulang kali:
“Pandangan sau sicu betul-betul mengagumkan, aaai…sudah
enam puluh tahun lolap berkelana didunia persilatan, namun belum
pernah kujumpai orang yg pintar dan luar biasa macam sau sicu, bila
saja kau tidak memandang rendah perguruan Siau lim pay, apa
salahnya bila kau mengangkat ketua partai kami sebagai gurumu?
Lolap jamin tak sampai tiga tahun Siau sicu pasti sudah menjadi
tokoh wahid dikolong langit!”
Kho Beng berdiri tertegun, ia tak mengira kalau hwesio tersebut
akan mengucapkan perkataan seperti ini.
Andaikata pesan dari ketua Sam goan bun tidakmendengung
disisi telinganya juga Li sam yg baru saja menyampaikan kabar
kepadanya, ia benar-benar akan mencurigai apakah yg didengar ini
benar atau tidak.
Namun tawaran yg disampaikan tersebut justru menyulitkan Kho
Beng untuk menjawab, ia enggan menampik tawaran tersebut
secara terang-terangan, karena kuatir menambah kecurigaan dihati
kecil Bok sian taysu. Namun iapun tak bisa tidak untuk menampik
dendam kesumat sedalam lautan yg terpampang didepan mata,
sedang hwesio itu merupakan salah seorang yg dicurigai, bagaimana
mungkin ia bisa bergabung kedalam perguruannya?
Untuk sesaat lamanya Kho Beng menjadi bimbang, risau dan tak
tahu apa yg mesti dikatakan.
Melihat sikap pemuda tersebut, Bok sian taysu kembali bertanya:
“Apakah sicu menjumpai suatu kesulitan?”
Kho Beng terkejut, buru-buru ie memperlihatkan sikap tulus dan
kesungguhan hatinya seraya berkata:
“Aku yg muda dungu dan tak becus, tak nyana bisa memperoleh
rejeki sebesar ini, tujuh puluh dua macam ilmu silat aliran Siau lim
pay sudah lama termashur didunia, akupun sudah lama
mengaguminya...”
“Kalau begitu sau sicu bersedia?” tukas Bok sian taysu girang.
Sekali lagi Kho Beng menghela napas panjang:

“Sayang sekali aku sudah mempunyai guru, meski aku tak berani
menampik tawaran taysu itu, semua persoalan ini harus kulaporkan
dulu kepada guruku sebelum diputuskan sendiri oleh suhu.”
“Ooooh...rupanya sau sicu sudah mempunyai guru, tapi siapakah
gurumu itu?”
Kho Beng termenung sejenak sambil berpikir sebentar, lalu
menjawab:
“Guruku adalah Unta sakti berpunggung baja...”
“Aaaah…rupanya gurumu adalah Thio lo sicu, salah satu diantara
sepasang unta dari selatan” tukas Bok sian taysu cepat, “Tapi lolap
dengar, Thio lo sicu telah meninggal dunia baru-baru ini…”
Dalam hati kecilnya Kho beng tertawa dingin, tapi diluar buruburu
sahutnya:
“Menurut apa yg kuketahui suhu belum meninggal dunia,
beberapa hari berselang aku sempat cekcok dg perguruan Sam goan
bun gara-gara persoalan ini, akhirnya atas desakanku kuburan itu
dibongkar, saat itulah kami temukan peti mati kosong. Karena itulah
aku menaruh curiga atas mati hidupnya guruku ini. Aaaai…ketua
Sam goan bun licik dan sukar diraba jalan pikirannya sekarang ia
pasti sedang risau karena masalah tersebut.”
Bok sian taysu agak terperanjat, tapi segera katanya:
“Dalam soal ini lolap dapat membantu sicu untuk melakukan
penyelidikan, lolap jamin pihak Sam goan bun tak berani akan
mengeluarkan permainan dihadapanmu…”
“Aaah..atas bantuan taysu sebelumnya kuucapkan banyak terima
kasih” sambung Kho Beng cepat-cepat.
Bok sian taysu segera bangkit berdiri, katanya kemudian:
“Waktu sudah semakin larut, lolap tak akan mengganggu
kesempatan sau sicu untuk beristirahat lagi, sampai besok pagi!”
Habis berkata ia lantas mohon diri, buru-buru Kho beng
menghantarnya sampai diluar pintu.
Bok sian taysu telah pergi, namun Kho Beng yg berada dalam
kamar seorang diri merasakan pikirannya sangat kalut.
Tadi Li sam membujuknya agar pergi, pihak lawan jelas hendak
melakukan suatu tindakan berikut yg tidak menguntungkan bagi
dirinya, sambil menunggu kabar dari utusan yg dikirim ke Pek eng
tong.
Sayang ia tak sempat menanyakan persoalan itu lebih jelas lagi
tadi, sedang hwesio tua itu justru menampilkan sikap yg begini

ramah dan baik budi, rencana keji apakah yg sebetulnya terselip
dibalik kesemuanya ini?
Ia tak dapat menduga teka teki dibalik kesemuanya itu, malah
sebaliknya ia makin risau memikirkan keselamatan encinya.
Akhirnya setelah mempertimbangkan berulang kali, ia
memutuskan akan melaksanakan rencana berikutnya, ia
berpendapat dalam tiga hari mendatang pasti tak akan terjadi
sesuatu perubahan, berarti ia dapat melaksanakan rencana tersebut
dg tenang sebelum akhirnya pergi meninggalkan tempat itu.
Tapi untuk melaksanakan rencananya itu, ia harus
mempersiapkan beberapa macam peralatan, padahal menurut Li
sam, ia sudah berada dibawah pengawasan musuh, lalu bagaimana
caranya untuk mempersiapkan barang-barang yg dibutuhkannya itu/
Setelah putar otak sekian lama, tiba-tiba terlintas satu ingatan
dalam benaknya, pemuda itu segera berpikir:
“Yaa..mengapa aku tidak minta bantuan Li sam untuk
mempersiapkan barang-barang kebutuhanku? Kenapa tidak
kupergunakan pembantu yg amat baik ini?
Berpendapat begitu, ia segera memutuskan untuk tidak
menunda-nunda lagi, segera bangkit dari pembaringan, ia menuju
kejendela belakang dan diam-diam mengintip keluar.
Sejak kepergian Li sam tadi, jendela tersebut belum ditutup, dg
cepat Kho Beng menyelinap ketepi jendela dan mengintip keluar.
Ternyata tempat itu merupakan halaman belakang, tampak
pepohonan tumbuh sangat rindang, gunung-gunung gardu istirahat
tersebar dimana-mana, suatu tempat dg panorama yg indah.
Dibawah cahaya bintang dan rembulan yg redup, suasana dalam
kebun hening, sepi tak nampak seorang manusia pun. Dari letak
bintang diketahui waktu menunjukkan kentongan pertama, ia
menunggu semua orang sudah mulai berangkat istirahat.
Kho Beng tidak tahu siapa yg ditugaskan mengawasi dirinya,
iapun tak tahu dimanakah orang tersebut ditempatkan, tapi ia sadar
alangkah baiknya bila Li sam dapat ditemukan malam ini juga, ia
percaya asal tindak tanduknya cukup berhati-hati, tak bakal sampai
terjadi hal-hal yg tidak diinginkan.
Maka hawa murninya segera dihimpun, bagaikan seekor burung
nuri ia menyelinap keluar jendela dan melayang turun ditengah
halaman, kemudian sesudah memeriksa sekejap seputar situ, ia

menyusup kebelakang sebuah gunung-gunungan, lebih kurang tiga
kaki didepan situ.
Baru saja ia mendekam dibelakang gunungan dan belum sempat
memeriksa diseputar sana, mendadak terdengar ada suara orang yg
sedang berbisik-bisik.
Dalam kagetnya Kho Beng segera menahan perasaannya, sambil
memasang telinga untuk menyadap pembicaraan tersebut.
Dari hasil penyelidikannya, dapat diketahui arah suara tersebut,
yaitu berasal dari balik gunung-gunungan yg lain, malah salah
seorang diantaranya adalah wanita.
“Kebetulan amat” pekik Kho Beng dg perasaan terkejut
bercampur heran,” Malam sudah begini larut, siapakah yg masih
berpacaran disitu....?”
Sementara ia masih termenung, suara pembicaraan telah
bergema kembali, kali ini yg berbicara seorang lelaki, suaranya
rendah lagi amat berat.
Namun setelah Kho Beng mendengar secara jelas nada
pembicaraan orang itu serta apa yg sedang dibicarakan, hatinya
langsung saja bergetar keras sekali.
Ternyata orang yg sedang berbicara dibalik gunungan itu, salah
seorang diantaranya tak lain adalah Bok sian taysu dari Siau lim si,
pendeta yg belum lama berselang meninggalkan ruangannya.
Terdengar Bok sian taysu sedang berkata:
“.....yakinkah li sicu akan hal ini?”
Suara perempuan itu segera menjawab:
“Taysu dapat kukatakan secara pasti bahwa hal itu sama sekali
tak pernah terjadi, sebab semejak mendapat tugas untuk datang
kemari, barang seketika pun Chin siau kun belum pernah tertidur.”
Suasana hening yg kemudian mencekam membuat Kho Beng
merasa hatinya amat tegang, tapi berhubung ia tidak sempat
mengikuti awal pembicaraan mereka, ia belum dapat memastikan
persoalan apakah yg sedang dipermasalahkan kedua orang itu.
Selang beberapa saat kemudian, terdengar Bok sian taysu
berkata lagi:
“Aneh betul, sewaktu lolap mendekati kamar tidurnya tadi, sudah
jelas kudengar ada orang yg sedang berbicara didalam kamarnya,
tapi begitu masuk kedalam kamar ternyata ia masih tertidur sangat –
sangat nyenyak…”

“Bisa jadi Kho sauhiap lagi mengigau lantaran kelewat penat!”
sela Chin siau kun cepat.
Kho Beng yg menyadap pembicaraan tersebut semakin
terperanjat, sekarang ia baru paham, rupanya pembicaraan dg Li
sam tadi telah diketahui pihak lawan.
Untung saja Li sam cukup sigap dan cekatan, coba kalau tidak
niscaya rahasia mereka sudah terbongkar.
Perempuan yg bernama Chin siau kun itu adalah orang yg
ditugaskan untuk mengawasi gerak geriknya selama ini.
Dalam waktu singkat, Kho Beng mulai sadar bahwa keadaannya
dewasa ini meski sepintas lalu nampak aman tanpa ancaman
bahaya, padahal dalam kenyataan posisinya amat kritis dan
berbahaya sekali. Aaai..jika salah melangkah setengah tindak pun,
sudah pasti dirinya akan terjerumus dalam keadaan yg tak tertolong
lagi.
Dalam pada itu terdengar Bok sian taysu telah berkata lagi:
“Lolap yakin ia bukan lagi mengigau sebab suara pembicaraannya
waktu itu sangat lirih dan lembut, sama sekali tidak mengandung
nada yg tinggi rendahnya tidak terkontrol, andaikata ia betul-betul
lagi mengigau, tak mungkin akan memperlihatkan gejala semacam
itu.”
“apakah taysu berhasil mendengar sesuatu?”
“Tidak!”
“Kalau begitu bisa jadi taysu yg salah mendengar….”
“Hmmm! Biarpun usia lolap sudah tua, aku yakin belum sampai di
idapi penyakit semacam itu.”
“Oooh..kalau begitu taysu mencurigai aku telah melalaikan
tugas?”
Dibalik perkataan tersebut, jelas mengandung nada tak senang
hati.
Buru-buru Bok sian taysu menyambung:
“Harap li sicu jangan salah paham, mungkin saja memang lolap
salah mendengar…”
Kho Beng hanya mengikuti pembicaraan tersebut sampai
setengah jalan, dg sangat hati-hati ia segera mengundurkan diri dari
situ.
Ia tahu sudah tiada masalah penting yg bisa diperoleh lagi,
andaikata ia tidak mengundurkan diri lebih dulu, bisa jadi diapun tak
akan bisa kembali kekamarnya lagi.

Tapi dg penemuannya yg tak sengaja ini, setelah berpikir keras
beberapa waktu akhirnya Kho Beng memutuskan tak akan pergi
mencari Li sam lebih dulu sebelum rencana yg telah ditetapkan
terlaksana, meski ia tahu Li sam pasti berdiam diwisma yg sama.
Dg membatalkan niat semula, dg cepat Kho Beng kembali
kedalam kamarnya.
Dari buntalannya ia mengeluarkan kertas dan menulis sesuatu yg
kemudian disimpan dibawah ranjang.
Malam itupun ia tidur nyenyak hingga matahari mulai muncul
diufuk timur.
Kho Beng terbangun ketika ia mendengar ketukan pintu, cepatcepat
ia bangun sambil menengok sekitarnya, ternyata sinar
matahari sudah memancar kemana-mana.
Ia tahu orang yg mengetuk pintu kamarnya tentu salah seorang
dari Kim bersaudara. Cepat-cepat ia bangun dan sapanya:
“Saudara kim kenapa masih berada diluar kamar? Silahkan masuk
…”
Belum lagi pakaiannya rapi dikenakan, pintu kamar telah dibuka
dan ternyata yg muncul bukanlah seperti dugaannya, yg muncul
adalah seorang perempuan.
Jilid 09
Sementara Kho Beng masih termangu-mangu, nona berbaju
kuning itu telah berkata sambil tersenyum:
“Oleh karena hari sudah siang, sedang sauhiap belum juga
bangun dari tidurnya, maka untuk menghindari hal-hal yg tidak
diinginkan, sengaja aku mengganggu tidurmu, tak nyana
perbuatanku ini justru mengejutkan sauhiap dari tidurnya.”
Kho Beng merasa rikuh sekali berbicara dg lawan jenis,
mendengar perkataan barusan, buru-buru ia memberi hormat seraya
berkata:
“Padahal aku yg muda pun harus bangun segera, justru akulah
yg merepotkan nona. Tadi, aku masih menyangka tiga bersaudara
Kim yg telah datang!”
Nona berbaju kuning itu menitahkan pelayan untuk meletakkan
dulu air cuci muka serta sarapan diatas meja, menanti kedua orang
pelayan tadi telah mengundurkan diri, ia baru berkata sambil
tersenyum:

“Fajar tadi telah terjadi suatu peristiwa, kini Kim kong sam pian
sedang mendapat tugas untuk meninggalkan Gak yang, itulah
sebabnya mereka tak hadir kemari. Untuk itu Kiong sincu telah
mengutus diriku untuk menemani sauhiap, harap sauhiap tidak
menganggap asing diriku ini…”
“Peristiwa apa sih yg telah terjadi?”
“Kalau dibilang sesungguhnya persoalan itu ada sangkut pautnya
dg sauhiap.”
Diam-diam Kho Beng merasa terkejut, tapi diluarannya ia
bertanya keheranan:
“Persoalan apa sih yg ada sangkut pautnya dg diriku?”
“Fajar tadi secara tiba-tiba muncul utusan dari Sam goan bun yg
memberitahukan perintah dari ciangbunjin mereka, konon segenap
anggota Sam goan bun yg sedang bertugas diperintahkan untuk
segera pulang keperguruan, bahkan mulai hari ini perguruan Sam
goan bun menutup diri selama tiga tahun dan tak akan mencampuri
urusan dunia persilatan lagi.”
Kho Beng merasakan hatinya bergetar keras, segera tanyanya:
“Apakah utusan dari Sam goan bun itu mengemukakan juga
sebab atau alasannya?”
Nona berbaju kuning itu tersenyum, sahutnya sambil manggutmanggut:
“Konon gara-gara kematian Unta sakti berpunggung baja,
sauhiap telah menunjuk perasaan dg menyerbu kedalam markas
mereka, akibat peristiwa tersebut pihak Sam goan bun memutuskan
untuk mengundurkan diri secara total.”
Kho Beng merasakan hatinya terkesiap tapi diluar ia mendengus
dan pura-pura menjengek dg sinis:
“Hmmm, sekalipun kita tidak didukung belasan jago dari Sam
goan bun, belum tentu hal ini akan mempengaruhi situasi pada
umumnya.”
“Biarpun ucapan itu ada benarnya juga, namun orang-orang
mereka mengundurkan diri kelewat cepat, disaat berita ini tersiar
dibukit Kun san, orang-orang mereka sudah tak nampak batang
hidungnya lagi, akibat dari perbuatan mereka ini Siau lim tianglo
serta Kiong cioanpwee sempat dibikin sewot…”
Diam-diam Kho Beng merasakan hatinya tak tenang, ia tak
menyangka dalam keadaan dan situasi macam ini akan timbul
persoalan lagi yg sama sekali diluar perhitungan.

Walaupun demikian, diluarnya ia mesti bersikap acuh tak acuh,
malah ujarnya kemudian sambil tertawa dingin:
“Segenap jago persilatan telah berkumpul disekitar kawasan
telaga Tiong ting dan Gak yang, yg hadir pun rata-rata merupakan
jago pilihan yg berkepandaian tangguh, buat apa sih kedua orang
cianpwee itu menilai begitu tinggi akan kemampuan Sam goan bun?”
Nona berbaju kuning itu segera tersenyum:
“Justru sauhiap bisa berpendapat demikian karena kau belum
mengetahui keadaan yg sebenarnya, meski para petugas yg berjagajaga
dikawasan sekitar tempat ini hanya dari kaum keroco yg tak
seberapa kemampuannya, asal mereka mendapat tugas dan
tanggung jawab berarti orang itu sudah menjadi rangkaian gelang
yg tak boleh putus, bila diantara rangkaian gelang-gelang tersebut
ada yg pergi meninggalkan tugas tanpa pemberitahuan, sama
artinya dg terbukanya titik kelemahan yg semula rapat, akibatnya
semua penjagaan yg dilakukan seketat dan sekuat itupun menjadi
tak ada artinya lagi.”
Dg perasaan tidak mengerti Kho Beng menggelengkan kepalanya
berulang kali.
Kembali nona berbaju kuning itu tersenyum, jari tangannya yg
lentik segera dicelupkan kedalam air the, lalu dibuatnya sebuah
gambar kipas diatas meja, ujarnya sambil tertawa:
“Tahukah sauhiap benda apakah ini?”
“Kipas”
“Benar” kata nona berbaju kuning itu sambil manggut-manggut,
“posisi penjagaan kita saat ini berupa sebuah kipas dg bukit Kun san
sebagai pangkalnya, para jago yg turut serta dalam pengepungan ini
masing-masing membentuk grup sendiri yg membentang dari dalam
keluar hingga mnyerupai batang-batang tangkai kipas, pihak Sam
goan bun bertugas disekitar wilayah Gak yang, kini mereka
meninggalkan tugas secara mendadak, hal ini sama seperti seluas
permukaan kipas yg utuh tahu-tahu kehilangan setangkai tulang
kipas, andaikata iblis dan komplotannya memanfaatkan kelemahan
yg ada ini untuk melarikan diri, bukankah semua usaha kita selama
ini jadi tak ada artinya? Tak heran kalau Siau lim tianglo serta Kiong
cianpwee menjadi sewot!”
Sehabis mendengar penjelasan ini, diam-diam Kho Beng merasa
terperanjat sekali, ia tak mengira kalau penjagaan yg dipersiapkan
ditempat ini demikian kuat dan rapatnya.

Teringat akan keselamatan enci kandungnya yg makin
berbahaya, pemuda ini menjadi makin risau dan masgul sekali.
Namun diluarnya ia harus menunjukkan sikap menyesal, katanya
dg cepat:
“Aaah, tak kuduga sama sekali gara-gara urusan pribadiku
ternyata berpengaruh besar terhadap situasi ditempat ini…”
“Sauhiap pun tak usah merasa sedih hati karena persoalan ini”
kata nona berbaju kuning itu sambil tersenyum, “untung persoalan
dapat diatasi dg cepat, pihak bukit Kun san telah mengutus Ki, kong
sam pian untuk menutup titik kelemahan dikawasan Gak yang
tersebut pada setengah jam berselang. Aaah betul…buburmu sudah
dingin, silahkan sauhiap segera cuci muka dan sarapan.”
Kho Beng manggut-manggut buru-buru dia cuci muka lalu
sarapan, selesai bersantap ia baru teringat bahwa nona yg
dihadapannya sekarang tidak mirip dg pengurus wisma.
Maka segera tegurnya sambil tersenyum:
“Sudah setengah harian kita berbincang, tapi hingga kini belum
kuketahui nama nona…maaf akan keteledoranku ini!”
Nona berbaju kuning itu segera tersenyum:
“Sauhiap terlalu merendah, aku adalah Chin Sian kun.”
Kontan saja Kho Beng merasakan hatinya bergetar keras, Chin
sian kun? Bukankah dia adalah perempuan yg berbicara dg Bok sian
taysu dibelakang gunung-gunungan semalam?
Sekarang ia baru sadar, rupanya gadis ini mendapat tugas untuk
mengatasi setap gerak geriknya, ini berarti sulit baginya untuk
bergerak secara leluasa selanjutnya.
Berpikir demikian, diam-diam ia berkerut kening dan memutar
otak untuk mencari jalan keluar.
Saat itulah tiba-tiba terdengar seseorang menyapa dari luar
pintu:
“Apakah Kho sauhiap ada?”
“Siapa yg berada didepan pintu? Silahkan masuk!” jawab Chin
sian kun cepat.
Pintu kamar dibuka orang dan muncullah seseorang yg ternyata
tak lain adalah Li Sam.
Berkilat sepasang mata Kho Beng melihat kedatangan rekannya
ini, seakan-akan bertemu dg malaikat penolong, rasa gembiranya tak
terhingga.
Sementara itu Li sam telah berkata sambil tertawa:

“Ooooh, rupanya nona Chin juga berada disini, sauhiap
nyenyakkah tidurmu semalam?”
Sambil balas memberi hormat, sahut Kho Beng seraya tertawa:
“Fajar baru menyingsing, pelayanan dari Kiong tayhiap telah
datang secara lengkap…”
Jelas dibalik perkataan itu masih mengandung maksud lain.
Sementara itu Li sam telah berkata kepada Chin Sian kun:
“Berhubung Kim bersaudara masih punya tugas lain sehingga tak
bisa hadir disini, maka tianglo serta Sincu menitahkan aku orang she
Li untuk mewakili mereka melakukan penyambutan.”
Sambil tersenyum Chin Sian kun manggut-manggut:
“Kho sauhiap baru pertama kali ini datang ketelaga Tong ting, Li
tayhiap mesti menemaninya secara baik-baik, jangan membuat
orang menjadi kecewa.”
Li sam tertawa terbahak-bahak:
“Ha…ha…ha…tak perlu nona pesankan lagi…”
“Yaaa, nona Chin memang kelewat sungkan” sambung Kho Beng
pula, “bukankah hal ini malah membuat aku yg muda semakin
rikuh.”
“Perahu telah disiapkan, silahkan sauhiap,” kata Li sam
kemudian.
“Silahkan saudara!” sahut Kho Beng pula sambil mempersilahkan.
Begitu meninggalkan wisma dan sudah jauh meninggalkan
pengawasan Chin sian kun, Kho Beng baru menghembuskan napas
panjang, seraya berkata:
“Sam ko, semalam aku berniat mencarimu.”
“Hamba mengerti” sahut Li Sam tertawa, karena pembicaraan
kita semalam belum selesai, maka pagi tadi sengaja aku minta ijin
untuk mendapat tugas menemuimu.”
“Apakah Sam ko tidak berdiam didalam wisma?” tanya Kho Beng
agak tertegun.
“Untuk menghadapi perundingan rahasia yg setiap saat bisa
diselenggarakan, tianglo menyuruh hamba berdiam di istana naga
bukit Kun san…”
“Untung aku mengurungkan niatku semalam, kalau tidak
perjalananku tentu akan sia-sia belaka!”
Dg suara berat dan dalam Li Sam berkata:
“Dalam situasi seperti ini, lebih baik kurangilah pergerakan yg
tidak ada artinya, tahukah cukong siapa perempuan cantik tadi?”

Kho Beng manggut-manggut, katanya sambil tertawa dingin:
“Bukankah dia adalah mawar beracun yg bertugas mengawasi
aku?”
Li Sam segera manggut-manggut:
“Kalau toh majikan sudah tahu, hamba pun tak akan banyak
berbicara lagi, tapi ketahuilah Walet terbang berwajah ganda
mempunyai pamor yg cukup baik disekitar kawasan Sam siang,
harap majikan tidak memandang dirinya kelewat enteng.”
Kho Beng mendengus dingin:
“hmmm aku tahu. Dari pembaringan tadi, konon pihak Sam goan
bun telah menarik kekuatannya secara tiba-tiba dan mengumumkan
menutup diri dari kegiatan didunia persilatan, bagaimana reaksi Bok
sian taysu serta Kiong sincu atas peristiwa tersebut?”
“Waktu itu mereka menjadi sewot setengah mati, malah mereka
sempat mencaci maki ketua Sam goan bun habis-habisan dihadapan
anggota Sam goan bun yg membawa berita itu.”
“Maksudku, bagaimana reaksi mereka terhadapku?” buru-buru
Kho Beng meralat.
Li sam menggelengkan kepalanya berulang kali:
“Mereka sama sekali tidak memberikan pernyataan apapun
terhadap diri majikan, dalam hal ini hamba sendiripun merasa
keheranan.”
Kho Beng termenung sebentar, lalu tanyanya lagi:
“apakah Sam ko mempunyai hubungan kontak dg ciciku?”
Kembali Li sam mengangguk.
“Ya ada! Tapi bila tiada urusan yg amat gawat, hamba tak akan
melakukannya, daripada jejak mereka ketahuan orang.”
“Beritahukan alamatnya kepadaku!” desak Kho Beng agak
gelisah.
“Majikan, kau ada urusan apa?” tanya Li Sam agak terkejut.
Kho Beng menggelengkan kepala, katanya setelah menghela
napas sedih.
“Kami telah berpisah sejak kecil, walaupun akhirnya pernah
bertemu namun kedua belah pihak sama-sama tidak mengenal,
itulah sebabnya aku ingin sekali bersua lagi dengannya!”
“Majikan, kau tidak boleh melakukan suatu tindakan hanya atas
dasar emosi” kata Li Sam dg suara berat,” saat dan situasi seperti ini
bukan saat yg tepat bagimu untuk berkumpul kembali, dalam

masalah ini maaf kalau hamba harus merahasiakannya untuk
sementara waktu.”
Kho Beng sendiripun cukup mengetahui akan bahayanya
persoalan tersebut andaikata sampai bocor, maka ia menghela napas
lagi setelah mendengar perkataan tersebut:
“Aaai, dalam selisih jarak sedekat ini kami hanya bisa saling tahu
namun tak dapat saling bersua, takdir memang kelewat kejam
mempermainkan manusia Sam ko, aku telah mempunyai suatu
rencana baik yg bisa mengatur pelolosan ciciku dari kepungan!”
“Apa siasatmu itu?” tanya Li Sam lirih setelah memeriksa sekejap
keadaan disekelilingnya.
Kho Beng segera mengeluarkan kertas yg telah ditulisnya
semalam dan diangsurkan ketangan Li Sam, lalu katanya:
“Rencanaku telah kutulis dikertas itu, harap kau jangan
membengkalaikannya dan persiapkan segala sesuatu secepatnya, dg
begitu rencana tersebut bisa kulaksanakan secepatnya.”
Dg wajah tertegun Li Sam membaca sebentar isi surat itu, tibatiba
paras mukanya berubah hebat, serunya tertahan:
“Majikan muda, buat…buat apa kau…kau membutuhkan
kesemuanya itu?”
Saking terperanjatnya, ia sampai tergagap dan tidak lancar
bicara.
Kho Beng tersenyum:
“Kau harus memahami perasaanku, kali ini kuharap Sam ko tidak
berusaha menghalangi keinginanku lagi!”
“Majikan, jangan sekali-kali kau lakukan perbuatan bodoh” bujuk
Li Sam dg suara berat, “sekalipun rencanamu dapat terlaksana
secara sukses, andaikata kau sendiri sampai melakukan kesalahan,
bukankah hasilnya tetap bakal berabe…”
“Tidak!” tegas Kho Beng, “kesalahan faham ini timbul dariku, jadi
sudah sewajarnya kalau akulah yg bertanggung jawab, apalagi
keputusanku ini sudah bulat, kuharap Sam ko tak usah berniat
membujuk diriku lagi.”
“Bila cicimu mengetahui hal ini, ia pasti tak akan mengijinkan kau
untuk melaksanakannya…”
Tiba-tiba Kho Beng mendelik dg marah, serunya:
“Jelek-jelek begini aku adalah seorang lelaki juga, kalau untuk
melindungi cici saja tak mampu, apa gunanya membicarakan soal
dendam sakit hati…”

Kemudian setelah berhenti sejenak, ia sengaja menarik muka
sambil katanya lagi:
“Sam ko, sebenarnya kau mampu tidak untuk melaksanakannya?
Bila menjumpai kesulitan, biar aku sendiri yg pergi berusaha.”
Li Sam menjadi terpojok, akhirnya ia menghela napas seraya
berkata:
“Aaaai, kalau toh keputusan majikan sudah bulat, tentu saja
hamba tak berani membantah!”
Walaupun begitu namun langkahnya tanpa terasa terhenti juga,
sementara sinar matanya tertuju kearah secarik kertas yg berada
ditangannya, gerak gerik serta sikapnya persis seperti orang yg
kehilangan semangat…
Sebenarnya tulisan apa yg tercantum dikertas Kho Beng?
Ternyata isinya hanya sebuah daftar barang:
“Sebuah payung perak, sebotol bahan pewarna, satu stel pakaian
perempuan berwarna putih, empat tahil lilin putih, satu kantong
kacang kedele hitam, tiga macam perhiasan dan tusuk konde,
sebuah topeng kulit kambing” semua benda itu harus sudah siap
esok malam.
Tak heran Li Sam menjadi gelisah sekali membaca tulisan itu,
karena dari daftar kebutuhan yg tercantum, sudah dapat diduga
rencana apakah yg hendak dilaksanakan pemuda tersebut. Melihat
sikap Li Sam, buru-buru Kho Beng menegur:
“Sam ko, kenapa kau? Apakah ingin memancing kecurigaan
orang terhadap kita.”
Li Sam baru mendusin dari lamunannya sesudah mendengar
perkataan itu, cepat-cepat ia masukan catatan itu kedalam sakunya
lalu berjalan menuju ketepi telaga.
Jarak dari wisma sampai didermaga ditepi telaga paling banter
Cuma enam tujuh puluh kaki, tapi dalam waktu yg amat pendek itu
mereka berdua telah menyelesaikan urusannya.
Diujung dermaga berkibar sebuah panji besar yg bersulamkan
seekor naga emas, sementara ditepi telaga bersandar kurang lebih
lima enam puluh sampan yg berjajar sangat rapi. Kesemuanya
membuat Kho Beng berpendapat bahwa pihak istana naga dibukit
Kun San ini benar-benar memiliki kekuatan yg luar biasa.
Ketika melihat kehadiran mereka berdua, dua orang kelasi
berbaju ungu yg semula berdiri dibawah panji besar itu serentak

memberi hormat dan menyingkir kesamping menunggu mereka
berdua naik keatas sampan.
Kemudian seorang meloncat keujung perahu dan lainnya
melompat keburitan, dg cepat mereka mendayung sampan itu
menuu kearah bukit Kun san…
Dibawah petunjuk Li Sam secara diam-diam, Kho Beng baru
mengerti bahwa penjagaan yg dilakukan pada daerah sekitar Kun
san benar-benar amat ketat.
Sampan yg hilir mudik diatas permukaan telaga kebanyakan
adalah perahu-perahu pengontrol dari pihak Kun san. Kode rahasia
mereka siang malam selalu berubah, jangan hatap orang lain dapat
menyusup masuk kedalam wilayah sana tanpa diketahui.
Tiba dipantai bukit Kun san dan sepanjang jalan menuju kepintu
gerbang istana naga, pos penjagaan semakin sering, begitu ketatnya
penjagaan seolah-olah sedang menghadapi musuh tangguh saja.
Menyaksikan kesemuanya ini, diam-diam Kho Beng menjulurkan
lidahnya karena ngeri.
Terasa olehnya situasi semacam ini betul-betul sulit untuk
ditembusi dan tanpa terasa ia makin pesimis terhadap kemampuan
yg dimilikinya bersama encinya.
Benarkah gara-gara sejilid kitab pusaka Thian goan bu boh dunia
persilatan telah berubah menjadi demikian repot sampai saling
bermusuhan satu sama lainnya.
Kho Beng yakin dibalik kesemuanya ini pasti masih terselip halhal
yg tak beres.
Dlm perasaan yg serba kalut dan tegang, ia melangkah masuk
keruang tengah istana naga yg kokoh dan megah dan untuk
kesekian kalinya bertemu lagi dg Bok sian taysu serta ketua istana
naga Kiong Ceng san…
Dibawah tatapan mata orang banyak, kedua orang tokoh silat ini
menunjukkan sikap yg amat hangat terhadap Kho Beng, malah
mereka sama sekali tidak menyinggung soal pengunduran diri
anggota Sam goan bun secara tiba-tiba pagi tadi.
Tapi situasi demikian bukan berarti melegakan Kho Beng,
sebaliknya ia justru semakin tak tenang, ibarat duduk diatas jarum,
ia tak pernah bisa tenangkan hatinya.
Tapi Kho Beng cukup pengertian, sikap ramah dan bersahabat
dari pihak lawan terhadap dirinya sekarang hanya disebabkan
identitas serta asal usulnya belum mereka ketahui.

Kalau bukan demikian, mungkin saja mereka telah turun tangan
keji sedari tadi.
Dg susah payahperjamuan baru bisa diselesaikan tengah malam,
dg perasaan yg tak karuan Kho Beng kembali kewisma dg
menumpang perahu.
Malam itu boleh dikata Kho Beng tak dapat memejamkan mata,
ia pergunakan sisa waktu yg ada untuk merencanakan tindakan yg
harus dilakukannya esok malam….
Malam ini adalah hari ketiga setelah kedatangan Kho Beng
ditelaga Tong ting.
Kentongan pertama belum lagi lewat, sesosok bayangan hitam
telah menyelinap dari luar halaman wisma dan menyusup kedalam.
Baru saja bayangan itu berkelebat lewat dari tengah kebun sudah
terdengar seseorang membentak dg suara nyaring:
“Siapa disitu?”
Chin sian kun sampak munculkan diri dari balik gunungan dan
maju menghadang jalan pergi bayangan hitam tersebut dg gerakan
tubuhnya yg enteng seperti burung walet.
Namun setelah berhasil melihat jelas wajah tamu yg tak diundang
itu, seketika itu juga ia dibuat tertegun.
Ternyata pihak lawan adalah seorang perempuan berkerudung
putih yg menggembol sebuah buntalan.
Nampaknya tamu yg tak diundang tersebut sudah menguasai
penuh situasi disekitar tempat itu. Dg santai dia m emberi hormat
kepada si burung walet berwajah ganda Chin sian kun, lalu serunya
melengking:
“Chin lihiap tak usah menghalangi diriku, coba lihat bukankah
Siau lim tianglo sedang memanggilmu dari balik jendela sana?”
Sembari berkata, ia menunjuk kearah belakang tubuh Chin sian
kun….
Untuk kedua kalinya Chin sian kun tertegun, kemudian berpaling
kebelakang dg cepat.
Tapi pada saat itulah, jari tangan kiri perempuan berbaju hitam
itu telah menyodok kemuka dg cepat dan langsung mengancam
jalan darah kaku tubuh Chin sian kun.
Serangannya sangat cepat bagaikan sambaran kilat,
ketepatannya pun sangat mengagumkan.

Dalam keadaan yg sama sekali tak siaga, tentu saja Chin sian kun
tak mampu menghindarkan diri, tak ampun jalan darah tidurnya
segera tertotok oleh perempuan berkerudung putih itu.
Mungkin sikapnya waktu itu kelewat teledor atau mungkin juga
sikap perempuan berkerudung putih itu kelewat santai, ternyata si
walet terbang berwajah ganda yg termasyur disekitar wilayah Sam
siang dapat dirobohkan ditengah kebun dlm keadaan tak jelas.
Begitu berhasil dg serangannya, perempuan berkerudung putih
itu segera melayang kebelakang jendela kamar tidur Kho Beng dan
mengetuk tiga kali.
Waktu itu Kho Beng sedang menanti didalam kamar dg gelisah,
mendengar suara ketukan tersebut cepat-cepat ia membuka jendela
seraya menegur:
“Apakah Li Sam ko yg datang?”
Sesosok bayangan hitam menyelinap masuk kedalam kamar dg
gerakan yg amat cepat, kemudian menutup jendela rapat-rapat.
Namun Kho Beng segera dibikin tertegun setelah menyaksikan
siapa yg muncul dihadapannya, sebelum ia sempat
mengucapkansesuatu, perempuan berkerudung putih itu telah
meloloskan kain kerudung muka serta rambut palsunya, ternyata dia
tak lain adalah penyaruan dari Li Sam yg ditunggu-tunggunya.
“Sam ko mengapa kau menyaru macam begini?” Kho Beng
segera menegur dg keheranan.
Sambil tertawa Li Sam menurunkan buntalan panjang dari
bahunya, lalu menjawab:
“Sejak memasuki halaman ini, hamba telah merobohkan si budak
Chin sian kun, dg demikian bila kau pulang seusai pekerjaanmu
nanti, siapapun tak akan mencurigai dirimu!”
Kho Beng manggut-manggut, dg cepat ia membuka buntalan
tersebut., ternyata semua barang kebutuhannya sudah siap sedia.
Maka dia pun segera turun tangan menjahit kulit kambing yg
dibentuknya menjadi selembar topeng, tak sampai setengah jam
kemudian selembar wajah yg menyeramkan seperti muka kuntilanak
telah terbentuk.
Dibawah bantuan Li Sam, ia segera menggerakkan rambut palsu,
memakai baju, menggembol kantung kedele dan mempersiapkan
diri.

Tak selang beberapa saat kemudian, Kho Beng telah berubah
menjadi seorang perempuan berwajah jelek yg mengenakan baju
warna putih.
Sambil menggenggam payung putih, Kho Beng mulai berjalan
dalam ruangan mempelajari cara berjalan yg tepat, lalu tanyana
kepada Li Sam sambil tertawa:
“Miripkah diriku dg sikedele maut?”
Li Sam segera tersenyum.
“Bagaimanapun juga selain kau seorang, belum pernah ada
manusia lain yg pernah bersua dg cicimu, asal tidak terkurung, aku
pikir orang lain tentu dapat dikelabui.”
Kho Beng manggut-manggut, tanyanya lagi:
“Kau sudah memberi kabar kepada ciciku?”
Li Sam menghela napas panjang.
“Hamba telah berkunjung ketempat persembunyian cicimu, yakni
kuil Hian tin li tokoan yg berada ditengah kota Gak yang, disitu
kutemukan cicimu sudah meninggalkan tempat tersebut, sambil
meninggalkan tanda “aman”. Oleh sebab itu boleh dibilang saat ini
hamba sendiripun telah kehilangan kontak dgnya1”
Kho Beng tertegun.
“Apakah tanda tersebut bisa diartikan ciciku telah meninggalkan
kota Gak yang dalam keadaan aman?”
“Bebicara menurut tanda itu, apakah cicimu sudah pergi
meninggalkan kota ataukah hanya berpindah tempat
persembunyian, hal ini baru bisa diketahui besok pagi.”
Kho Beng termenung beberapa saat lamanya, kemudian
manggut-manggut.
“Untuk menghindari hal-hal yg tak diinginkan, aku akan tetap
melaksanakan rencanaku semula, Sam ko, menurut penilaianmu
penjagaan dibagian manakah dari pihak istana naga yg kau anggap
paling lemah?”
Li Sam berpikir sejenak, kemudian menjawab:
“Jalan yg menuju kearah timur laut kota Gak yang merupakan
bagian yg paling banyak penjagaannya tapi justru bagian tersebut yg
paling lemah, daerah sana dijaga Kim kong sam pian, setelah keluar
kota maka sepanjang perjalanan dijaga oleh orang-orang Hoa san
pay, kecuali Hek pek ji lo dua sesepuh hitam putih dari Hoa san pay,
lainnya tak perku dirisaukan.

“Bagus sekali!” kata Kho Beng kemudian sambil manggutmanggut,
“Kau harus segera pergi mencari ciciku, suruh dia
berusaha meloloskan diri disaat aku memancing kawanan jago
lainnya menuju kearah timur laut kota Gak yang.”
“Ada tiga persoalan yg perlu hamba laporkan kepada majikan!”
kata Li Sam setelah manggut-manggut.
“Soal apa?”
“Tanda bahaya yg dipergunakan pihak mereka dimalam hari
adalah asap api, apabila asap kuning yg dilepaskan berarti
menjumpai bahaya, bila asap putih berarti kesalah pahaman
sebaliknya bila muncul asap merah berarti jejak kedele maut telah
ditemukan. Ini berarti segenap jago dari pelbagai kawasan akan
segera berkumpul dari segala penjuru untuk melakukan
pengepungan. Oleh sebab itu apabila cukong menjumpai tanda asap
merah janganlah sekali-kali melibatkan diri dalam pertempuran
sengit!”
Kho Beng segera manggut-manggut.
Li Sam berkata lebih jauh:
“Soal kedua adalah soal telaga Tong ting sebagai pusat kekuatan
mereka yg menembus sampai kota Gak yang. Bila menuju kearah
timur laut maka penghadangan hanya terdapat pada sepanjang
sungai tiang kang hingga telaga Sam hong oh, asal majikan dapat
menghindari penjagaan dan mampu melewati telaga Sam hong oh
berarti kau telah tiba tempat yg aman, tapi andaikata situasi amat
darurat sehingga tak mampu meloloskan diri, silahkan majikan
menelusuri sungai kira-kira sejauh lima puluh li, disitu terdapat hutan
gelugu yg amat rimbun, asal majikan bersembunyi dibalik gelugu
tadi, tentu ada orang yg akan munculkan diri untuk menolong
dirimu.”
“Siapakah dia?” tanya Kho Beng agak tertegun.
Li Sam segera tersenyum:
“Sampai waktunya majikan akan mengetahui sendiri.”
Selesai berkata ia segera menyembah kepada Kho Beng seraya
berpesan lagi dg suara dalam:
“Harap majikan menjaga diri baik-baik, bagaimanapun juga harap
kau lebih mementingkan jiwa sendiri daripada persoalan yg lain...”
Kho Beng cepat-cepat balas memberi hormat sambil menjawab:
“Terima kasih banyak untuk nasehat Sam ko, seperti diketahui
maksud tuuanku hanya memancing musuh untuk meninggalkan pos

penjagaan, bila keadaan tidak terlalu mendesak tak nanti kulibatkan
diri dalam suatu pertarungan yg tidak menguntungkan, biarpun
dendam kesumat sedalam lautan namun sebelum duduk persoalan
menjadi jelas, Kho Beng tak akan melakukan pembunuhan secara
besar-besaran, kuharap Sam ko pun bisa membujuk cici ku agar
mengurangi sifat suka membunuhnya, apalagi musuh berjumlah
sangat banyak, biar dibunuh lebih banyak pun bukan berarti bisa
menyelesaikan persoalan!”
Li Sam pun manggut-manggut, maka mereka berdua pun saling
bertatapan beberapa saat, seakan-akan setelah perpisahan kali ini
entah mereka dapat bersua kembali atau tidak.
Ungkapan perasaan yg amat tulus dan tebalpun terpancar jelas
dalam detik-detik seperti ini.
Jendela belakang masih terbuka lebar, akhirnya setelah
mengucapkan “jaga diri baik-baik”, Li Sam menyelinap keluar dari
ruangan tersebut dan lenyap dibalik kegelapan sana.
Waktu itu kentongan pertama sudah menjelang tiba, Kho Beng
menunggu sampai sepeminum the lamanya semenjak kepergian Li
Sam, setelah membereskan buntalan lalu ia menyusup keluar pula
lewat jendela belakang.
Suasana dalam kebun amat sepi, nampaknya belum ada yg tahu
kalau si walet terbang berwajah ganda telah dirobohkan orang.
Kho Beng mencoba memperhatikan sejenak suasana sekitar situ,
kemudian ia bergerak menuju kearah kiri kemudian menyulut api yg
telah dipersiapkan untuk membakar gedung.
Memang inilah rencananya untuk memancing perhatian musuh,
menanti api sudah berkobar hingga membumbung keangkasa dan
suasana gaduh memecahkan keheningan dalam wisma, ia baru
tertawa seram sambil bergerak menuju kearah kota Gak yang.
Dalam gerakan mana, ia sempat melihat asap kuning telah
ditembakkan ketengah udara, lalu dibawah cahaya api yg membara,
ia melihat dg jelas ada lima enam sosok bayangan manusia sedang
mengejar dibelakangnya…..
Diam-diam Kho Beng merasa bangga dg hasil pekerjaannya,
sambil mempercepat larinya ia melompat tembok kota dan bergerak
cepat menuju kearah timur laut.
--------missing page 38 – 41 -----------

…dan merupakan suatu kerjasama yg sangat rapat.
Mau tak mau Kho Beng terkejut juga menghadapi ancaman
tersebut, pikirnya:
“Tak aneh kalau pihak lawan begitu tinggi hati ketika bertemu
pertama kali dulu, nyatanya ilmu ruyung penakluk iblisnya betulbetul
sangat hebat dan tangguh!”
Dg payung menggantikan pedang, pemuda kita tak berani
bertarung lebih jauh, serangannya segera diurungkan ditengah jalan
dan buru-buru melompat kesamping untuk menghindari serangan
musuh.
Baru saja ia bermaksud untuk melepaskan diri dari kepungan,
mendadak tampak olehnya Kim losam menyerbu datang, ruyung
panjangnya disertai desingan tajam langsung mengancam batok
kepalanya.
Bersamaan waktunya, terdengar dua kali bentakan nyaring
bergema dari belakang tubuhnya, ia mendengar desingan suara
senjata tajam menyambar tiba dan mengancam punggungnya.
Diserang dari muka dan belakang, terpaksa Kho Beng harus
membuang badannya kesamping untuk menghindarkan diri.
Sebagaimana diketahui payung Thian lo san yg berada
ditangannya adalah benda palsu, meski permukaan payungnya
berwarna perak, namun sesungguhnya hanya tempelan kertas.
Itulah sebabnya Kho Beng harus mempergunakannya dg hati-hati
sekali, ia tak berani melancarkan serangan balasan, karena takut
hasil penyamarannya ketahuan orang sehingga semua rencana gagal
total.
Siapa tahu, pada waktu ia sedang berkelit kekiri menghindar
kekanan inilah, tiba-tiba terdengar Kim li jin membentak keras, lalu
terasa tangannya mengencang…
Ternyata payung bulatnya telah terlilit oleh senjata ruyung lawan
Sementara itu kedua senjata ruyung lainnya telah berkelebat pula
ditengah udara, diantara kilauan cahaya, senjata-senjata itu
menyambar pula kepinggangnya.
Dalam dua gebrakan sudah terjerumus dalam posisi terdesak, hal
ini membuat Kho Beng yg sudah gugup dan kalut pikirannya
semakin terperanjat lagi.
Ia tak berani membuang payung itu, namun bila tidak dilepaskan
payung tersebut berarti gerakan tubuhnya akan terperangkap
kepungan lawan, bukan hanya ancaman ruyung itu saja yg mesti

diperhitungkan, terutama sergapan jago tangguh dari belakang
tubuhnya.
Berada dalam keadaan seperti ini, mau tak mau Kho Beng harus
mempertaruhkan selembar jiwanya.
Hawa murninya segera dihimpun kedalam payung itu kemudian
sambil membentak, payung itu digetarkannya keras-keras untuk
melepaskan diri dari belenggu ruyung tersebut.
Dalam getaran ini telah disertakan juga tenaga dalam hasil
latihan empat puluh tahun dari Bu wi lojin, bisa dibayangkan sendiri
bagaimana akibatnya…
Waktu itu sebenarnya Kim lo ji bermaksud hendak mengunci
senjata Kho Beng hingga tak mampu dipergunakan lagi, siapa tahu
getaran lawan membuat telapak tangannyanya menjadi belah dan
berdarah.
Saking kaget dan ngerinya, ia segera menjerit keras dan
melepaskan ruyungnya sambil buru-buru mundur.
Sementara itu Kho Beng telah mengayunkan payungnya
mengikuti gerakannya tadi, lagi-lagi ia menggetarkan ruyung kedua
sampai mencelat kebelakang.
Walaupun jurus ruyung dari Kim hong sam pian termasyur karena
kehebatannya, ternyata sama sekali tidak mampu menahan getaran
tenaga dalam lawan.
Dalam terkesiapnya tubuh Kim lotoa dipentalkan sampai
terhuyung maju dua langkah, akibatnya ia jadi menghalangi gerak
kelima orang lainnya.
Biarpun serangan yg digunakan Kho Beng sekarang belum
terhitung merupakan suatu jurus serangan, namun kehebatannya
sudah etrbukti dg jelas.
Maka begitu melihat situasi sudah semakin rawan, ia merasa
inilah kesempatan terbaik untuk meninggalkan tempat tersebut,
karenanya setelah menggetar lepas tiga buah ruyung lawan, ia
menerjang maju kemuka dan berseru sambil tertawa dingin:
“He…he….he…kuampuni kedelapan lembar jiwa anjing kalian
pada malam ini, sampaikan kepada keledai gundul dari Siau lim
bahwa penjagaan yg dilakukan disekitar tempat ini belum cukup
mampu untuk menyulitkan Kedele Maut!”
Waktu itu rasa terkejut dan ngeri yg mencekam Kim kong sam
pian sekalian belum lenyap, meski Kho Beng sudah bergerak

meninggalkan tempat tersebut namun untuk beberapa saat lamanya
mereka masih berdiri mematung ditempat semula.
Saat ini, dalam hati kecil mereka sama mempunyai satu
pandangan yg sama, yakni Kedele Maut memang nyata bukan
musuh sembarangan.
Salam pada itu, dari ujung atap rumah dikejauhan sana telah
muncul belasan sosok bayangan manusia, terdengar seorang
diantaranya berteriak keras.
“Tanda bahaya asap merah telah dilepaskan, apakah disini telah
terjadi sesuatu peristiwa?”
Buru-buru Kim lotoa menyahut:
“Kedele Maut telah melarikan diri kearah timur laut!”
Kemudian sambil memandang sekejap kearah rekan-rekannya,
dia mengulapkan tangan sambil berseru lagi.
“Hayo kita kejar!”
Sekali lagi kedelapan orang jago tersebut berkelebat kemuka
melakukan pengejaran.
Sesungguhnya kedelapan orang jago ini sudah dibikin keder oleh
kelihaian dan kemapuhan tenaga sakti Kho Beng, tapi terdesak oleh
situasi dan keadaan terpaksa mereka harus melakukan pengejaran
kembali.
Maka suasana didalam kota Gak yang pun menjadi sangat kalut,
sekalipun tengah malam sudah menjelang, namun diatas-atas setiap
bangunan rumah telah dipenuhi oleh jago-jago lihay dari dunia
persilatan, bayangan manusia berkelebat kian kemari dg cepatnya.
Memanfaatkan situasi yg sangat kalut ini, Kho Beng segera
menghimpun tenaga dalamnya dan melompati pintu utara kota Gak
yang untuk kabur menuju kearah timur laut.
Walaupun ia berhasil lolos dari kepungan, tapi sesungguhnya
pemuda ini merasa terkejut juga sampai mandi keringat dingin.
Padahal menurut Li Sam, penjagaan daerah sini terhitung
penjagaan terlemah, tapi kenyataannya dg kemampuan yg dimiliki
Kim kong sam pian pun nyaris penyamarannya terbongkar, bisa
dibayangkan betapa ketat dan kokohnya penjagaan diposisi lain.
Sekarang ia berpendapat untuk sedapat mungkin berlomba dg
waktu, atau dg perkataan lain ia harus dapat meninggalkan tempat
tersebut setelah lawan melepaskan bom asap merah dan sebelum
bala bantuan dari pelbagai penjuru memburu kesitu dan
mengepungnya.

Sebab kalau tidak begitu sama artinya rencana yg dilaksanakan
menemui kegagalan total, apalagi bila ia sampai terkurung hingga
tertangkap, akibatnya tentu susah diramalkan.
Berpikir sampai disitu tanpa terasa ia menambah tenaganya dg
dua bagian untuk kabur sekuat tenaga.
Dalam waktu singkat tiga li sudah dilalui, disisi kirinya telah
membentang sungai Tiang kang yg luas sementara disisi kanannya
adalah lapang datar, dimana jauh beberapa li dari sisi jalan baru
kelihatan beberapa rumah penduduk.
Sementara ia masih berlarian kencang, tiba-tiba dari rumah
penduduk disisi kanan jalan menyembur keluar bom asap merah yg
meledak ditengah udara menyusul kemudian tampak tiga sosok
bayangan hitam munculkan diri dari balik rumah dan meluncur
sejauh lima kaki di depan.
Dalam waktu singkat mereka telah menghadang ditengah jalan
dg pedang terhunus.
Sekarang Kho Beng baru mengerti bahwa pihak jago persilatan
telah memanfaatkan pula rumah penduduk sebagai pos penjagaan,
tak heran kalau meeka bisa melaksanakan penjagaan siang malam
tanpa henti.
Karena para penjaga telah tampilkan diri, mau tak mau kho Beng
harus bersikap tenang, sambil mempersiapkan payung bulatnya,
pelan-pelan ia mendesak maju kemuka dan berseru sambil
melengking:
“apakah murid hoa san pay yg menghadangku? Hmmm,
nampaknya kalian sudah bosan hidup!”
Seperti diketahui, umat persilatan sudah mempunyai kesan jelek
terhadap Kedele Maut, yakni seorang pembunuh yg buas dan berhati
keji, karena itulah dia sengaja menggertak dg maksud merontokkan
dulu moril lawan.
Betul juga paras muka ketiga jago Hoa san pay yg berusia antara
tiga puluh tahunan dan memakai pakaian ringkas hitam segera
berubah hebat, seakan-akan mereka merasakan datangnya ancaman
maut yg setiap saat dapat menimpa dirinya atau secara lamat-lamat
mereka berpendapat bahwa mereka bertiga pasti akan tewas apabila
Kedele Maut sampai turun tangan.
Salah seorang diantaranya segera memandang sekejap kearah
rekannya, sambil menempelkan pedang didepan dadanya ia
memberi hormat kepada Kho Beng dan berkata dg suara gemetar:

“Berhubung tanda bahaya asap merah telah dilepaskan, Hoa san
sam kiam menanti dg hormat kedatangan cianpwee!”
Kho Beng tertegun, reaksi dari lawannya sama sekali diluar
dugaan, terutama sekali sebutan “cianpwee” tersebut, hampir saja
membuatnya tertawa geli.
Tapi diluaran dia sengaja mendengus dingin, kemudian dg suara
yg tinggi melengking katanya:
“Hmmm, tiga pedang dari Hoa san yg cerdik, rupanya kalian
hendak merayuku dg sikap tak hormat?”
Buru-buru pemimpin dari tiga pedang tersebut berkata lagi dg
hormat:
“Aku yg muda tak berani bersikap kurang ajar pada Cianpwee,
kami hanya berharap cianpwee suka menunggu sebentar saja
disini!”
Kho Beng tertawa terkekeh-kekeh, sambil memutar payungnya ia
menjengek lagi dingin:
“Ooooh, kau suruh aku menunggu disini agar orang-orangmu
datang kemari dan mengeroyokku seorang diri?”
Tiga pedang dari Hoa san pay nampak terkejut, sebelum mereka
sempat berkata sesuatu, Kho Beng telah membentak lagi dg suara
lengking:
“Hmm, tak nyana kalian menyembunyikan golok dibalik
senyuman, bagus sekali jangan kabur dulu rasakan payung saktiku
ini!”
Sambil membentak keras gerakan payungnya digetarkan
sedemikian rupa hingga tercipta sebuah lingkaran cahaya putih yg
amat menyilaukan mata kemudian menerobos kemuka dan menusuk
tubuh pemimpin dari ketiga jago pedang tersebut.
Berubah hebat paras muka tiga pedang sakti dari Hoa san karena
mereka tidak mengira perbuatan sakti apakah yg tersembunyi dibalik
jurus serangannya, ternyata tak seorang berani menangkis atau pun
menghadapinya.
Tanpa membuang waktu, serentak mereka bergerak mundur
sejauh tiga depa lebih dari posisi semula.
Padahal memang inilah keinginan Kho Beng, memanfaatkan
kesempatan tersebut ia menerjang kedepan tiga pedang dari Hoa
san seraya membentak lagi:
“Mengingat kalian bersikap sopan kepadaku, untuk sementara
waktu kuampuni jiwa kalian pada malam ini, sampaikan kepada

ketua partai kalian agar segera menarik kembali anak buahnya dan
jangan mencampuri urusan orang lain!”
Berbicara sampai disitu, tubuhnya sudah melompat sejauh dua
puluh kaki dari posisi semula.
Mnanti musuhnya sudah pergi jauh, paras muka tiga pedang dari
Hoa san lambat laun baru pulih kembali ari ketegangan.
Ketika dilihatnya, dari kota Gak yang telah berdatangan
serombongan jago persilatan, buru-buru pemimpin dari Hoa san sam
kiam membentak keras:
“Bala bantuan telah datang, mari kita kejar!”
Kho Beng terkejut sekali, rasa tegang kembali menyelimuti
seluruh perasaannya.
Ia sadar, tak boleh berdiam lebih lama disitu, bila murid-murid
Hoa san pay sampai berhasil mengejar dan mencegatnya sedang
jago-jago lihay dari kota Gak yang segera akan berhamburan
datang, niscaya ia akan terjepit dan terkepung sama sekali.
Bila hal seperti ini terjadi, tak pelak lagi jiwanya tentu akan
terancam bahaya maut.
Setelah berpikir berapa saat akhirnya ia menjadi nekad untuk
kabur kedepan lebih jauh.
Lebih kurang satu kentongan kemudian ia berlarian tanpa arah
tujuan, akhirnya dari antara pepohonan yg lebat ia berhasil
menemukan sebuah jalan setapak yg entah berhubungan sampai
dimana.
Dalam keadaan seperti ini, tiada kesempatan lagi buat Kho Beng
untuk berpikir panjang, begitu menjumpai jalan setapak ia segera
menelusurinya dg cepat.
Siapa tahu belum sampai satu li, tiba-tiba dari balik sebatang
pohon terdengar seseorang membentak keras:
“Berhenti! Sobat darimana yg datang kemari tengah malam
begini? Ada urusan apa kau kemari?”
Ditengah bentakan, tampak sesosok bayangan manusia meluncur
kedepan dg kecepatan tinggi dan menghadang jalan perginya
ternyata dia adalah seorang tosu setengah umur yg memakai baju
warna kuning.
Kho Beng sama sekali tidak menyangka kalau dijalan sesepi
inipun terdapat musuh, dalam kagetnya cepat-cepat dia
menghentikan langkahnya sambil memutar senjata payung dan
berlagak seolah-olah hendak menyebarkan kedele mautnya.

Lalu dg suara tinggi melengking ia membentak keras:
“Tosu setan! Buat apa kau banyak bertanya, memangnya
matamu sudah buta sehingga tak bisa mengenali siapakah diriku?”
Walaupun tosu itu baru berusia tiga puluh tahunan, namun
sepasang matanya memancarkan cahaya tajam, jelas kalau dia
adalah seorang jago persilatan yg berilmu tinggi.
Tatkala mendengar teguran tersebut, serta merta ia
memperhatikan lawannya dg lebih seksama, air mukanya segera
berubah hebat, tanpa sadar tubuhnya mundur dua langkah
kebelakang, serunya tertahan:
“Jadi andakah si Kedele Maut?”
Kho Beng tertawa dingin.
“He…he…he….setelah tahu siapakah aku, buat apa kalian berdiri
mematung terus disitu?”
Ternyata reaksi dari tosu itu cukup cekatan, tiba-tiba dia
mengayun kan tangan kirinya dan….
“Sreeeettt…….”
Sebuah bom udara berasap merah sudah dilepaskan dan meledak
ditengah udara.
Melihat perbuatan lawannya ini diam-diam Kho Beng tertawa geli,
pikirnya:
“Tak nyana perbuatan mereka sama satu dg yg lainnya….Cuma
tosu ini dari partai mana? Seingatku, hanya Kio kiong dan Bu tong
saja yg beranggota tosu?”
Meskipun ingatan tersebut melintas dalam benaknya, namun ia
tak berani berayal lagi, secepat anak panah yg terlepas dari
busurnya, dia segera melintas lewat dari samping tosu itu meluncur
kedepan dg kecepatan tinggi.
Tosu itu nampak agak tertegun, mungkin lantaran ucapan Kho
Beng maka dia masih mengira akan terjadi pertempuran yg amat
seru.
Siapa tahu, si Kedele Maut yg sudah termasyur karena
keganasannya ternyata meninggalkan korbannya dg begitu saja
tanpa terjadi pertarungan barang satu dua juruspun.
Dg cepat ia segera menggerakkan tubuhnya melakukan
pengejaran, bentaknya keras:
“Hei, tunggu sebentar!”

“Kho Beng menegur, dia tak menyangka musuhnya masih
menghalangi kepergiannya padahal ia sedang berperan sebagai
Kedele Maut yg disegani sekarang.”
Mau tak mau pemuda tersebut harus menghentikan langkahnya,
lalu sambil menatap tosu tersebut dg pandangan dingin, tegurnya
keras-keras:
“Apakah kau sudah bosan hidup?”
Tosu setengah umur itu tertawa nyaring.
“Pinto Leng hun menjabat sebagai pemimpin pelindung hukum
dari Bu tong pay, meski takut mati namun tak akan kulepaskan iblis
keji macam anda dg begitu saja, pinto merasa berkewajiban
menegakkan kebenaran dan keadilan didunia ini. Apa artinya mati
hidup buat diriku ketimbang memberantas kejahatan dari muka
bumi? Karenanya sebelum anda dapat membinasakan diriku, jangan
harap bisa pergi meninggalkan tempat ini dg leluasa…!”
Begitu selesai berkata, pedangnya langsung digetarkan dan
menusuk ke uluhati Kho Beng.
Mengingat musuhnya sudah termasyur karena ketangguhan dan
keganasannya, maka tosu dari Bu tong pay ini tak berani bertindak
gegabah, untuk menghindari segala kemungkinan yg tak diinginkan,
begitu turun tangan ia segera mengeluarkan jurus “cahaya hitam
bayangan memecah” yg merupakan jurus serangan paling tangguh
dari ilmu pedang Thian hiam kiam hoat, ilmu andalan Bu tong pay.
Tidak terlukiskan rasa terkejutnya Kho Beng, dg cepat ia eyusut
mundur kebelakang kemudian menyilangkan payungnya didepan
dada sambil bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yg tak
diinginkan.
Ia sadar kalau dirinya sudah terjerumus kedalam kawasan yg
dijaga oleh pihak Bu tong pay, dan lebih-lebih tak diduga olehnya
adalah sikap jantan dan berani mati yg diperlihatkan musuhnya
kendatipun hanya dia seorang.
Padahal Leng hun totiang termasuk pimpinan dari kedelapan
pelindung hukum partai Bu tong pay, bukan saja termasuk jago
paling muda yg sangat menonjol dalam tubuh Bu tong pay sendiri,
sekalipun dalam dunia persilatan pun termasuk jago pilihan.
Serangkaian ilmu pedang Thian hian kiam hoatnya telah
mencapai tingkat sempurna yg hampir seimbang dg kemampuan
ketua Bu tong pay dewasa ini.

Lebih-lebih lagi, biarpun dia termasuk seorang pendeta, namun
keangkuhannya melebihi orang biasa, itu sebabnya sikap, jalan
pemikiran maupun tindakannya berbeda sekali dg orang-orang Hoa
san pay.
Sudah lama sekali ia berhasrat untuk bertarung melawa Kedele
Maut dg harapan bisa menaikkan pamor partai Bu tong pay dimata
masyarakat, bayangkan saja bagaimana mungkin dia mau
melepaskan kesempatan yg sangat baik setelah bersua dg Kedele
Maut gadungan saat ini?
Gagal dg serangan yg pertama, ia segera tertawa seram sambil
berseru:
“Telah lama kudengar akan kegemaran anda membunuh orang,
aku pun dengar tenaga dalammu amat sempurna dan kepandaian
silatmu sangat hebat. Sekarang, mengapa kau tak berani turun
tangan? Ataukah kau sudah pecah nyali setelah berhadapan dg
orang-orang golongan lurus? Nih rasakan dulu kehebatan ilmu
pedang Bu tong pay ku ini?”
Ditengah pembicaraan, jurus serangannya “cahaya hitam
bayangan berpisah” segera diubah menjadi gerakan “langit dan bumi
menyatu”, pedangnya dg dilapisi cahaya terang segera menyelimuti
seluruh badan Kho Beng.
Dua jurus serangan yg dilancarkan berantai, sesungguhnya
sararan yg berlawanan, namun kenyataannya bisa dipergunakan
sembung menyambung, hal ini membuktikan bahwa ilmu pedang Bu
tong pay memang benar-benar luar biasa, kehebatannya tiada
bandingannya didunia ini.
Kho Beng merasa terkejut bercampur mendongkol, ia tak berani
melayani musuhnya terlalu lama, apalagi tanda bahaya sudah
dilepaskan, berarti sebentar lagi kawanan jago akan segera
berdatangan, apa jadinya bila ia sampai terkepung?
Jilid 10
Tapi diapun tak bisa melarikan diri dg begitu saja. Setelah
berani berperan sebagai Kedele Maut, otomatis dia tak mau
menunjukkan titik kelemahannya ditengah jalan hingga sampai
dicurigai lawan.
Disaat kedua persoalan tersebut meragukan pikirannya dan
membuat pemuda kita tak berani mengambil keputusan itulah, jurus
serangan dari Leng hun totiang telah tiba dihadapannya, diantara

percikan cahaya bintang yg amat menyilaukan mata, semua jala
darah kematiannya telah berada dibawah ancamannya.
Waktu tidak mengijinkan Kho Beng untuk berpikir lebih jauh,
sedang payung Thian lo san palsunya juga tak mungkin bisa dipakai
untuk membendung serangan pedang lawan, didalam keadaan apa
boleh buat, terpaksa ia mesti meloncat mundur lagi untuk kedua
kalinya.
“Tahan!” bentaknya melengking.
Sekalipun Kho Beng harus melompat mundur untuk kedua
kalinya, namun gerakan badannya sangat ringan dan cepat.
Menghadapi keadaan demikian, biarpun Leng hun totiang merasa
curiga, tapi berhubung nama besar Kedele Maut sudah terlanjur
termasyur dimana-mana, terang saja ia tak berani memandang
enteng lawannya.
Ketika mendengar bentakan tersebut, ia segera menarik
pedangnya seraya menegur dingin:
“Anda telah menunjukkan sikap yg berbeda dg kebiasaanmu
dimasa silam ataukah ada rencana busuk yg sedang kau
persiapkan?”
Kho Beng tertawa melengking:
“Leng hun, ketahuilah bahwa dibawah payung dewimu, belum
pernah ada seorang manusia pun yg bisa lolos dalam keadaan hidup,
tahukah kau mengapa aku mengalah terus kepadamu?”
Leng hun totiang agak tertegun, lalu jawabnya dingin:
“Maaf, pinto kelewat bodoh dan mohon tahu apa sebabnya?”
Satu ingatan cerdik segera melintas dalam benak Kho Beng, dg
dingin katanya kemudian:
“Sederhana sekali, berhubung antara aku dg ketua partai kalian
sudah terjalin perjanjian secara pribadi untuk tidak saling
mengganggu, maka akupn enggan berselisih paham dg mu, lagi
kalau toh kau tetap tak tahu diri sehingga mengobarkan watakku,
hmmm lihat saja akibatnya nanti!”
Seusai berkata ia segera membalikkan badan dan berabjak pergi
meninggalkan tempat tersebut.
Pada mulanya Leng hun totiang merasa agak tertegun, kemudian
dg penuh amarah ia membentak:
“Berhenti!”

Secepat anak panah yg terlepas dari busurnya dia melesat maju
kedepan, begitu melampaui Kho Beng, ia segera menghadang jalan
perginya dg pedang disilangkan didepan dada.
Kho Beng sendiripun agak mendongkol, setelah mundur berapa
langkah, serunya dg suara melengking:
“Tosu setan, aku toh sedang memberi keterangan sejelasnya,
apakah kau betul-betul sudah bosan hidup?”
“Iblis keji!” hardik Leng hun totiang, “Kau jangan memfitnah
ketua kami sebagai temanmu, kapan sih ciangbunjin kami mengikat
perjanjian gelap dgmu?”
Sebagaimana diketahui, Kho Beng memang Cuma berbicara
semaunya senciri, maka sambil tertawa terkekeh-kekeh serunya lagi:
“Mengapa tidak kau tanyakan sendiri kepada ketuamu?”
Leng hun totiang segera tertawa dingin:
“He…he…he…sudah tiga orang rekan kami yg tewas oleh Kedele
Maut mu, aku yakin bohongmu kali ini kalau bukan bermaksud
mengadu domba, pasti mempunyai maksud busuk lainnya. Bila kau
tak dapat memberikan bantahan yg jelas hari ini, rasanya tak
mungkin bisa membersihkan tuduhanmu tersebut.”
Leng hun totiang termasuk seorang pendeta yg sangat
mengutamakan nama baik perguruannya, ia kuatir tuduhan Kho
Beng tersebut sampai tersebar luas diluaran hingga menimbulkan
kecurigaan pihak lain.
Karenanya begitu selesai berkata, pedangnya sekali lagi
melancarkan tusukan kilat ketubuh Kho Beng, hanya kali ini dia telah
melipat gandakan kekuatannya.
Kho Beng sendiripun tidak begitu jelas mengetahui seberapa
banyak korban yg sudah tewas ditangan cicinya, tentu saja dia pun
tidak tahu siapa saja yg telah menjadi korban.
Karenanya ia menjadi tertegun sehabis mendengar perkataan
tadi, ia tahu perkataannya bukan saja gagal melunakkan sikap lawan
malah sebaliknya mengobarkan kembali perasaan dendam sakit
hatinya.
Dalam keadaan demikian, ia mengerti kalau suatu pertarungan
tak bisa dihindari lagi.
Cepat-cepat senjata payungnya dipersiapkan, kemudian secara
beruntun balas menotok ketujuh jalan darah penting ditubuh Leng
hun totiang, jengeknya sambil tertawa dingin:

“Yang telah mampus toh sudah mampus, justru karena katua
kalian menyayangi kalian anggotanya yg masih hidup, maka
perjanjian tersebut dibuatnya dg ku, tapi sekarang kau bakal
menjadi sukma keempat yg bakal melayang ditanganku.”
Untuk tetap mempertahankan pemornya Kedele Maut, terpaksa ia
mesti mengucapkan kata-kata yg pedas.
Hawa amarah Leng hun totiang semakin memuncak, ia
membentak nyaring:
“Ngaco belo!”
Serangan pedangnya semakin diperketat, diantara ayunan
pedangnya sedapat mungkin ia mengancam bagian-bagian
mematikan ditubuh Kho Beng.
Dalam waktu singkat, cahaya pelangi yg menyilaukan mata telah
mengurung Kho Beng dibawah lapisan bayangan pedang.
Kho Beng dipaksa untuk menghindar kesana kemari untuk
menyelamatkan diri, ditambah pula senjatanya tak sesuai dg
kebiasaannya, maka sulit baginya untuk melancarkan serangan
balasan, hal ini masih ditambah pula dg kekuatirannya bila sampai
melukai lawan, karenanya ilmu pedang Lingsui jit si pun tak berani
digunakan.
Akibatnya secara lambat laun ia makin terjerumus kedalam
kepungan musuh dan kerepotan untuk menghadapinya.
Perasaan gelisah membuatnya makin tegang, apalagi permainan
pedang Leng hun totiang yg makin lama makin gencar, dimana
pancaran hawa serangannya begitu hebat dan jauh diluar
perhitungannya, semua itu membuatnya makin terpojok.
Kho Beng mulai sadar, bila ia tidak segera melancarkan serangan
balasan, akhirnya dia sendiri yg akan terluka diujung senjata lawan.
Sementara itu Leng hun totiang sedang mengeluarkan jurus “Im
yang ji hun” atau “Im yang dipisahkan dua” dimana cahaya pedang
yg terwujud dalam dua bias sinar mengancam kedua iga Kho Beng,
lapisan cahaya serangan tersebut membuatnya susah untuk
membedakan manakah yg kenyataan dan mana yg tipuan.
Sambil menggertak gigi keras-keras Kho Beng segera membentak
nyaring, telapak tangan kirinya diputar kemudian didorongnya
kemuka dg pancaran tenaga serangan yg sangat hebat.Berbicara
soal tenaga dalam, Kho Beng menggembol tenaga murni Bu wi lojin
sebesar empat puluh tahun hasil latihan, tentu saja serangannya itu
benar-benar mengerikan hati.

Leng hun totiang kelihatan agak terkejut, pergelangan tangannya
segera diayunkan kebawah dan merubah jurus serangannya menjadi
gerakan “bayangan hitam pelangi terbang” untuk menyambar
pinggang Kho Beng.
Kecepatannya didalam merubah jurus selincah ular berbisa,
keganasannya serupa angin puyuh yg menyapu dedaunan, tapi
sayang Kho Beng sudah mempersiapkan diri dg sebaik-baiknya.
Sekali lagi ia membentak nyaring, dg ujung payungnya ia totok
ketubuh pedang lawan, inilah jurus “ombak ganas menerjang
batuan” dari ilmu pedang Liu sui jit si yg amat menggetarkan dunia
persilatan.
Walaupun payungnya itu tak bisa dipakai untuk tangkisan
melintang dan tusukan langsung, namun oleh karena ujung payung
terbuat dari tembaga putih, maka begitu menutul ditubuh pedang
Leng hun totiang, ternyata secara tiba-tiba dan sangat aneh
menyambar kedada tosu tersebut.
Serentetan cahaya bintang yg terwujud dari rentetan bahan
perak seketika itu juga mengurung dada Leng hun totiang dan
menyerupai air terjun yg menumbuk diatas batu karang kemudian
memercikan butiran air keempat penjuru, kekuatan serangan
tersebut dg cepatnya memancar keempat penjuru dan mengancam
keseluruh tubuh lawan. Memang disinilah kehebatan dari jurus
serangan ilmu pedang air mengalir yg amat hebat itu.
Menanti Leng hun totiang mengenali jurus pedang tersebut,
sayang sekali keadaan sudah terlambat. Diantara percikan cahaya
bintang yg menyilaukan mata, jerit kesakitan bergema memecah
keheningan lalu tampaklah jagom uda dari Bu tong pay yg kosen ini
mundur beberapa langkah dg sempoyongan, pedangnya terkulai
lemas kebawah.
Ternyata diatas dadanya sudah muncul lima buah lubang
berdarah dimana darah segar masih menyembur keluar dg derasnya,
air mukanya pucat pias seperti mayat, jelas luka yg dideritanya
parah sekali.
Semenjak terjun kedunia persilatan, baru pertama kali ini Kho
Beng melukai lawannya, sebagai pemuda yg berhati mulia ia menjadi
tertegun untuk beberapa saat lamanya. Sementara itu Leng hun
totiang telah menunding Kho Beng dg susah payah sambil berbisik
lirih.

“Jurus…jurus ombak ganas menerjang batu yg sangat hebat,
kau…kau…kau pasti bukan Kedele Maut….”
Diam-diam Kho Beng merasa terkejut tapi sesudah menghela
napas panjang sahutnya:
“Ketajaman mata totiang memang amat mengagumkan,
sebetulnya aku kho Beng enggan membunuhmu, tapi nampaknya
mau tak mau aku harus menghabisi nyawamu sekarang!”
Leng hun totiang membelalakkan matanya dg keheranan,
serunya amat tercengang:
“Kho Beng? Kau adalah Kho Beng sau sicu yg telah melaporkan
identitas Kedele Maut?”
Sambil tertawa getir Kho Beng manggut-manggut:
“Yaa, betul! Sayang sekali totiang mengetahui segalanya terlalu
terlambat…”
Seusai berkata, telapak tangan kirinya segera diayunkan kedepan
melepaskan sebuah pukulan dahsyat.
Leng hun totiang yg sudah terluka parah tak ampun terhajar
telak hingga terbanting keatas tanah, seketika itu juga selembar
jiwanya melayang meninggalkan raganya.
Agar mendekati kenyataan sesuai dg yg sebenarnya, Kho Beng
mengeluarkan dua butir kedele dan segera disambitkan kesepasang
mata korban, kemudian ia lalu menjura kepada jenasah tadi seraya
berdoa:
“Totiang, beristirahatlah dg tenang, ucapanmu yg telah
mengundang bencana sendiri, hal mana membuat ku terpaksa harus
membunuhmu, maafkanlah aku, semoga kau dapat menjelma
menjadi manusia kembali dalam penitisan mendatang!”
Selesai berdoa buru-buru ia meninggalkan tempat tersebut dg
cepat.
Sekarang ia tak berani meneruskan perjalanan kedepan, seorang
Leng hun totiang sudah cukup membuat berpikir dua kali, ia sadar
orang-orang Bu tong pay tak boleh dipandang enteng.
Ini berarti apa yg dikatakan Li sam memang benar, bila
dibandingkan maka hanya pihak Hoa san pay yg mudah dihadapi.
Maka sekali lagi dia bergerak kembali menuju ketempat dimana
pihak Hoa san pay mempersiapkan penjagaannya.
Tapi pelbagai pikiranpun bermunculan didalam benaknya saat itu.

Bila dilihat dari perbuatan encinya yg membunuh tak habisnya,
maka muncullah pertanyaan berapa banyakkah musuh besar
keluarganya?
Didalam surat wasiat ayahnya hanay dikatakan kalau kehancuran
perkampungan Hui im ceng hanya disebabkan sejilid kitab pusaka
Thian goan bu boh, mungkinkah orang yg mengincar kitab pusaka
tersebut tempo hari mencakup seluruh umat persilatan didunia ini?
Dibebani oleh berbagai persoalan yg mencurigakan inilah, tanpa
disadari ia telah kembali dikawasan dimana jago-jago Hoa san pay
melakukan penjagaan.
Suasana disekeliling tempat itu sangat hening, kecuali ombak
sungai yg menggulung-gulung, segala sesuatunya kelihatan tenang
sekali.
Seharusnya dg kembalinya ia ketempat tersebut, maka kawanan
jago lihay yg mengejar dari kota Gak yang harus sudah berkumpul
semua disitu, tapi apa sebab suasana diseputar sana justru kelihatan
begitu hening dan tenang....
Dg perasaan tak habis mengerti Kho Beng memperhatikan
sekejap sekeliling tempat itu, belum lagi ingatan kedua melintas
lewat, tiba-tiba dari sisi kirinya, dari balik sebuah batuan karang
menyembur keluar bom udara berwarna merah, disusul kemudian
terdengar seseorang menjengek sambil tertawa dingin.
“Iblis jahat! Sudah lama kunantikan kedatanganmu, tak kusangka
kau masih tetap berada disini!”
Ditengah pembicaraan, tampak dua sosok bayangan manusia
meluncur turun dg cepatnya dan menghadang ditengah jalan,
ternyata mereka adalah dua orang kakek putih dan hitam.
Kedua orang kakek itu mempunyai dandanan yg sangat aneh, yg
hitam mempunyai rambut berwarna hitam pekat, jenggot hitam,
muka hitam dan berbaju hitam, sekilas pandang mirip sekali dg
sebuah gumpalan daging berwarna hitam.
Sebaliknya yg putih, mengenakan baju putih, muka putih bahkan
rambut dan jenggot pun berwarna putih salju.
Diam-diam Kho Beng merasa sangat terkejut, dari dandanan
maupun ciri khas kedua orang lawannya itu, ia segera mengenali
mereka sebagai Hoa san Hek pek jilo atau dua sesepuh hitam putih
Hoa san pay.
Karenanya dg berlagak acuh tak acuh dan santai, ia memutar
payung bulatnya seraya berseru lengking:

“Ada apa? Apakah kunjunganku untuk menikmati keindahan
panorama malam ditempat ini telah mengganggu kalian berdua, dua
sesepuh dari Hoa san pay?”
Sikakek muka hitam mendengus dingin:
“Hmmm...ternyata anda betul-betul sangat licik dan berakal
bulus, sudah ratusan orang rekan-rekan persilatan mengejarmu
sampai dimuka sana, tak nyana kau masih berkeliaran disekitar sini,
tapi dg berdua kami bersaudara ditempat ini berarti jangan harap
kau bisa lolos dari sini dg selamat. Bila tahu diri mari kita selesaikan
persoalan ini secepatnya...”
Sembari berkata, mereka berdua masing-masing meloloskan
senjata andalannya.
Ketika mendengar perkataan tersebut, dalam hati kecilnya Kho
Beng amat terkejut sekali, dari perkataan lawan yg mengatakan
bahwa para jago telah mengejar kedepan situ, berarti selisih jarak
mereka tak bakal terlalu jauh, atau dg perkataan lain siasatnya
memancing para jago telah mencapai tujuan.
Dalam keadaan begini, dia tak ingin membuang waktu lebih lama
lagi disana, setelah berpikir sejenak, katanya kemudian sambil
tertawa lengking:
“Apakah kalian berdua sudah merasa bosan hidup didunia ini?”
Sikakek bermuka putih segera mendongakkan kepalanya dan
tertawa terbahak-bahak:
“Ha...ha...ha...terus terang saja, aku masih belum bosan hidup
didunia ini, tapi dalam kenyataan aku memang menaruh curiga
kepadamu!”
“Mencurigai dalam soal apa?”
Sambil tertawa terkekeh-kekeh, kakek bermuka putih itu
menjawab:
“Aku curiga kalau engkau bukan Kedele Maut yg tulen!”
KHo Beng tertegun, lalu tegurnya sambil tertawa dingin”
“Atas dasar apa kau berkata begitu?”
Sambil tertawa dingin, sikakek bermuka hitam turut menimbrung:
“Sejak kemunculannya dalam dunia persilatan, kapan sih Kedele
Maut pernah membiarkan korban yg telah melihat wajahnya hidup
terus didunia ini?”
“Yaa, memang belum ada” sahut Kho Beng sambil tertawa
lengking.

“Padahal menurut laporan anak muridku, sepanjang perjalanan
anda tidak melukai siapa saja, hal ini bertentangan sekali dg si
Kedelai Maut, oleh sebab itulah bukan saja aku menaruh curiga
kalau engkau bukan Kedele Maut, bahkan akupun mencurigai
maksud serta tujuanmu berbuat begini!”
Sekali lagi Kho Beng merasakan hatinya bergetar keras, pikirnya
tanpa terasa:
“Tampaknya ucapan jahe makin tua makin pedas memang benar,
tak heran kalau Li Sam berpesan kepadaku agar bersikap lebih hatihati
bila bertemu dua sesepuh hitam putih dari Hoa san…”
Dalam waktu singkat ia telah memperoleh jawabannya, maka
sambil tertawa dingin katanya:
“Ehmm, kecurigaanmu memang cukup beralasan, tapi akupun
hendak bertanya kepadamu, sudah tidak sedikit korban yg tewas
diuung Kedele Maut ku selama ini, tapi apakah tak pernah kau
pikirkan, diantara jago-jago yg tewas adakah diantaranya yg berasal
dari jagoan kelas dua atau kelas tiga?”
Kakek bermuka putih itu berpikir sebentar, lalu manggutmanggut:
“Yaa benar, diantara korban yg tewas dlm cengkeraman Kedele
Maut mu kalau bukan seorang pemimpin suatu perkumpulan atau
perguruan, memang biasanya termasuk jagoan kelas satu yg berilmu
silat tinggi…”
Sambil tertawa dingin, Kho Beng segera menyela:
“Nah, tentunya kau sudah mengerti bukan apa sebabnya
sepanjang jalan aku tidak melakukan pembunuhan? Bukan aku tak
ingin membunuh, he…he…he…Cuma sayang mereka belum pantas
untuk menemui ajalnya ditanganku.’
“Hmmm..sombong benar lagakmu” dengus kakek bermuka hitam
dg rasa mendongkol, “dari kota Gak yang hingga ketempat ini, meski
diantara rekan-rekan persilatan terdapat juga kawanan manusia yg
tidak sesuai dg nama besarnya, namun sebagian besar memiliki ilmu
silat yg luar biasa hebatnya, bila anda benar-benar adalah Kedele
Maut, aku rasa bangkai sudah bergeletakan dimana-mana, darah yg
mengalir telah menganak sungai….”
Kho Beng sengaja tertawa melengking.
“Hey tua bangka! Kau tak usah menempeli emas diwajah sendiri,
ketahuilah orang-orang yg kujumpai sepanjang jalan tak lebih hanya
sekawanan setan bernyali kecil yg menggelikan hatiku saja tapi

berbicara sesungguhnya, memang ada juga diantara mereka yg
memiliki kemampuan yg cukup berhak untuk kuhadapi seperti
misalnya tosu kecil yg bernama Leng hun, aku rasa tosu yg telah
kujegal itu masih lebih hebatan ketimbang jago-jago dari hoa san
kalian.”
Sindiran yg tak langsung ini seketika membuat wajah dua
sesepuh hitam putih menjadi merah padam, sikakek muka hitam
segera membentak penuh amarah.
“Jadi kau anggap kekuatan Hoa san pay kami tak ada harganya
sama sekali?’
“Hmmm..itupun belum cukup, ambil contoh kalian berdua saja,
berapa sih tinggi ilmu silat kalian berdua? Tapi aku telah menyiapkan
empat butir Kedele untuk menghantar kalian bermain-main dialam
baka!”
Dua sesepu hitam putih dari Hoa san nampak terkesiap, perasaan
curiga yg semula muncul dalam benak mereka pun mulai goyah.
Mereka mengetahui cukup jelas taraf kepandaian silat yg dimiliki
Leng hun totiang dari Bu tong pay, tapi kenyataannya ia telah tewas
ditangan musuh, hal ini menandakan bahwa Kedele Maut yg berada
dihadapannya sekarang bisa jadi adalah iblis yg tulen.
Serentak kedua orang sesepuh dari Hoa san pay ini
mempersiapkan pedangnya dan disilangkan didepan dada sambil
berjaga jaga terhadap segala kemungkinan yg bakal terjadi, namun
mereka tidak bermaksud untuk menyerang lebih dulu.
Padahal Kho Beng sendiripun tidak berniat turun tangan, melihat
keadaan tersebut, segera ujarnya sambil tertawa lengking:
“Hey tua bangka! Apa lagi yg kalian nantikan? Andaikata benarbenar
tak pingin mampus, menyingkirlah kesamping dg segera, hari
ini aku akan bersikap lebih terbuka terhadap pihak Hoa san pay
kalian!”
Berubah hebat paras muka sikakek bermuka hitam, dg wataknya
yg keras dan berangasan akhirnya ia tak kuasa untuk menahan diri,
segera dipandangnya sikakek bermuka putih sekejap, lalu berkata:
“Lotoa, perguruan kita telah dihina malam ini, bila kita berpeluk
tangan belaka, apakah orang persilatan tak akan mentertawakan
kita?”
Watak sikakek bermuka putih justru merupakan kebalikan dari
kakek bermuka hitam, mendengar kata-kata tersebut segera ia
tertawa:

“Loji kita tak boleh mengucapkan masalah besar hanya
disebabkan persoalan kecil, buat apasih kita terburu nafsu?”
Kho Beng jadi tertegun, ia coba memperhatikan sekejap suasana
diseputar sana, tiba-tiba ia menjumpai munculnya beberapa titik
hitam dari arah timur sana, titik-titik hitam tersebut sedang bergerak
mendekat dg kecepatan luar biasa.
Tiba-tiba saja ia menjadi paham agaknya kedua sesepuh hitam
putih dari Hoa san pay ini sedang mengulur waktu sambil menunggu
bala bantuan.
Kho Beng menjadi tercekat, ia tak berani berayal lagi, sambil
mengambil segenggam kedele ari sakunya, ia berseru lengking:
“Tua bangka celaka! Kalau toh kalian tak berani turun tangan,
rasakan dulu kehebatan kedele pengejar sukma ku ini , lihat
serangan…”
Segenggam kedele segera memancar keempat penjuru bagaikan
hujan gerimis yg menyelimuti angkasa. Sebagaimana diketahui
korban yg tewas diujung kedele tersebut sudah kelewat banyak, lag
pula diantara para korban tersebut terdapat jago-jago yg
berkepandaian jauh melebihi dua sesepuh hitam putih, itulah
sebabnya bagitu kedele tersebut diluncurkan, dg perasaan terkesiap
buru-buru dua orang kakek itu menyurut mundur untuk
menghindarkan diri.
Kho Beng memang bermaksud menggertak musuhnya dg
kebesaran nama kedele maut, karenanya sesudah melepaskan
serangan, tanpa diperdulikan lagi apakah serangannya mengenai
sasaran atau tidak, secepat anak panah dia melesat pergi.
Sementara itu kedua kakek hitam putih dari Hoa san pay masih
berdiri tertegun ditempat semula, terutama setelah gumpalan kedele
tersebut berguguran diatas tanah tanpa menimbulkan reaksi apapun
yg mengerikan hati.
Tapi setelah tertegun sesaat, dg cepat mereka lakukan
pengejaran kembali.
Dalam pada itu kawanan jago yg melakukan pengejaran telah
berdatangan semua, dibawah bimbingan dua sesepuh hitam putih
dari hoa san pay, serentak mereka lancarkan pengejaran dg ketat.
Bom-bom udara berasap merah dilepaskan berulang kali, suara
dentuman dan percikan cahaya membelah kegelapan dan
keheningan malam.

Kho Beng kabur dg sekuat tenaga, beberapa kali ia berpaling
sambil memperhatikan keadaan diseputar sana, tatkala menjumpai
keadaan tersebut, hatinya merasa makin tegang dan panik. Ia tahu
bila dirinya sampai terkepung oleh kawanan jago sebanyak itu, jelas
sudah keselamatan jiwanya akan terancam.
Berada dalam keadaan begini, mau tak mau ia mesti menambah
dua bagian tenaganya untuk kabur semakin cepat lagi.
Dalam waktu singkat ia sudah kabur sejauh lima li lebih, tiba-tiba
sungai yg membentang dihadapannya berbelok kekiri lalu pada jarak
seratus kaki didepan situ ia menemukan htan gelagah dg bunganya
yang putih. Hutan gelaga tersebut luas sekali hingga mencapai
ratusan bau…
Menjumpai hutan gelaga itu membuat Kho Beng segera teringat
kembali dg pesan Li sam, hatinya menjadi amat girang. Ia tahu, asal
dirinya berhasil memasuki hutan gelaga tersebut berarti keselamatan
jiwanya sudah terjamin.
Siapa tahu belum habis ingatan tersebut melintas lewat, tiba-tiba
dari balik hutan disisi kanan telah muncul serombongan jago
persilatan yg dipinpin sendiri oleh Bok sian taysu dari Siau lim si
serta Kiong Ceng san pemilik istana naga dari bukit Kun san.
Bok sian taysu dg toya bajanya berdiri mencegat ditengah jalan
sambil membentak keras:
“Iblis jahat, hendak kabur kemana kau?”
Kho Beng amat terkesiap, ia sadar sedang menghadapi musuh yg
benar-benar tangguh, maka begitu melihat bayangan manusia
melintas lewat dihadapan mukanya, dg cepat dia merogoh kembali
segenggam kedele sambil membentak nyaring:
“Keledai gundul! Rasakan dulu beberapa biji kedele ku ini!”
Segenggam kedele segera diayunkan kedepan mengancam tubuh
Bok sian taysu serta puluhan jago lihay lainnya.
Agaknya kawanan jago tersebut agak jeri terhadap kedele maut,
buktinya orang-orang tersebut serentak mengundurkan diri dg panik
ketika melihat datangnya ancaman tersebut, bahkan Bok sian taysu
sendiripun segera memutar toyanya sedemikian rupa sambil melejit
kebelakang untuk menghindarkan diri.
Memanfaatkan kesempatan yg sangat baik itulah Kho Beng
segera melarikan diri dari situ, dalam enam tujuh kali lompatan saja
ia telah berhasil menyusup masuk kebalik telaga tersebut.

Perlu diketahui, tumbuhan tgelaga yg berada disitu tingginya
melebihi tubuh manusia, begitu masuk kebalik gelaga, Kho Beng
mendekam sejenak sambil memperhatikan situasi, kemudian ia baru
merangkak secara pelan-pelan meninggalkan tempat itu.
Dia tak tahu, siapakah orang yg bakal menolongnya seperti apa
yang dijanjikan Li Sam, karena itu diam-diam dia merangkak maju
ketepi sungai dan mendekam disitu.
Pikirnya, andaikata waktu itu ada sebuah perahu yg lewat, maka
tak sulit baginya utnuk meloloskan diri dari kepungan para jago,
atau mungkin memang begitulah maksud Li sam sewaktu menyuruh
menelusuri sungai..?
Siapa tahu ketika ia sudah merangkak hingga mencapai tepi
sungai dan melongok Keluar yg terlihat hanya gulungan ombak yg
amat ganas, jangan lagi bayangan perahu, sepotong kayu atau
papan pun sama sekali tak nampak.
Dg perasaan kecewa, Kho Beng segera duduk tepekur diatas
tanah, sementara matanya mengawasi sekeliling tempat itu dg
seksama, ia kuatir ada orang yg berhasil menyusup masuk kesitu.
Atau mungkin Li Sam hanya berbohong? Atau mungkin orang yg
berniat menolongnya belum datang?
Dg perasaan amat gelisah Kho Beng menanti kedatangan bala
bantuan, sementara telinganya dapat menangkap suara
pembicaraan yg bergema datang terbawa oleh hembusan angin.
“Rekan-rekan sekalian, jangan digeledah secara sembarangan!
Yang penting kita kurung lebih dulu sekeliling hutan telaga ini, lalu
selangkah demi selangkah kita geledah kedalam, asal iblis itu bukan
jelmaan siluman, lolap jamin dia tak akan lolos dari pencarian kita
pada malam ini.”
Habis berkata, kembali gelak tawa yg amat nyaring
berkumandang memecah keheningan, jelas sudah orang yg memberi
komando tadi tak lain adalah Bok sian taysu dari Siau lim pay.
Menyusul perkataan tadi, dari sekeliling tempat tersebut
kedengaran langkah kaki manusia serta suara rumput yg disingkap
orang.
Tak terlukiskan rasa terperanjat Kho Beng pada waktu itu, ia
berusaha memeras otak untuk menemukan jalan keluar, namun
usahanya sia-sia belaka, kecuali terjun kesungai dan kabur dg jalan
menyelam, rasanya tiada jalan lain lagi.

Apa lacur, sama sekali ia tak mengerti ilmu berenang,
menceburkan diri ke dalam sungai sama artinya bunuh diri.
Menjumpai keadaan seperti ini, tanpa terasa ia mendongakkan
kepalanya sambil menghela napas pikirnya:
“Apa yg dikatakan Bok sian taysu memang benar, biar memiliki
sayappun jangan harap kau Kho Beng bisa lolos pada malam ini!”
Padahal Kho Beng masih mempunyai sebuah jalan lagi yaitu
muncul dalam wajah aslinya dan melangsungkan pertarungan sekuat
tenaga untuk membuka sebuah jalan berdarah guna lolos dari
kepungan.
Tapi jalan tersebut merupakan jalan terakhir yg tak akan
dilaksanakan sebelum keadaan betul-betul terpaksa, sebab ia pun
hanya mempunyai sedikit harapan, sebab jumlah musuh yg
mengepung disekeliling sana benar-benar kelewat banyak.
Sementara Kho Beng duduk termenung dibalik tumbuhan gelaga,
kawanan jago persilatan yg jumlahnya mencapai ratusan orang itu
sudah mulai membentuk gerakan menjepit dirinya, semuanya
membawa senjata terhunus dan selangkah demi selangkah
memasuki hutan gelaga dg wajah tegang.
Manusia beriring manusia, pedang berlapis pedang, boleh
dibilang tiada tempat luang yg tersisa, bukan Cuma begitu, kawanan
jago yg mendapat tugas ditempat lain pun secara berbondongbondong
berdatangan semua kesitu.
Dalam waktu singkat, wailayah yg berada dlm radius pencarian
mereka makin lama makin meluas.
Disaat para jago sudah memasuki hutan gelaga sejauh dua
puluhan kaki itulah mendadak dari balik sungai berkelebat sesosok
bayangan putih yg membawa sebuah payung bulat, bagaikan
sambaran petir cepatnya bayangan itu dan langsung terjun ke dalam
sungai.
Melihat kejadian tersebut, para jago segera menjerit kaget:
“Kedele maut melarikan diri ke dalam sungai…”
“Kedele Maut terjun keair!”
“…..”
Ditengah jeritan kaget itulah tiba-tiba terdengar seseorang
berseru sambil tertawa nyaring:
“Andaikata berada didaratan mungkin aku harus mengalah tiga
bagian kepadanya, tapi kalau berada dalam air….ha…ha…ha…dia

sama artinya dg mencari kematian buat diri sendiri, lihat saja nanti
aku akan membekuknya hidup-hidup!”
Ditengah pembicaraan, sesosok tubuh yg tinggi besar telah
melompat ke depan dan menyusul dibelakang Kedele Maut, ikut
terjun pula ke dalam sungai…
Ternyata jago yg ke air itu tak lain adalah ketua istana naga
Kiong Ceng san sendiri.
Dg terjunnya Kiong Ceng san ke dalam sungai Tiangkang, maka
para jago yg melakukan penggeledahan pun ikut menghentikan
gerakannya, serentak mereka berkumpul ditepi sungai untuk
mengikuti jalannya peristiwa tersebut.
Benar juga, tak selang beberapa saat kemudian dari balik sungai
yg hitam berlumpur telah muncul sebuah kepala manusia, kemudian
terdengar Kiong Ceng san berseru sambil tertawa terbahak-bahak:
“Ha…ha…ha…aku telah berhasil membekuk iblis tersebut!”
Sambil berkata dia mengangkat tinggi-tinggi tubuh seseorang yg
basah kuyup.
Bok sian taysu yg berdiri ditepi sungai segera berseru dg
gembira:
“Kiong lo sicu, cepat seret gembong iblis itu naik ke daratan!”
Kiong Ceng san membenamkan kembali tubuh Kedele Maut kedalam
air sungai kemudian ujarnya sambil tertawa, “Taysu aku belum mau
naik kedaratan.”
“Kenapa?” tanya Bok sian taysu tertegun.
“Sudah berhari-hari lamanya aku mesti menderita siksaan batin
yg berat gara-gara ulah iblis tersebut, maka pada malam ini aku
hendak menyuruh si iblis jahat ini merasakan nikmatnya air sungai,
selain itu tenaga dalam yg dimiliki iblis ini terlalu hebat, hanya
selama berada dalam air aku dapat mengatasinya. Aku pikir lebih
baik iblis ini kubawa berenang menuju ketelaga Tong ting, toh
jaraknya jauh lebih dekat ketimbang lewat daratan.
Ha…ha…ha…oleh sebab itu aku putuskan akan membawanya pulang
kebukit Kun san dg lewat jalan air, nah kutunggu kedatangan kalian
disana!”
Padahal begitu banyak jago lihay yg melakukan penjagaan
disekitar sana, asalkan jalan darah di Kedele Maut sudah tertotok,
apakah ia sanggup untuk melarikan diri?
Tentu saja tidak, yg benar adalah Kiong Ceng san hendak
memanfaatkan kesempatan ini dg sebaik-baiknya untuk

meningkatkan pamor serta kedudukannya dimata orang banyak.
Itulah sebabnya ia sengaja mendemontrasikan kehebatannya
dihadapan para jago.
Bok sian taysu sebagai seorang jago kawakan yg berpengalaman
tentu saja memahami maksud hati rekannya, baginya asal iblis itu
sudah tertangkap maka persoalan lain bukan masalah, itulah
sebabnya iapun memberi kesempatan buat Kiong Ceng san untuk
memperlihatkan kebolehannya.
Sambil tertawa segera ujarnya:
“Bagus, bagus sekali, tapi lolap perlu menjelaskan dulu bila
sampai terjadi sesuatu mala lo sicu seorang yg mesti bertanggung
jawab!”
Kiong Ceng san segera tertawa terbahak-bahak:
“Ha…ha…ha…bila terjadi sesuatu hal yg tak diinginkan, aku akan
pertaruhkan sebutir batok kapalaku ini, ha…ha…ha…maaf aku harus
berangkat duluan!”
Selesai berkata dia lantas menyelam kembali kedalam air dan
meluncur kedepan dg cepatnya, dalam waktu singkat diatas
permukaan air hanya tertinggal sebuah jalur panjang yg memutih.
Sambil tertawa tergelak, Bok sian taysu segera berkata:
“Kiong tayhiap betul-betul hebat, makin tua makin gagah saja
nampaknya….”
Kemudian sambil mengulapkan tangannya kepada para jago
serunya kembali:
“Sicu sekalian, mari kita segera berangkat, coba kita lihat siapa
yg lebih cepat tiba ditempat tujuan, Kiong tayhiap atau kita?”
“Baik! Hayo berangkat!”
Diiringi sorak sorai yg keras, berangkatlah kawanan jago itu
kembali kearah telaga Tong ting.
Betulkah orang yg berhasil ditawan adalah Kho Beng?
Ternyata bukan! Waktu itu Kho Beng masih bersembunyi dibalik
hutan gelaga, betapa bingung dan bimbangnya sia setelah
menyaksikan terjadinya adegan tersebut.
Suara sorak sorai dan gelak tawa dari para jago makin lama
semakin menjauh, suasana disekeliling hutan gelaga pun pelan-pelan
pulih kembali dalam keheningan, tapi pikiran Kho Beng tetap kalut
dan bergelombang dg hebatnya.
“Siapa gerangan orang itu? Mengapa dia mewakiliku agar dibekuk
orang? Mungkin kah orang tersebut yg dimaksud Li sam?”

Pelbagai pertanyaan membelenggu pikiran dan perasaannya,
namun tak sebuah pun yg dapat ditemukan jawabannya.
Akhirnya dalam hutan gelaga itu juga dia melepaskan rambut
palsunya, membuang payung bulat, melepaskan baju perempuan
dan mengenakan kembali baju sendiri.
Kemudian setelah muncul dalam wujud aslinya, ia baru melompat
keluar dari balik hutan gelaga serta memperhatikan sejenak suasana
disekitar tempat itu.
Menurut rencana semula, Kho Beng memutuskan akan pergi
meninggalkan telaga Tong ting dan berangkat ke Yang ciu untuk
mencari Sastrawan berkipas kumala Beng Tan atau kalau tidak
berusaha mengadakan kontak dg encinya.
Tapi sekarang ia harus merubah rencananya semula, sebab dia
ingin tahu siapakah orang yg telah mewakilinya untuk mencari mati?
Sebab ia sangat terharu oleh tindakan orang tersebut disamping
perubahan yg terjadi benar-benar diluar dugaan. Tapi persoalan yg
membuatnya ragu adalah dapatkah ia kembali kesitu dg selamat?
Mungkinkah orang lain sudah mencurigai gerak-geriknya?
Sementara Kho Beng masih mempertimbangkan persoalan tsb,
mendadak dari belakang tubuhnya kedengaran seseorang menegur:
“Kho sauhiap, mengapa kau masih berada disini?”
Kho Beng sangat terkejut, secepat kilat ia membalikkan badannya
sambil memperhatikan kearah mana berasalnya suara teguran tsb.
Tampak tiga sosok bayangan manusia melayang turun persis
dihadapannya, ternyata mereka adalah Kim kong sam pian, Kim
bersaudara.
Pelbagai perasaan yg tak keruan pun berkecamuk dlm benaknya,
tapi dg cepat ia pun balik bertanya:
“Oooh…rupanya kalian bertiga, mengapa kamu bertiga pun masih
berada disini?”
Sambil tertawa Kim lo ji segera berkata:
“Kami dapat tugas utk menarik kembali semua penjagaan yg
berada di sekitar sini, kenapa sauhiap tidak kembali?”
Kho Beng pura2 tertawa getir:
“Kembali? Sewaktu mengikuti kalian mengejar Kedele Maut tadi,
tiba2 kulihat adanya tanda bahaya muncul disebelah sana, maka aku
buru2 kesitu, ditempat tsb kutemukan sesosok mayat tosu,
karenanya aku berusaha mencari rekan2 lainnya disekitar sini, siapa
tahu tidak kutemukan seorang teman pun berada disini…”

Ketika berbicara sampai disitu, tiba2 ia merasa penjelasannya
banyak terdapat kelemahan, maka cepat2 ia balik bertanya:
“Mengapa kalian bertiga menarik kembali semua penjagaan
disekitar sini?”
“Apakah Kedele Maut sudah lolos?”
Kim kong sam pian adalah para lelaki periang yg berjiwa terbuka,
ditambah pula mereka menaruh kesan baik terhadap Kho Beng dan
bermaksud mengikat tali persahabatan dgnya, maka pada
hakikatnya semua kelemahan dibalik penjelasan Kho Beng tadi tidak
diperhatikan sama sekali.
Terdengar Kim lo jin tertawa terbahak-bahak.
“Ha…ha…ha…rupanya sauhiap belum tahu? Gembong iblis itu
sudah tertangkap hidup2…”
“Kedele Maut sudah tertangkap hidup2?” Kho Beng pura2 terkejut
bercampur keheranan, “siapa yg berjasa membekuk iblis tsb?”
“Siapa lagi, tentu saja Kiong locianpwee dari bukit Kun san” sahut
Kim losam sambil tersenyum, “malah ia ketelaga tong ting lewat
jalan air. Kho sauhiap, mari kita cepat2 pulang, siapa tahu disana
bakal berlangsung suatu pertunjukkan yg sangat menarik!”
Seraya berkata, ia segera menarik Kho Beng dan diajak berlalu
dari situ…
Berada dalam keadaan begini, terpaksa Kho Beng ikut pulang,
walaupun demikian ia toh menunjukkan kembali wajah tercengang,
tanyanya:
“Pulang lewat jalan air? Mengapa tidak kulihat ada perahu di
sungai?”
Kembali Kim lo toa tertawa terbahak-bahak:
“Ha…ha…ha… dg ilmu berenang yg dimiliki Kiong locianpwee, apa
gunanya perahu baginya? Biarpun sungai tiangkang lima enam puluh
li namun dalam pandangannya tak lebih hanya sebuah selokan
kecil.”
“Maksud saudara Kim, Kiong tayhiap pulang ke Kun san dg jalan
berenang diair?” kembali Kho Beng berlagak tak percaya.
Kim lo toa manggut2.
“Tampaknya sauhiap baru pertama kali menginjakkan kaki di Gak
yang sehingga tidak mengetahui kemashurannya, biarpun dlm kurun
waktu belasan tahun belakangan ini banyak sudah bermunculan
jago2 kenamaan diseputar wilayah Sam siang, sesungguhnya belum
ada seorang manusia pun yg sanggup melampaui kepandaian

berenang yg dimiliki Kiong tayhiap, itulah sebabnya gedung keluarga
Kiong dibukit Kun san disebut sebagai istana naga, karena ilmu
berenangnya luar biasa, malah pernah mengungguli enam belas jago
berenang dari lima telaga, itulah sebabnya ia pun dihormati sebagai
seorang sincu.”
Ditengah pembicaraan yg santai, tanpa terasa mereka berempat
sudah tiba dikota Gak yang.
Sewaktu tiba ditepi telaga Tong ting hari sudah terang tanah, dari
kejauhan Kho Beng dapat menyaksikan hasil karyanya semalam,
gedung wisma tsb nyaris terbakar habis, puing2 nampak berserakan
dimana-mana.
Untuk menutup perbuatannya, pemuda itu sengaja menggerutu
sambil menghela napas mencaci maki perbuatan tsb, kemudian
mereka baru berangkat kebukit Kun san dg menaiki sampan yg
tersedia.
Saat itu hatinya merasa tegang sekali sebab teka teki akan
segera terjawab. Ia ingin tahu apakah orang tsb ada hubungan dg
dirinya atau tidak.
Setibanya dibukit Kun san, diiringi Kim kong sam pian mereka
memasuki gedung istana naga yg megah. Waktu itu eluruh ruangan
sudah dipenuhi jago yg masing2 sedang berbisik-bisk
mempersoalkan kejadian itu.
Pada saat itulah petugas penerima tamu dari Bu tong pay telah
berseru keras:
“Kho sauhiap tiba!”
Para jago yg semula berjalan dimuka pintu gerbang serentak
memisahkan diri menjadi dua dan menyingkir kesamping, lalu
nampak seorang nona cantik tampil kedepan pintu seraya menyapa.
“Sauhiap, rupanya kau telah pulang.”
Melihat orang yg datang menyambutnya adalah Walet Terbang
berwajah ganda Chin sian kun, lagi2 Kho Beng merasakan hatinya
tak tenang, buru2 ia menjura seraya menyahut:
“Terima kasih atas sambutan dari lihiap”
“Sewaktu terjadi kebakaran di wisma semalam, aku menjadi
panik sekali karena tidak menjumpai sauhiap!” gumam Chin sian kun
lagi.
Diam2 Kho Beng merasakan hatinya tercekat, dia tak tahu apa
maksud pertanyaan tsb, menjebakkah atau sengaja hendak
menyelidiki?

Sebelum ia sempat menjawab, kim lo toa telah berkata suluan
sambil tertawa terbahak-bahak:
“Ha…ha…ha… tak nyana nona Chin pun merasa gelisah krn
memikirkan seseorang, wah nampaknya benih cinta sudah mulai
bersemi dalam hatimu!”
“Huh, usil!” umpat Sian kun sambil berkerut kening, sementara
wajahnya berubah menjadi semu merah krn jengah.
Atas terjadinya peristiwa ini, perasaan tegang yg semula
mencekam perasaan Kho Beng pun menjadi jauh berkurang, buru2
ia berkata sambil tersenyum:
“Oleh karena aku mengetahui terjadinya kebakaran sejak awal,
waktu itu jejak musuh belum hilang maka tanpa berpikir panjang
aku melakukan pengejaran…”
Kemudian sambil mengalihkan pembicaraan kesoal lain,
lanjutnya:
“Konon Kiong tayhiap telah berhasil membekuk Kedele Maut, apa
benar..?”
Chin sian kun manggut2:
“Yaa, sekarang iblis tsb sudah dibelenggu ditengah ruangan dan
siap menerima pengadilan masal!”
“Sebenarnya siapa sih gembong iblis tsb?” desak Kho Beng ingin
tahu.
Chin sian kun segera tertawa misterius:
“Tak ada salahnya bila sauhiap mencoba untuk menerkanya
sendiri..!”
Sambil tertawa Kim lo ji ikut menimbrung.
“Waah…buat apa sih kau menjual mahal? Asal kita masuk
keruangan, bukankah segala sesuatunya akan jelas?”
Chin sian kun segera mendengus:
“Hmm, aku yakin kalian tak bakal bisa menerkanya, sauhiap
cepat masuk dapat kuberitahukan kepadamu, Kedele Maut tsb hanya
gadungan…”
Dalam hal ini tentu saja Kho Beng lebih mengerti, sebab yg
dimaksud sebagai Kedele Maut bukan lain adalah enci kandungnya,
sedang encinya pun mustahil mengambil arah yg sama dg arah yg
ditempuh.
Namun utk menghilangkan kecurigaan orang, mau tak mau ia
meski berlagak terkejut juga, serunya keheranan.
“Oooh…Cuma gadungan? Lantas siapakah perempuan itu?”

Kembali Chin sian kun tersenyum.
“Dia bukan wanita, tapi seorang laki-laki!”
Kali ini Kho Beng benar2 dibuat tercengang, setengah tak
percaya serunya:
“Mana mungkin seorang laki-laki?”
Tiba2 Chin sian kun menghela napas panjang:
“Aaai…kalau dibicarakan mungkin kau semakin tak percaya lagi,
ternyata laki-laki yg menyaru sebagai Kedele Maut itu adalah Thi
koay siang coat Li Sam yg baru2 ini termasyur dlm dunia persilatan!”
Sewaktu berbicara sampai disini, mereka berempat telah
melangkah masuk ke dalam pintu ruangan. Tapi nama “Li Sam” yg
disebutkan terakhir itu ibarat guntur yg membelah bumi disiang hari
bolong, kontan saja membuat pandangan mata Kho Beng
berkunang-kunang.
Li Sam? Si toya baja Li Sam? Apakah dunia persilatan dewasa ini
,asih ada orang kedua yg menggunakan nama Li Sam.
Aan tetapi sewaktu sorot matanya dialihkan kewajah orang yg
diikat kencang2 ditiang ruang tengah itu, ia makin tercekat lagi,
ternyata orang itu benar2 adalah Li Sam yg dicintai dan dihormati.
Dalam waktu singkat Kho Beng merasakan hatinya bergolak keras
sekali, untuk berapa saat lamanya dia hanya bisa termangu-mangu.
Sekarang ia mengerti, rupanya sewaktu ia menolak untuk
menuruti nasehatnya, ia telah mempersiapkan rencana untuk
menolong jiwanya dg korbankan diri sendiri, tak heran kalau ia
sempat berpesan kepadanya bahwa disaat terdesak nanti, dari balik
hutan gelaga pasti akan muncul seseorang yg akan menolongnya,
ternyata orang yg dimaksud tak lain adalah dirinya sendiri.
Pada saat Kho Beng dicekam rasa sedih yg luar biasa itulah,
teredngar Bok sian taysu berseru:
“Berikan tempat duduk untuk Kho sicu!”
Kho Beng tersentak kaget, ia tak berani menunjukkan perubahan
sikap dihadapan orang banyak, apalagi disitu penuh hadir jago2
persilatan yg tak terhitung jumlahnya.
Dibagian terdepan terdapat lima buah kursi, selain bok sian taysu
dan pemilik istana naga Kiong Ceng san yg duduk dibagian tengah,
disebelah kanannya adalah Hek pek ji lo dari Hoa san pay, sedang
disebelah kiri adalah seorang tosu tua, Hian it totiang dari Bu tong
pay.

Sementara itu dua orang centeng telah menyiapkan sebuah kursi
kebesaran yg diletakkan disamping Hian it totiang, kemudian
mengundurkan diri kembali.
Kho Beng segera menjura, serunya cepat2:
“Aku yg muda hanya seorang angkatan muda, tak berani duduk
bersanding dg cianpwee sekalian…”
Sambil mengelus jenggotnya yg putih Kiong Ceng san segera
menyela:
“Sauhiap adalah tamu agung kami, tidak pantaskah kami
menghormati? Hayo silahkan duduk, kita harus segera mengadili
mata2 ini!”
Kho Beng merasakan pikirannya sangat kalut, maka tanpa
sungkan2 lagi ia menempati kursi yg telah disediakan.
Baru saja ia duduk, Bok sian taysu telah berkata:
“Sau sicu, kau tidak menyangka bukan?”
Kho Beng merasakan hatinya amat sakit bagaikan diiris dg pisau,
tanpa berbicara ia manggut2, kemudian mengalihkan pandangannya
ke wajah Li Sam yg terikat diatas tiang.
Waktu itu Li Sam masih mengenakan baju perempuan berwarna
putih yg basah kuyup, mukanya pucat menghijau, selain tanpa
emosi iapun tidak menengok sekejap pun kearahnya.
Kho Beng betul2 menyesal, pekiknya dlm hati:
“Samko..ooh samko…akulah yg telah mencelakaimu…!”
Sementara itu, Bok sian taysu telah berseru dg lantang:
“Li Sam, selama ini lolap bersikap cukup baik kepadamu,
mengapa kau justru membalas dg cara begini?”
“Aku rasa Li Sam belum pernah bersikap jelek kepada taysu”
sahut Li Sam dingin.
“Apa maksud perkataanmu itu?” bentak Bok sian taysu dg suara
dalam dan berat.
“Sederhana sekali, sebenarnya aku orang she Li dapat
membunuhmu setiap saat, tapi aku toh tak pernah melakukannya,
hal ini disebabkan sikapmu kepadaku pun sangat baik, maka aku
enggan membalas air susu dg air tuba!”
Kontan saja Bok sian taysu melototkan matanya bulat2,
bentaknya keras:
“Dendam sakit hati apakah yg pernah terjalin antara kau dg
aku…?”
“Sama sekali tiada dendam sakit hati apa pun!”

“Lantas mengapa kau berbuat begitu?” Bok sian taysu
mengerutkan dahinya rapat2.
“Aku sedang melaksanakan tugas dari guruku!”
“Siapakah gurumu?” sela Kiong Ceng san.
“Maaf tak dapat kujawab!”
Bok sian taysu segera menghentakkan tongkatnya keras2 ke
tanah, kemudian bentaknya dg gusar:
“Kau mau mengaku tidak!”
Paras muka Li Sam sama sekali tak berubah, tanpa emosi
sahutnya dingin:
“Apa yg mesti kuakui?”
“Katakan siapa gurumu? Mengapa kau menyaru sebagai Keele
Maut dan apa maksud tujuanmu?”
Tiga pertanyaan yg diutarakan secara beruntun ini segera
membuat para jago menjadi tegang, mereka semua pasang telinga
baik2 untuk mendengarkan jawabannya.
Namun Li Sam tetap hambar, tanpa emosi katanya ketus:
“Kuanjurkan kepadamu agar tak usah membuang energi sia2,
percuma ! aku tak bakal menjawab semua pertanyaanmu.”
Mendadak Bok sian taysu tertawa seram:
“He…he…he…Li Sam, sekalipun tidak kau katakan, lolap juga bisa
menebaknya, kau sengaja berperan sebagai si Kedele Maut
bukankah karena ingin memancing perhatian para rekan2 persilatan
sehingga memberi kesempatan kepada si iblis jahat itu untuk
meloloskan diri?”
“Cerdik benar kamu ini!” jengek Li Sam sambil tertawa dingin,”
sayang sekali agak terlambat kau mengetahui soal ini.”
Sekali lagi Bok sian taysu tertawa seram:
“Selama kau Li Sam masih berada dibawah cengkeramanku,
maka belum terhitung terlambat bagiku. Sekarang aku hanya
berharap kepadamu untuk menjawab pertanyaan saja, siapa gurumu
dan apa hubunganmu dg Kedele Maut? Asal kau bersedia mengakui
secara blak-blakan bisa jadi akupun dapat mempertimbangkan
kembali hukuman yg jauh lebih ringan bagimu.”
Li Sam tertawa mengejek, katanya:
“Kalau toh kau si hwesio dapat menebaknya sendiri, mengapa
tidak kau tebak saja jawabannya?”

Kiong Ceng san tak dapat mengendalikan hawa amarahnya,
sambil mengebaskan ujung bajunya ia membentak: “Mana
pengawal? Siapkan alat2 siksa dg api!”
Lelaki2 kekar yg berdiri disamping arena segera mengiakan,
seketika itu juga muncul empat orang lelaki yg segera berlarian
keluar dari ruangan.
Pada saat itulah tiba2 Hian it totiang dari Bu tong pay buka
suara, ujarnya:
“Li sicu, pinto anjurkan kepadamu agar mau menjawab dg
sejujurnya, asal sicu bersedia untuk bertobat serta menyesali
perbuatanmu dimasa lalu, aku jamin selembar jiwamu pasti selamat
tanpa cedera.”
“He…he…he…” Li Sam tertawa dingin tiada hentinya, “Kau
hendak menjamin keselamatanku? Siapa yg dapat menjamin pula
keselamatanmu sendiri? Hmmm siapa tahu kau sendiripun hanya
bisa hidup selama beberapa hari?”
Paras muka Hian ti totiang seketika itu berubah menjadi hijau
membesi gemetar keras seluruh tubuhnya karena mendongkol,
bentaknya keras2:
“Bajingan laknat yg tak tahu diri! Kau berani mencari gara2 dg
ku?” Baru selesai ia berkata keempat lelaki kekar tadi telah muncul
kembali dari pintu ruangan sambil menggotong masuk sebuah kuali
besi yg besar sekali, ditengah kuali kelihatan bara api yg merah
kehijau-hijauan, lidah api yg mengerikan tampak menjilat-jilat
keatas, sementara dibalik bara api yg membara, masing2 terdapat
dua batang besi yg telah membara pula.
Kuali besi berisi api yg membara tadi diletakkan dihadapan Li
Sam, sementara keempat lelaki bengis tadi berdiri berjajar disisinya.
Jilid 11
Dalam waktu singkat suasana diseluruh ruangan tsb telah
dicekam oleh suasana seram, tegang dan serius, lebih2 untuk Kho
Beng, ia sangat terperanjat sehingga untuk sesaat lamanya tidak
tahu apa yg mesti diperbuat.
Namun Li Sam yg dibelenggu diatas tiang tetap tenang, wajahnya
tetap hambar tanpa perubahan, ia seperti tak gentar menghadapi
ancaman tsb…

Sekalipun berhadapan dg api yg membara, jangan lagi berkedip,
melihat sekejap pun tidak, seakan akan masalah mati atau hidup
sudah bukan menjadi masalah lagi baginya.
Dalam sekejap mata, suasana didalam ruangan tercekam dlm
keheningan yg luar biasa, begitu hening sampai jarum yg terjatuh
pun mungkin akan terdengar jelas.
Sinar mata dan perhatian semua jago telah tertuju ketubuh Li
Sam seorang, semua orang ingin melihat bagaimanakah reaksi orang
tsb.
Tiba2 terdengar pemilik istana naga, Kiong Ceng san membentak
lagi dg suara menggeledek:
“Li Sam sebetulnya kau bersedia mengaku atau tidak!”
“Seperti perkataanku semula, tiada persoalan yg bisa diakui oleh
Li Sam kpd kalian.....”
“Betul2 keras kepala dan membandel!” seru Kiong Ceng san
sambil tertawa seram, “Baik, akan kubuktikan hari ini, apa benar
tubuhmu terdiri dari otot kawat tulang baja sehingga tahan
disiksa....mana pengawal? Siapkan alat siksaan!”
Keempat lelaki kekar pelaksana siksaan segera mengiakan
bersama, salah seorang diantaranya segera menyambar gagang besi
yg membara itu kemudian selangkah demi selangkah berjalan
menuju kehadapan Li Sam.
Berada dlm keadaan seperti ini hampir saja jantung Kho Beng
melompat keluar dari tenggorokannya, selama ini ia sudah berusaha
memutar otak untuk mencarikan cara baik guna menyelamatkan Li
Sam dari bahaya maut, namun biarpun sudah dipikirkan lebih jauh,
bagaimanapun jua ia gagal menemukan cara terbaik.
Bukit Kun san dikelilingi air, ditambah lagi ratusan jago silat yg
memadati ruangan dlm serta ratusan lagi diluar ruangan, andaikata
ia tak segan2 untuk mengungkapkan identitas diri dan tampil ke
depan untuk melindungi keselamatan Li Sam, belum tentu usahanya
tsb dapat menolong Li Sam dari bahaya serta membawanya lolos
dari situ.
Oleh karenanya Kho Beng hanya bisa duduk dg perasaan
tertegun dan tidak tenang, pelbagai pikiran dan perasaan yg kalut
berkecamuk dlm benaknya.
Tapi sekarang siksaan segera akan dilaksanakan, ini berarti sudah
tiada kesempatan lagi baginya untuk mempertimbangkan lebih jauh,
kesetian Li Sam membuat darahnya terasa mendidih, ia berpendapat

sekalipun tubuh sendiri bakal remuk, bagaimanapun jua tak mungkin
bagi dirinya untuk berpeluk tangan belaka.
Sementara darahnya terasa mendidih dan bergolak keras, pada
saat itulah kedengaran seseorang membentak dg suara yg dalam
dan berat:
“Tunggu sebentar!”
Bentakan tsb bukan saja membuat beberapa orang tokoh
persilatan yg hadir menjadi tertegun, Kho Beng sendiripun turut
termangu dibuatnya.
Cepat2 dia mengalihkan sorot matanya kearah mana berasalnya
suara bentakan tsb, ternyata orang itu tak lain adalah kakek
bermuka hitam satu diantara dua sesepuh hitam putih dari Hoa san
pay.
Waktu itu besi membara yg disiapkan lelaki kekar pelaksana
siksaan telah tiba didepan dada Li Sam, ia segera menghentikan
perbuatannya sesudah mendengar bentakan tsb.
Dg keheranan dan tak habis mengerti Kiong Ceng san segera
bertanya:
“Sik tayhiap mengapa kau menghalangi jalannya siksaan?”
Sambil menjura kearah Kiong Ceng san si kakek bermuka hitam
berkata lagi sambil tertawa:
“Aku Sik Tin phu tak berani menghalangi jalan penyiksaan, hanya
ada satu permintaan ingin kuajukan kepada sidang?”
“Silahkan Sik tayhiap katakan!” buru2 Kiong Ceng san berseru
seraya menjura.
Sik Tin phu, kakek bermuka hitam itu segera tertawa:
“Aku hanya berharap pelaksana siksaan dapat ditunda sebentar
saja…”
Sepasang sesepuh hitam putih dari Hoa san pay ini boleh dibilang
merupakan tokoh silat yg memiliki pamor dan kedudukan tinggi
didunia persilatan, tapi sekarang tokoh semacam itu bisa berkata
demikian, hal mana segera menimbulkan perasaan heran dihati para
jago lainnya.
Sementara semua orang masih tertegun, kakek bermuka putih
telah memberi penjelasan sambil tertawa:
“Sebagaimana diketahui, semalam kami dua bersaudara sudah
cukup menderita gara2 ulah bajingan busuk ini, maka kami ingin
melampiaskan rasa mendongkol tsb saat ini juga, itulah sebabnya

kami mohon penyiksaan terhadap bajingan tsb dapat diserahkan
saja pelaksanaannya kepada kami berdua.”
Dg penjelasan tsb, para jago baru mengerti maksud dan
keinginannya.
Kiong Ceng san segera tertawa terbahak-bahak:
“Ha….ha…ha….rupanya begitu, kalau toh saudara Sik mempunyai
kegembiraan untuk berbuat demikian silahkan saja dilakukan dg
sesuka hati.”
Sekali lagi kakek bermuka hitam itu menjura kemudian baru
membalikkan badan dan berjalan menuju ketengah arena.
Diambilnya sebatang besi yg telah membara, lalu sambil berjalan
menuju kehadapan Li Sam, jengeknya sambil tertawa seram:
“Sewaktu berada ditepi sungai semalam, aku sama sekali tak
menyangka kalau orang yg kami hadapi adalah Li tayhiap,
he…he…he…masih ingatkah kau dg apa yg telah diucapkan
semalam?”
Li Sam nampak agak bingung tapi segera jawabnya dingin:
“Maaf aku Li Sam tidak dpt mengingatnya kembali…”
“He…he…he…” sekali lagi kakek bermuka hitam tertawa seram,
“semalam kau begitu bergaya dg ucapanmu yg begitu sombong, tak
sebuah perkumpulanpun yg luput dari cercaanmu, maka sekarang
aku hendak menyuruh kau merasakan pembalasan kami atas
perkataanmu yg tidak senonoh semalam.”
Tentu saja sikakek bermuka hitam ini tidak tahu kalau orang yg
mengejeknya semalam adalah Kho Beng, sehingga semua rasa
dendam dan sakit hatinya dilimpahkan kepada Li Sam seorang.
Paras muka Li Sam waktu itu sudah berubah menjadi hijau
membesi, hawa panas yg memancar keluar dari besi membara tsb
cukup membuat peluh diatas jidatnya mengucur keluar dg deras.
Sementara itu sikakek bermuka hitam kembali tertawa seram
seusai mengucapkan perkataannya tadi, tiba2 besi yg membara itu
ditusukkan keatas dada Li Sam.
Dlm keadaan seperti ini, Kho Beng sudah tak sanggup utk
menahan diri lagi, ia segera melompat bangun dan siap membentak:
Tapi sebelum suara bentakannya meluncur dari balik bibirnya, Li
Sam dg mata melotot besar telah membentak keras lebih dulu:
“Tahan!”

Walaupun suara bentakan itu tidak nampak bertenaga namun
berhubung dipancarkan dg sepenuh tenaga, maka suaranya cukup
menggetarkan seluruh ruangan.
Dg sorot mata yg berapi-api kembali ia membentak keras:
“Barangsiapa berani bertindak sembarangan, aku Li Sam tak
segan2 akan menghabisi nyawa sendiri!”
Didalam teriakan tsb seolah-olah tak sengaja sorot matanya
dialihkan sampai dua kali kewajah Kho Beng.
Menyaksikan hal tsb, Kho Beng menjadi tertegun lalu menghela
napas panjang dan duduk kembali ketempat semula.
Ia mengerti perkataan Li Sam tsb sengaja dituju kepadanya, ia
seperti memberi petunjuk kepadanya agar tdk bertindak secara
gegabah karena dorongan emosi, sebab hasilnya hanya mengantar
selembar jiwanya dg percuma.
Sementara itu sikakek bermuka hitam telah mengejek kembali
sambil tertawa seram:
“He...he...he...dalam keadaan seperti inipun kau masih ingin
berlagak sok?”
Besi yg merah membara itu segera disodokkan kedepan...
“Coossss......!”
Dipakaian Li Sam yg basah kuyup segera menyembur keluar
segulung asap berwarna hijau, disusul kemudian seluruh jago yg
hadir dlm ruangan mengendus bau daging yg hangus....
Jerit kesakitan yg memilukan hatipun berkumandang dari mulut Li
Sam serta bergema diseluruh ruangan.
Kho Beng tak tega menyaksikan adegan semacam itu, ia
memejamkan matanya rapat2 sambil berusaha keras menahan
cucuran air matanya yg telah mengambang dalam kelopak matanya
sekuat tenaga, ia berusaha utk menahan rasa gusar, dendam dan
gejolak emosi yg membara dalam dadanya. Dlm hati kecilnya diam2
ia berpekik, “Maafkan aku sam ko....selama Kho Beng masih dapat
bernapas didunia ini aku bersumpah akan membalaskan dendam
sakit hatimu ini” Tiba2 terdengar suara teriakan kaget bergema dari
sekeliling ruangan tsb,
“Sik tua cepat hentikan perbuatanmu!”
Sik tua tahan, dg wajah tertegun Kho Beng membuka matanya
kembali, ia saksikan darah segar telah meleleh keluar dari ujung
bibir Li Sam, sementara kepalanya telah terkulai lemas diatas
dadanya.

Dg perasaan terkejut kakek bermuka hitam membuang besi
membara yg berada ditangannya, kemudian memeriksa denyut nadi
Li Sam tapi akhirnya ia membalikkan badan dan mengundurkan diri
seraya bergumam:
“Aaaah...sudah mampus.....”
Perasaan menyesal jelas terlintas diatas wajahnya.
Sementara itu Bok sian taysu telah bangkit berdiri pula, ketika
menyaksikan peristiwa tsb ia segera berkata sambil menghela napas:
“Aaaaai…aku tidak menyangka kalau dia akan bunuh diri dg
menggigit lidah sendiri, akibatnya jejak kita untk menelusuri Kedele
Maut lagi2 terputus ditengah jalan.”
Kho Beng sendiri hampir semaput setelah meyaksikan kematian
yg mengenaskan dari Li Sam, tapi dg sekuat tenaga ia menggigit gigi
menahan diri.
Sekarang ia sudah dapat melihat dg jelas wajah2 sebenarnya
orang persilatan yg menganggap dirinya sbg golongan putih, demi
tercapainya apa yg diharapkan ternyata mereka pun tak segan2
menggunakan cara siksaan yg paling keji bahkan sama sekali tidak
menggubris peraturan dunia persilatan.
Diam2 ia mulai berjanji, peduli pihak istana naga dari bukit Kun
san serta sepasang sesepuh hitam putih Hoa san pay mempunyai
ikatan permusuhan atau tidak dg dirinya, suatu saat dia pasti akan
membalaskan dendam bagi kematian Li Sam…”
Begitulah malam itu juga Kho Beng berangkat meninggalkan
bukit Kun san…
Peristiwa berdarah yg berlangsung dibukit Kun san pun dg
cepatnya tersebar luas diseluruh dunia persilatan.
Kematian Leng hun totiang dari Bu tong pay, bunuh dirinya Li
Sam yg belum lama termasyur didunia persilatan…semua berita tsb
mendatangkan perasaan terkejut dan heran bagi semua jago
diseluruh negeri….
Tentu saja semua orang menduga Kedele Maut telah berhasil
meninggalkan kawasan telaga Tong ting, maka usaha pembalasan
dendam dari Kedele Maut pun mendatangkan perasaan misteri dan
seram bagi setiap umat persilatan. Orang jadi lebih waspada dan
berhati-hati lagi dalam kehidupannya.
Lebih2 dg kematian Li Sam, kematiannya mendatangkan akibat
yg luar biasa bagi umat persilatan. Semua orang tidak tahu barapa

banyakkah komplotan yg berpihak kepada Kedele Maut dan masih
berkeliaran diantara mereka.
Dibawah pemberitaan yg sambung menyambung, akhirnya
keseraman dan kehebatan Kedele Maut telah menimbulkan suatu
gambaran yg mengerikan bagi semua orang, seolah-olah tiada
lubang sekecil apapun yg tak bisa ditembusi Kedele Maut.
Dg terjadinya peristiwa itu, setiap jago mulai tak percaya dg
orang2 disekelilingnya, tindak tanduk setiap orang pun berubah
menjadi lebih hati2 dan penuh perhitungan, semuanya takut
dicurigai dan sebagai komplotan dari Kedele Maut tsb.
Terutama bagi kawanan tokoh persilatan yg berkumpul dibukit
Kun san kecuali menderita kekalahan yg tragis, mereka pun mulai
tak tenang hatinya akibat lenyapnya Kho Beng secara tak berbekas.
Waktu itu Kho Beng dg membawa perasaan sedih yg luar biasa
telah meneruskan perjalanannya utk mencari jejak encinya.
Entah berapa waktu sudah lewat, suatu hari sampailah dia dikota
Yang ciu.
Kota Yang ciu sebagai kota termasyur dikawasan Kang lam
benar2 memiliki kejayaan dan kemegahan yg luar biasa.
Walaupun kota Yang ciu sangat indah, sayang Kho Beng tidak
berkesan untuk menikmatinya.
Sejak kematian Li Sam, putusnya berita encinya, membuat
pemuda ini masgul dan berpikir kosong, dia tak tahu sampai kapan
baru dapat berkumpul kembali dg kakaknya itu.
Ketua Sam goan bun pernah memberitahukannya untuk
menemukan Sastrawan berkipas kemala Beng yu, maka dianjurkan
mencarinya kekota Yang ciu.
Tapi sejak kedatangannya dikota tsb, sudah hampir sore ia
berusaha menelusuri jejaknya, alhasil alamat tsb belum ketahuan
juga.
Dlm putus asanya dia mulai merasa ragu2 atas kebenaran
tindakan yg telah dilakukannya selama ini.
Dg perasaan bimbang dan kosong ia mencoba memperhatikan
sekejap sekeliling itu, mendadak dari ujung jalan sana tampak
seorang lelaki berbaju kuning yg menyoren pedang munculkan diri
dan bergerak mendekati dg cepat.
Orang itu berwajah panjang seperti muka kuda, alis matanya
tebal, meski wajahnya amat asing anmun warna kuning bajunya

persis sama seperti pakaian kuning yg dipakai rombongan jago
pedang yg pernah dijumpai di Tong sia tempo hari.
Seketika itu juga Kho Beng merasakan semangatnya berkobar
kembali, pikirnya:
“Seandainya orang berbaju kuning ini merupakan anggota
perguruan dari dewi In nu siancu, sudah pasti dia mengetahui pula
kabar berita tentang sastrawan berkipas kemala.”
Buru2 dihampirinya orang tsb, lalu seraya menjura sapanya:
“Saudara harap berhenti sebentar!”
Orang berbaju kuning itu tertegun, diamatinya wajah Kho Beng
dari atas hingga kebawah, kemudian tegurnya:
“Ada urusan apa?”
“Benarkah saudara anak buah dewi In nu siancu?” selidik Kho
Beng sambil tersenyum.
Berubah hebat paras muka jago pedang berbaju kuning itu, dg
suara dingin ia balik bertanya:
“Siapa kau? Darimana bisa tahu nama besar dewi kami?”
Dari nada jawaban orang tsb, Kho Beng tahu kalau ia sudah
menemukan lawan bicara yg benar, namun oleh karena sikap orang
tsb sangat tidak bersahabat, mau tak mau secara diam2 ia mesti
tingkatkan kewaspadaannya.
Sengaja ia membohongi orang tsb, segera ujarnya sambil tertawa
terkekeh-kekeh:
“Aku yg muda Tio ki mempunyai sobat yg menjadi anggota
perguruan dari dewi In nu siancu, oleh sebab itu sudah lama aku yg
muda menaruh rasa kagum dan hormat terhadap kebajikan
siancu…..”
“Siapakah rekanmu itu?” tukas lelaki berbaju kuning tsb dingin.
“Dia she Beng, orang persilatan menyebutnya sebagai sastrawan
berkipas kemala!”
Lelaki berbaju kuning itu segera mendengus dingin:
“Besar amat nyali Beng loji sehingga pantangan siancu kami pun
berani dilanggar, bahkan membocorkan rahasia sebesar ini kepada
orang lain….he…he….tampaknya ia sudah bosan hidup….”
Kho Beng segera merasa gelagat kurang menguntungkan, selain
itu dia pun tak berani menanyakan alamat sastrawan berkipas
kemala secara langsung, sebab sebagai sobat lama, mana mungkin
alamat rumahnya pun tidak diketahui? Bila ditanyakan secara
langsung, bukanka rahasianya justru akan terbongkar?

Satu ingatan segera melintas didalam benaknya, tidak sampai
perkataan lawan selesai diutarakan, segera ia tertawa terbahakbahak:
“Mengingat saudara adalah kenalan Beng jiko, berarti kaupun
sahabat diriku, harap anda jangan menganggap asing diriku.
Mari,mari…biar siaute menjadi tuan rumah dg menjamu saudara
dirumah makan Tay ang wan…”
Agaknya tindakan tsb sangat memenuhi selera manusia berbaju
kuning itu, air mukanya segera berubah kembali lebih kendor, malah
sambil tertawa katanya:
“Tio lote tak usah sungkan2, untung kau bersua dg diriku hari ini,
coba kalau orang lain….hmmm, mereka tak bakal bersikap
bersahabat seperti aku Han Tiong lin!”
Kho Beng segera tertawa bergelak:
“Sejak pandangan pertama tadi, aku sudah tahu kalau saudara
Han seorang lelaki yg amat bersahabat, tahu perasaan orang, itulah
sebabnya aku telah menegurmu secara lancang, ha…ha…ha…kalau
ada persoalan mari kita bicarakan didalam saja, mari berangkat, jika
saudara Han masih sungkan2 terus sama artinya tidak menganggap
diriku sbg sahabat!”
Sambil berkata, ia segera menarik ujung baju orang itu dan
diajak berlalu dari sana.
Han Tiong lin segera memicingkan matanya, lalu pura2 tertawa
rikuh, katanya:
“Kalau toh saudara bersikap begitu bersahabat, tentu saja aku
orang she Han harus menurutinya!”
Begitulah mereka berangkat berdua menuju rumah pelacuran Tay
ang wan.
Sambil berjalan Kho Beng kembali berkata sambil tertawa:
“Saudara Han tak usah merendah, biarpun aku tak punya nama
besar dalam dunia persilatan, tapi kesukaanku adalah mengikat tali
persahabatan dg siapa saja, apalagi manusia macam saudara Han.
Waah, aku tak pernah melewatkan biar seorangpun!”
Kata2 umpakan tsb makin menggirangkan hati Han Tiong lin,
wajahnya makin cerah, tidak sedingin tadi waktu bertemu pertama
kali tadi.
Baru saja mereka berdua melangkah masuk kedalam pintu
gerbang rumah pelacuran Tay ang wan, penjaga pintu telah
berteriak dg suara lantang:

“Ada tamu datang?”
“Silahkan!” jawaban lengking bergema dari balik ruangan.
Disusul kemudian muncul serombongan perempuan yg
berdandan menyolok dan bergaya amat genit.
Begitu genit jalannya perempuan2 tsb membuat Kho Beng bukan
saja bingung dan gugup, pandangan matanya serasa berkunangkunang.
Sejak terjun kedunia persilatan, baru pertama kali ini ia
terjun kebidang tsb sehingga pada hakekatnya tidak mengerti akan
tata cara yg berlaku disitu. Tapi untuk mengikat tali hubungan yg
lebih akrab dg Han Tiong lin sehingga usahanya memperoleh alamat
sastrawan berkipas kemala terwujud, buru2 ia mengeluarkan dua
puluh tail perak yg tersisa dalam sakunya dan dijejalkan ketangan
petugas disisinya sambil berpesan. Terima hadiah tersebut tapi kau
keluarkan semua nona yg paling top disini untuk menemati Han
toako ini...
Petugas rumah pelacuran itu nampak agak tertegun tapi
kemudian dg wajah berseri-seri serunya:
“Boleh hamba tahu toaya she apa?”
“She Tio!” dg suara keras petugas itu berteriak kembali.
“Tio kongcu telah menghadiahkan dua puluh tail perak, siapkan
kamar kelas satu.” Menyusul kemudian muncul sang germo diikuti
sekawanan dayang yg bersama-sama mengucapkan terima kasih:
Sang germo dg genitnya menerjang kehadapan Han Tiong lin lalu
katanya setengah merayu:
“Oooh....tuan Han kau toh bukan tamu asing buat apa menyuruh
Tio kongcu membayar mahal?”
Han Tiong lin terbahak-bahak:
“Li toanio jangan mentertawakan, Tio lote ku ini baru pertama
kali berkunjung kemari, karena itulah sebabnya baru masuk gedung
lantas membagi hadiah, harap toanio bisa melayani secara baik2…..”
“Ooooh…kalau toh sahabat tuan Han, masa aku berani berayal
kepadanya….he…he…kebetulan sekali Cui hong sedang kangen dg
tuan Han, mari ajak sekalian Tio kongcu ini untuk duduk dikamar
tidurnya Cui hong.”
Sambil berkata ia lantas menyingkir kesamping untuk memberi
jalan lewat…
Han Tiong itu tertawa terbahak-bahak, diiringi sekawanan
dayang, berjalanlah dia masuk kedalam gedung dan naik keatas
loteng.

Sementara itu paras muka Kho Beng telah berubah menjadi
merah jengah, ia tahu perbuatannya memberi hadiah tadi
memperlihatkan kepada orang lain bahwa ia baru kali ini berkunjung
ketempat macam begitu.
Sedikit banyak ia menyesal juga dg lenyapnya uang sebesar dua
puluh tail secara sia2, pikirnya kalau sekarang ia sudah berlagak
menjadi seorang toaya, entah bagaimana caranya untuk keluar dari
gedung ini nanti?
Tapi ibaratnya menunggang dipungung harimau, dalam keadaan
begini tak sempat lagi baginya untuk berpikir lain, setelah duduk
dalam ruangan, segera katanya kepada Han Tiong lin:
“Tak kusangka sama sekali saudara Han adalah langganan lama
tempat ini!”
Han Tiong lin tertawa terbahak-bahak:
“Ha…ha…ha…harap lote jangan mentertawakan, paling banter
aku Cuma iseng kemari kalau ada waktu senggang, habis kalau
menganggur sumpek rasanya!”
Kho Beng ikut tertawa terbahak-bahak, selanya:
“Ha…ha…ha…mana aku berani mentertawakan Han toako, tapi
aku pikir seorang enghiong tak bisa meninggalkan perempuan cantik
memang tepat sekali, buktinya saudara Han sebagai seorang jagoan
tg perkasa pun suka dg perempuan2 cantik…”
Kata2 umpakan tsb tak ubahnya menyanjung Han Tiong lin
setinggi langit, kontan saja ia kegirangan setenga mati.
Kebetulan sekali pada saat itulah tirai pintu ruangaan terbuka dan
muncul seorang perempuan cantik yg genit dan jalang.
Sembil tertawa tergelak Han Tiong lin segera berkata:
“Betul, betul sekali, Cui hong cepat kau jumpai Tio lote, sahabat
karibku ini!”
Sepelacur cantik, Cui hong mengerling dulu kearah Kho Beng,
kemudian setelah memberi hormat, ia baru merapatkan tubuhnya
kesamping Han Tiong lin dg manja.
Sang germo yg mengira Kho Beng sebagai putra seorang
hartawan, buru2 bertanya:
“Kongcu ingin makan apa?”
Setelah berada dalam posisi demikian, terpaksa Kho Beng harus
berpesan lebih lanjut, pesannya:
“Siapkan meja perjamuan dg hidangan terbaik.”

“Kongcu baru pertama kali berkunjung kemari, apakah perlu
hamba pilihkan seseorang….”
Tapi sebelum germo itu selesai bicara, Kho Beng sudah
menggoyangkan tangannya berulang kali dg kekuatiran.
“Tidak usah…tidak usah, harap toanio siapkan sebuah meja
perjamuan.”
Sang germo tertawa geli dan segera mengundurkan diri dari situ
sambil mengajak sekawanan dayang.
Pada saat itulah Han Tiong lin seperti teringat akan sesuatu.
Buru2 dia mendorong kesamping tubuh Cui hong, lalu ujarnya
kepada Kho Beng yg berada disisinya:
“Lote aku benar2 amat bodoh, aku lupa menanyakan sesuatu
kepadamu….”
“Soal apa?” tanya Kho Beng sambil tersenyum.
“Sebetulnya lote ada urusan apa datang mencariku?” tanya Han
Tiong lin hangat.
Diam2 Kho Beng agak tertegu, tapi setelah berpikir sebentar
buru2 jawabnya:
“Kalau toh saudara Han sudah mengajukan pertanyaan tsb,
terpaksa akupun hendak mohon bantuan saudara!”
“Katakan saja secara terus terang” seru Han Tiong lin sambil
menepuk dada, “Asal aku orang she Han sanggup melaksanakannya,
biar terjun kelautan api pun pasti tak akan kutampik!”
“Sesungguhnya persoalan besar sebagaimana diketahui, sudah
cukup lama siaute mengagumi nama besar siancu , oleh sebab itu
sudah berapa kali kumohon kepada Beng toako agar mau
memperkenalkan aku menjadi anggota perguruan siancu, siapa tahu
Beng toako berulang kali menampik permintaanku itu, sehingga
siaute pikir hendak mohon bantuan saudara Han untuk mencapai
cita2 ku!”
Setelah mengaku sebagai teman karib sastrawan berkipas
kemala, tentu saja ia tak bisa mengatakan kalau tak tahu alamat
rumahnya, karena itu satu ingatan cerdik segera melintas dalam
benaknya, membuat pemuda tsb segera menyusun sebuah alasan
palsu.
Ketika mendengar permintaan tsb, kening Han Tiong lin segera
berkerut kencang, dg sikap serba susah ia tampak termenung
beberapa saat lamanya:
Menggunakan kesempatan itu, buru2 Kho Beng berkata lagi:

“Siaute tidak terburu-buru dg keinginan tsb, harap saudata Han
usahakan saja secara pelan2 dikemudian hari!”
Dg serius Han Tiong lin manggut2, sahutnya:
“Ya betul, persoalan semacam ini memang tak bisa terburu-buru,
tapi tak usah kuatir, aku orang she Han pasti akan mencarikan
kesempatan untukmu!”
“Saat ini saudara Han berdiam dimana? Tolong diberikan alamat,
agar dikemudian hari siaute dapat berkunjung!”
“Kebetulan sekali aku sedang berdiam dirumah Beng loji saat
ini...!”
Mendengar itu Kho Beng menjadi sangat kegirangan, segera
ujarnya sambil tertawa:
“Ooooh kalau begitu sangat kebetulan sekali, siaute memang
berhasrat untuk mengunungi Bok toako dirumahnya, sebentar mari
kita berangkat bersama.”
Mendadak Han Tiong lin berbisik:
“Tahukah kau saat ini Beng loji berdiam dimana?”
Kho Beng tertegun, tapi ia segera balik bertanya:
“Apakah Beng toako sudah pindah alamat?”
Han Tiong lin segera tertawa misterius:
“Beng loji bukan hanya sudah berpindah alamat, malah dia
sekarang harus berpindah rumah setiap dua tiga hari sekali.”
“Aaaa…lantas Beng toako berdiam dimana sekarang?” tanya
pemuda itu keheranan.
Han Tiong lin semakin merendahkan suaranya, setengah berbisik
ia berkata:
“Selama dua hari terakhir ini dia berdiam ditengah kebun
terbengkalai gedung keluarga Nyoo disebelah timur kota.”
“Mengapa begitu?” seru Kho Beng lagi keheranan, “rumah sendiri
tidak ditempati, kenapa malah berdiam disebuah gedung yg sudah
tak terurus lagi…?”
“Karena ia sedang melarikan diri dari pengejaran si Kedele Maut,
kau tahu sekarang ia tidur tak nyenyak makan tak enak, setiap saat
hatinya selalu berdebar dan dicekam perasaan takut.”
“Apakah Kedele Maut telah menemukan Beng toako?” seru Kho
Beng makin tertegun.
Han Tiong lin menggelengkan kepalanya berulang kali:

“Seandainya bisa menduga, persiapan malah lebih gampang
dilakukan, justru karena kehadirannya tak dapat diramalkan, maka ia
jadi ketakutan setiap saat…”
Saat itulah sejumlah dayang muncul kedalam ruangan
menyiapkan semeja hidangan yg lezat, dalam keadaan begini mau
tak mau Kho Beng harus menghentikan dulu pembicaraannya.
Si pelacur Cui hong pun segera berseru pula sambil cemberut:
“Sudah setengah harian lebih tuan berdua bicara melulu, tapi tak
sepotong kata pun kupahami, coba lihat, aku jadi tersisih kan
saja….hayo kalian berdua mesti dihukum dg tiga cawan arak!”
Sambil memicingkan matanya, Han Tiong lin lalu tertawa
terbahak-bahak:
“Ha…ha…ha…baik2 memang harus dihukum”
Secara beruntun dia meneguk habis tiga cawan arak, kemudian
dg kasar ia merangkul pinggang Cui hong dan ujarnya sambil
tertawa cabul, “Seharusnya kaupun dihukum dg tiga cawan arak
pula!”
Cui hong berseru genit:
“Tuan Han kau ini memang keterlaluan…masa main gerayang
didepan tamu, apakah tidak kuatir ditertawai Tia kongcu?”
Han Tiong lin kembali tertawa, “Saudara ku ini bukan orang yg
kolot, mari,mari kita berciuman bibir dulu”
Adegan yg hangat tsb kontan saja mendebarkan hati Kho Beng,
tapi ia mesti berlagak seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu apapun,
malah dg mengalihkan perhatiannya keatas hidangan, ia makan dg
lahapnya. Tiba2 Han Tiong lin kembali berpaling seraya bertanya:
“Apakah kau kenal dg Kedele Maut?”
Kho Beng agak tertegun, lalu pura2 tercengang sahutnya:
“Orang persilatan bilang orang tsb harus dimusnahkan dari muka
bumi, apakah saudara Han mengetahui siapakah orangnya?”
Han Tiong lin tertawa misterius.
“Aku pernah mendengar siancu membicarakan soal ini, konon
orang itu masih ada sangkut pautnya dg perkumpulan Hui im ceng!”
Diam2 Kho Beng sangat terkejut, buru2 tanyanya lagi:
“Darimana siancu bisa mengetahui persoalan ini sedemikian
jelas….?”
“Siancu sendiripun hanya menduga-duga, tapi lote mesti tahu,
atasanku ini jarang sekali berbicara dihari-hari biasa, tapi sekali ia

sudah berkata maka biasanya apa yg diucapkan tak akan meleset
dari kenyataan….”
Dg berlagak tidak mengerti Kho Beng berkata lagi:
“Tapi rasanya belum pernah siaute dengar tentang perkumpulan
Hui im ceng didunia persilatan saat ini.”
“Aaah..berapa sih usia lote ini? Tentu saja kau tak bakal tahu.
Pada sembilan belas tahun berselang nama perkampungan Hui im
ceng boleh dibilang dikenal oleh setiap orang didunia saat itu.”
“Kalau demikian, mengapa tiada orang yg menyinggungnya lagi
sekarang?”
“Sebab semua penghuninya sudah mati semua, apa lagi yg
dibicarakan? Itulah yg dibilang orangnya hidup namanya termasyur,
orangnya mati nama pun ikut musnah.”
“Aaaah...rupanya saudara Han sedang membalik sejarah lama”
goda Kho Beng sambil tertawa.
“Lote rupanya kau belum mengerti, ketahuilah meski hutang tsb
telah berlangsung sembilan belas tahun sesungguhnya hingga
sekarang masalahnya belum selesai.”
“Kalau toh peristiwanya sudah terjadi pada sembilan belas tahun
berselang, apanya lagi yg belum selesai?”
Secara beruntun Han Tiong lin meneguk habis dua cawan arak,
mukanya yg jelek segera berubah menjadi semu merah, dg
semangat berkobar segera ujarnya lagi:
Perkampungan hui im ceng musnah disebabkan sejilid kitab
pusaka dunia persilatan, tapi orangnya mati bukunya ikut lenyap dan
hingga kini belum diketahui nasibnya, disamping itu dari
perkampungan Hui im ceng pun masih ada empat yg berhasil lolos,
hingga sekarang kecuali diketahui kematian Kho Po koan seorang
pelayan tua perkampungan tsb, nasib si mak inang serta putra-putri
Kho Po koan masih belum diketahui jelas. Atas dasar dua persoalan
itulah bagaimana mungkin persoalannya bisa diselesaikan dg begitu
saja...”
Baru pertama kali ini Kho Beng mendengar orang lain
membicarakan tentang peristiwa yg menimpa keluarganya, ia
merasa sedih sekali.
Tapi untuk menyelidiki persoalan tsb lebih lanjut terutama
tentang kitab pusaka yg lenyap, buru2 tanyanya lagi:

“Siaute masih sangat muda dan rendah sekali pengetahuannya,
apa salahnya bila saudara Han mengungkap kembali peristiwa tsb
agar pengetahuan siaute pun ikut bertambah?”
Dg rasa bangga Han Tiong lin manggut2:
“Boleh saja mengungkapkan kembali perkampungan Hui im ceng
diota Han ciu, waktu itu boleh dibilang erupakan tempat suci yg
disegani setiap angggota persilatan pada saat itu, sayang sekali Hui
in cengcu terlalu cerdik sehingga akhirnya malah mendatangkan
bencana kemusnahan bagi keluarganya….”
“Sungguh siaute tak mengerti” sela Kho Beng cepat, “kalau toh
Hui im cengcu seorang yg cerdik melebihi orang lain, mengapa
keluarganya malah tertimpa musibah besar?”
“Peristiwa ini harus dibicarakan kembali sejak hari Tong ciu pada
bulan delapan, sembilan belas tahun berselang, waktu itu Hui im
cengcu menyelenggarakan perjamuan besar untuk merayakan
hadirnya putra pertamanya, konon yg menghadiri perjamuan tsb
mencapai lima ratusan orang lebih, tentu saja hadiah yg diterimanya
pun tak terhitung jumlahnya.
Siapa tahu pada saat perjamuan diselenggarakan itulah, tiba2
datang sebuah bingkisan yg dihantar seorang tak dikenal hingga
dimuka pintu gerbang, orang itu segera berlalu tanpa meninggalkan
pesan setelah menyerahkan bingkisan tsb, padahal diatas kotak
bingkisan tsb sama sekali tidak ditinggali nama atau alamat
pemberinya, kejadian inilah yg menimbulkan perasaan ingin tahu
perasaan semua hadirin.
Berhubung bingkisan itu kelewat misterius datangnya, maka Hui
im cengcu Kho Ban siu pun memutuskan untuk membukanya
didepan umum, coba lote terka apa isi bingkisn tsb?”
Kho Beng segera menggelengkan kepalanya berulang kali.
Melihat pemuda itu menggeleng Han Tiong lin berkata lebih
lanjut:
“Ternyata isi bungkusan tsb tidak lain adalah kitab pusaka thian
goan bu boh yg menjadi incaran setiap umat persilatan sejak
belasan tahun berselang.”
“Oooo…begitu berharganya bingkisan tsb!” pekik Kho Beng agak
tertegun.
“Ya, memang kelewat harganya” sahut Han Tiong lin sambil
tertawa, “Begitu berharga sampai Hui im cengcu yg termasyur
namanya diseantero jagad pun tak sanggup menerimanya, akibat

dari bingkisan tsb lima enam lembar nyawa mesti berkorban dg
sia2!”
Kho Beng erasakan darah dlm tubuhnya mendidih dan panas,
segera tanyanya:
“Apakah diantara tamu yg menghadiri perjamuan tsb ada yg iri
hati dan berniat merampas kitab tsb?”
“Lote dugaanmu itu keliru besar, justru Hui im cengcu sendiri yg
bersedia menyerahkan kitab itu kepada semua umat persilatan,
Cuma diapun mempunyai jurus permainan sendiri.”
“Permainan apa?” tanya pemuda itu tertegun.
“Waktu itu Hui im cengcu belum juga habis berpikir siapa
gerangan yg menghadiahkan bingkisan tsb kepadanya? Mengapa ia
rela menghadiahkan kitab pusaka tsb kepadanya? Tapi ia mengerti
dg pasti bahwa menyimpan kitab mestika sama artinya mengundang
bencana bagi diri sendiri, maka pada saat itulah dia mengumumkan
rela menyebar luaskan isi kitab pusaka Thian goan bu boh tsb
kepada seluruh umat persilatan, tapi untuk menghindari agar ilmu
sakti tsb jangan terjatuh ketangan bangsa kurcaci yg tidak
bertanggung jawab hingga mendatangkan bencana dikemudian hari,
maka dia mohon para jago agar mau menunggu selama tiga hari
agar ia dapat mencarikan cara yg terbaik dala pelaksanaan
tujuannya itu.”
Mendengar sampai disini tanpa terasa Kho Beng menyela:
“Apakah tiga hari kemudian Hui im cengcu telah berubah
pikiran?”
Han Tiong lin segera tertawa bergelak:
“Ha...ha...ha...Hui im cengcu tak akan sebodoh itu, tiga hari
kemudian bukan saja ia telah mengumumkan cara tsb malah
menimbulkan rasa gembira yg amat sangat bagi para jago yg
menghadiri perjamuan tsb, semua orang berpamitan dg perasaan
amat lega!”
“Kalau memang demikian keadaannya, toh tak bisa dibilang Hui
im cengcu telah melakukan permainan dibalik tindakannya itu?” seru
Kho Beng emosi.
Setelah mengeringkan secawan arak, sambil tertawa Han Tiong
lin kembali berkata:
“Lote kau hanya tahu satu tak tahu dua, justru masalahnya
berada dibelakang. Waktu itu Hui im cengcu telah mengumumkan
secara blak-blakan kalau kitab pusaka Thian goan bu boh telah

diserahkan kepada Bu wi lojin untuk dibuatkan tujuh buah
salinannya yg masing2 hendak dihadiahkan kepada tujuh perguruan
besar, tentunya lote akan bertanya bukan apa salahnya kalau ia
sendiri yg membuatkan salinan tsb?”
“Ya, benar!” Kho Beng manggut2.
“Ya disinilah letak kebijaksanaan Hui im cengcu, ia kuatir orang
lain mencurigainya tidak jujur atau sengaja menyembunyikan
sebagian dari rahasia ilmu silat tsb, sedangkan Bu wi lojin sudah
tersohor didalam dunia persilatan sebagai seorang tokoh silat yg
berwatak baik, saleh serta hambar akan perebutan nama dan
kedudukan, oleh sebab itulah semua orang merasa tindakan Hui im
cengcu itu sangat jujur, bijaksana dan mengagumkan.
Kemudian peraturan yg ditentukan Hui im cengcu pun sangat
teliti dan luar biasa, ia bilang setiap umat persilatan yg bertabiat baik
dan bermoral tinggi bila ingin mengajukan permintaannya untuk
mempelajari ilmu sakti yg tercantum dalam kittab Thian goan bu boh
tsb, maka ciangbunjin dari perguruan mana pun dilarang
menyembunyikan sebagian dari ilmu silat tersebut secara sengaja.
“Akhirnya Hui im cengcu berkata: Bu wi lojin akan menunggu
kehadiran mereka dikaki gunung Hong san pada setengah bulan
kemudian, ia berharap semua ciangbunjin dari pelbagai perguruan
bisa hadir pada saatnya, siapa tak hadir artinya mengundurkan diri
dari keinginan untuk memperoleh salinan kitab tsb.”
“Mengapa harus menunggu sampai setengah bulan kemudian?”
tanya Kho Beng lebih jauh.”
“Didalam persoalan inipun Hui im cengcu memberi penjelasan,
konon Bu wi lojin baru sembuh dari sakit parah dan lagi telah
memutuskan akan hidup terpencil, maka ia tak berharap mengulur
waktu kelewat lama hingga menimbulkan kerisauan semua pihak,
maka ketujuh partai besar serta sekalian rekan2 persilatan yg hadir
dalam erjamuan itu sama2 berpamitan kepada Hui im cengcu dg
membawa perasaan gembira dan agar tidak terlambat sampai
ditempat tujuan, ketujuh orang ciangbunjin dari tujuh partai besar
segera berangkat kebukit Hong san. Siapa tahu sepuluh hari
kemudian, tatkala mereka belum tiba dibukit Hong san, ditengah
jalan telah bersua dg Bu wi lojin, siapa tahu perjumpaan tsb
membuat semua orang menjadi amat kecewa.”
“Mengapa begitu?” tanya Kho Beng tertegun.

“Waktu itu Bu wi lojin malah marah2, ia bilang bukan saja Hui im
cengcu tak pernah menyerahkan sesuatu kitab pusaka kepadanya,
bahkan ia sama sekali tidak mengetahui akan persoalan tsb!”
Mendengar sampai disini Kho Beng segera merasakan hatinya
bergetar keras, serunya tanpa sadar:
“Mana mungkin hal ini bisa terjadi?”
Han Tiong lin tertawa terbahak-bahak:
“Ha…ha…ha…tampaknya Hui im cengcu telah menggunakan
siasat memindah bunga menyambung ranting untuk menipu orang
banyak, waktu itu ketujuh ketua partai besar merasa amat gusar,
mereka menganggap permainan Hui im cengcu sangat keterlaluan
sehingga menyiksa mereka harus bersusah payah berangkat kebukit
Hong san tapi pulang dg rasa kecewa.
Maka sepanjang jalan pun mereka mengumpulkan segenap rekan
persilatan serta anak murid masing2 untuk kembali ke Hang ciu dan
menegur Kho Bun sin atas ulahnya. Akibatnya terjadilah suatu drama
yg sangat tragis, Hui im cengcu yg gagah perkasa akhirnya tewas
dan musnah karena tak tahan menghadapi kerubutan ratusan orang
jago lihay.”
Kisah cerita sudah berakhir, tapi Kho Beng justru terjerumus
dalam suasana sedih dan murung.
Ia percaya ayahnya bukan manusia semacam itu tapi diapun tahu
kisah cerita yg disampaikan Han Tiong lin sekarang bukan Cuma
diketahuinya seorang, jadi mustahil orang itu sengaja
membohonginya.
Lalu mungkinkah Bu wi lojin yg kemaruk wasiat hingga lupa
daratan..?
Kho Beng menganggap hal ini mustahil bisa terjadi bila orang tua
tsb berniat melalap kitab pusaka itu, tak nanti dia akan menyesal
setengah mati karena kehilangan pusaka tsb tiga bulan berselang,
bukan saja dia bersedia mengorbankan setengah dari tenaga
latihannya, bahkan tergesa-gesa turun gunung untuk menyelidiki
kemana larinya pusaka tadi, berpikir sampai disini tanpa terasa Kho
Beng teringat kembali dg pesan gurunya si Unta sakti berpunggung
baja, orang tua itu pernah memberi kisikan kepadanya bahwa dibalik
dendam kesumatnya itu ada penyakitnya.
Mungkinkah penyakit tsb muncul pada Bu wi lojin yg dijumpai
para ciangbunjin tujuh partai besar ditengah jalan?

Berpikir sampai disini perasaan hatinya segera bergetar keras,
satu ingatan melintas dalam benaknya.
Ia merasa besar kemungkinan ada orang yg menyaru sebagai Bu
wi lojin pada waktu itu, dimana orang tsb sengaja menunggu
kedatangan para ciangbunjin dari tujuh partai besar ditengah jalan
dan melaksanakan siasat liciknya untuk menjerumuskan keluarga
Hui im cengcu kelembah kehancuran.
Dari kisah yg diceritakan Han Tiong lin, secara lamat2 Kho Beng
pun dapat merasakan bahwa ada seseorang yg telah menyamar
sebagai pegawai ayahnya untuk mendapatkan lencana Siong in giok
ceng dari tangan pelayan setia keluarganya Kho Po koan dan
mengambil kitab pusaka yg disimpan Bu wi lojin.
Bila semua cerita itu dikaitkan satu dg lainnya, maka posisi si
sastrawan berkipas kemala dalam rencana keji itupun makin lama
serasa semakin penting.
Sementara dia masih melongo seperti orang kehilangan
semangat, terdengar Han Tiong lin menegur sambil tertawa:
“Lote aku sudah selesai bercerita, apalagi yg kau pikirkan? Mari
aku hendak menghormati secawan arak kepadamu sebagai rasa
terima kasih atas kebaikanmu hari ini!”
Kho Beng segera sadar kembali dari lamunannya setelah
mendengar teguran tsb, buru2 dia mengulumkan senyuman
dibibirnya serta meneguk habis secawan arak.
Sedang dalam hati kecilnya ia merasa sangat gembira, sebab
sama sekali tak terduga olehnya bahwa perjamuan yg
diselenggarakan kali ini justru meraih hasil yg sama sekali diluar
dugaan.
Ini berarti rencananya untuk mencari sastrawan berkipas kemala
pun tak bisa ditunda-tunda lagi.
Sementara itu malam hari sudah semakin kelam, Kho Beng mulai
gelisah karena Han Tiong lin sama sekali tidak berhasrat untuk
meningalkan rumah pelacur tsb, dlm keadaan setengah mabuk,
apalagi dirayu oleh seorang pelacur cantik Cui hong, bagaimana
mungkin orang she Han tsb tega meninggalkan ditengah jalan?
Ia tak tahu bagaimana caranya melepaskan diri dari pengawasan
Han Tiong lin, ditambah lagi isi sakunya telah ludes, dg cara apa
mereka harus keluar dari rumah pelacur Tay ang wan tsb?
Pikir punya pikir, akhirnya ia berhasil menemukan sebuah cara yg
dirasakan terbaik.

Satu-satunya jalan yg terbaik baginya sekarang adalah berusaha
meloloh lawan dg arak sehingga mabuk, dalam keadaan begitu,
tentu saja ia biasa meloloskan diri dg mudah.
Maka dg pelbagai alasan yg dibuat-buat, ia mulai meloloh Han
Tiong lin dg arak menjelang kentongan yg pertama Han Tiong lin
sudah dibikin benar2 mabuk.
Dlm keadaan beginilah Kho Beng moho diri dg alasan hendak
kekamar kecil, begitu keluar dari kamar tidur Cui hong, ia segera
menerobos keluar dari jendela dan secepatnya berangkat kerumah
kosong keluarga Nyoo disebelah timur kota.
Sebetulnya gedung keluarga Nyoo merupakan sebuah gedung
bangunan yg paling luas diseluruh kota Yang ciu, kebunnya yg luas
dg pepohonan yg rimbun, benar2 merupakan sebuah tempat tinggal
yg sangat nyaman.
Tapi kini, bangunan tsb tinggal sebuah gedung yg kotor tanpa
penghuni, kebunnya yg luas telah ditumbuhi rumput liar setinggi
manusia, sarang laba2 menambah semaraknya suasana, membuat
keadaan disitu betul2 amat mengenaskan.
Setelah meninggalkan tempat pelacuran Tay ang wan dg gerakan
cepat Kho Beng berangkat menuju gedung kosong tsb, dari
kejauhan ia sudah melihat bangunan gedung yg gelap gulita dan
menyeramkan itu.
Seandainya Han Tiong lin tidak menjelaskan lebih dulu, ia
sendiripun hampir tak percaya kalau dalam gedung semacam begini
ada penghuninya.
Setelah sampai disana, pemuda itu segera menjejakkan kakinya
keatas tanah dan melompat masuk kedalam dinding pekarangan
gedung.
Mendadak terdengar seorang membentak dg suara dalam:
“Sobat ada urusan apa malam begini datang kemari?”
Sesosok bayangan manusia berbaju kuning munculkan diri secara
tiba2 dari balik hutan dan menghadang jalan perginya.
Kho Beng tahu orang ini pastilah salah satu diantara kawanan
jago pedang berbaju kuning rombongan Han Tiong lin maka sambil
menghimpun tenaga untuk menghindari segala hal yg tidak
diinginkan, ia menjawab dg lantang:

“Aku adalah sahabat dari Han tiong lin toako, atas permintaan
Han toako ada urusan penting hendak kusampaikan kepada
sastrawan berkipas kemala Beng jihiap!”
Jago pedang berbaju kuning itu segera menyarungkan kembali
pedangnya, lalu berkata seraya mengulap tangannya:
“Harap sobat mengikuti aku!”
Ia membalikkan badan dan melompat kehalaman belakang.
Sesudah melalui dua lapis bangunan yg setengah roboh
sampailah mereka didepan sebuah bangunan rendah yg amat gelap.
Jago pedang berbaju kuning itu segera bertepuk tangan dua kali,
dari balik bangunan rumah itu segera muncul setitik cahaya lentera
disusul kemudian seorang bertanya:
“Ada urusan apa?”
“Han toako mengutus orang untuk menyampaikan suatu berita!”
jawab jago pedang berbaju kuning itu.
Baru selesai ucapan tsb, pintu sudah dibuka orang, lalu terlihatlah
dibawah cahaya lentera yg redup, lima enam buah peti mati nampak
berjajar dalam ruangan, sementara sastrawan berkipas kemala dg
sikap yg was-was dan agak tercengang munculkan diri dari balik
pintu.
Ketika ia sudah melihat jelas wajah Kho Beng, paas mukanya
segera berubah hebat, serunya tanpa terasa:
“Aaaah...rupanya kau?”
Kho Beng tertawa nyaring, segera ujarnya sambil menjura:
“Beng Jihiap, sejak perpisahan tempo hari, aku benar2 rindu
sekali kepadamu.”
“Kho Beng, darimana kau bisa tahu kalau aku berdiam disini?”
tegur Sastrawan berkipas kemala dg suara dingin.
Kembali Kho Beng tertawa terbahak-bahak:
“Ha…ha…ha…sewaktu berada dikota Yang ciu, secara kebetulan
aku telah bersua dg Han toako, dari dialah dapat kuketahui bahwa
jihiap telah pindah, hanya saja sikap jihiap mendiami tempat
semacam ini benar2 membuat hatiku terkejut bercampur
keheranan!”
“Kau kenal dg Han lotoa?” seru Sastrawan berkipas kemala dg
wajah tertegun dan hati bergetar keras.
“aku sudah bersahabat hampir setahun lamanya dg saudara Han,
bukan kenalan baru lagi namanya….”

