Hati Budha Tangan Berbisa **
Hati Budha Tangan Berbisa
Oleh: Gan KL
1.1. Pelajar Muda Berlengan Buntung
Sebuah paviliun tunggal berdiri di tengah sebuah taman dengan pepohonan yang rimbun. Paviliun itu
dipajang mewah dengan macam-macam perabot yang serba antik. Seorang laki-laki setengah baya bermuka
merah duduk menyanding sebuah meja perjamuan. Ia duduk seorang diri, mulutnya menyungging
senyuman sinis yang membayangkan kejudasan wataknya. Matanya selalu memandang keluar ke arah
jalanan kecil di tengah taman, agaknya dia sedang menunggu kedatangan seseorang.
Langkah kaki yang ringan cepat sekali mendatang dari kejauhan, tampak seorang laki-laki setengah umur
berpakaian pelajar muncul dijalanan berliku di tengah taman sana, dengan langkah dan gerak gerik yang
sangat hormat dia memasuki paviliun terus memberi hormat kepada laki-laki muka merah, sapanya: "Entah
ada keperluan atau petunjuk apa Pocu (pemilik) memanggil hamba?"
Senyuman sinis yang terbayang di ujung mulut laki-laki muka merah sudah sirna, pelan-pelan dia
gerakkan tangan kanan serta berkata dengan kalem:
"Suya, silakan duduk."
"Hamba tidak berani."
"Duduklah, hari ini ada beberapa patah kata yang ingin kusampaikan kepadamu, sebelum kita bicara,
marilah kau temani aku makan minum sepuasnya."
Laki-laki setengah umur yang dipanggil Suya (guru) itu mengambil tempat duduk di sebelah samping,
wajahnya menampilkan perasaan was-was, kuatir dan jeri, sorot matanya guram dan menunduk tak berani
adu pandang dengan sang Pocu.
"Hayolah, habiskan secangkir ini, jangan sungkan dan rikuh, sengaja kusuruh koki masak beberapa
hidangan istimewa ini, tanggung lezat dan nikmat, cobalah, boleh kau buktikan sendiri."
Laki-laki setengah umur berdiri sambil angkat cangkir araknya terus ditenggak habis, sekilas sorot
matanya bentrok dengan orang, terus menunduk lagi dengan tersipu-sipu, rasa tidak tenteram batinnya
lebih kentara pada air mukanya. Sebaliknya laki-laki muka merah bersenyum dengan riang gembira, setelah
menghabiskan beberapa cangkir sambil menik¬mati hidangan, tak tertahan laki-laki setengah umur buka
suara.
"Pocu ada pesan apa, silakan katakan saja."
"Suya, sudah lima tahun kau berbakti dalam perkampungan ini, bukan?" tanya sang Pocu.
Laki-laki setengah umur mengiakan.
"Kau bukan orang she Sim?" Pocu menegasi.
Laki-laki setengah umur itu tersentak kaget sambil angkat kepalanya, sorot matanya membayangkan
rasa takut dan ngeri, badannya gemetar, ternyata mukanya yang pucat itu kelihatan ada codet hitam bekas
luka sebesar telapak tangan, kalau tanpa codet yang menyolok ini, wajah laki-laki pelajar setengah umur ini
boleh terhitung laki-laki cakap.
Laki-laki muka merah tetap tersenyum lebar katanya lebih lanjut.
"Siangkoan Hong, terus terang aku amat kagum akan tekad dan keteguhan semangatmu, kau sengaja
merusak muka, ganti she dan mengubah nama, selama lima tahun menyelundup ke dalam perkampungan
kita ini, baru kemarin malam waktu kau mengadakan pertemuan rahasia dengan Samhujin di belakang
taman itu baru aku tahu seluk be!uk persoalannya, ai .........”
Dari rasa jeri dan takut kini terunjuk rasa gusar dan dendam pada air muka dan sorot mata laki-laki
setengah umur, mulutnya sudah terbuka hendak bicara, tapi urung.
Sikap sang Pocu rada berubah, katanya dengan nada menyesal.
"Siangkoan Hong, aku amat menyesal dan merasa bersalah terhadapmu, namun semua itu sudah
menjadi kenyataan, tak mungkin diperbaiki lagi ..........”
Menyalang sorot mata laki-laki setengah umur itu, katanya dengan dendam,
"Apakah Pocu tidak tahu bahwa Cu Yan-hoa sudah menikah dan sedang hamil .......?”
"Kutahu setelah peristiwa itu terjadi, menyesalpun sudah terlambat, kalian suami-istri cinta mencintai,
kini dengan ikhlas kusatukan kembali kalian supaya tak berpisah untuk selamanya, anggaplah sebagai
penebus kesalahanku, kelak kalau kau mau menuntut balas, aku akan menunggu kedatanganmu. Sekarang
kau boleh pergi saja."
Berubah berulang kali air muka laki-laki setengah umur, katanya sambil menahan gejolak hatinya.
"Siangkoan Hong berterima kasih akan budi kebaikan Pocu, numpang tanya, dia ..........”
"Dia sudah menunggu kau di luar kampung, silakan."
Laki-laki setengah umur angkat tangan memberi hormat terus mengundurkan diri. Lekas sekali dia sudah
berada di luar perkampungan, katanya menghela napas sambil mendongak.
"Lima tahun hidup tertekan, syukurlah aku bisa bebas dan merdeka hari ini, Cuma .........”
"Pat-te (adik kedelapan)," seru seorang tiba-tiba.
Dengan kaget laki-laki setengah umur berpaling, dilihatnya seorang laki-laki berpakaian Busu bertubuh
tegap kereng berdiri dibelakangnya, air mukanya menampilkan rasa kasihan, simpatik dan seperti menahan
sesuatu rahasia.
"Toako, kau .........”
"Marilah kita bicara sambil berjalan."
Mereka lantas jalan berendeng menuju ke jalan besar.
"Toako, Siaute tidak sempat berpamit, harap di maafkan."
"Pat-te, selanjutnya pergilah ketempat jauh dan carilah satu tempat yang aman untuk menyembunyikan
diri."
"Toako, bahwa aku masih hidup bersama isteri tercinta sampai sekarang adalah demi keturunan darah
daging …….”
"Kelak boleh kau berdaya, sekarang yang penting kau harus lekas lari dan menyelamatkan diri.''
”Melarikan diri?”
”Ketahuilah, aku mendapat tugas rahasia dari Pocu untuk antar kau, tentunya kau sudah tahu apa tugas
yang harus kulaksanakan?"
Laki-laki setengah umur menghentikan langkahnya, suaranya gemetar,
“Jadi Toako diperintahkan untuk membunuh Siaute? Kenapa Toako tidak turun tangan?"
"Pat-te, kalau aku mau turun tangan, buat apa aku bicara dengan kau.”
"Lalu cara bagaimana Toako harus bertanggung jawab kepada Pocu?"
Laki-laki tegap kereng berkata dengan suara lantang dan tegas,
"Sudah tentu aku juga akan minggat ketempat jauh, aku ingin bebas dari belenggu kejahatan ini, jangan
kau menguatirkan diriku, aku punya perhitungan sendiri ........”
Seperti teringat sesuatu, laki-laki setengah umur bertanya dengan suara bergetar,
"Toako, lalu dia ..... ... istriku."
Berkerut-kerut kulit muka laki-laki tegap berpakaian Busu (kaum persilatan) itu, agak lama baru tercetus
jawabannya,
"Pat-te, biarlah aku terus terang kepadamu, kau harus tahan dan sabar, dia sudah meninggal, hidangan
yang kau makan tadi adalah daging tubuhnya .........”
Laki-laki setengah umur menjerit histeris, darah menyemprot dari mulutnya disusul muntah-muntah
dengan kedua tangan menjambak rambut dan memukul kepala, rambut kepalanya sampai terbeset, darah
membasahi muka dan tubuhnya, badannya limbung, mata mendelik, mulut menyeringai, siapapun akan
merinding dan seram melihat mukanya. Akhirnya dia berteriak dengan suara serak,
"Bagus, Bagus. Aku betul-betul bersatu kembali dengan dia, aku ....aku makan daging tubuhnya. Hahaha
........”