“Tolong tanya ada urusan apa kau datang mencariku?” tukas
Sastrawan berkipas kemala kemudian.
“Jihiap bagaimana kalau kita berbincang-bincang didalam
ruangan saja…?”
Sastrawan berkipas kemala itu termenung beberapa saat,
akhirnya dia manggut2, namn disaat Kho Beng melangkah masuk
kedalam ruangan, secara diam2 ia memberi tanda rahasia kepada
sijago pedang berbaju kuning yg berada diluar pintu itu.
Setelah berada dalam ruangan, Kho Beng baru dapat melihat dg
jelas keadaan dalam ruangan, ternyata kecuali keenam buah peti
mati itu, disana tak nampak benda lain.
Sarang laba2 kelihatan memenuhi setiap sudut ruangan, hal ini
menunjukkan kalau tempat tsb telah dirubah oleh rakyat setempat
sebagai ruangan penitipan jenasah.
Bila seseorang yg tak tahu keadaan sebenarnya, pada
hakekatnya tak pernah akan menduga kalau ada orang berdiam
ditempat semacam ini.
Setelah menutup kembali pintu ruangannya, Sastrawan berkipas
kemala segera berkata dg suara dingin:
“Maaf kalau aku tak bisa memberi pelayanan yg baik ditempat
semacam ini, nah sauhiap bila ada persoalan silahkan saja
diutarakan keluar!”
Kho Beng tertawa hambar.
“Jihiap tidak usah sungkan, persoalan pertama yg hendak
kusampaikan adalah berita kematian dari saudara angkatmu sesaat
sebelum meninggal kakak angkatmu merasa amat menyesal karena
tak dapat kembali bersua dg mu!”
Sekilas perasaan malu dan menyesal menyelimuti seluruh wajah
Sastrawan berkipas kemala, tapi sejenak kemudian ia sudah berkata
lagi dingin:
“Berita kematian kakak angkatku telah kuperolah sejak lama,
kecuali persoalan ini apakah sauhiap masih ada urusan lain?”
Sikap lawannya segera menimbulkan pandangan yg menghina
dari Kho Beng, diam2 pikirnya:
“Tampak untuk menghadapi manusia semacam ini, lebih baik
kugunakan siasat untuk menjebaknya ketimbang bertanya secara
baik2.”
Berpikir begitu, dg wajah serius segera katanya:

“Sebelum menghembuskan napas yg terakhir kakakmu telah
memberitahukan satu persoalan kepadaku, itulah sebabnya aku
sengaja datang mencari jihiap untuk membuktikan kebenaran
ceritanya.”
“Soal apa?” tanya Sastrawan berkipas kemala mulai ragu2.
“Masih ingatkah jihiap dg tempat dimana kita bersua pertama
kalinya?”
Sastrawan berkipas kemala manggut2.
“Maksudmu perkampungan Hui im ceng didalam kota Tang an?”
“Betul!” Kho Beng mengangguk, “konon kalian berhasil
mendapatkan sebuah lencana Siong im giok leng…”
“Ada urusan apa lotoa ku memberitahukan soal tsb kepadamu?”
seru si sastrawan berkipas kemala tercengang, wajahnya nampak
agak kaget.
Dari nada pembicaraannya, Kho Beng tahu kalau dugaannya
memang benar, maka sambil menarik muka katanya lebih jauh:
“Tentu saja persoalan ini ada hubungannya dgku, sekarang aku
Kho Beng hanya ingin tahu apa benar lencana Siong im giok leng tsb
telah diserahkan kepada orang lain?”
“Menurut lotoa, benda tsb telah diserahkan kepada siapa?” paras
muka Sastrawan berkipas kemala berubah hebat.
“Jihiap seharusnya mengerti aku Kho Beng hanya berharap Jihiap
memberikan jawabannya sehingga bisa dicocokkan dg apa yg
kuketahui.”
Tiba2 Sastrawan berkipas kemala tertawa dingin, jengeknya:
“Kau tidak usah menggunakan tipu muslihat untuk menjebakku,
aku Beng yu tak mau menjawab pertanyaan tsb.”
Menyaksikan siasatnya berhasil dibongkar lawan tanpa terasa Kho
Beng berpikir:
“Nyata sekarang betapa licik dan lihaynya orang ini!”
Sambil menarik muka ia segera berseru:
“Jadi jihiap benar2 enggan menjawab?”
Mendadak Sastrawan berkipas kemala tertawa licik:
“Kho Beng, jelaskan dulu apa hubunganmu dg persoalan tsb!”
Sastrawan berkipas kemala segera tertawa bergelak:
“Ha…ha…ha…siapa sih yg hendak kau tipu? Justru Bu wi lojin
sendiri yg telah meminta kembali lencananya…”
Seketika itu juga Kho Beng merasakan hatinya bergetar keras,
sekarang ia baru mengerti kalau toh Sastrawan berkipas kemala

mengatakan bahwa lencana tsb telah diminta kembali Bu wi lojin,
berarti persoalan ini ada hubungannya dg orang yg menyamar
sebagai pegawai Hui im ceng dan melarikan kitab pusaka Thian goan
bu boh tsb.
Karenanya dg suara dalam katanya:
“Beng Yu, dari mana kau bisa tahu kalau lencana Siong im giok
leng telah diminta kembali Bu wi cianpwee?”
Kembali Sastrawa berkipas kemala tertawa licik, tiba2 ia bertepuk
tangan keras2:
Jilid 12
Bersamaan dg bergemanya suara tepukan itu, tiba2 pintu
ruangan terpentang lebar dan muncullah serombongan jago pedang
berbaju kuning, dg pedang terhunus mereka mengawasi Kho Beng
tajam2 sementara serangan telah siap dilancarkan setiap saat.
Berubah hebat paras muka Kho Beng, terutama karena jumlah
lawannya mencapai delapan orang lebih.
Diawasinya wajah Sastrawan berwajah kemala lekat2, kemudian
tegurnya dg suara dalam:
“Apa yg hendak kau perbuat?”
Sastrawan berkipas kemala sama sekali tidak menggubris teguran
Kho Beng, kepada kedelapan orang jago pedang berbaju kuning itu
bentaknya keras2:
“Dialah Kho Beng, orang yg sedang dicari-cari siancu, apabila
dapat dibekuk dalam keadaan hidup, hal itu merupakan sebuah
pahala yg amat besar!”
Kho Beng sangat terkesiap, tiba2 satu ingatan melintas dalam
benaknya, segera hardiknya:
“Beng yu, rupanya kau telah menyerahkan tanda pengenal milik
Bu wi cianpwee itu kepada dewi In nu siancu.”
Sastrawan berkipas kemala tidak menyangka kalau sepatah
katanya tadi telah membongkar seluruh rahasianya, berubah hebat
paras mukanya, tapi sambil tertawa seram ia kemudian berkata:
“Benar, malah siancu telah mencurigai dirimu sebagai putra
sipelayan dari Hui im ceng, hari ini kau tak dapat dilepaskan dg
begitu saja…”
Dlm terperanjatnya Kho Beng merasakan pikiran serta
perasaannya bergolak keras.

Ternyata dewi In nu siancu pun mencurigai hubungannya dg
pihak perkampungan Hui im ceng, tapi darimana ia bisa tahu kalau
kita pusaka Thian goan bu boh masih berada ditangan Bu wi lojin?
Mungkinkah dalang dibelakang layar yg menyebabkan kematian
tragis ayah ibunya serta hancurnya perkampungan Hui im ceng
tempo hari tak lain adalah Dewi in nu siancu tsb?
Tapi sayang situasi saat ini tidak memberi kesempatan kepada
Kho Beng untuk berpikir lebih jauh, karena dua bilah pedang yg
membawa desiran angin tajam telah menusuk kedepan dadanya.
Kho Beng merasakan darah panas mendidih dalam dadanya, dg
penuh kegusaran ia melompat naik keatas peti mati untuk
meloloskan diri dari ancaman tsb, kemudian ia meloloskan
pedangnya dan sambil membentak keras ia melancarkan sebuah
sapuan kedepan mengancam keselamatan jiwa Sastrawan berkipas
kemala.
“Bajingan ! Anjing yg tak tahu malu!” bentaknya keras2,
“sekalipun kau tidak mencari gara2 dgku, hari ini akupun hendak
membekukmu hidup2 serta mengorek keterangan dari mulutmu.”
Sementara itu Sastrawan berkipas kemala telah meloloskan pula
senjata kipas tulang kemala putihnya sambil tertawa dingin ia
menjengek.
“He…he….he…tampaknya kau benar2 sebagai putra Kho Po koan,
sunguh menggelikan sekali, kau telah membunuh ayah sendiri tapi
sampai sekarang masih tidak merasakannya…”
Gerak serangan Kho Beng segera terhadang oleh empat orang
jago pedang berbaju kuning sewaktu berada ditengah jalan, ia
makin gusar sehabis mendengar perkataan itu, baru satu jurus
serangan tangguh hendak dilancarkan, mendadak dari luar
terdengar dua kali jeritan ngeri yg memilukan hati bergema
memecahkan keheningan.
Kedua belah pihak sama2 terperanjat dan serentak berpaling
kebelakang, dibawah cahaya lentera yg redup kelihatan jelas dua
orang jago pedang berbaju kuning telah mengeletak mati diatas
tanah.
Tak terlukiskan rasa kaget Sastrawan berkipas kemala serta
kawanan jago pedang lainnya, paras muka mereka berubah hebat.
Rupanya entah sejak kapan dari depan pintu gedung telah
bertambah dg tiga orang nona berbaju putih, ketiga orang nona itu
munculkan diri tanpa menimbulkan sedikit suara pun sehingga

semua orang yg berada dalam ruangan tak seorangpun yg
mengetahui kehadiran mereka.
Hampir saja Kho Beng menjerit tertahan, setelah melihat
kehadiran nona berkerudung yg membawa sebuah payung bulat
diantara gadis2 tsb, sebab orang itu tak lain adalah kakak
kandungnya.
Tapi bila teringat disitu masih hadir orang lain, akhirnya pemuda
kita berusaha untuk menahan diri, sebab dia tahu jika identitas
kakaknya sampai terbongkar maka akan mendatangkan banyak
kerugian bagi pihaknya.
Olehkarena itulah untuk sementara waktu dia Cuma bisa
membungkam sembil menunggu perkembangan selanjutnya.
“Siapa kalian…?” terdengar Sastrawan berkipas kemala
membentak dg tercengang.
Nona berkerudung perak yg berdiri ditengah mendengus dingin,
ia sama sekali tidak menggubris teguran Sastrawan berkipas kemala
itu, sebaliknya kepada keenam jago pedang berbaju kuning lainnya
ia berkata dg suara sedingin salju:
“Mencari kemenangan dg mengandalkan jumlah banyak bukan
sifat gagah seorang pendekar sejati, tinggalkan orang she Beng dan
orang she Kho itu, yg lain boleh segera menggelinding dari sini!”
Tiba2 salah seorang diantara jago pedang berbaju kuning itu
menjengek sambil tertawa dingin:
“Kami harus pergi dari sini hanya atas dasar kata2 perempuan
rendah macam dirimu? He…he…he…terus terang kukatakan, aku
Liok Bo beng merasa amat tak puas!”
Agaknya ia masih belum sadar kalau nona yg berada
dihadapannya sekarang tidak lain adalah Kedele Maut yg telah
mengobrak abrik seluruh dunia persilatan dewasa ini.
Mencorong sinar tajam dari balik mata Kho Yang ciu setelah
mendengar ucapan tsb, mendadak serunya dingin:
“Bwee hiang!”
Dayangnya, Bwee hiang segera tampil kedepan seraya bertanya:
“Apa perintah nona?”
“Lecuti orang she Liok itu hingga berdarah, agar lain kali jangan
mencaci orang lain semaunya sendiri!”
Bwee hiang segera mengiakan, dirabanya sebuah angkin perak
yg melilit pinggangnya lalu diayunkan kedepan menyambar tubuh
jago pedang berbaju kuning itu, kecepatan serangannya begitu

mengagumkan sehingga pada hakekatnya tak dapat diikuti dg
pandangan mata.
Semenjak tadi si jago pedang berbaju kuning itu telah membuat
persiapan, sambil tertawa dingin segera jengeknya:
“He…he…he…belum tentu seranganmu bisa mengapa apa diriku!”
Sambil berkelebat kesamping, pedangnya diputar secepat kilat
lalu menusuk kemuka, sasarannya adalah pinggang Bwee hiang.
Tiba2 terdengar Bwee hiang membentak nyaring, cahaya perak
menggulung bagaikan seekor naga sakti, kemudian…
“Praakk…”
Ujung angkinnya telah melecuti bahu kanan jago pedang berbaju
kuning itu keras2.
Seketika itu juga si jago pedang berbaju kuning itu menjerit
ketakutan, pedangnya segera jatuh keatas tanah sementara
tubuhnya mundur dua langkah dg sempoyongan dan akhirnya…
“Blummm…”
Ia jatuh terduduk diatas tanah.
Tampak paras mukanya telah berubah menjadi menguning, peluh
bercucuran keluar seperti air terjun, dibagian bahu kanannya robek
besar, daging dan kulitnya robek hingga kelihatan hancuran
rulangnya yg berwarna putih.
Peristiwa ini sangat mengejutkan kawanan jago pedang lainnya,
paras muka mereka berubah hebat.
Bukan saja mereka tak sempat melihat cara pasti perubahan
jurus serangan dari Bwee hiang, bahkan mereka tak mengira kalau
lecutan yg kelihatan begitu ringan ternyata menimbulkan kekuatan
sehebat itu, siapa tak ciut hatinya setelah melihat adegan ini?
Sementara itu Kho Yan chiu telah melirik sekejap kearah jago
pedang yg terluka itu, lalu bentaknya tiba2:
“Batalkan dua lecutan terakhir!”
Waktu itu lecutan kedua dari Bwee hiang hampir menempel
diatas dada lawan, serentak ia menggetarkan tangannya setelah
mendengar bentakan tsb.
Angkin peraknya dg membawa cahaya yg berkilauan segera
menggulung balik kebelakang..
Kho Yang chiu kembali tertawa sinis, ejeknya:

“Hmmm, mengakunya seorang pendekar hebat, tapi
kenyataannya tak mampu menahan sebuah lecutan pun, buat apa
kau mengibul terus menerus? Hmm...siapa lagi yg merasa tak puas?”
Ciut hati kawanan jago pedang lainnya setelah menyaksikan
adegan tsb, ternyata tak seorangpun diantara mereka yg berani
bersuara lagi.
“Kalau sudah mengakui keunggulan kami, mengapa kalian belum
enyah juga dari sini? Hmm, apakah masih kepingin mampus?” hardik
Kho Yang chiu lebih jauh.
Kelima orang jago pedang berbaju kuning itu saling pandang
sekejap, tiba2 mereka menggeserkan badannya dan berdiri berjajar
dibelakang Sastrawan berkipas kemala.
Pada saat itulah paras muka Sastrawan berkipas kemala berubah
hebat, dia seperti teringat akan sesuatu, dipandangnya Kho Beng
sekejap, lalu serunya tertahan:
“Payung Thian lo san, lecut pengikat dewa, jangan2 kau adalah
Kedele Maut”
Nama Kedele Maut bagaikan kekuatan yg mengerikan hati, tiba2
kawanan jago berbaju kuning ittu menggeserkan badannya kembali
dg wajah memucat, kemudian tanpa banyak berbicara mereka
bersiap-siap melarikan diri dari situ.
Menghadapi suasana seperti ini, tentu saja Sastrawan berkipas
kemala enggan berdiam kelewat lama disitu, dg cepat iapun bersiap
siap ikut kabur dari sana.
Tapi sayang gerakan tubuh Kho Yang chiu beserta kedua orang
dayangnya kelewat cepat, bahunya baru nampak bergerak, payung
bulat ditambah dua utas tali pengikat dewa secara terpisah telah
menutup mati seluruh jalan keluar dari ruangan tsb.
Sambil tertawa dingin nona itu berkata:
“Beng Yu, ternyata otakmu cukup cerdas, tepat sekali, akulah
Kedele Maut yg kalian cari2, tapi sayang setiap orang yg namanya
sudah tercantum dlm daftar kematianku jangan harap ia dapat lolos
dari cengkeramanku.”
Menyusul kemudian pandangan matanya dialihkan kewajah lima
orang jago pedang berbaju kuning itu dan katanya lebih lanjut:
“Mengingat kalian semua bukan sasaran yg hendak kucabut
nyawanya, maka aku persilahkan kalian pergi dari sini, tapi kalian
harus membungkam terhadap peristiwa yg terjadi pada malam ini,
bila kuketahui dikemudian hari bahwa satu diantara kalian telah

membocorkan peristiwa ini keluaran, hmmm…saat bertemu kembali
dilain waktu berarti waktu kalian untuk berangkat keakhirat! Nah,
sekarang bawa serta yg tewas dan terluka dan cepatlah enyah dari
sini!”
“Eh…kalian jangan pergi!” teriak Sastrawan berkipas kemala
ketakutan.
Namun dibawah ancaman kematian yg mengerikan, kawanan
jago pedang tsb sama sekali tidak memperdulikan teriakan
Sastrawan berkipas kemala lagi, seorang demi seorang mereka
kabur dg secepatnya dari situ…
Pada saat itulah Kho Beng tak dapat menahan diri lagi, ia segera
berteriak keras:
“Tunggu dulu! Orang2 itu tak bolh dilepaskan barang
seorangpun…”
“Hmmm!” Kho Yang ciu mendengus dingin, “Siapa yg berani
membangkang terhadap perintahku?”
Karena takut terjadinya perubahan , tanpa membuang waktu lagi
kawanan jago berbaju kuning itu melarikan diri terbirit-birit dari
sana.
Waktu itu, walaupun paras muka Kho Yang ciu tertutup oleh kain
kerudung sehingga tidak diketahui bagaimanakah perubahan
wajahnya, namun pancaran sinar matanya benar2 menggidikkan
hati!
Kepada Kho Beng ia berseru sambil tertawa dingin:
“Masih ingatkah kau apa yg kuperingatkan kepadamu sewaktu
mengampunimu dikota tong ciu tempo hari?
Hmm...hmmm...sekarang aku hendak membuat perhitungan dulu dg
mu, akan kulihat dg beberapa butir batok kepala kau akan
membayar hutang tsb!”
Kho Beng menjadi tertegun untuk sesaat, tak tahan ia berteriak
keras:
“Cici....apakah Li sam tidak memberi tahukan kepadamu siapakah
aku sebenarnya?”
Panggilan tsb seketika menggetarkan perasaan setiap orang yg
hadir dalam ruangan.
Berapa saat kemudian, Kho Yang ciu baru berbisik:
“Kau......kau adalah adik Beng?”
Suaranya gemetar keras menandakan betapa kerasnya gejolak
perasaannya waktu itu.

Dg agak emosi dan air mata bercucuran Kho Beng mengangguk,
lalu selangkah maju menghampiri nona tsb.
Siapa tahu pada saat itulah tiba2 Kho Yang ciu membentak keras:
“Berhenti!”
Dg perasaan tertegun Kho Beng menghentikan langkahnya, lalu
bertanya keheranan:
“Cici, apakah kau tak percaya dgku?”
“Hmm, tidak sedikit manusia licik didunia ini, aku harus bersikap
lebih waspada dan berhati-hati!” jawab Kho Yang ciu dingin.
“Empat musim mengenakan bunga seruni putih disanggul, siang
malam tak pernah dilepas, yang lelaki menerima panji bergambar
naga sebagai lambang, apakah semuanya ini bukan suatu bukti?”
“Kalau toh kau sudah mengetahui akan hal ini, cepat tunjukkan
panji bergambar naga itu sebagai bukti!”
Buru2 Kho Beng menyodorkan lencana giok bei yg berada
dipinggangnya seraya berkata:
“Lencana panji telah hilang, tapi giok bei kemala masih ada,
silahkan toaci memeriksa keasliannya!”
Kho Yang ciu menyambut benda tsb dan diperiksanya beberapa
saat, kemudian katanya dingin:
“Hmmm, barang bukti kurang satu, ini membuat diriku masih
mencurigai gerak gerikmu, ambil contoh dg kematian Kho lotoa, aku
dengar mati ditanganmu, benarkah begitu?”
Buru2 Kho Beng berseru:
“Kho lotoa sudah jelas tewas karena racun jahat dari jarum
pembeku darah perasuk tulang, dalam hal ini Li Sam pun
mengetahui secara jelas?”
Belum habis perkataan tsb diutarakan, Sastrawan berkipas
kemala yg berada disamping arena segera tertawa dingin dan
selanya:
“Hmmm, seorang lelaki sejati berani berbuat berani bertanggung
jawab, sewaktu berada di perkampungan Hui im ceng tempo hari,
bukankah kau sudah mengakui sebagai pembunuhnya? Mengapa
kau menyangkalnya kembali sekarang…?”
Tampaknya ia sadar kalau tiada harapan lagi untuk lolos dari
kematian, maka satu2nya jalan baginya sekarang adalah berusaha
mengadu domba dua bersaudara itu sehingga saling gontokgontokan
sendiri, sebab hanya cara inilah kemungkinan besar ia
masih punya harapan untuk hidup?

Dg tujuan itulah ia bersikeras menuduh Kho Beng sebagai
pembunuh Kho Po koan.
Kho Beng bukan orang bodoh, tentu saja ia dapat menduga
maksud serta tujuan si Sastrawan berkipas kemala, dg penuh
amarah segera bentaknya keras2:
“Waktu itu aku toh belum mengetahui keadaan yg sebenarnya,
karena itu berbicara sekenanya dg kalian….”
“Paling tidak waktu itu kau hadir dalam arena” tukas Kho Yong
ciu tiba2 dg suara dingin, “tapi kenyataannya kau tidak memberi
pertolongan kepadanya yg terancam bahaya, hal ini merupakan
suatu kejadian yg patut disesalkan, tapi soal tersebut tak usah
dibicarakan kembali, sekarang mari kita singgung masalah kedua,
dimana kau telah melaporkan identitas serta ciri khas ku kepada
para jago lihay yg berkumpul dikawasan telaga Tong ting dan kota
Gak yang, apakah tujuanmu hendak membunuh diriku?”
Dg perasaan gelisah buru2 Kho Beng memberi penjelasan:
“Cici, waktu itu aku belum memahami betul tentang asal usulku
sehingga aku telah melakukan perbuatan yg amat bersalah, atas
kejadian tsb aku menyesal sekali sehingga untuk menyelamatkan
keadaan aku menyusul pula ketelaga Tong ting…”
Setelah berhenti sejenak dan menghela napas panjang, kembali
lanjutnya:
“Cici, seharusnya semua persoalan ini telah dilaporkan Li Sam
kepadamu….”
“Tidak! Li Sam sama sekali tidak memberitahukan apa2
kepadaku…”
Kho Beng menjadi tertegun, selanya:
“Mengapa tidak?”
Setelah mendengus, kata Kho Yang ciu:
“Sewaktu meninggalkan kota Gak yang, aku sama sekali tidak
berjumpa dg Li Sam….”
“Kalau begitu dg cara apa cici dapat meloloskan diri dari
pemeriksaan begitu banyak pos penjagaan…”
Bwee hiang yg berada disisi arena segera menyela:
“Orang baik selalu dilindungi Thian, ketika pihak Sam goan bun
menarik diri secara tiba2, nona kami segera mendapat berita tsb
sehingga memanfaatkan kesempatan yg sangat baik ini untuk
meloloskan diri.”

Perasaan menyesal dan masgul seketika menyelimuti perasaan
Kho Beng, sambil menghentakkan kakinya dan menghela napas
keluhnya:
“Aaai…sungguh tak nyana aku harus dibikin bodoh karena
kecerdikan sendiri, akibatnya Li Sam harus tewas dg mata tak
meram!”
Tiba2 mencorong sinar mata yg tajam dari balik mata Kho Yang
ciu, serunya dingin:
“Jadi Li Sam telah tewas?”
Agaknya ia belum mengetahui kejadian tsb hingga tubuhnya
kelihatan gemetar keras dan nada pembicaraannya penuh diliputi
perasaan kaget dan terkesiap.
Dg air mata ercucuran dan mulut membungkam Kho Beng
manggut2.
“Bagaimana matinya?” bentak Kho Yang ciu kemudian.
Secara ringkas Kho Beng bercerita bagaimana ia menyusun
rencana pertolongan darurat, bagaimana ia menyaru sebagai
encinya untuk memancing perhatian musuh dan sebagainya….
Kho Yang ciu mendengarkan semua penuturan tsb dg seksama,
sementara pancaran sinar matanya berkilat-kilat, mendadak
terdengar ia membentak keras, lalu payung Thian lo san nya
menyambar kemuka dg kecepatan bagaikan sabaran kilat.
Tak terlukiskan rasa kaget Kho Beng melihat kejadian itu,
teriaknya ketakutan:
“Cici….”
Ternyata serangan payung yg dilancarkan Kho Yang ciu tsb
bukan kearahnya, sewaktu berpaling ia saksikan Sastrawan berkipas
kemala telah beralih dari posisi semula.
Ternyata memanfaatkan kesempatan disaat Kho Beng berdua
sedang terlibat dalam pembicaraan serius, secara diam2 Sastrawan
berkipas kemala telah bergeser ke sisi peti mati yg berada dipaling
kanan dan membukanya secara pelan2.
Pada saat itulah Kho Yang ciu mengetahui akan perbuatannya itu,
dalam keadaanbegini dg sekuat tenaga orang she Beng
menghentakkan tutup peti matinya dan membuang kearah tubuh
Kho Yang ciu yg sedang menerjang kearahnya.
Memanfaatkan kesempatan mana, ia sendiri segera melompat
masuk kedalam peti mati tsb.

Tusukan kilat payung thian li san dari Kho Yang ciu seketika
tertahan oleh penutup peti mati itu.
Untung saja Bwee hiang yg berdiri disisinya cukup sigap
menghadapi perubahan tsb, begitu mendengar tanda bahaya dg
cepat dia menghentakkan lecutnya kemuka disusul kemudian
badannya ikut menerjang kesisi peti mati.
Bagaikan seekor ular sakti, nona itu menyusup kedalam peti mati
sambil mengayunkan kembali tangannya kebawah, tiba2 saja
dengusan tertahan bergema dari balik peti mati itu.
Menyusul suara dengusan tsb, Bwee hiang menarik tali angkinnya
keatas, ternyata tubuh Sastrawan berkipas kemala sudah terjirat dan
segera terseret keluar dari balik peti mati.
Pada saat itulah Kho Beng telah menerjang pula kesisi peti mati
tsb sambil melongok kebawah, sekarang ia baru tahu rupanya dibalik
peti mati tsb terdapat sebuah mulut lorong rahasia yg tembus
kebawah tanah.
Dg perasaan terkejut bercampur heran, sekali lagi ia menengok
tubuh Sastrawan berkipas kemala yg tergeletak ditanah, waktu itu
matanya kelihatan melotot keluar, lidahnya menjulur panjang,
ternyata ia sudah tewas terjirat oleh tali mestika pengikat dewa.
“Aduh celaka ia sudah mampus!” serunya tanpa sadar.
“Lebih bagus kalau sudah mampus” sahut Kho Yang ciu dingin,
“Kho Beng, seandainya kau benar2 adalah adikku, aku Cuma bisa
menghela napas atas ulahmu selama ini.”
“Cici, apa yg kau maksudkan?” tanya Kho Beng tertegun.
Dg nada suara yg tetap sedingin es, Kho Yang ciu berkata lebih
jauh:
“Sejak kematian Kho lo tia ditangan orang sampai kematian Li
Sam karena tersiksa, meski bukan menjadi tanggung jawabmu tapi
semua peristiwa tsb berlangsung gara2 kebodohanmu.”
“Umpakan cici benar, aku mengaku salah!” bisik Kho Beng sangat
menyesal.
Kembali Kho Yang ciu mendengus:
“Hmmm...umpatanku tak akan mampu menghidupkan kembali Li
Sam, tapi aku menghela napas bukan disebabkan persoalan tsb.”
Dg suara tergagap Kho Beng berkata:
“Saudara tua bagaikan ayah, kakak perempuan bagai ibu, toaci,
bila aku telah melakukan kesalahan atau kebodohan, silahkan kau
menghukumku sehabis-habisnya, mengapa kau menghela napas?”

“Bukan hanya menghela napas, pada hakekatnya aku merasa
amat kecewa, sebagai putra keluarga Kho yg memikul beban
dendam berdarah sedalam lautan, apalagi sudah berhasil memiliki
ilmu silat yg cukup tangguh seharusnya setiap waktu yg dimiliki
dipergunakan untuk membalas dendam serta membangun kembali
nama baik serta kejayaan keluarga, tapi kau hingga kini belum
nampak sesuatu kegiatan apapun, aku tak mengerti apa saja yang
kau repotkan selama ini, begitukah caramu membalas budi kedua
orang tua mu serta para pembantu setia yg sudah membela Hui im
ceng hingga titik darah penghabisan?”
Kho Beng terkesiap sekali, dg serius segera katanya:
“Aku tak akan melupakan semuanya itu, aaai...terus terang saja
cici, kedatanganku hari ini tak lain adalah untuk menyelidiki siapa
gerangan pembunuh sebenarnya dari kedua orang tua kita, hanya
saja cara berpikirku jauh berbeda dg pikiran cici...”
“Hmmm...bagaimana menurut jalan pikiranmu?” tanya Kho Yang
ciu dg suara dingin.
“Bagiku, kita harus menemukan dalang dari peristiwa berdarah
itu, bukan melakukan pembantaian secara membabi buta dan
membunuh setiap orang yg dicurigai, dg begitu paling tidak kita
akan menghibur arwah ayah dan ibu yg telah beristirahat tenang
dialam baka, meski orang yg ikut menyerbu keperkampungan Hui
im ceng waktu itu banyak sekali, tapi mereka berbuat demikian
karena siasat licik si dalang yg masih bersembunyi dibelakang layar.
Hingga kini kau telah membantai ratusan orang, bersediakah cici
untuk menuruti nasehatku, banyak membunuh tak akan menolong
keadaan, kau seharusnya mulai menghentikan kegemaran
membunuhmu itu...”
“Hmmm, besar amat jiwamu” dengus Kho Yang ciu dingin, “Lalu
tahukah kau siapakah dalang dari peristiwa berdarah itu?”
“Aku rasa dewi in nu siancu yg paling mencurigakan!”
“Kalau hanya mencurigakan saja, kau anggap aku tidak tahu?”
“Jadi cici sudah?” seru Kho Beng termangu.
“Hmmm..tadi kau anggap aku membunuh semaunya sendiri...”
Kho Beng segera berkerut kening, katanya cepat:
“Cici, kalau toh kau sudah tahu mengapa kau…… “
“Tidak menghentikan pembunuhan secara besar-besaran,
bukan?” sambung Kho Yang ciu melanjutkan kata2 Kho Beng yg
belum selesai, setelah mendengus dingin terusnya:

“Tahukah kau apa alasan dan penyebab dari orang2 yg tewas
ditanganku itu?”
“Apakah ada alasan lain?”
“Terus terang saja kukatakan, justru karena manusia tsb enggan
memberitahukan asal usul serta tempat kediaman dewi in un siancu,
maka dalam gusarnya aku telah menghabisi nyawa mereka.”
Kho Beng baru menjadi paham setelah mendengar perkataan ini,
ia tak menyangka kalau apa yg diketahuinya ternyata telah diketahui
semua oleh cicinya, malah apa yg diperbuatnya selama ini justru
merupakan sebagian dari usahanya untuk mencapai tujuan tsb.
Tak tertahan lagi dia menghela napas panjang, katanya dg nada
minta maaf:
“Cici, maafkanlah kelancanganku tadi, ya…semua kesalahan
hanya terletak mengapa kita berpisah sejak kecil sehingga aku tak
dapat memahami perasaanmu, tapi tidak seharusnya cici tidak
menuruti perkataanku tadi dg membebaskan kawanan jago pedang
berbaju kuning itu.”
“Mengapa?”
“Sebab orang2 itu adalah anak buah dewi in nu siancu!”
Kho Yang ciu kelihatan tertegun, lalu katanya dingin:
“Mengapa tidak kau katakan sedari tadi?”
“Aaai…tadi kau sama sekali tidak memberi kesempatan kepadaku
untuk berbicara lebih jauh.”
Sesudah termenung beberapa saat lamanya, tiba2 Kho Yang ciu
mengulapkan tangannya kepada Bwee hiang berdua sambil serunya:
“Mari kita pergi!”
“Cici, mengapa kau hendak pergi?” buru2 Kho Beng berseru dg
gelisah.
“Kalau tidak pergi, mau apa tetap tinggal disini?”
“Cici, kalau begitu mari kita pergi bersama.” Kata Kho Beng
kemudian sambil manggut2.
Kho Yang ciu mendengus dingin:
“Tahukah kau aku bersedia atau tidak menempuh perjalanan
bersamamu....?”
“Kita kan sesama saudara kandung, apakah cicipun tetap
membedakan antara pria dan wanita?” seru Kho Beng termangu.
“Hmmm...enak benar kedengarannya, terus terang saja aku
bilang, dua tanda bukti yg kuminta masih kurang satu, jadi aku tak
berani menerima sebutan “cici” dari mu, tunggulah sampai kau

berhasil mendapatkan kembali lencana panji Hui im ceng sebelum
kita berkumpul kembali secara resmi!”
Habis berkata ia mengulapkan tangannya dan melayang keluar
dari ruangan, dlm waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap
dibalik kegelapan malam.
Memandang tiga sosok bayangan manusia yg makin menjauh,
tanpa terasa Kho Beng menghela napas panjang.
Ia menyadari sekarang bahwa cicinya meski seorang wanita
namun wataknya amat keras dan pendiriannya amat kukuh, tanpa
sadar semuanya ini makin menunjukkan kelemahan dirinya.
Tapi....benarkah ia begitu lemah?
Mendadak ia menggertak gigi keras2 dan melompat keudara
meninggalkan tempat tsb. Ia bertekad akan membuktikan dg
tindakan bahwa dirinya tidak lemah, sasaran yg pertama dari
gerakannya in adalah Siau lim si, sebab dia harus merebut kembali
lencana panji Hui im leng tersebut.
Kuil Siau lim si....
Selama beberapa hari ini, walaupun suasana dikuil tsb nampak
tenang dg para pejiarah yg datang berdoa, namun dibalik
kesemuanya itu suasana tegang menyelimuti perasaan setiap orang,
hal ini disebabkan berita penting yg dibawa oleh Bok sian taysu.
Setiap hari boleh dibilang para pendeta tingkat tinggi kuil itu
selalu menyelenggarakan rapat rahasia dg ketuanya untuk
membicarakan soal Kho Beng serta pelbagai kemungkinan untuk
menghadapinya.
Pagi ini, seperti juga diwaktu lain, pintu gerbang kuil Siau lim si
yg besar dan berat pelan2 terbuka lebar, dua orang pendeta muda
muncul diplataran da mulai membersihkan debu disekitar kuil.
Ketika salah seorang pemuda itu selesai menyapu dan
memandang sekeliling kuil, tiba2 paras mukanya berubah hebat dan
menjerit kaget.
Mendengar jeritan kaget itu, rekannya segera berpaling seraya
menegur keras:
“Hiong pun sute, persoalan apa yg membuatm kaget? Apakah
kau lupa sg pelajaran tentang “ketenangan” yg selalu diajarkan suhu
kepada kita semua.”
Hiong pun taysu tidak menjadi tenang karena teguran tsb, sambil
menunding keatas pintu kembali serunya:

“Suheng, coba lihat…..”
Hiong hoat taysu mengikuti arah yg ditunjuk dan segera
mendongak, tapi apa yg kemudian terlihat membuat air mukanya
berubah hebat dan menjerit tertahan pula.
Ternyata papan nama “Siau lim si” yg terbuat dari sepuhan emas
itu sudah hilang lenyap dalam semalaman saja, sedang pada tempat
semula kini telah muncul dua baris tulisan yg berbunyi demikian:
“Kutunggu kedatangan Bok cuncu untuk mengembalikan panji
Hui im ki dipuncak Siau lim kentongan pertama malam nanti, bila
nanti main kerubut dg menggunakan akal licik, jangan salahkan
kalau papan nama kalian kuhancurkan.”
Dibawah tulisan tsb sama sekali tidak dijumpai tanda tangan.
Hiong hoat taysu yg semula menegur sutenya tentang
“ketenangan” kali ini tak dapat mengendalikan “ketenangan” sendiri,
sambil berpaling segera teriaknya:
“Sute, cepat hapus semua tulisan disitu!”
Kemudian dg langkah cepat dia berlarian masuk kedalam kuil
untuk memberi laporan.
Tak sampai setengah peminuman teh kemudian, suara genta
dalam kuil telah dibunyikan sembilan kali.
Ditengah dentangan suara genta yg amat nyaring, berbondongbondong
para penghuni kuil keluar dari kamar masing2 dan bergerak
menuju keruang tengah Tay hiong po tian.
Dalam waktu singkat ruangan Tay hiong po tian telah dipenuhi
lima ratusan orang pendeta dg pandangan tidak mengerti dan saling
bertanya, mereka seling berpandangan satu sama lainnya.
Tak lama kemudian kelima pendeta agung ngo heng dari ruang
Tat mo beserta para pemimpin ruangan telah hadir semua disitu dan
akhirnya ketua kuil Siau lim si pun muncul dg membawa tongkat
kebesarannya.
Serentak para anggota kuil memberi hormat dg wajah serius.
Setelah membalas hormat dan menghentakkan tongkatnya
keatas tanah, ketua siau lim si mulai berkata dg suara dalam :
“Barusan murid kita Hiong pun menemukan papan nama kuil kita
telah dicuri orang, untuk itu apakah ada diantara kalian telah melihat
seseorang yg mencurigakan kemari ? “
Dg perasaan terkejut dan bimbang segera murid Siau lim si saling
berpandangan dg mulut membungkam, nampaknya tak seorangpun
yg menyaksikan peristiwa ini.

Dg wajah serius dan nada dalam kembali ketua Siau lim si ini
berkata :
“Papan nama gereja kita merupakan hadiah dari bagina
almarhum, bukan saja melambangkan kewibawaan da sejarah kuil
kita selama seratus tahun terakhir ini, juga melambangkan posisi
terhormat kita dimata umat persilatan pada umumnya, tapi sekarang
ternyata papan nama itu telah dicuri orang tanpa diketahui kabar
beritanya, peristiwa ini betul2 merupakan suatu aib dan penghinaan
untuk kuil kita, oleh karenanya sejak hari ini tidak terbatas dari
tingkatan mana saja kalian semua diwajibkan siaga, tak boleh lalai,
tak boleh gegabah, semuanya harus siap sedia setiap saat untuk
menanggulangi hal2 yg tidak diinginkan, barang siapa berani lalai dia
akan ditindak secara tegas!”
“Menurut perintah ciangbunjin!” segenap anggota kuil menyahut
bersama-sama.
Maka ditengah ulapan tangan ketuanya, beratus orang pendeta
itu pun mengundurkan diri dari ruangan itu.
Tak lama kemudian pintu ruangan telah tertutup kembali, kini yg
tinggal hanya para tongcu serta kelima pendeta ngo heng dari ruang
Tat mo wan.
Terdengar ketua Siau lim si berkata:
“Bok lim sute, yakinkah kau bahwa ini adalah perbuatan Kho
Beng?”
Dg nada yakin Bok sian taysu menjawab:
“Menjawab pertanyaan ciangbunjin, menurut dugaanku hal ini tak
bakal salah lagi , bukankah sangkut paut serta hubungannya
persoalan ini telah kujelaskan tadi?”
“Semula menurut laporanmu dari telaga Tong ting, kau
mengatakan Kho Beng masih belum mengetahui asal usulnya
sehingga mengusulkan kepadanya untuk menariknya sebagai murid
kita sehingga tindak tanduknya dikemudian hari bisa diawasi tapi
sekarang mengapa ia bisa mengetahui asal usul sendiri sehingga
mencari gara2 dg pihak kita?”
“Menurut dugaanku, andaikata bukan si unta sakti berpunggung
baja Thio Ciong san telah mengingkari janjinya, tentu ketua Sam
goan bun yg membongkar rahasia tsb atau kemungkinan terakhir
adalah Li Sam yg telah tewas telah mengungkap asal usulnya
menjelang kematian, kecuali tiga orang ini aku rasa tiada
kemungkinan yg lain lagi.”

Ketua Siau lim si itu nampak termenung sebentar, tiba2 ujarnya
sambil tertawa dingin:
“Budha maha pengasih, demi melenyapkan bibit bencana bagi
umat persilatan, mau tak mau kita mesti menggunakan tindakan yg
keji untuk mengatasinya, Li Sam sudah mati, jejak si unta sakti
berpunggung baja pun masih penuh tanda tanya, satu-satunya jalan
adalah mengundang kehadiran ketua Sam goan bun untuk ditanyai
persoalan tsb, entah bagaimana menurut pendapat para tongcu
serta tianglo berlima?”
Padahal yg dimaksud “mengundang: dari ketua Siau lim si itu.
Lebih tepat kalau dibilang “diciduk”.
Serentak para sesepuh Siau lim si memberikan persetujuannya.
Maka dg beberapa patah kata itulah nasib tragis perguruan Sam
goan bun telah diputuskan.
Melihat tak ada lagi usul lain, ketua Siau lim si segera berpaling
kearah Bok sian taysu seraya berkata:
“Entah tindakan apa yg mesti kita ambil untuk menghadapi
perjanjian malam nanti?”
Dg suara tenang Bok sian taysu berkata:
“Pamor serta nama baik Siau lim si harus kita bela mati-matian,
menurut pendapatku, malam nanti kita penuhi undangannya
kemudian setelah mendapatkan kembali papan nama tsb, kita bekuk
orangnya.”
“Yakinkah sute akan keberhasilan kita?” tanya ketua Siau lim si
dg secara dalam.
Bok sian taysu tersenyum:
“Tak usah kuatir, pokoknya aku tak akan mengecewakan
pengharapan ciangbun suheng.”
“Baiklah” kata ketua Siau lim si kemudian sambil manggut2,
“Silahkan sute memenuhi janji itu, aku akan mengatur persoalan
lainnya.”
Dan perundingan rahasia pun diakhiri sampai disitu.
Pintu gerbang ruang Tay hiong po tian kembali terbuka lebar,
para sesepuh Siau lim si itupun kembali keruangannya masing2.
Tulisan diatas pintu gerbang kuil Siau lim si juga telah dihapus,
segala sesuatunya pulih kembali dalam ketenangan, seakan-akan
sebelum itu tak pernah terjadi sesuatu peristiwa pun.

Waktu berlalu dg cepatnya, dalam waktu singkat sehari sudah
lewat, kini rembulan sudah bersinar diatas angkasa, kentongan
pertama telah menjelang tiba.
Ditengah keheningan dan kegelapan yg mencekam seluruh kuil
Siau lim si, tiba2 kelihatan sesosok bayangan abu2 berkelebat keluar
dari ruangan dan bergerak menuju kepuncak bukit.
Tampak ditangan kanan orang itu membawa sebuah toya besi,
sementara ditangan kirinya membawa sebuah panji yg berbentuk
segi tiga.
Ternyata orang itu tak lain adalah Bok cuncu, sesepuh Siau lim si
yg sedang berangkat kebelakang bukit untuk memenuhi janji.
Sementara itu malam amat hening, selain hembusan angin
malam yg terasa dingin, tak kedengaran sedikit suara pun yg
memecah keheningan.
Bok sian taysu dari Tat mo wan berdiri tegak dipuncak bukit dg
sorot mata yg tajam mengawasi sekeliling tempat itu, namun
suasana tetap hening dan tidak kelihatan setitik bayangan manusia
pun.
Karena terlalu mengandalkan kemampuan ilmu silatnya yg amat
lihay, ditambah lagi ia tahu kalau ciangbun suhengnya telah
mempersiapkan bala bantuan disekitar sana, maka wajahnya sama
sekali tidak nampak tegang ataupun gelisah.
Ditunggunya sampai kentongan pertama menjelang tiba, sewaktu
dilihatnya orang itu belum nampak juga maka dg suara lantang ia
berseru:
“Kemana perginya orang yg mencuri papan nama? Aku telah
datang memenuhi janjiku, apakah kau tidak segera menampilkan
diri?”
Baru selesai perkataan tsb diucapkan, suara jawaban yg nyaring
telah bergema tiba:
“Bok sian hweesio, apakah sudah kau bawa panji Hui im ki leng
tsb…?
“Panji Hui im ki leng berada ditanganku…” sahut Bok sian taysu
lantang.
“Harap bentangkan panji tsb dan kibarkan tiga kali.”
Bok sian taysu menurut dan kibarkan panji tsb tiga kali, kemudian
baru ujarnya dingin:
“Apakah sicu sudah melihatnya dg jelas?”

Mendadak berkumandang suara gelak tertawa yg amat nyaring
berasal dari atas puncak bukit sebelah kiri, ditengah gelak tertawa
yg amat keras itu nampak sesosok bayangan manusia menerobos
angkasa dan melayang turun dihadapan Bok sian taysu.
Ternyata orang yg bermata tajam dan berwajah tampan itu
memang tak lain adalah Kho Beng, orang yg sudah diduga oleh Bok
sian taysu sebelumnya.
Sambil tertawa seram Bok sian taysu segera berkata:
“He...he...he...ternyata memang sauhiap, tak kusangka aku
masih punya jodoh untuk bersua kembali dg sicu”
“Tak usah banyak bicara” tukas Kho Beng sambil menarik muka,
“nah hweesio gede cepat serahkan panji Hui im ki leng tsb
kepadaku!”
Bukan diserahkan, Bok sian taysu malah menyimpan kembali
panji tsb, kemudian katanya sambil tersenyum:
“Sau sicu, bolehkah aku berbicara dulu barang sepatah dua patah
kata?”
“Kalau ingin bicara, katakan saja terus terang!”
“Masih ingatkah sau sicu dg kata2 ku ketika berada dalam wisma
tamu di bukit Kun san ditepi telaga Tong ting?”
Kho Beng segera tertawa bergelak:
“Ha…ha…ha…jadi kau masih ingin menerimaku sebagai muridmu
hweesio tua?”
“Membujuk orang berbuat baik merupakan suatu amal yg sangat
mulia, Budha maha pengasih, aku tak boleh melenyapkan
kesempatan seseorang untuk kembali kejalan yg benar, asal
tindakan yg sau sicu lakukan sekarang hanya merupakan dorongan
emosi maka pintu gerbang Siau lim si masih terbuka bagi sau sicu.”
“Hweesio gede! Enak amat perkataanmu itu” jengek Kho Beng
sambil tertawa dingin, “Masih ingatkah dg drama penyiksaan
terhadap Li Sam tempo hari?”
“Sau sicu, ketahuilah bahwa perbuatanku itu demi
kepentinganmu sendiri…”
“Sayang sekali hweesio tua, aku Kho Beng justru hendak
menyingkap topeng dibalik kebajikanmu itu!” tukas anak muda itu.
Tiba2 saja paras muka Bok sian taysu berubah hebat, serunya dg
penuh kegusaran:

“Selama ini aku selalu berusaha membujuk mu agar berbuat
kebaikan serta kembali kejalan yg benar, tindakan inikah yg kau
tuduh sebagai tindakan pura2?”
“He…he….he…kalian toh bukan pejabat pengadilan, atas hak apa
kamu semua menyelenggarakan sidang penyiksaan? Hey hweesio
tua mengapa kau tidak memberi kesempatan kepada Li Sam untuk
menempuh hidup baru? Mengapa kau hanya memberi kesempatan
macam itu kepadaku seorang?”
Merah padam selembar wajah Bok sian taysu, tapi justru karena
itu dia menjadi marah hingga wajahnya hijau membesi, ujarnya
kemudian dg suara dalam:
“Sau sicu, kalau toh kau enggan menuruti nasehatku, sampai
waktunya kau pasti akan menyesal sekali.”
Kho Beng tertawa angkuh…
“Tentang soal ini tak usah kau kuatirkan, yang datang tak akan
membawa maksud baik, orang baik tak akan datang mencari gara2.
He…he…he…hweesio tua, tahukah kau apa sebabnya aku Kho Beng
justru menunjuk dirimu untuk datang memenuhi janji?”
“Sayang aku tak paham niatmu itu!” dengus Bok sian taysu.
Kho Beng tertawa dingin…
“Kalau begitu tak ada salahnya bila kuberitahukan kepadamu,
selain menukar papan nama kuil kalian dg panji tsb, akupun hendak
memenggal batok kepalamu untuk dipakai bersembahyang didepan
meja abu engkoh Li Sam!”
Mendengar perkataan tsb, Bok sian taysu segera tertawa
terbahak-bahak:
“Ha…ha…ha…asal sau sicu merasa yakin dg kemampuanmu,
silahkan saja untuk berusaha memenggalnya, tapi sayang batok
kepalaku ini bukan barang yg bisa dipetik sembarangan….Hmmmm,
sebelum itu aku ingin bertanya dulu kepadamu, sesungguhnya apa
sih hubunganmu dg Li Sam?”
“Li Sam adalah kakak angkatku, nah hweesio, serahkan panji tsb
kepadaku sekarang juga!”
“Apakah sicu telah membawa serta papan nama kuil kami?”
“Papan nama itu terlalu besar dan berat lagi hingga kurang
leluasa untuk dibawa kesana kemari, tapi tak usah kuatir perkataan
seorang lelaki sejati tak akan diingkari lagi, asal panji tsb sudah kau
serahkan, tentu papan nama itu akan kukembalikan kepada kalian.”

“Hmmm…dalam soal ini aku dapat mempercayai perkataanmu,
tapi akupun merasa heran dg mempertaruhkan selembar jiwau kau
berusaha untuk mendapatkan panji tsb, sebetulnya apa sih
kegunaan panji itu bagimu.”
“Hmmm hweesio busuk, tahukah kau siapakah Kho Beng yg
sebenarnya?” seru pemuda itu sambil tertawa dingin.
Bok sian taysu balik tertawa dingin:
“Bila dugaanku tidak keliru, sicu adalah putra Kho Po koan,
pelayan dari perkampungan Hui im ceng dimasa lalu!”
Kho Beng segera manggut2, katanya dg suara dalam :
“Kho lo tia pernah melepaskan budi setinggi bukit kepadaku,
sudah sepantasnya kalau kusebut dia orang tua sebagai ayah
angkatku, tapi aku bukan putra kandungnya.”
“Jadi sicu bukan anak kandung si toya baja pedang tembaga Kho
Po koan?”
Bok sian taysu menyela dg wajah tercengang. Tepat sekali
perkataanmu, sebab mendiang ayahku tak lain adalah Hui im cengcu
yg termashur itu!”
Bok sian taysu terperanjat sekali, tapi sejenak kemudian ia sudah
mendongakkan kepalanya sambil tertawa terbahak-bahak:
“Ha...ha...ha....siapa sih yg hendak kau tipu? Putra tunggal Hui in
cengcu sudah mampus diujung pedang Ciu bu ki, Ciu tayhiap
semasa masih bayi dulu. Mana mungkin bisa muncul putra kedua
dari Hui im cengcu dewasa ini....”
“Hmmm...tak nyana kau si hweesio begitu dungu” ejek Kho Beng
sambil tertawa sinis, “Orang yg mewakiliku mati waktu itu lah baru
putra tunggal pelayan kami, kasihan kamu semua ternyata hingga
kini masih belum menyadarinya”
Sekali lagi paras muka Bok sian taysu berubah hebat.
Dulu pendeta dari Siau lim si ini memang menaruh curiga atas
raut wajah Kho Beng yg dianggapnya mirip Hui im cengcu, tapi
selama ini ia selalu berpendapat itu hanya suatu kebetulan saja.
Karena itu setelah menyelami kembali peristiwa masa lampau, ia
tak mau percaya kalau bocah yg telah mampus diujung pedang
tempo hari, ternyata masih hidup terus hingga hari ini.
Sekarang, pendeta agung dari Siau lim si ini baru memahami
duduk persoalan yg sebenarnya, diam2 ia menyesal sekali karena
sudah menyia-nyiakan kesempatan baik sewaktu masih ditelaga

Tong ting tempo hari, coba kalau waktu itu ia bertindak tegas,
niscaya Kho Beng tak akan lolos hingga hari ini.
Hawa nafsu membunuh pelan2 menyelimuti perasaan Bok sian
taysu, meski begitu sikapnya masih tetap tenang dan lembut seperti
sedia kala, malah ujarnya sambil tertawa nyaring:
“Kalau toh sicu adalah putra kandung Hui im cengcu, tentu saja
aku harus mengembalikan benda ini kepada pemiliknya, nah
ambillah!”
Tangan kirinya segera diayunkan kemuka, panji Hui im ki leng
segera meluncur kemuka bagaikan sekilas cahaya hijau dan....
“Duuuk!”
Segera menancap diatas sebuah batu karang, persis ditengah
antara kedua orang itu.
Menyusul kemudian tangan kanannya bergeser dari batang
tongkat keujung senjatanya. Setelah itu toyanya diputar dan
dijajarkan didepan dada, inilah gaya pembukaan dari suatu
serangan.
Sebagai orang persilatan tentu saja Kho Beng dapat melihat hal
tsb, dg kening berkerut serunya dingin:
“Hey Hweesio, kelihatannya kau sudah tak sabar lagi untuk
bertarung melawanku.”
Bok sian taysu tersenyum:
“Bukankah sicu menghendaki batok kepalaku? Sekarang kau
dapat menyelesaikan dua persoalan sekaligus, selain lencana panji
bisa kau peroleh, batok kepalaku bisa kau penggal, Cuma
masalahnya sekarang apakah sicu mempunyai kesanggupan untuk
melakukannya.”
Kho Beng mendengus dingin, sambil membusungkan dada ia
segera berjalan kemuka mendekati lencana panjinya.
Ia tahu baik kecerdasan maupun tenaga dalam yg dimiliki Bok
sian taysu masih satu setengah tingkat diatas kemampuannya,
diapun menyadari bahwa pihak lawan tak akan membiarkan dirinya
mendapatkan kembali panji tsb secara aman, bahkan bisa jadi
serangan yg bakal dilancarkan musuh luar biasa hebatnya.
Akan tetapi kobaran semangat yg dibangun oleh sindiran encinya,
menimbulkan kegagahan dan kejantanan yg tak terbendung dalam
tubuh Kho Beng, apalagi kematian Li Sam yg tragis amat melekat
didalam benaknya, boleh dibilang rasa bencinya terhadap Bok sian
taysu sudah merasuk sampai ke tulang sumsum.

Maka mempergunakan kesempatan disaat ia selangkah demi
selangkah mendekati panji tsb, dg teliti dan hati2 sekali ia mulai
memperhatikan kemungkinan2 yg dilakukan Bok sian taysu dalam
menghadapi dirinya, dia pun mulai mempersiapkan jurus serangan
yg mungkin bisa dipakai untuk menanggulanginya.
Selisih jarak sejauh berapa kaki tidak terlalu jauh, ditengah
suasana tegang yg mencekam seluruh kalangan inilah akhirnya Kho
Beng telah sampai disisi panji tsb.
Dalam keadaan demikian, mau tak mau dia harus mengalihkan
sorot matanya yg semula mengawasi wajah Bok sian taysu lekat2
kini harus beralih keatas panji yg berada diatas tanah.
Pada saat inilah sekulum senyuman dingin yg licik tersungging
diujung bibir Bok sian taysu, sebelum jari tangan Kho Beng
menyentuh panji itu mendadak ia membentak keras,
” lihat senjata!”
Toyanya diputar sambil bergetar menciptakan selapis cahaya
hitam yg disertai angin tajam langsung mengancam tubuh anak
muda tsb.
Inilah jurus “Cahaya suci bayangan budha” dari ilmu delapan
belas jurus penaklus iblis yg merupakan ilmu toya rahasia dari Siau
lim si, seperti apa yg telah diduga semula, ternyata kekuatan yg
disertakan didalam serangan tsb benar2 hebat dan luar biasa sekali.
Berbicara menurut keadaan situasi saat itu rasanya selain
membendung ancaman mana dg mempergunakan senata, hanya
ada satu jalan saja bagi Kho Beng yakni menghindarkan diri.
Akan tetapi Kho Beng tak rela melepaskan panji yg sudah hampir
tersentuh oleh tangannya itu, dalam terperanjatnya ia pun bertekad
mengambil tindakan yg amat berbahaya sekali.
Tiba2 saja badanya menerjang maju kedepan lalu menjatuhkan
diri mendekam ketanah, dg suatu gerakan yg manis tapi berbahaya
ia berhasil lolos dari sapuan tenaga lawan.
Memanfaatkan kesempatan inilah dia menyambar panji tsb,
kemudian menjejakkan kakinya kebelakang keras2.
Laksana anak panah yg terlepas dari busurnya, pemuda itu pun
meluncur kemuka langsung menerjang kedada Bok sian taysu,
pedangnya menusuk sejajar dada dan menggunakan gerakan
“ombak berbaring gelombang memburu” dia mengancam lambung
lawan.

Baru saja serangan toya Bok sian taysu menemui sasaran
kosong, ia makin terperanjat lagi setelah menyaksikan kejadian itu.
Ia bukan terkejut karena tindakan pembalasan dari Kho Beng yg
menyerempet bahaya, sebab tindak serangan balasan dari anak
muda tsb telah berada dalam dugaan pendeta agung dari Siau lim si
ini.
Yang membuatnya amat terperanjat adalah jurus serangan yg
digunakan Kho Beng untuk melancarkan serangan balasan tadi , ia
tak mengira kalau jurus serangan yg dipakai adalah ilmu pedang
aliran air Lin sui jit si yg amat termasyur itu.
Dg suara dalam dan berat Bok sian taysu segera menegur:
“Rupanya sicu telah memperoleh warisan ilmu silat dari Bu wi
lojin…”
Toyanya kembali diputar dg jurus “Guntur sakti penakluk iblis”
sepenuh tenaga ia babat tubuh lawan.
Disaat melejit kedepan tadi Kho Beng telah mencabut panjinya
dari batu, kini semangatnya berkobar-kobar, namun oleh karena
perubahan jurus yg dilakukan Bok sian taysu kelewat cepat, maka
dalam keadaan terdesak dan tak mungkin dapat dihindari lagi, ia
segera tertawa keras2 sambil serunya:
“Hey hweesio gede, aku Kho Beng akan menjajal sampai
dimanakah kemampuan tenaga dalammu!”
Tubuhnya cepat2 meluncur kebawah, begitu menginjak
permukaan tanah, pedangnya ditarik sambil berputar, lalu
membentak keras ia bendung serangan musuh dg kekerasan.
“Traaanggg…!”
Dua senjata yg saling bertemu menimbulkan suara bentrokan yg
nyaring sekali, percikan bunga api memancar kemana-mana.
Kho Beng segera merasakan kekuatan serangan Bok sian taysu
begitu berat dan kuat seperti tindihan bukit karang sehingga seluruh
lengan kanannya menjadi skit dan kesemutan, hampir saja
pedangnya lepas dari genggaman.
Akan tetapi senjata toya Bok sian taysu yg tertangkis pedang kho
Beng pun dibuat mencelat kebelakang, akibatnya pendeta dari Siau
lim si ini menjadi terkejut sekali sampai paras mukanya berubah
hebat, buru2 dia menghindarkan diri kebelakang.
Mimpipun dia tak pernah menyangka kalau Kho Beng pemuda yg
lemah lembut selain mendapatkan warisan ilmu pedang Lui sui jit si,
juga memiliki tenaga dalam yg begitu sempurna sampai2 bila

dibandingkan dg tenaga latihannya selama enam puluh tahun
selisihnya cuma sedikit sekali.
Jilid 13
Begitulah, setelah terjadi dua kali bentrokan, masing2 pihak
segera mundur kembali sejauh dua kaki dan saling berhadapan dg
penuh konsentrasi.
Dg penilaian yg salah terhadap Kho Beng sebelum ini, kini Bok
Sian taysu tak berani bertindak gegabah lagi, terutama setelah
menyaksikan Kho Beng berdiri sambil menyilangkan pedangnya
didepan dada, tentu saja ia semakin tak berani bertindak secara
gegabah.
Sebaliknya Kho Beng pun tak berani bertindak secara
sembarangan krn lengan kanannya dibuat kesemutan hingga sama
sekali tak bertenaga lagi, kini ia membutuhkan waktu yg cukup
untuk beristirahat dan memulihkan kembali kekuatan tubuhnya.
Walaupun demikian, namun ia sendiripun sudah mengerti bahwa
niatnya untuk mencabut nyawa Bok sian taysu tak mungkin berhasil,
krn kemampuan yg dimilikinya sekarang masih ketinggalan jauh dari
musuhnya.
Maka secara diam2, ia pun mengambil keputusan untuk
mengundurkan diri saja dari situ, toh bagaimana jua lencana panji
warisan ayahnya telah diperoleh kembali.
Siapa tahu pada saat itulah mendadak terdengar seseorang
menegur dari belakang tubuhnya:
“Bok sian sute, apakah kau terluka?”
Bok sian taysu segera berpaling, tiba2 saja semangatnya makin
berkobar, sahutnya dg gembira:
“Lapor ciangbun hongtiang, pinceng dalam keadaan sehat, hanya
sampai kini aku belum berhasil mendapatkan kembali papan nama
kuil kita!”
Dg perasaan terperanjat Kho Beng berpaling, ternyata diujung
bukit sana telah muncul seorang pendeta tua yg membawa sebuah
toya baja, dari sebutan Bok sian taysu diapun segera mendapat tahu
kalau orang itu tak lain adalah ketua Siau lim pay sendiri.
Hatinya segera berdebar keras, ia sadar posisinya berbahaya
sekali.
Dalam keadaan begini, satu2 nya jalan terbaik baginya adalah
mengambil langkah seribu, cepat2 dia melejit keudara dan berusaha
meloloskan diri dari situ.

Siapa sangka baru saja tubuhnya melambung ketengah udara,
ketua Siau lim pay itu sudah memutar toyanya tiga kali.
Dari empat penjuru sekeliling bukit pun segera bermunculan
bayangan manusia yg dg cepat mengambil posisi mengurung.
Dlm waktu singkat puluhan orang pendeta yg bersenjata lengkap
telah mengepung tempat itu, hawa nafsu membunuhpun
menyelimuti wajah setiap orang.
Sambil tertawa dingin, Bok sian taysu segera berkata:
“Sicu, apakah kau masih berharap bisa meninggalkan kuil Siau
lim si ini?”
Kho Beng amat terperanjat, melihat sekeliling tempat tsb sudah
terkurung musuh, terpaksa ia melayang turun kembali keatas tanah
dan bentaknya penuh kegusaran:
“Pendeta yg tak tahu malu! Apakah kalian berniat mencari
kemenangan dg mengandalkan jumlah yg banyak?”
“He…he…he…sicu belum menyerahkan kembali papan nama kuil
kami mana mungkin aku akan membiarkan kau pergi dari sini?”
sahut Bok sian taysu sambil menjengek dingin.
Kho Beng segera tertawa seram.
“Bagaimana pula andaikata aku telah mengembalikan papan
nama tersebut?”
Sementara Bok sian taysu tertegun, ketua Siau lim pay telah
menyambung:
“Sicu ini memang tidak mengingkari janji, papan nama telah
tergantung kembali diatas pintu gerbang kuil kita!”
Rupanya sebelum malam menjelang tiba tadi, Kho Beng telah
bersembunyi disekitar kuil Siau lim si, begitu melihat Bok sian taysu
sudah meninggalkan kuil untuk memenuhi janji, ia segera
menggantungkan lebih dulu papan nama ketempat semula, sesudah
itu ia baru membuntuti Bok sian taysu menuju ketempat perjanjian.
Tentu saja Bok sian taysu menjadi tertegun dibuatnya, saat itu
juga ia mulai sadar bahwa kecerdikan dan kelicikan Kho Beng tak
boleh dianggap enteng.
Tapi sebelum sempat ia menegur sesuatu, ketua Siau lim pay,
Phu sian sangjin telah berkata lebih dulu:
“Bok sian sute, anak siapa sih orang ini?”
“Dialah Kho Beng, putra tunggal Hui im cengcu dimasa lalu!”
Berubah hebat paras muka Phu sian sangjin, serunya tercengang:
“Darimana munculnya putra kedua dari Hui im cengcu?”

Bok sian taysu menghela napas panjang.
“Aaaai…rupanya si toya baja pedang tembaga Kho Po koan telah
mengorbankan putranya sendiri untuk menyelamatkan putra
majikannya, ternyata siasatnya itu berhasil mengelabui seluruh umat
persilatan sampai bertahun-tahun lamanya. Ciangbun suheng, kita
tak boleh melepaskan bibit bencana ini lagi!”
“Ooooh….” Phu sian sangjin mengalihkan pandangannya dan
mengawasi Kho Beng lekat2, kemudian katanya:
“Sau sicu sebagai putra tunggal Hui im cengcu tentunya
mengetahui juga bukan atas peristiwa yg terjadi dimasa lalu?”
“Tahu!” sahut Kho Beng dingin.
“Sesungguhnya Hui im cengcu Kho tayhiap adalah seorang
pendekar yg berjiwa ksatria dan gagah perkasa, sayang seribu kali
sayang ia berubah menjadi licik dan munafik karena terpengaruh
kitab pusaka Thian goan bu boh sehingga semua orang hilang
kepercayaan terhadap dirinya.
Bukan saja ia telah mempermainkan umat persilatan sehingga
mondar mandir tak ada tujuannya, ia pun sudah membohongi semua
orang hingga akhirnya mengorbankan amarah orang banyak dan
menderita nasib yg amat tragis.
Kalau toh sicu sudah mengetahui secara jelas duduk persoalan
itu, sepantasnya juga bila kau banyak berbuat kebajikan dan
perbuatan sosial untuk menebus dosa dan kesalahan ayahmu
dimasa lalu, tapi nyatanya sekarang…….kau malah melakukan
perbuatan amoral, perbuatan yg terkutuk, nampaknya kau
sendiripun sudah bosan hidup!”
Dg kening berkerut Kho Beng berseru:
“Ayahku adalah seorang pendekar berjiwa besar, setelah beliau
berjanji akan menghadiahkan kitab pusaka itu kepada seluruh
persilatan, dia tak akan mengingkari janji. Biarpun masa lalu sudah
lewat namun masih banyak titik kelemahan yg mendatangkan
kecurigaan, sayang kau sebagai seorang pendeta agung dari suatu
perguruan besar justru kelewat bodoh dan pikun, tidakkah kau tahu
bahwa perbuatan bodohmu telah ditertawakan sidalang yg masih
bersembunyi dibalik layar.”
“Seorang anak membelai ayahnya merupakan kejadian yg
lumrah” kata Phu sian sangjin dg suara dalam, “tapi memutar
balikkan kenyataan merupakan perbuatan terkutuk, tahukah sicu

bahwa pembelaanmu barusan justru semakin merusak nama baik
ayahmu?”
Kho Beng tertawa dingin:
“Aku bukan manusia yg suka memutar balikkan duduknya
persoalan, sayangnya kau sebagai seorang ciangbunjin justru tak
mampu meneliti persoalan yg terjadi. Padahal dalam kenyataannya
diwaktu itu justru ada seorang yg telah menyaru sebagai Bu wi
cianpwee untuk menipu kalian serta mengadu domba kalian semua,
siasat licik itulah yg menimbulkan kesalahpahaman umat persilatan
terhadap ayahku, sungguh tak disangka ternyata tak seorangpun yg
menyelidiki persoalan tsb secara teliti sehingga tanpa disadari telah
dijadikan alat oleh orang lain.”
Phu sian sangjin nampak terperanjat sekali, serunya tertahan:
“Darimana sicu mengetahui persoalan ini?”
“Aku telah bertemu dg Bu wi cianpwee, justru untuk
membersihkan diri ia mengajarkan ilmu silatnya kepadaku, malah ia
telah kembali terjun kedalam dunia persilatan untuk menyelidiki
siapa gerangan otak atau dalang dibelakang layar yg menyebabkan
terjadinya peristiwa berdarah itu…..”
“Apakah sicu sudah mengetahui siapakah dalangnya?”
“Tentu saja tahu”
“Siapakah dia?”
“Dewi In nu!”
Phu sian sangjin segera tertawa terbahak-bahak:
“Ha...ha...ha...sudah hampir lima puluh tahun lolap memimpin
partai Siau lim pay, banyak sudah tokoh persilatan dimasa lalu yg
kukenal atau paling tidak pernah kudengar namanya, tapi rasanya
belum pernah kudengar tentang seseorang yg bernama In nu
siancu, ditinjau dari namanya, lolap duga ia seorang wanita, tapi
tanpa bukti yg nyata siapa yg akan mempercayai keteranganmu
itu...”
Kembali Kho Beng tertawa dingin:
“Bila ciangbunjin tidak percaya, hal ini merupakan urusan
ciangbunjin sendiri, tapi aku, Kho Beng bertekad akan
membersihkan nama baik ayahku dari segala tuduhan yg tidak
benar, akan kusingkap dulu persoalan yg sebenarnya dan
kuumumkan kepada seluruh umat persilatan.”
“Untuk sementara waktu tak usah kita singgung dulu masalah
tsb” kata Phu sian sangjin kemudian sambil menarik muka,

“sekarang lolap ingin menegur sicu lebih dulu, apa sebabnya kau
mencari gara2 dg partai kami?”
“Ha….ha….ha….tanpa sebab tak mungkin timbul akibat” kata Kho
Beng sambil tertawa lantang, “mengapa ciangbunjin tidak bertanya
lebih dulu kepada Bok sian hwesio, apa sebabnya ia telah mencuri
panji Hui im ki leng milik ayahku tempo dulu?”
Phu sian sangjin mendengus dingin:
“Bila anda hanya menginginkan panji tsb toh bisa mendatangi kuil
kami secara terang-terangan dan memohonnya kembali secara
baik2, mengapa kau justru melanggar peraturan dunia persilatan dg
mengambil tindakan mencuri?”
Kho Beng tertawa keras:
“Ha…ha…ha…Bok sian sebagai seorang pendeta agung dari suatu
perguruan besar telah merampok panji Hui im ki leng secara paksa,
apakah tindakan semacam ini bukan termasuk tindakan pencurian?
Aku toh cuma mengambil papan nama kalian untuk ditukar dg
panji, apa salahnya bila tindakan semacam ini kuperbuat?”
Phu sian sangjin benar2 sangat gusar, serunya kemudian dg
suara dalam:
“Anak muda kau harus tahu bahwa lolap sengaja menegurmu
karena berharap kau bisa menyadari atas kesalahanmu serta
bertobat, tak disangka kau justru keras kepala dan tak tahu adat….”
“Hmmm, aku Kho Beng toh belum perah berbuat kesalahan
kenapa mesti bertobat, Ciangbunjin, kau tak usah manis dimulut
jahat dihati, sekarang bila kau tak segera membubarkan kepungan,
terpaksa aku hendak mengandalkan pedang ini untuk beradu jiwa dg
kalian!”
“Omitohud!” Phu sian sangjin segera merangkapkan tangannya
didepan dada, “Buddha maha pengasih, melenyapkan bibit bencana
bagi umat persilatan merupakan perbuatan mulia, maaf lolap akan
melanggar pantangan membunuh….!”
Berbicara sampai disini, ia pentang matanya lebar2 seraya
membentak keras:
“Kemana perginya Ngo heng cuncu dari ruang Tat mo?”
“Tecu siap melaksanakan perintah ciangbun suheng!”
Jawaban serentak bergema dari sisi kiri bukit, menyusul
kemudian tampak empat sosok bayangan abu2 melayang turun

bagaikan rajawali sakti, mereka tak lain adalah Kim cuncu, Hwee
cuncu, Sui Cuncu dan Toh Cuncu.
Sementara itu Kho Beng telah bersiap sedia dg wajah serius, kini
ia sudah tak memikirkan lagi soal mati hidupnya, dg pedang
terhunus ia telah siap melangsungkan pertarungan mati-matian.
Dg suara lantang Phu sian sangjin berseru kembali:
“Kuharap Tianglo berlima dapat membekuk orang ini hidup2, bila
terpaksa cabut jiwanya....”
Tapi sebelum perkataan itu selesai diucapkan, tiba2 dari bawah
bukit sana telah muncul gulungan api, ternyata arah munculnya
cahaya api tsb tak lain adalah kuil Siau lim si.
Kelima orang Ngo heng cuncu telah siap melancarkan
serangannya ketika secara tiba2 melihat munculnya cahaya api tsb,
dg wajah tertegun mereka segera berpaling.
Betapa terperanjatnya jago2 tsb setelah melihat bangunan kuil
mereka terjadi kebakaran besar, saking kagetnya mereka sampai
menjerit tertahan.
Sementara itu para pendeta yg berdiri disisi kanan bukit telah
berteriak keras:
“Lapor ciangbunjin, kuil kita terbakar!”
Berubah hebat paras muka Phu sian sangjin, belum pernah
bangunan kuil itu terbakar, apalagi terjadi disaat suasana setegang
ini tanpa terasa ia melirik sekejap kearah Kho Beng, hatinya curiga
sekali.
Tapi hanya tertegun sejenak, ketua dari Siau lim si ini segera
membentak dg suara dalam:
“Harap kesepuluh Tianglo pelindung hukum segera pulang kekuil
untuk menyelidiki sebab musabab terjadinya kebakaran, begitu
mendapat kabar segera kirim laporan kemari!”
Sepuluh orang pendeta tua yg berada disisi kanan bukit serentak
menyahut dan beranjak meninggalkan tempat tsb.
Dg demikian selain Ngo heng cuncu dari Tat mo wan, diatas
puncak bukit itu masih terdapat juga para ketua ruangan yg lain,
Phu sian sangjin segera mmbentak lagi:
“Tianglo berlima...!”
Namun sebelum perkataan itu selesai diutarakan, dari balik
kegelapan tiba2 berkumandang lagi suara teriakan seseorang dg
penuh nada panik:

“Ciangbunjin dari Siau lim pay, bila kau tak segera pulang,
mungkin kuil Siau lim si akan berubah jadi abu dan anak buahmu
akan habis dibantai orang!”
Dg wajah berubah Phu sian sangjin segera membentak:
“Tolong tanya siapakah sicu?”
Kali ini jawaban berasal dari tebing sebelah kanan:
“Lo pousat, aku jauh2 datang kemari memberi kabar hanya atas
dasar niat baik, jangan bertanya siapa aku, bila nanti perguruan Siau
lim si bisa lolos dari musibah malam ini, akhirnya toh akan tahu
sendiri siapakah aku…..”
Phu sian sangjin segera mengalihkan pandangan matanya kearah
batuan karang serta gua batu yg berada disisi kanan bukit, sesudah
termenung sejenak, sahutnya kemudian:
“Terima kasih atas pemberitahuan sicu, tapi lolap telah mengutus
sepuluh tianglo pelindung…”
Sambil tertawa dingin suara itu bergema lagi:
“Wahai hwesio tua, bukan aku sengaja meremehkan kekuatan
kalian, bila kau hanya mengutus sepuluh orang tianglo pelindung
hukum saja, sementara seluruh kekuatan lain yg bisa diandalkan
terhimpun disini, aku kuatir mereka yg telah pergi tak akan kembali
lagi, kasihan sepuluh lembar jiwa melayang dg percuma!”
Tanpa terasa Phu sian sangjin mengalihkan sorot matanya
kebawah bukit, betul juga kobaran api kelihatan makin lama semakin
membesar sehingga separuh langit menjadi merah membara.
Padahal setahunya dalam kuil masih terdapat empat lima ratus
anggota kuil angkatan dua dan tiga yg tak lemah kekuatannya,
apabila bukan terjadi serbuan yg tangguh dari luar, mustahil dg
kekuatan sebesar itu mereka tak sempat memadamkan api hingga
api yg membakar kuil makin lama semakin membesar.
Begitu dipikir, tanpa terasa dia pun mempercayai keterangan
orang tsb sebesar lima bagian, segera tanyanya kembali:
“Tahukah sicu kawanan bajingan darimana yg melakukan
serbuan kekuil kami?”
“Kawanan manusia tsb semuanya baju dan kerudung hitam, ilmu
silatnya amat tangguh...aaai, ciangbunjin, apa lagi yg kau ragukan?
Apakah kau lebih memberatkan seorang bocah ingusan ketimbang
karya Siau lim si selama lima ratusan tahun?”

Kata2 yg sangat mengena itu segera membuat hati Phu sian
sangjin menjadi gugup, diam2 ia memikirkan untung dan ruginya
meninggalkan tempat ini.
Memang benar Kho Beng merupakan bibit bencana yg harus
dilenyapkan dari muka bumi, akan tetapi hasil karya Siau lim si
selama lima ratusan tahun jauh lebih penting lagi.
Maka setelah mempertimbangkan untung ruginya, dg perasaan
apa boleh buat ketua Siau lim si ini menatap sekejap kearah Kho
Beng dan berkata dg suara dalam:
“Bocah keparat, malam ini aku akan membebaskan dirimu untuk
sementara waktu, kuharap kau bisa memperbaiki perbuatanmu
selanjutnya, janganlah mengikuti jejak ayahmu dulu sehingga
menyebabkan kematian yg tragis bagi diri sendiri!”
Selesai berkata ia segera mengibaskan ujung bajunya kearah
kawanan pendeta Siau lim si yg berada disekitar situ.
“Hayo jalan!”
Secepat kilat ia segera meluncur turun kebawah bukit.
Waktu itu kelima cuncu Ngo heng dari ruang Tat mo telah dibuat
terperanjat sampai termangu oleh berita yg barusan didengarnya
maka begitu ketuanya memberi perintah untuk kembali kekuil
mereka tak berani ayal-ayalan lagi dan menyusul dibelakang Phu
sian sangjin.
Dlm waktu singkat seluruh pendeta sakti yg berada diseputar
bukit telah mengundurkan diri dari sana dan cepat2 pulang ke Siau
lim si.
Ditengah jalan mereka saksikan kobaran api masih belum juga
mereda, kejadian mana membuat para pendeta menjadi panik dan
gelisah, nafsu membunuhpun telah menyelimuti wajah setiap orang.
Terutama sekali Phu sian sangjin sebagai ketua Siau lim pay,
hawa amarah menyelimuti dadanya, akan tetapi ia pun curiga.
Ia tak habis mengerti manusia darimanakah dewasa ini yg
bernyali begitu besar dg melakukan penyerbuan kekuil Siau lim si?
Mungkinkah kawanan manusia penyerbu tsb adalah komplotan
dari si Kedele Maut yg misterius itu?
Siapa tahu belum habis ingatan tsb melintas lewat, dari kejauhan
sana ia telah menyaksikan sepuluh sosok bayangan manusia
meluncur datang dg cepatnya.

Ketika bayangan manusia itu semakin dekat, segera mereka
kenali sebagai kesepuluh tianglo pelindung hukum yg diutus untuk
menolong kuil mereka.
Phu sian sangjin segera menghentikan langkahnya lalu dg wajah
tertegun tegurnya:
“Mengapa kalian buru2 balik kemari? Apakah anak murid kita
sudah tak mampu lagi menahan serbuan musuh?”
Kesepuluh tianglo itu cepat2 menghentikan larinya, setelah
memberi hormat maka pemimpin dari kesepuluh pendeta tsb, Sin
tiong taysu berkata dg pelan:
“Lapor cingbun hongtiang, meskipun tanda bahaya telah
dibunyikan dari dalam kuil namun hingga sekarang belum ditemukan
jejak musuhnya....”
Phu sian sangjin semakin tertegun, serunya agak keheranan:
“Kalau toh jejak musuh tak ditemukan, mengapa kobaran api
didalam kuil semakin membesar?”
“Api itu membakar hutan pohon siong disisi kuil, entah siapa yg
telah mengguyur minyak disekitar sana sehingga begitu terkena api
maka kobaran apinya menjulang sampai kelangit. Kini pepohonan
disekitar tempat kebakaran sudah mulai ditebangi anak murid kita
hingga lokasi kebakaran pun telah diisolir, bila minyak sudah habis
terbakar niscaya kobaran api akan padam dg sendirinya….”
“Jadi kuil kita tak terbakar?” sela Phu sian sangjin.
“Kuil kita selamat dan tetap utuh, namun tecu telah perintahkan
untuk meningkatkan kesiap siagaan!”
Berubah hebat paras muka Phu sian sangjin, serunya kemudian
sambil menghentakkan kakinya ketanah:
“Celaka! Kalau begitu sipembawa berita tadi adalah komplotan
bajingan muda tsb, tak disangka aku sudah termakan oleh siasat
licik?”
Rupanya bila dilihat dari puncak bukit maka hutan pohon siong
tsb justru menyelimuti sekeliling kuil, tak heran kalau para pendeta
tsb salah mengira kuil mereka telah terbakar.
Demikianlah, setelah selesai berbicara ketua dari Siau lim si itu
segera mengebaskan ujung bajunya dan beranjak pergi menuju
kepuncak bukit kembali.
Tentu saja kawanan pendeta lainnya harus mengikuti dari
belakangnya, tak selang berapa saat kemudian mereka telah tiba
kembali ditempat semula, namun apa yg terlihat membuat mereka

termangu-mangu, suasana dipuncak bukit itu amat hening, tak
nampak sesosok bayangan manusia pun disitu…..
Tak terlukiskan rasa gusar yg menyelimuti perasaan Phu sian
sangjin waktu itu, tiba2 ujarnya kepada Bok sian taysu:
“Sute, sekembalinya kedalam kuil nanti segera utus orang untuk
memberi kabar kepada seluruh partai yg ada, beritahu tentang asal
usul bocah keparat itu, suruh semua rekan2 persilatan yg terlibat
dalam peristiwa berdarah saat itu untuk memperketat gerak
geriknya, barang siapa membocorkan rahasia tsb bunuh saja tanpa
ampun ..he…he…he… biarpun kolong langit amat luas, aku justru
akan memojokkannya hingga tiada tempat berpijak lagi….”
oooOOooo
Malam sangat gelap.
Ditengah pegunungan yg membentang dari puncak Siong san
sebelah utara sampai dikota The ciu tampak ada dua sosok
bayangan manusia yg sedang berlarian dg kecepatan tinggi.
Orang yg berada dimuka adalah seorang menusia berkerudung
hitam yg bertubuh kecil pendek, sedangkan orang yg mengikuti
dibelakangnya adalah seorang pemuda berbaju biru, dia adalah tak
lain dari pada Kho Beng yg baru lolos dari kepungan para jago Siau
lim pay.
Waktu itu, Kho Beng bertanya sambil meneruskan larinya:
“Sobat, sebenarnya siapa sih kau ini? Hendak kau bawa diriku
kemana….?”
Manusia berkerudung hitam yg berada didepan sama sekali tak
berpaling, ia berlarian terus dg kencangnya, hanya sahutnya dingin:
“Bocah muda, tak usah banyak bicara terus, setelah keluar dari
pegunungan ini belum terlambat kalau ingin bicara!”
Kali ini adalah kali keempat Kho Beng mengajukan pertanyaan yg
sama, sebaliknya yg menjawab pun empat kali memberikan jawaban
yg sama, hal ini membuat Kho Beng merasakan betapa misteriusnya
si manusia berkerudung hitam itu.
Kini, walaupun ia sudah tahu kalau orang tsb tidak bermaksud
jahat, akan tetapi pelbagai kecurigaan masih mencekam dalam
perasaannya, ia tak tahu akan dibawa kemanakah dirinya setelah
orang itu berhasil memancing pergi kawanan pendeta dari Siau lim
pay? Dan apa pula maksud tujuannya?

Sesungguhnya Kho Beng ingin menanyakan kecurigaan2nya itu
akan tetapi akhirnya ia berusaha mengendalikan perasaan tsb, sebab
ia tahu kalau lawannya enggan berbicara, ini berarti ditanya pun tak
ada gunanya.
Begitulah, mereka berada satu dimuka yg lain dibelakang saling
berkejaran menelusuri jalan setapak.
Lebih kurang dua jam kemudian, manusia berkerudung hitam yg
berjalan dimuka itu memperlambat gerak larinya.
Sementara itu titik cahaya terang sudah mulai muncul diufuk
timur, ini menandakan kalau fajar mulai menyingsing, jalan yg
terbentang didepan mata pun sudah makin mendatar atau dg
perkataan lain mereka sudah meninggalkan pegunungan Siong san
sebalah timur.
Akhirnya manusia berkerudung hitam itu menghentikan
langkahnya, dadanya nampak tersengal-sengal, suara dengusan
napas yg memburu lamat2 kedengaran jelas.
Begitu pula keadaan Kho Beng napasnya terengah-engah,
dadanya naik turun hingga untuk berbicara pun rasanya susah
sekali.
Lama sekali mereka berdua termenung sambil mengatur napas
akhirnya manusia berkerudung hitam itu menghembuskan napas
panjang dan berkata lebih dulu.
“Akhirnya kita berhasil juga lolos dari kawasan yg berbahaya, kita
tak usah kuatirkan pengejaran dari kawanan hwesio Siau lim si
lagi….!”
Perkataan itu diucapkan seakan-akan bergumam, tapi seperti
juga memberi penjelasan kepada Kho Beng mengapa ia tidak
memberikan jawaban tadi. Kho Beng manggut2 sekarang ia baru
bisa bernapas lega, sahutnya sambil tersenyum:
“Terima kasih atas bantuan saudara yg telah menolongku dari
pengepungan, aku rasa sobat boleh segera melepaskan kain
kerudungmu sehingga kita dapat saling berhadapan dg wajah
sebenarnya.”
Manusia berkerudung itu tertawa terkekeh-kekeh, pelan2 dia
melepaskan pula jubahnya yg kedodoran...
Begitu melihat jelas muka orang itu, Kho Beng jadi tertegun,
tanpa terasa ia berseru tertahan:
“Aaaah, rupanya kau!”

Siapakah dia? Ternyata orang itu adalah lelaki yg membawa
sekarung kedele yg pernah ditemuinya dirumah makan kota Kwan
tong tempo hari.
Waktu itu dg senyuman dikulum ia mengawasi Kho Beng lekatlekat....
“He...he...he...daya ingatan sauhiap memang sangat bagus”
katanya sambil tertawa terkekeh, “rupanya kau masih ingat dg
ku.....aaah betul, hamba Chee Tay hap menjumpai kongcu!”
Seraya berkata ia memberi hormat dalam2.
“Chee Tay hap?” Kho Beng berbisik dg wajah tertegun, “dia telah
melepaskan budi pertolongan kepadaku, masa aku harus
menyebutnya dg nama secara langsung?”
Maka ia pun buru2 menjura untuk memberi hormat.
“Kongcu tak usah keheranan atau terkejut” kata Chee Tay hap
lagi sambil tertawa,”hamba hanya melaksanakan perintah majikan
untuk melindungi keselamatan kongcu secara diam2”
“Siapa sih atasanmu itu?” tanya Kho Beng gelisah.
Chee Tay hap segera tertawa misterius, “Atasanku tak lain adalah
nona Kho”
“Oooh rupanya toaci, Ya betul, bila ditinjau dari kantung kedele
yg kau bawa sewaktu di Kwan tong tempo hari seharusnya aku
sudah menduga kesitu.
Jadi kau mulai menguntil dibelakangku semenjak kau
meninggalkan Yang ciu tempo hari.”
Chee Tay hap manggut2.
Kembali Kho Beng bertanya:
“Kalau begitu kau juga yg telah melepaskan api di Siau lim si
malam tadi?”
Sekulum senyum kebanggaan segera tersungging diujung bibir
Chee Tay hap, katanya:
“Aaaai, aku cuma menggunakan sedikit siasat untuk menipu
mereka”
“Aaaai….bagaimanapun juga perbuatanmu itu sedikit
keterlaluan….” Kata Kho Beng sambil menghela napas.
Chee Tay hap segera tertawa terkekeh-kekeh:
“Membunuh seorang hwesio Siau lim atau melepaskan api
membakar ludes seluruh kuil Siau lim rasanya tiada perbedaan
menyolok, toh satu kali berhutang juga tetap hutang….”

“Biarpun perkataanmu ada benarnya juga” kata Kho Beng dg
wajah serius, “tapi pandangan kita harus benar, tak boleh emosi
atau berat sebelah dalam penilaian, kalau tidak maka kita sendirilah
yg bakal terjerumus dalam posisi yg sulit”
“Perkataan kongcu memang benar” buru2 Chee Tay hap memberi
hormat.
Kembali Kho Beng berkata:
“Kuharap sekembalinya dari sini kaupun bisa menyampaikan
kata2 yg sama kepada enciku, apalagi jejak dalang yg sesungguhnya
sudah diketahui, kuharap ia tidak bertindak secara membabi buta
lagi. Ketahuilah orang2 yg terlibat dlm peristiwa berdarah tempo
hari, sampai sekarangpun belum mengetahui duduk persoalan yg
sebenarnya, siapa tak tahu dia tak bersalah, banyak membunuh
hanya akan dikutuk Thian”
Mendengar perkataan tsb, Chee Tay hap segera menghela napas
panjang, katanya kemudian:
“Aaaaai…kongcu berjiwa besar dan berhati mulia, jauh sekali
berbeda dg sifat majikanku, tapi kuharap jangan sampai bentrok dg
majikan hanya dikarenakan mempunyai pandangan yg berbeda,
sesungguhnya majikan mempunyai wajah yg dingin dan kaku namun
berhati lembut dan mulia, ketika ia tahu kalau kongcu adalah adik
kandungnya, saat itu juga ia menitahkan hamba untuk melindungi
kongcu secara diam2, betapa hangat dan besarnya perhatian
majikan terhadap kongcu sungguh tak terurai dg kata2…..”
Dg perasaan bergolak Kho Beng ikut menghela napas panjang:
“Mengerti, kakak yg tertua bagaikan ibu kandung, aku sebagai
adik tentu saja cuma bisa memberi saran, masa antar saudara
sendiri sampai terjadi bentrokan? Sudahlah, mulai sekarang kau tak
usah mengikuti diriku lagi….”
“Kongcu menyuruh aku pulang?” tanya Chee Tay hap tercengang.
Kho Beng mengangguk.
“Toaci bercita-cita hendak menuntut balas, itu berarti dalam
setiap aksinya ia selalu membutuhkan bantuan, sebaliknya aku saat
ini cuma ingin menyelidiki jejak pembunuh sebenarnya secara diamdiam,
apalagi panji Hui im ki leng sudah kuperoleh kembali, rasanya
sudah tiada lagi urusan penting yg akan kukerjakan lagi, oleh sebab
itu aku pikir lebih baik kau pulang saja untuk melindungi
keselamatan toaci”

Chee Tay hap berpikir sebentar, akhirnya dia manggut seraya
berkata:
“Perintah kongcu pasti akan kulaksanakan, cuma sebelum pergi
hamba ingin menyampaikan dulu sesuatu kepadamu”
Sambil berkata ia mengeluarkan sebuah kantung kecil dari
sakunya, melihat kantung itu menggunung dg tercengang Kho Beng
bertanya:
“Apa sih isi kantung itu?”
“Apalagi selain kedele pencabut nyawa”
Terkesiap juga hati Kho Beng sesudah mendengar penjelasan itu,
terdengar Chee Tay hap berkata lebih jauh:
“Sekarang hamba akan menjelaskan rahasia dari ilmu tsb,
kuharap kongcu dapat mengingat sebaik-baiknya
Im dikiri dan Yang di kanan, Yang dilepas Im ditarik, nyata dikiri
kosong dikanan, empat penjuru berputar terbang melayang. Nah
kongcu! Apakah kau sudah mengingatnya?”
“Ingat sih sudah kuingat, tapi tidak kupahami apa arti dari
rahasia tsb?”
Kembali Chee Tay hap tertawa:
“Sesungguhnya kepandaian ini merupakan suatu kepandaian yg
luar biasa, padahal kalau sudah diketahui rahasianya bukan suatu
kepandaian yg hebat. Pernahkah kongcu melihat kanak2 yg bermain
kelereng….?”
Kho Beng segera menggeleng.
Melihat itu Chee Tay hap berkata lebih jauh:
“Padahal asal kongcu bisa membayangkan saja rasanya tak susah
untuk memperoleh gambaran, misalnya sebutir kelereng yg
disentilkan dg jari tangan, ia pasti menggelinding kemuka secara
lurus, akan tetapi kalau sewaktu menyentil kita melakukan gerakan
menekan dg jari tangan maka keadaannya menjadi berbeda!”
Bagaimanapun juga sifat kekanak-kanakan Kho Beng belum
hilang, karena tertarik segera ujarnya sambil manggut2.
“Ya benar, bila ditekan dg jari maka setelah kelereng itu melejit
kedepan maka ia akan menggelinding balik kembali, tapi apa sih
hubungannya dg ilmu melepaskan kedele?”
Chee Tay hap segera tertawa terkekeh-kekeh:
“Ilmu hwee hun toh mia (sukma membalik pencabut nyawa) dari
tuan putri justru mempergunakan prinsip kerja dari kelereng tsb,
hanya saja kalau main kelereng kita menggunakan kekuatan jari

maka dalam bermain kedele kita mesti menggunakan sepasang
tangan secara bersamaan dan disini pula letak perbedaan antara
ilmu sukma membalik pencabut nyawa dg ilmu pelepas senjata
rahasia pada umumnya!”
Seraya berkata dia mengeluarkan empat butir kedele dari
sakunya dan diletakkan pada telapak tangan, lalu katanya lagi
sambil tertawa,
“Bila senjata rahasia menggantungkan kekuatannya pada
lontaran jari tangan maka ilmu Hwee hun toh mia ini justru
mengandalkan pancaran tenaga dalam yg menyembur keluar dari
balik telapak tangan, disaat telapak tangan kanan memancarkan
tenaga yang kang maka telapak tangan kiri yg merapat secara diam2
memancarkan tenaga Im kang, sewaktu melancarkan serangan pun
dua butir yg didepan dipakai untuk memancing perhatian lawan
sebaliknya dua butir yg menyusul kemudian sebagai senjata
pembunuh, sasaran termudah tak lain adalah sepasang mata
musuh.”
Kho Beng memperhatikan keterangan tsb dg bersungguhsungguh
sampai disitu tak tahan lagi ia menyela:
“Mengapa sasaran yg termudah justru terletak pada sepasang
mata musuh…?”
“Mata adalah bagian terutama dari tubuh manusia, begitu
terkena maka daya kerja obat akan menyebar dg cepat, karenanya
barang siapa terkena maka dia akan segera tewas. Berbeda sekali dg
bagian lain, bukan saja belum tentu bisa membunuh lawan, daya
kerja obat racun pun belum tentu bisa berkasiat sebagaimana
mestinya, kedua, pandangan mata siapapun, entah bagaimanapun
tajamnya pasti bakal keliru……he….he….he….dg memanfaatkan
kesalahan pada pandangan manusia inilah ilmu sukma berbalik
pencabut nyawa seringkali menewaskan lawannya!”
Berbicara sampai disini, sambil tertawa ia segera menambahkan:
“Dua kaki didepan sana terdapat dua batang pohon besar yg
berdiri berjajar, apa salahnya jika kongcu membuat dua lingkaran
pada masing2 pohon, kemudian menyaksikan demontrasi ilmu
sukma berbalik pencabut nyawaku?”
Dg gembira Kho Beng melompat kesisi pohon lalu dg jarinya ia
membuat dua buah lingkaran pada batang pohon itu, setelah itu
diperhatikannya pohon lain yg berjarak lebih kurang lima inci
disisinya.

Mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya, ia sengaja
melukis dua lingkaran yg bengkok2 dan selisih satu inci satu sama
lainnya, kemudian sambil berjalan balik kesamping Chee Tay hap
katanya sambil tertawa:
“Sekarang akan kulihat kebolehanmu dalam menggunakan ilmu
sukma pencabut nyawa”
Dari kejauhan Che Tay hap dapat melihat bagaimana Kho Beng
sengaja melukis lingkaran tsb secara bengkok2, dg kening berkerut
ia menegur:
“Kongcu sengaja melukis lingkaran secara bengkok2, mana ada
mata manusia yg berbentuk seperti itu?”
Kho Beng tertawa”
“He....he....he....katanya ilmu tsb hebat sekali? Kalau cuma
keadaan seperti inipun tak sanggup dilakukan dimana lagi letak
keistimewaannya?”
“He...he...he...terus terang saja kongcu, hamba sendiri pun baru
belajar jadi tak sehebat kepandaian yg dilakukan tuan puteri sendiri,
tapi hamba akan memberanikan diri untuk mencobanya, silahkan
kongcu lihat dg seksama!”
Tangannya segera digoncangkan, tahu2 keempat butir kedele itu
sudah berjajar menjadi satu baris.
Kemudian ia merapatkan telapak tangan kirinya sambil menarik
kebelakang, ketika tangan kanannya diayunkan kemuka maka,
“Sreet!”
Dua buah titik bayangan hitam telah meluncur dari tangannya
dan melayang kearah kiri.
Kho Beng menjadi tertegun, segera pikirnya dg keheranan,
“Aneh benar orang ini, padahal sasarannya berada didepan,
mengapa kedua butir kedele itu justru dilontarkan kesebelah kiri?”
Belum habis ingatan tsb melintas lewat, tampak olehnya kedua
titik bayangan hitam itu sudah meluncur sejauh dua kaki lebih, tiba2
saja benda tadi membuat suatu gerakan melingkar dan tahu2 sudah
menancap ditengah lingkaran pada batang pohon tsb.
Diam2 Kho Beng merasa terkesiap, pikirnya tanpa terasa:
“Aaai…ternyata kepandaian tsb benar2 sangat tangguh…”
“Duuuk,duukk…!”
Sekali lagi bergema suara benturan nyaring, ternyata lingkaran
pada batang pohon yg lain pun sudah terkena serangan kedele tadi
meski satu diantaranya tidak mengena persis pada sasarannya.

Tapi satu hal yg membuat pemuda itu tercengang adalah sejak
kapan kedua butir kedele yg terakhir dilepaskan Chee Tay hap,
saking kesemsemnya memperhatikan perubahan pada dua butir
kedele pertama, ia sampai lupa memperhatikan gerakan selanjutnya.
Sementara itu Chee Tay hap telah berkata sambil tertawa rikuh:
“Aaaai, dasar tidak berbakat, baru dicoba pertama kali sudah
meleset”
Setelah berhenti seenak, kembali ia berkata:
“Rasanya kongcu sudah mengetahui garis besarnya bukan? Bila
kita andaikan pohon yg pertama sebagai musuh dan lingkaran yg
dibuat adalah sepasang mata lawan maka dua butir kedele yg
dilepaskan lebih dulu tadi tak lebih berguna untuk memancing
perhatian lawan, disaat musuh melihat datangnya sambaran
bayangan hitam maka ia pasti akan berusaha menghindar, dg
hindarannya tadi muduh pasti akan beralih pada posisi batang
pohon yg kedua, da justru dg posisi inilah dia akan termakan oleh
dua butir kedele yg terakhir.
Cuma sayang kepandaianku kurang matang, coba kalau encimu
yg melakukannya sendiri, dua butir pun sudah lebih dari cukup.”
Sambil tertawa Kho Beng menggelengkan kepalanya berulang
kali, katanya:
“Kau jangan lupa sekarang pohon yg kita anggap manusia adalah
benda mati tak mampu bergerak, jika orang hidup yg kita hadapi dia
tak bakal berdiri saja menanti digebuk”
“Ha....ha....ha....kali ini perkataan kongcu memang tepat,
memang dsisinilah kelemahan dari ilmu silat Sukma berbalik
pencabut nyawa, yakni tak dapat dilepaskan menurut kehendak hati
disaat pertarungan sedang berlangsung, ilmu ini hanya bisa
dipergunakan disaat lawan lengah sedang tenang.
He...he....he...setiap kali encimu mencari sasarannya, dia selalu
memberi kata-kata pembukaan!”
“Apa itu kata2 pembukaan?” tanya Kho Beng agak geli.
“Bila nafsu membunuh telah menyelimuti perasaan nona, dia
pasti berkata begini....aku yakin kalian tentu tak rela menanti
kematian dg begitu saja, tapi nona pun belum tentu harus
membunuh kalian, asal kau bisa menghindari kedua butir kedele
maut ku, akan kubebaskan kau dari kematian....he....he....sepuluh
orang jago sembilan orang diantaranya sudah dibuat keder oleh
keseraman kedele maut, mereka tentu akan menghadapi secara

serius, didalam keadaan seperti inilah serangan dari encimu pasti
akan mengenai sasaran!”
“Aku masih saja tak mengerti!” kata Kho Beng dg kening berkerut
kencang.
“Dalam hal apa kongcu tidak mengerti?”
“Darimana toaci bisa tahu kalau musuhnya hendak menghindar
kemana, kekiri atau kekanan, muka atau belakang?”
Chee Tay hap segera tertawa.
“Pertanyaan kongcu amat tepat, encimu pernah bilang, hal ini
tergantung pada penilaian serta pandangan yg berpengalaman,
reaksi dari seseorang berilmu silat kebanyakan dilakukan setelah
lawan bertindak duluan, maka disaat kau siap sedia melancarkan
serangan, pihak musuh tentu akan memperhatikan serta bersiap
siaga dg penuh keseriusan, sewaktu menghindar pun kalau bukan
kekiri pasti kekanan, sebalknya kau harus mengandalkan
kesempatan disaat butiran kedele itu berputar untuk menentukan
arah gerakan bahu dari lawanmu.Bila gerakannya kekanan pasti
menghindar kekiri, bila gerakannya kekiri pasti berkelit kekanan.
Bagi orang macam encimu, dia tak usah menggunakan empat
butir untuk memancing reaksi lawan, dua butir pun sudah lebih dari
cukup, karena biasanya ia menilai gerakan musuh dari kedipan
matanya, biasanya bila kedele sudah dilontarkan, bukan kedele itu
yg mencari mangsa, justru korbanlah yg menghantarkan diri untuk
disergap kedele maut itu?”
Sampai disini Kho Beng pun segera berpikir, meski encinya sudah
lelewat banyak membunuh orang, namun perbuatannya tsb sengaja
dilakukan demi menuntut balas atas kematian orang tuanya. Ia
sebagai adik kandung sudah menjadi kewajibannya untuk turut
memikul tanggung jawab itu.
Siapa tahu dg sekantung kedele tsb ia bisa mengacaukan
pandangan umat persilatan terhadap encinya, atau paling tidak bisa
mengurangi beban yg menghimpitnya?
Berpikir sampai disitu, katanya kemudian:
“Baiklah, akan kuterima sekantung kedele ini”
Tampaknya Chee Tay hap masih tetap kuatir, kembali dia
bertanya:
“Apakah kongcu sudah memahami teori tsb sekarang?”
“Sudah mengerti” Kho Beng mengangguk sambil tertawa, “Tak
nyana kau sudah menguasai sekali tentang seluk beluk ilmu tsb.”

Chee Tay hap tertawa.
“Sesungguhnya hamba mendapat rejeki gara2 membonceng
dibelakang kongcu, seandainya nona tidak ingin mewariskan ilmu tsb
kepadamu, mana mungkin dia akan mengajarkan kepandaian sakti
itu kepada hamba?”
“Apakah racun dari kedele ini ada obat penawarnya?”
Chee Tay hap menggeleng,
“Hamba tak punya waktu untuk membuatnya, tapi asal kulit tak
robek dan darah tidak mengalir, racun tsb tak akan menyerang
tubuh manusia. “
“Dari Li Sam kudengar kalau ilmu silat toaci berasal dari Gin san
siancu, tapi belum pernah kudengar kalau keahlian gin san siancu
didalam permainan senjata rahasia… “
Kembali Chee Tay hap tertawa :
“Menurut penjelasan majikan, ilmu sukma berbalik pencabut
nyawa diwarisinya dari seorang manusia berkerudung sewaktu ia
baru turun gunung dulu, hanya sewaktu mewariskan kepandaian
tadi, orang tsb menggunakan semacam senjata rahasia yg istimewa
bentuknya, tuan putri menganggap cara membuat senjata rahasia
tsb tidak mudah, maka dg kecerdikannya ia merubah senjata dg
menggunakan kedele.”
“Ooooh…rupanya begitu” Kho Beng manggut2, “Nah sekarang
kau boleh pergi!”
Dg sikap hormat sekali Chee Tay hap menjura katanya:
“Kalau begitu hamba mohon diri lebih dulu”
Ia membalikkan badan dan beranjak pergi tapi belum berapa
langkah tiba2 dua berbalik kembali.
“Apakah kau masih ada persoalan yg belum dijelaskan?” tanya
Kho Beng tertegun.
Sesudah sangsi sejenak Chee Tay hap berkata agak tergagap:
“Mengingat kongcu seorang yg berjiwa besar dan berhati mulia,
ada beberapa persoalan perlu kujelaskan dulu agar kongcu tidak
memikirkan persoalan itu didalam hati”
“Soal apa?” pemuda itu makin bingung.
“Sesungguhnya hamba tidak pernah memasuki kuil Siau lim si,
padahal kongcu mesti membayangkan sendiri, Siau lim si dg lima
ratusan pendeta bukan kekuatan yg lemah, dg mengandalkan
kemampuan hamba seorang, mana ada kemungkinan untuk masuk
kedalam bangunan dan membakarnya.”

“Ehmmm, soal tsb belum pernah kubayangkan” ujar Kho Beng
termangu, “jadi kau masih punya teman?”
Chee Tay hap tertawa jengah,
“Teman sih tidak punya, aku tak lebih Cuma melepaskan api
dihutan siong belakang kuil sehingga memberi kesan kepada para
pendeta yg berada dipuncak bukit bahwa kuil Siau lim si sudah
terbakar, dg cara tsb aku berharap kawanan hwesio itu menjadi
panik dan gugup. Padahal dalam kenyataannya kuil itu tidak rusak
sama sekali, apa yg hamba katakan kepada kongcu tadi lebih Cuma
bualan belaka!”
Kho Beng agak tertegun sejenak, tapi ia segera tertawa terbahakbahak:
“Ha….ha….ha…..sungguh tak kusangka siasat busukmu amat
banyak, tapi bila dilihat dari demontrasi ilmu meringankan tubuh yg
kau lakukan tadi, jelas tenaga dalammu tidak berada dibawahku!”
“Kongcu kelewat memuji” Chee Tay hap tertawa, “lima tahun
berselang hamba masih dikenal orang sebagai Sin hek tok ho atau
saudagar racun berkaki sakti, soal ilmu meringankan tubuh memang
menjadi kepandaian andalanku, padahal kecuali yg satu ini aku tak
punya kemampuan lain yg bisa dibandingkan dg kongcu.”
Habis berkata ia tertawa lagi sambil menambahkan:
“Justru karena pengalaman hamba sebagai saudagar, maka
menjadi kebiasaanku untuk membual dalam bidang apa saja, dalam
hal ini harap kongcu jangan menjadi gusar!”
Setelah memberi hormat diapun beranjak pergi meninggalkan
tempat itu, dari kejauhan ia sempat berseru lagi:
“Aku hendak pergi dulu, soal keselamatan kongcu selanjutnya
kuserahkan pada kalian!”
Dg kecepatan bagaikan sambaran kilat ia berkelebat menuruni
bukit, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap dari
pandangan mata.
Kho Beng yg mendengarkan perkataan itu menjadi tertegun,
pikirnya : “Ia bilang tak punya teman, lantas pesan tsb ditujukan
kepada siapa?”
Berpikir sampai disitu, diapun mencoba untuk memperhatikan
keadaan disekitar sana namun tak nampak sesosok bayangan
manusiapun yg tampak.
Permainan setan apa lagi yg dilakukan Chee Tay hap? Pikir Kho
Beng dg termangu.

Diliputi perasaan heran dan tak mengerti ia berjalan menuruni
bukit.
Siapa tahu baru berjalan sepuluh langkah, mendadak dari balik
semak belukar disisi jalan melompat keluar dua sosok bayangan
manusia yg membawa golok terhunus, dg cepat mereka
menghadang jalan perginya.
Kho Beng terkejut sekali, dg cepat dia melompat mundur sejauh
dua langkah lebih.
Ketika diamati lebih teliti, ditemukan dua orang tsb mempunyai
perawakan tubuh tinggi besar, wajahnya kasar dan bengis, matanya
tajam dan hidungnya melengkung, tampangnya menunjukkan kalau
mereka bukan manusia baik2.
Pakaian yg dikenakan adalah baju ringkas dari bahan kain
kasar,dadanya terbuka lebar hingga nampak bulu dadanya yg hitam
lebat, dg sorot mata yg tajam begaikan sembilu mereka awasi Kho
Beng tanpa berkedip.
Terkejut juga perasaan Kho Beng menghadapi dua orang yg tak
dikenal itu, pikirnya:
“Jangan2 kedua orang ini adalah yg dimaksud Chee Tay hap dg
perkataannya tadi? Tapi Chee Tay hap adalah anak buah enciku,
mengapa ia justru berteman dg kawanan manusia buas? Kalau
dibilang hal ini merupakan ide cici, rasanya lebih mustahil lagi”
“Kaukah yg bernama Kho Beng?”
Dari nada pembicaraan lawan, Kho Beng segera mengetahui
kalau mereka berdua bukan orang Tionggoan, bisa jadi suku asing
dari luar negeri perbatasan, hal ini semakin mencurigakan hatinya.
Sambil mempersiapkan diri secara diam2, sahutnya dingin:
“Betul!”
Tapi sebelum perkataan tsb selesai diucapkan, lelaki berbaju
kembang yg lain tela menyambung:
“Kalau memang benar, hayo cepat ikuti kami berdua!”
“Kalian berdua hendak mengajakku pergi kemana?” tanya Kho
Beng adak tertegun.
“Tidak jauh dari sini!”
“Maaf” kata Kho Beng dg suara dalam, “belum kuketahui nama
kalian berdua!”
“Aku bernama Hapukim dan dia Rumang!” ucap lelaki berdada
bidang pula:
Sambil menjura Kho Beng segera berkata:

“Oooh, rupanya saudara Hapukim dan saudara Rumang, barusan
kalian bilang akan mengajakku pergi tak jauh dari sini, tampat mana
sih yg dimaksud...?”
“Aaah, kau ini kelewat cerewet!” tukas Rumang sambil melotot.
Berubah paras muka Kho Beng katanya pula sambil tertaw
dingin:
“Aku tidak terbiasa menuruti perintah orang, apalagi mengikuti
seseorang secara membuta, bila kalian berdua tak bisa menerangkan
, maaf kalau aku tak bisa mengikuti kehendak kamu berdua.”
“Aku tidak memahami perkataanmu, terus terang saja sekalipun
enggan pun kau harus ikut kami!”
“Bila kalian ingin menggunakan kekerasan, aku akan mencoba
sampai dimanakah kemampuan kalian berdua “ jengek Kho Beng
tertawa dingin.
Berkerut kencang kulit wajah rumang, bentaknya murka:
“Bocah keparat! Bila ingin mencoba silahkan kau rasakan dulu
ketajaman mata golokku! Sreeet!”
Sinar mata golok berkelebat lewat secara kilat, dia babat
pinggang Kho Beng dg derasnya.
Baik dalam kecepatan maupun dalam keganasan serangan, nyata
sekali kepandaian silat orang ini cukup tangguh.
Kho Beng terkesiap, karena tak sempat lagi meloloskan
pedangnya, dalam keadaan tergopoh-gopoh ia melintangkan
panjinya dg tangan kiri, sementara kepalan kanannya siap
disodokkan kemuka.
Mendadak terdengar Hapukim berteriak keras, dg golok
panjangnya ia tangkis bacoan Rumang…
“Traaaang….!”
Ketika dua senjata beradu, kedua belah pihak sama2 tergetar
mundur satu langkah.
Dg wajah tertegun Rumang segera menegurnya:
“Hey saudara
Hapukim, apa-apaan kamu ini?”
Hapukim berkata dg suara dalam.
“Majikan menitahkan kepada kita berdua untuk menyambut
kedatangan seseorang, tidak berarti kita harus melukainya, apalagi
kalau terjadi kesalahan, bagaimana pertanggungjawaban kita
nantinya?”

Rumang segera terbungkam dalam seribu bahasa, namun ia
sempat melotot sekejap kearah Kho Beng dg ganas.
Tiba2 Kho Beng berseru sambil tertawa nyaring:
“Rupanya kalian berdua hanya melaksanakan perintah seseorang,
tapi bolehkah aku tahu siapa majikan kalian?”
“Setibanya ditempat tujuan kau toh akan tahu dg sendirinya,
Cuma tempat tujuannya bisa kuberitahukan dulu kepadamu, yakni
kuil Ngo li bio diluar kota The ciu!”
Tiba2 satu ingatan melintas dalam benak Kho Beng, segera
tanyanya:
“Apakah kalian kenal dg Chee Tay hap yg baru saja berlalu dari
sini?”
“Tentu saja kenall!” jawab Rumang tampaknya tak sabar lagi.
“Kalau begitu kalian berdua adalah sahabat Chee Tay hap?” tanya
Kho Beng lebih jauh.
Hapukim menggeleng:
“Bukan, kami tidak berteman!”
“Kalau sudah kenal, mana mungkin bukan sahabat?” seru sang
pemuda tertegun.
Rumang mendengus dingin:
“Kami Cuma pernah bersua satu kali ditengah jalan, bila orang
semacam inipun dianggap sebagai teman, bukankah semua orang
dikolong langit adalah teman kami semua?”
“Betul!”
Rumang segera berteriak keras:
“Hey bocah muda, mengapa sih kau cerewet sekali, sebenarnya
mau jalan atau tidak!”
Saat ini Kho Beng sudah diliputi oleh perasaan ingin tahu, setelah
berpikir sebentar, katanya sambil tertawa nyaring:
“Baiklah akan kulihat manusia macam apakah majikan kalian itu,
silahkan kalian berdua membawa jalan!”
Rumang kembali mendengus,
“Huuuh, setelah setengah harian ngerocos terus akhirnya toh ikut
juga, kau betul2 lebih susah diatur ketimbang bocah perempuan!”
Sesudah menyarungkan kembali goloknya, ia membalikkan badan
dan berjalan menuruni bukit dg langkah lebar.
Kho Beng mengerti kalau orang itu merupakan suku asing yg
masih belum beradab, karenanya ia Cuma tersenyum tanpa
berbicara lagi.

Setelah menyimpan kembali panjinya dan menyoren pedangnya,
dg langkah lebar ia menyusul dibelakang.
Sementara itu Hapukim mengikuti pula dipaling belakang.
Tak selang beberapa saat kemudian mereka sudah menelusuri
jalan raya yg lebar, tentu saja kehadiran dua lelaki bengis yang
mengiringi seorang pemuda menimbulkan perhatian orang banyak.
Diam-diam Kho Beng berkerut kening menghadapi keadaan tsb,
tapi ia tetap bersabar sebab kota The ciu sudah muncul didepan
mata.
Menjelang masuk kedalam kota, tiba2 Rumang berbelok
kesamping jalan raya dan menelusuri sebuah jalan setapak.
Jalanan setapak itu membentang menembusi sebuah hutan yg
lebat, suasana amat hening agaknya amat jarang dilalui orang.
Belum beberapa langkah mereka berjalan, tiba2 dari sisi kiri dan
kanan jalan masing2 muncul sesosok bayangan manusia yg
menghadang jalan perginya.
Salah seorang diantaranya segera menegur dg suara lantang:
“Loji apakah kau sudah berhasil menemukan orang yg kita cari?”
“Yaa benar, apakah loji ada dirumah?” kata Rumang sambil
manggut2.
Orang itu segera tertawa.
Jilid 14
“Ia sudah tak sabar menunggu lagi, maka kami berdua pun
disuruh keluar untuk mencari kabar.”
Sembari berkata, sinar matanya segera dialihkan ketubuh Kho
Beng dan mengamatinya dg seksama.
Kho Beng baru terperanjat setelah menyaksikan tampang muka
kedua orang tsb, ternyata mereka memiliki perawakan tubuh yg
tinggi lagi ceking, tinggi seperti bambu sementara tampangnya
seseram Rumang serta Hapukin. Hal ini membuktikan kalau mereka
berasal dari satu daerah yg sama.
Hanya bedanya sikap maupun tingkah laku mereka jauh lebih
dingin dan menyeramkan ketimbang Hapukin berdua, menimbulkan
rasa sebal dan muak bagi yg memandang.
Yg lebih istimewa lagi adalah senjata yg tersorong dibahu mereka
berdua bukan saja tanpa sarung, bentuknya pun golok tak mirip
golok, pedang tak mirip, bentuknya meliuk-liuk mirip ular.
Sudah setengah harian lamanya Kho Beng memperhatikan
bentuk senjata tajam tsb namun sampai terakhir pun ia tak

mengetahui apa namanya, sebab belum pernah dijumpai dalam
daratan Tionggoan.
Dalam pada itu si jangkung lagi ceking tadi telah berkata kembali,
“Kami akan jalan duluan untuk memberi laporan kepada si tua,
harap kalian segera menyusul datang!”
Selesai berkata tampak dua sosok bayangan manusia meluncur
bagaikan hembusan angin dalam waktu singkat bayangan tubuh
mereka sudah lenyap dibalik pepohonan sana.
Diam2 Kho Beng merasa amat terkesiap seingatnya kepandaian
silat yg dimiliki keempat orang itu tidak lebih rendah daripada jagoan
kelas satu dari daratan Tionggoan.
Dg kekuatannya seorang diri, andaikata terjadi pertarungan satu
lawan satu mungkin saja ia bisa meraih kemenangan, tapi kalau
sampai mereka berempat maju bersama, sudah pasti dia bukan
tandingannya.
Dalam terkesiapnya tiba2 dia teringat akan sesuatu, sambil
berpaling tanyanya kemudian kepada Hapukim:
“Apakah si tua yg dimaksud adalah majikan kamu semua..?”
“Betul!” Hapukim mengangguk membenarkan.
Dg perasaan tercengang Kho Beng segera berpikir:
“Sebagai seorang hamba ternyata dibelakang majikannya mereka
memanggil sebagai si tua, hal ini menunjukkan kalau orang2 tsb
tidak begitu menaruh hormat kepada majikannya, lantas hubungan
antara hamba dan majikan macam apakah itu?”
Seketika itu juga ia berpendapat bahwa gerak gerik keempat
orang ini bukan saja amat aneh dan mencurigakan, bahkan
hubungan mereka dg majikannya yg belum sempat dijumpai pun
jelas bukan suatu hubungan yg sederhana.
Sementara ia masih termenung, mereka telah membelok dua
tikungan dan sampai didepan sebuah bangunan kuil yg bobrok.
Saat itu dua orang asing berperawakan jangkung lagi ceking itu
sudah berdiri menanti ditepi pintu kuil, mereka segera menggapai
kearah Rumang begitu melihat rekannya munculkan diri.
Dg cepat Kho Beng memperhatikan sekejap keadaan kuil tsb,
rupanya tempat itu hanya merupakan sebuah bangunan yg sudah
tak utuh, jelas sudah terbengkalai dan tak dihuni manusia.
Menghadapi situasi semacam ini, ia tak tahu apakah
kedatangannya bakal beruntung atau sebaliknya, tanpa terasa
pemuda kita menjadi ragu.

Mendadak terdengar Hapukim yg berada dibelakangnya menegur
dg suara rendah:
“Hey anak muda, tinggal dua langkah sudah masuk kedalam kuil,
mengapa kau malah ragu2 untuk melanjutkan?”
Sementara Kho Beng masih tertegun, tiba2 pinggangnya
didorong orang keras2.
Dalam keadaan tidak siap, ia segera terdorong hingga maju
kemuka dg sempoyongan, tahu2 tubuhnya telah berada didepan
pintu kuil.
Dg cepat hawa amarahnya berkobar, sambil membalikkan badan
ia segera menghimpun kekuatan dan siap memberi pelajaran kepada
pihak lawan yg dianggapnya kurang ajar itu.
Tapi belum sempat ia berbuat sesuatu dari balik ruang kuil sudah
terdengar seseorang berseru:
“Kho sauhiap silahkan masuk kedalam, apalah artinya membuat
keributan dg kawanan manusia seperti itu!”
Mendengar perkataan tsb Kho Beng segera berpikir sejenak,
kemudian sambil tertawa dingin pikirnya:
“Betul juga perkataan ini, apa artinya ribut dg kawanan manusia
biadab seperti ini, toh ada alasanpun tak bisa dijelaskan dan pula
mereka hanya tahu melaksanakan perintah seseorang, bila ingin
menegur, mangapa aku tidak menegur langsung kepada majikannya
yg berada didalam ruangan kuil...?”
Dg pandangan dingin ia menyapu sekejap sekeliling ruangan,
tampak olehnya Rumang telah berdiri disamping ruangan sementara
dibagian tengah berdiri seorang kakek bertubuh pendek lagi kecil
tapi kelihatan amat keras.
Setelah melihat dg jelas wajah si kakek yg berdiri sambil
memegang sebuah huncwee, Kho Beng menjadi termangu untuk
beberapa saat lamanya, sementara kejadian lainpun serasa melintas
kembali dalam benaknya.
Dg darah mendidih dan air mata bercucuran membasahi pipinya,
ia maju beberapa langkah kedepan dan segera menjatuhkan diri
berlutut sambil katanya dg suara gemetar:
“Kho Beng tidak menyangka akan bersua kembali dg Thio
cianpwee setelah berpisah setengah tahun berselang, ternyata kita
bersua lagi disini, terimalah salam hormat boanpwee bagi kesehatan
dan keselamatan cianpwee!”

“Ha...ha...ha...” kakek ceking tertawa gelak, “bocah muda, kau
tak usah menyebutku dg panggilan demikian, aku masih Thio
bungkuk malah terasa lebih hangat...”
Ternyata kakek ceking ini tak lain adalah si Unta sakti
berpunggung baja yg pernah dihebohkan karena kematiannya.
Waktu itu sambil berkata ia membangunkan Kho Beng dari atas
tanah, kemudian agak emosi katanya lagi:
“Sebenarnya aku sibungkuk telah berjanji akan menemui dirimu
lagi pada tiga tahun mendatang, siapa sangka dalam setengah tahun
belakangan ini ternyata sudah terjadi perubahan yg besar sekali,
kemajuan ilmu silat yg kau raih pun jauh diluar dugaanku sama
sekali, mari, mari karena kuil ini tanpa bangku, mari kita duduk
dilantai saja sambil berbincang-bincang!”
Dg perasaan gembira yg meluap-luap Kho Beng menyeka air
mata yg membasahi pipinya, lalu bertanya:
“Darimana cianpwee bisa tahu kalau aku pergi ke kuil Siau lim
si..?”
Si unta sakti berpunggung baja segera tertawa:
“Sejak aku melihatmu tanpa sengaja dikota Yang ciu, sampai
sekarang aku selalu membuntuti disekitarmu, masa kau sama sekali
tidak merasakannya.”
“Mengapa cianpwee tak segera munculkan diri untuk bertemu”
seru Kho Beng agak tertahan.
Kali ini si Unta sakti berpunggung baja menghela napas.
“Selama hidup aku sibungkuk enggan ingkar janji, meski
kekalahanku ditangan Bok sian taysu sewaktu berada diperguruan
Sam goan bun tempo hari membuat hatiku tak puas namun karena
ikatan janji tsb, aku tak dapat mengingkarinya lebih dulu!”
Ucapan mana segera menimbulkan perasaan kagum dan hormat
didalam hati Kho Beng, tapi sebelum ia sempat berbicara, si unta
sakti berpunggung baja telah berkata kembali sambil menghela
napas:
“Aku dapat menyaksikan pertemuanmu dg encimu, lalu melihat
pula kau meninggalkan bangunan kosong di Yang ciu dalam keadaan
mendongkol, dari sikap serta gerak gerikmu itu aku segera tahu
kalau kau tak akan mampu menahan diri dan pasti akan berangkat
ke Siau lim si untuk mendapatkan kembali panji tsb, karena itu aku
menguntil terus dibelakangmu. Tatkala kujumpai kalau jejakmu
memang tak meleset dari dugaanku, terpaksa akupun munculkan diri

dan mengajak pengurus rumah tanggamu itu untuk berunding serta
,mengatur siasat, he…he…he…pertama kali ini aku thio bungkuk
ketenggor batunya.”
“Ketenggor batunya? Bagaimana maksudmu?” tanya Kho Beng
agak keheranan.
“Walaupun aku sibungkuk telah berhasil menyelidiki identitas
saudara tsb, namun ia justru tidak kenal dg aku sibungkuk, sewaktu
terjadi pertemuan, aku sibungkuk nyaris sudah mengorek keluar
seluruh isi hatiku, tapi ia sangsi dan curiga, dalam keadaan apa
boleh buat tak mampu mengutarakannya keluar, aku terpaksa
mohon diri dan mengikutinya terus secara diam2”
“Lantas bagaimana akhirnya? Aku lihat dia toh sudah percaya
penuh dg cianpwee?” kata Kho Beng sambil tertawa.
Si Unta sakti berpunggung baja mendesis lirih:
“Kebetulan sekali pada saat kau belum tiba dibukit Siong san,
hampir saja dirimu disatroni orang, agaknya Chee loko itu merasa
kalau gelagat tak menguntungkan, segera ia munculkan diri dan
melakukan penghadangan!”
“Cianpwee, belum kau jelaskan siapa yg telah bermaksud
menyatroni diriku itu?”
“Mereka adalah Leng hong dan Leng tiok totiang, dua diantara
delapan pelindung hukum Bu tong pay. Dalam satu dua patah kata
saja saudara Chee telah terlibat dalam pertarungan sengit melawan
Leng hong serta Leng tiok totiang berdua.
Kemampuan dari anak murid partai besar memang tak boleh
dianggap enteng, tak sampai dua puluh gebrak kemudian saudara
Chee mulai terdesak hebat dan tak mampu bertahan lagi. Maka aku
sibungkuk pun segera memanfaatkan kesempatan itu untuk
memberi bantuan, dalam pertarungan yg kemudian terjadi kami
berhasil memukul mundur dua orang tosu Bu tong pay itu, dg
demikian aku pun bisa memperoleh kepercayaan hingga bersamasama
mengatur siasat api tsb.
“Oooh, rupanya menggunakan api untuk memukul mundur
musuh merupakan siasat yg diatur locianpwee…”
Belum habis perkataan itu diutarakan, tiba2 saja paras muka si
unta sakti berpunggung baja telah pulih menjadi dingin kembali,
segera tegurnya:
“Sebagai seorang laki2 sejati memang wajar memiliki semangat
dan keberanian yg luar biasa, tapi kau kelewat gegabah, terlampau

jumawa, kau tahu berapa ribu orang jumlah anggota kuil Siau lim si
dan berapa ratus orang jago lihay yg mereka miliki? Tapi nyatanya
kau berani mencuri papan namanya seorang diri untuk ditukar panji,
perbuatan semacam begitu betul2 perbuatan bodoh. Apakah kau
anggap Siau lim si yg termasyur itu gampang untuk dihadapi.”
Dg perasaan menyesal Kho Beng menundukkan kepalanya
rendah2, sahutnya lirih:
“Teguran cianpwee memang benar…..”
Sewaktu pandangan matanya membentur kembali dg wajah
Rumang, Hapukim maupun kedua lelaki kurus jangkung yg berdiri
termangu disisi arena dg pandangan bingung itu, tanpa terasa dia
mengalihkan pembicaraan sambil tanyanya:
“Siapakah mereka berempat? Rasanya cianpwee belum
memperkenalkan mereka kepadaku?”
Si unta sakti berpungung baja segera manggut2, katanya:
“Yaa, kita hanya tahu membicarakan persoalan pribadi sehingga
melupakan mereka semua…”
Sambil berkata ia segera bangkit berdiri, lalu gapainya kearah
keempat orang itu sambil serunya dingin:
“Coba kemarilah kalian berempat!”
Keempat lelaki bengis itu serentak maju dua langkah kedepan,
setelah berdiri berjajar, Rumang baru bertanya:
“Apakah cukong hendak memerintahkan sesuatu?”
Si Unta sakti berpunggung baja mendengus dingin, kepada Kho
Beng katanya:
“Aku rasa kau tentu sudah mengetahui bukan nama dari dua
orang yg mengajakmu kemari “
Lalu sambil menunjuk kearah dua lelaki jangkung lagi ceking tsb
ia menambahkan:
“Mereka berdua adalah dua saudara dari keluarga Mo, yg tua
bernama Molim sedang yg muda bernama Mokim seperti juga
Rumang dan Hapukim, mereka semua merupakan penduduk yg
berasal dari kawasan Cing hay….”
“Oooh…rupanya dua bersaudara Mo…” buru2 Kho Beng menjura
kepada dua orang lelaki kurus jangkung itu.
Tapi si Unta sakti berpunggung baja segera menyela dg suara
dalam:
“Kau tidak usah bersikap begitu sungkan terhadap mereka…”

Sementara Kho Beng masih tertegun, si Unta sakti berpunggung
baja telah berkata lagi kepada Molim berempat:
“Hayo kalian berempat cepat maju untuk memberi hormat,
selanjutnya sauhiap ini adalah majikan kalian yg baru!”
Kho Beng semakin termangu lagi sehabis mendengar ucapan tsb,
sebaliknya keempat orang itu pun nampak tertegun, tapi kemudian
paras mukanya berubah hebat.
Rumang yg berangasan tak bisa mengendalikan gejolak emosinya
lagi, ia segera membentak penuh amarah:
“Apa-apan kamu ini? Mak nya…sebetulnya kami mempunyai
berapa orang majikan sih?”
Wajahnya kelihatan menyeringai bengis sementara tangannya
meraba gagang golok yg tersoren dipinggang, agaknya dia merasa
amat tidak puas terhadap perkataan dari si unta sakti tsb.
Kho Beng betul2 dibikin kebingungan setengah mati, dg wajah
tak mengerti dan termangu diawasinya si unta sakti tanpa berkedip,
dia ingin sekali bertanya, namun kedipan mata si unta sakti
mencegahnya untuk mengajukan pertanyaan.
Terdengar si Unta sakti berkata dingin:
“Seekor kuda tak akan bisa dikendalikan dua orang, tentu saja
kalian hanya mempunyai seorang majikan, Cuma selanjutnya Kho
sauhiap lah yg bakal menggantikan kedudukan aku si bungkuk!”
“Tidak bisa!” tukas Molim tiba2 dg suara yg dingin dan
menyeramkan.
“Mengapa tidak bisa?” Si Unta sakti balik bertanya dg wajah sama
sekali tak berubah.
“Sewaktu kami berempat menyatakan kesediaan untuk menjadi
pembantumu tempo hari, kita toh sudah berjanji bahwa mulai saat
itu kami hanya akan menuruti perintahmu seorang, apabila kau si
tua ingin melepaskan diri dari kami berempat…he…he...jangan
mimpi!”
Kho Beng betul2 dibikin tercengang oleh peristiwa ini, kalau
dilihat dari sikap maupun tingkah laku keempat orang tsb,
nampaknya meski mereka sudah menjadi pembantunya si Unta
sakti, namun kesediaan mereka bukan atas dasar benar2 takluk.
Tapi anehnya lagi, ternyata mereka pun enggan meninggalkan si
Unta sakti untuk berganti majikan lain, sebenarnya hubungan
macam apakah yg terjalin diantara mereka berdua?
Mendadak terdengar Si Unta sakti tertawa terbahak-bahak:

“Ha…ha…ha…mengerti aku sekarang, rupanya kalian takut kalau
aku sibungkuk mengingkari janji bukan?”
“Benar!” sahut Molim dingin.
Sambil tertawa terbahak-bahak si Unta sakti berkata lebih jauh:
“Justru lantaran aku sibungkuk hendak menepati janji maka aku
baru perkenalkan Kho sauhiap sebagai majikan kalian yg baru, bila
ingin mempelajari isi kitab pusaka Thian goan bu boh serta tenaga
singkang, selanjutnya kalian harus baik2 melayani majikan kalian
ini….”
Kho Beng merasakan hatinya bergetar keras sekali, terutama
setelah mendengar disinggungnya soal kitab pusaka.
Sementara itu Rumang sudah berteriak keras:
“Kami tak percaya, hayo cepat suruh dia tunjukkan kitab pusaka
tsb….”
Kho Beng pun tak bisa menahan diri lagi, kepada si Unta sakti
serunya:
“Cianpwee, sebenarnya apa yg telah terjadi? Jangan lagi kabar
berita tentang kitab pusaka Thian goan bu boh belum diketahui,
sekalipun benda tsb berada ditanganku pun pewarisnya harus
diseleksi lebih dulu secara ketat!”
Siapa tahu begitu perkataan selesai diucapkan paras muka
Rumang berempat sudah berubah sangat hebat, mereka segera
mundur dg sempoyongan, menyusul kemudian tampak cahaya tajam
berkilauan, ternyata keempat orang itu sudah meloloskan senjata
masing2.
Sambil menyeringai seram Hapukim segera berseru:
“Bagus sekali! Tak disangka kau si tua bangka suka membohongi
kami berempat, jauh2 dari Cing hay kau mengajak kami memasuki
daratan Tionggoan, ternyata apa yg berlangsung Cuma sandiwara
belaka.”
Paras muka si Unta sakti kelihatan dingin kaku tanpa emosi,
agaknya dia sudah mempunyai persiapan yg cukup matang, selanya
dg suara dalam dan berat:
“Selama hidup aku tak pernah berbohong kepada siapapun, siapa
bilang aku telah membohongi kalian berempat?”
Mokim yg selama ini hanya membungkam terus, tiba2
mendengus dingin seraya berkata pula:
“Hey si tua! Jangan lupa kau pernah membual setinggi langit
tentang kehebatan ilmu sakti yg tercantum dalam kitab pusaka Thian

goan bu boh ketika baru pertama kali bertemu dg kami, kaupun
mengatakan bahwa kabar berita tentang kitab pusaka tsb sudah
diketahui, asal sudah ditemukan maka kau bersedia mewariskan
kepandaian sakti tsb kepada kami. Tapi sekarang..hmmm...mana
kitab pusakanya? Mana ilmu saktinya....?”
Si Unta sakti segera tertawa tergelak:
“Ha...ha...ha...betul aku memang pernah berkata demikian
kepadamu, padahal aku telah menemukan Kho sauhiap bagi kalian
sekarang serta memperkenalkan majikan baru untuk kalian semua,
hal ini sesungguhnya berarti aku telah melaksanakan setengah dari
janjiku itu...”
“Apa maksud perkataanmu itu?” tanya Hapukim tidak habis
mengerti, nampaknya dia kebingungan.
“Aku bisa berkata demikian oleh karena kabar berita tentang
kitab pusaka Thian goan bu boh hanya diketahui Kho sauhiap
seorang, lagipula Kho sauhiap lah yg sebenarnya merupakan pemilik
yg telah kehilangan kitab pusaka tsb.”
Molim segera mendengus dingin:
“Hmmm, siapa sih yg sebenarnya kau bohongi? Sudah jelas
bocah muda ini mengatakan kalau berita tentang kitab pusaka tsb
belum jelas....”
Saat ini Kho Beng sudah banyak belajar dari pengalaman, buru2
dia mengulapkan tangannya seraya menyela:
“Coba kalian dengarkan dulu penjelasan dariku, barusan aku
maksudkan kitab pusaka tsb belum jelas kabar beritanya karena aku
masih menelusuri jejak orang yg telah mencuri kitab tsb, jadi bukan
berarti sama sekali tak ada kabar beritanya.”
“Lantas kitab pusaka tsb berada ditangan siapa?” tanya Molim
dingin.
“Beritahu kepada kalianpun tak ada salahnya” ujar si Unta sakti
cepat, “kitab pusaka tsb berada ditangan seorang wanita yg
memakai julukan sebagai In nu siancu!”
“Dewi In nu tsb berdiam dimana?” teriak Rumang lantang.
Sementara si Unta sakti hendak menjawab, Mokim sudah
menyela lebih dulu dg suara dingin:
“Lotoa, kau jangan bodoh, andaikata mereka sudah mengetahui
tempat tinggal perempuan tsb apa gunanya memperalat kita
berempat?”
Sambil tertawa seram si Unta sakti segera menyambung.

“Nah, ucapan Mo loji inilah yg paling sesuai dg jalan pikiranku,
sekarang duduknya persoalan sudah jelas, berarti hanya dua jalan
untuk kalian pilih, kamu berempat hendak memisahkan diri atau
melakukan pencarian secara bersama?”
Molim termenung beberapa saat, tiba2 tanyanya pada Rumang:
“Lotoa, bagaimana menurut pendapatmu?”
Rumang tertawa lebar.
“Aku adalah orang kasar yg dungu, pokoknya bagaimana kalian
memutuskan, aku menurut saja!”
Kembali Molim berpaling kearah Hapukim, sambil tanyanya pula:
“Kalau lotoa tiada pendapat, bagaimana dg pendapat saudara
Hapukim sendiri?”
Hapukim segera menggaruk-garuk kepalanya yg tak gatal,
ujarnya setelah berpikir sebentar:
“Aku rasa mempunyai titik terang jauh lebih mantap ketimbang
mencari secara membabi buta!”
Molim segera tertawa sinis, tukasnya:
“Bukan soal itu yg ingin kutanyakan kepadamu, aku Cuma ingin
tahu jalan yg manakah yg harus kita tempuh?”
Karena melihat Hapukim berotak bebal dan agaknya tak punya
pendapat lain, Mokim segera menyela:
“Toako, aku rasa lebih baik kalau kita teruskan saja perjanjian yg
lama, buat kita yg baru pertama kali melangkah kedaratan
Tionggoan, rasanya seperti orang buta menunggang kuda, kemana
kita mesti pergi untuk menemukan perempuan tsb?”
Molim segera manggut2, kepada Rumang dan Hapukim kembali
tanyanya:
“Bagaimana pendapat kalian berdua atas perkataan dari adikku
barusan..?”
“Kalau Mo jiko telah berkata begitu , yaa sudahlah...kami mah tak
punya pendapat apa-apa” ujar Rumang sambil tertawa kering.
Sedangkan Hapukim juga menggelengkan kepalanya pertanda
tak punya pendapat lain.
Maka dg pandangan mata yg menyeramkan Molim menatap
kembali wajah si Unta sakti dan Kho Beng sambil katanya:
“Baik, kami akan tetap menuruti janji semula!”
Si Unta sakti tertawa seram, sembari menarik muka katanya:
“Kalau memang masih mengikuti perjanjian yg lama berarti kalian
mesti menjaga hubungan kita sebagai majikan dan pembantu, kalian

pun harus menjalankan penghormatan sebagai seorang pelayan
terhadap majikannya. Kenapa sampai sekarang masih
mengacungkan senjata didepan kami?”
Agak tertegun keempat orang tsb setelah mendengar teguran si
Unta sakti, tapi kemudian setelah saling berpandangan sambil
tertawa, cepat2 mereka menyimpan kembali senjata masing2.
Kembali si Unta sakti membentak:
“Kalau toh majikannya sudah ganti, mengapa kalian tak segera
maju untuk menjalankan penghormatan kepada Kho sauhiap?”
Keempat orang itu nampak sangat rikuh tapi setelah sangsi
sejenak, akhirnya toh maju juga dua langkah kedepan dan memberi
hormat kepada Kho Beng sambil katanya:
“Hamba menjumpai majikan baru!”
Pikiran maupun perasaan Kho Beng saat ini benar2 amat kalut,
dg cepat dia mengulapkan tangannya seraya berkata:
“Kalian berempat tak usah banyak adat.”
Sementara itu si Unta sakti telah menimpali pula:
“Sekarang kalian berempat boleh keluar dari sini untuk
melakukan patroli disekitar tempat ini, jangan biarkan sembarangan
orang mendekati bangunan kuil ini, aku masih ada persoalan lain yg
hendak dibicarakan dg Kho sauhiap.”
“Mak nya!” umpat Rumang sambil melotot, “kau toh sudah bukan
majikan kami sekarang, buat apa bergaya dan berlagak terus
didepan kami?”
Kho Beng menjadi tertegun setelah melihat kejadian tsb, buru2
hardiknya:
“Rumang jangan kurang ajar, perkataan Thio cianpwee sama
berarti perkataan diriku!”
Atas teguran mana, Rumang baru mengajak ketiga orang
rekannya mengundurkan diri dari bangunan kuil itu dg wajah uringuringan.
Kho Beng memasang telingan dan memperhatikan terus langkah
keempat orang itu hingga lenyap dari pendengaran, kemudian ia
baru menghela napas panjang seraya berkata:
“Cianpwee, buat apa kau…”
Tidak sampai pemuda itu menyelesaikan kata-katanya, dg wajah
berubah hebat si Unta sakti sudah menukas dg suara dingin:

“Aku sibungkuk melakukan segala sesuatunya demi dirimu, tak
disangka kau malah mengomel dan menggerutu atas perbuatanku
ini!”
Kho Beng menjadi gelagapan, cepat2 katanya:
“Harap cianpwee jangan salah mengerti akan maksudku, aku
hanya maksudkan musuh tangguh yg bakal kita hadapi selanjutnya
sudah amat sulit ditangani, bila kita mendatangkan lagi kawanan
manusia buas tsb disisi kita, bukankah hal ini sama artinya
mengundang srigala masuk rumah dan berteman dg bangsa harimau
buas?”
Unta sakti tertawa dingin:
“Tahukah kau bahwa kawanan jago lihay yg terlibat dalam
penyerbuan keperkampungan Hui im ceng tempo hari melingkupi
jago2 dari tujuh partai besar serta jago pilihan dari golongan putih
maupun hitam.
Kini identitasmu yg sebenarnya sudah terungkap dan diketahui
umum, jago2 persilatan pasti akan berusaha keras untuk
melenyapkan kau si bibit bencana dari muka bumi, atau dg
perkataan lain langkah perjalananmu selanjutnya akan bertambah
sulit, bila aku tidak mencarikan beberapa orang jago silat berilmu
tinggi untuk melindungi keselamatanmu, kau anggap dg kekuatanmu
seorang mampu bertahan berapa lama? Hmm, mungkin sebulan pun
tidak sampai!”
Kho Beng menghela napas panjang,
“Aaaai…aku mengerti, cianpwee melakukan segala sesuatu demi
kebaikanku, tapi kalau toh harus mencari pembantu, rasanya tak
pantas bila mencari manusia sebangsa mereka…”
“He…he…he…kau anggap aku sudah tua dan makin pikun?”
jengek si Unta sakti sambil tertawa dingin, “untuk menemukan
jagoan lihay di ketiga belas propinsi utara maupun selatan daratan
Tionggoan yg tidak terlibat dalam peristiwa pembunuhan berdarah
diperkampungan Hui im ceng bukanlah suatu pekerjaan gampang,
lagipula apakah mau mereka membantu? Coba bayangkan, kemana
kau mesti mencari pembantu?”
“Biarpun perkataan tsb ada benarnya juga, tapi aku tetap merasa
bahwa keempat orang tsb sangat buas, kejam dan susah
dikendalikan, seandainya suatu ketika mereka berubah pikiran dan
berbalik mencari gara2, mungkin….mungkin kita akan sulit untuk
mengatasinya.”

Sekali lagi si Unta sakti tertawa dingin:
“Sebelum kitab pusaka Thian goan bu boh berhasil diketemukan,
aku jamin mereka tak akan berani berpikiran cabang, lagipula
ayahmu pernah memimpin jagoan dari golongan putih maupun
hitam dimasa lalu, andaikata tidak terjadi kesalah pahaman gara2
kitab pusaka tsb, siapa pula yg berani menentangnya? Kau sebagai
seorang lelaki sejati yg mewarisi darah serta semangat ayahmu
almarhum, bila mengendalikan empat orang saja tak mampu, apa
gunanya kau menelusuri dunia persilatan?”
“Terima kasih atas nasihat cianpwee, tapi ada satu persoalan
ingin kutanyakan lagi, seandainya kitab pusaka Thian goan bu boh
sudah berhasil ditemukan, apakah kita benar2 akan mewariskan
kepandaian sakti tsb kepada mereka?”
“Soal itu tergantung bagaimana caramu meninggalkan sifat2 liar
mereka, karena sewaktu kutampung mereka tempo hari, aku hanya
menilai berdasarkan kemampuan silat mereka yg cukup tangguh,
aku rasa walaupun mereka berempat amat buas dan sukar diatur
tapi bila kita menghadapinya secara luwes dan banyak melepaskan
budi, rasanya tidak susah untuk merobah watak serta kelakuan
mereka yg salah, andaikata tabiat jelek itu sudah teratasi, tentu saja
kita akan lebih gampang untuk mengatasi persoalan tsb dikemudian
hari.”
Berbicara sampai disitu, tiba2 dia menghela nafas, katanya lebih
jauh:
Semenjak meninggalkan perguruan Sam goan bun, aku sudah
terikat oleh janji ku sendiri sehingga tak mungkin dapat bersua
kembali dg mu, karenanya aku bermaksud mempersiapkan segala
sesuatunya bagimu, kini urusan telah selesai berarti akupun harus
segera pergi dari sini....”
“Cianpwee, mengapa kau harus pergi?” seru Kho Beng gelisah,
“apakah kau takut diketahui Bok sian taysu dari Siau lim pay?”
Si Unta sakti tertawa dingin:
“Aku si bungkuk toh tak pernah mengingkari janji, siapa yg mesti
kutakuti?”
Sementara Kho Beng masih tertegun, si Unta sakti telah berkata
lebih jauh:
“Kau tak usah pikun, tak sampai tiga hari kemudian, aku
sibungkuk jamin berita tentang “Kho Beng adalah sau cengcu dari
perkampungan Hui im ceng” pasti telah tersebar luas diseantero

jagad, dg tersiarnya identitasmu keseluruh dunia persilatan berarti
ikatan janji Bok sian hwesio dg diriku pun sudah punah dg
sendirinya, apakah kau menganggap tindakanku menjumpaimu
sekarang merupakan suatu perbuatan yg mengingkari janji?”
Merah jengah selembar wajah Kho Beng, agak tergagap ujarnya:
“Kalau toh demikian, mengapa cianpwee mesti tergesa-gesa
meninggalkan tempat ini.”
Kali ini Si Unta sakti tertawa lebar:
“Baiklah tak ada salahnya kalau kuberitahukan kepadamu, aku
sibungkuk harus segera berangkat karena aku ingin melakukan lagi
sebuah tugas bagimu….”
“Masalah penting apakah yg hendak cianpwee lakukan bagiku?”
tanya Kho Beng tertegun.
“Tentu saja ada, kau telah mencuri papan nama Siau lim si untuk
ditukar dg panji, saat ini pihak Siau lim pay pasti sudah mengirim
utusannya untuk mengumumkan identitasmu yg sebenarnya kepada
seluruh umat persilatan, karena itu akupun harus berusaha untuk
mewakilimu menyampaikan kabar tentang maksud tujuan pihak Siau
lim pay sebenarnya, juga menerangkan kepada seluruh umat
persilatan atas terjadinya kesalah pahaman dimasa lampau, akan
kuanjurkan kepada umat persilatan pada umumnya untuk
menyelidiki pembunuh yg sebenarnya serta mengurangi pembalasan
dendam secara membabi buta.
Dg dikuranginya tenaga tekanan pihak Siau lim pay terhadap
dirimu, berarti kita pun bisa menghindari siasat adu domba Dewi In
nu yg dilakukannya selama ini, bila hal ini berhasil berarti kau pun
tak usah menghadapi dua golongan kekuatan yg sama2
memusuhimu. Coba pikirkan apakah hal semacam ini tidak penting?”
Kho Beng benar2 sangat terharu katanya:
“Cianpwee, kau telah mengaturkan diriku secermat dan
sesempurna ini, aku tak tahu bagaimana mesti membalas budi
kebaikanmu ini dikemudian hari…?”
Saking berterima kasihnya, tanpa terasa air mata bercucuran
jatuh dg derasnya.
Dg suara dingin si Unta sakti menukas:
“Aku si bungkuk Cuma mengagumi jiwa serta watak ayahmu
dimasa lalu, aku tidak membutuhkan pembalasan budi
darimu….aaah benar, apa rencanamu selanjutnya?”

Kho Beng makin berterima kasih sekali, dg mengucurkan air mata
terharu katanya:
“Rupanya boanpwee telah salah bicara..”
Sampai lama sekali baru ia dapat mengendalikan perasaan
harunya, setelah berpikir sejenak katanya:
“Saat ini boanpwee merasa kemampuan yg kumiliki masih belum
memadai sehingga juga tiada persoalan yg harus kuselesaikan
secara terburu-buru, daripada mengambil resiko yg tak ada artinya
lebih baik mencari kembali kitab pusaka Thian goan bu boh terlebih
dahulu, sekalian mencari tahu kabar berita tentang Bu wi cianpwee
dan akhirnya membangun kembali perkampungan Hui im ceng!”
Si Unta sakti manggut2:
“Ehmm…gerak langkahmu emang amat tepat, tapi kemanakah
kau hendak pergi?”
Tiba2 satu ingatan melintas didalam benaknya, segera jawabnya:
“Boanpwee masih ingat kalau Dewi In nu mempunyai sebuah
sarang didekat kota Tong sia, karenanya aku berhasrat pergi
berangkat kekota Tong sia untuk melakukan penyelidikan.”
“Bagus sekali, bila aku sibungkuk ada urusan tentu akan datang
mencarimu sendiri, kuharap kau berhati-hati disepanjang jalan, nah
sampai bertemu lagi lain waktu!”
Habis berkata ia segera membalikkan badan dan berjalan keluar
dari ruangan, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap
dari pandangan mata.
Dg perasaan yg kacau dan pikiran yg kosong, Kho Beng
mengawasi bayangan tubuh si Unta sakti hingga lenyap dari
pandangan.
Sementara itu Rumang, Hapukim serta dua saudara Mo telah
menyusul masuk kedalam ruangan, dg suara keras Rumang segera
berseru:
“Cukong, sekarang sudah mendekati tengah hari, sedang situa
pun telah pergi, kita harus masuk kekota dan mencari rumah makan
untuk mengisi perut yg mulai lapar.”
“Tidak!” tukas Kho Beng sambil mengulapkan tangannya, “kita
membeli rangsum ditengah jalan saja, ayo kita segera berangkat!”
“Cukong hendak pergi kemana?” tanya Hapukm agak tertegun.
“Kota Tong sia!”
“Dimana sih letak kota tong sia?” tanya Molim, “berapa jaraknya
dari sini?”

“Lebih kurang dua puluh hari perjalanan....”
“Mau apa pergi kekota Tong sia?” tanya Mokim pula.
Kho Beng benar2 amat mendongkol, sahutnya tak sabar:
“Tentu saja mencari orang yg telah melarikan kitab pusaka Thian
goan bu boh itu!”
“Kalau toh tempat itu jauh sekali, mengapa kita mesti tergesagesa...?”
Rumang berkaok-kaok.
Kho Beng benar2 habis kesabarannya, sambil melotot bentaknya
keras2:
“Sebetulnya kalian yg menuruti perintahku? Atau aku yg menuruti
perkataan kalian.”
Berubah paras muka Rumang, tampaknya ia sangat tidak puas,
tapi Molim segera menyela sambil tertawa seram:
“Lotoa, kau jangan kurang ajar lagi...he....he.....harap cukong
jangan gusar, tentu saja kami akan menuruti perintah cukong!”
Kho Beng mendengus, sinar matanya yg tajam memancar keluar
dari balik matanya, ia berseru lagi dingin:
“Kalau mau menuruti perintahku, mengapa tidak segera
berangkat?”
Agaknya keempat orang itu sudah dibikin terpengaruh oleh
kewibawaan Kho Beng seorang demi seorang mereka keluar dari
ruang kuil dg kepala tertunduk.
Kho Beng sendiri, meski semangatnya sempat dikobarkan oleh
kata2 si Unta sakti, namun menyaksikan kebrutalan keempat orang
tsb, apalagi mengingat kalau dikemudian hari dia mesti ektra
waspada, hatinya menjadi risau sekali.
Dalam suasana pikiran yg berat itulah, Kho Beng dibawah
perlindungan keempat jago tsb berangkat menuju kekota tong sia.
Apa yg diduga si Unta sakti memang tepat sekali, tiga hari
kemudian didalam dunia persilatan telah tersiar kabar tentang masih
hidupnya putra Hui im cengcu, bahkan telah terjun pula kedalam
dunia persilatan untuk menyelidiki mereka yg terlibat dalam
peristiwa berdarah tempo dulu.
Tak disangkal lagi, berita itu bersumber dari Siau lim pay, tapi
bersamaan waktunya juga pelbagai perguruan besar serta jago
ternama dari golongan putih mau pun hitam menerima selembar
kartu yg amat misterius.
Kartu itu ditanda tangani oleh Kho Beng, selain menjelaskan
sebab musabab terjadinya kesalah pahaman dimasa lalu, dimana Bu

wi lojin yg dijumpai para ketua dari tujuh partai besar adalah
gadungan, dijelaskan pula kalau orang yg sesungguhnya sedang
dicari adalah pembunuh atau dalang dibalik peristiwa tsb, ia
berharap semua orang yg pernah menaruh salah paham diwaktu itu
jangan menjadi kaget ataupun panik sehingga peristiwa berdarah
sembilan belas tahun berselang terulang kembali.
Dua berita yg muncul saling susul menyusul itu segera
memancing pembicaraan yg ramai dari kawanan umat persilatan.
Bukan saja sementara orang mulai menelusuri kembali semua
peristiwa yg telah berlangsung diperkampungan Hui im ceng waktu
itu, ada pula yg mulai menaruh dugaan2 tentang gerakan yg diambil
Kho Beng tsb.
Ditengah suasana kalut dan penuh kebingungan itulah secara
diam2 Kho Beng telah tiba dikota Tong sia.
Tengah hari telah menjelang tiba, udara terasa amat panas,
apalagi sang surya memancarkan sinarnya menyoroti seluruh jagad.
Ditengah keramaian kota Tong sia yg dipenuhi manusia yg
berlalu lalang, tiba2 muncul empat manusia yg amat menyolok mata.
Keempat orang itu terdiri dari tiga lelaki dan seorang wanita, yg
lelaki rata2 berperawakan tingi besar, bermuka keren dan memakai
baju ringkas berwarna ungu dg ikat pingang memancarkan cahaya
terang.
Bagi seorang yg berpengalaman, dlm sekali pandang saja dapat
diketahui kalau benda tsb adalah senjata tajam.
Ditinjau dari raut wajah serta dandanan dari ketiga orang tsb,
bisa disimpulkan pula kalau mereka adalah bersaudara.
Sebaliknya sang nona baru berusia dua puluh tahunan, berwajah
cantik dan menggembol sebilah pedang dg pita berwarna kuning,
pita itu amat menyolok mata seperti seekor kupu2 kuning yg
hinggap dibalik bahunya.
Tatkala mereka berempat tiba dimuka rumah makan Poan gwat
kie, tiba2 sinona berkata:
“Nama rumah makan ini menarik sekali, lagi pula udara amat
panas, mari kita beristirahat sejenak disini sambil mengisi perut.”
Sementara berbicara, ketiga orang lelaki setengah umur itu
sama2 mendongakkan kepalanya dan memandang sekejap
kemudian sama2 mengangguk pula.
Maka mereka berempat pun memasuki rumah makan Poan gwat
kie, kedatangan mereka disambut pelayan dg wajah berseri.

Mereka berempat mencari tempat duduk dekat jendela, begitu
tamunya sudah duduk sang pelayan segera menyapa sambil
tertawa:
“Tuan berempat ingin memesan apa?”
Dg segan si nona berkata:
“Selama beberapa hari ini kita keluyuran seperti sukma
gentayangan saja, berhari-hari kesana kemari tanpa makan enak,
hey pelayan siapkan semua hidangan yg paling enak!”
Ketika pelayan mengiakan berulang kali, lelaki berbaju ungu yg
duduk disebelah kiri segera menambahkan:
“Jangan lupa sediakan seguci arak yg harum.”
Sang pelayan mengiakan berulang kali dan mengundurkan diri
sambil tertawa.
Sepeninggal sang pelayan, si nona baru berkata setelah
menghela napas panjang:
“Terus terang saja aku hendak berkata, bila kita mesti keluyuran
terus menerus tanpa tujuan seperti sukma gentayangan saja, aku
rasa hal ini bukan semacam penyelesaian yg baik, oleh karena itu
siaumoy berniat menggunakan perjamuan ini sebagai ucapan
perpisahan dg kalian.”
Ketiga orang lelaki berbaju ungu itu kelihatan agak terkejut dan
serentak bertanya:
“Chin lihiap hendak kemana?”
Si nona menghela napas pelan.
“Aaai…bila mengembara dalam dunia persilatan sudah bosan,
tentu saja aku mesti pulang kandang, hanya saja kalau bertiga pun
akan mengalami teguran bila pulang dg tangan hampa, entah
kemanakah kalian hendak pergi setelah hari ini?”
Lelaki yg duduk dekat jendela segera menggebrak meja keras2,
katanya dg mendongkol.
“Sejak berusia delapan belas tahun terjun kedunia persilatan
hingga sekarang, belum pernah kami tiga bersaudara mengalami
nasib sejelek ini, makanya bagi umat persilatan empat penjuru
adalah rumah sendiri, kalau toh kita tak bisa lagi kembali kesitu,
tentu saja kami tak bakal pulang, memangnya kami mesti takut
kepada mereka?”
Lelaki yg duduk disampingnya segera menegur dg suara dalam:

“Lo sam, selama berapa hari belakangan ini kau selalu
mengumbar hawa amarah, kalau toh kejadiannya sudah lewat,
dimangkeli juga tak berguna, akhirnya toh sendiri yg rugi!”
Lelaki yg disudut kiri ikut menghela napas sambil berkata:
“Lotoa, jangan terlalu menyalahkan Lo sam yg sewot melulu,
sesungguhnya kami pun merasakan Kho sauhiap adalah seorang
lelaki sejati dg watak yg baik sekali, toh tak ada salahnya bila kami
bersikap hangat kepadanya sewaktu bertemu tempo hari, siapa tahu
orang malah menuduh yg bukan2 kepada kita sekarang, jangankan
kami tiga ruyung manusia raksasa Kim kong sam pian memang tak
pernah punya hubungan apa2 dg Kho sauhiap dimasa lalu, meski
ada hubunganpun kami juga tak percaya kalau manusia gagah dan
sopan macam orang she Kho itu merupakan orang jahat yg bisa
dikaitkan dg Kedele Maut.”
Kim Losam menyambung pula setelah mendengus,
“Hmmm, dg susah payah dan mengerahkan seluruh kekuatan yg
ada kita melakukan penjebakan disekitar telaga Tong ting, hasilnya
Cuma Li sam si udang kecil yg masuk jaring, aku lihat tua-tua
bangka celaka itu tak bisa menyalurkan rasa malu dan gusarnya
kepada orang lain, maka kita yg menjadi sasarannya.”
“Aaa...bukan begitu persoalannya” Kim lotoa akhirnya menghela
napas, “walaupun situa Kiong menaruh curiga dg menganggap kita
yg setia sebagai mata2, padahal asal kita berjiwa besar, toh lama
kelamaan kecurigaan tsb bakal sirna dg sendirinya, apalah artinya
bagi lelaki sejati untuk menerima sedikit tuduhan macam begitu....?”
Tiba2 si nona berbaju kuning itu berkata sambil tersenyum:
“Kim lotoa, perkataanmu memang enak benar didengar,
bayangkan saja aku Chin sian kun pada mulanya disanjung dan
dihormati bahkan mendapat tugas untuk mengamati gerak gerik Kho
Beng, tak disangka akhirnya aku dibokong orang, untung saja
nyawaku tak sampai melayang, tapi sekarang, Hmmm!
Bukan saja tak memperoleh jasa atau pujian, sebaliknya malah
dicurigai orang dan setiap hari menjadi sasaran marah dan
mendongkol orang, memangnya kami semua adalah orang-orangan
dari kayu yg tak punya perasaan...”
Belum selesai perkataan itu diucapkan, dg amat mendongkol Kim
loji menyela pula:

“Yaa, andaikata tidak dicegah Lotoa, he...he...aku Kim loji pasti
sudah memberontak, biarpun disana kita tak diterima, aku yakin
masih ada orang lain membutuhkan tenaga kita semua!”
Sementara itu sayur dan arak telah dihidangkan, Kim loji segera
menyambar poci arak dan memenuhi cwan sendiri, kemudian setelah
meneguk sampai habis isinya, ia baru berkata lagi sambil tertawa
seram:
“Ji ko perkataanmu benar2 kelewat pikun, siapa sih yg
menahanmu? Bila ingin memberontak, siapa pula yg hendak kau
tantang?”
Chin sian kun tersenyum, dg kata2 mengandung artimendalam
tiba2 ia berkata:
“Tentu saja kita harus condong kepada Kho sauhiap!”
“Yaa...benar..!” teriak Ki losam setelah menghabiskan tiga cawan
arak, “Kho sauhiap adalah seorang pemuda yg gagah dan berjiwa
ksatria, tapi kenyataannya toh mengalami nasib yg sama seperti kita,
dicurigai dan dituduh orang secara tak senonoh, lalu siapa pula yg
dia tentang...?”
“Sam hiap” ucap Chin sian kun lagi, “Apakah kau lupa dg heboh
sekitar berita tentang Kho sauhiap serta kartu yg disebarkan Kho
sauhiap pribadi? Dia toh sudah mengakui sebagai keturunan dari
Kho Tayhiap, pemilik perkampungan Hui im ceng? Coba menurut
pandanganmu, siapa yg ditentangnya?”
“Hmmm, sekalipun dia adalah keturunan dari Hui im cengcu,
lantas apa pula hubungannya dg kedele maut? Adikku, kau jangan
lupa bahwa kita dituduh yg bukan2 karena dicurigai sebagai mata2
Kedele maut! Hmmm, aku lihat kawanan tua bangka itu sudah gila
lantaran gelisah sehingga tak bisa membedakan lagi mana yg hitam
dan mana yg putih....”
“Sesungguhnya mereka tak salah menuduh” sela Chin sian kun
sambil tersenyum, “apakah samhiap tak pernah mendengar tentang
dugaan Bok sian taysu yg katanya Kedele maut adalah kakak
kandungnya orang she Kho itu...?”
Kim losam mendengus dingin,
“Hmmm, siapa yg mau percaya dg segala dugaan tanpa bukti?”
“Tapi aku rasa apa yg diduga Bok sian taysu tak mungkin akan
meleset...”
Kim kong sam pian menjadi termangu sampai lama, kemudian
Kim lotoa baru berkata:

“Adikku atas dasar apa kau mengatakan kalau apa yg diduga Bok
sian taysu memang betul?”
Chin sian kun tersenyum, bukannya menjawab dia malah balik
bertanya:
“Menurut kalian bertiga, mungkinkah Li sam adalah komplotan
dari si kedele maut?”
”Walaupun si toya dan pedang sakti Li Sam tidak memberikan
pengakuannya, namun dalam hal ini rasanya tak ada yg perlu
dicurigakan lagi.”
Chin sian kun segera manggut2, katanya lebih jauh:
“Sewaktu berlangsung persidangan terbuka tempo hari,
kebetulan aku berdiri disamping Kho sauhiap sehingga setiap
perubahan wajahnya dapat kulihat secara jelas dan pasti, waktu itu
rasa tegang, emosi dan kehilangan kontrol yg menyelimuti dirinya
kentara sekali, aku yakin dia memiliki hubungan yg sangat akrab dg
Li Sam, kalau toh mempunyai hubungan yg erat dg Li Sam, maka
bisa diduga bahwa hubungannya dg Kedele Maut pun sudah pasti!”
Kim lotoa menjadi terperangah, selang sesaat kemudian ia baru
berseru:
“Adikku, mengapa tidak kau utarakan persoalan tsb semenjak
dulu?”
Chin sian kun segera mencibirkan bibirnya dan berseru:
“Huuuh, aku harus bercerita kepada siapa? Kepada kalian? Toh
persoalan ini tak ada sangkut pautnya dg kalian bertiga. Kepada
situa bangka Kiong serta Bok sian taysu? He...he...he...padahal
dalam kenyataannya mereka jauh lebih jelas daripada diriku, apalagi
sejak kematian Li Sam, Kho sauhiap pun pergi tanpa pamit,
dibicarakan pun tak ada gunanya.”
Mendengar perkataan tsb, Kim kong sam pian menjadi
terbungkam dalam seribu bahasa, tampaknya mereka sedang
memikirkan sesuatu....
Sesudah menghela napas ringan, kembali Chin Sian kun berkata:
“Sekarang asal usul Kho sauhiap sudah menjadi jelas, ternyata
dia adalah sau cengcu dari perkampungan Hui im ceng, aku lihat
segala tuduhan yg dilimpahkan kepada kita pun tak mungkin bisa
dicuci bersih dalam waktu singkat, aaai...saat apes rasanya masih
panjang sekali......”
Agaknya Kim losam tak percaya, serunya agak tercengang:

“Bukankah Kho sauhiap sudah menyebar kartu nama yg
menjelaskan bahwa ia Cuma mencari si pembunuh yg sebenarnya
dan tak akan memusuhi orang2 lain? Masa persoalan yg
bagaimanapun besarnya tak bisa diselesaikan dg perkataan?”
Chin sian kun mendengus:
“Hmmm, jalan pemikiran Kim sam hiap kelewat sederhana, kau
tahu bukan bahwa tokoh persilatan yg tersangkut dalam drama
sedih perkampungan Hui im ceng hampir meliputi tujuh partai besar,
kini para cianpwee tsb telah menemukan kehadiran si bibit bencana,
bisa jadi mereka akan dibuat berdebar-debar dan ketakutan
setengah mati, untuk melepaskan dari tuduhan pun rasanya sudah
susah, siapa pula yg mau percaya dg keterangan tsb?”
“Jadi maksudmu isi surat yg disebarkan orang she Kho itu bukan
niatnya yg sebenarnya, tapi merupakan siasat mengulur waktu
berhubung ia merasa tenaganya kelewat minim?” tanya Kim loji
berkerut kening.
Chin sian kun segera menggelengkan kepalanya berulang kali:
“Itu sih tidak, menurut pendapatku, Kho sauhiap bukan seorang
manusia yg lain dimulut lain dihati, aku hanya berpendapat bahwa
apa saja yg dikatakan olehnya dan tindakan apapun yg
dilakukannya, belum tentu orang akan mempercayainya dg begitu
saja!”
Kim lotoa ikut menghela napas panjang,
“Yaaa, kejadian manakah didunia ini yg tidak begitu? Siapa punya
kedudukan dan kekuatan, biar berkentut pun dikatakan harum, tapi
bagi mereka yg tak mempunyai kekuasaan dan kekuatan,
he...he...sekalipun membelah dada dan mengorek keluar hatinya
pun, orang lain tetap menuduhnya yg bukan2.”
Berhubung Kim kong sam pian memang menaruh kesan yg
sangat baik terhadap Kho Beng, otomatis perasaan mereka pun
bertambah berat dan ikut memikirkan keselamatan pemuda tsb.
Chin sian kun memperhatikan sekejap perubahan wajah ketiga
orang rekannya, lamat2 sekulum senyuman nampak tersungging
diujung bibirnya, tapi hanya sebentar kemudian ia sudah berkata lagi
dg wajah amat serius:
“Sejak aku meninggalkan telaga Tong ting dalam keadaan gusar
dan mengundang saudara sekalian keluyuran dalam dunia persilatan
hingga kini sudah lewat sebulan lebih, selama ini pula aku sudah
memutar otak dan merenungi diri bermalam-malam lamanya, aku

rasa ada sepatah dua patah kata yg tak enak rasanya bila tak
kuutarakan keluar!”
Kim lotoa tersenyum, dg sikap bersungguh-sungguh segera
katanya:
“Adikku, kita toh bukan baru berkenalan satu dua hari, apalagi
kita pun mengalami tuduhan yg sama, boleh dibilang kita adalah
senasib sependeritaan, nila kau ingin menyampaikan sesuatu lebih
baik, katakan saja secara blak-blakan.”
Dg suara rendah tapi serius Chin sian kun segera berkata:
“Tapi kalian mesti berjanji dulu, entah perkataanku betul atau
salah, harap kalian bertiga jangan menjadi gusar.”
“Chin lihiap, apa-apan kamu ini” teriak Kim loji, “sekalipun kau
mengumpat kami, terus terang saja kami bersaudara tak akan
berpikiran picik!”
Chin sian kun segera manggut2, setelah memperhatikan sekejap
sekelilingnya dan yakin kalau tiada orang yg mencuri dengar, ia baru
berkata lagi dg suara lirih,
“Selama kalian mengembara dialam dunia persilatan tanpa arah
tujuan, sering kali kalian tiba disuatu tempat, kalian tak pernah
menyambangi teman, baru datang sejenak lalu meninggalkan
tempat tsb secepatnya, sebetulnya maksud tujuan apakah yg
terkandung didalam benak kalian?”
Pertanyaan itu dg cepat membuat Kim kong sam pian menjadi
tertegun dan saling perpandangan dg wajah melongo.
Selang berapa saat kemudian Kim lotoa baru balik bertanya:
“Adikku, menurut pendapatmu apakah tujuan kami yg
sebenarnya?”
Setelah tersenyum, Chin sian kun berkata:
“Menurut pengamatanku, agaknya kalian tiga bersaudara sedang
mengejar sesosok bayangan hanya saja kalian enggan
mengutarakannya keluar karena kalian sendiripun masih suram dan
tak jelas dg perasaan sendiri….”
“Ehmm, rasanya kata-katamu itu memang tepat sekali” seru Kim
loji, “didalam benakku memang terdapat sesosok bayangan samar2,
tapi aku sendiri tak tahu siapakah itu?”
“Tapi bagiku, justru telah kuketahui siapakah bayangan yg
memenuhi benak kalian bertiga selama ini” sela Chin sian kun
tertawa.

Tentu saja Kim kong sam pian menjadi sangat keheranan , tanpa
terasa meeka bertanya bersama-sama:
“Siapakah dia?”
“Dia tak lain adalah Kho sauhiap!” sahut si nona dg wajah serius
dan bersungguh-sungguh.
Nampak jelas Kim kong sam pian bergetar keras sekali, sesudah
gelagapan sesaat, akhirnya mereka terbungkam dalam seribu
bahasa.
Yang dimaksud sepatah kata menyadarkan orang dari
lamunannya adalah begini keadaannya.
Memang benar, sejak tertangkapnya Li Sam dan diadili secara
bersama ditelaga Tong ting, kemudian meninggalkan kota Gak yang
dalam keadaan mendongkol, didalam benak Kim kong sam pian
memang selalu muncul sesosok bayangan, hanya sekejap mereka
sendiri tak tahu bayangan siapakah yg sudah masuk kedalam
benaknya itu.
Tapi setelah diungkap oleh si walet terbang berwajah ganda Chin
sian kun sekarang, kemudian dipikirkan sejenak, segera terasalah
bahwa apa yg dikatakan memang benar.
Namun oleh karena persoalan itu bisa mengakibatkan pengaruh
yg besar sekali bagi nasib mereka semua, padahal mereka pun
belum mengetahui maksud tujuan Chin sian kun yg sebenarnya,
maka mereka bertiga hanya membungkam diri saja.
Setelah menghela napas panjang kembali, Chin sian kun berkata:
“Aaaai, terus terang saja aku bilang, sejak semula sesungguhnya
akupun mempunyai perasaan yg sama, namun setelah kupikir dan
kutelaah lebih jauh akhirnya dapatlah kupahami keadaanku yg
sebenarnya.”
Mendengar itu, Kim lo sam segera tertawa terbahak-bahak:
“Ha...ha...ha...rupanya si walet terbang berwajah ganda yg
namanya menggetarkan kawasan Sam siang telah dihinggapi benih
cinta, tak heran kalau segala persoalan bisa kau pecahkan secara
gamblang...ha...ha...ha...nampaknya kita masih punya kesempatan
untuk menikmati arak kegiranganmu!”
Merah jengah selembar wajah Chin sian kun, cepat2 ia berseru:
“Sam hiap, aku toh sedang membicarakan persoalan yg penting,
kau malah menggoda orang saja….”

“Persoalan perkawinan toh termasuk persoalan yg penting, tak
heran kalau kau menjamu kami hari ini, memangnya kami hendak
disuruh menjadi mak comblang?”
Chin sian kun semakin tersipu-sipu
Jilid 15
..dibuatnya, saking malunya dia sampai menundukkan kepalanya
rendah-rendah.
Akhirnya Kim lotoa yg tak tega, buru-buru tegurnya:
“Lo sam, kau sudah kelewat banyak minum, hayo jangan
berbicara semaunya lagi macam orang edan!”
Kemudian sambil berpaling kearah Chin sian kun, katanya lebih
jauh,
“Adikku, barusan kau bilang sudah dapat memahami persoalan
yg sebenarnya, tapi bagaimana sih persoalan yg sebenarnya itu?”
Sampai lama sekali Chin sian kun baru dpt mengendalikan
debaran hatinya, dg suara lirih ujarnya kemudian,
“Aku rasa perasaanku tak akan berbeda jauh dg perasaan kalian
bertiga, setelah dibuat mendongkol oleh segala tuduhan tanpa
dasar, sebenarnya kita berharap sekali bisa menemukan Kho sauhiap
utk mengungkap seluruh isi hati kita kpdnya, krn hanya berbuat
begitu pikiran dan perasaan kita baru lega, entah bagaimana
menurut Kim tayhiap?”
Kim lotoa menghela napas panjang,
“Yaa, tepat sekali, tak nyana kecerdasan adikku memang benarbenar
hebat, setelah berkumpul hari ini, aku Kim lotoa benar-benar
merasa kagum sekali, terbukti sudah bahwa apa yg tersiar dlm dunia
persilatan selama ini memang benar.”
“Aaah, Kim toako hanya pandai memuji saja,” sela Chin sian kun
sambil tertawa, “ucapanmu malah membuat aku malu berbicara
lebih jauh.”
Kim lotoa segera tertawa terbahak-bahak…
“Ha…ha…ha…padahal perkataanku bukan bermaksud
mengumpakmu, aku benar-benar merasa kagum dan berbicara
sebenarnya. Hanya saja…aaai, kini identitas Kho sauhiap sudah
jelas, keadaan dan situasi pun telah berubah, kalau sebelumnya
kami memang berhasrat utk menemukan jejaknya, maka sekarang
rencana tsb harus mengalami perubahan!”

“Yaa benar!” si nona mengangguk, “apabila kita teruskan
pencarian ini, maka aku kuatir tuduhan yg bukan2 dari pihak mereka
akan berubah menjadi sungguhan.”
Sementara itu Kim losam telah menghabiskan sepoci arak,
agaknya rasa mangkel dan dongkolnya belum habis dilampiaskan
keluar. Ketika mendengar perkataan itu, sambil mendengus segera
serunya:
“Bukankah pernah kukatakan tadi, kalau ingin memberontak,
marilah berontak dg sungguh-sungguh, sekalipun tuduhan mereka
jadi sungguhan, apa pula ruginya buat kita?”
Tiba-tiba Kim lotoa membentak keras:
“Sam te, kau anggap saat ini adalah saat yg bagaimana? Apakah
kau sudah bosan hidup dan ingin mencari kerepotan buat sendiri?”
Agaknya Chin sian kun mempunyai pikiran lagi, ketika mendengar
perkataan mana, cepat ia menyela:
“Kim toako, perkataanmu kelewat berpandangan picik,
bagaimanapun juga Kho sauhiap adalah keturunan orang termasyhu,
baik kecerdikan maupun kebesaran jiwanya jauh melebihi
kebanyakan orang, menurut pendapatku dia bukanlah tokoh dlm
sangkar, jika ingin berbicara soal enghiong hanya atas dugaan
sementara, aku pikir hal ini masih terlalu awal.”
Kim lotoa kelihatan agak tergetar, sekarang baru benar-benar
menyadari bahwa si Walet terbang berwajah ganda yg tersohor ini
benar-benar sudah jatuh cinta kpd Kho Beng.
Maka dg nada menyelidiki segera tanyanya:
“Lantas bagaimana menurut pendapatmu?”
Tanpa pikir panjang sahut Chin sian kun:
“Menurut pendapatku, daripada sepanjang hidup kita
mengembara dalam dunia persilatan tanpa tujuan dan selalu
menjadi cemoohan orang lain, mengapa kita tidak melakukan
pertaruhan besar dg mencari kesempatan lain utk muncul kembali
dlm percaturan dunia persilatan? Asal Kho sauhiap muncul kembali
dlm arena dunia persilatan, berarti saat bagi kita utk melampiaskan
semua rasa mangkel dan mendongkol pun telah tiba. Hanya entah
bagaimana pendapat Kim toako sendiri?”
“Soal ini…”
Krn menghadapi keputusan yg bakal mempengaruhi nasib
mereka selanjutnya, Kim lotoa menjadi ragu-ragu utk mengambil
keputusan.

Terbayang kembali olehnya akan tuduhan tanpa dasar yg
dilontarkan kepadanya ketika berada di Gak yang tempo hari, iapun
mengetahui posisi Kho Beng yg terjepit sekarang.
Sementara ia masih termenung dan susah mengambil keputusan,
Chin sian kun yg sedang mengawasi kejalan raya tiba-tiba tampak
tertegun, lalu serunya gelisah:
“Toako bertiga, cepat lihat! Siapakah dia?”
Dg perasaan terkejut, Kim kong sam pian berpaling, mereka
mengira Chin sian kun telah menemukan Kho Beng.
Ketika menengok kearah jalan raya, disitu mereka hanya
menyaksikan banyak orang sedang berlalu lalang, bukan saja tdk
melihat Kho Beng, seorang yg dikenal puntak nampak.
Dg keheranan Kim lotoa segera bertanya:
“Adikku, siapa yg telah kau lihat?”
Sambil menunding ketempat kejauhan sana, bisik si nona:
“Kim toako, coba kau lihat kearah lima kaki didepan sana,
bukankah dimuka toko kain tsb berdiri seorang perempuan?”
Kim kong sam pian segera berpaling kembali kearah toko kain
diseberang jalan, dan memang benar tampak seorang perempuan
sedang berjalan dg pelan.
Perempuan itu membawa sebuah payung bulat, memakai baju
berwarna putih bersih, meski hanya nampak bayangan punggung
saja hingga tak diketahui bagaimanakah raut mukanya, namun
bunga giok putih yg menghiasi sanggulnya nampak menyolok sekali.
Sayangnya Kim kong sam pian tdk berpikir lebih jauh, krn mereka
sangat asing dg perempuan tsb, tanpa terasa Kim losam bertanya:
“Apakah kau kenal dgnya?”
Dg sedikit kebingungan dan tak habis mengerti Kim kong sam
pian mengawasi nona itu dg wajah melongo, namun oleh krn Chin
sian kun sudah menuruni tangga, terpaksa mereka pun harus
mengikutinya.
Padahal hidangan sebanyak itu diatas meja belum berkurang
sedikit pun juga, tentu saja kejadian ini membuat para pelayan
menjadi gelagapan dan tak tahu apa yg mesti diperbuat.
Ketika mereka berempat meninggalkan rumah makan Poan gwat
kie, tampaklah perempuan berbaju putih itu sudah berada sepuluh
kaki didepan sana.
Dlm keadaan begini, Kim lotoa tak dpt mengendalikan diri lagi,
segera tanyanya:

“Adikku, sebenarnya apa yg telah terjadi?”
Sambil mempercepat langkahnya, Chin sian kun berkata:
“Apakah kalian lupa dg ciri wajah si Kedele Maut yg pernah kita
dengar utk pertama kalinya ditelaga Tong ting tempo hari?”
Paras muka Kim kong sam pian seketika berubah hebat, agak
tercengang Kim lotoa berseru:
“Darimana kau bisa tahu kalau perempuan tsb adalah si Kedele
Maut…?”
“Memakai baju putih, membawa payung bulat dan mengenakan
bunga putih disanggulnya, bukankah ciri tsb pernah disinggung oleh
Kho sauhiap kpd kita semua?”
“Tapi bukankah Kho sauhiap pernah melakukan ralat atas
keterangannya itu?” seru Kim lotoa.
Chin sian kun segera tertawa dingin:
“Kim toako mengapa kau begitu bodoh, tentu saja ralat yg
dilakukan sauhiap hanya bermaksud utk mengelabui pandangan kita
semua, hanya saja memang aku blm mengerti secara pasti,
mengapa utk pertama kalinya dulu ia sampai memberikan
keterangan semacam itu kpd umat persilatan.”
Sementara pembicaraan masih berlangsung, keempat orang itu
sudah berhasil menyusul kebelakang perempuan tadi, selisih jarak
mereka tinggal empat lima langkah lagi.
Tiba-tiba Kim lotoa menarik ujung baju Chin sian kun sembari
bisiknya lirih:
“Ei…tunggu sebentar!”
Chin sian kun agak tertegun, lalu dg wajah bersemu merah
tanyanya keheranan:
“Ada urusan apa?”
Sambil menghentikan langkahnya Kim lotoa segera berkata:
“Benarkah dia sebagai kakak kandung Kho sauhiap hingga kini
masih merupakan teka teki, aku dengar ia sangat gemar membunuh,
seandainya perbuatan kita yg membuntuti serta menegurnya
menimbulkan kecurigaan atas diri kita berempat sehingga
membangkitkan nafsu membunuhnya, bukankah hal ini berarti
mencari penyakit buat diri sendiri, maksud baik berubah menjadi niat
jahat?”
Teguran tsb kontan saja mengejutkan hati Chin sian kun, tanpa
terasa dia menghentikan langkahnya seraya mengangguk,

“Yaa, perkataan toako memang benar, hampir saja aku berbuat
kesalahan besar krn belum terpikir sama sekali akan soal itu.”
“Lagipula aku ingin tahu, megapa kau mesti mengambil tindakan
menyerempet bahaya?” tanya Kim lotoa lebih lanjut.
Dg paras muka bersemu merah sahut Chin sian kun:
“Seandainya ia benar-benar si Kedele Maut, bukankah
menemukan dirinya sama artinya dg menemukan Kho sauhiap?”
Lalau sambil menggigit bibir seraya termenung sesaat, katanya
kemudian:
“Hmmm, aku punya akal sekarang, tolong toako bertiga
mengikuti beberapa langkah dibelakangnya saja, andaikata terjadi
kesalah pahaman sehingga berkobar pertarungan, kalian dpt
membantuku bila perlu. Sekarang biar aku lewat dulu disampingnya,
akan kucoba utk menegurnya dg beberapa kata.”
Kim kong sam pian mengangguk kegirangan, mereka segera
memperlambat langkahnya.
Sementara itu si Walet terbang berwajah ganda telah
mempersiapkan diri baik-baik dan mempercepat langkahnya maju
kedepan.
Belasan langkah kemudian ia sudah melalui sisi tubuh perempuan
berbaju putih tadi.
Setelah lewat ia berlagak menoleh seraya menyapa:
“Hey, tak disangka enci dari keluarga Kho pun berada disini?”
Sikapnya yg begitu hangat seakan-akan sahabat karib yg baru
bersua saja, benar-benar amat mesra.
Akan tetapi setelah ia dpt melihat dg jelas usia serta raut muka
perempuan berbaju putih itu, tiba-tiba saja timbul keraguan dlm
hatinya.
Sewaktu utk pertama kali ia mendengar berita yg dibawa anggota
Sam goan bun tempo hari, konon usia si Kedele Maut baru dua
puluhan tahun, krn usia begitu memang cocok sekali menjadi kakak
kandung Kho Beng.
Sebaliknya meski perempuan ini berdandan amat sederhana,
bermuka bulat telor berhidung mancung dan bibir kecil, namun
usianya pasti lebih dari dua puluhan tahun.
Memang buat seorang wanita utk menebak usia perempuan
lainnya seringkali agak cocok, menurut penilaian si Walet terbang
berwajah ganda, paling tidak perempuan ini telah berusia dua puluh
limaan tahun, lagipula sudah tak mirip seorang gadis perawan.

Lantas benarkah dia si Kedele Maut? Diakah enci kandung Kho
Beng? Jangan-jangan ia salah menegur?
Betul juga, tatkala mendengar sapaan dari Chin sian kun tadi,
perempuan itu nampak menghentikan langkahnya, dg wajah agak
tertegun, tapi setelah memperhatikan lawannya sekejap, segera
jawabnya sambil tertawa ringan:
“Nampaknya adik sudah salah melihat orang!”
Chin sian kun tak mau menyerah dg begitu saja, berlagak-lagak
tertegun kembali serunya,
“Ooooh…jadi toaci tidak berasal dari marga Kho?”
Perempuan itu menggelengkan kepalanya berulang kali,
“Tidak, aku tidak bermarga Kho, aku bermarga Ciu!”
Agak curiga Chin sian kun berkata:
“Aneh benar, sudah jelas Kho sauhiap menerangkan kepadaku
bahwa encinya mempunyai wajah serta dandanan yg mirip sekali
dgmu…”
Mencorong sinar aneh dari balik mata perempuan itu setelah
mendengar ucapan tsb, sambil menggeleng tukasnya,
“Adik pasti sudah salah melihat orang, aku sama sekali tak punya
keluarga dari marga Kho sejak kawin dg suamiki dari marga Ciu,
akupun belum pernah mendengar bila suamiku mempunyai sahabat
atau keluarga dari marga Kho…”
Setelah jelas mengetahui bahwa lawannya bukan seorang gadis,
Chin sian kun baru betul-betul merasa kecewa, sambil segera
katanya cepat-cepat:
“Kalau begitu siaumoy benar-benar telah salah melihat, harap
toaci jangan marah.”
Baru selesai berkata, tiba-tiba terdengar Kim losam berseru dg
suara keras:
“Coba lihat, bukankah dia adalah Kho sauhiap?”
Sambil berkata ia segera menunjuk kebelakang tubuh Chin sian
kun.
Dg perasaan terkejut buru-buru si nona berpaling, benar juga
tampak Kho beng bersama empat orang lelaki aneh berjalan
melintasi sebuah jalanan dan menyusup kedalam lorong kecil,
dimana bayangan tubuhnya segera lenyap dari pandangan.
Sayang sekali ia kelewat gelisah utk menengok kearah Kho Beng
sehingga tak sempat terlihat olehnya bahwa perempuan tadi pun
menyunggingkan sekulum senyuman aneh diujung bibirnya sehabis

mendengar perkataan tsb, tiba-tiba saja ia membalikkan badan lalu
berjalan menuju kearah rumah makan Poan gwat kie.
Sementara itu, Chin sian kun yg telah berhasil menemukan jejak
Kho Beng pun tak mau membuang waktu lagi, ia segera memberi
tanda kepada Kim kong sam pian, kemudian cepat-cepat menyusul
kearah mana pemuda tadi lenyap.
Siapa sangka setibanya ditikungan lorong tadi, ia hanya melihat
banyak manusia berlalu lalang disitu, bayangan Kho Beng maupun
keempat lelaki aneh tadi sudah lenyap dari pandangan.
Dlm pada itu Kim kong sam pian telah menyusul kesisi Chin sian
kun, ketika tak menjumpai bayangan tubuh anak muda itu, buruburu
Kim lotoa berkata:
“Sudah kau temukan dirinya?”
Chin sian kun menghela napas panjang:
“Aaaai…belum, agaknya dia sengaja hendak menghindari dari kita
semua!”
Kim losam segera tertawa:
“Kota Tong sia bukan sebuah kota yg terlalu besar, asalkan
orangnya masih disini, aku rasa tak mungkin ia bersembunyi
dibawah tanah!”
Mendengar itu Chin sian kun segera tersenyum,
“Yaa, perkataan Sam ko memang betul, bagaimanapun jua kita
kan tak punya urusan, mari kita cari jejaknya dg seksama.”
Seraya berkata ia segera beranjak menelusuri jalan sambil
celingukan kesana kemari.
Kalau gadis ini bersemangat utk mencari jejak Kho Beng krn
benih cinta yg sudah tumbuh didlm hatinya, maka Kim kong sam
pian justru mengikuti dibelakangnya dg begitu saja.
Namun kenyataannya ternyata jauh diluar dugaan, walaupun
mereka berempat telah menelusuri seluruh kota Tong sia dan setiap
jengkal tanah sudah hampir mereka periksa semua, namun
bayangan tubuh Kho Beng serta keempat lelaki aneh itu sama sekali
tak nampak kembali.
Akhirnya Chin sian kun mulai mendongkol bercampur kesal,
sedang Kim kong sam pian pun mulai bermandi peluh.
Ketika melihat senja sudah menjelang sementara pencarian
mereka tetap nihil, Chin sian kun yg kelelahan segera berkata kpd
Kim kong sam pian:

“Lebih baik kita mencari sebuah rumah penginapan dulu utk
beristirahat.”
Sesungguhnya Kim kong sam pian sendiri pun sudah kelelahan,
tentu saja mereka tak punya usul lain, maka mereka berempat pun
menginap dirumah penginapan yg memakai merk “Hong hian”
Begitu memasuki ruang belakang dg wajah murung dan kesal
Chin sian kun segera menjatuhkan diri duduk dikursi,
Melihat keadaan si nona, Kim lotoa segera menghiburnya,
“Asal sudah kita ketahui kehadiran Kho sauhiap dikota Tong sia,
aku rasa kau pun tak usah terlalu gelisah lagi?”
Tiba-tiba Chin sian kun menghela napas panjang:
“aaaai… padahal lebih baik kita tak usah mencarinya, sebab bila
ditemukan malah banyak ruginya dari pada untungnya.”
Mendengar perkataan itu, Kim kong sam pian segera menjadi
tertegun dan melongo, pikirnya:
“Yg hendak mencarinya juga kau, sekarang yg mengusulkan
jangan dicari juga kau, yaa….perasaan wanita memang benar-benar
susah diduga…”
Tak tahan lagi Kim loji segera bertanya:
“Adikku, apa maksud perkataanmu itu?”
“Pembicaraan kita sewaktu berada dirumah makan tadi belum
diperoleh suatu kesimpulan ataupun keputusan, tak ada salahnya
kalian bertiga berpikir sekarang, kalau toh kita belum bisa
mengambil keputusan tentang sikap yg bagaimana mesti kita ambil
dalam menghadapi Kho Beng, sekalipun berhasil menemukannya,
lalu apa pula yg hendak kita lakukan…?”
Sekarang Kim kong sam pian baru memahami maksudnya,
serentak mereka terbungkam dlm seribu bahasa.
Sambil mengucap Chin sian kun kembali berkata:
“Persoalan ini menyangkut nasib kita selanjutnya, karena itu
kalian bertiga wajib mempertimbangkan dulu untung ruginya,
sekarang aku hendak kembali kekamar utk beristirahat dulu, kalian
bertiga tak ada salahnya utk memenfaatkan kesempatan ini utk
berpikir masak-masak, tapi ada satu hal yg perlu kujelaskan dulu,
entah bagaimana pun keputusan yg bakal kalian ambil, aku Chin sian
kun sudah bertekad utk melakukan pertarungan besar ini.”
Habis berkata buru-buru dia keluar dari ruangan.

Kim kong sam pian yg berada dlm ruangan saling pandang
sejenak sambil termenung, akhirnya Kim lotoa menggeliat sambil
berkata:
“Aku rasa persoalan ini bisa kita bicarakan secara pelan-pelan,
mari kita pergi bersitirahat lebih dulu.”
Kim loji dan Kim losam menyetujui usul Kim lotoa, saat ini
mereka memang membutuhkan waktu utk beristirahat sebentar,
maka setelah menguap berulang kali, mereka pun membaringkan
diri diatas ranjang.
Belum sampai terlelap tidur, mendadak dari kamar sebelah
berkumandang suara rintihan lirih, tapi makin lama suara rintihan tsb
makin keras.
Orang yg mengantuk seringkali mudah naik darah bila terganggu
oleh suara yg berisik, Kim losam yg pertama-tama naik darah, sambil
melompat bangun dari pembaringan, umpatnya:
“Anjing busuk darimana yg berada dikamar sebelah, berisik betul
mengganggu ketenangan oranng.”
Sambil membetulkan pakaian ia segera bangkit dan membuka
pintu kamar….
Tentu saja Kim lotoa juga tak dpt beristirahat, masing-masing
segera bangun dari pembaringan.
Ketika melihat diknya meninggalkan kamar, Kim lotoa segera
menegur dg suara dalam:
“Sam te, jangan gegabah!”
Sebetulnya Kim losam hendak menerjang kedlm kamar sebelah,
ketika mendengar suara bentakan dari toakonya, terpaksa ia hanya
berhenti dimuka pintu kamar sambil umpatnya dg suara keras:
“Hey sobat, bila kau sedang sakit, suruh lah pelayan utk
memanggilkan tabib, tempat ini bukan rumahmu, tapi penginapan,
bila kesakitan tahanlah sedapat mungkin, jangan sampai
mengganggu ketenangan orang lain….”
Sementara ia masih berkaok-kaok, pintu kamar diujung sana
dibuka orang lalu nampaklah Chin sian kun yg baru bangun tidur
munculkan diri sambil bertanya:
“Sam ko, siapa sih yg berdiam dikamar sebelah?”
Rupanya diruang belakang terdapat tiga buah kamar, krn
sewaktu datang yg tengah sudah diisi tamu, maka mereka tdk terlalu
memperhatikan.

Tapi setelah Kim kong sam pian tdk dpt tidur krn berisik, otomatis
Chin sian kun yg berada dikamar ujung sebelah sana pun mengalami
keadaan yg tak berbeda.
Sementara itu Kim losam telah berseru sambil tertawa dingin:
“Siapa yg tahu manusia atau telur busuk yg berdiam disitu….”
Kalau tdk dimakai keadaan masih mendingan, begitu diumpat
maka suara rintihan yg berasal dari ruangan itu pun berkumandang
makin keras dan nyaring.
Bukankah hal ini sama artinya dg sengaja mencari gara-gara?
Kim lotoa menjadi amat curiga, segera bentaknya:
“Sobat yg berada dlm kamar, benarkah kau menderita sakit
parah?”
Sambil menegur ia mendorong pintu ruangan, ternyata pintu
kamar tdk dikunci dan segera terbuka.
Ketika delapan sorot mata mereka tertuju kw dlm ruangan,
serentak orang-orang itu menjadi tertegun.
Ternyata orang yg merintih didalam kamar adalah seorang kakek
berambut putih yg wajahnya kuning kepucat-pucatan.
Kakek itu duduk diatas pembaringan dg bersandar pd dinding,
mulutnya merintih tiada hentinya, sementara sorot matanya
mengawasi keempat orang yg berada diluar pintu tanpa berkedip,
agaknya tenaga utk berbicara pun sudah tak punya.
Menyaksikan keadaan tsb, perasaan iba segera muncul di dlm
hati kecil Kim kong sam pian serta Chin sian kun, hanya saja dlm
hati kecil masing-masing diliputi perasaan tak habis mengerti, kalau
toh orang tua itu menderita sakit parah, mengapa ia tdk berbaring
sebaliknya malah tetap duduk?
Chin sian kun segera menegur lebih dulu:
“Orang tua, bolehkah kami masuk ke dlm?”
Orang tua itu manggut-manggut.
Tiga saudara Kim segera melangkah masuk kedalam kamar dan
mengambil tempat duduk, kemudian Kim lotoa baru bertanya:
“Parahkah sakit yg kau derita orang tua?”
Kakek itu mengangguk, sambil menghela napas, katanya dg
lemah:
“Terima kasih banyak utk perhatian anda, hanya saja aku
menjadi tak tentram krn sudah mengusik ketenangan tidur kalian.”
Kim losam tertawa jengah,

“Kami hanya tak dpt mengendalikan emosi sehingga mengumpat
kau orang tua sekenanya, utk itu harap lotiang jangan marah,
padahal siapa sih yg bisa menjaga kondisi masing-masing selama
berada diluar rumah? Cuma saja….kalau toh totiang menderita
penyakit parah, mengapa kau tidak meminta tolong pelayan utk
memanggilkan tabib?”
”Aaaai…!” sekali lagi sikakek menghela napas sambil
menggelengkan kepalanya berulang kali.
“Kalau memang sakit mana boleh tidak diobati?” seru Kim loji
cepat, “bila totiang sedang kekurangan bekal, tak perlu sungkansungkan,
kami bersedia utk membantu!”
Sembari berkata dia hendak merogoh saku.
Buru-buru sikakek menggoyangkan tangannya berulang kali
sambil katanya:
“Maksud baik kalian berempat biar lohu terima dlm hati saja,
padahal aku bukannya tak mampu memanggil tabib utk memeriksa
sakitku, dlm kenyataannya penyakit yg kuderita ini tak nanti akan
bisa diobati oleh tabib mana pun!”
“Penyakit apasih yg lotiang derita?” tanya Chin sian kun agak
tercengang.
Sekali lagi si kakek menghela napas, “kalian berempat bukan
tabib sekalipun sudah aku sebut pun tak ada gunanya, hanya saja
ada sebuah persoalan ingin aku tanyakan , semoga kalian dpt
menjawab dg sebenarnya.”
“Katakan saja lotiang!” buru-buru Kim losam berseru.
“Kalau dilihat dandanan kalian berempat sebagai jagoan
persilatan, pernahkah mendengar tentang seorang yg bernama Kho
Beng?”
Mendengar pertanyaan tsb, keempat orang tsb nampak
terperanjat sekali.
“Ada urusan apa sih lotiang mencari Kho Beng?” Chin sian kun
segera menegur.
Setelah menghela napas, kakek itu berkata:
“Aku hanya dpt memberitahukan kpd kalian bahwa aku Cuma
mendapat titipan dari seseorang, apa daya aku sedang menderita
sakit parah dan tak mampu berkutik, krn nya terpaksa aku Cuma
bisa bertanya kpd kalian berempat.”
“Ooooh” Kim lotoa manggut-manggut, “Siapa sih yg menitipkan
persoalan itu kpd lotiang? Persoalan apa yg hendak disampaikan?”

Kakek itu tertawa minta maaf,
“Aku hanya dpt memberitahukan kpd kalian bahwa orang itu
adalah seorang wanita, sedang masalah yg lain maaf kalau aku tak
bisa memberitahukan kpd kalian.”
Dg tak sabar Kim losam berseru:
“Padahal orang she Kho itupun berada dikota Tong sia, sayang
sekali kami hanya sempat melihatnya dari kejauhan, sewaktu disusul
ternyata usaha kami mengalami kegagalan.”
Kakek itu menjadi kegirangan, buru-buru serunya:
“Aaah…tak kusangka begitu kebetulan, ada suatu benda aku
mohon kpd kalian berempat agar disampaikan kpd Kho Beng,
apakah kalian bersedia membantu?”
Sementara Kim lotoa masih termenung, dg gembira Chin sian kun
telah berseru:
“Kalau memang lotiang minta tolong kpd kami, tentu saja kami
akan mengusahakannya.”
Sikakek segera mengalihkan pandangan matanya ke wajah Kim
kong sam pian, kemudian tanyanya:
“Apakah kalian bertiga mempunyai suatu kesulitan?”
Kim lotoa menjawab cepat.
“Setelah Chin lihiap menyanggupi, tentu saja kami akan berusaha
membantunya.”
“Kalau begitu, kuucapkan banyak terima kasih lebih dulu!” seru si
kakek kegirangan.
Sembari berkata ia mengambil sepucuk surat yg tertutup rapat
dari bawah pantatnya, sambil diangsurkan ketangan Kim lotoa,
katanya:
“Isi surat ini penting sekali, harap kalian berempat
menyimpannya secara baik-baik!”
Cepat-cepat Kim lotoa bangkit dari tempat duduknya utk
menerima, siapa tahu ketika ujung jarinya hampir menyentuh
sampul surat itu, mendadak si kakek tadi melepaskan sampul surat
tadi lalu secepat kilat tangannya menyambar kemuka, dg cepat
kelima jari tangannya mencengkeram urat nadi Kim lotoa erat-erat.
Sesungguhnya Kim lotoa bukan orang sembarangan, betapa
terperanjat ia menghadapi kejadian tsb, cepat-cepat ia menarik
tangannya sementara sebuah bacokan kilat dilontarkan dg telapak
tangan kanannya.

Tapi sayang walaupun ia cukup cepat menghindarkan diri toh tak
berhasil meloloskan diri dari ancaman kelima jari tangan kakek itu,
tak ampun pergelangan tangannya segera tercengkeram dg telak.
Dlm waktu singkat Kim lotoa merasakan hawa darah didalam
dadanya bergolak kencang, tenaga pukulan yg dilontarkanpun punah
ditengah jalan.
“Plaaaak…!”
Ketika sampul surat itu jatuh kelantai, ternyata menimbulkan
suara yg berat.
Sementara itu Chin sian kun, Kim loji dan Kim losam telah dibuat
tertegun oelh perubahan yg berlangsung secara mendadak itu, utk
sesaat mereka tak mampu berbuat apa-apa.
Akhirnya Kim losam melotot dg amarah teriaknya keras-keras:
“Bagus sekali! Rupanya kau si keledai tua sedang menipu kami dg
siasat busuk, ayoh cepat bebaskan toako ku!”
Sambil berseru, tubuhnya menerjang kemuka kuat-kuat, telapak
tangannya bagaikan bacokan golok langsung dihantamkan kedada
kakek tsb.
Jangan dilihat kakek tsb kelihatan lemah dan tak bertenaga,
sekalipun tubuhnya tetap duduk tak bergerak diatas pembaringan
namun tindak tanduknya cukup cekatan.
Tiba-tiba saja ia menarik tubuh Kim lotoa, kemudian ia memutar
pergelangan tangannya sehingga tubuh Kim lotoa berputar seratus
delapan puluh derajat dg muka menghadap keluar, dg begitu ia
persis menyambut serangan dari Kim losam dg tubuh rekannya
sendiri.
Tentu saja Kim losam menjadi sangat terperanjat, tergopohgopoh
dia menarik kembali serangannya sambil melompat mundur ,
begitu mendongkolnya dia sampai giginya saling beradu
gemerutukan.
Sementara itu si kakek sudah membentak lagi dg suara dalam:
“Barang siapa berani bertindak bodoh lagi, jangan salahkan bila
kubunuh rekan kalian lebih dulu!”
Oleh karena rekannya dibuat sebagai sandera, maka Kim loji
serta Kim losam hanya bisa mendelik besar sambil berkaok-kaok
penuh amarah.
Sementara itu Chin sian kun pun amat terperanjat, ia tak dpt
menduga asal usul kakek tsb, tapi ia kuatir sekali, sebab bila kakek

ini utusan dari tujuh partai besar, dg diketahuinya usaha membelot
mereka berarti posisi mereka selanjutnya menjadi bertambah
runyam...
Sekuat tenaga ia berusaha utk mengendalikan perasaan ngeri
dan seram yg mencekam hatinya, kemudian setelah tertawa dingin
katanya:
“He...he...he...ternyata lotiang adalah seorang jagoan lihay, tapi
entah apa maksudmu berbuat selicik ini untuk menjebak kami?”
Kakek itu tersenyum.
“Apa yg telah kukatakan bukan alasan yg dibuat-buat tapi benarbenar
merupakan kenyataan, aku pun sungguh menderita luka
parah, bahkan aku memang bersungguh hati hendak minta tolong
kpd kalian utk mencarikan Kho Beng...”
Mengetahui bahwa si kakek benar-benar menderita luka parah,
Kim loji dan Kim losam saling bertukar pandang sekejap, kemudian
bersiap sedia melakukan tindakan berikut.
Tapi si kakek segera membentak keras.
“Lebih baik kalian berdua jangan bertindak bodoh, sekalipun aku
menderita luka parah, namun aku masih yakin bahwa kemampuan
kalian berempat belum sampai kupandang sebelah matapun.”
Sekali lagi Kim loji dan Kim losam amat terperanjat.
Dalam pada itu Chin sian kun telah berkata sambil tertawa
merdu,
“Bukankah kami sudah bersedia utk mencarikan Kho Beng seperti
apa yg kau kehendaki, tapi mengapa kau justru melakukan tindakan
semacam ini...?”
Kakek itu tersenyum,
“Bersediakah nona menyebutkan dulu nama sendiri serta tiga
bersaudara ini?” pintanya.
“Aku bernama Chin sian kun, berdiam di Siang pak, sedang
mereka bertiga adalah Kim kong sam pian dari Gak yang. Tolong
tanya siapa nama kau orang tua?”
Kembali kakek itu tersenyum,
“Aku tak punya nama, tapi orang-orang menyebutku sebagai Bu
wi!”
“Haaaahh...!”
Begitu mendengar nama “Bu wi”, baik Kim kong sam pian
maupun Chin sian kun sama-sama terperanjat dibuatnya sehingga
berseru tertahan.

Mimpi pun mereka tak mengira kalau si kakek tak lain adalah Bu
wi lojin, satu di antara tiga tokoh sakti yg sudah termasyur dlm
dunia persilatan semenjak lima puluh tahun berselang.
Buru-buru Chin sian kun memberi hormat, seraya berkata:
“Oooh, rupanya kau adalah Bu wi locianpwee, terus terang saja
aku bersama tiga bersaudara Kim memang berniat membelot utk
bergabung dg Kho sauhiap, oleh sebab itu harap cianpwee jangan
salah paham dan segera membebaskan Kim toako!”
Namun Bu wi lojin masih mencengkeram tangan Kim lotoa
kencang-kencang, ia menggeleng dan berkata sambil tertawa
lembut,
“Sewaktu terjun kembali kedunia persilatan akupun sudah banyak
mendengar tentang kegagahan Kim kong sam pian serta Walet
terbang berwajah ganda, akupun tahu kalian berempat bukan orang
jahat, itulah sebabnya tindakanku sekarang tidak berniat jahat, tapi
berhubung benda dalam sampul itu penting sekali artinya, sedang
asal usul Kho Beng pun luar biasa sekali, dimana lebih banyak
musuh ketimbang temannya, maka terpaksa aku mesti
menggunakan Kim tayhiap sebagai sandera, utk itu harap kalian sudi
memakluminya.”
Setelah berhenti sejenak dan menunding sampul surat dilantai,
katanya lebih jauh:
“Tolong nona Chin bersama jihiap dan samhiap pergi mencari
Kho Beng serta menyerahkan surat tsb kepadanya, suruh ia datang
kemari secepatnya. Kelicikan manusia didunia ini susah diraba
sehingga mau tak mau aku mesti bertindak lebih berhati-hati, biarlah
kusandera Kim tayhiap sementara waktu, bila Kho Beng telah sampai
disini aku pasti akan minta maaf kpd Kim tayhiap, selain itu utk
kesekian kalinya ingin kutegaskan bahwa aku tidak berniat jahat
terhadap Kim tayhiap, sedang kehadiran Kim tayhiap disini pun pasti
aman. Selesai persoalan ini akan kuberi hadiah lain sebagai balas
jasanya, nah sekarang mohon kalian bertiga utk melakukannya.”
Kim loji, Kim losam maupun Chin sian kun emmang agak jeri
terhadap nama besar Bu wi lojin, mendengar perkataan tsb mereka
saling pandang sekejap, akhirnya Kim losam berkata:
“Kalau toh cianpwee berkata begitu, kami akan segera pergi
mencari Kho sauhiap utk membuktikan ketulusan hati kami yg
sesungguhnya....”

Habis berkata dia memungut sampul surat itu, kemudian
memberi tanda kpd Kim loji dan Chin sian kun.
Namun setelah mereka bertiga keluar dari penginapan Hiong hien
dan mengawasi jalan yg terbentang didepan mata, mereka segera
saling berpandangan sekejap dg perasaan murung.
Sudah setengah harian lebih mereka melakukan pencarian tadi
tanpa hasil yg nyata, sekarang kemanakah mereka harus pergi utk
menemukan jejak Kho Beng?
Padahal, mimpi pun mereka tak mengira sewaktu mereka
melakukan pencarian ketiap sudut rumah tadi, sesungguhnya Kho
Beng sedang duduk dg tenang dirumah makan Pon gwat kie yg baru
mereka tinggalkan.
Memang disinilah letak kelemahan manusia, Chin sian kun
sekalian berpendapat bahwa mereka baru saja meninggalkan rumah
makan Poan gwat kie, maka walaupun sudah dua tiga kali melewati
pintu muka rumah makan tsb, namun mereka tdk masuk utk
memeriksanya kembali.
Berbeda dg Kho Beng, sesungguhnya ia sudah melihat kehadiran
Kim kong sam pian sekalian tapi berhubung maksud kedatangannya
kesitu adalah utk menelusuri jejak In nu siancu dan tak ingin
mencari keributan yg lain, maka sedapat mungkin ia berusaha utk
menghindari orang-orang tsb.
Tapi dia sendiripun tdk menyangka kalau Kim kong sam pian
serta Chin sian kun terpengaruh oleh pembelotan Li sam hingga
dicurigai oleh rakan-rekannya sendiri dimana dalam gusarnya
mereka justru sedang mencarinya utk bergabung.
Tentu saja ia pun tidak tahu kalau Bu wi lojin yg sedang dicaricari
berada pula dikota Tong sia, malah menderita luka parah dan
berdiam dirumah penginapan Hiong hien dimana ia sedang dicaricari
utk bertemu.
Memang kadangkala banyak kejadian yg berlangsung sangat
kebetulan kadangkala justru bertentangan satu sama lainnya
sehingga terjadi banyak peristiwa yg tak diinginkan. Apa yg telah
dialami Kho Beng waktu itu?
Utk mengetahui keadaannya, maka waktu harus diundur
setengah hari lagi yaitu sepeminuman teh setelah Kim kong sam
pian dan Chin sian kun meninggalkan rumah makan Poan gwat kie.
Saat itu Kho Beng beserta keempat pengawalnya menghindar
pula kedalam rumah makan tsb.

Disinilah letak kecerdikan Kho Beng. Ia berpendapat Kim kong
sam pian berempat mustahil akan memeperhatikan tempat itu lagi
krn mereka sebelum meninggalkan tempat tsb, saat menunjukkan
tengah hari yaitu saat banyak orang bersantap siang.
Untuk menghindari hal inilah, maka dia pun mencari tempat
duduk didekat loteng dekat jendela, benar juga apa yg dia duga, dua
kali ia menyaksikan Kim kong sam pian berempat celingukan
disekitar rumah makan tsb tanpa berniat masuk kedalam utk
mencarinya, diam-diam ia jadi sangat geli selain rasa bangga yg
meluap.
Selain memesan hidangan dan belum lagi bersantap, tiba-tiba
Kho Beng kelihatan seperti tercenung lalu bangkit berdiri, ulah
pemuda tsb tentu saja amat mengejutkan Rumang serta Hapukim
sekalian berempat. Ternyata Kho Beng telah menjumpai pula
bayangan punggung perempuan berbaju putih yg pernah ditegur
Chin sian kun tadi sedang berdiri membelakangi meja kasir.
Oelh karena orangtsb memiliki perawakan tubuh yg terlalu mirip
dg encinya, ditambah lagi payung serta bunga putih disanggulnya,
membuat Kho Beng amat kegirangan. Seperti juga Chin sian kun,
kepada Rumang sekalian segera bisiknya:
“Coba kalian tunggu sebentar disini, aku segera balik!”
Selesai berkata buru-buru ia meninggalkan tempat duduknya
menuju kemeja kasir.
Waktu itu si perempuan berbaju putih tadi sedang menyerahkan
seguci arak kepada kasir sambil berkata merdu,
“Arak yg dibutuhkan majikan kami adalah arak terbaik, coba
siapkan satu kati lagi!”
Sang kasir yg gemuk segera mengiakan berulang kali sambil
ketawa namun ketika melihat Kho Beng yg berjalan mendekat,
sekilas perasaan kaget yg susah ditemukan sempat melintas dalam
sorot matanya, ia segera membalikkan badan utk mengambil arak.
Sementara itu Kho Beng telah sampai dibelakang tubuh
perempuan berbaju putih itu, segera sapanya dg suara lirih:
“Enci.....”
Dg cepat perempuan berbaju putih itu berpaling.
“Aaaahh!” tiba-tiba Kho Beng berseru tertahan.
Ternyata sekarang ia baru menyadari bahwa bayangan punggung
yg dianggap sebagai encinya itu ternyata adalah perempuan lain,
kontan saja pipinya berubah menjadi merah padam karena jengah.

“Ooooh, maaf,maaf...” buru-buru serunya, “rupanya aku telah
salah melihat...”
Belum selesai perkataan itu diucapkan, perempuan berbaju putih
itu telah menyela sambil tertawa,
“Oooh...rupanya Kho kongcu!”
Panggilan itu sediit diluar dugaan Kho Beng, ia merasa tak pernah
kenal dg perempuan tsb, tapi kenyataannya pihak lawan justru
kenal dg nya.
Maka sesudah tertegun sejenak, segera ujarnya:
“Kau…kau kenal dg diriku?”
Perempuan berbaju putih itu segera tersenyum,
“Budak bernama Ciu hoa, pernah kudengar nona kami
melukiskan raut muka kongcu…”
“Siapakah nonamu?” seru Kho Beng cepat, setelah melengak
beberapa saat.
Mendadak Ciu hoa merendahkan suaranya dan berbisik,
“Nona kami adalah cicimu, Kho yang ciu!”
Kho Beng menjadi kegirangan setengah mati, segera tanyanya:
“Dimanakah ciciku berada?”
“Dia berada diruang belakang rumah makan Poan gwat kie ini,
biar budak siapkan arak lebih dulu kemudian baru mengajak kongcu
kesitu!”
Sambil berkata ia segera menerima guci arak dari tangan si kusir
gemuk itu.
Kemudian baru ia berkata lagi kpd Kho Beng:
“Silahkan kongcu mengikuti budak!”
Habis berkata ia segera berjalan lebih dulu menuju keruang
belakang rumah makan itu.
Ketika Kho Beng mengikuti dibelakangnya, si kusir gemuk itu
tiba-tiba menampilkan secercah senyuman yg sangat aneh.
Setelah melangkah keluar pintu ruangan, ternyata dibelakang
sana merupakan sebuah kamar tamu yg sangat indah.
Dg pandangan terkejut Kho Beng memperhatikan sekejap
sekeliling tempat itu, lalu serunya:
“Aaah, tak kusangka rumah makan Poan gwat kie merangkap
juga usaha penginapan!”
Ciu hoa tertawa, “Kami berdiam diruangan yg paling belakang
sana....”

“Heran!” gumam Kho Beng tiba-tiba, “sudah dua kali aku
bertemu cici, mengapa belum pernah melihat dirimu?”
“Dulu budak mendapat tugas menjaga abu leluhur,
barubelakangan ini menyusul siocia terjun kedalam dunia persilatan.”
“Aaaah…maksudmu kau enjaga abu dari Gin san siancu
cianpwee?”
Dg suara sedih Ciu hoa mengangguk,
“Sebenarnya budak sudah berjanji kepada nona utk menjaga abu
selama tiga tahun, apa mau dibilang aku tak pernah tentram hatinya
membiarkan nona berkelana sendiri dalam dunia persilatan, krn itu
secara diam-diam meniggalkan gunung utk menyusulnya!”
Tanpa terasa Kho Beng menaruh perasaan kagum atas
kesetiannya dan ditengah tanya jawab inilah mereka telah sampai
dihalaman paling belakang, disitu ia menyaksikan terdapat dua bilik
dg pepohonan liu yg amat rindang, tempat tsb memang merupakan
sebuah tempat tinggal yg amat tenang.
Tapi sesudah melangkah masuk kedalam ruangan, kembali Kho
Beng menjadi termangu, rupanya ditengah ruangan terdapat sebuah
meja besar dg pelbagai macam hidangan, perangkat sumpit dan
cawan elah tersedia namun tak nampak sesosok bayangan manusia
pun.
Baru saja Kho Beng hendak bertanya, ambil tertawa Ciu hoa telah
berkata lebih dulu:
“Berhubung masih ada urusan lain, nona belum kembali silahkan
kongcu duduk lebih dulu.”
Sambil menunjuk kearah hidangan dimeja, Kho Beng bertanya
keheranan:
“Tapi hidangan ini....”
Buru-buru Ciu hoa menukas:
“Sebenarnya nona sedang menjamu seorang teman lamanya, tapi
berhubung chen koan keh masuk secara tergesa-gesa entah
persoalan apa yg dilaporkan, ternyata nona segera mengajak
tamunya pergi dg melompati dinding pagar, tapi sebelumpergi ia
sempat meninggalkan pesan kepada budak, katanya sebentar dia
akan kembali maka budak disuruh tetap menyiapkan hidangan ini!”
“Tapi kemana perginya Cun bwee serta Sin hong?” tanya Kho
Beng setelah mengambil tempat duduk.

“Mereka ikut nona keluar rumah, tak ada salahnya bila kongcu
duduk menanti sambil minum arak, budak rasa segera nona akan
balik kemari, toh ia sudah bilang hanya akan pergi sebentar saja.”
Kho Beng menggelengkan kepalanya berulang kali tanda ia tak
ingin makan, sementara hati kecilnya menaruh curiga, dia tak tahu
persoalan penting apakah yg telah ditemui cicinya? Kalau dibilang
bukan urusan penting, mengapa pula ia pergi secara tergesa-gesa?
Berapa saat sudah lewat, Kho Beng duduk termenung sambil
menunggu cicinya kembali, tapi orang yg ditunggu belum nampak
juga.
Ketika melihat Ciu hoa berdiri terus disisinya tanpa berkutik,
lama-kelamaan ia menjadi rikuh sendiri, maka sambil bangkit berdiri
segera katanya:
‘Aku rasa lebih baik nanti saja aku balik lagi....”
Tapi sebelum perkataan itu selesai diucapkan, buru-buru Ciu hoa
telah berkata lagi:
“Bagaimana pun juga kongcu toh sudah menunggu sampai
sekarang, kenapa mesti buru-buru pergi? Bila nona sampai tahu, ia
pasti akan memarahi budak yg dibilang tak mampu melayani
kongcu.”
“Tapi aku masih mempunyai empat teman yg menunggu
diluar....”ucap Kho Beng.
“Soal ini tak usah kongcu kuatirkan” sela Ciu hoa, “tentu saja
budak dapat berpesan kpd sang kasir agar baik-baik melayani
mereka, hingga kini kongcu belum bersantap siang, masa harus
pergi dg begitu saja? Meski hendak pergi, toh rasanya belum
terlambat jika bersantap lebih dulu.”
Saat ini Kho Beng memang merasa agak lapar, melihat Ciu hoa
begitu bersikap hormat kepadanya, ia pun berpikir:
“Bagaimana pun juga tempat ini toh kediaman cici, kalau mesti
bersikap sungkan, rasanya hal ini malah lucu sekali....”
Berpendapat demikian, maka dia pun manggut-manggut, katanya
sambil tertawa:
“Terus terang saja, perutku memang terasa agak lapar, kalau cici
memang berpesan begitu,baiklah aku mengisi perut lebih dulu!”
Ciu hoa tertawa merdu..
“Sebetulnya diantara saudara sendiri memang tak perku
bersungkan-sungkan, kalau tidak, orang luar pasti mentertawakan.

Mari biar budak mengisikan secawan arak lebih dulu utk melegakan
pikiran..”
Sambil berkata dia mengambil guci arak yg baru dibawa masuk
tadi dan mengisi secawan arak penuh utk Kho Beng.
Buru-buru Kho Beng menerimanya sambil berkata:
“Aku tak biasa minum, biar cukup secawan saja!”
Ia menerima cawan itu dan menegak isinya sampai habis,
seketika itu juga segulung hawa panas muncul dari pusarnya dan
menjalar keseluruh bagian tubuhnya, tiba-tiba saja kepalanya terasa
pening.
Detik itu juga Kho Beng merasakan keadaan tak beres, matanya
segera melotot besar dan ia melompat bangun.
Tapi Ciu hoa sudah berseru sambil tertawa terkekeh-kekeh:
“Roboh! Roboh!”
“Budak bajingan! Besar amat nyalimu!” bentak Kho Beng
membentak keras-keras, “tak nyana kau berani mencelakai diriku
secara licik…”
Sepasang telapak tangannya segera disiapkan utk melancarkan
bacokan kilat ketubuh Ciu hoa.
Tapi sayang keadaa sudah terlambat, tahu-tahu dunia serasa
berputar kencang, pandangan matanya berkunang-kunang, ia tak
sanggup lagi mempertahankan diri….
“Blaaamm!”
Badannya roboh terjungkal keatas tanah.
Ciu hoa kembali tertawa terkekeh-kkeh, mendadak ia bertepuk
tangan tiga kali.
Dari sisi ruangan segera muncul enam orang lelaki berbaju hitam,
kepada Ciu hoa serentak mereka memuji:
“Siasat Lengcu betul-betul hebat sekali!”
Ciu hoa tertawa bangga, katanya:
“Hayo cepat gotong dirinya masuk keloteng rahasia, beritahu
kepada Ong cianpwee dkasir agar baik-baik melayani keempat orang
asing tsb!”
Sementara itu Rumang, Hapukim dan dua bersaudara Mo masih
bersantap dg lahapnya sepeninggalan Kho Beng tadi.
Hingga perutnya terasa kenyang, mereka baru teringat kalau
hingga saat itu Kho Beng belum juga kembali.
Hapukim mulai celingukan kesana kemari dg tak sabar, lalu
berseru keheranan:

“Apa yg sudah terjadi? Kenapa cukong kita hilang lenyap dg
begitu saja?”
“Jangan-jangan bocah keparat itu memanfaatkan kesempatan in
utk melarikan diri” seru Rumang sambil menggebrak meja.
“He…he…he…Molim tertawa dingin, “seandainya ia bermaksud
melarikan diri, sepanjang jalan ia sudah banyak mempunyai
kesempatan utk berbuat begiut, buat apa dia menunggu hingga
sekarang?”
“Yaa, perkataan toako memang benar!” sambung Mokim, “toh
orangnya msih didalam sana, sekalipun belum namapak buat apa
kita mesti gelisah.”
Rumang mengedipka mata, tiba-tiba ia mendongak dan tertawa
terbahak-bahak, Hapukm segera menegur:
“Apa sih yg lucu?”
Sambil tertawa ujar Rumang : “Sebenarnya aku mengira cukong
kita adalah seorang kuncu, kemudian baru kuketahui rupanya dia
adalah seorang pipi licin, yang suka perempuan!”
Mendengar perkataan tsb, Hapukim dan dua bersaudara Mo
segera teringat kembali dg sikap Kho Beng yg buru-buru menghindar
ketika melihat tiga orang lelaki kekar (Kim kong sam pian) dari
kejauhan tadi, namun sekarang setelah masuk mengikuti seorang
perempuan lalu lupa keadaan dan waktu. Hingga tanpa terasa
mereka pun turut tertawa.
Walaupun empat orangjago sakti dari luar perbatasan ini ratarata
buas dan licik, namun jalan pikiran mereka masih terlalu
sederhana, ditambah lagi mereka pun belum begitu paham tentang
seluk beluk Kho Beng dg pelbagai masalahnya, maka kepergian sang
pemuda yg kemudian tak pernah muncul kembali ini bukan dianggap
sebagai suatu tanda bahaya sebaliknya mereka malah menafsirkan
pemuda itu sebagai seorang lelaki hidung bangor yg sedang
menikmati kehangatan tubuh wanita.
Begitulah setelah tertawa terbahak-nahak beberapa saat,
Hapukim berkata kemudian:
“Yaa, berbicara sesungguhnya, nona-nona dari daratan
Tionggoan memang mengasyikkan dg segala macam yg memikat
hati, tidak heran kalau cukong kita menjadi lupa daratan sehingga
begitu masuk kekamar lantas melupakan kita…..”
Molim mendengus dingin, katanya pula:

“Hmmm, mengikuti manusia busuk macam begini, saban hari dari
siang sampai malam mesti menuruti perkataannya, sudah lama kita
merasa muak dan sebal…”
“Yaaa…kalau ingin mendapatkan anak masa masa induknya
dibuang dulu” sambung Mokim, “apa boleh buat terpaksa kita mesti
bersabar dulu sekarang, tapi apa yg mesti kita perbuat dewasa ini?
Memanggilnya keluar dari kamar? Atau duduk saja menanti?”
Baru selesai ia berkata, Si kasir yg gemuk telah datang
menghampiri dan berkata sambil tertawa:
“Toaya berempat, Kho kongcu telah berpesan kepadaku agar
baik-baik melayani kalian, katanya dia masih ada urusan sehingga
tuan berempat tak perlu menunggu lagi, selain itu kongcu pun telah
telah menyuruh hamba utk memesankan sebuah kamar dirumah
penginapan seberang sana, katanya kalian dipersilahkan utk
beristirahat dulu!”
Rumang tertawa terkekeh-kekeh, tanyanya sambil berpaling:
“Sebetulnya cukong kami lagi apaan sih didalam sana?”
Si kasir gemuk pura-pura tertegun, lalu tanyanya keheranan:
“Masa Kho kongcu tidak memberitahukan keperluannya kepada
kalian?”
Hapukim segera menepuk bahu si kusir dan berkata sambil
tertawa terbahak-bahak:
“Ha…ha…ha… toako emmang makin lama makin pintar saja,
kalau pekerjaan yg lain boleh dirahasiakan, masa masalah main
perempuan pun mesti diumumkan? Ha…ha…ha….”
Buru-buru si kusir gemuk membungkukkan badan sambil tertawa
dibuat-buat, katanya kemudian:
“Toaya memang cerdik sekali..he…he…he..utk biaya makan telah
dilunasi Kho kongcu tadi, bila kalian berempat tak ada permintaan
lain, hamba hendak mohon diri dulu.”
Rumang segera mengulapkan tangannya berulang kali, kemudian
kepada Hapukim dan dua bersaudara Mo katanya:
“Begitupun ada baiknya juga, sudah dua puluhan hari lamanya
kita tak pernah beristirahat secara baik, mumpung hari ini punya
kesempatan, mari kita pergi mencari kesenangan, mari kita cicipi
kehangatan nona-nona daratan Tionggoan!”
Karena mereka memang sedang menganggur dan meresa tak
punya urusan lain, tentu saja usul tsb segera disetujui ketiga orang

rekan lainnya, maka berempat pun beranjak pergi dari tempat duduk
masing-masing dan berjalan keluar.
Sewaktu baru melangkah keluar dari pintu rumah makan Poan
gwat kie, kebetulan sekali Chin sian kun serta dua bersaudara Kim
sedang lewati tempat tsb.
Perjumpaan yg sama sekali tak terduga tsb mengundang kedua
belah pihak sama-sama tertegun.
Dg wajah berseri Kim losam segera berbisik kepada Chin sian
kun:
“Bukankah keempat orang itu yg melakukan perjalanan bersama
Kho sauhiap? Tak disangka mereka pun berada dirumah makan Poan
gwat kie..”
Chin sian kun segera tampil kedepan dan menjura kepada
Rumang sambil sapanya:
“Saudara berempat, mengganggu sebentar, boleh kutahu siapa
nama kalian….?”
Melihat kecantikan wajah Chin sian kun ibarat bunga yg baru
mekar, Rumang jadi kegirangan setengah mati sambil tertawa
terkekeh-kekeh segera katanya:
“Belum lagi kami pergi mencari, eeh siapa tahu si nona datang
menghantarkan diri, he...he...he..aku bernama Rumang, sedang
ketiga rekanku ini adalah saudara Hapukim serta saudara Molim dan
Mokim....”
Agak geli Chin sian kun melihat sikap Rumang yg kesemsem oleh
kecantikannya, sambil bersikap lebih genit segera tegurnya lagi
sambil tersenyum manis:
“Ooooh, rupanya saudara Rumang, saudara Hapukim dan dua
bersaudara Mo, tolong tanya kenapa tak nampak Kho kongcu
bersama kalian?”
Rumang segera tertawa bergelak:
“Kau sedang menanyakan cukong kami? Ha...ha...ha...”
Belum sempat dia meneruskan kata-katanya, Molim sudah
menyikutnya keras-keras membuat ia menjadi melengak.
Sambil berpaling segera tegurnya:
“Mo lotoa, apa-apaan kau ini?”
Jilid 16
“Masa kau lupa bahwa cukong kita berusaha menghindari mereka
sewaktu bersua tadi?” bisik Molim lirih, “bukankah hal tsb
menandakan bahwa mereka adalah musuh bukan sahabat?”

Kontan saja Rumang menjadi terkejut, sambil menggaruk-garuk
kepalanya yg tak gatal, katanya:
“Yaa, hampir saja aku melupakan hal ini.”
Dg pandangan dingin Molim menatap sekejap Chin sian kun
bertiga lalu balik tegurnya:
“Boleh kami tanya, siapa nama kalian bertiga?”
“Aku she Chin” sahut si nona sambil tertawa, “sedang mereka
berdua adalah dua bersaudara she Kim dari telaga Tong ting, kami
semua adalah teman Kho sauhiap.”
“Oooh, kalian adalah teman cukong kami, maaf!maaf!” jengek
Molim tertawa dingin.
“Bolehkah kami tahu berada dimanakah Kho sauhiap sekarang?”
buru-buru Kim losam menyela.
“Ada urusan apa kau mencarinya?”
“Kami mempunyai berita penting yg hendak disampaikan
kepadanya, selain itu ada benda yg amat berharga utk diberikan
kepadanya!”
“Soal apa? Dan barang berharga apa? Coba kau sebutkan kepada
kami dulu…”
Cepat-cepat Kim losam menggeleng:
“Tidak bisa! Kami harus bertemu dg sauhiap sekarang juga.”
Tapi Molim segera menggeleng pula sambil menjengek:
“Maaf, rasanya kami belum pernah mendengar cukong kami
menyinggung-nyinggung tentang kalian, karena itu kedatangan
kalian tak bisa kami sampaikan...”
Kim losam menjadi tertegun dan sesaat lamanya tak tahu apa yg
mesti diperbuat.
Melihat itu, Chin sian kun segera berseru sambil tertawa merdu:
“Mo lotoa, tolonglah bantu kami, karena persoalan tsb tak dapat
ditunda-tunda lagi.”
“Hmmm, kalau memang tak bisa ditnda lagi, lebih baik kalian
pergi mencarinya sendiri” seru Molim ketus.
Selesai berkata, ia segera mengulapkan tangannya kpd Rumang
sekalian sambil katanya:
“Hayo kita berangkat mencari kesenangan, jangan biarkan
mereka mengusik kegembiraan kita.”
Melihat kempat orang itu hendak pergi dari sana, Kim loji menjadi
naik darah, segera bentaknya penuh amarah:
“Hey! Sebenarnya kalian mengerti aturan tidak?”

“Siapa bilang kami tak tahu aturan?” balas Rumang sambil
melotot dg sinar bengis.
“Kalau tahu aturan, semestinya kalian pun mengerti bahwa kami
adalah sahabat majikan kalian dan sekarang hendak mencarinya krn
ada urusan penting, mengapa kalian enggan melaporkan
kedatangan kami?”
Rumang tertawa seram, katanya :
“Bila kalian adalah sahabat cukong kami, setelah bertemu kalian
tadi, dia pun tak akan berusaha menghindarkan diri..he...he....siapa
lagi yg hendak kalian bohongi? Bila tidak segera angkat kaki dari
sini, jangan salahkan bila golokku akan membacok tubuh kalian!”
Sekarang Chin sian kun baru tahu sebabnya keempat orang tsb
enggan melaporkan kedatangan mereka, cepat-cepat ia
menjelaskan:
“Aku rasa Kho kongcu menaruh salah paham atas kehadiran
kami.”
Dg suara dingin, Molim menyela:
“Nah, bukankah kalian sudah tahu sendiri, lebih baik kalian
mencari dia lebih dulu untuk menjelaskan kesalah pahaman tsb
kemudian baru mencari kami lagi.”
Menyaksikan keempat orang itu dibujuk halus gagal, didesak dg
kekerasan pun tak bisa, Chin sian kun menjadi sangat mendongkol,
segera bentaknya:
“Sebenarnya kalian mau bicara tidak?”
“He...he...he...sudah mulai sewot nampaknya” ejek Rumang
tertawa seram, “tak susah bila menginginkan kami berbicara, tapi
kau mesti menemani kami dulu tidur semalam!”
Hijau membesi selembar wajah Chin sian kun ketika mendengar
perkataan tsb, tangannya segera meraba gagang pedangnya dan
mencabutnya keluar dari sarung, bentaknya keras-keras:
“Anjing suku asing! Kemari kau! Nyonya muda akan mewakili
majikanmu untuk memberi pelajaran dulu kepada kalian.”
Rumang tertawa makin keras, teriaknya sambil mengejek:
“Aduh mak…benar-benar menarik, rupanya kau ingin main
senjata dg ku?”
Melihat senjata tajam sudah berbicara, penduduk kota yg
kebetulan berada disekitar jalanan tsb segera berlarian tunggang
langgang utk menyelamatkan diri.

Sesungguhnya Kim loji sudah diliputi amarah yg membara namun
setelah melihat suasana disana menjadi kacau, buru-buru dia
menghalangi si nona utk menyerang.
Kepada Mo bersaudara ujarnya kemudian,
“Kami tidak bermaksud jahat terhadap kalian, apakah kamu
berempat tak bisa diajak utk berunding.”
He…he…he…maksud baik atau jahat sama-sama tak ada sangkut
pautnya dg kami, pun kami juga tak mengerti menjalin hubungan dg
orang lain” kata Mokim sinis.
Kim losam sangat marah, bentaknya nyaring:
“Tampaknya kalian anjing-anjing pingin dicambuki.”
Rumang balas tertawa seram.
“Terlepas sampai dimana kemampuan dan jumlah kalian,
memangnya kami takut untuk menghadapi kalian?”
Kemudian setelah mendengus dingin terusnya,
“Cukup mendengarkan ucapan kalian bertiga pada kami, hari ini
kami tak bisa melepaskan kalian dg begitu saja, kamu bertiga mesti
mampus disini!”
Sambil berkata dia pun mencabut keluar toyanya yg berbentuk
ular.
Diantara mereka semua Kim loji paling tenang dan paling
berpikiran panjang, ketika dilihatnya situasi sudah tak mungkin
diselesaikan secara damai, buru-buru ia berkata dg suara dalam:
“Kurang leluasa buat kita utk bertarung ditengah jalan, kalau
memang ingin beradu tenaga, mari kita selesaikan diluar kota saja.”
Hapukim tertawa seram:
“Kebetulan sekali, akupun ingin mencoba sampai dimanakah
kemampuan dari jago-jago Tionggoan, asal kalian tdk kabur, tampat
manapun sama saja buat kita!”
Betapa gelinya si kasir gemuk dari rumah makan Poan gwat kie
yg ikut menyaksikan keramaian tsb dari balik pintu, diam-diam ia
kegirangan setengah mati sebab baginya orang-orang itu paling baik
saling gontok-gontokan dan mampus semua.
Maka kedua belah pihak pun segera berangkat menuju keluar
kota.
Matahari sudah condong kelangit barat.
Si Walet terbang berwajah ganda serta Kim loji dan Kim losam
disatu pihak, Rumang berempat dipihak lain kini telah berada

ditengah hutan yg terpencil diluar kota Tong sia, masing-masing
pihak telah berdiri saling berhadapan siap utk bertarung.
Saat itu Chin sian kun berpendapat bahwa keempat orang suku
asing ini walaupun bengis dan menjengkelkan namun bagaimana jua
mereka adalah anak buah Kho Beng, andaikata benar-benar sampai
jatuh korban niscaya mereka akan sulit memberikan keterangan kpd
pemuda tsb.
Karenanya sambil berusaha utk mengendalikan rasa gusar yg
membara didalam dada, nona itu segera berkata :
“Walaupun kita tak cocok didalam pembicaraan namun sedikit
banyak harus memandang diwajah majikan kalian. Aku rasa
pertarungan yg akan kita langsungkan nanti dibatasi dg saling
menutul saja, bila kami menderita kalah tentu saja segera akan
angkat kaki dari sini sebaliknya bila kalian kalah maka kalian harus
mengajak kami utk bertemu dg Kho sauhiap. “
“Ha…ha…ha…sungguh menarik hati, sungguh menarik hati”
Rumang tertawa kasar, ”dari pada kita gebuk-gebukan dihutan toh
lebih enak bertarung diatas ranjang.”
Pucat pias selembar wajah Chin sian kun saking gusarnya seluruh
badannya gemetar keras, bentaknya tiba-tiba:
“Tutup mulut anjingmu, hey orang asing! Nyonya muda sudah
tak bisa bersabar lagi, bila mulut anjingmu tetap mengeluarkan katakata
kotor.”
Molim tertawa dingin:
“Sesungguhnya kau pun tak perlu bersabar atau mengalah, kami
tidak mengerti apa yg dimaksud “dibatasi saling menutul” itu, bagi
peraturan desa kami, bila bertarung maka mati hidup yg akan
menentukan kemenangan salah satu pihak, siapa yg ungguk dialah
enghiong sejati.”
“Lantas bagaimana menurut pendapatmu? Kita harus bertarung
cara bagaimana?” tanya Kim loji dg suara dalam.
Kembali Molim tertawa seram.
“Walaupun kami berempat, bukan berarti kami ingin mencari
kemenangan dg mengandalkan jumlah banyak, mari kita bertarunf
satu lawan satu, kalian bertiga sama-sama dapat bertahan hidup
terus, toh dipihak kami masih ada seorang yg tetap hidup, ia pasti
akan mengajak kalian utk bertemu dg cukong!”

“Baik, kita tetapkan begitu saja” teriak Kim losam, “sekarang kau
dipersilahkan mencicipi dahulu kehebatan ruyung Kim kong pian ku
ini....”
Sudah sejak tadi ia menekan hawa amarahnya yg meluap-luap,
maka begitu selesai berkata, ruyungnya langsung berputar
membentuk satu lingkaran besar dan langsung membacok batok
kepala Molim.
Terkejut juga Molim melihat datangnya serangan itu, segera
bentaknya sambil menggeserkan tubuhnya tiga langkah kesamping:
“Serangan yg bagus!”
Senjata tongkat berbentuk ularnya diputar dan menyongsong
datangnya serangan itu.
Pedang lebih cocok dipakai utk pertarungan jarak dekat,
sebaliknya ruyung lebih cocok utk pertarungan jarak jauh, tentu saja
Kim losam tidak membiarkan musuh mendekatinya.
Sambil bergerak mundur, sekali lagi dia melepaskan dua kali
serangan cambuk yg memaksa Molim harus beberapa kali
menghindarkan diri.
Nama Kim kong sam pian memang bukan nama kosong belaka,
ketiga jurus serangannya itu dilancarkan lebih lincah daripada
gerakan ular sakti, bukan saja dapat bergerak secara luwes, setiap
ancaman pun selalu menimbulkan angin serangan yg menderu-deru.
Untuk beberapa saat Molim tak mampu mendekati musuhnya,
senjata tongkat berbentuk ularnya meski belum bisa memancarkan
kekuatan hebat, akan tetapi kelincahan geraknya, pertahanannya yg
ketat memaksa permaina ruyung Kim losam pun tak mampu berbuat
banyak terhadapnya.
Begitu pertarungan berkobar, Hapukim yg nonton pun menjadi
gatal, sambil meloloskan goloknya ia segera membentak terhadap
Kim loji:
“Hey, kau jangan ngenggur terus, mari kita coba sampai
dimanakah kehebatan ilmu silatmu!”
Ditengah perkataan, cahaya golok yg menggulung langsung
mengancam kesisi badan Kim loji.
Rupanya ia cukup menbgambil rekannya sebagai pengalaman
dan tahu kalau pihak lawan yg memakai ruyung panjang harus
dihadapi dg pertarungan jarak dekat, sebab sekali posisinya tersedak
niscaya semua jurus serangannya tak bisa dikembangkan.

Karenanya secepat kilat dia menyerang kemuka dan
mengembangkan jurus –jurus serangannya utk mengurung Kim loji
secara ketat.
Berulang kali Kim loji mencoba berkelit ataupun menghindar,
namun tak pernah berhasil melepaskan diri dari jangkauan cahaya
golok lawan.
Ia merasa seolah-olah cahaya golok muncul dari empat arah
delapan penjuru, hal mana membuatnya terperanjat sekali.
Kerena permainan ruyungnya tak bisa dikembangkan, terpaksa ia
mesti mengandalkan rangkaian ilmu pertarungan jarak dekat utk
bertahan sekuat tenaga.
Dlm waktu sigkat pertarungan yg berlangsung telah menjurus
dalam suatu perkelahian mati-matian, diam-diam Chin sian kun yg
mengikuti jalannya pertarungan itu menjadi terkejut sekali.
Sementara ia masih termenung, tiba-tiba terdengar Rumang
berteriak keras:
“Perempuan jahat! Kau jangan menonton saja, mari kita pun
beradu kepandaian!”
Chian sian kun sangat terkejut, tergopoh-gopoh dia melompat
kesamping utk menghindarkan diri.
Ternyata Rumang tdk mendesak maju dg goloknya, melihat sikap
si nona yg gelagapan, segera jengeknya sambil tertawa tergelak:
“Tak usah gugup perempuan jahat, aku kan Cuma kepingin
mencium bibirmu yg mungil, apa sih gunanya membunuhmu?”
Dg pipi bersemu merah, Chin sian kun segera mendesis, saking
marahnya ia segera melepaskan sebuah tusukan kedepan sambil
membentak:
“Anjing suku asing! Biar kupotong dulu lidah anjingmu itu!”
Ilmu pedang Liok hong kiam hoatnya yg diandalkan pun segera
dilancarkan, kilauan cahaya tajam yg berlapis-lapis segera
menyergap dan menggulung tubuh Rumang.
Tapi sepuluh gebrakan kemudian, semakin bertarung Chin sian
kun merasa semakin terperanjat, ia tak mengira sama sekali Rumang
yg pandai bicara kotor dan bebal macam kerbau itu sesungguhnya
memiliki ilmu golok yg luar biasa hebatnya.
Jangan dilihat bacokan demi bacokannya dilancarkan secara
ngawur dan tidak beraturan sama sekali, tapi kenyataannya semua
serangannya tak berhasil dibendungnya sama sekali malah ada
beberapa jurus serangannya yg nyaris menyambar tubuhnya.

Beberapa orang lelaki suku asing yg tak dikenal ini ternyata
memiliki ilmu silat yg sangat hebat, bukan saja membuat Chin sian
kun berubah wajah saking terkejutnya, dia pun merasa bingung da
tak habis mengerti darimana Kho Beng bisa mengumpulkan kawanan
manusia macam begini sebagai anak buahnya….
Kini tingal Mokim seorang yg berdiri sambil berpeluk tangan disisi
arena, jangan dilihat kawanan busuk dari luar perbatasan ini bengis
dan buas, ternyata mereka cukup memegang janji yg diucapkan, ia
tidak bermaksud mencari kemenangan dg mengandalkan jumlah
banyak.
Tapi situasi dlm arena pun makin lama berubah makin berbahaya
dan gawat, selain Kim losam yg berhasil merebut posisi lebih dulu
sehingga dg andalkan ruyung panjangnya utk bertarung jarak jauh
masih tetap mengendalikan keunggulannya, dua orang yg lain Cuma
bisa bertahan sama tanpa mampu melancarkan serangan balasan.
Terutama sekali Kim loji, berulangkali ia berusaha
memperpanjang jaraknya dg Hapukim, namun usahanya selalu
menemui kegagalan, malah serangkaian serangan golok dari
Hapukim sempat membuatnya kalang kabut dan terjebak dlm posisi
yg berbahaya sekali.
Atas terjadinya peristiwa ini tentu saja mempengaruhi juga
semangat Kim losam dlm pertarungan, kegelisahan yg mencekam
hatinya membuat dia nekad dan kurung musuh tapi niatnya tdk
pernah berhasil.
Masih untung Chin sian kun lebih cepat menyadari posisinya yg
tidak menguntungkan, melihat permainan golok Rumang yg aneh, ia
sadar tak mungkin bisa meraih kemenangan, maka dg
mengandalkan ilmu ringan tubuhnya yg sempurna, ia mulai
bertarung sistem gerilya, ternyata usahanya ini menampakkan hasil,
dari posisi yg terdesak sedikit demi sedikit ia berhasil mengimbangi
lawan.
Pertarungan sengit ini berlangsung hingga malam tiba tanpa
memberikan suatu hasil yg nyata, sebaliknya Chin sian kun makin
bertarung makin gelisah, sekarang ia baru mengerti bahwa
bertarung bukan suatu tindakan yg baik.
Jangan lagi pihaknya memang jauh lebih lemah ketimbang lawan,
demi kepentingan Kho Beng dia pun ragu-ragu didalam melancarkan
serangan sehingga hal ini berbalik malah merugikan pihaknya.

Berbeda sekali dg musuh yg tidak menguatirkan soal apapun,
pertarungan yg dilanjutkan pun paling banter hanya menghasilkan
kalah atau menang. Padahal kenyataan mengatakan bahwa
pihaknya yg pasti menderita kekalahan.
Dlm gelisahnya, tiba-tiba muncul akal cerdik dlm benaknya, dg
suara yg berat teriaknya:
“Ji hiap, sam hiap, bertarung terus macam begini bukan suatu
penyelesaian yg baik, lebih baik kita mengundurkan diri saja!”
Sembari berkata, secara beruntun dia melancarkan tiga buah
serangan dan segera melepaskan lebih dulu dari arena pertarungan.
Dua bersaudara Kim tampaknya mengerti, juga kalau usaha
mereka utk meraih kemenangan tak mungkin berhasil.
Melihat Chin sian kun telah meloloskan diri, mereka pun tak
berani bertarung lebih jauh.
Kim losam yg pertama-tama mendesak mundur Molim sampai
sejauh dua kaki lebih, begitu terlepas dari kepungan, ia segera
melompat kehadapan Hapukim sambil memutar ruyungnya kencangkencang.
Rumang sekalian berempat memang hebat didalam ilmu silat,
tapi sayangnya tak punya dasar yg kuat didalam ilmu meringankan
tubuh, melihat ketiga lawannya lenyap dibalik kegelapan dan tak
mungkin terkejar kembali, saking gusarnya Molim menghentakkan
kakinya berulang kali sambil mengumpat:
“Benar-benar keenakan telur busuk itu!”
Terutama sekali Rumang, kalau tadi masih cengar-cengir macam
kuda maka saat ini dicekam hawa amarah yg membara, teriaknya:
“Mak nya! Sebetulnya kita hendak memanfaatkan kesempatan
beristirahat utk mencari kesenangan, sekarang kita malah kelelahan
krn bertarung, aaai…benar-benar lagi apes!”
“Hmmm..buat apa kau berkaok-kaok tanpa guna” tegur Molim
sambil mendengus, “hari sudah malam, siapa tahu cukong kita
sudah menunggu, ayoh cepat pulang”
Maka mereka berempat pun pulang kekota Tong sia dg uringuringan,
mereka langsung menuju kerumah penginapan Say siang.
Tapi mereka tidak pernah menyangka, kalau dua bersaudara Kim
dan Chin sian kun yg sudah kalah tadi, justru menguntil dibelakang
mereka secara diam-diam.

Rupanya inilah taktik dari Chin sian kun, ia berpendapat kalau toh
keempat jago asing itu menyebut Kho Beng sebagai cukongnya,
otomatis mereka adalah pembantu-pembantu Kho Beng.
Karenanya daripada mencari penyakit buat diri sendiri, lebih baik
menguntil dibelakang secara diam-diam, sebab dg cara demikian
niscaya jejak Kho Beng akan ditemukan.
Maka setelah dia menyuruh dua bersaudara Kim mengikutinya
jauh dibelakang, ia sendiri segera mengeluarkan sebuah topeng kulit
manusia dan dikenakan diwajahnya.
Dlm waktu singkat dia telah berubah menjadi seorang dara cantik
yg lain pula raut mukanya, dg wajah seperti ini maka dia bisa
menguntil dibelakang Rumang sekalian secara terang-terangan.
Tapi dia tak menyangka kalau persoalannya sudah terjadi
perubahan semenjak semula, saat ini apakah Rumang sekalian bisa
menemukan kembali Kho Beng pun masih menjadi sebuah
pertanyaan besar.
Sementara itu Rumang, Hapukim serta dua bersaudara Mo telah
kembali kekota dan langsung menuju kerumah penginapan Say
siang yg telah disiapkan si kasir gemuk dari rumah makan Poan gwat
kie.
Baru saja mereka masuk Chin sian kun telah menyusul
dibelakangnya, sedang dua bersaudara Kim tidak ikut masuk,
mereka hanya melakukan pengawasan secara diam-diam dari
seberang jalan.
Sementara itu Kim losam sedang berbisik kepada Kim loji,
“Ji ko, Kho sauhiap menginap dirumah penginapan tsb....!”
“Chin toa moy sudah masuk kesitu,” sahut Kim loji lirih, “aku rasa
kita pun tak usah terlalu gelisah, ada disitu atau tidak segera kita
akan mendapat kabar!”
Tapi dia mempunyai perasaaan yg sama dg Kim losam, ia
berpendapat bahwa rumah penginapan yg dipakai Kho Beng utk
beristirahat sudah pasti penginapan Say siang tsb.
Siapa tahu belum habis ingatan tsb melintas lewat, tampak
Rumang sekalian berempat sudah melangkah keluar dari rumah
penginapan tsb dg langkah tergesa-gesa, wajah mereka kelihatan
marah bercampur mendongkol agaknya pertarungan yg berlangsung
tadi masi merupakan ganjalan dihati kecil mereka.

Menyusul kemudian Chi sian kun pun ikut menyusul keluar dari
penginapan itu, hal tsb membuat dua bersaudara Kim menjadi
tercengang dan tidak habis mengerti.
Secara diam-diam mereka segera munculkan diri dan
menyongsong kedatangan nona tsb, katanya:
“Adikku, mengapa mereka keluar lagi dari penginapan?”
Dg suara agak bimbang sahut Chin sian kun:
“Menurut penuturan pelayan penginapan, Kho sauhiap memang
telah menyuruh kasir gemuk dari rumah makan Poan gwat kie untuk
memesan kamar belakang, tapi hingga sekarang orangnya belum
nongol juga!”
“Lalu kemana perginya pemuda itu? Apakah mereka ragu?” tanya
Kim losam lebih jauh.
Chin sian kun menggelengkan kepalanya berulang kali,
“Menurut apa yg berhasil kusadap dari pembicaraan mereka,
tampaknya mereka sendiripun kurang begitu tahu kemana
majikannya telah pergi, sekarang mereka sedang melakukan
pemeriksaan dirumah makan Poan gwat kie, lebih baik kita pun
menggunakan cara sama, biar aku yg menguntit mereka, sementara
kalian menanti diluar, bila ada kejadian aku pasti akan mengundang
kalian utk masuk!”
Selesai berkata dg langkah tergesa-gesa ia segera mendahului
keempat orang tsb menuju kerumah makan Poan gwat kie.
Begitulah, tujuh orang yg terbagi dalam tiga kelompok segera
berangkat menelusuri jalan raya.
Menanti Chin sian kun sudah berada dalam rumah makan Poan
gwat kie, Molim sekalian baru tiba disitu dan langsung menegur si
kasir gemuk:
“Hey taoke, kemana perginya orang she Kho itu?”
“Ooh, rupanya kalian berempat” sahut si kasir sambil tertawa,
“bukankah Kho kongcu telah pergi kepenginapan Say siang utk
mencari kalian?”
Molim agak terpengaruh oleh jawaban itu, serunya lagi:
“Tapi menurut pemilik penginapan, ia bilang tak pernah
menjumpai bayangan tubuh majikan kami…!”
“Oya…?” kasir gemuk berseru tertahan dg wajah penuh
keheranan, “kalau begitu aku sendiri pun tdk tahu, sudah hampir
sejam yg lalu Kho kongcu pergi meninggalkan tempat ini.”
Mendadak Rumang berseru sambil tertawa bergelak:

“Ha…ha…ha…hey kasir gemuk, kau takusah mewakili majikan
kami utk berbohong….”
Dlm perkiraannya Kho Beng tak akan lebih sedang berbuat
mesum dg gadis-gadis cantik, sebaliknya kasir gemuk rumah makan
itu manafsirkan lain, tiba-tiba saja hatinya menjadi terkejut, sinar
matanya berkilat, buru-buru dia berkata:
“Toaya, kami adalah pedagang yg bermaksud mencari untung,
apa gunanya membohongi langganan?”
Sambil tertawa terkekeh-kekeh, Rumang menggoyangkan
tangannya sambil berseru:
“Itu mah tergantung persoalan apa yg sedang dihadapi, seperti
musim panas saat ini, akurasa inilah saat terbaik utk main
perempuan, lelaki manakah yg tidak romantis…?Ha…ha….apakah
majikan kami sudah kelengketan gula-gula sehingga enggan
meninggalkannya? Mungkin dia yg menyuruh kau berbohong agar
kami berempat menunggu lagi semalaman?”
Setelah mengetahui apa yg diartikan lawannya, kasir gemuk itu
menjadi geli sendiri, tapi segera ujarnya sambil menggelengkan
kepala,
“Harap tuan jangan salah paham, perempuan yg dijumpai Kho
kongcu tadi adalah sahabat karibnya, oleh sebab itu setelah masuk
kedalam tadi, mereka terlibat dalam pembicaraan yg asyik, tidak
seperti apa yg kalian duga, ia bukan perempuan lacur!”
Bila dipikirkan lebih seksama, maka jawaban yg diberikan
sekarang menjadi bertentangan dg pernyataan siang tadi.
Tapi sayang, keempat orang jago lihay dari luar perbatasan ini
tidak cermat sehingga tidak bisa menemukan kejanggalan tsb.
Hapukim nampak agak tertegun, lalu tanyanya,
“Lantas kemana perginya orang itu?”
“Apakah tuan berempat tidak pernah meninggalkan penginapan
tsb?” tanya kasir gemuk setelah berpikir sebentar.
Molim segera menjawab:
“Tadi kami telah bersua dg tiga orang bajingan dan terlibat dlm
suatu pertarungan yg sengit, baru saja kami pulang kepenginapan.”
“Aaah, tidak aneh kalau begitu” seru kasir tsb dg wajah
bersungguh-sungguh, “Siapa tahu Kho kongcu mendapat kalian
berempat sedang terlibat dlm perkelahian, sehingga dia segera pergi
mencari jejak kalian!”

Alasan tsb memang sesuai dg keadaan dan tidak mencurigakan,
oleh sebab itu Molim sekalian berempat segera manggut-manggut.
Kata Molim kemudian:
“Yaa, perkataan si gendut emang masuk akal, kalau begitu
terpaksa kita mesti menunggu dipenginapan saja!”
Dg berlalunya Molim, otomatis ketiga orang lainnya ikut
meninggalkan rumah makan Poan gwat kie tsb.
Ketika menghantar kepergian keempat orang tsb, sekulum
senyum aneh sekali segera melintas diatas wajahnya, dia mengira
tindakannya dlm menghadapi keempat orang asing itu sudah tepat
dan sempurna sekali.
Tentu saja dia tidak menyangka kalau disisi lain masih ada orang
yg menyelidiki jejak Kho Beng, jawaban yg diberikannya barusan
justru telah mengundang kecurigaan dalam hatinya.
Tak salah lagi, orang itu adalah si Walet terbang berwajah ganda,
Chin sian kun.
Saat ini dia duduk didekat pintu masuk dan berlagak seorang
tamu yg sedang memesan semangkuk mie, sewaktu melihat Molim
sekalian berempat pergi meninggalkan tempat itu, dia pun segera
meninggalkan uang utk beranjak keluar rumah makan tsb.
Baru saja melangkah keluar pintu, dua bersaudara Kim telah
menyongsong kedatangannya dg perasaan gelisah.
Agak kurang sabar Kim loji segera menegur,
“Apa yg telah terjadi? Kenapa keempat ekor anjing asing itu
keluar lagi dari sini? Kalau dilihat dari mimik wajahnya, ia seperti tak
berhasil menemukan Kho sauhiap?”
Chin sian kun manggut-manggut dg perasaan berat, katanya:
“Yaa benar, aku lihat Kho sauhiap sudah ditimpa kemalangan!”
Dua bersaudara Kim menjadi terkejut sekali, serentak mereka
berseru dg lirih:
“Kemalangan apa yg telah dialaminya?”
“Aku sendiripun kurang tahu, bisa jadi ia sudah ditangkap dan
disekap orang, bisa juga ia telah dibunuh atau dicelakai orang,
pokoknya aku melihat gelagat kurang beres!”
Paras muka Kim loji segera berubah hebat, buru-buru serunya:
“Sebenarnya apa yg telah terjadi?
Secara ringkas Chin sian kun menuturkan tanya jawab yg
barusan disadapnya, kemudian ia bertanya:

“Apakah kalian berdua tidak berhasil menemukan titik kelemahan
dibalik jawaban tsb?”
Kim loji termenung berapa saat, lalu sahutnya:
“Bila disimpulkan dari apa yg diketahui, tampaknya Kho sauhiap
telah bersua dg seorang perempuan dan masuk keruang belakang
rumah makan Poan gwat kie, sejak itu jejaknya hilang lenyap tak
berbekas!”
Chin sian kun segera manggut-manggut,
“Yaa, memang begitu, selanjutnya?”
Dg cepat Kim loji menggeleng, katanya lagi:
“Soal yg lain...aku pikir sudah tiada hal-hal yg mencurigakan
lagi...”
Chin sian kun segera tertawa merdu:
“Bagaimanapun juga, jalan pemikiran kalian orang laki-laki
memang kelewat ceroboh, tidak teliti, kalau menurut perasaanku,
kecurigaan yg terbesar justru terletak pada pertanyaan “sahabat
lama” tsb.
“Setiap orang pasti mempunyai sahabat lama, apa yg aneh dg
persoalan tsb?” seru Kim losam keheranan.
Chin sian kun mendengus:
“Menurut apa yg berhasil kudengar dari pembicaraan Bok sian
taysu, tidak sampai setahun berselang, Kho sauhiap masih berstatus
seorang pemotong kayu bakar dan menimba air diperguruan Sam
goan bun, bukan saja ia tidak mengetahui asal usulnya yg
sebenarnya, keluar dari dinding pekarangan barang selangkah pun
belum pernah, nah coba kalian pikirkan darimana datangnya
“sahabat lama” tsb?”
“Jangan-jangan ia sudah terpikat oleh kecantikan wajah
perempuan tsb?” kata Kim loji sambil berkerut kening.
Tiba-tiba saja timbul suatu perasaan yg sangat tidak enak dlm
hati Chin sian kun, perasaan tsb tak terlukiskan olehnya dg katakata.
Tapi segera katanya lagi sambil menggeleng:
“Menurut penilaianku pribadi, Kho sauhiap bukan seorang lelaki
yg suka main perempuan,itulah sebabnya dari dua hal aku
berkesimpulan bahwa Kho sauhiap telah menemui ancaman bahaya.
Pertama, seaktu memberi jawaban tadi, sorot mata si kasir
gemuk itu berkedip tak tenang, wajahnya menampilkan senyuman
palsu, jelas persoalan sekitar lenyapnya Kho sauhiap kemungkinan

berhubungan erat dg halaman belakang rumah makan Poan gwat kie
itu.
Kedua, kalau toh si kasir berbohong dg membuat alasan yg
bermacam-macam, hal ini membuktikan kalau dia memang
berkomplot dg perempuan tsb, ini berarti mereka adalah musuh,
bukan teman kita.”
Dg perasaan terkesiap, Kim loji segera berseru:
“Jadi menurut pendapatmu, rumah makan Poan gwat kie tsb
bukan rumah makan biasa tapi mempunyai persoalan besar yg amat
mencurigakan sekali?”
“Bukan hanya mempunyai masalah besar yg amat mencurigakan,
bisa jadi tempat tsb merupakan tempat kediaman sejumlah tokohtokoh
persilatan yg berilmu tinggi.”
“Kalau begitu, apa salahnya jika kita lakukan penggeledahan dari
belakang sana?” usul Kim lo ji cepat.
Buru-buru Chin sian kun berseru:
“Saat ini kita belum boleh berbuat begitu!”
“Kenapa?” Kim loji keheranan.
“Sebelum kita memahami lebih dulu, tokoh persilatan macam apa
dan berasal dari aliran manakah yg bersembunyi didalam ruang
belakang rumah makan Poan gwat kie tsb, jangan sekali-kali kita
bertindak secara gegabah, sebab bila kita sampai menyerbu kedalam
dan bertemu dg sahabat lama atau mungkin juga orang-orang dari
tujuh partai besar, bagaimana kita nantinya?”
Dua bersaudara Kim segera manggut-manggut, mereka dapat
merasakan betapa sempura semua pertimbangan dan pemikiran
Chin sian kun.
“Lantas apa yg harus kita lakukan sekarang?” tanya Kim loji
kemudian dg perasaan gelisah.
Chin sian kun memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu,
kemudian katanya:
“Aku telah berhasil mendapatkan sebuah cara yg menguntungkan
bagi kedua belah pihak, sekarang kita menghubungi dahulu
beberapa orang asing itu utk diajak bekerja sama, jika bertemu dg
orang yg dikenal atau orang dari tujuh partai besar maka biarlah
mereka yg tampilkan diri sementara kita membantu secara diamdiam
dg cara demikian kita bisa menghindari diri dari pelbagai
kesulitan yg mungkin terjadi.”

“Baru saja kita langsungkan pertarungan sengit, masa sekarang
hendak menemui mereka lagi? Seandainya orang-orang asing itu tak
mau percaya, bukankah kita bakal terlibat lagi dlm suatu
pertarungan yg seru?”
Chin sian kun menghela napas panjang,
“Demi keselamatan Kho sauhiap, demi merebut kepercayaan Bu
wi cianpwee terhadap kita, aku rasa kita tak mungkin
mempersoalkan masalah macam begitu lagi tapi asal kita bisa
menahan diri, aku rasa tak mungkin pertarungan segera bebrkobar
begitu kita saling bertemu nanti.”
“Yaa, terpaksa kita harus berbuat begitu.” Ucap Kim loji
kemudian sambil menghela napas, “sekalipun apa yg terjadi, kita
memang harus bisa mengendalikan emosi dan sabar. Mari kita
berangkat sekarang juga, jangan membiarkan waktu berlarut
sehingga terjadi hal-hal yg tak diinginkan, apalagi kalau sampai
menimbulkan kesalah pahaman Bu wi cianpwee terhadap kita.”
Maka mereka bertiga pun segera berjalan menuju kerumah
penginapan Say siang.
Setelah memasuki penginapan, mereka bertiga pun tidak
menyapa pelayan, dipimpin sendiri oleh Chin sian kun, mereka
langsung menuju kehalaman belakang dimana mereka berpapasan
langsung dg Rumang sekalian berempat.
Waktu itu Rumang sekalian berempat bermaksud akan jalan-jalan
dikota krn waktu masih pagi dan Kho Beng belum juga kembali.
Begitu berpapasan, air muka mereka segera berubah hebat.
Sambil menyeringai seram, Rumang segera berseru:
“Bagus sekali, rupanya kita bersua kembali disini, apakah kalian
belum puas dg pertarungan tadi?”
Chin sian kun tertawa terbahak-bahak, sambil melepaskan topeng
kulit manusia dari wajahnya, ia berkata:
“Harap kalian jangan menaruh curiga, sesungguhnya kedatangan
kami kali ini adalah ingin mengabarkan keadaan Kho sauhiap yg
sebenarnya.”
Orang-orang asing dari luar perbatasan ini tentu saja tak akan
mengerti ilmu menyaru muka, sewaktu Rumang sekalian melihat
paras muka Chin sian kun bisa berubah-ubah mereka menjadi
terkejut sekali, teriaknya kemudian dg suara seram:
“Siluman! Ada siluman!”

Tanpa banyak berbicara serentak mereka meloloskan senjata dan
bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan yg tak diinginkan.
Cepat-cepat Chin sian kun memperlihatkan topeng kulit
manusianya sembari memberi penjelasan:
“Aku bukan siluman, dg bantuan inilah kurubah wajah asliku yg
sebenarnya, kalian berempat tak usah gugup atau panik.”
Setelah diberi penjelasan, keempat orang itu baru bisa menjadi
tenang kembali.
Molim segera berkata dg suara berat:
“Kalau toh kalian sudah mengetahui kabar tentang cukong kami,
ada urusan apa kalian datang mencari kami?”
Dg wajah serius Chin sian kun berkata:
“Apakah kalian berempat belum tahu kalau Kho sauhiap telah
ketimpa mara bahaya?”
Molim agak etrtegun, lalu tanyanya kurang percaya:
“Bahaya apa?”
“Tadi aku telah menguntit dibelakang kalian berempat sewaktu
berada dirumah makan, akupun menjumpai bahwa kasir tsb sedang
membohongi kalian, apa yg dikatakannya kpd kalian Cuma bohong
semua.”
“Darimana kau bisa tahu?” sela Hapukim dg perasaan tidak habis
mengerti.
“Menurut apa yg kuketahui, majikan kalian sama sekali tak punya
teman lama, apalagi teman lama seorang perempuan.”
Mendengar perkataan tsb, Rumang segera tertawa terbahakbahak,
serunya:
“Ha…ha…ha….kau si perempuan dungu tahu apa, cukong kami
orangnya romantis, kau tahu perempuan yg ditemuinya tadi sama
cantiknya seperti kau, mana mungkin dia tidak terpikat oleh
keayuannya?”
Sambil berusaha menahan amarah dan gejolak emosinya, Chin
sian kun berkata lagi:
“Omong kosong! Kho sauhiap tidak suka main perempuan, dia
bukan manusia seperti apa yg kau lukiskan barusan, apalagi
bukankah si kasir telah mengatakan kalau Kho sauhiap telah
meninggalkan tempat itu? Seandainya ia tak ketimpa bahaya,
mengapa pula hingga sekarang belum kembali utk berkumpul dg
kalian?”

Perkataan tsb memang cukup beralasan dan bisa diterima dg akal
sehat, tanpa terasa Molim mulai tercenung sambil menelaah
persoalan mana.
Kembali Chin sian kun bertanya:
“Apakah kalian berempat pun tahu perempuan apakah yg ditemui
Kho sauhiap tadi?”
“Tentu saja kami tahu!” seru Rumang, “perempuan itu membawa
sebuah payung kecil berwarna putih….aaah benar dia pun memakai
baju putih dan menyisipkan sekuntum bunga putih diatas
sanggulnya.”
Begitu mendengar ciri-ciri perempuan tsb, dua bersaudara Kim
segera menjerit tertahan.
“Aaaah rupanya orang itu adalah perempuan berbaju yg telah
salah tegur tadi!”
Paras muka Chin sian kun pun berubah sangat hebat, katanya
sambil menghela napas.
“Aaaai....tampaknya apa yg telah terjadi memang tdk meleset
dari dugaanku, rumah makan Poan gwat kie benar-benar
mencurigakan sekali tapi aku memang lagi berpikir masa dikolong
langit benar-benar ada kejadian yg begitu kebetulan, tapi setelah
ditinjau kembali sekarang, dpt disimpulkan bahwa kesemuanya ini
memang merupakan suatu siasat busuk yg sengaja telah
dipersiapkan, hanya satu masalah yg belum terjawab adalah tokoh
persilatan manakah yg menyelenggarakan rumah makan Poan gwat
kie itu?”
Sesudah berhenti sejenak, segera katanya lagi kepada Molim,
“Mo lotoa, sekarang kita tak boleh menunda waktu lagi, sebab
bila sampai terlambat besar kemungkinan jiwa Kho sauhiap akan
terancam oleh bahaya maut.”
Sementara itu Molim sudah mulai mempercayai perkataan Chin
sian kun, tapi rasa curiga belum juga lenyap sama sekali, katanya
kemudian:
“Kalau toh kau dapat menduga semua persoalan sejelas itu,
mengapa kau masih datang juga membuat gara-gara dg kami?”
Tentu saja Chin sian kun tak bisa membeberkan semua duduk
prsoalan dg begitu saja, ia tahu bahwa masalah budi dan dendam
tak mungkin bisa dijelaskan dg sepatah dua patah kata saja.
Dalam keadaan terpaksa, akhirnya dia sengaja berbohong,
katanya dg gelisah:

“Mo lotoa memang terlalu banyak curiga, seandainya aku tdk
menemukan kalau dibelakang rumah makan tsb berdiam banyak
sekali jago-jago lihay dan mungkin kami bertiga tak bisa
menghadapinya sendiri, kenapa kami tak datang mencari kalian?”
Ketika mendengar perkataan itu, Rumang segera berteriak keras:
“Semenjak melangkah masuk kedaratan Tionggoan, belum
pernah kami jumpai jago-jago yg hebat disini, ayoh berangkat, kita
bekuk dulu di tauke gemuk seperti babi itu dan tanyakan
persoalannya sampai jelas, bila ia terbukti sedang membohongi kita,
biar ku obrak abrik rumah makannya dulu kemudian baru menyerbu
kedalam.”
Molim segera manggut-manggut pertanda setuju.
Keempat orang ini sama sekali tidak mengkuatirkan keselamatan
jiwa Kho Beng, mereka Cuma kuatir kehilangan kesempatan
memperoleh kitab pusaka Thian goan bu boh sehingga impian baik
menjadi sia-sia.
Melihat sikap orang-orang tsb, dg cepat Chin sian kun
menggoyangkan tangannya sambil mencegah,
“Eeeh.....tunggu sebentar, kalian tidak boleh bertindak dlm
keadaan begini!”
“Mengapa tidak boleh?” tanya Rumang sambil melotot.
Chin sian kun tahu bahwa orang-orang tsb berpikiran amat
sederhana, maka segera jelasnya,
“Sekarang malam belum kelam, suasana dijalanan masih ramai,
sedangkan rumah makan Poan gwat kie pun terletak disisi jalan
besar, bila kalian menyerbu dlm keadaan begini secara kekerasan,
bukan saja tindakan mana akan menarik perhatian pembesar kota,
juga mengacau ketentraman sekitar lingkungannya, berbicara buat
kepentingan kita, hal ini lebih banyak ruginya ketimbang untungnya.
Toh persoalan belum sampai berkembang kelewat gawat
sehingga persoalan ini pun tak usah diselesaikan secara tergesagesa,
mari kita tunggu sampai suasana sudah tenang, biar aku
masuk dulu melakukan penyelidikan, setelah itu baru memanggil
kalian berempat, pokoknya kita mesti melakukan sergapan
mendadak, agar mereka menjadi gelagapan setengah mati.”
Maka mereka bertujuh pun utk sementara waktu menanggalkan
sikap permusuhan utk bersama-sama merundingkan aksi berikut.
Kim loji juga segera diutus pulang kepenginapan Hiong hien utk
melaporkan kejadian yg sebenarnya kpd Bu wi lojin, sementara ia

sendiri berangkat kepenginapan Say siang, dimana semuanya sudah
menunggu saat utk bertindak.
Benarkah nasib Kho Beng sedang terancam bahaya maut?
Ya benar, segala sesuatunya memang tdk meleset dari perkiraan
Chin sian kun, saat ini posisinya berbahaya sekali krn harus memilih
antara hidup dan mati.
oooOooo
Dibelakang rumah makan Poan gwat kie terdapat sebuah
bangunan loteng yg berdiri sendiri.
Bangunan tsb tidak jauh berbeda seperti bentuk bangunan rakyat
sekitarnya, antara rumah makan pun hanya selisih sebuah lorong
serta dua lapis dinding pekarangan, sekilas pandang kedua
bangunan tsb tidak ada hubungannya, tapi yg benar ada lorong
rahasia yg menghubungkan kedua tempat tsb.
Waktu itu disebuah ruang rahasia yg tak berjendela diatas loteng
tsb, Kho Beng masih tergeletak diatas pembaringan dlm keadaan tak
sadar.
Disamping pembaringan berdiri dua orang dayang yg berdandan
medok, sementara perempuan berbaju putih yg mengaku sebagai
Ciu hoa duduk disamping pembaringan, sedang dimuka pintu berdiri
pula dua orang lelaki berbaju hitam.
Dihadapan perempuan berbaju putih itu dekat dinding ruangan
terletak sebuah kursi berwarna hitam, saat itu perempuan tadi
sedang memberi perintah dg wajah dingin.
Seret dan dudukkan dia diatas kursi itu, lalu sadarkan dg
semburan air, aku hendak memaksanya utk memberikan
pengakuan.”
Walaupun suara pembicaraan amat merdu bagaikan suara
burung nuri yg berkicau tapi sayang nada suaranya justru dingin
menggidikkan hati.
Dua orang dayang genit tadi segera enyahut dan membangunkan
Kho Beng dari pembaringan, setelah didudukkan dikursi, tiba-tiba
mereka menekan sebuah tombol sehingga muncullah tiga buah
gelang penjepit yg masing-masing menjepit leher Kho Beng serta
sepasang pergelangan tangannya. Dg jepitan itu otomatis Kho Beng
tak mampu bergerak lagi.
Menyusul kemudian seorang dayang muncul dg sebaskom air dan
diguyurkan keatas kepala pemuda tsb.

Tak ampun sekujur badan Kho Beng menjadi basah kuyup.
Dg guyuran air dingin itu, Kho Beng pun segera tersadar kembali
dari pingsannya.
Ketika mengetahui keadaan yg dialaminya, sambil menatap
perempuan berbaju putih itu tajam-tajam, bentaknya keras-keras:
“Siapakah kau?”
Perempuan berbaju putih itu tersenyum , ujarnya:
“Kho kongcu, sekarang kau hanya punya hak utk menjawab,
tidak memiliki kesempatan utk bertanya lagi!”
Kho Beng mendengus dingin, diam-diam ia mencoba mengatur
napas, tapi dg cepat diketahui bahwa hawa murninya tak bisa
terhimpun kembali, hal ini membuat hatinya amat terperanjat.
Sementara itu, perempuan berbaju putih tadi telah berkata lagi
sambil tertawa:
“Walaupun kau sudah sadarkan diri, namun daya kerja obat tsb
belum hilang sama sekali, kuanjurkan kepadamu tak usahlah
membuang tenaga dg percuma, lebih baik jawab saja semua
pertanyaanku.”
Dg sedih Kho Beng menghela napas, dia menyesal sekali atas
keteledoran dirinya, tapi keadaan sudah berubah, disesalipun tak
ada gunanya, dlm keadaan demikian dia hanya berharap agar
Rumang sekalian berempat mengetahui tentang hilangnya dia dan
melakukan penggeledahan hingga kesitu.
Saat ini, diapun menaruh curiga atas asal usul lawannya,
mengapa ia bersikap demikian tehadap dirinya? Siapakah mereka
sebenarnya?

Dorongan rasa ingin tahu justru membuat sang pemuda bersikap
lebih tenang lagi, katanya kemudian dg suara hambar:
“Baik, bila ingin bertanya, silahkan bertanya!”
Perempuan berbaju putih itu manggut-manggut, katanya:
“Aku berharap kau bisa tahu diri dan memberikan jawaban
sebaik-baiknya, asal kau bersedia bekerja sama, kujamin nyawamu
tak akan kami ganggu barang seujung rambut pun, tapi bila menolak
aku sangat mengkuatirkan kehidupanmu selanjutnya.”
“Aku cukup memahami keadaanku sekarang!” sahut Kho Beng
dingin.
“Bagus sekali” perempuan berbaju putih itu kegirangan,
“sekarang jawablah pertanyaan yg pertama, dimanakah gurumu Bu
wi saat ini?”

“Aku sendiripun tidak tahu…” sahut Kho Beng rada melengak.
Perempuan berbaju putih itu segera tersenyum, kembali ujarnya:
“Pertanyaan ini boleh saja tidak kau jawab, asal kau bersedia
mengutarakan kabar berita tentang kitab pusaka Thian goan bu boh,
itupun sama saja buat kami.”
Seketika itu juga Kho Beng merasakan hatinya bergetar keras,
serunya tanpa sadar:
“Apa kau bilang?”
“Aku ingin mengetahui tentang jejak kitab pusaka Thian goan bu
boh itu…..?”
“Darimana aku bisa tahu tentang jejak kitab pusaka Thian goan
bu boh tsb?” seru Kho Beng tercengang.
Tiba-tiba perempuan berbaju putih itu menarik wajahnya sambil
berkata:
“Hmmm…sandiwara mu memang kau perankan secara bagus
sekali, tapi aku berharap kau lebih menghargai jiwamu dan jangan
bersandiwara terus…..”
Secara seksama Kho Beng membayangkan kembali semua
pertanyaan yg diajukan lawan, lalu dikaitkan satu dg lainnya,
mendadak satu ingatan melintas dlm benaknya, tanpa terasa dia
berseru:
“Apakah kau adalah dewi In nu?”
Perempuan berbaju putih itu nampak tertegun, tapi segera
sahutnya sambil tertawa,
“Siancu adalah orang yg anggun, dia tak akan menampakkan diri
semaunya sendiri, aku tak lebih hanya salah seorang anak buahnya,
Ciu hoa Leng cu!”
Sekarang Kho Beng baru mengerti apa sebabnya pihak lawan
menanyakan tentang Bu wi lojin, lalu bertanya pula tentang kitab
pusaka Thian goan bu boh, tampaknya secara kebetulan Bu wi lojin
berada pula di kota Tong sia dan berhasil mendapatkan kembali
kitab pusaka tsb.
Itulah sebabnya kehadiran yg tak disengaja ditempat tsb, segera
disalah artikan kalau dia memang berjalan bersama Bu wi lojin…..
Sementara dia masih merenungkan persoalan tsb, Ciu hoa
Lengcu telah ebrkata kembali,
“Kalau toh kau sudah memahami identitas yg sebenarnya, aku
rasa kau tak bisa mengatakan tak tahu lagi bukan? Gurumu telah
menyusup kedalam istana Siancu dan mencuri kitab pusaka tsb, tapi

akibatnya ia sendiripun menderita luka parah, aku telah membawa
orang melakukan pengejaran sampai disini, aku yakin tentang
persoalan inipun sudah kau ketahui pula, Nah…sekarang ingin
kulihat apakah kau bersedia mengaku atau tidak?”
Sekarang Kho Beng sudah mengetahui semua duduk persoalan
yg sebenarnya, rasa kaget dan girang segera menyelimuti
perasaannya.
Ia terkejut krn Bu wi lojin telah menderita luka parah dan tidak
diketahui apakah jiwanya terancam atau tidak.
Tapi diapun gembira krn kitab pusaka tsb telah berhasil direbut
kembali, lagi pula asal dapat menjumpai Bu wi lojin, berarti dia akan
segera mengetahui kabar berita tentang dewi In nu tsb.
Soal ini jelas akan bermanfaat sekali bagi usahanya utk
membalas dendam, sebab dia tak usah melakukan pencarian lagi
secara membabi buta.
Berpikir sampai disitu, tanpa terasa lagi dia berkata sambil
tertawa dingin:
“Aku sedikit tidak mengerti dg perkataanmu barusan!”
“Dalam hal apa kau tidak mengerti?” tanya Ciu hoa Leng cu agak
tertegun.
Menurut apa yg kuketahui, kitab pusaka Thian goan bu boh
adalah benda milik Bu wi cianpwee, jadi sudah sepantasnya bila dia
mengambilnya kembali, darimana kau mengatakan bahwa dialah yg
telah mencuri? Atas dasar apa pula lau menyuruh aku memberikan
pengakuan?”
Paras muka Ciau hoa Lengcu segera berubah sedingin es,
katanya dg suara sinis:
“Tiada benda mestika yg mempunyai pemilik tetap, siapa yg
mendapatkan dialah pemiliknya yg sah.....sekarang, akupun tak
berhasrat utk ribut terus dg mu, aku hanya ingin tahu, sebenarnya
kau bersedia menjawab tidak?”
Kho Beng tertawa terbahak-bahak....
“Ha…ha…ha…aku baru saja masuk kekota Tong sia, duduk saja
belum hangat, darimana aku bisa mengetahui tempat tinggal Bu wi
cianpwee? Apa pula yg harus kuberikan kepadamu?”
Sebenarnya apa yg dia katakan memang merupakan suatu
kenyataan, namun bagi pendengaran Ciu hoa Lengcu, hal tsb
dinilainya sebagai alasan Kho Beng utk menampik memberi jawaban.
Dg gemas perempuan itu segera mendengus dingin, katanya:

“Hmmm..jangan kau anggap banyak kejadian yg berlangsung
begitu kebetulan didunia ini, tampaknya sebelum kugunakan sedikit
tindakan yg tegas kau tak akan memberi pengakuan yg
sebenarnya….”
Berbicara sampai disitu, ia segera berpaling dan perintahnya
kepada kedua orang dayangnya itu:
“Laksanakan siksaan, cabut dulu otot-otot kakinya!”
Ciu hoa Lengcu betul-betul seorang yg tak berperasaan, ternyata
ia bisa merubah sikapnya secara wajar, seakan-akan ada dua orang
yg berbeda saja.
Dua orang dayang itu segera mengiakan, serentak mereka
mencabut keluar sebilah pisau belati dari sakunya, kemudian
bersiap-siap akan merobek celana Kho Beng.
Tak terlukiskan rasa terkejut Kho Beng menghadapi kejadian ini,
buru-buru ia membentak keras:
“Tunggu sebentar!”
Teringat dendam sakit hatinya yg belum terbalas, ia merasa tak
rela utk mati dg begitu saja, apalagi ia dpt merasakann kalau
lawannya sangat percaya dg perkataannya. Ia bertekad hendak
membohongi orang-orang tsb sambil berusaha mengulur waktu.
Tampak Ciu hoa Lengcu mencibirkan bibirnya sambil tertawa
dingin lalu katanya:
“Kho Beng, saat ini belum terlambat bila kau bersedia mengakui
tempat persembunyian gurumu.”
Kho Beng berlagak termenung sebentar, lalu katanya dg wajah
bersungguh-sunguh,
“Bila kuberikan pengakuan, apakah kau benar-benar akan
membebaskan diriku?”
“Tentu saja, setiap perkataan yg kuucapkan tak pernah diingkari
kembali!”
Kho Beng segera manggut-manggut, dia mencoba mengawasi
sekejap sekeliling tempat itu, ketika tidak melihat ada jendela disana
sehingga tak diketahui jam berapa sekarang, maka tanyanya
kemudian:
“Jam berapa sekarang?”
“Buat apa kau bertanya soal waktu?” tegur Ciu hoa Lengcu sambil
berkerut kening, agaknya kau berharap keempat orang liar itu bisa
datang menolongmu?”

Tak terlukiskan rasa terkesiap Kho Beng sewaktu rahasia hatinya
terungkap, segera tegurnya.
“Kau telah apakan keempat orang anak buahku itu?”
Ciu hoa Lengcu segera tertawa dingin, katanya:
“Kenapa aku mesti bersusah payah mengerjai keempat anjing liar
tsb?”
Sekarang besar kemungkinan mereka sedang bertarung matimatian
melawan Kim kong sam pian sekalian, aku rasa mereka tiada
kesempatan lagi utk mengurusi keselamatan dirimu.”
Sekali lagi Kho Beng merasa terkejut sekali tanpa terasa dia
menghela napas sedih:
Dia tidak mengerti apa sebabnya Rumang sekalian bisa terlibat
dlm pertarungan melawan Kim kong sam pian sekalian, tentu saja
dia pun mengerti bahwa kepandaian silat yg dimiliki Rumang
sekalian berempat sama sekali tdk berada dibawah kemampuan Kim
kong sam pian, andaikata tiga bersaudara Kim mendapat tugas utk
mencari jejaknya, sudah pasti dibelakang mereka masih ada bala
bantuan yg lebih besar lagi, ini berarti keselamatan jiwa keempat
anak buahnya terancam bahaya maut.
Sementara dia masih termenung, terdengar Ciu hoa Lengcu
membentak lagi dg suara dalam:
“Sebenarnya kau bersedia utk bicara atau tidak?”
Dlm keadaan seperti ini, Kho Beng hanya bisa berusaha utk
mengulur waktu maka sahutnya dingin:
“Jika kau enggan memberitahukan waktu kepadaku, bagaimana
mungkin aku bisa memberitahukan kepadamu?”
“Baiklah, kuberitahukan kepadamu pun apa salahnya, sekarang
menjelang kentongan pertama!”
Bu wi cianpwee pernah memberitahukan kepadaku tentang tiga
tempat yg bisa kudatangi, kalau sekarang memang sudah menjelang
kentongan pertama berarti dia orang tua sudah berangkat sepuluh li
diluar kota dan menantikan kedatanganku disebuah kuil dewa tanah.
Ciu hoa Lengcu segera berpaling sambil menurunkan perintah,
“Sampaikan kepada komandan pasukan baju hitam, bawa
segenap anak buah dan lakukan pencarian yg seksama disetiap kuil
yg ada pada radius sepuluh li diluar kota, tapi hati-hati kepandaian
silat dari setan tua itu belum lenyap kemampuannya masih perlu
diperhitungkan, katakan kepada mereka agar bertindak hati-hati bila

perlu lakukan pengepungan yg ketat, awas kalau sampai kebobolan
lagi, hati-hati dg batok kepala mereka..!”
Salah seorang diantara lelaki berbaju hitam yg berdiri didepan
pintu segera mengiakan dan beranjak pergi dari situ.
Jilid 17
Sepeninggal orang itu, Ciu hoa Lengcu berkata lagi kepada Kho
Beng sambil tersenyum,
“Asal alamat yg kau berikan itu benar, aku segera akan
membebaskan dirimu dlm keadaan hidup!”
Melihat kesemuanya itu, diam-diam Kho Beng berpikir:
“Untuk menempuh jarak sepuluh li pulang balik, paling tdk
mereka membutuhkan waktu setengah jam lebih, bila Rumang
sekalian berempat dpt melepaskan diri dari kurungan tiga
bersaudara Kim, seharusnya mereka telah sampai pula disini!”
Belum habis ingatan tsb melintas lewat, tampak lelaki yg
menyampaikan perintah tadi sudah muncul kembali dan berdiri
didepan pintu seraya berkata:
“Lapor Lengcu, komandan pasukan baju hitam menyatakan
kecurigaannya...”
Dg kening berkerut Ciu hoa Lengcu berkata:
“Apa yg dia curigakan?”
“Menurut laporan komandan Sin, sepuluh li disekitar kota Tong
sia sama sekali tidak terdapat kuil dewa tanah!”
Mendengar laporan tsb, seketika itu juga Kho Beng merasa
terkejut sekali.
Ia sama sekali tdk menyangka kalau bohongan yg pertama
segera dibongkar lawan, tapi tidak mau ia menyerah dg begitu saja,
sambil tertawa dingin segera katanya:
“Kalau begitu sungguh mengherankan, orangnya saja belum
keluar pintu rumah, darimana dia bisa tahu kalau sepuluh li
disekeliling kota tidak terdapat sebuah kuil dewa tanah?”
Tapi dg wajah sinis Ciu hoa Lengcu telah berkata sambil tertawa
dingin:
“Tak ada salahnya kuberitahukan kepadamu, Komandan Sin
adalah penduduk asli kota ini, boleh dibilang ia sudah menguasai
penuh keadaan diluar maupun didalam kota Tong sia,
hmmmm.....bila kau ingin hidup terus, lebih baik jangan bermain gila
dg kami.”

Berada dlm keadaan seperti ini, mau tak mau Kho Beng harus
berperan lebih jauh, dg kening berkerut katanya:
“Tapi Bu wi cianpwee dg jelas mengatakan kepadaku, bila ingin
bertemu dgnya sekitar kentongan pertama, aku diharuskan pergi
kekuil diluar kota, mana mungkin keterangan ini bisa keliru?”
Melihat kesungguhan hati Kho Beng sewaktu berbicara, Ciu hoa
Lengcu segera memutar biji matanya sambil termenung, agaknya dia
belum bisa mengambil keputusan.
Tapi setelah berpikir beberapa waktu, segera perintahnya kpd
lelaki berbaju hitam itu,
“Coba tanyakan sekali lagi kepada Komandan Sin, benarkah
disekitar kota Tong sia tidak terdapat bangunan kuil lainnya?”
Lelaki berbaju hitam itu segera mengiakan dan buru-buru
beranjak pergi dari situ.
Tidak sampai setengah peminuman teh kemudian ia sudah
muncul kembali dg langkah terburu-buru, katanya kemudian:
“Komandan Sin telah membawa pasukan meninggalkan tempat!”
Ciu hoa Lengcu jadi tertegun, segera tegurnya, “Bukankah dia
mengatakan kalau disekitar kota tak ada kuil dewa tanah..?”
“Benar komandan Sin berkata sepuluh li disekeliling kota tak ada
kuil dewa tanah, namun ditimur kota terdapat sebuah rumah abu
dari keluarga Liok yg sudah terbengkalai, bisa jadi orang she Kho ini
sudah mengartikan rumah abu sebagai kuil dewa tanah, karena itu
utk berlomba dg waktu komandan telah berangkat lebih dulu!”
Ciu hoa Lengcu segera manggut-manggut, katanya memuji:
“Cara bekerjanya memang cekatan dan tegas, bagus sekali kau
boleh berjaga dimuka pintu.”
Selesai berkata, ia berpaling lagi kearah Kho Beng sambil ujarnya
lebih jauh.
“Nah, sudah kau dengar?”
Memanfaatkan kesempatan tsb, Kho Beng segera berseru:
“Yaa memang benar, tempat pertemuan yg dimaksudkan Bu wi
cianpwee memang sebuah rumah abu bukan kuil dewa tanah seperti
yg kumaksudkan tadi, tak kusangka siasatku dg menunjuk
menjangan sebagai kuda segera terbongkar oleh kecerdikan kalian,
padahal maksudku bisa mengulur sedikit waktu...yaaa tampaknya
memang susah utk membohongi orang pintar macam kalian!”
Ciu hoa Lengcu tertawa dingin.

“Sampai saat ini aku masih mempercayai dirimu, paling banter
setengah jam kemudian aku akan segera tahu apakah laporan itu
benar atau tidak, jika kau membohongi aku, he...he....sampai
waktunya aku akan menyuruh kau rasakan kelihaianku!”
Selesai berkata ia segera bangkit dari tempat duduknya dan
dibawah iringan kedua dayangnya, ia beranjak meninggalkan
ruangan rahasia tsb.
Dua orang lelaki berbaju hitam yg berada didepan pintu itu
segera menutup kembali pintu ruangan rapat-rapat, lalu terdengar
pintu itu dikunci dari luar, ternyata Kho Beng telah disekap seorang
diri dlm ruangan tsb.
Setelah berada seorang diri, Kho Beng segera berusaha utk
menghimpun kembali tenaga dalamnya, tiba-tiba ia merasa aliran
hawa murninya berjalan lancar, kekuatan tubuhnya sama sekali tdk
menderita suatu apapun.
Hanya saja meski daya kerja obat telah hilang, tapi kedua jepitan
baja dikursi itu justru mengekang pergelangan tangannya secara
telak, sehingga walaupun ia memiliki tenaga dalam yg sempurna pun
tidak banyak kegunaannya.
Lambat laun Kho Beng mulai putus asa, setengah jam bukan
suatu jangka waktu yg terlalu lama, bila ia tak mampu
memanfaatkan kesempatan yg sedikit ini utk melepaskan diri dari
belenggu kursi besi tsb, jelas sudah kematian akan menjelang tiba.
Dlm waktu singkat, ia terbayang kembali dg cici nya yg berusaha
membalas dendam....teringat Bu wi lojin yg menderita luka parah
lalu si unta sakti berpunggung baja yg banyak melepaskan budi
kepadanya...Rumang, Hapukim sekalian....
Disaat pikirannya kalut dan dicekam rasa sedih inilah, si Walet
terbang berwajah ganda Chin sian kun, Kim kong sam pian serta
Rumang sekalian berempat telah sampai dimuka rumah makan Poan
gwat kie.
Waktu sudah menunjukkan tepat kentongan pertama, yg aneh
adalah utusan yg dikirim Ciu hoa Lengcu ternyata belum juga
kembali, sedangkan waktu itu Chin sian kun telah memasuki rumah
makan Poan gwat kie utk melakukan pelacakan terhadap jejak Kho
Beng.
Seusai berunding, maka Chin sian kun segera memberi tanda
kepada Rumang sekalian berempat agar mengikutinya melompat

naik keatap rumah disamping rumah makan Poan gwat kie dan
langsung menyusup kebangunan belakang....
Menungu sampai bayangan tubuh Chin sian kun sudah lenyap
dari pandangan, Kim loji serta Kim losam baru saling berpandangan
sekejap lalu menggedor pintu rumah makan Poan gwat kie keraskeras.
Waktu itu sebagian besar penduduk disekitar sana sudah terlelap
tidur, tapi suara gedoran pintu yg keras itu hampir saja
menggetarkan seluruh jalanan.
Ditengah suara gedoran keras ,pintu gerbang rumah makan Poan
gwat kie yg sudah tertutup itu segera memancarkan sinar lentera,
lalu kedengaran seseorang mengumpat:
“Kurangajar! Siapa yg sudah bosan hidup? Malam-malam begini
menggedor pintu?”
“Mak nya!” umpat Kim losam pula, “Kenapa tiada suara jawaban?
Memangnya semua penghuni rumah ini sudah pada mampus?”
Suara gedorannya makin lama semakin bertambah keras, nyaris
pintu itu didobrak dg kekerasan.
Tak lama kemudian pintu dibuka orang, Kim loji dan Kim losam
segera berlagak marah-marah dan langsung menyerbu masuk
kedalam ruangan....
Dg wajah kaget bercampur gusar tampak dua orang pelayan
menegur dg keras:
“Mau apa kalian?”
“Cepat panggil keluar pemilik rumah makan ini, aku hendak
berbicara dg nya!” seru Kim loji sambil menarik muka.
Salah seorang diantara pelayan itu segera mendengus dingin,
katanya:
“Hey sobat, coba lihat dulu, sekarang ini pukul berapa..?”
“Pukul berapa pun buat kami sama saja!” tukas Kim losam kasar,
“Kalau kalian tidak segera melaporkan kedatangan kami, jangan
salahkan bila ku obrak abrik rumah makan ini lebih dulu!”
Belum selesai perkataan itu diutarakan, tiba-tiba dari balik pintu
belakang ruangan sudah terdengar seseorang menjengek sambil
tertawa dingin,
“Hmm....besar amat bacotmu, sobat dari manakah yg sudah
tertarik dg rumah makan Poan gwat kie ku ini?”

Sambil berkata tampak seorang lelaki pendek bertubuh gemuk
telah munculkan diri dari dalam ruangan, dia tak lain adalah Ong
ciangkwee.
Namun setelah melihat jelas wajah dua bersaudara Kim, ia
kelihatan agak tertegun, lalu serunya :
“Ada urusan apakah ditengah malam buta begini kalian berdua
mencari aku orang she Ong?”
Nada suaranya jauh lebih lembut dan lunak.
“Boleh aku tahu siapa nama Ong ciangkwee?” seru Kim loji
dingin.
Seperti juga sikapnya disiang hari tadi, senyuman pura-pura
segera menghiasi wajah Ong ciangkwee, ujarnya sambil tertawa:
“Tuan berdua kelewat serius, masa aku seorang saudagar pun
punya nama besar? Aku bernama Ong kui sudah lama membuka
usaha rumah makan disini, bolehkah aku tahu dalam hal mana aku
telah menyalahi tuan berdua?”
Kim loji mendengus dingin:
“Hey tauke Ong, dalam mata yg sehat tak akan kemasukan pasir,
janganlah menggunakan kata-kata yg kosong, terus terang saja,
kedatangan kami kesini adalah utk mencari seseorang!”
“Mencari seseorang? Siapa yg kalian cari?” tanya Ong kui purapura
tertegun.
“Siapa lagi? Tentu saja Kho Beng!”
“Kho Beng?” kembali Ong kui berlagak tercengang, “rasanya
belum pernah kudengar nama tsb….”
Kim loji menjadi sangat marah, tegurnya:
“Hey orang she Ong! Pentang matamu lebar-lebar, ketahuilah
bahwa Kho Beng adalah buronan yg sedang dicari-cari segenap
umat persilatan, bila kau berani menyembunyikan dirinya,
hmmm….sudah bosan hidup nampaknya….?”
Sementara itu Kim losam juga turut menimbrung, katanya:
“Tauke Ong, kuanjurkan kepadamu agar bertindak lebih terbuka,
terus terang saja kukatakan, tanpa sumber berita yg bisa dipercaya,
kami tak bakal menggedor pintu rumahmu ditengah malam buta!”
Ong kui kelihatan panik, tapi mati-matian ia enggan mengaku,
tangkisnya:
“Tuan berdua, belum pernah ada kejadian macam begitu
ditempat kami, aku Ong kui sudah tiga generasi membuka usaha
ditempat ini, sungguh mati aku tidak kenal dg orang she Kho itu....”

Jawaban semacam ini pada dasarnya telah berada dalam dugaan
dua bersaudara Kim, maka sambil menarik muka Kim loji berkata:
“Hey tauke Ong! Bolehkah aku menggeledah tempatmu?”
Menurut perkiraannya, pihak lawan tak akan mengabulkan
permintaan itu, maka asal orang itu menyatakan keberatan, Kim lo ji
sudah bersiap sedia merusak perabot yg berada disana dan
memancing terjadinya keributan sehingga memancing perhatian
orang-orangnya kesitu.
Dg cara demikian, Chin sian kun tentu akan mempunyai cukup
waktu utk melakukan penggeledahan secara seksama.
Siapa tahu pemilik rumah makan tsb tidak menunjukkan
keberatannya, malah sambil manggut-manggut katanya:
“Boleh, boleh saja, kalau toh kalian berdua tak percaya dg
perkataanku, silahkan saja masuk utk melakukan pemeriksaan, asal
kalian bisa menemukan orang she Kho tsb, aku bersedia
menyerahkan usahaku ini kepada kalian berdua!”
Jawaban tsb segera membuat Kim bersaudara jadi tertegun,
tanpa terasa mereka mulai berpikir:
“Benarkah Kho Beng sudah pergi dari sini? Ayaukah ia sudah
dibokong dan sekarang telah dipindahkan ketempat lain?”
Dari tujuhorang yg ada, rupanya mereka membagi diri menjadi
dua rombongan, satu rombongan memeriksa secara terang-terangan
sedang yg lainnya melakukan pemeriksaan secara diam-diam, hal ini
dimaksudkan agar semua bagian tempat diperiksa dg seksama.
Tapi setelah lawan membolehkan utk digeledah, hal ini segera
memberi firasat kepada Kim loji bahwa usaha mereka
melakukanpenggeledahan tak akan menghasilkan apa-apa.
Tapi dari pada pulang dg begitu saja lebih baik dilakukan
pemeriksaan kedalam, siapa tahu masih ada tanda-tanda yg
ketinggalan?
Karena berpendapat demikian, maka sambil manggut-manggut
katanya kemudian:
“Baiklah, kalau begitu harap tauke suka menjadi petunjuk
jalan....”
Tauke Ong segera memerintahkan kedua orang pelayannya utk
menjaga pintu, sedang kepada dua bersaudara Kim dipersilahkan
mengikuti dibelakangnya masuk kedalam.

Sambil menghimpun hawa murninya dan bersiap sedia
menghadapi segala kemungkinan yg tak diinginkan, dua bersaudara
Kim masuk keruang belakang.
Disekitar ruangan mereka saksikan ada tujuh delapan orang lelaki
yg berkerumun sambil menanyakan persoalan yg terjadi.
Sepintas lalu orang-orang itu nampak seperti pegawai rumah
makan, tapi bagi dua orang bersaudara Kim yg cukup
berpengalaman, dalam sekilas pandang saja ia dapat melihat dg
jelas bahwa beberapa orang diantara mereka memiliki kening yg
menonjol tinggi, jelas mereka adalah jago-jago yang berilmu sangat
tinggi.
Tanpa terasa, rasa kaget yg mencekam makin menyelimuti
perasaan kedua orang itu.
Dalam pada itu, tauke Ong telah mengulapkan tangannya sambil
berkata:
“Kalian tak usah mengada-ada, disini tak ada persoalan, ayoh
kembali kekamar masing-masing!”
Selesai berkata, dia mengajak dua bersaudara Kim melakukan
pemeriksaan yg teliti atas setiap ruangan yg ada disana.
Baik kim loji maupun Kim losam sama sekali tak menyangka
kalau bangunan dibelakang rumah makan Poan gwat kie diatur
serapi dan sehebat itu.
Kebun yg luas dan bangunan rumah yg megah sama sekali tak
kalah dg rumah hartawan kaya, terutama sekali jumlah kamarnya yg
begitu banyak, rasanya tak kalah dg rumah penginapan pada
umumnya.
Tanpa terasa Kim loji tertawa dingin dan sengaja ejeknya,
“Hey tauke, tidak kusangka dibelakang rumah makanmu ternyata
dibuka pula usaha penginapan!”
“Kalian berdua jangan salah paham” buru-buru tauke Ong
menjelaskan, “aku hanya suka menerima teman sehingga sengaja
membangun.
Betapapun besarnya kecurigaan dua bersaudara Kim terhadap
tempat itu, sekarang mereka tak sanggup bicara lagi.
Sesudah menghela napas sedih, Kim loji segera menjura seraya
berkata:
“Maaf atas gangguan kami malam ini, dikemudian hari kami tiga
ruyung dari Tong ting pasti akan datang lagi utk minta maaf!”

“Ooooh....rupanya tiga bersaudara Kim yg termasyur namanya”
seru tauke Ong, “sudah lama kudengar nama besar Kim kong sam
pian, he...he...he...kesalah pahaman semacam ini belum berarti apaapa,
bagaimana kalau kita minum arak sampai pagi?”
Tentu saja Kim loji tak punya muka utk berdiam lebih lama
disana, dg wajah bersemu merah, buru-buru tampiknya,
“Biarlah maksud tauke kami terima dihati saja, maaf kami harus
mohon diri lebih dulu karena ada urusan lain.”
“Aaah, mana....” Ong kui tertawa mengejek.
Baru saja mereka bertiga berjalan menelusuri kebun, mendadak
tampak sesosok bayangan hitam melayang turun persis dihadapan
mereka, ternyata orang itu adalah Chin sian kun.
Kim loji dan Losam sama-sama menjadi tertegun, tegurnya
berbareng:
“Hey, mengapa kaupun kemari?”
Tentu saja dibalik pertanyaan tsb masih terkandung pertanyaan
lain.
Setengah mengomel Chin sian kun berkata:
“Sudah hampir setengah harian lamanya kami menunggu
kedatanganmu berdua, tapi belum juga nampak kalian datang!....aku
toh tak bisa dibiarkan berdiri dibawah langit sambil minum embun
dingin.”
Tauke Ong segera tertawa terbahak-bahak, katanya cepat:
“Ha....ha....ha....tidak kusangka rumah makan Poan gwat kie ini
bisa menarik perhatian begitu banyak jago lihay pada malam ini,
entah siapakah lihiap ini?”
Dg langkah yg lemah gemulai Chin sian kun maju mendekatinya,
sambil tersenyum dia berkata:
“Apakah kau adalah pemilik rumah makan ini?”
“Aaaah, mana, mana...” cepat-cepat Ong kui menjura, “walaupun
aku tak mengerti ilmu silat, namun aku paling kagum dg jago-jago
persilatan, sungguh menjadi kebanggaan bagiku bisa menerima
kunjungan dari lihiap......”
“Tauke memang pandai sekali berbicara” Chin sian kun
tersenyum, “padahal aku Chin sian kun bukan termasuk orang
pandai, justru ciangkwee lah merupakan seorang tokoh silat yg tak
mau mengunjukkan diri!”

Sambil berkata, tiba-tiba saja ia melancarkan sebuah serangan
secepat sambaran kilat dan langsung mengancam jalan darah lemas
dan kaku Ong kui.....
Mimpipun Ong kui tdk menyangka kalau lawannya akan
melancarkan serangan disaat masih tersenyum, ketika menyadari
akan datangnya bahaya, keadaan sudah terlambat,
“Bluuuukk...!”
Tak ampun lagi tubuhnya terserang dan segera roboh terjungkal
keatas tanah.
Dua bersaudara Kim yg menyaksikan kejadian ini menjadi
tertegun, sebelum mereka sempat berbuat sesuatu, tiba-tiba dari
balik kegelapan terengar dua kali bentakan keras,
“Kurang ajar, kalian berani berbuat keonaran disini!”
Tampak dua sosok bayangan manusia dg membawa gulungan
cahaya tajam yg menyilaukan mata meluncur tiba.
Dg suatu gerakan cepat Chin sian kun menyambar tubuh Ong kui
yg tergeletak lemah ditanah, lalu serunya:
“Cepat kalian loloskan senjata utk membendung serangan
lawan!”
Mendengar seruan tsb, Kim loji dan losam segera mencabut
keluar ruyungny lalu diayunkan kedepan utk menghadang serbuan
dari ketiga sosok bayangan manusia itu.
Ternyata oleh gerak serangan ruyung tsb, ketiga sosok bayangan
manusia itu segera melayang turun ketanah.
Kim loji segera mengenali mereka sebagai beberapa orang
pelayan yg dijumpai sewaktu masuk kehalaman tadi, hanya sekarang
mereka berdiri dg senjata terhunus.
Setelah berhasil membendung gerak maju lawan, Kim loji baru
menjengek sambil tertawa dingin:
“Apakah sampai sekarang kalian bertiga belum mau menunjukkan
wajah aslinya? Apakah kalian bersedia menyebutkan nama-nama
kalian semua?”
Salah seorang diantaranya, seorang lelaki bermuka kuda segera
membentak dg keras:
“Kami semua adalah sahabat tauke Ong, tak usah menyebut
nama-nama kami lagi, yg jelas tauke Ong sudah bersikap cukup
sopan kpd kalian, tapi kenyataannya kalian menyergapnya secara
licik, terhitung jagoan macam apakah kalian ini?”

Paras muka dua bersaudara Kim segera berubah merah padam
krn jengah.
Tapi Chin sian kun segera berkata sambil tertawa terkekehkekeh,
“Sudah sepantasnya bila kalian merasa tdk terima, tapi bila aku
tak diberi kesempatan utk memberi penjelasan, pasti kalian akan
menganggap diriku sebagai seorang yg tak tahu malu. Untuk itu
bersediakah kalian bertiga memberi sedikit waktu utk berbincangbincang
dulu dg tauke ini sebelum bertarung?Bila alasan yg kami
kemukakan dianggap tak masuk akal, pertarungan baru diteruskan
kembali?”
Ketiga orang lelaki itu mendengus dingin, samun mereka tdk
memberikan komentar apa-apa.
Sambil menarik muka Chin sian kun segera berpaling kearah
tauke Ong dan menegur dg suara dingin:
“Hey tauke Ong! Aku harap kau bersedia memberi jawaban dg
sejujurnya, sebab kalau tdk, siksaan akan menimpa dirimu, kau tahu
bukan bagaimana rasanya seseorang yg hidup tak bisa mati pun
tidak?”
Dg wajah hampir menangis, tauke Ong merengek:
“Lihiap , apa yg mesti kukatakan? Aai....”
“He...he...he....”Chin sian kun tertawa dingin, “belum lagi
persoalan pokok disebutkan, kenapa kau mesti berkeluh kesah?
Kemampuan Ong ciangkwee dlm menghadapi persoalan benar-benar
mengagumkan dan tak malu disebut jagoan lihai, apalagi bila
dibandingkan dg anak buahmu yg sebentar menjadi pelayan,
sebentar lagi menjadi sahabat itu....kami benar-benar ketinggalan
jauh!”
Beberapa patah kata itu kontan saja membuat paras muka ketiga
orang jago pedang itu berubah hebat, sedangkan air muka Ong kui
makin merah jengah.
Setelah berhenti sejenak, kembali Chin sian kun berkata:
“Sudahlah, tak usah banyak berbicara yg tak guna lagi, mari kita
menyinggung masalah pokok, nah tauke Ong, sebetulnya pemuda
she Kho itu sudah kalian sekap dimana?”
Ong kui menghela napas,
“Chin lihiap, mengapa kau tidak bertanya langsung kpd dua
bersaudara Kim yg telah melakukan penggeledahan yg seksama dari
depan sampai belakang? Apa lagi yg mesti kukatakan kepadamu?”

“Jawabanmu benar-benar sangat hebat” jengek Chin sian kun
sambil tertawa dingin.
“Hey tauke Ong, tolong tanya rumah makan Poan gwat kie ini,
selain pintu besar yg menghadap kejalan raya, apakah masih ada
pintu lain?”
“Ada!” Ong kui mengangguk, “pintu belakang terletak disebelah
kiri kebun!”
“Selain pintu belakang?”
“Sudah tak ada lagi...” Ong kui kembali menggeleng.
Chin sian kun segera menunding kearah gunung-gunungan yg
berada tiga kaki disampingnya, lalu mengejek sambil tertawa dingin:
“Tauke, bolehkah aku tahu, pintu rahasia dibalik gunung itu
tembus kemana?”
Begitu ucapan tsb diutarakan, paras muka ketiga orang jago
pedang serta Ong kui segera berubah sangat hebat.
Dg agak cemas Ong kui berseru:
“Lihiap, kau jangan bergurau, mana mungkin dibalik gununggunung
itu terdapat pintu.”
Mencorong sinar tajam dari balik mata Chin sian kun, segera
bentaknya keras-keras:
“Barusan aku melihat ada orang pelayanmu menerobos masuk
kebalik gunung-gunungan itu dan hingga sekarang belum nampak
muncul kembali, jika disitu tak ada pintu, kau anggap dia bisa
menerobos masuk kedalam tanah?”
“Perempuan rendah!” tiba-tiba jago pedang bermuka kuda itu
membentak keras, “kau tak usah mengada-ngada terus disini,
sebenarnya Ong ciangkwee akan dilepaskan tidak?”
Chin sian kun mengerling sekejap kearah lawannya, lalu
menjengek sinis:
“Nah, mulai panik bukan krn rahasianya ketahuan?
He...he...he....lebih baik kalian bertiga jangan bergerak
sembarangan, sebab aku bisa menghabisi nyawa Ong ciangkwee
paling dulu....”
Jago pedang bermuka kuda itu tdk menggubris, tiba-tiba ia
berpekik nyaring, lalu serunya kpd dua orang jago lainnya:
“Hayo serbu!”
Tubuhnya segera melejit ketengah udara, dari situ pedangnya
menciptakan selapis cahaya tajam dan secara langsung membecok
kepala Chin sian kun.

Tak terlukiskan rasa kaget Chin sian kun menghadapi serangan
tsb, ia tak mengira kalau lawan sama sekali tdk m enggubris
keselamatan sandera yg berada ditangannya.
Melihat Kim loji dan losam telah dihadang musuh, cepat-cepat ia
berkelit kesamping, sambil teriaknya:
“Kalian cepat turun!”
Berbareng dg suara bentakan itu, empat sosok bayangan
manusia segera melompat turun dari atas wuwungan rumah,
ternyata mereka adalah Rumang, Hapukim serta dua bersaudara Mo.
Rumang dg golok terhunus langsung menghadang sijago pedang
bermuka kuda yg menyerang Chin sian kun itu, bentaknya:
“Mak nya! Tak kusangka rumah makan kalian adalah sarang
penyamun yg suka menculik orang, biar kubunuh manusia macam
dirimu lebih dulu....”
Golok segera diputar bagaikan roda, secara beruntun dia telah
melepaskan dua kali bacokan berantai.
Mendadak terdengar Kim loji yg sedang bertarung berseru
lantang:
“Adikku, kalau toh sudah kau ketahui pintu rahasia disitu,
mengapa tdk segera menyuruk kedalam utk melakukan
penggeledahan?”
“Bila pintu rahasianya sudah kuketahui, buat apa aku mesti
menunggu sampai sekarang?” sahut Chin sian kun.
Kemudian kepada Ong kui yg berada digenggamannya ia
membentak:
“Coba lihat sendiri, sobatmu sudah tak ambil peduli dg
keselamatanmu lagi, aku rasa kaupun tak usah menyimpan rahasia
terus.”
Sambil berkata ia segera memberi tanda kpd dua bersaudara Mo
serta Hapukim agar mengikutinya menuju kebalik gunung-gunungan.
Bangunan yg menyerupai gunung-gunungan itu dibuat sangat
tinggi dan besar, dibagian tengahnya terdapat sebuah gua yg saling
berhubungan.
Sementara itu Ong kui masih ragu-ragu, Chin sian kun telah
mencengkeram ujung bajunya, seraya membentak keras :
“Hayo jawab, kau bersedia menunjukkan atau tidak? Asal kau
mau menunjukkan letak tombol rahasia utk membuka pintu tsb,
kami pasti tak akan menyusahkan dirimu lagi.”

Belum selesai perkataan itu diutarakan, tiba-tiba dari balik
gunung-gunungan itu sudah kedengaran seseorang berkata dg suara
merdu,
“Terhadap pelbagai persoalan yg begitu sepele, buat apa kau
memaksanya utk berbicara? Kalau toh ia enggan berkata, biar aku
yg menunjukkan!”
Menyusul perkataan tsb, tiba-tiba dinding kiri gunung-gunungan
itu sudah terbuka lebar dan muncullah seorang perempuan berbaju
putih.
Dia tak lain adalah Chiu hoa Lengcu, anak buah dewi In nu yg
dikenali Chin sian kun pagi tadi sebagai “nyonya Ciu”.
Kehadirannya yg sama sekali tak terduga ini segera menimbulkan
rasa tertegun bagi Chin sian kun, ia tak menyangka kalau pihak
lawan akan menggunakan cara demikian dlm menghadapinya.
Sementara dia masih termenung, Ciu hoa Lengcu telah
memperhatikan sekejap situasi pertarungan, dimana enam orang
sedang terlibat dlm pertarungan sengit.
Mendadak bentaknya:
“Tahan!”
Ketiga orang jago pedang yg sedang bertempur seru itu segera
melepaskan dua rangkai serangan gencar, setelah itu mereka
melompat keluar dari arena pertarungan dan berdiri tenang disitu.
Kepada Chin sian kun kembali Ciu hoa Lengcu berkata seraya
tersenyum ramah,
“Kini pintu rahasia telah terbuka, silahkan nona memasukinya utk
diperiksa!”
Chin sian kun baru saar setelah mendengar ucapan itu, serunya
tanpa sadar:
“Benarkah kau dari marga Ciu?”
Ciu hoa Lengcu manggut-manggut:
“Aku beridam digang sebelah sana, hitung-hitung masih punya
hubungan family dg tauke Ong, apabila ia telah melakukan suatu
kesalahan terhadap nona, bagaimana kalau aku mewakilinya minta
maaf!”
Chin sian kun tersenyum,
“Sungguh tak kusangka tempat ini merupakan sebuah sarang
naga harimau, aku percaya enci orang persilatan juga?”
Sambil tertawa Ciu hoa Lengcu menggelengkan kepalanya
berulang kali, katanya:

“Nona sudah salah menilai, rumah makan Poan gwat kie hanya
sebuah rumah makan biasa dan aku pun bukan manusia bangsa
jago silat yg pandai memainkan senjata.”
“Hmmm, siapa yg percaya dg kata-katamu itu?” Chin sian kun
mendengus, “bila rumah makan ini hanya usaha biasa mengapa
terdapat banyak jago lihay yg berdiam disini? Dan mengapa pula
dibangun lorong bawah tanah yg begitu rahasia?”
“Kalau begitu nona yg sudah salah paham” tukas Ciu hoa Lengcu,
“suamiku lebih sering berjaga diluar, ia jarang pulang, maka sengaja
kami buat lorong rahasia utk menghubungkan tempat ini dg
rumahku, dg begitu antara aku dg tauke Ong pun bisa saling
berhubungan bila perlu, sementara orang-orang itu tak lain adalah
sobat-sobat yg diundang tauke Ong, sesungguhnya kehadiran
mereka tak perlu diributkan nona....”
Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali katanya:
“Sekarang aku sudah memberi keterangan yg cukup jelas, aku
rasa nona pun harus membebaskan tauke Ong!”
Kata-katanya diucapkan sangat lembut dan beralasan kuat
sehingga Chin sian kun jadi gelagapan dibuatnya.
Dalam keadaan begini, terpaksa nona itu menjadi nekad, ujarnya
kemudian dg suara dingin:
“Sebetulnya tidak susah utk minta kepadaku membebaskan orang
ini, tapi Kho Beng harus diserahkan dulu!”
“Kho kongcu memang pernah berkunjung kemari” Ciu hoa
Lengcu tersenyum, “tapi ia sudah pergi sejak tadi!”
“Aku tak percaya!”
“Lantas apa yg harus kami perbuat agar nona mau percaya?”
tanya Ciu hoa Lengcu sambil berkerut kening.
Tanpa pikir panjang Rumang menyela dari samping.
“Kecuali kami diberi kesempatan utk melakukan penggeledahan!”
Diluar dugaan ternyata Ciu hoa Lengcu menanggapi sambil
mengangguk:
“Untuk menarik kepercayaan kalian, aku bersedia menjadi
penunjuk jalan, nah silahkan mengikuti diriku!”
Selesai berkata, ia segera masuk dulu kedalam lorong rahasia.
oooOOooo

Disaat Chin sian kun sekalian bertujuh mengikuti Ciu hoa Lengcu
memasuki pintu rahasia tsb, dari mulut gang tampak sebuah kereta
kuda yg mungil dilarikan orang cepat-cepat.
Kusir kuda adalah dua orang lelaki berbaju hitam, tampak mereka
melarikan kudanya dg begitu cepat dan menuju kearah pintu kota
sebelah timur...
Disisi kereta itu duduk dua orang perempuan genit, mereka tak
lain adalah kedua orang dayang Ciu hoa Lengcu, sedangkan orang
ketiga adalah Kho Beng, wajahnya nampak sayu dan diliputi
perasaan terkejut, tubuhnya sama sekali tak bisa berkutik, jalan
darah kakunya telah tertotok.
Kereta kuda itu meluncur terus menembusi pintu kota dan lari
ketempat yg liar dan terpencil dari keramaian, melihat keadaan
mana, dg perasaan terkejut bercampur keheranan Kho Beng segera
menegur:
“Sebenarnya kalian hendak membawaku pergi kemana?”
Dayang genit yg berada disebelah kiri tertawa terkekeh-kekeh,
katanya:
“Bukankah telah kukatakan tadi, sampai waktunya kau toh akan
mengetahui dg sendirinya?”
“Apakah komandan Sin kalian itu sudah kembali?” tanya Kho
Beng lagi dg perasaan tegang.
Dayang genit yg berada disebelah kanan segera mendengus
dingin, sahutnya:
“Siapa yg tahu permainan setan apa yg sedang kau perbuat? Dua
puluhan orang sudah dikirim, namun sudah hampir satu jam
lamanya belum juga ada kabar beritanya!”
Mendengar jawaban tsb, Kho Beng merasa hatinya agak lega,
diam-diam ia menghembuskan napas panjang, lalu katanya sambil
tertawa:
“Rupanya kalian hendak mengajak diriku pergi mencari
mereka....”
“Kau jangan keburu bersenang hati dulu” sela dayang disebelah
kiri sambil tertawa dingin, “terus terang saja aku bilang asal orangorang
kami sampai ketimpa suatu kemalangan, maka kau sendiripun
jangan harap bisa pulang kekota Tong sia dalam keadaan hidup!”
Kembali Kho Beng merasa terkesiap sekali sebab sebagaimana
diketahui keterangan yg diberikannya hanya keterangan palsu,

mustahil Bu wi lojin bisa begitu kebetulan berada juga dirumah abu
keluarga Liok, sepuluh li disebelah timur kota.
Tapi apa sebabnya komandan Sin beserta kedua puluhan orang
yg dipimpinnya belum juga nampak muncul kembali?
Tanpa terasa ia mulai mengkuatirkan pula nasib anak buah Ciu
hoa Lengcu yg sudah pergi dan hingga kini belum balik itu.
Suara derap kaki kuda yg ramai.....
Suara roda kereta yg menggelinding....
Kho Beng tahu inilah kesempatan terbaik baginya utk meloloskan
diri dan itu berarti ini merupakan kesempatannya yg terakhir.
Tapi apa mau dikata jalan darah kakunya tertotok sehingga
tubuhnya tak mampu berkutik, ditambah lagi pengawasan dua
orang dayang yg begitu ketat, membuat ia tak berhasil menembusi
jalan darahnya itu.
Sementara dia masih berpikir mencari akal utk meloloskan diri,
tiba-tiba terasa kereta itu bergetar keras dan segera berhenti.
Sementara itu lelaki berbaju hitam yg berada didepan kereta
segera berkata:
“Nona berdua, komandan Sin telah pulang.”
Mendengar perkataan itu, Kho Beng bersama kedua orang
dayang itu berpaling keluar jendela, benar juga kelihatan ada
puluhan sosok bayangan hitam sedang melesat datang dg kecepatan
tinggi.
Sesudah mendekat, bayangan manusia yg berjalan dipaling
depan berseru tertahan, lalu cepat-cepat menghampiri kereta.
Ternyata orang itu adalah seorang kakek berbaju hitam yg
berperawakan tinggi besar berwajah amat keren.
Dg sorot matanya yg tajam bagaikan sembilu, dia mengawasi
sekejap dua orang lelaki yg berada didepan kereta, lalu tanyanya
keheranan:
“Go hoat, Tan peng kalian hendak kemana?”
Lelaki berbaju hitam yg bertindak sebagi kusir itu segera
menjawab:
“Lapor komandan, hamba mendapat perintah dari Lengcu utk
menghantarkan Kiok hoa dan Kiok bi yg mengawal tawanan Kho
Beng menuju kekebun Kiok wan!”
Mendengar tanya jawab itu, Kho Beng merasakan hatinya
bergetar keras, pikirnya:

“Ternyata orang ini adalah komandan Sin dan pasukan baju
hitam, kalau ditinjau dari tampangnya nampak gagah dan keren,
sama sekali tdk mengandung hawa sesat, tapi heran mengapa ia
justru bergaul dg kawanan manusia sesat itu?”
Sementara itu komandan Sin telah berpaling kearah jendela
kereta seraya berkata:
“Nona Kiok bi, mengapa Lengcu tdk menunggu sampai aku
pulang? Kenapa secara tiba-tiba ia berubah pendapat?”
Kiok bi segera tertawa cekikikan, ujarnya:
“Aduh komandan ku, kenapa kau masih bertanya? Kepergianmu
yg tak ada kabar beritanya nyaris membuat semua urusan menjadi
terbengkalai...!”
“Ketika aku sampai dirumah abu itu, telah ditemukan seorang yg
amat mencurigakan....”
“Aaaah...apakah dia adalah si tua Bu wi?”
“Bukan!” komandan Sin menggeleng.
“Lantas siapakah dia?” tanya Kiok bi keheranan.
“Setelah kulakukan pengejaran sejauh dua puluh li, ternyata
orang itu berhasil meloloskan diri, aku tak sempat melihat dg jelas
raut wajah orang itu, tapi aku yakin dia bukan si tua Bu wi!”
Kiok bi segera tertawa terkekeh-kekeh:
“Masa dibawah kelopak mata komandan Sin pun ada seseorang
yg mampu meloloskan diri? Kecuali kau si komandan sengaja main
sabun.....”
Tiba-tiba komandan Sin menarik muka dan berseru dg suara
dalam:
“Aku tdk terbiasa bergurau, aku harap perkataan nona sedikitlah
tahu diri, meskipun aku she Sin selalu tinggi hati, tapi ilmu
meringankan tubuh yg dimiliki orang itu sudah jelas tidak berada
dibawah kemampuanku.....”
Belum selesai perkataan itu diucapkan, sambil tertawa Kiok hoa
telah menukas:
“Sudah, sudahlah komandan Sin juga tak perlu memberi
penjelasan lagi, kau toh mengerti, kami kakak beradik hanya gemar
bergurau dan menggoda orang lain, masa komandan Sian betulbetul
main sabun? Cuma gara-gara keterlambatanmu itu, dikota
telah terjadi suatu peristiwa besar!”
“Peristiwa apa?” tanya komandan Sin agak tertegun.

“Kim kong sam pian bersama si Walet terbang berwajah ganda
serta kempat anjing asing itu telah berhasil menggeledah rumah
makan Poan gwat kie dan menemukan tempat tinggal kita!”
“Bagaimana dg Lengcu?” tanya komandan Sin dg perasaan amat
terkejut.
“Lengcu masih berusaha mengulur waktu dg meeka, sementara
kami diperintah utk membawa orang she Kho ini kembali kekebun
Kiok wan!”
Mendengar sampai disini Kho Beng baru mengerti apa sebabnya
ia dipindahkan ketempat lain, namun pelbagai kecurigaan pun
menyelimuti perasaan hatinya......
Siapakah yg mengutus Kim kong sam pian dan Walet terbang
berwajah ganda. Bukankah mereka sedang terlibat pertarungan
sengit melawan Rumang sekalian? Mengapa mereka malah
bergabung menjadi satu?
Perubahan sikap dari musuh menjadi teman yg berlangsung
begitu cepat benar-benar membuatnya kebingungan dan tidak habis
mengerti.
Dg paras muka berubah menjadi amat tegang, komandan Sin
berkata:
“Kalau begitu aku harus secepatnya kembali kekota utk memberi
bantuan.........”
“Dalam hal ini Lengcu pun telah berpesan” buru-buru Kiok hoa
menerangkan, “kita diharuskan menyelidiki terus jejak si tua Bu wi
dan mendapatkan kembali kitab pusaka Thian goan bu boh, sebab
hal itu jauh lebih penting daripada persoalan lain, oleh sebab itu
Lengcu berpesan apabila bertemu dg dirimu maka kita diharuskan
segera kembali kekebun Kiok wan dan menyiksa orang she Kho ini
agar mengaku....”
Belum selesai perkataan itu diutarakan, tiba-tiba dari kejauhan
sana terdengar seseorang berseru sambil tertawa tergelak:
“Buat apa mesti disiksa utk mengorek keterangan? Bukankah aku
sudah hadir disini!”
Berubah hebat paras m uka komandan Sin saking kagetnya
setelah mendengar perkataan itu, dg cepat dia mengulapkan
tangannya kepada orang-orang berbaju hitam yg berada disekeliling
sana.
Dalam waktu singkat dua puluhan jago pedang itu telah
menyebarkan diri dan mengepung kereta tsb ketat-ketat, semuanya

berdiri dg pedang terhunus dan punggung menghadap kearah
kereta, agaknya orang-orang itu sudah siap sedia melangsungkan
pertarungan.
Kho Beng yg berada dlm kereta segera mengenali suara itu
sebagai suaranya Bu wi lojin. Ia sangat terkejut dan berpekik dihati:
“Aduh celaka!”
Keadaan sudah jelas tertera, Bu wi lojin seorang diri lagi pula
menderita luka dalam yg cukup parah, bagaimana mungkin ia
sanggup menandingi kawanan jago lihay sebanyak itu?
Dg perasaan gelisah dan cemas dia mengawasi keluar lewat
jendela krn tampak olehnya sesosok bayangan manusia telah
munculkan diri sepuluh kaki didepan sana dan pelan-pelan berjalan
mendekati kereta kuda itu.
Ia baru berhenti setelah berada hanya tiga kaki dari kereta,
wajahnya kelihatan anggun dan tenang dg jenggot putihnya berkibar
terhembus angin, orang ini memang tak lain adalah Bu wi lojin.
Komandan Sin segera menjura utk memberi hormat, lalu katanya
sambil tertawa terbahak-bahak,
“Ha...ha...ha....saudara Bu wi, sejak berpisah tiga puluh tahun
berselang tak disangka kita akan bersua kembali maam ini!”
Ketika bertemu komandan Sin, tiba-tiba paras muka Bu wi lojin
berubah, segera sahutnya sambil menjura pula,
“Ooooh...rupanya Sin tayhiap, apakah kau pun mengharapkan
kitab pusaka Thian goan bu boh?”
Komandan Sin segera tertawa,
“Aku orang she Sin mengerti akan kemampuan serta
keterbatasanku, sehingga sama sekali tdk berambisi dg kitab pusaka
tsb.
Hanya sayang aku sedang melaksanakan perintah sehingga mau
tak mau terpaksa mohon pengertian dari engkoh tua, asal engkoh
tua bersedia memberi muka kpd ku, aku Sin cu beng bertanggung
jawab atas keselamatan dan keamanan Kho kongcu serta engkoh
tua utk meninggalkan tempat ini.”
“Bagus, bagus sekali, ha...ha...ha...”
Setelah mengucapkan dua patah kata itu, Bu wi lojin
memperdengarkan suara tertawanya yg amat pedih, terusnya:
“Sama sekali tak kusangka tokoh sakti yg pernah menggetarkan
dunia persilatan pada tiga puluh tahun berselang sebagai tujuh

pedang tiga belas lelaki, ternyata telah berubah menjadi manusia tak
becus yg sudi tunduk dibawah gaun wanita!”
Ternyata Sin Cu beng tdk menjadi gusar, katanya sambil tertawa:
“Saudara Bu wi, perkataanmu ini keliru besar sekali, atasanku
adalah seorang tokoh sakti yg berwatak mulia dan bersikap anggun
melebihi bidadari, sekalipun Sin Cu beng tunduk dibawah
perintahnya, hal ini tak akan merusak nama baikku.”
Bu wi lojin segera mendengus dingin:
“Sin Cu beng, seorang perempuan rendah yg tak tahu malu pun
kau anggap sebagai bidadari, jangan-jangan matamu sudah silau
sehingga tak bisa menilai orang....?”
“Tutup mulut!” bentak Sin Cu beng dg wajah berubah, “jangan
kau tuduh atasanku dg kata-kata yg jorok dan kotor, bila kau berani
menghinanya lagi, jangan salahkan bila aku Sin Cu beng tak akan
mengingat hubungan kita dahulu dan segera menyerangmu secara
habis-habisan.”
Mendengar perkataan mana, Bu wi lojin segera menghela napas
panjang, ujarnya kemudian,
“Sudah, sudahlah Sin Cu beng! Aku hanya merasa sayang dg
nama besarmu dulu sebagai pedang geledek, tapi.....yaa....setiap
orang mempunyai tujuan yg berbeda dan siapapun tak sapat
memaksakan pendapatnya, nah sekarang aku hanya minta
kepadamu utk segera membebaskan Kho kongcu!”
Dibalik perkataan tsb jelas nada sayang dan kecewa yg amat
sangat.
Sementara itu Kho Beng merasakan hatinya berdebar keras,
kalau didengar dari nada suara Bu wi lojin agaknya komandan Sin ini
bukan saja memiliki kedudukan yg tinggi, lagipula pernah dikenal
sebagai seorang pendekar sejati.
Tak heran kalau ia berpendapat bahwa orang ini tdk mirip
seorang manusia sesat, tapi mengapa tokoh semacam inipun begitu
tunduk dibawah periontah iblis wanita dan rela menjadi kuku
garudanya?
Dalam pada itu, sipedang geledek Sin Cu beng telah berkata dg
suara dalam:
“Kho kongcu berada dalam kereta, asal kau bersedia
mengembalikan kitab pusaka yg kau curi itu, aku pun segera akan
membebaskannya!”

“Bila aku hanya menuntut dikembalikannya orang itu dan tidak
bersedia mengembalikan kitab pusaka?”
Sin Cu beng segera tertawa dingin, jengeknya:
“Mengapa kau tidak mencoba utk mengukur dulu kekuatanmu?
Jangan lagi aku didukung dua puluh jago pedang kelas satu, dg
mengandalkan pedang ini pun belum tentu kau bisa mengungguli
diriku.”
Tapi setelah berhenti sejenak, dg nada pembicaraan yg jauh lebih
lunak, kembali katanya sambil menghela napas:
“Saudara Bu wi, sku Sin Cu beng tahu kalau isi perutmu sudah
terluka parah, sekalipun kau nekad ibaratnya hanya kunang-kunang
yg menubruk api, hanya mencari kematian buat diri sendiri, aku
berharap kau jangan memaksaku turun tangan!”
Bu wi lojin segera tertawa terbahak-bahak:
“Ha...ha...ha...Sin Cu beng! Tak nyana kau masih teringat akan
persahabatan kita dulu, tapi apa kau lupa dg tabiatku?”
Sin Cu beng tertawa:
“Justru aku cukup mengerti akan watakmu yg suka akan
keheningan dan hambar dg segala pertikaian, maka kuanjurkan
kepada mu agar lepas tangan saja, apalah artinya mempertaruhkan
jiwamu hanya demi sebuah benda?”
Bu wi lojin tertawa dingin, jengeknya:
“Kalau sudah tahu kalau aku senang akan keheningan dan
hambar dg segala macam pertikaian, kau seharusnya jangan lupa
kalau aku tak bakal menyerempet bahaya bila tak punya pegangan.
Kalau toh sudah tahu kalau aku tak suka keributan, kau harus
mengerti bahwa tindakanku sekarang krn terdorong kepentingan yg
mendesak bahkan demi kepentingan pribadiku sendiri!”
Sin cu beng tertawa terbahak-bahak:
“Ha...ha...ha...bila kudengar dari nada pembicaraan loheng,
agaknya kau datang dg mengandalkan sesuatu.”
“Memang begitulah keadaannya!”
“Aku jadi ingin tahu apa sih yg kau andalkan itu?”
“Aku sudah terluka parah, kalau tanpa persiapan bukankah
tindakanku ini sama artinya dg mencabuti kumis harimau? Sin cu
beng coba perhatikan jelas-jelas.”
Sambil berkata tiba-tiba ia meloloskan pedangnya dan menunding
langit dg ujung pedangnya lalu diputar satu lingkaran.

Menyusul kode rahasia itu, dari empat penjuru bermunculan
bayangan manusia yg jumlahnya tak kurang dari dua puluhan.
Menyaksikan kejadian tsb, dua orang dayang yg berada dlm
kereta menjadi terkesiap, sebaliknya Kho Beng sangat kegirangan
sehingga hampir saja bersorak kegirangan.
Dengan sinar mata yg tajam si pedang geledek, Sin Cu beng
memperhatikan sekejap wajah orang-orang itu, lalu katanya:
“Tua bangka, tak kusangka kemampuanmu sangat hebat, hanya
dalam seharian saja telah dapat mengumpulkan jago-jago sebanyak
ini!”
Bu wi lojin tersenyum.
“Nah, anak buahku sekarang tdk lebih sedikit daripada kekuatan,
bukan...”
Sambil tertawa seram Sin Cu beng menukas:
“He....he....he.... si tua, kau harap memahami kemampuan yg
kumiliki, sekalipun saat ini Cuma ada aku Sin Cu beng seorang,
puluhan jagomu itu tak akan kupandang sebelah mata pun!”
Baru selesai perkataan itu diutarakan, medadak dari sisi hutan
terdengar seseorang berseru sambil mendengus dingin:
“Hey orang she Sin, apa kau tidak malu membual melulu?”
Sin Cu beng tertawa dingin, sambil berpaling tegurnya:
“Siapa kau?”
“Aku Ang It tiang!”
Berubah paras muka Sin Cu beng mendengar nama itu, jeritnya
tertahan krn kaget,
“Kau adalah si kakek tongkat sakti?”
Sambil tertawa tergelak Bu wi lojin menyela:
“Ha...ha...ha....tepat sekali, memang si tua Ang, jika kau
menganggap seorang kakek tongkat sakti masih belum kau pandang
sebelah mata pun, baiklah kuperkenalkan lagi beberapa orang
sahabatku yg lain.”
Berbicara sampai disini, dia segera berpaling seraya teriaknya
keras-keras:
“Hey pelajar rudin, bersediakah kau mengucapkan beberapa
patah kata bagiku?”
Dari kejauhan sana segera terdengar seseorang menyahut:
“Aku sipelajar rudin Cuma pandai membuat syair, aku tak mampu
berbicara, apalagi ditengah malam yg tak berbintang ini ilhamku

serasa menjadi tersumbat, tapi kalau suruh main pedang putar
golok, rasanya lebih sesuai dg keadaan.”
“Siapakah pelajar rudin itu?” tanya Sin Cu beng tertegun.
“Hmmm...masa pemimpin Lam huang pat ciong (delapan rudin
dari Lam huang) yg lebih dikenal sebagai pelajar rudin Ho Heng pun
tdk kau kenal? Hmmmm, aku lihat kau Sin Cu beng sudah bosan
hidup!”
Sekali lagi paras muka Sin Cu beng berubah hebat, alis matanya
makin lama berkenyit semakin kencang.
Sementara itu Bu wi lojin telah berkata lagi:
“Tampaknya kau Sin Cu beng memang benar-benar punya nyali,
mari, biar kuperkenalkan seorang teman lagi.”
Setelah celingukan sebentar kesekeliling sana, teriaknya lantang,
“Hey hwesio, bagaimana kalau kaupun unjukkan diri?”
“Hidup sebagai seorang pendeta, sama halnya sudah tak punya
nafsu apa-apa, kenapa aku mesti unjuk diri? Tapi aku hwesio tak
pernah membaca doa, tak pernah juga makan hidangan
berpantangan, aku paling tertarik dg segala jenis barang yg aneh,
asal kau tak ingkar janji dan memberi salinan kitab pusaka Thian
goan bu boh kepadaku, biar ada urusan sebesar apapun didunia ini,
aku si hwesio tetap akan menanggulanginya seorang diri.”
Paras muka Sin Cu beng betul-betul berubah hebat, serunya
tanpa sadar:
“Aaai...si hwesio daging anjing Thian tin?”
“Ha...ha...ha...Sin Cu beng, walaupun kita tak pernah bertemu
muka, namun aku si hwesio sudah lama mendengar nama besarmu,
bila kau ingin kabur kuharap larilah kearahku, aki sihwesio pasti
mengundangmu utk mencicipi daging anjing sebelum kuhantar
pulang ke See thian menemui Hud cow!”
Menanti perkataan itu selesai diucapkan, Bu wi lojin segera
berkata pula sambil tertawa bergelak:
“Nah, Sin lote, bagaimana keputusanmu sekarang! Akan kau
bebaskan tawananmu itu? Ataukah ingin bertempur mati-matian?”
Dicekam oleh perasaan terkejut bercampur ngeri, Sin Cu beng
benar-benar tak habis mengerti, darimana Bu wi lojin bisa
mengumpulkan jago-jago lihay yg dihari biasa pun susah dijumpai,
jangan lagi ia belum mengetahui jago lainnya, cukup berbicara
tentang si pelajar rudin, kakek tongkat sakti serta hwesio daging
anjing pun sudah cukup membuat kepalanya pusing.

Sekalipun ia merasa curiga, tapi kenyataannya telah terpampang
didepan mata dan tak mungin dipungkiri lagi.
Jilid 18
Setelah paras muka dari si pedang geledek yg pernah termasyur
dlm dunia persilatan ini berubah berapa kali, akhirnya ia berseru
sambil tertawa tergelak:
“Tua bangka Bu wi, tak kusangka kartu as mu begitu banyak tapi
jangan lupa aku Sin cu beng pun mempunyai pula selembar kartu
as!”
“Oya? Kalau begitu akupun ingin mengetahui sampai dimanakah
kemampuan yg kau miliki!”
Sambil tertawa dingin Sin Cu beng berkata:
“Rupanya kau lupa kalau Sin Cu beng masih memegang bocah
she Kho ini! Selama dia masih berada ditanganku, kenapa aku mesti
jeri dg kekuatanmu?”
Tiba-tiba ia mengulapkan tangannya kebelakang seraya berseru:
“Gusur bocah she Kho itu keatas atap kereta!”
Dua orang dayang itu serentak menjepit tubuh Kho Beng dan
dibawa melompat keatas atap kereta.
Bu wi lojin mendongak serta memandang wajah Kho Beng
sekejap, lalu sambil tetap tersenyum, tanyanya:
“Sin Cu beng, apa yg hendak kau perbuat?”
Dg suara dalam Sin Cu beng berkata:
“Aku akan menghitung sampai angka lima, bila kau masih belum
menyerahkan kitab pusaka tsb kepadaku, terpaksa aku akan
membunuh bocah ini lebih dulu kemudian baru berusaha menembusi
kepungan!”
“Sin lote! Kau tak usah menghitung lagi....” sela Bu wi lojin.
Sin Cu beng jadi kegirangan, segera tegurnya:
“Apakah kau sudah berubah pikiran?”
“Aku tak pernah mau menyerah pada tuntutan orang, lote.
Silahkan kau bunuh bocah she Kho itu lebih dulu!” kata Bu wi lojin
dingin.
Begitu perkataan tsb diutarakan, bukan saja Kho Beng jadi
terperanjat, Sin Cu beng sendiri jadi tertegun, serunya kemudian
sambil membelalakkan matanya:

“Jadi kau telah memutuskan tak akan memperdulikan mati hidup
bocah ini lagi?”
“Aku Cuma mendapat titipan dari sahabatku utk menyimpan kitab
pusaka, tak pernah mendapat pesan utk melindungi keselamatan
putranya, kalau kitab itu lenyap berarti aku telah mengingkari janji,
sebaliknya kalau putranya yg tewas, hal ini hanya bisa dibilang
takdir, apalagi selembar nyawanya bakal ditukar dg nyawa lote, dua
puluh orang anak buahmu ditambah lagi dg dua orang dayang serta
dua orang kusir, sekalipun Kho kongcu tewas diujung pedang, paling
banter satu nyawa ditukar dg dua puluh empat nyawa. Hitung-hitung
aku toh masih bisa mempertanggung jawabkan diri kepada Hui im
cengcu yg telah tiada.”
Sin Cu beng jadi tertegun, tiba-tiba ia berpaling sambil serunya
keras-keras:
“Kho Beng kau sudah dengar perkataannya?”
Dlm kaget dan tercengangnya Kho Beng mengawasi sekejap
wajah Bu wi lojin yg nampak begitu tenang itu, mendadak ia teringat
dg senyuman yg dilemparkan kepadanya tadi, rasanya dibalik
senyuman tsb masih mengandung arti yg mendalam.
Satu ingatan melintas kedalam benaknya, setelah tertawa
tergelak, segera katanya:
“Aku sudah mendengarkan semua perkataannya dg jelas,
menurut anggapanku Bu wi cianpwee memang sudah sewajarnya
berbuat demikian, sebab apalah artinya selembar nyawaku
dibandingkan bila kitab Thian goan bu boh sampai terjatuh ketangan
kaum manusia laknat yg bakal menimbulkan bencana bagi seluruh
umat persilatan? Aku justru merasa berbangga hati krn selembar
nyawaku bisa menyelamatkan beribu lembar nyawa, sehingga kalau
dihitung-hitung kembali, kematianku ini berharga sekali!”
“Baik….”ucap Sin Cu beng tiba-tiba sambil tertawa dingin.
Sambil meloloskan pedang dari sarungnya, ia segera melompat
naik keatas atap kereta itu…..
Agak berubah paras muka Bu wi lojin, segera bentaknya dg suara
dalam dan berat:
“Kau sudah bosan hidup!”
Sin Cu beng tertawa seram.
“He...he...he...aku rasa masih terlalu pagi utk membicarakan soal
hidup mati diriku....”

Kemudian sesudah menempelkan mata pedangnya diatas
tengkuk Kho Beng, kembali teriaknya keras-keras:
“Tujuanku sekarang adalah berusaha sekuat tenaga utk
melindungi kereta ini meloloskan diri dari kepungan....”
Tiba-tiba Bu wi lojin berseru pula ambil tertawa nyaring:
“Sin Cu beng, silahkan saja kau mencoba menembusi
kepunganku, aku akan membuktikan perkataanku tadi!”
Dg sorot mata tajam Sin Cu beng memperhatikan sekejap
keadaan disekeliling tempat itu, kemudian teriaknya keras-keras:
“Ayoh berangkat, kita terjang kearah utara!”
Lelaki berbaju hitam yg bertindak sebagai kusir itu mengiakan,
tapi sebelum kereta dilarikan, mendadak terdengar Kiok bi berseru
dg nada gugup:
“Tunggu sebentar!”
Lelaki berbaju hitam itu segera menarik kembali tali les kudanya
seraya berpaling dg keheranan.
Dg penuh amarah Sin Cu beng ikut berseru:
“Nona, apa-apaan kamu ini?”
Sambil tertawa terkekeh-kekeh, sahut dayang itu:
“Komandan Sin, bila kau sudah bosan hidup adalah urusanmu
sendiri, kalau budak mah belum bosan hidup.”
“Yaa betul” Kiok hoa menimpali, “komandan jangan lupa bahwa
benda yg diinginkan dewi adalah kitab pusaka Thian goan bu boh,
kini kitab pusaka itu belum didapatkan kembali, sekalipun kau bunuh
orang she Kho tsb, bagaimana pula tanggung jawabmu nanti? Bila
kita sampai turut berkorban, waaaah….rugi besar namanya!”
oooOOooo
Sin Cu beng termenung berapa saat kemudian tanyanya:
“Lantas apa yg harus kita perbuat menurut pendapat nona
berdua?”
“Untuk menghindari jatuhnya korban dikedua belah pihak, aku
rasa lebih baik kita bebaskan tawanan dan segera mengundurkan
diri lebih dulu….”
Berubah paras muka Sin Cu beng setelah mendengar ucapan tsb,
segera katanya:
“Tapi tua bangka celaka itu belum menyatakan kesediaannya utk
menyerahkan kitab pusaka itu?”