Ditengah gelak tawanya yang menggila, bayangannya berkelebat pergi, akhirnya menjadi setitik hitam
dan lenyap dari pandangan mata ..........
o0o
Lima ekor kuda tengah mencongklang di jalan raya yang menuju ke kota Kayhong, yang terdepan adalah
seorang pemuda berusia likuran berpakaian pelajar, wajahnya cakap bersih, sayang di tengah alisnya
seolah-olah menampilkan hawa hitam yang menyebalkan, lebih menyolok lagi karena pelajar muda ini
berlengan buntung.
Orang kedua adalah laki-laki tua berpakaian hitam dengan muka hijau, alis tebal mata besar, sikapnya
gagah bersemangat. Tiga penunggang yang lain tampaknya adalah kaum hamba.
Terdengar laki-laki berjubah hitam itu berkata,
"Ji-kongcu, sebelum magrib kita sudah akan tiba di Kayhong, terpaksa lamaran baru bisa diajukan besok
pagi .........”
Pelajar buntung tak menampilkan perasaan apa-apa, katanya dingin,
"Perintah orang tua tak bisa dibangkang, yang benar aku tiada hasrat mengajukan lamaran ini."
Berubah air muka laki-laki baju hitam, katanya serius,
“Ji-kongcu, keluarga Ciang di Kayhong kekayaannya merajai dunia, apalagi Ciang Wi-bin hanya punya
puteri tunggal .........”
"Pui-congkoan." tukas pelajar buntung, "persetan dengan kekayaan keluarga Ciang, apa sangkut pautnya
dengan aku, lihatlah kedaanku yang serba runyam ini, apa tidak memalukan kalau aku mengajukan
lamaran?"
"Kukira tidak menjadi soal.......”
"Dari segi apa kau berani berkata demikian?"
"Ciang Wi-bin adalah saudara angkat ayahmu, sepuluh tahun yang lalu pernah Ciang Wi-bin berkunjung,
beliau memuji bakat dan kecakapan Kongcu, maka soal jodoh ini sudah terikat sejak waktu itu, hari ini kita
hanya mengajukan lamaran secara resmi menurut adat."
"Tapi keadaan sepuluh tahun yang lalu tidak begini bukan?"
"Ah, tidak jadi soal, cuma .........”
Pada saat itu, tiga ekor kuda merah mencongklang datang dari belakang, yang di depan adalah seorang
gadis belia berusia 17-18 berbaju serba merah, dua orang dibelakangnya jelas adalah pelayannya.
Serta merta pelajar buntung tertarik melihat kedatangan ketiga orang ini, segera dia hentikan
tunggangannya, sorot matanya menatap ke muka gadis baju merah, tertampak gadis ini beralis lentik
matanya jernih mulut mungil hidung mancung, kulitnya putih halus, kecantikannya sungguh mempesonakan.
Cepat sekali ketiga penunggang kuda ini sudah mendekat, muka gadis baju merah tampak bersungut
marah, sekilas dia melirik ke arah pelajar buntung, alisnya berkerut dan terus melarikan kudanya lewat
samping orang, salah seorang pelayan di belakangnya berludah sambil mencemooh,
"Lihat orang kok melotot seperti maling mengincar barang, biji matanya kudu dikorek keluar."
Cepat sekali kuda mereka sudah membedal kesana.
Pelajar buntung melenggong di atas kudanya, akhirnya laki-laki baju hitam buka suara.
"Ji-kongcu marilah kita lanjutkan perjalanan."
"Sudahlah, soal jodohku ini batalkan saja."
"Apa? Ji-kongcu, kau ...... kau tidak mau melamar lagi?"
Pelajar buntung itu mendengus sebagai jawaban.
Bergegas laki-laki baju hitam melompat turun, katanya dengan gugup,
"Soal ini jangan dianggap remeh."
Dingin kaku suara pelajar buntung,
"Pui-congkoan, pulanglah kau membawa ketiga orang ini."
"Ji-kongcu, bagaimana aku harus memberi laporan kepada Cukong (majikan) nanti?"
"Katakan saja atas kehendakku."
"Wah ........." jidat laki-laki baju hitam berkeringat, mulut terbuka mata membelalak, saking gugupnya dia
tidak bisa berbicara lagi.
Bahwasanya pelajar buntung ini memang tidak setuju akan perjodohannya dengan puteri keluarga Ciang
dari Kayhong, soalnya perintah orang tua tak berani ditolak, terpaksa dia menurut saja. Tak nyana di tengah
jalan tiba-tiba dia bersua dengan gadis baju merah tadi, semakin tebal keyakinannya untuk membatalkan
perjodohan ini. Timbul suatu keinginan dalam benaknya, dia hanya ingin menikah dengan perempuan yang
dicintainya.
Sejak kecil dia memang sudah berwatak aneh, nyentrik. Calon isterinya belum pernah dilihatnya, cantik
atau jelek belum diketahui, yang terang dia kesemsem pada gadis baju merah yang lewat barusan. Dia
takkan membuang kesempatan baik ini untuk berkenalan, cepat dia berkata sambil mengangkat tangan.
"Pui-congkoan, beritahu kepada ayah, sekarang aku mau pergi.....”
Tersipu-sipu laki-laki baju hitam itu memburu maju menarik kendali kuda, serunya gelisah,
"Ji-kongcu, jangan kau berbuat demikian."
Melotot mata pelajar buntung, bentaknya,
"Pui-congkoan, tentunya kau sudah tahu watakku?"
Sorot matanya yang tajam membuat laki-laki baju hitam menyurut jeri sambil lepaskan tangannya,
pelajar buntung lantas keprak kudanya. Laki-laki baju hitam membanting kaki, cepat dia cemplak kudanya
dan berkata pada ketiga pengiringnya,
"Mari kita ikuti dia."
Sementara itu, gadis baju merah tadi sudah melarikan kudanya cukup jauh, namun si pelajar buntung
membedalkan kudanya secepat terbang, maka tidak lama dia dapat menyusulnya, saat lain pelajar buntung
sudah mendahului beberapa tombak di sebelah depan terus putar kudanya mencegat di tengah jalan.
Terpaksa ketiga kuda merah berhenti, dua pelayan baju hijau lantas keprak kudanya ke depan, salah
seorang membentak gusar,
"Apa maksud tuan menghadang jalan?"
Tanpa gubris teguran pelayan ini, pelajar buntung memberi hormat di atas kudanya kepada gadis baju
merah, katanya,
"Nona ini bernama siapa?"
Kaku dingin muka si gadis merah, mulutnya terkancing, agaknya dia segan menjawab.
Pelayan yang bicara tadi menjadi naik pitam, bentaknya bertolak pinggang,
"Bedebah dari mana kau, berani kurangajar terhadap Siocia kami!"
Sekilas pelajar buntung melirik dingin, jengeknya,
"Jangan sembarang memaki orang."
"Memangnya kenapa kalau kumaki kau," balas si pelayan.
"Kau tidak ingin mampus bukan"
"Kaulah yang cari mampus," sambil melolos pedang kedua pelayan ini segera hendak turun tangan.
Namun si gadis baju merah telah menghentikan mereka, katanya dengan mengerling kepada pelajar
buntung,
"Apa maksud kelakuan tuan ini?"
"Cayhe......." jawab si pelajar buntung tergagap.
"Kenapa?"
"Cayhe hanya ingin berkenalan, ingin tahu nama harum nona."
Jawab gadis baju merah dingin,
"Tentunya ada sebab musababnya?"
Merah muka pelajar buntung, lekas ia sudah tenang pula, ujarnya,
"Cayhe hanya ingin berkenalan."
"Berkenalan? Hm, agaknya tuan salah melihat orang.“
"Salah melihat apa maksudmu?"
"Nonamu ini bukan bunga jalanan."
"Tidak, nona salah paham, terus terang Cayhe..."
"Minggir," di tengah bentakan nyaring, seutas cambuk lemas sepanjang delapan kaki tahu-tahu
melingkar-lingkar di udara terus menyambar ke bawah, angin menderu keras membawa tenaga dahsyat.
Berubah air muka si pelajar buntung, tangan diulur menangkap ke arah bayangan cambuk. Cambuk
adalah senjata lemas, kalau tidak punya latihan matang, kaum persilatan jaraag yang mau menggunakan,
dengan bertangan kosong berani menangkap cambuk, agaknya pelajar buntung ini juga mempunyai
kepandaian silat yang cukup tangguh.