Setelah menghela napas panjang Kiok bi berkata:
“Selama bukit nan hijau kenapa kita kuatir kehabisan kayu bakar?
Sebaliknya kalau kita mesti beradu jiwa dg begitu saja, bukankah
kita bakal mampus tanpa memberikan hasil?”
Dg gusar Sin Cu beng segera berseru:
“Kelihatannya kalian berdua enggan menuruti perkataanku dan
lebih suka bertindak sendiri-sendiri?”
Kiok hoa segera tertawa terkekeh-kekeh,
“Budak hanya seorang pelayan berkedudukan sangat rendah,
mana berani kutentang perintah dirimu sebagai seorang komandan?
Cuma kami berharap agar komandan tdk mencampur baurkan tugas
seseorang menjadi satu, budak Cuma mendapat perintah utk
memindahkan tawanan ketempat lain, sehingga masalahnya berbeda
sekali dg tugas komandan utk merebut kembali kitab pusaka itu….”
“Tutup mulut!” bentak Sin Cu beng tiba-tiba, “dalam situasi
demikian, aku tdk perkenankan kehadiran dua orang pemimpin
dalam satu kelompok kekuatan….”
Kiok bi yg berada disisinya buru-buru menimbrung:
“Komandan, adik Kiok hoa memang tak pandai bicara, harap kau
jangan gusar padahal....”
Tiba-tiba ia menempelkan bibirnya disisi telinga orang itu dan
membisikkan sesuatu.
Melihat keadaan tsb, dalam hati kecil Kho Beng segera timbul
kecurigaan, pikirnya:
“Jangan-jangan kedua orang dayang ini masihmempunyai
rencana busuk lainnya?”
Terhadap mata pedang yg menempel diatas tengkuknya itu, ia
sama sekali tdk merasa takut, sebab dia tahu si pedang geledek yg
pernah termasyur dlm dunia persilatan dimasa lampau ini tak akan
turun tangan keji terhadapnya.
Namun terhadap kasak kusuk kedua orang dayang tsb, ia justru
merasakan hatinya tdk tentram.
Tampak Sin Cu beng mengerutkan dahinya dg marah, kemudian
dg suara rendah bisiknya:
“Benarkah maksud Lengcu agar berbuat demikian?”
Kiok hoa tertawa dingin, sahutnya:
“Berapa butir batok kepala sih yg budak miliki sehingga berani
membohongi komandan? Bila komandan berbuat demikian maka

bukan saja kau tak akan peroleh teguran, malah sebaliknya bakal
melakukan suatu pahala besar!”
Sin Cu beng termenung berapa saat lamanya, mendadak ia
berseru kpd Bu wi lojin:
“Hey situa Bu wi, bila aku Sin Cu beng bersedia membebaskan
bocah ini, apakah kau pun dpt menjamin agar orang-orang kami
meninggalkan tempat ini tanpa hadangan?”
Bu wi lojin tersenyum,
“Aaaah, tak nyana kau bisa berubah pikiran secepat itu, berapa
kali sih selama hidupku aku pernah mengingkari janji? Asal kalian
pun tdk berbuat permainan busuk terhadap kami, tentu saja akan
kubiarkan kalian meninggalkan tempat ini dg selamat.”
Sin Cu beng segera manggut-manggut,
“Baiklah, selewatnya malam ini, aku akan meminta pelajaran lagi
darimu….”
Seusai berkata dia menarik kembali pedangnya dan berkata
kepada dua orang dayang itu sambil mengulapkan tangannya.
“Hantar orang itu kesana!”
“Tidak!” teriak Bu wi lojin keras-keras, “biar dia sendiri yg
berjalan kemari!”
“Tapi loya…jalan darah kaku Kho kongcu sudah tertotok…”ujar
Kiok bi sambil tertawa.
“Bebaskan dulu jalan darahnya, aku jamin dia pun tdk akan
melancarkan serangan terhadap kalian!”
Kiok bi segera berpaling kearah Kho Beng, dan tanyanya sambil
tersenyum,
“Kho kongcu, bersediakah kau berbuat begitu?”
Kho Beng tertawa dingin.
“Setelah Bu wi cianpwee berkata begitu, utk sementara waktu
akupun akan membebaskan kalian, tapi bila bertemu lagi lain waktu,
he….he……”
Beberapa kali suara tawa dinginnya menyambung kata-kata yg
belum selesai diucapkan.
Kiok bi tertawa terkekeh,
“Bila bersua lagi lain waktu, budak pasti akan mohon maaf
kepada kongcu…!”
Dg cepat ia menepuk bebas jalan darah kaku ditubuh Kho Beng.
Diam-diam pemuda itu mencoba utk mengatur pernapasannya,
ketika dijumpai hawa murninya berjalan lancar dan tiada gejala lain

yg aneh, dia baru melayang turun dari atas atap kereta dan berjalan
menuju kesisi Bu wi lojin.
“Apakah kau merasakan ada sesuatu yg tak beres?” Bu wi lojin
segera bertanya dg cemas.
“Sama sekali tidak!” Kho Beng menggeleng.
Bu wi lojin segera mengulapkan tangannya keempat penjuru,
menanti orang-orang yg berada disekeliling sana telah
mengundurkan diri, ia baru mendongakkan kepalanya seraya
berkata:
“Sin lote, sekarang kau boleh pergi dari sini!”
Dg wajah dingin Sin Cu eng segera menjura, kemudian mengajak
dua puluhan orang anak buahnya dan kereta kuda itu berlalu
darisana menuju kearah barat.
Tidak selang beberapa saat kemudian, bayangan tubuh mereka
sudah lenyap dibalik kegelapan sana.
Saat itulah Kho Beng baru bisa menghembuskan napas lega, baru
saja ia akan mengucapkan terima kasih krn pertolongan tsb, tampak
Bu wi lojin sedang mengawasi kearah dimana mush-musuhnya
melenyapkan diri itu ambil menghembuskan napas panjang, lalu
gumamnya:
“Akhirnya bencana pada malam ini pun dapat dilalui…”
Belum selesai perkataan itu diucapkan, tiba-tiba badannya sudah
roboh terjengkang keatas tanah.
Dg perasaan terkejut buru-buru Kho Beng membangunkan orang
tua tsb seraya berseru:
“Cianpwee kenapa kau?”
Dimana jari tangannya menyentuh, ia merasakan pakaian yg
dikenakan Bu wi lojin basah kuyup bagaikan orang tercebur keair.
Dg perasaan terkesiap ia segera mengawasi wajahnya, sekarang
ia baru menemukan kalau wajah tokoh persilatan ini sudah berubah
menjadi pucat kekuning-kuningan, napasnya lemah sekali.
“Aaaah....!”
Kho Beng benar-benar dibikin tertegun saking kagetnya oleh
perubahan yg berlangsung secara mendadak ini sehingga tanpa
terasa ia menjerit kaget.
Tiba-tiba dari belakang tubuhnya kedengaran seorang berkata
sambil menghela napas:

“Luka dalam yg diderita Bu wi cianpwee belum sembuh, sewaktu
mendapat kabar kalau kau ketimpa musibah, ia menjadi kuatir
sekali, mungkin lantaran kelewat banyak memeras otak akhirnya dia
menjadi kehabisan tenaga....”
Mendengar perkataan tsb, dg rasa terkejut Kho Beng
mendongakkan kepalanya, ia makin terperanjat lagi setelah
mengetahui bahwa orang tsb adalah Kim lotoa dari Kim kong sam
pian.
Buru-buru Kim lotoa memberi hormat seraya berkata:
“Harap sauhiap jangan menaruh curiga kepadaku, yg penting
sekarang adalah berusaha keras untuk menyadarkan kembali Bu wi
cianpwee!”
Kho Beng manggut=manggut, sambil duduk bersila dan menarik
napas panjang, kelima jari tangannya segera ditempelkan keatas
jalan darah Mia bun hiat ditubuh Bu wi lojin, segulung tenaga murni
pun segera meluncur masuk ketubuh orang tua itu dan menyebar
kemana-mana.
Satu perputaran kemudian, Kho Beng sudah basah kuyup mandi
keringat, tapi Bu wi lojin tetap jatuh tak sadarkan diri, sekalipun
dengusan napasnya sudah makin bertambah kuat.
Maka tanpa segan-segan lagi Kho Beng mengerahkan segenap
tenaga dalam yg dimilikinya utk menyembuhkan luka orang tua tsb,
ditengah suasana yg amat kritis inilah, mendadak dari kejauahan
sana kembali muncul beberapa sosok bayangan hitam yg meluncur
datang dg cepatnya.
Kim lotoa yg pertama-tama menjumpai kehadiran bayangan
manusia itu, dg perasan terkejut ia segera meloloskan ruyungnya
sambil bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yg tak
diinginkan.
Dlm keadaan seperti ini, dia tak berani mengusik ketenangan Kho
Beng, sementara hatinya gelisah sekali demi memikirkan
keselamatan Bu wi lojin dan Kho Beng.
Menunggu bayangan manusia itu sudah makin dekat dan
diketahui bahwa mereka adalah saudara-saudaranya sendiri bersama
Chin sian kun sekalian, dia baru menghembuskan napas panjang,
cepat-cepat tangannya digoyangkan berulang kali melarang mereka
berisik.
Betapa gembiranya Chin sian kun setelah menjumpai Kho Beng
berada pula disana, Kim lotoa segera bertanya dg suara lirih:

“Eeei...darimana kalian tahu kalau kami berada disini?”
“Penggeledahan kami dirumah makan Poan gwat kie tdk
memberikan hasil apa-apa” kata Chin sian kun, “kemudian kami
pulang mencarimu, tapi diketahui kalianpun sudah pergi dari sana,
maka kami segera keluar kota utk mencarimu disekitar sini....”
Sementara mereka masih berbicara, tiba-tiba terdengar Kho Beng
menghembuskan napas panjang, seraya bertanya:
“Cianpwee, bagaimana perasaanmu sekarang?”
Mendengar pertanyaan itu semua orang segera berpaling, benar
juga ternyata Bu wi lojin sudah membuka matanya kembali,
sementara Kho Beng yg duduk bersila disampingnya
menghembuskan napas panjang, pakaiannya telah basah pula oleh
keringat.
Bu wi lojin menghela napas pelan, katanya kemudian:
“Walaupun aku telah pulih kembali kesadarannya, namun masih
susah bergerak, tolong Kim bersaudara memayangku dg segera dan
secepatnya meninggalkan tempat ini....”
Akan tetapi sewaktu dia menjumpai kehadiran Ruamng sekalian
berempat, kembali wajahnya nampak tertegun, sambil mengawasi
Kho Beng segera tanyanya:
“Siapakah orang-orang itu?”
“Keempat orang ini adalah anak buah boanpwee...” buru-buru
Kho Beng menerangkan.
Lalu kepada Rumang sekalian katanya:
“Hayo cepat kalian menjumpai Bu wi cianpwee!”
Siapa tahu keempat orang itu sama sekali tidak bergerak dari
posisi semula, malah Hapukim segera berseru sambil tertawa dingin:
“Yang kami sanjung serta hormati adalah seorang enghiong atau
lelaki perkasa, bukan seorang kakek tua bangka yg mati tidak, hidup
pun susah.”
Tak terlukiskan rasa amarah Kho Beng setelah mendengar
perkataan itu, tapi sebelum ia sempat berbicara, Mokim telah
berkata pula dg suara dingin,
“Cukong, kami benar-benar mulai mencurigai ketidak beresan
otakmu, tadi kau berusaha menghindari orang-orang dari kelompok
ini, tapi sekarang malah berusaha menyelamatkan tua bangka ini,
sebenarnya permainan apa sih yg sedang kau perbuat?”
Seandainya Kho Beng tdk merasa lemah sehingga sama sekali tak
bertenaga, ingin benar dia menggaplok orang-orang tsb.

Dalam pada itu Bu wi lojin telah berkata pula sambil
mengernyitkan alisnya:
“Bila didengar dari nada pembicaraannya, aku rasa orang-orang
ini bukan penduduk asli dari daratan tionggoan, hubungan kalian
pun seperti majikan dg pembantu tapi seperti juga bukan,
sebetulnya hubungan apasih yg terjalian diantara kalian?”
“Aaaai.....tak akan habis utk menerangkan persoalan ini dg
sepatah dua patah kata....” ujar Kho Beng sambil menghela napas
panjang.
Mendengar itu Bu wi lojin segera menukas,
“Kalau memang tak akan habis dibicarakan dlm waktu singkat,
sekurangnya kita harus meninggalkan tempat ini selekasnya!”
Sembari berkata ia segera memberi tanda kepada Kim kong sam
pian.
Kim lotoa dan Kim loji segera memayang tubuh orang tua itu, lalu
tanyanya:
“Cianpwee, apakah kita segera pulang kepenginapan?”
Bu wi lojin menggeleng kepala,
“Walaupun musuh tangguh telah mundur, namun sebelum
berhasil merebut kembali kitab pusaka Thian goan bu boh, tak
mungkin mereka akan lepas tangan dg begitu saja. Apalagi didalam
kota terdapat banyak sekali komplotannya, tempat itu tak bakal
aman.
Lebih baik kita berjalan kearah barat sejauh tiga puluh li, ditepi
bukit karang terdapat sebuah gua bekas tempat tinggal sahabatku,
nah sekarang tolonglah kalian menghantarkan aku kesana….”
Sementara itu, Molim bersaudara sekalian yg mendengar tentang
kitab pusaka Thian goaan bu boh, tiba-tiba hatinya tergerak dan
saling bertukar pandangan sekejap.
Sementara itu Kim lotoa telah membangunkan Bu wi lojin dan
siap berangkat meninggalkan tempat itu.”
Mendadak Kho Beng berseru dg cemas:
“Bukankah tadi terdapat begitu banyak cianpwee yg membantu
kita, mengapa kita tdk minta bantuan mereka lagi?”
Mendengar perkataan tsb, Bu wi lojin segera tersenyum.
“Oooh…itu mah Cuma siasatku utk menakuti mereka, padahal
bayangan manusia tadi Cuma orang-orangan dari rumput yg dibuat
Kim tayhiap, masa hingga sekarangpun belum kau ketahui?”

Tapi…mana mungkin orang-orangan dari rumput bisa
berbicara….”
Sambil tertawa Kim lotoa berkata:
“Sesungguhnya yg berbicara adalah aku, sedang bagaimana nada
suaranya dan apa yg mesti kuucapkan merupakan ajaran dari
cianpwee sebelumnya, yaa...satu orang harus berperan tiga manusia
yg berbeda-beda, hampir saja kakiku terasa mau patah.”
“Oooh...rupanya hanya sebuah siasat tentara rumput” kata Kho
Beng sambil tertawa geli, “andaikata siasat tsb sampai ketahuan
komandan Sin, bukankah keadaan jadi lebih berbahaya?”
Bu wi lojin tertawa pula, katanya:
“Selama hidup aku selalu bertindak sangat hati-hati, sekalipun Sin
Cu beng orangnya cerdik dan seksama, tetap saja ia tak bakal
menyangka kalau aku bertindak begitu berani, oleh sebab itulah kita
harus cepat-cepat meninggalkan tempat ini, sebab aku takut dia
akan balik lagi kemari....”
Mendengar penjelasan tsb, Kho Beng tak berani ayal lagi, ia
segera beranjak meninggalkan tempat tsb.
Maka berangkatlah kesembilan orang itu menuju ketebing seratus
kaki.
Ditengah bukit-bukit karang yg terjal, terdapat sebuah lembah
kecil.
Rerumputan nan hijau dan aneka macam bunga tumbuh disekitar
lembah, diujung lembah tadi terdapat sebuah gua yg besar.
Waktu itu pintu gua tertutup rapat-rapat, Bu wi lojin sedang
duduk diatas sebuah pembaringan sambil mengatur pernapasan,
sedangkan Kho Beng menanti disisinya dg perasaan gelisah dan tak
tenang.
Walaupun sejak tiba digua tsb waktu baru lewat setengah jam,
namun bagi perasaan Kho Beng seperti sudah setengah tahun
lamanya, sebab ia merasa banyak persoalan yg hendak diucapkan
keluar, tentu saja ia pun tahu Bu wi lojin pun mempunyai banyak
persoalan yg hendak disampaikan kepadanya.
Baru saja dia hendak menuju kepintu gua, tiba-tiba terdengar Bu
wi lojin menghembuskan napas panjang sambil berseru:
“Nak, kemarilah!”
Dg girang Kho Beng membalikkan badannya sambil memburu
kesamping pembaringan bata, tampak olehnya walaupun Bu wi lojin
telah bersemedi sekian waktu namun sinar matanya tetap sama dan

sama sekali tak bersinar, hal ini tentu saja membuat hatinya amat
gelisah.
“Cianpwee, apakah kau merasa agak baikan?” ia bertanya.
Bu wi lojin manggut-manggut.
“Yaa..badanku memang terasa segar kembali mungkin utk
sementara waktu bukan menjadi masalah lagi, aaai….tapi untuk
mengembalikan kekuatanku seperti sedia kala, mungkin paling tidak
harus bersemedi lagi selama sepuluh tahun, padahal mampkah aku
hidup selama sepuluh tahun lagi masih menjadi suatu pertanyaan
besar. “
“Siapa sih yg telah melukai cianpwee?” tanya Kho Beng dg wajah
berubah karena terperanjat.
“Dewi In nu!”
“Apakah dewi In nu adalah perempuan yg menyamar sebagai
kuasa perkampungan Hui im ceng dimasa lalu kemudian mengambil
kitab pusaka dari cianpwee?”
Bu wi lojin manggut-manggut.
Dg perasaan yg amat bergetar ia berseru :
“Begitu lihaykah perempuan siluman itu?”
Dg sedih ia menghela napas, katanya:
“Aaaai, dia adalah musuh paling tangguh yg belum pernah
kujumpai selama hidup, pukulan Thian goan eng nya hampir saja
membuyarkan tenaga latihanku selama empat puluh tahun!”
“Thian goan eng?” tanya Kho Beng dg perasaan terperanjat.
Kembali Bu wi lojin menghela napas.
“Ilmu pukulan tsb hanya merupakan salah satu macam ilmu yg
tercantum dalam kitab pusaka Thian goan bu boh....”
“Jadi maksud cianpwee, siluman perempuan itu telah berhasil
mempelajari ilmu sakti yg tercantum dalam kitab pusaka Thian goan
bu boh?” tanya Kho Beng dg wajah berubah.
Bu wi lojin manggut-manggut.
“ Untung saja kitab pusaka sakti Thian goan bu boh mengandung
ilmu silat yg sangat mendalam dan cukup rumit, menurut
perkiraanku dia baru bisa menyelami setengah dari isi kitab tsb,
kalau bukan begitu tak nanti dia akan mengirim begitu banyak jago
dan berusaha utk merebutnya kembali ! “
Kembali Kho Beng merasa amat terperanjat, hanya mempelajari
setengah dari kitab pusaka itu pun sudah begitu lihai, andaikata Bu
wi lojin tdk berjuang mati-matian utk merampas sebagian dari kitab

tsb sehingga perempuan siluman itu berhasil mempelajari seluruh isi
kitab itu, bukankah kekuatannya tiada tandingan lagi didunia ini?
Sementara itu Bu wi lojin telah berkata lagi sambil menghela
napas:
“Aku benar-benar merasa malu terhadap arwah ayahmu dialam
baka....”
“Cianpwee, kau sudah kelewat banyak melepaskan budi kepada
boanpwee, harap kau jangan berkata begitu, apa yg cianpwee
lakukan selama ini sudah membuat boanpwee tak tentram.”
Bu wi lojin menggoyangkan tangannya berulang kali, lalau
berkata:
“Walaupun aku sudah berusaha memeras tenaga dan pikiran
bahkan pertaruhkan pula jiwa tuaku, alhasil hanya separuh buku yg
berhasil kurebut kembali.”
“Separuh buku....?” Kho Beng berseru tertahan.
Bu wi lojin tersenyum,
“Biarpun kitab ini sudah tak utuh, namun aku yakin dewi In nu
tak bakal bisa menguasai ilmu silat maha sakti lagi, bagimu pun hal
ini tak akan mendatangkan kerugian.”
Sambil berkata ia segera membuka buntalannya dan
mengeluarkan dua lembar kulit kambing lalu diletakkan diatas
lututnya.
“Aku tidak mengerti…” Kho Beng berbisik kebingungan.
Sambil menunjuk kearah kulit kambing itu, Bu wi lojin berkata:
“Coba kau perhatikan dulu lukisan diatas kertas ini, kemudian
dengarkan penjelasanku maka kau segera akan mengerti.”
Dg seksama Kho Beng segera memperhatikan kedua lembar kulit
kambing itu, pada lembaran pertama berlukiskan sebuah gambar Pet
kwa besar, didalam pat kwa bersila seseorang dg sepasang tangan
menempel pada Im dan Yang.
Yang aneh adalah letak atau posisi pat kwa tsb ternyata tak
karuan bentuknya, walaupun sepasang tangan orang yg dilukis
ditengah menempel pada posisi Im serta Yang namun justru terlukis
pula beberapa bekas telapak yg berpencar disekeliling gambar pat
kwa.
Pada lembaran kedua pun keadaannya tak jauh berbeda, hanya
posisi pat kwanya berubah lagi, sedang gambar orangnya dari posisi

duduk menjadi berdiri, disitu pun tertera bekas bekas telapak yg
terpencar.
Terdengar Bu wi lojin berkata:
“Kitab pusaka Thian goan bu boh seluruhnya terdiri dari enam
halaman, dua lembar pertama adalah kedua lembar gambar ini,
sedang empat lembar berikut adalah penjelasan. Menurut
pendapatmu, jika kau kehilangan kedua gambar ini, mampukah kau
meneruskan latihanmu?”
Kho Beng termenung sebentar, lalu katanya:
“Apa bila seseorang memiliki daya ingatan yg kuat, mungkin saja
ia bisa mengingat sebagian diantaranya.”
Bu wi lojin tersenyum,
“Benar, oleh karena kau belum memahami rahasia dari kedua
lembar gambar ini maka kau bisa berpendapat demikian, memang
jurus silat pelbagai aliran lain memisahkan antara tenaga dalam
serta perubahan jurus, berbeda sekali dg ilmu silat dari Thian goan
bu boh, setiap jurus silatnya harus disesuaikan dg posisi langkah dan
urutan nadi yg tercantum dalam gambar keterangan ini, sebab bila
salah sedikit saja, bukan Cuma akan terjadi reaksi yg luar biasa,
malah bisa jadi akan menderita jalan api menuju neraka dan
kehilangan seluruh tenaga dalamnya.”
Dg perasaan terkejut bercampur keheranan Kho Beng berseru:
“Kalau begitu utk mempelajari ilmu silat dari kitab pusaka Thian
goan bu boh, seseorang harus membutuhkan petunjuk dari kedua
lembar gambar ini....?”
“Yaa...kalau pelajaran ilmu silat bisa dihapalkan maka kedua
lembar gambar tsb mustahil dihapalkan dg begitu saja, karena orang
harus menyelaminya satu persatu menurut kemajuan ilmu yg
dicapai, apalagi kalau mengandalkan daya ingat saja, resikonya
benar-benar kelewat besar....selain itu akupun pernah mendapat
petunjuk dari ayahmu utk membuatkan tujuh lembar salinan buat
ketujuh partai besar, karenanya aku yakin masih bisa menghapalkan
kembali isi dari halaman terakhir kitab pusaka ini....”
Belum habis ia berkata, dg gelisah Kho Beng telah berseru:
“Oya, tentang soal ini aku memang ingin bertanya, setelah
cianpwee selesai menyalin kitab pusaka tsb, apakah pihak tujuh
partai besar telah menerima salinannya?”
“Belum” Bu wi lojin menggeleng, “aku sendiri pun tak habis
mengerti kenapa ayahmu waktu itu tdk menghargai kitab pusaka

tsb, sedang tujuh partai besar pun tdk banyak bertanya, hingga
sekarang aku belum memahami apa sebabnya.”
Kho Beng segera menghela napas,
“Aaai, kalau begitu dugaanku tak meleset, jelas peristiwa ini
merupakan suatu rencana busuk yg paling sempurna.”
“Rencana busuk apa?” tanya Bu wi lojin terkejut.
“Tahukan cianpwee kenapa ketua dari tujuh partai besar tdk
mengambil salinan kitab pusaka itu? Sesungguhnya mereka
bukannya enggan menerima salinan itu, tapi ditengah jalan telah
bertemu dg seseorang yg menyaru sebagai locianpwee dan berlagak
tidak mengetahui persoalan ini, akibatnya para ketua pertai menjadi
gusar, mereka mengira ayahku mempermainkan mereka, maka
kawanan jago yg kecewa pun berbondong-bondong datang
keperkampungan Hui im ceng yg berakibat terjadinya peristiwa
berdarah itu.”
Berubah wajah Bu wi lojin setelah mendengar perkataan itu,
serunya tanpa terasa:
“Benar, benar sebuah rencana busuk yg amat keji, jadi
maksudmu dalangny adalah orang yg menipu kitab dariku yaitu dewi
In nu?”
“Benar!” jawab Kho Beng dg rasa benci.
Bu wi lojin terbatuk-batuk lalu secara tiba-tiba memuntahkan
segumpal darah kental.....
Bu wi lojin memejamkan matanya sejenak, lalu katanya sambil
menggeleng:
“Waktu sudah amat mendesak, lebih baik kau segera
mempelajari ilmu sakti yg tercantum dlm kitab pusaka Thian goan bu
boh, hanya dg menguasai ilmu sakti inilah kau baru bisa membalas
dendam serta menumpas musuh-musuhmu!”
“Tapi luka yg diderita cianpwee lebih penting lagi artinya....”
buru-buru Kho Beng berseru.
Bu wi lojin tertawa getir.
“Aku tak bakal mati, dg luka dalam yg kuderita sekarang, paling
tidak membutuhkan waktu semedi selama sepuluh tahun utk bisa
memulihkan kembali seperti sedia kala, tapi bila kau mampu
manguasai ilmu sakti dari Thian goan bu boh tsb dalam setengah
bulan mendatang dan kemudian kau bersedia membantuku, niscaya
tenaga dalamku bisa dipulihkan kembali seperti sedia kala cukup
dalam waktu satu tahun saja!”

Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali katanya dg wajah
serius:
“Tapi dalam lima belas hari berikut tak boleh ada orang yg
mengusik atau pun mengganggu ketenangan kita, kalau tidak bukan
saja pikiranmu akan bercabang sehingga tak sanggup konsentrasi
penuh, bagi keadaan luka yg kuderita pun akan semakin bertambah
parah, karenanya lebih baik kau atur dulu suatu penjagaan yg ketat
dari orang-orangmu yg diluar, setelah itu aku akan mewariskan
semua teori ilmu sakti tsb kepadamu utk dipelajari!”
Kho Beng mengiakan dan buru-buru keluar dari ruangan tsb.
Sementara itu Rumang beserta Hapukim serta dua bersaudara
Mo yg berkelompok menjadi satu, kemudian Kim kong sam pian
serta si Walet terbang berwajah ganda yg mengelompok disudut
lain, sedang menunggu dg perasaan gelisah dan kesal.
Begitu melihat Kho Beng munculkan diri dg semangat yg
berkobar mereka segera maju menyongsong.
Kho Beng menutup dulu pintu gua rapat-rapat, lalu memberi
tanda kepada semua orang agar duduk, sesudah itu baru katanya:
“Luka dalam yg diderita Bu wi cianpwee sangat parah, ia
membutuhkan waktu utk bersemedi dg tenang tanpa gangguan,
sementara aku sendiri pun akan memanfaatkan kesempatan selama
beberapa hari utk mempelajari ilmu sakti yg tercantum dalam kitab
thian goan bu boh, oleh sebab itu selama lima belas hari berikut
kami tak boleh mengalami gangguan apapun!”
“Soal itu tak usah Kho sauhiap kuatirkan” buru-buru Chin sian
kun berseru sambil tertawa, “biar kami yg akan mengawal
keselamatan kalian selama setengah bulan mendatang!”
“Memang begitu maksudku, kalau toh nona Chin telah ebrkata
demikian, aku sendiri pun tak perlu sungkan-sungkan lagi dg
bantuan saudara sekalian diwaktu susah, dihari-hari sukses nanti
pasti akan kubalas budi kebaikan kalian ini!”
“Sauhiap, apa-apan kamu berkata begitu” seru Kim lotoa, “kami
sangat kagum atas kegagahan serta kebijaksanaan kongcu, sudah
sewajarnya bila teman saling membantu, kau jangan salah mengira,
kami bukan manusia yg kemaruk akan harta ataupun kedudukan,
kongcu, bila kau ingin mengataka sesuatu, katakan saja terus
terang!”

Kho Beng merasa sangat terharu, buru-buru dia mengucapkan
terima kasih, tapi teringat bagaimana caranya membagi tugas
diantara mereka semua kembali ia menjadi sangsi.
Dia merasa tak punya hubungan ataupun persahabatan yg cukup
akrab dg orang-orang tsb, padahal keadaan tidak memberi
kesempatan utk berpikir lebih panjang, meski perkataan Kim kong
sam pian enak sekali didengar, namun berdiri pada posisinya
sekarang bagaimanapun jua dia mesti berjaga-jaga terhadap segala
sesuatu yg mungkin saja bakal terjadi.
Sebaliknya terhadap Rumang sekalian mereka tak lebih hanya
orang-orang liar yg ditaklukan dan ditampung si unta sakti
berpunggung baja dg maksud membantunya jelas sudah diketahui
keikut sertaan mereka dalam rombongannya tak lain krn masalah
kitab pusaka Thian goan bu boh, karenanya terhadap orang-orang
semacam ini, dia tak bisa menaruh kepercayaan penuh.
Berada dlm keadaan seperti ini, bagaimana caranya utk mengatur
penjagaan?
Sementara dia masih termenung dan tak tahu bagaimana
memutuskan, tiba-tiba Chin sian kun berkata sambil tertawa:
“Sauhiap, masih ada persoalan yg menyulitkan dirimu? Mengapa
tdk dikemukakan saja?”
“Ooooh…..tidak ada” buru-buru Kho Beng menggeleng, “aku
sedang berpikir, bagaimana cara pembagian tugas?”
Chin sian kun memang seorang gadis yg pintar dan teliti, dari
perkataan pemuda itu, dia segera dpt memahami kerisauan dari Kho
Beng, maka sambil memutar biji matanya dia berkata:
“Apabila sauhiap dpt mempercayai perkataanku, aku ingin sekali
mengajukan sebuah usul!”
“Bagus sekali kalau begitu, silahkan nona Chin katakan!”
“Gua ini persis menghadap kemulut lembah, andaikata benarbenar
ada musuh tangguh yg menyerbu kemari, maka pertarungan
yg berkobar pasti akan mengganggu ketenangan dlm gua, oleh krn
itu aku pikir lebih baik kita membagi orang-orang kita menjadi dua
rombongan, rombongan pertama menjaga mulut lembah dan
rombongan kedua menjaga didalam dua, kedua kelompok kekuatan
ini harus saling bantu membantu.”
Kho Beng segera manggut-manggut.
“Ehmmm…cara membagi seperti ini memang cocok sekali dg
jalan pemikiranku!”

Tapi persoalan baru kembali muncul, siapa yg mendapat tugas
menjaga dimulut lembah dan siapa didalam gua?
Kelompokdari Rumang sekalian tak bisa dipercaya seratus persen,
sedangkan Kim kong sam pian meski pernah membantu, tapi susah
utk diramalkan apakah kedatangan mereka bukan disebabkan kitab
pusaka Thian goan bu boh.
Sementara dia merasa kesulitan utk mengambil keputusan, Chin
sian kun kembali berkata:
“Bila sauhiap bersedia menerima usul dariku, biarlah Kim
bersaudara serta aku menjaga didalam gua, sedangkan keempat
orang saudara itu menjaga diluar gua…”
Tapi sebelum perkataan itu selesai diucapkan, Molim telah
berseru dg suara dingin:
“Kami keberatan!”
“Kenapa keberatan?” tegur Chin sian kun tertegun.
Sambil tertawa dingin Molim berseru:
“Siapa yg tahu rencana busuk apa yg sedang kau persiapkan dg
cara mengatur seperti itu? Kami empat bersaudara mempunyai
tugas melindungi keselamatan majikan, karena itu tugas menjaga
tak akan kuserahkan kepada orang lain.”
Chin sian kun segera tertawa terkekeh-kekeh:
“He….he….he…sebenarnya perkataan kalian berempat memang
masuk diakal, tapi usul yg sengaja kuucapkan barusan pun
mempunyai dasar-dasar alasan yg kuat, karena kenyataan
mengharuskan aku berbuat begitu!”
“Kenyataan bagaimana maksudmu?” sela Molim dingin.
“Tolong tanya apakah kalian berempat bisa memasak nasi,
membuat sayur….?”
Mokim agak tertegun, lalu sahutnya tergagap:
“Soal ini………”
Sambil tertawa Chin sian kun berkata lebih jauh,
“Kuali serta peralatan memasak berada didalam goa, apakah
kalian menyuruh aku membuat tungku lagi diluar gua? Bagaimana
seandainya hujan turun secara tiba-tiba? Apalagi aku adalah seorang
wanita, masa seorang perempuan disuruh tidur ditempat terbuka?”
Dua bersaudara Mo jadi terbelalak dg wajah melongo mereka
terbungkam seketika itu juga.
Kembali Chin sian kun berkata:

“Oleh sebab itu aku harus berdiam didalam gua, karena aku
berada dalam gua maka ketiga toako dari keluarga Kim secara
otomatis menjaga didalam gua pula. Aku lihat kalian berempat lebih
baik mengalah saja dg menjaga diluar lembah, sementara kebutuhan
sehari-hari akan kupersiapkan, Nah, bagaimana menurut pendapat
sauhiap?”
Kho Beng berpikir sebentar, dia merasa cara tsb memang rasanya
paling baik, maka sahutnya kemudian sambil manggut-manggut:
“Kalau toh nona Chin telah berkata demikian, baiklah kita
putuskan begitu saja. Mulai sekarang kuminta kalian sama-sama
menjaga pada posnya masing-masing, budi kebaikan kalian biar
kubalas lima belas hari kemudian disaat latihanku telah selesai.”
Setelah mendengar perkataan itu, dua bersaudara Mo sekalian
segera mengerti kalau keputusan tak mngkin bisa dibantah lagi,
setelah melotot sekejap kearah Chin sian kun dg gemas, mereka
saling bertukar pandang sekejap dan mengundurkan diri dari gua.
Setibanya dimulut gua, Molim segera berseru dg suara dingin:
“Nah saudara Rumang, saudara Hapukim, kalian sudah melihat
dg jelas?”
Rumang bertanya agak tercengang,
“Apa yg sudah terlihat dg jelas?”
“Perempuan sialan itu sengaja mengatur secara tak adil, dg
menyingkirkan kita keluar lembah, jelas sudah kalau dia tidak
mempunyai maksud baik.”
Rumang tdk mengerti soal akal-akalan, dg wajah tertegun
kembali serunya:
“Apa bedanya menjaga didalam ataupun diluar gua? Toh samasama
menjaganya....”
Sambil tertawa dingin Mokim segera menukas,
“Saudara Rumang, mungkin kau sudah lupa apa maksud
kedatangan kita kemari? Mengapa kita bersedia diperintah si bocah
muda itu?”
“Tentu saja demi ilmu silat maha sakti yg tercantum dalam kitab
pusaka Thian goan bu boh!”
“Kalau toh belum melupakannya, apakah kau tak pernah
mempertimbangkan bahwa orang lain pun kemungkinan besar sama
seperti kita, kedatangannya membawa suatu tujuan tertentu?”
Berubah paras muka Rumang, dg bahasa daerahnya dia langsung
mengumpat.

“Perempuan bajingan, rupanya dia memang sengaja
meninyingkirkan kita keluar lembah agar mereka mempunyai
kesempatan utk turun tangan terlebih dahulu?”
“Ehmm....tak nyana kau sudah mengerti sekarang...”
Dg rasa mendongkol, Hapukim berseru pula :
“Kalau begitu lebih baik kita tantang mereka dan segera
menghabisi orang itu, kita serbu sekarang saja, siapa yg kalah toh,
ia akan kabur sendiri dari sini!”
Habis berkata dia segera bermaksud menyerbu kedalam.
Tapi Mokim segera menarik tangannya seraya berseru:
“Saudara Hapukim, buat apa kau mesti terburu-buru? Sekarang
meski kita dapat mengusir mereka dari situ tapi apalah gunanya buat
kita?”
“Lalu kita mesti menunggu sampai kapan?” tanya Hapukim
setelah termangu-mangu sejenak.
Molim tertawa dingin.
“Sekarang kita tak usah menunjukkan tanda-tanda yg
mencurigakan dulu, toh kesempatan kita masih sangat banyak
sekali. He...he....apalagi keadaan sudah kritis, aku yakin dia pasti
akan menyerahkan kitab pusaka tsb kepada kita!”
Maka mereka berempat secara diam-diam mengadakan
perundingan rahasia, utk membahas persoalan tsb.
Pada saat yg sama, Kim kong sam pian serta Chin sian kun yg
berada didalam gua pun sedang melangsungkan perundingan
rahasia, hanya saja yg dirundingkan mereka adalah bagaimana
caranya mencegah serta menghadapi serangan penghianatan dari
keempat orang asing yg menjaga dimulut lembah.
Perubahan wajah Molim sekalian ketika mengundurkan diri dari
gua tadi telah meningkatkan kewaspadaan Chin sian kun sekalian.
Kho Beng sendiri telah kembali kedalam gua setelah selesai
melakukan pembagian tugas tadi, pintu gua segera ditutup rapatrapat
dan putuslah hubungan antara luar dan dalam gua bagaikan
dunia yg terpisah.
Waktu pun berlangsung hari demi hari dg tenang, ketenangan tsb
sesungguhnya hanya saat tenang menjelang tibanya badai besar,
hanya saja tak ada yg bisa meramalkan kapan badai yg dahsyat itu
akan mulai menyerang....
Keadaan seperti itu berlangsung selama tiga hari lamanya.

Pada keesokan hari keempat, ketika Chin sian kun melihat
ransum yg dibawa masing-masing orang sudah habis termakan, dia
pun membawa kantung kain dan keranjang bambu turun gunung utk
membeli bahan makanan.
Sebelum berangkat, dia berpesan dulu kepada Kim kong sam
pian agar lebih berhati-hati, ketika tiba diluar lembah, ia
menyaksikan Rumang sekalian sedang bergurau dalam sebuah
gubuk mesra yg kelihatan masih baru, maka dia pun menyapa
orang-orang tsb sambil tertawa, kemudian meneruskan
perjalanannya menuruni bukit.
Siapa tahu belum mencapai tengah jalan, mendadak ia melihat
ada seseorang berjalan mendekat dg langkah sempoyongan, dg rasa
terkejut nona itu menyelinap kebelakang sebuah batu besar dan
bersembunyi disitu.
Kehadiran seseorang ditengah pegunungan yg terpencil dan sepi
seperti apa yg terjadi hari ini membuat kewaspadaan Chin sian kun
segera ditingkatkan.
Ia tahu dewasa ini Kho Beng sudah menjadi orang yg dicari-cari
seluruh umat persilatan, ditambah lagi usaha dewi In nu yg
berusaha utk mendapatkan kembali kitab pusakanya yg hilang, maka
apabila ada musuh yg mengetahui tempat persembunyian mereka
sehingga mereka mengadakan serbuan secara besar-besaran,
akibatnya pasti susah dibayangkan lagi.
Itulah sebabnya sebelum dia melihat dg jelas wajah orang itu, ia
tak berani bertindak secara gegabah, dia ingin menyelidiki dulu asal
usul lawannya sebelum bertindak lebih jauh.
Sementara itu bayangan manusia tadi makin lama makin
mendekat, malah sambil berjalan orang itu memperdengarkan suara
nyanyian kecil.
Ketika Chin sian kun mencoba utk memperhatikan dg lebih
seksama, ternyata orang it adalah seorang hwesio.
Hwesio itu menggunakan jubah pendeta yg sudah amat dekil,
warnanya sudah luntur hingga semuanya kelihatan berwarna gelap,
dia membawa sebuah buli-buli besar, tangan kirinya membawa
sebuah tongkat bambu, sedang kan tangan kanannya membawa
sebuah bungkusan.

Ia memiliki wajah bulat dg mata yg merah krn mabuk, jalannya
sempoyongan, wajah maupun bentuk tubuhnya yg begitu dekil dan
menjijikkan membuat siapapun pasti akan tumpah bila melihatnya.
Setelah melihat dg jelas keadaan hwesio tsb, Chin sian kun
merasa amat kesal dan murung, ia tak tahu darimana datangnya
pendeta liar tsb? Dimana orang itu justru muncul disitu dalam
keadaan seperti ini?
Terdengar hwesio itu membawakan lagu senandung lirih
mengiringi tiap derap langkahnya:
“Langit tak berawan, cuaca cerah,
Ada arak ada daging, tak bakal kelaparan,
Kantong kosong tanpa sepeserpun, tak takut merampok.
Orang-orang gagah perkasa, tak bermaksud jahat.
Kau tidak mengganggu aku, akupun tidak menggenggumu.
……………………..”
Nyanyi punya nyanyi, orang itu sudah berjalan melewati batu
karang.
Mendadak ia berhenti berjalan, lagu senandung pun ikut berhenti
dibawakan.
Tampak hwesio itu mendengus beberapa kali disekitar sana,
kemudian gumamnya:
“Aneh, aku sihwesio telah bertemu dg memedi?aukah aku sudah
ketimpa rejeki?”
Tercekat perasaan Chin sian kun melihat tingkah laku pendeta
itu, pikirnya:
“Jangan-jangan dia sudah mengetahui kalau aku bersembunyi
dibelakang batu?”
Belum habis ingatan tsb melintas lewat, tampak si hwesio itu
berjalan kembali dg sempoyongan sambil bersenandung:
“Setan dedemit, janganlah mendekat…..
Bila mabukku telah mendusin…..
Biar kupaksa kau unjukkan wujud aslimu……………..
Makin berjalan semakin jauh suara senandungnya makin lirih,
Chin sian kun yg bersembunyi dibelakang batu semakin terperanjat
lagi setelah ia mengintip keluar.
Ternyata meskipun langkah si hwesio itu gontai macam orang
mabuk arak, namun gerak tubuhnya sama sekali tidak lambat, dlm
waktu singkat ia sudah berada sepuluh kaki lebih dari posisi semula,

lagi pula arah yg dituju adalah jalan setapak dimana Chin sian kun
baru saja melewatinya.
Chin sian kun berpikir sejenak, lalu diputuskannya utk
mengikutinya dulu secara diam-diam, bila pihak lawan tdk menuju
kearah lembah dimana dirinya berdiam, ia akan segera balik, kalau
tidak maka dia harus munculkan diri utk menghalanginya.
Secara diam-diam nona itu merangkak keluar dari belakang batu
lalu menelusuri kembali jalan semula dan menguntil dibelakang
pendeta itu.
Setelah melalui sebuah bukit, ternyata ia saksikan pendeta tsb
benar-benar menuju ke gua dimana mereka tinggal.
Chin sian kun segera merasakan gelagat tdk menguntungkan ,
dia tak tahu apa maksud kedatangan pendeta tsb, melakuakan
penyelidikan? Ataukah hendak mencari gara-gara?
Tapi ada satu hal yg pasti yakni dia harus segera munculkan diri
utk menghalangi jalan pergi pendeta tsb, dlm gelisahnya dia segera
menarik napas dan melompat ketengah udara, bentaknya nyaring:
“Hey hwesio! Tunggu sebentar, aku hendak menanyakan sesuatu
kepadamu...!”
Hwesio itu benar-benar menghentikan langkahnya sesudah
mendengar teriakan tsb.
Bagaikan seekor walet yg melintas diangkasa, dalam beberapa
kali jumpalitan saja Chin sian kun telah melayang turun dihadapan
pendeta tsb.
Bau arak yg amat menusuk hidung membuat nona itu berkerut
kening, tapi ia memaksakan diri utk tertawa saja sambil bertanya,
“Taysu hendak kemana?”
Hwesio itu memutar biji matanya beberapa kali, lalu sahutnya
sambil tertawa terkekeh.
“He....he.....he....jadi setengah harian lamanya tujuanmu hanya
ingin mengajukan pertanyaan tsb?”
Merah jengah selembar wajah Chin sian kun, serunya kemudian
agak tersipu-sipu,
“Ternyata taysu sudah mengetahui kehadiranku semenjak tadi,
kalau begitu harap kelancanganku ini sudi dimaafkan.”
Hwesio itu tertawa terkekeh-kekeh.
“Kalau didengar dari nada pembicaraanmu amat sungkan, tapi
siapa yg bisa menduga pikiran macam apa yg terkandung dalam
benakmu?”

“Taysu, aku sama sekali tdk bermaksud jahat...!” kata Chin sian
kun serius.
Hwesio itu memutar biji matanya yg memperhatikan sekejap
tubuh si nona dari atas hingga bawah lalu sambil tetap tertawa
katanya,
“Ehmmm.kalau ku amat-amati wajahmu rasanya memang agak
berbeda dg kelompok manusia yg berada dibawah bukit sana, coba
kalau bukan krn begitu, aku si hwesio sudah tak akan bersikap
sungkan-sungkan lagi kepadamu!”
Sudah setengah harian lamanya mereka berbicara namun
hasilnya belum berbicara banyak, lama kelamaan mendongkol juga
Chian sin kun dibuatnya.
Namun dia masih berusaha utk menahan sabar, kembali katanya:
“Sebenarnya taysu hendak pergi kemana?”
“Ha…ha…ha….pentingkah persoalan ini bagimu?”
“Benar!”
“Kalau begitu tak ada salahnya kalau kuberitahukan kepadamu,
aku si hwesio hendak kemana!”
Ternyata yg ditunjuk adalah arah kemulut lembah tersebut.
Setelah menengok kearah yg ditunjuk, Chin sian kun segera
berseru keras:
“Taysu, apabila kau tdk mempunyai urusan yg begitu penting,
tolong tak usah kesana!”
Pendeta itu agak tertegun, setelah memutar biji matanya
beberapa saat kembali tanyanya:
“Mengapa?”
Setelah termenung sebentar Chin sian kun menjawab:
“Tidak karena apa-apa, aku cma memohon kesudian taysu agar
taysu sudi memakluminya!”
Pendeta itu segera tertawa bergelak:
“Ha....ha....ha....kalau tidak kau kemukakan alasannya,
bagaimana mungkin aku bisa memaklumi dirimu? Ha...ha....dasar
perempuan, aku si hwesio paling tidak suka berhubungan dg kaum
wanita macam dirimu itu, karenanya kuharap kau pun jangan
mengusik diriku lagi, setiap orang mempunyai maksud dan tujuan yg
berbeda. Lebih baik kau tempu jalan raya Yang kwan to mu dan aku
menyebrangi jembatan To bok kiau ku, kau tak punya alasan utk
melarang kepergianku, sebaliknya aku si hwesio pun tak ingin

mengurusi dirimu!”
Habis berkata kembali dia meneruskan langkahnya menuju
kemuka....
Tergopoh gopoh Chin sian kun mengundurkan diri lima langkah
kebelakang, setelah itu bentaknya keras-keras:
“Berhenti! Hey hwesio, apakah kau tak bersedia menuruti
nasehatku.....?”
Sambil memicingkan matanya pendeta itu tertawa terkekehkekeh:
“Tidak banyak lagi manusia didunia ini yg bisa membuat aku si
hwesio menuruti perkataannya, apalagi aku si hwesio sudah menjadi
seorang pendeta, aku tak takut dg teriakan singa betina macam
kau.”
Merah jengah selembar wajah Chin sian kun, segera bentaknya
keras-keras:
“Hey hwesio anjing, masih mending kalau kau enggan
mendengarkan nasehatku, eee..siapa tahu mulutmu usil dan berani
berbicara seenaknya sendiri, aku lihat kau sudah boan hidup
rupanya?”
Sambil membuang keranjang dari tangannya ia segera membalik
tangannya dan meloloskan pedang daribahunya.
Kembali hwesio itu memutar biji matanya sambil menjulurkan
lidah serunya:
“Wah, sungguh lihai, rupanya kau sudah pingin menggunakan
senjata utk membunuh orang?”
“Betul!” sahut Chin sian kun sambil menarik muka, “bila kau si
hwesio bersikeras hendak meneruskan niatmu, terpaksa aku pun
mesti berbuat keji terhadapmu!”
“Baik, baiklah, kerjaku setiap hari Cuma minum arak melulu, tak
nyana hari ini mempunyai kesempatan utk melmaskan otot. Nah, Li
pousat, kalau pingin bertarung sih, aku setuju saja, Cuma mesti
berlaku adil......”
“Hmmmm, cara yg bagaimana kau anggap adil?” dengus Chin
sian kun dingin.
“Seandainya kau tak berhasil mengungguli diriku, maka kau tak
boleh merecoki diriku lagi!”

“Andaikata kau si hwesio benar-benar memiliki kemampuan
semacam itu, tentu saja nyonya mudamu tak akan bernyali lagi utk
mencari penyakit sendiri!”
“He....he....he....betul, betul sekali!” hwesio itu tertawa terkekehkekeh,
“setiap orang mengatakan bahwa buddha adalah maha
pengasih, tapi aku si hwesio ada kalanya berhati keji dan suka
melakukan pembantaian sampai keakar-akarnya!”
“Sebelum bertarung, aku si hwesio ingin menum arak dan makan
daging dulu utk membangkitkan semangat, bersediakah kau
menunggu sebentar saja? Kujamin aku tak bakal menyergapmu
secara licik?”
Jilid 19
Usia pendeta itu mesti nampaknya telah mencapai lima enam
puluh tahunan lebih, ternyata caranya berbicara amat polos dan
kekanak-kanakan, melihat itu Chin sian kun jadi kegelian.
“Hwesio bau, kalau ingin makan silahkan makan dulu sampai
kenyang dan minum juga sepuasnya, dg begitu andaikata nyawamu
sampai melayang meninggalkan raga, kau tak akan mati sebagai
setan yg kelaparan lagi.”
Kembali pendeta itu tertawa terbahak-bahak:
“Ha…ha…ha…arak memang bisa memabukkan orang, tapi
anehnya justru tak pernah bisa membuat aku si hwesio menjadi
mabuk!”
Dg cepat dia menancapkan toyanya keatas tanah, mula-mula
diambilnya buli-buli besar itu, lalu setelah dibuka penutupnya, ia
teguk isinya sampai beberapa tegukan.
Kemudian ia mengeluarkan sebuah bungkusan kertas, ternyata
isinya adalah paha anjing yg telah dikeringkan, digigitnya daging itu
segumpil lalu dikunyahnya dg amat nikmat, tak lama kemudian ia
menyembur keluar sepotong tulang.
Selama ini Chin sian kun mengawasi terus gerak gerik pendeta
tsb, tiba-tiba saja paras mukanya berubah hebat.
Ternyata tulang yg disemburkan si hwesio tadi telah menembusi
batang pohon besar yg tumbuh disisi jalan sehingga muncul sebuah
lubang yg cukup besar.

Demontrasi tenaga dalam yg dilakukan pendeta tsb menunjukkan
betapa sempurnanya kemampuan yg dimilikinya, ini seperti ilmu
silatnya telah mencapai taraf melukai orang dg memetik daun.
Bagaimanapun juga Chin sian kun membayangkan, ia tak pernah
mengira kalau lagak sinting dan kegila-gilaan si hwesio tsb,
sebenarnya hanya tuk menggoda serta mempermainkannya.
Kalau ditinjau dari kemampuannya menembusi batang pohon dg
semburan tulangnya jangan lagi kemampuannya sekarang belum
bisa menandingi, biar mesti berlatih tiga puluh tahun lagi pun belum
tentu kemampuannya bisa mencapai taraf yg dimiliki si hwesio
sekarang.
Dalam terperanjatnya dia sadar, bila benar-benar sampai
berkobar suatu pertarungan, maka orang lain cukup mengandalkan
sebuah jari kelingkingnya sudah mampu utk mencabut nyawanya.
Ini berarti jalan terbaik baginya sekarang adalah pulang lebih
dulu utk memperingatkan teman-teman lainnya.
Berpikir sampai kesitu tanpa memperdulikan keranjangnya lagi, ia
segera membalikkan badan dan kabur menuju kedalam lembah.
Sementara itu terdengar si hwesio yg berada dibelakangnya
berteriak keras-keras:
“Hey, jangan kabur dulu! Jangan kabur dulu! Aku si hwesio kan
sudah selesai bersantap….”
Chin sian kun benar-benar pecah nyalinya, tentu saja ia tak
berani berpaling lagi, sambil mengerahkan segenap tenaga dalam yg
dimilikinya ia melarikan diri semakin cepat lagi.
Dalam waktu singkat ia telah balik kembali kemulut lembah,
sewaktu berpaling dan tidak melihat bayangan tubuh si hwesio dia
baru menghentikan langkahnya sambil terengah-engah.
Hapukim serta Rumang sekalian bertugas menjaga dimulut
lembah menjadi tertegun setelah menyaksikan peristiwa ini, mereka
tak habis mengerti persoalan apa yg telah terjadi sehingga nona itu
kabur terbirit-birit dg napas tersengal.
Hapukim segera bertanya keheranan:
“Nona, mengapa secepat itu kau sudah kembali?”
“Aku telah bertemu musuh tangguh ditengah jalan, kalian harus
berjaga-jaga dg lebih berhati-hati lagi!” seru Chin sian kun segera.
Keempat orang itu menjadi terkejut sekali, paras muka mereka
sampai berubah.

“Nona, berapa banyak musuh yg kau temui?” buru-buru Molim
bertanya dg gelisah.
“Hanya seorang!”
“Hanya seorang?” Molim segera tertawa terkekeh-kekeh, “apalah
artinya kalau Cuma seorang? Nona, kau tak usah terlalu mengadaada,
yg satu itu serahkan saja kepada kami!”
“Biarpun hanya seorang, siapa tahu dibelakangnya masih ada yg
lain, kalian tak boleh bertindak kelewat gegabah” kata Chin sian kun
serius.
Belum selesai perkataan itu diutarakan, dari kejauhan sana sudah
terdengar suara senandung kecil yg bergema dibawa hembusan
angin.
Dg perasaan tercekat, buru-buru Chin sian kun berkata algi:
“Nah itu dia, orangnya sudah datang! Si Hwesio itu berhawa
sesat, kalian tak boleh memandang enteng kemampuannya, lebih
baik lagi jika maju bersama-sama, usahakan utk halangi
keinginannya memasuki lembah ini, aku akan segera masuk dulu utk
memberi tahu Kim bersaudara agar membantu setiap saat!”
Selesai berkata cepat-cepat dia lari masuk kedalam lembah.
Belum lama Chin sian kun berlalu dari situ, bayangan tubuh si
hwesio sudah mulai nampak dari kejauhan sana dan berjalan
mendekat dg langkah sempoyongan.
Melihat kedatangan si hwesio tsb, Molim segera menjengek
sambil tertawa dingin:
“He…he…he…kukira jagoan sehebat apakah yg telah datang
mencari gara-gara, tak tahunya Cuma seorang lhama mabuk….!”
Orang asing menyebut hwesio dg lhama, mendengar perkataan
itu Rumang berkata pula sambil tertawa tergelak.
“Haaa…..haaa….haaaa….kalau untuk menghadapi seorang lhama
mah, biar aku seorang yg menghadapinya, aku lihat orang-orang
Tionggoan hanya setali tiga uang, sama-sama tak becus semuanya!”
“Tunggu dulu!” tiba-tiba Mokim berseru dg suara dalam,
kemudian kepada Molim katanya lagi:
“Lotoa. Dg munculnya si penyerbu tsb, bukankah sama artinya
kesempatan buat kita telah tiba? Sebentar lebih baik kita berpurapura
menghalanginya sebentar, lalu kita biarkan lhama itu menyerbu
masuk, begitu keempat telur busuk itu terlibat dalam pertarungan
seru melawan si lhama, kita segera menyerbu kedalam ruangan batu
dan turun tangan!”

Tapi Molim segera menggeleng, katanya:
“Baru tiga hari lewat, aku rasa bocah she Kho itu belum mencapai
saat yg kritis dalam latihannya, lebih baik kita bersabar lagi beberapa
hari, daripada perbuatan kita menimbulkan rasa curiga dari beberapa
orang telur busuk itu, usaha kita dikemudian hari tentu akan banyak
mengalami kesulitan…”
Sementara pembicaraan masih berlangsung, si hwesio telah
berjalan mendekati mulut lembah sambil mengunyah daging
anjingnya.
Hapukim segera menampilkan diri seraya membentak keras:
“Hey lhama, ada urusan apa kau datang kemari?”
Hwesio itu benar-benar amat dekil, bau arak amat menusuk
hidung, paha anjing yg dikunyahnya kini tinggal sekerat tulang saja.
Ketika ia melihat jalan perginya dihadang oleh Rumang sekalian
dg senjata terhunus, pendeta itu kelihatan agak tertegun sebentar,
setelah itu katanya sambil tertawa terkekeh-kekeh:
“Heee…he….he….rupanya ada orang telah tertarik dg tempatku
ini, tak heran kalau nona tadi berusaha menghalangi kedatanganku
kemari, ha….ha….ha….kalau kuamati dialek kalian berempat,
tampaknya kamu semua bukan penduduk daratan Tionggoan, tapi
apa sebabnya mendirikan sarang dibukit ini?”
Hapukim tertawa seram:
“Heee….he….he….kami berasal dari wilayah Ceng hay, hey
lhama, sudah ada orang yg mendiami lembah ini, karenanya bila kau
sudah tak ada urusan lekaslah menggelinding pergi sejauh-jauhnya
dari sini, kalau tidak, hmmm! Jangan salahkan bila diujung golokku
tak kenal belas kasihan dan kujagal dirimu!”
Hwesio itu segera tertawa terbahak-bahak:
“Haaa…heaaa…haaa…badan aku si hwesio kurus dan tak bisa
menghasilkan berapa puluh kati daging, bila ingin membunuhku
maka golok tsb bakal melengkung terkena tulang. Cuma saja aku si
hwesio pun tidak berniat menjagal kalian sebab berapa kerat tulang
kalian tak akan menghasilkan daging seharum daging anjingku
ini………….”
Hapukim menjadi teramat gusar sehabis mendengar perkataan
itu, teriaknya keras-keras:
“Pendeta bajingan! Kau berani membandingkan kami seperti
anjing? Jangan kabur dulu, kau mesti merasakan dulu sebuah
bacokan golokku ini…!”

Sambil bergerak kedepan, goloknya diputar kencang menciptakan
selapis cahaya golok yg secara langsung menyapu ketubuh hwesio
itu.
Ditengah gulungan cahaya tajam yg menyilaukan mata terdengar
hwesio itu berteriak keras:
“Aduh mak…rupanya kau benar-benar mau membunuh orang,
waaah…tampaknya aku si hwesio terpaksa harus menggunakan
tulangmu utk diadu dg tulang anjing ini, coba kita buktikan mana yg
lebih keras?”
Dg langkah terhuyung dia menghindarkan diri kesamping dan
persis berhasil melepaskan diri dari bacokan golok Hapukim,
menyusul kemudian tangan kanannya diayunkan kedepan, tiba-tiba
saja tulang anjing itu terlepas dari tangannya dan bagaikan sekilas
cahaya putih, langsung menerobos kebalik cahaya golok tsb.
Tiba-tiba saja terdengar Hapukim menjerit kesakitan, golok
terjatuh ketanah dan ia melompat mundur sambil memegangi bahu
kanannya.
Sepasang matanya kelihatan merah membara, mukanya pucat
pias seperti mayat, tampaknya tulang anjing yg disambit kedepan
persis menghajar diatas tulang badannya dan tidak terlalu parah
namun ternyata persis melepaskan tulang sambungan bahunya.
Sementara itu si hwesio telah memejamkan matanya kembali,
setelah memindahkan toyanya ketangan kanan, ia berseru:
“Hey, kenapa kau? Aku toh baru bersiap siap akan berkelahi,
kenapa kau malah membuang senjata dan tidak jadi bertarung?”
Dalam pada itu, Mokim, Molim serta Rumang yg telah melihat
Hapukim telah menderita luka sebelum goloknya sempat menyentuh
tubuh hwesio itu, menjadi terkejut sekali.
Dg suara keras Rumang berteriak:
“Wah lhama ini pandai ilmu sihir!”
“Ha…ha…ha…betul, aku memang pandai ilmu sihir” seru si
hwesio sambil tertawa bergelak, “bukan Cuma ilmu sihir, ilmu
buddha pun kukuasai secara baik, aku bisa membuat orang berubah
menjadi setan! Nah, apakah kalian bertiga ingin mencoba bagaimana
rasanya kalau manusia dirubah menjadi setan?”
Sementara itu satu ingatan telah melintas dalam benak Molim,
tiba-tiba dia menyingkir kesamping sambil katanya”
“Kami tak mampu mengungguli dirimu, nah lhama, bila ingin
masuk kedalam, silahkan saja masuk!”

Oleh karena kenyataan membuktikan bahwa apa yg diucapkan
Chin sian kun tadi memang benar, hwesio itu kelewat lihay sehingga
mereka tdk mampu lagi menandinginya, timbullah niat jahat didalam
benaknya, ia berharap bisa meminjam kemampuan hwesio tsb utk
merobohkan Kim kong sam pian, siapa tahu dg munculnya
kesempatan baik ini maka mereka bisa menyerbu secara langsung
kedalam ruangan utk merebut kitab pusaka Thian goan bu boh!
Begitu melihat saudaranya memberi jalan, Mokim segera
memahami apa yg menjadi tujuan kakaknya, cepat dia menyingkir
kesamping jalan sambil diam-diam tertawa dingin.
Hwesio itu kelihatan agak tertegun setelah menyaksikan apa yg
terjadi, gumamnya:
“Kalau sikapnya tadi begitu bengis, buas dan menyeramkan,
mengapa sikapnya sekarang malah begini sungkan?
Hmmm…kelihatannya dlm lembah tsb benar-benar terdapat sesuatu
yg luar biasa….
Sembari bergumam, dia segera meneruskan perjalanannya
memasuki lembah itu dg sempoyongan.
Baru memasuki kemulut lembah, tampak Kim kong sam pian dg
ruyung terhunus telah berdiri berjajar menghalangi jalan perginya,
sementara Chin sian kun dg pedang melintang didepan dada berdiri
disampingnya.
Melihat hwesio itu munculkan diri, si nona segera menegur dg
suara dalam:
“Hey hwesio, rupanya kau memang sengaja kemari utk
menyelidiki jejak kami?”
Hwesio itu kembali tertawa terkekeh-kekeh:
“Aneh benar perkataanmu itu, aku toh bukan merampok uang
atau membegal barang orang lain, akupun bukan penjahat cabul yg
suka menghisap madu perempuan, buat apa mesti kuselidiki jejak
kalian?”
“Lantas ada urusan apa kau si hwesio datang kemari?” sambung
Kim losam dg suara dalam.
Hwesio itu tertawa tergelak:
“Haaaa…haaaa…haaa…kalian boleh kemari, mengapa aku si
hwesio tak boleh kemari? Lagi pula lembah hati buddha ini
merupoakan tempat tinggal aku si hwesio, kalian bukan saja telah
menduduki tempat tinggalku, sekarang malah bermaksud mengusir

diriku dari sini, coba bayangkan sendiri, adilkah kejadian macam
ini?”
Kim kong sam pian menjadi termangu sesudah mendengar
perkataan tsb, berapa saat kemudian Kim lotoa dg wajah agak
berubah , tanyanya agak gelisah:
“Taysu, kau mengatakan gua ini adalah tempat pertapaanmu?”
“Benar, aku baru pulang dari mengembara selama beberapa
tahun, benar-benar tak kusangka kalau rumah kediamanku telah
berganti pemilik!”
Tiba-tiba saja sikap Kim lotoa berubah menjadi menghormat
sekali, kembali tanyanya:
“Boleh aku tahu nama besar taysu…?”
“Haa…haaa.haaaa….sejak kecil aku si hwesio sudah hidup
sebatang kara, aku tak pernah punya nama, apalagi sesudah
menjadi pendeta, aku lebih-lebih tak butuh nama lagi, tapi karena
kegemaranku yg utama adalah daging anjing, maka orang lain
memanggilku sebagai si hwesio daging anjing…”
Kim lotoa amat terperanjat, baru tiga hari berselang Bu wi lojin
mengajarkan banyak tingkah laku dan logat bicara dari tokoh-tokoh
sakti dunia persilatan, diantaranya terdapat pula nama hwesio
daging anjing yg akhirnya berhasil memukul mundur komandan Sin
anak buah dewi In nu.
Sungguh tak di sangka orang yg dihadapinya sekarang ternyata
adalah pendeta sakti yg termasyur dalam dunia persilatan tapi
jarang ditemui orang itu.
Buru-buru dia menarik kembali ruyungnya dan berseru sambil
memberi hormat:
“Rupanya pendeta agung dari dunia persilatan yg telah datang,
Tiga ruyung dari telaga Tong ting, Kim Lotoa menjumpai taysu..”
Kemudian kepada Kim loji dan losam , bentaknya pula:
“Saudara-saudaraku, kenapa kalian tdk segera menjumpai
pendeta agung………”
Cepat-cepat Kim loji dan losam menyimpan kembali ruyungnya
dan memberi hormat.
Demikian pula dg Chin sian kun, sambil memberi hormat katanya:
“Ditengah jalan tadi aku tak tahu kalau pendeta suci yg datang,
apabila dlm perkataan maupun tingkah laku telah menunjukkan
sikap kurang sopan, harap taysu sudi memaafkan!”
Hwesio daging anjing mengernyitkan alis matanya, lalu berseru:

“Kalian jangan bersikap begitu sungkan dulu kepada aku si
hwesio, heee…heee…coba terangkan dulu, apa yg sedang kalian
perbuat didalam gua tempat kediamanku itu?”
Buru-buru Chin sian kun menjelaskan,
“Taysu, terus terang saja didalam gua ada orang sedang
mengatur napas utk mengobati luka yg dideritanya, sedangkan
boanpwee Chin sian kun bersama Kim bersaudara dan keempat
orang diluar lembah itu mendapat tugas utk melindungi
keselamatannya.”
“Ooooh…siapa yg sedang bersemedi utk mengobati lukanya?”
“Dia adalah Bu wi locianpwee!” sahut Kim lotoa cepat.
“Bu wi lojin yg mana yg kau maksudkan?” seru si hwesio daging
anjing agak tertegun.
Tapi sebentar kemudian ia sudah tertawa tergelak kembali,
katanya lebih jauh:
“Haaaa….haaaa….haaaa…bagus sekali, rupanya si barang antik
itu. Tapi…bukankah kudengar ia telah mengundurkan diri dari
keramaian dunia persilatan? Bagaimana ceritanya sehingga ia dapat
dilukai orang?”
Kim lotoa segera menghela napas panjang:
“Aaaai…persoalan ini panjang sekali utk diceritakan, silahkan
taysu masuk dulu kedalam gua, bonpwee tentu akan memberi
keterangan sejelas-jelasnya.”
Ketika melihat Molim sekalian sedang celingukan dari luar
lembah, buru-buru sserunya pula:
“Silahkan saudara berempat masuk pula kedalam utk menjumpai
taysu….
Molim agak tertegun setelah mendengar perkataan itu,
sebenarnya mereka berempat bermaksud akan menyelundup masuk
kedalam begitu si hwesio telah terlibat dalam pertarungan melawan
Kim bersaudara, siapa tahu hwesio itu ternyata adalah sahabat karib
Bu wi lojin.
Karena sudah ditegur terpaksa mereka bersama Hapukim berdua
harus munculkan diri dan memberi hormat kepada hwesio daging
anjing.
“Tak usah banyak adat” seru hwesio itu cepat, “betul-betul air
bah menggenangi kuil raja naga, anggap aku si hwesio yg salah, hey
saudara tua bagaimana dg luka dibahumu? Bagaimana kalau
kusambungkan kembali tulangmu yg terlepas?”

“Luka yg diderita saudara Hapukim telah kusambung kembali, tak
usah merepotkan toa lhama!” tampik Molim ketus.
Hwesio daging anjing kembali tertawa,
“Baik…baik..biar selewat beberapa hari aku si hwesio akan
memberi ganti kerugian kepada loheng ini.”
Lalu sambil berpaling kembali kearah Chin sian kun, katanya lebih
jauh:
“Hey nona cilik, untung kau lebih cepat tahu gelagat,
he…he….he…kalau tidak kau sendiripun akan merasakan sedikit
pelajaran dariku!”
“Biarpun aku digebuk oleh taysu juga tak jadi masalah, siapa
tahu gara-gara bencana boanpwee akan mendapat rejeki?”
Hwesio daging anjing tertawa bergelak.
“Haaaah…..haaaah…haaaah…tak kunyata kunyana selembar
mulutmu yg mungil begitu pandai berbicara, baik..baiklah, berapa
hari lagi kalian akan menjaga disini?”
“Masih memerlukan waktu selama dua belas hari lagi sebelum
semedi itu diselesaikan!” sahut Kim lotoa segera.
“Bagus sekali, asal disediakan arak dan daging, aku si hwesio
akan mengendon pula disini, kujamin tak ada yg berani mengusik!”
“Hmmm…aku rasa belum tentu demikian” tiba-tiba terdengar
seseorang menjengek dari luar lembah sambil tertawa dingin.
Dg perasaan terkejut ketujuh orang yg berada dalam lembah
berpaling, tampaklah dimulut lembah telah muncul tiga sosok
bayangan manusia.
Dari ketiga orang itu dua diantaranya adalah kakek berusia lima
puluhan yg semuanya memakai jubah panjang berwarna ungu,
sepasang alis matanya tebal lagi hitam, matanya tajam bagaikan
kilat, senjata yg dibawa berbeda sekali dg senjata pada umumnya.
Bentuk senjata mereka seperti dua batang tongkat besi biasa tapi
diujungnya masing-masing terdapat sebuah kupu-kupu besi yg
sedang mementangkan sayapnya, bentuk ukiran itu sangat indah
sehingga mirip sekali dg kupu-kupu sungguhan.
Orang ketiga adalah seorang perempuan cantik jelita yg berusia
tiga puluhan, ia memakai baju berwarna putih dan kelihatan genit
sekali.
Orang yg berbicara barusan tak lain adalah perempuan berbaju
putih itu.

Ketika selesai berbicara, perempuan itu segera mengulapkan
tangannya kebelakang, dari luar lembah pun segera muncul kembali
delapan orang jago pedang yg semuanya memakai pakaian ringkas
bewarna kuning, orang-orang itu kelihatan amat keren, garang dan
penuh napsu membunuh.
Berubah paras muka Kim kong sam pian melihat kehadiran
musuh-musuhnya, mereka segera berpikir dg rasa kaget:
“Orang-orang ini asing sekali wajahnya, entah mereka berasal
dari aliran mana?”
Dalam pada itu si hwesio daging anjing telah berkata sambil
tertawa terbahak-bahak.
“Haaaah…haaaah….haaaah…ternyata lagi-lagi kalian yg datang
mengacau, aku lihat kalian seperti belum puas juga dan
mendatangkan bala bantuan, apakah hendak mencari aku si hwesio
utk menuntut balas?”
Chin sian kun yg melihat hal ini, segera bertanya dg wajah
keheranan:
“Apakah cianpwee kenal dg mereka?”
Hwesio daging anjing tertawa:
“Sewaktu masih berada dibawah bukit tadi, sobat-sobat yg
memakai baju kuning itu bersama lima enam perempuan mengamati
terus aku si hwesio secara membingungkan, tapi akhirnya ada dua
orang yg kucopot tulangnya sebelum mereka bubaran…eeeei…tak
tahunya mereka datang lagi utk mencari gara-gara.”
Perempuan berbaju putih itu segera tertawa dingin, katanya:
“Kesalah pahaman bisa sering terjadi didalam dunia persilatan,
krn itu kedatangan kami kemari bukanlah utk mencari gara-gara dg
kau hwesio, asal kau si hwesio bersedia utk berpeluk tangan belaka,
aku pun berjanji tak akan memusuhi dirimu!”
Hwesio daging anjing nampak agak tertegun, lalu setelah
memutar biji matanya dan tertawa terkekeh-kekeh, katanya:
“Haaah…haaah….haaaah…mengerti sekarang aku si hwesio,
rupanya kalian hendak mencari gara-gara dg si tua Bu wi..?”
Kembali perempuan berbaju putih itu mendengus:
“Hmmm, hwesio bau! Kau tak usah berlagak sok edan atau tak
waras otaknya, tiga hari berselang kau sudah bersatu dg si tua
bangka celaka itu, buat apa kau masih berlagak pilon sekarang?”
“Biar aku si hwesio pikun, rasanya kepikunanku belum sampai
mencapai taraf sepenuh itu” kata hwesio daging anjing sambil

memutar biji matanya, “tiga hari berselang, aku masih berada
ratusan li jauhnya dari sini, bagaimana mungkin aku telah berada
bersama si tua Bu wi?”
Kim lotoa yg ikut mendengarkan pembicaraan tsb dg cepat
mengerti, yg dimaksud kejadian pada tiga hari berselang tak lain
adalah hasil perbuatannya yg menggunakan orang-orangan dari
rumput utk memukul mundur komandan Sin beserta pasukannya.
Maka sambil tertawa segera selanya:
“Rupanya kalian adalah anak buah dari dewi In nu?”
“Betul!” jawab perempuan berbaju putih itu, “Nah katakan
sekarang, dimanakah Bu wi lojin serta bocah keparat she Kho itu?”
“Maaf kalau aku tak bisa memberi jawaban!” ucap Kim lotoa dg
suara dalam.
Kembali perempuan berbaju putih itu mendengus:
“Hmmmm…padahal tidak susah utk memaksamu berbicara…”
Kepada kedua orang kakek berbaju ungu itu katanya tiba-tiba
seraya menjura:
“Tolong merepotkan huhoat berdua agar membekuk dulu orang
she Kim tsb!”
Kedua orang kakek berbaju ungu itu manggut tanpa menjawab,
serentak mereka maju mendekati Kim lotoa.
Tapi si hwesio daging anjing segera menghalangi jalan perginya
dg melintangkan tangannya ditengah jalan, katanya sambil tertawa
terkekeh,
“eeei…jangan terburu nafsu, jangan terburu nafsu, sesudah
setengah harian lamanya kita berbicara tapi aku si hwesio belum
tahu asal usul kalian, apakah kalian bersedia memberi penjelasan
dulu sebelum pertarungan dilakukan?”
Kakek berbaju ungu yg perawakan agak kurus segera berkata dg
suara dingin.
“Aku adalah salah satu diantara dua belasan pasukan pelindung
hukum dibawah pimpinan Siancu yg bernama Tang Bok kong,
sedang dia adalah adik angkatku Tang Soat Leng cu, sudah lama
aku mendengar akan nama besar hwesio daging anjing!”
Paras muka si hwesio daging anjing kelihatan agak berubah, tidak
banyak manusia dalam dunia dewasa ini yg bisa duduk sebanding
dengannya, semakin sedikit orang yg tak berubah wajahnya setelah
mendengar nama Hwesio daging anjing.

Tapi kedua orang kakek berbaju ungu yg belum diketahui asal
usulnya ini ternyata tdk menunjukkan perubahan sikap setelah
bertemu dgnya, kenyataan tsb betul-betul membingungkannya.
Sambil memutar biji matanya, si hwesio daging anjing mengawasi
ketiga orang lawannya berapa saat lalu kembali ujarnya sambil
tertawa terkekeh.
“Kalau toh kalian sudah lama mendengar namaku, biar tidak sudi
memberi muka utk sang pendeta, toh paling tidak memandang
diwajah sang buddha sudilah kalian menyudahi ulah kamu semua!”
Tang Bok kong segera menarik wajahnya, lalu setelah
mendengus dingin, jengeknya:
“Kenapa? Rupanya kau ingin berkelahi lebih dulu dg aku?”
“Haaah….haaah….haah…” hwesio daging anjing tertawa tergelak,
tiba-tiba ia menggapai kearah Hapukim sambil serunya:
“Coba kemarilah!”
Dg wajah termangu Hapukim maju beberapa langkah kedepan,
lalu tanyanya:
“Toa lhama, ada urusan apa kau memanggilku?”
“Coba kau maju dan berkelahilah lebih dulu dg tua bangka itu,
coba lihat sampai dimana kemampuan yg dimilikinya.”
Berubah paras muka Hapukim, teriaknya tertahan.
“Hey toa lhama, apakah kau berniat menyuruh aku mengantar
kematian? Tulang bahuku yg terlepas pun belum sembuh betul….”
Tapi belum selesai ia berkata, hwesio daging anjing telah
menyela sambil tertawa:
“Bukan masalah, maju saja kedepan, asal mau menuruti
perkataanku, asal kau terluka seujung rambut saja, aku si hwesio
akan menggantimu dg selembar nyawa.”
Habis berkata dia segera menekan bahu kanan Hapukim dua kali.
Dalam waktu singkat Hapukim merasakan bahunya panas tapi
terasa nyaman sekali, suatu perasaan ingin tahu pun segera
menyelimuti pikirannya tanpa banyak berbicara lagi dia
mempersiapkan goloknya lalu berjalan menghampiri lawannya.
Tang Bok kong segera menjengek sambil tertawa dingin,
“Hmmm…tak berani maju sendiri tapi suruh orang lain yg pergi
mengantar kematian, inikah alasannya kenapa kau si hwesio menjadi
termashur dlm dunia persilatan?”
Hwesio daging anjing sama sekali tidak menjadi gusar, malah
katanya sambil tertawa terkekeh-kekeh.

“Umpatan yg bagus, tapi asal kau mampu mengusik seujung
rambutnya saja, aku si hwesio tak perlu turun tangan melawanmu
lagi, batok kepalaku akan kutebas dan kupersembahkan kepadamu.
Cuma sebelum itu, aku si hwesio perlu bertanya dulu, kalian ingin
bertarung satu lawan satu ataukah ingin main keroyokan?”
Dg kening berkerut Tan Bok kong berkata:
“Walaupun aku sangat jarang melakukan perjalanan dalam dunia
persilatan, namun paling memandang rendah mereka yg suka main
keroyok, asal kau si hwesio tdk bakal mengingkari janji, biar kusuruh
dia merasakan kelihaian ilmu panji kupu-kupu ku lebih dulu sebelum
menebas kutung batok kepalamu!”
Tiba-tiba saja paras muka hwesio daging anjing berubah hebat,
tapi segera sahutnya,
“Baiklah, nah kalian boleh segera turun tangan!”
Begitu mendengar perkataan tsb, Hapukim segera berkata
kepada Tang Bok kong,
“Hey monyet tua, rasakan dulu sebuah bacokanku ini!”
Goloknya segera diputar langsung dibacokkan kebawah, cahaya
kilat berkelebat lewat seperti sambaran petir.
Sekulum senyuman menghina segera menghiasi bibir Tang Bok
kong setelah melihat gerak serangan dari Hapukim tsb, meski cepat
dan ganas namun gerakannya begitu sederhana.
Dg cekatan dia menghindar kesamping, sementara senjata panji
kupu-kupunya langsung disodorkan kedada Hapukim.
Senjata tsb memang aneh sekali bentuknya, begitu diputar maka
sepasang sayap kupu-kupu tsb ikut bergetar hingga mengeluarkan
suara yg keras, bentuknya sangat hidup tak ubahnya seperti kupukupu
sungguhan.
Terutama sekali misai sepanjang beberapa depa yg terbuat dari
baja tsb, getarannya yg kacau membuat orang susah utk menduga,
arah sasaran manakah yg sedang dituju.
Tampak bacokan golok Hapukim mengenai sasaran yg kosong,
tapi begitu jurus serangannya belum habis digunakan, lagi-lagi ia
membentak keras:
“Lihat serangan!”
Goloknya diputar sambil menyapu kemuka, jangan dilihat gerak
serangannya sangat sederhana namun kecepatannya merubah jurus
tak terlukiskan dg kata-kata.

Tampaknya Tang Bok kong tdk menyangka kalau permainan
golok dari Hapukim begitu cepat dan luar biasa, sepintas lalu
kelihatannya amat sederhana namun kehebatan dan kelihaiannya
justru diluar dugaan.
Tanpa terasa lagi dia berseru tertahan, senjata panji kupu-kupu
yg digunakan utk melancarkan serangan pun cepat ditarik kembali
utk membendung datangnya serangan golok tsb.
“Criiinggggg….”
Ditengah suara bentrokan yg nyaring, Tang Bok kong tergetar
mundur sejauh satu langkah sebaliknya Hapukim terhuyung sejauh
tiga langkah lebih.
Jelas sudah dalam soal tenaga dalam, kemampuan Tang Bok
kong masih satu tingkat lebih unggul.
Setelah dua kali menderita kerugian, sifat buas Hapukim segera
berkobar, sambil membentak keras sekali, ia menubruk kedepan
sambil mengayunkan goloknya, pertarungan sengitpun seera
berkobar.
Sementara itu, si hwesio daging anjing mengawasi jalannya
pertarungan tanpa berkedip, sementara sinar tajam yg sangat aneh
memancar keluar tiada hentinya.
Tapi tak berapa lama kemudian, Hapukim sudah kelihatan mulai
terdesak dan menderita kekalahan, serangan panji kupu-kupu dari
Tang Bok kong yg memutar kekanan menyapu ke kiri membuat
tubuh Hapukim terbungkus dibalik cahaya tajam.
Bukan Cuma begitu, suara dengungan keras dari senjata musuh
menggetarkan perasaan Hapukim, membuat hatinya berdebar,
ditambah lagi serangan-serangan goloknya mengenai sasaran yg
kosong, membuat pertahanan maupun posisinya bertambah kalut.
Ketika situasi kritis dan jiwanya terancam bahaya maut, si Hwesio
daging anjing berteriak keras:
“Suatu ilmu golok yg sangat bagus, ayoh serbu lagi dg gerakan
yg sama bacok saja langsung kebawah!”
Waktu itu cungkilan golok dari Hapukim sedang mengenai
sasaran yg kosong, sementara itu panji kupu-kupu dari Tan Bok
kong sudah menempel diatas pusarnya, kelihatan jelas sudah tiada
kesempatan lagi baginya utk menghindarkan diri.
Mengira jiwanya bakal melayang, sifat buas Hapukim makin
membara, begitu mendengar teriakan tsb dan ia menganggap

anjuran itu benar, ia menjadi nekad dan siap sedia melakukan
serangan adu jiwa.
Tubuhnya miring kesamping sambil melangkah maju kedepan,
pergelangan tangannya diputar sambil menekan kebawah membawa
goloknya yg meleset dari sasaran itu miring kesamping, kemudian
dari situ dia ancam bahu kiri Tang Bok kong serta membacoknya
keras-keras.
Ditengah berkelebatnya cahaya tajam, tiba-tiba terdengar Tang
Bok kong menjerit kaget, tubuhnya mundur kebelakang secepat
kilat.
Sewaktu semua orang mengamati keadaannya dg lebih seksama,
maka tampaklah dibawah jubah ungunya telah muncul bekas
robekan sepanjang satu depa lebih.
Keadaan tsb bukan saja membuat Hapukim sendiri menjadi
termangu, sekalipun kedua belah pihak yg menonton jalannya
pertarungan itupun turut dibikin tertegun dan tak habis mengerti.
Padahal sudah jelas Hapukim bakal tewas diujung senjata lawan,
mengapa hanya sepatah kata dari si hwesio daging anjing bisa
membuatnya nyaris melukai Tang Bok kong.
Padahal Cuma Tang Bok kong yg mengalami sendiri peristiwa tsb
yg menyadari keadaan sebenarnya, ketika misai baja dari senjata
panji kupu-kupunya hampir menempel diujung baju Hapukim,
dimana asal maju setengah inci saja niscaya selembar jiwa lawan
akan melayang, tak disangka secara tiba-tiba Hapukim telah
merubah jurus serangannya begitu selesai mendengar perkataan
tadi.
Golok yg secara tiba-tiba diputar sambil mencungkil keatas tsb
bukan saja langsung mengancam dada sendiri, lagipula persis
mengancam pergelangan tangannya.
Ini berarti apabila senjata panji kupu-kupu dilanjutkan
gerakannya kedepan sekalipun selembar nyawa orang tsb akan
melayang, akan tetapi ia sendiripun akan menderita cacat berat atau
bahkan luka yg sangat parah.
Tentu saja ia tak ingin mengorbankan jiwanya dg percuma, oleh
sebab itulah terpaksa ia harus menarik diri secepatnya dan dari
posisi menang pun dia jadi kalah.
Bisa dibayangkan betapa gusarnya Tang Bok kong menghadapi
keadaan seperti ini, saking mendongkolnya hampir saja ia jatuh
semaput.

Terdengar si Hwesio daging anjing berseru sambil tertawa
terbahak-bahak:
“Haaah…haaah…haaah…saudara Hapukim, mengapa kau hanya
berdiri melulu?”
Setelah ditegur, Hapukim baru sadar kembali dari lamunannya,
saat ini dia telah menganggap hwesio daging anjing melebihi buddha
hidup, buru-buru dia lari kedepan hwesio itu sambil berlutut dan
berseru:
“Lhama adalah pousat hidup, tecu mohon perlindungan darimu!”
Buru-buru si hwesio daging anjing membangunkannya dari atas
tanah, ujarnya sambil tertawa.
“Semua pousat sudah mampus, mana mungkin bisa melindungi
orang? Lain waktu kau mesti mengandalkan kemampuanmu sendiri,
seperti jurus “Menggaris tanah memisah dunia” yg kau gunakan tadi,
sebenranya jurus itu memiliki perubahan ganda, masih ingat dg
kedua perubahan tsb?”
Buru-buru Hapukim mengangguk.
Si hwesio daging anjing segera berkata lebih jauh.
“Sebenarnya ilmu sip ci to hoat dari perguruan Siang bun
diwilayah Ceng hay merupakan ilmu golok paling lurus dikolong
langit, biarpun lima jurus pemula dan lima jurus paling akhir
merupakan jurus-jurus serangan yg sederhana, langsung dan
terbuka, namun bila kau memiliki reaksi yg cekatan dan variasi
perubahan yg kaya maka jurus-jurus tsb bisa dipergunakan dg dua
perubahan yg berbeda. Dg bekal kemampuan tsb, biar bertemu dg
jago tangguh kelas satu pun, dalam ratusan gebrakan belum tentu
bisa membuatmu kalah. Aku harap kau bisa mendalami lagi ilmumu
itu dikemudian hari sedang petunjuk yg kuberikan sekarang hanya
merupakan ganti rugi atas luka yg timbul akibat perbuatanku tadi…”
Walaupun Hapukim belum bisa memahami secara keseluruhan,
tapi bagian yg penting telah dipahami olehnya, tentu saja ia
kegirangan setengah mati sehingga berulangkali mengucapkan
terima kasih, buru-buru ia menyingkir kesamping.
Agaknya dua bersaudara Molim serta Rumang ikut
memperhatikan petunjuk tsb, wajah mereka nampak berubah
beberapa kali begitu merasakan manfaat yg diperoleh, kagum dan
hormat pun segera memancar diwajah masing-masing.

Ketika si hwesio daging anjing baru menyelesaikan kata-katanya
dg penuh kegusaran Tang Bok kong telah berkata sambil tertawa
dingin:
“Mencoba kemampuan orang dg akal licik, memberi petunjuk dari
samping arena, terhitung kemampuan macam apa yg kau miliki?”
Si hwesio daging anjing tertawa terbahak-bahak:
“Haaaah…haaaah…haaaaah…keliru besar kau beranggapan
demikian, kalau sepatah kata saja dari aku si hwesio bisa membuat
kau dari menang jadi kalah, bila benar-benar bertarung, memangnya
kau masih punya nyawa?”
Liok ci ang yg berada disisi arena segera membentak dg suara
dingin:
“Bajingan gundul! Kau jangan bicara tekabur, akan kucoba dulu
sampai dimanakah kemampuanmu!”
Sambil memutar senjata kupu-kupunya, ia berdiri ditengah arena
siap melepaskan serangan.
Tiba-tiba hwesio daging anjing menarik kembali sikap cengar
cengirnya, sambil menarik muka katanya serius.
“Pada mulanya aku masih belum dpt menebak asal usul kalian,
tapi sekarang baru kuketahui bahwa kalian adalah ahli waris dari
partai kupu-kupu. Seratus tahun berselang, Hu tiap siang hui (kupukupu
terbang berpasangan) telah melakukan pembantaian berdarah
dilembah duka, sejak peristiwa itu partai anda tidak pernah muncul
kembali dari tempat persembunyian, sesungguhnya perbuatan tsb
merupakan tindakan yg cerdik, tak disangka seratus tahun kemudian
lagi-lagi aku si hwesio menyaksikan kembali jurus-jurus tangguh dari
Kang siu pat si (delapan partai kupu-kupu) kalian, apakah kamu
berdua sudah lupa dg tragedi lama sehingga berani terjun kembali
kedalam dunia persilatan?”
Dg wajah berubah Liok Ci ang berseru:
“Hey hwesio bau, tak kusangka mata anjingmu betul-betul sangat
tajam, sehingga asal usulku pun dapat kau tebak secara jelas.”
Dg wajah serius hwesio daging anjing berkata:
“Mata buddha bisa menembusi langit, sekalipun aku si hwesio
belum bisa dibilang mengetahui setiap urusan didunia ini, namun
paling tidak masih mengetahui sedikit banyak masalah besar dlm
dunia persilatan serta asal usul ilmu silat pelbagai perguruan besar
dalam dunia kangouw seratus tahun belakangan ini. Apalagi semasa
masih muda dulu, aku si hwesio pernah punya hubungan dg partai

kalian. Kuharap kalian tak usah mengumbar nafsu lagi dan segera
balik kerumah, apa gunanya mesti mencari penyakit seperti apa yg
dialami seratus tahun berselang?”
Liok Ci ang lalu tertawa keras.
“Haaah…haaaah…haaah…kau anggap kami akan segera akan
angkat kaki hanya berdasarkan kata-katamu itu? Hmmm, kau benarbenar
memandang rendah kemampuan partai kupu-kupu kami!”
“Jadi kalian baru mau pergi setelah melangsungkan
pertarungan?” dengus hwesio daging anjing.
“Soal bertarung atau tidak masih menjadi masalah nomor dua,
mengapa kau tidak menanyakan dulu siapa yg benar dan siapa yg
salah?”
Hwesio daging anjing menjadi tertegun, tapi segera ujarnya
sambil tertawa:
“Yaa, soal ini memang merupakan kelalaianku, tapi aku cukup
mengetahui watak dari Bu wi lojin, aku yakin dia tak akan melakukan
suatu perbuatan yg melanggar hukum!”
Tiba-tiba Tang soat Lengcu menyela sambil tertawa dingin:
“Sebelum mengetahui duduk persoalan yg sebenarnya, ia sudah
mempunyai pandangan yg berat sebelah, Liok Ci ang lebih baik
turun tangan secara langsung, apa artinya banyak bicara?”
“Baik, baiklah anggap saja aku sio hwesio yg tak tahu aturan”
sela hwesio daging najing sambil tertawa, “nah Liok loji, sebenarnya
perselisihan apakah yg telah terjalin antara kalian dg situa Bu wi?”
“Bukankah kau mengetahui jelas musibah pernah yg menimpa
partai kupu-kupu pada seratus tahun yg lalu? Coba terangkan apa
sebabnya peristiwa itu sampai terjadi?”
“Aku dengar gara-gara sejilid kitab pusaka Thian goan bu boh…”
kata sang pendeta sambil tertawa.
“Kalau begitu dapat kukatakan bahwa kedatangan kami kali ini
adalah gara-gara kitab pusaka Thian goan bu boh!”
Berubah paras muka si hwesio daging anjing, serunya tertahan..
“Jadi kitab pusaka Thian goan bu boh berada ditangan kakek Bu
wi….?”
“Benar” Chin sian kun menjawab dg cepat, “pada dua puluh
tahun berselang Bu wi cianpwee mendapat titipan dari Hui im
cengcu, siapa tahu kitab tsb dicuri dewi In nu dg mencatut namanya
Kho sauhiap yg mendapat pesan dari ayahmya almarhum untuk
mendapatkan kitab tsb, inilah yg membuat Bu wi locianpwee harus

terjun kembali kedalam dunia persilatan utk menyelidiki jejak kitab
itu, baru kemarin dulu sebagian kitab tsb dapat direbut kembali,
sayang ia menderita luka dalam hingga akhirnya bersama Kho
sauhiap beliau datang kemari utk mengobati lukanya. Nah coba
bayangkan sendiri, darimana munculnya hubungan antara peristiwa
ini dg pihak partai kupu-kupu?”
Si hwesio daging anjing menggelengkan kepala berulang kali,
keluhnya kemudian,
“Kenapa sih persoalannya begitu rumit dan berbelit-belit? Siapa
yg disebut dewi In nu itu? Kenapa aku si hwesio belum pernah
mendengar kalau didalam dunia persilatan terdapat seseorang yg
bernama begitu?”
Dg suara dingin Tang soat Lengcu menjawab:
“Siancu kami adalah orang yg terhormat, bukan sembarangan
orang dapat menjumpainya dg begitu saja!”
Hwesio daging anjing segera tertawa terkekeh-kekeh,
“Heee…he…heee…setelah mendengar perkataanmu itu, aku si
hwesio jadi kepingin melihat sampai dimanakah kehebatan dari
dewi mu itu, tak usah banyak bicara lagi, hey si tua Tang, si tua
Liok, aku harap kalian bersedia utk menunggu selama setengah
bulan, setengah bulan kemudian aku si hwesio bersedia memikul
tanggung jawab tentang kitab pusaka Thian goan bu boh itu utk
membuat penyelesaian dg kalian berdua….”
“Hmmmm, sayang sekali aku tak punya waktu untuk menunggu!”
jengek Liok Ci ang sambil tertawa dingin.
Hwesio daging anjing segera tertawa seram”
“Heeee…heeeeh..heeeh…kesabaran aku si hwesio Cuma sampai
disini saja, bila kalian benar-benar tak mau percaya, lebih baik kita
selesaikan saja persoalan ini lewat pertarungan!”
Sekilas senyuman licik yg mengerikan sempat berkelebat
menghiasi wajah Liok Ci ang, katanya cepat:
“Hwesio, beranikah kau bertarung seorang melawan seorang
denganku….?”
Hwesio daging anjing tertawa bergelak:
“Sudah tiga puluh tahunan lamanya tak pernah bertarung
melawan orang, sungguh tak dinyana hari ini aku bisa menikmatinya
kembali, tapi sebelum bertarung harus ada syaratnya dulu!”
“Apa syaratnya?”

“Bila kau yg unggul, tentu saja aku si hwesio tak bisa banyak
bicara dan segera angkat kaki dari sini, mulai detik ini juga tak akan
mencampuri urusan kalian lagi, tapi bnila kau manusia she Liok yg
kalah, harap segera kau pimpin orang-orangmu utk mengundurkan
diri dari lembah ini, setengah bulan kemudian, aku pasti akan
memberi penyelesaian tentang persoalan ini dihadapan si tua Bu wi,
tapi jangan mencoba main sergap disaat orang lagi tak siap!”
Tanpa terasa Liok Ci ang memandang sekejap kearah Tang soat
Lengcu, lalu katanya agak tergagap:
“Tentang soal ini….”
Mendadak terdengar Tang soat Lengcu berseru sambil tertawa
terkekeh-kekeh:
“Liok ang, apakah kau mempunyai keyakinan utk menang?”
“Sekalipun aku tak bisa menjamin pasti menang, tapi aku percaya
tak baka sampai menderita kalah!”
Tang soat Lengcu segera tersenyum:
“Aku lihat, hari ini kita tak usah bertarung lagi!”
Tang Bok kong maupun Liok Ci ang menjadi tertegun sesudah
mendengar perkataan itu.
Dg perasaan tercengang Tang Bok kong berseru:
“Lengcu, apa maksudmu?”
Tang soat Lengcu menggoyangkan tangannya berulang kali,
tampaknya dia sudah mempunyai perhitungan yg matang, kepada si
hwesio daging anjing katanya kemudian:
“Hey hwesio, biarlah kuberi muka untuk mu pada hari ini,
kuharap sampai waktunya kau tidak melanggar janji!”
Begitu mengetahui bahwa Tang soat Lengcu telah berubah
pikiran bahkan bersedia angkat kaki dg begitu saja, si hwesio daging
anjing turut dibuat tertegun, tapi hanya sebentar saja, kemudian
sambil tertawa nyengar-nyengir katanya:
“Sekali telah berbicara, ibarat kuda pacu yg berlari kencang dan
tak mungkin bisa ditarik kembali, sampai waktunya aku si hwesio
pasti akan menantikan kedatangan kalian!”
Tang soat Lengcu tersenyum dan manggut-manggut, kepada
Tang Bok kong serta Liok Ci ang ia mengulapkan tangannya,
kemudian dg memimpin delapan orang jago pedang berbaju kuning,
segera ia membalikkan badan dan keluar dari lembah.
Dalam waktu singkat, bayangan tubuh mereka sudah lenyap dari
pandangan mata.

Hwesio daging anjing mengawasi terus bayangan tubuh musuhmusuhnya
hingga lenyap diluar lembah sana, kemudian paras
mukanya berubah secara tiba-tiba menjadi berat dan serius sekali.
Pada saat itulah Chin sian kun berkata:
“Taysu, aku lihat tindakan mengundurkan diri yg mereka lakukan
mengandung maksud tertentu, bahkan bisa jadi merupakan sebuah
tipu muslihat yg licik?”
Hwesio daging anjing menggelengkan kepalanya berulang kali.
“Bukannya aku tak tahu tentang soal tsb, namun itu bukan
masalah penting, biarpun dia berakal licik dan jahat, jangan harap ia
mampu bermain gila dihadapanku!”
“Kulihat paras muka taysu menunjukkan sikap yg amat berat dan
serius, sebenarnya persoalan apakah yg membuatmu risau dan
kuatir?”
Hwesio daging anjing menghela napas panjang…
“Aaai….partai kupu-kupu telah muncul kembali didalam dunia
persilatan, aku lihat suatu badai pembunuhan rasanya tak bisa
dihindari lagi...”
Dg perasaan tercengang, Kim lotoa bertanya,
“Sejak terjun kedalam dunia persilatan, belum pernah boanpwee
dengar tentang partai kupu-kupu, mengapa sih taysu
memperhatikan persoalan ini dg begitu serius? Bersediakah taysu
memberi keterangan kepada kami semua...?”
Hwesio daging anjing menggeleng:
“Panjang sekali utk menceritakan persoalan ini, tapi dikemudian
hari kalian akan mengetahui dg sendirinya!”
Berbicara sampai disini, dia segera mengalihkan pokok
pembicaraan kesoal lain, katanya:
“Mulai hari ini, biarlah aku si hwesio menjabat sebagai pemimpin
ditempat ini utk sementara waktu, saudara Hapukim sekalian
berempat tetap bertugas menjaga dimulut lembah, bila menjumpai
ada orang menyatron masuk kedalam lembah, tak usah dilayani,
cepat masuk dan beri laporan dulu kepadaku, pasti akan
kuselesaikan persoalan itu dg sebaik-baiknya.”
Buru-buru Hapukim mengiakan, lalu bersama-sama rekannya
mengundurkan diri dari situ.
Kembali si hwesio daging anjing mengulapkan tangannya kepada
Kim kong sam pian sambil berkata:

“Mari kita masuk ke gua utk berbincang-bincang, sedang nona
Chin kalau pergi membeli makanan, jangan lupa daging anjing dan
arak wangi utk aku si hwesio!”
“Cianpwe tak usah kuatir” Chin Sian kun tersenyum, “betapapun
besarnya nyaliku, tak nanti aku berani melupakan pesanan dari
Taysu!”
oooOOooo
Sejak Tang soat Lengcu menarik semua kekuatannya dari lembah
tsb, waktupun berlangsung lewat dg cepat dalam suasana amat
tenang dan tentram.
Namun hwesio daging anjing yg semula banyak tersenyum, kian
hari kian berubah seakan-akan telah berubah menjadi seorang yg
lain, sepanjang hari dia hanya minum arak terus dg kening berkerut.
Selain minum arak, dia tentu melamun, seakan-akan ada suatu
persoalan besar yg amat berat mengganjal dalam hatinya dan susah
dihilangkan dari dalam benaknya.
Perubahan sikap semacam itu tentu saja membuat Kim kong sam
pian dan Chin Sian kun menjadi terkejut bercampur keheranan,
sudah berapa kali mereka hendak membuka suara utk bertanya,
namun melihat sikap hwesio daging anjing yg tak berbicara maupun
bergerak, akhirnya mereka mengurungkan niat tsb.
Tapi dlm hati kecil mereka mengerti, perubahan sikap dari tokoh
sakti tsb bisa jadi ada sangkut pautnya dg kemunculan partai kupukupu
didalam dunia persilatan.
Partai kupu-kupu merupakan suatu perguruan yg bukan saja tak
pernah didengar namanya dari pembicaraan orang, lagipula belum
pernah melihat berkeliarannya anggota perguruan tsb didalam dunia
persilatan.
Biasanya suatu perguruan yg tak dikenal dan tak banyak
anggotanya adalah suatu perguruan yg kecil, demikian juga dg
keadaan dari partai kupu-kupu itu, tapi sampai dimanakah seriusnya
kehadiran partai ini didalam dunia persilatan? Mengapa pendeta
sakti itu justru menunjukkan sikap yg begitu serius?
Benarkah jago-jago dari partai kupu-kupu memiliki kepandaian
silat yg demikian lihaynya sampai tiada orang yg mampu
menandinginya?

Perubahan sikap dari hwesio daging anjing membuat suasana
didalam dua berubah menjadi serius dan tegang, begitu sumpek
suasana sampai membuat beberapa orang itu susah utk bernapas
lega.
Tapi pintu batu yg memisahkan ruang dalam tetap tertutup rapat
dan sama sekali tiada gerakan apapun.
Dalam waktu singkat tujuh hari kembali udah lewat, berarti hari
ini adalah hari ketiga belas sejak Kho Beng menutup diri dibalik
ruangan.
Pagi itu, baru saja Chin Sian kun mempersiapkan sarapan utk
semua orang, tiba-tiba kelihatan Hapukim berlari masuk kedalam
gua dg wajah sangat tegang.
Begitu sampai dihadapan hwesio daging anjing, segera ia berlutut
sambil serunya:
“Toa lhama, diluar lembah telah muncul serombongan jago silat,
wajah mereka rata-rata kelihatan keren dan serius, jelas tidak
bermaksud baik!”
Sambil minum arak hwesio daging anjing bertanya kemalasmalasan,
“Siapa yg telah datang?”
“Ada lelaki, ada perempuan, ada tosu juga kaum lhama!”
Hapukim termenung dan berpikir sejenak, setelah menghitung
didalam hati dia menjawab:
“Kemungkinan besar diatas enam puluh orang lebih!”
Dg wajah berubah hebat Chin sian kun segera berseru”
“Waaaah…bisa jadi berita tentang kisah tsb sudah bocor sehingga
kawanan iblis itu mengundang konco-konconya utk datang
menyerbu…?”
Hwesio daging anjing bangkit berdiri seraya menguap, katanya
kemudian:
“Buat aku si hwesio, masalah banyak orang bukanlah persoalan
nona Chin, kau bersama Kim bersaudara berjaga-jaga saja disini,
biar aku sendiri yg keluar lembah.”
Disambarnya tongkat bambu andalannya, lalu dg langkah lebar ia
berjalan meninggalkan gua.
Hapukim memutar biji matanya beberapa kali, dg cepat dia pun
mengikuti dibelakang hwesio daging anjing tsb keluar dari gua.
Tak lama setelah hwesio daging anjing dan Hapukim keluar dari
gua batu itu, mendadak muncul tiga sosok bayangan manusia dari

balik sebelah kiri dan langsung menerjang masuk kedalam gua dg
kecepatan bagaikan sambaran kilat.
Kim Lotoa pertama-tama yg menemukan hal tsb, buru-buru
teriaknya kepada Kim loji dan Kim losam:
“Hati-hati, siluman perempuan itu muncul lagi bersama kedua
orang komplotan tua bangkanya!”
Ternyata ketiga sosok bayangan manusia tsb tak lain adalah
Tang soat Lengcu, Tang Bok kong dan Liok Ci ang.
Sambil melintangkan ruyung panjangnya didepan dada, Kim
bersaudara berdiri berjajar menyumbat jalan masuk menuju kedalam
gua.
Dg suara dingin, Kim lotoa segera menegur:
“Walaupun siasat yg anda lakukan ini terhitung cukup hebat,
namun sayang sekali kelewat licik dan memalukan, hmmm...hanya
manusia pengecut yg berusaha mencari keuntungan disaat orang
tidak siap!”
Tang soat Lengcu memperhatikan sekejap disekitar sana dg
pandangan mata yg tajam, kemudian perintahnya:
“Kita harus manfaatkan setiap kesempatan yg ada, hayo
langsung saja menyerbu kedalam gua!”
Tang Bok kong serta Liok Ci ang masing-masing mempersiapkan
senjata panji kupu-kupunya, lalu tanpa berbicara lagi mereka
langsung melancarkan serangan kedepan.
Melihat kedatangan ancaman tsb, Kim bersaudara pun tidak
banyak berbicara lagi, dg penuh kegusaran ruyung masing-masing
diputar kencang lalu balas menyerang kearah lawan.
Maka suatu pertarungan yg amat seru pun segera berkobar dg
hebatnya disana.
Sekalipun Tang Bok kong dan Liok Ci ang memiliki kepandaian
silat yg sangat lihai, akan tetapi Kim kong sam pian bukan manusia
lemah ditambah pula mereka bertiga sudah bertekad
mempertahankan setiap jengkal tanah dg pertaruhan jiwa, maka utk
berapa saat keadaan tetap imang.
Betapa gelisah dan cemasnya Tang soat Lengcu melihat
pertahanan dari Kim kong sam pian yg begitu kokoh sehingga
serbuan dari Tang bok kong dan Liok Ci ang tak berhasil
menembusnya.

Sekalipun dia ingin sekali turun tangan utk membantu, sayang
daerah dimulut gua sangat sempit sehingga tak mungkin baginya utk
ikut serta dlm pertarungan.
Jilid 20
Dalam keadaan begini, tiba-tiba muncul suatu ingatan jahat
dalam hatinya, dg cepat dia melepaskan ikat pinggangnya lalu
secara tiba-tiba dilontarkan ketengah kilatan cahaya ruyung yg
sedang berputar-putar didepan mulut gua.
Kim kong sam pian yg berada didalam gua saat itu sedang
memutar ruyung masing-masing sepenuh tenaga guna membendung
mulut gua dari serbuan musuh.
Begitu melihat ada sesosok bayangan putih menerobos masuk
kebalik pertahanan mereka seperti sambaran ular, Kim lotoa segera
menggerakkan ruyung utk menggulung kearah bayangan tadi dan
segera melilitnya dg kencang.
Tang soat Lengcu tertawa seram, dg cepat ia mengerahkan
segenap kekuatannya seraya membetot teriaknya:
“Kena!”
Begitu mendengar suara bentakan keras, Kim lotoa segera
merasakan gelagat tidak menguntungkan, menunggu ia berniat
menarik kembali ruyung panjangnya, sayang keadaan sudah
terlambat, ujung ruyungnya telah bertautan dg angkin dari Tang
soat Lengcu.
Menyadari kalau gelagat tdk menguntungkan dg cepat dia
menarik napas sambil memperkokoh kuda-kudanya. Ruyungnya
dibetot kebelakang maksudnya dia hendak membetot putus angkin
musuh dg mengerahkan sepenuh kekuatan yg dimilikinya.
Padahal Tang soat Lengcu sendiripun mempunyai keinginan yg
sama, saat tsb ia sedang mengerahkan seluruh tenaga dalam yg
dimilikinya melakukan pembetotan sambil membentak:
“Liok Ci ang, mengapa kau tdk segera menyerbu kedalam gua?”
Liok Ci ang serta Tan Bok kong serentak memutar senjata panji
kupu-kupunya makin kencang, lalu serentak menyerbu kedalam gua.
Kim loji serta Kim losam menjadi terperanjat sekali, hingga kini
mereka bertiga bisa bertahan dimulut gua tanpa memberi
kesempatan kepada musuhnya utk bergerak maju, disatu pihak
karena memanfaatkan mulut gua yg sempit dan kecil, dipihak lain

karena mengandalkan kerja sama ilmu ruyung mereka bertiga yg
tangguh utk menyumbat mati seluruh mulut gua tsb.
Tapi sekarang, senjata ruyung Kim lotoa telah terlilit oleh senjata
angkin Tang soat Lengcu, hal ini sama artinya dg terbukanya sebuah
lubang kelemahan pada sistem pertahanan mereka, bila seorang
harus melawan seorang, bagaimana mungkin Kim kong sam pian
mampu menandingi keampuhan dari Tang Bok kong serta Liok Ci
ang?
Chin sian kun yg berada didalam gua menjadi terperanjat sekali
setelah melihat kejadian tsb, buru-buru dia maju kedepan sambil
menyerang dg pedangnya, ia berniat menguntungi senjata angkin
tsb lebih dulu.
Tapi baru saja serangan pedangnya dilancarkan, terdengar Kim
losam telah berteriak keras:
“Hati-hati adikku!”
Tiba-tiba saja serasa segulung desingan angin tajam menggulung
tiba dari atas, begitu dahsyatnya ancaman tsb membuat si nona
harus mundur kembali dg perasaan terperanjat.
Memanfaatkan kesempatan yg sangat baik inilah, Tang Bok kong
segera menerobos masuk kedalam ruangan dg kecepatan bagaikan
sambaran kilat....
Perputaran senjata panji kupu-kupunya memaksa Kim bersaudara
harus mundur hingga punggungnya menempel pada dinding gua,
keadaan mereka betul-betul terdesak hebat.
Sementara itu, Chin Sian kun dg pedang terhunus telah berdiri
menghadang dimuka pintu ruangan yg tertutup rapat, dg suara
keras ia membentak nyaring:
“Tua bangka yg tak tahu malu, kalian biasanya Cuma
memanfaatkan kelemahan orang lain saja, hmmm! Rupanya orangorang
yg mencari gara-gara diluar lembah sana memang sengaja
kalian bawa utk mengalihkan perhatian kami, sementara kalian
sendiri berusaha menyelundup masuk kemari bagaikan pencoleng?”
Pada saat itu, Tang soat Lengcu telah mengendorkan pula
angkinnya dan turun melayang masuk kedalam gua, sahutnya:
“Perkataanmu memang tepat sekali! Liok ang, ayoh cepat turun
tangan dan jangan membuang waktu lagi!”
Liok Ci ang manggut-manggut, kepada Chin Sian kun segera
ujarnya sambil tertawa dingin:

“Hmmm..kenapa kau tidak segera menyingkir? Kalau nekad terus,
jangan salahkan aku bertindak keji dg mencabut nyawamu!”
Chin Sian kun mendengus dingin, diam-diam ia memberi kedipan
mata kepada Kim kong sam pian.
Tiga bersaudara Kim dari telaga Tong ting segera menanggapi
tanda tsb, serentak mereka bertiga mendekati Chin Sian kun.
Setelah keempat orang itu berdiri berjajar kembali dimuka pintu
gua, Kim lotoa baru berseru sambil tertawa seram.
“Heeeh…heeeh…heeeeh..sebetulnya tidak sulit utk menyingkirkan
kami dari sini, asal kalian mampu memenggal dulu batok kepala
kami berempat!”
“Baiklah, kalau toh kalian tak takut mati, apa susahnya utk
mengantar kematian kalian!” seu Tang Bok kong dingin.
Senjata panji kupu-kupunya segera diputar dg dg jurus “lebah
terbang memainkan putik” menciptakan selapis cahaya hitam yg
amat menyilaukan mata, lalu dg membawa suara desingan tajam
secara langsung menyergap diri Chin Sian kun.
Dg sekuat tenaga Chin Sian kun mencukil pedangnya keatas utk
membendung datangnya ancaman tsb, begitu sepasang senjata
beradu segera terjadilah suara benturan nyaring……
Tampak sekilas cahaya perak mencelat ketengah udara, dususul
jeritan kaget dari Chin Sian kun, rupanya ia sudah kehilangan
senjatanya.
Dalam pada itu Tang Bok kong telah mengayunkan telapak
tangan kirinya melepaskan bacokan segulung tenaga pukulan yg
maha dahsyat langsung menumbuk kemuka.
Tergopoh-gopoh Chin Sian kun menghindarkan diri kesamping….
“Blaaammm…!”
Angin pukulan yg maha dahsyat persis menghantam diatas pintu
gua membuat pintu ruangan tsb terpentang lebar.
Dalam waktu singkat Tang soat Lengcu mengayunkan pula
sepasang tangannya melepaskan tiga buah pukulan kekiri dan
kekanan, lalu tubuhnya seperti segulung asap ringan menerobos
masuk kebalik ruangan dimana Kho Beng sedang bersemedi.
Menanti Kim kong sam pian berusaha utk menghalangi jalan
perginya, keadaan sudah terlambat.
Chin Sian kun menjadi amat terperanjat, ia saksikan Tang soat
Lengcu menyerbu masuk kedalam ruangan batu dan entah apa yg
kemudian terjadi disana……….

Hanya secara tiba-tiba terdengar suara jeritan kaget bergema
memecahkan keheningan lalu tampak tubuh Tang soat Lengcu yg
baru menyerbu masuk kedalam ruangan, tahu-tahu sudah mencelat
balik kembali.
Waktu itu Tan Bok kong serta Liok Ci ang baru saja bersiap-siap
menyerbu kedalam, mereka tak menyangka kalau perempuan
berbaju putih itu bakal mundur kembali secara tiba-tiba, hampir saja
mereka saling bertumbukan satu dg lainnya.
Menanti ketiga orang itu sudah dapat berdiri kembali dg
sempoyongan, dimuka pintu ruangan tahu-tahu sudah bertambah dg
sesosok bayangan manusia, dia tak lain adalah Kho Beng.
Paras muka Kho Beng kelihatan sangat cerah dan penuh
bertenaga, sepasang matanya memancarkan cahaya tajam, waktu
itu ia berdiri disitu dh wajah yg gagah da sikap yg keren, berbeda
sekali dg keadaannya pada tiga belas hari berselang.
Chin Sian kun segera mengucak-ngucak matanya, ia seperti tak
percaya dg pandangan mata sendiri, sesaat kemudian baru serunya
tertahan:
“Kho sauhiap, apakah latihanmu telah selesai?”
Kho Beng mengangguk, setelah melempar pandangan yg penuh
rasa terima kasih, katanya:
“Musuh tangguh telah menyerbu sampai disini, mengapa tidak
kulihat Rumang, Hapukim serta dua bersaudara Mo utk
membendung serangan mereka?”
Sambil menghela napas sahut Chin Sian kun..
“Kawanan jago dari golongan putih maupun hitam telah
berdatangan sama, kini mereka berkumpul diluar lembah, sekarang
Hapukim sekalian berada bersama hwesio daging anjing, tapi
bagaimana keadaannya tidak kuketahui secara pasti.”
Paras muka Kho Beng sedikit berubah, sambil merapatkan
kembali pintu ruangan katanya:
“Bu wi cianpwee masih berada dalam ruangan, tolong nona Chin
dan saudara Kim bertiga menjaga keselamatannya.”
Chin Sian kun mengerling sekejap kearah pemuda itu, lalu
mengiakan….
Pelan-pelan Kho Beng maju beberapa langkah kedepan,
ditatapnya Tang soat Lengcu, Tang Bok kong dan Liok Ci ang
sekejap, kemudian tegurnya dingin:
“Siapakah kalian?”

Tang Bok kong mendengus:
“Hmmmm! Cecunguk muda, kau tak berhak mengetahui, hayo
cepat serahkan kitab pusaka Thian goan bu boh kepada kami,
mengingat kerelaanmu itu bisa jadi aku akan mengampuni selembar
jiwamu!”
“Ooooh…bila kudengar dari nada pembicaraan kalian, tampaknya
kamu semua adalah anak buah dewi In nu?”
“Benar!” sahut Tang soat Lengcu dingin.
Kho Beng segera tertawa bergelak:
“Haaaah…haaaah..haaahh…kebetulan sekali kedatangan kalian,
siauya memang berniat menangkap seorang diantara kalian utk
mencari keterangan. Kitab pusaka Thian goan bu boh berada disaku
siauya, aku Cuma kuatir kalian tak punya kemampuan utk
merebutnya kembali!”
Liok Ci ang tertawa dingin:
“Bocah keparat, kau sangat tekebur!”
Kho Beng balas tertawa dingin:
“Hmmm..bagiku perkataan yg diucapkan tergantung kepada
siapa aku berbicara, padahal siauya tidak tekebur, apa salahnya kau
buktikan sendiri ucapanku tadi!”
“Aku memang berniat mencoba kemampuanmu!” bentak Liok Ci
ang keras.
Senjata panji kupu-kupunya digetarkan menciptakan sebuah
lingkaran busur lalu secara kilat disapu kepinggang Kho Beng.
Menghadapi datangnya sambaran cahaya hitam itu, ternyata Kho
Beng tdk bergerak sama sekali, dia seakan-akan tak memandang
sebelah matapun terhadap kemampuan lawannya.
Tak terlukiskan rasa gusar Liok Ci ang menghadapi kejadian
seperti ini, gerak serangannya segera berubah, kali ini dia
mengancam dada lawan dg sebuah tusukan keatas.
Dg perubahan itu, kupu-kupu yg berada diatas ujung sejatanya
seakan-akan berubah menjadi empat, dalam waktu singkat
disekeliling tubuh Kho Beng seolah-olah beterbangan aneka macam
kupu-kupu yg mengancam bagian mematikan ditubuhnya.
Kim kong sam pian menjadi terperanjat sekali melihat kelihaian
lawan, paras muka mereka sampai berubah hebat.
Tiba-tiba terdengar Kho Beng tertawa ringan, ujung baju kirin
dan kanannya dikebaskan kemuka, lalu tubuhnya menyelinap keluar

dibalik kepungan bayangan kupu-kupu lawan, sementara itu telapak
tangan kirinya melancarkan sebuah bacokan kesisi kiri.
Waktu itu, Tang Bok kong sedang berdiam disisi kiri sambil
menonton jalannya pertarungan, melihat kejadian tsb, dia mengira
Kho Beng hendak membokongnya.
Sambil membentak keras, senjata kupu-kupunya disodok
kedepan keras-keras, lalu berbalik mengancam ubun-ubun Kho
Beng.
Siapa tahu pada saat yg bersamaan inilah Kho Beng membalikkan
telapak tangan kirinya langsung menghantam iga kanan Liok Ci ang.
Waktu itu Liok Ci ang sudah merasakan gelagat tidak
menguntungkan, begitu serangannya mengenai sasaran kosong,
belum sempat dia berbuat sesuatu, desingan angin tajam tahu-tahu
sudah mengancam bahu kirinya.
Berada dalam keadaan seperti ini, buru-buru dia membalikkan
badannya, sementara senjata kupu-kupunya dg jurus “kupu-kupu
terbang bayangan menari” menyodok keluar dg sekuat tenaga.
Siapa tahu pada saat itulah Tang Bok kong melancarkan pula
serangannya, dalam kondisi sama-sama menyerang dg kecepatan
tinggi, menantimereka berdua sama-sama menyadari kalau senjata
mereka bukannya mengancam tubuh lawan sebaliknya malah
menghantam teman sendiri, keadaan sudah terlambat.
“Criiiinnnggg…..!”
Sitengah benturan keras, Liok Ci ang serta Tang Bok kong samasama
tergetar mundur satu langkah, kedua belah pihak sama-sama
merasakan lengan kananya linu dan kesemutan, nyaris senjata
mereka terlepas dari tangan…….
Sementara itu, Kho Beng masih berdiri tenang diposisinya
semula, malah sambil tertawa dingin jengeknya:
“ ‘Jurus panglima langit kembali kepangkuan’ yg barusan
kugunakan merupakan satu diantara tiga puluh enam gerak
perubahan yg tercantum dalam kitab pusaka Thian goan bu boh, bila
kalian berdua menginginkan kitab itu, apa salahnya kalian mulai
belajar sejak kini!”
Liok Ci ang serta Tang Bok kong terperanjat sekali sampai paras
mukanya berubah, sambil membentak nyaring san serentak bersiapsiap
menyerang kembali.
Tapi sebelum mereka sempat berbuat sesuatu, tiba-tiba Tang
soat Lengcu berseru keras:

“Tang tua, Liok tua, hentikan dulu serangan kalian!”
“Lengcu, apa maksudmu?” seru Tang Bok kong tercengang.
“Aku rasa kesempatan baik buat kita masih banyak, buat apa
mesti menyerempet bahaya dg percuma pada hari ini? Apalagi
kerepotan yg datang dari luar lembah sudah cukup memusingkan
kepalanya, ayo kota mundur saja!”
Begitu selesai berkata, tubuhnya segera melesat keluar dari gua
dg kecepatan tinggi.
Liok Ci ang serta Tang Bok kong tidak banyak bicara lagi,
serentak mereka turut mengundurkan diri dari dalam gua.
Medadak Kho Beng membentak dg kening berkerut:
“Mau kabur kemana kalian!”
Ia menggerakkan badannya siap melakukan pengejaran.
Tapi Chin Sian kun segera menghalangi siatnya itu sambil
berseru:
“Kho sauhiap………”
Mau tak mau terpaksa Kho Beng harus menghentikan
langkahnya, lalu bertanya dg kening berkerut,
“Nona Chin, mengapa kau menghalangi niatku?”
“Hwesio daging anjing sedang bertarung melawan kawanan jago
diluar lembah, apa salahnya sauhiap membebaskan mereka untuk
kali ini saja, bagi kita yg penting adalah memukul mundur lebih
dullu… ! “
Kho Beng manggut-manggut, ia mengalihkan pandangan
matanya keluar gua, saat itu Tang soat Lengcu bersama Liok Ci ang
dan Tang Bok kong telah kabur entah kemana.
Maka Kho Beng meminta kepada Kim kong sam pian agar tetap
menjaga dalam gua, sementara ia sendiri segera bergerak menuju
keluar lembah dg kecepatan tinggi.
Dugaan Hapukim memang benar, diluar lembah telah muncul
enam puluhan jago yg terdiri dari aneka macam manusia,
diantaranya meliputi jago-jago dari pelbagai perguruan besar serta
kaum sesat.
Sementara itu si hwesio daging anjing malah berdiri dilmulut
lembah sambil berkata dg lantang :
“Bila kalian bersedia memberi muka kepada aku si hwesio pada
hari ini, harap segera mengundurkan diri sekarang juga, harap
segera mengundurkan diri sekarang juga, kalau tidak, silahkan

mencoba utk menyerbu kedalam, asal aku si hwesio bisa dikalahkan,
lembah hati budha akan menjadi tempat kediaman kalian… “
Sui cuncu dari Siau lim pay segera tampil kedepan, lalu berkata
dg suara dalam.
“kita sebagai murid buddha seharusnya bila taysu berpikir demi
kepentingan umat persilatan, mengapa kau malah berpihak kepada
kaum durjana ? “
Hwesio daging anjing tertawa..
“Walaupun kita sama-sama sebagai murid buddha, bukan berarti
kita mesti bersahabat, aku si hwesio tak akan diterima dikuil kecil,
apalagi dikuil besar macam Siau lim si……..oooh, rupanya aku si
hwesio tak bakal diundang kesana. “
“Toya suka bergurau“ sela Kim cuncu dari Siau lim pay sambil
tertawa, “walau pun kuil Siau lim si sangat besar, rasanya kami tak
akan mampu menampik kehadiran taysu, asal saja taysu senonoh
dan berminat, pintu gerbang Siau lim si selalu terbuka untuk
kehadiran taysu. “
Hwesio daging anjing tertawa terbahak-bahak :
“Haaaahhh…haaahhhh…haaahhh…hwesio gede, kita tak usah
banyak bicara lagi, itu dia, yg bersangkutan telah datang, bila ada
persoalan lebih baik dibicarakan sendiri dengannya, biar aku si
hwesio menjadi saksi saja!”
Habis berkata dia menyingkir kesamping dan ujarnya kepada Kho
Beng sambil tertawa:
“Untung kau segera keluar, kalau tidak…mungkin mereka bakal
naik darah……”
Buru-buru Kho Beng memberi hormat seraya berkata:
“Terima kasih banyak atas bantuan taysu telah melindungi kami,
budi kebaikan itu tak akan boanpwee lupakan!”
Hwesio daging anjing segera tertawa:
“Sudah, jangan banyak berbicara dulu, yg penting kau harus
mengusir pergi orang-orang itu lebih dulu!”
Kho Beng mengiakan dan menjura lagi dalam-dalam, setelah itu
dia baru mengalihkan pandangan matanya kearah para jago sambil
berkata,
“Berita yg kalian peroleh benar-benar amat cepat dan luar biasa,
bolehkah aku tahu karena urusan apakah kalian datang kemari?”
Thian it taysu, ketua Go bi pay segera berkata dg suara dalam,

“Sejak mendapat surat Hui im tiap dari sicu, dimana dikatakan
sicu hendak memberi penjelasan kepada seluruh umat persilatan,
sayang kami tidak mengetahui jejak sicu, maka begitu kudengar
bahwa sicu berada disini, berbondong-bondong kami datang kemari
dg harapan bisa peroleh penjelasan dari sicu!”
Kho Beng jadi tertegun, segera serunya:
“Ucapan taysu benar-benar membingungkan hati orang, kapan
sih aku telah menyebar hui im tiap?”
“Bukankah sicu sendiri yg menyebarkan kartu undangan tsb,
kenapa kau menyangkalnya kembali?” kata Thian itu taysu sambil
berkerut kening, “untung saja aku masih menyimpan baik-baik kartu
tsb, kalau tidak orang tentu menganggap aku membuat alasan yg
bukan-bukan………”
“Mana kartu undangannya? Bolehkah dipinjamkan sebentar
kepadaku?” kata Kho Beng sambil mengulurkan tangannya.
Dari dalam sakunya Thian it taysu mengeluarkan selembar kartu
berwarna merah, lalu serunya:
“Sambutlah sicu!”
Ketika tangannya diayunkan, kartu tsb segera meluncur
kehadapan Kho Beng bagaikan sekuntum awan merah.
Kho Beng mengebaskan ujung bajunya pelan-pelan dan
menyambut kartu tsb, ketika dibuka maka terbaca olehnya tulisan yg
berbunyi begini:
“Kini aku telah mengetahui asal usulku yg jelas, ayahku adalah
Hui im cengcu dari Hang ciu, sebagai putaranya, akupun
berkewajiban menuntut balaskan sakit hati orang tuaku.
Dulu, peristiwa tsb timbul gara-gara kitab pusaka Thian goan bu
boh, karenanya akan kuteruskan cita-cita ayahku almarhum utk
menyebar luaskan ilmu sakti tsb keseluruh dunia persilatan, tapi hal
ini baru bisa diwujudkan bila dalangnya sudah tertangkap, agar umat
persilatan mengetahui dg jelas duduk persoalan yg sebenarnya serta
memperbaiki nama baik ayahku dimata orang banyak.
Mungkin saja anda turut terlibat didalam peristiwa berdarah yg
terjadi di perkampungan Hui im ceng tempo dulu, tapi karena aku
yakin peristiwa ini merupakan siasat busuk seseorang yg masih
bersembunyi dibelakang layar, dan aku percaya kalian terkelabui
semua oleh perbuatan terkutuknya, maka aku tak akan menyalahkan
kalian, sebagai timbal baliknya aku pun berharap kalian pun jangan
memusuhi diriku lagi.

Disaat perkampungan Hui im ceng didirikan kembali nanti, pasti
akan ku undang kehadiran semua untuk merayakan bersama
peristiwa ini.
Adapun waktunya kutetapkan setangah tahun kemudian, jika
takdir menghendaki lain atau terjadi perubahan lain, akan kukirim
surat pemberitahuan tentang perubahan waktu itu, pokoknya aku
tak akan membohongi seluruh kolong langit.
Bila anda ingin mengetahui siapakah dalang dari peristiwa
berdarah tempo hari, dia tak lain adalah Dewi In un.”
Tertanda Kho Beng.
Ketika selesai membaca tulisan itu, Kho Beng segera teringat
kembali dg perkataan si Unta sakti berpunggung baja yg katanya
hendak menyebar Bu lim tiap untuk mengangkat kejadian yg
sebenarnya.
Dg cepat dia pun menjadi paham apa gerangan yg terjadi,
kepada Thian it taysu katanya kemudian:
“Apakah hanya taysu seorang yg menerima kartu tsb……….”
“Tidak, hampir setiap jago atau tokoh kenamaan dunia persilatan
mendapatkan kartu tsb!”
Kho Beng segera manggut-manggut
“Betul, memang aku yg menyebar surat undangan tsb, tapi waktu
yg kutetapkan kan masih setengah tahun kemudian, sebelum
waktunya tiba, apa gunanya taysu memburu kemari?”
Kiong Ceng san dari istana naga munculkan diri secara tiba-tiba
dari kerumunan jago, sambil tertawa seram serunya:
“Bocah keparat, kau anggap aku bakal percaya dg siasat
mengadu dombamu itu?”
“Sejak kuterima kartu undangan tsb, hingga kini sudah tiga orang
rekan persilatan yg tewas oleh Kedele Maut, aku ingin bertanya
kepadamu, sebenarnya siapakah pembunuh keji itu?”
Kho Beng mendengus dingin:
“Hmmm…selama setengah bulan terakhir, aku belum pernah
turun gunung barang setengah langkah pun, darimana aku bisa tahu
siapakah pembunuh yg sebenarnya?”
“Hmmm…kau angap aku masih gampang dikelabui? Sudah dua
kali kau memberi keterangan tentang wajah asli si Kedele Maut, bila
tiada hubungan apapun dg Kedele Maut, siapa yg mau percaya?”

“Benar, aku memang mempunyai hubungan dg kedele maut, tapi
aku tak tahu siapa yg melakukan pembunuhan dimana-mana, aku
minta waktu tiga bulan untuk menyelidiki persoalan ini, sampai
waktunya pasti akan kuberi keterangan yg jelas!”
“Mengapa harus menunggu sampai tiga bulan? Asal kubekuk
dirimu sekarang juga, aku yakin kedele maut pasti akan
menghantarkan diri sendiri masuk perangkap.”
Begitu ucapan tsb diutarakan, para jago segera menangapi dg
penuh luapan emosi.
Melihat keadaan tsb, Kho Beng segera berkata:
“Bila kulihat dari keadaan saat ini, tampaknya saudara sekalian
tak mau menyudahi persoalan tsb hingga disini saja?”
“Tindak tanduk sicu sangat mencurigakan, tak aneh bila
memancing rasa gusar umat persilatan kepadamu.” Thian it taysu
berkata, “menurut pendapatku, lebih baik sicu menyerahkan diri saja
utk dibelenggu, bila semua kecurigaan sudah dibikin jelas, sicu pasti
dibebaskan lagi.”
Kho Beng segera tertawa dingin, jengeknya:
“Sekalipun aku setuju, belum tentu pedang dibahuku serta
sepasang tanganku ini bersedia menuruti anjuranmu itu!”
Dg suara menggeledek Kiong Ceng san membentak:
“Kalau toh ingin berkelahi, buat apa banyak bicara terus? Aku
bersedia utk bertarung dulu melawanmu!”
Sambil berkata ia segera mempersiapkan senjatanya dan
bergerak maju kemuka.
“Kiong tayhiap, apakah kau yakin bisa menang?” ejek Kho Beng
sg suara dingin.
Kiong Ceng san tertawa seram:
“Heeeh…heeeeh…heeeh…bocah keparat, aku mau berkelahi
melawanmu sudah merupakan suatu kehormatan bagimu!”
“Bagus sekali!” Kho Beng tertawa pula dg nyaring, “terima kasih
banyak atas kehormatan yg Kiong tayhiap berikan kepadaku, Cuma
aku pun perlu memberitahukan satu hal kepadamu, yakni aku telah
memperlajari ilmu sakti yg tercantum dalam kitab pusaka Thian goan
bu boh, kuharap tayhiap jangan marah-marah bila menderita
kekalahan nanti!”
Begitu ucapan tsb diutarakan, paras muka Kiong ceng san segera
berubah hebat.

Padahal bukan Cuma Kiong ceng san saja, kawanan jago silat
lainnya pun ikut terperanjat dibuatnya.
Mereka tak tahu apa yg dikatakan Kho Beng itu benar atau Cuma
gertak sambal belaka.
Tapi Kiong ceng san sebagai jago kawakan yg sudah termashur
puluhan tahun lamanya tak berani mengambil resiko besar setelah
melihat sikap tenang lawannya.
Sementara dia masih termenung dg perasaan sangsi, mendadak
dari kerumunan orang banyak kedengaran seorang berteriak keras:
“Aku tidak percaya, Kiong tayhiap ijnkan aku Poa Ho sam
mencoba utk membekuk bocah keparat itu!”
Ditengah seruan tsb, terlihat sesosok bayangan manusia
melayang masuk kedalam arena.
Orang itu berwajah merah membara, senjatanya adalah tombak
pendek, dia berusia empat puluh tahunan serta memakai pakaian
ringkas warna biru, orang tsb tak lain adalah si jago tombak baja
Poa Ho sam, yg namanya terkenal dikawasan Kanglam.
Kiong ceng san menjadi kegirangan, buru-buru serunya:
“Bila Poa lote ingin berebut pahala dg ku baiklah, biar aku
mengalah lebih dulu, Cuma kuharap kau bertindak lebih berhati-hati
lagi……….”
Poa Ho sam tertawa bergelak:
“Haaaahhh….haaaahh……haaaahhh…tak usah kuatir, aku orang
she Poa tak akan percaya dg obrolan setannya!”
Kemudian sambil menatap Kho Beng lekat-lekat, bentaknya
keras:
“Bocah keparat, biar aku yg mencoba lebih dulu kemampuan ilmu
sakti Thian goan bu boh mu!”
Sambil bergendong tangan Kho Beng maju kemuka, lalu katanya
dingin:
“Bagus sekali, biar kucoba kemampuanmu dg mengandalkan
sepasang tangan kosong.”
Berbicara sampai disitu, orangnya telah berdiri persis dihadapan
Poa Ho sam.
Agaknya si tombak sakti Poa ho sam sudah tak sabar lagi,
senjatanya segera diputar kencang, lain saat tampak sekilas cahaya
hitam meluncur kemuka dan langsung menusuk lambung Kho Beng.
Melihat datangnya ancaman itu, Kho Beng mendengus dingin,
sebuah ayunan tangan menyambar kemuka menyongsong

datangnya ancaman lawan, hampir bersamaan maju lagi tiga
langkah kedepan........
Ternyata ketiga langkah kakinya ini luar biasa sekali, bukan saja
dapat menghindari tusukan tombak lawan, lagipula tenaga
pukulannya menjadi mengarah persis pada sasaran.”
Mula-mula Poa Ho sam tertegun, ia tidak mengerti apa kegunaan
dari serangan lawan.
Sebab menurut pengalaman, pada umumnya pada jurus
serangan dari perguruan manapun, selalu mengarah langsung
kepada sasaran yg dihadapi, tidak seperti jurus serangan yg
dgunakan lawannya sekarang, bukan tubuh lawan yg dituju,
sebaliknya menghantam kesisi lain.
Sementara ia masih tertegun, angin serangan yg amat tajam
telah menyambar keatas badannya, dalam keadaan begini, terlambat
sudah baginya utk menghindarkan diri..
“Blaaaaaaaammmm.....!”
Tubuhnya segera terhajar telak sampai mencelat sejauh tiga kaki
lebih dan jatuh terguling diatas tanah, untuk berapa saat lamanya
orang itu tak mampu merangkak bangun kembali.
Dalam satu gebrakan seorang jago silat kenamaan sudah dibikin
keok, bukan saja para jago dibuat terkesiap, sampai si hwesio
daging anjing pun ikut terbelalak dg wajah melongo, sampai
beberapa saat lamanya ia tak mempu berkata-kata.
Sesungguhnya memang disinilah letak keluarbiasaan serta
keampuhan ilmu silat Thian goan bu boh dibandingkan dg ilmu silat
aliran lain.....
Pukulan yg dilancarkan selalu mendahului langkah kaki, tapi
justru menciptakan suatu kerjasama yg amat serasi, bukan saja
membuat musuh susah menghindarkan diri, bahkan pada hakikatnya
tak bisa diduga sebelumnya.
Berhasil merobohkan Pou Ho sam dalam satu gebrakan, Kho
Beng segera memandang sekejap kearah kawanan jago lainnya, lalu
berkata:
“Siapa yg ingin memberi petunjuk lagi”
Para jago saling berpandangan sekejap tanpa berkata-kata,
suasana sangat hening.
Mendadak Kim cuncu dari Siau lim pay memutar toyanya seraya
berkata:

“Jurus serangan dari sau sicu memang sangat hebat, tapi aku
bersedia utk mencoba kemampuanmu yg lihai itu!”
“Apakah taysu ingin mencoba satu pukulan saja?” tanya Kho
Beng dingin.
“Yaa, aku memang berniat mencoba tenaga dalammu, aku rasa
satu pukulan pun sudah dapat melihat kemampuan yg kau miliki!”
“Bagaimana menang kalah telah diketahui?”
Kim cuncu segera tertawa seram,
“Haaa...haaaa....haahh...asal sicu dapat menggungguli diriku,
pinceng akan segera mengundurkan diri dari sini bersama segenap
rekan persilatan yg ada!”
“Sungguhkah perkataanmu itu!”
“Tentu saja, perkataan yg telah kuucapkan pasti akan kutaati,
hanya aku takut sicu tak mampu mengungguli diriku!”
“Bila aku tak mampu mengungguli dirimu, tentu saja aku akan
menyerahkan diri kepada kalian!”
“Bagus sekali........Nah, sicu harus bersiap sedia.........”
“Tunggu sebentar!” tukas Kho Beng mendadak.
“Masih ada urusan lain?”
“Bila aku beruntung bisa menang, masih ada sebuah permintaan
lain yg kuharap dikabulkan.”
“Apa permohonanmu?”
“Orang-orang yg lain boleh pergi, tapi Kiong tayhiap dari istana
naga tak bisa angkat kaki begitu saja!”
Mula-mula Kim Cuncu kelihatan tertegun, lalu sambil mendengus
serunya keras-keras:
“Permintaan mu ini kelewat kebangetan!”
Sambil mendengus dingin, Kiong ceng san berseru pula:
“Hey bocah keparat, dalam hal apa kau bisa tertarik dg ku?:
“Tua bangka celaka! Kau masih ingat dg kematian Li sam?” seru
Kho Beng dg wajah sedingin es.
Kiong Ceng san kelihatan agak tertegun, menyusul kemudian
katanya sambil tertawa seram:
“Li sam mati karena disiksa gara-gara ulahnya menyaru sebagai
Kedele maut, jelas terbukti kalau dia adalah komplotan si iblis keji
itu. Kini kau hendak membalaskan dendam bagi kematiannya, kalau
memang begitu kenapa kau menyangkal tak ada hubungan dg
mereka?”
Dg suara lantang, Kho Beng segera berseru:

“Tahukah kalian, siapa sebenarnya si Kedele Maut itu?”
“Aku memang ingin tahu!” seru Kim Cuncu dg wajah berubah.
Sepatah demi sepatah kata Kho Beng segera berseru:
“Dia tak lain adalah enci kandungku, Kho Yang ciu!”
Begitu pengakuan tsb diucapkan, kawanan jago tsb jadi amat
terkesiap.
Sekarang duduknya persoalan sudah jelas, tapi mereka tak
mengira kalau putra putri Hui im cengcu belum mati dalam peristiwa
berdarah tempo hari.
Dg suara keras Kiong Ceng san segera berteriak:
“Saudara sekalian, apalagi yg kita nantikan? Kalau bocah keparat
ini tidak kita bunuh sekarang juga, setengah tahun kemudian,
mungkin tiada jago persilatan yg bisa lolos dari ancaman mautnya!”
Begitu teriakan tsb berkumandang, suasana jadi sangat gaduh
sekali.
Hwesio daging anjing yg selama ini Cuma mengikuti
perkembangan tsb dari sisi arena, tiba-tiba ikut berkata dg kening
berkerut:
“Aku tidak mengira kalau duduk persoalannya begitu rumit dan
kacau, tapi bersediakah kalian semua mendengarkan sepatah dua
patah kata dariku?”
“Taysu punya pendapat apa?” tanya Kiong ceng san.
“Kuharap pertarungan ditunda pada hari ini, karena saling
membunuh hanya merugikan umat persilatan, lagipula melanggar
ajaran buddha, oleh sebab itu aku keberatan dg terjadinya peristiwa
macam begini.”
“Omitohud!” Thian it taysu segera memuji keagungan buddha,
“tak nyana toyu bisa mengucapkan kata-kata semacam itu, apakah
kau tidak berpihak kepada golongan kami?”
Hwesio daging anjing menggeleng:
“Tidak, aku si hwesio tidak berpihak kepada golongan manapun,
aku Cuma berharap bisa meleyapkan bencana besar ini, aku rasa,
aku hwesio dapat mencegah sobat kecil ini utk melakukan
pembunuhan lebih lanjut.”
“Aku rasa bocah keparat itu enggan menuruti nasehat orang, toh
ilmu sakti telah dipelajari...?” jengek Kiong ceng san sinis.
Hwesio daging anjing segera berpaling kearah Kho Beng, lalu
ujarnya pelan:

“Bersediakah sicu untuk memberi muka kepadaku dg menuruti
nasehatku?”
“Boanpwee pasti akan menerimanya dg senang hati!” sahut Kho
Beng cepat.
Mendengar itu, hwesio daging anjing segera tertawa terbahakbahak:
“Haaaahh...haaaahh...haaahh...sobat kecil Kho telah bersedia
memberi muka kepadaku, bagaimana dg saudara sekalian?”
Thian it taysu termenung sambil berpikir berapa saat, akhirnya
diapun berkata:
“Baiklah, tapi Cuma kali ini saja, biar begitu aku tetap berharap
kepada sauhiap untuk menentukan waktu pertemuan dan
tempatnya!”
“Tak usah ditentukan tempat serta waktunya” sela Kho Beng
dingin, “sekarang juga aku dapat katakan kepada kalian bahwa Bu
wi cianpwee yg kalian jumpai ditengah jalan pada dua puluh tahun
berselang bukan Bu wi cianpwee yg asli, Bu wi cianpwee yg asli
masih merawat lukanya didalam gua, kitab pusaka thian goan bu
boh juga berada ditangan Bu wi cianpwee bahkan sudah dibuatkan
salinannya buat para ciangbunjin dari tujuh partai besar, sayang
sekali para ciangbunjin dari partai-partai besar telah terkecoh oleh
siasat busuk orang lain sehingga mengira ayahku telah
mempermainkan mereka?”
“Sunguh perkataanmu itu?” tanya Thian it taysu dg perasaan
bergetar keras.
“Aku berbicara sejujurnya!”
“Mengapa tidak kau undang Bu wi toyu sekarang juga agar
semua persoalan menjadi terang?”
“Bu wi cianpwee masih membutuhkan waktu satu bulan utk
menyembuhkan luka yg dideritanya, sampai waktunya beliau pasti
akan bertemu dg saudara sekalian!”
“Sekarang siapakah dalang dari rencana busuk ini?” tiba-tiba
Kiong ceng san bertanya pula.
“Dewi In nu!”
Dg perasaan tercengang Thian it taysu berseru:
“Rasanya belum pernah kudengar tokoh persilatan yg bernama
begitu……?”
Tiba-tiba hwesio daging anjing berkata pula sambil tertawa
terkekeh-kekeh.

“Thian it, apakah kau mengetahui tentang peristiwa berdarah yg
menyangkut partai kupu-kupu pada seratus tahun berselang?”
Dg perasaan keheranan Thian it taysu berdiri tertegun, kemudian
sahutnya:
“Partai kupu-kupu………”
“Kupu-kupu indah terbang berpasangan, darah bercucuran
melanda dunia persilatan, air mata bercucuran bagaikan sungai,
tulang berserakan bagaikan bukit, pernah kau dengar tentang bait
syair tsb.”
Berubah hebat paras muka Thian it taysu, serunya tertahan:
“Jadi partai kupu-kupu sungguh-sungguh telah muncul kembali
didalam dunia persilatan?”
“Yaa!” jawab hwesio daging anjing serius, “barusan mereka ikut
datang kemari, buat apa aku si hwesio membohongi dirimu?”
Tiba-tiba Thian it taysu mengulapkan tangannya kepada para
jago sambil berseru:
“Hayo berangkat!”
Dg cepat ia memohon diri kepada hwesio daging anjing, lalu
tergesa-gesa mengundurkan diri keluar lembah.
Diantara kawanan jago yg hadir, mereka yg berusia agak lanjut
mungkin mengetahui sedikit tentang masalah yg dibicarakan,
sebaliknya yg masih muda usia malah dibikin kebingungan.
Tapi melihat semua orang sudah beranjak pergi, tentu saja
mereka harus angkat kaki pula.
Maka suatu pertarungan yg sesungguhnya hampir meletus,
seketika hilang lenyap tak berbekas.
Kho Beng sendiri pun merasa kebingungan, sambil mengawasi
kawanan jago yg mengundurkan diri dari situ, ia berdiri termangumangu.
Sesaat kemudian, pemuda itu baru memberi hormat kepada
hwesio daging anjing, sambil katanya:
“Bolehkan aku tahu naa besar taysu?”
Hwesio daging anjing tertawa bergelak.
“Haaahhh…haaaahhh….haaahhh…aku si hwesio tak punya
julukan apa-apa, mungkin lantaran kegemaranku adalah daging
anjing, maka semua orang menyebutku si hwesio daging anjing!”
“Oooooh..rupanya Kiu tin Sin ceng (pendeta suci penolong jagat).
Aku yang muda bernama Kho Beng, cianpwee bolehkah aku tahu
partai macam apakah partai kupu-kupu itu?”

Hwesio daging anjing menghela napas panjang,
“Sebenarnya partai tsb merupakan suatu perguruan yg paling
istimewa didalam dunia persilatan pada seratus tahun berselang,
perguruan ini tidak bisa disebut partai lurus tapi juga bukan partai
sesat. Adapun senjata andala dari anak muridnya adalah panji kupukupu,
kepandaian silat mereka berasal dari kitab pusaka Thian goan
bu boh!”
“Ilmu silatnya bersumber dari kitab pusaka Thian goan bu boh?”
tanya Kho Beng dg perasaan terkesiap, “tapi menurut apa yg
boanpwee serta Bu wi cianpwee ketahui, isi kitab pusaka Thian goan
bu boh hanya terdiri dari ilmu pukulan serta ilmu pedang!”
“Wah, kalau soal itu mah aku tidak ketahui, semenjak kehilangan
kitab pusaka Thian goan bu boh pada seratus tahun berselang, pihak
partai kupu-kupu telah mengirimkan jagonya utk melakukan
pencarian diseluruh dunia, dunia persilatan seakan-akan diobrak
abrik tak karuan, jumlah korban yg tewas gara-gara peristiwa itu tak
terhitung jumlahnya, keadaan waktu itu sungguh mengerikan sekali,
pokoknya darah seperti menganak sungai dan mayat bertumpuk
bagaikan bukit.
Kho Beng merasakan hatinya bergetar keras, setelah termangumangu
berapa saat, dia bertanya kembali:
“Bagaimana selanjutnya?”
“Akhirnya peristiwa itu mengejutkan tiga dewa dunia persilatan,
tampaknya ketiga tokoh sakti ini merasa tak senang melihat
berlangsungnya peristiwa itu, maka mereka bertiga turun tangan
bersama dan mengundang ketua dari partai kupu-kupu untuk bersua
di tebing hati sedih...”
Setelah menghela napas panjang, terusnya:
“.......dalam peristiwa tsb, boleh dibilang tiga dewa telah
kehabisan seluruh kekuatannya dan mati semua!”
“Kepandaian macam apakah yg diandalkan ketua partai kupukupu?”
tanya Kho Beng keheranan.
“Tentu saja ilmu kupu-kupu terbang berpasangan, senjata kupukupu
yg berada diujung senjatanya terbang melayang, satu berubah
menjadi dua, dua berubah menjadi empat, dan lebih hebat lagi
senjata tsb khusus dipakai utk menjebol pertahanan hawa khikang
orang. Walaupun tiga dewa telah mengeluarkan segenap
kemampuan silat yg dimilikinya, namun tak berhasil meloloskan diri

dari ancaman tsb, dalam keadaan terdesak akhirnya mereka
memutuskan utk beradu jiwa dg ketua partai kupu-kupu.
Akhirnya, ketua dari partai kupu-kupu juga tewas dibawah tebing
hati sedih, sebaliknya tiga dewa pun kehilangan tenaga dalamnya
sebesar lima puluh tahun hasil latihan, sejak kembali ke pulau Bong
lay to, kekuatan tsb tak pernah pulih kembali, sejak pertai kupukupu
mengundurkan diri dari dunia persilatan, dalam dunia kangouw
pun tak pernah kelihatan lagi jejak dari tiga dewa itu!”
Kho Beng termenung berapa saat lamanya, kemudian ia baru
berkata:
“Apakah cianpwee yakin kalau dua orang kakek berbaju ungu tadi
adalah anggota perguruan kupu-kupu?”
“Aku yakin penglihatanku tidak salah!” jawab hwesio daging
anjing dg wajah serius.
Kembali Kho Beng termenung sejenak, lalu ujarnya dg nada
bersungguh-sungguh:
“Boanpwee ingin memohon bantuan, apakah cianpwee bersedia
utk mengabulkan?”
“Ada urusan apa?”
“Boanpwee ingin meninggalkan tempat ini selama berapa hari,
tapi Bu wi cianpwee sedang mengobati lukanya sekarang dan
membutuhkan satu bulan lamanya sebelum kembali seperti sedia
kala. Walaupun Kim bersaudara adalah orang-orang yg setia kawan
dan bisa dipercaya, namun berhubung tenaga dalam yg mereka
miliki sangat terbatas, rasanya sulit utk menghadapi serangan
musuh tangguh, sebaliknya keempat orang anak buahku sangat liar
dan susah dikendalikan, oleh karena itu aku ingin mohon bantuan
cianpwee agar bersedia menjaga ditempat ini selama satu bulan
lamanya……..”
Mendengar perkataan tsb, si hwesio daging anjing segera tertawa
terbahak-bahak:
“Haaaahh…..haaaah…..haaaah….kukira persoalan apa yg kau
minta, kalau soal menjaga bu wi sudah sepantasnya kuterima,
apalagi melindungi keselamatan rekan sendiri. Tapi kau hendak pergi
kemana?”
“Terus terang saja cianpwee, boanpwee ingin secepatnya pegi
mencari dewi In nu, ingin kuketahui manusia macam apakah dirinya
itu?”
“Kau tahu berada dimana dia?” tanya si hwesio agak tertegun.

“Bu wi cianpwe telah menerangkan alamatnya kepadaku, justru
karena itu boanpwee harus secepatnya berangkat kesana, sebab aku
takut ia sudah keburu melarikan diri lebih dulu.”
“Bagus, bagus sekali, orang-orang yg lain boleh kau bawa
semua” kata hwesio daging anjing sambil tertawa, “tempat ini
serahkan saja kepada aku si hwesio seorang, asal yg datang bukan
tiga dewa, aku percaya masih mampu utk menghadapinya.”
“Kalau begitu boanpwe akan berangkat sekarang juga, kelewat
banyak malah kurang leluasa, boanpwee hanya akan mengajak
keempat orang anak buahku saja, sedang Kim bersaudara serta
nona Chin biar tetap tinggal disini, paling tidak kan taysu
membutuhkan juga beberapa orang pembantu!”
“Bagi ku sih tak ada usul lagi, terserahlah maumu!”
Maka Kho Beng pun masuk kembali kedalam gua utk berpamitan
dg Kim bersaudara serta Chin Sian kun, lalu dg mengajak Rumang
berempat segera berangkat eningalkan lembah berhati buddha,
langsung berangkat menuju kebawah bukit seratus kaki.
oooOOooo
Fajar baru menyingsing.
Pintu gerbang sebuah gedung bangunan yg besar, terletak
dilembah Thian sim kok bukit Cian san pelan-pelan dibuka lebar.
Dari balik pintu gerbang yg terpentang lebar, muncullah
serombongan kereta kuda yg semuanya membawa barang yg
bertumpuk-tumpuk, setiap kereta dikusiri oleh seorang lelaki berbaju
hitam dan seorang dayang berbaju hijau.
Tapi anehnya mereka bukan turuni bukit, sebaliknya malah
bergerak menuju keatas bukit.
Puluhan manusia itu berjalan dg mulut bungkam, malah berulang
kali mereka berpaling serta memperhatikan bangunan
perkampungan itu dg perasaan berat hati.
Menanti rombongan manusia itu makin lama semakin menjauh,
mendadak berkobarlah api yg membakar perkampungan tsb,
menyusul kemudian tampak dua orang nona muda berbajumerah
berlarian kesana kemari dg membawa obor utk membakar bangunan
disana.
Si nona yg berusia agak lanjut segera lari menuju kebalik pintu
perkampungan setelah membakar bangunan tadi, mengawasi api yg

berkobar sampai menjulang keangkasa, ia berkata sambil menghela
napas panjang.
“Aaaai….sebuah bangunan rumah yg begitu megah, ternyata
harus dimusnahkan dg begitu saja, kasihan dg jerih payah nona
selama puluhan tahun, akhirnya mesti ludes dg begitu saja….”
Si nona berbaju merah yg berada dibelakangnya, segera
menjawab sambil tertawa:
“Enci Kiok jiu, inilah yg disebut hilang yg lama datang yg baru,
nona sendiri tidak merasa bersedih hati, buat apa kau berkeluh
kesah seorang diri?”
“Bukan begitu maksudku,paling tidak sudah belasan tahun
lamanya kita berdiam disini, siapa yg tak pedih hatinya melihat
bangunan yg begitu megah harus musnah menjadi abu?
Haaai….Hong eng, masa kau tidak melihat nona sendiri sempat
menyeka air matanya sewaktu pergi meninggalkan bangunan tsb
semalam?”
Kembali Hong eng tertawa terkekeh-kekeh.
“Kalau aku mah tak akan risau, sebab memang kejadian ini apa
boleh buat, dirisaukan juga tak ada gunanya!”
Sambil berkata ia segera menyulut pintu gerbang dg obor
ditangannya, dalam waktu singkat pintu itupun terbakar dg
hebatnya.
Menanti kobaran api sudah merata dan membakar semua benda
yg dijumpainya, Kiok Jiu baru membuang obor tsb seraya berkata:
“Sekarang kita harus menanti disekitar sini, coba dilihat apa
benar musuh kita akan datang. “
“Aku tak percaya kalau perhitungan nona bisa begitu tepat. “ kata
Hong eng curiga.
“Perhitungan nona selalu tepat rasanya belum pernah meleset
barang sekalipun, kecuali kedatangan si tua Bu wi yg amat tiba-tiba
tempo hari, sehingga menimbulkan bibit bencana kebakaran yg
berlangsung pada hari ini….. “
Sembari bercakap-cakap mereka berdua segera memasuki hutan
yg lebat ditepi perkampunga yg terbakar itu.
Tak sampai sepenanak nasi kemudian, tiba-tiba dari bawah bukit
sana muncul lima sosok bayangan manusia yg bergerak menuju
keperkampungan itu dg kecepatan tinggi.

Diantara kelima orang itu, seorang diantaranya adalah pemuda
berbaju putih, sementara empat orang lainnya adalah lelaki kekar
berwajah bengis.
Tatkala tiba didepan perkampungan dan menyaksikan api yg
berkobar membakar seluruh bangunan, pemuda itu segera
menghentak hentakkan kakinya ketanah sambil menghela napas
panjang.
“Aaaai…kedatangan kita ternyata masih terlambat juga satu
langkah ! “
Tak salah lagi, orang ini tak lain adalah Kho Beng yg datang
melakukan penyelidikan setelah mendapatkan alamat tsb dari Bu wi
lojin.
Agak tertegun Rumang berseru :
“ Asap tebal masih mengepul dari seluruh perkampungan,
tampaknya kebakaran ini belum lama berlangsung, jangan-jangan
sudah ada orang yg mendahului kita sampai disini dan bertarung
sengit melawan mereka ? “
“Tidak mungkin ! “ Kho Beng menggeleng, “kecuali kita, orang
yg mengetahui dewi In nu masih jarang sekali, sudah jelas pihak
lawan telah menduga akan kedatangan kita mka sebelumnya
membakar perkampungan ini lebih dulu.”
“Sayang……sayang……” gumam Hapukim.
“Apanya yg sayang?” Molim bertanya.
“Padahal sekalipun hendak angkat kaki, bukan berarti seluruh
perkampungan harus dibakar, coba kalau bangunan rumah tsb
diberikan kepada kita…waaah….pasti nyaman sekali.”
“Apanya yg nyaman?” kata Molim tertawa, “terpencil sendirian
ditengah bukit yg jauh dair keramaian manusia, andaikata benarbenar
diberikan kepadaku pun, belum tentu akan kuterima?”
“Sudah, sudahlah, kalian jangan ngaco belo melulu” tukas Kho
Beng segera. “Kini kita sudah kehilangan jejak, berarti selanjutnya
kita harus membuang banyak waktu dan tenaga lagi utk menemukan
jejak mereka………”
“Cukong, kami seperti mendengar ada suara manusia dari balik
hutan sana!”
Dg perasaan terkejut Kho Beng memasang telinganya sambil
memperhatikan dg seksama, betul jua, ia seperti mendengar ada
suara orang tertawa.

Cepat-cepat dia memberi tanda dg kedipan mata kepada anak
buahnya, lalu berbisik:
“Memang mencurigakan sekali kehadiran anak gadis ditengah
bukit yg sepi macam begini, mari kita lakukan pencarian secara
pelan-pelan, tapi kalian jangan turun tangan secara gegabah,
sebelum orang itu adalah musuh kita!”
Siapa tahu belum habis perkataan itu diucapkan, suara tertawa
kedengaran makin lama semakinjelas, lalu tampaklah dua orang
gadis munculkan diri dari balik hutan dan langsung mendekati Kho
Beng.
Menyaksikan munculnya dara-dara muda itu, Kho Beng merasa
agak tertegun, sebab bukan saja kedua orang itu memiliki paras
muka yg cantik jelita, tindak tanduknya pun sangat wajar, seakanakan
disekitar sini sana tiada orang lain.
Agaknya kedua orang nona pun telah melihat Kho Beng serta
rombongannya berada disitu, buru-buru mereka berseru:
“Aaaaah….tidak disangka ditempat ini masih ada orangnya, mari
kita pergi kebagian lain saja!”
Cepat-cepat Kho Beng memburu maju kedepan dan memberi
hormat, katanya:
“Bolehkah aku tahu siapa nama nona berdua?”
Sinona berbaju merah yg agak muda segera menjawab:
“Aku bernama Hong eng, dia adalah ciciku bernama Kiok jin!”
“Ooooh, rupanya nona kiok jin serta nona hong eng, dimanakah
kalian berdiam?”
“Mau apa kau menanyakan alamat kami?” seru Hong eng sambil
menjebikkan bibirnya.
“Nona salah paham, maksudku hanya ingin bertanya apakah
kalian berdua sudah lama berdiam disini?”
Kiok jin manggut-manggut:
“Benar, kami memang berdiam didesa keluarga Li, dibelakang
gunung sana, tapi utk apa kau menanyakan persoalan ini?”
“Kalau begitu tolong tanya, apakah nona kenal dg orang-orang yg
semula berdiam didalam perkampungan yg terbakar sekarang?”
“Siapa bilang tak kenal?” sahut Hong eng sambil berkerut kening,
“dlu kami malah sempat berdiam disini!”
Mencorong sinar terang dari balik mata Kho Beng sesudah
mendengar perkataan itu, segera ujarnya:

“Ooooh....bersediakah nona memberitahukan kepadaku siapa
nama majikan disini?”
“Sebetulnya tempat ini bernama Bwee wan, pemiliknya adalah
seorang perempuan.”
“Apakah dia bernama dewi In nu?” desak Kho Beng lebih jauh.
“Benar!”
“Apa sebabnya perkampungan ini sampai terbakar?”
“Konon, semalam telah datang beberapa orang penyamun yg
mambakar ludes bangunan gedung disini!”
“Lantas bagaimana dg pemilik gedung ini?” tanya Kho Beng agak
tertegun.
“Sudah pergi. Ia sudah pergi menjelang fajar tadi, malah mereka
sempat meminjam tali temali dari kami.”
“Tahukah kalian kemana perginya?”
Kiok jin menggeleng.
“Ia tidak mengatakan kepada kami, waktu itu kami pun belum
bangun maka tak sempat utk bertanya padanya!”
“Lantas dari manakah nona berdua tahu kalau Bwee wan telah
kedatangan kawanan perampok?” seru pemuda itu tercengang.
Kiok jin segera tertawa cekikikan.
“Kenapa kongcu begitu bodoh? Sebelum pergi mereka tentu akan
membicarakan persoalan ini dg ayahku, api berkobar dg begitu
besar, masa ayah kami tidak tahu?”
“Kemana mereka telah pergi?”
“Kalau soal itu mah tidak kuketahui!”
Kho Beng benar-benar merasa amat kecewa, buru-buru dia
datang kesitu namun hasilnya nihil, dia tak mengira begitu cepat
musuhnya angkat kaki dari tempat tsb.
Sementara ia masih termenung memikirkan persoalan itu, Hong
eng telah berkata lagi:
“Kongcu, kalau sudah tak ada urusan lagi, kami kakak beradik
ingin mohon diri lebih dulu!”
“Terima kasih banyak atas petunjuk nona!” buru-buru Kho Beng
menjura utk memberi hormat.
Hong eng tertawa, bersama Kiok jin segera emutar badan dan
berjalan menuju kedalam hutan sana.
Dg termangu mangu Kho Beng hanya bisa mengawasi bayangan
tubuh kedua orang gedis tsb lenyap dibalik pepohonan sana.
Tiba-tiba terdengar Rumang menjerit kaget......

Dg perasaan tertegun Hapukim segera menegur:
“Engkoh Rumang, ada urusan apa?”
“Aku merasakan hawa sesat pada kedua orang gadis kecil tadi!”
“Hawa sesat apa?” tanya Molim.
Jilid 21
“Bukankah dia menerangkan kalau rumahnya berada dibukit
sebelah sana, kalau memang hendak pulang, kenapa mereka
kembali memasuki hutan? Memangnya rumah berada ditengah
hutan?”
“Siapa tahu mereka masih mempunyai keperluan lain? Atau
bahkan mereka sedang berburu dihutan?” kata Molim tertawa.
“Yaa, perkataanmu memang ada benarnya, tapi kalau mereka
ingin berburu, toh mereka harus mengenakan pakaian berburu, tapi
kenyataannya mereka mengenakan gaun biasa, bila nona-nona itu
memang penduduk rakyat biasa, mana mungkin mereka mampu
melewati jalan bukit yg terjal dan licin dg memakai gaun?”
Kho Beng menjadi sangat terperanjat, segera serunya:
“Yaa, tadi aku tak sempat mengawasi secara teliti, ternyata aku
percaya dg begitu saja semua obrolan mereka, siapa tahu kedua
orang itu memang mendapat tugas memberi informasi yg salah agar
kita tak bisa menemukan jejaknya lagi?”
“Bukankah mereka masih berada disekitar sini?” kata Molim
kemudian, “lebih baik kita geledah saja daerah seputar tempat ini,
masa mereka bisa sembunyi terus?”
Kho Beng manggut-manggut:
“Baik, mari kita mencari secara berpisah, setiap tempat kita
periksa dg teliti, coba diperhatikan apakah disekitar sini masih ada
penghuninya!”
Maka berangkatlah kelima orang itu dg menerobos hutan belukar.
Setelah melangkah masuk kedalam hutan, suasana menjadi
remang-remang, bukan saja banyak ularnya, seringkali mereka
mendengar suara auman harimau yg memekakkan telinga.
Kho Beng berlima menembusi hutan dg senjata terhunus, setiap
jengkal tanah boleh dibilang telah diperiksa dg seksama, tapi aneh
bin ajaib, dalam waktu yg relatif singkat ternyata bayangan tubuh
kedua orang nona berbaju merah tadi telah lenyap dari pandangan
mata.

Dari pagi mereka berlima menelusuri hutan sampai tengah hari
sebelum akhirnya muncul pada tepi hutan yg lain, waktu itu
matahari sudah berada diatas kepala, namun tak sesosok bayangan
manusia pun yg ditemukan.
Dg terjadinya peristiwa ini, semakin membuktikan betapa
mencurigakannya kedua orang nona berbaju merah tadi.
Kho Beng menjadi sangat mendongkol bercampur gusar, sambil
menengok cuaca, katanya kemudian dg suara dalam:
“Sekarang kita mengisi perut dulu dg ransum kering, kemudian
baru melanjutkan pelacakan, aku tak percaya kalau kita tak berhasil
menemukan tempat persembunyian mereka.
Maka mereka berlima pun mengisi perut dg ransum kering yg
dibawa, lalu setelah beristirahat sebentar, pelan-pelan mereka
lanjutkan pemeriksaannya disekitar sana.
Setelah melewati dua buah bukit yg tinggi akhirnya secara tibatiba
mereka temukan jalan setapak yg agaknya seringkali dilalui
manusia.
Jalan setapak itu amat bersih dan kering, tampak jelas jalanan itu
sering digunakan utk berlalu lalang.
Kontan saja Kho Beng merasakan semangatnya berkobar
kembali, segera serunya:
“Kemungkinan besar kita sudah berhasil menemukan arah yg
benar!”
Tanpa membuang waktu lagi, segera ia memimpin anak buahnya
utk menelusuri jalan itu.
Tak sampai setengah peminuman teh kemudian, sampailah
mereka didepan sebuah bangunan rumah yg besar, bengunan loteng
yg mungil tapi indah nampak secara lamat-lamat dari kejauhan.
Dg perasaan gembira yg meluap-luap,Rumang segera berseru:
“Siapa tahu bangunan itu yg sedang kita cari, mari kita serbu saja
kedalam!”
“Tunggu sebentar!” cegah Kho Beng, “apabila kita langsung
menyerbu kedalam gedung dan andaikata dugaan kita meleset,
bukankah akan menimbulkan kesalah pahaman yg tak ada artinya?”
“Asalkan perempuan bajingan itu tidak berdiam disini, kita kan
masih bisa mengundurkan diri……….” Seru Hapukim.
“Biasanya hanya orang-orang sakti atau pendekar berilmu tinggi
yg membangun rumahnya ditengah hutan dan pegunungan yg
terpencil seperti ini, padahal kedatangan kita kemari adalah utk

melacak jejak dewi In nu, aku tak ingin menimbulkan banyak
persoalan yg tak ada gunanya. Apalagi andaikata sasaran memang
betul berada disini, kedatangan kita disiang hari begini bukankah
sama artinya dg menggebuk rumput mengejutkan ular.”
“Kalau begitu mari kita menunggu saja sampai malam tiba
sebelum masuk kedalam gedung itu utk melakukan penyelidikan”
usul Molim kemudian.
“Nah, begitu baru cocok dg jalan pikiranku” seru Kho Beng sambil
manggut-manggut, “sekarang waktu sudah siang, mari kita mencari
tempat utk beristirahat sejenak, menanti hari sudah gelap nanti baru
kita masuki perkampungan tsb utk melakkukan penyelidikan, kalau
bukan mereka yg kita cari, kita segera mengundurkan diri,
sebaliknya kalau memang mereka yg kita cari disini, sampai
waktunya kita bicarakan lagi!”
Maka mereka berempat pun mencari hutan yg sepi dan
bersembunyi utk melepaskan lelah dan duduk mengatur pernapasan.
Dalam waktu singkat, senja telah menjelang tiba.
Mereka berlima segera mengisi perut dg ransum kering, setelah
itu berangkat menuju gedung itu.
Langit sudah gelap gulita, cahaya lentera yg memancar keluar
dari balik gedung bagaikan kerdipan bintang yg terbesar diangkasa,
ditengah kegelapan yg mencekam tanah perbukitan tsb, cahaya
lentera itu kelihatan jauh lebih terang benderang.
Ketika mereka berlima tiba dimuka perkampungan tsb, tampaklah
pagar bambu mengelilingi taman, aneka bungan yg tumbuh
diseputarnya, tak salah lagi kalau tempat tsb mirip tempat tinggal
orang pertapaan………
Sambil meloloskan goloknya, Rumang segera berbisik:
“Bagaimana kalau kita langsung menyerbu masuk kedalam utk
melakukan pemeriksaan?”
“Tidak!” seru Kho Beng cepat, “kalau kebanyakan orang, gerak
gerik kita menjadi kurang leluasa, coba kalian menunggu saja diluar,
biarku masuk seorang diri, bila bertemu bahaya akan kuberitahukan
kepada kalian dg suara pekikan sampai saatnya aku rasa belum
terlambat buat kalian utk menyusulku kedalam…………”
Terpaksa Molim sekalian menggut-manggut tanda mengerti.
Maka seusai meninggalkan pesannya, Kho Beng segera melejit
ketengah udara dan menerobos masuk kedalam perkampungan.

Gerakan tubuhnya cepat sekali bagaikan sambaran kilat, bagitu
memasuki perkampungan, ia segera mendekam diatas wuwungan
rumah tanpa menimbulkan sedikitpun suara.
Baru saja dia hendak mengintip kebawah, mendadak dari kiri
kanan dan belakang tubuhnya bergema suara bentakan nyaring,
sewaktu ia berpaling dg perasaan terkejut, tampak empat sosok
bayangan manusia telah melompat naik keatas atap rumah dan
mengepungnya rapat-rapat.
Peristiwa ini boleh dibilang membuatnya terperanjat sekali.
Sejak menyelinap masuk kedalam perkampungan hingga
mendekam diatas wuwungan rumah boleh dibilang ia tak
menimbulkan suara sedikitpun, mengapa jejaknya segera ketauan
lawan?
Tapi saat sekarang tidak memberi kesempatan lagi baginya utk
berpikir panjang, serta merta dia melejit bangun dan berdiri tegak
diatas atap rumah.
Tampak seorang nona berbaju hijau yg berada disisi kiri
membentak keras:
“Bajingan keparat, besar amat nyalimu, berani sekali memasuki
perkampungan Ciu hong san ceng ditengah malam buta begini,
hmmm……tampaknya kau sudah bosan hidup!”
Kho Beng sadar kalau jejaknya tak bisa disembunyikan lagi, maka
sahutnya sambil tertawa:
“Harap nona sekalian jangan gusar, sesungguhnya kedatanganku
kemari adalah utk melacaki jejak seseorang, tak disangka
kehadiranku telah mengejutkan kalian semua.”
“Siapa yg kau cari?” tanya nona itu.
“Sebelum kujawab pertanyaan tsb, dapatkah kuketahui lebih dulu
siapakah kepala perkampungan Ciu hong san ceng ini?”
“Hmmm, siapa kepala perkampungan kami, kau masih belum
pantas utk mengetahuinya.”
“Kalau begitu bolehkah aku tahu, apakah didalam perkampungan
kalian terdapat seorang nona yg bernama Hong ing?” desak Kho
Beng lebih lanjut dg kening berkerut.
Nona berbaju hijau itu kelihatan agak tertegun, kemudian
sahutnya:
“Yaa, ada! Kau kenal dengannya?”
“Yaa benar, bolehkah aku bertemu sebentar dg nya?”

Baru selesai perkataan itu diutarakan, mendadak dari dlm gedung
kedengaran seseorang bertanya:
“Bi kui, siapa yg berada diatas rumah?”
Nona berbaju hijau itu segera menjawab:
“Lapor n ona, kita telah kedatangan seorang pemuda asing yg
mengaku hendak mencari nona Hong ing!”
Kho Beng yg mengikuti tanya jawab tsb dalam hati kecilnya
segera berpikir:
“Bila didengar dari nada pembicaraannya, mungkin orang itu
adalah kepala kampungnya, mengapa tidak kuperiksa dulu apakah
orang tsb adalah dewi In n u atau bukan?”
Berpikir sampai kesitu, ia segera melompat turun keatas tanah
dan langsung melangkah masuk kedalam ruangan.
Tapi apa yg kemudian terlihat segera membuat hatinya bergetar
keras, serunya tertahan:
“Cici…….!”
Ternyata didalam ruangan duduk dua orang nona muda.
Yg seorang mengenakan pakaian baju merah dan berparas cantik
jelita bak bidadari dari kahyangan, matanya jeli, hidungnya mancung
dan mulutnya kecil mungil, dia berusia dua puluh tujuh-delapan
tahunan, agaknya orang inilah yg menegur tadi.
Sedangkan orang kedua adalah seorang nona berbaju putih yg
berwajah dingin, dia tak lain adalah enci kandungnya, Kho Yang ciu
yg telah berpisah dgnya dikota Yang ciu tempo hari.
Waktu itu Kho Beng benar-benar dibuat terkejut bercampur
keheranan, utk sesaat lamanya dia Cuma tertegun seperti patung
saja.
Begitu pula keadaan Kho Yang ciu serta nona berbaju merah itu,
mereka berdua kelihatan tertegun juga.
Akhirnya Kho Yang ciu maju menyongsong kedatangan pemuda
itu dg cepat, sambil menarik tangan Kho Beng serunya:
“Adikku, darimana kau bisa tahu kalau aku berada disini?”
Sewaktu bertanya, sepasang matanya tampak berkaca-kaca dan
hatinya dicekam gejolak meosi yg meluap, jauh berbeda dg sikapnya
sewaktu bertemu utk pertama kali dulu.
Dg perasaan terharu sahut Kho Beng:
“Cici, aku tak mengira kau ada disini!”
Sementara itu si nona berbaju merah tadi telah berseru sambil
tertawa:

“Oooh…rupanya orang sendiri, wah inilah yg dibilang orang air
bah melanda istananya……….”
Tangannya segera diulapkan kepada keempat nona berbaju hijau
yg mengawasi dari luar pintu dg pedang terhunus, katanya:
“Kalian boleh mengundurkan diri dari sini, segera siapkan meja
perjamuan!”
Keempat orang nona berbaju hijau itu mengiakan bersama,
setelah memberi hormat mereka segera mengundurkan diri,
sekalipun rasa tercengang masih menghiasi paras muka masingmasing.
Sementara itu Kho Yang ciu telah membalikkan badan dan
memperkenalkan Kho Beng dg nona berbaju merah itu, katanya:
“Dia adalah enci Li dari perkampungan Ciu hong san ceng!”
Dg pikiran dicekam rasa bingung dan tak habis mengerti, Kho
Beng memberi hormat seraya berkata:
“Ooooh, rupanya nona Li atas kelancanganku tadi, harap nona
sudi memaafkan…………”
Nona berbaju merah itu tersenyum:
”Untuk mengundang kehadiran tamu agung pun bukan suatu
pekerjaan yg gampang, kenapa mesti bersungkan-sungkan…”
“Tapi dimanakah cengcu perkampungan ini? Sudah sepantasnya
kalau Kho Beng bertemu serta menyampaikan dalam dulu
kepadanya.”
“Adikku, nona Li adalah cengcu perkampungan ini……..” kata Kho
Yang ciu cepat.
“Aaaah…….rupanya perkampungan ini adalah hasil karya nona Li,
tapi……tahukah nona bahwa perkampungan Bwee wan dibukit
sebelah muka sana telah terbakar semalam?”
Li sian soat, ketua perkampungan Ciu hong san ceng kembali
tersenyum manis:
“Pagi tadi aku baru melihat cahaya api, saat itulah baru kuketahui
kalau perkampungan Bwee wan telah terbakar hangus………”
“Tahukah cengcu, siapakah pemilik perkampungan Bwee wan
itu?” tukas Kho Beng cepat.
Kembali Li Soan soat menggeleng:
“Hingga kini aku tak pernah meninggalkan rumah barang
selangkah pun, meski kuketahui juga bahwa pemilik perkampungan
Bwee wan pun seorang wanita, tapi sayang belum pernah
kutanyakan siapa namanya.”