Tapi bayangan cambuk berkelebat laksana kilat, tahu-tahu berhenti dan meluncur ke samping memecut
ke pantat kuda. Tangan pelajar ini buntung sebelah, lebih celaka lagi adalah pecutan cambuk ini amat keras.
"Tar" karena kesakitan kuda itu meringkik dan berjingkrak terus membedal kencang laksana kuda liar,
karena usahanya tak berhasil menjinakkan tunggangannya, terpaksa si pelajar buntung membiarkan saja
kudanya lari sepuasnya.
Entah berapa jauh kudanya berlari setelah rasa sakit dan kagetnya hilang kuda itu berhenti sendiri, lekas
pelajar buntung lompat turun dan periksa luka pantatnya yang cukup parah, darah masih mengalir keluar
dari luka sepanjang satu kaki.
Dia tertawa getir sambil geleng-geleng kepala, ia keluarkan obat dan dibubuhkan pada luka kudanya itu,
tanpa istirahat kuda ini terang tak dapat melanjutkan perjalanan.
Berpikir sejenak, lalu dia simpan barang-barang penting yang ada dipunggung kuda ke dalam kantong
bajunya, dia tepuk pantat kuda dan membiarkannya pergi.
Kejadian ini memang salahnya sendiri, namun hatinya amat penasaran. Sekitarnya merupakan tanah
belukar, sukar menentukan ke mana harus dituju, ingin mengejar gadis baju merah tadi, namun tak tahu ke
jurusan mana dia harus menyusulnya, sesaat dia berdiri bingung. Tanpa tujuan akhirnya dia berlari-lari kecil,
tak lama kemudian, jalan raya tampak di kejauhan sana, hatinya girang langkahpun dipercepat.
Tiba-tiba ada suara jeritan orang berkumandang di kejauhan sana, pelajar buntung itu kaget, segera ia
menghentikan langkahnya, lenyap jeritan seram tadi, suasana kembali sunyi senyap, setelah menentukan
arahnya, segera dia melesat ke hutan sebelah kiri.
Begitu dia masuk ke dalam hutan, sebuah pemandangan seram seketika membuatnya melenggong.
Ternyata kedua pelayan si gadis baju merah yang lewat belum lama ini bersama kuda tunggangannya
menggeletak binasa dalam hutan, dari luka-luka parah yang menyebabkan kematiannya kelihatan seperti
dipukul oleh tenaga yang dahsyat.
Di mana gadis baju merah? Pertanyaan ini menyentak sanubarinya, selamanya dia belum kenal dan baru
pertama kali ini bertemu. malah tadi dia kena di pecut oleh cambuk orang, namun kini dia menguatirkan
keselamatannya, sungguh aneh dan ganjil sekali perasaannya ini.
Gelak tawa panjang yang melengking tiba-tiba bergema di dalam hutan sana.
Tanpa pikir secepat kilat ia memburu kesana. Tampak empat orang berpakaian sutera putih dengan
wajah yang bengis tengah mengepung gadis baju merah itu.
Pucat pias muka si gadis baju merah, rambutpun awut-awutan darah kelihatan meleleh dari ujung
mulutnya, agaknya dia sudah mengalami pertempuran sengit.
Terdengar salah seorang baju putih berkata menyeringai,
"Budak hina, lekaslah mengaku saja!"
"Apa yang harus kukatakan?" bentak si gadis baju merah itu beringas.
"Ha, jangan pura-pura pikun, apalagi kalau bukan soal Sek-hud (batu Budha) itulah."
"Aku tak tahu."
"Sudah jangan banyak omong lagi," tukas seorang baju putih jang lain, "giring saja ke istana."
Orang pertama tadi mengiakan, katanya,
"Budak, marilah kau ikut kami pulang."
Gadis baju merah mengertak gigi, jengeknya,
"Jangan harap."
"Memangnya kau berani bertingkah di sini, di tengah perkataannya, tahu-tahu tangannya mencengkeram
ke arah si gadis baju merah. Gerakan tangan ini benar-benar hebat dan mengejutkan.
Namun sigap sekali si gadis baju merah menyendal cambuknya, bagai ular sakti cambuk lemasnya itu
berhasil membelit pergelangan tangan orang, tahu-tahu ujung cambuknya melejit ditengah jalan mematuk
ke Jit-kiam-hiat, sebuah jalan darah yang mematikan.
Orang baju putih menegakkan telapak tangan kiri menabas miring ujung cambuk, sementara gerakan
mencengkeram tangan kanannya tetap tidak berubah. Ketika si gadis baju merah menggetarkan tangannya,
cambuk lemasnya mulur lalu mengkeret pula, dengan lurus menjojoh pula ke Khi-hay-hiat lawan, berbareng
tubuhnya menyurut mundur, dengan gemulai ia berhasil meluputkan diri dari cengkeraman tangan maut
lawan.
Begitu cengkeramannya luput, sementara ujung cambuk lawan sudah mengancam Khi-hay-hiatnya.
Namun dengan gerakan yang sangat cepat tahu-tahu orang itu berhasil berkisar ke samping, di saat
badannya berputar itu, sebelah tangannya memukul balik. Gelombang pukulan bagai gugur gunung
dahsyatnya seketika mendampar tiba, gadis baju merah tergentak mundur sempoyongan, mukanya tambah
pucat lagi.
Seorang baju putih yang lain menggunakan kesempatan ini memapak gadis baju merah yang tergentak
mundur itu dan kedua tangannya segera mencengkeram.
"Berhenti!" tiba-tiba seseorang menggertak.
Keempat orang baju putih tertegun, tertampak seorang pelajar buntung sebelah tangannya berwajah
cakap tahu-tahu melayang tiba.
Gadis baju merah berpaling, pandangan mereka bentrok. Ia mengertak gigi dengan gemas, sebaliknya
pelajar buntung mengangguk sambil tersenyum.
Mendelik buas mata keempat orang baju putih, mereka menatap tajam kepada pelajar buntung ini,
seorang diantaranya melompat maju, katanya dengan menyeringai,
"Anak muda, kau hendak mengantar jiwamu?"
Semakin tebal hawa gelap ditengah kedua alis pelajar buntung, katanya dingin,
"Kalian ini apakah empat Sucia (rasul) dari Ngo-lui-kiong?"
"Betul, agaknya kau punya pengalaman juga, sekali kau melibatkan diri dalam pertikaian ini, jangan
harap kau bisa pergi dengan selamat."
"Apa betul" si pelajar buntung menegas.
"Kau kira aku membadut... ." belum selesai berkata, secepat kilat tahu-tahu sebelah tangannya bergerak
mencengkeram.
Pelajar buntung tertawa dingin, tidak berkelit tidak menyingkir, tidak melawan, tidak menangkis pula,
orang berbaju putih segera tambah tenaga cengkeramannya, dengan telak dia mencengkeram ketiak kiri
lawan.
"Huuuaaa'" jerit orang baju putih mendadak sambil tarhuyung mundur beberapa langkah dan roboh
terjengkang dan binasa.
Tiada orang tahu cara bagaimana orang berbaju putih itu meninggal, sedangkan pelajar buntung itu
tidak pernah bergerak atau menyerang.
Terunjuk perasaan kaget dan ngeri pada air muka si gadis baju merah. Tiga orang berbaju putih yang
lain serempak merubung maju, tampang mereka yang bengis kelihatan amat buas seperti serigala
kelaparan.
Tenang dan wajar pelajar buntung berkata,
"Jika kalian bertiga tidak ingin mampus, lekaslah menggelinding pergi dari sini."
Seorang yang berusia paling tua diantara ketiga orang baju putih membentak dengan beringas,
"Bocah keparat, cara keji apa yang kau gunakan barusan?"
"Kau punya mata dan bisa saksikan sendiri."
"Murid siapa kau?"
"Kalian belum setimpal untuk menanyakan asal usulku."
Seorang berbaju putih menggeram, tangan terayun terus memukul, si pelajar buntung sedikit miringkan
tubuh, pukulan dahsyat itu dengan telak mengenai sebelah lengannya yang buntung.
"Blang", pelajar buntung menggeliat saja.
"Huuuaaaaaa" jeritan maut kembali berkumandang, tahu-tahu si baju putih yang menyerang itu terpental
jatuh telentang dan tak bernyawa lagi.
Sungguh luar biasa, tanpa turun tangan namun jiwa orang dengan mudah direnggutnya. Si baju putih
yang berusia lebih tua tiba-tiba, menjerit dengan ketakutan,
"Kau .... kau ini Te-gak Suseng (si pelajar dari neraka)?"
"Betul," jawab si pelajar buntung.
Tanpa sadar orang berbaju putih yang lain menyurut mundur, sejenak mereka saling pandang, tanpa
bicara lagi segera ia angkat mayat temannya terus berlari pergi bagai terbang.
1.2. Perempuan Genit dari Thian-Thay
Pucat dan membesi wajah si gadis baju merah, katanya tak acuh,
"Ternyata tuan ini adalah Te-gak Suseng yang terkenal itu ......"
"Tidak berani", sahut pelajar buntung.
"Apa kehendak tuan sekarang?" tanya si gadis.
"Terus terang, dengan setulus hati kuingin berkenalan."
"Laki-perempuan dibatasi dengan adat, berkenalan apa, kau tidak keliru omong?"
"Kaum persilatan macam kita kenapa harus pikirkan adat dan aturan segala?"
"Te-gak Suseng, tak perlu cerewet lagi, tujuanmu adalah Sek-hud (batu Budha) bukan?”
"Sek-hud? Baru sekarang kudengar nama ini, apa persoalannya akupun tidak tahu."
Si gadis baju merah tertawa dingin, katanya,
"Apa yang terkandung dalam pikiranmu, kau sendiri yang tahu, tapi biar kukatakan kepadamu dengan
cara apapun akan kau gunakan, jangan harap kau bisa memperolehnya.”
Te-gak Suseng jadi bingung, katanya,
"Nona, kuulangi sekali lagi, sekali-kali tiada pikiranku seperti dugaanmu."
"Kalau begitu boleh kau pergi."
"Siapa nama nona?"
"Kau tidak perlu tahu."
"Kenapa nona begini kukuh?"
"Aku tidak suka berteman dengan orang sebangsa serigala."
Berubah roman muka Te-gak Suseng, terunjuk sinar kejam pada sorot matanya, namun hanya sekilas
saja.
"Nona pandang aku serendah serigala?"
"Dari caramu membunuhi orang, manusia serigala belum cukup untuk melukiskan dirimu."
Te-gak Suseng naik pitam, katanya dingin,
"Kalau Cayhe tidak bunuh mereka, nona sudah menjadi tawanan orang-orang Ngo-lui-kiong tadi."
Tertegun sebentar, lalu gadis baju merah berkata,
"O, jadi tuan telah menolong aku?”
"Secara kebetulan saja kupergoki kejadian ini, tiada maksudku untuk pamer di sini."
"Bagaimana kalau kuterima kebaikan pertolonganmu ini?"
"Kukira tidak perlu."
"Lalu apa tujuan dan maksud tuan yang sebenarnya?"
"Cayhe hanya ingin berkenalan saja.”
"Apa tujuan ingin berkenalan dengan aku?"
Walau sejak kecil Te-gak Suseng sudah terlalu sesumbar dan suka membawa adatnya sendiri, namun
untuk menyatakan rasa sukanya dalam sekali bertemu ini, ia merasa malu dan tak kuasa diucapkan, dia
tergagap tak bisa menjawab.
Kata gadis baju merah dengan angkuh,
"Tuan tak mau menjelaskan, aku ingin pamit, kebaikkanmu akan selalu kuingat," lalu dia putar badan
tinggal pergi.
Sebetulnya dia ingin menghadang dan menahannya, namun pikirannya berubah, dengan mendelong dia
pandang bayangan orang lenyap di kejauhan sana. Dia merasa geli sendiri, bukankah tujuan perjalanannya
kali ini hendak meminang putri keluarga Ciang di Kayhong, perintah orang tua tidak diindahkan, malah cari
penyakit disini.
Watak manusia terkadang memang aneh, yang mudah diperoleh tak diacuhkan, yang sukar didapat
justeru diburu.
Dengan terlonggong tercetus gumam dari mulut Te-gak Suseng,
"Pada suatu hari aku pasti bisa memilikimu."
Tiba-tiba sebuah suara nyaring centil kumandang,
"Tak nyana Te-gak Suseng sedang kasmaran disini."
"Siapa?" bentak Te-gak Suseng.
"Thian-thay-mo-ki menyampaikan salam hormat."
Di tengah kumandang suara yang merdu,tampak seorang gadis jelita berusia dua puluhan yang bersolek
muncul disebelah sana. Wajahnya berseri tawa dan mekar, gayanya genit mempesona, setiap jengkal
tubuhnya mengandung daya pikat yang menggetarkan sukma laki-laki.
Bergetar hati Te-gak Suseng, katanya,
"Kau ini Thian-thay-mo-ki? (Perempuan genit dari Thian-thay)."
Thian-thay-mo-ki menghampiri dengan gaya lenggang lenggok, buah dadanya yang membukit bergetar
turun naik, setombak jauhnya dia berhenti, suaranya nan merdu bagai kicau burung berkata,
"Masakah diriku ini bisa dipalsukan?"
Berdetak jantung Te-gak Suseng, namun sikapnya tetap dingin,
"Ada petunjuk apa?"
Thian-thay-mo-ki terkial-kial dengan genit, ujarnya,
"Cinta sepihak membawa penjesalan, kukira urungkan saja niatmu itu."
"Apa maksud ocehanmu ini?"
"Saudara ...........”
"Siapa saudaramu?"
"Aduh galaknya, usiaku lebih tua, apa tidak setimpal memanggil saudara kepadamu?"
"Hanya untuk itu saja .............”
"Sudah tentu ada urusan lain......"
"Urusan apa?"
"Coba jawab dulu. Kau jatuh hati pada nona cantik itu atau karena Sek-hud?".
Tergerak hati Te-gak Suseng, hakikatnya dia tidak tahu menahu soal Sek-hud. Apakah Sek-hud benda
pusaka dunia persilatan sehingga di perebutkan? Baru hari ini dia berhadapan dengan Thian-thay-mo-ki,
namun nama orang sudah lama di dengarnya.
Entah betapa banyak pemuda yang tergila-gila kepada perempuan centil ini, kepandaian silatnya yang
menjadikan dirinya bak sekuntum bunga mawar yang berduri, orang tidak berani sembarangan
menyentuhnya. Pelajar buntung sudah kepincut pada gadis baju merah tadi, maka sikapnya terlalu dingin
dan kaku, katanya tawar,
"Coba terangkan, bagaimana kalau aku jatuh hati kepadanya? Bagaimana pula kalau karena Sek-hud?"
"Soal ini amat penting, kau harus nyatakan dulu sikapmu."
"Kalau aku tidak sudi menyatakan sikapku?"
"Kau akan menyesal."
"Menyesal? Kenapa?"
"Kalau kau tak mau jawab pertanyaanku, cukup sampai disini saja pembicaraan kami."
Setelah berpikir pulang pergi, akhirnya Te-gak Suheng berkata,
"Aku harus tahu apa sebenarnya Sek-hud itu?"
"Apa kau tidak tahu tentang Sek-hud itu? Kalau begitu jadi kau benar-benar mencintainya?"
"Anggaplah demikian."
Terbayang senyum aneh pada wajah Thian-thay-mo-ki, biji matanya sebening air berputar mengawasi
seluruh badan Te-gak Suseng, akhirnya dia cekikikan, katanya,
"Dia tidak akan suka kepadamu."
Te-gak Suseng melengak,
"Kenapa?" tanyanya,
“Pertama, julukanmu terlalu seram. Kedua, walau kau terhitung laki-laki ganteng, sayang kau ………"
"Lenganku buntung, begitu? Peduli amat, lekas jelaskan tentang Sek-hud itu?"
"Panjang ceritanya, hayolah pindah ke tempat lain dan duduk sambil bicara."
Mereka masuk ke hutan yang lebih dalam, lalu duduk di sebuah batu besar, angin lalu sepoi-sepoi
membawa bau harum yang memabukkan, bergetar jantung Te-gak Suseng, serta merta matanya melirik ke
tubuh orang yang padat montok, darahnya terasa hendak meluap.
Kata Thian-thay-mo-ki dengan tersenyum lebar,
"Setelah kuceritakan, apakah kau mau merubah sikapmu?"