Tanpa terasa Kho Beng mengerutkan alis matanya rapat-rapat.
Selisih jarak diantara kedua perkampungan itu Cuma berapa li,
namun kenyataannya mereka tak pernah saling berhubungan, jelas
kejadian semacam ini berada diluar kebiasaan pada umumnya.
Ia mulai menaruh curiga, jangan-jangan Li cengcu dari
perkampungan Ciu hong san ceng adalah dewi In nu yg sedang
dicari-cari, apa mau dibilang dia masih kekurangan bukti-bukti yg
jelas, apalagi encinya pun sedang bertamu disitu..
Dg bekal pelbagai kecurigaan yg tak terjawab, akhirnya dia
memutuskan akan menanyakan persoalan tsb kpd encinya nanti.
Maka dia pun membungkam diri dan tidak berbicara lagi.
Dlm perjamuan yg kemudian diselengggarakan, mereka bertiga
duduk saling berhadapan, meski Li Sian soat banyak bicara dan
senyum, namun Kho Beng selalu menjawab sekenanya.
Ditengah perjamuan itulah, mendadak terdengar nona berbaju
hijau yg berada diluar ruangan berseru dg gelisah:
“Diluar perkampungan telah kedatangan empat orang lelaki kekar
yg tak jelas identitasnya, agaknya mereka sedang mengintip
perkampuangan kita……”
Mendengar ucapan tsb, buru-buru Kho Beng berseru:
“Aaaah betul, hampir saja aku lupa! Keempat orang itu tak lain
adalah anak buahku!”
Kalau memang anak buah Kho kongcu, biar kusuruh mereka
mengundangnya masuk, paling tidak kan mesti dijamu dg sebaikbaiknya”
kata Li Sian soat sambil tertawa.
Perjamuan tsb baru berakhir setelah kentongan pertama lewat,
Kho Yang ciu mohon diri terlebih dahulu kepada Li Sian soat,
kemudian baru mengajak Kho Beng memasuki sebuah kamar tamu
dihalaman belakang.
Ketika mereka berada dalam kamar hanya berdua saja utk
pertama kalinya, Kho Yang ciu merasakan luapan rasa gembira yg
tak terlukiskan dg kata-kata.
Kho Yang ciu yg pertama-tama berkata lebih dulu sambil tertawa:
“Adikku, tempo dulu mungkin cici kepadamu sedikit kelewat
batas, tapi kau mesti memahami sikapku waktu itu yg berusaha utk
mengobarkan semangat balas dendam dalam hati kecilmu, tentunya
kau tak akan menyalahkan aku bukan?”
Dg air mata bercucuran, sahut Kho Beng:

“Cici, aku memahami perasaan itu, malah panji Hui im ki leng
sudah berhasil kurampas kembali.”
“Tentang soal-soal tsb telah kuketahui semua, adikku, apakah
perkampungan Bwee wan yg kau tanyakan tadi adalah tempat
tinggal siluman perempuan itu?”
“Betul!” Kho Beng manggut-manggut.
Mencorong sinar pembunuhan yg amat tebal dari balik mata Kho
Yang ciu, serunya sambil menghentak-hentakkan kakinya berulang
kali keatas tanah:
“Aku tdk tahu kalau pemilik perkampungan Bwee wan adalah
dewi In nu, kalau tidak, aku pasti tak akan membiarkan dia kabur
dari tempat tsb!”
“Apakah Li cengcu tak pernah menyinggung soal perkampungan
Bwee wan?”
“Tidak!”
“Sebenarnya Li cengcu ini berasal dari perguruan mana?”
“Dia tak mempunyai perguruan.”
“Tidak mempunyai perguruan? Lantas darimana dia pelajari ilmu
silatnya?” tanya Kho Beng agak tertegun.
“Konon ayahnya adalah seorang tokoh duni persilatan yg berilmu
tinggi, tapi dikarenakan suatu sebab, akhirnya mengundurkan diri
dan menyendiri hidup disini, sebelum meninggal ia berpesan kepada
keturunannya agar tidak berkelana lagi didalam dunia persilatan,
itulah sebabnya meski sudah berusia tiga puluh tahun, namun ia
tidak pernah sama sekali mennggalkan perkampungannya barang
selangkah pun, sementara ilmu silatnya diperoleh dari warisan
keluarga.”
Setelah memperoleh keterangan tsb, diam-diam Kho Beng
berpikir lagi dalam hati:
“Berusia sekitar tiga puluh tahunan berarti persis seimbang dg
usia dewi In nu!”
Berpikir demikian, kembali ia bertanya:
“Bagaimana ceritanya sampai cici bisa berkenalan dg nya?”
Kho Yang ciu tertawa:
“Sewaktu dlm perjalanan turun gunung tempo hari, secara
kebetulan aku ketimpa hujan sehingga harus berteduh ditempat ini,
tak di sangka pertemuan yg semalam dapat menjalin hubungan yg
lebih akrab diantara kami.”
“Apakah cici tak pernah menaruh curiga kepadanya?”

“Curiga soal apa?”
“Curiga kalau dia adalah dewi In nu yg sedang kita cari-cari?”
Kho Yang ciu tertawa geli:
“Aaah….perasaanmu terlalu sensitif, mana mungkin dia adalah
dewi In nu? Kau tahu, ilmu kedele maut pencabut nyawa yg kumiliki
sebetulnya adalah warisan dari dia!”
Sekali lagi Kho Beng dibikin tertegun oleh kenyataan tsb.
Tapi pelbagai tingkah laku, gerak gerik serta gejala yg
diperolehnya selama bertemu dg Li Sian soat memberi kesan
kepadanya bahwa perempuan she Li ini sangat mencurigakan hati,
maka secara diam-diam dia mengambil keputusan utk melakukan
penyelidikan selewatnya malam nanti, dia ingin mengetahui keadaan
yg sebenarnya disekitar sana.
Maka setelah berbincang-bincang sebentar dg cicinya dan
menunggu sampai Kho Yang ciu meninggalkan tempat itu, dia
padamkan lentera dan pura-pura tidur, padahal secara diam-diam
dia awasi gerak gerik diluar.
Ketika kentongan kedua sudah lewat.
Rembulan nampak bersinar terang diluar jendela.
Kho Beng menunggu sampai suasana diluar menjadi hening baru
secara diam-diam melompat keluar dari jendela belakang dan
menyusup kehalaman tengah.
Dg matanya yg tajam dia mencoba memperhatikan sekejap
sekeliling tempat itu, suasana terasa lenggang dan gelap, hanya
disudut halaman sebelah barat kelihatan masih ada cahaya lentera,
maka diapun segera bergerak menuju kearah sana.
Setelah didekati barulah diketahui bahwa tempat tsb adalah
sebuah halaman gedung yg terpisah, dari dalam gedung kedengaran
suara lelaki yg sedang berbicara.
Secara diam-diam Kho Beng mendekati tempat itu dan melongok
kedalam, tetapi apa yg kemudian terlihat membuat hatinya bergetar
keras.
Ternyata tempat itu merupakan sebuah gedung yg amat lebar,
dlm ruangan duduk enam orang lelaki kekar.
Keenam orang itu semuanya memakai baju berwarna kuning,
malah salah seorang diantaranya tak lain adalah Hang Tiong lin yg
pernah dijumpai dikota Yang ciu tempo hari.
Tak terlukiskan rasa terperanjat si anak muda tsb saat itu.

Dari kehadiran Hang Tiong lin, dia segera menyadari bahwa
perkampungan Ciu Hong san ceng ini sesungguhnya adalah sarang
iblis dari dewi In nu, sedangkan Li Sian soat sendiri meski bukan
dewi In nu pribadi, paling tidak dia adalah komplotannya.
Tapi yg menjadi persoalan sekarang adalah kenapa cicinya bisa
kenal dg perempuan itu, bahkan sama sekali tdk mengetahui
identitas yg sebenarnya?
Bukan hanya itu, mengapa pula dia bersedia mewariskan ilmu
senjata rahasia yg begitu ampuh kepada cicinya? Kalau dibilang
tiada permusuhan diantara mereka, dibalik kesemuanya itu pasti ada
rencana busuk atau latar belakang lainnya, tapi apakah rencana
busuk dan latar belakang tsb?
Diam-diam Kho Beng termenung dg perasaan bimbang dan tak
habis mengerti, namun satu hal telah diketahui secara pasti, ia
sudah terjebak dalam sarang harimau.
Berapa bahaya keadaan demikian, ia pun mengambil keputusan
utk m enghubungi cicinya dulu serta memberitahukan apa yg sudah
terlihat, agar cicinya bisa meningkatkan kewaspadaannya juga.
Berpikir sampai disitu, diam-diam diapun memutuskan utk
mengundurkan diri secara diam-diam dan menghubungi cicinya lebih
dulu.
Siapa tahu baru saja dia membalikkan tubuhnya, tahu-tahu
dibelakang tubuhnya telah berdiri seorang kakek berbaju ungu.
Ditengah malam buta yg sepi begini ternyata kehadiran orang tsb
dibelakang tubuhnya sama sekali tdk menimbulkan suara sedikitpun,
hampir saja Kho Beng dibuat bergidik ngeri saking kagetnya.
Sementara itu si kakek berbaju ungu itu telah menegur dg suara
dingin:
“Siapa kau?”
Kho Beng tdk langsung menjawab, otaknya berputar sebentar,
ketika melihat paras muka si kakek berbaju ungu itu terasa asing
sekali, dia berpendapat lebih baik tdk membongkar identitasnya lebih
dulu.
Maka sambil tersenyum, katanya:
“Aku bernama Kho Beng, tamu dari cengcu perkampungan ini,
boleh aku tahu siapa kah nama locianpwee?”
Mencorong sinar tajam dari balik matya kakek itu, sahutnya
dingin:

“Ooooh, rupanya Kho kongcu, kalau toh sebagai tamu, tak pantas
kau meyelidiki rahasia orang lain ditengah malam buta begini.”
Buru-buru Kho Beng berkata lagi:
“Aku sedang mencari keempat anak buahku karena ada urusan
hendak menitahkan mereka utk dikerjakan, sayang tidak kuketahui
mereka berdiam dan lagi aku pun enggan mengganggu kenyenyakan
tidur tuan rumah, maka terpaksa aku mencari seorang diri, tak
disangka akhirnya aku mencari sampai tempat ini, harap loheng sudi
memaafkan atas kelancanganku ini.”
Kakek berbaju ungu itu termenung sebentar, kemudian katanya:
“Kalau keempat enak buah kongcu mah, aku tahu..?”
“Oya, mereka berada dimana sekarang?”
“Mereka telah pergi.”
“Sudah pergi?” seru Kho Beng tertegun,“memangnya mereka
pergi meninggalkan aku tanpa mencari kabar lebih dulu kepadaku?”
“Kalau soal itu mah tidak kuketahui secara pasti” sahut si kakek
dg nada dingin.
“Aku tidak percaya, sekalipun mereka pergi tanpa pamit, paling
tidak cengcu kalian toh mesti memberitahukan soal ini kepadaku.”
“Disaat mereka pergi meninggalkan tempat ini, cengcu kami
sudah pergi tidur!”
“Oya…?” Kho Beng segera tertawa dingin,
“heeehh…heeeh…heeeh…apalah artinya lotiang membohongi aku?
Toh, aku sudah tahu bahwa perkampungan Ciu Hong san ceng
bukan tempat yg baik!”
Berubah paras muka kakek berbaju ungu itu, segera serunya:
“Hey, apa maksudmu berkata begitu? Kalau bukan tempat yg
baik, memangnya tempat ini tempat jahat?”
“Seharusnya lotiang jauh lebih mengerti ketimbang aku!” jengek
Kho Beng lagi sambil tertawa dingin.
“aku tidak mengerti?”
“Ehmm, tak ada salahnya kalau kujelaskan kepadamu” sambung
Kho Beng segera, “bila perkampungan Ciu Hong san ceng adalah
tempat orang baik-baik, kenapa disini bisa ditemui jago-jago
pedang berbaju kuning dari dewi In nu?”
Begitu perkataan tsb diutarakan keluar, paras muka kakek
berbaju ungu itu berubah sangat hebat.

Dan pada saat yg bersamaan pula, dari balik ruangan telah
berkelebat lewat enam sosok bayangan kuning, dalam waktu singkat
anak muda tsb sudah terkepung rapat-rapat.
Sambil tertawa dingin, kakek berbaju ungu itu berkata:
“Sebenarnya aku masih berminat memberi kesempatan padamu
utk hidup beberapa waktu lagi, tapi sekarang….heeh…heeh…..mau
tak mau terpaksa aku harus mengirim kau utk pulang keneraka lebih
dulu……”
Begitu selesai berkata, sepasang telapak tangannya segera
diayunkan kedepan, segulung angin pukulan yg maha dahsyat pun
meluncur kedepan dan menyambar Kho Beng.
Dalam serangannya kali ini, kakek berbaju ungu tsb telah
menggunakan tenaga dalamnya sebesar sepuluh bagian
lebih……bisa dibayangkan betapa dahsyatnya ancaman tsb.
Menyaksikan betapa dahsyatnya ancaman yg menggulung
datang, Kho Beng tak berani menghadapinya dg keras melawan
keras, dg cekatan dia mengenggos kesamping utk menghindarkan
diri.
Tapi pada saat yg bersamaan, tiba-tiba terdengar lagi desingan
angin tajam menyambar tiba dari sisi kiri.
Sergapan yg dilancarkan secara licik ini kontan saja mengobarkan
hawa amarahnya, dg suara menggeledek segera bentaknya:
“Hmmm, manusia yg tak tahu malu!”
Tenaga pukulannya segera diayunkan kesamping mengimbangi
perputaran badannya, dg cepat sekali dia hantam tubuh sijago
pedang berbaju kuning yg melancarkan sergapan kearahnya itu.
Jeritan ngeri yg memilukan hati pun berkumandang memecah
kesunyian.
Mimpi pun si jago pedang berbaju kuning itu tak menyangka
kalau tenaga pukulan Kho Beng yg sedang tertuju kearah kakek
berbaju ungu tsb, tiba-tiba sudah berpindah sasaran dan
mengancam kearahnya.
Tahu-tahu dadanya terasa amat sakit, tak tahan ia menjerit ngeri
lalu roboh terjungkal keatas tanah.
Berada dalam keadaan begini, Kho Beng tdk menghentikan
perbuatannya sampai ditengah jalan, kembali bentaknya keraskeras,
“Barang siapa masih ingin h idup, hayo cepat menggelinding
pergi dari sini!”

Sepasang tangannya melancarkan sapuan berantai, bayangan
pukulan menderu-deru bagaikan hujan gerimis, dalam waktu singkat
lima orang jago pedang berbaju kuning sudah didesaknya sampai
mundur sejauh tiga kaki lebih.
Melihat peristiwa ini, kakek berbaju ungu itu menjadi sangat
terkesiap, katanya tiba-tiba:
“Sungguh hebat tenaga dalammu, tak heran kalau kau berani
membuat keonaran ditengah malam buta begini!”
“Lotiang!” ujar Kho Beng dingin, “sekarang kau boleh bicara
secara terus terang, sebenarnya dimanakah keempat anak buahku
sekarang?”
Kakek berbaju ungu itu tertawa sinis:
“Heeehh…heeehh…heeehh…kalau sekarang mah jiwa mereka
belum terancam, tapi bila kau berani membuat keonaran lagi disini,
aku tidak dapat m enjamin keselamatan jiwa mereka lagi!”
“Hmmm, kau berani?” dengus Kho Beng.
“Nyawa mereka toh berada ditangan aku Ong Thian siang, aku
juga yg menentukan hidup mati mereka, kenapa tak berani
kulakukan?”
Kho Beng tertawa bergelak:
“Haaahh….haaahh……haaahh…..tapi kau jangan lupa, selembar
nyawamu justru berada ditanganku!”
“Berani kau bertaruh dg ku?” tantang kakek itu tiba-tiba.
“Bertaruh apa?”
“Bila kau yg menang, aku segera membebaskan anak buahmu
dan membiarkan kau pergi dari sini tanpa diganggu!”
“Seandainya aku kalah?”
“Serahkan kitab pusaka Thian goan bu boh kepadaku!”
“Baik!” sahut pemuda itu angkuh.
“Kalau begitu silahkan kau lepaskan seranganmu!”
“Maaf….” Kata Kho Beng dg suara dalam.
Telapak tangan kanannya segera direntangkan didepan dada, lalu
sambil berputar satu lingkaran ia bergerak maju kemuka.
Tiba-tiba Ong Thian siang menjengek dingin:
“Oooh, rupanya kau telah mempelajari sim hoat dari ilmu Thian
goan sinkang…?”
Tubuhnya maju menyongsong, tidakberkelit atau berusaha
menghindar, ia sambut datangnya serangan dari Kho Beng itu dg
keras lawan keras…..

“Blaaaammm……!”
Ditengah suara benturan yg amat keras, tubuh Ong Thian siang
bergoncang amat keras, tapi segera serunya sambil tertawa seram:
“Heeeh…heeeh….heeeh…bocah keparat, tenaga pukulanmu
hanya mampu meniup bulu ayam, hmmm, coba rasakan pula tenaga
pukulanku ini!”
Ditengah bentakan keras, sepasang kepalannya didorong
bersama kemuka dg kekuatan penuh.
Sesungguhnya Kho Beng merasa terkejut sekali ketika menjumpai
tenaga pukulannya sebesar delapan bagian tak berhasil melukai
lawannya, dia sama sekali tak mengira kalau hawa khikang peindung
badan yg dimiliki musuhnya telah mencapai puncak kesempurnaan,
dimana tusukan tombak dan bacokan golok tak mempan lagi melukai
badannya.
Dalam waktu singkat dia segera menyadari bahwa kakek berbaju
ungu ini betul-betul merupakan seorang musuh tangguh yg tak
boleh dipandang enteng, maka begitu melihat datangnya angin
pukulan yg menggulung datang, tergopoh-gopoh dia menghindarkan
diri kesamping.
Sementara itu didalam hati kecilnya, diam-diam dia mengambil
keputusan, selama orang ini tidak dilenyapkan dari muka bumi maka
nasibnya pada malam ini lebih banyak bahayanya ketimbang
selamat.
Belum habis ingatan itu melintas lewat, kelima orang jago pedang
berbaju kuning telah berteriak bersama sambil menyerbu kemuka dg
pedang terhunus.
Sambil tersenyum dingin Kho Beng segera berseru:
“Kalau toh kalian sendiri yg pingin mampus, jangan salahkan
kalau siauya berhati keji!”
Lengan kirinya segera digetarkan keras-keras, bayangan tangan
berputar mengikuti gerakan badannya, dg cepat ia sudah
melepaskan empat buah pukulan berantai yg amat dahsyat.
Seketika itu juga terengarlah empat kali jerit kesakitan yg
memilukan hati, tahu-tahu empat orang jago pedang berbaju kuning
itu sudah roboh terjengkang keatas tanah.
Tinggal seorang jago pedang berbaju kuning lagi yg masih hidup,
tapi nyalinya sudah pecah, dg ketakutan setengah mati ia
membalikkan badan dan melarikan diri terbirit-birit.

Kakek berbaju ungu menjadi sangat gusar, ia membentak keras,
tubuhnya segera menerjang kedepan sambil melancarkan pukulan
berantai….
Ibarat benteng terluka yg menyerang secara membabi buta,
ternyata ia sma sekali tdk memperhatikan keselamatan diri sendiri,
walaupun tubuhnya sudah termakan oleh tiga pukulan secara
beruntun sehingga terhuyung mundur sejauh tiga langkah lebih,
namun ia menerjang lagi kedepan dg garang.
Kho Beng segera berkerut kening setelah menyaksikan peristiwa
ini, tapi sebelum ia sempat mengambil suatu tindakan, mendadak
terdengar suara gembrengan dibunyikan bertalu-talu, kemudian
disekitar halaman bermuncullah bayangan manusia, suasana pun
menjadi terang benderang bermandikan cahaya.
Menyusul munculnya bayangan manusia tsb, dari kejauhan sana
kedengaran seseorang membentak nyaring:
“Tahan!”
Ong Thian siang segera menarik kembali serangannya sambil
melompat mundur dari arena pertarungan setelah mendengar
bentakan tsb.
Ketika Kho Beng turut berpaling, dilihatnya Li Sian soat telah
berdiri diatas dinding pekarangan, ujung bajunya yg berkibar tertiup
angin membuat gadsi tsb nampak sepeti dewi rembulan yg baru
turun dari kahyangan.
Dg sinar matanya yg jeli, dia mengawasi sekejap wajah Kho Beng
serta Ong Thian siang, lalu tegurnya:
“Apa yg telah terjadi?”
Ong Thian siang segera memberi hormat seraya menjawab,
“Ditengah malam buta kongcu telah melakukan penyelidikan atas
perkampungan kita, jelas dia mempunyai maksud tujuan yg tidak
menguntungkan kita!”
Kho Beng segera mendengus dingin, tukasnya:
“Lebih baik tak usah menggunakan tanya jawab sebagai basa
basi lagi, langsung saja menyinggung masalah pokoknya.”
Ternyata Li Sian soat tdk menunjukkan sikap marah atau
tersinggung oleh perkataan tsb, katanya lembut:
“Kongcu dapatkah jelaskan mengapa kau tdk bisa tidur
malam……?”
“Sebelum kujawab pertanyaan tsb. Aku ingin menanyakan satu
hal terlebih dulu.”

“Silahkan bertanya!”
“Tolong tanya sebenarnya siapakah nona?” kata Kho Beng dg
suara dalam.
Li Sian soat segera terkekeh-kekeh, ujarnya:
“Bukankah semala telah kuberitahukan kepadamu?”
Kho Beng mendengus dingin.
“Hmmm, mungkin nona tdk berbicara sejujurnya tapi sengaja
merahasiakan identitasmu yg sebenarnya?”
“Atas dasar apa kau mengatakan perkataanku tidak jujur?” tanya
Li Sian soat sambil tersenyum.
Sambil menunjuk keatas mayat salah seorang jago pedang
berbaju kuning yg tergeletak diatas tanah, ia menjawab:
“Karena aku kenal dg orang ini!”
“Oya? Siapakah dia?”
Sepatah demi sepatah sahut Kho Beng,
“Orang ini adalah jago pedang berbaju kuning anak buah dewi In
nu yg sedang ucari-cari, ia bernama Han Tiong lin, karena sewaktu
berada dikota Yang ciu, aku pernah berkenalan dgnya!”
Li Sian soat segera tertawa terbahak-bahak setelah mendengar
perkataan itu, serunya:
“Aku rasa kau telah salah melihat orang?”
Kho Beng agak tertegun, lalu serunya lagi:
“Aku percaya mataku belum lamur, mana mungkin bisa salah
melihat? Apalagi lotiang inipun sudah memberikan pengakuannya!”
Dg kening berkerut Li Sian soat segera berpaling kearah Ong
Thain siang, lalu tegurnya:
“Apa yg telah kau akui?”
Tiba-tiba saja sekujur badan Ong Thian siang gemetar keras,
cepat-cepat serunya:
“Aku tidak pernah mengakui apa-apa, aku hanya menganggap
kedatangan Kho kongcu amat mencurigakan dan manusia macam
dia tak boleh dibiarkan hidup terus!”
Li Sian soat segera bertanya lagi kepada Kho Beng:
“Benarkah orangu berkata demikian?”
Kho Beng berpikir sebentar, kemudian baru mengangguk.
“Yaa, benar, memang begitu!”
Li Sian soat segera mengalihkan kembali pandangan matanya
kewajah kakek berbaju ungu, lalu katanya:

“Ong Thian siang, kau telah bersikap tak sopan kepada tamu
agung perkampungan kita, dosamu amat besar dan pantas dijatuhi
hukuman mati, mengapa kau tidak segera bunuh diri utk menebus
kesalahanmu itu?”
Kho Beng yg mendengar kejadian ini jadi tertegun, sebaliknya
Ong Thian siang segera menyahut “Menerima perintah!”
Telapak tangannya segera diangkat dan dihantamkan keatas
ubun-ubunnya sendiri.
Kho Beng tdk berpeluk tangan belaka, tiba-tiba dia melepaskan
sebuah totokan menghajar jalan darah disikut Ong Thian siang.
Dalam waktu singkat, Ong thian siang mendengus kaget,
tangannya kaku dan tak mampu bergerak lagi, tanpa terasa dia
melototkan matanya sambil menegur:
“Hey, mau apa kau?”
Kho Beng memutar biji matanya sambil tersenyum, sahutnya:
“aku tak ingin menyaksikan lotiang mampus dg begitu saja!”
Lalu sambil berpaling lagi kearah Li Sian soat, tanyanya lebih
lanjut dg suara dalam:
“Nona Li, sekali lagi aku ingin bertanya kepadamu, sebenarnya
siapakah kau?”
“Aku sama sekali tdk membohongi dirimu!” kata Li Sian soat
sambil tertawa.
“Lantas kemana perginya ke empat orang anak buahku?”
“Hey, bukankah mereka berada di gedung sebelah depan sana
dlm keadaan baik-baik?” seru Li Sian soat tercengang.
Buru-buru Ong Thian siang melapor:
“Mereka sudah meninggalkan tempat ini dua jam berselang!”
“aaah…mengapa aku tidak tahu?” seru Li Sian soat agak
keheranan.
“Oleh karena cengcu sudah beristirahat, maka hamba tdk berani
memberikan laporan.”
“Urusan sebesar ini kenapa mesti ditunda? Kau memang makin
tua semakin pikun!” tegur si nona gusar.
Ong Thian siang segera mengiakan berulang kali.
Berada dlm keadaan seperti ini, Kho Beng benar-benar merasa
agak pikun dan kebingungan, mungkinkah apa yg dia duga keliru?
Tapi apa sebabnya Ong Thian saing bersikap begitu ganas dan buas
kepadanya barusan……?

Disamping itu, bukankah dandanan maupun tindakan keenam
orang jago pedang berbaju kuning itu persis seperti apa yg
dilihatnya dikota Tong sia? Apakah mereka bukan anak buah dewi In
nu?
Dia percaya apa yg terlihat olehnya tapi mengapa nona itu
bersikeras utk menutupi semua persoalan itu?
Rangkaian persoalan yg mencurigakan hatinya bagaikan sebuah
teka-teki saja, membuatnya tak habis mengerti dan tak mampu utk
memecahkannya.
Tentu saja, dg sikap senyuman dikulum dan keramahan nona tsb,
mustahil baginya utk bentrok lebih jauh dgnya dan diapun jadi
kebingungan serta tak tahu apa yg mesti dilakukannya lebih lanjut.
Sementara itu terdengar Li Sian soat telah berkata lagi,
“Kongcu, lebih baik kau kembali kekamar utk beristirahat saja,
bila ada persoalan lebih baik kita bicarakan esok pagi, jangan sampai
membiarkan cicimu menuduh aku kurang melayanimu!”
Lama sekali Kho Beng berdiri termangu-mangu tanpa mengetahui
apa yg mesti dilakukan, akhirnya dg wajah bersemu merah dia
menjura seraya berkata:
“Baiklah, kesalahpahaman yg terjadi pada malam ini biar ku
mintakan maaf kepada nona esok pagi saja!”
“Aaaah…kongcu jangan berkata begitu” kata Li sian soat sambil
tertawa lebar, “dalam suatu kesalah pahaman memang pasti akan
jatuh korban, kau tak usah mempersoalkan masalah itu dalam hati.”
Kho Beng tdk bersungkan-sungkan lagi, setelah memberi hormat,
dia segera kembali menuju kekamar tidurnya.
Sambil berbaring diatas ranjang, makin dippikir ia merasa makin
tak tentram, hatinya pun makin tak habis mengerti, baru menjelang
fajar ia terlelap dalam tidur yg nyenyak.
Menanti ia mendusin kembali dari tidurnya, ternyata suasana
dalam kamar masih tetap gelap gulita, seakan-akan fajar belum lagi
menyingsing.
Kejadian ini tentu saja amat mencengangkan hatinya, karena ia
masih ingat, menjelang fajar tadi baru ia tertidur, mana
mungkin…….
Tapi sewaktu dia memperhatikan kembali keadaan disekeliling
sana, pemuda itu baru merasa terkejut sekali.

Kho Beng masih teringat, sebelum tidur tadi jendela berada dlm
keadaan terbuka, mengapa saat ini ruangan tsb justru gelap gulita
dan tertutup rapat?
Sewaktu ia memeriksa kearah pintu ruangan, ternyata pintu itu
pun tertutup rapat sekali.
Dg cepat pemuda ini sadar bahwa telah terjadi perubahan yg
mencurigakan, buru-buru dia melompat turun dari atas pembaringan
lalu memeriksa ke jendela.
Ketika ia mencoba utk membuka jendela, segera terasa benda
tsb keras dingin, ternyata berupa sebuah lempengan besi baja yg
amat kuat.
Buru-buru dia memeriksa pintu kamar, namun hasilnya sama
saja, ketika dicoba utk mendorongnya dg sekuat tenaga, ternyata
pintu itu sama sekali tak bergerak.
Sekarang Kho Beng baru sadar, ia sudah terjebak kedalam
perangkap musuh, dalam terperanjatnya dg menghimpun segenap
tenaga dalamnya, ia segera menghantam daun jendela.
“Blaaaaammmm…..!”
Suara benturan yg amat keras bergema memecah keheningan,
akan tetapi daun jendela itu tak bergerak sama sekali, malah
sebaliknya dia sendiri yg tergetar sampai mundur sejauh dua tiga
langkah.
Keadaan sudah menjadi jelas sekarang, ternyata kamar dimana ia
berada sekarang telah dilengkapi dg alat rahasia disekelilingnya,
disaat ia sedang tertidur nyenyak tadi, ruangan tsb nampaknya
sudah dirubah sedemikian rupa sehingga berubah menjadi seolah
tahanan utk menyekapnya.
Sementara dia masih menggertak gigi menahan rasa benci dan
marah yg meluap-luap, tiba-tiba dari luar kamar terdengar
seseorang menegurnya dg suara lembut.
“Kho Kongcu, apakah kau telah mendusin?”
Kho Beng mendengus dingin, sahutnya:
“Siapa kau?”
Orang yg berada diluar ruangan segera tertawa cekikikan,
serunya dg genit:
“Budak adalah Hong ing, bukankah semalam kongcu mencari
aku? Sekarang budak telah datang, silahkan kongcu memberi
perintah.”

“Aku tak punya urusan apa-apa, harap buka dulu pintu kamarku
sebelum berbicara lebih jauh.”
“Sesungguhnya tdk sulit bila mengharapkan budak membukakan
pintu kamar, tapi budakpun berharap agar kongcu mengabulkan
pula sebuah permohonanku.”
“Katakan saja!”
“Aku harap kongcu suka menyerahkan kitab pusaka Thian goan
bu boh kepada kami!”
Kho Beng segera mendongakkan kepalanya dan tertawa
terbahak-bahak:
“Haaahh…haaah…haaah…akhirnya ekor si rase kelihatan juga,
kalau dugaanku tak salah, cengcu kalian kalau bukan si perempuan
siluman In nu pribadi, pastilah anak buah dari siluman perempuan
itu……..”
“Kalau toh kongcu sudah tahu, semalam seharusnya kau tidak
balik lagi kemari utk tidur!”
“Hmmm, aku hanya bersikap kelewat gegabah sehingga masuk
perangkap kalian, tapi bila kalian mengharapkan kitab pusaka Thian
goan bu boh….Huuuh! lebih baik tak usah bermimpi disiang hari
bolong.”
“Apakah kongcu tak menghargai selembar jiwamu? Apalah
artinya dua lembar kitab pusaka ketimbang jiwa sendiri?”
Kho Beng tertawa terbahak-bahak:
“Haaahh…haaaahh…haaahh…meskipun aku sudah terperangkap
dlm kurungan ini, tapi utk bisa menghabisi nyawaku mungkin kalian
mesti membuang banyak tenaga lagi.”
“Sama sekali tak usah membuang tenaga,, ruangan ini sudah
dilapisi lempengan baja yg sangat kuat, asal kami memasang api
disekitar ruangan serta membakarnya, meski tidak sampai
membakar hangus tubuhmu paling tidak juga mampu membuat
badanmu jadi arang!”
Kho Beng sangat terkejut, namun dia tak sudi menyerah dg
begitu saja, sambil berkeras kepala katanya:
“Kalau begitu bakarlah sekarang juga, betapapun kallian
mencoba utk menggertakku, jangan harap bisa memeras setengah
patah kata pun dari mulutku.”
Hong ing segera saja tertawa terkekeh-kekeh…

“Heeeehh…heehhh…….heeeehhhh…kongcu, mengapa kau
berbuat begitu bodoh?”
“Ooooh….jadi kau menganggap kecerdasanmu luar biasa? Baiklah
akan kulihat sampai dimanakah kemampuan yg dimiliki oleh kalian
perempuan-perempuan siluman.”
“kongcu, sekalipun kau sudah bertekad akan gugur bersama isi
kitab pusaka tsb, paling tidak kau tak seharusnya menyeret orang
lain utk mati juga.”
“Siapa yg kalian maksudkan?” seru Kho Beng dg perasaan
bergetar hebat.
“Tentu saja keempat orang anak buahmu.”
“Perempuan busuk yg tak tahu malu!” umpat Kho Beng sangat
gusar, “mau dibunuh, mau dicincang lakukan saja segera, buat apa
kau banyak berbicara lagi?”
Kembali Hong ing tertawa tergelak:
“Haaahhh…haaaahhh….haaahhh….kalau begitu kau sudah ambil
peduli dg keselamatan anak buahmu lagi?”
“Mati hidupku sendiripun masih merupakan masalah, kenapa aku
mesti memikirkan nasib orang lain?”
“Sekalipun perkataanmu itu ada benarnya juga, tapi disamping
keempat orang anak buahmu tak bisa hidup lebih jauh, aku rasa
harus ditambah lagi dg seseorang.”
“Siapa?”
“Encimu!”
Tak terlukiskan rasa terkejut Kho Beng setelah mendengar nama
itu, segera bentaknya:
“Bagaimana dg ciciku?”
“Kalau sekarang sih masih berada dalam keadaan baik-baik, tapi
bila kau tetap berkeras kepala, mungkin dia pun bakal diceburkan
kedalam kuali berisi minyak mendidih.”
Kho Beng merasakan detak jantungnya hampir saja berhenti,
diam-diam dia menggertak gigi menahan gejolak emosi dialam
hatinya.
Benar kematian baginya bukan suatu peristiwa yg patut
disayangkan, tapi bila cicinya ikut mati, lalu siapakah yg akan
melanjutkan keturunan dari keluarga Kho mereka?
Sementara dia masih termenung memikirkan persoalan itu,
terdengar Hong ing yg berada diluar kamar telah berseru lagi:

“Bila sauhiap tak percaya, bagaimana kalau budak mengajak
cicimu kemari agar kau bisa berbincang-bincang dulu dengannya?”
“Kau berani…..” pekik Kho Beng keras.
Tapi sebentar kemudian ia sudah menghela napas panjang,
katanya lagi dg suara lemah:
“Baiklah, aku mengabulkan permintaan kalian, kitab tsb kutukar
dg enam lembar jiwa!”
“Nah, begitulah baru terhitung tindakan seorang lelaki sejati yg
tahu diri” seru Hong ing tertawa.
“Tapi bagaimanakah pertukaran ini akan dilaksanakan?”
“Kongcu dapat meletakkan kedua lembar kitab pusaka Thian
goan bu boh itu disisi pintu…”
Belum selesai perkataan itu diucapkan, Kho Beng telah menukas
sambil tertawa dingin:
“Heeehhh…heehh….heeehhh…bagus amat perhitunganmu, tapi
bagaimana dg orang-orang kami?”
“Asal barangnya sudah kami dapatkan tentu saja orang-orang itu
akan kubebaskan semua.”
“Aku tak dapat mempercayai kalian” teriak Kho Beng keras-keras.
“Lantas bagaimanakah menurut pendapat kongcu?”
Kho Beng berpikir sebentar lalu katanya:
“Kalian harus membebaskan aku dahulu atau bebaskan kelima
orang lainnya, kemudian aku baru serahkan kitab pusaka Thian goan
bu boh itu kepadamu.”
Hong ing berpikir sebentar, kemudian sahutnya:
“Baiklah kalau begitu aku akan membebaskan dulu keempat
orang anak buahmu.”
“Tunggu sebentar, aku tak bisa menyaksikan dg mata kepalaku
sendiri, hal ini tak bisa dipercayai……”
Hong ing tertawa terkekeh-kekeh, segera katanya:
“Itu mah soal gampang, tentu saja akan kuajak mereka datang
kemari agar kau bisa bertemu dulu dg mereka kemudian
menyaksikan pula orang-orangmu pergi meninggalkan tempat ini.”
“Bagaimana dg ciciku?”
“Sebentar, cicimu pasti akan datang pula kemari.”
Habis berkata suasana menjadi hening, agaknya Hong ing telah
pergi meninggalkan tempat itu.
Kini tinggal Kho Beng berjalan mondar mandir seorang diri dalam
ruangan.

Benarkah dia akan menyerahkan kitab pusaka Thian goan bu boh
tsb kepada musuh? Tapi kitab tsb tidak berada ditangannya
sekarang, sekalipun dia menyanggupi bukan berarti dia mampu
menyerahkan keluar.
Tapi apa akibatnya bila dia tak mampu menyerahkannya keluar?
Pemuda itu tak bisa membayangkan lebih jauh dia pun tak
sanggup utk menduganya.
Sementara dia masih termenung, tiba-tiba jendela dibuka orang
dan muncullah sebuah lubang kecil.
Ketika Kho Beng mendekati dan mengintip keluar, dia saksikan
didepan ruangan telah berdiri berjajar empat orang, mereka tak lain
adalah Hapukim, Rumang, Molim dan Mokim.
Yang lebih aneh lagi keempat orang tsb bukan saja tidak diikat
lagipula sikap mereka tidak menunjukkan rasa tegang, panik
ataupun rasa gusar.
Disamping keempat orang tsb berdiri Hong ing beserta dua
dayang lainnya.
“Nah, kho kongcu, apakah kau sudah dapat melihatnya
sekarang?” terdengar Hong ing berseru.
Buru-buru Kho Beng berteriak:
“Mo bersaudara, coba kalian kemari semua!”
Molim dan Mokim sekalian segera kemuka sambil berjongkok
didepan lubang itu, tanyanya:
“Cukong, kau ada perintah apa?”
“Kalian tak pernah menderita apa-apa?”
“Tidak!” sahut Molim.
“Baik, siapa diantara kalian yg membawa bom udara?”
Mereka berempat sama-sama menggeleng, Kho Beng termenung
dan berpikir sejenak, kemudian baru ujarnya,
“Sekarang tinggalkan tempat ini secepatnya, begitu tiba didepan
perkampungan gunakan dua kali suara pekikan panjang utk
mengabarkan kepadaku bahwa kalian sudah aman, sebaliknya bila
menjumpai bahaya, gunakan tiga kali pekikan pendek sebagai kode,
kalian tak usah balik lagi kemari, tunggu selama satu hari dibawah
bukit situ, bila sehari sudah lewat tanpa melihat aku munculkan diri,
ini berarti aku sudah tewas, berangkatlah secepatnya kelembah hati
buddha utk mengabarkan berita ini kepada rekan-rekan lainnya!”
Keempat orang itu segera manggut-manggut tanda mengerti.
Setelah menghela napas kembali, Kho Beng berkata:

“Berangkatlah kalian sekalian juga, sepanjang jalan kalian harus
melatih baik-baik kedua jurus serangan yg kuajarkan itu, dua jurus
tsb merupakan dasar ilmu sakt yg tercantum dalam kitab pusaka
Thian goan bu boh, asal kalian sudah menguasai kedua gerakan tsb
secara sempurna, maka gerakan berikutnya akan lebih muda
dipelajari, asal aku dapat meloloskan diri dan asal kalian tidak binal
dan liar, pasti akan kuwariskan semua kepandaian tsb kepadamu….”
Sekali lagi keempat orang itu manggut-manggut, sementara
kelopak mata mereka nampak berkaca-kaca.
Diam-diam Kho Beng pun merasa amat sedih, meski dimasa
lampau dia menaruh hubungan yg tak begitu akrab dg mereka
berempat seolah-olah diantara mereka terdapat dinding pemisah,
tapi pergaulan yg cukup lama, senang bersama sengsara berbareng
yg mereka alami selama ini membuat hubungan batin diantara
mereka bertambah akrab.
Itulah sebabnya perpisahan yg terjadi saat ini cukup
menyedihkan hati mereka semua.
“Cukong, baik-baiklah menjaga dirimu, kami segera akan
berangkat!” kata Molim berempat dg pelan.
Kho Beng manggut-manggut:
“Baiklah, kalau begitu sampai ditempat yg aman, jangan lupa
memberi tanda kepadaku.”
Keempat orang itu manggut-manggut, kemudian dg gerakan
cepat mereka beranjak pergi meninggalkan tempat tsb.
Dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka lenyap dari
pandangan mata.
Saat itulah Hong ing baru berkata lagi sambil tertawa:
“Nah, tentunya perasaanmu sudah lega bukan sekarang?”
“Hmmm, bagaimana dg ciciku?” dengus Kho Beng.
“Tunggu dulu, sebagian dari orang yg kau minta sudah
dibebaskan, sekarang kau harus memenuhi janjimu lebih dulu.”
“Janji apa?” Kho Beng berlagak bodoh.
“Bagaimana dg kitab pusaka Thian goan bu boh itu?”
“Kau tak usah membayangkan yg muluk-muluk, kitab pusaka
Thian goan bu boh hanya terdiri dari dua lembar, sedangkan dari
pihakku pun masih ada dua lembar nyawa yg masih berada
ditanganmu, bagaimana mungkin aku bisa menyerahkan sekarang
juga?”

“Lantas sampai kapan kau baru akan menyerahkannya kepada
kami?” tegur Hong ing dg wajah berubah.
“Setelah kau mengundang kemari ciciku, aku akan persembahkan
selembar lebih dulu, menanti kau sudah membebaskan aku, akan
kuberikan lembaran yg terakhir.”
Jilid 22
Hong ing berpikir sebentar kemudian, katanya:
“Baiklah, kalau begitu tunggulah dulu disini!”
Menyusul kemudian lubang dijendela pun tertutup kembali.
Lagi-lagi Kho Beng berjalan bolak balik didalam ruangan,
perasaan hatinya waktu itu amat sedih masgul dan gelisah.
Sementara itu diruang yg indah dibelakang loteng, Kho Yang ciu
sedang berbaring kemalas-malasan diatas ranjang.
Tiba-tiba dari luar pintu kedengaran suara langkah kaki manusia
bergema memecah keheningan.
Menyusul kemudian pintu kamar dibuka orang, Li Sian soat dg
wajah berat dan serius melangkah masuk kedalam ruangan.
Buru-buru Kho Yang ciu melompat bangun sambil menyapa:
“Enci Soat, selamat pagi…….”
“Pagi apa?” jawab Li Sian soat sambil terpaksa, “kau tahu
matahari sudah hampir menyinari seluruh tempat!”
Sambil berkata dia segera duduk persis dihadapan Kho Yang ciu…
“Enci Soat” Kho Yang ciu menegur lagi dg wajah tercengang,
“kenapa paras mukamu kelihatan kurang sedap?”
“Semalam telah terjadi peristiwa berdarah diperkampungan kita
ini” keluh Li Sian soat.
“Peristiwa apa?” dg perasaan kaget Kho Yang ciu melompat
bangun.
Li Sian soat menghela napas panjang.
“Aaaai…..adikku, lebih baik kita tengok keluar sebentar sebelum
berbicara lebih jauh.”
Dg cepat Kho Yang ciu mengenakan pakaian, lalu katanya lagi:
“Enci Soat, sebenarnya apa yg telah terjadi? Mengapa tidak kau
ceritakan dulu kepadaku?”
Sekali lagi Li Sian soat menghela napas panjang:
“Aaai….sesungguhnya aku tak mampu utk menceritakan kembali,
lebih baik tengoklah sendiri, kau pasti akan mengerti setelah melihat
keadaan diluar situ.”

Terpaksa Kho Yang ciu membetulkan letak rambutnya lalu
berkata:
“Kalau begitu mari kita berangkat!”
Mereka berdua berjalan keluar loteng menuju halaman sebelah
barat, disitu Kho Yang ciu melihat ada lima sosok mayat yg
membujur diatas tanah.
Apa yg terlihat olehnya ini kontan saja mengejutkan perasaan
Kho Yang ciu, utk sesaat dia sampai melongo.
Mayat-mayat itu tergeletak diatas genangan darah yg membasahi
seluruh permukaan tanah, sementara belasan orang gadis
berdandan pelayan dan lelaki bertubuh kekar berdiri disekeliling
tempat itu dg wajah murung dan sedih.
Setelah termangu-mangu sesaat, Kho Yang ciu baru bertanya:
“Siapa korban yg mati terbunuh itu?”
“Mereka adalah anggota perkampungan kami!” sahut Li Sian soat
sambil menghela napas.
“Apa yg menyebabkan kematian mereka?” tanya Kho Yang ciu
lebih jauh dg kening berkerut.
“Tewas oleh pukulan dahsyat seseorang!”
“Siapa pelakunya?”
“Aaaai…..mungkin kalau kuungkapkan orangnya kau tak akan
percaya, aaai….bagaimana aku mesti berbicara?”
Kho Yang ciu semakin keheranan lagi, dg dorongan rasa ingin
tahu segera desaknya:
“Enci Soat, mengapa sih kau seperti nampak ragu-ragu utk
berbicara? Aaaai…..membuat hatiku gelisah saja.”
“Sesungguhnya orang yg membunuh mereka tak lain adalah
adikmu sendiri, Kho kongcu.”
Kho Yang ciu merasakan jantungnya seperti berhenti berdetak,
wajahnya berubah hebat, jeritnya tertahan:
“Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi?”
Dalam hati kecilnya diam-diam Li Sian soat tertawa dingin, karena
semuanya ini merupakan bagian dari siasat liciknya, bukan saja dia
telah melibatkan Kho Beng bahkan Kho Yang ciu sendiripun dikelabui
mentah-mentah, tentu saja kesemuanya ini dilakuakannya demi
kitab pusaka Thian goan bu boh tsb.
Sampai matipun Kho Yang ciu tak bakal menyangka kalau apa yg
dilihatnya ini hanya sebagian dari siasat busuk lawannya, dia lebih
tak mengira lagi kalau ilmu senjata rahasia yg diwariskan lawan

kepadanya sebetulnya hanya merupakan siasat meminjam golok
membunuh orang……
Rasa terkejut dan tertegun membuat gadis itu berdiri termangumangu
beberapa saat lamanya, kemudian baru ia berkata:
“Enci soat, kau bukan sedang bergurau bukan?”
“Kau rasa dapatkah aku bergurau dgmu?” Li Sian soat balik
bertanya dg wajah serius.
Rasa bingung dan gelisah segera mencekam perasaan Kho Yang
ciu, lama kemudian ia baru berkata:
“Apa sebabnya adikku bisa membunuh orang tanpa sebab
musabab?”
“Sesungguhnya dia berbuat demikian bukan dikarenakan tanpa
sebab musabab, tapi kelewat besar rasa curiganya” kata Li Sian soat.
“Apa yg dicurigainya?”
“Dia menaruh curiga kalau cici adalah dewi In nu.”
Kho Yang ciu segera menghentak-hentakan kakinya berulang kali,
serunya dg gemas:
“Benar-benar tolol, bukankah semalam aku telah berulang kali
memberi penjelasan kepadanya? Aaaai……bagaimana baiknya
sekarang?”
Li Sian soat menghela napas panjang:
“Orang yg sudah mati tentu saja dapat cici kebumikan
selayaknya, tapi yg kukuatirkan adalah selanjutnya…..”
Dg rada gusar yg meledak-ledak, Kho Yang ciu segera berseru:
“Lain kali bila dia berani bertindak lagi secara sembrono tanpa
membedakan mana yg benar dan mana yg salah, aku yg menjadi
cicinya pasti akan memberi pelajaran dulu kepadanya, cici Soat,
mana orangnya sekarang…….?”
“Semalam dia malah berniat membunuhku” kata Li Sian soat dg
kening berkerut, “oleh sebab itu dlm keadaan apa boleh buat
terpaksa kugunakan siasat utk mengurungnya sementara waktu dlm
kamar berlapis baja!”
“Enci Soat!” seru Kho Yang ciu terperanjat, “apakah kau….”
Li Sian soat segera tertawa terkekeh-kekeh:
“Apa yg bisa kukatakan terhadapnya? Aku hanya berharap dia
tidak mengapa-apa kan diriku saja, hal ini sudah cukup untukku.”
Kho Yang ciu merasa terharu sekali, segera katanya:
“Enci Soat, adikku tidak tahu urusan, kuharap kau sudi memberi
muka kepadaku……”

“Tentu saja memandang diatas wajahmu, kalau tidak masa
kubiarkan dia berulah semau hatinya sendiri?” kata Li Sian soat
tertawa.
“Hayo berangkat, kita tengok dulu keadaannya.”
Li Sian soat manggut-manggut, bersama-sama Kho Yang ciu
mereka menuju kegedung bagian depan.
Kalau kemarin ruangan tsb masih terdiri dari jendela dan pintu,
maka hari ini telah berubah menjadi sebuah ruang besi yg tak
berpintu dan berjendela.
Ditengah ruangan berdiri empat orang nona berbaju hijau, ketika
melihat kedatangan cengcu mereka, serentak orang-orang itu
memberi hormat.
Li Sian soat segera mengulapkan tangannya sambil memberi
perintah:
“Buka lubang dijendela itu!”
Seorang nona berbaju hijau mengiakan dan mendekati rumah
besi itu, lalu menginjak keras-keras diatas sebuah ubin.
Sambil menengok kearah Kho Yang ciu, Li Sian soat segera
berkata:
“Adikmu berada didalam sana, kuharap kau bisa memberi
penjelasan kepadanya serta membujuknya, bila ia sudah mau tahu
keadaan yg sebenarnya, kita baru membukakan pintu baginya.”
Dg perasaan berat Kho Yang ciu manggut-manggut.
Tapi sebelum ia sempat mendekati lubang jendela itu, Kho beng
yg berada dalam ruangan telah mendekati jendela sambil berseru:
“Cici!”
Meskipun Kho Yang ciu merasa sedih dihati, namun berhubung Li
Sian soat hadir pula disampingnya, terpaksa ia membentak keraskeras.
“Apakah dalam pandanganmu masih terdapat aku yg menjadi
cicimu…?”
“Cici, dengarkan dulu penjelasanku” seru Kho Beng dg cemas.
“Justru aku yg hendak memberi penjelasan kepadamu” tukas Kho
Yang ciu dingin, “aku ingin tahu apa sebab kau membunuh orang
tanpa sebab ditengah malam buta?”
“Cici, kau masih dikelabui oleh mereka, tahukah kau, besar
kemungkinan perkampungan Ciu Hong san ceng adalah salah satu
diantara sarang-sarang iblis dari siluman perempuan In nu?”
“Omong kosong!” hardik Kho Yang ciu keras.

“Tidak, aku sama sekali tidak ngaco belo..” Kho Beng menghela
napas panjang.
Dg wajah hijau membesi, Kho Yang ciu kembali berkata:
“Adikku, sekali lagi kuminta kepadamu, hayo cepat minta maaf
kepada Enci Soat!”
“Bolehkah aku memberi keterangan yg lebih jelas lagi
kepadamu?” pinta Kho Beng dg kening berkerut.
“Katakanlah!”
Sambil merendahkan suaranya pemuda itu segera berkata:
“Aku telah menjumpai jago pedang berbaju kuning dari dewi In
nu berada didalam perkampuangan ini.”
“Kau toh tak bisa menganggap setiap jago yg mengenakan baju
berwarna kuning sebagai anak buah dari siluman perempuan itu!”
“Tapi aku kenal dg salah seorang diantara mereka, sebab kami
pernah berkenalan!” bantah Kho Beng.
Kho Yang ciu segera mendengus dingin.
“hmmm, aku tidak berharap kau lanjutkan kata-katamu itu.”
Melihat sikap dari kakaknya itu, Kho Beng menghela napas
panjang, katanya kemudian:
“Aaai…barusan ada orang yg menggunakan keselamatan jiwa cici
utk mengancam kepadaku agar menyerahkan kitab pusaka Thian
goan bu boh, bagaimana pula kejadian ini?”
“Siapakah orang itu?” tanya Kho Yang ciua sambil kerutkan
dahinya kencang-kencang.
“Dia tak lain adalah dayang yg bernama Hong ing, dayang itu
pernah kujumpai didepan perkampungan Bwee wan.”
Tapi Kho Yang ciu segera gelengkan kepalanya berulang kali,
katanya cepat:
“Aku tidak percaya dg semua perkataanmu itu, sekarang aku
Cuma berharap kepadamu agar mau minta maaf kepada enci soat!”
Menghadapi keadaan seperti ini, Kho Beng hanya bisa menghela
napas panjang, katanya kemudian:
“Aaaai, baiklah cici, aku akan menuruti semua perkataanmu, tapi
sekarang mereka harus membebaskan diriku lebih dulu.”
Kho Yang ciu segera berpaling kearah Li Sian soat dan ujarnya,
“Enci Soat, adikku telah menyesali semua perbuatannya dan
bersedia minta maaf kepada enci Soat, kuharap enci soat sudi
mengingat hubungan persahabatan diantara kita dan membebaskan
dirinya.”

“Oooh, tentu saja……” kata Li Sian soat sambil tertawa.
Sambil berkata dia segera mengulapkan tangannya kebelakang.
Tampak seorang nona berbaju hijau yg berada diatas sebuah
pohon besar segera menekan sebuah tombol rahasia disana, tibatiba
saja lapisan baja disekeliling bangunan itu tenggelam kedasar
tanah dan muncullah bangunan rumah yg sebenarnya.
Kho Beng segera melangkah keluar dari dalam ruangan, kepada
Kho Yang ciu ujarnya kemudian dg suara berat:
“Cici, semoga kau dapat menjaga diri baik-baik, aku hendak
mohon diri sekarang juga.”
“Kau hendak kemana?” tanya Kho Yang ciu agak tertegun.
Kho Beng amat sedih, hatinya serasa remuk redam, pertanyaan
dari Kho Yang ciu sama sekali tak dijawab olehnya, bahkan tanpa
mengucapkan sepatah katapun dia menggerakkan tubuhnya dan
secepat sambaran kilat berkelebat meninggalkan perkampungan tsb.
Setelah keluar dari perkampungan, ia merasakan dadanya
bagaikan ditindih dg batu karang yg besar sekali, tak terlukiskan
bagaimanakah perasaan hatinya ketika itu, akhirnya sambil
menghela napas sedih dia melanjutkan perjalanannya kedepan.
Tapi belum jauh dia meninggalkan perkampungan Ciu Hong san
ceng, mendadak dari jarak beberapa kaki dihadapannya telah
bermunculan puluhan sosok bayangan manusia, dg cepat dia sudah
terkurung ditengah kepungan mereka.
Kho Beng melototkan sepasang matanya bulat-bulat, hawa
amarah yg membara didalam dadanya telah memuncak, tanpa
mengucapkan sepatah kata pun dia mengayunkan telapak
tangannya melancarkan sebuah pukulan yg amat dahsyat.
Ternyata puluhan sosok bayangan manusia itu dipmpin oleh
seorang kakek berbaju ungu yag tak lain dalah Ong Thian siang.
Tampak kakek tsb membentak keras-keras, kemudian sepasang
telapak tangannya diputar dan menyongsong datangnya serangan
lawan keras melawan keras.
Dalam melepaskan serangan kali ini, Kho Beng telah
menyertakan tenaga dalamnya sebesar sepuluh bagian, bisa
dibayangkan betapa dahsyatnya serangan tsb.
“Blaaaammm…!”
Ditengah suara benturan keras yg memekakkan telinga, pasir
debu nampak beterbangan diangkasa, akan tetapi Ong Thian siang

justru kelihatan masih berdiri tegak ditempat semula tanpa
menderita cidera barang sedikitpun juga.
Tampak kakek itu mengulapkan tangannya dg dingin, lalu
bentaknya keras-keras:
“Bocah keparat, kau jangan harap bisa kabur lagi dari
cengkeramanku…….?”
Sementara itu, belasan jago pedang yg turut hadir disitu telah
meloloskan senjata masing-masing dan bersiap sedia melancarkan
serangan…..
Tak terlukiskan rasa kaget Kho Beng menghadapi kejadian ini, dia
percaya tenaga pukulannya barusan paling tidak mencapai delapan
sembilan ratus kati, jangan lagi tubuh manusia yg terdiri dari darah
dan daging, besi baja pun pasti akan patah menjadi dua.
Tapi sungguh aneh, mengapa kakek berbaju ungu itu justru tetap
sehat wal afiat tanpa cedera sedikitpun?
Terburu-buru ingin meninggalkan tempat itu secepatnya, timbul
hawa nafsu membunuh dalam hatinya, dg cepat pemuda itu
meloloskan pedangnya lalu dg jurus “Hujan darah melanda langit”
pedangnya dg membawa desingan suara yg memekakkan telinga
langsung ditusukkan ketubuh Ong Thian siang.
Menghadapi datangnya ancaman ini, Ong Thian siang tdk
bermaksud menghindarkan atau berkelit, senjata kupu-kupunya
segera diputar kencang-kencang menyongsong datangnya ancaman
tsb.
Ketika sepasang senjata mereka saling adu satu sama lainnya,
Kho Beng segera merasakan pergelangan tangannya menjadi kaku
dan kesemutan sehingga tak kuasa lagi tubuhnya tergetar mundur
sejauh beberapa langkah.
Walaupun Ong Thian siang sendiripun terhuyung mundur sejauh
dua langkah lebih, namun sikap maupun mimik wajahnya masih
tetap tenang seakan-akan tak pernah terjadi suatu peristiwa pun,
bukan saja dia tak terluka oleh serangan pedang anak muda tsb,
paras mukanya pun sama sekali tidak berubah.
Terdengar kakek itu mendengus dingin seraya menjengek:
“Hmmm, kalau Cuma mengandalkan kepandaian semacam itu,
jangan harap kau bisa lolos dari cengkeramanku lagi!”
Sambil berkata, senjata panji kupu-kupu nya segera digetarkan
lalu dihantamkan keatas kepala Kho Beng.

Dalam waktu singkat anak muda itu terkepung, ia merasakan
sekeliling tubuhnya telah dilapisi oleh bayangan kupu-kupu yg
beterbangan kian kemari, dia tak bisa membedakan lagi mana yg asli
dan mana yg tipuan?
Dalam terperanjatnya buru-buru Kho Beng melompat mundur
kebelakang dan menghindar sampai sejauh dua kaki dari posisi
semula.
Tampak sinar hijau yg menggidikkan hati memancar keluar dari
balik mata Ong Thian siang, utk kedua kalinya dia melancarkan
serangan dg senjata panji kupu-kupunya.
Ditengah deru angin serangan yg memekakkan telinga, selapis
bayangan kupu-kupu kembali menyergap dan mengurung Kho Beng
dari segala penjuru arena.
Kho Beng benar-benar bergidik hatinya menghadapi ancaman
lawan yg begitu bertubi-tubi, mimpipun dia tak pernah menyangka
kalau ilmu silat yg dimiliki setan tua tsb ternyata begitu tangguh dan
luar biasa.
Tak heran kalau Li Sian soat bersikap begitu terbuka dan sok
berjiwa besar dg mempersiapkan jago-jago lihaynya utk melakukan
penyergapan disini.
Lalu apakah tujuan dari rencana busuknya itu?
Sementara dia berpikir tentang kejadian ini, tubuhnya dg cekatan
telah melejit kesana kemari utk meloloskan diri dari ancaman
musuh….
Dalam hati kecilnya dia sudah mempunyai perhitungan, Ong
Thian siang tak boleh dianggap enteng, sebab sedikit salah tingkah
berarti jiwanya besar kemungkinan akan terluka ditangannya.
Akan tetapi Ong thian siang sendiri pun sama sekali tak berayal,
ketika melihat Kho Beng menghindarkan diri sekali lagi kesisi arena,
permainan senjata panji kupu-kupunya segera diperketat, utk ketiga
kalinya dia melancarkan serangan kembali utk menggencet pemuda
tsb, bahkan jurus serangan yg digunakan kali ini jauh lebih ganas
dan hebat lagi….
Setelah berhasil menghindarkan diri utk ketiga kalinya, tiba-tiba
saja pemuda tsb teringat akan sebuah jurus serangan pedang yg
mungkin bisa digunakan utk mematahkan serangan lawan, jurus tsb
merupakan salah satu jurus ciptaannya sendiri, yakni gabungan dari
dua jurus yg yg berbeda diantara tiga puluh enam jurus ilmu pedang
Thian goan kiam hoat.

Walaupun dia tak mengetahui sampai dimanakah kehebatan dari
jurus ciptaannya itu, namun dalam keadaan yg begini kritis dan
berbahaya, dia tak mau berpikir panjang, jurus serangan tsb segera
dipersiapkan utk dipakai.
Begitulah, sambil mempersiapkan pedangnya dia segera
membentak keras-keras:
“Kalau toh kau mengharapkan kematianku, nah silahkan
mencoba dulu jurus Thian goan hap it ku ini!”
Pedangnya diputar membentuk satu gerak melingkar, ditengah
lingkaran bunga pedang yg membentuk garis bagaikan pelangi,
secepat kilat dia tusuk tubuh Ong Thian siang.
Menyaksikan datangnya ancaman tsb, Ong Thian siang sangat
terkesiap, tergopoh-gopoh dia memutar senjata panji kupu-kupu utk
menyongsong datangnya ancaman tsb.
Akan tetapi jurus pedang dari Kho Beng benar-benar luar biasa
hebatnya, sebaris cahaya pelangi tsb tiba-tiba saja berubah menjadi
hujan pedang yg menyelimuti seluruh angkasa.
Baru sekarang Ong Thian siang menyadari betapa lihay dan luar
biasanya jurus pedang dari ilmu yg tercantum dalam pusaka Thian
goan bu boh.
Walaupun dia mengetahui akan kelihaian ilmu pedang Thian goan
kiam hoat, tapi sayang keadaan sudah terlambat………
Terdengar suara dengusan tertahan bergema memecah
keheningan, tampak Ong Thian siang mundur dg sempoyongan,
sementara dadanya sudah berlubang oleh tusukan, darah segar
menyembur keluar membasahi seluruh tubuhnya.
Berubah hebat paras muka belasan orang jago pedang lainnya,
mereka sangat terperanjat oleh peristiwa yg tak terduga sebelumnya
itu.
Begitu berhasil dg seragannya, Kho Beng segera membentak
keras-keras:
“Apabila kalian semua tak ingin hidup terus, silahkan saja maju
kemuka utk menerima kematian!”
Waktu itu, meskipun Ong Thian siang sudah terluka oleh tusukan
pedang, agaknya luka yg dideritanya tdk begitu parah.
Ia segera tertawa seram sesudah mendengar perkataan itu,
katanya:
“Haaahhh…..haaahh…haaahh…..sebuah jurus serangan dari ilmu
pedang Thian goan kiam hoat, ilmu pedang sakti mana yg sudah

punah ratusan tahun lamanya, sekarang digunakan lagi utk
menghadapi diriku lewat kau……..”
Lalu dg sorot mata berkilau tajam, dia berkata lebih jauh:
“Asal kau mampu membunuh habis diriku serta kedelapan belas
orang anak buahku ini, akan kubiarkan kau meninggalkan bukit Cian
san ini dlm keadaan hidup.”
“Heeeh….heeehh….heeehh…kau anggap aku tak tega utk
melakukannya?” jengek Kho Beng sambil tertawa dingin.
“Hmmm, justru aku kuatir kau tdk memiliki kemampuan sehebat
itu……” jengek Ong Thian siang dg suara keras.
Menyusul suara pekikan nyaring yg menembusi angkasa, katanya
lebih jauh:
“Aku akan bertarung seratus jurus lagi melawan dirimu!”
Pada saat itulah tiba-tiba muncul empat sosok bayangan manusia
dari balik hutan sana.
Ketika Kho Beng berpaling dan mengetahui siapa yg datang, ia
menjadi kegirangan setengah mati, ternyata mereka tak lain adalah
Molim, Mokim, Hapukim serta Rumang.
Saat itu keempat orang anak buahnya telah meloloskan senjata
masing-masing siap utk bertarung, kepada Kho Beng teriaknya
lantang:
“Cukong tak usah gugup, kami datang utk melindungimu!”
“Kemarilah kalian!” seru Kho Beng lantang, “bantu aku utk
bertarung mati-matian melawan mereka semua!”
Keempat orang itu segera melayang turun persis disamping Kho
Beng, suasana pun menjadi amat tegang, nampaknya suatu
pertarungan sengit segera akan berlangsung.
Mendadak……..
Disaat keadaan makin kritis dan pertarungan sengit segera akan
berkobar itulah, tiba-tiba terdengar suara gembrengan yg dibunyikan
bertalu-talu berkumandang datang dari arah perkampungan.
Mendengar suara tsb, Ong Thian siang menjadi terkejut sekali,
buru-buru dia mengulapkan tangannya seraya berkata:
“Cepat kembali keperkampungan!”
Kho Beng sendiri pun agak tertegun melihat perubahan tsb, dia
tak habis mengerti apa gerangan yg telah terjadi.
Sementara itu Ong Thian siang telah berkata dg dingin:

“Untuk sementara waktu kubebaskan dirimu hari ini, tapi kau
mesti mengerti, setiap waktu setiap saat nyawamu selalu berada
dalam cengkeraman kami.”
Habis berkata, dia segera memimpin belasan orang jago
pedangnya dan mengundurkan diri dari sana, dalam waktu singkat
bayangan tubuh mereka sudah lenyap dari pandangan mata.
Menanti bayangan Ong thian siang sekalian sudah hilang dari
pandangan. Kho Beng baru berkata dg suara rendah:
“Mari kita pergi dari sini!”
“Cukong!” seru Rumang keras-keras, “tua bangka tadi telah kau
lukai dg babatan pedang, mengapa kau biarkan dia melarikan diri dg
begitu saja?”
Kho Beng menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya:
“Walaupun dia sudah menderita luka, namun bila benar-benar
terjadi pertarungan yg sengit, ditambah pula dg belasan orang jago
pedangnya, aku rasa siapa yg menang siapa yg kalah masih belum
dapat diramalkan mulai sekarang…….”
Kemudian setelah memperhatikan sekejap keadaan disekeliling
sana, katanya lebih jauh:
“Disamping itu, pikiranku sangat kalut dan tidak mempunyai
semangat utk melanjutkan pertarungan, hayo kita pergi saja dari
sini.”
“Cukong” kembali Rumang berteriak, “ kau belum bercerita
kepada kami bagaimana kisahmu melarikan diri dari sana…….apakah
kau benar-benar menyerahkan kitab pusaka Thian goan bu boh itu
kepada mereka?”
Dg cepat Kho Beng menggeleng,
“Dikemudian hari kau akan mengerti dg sendirinya, sekarang
lebih baik kita pergi dulu.”
“Tapi kita hendak kemana?” tanya Hapukim.
“Terserahlah, mau kemana pun boleh saja.”
Mendadak seperti teringat akan sesuatu, dia berseru lagi:
“Mari kita pergi mencari tempat utk minum arak!”
Dg perasaan gembira yg meluap Rumang segera berseru:
“Haaaa…….haaaah…….haaaah…bagus sekali, kita pergi minum
arak, sudah lama sekali aku berpantang minum arak…..”
Maka mereka berlima pun segera berangkat menuruni bukit.
Menjelang senja, Kho Beng bersama Molim, Mokim, Rumang
serta Hapukim sekalian sudah berada dalam sebuah rumah makan

kecil dikaki bukit, disitu mereka memesan sayur dan arak serta
bersantap dg lahapnya….
Walaupun arak diharapkan bisa menghilangkan segala
kemasgulan, namun kobaran api dendam yg membara membuat
perasaan Kho Beng tak pernah bisa tenang.
Beberapa poci arak yg berpindah keperut membuat pemuda tsb
mulai dipengaruhi oleh air kata-kata, maka mereka berlima pun
melewatkan malam yg panjang itu didalam rumah makan kecil ini.
Mereka berlima tidur dalam sekamar, namun mereka tidak dapat
memejamkan mata, terutama Kho Beng.
Pikiran dan perasaannya waktu itu sangat kalut dan tak tenang,
bagaimana pun dia berusaha utk memejamkan mata namun tak
setitik rasa ngantuk pun yg menyerang dirinya.
Ketika Molim melihat Kho Beng belum juga dapat tidur, tanpa
terasa segera ia membujuk:
“Cukong, kau harus pergi tidur sebentar, dirisaukan pun
persoalan tsb tak akan terselesaikan dg sendirinya.”
“Ehmmm, kau pergilah tidur sendiri!” sahut Kho Beng dg suara
hambar.
Tapi sambil tertawa paksa Molim segera berkata lagi:
“Aku merasa amat kesal berada didalam kamar, biar aku
berjalan-jalan sebentar diluar kamar sambil mencari udara segar…”
Kho Beng sama sekali tidak menjawab, dia hanya mengangguk
pelan sebab dalam keadaan seperti saat ini, dia pun mempunyai
perasaan yg sama seperti Molim, Cuma saja ia malas utk keluar dari
kamar.
Sementara itu Molim sudah keluar dari kamarnya, ternyata dia
bukan pergi berjalan-jalan seperti yg diutarakan tadi, begitu sampai
diluar halaman, dg sekali lompatan ia sudah melewati pagar
pekarangan dan bergerak menuju keluar kota dg kecepatan tinggi.
Lebih kurang setengah peminuman the kemudian , didepan situ
muncul sebuah kuil dewa tanah, Molim segera memperhatikan
sekejap sekeliling tempat itu dg seksama kemudian menerobos
masuk kedalam kuil tadi……..
Ditengah kegelapan malam yg mencekam, gerak gerik Molim tak
ubahnya seperti sukma gentayangan, tanpa menimbulkan sedikit
suarapun dia menghampiri bangunan kuil tsb.
Kemudian setelah memperhatikan sekejap seputar bangunan kuil,
dia bersiul pelan.

Dari dalam kuil segera segera bergema suara langkah kaki
manusia, disusul seseorang menegur dg suara yg rendah dan dalam.
“Saudara Mo kah yg datang?”
“Yaa, betul, siaute yg datang?” jawab Molim.
Orang yg berada dalam kuil itu tidak berbicara apa-apa lagi, dia
membuka pintu kuil tsb lebar-lebar.
Molim tdk berayal lagi, setelah memperhatikan sekali lagi
sekeliling tempat itu, dg langkah cepat dia berjalan masuk kedalam
ruangan kuil.
Suasana dalam kuil itu gelap gulita sehingga boleh dibilang susah
utk melihat kelima jari tangan sendiri, setibanya disitu, Molim segera
menghentikan langkahnya dan berusaha utk melihat jelas
pemandangan disekelilingnya.
Ternyata yg barusan membukakan pintu adalah seorang manusia
berkerudung yg bertubuh kurus kering, waktu itu dia sudah
mengundurkan diri kedepan ruangan dan duduk bersila disitu.
Gerak gerik serta tingkah lakunya nampak misterius sekali.
Tiba-tiba saja dia menggapai kearah Molim dan menyuruhnya
duduk, setelah itu baru tegurnya:
“Apakah kau datang kemari seorang diri?”
Molim manggut-manggut tanpa menjawab.
Kembali manusia berkerudung itu berkata:
“Sewaktu datang kemari apakah kau telah memperhatikan
belakang tubuhmu? Apakah ada orang yg membuntuti jejakmu?”
“Tidak ada!” jawaban Molim sangat meyakinkan.
Dg persaan amat puas manusia berkerudung itu manggutmanggut,
katanya lagi:
“Bagus sekali, tapi selanjutnya gerak gerikmu harus lebih berhatihati
lagi, asal barang itu sudah didapatkan, pokoknya aku tak akan
lupa utk memberikan sebagian kepadamu, bahkan masih ada balas
jasa lainnya lagi…..”
Mendengar perkataan tsb, Molim segera berkata setelah
termenung sejenak,
“Sayang aku tak punya kesempatan utk menggeledahnya pada
hari ini, sehingga aku pun tak tahu apakah barang tsb masih ada
ditangannya atau tidak?”
Manusia berkerudung itu segera tertawa dingin:

“Persoalan ini tak perlu kau kerjakan secara tergesa-gesa, yg
penting jangan sampai menimbulkan kecurigaan, sebab persoalan
tsb bisa membuat semua masalah jadi terbengkalai.”
“Dalam soal ini kau tak perlu kuatir, aku bisa bekerja dg berhatihati
sekali!” buru-buru Molim berjanji.
Manusia berkerudung itu segera mengangguk,
“Selanjutnya aku bisa membuntutimu secara diam-diam dan
sering melakukan kontak dg mu, tapi ada satu hal yg perlu
kujelaskan lebih dulu kepadamu sebelum akhirnya terjadi…”
“Soal apa?” tanya Molim serius.
Sambil menarik muka, manusia berkerudung itu berkata dg suara
dingin:
“Bila kau berani menghianati diriku maka jiwamu pasti akan
kucabut, nah kuharap kau pertimbangkan persoalan ini dg sebaikbaiknya,
jangan kau pergunakan nyawa sendiri sebagai barang
permainan.”
Molim merasakan sekujur badannya bergetar keras, namun
mulutnya tetap membungkam seribu bahasa.
Kembali manusia berkerudung itu berkata sambil tertawa
hambar:
“Aku tak lebih hanya bermaksud memberi tahukan soal peraturan
perguruanku kepadamu, semoga saja kau bisa bekerja dg berhatihati
sekali…..”
Kemudian setelah memandang sekejap sekitar tempat itu,
katanya lagi sambil mendengus:
“Hmmm, sekarang kau boleh pergi dari sini!”
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Molim segera menjura
dan mengundurkan diri dari ruangan kuil.
Sewaktu tiba dimuka pintu, kembali dia memperhatikan sekejap
sekeliling tempat itu, kemudian baru mengerahkan ilmu
meringankan tubuhnya dan lenyap dibalik kegelapan sana.
Tidak lama setelah Molim meninggalkan tempat itu, dari depan
pintu kuil muncul kembali seorang perempuan berbaju hijau,
perempuan itu menutup wajahnya dg kain kerudung hijau, gerak
geriknya pun sangat misterius….
Walaupun Molim tidak menyadari akan kehadiran perempuan tsb,
namun setiap gerak gerik, tingkah laku serta pembicaraannya,
agaknya sudah diketahui dg jelas oleh perempuan berbaju hijau itu.

Sementara itu tampaknya kakek berkerudung yg berada dalam
ruangan kuil pun telah mengetahui akan kehadiran perempuan
berbaju hijau itu, terdengar ia menegur sambil tertawa dingin:
“Sobat yg berada diluar, apa gunanya kau sembunyi disitu? Aku
sudah tahu kalau kau telah mengintip diluar sejak tadi.”
Pada mulanya perempuan berbaju hijau itu kelihatan agak
terkejut, namun setelah sangsi sejenak, dg langkah lebar dia
berjalan masuk kedalam ruangan kuil itu, katanya sambil tertawa
hambar:
“Ketajaman mata anda sungguh mengagumkan, boleh aku tahu
siapa anda?”
Kakek ceking berkerudung hitam itu mendengus dingin:
“Hmmm, seharusnya akulah yg menanyakan siapa namamu, hayo
cepat sebutkan identitasmu yg sebenarnya!”
Perempuan berbaju hijau itu segera tertawa.
“Selama kau menyembunyikan nama serta identas yg
sebenarnya, aku pun akan merahasiakan nama asliku utk sementara
waktu, nah bagaimana kalau kita masing-masing tak usah saling
bertanya soal nama?”
Kakek ceking itu tertawa lebar:
“Kau betul-betul amat binal, baiklah, boleh aku tahu ada urusan
apa kau datang kemari?”
“Hanya kebetulan lewat!”
“Haaaahh…..haaahh…..haaahh…..kau anggap begitu banyak
kejadian yg kebetulan disunia ini?” seru kakek ceking sambil tertawa
terbahak-bahak, “apalagi ditengah malam buta, kebetulan amat kau
lewat sini?”
Perempuan berbaju hijau itu sama sekali tidak kelihatan
canggung, malah ia menjawab sewajarnya,
“Bila kau bersikeras tak percaya, apa boleh buat? Untung saja
kita tak pernah saling mengenal, lagipula tiada ikatan dendam atau
sakit hati, asal tidak saling mencampuri urusan orang lain, urusan
kan beres?”
Seraya berkata dia segera membalikkan badan dan siap beranjak
pergi dari situ.
“Tunggu dulu!” mendadak kakek ceking itu membentak keras.
Sambil menghentikan langkahnya, nona berbaju hijau itu
menegur:
“Apakah tuan masih ada urusan lain?”

“Sebelum aku mengetahui identitasmu yg sesungguhnya sampai
jelas, jangan harap kau bisa meninggalkan tempat ini dg selamat.”
Nona berbaju hijau itu segera tertawa manis, katanya:
“Aku bukan termasuk manusia yg takut digertak orang, bila kau
benar-benar ingin mengetahui identitasku yg sesungguhnya, hal ini
pun tidak terlalu sulit, asal saja kau melepaskan kain kerudung yg
menutupi wajahmu itu, aku pun bersedia mengemukakan identitasku
yg sesungguhnya.”
Kakek ceking itu mendengus dingin:
“Hmmm, tak kusangka kau si budak susah sekali utk dihadapi,
baiklah akan kuberi kesempatan kepadamu utk menyaksikan paras
mukaku yg sebenarnya!”
Sambil berkata dia segera melepaskan kain kerudung yg
menutupi wajahnya itu.
Ternyata paras muka dibalik kain kerudung tsb adalah selambar
wajah yg tua, jelek lagipula kuning kepucat-pucatan, selambar wajah
yg sangat tidak menarik.
Sampai lama sekali nona berbaju hijau itu mengamati paras muka
kakek ceking itu, kemudian katanya:
“Aku sama sekali tidak kenal dg mu….”
Tapi setelah memutar biji matanya dan tertawa merdu, kembali
ujarnya:
“Setelah tuan berani menunjukkan wajah aslimu, aku rasa
tentunya kau berani juga utk menyatakan nama aslimu bukan?”
“Aku bernama Thia bu ki” kakek ceking itu berkata dg suara
sedingin es.
“Ooooh……dan aku bernama To Ku giok!” nona berbaju hijau itu
menjelaskan.
“Kau berasal dari perguruan mana?”
“Go bi pay!”
Tiba-tiba Thia bu ki bangkit, lalu katanya dg suara dingin:
“Ooooh, rupanya kau adalah murid perguruan kenamaan, To ku
lihiap, aku ingin mencoba kemampuanmu!”
“Apa yg hendak kau coba?”
“Ingin kubuktikan benarkah kau berasal dari perguruan Go bi
pay?”
Tidak sampai perkataan itu selesai diucapkan, sebuah pukulan yg
maha dahsyat telah dilepaskan.

Serangan ini dilancarkan dg kecepatan luar biasa, angin pukulan
yg sangat berat seperti ditindih bukit karang langsung menggulung
kedepan dan mengancam tubuhnya.
Cepat-cepat nona berbaju hijau itu berkelebat kesamping utk
meloloskan diri, serunya:
“Hey, bagaimana sih kau ini? Kan tadi Cuma ingin mengetahui
identitasku? Kenapa malah menyerang secara sungguhan?”
Thia bu ki mendengus dingin:
“Hmmm, aku tak percaya kalau tak mampu mencoba kepandaian
silat aslimu…..”
Telapak tangan kenennya berputar membentuk satu lingkaran,
sekali lagi ia melancarkan sebuah sapuan yg maha dahsyat.
Serangan yg dilancarkan kali ini jauh berbeda dg seranbgan yg
pertama kali tadi, tampak bayangan berlapis-lapis seolah-olah
serangan sungguhan seperti juga gerak tipuan, yg jelas sekujur
badan Tu ku giok terkepung begitu rapat dibalik angin pukulannya.
Tempaknya sinona berbaju hijau itu tidak menyangka kalau
tenaga dalam yg dimiliki kakek ceking itu sedemikian tinggi dan
berbahaya, tergopoh-gopoh dia menghindarkan diri kesamping, tapi
bersamaan waktunya dia meloloskan pedang yg tersoren
dipunggungnya.
Mendadak Thia Bu ki berseru sambil tertawa terbahak-bahak:
“Haaaah….haaaaah……..haaaah………aku memang berharap kau
berbuat demikian!”
“Kalau toh kau begitu mendesak diriku habis-habisan, sekarang
rasakan sebuah tusukan pedangku lebih dulu!” bentak nona berbaju
hijau itu dg penuh amarah.
“Sreeeeet……..!”
Selapis cahaya pedang yg amat menyilaukan mata segera
menyebar kedepan dg sangat hebatnya.
Ditengah pancaran sinar pedang yg menyebar keempat penjuru,
dalam sekejap mata wailayah seluas dua kaki lebih sudah terkkurung
oleh selapis hawa dingin yg menggidikkan hati.
Dg amat cekatan Thia bu ki menarik diri sambil melompat
mundur, serunya kemudian sambil tertawa tergelak:
“Haaaa……..haaaa…..haaaahhh….sebuah jurus “angin menderu
diempat penjuru” yg sangat hebat, ternyata kau memang pandai
ilmu pedang aliran Go bi, maaf, maaf……”

Tidak sampai perkataan tsb selesai diucapkan, ia sudah melejit
ketengah udara dan meluncur keluar dari kuil dewa tanah yg gelap
gulita, dalam beberapa kali lompatan saja bayangan tubuhnya sudah
lenyap dari pandangan mata.
Memandang hingga bayangan tubuh Thia Bu ki pergi jauh, si
nona berbaju hijau itu baru menghembuskan napas panjang,
gumamnya lirih:
“Huuuh, sungguh berbahaya!”
Pelan-pelan dia melepaskan kain kerudung mukanya sehingga
muncullah selembar wajah yang muda lagi cantik jelita, ternyata dia
bukan To Ku giok seperti yg diakui tadi, melainkan si walet terbang
Chin Sian kun.
Setelah membereskan rambutnya yg kusut, dia menyeka peluh
dingin yg sempat membasahi seluruh tubuhnya, dalam hati ia
berpikir:
“Sungguh beruntung aku dapat menghadapi setiap perubahan dg
cukup cekatan kalau tidak……..huuuuh, dg kepandaiannya yg begitu
tinggi, sudah jelas aku bukan tandingannya…….apalagi bila sampai
aku salah langkah, bisa jadi sebuah rahasia kebohonganku bakal
terbongkar……..”
Siapa tahu baru saja hatinya menjadi lega, kembali tampak
bayangan hitam berkelebat lewat dari luar kuil, ternyata Thia Bu ki
bagaikan bayangan sukma gentayangan saja telah melayang
kembali dihadapan matanya.
Dalam tertegun dan kegetnya, buru-buru Chin Sian kun
mengenakan kembali kain cadarnya. Lalau menegur:
“Hey, kenapa kau balik kembali setelah pergi tadi?”
Dg wajah dingin bagaikan es, Thia Bu ki menjawab:
“Tadi aku sudah lupa menanyakan satu hal kepadamu, apakah
kau bersedia menjawab pertanyaanku itu sekarang?”
Chin Sian kun sengaja tertawa lebar katanya:
“Silahkan tuan bertanya, asal aku tahu pasti akan kuberikan
jawaban yg sebaik-baiknya.”
Thia Bu ki manggut-manggut, katanya kemudian:
“Bagus sekali, bolehkah aku tahu kemanakah tujuan kepergianmu
yg sebenarnya?”
Chian Sian kun menjadi tertegun.
“Tentang soal ini……..”

Ia memainkan biji matanya sebentar lalu sambil tertawa hambar
katanya lagi,
“Aku rasa persoalan ini tiada sangkut pautnya dg diri tuan
bukan…?”
“Hmmm, siapa tahu justru ada sangkut pautnya!” jawab Thia Bu
ki dingin.
“Aku bermaksud naik kebukit Cian san” kata si nona kemudian
setelah sangsi sebentar.
“Mau apa kau naik kebukit Cian san?” desak Thian Bu ki lebih
lanjut.
“Saudara, kenapa kau menanyakan persoalan ini sampai
mendetail? Apa maksudmu yg sebenarnya?”
Dg suara berat dan dalam Thia Bu ki berseru:
“Kuanjurkan kepadamu lebih baik jawab semua pertanyaanku dg
sejujurnya, tak usah mencoba berlagak sok pintar dg mengarang
cerita bohong utk menipu diriku, sebab hal ini justru akan merugikan
dirimu sendiri.”
Diam-diam Chin Sian kun menjadi tertegun, tanpa terasa ia
berpikir dalam hati kecilnya,
“Sungguh tajam pandangan mata orang ini, nampaknya aku
harus menghadapinya secara berhati-hati sekali, tapi manusia dari
pihak manakah dia? Mengapa dia memeriksa diriku seteliti dan
secermat ini?”
Tanpa terasa terbayang kembali olehnya tingkah laku Molim yg
dijumpainya tadi serta gerak gerik si kakek ceking yg mencurigakan
ini, mungkinkah dia adalah dari pihak lawan atau mungkin juga anak
buah dari siluman perempuan dewi In nu yg bersekongkol dg
keempat jago asing tsb utk melakukan sesuatu yg tidak
menguntungkan bagi Kho Beng, dan sekarang takut rahasia tsb
terbongkar..
Ingatan tsb melintas lewat dalam benaknya dalam waktu singkat,
belum sempat dia mengucapkan sesuatu, Thia Bu ki telah berkata
lagi sambil tertawa dingin:
“Nona, mengapa kau tidak berbicara lagi? Apakah kau belum
memperoleh jawaban yg tepat utk menjawab pertanyaanku tadi?”
Begitu mengambil keputusan didalam hati kecilnya, sambil
tersenyum Chin Sian kun berkata:
“Apa yg tuan duga memang tepat sekali, aku memang sedang
mempertimbangkan jawabanku!”

Jawaban yg secara gamblang ini justru sama sekali diluar dugaan
Thia Bu ki, utk sesaat lamanya ia menjadi tertegun dibuatnya,
“Aku benar-benar tak habis mengerti” katanya kemudian, “masa
utk berbohong saja kau perlu mempertimbangkan kembali?”
”Tentu saja harus kupertimbangkan masak-masak, sebab tugas
yg kupikul dalam perjalananku kali ini berat sekali, aku tak tahu
harus memberi jawaban secara sejujurnya ataukah lebih baik
mencarikan alasan yg lain utk membohongimu?”
Thia Bu ki segera tertawa seram:
“Haaaahhh……haaaah…….haaaaahhh….nona memang seorang
yg amat jujur, tapi bagaimanapun besar dan pentingnya persoalan
tsb, lebih baik kemukakan saja secara blak-blakan, aku berjanji akan
menyimpan rahasiamu sebaik-baiknya dan pasti tak akan
kubocorkan kepada siapa pun…..”
Tapi Chin Sian kun segera menggelengkan kepalanya berulang
kali, katanya:
“Mulut manusia ibarat mulut botol, asal didalamnya sudah terisi
cairan maka setiap saat bisa meleleh keluar kembali, itulah sebabnya
aku tak usah menjawab saja, karena sekali berbicara toh lebih baik
diutarakan keluar sama sekali.”
“Bicara pulang pergi, sebenarnya kau bersedia utk berbicara atau
tidak…?”
“Tentang persoalan ini, bila tuan bersedia membatalkan
pertanyaanmu itu tentu saja aku merasa amat girang Cuma bila aku
tak bersedia menjawab sudah pasti tuan akan menaruh kesalah
pahaman kepadaku……..”
Thia Bu ki tertawa terbahak-bahak:
“Haaaaa…haaah….haaaahhhh….aku rasa dalam hal ini nona
sudah mengetahui secara pasti, yaaa aku memang harus
mengetahui rahasia kepergian nona kebukit Cian san ini, kalau tidak,
aku kuatir kita susah utk berpisah pada malam ini!”
Chin Sian kun segera termenung sambil berpikir sejenak, setelah
itu baru ujarnya:
“Kalau toh tuan ingin bersikeras ingin tahu boleh saja Cuma aku
pun mempunyai sebuah syarat!”
“Cepat katakan apa syaratmu itu?”
“Sederhana sekali kuharap kau mengemukakan dulu identitasmu
dan sesungguhnya merupakan jago dari aliran mana?”

Thia Bu ki termenung pula beberapa waktu lalu sambil tertawa
seram katanya:
“Heeeehhh….heeeehh…heeeehhhh….boleh saja kalau kau ingin
mengetahui identitasku yg sebenarnya Cuma aku kuatir setelah kau
mengetahui identitasku yg sebenarnya, mungkin sulit bagimu utk
meninggalkan tempat ini dalam keadaan hidup.”
“Tapi bagi diriku, sebelum kutahu identitasmu yg sebenarnya,
sulit pula utk memberitahukan maksud tujuanku yg sebenarnya.”
Mendengar perkataan itu, sepatah demi sepatah kata Thia Bu ki
segera berkata:
“Baiklah, dengarkan baik-baik, aku dari marga Thia……..”
Cepat-cepat Chin Sian kun menggoyangkan tangannya seraya
menukas:
“Tadi tuan sudah menyebutkan nama aslimu dan aku rasa
namamu telah kuketahui secara jelas….”
Kemudian sambil memutar biji matanya dan tertawa, ia berkata
lebih lanjut:
“Oleh karena nama besar tuan kedengarannya masih sangat
asing dalam dunia persilatan, sebaliknya ilmu silat yg kau miliki
justru termasuk dalam golongan kelas satu, maka kejadian ini benarbenar
membuat hatiku bingung dan tak habis mengerti.”
“Perkataanku toh belum selesai kuucapkan, lebih baik kau jangan
menimbrung lebih dulu!”
“Baiklah” sahut Chin Sian kun kemudian sambil tertawa,
“lanjutkanlah perkataanmu tadi.”
Setelah mendengus Thia Bu ki berkata:
“Aku adalah salah satu diantara dua belas pelindung hukum dari
dewi In nu.”
Dalam hati kecilnya Chin Sian kun merasa amat terperanjat,
segera pikirnya:
“Ternyata apa yg kuduga memang benar, kalau begitu
kedatangan Kho Beng kemari tidak menghasilkan apa-apa, tapi tidak
pula mengalami musibah. Hanya disekelilingnya telah dipersiapkan
orang suatu perangkap yg mengerikan hati……..aku mesti membuat
rencana yg sebaik-baiknya utk menghadapi semua persoalan itu!”
Sementara dalam hati kecilnya berpikir, diluaran sahutnya:
“Aku amat jarang berkelana dalam dunia persilatan,
pengetahuanku amat cetek, bolehkah aku tahu siapa sih dewi In nu
itu?”

Kembali Thia Bu ki mendengus:
“Dikemudian hari kau toh akan mengetahui dg sendirinya
sekarang……hayo cepat kemukakan rahasiamu sendiri?”
Dg wajah serius Chin Sian kun segera berkata:
“Sesungguhnya maksud perjalananku kali ini bukan terhitung
suatu rahasia besar, kau toh tahu semua umat persilatan sedang
melacaki jejak si Kedele Maut? Aku dengar si Kedele Maut tak lain
adalah kakak perempuan Kho Beng dan secara kebetulan aku
berhasil mendapat kabar yg mengatakan Kho Beng berada disini,
karena itulah aku sengaja hendak naik kegunung utk menyelidiki
jejaknya!”
Mendengar perkataan itu, Thia Bu ki segera tertawa terbahakbahak:
“Haaaahhh…..haaaahhh……….haaahhhh….rupanya begitu,
kenapa tidak kau ucapkan sedari tadi.”
“Darimana aku bisa tahu kalau tuan bukan komplotan dari Kho
Beng?”
“Sekarang kau harus mengerti” kata Thia Bu ki sambil tertawa,
“bukan saja aku bukan komplotan dari Kho Beng, malah sebaliknya
merupakan musuh besarnya?”
“Kalau begitu sudah terjadi kesalah pahaman diantara kita!” seru
Chin Sian kun sambil tertawa cekikikan.
“Yaa, memang sudah terjadi kesalah pahaman……”
Seelah berhenti sejenak, terusnya lagi dg suara dalam:
“Setelah kesalah pahaman diantara kita telah hilang, aku pun
bersedia memberitahukan pula sebuah rahasia besar kepadamu?”
“Rahasia apakah itu?” buru-buru Chin Sian kun bertanya.
“Kedele Maut yg sedang kalian cari-cari pun berada disini!” bisik
Thia Bu ki sambil tertawa misterius.
“Dimana?” tanya sinona agak tertegun.
“Tentu saja diatas bukit Cian san!”
“Orang she Kho itu?”
“Dia berada didalam sebuah rumah penginapan dikota kecil
dibawah bukit sana, bila nona hendak mencarinya, inilah saat yg
paling tepat……”
Lalu setelah berhenti sejenak, kembali ia melanjutkan:
“Tapi kuanjurkan kepada nona, lebih baik tak usah kesana lagi!”
“Kenapa?”

“Sederhana sekali, sebab berbicara menurut kepandaian silat yg
nona miliki, entah harus menghadapi Kho Beng atau si Kedele Maut
pribadi, kau masih ketinggalan jauh sekali…….maaf, aku masih ada
urusan lain dan tak dapat menemanimu lebih lanjut!”
Tiba-tiba saja dia melejit ketengah udara lalu meluncur pergi
meninggalkan tempat tsb d kecepatan tinggi.
Memandang bayangan punggung Thia Bu ki yg pergi menjauh
utk kedua kalinya, kembali Chin Sian kun menghembuskan nafas
panjang secara diam-diam.
ooooOOoooo
Ketika mendusin kembali dari tidurnya, Kho Beng menemukan
matahari sudah jauh berada diatas angkasa, ia sadar waktu sudah
siang dan buru-buru melompat bangun dari atas ranjang.
Terbayang kembali perbuatannya mabuk-mabukan semalam,
tanpa terasa ia menghela napas panjang.
Belum habis dia menghela napas, tiba-tiba dari luar jendela
kedengaran suara seseorang mendehem lalu menegur:
“Apa cukong telah bangun?”
Ternyata Molim yg menyapanya dari luar jendela.
“Ada urusan apa?” Kho Beng segera bertanya.
“Oooh, tak ada urusan apa-apa” jawab Molim dg suara lirih,
“ketika kulihat cukong telah mendusin tadi, aku takut kau hendak
memerintahkan sesuatu, maka aku segera menegur lebih dulu.”
Kho Beng terharu sekali melihat perhatian anak buahnya, buruburu
dia berkata:
“Kemana perginya adikmu serta Hapukim dan Rumang?”
Ketiga orang yg disebutkan namanya segera mengiakan dari luar
pintu kamar.
Kho Beng segera berkata lagi:
“Aku benar-benar telah menyusahkan kalian berempat,
aaai….padahal kita sudah termasuk teman senasib sependeritaan,
selanjutnya sikap kalian tak perlu muncuk-muncuk dan menghormat,
anggap saja diriku saudara kalian sendiri.”
“Tidak, hamba tak berani” serentak keempat orang itu menjawab
bersama-sama.
Menyusul kemudian tampak keempat orang itu mendorong pintu
dan berjalan masuk kedalam ruangan lalu berdiri tunduk disisi

ruangan, sikap mereka jauh berbeda daripada sikapnya diwaktuwaktu
yg lampau.
Secara tiba-tiba saja Kho Beng mendapat kesan bahwa sifat liar
dan kasar keempat orang tsb seakan-akan tersapu lenyap hingga tak
berbekas, tak terlukiskan rasa gembira didalam hati kecilnya.
Sementara dia masih termenung, terdengar Molim berkata lagi.
“Cukong, apakah kau mempunyai sesuatu rencana pada hari ini?”
Kho Beng berjalan mondar mandir didalam ruangan, lama
kemudian ia beru berkata sambil menghela napas:
“Justru persoalan inilah yg merisaukan hatiku sekarang,
sebenarnya aku berniat akan turun tangan menghadapi perempuan
siluman itu, apa daya enciku justru berada disitu, dilain pihak aku
ingin meninggalkan tempat ini, tapi akupun kuatir enciku mengalami
bahaya maut, ……aaaai, pikiranku jadi amat bingung…….”
Setelah sangsi berapa saat lamanya, sambil menggertak gigi dia
berkata kemudian,
“Aku berniat menyelidiki perkampungan tsb sekali lagi pada
malam nanti, paling tidak aku harus memperoleh bukti yg bisa
membuat enciku percaya dg perkataanku!”
“Kalau toh cukong telah memutuskan demikian, setiap saat kami
siap menantikan perintah.”
“Kalian tak perlu mempersiapkan diri, sebab aku bermaksud pergi
kesana seorang diri.” Kata Kho Beng sambil gelengkan kepalanya
berulang kali.
Jilid 23
Baru saja Molim hendak menjawab, tiba-tiba terdengar suara
langkah kaki manusia yg ramai bergema diluar pintu kamar,
menyusul kemudian terdengar seseorang berseru dg nada suara
gelisah.
“Kho sauhiap, apakah kau tinggal disini?”
Kho Beng menjadi tertegun setelah mendengar suara teriakan
tsb, sebelum ia bertindak sesuatu, Molim telah membuka pintu
kamar sambil menghadang ditengah jalan.
Ternyata orang yg berada diluar pintu adalah seorang pemuda
berbaju ringkas berwarna hijau, wajahnya kelihatan gelisah sekali.
Dg perasaan keheranan Molim segera menegur:
“Darimana kau bisa mengenali majikan kami?”
Sebelum pemuda berbaju ringkas warna hijau itu menjawab, Kho
Beng telah maju menyongsong seraya menegur.

“Cho toako....“
Ternyata pemuda ini adalah Cho Liu san, anak murid dari
perguruan Sam goan bun.
Cho Liu san memandang wajah Kho Beng sekejap, lalu katanya
dg perasaan cemas.
“Oooh....saudara Kho, sungguh amat sulit mencari jejakmu!“
“Cho toako, silahkan duduk didalam kamar, entah dari siapa kau
mendapat kabar kalau aku berada disini?“
Maka Cho Liu san pin dipersilahkan masuk dan mengambil
tempat duduk, kemudian Kho Beng memperkenalkannya dg Molim
sekalian, setelah itu dia baru berkata:
“Aku mendapat kabar kalau saudara Kho berada dilembah hati
Buddha maka terburu-buru menyusul kesitu, disana bertemu dg Kim
tayhiap bertiga, dari merekalah ku ketahui kalau saudara Kho telah
berangkat kebukit Cian san, sudah banyak tempat disekitar bukit ini
kulacaki, akhirnya dg susah payah berhasil juga kujumpai saudara
Kho disini.“
“Cho toako, sebenarnya ada urusan apa sih kau bagitu bernafsu
mencariku?“ tanya Kho Beng keheranan.
Cho Liu san kelihatan agak sangsi sejenak kemudian tanpa
mengucapkan sepatah kata pun tiba-tiba ia bertekuk lutut dan
berlutut dihadapan Kho Beng.
Tentu saja Kho Beng dibuat tertegun, buru-buru dia
membangunkan pemuda tsb dari atas tanah, kemudian katanya:
“Cho toako, sebenarnya apa yg terjadi? Hayo cepat bangun, mari
kita bicara secara baik-baik.“
Setelah berdiri, dg air mata bercucuran Cho Liu san berkata:
“Dg susah payah aku kesana kemari mencari Kho sauhiap,
maksud tak lain adalah mohon bantuan dari Kho sauhiap agar
bersedia menyelamatkan ciangbunjin kami.“
“Apa yg terjadi dg Sun ciangbunjin?“ tanya Kho Beng dg kening
berkerut.
“Ciangbunjin kami telah disekap oleh pihak siau lim pay didalam
ruangan Tat mo wan“
“Apa sebabnya pihak Siau lim pay menyekap Sun ciangbunjin?“
seru Kho Beng tertegun.
Cho Liu san menatap wajah Kho Beng lekat-lekat, lama kemudian
ia baru berkata dg suara dalam:
“Konon hal ini disebabkan Kho sauhiap.....“

“Gara-gara aku?“ Kho Beng semakin tercengang, “Soal ini.....“
“Pihak Siau lim pay mengirim surat kepada perguruan Sam goan
bun yg isinya mengundang kehadiran ciangbunjin utk merundingkan
masalah penangkapan kedele maut dikuil mereka, tentu saja
ciangbunjin tak bisa menampik undangan tsb, siapa tahu begitu tiba
dikuil Siau lim si, ternyata Phu sian ciangbunjin dari pihak Siau lim
pay telah menuduh ciangbunjin sebagai komplotan dari kedele maut,
dg tuduhan itulah akhirnya ciangbunjin disekap disana.”
“Atas dasar apa mereka bisa menuduh begitu?” seru Kho Beng dg
perasaan gusar.
“Konon pihak Siau lim pay menyalahkan pihak Sam goan bun
karena tidak merahasiakan asal usul Kho sauhiap yg sebenarnya.”
“Betul-betul kurangajar!” umpat Kho Beng sambil mendobrak
meja keras-keras.
Pelan-pelan Cho Liu san berkata lagi:
“Aku dengar Kho sauhiap pernah berbuat huru-hara didalam kuil
Siau lim si, setiap umat persilatan boleh dibilang tahu semua,
bagaimana sauhiap mencuri papan mereka untuk ditukar dg panji
Hui im ki, tapi justru karena peristiwa tsb, aku takut semakin sulit
buat ciangbunjin kami utk melepaskan diri!”
Kho Beng termenung sejenak, kemudian katanya:
“Lanyas apa yg mesti kulakukan menurut pendapat Cho toako?”
Dg setengah merengek, Cho Liu san berkata:
“Harap Kho sauhiap mau mengingat hubungan dimasa lalu dg
menyelamatkan ciangbunjin suhu dari sekapan pihak siau lim pay!”
Kho Beng menjadi rada serba salah menghadapi permohonan tsb.
Dg para jago dari seluruh dunia persilatan ia telah mengikat janji
setengah tahun, berarti dalam setengah tahun mendatang ia harus
berusaha mencari bukti dan fakta utk membuktikan kebenaran
pihaknya, disamping berusaha mencegah encinya melakukan
pembantaian lagi secara besar-besaran.
Tapi diantara dua persoalan tsb, belum satu pun diantaranya
mampu terlaksana, bahkan dg pihak perkampungan Ciu hong san
ceng pun sudah terlibat dlm hubungan yg serba runyam, mustahil
baginya utk memisahkan diri guna mencampuri masalah yg lain.
Oleh sebab itu setelah termenung beberapa saat lamanya, dia
pun berkata:
“Harap Cho toako pulang dulu kerumah, sebab siaute harus
menyelesaikan persoalan lebih dulu ditempat ini sebelum dapat

berangkat ke Siau lim pay, tapi kau tak usah kuatir, aku pasti akan
berusaha sekuat tenaga utk menyelamatkan Sun ciangbunjin dari
sekapan orang-orang Siau lim si!”
Sementara itu Molim telah menyuruh pelayan menyiapkan
hidangan, maka semua orang pun bersantap bersama.
Dg menahan rasa murung dan gelisah yg mencekam hatinya, Cho
Liu san mengisi perut kenyang-kenyang lebih dulu sebelum
berpamitan pulang keperguruannya.
Sepeninggal Cho Liu san, Kho Beng segera terjerumus kedalam
keadaan serba salah, sepanjang hari dia mengurung diri didalam
ruangan sambil memikirkan persoalan tsb sementara sepasang alis
matanya berkernyit terus.
Lambat laun hari pun semakin gelap, setelah meninggalkan pesan
kepada Molim sekalian, Kho Beng segera mengganti pakaiannya dg
baju ringkas, lalu dibawah lindungan kegelapan malam berangkatlah
dia menuju keatas bukit.
Ditengah kegelapan malam yg mencekam, sepanjang jalan ia tak
pernah menjumpai penghadangan ataupun cegatan hingga tak
selang berapa saat kemudian, anak muda tsb telah tiba diluar
perkampungan Ciu hong san ceng........
Tapi apa yg kemudian terlihat, seketika membuat pemuda tsb
menjadi tertegun.
Ternyata perkampungan tsb tercekam dalam kegelapan yg luar
biasa, tak setitik cahaya lampu pun yg menerangi tempat tsb.
“Jangan-jangan perkampungan ini sudah tanpa penghuninya?”
Kho Beng berpikir dg perasaan ragu-ragu.
Sementara dia masih terperangah, tiba-tiba tampak bayangan
hijau berkelebat lewat lalu tampak seorang nona berbaju hijau
melompat keluar dari balik perkampungan dan melayang turun
persis dihadapan anak muda tsb……….
Setelah memberi hormat, nona berbaju hijau itu berkata:
“Oooh, rupanya Kho sauhiap telah datang, sudah sejak tadi
cengcu kami menantikan kedatanganmu!”
“Apa yg terjadi dg perkampungan kalian? Mengapa seluruh
perkampungan tercekam dlm kegelapan?” tegur Kho Beng dg kening
berkerut.
Nona berbaju hijau itu segera tertawa.
“Perkampungan kami berada dalam keadaan aman, tak ada
kejadian apa pun yg menimpa kami. Cuma saja cengcu kami telah

menurunkan perintah melarang setiap orang menyulut lentera, itulah
sebabnya perkampungan kami tercekam dalam kegelapan total!”
“Ooooh, rupanya begitu…..” Kho Beng manggut-manggut.
Kemudian setelah memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu,
katanya lagi sambil tersenyum.
“Maksud kedatanganku kali ini bukan utk bertemu dg cengcu
kalian, tolong nona sudi melapor kedalam, suruhlah enciku saja yg
keluar utk bersua dg ku.”
“Bila kedatangan Kho sauhiap dimaksudkan utk bertemu dg
cicimu, mungkin kau merasa sangat menyesal!” kata nona berbaju
hijau itu sambil tertawa.
Kho Beng terkejut sekali, buru-buru ia bertanya:
“Kenapa?”
“Sebab encimu sudah meninggalkan perkampungan dan pergi
ketempat lain!”
“Tak mungkin, dia pergi kemana?” tanya sang pemuda semakin
tercengang lagi.
Sambil menarik muka nona berbaju hijau itu berkata:
“Aku toh tak perlu membohongimu, juga tak ada kepentingan utk
menipumu, paling tidak tak akan tahu kemana perginya encimu!”
“Kalau begitu segala persiapan yg diatur cengcu kalian masih
mempunyai rencana busuk lainnya?” jengek Kho Beng sambil
tertawa dingin.
Nona berbaju hijau itu segera tertawa terkekeh-kekeh:
“Bila Kho sauhiap ingin mengetahui duduk persoalan yg
sebenarnya, kenapa tak bersua dg cengcu kami serta menegurnya
secara langsung?”
Kho Beng mendengus.
“Bila ciciku benar-benar telah pergi dari sini, rasanya aku orang
she Kho tidak mempunyai kepentingan lagi utk bersua dg cengcu
kalian......”
Nona berbaju hijau itu segera memutar biji matanya yg jeli,
kemudian ejeknya setengah menghina:
“Ooooh, mengerti aku sekarang, rupanya Kho sauhiap takut
bertemu dg cengcu kami?”
“Aku orang she Kho tak pernah takut dg siapapun” seru Kho Beng
amat gusar.
“Baiklah, harap nona sebagai penunjuk jalan, sekarang juga aku
akan pergi menjumpai cengcu kalian!”

“Kalau memang begitu, silahkan Kho sauhiap mengikuti
dibelakangku......” kata si nona sambil tertawa hambar.
Begitu selesai berkata, ia segera menggerakkan tubuhnya dg
lincah seperti burung walet yg menembusi hutan, dlm waktu singkat
dia telah ebrada didalam perkampungan.
Kho Beng mendengus dingin, dia tak berayal lagi dan segera
menyusul dibelakang nona berbaju hijau itu, dg suatu gerakan
ringan dia melayang turun dibalik halaman perkampungan.
Nona berbaju hijau itu segera berpaling sambil tertawa, kemudian
meneruskan perjalanannya lagi dan langsung menuju kehalaman
belakang, dimana ia baru menghentikan gerakan tubuhnya setelah
tiba diatas sebuah bangunan loteng yg mungil.
Suasana dlm perkampungan itu tetap gelap gulita, tapi diatas
bangunan loteng itu justru memercik cahaya lentera, tapi sinar yg
begitu redup justru enambah suasana misterius da seram disekitar
sana.
Sambil mempersiapkan diri secara baik-baik, Kho Beng
memeriksa sekejap suasana diseputar bangunan loteng itu,
kemudian baru tegurnya dg suara dingin:
“Berada dimanakah cengcu sekarang?”
“Tempat ini adalah kamar tidur cengcu!” sahut nona itu sambil
tertawa misterius.
Tentu saja Kho Beng merasa terperanjat sekali, dg suara dalam
lagi berat hardiknya:
“Nona, mengapa kau mengajak aku datang kemari?”
“Bukankah Kho sauhiap bermaksud menjumpai cengcu kami?”
kata sinona sambil tertawa.
“benar, tapi kalau toh ingin bertemu semestinya pertemuan
diadakan diruang tamu atau tempat lain, masa kau mengajakku
mendatangi kamar tidurnya.....”
Kemudian setelah memutar biji matanya, kembali ia bertanya:
“Dimanakah orangnya sekarang?”
Belum selesai perkataan itu diucapkan, terdengar seseorang telah
menegur dari balik kamar dg suara yg genit:
“Sian kim, siapa yg datang?”
“Oooh, Kho sauhiap telah tiba!” buru-buru nona berbaju hijau itu
memberi laporan.
“Bagus sekali, silahkan dia masuk kedalam!”

Dibalik nada suaranya yg genit, lamat-lamat terdengar suara
sedih yg rendah dan berat hingga kedengarannya begitu memilukan
hati.
Kho Beng segera merasakan hatinya bergetar keras, utk sesaat
dia menjadi ragu-ragu utk melanjutkan langkahnya.
Sementara itu sian kim, sinona berbaju hijau itu telah berkata dg
suara rendah:
“Kho sauhiap, cengcu kami mengundangmu masuk kedalam,
maaf kalau budak tak dapat menemani lagi!”
Habis berkata, dia segera menjejakkan kakinya keatas tanah dan
sekejap mata kemudian bayangan tubuh sudah lenyap dari
pandangan mata.
Kho Beng yg tak berhasil menghalangi kepergiannya merasa
hatinya makin tak tentram, setelah termenung sesaat, akhirnya
pelan-pelan dia berjalan mendekati pintu ruangan.
“Cengcu, ada urusan apa kau mengutus orang mengundangku
kemari?” tegurnya lantang.
Orang yg berada dalam ruangan itu segera tertawa terkekehkekeh:
“Heeh...heeeh....heeeeh...kau memang lucu sekali, toh bukan aku
yg mengundang kehadiranmu utk kedua kalinya diperkampungan
Ciu Hong san ceng ini, kalau mau bilang sebetulnya sauhiaplah yg
datang mencari kami, bukan begitu?”
Meskipun hatinya amat gusar namun Kho Beng merasakan
mulutnya tersumbat dan tak sanggup mengucapkan sepatah
katapun.
Terdengar suara genit itu berkata lebih jauh:
“Tapi setelah Kho sauhiap berkunjung kemari, berarti kau adalah
tamu agung perkampungan ciu hong san ceng kami, sudah
sepantasnya bila kuberi pelayanan yg sebaik-baiknya kepadamu”
“Kalau memang begitu, silahkan nona tampil kedepan utk
bertemu.....”
“Apa salahnya kalau kau yg masuk kedalam ruangan dan duduk
disini.....?”
“antara lelaki dan perempuan ada batasannya, aku tidak berniat
memasuki kamar tidur perempuan lain ditengah malam buta begini!”
Perempuan yg berada dalam kamar itu segera tertawa cekikikan,
serunya geli:

“Buat muda mudi dunia persilatan, batasan seperti itu sudah tak
berlaku lagi, Kho sauhiap, apakah kau tidak merasa bahwa
pandangan semacam itu terlalu kolot?”
“Tapi...”
Tidak sampai Kho Beng sempat berbicara perempuan itu telah
berkata lebih jauh dg suara genit:
“Oooh, rupanya Kho sauhiap takut aku mempersiapkan jebakan
atau perangkap dalam ruangan ini sehingga kau tak berani
memasuki sarang naga gua harimau ini”
Kho Beng menjadi naik pitam, segera teriaknya:
“Biarpun aku tahu nona sedang menggunakan siasat memanasi
hatiku utk memancing aku masuk kedalam ruangan , tapi aku tetap
akan mencoba memasukinya.”
Sambil meraba gagang pedangnya, ia segera masuk kedalam
ruangan dg langkah lebar.
Tapi begitu melangkah masuk kedalam ruangan, kontan saja
paras mukanya berubah menjadi merah padam lantaran jengahnya.
Rupanya perlengkapan perabot yg ada dalam ruangan itu sangat
indah dan mewah, bau harum semerbak memenuhi setiap sudut
ruangan, dibalik pembaringan yg dilapisi kelambu tipis tampaklah
seorang perempuan yg sama sekali bugil sedang berbaring disitu.
Hanya saja suasana dalam ruangan remang-remang hingga utk
sesaat sukar bagi pemuda kita utk mengenali paras mukanya, tapi
dia tahu perempuan tsb adalah Li Sian soat, cengcu perkampungan
Ciu hong san ceng itu.
Agak tersipu-sipu dia segera menegur:
“Tolong tanya ciciku berada dimana?”
“Apakah benda itu sudah kau bawa kemari?” tanya perempuan
bugil itu serius.
“Benda apa?”
Perempuan itu segera tertawa terkekeh-kekeh, mendadak dia
membalikkan kepalanya.
Begitu sepasang mata salng bertemu, Kho Beng menjadi
terperanjat sekali, buru-buru tegurnya,
“Siapa kau?”
Ternyata wanita itu bukan Li Sian soat seperti apa yg diduganya
semula, melainkan seorang perempuan muda yg berparas amat
cantik jelita namun belum pernah dijumpai sebelumnya.
Tanpa terasa Kho Beng berpkir didalam hatinya:

“Tak heran kalau lgat suaranya terasa asing, kenapa tidak
kubayangkan sampai kesitu sejak tadi?”
Dalam pada itu siwanita muda yg cantik itu sudah berkata sambil
tertawa merangsang:
“Sesungguhnya akulah cengcu yg sebenarnya dari perkampungan
ini, Kho sauhiap mengapa kau tidak duduk dulu berbincangbincang?”
“Tapi .....mana nona Li Sian soat?” bentak Kho Beng.
“Aaaai...dia telah pergi!”
“Telah pergi...?” sekali lagi Kho Beng tertegun, tapi segera
tegurnya dg suara dalam, “dihadapan orang yg jujur janganlah
berbohong, sesungguhnya apa hubungan nona dg nona Li?”
“Kami adalah sobat karib!”
“Heeeeh.....heeeehh....heeehh...kalau begitu kaupun satu
komplotan dg dewi In nu?” seru sang pemuda sambil tertawa dingin.
Dg cepat perempuan muda cantik jelita itu menggelengkan
kepalanya berulang kali:
“Tidak, hubungan kami tidak terlalu akrab, apalagi kalau dibilang
sebagai komplotannya.”
Kembali Kho Beng tertawa dingin.
“Lantas mengapa kau bertanya kepadaku apakah benda tsb
sudah dibawa kemari!”
Sambil membenahi rambutnya yg kusut, pelan-pelan perempuan
cantik itu bangkit dan duduk ditepi pembaringan, katanya:
“Sebelum meninggalkan tempat ini, nona Li telah berpesan
kepadaku, katanya kau akan menghantar kitab pusaka Thian goan
bu boh kemari, oleh sebab itulah aku mengira kedatangan Kho
sauhiap ketempat ini adalah utk menyerahkan kitab pusaka tsb?”
“Hmmm berbicara pulang pergi, kalian tetap hanya mengincar
kedua lembar kitab tsb, sayang dalam hal ini terpaksa kalian mesti
menahan kecewa, sebab kedua lembar kitab tsb sesungguhnya
tidak berada disakuku!”
“Kalau memang tidak berada disaku Kho sauhiap, lantas berada
dimanakah benda itu?” tanya si perempuan cantik itu sambil tertawa
lagi.
“Aku telah membakarnya hingga hancur menjadi abu!”
Perempuan cantik itu nampak agak tertegun, kemudian serunya:
“Kalau begitu Kho sauhiap telah menguasai seluruh isi kitab
pusaka yg tercantum dalam kedua lembar kitab itu?”

“Yaa, memang begitulah keadaannya” sang pemuda
mengangguk.
Perempuan cantik itu segera tertawa terkekeh-kekeh:
“Kalau begitu asal kutahan dirimu disini, toh sama saja artinya!”
“Menahan aku…..?” Kho Beng segera tertawa terbahak-bahak,
“aku rasa kau tak akan mampu menahanku!”
“Kho sauhiap, lebih baik kau jangan sombong lebih dulu, coba
saksikan dulu benda apakah ini!”
Seraya berkata perempuan cantik itu segera mengambil sebuah
benda dari bawah pembaringannya dan dilemparkan kedepan.
Begitu menyaksikan benda tsb, Kho Beng segera merasakan
hatinya tercekat, tak tahan lagi jeritnya tertahan:
“Payung Thian lo san!”
“Yaa betul, memang payung Thian Lo san” ujar perempuan cantik
itu sambil tertawa, “apakah Kho sauhiap berharap bisa bertemu dg
pemilik payung ini?”
Rasa sedih dan gusar yg bercampur aduk dalam benak Kho Beng
membuat ia sangat gusar, dg mata melotot besar bentaknya keraskeras:
“Apa yg telah kau lakukan terhadap enciku?”
Perempuan cantik itu tertawa dingin:
“Asal Kho sauhiap bersedia utk tinggal disini, tentu saja akan
kuberitahukan soal tsb kepadamu?”
“Hmmm, bagaimana perhitungan siepoa mu itu!“ hardik Kho
Beng semakin sewot, “baiklah, biar kubekuk dirimu lebih dulu, aku
tak kuatir tak mampu membongkar semua rencana busuk kalian.”
“Criiingg…”
Pedangnya segera diloloskan dari sarung dan bersiap sedia
melancarkan serangan.
“Hey, mau apa kau?” teriak perempuan cantik itu agak gelisah.
“Bila kau tak bersedia menyerahkan diri dg begitu saja, jangan
salahkan bila pedangku tak mengenal perasaan!”
Begitu selesai berkata sebuah tusukan kilat langsung dilontarkan
kedepan mengancam tubuh telanjang perempuan tsb.
Si perempuan cantik itu menjerit kaget, tergopoh-gopoh dia
merentangkan payung Thian Lo san utk menyongsong datangnya
tusukan maut tsb.
Dg gerakan tsb maka tusukan pedang Kho Beng pun persis
menghajar diatas permukaan payung tsb, tapi payung itu betul-betul

kokoh dan ulet, seketika itu juga ujung pedangnya terpeleset dan
tergelincir kesamping.
Tapi pada saat itulah mendadak dari atas permukaan payung itu
menyembur keluar segumpal asap berwarna putih.
Kho Beng menjadi terperanjat sekali, sayang sebelum sempat ia
berbuat sesuatu, bau harum yg aneh tsb telah menerobos masuk
kedalam hidungnya.
Seketika itu juga dia merasakan kepalanya mata berat dan
pening sekali, hampir saja sia tak mampu berdiri tegak lagi.
Dalam terperanjat, buru-buru dia melompat kebelakang dan
berusaha melarikan diri keluar ruangan.
“hmmm, akan kulihat kau bisa kabur sampai dimana?” bentak
perempuan cantik itu sambil tertawa terkekeh-kekeh.
Setelah berhasil melompat keluar dari ruangan loteng itu, buruburu
Kho Beng menarik napas panjang sambil bersiap-siap
melompat utk kdua kalinya.
Namun sayang sepasang kakinya tahu-tahu jadi lemas dan tak
mau menuruti perintahnya lagi, ditambah pula kepalanya amat
pusing dan pandang matanya menjadi gelap.
“Blaaaammm…!”
Tak ampun lagi tubuhnya segera roboh terjengkang diatas tanah.
Perempuan cantik itu bersorak gembira, cepat-cepat dia
mengenakan pakaiannya kembal sambil melompat turun dari
pembaringan.
Lalu sambil mendekati Kho Beng, katanya dg bangga:
“Ciu hoa, Tang soat, Hee im sekalian, coba kau lihat, pekerjaan
yg tak mampu kalian lakukan, tohh akhirnya berhasil diselesaikan
olehku, Cun hong secara mudah. Peristiwa ini benar-benar
merupakan sebuah pahala besar!”
Tampak ia tersenyum simpul dg wajah berseri-seri, dg cepat
diambilnya sebuah gembrengan kecil dari sakunya dan dibunyikan
berulang-ulang.
“Traaang….traaang….traaang…”
Dg bergemanya suara gembrengan, cahaya lentera segera
memancar dari empat penjuru, suasana yg semula gelap gulita kini
berubah menjadi terang benderang.
Si dayang Sian kim yg munculkan diri paling dulu, ketika melihat
kejadian ini segera serunya sambil tertawa:
“Lengcu, kionghi atas keberhasilanmu!”

Sambil mengulapkan tangannya Cun hong Lengcu berkata:
“Cepat kirim dia kedalam kamarku, kemudian cepat kirim surat
melaporkan peristiwa ini kepada Saiancu!”
Buru-buru Sian kim mengiakan, sambil menyeret tubuh Kho Beng
ia berjalan menuju keruangan sebelah kiri.
Sementara itu Cun hong Lengcu segera berjalan menurun tangga
dan berangkat menuju kebangunan sebelah timur.
Tempat tsb merupakan sebuah bangunan loteng yg tidak kecil,
begitu Cun hong Lengcu munculkan diri, Li Sian soat segera
menyambut kedatangannya dan berseru sambil tertawa:
“cici, kionghi atas keberhasilanmu!”
Cun hong Lengcu tertawa cekikikan, tanyanya tiba-tiba:
“Dimanakah Kho Yang ciu sekarang?”
“Ia sudah menelan obat mabukku, sekarang masih tak sadarkan
diri…”
“Bagus sekali, jangan biarkan dia tahu akan peristiwa ini, cepat
kembalikan payung ini kedalam kamarnya.”
Setelah menerima payung thian lo san tsb, Li Sian soat kembali
bertanya:
“Apakah cici sudah menggelesahnya?”
“Belum, tapi menurut pengakuannya, kedua lembar kitab pusaka
thian goan bu boh tsb sudah tidak berada disakunya lagi.”
“Lantas berada dimana?” tanya Li Sian soat agak tertegun.
Dg kening berkerut, Cuh hong Lengc berkata:
“Konon ia sudah membakarnya sampai habis!”
“Waaah, bukankah usaha kita selama ini menjadi sia-sia belaka?
Bagaimana cara kita melaporkan peristiwa ini kepada Siancu?” teriak
Li Sian soat panik.
“Haaahh…haaaaahh…haaahh…apa susahnya dg masalah
semacam ini…” kata Cun hong Lengcu sambil tertawa bergelak.
Dg wajah angkuh sambungnya lebih jauh:
“Ia pernah mempelajari ilmu Thian goan singkang, berarti sudah
mengingat baik semua bagian dari keterangan yg tercantum dalam
dua lembar kertas tsb, asal dia masih berada dalam cengkeraman
kita, masa semua rahasia tsb tak akan dimuntahkan keluar sedikit
demi sedikit?”
“Cici, paling baik kalau kau lakukan penggeledahan dulu, sebab
aku dengar bocah keparat itu banyak tipu muslihatnya, kalau kita

sampai termakan oleh siasat busuknya hingga dipecundangi habishabisan,
waaaah…penasaran rasanya!”
“Benar!” Cun hong Lengcu segera manggut-manggut,”kalau
begitu biar kuperiksa dulu sakunya……”
Kemudian sambil melemparkan kerlingan genit kearah Li Sian
soat, katanya lagi sambil tertawa:
“Sebentar tak ada salahnya bila kau turut kesana, kita nikmati
bersama hasil tangkapan ini!”
“Ciiiisssss…..lebih baik cici menikmatinya seorang diri, aku mah
tak berani mengusiknya.”
Cun hong Lengcu tertawa, dia segera bangun berdiri dan berjalan
menuju kekamar tidurnya.
Udara malam amat cerah, bintang nampak bertaburan diangkasa,
dg pancaran nafsu birahi yg membara Cun hong Lengcu berjalan
kembali kekamar tidurnya.
Sepanjang jalan otaknya berputar terus mencari akal, dia ingin
mencari sebuah cara yg terbaik utk memancing Kho Beng agar
menyerah dibawah kakinya.
Dalam waktu singkat ia telah tiba didepan kamar tidurnya,
cahaya lentera nampak menyinari seluruh bangunan loteng tsb,
namun dayangnya Sian kim tidak kelihatan disitu.
Sambil mmeriksa sekeliling tempat itu, Cun hong Lengcu segera
berseru keras:
“Sian kim, Sian kim……”
Aneh, suasana disekitar bangunan loteng itu amat hening dan tak
kedengaran sedikit suara pun.
Cun hong Lengcu segera bergumam,
“Sialan amat budak itu, hmmm makin lama semakin kurang ajar
saja budak tsb.”
Sambil mengomel panjang pendek dia berjalan naik keatas
loteng.
Begitu masuk kedalam ruang tidurnya, ia saksikan seseorang
berbaring diatas pembaringannya, tapi berhubung kelambunya
diturunkan maka tak jelas paras muka orang tsb.
Tapi bagi Cun hong Lengcu, ia tahu siapa gerangan yg
dibaringkan disana, entah apa yg dibayangkannya tiba-tiba paras
mukanya berubah menjadi merah padam.
Mula-mula diambilnya obat penawar dari sakunya, kemudian baru
menyingkap kelambu dimuka pembaringan.

Tapi begitu kelambunya disingkap, paras mukanya segera
berubah hebat, tak kuasa dia menjerit kaget.....
Ternyata orang yg berbaring disana bukan Kho Beng seperti yg
diduganya semula, melainkan Sian kim dayang kepercayaannya.
Tampak dayang itu berbaring dg mata terpejam dan napas amat
teratur, kiranya dia sudah tertotok jalan darah tidurnya.
Tergopoh-gopoh Cun hong Lengcu menepuk bebas jalan
darahnya, lalu tegurnya dg gelisah:
“Mana orangnya?”
Sian kim menguap ngantuk, lalu bergumam:
“Heran, kenapa aku bisa tertidur? Hey Lengcu, siapa yg kau
tanyakan?”
“Budak sialan!” umpat Cun hong Lengcu sambil menghentakhentakkan
kakinya dg gemas, “siapa lagi yg kutanyakan, tentu saja
Kho Beng, mana orangnya sekarang?”
Sian kim menjerit kaget, cepat-cepat dia melompat bangun dari
atas pembaringan sambil jeritnya:
“Aduh celaka! Orangnya telah diculik seseorang........”
“Siapa yg menculiknya?” bentak Cun hong Lengcu gusar.
Dg wajah ingin menangis, Sian kim menjawab tergagap:
“Aku..........aku benar-benar tidak tahu?”
Cun hong Lengcu benar-benar sangat gusar, mendadak....
“Plaaak!”
Dia menampar wajah Sian kim keras-keras kemudian bentaknya:
“Budak busuk! Masa utk menjaga pun tak becus, sebetulnya apa
kegunaanmu? Hayo cepat katakan, apa yg sebenarnya yg telah
terjadi?”
Dg wajah hampir menangis Sian kim berkata:
“Waktu itu aku sudah membawa Kho sauhiap sampai didalam
kamar dan membaringkannya diatas ranjang, tiba-tiba kurasa ada
angin yg berhembus kencang dari luar jendela maka budak pun
pergi merapatkan daun jendela tsb.......mungkin........mungkin disaat
itulah budak kehilangan kesadaran!”
“Kau benar-benar gentong nasi yg tak berguna!“ umpat Cun hong
Lengcu sangat gusar, “ayoh cepat bunyikan tanda bahaya, ia sudah
terkena bubuk pemabukku, meski telah sadar daya kerja obat tsb
belum hilang. Dia tak mungkin bisa kabur terlalu jauh.”
Sian kim mengiakan berulang kali dan tergopoh-gopoh lari turun
dari atas loteng.

Tak lama kemudian suara gembrengan kembali dibunyikan
bertalu-talu diseluruh perkampungan, hanya saja nada suara
gemberengan tsb jauh berbeda dg suara pertama.
Begitu suara tsb bergema, suasana perkampungan menjadi
kalang kabut dan setiap orang dicekam perasaan gugup dan panik.
Ditengah bunyi suara gembrengan yg amat ramai inilah, tampak
bayangan manusia berkelebat kian kemari, suasana kelihatan sangat
kalut.
Apa yg diduga Cun hong Lengcu memang benar.
Waktu itu Kho Beng belum jauh meninggalkan perkampungan Ciu
hogn san ceng, dia masih berada didalam sebuah hutan hanya
berapa li dari perkampungan tsb.
Suasana dalam hutan itu gelap gulita, sementara dia berbaring
diatas tanah dg tenang, disampingnya duduk siwalet terbang Chin
sian kun.
Waktu itu si nona sedang meneteskan air dari kantung airnya
kedalam mulut Kho Beng.
Chin sian kun tdk mengetahui racun apakah yg telah mengeram
didalam badan Kho Beng, karenanya dia hanya bisa mencoba dg
menggunakan air segar.
Betul juga, tak lama kemudian Kho Beng menggerakkan
badannya dan lambat laun sadar kembali dari pingsannya.
“Kho sauhiap....kho sauhiap...” Chin sian kun memanggil dg suara
lirih.
Akhirnya Kho Beng membuka matanya kembali, ketika ia
merasakan seorang perempuan asing disampingnya, pemuda kita
kelihatan amat terperanjat dan segera melompat bangun.
“Siapa.....siapakah kau?” tegurnya terperanjat.
“Kho sauhiap, jangan gugup, aku yg berada disampingmu!”
cepat-cepat Chin sian kun berbisik.
Akhirnya Kho Beng dapat mengenali kembali siapa gerangan
nona tsb, dg perasaan terkejut bercampur girang segera serunya:
“Aaaaah...rupanya nona Chin....”
Kemudian setelah memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu,
katanya lagi agak kebingungan:
“Mengapa kau bisa berada disini?”
“Aku merasa kuatir sekali membiarkan kau mengembara seorang
diri, maka aku segera mencari tahu alamay yg kau tuju dari Bu wi

cianpwee, setelah itu aku pun cepat-cepat menyusulmu kebukit Cian
San, ternyata berhasil juga kutemukan dirimu.”
“Jadi nona yg telah menyelamatkan aku?” tanya Kho Beng dg
perasaan amat berterimakasih.
Chin sian kun tersenyum,
“Sungguh beruntung Cuh hong Lengcu segera meninggalkan
bangunan loteng tsb setelah membokongmu dg obat pemabuk,
mereka tak menyangka sama sekali kalau aku bersembunyi
dibelakang sana, itulah sebabnya dg mudah sekali aku berhasil
membawamu keluar dari sana.”
“Aaaai, aku benar-benar tak tahu bagaimana mesti membalas
budi kebaikan nona....”
Merah jengah selember wajah Chin sian kun, cepat-cepat dia
menukas
“Sebetulnya pekerjaan semacam ini sudah sepantasnya
kulakukan untukmu, buat apa mesti berterima kasih?”
“Bila aku bertemu lagi dg perempuan rendah tsb dikemudian hari,
pasti akan kupenggal batok kepalanya!” sumpah Kho Beng dg
perasaan amat mendendam.
Sementara pembicaraan masih berlangsung, tiba-tiba dari luar
hutan sana terdengar suara langkah kaki manusia yg ramai disusul
munculnya cahaya api secara lamat-lamat.
Dg cepat kedua orang muda mudi itu menahan nafas dan tidak
berbicara lagi.
Tak selang beberapa saat kemudian, suara langkah kaki manusia
itu sudah tiba ditepi hutan, lalu terdengar suara seorang lelaki
berkata:
“Li sam, coba kau lakukan pemeriksaan ketengah hutan sana, bila
ada seseorang yg mencurigakan, segera berilah kabar kepadaku, bila
tak ada yg mencurigakan, kita geledah lebih kedepan.”
Lelaki yg disebut Li sam itu segera mengiakan, dg tangan kiri
membawa obor dan tangan kanan membawa pedang yg disilangkan
didepan dada, selangkah demi selangkah dia berjalan memasuki
hutan tsb.
Pucat pias selembar wajah Chin sian kun setelah mendengar
perkataan itu, tapi Kho Beng sudah melompat bangun sambil
berbisik,
“Pancing saja mereka masuk kedalam, malam ini aku hendak
melakukan pembantaian secara besar-besaran!”

Tapi belum selesai perkataan tsb diucapkan, tiba-tiba saja paras
mukanya berubah hebat.
Rupanya disaat dia mencoba utk mengatur hawa murninya, dg
cepat diketahui bahwa peredaran darahnya tak mampu mengalir dg
lancar. Ini berarti dia tak mampu mengerahkan tenaga dalamnya
lagi.
Tak heran kalau pemuda tsb mejadi terperanjat setengah mati
hingga wajahnya berubah hebat
Chin sian kun yg mengawasi perubahan tsb menjadi agak
tertegun disamping keheranan, buru-buru tanyanya:
“Kho kongcu, mengapa......mengapa kau?”
“Aku sama sekali tak mampu menghimpun tenaga dalamku lagi!
peredaran darahku terasa agak tersumbat!“
Sementara itu lelaki yg bernama Li sam sudah melangkah
mendekati mereka berdua, ini berarti tiada waktu lagi buat mereka
utk berpikir panjang.
Buru-buru Chin sian kun menarik tangan Kho Beng dan diajak
bersembunyi dibalik sebatang pohon besar, lalu bisiknya lirih:
“Mari kubopong kau naik keatas“
Bersemu merah wajah Kho Beng mendengar bisikan itu,
sebaliknya Chin sian kun tertawa wajar, bahkan tak menanti Kho
Beng membuka suara lagi ia segera merangkul pinggangnya
kemudian melompat naik keatas batang pohon besar....
Tapi dg kejadian tsb, gerak gerik mereka segera menimbulkan
suara berisik.
Lelaki yg bernama Li sam itu segera membentak keras:
“Siapa yg berada didalam hutan?”
Diam-diam Chin sian kun berbisik kepada Kho Beng.
“Gelisah sangat tdk menguntungkan, sekarang kau duduk disini
dg tenang, biar kupancing mereka pergi dari sini!“
Dg perasaan sedih bercampur gusar Kho Beng manggutmanggut,
kini tenaga dalamnya telah punah, tentu saja dia tak
mampu berbuat banyak terhadap situasi didepan mata.
Setelah melemparkan sebuah kerlingan mesra kearah Kho Beng,
Chin Sian kun segera melayang turun keatas tanah, kemudian sambil
mengumpulkan hawa murninya dia meluncur keluar dari hutan tsb,
bahkan sewaktu bergerak keluar dia sengaja menimbulkan suara
berisik.
Li Sam segera berpekik panjang, lalu teriaknya keras-keras:

“Kalian cepat kemari! Didalam hutan benar-benar ada orang.“
Dg teriakan tsb, dari luar hutan pun segera terjadi suara sahutan
dan secara beruntun tampak bayangan manusia berkelebat lewat,
dalam waktu singkat delapan buah obor telah menyinari sekeliling
tempat Li Sam berdiri sekarang.
Belasan orang jago tsb dipimpin oleh seorang kakek berbaju
hijau, ia mempunyai wajah kuda yg berbentuk panjang.
Begitu tiba disamping Li Sam, segera tegurnya dg gelisah:
“Dimana orangnya?”
Sambil menunding kearah kiri sahut Li Sam:
“Agaknya ada orang melarikan diri kearah sebelah sana,
pemimpin aku rasa hutan ini mencurigakan sekali!”
“Lakukan pemeriksaan!” kakek berbaju hijau itu segera
menurunkan perintahnya.
Maka belasan orang jago pn memencarkan diri dalam formasi
kipas terbuka lalu pelan-pelan melakukan pencarian disekeliling
tempat itu.
Benar juga sepanjang jalan mereka mendengar ada suara
langkah manusia serta suara ranting yg disingkirkan orang.
Sambil menyeringai seram, kakek berbaju hijau itu segera
berkata:
“Kalau memang ada orang disini, berarti dia adalah bocah
keparat she Kho itu, menurut Cun hong Lengcu, daya kerja obat
dalam tubuhnya belum hilang karena itu tenaga dalamnya belum
pulih kembali, tak heran kalau langkah kakinya menimbulkan suara
berisik.”
Begitu mendengar perkataan tsb, belasan orang jago itupun
melakukan pengejaran dg lebih bernafsu lagi, sebab setiap orang
berharap bisa membuat jasa besar.
Mendadak.......
Dikejauhan sana terlihat ada sesosok bayangan hitam berkelebat
lewat, Li Sam segera membentak keras:
“aku lihat kau bisa kabur kemana?”
Dg cepat dia melejit kedepan lalu menerjang kearah bayangan
hitam tsb dg kecepatan tinggi.
Pada saat itulah bayangan manusia tadi sudah tiba ditepi hutan,
tiba-tiba saja orang itu menghentikan langkahnya.

Li Sam yg sudah menyusul sampai disitu tidak banyak berbicara
lagi, dg cepat tubuhnya melejit keudara sementara pedangnya
melancarkan sebuah tusukan kilat.
Ditengah deruan angin serangan yg amat tajam, sebuah tusukan
telah mengancam punggung bayangan hitam tsb.
Dg cekatan bayangan hitam tadi menghindarkan diri kesamping,
kemudian bentaknya keras-keras:
“Hey, kalian sudah edan semua.......“
Setelah melancarkan tusukan tsb, Li Sam baru merasakan kalau
gelagat tidak beres, tergopoh-gopoh dia menarik kembali
serangannya sambil mengawasi wajah orang itu dg seksama.
Tapi apa yg kemudian terlihat membuat hatinya semakin
terperanjat lagi buru-buru dia berbicara:
“Ooooh...rupanya nona Sian kim, mengapa kaupun berada
disini?“
Sambil menghentak-hentakkan kakinya dg gemas Sian kim
berseru:
“Aku sedang mencari bocah keparat she Kho itu, tak disangka
hampir saja mati diujung pedangmu, bunuh, mengapa sih kalian
tidak melacak jejak musuh sebaliknya malah menguntil
dibelakangku?“
Dalam pada itu si kakek berbaju hijau telah menyusul pula
sampai disitu dg segenap kekuatannya, melihat kejadian ini buruburu
dia menyapa:
“Nona Sian kim, mengapa kau pun sampai disini?“
Sambil menggertak gigi menahan diri jawab Sian kim.
“Lengcu menyuruh aku turut melacaki jejak bocah keparat itu,
tentu saja aku melaksanakan perintahnya, kalian tahu, barusan aku
telah berhasil menemukan bayangan tubuh orang she Kho itu, tapi
gara-gara ulah kalian, sekarang ia berhasil meloloskan diri kembali.“
“Dimanakah nona berhasil melihat jejak orang she Kho itu?“
buru-buru kakek berbaju hijau itu bertanya.
Sian kim segera menunding kedepan sana sambil berkata:
“Itu dia, disudut tebing sebelah selatan, waktu itu sebenarnya
aku sedang melakukan pengejaran kesitu, sungguh tak disangka
anak buahmu justru melancarkan sebuah tusukan kepunggungku
secara tiba-tiba.....untung saja tak sampai melukai tubuhku.....“
Kakek berbaju hijau itu tidak banyak berbicara lagi, buru-buru dia
mengibaskan ujung bajunya sambil membentak:

“Kita geledah kesana!“
“Betul!“ seru Sian kim sambil tertawa, kalian menggeledah kesisi
kiri, biar aku mencarinya dari sebelah kanan, dg begini banyak
orang, aku percaya sekalipun tumbuh sayappun jangan harap bisa
meloloskan diri dari sini!“
“„Baik, kita kerjakan secara demikian saja!“ kata kakek berbaju
hijau itu terburu-buru.
Kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun dia segera
melejit ketengah udara, dalam waktu singkat tubuhnya telah berada
sepuluh kaki lebih dari tempat semula.
Sian kim, si dayang berbaju hijau itupun bergerak menuju
kesebelah kanan utk melakukan pencarian, tapi belum sampai
berjalan sejauh sepuluh kaki, dia sudah belik kembali ketempat
semula, kemudian setelah memeriksa sekejap sekeliling tempat itu
dan yakin kalau disana tak ada orang, tergesa-gesa dia menerobos
masuk kedalam hutan.
Dg suatu gerakan yg cepat sekali, dia balik kepohon besar
dimana Kho Beng bersembunyi tadi, dari atas wajahnya dia
melepaskan selembar topeng kulit manusia dan dimasukkan kembali
ke sakunya.
Ternyata dayang Sian kim tak lain adalah hasil penyamaran dari
si walet terbang Chin sian kun.
“Kho Sauhiap...Kho sauhiap.....“ bisiknya pelan
Dari balik dedaunan yg rimbun tampak Kho Beng menongolkan
kepalanya sambil menyahut:
“Aku berada disini...!“
Chin Sian kun segera melompat naik keatas pohon , lalu katanya
dg pelan:
“Waaah...betul-betul sangat berbahaya!“
“Apakah mereka sudah pergi?“ tanya Kho Beng dg perasaan
sangat gelisah.
Chin Sian kun segera tertawa bangga, katanya :
“aku telah menipu kawanan bajingan itu sehingga mengambil
arah yg salah, mungkin mereka sudah berada berapa li dari sini
sekarang!“
“Dg cara apa nona berhasil memancing mereka menuju kearah
yg salah?“ tanya Kho Beng tak habis mengerti.
Chin Sian kun segera memperlihatkan topeng kulit manusia yg
berada ditangannya, dia berkata:

“Aku mengandalkan benda ini......eeei...bagaimana perasaanmu
sekarang, apakah rada mendingan?“
Kho Beng segera menghela napas panjang,
“Aaaai.....entah bahan obat pemabuk jenis apakah yg
dipergunakan perepuan siluman itu, hingga sekarang tenaga
dalamku masih belum bisa dihimpun kembali.”
Chin Sian kun berpkir sebentar, lalu ujarnya:
“Kita harus meninggalkan tempat ini lebih dulu baru
mengusahakan pengobatan atas lukamu itu, mari biar aku yg
menggendongmu!“
oooOOooo
Hampir semalam suntuk perkampungan Ciu hong san ceng
dilanda kekalutan dan keributan, namun usaha mereka sama sekali
tidak memberikan hasil apa-apa.
Namun keesokan harinya, tiba-tiba dikota kecil dikaki bukit Cian
san telah kedatangan serombongan manusia, mereka terdiri dari
kawanan jago lihay baik dari golongan putih maupun dari golongan
hitam.
Kemunculan mereka amat tiba-tiba tak jauh berbeda dg keadaan
sewaktu berada dilembah hati buddha tempo hari, entah siapa yg
menyiarkan berita tsb namun yg jelas sasaran mereka kali ini bukan
Kho Beng melainkan langsung menuju perkampungan ciu hong san
ceng diatas bukit cian san.
Sebagai pemimpin dari rombongan tsb adalah seorang kakek
berbaju hitam yg menyoren sepasang pedang dipunggungnya, orang
itu termasyur sekali namanya dikawasan Kanglam dan dikenal orang
sebagai Pedang emas berlengan baja To tin.
Dg gerakan yg amat cepat rombongan tsb langsung menyerbu
kedepan perkampungan Ciu hong san ceng, ternyata jagoan yg
terhimpun dalam rombogan ini mencapai lima puluhan orang.
Begitu sampai dimuka pint perkampungan, to tin segera
membentak dg suara keras:
“Apakah dalam perkampungan ada orang?“
Baru saja suara bentakan tsb bergema, pintu perkampungan
telah terbuka lebar-lebar, yg munculkan diri kemudian adalah kakek
berbaju ungu Ong Thian siang.

Ia kelihatan agak tertegun, lalu setelah memperhatikan sekejap
sekeliling tempat itu, tegurnya:
“Bolehkah aku bertanya, ada urusan apa kalian datang
keperkampungan kami?“
Dg suara berat dan dalam Pedang emas berlengan baja To tin
menjawab:
“aku To tin bersama rekan-rekan persilatan dari kawasan
Kanglam sengaja datang kemari karena mendengar diperkampungan
anda telah datang seorang tamu agung, apakah dia masih berada
disini?“
“Yaa betul, rupanya rekan-rekan sekalian datang mencari nona
Kho, bolehkah aku tahu ada urusan apa kalian mencarinya?“
To tin segera mendengus dingin.
“Cepat suruh dia keluar, katakan saja ada orang mencari
dirinya.!“
Ong Thian siang mengiakan dan buru-buru masuk kedalam
perkampungan.
Tak selang berapa saat kemudian, tampak tiga orang perempuan
berkerudung diiringi para dayang telah munculkan diri dari balik
gedung, orang pertama adalah seorang nona berbaju putih, tentu
saja dia adalah Kho Yang ciu, orang kedua menggunakan baju
berwarna hijau, dia adalah Hee im Lengcu Li Sian soat, sedangkan
orang ketiga mengenakan baju bewarna merah darah, dia adalah
Cun hong Lengcu, Jin cun.
Begitu mereka bertiga tiba didepan pintu perkampungan, Kho
Yang ciu lah yg kelihatan terkejut sekali.
Sebagaimana diketahui, perkampungan Ciu hong san ceng sama
sekali tak ada hubungan apa-apa dg dunia persilatan, tapi darimana
kawanan jago persilatan itu bisa tahu kalau dia berada disini?
Disamping itu selapis hawa membunuh pun telah muncul dalam
hati kecilnya, sudah lama ia tak pernah membunuh orang,
bagaimana mungkin dia akan menyia-nyiakan kesempatan baik yg
berada didepan mata sekarang?
Tatkala melihat munculnya tiga orang wanita muda dari balik
perkampungan, kawanan jago persilatan itu kelihatan sangat tegang
dan serius, hawa pembunuhan pun mulai menyelimuti seluruh area.
Dg suara lantang si Pedang emas To tin segera menegur keras:
“Siapakah si Kedele Maut?“
“Nonalah orangnya!“ jawab Kho yang ciu dingin.

“Rupanya kaulah putri Hui im cengcu yg menghebohkan dimasa
lalu, sibiang keladi yg menyebabkan timbulnya badai berdarah
didunia persilatan........hmmm, hari ini sengaja aku datang kemari
bersama rekan-rekan persilatan utk membuat perhitungan atas
kematian rekan-rekan kami........“
Kho Yang ciu segera tertawa terkekeh-kkeh, setelah mendengar
perkataan itu, jengeknya:
“Heeehh....heeehh....heehh...kalian anggap kemampuan yg kamu
semua miliki sudah cukup utk berbuat sesuka hati,
hmmm....memangnya tujuh puluh lembar nyawa yg tewas
diperkampungan Hui im ceng tidak pantas utk dituntut balas?“
“Hmmm, aku tahu percuma saja banyak berbicara dg perempuan
gila macam dirimu itu” tukas To tin gusar, “rekan-rekan semua, hari
ini kita tak boleh membiarkan siluman perempuan siluman itu
meloloskan diri lagi dari cengkraman kita“
Seruan tsb segera disambut penuh antusias oleh kawanan jago
silat lainnya, dalam waktu singkat mereka telah bersiap sedia utk
melancarkan serangan.
Cun hong Lengcu yg menyaksikan kejadian ini buru-buru
mengulapkan tangannya, seraya berkata:
“eeeei....tunggu dulu, tunggu dulu.........“
“Siapa anda?“ To tin segera membentak.
Sambil tertawa merdu jawab Cun hong Lengcu:
“Kami kakak beradik adalah pemilik perkampungan Ciu hong san
ceng ini, ketahuilah perkampungan kami tak pernah mempunyai
ikatan dg dunia luar, hubungan dg dunia persilatan pun tak ada,
kenyataan kalian datang mencari gara-gara, apakah tindakan ini
tidak merupakan suatu perbuatan yg kelewat batas ? “
“Jadi nona bermaksud akan melindungi siluman perempuan ini? “
seru To tin dg suara dingin.
Kembali Cun hong Lengcu tertawa:
“Nenek moyang kami telah membuat suatu peraturan utk
perguruan kami, yakni tidak boleh mencampuri urusan dunia
persilatan, oleh sebab itu aku ingin bertanya kepada kalian, apakah
kami pun akan dihitung menjadi satu? “
To tin tidak langsung menjawab, diam-diam pikirnya:
“Perempuan ini adalah anak murid dari tokoh sakti dunia
persilatan, kepandaian silatnya tak boleh dipandang enteng, apalagi
tujuanku yg utama adalah mlenyapkan perempuan siluman tsb dari

muka bumi, kalau bisa mengurangi dua orang musuh tangguh jelas
hal tsb makin menguntungkan bagi posisiku. “
“Berpikir demikian, buru-buru ia berkata:
Kalau toh pihak perkampungan kalian punya peraturan yg
melarang anggotanya mencampuri urusan dunia persilatan, sudah
barang tentu kamipun tak akan mengusik ketenangan kalian, asal
nona sekalian bersedia menyingkir dari sini dan tidak mencampuri
urusan kami, aku beserta rekan-rekan persilatan lainnya pasti tak
akan mengganggu seujung rambutpun dari perkampungan anda.“
Cun hong Lengcu manggut-manggut, katanya lagi:
“Walaupun perkataan anda memang sangat tepat, namun kami
dua bersaudarapun tetap merasa serba salah.“
“Apa yg menyebabkan kalian serba salah ? “
“Nona Kho adalah sahabat karib kami dua bersaudara, andaikata
kejadian ini berlangsung ditempat lain, tentu saja kami dua
bersaudara dapat berlagak seolah-olah tidak melihat serta tidak
mencampurinya, tapi hari ini.........kalian justru telah datang kemari
utk mencari gara-gara, bagaimanapun jua kami sebagai tuan rumah
toh tak bisa berpeluk tangan belaka, sebab tindakan seperti ini jelas
tidak mencerminkan kesetiakawanan, sebaliknya bila ingin
membantu, kamipun kuatir akan melanggar peraturan leluhur kami,
nah, coba dibayangkan apakah posisi kami saat ini tidak serba
berabe......“
“Cici berdua tak usah kuatir“ cepat-cepat Kho yang ciu berseru,
asal cici berdua mau membantu siaumoy dg berjaga-jaga ditepi
arena, hal tsb sudah lebih dari cukup untukku, apalagi jumlah
manusia seperti ini belum sampai merisaukan hatiku, silahkan cici
berdua berpeluk tangan saja“
Cun hong Lengcu pura-pura menghela napas sedih, lalu katanya:
“Yaa, kalau begitu maafkanlah kami, tapi kami berjanji tak akan
membiarkan adik menderita kerugian ditangan mereka!“
To tin yg mendengar perkataan itu menjadi tertegun, lalu
serunya sambil mendengus:
“Nona, apa maksud perkataanmu itu?“
Cun hong Lengcu tertawa terkekeh-kekeh,
“Kalian berjumlah begitu banyak, padahal lawan yg hendak kalian
hadapi hanya seorang perempuan lemah, sesungguhnya kami
merasa amat tak puas dg tindakan kalian itu!“

“Kalau begitu kalian telah berubah pikiran?“ jengek To tin sambil
tertawa dingin.
“Bukan begitu maksud kami, asal kalian bersedia mengikuti
peraturan dunia persilatan dg pertarungan satu lawan satu, tentu
saja kami akan berpeluk tangan saja, kalau tidak, terpaksa kami
akan mengundang adik keluarga Kho untuk memasuki
perkampungan kami.“
“Apakah kami tak sanggup menyerbu kedalam perkampungan
kalian?“ seru To tin penasaran.
Sambil tertawa Hee im Lengcu Li Sian soat menyela:
“Bila kalian berani menyerbu kedalam perkampungan, urusan
menjadi lebih mudah utk diselesaikan, sebab kami pun tak usah
kuatir akan melanggar peraturan leluhur kami lagi!“
To tin segera tertawa seram.
Jilid 24
“Heeehh…heeehh…heeeehhh…sudah seumur hidup kami
mengembara didalam dunia persilatan, namun belum pernah
mendengar nama perkampungan Ciu hong san ceng kalian. Hmmm!
Kendatipun tempat ini sarang naga gua harimau, aku tetap akan
mencoba menyerbunya………….”
“Aku tidak berharap kalian mencoba perbuatan sebodoh itu” ujar
Cun hong Lengcu pelan “sebab aku kuatir tanah kami yang bersih
segera akan dinodai oleh percikan darah, tapi bila anda kelewat
memandang enteng kekuatan perkampungan kami, jelas perbuatan
tersebut merupakan perbuatan orang buta.”
Begitu selesai berkata, tiba-tiba dia mengibaskan ujung bajunya.
Dari balik dinding pekarangan segera bermunculan empat
puluhan orang jago, separuhnya adalah nona muda bergaun hijau
dan separuhnya lagi adalah kakek berpakaian ringkas.
Terdengar Cun hong Lengcu membentak lagi:
“Cin bu wi, coba demontrasikan kepandaianmu dihadapan
mereka!”
Seorang kakek berbaju hijau yang berada diatas dinding
pekarangan segera menyahut,
“akan kami laksanakan perintah nona!”
“Sreeeeet.............!“

Tampak kakek itu meloloskan sepasang pedang yang tersoren
dipunggungnya, lalu sambil membentak keras sepasang tangannya
diayunkan bersama kedepan.
Tampaklah kedua belah pedang tersebut berubah menjadi dua
jalur cahaya putih yang secepat sambaran petir meluncur kearah
dua batang pohon besar yang tumbuh lima kaki dari tempatnya
berada.
“Duuukkk!Duuuukkk...!“
Diiringi suara bentakan nyaring, mata pedang tahu-tahu sudah
menembusi batang pohon tersebut hingga tinggal gagang
pedangnya saja yang masih menongol diluar.
Untuk menembusi batang pohon dengan dua bilah pedang
sekaligus, paling tidak seseorang harus memiliki dasar tenaga dalam
sebesar enam puluh tahun hasil latihan, tak heran kalau kawanan
jago tersebut menjadi terperanjat dan berubah paras mukanya.
Si pedang emas berlengan baja termasyur dalam dunia persilatan
karena mengandalkan ilmu pedangnya, berarti kepandaiannya dalam
ilmu pedang terhitung cukup tangguh namun dihati kecilnya ia
mengerti bahwa kepandaian silat yang dimiliki anak buah dari
perkampungan Ciu hong san ceng tersebut jauh lebih tangguh dari
kemampuannya.
Mimpi pun dia tak mengira kalau perkampungan Ciu hong san
ceng yang belum pernah terdengar namanya dalam dunia persilatan
ini ternyata memiliki sekawanan jago yang berilmu sangat hebat,
peristiwa ini benar-benar berada diluar dugaannya, bila orang-orang
itu sampai bersekongkol dengan Kedele Maut, bukankah..........
Membayangkan kesemuanya itu diam-diam ia menjadi gelisah,
mendadak timbul sebuah akal dalam benaknya.
Padahal jalan pemikiran tersebut pun merupakan suatu tindakan
apa boleh buat, sebab ia berpendapat walaupun mereka turun
tangan seorang melawan seorang pun asal pihak perkampungan Ciu
hong san ceng tidak ikut campur dalam peristiwa ini, dengan sistem
pertarungan roda berputar, niscaya kekuatan tubuh yang dimiliki
Kedele Maut tersebut lambat laun akan terkuras habis, akhirnya
tidak akan sulit bagi mereka untuk menangkap hidup-hidup.
Berpendapat demikian, pikiran dan perasaan hatinya pun jauh
lebih terbuka, maka sambil tertawa terbahak-bahak katanya:
“Haaaahh......haaaahh......haaaah....sungguh tak kusangka
perkampungan kalian adalah sebuah sarang naga gua harimau, tapi

kalian tak perlu kuatir, aku telah mengambil keputusan untuk
bertindak sesuai dengan peraturan dunia persilatan, tapi dapatkah
pihak kalian memberi jaminan kalau orang-orangmu tak akan
mencampuri urusan ini?“
Cun hong Lengcu segera tertawa:
“Sekali perkataan kami telah diucapkan, biar ada seribu ekor
kuda pun tak akan sanggup utk menariknya kembali.“
“Bagus sekali, kami semua akan mundur sejauh sepuluh kaki
sebagai tanda hormat kami terhadap perkampungan kalian!“
Selesai berkata ia segera mengulapkan tangannya kearah para
jago, kemudian bergerak mundur sejauh sepuluh kaki lebih dulu.
Ketika dilihatnya kawanan jago lainnya masih nampak sangsi
untuk mengikuti petunjuknya, dengan ilmu menyampaikan suara
buru-buru To tin berkata:
“Dengan berbuat demikianlah kita baru bisa memotong jalan
mundur siluman perempuan itu, disaat pertarungan sudah berkobar
nanti, kita gencet kemuka dari dua sudut yang berlawanan,
kemudian hadapi di dengan sistem roda berputar, aku yakin siluman
perempuan itu tentu akan kehabisan tenaga dan akhirnya dapat kita
bekuk hidup-hidup!“
Setelah mendengar bisikan tersebut, kawanan jago tersebut baru
mengerti apa gerangan yang terjadi, tanpa terasa semangat mereka
makin berkobar.........
Sementara itu Cun hong Lengcu yang menyaksikan kawanan jago
tersebut sudah terpengaruh oleh hasutannya, diam-diam tertawa
geli.
Padahal kalau berbicara sejujurnya, andaikata bukan pihak
perkampungan Cui hong san ceng yang sengaja membocorkan
rahasia Kho Yang ciu ke tempat luaran, darimana kawanan jago
persilatan itu bisa mendapat kabar dan berbondong-bondong datang
kesana?
Dan sekarang mereka tidak menunjukkan reaksi apapun, kedua
belah pihak pun sama-sama tidak dibelanya, padahal yang mereka
harapkan justru adalah menonton dua harimau berkelahi sementara
mereka akan menjadi nelayan beruntung yang tinggal memungut
hasilnya.
Betapa tidak? Siapa saja yang kalah, sudah jelas memberikan
keuntungan bagi pihaknya.

Sementara itu Cun hong Lengcu telah berjalan mendekati Kho
Yan ciu, lalu katanya:
“Adik Kho, hanya sampai disini saja yang bisa kami perbuat
untukmu............maafkan kami!“
Waktu itu, bukan saja Kho Yang ciu tidak memahami rencana
busuk dari rekan-rekannya, malah sebaliknya dia merasa terharu dan
berterima kasih sekali, segera jawabnya:
“Cici berdua, apa yang bisa kalian lakukan demi diriku sudah lebih
dari cukup untukku, terima kasih banyak atas bantuan
kalian..............“
Li sian soat yang turut menghampirinya, segera berkata dengan
suara rendah:
“Adikku, kau harus berhati-hati, andaikata kau tak sanggup untuk
menahan diri lagi, cepatlah balik badan dan kabur kemari!“
Sambil tertawa Kho Yang ciu manggut-manggut:
“Tak usah kuatir, sebodoh-bodohku, rasanya tak akan segoblok
seperti apa kalian katakan, harap cici berdua legakan hati!“
Selesai berkata dia segera mempersiapkan sejata payung Thian lo
san nya kemudian berkelebat maju sejauh sepuluh kaki lebih dari
posisi semula, begitu sampai ditengah arena, ia segera menegur
sambil tertawa dingin:
“Heeehh....heehhh....siapakah diantara kalian yang hendak
memberi petunjuk lebih dulu.........?“
Seorang lelaki bercambang yang membawa sebuah golok besar
segera tampil kedepan, sahutnya dengan lantang:
“Aku si Golok setan bercambang baja ingin mencoba
kemampuanmu........“
“Oooh.......rupanya Sun tongkeh yang ingin mencoba sebutir
Kedele Maut ku.........bagus sekali, kau boleh pilih sendiri, ingin
mencari kemenangan dengan mengandalkan tenaga dalam ataukah
mencoba kedele maut ku saja?“
Begitu mendengar nama “Kedele” si Golok Setan Bercambang
Baaja Sun Pah, segera merasakan hatinya bergidik dan peluh dingin
jatuh bercucuran membasahi tubuhnya.
Namun ia tak mau unjuk kelemahannya dihadapan umum,
dengan suara menggeledek segera teriaknya:
“Hanya enghiong hohan yang mencari kemenangan dengan
mengandalkan kepandaian silatnya yang sejati!”

“Baik!” seru Kho Yang ciu sambil tertawa dingin, “kalau toh kau
sudah memilih jalan kematian sendiri, silahkan saja untuk maju
kesini!”
Golok Setan bercambang baja segera membentak keras,
goloknya dengan membawa deruan angin serangan yang maha
dahsyat segera menyapu ke muka.
Cahaya goloknya yang melingkar diangkasa segera membiaskan
sinar yang amat menyilaukanmata, diiringi desingan angin tajam
serangan tersebut langsung membacok kebadan Kho Yang ciu.
Melihat datangnya serangan tersebut, Kho Yang ciu tertawa lirih,
dengan gerakan seenak hatinya sendiri, dia memutar payung thian
lo san nya kebawah, kemudian menyongsong datangnya serangan
bacokan itu.
Buru-buru si Golok Setan bercambang baja menarik kembali
serangannya sambil berganti jurus, lagi-lagi dia membabat pinggang
lawannya.
Siapa sangka gerakan Kho Yang ciu kali ini masih setingkat lebih
cepat daripada serangannya, belum sempat golok tersebut
menyambar pinggang lawan, tahu-tahu senjata payung Thian lo san
gadis tersebut sudah menembusi dadanya.
Jeritan yang memilukan hati segera bergema memecah
keheningan, semburan darah segar membasahi seluruh dada dan
tubuh Golk Setan bercambang baja, Sun Pah.
Setelah mundur belasan langkah kebelakang dengan
sempoyongan, akhirnya ia roboh terjengkang ke atas tanah dan
tewas seketika itu juga.
Belum sampai satu gebrakan, dari pihak kawanan jago persilatan
sudah kehilangan seorang jago lihaynya, peristiwa ini tentu saja
amat menggusarkan hati To tin.
Dengan wajah hijau membesi, buru-buru serunya kepada
kawanan jago dengan ilmu menyampaikan suara:
“Cepat kalian terjun kearah musuh secara bergiliran, bila tak
sanggup menahan serangan siluman perempuan itu, gunakan suara
pekikan sebagai tanda, kami segera akan mengirim jago lain untuk
menggantikan kedudukan kalian.”
Dalam pada itu, Kho Yang ciu merasakan semangatnya berkobar
setelah dalam satu gebrakan berhasil meraih kemenangan, dengan
suara lantang segera teriaknya:

“Apakah masih ada diantara kalian yang ingin memberi
petunjuk?”
Sesosok bayangan manusia segera melompat keluar dari
kerumunan para jago, sambil melayang turun ditengah arena,
teriaknya keras-keras:
“Biar aku yang mencoba kepandaian sakti dari ilmu payung Thian
lo san!”
Ketika bayangan manusia itu sudah berdiri tegak, terlihatlah dia
adalah seorang pemuda yang berusia dua puluh lima tahunan,
wajahnya kelihatan cukup tampan.
Dengan suara dingin Kho Yang ciu segera menegur:
“Boleh aku tahu siapa namamu?”
“Aku Ki Liu si!”
Kho Yang ciu berpikir sebentar, katanya kemudian,
“Aku rasa dalam daftar hitamku tidak tercantum nama tersebut,
kuanjurkan kepadamu lebih baik mengundurkan diri saja secara
teratur, daripada akhirnya mati secara mengenaskan ! ”
Mendengar perkataan tersebut, Ki Liu si tertawa terbahak-bahak :
“Haaaahhh….haaaahhh……..haaahh……..bukankah sepasang
tangan nnona sudah penuh berlepotan darah ? mengapa secara
tiba-tiba kau menunjukkan belas kasihan ? sungguh suatu kejadian
yang aneh ”
Kho Yang ciu mendengus dingin :
“Hmmm….walaupun sudah banyak manusia yang kubunuh,
namun belum pernah kubunuh manusia yang tak berdosa ! ”
“Haaaahhh……..haaaahhh…….haaahhh……….kalau begitu anggap
saja aku sendiri yang mencari mati ! ”
Begitu selesai berkata, pedangnya langsung diayunkan kedepan
menyerang dada Kho Yang ciu.
“Kurang ajar ! ” seru Kho Yang ciu amat marah, “kalau toh pingin
mampus, jangan salahkan bila nonamu berhati kejam ! ”
Sambil memutar senjata payung thian lo san nya, dia sambut
kedatangan lawan.
“Criiiiingggg……… ! ”
Tatkala senjata payung Thian lo san dan pedang itu saling
bertemu satu sama lainya, segera terjadilah suara benturan keras
yang menyebabkan terjadinya percikan bunga api.

Sambil miringkan badan Ki Liu si segera mundur setengah
langkah kebelakang, ia merasakan pergelangan tangannya
kesemutan.
Sebaliknya sepasang bahu Kho Yang ciu pun nampak bergoncang
keras, tak tahan lagi serunya :
“Wah hebat juga tenaga dalammu ! ”
Rasakan dulu sebuah tusukanku ini…. ! ” teriak Ki Liu si lagi
dengan seuara keras.
Pedangnya segera diputar membentuk tiga kuntum bunga
pedang, lalu dalam komposisi segi tiga, ia langsung menyergap
kemuka dengan sangat hebatnya.
Paras muka Kho Yang ciu waktu itu sudah berubah menjadi
dingin bagaikan es, tiba-tiba saja senjata payung Thian lo san nya
dipergunakan bagaikan senjata pedang dengan jurus ”Cahaya tajam
lintasan bayangan”, dia sapu tubuh lawan dari sisi kiri langsung
mengancam lengan kanan Ki Liu si.
Walaupun Ki liu si sendiripun dapat merasakan betapa lihainya
jurus serangan tersebut, sayang sekali keadaan sudah terlambat,
sebab jurus serangan dari Kho Yang ciu memang kelewat aneh dan
sakti.
Ki Liu si sudah tak sempat lagi menarik serangannya sambil
menanggapi ancaman yang datang, tak ampun seperti nasib yang
dialami si Golok setan bercambang baja, terdengar suara sambaran
serangan jurus dari Kho Yang ciu yang sangat aneh dan sakti itu , Ki
Liu si dengan tiba-tiba menjejakkan kakinya, lalu mengundurkan diri
dari serangan Kho Yang ciu yang sangat hebat itu.
Tak lama kemudian Kho Yang ciu menyerang jago kedua dari
kawanan orang jago dunia persilatan itu dengan menggunakan jurus
“Cahaya tajam lintasan bayangan” dia sapu tubuh musuhnya
tersebut.
Dengan tidak dapat menahan serangan dari Kho Yang ciu itu,
maka Ki Liu si, jago kedua itu menggeletak dengan badan yang
bermandikan darah.
Dengan kematian dua orang jago pedang secara beruntun,
kawanan jago dari dunia persilatan mulai dibikin keder dan bergidik.
Kho Yang ciu memperhatikan sekejap sekeliling arena, lalu sambil
tertawa dingin serunya:
“Heeehhh……heeeehhh……….heeeehhh…..orang she To, kau tak
usah menyuruh orang lain datang menghantar kematian lagi, kali ini

nonamu ingin sekali mencoba kehebatan sepasang pedang
berlengan baja mu, beranikah kau menerima tantangan ini?”
Si pedang emas berlengan baja To tin segera merasakan hatinya
bergetar keras sesudah mendengar seruan tersebut.
Ia sama sekali tidak menyangka kalau Kho Yang ciu bakal
menantangnya secara terang-terangan, hal inilah yang membuat
hatinya terperanjat sekali.
Sebagai pimpinan dari rombongan para jago dunia persilatan,
sudah barang tentu dia tak ingin menunjukkan kelemahan sendiri
dihadapan umum, karenanya sambil sengaja tertawa tergelak,
katanya kemudian:
“Haaah…haaahh…..haaaahhh….bagus sekali, aku memang ingin
mencoba sampai dimanakah kelihaian serta keampuhan ilmu payung
Thian lo san mu itu, meski nona tidak menantangku untuk
bertarung, sudah sejak tadi tanganku terasa gatal untuk mencoba
keampuhanmu.”
Dengan suatu gerakan yang sangat ringan, dia melejit keudara
dan melayang turun beberapa kaki dihadapan Kho Yang ciu, dan
pada saat bersamaan dia meloloskan sepasang pedangnya yang
berkilauan tajam ditangan, diapun membentak keras:
“Nah, silahkan nona memberi petunjuk!”
Kho Yang ciu tertawa dingin, katanya :
“Kau sendiri kelewat tinggi menilai kemampuanmu sendiri,
hmmmm! Bagiku, bertarung melawan manusia macam kau tak perlu
berebut melancarkan serangan, kalau bukan demikian, kemana
mesti kutaruh selembar wajahku ini dalam pengembaraanku dalam
dunia persilatan?”
“Kau betul-betul kelewat sombong!” teriak To tin dengan
perasaan amat mendongkol.
Sepasang pedangnya segera diputar menciptakan selapis cahaya
pedang yang amat menyilaukan mata, lalu dengan jurus “Sepasang
naga berebut mutiara” dia langsung menyerang tubuh gadis
tersebut.
Kho Yang ciu tertawa dingin, payung Thian lo san nya
dipentangkan lebar-lebar, dalam waktu singkat kawasan seluas
berapa kaki sudah diliputi cahaya keperak-perakan yang
menyilaukan mata, seluruh serangan gencar dari To tin seketika
terbendung sama sekali.

To tin yang melancarkan tusukan dengan sepasang pedangnya
segera merasakan serangan tersebut seakan-akan sudah membentur
diatas sebuah dinding baja yang sangat kuat, pergelangan
tangannya menjadi tergetar, sampai lamat-lamat terasa sakit dan
kesemutan, hampir saja pedangnya terlepas dari cekalan tangannya.
Sementara itu Kho Yang ciu telah memutar kembali senjata
payung Thian lo san nya sambil tertawa terkekeh-kekeh, jengeknya :
“Heeeeeehh……heeeeeeeehhh……heeeehhh…..dengan
mengandalkan sedikit kepandaian seperti ini pun kau mencoba untuk
memimpin umat persilatan? Huuuh……….masih ketinggalan jauh!”
Merah padam selembar wajah To tin karena jengah, sambil
menggertak gigi menahan gejolak emosi, teriaknya keras-keras:
“Hey perempuan siluman! Kau jangan tekebur dulu, rasakan
sebuah tusukan pedangku ini!”
Sambil mendesak maju kemuka, sepasang pedangnya
melancarkan tusukan mendatar ke tubuh lawan.
Kho Yang ciu menggunakan payungnya menggantikan pedang,
dengan jurus “Malaikat langit menyembahkan hidangan”, terlihat
sinar keperak-perakan menyebar keudara dan mengurung diatas
cahaya pedang dari si Pedang emas berlengan baja To tin serta
menyumbat gerakannya sama sekali.
Sebagai seorang jagoan yang termasyur didalam dunia persilatan
karena permainan ilmu pedangnya, tentu saja si Pedang Emas
berlengan baja dapat melihat pula bahwa jurus serangan yang
digunakan Kho Yang ciu adalah jurus pedang.
Kendatipun demikian, teryata ia tak mampu untuk meraba jurus
serangan macam apakah yang telah dipakai lawannya untuk
menciptakan lapisan cahaya perak yang begitu menyilaukan mata
serta menyumbat seluruh gerak serangannya itu.
Dalam terkejut dan gugupnya, buru-buru dia mengeluarkan jurus
“Rombongan burung terbang melintas”, maksudnya dia hendak
melindungi keselamatan tubuh sendiri dengan lapisan cahaya
pedangnya yang tebal.
Tapi sayang, jurus pedang dari Kho Yang ciu itu justru memiliki
keistimewaan lain,
“Criiiiingggggg………!”
Terdengar suara dentingan nyaring bergema memecahkan
keheningan, ternyata pedang emas ditangan To tin telah saling
beradu keras dengan payung Thian lo san dari Kho Yang ciu.