"Kukira tidak."
"Baiklah. Apakah kau pernah dengar nama Pek-ciok-am?"
"Pek-ciok-am ...... biara nomor satu yang dipandang tempat suci kaum persilatan?"
"Betul, Pek-ciok-am dipandang tempat suci karena pemiliknya Pek-ciok Sinni memiliki kepandaian silat
dan Lwekang yang sudah mencapai puncak sempurna, siapa yang berani mengganggu di sana, konon
kabarnya, kepandaian silatnya yang tinggi itu diperoleh dari sebuah patung Budha dari batu yang dia miliki
........”
"Begitu mujijat Sek-hud itu?"
"Entahlah, tapi itu kenyataan. Tahun yang lalu tanpa sengaja ada orang tahu bahwa Pek-ciok Sinni sudah
meninggal dunia, begitu kabar ini tersiar, beramai-ramai kaum persilatan mengincar Sek-hud itu ..........."
"Apa hubungannya dengan gadis baju merah?"
"Karena dia adalah murid Pek-ciok Sinni."
"Ah, tidak mungkin, kalau benar gadis itu murid Pek-ciok Sinni, masakah dia tidak kuasa melawan
keroyokan empat rasul dari Ngo-lui-kiong itu."
"Sulit dikatakan, mungkin bakatnya terbatas ........."
"Kalau dia tidak berbakat, memangnya Pek-ciok Sinni mau memungutnya sebagai murid?"
"Ya, kemungkinan belum lama dia belajar, belum mendapat seluruh warisan, namun dia kuat
menghadapi keroyokan mereka, cukup tangguh juga kepandaiannya."
Sejenak Te-gak Suseng terpekur, katanya kemudian,
"Kaupun mengincar Sek-hud itu."
Thian-thay-mo-ki mengiakan.
"Kepandaianmu cukup berlebihan untuk menghadapi gadis baju merah itu, kau dapat turun tangan
sesuka hati, kenapa ........?”
"Ada dua sebab yang membuat aku bimbang untuk turun tangan."
"Dua sebab apa?"
"Pertama, Bu-cing-so (kakek tak kenal budi), tokoh aneh yang sudah lama lenyap dari Kangouw itu
kabarnya mengikuti perjalanan gadis merah ini, kepandaian orang kosen ini sudah mencapai puncaknya, dia
terkenal terlalu bertangan keji."
"Kau tak berani melawannya?"
“Aku yakin hanya beberapa orang yang berani melawannya, namun itu soal lain."
"Lalu sebab kedua?"
"Inilah yang paling penting, lantaran kau.''
"Aku? Diriku yang rendah ini?"
“Betul, saudara, aku tidak mau bentrok dengan kau, maka ......”
"Maka kau ajak aku berunding?"
"Ya, aku dijuluki Mo-ki (wanita molek iblis) dan saudara bergelar Te-gak Suseng (pelajar dari neraka) kita
segolongan, meski lenganmu buntung tidak jadi soal bagiku," lalu dia tertawa cekikik genit.
Kata-katanya cukup gamblang, dia menyatakan isi hatinya, namun Te-gak Suseng pura-pura tidak
mengerti, katanya,
"Kau belum jelaskan tujuanmu mencari aku."
"Kerja sama dengan kau."
"Apa maksudnya kerja sama itu?"
"Kita dapat mencapai keinginan sesuai apa yang kita harapkan."
"Apa tidak terlalu bodoh dan lucu jalan pikiranmu ini?"
"Sedikitpun tidak, kepandaianmu cukup kuat untuk menghadapi Bu-cing-so, aku hanya ingin memperoleh
Sek-hud, gadis baju merah akan menjadi milikmu."
Te-gak Suseng tergelak-gelak, katanya,
"Perhitungan bagus, aku susah payah kau ambil untungnya, haha ......."
"Tiada yang patut ditertawakan, kalau gadis baju merah jatuh ke tangan Bu-cing-so, Sek-hud hilang,
jiwapun mungkin melayang, lalu apa yang bisa kau peroleh?"
"Memangnya aku tak bisa membantu dia menghadapi Bu-cing-so?"
"Tidak bisa."
"Aneh sekali! Mengapa tidak?"
"Kalau kau tak kuat menghadapi ilmu saktinya Thian-cin-ci-sut, segalanya akan sia-sia belaka."
"Kalau kau kuat menghadapi ilmu Thian-cin-ci-sut, kenapa tidak turun tangan sendiri?"
"Sayang sekali Lwekangku bukan tandingannya, bagaimana jika pemecahannya kuberitahu kepadamu,
dengan ilmu kepandaian aliranmu yang ganas itu, pasti kau dapat menghadapi dia."
Diam-diam berkuatir hati Te-gak Suseng bagi keselamatan si gadis baju merah yang menjadi incaran
berbagai pihak itu, maka dengan dingin dia berkata,
"Apa kau tidak takut setelah kau ajarkan cara menghancurkan Thian-cin-ci-sut itu, bisa jadi aku malah
bantu dia menghadapi kau?"
"Lucu sekali. Kau kira aku bodoh, ketahuilah dia sudah jatuh dalam cengkeramanku."
"Apa?" teriak Te-gak Suseng sambil berjingkrak, "dia jatuh ke tanganmu?"
"Jangan tegang, aku tidak akan menyusahkan, tujuanmu adalah si 'dia' bukan?"
Beringas muka Te-gak Suseng, desisnya: "Kubunuh kau!"
"Kalau aku mati, dia juga tidak akan hidup, toh belum tentu kau mampu membunuhku, yang terang
sekarang ini kau tiada sangkut paut dengan dia, kau baru naksir dia, belum tentu dia suka kepadamu."
"Aku tidak suka dipermainkan."
"Tiada yang mempermainkan kau, masing-masing pihak mendapatkan apa yang diinginkan, begitulah."
"Sekarang dimana dia? Apa yang hendak kau lakukan?"
"Tidak apa-apa. Asal dia terangkan dimana Sek-hud berada, setelah tujuanku tercapai, dia akan bebas.
Bu-cing-so akan segera tiba, demi keselamatannya, kau harus mempelajari cara memecahkan Than-cin-cisut."
"Aku tidak mau. Sekarang bebaskan dia juga!"
”Urusan tidak semudah itu," ujar Thian-thay-mo-ki sambil berdiri.
”Ku ganyang kau," ancam Te-gak Suseng murka.
"Aku mati, diapun takkan hidup, lalu apa faedahnya bagimu?”
"Hm, jangan kau tekan dan memeras aku."
Sekonyong-konyong dua bayangan meluncur datang, "Bluk-bluk", kedua-duanya tersungkur roboh.
Thian thay-mo-ki menjerit kaget,
"Celaka!" Sekali kaki menutul, badannya terus melenting tinggi meluncur keluar hutan.
Te-gak Suseng melenggong sejenak, kedua orang yang roboh binasa adalah kedua gadis yang
berpakaian ketat, darah meleleh dari mulut, hidung dan telinganya. Tanpa banyak pikir segera dia mengejar
kearah perginya Thian-thay-mo-ki.
Beberapa lie ditempuhnya, namun tiada sesuatu yang ditemukan, tengah dia celingukan, tiba-tiba sebuah
suara lirih berkata,
"Berhenti!"
Te-gak Suseng segera hentikan langkahnya, dilihatnya yang bersuara adalah Thian-thay-mo-ki, dia
sembunyi dibalik sebuah pohon besar seraya menggapai padanya.
"Ada apa?" tanya Te-gak Suseng.
"Jangan keras-keras, kemari saksikan sendiri.”
Te-gak Suseng menghampir, Thian-thay-mo-ki ulur tangan hendak menariknya.
"Jangan sentuh aku," bentak Te-gak Suseng sambil mengipat tangan.
"Jangan takabur, lihatlah sendiri, apa yang ada di luar hutan itu."
Setelah dekat pohon besar di mana Thian-thay-mo-ki sembunyi, Te-gak Suseng mengintip kesana dari
celah-celah daun, tertampak di luar hutan adalah tanah lapang berumput. Puluhan orang berpakaian hitam
berjajar setengah bundar menghadapi tiga laki-laki baju putih jang mengempit gadis baju merah. Di dada
seragam puluhan orang-orang baju hitam itu tersulam seekor burung elang yang pentang sayap. Seorang
laki-laki tua baju hitam tengah berhadapan dan bicara dengan laki-laki beruban baju putih.