Tak ampun lagi To tin merasakan lengan kanannya sakit sekali
bagaikan patah, bersamaan waktunya pedang emas dalam
cekalannya tak sanggup dipertahankan lebih jauh dan segera
melesat ketengah udara lalu jatuh dua kaki dari posisi semula.
Dalam terkejutnya, buru-buru dia memutar pedang kirinya untuk
melindungi badan, sementara tubuhnya bergerak mundur dengan
cepat untuk menyelamatkan diri.
Tentu saja Kho Yang ciu tidak memberikan kesempatan kepada
lawannya untuk melarikan diri dari cengkeramannya, sekali lagi
terjadi suara dentingan nyaring yang amat memekakkan telinga.
“Criiiiiiiingggg……….!”
Lagi-lagi Thian lo san nya menghajar pedang kiri To tin hingga
mencelat dari cekalannya.
Dengan kehilangan sepasang pedangnya, maka pertahanan dada
To tin pun menjadi terbuka sama sekali, dengan cepat payung Thian
lo san menerobos masuk kedalam dan menguasai beberapa buah
jalan darahnya.
Perubahan situasi ini berlangsung amat cepat, meski diantara
kelima puluh jago persilatan yang berada disisi arena ada yang
berniat terjun untuk menggantikan kedudukan To tin, namun tak
seorangpun diantara mereka yang sempat berbuat demikian.
Dalam waktu singkat, tubuh To tin sudah terkurung dibawah
ujung payung Thian lo san dari Kho Yang ciu itu.
Betapa pun lihai dan ampuhnya kepandaian silat yang dimiliki
pemimpin dunia persilatan untuk kawasan Kanglam ini, bukti
mengatakan bahwa dia sendiripun hanya mampu bertahan sebanyak
dua jurus saja.
Sambil tertawa dingin Kho Yang ciu segera berkata:
“Hey orang she To! Kau sudah menyerah, bukan?”
To tin memejamkan matanya rapat-rapat, sambil menggertak gigi
serunya lantang:
“Kau boleh segera turun tangan!”
Kho Yang ciu tertawa hambar, dia tak langsung turun tangan,
tapi ujarnya pelan:
“Berhubung kau adalah pemimpin dari rombongan tersebut,
maka aku belum turun tangan, ada beberapa pertanyaan yang ingin
kuajukan kepadamu lebih dulu.”

“Tanyakan saja!” ucap To tin sambil membuka matanya kembali,
“asal dapat kujawab tentu akan kujawab secara baik-baik, tapi bila
tak bisa kujawab, sekalipun kau tanyakan juga tak berguna.”
Kho Yang ciu memutar biji matanya sambil mengawasi wajah
orang itu sekejap, setelah itu tanyanya:
“Dalam peristiwa berdarah diperkampungan Hui im ceng tempo
dulu, apakah kau pun ikut ambil bagian?”
“Bukankah kau sudah mempunyai sebuah daftar hitam? Kenapa
pertanyaan ini mesti diajukan kembali kepadaku?” shut To tin
dengan suara dalam.
“Daftar hitamku tak dapat dipercayai seratus persen, paling tidak
masih banyak nama yang belum tercantum dalam daftar tersebut,
oleh karena itu kuharap kau bisa memberikan jawaban yang
meyakinkan kepadaku.”
To tin segera mendengus dingin:
“Hmmm…..pertanyaan tersebut tak bisa kujawab!”
“Kenapa?” tanya Kho Yang ciu gusar.
Dengan wajah serius To tin berkata:
“aku secara khusus menghubungi rekan-rekan persilatan untuk
datang kemari bersama tujuannya tak lain adalah membasmi si
kedele maut dari muka bumi serta menghilangkan bibit bencana bagi
umat persilatan pada umumnya, sekarang aku gagal dengan
tujuanku, berarti biar mati pun tak perlu kusesali, jika sekarang
kuakui kalau diriku tidak terlibat dalam persitiwa berdarah di
perkampungan Hui im ceng tempo hari, bukankah tindakanku ini
sama artinya dengan tindakan pengecut yang takut mati……….?”
“Ooooh…..jadi kalau begitu kau tidak erasa takut untuk
menghadapi kematian?” jengek Kho Yang ciu sambil tertawa dingin.
“Sudah semenjak permulaan aku tidak memikirkan soal hidup
matiku!”
Kembali Kho Yang ciu mendengus:
“Hmmmm…..kalau memang begitu terpaksa aku harus memenuhi
pengharapanmu itu!”
Payung Thian lo san segera digetarkan dan siap utnuk
menembusi tubuh rang tersebut.
Disaat yang amat kritis inilah, tiba-tiba terdengar seseorang
berteriak keras:
“Tunggu sebentar!”

Menyusul teriakan itu, tampak seorang pendeta tua berbaju
kuning telah meluncur datang dengan kecepatan luar biasa.
Pendeta tua ini tidak termasuk didalam rombongan kawanan jago
persilatan itu, ternyata dia tak lain adalah Cok cuncu dari Siau lim si.
Lima sesepuh panca unsur dari Siau lim si memang merupakan
jago-jago yang bernama besar dan termasyur dalam dunia
persilatan, tak sedikit diantara para jago yang kenal dengan pendeta
agung dari Siau lim pay ini, sehingga dalam waktu singkat suasana
dalam arena berubah menjadi amat hening, sepi dan tak kedengaran
sedikit suara pun.
Begitu melayang turun ditengah arena, pendeta itu segera
berseru memuji keagungan Buddha, sambil katanya :
“Omitohud……ternyata kedatanganku toh masih terlambat satu
langkah, sudah ada korban yang kehilangan nyawa disini!”
Waktu itu, meskipun Kho Yang ciu tidak melanjutkan gerakan
payung Thian lo san nya untuk membunuh To tin yang telah
kehilangan kemampuan untuk melawan, tapi sambil mendengus
dingin segera tegurnya :
“Siapa kau?”
“Aku adalah Bok cuncu dari Siau lim pay!”
“Heeeeehhh……heeeeehh……heeeehhhh…….sebetulnya nona ada
minat untuk menyerbu Siau lim si dan mencuci tanah disitu dengan
darah kalian, sayang hingga sekarang belum ada waktu luang, kalau
toh kau datang lebih dulu untuk menghantar kematian, tentu saja
nona akan mengabulkan permintaanmu itu.”
Buru-buru Bok cuncu menggoyangkan tangannya berulang kali
seraya berseru:
“Kedatanganku pada hari ini sama sekali bukan bermaksud untuk
berkelahi denganmu!”
“Hmmmmm….lantas mau apa kau datang kemari?” dengus Kho
Yang ciu dingin.
Bok cuncu memperhatikan sekejap situasi disana, lalu katanya :
“Bersediakah Li sicu untuk membebaskan To lo sicu lebih
dahulu…..”
Kho Yang ciu termenung sambil berpikir sejenak, lalu katanya :
“Baiklah, mencabut nyawa kalian toh sama gampangnya dengan
membalik telapak tangan sendiri, biar kubebaskan orang ini lebih
dulu, bila aku masih menginginkan nyawanya, nantipun masih bisa
kulakukan secara gampang……..”

Sambil menarik kembali payung Thian lo san, dia segera
mengundurkan diri sejauh satu kaki dari posisi semula.
Si pedang emas berlengan baja To tin yang lolos dari kematian,
buru-buru memberi hormat kepada Bok cuncu seraya berkata:
“Terima kasih banyak atas bantuan dari Lo siansu, tapi tahukah lo
siansu siapa gerangan perempuan itu?”
Bok cuncu tersenyum :
“Bukankah dia adalah puteri dari Kho Bun sin, kepala kampung
dari perkampungan Hui im ceng tempo dulu, atau yang lebih dikenal
dalam dunia persilatan sebagai si Kedele Maut? Lolap mengetahui
persoalan ini dengan amat jelas”
“Kalau toh lo siansu sudah mengetahui tentang persoalan ini,
kenapa kau…..”
Sebelum perkataan dari To tin selesai diucapkan, bok cuncu telah
menukas dengan cepat :
“Tampaknya To lo sicu masih belum mendengar tentang
peristiwa dilembah hati Buddha, kini si hwesio daging anjing serta
Kho Beng telah tampilkan diri, maka sebelum duduknya persoalan
dibikin jelas, kedua belah pihak dilarang melakukan bentrokan serta
pertempuran berdarah lagi.”
“Akupun telah menerima surat pemberitahuan dari Kho Beng, tapi
yatanya si Kedele Maut masih tetap meneruskan ulahnya dengan
menyebarkan maut didalam dunia persilatan.”
“Yaa…..didalam hal ini aku sendiripun merasa sangat menyesal!”
kata Bok cuncu sambil manggut-manggut.
Bebicara sampai disini, dia segera berpaling kearah Kho Yang ciu,
sambil katanya lebih jauh:
“Apakah nona Kho pernah bertemu dengan adikmu?”
“Pernah!” jawab si nona ketus.
“Setelah bertemu muka, aku rasa adikmu pasti telah
menyinggung pula masalah pemberitahuannya kepada seluruh umat
persilatan. Nona, apakah kaupun bersedia mengikat janji dengan
lolap untuk sementara waktu diadakan gencatan senjata sampai
duduk persoalan yang sebenarnya dimasa lalu terungkap sama
sekali?”
“Hmmmm…..apakah kau bisa mengambil keputusan?” dengus
Kho Yang ciu dingin.
Dengan wajah bersungguh-sungguh, Bok cuncu berkata:

“aku memang tak bisa mengambil keputusan, tapi sekembalinya
dari sini lolap akan segera melaporkan peristiwa ini kepada ketua
kami, lalu atas nama ketua kamilah akan disebarkan surat
pemberitahuan keseluruh partai dan perguruan yang ada untuk
mengebarkan gencatan senjata ini, nah bagaimana pendapatmu?”
Kemudian setelah berhenti sejenak, diam engalihkan sorot
matanya dan memperhatikan sekejap To tin beserta kawan-kawan
persilatannya, kemudian menyambung lebih jauh:
“Walaupun umat persilatan berjumlah banyak sekali didunia ini,
aku rasa belum ada seorangpun yang berani melanggar keputusan
dari tujuh partai besar!”
To tin beserta segenap jago persilatan serentak terbungkam
dengan kepala tertunduk, setelah mendengar ucapan itu.
“Omitohud………” kembali Bok cuncu berkata, “bagaimana nona
Kho……?”
“Baik, aku bersedia mengabulkan permintaanmu itu” kata Kho
Yang ciu kemudian dengan suara dingin, “tapi disaat kau telah
selesai dengan penyelidikanmu itu, maka setiap orang yang terlibat
didalam peristiwa pembantaian berdarah diperkampungan Hui im
ceng tempo dulu harus mempertanggung jawabkan perbuatannya,
aku tak akan membiarkan seorang pun diantara mereka yang
berhasil meloloskan diri.”
“Omitohud.......kalau soal itu mah merupakan urusan dikemudian
hari, yang kujanjikan dengan nona adalah masa sebelum duduknya
persoalan menjadi jelas........”
Kho Yang ciu mendengus dingin:
“Hmmmmm........aku telah menyanggupi permintaan kalian,
sekarang kalian semua boleh pergi dari sini!”
Bok Cuncu tidak langsung pergi, ia nampak termenung sebentar,
kemudian katanya lagi:
“Aku perlu memberitahukan pula satu persoalan kepada nona,
yang harus dicari oleh nona sebetulnya adalah Dewi In nu, sebelum
orang tersebut berhasil ditemukan, duduknya persoalan pun jangan
harap bisa menjadi terang untuk selamanya.”
“Soal ini aku cukup mengerti, rasanya lo siansu tak usah banyak
berbicara lagi.”
“Omitohud.....kalau toh begitu, biar lolap segera mohon diri lebih
dahulu.........”
Kemudian kepada To tin sekalian, katanya pula :

“Saudara sekalianpun boleh pergi dari sini!”
Selesai berkata, tampak bayangan kuning berkelebat lewat,
pendeta itu sudah beranjak meninggalkan tempat tersebut.
Kho Yang ciu hanya tertawa dingin tiada hentinya, ia sama sekali
tidak mengucapkan sepatah katapun.
Si pedang emas berlengan baja segera mengawasi sekejap anak
buahnya, kemudian serunya pula :
“Hayo berangkat!”
Dari rombongan para jago segera muncul empat orang untuk
membopong kedua sosok jenasah yang tergeletak ditanah,
kemudian buru-buru berlalu dari situ.
Dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka sudah lenyap
dibalik pepohonan sana.
Menanti para jago sudah pergi jauh, Li Sian soat baru
menghampiri gadis tersebut seraya berseru :
“Adik Kho, kau betul-betul hebat dan perkasa, kali ini kau telah
membuat mereka mati kutu!“
“Andaikata pendeta tua dari siau kim pay itu tidak muncul tepat
waktunya, aku tak akan membiarkan kelima puluhan orang jago
tersebut pulang dalam keadaan utuh!” jawab Kho Yang ciu bangga.
Cun hong Lengcu, Jiu cun segera tertawa misterius, ucapnya :
“Hayo cepat siapkan perjamuan, kita harus merayakan
kemenangan dari adik Kho sebaik-baiknya.”
“Cici berdua, kalian sudah bersikap begitu baik kepadaku,
kesemuanya ini membuat siaumoy merasa berterima kasih
sekali…….” Buru-buru Kho Yang ciu berseru.
Kembali Cun hong Lengcu tertawa manis,
“Kita sesama saudara sendiri, buat apa kau mesti bersungkansungkan……?”
Maka rombongan gadis itupun kembali keperkampungan Ciu
hong san ceng dan langsung menuju keruang tengah.
Tak selang berapa saat kemdian, meja perjamuan telah
dipersiapkan ditengah ruangan, Li Sian soat segera turun tangan
sendiri untuk memenuhi cawan Kho Yang ciu dengan arak.
Setelah perjamuan berlangsung sampai setengah jalan, tiba-tiba
Kho Yang ciu bangkit berdiri sambil mengangkat cawan araknya, lalu
ia berkata pelan:
“Siaumoy ingin mempergunakan kesempatan yang sangat baik ini
untuk menghormati cici berdua dengan secawan arak!”

“Aaaaah…kita kan sesama saudara sendiri, tak usahlah memakai
segala adat lagi…….”seru Cun hong Lengcu tertawa.
“Tidak! Cici berdua harus menghabiskan isi cawan ini, sebab
setelah itu aku hendak menyampaikan sesuatu.”
Cun hong Lengcu segera melemparkan sebuah kerlingan mata
kepada Li Sian soat, setelah itu mereka berdua angkat cawan
bersama-sama, seraya berkata:
“Kalau memang begitu, biarlah kami berdua menerima
penghormatan ini……..”
Dengan cepat mereka berdua meneguk habis isi cawan tersebut.
Sambil meletakkan kembali cawan araknya kemeja, Cun hong
Lengcu berkata kemudian:
“Adik Kho, bila kau hendak menyampaikan sesuatu, sekarang
dapat kau utarakan keluar.”
“sudah kelewat lama siaumoy berdiam bersama cici berdua,
terima kasih banyak untuk pelayanan kalian yang begitu bagik
selama ini, tapi siaumoy tak mungkin bisa berdiam terlalu lama lagi
disini, oleh sebab itulah menggunakan kesempatan yang sangat baik
ini, aku ingin memohon diri kepada cici berdua.”
“Adik Kho…hubungan persahabatan diantara kita cukup akrab,
pergaulan kitapun berlangsung begitu hangat dan erat, mengapa
kau mengucapkan kata-kata seperti itu?” seru Li Sian soat dengan
kening berkerut.
“Sesungguhnya siaumoy sendiripun merasa ebrat hati untuk
berpisah dengan cici berdua, tapi mumpung sekarang ada
kesempatan yang sangat baik bagiku untuk berkunjung
keperkampungan Hui im ceng, pertama aku ingin pulang kampung
untuk berjiarah didepan makam kedua orang tuaku, kedua akupun
ingin meneruskan usaha ayahku almarhum untuk membangun
kembali kejayaan perkampungan Hui im ceng, sebab saat ini dunia
persilatan akan menjadi tentram untuk sementara waktu dan
mustahil akan terjadi keributan lagi……..”
Missing page 40-47
……keselamatan jiwaku menjadi berbahaya sekali?”

“Soal ini tak perlu kau kuatirkan adikku, biar langit ambruk
punkami akan berusaha menanggulanginya bagimu, apalagi yang
mesti kau takuti….?”
Kho Yang ciu menggeleng:
“Bukannya aku merasa takut, tapi……..hatiku merasa amat tak
tenang…….”
Mendadak Li Sian soat bertepuk tangan seraya berseru :
“Aaaaai betul…….aku sudah memperoleh sebuah cara yang bagus
sekali untuk mengatasi kesulitan ini!”
“Apakah caramu itu?”
“Kami mempunyai sebuah pesanggrahan lain dengan panorama
yang indah sekali, aku rasa tempat itu cocok sekali bagimu untuk
merawat penyakit yang kau derita, mari kita berangkat kesana dan
tinggal barang dua tiga bulan disana, sampai waktunya pasti
penyakitmua akan sembuh dengan sendirinya……..”
“Pesanggrahanmu itu terletak dimana?”
“Diatas puncak bukit Cian san, letaknya jauh lebih bagus dan
indah ketimbang tepat ini!”
Kho Yang ciu segera menghela napas:
“Bagusnya memang bagus…….Cuma……”
“Sudahlah, kau tak usah berbicara lagi” tukas Li Sian soat sambil
menutup bibirnya, “kecuali kau memang asing terhadap kami.”
“Ooooh cici, kau……kau benar-benar kelewat baik kepadaku!”
bisik Kho Yang ciu dengan perasaan sangat terharu.
Maka keesokan harinya muncullah tiga buah tandu meninggalkan
perkampungan Ciu hong san ceng dan langsung berangkat menuju
kepuncak bukit cian san, selain mereka tampak pula belasan orang
dayang beserta kakek dari marga Tia itu mengiringi dibelakang
mereka.
Dengan keberangkatan rombongan besar tersebut, maka suasana
diperkampungan Ciu hong san ceng pun dicekam dalam keheningan
dan suasana sepi yang luar biasa.
Menjelang senja itu tampak, tampak ada dua orang nona berbaju
putih yang tergesa-gesa menuju keperkampungan itu, kedua orang
tersebut tak lain adalah dayang kepercayaan Kho Yang ciu, yaitu Sia
hong serta Bwee hiong…….
Sampai lama sekali kedua orang itu menggedor pintu sebelum
muncul seorang dayang berbaju hijau yang membukakan pintu.

Begitu bertemu dengan kedua orang tersebut, tanpa terasa lagi
dayang berbaju hijau itu menggerutu :
“Mengapa kalian baru kembali pada saat ini? Huuuuh…..sudah
cukup lama kami menantikan kedatangan kalian.”
Dayang berbaju hijau itu tak lain adalah dayang kepercayaan Cun
hong Lengcu, yakni Sian kim.
Buru-buru Sia hong berkata :
“Enci Sian kim, sebenarnya apa yang telah terjadi? Mengapa
suasana disalam maupun diluar perkampungan nampak lenggang
dan sepi?”
“Mereka semua telah pergi, coba kalau bukan untuk menunggu
kalian, mungkin aku pun sudah pergi sedari tadi!”
“Mereka telah pergi kemana? Mana nona kami?” tanya Bwee
hiang sangat terkejut.
“Tentu saja nona kalian pun ikut pergi dari sini.” Kata Sian kim.
Kemudian setelah berhenti sebentar, kembali ia menambahkan:
“Mari kita segera berangkat, hari hampir gelap, meski perjalanan
tidak terhitung jauh, namun jalan setapak yang dilalui susah sekali
untuk dilewati!”
Selesai berkata, diapun balik kembali kedalam perkampungan.
Tapi tak lama kemudian ia muncul lagi dedepan pintu sambil
membawa sebuah papan nama.
Mula-mula pintu gerbang perkampungan ditutup rapat lebih dulu,
kemudian papan tersebut baru dipakukan diatasnya.
Sewaktu Sia hong dan Bwee hiang memperhatikan tulisan diatas
papan tadi, maka terbacalah beberapa kata yang berbunyi:
“Pemilik perkampungan ini sedang berpesiar keluar daerah,
setahun kemudian baru pulang kembali.”
Dibawahnya dicantumkan tahun dan bulan yang dimaksud.
Selesai memaku tulisan tersebut, Sian kim baru berpaling dan
berkata sambil tertawa :
“Sekarang kita harus segera beangkat!”
Sia hong dan Bwee hiang merasa canggung untuk bertanya lebih
jauh, tanpa bertanya lagi berangkatlah mereka bertiga menuju
kearah puncak bukit tersebut.
oooOOooo

Tak lama setelah kepergian ketiga orang itu, dimuka
perkampungan Ciu hong san ceng kembali muncul dua sosok
bayangan manusia.
Menanti kedua orang itu sudah tiba dimuka perkampungan, baru
terlihat jelas paras muka mereka sebenarnya, ternyata mereka
adalah Kho Beng serta Chin sian kun.
Sewaktu membaca isi pengumuman didepan pintu gerbang
perkampungan itu, Kho Beng kelihatan agak tertegun, lalu
gumamnya :
“Berpesiar keluar daerah, setahun kemudian baru pulang
kembali.......?”
Tapi setelah meneliti bulan dan hari yang tercantum
dibelakangnya, ternyata menunjukkan hari ini, tanpa terasa lagi dia
menghentakkan kakinya keatas tanah seraya berseru:
“Aduh, celaka.....!”
Dengan kening berkerut, Chin Sian kun berkata :
“Mungkin saja apa yang mereka perbuat sekarang Cuma
sebagian dari siasat licik mereka, siapa tahu sesungguhnya mereka
tak pernah meninggalkan tempat ini? Mari kita lakukan pemeriksaan
yang seksama disekeliling perkampungan ini!“
Kho Beng mengangguk :
“Pemeriksaan mah tentu harus dilakukan........“
Sambil berkata ia segera melejit keatas dinding pekarangan,
diikuti Chin Sian kun dari belakang.
Namun suasana dalam perkampungan itu gelap gulita tanpa
setitik cahaya pun, meski mereka berdua sudah melakukan
pemeriksaan yang seksama, atap, setiap halaman dan ruangan yang
ada. Namun semua pintu kamar ditemukan berada dalam keadaan
terkunci, memang tak seorang manusia pun yang nampak disitu.
Kembali Kho Beng menghentakkan kakinya sambil menggerutu :
“Huuuuuhh......kesemuanya ini gara-gara tenaga dalamku tak
bisa pulih kembali dalam waktu cepat, akibatnya mereka berhasil
kabur dari sini.......“
“Marilah kita lakukan pencarian secara pelan-pelan“ hibur Chin
sian kun, “masa kita takut mereka bisa kabur keujung langit.”
“Aaaai.....keselamatan enciku masih berada ditangan mereka, aku
amat mengkuatirkan keselamatannya.“
Chin Sian kun turut menghela napas sedih, katanya pula :

“Biasanya orang baik selalu dilindungi Thian, meski gelisah pun
rasanya tak ada gunanya!“
Tatkala seluruh perkampungan Ciu hong san ceng telah selesai
diperiksa dan mereka mendapatkan kenyataan bahwa
perkampungan tersebut benar-benar sudah tak berpenghuni lagi,
terpaksa kedua orang tersebut harus mengundurkan diri dari
perkampungan itu.
“Sekarang apa yang harus kita lakukan?“ tanya Chin Sian kun
kemudian dengan wajah sedih.
“Selain terburu-buru ingin melacak jejak enciku, masih ada dua
persoalan lagi yang harus kukerjakan, pertama turun kekaki bukit
untuk mencari Molim sekalian berempat, dan kedua berangkat ke
siau lim pay untuk membebaskan ketua Sam gian bun“
“Pergi ke Siau lim si?“
“Aaaai........“ Kho Beng menghela napas panjang, “Aku telah
menyanggupi permintaan dari Cho Lui san, anak murid Sam goan
bun itu untuk berangkat ke siau lim si dan menolong ketuanya Sun
thian hong dari sekapan, Bagaimanapun juga aku toh mesti
melaksanakan janji ini!“
“Aku lihat persoalan ini bukan suatu pekerjaan yang gampang“
kata Chin sian kun dengan kening berkerut, “pihak siau lim pay
mempunyai banyak jago lihai yang tak terhitung jumlahnya, kita tak
boleh memandang enteng kekuatan mereka, selain itu setelah ketua
siau lim pay berani menyekap ketua Sam goan bun dalam kuilnya,
aku yakin dia tak akan membebaskannya hanya disebabkan sepatah
dua patah katamu.“
“Yaaa....entah apa pun yang bakal terjadi, setelah kusanggupi
permintaan mereka, paling tidak tugas tersebut harus dilaksanakan“
ujar Kho Beng dengan wajah serius.
Mendadak terdengar suara seseorang yang amat nyaring
menyambung ucapan tersebut.
“Padahal persoalan tersebut mudah dalam penyelesaiannya,
serahkan saja kepadaku untuk membereskannya!”
Tampak sesosok bayangan kuning berkelebat lewat, tahu-tahu
seorang pendeta tua berwajah anggun telah melayang turun tepat
sihadapan mereka.
Ketika diamati lagi dengan seksama, ternyata pendeta tersebut
tak lain adalah Bok cuncu, salah seorang diantara lima sesepuh lima
unsur dari Siau lim pay.

Kho Beng segera mendengus dingin, tegurnya :
“Hmmm……sebagai seorang pendeta agung dari siau lim pay,
mengapa kau sadap pembicaraan kami?”
“Omitohud!” Bok Cuncu segera berbisik memuji keagungan
Buddha, hampir setengah harian aku berada ditempat ini, toh
sewaktu sicu berbincang-bincang tadi, lolap tak bisa menyumbat
telingan sendiri untuk tidak ikut mendengar……”
“Lo siansu, mengapa kau berada disini sampai setengah harian
lamanya?” seru Kho Beng keheranan.
Kembali Bok cuncu berbisik memuji keagungan Buddha,
kemudian sambil menunjuk kedepan, katanya :
“Noda darah yang berceceran disini belum lagi mengering,
kemarin encimu telah membunuh dua orang lagi disini”
“Lo siansu, terus terang saja kukatakan, akupun sedang mencari
jejak enciku, sebab aku perlu memberi penjelasan kepadanya bahwa
untuk sementara waktu semua pertumpahan darah harus
dihentikan……..”
“Dalam peristiwa yang terjadi kemarin, sebetulnya kesalahan
bukan terletak pada cicimu.” Tukas Bok cuncu cepat.
“Sungguh aneh” Kho Beng segera menjengek sambil tertawa
dingin, “mengapa lo siansu ustru membelai si Kedele Maut?”
Dengan wajah serius Bok cuncu berkata :
“Bila hatiku condong kesalah satu pihak dan tak mampu berlaku
adil, mungkin Buddha sudah lama meninggalkan aku. Betul cicimu
sudah banyak menyebarkan maut dalam dunia persilatan, banyak
sudah korban jiwa yang tewas oleh kedele maut nya, tapi setelah
ada perjanjian dipihak kita semua untuk menunda semua
perselisihan dan pertumpahan darah sampai duduknya persoalan
menjadi jelas, sudah barang tentu kedua belah pihak harus menepati
janji tersebut dengan sebaik-baiknya.“
Kemudian setelah memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu,
katanya lebih jauh:
“Yang menghasut umat persilatan untuk melakukan penyerbuan
berdarah kemarin adalah si pedang emas berlengan baja to tin,
seorang pentolan dunia persilatan dari kawasan Kanglam, ia telah
datang kemari bersama lima puluh orang jago-jago Kanglam, oleh
sebabitulah aku menilai bahwa dalam peristiwa kemarin, cicimu tak
dapat disalahkan........“
Kho Beng berpikir sejenak, kemudian katanya :

“Tadi Lo siansu bilang sudah hampir setengah harian lamanya
kau berada disini, tentunya Lo siansu tahu bukan kemana perginya
orang-orang dari perkampungan Ciu hong san ceng ini.“
Bok Cuncu menggeleng,
“Biarpun aku melihat mereka pergi meninggalkan tempat ini, tapi
tidak kuketahui kemanakah mereka telah pergi?“
„Lo siansu, seharusnya kau buntuti mereka“ seru Kho Beng
dengan kening berkerut.
Merah jengah selembar wajah Bok cuncu, serunya berulang kali :
“Waaah....dosa....dosa...aku adalah seorang pendeta yang jauh
dari keramaian keduniawian, masa seorang hwesio disuruh
menguntil berapa orang gadis muda? Apa jadinya kalau perbuatanku
itu sampai ketahuan mereka? Bisa hilang mukaku ini.......“
“Apakah Lo siansu juga tidak mendengar hendak kemanakah
mereka akan pergi?“ tanya Kho Beng lebih jauh sambil
menghentakkan kakinya keatas tanah.
Kali ini Bok Cuncu manggut-manggut:
“Kalau soal ini mah sudah kudengar, tapi aku kurang pecaya
dengan perkataan mereka, menurut apa yang mereka bicarakan,
konon rombongan tersebut hendak pergi kesebuah
pesanggrahannya dipuncak sana, tapi bisa jadi perbuatan mereka
hanya sebuah tipuan saja untuk mengalutkan perhatian orang.“
“Tapi yang pasti entah kemanapun mereka pergi, akan sulit buat
kita untuk mencarinya kembali!“ seru Kho Beng gelisah.
“Tak usah terburu nafsu“ kata Bok Cuncu sambil menggelengkan
kepalanya, “justru persoalan inilah yang hendak kubicarakan dengan
dirimu......“
Setelah berhenti sejenak, dengan suara dalam ia berkata lebih
jauh:
“Aku merasa gembira dan bersyukur sekali dengan keputusanmu
yang khusus melacaki jejak pembunuh sebenarnya dan tidak
melakukan tindakan yang membabi buta, itulah sebabnya kami
bersedia pula untuk bekerja sama denganmu, entah bagaimanakah
menurut pendapatmu?“
“Bekerja sama?“ agaknya usul ini sama sekali diluar dugaan Kho
Beng, “Aku merasa persoalan ini benar-benar suatu kejadian yang
lucu.“
Peristiwa ini memang benar-benar merupakan suatu kejadian
yang lucu sekali, dimasa lalu mesku hubungannya dengan pihak Siau

lim pay tak seberapa renggang, namun dengan cicinya si Kedele
Maut justru merupakan musuh bebuyutan yang ibarat air dengan
api, tapi sekarang, mereka justru disodori untuk bekerja sama,
bukankah kejadian semacam ini tak pernah terduga sebelumnya?
Dengan nada suara yang amat tenang, Bok Cuncu berkata lagi:
“Justru demi keamanan dan ketentraman bagi seluruh dunia
persilatan, kami khusus mengajukan usul tersebut kepada kalian,
kuharap Kho sicu mau berpikir tiga kali lebih dulu sebelum
mengambil keputusan.“
“Setelah kau berani berbicara tentang kerja sama, aku rasa Lo
siansu pasti sudah mempunyai rencana yang amat masak, bolehkah
aku tahu dalam bentuk seperti apakah kerja sama itu hendak
dilaksanakan?“
“Kita semua sudah tahu kalau dalang yang sebenarnya dari
peristiwa berdarah ini adalah dewi In nu“ kata Bok Cuncu serius,
“dan kami percaya dengan ini tak bakal salah lagi, yang masih
kurang bagi kita sekarang tinggal bukti yang jelas serta siapa
gerangan orang yang telah menyaru sebagai Bu wi lojin pada waktu
itu, begitu teka-teki tersebut terungkap, maka semua duduk
persoalan pun akan menjadi terang. Maka kerja sama diantara kita
pun otomatis tertuju untuk tercapainya sasaran tersebut secara
gemilang.........“
“Yaa betul......tapi bicara sih gampang, kalau dilaksanakan benarbenar
akan muncul banyak kesulitan yang tak terduga, seperti ambil
contoh dengan keadaan didepan mata sekarang........“
Jilid 25
Bok cuncu tersenyum, sebelum pemuda tsb menyelesaikan katakatanya,
dia segera menukas :
“Saat ini rasanya aku sudah mulai menaruh perasaan curiga
terhadap perkampungan Ciu hong san ceng ini”
“Bukan Cuma mencurigakan, bahkan aku yakin bahwa penghuni
perkampungan ini adalah anak buah dari dewi In nu, hanya saying
kita tak berhasil mengumpulkan bukti yg nyata sehingga
mengakibatkan ciciku pun terpengaruh oleh mereka.”
“Kalau begitu tugas kita yg terutama sekarang menemukan
sarang mereka serta mendapatkan bukti yg nyata, bukan?”
“Betul!” Kho Beng manggut-manggut, “tapi aku percaya
pekerjaan inipun bukan suatu pekerjaan yg mudah.”
Bok cuncu segera tertawa :

“Sekembalinya dari sini, aku akan melaporkan peristiwa ini
kepada ketua kami, kemudian akan kuhimpun umat persilatan utk
bersama-sama melacak jejak dari orang-orang perkampungan Ciu
hong san ceng ini serta cicimu, Cuma diantara kita berdua harus
sering mengadakan hubungan kontak…….”
Dg rasa gembira, Kho Beng berseru :
“Kalau memang begitu tujuannya, aku bersedia sekali utk bekerja
sama dg kalian!”
“Omitohud, kalau begitu kita tetapkan dg sepatah kata ini
saja…………” seru Bok cuncu.
“Benar!” Kho Beng mengangguk, “kita tetapkan sepatah kata ini
saja.”
“Omitohud, kalau begitu harap Kho sicu baik-baik menjaga diri,
aku segera akan berangkat ke siau lim si!”
“Lo siansu, bila kau harus kembali ke Siau lim pay lebih dulu utk
meminta persetujuan dari ketua kalian sebelum menghimpun para
jago dunia persilatan, aku rasa dalam soal waktu mungkin akan
sangat terlambat sekali” ucap Kho Beng sambil mengerutkan kening.
Mendengar perkataan tsb, Bok cuncu segera tersenyum,
“Tentang soal ini, harap sicu tak usah kuatirkan, setelah kembali
ke Siau lim si utk melaporkan hal ini, saat itu juga kami akan
menyebarkan surat kilat kepada seluruh jago dari pelbagai
perguruan agar bersiap sedia, aku percaya dalam tujuh hari
mendatang sudah ada sebagian jago persilatan yg turut serta
didalam pergerakan ini”
Kemudian setelah memuji keagungan sang Buddha lagi, dia
menambahkan:
“Aku akan mohon diri lebih dulu!”
Habis berkata, dia segera menggerakkan badan dan berlari dari
situ dg kecepatan tinggi.
Lama sekali Kho Beng berdiri termangu-mangu ditempat semula
sebelum akhirnya menghela napas dan berkata :
“Perubahan sikap yg diperlihatkan hwesio tua ini kelewat cepat,
aku menjadi tak habis mengerti, sebetulnya niat mereka itu baik
atau jahat……”
Chin Sian kun memperhatikan sekejap wajah anak muda itu, lalu
katanya dg lembut :

“Tampaknya ia mempunyai niat yg jujur dan tulus, apalagi
tindakan semacam inipun bakal mendatangkan keuntungan bagi
kedua belah pihak, aku rasa tawaran tsb tak usah kita risaukan lagi.”
Mendadak Kho Beng menghentakkan kakinya sambil berseru :
“Aduh celaka! Aku telah melupakan suatu masalah yg amat
penting….”
“Soal apa?” Tanya Chin sian kun keheranan.
“Masalah disekapnya ketua Sam goan bun oleh pihak Siau lim
pay, aku lupa utk titip pesan kepadanya agar memohonkan
pembebasan dari ketua Siau lim pay.”
Chin sian kun segera tertawa cekikikan serunya:
“Kalau hanya disebabkan persoalan ini, aku rasa kau tak perlu
terlalu merisaukannya.”
“Kenapa?” Tanya Kho Beng tak habis mengerti.
“Coba kau bayangkan sendiri, ketua dari Sam goan bun bias
disekap dikuil Siau lim si gara-gara urusanmu, apabila sekarang
pihak Siau lim pay bersedia utk bekerja sama dg mu, masa mereka
tak akan membebaskan ketua dari Sam goan bun tsb? Siapa tahu
dia justru akan dikirim kemari utk ikut melacaki jejak dewi In nu?”
Kho Beng segera manggut-manggut, katanya :
“Nona memang sangat teliti dan cermat sekali, dugaanmu
memang tepat sekali!”
Setelah tertawa bangga, kembali Chin sian kun berkata :
“Lantas kemanakah kita harus pergi sekarang?”
“Sekarang kita harus pergi mencari Molim sekalian berempat!”
Maka mereka berdua pun menuruni bukit tsb dan kembali kekota
kecil dikaki gunung.
Ketika menyusul kerumah penginapan tsb, menurut keterangan
pemilik rumah penginapan itu, keempat orang itu sudah
meninggalkan tempat tsb sejak kemarin.
Kho Beng menjadi sangat gelisah, segera tanyanya :
“Apakah mereka telah meninggalkan alamat yg hendak dituju?”
“Tidak!” pemilik penginapan itu menggelengkan kepalanya
berulang kali, “mereka tidak mengatakan apa-apa, langsung pergi
begitu saja…..”
Terpaksa Kho Beng harus meninggalkan rumah penginapan tsb,
sepanjang jalan dia Nampak murung dan sangat kesal.
Melihat sikap anak muda tsb, Chin sian kun segera berkata :

“Bukan aku sengaja banyak mulut, tapi aku rasa alangkah
baiknya bila keempat orang anak buah kongcu itu pergi tanpa
pamit.”
“Kenapa begitu?”
“Aku tak ingin mengatai kejelekan orang lain, tapi dalam
kenyataannya keempat orang itu sama sekali tidak menaruh
kesetiaan terhadap Kho kongcu, sikap mereka selama ini tak lebih
hanya ingin mempelajari isi dari kitab pusaka Thian goan bu boh!”
“Aaaaai….setiap manusia tentu mempunyai watak yg baik dan
jelek, tapi sikap mereka berempat saat ini sudah jauh berbeda dg
sikap mereka waktu pertama dulu.”
“Maksud Kho kongcu………” Chin sian kun berpaling.
“Mereka berempat sebetulnya mempunyai sifat yg jujur dan
terbuka, apalagi setelah melalui pendidikan dan bimbingan beberapa
waktu, boleh dibilang kesetia kawanan mulai mereka kenal. Bisa jadi
kepergian mereka dari rumah penginapan ini adalah utk mencari
jejakku.”
Kemudian setelah menghela napas, kembali katanya :
“Cuma saying mereka terlalu sempit jalan pikirannya sehingga
tidak tahu bagaimana mesti meninggalkan pesan kepada pemilik
rumah penginapan itu………”
Dg nada setengah percaya, Chin sian kun berkata :
“Kalau begitu kita harus pergi mencari mereka berempat?”
Kho Beng berpikir sebentar lalu mengangguk :
“Yaa, tentu saja, tapi aku rasa tiada tempat yg bias kita telusuri
utk mencari jejak mereka, aku pikir lebih baik kita kembali dulu
kelembah hati Buddha, coba kita periksa apakah kondisi badan Bu wi
cianpwee telah pulih kembali seperti sedia kala.”
“Betul!” sambung Chin sian kun, “bisa jadi Molim bersaudara
telah kembali kelembah hati Buddha!”
“Kejadian semacam ini mungkin saja dapat berlangsung, mari kita
segera berangkat kelembah hati Buddha.”
Maka berangkatlah kedua orang itu menuju kelembah hati
Buddha.
Oleh karena kepergian mereka kelembah hati Buddha tidak
mengandung tujuan yg terburu-buru, maka perjalanan mereka
tempuh dg santai, sepanjang jalan selain mereka menikmati
panorama yg indah, pekerjaan mereka adalah mengamati gerak
gerik umat persilatan.

Menjelang magrib keesokan harinya, mereka berdua menempuh
perjalanan sejauh lima li dari bukit Cian san.
Setelah memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, Kho Beng
segera berkata :
“Aku lihat kita sudah jalan terlalu jauh hingga melampaui tempat
penginapan.”
Ternyata sekeliling tempat itu merupakan hutan belantara dg
tanah perbukitan dikejauhan sana.
“Apa salahnya?” sahut Chin sian kun sambil tersenyum, “udara
malam pasti amat nyaman, mengapa kita tidak menempuh
perjalanan malam? Kapan kita sampai dikota, kapan pula kita
beristirahat, toh hasilnya juga sama saja……?”
Kho Beng manggut-manggut, tanpa berbicara mereka berdua
pun melanjutkan perjalanannya menelusuri tanah berhutan.
Mendadak……..
Kho Beng menyaksikan ada seseorang yg berjalan malam
melintas lewat dari sisi kiri mereka, jaraknya hany beberapa puluh
kaki saja dari mereka berdua.
Tergerak perasaan Kho Beng sesudah menyaksikan hal ini,
kepada Chin sian kun dia segera member tanda, kemudian dilakukan
pengejaran secara ketat.
Ternyata ilmu meringankan tubuh yg dimiliki si pejalan malam itu
cukup tangguh, mereka harus mengejar sejauh satu li lebih sebelum
berhasil menyusul sampai jarak sepuluh kaki dibelakang orang itu.
Agaknya si pejalan malam itupun sudah merasakan kalau
jejaknya sedang diikuti orang, tiba-tiba saja dia menghentikan
larinya.
Dalam waktu singkat kedua belah pihak telah saling bersua
muka, tanpa terasa Kho Beng berseru tertahan, ternyata orang itu
adalah orang yg cukup dikenal olehnya, yakni si Saudagar racun
berjalan cepat Cho Tay hap.
Cho Tay hap sendiripun nampak agak tertegun, kembali sambil
buru-buru member hormat, katanya :
“Ooooh rupanya kongcu, mengapa kau datang kemari?”
Kho Beng menghela napas,
“Aaaai…panjang sekali utk diceritakan dan bagaimana dg kau
sendiri? Apakah belakangan ini pernah bertemu muka dg ciciku?”
Kali ini Cho tay hap yg menghela napas panjang,

“Aaaai…cicimu sudah terperangkap oleh anak buah dewi In nu
sehingga hubungan diantara mereka Nampak sangat akrab dan
mesra, kemanakah dirinya berada sekarang kini sudah menjadi
sebuah tanda Tanya yg besar sekali”
“Yaa benar, aku sendiripun merasa amat gelisah dan cemas
karena persoalan ini!” cepat-cepat Kho Beng berkata.
“Ooooh…jadi kongcu pun sudah mengetahui akan persoalan ini?”
Kho Beng manggut-manggut.
“Bukan hanya tahu, tapi aku sudah dua kali menemui ancaman
bahaya maut diperkampungan Ciu hong san ceng, saying sekali
ciciku begitu terpengaruh oleh mereka sehingga bagaimanapun aku
member penjelasan kepada dirinya, ia tetap tidak percaya!”
Kemudian sambil menatap wajah Cho Tay hap sekejap, kembali
ujarnya :
“Bagaimana dg kau sendiri? Hendak pergi kemana?”
“Sebenarnya hamba sedang berusaha mencari kongcu, maksudku
hendak pergi kelembah hati Buddha, sungguh tak kusangka kita
telah bertemu muka disini.”
“Ada persoalan apa mencariku?” Tanya Kho Beng cepat.
“Pertama hamba ingin mengajak kongcu utk berunding
bagaimana caranya melepaskan encimu dari pengaruh anak buah
dewi In nu, kedua adalah menyangkut masalah keempat orang anak
buah kongcu itu…..”
“Apakah kau bersua dg mereka?”
Dg wajah serius Cho Tay hap segera berkata :
“aku telah bersua dg mereka, saat ini mereka telah menjalin
hubungan yg cukup akrab dg para begundal Dewi In nu, tentu saja
tujuan mereka tak lain adalah kitab pusaka Thian goan bu boh yg
berada ditangan kongcu.”
“Aaah, peristiwa ini benar-benar jauh diluar dugaanku!” seru Kho
Beng setengah percaya setengah tidak.
Dg wajah serius kembali Cho Tay hap berkata :
“Sebenarnya hamba bermaksud menguntit dibelakang mereka
utk mengetahui siapakah orang yg mengadakan kontak dg mereka,
tapi akhirnya mereka berhasil meloloskan diri.”
Chin sian kun yg berada disisinya segera menukas:
“Sudah sejak lama aku tahu kalau mereka bukan manusia baikbaik….!”

Sementara itu Cho Tay hap sudah memandang sekeliling tempat
itu, kemudian katanya lagi :
“aku telah bertemu pula dg si Unta sakti berpunggung baja Thio
cianpwee, dia sendiripun mengusulkan agar kongcu bias turun
tangan melenyapkan mereka berempat dari muka bumi.”
“dimanakah si Unta Sakti cianpwee? Apakah kau tahu?” buruburu
Kho Beng bertanya.
“Meskipun aku tak tahu berada dimanakah dia sekarang, tapi
setengah bulan kemudian aku masih mempunyai janji dgnya.”
“Kalian berjanji akan bersua dimana?”
“Lembah bunga tho dibukit Hu gou san!”
Kemudian setelah berhenti sejenak, ujarnya lebih jauh :
“Tapi Thio cianpwee berpesan agar kongcu tidak pergi
menjumpainya, sebab yg terpenting buat kongcu saat ini adalah
menghimpun seluruh kekuatan yg dimiliki utk melacaki jejak dewi In
nu, selain watak diketahui watak dan tabiat keempat orang asing itu
sudah diketahui tak jujur dan berniat membelot. Walaupun semula
Thio cianpwee menghimpun mereka demi membantu kongcu yg
berada dalam posisi seorang diri, tapi sekarang sudah ada Bu wi
cianpwee, hwesio daging anjing serta Kim bersaudara sekalian yg
siap membantu, oleh karenanya dianjurkan agar keempat orang tsb
dilenyapkan saja dari muka bumi, ketimbang akhirnya menimbulkan
banyak kesulitan buat diri sendiri.”
“Baiklah segala sesuatunya akan kulaksanakan sesuai dg perintah
Thio cianpwee, bila kau bertemu lagi dg dia orang tua, tolong
sampaikan pula salamku kepadanya.”
“Hamba mengerti” buru-buru Cho Tay hap mengiakan.
Setelah berpikir sejenak, Kho Beng berkata lebih lanjut :
“Kalau memang begitu, kau boleh pergi sekarang.”
“Harap kongcu bias baik-baik menjaga diri” Cho Tay hap segera
member hormat.
Kemudian berangkatlah saudagar itu meninggalkan tempat tsb.
Mengawasi bayangan punggung Cho Tay hap yg pergi jauh,
tanpa terasa Kho Beng menghela napas sedih.
Chin sian kun mengerti bahwa pikiran dan perasaan hatinya
waktu itu amat kalut dan berat, karenanya dia pun tidak banyak
berbicara , dg mulut membungkam ia berjalan mengikuti
disampingnya.

Sekalipun mereka berdua tidak bercakap-cakap, namun Kho Beng
bias merasakan timbulnya rasa hangat yg sukar dilukiskan dg katakata,
menyelimuti pikiran dan perasaannya yg kalut.
Begitulah dalam suasana hening dan saling mencekam, mereka
berdua menempuh perjalanan selama hampir satu jam lebih,
sementara itu kegelapan yg luar biasa telah menyelimuti seluruh
angkasa.
Waktu itu langit amat gelap tiada cahaya rembulan, tiada cahaya
bintang, yg ada hanya awan gelap yg menutup angkasa.
Tiba-tiba Chin sian kun berbisik :
Padahal Kho Beng sendiripun merasa agak lelah karena selama
beberapa hari terakhir ini mereka berdua belum pernah beristirahat
secara baik.
Kho Beng mencoba utk memperhatikan sekejap sekeliling tempat
itu, mendadak ujarnya sambil menunjuk kemuka :
“Rasanya didepan sana terdapat sebuah bangunan kuil,
bagaimana kalau kita menginap semalam dikuil tsb?”
Walaupun kegelapan telah menyelimuti seluruh bumi waktu itu,
namun mereka masih dapat melihat secara lamat-lamat bahwa
ditengah pepohonan yg rimbun didepan sana terdapat sebuah
bangunan besar yg membentuk seperti kuil.
Dg perasaan gembira Chin sian kun manggut-manggut,
berangkatlah mereka berdua menuju kebangunan kuil tsb.
Sewaktu sampai didekat bangunan tsb, ditemui pintu gerbang
sudah setengah roboh, rumput ilalang tinggi selutut, rupanya tempat
itu merupakan sebuah kuil bobrok yg sudah lama tidak dipergunakan
lagi.
Dari papan nama yg terpancang dimuka bangunan tsb dapat
diketahui bahwa kuil itu bernama “Lu cau bio”
Sambil tertawa Kho Beng segera berkata :
“Malah kebetulan sekali kalau kuil ini adalah kuil yg terbengkalai,
kita tak usah mencari alasan utk membohongi pendeta, biar tak usah
pula membayar uang minyak.”
Dg langkah lebar mereka berdua berjalan masuk keruang tengah
kuil tsb, Chin sian kun segera bersorak gembira :
“Coba lihat, bersih nian tempat ini”
Ketika Kho Beng menyusul kedalam, dijumpai ruangan tsb
memang berada dalam keadaan bersih sekali, lagipula bangunan
utamanya masih tetap utuh.

Tanpa terasa dia berseru dg kening berkerut :
“Sungguh aneh!”
“Yaa, memang sangat aneh” Chin sian kun menimpali, “kalau
dibilang kuil ini sudah lama terbengkalai dan tak dihuni manusia lagi,
kenapa ruangan tengahnya justru begitu rapih dan bersih?”
Kemudian setelah berpikir sebentar, kembali ujarnya :
“Yaa betul, sudah pasti tempat ini dipergunakan kaum pengemis
atau pendatang sebagai tempat pondoknya, itulah sebabnya tempat
ini diatur secara rapih dan bersih!”
“Aaaah, peduli amat” kata Kho Beng sambil tertawa aneh,
“bagaimana juga kita kan Cuma menginap semalam, besok pagi kita
telah berangkat kembali.”
Maka mereka berdua pun duduk bersila didepan altar sambil
mengatur napas utk memulihkan kembali tenaga dalam mereka.
Ditengah suasana hening dan hampir mencapai keadaan akan
lupa akan keadaan sekelilingnya, mendadak terdengar suara langkah
kaki manusia berkumandang datang dari kejauhan sana.
Kho Beng yg pertama-tama merasakan hal itu, cepat-cepat ia
menarik ujung baju Chin sian kun, sambil berbisik :
“Ssst, ada orang datang!”
“Mungkin para pengemis penghuni kuil ini telah pulang” jawab
Chin sian kun lirih.
“Itu toh menurut dugaan kita sendiri, bisa juga orang lain yg
datang kesini.”
“Lantas apa yg harus kita lakukan sekarang?” tanya si nona dg
kening berkerut.
“Lebih baik kita bersembunyi saja!”
Dg langkah cepat mereka berdua segera lari kesisi ruang tengah
dan m enyembunyikan diri dibalik kegelapan.
Dinding samping itu berada dalam keadaan setengah roboh
sehingga mudah sekali bagi mereka untuk mengundurkan diri
kebelakang, boleh dibilang tempat tsb merupakan tempat yg amat
strategis, karena bisa digunakan menyerang maupun mengundurkan
diri secara leluasa.
Baru saja mereka berdua menyembunyikan diri, tampak empat
sosok bayangan manusia telah melangkah masuk kedalam ruang kuil
dg langkah lebar.

Setibanya dalam ruang tengah, keempat orang itu segera
m,embuat api unggun dan mengeluarkan daging serta arak, lalu
bersantaplah mereka dg lahap.
Baik Kho Beng maupun Chin sian kun dapat melihat dg jelas
bahwa keempat orang tsb adalah Molim, Hapukim serta Rumang
berempat.
Beberapa kali Kho Beng berniat utk munculkan diri, namun
niatnya selalu dihalangi Chin sian kun, malah dg ilmu menyampaikan
suara, bisiknya :
“Coba kita dengarkan dulu apa yg mereka bicarakan, apalah
gunanya tergesa-gesa menemui mereka?”
Terpaksa Kho Beng harus bersabar dan tetap menyembunyikan
diri dibalik kegelapan.
Tak lama kemudian keempat orang itu sudah mulai mabuk oleh
air kata-kata.
Tampak Rumang menepuk paha sendiri keras-keras segera
berseru :
“Aku lihat pergaulan kita makin lama makin kacau, benar-benar
mak nya….”
Hapukim berkata pula kepada Molim.
“Sekarang apa yg mesti kita perbuat, jangan lagi orangnya,
bayangan tubuh dari Kho Beng si bocah keparat itupun sudah tak
nampak lagi, hmmm!”
“Sudah pasti kau bertindak kurang hati-hati sehingga rahasia kita
ketahuan, karena itulah dia segera melarikan diri!”
Kho Beng yg menyadap pembicaraan itu kontan saja merasakan
hatinya tenggelam kedasar samudera, diam-diam pikirnya :
“Betul-betul tahu orangnya, tahu mukanya belum tentu dapat
menyelami perasaannya.”
Sementara itu Molim telah berkata sambil tertawa :
“Buat apa kita mesti gelisah, toh tiada pekerjaan yg gampang
didunia ini.”
Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali ujarnya :
“Tentang masalah Kho Beng, aku kira dia sudah menjumpai
kesulitan diperkampungan Ciu hong san ceng, jadi mustahil dia telah
mengetahui rencana kita, dalam hal ini aku yakin masih dapat
melihatnya secara jitu….”
Rumang segera mendengus :

“Hmmm…baiklah, anggap saja Kho Beng si bocah keparat itu
memang belum mengetahui persoalan kita, tapi kemanakah kita
harus pergi mencari dirinya?”
“Yaa betul” sambung Hapukim, “paling tidak kita kan mesti
menemukan Kho Beng lebih dulu, kalau tidak, bagaimana mungkin
kita bisa mendapatkan kitab pusaka Thian goan bu boh tsb?”
Molim segera menggeleng, katanya :
“Menurut penilaianku, kedua lembar kitab pusaka Thian goan bu
boh sudah tidak berada ditangan Kho Beng, besar kemungkinan
benda tsb masih berada ditangan si tua Bu wi.”
“Hmm, kau sama sekali tak pernah melakukan pelacakan secara
khusus, dari mana bisa tahu kalau benda tsb tidak berada
disakunya?” seru Rumang.
“Padahal asal kita mau berpikir, hal tsb bisa kita pikirkan dg jelas,
sesungguhnya Kho Beng si bocah keparat itu belum berhasil
menguasai ilmu silat yg tercantum dalam kitab pusaka Thian goan
bu boh, sekalipun pernah dipelajarinya tanpa latihan satu atau dua
tahun mustahil dia bisa memperoleh hasil yg sepadan, jadi tegasnya
kepandaian silatnya tak lebih hanya mendapat sedikit kemajuan
saja. Bayangkan saja, dg bekal kepandaian serendah ini, apakah dia
akan menggembol benda yg tak ternilai harganya itu?”
“Yaa, betul juga perkataan ini” seru Mokim sambil mengangguk.
Tapi Hapukim segera berteriak :
“Aaah, peduli amat betul atau tidak perkataan tsb, yg penting apa
yg mesti kita perbuat sekarang?”
“Sederhana sekali, aku telah berhasil mendapatkan sebuah
rencana yg amat bagus.”
Sekali lagi Rumang menepuk paha sendiri keras-keras, teriaknya :
“Cepat katakan apa rencanamu itu?”
“Kita berangkat kelembah hati Buddha dan berlagak diutus oleh
Kho Beng si bocah keparat itu utk mengambil kedua lembar kitab
pusaka Thian goan bu boh!”
“Aku rasa cara seperti itu tak bakal berhasil, jangan lagi situa Bu
wi adalah seorang yg berotak lihay dan liciknya bukan kepalang. Ia
tak mungkin percaya dg perkataan kita, lagipula si hwesio daging
anjing pun bukan manusia yg boleh dianggap enteng, bagaimana
mungkin dia bersedia menyerahkannya kepada kita?”
Molim segera mendengus :
“Hmmm, dasar goblok!”

“Hey, siapa yg kau maki?” tegur Hapukim marah.
“Tentu saja kau! Otakmu memang bebal dan tak pernah bisa
dipakai utk berpikir, hmmm… sekalipun kita gagal utk menipu
mereka, paling tidak kita kan akan memperoleh kepastian tentang
kedua lembar kitab pusaka Thian goan bu boh tsb, asal kita laporkan
kabar tsb kepada Thia hu hoat, emangnya kita tak akan peroleh
bagian?”
Agaknya Hapukim menyadari kalau otak sendiri memang tak
selancar dan sepintar Molim, karenanya dia Cuma bisa menahan diri
dan tak banyak bicara lagi.
Sementara itu Molim telah mendongakkan kepalanya dan
tertawa terbahak-bahak amat bangga.
Chin sian kun segera berbisik kepada Kho Beng dg ilmu
menyampai suara :
“Nah, sekarang kau sudah jelas bukan? Thia hu hot yg dia
maksudkan bernama Thia bu ki, dia adalah salah satu diantara
duabelas pelindung hukum dari dewi In nu.”
Diam-diam Kho Beng menghembuskan napas panjang, utk sesaat
ia merasa sangat kecewa hingga lupa utk memberi jawaban.
Mendadak terdengar lagi suara langkah kaki dari manusia
bergema datang dan langsung menuju kedalam kuil.
Sementara Kho Beng masih tertegun, Chin sian kun kembali
berbisik :
“Sudah pasti pelindung hukum she Thia yg datang!”
Namun setelah suara langkah kaki manusia itu masuk kedalam
ruang kuil, ia baru mengetahui kalau dugaannya salah.
Ternyata yg datang adalah seorang lelaki yg berdandan seperti
seorang Sastrawan tapi tegasnya pakaian tsb sudah dekil lagi luntur
warnanya, mungkin sudah sepuluh tahun tak pernah dicuci hingga
warnanya tak bisa diduga lagi.
Yg jelas pakaian tsb memberi kesan dekil lagi bobrok bagi
siapapun yg melihatnya.
Orang itu berumur empat puluh tahunan, tubuhnya kurus lagi
kuning kepucat-pucatan, mungkin sudah tiga tahun menderita sakit
dan belum juga sembuh, pokoknya dia mempunyai potongan muka
yg mengenaskan dan patut dikasihani.
Sambil mengoyangkan sebuah kipas berwarna hitam, sastrawan
itu berjalan masuk kedalam ruang kuil dg jalan terseok-seok….

Kho Beng serta Chin sian kun yg melihat kehadiran orang itu
menjadi tertegun , utk sesaat mereka tak bisa menduga asal usul
orang tsb.
Agaknya Molim sekalian yg berada didalam ruang kuil pun
merasa agak tercengang dg kehadiran orang itu.
Sambil memutar biji matanya, Molim segera menghardik :
“Hey si peminta-minta, malam ini tempatmu sudah kami
pergunakan, lebih baik mencari tempat pemondokan ditempat lain
saja!”
“Biarpun sudah kalian tempati, memangnya aku tidak boleh
masuk kemari?” sahut sastrawan rudin itu sambil tertawa terkekehkekeh.
Rumang segera berteriak :
“Tempat ini kelewat sempit, tak mungkin bisa menampung sekian
banyak orang utk tidur bersama.”
“Aaah, bisa tak bisa tidurpun tak mengapa, toh aku bisa duduk
duduk….hey, kalian punya arak wangi?”
“Arak sih ada, Cuma sayang bukan disediakan untukmu!” bentak
Hapukim mendongkol.
Kembai sastrawan rudin tertawa :
“Empat samudera adalah sahabat, masa kalian tak akan
mengundangku untuk minum barang dua cawan saja?”
Rumang menjadi teramat gusar, segera teriaknya :
“Hey pengemis busuk, kenapa sih kau ribut amat? Huuuh, dg
tampangmu yg begitu dekil dan menjijikkan, kaupun ingin meneguk
arak kami? Hayo cepat menggelinding pergi dari sini, kalau terlambat
menggelinding akan kusuruh kau merangkak keluar dari sini!”
Kembali sastrawan rudin itu tertawa :
“Aku sipelajar belum pernah belajar merangkak, entah kalian
berempat mampu tidak utk merangkak keluar?”
“Haaaah….haaa…haaaah…orang apapun mengaku sebagai
pelajar? Huuuh, betul-betul tak tahu malu!” ejek Rumang sambil
tertawa seram.
“Sesungguhnya aku sipelajar adalah orang yg paling ramah dan
tahu diri” kata si sastrawan rudin sambil menggeleng, “asal kalian
bersedia menjamu aku dg arak dan daging lezat, akupun bersedia
memaafkan kekasaran kalian serta tidak mempersoalkan lagi.”
“Lebih baik kau persoalkan saja, pingin kulihat bagaimana caramu
utk mempersoalkan masalah ini.”

“Aku lihat kalian semua adalah orang-orang yg tak tahu diri,
orang bermata buta!”
Rumang menjadi sewot, sambil mengepal tinjunya ia membentak
:
“Ngaco belo tak karuan, hati-hati akan kupetik batok kepalamu
itu!”
Mendadak sastrawan rudin itu tertawa tergelak :
“Haaaah…haaahh…haaahh…bagus sekali….aku sipelajar sastra
gagal menjadi sastrawan, belajar pedang gagal menjadi jago
pedang, kemudian belajar memetik batok kepala, ternyata dalam
bidang yg satu ini aku memang cukup ahli dan berpengalaman.”
“Kau pun pandai memetik batok kepala?” tanya Rumang dg
wajah tertegun.
“Yaa, mengetahui sedikit-sedikit”
Sambil bertolak pinggang Rumang segera membentak :
“Kalau begitu coba kau petiklah, bila tak mampu memetik batok
kepala ayahmu….hati-hati kalau batok kepalamu tak bisa di
pertahankan lagi!”
“Bagus sih bagus” kata sastrawan rudin itu sambil tertawa, “tapi
sebelum itu aku ingin melihat dulu bagaimana caramu merangkak
keluar dari sini.”
Tak terlukiskan rasa gusar Rumang menghadapi kejadian ini,
tanpa banyak berbicara lagi dia segera mengepal tinjunya dan
langsung disodokkan kemuka.
Pada hakekatnya dia tak memandang sebelah matapun terhadap
sastrawan rudin yg ceking lagi pucat sehingga mirip orang yg hampir
mampus ini.
Serangan yg dilontarkan dg cepat dan dahsyat itu dalam
perkiraannya paling tidak bisa membuat pelajar rudin itu pingsan
sebelas kali………
Siapa tahu menilai orang tak boleh menilai dari wajahnya, kali ini
Rumang telah salah menilai lawannya.
Tidak tampak bagaimana cara pelajar rudin itu menghindarkan
diri, tahu-tahu jotosan yg sangat kuat itu sudah mengenai sasaran
kosong.
“Hey orang muda, kau betul-betul hendak main pukul?” teriak
pelajar rudin itu keras-keras.
Rumang agak tertegun, kemudian teriaknya pula :
“Hey, kalau punya nyali hayo jangan berkelit!”

Kembali sebuah sodokan tinju yg keras dilontarkan kedepan.
Kali ini ternyata sastrawan rudin itu tidak mencoba utk
menghindarkan diri, dia malah sambut datangnya serangan tsb dg
sodokan kipasnya.
Dg demikian pukulan keras dari Rumang tsb bukan bersarang
ditubuh sastrawan rudin itu, sebnaliknya malah saling membentur dg
ujung kipas.
Tak ampun lagi dia menjerit kesakitan, seketika itu juga kepalan
kanannya sakit bagaikan retak, rasa sakit yg dideritanya benar-benar
tak terlukiskan dg kata-kata.
Sambil tertawa terkekeh-kekeh, sastrawan rudin itu berseru :
“Nah, bocah tolol, kali ini kau harus menderita cukup berat!”
Kipasnya ditotok berulang kali kedepan, dalam waktu singkat,
sikut kiri serta sepasang lutut Rumang sudah terhajar oleh gebukan
kipas tsb……
Jerit kesakitan yg memilukan hati bergema saling menyusul,
keempat anggota badannya seperti sudah dibikin cacat semua,
membuat ia tak mampu berdiri tegak lagi dan segera roboh
terjengkakng keatas tanah…
Hapukim serta dua bersaudara Mo yg melihat peristiwa itu
menjadi amat terperanjat, serentak mereka meloloskan s enjata
masing-masing sambil menerjang kemuka.
Terdengar sastrawan rudin itu berseru sambil tergelak :
“Kalian tak perlu tergesa-gesa, marilah maju satu persatu!”
Kipasnya segera direntangkan, selapis tenaga pukulan yg tak
berwujud dan bersuara segera menyapu ketubuh ketiga orang tsb.
Bagaikan menumbuk diatas lapisan dinding baja yg amat kuat
saja, tampak ketiga orang itu mencelat kebelakang hingga
menumbuk diatas dinding ruangan keras-keras.
“Blaaaammm….!”
Sampai setengah harian lamanya mereka tak sanggup utk
merangkak bangun kembali.
Kho Beng serta Chin sian kun yg mengikuti jalannya peristiwa itu
menjadi terperanjat sekali hingga paras mukanya berubah hebat,
sadarlah mereka bahwa sastrawan rudin tsb sesungguhnya adalah
seorang tokoh dunia persilatan yg berilmu tinggi, hanya mereka tak
dapat nmenebak siapa gerangan orang ini.
Sementara itu Molim sekalian telah meronta bangun, kini mereka
Cuma bisa berdiri termangu-mangu bagaikan patung.

Sambil tertawa dingin sastrawan rudin itu berkata kemudian :
“Nah, siapa lagi yg merasa tak puas, silahkan maju
menyerang……”
Buru-buru Molim menggoyangkan tangannya berulang kali seraya
berkata :
“Jangan main kasar, jangan main kasar, apalagi diantara kita toh
belum pernah terikat hubungan dendam atau sakit hati.”
“Yaa,yaa…kau memang seorang yg pandai melihat gelagat…”
ejek sastrawan rudin itu sambil tertawa, “dan bagaimana dg yg
lain?”
Sebetulnya Mokim serta Hapukim mempunyai maksud akan turun
tangan utk kedua kalinya, namum kerlingan mata Molim membuat
kedua orang tsb harus mengurungkan niatnya.
Pelan-pelan Rumang berusaha meronta dan merangkak bangun,
tapi kaki kanan sastrawan rudin itu sudah keburu menginjak diatas
punggungnya, hal ini membuat badannya yg hampir bangkit berdiri
segera terjatuh kembali mencium tanah.
“Hey, kau sudah selesai belum?” teriak Rumang keras-keras.
“Belum…belum selesai!” sahut sastrawan rudin itu sambil tertawa
terbahak-bahak, “kau harus merangkak dulu dari sini sampai keluar
kuil ini……”
“Tidak! Aku tak akan merangkak keluar biar harus mati aku tak
akan merangkak keluar!”
Kembali sastrawan rudin itu tertawa :
“Kebetulan sekali aku si pelajar mempunyai watak aneh, yaitu
setiap perbuatan yg kuinginkan harus dilaksanakan sampai jadi,
untuk itu kau mesti merangkak keluar dari sini entah apapun
alasannya.”
“Kalau aku tak mau merangkak keluar, mau apa kau?” teriak
Rumang makin sewot.
“Kalau begitu terpaksa kau mesti menahan pelbagai siksaan dan
penderitaan, nah pertimbangkan sendiri, kau benar-benar enggan
merangkak atau menurut saja? Bila menolak, terpaksa aku sipelajar
akan turun tangan untuk mulai menyiksamu, bahkan……..”
Setelah memutar biji matanya, ia menambahkan :
“Bahkan sekali aku sipelajar sudah turun tangan, maka pekerjaan
ini tak bakal berhenti sampai ditengah jalan.”
Mendadak terdengar Molim berteriak keras,

“Tuan, kau jangan marah dulu, dia...dia pasti akan bersedia
merangkak keluar…..”
“Bagus sekali!” kata pelajar rudin itu sambil tertawa, “coba kau
bujuklah dia”
Molim segera menghampiri Rumang , kemudian teriaknya :
“Seorang lelaki sejati bisa mengikuti perubahan situasi, hari ini
kita telah bertemu dg tokoh berilmu tinggi, sekalipun harus
merangkak keluar dari sini, apalah artinya bagimu?”
“Kalau kau hendak merangkak, lebih baik merangkaklah lebih
dulu, asal kau sudah mulai merangkak, aku pasti mengikuti” teriak
Rumang sambil menggigit bibir.
Molim segera berkerut kening, tiba-tiba ia membisikkan sesuatu
dg menggunakan ilmu menyampaikan suara.
Rumang kelihatan termenung sebentar, akhirnya dia berkata :
“Baiklah! Mak nya….. aku akan merangkak keluar dari sini…..!”
Habis berkata ia benar-benar merangkak sampai diluar kuil.
Sambil bertepuk tangan pelajar rudin itu segera bersorak :
“Horeeee…..bagus, bagus sekali, sungguh menarik, sungguh
menarik hati…….”
Mendadak………
Pada saat Rumang sedang merangkak keluar itulah, Molim,
Mokim serta Hapukim bertiga secara diam-diam telah meloloskan
golok masing-masing, lalu tanpa menimbulkan sedikit suara pun
membacok punggung si pelajar rudin tsb.
Agaknya ketiga orang itu berniat membokong musuhnya secara
diam-diam, padahal si pelajar rudin itu sedang memusatkan seluruh
perhatiannya melihat Rumang merangkak keluar, jelas dia tidak
mempersiapkan diri secara baik.
Keselamatan jiwanya pun segera terancam bahaya maut,
kelihatannya sebentar lagi dia bakal termakan oleh bacokan tsb.
Tapi disaat yg amat kritis inilah, Kho Beng serta Chin sian kun yg
bersembunyi diruang samping telah melayang keluar bagaikan
sukma gentayangan saja, dua bilah pedang mereka dg cekatan
sekali menangkis ketiga golok lawan.
Tentu saja peristiwa ini sama sekali berada diluar dugaan Molim,
Mokim dan Hapukim, untuk sesaat lamanya mereka dibuat terkejut
bercampur amat gusar.
Rumang yg sedang merangkak diatas tanah dan kebetulan
berpaling pun nampak perubahan pada mukanya, dg cepat dia

menjatuhkan diri berbaring diatas tanah dan berlagak sudah
mampus…
“Budak kurangajar!” dengan mata melotot dan suara nyaring Kho
Beng membentak keras, “aku lihat nyali kalian makin lama semakin
bertambah besar saja!”
Molim, Mokim serta Hapukim segera menundukkan kepala dg
mulut membungkam, paras muka mereka berubah menjadi merah
padam karena jengah….
Sebaliknya si pelajar rudin itu berkata sambil tertawa terkekehkekeh,
“Haaaahh…haaahh…haaahh…bagus sekali, nampaknya kuil ini
memang luar biasa, masa dalam waktu sekejap mata telah muncul
kembali dua orang manusia?”
Sambil tertawa hambar Chin sian kun berkata :
“Seandainya kami berdua tidak munculkan diri tepat pada
waktunya, mungkin tuan sudah termakan oleh bokongan mereka!”
“Nona terlalu serius kalau b erbicara” ucap si pelajar rudin sambil
tertawa, “aku si pelajar meski tidak sering berkelana didalam dunia
persilatan, namun aku percaya kemampuan yg dimiliki keempat
anjing asing ini masih belum mampu utk membokongku!”
Lalu sambil memutar biji matanya, dia berkata lebih jauh :
“Aku si pelajar paling senang kalau berbicara sejujurnya, tahukah
kau apa sebabnya aku sengaja memberi kesempatan kepada
mereka utk membokongku?”
“Aku tidak tahu!” sahut Chin sian kun dg paras muka berubah
menjadi merah padam.
Sambil tertawa si pelajar rudin itu berkata lebih jauh :
“Hal ini tak lain disebabkan aku si pelajar ingin mencari sebuah
alasan yg cukup kuat utk membunuh mereka semua.”
“Apa sebabnya tuan bersikeras hendak membunuh mereka
semua.”
“Haaahh…haaahh….haaahh….tegasnya aku sipelajar tak mampu
memberi alasan yg tepat, pokoknya begitu bertemu dg mereka
timbul perasaan muak dan benci dalam hati kecilku, biasanya
terhadap orang-orang yg kubenci, aku si pelajar tak akan
membiarkan mereka hidup terus didunia ini.”
Rasa terkejut, gusar dan gelisah segera mencekam perasaan
Molim sekalian berempat, namun utk berapa saat lamanya tak
sepatah katapun yg sanggup mereka utarakan keluar.

Sambil menjura Kho Beng berkata cepat :
“Bolehkah aku tahu siapa nama tuan yg sebenarnya?”
Si pelajar rudin itu tertawa :
“Selama hidup aku si pelajar tidak memiliki kelemahan apapun
selain rudin, oleh karena itulah namaku memakai pula kata rudin tsb
yakni si pelajar rudin Ho Heng!”
“Haaah…rupanya tuan adalah Ho cianpwee, pemimpin dari Lam
huang pat ciong (nelayan rudin dari Lam huang), kalau begitu
maaf….maaf….”
Sembari berkata dia segera memberi hormat dalam-dalam :
Buru-buru si pelajar rudin, Ho Heng menghalanginya seraya b
erkata :
“Tak usah sungkan-sungkan, kau sendiri sebetulnya siapa…”
“Boanpwee berasal dari marga Kho bernama Beng, asalku adalah
perkampungan Hui im ceng dikota Hang ciu!”
Si pelajar rudin segera bertepuk tangan kegirangan, serunya
cepat :
“Oooh, rupanya kau adalah Kho Beng, sudah lama aku sipelajar
rudin mengagumi nama besarmu”
“Aaaah…perkataan dari cianpwee tsb tak berani boanpwee
terima….”
“Oya, sudah lama aku si pelajar rudin tak pernah melangkah
masuk daratan Tionggoan, dari siapa sih Kho sauhiap pernah
mendengar namaku ini?”
“Bu wi cianpwee yg memberitahukan kepadaku!”
“Situa Bu wi?” si pelajar rudin Ho Heng segera tertawa tertawa
terbahak-bahak, “bukankah si tua bangka ini sudah hidup
mengasingkan diri dari keramaian dunia?”
“Aaaai…panjang sekali utk menceritakan tentang ini…..”
Maka secara ringkas Kho Beng bercerita tentang Bu wi lojin serta
pengalaman yg dialaminya sampai terluka…
Sewaktu selesai mendengar penuturan, sambil tertawa terkekehkekeh,
si pelajar rudin Ho Heng berkata :
“Sewaktu menyinggung tentang aku si pelajar rudin, apa saja yg
dikatakan si tua Bu wi kepadamu?”
Dg wajah serius Kho Beng berkata :
“Dia orang tua sangat memuji kehebatan cianpwee, katanya
cianpwee suka mengembara seorang diri dan membentuk kekuatan

yg tersendiri didalam dunia persilatan, kau adalah seorang tokoh yg
dihormati oleh setiap umat persilatan didunia ini!”
Pelajar rudin Ho Heng segera menggelengkan kepalanya
berulang kali, ujarnya :
“Tidak mirip, tidak mirip, aku merasa belum sanggup membawa
kedudukanku mencapai tingkatan seperti apa yg dia gambarkan.”
Lalu setelah memutar biji matanya, dia berkata lebih jauh :
“Untung saja perkataan semacam ini biar agak lebih banyak pun
tak akan mengganggu selera orang, entah betul atau tidak yg pasti
mendatangkan rasa gembira bagi yg mendengarkan……..ehmmm,
rasanya pembicaraan diantara kita cocok sekali, baiklah kita cari
kesempatan lain utk pelan-pelan berbicara lagi!”
Berbicara sampai disitu, dia segera menggerakkan lengan
kanannya dan mencengkeram tubuh Rumang yg masih mendekam
diatas tanah.
Kho Beng menjadi amat terperanjat setelah menyaksikan
peristwa itu, buru-buru serunya :
“Cianpwee, kau…..”
Si pelajar rudin Ho Heng menggoyangkan tangannya seraya
berkata :
“Tunggulah sampai aku si pelajar memetik batok kepala mereka
lebih dulu sebelum melanjutkan pembicaraan kita tadi.”
“Beberapa orang ini adalah anak buah boanpwee, bersediakah
cianpwee utk ringan tangan serta mengampuni mereka semua?”
pinta Kho Beng dg perasaan cemas.
“Anak buahmu?”
Setengah percaya setengah tidak si pelajar rudin Ho Heng
mengalihkan pandangan matanya dan memandang sekejap kewajah
keempat orang asing itu, lalu katanya lebih jauh :
“Sekalipun dalam dunia persilatan sudah tak mampu menemukan
orang lain, kau tidak sepantasnya menerima manusia semacam ini
sebagai anak buahmu.”
Kho Beng segera menghela napas panjang :
“Tapi boanpwee toh sudah menerima sebagai anak buahku,
paling tidak hubungan antara majikan dan pembantu sudah cukup
melekat dihati kami!”
Si pelajar rudin Ho heng menggelengkan kepalanya berulang kali,
ujarnya lagi :

“Menurut penilaianku si pelajar, watak dari beberapa orang ini
tidak baik, mereka tak kenal budi, membalas air susu dg air tuba,
manusia yg tak kenal budi seperti ini hanya merupakan bibit
bencana kalau ditampung disisimu, aku lihat lebih baik……”
Mendadak Molim menjatuhkan diri berlutut dihadapan Kho Beng
seraya merengek :
“Cukong, tolonglah jiwa kami!”
Hapukim serta Mokim serentak menjatuhkan diri berlutut pula
dihadapan anak muda tsb sambil menyembah tiada hentinya.
Sambil mendengus dingin Kho Beng berkata :
“Kalian anggap apa yg telah kamu lakukan sama sekali tidak
kuketahui?”
“Hamba tak berani melakukannya kembali, hamba sudah merasa
amat menyesal….” Seru Molim cepat-cepat.
Pelajar rudin Ho Heng yg ikut mendengar pembicaraan itu segera
menimbrung sambil tertawa :
“Bila kuperhatikan nada pembicaraan kalian, tampaknya orangorang
ini sudah pernah berhianat kepadamu?”
Kho Beng segera menghela napas panjang :
“Aaaai…manusia toh bukan nabi, siapakah yg pernah luput dari
kesalahan?”
“Yaa, siapa tahu salah dan bersedia utk bertobat, berarti orang
ini masih bisa dipelihara lebih jauh.”
Setelah berhenti sejenak, pelajar rudin itu berkata lebih jauh :
“Tapi sayang keempat orang ini bukan termasuk orang-orang yg
tahu salah serta bersedia utk bertobat, rasanya aku si pelajar
terpaksa harus menggunakan sedikit keahlian utk membuat mereka
takluk selamanya dan sepanjang hidup tak berani berhianat lagi.”
“Dengan cara apa?” tanya Kho Beng keheranan.
Si pelajar rudin Ho Heng tertawa:
“Kepandaianku ini bernama “memotong urat menutup nadi”,
setelah dilakukan ditubuh mereka, maka dalam sebulan mendatang
mereka pasti akan merasakan gangguan hebat hingga menyebabkan
peredaran darah mereka tersumbat dan akhirnya mati, namun bila
saban bulan peredaran darah mereka diurut dg kepandaian khusus,
maka tidak akan terjadi persoalan pada dirinya.”
Kemudian sambil menatap wajah Kho Beng lekat-lekat, katanya
lebih jauh :
“Bagaimana menurut pendapat Kho sauhiap?”

Molim, Mokim serta Hapukim yg masih berlutut buru-buru
merengek dg suara memelas,
“Jangan gunakan kepandaian apapun utk melukai kami, kami
semua berjanji tak akan berhianat lagi…”
Utk beberapa saat lamanya Kho Beng jadi ragu-ragu utk
mengambil keputusan.
Melihat hal tsb, si pelajar rudin Ho Heng segera berkata lagi
sambil tertawa terkekeh-kekeh :
“Kalau persoalan lain, aku si pelajar akan rikuh utk turut campur,
tapi dalam persoalan ini aku si pelajar sudah mempunyai keputusan
yg cukup tegas, nah siapakah diantara kalian yg akan merasakan
lebih dahulu…?”
Berada dalam keadaan seperti ini, Molim sekalian berempat tak
berani lari dari situ, kabur pun tak berani, terpaksa mereka hanya
bisa berlutut sambil merengek tiada hentinya.
Ternyata apa yg diucapkan si pelajar rudin Ho Heng segera
dikerjakan pula, tanpa membuang tempo lagi dia segera
menghampiri Molim sekalian dan melakukan gerakan menotok dg
ilmu menyumbat nadi memotong urat!
Selesai menotok jalan darah orang-orang itu, si pelajar rudin Ho
Heng baru bertanya sambil tertawa :
“Nah sekarang cobalah utk mengatur pernapasan, coba dirasakan
keanehan apakah yg kalian rasakan antara bagian dada dg
lambung?”
Molim sekalian menurut dan segera mengatur pernapasan.
Tak lama kemudian terdengar Molim berteriak lebih dulu :
“Aaah…aku merasa agak kesemutan…..”
Pelajar rudin Ho Heng segera tertawa terbahak-bahak :
“Haaahh…haaah…haahh…itu berarti ilmu menyumbat nadi
memotong uratku telah mulai bekerja menunjukkan reaksinya, cara
yg kupergunakan ini sama sekali tak akan berpengaruh pada tenaga
dalam yg kalian miliki, tapi sebulan kemudian apabila tidak
memperoleh pengurutan secara khusus, habislah sudah riwayat
kalian.”
“Selanjutnya bukankah kami harus mengikuti dirimu terus
menerus?” tanya Molim sangat terkejut.
“Hee…heee…hee…kalau aku mah tak dusi dg kalian, tentu saja
kalian harus mengikuti majikan kalian yg lama…”

“Kalau begitu, bukankah kami hanya bisa hidup selama satu
bulan saja….?” Seru Molim dg perasaan amat gelisah.
Kembali si pelajar rudin Ho Heng menggoyangkan tangannya
berulang kali, ujarnya :
“Kalau soal itu mah kalian tak perlu kelewat kuatir, aku si pelajar
pasti akan mewariskan kepandaian mengurut tersebut kepada
majikan kalian, asal kalian mau setia dan berbakti kepadanya, aku
yakin setiap bulan dia pasti bersedia pula mengurutkan kalian satu
kali.”
Pucat pias selembar wajah Molim karena ngeri dan ketakutan,
buru-buru serunya kemudian :
“Cukong, cepatlah kau pelajari ilmu mengurut nadi
darinya…..selamatkanlah jiwa kami…”
Sambil manggut-manggut pelajar rudin segera berseru :
“Nah, Kho sauhiap, mari kita pergi keluar!”
Kho Beng segera manggut-manggut dan mengikuti si pelajr rudin
menuju keluar ruangan.
Dalam beberapa kali lompatan saja tubuh si pelajar rudin telah
berada sejauh lima puluh kaki dari tempat semula, dari situ dia
segera melompat naik keatas pohon raksasa.
Dg amat cekatan Kho Beng mengikuti dibelakangnya, begitu
sampai diatas pohon, pemuda itu segera berkata dg hormat :
“Mohon petunjuk dari cianpwee!”
“Petunjuk apa?”
Kho Beng jadi tertegun, tapi segera sahutnya :
“Tentu saja ilmu mengurut utk mengobati ilmu menyumbat nadi
memotong urat tsb.”
Pelajar rudin Ho Heng segera tertawa misterius, serunya :
“Terus terang saja aku katakan, sebetulnya apa yg terjadi hanya
tipuan belaka.”
“Tipuan belaka?” tanya Kho Beng agak tertegun, “tapi mengapa
mereka merasakan dada serta lambungnya agak kesemutan?”
Sambil tertawa si pelajar rudin berkata :
“Hal ini disebabkan aku telah menggetarkan dada dan
lambungnya dg tenaga dalamku, paling tidak dalam setahun
mendatang mereka masih akan merasakan kesemutan tsb, setiap
bulan kau cukup berlagak menguruti nadi-nadinya dan mengelabui
mereka dg begitu saja, dalam keadaan seperti ini sebuas-buasnya

watak orang asing tsb, aku rasa mereka tak berani menunjukkan
sikap yg menyeleweng lagi.”
Buru-buru Kho Beng berkata :
“Terima kasih banyak atas bantuan cianpwee, cara yg kau
pergunakan ini memang cukup hebat!”
Pelajar rudin Ho Heng tertawa gembira, baru saja dia hendak
mengucapkan sesuatu, mendadak tampak sesosok bayangan
manusia meluncur datang dari kejauhan sana dan langsung
menerobos masuk kedalam kuil.
“Aduh celaka” bisik Kho Beng dg gelisah, “ada orang menyerbu
dalam kuil itu!”
Si pelajar rudin Ho Heng yg sudah mengetahui kehadiran
bayangan manusia tsb sendiri tadi, segera berkata sambil tertawa :
“Tak usah kuatir, mari kita lihat kembali kedalam kuil, memang
sudah lama tanganku terasa gatal dan pingin mencari orang utk
diajak berkelahi, kuharap orang ini cukup berharga utk bertarung
melawan diriku…”
Dg cepat mereka berdua segera melompat turun dari atas pohon
dan kembali kedalam kuil.
Sementara itu, diruang tengah bangunan kuil tsb telah berdiri
seorang kakek berkerudung, paras muka Molim sekalian berubah
seketika, mereka kelihatan gugup dan gelagapan sendiri.
Chin sian kun sendiripun merasa agak kaget bercampur gugup,
sorot matanya yg gelisah dan cemas berulang kali dialihkan keluar
ruangan, jelas ia sangat berharap Kho Beng dan si pelajar rudin Ho
Hewng bisa pulang kembali dg cepat.
Keadaan semacam ini tak lebih hanya berlangsung dalam sekejap
mata, sebab si pelajar rudin dan Kho Beng telah muncul kembali
kedalam ruangan tsb.
Situasi didalam ruangan kuil seketika mengalami perubahan yg
sangat besar, paing tidak Molim sekalian serta Chin sian kun sudah
tidak sekaget dan segugup tadi lagi.
Dalam pada itu, kakek berkerudung itu sudah memperhatikan
sekejap disekitar ruangan kuil, kemudian sambil tertawa dingin
katanya :
“Haaahh…haaahh…haaahh…bagus sekali, aku sudah menduga
kalau kalian empat anjing asing bukan manusia yg bisa dipercaya,
ternyata dugaanku benar, kalian telah membocorkan rahasia
kehadiranku disini….”

Kemudian sambil berpaling kearah Chin sian kun, bentaknya lebih
lanjut :
“Bukankah kau adalah To ko Giok, anak murid dari Go bi pay?
Mengapa bersekongkol dg mereka?”
Chin sian kun segera mendengus dingin :
“Hmmm, sekarang aku dapat memberitahukan kepadamu,
sesungguh nonamu adalah …”
Belum selesai perkataan itu diucapkan, kakek berkerudung
bertubuh ceking itu sudah menggoyangkan tangannya berulang kali
seraya menukas :
“Tak perlu kau lanjutkan, aku sudah dapat menebak siapa
gerangan dirimu yg sebenarnya.”
“Siapakah aku?” tanya si nona sambil tertawa.
Dg suara rendah dan dalam kakek berkerudung itu membentak :
“Kau adalah si walet terbang Chin sian kun yg telah menghianati
para jago dari kawasan Sam siang…betul bukan?”
Chin sian kun segera tertawa terkekeh-kekeh :
“Ketajaman matamu memang sangat mengagumkan, tebakanmu
memang sangat tepat!”
Dg penuh amarah, kakek berkerudung itu berseru lagi :
“Selama hidup, belum pernah aku dibodohi orang seperti hari ini,
hey budak busuk, aku lihat nyalimu benar-benar cukup besar,
tapi….beginipun ada baiknya juga…….
Bersambung ke jilid 26
Jilid 26
“Yaa benar” sambung Chin sian kun, “mari kita selesaikan
persoalan tsb sekarang juga, toh urusan segera akan menjadi
beres.”
Kho Beng yg berada disisinya segera mengawasi kakek
berkerudung itu tajam-tajam, lalu hardiknya dg suara keras :
“Siapa kau? Berani benar berkaok-kaok semaunya sendiri
ditempat ini…?”
Kakek berkerudung itu segera mendongakkan kepalanya dan
tertawa terbahak-bahak :
“Haaahh…haaahh…haaahh…walaupun hari ini kau sudah
memperoleh kemajuan yg pesat dalam ilmu silat, bukan berarti aku
sudah memandang sebelah mata kepadamu, terus terang saja aku

katakan diriku ini adalah Thia Bu ki, salah satu diantara dua belas
orang pelindung hukum dari Siancu!”
“Kalau begitu kedatanganmu memang sangat kebetulan” kata
Kho Beng kegirangan, “aku memang sedang mencari tahu
dimanakah siluman perempuan In nu berdiam diri, aku rasa kau bisa
memberitahukan alamat kepadaku bukan?”
“Kurang ajar!” bentak Thia Bu ki marah, “berani amat kau
menghina Siancu kami? Hmmm, pelanggaranmu itu pantas kalau
dijatuhi hukuman mati…”
Sebetulnya dia sama sekali tidak menaruh perhatian terhadap
sipelajar rudin Ho Heng yg dianggapnya sebagai si pengemis itu, tapi
akhirnya dia toh memperhatikan juga sekejap, tanyanya kemudian
dg nada menghina :
“Siapa pula dirimu? Mengapa ikut bergerombol bersama
mereka?”
Pelajaar rudin Ho Heng memandang sekejap kearah Kho Beng,
kemudian baru ujarnya sambil tertawa :
“Apakah anda bertanya kepadaku si pelajar?”
“Aku tak peduli kau adalah seorang pelajar atau seorang guru,
aku Cuma bertanya apa sebabnya kau berkelompok bersama
mereka?” bentaknya sengit.
Si pelajar rudin Ho Heng menghela napas panjang :
“Aaai…aku sipelajar bernasib kurang mujur, ketika ujian negara
yg kuikuti berulang kali, aku gagal lulus akhirnya dg perasaan apa
boleh buat aku mengembara dalam dunia persilatan dan mencari
sesuap nasi dg kesana kemari, sungguh beruntung nasibku hari ini
rada mujur, aku telah bertemu dg beberapa orang langganan yg
berduit, kami telah bicarakan secara baik-baik bahwa temanku ini
akan menggunakan tenaga aku si pelajar dg upah dua tahil perak
setiap hari, waaah…coba kau bayangkan sendiri, bila aku dipakai
selama setahun saja sudah pasti aku sipelajar akan menjadi seorang
hartawan yg cukup lumayan….”
“Untuk apa mereka menyewa dirimu? Memangnya membutuhkan
tenaga utk membuat syair atau membacakan dongeng?” jengek Thia
Bu ki sinis.
“Oooh, bukan, bukan” si pelajar rudin menggoyangkan tangannya
berulang kali, “mereka bukan mengundang utk menjadi guru sastra,
tapi menyewa aku si pelajar utk menjadi tukang pukulnya.”

“Haaahh…haaahh…haaahh…” Thia Bu ki segera tertawa
terbahak-bahak, “betul-betul satu berita yg amat lucu, dg
kemampuan seorang setan penyakitan macam dirimu, mau jadi
tukang pukul macam apakah dirimu itu?”
“Jangan kau menilai orang dari bentuk rupanya, yg penting
adalah isinya” ucap si pelajar rudin sambil menggeleng, “biar pun
tampangku kurang meyakinkan, tapi kepandaian silatku cukup
tangguh, kau tahu delapan belas senjata dapat kupergunakan semua
secara sempurna.”
Utk kesekian kalinya, Thia Bu ki memperhatikan si pelajar rudin
itu dari atas kepala hingga keujung kaki, lalu jengeknya lagi sambil
tertawa dingin :
“Heeehh…heeehh…heeehh…kalau toh kau sudah bersedia
menjadi tukang pukul mereka, andaikata menghadapi soal
pertarungan, tentunya kau pula yg akan tampilkan diri utk membela
bukan?”
“Oooh, tentu saja, tentu saja…! Setelah menerima upah, tentu
saja aku mesti berusaha utk melenyapkan bencana atas dirinya. Kau
tahu bukan, saban hari aku si pelajar telah menerima gaji sebesar
dua tahil perak, tentu saja bila bertemu dg urusan yg menyangkut
nyawa, aku si pelajar lah yg akan tampilkan diri utk
menghadapinya.”
“Mengapa kau tidak mencoba utk menimbang diri sendiri,
mampukah kepandaianmu mengatasi setiap masalah?” ejek Thia Bu
ki lagi sambil tertawa.
Si pelajar rudin Ho Heng segera tertawa terkekeh-kekeh :
“Cukup berbobotkah diriku utk mengatasi masalah tsb, hanya
orang lain yg mampu menimbangnya, aku sipelajar tidak mengerti
bagaimana caranya utk menimbang kemampuan sendiri.”
“Bagus sekali” Thia Bu ki segera membentak keras, “malam ini
juga aku akan mencoba utk menimbang sampai dimanakah bobot
kemampuan yg kau miliki….”
Sesudah berhenti sejenak, kembali tegurnya dg suara dalam :
“Senjata apa yg hendak kau gunakan?”
Si pelajar rudin Ho Heng menggeleng kepalanya berulang kali,
katanya :
“Aku si pelajar tidak pernah mempergunakan senjata, aku pun
tak memerlukan senjata…sebab ak si pelajar adalah orang yg malas,

bila mesti menggembol senjata utk berjalan, waaah…repotnya
setengah mati, maka aku lebih suka tidak membawa apa-apa”
“Bila bertemu dg jagoan yg berilmu tinggi, dg silat apa kau
hendak menghadapinya?” tanya Thia Bu ki mendongkol.
“Jago yg benar-benar berilmu tinggi tidak terlalu banyak
jumlahnya didunia ini, kalau biasa-biasa mah cukup kuandalkan
sepasang kepalanku ini, karena kepalanku sudah lebih dari cukup…”
Lalu setelah mengerling sekejap sekitar ruangan, kembali dia
berkata :
“Seandainya benar-benar bertemu dg lawan tangguh, aku
sipelajar pun menyambar benda apa saja yg kebetulan ada disekitar
sana, sebab setiap benda yg ada didunia ini tak ada sebuahpun yg
tak bisa dipergunakan sebagai senjata.”
Thia Bu ki mendengus dingin :
“Hmmm…kalau didengar dari perkatanmu sih nampaknya
kepandaianmu sangat hebat…coba kau lihat, senjata macam apakah
yg hendak kau comot sekarang?”
“Ooooh…kalau begitu kau hendak menantang aku sipelajar utk
bertarung?” tanya si pelajar rudin sambi tertawa cengar cengir.
“Tepat sekali! Aku memang bermaksud demikian!”
Masih juga tertawa cengar cengir, si pelajar rudin Ho Heng
berkata lebih jauh :
“Apakah kau menganggap aku si pelajar telah bertemu dg musuh
yg sangat tangguh?”
“Haaahh…haaahh…haaahh…kesediaanku utk bertarung
melawanmu pun sudah merupakan sikap yg cukup menghargai
dirimu…”
“Aku sipelajar pun cukup menghargai kemampuanmu” jengek si
pelajar rudin sambil tertawa aneh, “baiklah, aku akan mencomot
sebuah benda sebagai senjata…”
Dia memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian katanya
lebih jauh :
“Aaah…benda yg bisa dipergunakan dalam kuil miskin ini
sungguh tidak terlalu banyak, terpaksa aku harus menggunakan
sekenanya saja biar kupakai yg ini saja!”
Sambil berkata tangannya segera mencomot kedepan, sebuah
tempat hio yg berada diatas altar tahu-tahu sudah berada dalam
genggamannya.

Benda itu besarnya tak lebih Cuma seperti mangkuk nasi, biarpun
berada dalam genggamannya, tak bisa terhitung sebagai senjata yg
membahayakan.
Kejadian tsb bukan saja membuat Thia Bu ki jadi tertegun
bahkan Kho Beng serta Chin sian kun pun ikut merasa terperanjat
sekali.
Terdengar Thia Bu ki tertawa terbahak-bahak, dia segera
membalikkan tangannya dan tahu-tahu sudah mengeluarkan sebuah
panji kupu-kupu yg egera digetarkan ditengah udara.
Dg angkuh dia menggoyangkan senjatanya dihadapan si pelajar
rudin Ho Heng, lalu tegurnya :
“Apakah kau kenal dg senjataku ini?”
“Bukankah senjata tsb bernama panji kupu-kupu?” sahut si
pelajar rudin acuh tak acuh.
Agaknya jawaban si pelajar tsb jauh diluar dugaan Thia Bu ki, dia
nampaknya agak melengak, kemudian serunya :
“Setelah mengenali senjataku, tentunya kau pun tahu asal usul
senjata ini beserta kedudukanku bukan?”
“Heeehh…heeehh…heeehh…sedikit banyak tentu saja tahu,
mungkin kau adalah anak murid dari partai kupu-kupu bukan?”
“Kupu-kupu terbang berpasangan, banjir darah melanda dunia
persilatan, saat ajalmu telah tiba!” seru Thia Bu ki sambil
menggoyangkan senjatanya.
“Aaaah, belum tentu!” jengek si pelajar rudin sambil
menggelengkan kepalanya.
Thia Bu ki tidak banyak berbicara lagi, senjata panji kupukupunya
bagaikan menyodok seperti juga menusuk, langsung
ditujukan kedada si pelajar rudin Ho Heng.
“Waaa…senjatamu memang luar biasa” teriak si pelajar rudin
setengah mengejek, “tapi sepasang kupu-kupumu menarik hati”
Hiolo yg berada ditangannya segera digetarkan, tampak selapis
cahaya kuning menyebar keempat penjuru untuk melindungi
tubuhnya, dg suatu gerakan ringan badannya mundur sejauh lima
kaki lebih jauh dari posisi semula.
Thia Bu ki menarik kembali senjatanya kemudian bentaknya keras
:
“Hey, kalau merasa punya kepandaian, ayo jangan main
sembunyi, mari kita bertarung tiga ratus jurus.”

Walaupun begitu, timbul juga perasaan ngeri didalam hatinya,
sebab gerak gerik si pelajar rudin yg kacau dan tak beraturan
dikenali sebagai suatu ilmu gerakan tubuh yg amat lihay, hal mana
menyadarkan dirinya bahwa pelajar yg dihadapinya bukan jagoan
tak berguna seperti apa yg diduganya semula.
Sementara itu si pelajar rudin telah menggelengkan kepalanya
sambil tertawa, katanya :
“Aku sipelajar merasa amat sayang dg sepasang kupu-kupu itu
dan tak ingin merusaknya, janganlah kita bertarung tiga ratus
gebrakan karena terlalu merepotkan, selamanya aku belum pernah
bertarung dg musuh melebihi sepuluh gebrakan, kalau dalam jangka
sepuluh jurus bisa menang ya anggaplah unggul, kalau tak bisa
menang yaa anggaplah saja kalah.”
“Sepuluh jurus? Baik, kita tetapkan sepuluh jurus saja, sambutlah
seranganku ini!” bentak Thia Bu ki.
Panji kupu-kupunya digoncangkan keras-keras, lalu dg jurus
“pentang sayap terbang berpasangan” ia melepaskan sebuah
serangan yg mah dahsyat.
Tiba-tiba saja tampak sepasang kupu-kupu yg berada diujung
senjatanya meluncur kemuka dg kecepatan luar biasa, satu berubah
menjadi dua, lalu dua menjadi empat, dalam waktu singkat
bayangan kupu-kupu yg berlapis-lapis sudah mengurung seluruh
tubuh pelajar rudin tersebut…
Menghadapi serangan yg begitu gencar, si pelajar rudin hanya
menggoyangkan badannya kian kemari seperti orang sempoyongan,
sementara hiolo ditangannya bergoncang tiada hentinya.
Lapisan cahaya kuning yg terpancar keluar segera membungkus
tubuhnya berlapis-lapis, kendatipun bayangan kupu-kupu sangat
banyak dan menyerang secara ganas, kenyataannya semua
ancaman tsb tak mampu berbuat banyak terhadap dirinya.
“Criiing…!”
Tiba-tiba bergema suara dentingan yg amat nyaring, disusul
kemudian tampaklah bayangan kupu-kupu yg menyilaukan mata tadi
hilang lenyap seketika itu juga.
Thia Bu ki dg perasaan ngeri bercampur kaget nampak mundur
kebelakang, meski poanji kupu-kupunya masih berada ditangan,
akan tetapi sepasang kupu-kupu diujung senjata tsb telah berpindah
tangan, kini benda tsb berada dalam genggaman si pelajar rudin.

Kho Beng dan Chin sian kun maupun Molim sekalian yg berada
disisi arena meski dapat mengikuti semua peristiwa itu secara jelas,
namaun bagaimana cara si pelajar rudin memetik sepasang kupukupu
dari ujung senjata lawan, ternyata tak seorangpun yg sempat
melihat dg jelas….
Lama sekali Thia Bu ki berdiri tertegun, kemudian baru teriaknya
:
“Ilmu kepandaian apa yg telah kau pergunakan….?”
Si pelajar rudin Ho Heng melemparkan hiolo tsb kedepan, dg
tenang tapi mantap benda tadi segera mendarat kembali diatas
altar, setelah itu dia baru berkata sambil tertawa hambar.
“Inilah yg disebut jurus “Petik bunga menangkap kupu-kupu”
Dg penuh kasih sayang dipandangnya kupu-kupu itu sekejap,
kemudian dimasukkannya kedalam saku bajunya yg dekil.
Sambil menggertak gigi menahan amarah, Thia Bu ki berkata :
“Aku benar-benar punya m ata tak mengenal bukit Tay san, boleh
aku tahu siapa namamu sehingga dikemudian hari bisa mohon
petunjuk lagi…?”
“Aku si pelajar bernama Ho Heng!” jawab si pelajar rudin itu
sambil tertawa.
Thia Bu ki kelihatan sangat terkejut, segera serunya tertahan :
“Oooh…rupanya jago lihay dari Pat huang, tak aneh kalau
begitu…”
“Sayang sekali terlalu terlambat kau mengetahui segala sesuatu
itu…”
“Tidak terlalu terlambat” tukas Thia Bu ki sambil menggertak gigi,
“aku segera akan melaporkan kejadian ini kepada Siancu serta
mencatat nama besarmu baik-baik, dikemudian hari kami pasti akan
mengunjungi anda sambil menyatakan terima kasih…nah sekarang
maaf kalau aku hendak mohon diri lebih dulu!”
Ia menggerakkan sepasang bahunya dan siap meninggalkan
tempat tersebut….
“Eeei…tunggu dulu, tunggu dulu!” pelajar rudin Ho Heng segera
menghalang jalan perginya.
Thia Bu ki menjadi tertegun.
“Membunuh orang tak lebih hanya kepala menempel tanah, aku
toh sudah mengaku kalah, apa yg hendak kau lakukan sekarang”
Si pelajar rudin Ho Heng tertawa :

“Yaa benar, semestinya aku si pelajar tak pantas menyusahkan
dirimu lagi tapi aku sudah menerima gaji dua tahil perak saban hari
apakah kau diperkenankan pergi dari sini atau tidak rasanya aku si
pelajar tak bisa memutuskan sendiri…”
Kemudian sambil menjura kepada Kho Beng, katanya lebih jauh :
“Tuanku, sekarang tugas aku si pelajr sudah selesai, kecuali kalau
dia tak mau menuruti perkataanmu, aku sipelajar pasti akan turun
tangan dg sendirinya utk memberi pendidikan kepadanya.”
Thia Bu ki benar-benar mendongkol sekali gemasnya, dia hanya
bisa menggertak gigi keras-keras.
Sementara itu Kho Beng telah maju keepan, katanya kemudian
sambil tertawa :
“Sobat, akupun tak ingin terlalu menyusahkan dirimu,
keinginanku tak lebih hanya berharap kau sudi menjawab sebuah
pertanyaan ku saja, aku rasa kau pasti tahu bukan dimanakah
letaknya sarang dewi In nu?”
“Sebagai salah satu dari dua belas pelindung hukum Siancu,
tentu saja aku mengetahui alamatnya” sahut Thia Bu ki dingin, “tapi
aku tak bakal memberitahukan kepadamu, lebih baik matikan saja
harapanmu itu…”
Kho Beng menjadi gusar sekali, serunya :
“Kuanjurkan kepadamu lebih baik menuruti saja permintaanku,
sebab kalau tidak, hmmm! Kau sendiri yg bakal rugi”
“Hmmm, aku justru sengaja tak mau bicara, apa yg bisa kau
lakukan….?”
Tidak sampai perkataan tsb selesai diucapkan, panji kupu-kupu
yg telah kehilangan sepasang kupu-kupunya itu telah digetarkan
kembali keras-keras kemudian langsung disodokkan kedada Kho
Beng.
Melihat datangnya serangan tsb, Kho Beng menjadi amat gusar,
pedangnya segera diloloskan dari sarungnya, kemudian dg jurus
Thian goan kui wi, dia tangkis datannya ancaman panji kupu-kupu
dari Thia Bu ki….
Pada saat yg bersamaan pula si pelajar rudin menerjang kemuka
dan melepaskan sebuah tendangan kilat ketubuh Thia Bu ki.
Sebetulnya keistimewaan yg dimiliki senjata panji kupu-kupu itu
terletak pada sepasang kupu-kupu diujung senjata tsb, dg lenyapnya
kupu-kupu itu maka senjata tsb menjadi tak ada gunanya sama
sekali.

Itulah sebabnya hanya dalam satu gebrakan saja, senjata tsb
sudah gigetarkan oleh pedang Kho Beng hingga terlepas dari
genggaman dan mencelat keluar pintu.
Tendangan yg dilepaskan si pelajar rudin Ho Heng barusan
memang lihay sekali, tendangan tsb persis menghajar tulang
selangkangan sebelah kanan Thia Bu ki.
Akibatnya ia nampak mundur dua langkah dg sempoyongan,
kemudian roboh terjungkal keatas tanah.
Kho Beng tidak berayal lagi, kelima jari tangannya segera
dikebaskan kedepan utk menotok jalan darah Cian kong hiat dikiri
kanan bahunya serta jalan darah Yong swan hiatnya.
Dg tertotoknya jalan darah Cian kong hiat serta Yong swan hiat,
otomatis keempat anggota badan Thia Bu ki menjadi hilang
fungsinya, meski begitu bagian tubuh yg lain tetap berjalan normal
dan sama sekali tidak ada gangguan.
Sambil tertawa terkekeh-kekeh si pelajar rudin Ho Heng berkata :
“Hey situa bangka, inilah yg disebut mencari penyakit buat diri
sendiri, sungguh menggelikan, sungguh menggelikan!”
Sementara itu Kho Beng telah berjongkok sambil membentak
keras :
“Sekarang kau tentu sudah sadar bukan, tidak berbicara pun
tiada gunanya, biarpun aku mesti mencincang tubuhmy sedikit demi
sedikit, aku tetap akan memaksamu memberi keterangan.”
Mendadak Thia Bu ki tertawa seram, katanya :
“Heee…heee…heee…kalau aku bisa membuat harapan kalian
terkabul, percuma saja menjadi salah satu diantara dua belas
pelindung hukum Siancu, biar aku bakal mampus tapi cepat atau
lambat kalian pun jangan harap bisa lolos dari cengkeraman maut
partai kupu-kupu!”
Pelajar rudin Ho Heng nampak agak tertegun, kemudian
teriaknya :
“Hati-hati, tua bangka itu hendak bunuh diri.”
Tapi sayang peringatan itu toh masih terlambat selangkah,
tampak darah segar menyembur keluar dari mulut Thia Bu ki,
menyusul kemudian terlihat sepotong gu,palan daging berwarna
merah turut tersembur keluar, rupanya dia telah bunuh diri dg
menggigit putus lidah sendiri.
Dg gemas Kho Beng menghentak-hentakkan kakinya keatas
tanah sambil berseru :

“Akulah yg teledor, sayang sekali titik terang yg berhasil kita
peroleh dg susah payah harus terputus kembali ditengah jalan…”
Setelah menyemburkan beberapa gumpal darah segar, selembar
nyawa Thia Bu ki pun turut melayang meninggalkan raganya.
Dalam pada itu Molim telah mendekati jenasah Thia Bu ki serta
mencopot kain kerudungnya, kemudian ia berkata :
“Bajingan inilah yg telah menggaet kami utk masuk kedalam
komplotannya”
Tergerak hati Kho Beng, mendadak ia bertanya :
“Selain dia, siapa lagi yg sering mengadakan hubungan kontak dg
kalian?”
Molim jadi terkejut sekali, buru-buru katanya :
“Sudah tak ada, selain dia seorang kami tidak mengenal yg
lain…”
Pelajar rudin Ho Heng segera menyela sambil tertawa terkekehkekeh
:
“Padahal persoalan ini tak usah digelisahkan, kita bisa menyelidiki
secara pelan-pelan…”
Kemudian setelah melirik sekejap kearah Molim, Mokim, Hapukim
serta Rumang, katanya lebih jauh :
“Ilmu mengurut nadi telah kuajarkan kepada majikan kalian, asal
kamu semua tak punya pikiran nyeleweng dan menuruti
perintahnya, aku rasa tak akan terjadi sesuatu atas dirimu
berempat.”
“Cukong, benarkah kepandaian tsb telah kau pelajari?” dg raguragu
dan gelisah Molim berpaling kearah Kho Beng.
Sianak muda itu segera mengangguk :
“Tentu saja telah kupelajari, kalian tak usah kuatir, setahun
kemudian, cianpwee ini pasti akan membebaskan kalian dari
pengaruh ilmunya, disamping itu aku pun tetap akan menepati
janjiku dulu, yakni mewariskan ilmu silat dari kitab pusaka Thian
goan bu boh kepada kalian”
“Terima kasih cukong…” buru-buru Molim berseru.
Sambil tertawa pelajar rudin segera berkata pula :
“Kho Beng, belum terlalu lama aku sipelajar meninggakan
kawasan Lam huang, munculnya kembali orang-orang partai kupukupu
membuat hatiku sangat tak tenang, sebetulnya siapa sih dewi
In nu itu? Dan apa yg telah terjadi selama ini?”
Setelah menghela napas, Kho Beng berkata :

“Dewi In nu adalah dalang dari peristiwa pembunuhan berdarah
ketujuh puluh lembar jiwa keluarga Kho kami, sedangkan orangorang
dari partai kupu-kupu tak lain adalah para pelindung
hukumnya…”
“Kalau begitu sungguh aneh sekali!” bisik si pelajar rudin sambil
berkerut kening.
“Maksud cianpwee…” Kho Beng kelihatannya agak tercengang.
Dg wajah amat serius pelajar rudin Ho Heng berkata :
“Kau tahu, sewaktu partai kupu-kupu masih malang melintang
didalam dunia persilatan, waktu itu kemampuan mereka amat
dahsyat hingga tujuh partai besar pun bukan tandingan mereka.
Badai pembunuhan berdarah yg berlangsung pada seratus tahun
berselang itu hampir memporak porandakan seluruh dunia persilatan
andaikata tiga dewa Sam gwa sam sian tidak segera munculkan diri,
entah bagaimanakah penyelesaian terhadap pembantaian berdarah
itu. Akibat dari peristiwa ini, pihak partai kupu-kupu telah
mengumumkan pengunduran dirinya dari dunia persilatan, tapi
sempat meninggalkan nyanyian yg berbunyi : Kupu-kupu terbang
berpasangan, banjir darah melanda dunia persilatan, hujan air mata
bersedihan, bangkai berserakan menganak bukit.”
“Tentang masalah ini, boanpwee sudah pernah mendengar”
Pelajar rudin Ho Heng manggut-manggut kembali katanya :
“Setiap anggota partai kupu-kupu hampir semuanya angkuh dan
berpandangan tinggi, coba bayangkan sendiri, apa sebabnya mereka
bersedia tunduk dibawah perintah seorang wanita dan mau
bnertindak sebagai pelindung hukum dari dewi In nu?”
Kemudian sambil menunding kearah jenasah Thia Bu ki yg
terkapar ditengah ruangan, kembali dia berkata :
“Bayangankan pula sikap situa bangka tsb, dia lebih rela mati
daripada mengungkapkan letak sarang dari dewi In nu, dari sini bisa
disimpulkan bahwa persoalannya lebih tak gampang…”
“Yaa, persoalan ini memang membingungkan sekali!” kata Kho
Beng sesudah termenung sebentar.
Sambil memicingkan matanya, si pelajar rudin Ho Heng kembali
berkata :
“Dalam masalah demikian ini hanya ada satu kemungkinan, yakni
bisa jadi dewi In nu adalah salah seorang tokoh dari partai kupukupu.”

Bagaikan baru memahami akan sesuatu, dg rasa kaget Kho Beng
segera berseru :
“Yaa, tebakan cianpwee memang tepat sekali, kemungkinan
besar memang begitulah kenyataannya, kalau tidak mengapa tokohtokoh
partai kupu-kupu seperti Thia Bu ki, Ong Thian siang, Tang
Bok kong serta Liok Ci ang sekalian begitu rela menjadi pelindung
hukumnya?”
“Benar!” pelajar rudin manggut-manggut, “ditambah lagi
tujuannya berada dikitab pusaka Thian goan bu boh, persoalan pun
rasanya semakin jelas lagi, sebab peristiwa berdarah yg terjadi pada
seratus tahun berselang pun timbul dari kitab pusaka Thian goan bu
boh yg lenyap secara tiba-tiba, karena kitab pusaka Thian goan bu
boh sesungguhnya adalah benda mestika milik partai kupu-kupu.”
“Tapi ilmu silat yg tercantum dalam kitab pusaka Thian goan bu
boh hanya terdiri dari ilmu kepalan, ilmu pukulan dan ilmu pedang,
sama sekali tidak tercantum ilmu panji kupu-kupu seperti
andalannya, aku rasa dibalik kesemuanya ini…”
Dg cepat si pelajar rudin Ho Heng menggoyangkan tangannya
menukas pembicaraannya yg belum selesai itu, katanya :
“Tentang soal ini justru aku….sendiri pun tidak mengerti tapi
menurut berita yg tersiar, kenyataannya memang begitu, jadi bila
masih ada persoalan lainnya, jelas aku tak akan mengetahuinya…”
Tiba-tiba ia memutar biji matanya sambil menambahkan :
“Lebih baik kau sendiri yg mencegah persoalan pelik itu, aku
sendiri harus segera pergi!”
“Cianpwee hendak pergi?” tanya Kho Beng agak tertegun.
Pelajar rudin tertawa :
“Aku si pelajar khusus meninggalkan Lam huang datang kemari,
tentunya bukan dikarenakan urusanmu, bukan?”
Merah jengah selembar wajah Kho Beng, segera tanyanya :
“Lantas cianpwee hendak kemana?”
Pelajar rudin Ho Heng berpikir sebentar, lalu katanya :
“Hwesio daging anjing, situa Bu wi semuanya termasuk orangorang
yg ingin kujumpai dalam perjalananku kali ini, biar aku pergi
mencari mereka berdua saja.”
“Saat ini kedua orang tua tsb berada dilembah hati buddha,
apakah cianpwee mengetahui tempat tsb?” buru-buru Kho Beng
bertanya.
Pelajar rudin Ho Heng segera tertawa terbahak-bahak :

“Haa…haaa…haaa…lembah hati buddha adalah sarang lama dari
hwesio daging anjing, aku sipelajar pernah berkunjung kesitu, nah
selamat tinggal….”
Sambil berkata, tubuhnya sudah beranjak pergi meninggalkan
ruangan tsb.
Cepat-cepat Molim menyusul kedepan sambil berteriak :
“Hey situa, setelah berkunjung kelembah hati buddha, kau masih
hendak pergi kemana? Lebih baik kita jangan sampai kehilangan
kontak dg dirimu!”
“Kenapa?” tanya si pelajar rudin sambil mendengus.
Agak tergagap Molim segera berkata :
“Andaikata cukong kami lupa cara menguruti nadi kami, dia bisa
mencarimu utk belajar kembali.”
Mendengar perkataan ini, si pelajar rudin Ho Heng segera
tertawa terbahak-bahak tanpa menjawab pertanyaan dari Molim lagi,
ia segera menggerakkan sepasang bahunya.
Laksana anak panah yg terlepas dari busurnya dia segera melesat
kemuka meninggalkan tempat tsb, dalam waktu singkat bayangan
tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.
Menyaksikan si pelajar rudin tidak menggubris sama sekali atas
kekuatirannya, Molim menjadi amat m endongkol sambil menggigit
bibirnya ia berseru :
“Aku benci setengah mati dg si tua bangka tsb!”
“Yaa betul betul mak nya…hari ini kita lagi apes semua” teriak
Rumang pula sambil melonjak-lonjak, “sialan, kita bisa mati
penasaran…”
“Tutup mulut!” mendadak Kho Beng membentak keras.
Molim dan Rumang tak berani bicara lagi, sedang Mokim serta
Hapukim nampak agak terkejut, paras muka mereka berubah hebat,
namun selain mengawasi pemuda itu dg termangu, tak seorangpun
berani bersuit lagi.
Dg suara yg keras dan tajam kembali Kho Beng berkata :
“Kalian anggap perbuatan kalian berempat yg berhianat dan
berniat jahat sama sekali tidak kuketahui? Hmmm, selama ini aku
hanya membungkam karena aku masih berharap kalian bisa
bertobat serta kembali kejalan yg benar. Kalian tahu, malam ini Ho
cianpwee sudah menaruh ulat utk membunuh kalian semua, coba
kalau aku tidak mengingat-ngingat hubungan kita yg terdahulu,
mungkin tubuh kalian sudah dingin dan kaku sekarang….”

Buru-buru Molim berseru :
“Yaa, memang cukong telah menyelamatkan kami, selama hidup
kami tak akan melupakan kebaikan dari cukong!”
Kembali Kho Beng mendengus :
“Hmm, lantas kalian lagi mengumbar nafsu apa sekarang?”
“Hamba sekalian mengerti salah!”
“Hmm, ingat baik-baik, mulai hari ini kalian berempat harus saling
menjaga diri baik-baik, dalam perkataan maupun tindak tanduk
kalian mesti bersikap lebih hati-hati, bila salah seorang diantara
kamu berempat telah melakukan kesalahan, akibatnya kalian
berempat yg akan kuhukum, bila ada seseorang diantara kalian
berhianat, maka aku tak akan menguruti kalian berempat, biar
kulihat kalian berempat mampus bersama-sama….”
Berubah hebat paras muka keempat orang itu, serempak mereka
berteriak bersama-sama :
“Cukong tak usah kuatir, betapa pun besarnya keberanian kami,
tak nanti kami berani mempunyai pikiran jahat lagi.”
“Bagus sekali!” Kho Beng manggut-manggut, “asal kalian dapat
berbuat demikian akupun tak akan menyia-nyiakan pengharapan
kalian semua.”
Tiba-tiba Chin sian kun menyela :
“Kho kongcu, fajar sudah hampir menyingsing, kita harus segera
memutuskan langkah kita berikutnya!”
Kho Beng hanya mengangguk tanpa menjawab, keningnya
berkerut kencang, jelas untuk sesaat sulit baginya utk mengambil
keputusan, ia tak tahu kemana harus pergi?
Chin sian kun yg menyaksikan hal itu, kembali berkata :
“Untung saja Bok cuncu sudah kembali ke kuil Siau lim si utk
memberikan laporan pada ketuanya dan segera menurunkan
perintah kepelbagai jago partai utk mengutus jago-jagonya melacaki
jejak siluman perempuan In nu, aku rasa kita harus kembali dulu ke
lembah hati Buddha!”
Kho Beng termenung berapa saat, mendadak ia menggelengkan
kepalanya seraya berkata:
“Tidak, utk sementara waktu ini aku tak ingin bertemu dg Bu wi
cianpwee maupun hwesio daging anjing.”
“Kenapa?” tanya si nona sambil menghembuskan napas panjang.
Kho Beng menghela napas panjang, katanya :

“Sewaktu hendak meninggalkan lembah hati Buddha, aku pernah
sesumbar kepada Bu wi cianpwee dan hwesio daging anjing,
kenyataannya hasil nihil yg kuperoleh sekarang, rasanya kok rikuh
kalau mesti kembali dalam keadaan tangan hampa….”
Setelah memutar biji matanya sebentar, dia berkata lagi :
“Menurut pendapatku, lebih baik nona pulang lebih dulu, biar aku
berangkat kebukit Cian san utk sekali lagi mengadakan
penyelidikan……”
“Bukankah rencana semula kita akan pulang ke lembah hati
Buddha bersama? Mengapa kau berubah pikiran ditengah jalan?”
tegur si nona sambil berkerut kening.
“Sebab, setelah mengetahui penghianatan Molim sekalian
berempat yg secara diam-diam bersekongkol dg pihak In nu siancu,
rasanya semangatku seperti dikobarkan lagi…betul dari pihak Siau
lim si bakal mengirim banyak jago dari pelbagai partai utk melacaki
jejak si pembunuh keji itu, tapi aku rasa toh lebih baik kulakukan
pelacakan sendiri, apalagi keselamatan ciciku terancam bahaya
maut, aku wajib mencoba sekali lagi!”
Chin sian kun segera menghela napas panjang :
“Baiklah, setelah kau memutuskan demikian, maka aku pun tak
berniat menghalangi mu lagi, tapi aku tetap akan mendampingimu,
aku pikir kau tak bakal menampik bukan?”
“Lebih baik nona jangan ikut, pulanglah dulu kelembah hati
Buddha karena kepergian nona sama sekali tak diketahui mereka,
bila kau tak segera kembali kelembah, aku kuatir mereka bakal
gelisah, disamping itu……”
“Cukup! Kau tak usah melanjutkan” tukas Chin sian kun sambil
menggoyangkan tangannya berulang kali, “aku cukup memahami
perasaanmu, bukankah kau takut kehadiranku hanya akan menjadi
beban untukmu?”
“Nona jangan salah paham, aku sama sekali tak sependapat
begitu….” Buru-buru Kho Beng berseru :
“Kalau begitu kau setuju atau tidak?” desak si nona agak girang.
Dg perasaan apa boleh buat terpaksa Kho Beng berkata :
“Kalau toh nona berkata demikian, rasanya kurang baik kalau
kuhalangi niatmu itu….”
“Nah begitu baru benar…..apakah kita akan segera berangkat
kebukit Cian san?”
Kho Beng berpikir sebentar, kemudian katanya :

“Paling baik kita duduk beristirahat sejenak disini, besok malam
kita baru berangkat kebukit Cian san.”
Waktu itu Molim sekalian berempat telah berubah menjadi amat
jinak dan penurut, mereka hanya mengekor belaka terhadap semua
keputusan yg diambil.
Begitulah, Rumang segera ditugaskan menguburkan jenasah Thia
Bu ki dibelakang kuil, sementara yg lain membersihkan ruang kuil
tsb, distulah mereka berempat duduk bersemedi sambil menunggu
waktu.
Dalam suasana yg hening dan tenang, mereka berenam
beristirahat hingga tengah hari seblum bangkit utk berangkat.
Setelah melalui masa beristirahat yg cukup panjang, kesegaran
mereka telah pulih kembali.
Kho Beng segera menurunkan perintah utk berangkat menuju
kebukit Cian san.
oooOOooo
Ketika melalui sebuah dusun dalam perjalanan, mereka pun
bersantap dulu disebuah rumah makan sampai kenyang, selesai
bersantap mereka baru meneruskan perjalanan kebukit Cian san.
Ketika sampai dikaki bukit, tengah malam telah menjelang tiba.
Mereka berenam melanjutkan perjalanannya memasuki sebuah
hutan lebat, disanalah perundingan rahasia segera dilaksanakan.
Pertama-tama Kho Beng berkata lebih dulu kepada Molim dg
suara berat lagi dalam :
“Sekarang kau harus berbicara sejujurnya, selama kau
mengadakan kontak dg anak buah dewi In nu, benarkah kau Cuma
berhubungan dg Thia Bu ki yg telah terbunuh itu?”
Molim sangat terkejut, buru-buru dia mengangkat sumpah :
“Jika hamba berbicara bohong, biarlah aku dikutuk oleh thian dan
mati secara tak wajar!”
Dg kening berkerut, kembali Kho Beng berkata :
“Bukan aku tak mau percaya kepadamu tapi dg matinya Thia Bu
ki berarti hubunganmu dg mereka pun jadi putus, kini hubungan
semacam ini tak mungkin dapat dipergunakan lagi!”
Tiba-tiba Chin sian kun menimbrung :
“Walaupun Thia Bu ki telah mati, tapi aku rasa anak buah dewi In
nu yg lain pasti mengetahui juga akan hubungan persekongkolan

antara Molim dg mereka, paling tidak dewi In nu pasti mengetahui
persoalan ini….”
Kho Beng berpikir sebentar, kemudian manggut-manggut :
“Yaa, perkataanmu ini memang ada benarnya juga….”
Sorot matanya segera dialihkan kembali kewajah Molim,
lanjutnya :
“Begini saja, kalian berempat tak usah menyembunyikan jejak
lagi, teruskan perjalanan keatas bukit secara terang-terangan, asal
dewi In nu belum meninggalkan bukit Cian san, sudah pasti jejak
kalian bakal mereka diketahui.”
“Apa yg mesti kami lakukan jika kami telah ditemukan?” tanya
Molim agak sangsi.
“Setelah mereka menemukan kalian berempat, tak ada salahnya
bila kau melaporkan peristiwa Thia Bu ki yg telah bunuh diri, bila
ada jawaban lain, aku tentu akan menyampaikan kepada kalian dg
ilmu menyampaikan suara.”
Terpaksa Molim manggut-manggut :
“Hamba turut perintah.”
“Nah, kalian boleh berangkat sekarang.”
Molim saling pandang sekejap dg Mokim, Rumang serta Hapukim,
kemudian beranjak pergi dari situ dg langkah lebar.
Begitulah dibawah petunjuk Kho Beng yg disampaikan secara
diam-diam, keempat orang itu sengaja berjalan dg langkah berat,
bahkan sengaja bercakap dg suara keras.
Asalkan satu li disekitar tempat itu ada orangnya, sudah pasti
kehadiran mereka akan menarik perhatiannya.
Sementara itu Kho Beng bersama Chin sian kun menguntil
dibelakang mereka secara diam-diam, gerak gerik mereka tak
ubahnya seperti sukma gentayangan.
Sepanjang jalan mereka perkampungan Ciu hong san ceng, juga
melewati perkampungan Bwee wan yg rata dg tanah, namun
sepanjang jalan suasana amat sepi dan tak nampak sesosok
bayangan manusia pun…..
Dalam posisi empat berjalan terang-terangan dan dua mengikuti
secara diam-diam inilah mereka berenam meneruskan perjalanan
kepuncak bukit, sebab Kho Beng telah memutuskan, dia harus
memeriksa seluruh bukit Cian san sampai jelas utk membuktikan
apakah dibukit Cian san masih ada musuh yg bersembunyi.

Dipuncak bukit Cian san terdapat sebidang tanah datar,
rerumputan tumbuh subur diatas tanah tsb.
Pepohonan yg rimbun memenuhi pula sisi lereng bukit dg batu
cadas berserakan disana sini.
Sekilas pandangan, tempat tsb tak ubahnya seperti sebuah
puncak bukit yg sepi dan jauh dari keramaian manusia.
Namun menjelang kentongan pertama, tiba-tiba tampak empat
sosok bayangan manusia berkelebat dan berkumpul ditengah-tengah
puncak bukit tsb.
Ternyata keempat sosok bayangan manusia itu adalah Cun hong
Lengcu, Hee im Lengcu, Ciu hoa Lengcu serta Tang soat Lengcu.
Mereka berempat saling berpandangan sekejap, lalu tertawa
ringan.
Cun hong Lengcu segera berkata dg lirih :
“Belakangan ini sifat suhu kurang baik, karenanya dalam
pertemuan malam nanti kita harus menghadapinya secara hati-hati.”
Selesai berkata ia segera bertepuk tangan tiga kali sebagai kode
rahasia mereka…
Begitu selesai bertepuk tangan, dari empat arah delapan penjuru
segera bermunculan dua puluhan lelaki berbaju hitam yg semuanya
memakai pakaian ringkas dan menyoren pedang dipinggangnya, dg
cepat mereka mengurung ketengah lapangan.
Salah seorang diantaranya segera menjura , sambil berkata :
“Hamba menjumpai Lengcu berempat!”
Ternyata orang ini adalah sipedang geledek Sin Cu beng, seorang
tokoh silat yg amat termasyur dalam dunia persilatan dimasa lalu
dan sekarang menjadi selah seorang komandan pasukan dibawah
perintah dewi In nu.
Sambi tersenyum, Cu hong Lengcu berkata :
“Malam ini Siancu akan membuka sidang, harap komandan Sin
melakukan penjagaan yg lebih ketat dan berhati-hati lagi!”
“Hamba mengerti!” buru-buru Sin Cu beng manyahut.
“Apakah penjagaan disekeliling tempat ini sudah selesai diatur?”
“Lengcu tak perlu kuatir, hamba telah menyiapkan segala
sesuatunya secara rapi, jangan lagi manusia, seekor burung jangan
harap bias melintasi istana gua pengikat cinta ini tanpa diketahui
jejaknya.”
“Bagus sekali!” dg gembira Cui hong Lengcu manggut-manggut,
“silahkan komandan Sin kembali ke posnya!”

Sin Cu beng segera menjura, lalu sambil membalikkan badan,
bisiknya :
“Masing-masing kebali ke posnya sendiri, jaga dg hati-hati,
menjumpai tanda bahaya jangan bertindak terlalu ayal!”
Dua puluhan orang jago berbaju hitam itu serentak mengiakan
bersama dan menyebarkan diri keempat penjuru, gerak-gerik
mereka cepat bagaikan gulungan asap ringan, dalam waktu singkat
bayangan tubuh mereka sudah lenyap dari pandangan.
Setelah anak buahnya bubaran, Sin Cu beng baru beranjak pula
meninggalkan tempat tsb.
Sepeninggal orang-orang itu, Cu Hong Lengcu mendongakkan
kepalanya dan memandang sebentar keadaan cuaca, lalu bisiknya :
“Waktu sudah semakin dekat, mari kita tunggu suhu naik ke
mimbar sidang!”
“Silahkan suci!” Hee im Lengcu dan Tang soat Lengcu serentak
berseru.
Dg langkah lebar, Cun hong Lengcu segera beranjak lebih dulu
meninggalkan tempat tsb.
Disisi kiri bukit terdapat sebuah dinding karang yg terjal,
disanalah terbuka sebuah lorong rahasia waktu itu, keempat Lengcu
serentak melangkah masuk kedalam lorong tsb.
Ketika mereka telah masuk kedalam, terdengar kembali suara
gemerincingan nyaring, pintu gua merapat kembali seperti sedia kala
hingga sama sekali tak terlihat titik kecurigaan pun.
Setelah berada dalam lorong rahasia, Cun hong Lengcu sekalian
menelusuri undak-undakan batu turun kebawah, lebih kurang lima
puluh anak tangga kemudian didepan sana terbentang sebuah
lorong bawah tanah yg amat luas dan lebar.
Dinding samping maupun langit-langit lorong tsb terbuat dari
batu cadas yg datar, pada jarak setiap dua kaki tertancap sebatang
obor yg menerangi sekitar goa tsb.
Selain itu, pada jarak setiap satu kaki sepanjang lorong tadi
berdiri seorang busu bersenjata lengkap yg siap menghadapi segala
kemungkinan, suasana yg menyeramkan menimbulkan rasa bergidik
bagi siapapun yg memandangnya..
Ketika Cun hong Lengcu sekalian melewati lorong tsb, serentak
semua busu membungkukkan badan member hormat.

Panjang keseluruhan dari lorong rahasia tsb mencapai dua
puluhan, kaki pada ujungnya terdapat dua buah cabang jalan, Cun
hong Lengcu sekalian mengambil jalan yg belok kesisi kiri.
Jalan bercabang itu tidak terlalu panjang, lebih kurang hanya tiga
kaki lebih, pada ujungnya muncul sebuah ruang batu yg luas sekali,
paling tidak lebarnya mencapai dua puluhan kaki persegi.
Waktu itu dalam ruangan telah penuh berdiri manusia yg
berjajar-jajar, diantaranya terdapat busu bersenjata lengkap, ada
gadis-gadis cantik berpakaian ringkas, ada pula kakek yg rambutnya
telah beruban.
Ditengah ruangan, dekat dinding belakang didirikan sebuah
panggung tinggi, didepan panggung tergantung tirai bamboo,
sedang dibelakang tirai bamboo terdapat sebuah kursi besar.
Pada kedua belah sisi kursi besar tadi, masing-masing tersedia
pula empat buah bangku bambu yg agak kecil.
Kecuali kelima lembar kursi tsb berada dalam keadaan kosong,
diluar tirai bamboo telah penuh dg manusia.
Pada barisan terdepan berjajar sebelas orang kakek yg berusia
antara lima puluh sampai tujuh puluh tahunan, pakaian mereka
beraneka ragam.
Sedang pada barisan kedua adalah puluhan nona cantik berbaju
ringkas, pakaian mereka pun berwarna warni dan amat menyolok
mata.
Dibelakang barisan gadis-gadis muda itu adalah lelaki kekar yg
masih muda semua, usia mereka berkisar dua sampai tiga puluhan
tahun, sedang pakaian yg dikenakan adalah warna hitam atau
kuning yg kelihatan amat segar.
Tatkala Cun hong Lengcu sekalian memasuki ruangan tsb,
suasana yg semula hening kini bertambah sepi, demikian sepinya
hingga detak jantung setiap orang hampir bias terdengar jelas.
Keempat orang Lengcu itu langsung menerobos masuk diantara
kerumunan orang banyak, mereka tidak berhenti dalam ruang batu
tapi langsung membuka pintu rahasia dan masuk kedalam.
Lebih kurang sepeminuman teh kemudian, tampak pintu rahasia
itu kembali terbuka, tampak seorang dayang berbaju indah
munculkan diri sambil berseru dg nyaring :
“Siancu memasuki mimbar!”
Suaranya mengalun sampai ketempat kejauhan dan mendengung
tiada hentinya dalam pendengaran.

Tak lama kemudian tampak lima puluh empat orang nona
berbaju ringkas berwarna kuning yg membawa pedang terhunus
munculkan diri dari balik pintu rahasia dan berjalan menuju mimbar
dg langkah lebar.
Dg gerakan cepat mereka menyebarkan diri lalu mengurung
mimbar itu rapat-rapat.
Suasana yg mencekam seluruh ruangan waktu terasa hening dan
sepi, suasana serius menyelimuti perasaan setiap orang.
Lewat beberapa saat lagi baru kelihatan seorang perempuan
cantik berusia tiga pulu tahunan yg memakai baju kuning, bermantel
bulu dan berwajah anggun, munculkan diri ditengah ruangan.
Dua orang nenek berbaju kuning berjalan mengiringi disisi kiri
dan kanannya, sikap yg anggun dan wajah berwibawa membuat
setiap orang merasakan hatinya tercekat.
Barulah dibelakang mereka mengikuti keempat Lengcu yakni Cun
hong, Hee im, Ciu hoa serta Tang soat, semuanya langsung menuju
keatas mimbar.
Tak salah lagi perempuan anggun yg diiringi dua orang nenek tsb
bukan lain adalah In nu Siancu.
Ia langsung menuju kekursi kebesaran yg telah disediakan dan
duduk, sementara kedua orang nenek tadi berdiri mendampingi
dibelakang tubuhnya…….”
Menunggu dewi In nu sudah duduk, secara terpisah keempat
orang Lengcuitu baru mengambil tempat duduk dikeempat kursi kecil
yg telah disediakan.
Pelan-pelan dewi In nu memperhatikan suasana dalam ruangan,
kemudian tanyanya dg suara hambar:
“Apakah semuanya telah hadir!”
Mendadak paras muka dewi In nu berubah hebat, bentaknya
keras-keras :
“Kurangajar, sampai kalian berempat pun berani membohongi
diriku, besar nian nyali kalian!”
Cun Hong Lengcu sangat terkejut, tanpa sadar ia menjatuhkan
diri berlutut diatas tanah sambil katanya :
“Teecu tak berani membohongi suhu!”
Masih dg nada marah, dewi In nu berkata lagi :
“Sudah jelas diantara duabelas orang pelindung hukum hanya
sebelas orang yg hadir, terpaksa hanya sebelas orang yg hadir,
mengapa kau katakana telah hadir semua?”

Tampaknya Cun hong Lengcu sama sekali tidak mengetahui akan
peristiwa itu, ia baru berpaling kebawah mimbar setelah mendengar
perkataan tsb.
Betul juga, diantara deretan kakek yg berdiri dibarisan terdepan,
ternyata hanya sebelas orang yg hadir, terpaksa katanya lagi dg
suara tergagap:
“Teecu memang pikun, silahkan suhu menjatuhkan hukuman!”
Dewi In nu mendengus :
“Dihukum atau tidak, lebih baik dibicarakan nanti saja, hayo
cepat selidiki apa yg telah terjadi!”
“Teecu turut perintah!”
Buru-buru Cun hong Lengcu bangkit berdiri, mundur sejauh tiga
langkah kemudian baru menghadap kebawah mimbar, seraya
membentak :
“Siapakah diantara dua belas pelindung hukum yg belum hadir?”
“Thia Bu ki!” seorang kakek berbaju ungu menjawab.
Dg kening berkerut, Cun hong Lengcu kembali berkata :
“Apakah dia tak tahu kalau mala mini diadakan siding?”
“Tentu saja tahu!”
“Kalau sudah tahu malam ini ada siding, mengapa sengaja ia
tidak hadir? Memangnya ia sudah bosan hidup!”
“Betapapun besarnya nyali Thia Bu ki, semestinya dia akan dapat
hadir pada waktunya…..aku kuatir……..”
“Kuatir kenapa? Mengapa tidak segera diucapkan?” hardik Cun
hong Lengcu keras-keras.
“Aku kuatir terjadi sesuatu peristiwa yg diluar dg dirinya…..”
Bergetar keras perasaan Cun hong Lengcu setelah mendengar
perkataan itu, buru-buru katanya :
“Tahukah kau apa yg sedang dilakukannya selama satu dua hari
belakangan ini?”
“Menurut apa yg kuketahui, dia sedang melacak jejak keempat
orang asing yg menjadi pengikut Kho Beng, tapi hingga saat ini
bayangan tubuhnya masih belum juga Nampak.”
Mendadak…….
Disaat Cun hong Lengcu dan sikakek berbaju ungu itu
melangsungkan Tanya jawab, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki
yg tergesa-gesa datang, disusul kemudian tampak seorang laki-laki
berbaju ringkas lari masuk kedalam ruangan.

Suasana gaduh segera mencekam seluruh ruangan itu, Cun hong
Lengcu menghentikan pembicaraannya dan menyingkir kesamping,
sementara sorot matanya dialihkan kewajah Dewi In nu, jelas ia
sedang mengamati bagaimana reaksi gurunya terhadap peristiwa
ini?
Tampak lelaki berbaju hijau itu lari kedepan mimbar lalu
menjatuhkan diri berlutut seraya berseru :
“Hamba menjumpai Siancu!”
Menyusul kemudian ia menyembah berulang kali.
Paras muka Dewi In nu amat dingin dan tanpa emosi, terhadap
sikap lelaki itu ia menunjukkan sikap acuh tak acuh.
Melihat sikap gurunya itu, buru-buru Cun hong Lengcu segera
membentak dg suara lantang :
“Besar amat nyalimu, berani sekali mengganggu ketengan
Siancu…..”
Buru-buru lelaki itu berkata :
“Berhubung ada urusan penting yg mesti dilaporkan, terpaksa
hamba harus menerobos masuk kemari, untuk itu harap Lengcu sudi
memaafkan kelancangan hamba.”
Agak kurang sabar dewi In nu menyelak secara tiba-tiba :
“Suruh dia laporan secepatnya!”
Buru-buru Cun hong Lengcu berseru :
“Cepat katakan!”
Dg suara lantang lelaki itu berkata :
“Thia huhoat telah mendapat celaka, jenasahnya dikubur
dibelakang kuil Lu cuo bio lima puluh li diluar kota, kini mayatnya
sudah digali keluar dan dibawa kemari.
Paras muka semua jago yg hadir dalam ruangan berubah hebat,
suasana berubah menjadi semakin hening, tiada orang yg berani
bersuara kecuali dengusan marah dari dewi In nu.
Dg perasaan amat bergetar, Cun hong Lengcu bertanya :
“Thia huhoat tewas karena termakan bacokan senjata ataukah
tewas oleh pukulan tenaga dalam?”
Lelaki itu menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya :
“Semua tidak, ia tewas karena bunuh diri, Thia huhoat bunuh dg
menggigit putus lidahnya sendiri.”
Tiba-tiba dewi In nu berkata sambil menghela napas :
“Bagus sekali! Masih untung dia tak menyia-nyiakan
kepercayaanku kepadanya, meski tewas karena musibah, ia pantas

dihormati sebagai pembantu yg amat setia, aku pasti akan
memohonkan pujian dari ciangbunjin…”
Setelah berhenti sejenak, dg suara dalam kembali katanya :
“Segera perintahkan orang utk mengurusi layonnya secara baikbaik
dan segera kirim ke markas besar partai kita.”
“Teecu segera akan mengutus orang utk melakukannya….” Buruburu
Cun hong Lengcu berseru.
Dg suara dalam sekali lagi dewi In nu berkata :
“Segera kirim tiga orang pelindung hukum utk menyelidiki sebab
kematian Thia huhoat, kemudian balaskan dendamnya!”
“Teecu terima perintah….”
Dg cepat Cun hong Lengcu membalikkan badan, membalik
kebawah mimbar seraya serunya :
“Tang Bok kong, Liok Ci ang, Oun Thian siang, perintah dari
Siancu tentunya sudah kalian dengar sendiri, kuharap kalian bertiga
segera melaksanakannya.”
“Hamba terima perintah!” buru-buru ketiga orang huhoat itu
menyahut.
Dewi In nu segera berseru :
“Persoalan ini tak perlu ditunda lagi, kalian berangkat sekarang
juga…..”
Tang Bok kong sekalian serentak member hormat kemudian
membalikkan badan dan mengundurkan diri dari situ.
Ruang tengah yg luas pun pulih kembali dlm keheningan, hanya
kali ini paras muka dewi In nu telah dilapisi oleh hawa dingin dan
kaku yg sangat mencekam hati.
Suasana hening semakin mencekam seluruh hadirin, mereka
semua menundukkan kepalanya rendah-rendah dan tak berani
menatap wajah atasannya lagi.
Terutama sekali keempat Lengcu, mereka merasa bagaikan
duduk dikursi berjarum, gerak geriknya amat tak tenang.
Diam-diam Cun hong Lengcu telah balik kembali ketempat
duduknya, sementara sinar matanya secara diam-diam meneliti
wajah Dewi In nu.
Ketika ia menjumpai tatapan mata Dewi in nu sedang tertuju
kearahnya, tanpa sadar cepat-cepat ia mengalihkan pandangan
matanya kearah lain, sementara wajahnya berubah menjadi merah
hijau tak menentu, sikapnya mengenaskan sekali.
Dg suara sedingin es, Dewi In nu berkata kemudian :

“Sewaktu berada diperkampungan Bwee wan tempo hari, justru
karena penjagaan yg sangat kendorlah menyebabkan Bu wi si
bajingan tua itu berhasil mencapai tujuannya secara mudah, kendati
aku berhasil menghajarnya sampai terluka parah, namun bagian yg
terpenting dari kitab pusaka Thian goan bu boh berhasil dicuri
olehnya. Sejak kejadian itu sampai sekarang, sudah berjalan cukup
lama, kenapa kalian semua belum berhasil juga merebutnya
kembali?”
Buru-buru Cun hong Lengcu mengerlingkan matanya sekejap
kearah Hee im, Ciu hoa serta Tang soat, serentak mereka berempat
bangkit berdiri dan berlutut dihadapan gurunya sambil berkata :
“Kesemuanya ini memang merupakan kesalahan teecu yg tak
becus!”
“Sebetulnya sampai dimanakah sulitnya pekerjaan ini? Memang
kalian mengulur waktu terus menerus? Memangnya aku harus turun
tangan sendiri baru berhasil?”
Cun hong Lengcu berpikir sebentar, lalu ujarnya :
“Keadaan yg sebenarnya telah teecu laporkan kepada suhu,
dalam kenyataannya Kho Beng adalah pemuda yg licik, justru karena
kami bermaksud memperalat keempat orang pembantu asingnya,
siapa sangka gara-gara persoalan ini Thia huhoat pun kena
musibah….”
Dewi In nu segera berkata setelah berpikir sebentar :
“Konon kalian menggunakan encinya sebagai umpan, mengapa
sekarang malah mengalihkan sasarannya kepada ke empat
pembantu asingnya?”
Dg hati bercampur keki serta marah, “masa untuk menyelesaikan
pekerjaan kecilpun kamu harus menggunakan cara yg berputar
kayuh macam begini?”
Setelah berhenti sejenak, ia segera membentak “
“Gusur dia kemari!”
Cun hong Lengcu tak berani membantah, ia segera member
tanda kepada Hee im dan Li sian soat, kemudian bersama-sama
mengundurkan diri dari situ.
Lebihkurang setengah peminuman teh kemudian, tampak Cun
hong Lengcu dan Hee im Lengcu telah muncul kembali kedalam
ruang siding dg mengempit tubuh Kho Yang ciu yg berambut awutawutan
serta bermata sayu.

Bersambung ke bab 27
Jilid 27
Wajahnya Nampak berpenyakitan, rasa bimbang dan tak habis
mengerti menghiasi mukanya yang kuyu, agaknya dia tak tahu
kemanakah dirinya telah dibawa.
Hingga dirinya diseret menuju ke depan mimbar, kedua orang
dayangnya Sia hong maupn Bwee hiang tak Nampak turut serta
datang kesitu.
Agaknya Kho yang ciu berada dalam semakin lemahi tampak
napasnya terengah-engah sambil meronta serunya :
"enci jin, enci Li sebenarnya apa yang telah terjadi..tempat
apakah ini?"
Dengan pandangan mata yang sayu dan payah dia
memperhatikan sekejap disekeliling sana, sementara rasa heran dan
curiga menyelimuti wajahnya. Dengan suara sedingin es cun hong
Lengcu berkata :
"Kho yang ciu, setelah kejadian berkembang begini, kamipun tak
bermaksud mengelabui dirimu lagi, terus terang saja kukatakan,
sebenarnya diantara kita merupakan musuh bebuyutan, hakekatnya
antara kita tak ubahnya bagaikan air dengan api."
"Cici berdua jangan bergurau," teriak Kho yang ciu makin
kebingungan, "kalian..."
"Dengarkan baik-baik, kami sama sekali tidak membohongimu,"
sambung Hee im Lengcu Li Sian soat dengan suara ketus.
"Dahulu kami baik kepadamu karena kami hendak memperalat
dirimu untuk membatasi umat persilatan dan sekarang kami akan
memperalat dirimu kembali untuk memaksa Kho Beng agar
menyerahkan kedua lembar kitab pusaka Thian goan bu boh
tersebut.."
Berubah hebat paras muka Kho yang ciu, agak tergagap katanya
: "sungguh .sungguh ini?"
"Kau tahu, siapakah orang yang duduk di atas situ? Terus terang
saja kami katakan, dia adalah guru kami. Dewi In Un"
"Aaaah-" Kho yang ciu berteriak keras, ia bermaksud untuk
bangkit berdiri. Tapi sayang dia sudah lupa kalau posisinya saat ini
sangat lemah. tahu-tahu kepalanya terasa amat pening dan seketika
itu juga roboh tak sadarkan diri-Cun hong Lengcu segera
membungkukkan badan memberi hormat keatas mimbar, katanya :

"Harap suhu sudi memberi petunjuk untuk menyelesaikan persoalan
ini.." Dewi In Un tertawa terkekeh-kekeh :
"Heeeeehhi.heeeehhheeeehhh, totok dahulu seluruh jalan
darahnya kemudian sekap dia didalam kamar tahanan, setelah itu
beritahu kepada Kho Beng agar dia datang kemari menukar cicinya
dengan dua lembar kitab pusaka Thian goan bu boh tersebut"
Kemudian sambil berpaling kembali serunya :
"Ciu hoa. Tang soat"
Ciu hoa dan Tang soat Lengcu serentak melompat bangun sambil
berseru:
"Tecu siap menerima perintahi-"
Dengan wajah serius Dewi In «n berkata :
"Kalian berempat kerjakan tugas ini bersama-sama, setiap orang
yang termasuk anak buahku boleh kalian pergunakan bilamana
perlu, yang penting selesaikan tugas ini secepatnya"
"Baik, tecu terima perintah" jawab Ciu hoa dan Tang soat Lengcu
serentak-Tiba-tiba Cun hong Lengcu berseru agak sangsi:
"Lapor suhu, bila kita sampai berbuat demikian kemungkinan
besar rahasia letak gua pengikat cinta ini akan ketahuan musuh. bisa
jadi malah menyebabkan timbulnya pelbagai kesulitan dikemudian
hari."
Dewi In wn tertawa hambar:
"Pertama, bila perkerjaan ini telah selesai dikerjakan maka aku
akan segera memimpin semua jago pulang ke markas besar, secara
otomatis semua bangunan yang berada dibukit cian san ini bakal
ditinggalkan dengan begitu saja"
setelah berhenti sejenaki lanjutnya :
"Kedua, disaat kedua lembar kitab pusaka Thian goan bu boh
sudah didapatkan kembali, apakah kalian benar-benar hendak
membebaskan mereka kakak beradik berdua dengan begitu saja?"
"Tentu saja tidak" jawab Cun hong Lengcu sambil memutar biji
matanya "jadi maksud suhu, tecu..."
"Tentu saja harus membabat rumput sampai akar-akarnya, kita
tak boleh membiarkan kedua orang anak jadah tersebut hidup terus
didunia ini." seru Dewi In wn sambil menggertak giginya menahan
emosi-
"Tecu pasti akan melaksanakan pesan suhu, hanya kali ini.."
Tidak sampai Cun hong Lengcu menyelesaikan ucapannya. Dewi
In wn telah menukas lagi dengan suara dalam:

"Bila kali ini menderita kegagalan lagi, kalian berempat akan
menerima hukuman yang paling berat"
Keempat orang Lengcu itu serentak membungkukkan badan
sambil berseru:
"suhu tak usah kuatir, kali ini tecu berempat pergi pasti tak akan
membuat suhu kecewa."
sementara itu seluruh jalan darah ditubuh Kho yang ciu telah
tertotok oleh Hee im Lengcu Li sian soat disaat ia jatuh tak sadarkan
diri tadi, keadaannya saat ini tak jauh berbeda seperti orang mati,
kesadarannya hilang dan tubuhnya lemas tak bertenaga-
Maka dibimbing oleh beberapa orang dayang, tubuhnya kembali
diseret keluar dari ruangan sidang-
Memandang hingga semua orang sudah pergi. Dewi In wn baru
bangkit berdiri sambil tersenyum.
Dayang berbaju perlente yang berdiri disisinya buru-buru
berteriak lagi dengan suara lantang :
"Tutup sidang"
Ditengah suara teriakan yang keras itulah. Dewi In Un diiringi
kedua orang nenek tersebut mengundurkan diri ke ruang dalam
melalui jalan rahasia semula. sementara itu Kho Beng bersama
Chinsian kun sekalian telah menelusuri puncak bukit dalam usahanya
melacak sarang musuhnya.
Tatkala mereka sudah berada setengah li dari puncak bukit,
mendadak Chinsian kun menarik ujung baju Kho Beng sambil
bisiknya :
"Puncak bukit itu gundul tanpa tumbuhan, sudah jelas tiada
bagian tempat yang menarik perhatian, aku rasa justru lembah disitu
yang amat mencurigakan, bagaimana kalau kita lakukan
pemeriksaan lebih dulu atas lembah tersebut?"
Kho Beng berpikir sebentar, kemudian ia manggut-manggut:
"ya a, perkataan nona memang benar-"
Maka dengan ilmu menyampaikan suara dia segera
memberitahukan kepada Molim agar berbelok kesamping kiri
langsung menuju kesebuah lembah yang rimbun.
siapa tahu justru karena perbuatannya ini secara kebetulan sekali
mereka telah menghindari pos penjagaan yang diatur diseputar
puncak bukit itu.

sepanjang jalan Molim sekalian menelusuri hutan dengan langkah
lebar, sepanjang jalan dia pun sibuk mengatur Mokim, Rumang dan
Hapukim sesuai dengan petunjuk yang diterimanya dari Kho Beng.
Tiba-tiba terdengar Molim berseru dengan suara keras :
"saudara-saudaraku, kenapa sih kita begitu apes sehingga segala
pekerjaan sepertinya tak pernah lancer, dengan susah payah kita
berhasil mengadakan hubungan dengan situa Thia, eeei siapa tahu
dia justru melakukan bunuh diri"-
"ya a, nasib kita memang lagi gelap, makanya." sambung
Rumang cepat, sementara pembicaraan berlangsung, mereka telah
memasuki lembah bukit itu.
Pepohonan yang tumbuh dalam lembah tersebut sangat lebat lagi
rimbun, jalan setapak pun susah dilewati, bukan saja hening sepi tak
kedengaran sedikit suara pun, bahkan sesosok bayangan manusia
pun tidak Nampak-
Dengan suara lantang Hapukim segera berseru:
"sebelum melakukan bunuh diri, si tua Thia juga tak
meninggalkan pesan apa pun, kemanakah kita harus mencari rekanrekannya-
heeei-situa Bangka itu betul-betul si telur busuk "
Biar pun nada suaranya tak terlalu lantang samun gema suaranya
telah mengalun diseantero lembah, asal disitu ada orangnya sudah
pasti suara tersebut akan kedengaran.
Tapi sungguh anehi selain gema panggilan suara sendiri, dari
lembah tersebut tak kelihatan sesuatu reaksi apapun.
Dengan gemas Rumang memungut sebutir batu dan ditimpuk
kedalam hutan seraya berteriak
"Makin dipikir rasanya hatiku semakin mendongkol, kalau bisa
akan kuobrak abrik bukit ini hingga rata dengan tanah"
Tangannya segera diayunkan ke depan, sebutir batu pun
meluncur ke depan dengan dahsyatnya. Blarrrrrr,... Diiringi suara
benturan yang sangat keras, sebatang pohon kecil yang terkena
timpukan batunya patah seketika itu juga menjadi dua bagian,
batang pohon itupun segera roboh ke tanah-
Tapi pada saat itu pula kedengaran suara orang membentak
keras dari balik hutan.
"Hey, siapa yang berkaok-kaok disini tengah malam buta begini?
Huuuh, benarkah didunia ini tiada tempat yang betul-betul tenang?"
Tampak seorang kakek berambut putih yang berperawakan kecil
lagi ceking dan membawa sebuah tongkat berkepala ular munculkan

diri disamping pohon yang tumbang itu, dia langsung melotot kearah
Molim sekalian.
sambil tertawa terkekeh-kekeh Molim sebera berseru:
"Maaf orang tua, kami datang untuk mencari seseorang-• "
"Hmmmm, sekalipun maksud kalian hendak mencari orang, toh
bukan begitu caranya" seru si kakek berambut putih itu sambil
mendengus.
"Masa ditengah malam buta begini datang kelembah untuk
mencari orang, benar-benar perbuatan orang edan.siapa sih yang
kalian cari?"
sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal, Molim berkata agak
gugup:
"Apakah kau orang tua kenal dengan Thia huhoat?"
"Hmm, mendengar namanya pun belum pernah," sahut kakek itu
sambil mendengus.
"siapa yang tak tahu kalau kau sama seperti Thia huhoat, samasama
menjadi anak buah siancu?" kata Molim lagi dengan kening
berkerut.
"Hey bocah kunyuki kau jangan sembarangan bicara, aku tak
peduli Dewi atau iblis, hayo cepat kalian pergi dari sini."
Molim tiada beranjak dari situ, malah setelah memutar biji
matanya, ia berkata lagi:
"Kalau begitu sungguh aneh, kalau toh kau bukan rekan Thia
huhoat, kenapa dirimu bisa berada dibukit Cian san ini?"
"Hmm, apakah bukit Cian san ini sudah punya pemilik tunggalnya
dan orang lain tak boleh datang?"
"Tentu saja tidak, tentu saja tidak" sahut Molim serasa
menggeleng, "tapi kau orang tua seorang diri bersembunyi di
lembah tersebut, sebetulnya apa yang sedang kau perbuat"
"Tidur"
"Waahi sungguh aneh sekali," tak tahan Molim berteriak
"kalau pingin tidur seharusnya pergi ke kota atau dusun untuk
mencari rumah penginapan. Kalau toh tak punya uang untuk
menyewa penginapan, pergilah ke kuil untuk mondok barang
semalam, masa kau malah datang keatas gunung untuk tidur?"
Kakek berambut putih itu mendengus.
"Baik rumah penginapan maupun dalam kuil sedikit banyak disitu
pasti ada orang, bila ada orang tak bisa dihindari lagi tentu rebut,
itulah sebabnya aku lari kelembah yang sepi ini untuk tidur.

Heii..sungguh tak disangka tidurku lagi-lagi diganggu oleh kalian
beberapa orang telur busuk?"
"Hey, kau lagi maki siapa?" Rumang segera menegur dengan
gusar.
"Tentu saja kau"
Rumang menjadi sewot, sambil mengayunkan kepalannya dia
siap menjotos tubuh kakek tersebut.
Tapi Molim segera menghadang dihadapannya sambil menegur:
"Jangan bertindak gegabah"
Ternyata Kho Beng telah memberi petunjuk kepada Molim
dengan ilmu menyampaikan suaranya untuk menyelidiki nama kakek
tersebut lebih dulu.
setelah mencegah Rumang, Molim segera menjura dalam-dalam
sambil tanyanya kepada kakek berambut putih itu ramah-
"Bolehkah aku tahu nama cianpwe?"
Kakek berambut putih itu tertawa cekakakan, sambil menatap
Molim, katanya :
"Jika kulihat dari tampangmu, agaknya kau Cuma seorang budak
asing, tak kusangka orang asing pun mengerti akan tata kesopanan,
aku dari marga Ang bernama It ciang, orang menyebutku si Kakek
Tongkat sakti"
"Namamu memang tepat sekali orang tua" ujar Molim kemudian
sambil tertawa.
"Mungkin nama tersebut disesuaikan dengan tongkat kepala ular
yang berada ditanganmu, bukan?"
Rupanya dia tak tahu apa yang mesti dibicarakan selanjutnya,
maka diutarakannya kata-kata basa basi untuk mengulur waktu
sambil menantikan petunjuk berikut dari Kho Beng.
Akan tetapi Kho Beng sama sekali tidak memberi petunjuk lagi
kepadanya dengan ilmu menyampaikan suara, sebaliknya malah
munculkan diri bersama Chin sian kun.
Mereka berdua langsung melayang turun dihadapan si Kakek
Tongkat sakti dan menjura dalam-dalam sambil ketanya:
"Boanpwee Kho Beng dan chin sian kun menjumpai Ang
locianpwee"
Buru-buru si Kakek Tongkat sakti berkata :
"Mana...mana..."
Tapi kemudian sambil menghela napas, katanya lebih lanjut:

"Makin lama orang yang muncul semakin banyak. aku rasa
memang susah untuk menemukan tempat yang amat tenang didunia
ini"
"Boanpwee memohon maaf yang sebesar-besarnya bila kehadiran
kami telah mengganggu ketenangan tidur cianpwee" buru-buru Kho
Beng berseru,
"tapi entah disebabkan urusan apa cianpwee munculkan diri
kembali didunia persilatan.."
Ternyata si Kakek Tongkat sakti bersama Bu wi lojin serta Gin san
siancu disebut sebagai tiga tokoh aneh dari dunia persilatan tapi
sejak puluhan tahun berselang jago tua ini telah hidup
mengasingkan diri, tak disangka secara tiba-tiba orang itu muncul
kembali di lembah yang sunyi hari ini.. Kakek Tongkat sakti seoera
tertawa terbahak-bahak:
"Haaahh-haaaah-haaah-sebetulnya aku sedang mencari tempat
untuk tidur, terus terang kukatakan sudah hampir setahun lamanya
aku belum pernah tidur yang nyenyak"
"Aaahi cianpwee memang gemar bergurau "
"Tidaki sama sekali tidak bergurau" si Kakek Tongkat sakti
dengan wajah serius,
"aku dapat memberitahukan kepadamu sejujurnya, tempat
tinggalku yang lama di lembah Ciong cun kok di bukit Pa San boleh
dibilang telah berubah menjadi lembah monyet, siang malam selalu
kedengaran suara monyet berteriak disitu, kau tahu telingaku ini
belum beristirahat dengan tenang barang sejenak saja."
"oooohi kiranya begitu," kata Kho Beng serius.
Mendadak Kakek Tongkat sakti menatap wajah Kho Beng lekatlekat,
setelah itu tegurnya:
"Dilihat dari usiamu masih sangat muda, dari mana kau bisa
mengetahui namaku?"
Buru-buru Kho Beng berseru:
"Nama besar tiga tokoh sakti dari dunia persilatan sudah
termasyur dimana-mana. sekalipun pengalaman boanpwee amat
cetekpun namun nama besar Ang locianpwee masih cukup kukenal"
Kakek Tongkat sakti kelihatan gembira sekali setelah mendengar
umpakan tersebut, segera katanya:
"Aaaahi terlalu sungkan, terlalu sungkan.."
Kemudian sambil mengalihkan pandangan matanya kewajah Kho
Beng kembali katanya sambil tertawa:

"Akupun rasanya seperti pernah mendengar akan namamu itu,
tapi bila ditinjau dari usiamu, sudah pasti namamu kudengar setelah
kemunculanku yang kedua kalinya, tapi dari siapa kudengar
namamu.aaaai, sekarang tak dapat kuingat kembali dengan jelas."
Kho Beng berpikir sejenaki kemudian katanya :
"sungguh beruntung boanpwee bisa bersua dengan cianpwee
pada malam ini, sebab hubungan boanpwee dengan kedua tokoh
sakti lainnya boleh dibilang cukup akrab."
"Coba kaujelaskan, hubungan macam apakah yang terjalin antara
dirimu dengan mereka berdua?" Tanya Kakek Tongkat sakti
keheranan.
"Bu wi lojin pernah mewariskan ilmu silat kepadaku, bahkan
dengan ilmu may teng tay hoat telah menghadiahkan tenaga dalam
sebesar empat puluh tahun hasil latihannya kepadaku, meski tiada
hubungan guru dan murid, tapi kenyataannya hubungan kami
menyerupai guru dan murid, sedang mengenai Gin san siancu, dia
adalah guru dari ciciku. Nah, coba bayangkan sendiri, bukankah
boanpwee mempunyai hubungan yang akrab dengan kedua orang
tokoh sakti tersebut?"
Kakek Tongkat sakti segera tersenyum:
"Paling tidak kau sedang mendekati diriku sekarang, tapi
hubungan kita akan datar, bahkan bertemu pun baru saja
berlangsung, bagaimana mungkin bisa terjalin hubungan yang akrab
diantara kita berdua?"
Dengan wajah serius Kho Beng berkata :
"Berbicara dari nama serta kedudukan cianpwee untuk bertemu
muka saja sudah sukar bagi orang lain, tapi kini boanpwee bisa
berbincang-bincang denganmu, hal ini sudah terhitung suatu
kejadian yang beruntung sekali-"
"Tak nyana kau sibocah muda pandai sekali berbicara, begini
saja, bagaimana kalau kita mengikat tali persahabatan?"
Buru-buru Kho Beng memberi hormat sambil serunya
"cianpwee, hal ini tak berani kuterima, masa boanpwee harus
saling menyebut sobat dengan cianpwee?"
Kembali Kakek Tongkat sakti tertawa :
"Kau jangan salah duga, kau toh tahu aku tak bakal menerima
murid, sekalipun ingin mengorek kepandaianku sedikit demi
sedikitpun tak mungkin bisa terjadi-dan lagi, akupun tak mampu

menerima dirimu sebagai muridku, sekarang teringat sudah aku
siapakah dirimu yang sebenarnya."
Dengan wajah serius ditatapnya wajah Kho Beng lekat-lekat,
kemudian ujarnya lebih jauh:
"Kau adalah keturunan dari perkampungan hui im ceng, sekarang
telah berhasil mempelajari ilmu silat dari kitab pusaka Thian goan bu
boh-yaa aku memang sudah tua, otakku sudah tak berfungsi lagi
sebagaimana mestinya. Padahal baru-baru berselang kudengar
berita tentang dirimu, siapa tahu hari ini sudah hampir
melupakannya kembali. "
"Kalau begitu cianpwee pun sudah mengetahui persoalan si Dewi
In wn?"
"Barusan toh sudah kukatakan dengan jelas," kata Kakek Tongkat
sakti sambil tertawa.
"Aku tak ambil peduli dewi atau setan, yang kuperhatikan justru
pada sudut yang lain, yaitu kemunculan partai kupu-kupu"
"Baik" Kho Beng maupun chinsian kun sama-sama dibuat
tertegun setelah mendengar perkataan tersebut.
"Kalau begitu kedatangan cianpwee ketempat ini bukan
disebabkan untuk mencari tempat tidur, bukan?" kata Kho Beng
kemudian sambil tertawa.
Kakek Tongkat sakti tertawa bergelak:
"Haaah.haaaah-haaah..aku datang kemari-sesungguhnya
memang untuk itu, namun akupun merasa amat terkejut atas
munculnya kembali partai kupu-kupu didalam dunia persilatan."
"Cianpwee, tak nyana kaupun memandang serius kemunculan
partai kupu-kupu tersebut, nampaknya partai kupu-kupu tak boleh
dianggap enteng"
"Bukan cuma tak boleh dianggap enteng" dengus Kakek Tongkat
sakti, "pada hakekatnya persoalan ini harus dianggap sebagai satusatunya
masalah yang terbesar dan paling serius dari dunia
persilatan, aku sebagai salah satu anggota dunia persilatan tentu
saja tak boleh duduk berdiam diri saja, itulah sebabnya meski aku
mencari tempat yang tenang untuk tidur yang nyenyak,
sesungguhnya kedatanganku kemari adalah untuk mencari
seseorang, tapi hingga kini orang yang kucari belum juga
ditemukan.,"
"siapa sih yang cianpwee cari?" tak tahan Kho Beng bertanya.

"orang dari marga Thian bernama Cun yang, dia adalah sahabat
karibku tapi sudah tiga puluhan tahun belum pernah bersua muka."
Diam-diam Kho Beng menyebut nama orang itu berulang kali,
terasa olehnya nama Thian Cun yang amat asing baginya, karena itu
sambil mengalihkan pokok pembicaraan kesoal lain, katanya lagi:
"Tahukah cianpwee bahwa diantara anak buah Dewi In un
terdapat pula jago jago lihay dari partai kupu-kupu?"
Kakek Tongkat sakti tertawa lebar:
"Padahal tiada sesuatu yang perlu diherankan dalam persoalan
ini, siapa tahu siancu tersebut adalah tokoh terpenting dalam partai
kupu-kupu? Tapi yang terpenting dari kesemuanya ini masih tetap
berada sang ciangbunjin dari partai kupu-kupu yaitu ui sik kong."
"Apakah locianpwee kenal dengannya?" Tanya Kho Beng agak
tertegun.
Kakek Tongkat sakti menggeleng.
"Kenal sih tidaki tapi sebelum aku mengasingkan diri dari
keramaian dunia persilatan dulu, aku sudah mendengar tentang
keturunan partai kupu-kupu yang dibangkitkan dari keruntuhan dan
sedang mempelajari sejenis ilmu sesat disuatu lembah yang
terpencil, adapun pentolan dari kesemuanya itu tak lain adalah Ui sik
kong, satu-satunya putra Thian it ketua partai kupu-kupu yang telah
tewas ditangan tiga dewa see gwa sam sian tempo hari, semenjak
saat itu aku sudah bisa menduga bahwa suatu saat partai kupu-kupu
pasti akan muncul kembali kedalam dunia persilatan."
"Locianpwee, pengetahuanmu sangat luas, aku rasa diantara
partai kupu-kupu dengan tiga dewa see gwa sam sian pasti sudah
terjalin hubungan dendam sakit hati yang tak mungkin terselesaikan
dengan damai bukan?"
Kakek Tongkat sakti manggut-manggut:
"aku rasa ada tiga tujuan partai kupu-kupu muncul kembali
dalam dunia persilatan, pertama mencari kitab pusaka Thian goan
bu boh yang hilang, kedua menuntut balas kepada tiga dewa see
gwa sam sian dan ketiga, membantai umat persilatan untuk
menyampaikan rasa bencinya selama ini."
setelah berhenti sejenak, kembali dia berkata lebih jauh :
"Kini terbukti kitab pusaka Thian goan bu boh berada
ditanganmu, otomatis kau pun terseret pula didalam peristiwa ini"
"Boanpwee sama sekali tak tahu kalau kitab pusaka Thian goan
bu boh adalah barang milik partai kupu-kupu, selain itu.."

"Tak usah kaujelaskan kepadaku" tukas Kakek Tongkat sakti.
"Padahal kitab pusaka Thian goan bu boh bukannya milik partai
kupu-kupu sejak permulaan. Hanya saja turun temurun kitab
tersebut beralih tangan sampai akhirnya jatuh ketangan mereka jadi
siapakah pencipta kitab tersebut hingga kini masih merupakan tekateki
besar namun yang pasti kitab pusaka Thian goan bu boh adalah
sumber bencana, sejak seratus tahun berselang dimana partai kupukupu
membantai dunia persilatan, hingga peristiwa berdarah yang
menimpa perkampungan Hui im ceng pada belasan tahun berselang,
semuanya sudah ditandai dengan ceceran darah dimana-mana-"
"Ya a, perkataan cianpwee memang betul, karena memang
begitulah kenyataannya," ucap Kho Beng lirihsetelah
menghela napas kembali. Kakek Tongkat sakti berkata :
"Kita memang tak bisa berbuat banyak terhadap peristiwa yang
telah terjadi, tapi menurut hematku, persoalan paling penting yang
harus kita lakukan sekarang adalah menghentikan pembantaian
berdarah yang tampaknya sudah mulai melanda dunia persilatan
ini."
"Lantas apa pendapat cianpwee tentang persoalan ini?"
sesudah mendengus dingin. Kakek Tongkat sakti berkata :
"Tindak tanduk partai kupu-kupu kelewat buas dan tak berperi
kemanusiaan, mereka tinggi hati karena menganggap ilmu silatnya
paling top, selain itu berambisi pula untuk menumbangkan semua
kekuatan yang ada dalam dunia persilatan, oleh sebab itu satusatunya
jalan adalah dengan membunuh untuk menghentikan
pembunuhan, kita tumpas partai kupu-kupu hingga ke akar-akarnya,
dengan begitu keamanan dunia persilatan baru bisa terjamin." Kho
Beng berpikir sebentar, kemudian katanya :
"Konon Tiga dewa see gwa sam sian tinggal dipulau Bong lay sian
to, entah Peristiwa itu terjadi pada seratus tahun berselang, setelah
Tiga dewa see gwa sam sian bekerja sama menumpas ketua partai
kupu-kupu ui Thian it, dengan menderita kerugian hampir lima puluh
tahun hasil latihan, ketiga dewa tersebut kembali ke pulau Bong lay
untuk memulihkan kembali kekuatannya, tapi tiga puluh tahun
kemudian secara beruntun mereka telah pulang kealam baka, jangan
lagi tiga dewa pribadi, sekalipun keturunan mereka pun kini sudah
mencapai generasi yang ketiga yaitu cucu-cucunya-
Tapi pihak partai kupu-kupu toh takkan peduli sampai dimanakah
generasi penerus dari tiga dewa tersebut, jelas mereka hanya akan

melampiaskan rasa benci dan dendamnya kepada ahli waris mereka
bertiga, bukan demikian?"
Kakek Tongkat sakti manggut-manggut: "ya a, tentu saja
demikian, tapi ahli waris tiga dewa"
Mendadak dia menghela napas dan tidak melanjutkan kembali
kata-katanya, sebenarnya bagaimana dengan k.tfi.^R^ keturunan
tiga dewa? desak Kho Beng keheranan, setelah lama sekali
termenung akhirnya Kakek Tongkat sakti berkata :
"Keturunan dari tiga dewa minim sekali jumlahnya, hingga
sekarang cucu tiga dewa masing-masing cuma seorang, usianya pun
telah mencapai tujuh delapan puluh tahun tapi mereka sudah tidak
menetap di pulau Bong lay lagi."
"Lantas mereka telah pergi kemana?"
"Tak ada yang tahu" Kakek Tongkat sakti menggeleng.
"Bahkan tak ada yang tahu pula karena persoalan apa mereka
sampai meninggalkan pulau Bong lay tersebut, tapi hubunganku
dengan si dewa An khek Thian cu yang paling akrab, itulah sebabnya
aku sengaja melacaki jejaknya sampai dimana-mana.
"oooh, rupanya cianpwee sedang mencari keturunan dari tiga
dewa,: sela Kho Beng,
"tapi si dewa Bu khek "
sambil tertawa Kakek Tongkat sakti berkata :
"Dewa Bu khek merupakan gelar yang dipergunakan turun
temurun, dulu gelar itu dipergunakan kakek Thian cun yang dan
sekarang dipakai olehnya sendiri, namuan..dunia begini luas, siapa
tahu dia telah pergi kemana?"
"Apakah keturunan tiga dewa sudah mengetahui tentang berita
meunculnya partai kupu-kupu dalam dunia persilatan?"
Kakek Tongkat sakti menghela napas panjang :
"Aaaai.justru persoalan inilah yang amat merisaukan hatiku, lagi
pula berbicara menurut situasi yang ada sekarang, kendati pun jago
silat yang berpihak kepada kita cukup banyak jumlahnya, tapi selain
keturunan dari tiga dewa, siapa lagi yang mampu membendung
agresi dari partai kupu-kupu?"
"Waaahi kalau begitu badai pembunuhan yang melanda dunia
persilatan sudah tak mungkin bisa dihindari lagi?" Tanya Kho Beng
dengan kening berkerut kencang.
Kakek Tongkat sakti tertawa getir:

"Berbicara yang sebenarnya, badai pembunuhan sudah mulai
melanda dunia persilatan, bukankah dimana-mana sudah terjadi
pembunuhan berdarah yang menimpa umat persilatan?"
Kho Beng terbungkam tak mampu menawab pertanyaan itu,
sampai lama kemudian dia baru berkata:
"Apakah cianpwee akan melanjutkan tidurmu? Kalau begitu, biar
boanpwee mohon diri lebih dulu.."
"Setelah dibangunkan oleh suara kalian yang berisik, sekarang
aku tak berminat untuk tidur lagi.."
Lalu sambil tertawa ia berpaling dan melanjutkan,
"Ditengah malam buta begini, sebenarnya karena persoalan apa
kalian mendatangi bukit yang terpencil ini?"
"Bukit cian san merupakan sarang dari Dewi In Un serta anak
buah andalannya. bisa jadi Dewi In un pribadi juga tinggal dibukit
ini, sekarang boanpwee sedang berusaha melacaki letak sarang
mereka itu."
" Apakah telah berhasil ditemukan?"
"Belum" pemuda itu menggeleng,
"tak kusangka gerak aerik mereka begitu misterius dan sangat
rahasia, aku lihat bukan pekerjaan yang gampang untuk
menemukan tempat persembunyian mereka-"
"Lantas apa rencana kalian sekarang?"
"Boanpwee bermaksud meneruskan pelacakan disekitar tempat
ini, bila tak berhasil kami akan segera tinggalkan bukit cian san,
bagaimana dengan cianpwee sendiri"
setelah memperhatikan sekejap sekitar tempat itu. Kakek
Tongkat sakti berkata :
"Aku toh tak bisa tidur lagi, tentu saja akan kutemani kalian, kita
baru berpisah setelah meninggalkan bukit Cian san nanti"
"silahkan cianpwee" buru-buru Kho Beng berseru.
Tapi Kakek Tongkat sakti segera menggelengkan kepalanya
berulang kali, katanya :
"Aku kurang hafal dengan daerah disekitar sini, lebih baik kalian
saja menjadi petunjuk jalanku."
Maka Molim sekalian berempat pun diperintahkan untuk
berangkat lebih dulu, sementara Kho Beng, chin sian kun serta
Kakek Tongkat sakti mengikuti dari belakang. Kali ini mereka
berangkat menuju kebelakang bukit.

suasana diatas bukit tersebut amat sepi, hening dan tak
kedengaran sedikit suara pun seakan-akan bukit tersebut adalah
sebuah bukit kosong yang tidak berpenghuni. Mendadak Dari
kejauhan sana muncul tiga sosok bayangan manusia yang meluncur
datang dengan kecepatan tinggi, menanti Molim sekalian
mengetahui akan kehadiran orang-orang tersebut, kedua belah
pihak sama-sama tertegun dan serentak menghentikan perjalanan.
Kho Beng, chin sian kun serta Kakek Tongkat sakti yang
menyaksikan dari kejauhan. peristiwa tersebut segera menyusupkan
diri kebalik pepohonan yang rimbun dan menyembunyikan diri
Dengan ilmu menyampaikan suara Kho Beng segera berbisik
kepada Kakek Tongkat sakti:
"Tak disangka kita akan bersua disini-, mereka bertiga adalah
pelindung hukum dari Dewi In wn, yaitu anggota dari partai kupukupu
yang menghebohkan itu. Ternyata mereka bertiga adalah tang
Bok kong, Liok Ci ang serta ong Thian siang."
"Bagus sekali" Kakek Tongkat sakti segera berseru dengan ilmu
menyampaikan suara,
'"Ingin kulihat manusia macam apakah mereka itu?"
Dalam pada itu. Tang Bok kong sekalian telah membentak sambil
tertawa dingin: "Heeehh.heehh.heeeh..kebetulan amat, kami
memang sedang mencari kalian beberapa orang, sungguh tak
disangka kita akan bersua dibukit ini."
Kemudian dengan nada berat, hardiknya :
"Ada urusan apa kalian datang ke bukit Cian san ini?"
" Kami sedang mencari kalian" jawab Molim cepat.
Jawaban tersebut segera membuat Tang Bok kong jadi tertegun,
serunya kemudian:
"Besar amat nyali kalian, kemana perginya Thia huhoat?"
"Justru karena persoalan ini kami khusus datang kemari, Thia
huhoat telah tewas, kamilah yang telah mengubur jenasahnya."
"Apa sebabnya dia tewas?" Tanya Tang Bok kong lagi sambil
kertak gigi.
Molim menghela napas panjang :
"Aaaaai, dia mati karena bunuh diri bahkan kematiannya
mengenaskan sekali-"
ong Thian siang tak bisa menahan diri lagi, dengan suara dalam
segera bentaknya :

"Hayo cepat ceritakan keadaan yang sebenarnya, bila berani
berbicara sembarangan, hati-hati dengan nyawa kalian semua"
"Kami memang sengaja datang kebukit Cian san untuk
melaporkan kejadian ini kepada Dewi In Un"
"Tutup mulut" bentak Liok Ci ang keras-keras.
"Nama siancu bukan sebutan yang boleh diucapkan sembarangan
orang. Hmmm.. cepat katakana, apa yang sebenarnya telah terjadi?"
sesudah menghela napas panjang, Molim beru berkata :
"Kami telah bersua dengan Thia huhoat di kuil Lu con bio, tatkala
ia sedang mengajak kami merundingkan persoalan penting, tiba-tiba
muncullah seorang pelajar rudin yang amat dekil"
"siapa namanya?" Tanya tang Bok kong.
Molim pura-pura mikir sejenak, akhirnya sambil bertepuk tangan
serunya :
"Ahhhh, betul Dia bernama sipelajar rudin Ho heng"
"Pelajar rudin Ho heng?" bisik Tang Bok kong sambil menggigit
bibir.
"Tak disangka bajingan tua inipun muncul kembali di dalam dunia
persilatan.apa yang dia lakukan?"
"Perdebatan segera terjadi antara dia dengan thia huhoat, kami
lihat pembicaraan diantara mereka saling bertolak belakang sampai
akhirnya terjadilah pertarungan yang amat seru. Kami benar-benar
tidak menyangka kalau sipelajar rudin yang kelihatannya ceking dan
tak bertenaga itu ternyata memiliki kepandaian silat yang begitu
tangguh. Tidak sampai dua gebrakan kemudian ia telah berhasil
memetik kupu-kupu diujung senjata Thia huhoat. sampai disitu Thia
huhoat pun mengaku kalah dan siap berlalu dari situ, siapa tahu
sipelajar rudin itu tidak mengijinkan pergi"
"Membunuh orang tak lebih kepala menempel tanah, apalagi
yang hendak diperbuatnya?" Tanya TanBok kong sambil menggertak
gigt.
"Dia memaksa Thia huhoat untuk memberitahukan tempat dan
alamat siancu, tapi permintaan tersebut dtampik oleh Thia huhoat,
kemudian entah mengapa ternyata ia menggigit putus lidah sendiri
dan bunuh diri"
"Bagaimana dengan sipelajar rudin Ho heng?" Tanya TanBok
kong setelah berpikir sejenak-
"Dia pergi dari situ" ucap Molim sambil menggeleng,
"Kemanakah dia pergi aku kurang jelas."

Dengan kemarahan yang meluap Tang bok kong berkata :
"Thia Bu ki telah salah menilai orang itulah sebabnya dia
mengundang bencana kematian bagi diri sendiri. Aku rasa kalian
berempat sama sekali tak berguna lebih baik kuhantar kalian pulang
kerumah nenek saja, hitung-hitung untuk melampiaskan rasa
dendam Thia bu ki"
sambil berkata dia segera mempersiapkan panji kupu-kupunya
untuk melancarkan serangan.
Molim menjadi sangat etrperanjat setelah menyaksikan kejadian
itu, cepat-cepat matanya celingukan ke sekeliling tempat tersebut
kemudian sambil menggoyangkan tangannya berulang kali, ia
berseru:
"Tunggu dulu, tunggu dulu, jangan buru-buru turun tangan."
Tang Bok kong mendengus dingin, sambil melintangkan senjata
panji kupu-kupunya didepan dada, ia berseru:
"Apalagi yang hendak kau ucapkan?"
Agaknya Molim cukup mengetahui akan kelihaian ke tiga orang
tersebut, dengan kemampuan yang dimilikinya bersama Rumang
sekalian berempat, paling banter Cuma bisa menahan seorang saja,
bila musuh turun tangan bersama, mustahil bagi mereka untuk bisa
meloloskan diri
Disamping itu diapun tidak tahu apakah Kho Beng sekalian
berada disekitar situ atau tidaki maka sambil tertawa paksa katanya
:
"Terhadap kematian Thia huhoat, sesungguhnya kami turut
bersedih Wati, tapi ilmu silat yang dimiliki sipelajar rudin Ho Heng
kelewat tinggi, tak mungkin bagi kami untuk membantunya, oleh
sebab itu terpaksa kami berangkat ke bukit Cian san untuk memberi
laporan."
Tang bok kong sebera mendengus dingin:
"Darimana kalian tahu tentang bukit cian san?"
Molim menjadi tertegun setelah mendengar pertanyaan itu, tapi
segera jawabnya :
"Kami pernah mendengar pengakuan Thia huhoat yang konon
berdiam di bukit Cian San. oleh karena itulah terpaksa kami datang
kebukit Cian san untuk beradu nasib."
"sipelajar rudin itu telah pergi kemana?" Tanya Tang Bok kong
kemudian dengan suara dingin.

"Dia telah pergi ke lembah hati Buddha, konon hendak mencari
Bu wi lojin serta Hwesio daging anjing"
Tang Bok kong sebera tertawa dingin: "Apalagi yang hendak
kalian sampaikan?"
sambil berkata senjatanya kembali dipersiapkan, tampaknya ia
sudah berniat untuk turun tangan lagi.
selain itu selain itu. Molim jadi tergagap, "hingga sekarang Kho
Beng masih belum tahu kalau kami telah menghianatinya, ia masih
menganggap kami sebagai orang kepercayaannya, ini berarti kami
dapat memperalat dirinya dan pelan-pelan berusaha untuk mencuri
kedua lembar kitab pusaka Thian goan bu"
Tang Bok kong sebera mengulapkan tangannya seraya berkata :
"Tidak usah dilanjutkan kata-katamu itu, terus terang saja aku
katakan, siancu sudah bosan dengan cara yang membuang waktu
seperti itu.."
Kemudian setelah berhenti sejenaki bentaknya keras-keras :
"Apalagi kau sudah tiada perkataan lain, hayo bersiap-siaplah
untuk menerima kematian"
senjata panji kupu-kupunya digetarkan siap hendak menyerang
tubuh Molim-
Disaat yang kritis itulah, mendadak terdengar seseorang berseru
dengan suara nyaring
"Tunggu sebentar"
Menyusul suara bentakan itu tampak empat sosok bayangan
menusia melayang turun dihadapan Tang Bok kong sekalian bertiga-
Kehadiran bayangan manusia itu agaknya membuat Tang Bok
kong, Liok Ci ang serta ong Thia n siang jadi tertegun, tapi buruburu
mereka menjura seraya berkata :
"Menjumpai Lengcu berempat"
Ternyata yang datang adalah Cun hong Lengcu, Hee im Lengcu,
Ciu hoa Lengcu, serta Tang soat Lengcu berempat.
Diantara keempat orang lengcu tersebut Molim sekalian pernah
bertemu dengan ciu hoa Lengcu serta Tang soat Lengcu, diam-diam
mereka merasa amat terperanjat-sementara itu Cun hong Lengcu
telah maju beberapa langkah ke depan, lalu menegur:
"Apakah mereka berempat adalah budak-budak asing dari Kho
Beng?"
"Benar" sahut Tang Bok kong seraya menjura.

"Kami telah bersiap-siap akan membunuh mereka semua, sebab
secara tidak langsung Thia huhoat telah tewas ditangan mereka."
sambil memutar biji matanya buru-buru Molim maju ke depan,
kemudian ujarnya seraya menjura dalam-dalam:
"Lengcu berempat, sesungguhnya bukan begitu persoalannya"
Cun hong Lengcu tertawa-tawa, bukan menjawab dia malah
bertanya :
"Tahukah kalian Kho Beng berada dimana sekarang?"
Molim berpikir sejenaki kemudian sahutnya :
"sekarang kami tidak tahu, tapi kami dapat segera mencarinya,
kami percaya dalam waktu singkat akan berhasil kami temukan."
"Bagus sekali." Cun hong Lengcu tertawa girang.
"Nah, adikku bertiga bagaimana menurut pendapatmu? Menurut
penilaianku merekalah pilihan yang paling ideal"
Hee im Lengcu mengerling sekejap kearah Cun hong Lengcu
serta Tang soat Lengcu, kemudian katanya sambil tersenyum:
"Toaci adalah pimpinan dari keempat Lengcu, sudah sepantasnya
bila toaci yang mengambil keputusan, siau moy sekalian tak ada
pendapat lain.."
Ucapan tersebut bernada mengumpak tapi bermaksud untuk
mencuci tangan, kontan saja membuat Cun hong Lengcu berkerut
kening, senyuman dinginpun segera menghiasi ujung bibirnya.
sambil berpaling kearah Tang Bok kong sekalian, ia segera berkata :
"Aku ingin mengajukan satu permohonan kepada huhoat bertiga,
apakah kalian bertiga sudi memberi muka"
Tang Bok kong agak tertegun, buru-buru sahutnya :
"Bila anda mempunyai suatu permintaan utarakan saja secara
terus terang, kami pasti akan mentaatinya."
Cun hong Lengcu sebera tertawa :
"Aku mempunyai kegunaan yang lain atas keempat orang budak
asing ini, bagaimana kalau kalian serahkan saja orang-orang
tersebut kepadaku?"
"Kalau memang Lengcu bermaksud demikian, tentu saja ku akan
mentaatinya. Cuma saja.."
"Cuma saja kenapa?" tukas Cun hong Lengcu sambil melotot.
sekujur badan Tang Bok kong Nampak bergetar keras, buru-buru
ujarnya dengan kepala tertunduk:

"yang aku maksudkan bukan persoalan mereka bertiga,
melainkan pembunuhan Thia huhoat yang sebenarnya yakni si
pelajar rudin Ho Heng."
Mendengar kata-kata itu, Cun hong Lengcu sekalian nampak
terperanjat sekali. Hee im Lengcu segera menyela :
"Aku dengar si pelajar rudin ini belum pernah meninggalkan
kawasan Pat huang mengapa secara tiba-tiba ia bisa muncul
didaratan Tionggoan."
Padahal sederhana sekali jawabannya kata Ciu hoa Lengcu sambil
tertawa dingin-
"Mungkin dia cun mendengar kabar tentang kitab cusaka Thian
goan bu boh sehingga bermaksud mencari bagian."
Cun hong Lengcu mendengus dingin, sambil berpaling kearah
Tang bok kong tanyanya :
"Dimanakah dia sekarang?"
sambil menunjuk kearah Molim, Tang bok kong berkata :
"Menurut pengakuan orang ini sipelajar rudin tersebut telah pergi
ke lembah hati Buddha."
Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya lebih jauh :
"Kalau dihitung sekarang berarti dalam lembah hati Buddha
sudah terdapat Bu wi lojin, Hivesio daging anjing serta sipelajar
rudin, tiga orang jago tangguh" sambil mengkertak gigi Cun hong
Lengcu menyela :
"jangankan baru mereka bertiga, sekalipun terdapat tiga puluh
orang atau tiga ratus orang pun akan kubuat mereka hancur
berantakan dan tak seorangpun dibiarkan hidup"
Lalu sambil mengulapkan tangannya kepada Tang Bok kong
sekalian, ia berkata lagi:
"Kalian boleh mengundurkan diri dari sini."
Tang Bok kong saling berpandangan sekejap dengan Liok Ci ang
serta ong Thian siang, kemudian sambil menjura mereka segera
mengundurkan diri dari situ.
sepeninggal ketiga orang pelindung hukum itu, Cun hong Lengcu
mengawasi sekejap wajah Molim sekalian, lalu katanya sambil
tertawa :
"sebenarnya kalian pingin mati atau hidup?"
Buru-buru Molim membungkukkan badan dalam-dalam seraya
berkata :

"sebenarnya maksud kedatangan kami kesini adalah untuk
menyampaikan kabar, perkataan Lengcu barusan benar-benar
membuat kami susah untuk menjawabnya."
"Aku sengaja mengajukan pertanyaan tersebut kepadamu tak lain
maksudku agar kalian mengetahui sampai dimana gawatnya
keselamatan kalian. Bila kamu berempat berpikiran dua.sudah pasti
kematian yang menimpa kamu semua bakal mengerikan sekali."
"Kami tak ingin mati, berjanji akan melaksanakan perintah
Lengcu dengan setia"
"Apakah kau yakin bisa menemukan Kho Beng?" Tanya Cun hong
Lengcu dengan suara dalam.
"Kami yakin bisa menemukannya" Molim mengangguk.-
"Bagus sekali" Cun hong Lengcu tertawa,
"tapi aku hanya memberi waktu tiga hari kepada kalian, bila
dalam tiga hari mendatang tetap tanpa berita, maka kalian semua
akan kubunuh"
Molim sebera menganggukkan kepalanya berulang kali:
"Itu mah gampang dan lagi waktu tiga hari sudah lebih dari
cukup buat kami, tapi apa yang harus kami perbuat setelah berhasil
menemukan dirinya?" "Kalian cukup menyampaikan sebuah kabar
kepadanya"
"Waahi itu mah sangat gampang tapi apa yang mesti kami
sampaikan?"
"Katakan kepada Kho Beng bahwa encinya Kho yang ciu sudah
disekap didalam gua pengikat cinta dibukit Cian san ini, dalam tiga
hari mendatang dia akan dihukum mati, tapi dia bisa menyelamatkan
jiwanya kalau mau. Asal datang dengan membawa kedua lembar
kitab pusaka Thian goan bu boh tersebut."
"Akan.akan kuingat baik-baik pesan itu" kata Molim kemudian
tergagap. Tiba-tiba Hee im Lengcu berkata pula dengan suara
dalam:
"Katakan kepada Kho Beng, inilah kesempatan terakhir baginya
untuk menyelamatkan cicinya, sebab bila sampai lewat tiga hari,
besar kemungkinan dia Cuma akan bertemu denganjenasah Kho
yang ciu"
"Baik..baik,"
setelah hening sesaat, Cun hong Lengcu berkata lagi:
"Asal dia telah memasuki daerah terlarang dari bukit ini, pasti ada
orang yang akan menyambut kedatangannya, tapi Kho Beng harus

bersikap hati-hati, kuharap dia jangan mempergunakan keselamatan
cicinya sebagai barang taruhan, bila dia berani bermain gila, maka
yang bakal mampus paling dulu adalah cicinya."
Kemudian setelah tertawa terkekeh-kekeh, katanya lagi:
"Nah, adikku bertiga, sekarang kita boleh pulang, sungguh tak
disangka persoalan ini bisa dilaksanakan dengan lancar."
Hee im Lengcu sekalian hanya mengangguk tanpa menjawab,
mereka berempat segera membalikkan badan dan berjalan menuju
kearah puncak bukit.
sepeninggal keempat orang perempuan itu, Molim baru menyeka
peluh dingin yang membasahi tubuhnya sambil berbisik dihati.
"sungguh berbahaya, sungguh berbahaya.."
"Dari keempat orang perempuan itu, aku kenal dua orang
diantaranya, "kata Rumang sambil menghampirinya.
"Mungkinkah mereka semua adalah anak buah dari Dewi In wn?"
"ssst mereka adalah empat orang Lengcu" bisik Molim-
"Kepandaian silat yang dimiliki konon jauh lebih hebat daripada
pelindung hukum, masih untung kita bisa menghadapi mereka
secara baik, kalau tidaki waah bisa berbahaya sekali"
"Apa yang mesti kita takuti?" kata Rumang,
"bukankah cukong serta Kakek Tongkat sakti mengikuti kita
secara diam-diam? Andaikata benar-benar terjadi pertarungan, yang
bakal sial adalah keempat orang perempuan tersebut."
"Tapi hingga detik ini aku tak mendengar pesan cukong lewat
ilmu menyampaikan suara, aku kuatir cukong tidak ikut datang
kemari. " Kata Molim sambil celingukan kesekeliling tempat itu.
Mendadak terdengar Kho Beng berkata sambil tertawa ringan
"Kalian kelewat mengkuatirkan soal itu padahal tak sedetikpun
kutinggalkan semua."
Tatkala Molim sekalian berpaling kearah sumber suara tersebut,
tampak Kho Beng, Chin sian kun serta Kakek Tongkat sakti sedang
berjalan keluar dari balik pepohonan.
Ternyata selama ini mereka bertiga bersembunyi hanya tiga kaki
dari area, tapi kenyataannya Tang Bok kong serta keempat Lengcu
sekalian tidak mengetahui akan kehadirannya.
Buru-buru Molim maju kedepan memberi hormat katanya :
"oooh cukong, hamba sekalian hampir mati saking cemas dan
kuatirnya"

Kakek Tongkat sakti segera mengulapkan tangannya seraya
berkata :
"Aku rasa tempat ini bukan suatu daerah yang aman, lebih baik
kita mencari tempat yang lain untuk berbincang-bincang"
Kho Beng dan chinsian kun segera mengangguki maka
merekapun mengajak Molim sekalian meninggalkan tempat tersebut
menuju kekaki bukit.
Lebih kurang lima li kemudian sampailah mereka disebuah bukit,
meskipun bukit tersebut tidak terlalu tinggi, namun bisa melihat
keadaan disekitarnya dengan jelas-sambil menunding keatas Kakek
Tongkat sakti berkata :
"Tempat diatas sana merupakan tempat yang amat strategis,
mari kita berbincang-bincang diatas sana."
Dia segera menggerakkan badannya dan berangkat lebih dulu
menuju ke atas puncak bukit itu.
setibanya diatas puncaki dengan wajah serius dan amat berat
Kho Beng menatap Molim sekalian seraya berkata:
"Kalian tak perlu menjelaskan lagi, semua pembicaraan yang
berlangsung tadi telah kudengar dengan terang.."
"Tampaknya perubahan yang terjadi bertambah serius, cukong
harus mencari akal yang bagus untuk menanggulangi persoalan ini."
"soal ini aku mengerti," tukas Kho Beng,
" tapi kalian., lebih baik pulang dulu ke lembah hati Buddha dan
menunggu kedatanganku di situ."
"Cukong hendak menyuruh kami pergi ke lembah hati Buddha?"
Tanya Molim sambil berkerut kening.
"ya a, kita harus pergi ke lembah hati Buddha,"
" bagaimana dengan cukong sendiri?" seru Rumang pula dengan
mata melotot-Hapukim tak mau kalah dan berseru juga-
"Kami sudah bertekad akan mengikuti cukong, bila cukong
hendak berangkat ke lembah hati Buddha, maka kami pun turut ke
sana, bila cukong tak pergi, kami pun tak akan kesitu."
"Kalian semua toh sudah mengetahui," kata Kho Beng serius-
"Aku hanya di beri waktu selama tiga hari, dalam tiga hari ke
depan aku harus berupaya sedapat mungkin untuk menyelamatkan
ciciku."
Kemudian setelah berhenti sejenaki terusnya lagi:
"Disamping itu, aku menyuruh kalian pergi ke lembah hati
Buddha tak lain adalah demi memikirkan keselamatan kalian semua,"

sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal, Molim berkata :
"sekalipun keselamatan jiwa cici cukong amat berbahaya, tapi
kepergian cukong jauh lebih berbahaya lagi, aku rasa lebih baik,."
Tiba-tiba ia berhenti bicara dan tidak melanjutkan lagi katakatanya
.
Kho Beng sebera mendengus dingin:
"Lebih baik kenapa?"
setelah tertawa rikuh, Molim berkata :
"Andaikata cukong telah hapal dengan isi kedua lembar kitab
pusaka Thian goan bu boh itu, lebih baik diserahkan saja kepada
mereka"
"Tidak bisa" tukas Kho Beng sambil tertawa dingin,
"Isi kedua lembar kitab pusaka Thian goan bu boh tersebut
adalah gambar-gambar petunjuk yang tak boleh keliru barang
sedikitpun, kenapa aku mesti serahkan kepada mereka? Dan lagi
masih ada dua sebab lain yang jelas tak mungkin bisa kuserahkan
kitab tersebut kepada mereka,"
" sebab apakah itu?" Tanya Molim sambil tertawa getir.
"Kesatu, Dewi In Un adalah mush besar ku yang paling tangguhi
diapun merupakan bibit bencana bagi umat persilatan, baik untuk
kepentingan umum maupun kepentingan pribadi, aku tak bisa
menyerahkan kedua lembar kunci tersebut kepadanya sehingga dia
bisa menyelesaikan pelajaran ilmu silatnya, kedua, sekalipun aku
benar-benar menyerahkan kedua lembar kitab pusaka tersebut,
mereka belum tentu akan benar-benar membebaskan ciciku dengan
begitu saja. "
"Kalau memang begitu, cukong lebih-lebih tak boleh pergi
menyerempet bahaya," seru Molim semakin cemas,
"lebih baik kita undang datang Bu wi lojin, hwesio daging anjing
serta pelajar rudin Ho Heng dan Kim bersaudara sekalian. Dengan
kekuatan yang besar berarti kemungkinan selamatpun semakin
besar pula."
"ya betul" sambung Mokim cepat,
"cukong toh bisa berkunjung ke Siau lim si dan meminta para
hwesio siau lim si untuk menghimpun kekuatan dari pelbagai partai
lainnya agar bersama-sama mengepung bukit Cian san ini"
Kho Beng sebera mendengus dingin.

"Kenapa sih kalian begitu bawel? Apakah kuatir aku tertimpa
musibah sehingga tak ada orang lain yang bisa mengurutkan nadi
kalian lagi?"
Merah padam selembar wajah Molim sekalian karena jengah,
agak tergagap segera katanya:
"Harap cukong jangan salah paham-"
Dengan suara dalam Kho Beng seoera berseru:
"Kalian dengarkan baik-baiki semua persoalan yang telah
kuputuskan tak bisa ditawar lagi, kusuruh kalian pergi kelembah hati
Buddha, lebih baik kalian menurut saja."
" Kami seaera mentaati perintah" kata Molim segera.
Dengan suara dingin kembali Kho Beng berkata :
"seandainya nasib ku jelek dan tewas dalam peristiwa ini, paling
tidak toh masih ada si pelajar rudin Ho Heng yang bisa mengurutkan
nadi kalian, tak mungkin dia akan membiarkan kalian mampus
secara mengenaskan."
Rumang nampak agak tertegun, kemudian serunya :
"Tapi tua Bangka itu berwatak jelek, andaikata dia menolak untuk
mengurutkan nadi kami, bukankah urusan menjadi berabe-"
"andai kata sampai demikian, anggap saja nasib kalian memang
lagi sial" tukas Kho Beng segera.
Kemudian setelah berhenti, katanya lagi,
"sebetulnya kalian mau pergi atau tidak?"
"Pergi, pergi," sahut Molim terkejut,
"semoga cukong baik-baik menjaga diri, hamba akan segera
berangkat"
secara beruntun dia mundur tiga langkah sambil memberi tanda
kepada rekan-rekannya, tak selang berapa saat kemudian bayangan
tubuh mereka berempat telah lenyap dibalik kegelapan sana.
sepeninggal keempat orang itu, sambil menghela napas Kho Beng
segera berpaling kearah Chin sian kun, seraya berkata :
"Nona Chin, bersediakah kau untuk membantu aku mengerjakan
sesuatu."
" Tidak bersedia" Chin sian kun menggeleng.
sementara Kho Beng masih tertegun, dengan agak emosi
Chinsian kun telah berkata lagi:
"Kho kongcu, kau tak usah menggunakan akal untuk mengusirku
pergi, setelah aku bertekad menemanimu untuk menanggulangi

persoalan ini, tak nanti aku akan meninggalkan dirimu dalam
keadaan demikian"
" Tapi-" Kho Beng menghela napas panjang.
Kembali Chin sian kun menggoyangkan tangannya berulang kali,
menukas perkataannya yang belum selesai:
"Aku cukup memahami maksud hatimu, mungkin aku memang
tak bisa membantu dirimu malah sebaliknya akan menjadi beban
untukmu, tapi kau sendiri harus tahu, dalam suatu pertarungan
belum tentu hanya ilmu silat yang diandalkan, paling tidak aku toh
bisa memberikan ide atau akal lain."
"Nona, aaai..kalau toh tekadmu sudah bulat, aku. .a ku hanya
bisa mengucapkan terima kasih.."
Chin sian kun tertawa :
"Bila kau berpendapat bahwa kita harus menanggulangi kesulitan
ini secara bersama, rasanya sepatah kata terima kasih pun sudah
terlalu berlebihan.."
"Bagaimana terhadap diriku? Apakah kaupun hendak mengusirku
pergi dari sini?" sambung Kakek Tongkat sakti secara tiba-tiba
sambil tertawa terkekeh-kekeh.
Kho Beng tertawa getir.
"Boanpwee tak berani berbuat demikian, tapi..bukankah
cianpwee sedang berusaha untuk mencari Thian cun yang cianpwee?
Aku rasa cianpwee tak perlu membuang waktu lagi."
(Bersambung ke jilid 28)
Jilid 28
"Aaah, apa maksud perkataanmu itu?" ucap Kakek Tongkat Sakti
sambil tertawa,
"bukankah sama saja kau hendak mengusirku pergi dari sini?"
Merah padam selembar wajah Kho Beng.
"Harap cianpwee tangan salah paham."
Kakek Tongkat Sakti menggeleng.
"Berbicara secara sejujurnya saja, jangan lagi kau pergi seorang
diri, sekalipun ada aku yang menemanimu pun mungkin kepergian
kita ibarat menimpuk anjing dengan bakpao isi daging, sekali pergi
tak bakal kembali lagi."
"Tapi boanpwee tak akan berpikir sampai kesitu." Kata Kho Beng
sambil menggigit bibir,
"aku tak bisa berpeluk tangan saja membiarkan ciciku terancam
bahaya."

"ya, tentu saja kau harus memikirkan keselamatan jiwanya."
Kakek Tongkat Sakti mengangguk,
"tapi bagaimana pun juga, setiap tindakan harus melalui
perencanaan yang matang lebih dulu. Paling tidak kita harus
mempunyai pegangan sebesar tujuh bagian sebelum berangkat."
Kho Beng berkerut kening.
"Tapi aku tak mempunyai waktu yang cukup, mereka hanya
memberi batas waktu tiga hari kepadaku, rencana apapun yang
hendak dipersiapkan, aku rasa sudah tak akan sempat lagi."
"aku tidak sependapat denganmu." Kata Kakek Tongkat Sakti
sambil menggeleng,
"batas waktu tiga hari Cuma akal-akalan mereka demi kedua
lembar kitab pusaka Thian goan bu boh tersebut, mungkin untuk
menunggu selama tiga tahun pun mereka akan sabar menanti. "Kho
Beng agak tertegun, tiba-tiba dia memberi hormat kepada kakek
itu sambil berkata
"Walaupun cianpwee berjiwa kesatria dan ringan tangan,
mengapa kau begitu berhasrat hendak membantu boanpwee?"
Kakek Tongkat sakti tertawa.
"Masa kau belum tahu apa tujuanku pergi mencari Thian cun
yang?"
"Boanpwee mengerti, tapi cianpwee pun harusnya mengetahui
akan maksud tujuan kepergianku kali ini hanya bertujuan menolong
ciciku dari bahaya maut, persoalan ini merupakan urusanku sendiri,
karenanya boanpwee tidak berharap cianpwee turut menyerempet
bahaya."
Berkilat sepasang mata si Kakek Tongkat sakti, katanya
kemudian:
"Paling tidak aku masih mempunyai dua alasan, pertama ditinjau
dari kehadiran orang-orang tadi, aku telah membuktikan bahwa
Dewi In Un adalah seorang anggota partai kupu-kupu. Kedua, kau
adalah ahli waris dari kitab pusaka Thian goan bu boh, lagipula
merupakan keturunan dari sahabat karib Bu wi lojin, malah
kemungkinan besar beban berat untuk menanggulangi bencana
besar yang menimpa dunia persilatan akan terletak dibahumu, coba
bayangkan sendiri, disaat kau sedang menghadapi bahaya, apakah
aku mesti berpeluk tangan belaka?"
Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali ujarnya :

"yang seharusnya kita bicarakan sekarang adalah bagaimana
caranya menyusup masuk ke sarang iblis dan bagaimana caranya
menyelamatkan encimu, soal-soal yang lain lebih baik jangan kita
bicarakan dulu sementara waktu."
Dengan wajah murung dan amat gelisah, Kho Beng berkata :
"Boanpwee sendiripun tidak berhasil mendapat cara yang lebih
baik lagi untuk menghadapi persoalan ini, sebetulnya aku berniat
menyerempet bahaya dengan mendatangi serangan mereka seorang
diri, tapi sekarang. " Dia menghela napas dan berhenti berbicara.
"Bila kau sampai berbuat demikian, maka tindakanmu itu
merupakan perbuatan bodoh-" Ucap Kakek Tongkat sakti dengan
wajah serius,
"kau harus tahu, setelah mereka berani menyuruh Molim sekalian
menyampaikan kabar tersebut kepadamu, berarti mereka pasti telah
mempersiapkan perangkap yang amat kuat disekitar sana, apabila
cicimu masih berada dalam cengkeraman mereka, kau lebih tak
boleh kehilangan posisi yang menguntungkan, selain itu aku lihat
Lengcu atau pelindung hukum mereka tak boleh dipandang enteng,
oleh sebab itu, aku rasa kita tak boleh bertindak secara gegabah."
Kho Beng segera menggertak gigi menahan gejolak emosi
didalam hatinya, ia berkata kemudian:
"Ditinjau dari kesemuanya ini, aku dapat mengambil kesimpulan
kalau Dewi In un pasti berada didalam gua pengikat cinta ini,
siluman perempuan itu adalah musuh besar pembasmi keluarga Kho
kami"
"Jangan sekali-kali kau bekerja menuruti emosi" hibur Kakek
Tongkat sakti dengan tenang,
"ketahuilah persoalan ini tak bisa diselesaikan secara terburu
nafsu."
"Apakah petunjuk cianpwee didalam masalah ini?" pinta Kho
Beng kemudian dengan kening berkerut,
"apa yang mesti boanpwee lakukan sekarang?"
Kakek Tongkat sakti jadi tertegun untuk berapa saat, bisiknya
agak tergagap:
"Tentang soal ini..."
Tapi sampai setengah harian lamanya dia tak mampu
mengucapkan sepatah katapun, sebab didalam kenyataannya
persoalan ini memang suatu masalah yang susah diatasi. Tiba-tiba
Chin sian kun berkata :

"aku mempunyai sebuah pendapat yang baik, apakah boleh
kuutarakan keluar.."
"Nona Chin, bila kau mempunyai sesuatu pendapat silahkan saja
diutarakan keluar," seru Kho Beng cepat.
Kakek Tongkat sakti pun tersenyum.
"yaa, biasanya pikiran dan perasaan anak wanita memang jauh
lebih tajam dan seksama . cepat utarakan keluar, "
setelah tertawa, Chin sian kun berkata :
"Terlepas apakah Dewi In Un merupakan anggota partai kupukupu
atau bukan, paling tidak dia pasti mempunyai hubungan yang
sangat akrab dengan partai kupu-kupu bukan?"
"yaa, ini sudah pasti" Kakek Tongkat sakti mengangguk-
"Cianpwee pasti banyak mengetahui tentang peristiwa yang
terjadi pada seratus tahun berselang, tahukah cianpwee apakah
pihak partai kupu-kupu mempunyai hubungan yang akrab dengan
seseorang?"
Kakek Tongkat sakti termenung berapa saat lamanya, mendadak
ia bertepuk tangan sambil tertawa terbahak-bahak-
Kho Beng jadi keheranan, buru-buru tanyanya :
"Cianpwee, kenapa kau tertawa bergelak?"
Kakek Tongkat sakti tidak menjawab pertanyaan Kho Beng,
sambil menatap wajah Chin sian kun ujarnya :
"yaa, memang terbukti pikiran dan perasaan wanita jauh lebih
teliti, aku sudah dapat menduga apa yang sedang kaupikirkan "
"Cianpwee tahu apa yang sedang kupikirkan?" ucap Chin sian kun
sambil tertawa.
"Bukankah kau hendak mempergunakan hubungan akrab antara
pihak partai kupu-kupu dengan seseorang yang dikenalnya dulu
untuk menyelesaikan persoalan ini, karena kau merasa Dewi In un
pasti mempunyai hubungan yang akrab dengan pihak partai kupukupu?"
"Cianpwee, kalau kudengar dari gelak tertawa mu barusan,
apakah kau pun telah berhasil mengingat orang tersebut?"
"Betul" Kakek Tongkat sakti mengangguk,
"Aku memang sudah teringat dengan seseorang, orang tersebut
masih terhitung sahabat karib dari ui Thian it, ketua partai kupukupu
yang tewas ditangan tiga dewa tempo dulu. orang itu bernama
Kong ci cu, orang lain menyebutnya sebagai si naga terbang dari see
ih. Disaat ui Thian it melangsungkan pertarungan seru melawan tiga

dewa tempo hari, Kong ci cu yang mendapat kabar segera menyusul
ketempat kejadian, sayang kedatangannya terlambat selangkah,
ketika ia tiba disitu, ui Thian it sudah tewas dibawah tebing berduka
hati"
setelah menghela napas panajng, katanya lebih jauh :
"Kong ci cu lah yang membereskan jenasah Ui Thian it serta
membawanya pulang, konon peristiwa tersebut pernah menjadi
bahan pembicaraan yang paling hangat dalam dunia persilatan
waktu itu."
Chin sian kun berpikir sejenak, kemudian tanyanya :
"aku rasa si naga terbang dari see ih Kong ci cu tentunya sudah
lama meninggal dunia bukan?"
Kakek Tongkat sakti manggut-manggut -
"Pada seratus tahun berselang ia telah berusia tujuh delapan
puluh tahunan, kini seratus tahun telah lewat, masa dia belum juga
mati? Tentu saja jiwanya telah lama berakhir-"
"Apakah orang partai kupu-kupu mengetahui tentang kematian
Kong ci cu ini?" Kembali Kakek Tongkat sakti tertawa :
"sejak peristiwa berdarah ditebing hati duka, partai kupu-kupu
sudah tiada kabar beritanya lagi, apakah mereka mengetahui akan
kematian Kong ci cu atau tidak kurang jelas, tapi bagi diriku justru
mengetahui soal kematian Kong ci cu tersebut dengan jelas sekali-"
"entah apa yang menyebabkan kematiannya?" Tanya Chin sian
kun dengan perasaan gembira.
"Dia mati karena sakit." Kata Kakek Tongkat sakti sambil tertawa.
"Peristiwa itu terjadi lebih kurang sepuluh tahun setelah peristiwa
berdarah di tebing hati duka, tapi kematiannya tidak diketahui oleh
siapa pun sebab seorang pelayan tua dan seorang bocah muda yang
hidup bersamanya telah bunuh diri pula setelah kematiannya itu"
"Kalau toh soal kematiannya tidak diketahui orang lain, dari mana
cianpwee bisa mengetahui akan persoalan ini?" Kakek Tongkat sakti
tertawa misterius.
"yang mengubur mereka bertiga juga seorang sahabat dari
tingkatan ayahku, sedang diapun akhirnya mati ditempat
pengasingan, itulah sebabnya kecuali aku seorang mungkin tiada
orang kedua yang mengetahuinya."
Chin sian kun termenung sambil berpikir sebentar, lalu katanya :
"Entah bagaimanakah perawakan tubuh serta wajah dari sinaga
terbang dari see ih Kong Ci cu?"

Kakek Tongkat sakti memandang sekejap kedua orang yang
berada dihadapannya lalu ujarnya sambil tertawa:
"Persoalan ini sangat kebetulan sekali, walaupun perawakan
badan si naga terbang dari see ih tidak terhitung tinggi besar,
namun tidak seceking diriku ini, aku rasa Kho sauhiaplah yang paling
cocok untuk memerankan dirinya, sedang seorang pelayan tua dan
bocah muda dari Kong ci cu tampaknya harus diperankan oleh nona
dan aku"
Meskipun rencana ini sangat bagus, tapi cianpwee telah
melupakan satu persoalan" kata Chin sian kun sambil
menggelengkan kepalanya, keningnya Nampak berkerut kencang.
"Apa yang kulupakan?" Tanya Kakek Tongkat sakti tertawa-
"Cianpwee harus ingat bahwa peristiwa itu terjadi seratus tahun
berselang, raut tampang mereka tak akan seperti wajahnya para
sahabat yang lalu-"
"Tentu saja" kata Kakek Tongkat sakti sambil tertawa,
"mana mungkin aku melupakan persoalan ini, tapi hal semacam
itu masih bisa ditutupi."
Dengan suara lirih dia segera membisikkan sesuatu kepada Chin
sian kun dan Kho Beng. selesai mendengar bisikan itu, Kho Beng
berdua segera tersenyum dan manggut-manggut. Kembali Kakek
Tongkat sakti memutar biji matanya sambil berkata lagi:
"Hayo berangkat, mungkin kita harus kerja keras seharian penuh,
ketahuilah benda-benda tersebut tidak mudah untuk dibuat."
Diiringi sekulum senyuman yang misterius, berangkatlah ketiga
orang itu meninggalkan bukit Cian san.
Didalam gua pengikat cinta bukit Cian san, cun hong Lengcu, Hee
im Lengcu, Ciu hoa Lengcu serta tang soat Lengcu sekalian
berempat sedang berdiri didepan Dewi In Un dengan sikap yang
sangat hormat.
Dua orang nenek berbaju perlente berdiri dikedua belah samping
Dewi In Un dengan wajah yang serius, persis seperti dua buah
patung batu.
Disamping itu masih terdapat dua puluhan orang dayang berbaju
ringkas yang berdiri dikedua belah sisi arena, suasana terasa amat
serius dan seram, setelah memberi hormat, Cun hong Lengcu
berkata :

"suhu, tecu sekalian telah melaksanakan semua pekerjaan sesuai
dengan petunjuk suhu"
"Hmmm, apa saja yang telah kalian kerjakan?" dengus Dewi In
Un.
"semua jalan darah ditubuh Kho Yang ciu telah kami totok, kini
dia dirantai diatas kursi batu, selain itu ditempat kegelapan.,"
setelah menunjukkan senyuman bangga, lanjutnya :
"Didalam maupun diluar ruangan tecu telah menyiapkan jebakan
yang berlapis-lapis, setiap perangkap yang kupersiapkan rasanya
sudah lebih dari cukup untuk mengubah mereka kakak beradik dua
orang menjadi perkedel."
Paras muka Dewi In Un tetap dingin kaku tanpa perubahan
emosi, katanya hambar:
"yang perlu kalian perhatikan adalah kedua lembar kitab pusaka
Thian goan bu boh itu"
"soal ini suhu tak perlu kuatir," cun hong Lengcu segera tertawa,
"tentu saja kami akan berusaha untuk mendapatkan kedua
lembar kitab pusaka Thian goan bu boh lebih dulu sebelum berusaha
melenyapkan kedua bibit bencana ini dari muka bumi"
"Dengan cara apa kalian menyampaikan berita tersebut kepada
Kho Beng?"
sungguh kebetulan sekali kata Cun hong Lengcu dengan bangga,
"sewaktu dalam perjalanan menuruni bukit Cian san tadi, telah
bertemu dengan keempat budak asing dari Kho Beng, kami memberi
batas waktu tiga hari kepada Kho Beng untuk datang kemari
menukar cicinya dengan kedua lembar kitab pusaka tersebut."
Dewi In Un berpikir sebentar, lalu katanya :
"Aku dengar Kho Beng adalah seorang pemuda yang sangat licik
dan banyak akal muslihatnya, mungkinkah dia akan datang
memenuhi janji tepat pada waktunya?"
Hee im Lengcu segera menyahuti:
"Menurut apa yang tecu ketahui, Kho Beng pasti akan datang-"
Dewi In Un segera mengerling sekejap kearahnya :
"Atas dasar apa kau berani berkata begitu meyakinkan?"
sambil tertawa paksa Hee im Lengcu berkata :
"Kho Beng adalah seorang yang amat perasa, terutama sekali
terhadap saudara kandungnya sendiri, Ia menaruh perhatian yang
amat khusus- Apabila la mendapat kabar yang menyatakan bahwa

cicinya menjumpai kesulitan disini, biarpun dia tahu bakal mati
namun ia pasti akan datang juga."
"Heeeheee- h eeee- memang inilah kelemahan manusia," seru
Dewi In Un sambil tertawa terkekeh-kekeh,
"kalian harus mempergunakan nya secara baik-baik,"
Tapi sejenak kemudian paras mukanya telah berubah hebat,
dengan suara mendalam dia menambahkan.
"Tapi bila usaha kali ini tidak berhasil, maka kalian berempat
bakal menerima hukuman yang cukup berat."
Keempat orang lengcu itu segera merasakan hatinya bergetar
keras, paras mukanya berubah hebat, tapi hanya sebentar. Dalam
waktu singkat mereka telah memperoleh ketenangannya kembali.
sambil tertawa paksa Cun hong Lengcu segera berkata :
"suhu tak usah kuatir, kali ini tiada kemungkinan untuk menderita
kegagalan, tanggung kedua lembar kitab pusaka Thian goan bu boh
itu akan kita peroleh."
Dengan sikap hambar Dewi In Un manggut-manggut.
"semoga saja usaha kalian berhasil dengan sukses, untuk
mencapai keberhasilan ini kalian boleh menggunakan semua
kekuatan yang berada disini- selain daripada itu, dalam menghadapi
situasi dan keadaan seperti apapun, setiap saat kalian harus
memberi laporan kepadaku"
"Tecu turut perintah" keempat orang Lengcu itu menyahut
serentak dengan sikap menghormat.
Agaknya Dewi In Un merasa puas, dia menguap lalu sambil
mengulapkan tangannya, ia berkata:
"sekarang kalian boleh mengundurkan diri dari sini"
Keempat orang Lengcu itu bersama-sama memberi hormat lalu
mengundurkan diri.
yang disebut sebagai kamar penjara di dalam gua pengikat cinta
tak lebih hanya berupa sebuah gua yang belum pernah dibenahi-
Disana sini ruangan gua terdapat banyak batu granit yang
mencuat kesana kemari, tapi dasar tanah amat datar, dibagian
tengah terdapat sebuah kursi batu, kursi itu terbuat dari tonjolan
batu karang yang mencuat keatassaat
itu Kho yang ciu didudukkan pada kursi tersebut dan dirantai
dengan sebuah rantai raksasa sebesar lengan bocah-
Padahal sekalipun tak dirantai, Kho yang ciu tak mampu lagi
menggerakkan badannya, sebab bukan saja seluruh jalan darahnya

telah tertotok, lagipula ia telah dicekoki cairan beracun yong luo ih
yang mempunyai khasiat membuyarkan tenaga-
Peredaran darah yang tidak lancer membuat keadaan gadis
tersebut tak ubahnya seperti seorang penyakitan yang hampir
sekarat, bentuk rupanya telah berubah menjadi amat mengenaskan.
suasana dalam gua gelap gulita tanpa cahaya, lembab lagi gelap,
berada ditempat seperti ini tak ubahnya seperti berada didalam
neraka.
Tapi diluar maupun didalam gua tersebut, terutama pada bagian
yang gelap dan tersembunyi, secara diam-diam sudah dilengkapi
perangkap yang berlapis-lapis, diantaranya meliputi panah beracun,
uap beracun dan jebakan yang mengerikan.
Kini Kho yang ciu telah mendusin dari pingsannya, namun seluruh
jalan darahnya yang tertotok membuat ia tak mampu ergerak, tak
mampu pula bicara, kecuali benaknya yang dipenuhi pelbagai
persoalan yang pelik, pada hakekatnya keadaan nona tersebut tak
berbeda seperti sesosok mayat.
Namun perasaan sedih dan menyesal yang mencekam
perasaannya tak terlukiskan lagi dengan perkataannya, dia menyesal
mengapa tidak menurui nasehat dari adiknya Kho Beng yang sudah
berhasil membongkar identitas mereka yang sebenarnya ketika
masih berada di perkampungan ciu hong san ceng tempo hari,
malah sudah berulang kali adiknya membujuk serta menasehatinya.
Tapi-mengapa ia tak mau tahu dan belumjuga mau sadar?
sekali salah melangkah, menyesal sepanjang masa, walaupun ia
merasa menyesal sekali tapi sayang keadaan sudah terlambat.
Ia sama sekali tak takut mati, tapi dendam sakit hatinya belum
terbalas.
sedangkan diapun akan mati ditangan musuh besarnya, inilah
yang membuat ia mati tak meram.
Disamping itu dia pun teringat kembali dengan adiknya Kho
Beng, diapun cukup memahami tujuan yang sebenarnya Dewi In Un
menyekap dirinya disitu, sudah pasti dia akan dijadikan umpan untuk
memancing kedatangan Kho Beng guna menyerahkan kedua lembar
kitab pusaka Thian goan bu boh tersebut.
Ia pun sadar, demi keselamatan jiwanya, Kho Beng pasti tak
akan memperdulikan segala sesuatunya untuk datang
menyelamatkan jiwanya, apabila keadaan seperti ini sampai terjadi,
bukankah dialah yang telah mencelakai adiknya?

Teringat akan dendam berdarah dari keluarga Kho yang belum
sempat terbalas, teringat pula Kho Beng adalah satu-satunya
keturunan keluarga Kho, andai kata gara-gara keteledoran sendiri
menyebabkan kematian Kho Beng, apakah dia masih punya muka
untuk bertemu dengan arwah orang tuanya dialam baka?
Berpikir sampai disitu, tanpa terasa air matanya jatuh
bercucuran, satu-satunya yang diharapkan sekarang adalah
berharap agar adiknya tidak menyerempet bahaya. Namun dia pun
tahu, keadaan seperti ini hampir boleh dibilang tak mungkin, sebab
dia cukup memahami perasaan dan tabiat adiknya, dia pasti akan
datang untuk menolongnya apapun yang bakal terjadi-Mendadak-.
Disaat pikirannya sedang melayang entah kemana saja,
terdengar suara langkah kaki manusia berkumandang datang.
Dengan paksakan diri Kho yang ciu membuka matanya, tapi apa
yang kemudian terlihat membuat darahnya terasa mendidih,
sepasang matanya berapi-api dan hampir saja melotot keluar.
Ternyata yang datang adalah Cun hong Lengcu, Hee im Lengcu,
Ciu hoa Lengcu serta Tang soat Lengcu.
Dengan langkah yang santai keempat orang itu berjalan masuk
kedalam ruangan.
Kho yang ciu tak mampu bergerak, tak mampu pula bicara, satusatunya
yang bisa diperbuat olehnya hanya menunjukkan rasa benci
dan dendamnya yang merah membara itu kelihatan berapi-api
seperti mau melompat keluar.
setibanya dihadapan Kho yang ciu, Hee im Lengcu segera
menyapa sambil tertawa :
"Adik Kho, maaf sekali yaa aku telah membuatmu sangat
menderita"
sedemikian benci dan dendamnya Kho yang ciu ketika itu,
mungkin kalau dapat dia hendak menggigit daging mereka mentahmentah,
tapi sekarang yang dapat diperbuat olehnya hanya duduk
tak berkutik seperti patung. Pelan-pelan Hee im Lengcu berkata lagi:
"Walaupun aku merasa rada tak tega, tapi.yaa apa boleh buat
lagi? Padahal manusia hidup seabad pun akhirnya akan mari juga,
hanya sekarang kau mati lebih awal saja."
Cun hong Lengcu tertawa sambungnya pula :
"Disaat ajalmu hampir tiba, kau masih bisa bertemu kembali
dengan adikmu, hitung-hitung anggaplah kebaikan ini sebagai balas

jasa kami terhadapmu mengingat dulu pernah menjadi saudara
sendiri."
Lalu setelah memutar biji matanya dengan genit, dia berkata
lebih lanjut:
"Aku rasa tidak sampai tiga hari kemudian, ia pasti sudah
menyusul kemari."
"Tapi sayang," cun hong Lengcu menambahkan sambil tertawa,
"Disaat kalian kakak beradik saling bersua, saat itulah ajal kalian
akan tiba.-haaaahhhaaaahhhh."
"Keluarga besar kalian telah mati semua," kata Tang soat Lengcu,
"sebenarnya kalau kamu berdua kakak beradik harus hidup
sendirian didunia ini, aku rasa juga tak ada artinya. Lebih baik mati
saja bersama- Toh, semua persoalan akan beres pula dengan
sendirinya," sambil tersenyum Cun hong Lengcu, berkata lagi:
"Tapi kalian tak usah kuatir, kami tak bakal menyia-nyiakan kalian
dengan begitu saja, bila kau telah mati semua, kami pasti akan
membuat upacara penguburan yang megah dan mengubur kalian
dengan batu marmer sebagai nisan."
Begitulah keempat orang Lengcu itu saling berebut bicara, tapi
setiap perkataan yang diucapkan bagaikan sebilah pisau tajam yang
menghujam didada Kho yang ciu dalam-dalam.
Ditinjau dari pembicaraan mereka berempat, Kho yang ciu pun
dapat memahami siasat busuk dibalik kesemuanya itu, rupanya
mereka sedang menipu Kho Beng untuk datang kesana. sementara
dia masih termenung, terdengar cun hong Lengcu berkata sambil
tertawa :
"Pemeriksaan telah usai, mari kita pergi dari sini"
Hee im Lengcu sekalian mengiakan, pelan-pelan mereka
membalikkan badan dan berjalan keluar dari gua.
setelah berada diluar, cun hong Lengcu memandang sekejap
sekeliling tempat itu, lalu serunya :
"Adikku bertiga "
"Ada apa toaci?" Hee im Lengcu segera bertanya, sambil
menghela napas, Cun hong Lengcu berkata :
"Tiba-tiba saja timbul perasaan kuatir didalam hatiku."
"Bukankah persiapan kita sangat rapi dan luar biasa rapatnya?
Apalagi yang toaci kuatirkan?" Tanya Ciu hoa Lengcu keheranan.
Pelan-pelan cun hong Lengcu berkata :

"Mungkin saja perasaan ini timbul disebabkan masalah yang kita
tangani kelewat penting, kita tak boleh gagal tentunya kalian masih
ingat dengan perkataan suhu bukan? Andaikata sampai terjadi halhal
yang tak diinginkan,"
sambil menghembuskan napas panjang dia segera berhenti
berbicara,
Perasaan dan pikiran Hee im Lengcu sekalian pun berubah
menjadi berat dan serius, sebab mereka tahu apa yang telah
dikatakan Dewi In Un selalu dapat dilaksanakan dan menjadi
kenyataan, andaikata usaha mereka kali ini mengalami kegagalan
total, dapat dipastikan hukuman yang berat serta nasib yang kelak
akan menimpa mereka semua.
Untuk beberapa saat lamanya keempat orang itu menjadi
terbungkam dan tidak berbicara lagi.
Akhirnya Cun hong Lengcu mendongakkan kepalanya sambil
berkata lebih lanjut:
"agar usaha kita kali ini tak sampai menderita kegagalan, kita
wajib mengambil suatu tindakan yang cukup gratis"
"Maksud cici? Bukankah penjagaan kita cukup ketat? Tindakan
apa lagi yang hendak toaci lakukan?" sela Hee im Lengcu Li sian
soat.
"Pertama, kta berempat bakal berjuang lebih berat dan sengsara
lagi, selama tiga hari ini setiap malam kita harus melakukan
penjagaan bersama disini- Kedua, kita pun harus mengajukan
permohonan yang lain kepada suhu. "
"Permohonan apa?"
"Biarpun suhu telah menyanggupi permintaan kita
mempergunakan anak buahnya sekehendak hati, tapi aku rasa hal
tersebut tidak meliputi kedua pendamping utamanya yakni Nenek
penunjang langit serta Nenek perata bumi?"
"Tentu saja. Nenek penunjang langit dan Nenek perata bumi
adalah orang yang melindungi keselamatan suhu, tak setengah
jengkal tanah pun mereka meninggalkan beliau."
"ya a, berada dalam keadaan seperti ini, terpaksa kita harus
mengalihkan perhatian kepadanya, asal kedua orang itu bisa kita
gunakan tenaganya untuk menyamar sebagai pelindung Kho yang
ciu, sudah pasti tiada kegagalan yang mungkin terjadi"
"Cara ini memang bagus, tapi apakah suhu bakal
mengabulkannya?" Tanya Li sian soat denga kening berkerut.

Dengan keyakinan yang amat besar Cun hong Lengcu menyahut:
"Demi kedua lembar kitab pusaka Thian goan bu boh, demi
melenyapkan kedua keturunan terakhir dari keluarga Kho,
kemungkinan besar suhu akan mengabulkan permintaan kita?"
"Perkataan toaci memang benar" Li sian soat mengangguk pula,
"mari kita pergi memohon kepada suhu"
Maka secara berurutan berangkatlah keempat orang Lengcu
tersebut meninggalkan tempat itu.
-ooo00000oooo-
Ditinjau dari luar, puncak bukit Cian san masih tetap kelihatan
gundul lagi gersang, tak ubahnya seperti bukit gersang yang tak
berpenghuni, namun dalam kenyataannya situasi disitu amat tegang
dan serius.
Namun hari pertama lewat dengan begitu saja, sampai hari
kedua lewat pun Kho Beng belum tampak batang hidungnya.
Keempat Lengcu dibawah pimpinan Dewi In Un mulai gelisah
bagaikan semut berada dikuali panas, pada mulanya mereka kuatir
usaha tersebut akan mengalami kegagalan total, dan kini kuatir Kho
Beng tak akan datang memenuhi janji-
Kini senja hari ketiga pun sudah lewat, tampaknya batas waktu
selama tiga hari sudah lewat, namun bayangan Kho Beng belum
kelihatan juga-
Bukan saja keempat orang Lengcu itu mulai gelisah dan tak
tenteram- Dewi In Un sendiripun mulai merasa cemas dan kesal,
berulang kali ia mengirim orang untuk menanyakan persoalan ini
kepada keempat Lengcu, tentu saja dia tak akan memperoleh berita
yang menggembirakan dari keempat orang anak buahnya.
sementara mereka masih dirundung rasa kecewa dan gelisah,
tiba-tiba diluar gua pengikat cinta tersiar datang suatu berita yang
betul-betul mengejutkan hati-
Berita tersebut memang betul-betul merupakan suatu berita
ledakan yang amat menggemparkan, sebab ada seseorang yang
mengaku sebagai sahabat karib ui Thian it, ketua partai kupu-kupu
generasi yang lain dengan membawa pelayan tua dan kacungnya
dimuka gua dan mohon bertemu.
Berita tersebut dengan cepat disampaikan kepada Dewi In Un,
mendengar laporan tersebut Dewi In un jadi tertegun dan segera
membentak:

"sama sekali ngaco belo, tak mungkin akan terjadi peristiwa
semacam ini"
yang datang membawa laporan tersebut adalah ChinBu wi, salah
satu diantara dua belas pelindung hukum, hitung-hitung dia masih
termasuk jago kelas satu dibawah pimpinan Dewi In Un.
Ketika mendapat teguran tersebut, buru-buru dia berkata :
"Pada mulanya hambapun tidak percaya, namun setelah bersua
dengan mereka, hamba jadi rada-"
"Rada percaya bukan?" sambung Dewi In Un sambil tertawa
terkekeh-kekeh. Kemudian sambil menghentikan gelak tertawanya,
dia berkata lebih jauh :
"ciangbunjin angkatan pertama partai kupu-kupu telah mati
dalam pertarungan dibawah tebing hati duka pada seratus tahun
berselang, dalam seratus tahun hidup dalam pengasingan ini partai
kita selalu menggembleng diri dan memupuk kekuatan terus
menerus. Tujuannya tak lain adalah untuk membalaskan dendam
bagi kematian leluhur kita ini. Bila orang tersebut benar-benar
adalah sahabat karib leluhur kita, coba pikir sendiri berapa usianya
tahun ini?"
"Konon dia sudah berusia seratus sembilan puluh delapan tahun"
kata ChinBu wi agak tergagap.
"seratus sembilan puluh delapan tahun?" kembali gelak tertawa
Dewi In Un berderai-derai memecahkan keheningan.
"Haaaahaaaa.mungkinkah didunia ini terdapat manusia yang bisa
hidup seumur itu?"
Cun hong Lengcu segera tampil kedepan sambil menimbrung :
"suhu, bolehkah tecu mengucapkan sepatah dua patah kata?"
Dewi In Un manggut-manggut ¦
"aku bukan orang yang terlalu fanatic dengan pikiran dan
pendapat orang lain, apa pendapatmu dalam masalah ini? Katakana
saja terus terang." Buru-buru Cun hong Lengcu berkata:
"Terlepas dari asli atau palsunya orang ini, paling tidak peristiwa
ini adalah suatu kejadian yang sangat aneh, apa salahnya bila suhu
mengundangnya masuk serta memeriksa secara langsung? Dengan
berhadapan muka secara langsung, tecu percaya, asli tidaknya orang
ini akan segera ketahuan, bila orang ini hanya sengaja hendak
membuat berita sensasi, kita basmi saja seketika daripada
meninggalkan bibit bencana besar dikemudian hari."

"Benar, kalau begitu undang dia masuk" kata Dewi In Un sambil
tertawa lebar.
Chin Bu wi sebera mengiakan dan mengundurkan diri dari situ.
Tak lama kemudian dia telah muncul kembali dengan membawa
tiga orang manusia.
Ketika ketiga orang tersebut memasuki ruangan batu, segenap
hadirin segera merasakan sikap hormat dan serius yang tiba-tiba
muncul dari hati masing-masing.
orang yang berjalan dipaling muka adalah seorang kakek berbaju
ungu yang berwajah bagaikan tembaga antik, sepasang matanyaa
memancarkan sinar berkilat, jenggot putihnya terurai sepanjang
perut, tingkah lakunya mantap dan berwibawa sekali.
Dibela kang tubuhnya mengikuti dua orang pembantunya, yang
tua berambut dan berjenggot putih, tangannya membawa sebuah
tongkat berbentuk. aneh, berbaju kuning, sedang yang muda
berbaju bersih, putih kemerahan, usianya paling banter baru delapan
belas tahunan.
Ketiga orang itu berjalan dengan langkah lebar dan kepala
terangkat keatas, begitu anggun langkah mereka sampai-sampai
Dewi In Un yang berada ditempat duduknya pun tergerak hatinya
dan berdiri tanpa sadar.
Ketika kakek berbaju ungu itu sudah tiba diruangan tengah, ia
segera mengalihkan pandangan matanya mengawasi sekitar situ,
kemudian berseru dengan suara yang nyaring bagaikan genta:
"Tempat yang bagus.siapa yang bernama Dewi In Un?"
Dewi In Un segera mengernyitkan alis matanya, lalu menjawab :
"akulah orangnya, boleh kutahu siapa namamu?"
Kakek berbaju ungu itu tersenyum,
"sebelum kusebutkan namaku, terlebih dahulu ingin kutanyakan
satu persoalan lebih dulu. soal apa?"
"Anda adalah keturunan keluarga ui yang keberapa?" Tanya
kakek itu dengan suara dalam.
"Angkatan keempat" sahut Dewi In Un keningnya makin berkerut.
Kakek berbaju ungu itu manggut-manggut, katanya lagi:
"kalau begitu anda tentunya mengetahui dengan jelas tentang
segala kejadian yang telah menimpa kakekmu ui Thian it bukan?"
"sejak masih kanak-kanak orang tua kami selalu membicarakan
soal leluhur kami dulu. Kisah ceritanya boleh dibilang telah
mendarah daging ditubuhku"

Kakek berbaju ungu itu segera tertawa girang, katanya lebih jauh
:
"Kalau begitu tentunya kau tahu bukan, ketika leluhurmu ui Thian
it bertarung melawan tiga dewa see hwa sam sian dibawah tebing
hati duka, pernah ada seorang sahabatnya dari see ih yang buruburu
datang ketempat kejadian, tapi berhubung kedatangannya
terlambat satu langkah hingga menemukan leluhurmu telah tewas
ditangan tiga dewa, hingga akhirnya sahabatnya itu menguburkan
jenasah ui Thian it serta mendirikan baru nisan baginya."
sambil berkata sepasang matanya yang tajam mengawasi wajah
Dewi In Un lekat-lekat, kemudian baru melanjutkan:
"Tahukah kau siapakah orang tersebut?"
Dewi In Un balas menatap wajah kakek berbaju ungu itu dengan
seksama, lalu sahutnya keheranan:
"Tentu saja aku tahu, dia adalah sahabat karib leluhurku. Naga
Terbang dari See ih Kong ci cu, orang tuaku pun pernah
menyinggung tentang perbuatan baik yang pernah dilakukan orang
tua itu, selama ini kami menghormatinya sebagai tuan penolong dari
keluarga ui. Sayang sekali, dia orang tua tidak mempunyai
keturunan, tidak memiliki ahli waris, sehingga budi kebaikannya itu
tak sempat kami balas. Kakek berbaju ungu itu seoera tertawa
terbahak-bahak:
"Haaaahhhh..haaaahhhh.haaaahhhhh akulah Kong ci cu"
segenap yang hadir termasuk juga Dewi In un pribadi menjadi
tertegun sesudah mendengar jawaban tersebut. selang beberapa
saat kemudian Dewi In Un baru berkata sambil tersenyum:
"Lojin gemar amat bergurau, Kong ci cianpwee tak mungkin
masih hidup didunia ini, hal semacam ini sama sekali tak masuk akal
dan tak bakal dipercayai oleh siapa saja."
"Tiada keanehan yang tak bisa terjadi didunia yang lebar ini,"
ucap si kakek berbaju ungu sambil tertawa,
"semua kemungkina bisa terjadi dan dialami setiap manusia, atas
dasar apa kau tidak mengakui keaslianku."
"Bila anda benar-benar adalah Kong ci cianpwee, dengan cara
apa kau bisa.."
Kakek berbaju ungu itu segera menukas perkataannya yang
belum selesai diucapkan itu.
"Aku cukup memahami kecurigaanmu, tegasnya saja peristiwa ini
memang merupakan suatu peristiwa yang hampir tak masuk diakal

dan susah dipercayai alasannya. Mungkin rasa curigamu itu akan
lenyap dengan sendirinya."
Pelan-pelan dia mengalihkan sorot matanya memandang sekejap
sekeliling tempat itu, kemudian melanjutkan:
"Tatkala leluhurmu ui Thian it telah meninggal disini, hatiku
merasa sangat masgul dan risau, karenanya aku tak pernah kembali
ke see ih lagi, tapi dengan membawa serta pelayan dan kacung aku
mengembara kesegala pelosok tempat, setahun kemudian sampailah
kami dibukit Tiang pek san sebelah timur laut."
"Bila apa yang totiang katakan benar, dari wilayah see ih
disebelah barat kau bisa berkelana sampai wilayah timur laut,
kelihatannya kepandaianmu sungguh mengagumkan" sela Dewi In
Un.
Dengan sorot mata yang tajam, kakek berbaju ungu itu
mengawasinya lekat-lekat, lalu melanjutkan kembali kata-katanya:
"Ketika aku mengajak kacung dan pelayanku memasuki bukit
tiang pek san untuk berpesiar, akhirnya kami bertemu dengan badai
salju selama sepuluh hari-"
"Apa yang dimaksudkan badai salju selama sepuluh hari?" Tanya
Dewi In Un sambil tertawa.
"selama sepuluh hari lamanya, badai salju menyerang kami tiada
hentinya . itulah yang disebut badai salju sepuluh hari."
"Waaah, kalau terjadi badai salju selama sepuluh hari tiada
hentinya, bukankah semua jalan gunung menjadi terhambat dan
seluruh bumi berubah menjadi putih berkilauan?"
Kakek berbaju ungu itu manggut-manggut.
"yaa, justru Karena itulah kami jadi terjebak didalam suatu
wilayah yang amat terpencil, dalam keadaan begini, betapapun
tingginya ilmu silat yang kumiliki sulit juga untuk melepaskan diri
dari lapisan salju yang menutup seluruh bukit Tiang peksan, rasa
lapar, kedinginan membuat kami hampir saja mati konyol,"
sekali lagi Dewi In Un menyela.
"Lantas dengan cara apakah lotiang berhasil meloloskan diri dari
mara bahaya?"
Berkilat sepasang mata kakek berbaju ungu itu.
"Kami tidak terlepas dari kurungan, tapi dibawah sebuah tebing
yang terjal kami berhasil menemukan sebatang pohon waru."
Ditengah salju yang begitu dingin, pohon waru yang ditemukan
pastilah sebatang pohon kering yang sudah tak karuan lagi- Tapi

setelah berhenti sejenak- dengan pandangan keheranan dia
bertanya,
"Mengapa lotiang menyinggung soal pohon waru?"
Kakek berbaju ungu itu tertawa terbahak-bahak.
"Haaaah-haaaahhh-haaaahhhhh sebab nyawa kami bertiga telah
diselamatkan pohon waru tersebut, tentu saja harus kusinggung
tentang persoalan ini.
Silahkan lotiang melanjutkan penuturanmu" pinta Dewi In Un
dengan perasaan gelisah.
Setelah melemparkan sekulum senyum misterius, kakek berbaju
ungu itu berkata lebih laniut:
"Dibawah tekanan udara yang amat dingin dan lapisan salju yang
begitu tebal, tentu saja pohon tersebut tinggal sebuah batang kering
yang tak karu-karuan- lagi, namun diatas dahan yang kering
tersebut justru terdapat dua puluh empat butir biji waru, setiap butir
biji waru itu besarnya seperti buah kelengkeng, warnanya merah
menyala."
"Oooo.. sungguh suatu kejadian yang sangat aneh" kata Dewi In
Un keheranan. Kakek berbaju ungu itu tertawa :
"Waktu itu kami merasa amat kelaparan, tentu saja tak terlintas
pikiran yang bukan-bukan terhadap buah tadi, kami petik buah
merah tersebut dan setiap orang mendapat delapan butir untuk
menahan lapar."
Sambil tertawa Dewi In Un menyela :
"Bila seorang sudah berada dalam keadaan kelaparan, rasanya
delapan butir biji waru belum mampu untuk menghilangkan rasa
lapar yang menyerang badan."
"Sama sekali tidak," kakek berbaju ungu itu menggoyangkan
tangannya berulang kali,
"setelah kedelapan butir biji waru itu msuk kedalam perut, bukan
saja semua rasa lapar telah lenyap, bahkan rasa dingin yang
mencekam badan pun lenyap tak berbekas, baru saat itulah aku
merasa amat keheranan"
"Masa benda tersebut adalah buah dewa yang bisa membuat
orang awet muda?"
"setelah kulakukan penyelidikan yang seksama, akhirnya dapat
kusimpulkan bahwa buah waru tersebut sesungguhnya adalah bibit
waru kutub yang telah berusia seribu tahun. Mengapa dinamakan
bibit waru kutub? "

Kakek berbaju ungu itu tertawa :
"Ditengah badai salju yang begitu kencang dan udara yang
begitu dingin, hampir mustahil buat sebatang pohon waru untuk
tetap hidup dibumi sekitar situ, apalagi biji waru yang tak pernah
rontok selama seribu tahun lamanya. Tapi kesemuanya ini bisa
terjadi dikarenakan ada sebab yang lain, rupanya batang pohon
waru itu persis tumbuh ditempat yang dilalui aliran hawa panas
bumi, dengan menghisap sari bumi, maka pohon waru tersebut
dapat mempertahankan setitik harapan untuk hidup, Itulah sebabnya
pohon tadi menghasilkan dua puluh empat butir biji yang berkhasiat
luar biasa. Dasar nasibku lagi mujur, gara-gara mendapat musibah
akhirnya malah peroleh rejeki,"
"itulah sebabnya Kau menjadi dewa yang tetap awet muda?"
sambung Dewi In Un dengan mata melotot besarsambil
menunding kearah pelayan serta kacung yang berada
dibelakang tubuhnya, kakek berbaju ungu itu berkata lebih jauh :
"Waktu itu, wajah mereka persis seperti sekarang ini, biar sudah
lewat seabad lamanya, tampang mereka masih tetap tak berubah."
Kemudian setelah berhenti sejenak, sambungnya lebih jauh :
"Menurut perkiraanku, meski kami tak bisa hidup panjang umur,
paling tidak masih bisa hidup tiga atau empat kali enam puluh
tahun."
Dewi In Un tertegun beberapa saat lamanya, mendadak ia
berkata sambil tersenyum,
"kisah cerita lotiang memang sangat menarik hati, tapi rasanya
aku belum dapat mempercayai kau sebagai Kong ci cianpwee hanya
didasarkan pada ceritamu saja"
Kakek berbaju ungu itu sebera tertawa terbahak-bahak:
"Haaaahaaahh-haaahhh.apakah kau masih ingin memeriksa yang
lain?"
Dewi In Un berpikir sejenak, kemudian katanya :
"Menurut apa yang kuketahui, Kong ci cianpwee menggunakan
sepasang senjata yang berbentuk. aneh, sampai sekarang benda
tersebut masih jarang dijumpai didunia persilatan."
Kakek berbaju ungu itu tertawa tergelak, mendadak dia merogoh
kedalam sakunya lalu mengeluarkan sepasang senjata yang
berbentuk sangat aneh.
Dalam waktu singkat seluruh ruangan telah diliputi oleh cahaya
keemas-emasan yang amat menyilaukan mata.

sewaktu semua orang mengawasi dengan seksama, maka
tampaklah benda tersebut adalah epasang gelang emas, satu
diantaranya mengeluarkan cahaya yang begitu tajam sehingga
sewaktu digerakkan membiaskan cahaya yang begitu menyilaukan
mata persis seperti cahaya sang suryasebaliknya
yang berbentuk setengah lingkaran dan bersinar
redup, bentuknya tak berbeda seperti rembulan yang separuh bulat,
sambil tertawa tergelak-gelak. kakek berbaju ungu itu berkata :
"Apakah kau maksudkan sepasang gelang jit gwat siang huan
ini?"
Dewi In Un membelalakkan matanya lebar-lebar, saking
tergagapnya sampai dia tak mampu mengucapkan sepatah katapun.
sambil menatap wajahnya lekat-lekat, kakek berbaju ungu itu
berkata lagi:
"Tentunya kau mengharapkan aku bisa mendemontrasikan
kepandaian silatku sebelum mau mempercayainya, bukan?"
sebelum Dewi In Un sempat menjawab, kakek berbaju ungu itu
telah memainkan sepasang tangannya, gelang emas berbentuk.
separuh bulat itu tahu-tahu sudah meluncur kedepan dengan
hebatnya.
Tampak cahaya kuning berkelebat lewat gelang emas tersebut
dengan membawa gaung desingan tajam yang amat memekakkan
telinga telah meluncur kearah dinding yang berada pada jarak tiga
kaki bagaikan kilatan cahaya petir.
Tahu-tahu obor yang diletakkan pada dinding tadi sudah terpapas
kutung menjadi dua bagian.
sementara semua yang hadir masih termangu-mang u dibuatnya.
Kakek berbaju ungu itu kembali sudah melepaskan gelang
mataharinya.
Pancaran cahaya yang begitu kuat dan tajam membuat semua
yang hadir menajamkan matanya tanpa sadar lalu mundur setengah
langkah kebelakang. ' 'criiiiing' Terdengar suara dentingan nyaring
bergema memecahkan keheningan, gelang matahari yang dilepaskan
kemudian telah membentur diatas gelang rembulan yang baru saja
menebas putus batang obor itu.
Begitu sepasang gelang saling beradu, tiba-tiba saja benda
tersebut memencarkan diri kekiri dan kanan, lalu dengan membawa
desingan suara yang amat memekikkan telinga, senjata-senjata
tersebut telah balik kembali ketangan kakek tersebut.

setelah menyambut kembali kedua gelangnya, kakek berbaju
ungu itu baru baru menegur sambil tertawa bergelak:
"Apakah anda masih curiga?"
Rasa kejut dan girang menghiasi wajah Dewi In Un, namun
perasaan curiga masih menyelimuti seluruh perasaannya, segera
katanya lagi:
"yang membuat aku keheranan adalah Lootiang bukannya pergi
mencari ayahku, mengapa sebaliknya datang mencari aku? "
Kakek berbaju ungu itu tertawa terbahak-bahak:
"Haaaahhh-haaaahhh.-haaaahhhh-.semuanya terdapat tiga
alasan mengapa aku berbuat begini, pertama aku kebetulan sedang
lewat diwilayah sekitar sini, kedua ayahmu sebagai ketua angkatan
ketiga dari partai kupu-kupu ternyata tidak turun tangan sendiri
sebaliknya hanya mengirim putrinya untuk memegang tampuk
pimpinan, tindakannya ini membuat aku merasa sangat tak puas
kepadanya dan ketiga, aku menjumpai kalian sedang terancam
sekarang."
"Ancaman bahaya apakah itu?" Tanya Dewi In Un dengan
perasaan amat bergetar. Kakek berbaju ungu itu tertawa hambar.
"sepintas lalu nampaknya saja kau dilindungi oleh begitu banyak
jago lihay dan memiliki kekuatan yang luar biasa, padahal dalam
dunia persilatan telah terjadi pergolakan sehingga situasipun harus
dipandang dari sudut yang berbeda pula."
setelah berhenti sejenak, kembali katanya :
"Kho Beng dibantu oleh Bu wi Lojin dan berhasil pula mempelajari
ilmu sakti thian goan sinkang, bila jagojago lihay dari Patih uang
berkumpul semua didaratan Tionggoan lalu keturunan dari tiga dewa
see gwa sam sian yang telah mendapat warisan- ilmu silat dari
leluhurnya menyusul pula kesini, hal ini masih dibantu lagi dengan
himpunan seluruh inti kekuatan tujuh partai besar dunia persilatan
membuat jumlah kekuatan mereka jadi beribu-ribu orang
banyaknya, coba bayangkan sendiri mampukah kau menahan
serangan gabungan mereka yang memiliki kekuatan sedemikian
dahsyatnya itu."
Berubah hebat paras muka Dewi In Un, namun diluar dia tetap
paksakan tersenyum, katanya cepat:
"Terima kasih banyak atas perhatian Lootiang, tapi aku yakin
masih mampu untuk menghadapi mereka."
Kakek berbaju ungu itu menghembuskan napas panjang.

"sekalipun ayahmu memimpin partai kupu-kupu, namun situasi
sekarang sulit rasanya untuk membuatnya merasa lega hati. Apalah
gunanya kau membohongi dirimu sendiri? "
Dewi In Un berkerut kening.
"Jadi maksud kedatangan Lootiang kemari adalah."
"Mengajak kau merundingkan masalah besar yang dihadapi dan
membantu usahamu itu, berniat membalaskan dendam bagi
kematian sobat karib ku ui Thian it"
setengah percaya setengah tidak Dewi In Un berkata :
"Apakah cianpwee tidak merasa gusar oleh sikap curiga dan
pelayanan yang jelek dariku?"
Kakek berbaju ungu itu tertawa terbahak-bahak:
"Haaaahhhhh.haaaahhh.haaaa pengalaman yang kualami
memang sulit membuat orang lain percaya, kecurigaan terhadap
diriku memang sudah sepantasnya dan sewajarnya."
Tiba-tiba mencorong sinar tajam dari balik mata Dewi In Un,
katanya kemudian:
"Jikalau cianpwee memang tidak bermaksud menegur atau marah
kepada kami, boanpwee masih ingin melakukan suatu percobaan
lagi."
Agaknya Kakek berbaju ungu itu merasakan hatinya bergetar
keras, namun diluarnya dia tertawa tergelak:
"Haaaahh-haaahh-haaah-percobaan macam apakah yang kau
inginkan?"
"satu-satunya yang bisa dicoba hanya ilmu silat, boanpwee ingin
berbuat lancang dengan menyuruh keempat orang Lengcu anak
buahku untuk bertarung sebanyak tiga jurus dengan diri
Locianpwee."
"Hahahaha " Kakek berbaju ungu itu menggunakan gelak tertawa
yang keras untuk menutupi perasaan tidak tenangnya, akhirnya dia
menatap lawannya tajam-tajam dan berkata :
"Aku adalah sahabat karib leluhurmu, masa sekarang harus
bertarung melawan angkatan muda dari empat generasi dibawah
ku?"
Dewi In Un tertawa terkekeh-kekeh :
"yaa, sebab hanya dengan cara inilah keaslian cianpwee baru
bisa diketahui, apakah cianpwee tidak berharap rasa curiga
boanpwee sekalian hilang sama sekali?"

Kakek berbaju ungu itu berpikir berapa saat lamanya, lalu berkata
:
"Cara seperti ini sama sekali tak masuk diakal.. "Tapi sejenak
kemudian dia telah berkata lagi:
"Namun aku punya sebuah usul yang lain? entah usul macam
apakah itu?"
"Walaupun aku enggan bertarung sendiri melawan kalian, tapi
pelayan tuaku ini bisa menemani kalian untuk bermain beberapa
gebrakan"
"siapa saja yang turun tangan, rasanya juga sama saja," kata
Dewi In Un sambil tertawa. Kemudian setelah berhenti sejenak,
lanjutnya :
"Bila pelayan cianpwee memiliki ilmu silat yang jauh melebihi
kemampuan kami, sudah jelas kepandaian silat cianpwee jauh lebih
hebat lagi, tentu saja kami tak perlu curiga lagi."
Kakek berbaju ungu itu tertawa terbahak-bahak, dia segera
berpaling seraya berseru:
"Ang tua"
Pelayan tua yang berdiri dibelakangnya segera maju kedepan dan
menyahut. "Hamba siap"
"Apa yang telah kami bicarakan barusan, tentunya sudah kau
ketahui, bukan? Nah, coba kau yang melayani beberapa orang itu
untuk bermain beberapa gebrakan"
"Hamba turut perintah"
Dewi In Un segera berkata pula sambil tertawa girang :
"Maafkan kelancangan boanpwee ini"
Dengan cepat dia mengulapkan tangannya, seorang dayang
berpakaian ringkas segera muncul sambil menyodorkan sebilah
pedang.
Cun hong Lengcu, Hee im Lengcu, Ciu hoa Lengcu serta Tang
soat Lengcu pun tidak menunggu perintah lagi serentak meloloskan
pedang masing-masing dan mengurung pelayan tua ditengah arena.
sambil mempersiapkan tongkat berbentuk anehnya, pelayan tua
itu berkata secara tiba-tiba sambil tertawa :
"Lapor cukong"
"Ada apa?" Tanya si Kakek berbaju ungu agak tertegun.
"Pertarungan ini merupakan pertarungan mati hidup ataukah
Wanya terbatas saling menutul?"

"Tentu saja hanya terbatas saling menutul, masa pertarungan
harus berlangsung antara mati dan hidup,.ingat, kau tak boleh
melukai siapapun diantara mereka"
"Hamba turut perintah"
sementara itu Dewi In Un telah mengayunkan pedang sambil
melancarkan sebuah tusukan ke depan, serunya kemudian:
"Maaf boanpwee menyerang lebih dulu"
Pelayan tua itu sama sekali tidak bergerak dari posisinya semula,
namun ujung tongkatnya yang naga bukan ular bukan itu segera
dilancangkan tiga kali.
Ketika serangan yang dilancarkan Dewi In Un membentur diatas
bayangan tongkat tersebut, terdengar suara dentingan yang amat
nyaring, ternyata serangan tersebut sudah terbendung sama sekali.
Padahal Dewi In Un bukan menyerang secara sungguhan,
dengan berbuat demikian pertama, dia hendak member petunjuk
kepada keempat Lengcu dan kedua, dia ingin mengamati aliran ilmu
silat dari pelayan tua tersebut.
Mendadak terdengar keempat orang Lengcu itu membentak
keras, keempat bilah pedang mereka berkelebat memenuhi angkasa
dan melakukan pengepungan dari empat arah delapan penjuru.
sebaliknya Dewi In Un segera menarik kembali pedangnya sambil
mundur sejauh tiga langkah.
Dalam waktu singkat, cahaya tajam telah memenuhi angkasa.
Hawa pedang mederu-deru, seluruh badan pelayan tua itu sudah
terkurung oleh jarrtng pedang yang amat kuat. Pelayan tua itu
tertawa terbahak-bahak, segera serunya :
"IImu pedang yang amat bagus.coba lihat jurus naga ular menari
bersamaku ini"
sementara si pelayan tua tersebut masih terkurung oleh lapisan
hawa pedang yang diciptakan keempat bilah pedang tersebut,
mendadak tampak bayangan tongkat menerobos ketengah angkasa,
lalu bagaikan deruan angin topan segera menyambar keempat
penjuru.
serangan dahsyat ini bukan saja telah menjebolkan bayangan
pedang yang berlapis-lapis, lagipula dalam beberapa putaran saja
seluruh cahaya pedang yang berkilauan telah terdesak balik kembali-
Akhirnya tampak bayangan toya dan cahaya pedang lenyap
semuanya hingga tak berbekas, dengan wajah amat terperanjat
keempat orang Lengcu itu mengundurkan diri kebelakang.

sebaliknya pelayan tua itu tetap berdiri dengan senyuman
dikulum, seolah-olah tak pernah terjadi pertarungan apa pun disitu.
Baru saja pertarungan berhenti tiba-tiba, terdengar Dewi In Un
membentak keras laksana sambaran petir cepatnya dia menyergap
pelayan tua tersebut.
sergapan yang dilakukan sangat mendadak ini sungguh luar
biasa, hal tersebut membuat si Kakek berbaju ungu yang berada
disisi arena menjadi amat terperanjat, serangan yang hebat seru si
pelayan tua sambil tertawa bergelak-Bayangan tongkat segera
menyambar kemuka menyongsong datangnya serangan itu.
Terdengar suara desingan angin tajam menderu-deru diseluruh
ruangan, tapi sejenak kemudian suasana telah berubah menjadi
sunyi kembali.
Kini suasana sepi yang luar biasa mencekam Perasaan setiap
orang, sementara Dewi In un kelihatan masih berdiri termangu
ditempat semula, senjata panji kupu-kupunya masih berada juga
ditangannya.
.....
sipelayan tua itu berdiri lebih kurang lima depa dihadapanny a,
tapi pada ujung tongkatnya kini telah bertengger sepasang kupukupu
yang sedang mementangkan sayapnya.
Bersambung ke jilid 29
Jilid 29
"Aaah, apa maksud perkataanmu itu?" ucap Kakek Tongkat Sakti
sambil tertawa,
"bukankah sama saja kau hendak mengusirku pergi dari sini?"
Merah padam selembar wajah Kho Beng.
"Harap cianpwee tangan salah paham."
Kakek Tongkat Sakti menggeleng.
"Berbicara secara sejujurnya saja, jangan lagi kau pergi seorang
diri, sekalipun ada aku yang menemanimu pun mungkin kepergian
kita ibarat menimpuk anjing dengan bakpao isi daging, sekali pergi
tak bakal kembali lagi."
"Tapi boanpwee tak akan berpikir sampai kesitu." Kata Kho Beng
sambil menggigit bibir,
"aku tak bisa berpeluk tangan saja membiarkan ciciku terancam
bahaya."
"ya, tentu saja kau harus memikirkan keselamatan jiwanya."
Kakek Tongkat Sakti mengangguk,

"tapi bagaimana pun juga, setiap tindakan harus melalui
perencanaan yang matang lebih dulu. Paling tidak kita harus
mempunyai pegangan sebesar tujuh bagian sebelum berangkat."
Kho Beng berkerut kening.
"Tapi aku tak mempunyai waktu yang cukup, mereka hanya
memberi batas waktu tiga hari kepadaku, rencana apapun yang
hendak dipersiapkan, aku rasa sudah tak akan sempat lagi."
"aku tidak sependapat denganmu." Kata Kakek Tongkat Sakti
sambil menggeleng,
"batas waktu tiga hari Cuma akal-akalan mereka demi kedua
lembar kitab pusaka Thian goan bu boh tersebut, mungkin untuk
menunggu selama tiga tahun pun mereka akan sabar menanti. "Kho
Beng agak tertegun, tiba-tiba dia memberi hormat kepada kakek
itu sambil berkata
"Walaupun cianpwee berjiwa kesatria dan ringan tangan,
mengapa kau begitu berhasrat hendak membantu boanpwee?"
Kakek Tongkat sakti tertawa.
"Masa kau belum tahu apa tujuanku pergi mencari Thian cun
yang?"
"Boanpwee mengerti, tapi cianpwee pun harusnya mengetahui
akan maksud tujuan kepergianku kali ini hanya bertujuan menolong
ciciku dari bahaya maut, persoalan ini merupakan urusanku sendiri,
karenanya boanpwee tidak berharap cianpwee turut menyerempet
bahaya."
Berkilat sepasang mata si Kakek Tongkat sakti, katanya
kemudian:
"Paling tidak aku masih mempunyai dua alasan, pertama ditinjau
dari kehadiran orang-orang tadi, aku telah membuktikan bahwa
Dewi In Un adalah seorang anggota partai kupu-kupu. Kedua, kau
adalah ahli waris dari kitab pusaka Thian goan bu boh, lagipula
merupakan keturunan dari sahabat karib Bu wi lojin, malah
kemungkinan besar beban berat untuk menanggulangi bencana
besar yang menimpa dunia persilatan akan terletak dibahumu, coba
bayangkan sendiri, disaat kau sedang menghadapi bahaya, apakah
aku mesti berpeluk tangan belaka?"
Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali ujarnya :
"yang seharusnya kita bicarakan sekarang adalah bagaimana
caranya menyusup masuk ke sarang iblis dan bagaimana caranya

menyelamatkan encimu, soal-soal yang lain lebih baik jangan kita
bicarakan dulu sementara waktu."
Dengan wajah murung dan amat gelisah, Kho Beng berkata :
"Boanpwee sendiripun tidak berhasil mendapat cara yang lebih
baik lagi untuk menghadapi persoalan ini, sebetulnya aku berniat
menyerempet bahaya dengan mendatangi serangan mereka seorang
diri, tapi sekarang. " Dia menghela napas dan berhenti berbicara.
"Bila kau sampai berbuat demikian, maka tindakanmu itu
merupakan perbuatan bodoh-" Ucap Kakek Tongkat sakti dengan
wajah serius,
"kau harus tahu, setelah mereka berani menyuruh Molim sekalian
menyampaikan kabar tersebut kepadamu, berarti mereka pasti telah
mempersiapkan perangkap yang amat kuat disekitar sana, apabila
cicimu masih berada dalam cengkeraman mereka, kau lebih tak
boleh kehilangan posisi yang menguntungkan, selain itu aku lihat
Lengcu atau pelindung hukum mereka tak boleh dipandang enteng,
oleh sebab itu, aku rasa kita tak boleh bertindak secara gegabah."
Kho Beng segera menggertak gigi menahan gejolak emosi
didalam hatinya, ia berkata kemudian:
"Ditinjau dari kesemuanya ini, aku dapat mengambil kesimpulan
kalau Dewi In un pasti berada didalam gua pengikat cinta ini,
siluman perempuan itu adalah musuh besar pembasmi keluarga Kho
kami"
"Jangan sekali-kali kau bekerja menuruti emosi" hibur Kakek
Tongkat sakti dengan tenang,
"ketahuilah persoalan ini tak bisa diselesaikan secara terburu
nafsu."
"Apakah petunjuk cianpwee didalam masalah ini?" pinta Kho
Beng kemudian dengan kening berkerut,
"apa yang mesti boanpwee lakukan sekarang?"
Kakek Tongkat sakti jadi tertegun untuk berapa saat, bisiknya
agak tergagap:
"Tentang soal ini..."
Tapi sampai setengah harian lamanya dia tak mampu
mengucapkan sepatah katapun, sebab didalam kenyataannya
persoalan ini memang suatu masalah yang susah diatasi. Tiba-tiba
Chin sian kun berkata :
"aku mempunyai sebuah pendapat yang baik, apakah boleh
kuutarakan keluar.."

"Nona Chin, bila kau mempunyai sesuatu pendapat silahkan saja
diutarakan keluar," seru Kho Beng cepat.
Kakek Tongkat sakti pun tersenyum.
"yaa, biasanya pikiran dan perasaan anak wanita memang jauh
lebih tajam dan seksama . cepat utarakan keluar, "
setelah tertawa, Chin sian kun berkata :
"Terlepas apakah Dewi In Un merupakan anggota partai kupukupu
atau bukan, paling tidak dia pasti mempunyai hubungan yang
sangat akrab dengan partai kupu-kupu bukan?"
"yaa, ini sudah pasti" Kakek Tongkat sakti mengangguk-
"Cianpwee pasti banyak mengetahui tentang peristiwa yang
terjadi pada seratus tahun berselang, tahukah cianpwee apakah
pihak partai kupu-kupu mempunyai hubungan yang akrab dengan
seseorang?"
Kakek Tongkat sakti termenung berapa saat lamanya, mendadak
ia bertepuk tangan sambil tertawa terbahak-bahak-
Kho Beng jadi keheranan, buru-buru tanyanya :
"Cianpwee, kenapa kau tertawa bergelak?"
Kakek Tongkat sakti tidak menjawab pertanyaan Kho Beng,
sambil menatap wajah Chin sian kun ujarnya :
"yaa, memang terbukti pikiran dan perasaan wanita jauh lebih
teliti, aku sudah dapat menduga apa yang sedang kaupikirkan "
"Cianpwee tahu apa yang sedang kupikirkan?" ucap Chin sian kun
sambil tertawa.
"Bukankah kau hendak mempergunakan hubungan akrab antara
pihak partai kupu-kupu dengan seseorang yang dikenalnya dulu
untuk menyelesaikan persoalan ini, karena kau merasa Dewi In un
pasti mempunyai hubungan yang akrab dengan pihak partai kupukupu?"
"Cianpwee, kalau kudengar dari gelak tertawa mu barusan,
apakah kau pun telah berhasil mengingat orang tersebut?"
"Betul" Kakek Tongkat sakti mengangguk,
"Aku memang sudah teringat dengan seseorang, orang tersebut
masih terhitung sahabat karib dari ui Thian it, ketua partai kupukupu
yang tewas ditangan tiga dewa tempo dulu. orang itu bernama
Kong ci cu, orang lain menyebutnya sebagai si naga terbang dari see
ih. Disaat ui Thian it melangsungkan pertarungan seru melawan tiga
dewa tempo hari, Kong ci cu yang mendapat kabar segera menyusul
ketempat kejadian, sayang kedatangannya terlambat selangkah,

ketika ia tiba disitu, ui Thian it sudah tewas dibawah tebing berduka
hati"
setelah menghela napas panajng, katanya lebih jauh :
"Kong ci cu lah yang membereskan jenasah Ui Thian it serta
membawanya pulang, konon peristiwa tersebut pernah menjadi
bahan pembicaraan yang paling hangat dalam dunia persilatan
waktu itu."
Chin sian kun berpikir sejenak, kemudian tanyanya :
"aku rasa si naga terbang dari see ih Kong ci cu tentunya sudah
lama meninggal dunia bukan?"
Kakek Tongkat sakti manggut-manggut -
"Pada seratus tahun berselang ia telah berusia tujuh delapan
puluh tahunan, kini seratus tahun telah lewat, masa dia belum juga
mati? Tentu saja jiwanya telah lama berakhir-"
"Apakah orang partai kupu-kupu mengetahui tentang kematian
Kong ci cu ini?" Kembali Kakek Tongkat sakti tertawa :
"sejak peristiwa berdarah ditebing hati duka, partai kupu-kupu
sudah tiada kabar beritanya lagi, apakah mereka mengetahui akan
kematian Kong ci cu atau tidak kurang jelas, tapi bagi diriku justru
mengetahui soal kematian Kong ci cu tersebut dengan jelas sekali-"
"entah apa yang menyebabkan kematiannya?" Tanya Chin sian
kun dengan perasaan gembira.
"Dia mati karena sakit." Kata Kakek Tongkat sakti sambil tertawa.
"Peristiwa itu terjadi lebih kurang sepuluh tahun setelah peristiwa
berdarah di tebing hati duka, tapi kematiannya tidak diketahui oleh
siapa pun sebab seorang pelayan tua dan seorang bocah muda yang
hidup bersamanya telah bunuh diri pula setelah kematiannya itu"
"Kalau toh soal kematiannya tidak diketahui orang lain, dari mana
cianpwee bisa mengetahui akan persoalan ini?" Kakek Tongkat sakti
tertawa misterius.
"yang mengubur mereka bertiga juga seorang sahabat dari
tingkatan ayahku, sedang diapun akhirnya mati ditempat
pengasingan, itulah sebabnya kecuali aku seorang mungkin tiada
orang kedua yang mengetahuinya."
Chin sian kun termenung sambil berpikir sebentar, lalu katanya :
"Entah bagaimanakah perawakan tubuh serta wajah dari sinaga
terbang dari see ih Kong Ci cu?"
Kakek Tongkat sakti memandang sekejap kedua orang yang
berada dihadapannya lalu ujarnya sambil tertawa:

"Persoalan ini sangat kebetulan sekali, walaupun perawakan
badan si naga terbang dari see ih tidak terhitung tinggi besar,
namun tidak seceking diriku ini, aku rasa Kho sauhiaplah yang paling
cocok untuk memerankan dirinya, sedang seorang pelayan tua dan
bocah muda dari Kong ci cu tampaknya harus diperankan oleh nona
dan aku"
Meskipun rencana ini sangat bagus, tapi cianpwee telah
melupakan satu persoalan" kata Chin sian kun sambil
menggelengkan kepalanya, keningnya Nampak berkerut kencang.
"Apa yang kulupakan?" Tanya Kakek Tongkat sakti tertawa-
"Cianpwee harus ingat bahwa peristiwa itu terjadi seratus tahun
berselang, raut tampang mereka tak akan seperti wajahnya para
sahabat yang lalu-"
"Tentu saja" kata Kakek Tongkat sakti sambil tertawa,
"mana mungkin aku melupakan persoalan ini, tapi hal semacam
itu masih bisa ditutupi."
Dengan suara lirih dia segera membisikkan sesuatu kepada Chin
sian kun dan Kho Beng. selesai mendengar bisikan itu, Kho Beng
berdua segera tersenyum dan manggut-manggut. Kembali Kakek
Tongkat sakti memutar biji matanya sambil berkata lagi:
"Hayo berangkat, mungkin kita harus kerja keras seharian penuh,
ketahuilah benda-benda tersebut tidak mudah untuk dibuat."
Diiringi sekulum senyuman yang misterius, berangkatlah ketiga
orang itu meninggalkan bukit Cian san.
Didalam gua pengikat cinta bukit Cian san, cun hong Lengcu, Hee
im Lengcu, Ciu hoa Lengcu serta tang soat Lengcu sekalian
berempat sedang berdiri didepan Dewi In Un dengan sikap yang
sangat hormat.
Dua orang nenek berbaju perlente berdiri dikedua belah samping
Dewi In Un dengan wajah yang serius, persis seperti dua buah
patung batu.
Disamping itu masih terdapat dua puluhan orang dayang berbaju
ringkas yang berdiri dikedua belah sisi arena, suasana terasa amat
serius dan seram, setelah memberi hormat, Cun hong Lengcu
berkata :
"suhu, tecu sekalian telah melaksanakan semua pekerjaan sesuai
dengan petunjuk suhu"

"Hmmm, apa saja yang telah kalian kerjakan?" dengus Dewi In
Un.
"semua jalan darah ditubuh Kho Yang ciu telah kami totok, kini
dia dirantai diatas kursi batu, selain itu ditempat kegelapan.,"
setelah menunjukkan senyuman bangga, lanjutnya :
"Didalam maupun diluar ruangan tecu telah menyiapkan jebakan
yang berlapis-lapis, setiap perangkap yang kupersiapkan rasanya
sudah lebih dari cukup untuk mengubah mereka kakak beradik dua
orang menjadi perkedel."
Paras muka Dewi In Un tetap dingin kaku tanpa perubahan
emosi, katanya hambar:
"yang perlu kalian perhatikan adalah kedua lembar kitab pusaka
Thian goan bu boh itu"
"soal ini suhu tak perlu kuatir," cun hong Lengcu segera tertawa,
"tentu saja kami akan berusaha untuk mendapatkan kedua
lembar kitab pusaka Thian goan bu boh lebih dulu sebelum berusaha
melenyapkan kedua bibit bencana ini dari muka bumi"
"Dengan cara apa kalian menyampaikan berita tersebut kepada
Kho Beng?"
sungguh kebetulan sekali kata Cun hong Lengcu dengan bangga,
"sewaktu dalam perjalanan menuruni bukit Cian san tadi, telah
bertemu dengan keempat budak asing dari Kho Beng, kami memberi
batas waktu tiga hari kepada Kho Beng untuk datang kemari
menukar cicinya dengan kedua lembar kitab pusaka tersebut."
Dewi In Un berpikir sebentar, lalu katanya :
"Aku dengar Kho Beng adalah seorang pemuda yang sangat licik
dan banyak akal muslihatnya, mungkinkah dia akan datang
memenuhi janji tepat pada waktunya?"
Hee im Lengcu segera menyahuti:
"Menurut apa yang tecu ketahui, Kho Beng pasti akan datang-"
Dewi In Un segera mengerling sekejap kearahnya :
"Atas dasar apa kau berani berkata begitu meyakinkan?"
sambil tertawa paksa Hee im Lengcu berkata :
"Kho Beng adalah seorang yang amat perasa, terutama sekali
terhadap saudara kandungnya sendiri, Ia menaruh perhatian yang
amat khusus- Apabila la mendapat kabar yang menyatakan bahwa
cicinya menjumpai kesulitan disini, biarpun dia tahu bakal mati
namun ia pasti akan datang juga."

"Heeeheee- h eeee- memang inilah kelemahan manusia," seru
Dewi In Un sambil tertawa terkekeh-kekeh,
"kalian harus mempergunakan nya secara baik-baik,"
Tapi sejenak kemudian paras mukanya telah berubah hebat,
dengan suara mendalam dia menambahkan.
"Tapi bila usaha kali ini tidak berhasil, maka kalian berempat
bakal menerima hukuman yang cukup berat."
Keempat orang lengcu itu segera merasakan hatinya bergetar
keras, paras mukanya berubah hebat, tapi hanya sebentar. Dalam
waktu singkat mereka telah memperoleh ketenangannya kembali.
sambil tertawa paksa Cun hong Lengcu segera berkata :
"suhu tak usah kuatir, kali ini tiada kemungkinan untuk menderita
kegagalan, tanggung kedua lembar kitab pusaka Thian goan bu boh
itu akan kita peroleh."
Dengan sikap hambar Dewi In Un manggut-manggut.
"semoga saja usaha kalian berhasil dengan sukses, untuk
mencapai keberhasilan ini kalian boleh menggunakan semua
kekuatan yang berada disini- selain daripada itu, dalam menghadapi
situasi dan keadaan seperti apapun, setiap saat kalian harus
memberi laporan kepadaku"
"Tecu turut perintah" keempat orang Lengcu itu menyahut
serentak dengan sikap menghormat.
Agaknya Dewi In Un merasa puas, dia menguap lalu sambil
mengulapkan tangannya, ia berkata:
"sekarang kalian boleh mengundurkan diri dari sini"
Keempat orang Lengcu itu bersama-sama memberi hormat lalu
mengundurkan diri.
yang disebut sebagai kamar penjara di dalam gua pengikat cinta
tak lebih hanya berupa sebuah gua yang belum pernah dibenahi-
Disana sini ruangan gua terdapat banyak batu granit yang
mencuat kesana kemari, tapi dasar tanah amat datar, dibagian
tengah terdapat sebuah kursi batu, kursi itu terbuat dari tonjolan
batu karang yang mencuat keatassaat
itu Kho yang ciu didudukkan pada kursi tersebut dan dirantai
dengan sebuah rantai raksasa sebesar lengan bocah-
Padahal sekalipun tak dirantai, Kho yang ciu tak mampu lagi
menggerakkan badannya, sebab bukan saja seluruh jalan darahnya
telah tertotok, lagipula ia telah dicekoki cairan beracun yong luo ih
yang mempunyai khasiat membuyarkan tenaga-

Peredaran darah yang tidak lancer membuat keadaan gadis
tersebut tak ubahnya seperti seorang penyakitan yang hampir
sekarat, bentuk rupanya telah berubah menjadi amat mengenaskan.
suasana dalam gua gelap gulita tanpa cahaya, lembab lagi gelap,
berada ditempat seperti ini tak ubahnya seperti berada didalam
neraka.
Tapi diluar maupun didalam gua tersebut, terutama pada bagian
yang gelap dan tersembunyi, secara diam-diam sudah dilengkapi
perangkap yang berlapis-lapis, diantaranya meliputi panah beracun,
uap beracun dan jebakan yang mengerikan.
Kini Kho yang ciu telah mendusin dari pingsannya, namun seluruh
jalan darahnya yang tertotok membuat ia tak mampu ergerak, tak
mampu pula bicara, kecuali benaknya yang dipenuhi pelbagai
persoalan yang pelik, pada hakekatnya keadaan nona tersebut tak
berbeda seperti sesosok mayat.
Namun perasaan sedih dan menyesal yang mencekam
perasaannya tak terlukiskan lagi dengan perkataannya, dia menyesal
mengapa tidak menurui nasehat dari adiknya Kho Beng yang sudah
berhasil membongkar identitas mereka yang sebenarnya ketika
masih berada di perkampungan ciu hong san ceng tempo hari,
malah sudah berulang kali adiknya membujuk serta menasehatinya.
Tapi-mengapa ia tak mau tahu dan belumjuga mau sadar?
sekali salah melangkah, menyesal sepanjang masa, walaupun ia
merasa menyesal sekali tapi sayang keadaan sudah terlambat.
Ia sama sekali tak takut mati, tapi dendam sakit hatinya belum
terbalas.
sedangkan diapun akan mati ditangan musuh besarnya, inilah
yang membuat ia mati tak meram.
Disamping itu dia pun teringat kembali dengan adiknya Kho
Beng, diapun cukup memahami tujuan yang sebenarnya Dewi In Un
menyekap dirinya disitu, sudah pasti dia akan dijadikan umpan untuk
memancing kedatangan Kho Beng guna menyerahkan kedua lembar
kitab pusaka Thian goan bu boh tersebut.
Ia pun sadar, demi keselamatan jiwanya, Kho Beng pasti tak
akan memperdulikan segala sesuatunya untuk datang
menyelamatkan jiwanya, apabila keadaan seperti ini sampai terjadi,
bukankah dialah yang telah mencelakai adiknya?
Teringat akan dendam berdarah dari keluarga Kho yang belum
sempat terbalas, teringat pula Kho Beng adalah satu-satunya

keturunan keluarga Kho, andai kata gara-gara keteledoran sendiri
menyebabkan kematian Kho Beng, apakah dia masih punya muka
untuk bertemu dengan arwah orang tuanya dialam baka?
Berpikir sampai disitu, tanpa terasa air matanya jatuh
bercucuran, satu-satunya yang diharapkan sekarang adalah
berharap agar adiknya tidak menyerempet bahaya. Namun dia pun
tahu, keadaan seperti ini hampir boleh dibilang tak mungkin, sebab
dia cukup memahami perasaan dan tabiat adiknya, dia pasti akan
datang untuk menolongnya apapun yang bakal terjadi-Mendadak-.
Disaat pikirannya sedang melayang entah kemana saja,
terdengar suara langkah kaki manusia berkumandang datang.
Dengan paksakan diri Kho yang ciu membuka matanya, tapi apa
yang kemudian terlihat membuat darahnya terasa mendidih,
sepasang matanya berapi-api dan hampir saja melotot keluar.
Ternyata yang datang adalah Cun hong Lengcu, Hee im Lengcu,
Ciu hoa Lengcu serta Tang soat Lengcu.
Dengan langkah yang santai keempat orang itu berjalan masuk
kedalam ruangan.
Kho yang ciu tak mampu bergerak, tak mampu pula bicara, satusatunya
yang bisa diperbuat olehnya hanya menunjukkan rasa benci
dan dendamnya yang merah membara itu kelihatan berapi-api
seperti mau melompat keluar.
setibanya dihadapan Kho yang ciu, Hee im Lengcu segera
menyapa sambil tertawa :
"Adik Kho, maaf sekali yaa aku telah membuatmu sangat
menderita"
sedemikian benci dan dendamnya Kho yang ciu ketika itu,
mungkin kalau dapat dia hendak menggigit daging mereka mentahmentah,
tapi sekarang yang dapat diperbuat olehnya hanya duduk
tak berkutik seperti patung. Pelan-pelan Hee im Lengcu berkata lagi:
"Walaupun aku merasa rada tak tega, tapi.yaa apa boleh buat
lagi? Padahal manusia hidup seabad pun akhirnya akan mari juga,
hanya sekarang kau mati lebih awal saja."
Cun hong Lengcu tertawa sambungnya pula :
"Disaat ajalmu hampir tiba, kau masih bisa bertemu kembali
dengan adikmu, hitung-hitung anggaplah kebaikan ini sebagai balas
jasa kami terhadapmu mengingat dulu pernah menjadi saudara
sendiri."

Lalu setelah memutar biji matanya dengan genit, dia berkata
lebih lanjut:
"Aku rasa tidak sampai tiga hari kemudian, ia pasti sudah
menyusul kemari."
"Tapi sayang," cun hong Lengcu menambahkan sambil tertawa,
"Disaat kalian kakak beradik saling bersua, saat itulah ajal kalian
akan tiba.-haaaahhhaaaahhhh."
"Keluarga besar kalian telah mati semua," kata Tang soat Lengcu,
"sebenarnya kalau kamu berdua kakak beradik harus hidup
sendirian didunia ini, aku rasa juga tak ada artinya. Lebih baik mati
saja bersama- Toh, semua persoalan akan beres pula dengan
sendirinya," sambil tersenyum Cun hong Lengcu, berkata lagi:
"Tapi kalian tak usah kuatir, kami tak bakal menyia-nyiakan kalian
dengan begitu saja, bila kau telah mati semua, kami pasti akan
membuat upacara penguburan yang megah dan mengubur kalian
dengan batu marmer sebagai nisan."
Begitulah keempat orang Lengcu itu saling berebut bicara, tapi
setiap perkataan yang diucapkan bagaikan sebilah pisau tajam yang
menghujam didada Kho yang ciu dalam-dalam.
Ditinjau dari pembicaraan mereka berempat, Kho yang ciu pun
dapat memahami siasat busuk dibalik kesemuanya itu, rupanya
mereka sedang menipu Kho Beng untuk datang kesana. sementara
dia masih termenung, terdengar cun hong Lengcu berkata sambil
tertawa :
"Pemeriksaan telah usai, mari kita pergi dari sini"
Hee im Lengcu sekalian mengiakan, pelan-pelan mereka
membalikkan badan dan berjalan keluar dari gua.
setelah berada diluar, cun hong Lengcu memandang sekejap
sekeliling tempat itu, lalu serunya :
"Adikku bertiga "
"Ada apa toaci?" Hee im Lengcu segera bertanya, sambil
menghela napas, Cun hong Lengcu berkata :
"Tiba-tiba saja timbul perasaan kuatir didalam hatiku."
"Bukankah persiapan kita sangat rapi dan luar biasa rapatnya?
Apalagi yang toaci kuatirkan?" Tanya Ciu hoa Lengcu keheranan.
Pelan-pelan cun hong Lengcu berkata :
"Mungkin saja perasaan ini timbul disebabkan masalah yang kita
tangani kelewat penting, kita tak boleh gagal tentunya kalian masih

ingat dengan perkataan suhu bukan? Andaikata sampai terjadi halhal
yang tak diinginkan,"
sambil menghembuskan napas panjang dia segera berhenti
berbicara,
Perasaan dan pikiran Hee im Lengcu sekalian pun berubah
menjadi berat dan serius, sebab mereka tahu apa yang telah
dikatakan Dewi In Un selalu dapat dilaksanakan dan menjadi
kenyataan, andaikata usaha mereka kali ini mengalami kegagalan
total, dapat dipastikan hukuman yang berat serta nasib yang kelak
akan menimpa mereka semua.
Untuk beberapa saat lamanya keempat orang itu menjadi
terbungkam dan tidak berbicara lagi.
Akhirnya Cun hong Lengcu mendongakkan kepalanya sambil
berkata lebih lanjut:
"agar usaha kita kali ini tak sampai menderita kegagalan, kita
wajib mengambil suatu tindakan yang cukup gratis"
"Maksud cici? Bukankah penjagaan kita cukup ketat? Tindakan
apa lagi yang hendak toaci lakukan?" sela Hee im Lengcu Li sian
soat.
"Pertama, kta berempat bakal berjuang lebih berat dan sengsara
lagi, selama tiga hari ini setiap malam kita harus melakukan
penjagaan bersama disini- Kedua, kita pun harus mengajukan
permohonan yang lain kepada suhu. "
"Permohonan apa?"
"Biarpun suhu telah menyanggupi permintaan kita
mempergunakan anak buahnya sekehendak hati, tapi aku rasa hal
tersebut tidak meliputi kedua pendamping utamanya yakni Nenek
penunjang langit serta Nenek perata bumi?"
"Tentu saja. Nenek penunjang langit dan Nenek perata bumi
adalah orang yang melindungi keselamatan suhu, tak setengah
jengkal tanah pun mereka meninggalkan beliau."
"ya a, berada dalam keadaan seperti ini, terpaksa kita harus
mengalihkan perhatian kepadanya, asal kedua orang itu bisa kita
gunakan tenaganya untuk menyamar sebagai pelindung Kho yang
ciu, sudah pasti tiada kegagalan yang mungkin terjadi"
"Cara ini memang bagus, tapi apakah suhu bakal
mengabulkannya?" Tanya Li sian soat denga kening berkerut.
Dengan keyakinan yang amat besar Cun hong Lengcu menyahut:

"Demi kedua lembar kitab pusaka Thian goan bu boh, demi
melenyapkan kedua keturunan terakhir dari keluarga Kho,
kemungkinan besar suhu akan mengabulkan permintaan kita?"
"Perkataan toaci memang benar" Li sian soat mengangguk pula,
"mari kita pergi memohon kepada suhu"
Maka secara berurutan berangkatlah keempat orang Lengcu
tersebut meninggalkan tempat itu.
-ooo00000oooo-
Ditinjau dari luar, puncak bukit Cian san masih tetap kelihatan
gundul lagi gersang, tak ubahnya seperti bukit gersang yang tak
berpenghuni, namun dalam kenyataannya situasi disitu amat tegang
dan serius.
Namun hari pertama lewat dengan begitu saja, sampai hari
kedua lewat pun Kho Beng belum tampak batang hidungnya.
Keempat Lengcu dibawah pimpinan Dewi In Un mulai gelisah
bagaikan semut berada dikuali panas, pada mulanya mereka kuatir
usaha tersebut akan mengalami kegagalan total, dan kini kuatir Kho
Beng tak akan datang memenuhi janji-
Kini senja hari ketiga pun sudah lewat, tampaknya batas waktu
selama tiga hari sudah lewat, namun bayangan Kho Beng belum
kelihatan juga-
Bukan saja keempat orang Lengcu itu mulai gelisah dan tak
tenteram- Dewi In Un sendiripun mulai merasa cemas dan kesal,
berulang kali ia mengirim orang untuk menanyakan persoalan ini
kepada keempat Lengcu, tentu saja dia tak akan memperoleh berita
yang menggembirakan dari keempat orang anak buahnya.
sementara mereka masih dirundung rasa kecewa dan gelisah,
tiba-tiba diluar gua pengikat cinta tersiar datang suatu berita yang
betul-betul mengejutkan hati-
Berita tersebut memang betul-betul merupakan suatu berita
ledakan yang amat menggemparkan, sebab ada seseorang yang
mengaku sebagai sahabat karib ui Thian it, ketua partai kupu-kupu
generasi yang lain dengan membawa pelayan tua dan kacungnya
dimuka gua dan mohon bertemu.
Berita tersebut dengan cepat disampaikan kepada Dewi In Un,
mendengar laporan tersebut Dewi In un jadi tertegun dan segera
membentak:
"sama sekali ngaco belo, tak mungkin akan terjadi peristiwa
semacam ini"

yang datang membawa laporan tersebut adalah ChinBu wi, salah
satu diantara dua belas pelindung hukum, hitung-hitung dia masih
termasuk jago kelas satu dibawah pimpinan Dewi In Un.
Ketika mendapat teguran tersebut, buru-buru dia berkata :
"Pada mulanya hambapun tidak percaya, namun setelah bersua
dengan mereka, hamba jadi rada-"
"Rada percaya bukan?" sambung Dewi In Un sambil tertawa
terkekeh-kekeh. Kemudian sambil menghentikan gelak tertawanya,
dia berkata lebih jauh :
"ciangbunjin angkatan pertama partai kupu-kupu telah mati
dalam pertarungan dibawah tebing hati duka pada seratus tahun
berselang, dalam seratus tahun hidup dalam pengasingan ini partai
kita selalu menggembleng diri dan memupuk kekuatan terus
menerus. Tujuannya tak lain adalah untuk membalaskan dendam
bagi kematian leluhur kita ini. Bila orang tersebut benar-benar
adalah sahabat karib leluhur kita, coba pikir sendiri berapa usianya
tahun ini?"
"Konon dia sudah berusia seratus sembilan puluh delapan tahun"
kata ChinBu wi agak tergagap.
"seratus sembilan puluh delapan tahun?" kembali gelak tertawa
Dewi In Un berderai-derai memecahkan keheningan.
"Haaaahaaaa.mungkinkah didunia ini terdapat manusia yang bisa
hidup seumur itu?"
Cun hong Lengcu segera tampil kedepan sambil menimbrung :
"suhu, bolehkah tecu mengucapkan sepatah dua patah kata?"
Dewi In Un manggut-manggut ¦
"aku bukan orang yang terlalu fanatic dengan pikiran dan
pendapat orang lain, apa pendapatmu dalam masalah ini? Katakana
saja terus terang." Buru-buru Cun hong Lengcu berkata:
"Terlepas dari asli atau palsunya orang ini, paling tidak peristiwa
ini adalah suatu kejadian yang sangat aneh, apa salahnya bila suhu
mengundangnya masuk serta memeriksa secara langsung? Dengan
berhadapan muka secara langsung, tecu percaya, asli tidaknya orang
ini akan segera ketahuan, bila orang ini hanya sengaja hendak
membuat berita sensasi, kita basmi saja seketika daripada
meninggalkan bibit bencana besar dikemudian hari."
"Benar, kalau begitu undang dia masuk" kata Dewi In Un sambil
tertawa lebar.
Chin Bu wi sebera mengiakan dan mengundurkan diri dari situ.

Tak lama kemudian dia telah muncul kembali dengan membawa
tiga orang manusia.
Ketika ketiga orang tersebut memasuki ruangan batu, segenap
hadirin segera merasakan sikap hormat dan serius yang tiba-tiba
muncul dari hati masing-masing.
orang yang berjalan dipaling muka adalah seorang kakek berbaju
ungu yang berwajah bagaikan tembaga antik, sepasang matanyaa
memancarkan sinar berkilat, jenggot putihnya terurai sepanjang
perut, tingkah lakunya mantap dan berwibawa sekali.
Dibela kang tubuhnya mengikuti dua orang pembantunya, yang
tua berambut dan berjenggot putih, tangannya membawa sebuah
tongkat berbentuk. aneh, berbaju kuning, sedang yang muda
berbaju bersih, putih kemerahan, usianya paling banter baru delapan
belas tahunan.
Ketiga orang itu berjalan dengan langkah lebar dan kepala
terangkat keatas, begitu anggun langkah mereka sampai-sampai
Dewi In Un yang berada ditempat duduknya pun tergerak hatinya
dan berdiri tanpa sadar.
Ketika kakek berbaju ungu itu sudah tiba diruangan tengah, ia
segera mengalihkan pandangan matanya mengawasi sekitar situ,
kemudian berseru dengan suara yang nyaring bagaikan genta:
"Tempat yang bagus.siapa yang bernama Dewi In Un?"
Dewi In Un segera mengernyitkan alis matanya, lalu menjawab :
"akulah orangnya, boleh kutahu siapa namamu?"
Kakek berbaju ungu itu tersenyum,
"sebelum kusebutkan namaku, terlebih dahulu ingin kutanyakan
satu persoalan lebih dulu. soal apa?"
"Anda adalah keturunan keluarga ui yang keberapa?" Tanya
kakek itu dengan suara dalam.
"Angkatan keempat" sahut Dewi In Un keningnya makin berkerut.
Kakek berbaju ungu itu manggut-manggut, katanya lagi:
"kalau begitu anda tentunya mengetahui dengan jelas tentang
segala kejadian yang telah menimpa kakekmu ui Thian it bukan?"
"sejak masih kanak-kanak orang tua kami selalu membicarakan
soal leluhur kami dulu. Kisah ceritanya boleh dibilang telah
mendarah daging ditubuhku"
Kakek berbaju ungu itu segera tertawa girang, katanya lebih jauh
:

"Kalau begitu tentunya kau tahu bukan, ketika leluhurmu ui Thian
it bertarung melawan tiga dewa see hwa sam sian dibawah tebing
hati duka, pernah ada seorang sahabatnya dari see ih yang buruburu
datang ketempat kejadian, tapi berhubung kedatangannya
terlambat satu langkah hingga menemukan leluhurmu telah tewas
ditangan tiga dewa, hingga akhirnya sahabatnya itu menguburkan
jenasah ui Thian it serta mendirikan baru nisan baginya."
sambil berkata sepasang matanya yang tajam mengawasi wajah
Dewi In Un lekat-lekat, kemudian baru melanjutkan:
"Tahukah kau siapakah orang tersebut?"
Dewi In Un balas menatap wajah kakek berbaju ungu itu dengan
seksama, lalu sahutnya keheranan:
"Tentu saja aku tahu, dia adalah sahabat karib leluhurku. Naga
Terbang dari See ih Kong ci cu, orang tuaku pun pernah
menyinggung tentang perbuatan baik yang pernah dilakukan orang
tua itu, selama ini kami menghormatinya sebagai tuan penolong dari
keluarga ui. Sayang sekali, dia orang tua tidak mempunyai
keturunan, tidak memiliki ahli waris, sehingga budi kebaikannya itu
tak sempat kami balas. Kakek berbaju ungu itu seoera tertawa
terbahak-bahak:
"Haaaahhhh..haaaahhhh.haaaahhhhh akulah Kong ci cu"
segenap yang hadir termasuk juga Dewi In un pribadi menjadi
tertegun sesudah mendengar jawaban tersebut. selang beberapa
saat kemudian Dewi In Un baru berkata sambil tersenyum:
"Lojin gemar amat bergurau, Kong ci cianpwee tak mungkin
masih hidup didunia ini, hal semacam ini sama sekali tak masuk akal
dan tak bakal dipercayai oleh siapa saja."
"Tiada keanehan yang tak bisa terjadi didunia yang lebar ini,"
ucap si kakek berbaju ungu sambil tertawa,
"semua kemungkina bisa terjadi dan dialami setiap manusia, atas
dasar apa kau tidak mengakui keaslianku."
"Bila anda benar-benar adalah Kong ci cianpwee, dengan cara
apa kau bisa.."
Kakek berbaju ungu itu segera menukas perkataannya yang
belum selesai diucapkan itu.
"Aku cukup memahami kecurigaanmu, tegasnya saja peristiwa ini
memang merupakan suatu peristiwa yang hampir tak masuk diakal
dan susah dipercayai alasannya. Mungkin rasa curigamu itu akan
lenyap dengan sendirinya."

Pelan-pelan dia mengalihkan sorot matanya memandang sekejap
sekeliling tempat itu, kemudian melanjutkan:
"Tatkala leluhurmu ui Thian it telah meninggal disini, hatiku
merasa sangat masgul dan risau, karenanya aku tak pernah kembali
ke see ih lagi, tapi dengan membawa serta pelayan dan kacung aku
mengembara kesegala pelosok tempat, setahun kemudian sampailah
kami dibukit Tiang pek san sebelah timur laut."
"Bila apa yang totiang katakan benar, dari wilayah see ih
disebelah barat kau bisa berkelana sampai wilayah timur laut,
kelihatannya kepandaianmu sungguh mengagumkan" sela Dewi In
Un.
Dengan sorot mata yang tajam, kakek berbaju ungu itu
mengawasinya lekat-lekat, lalu melanjutkan kembali kata-katanya:
"Ketika aku mengajak kacung dan pelayanku memasuki bukit
tiang pek san untuk berpesiar, akhirnya kami bertemu dengan badai
salju selama sepuluh hari-"
"Apa yang dimaksudkan badai salju selama sepuluh hari?" Tanya
Dewi In Un sambil tertawa.
"selama sepuluh hari lamanya, badai salju menyerang kami tiada
hentinya . itulah yang disebut badai salju sepuluh hari."
"Waaah, kalau terjadi badai salju selama sepuluh hari tiada
hentinya, bukankah semua jalan gunung menjadi terhambat dan
seluruh bumi berubah menjadi putih berkilauan?"
Kakek berbaju ungu itu manggut-manggut.
"yaa, justru Karena itulah kami jadi terjebak didalam suatu
wilayah yang amat terpencil, dalam keadaan begini, betapapun
tingginya ilmu silat yang kumiliki sulit juga untuk melepaskan diri
dari lapisan salju yang menutup seluruh bukit Tiang peksan, rasa
lapar, kedinginan membuat kami hampir saja mati konyol,"
sekali lagi Dewi In Un menyela.
"Lantas dengan cara apakah lotiang berhasil meloloskan diri dari
mara bahaya?"
Berkilat sepasang mata kakek berbaju ungu itu.
"Kami tidak terlepas dari kurungan, tapi dibawah sebuah tebing
yang terjal kami berhasil menemukan sebatang pohon waru."
Ditengah salju yang begitu dingin, pohon waru yang ditemukan
pastilah sebatang pohon kering yang sudah tak karuan lagi- Tapi
setelah berhenti sejenak- dengan pandangan keheranan dia
bertanya,

"Mengapa lotiang menyinggung soal pohon waru?"
Kakek berbaju ungu itu tertawa terbahak-bahak.
"Haaaah-haaaahhh-haaaahhhhh sebab nyawa kami bertiga telah
diselamatkan pohon waru tersebut, tentu saja harus kusinggung
tentang persoalan ini.
Silahkan lotiang melanjutkan penuturanmu" pinta Dewi In Un
dengan perasaan gelisah.
Setelah melemparkan sekulum senyum misterius, kakek berbaju
ungu itu berkata lebih laniut:
"Dibawah tekanan udara yang amat dingin dan lapisan salju yang
begitu tebal, tentu saja pohon tersebut tinggal sebuah batang kering
yang tak karu-karuan- lagi, namun diatas dahan yang kering
tersebut justru terdapat dua puluh empat butir biji waru, setiap butir
biji waru itu besarnya seperti buah kelengkeng, warnanya merah
menyala."
"Oooo.. sungguh suatu kejadian yang sangat aneh" kata Dewi In
Un keheranan. Kakek berbaju ungu itu tertawa :
"Waktu itu kami merasa amat kelaparan, tentu saja tak terlintas
pikiran yang bukan-bukan terhadap buah tadi, kami petik buah
merah tersebut dan setiap orang mendapat delapan butir untuk
menahan lapar."
Sambil tertawa Dewi In Un menyela :
"Bila seorang sudah berada dalam keadaan kelaparan, rasanya
delapan butir biji waru belum mampu untuk menghilangkan rasa
lapar yang menyerang badan."
"Sama sekali tidak," kakek berbaju ungu itu menggoyangkan
tangannya berulang kali,
"setelah kedelapan butir biji waru itu msuk kedalam perut, bukan
saja semua rasa lapar telah lenyap, bahkan rasa dingin yang
mencekam badan pun lenyap tak berbekas, baru saat itulah aku
merasa amat keheranan"
"Masa benda tersebut adalah buah dewa yang bisa membuat
orang awet muda?"
"setelah kulakukan penyelidikan yang seksama, akhirnya dapat
kusimpulkan bahwa buah waru tersebut sesungguhnya adalah bibit
waru kutub yang telah berusia seribu tahun. Mengapa dinamakan
bibit waru kutub? "
Kakek berbaju ungu itu tertawa :

"Ditengah badai salju yang begitu kencang dan udara yang
begitu dingin, hampir mustahil buat sebatang pohon waru untuk
tetap hidup dibumi sekitar situ, apalagi biji waru yang tak pernah
rontok selama seribu tahun lamanya. Tapi kesemuanya ini bisa
terjadi dikarenakan ada sebab yang lain, rupanya batang pohon
waru itu persis tumbuh ditempat yang dilalui aliran hawa panas
bumi, dengan menghisap sari bumi, maka pohon waru tersebut
dapat mempertahankan setitik harapan untuk hidup, Itulah sebabnya
pohon tadi menghasilkan dua puluh empat butir biji yang berkhasiat
luar biasa. Dasar nasibku lagi mujur, gara-gara mendapat musibah
akhirnya malah peroleh rejeki,"
"itulah sebabnya Kau menjadi dewa yang tetap awet muda?"
sambung Dewi In Un dengan mata melotot besarsambil
menunding kearah pelayan serta kacung yang berada
dibelakang tubuhnya, kakek berbaju ungu itu berkata lebih jauh :
"Waktu itu, wajah mereka persis seperti sekarang ini, biar sudah
lewat seabad lamanya, tampang mereka masih tetap tak berubah."
Kemudian setelah berhenti sejenak, sambungnya lebih jauh :
"Menurut perkiraanku, meski kami tak bisa hidup panjang umur,
paling tidak masih bisa hidup tiga atau empat kali enam puluh
tahun."
Dewi In Un tertegun beberapa saat lamanya, mendadak ia
berkata sambil tersenyum,
"kisah cerita lotiang memang sangat menarik hati, tapi rasanya
aku belum dapat mempercayai kau sebagai Kong ci cianpwee hanya
didasarkan pada ceritamu saja"
Kakek berbaju ungu itu sebera tertawa terbahak-bahak:
"Haaaahaaahh-haaahhh.apakah kau masih ingin memeriksa yang
lain?"
Dewi In Un berpikir sejenak, kemudian katanya :
"Menurut apa yang kuketahui, Kong ci cianpwee menggunakan
sepasang senjata yang berbentuk. aneh, sampai sekarang benda
tersebut masih jarang dijumpai didunia persilatan."
Kakek berbaju ungu itu tertawa tergelak, mendadak dia merogoh
kedalam sakunya lalu mengeluarkan sepasang senjata yang
berbentuk sangat aneh.
Dalam waktu singkat seluruh ruangan telah diliputi oleh cahaya
keemas-emasan yang amat menyilaukan mata.

sewaktu semua orang mengawasi dengan seksama, maka
tampaklah benda tersebut adalah epasang gelang emas, satu
diantaranya mengeluarkan cahaya yang begitu tajam sehingga
sewaktu digerakkan membiaskan cahaya yang begitu menyilaukan
mata persis seperti cahaya sang suryasebaliknya
yang berbentuk setengah lingkaran dan bersinar
redup, bentuknya tak berbeda seperti rembulan yang separuh bulat,
sambil tertawa tergelak-gelak. kakek berbaju ungu itu berkata :
"Apakah kau maksudkan sepasang gelang jit gwat siang huan
ini?"
Dewi In Un membelalakkan matanya lebar-lebar, saking
tergagapnya sampai dia tak mampu mengucapkan sepatah katapun.
sambil menatap wajahnya lekat-lekat, kakek berbaju ungu itu
berkata lagi:
"Tentunya kau mengharapkan aku bisa mendemontrasikan
kepandaian silatku sebelum mau mempercayainya, bukan?"
sebelum Dewi In Un sempat menjawab, kakek berbaju ungu itu
telah memainkan sepasang tangannya, gelang emas berbentuk.
separuh bulat itu tahu-tahu sudah meluncur kedepan dengan
hebatnya.
Tampak cahaya kuning berkelebat lewat gelang emas tersebut
dengan membawa gaung desingan tajam yang amat memekakkan
telinga telah meluncur kearah dinding yang berada pada jarak tiga
kaki bagaikan kilatan cahaya petir.
Tahu-tahu obor yang diletakkan pada dinding tadi sudah terpapas
kutung menjadi dua bagian.
sementara semua yang hadir masih termangu-mang u dibuatnya.
Kakek berbaju ungu itu kembali sudah melepaskan gelang
mataharinya.
Pancaran cahaya yang begitu kuat dan tajam membuat semua
yang hadir menajamkan matanya tanpa sadar lalu mundur setengah
langkah kebelakang. ' 'criiiiing' Terdengar suara dentingan nyaring
bergema memecahkan keheningan, gelang matahari yang dilepaskan
kemudian telah membentur diatas gelang rembulan yang baru saja
menebas putus batang obor itu.
Begitu sepasang gelang saling beradu, tiba-tiba saja benda
tersebut memencarkan diri kekiri dan kanan, lalu dengan membawa
desingan suara yang amat memekikkan telinga, senjata-senjata
tersebut telah balik kembali ketangan kakek tersebut.

setelah menyambut kembali kedua gelangnya, kakek berbaju
ungu itu baru baru menegur sambil tertawa bergelak:
"Apakah anda masih curiga?"
Rasa kejut dan girang menghiasi wajah Dewi In Un, namun
perasaan curiga masih menyelimuti seluruh perasaannya, segera
katanya lagi:
"yang membuat aku keheranan adalah Lootiang bukannya pergi
mencari ayahku, mengapa sebaliknya datang mencari aku? "
Kakek berbaju ungu itu tertawa terbahak-bahak:
"Haaaahhh-haaaahhh.-haaaahhhh-.semuanya terdapat tiga
alasan mengapa aku berbuat begini, pertama aku kebetulan sedang
lewat diwilayah sekitar sini, kedua ayahmu sebagai ketua angkatan
ketiga dari partai kupu-kupu ternyata tidak turun tangan sendiri
sebaliknya hanya mengirim putrinya untuk memegang tampuk
pimpinan, tindakannya ini membuat aku merasa sangat tak puas
kepadanya dan ketiga, aku menjumpai kalian sedang terancam
sekarang."
"Ancaman bahaya apakah itu?" Tanya Dewi In Un dengan
perasaan amat bergetar. Kakek berbaju ungu itu tertawa hambar.
"sepintas lalu nampaknya saja kau dilindungi oleh begitu banyak
jago lihay dan memiliki kekuatan yang luar biasa, padahal dalam
dunia persilatan telah terjadi pergolakan sehingga situasipun harus
dipandang dari sudut yang berbeda pula."
setelah berhenti sejenak, kembali katanya :
"Kho Beng dibantu oleh Bu wi Lojin dan berhasil pula mempelajari
ilmu sakti thian goan sinkang, bila jagojago lihay dari Patih uang
berkumpul semua didaratan Tionggoan lalu keturunan dari tiga dewa
see gwa sam sian yang telah mendapat warisan- ilmu silat dari
leluhurnya menyusul pula kesini, hal ini masih dibantu lagi dengan
himpunan seluruh inti kekuatan tujuh partai besar dunia persilatan
membuat jumlah kekuatan mereka jadi beribu-ribu orang
banyaknya, coba bayangkan sendiri mampukah kau menahan
serangan gabungan mereka yang memiliki kekuatan sedemikian
dahsyatnya itu."
Berubah hebat paras muka Dewi In Un, namun diluar dia tetap
paksakan tersenyum, katanya cepat:
"Terima kasih banyak atas perhatian Lootiang, tapi aku yakin
masih mampu untuk menghadapi mereka."
Kakek berbaju ungu itu menghembuskan napas panjang.

"sekalipun ayahmu memimpin partai kupu-kupu, namun situasi
sekarang sulit rasanya untuk membuatnya merasa lega hati. Apalah
gunanya kau membohongi dirimu sendiri? "
Dewi In Un berkerut kening.
"Jadi maksud kedatangan Lootiang kemari adalah."
"Mengajak kau merundingkan masalah besar yang dihadapi dan
membantu usahamu itu, berniat membalaskan dendam bagi
kematian sobat karib ku ui Thian it"
setengah percaya setengah tidak Dewi In Un berkata :
"Apakah cianpwee tidak merasa gusar oleh sikap curiga dan
pelayanan yang jelek dariku?"
Kakek berbaju ungu itu tertawa terbahak-bahak:
"Haaaahhhhh.haaaahhh.haaaa pengalaman yang kualami
memang sulit membuat orang lain percaya, kecurigaan terhadap
diriku memang sudah sepantasnya dan sewajarnya."
Tiba-tiba mencorong sinar tajam dari balik mata Dewi In Un,
katanya kemudian:
"Jikalau cianpwee memang tidak bermaksud menegur atau marah
kepada kami, boanpwee masih ingin melakukan suatu percobaan
lagi."
Agaknya Kakek berbaju ungu itu merasakan hatinya bergetar
keras, namun diluarnya dia tertawa tergelak:
"Haaaahh-haaahh-haaah-percobaan macam apakah yang kau
inginkan?"
"satu-satunya yang bisa dicoba hanya ilmu silat, boanpwee ingin
berbuat lancang dengan menyuruh keempat orang Lengcu anak
buahku untuk bertarung sebanyak tiga jurus dengan diri
Locianpwee."
"Hahahaha " Kakek berbaju ungu itu menggunakan gelak tertawa
yang keras untuk menutupi perasaan tidak tenangnya, akhirnya dia
menatap lawannya tajam-tajam dan berkata :
"Aku adalah sahabat karib leluhurmu, masa sekarang harus
bertarung melawan angkatan muda dari empat generasi dibawah
ku?"
Dewi In Un tertawa terkekeh-kekeh :
"yaa, sebab hanya dengan cara inilah keaslian cianpwee baru
bisa diketahui, apakah cianpwee tidak berharap rasa curiga
boanpwee sekalian hilang sama sekali?"

Kakek berbaju ungu itu berpikir berapa saat lamanya, lalu berkata
:
"Cara seperti ini sama sekali tak masuk diakal.. "Tapi sejenak
kemudian dia telah berkata lagi:
"Namun aku punya sebuah usul yang lain? entah usul macam
apakah itu?"
"Walaupun aku enggan bertarung sendiri melawan kalian, tapi
pelayan tuaku ini bisa menemani kalian untuk bermain beberapa
gebrakan"
"siapa saja yang turun tangan, rasanya juga sama saja," kata
Dewi In Un sambil tertawa. Kemudian setelah berhenti sejenak,
lanjutnya :
"Bila pelayan cianpwee memiliki ilmu silat yang jauh melebihi
kemampuan kami, sudah jelas kepandaian silat cianpwee jauh lebih
hebat lagi, tentu saja kami tak perlu curiga lagi."
Kakek berbaju ungu itu tertawa terbahak-bahak, dia segera
berpaling seraya berseru:
"Ang tua"
Pelayan tua yang berdiri dibelakangnya segera maju kedepan dan
menyahut. "Hamba siap"
"Apa yang telah kami bicarakan barusan, tentunya sudah kau
ketahui, bukan? Nah, coba kau yang melayani beberapa orang itu
untuk bermain beberapa gebrakan"
"Hamba turut perintah"
Dewi In Un segera berkata pula sambil tertawa girang :
"Maafkan kelancangan boanpwee ini"
Dengan cepat dia mengulapkan tangannya, seorang dayang
berpakaian ringkas segera muncul sambil menyodorkan sebilah
pedang.
Cun hong Lengcu, Hee im Lengcu, Ciu hoa Lengcu serta Tang
soat Lengcu pun tidak menunggu perintah lagi serentak meloloskan
pedang masing-masing dan mengurung pelayan tua ditengah arena.
sambil mempersiapkan tongkat berbentuk anehnya, pelayan tua
itu berkata secara tiba-tiba sambil tertawa :
"Lapor cukong"
"Ada apa?" Tanya si Kakek berbaju ungu agak tertegun.
"Pertarungan ini merupakan pertarungan mati hidup ataukah
Wanya terbatas saling menutul?"

"Tentu saja hanya terbatas saling menutul, masa pertarungan
harus berlangsung antara mati dan hidup,.ingat, kau tak boleh
melukai siapapun diantara mereka"
"Hamba turut perintah"
sementara itu Dewi In Un telah mengayunkan pedang sambil
melancarkan sebuah tusukan ke depan, serunya kemudian:
"Maaf boanpwee menyerang lebih dulu"
Pelayan tua itu sama sekali tidak bergerak dari posisinya semula,
namun ujung tongkatnya yang naga bukan ular bukan itu segera
dilancangkan tiga kali.
Ketika serangan yang dilancarkan Dewi In Un membentur diatas
bayangan tongkat tersebut, terdengar suara dentingan yang amat
nyaring, ternyata serangan tersebut sudah terbendung sama sekali.
Padahal Dewi In Un bukan menyerang secara sungguhan,
dengan berbuat demikian pertama, dia hendak member petunjuk
kepada keempat Lengcu dan kedua, dia ingin mengamati aliran ilmu
silat dari pelayan tua tersebut.
Mendadak terdengar keempat orang Lengcu itu membentak
keras, keempat bilah pedang mereka berkelebat memenuhi angkasa
dan melakukan pengepungan dari empat arah delapan penjuru.
sebaliknya Dewi In Un segera menarik kembali pedangnya sambil
mundur sejauh tiga langkah.
Dalam waktu singkat, cahaya tajam telah memenuhi angkasa.
Hawa pedang mederu-deru, seluruh badan pelayan tua itu sudah
terkurung oleh jarrtng pedang yang amat kuat. Pelayan tua itu
tertawa terbahak-bahak, segera serunya :
"IImu pedang yang amat bagus.coba lihat jurus naga ular menari
bersamaku ini"
sementara si pelayan tua tersebut masih terkurung oleh lapisan
hawa pedang yang diciptakan keempat bilah pedang tersebut,
mendadak tampak bayangan tongkat menerobos ketengah angkasa,
lalu bagaikan deruan angin topan segera menyambar keempat
penjuru.
serangan dahsyat ini bukan saja telah menjebolkan bayangan
pedang yang berlapis-lapis, lagipula dalam beberapa putaran saja
seluruh cahaya pedang yang berkilauan telah terdesak balik kembali-
Akhirnya tampak bayangan toya dan cahaya pedang lenyap
semuanya hingga tak berbekas, dengan wajah amat terperanjat
keempat orang Lengcu itu mengundurkan diri kebelakang.

sebaliknya pelayan tua itu tetap berdiri dengan senyuman
dikulum, seolah-olah tak pernah terjadi pertarungan apa pun disitu.
Baru saja pertarungan berhenti tiba-tiba, terdengar Dewi In Un
membentak keras laksana sambaran petir cepatnya dia menyergap
pelayan tua tersebut.
sergapan yang dilakukan sangat mendadak ini sungguh luar
biasa, hal tersebut membuat si Kakek berbaju ungu yang berada
disisi arena menjadi amat terperanjat, serangan yang hebat seru si
pelayan tua sambil tertawa bergelak-Bayangan tongkat segera
menyambar kemuka menyongsong datangnya serangan itu.
Terdengar suara desingan angin tajam menderu-deru diseluruh
ruangan, tapi sejenak kemudian suasana telah berubah menjadi
sunyi kembali.
Kini suasana sepi yang luar biasa mencekam Perasaan setiap
orang, sementara Dewi In un kelihatan masih berdiri termangu
ditempat semula, senjata panji kupu-kupunya masih berada juga
ditangannya.
.....
sipelayan tua itu berdiri lebih kurang lima depa dihadapanny a,
tapi pada ujung tongkatnya kini telah bertengger sepasang kupukupu
yang sedang mementangkan sayapnya.
Bersambung ke jilid 29
Jilid 29
Ternyata ujung senjata panji kupu-kupu milik Dewi In Un telah
berubah menjadi gundul tanpa lambang andalannya.
Berapa saat kemudian Dewi In Un baru memburu kehadapan
Kakek berbaju ungu itu dan berkata sambil memberi hormat.
"Ternyata kau orang tua benar-benar adalah Kong ci cianpwee,
boanpwee..seharusnya memberi hormat sedari tadi."
Sembari berkata dia siap-siap berlutut untuk menjalankan
penghormatan besar.
"Tak usah begitu, tak usah begitu" cegah Kakek berbaju ungu itu
cepat. Kemudian setelah menghela napas, kembali katanya :
"Aaaai. menurut hasil pengamatanku tadi, ilmu kupu-kupu
terbang berpasangan yang kau gunakan sama sekali tidak berada
dibawah kesempurnaan kakekmu dulu"
"Cianpwee terlalu memuji," buru-buru Dewi In Un merendah.
Kemudian sambil mengulapkan tangannya kebelakang, dia berkata
lagi:

"Hayo cepat siapkan perjamuan, kita harus menyambut
kedatangan Kong ci Cianpwee dengan sebaik-baiknya."
Keempat orang Lengcu itu mengiakan dan siap mengundurkan
diri dari situ.
Tapi Kakek berbaju ungu itu segera mencegah, katanya :
"Tunggu dulu, tunggu dulu"
Agak tertegun Dewi In Un bertanya :
"Kalau toh kedatangan cianpwee untuk membantu boanpwee,
kenapa kau tak sudi menerima rasa hormat boanpwee?"
Kakek berbaju ungu itu tertawa tergelak:
"Haa.haaaah-haaah bukan aku enggan menerima penghormatan,
tapi..." sesudah berhenti sejenak, kembali dia melanjutkan.
"Usiaku sudah hampir mendekati dua abad, meskipun selama ini
aku menggantungkan diri pada kasiat bibit waru kutub untuk
menyambung hidupku, namun hal tersebut menyebabkan kami
mempunyai kelainan yaitu tidak seperti orang-orang biasa bersantap
semaunya sendiri, apalagi makan daging dan minum arak, hal ini
sudah menjadi pantangan untukku,"
" ooooh, rupanya begitu, tapi cianpwee.."
"setiap harinya aku Cuma makan buah-buahan dan minum air
putih untuk menyambung hidup, bilamana perlu paling banter
ditambah dengan sayur-sayuran serta kueh"
"Kalau begitu boanpwee akan sediakan apa yang kau harapkan?
"seru Dewi In Un segera-Kembali Kakek berbaju ungu itu tertawa :
"Makan dan minum adalah soal kecil, nah kalau toh
kecurigaanmu telah hilang, mari kita berbicara tentang masalah
besar-"
"Mohon petunjuk dari Cienpwee " kata Dewi In Un serius-setelah
termenung sebentar. Kakek berbaju ungu itu berkata :
"Kini, tempat tersembunyi, kalian dibukit Cian san telah diketahui
oleh umat persilatan, aku rasa kawanan jago silat dari pelbagai
aliran telah berbondong-bondong datang kemari serta mengepung
seluruh bukit Cian san ini rapat-rapat"
Dengan kening berkerut. Dewi In Un segera berseru:
"sudah pasti keempat budak asing dari Kho Beng yang telah
membocorkan rahasia ini, hmmm Cepat atau lambat aku pasti akan
mencincang tubuh keempat orang budak asing itu hingga hancur
berkeping-keping-"

Lalu sambil menatap wajah Kakek berbaju ungu, kembali katanya
:
"Apakah cianpwee mendapat kabar kalau Kho Beng hendak
datang kemari?"
"sebetulnya Kho Beng hendak datang kemari, tapi niatnya segera
dihalangi oleh para jago lainnya"
"siapa yang menghalangi niatnya itu?" Tanya Dewi In Un sambil
menahan rasa bencinya.
"Hwesio daging anjing, pelajar rudin Ho Heng, Bu wi lojin serta
seorang lagi yang bernama Thian cun yang."
"Thian cun yang?" Dewi In Un kelihatan agak tertegun, siapa sih
Thian cun yang itu? orang itu adalah cucu Bu khek sian, satu
diantara tiga dewa see gwa sam sian.
"Hmm, aku benci kepadanya, kalau bisa hendak kumakan daging
tubuhnya mentah-mentah?" teriak Dewi In un penuh kebencian.
"ya a, akupun seperti juga dirimu, sangat membenci orang
tersebut, dan kerena inilah aku harus datang kemari menemui
dirimu."
"Entah bagaimanakah rencana mereka?" Tanya Dewi In un lagi
sambil meng kertak giginya kencang- kencang.
"Langkah pertama adalah mengepung bukit ini, kemudian pada
langkah kedua yaitu setelah para jago dari pelbagai aliran berkumpul
disini, mereka hendak lancarkan serangan secara besar-besaran
untuk menghancurkan gua pengikat cinta."
Dewi In Un segera tertawa tergelak:
" Haaaaahh..haaaahhh.haaahhh..apakah mereka berkeyakinan
akan berhasil?"
Kakek berbaju ungu itu tertawa getir.
"Terlepas akan berhasil atau tidak, yang pasti tindakan mereka ini
cukup serius dan harus kita perhitungkan."
"Tapi paling tidak. Kho Yang ciu toh masih berada dalam
cengkeramanku?"
Kembali Kakek berbaju ungu itu tertawa tergelak:
"Haaaahh-haaahhhhhaaahhh. Kho yang ciu hanya bisa
dipergunakan untuk mengancam Kho Beng, tapi tak mungkin bisa
dipakai untuk mengancam para jago persilatan lainnya."
Lalu setelah berhenti sejenak, dengan nada yang berat dan
wajah yang serius, dia berkata lebih jauh:

"Kau harus ingat, Kho Yang ciu adalah Kedele Maut, dia telah
banyak membunuh umat persilatan didunta ini, walaupun Bok cuncu
dari pihak siau lim si telah tampilkan diri sebagai penengah untuk
menghentikan pertumpahan darah sementara waktu, namun rasa
benci bukan berarti sudah hilang dengan begitu saja, bayangkan
sendiri, apakah mereka bersedia mengurusi keselamatan hidup Kho
Yang ciu yang mereka benci itu?"
Dewi In Un berjalan mondar mandir dengan wajah bingung,
akhirnya sambil meng kertak giginya, serunya :
"Yang paling kukuatirkan sekarang adalah kedua lembar kitab
pusaka Thian goan bu boh, bila Kho Beng menolak datang,
bagaimana mungkin harapanku bisa tercapai?"
Kakek berbaju ungu itu menggelengkan kepalanya berulang kali,
katanya kemudian.
"Menurut pendapatku, masalahnya sekarang bukan terletak pada
kitab pusaka Thian goan bu boh, andaikata keturunan dari sam sian,
para jago Pat huang dan jago-jago lihai dari pelbagai partai telah
berdatangan semua kemari, sudah pasti keadaan yang kritis akan
kita hadapi."
"Lantas menurut locianpwee. "
Kakek berbaju ungu itu tertawa :
"Aku mempunyai sebuah akal yang bagus sekali, siapa tahu
bukan dua kedua lembar kitab pusaka tersebut berhasil kita peroleh,
bahkan bisa lolos dari kepungan para jago-"
"Bagaimana rencana locianpwee?" Tanya Dewi In Un gelisah-
"Dimanakah Kho Yang ciu sekarang?" tiba-tiba Kakek berbaju
ungu itu bertanya sambil tertawa.
Dewi In Un berpikir sejenak, kemudian sahutnya :
"Ia sudah kusekap disuatu tempat yang amat rahasia, tak
mungkin akan terjadi apa-apa atas dirinya."
Dari perkataan tersebut sudah jelas dia enggan membocorkan
rahasia letak penyekapan tersebut.
Kakek berbaju ungu tertawa :
"Dewasa ini kawasan jago yang berkumpul dibawah bukit belum
banyak jumlahnya, kita bisa memanfaatkan kegelapan malam untuk
meninggalkan bukit ini, setelah itu biar kuutus kacungku untuk
mengundang Kho Beng agar mendatangi suatu tempat yang lain
guna menukar encinya dengan kedua lembar kitab pusaka tersebut."

Agak tergerak hati Dewi In Un setelah mendengar perkataan itu,
segera ujarnya :
"siasat cianpwee ini memang angat bagus tapi andaikata jejak
kita sampai diketahui oleh para jago hingga dilakukan penguntitan
secara diam-diam, bukankah"
"Tentang soal inipun, aku telah memikirkannya secara masakmasak,"
sambung Kakek berbaju ungu itu cepat,
"sampai saatnya aku akan membawa kacung dan pelayanku
untuk melakukan pembasmian secara besar-besaran terhadap orang
yang menguntil kita itu?"
Dewi In Un berpikir sebentar, lalu katanya lagi:
"Kalau toh Kho Beng dicegah kepergiannya oleh para jago, ini
berarti ia pasti ada disekitar kawanan jago tersebut, lantas dengan
cara bagaimana kau hendak menghubungi dia?"
"Bila kaupercaya kepadaku, seharusnya percaya pula bahwa aku
mempunyai cara yang terbaik untuk melakukan kesemuanya ini."
"Tentu saja boanpwee percaya kepada cianpwee," tapi-Tapi ia
segera berhenti berbicara dan kelihatan ragu-ragu. Dengan nada
menyelidik. Kakek berbaju ungu itu berkata lagi:
"Kau tidak seharusnya ragu-ragu dan mesti mengambil keputusan
dengan cepat untuk melaksanakan rencana ini, sebab aku takut
terjadi perubahan atas situasi di tempat ini."
Dewi In Un termenung beberapa saat, kemudian katanya dengan
suara lantang :
"Baiklah, aku akan menuruti petunjuk cianpwee dan
melaksanakan rencanamu itu."
Kepada Cun hong Lengcu segera bentaknya : "Cepat ajak Kong ci
cianpwee untuk beristirahat dikamar tamu."
Kakek berbaju ungu itu Nampak agak tertegun, kemudian sambil
menggoyangkan tangannya berulang kali ia berseru:
"Kalau toh anda telah menerima usulku seharusnya kita
berangkat sekarang juga, ketahuilah persoalan ini tak dapat ditunda
tunda lagi."
Dewi In Un tersenyum:
"Boanpwee mengerti, tapi tempat ini merupakan salah satu
pangkalan yang kubangun didaratan Tionggoan sebagai pengganti
markas, sebelum meninggalkannya aku mesti meninggalkan pesan
dan mengatur segala sesuatunya lebih dulu."

"Baiklah, paling baik kita bisa memanfaatkan setiap waktu yang
ada, paling tidak sebelum kentongan kelima nanti kita sudah mest
turun gunung."
Dewi In Un tertawa misterius.
"Boanpwee mengerti, lebih kurang pada kentongan keempat
nanti kita pasti berangkat, nah silahkan cianpwee beristirahat
sebentar, toh kau baru saja menempuh perjalanan jauh."
Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali katanya :
"Apabila menjumpai musuh tangguh dibawah bukit nanti, aku
masih memohon bantuan dari cianpwee-"
Kakek berbaju ungu itu tak banyak berbicara lagi, dia tertawa dan
manggut-manggut lalu mengikuti Cun hong Lengcu menuju
keruangan tamu.
yang dimaksudkan sebagai ruang tamu tak lebih Cuma sebuah
gua yang agak lebar, didalamnya tiada meja, tiada pembaringan
ataupun bangku, yang tersedia hanya tiga lembar kasur yang
terletak dekat dinding ruangan.
sambil tertawa dan memberi hormat, Cun hong Lengcu berkata :
"Locianpwee sekalian adalah jago-jago silat yang luar biasa,
tentunya kalian tidak membutuhkan pembaringan bukan?"
"yaa" kakek itu manggut-manggut. "Asal ada sebuah kasur duduk
sudah lebih dari cukup."
"Apakah locianpwee masih ada pesan lain." Tanya Cun hong
Lengcu kemudian sambil memperhatikan sekejap keadaan
disekeliling tempat itu.
"sudah tak ada lagi."
"Kalau begitu hamba hendak mohon diri lebih dulu." Ia
membalikkan badan dan segera berlalu dari sana-
Menanti Cun hong Lengcu sudah pergi meninggalkan ruangan.
Kakek berbaju ungu itu baru menghembuskan naIas panjang sambil
bergumam:
"ooooh, sungguh berbahaya, sungguh berbahaya"
"Kalau hendak berbincang-bincang lebih baik kita pergunakan
ilmu menyampaikan suara, hati-hati kalau ada yang menyadap
pembicaraan kita dari ruang sebelah, kalian toh bisa membayangkan
apa yang bakal terjadi andaikata penyamaran kita ketahuan."
Ternyata pelayan tua ini adalah si kakek tongkat sakti, dengan
sendirinya yang menyamar sebagai si kacung adalah Chian sian kun.

Kho Beng memperhatikan sekejap keadaan disekeliling tempat
itu, kemudian katanya dengan ilmu menyampaikan suara :
"Menurut penglihatan cianpwee, apakah saruanku ada yang
kurang beres atau mencurigakan?"
"yang tak beres sih tak ada, namun Dewi In Un adalah seorang
manusia yang banyak curiga, ditinjau dari sikapnya yang enggan
menyebutkan tempat penyekapan encimu serta sikapnya yang
menolak berangkat sekarang juga, dapat diketahui bahwa rasa
curiga yang mencekam hatinya masih amat tebal."
"Menurut pandangan cianpwee, tindakan apakah yang bakal dia
lakukan?" Tanya Chin sian kun tiba-tiba.
Kakek tongkat sakti berpikir sebentar, lalu sahutnya :
"Paling tidak dia akan mengirim beberapa orang pembantunya
yang terpercaya untuk turun gunung dan melakukan penyelidikan
yang seksama."
"seandainya dibawah bukit sana ia tak berhasil menemukan
kawanan jago yang dikatakan telah mengepung bukit, bukankah
semua hasil penyaruan kita bakal terbongkar?"
"ya a, apa boleh buat, sampai waktunya terpaksa kita harus
mencarikan alasan yang lain untuk mengelabui dirinya."
Dengan perasaan tak tenang Kho Beng meremas-remas tangan
sendiri, lalu katanya :
"Boanpwee mempunyai sebuah akal yang amat menyerempet
bahaya, apakah."
"Akal busuk apa yang berhasil kau temukan?" Tanya Kakek
tongkat sakti sambil tertawa, setelah menghela napas Kho Beng
berkata :
"Disaat cianpwee melangsungkan pertarungan melawan dirinya
tadi, apakah sudah kau cona keampuhan tenaga dalam serta ilmu
silatnya."
Kemudian tanpa menantikan jawaban dari Kakek tongkat sakti,
dia berkata lebih jauh :
"Menurut penglihatan boanpwee, tampaknya dia jauh dari apa
yang kita bayangkan semula, tampaknya sekali gempuran saja
sudah cukup membuatnya keok."
Dengan cepat Kakek tongkat sakti menggelengkan kepalanya
berulang kali, katanya :
"Maaf, kalau terpaksa aku mengucapkan kata-kata yang bakal
melemahkan semangat, tadi aku Cuma menggunakan dua jurus

tipuan saja untuk meraih kemenangan, andaikata harus bertarung
dengan menggunakan ilmu silat sejati, jangan lagi ditambah empat
orang lengcu tersebut, hanya Dewi In Un seorangpun sudah lebih
dari cukup untuk membuatku kerepotan."
"Waaaah-kalau begitu mah susah untuk dikerjakan" ucap Kho
Beng tertegun;.
"sekarang marilah kita jangan menyinggung soal lemah atau
hebatnya ilmu silat, coba kau beberkan dulu semua rencanamu yang
sebenarnya."
"Maksud boanpwee pertama kita bekuk dulu salah seorang jago
tangguh anak buah Dewi In Un untuk memaksanya menunjukkan
tempat penyekapan ciciku dan menolongnya kabur dari sini."
setelah berhenti sejenak, katanya lebih jauh :
"Andaikata perbuatan kita ketahuan, maka kita lakukan
perlawanan segigih mungkin, kalau bisa bahkan kita tumpas siluman
perempuan In Un serta membumi ratakan gua ini.
"Kalau dibicarakan sih kelihatannya sangat mudah," kata Kakek
tongkat sakti serius,
"tapi untuk dikerjakan, mungkin banyak ancaman bahaya yang
akan kita jumpai."
"Jadi menurut pendapat cianpwee, apakah kita harus menunggu
disini?"
"Bukankah siluman perempuan In Un telah bilang, tak sampai
kentongan keempat nanti kita akan berangkat? Lebih baik kita
tunggu saja sampai kentongan keempat nanti. Andaikata sampai
kentongan keempat belum juga ada sesuatu gerakan? Terpaksa kita
harus melaksanakan sesuai dengan rencanamu tadi-" sahut Kakek
tongkat sakti dengan suara berat.
Maka mereka bertiga pun tercekam dalam keheningan dan
kesuraman.
Waktu berlalu bagaikan siput yang merangkak, dengan susah
payah kentongan ketiga telah dilewatkan, ketika mereka mencoba
untuk mengamati disekitar sana, terasa suasana hening sepi tak
bersuara barang sedikitpunjua. Akhirnya kentongan keempat pun
sudah lewat.
Kho Beng segera melompat bangun, dengan ilmu menyampaikan
suara segera bisiknya kepada Kakek tongkat sakti serta Chin sian
kun.

"Kini kentongan keempat sudah lewat, aku lihat gelagat rada
kurang beres"
sambil turut berdiri. Kakek tongkat sakti berkata pula :
"ya a a, nampaknya siluman perempuan In Un memang banyak
akal muslihatnya, dia susah sekali tertipu, terpaksa kita harus
mengambil tindakan berikut."
"Kalau memang begitu boanpwee.."
Disaat ketiga orang tersebut hendak mengambil suatu tindakan,
mendadak terdengar suara langkah kaki manusia berkumandang
datang dari kejauhan sana-
Buru-buru Kho Beng mundur berapa langkah dan duduk kembali
ditempat semula, demikian pula dengan Kakek tongkat sakti serta
Chin sian kun, masing-masing duduk kembali ditempatnya sendiri-
Tak lama kemudian, suara langkah kaki manusia itu berhenti
diluar gua, lalu terdengar seseorang mengetuk pintu disusul suara
Hee im Lengcu Li sian soat berseru: "Kong ci cianpwee"
Kho Beng melemparkan pandangannya sekejap kearah Kakek
tongkat sakti serta Chin sian kun, kemudian dengan menggunakan
nada suara yang tua dan serak katanya : "Pintu tak terkunci,
silahkan masuk"
Pintu ruangan segera dibuka orang, lalu tampak Li sian soat
dengan senyuman dikulum masuk kedalam ruangan, katanya sambil
memberi hormat,
"silahkan Kongci cianpwee berangkat?"
"Kemana?" Tanya Kho Beng sementara hati kecilnya merasa amat
terperanjat-
"Hey, bukankah suhu telah berunding dengan Kong ci cianpwee?
Kini kentongan keempat sudah lewat, kita harus sebera berangkat
menuruni bukit."
"Mengapa suhumu tidak datang sendiri?" tegur Kho Beng dengan
kening berkerut. Li sian soat sebera tertawa manis:
"semestinya guru harus datang sendiri, tapi sayang guruku terlalu
sibuk sehingga kami memohon maaf kepada locianpwee."
sementara Kho Beng masih tetap sangsi, tiba-tiba terdengar
Kakek tongkat sakti berbisik dengan ilmu menyampaikan suara-
"Banyak bertanya menimbulkan kecurigaan, ikuti saja ajakannya"
Kho Beng segera bangkit berdiri, katanya kemudian sambil
tersenyum.
"Kalau begitu silahkan anda membawa jalan,"

"silahkan cianpwee"
kata Li sian soat sambil menyingkir.
Kho Beng tidak sungkan-sungkan lagi dan segera berjalan
menuju keluar. Kakek tongkat sakti serta Chin sian kun mengikuti
dibelakangnya.
Dibawah petunjuk Li Sian soat, mereka menelusuri jalan yang
berbelok-belok dan keluar dari gua pengikat cinta.
Waktu itu kentongan keempat sudah lewat, langit masih gelap,
hembusan angin pagi mendatangkan rasa bergidik bagi siapapun.
Kho Beng mencoba untuk memperhatikan sekejap sekeliling
tempat itu, tampak suasana dibukit itu sangat hening, sepanjang
perjalanan ternyata mereka tak bersua dengan seorang anggota
partai kupu-kupu pun.
Li sian soat sama sekali tidak menghentikan langkahnya, ia
mengajak mereka bertiga menuju kebelakang bukit.
Kho Beng segera menghentikan langkahnya sambil menegur:
"Tunggu sebentar"
"Locianpwee masih ada pesan apa?" Tanya Li sian soat sambil
berpaling dan tersenyum,
"sebenarnya gurumu berada dimana?" tegur Kho Beng.
"suhu telah melaksanakan pesan locianpwee dengan menitahkan
sebagian anak buahnya turun gunung lebih dulu, sekarang mereka
sedang menunggu didepan sana."
Buru-buru Kho Beng berbisik kepada Kakek tongkat sakti dengan
ilmu menyampaikan suara :
"Tampaknya keadaan tak beres, cianpwee Keadaan sudah begini,
terpaksa kita harus mengikuti perubahan menurut keadaan situasi."
Kho Beng tidak berbicara lagi, dia melanjutkan perjalanannya
dengan langkah lebar-
Setelah berjalan menuruni puncak tebing lebih kurang satu li,
tanah perbukitan didepan sana Nampak makin terjal, batuan karang
berserakan dimana-mana, dalam suasana kabut pagi, tempat itu
Nampak lebih seram dan mengerikan. Buru-buru Kakek tongkat sakti
berbisik dengan ilmu menyampaikan suara :
"situasi yang dihadapi makin tak menguntungkan bagi kita, kau
mesti bersikap lebih hati-hati."
sementara itu Kho Beng telah memperlambat langkahnya, lalu
dengan wajah serius tegurnya:

"Mengapa kau mengajak aku menelusuri jalanan yang begini
berbahaya?"
Ternyata Kho Beng belum pernah melihat tempat tersebut
sebelumnya. sambil tersenyum Li sian soat berkata :
"Tempat ini adalah tempat yang sengaja dipilih suhu"
Kemudian setelah berhenti sejenak, sambungnya lebih jauh.
"Walaupun jalanan disini amat sulit dilalui, namun aman sekali,
tak mungkin kita akan menjumpai para jago yang mengepung bukit-
"
Kho Beng tak dapat berbicara lagi, terpaksa dia melanjutkan
perjalanannya menuju kedepan dengan langkah pelan, disamping itu
secara diam-diam ia pun mempersiapkan diri sebaik-baiknya guna
menghadapi setiap perubahan yang tak diinginkan.
setelah berjalan lebih kurang lima puluhan kaki lebih, bukit yang
dilalui semakin menanjak dan curam, kabut yang menyelimuti sekitar
tempat situpun bertambah tebal. Demikian tebalnya sampai
pemandangan yang berada beberapa kaki didepan matapun susah
dilihat.
Mendadak Li sian soat menghentikan langkahnya sambil berkata :
"suhu menanti kedatangan cianpwee didepan sana"
Lalu dengan suara lantang serunya : "Lapor suhu, Kong ci
cianpwee telah datang"
Baru selesai perkataan itu diucapkan, dari belakang sebuah batu
besar telah muncul sesosok bayangan manusia-
Dewi In Un bagaikan sesosok sukma gentayangan telah
melayang turun keatas tanah, dibelakang tubuhnya mengikuti dua
orang nenek beserta Cun hong Lengcu, Ciu hoa Lengcu serta Tang
soat Lengcu. Tampak dia menegur sambil tertawa :
"Kong ci cianpwee, tentunya persiapan yang dilakukan ini sangat
cocok bukan?"
"Bagus sekali" Kho Beng tertawa paksa,
"kecerdasan maupun akal anda tiada jauh berbeda dengan
kehebatan sobat karibku itu."
Dewi In Un tertawa, katanya lagi:
"Dia adalah kakekku, tentu saja terdapat banyak kesamaan
diantara kami-"
"Haaaahhh-haaahhh-haaahhh-benar juga perkataan itu-" Kho
Beng tertawa bergelak-Kemudian setelah berhenti sejenak, dengan
nada menyelidik katanya lagi:

"Mana encinya Kho Beng yang bernama Kho yang ciu itu?"
Dewi In Un tertawa hambar:
"Tak perlu cianpwee kuatirkan, boanpwee telah mengirim jago
jago pilihan untuk menghantarkannya pergi kesuatu tempat yang
aman dan rahasia sekali,"
sekali lagi Kho Beng merasakan hatinya bergetar keras.
"Tak nyana kau memang hebat sekali..mari kita berangkat"
siapa tahu Dewi In Un sama sekali tidak menggerakkan
tubuhnya, malah sambil tertawa seram katanya:
"Tunggu sebentar"
"Masih ada urusan apa lagi?" Tanya Kho Beng dengan perasaan
terperanjat. Dewi In Un menggelengkan kepalanya berulang kali,
katanya :
"Tak ada apa-apa, hanya saja."
Dengan matanya yang licik dia memandang sekejap sekitar
tempat itu, kemudian berkata lebih jauh:
"Tiba-tiba boanpwee teringat akan suatu masalah yang sering kali
disinggung ayahku, soal apa?"
terpaksa Kho Beng harus berlagak tenang.
"Kong ci cianpwee adalah tuan penolong partai kupu-kupu kami,
tiga generasi menurun, kami selalu teringat akan budi kebaikan itu
dan tak pernah melupakannya, Hulah sebabnya ayah sering
menyingung tentang kejadian tersebut,"
sambil tertawa paksa Kho Beng menjawab :
"Aku dan saudara Thian it adalah sahabat karib, sudah
sepantasnya kalau kami tanggung bersama semua kesulitan yang
dihadapi, persoalan semacam ini apa gunanya disinggung terus? "
Dewi In Un tidak menggubris, kembali dia berkata :
"Ayah sering memuji akan kehebatan ilmu meringankan tubuh
yang dimiliki Kong ci cianpwee, konon sekali lompatan bisa mencapai
seratus kaki, itulah sebabnya cianpwee dikenal orang sebagai si
naga terbang dari see ih."
Kho Beng terperanjat sekali, buru-buru dia berseru:
"Aaaah, kepandaian kucing kaki tiga, tak terhitung seberapa."
"Mengingat cianpwee telah melatih diri hampir seabad lamanya,
aku percaya ilmu meringankan tubuh locianpwee pasti sudah luar
biasa sekali, paling tidak untuk melompat sejauh seratus kaki bukan
menjadi masalah."
"ooooooh," tentu saja Kho Beng tertawa paksa,

"tapi dalam keadaan dan situasi seperti ini, apa sebabnya aku
menyinggung tentang masalah tersebut?"
"Boanpwee belajar ilmu silat dari ayahku semenjak masih kecil.
Dengan melatih diri secara tekun selama dua puluh tahun lamanya
hampir boleh dibilang semua kepandaian yang dimiliki ayahku telah
kupelajari semua, meski aku belum berani menjagoi seluruh dunia
persilatan, namun kemahiranku sekarang masih terhitung tingkat
atas, meski begitu dalam kenyataan boanpwee suma bisa meloncat
sejauh sepuluh kaki saja, jadi bila dibandingkan dengan kemampuan
cianpwee, sesungguhnya masih selisih sepuluh kali lipat."
"Asal kau mau melatih diri lebih tekun tak sulit untuk mencapai
ke tingkat seperti itu." Tukas Kho Beng.
Tapi Dewi In Un segera menggelengkan kepalanya berulang kali,
katanya :
"Tidak- Menurut apa yang boanpwee ketahui, ilmu naga terbang
yang dimiliki Kong ci cianpwee bukan saja merupakan ilmu maha
sakti, mungkin tiada orang kedua didunia ini yang mampu melompati
jurang selebar seratus kaki, oleh sebab itu"
sambil tersenyum dia segera menutup mulut dan tidak berbicara
lagi.
Diam-diam Kho Beng amat gelisah- Tapi perasaan tersebut tak
berani ditunjukkan keluar, terpaksa dia balik bertanya :
"oleh sebab itu kenapa? Mengapa kau tidak melanjutkan
perkataanmu itu?"
"Boanpwee ingin menambah pengalaman dengan menyaksikan
kepandaian cianpwee yang mampu melompat sejauh seratus kaki
itu"
Kho Beng segera menarik muka, tegurnya :
"Jadi kau hendak mencoba kemampuanku?"
Dewi In Un tidak menggubris, sambil menunding kedepan sana
kembali katanya :
"Didepan sana terdapat sebuah tebing jaraknya hanya delapan
puluh kaki dari sini, tapi dibawahnya terpentang sebuah jurang yang
dalamnya mencapai puluhan laksa kaki, meski begitu, aku percaya
dengan kemampuan Kong ci cianpwee yang hebat, jarak sejauh
delapan puluh kaki tentunya tak kaupandang sebelah mata bukan?"
"sesungguhnya apa maksudmu?" kembali Kho Beng menegur
dengan kening berkerut. Dewi In Un tertawa :

"Bukankah boanpwee sudah kemukakan dengan jelas sekali,
silahkan cianpwee mendemontrasikan kehebatanmu agar
pengetahuan dan pengalaman boanpwee bisa bertambah-"
"Kau memang suka bergurau" Kho Beng tertawa paksa,
"dalam keadaan dan situasi seperti ini, masa kau mengajukan
permintaan semacam ini?"
"Ketahuilah. Apa sih yang kurang beres dengan tempat dan
situasi disini?" tukas Dewi In Un.
Kembali Kho Beng dibuat tertegun.
"Musuh tangguh berada disekeliling kita, kitab pusaka pun belum
diperoleh, tentu saja kita wajib menyelesaikan persolan yang pokok
lebih dulu."
"Aaah, cianpwee kau seorang tokoh sakti yang tiada keduanya
didunia ini, masa persoalan sekecil inipun kaupikirkan didalam hati?"
"Paling tidak, tindakan semacam ini sudah merupakan sikap yang
kurang hormat kepadaku." Kata Kho Beng sambil menarik muka.
Buru-buru Dewi In Un memberi hormat:
"Untuk kelancangan ini boanpwee mohon maaf yang sebesarbesarnya,
tapi untuk membuktikan keaslian dari identitas kau orang
tua, mau tak mau terpaksa boanpwee harus mengambil tindakan
demikian ini."
Kho Beng benar-benar amat terperanjat. Tapi sedapat mungkin ia
mengunjuk sikap tenang. setelah mendengus, katanya:
"Apakah kau masih menaruh curiga terhadap identitasku? Kalau
berbicara sesungguhnya, memang demikian adanya Kenapa?" seru
Kho Beng gusar.
"Mungkin hal ini hanya merupakan firasat boanpwee, jadi tak
dapat kulukiskan dengan perkataan."
Lalu sambil menunding kedepan katanya lagi:
"Padahal apa yang boanpwee ajukan bukan termasuk suatu
masalah pelik, apalagi jarak sejauh delapan puluh kaki bukan suatu
pekerjaan yang terlalu sulit untuk cianpwee, disamping dapat
menghilangkan kecurigaanku, bisa menunjukkan pula kebolehanmu,
aku rasa cianpwee pasti tak akan menampik bukan."
Kho Beng mencoba memperhatikan tebing yang dimaksud,
tampak kabut tebal menyelimuti sekeliling tempat tersebut sehingga
sulit baginya untuk melihat keadaan disekitar sana dengan jelas,
tentu saja dia pun tak dapat mengukur berapa lebarkah jurang
tersebut sesungguhnya.

sementara dia masih berpikir, Chin sian kun telah berbisik dengan
ilmu menyampaikan suara.
"Kong cu tak boleh menyanggupi permintaannya, sudah jelas dia
telah mengetahui titik lemah dalam penyamaran kita sehingga
hendak menggunakan cara demikian untuk mencelakai kongcu."
Kho Beng segera menyahut pula dengan ilmu menyampaikan
suara•
"Apakah nona hapal dengan daerah perbukitan disekitar sini?"
"sama sekali tidak hapal, baru pertama kali ini aku berkunjung
kebukit Cian san, apalagi daerah disekitar sini, boleh dibilang aku
belum pernah mendatanginya."
"Akupun belum pernah mendengar kalau disini terdapat jurang
yang lebarnya delapan puluh kaki, mungkin saja dia hanya sengaja
hendak mencoba kita?"
sementara dia masih termenung. Kakek tongkat sakti telah
berkata pula dengan ilmu menyampaikan suara.
"Tampaknya siluman perempuan itu sudah berhasil mengetahui
penyamaranmu, kau tidak boleh menuruti permintaannya."
"Tapi sekarang kita sudah berada didalam perangkapnya,
yakinkah cianpwee untuk membebaskan diri dari perangkap bahaya
yang berada didepan mata?"
Kakek tongkat sakti menghela napas panjang.
"Aku akan berusaha keras untuk membendung siluman
perempuan In Un, kau nona Chin kaburlah secepatnya meninggalkan
tempat ini."
"Kita datang bersama-sama, sudah sewajarnya kalau mundur
bersama pula, boanpwee tak bisa meninggalkan cianpwee dengan
begitu saja, apalagi keempat Lengcu dan kedua orang nenek
tersebut merupakan jago jago yang berilmu tinggi, boanpwee..."
setelah termenung sebentar, dia meneruskan:
"Boanpwee rasa lebih baik biar kucoba dengan menyerempet
bahaya, siapa tahu nasibku mujur dan berhasil melampauinya."
Kakek tongkat sakti serta Chin sian kun tidak berbicara apa-apa
lagi, sebab mereka semua telah berada dalam posisi maju tak bisa
mundurpun tak dapat, entah tindakan apa pun yang dilakukan,
boleh dibilang mereka pasti berada dipihak yang kalah. Terdengar
Dewi In Un berkata lagi sambil tertawa terkekeh-kekeh :
"Locianpwee, apa lagi yang mesti kaupikirkan? Toh permintaanku
hanya suatu urusan kecil?"