Dengan suara tertahan Thian-thay mo-ki berbisik: "Kawanan baju hitam itu adalah anak buah Sin-engpang
(kelik elang sakti), laki-laki baju putih adalah komandan barisan tempur Ngo-lui-kiong, Pek-sat-sin The
Gun, tokoh yang disegani di Bulim."
"Aku tahu, apa maksudmu menahanku disini?" tanya Te-gak Suseng.
"Lihat keadaan baru turun tangan menurut situasi."
"Aku tidak sabar lagi ..........”
"Entah berapa banyak pula tokoh-tokoh kosen yang menyembunyikan diri, semua orang bertujuan
merebut Sek-hud, kalau kau ingin bunuh mereka boleh silakan, namun untuk menolong si dia kukira bukan
pekerjaan gampang."
Te-gak Suseng tenangkan diri, sekilas dia menerawang situasi yang dihadapinya ini, terdengar suara Peksat-
sin The Gun yang keras berkumandang,
"Ang-tongcu, janganlah kau merusak hubungan baik kita selama ini?"
Laki-laki baju hitam yang dipanggil Ang-tongcu itu terkekeh tawa, katanya,
"The-Congling, ini daerah kekuasaan kami ......”
"Tapi akulah yang menemukan dia."
"Dalam daerah kekuasaan pihak kami, orang luar dilarang melanggar aturan, bukan?"
"Jadi maksud Ang-tongcu ........”
"Tinggalkan gadis itu, kuantar kalian pulang dengan selamat."
"Ang-tongcu kira urusan semudah itu?"
"Memangnya kau ingin main kekerasan?"
"Bukan aku pandang rendah dirimu, kau takkan kuat menahan sekali pukulan.”
"Orang she The, kau terlalu takabur dan memandang rendah orang. Lihat pukulan!" di tengah
bentakannya, Ang-tongcu melancarkan pukulan mengarah dada Pek-sat-sin The Gun.
"Blang”, Pek-sat-sin hanya tergetar mundur selangkah. Mentah-mentah dia terima pukulan orang tanpa
balas menyerang, jengekannya dingin,
"Ang-tongcu, kau memaksa aku membunuhmu?"
"Jangan takabur," teriak Ang-tongcu, seraya memukul lagi.
Sekali ini Pek-sat-sin angkat kedua tangannya.
"Dar", laksana geledek menyamber diselingi jeritan ngeri, orang she Ang itu terhuyung beberapa langkah
terus roboh celentang, darah menyembur dari mulutnya.
Ngo-lui-ciang ternyata memang ganas, gumam Teng-gak Suseng di tempat sembunyinya.
Anak buah Sin-eng-pang serentak berteriak gemuruh, tiga bayangan orang melompat maju berbareng,
tiga larik sinar pedang dengan perbawa yang mengejutkan mengurung ke arah Pek-sat-sin. Namun belum
lagi gerakan pedang ketiga orang itu mengenai sasaran, kembali terdengar jeritan seram, ketiga orang itu
terpental balik ke belakang, jiwa merekapun melayang.
Ditengah gemuruhnya teriakan gusar anak buah Sin-eng-pang, puluhan orang sekaligus menubruk maju
menyerang Pek-sat-sin dan laki-laki baju putih yang mengempit si Gadis berbaju merah.
Te-gak Suseng beranjak maju, katanya,
"Inilah kesempatan baik”
"Berhenti," sebuah bentakan nyaring menggetar seluruh hadirin. Cepat sekali anak buah Sin-eng-pang
menyurut mundur dan berjajar rapi. Tertampak muncul seorang laki-laki kekar gagah dan dengan baju di
bagian dada tersulam burung elang dengan, benang emas.
Lekas Pek-sat-sin angkat tangan memberi hormat, katanya,
"Pangcu datang sendiri, entah ada petunjuk apa?"
Yang datang ternyata Ko Giok-wa, Pangcu atau ketua Sin-eng-pang.
"The-cong-ling, hebat dan ganas sekali pukulanmu," kata sang Pangcu.
”Tidak berani, Cayhe dipaksa turun tangan, harap Pangcu maklum," jawab The Gun.
"Salah mereka sendiri karena tidak becus belajar silat, tapi The-congling bertingkah di daerah kekuasaan
kami, agaknya kau terlalu pandang rendah orang-orang Pang kami?"
"Pangcu sendiri yang berkata demikian, tidak perlu Cayhe banyak bicara lagi."
"Biasanya tak pernah ada bentrokan pihak kami dengan pihak kalian, kalau The-congling tinggalkan dia
dan segera mengundurkan diri, urusan ini dapat kuanggap tak pernah terjadi."
"lni ........ maaf, kami tak bisa menurut."
"Baiklah, biar kubelajar kenal dengan Ngo lui-ciang."
Pek-sat-sin mengertak gigi, katanya,
"Cayhe hanya menjalankan perintah, untuk menunaikan tugas, terpaksa menuruti kehendak Pangcu."
"Hm, hayolah turun tangan," dengus Pangcu itu.
"Harap Pangcu memberi pengajaran," lenyap perkataan The Gun ini, dengan membawa damparan
dahsyat, pukulan Ngo-lui-ciang menggempur sehebat gugur gunung.
Sin-eng-pangcu mendorong kedua tangannya memapak kedepan. Suara bagai guntur menggelegar
menyebabkan tanah rumput beterbangan, dua orang sama-sama tergetar mundur selangkah. Ternyata
sama kuat alias setanding, sungguh hebat sekaIi adu pukulan ini.
Kecut hati Pek-sat-sin, namun dia nekat dan lancarkan pula pukulannya.
"Hahahaha" sebuah gelak tawa melengking tiba-tiba berkumandang, suaranya begitu keras bagai
halilintar memecah angkasa.
Gemetar suara Thian-thay-mo-ki berkata ditempat sembunyinya,
"Itulah Thian-cin-ci-sut! Bu-cing-so sudah datang."
Terasa oleh Te-gak Suseng anak telinga seakan-akan pecah, jantung berdetak darah bergolak, secara
reflek segera dia gunakan ilmu penawar Thian-cin-ci-sut yaag dia pelajari dari Thian-thay-mo ki. Begitu Hiatto
tertutup dan dada terlindung, rasa tertekan itu segera lenyap.
Di tanah lapang sana, anak buah Sin-eng-pang satu persatu jatuh tersungkur, muka mereka
menampilkan rasa tersiksa yang luar biasa. Air muka Ko Giok-wa dan Pek-sat-sin berubah, kedua orang
berdiri sempoyongan, laki-laki yang mengempit gadis baju merahpun melepaskan tangan dan jatuh
tersimpuh.
Gelombang tawa tadi tidak berhenti malah lebih keras bagai gelombang samudera mendampar-dampar.
Murid-murid Sin-eng-pang yang rendah Lwekangnya sudah roboh binasa, yang agak kuat darahpun
meleleh dari mulut dan hidung. Sementatra jidat Ko Giok-wa dan The Gun juga sudah dibasahi keringat
yang gemerobyos, agaknya mereka tak kuat bertahan lebih lama. Kalau gelombang tawa ini masih terus
berkumandang, mungkin seluruh hadirin takkan bisa selamat.
Ngeri dan berdetak keras jantung Te-gak Suseng. Baru sekarang dia percaya apa yang dikuatirkan Thianthay-
mo-ki memang baralasan, yang paling diperhatikan adalah si gadis merah, aneh, kelihatannya
sedikitpun tidak terpengaruh apa-apa, dengan melongo dan mematung dia tetap berdiri di tempatnya.
“Celaka," ujar Thian-thay-mo-ki tiba-tiba. "Hiat-to gadis baju merah tertutuk tak bisa bergerak, namun
Thian-cin-ci-sut tetap akan mencelakakan jiwanya ………"
Tergerak hati Te-gak Suseng, baru saja dia hendak menubruk keluar, gelak tawa itu tiba-tiba berhenti.
Tertampaklah seorang tua dengan rambut dan alis beruban, muka merah kepala gundul pelontos melayang
bagai awan mengembang.
"Bu-cing-so!" bisik Thian-thay-mo-ki.
Bu-cing-so berhenti di tengah gelanggang, katanya dingin,
"Kalian tak lekas enyah, minta mampus?"
Sin-eng pangcu Ko Giok-wa bergerak lebih dulu, anak buahnya beramai-ramai mengintil di belakangnya
dengan langkah sempoyongan sambil angkat teman-temannya yang mati dan terluka.
Pek-sat-sin segera memberi tanda kepada anak buahnya, cepat mereka mengundurkan diri ke dalam
hutan sebelah sana. Pelan-pelan Bu-cing-so kemudian menghampiri si gadis merah.
Melihat gelagatnya, Te-gak Suseng menyadari bahwa dirinya harus cepat keluar, peduli apakah dirinya
mampu berhadapan dengan Bu-cing-so. Demi keselamatan gadis baju merah, dia harus berani nyerempet
bahaya. Namun baru saja dia hendak bergerak, Thian-thay-mo-ki menahannya dengan suara, tertahan,
"Tunggu dulu, lihat siapa itu yang datang!"
Satu makhluk aneh bagai gumpalan daging dengan atas putih bawah hitam tahu-tahu "menggelinding"
tiba di tengah lapangan. Waktu Te-gak Suseng mengamati lebih jelas, kiranya seorang aneh bertubuh
pendek buntek, rambutnya yang beruban jarang-jarang, jenggot putih memanjang sebatas dengkul,
jubahnya hitam sehingga dilihat dari kejauhan jadinya setengah putih separo hitam, siapapun takkan
menyangka di dunia ini ada manusia begini aneh.
Terdengar orang aneh itu bersuara, perkataannya seperti orang biasa,
"Lote, jangan tergesa-gesa marilah kau berkenalan dulu dengan aku."
Cepat sekali Bu-cing-so membalik badan, seketika air mukanya berubah, serunya gemetar,
"Siang-thian-ong, kau ..... kau belum mati?"
"Aha, kita berdua sama-sama!"
1.3. Tuduhan Yang Sulit Dibantah
Nama Siang-thian-ong membuat jantung Te-gak Suseng dan Thian-thay-moki tergetar. Mereka saling
pandang, sungguh tak dinyana bahwa tokoh aneh ini masih hidup dan kini muncul juga untuk berebut Sekhud.
Konon pada enam puluh tahun yang lalu makhluk aneh ini sudah menjuluki diri sebagai 'Ang' (aki).
Anak kecil dan kaum perempuanpun kenal namanya, golongan hitam paling jeri bila mendengar namanya,
kini usianya tentu sudah lewat se-abad. Siapa tahu setelah mengasingkan diri puluhan tahun, kini muncul
lagi di sini.
Sesaat lamanya Bu-cing-so kememek, akhirnya dia membentak bengis,
"Ada petunjuk apa?"
Siang-thian-ong terloroh-loroh, ujarnya,
"Lote, usia kita sama-sama tua, kuharap kau jangan berlaku tamak lagi, binalah dirimu ke jalan yang
benar demi hari tuamu.”
"Apa maksudmu?”
"Kuharap kau tidak ikut campur berebut Sek-hud segala."
"Kalau tidak?"
"Terpaksa kita harus berkelahi."
"Hahaha, Siang-thian-ong, kabarnya kau berjiwa pendekar, nyatanya hatimupun tamak, bukankah
kaupun mengincar Sek-hud itu?"
"Lote, jangan kau terlalu tinggi menilai dirimu, jangan harap kita akan memilikinya."
"Eh, memangnya kenapa?"
"Lwekang budak ini memang rendah, namun tulang punggung di belakangnya cukup tangguh, aku
sendiripun tak berani mengusiknya."
“Hebat benar, siapa sih tulang punggungnya? Masakah Siang-thiang-ong yang biasa ditakuti orang hari
ini patah semangat?"
"Siapa dia tidak perlu kukatakan, yang terang aku memberi peringatan padamu dengan, maksud baik."
"Kalau kau tidak berani melawannya, boleh silakan pergi saja, buat apa kau bertingkah dihadapanku?"
"Haha, justeru terbalik, sekali soal ini sudah kebentur di tanganku, apapun yang terjadi pasti
kubereskan."
"Cekak saja jawabku," ujar Bu-cing-so, "orang lain tak kubiarkan menyentuh Sek-hud itu."
"Agaknya tulang kita ini harus dilemaskan dengan adu otot."
Di dalam hutan Thian-thay-mo-ki berpaling kepada Te-gak Suseng, bisiknya,
"Besar manfaatnya bagi kita kalau kedua bangkotan silat ini berkelahi"
"Jangan kau gunakan istilah kita. Cayhe tak setuju bekerja sama dengan kau," sahut Te-gak Suseng.
Berubah kecut muka Thian-thay-mo-ki, kata¬nya dengan cemberut,
"Jangan terlalu yakin, belum tentu 'dia' mau terima kebaikanmu .......”
Dari malu menjadi gusar, segera Te-gak Suseng menghardik,
"Tutup mulutmu. Urusanku tak perlu kau turut campur."
Getaran keras dan ledakan dahsyat amat mengejutkan sekali, ternyata kedua bangkotan silat telah
bergebrak dengan sengit, masing-masing melancarkan pukulan maut. Kalau tidak menyaksikan sendiri, si
apapun tak mau percaya, puluhan tombak sekeliling gelanggang tanah berumput beterbangan.
Pada saat itulah dari kejauhan sebelah sana terdengar sebuah suara berkata,
"Te-gak Suseng, kemarilah kau."
Te-gak Suseng terkejut sambil berpaling, serunya,
"Siapa itu?"
"Yang mau bikin perhitungan. kemarilah untuk menyelesaikan," sahut orang itu.
Tanpa gentar Te-gak Suseng melesat ke dalam hutan, puluhan bayangan putih tampak berjajar
menunggunya. Kiranya Pek-sat-sin The Gun dan kawan-kawannya, cuma jumlahnya bertambah delapan.
Begitu dia meluncur tiba, orang-orang baju putih itu segera merubung mengelilinginya.
Pek-sat-sin menyeringai, katanya,
"Te-gak Suseng, kedua utusan pihak kami itu kaukah yang membunuhnya."
"Betul."
"Bagus, utang jiwa harus bayar jiwa."
Membesi muka Te-gak Suseng, desisnya dengan bengis,
"Mungkin utang jiwaku malah akan bertambah."
Orang-orang baju putih sama menggerung murka.
Pek-sat-sin mengertak gusar,
"Jangan latah, serahkan jiwamu!” Begitu kedua teJapak tangannya bergerak, sayup-sayup terdengar
suara gemuruh guntur menggelegar damparan tenaga menyambar ke depan. Te-gak Suseng angkat sebelah
tangannya mendorong, ke depan, secara keras dia lawan serangan musuh.
"Pyaaaaar!" Te-gak Suseng sempoyongan, Pek-sat-sin sendiri tergetar mundur selangkah
Dua orang berbaju putih melejit maju seraya menggempur pada waktu Te-gak Suseng masih
sempoyongan.
Sekali berkelebat Te-gak Suseng menubruk ke arah kanan, tiga orang di sebelah kiri, melontarkan
serangan bersama. Damparan pukulan dari samping dan belakang membuatnya terpental ke arah Pek-satsin.
Pek-sat-sin sudah mengatur napas dan menghimpun tenaga, ia memapak dengan ayunan sebelah
tangannya, dua orang berbaju putih dari arah depan menyusul juga menggempur. Gelombang tenaga
menggencet Te-gak Suseng dari berbagai penjuru sehingga darahnya terasa mendidih, kepala pusing tujuh
keliling, badan bergoyang gontai, kedelapan orang serentak turun tangan melancarkan Ngo-lui-ciang yang
terkenal keras dan ganas. Namun sedikitpun Te-gak Suseng tidak kelihatan terluka, hal ini cukup membuat
semua, pengeroyoknya terkesiap.
Semakin berkobar napsu membunuh Te-gak Suseng, sebat sekali dia menubruk ke arah Pek-sat sin,
ketika Pek-sat-sin gerakkan kedua telapak tangannya, secepat kilat tahu-tahu Te-gak Suseng membelok ke
kiri menerjang tiga orang berbaju putih, namun empat orang lain dari kanan dan belakang serentak
menggempurnya pula.
"Plak-plak," dua orang berbaju putih terjungkal, namun Te-gak Suseng sendiri juga terpental balik ke
tengah kepungan oleh damparan angin pukulan musuh.