Kho Beng berpikir sebentar, kemudian sahutnya :
"Aku memang benar-benar harus memeras otak. sebab apabila
permintaanmu tidak kukabulkan, jelas akan menimbulkan
kesalahpahaman yang mendalam, sebaliknya bila kuturuti
permintaanmu, dengan kedudukanku sebagai sahabat karib
kakekmu, rasanya aku seperti dipecundangi oleh angkatan muda
saja."
Dewi In Un segera tertawa terkekeh-kekeh :
"Kalau Cuma soal ini mah cianpwee tak perlu kuatirkan, setelah
tiba ditebing seberang nanti boanpivee pasti akan berlutut dan
menyembah dihadapanmu sambil minta ampun, pokoknya aku tak
akan sampai membuat kau orang tua kehilangan muka."
"Baiklah" Kho Beng bergelak tertawa gembira, "rasanya bila aku
tidak menunjukkan kelihaian naga terbangku mungkin kau tak akan
mempercayai diriku dengan begitu saja."
"Tepat sekali silahkan locianpwee memperlihatkan kebolehanmu
itu."
sementara itu si Kakek tongkat sakti serta Chin sian kun sudah
bermandi peluh dingin saking cemas dan gelisahnya, akan tetapi
mereka tak berdaya untuk mencegah, selain gelisah dalam hatinya
apalagi yang bisa diperbuatnya?
Kho Beng sendiripun merasa terkejut bercampur gelisah, akan
tetapi hanya satu jalan yang tersedia baginya saat ini, kecuali
melaksanakannya memang tiada cara lain yang lebih baik lagi.
Diam-diam dia menghimpun segenap tenaga dalam yang
dimilikinya, lalu sambil tertawa katanya:
"Nah, akan kutunggu kedatangan kalian di tebing seberang sana"
Tubuhnya Nampak melejit ke udara dengan kecepatan tingi,
sewaktu mencapai ketinggian tujuh delapan kaki, tubuhnya berputar
satu lingkaran lebih dulu kemudian melesat kedepan dengan
kecepatan luar biasa-
Namun kabut tebal yang menyelimuti sekeliling itu amat tebal,
bayangan tubuh Kho Beng seketika lenyap tertelan dibalik kabut
yang tebal dan hilang dari pemandangan.
Memandang hingga bayangan tubuh Kho Beng lenyap dari
pandangan mata. Dewi In Un baru berseru memuji:
"Ilmu gerakan tubuh yang sangat indah-"
Tapi menyusul kemudian ia tertawa terbahak-bahak-

"Apa yang kau tertawakan? " chin sian kun tak dapat menahan
diri lagi dan segera menegur.
Dewi In Un agak tertegun, lalu serunya :
"Walaupun usiamu kelihatan masih sangat muda, tapi kalau
dihitung-hitung tentu sudah mencapai seratus tahun lebih bukan?"
Merah jengah selembar wajah Chin sian kun, tapi segera
jawabnya :
"Tentu saja, tahun ini aku telah berusia seratus sembilan tahun"
"Waaah, kalau begitu akupun wajib menghormati dirimu" kata
Dewi In Un sambil tertawa.
"Kepandaian naga terbang yang dimiliki Kong ci cianpwee
memang sangat indah, hanya"
Kakek tongkat sakti sebera menukas :
"Majikan kami telah menunggu ditebing seberang, silahkan siancu
menyuruh orang mengajak kami kesana, kita harus segera
menyeberang ketempat tersebut,"
"sungguh tak beruntung, mungkin sulit baginya untuk bisa
mencapai ke tebing seberang"
Kakek tongkat sakti serta Chin sian kun menjadi terperanjat
sekali- Dengan perasaan kaget dan cemas Chin sian kun menegur:
"Kenapa., apakah lebar jurang ini lebih dari seratus kaki?"
Dewi In Un menggeleng :
"Berbicara sejujurnya, luas jurang ini paling banter hanya empat
puluhan kaki-"
"Kalau hanya berjarak empat puluh kaki, atas dasar apa kau
menduga kalau majikan kami tak sanggup melampauinya?" tukas
Kakek tongkat sakti. Dewi In Un tertawa terbahak-bahak-
"Haaahh.haaaahh.haaahhh.mungkin ilmu meringankan tubuh
naga terbang yang dimiliki Kong ci cianpwee telah mengalami
kemunduran drastis, masa kalian berdua tak bisa melihat bahwa dia
paling banter Cuma dapat melampaui jarak sejauh enambelas kaki?
Bagaimana mungkin jurang tersebut bisa terlampaui?"
"sesungguhnya apa maksudmu?" tegur Kakek tongkat sakti
dengan penuh amarah-Kembali Dewi In Un tertawa tergelak-
"sepantasnya akulah yang mengajukan pertanyaan itu, bukankah
dia bukan si naga terbang dari see ih Kong ci Cu yang asli?
Bukankah Kong ci Cu sudah lama mati?"
Kemudian setelah memutar biji matanya, dia berkata lebih jauh :

"Walau dongeng yang kalian susun amat mengasyikan dan
memakan hati pendengar, sayang pada akhirnya kebohongan kalian
berhasil juga kubongkar."
Mendengar perkataan ini, dengan ilmu menyampaikan suara
Kakek tongkat sakti segera berbisik kepada Chin sian kun:
"Kini Kho Beng sudah terperosok kedalam jurang, kita tak boleh
melayani mereka dalam suatu pertarungan yang kelewat lama,
secepat mungkin kita loloskan diri dari kepungan mereka dan segera
turun kedasar jurang untuk menolongnya."
"Baik baik " sahut Chin sian kun cepat.
sementara itu Dewi In Un telah berkata lagi sambil tertawa
terbahak-bahak:
"sekarang tibalah saatnya bagi kalian untuk muncul dalam wujud
yang sebenarnya, siapakah kalian yang sebenarnya dan mengapa
mempunyai pikiran untuk berbuat demikian? "
sambil mengayunkan tongkat kepala ularnya si Kakek tongkat
sakti berkata :
"Berdasarkan tongkat andalanku ini, seharusnya kau dapat
menduga siapa gerangan diriku ini"
sambil berkata lantang ia lantas mengetuk ujung tongkatnya
keras-keras sehingga patung paisu yang semula berada disana
terlepas dari tempatnya, dengan begitu muncullah bentuk yang asli
yakni sebuah kepala ular-
Mula-mula Dewi In Un agak tertegun, tapi dengan cepat ia sudah
tertawa terkekeh-kekeh:
"Heeehhhheeehhhheehhh.rupanya si Kakek tongkat sakti,
pemimpin dati tokoh aneh dunia persilatan, waaah kalau begitu
maaf, aku bersikap kurang hormat."
Lalu dengan suara dalam katanya lebih jauh-
"Kalau begitu tak usah ditanya lagi, orang yang menyamar
sebagai Kong ci Cianpwee tadi tak lain adalah Hui im san ceng Kho
Beng-"
"Hmmm, kau pintar sekali" dengus Kakek tongkat sakti-
"Terima kasih banyak atas pujianmu" kata Dewi In Un bangga-
Kemudian sambil berpaling ke Chin sian kun, bentaknya pula keraskeras
:
"Dan kau, siapa dirimu?"
"Kau tak usah tahu" sahut Chin sian kun dengan penuh
kegusaran.

"HaaahWh.haaahhhaaahhhh.kedengarannya kau adalah seorang
wanita, kalau bagitu biar kucoba menebaknya, eeehm..aaah betul.
kau pasti siwalet terbang, sibudak dari marga Chin bukan"
"Tepat, memang nonalah orangnya " sahut Chin sian kun sambil
mengkertakkan gigi.
Untuk kesekian kalinya Dewi In Un tertawa terkekeh-kekeh,
nampaknya dia merasa amat gembira.
Dalam pada itu Kakek tongkat sakti telah memperhatikan sekejap
sekeliling tempat itu, kemudian bisiknya kepada Chin sian kun.
"Didepan tiada jalan, kita harus mundur dari sini "
dengan segera sambil menarik tangan chin sian kun, mereka
berdua serentak melompat m undur kebelakang.
Tapi sayang belakang mereka adalah tebing bukit yang terjal,
walaupun mereka bergerak mundur menuju kesana, ternyata Dewi
In Un tidak bermaksud mengejar, hanya gelak tawanya masih
kedengaran jelas sekali..
Baru saja Kakek tongkat sakti dan chin sian kun mundur sejauh
belasan kaki dari tempat semula, mendadak dari balik batu cadas
dikedua sisi jalan bermunculan belasan sosok bayangan manusia.
sambil munculkan diri, belasan orang tersebut serentak
mengayunkan sepasang telapak tangan mereka melepaskan pukulan
maha dahsyat kearah Kakek tongkat sakti serta Chin sian kun.
Tenaga gabungan dari belasan orang tersebut dalam waktu
singkat mencintakan segulung tenaga pukulan yang maha dahsyat,
sedemikian hebatnya tenaga pukulan itu sehingga rasanya susah
untuk dibendung oleh siapa saja..
Bukan hanya begitu, yang lebih mengerikan lagi adalah kesebelas
orang yang melancarkan serangan bersama-sama itu adalah
kesebelas pelindung hukum dari Dewi In Un. Padahal rata-rata
mereka memiliki tenaga dalam yang amat sempurna.
Berada dalam keadaan seperti ini, biarpun tenaga dalam yang
dimiliki Kakek tongkat sakti jauh lebih hebat pun susah rasanya bagi
kakek itu untuk membendung datangnya pukulan yang datang
secara tiba-tiba itu, apalagi dia sedang berada dalam posisi
berduaan.
selain daripada itu, serangan gabungan dari kesebelas pelindung
hukum pun meluncur datang laksana sambaran petir.
Dalam gugupnya terpaksa dia harus menyambut datangnya
serangan tersebut dengan posisi keras melawan keras.

Kasihan chin sian kun yang bertenaga dalam agak rendah, dia tak
mampu menghadapi pukulan tersebut dengan begitu saja, terpaksa
sambil mengerahkan tenaga dalamnya untuk melindungi badan, ia
menjatuhkan diri bergulingan diatas tanah-B la a a a mmmm- -
suara ledakan yang amat memekakkan telingan berkumandang
memecahkan keheningan malam. Dalam waktu singkat angin
pukulan menderu-deru, pasir dan batu beterbangan memenuhi
angkasa, begitu mengerikan keadaan waktu itu sehingga tak
ubahnya seperti dilanda gempa bumi dahsyat.
Menanti pasir dan batu sudah mereda, pemandangan disekeliling
tempat itu pun mulai Nampak dengan jelas.
Kakek tongkat sakti masih berdiri tegak dengan posisinya semula,
namun paras mukanya telah berubah hebat, tongkat kepala ularnya
juga telah tergetar lepas dari cekalannyasebaliknya
Chin sian kun yang menjatuhkan diri bergulingan
diatas tanah ternyata belum berhasil juga untuk meloloskan diri dari
musibah ini, dia tergetar sampai muntah darah dan roboh tak
sadarkan diri.
Disaat suasana telah mereda kembali, bergemalah suara langkah
manusia yang makin lama makin mendekat, tak lama kemudian
tampak kesebelas orang pelindung hukum Dewi In un. Nenek
penunjang langit, nenek perata bumi, keempat orang Lengcu
beserta sekawanan dayang berpakaian ringkas pelan-pelan maju
mengurung dan mengepung Kakek tongkat sakti ditengah arena-
Dalam keadaan begini Kakek tongkat sakti hanya membungkam
diri dalam seribu bahasa, ia menggertak gigi kencang-kencang,
sambil tersenyum, Dewi In un segera berkata :
"Aku dengar Kakek tongkat sakti yang menduduki kursi pemimpin
diantara tiga tokoh aneh dunia persilatan memiliki ilmu silat yang
amat hebat, kenapa dalam kenyataannya tak kuat menahan sebuah
gempuran pun?"
Lalu sambil menatap wajah Kakek tongkat sakti dengan sinar
matanya yang tajam. kembali dia menambahkan.
"Beranikah anda bertarung sekali lagi?"
Waktu itu Kakek tongkat sakti telah merasakan gejolak darah
yang amat deras didalam dadanya, ia sadar dirinya sudah terluka
maka setelah menatap sekejap Chin sian kun yang tergeletak tak
sadar diatas tanah, ia menghela napas sedih tanpa menyahut.
Dengan sombongnya Dewi In Un berkata lagi.

"Tidak berbicara pun tak menjadi masalah bagiku. Ketahuilah aku
mengharapkan suatu penyelesaian yang tuntas atas persoalan ini,
malam ini juga"
"Menurut pendapat anda, apa pula yang harus kulakukan? "
Kakek tongkat sakti balik bertanya dengan suara dalam. Dewi In Un
segera tertawa dingin:
"Dihadapanmu sekarang hanya tersedia dua pilihan, pertama
meneruskan pertarungan dan kedua mengaku kalah?"
Kakek tongkat sakti segera menghela napas panjang :
"Aaaaai, baiklah biar aku mengaku kalah-" Dewi In Un segera
tertawa tergelak.
"Haaahtyh>haaahhhhaaahhh.orang bilang Kakek tongkat sakti
pandai menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi, ternyata kabar
tersebut memang amat tepat. "
Kakek tongkat sakti tertawa sedih.
"Walaupun aku bersedia mengaku kalah, namun akupun ingin
mengajukan dua syarat."
"Tak ada salahnya untuk kau sebutkan asal syaratmu masih bisa
diterima dengan akal sehat, tentu saja dapat kukabulkan."
sambil menunjuk kearah Chin sian kun yang tergeletak tak
sadarkan diri. Kakek tongkat sakti berkata:
"gadis ini suci dan berhati mulia, tapi sekarang telah menderita
luka dalam yang cukup parah, kalian wajib mengobati luka dalamnya
itu"
"ooooh, kalau soal ini mah tanpa permintaan anda pun pasti kami
akan berbuat begitu"
Kemudian dengan suara dalam segera bentaknya :
"Tang soat Lengcu"
Buru-buru Tang soat Lengcu maju dua langkah kedepan seraya
menyahut:
"Tecu siap menerima perintah"
"segera gotong nona Chin kedalam gua dan obati luka dalamnya
dengan obat paling mujarab dari partai kita, kemudian utuslah orang
untuk melayani segala kebutuhannya secara baik"
"Tecu terima perintah"
Ia segera memanggil dua orang dayang untuk menggotong
Chinsian kun, setelah itu ia beranjak pergi meninggalkan bukit itu.
sepeninggal mereka. Dewi In Un baru berpaling kembali kearah
Kakek tongkat sakti, sambil katanya:

"Apakah anda masih ada syarat lain?"
"Kho Beng yang terjatuh kedalam jurang pasti sudah tewas,
bagaimanapun juga dia masih terhitung keturunan dari seorang
pendekar sejati dunia persilatan, kasihan kalau mayatnya harus
dibiarkan terlantar didasar jurang yang sepi, oleh sebab itu aku
berhasrat hendak menguburkan jenasah itu."
"Aku rasa cianpwee terlalu banyak urusan "
"Kenapa?" Tanya Kakek tongkat sakti agak tertegun.
"Dalamnya jurang ini paling banter hanya dua ratusan kaki,
berbicara dari ilmu meringankan tubuh yang diperlihatkan Kho Beng
tadi, tak mungkin dia sampai mati atau paling tidak sudah pasti akan
menderita luka dalam yang cukup parah, tujuan dari perbuatanku
sekarang tak lain adalah hendak menangkapnya hidup-hidup, tentu
saja aku tak bakal membiarkan dirinya terlantar disana."
Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya lebih jauh :
"Terus terang saja kukatakan, aku telah mengutus empat orang
dayang untuk menantikan kehadirannya didasar jurang sana."
"Kau benar-benar seorang wanita yang amat licik" seru Kakek
tongkat sakti sambil tertawa getir. Dewi In Un tertawa.
"Untung saja aku termasuk seorang yang amat menghormati
angkatan tua. Coba usia anda lebih muda berapa tahun saja, dengan
perkataanmu barusan, sudah pasti aku bakal menampar mulutmu
keras-keras."
Merah padam selembar wajah Kakek tongkat sakti lantaran
jengah, dia segera mendengus dan mengalihkan pembicaraan kesoal
lain, katanya kembali:
"Aku tetap bersikeras hendak menuruni jurang tersebut untuk
meninjau sendiri"
"Bukan hanya kau saja yang ingin turun kebawah, bahkan
akupun akan menyuruh anak buahku turun kesana guna menjemput
Kho Beng dan mempertemukan dirinya dengan encinya didalam gua
pengikat cinta."
"Kalau begitu anda boleh segera berangkat" kata Kakek tongkat
sakti cepat-Tapi Dewi In Un segera menggelengkan kepalanya
berulang kali, ia berkata :
"Maafkan diriku karena ada satu hal terpaksa harus menyiksa
dirimu sebentar, kuharap kau bersedia mengijinkan kepadaku untuk
menotok jalan darah Cian keng hiat diatas bahumu itu."

sambil menggertak gigi Kakek tongkat sakti tertawa dingin tiada
hentinya :
"Heeehhh-heeehhhhheeehhhh-setelah aku bersedia mengaku
kalah, mengapa tidak kuijinkan dirimu untuk menyumbat jalan darah
ku? silahkan anda segera turun tangan"
Kembali Dewi In Un tertawa hambar.
"Sayang akupun mengidap suatu penyakit yang aneh, yaitu
enggan mendekati kaum lelaki "
setelah berhenti sejenak, dengan suara dalam segera serunya :
"Tang huhoat, lebih baik kau saja yang mewakili diriku"
Dari kesebelas orang pelindung hukum segera muncul Tang Bok
kong, dia memberi hormat lebih dulu kepada Dewi In lalu kemudian
baru berpaling kearah Kakek tongkat sakti sambil berkata: "Maaf"
Jari tangannya segera bertindak cepat menotokjalan darah ciang
keng hiat dibahu kiri dan kanan kakek itu.
Dengan tertotoknya jalan darah Cian keng hiat maka sepasang
tangan Kakek tongkat sakti pun seketika berubah menjadi lumpuh
dan tak berbeda jauh dengan orang cacat-sambil tertawa paksa
kakek itu berkata kemudian,
"sekarang kita boleh berangkat bukan?" Dewi In Un tertawa-
"Tebing karang yang tersebar dibawah sana amat susah dilalui,
kini jalan darah Cian keng hiat anda sudah tertotok- aku kuatir gerak
gerikmu menjadi kurang leluasa-"
sambil berpaling segera serunya : "Cun hong, Hee im"
Cun hong Lengcu dan Hee im Lengcu sebera maju memberi
hormat:
"Tecu siap menerima perintah"
"Kalian berdua mendapat tugas untuk melayani kakek Ang secara
baik-baik, jangan biarkan dia sampai terjerumus kedalam jurang"
"suhu tak usah kuatir" kata Cun hong Lengcu segera.
Kepada Hee im Lengcu dia sebera memberi kode dengan
kerlingan mata kemudian mereka bersama-sama maju mendekati
Kakek tongkat sakti, ujarnya kemudian:
"Loya, silahkan jalan pelan-pelan, kami akan menuntunmu secara
hati-hati."
seraya berkata, satu berada dikiri yang lain disebelah kanan,
mereka segera mengempit ketiak Kakek tongkat sakti untuk dibantu
melakukan perjalanan.

Diam-diam Kakek tongkat sakti mengumpat dan menyumpahi
kekejian siluman perempuan tersebut, namun berada dalam keadaan
apa boleh buat, terpaksa dia hanya mengikuti kemauan mereka.
"Mari kita berangkat" ujar Dewi In Un kemudian sambil tertawa
hambar.
Dibimbing kedua orang nenek tersebut, mereka berbelok kesisi
kiri lalu turun kebawah jurang.
Ternyata tebing disisi kiri tak lebih hanya berupa sebuah tebing
yang menjorok kebawah, keadaan medannya tidak terlampau terjal
seperti apa yang diduga semula.
Mereka menelusuri tebing tersebut berjalan turun kearah bawah,
lebih kurang dua ratusan kaki kemudian, sampailah mereka didasar
jurang tersebut.
Ditengah dasar jurang terdapat aliran air sungai yang berliuk-liuk
diantara batuan karang yang amat besar, selain itu batu cadas pun
Nampak berserakan dimana-mana.
Dewi In un sekalian segera mempercepat langkahnya menuju
kearah mana Kho Beng terjatuh kedalam jurang tadi-
Kakek tongkat sakti dibawah bimbingan cun hong Lengcu dan
Hee im Lengcu berjalan dipaling belakang dengan begitu ia tak
sempat melihat secara jelas keadaan didepan.
Tapi secara tiba-tiba ia mendengar suara jeritan kaget yang
diperdengarkan ciu hoa Lengcu.
jeritan kaget ini membuat hatinya ikut terperanjat, ingatan yang
segera terlintas didalam benaknya adalah Kho Beng pasti sudah mati
terbaring didasar jurang tersebut. Namun yang sebenarnya telah
terjadi, ternyata sama sekali diluar dugaannya.
sementara itu terdengar Dewi In Un berseru dengan nada benci:"
Aneh, sungguh aneh."
Akhirnya Kakek tongkat sakti pun berhasil mendekati tempat
kejadian, buru-buru dia melongok kemuka, tapi dengan cepat diapun
dibuat tertegun serta tak habis mengerti-
Ternyata disitu tak menjumpai jenasah dari Kho Beng, juga tak
Nampak bayangan tubuh dari si anak muda tersebut, tapi sebagai
gantinya terlihat ada empat orang dayang berbaju kuning telah
menggeletak mati disekitar sana-
Lama setelah tertegun akhirnya Kakek tongkat sakti tak bisa
menahan rasa gembiranya lagi, ia tertawa terbahak-bahak:

"Haaahhaaahhh-hahhh-siapa suruh anda terlalu memandang
rendah kemampuan Kho Beng, nah rencanamu kali ini pun
tampaknya mengalami kegagalan total-"
"Tak mungkin Kho Beng memiliki kepandaian silat sehebat ini"
seru Dewi In Un sambil menggigit bibir menahan amarah.
Kakek tongkat sakti kembali tertawa.
Bersambung ke jilid 30
Jilid 30
"Waaahi kalau begitu sudah pasti keempat orang dayangmu yang
merasa kasihan kepada Kho Beng sehingga mereka
membebaskannya pergi, lalu menghabisi nyawa sendiri"
"Tutup mulut" bentak Dewi In Un keras- keras
"Jika kau berani bicara sembarangan lagi, jangan salahkan kalau
kucabut selembar jiwa tuamu itu"
Walaupun Kakek tongkat sakti tidak berbicara lagi namun diujung
bibirnya tersungging sekulum senyuman yang dingin sekali.
Walaupun dia sendiripun tak tahu apa yang sebenarnya telah
terjadi, namun ditinjau dari hilangnya Kho Beng serta ditemukannya
keempat sosok mayat dari dayang-dayang tersebut, paling tidak ia
dapat menyimpulkan bahwa Kho Beng belum tewas.
Dalam pada itu para petugas telah mendekati keempat sosok
mayat dari dayang-dayang tersebut serta melakukan pemeriksaan
yang amat seksama.
Namun seluruh badan dayang-dayang itu kelihatan masih utuh
sama sekali tidak terluka oleh bacokan senjata, sedangkan dari
ketujuh lubang inderanya pun tidak ditemukan darah yang mengucur
keluar, untuk berapa saat lamanya mereka jadi bingung dan
kesulitan untuk memeriksa sebab musabab kematian orang-orang
itu.
Menyaksikan hal ini, sambil menghentakkan kakinya keatas
tanahi Dewi In Un berteriak keras :
"Hayo cepat lakukan pemeriksaan, apa yang menyebabkan
kematian mereka berempat?"
Akhirnya terdengar Ciu hoa Lengcu berseru :
"Lapor suhu, luka yang menyebabkan kematian mereka terletak
dibagian dada"
Dewi In Un sangat terkejut, buru-buru ia berjongkok dan
melakukan pemeriksaan sendiri

Dibawah pemeriksaan yang amat seksama segera ditemukan
sebuah lubang berwarna hitam sebesar jari telunjuk diatas dada
keempat orang dayang tersebut, walaupun tiada darah yang
mengalir keluar, namun bisa diduga lubang tersebut menembus
sampai kejantung, sehingga luka inilah yang menyebabkan kematian
mereka.
Meskipun lubang luka itu berwarna hitam namun jelas bukan
hitam karena keracunan, karena hitam yang berada disekitar mulut
luka tersebut tak ubahnya seperti luka terbakar, kulit disekitarnya
pun kelihatan agak hangus seperti terbakar.
Kakek tongkat saktipun dapat menyaksikan keadaan luka
tersebut dengan sangat jelas, tiba-tiba saja dia merasa terkejut
bercampur gembira.
Dalam pada itu Dewi In Un telah menghentakkan kakinya keatas
tanah dengan penuh kegusaran, katanya :
"Apa-apan ini?"
Lalu setelah memandang sekejap sekeliling tempat itu, kembali
serunya lantang :
"siapakah diantara kalian yang tahu, luka ini disebabkan oleh ilmu
pukulan apa?"
Tiada jawaban yang berkumandang dari sekeliling tempat itu,
tampaknya tiada seorangpun yang mengetahui keadaan sebenarnya.
Terdengar Kakek tongkat sakti tertawa ringan, lalu berkata secara
tiba-tiba.
"Aku tahu"
"oya?" Dewi In Un segera mengalihkan pandangan mata
kearahnya, lalu berseru
"hayo cepat katakan, ilmu sesat apa kah yang menyebabkan luka
terbakar itu?"
Sambil tertawa Kakek tongkat sakti menggelengkan kepalanya
berulang kali, dia berkata :
"Ilmu tersebut bukan termasuk jenis ilmu sesat, melainkan
artalah ilmu jari Tong kim ci yang merupakan sejenis ilmu keras dari
dunia persilatan."
"Ilmu jari Tong kim ci?"
Dewi In Un kelihatan terperanjat sekali, sesudah termangumangu
berapa saat, kembali serunya :
"Kau maksudkan ilmu warisan dari dewa Kim ka sian?"
Kakek tongkat sakti segera mengangguk berulang kali :

"Tepat sekali dugaanmu, memang ilmu tersebut merupakan ilmu
kebanggaan dari dewa Kim ka sian, pemimpin dari tiga dewa See
gwa sam sian"
Sambil mengalihkan pandangan matanya kewajah Dewi In Un,
dia berkata lebih lanjut :
"Nah, sekarang kau mestinya sudah percaya bukan bahwa anak
keturunan dari tiga dewa betul-betul telah terjun kedalam dunia
persilatan?"
Dewi In Un tertegun berapa saat lamanya, tiba-tiba dia
mendongakkan kepalanya sambil tertawa seram :
"Haaaahihaaahh...haaaah, kebetulan sekali kalau mereka berani
tampilkan diri dalam dunia persilatan, aku memang berhasrat
membalaskan dendam bagi kematian kakekku dibawah tebing hati
duka seabad berselang, paling baik lagi jika keturunan dari tiga dewa
muncul secara bersama-sama."
Lalu dengan suara dalam ia berteriak :
"Lakukan penggeledahan"
Ciu hoa lengcu beserta kesebelas orang pelindung hukumnya
segera mengiakan bersama, mereka menyebarkan diri keempat
penjuru dan mulai melakukan penggeledahan seksama disekeliling
tempat itu.
Dewi In Un sendiri berjalan mondar-mandir kesana kemari
dengan wajah gelisah bercampur panik, sesaat kemudian serunya
pada Cun hoa lengcu serta Hee im lengcu dengan suara dalam :
"Kalian pun ikut pergi kesana, serahkan tua Bangka ini kepadaku"
selama itu, nenek penunjang langit dan nenek perata bumi masih
mengikuti saja dibela kang pemimpinnya, mereka tak pernah
meninggalkan sisi tubuhnya walau hanya setengah langkah pun.
Kini perasaan kakek tongkat sakti sudah jauh lebih tentram, ia
segera menjatuhkan diri duduk bersila diatas tanah, kemudian
memejamkan mata dan mulai mengatur pernapasan.
Lebih kurang setengah jam kemudian, para petugas yang
melakukan pemeriksaan berbondong-bondong telah balik kembali,
namun hasil pemeriksaan mereka tetap nihil. sambil membuka
matanya kembali, kakek tongkat sakti berkata dengan suara hambar
:
"Menurut pendapatku lebih baik tak usah kalian lakukan
pemeriksaan lagi"

"Hmmm, siapa yang suruh kau banyak bicara" teriak Dewi In Un
sambil menggigit bibir menahan amarah.
"Aku Cuma berniat baiki sebab pemerikasaan yang dilakukan
secara begini tak mungkin akan membuahkan hasil."
Kemudian setelah memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu,
ujarnya lebih jauh :
"Coba bayangkan sendiri, mungkinkah keturunan dari dewa Kim
ka sian akan tetap mengendon didalam jurang ini sambil menunggu
kedatangan kalian untuk menggeledahnya."
Dewi In Un mendengus . "siapa tahu mereka memang berbuat
begitu?"
Kakek tongkat sakti termenung dan berpikir sejenak, kemudian
katanya lagi :
"Disamping itu akupun masih mempunyai suatu kesimpulan yang
sangat masuk akal."
Tampaknya pikiran dan perasaan Dewi In Un sudah amat kalut
dan kehilangan pegangan, ketika mendengar perkataan tersebut,
buru-buru dia berseru dengan bersemangat :
"Apa kesimpulanmu?"
"Pertama-tama aku ingin bertanya dulu kepadamu, bukankah Kho
yang Ciu belum dipindahkan dari gua pengikat cinta?"
"Yaa benar, dia masih tetap berada dalam gua tersebut." sahut
Dewi In Un cepat.
sambil berkata dengan pandangan mata penuh kegemasan,
ditatapnya wajah kakek tongkat sakti itu lekat-lekat, kemudian
melanjutkan :
"Apa sangkut pautnya masalah itu dengan persoalan yang berada
didepan mata sekarang? "
Kakek tongkat sakti tertawa :
"Tentu saja besar sekali sangkut pautnya, coba bayangkan
sendiri kalau toh keturunan dari dewa Kim ka sian bersedia
menolong Kho Beng, tentu saja diapun pasti menerima
permohonannya untuk menolong Kho Yang ciu dari sekapan,
padahal persoalan yang dipikirkan Kho Beng saat ini hanyalah
menolong cicinya dari ancaman bahaya, coba bayangkan sendiri,
apa tidak mungkin mereka telah menyerbu kedalam gua pengikat
cinta saat ini."
Dewi In Un segera memutar biji matanya sambil berpikir sejenak,
akhirnya dia manggut-manggut :

"ehmmm, kesimpulanmu memang bisa dipercaya juga, yaa,
kemungkinan kesana memang ada."
Maka dengan suara dalam ia berseru kembali :
"Cepat kita kembali kegua"
Tanpa membuang waktu lagi ia membalikkan badan dan segera
berangkat lebih dulu menuju ke puncak bukit.
Cun hong lengcu dan Hee im lengcu cepat-cepat membimbing
tubuh kakek tongkat sakti dan menyusul kebelakangnya.
Dalam waktu singkat rombongan tersebut sudah berangkat
meninggalkan dasar jurang, bayangan tubuh mereka lenyap
kemudian dibalik kabut pagi yang tebal.
-ooo00000oooketika
tubuhnya melambung ketengah jurang tadi, Kho Beng
sudah kosongkan semua pikiran, sebab dia terpaksa harus berbuat
demikian demi menyelamatkan jiwa rekan- rekannya .
Disamping itu dia pun mempunyai suatu pandangan yang salahi
dia menganggap jurang yang terbentang dihadapannya sekarang tak
mungkin seluas apa yang dikatakan Dewi In Un tadi. sebab dia
mengira Dewi In Un hanya berniat untuk mencobanya.
Akan tetapi tatkala tubuhnya sudah meluncur sejauh enam tujuh
belas kaki dari tepi jurang, pemuda ini segera sadar bahwa dia
memang sudah melakukan suatu kesalahan yang amat besar.
Dalam keadaan demikian tak sempat lagi baginya untuk menarik
diri serta balik kembali ketepi jurang.
Dalam gugup dan paniknya, terpaksa dia hanya bisa berusaha
untuk mengurangi daya luncurnya kebawah, sedapat mungkin
tangan serta kakinya melakukan gerakan mendayung untuk
mengurangi kecepatan daya luncuran badannya.
Akan tetapi, jurang yang dalamnya mencapai dua ratusan kaki
bukanlah suatu pekerjaan yang mudah ditanggulangi. Ia merasakan
daya luncur tubuhnya makin lama semakin bertambah cepat dan
akhirnya. ia jatuh tak sadarkan diri
Namun tak selang berapa saat kemudian, dia telah mendusin
kembali dari pingsannya.
Ketika membuka mata kembali, ia menjumpai ada empat orang
dayang berbaju kuning sedang berdiri disekeliling tubuhnya, salah
seorang diantaranya malah sedang menusuk jalan darah tay yang
hiat dikeningnya dengan sebatang jarum besar.

Dia ingin meronta bangun, namun baru saja tubuhnya hendak
terangkat dia sudah roboh kembali keatas tanah.
Kepalanya terasa amat pening, matanya berkunang-kunang dan
keempat anggota badannya seolah-olah sudah tidak menjadi
miliknya, disamping itu dadanya pun terasa sakit sehingga hampir
saja ia jatuh pingsan untuk kedua kalinya.
Ia sadar, isi perutnya telah menderita luka yang cukup parahi
maka sambil menghembuskan napas panjang dia pun pejamkan
mata dan tidak berbicara lagi. Terdengar si dayang yang memegang
jarum itu berkata sambil tertawa :
"Perhitungan siancu memang sangat tepat, ternyata dia memang
bukan Kong cin cu."
sekarang Kho Beng baru sadar, ternyata hasil penyaruannya telah
dicopot oleh keempat dayang tersebut.
salah seorang diantara dayang itu segera berkata pula :
"Bukan saja siancu telah memperhitungkan bahwa dia adalah Kho
Beng, bahkan telah diperhitungkan pula kalau dia bakal terjatuh
kedasar jurang dalam keadaan setengah mati, nyatanya dia memang
sudah berada dalam keadaan setengah sekarat kita tinggal
menggotongnya pulang."
setelah berhenti sejenak, serunya kemudian :
"Hayo, kita gotong dia dan segera pulang ke gua"
Kho Beng mencoba untuk meronta, namun hasilnya nihil, dia
merasa tubuhnya seakan-akan sudah tak bertenaga lagi.
Berada dalam keadaan seperti ini, terpaksa dia hanya pasrah dan
menuruti saja kemauan keempat orang dayang tersebut. Tiba-tiba
terdengar dayang yang memegang jarum itu berseru : "Dia tak usah
digotong Kenapa?"
"Walaupun dia telah sadar kembali, namun luka yang dideritanya
terlampau parah, bila digerak-gerakkan tubuhnya mungkin saja
dapat menyebabkan nyawanya melayang, nah, kalau dia sampai
mampus, kitalah yang bakal memikul tanggung jawabnya."
"Lantas apa yang harus kita perbuat sekarang?"
"Siancu pernah berkata, dia akan menengok sendiri kedasar
jurang ini, terpaksa kita harus menunggu kedatangannya disini"
Mendadak. sementara keempat orang dayang itu sedang
berbincang-bincang, terdengar suara langkah kaki manusia
berkumandang datang. Dayang yang memegang jarum itu segera
berseru :

"Sudah pasti Siancu yang datang"
sambil berkata dia segera melompat bangun lebih dahulu disusul
ketiga orang dayang lainnya, dengan mementangkan matanya lebarlebar
mereka berusaha melongok kesana kemari.
Rupanya kabut yang menyelimuti tempat tersebut tebal sekali,
karenanya meski terdengar suara langkah manusia yang berjalan
mendekat, namun susah untuk melihat dengan jelas siapa gerangan
yang telah datang?
orang tersebut berjalan mendekat dengan langkah yang amat
lambat, sampai setengah harian belum juga mendekati tempat
tersebut.
Dengan kening berkerut dayang yang memegang jarum itu
segera berseru :
"Tampaknya bukan, yang pasti bukan siancu yang datang"
"Benar" sambung dayang yang lain,
"bila siancu yang datang, mustahil dia berjalan selamban ini,
paling tidak suara langkahpun bukan hanya dua orang saja"
"Peduli amat siapa yang datang, toh sebentar lagi Siancu bakal
menyusul kemari.mungkin juga orang yang sedang berburu pagi."
Dengan perasaan ingin tahu, Kho Beng turut membuka matanya
san menengok kearah mana datangnya suara langkah manusia tadi.
Akhirnya dari balik kabut yang sangat tebal itu muncul dua sosok
bayangan manusia.
Perasaan gembira yang semula meluap didalam hati Kho Beng
seketika menyurut kembali, sebab yang munculkan diri disitu
ternyata adalah dua orang nona muda.
seorang diantaranya berbaju hijau dan berusia delapan sembilan
belas tahunan, meski dalam suasana remang-remang dapat terlihat
betapa cantiknya wajah gadis tersebut.
Sedangkan yang seorang lagi berbaju hijau pupus, berdandan
seperti seorang dayang, ia berusia antara enam tujuh belas tahunan.
Menyaksikan kehadiran kedua orang ini, perasaan Kho Beng yang
sudah tenggelam, entah mengapa, ternyata bergelora kembali.
Waktu itu dajar belum menyingsing, tapi apa sebabnya kedua
orang gadis tersebut berjalan sendirian didasar jurang tersebut?
Ditinjau dari sikap. gerak-gerik maupun dandanan kedua orang
itu, dalam sekilas pandangan saja ia telah mengetahui bahwa
mereka pasti bukan anak buah Dewi In Un.

Dalam pada itu, keempat orang dayang berbaju kuning itu pun
kelihatan agak tertegun, mereka bersama-sama mengawasi gerakgerik
kedua orang nona tersebut tanpa berkedip.
sewaktu kedua orang nona tersebut mengetahui didasar jurang
sana terdapat orang lain, mereka pun kelihatan agak tertegun dan
segera menghentikan perjalanannya.
sidayang berbaju hijau pupus itu segera berseru :
"Nona, coba kau perhatikan dari mana datangnya orang-orang
itu?"
sigadis berbaju hijau mengalihkan pandangan matanya kearah
orang-orang itu, ia lalu berkata :
"Yaa betul, fajar belum lagi menyingsing apa sebabnya mereka
mendatangi tempat semacam ini? Siau wan, coba kau tanyakan
persoalan ini kepada mereka."
Baru saja siau wan hendak maju kedepan, tiba-tiba ia berseru
kembali :
"Nona disitu terdapat pula sesosok mayat"
Rupanya Kho Beng yang tergeletak tak bergerak diatas tanah itu
Nampak seperti sudah mati.
si gadis berbaju hijau itu berseru tertahan tanpa terasa dia maju
sendiri mendekati orang-orang itu.
Dengan gerakan yang cekatan dayang yang memegang jarum itu
sebera menghadang jalan pergi mereka berdua, tegurnya ketus :
"Kalian mau apa?"
"seharusnya akulah yang mengajukan pertanyaan ini kepada
kalian," kata nona berbaju hijau itu dingin.
seorang dayang berbaju kuntng yang lain sebera mendengus :
"Hmmm, kalian tak berhak menanyakan persoalan itu kepada
kami"
si dayang berbaju hijau pupus yang mengikuti nona berbaju hijau
tadi menjadi sangat marahi segera tegurnya :
"Besar amat nyali kalian, berani betul berbicara sekasar ini
terhadap nona kami, hmmm, tampaknya kalian sudah pada bosan
hidup?"
Baru saja dayang berbaju kuning itu hendak mengumbar
amarahnya, si dayang yang memegang jarum tadi telah
menghalanginya seraya berkata :
"Adikku, orang lain toh Cuma bertanya secara baik-baiki buat apa
kau mesti cekcok dengan mereka?"

sementara itu si nona berbaju hijau itu pun telah membentak
dayangnya :
"siau wan, jangan bersikap kurang sopan"
Dayang yang bernama siau wan mendengus, dia sebera
mengundurkan diri kebelakang majikannya sementara bibirnya
Nampak cemberut, jelas dia masih merasa tak senang hati.
Dalam pada itu, si Nona berbaju hijau tersebut sudah
memandang sekejap kewajah Kho Beng yang tergeletak ditanah itu
lalu menegur :
"sebenarnya apa yang telah terjadi?"
"oooh tak ada apa-apa" sahut si dayang yang membawa jarum
itu cepat. Kemudian sambil tertawa paksa katanya lagi :
"Dia adalah kongcu kami, barusan bertindak kurang hati-hati
hingga terlepas jatuh kemari, itulah sebabnya buru-buru kami
menyusulnya kesini."
"Mengapa kalian tidak sebera menggotongnya untuk dibawa
pulang kerumah?"
"sebab.sebab." dayang itu menjadi tergagap hingga tak sanggup
melanjutkan perkataannya. siau wan yang menyaksikan kejadian ini
segera berseru :
"Nona, bicara orang ini tersendat-sendat seperti orang gugup,
aku yakin dibalik kesemuanya itu pasti ada persoalan yang tidak
beres."
Nona berbaju hijau itu tertawa, ia tidak menanggapi ucapan
dayangnya tadi, segera ia berkata :
"Kalian tak usah kuatir, kami tidak bermaksud jahat kepada kalian
semua, bila ada kesulitan katakana saja, siapa tahu kami dapat
memberikan bantuan."
Setelah ragu-ragu sejenak, dayang yang memegang jarum itu
segera berkata :
"oleh karena luka yang diderita kongcu kami amat parahi maka
kami tak berani menggerakkan badannya, itulah sebabnya
kami..kami harus menunggu sampai kedatangan majikan kami."
"Siapakah majikan kalian?" Tanya si Nona berbaju hijau. Kembali
dayang itu tergagap.
"Dia adalah..dia adalah nona kami"
Nona berbaju hijau itu segera berkerut kening, kembali dia
membungkukkan badan memeriksa keadaan Kho Beng.

Sementara itu Kho Beng tidak menaruh harapan apa-apa
terhadap kedua orang gadis tersebut, oleh sebab itu dia membiarkan
dayang yang memegang jarum itu berbicara semaunya sendiri.
Selama ini ia tetap membungkam dan sama sekali tidak ikut
menimbrung.
Tampak Nona berbaju hijau itu mengamati wajah Kho Beng
sampai lama sekali, selama ini pula pandangan matanya tak pernah
beralih dari wajahnya sementara pipinya pun tiba-tiba berubah
menjadi semu merah.
Si dayang Siau wan yang melihat sikap majikannya itu, ikut
datang mendekati sambil berkata :
"Nona, kasihan sekali kongcu ini, nampaknya ia telah menderita
luka yang cukup parah." Lalu ia melanjutkan :
"Bukankah nona mempunyai obat yang amat mujarab, berikanlah
sedikit agar dia cepat sembuh"
Nona berbaju hijau berpikir sebentar, lalu dengan cepat ia
berkata :
"Kami berdua sedang berpesiar disekitar sini, sementara ini kami
berdiam disini, bagaimana kalau kalian pergi ketempat kami
sehingga aku dapat memberikan pengobatan seperlunya."
Kho Beng yang mendengar hal ini, semangatnya menjadi
berkobar kembali. Namun dayang yang memegang jarum itu dengan
cepat menjawab :
"Kami sangat berterima kasih atas kebaikan nona berdua, namun
kami tidak berani mengganggu nona, maka lebih baik kami
menunggu majikan kami yang akan datang kemari"
"Masa kalian tidak kasihan sama sekali dengan kongcu ini?"
"Bagaimana kalau kita tanyakan sendiri kepadanya?" balas siau
wan dengan curiga.
"Dia dapat mengerdipkan matanya jika setuju karena memang
seluruh tubuhnya tidak bisa digerakkan sama sekali" lanjutnya.
Nona berbaju hijau berpikir dan manggut-manggut, sambil
katanya :
"Begitupun ada baiknya juga, coba kau saja yang bertanya?"
Tapi sebelum siau wan sempat mengajukan pertanyaan, dayang
berbaju kuning yang memegang jarum itu sudah menghalangi
sambil berteriak keras :
"Tunggu sebentar"
"Kenapa?" hardik siau wan gusar.

"Perbuatan nona hanya suatu tindakan yang berlebihan. Lebih
baik tak usah ditanyakan lagi"
"Kenapa?" saking mendongkolnya siau wan mulai bertolak
pinggang, sikapnya menantang.
"Pertama, kongcu kami sedang menderita luka yang sangat parah
sehingga tidak diperbolehkan banyak bicara. Kedua, sekalipun
kongcu kami bersedia menerima tawaran kalian pun, kami tak akan
membiarkannya pergi dengan begitu saja"
siau wan sebera mendengus.
"Hmmmm, dia toh majikan, sedang kamu semua Cuma dayangdayangnya,
apakah dia tak bisa mengambil keputusan untuk diri
sendiri?"
"Kalau berada dalam keadaan sehat, bisa saja kongcu mengambil
keputusan sendiri Tapi kini dia menderita luka dalam yang cukup
parah, otomatis keadaannya menjadi berbeda bila kalian sanggup
menyembuhkan lukanya tentu saja amat kebetulan, tapi seandainya
tidak berhasil? Bukankah nyawa kami semua yang menjadi taruhan?"
Nona berbaju hijau itu tidak berkata apa-apa, tapi siau wan justru
memutar biji matanya sambil berteriak keras :
"Nona, aku lihat ada yang tidak beres? Apanya yang tidak beres?
Bisa jadi orang ini bukan kongcu mereka"
teriak siau wan lagi dengan wajah bersungguh-sungguh .
"Darimana kau bisa tahu?"
"Dia sendiri yang bilang, coba lihat ."
Rupanya Kho Beng sedang meronta-ronta dan menggoyangkan
tangannya berulang-ulang kali, namun karena tenaganya kurang
sehingga tak mampu berbicara, bahkan gerakan tangannya pun
kelihatan lemas sekali.
serentak keempat dayang lainnya berdiri berjajar dihadapan Kho
Beng, sikap mereka Nampak bengis dan siap bertempur.
"Jangan sentuh dia" bentak dayang yang memegang jarum itu
keras-keras. Nona berbaju hijau itu segera tersenyum,
"Kalau dilihat dari sikap kalian sekarang, jelas terlihat sudah
bahwa hubungan diantara kalian memang ada yang tak beres."
Dayang yang memegang jarum itu makin bengis, sikapnya
setengah mengancam dia berseru
"Bila tahu diri, lebih baik cepat-cepat tinggalkan tempat dan tak
usah mencari kesulitan buat diri sendiri, sebab bila tindakan kalian

kurang berhati-hati, bisa jadi kedua lembar nyawa kalian akan cepat
melayang."
"Hmmm, aku kuatir kalian tak akan memiliki kemampuan untuk
berbuat demikian" jengek Nona berbaju hijau itu sambil mendengus
dingin.
"Hmmm, mampukah kami berbuat demikian dalam waktu singkat
akan kami buktikan dihadapanmu, tapi sebelumnya kami ingin
menyatakan lebih dulu, sebetulnya kami tidak bermaksud untuk
rebut dengan kalian secara bersungguh-sungguh."
Lalu setelah berhenti sejenak, dengan suara nyaring katanya
lebih jauh :
"Asal kalian bersedia untuk menyingkir dari sini, kami anggap tak
pernah terjadi masalah diantara kita"
"seandainya kami tak bersedia untuk menyingkir dari sini?" Tanya
Nona berbaju hijau itu sambil tertawa tak acuh.
"Ini berarti kalian sedang mencarijalan kematian bagi diri sendiri"
bentak dayang yang memegang jarum itu.
Nona tiba-tiba siau wan menyela,
"lebih baik kita bunuh mereka semua, apalah artinya rebut
dengan orang-orang semacam begini?"
Nona berbaju hijau itu segera tertawa :
"Paling tidak kita toh mesti bertanya dulu sampai sejelasnya,
mana boleh membunuh orang semaunya sendiri"
Mendadak terdengar suara langkah manusia yang amat ramai
berkumandang datang, ditinjau dari suaranya dengan hiruk pikuki
bisa diduga bukan saja yang datang berjumlah sangat banyaki
lagipula bergerak mendekat dengan langkah yang cepat sekali.
Dayang berbaju hijau pupus siau wan, segera berteriak :
"Nona, bala bantuan mereka telah datang, kau.."
Nona berbaju hijau itu menggoyangkan tangannya berulang kali
mencegah dayangnya berbicara lebih jauhi lalu dengan sikap yang
masih santai katanya :
"Bukankah bala bantuan kalian telah datang, tentunya kamu
semua tak usah merasa takut lagi, cepat katakana siapakah majikan
kalian?"
Dayang yang memegang jarum itu sebera mendengus :
"Hmmm, diberitahukan kepadamujuga tak apa, majikan kami
tidak lain adalah Dewi In Un"

"Dewi In Un?" agaknya Nona berbaju hijau itu tidak mengenali
orang tersebut.
"sebuah nama yang asing sekali, dia termasuk aliran partai
mana?"
"Partai kupu-kupu?" tiba-tiba paras muka Nona berbaju hijau itu
berubah hebat, bentaknya keras-keras,
"Anggota partai kupu-kupu jahanam"
Kelima jari tangannya segera diayunkan kemuka melancarkan
empat buah serangan jari yang amat dahsyat, belum sempat
keempat orang dayang itu mengetahui apa yang terjadi, mereka
telah terkena serangan dan roboh binasa keatas tanah.
Keempat orang itu tewas dalam keadaan yang sangat tenang,
bahkan memekikkan jerit kesakitanpun tidaki begitu saja mereka
roboh ketanah dan menghembuskan napas yang penghabisan.
sementara itu suara derap langkah kedengaran makin lama
semakin dekat, tidak menanti sampai diperintah lagi siau wan
membopong tubuh Kho Beng lalu berseru : "Nona, cepat kita pergi
dari sini"
Nona berbaju hijau itu manggut-manggut, dia segera melejit
keudara dan bersama dayangnya berlalu dari situ.
Kegelapan malam telah mencekam seluruh jagat, waktu
menunjukkan kentongan kedua.
Didalam sebuah goa yang bersih dan ditengah celah jurang, Kho
Beng sedang berbaring tenang diatas lantai.
Gua tersebut berada lebih kurang lima enam kaki dari permukaan
tanah, didepan gua tumbuh pepohonan yang rimbun sehingga
menutupi letak gua tersebut.
oleh karena mulut gua berada jauh diatas permukaan tanah,
maka pencarian besar-besaran yang dilakukan anak buah Dewi In
Un tidak memberikan hasil apapun.
Keadaan didalam gua amat kering, disisi rerumputan kering yang
dipakai sebagai alas tidur Kho Beng terletak sebuah kantung air,
ransum kering serta dua botol obat.
sementara itu dayang berbaju hijau pupus sedang duduk
disampingnya, dia sedang mengawasi wajah Kho Beng sambil
tertawa cekikikan tiada hentinya. sambil meronta bangun, Kho Beng
sebera berseru :
"Nona."
Biarpun suaranya masih kedengaran lemah, amat jelas terdengar.

Dayang itu segera menghentikan tawanya dan berkata :
"Nona kami sedang mempersiapkan hidangan untukmu, aku
bernama siau wan, sebut saja namaku secara langsung. Nona, nona,
nona melulu, haaaau.bikin telingaku terasa geli"
"Berada dimanakah aku sekarang?" Kho Beng bertanya sambil
tertawa getir. Dayang tersebut segera tertawa :
"Masa kau lupa, bukankah selama ini kau berada dalam keadaan
sadar? Kau terjatuh dari puncak bukit sana.."
setelah berhenti sejenak, kembali ujarnya :
"aku tebak kau pasti didorong mereka, bukan kau sendiri yang
terpeleset jatuh kebawah bukan?"
sambil menghembuskan napas panjang, Kho Beng tertawa getir,
sahutnya :
"sesungguhnya aku sendiri yang melompat turun kebawah
jurang."
"Kau melompat sendiri kedalam jurang?" dayang itu Nampak
agak terkejut,
"Kenapa kau berbuat demikian? Kulihat usiamu masih sangat
muda, kenapa kau harus mengambil keputusan pendek?"
Kembali Kho Beng menghela napas panjang.
"Aaaai..aku tidak bermaksud mengambil keputusan pendeki aku
dipaksa keadaan untuk berbuat demikian."
Dayang itu mengerdipkan matanya berulang kali, lalu ujarnya
lagi.
"Aku semakin tidak memahami maksud perkataanmu itu, kau
betul-betul manusia aneh, kalau memang tidak bermaksud
mengambil keputusan pendek apa sebabnya kau terjun kedalam
jurang?"
Kho Beng tidak langsung menjawab pertanyaan itu, dia mencoba
memperhatikan sekejap keadaan disekelilingnya, lalu balik bertanya :
"sekarang sudah pukul berapa?"
"Kentongan kedua lebih sedikit"
Lalu sambil tertawa katanya lebih jauh :
"sepanjang hari kau mementangkan mata tanpa berbicara, kau
tahu nona kami menjadi panik setengah mati, dia mencoba
memberimu ransum kering namun tubuh tak menerimanya, maka ia
sedang mengusahakan makanan yang lain. Aku pikir sebentar lagi
dia akan sampai disini, apakah kau sudah lapar?"
Kho Beng sebera menggeleng.

"Terima kasih banyak atas kebaikan kalian."
Rupanya setelah mendapat pertolongan tadi, pikirannya menjadi
kendor sehingga walaupun sepasang matanya masih tetap melotot
namun orangnya berada dalam keadaan tak sadar.
Tanpa disadari satu hari telah berlalu dengan begitu saja.
Kini dia benar-benar telah sadar kembali, membayangkan apa
yang telah terjadi, pikiran dan perasaannya mulai kalut dan tidak
tentram.
situasinya sudah bertambah jelas, kakek tongkat sakti dan chin
sian kun pasti sudah tertawan musuh atau bahkan sudah mengalami
musibah.
Teringat kembali semua peristiwa tersebut gara-gara kepentingan
dirinya, ia merasa masgul dan amat bersedih hati.
Masalah lain yang mencekam perasaannya adalah tentang
keselamatan Kho Yang ciu encinya, dimanakah dia sekarang?
Membayangkan kesemuanya itu, tanpa terasa air matanya jatuh
bercucuran.
siau wan menjadi amat terkejut setelah menyaksikan kejadian ini,
segera tegurnya :
"Hey kenapa kau? Mengapa menangis?"
Tapi kemudian sambil tertawa katanya lagi :
"Jelek-jelek begini kau toh seorang lelaki sejati, kenapa tanpa
sebab melelehkan air mata?"
Merah jengah selembar wajah Kho Beng, sambil menahan
cucuran air matanya dia berkata
"Aku bukan menangis untuk diri sendiri tapi demi orang lain, aku
merasa telah bersalah terhadap beberapa orang, gara-gara urusanku
akibatnya orang lainlah yang turut menderita."
"Hmmmm, tak nyana kau adalah seorang yang punya perasaan,"
bisik si dayang simpatik, Kho Beng tertawa getir,
"sayang Thian tidak melindungi orang baik, persoalan apapun
yang kukerjakan selamanya tak pernah memperoleh balasan yang
baik"
"Mungkin kali ini berbeda pengalamanmu," kata si dayang sambil
tertawa.
Kemudian sambil menatap wajah Kho Beng lekat-lekat, tanyanya
:
"siapa namamu?"
"Aku bernama Kho Beng"

"siapa saja yang berada dirumahmu?"
"Aaai.aku Cuma mempunyai seorang cici," kata Kho Beng sambil
menghela napas panjang,
"tapi sekarang dia berada dimulut macan, nasibnya masih
menjadi tanda Tanya besar."
"Apakah kau tak mempunyai orang tua dan saudara?" dayang itu
bertanya keheranan.
"sebenarnya memang ada," kata Kho Beng sambil menggigit
bibir.
"Keluarga kesemuanya berjumlah tujuh puluh jiwa, tapi"
Tiba-tiba ia merasa amat sedih sehingga tak sanggup
melanjutkan kembali kata-katanya. siau wan membelalakkan
matanya lebar-lebar, serunya keheranan :
"Tujuh puluh lembar jiwa? Kemana mereka telah pergi? Cepat
katakan"
Kho Beng tak mampu menahan cucuran air matanya lagi, dia
berkata :
"Mereka telah dibantai musuh besarku sehingga tumpas, tianggal
aku dan ciciku berdua yang masih hidup. Itupun berkat pertolongan
serta pengorbanan seorang pelayan kami yang setia menukar kami
berdua dengan putra putri mereka."
"oooooh Sungguh kasihan," dayang itu sesenggukan,
"Akupun pingin menangis rasanya." Betuljuga, sepasang matanya
menjadi merah dan nampaknya seperti mau menangis. Tapi
kemudian sambil menghela napas panjang, katanya lagi :
"Bagaimana pula ceritanya sampai cicimu berada dimulut
harimau, apakah kejadian ini merupakan perbuatan orang-orang
tadi?"
"Yaa, betul Memang ulah orang-orang tadi" Kho Beng
mengengguk membenarkan.
"Kau tak usah bersedih hati, nona kami pasti akan membantumu
untuk membalaskan dendam, ilmu silat yang dimiliki nona kami
sangat lihay."
"oya.." seru Kho Beng setelah berpikir sebentar,
"Aku belum sempat mengetahui siapa nona."
"Nona kami bernama Beng Gi ciu, tahun ini genap berusia
delapan belas tahun." Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya
lagi :
"Bagaimana dengan kau? Tahun ini berapa usiamu?"

"Aku sembilan belas tahun" jawab Kho Beng dengan jening
berkerut kencang. Dengan gembira dayang itu bertebuk kegirangan
:
"waaaa, kau memang sepasang sejoli yang amat serasi dengan
nona kami, usia kalian sepadan"
Tapi dengan cepat dia menyadari kalau telah salah bicara, buruburu
dia menghentikan pembicaraannya dan tak berkata-kata lagi.
Paras muka Kho Beng pun berubah menjadi merah dadu, cepatcepat
dia mengalihkan pembicaraan ke soal lain, katanya :
"Mengapa kau bersama nonamu bisa datang kemari dan berdiam
didalam gua ini?" siau wan menghela napas panjang :
"Aaaaai..kalau dibicarakan yang sesungguhnya, nona kami pun
seorang yang bernasib jelek, walaupun keluarga kami tak tertimpa
sesuatu musibah yang mengenakan ati, namun jumlah keluarga
kami tidak terlalu banyak, turun temurun hanya nona seorang yang
mewarisi generasi keluarga kami."
Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya lebih jauh :
"Walaupun hanya tinggal nona kami seorang, namun kalau
dihitung jumlah dayang dan pelayannya, seluruh anggota kami
mencapai seratusan orang lebih."
Kho Beng manggut-manggut : :
"Lantas mengapa kalian..."
sambil tertawa siau wan menukas :
"sekarang toh aku menyinggungnya, nona kami merasa murung
karena berdiam diri terus menerus dirumah, maka dia ingin keluar
untuk berjalan-jalan, tapi aku mengetahui dengan jelas, paling tidak
dia mempunyai dua tujuan"
"Apa tujuannya?"
"Kesatu, dia hendak mencari kedua empek angkatnya, seorang
dari marga oh dan seorang lagi dari marga Thian. Kedua, dia."
Berbicara sampai disini ia kembali berhenti berkata dan tidak
melanjutkan kembali. Kho Beng jadi keheranan, desaknya :
"Mengapa tidak kau lanjutkan?"
"sebab persoalan ini menyangkut rahasia nona kami, bila
kuutarakan keluar bisa jadi dia akan marah kepadaku.."
"Kalau memang begitu lebih baik jangan kau utarakan keluar"
siau wan memutar biji matanya sebentar, katanya :

"Aaaah benar, aku rasa persoalan ini biar kukatakan saja
kepadamu, sebenarnya nona kami sedang mencari seorang
pasangan yang serasi"
Ucapan tersebut kontan saja membuat paras muka Kho Beng
berubah menjadi merah jengah.
suasana hening segera mencekam seluruh ruangan gua itu,
sampai lama sekali siau wan baru berkata sambil tertawa paksa :
"Apakah sekarang kau merasa rada baikan?"
"Yaaa, jauh lebih baik." sahut Kho Beng sambil tertawa penuh
rasa terima kasih. Dengan kening berkerut kembali siau wan berkata
:
"Dari penuturan nona kami, kudengar peredaran darah pada
jalan darah Ki hay hiat mu menderita luka yang cukup parahi paling
tidak sepuluh hari kemudian lukamu itu baru sembuh kembali seperti
sedia kala."
"sepuluh hari?" Kho Beng terkejut.
"Aku tak bisa menunggu selama sepuluh hari." siau wan tertawa
iba, hiburnya :
"Sepuluh hari toh bukan suatu jangka waktu yang terlalu lama
.tapi apakah kau terburu-buru ingin menolong cicimu?"
Kho Beng mengangguki
"Bukan saja aku akan menolong ciciku, masih banyak masalah
dan pekerjaan yang mesti kuselesaikan secepatnya, aku tak mungkin
bisa menunggu sepuluh hari lagi."
Mendadak siau wan berkata dengan suara dalam :
"sebetulnya aku pun termasuk orang yang berangasan, tidak
sabaran. Tapi kenyataannya kau lebih berangasan daripada diriku,
kau harus mengerti, luka dalam yang kau derita amat parahi biarpun
tak bisa ditunggupun kau harus menunggu, sebabnyaaa apa boleh
buat." setelah berhenti sejenak, katanya lebih jauh :
"Andaikata kau sampai ditangkap orang jahat dari partai kupukupu,
atau nasibmu kurang mujur hingga mati. Bukankah jauh lebih
baik menanti sepuluh hari lagi?"
Kho Beng menghembuskan napas panjang.
"seandainya benar-benar mati, urusan malah beres sama sekali,
karena akupun tak bisa berbicara lainnya, tapi sebelum napasku
berhenti, aku takkan mampu untuk bersandar dan menahan diri
terus menerus."
siau wan berpikir sebentar, kemudian katanya :

"Aku rasa lebih baik kita bicara lagi persoalan ini setelah nona
kami pulang nanti. Mungkin dia mempunyai akal yang lain untuk
membuat lukamu itu sembuh lebih cepat lagi."
Dengan masgul Kho Beng manggut-manggut, dia tak berbicara
apa-apa lagi.
siau wan celingukan sebentar dimulut gua, lalu setelah balik
kembali ketempat semula ujarnya :
"Kho siangkong, ada sebuah persoalan ingin kutanyakan
kepadamu lebih dulu."
"Tanyalah" sahut Kho Beng dengan hati bergetar.
"Dengan bersusah payah nona kami telah menyelamatkan dirimu.
Ditengah malam buta untuk mencari makanan untukmu, tentunya
dia terhitung tuan penolong mu bukan?"
"ooooh, tentu saja." sahut Kho Beng cepat .
"selama hidup aku tak akan melupakan budi kebaikannya itu."
Dengan girang siau wan tertawa merdu.
"Kau adalah seorang pemuda yang punya perasaan, dengan cara
apakah kau hendak membalas budi kebaikan dari nona kami ini?"
"Biar tubuh hancur lebur pun pasti akan kubalas budi
kebaikannya ini."
Buru-buru siau wan menggoyangkan tangannya berulang kali,
katanya :
"Nona kami bukan seorang yang mengharapkan balas jasa dari
orang lain atas pertolongan yang telah diberikan, namun terhadap
kau. nampaknya...nampaknya." sedikit rasa tersipu-sipu, ia
melanjutkan :
"Hey, apa yang mesti kukatakan tentang persoalan ini?"
Kho Beng sendiripun dibuatnya jengah, cepat dia menukas :
"Tak usah kau lanjutkan perkataan itu, aku sudah memahami apa
yang kau maksudkan."
"Ya a, paling baik kalau kau memang mengerti yang
kumaksudkan.." seru siau wan gembira. setelah berhenti sebentar,
diapun berkata lagi :
"Dikemudian hari, asal nonamu membutuhkan bantuan ataupun
tenaga dari aku orang she Kho, biar mesti terjun kelautan api pun
tak akan kutampiki" kata Kho Beng gagah.
"ooooh masalahnya sih tak segawat itu," seru siau wan sambil
menggoyangkan tangannya berulang kali.

"Asal kau bersedia mengabulkan permintaan nona kami untuk.."
Mendadak siau wan membatalkan perkataan selanjutnya.
Ternyata saat itulah Nampak sesosok bayangan manusia
menerobos masuk kedalam ruangan gua dan bagaikan sukma
gentayangan langsung meluncur kehadapan mereka berdua.
"Nona, kau telah kembali" seru siau wan gembira.
Ternyata orang yang datang adalah si Nona berbaju hijau yang
bernama Beng Gi ciu itu.
Air mukanya kelihatan bersemu merah, butiran keringat
membasahi jidatnya, jelas baru saja dia menempuh perjalanan yang
cukup jauh.
Ditangannya dia membawa sebuah kotak makanan- yang segera
diletakkan dihadapan Kho Beng, tegurnya kemudian sambil tertawa
manis :
"Rupanya kau.kau telah sadar?"
Buru-buru Kho Beng menjawab :
"Terima kasih banyak atas pertolongan nona, aku merasa
berterima kasih sekali dengan kebaikan mu.aaaai, budi kebaikan
yang begini besar membuat aku tak tahu apa yang mesti
diucapkan."
Dengan suara dalam Beng Gi ciu menghela napas :
"Kau tentu sangat lapar, dalam kotak terdapat bubur dan
beberapa sayuran, bersantaplah dulu"
Kepada siau wan segera serunya pula :
"Hayo cepat, layani Kho kongcu untuk bersantap."
"Nona, darimana kau bisa tahu kalau dia bermarga Kho?" Tanya
siau wan keheranan. Beng Gi ciu tersenyum, sambil mengawasi
wajah anak muda tersebut, katanya lagi :
"Bukan saja aku tahu kalau dia berasal dari marga Kho, bahkan
mengetahui juga kalau dia adalah cengcu muda dari perkampungan
Hui im ceng, betul bukan?" setelah tertawa manis, dia
menambahkan :
"sewaktu berada diluar tadi aku telah menyelidiki hal tersebut
hingga jelas."
"Cengcu muda dari mana?" Tanya siau wan tercengang.
"sudahlah tak perlu banyak bertanya lagi," tukas Beng Gi ciu
dengan suara dalam.
"Cepat layani Kho kongcu untuk bersantap setelah itu kita harus
meninggalkan tempat ini secepatnya"

sekali lagi Kho Beng dibuat tertegun sehabis mendengar
perkataan tersebut. siau wan sendiripun agak tertegun, segera
tanyanya :
"Nona, bukankah kau sendiri yang bilang kalau luka yang diderita
Kho kongcu amat parah dan tak boleh meninggalkan tempat ini?
Mengapa kita harus pergi dari sini sebelum luka yang dideritanya
menjadi sembuh." Dengan kening berkerut Beng Gi ciu menyahut :
"Memang benar begitu, tapi situasi saat ini telah terjadi
perubahan, tak mungkin bagi kita untuk berdiam lebih lanjut disini."
"sebenarnya apa yang telah terjadi? Bersediakah nona memberi
penjelasan?" pinta Kho Beng ragu-ragu.
"Ketua partai kupu-kupu Ui Thian it telah membawa sekawanan
jago lihaynya berangkat kemari, mungkin hari inijuga mereka akan
tiba disini, ini berarti seluruh bukit Cian san telah berubah menjadi
lingkungan kekuasaan partai kupu-kupu, bila hal ini sampai terjadi,
maka sulitlah bagi kita untuk meninggalkan tempat ini dengan
selamat."
"Apakah nona berhasil mendapatkan berita lain?" Tanya Kho
Beng sambil menggertak gigi kencang-kencang .
"Berita lain yang kuperoleh adalah Dewi In Un yang bercokol
dibukit ini sesungguhnya adalah putri dari Ui Thian it, ketua partai
kupu-kupu saat ini, aku rasa persoalan ini kau tentu lebih jelas
daripada aku bukan?"
"sudah tak ada yang lain?" Kho Beng berkerut kening. Beng Gi
ciu menggeleng.
"Persoalan lain tentang Dewi In Un tak berhasil kuperoleh,
apakah Kho Beng menguatirkan keselamatan jiwa dari cicimu
sekalian?"
"Benar, persoalan inilah yang sesungguhnya membuat hatiku
gelisah dan tak tenang."
"Ya a, apa boleh buat, kita tak bisa banyak berkutik, ketahuilah
pihak partai kupu-kupu akan menghimpun kekuatan intinya disini,
kekuatan mereka sudah berubah menjadi himpunan kekuatan yang
luar biasa hebatnya, untuk menghadapi hal semacam ini kita perlu
mengadakan perencanaan jangka panjang ."
Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya dengan suara
dalam :
"Tapi masalah penting yang kita hadapi dewasa ini adalah
berusaha meninggalkan tempat ini secepatnya."

Sementara itu Siau wan telah membuka kotak makan dan
menghidangkan semangkuk bubur serta empat macam sayur
dihadapan Kho Beng.
Dengan pikiran dan perasaan yang berat karena beban yang
dipikulnya, sulit bagi Kho Beng untuk menelan bubur tersebut,
namun agar tidak mengecewakan Beng Gi ciu yang telah bersusah
payah mencarikan hidangan baginya, terpaksa dia harus
menghabiskan bubur yang tersedia.
Ketika ia selesai bersantap. tampak Beng Gi ciu serta siau wan
telah mempersiapkan sebuah usungan dari rotan. Beng Gi ciu sebera
berkata dengan suara dalam :
"Tengah malam telah tiba, mari kita sebera berangkat"
Tiba-tiba Kho Beng merasa amat kikuki hatinya tergagap : "Nona,
aku."
"Kho kongcu, apalagi yang hendak kau ucapkan?" Tanya Beng Gi
ciu dengan kening berkerut.
"setelah nona Beng mengetahui identitasku yang sesungguhnya,
tentu kau juga mengerti bukan bahwa saat ini aku telah menjadi
musuh dari partai kupu-kupu"
"Ya a a, aku memang tahu," jawab si nona sambil tertawa.
"setelah nona mengetahui akan hal ini, mengapa kau masih
bersedia menyerempet bahaya yang amat besar untuk
menyelamatkan aku? Apakah kau tak kuatir mengikat tali
permusuhan dengan pihak partai kupu-kupu?" Beng Gi ciu sebera
tertawa.
"Tahukah Kho kongcu akan asal usulku yang sebenarnya?"
"Aku memang ingin mengetahuinya."
setelah menatap pemuda itu sekejap dan tersenyum, Beng Gi ciu
berkata pelan :
"Leluhurku sudah lama bermusuhan dengan pihak partai kupukupu,
malah permusuhan kami ibarat air dengan api, tak mungkin
bisa didamaikan kembali, oleh sebab itu aku tak perlu mengikatnya
kembali sekarang." Kemudian setelah berhenti sejenak, dia berkata
lagi :
"Pernahkah Kho kongcu mendengar kisah pertarungan antara
tiga dewa see gwa sam sian dengan ketua partai kupu-kupu dibawah
tebing hati duka?"
"Tentu saja aku pernah mendengarnya, apakah nona adalah."

"Yaa benar, aku adalah keturunan keempat dari dewa Kim ka
sian" sahut si nona sambil tertawa hambar.
"Haaahh" kejut dan girang Kho Beng, segera berseru tertahan.
Beberapa saat kemudian baru ia bisa berkata :
"Tak heran kalau ilmu silat yang nona miliki begitu hebat dan luar
biasa, ternyata nona adalah keturunan dari tiga dewa, kalau begitu
maaf atas ketidak tahuanku" sambil berkata ia siap-siap meronta
bangun. Cepat-cepat Beng Gi ciu menekan bahunya seraya berbisik :
"Lebih baik kau jangan bergerak dulu."
"Tapi aku merasa agak baikan," kata Beng Gi ciu dengan napas
tersengal-sengal,
"Aku bisa berjalan sendiri"
"Mungkin saja kau bisa berjalan sendiri kalau dipaksakan," kata
Beng Gi ciu sambil tertawa dan menggeleng,
"Tapi tahukah kau apa akibatnya bila kau berbuat begitu? "Tidak
menunggu Kho Beng menjawab, dia telah melanjutkan kembali katakatanya
:
"Apabila darah sampai membeku didalam nadi dan berbalik
menembusi pusat, bila parah bisa berakibat kematianmu atau paling
ringanpun akan menyebabkan kau menjadi cacat seumur hidup,"
"Yaa, betul kongcu?" seru siau wan pula sambil berkerut kening,
"bila kau benar-benar ingin membalas budi nona kami, maka kau
harus menuruti nasehat nona kami."
"Sudahi tak usah banyak bicara lagi" tukas Beng Gi ciu tiba-tiba,
"siau wan, cepat bopong Kho Beng kongcu keatas tandu
tersebut"
siau wan tak berani banyak bicara lagi, bersama Beng Gi ciu
mereka bersama-sama membohong tubuh Kho Beng dan
dibaringkan diatas usungan yang telah disediakan.
Berada dalam keadaan seperti ini Kho Beng tak leluasa untuk
bicara lagi, terpaksa dia hanya memandang kedua orang itu dengan
penuh rasa terima kasihi ia membiarkan mereka berbuat sesuka hati
atas dirinya.
Beng Gi ciu bertindak amat cepat, setelah membaringkan Kho
Beng diatas usungan tersebut, kembali dia menyelimuti tubuh anak
muda tersebut dengan sebuah mantel, kemudian baru menggotong
usungan tersebut dan berjalan keluar dari gua.
Jarak antara mulut gua dengan permukaan tanah masihada
beberapa kaki tingginya, namun dengan ilmu meringankan tubuh

yang amat sempurna, kedua orang nona itu telah melompat turun
kedasar jurang dengan gerakan yang amat ringan.
Bahkan sewaktu mencapai atas permukaan tanah pun, usungan
tersebut hanya bergoyang sedikit saja.
setelah keluar dari mulut gua, kedua orang itu menempuh
perjalanan dengan sangat cepat, mereka mengikuti arah aliran
sungai didasar jurang tersebut, berangkat menuju keluar bukit.
Dalam waktu singkat mereka bertiga telah menempuh perjalanan
sejauh tiga li lebih.

Mendadak tampak Beng Gi ciu menghentikan langkahnya secara
tiba-tiba kemudian dengan suatu gerakan cepat menyembunyikan
diri dibalik semak belukar disisi jalan.
siau wan mencoba pasang telinga baik-baik akan tetapi ia tak
berhasil menangkap suara apa pun dengan perasaan heran segera
tegurnya :
"Nona kau."
"ssssstttt"
Cepat-cepat Beng Gi ciu menempelkan jari telunjuknya diatas
bibir sendiri dan memberi tanda agar tidak berisik,
siau wan tidak berani membantah, ia benar-benar membungkam
diri dalam seribu bahasa.
Benar juga lebih kurang setengah peminuman teh kemudian
terdengar suara ujung baju yang tersampok angin bergema tiba, lalu
tampak tiga sosok bayangan manusia meluncur datang dengan
kecepatan bagaikan sambaran kilat, dalam waktu singkat mereka
telah meluncur kedalam dasar jurang sana.
Gerakan tubuh ketiga orang ini benar-benar amat cepat, sekali
lompatan sepuluh kaki telah dilalui..dalam kegelapan malam yang
terlihat hanya tiga sosok bayangan manusia yang remang-remang
serta suara desingan ujung baju yang terhembus angin.
Tak terlukiskan rasa kagum Kho Beng setelah melihat kenyataan
ini, sebab dari sini terbukti betapa lihaynya ketajaman pendengaran
Beng Gi ciu. Sementara itu siau wan telah menjulurkan lidahnya
sambil berbisik :
"Wouw.lihay betul ilmu meringankan tubuh yang dimiliki ketigg
orang itu."
Diam-siam Kho Beng setuju dengan pendapat tersebut, sebab
ilmu meringankan tubuh yang dimiliki ketiga orang tersebut sama
sekali tidak lebih lemah daripada kemampuan jago nomor satu

malah bisa jadijauh lebih hebat daripada kemampuannya. setengah
berbisik siau wan bertanya :
"Apakah orang-orang itu berasal dari partai kupu-kupu?"
"Hmmm, kecuali kawanan begal tersebut, siapa lagi yang bakal
datang kemari? Kelihatannya Ui sik kang segera tiba disini"
siau wan segera memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu,
kemudian katanya :
"Nona, mari kita segera berangkat, kalau menunggu sampai
terang tanah nanti, waaah kita bisa berabe"
Tapi Beng Gi ciu segera menggeleng. "Tunggu sebentar"
Lalu sambil menunjuk kedepan, bisiknya lebih jauh :
"Dibelakang sana masih ada seorang lagi."
Kho Beng amat tergetar hatinya setelah mendengar perkataan
itu, dia mencoba untuk memasang telinga , akan tetapi sama sekali
tak terdengar suara langkah manusia maupun suara ujung baju yang
terhembus angin.
Namun diapun sadar, luka yang dideritanya saat ini amat parah,
jelas sudah mempengaruhi ketajaman pandangan mata serta
pendengarannya, meski begitu dia merasa kagum sekali dengan
kemampuan Beng Gi ciu jelas sudah tenaga dalam yang dimiliki
gadis tersebut amat sempurna.
Lewat setengah peminuman teh kemudian mereka baru
mendengar suara langkah manusia yang cukup nyaring.
Bersambung ke jilid 31
Jilid 31
Sewaktu diperlihatkan dengan seksama, terdengar si pendatang
hanya terdiri dari seorang.
Siau wan segera berbisik:
"Yang datang kali ini hanya seorang, mari kita bunuh saja orang
itu"
"Tutup mulut" buru-buru Beng Gi ciu membentak.
Belum habis suara langkah manusia itu sudah kedengaran
semakin nyata, tampaknya orang tersebut berjalan amat lamban.
Tanpa terasa Kho Beng berpikir dengan perasaan ragu-ragu :
"Benar-benar kejadian yang sangat aneh, bila didengar dari suara
derap langkahnya orang itu seperti seseorang yang tidak mengerti
akan ilmu silat." Tapi ingatan lain kembali melintas, pikirnya dengan
perasaan terkejut.

"Biasanya orang yang lihay tak suka jual tampang, mungkin juga
orang itu adalah seorang jagoan yang berilmu tinggi?"
Sementara ingatan tersebut masih melintas dalam benaknya,
suara langkah manusia tadi telah tiba dua kaki dihadapan mereka.
Toook.toooktook Makin lama makin lambat, akhirnya dia berhenti
hanya dua kaki jaraknya dari tempat persembunyian mereka.
Kabut malam yang makin menipis membuat raut wajah orang
tersebut lamat-lamat sudah mulai kelihatan, ternyata dia adalah
seorang kakek yang rambutnya telah beruban semua.
orang itu berperawakan gemuk lagi pendek, mengenakan baju
berwarna ungu, ditangannya membawa sebuah tongkat bambu
sementara dicunggungnya tergantung sebuah buli-buli besar.
sementara orang itu sudah mengambil tempat duduk diatas sebuah
batu besar.
Ketika Kho Beng secara diam-diam mengintip keluar, tampak
olehnya sekulum senyuman seolah-olah selalu menghiasi wajah
kakek tersebut, ia tak memiliki suatu keistimewaan, mungkin setelah
menempuh perjalanan jauh dan merasa lelahi kini sedang
beristirahat disitu. satu-satunya masalah yang mencurigakan adalah
mengapa dia memasuki dasar jurang yang terpencil sepi ini ditengah
malam buta begini.
Beng Gi ciu maupun siau wan telah mengawasi pula gerak gerik
kakek berbaju ungu itu dengan penuh perhatian, sikap mereka
Nampak tegang dan amat serius.
Berada dalam keadaan begini, Kho Beng merasa kurang leluasa
untuk mengajukan pertanyaan, karenanya dia Cuma membungkam
diri seribu bahasa. setelah duduk beberapa saat, mendadak Kakek
berbaju ungu itu bergumam seorang diri :
"Waaah.rasanya makin lama semakin tak beres, ditengah malam
buta begini, kemanakah aku mesti menemukan langgananku itu?"
sembari berkata dia menarik buli-buli dipunggungnya ke depan,
membuka penutupnya serta mengeluarkan bungkusan besar
maupun bungkusan kecil yang banyak sekali jumlahnya.
setelah diperiksanya semua, sekali lagi dia masukkan kembali
bungkusan tersebut kedalam buli-bulinya.
oleh karena udara malam masih menyelimuti angkasa, kabutpun
masih melayang diatas permukaan tanah, maka walaupun selisih
jarak mereka hanya dua kaki, namun tak terlihat dengan jelas
benda-benda apakah itu.

Begitulah, selesai memeriksa barang-barang yang berada didalam
buli-bulinya, Kakek berbaju ungu itu mulai celingukan
memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, lalu mengendus pula
dengan hidungnya kesana kemari, pada akhirnya dia bergumam :
"semestinya di tempat ini aku harus bertemu langganan, kenapa
tak seorang manusia pun yang menyapaku?"
Mendengar perkataan tersebut tanpa terasa perasaan Kho Beng
serta Beng Gi ciu agak tergerak.
Mendadak terdengar Kakek berbaju ungu itu berkata lagi :
"Aaahi rupanya ada lagi yang datang, tapi bisa jadi orang itu
bukan langganan yang kucari"
Ia segera melompat turun dari atas batu dan mendekam diatas
tanah untuk menyembunyikan diri.
Tindakan dari Kakek berbaju ungu itu sangat mengejutkan hati
Beng Gi ciu, sebab dia pun merasa ada orang yang mendekati
tempat tersebut, namun ia baru mengetahuinya setelah Kakek
berbaju ungu itu menyembunyikan diri baik-baik.
setengah peminuman teh kemudian, betul juga tampak ada
sesosok bayangan hitam melintas lewat dengan kecepatan luar
biasa, orang itu berjalan lewat persis didepan batu cadas dimana
kakek itu menyembunyikan diri.
Tapi agaknya orang yang berjalan malam itu sama sekali tidak
menyadari akan kehadiran si Kakek berbaju ungu disitu, buktinya dia
lewat dengan begitu saja tanpa berpaling.
Dalam hati kecilnya Kho Beng segera sadar, kakek yang berada
dihadapannya sudah pasti bukan manusia sembarang.
Ditinjau dari tingkah laku si Kakek berbaju ungu itu yang dinilai
amat misterius, kemudian menyembunyikan diri dari pengintaian
orang berjalan malam yang jelas merupakan anggota partai kupukupu,
pemuda tersebut segera menarik kesimpulan bahwaannya
kakek tersebut sudah pasti merupakan seorang tokoh persilatan
yang berilmu tinggi.
Ketika ia mencoba berpaling untuk mengawasi Beng Gi ciu
berdua, tampak kedua orang gadis itu masih mengawasi lawannya
dengan tanpa berkedip. melihat itu terpaksa dia harus menelan
kembali kata-katanya.
Berapa saat kemudian Kakek berbaju ungu itu telah merangkak
bangun dan duduk kembali diatas batu cadas semula.
Terdengar ia tertawa ringan lalu bergumam lagi seorang diri :

"Kalau obat mujarab datang secara tiba-tiba, segala penyakit
pasti akan hilang dengan sendirinya, tapi kalau memang orang lain
tidak berjodoh dengan aku si orang tua, yaa.apa boleh buat lagi,
lebih baik aku pergi saja dari sini"
selesai berkata dia segera menggerakkan tubuhnya dan berjalan
menuju kearah jurang sana.
Tapi baru saja berjalan beberapa langkahi dia telah balik kembali
dan berkata sambil tertawa :
"Aaaahi aku tak usah terburu napsu, biarlah kutunggu sejenak
lagi."
sambil berkata dia mengeluarkan batu api dan menyulut
huncwenya, kemudian sambil duduk dibatu, ia menikmati
huncwenya dengan penuh keasyikan.
sejak kedatangan Kakek berbaju ungu itu, bila diperhatikan
secara sungguh-sungguhi maka dapat dilihat bahwa sinar matanya
selalu dan sekelebatan tanpa sengaja mengawasi tempat
persembunyian dari Kho Beng sekalian.
Akhirnya Beng Gi ciu tak dapat menahan diri lagi, tiba-tiba dia
berbisik kepada Kho Beng dengan ilmu menyampaikan suara :
"Aku lihat kakek ini sedikit rada aneh, bagaimana kalau kita
menemui dirinya?" Buru-buru Kho Beng menjawab dengan ilmu
menyampaikan suara pula : "Terserah kepada nona Beng, bagi diriku
sih tiada pendapat yang lain."
Beng Gi ciu tersenyum, dia segera bangkit berdiri dan berjalan
keluar dari tempat persembunyiannya .
Kakek berbaju ungu itu sama sekali tidak tercengang melihat
kemunculan gadis tersebut, sambil tertawa hambar dia malah
bergumam lagi,
"Untung saja aku menunggu sejenak tadi, kalau tidak tentu
kesempatan baik dilewatkan dengan begitu saja."
Beng Gi ciu maju beberapa langkah kedepan, sambil memberi
hormat, sapanya :
"Mungkin lotiang sudah tahu kalau siau li sekalian berada disini?"
sambil tersenyum Kakek berbaju ungu itu balas memberi hormat.
"Yaa betul, betul, aku tahu kalau disini ada langganan yang
menunggu."
"Boleh aku tahu siapa nama lotiang?" Tanya Beng Gi ciu
kemudian dengan suara dalam.
Kakek berbaju ungu itu tersenyum.

"Dulu sih aku punya nama, tapi kemudian kurasakan nama
bukanlah suatu yang penting, lama kelamaan aku tak pernah
menggunakannya lagi sehingga akhirnya aku sendiripun
melupakannya ."
"Bagaimana pun juga, saban orang pasti punya nama, kalau
tidak, bagaimana cara orang lain memanggilmu?" kata Beng Gi ciu
lagi sambil tertawa.
"Panggilan sih ada."
sambil menunjuk kearah rambut sendiri yang telah beruban
semua, Kakek berbaju ungu melanjutkan,
"Berhubung rambutku putih bagaikan saiju, orang menyebutku
sebagai si kakek berambut putih, tapi ada pula yang memanggilku si
setan tua dari Lam ciang"
"setan tua dari Lam ciang?" gumam Beng Gi ciu lirih,
"sayang sekali pengetahuan serta pengalaman siauli amat cetek
sehingga belum pernah mendengar nama besar dari lotiang, tapi
akum percaya kau pastilah seorang tokoh dunia persilatan yang
berilmu tinggi"
Kakek berambut putih itu tertawa terbahak-bahak :
"Haaaahhhihaaahhhhaaaahhhhinona, nona.terang saja aku si
kakek pun baru pertama kali ini melangkah masuk ke daratan
Tionggoan, sehingga tak banyak jago persilatan yang kukenal"
"Apakah selama ini lotiang berdiam diwilayah Lam ciang?" Kakek
berambut putih itu mengangguk berulang kali.
"Hampir empat lima puluh tahunan , aku tak pernah
meninggalkan wilayahku barang setengah langkah pun, tapi berapa
tahun belakangan, makin lama kehidupanku disana semakin susah,
maka dengan perasaan apa boleh buat terpaksa aku situa harus
hijrah ke utara, aku ingin mencari keuntungan didaratan Tionggoan
sehingga bisa dibuat sebagai biaya untuk hari tua ku nanti."
"apa sih pekerjaan lotiang?" Tanya Beng Gi ciu sambil mencoba
mengawasinya. sambil menepuk buli-buli dipunggungnya, kakek itu
menjawab :
"sepanjang hidupku bergumul dengan obat-obatan, meski belum
bisa dibilang mampu menghidupkan kembali orang mati, namun
penyakit dalam maupun penyakit luar bisa kusembuhkan secara
cepat"

"oooohi rupanya lotiang adalah seorang tabib yang gemar
menolong orang, maaf..maaf" Kemudian setelah berhenti sejenak,
kembali dia berkata :
"Bila kutinjau dari perkataan lotiang barusan, agaknya kau
mengatakan bahwa kami adalah langganan lotiang."
Tiba-tiba ia menghentikan perkataannya dan tidak dilajutkan
kembali. sambil tertawa terkekeh-kekeh, Kakek berambut putih itu
menjawab :
"Yaa benar, sudah hampir sebulan lamanya aku melangkah
masuk kedaratan Tionggoan, namun selama ini belum berhasil juga
menemukan seorang langganan pun, padahal bekal yang kubawa
keluar sudah hampir habis terpakai, bila kau gagal mendapatkan
langganan dalam waktu singkat, bisa jadi aku bakal mati kelaparan
didaratan Tionggoan ini."
sambil tertawa dingin Beng Gi ciu menyela :
"Lotiang belum memberikan jawaban yang sejelasnya atas
pertanyaan siauli barusan."
Kemudian dengan suara dalam dia melanjutkan :
"Dari mana lotiang bisa tahu kalau siauli sekalian bersembunyi
disini dan dari mana pula bisa tahu kalau bakal menjadi
langgananmu?"
Kakek berambut putih itu segera tertawa terbahak-bahak :
"Haaahhaaa.haaahi.aku mengandalkan hidungku ini."
"Mengandalkan hidung?" Beng Gi ciu tertawa geli,
"lotiang memang pandai bergurau, apa sangkut pautnya masalah
ini dengan hidungmu?"
"Tentu saja amat besar hubungannya," kata Kakek berambut
putih itu tertawa ringan.
"sebab hidungku ini memiliki ketajaman penciuman yang luar
biasa, jauh berbeda dengan orang biasa."
"Jadi maksud lotiang, kau mengandalkan ketajaman dari daya
penciuman hidungmu itu?"
"Tepat sekali" kakek itu manggut-manggut,
"Memang begitulah yang kumaksudkan." Beng Gi ciu segera
mendesak lebih jauh.
"Jadi lotiang pun mengandalkan ketajaman daya ciummu itu
untuk mengetahui tempat persembunyian kami disini?"
Kembali Kakek berambut putih itu mengangguk.
"Yaa, memang, demikianlah keadaan yang sesungguhnya."

Lalu sambil berpaling dan memandang sekejap kearah semak
belukar dihadapannya, ia berkata lebih jauh :
"Yang menarik perhatianku justru perasaanku yang mengatakan
bahwa didalam sana, agaknya terdapat seseorang yang sedang
menderita luka parah, terus terang saja aku sedang menaruh
perhatian atas dirinya."
"Apa yang kau inginkan?" bentak Beng Gi ciu dengan suara
dalam lagi berat.
Buru-buru Kakek berambut putih itu menggoyangkan tangannya
berulang kali seraya berkata :
"Harap nona jangan salah paham, aku sudah menyembuhkan
beribu-ribu penyakit yang diderita orang, sudah memeriksa keadaan
luka yang diderita beribu jago, tentu saja perhatian yang kucurahkan
saat ini adalah luka yang diderita rekanmu itu."
Kemudian sambil menepuk buli-buli dipunggungnya, dia berkata
lebih jauh :
"Bila aku tak berhasil mendapatkan uang lagi, bisa jadi aku betulbetul
akan mati kelaparan."
setengah percaya setengah tidak, Beng Gi ciu berseru :
Lotiang benar-benar tidak mempunyai tujuan yang lain?
Apa tujuan yang lain itu? kakek itu balik bertanya dengan wajah
amat serius.
Beng Gi ciu termenung s ej enaki lalu berkata :
Peristiwa ini terlampau aneh dan susah membuat orang untuk
mempercayainya, coba bayangkan sendiri, apa sebabnya kau
menelusurijulan yang terpencil seperti ini ditengah malam buta dan
kebetulan sekali mengapa kau memiliki ketajaman daya cium yang
jauh lebih tajam daripada penciuman anjing. Kemudian dengan
suara dalam ia berkata lebih jauh :
"Terus terang saja kukatakan, aku agak mencurigai dirimu
sebagai kaki tangan dari partai kupu-kupu"
sambil tertawa Kakek berambut putih itu menggeleng kepalanya
berulang kali, ujarnya :
"akupun pernah mendengar tentang berita munculnya kembali
partai kupu-kupu didalam dunia persilatan, terus terang saja
kukatakan, aku sendiripun amat membenci orang-orang partai kupukupu,
bila keadaan mengijinkan aku pun ingin sekali membunuh
beberapa orang anggota dari partai kupu-kupu."
"Mengapa?" Tanya Beng Gi ciu keheranan.

Mendadak Kakek berambut putih itu menjadi emosi, sambil
mengkertak gigi kencang-kencang katanya :
"sebab aku mempunyai ikatan dendam kesumat sedalam lautan
dengan mereka..tatkala partai kupu-kupu kehilangan kitab pusaka
Thian goan bu boh pada seabad berselang dan melakukan
pembantaian didalam dunia persilatan, leluhur ku terbunuh pula
ditangan mereka."
Menurut hasil pengamatan Beng Gi ciu, dia menemukan kalau
Kakek berambut putih itu sama sekali tidak berbohong, karena rasa
benci dan dendam yang menyelimuti wajahnya tak mungkin bisa
ditunjukkan orang lain. Maka katanya kemudian sambil tersenyum,
"Tentunya lotiang sangat mahir didalam ilmu pertabiban?"
"Telah kukatakan tadi, biar pun penyakit itu berada didalam
ataupun diluar, aku sanggup membuatnya sembuh sama sekali."
"Ditinjau dari kesanggupan lotiang untuk mengendus seseorang
diantara kami menderita luka dalam yang cukup parah,
membuktikan kalau kemampuan lotiang memang sangat hebat,
silahkan"
"Haaaahh.haaaahhhaaahh.kalau begitu transaksi kita pasti akan
berhasil." Tukas si kakek dengan wajah kegirangan.
Beng Gi ciu manggut-manggut.
"Yaa, bila lotiang memang mampu menyembuhkan luka, tentu
saja siauli merasa amat bersyukur dan berterima kasih sekali."
"Bagus sekali kalau begitu, bagus sekali, tapi kami harus
memeriksa keadaan luka nya lebih dulu sebelum berbicara soal
harga, silahkan nona mengajakku menjumpainya."
Beng Gi ciu tidak ragu-ragu lagi, dia berjalan lebih dulu menuju
ketempat persembunyian Kho Beng serta siau wan.
sambil membawa tongkat bambunya, Kakek berambut putih itu
mengikuti dibelakangnya.
Mula-mula dia memperhatikan dulu seluruh tubuh Kho Beng
dengan seksama, kemudian baru katanya :
"Luka yang dideritanya tidak enteng, masalahnya darahnya telah
membeku didalam isi perutnya..apakah nona telah memberi obatobatan
kepadanya?"
"Ya a" sinona mengangguk, "Aku hanya memberi obat penambah
darah untuk memperkuat kondisi tubuhnya."
sekali lagi Kakek berambut putih itu memperhatikan air muka Kho
Beng, selang beberapa saat kemudian dia baru berkata :

"Kalau kita ikuti cara pengobatan yang nona lakukan paling tidak
masih dibutuhkan waktu selama sepuluh hari untuk menyembuhkan
kembali lukanya itu, lagipula dalam sepuluh hari ini dia tak boleh
bergerak ataupun melakukan gerakan yang melelahkan, terutama
sekali tak boleh emosi dan menuruti gejolak perasaan sendiri, kalau
tidak keselamatan jiwanya akan berbahaya sekali."
"Betul Pandangan lotiang memang tepat sekali" puji Beng Gi ciu
dengan perasaan kagum. setelah berhenti sejenak, desaknya lagi :
"Menurut cara pengobatan yang lotiang lakukan, kira-kira
beberapa lama yang dibutuhkan?"
Kakek berambut putih itu tersenyum.
"Biarpun luka dalamnya cukup parah, aku Cuma membutuhkan
waktu setengah peminuman untuk bisa membuatnya sembuh dan
segar kembali seperti sedia kala"
"Hanya setengah peminuma n teh saja dapat memulihkan
kembali kesehatannya?" hampir saja Beng Gi ciu melompat bangun
saking kagetnya,
"Lotiang kan tidak sedang bergurau, bukan?"
Dengan suara dalam Kakek berambut putih itu berkata :
"Kalau persoalan yang lain boleh saja kita bergurau, tapi dalam
soal mengobati penyakit, hal semacam ini tak boleh sekali-kali
sampai terjadi, aku bukan termasuk manusia macam begitu."
Beng Gi ciu menjadi kegirangan setengah mati, segera serunya :
"Baiklah, bila lotiang benar-benar mampu menyembuhkan
lukanya dalam setengah peminumanteh saja, siauli pasti akan sangat
berterima kasih kepadamu."
"Bagus sekali," Kakek berambut putih itu tersenyum,
"Tapi. .kita harus membicarakan soal bayarannya dulu."
"Berapa tahil yang lotiang minta?" Tanya si nona agak tertegun.
Kakek berambut putih itu termenung serta berpikir sebentar,
kemudian sahutnya sambil tertawa,
"Dalam transaksi yang terjadi pertama kali, aku merasa canggung
untuk membuka harga keliwat tinggi, dari para pasien, kedua jadi
mengurungkan niatnya"
setelah garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal, dia baru berkata
:
"Bagaimana kalau lima tahil perak, bersediakah kau
membayarnya?"
Beng Gi ciu segera tersenyum,

"Bila kau minta lima ribu atau lima laksa tahil peraki mungkin
siauli tak mampu membayar sekaligus, tapi kalau Cuma lima tahil
peraki itu mah tak terhitung seberapa."
sambil berpaling kearah siau wan, segera bentaknya :
"Ambil lima tahil emas dan serahkan kepada lotiang ini"
siau wan jadi tertegun.
"Nona, dia kan cuma menghendaki lima tahil peraki bukan lima
tahil emas."
"Tak usah banyak bicara lagi" tukas Beng Gi ciu sambil tertawa,
"Cepat ambil keluar dan serahkan kepadanya"
Terpaksa siau wan mengiakan, dengan rasa berat hati dia
membuka buntalannya dan mengeluarkan sebatang emas sambil
disodorkan kemuka.
Kontan saja paras muka Kakek berambut putih itu berubah
menjadi berseri-seri karena kegirangan, katanya :
"Lima tahil emas..wow, ini berarti nilainya hampir mencapai
seratus tahil perak. nona, kau.."
"Tak terhitung seberapa, terima saja." Tukas si nona hambar.
Kakek berambut putih itu segera menyimpan batangan emas
tersebut kedalam sakunya, kemudian ia mengambil buli-bulinya dan
mengeluarkan sebutir pil berwarna putih, katanya kemudian :
"Apakah kantung air nona berisi air?"
"Ya a, ada" Beng Gi ciu mengangguk. sambil berkata dia
melepaskan kantung airnya.
Kakek berambut putih itu menyodorkan pil bewarna putih tadi
kehadapan sinona sambil berkata :
"silahkan nona melolohkan obat tersebut kedalam mulutnya."
Beng Gi ciu menerima pil tadi, diamati sejenak lalu berdiri
termangu, tampaknya dia merasa agak ragu-ragu.
sambil menggelengkan kepalanya dan tertawa, Kakek berambut
putih itu bertanya :
"Apakah nona masing sangsi?"
"Ya a, mungkin saja aku memang banyak curiga,"
"tapi Aku cukup memahami perasaan nona." Tukas si kakek
cepat.
"Apa yang kaupahami?" Tanya Beng Gi ciu agak tergetar.
Mendadak Kakek berambut putih itu berkata dengan ilmu
menyampaikan suara :

"Nona tidak akan gusar bila aku berbicara blak-blakan dan terus
terang?"
"Katakan saja terus terang" sahut Beng Gi ciu dengan perasaan
agak tergetar.
Tentu saja jawaban dari si nona pun diberikan dengan ilmu
menyampaikan suara. sambil tersenyum kakek itu berkata :
"Aku lihat pemuda itu tentulah kekasih hati nona bukan,
karenanya nona bagitu menguatirkan keselamatan jiwanya?"
"Aaahi ngaco belo" seru Beng Gi ciu dengan wajah bersemu
merah karena jengah.
Kakek berambut putih itu tertawa terbahak-bahak dan segera
mengalihkan pandangan matanya kearah lain.
Beng Gi ciu tidak ragu-ragu lagi, dengan cepat ia menjejalkan pil
tersebut kedalam mulut Kho Beng.
Paras muka Kakek berambut putih itu segera berubah serius
kembali, buru-buru dia mendekati Kho Beng dan bertanya lembut :
"Bagaimana rasanya pil tersebut?"
"Rada getir, tapi setelah berada dalam perut rasanya
menyegarkan"
"Kalau begitu tak salah lagi, cepat kau himpun tenaga dalammu
dan membawa sari obat tersebut keseluruh badan, aku jamin
kesehatan tubuhmu segera akan pulih kembali seperti sedia kala."
Kho Beng segera memejamkan matanya rapat-rapat dan meng
ikuti petunjuk tersebut mulai mengatur pernapasan.
sementara itu Beng Gi ciu serta siau wan menjaga disisi arena
dengan wajah teggng dan serius.
Benar juga, tak sampai setengah peminuman teh kemudian, Kho
Beng telah membuka matanya kembali.
Kho kongcu Beng Gi ciu segera menegur dengan agak emosi,
"Kau.."
Kesegaran telah memancar dari balik wajah Kho Beng, tiba-tiba
dia melompat bangun seraya berkata :
"Aku. benar- benar telah segar kembali."
Beng Gi ciu menjadi kegirangan setengah mati, siau wan pun
turut memuji kehebatan kakek itu, katanya :
"Locianpwee, obatmu benar-benar amat mujarab, rupanya
khusus dipakai untuk mengobati luka dalam? Lain waktu aku tentu
akan membantumu untuk menyiarkan nama besarmu dimana-mana,
tanggung kau pasti akan menjadi kaya raya."

Kakek berambut putih itu tertawa.
"Aku tidak mengharapkan punya nama besar, asal bisa mendapat
sejumlah uang sebagai biaya dihari tuaku serta sebuah peti mati
untuk mengubur jenasahku lain waktu, rasanya itu sudah lebih dari
cukup bagiku untuk pulang kedusun."
"Kau orang tua, apakah masih punya keluarga lain?" Kakek itu
menggeleng.
"Aku siorang tua adalah manusia bernasib jelek, sejak dilahir
sudah hidup seorang diri, sampai saat ini pun aku tetap hidup
sebatang kara tanpa anak tanpa bini."
"ooooh . kasihan benar," bisik siau wan simpatik. Kemudian
setelah berhenti sejenak, kembali ujarnya,
"Kau bilang sejak dilahirkan sudah hidup sebatang kara, aku
kurang percaya dengan perkataan itu, apakah.."
sambil menghela napas, Kakek berambut putih itu menyela :
"Bila sudah kuterangkan nanti, kau pasti akan menjadipaham.
Disaat ibu sedang mengandung aku, ayahku dibunuh orang secara
keji, lalu dikala ibuku melahirkan aku dia mengalami kesulitan dalam
kelahiran sehingga terjadi pendarahan hebat, akibatnya aku lahir
diapun ikut mati. Aaaai.justru aku bernasib agak baikan ternyata aku
bisa hidup sampai berusia sembilan puluh tahunan tanpa sekalipun
menderita sakit."
"Kau telah berusia sembilan puluh tahunan?" seru siau wan
tercengang, "Wahi aku tak menyangka."
"Lalu menurut pendapatmu, berapa usiaku sekarang?"
"Paling banter baru berusia tujuh puluh tahunan."
Mendadak terdengar Kho Beng mengeluh :
"Aduuuuh ada yang kurang beres."
"Apanya yang kurang beres?" Tanya Beng Gi ciu dengan
perasaan amat terkejut.
Tampak paras muka Kho Beng berubah sangat hebat, peluh
dingin telah membasahi seluruh badannya, setelah menghela napas
sedih, ia terduduk kembali keatas tanah. siau wan turut gelisah,
sambil menghampiri teriaknya cemas,
"Kho kongcu, sebenarnya apa yang kau rasakan? cepat katakan"
"Aaaai punggungku" seru Kho Beng menghela napas.
"Mengapa dengan punggungmu?" Tanya Beng Gi ciu dengan
perasaan amat terkejut.

"Linu, sakit bagaikan ditusuk jarum, aku tak mampu meluruskan
badanku kembali."
Sekarang Beng Gi ciu baru mengetahui bahwa Kho Beng telah
membungkukkan badannya persis seperti udang, dengan perasaan
kaget bercampur gelisah dia segera berpaling kearah Kakek
berambut putih itu, tegurnya
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
"sudah pasti penyakitnya berasal dari pil tadi" seru siau wan pula
sambil meraba gagang pedangnya.
Kakek berambut putih itu mengerutkan dahinya kencangkencang,
katanya :
"obat yang kugunakan tak mungkin salahi aku men.." setelah
berhenti sejenak, katanya lagi dengan suara dalam :
"Cepat. .suruh dia membaringkan diri biar kulakukan pemeriksaan
yang seksama, aku percaya dalam waktu singkat dapat menemukan
penyebabnya."
Berada dalam keadaan begini, Beng Gi ciu tidak berpikir lebih
jauhi dia segera turun tangan sendiri membaringkan Kho Beng
keatas tanah, kemudian melepaskan pula pakaian yang dikenakan.
Kakek berambut putih itu cepat-cepat berjongkok dan melakukan
pemeriksaan dengan seksama.
Tapi sebentar saja dia sudah mendongakkan kepalanya dan
berseru sambil menghentakkan kakinya keatas tanah :
"Aduh celaka."
"sebenarnya apa yang terjadi?" buru-buru Beng Gi ciu bertanya.
setelah menghela napas, Kakek berambut putih itu berkata :
"Semula kukira dia hanya menderita luka dalam, siapa tahu dia
pun sudah menderita keracunan hebat.."
"Ia sama sekali tidak keracunan" kata Beng Gi ciu sambil
menggretak gigi.
"Dari raut mukanya kau tak akan melihat kalau dia sudah
keracunan, kalau bukan begitu racun tersebut tak bisa dibilang
sebagai racun luar biasa."
sambil menunding kearah tulang punggung Kho Beng, dia
berkata lebih lanjut :
"sudah kau lihat bekas merah ditulang punggungnya itu?"
Beng Gi ciu serta siau wan berebut melihat arah yang ditunjuk
kakek berambut putih itu, benar juga diantara tulang punggung

pemuda tersebut benar-benar terdapat sebuah bekas garis panjang
bewarna merah.
sambil menghela napas dan menggelengkan kepalanya berulang
kali, Kakek berambut putih itu berkata :
"Jangan kau anggap remeh garis merah tersebut, padahal inilah
gejala yang khas dari racun Ang bong tok, salah satu racun yang
terkeji didunia ini."
"Apa yang bisa terjadi dengan seseorang yang terkena racun Ang
bong tok tersebut?" Tanya Beng Gi ciu gelisah. Kakek berambut
putih itu tertawa getir :
"Dalam satu bulan ilmu silatnya akan musnah, tiga bulan
kemudian tulang belulangnya membusuk jadi darah kental dan lima
bulan kemudian selurh tubuhnya akan membusuk sebelum mati
dalam keadaan yang amat mengerikan."
Berubah hebat paras muka Beng Gi ciu setelah mendengar
ucapan tersebut, tanyanya kemudian :
"Lantas apa yang mesti kita perbuat sekarang?"
Dengan suara dalam Kakek berambut putih itu berkata :
"Andaikata gejala keracunan ini bisa kuketahui lebih awal
mungkin bisa diatasi lebih mudah, tapi sekarang kita mesti
memunahkan racun tersebut lebih dulu sebelum menyembuhkan
lukanya, tapi kini berhubung racun tersebut belum punah padahal
tenaga dalamnya telah pulih kembali, keadaan tersebut semakin
mempersulit usaha pengobatan yang hendak kulakukan."
"sebenarnya apakah masih ada cara untuk menyembuhkan
lukanya atau tidak?" Tanya Beng Gi ciu sambil menggertak gigi.
Kakek berambut putih itu tertawa angkuh.
"sudah kukatakan tadi, selamanya belum pernah ada penyakit
yang gagal kusembuhkan, bila kubilang tak sanggup, bukankah
sama artinya dengan merusak nama sendiri, hanya saja"
setelah biji matanya berputar sejenak kian kemari, dia berkata
lebih lanjut :
"Untuk pengobatan luka semacam ini, aku benar-benar
menjumpai banyak kesulitan."
Disaat biji matanya berputar inilah Beng Gi ciu dapat melihat
dengan jelas bahwa dibalik sinar matanya seakan-akan terpancar
sifat licik, keji dan jahatnya. Namun setelah dipikir sebentar,
terpaksa dengan nada merengek katanya lagi :

"Lotiang adalah tabib Hua tou jaman sekarang, bagaimana juga
kau harus berusaha untuk menyelamatkannya ."
Tentu saja Kakek berambut putih itu manggut-manggut,
"tapi. .kali ini tak mungkin lukanya bisa kusembuhkan hanya
dalam waktu setengah peminuman teh saja."
"Peduli berapa waktu pun yang kau butuhkan, asal lotiang bisa
menyembuhkan lukanya, itu sudah cukup, siauli pasti akan berterima
kasih sekali padamu." Kakek berambut putih itu berpikir sebentar,
lalu katanya :
"Kali ini bukan dengan biaya lima tahil emas saja bisa
menyembuhkan luka tersebut."
Rasa tidak simpatik segera timbul didalam hati kecil Beng Gi ciu,
namun ia tidak mempersoalkan masalah kecil tersebut, katanya :
"Terserah berapa pun biaya yang kau minta, coba terangkan
berapa jumlah yang kau inginkan?"
"Begini saja, bagaimana kalau ditambah dengan sepuluh kali
lipat? siau wan, berikan dua puluh tahil emas kepadanya." seru Beng
Gi ciu tanpa ragu. sambil menggertak gigi siau wan segera berseru :
"Nona, dia pasti seorang penipu, sudah jelas dia telah
membohongi kita habis-habisan, apakah kau bersedia dibohongi
sekali lagi."
"Kau tak usah banyak bicara, siapa sih yang menyuruh kau tak
tahu aturan?" tegur Beng Gi ciu dengan suara dalam.
Namun siau wan tetap merasa tak puas, katanya lebih jauh :
"Nona, dengan asal usul kita yang terhormat selama hidup belum
pernah ditipu orang mentah-mentah. Mengapa kau bersedia
menuruti perkataan situa Bangka ini? sudah jelas racun tersebut
berasal dari dalam pil yang diberikan olehnya tadi."
"Tutup mulut" bentak Beng Gi ciu gusar.
Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya lagi :
"Persoalan ini menyangkut hidup mati Kho kongcu, siapa suruh
kita kurang berhati-hati sehingga dipecundanginya? Apakah kau
masih merasa saying dengan uang sebesar lima puluh tahil emas
itu?"
siau wan tidak banyak bicara lagi, dia segera mengeluarkan
sebatang emas dan diserahkan kepada Beng Gi ciu.
Tanpa merasa sayang barang sedikitpun Beng Gi ciu
menyerahkan batangan emas tersebut kepada Kakek berambut putih
tadi, katanya :

"Ini lima puluh tahil emas, silahkan lotiang menerimanya." Kakek
berambut putih itu tertawa terkekeh-kekeh :
"Bila kudengar dari pembicaraan nona serta budak tersebut,
seakan-akan kau menuduh racun tersebut berasal dari obat yang
kuberikan tadi bukan?"
"siauli telah salah bicara, harap lotiang sudi memaafkan," sahut
Beng Gi ciu dengan wajah tanpa emosi.
Kakek berambut putih itu menggelengkan kepalanya berulang
kali, katanya :
"Walaupun aku amat membutuhkan uang tapi aku lebih
mementingkan soal nama, bila kalian berdua merusak nama baikku
aku tak terima"
"Lantas apa yang lotiang kehendaki?" Tanya Beng Gi ciu sambil
menggigit bibir menahan diri
"Emas ini aku tak akan menerimanya lebih dulu, tunggu saja
sampai aku berhasil menyembuhkan luka racunnya itu."
"Dengan cara apa lotiang hendak mengobati lukanya? Apakah
diberi obat yang lain?" Kakek berambut putih itu segera tertawa
dingin :
"ang bong tok merupakan racun paling keji didunia ini, belum
pernah kudengar kalau didunia ini terdapat obat-obatan yang
mampu memunahkan racun tersebut?"
"Lantas apa yang hendak kau perbuat?" Tanya Beng Gi ciu
dengan wajah berubah menjadi pucat pias seperti mayat.
"Hanya ada satu cara yakni menghisap keluar sisa racun yang
berada didalam tubuhnya dengan tangan dingin. "
Kemudian setelah memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu,
kembali dia berkata :
"Mustahil bagiku untuk melakukan pengobatan ditempat seperti
ini, aku pikir hendak kubawa ke kuil Hian thian koan dibukit Wang hu
san."
"Apakah harus berbuat demikian?" Tanya Beng Gi ciu sambil
menghela napas panjang. Kakek berambut putih itu mendengus :
"Masih ada sebuah cara lagi, yaitu aku angkat tangan dan pergi
dari sini. Nah, silahkan nona memilih sendiri"
Beng Gi ciu termenung berapa saat lamanya, setelah itu dia baru
berkata dengan suara dalam :
"Baiklah aku akan menuruti kehendak lotiang." Kakek berambut
putih itu tertawa terbahak-bahak :

"Haaaahhhi.haaahhhaaahhhhi.nona memang seorang yang tegas
dan cepat mengambil keputusan, ketegasanmu jauh melebihi lakilaki
sejati, bagus..bagus sekali"
Saat itu paras muka Beng Gi ciu telah berubah menjadi dingin
dan kaku bagaikan sebuah batu karang, sepatah demi sepatah ia
berkata kepada siau wan : "Mari kita gotong Kho kongcu dan segera
berangkat"
"Tunggu dulu" mendadak Kakek berambut putih itu mengulapkan
tangannya mencegah.
"Apakah lotiang masih ada pesan lain?" Tanya si nona agak
tertegun.
"Kuil Hian thian koan dibukit Wang hu san bukan merupakan
tempat yang bisa dikunjungi kaum wanita, lebih baik serahkan saja
pemuda itu kepadaku."
Paras muka Beng Gi ciu seketika berubah menjadi lebih tak sedap
lagi, sambil menggigit bibir katanya : "soal ini."
"Nona toh seorang yang tegas dalam mengambil keputusan,
apakah kau tak bersedia?" Rengek Kakek berambut putih sambil
tertawa.
Kemudian setelah berhenti sejenak dengan suara dalam ia
berkata lebih jauh :
"Menggunakan sisa waktu yang luang ini, nona toh bisa
memanfaatkannya untuk melakukan penyelidikan apakah Kho
kongcu benar-benar telah keracunan Ang bong tok lebih dulu,
kemudian kita baru menentukan waktu dan alamat guna saling
menyerahkan orang dan uang "
"Apakah kau mempunyai keyakinan untuk menyembuhkan
lukanya itu??"
"Bila tak berhasil kusembuhkan luka tersebut, bukan saja aku tak
akan menerima lima puluh tahil emas tersebut, bahkan aku pun
akan menyerahkan selembar jiwaku ini kepadamu." Beng Gi ciu
segera manggut-manggut.
"Kalau begitu silahkan lotiang menentukan waktu serta
tempatnya."
Kakek berambut putih itu berpikir sebentar kemudian jawabnya :
"Bagaimana kalau sepuluh hari kemudian didepan bukit Wang hu
san?"
"Baik kita tetapkan dengan sepatah kata ini." sahut si nona
seraya mengangguk.

sementara itu racun yang mengeram didalam tubuh Kho Beng
sudah mulai bekerja, peluh dingin membasahi seluruh tubuhnya,
kesadarannya pun berada dalam keadaan ada dan tidak ada,
karenanya terhadap pembicaraan yang berlangsung antara kedua
orang itu pun dia seperti mendengar seperti jUga tidak, yang pasti
sama sekali tiada reaksi dari dirinya pribadi.
Dengan langkah cepat Kakek berambut putih itu berjalan
mendekati Kho Beng dan membopongnya, kemudian sambil tertawa
ia berkata :
"Kita berjumpa lagi sepuluh hari kemudian"
sambil membalikkan badan, tanpa berpaling lagi dia beranjak
pergi dari situ dengan langkah lebar.
Mengawasi bayangan punggungnya hingga lenyap dari
pandangan mata, tanpa terasa Beng Gi ciu menghela napas panjang.
siau wan pun tak mampu menahan diri lagi, dengan air mata
bercucuran bisiknya : "Nona"
Mendadak Beng Gi ciu berpaling seraya menegurnya untuk tidak
menangis.
siau wan menyeka air matanya yang membasahi wajahnya, siau
wan berkata amat sedih :
"Nona, bukankah kau sendiri sedang menangis?"
Beng Gi ciu tertegun, sekarang dia baru menyadari bahwa dia
sendiripun telah melelehkan air mata.
Kontan saja paras mukanya berubah menjadi merah padam,
buru-buru dia menyeka air mata dipipinya.
setelah menghela napas panjang, siau wan berseru :
"Nona dihari-hari biasa, kau adalah seorang yang berhati keras,
mengapa kau bersedia dipermainkan kakek tersebut semaunya
sendiri?" sambil tertawa getir, Beng Gi ciu menggeleng.
"siapa suruh aku telah salah menilai orang"
"Jadi menurut nona, dia juga yang telah melepaskan racun keji
itu?"
"Ya a, paling tidak tujuh delapan puluh persen adalah hasil
perbuatannya." sahut sinona serius.
sambil menggertak gigi, siau wan berseru lagi :
"Kalau toh kau sudah mengetahui akan hal ini, mengapa kau
biarkan dia membawa pergi Kho kongcu?"
"Apa boleh buat? selain dia seorang mungkin tiada orang kedua
yang mampu menyembuhkan racun didalam tubuh Kho kongcu."

"Menurut pendapatmu, apakah dia benar-benar akan
memunahkan racun yang bersarang dalam tubuh Kho kongcu?"
"Paling tidak kita harus menyerempet bahaya dengan melakukan
suatu pertaruhan besar."
Cepat-cepat siau wan menggeleng, katanya :
"seandainya aku menjadi nona, akan kutangkap orang itu lalu
memaksanya untuk menyerahkan obat pemunah racun tersebut,
asal kita iris daging tubuhnya sepotong demi sepotong, aku percaya
akhirnya dia pasti akan menyerah."
Beng Gi ciu segera menghela napas panjang.
"Aaaai.anak bocah, kau tidak mengerti akan kelicikan dan
kebusukan orang dunia persilatan, bila kau sampai berbuat
demikian, sama artinya kau telah mencelakakan jiwa Kho kongcu."
"Asal kita bisa memaksanya untuk menyerahkan obat penawar
racun tersebut, bukankah racun yang bersarang dalam tubuh Kho
kongcu akan lenyap dan kesehatan tubuhnya akan pulih kembali,
kenapa..?"
Kembali Beng Gi ciu menggelengkan kepalanya berulang kali,
katanya :
"Pertama, agaknya ilmu silat yang dimiliki tua Bangka itu tidak
berada dibawah kemampuanku, andaikata betul-betul sampai terjadi
pertarungan, masih susah untuk diramalkan siapa yang bakal
menang."
"Tapi budak kan bisa membantumu, apa yang mesti kita takuti?"
seru siau wan dengan penuh emosi.
Beng Gi ciu segera tertawa getir :
"sekalipun kita berhasil mengungguli dirinya, belum tentu bisa
memaksanya untuk menyerahkan obat pemunah racun tersebut,
sekalipun dia menyerahkan obat penawar racun tersebut, belum
tentu obat itu dapat memunahkan racun yang bersarang ditubuh
Kho kongcu."
"Kenapa?" Tanya siau wan sambil membelalakkan matanya lebarlebar.
"Kemungkinan besar obat yang diserahkan kepada kita benarbenar
dapat memunahkan racun yang bersarang ditubuh Kho
kongcu tapi bisa jadi obat tersebut merupakan racun keji jenis
lainnya, sehingga menyebabkan Kho kongcu mati tanpa disadari."
setelah berhenti sebentar, dia berkata lagi :

"Kita berdua sama-sama tidak memahami sifat racun ataupun
obat, apakah kita mampu untuk mencegah terjadinya peristiwa
macam begitu?"
sambil menggigit bibir siau wan segera berseru :
"Waaaahi kejadian semacam ini benar-benar amat
berabe,..aaai.."
Mendadak Beng Gi ciu tertawa pedih, katanya lagi :
"Walaupun demikian keadaannya, tapi aku rasa diapun tak akan
berani bermain gila dengan ku, kecuali dia memang sudah bosan
hidup."
"Mengapa nona mempunyai keyakinan begini?"
"Coba kau lihat apakah itu?" ucap Beng Gi ciu sambil menunding
kemuka dan tertawa.
siau wan segera berpaling kearah mana yang ditunjuki tanpa
terasa serunya dengan tercengang :
"sejak kapan kau perlihatkan kesemuanya ini?"
"Tadi, sewaktu pembicaraan sedang berlangsung," sahut si nona
sambil tertawa.
Ternyata diatas batu cadas itu telah muncul sebuah tusukan jari
tangan yang dalamnya mencapai satu inci lebih, bekasnya masih
baru, ini berarti baru saja dilakukan Beng Gi ciu.
"Nona, kapan kau lakukan serangan dengan jari tanganmu?"
kembali siau wan bertanya dengan keheranan.
"Tadi, sewaktu kita sedang berbincang-bincang."
"Tapi, apalah gunanya?" Tanya siau wan tak habis mengerti.
Beng Gi ciu segera tersenyum,
"Aku berharap agar dia tahu bahwa aku adalah keturunan dari
tiga dewa." Kemudian dengan pancaran sinar tajam dari balik
matanya, dia berkata lebih jauh :
"aku rasa belum ada seorang manusia pun dalam dunia persilatan
dewasa ini yang berani cari gara-gara dengan keturunan tiga dewa,
aku rasa dengan mengandalkan ilmu jari Tong kim ci tersebut,
mungkin kita bisa membuatnya keder dan berpikir berapa kali
sebelum berbuat."
"Andaikata dia tak sampai keder dibuatnya."
"Kita masih mempunyai sebuah cara lagi, mari kita ikuti jejaknya"
kata Beng Gi ciu sambil menggigit bibir.
"Yaa benar," sorak siau wan gembira,

"barusan aku memang ingin mengajak nona untuk berbuat
demikian, asal kita mengikuti terus jejaknya, maka andai kata
sampai terjadi hal-hal yang tak diinginkan, kita masih mempunyai
kesempatan untuk memberikan pertolongan."
"Benar," Beng Gi ciu mengangguk,
"Mari kita segera berangkat" siau wan mengangguk berulang kali.
Maka bersama Beng Gi ciu mereka berkelebat kedepan
melakukan pengejaran terhadap Kakek berambut putih tadi dengan
kecepatan bagaikan sambaran petir.
-ooo00000ooo-
Kho Beng sama sekali tidak mengerti dari mana datangnya racun
yang menyerang tubuhnya, sebab pikiran dan kesadarannya terasa
kosong, kalut hingga tak berkemampuan lagi untuk berpikir.
Namun ia mengerti kalau tubuhnya saat itu sedang dibopong oleh
si Kakek berambut putih tersebut, beberapa kali dia ingin membuka
mulut untuk bertanya, namun sungguh aneh sekali, tak sepatah
katapun yang sanggup siucapkan keluar dari mulutnya.
Ia Cuma merasakan punggungnya bagaikan mau patah, setiap
gerak langkah Kakek berambut putih itu segera mendatangkan
perasaan sakit yang membuat hampir saja ia jatuh pingsan.
setelah membuang waktu hampir satu jam lamanya, akhirnya
sampailah mereka dibukit Wan husan, namun pikiran dan kesadaran
Kho Beng semakin menghilang.
Bukit Wan hu san bukan termasuk bukit yang besar, namun
pepohonan yang tumbuh disitu amat rimbun, bukit dengan daratan
yang terjal terbentang dimana-mana.
sambil bersenandung lirih, Kakek berambut putih itu meneruskan
perjalanannya menaiki bukit.
Dipuncak bukit terdapat sebuah kuil yang besar, bangunan itu
sangat besar lagi megah. Kakek berambut putih itu tidak memasuki
kuil lewat pintu depan, tapi melompati dinding pekarangan dan
bagaikan sukma gentayangan lenyap dibalik bangunan berloteng.
Waktu itu fajar baru menyingsing, suasana gelap masih
mencekam seluruh bangunan kuil itu.
Didalam kuil tiada arca, tapi berjajar lima buah peti mati yang
kelihatannya masih baru.
Dengan wajah gembira kakek itu membaringkan Kho Beng keatas
tanah, kemudian sambil menepuk jidatnya dia berseru :
"Hey anak muda, cepat bangun"

Kho Beng segera membuka matanya, namun sorot matanya
Nampak sayu dan kelihatan kosong.
Kakek itu segera membuka buli-bulinya, mengeluarkan sebuah
botol berisi bubuk obat, setelah dioleskan didepan lubang hidung
pemuda tadi, katanya lagi sambil tertawa :
"sekarang apakah kau sudah merasa agak baikan?"
Dengan sepenuh tenaga Kho Beng mengendus obat yang
diusapkan didepan lubang hidungnya itu kemudian sambil
mengawasi sekejap sekeliling tempat itu, ia menjawab :
"Dimana aku berada sekarang?"
"Tak usah buru-buru ingin tahu, sebentar kau toh akan
mengetahui dengan sendirinya," jawab si kakek sambil tertawa.
Kemudian setelah membangunkan pemuda tersebut, katanya lagi
:
"Mari kita menuju kebawah sana"
sambil maju dua langkah kedepan, dia membuka penutup peti
mati dari salah satu peti mati yang berjajar disana.
Peti mati itu tidak mempunyai sesuatu keistimewaan, didalamnya
kosong melompong tiada suatu yang luar biasa.
Tapi Kho Beng segera membelalakkan matanya lebar-lebar,
dengan wajah bingung katanya
"Lotiang..apakah luka yang kuderita terlalu prah hingga hingga
kau . "
Kakek berambut putih itu tertawa tergelak :
"Haah.haaahh.haahh bocah bodoh, kaujangan salah paham, aku
situa bukan bermaksud membaringkan badanmu kedalam liang
kubur, umurmu masih amat panjang"
"Lantas peti mati ini?" Kho Beng berbisik dengan kening berkerut.
Kembali Kakek berambut putih tersenyum :
"Coba lihatlah "
Ketika ia menekan sebuah tombol yang berada dalam peti mati
itu, terdengarlah suara gemerincing nyaring bergema memecahkan
keheningan, papan yang berada pada dasar peti mati itu segera
bergeser kesamping dan muncullah sebuah lorong rahasia
dibawahnya. sambil tertawa kakek itu berkata kemudian :
"Kau sudah terkena racun yang amat keji bagaimanapun juga
luka tersebut harus disembuhkan ditempat ini, nah mari kita turun
kebawah."

Dengan langkah cepat dia berjalan masuk lebih dahulu kedalam
lorong rahasia dibawah peti mati tersebut.
Kho Beng bagaikan seorang yang telah kehilangan semangat dan
pikiran, tanpa mengucapkan sepatah katapun segera mengikuti
dibelakangnya turun kebawah.
Belum sampai mereka menuruni belasan anak tangga, kembali
bergema suara gemerincingan nyaring, ternyata peti mati tersebut
telah pulih kembali dalam keadaan semula.
Lorong dibawah tanah tersebut tidak terlalu panjang, belum lama
mereka berjalan, tibalah kedua orang itu disebuah ruangan batu
yang sangat luas dan lebar.
Ditengah ruangan batu itu terdapat sebuah meja altar, asap dupa
menyelimuti seluruh ruangan hingga membuat suasana disana
terasa seram dan amat serius. Dikedua belah sisi altar tergantung
tulisan yang berbunyi : 'Menghimpun setan-setan gentayangan di
seluruh dunia. Memelihara sukma penasaran dari empat penjuru.'
Kemudian dikedua belah sisi meja altar terdapat banyak sekali
patung-patung yang berwajah mengerikan, keadaan disitu tak
ubahnya seperti berada didalam neraka.
Kakek berambut putih itu mengajak Kho Beng menuju
kebelakang meja altar, disitu kembali dia membuka sebuah pintu
rahasia.
Letak ruang rahasia ini persis berada dibelakang meja altar,
keadaan dalam ruangan bersih dan rapi, selain terdapat sebuah
pembaringan dan sebuah meja kecil, segala sesuatunya terawatt dan
terpelihara sekali.
Kakek berambut putih itu menyuruh Kho Beng membaringkan diri
diatas pembaringan, lalu katanya sambil tertawa :
"Tahukah kau sedari kapan tubuhmu terkena racun yang amat
keji itu?"
Kho Beng menggelengkan kepalanya berulang kali, "Aku tak bisa
mengingatnya kembali."
Tapi kemudian seperti memahami akan sesuatu, setelah berpikir
sejenak kemudian katanya :
"Aku hanya teringat setelah menelan sebutir pil pemberian
lotiang, maka luka dalamku sembuh sama sekali, tapi kemudian."
Ia menghembuskan napas panjang dan berhenti berbicara.
sambil menggelengkan kepalanya berulang kali Kakek berambut
putih itu berkata :

"obat yang kuberikan kepadamu itu adalah obat yang mustajab
untuk menyembuhkan segala macam luka, obat tersebut merupakan
obat dewa yang tak ternilai harganya, racun yang mengeram
didalam tubuhmu sudah lama hilang, coba pikirkan kembali."
sambil memejamkan matanya rapat-rapat Kho Beng menggeleng,
katanya setengah bergumam
"Aku benar-benar tak bisa mengingatnya kembali, aku..aku
sangat lelah berilah kesempatan kepadaku untuk beristirahat."
"Tidak Tidak bisa Kau tak boleh beristirahat" seru Kakek
berambut putih itu sambil menggoncang-goncangkan bahunya,
"kau harus mengingat-ingat dulu persoalan ini, kemudian baru
aku akan turun tangan untuk menyembuhkanmu."
"Aku...aku amat lelah" bisik Kho Beng.
Kakek berambut putih itu segera mengeluarkan botol obatnya
tadi dan menggosokkan kembali sedikit bubuk dibawah lubang
hidung anak muda itu.
Tak lama kemudian terlihat Kho Beng mengendusi obat tersebut
kuat-kuat, sepasang matanya pun terpentang lebar kembali,
diawasinya Kakek berambut putih itu dengan termangu.
Mendadak dari balik mata Kakek berambut putih itu memancar
keluar dua buah cahaya hijau yang amat menggidikkan hati,
diawasinya wajah Kho Beng tanpa berkedip, sementara mulutnya
berkomat-kamit berbicara dengan suara yang tinggi melengking dan
amat menusuk telinga.
"Kau harus mengingat ingatnya, apa sebabnya kau sampai
keracunan?"
Perasaan ngeri, takut dan murung tahu-tahu menyelimuti seluruh
wajah Kho Beng, sepasang matanya bagaikan terhisap oleh cahaya
hijau yang menggidikkan hati itu, kembali gumamnya :
"Aku benar-benar tak dapat mengingatnya kembali"
"Kalau begitu aku perlu mengingatkan kepadamu, masih ingat
dengan partai kupu-kupu?"
Bagaikan baru tersadar dari ingatan, mendadak Kho Beng berseru
keras-keras :
"Ya a betul, aku sudah teringat kembali"
"Apa yang kau ingat kembali"
"Aku teringat sekarang secara bagaimana diriku sampai
keracunan"

Dengan perasaan gembira Kakek berambut putih segera berseru
:
"Kalau begitu cepat katakan"
Tanpa ragu-ragu Kho Beng berkata :
"Keempat budak dari Dewi In Un yang meracuni diriku, aku masih
teringat dengan jelas, sudah pasti mereka"
"Kalau begitu Dewi In Un yang meracuni dirimu?" seru si Kakek
berambut putih setengah bersorak karena gembira.
"Yaa betul, Dewi In Un, siperempuan siluman yang melakukan
semuanya ini"
"Kalau begitu, kau harus mengobati luka racunmu dengan hati
tenang dan tentram disini, kemudian baru pergi mencari siluman
perempuan itu untuk membalas dendam"
"Yaa.aku hendak mencincang tubuhnya sehingga hancur
berkeping-keping" seru Kho Beng sambil menggertak gigi menahan
diri
Kakek berambut putih itu tertawa terbahak-bahaki segera
serunya :
"Haaahhhaaahh.haahhhi.aku bersedia untuk mengobati luka
racun yang kau derita tapi yang penting adalah kau wajib menuruti
perkataanku serta melakukan kerja sama secara baik, mampukah
kau melakukannya? "
"Aku mampu" jawab pemuda itu cepat.
"Bagus sekali" Kakek berambut putih itu bertambah girang,
"mari, sekarang juga aku akan mengobati lukamu itu, kendorkan
semua pikiran dan badan, lalu pejamkan matamu rapat-rapat"
Kho Beng menurut dan segera melaksanakan apa yang diminta.
Lebih kurang setengah peminuman teh kemudian, tiba-tiba
terdengar Kakek berambut putih itu berseru :
"Pentang matamu lebar-lebar"
Kho Beng menurut dan segera mementang matanya lebar-lebar,
namun sekujur badannya segera bergetar keras, sebab yang
dilihatnya saat itu adalah dua buah sinar hijau yang sangat
menggidikkan hati.
Terdengar Kakek berambut putih itu berseru lagi dengan suara
yang berat lagi dalam.
Bersambung ke jilid 32
Jilid 32

"Kho Beng, tataplah sepasang mataku tanpa berkedip, jangan
kau gerakkan badanmu, jangan menggunakan tenaga, ingat, aku
sedang berusaha mengobati lukamu."
Kata-kata yang muncul dari bibirnya seakan akan mengandung
semacam kekuatan atau daya pengaruh yang susah dilawan,
membuat Kho Beng menuruti semua perintahnya tanpa membantah.
Mata, kecuali sinar mata terpancar dari balik matanya itu, Kho
Beng merasa dirinya seakan-akan sudah tak hadir lagi di dunia ini,
seolah-olah seluruh badannya punah dengan begitu saja, kecuali
sepasang sorot mata yang tak bergerak.
Tak lama kemudian, Kakek berambut putih itu mengerakkan
sepasang telapak tangannya, segumpal asap putih menyembur
keluar dari balik telapak tangannya itu dan menyelimuti seluruh
tubuh Kho Beng.
Tanpa disadari Kho Beng merasakan kembali tubuhnya bergetar
keras, tiba-tiba gumamnya :
"Dingin. dingin"
Namun Kakek berambut putih itu sama sekali tidak menghentikan
gerakannya, kabut putih yang menyebur keluar terus menerus
menyelimuti seluruh badan Kho Beng hingga sepenanak nasi
lamanya, setelah itu baru dia menghentikan perbuatannya.
Bersamaan waktunya, cahaya hijau yang memancar keluar dari
balik matanya pun turut hilang, ia pulih kembali kedalam keadaan
semula.
Dari balik buli-bulinya dia mengeluarkan sebutir pil merah dan
dijejalkan kemulut anak muda tersebut sambil berseru : "Cepat
telan"
Agaknya Kho Beng sudah tak berpikiran dan perasaan lagi,
sekarang dia hanya tahu menuruti semua perintahi bahkan tanpa
ragu barang sedikitpun dia telan pil merah itu.
selang berapa saat kemudian, Kakek berambut putih itu baru
bertanya dengan suara lembut :
"Bagaimana rasamu sekarang?"
"sudah ada baikan, tidak sedingin tadi lagi"
"Bagus sekali" kakek itu tertawa gembira, "Aku telah mendesak
keluar racun jahat itu dengan menggunakan ilmu hawa dingin, kau
harus tahu Ang bong tok merupakan racun paling jahat di kolong
langit, kecuali mempergunakan cara ini tiada cara lain yang bisa
digunakan untuk menyembuhkannya."

"Aku tahu." sahut Kho Beng kaku.
"sekarang berbaringlah dahulu dengan tenang, selanjutnya tiap
hari aku akan mengobati lukamu sebanyak dua kali, kurang lebih
sepuluh hari kemudian ia akan sembuh kembali seperti sedia kala."
"Baik kembali" sahut Kho Beng kaku.
"Apakah kau lapar?" tiba-tiba Kakek berambut putih itu bertanya
dengan lembut.
"Yaa, aku agak merasa lapar"
Kakek itu segera mengangguk :
"Beristirahatlah dulu dengan tenang, aku akan menyuruh orang
untuk menyiapkan hidangan bagimu"
Ia segera membalikkan badan berjalan menuju keluar, sementara
pintu kamar rahasia pun rapat kembali.
Kali ini dia tidak menuju kejalanan semula tapi berbelok ke sisi
kiri ruang tengah, disitu dia membuka pula sebuah pintu rahasia
yang lain.
Ternyata disekeliling meja altar terdapat dua buah pintu rahasia
yang berbeda letak. Dibalik pintu rahasia itu terdapat pula sebuah
ruang rahasia yang luasnya tak berbeda seperti ruangan dimana Kho
Beng berada, cuma saja disana tidak terdapat pembaringan, yang
tersedia hanya sebuah meja kecil serta dua buah kasur duduk.
Diatas meja kecil terdapat sebuah hiolo kecil yang mengepulkan
asap dupa, sementara diatas kasur duduk itu terdapat seorang tosu
tua yang kurus dan berambut putih sedang duduk bersila disana.
Ketika Kakek berambut putih itu sudah melangkah masuk ke
dalam ruangan, pintu rahasia kembali menutup rapat. Tosu tua itu
menegur :
"Bu liang siu hud, setan tua, tampaknya usahamu telah berhasil
dengan sukses"
Kakek berambut putih itu tertawa misterius :
"Tegasnya saja aku baru berhasil mendapat setengahnya saja."
"Apa maksud perkataanku itu?"
"Bocah muda itu mempunyai dasar kekuatan yang sangat
tangguh, andaikata tidak dibantu oleh pengaruh obat, hampir saja
aku tak mampu mengendalikan dirinya"
"Bagaimana sekarang?" Tanya si tosu ceking itu sambil tertawa.
"Dengan bersusah payah akhirnya aku berhasil juga menguasai
seluruh kesadarannya."

"Bukankah hal ini berarti kau sudah berhasil sembilan puluh
persen? waaah..pinto wajib menyampaikan selamat kepadamu"
"Persoalan ini merupakan urusan kita berdua," ucap Kakek
berambut putih itu dengan wajah serius,
"ada rejeki kita nikmati bersama, ada bencana kita tanggulangi
berbareng, berhasil atau gagal bukanlah urusanku seorang"
tosu tua itu Nampak tertegun, segera ujarnya :
"Jika kutinjau dari nada pembicaraanmu barusan, tampaknya
dalam persoalan ini sudah timbul kesulitan?"
"Darimana kau bisa menduganya?" dengus si kakek. tosu tua itu
balas mendengus .
"Hal ini sudah terlalu jelas membentang didepan mata, dengan
tabiatmu, seandainya tiada kesulitan yang timbul dari peristiwa ini,
tak mungkin kau akan bilang, ada rejeki dinikmati bersama, ada
bencana ditanggulangi berbareng"
Kakek berambut putih itu segera tertawa tergelak :
"Haaa..haaa.haaaa.tepat sekali, hitung-hitung kau memang
termasuk seorang yang hebat, sebetulnya persoalan ini bukan timbul
dari Kho Beng pribadi, tapi dia justru membawa ekor yang
memusingkan kepala."
"Ekor macam apa?"
Kakek berambut putih itu menghela napas :
"Ada seorang budak tolol jatuh cinta kepadanya, ia tak segansegan
mengobral uang untuk memohon pengobatan dariku, malah
darinya aku berhasil menipu sejumlah uang."
"Haaahhaaahhhaaahhhi.kalau hanya urusan sekecil ini mah
bukan menjadi masalah," seru tosu ceking itu sambil tertawa
tergelak-gelak.
"Hmmm, kelihatannya saja bukan menjadi suatu masalah, tapi
kau tahu, budak tersebut bukan termasuk manusia persilatan biasa."
"oya, lantas dewa dari manakah dia?" Tanya tosu ceking itu mulai
tertarik.
"Dihadapanku, budak tersebut telah mendemontrasikan
kehebatan ilmu silatnya, ilmu jari Tong kim ci."
"Tong kim ci?" tosu ceking itu baru merasa terperanjat,
"jangan-jangan dia adalah.."
"Yaa, dia adalah keturunan dari Kim ka sian Beng Cung ciu yang
menjadi pimpinan dari tiga dewa"

Tosu ceking itu segera garuk-garuk kepalanya yang tak gatal,
ujarnya kemudian :
"waaahi.waaah kalau persoalan ini mah betul-betul merupakan
suatu masalah yang sangat merepotkan."
setelah berpikir sebentar, kembali dia bertanya :
"Lantas bagaimana caramu melepaskan diri dari
penguntitannya?"
"Aku telah membuat suatu perjanjian dengannya, kuminta
sepuluh hari kemudian ia siapkan lima puluh tahil emas untuk
ditukar dengan Kho Beng."
"Apa salahnya kalau kau mengingkari janji setelah sampai pada
waktunya? Masa dia
bakal datang mencarimu?"
"Tentu saja dia akan datang mencariku, sebab tempat perjanjian
kami adalah bukit Wang hu san ini."
Berubah hebat paras muka tosu ceking tersebut, mendadak ia
cengkeram dada si Kakek berambut putih itu dan membentak keras :
"Bajingan tua Percuma kau dipanggil setan tua, mengapa kau
pintar dimasa-masa silam justru pikun disaat seperti ini."
Kakek berambut putih itu sama sekali tidak gusar, malah sambil
tertawa ia berkata lagi :
"jadi kau menganggap tidak sepantasnya kuberitahukan
persoalan ini kepadanya?"
"Tentu saja tidak boleh" teriak tosu itu.
Kemudian sambil menggertak gigi kencang-kencang, katanya
lebih lanjut :
"Dengan perbuatanmu ini, bukankah sama artinya hendak
mengobrak abrik kuil Hianthian koan ku ini?"
Kakek berambut putih itu masih tetap tersenyum.
"Coba tenangkan dulu pikiranmu, aku ingin bertanya, andaikata
dia benar-benar mengobrak-abrik kuil Hian thian koan mu, tapi kau
justru mendapatkan Kho Beng si bocah muda tersebut. Coba kau
bandingkan, apakah hal ini lebih menguntungkan atau merugikan?"
Tosu tua itu menjadi tertegun, segera hardiknya : "Apakah
maksud perkataanmu itu?"
si kakek mendengus .
"Hmmm, sebab aku mengetahui dengan pasti, budak tersebut
pasti akan menguntil dibelakangku hingga seandainya kukatakan
sesuatu tempat secara sembarangan, lagi kenyataannya aku

mendatangi kuil Hian thian koan, mungkin kuilmu saat ini sudah
diobrak-abrik tak keruan olehnya"
"Benar juga "tosu ceking itu segera berhasil menenangkan
pikirannya, tapi sambil menggigit bibir ia berseru :
"Aku rasa hal ini kurang baik."
"Tiada persoalan di dunia ini yang bisa berlangsung dengan
lancer dan sukses, paling tidak gangguan toh tetap ada."
"Kalau begitu si budak tersebut pasti sudah berada diluar kuil
sekarang?"
Kakek berambut putih itu mengangguk.
"Tak akan salah lagi dugaanku ini."
"Lantas apa yang harus kita perbuat sekarang?"
"Itu mah terserah padamu, sebab urusan ini adalah urusanmu
sendiri"
"Mengapa urusanku sendiri?" teriak tosu ceking itu gusar,
"Kau yang membawa musuh tangguh tersebut kemari, tentu saja
kau pula yang mesti menghadapinya."
Kakek berambut putih itu segera tertawa terbahak-bahak :
"Haaahhihaaahhhhahh.ini sih menurut pemikiranmu yang egois,
bukankah kita berkewajiban menanggulangi bencana bersama?
sekarang aku sudah mendapat tugas mengurusi Kho Beng, maka
sudah sepantasnya kalau kau yang mendapat kewajiban
menghadapi serbuan dari musuh tangguh tersebut."
Tosu ceking itu segera menggeleng :
"Rasanya aku tak akan sanggup menghadapi keturunan dari tiga
dewa see gwa sam sian."
"Kalau memang begitu terpaksa kita harus menggunakan cara
yang lain."
"Bagaimana cara itu?"
"Dalam sepuluh hari mendatang aku rasa dia tak akan berani
menyerbu ke dalam kuil sekalipun menyatroni kuilmu, tak mungkin
bisa menemukan rahasia dibawah tanah ini. sepuluh hari kemudian,
bila kau bersedia meninggalkan kuilmu untuk melarikan diri aku rasa
keadaan masih belum terlambat."
"Kau suruh meniggalkan hasil karyaku yang telah kupupuk dan
kubina selama hampir separuh hidupku ini?" seru si tosu sambil
menahan rasa gemas. Kakek berambut putih tertawa bergelak.

"Bila usaha kita telah berhasil dengan sukses dan seluruh dunia
telah menjadi milik kita semua, apalah artinya tokoan semacam ini
bagimu?"
sekilas rasa girang segera menghiasi wajah tosu tua itu, setelah
berpikir sebentar katanya kemudian :
"Baiklah, kita bicarakan lagi sepuluh hari kemudian"
"kalau begitu kau mesti mengatur sebala sesuatunya dalam
kuilmu itu."
Tosu tua tersebut menghembuskan napas dan segera bangkit
berdiri
"Tunggu sebentar" mendadak Kakek berambut putih itu
menghalangi.
"Masih ada suatu persoalan yang perlu kupesankan kepadamu."
"soal apa?"
"Semua kegiatan didalam kuil harus berjalan seperti keadaan
semula, lipat gandakan jumlah hio dan dupa yang dibakar dan
kerahkan semua anggotamu untuk bersembahyang, pokoknya kita
harus merubah suasana di dalam tokoan ini jauh lebih ramai dan
semarak."
Tosu tua itu mendengus tanpa menjawab. sambil tertawa Kakek
berambut putih itu berkata lagi :
"Pintu gerbang harus selalu terbentang lebar, kalau belum sampai
tengah malam janganlah ditutup, tapi tindak tanduk kalian tak boleh
sampai menimbulkan kecurigaan."
"Andaikata budak itu menggunakan alasan hendak
bersembahyang didalam kuil dan masuk kemari melakukan
penyelidikan?"
"Kau harus melayaninya sebaik mungkin, ajak dia mengunjungi
setiap bagian kuil dan jangan sampai kau tunjukkan hal-hal yang
mencurigakan, mengerti?"
"Bajingan tua , dengan berbuat begitu bukankah sama artinya
kau hendak member kesulitan kepadaku, bila budak itu
diperbolehkan melakukan peninjauan kesegala pelosok dan ternyata
tidak menjumpai kau serta Kho Beng, apa akibatnya mungkin kau
sendiripun tidak dapat membayangkan sendiri"
"Aaahhh..tampaknya dalam segala hal, aku mesti menuturkan
untukmu, kau toh bisa menutup sebuah ruang khusus yang terpencil
dengan alasan tempat itu dipakai untuk melakukan pengobatan."
Kemudian setelah tertawa bangga, dia melanjutkan :

"sudah pasti budak tersebut tak akan menunjukkan identitasnya
sendiri, dalam hal demikian kau pun tak usah memperlihatkan
bahwa kau telah mengetahui identitasnya yang sebenarnya, bila dia
bertanya kepada mu mengapa ada disebuah ruangan yang ditutup,"
Bagaikan baru menyadari akan hal itu, tosu tua itu segera
menjawab :
"Yaa, pinto bisa bilang kalau ada orang meminjam tempat
kepadaku untuk menyembuhkan luka seseorang, siapapun tak boleh
mengganggunya sebab hal tersebut dapat membahayakan orang
yang menderita keracunan itu."
Kakek berambut putih itu segera menepuk nepuk bahu tosu tua
tersebut sambil katanya :
"Totiang, mengapa secara tiba-tiba kau dapat berubah menjadi
begini pintar?"
Merah jengah selembar wajah tosu ceking itu, tanpa berkata kata
dia segera membalikkan badan dan beranjak dari situ.
sedang si Kakek berambut putih itu segera menjatuhkan diri
duduk diatas kasur dan tak lama kemudian sudah terlelap dalam
impian yang indah. Kho Beng masih berbaring diatas pembaringan
dengan tenang.
suasana didalam ruangan batu itu memang amat hening,
sedemikian heningnya sehingga dapat didengar suara napas serta
detak jantung sendiri dengan amat jelas.
Dia ingin merangkak turun dari pembaringan, namun keempat
anggota badannya bagaikan tak bertenaga, namun ia dapat
merasakan tubuhnya sangat nyaman, rasa sakit dipunggungnya
telah lenyap sejak tadi, kecuali sama sekali tak bertenaga, yang lain
tidak memperlihatkan gejala yang aneh atau luar biasa.
Ketika ia mencoba untuk mengingat-ingat kembali kejadian yang
dialaminya selama dua hari terakhir ini, pikirannya terasa begitu
rusak hingga tak mampu untuk mengumpulkan kembali semua
pikiran dan perasaannya, seakan-akan segala sesuatu yang pernah
terjadi sudah tiada sangkut pautnya lagi dengan dirinya.
Berada dalam keadaan beginilah dia mendengarkan dengus
napas dan jantung sendiri, membawanya menuju kealam impian
yang penuh ketenangan dan kedamaian.
Entah berapa saat telah lewat, suara gemerincing pintu rahasia
yang dibuka orang membuatnya mendusin kembali dari impian.

Ketika ia mencoba untuk membuka matanya, apa yang kemudian
terlihat segera membuat pemuda itu tertegun.
Ternyata yang datang bukan Kakek berambut putih itu, juga
bukan tosu penghuni kuil, melainkan seorang dayang yang berwajah
cantik,
Dayang tersebut membawa sebuah baki, diatas baki terletak
pelbagai macam hidangan, sambil mendekati Kho Beng ia berbisik
lirih "Kho kongcu."
"Terima kasih banyak untuk hidangan yang kau bawakan," kata
Kho Beng dengan kening berkerut, "tapi aku.."
"Kau tak bertenaga dan tak mampu bergerak bukan?" sambung
dayang itu cepat.
"Ya a benar, sekarang aku merasa terlalu lemah dan lelah."
"Tak apa" ujar dayang itu sambil tertawa, "aku dapat
membimbingmu untuk bangun "
sambil berkata dia benar-benar memayang Kho Beng untuk
dibantu bangkit dari pembaringan.
Kho Beng tak mampu menggerakkan tubuhnya, terpaksa dia
membiarkan dayang itu untuk membantunya bangun dan duduk
bersandar dipinggiran pembaringan.
Tak sampai Kho Beng berbicara, dayang itu telah mengambil
semangkuk nasi serta berapa sayuran lalu menyuapnya dengan
sabar.
Kendatipun Kho Beng merasa sangat rikuh dan tidak leluasa,
namun oleh karena dia betul-betul merasa lapar, maka dalam
suapan dayang tersebut dia melahap semua hidangan yang
diberikan.
Menanti Kho Beng telah selesai bersantap. dayang itu baru
mengamati sekejap paras muka anak muda itu, kemudian menghela
napas panjang
sesudah menghabiskan hidangan yang tersedia, Kho Beng
merasakan semangat dan kesegaran tubuhnya telah pulih kembali,
buru-buru dia berseru :
"Terima kasih banyak nona atas perhatianmu"
Dayang itu menggeleng : "Kho kongcu tak usah sungkansungkan.."
Kemudian sesudah menatapnya sekali lagi, dia berkata dengan
sedih : "Aku harus segera pergi dari sini"

Namun baru berjalan berapa langkahi dia telah balik kembali
kesisi tempat tidur dan berkata :
"Kabarnya ilmu silat Kho kongcu amat tinggi serta
menggemparkan seluruh dunia, entah.."
"dari mana kau tahu?" Tanya Kho Beng setengah bingun.
"Aku dengar hal ini dari majikanku."
siapa pula majikan perempuan itu? Dayang tersebut menghela
napas.
"Majikan perempuan ya majikan perempuan.. a i, nampaknya
pikiran dan kesadaranmu telah mulai kabur dan hilang, apalah
gunanya banyak bicara denganmu?"
"Kalau memang tak mau berbicara ya sudahlah, otakku ini
memang tak bisa dipergunakan lagi, aaaibila kau mempunyai
masalah yang menyulitkanmu, lebih baik pergilah mencari totiang
itu"
si dayang segera mendengus sambil menggigit bibir serunya :
"Hmmm, justru dialah seorang raja iblis yang membunuh orang
tanpa mengucurkan air mata."
Kho Beng yang mendengar perkataan tersebut jadi tertegun tapi
kemudian tertawa hambar, matanya segera dipejamkan kembali dan
tidak berbicara lebih lanjut.
Dengan cemas dayang itu mendekatinya serta menggoncangkan
bahunya Kho Beng, setelah itu bisiknya :
"Andai kata kuberi sebutir pil untukmu, bersediakah kau untuk
menelannya?"
"Tak sedikit obat yang telah kumakan. kenapa pil tersebut harus
kutelan?"
"obat tersebut pemberian majikan perempuanku," bisik si
dayang, "tapi kau tak boleh mengatakannya kepada Kakek berambut
putih itu, sebab kalau tidak, aku serta majikan perempuanku akan
dicelakainya sampai mati"
"Mengapa begitu?" Tanya Kho Beng dengan kening berkerut.
Dayang itu makin gelisah.
"Biarpun kuterangkan kepadamu sekarang juga tidak ada
gunanya, lebih baik telan obat ini lebih dulu, mungkin sesudah itu
kau akan mengerti dengan sendirinya."
sambil berkata dia segera mengeluarkan sebutir pil berwarna
hitam pekat.

Paras muka Kho Beng sangat dingin dan hambar, sama sekali
tidak Nampak perubahan apapun diwajahnya.
Jari tangan dayang itu Nampak agak gemetar, dia seperti rada
sangsi, tapi setelah termenung sejenak akhirnya dia menjejalkan
obat tersebut kedalam mulut Kho Beng.
Kho Beng sendiri ternyata tanpa ragu-ragu segera menelan pil
tersebut kedalam perutnya.
Paras muka dayang itu Nampak berubah makin pucat kehijauhijauan,
cepat-cepat dia berbisik ditelinga Kho Beng :
"Ingat, disaat kau dapat memahami perkataanku ini berarti kau
akan tahu kalau Kakek berambut putih itu mengandung niat jahat
kepadamu, dia hendak mempergunakan ilmu beracun Im han tok
kang nya untuk merubah dirimu menjadi seseorang yang lain, maka
usahanya tak pernah akan berhasil. Bila kau sudah dapat memahami
arti perkatanku ini, jangan sekali-kali kau katakana bahwa aku telah
memberimu sebutir obat, ingat baik-baik"
"Mengapa kau begitu ketakutan?" Tanya Kho Beng. Dengan suara
gemetar dayang itu menjawab :
"sebab bila kau mengatakannya, maka aku bersama majikan
perempuanku bakal mati konyol, kumohon kepadamu ingatlah baikbaik
pesanku ini"
"Baiklah" sahut Kho Beng kemudian sambil menghela napas.
Dengan perasaan gelisah kembali dayang itu berkata :
"sekarang aku harus pergi dari sini, ingat baik-baik pesanku tadi,
jangan sekali-kali kau melupakannya."
Kho Beng mengangguk tanpa bicara, diawasinya bayangan
punggung dayang tersebut hingga lenyap dari pandangan mata,
sementara pikirannya tetap kosong dan hampa.
Dengan termangu- mangu dia mencoba untuk berpikir namun tak
berhasil, tanpa disadarinya akhirnya dia tertidur.
Entah berapa lama dia tertidur, tiba-tiba pemuda itu terjaga
kembali, namun kali ini tiada orang yang memasuki ruangan rahasia
tersebut, melainkan dia sendiri yang terjaga dari tidurnya.
Mendadak ia merasa ada sesuatu yang tak beres, entah apa
sebabnya tiba-tiba muncul perasaan bergidik didalam hati kecilnya.
Ternyata pikiran dan kesadarannya menjadi agak jernih, dia
seperti teringat kembali akan dirinya yang terlupakan, disamping itu
perkataan dari dayang tersebut mendatangkan pula manfaat bagi
dirinya.

'Kakek berambut putih itu hendak menggunakan ilmu Im han tok
kang untuk merubahmu menjadi seorang yang lain. obat ini mungkin
bisa membuat kesadaranmu pulih kembali. Jangan sekali-kali kau
katakana, aku dan majikan perempuanku..'
Teringat olehnya tempat ini adalah sebuah tokoan, siapa pula
dayang tersebut? Dan siapa pula majikan perempuannya?
Ia ingin memecahkan persoalan tersebut namun tak berhasil
menemukan suatu jawaban. Tapi dia pun terbayang kembali akan
cicinya Kho Yang ciu, teringat si kakek tongkat sakti sertya Chin sian
kun, teringat Bu wi lojin, Kim bersaudara, pelajar rudin Ho heng
serta hwesio daging anjing yang berada di lembah hati Buddha,
teringat juga dengan Beng Gi ciu serta siau wan..
Dia cun teringat bagaimana dirinya menyamar sebagai si Naga
terbang dari see ih Kongci Cu, bagaimana dia melompat kedalam
jurang hingga terluka, teringat juga bagaimana Beng Gi ciu
menolongnya, bagaimana si Kakek berambut putih itu muncul secara
tiba-tiba hingga membuat luka dalamnya yang sembuh dalam waktu
singkat tahu-tahu menderita keracunan hebat.
Makin lama pikirannya semakin jernih, diapun semakin mengerti
bahwa Kakek berambut putih itu adalah seorang manusia jahat,
walaupun dia belum bisa memastikan dimanakah letak maksud
tujuannya, tapi paling tidak dia bermaksud mencelakai dirinya.
Dengan perasaan gelisah dan gusar, buru-buru dia mencoba
untuk menghimpun kembali tenaga dalamnya.
Namun dalam pusarnya seolah-olah terjadi pembekuan, seperti
juga kosong tanpa ada isinya, betapapun dia telah berupaya untuk
menghimpun kembali tenaganya, ternyata tak berhasil juga untuk
mengumpulkan kekuatan tenaga murninya.
selain daripada itu, keempat angota badannya tetap terasa lemas
tak bertenaga, bahkan keingainannya untuk membalikkan badan pun
tak mampu dilakukan.
Dalam perasaan sedih yang mencekam, tiba-tiba saja dia terinagt
kembali dengan dayang tersebut, maka dia pun meletakkan seluruh
pengharapannya ke atas pundak dayang itu.
Suasana didalam ruang gua gelap gulita tanpa cahaya, dia tak
tahu pukul berapa sekarang, dia pun tak tahu sampai kapan Kakek
berambut putih itu bakal datang kembali.
Tapi ada satu hal yang diketahui secara pasti, ia sudah pasti telah
terpengaruh oleh sejenis ilmu sesat sehingga kehilangan daya

pikiran serta kesadarannya, ini berarti selama tenaga dalamnya
belum pulih kembali seperti sedia kala, dia masih harus berlagak
seakan-akan orang yang kehilangan kesadaran.
Akhirnya ditengah suasana yang serba tak menentu, pintu
ruangan rahasia tersebut terbuka kembali, kali ini yang muncul
adalah Kakek berambut putih itu.
sedapat mungkin Kho Beng berusaha untuk mengendalikan
gejolak hawa amarahnya, dia berusaha memperlihatkan sikapnya
yang bodoh bagaikan orang yang kehilangan kesadaran, selama ini
dia hanya memandang sekejap sementara mulutnya tetap
membungkam dalam seribu bahasa.
sambil tertawa terkekeh- kekeh, Kakek berambut putih itu
menegur :
"Kho Beng apakah hari ini kau merasa baikan?"
"Yaa, rada baikan" sahut sang pemuda.
Namun Kakek berambut putih itu seperti merasa sangat
terperanjat sekali, dengan sorot matanya yang tajam dia mengawasi
wajah pemuda tersebut tanpa berkedip. nampaknya dia seperti
kebingungan dan tidak habis mengerti.
Kho Beng yang menyaksikan kejadian ini menjadi sangat terkejut,
hatinya berdebar keras.
Tampak Kakek berambut putih itu menegur lagi dengan kening
berkerut kencang :
"Apa yang sedang kaupikirkan?" Dengan cepat Kho Beng
menggeleng.
"Rasanya aku seperti tak memikirkan apa-apa, segala sesuatunya
terasa kosong dan samar-samar, aku tak bisa mengingatnya kembali
secara pasti dan jelas"
Memang itulah perasaan yang dialaminya setelah menelan obat
berwarna hitam.
Kakek berambut putih tertawa puas, nampaknya semua
kecurigaanya pun hilang lenyap dari benaknya, dengan wajah girang
kembali dia berkata :
"Ya a, begitulah gejala yang akan kau alami selama proses
pengobatan dilakukan, tapi lewat berapa hari kemudian keadaanmu
akan jauh lebih segar lagi." Kemudian setelah berpikir sejenak,
kembali dia berkata dengan suara dalam :

"Kho Beng, sekarang aku hendak melakukan pengobatan lagi
atas racunmu itu, tataplah mataku lekat-lekat serta jangan berpikir
yang lain"
"Baik" jawab Kho Beng segera.
Dari balik sepasang mata Kakek berambut putih itu kembali
mencorong keluar dua buah cahaya hijau yang menggidikkan mata,
dalam keadaan apa boleh buat terpaksa Kho Beng balas menatap
sorot mata tersebut.
Bersamaan itu pula, seperti apa yang dilakukan sebelumnya, dari
sepasang telapak tangannya kembali memancar keluar dua buah
gulungan asap putih yang sangat tebal dan segera menyelimuti
seluruh badannya.
segulung hawa dingin yang menusuk perasaan dengan cepat
menyusup kedalam tubuhnya membuat dia gemetar keras.
Namun pada saat ini pikirannya sudah tertuju pada peringatan
dari si dayang, walaupun sepasang matanya menatap sinar hijau
yang terpancar keluar dari balik mata lawan, namun pikirannya
justru membayang persoalan lain.
Akhirnya Kakek berambut putih itu menghentikan pengobatan
dengan senyuman dan menatap Kho Beng tanpa berkedip.
Kho Beng merasa terkejut sekali, buru-buru dia memejamkan
matanya rapat-rapat. Melihat gejala ini si Kakek berambut putih itu
berseru tertahan :
"Aaaah, aneh betul.."
Kho Beng yang mendengar seruan tersebut jadi sangat terkejut,
namun di masih tetap memejamkan matanya tanpa berbicara.
sesudah termenung dan berpikir sejenak, Kakek berambut putih itu
segera berkata :
"Kho Beng, apa yang sedang kaupikirkan?"
"Aku tidak memikirkan apa-apa" terpaksa pemuda itu menjawab.
Kakek berambut putih itu segera mendengus.
"Hmmm, aku tak percaya kalau dalam dunia saat ini terdapat
orang yang memiliki dasar tenaga dalam yang begini kuat dan
sempurna, ternyata dibawah pengobatan serta daya kerja obatku
masih dapat mengendalikan pikiran serta perasaan sendiri"
"Lotiang, apa yang kau katakan?" Kho Beng berlagak bingung
serta tak habis mengerti.
"Hmm, tidak apa-apa"
Lalu setelah berhenti sejenaki dia berkata lagi :

"Kau harus beristirahat sekarang"
Dengan cepat dia membalikkan badan dan beranjak pergi dari
situ, tak lama kemudian pintu rahasia kembali tertutup rapat.
Kho Beng segera merasakan hatinya bagaikan tenggelam kedasar
samudra, sebab dia tahu tingkah lakunya barusan telah
memperlihatkan titik kelemahan yang mengakibatkan timbulnya
kecurigaan dihati kakek tersebut.
Ditinjau dari sikap gusar yang diperlihatkan Kakek berambut putih
itu sesaat hendak meninggalkan tempat tersebut, dapat disimpulkan
dia pasti hendak pergi mencari dayang tersebut.
Terbayang kembali apa yang pernah dikatakan sidayang, tanpa
terasa hatinya tercekat, mungkinkah ia benar-benar telah
mencelakai si dayang beserta majikan perempuannya?
Tapi apa boleh buat, keempat anggota tubuhnya terasa lemas tak
bertenaga, hal ini membuatnya sama sekali tak mampu berkutik,
selain hatinya yang amat sakit bagaikan diiris-iris, ia tak bisa berbuat
yang lain.
-ooo00000oookuil
Hian thian koan termasuk sebuah tokoan yang amat
termasyur, saban hari tak sedikit peziarah yang berkunjung kesitu
untuk memanjatkan doa ataupun membayar kaul. senja itu, tampak
ada dua orang gadis muda berjalan memasuki bangunan kuil
tersebut. Tentu saja kedua orang ini tak lain adalah Beng Gi ciu
beserta dayangnya, siau wan.
Waktu itu suasana didalam kuil kelihatan sangat bersih dan
lenggang, sebab sebagian besar peziarah telah meninggalkan
tempat itu, yang masih tetap tinggal disitu hanya Beng Gi ciu
berdua.
Mula-mula Beng Gi ciu memasang hiolo lebih dulu diruang
tengah, kemudian kepada tosu kecil dia mengajukan
permohonannya untuk bertemu dengan pimpinan kuil. Buru-buru
tosu kecil itu berkata :
"Koancu sedang berada didalam kuil lo kun tian, silahkan lisicu
mengikuti diriku"
Dengan cepat tosu kecil itu mengajak Beng Gi ciu serta siau wan
berangkat menuju keruanga Lo kun tian.
Ruang lo kun tian merupakan ruang yang paling besar didalam
kuil Hian thian koan tersebut, waktu itu ketua kuil Hian thian koan
sedang duduk diruang tengah.

Begitu tiba dimuka