"Kurung dia," Pek-sat-sin memberi aba-aba, "jangan biarkan dia menclekat."
Suara benturan laksana bunyi guntur menimbulkan pusaran angin yang kencang. Te-gak Suseng terjepit
dan bergoyang seperti perahu dipermainkan ombak, darah semakin bergolak, napaspun memburu. Jelas
kalau pertempuran jarak dekat akan menguntungkan dirinya, siapapun yang kena disentuhnya tiada satu
yang selamat. Tapi cara bertempur yang dilaksanakan musuh sekarang membuat dirinya mati kutu.
Terutama pukulan Pek-sat-sin ganas sekali, demikian juga gabungan pukulan anak buahnya dari berbagai
arah teramat rapat dan sukar di jebol, begitu ketat dan gencar serangan musuh sampai dia tidak kuasa
balas menyerang.
Sesosok bayangan tiba-tiba meluncur ke tengah gelanggang.
"Aduh!" terdengar Pek-sat- sin The Gun mengerang kesakitan, pusaran angin yang kencang seketika
tercerai-berai, begitu tekanan lenyap, sigap sekali Te-gak Suseng menerjang keluar kepungan.
"Huaaaaah," jeritan susul menyusul, beberapa orang baju putih sama jatuh terguling, kecuali Pek-sat-sin,
tujuh orang yang lain tiada satupun yang selamat.
Waktu Te-gak Suseng berpaling, dilihatnya dengan muka beringas dan mata menyala Pek-sat-sin tengah
menghampiri Thian-thay-mo-ki. Sebaliknya. Thian-thay-mo-ki memandang Te-gak Suseng dengan
senyuman manis seperti tak terjadi apa-apa.
Pek-sat-sin melihatnya sorot mata berkilat Te-gak Suseng tengah menatap dirinya, tanpa bersuara lagi
segera dia melesat lenyap ke dalam hutan.
"Lari kemana," bentak Te-gak Suseng hendak mengejar.
"Jangan kejar, urusan di sini lebih penting," Thian-thay-mo-ki berseru mencegah.
"Terima kasih atas bantuanmu, kelak akan kubalas," ujar Te-gak Suseng tawar.
"Urusan kecil tak perlu diperhatikan, hanya telah kupersen mereka segenggam jarum sulamku," kata
Thian-thay-mo-ki sambil mengerling mayat-mayat yang bergelimpangan, lalu menambahkan: "Adik, semua
korban tidak terluka, ilmu apakah yang kau gunakan?"
“Tak bisa kuterangkan," sahut Te-gak Suseng tetap kaku dingin.
Tiba-tiba sesosok bayangan melayang pelahan tak jauh dari samping mereka. Gemetar suara Te-gak
Suseng,
"Itulah Bu-cing-so, agaknya Siang-thian-ong yang menang.”
Belum habis dia bicara, bayangan yang aneh itu mendadak menggelundung tiba, tahu-tahu Siang thianong
sudah berdiri di hadapan mereka, namun si Gadis berbaju merah tak kelihatan bayangannya,
"Aneh, apa yang terjadi?" seru Thian-thay-mo-ki.
Tanpa pikir Te-gak Suseng segera melompat maju mengadang di depan Siang-thiang-ong, katanya
sambil merangkap tangan,
“Selamat bertemu Locianpwe."
Siang-thiang-ong merandek, katanya dengan melotot,
"Bukankah kalian sembunyi di dalam hutan dan melihat tontonan, kenapa lari ke sini dan membunuh
orang?"
Bergetar hati Te-gak Suseng dan Thian-thay mo-ki, kiranya jejak mereka sudah diketahui orang.
Berkata Siang-thian-ong lebih lanjut,
"Siapa yang membunuh mereka?"
"Wanpwe," Te-gak Suseng segera ntenjawab.
"Siapa namamu?"
"Te-gak Suseng (pelajar dari neraka)!”
"Hm, jadi kau ini Te-gak Suseng? Kabarnya kau membunuh orang tanpa meninggaikan bekas, selamanya
tiada satupun yang bisa lolos dengan hidup ......" tiba-tiba terpancar sinar aneh pada biji matanya. Dia amati
Te-gak Suseng dari atas sampai kebawah, lalu memandang mayat-mayat yang bergelimpangan itu, akhirnya
dia mengerut kening,
Agaknya tokoh aneh dari angkatan tua inipun tak berhasil menelacak rahasia Te-gak Suseng, namun
mengingat kedudukan dan tingkat dirinya tak leluasa dia, mengajukan pertanyaan, lalu dia berpaling kepada
Thian-thay-mo-ki, tanyanya,
"Kau isterinya?"
Thian-thay-mo-ki. perempuan genit dari Thian-thay ini tertawa cekikik, tidak mengaku juga tidak
menyangkal.
"Tiada sangkut pautnya'" ujar Te-gak Suseng dingin "Dia berjuluk Thian-thay-mo-ki ...........”
"Thian-thay-mo-ki?” Sekonyong-konyong Siang-thian-ong ulur tangan mencengkeram kearah Thian-thaymo-
ki. Sungguh luar biasa cepat gerakannya, kelihatannya dia berhasil menangkap pergelangan tangan
lawan, tahu-tahu lantas berkisar mencengkeram pundak.
Te-gak Suseng berdiri bingung, entah kenapa manusia aneh ini turun tangan dan menyerang Thian-thaymo-
ki. Sekali meliuk pinggang dan bergerak semampai, dan gaya aneh tahu-tahu Thian-thay-mo-ki berkisar
mundur jauh.
"Budak hina," ujar Siang-thian-ong mendelik, "ternyata kau murid nenek galak itu, apa dia masih hidup?”
Thian-thay-mo-ki tertawa genit sambil mengerling, sahutnya,
"Dalam waktu dekat ini beliau tidak akan meninggal, apakah Locianpwe ......"
"Di mana nenek galak itu menyembunyikan diri?" tanya Siang-thian-ong.
"Maaf wanpwe tak bisa menerangkan."
"Hm, baiklah," tiba-tiba orang tua itu berputar ke arah Te-gak Suseng: "Kenapa kau bocah ini mencegat
jalanku?"
"Numpang tanya, gadis berbaju merah itu ......"
“Untuk apa kau tanya dia?"
"Ini .........”
"Hahaha kalau ingin hidup. jangan mencampuri urusan orang lain, aku tak punya waktu untuk mengobrol
dengan kau."
"Locianpwe ............"
Hanya sekali berkelebat, badan Siang thian-ong tahu-tahu lenyap dari hadapan mereka. Te-gak Suseng
berdiri melongo. Sejenak kemudian. tiba-tiba dia melesat keluar hutan menuju ke tanah lapang berumput
itu, namun bayangan gadis baju merah sudah tak kelihatan. Apakah yang telah terjadi? Ke mana si gadis
baju merah? Te-gak Suseng melenggang dengan perasaan menyesal dan sedih. Iapun merasa geli akan
sepak terjang yang tiada juntrungnya ini, apa sih alasannya dia mengundit gadis berbaju merah?
"Adik, kecewa bukan?" ujar Thian-thay-mo-ki
Te-gak Suseng membalik badan, mukanya membeku dingin,
"Jangan kau anggap lucu kejadian ini. Siapa adikmu? Kau boleh silakan pergi.”
"Jangan terlalu angkuh, kau kira aku orang apa?"
Te-gak Suseng segan perang mulut, segera dia melangkah, tertawa dingin Thian-thay-mo-ki di
belakangnya anggap tidak didengarnya. Dengan kencang dia berlari-lari sesaat lamanya, ia tahu ke mana
dirinya hendak menuju? Niat semula memang ke kota Kayhong sudah dibatalkan, kalau pulang cara
bagaimana dia harus memberi pertanggungan jawab terhadap sang ayah.
Tabir malam mulai menyelimuti jagat, pe!ita di rumah-rumah penduduk mulai menyalakan. Tanpa tujuan
dia menyusuri jalan kecil di tengah ladang belalang. Teringat pengalaman setengah hari ini, dia merasa
sepak terjangnya terlalu brutal. Akan tetapi bayangan si gadis baju merah selalu terbayang di depan kelopak
matanya.
Kira-kira satu jam kemudian, tiba-tiba di depannya muncul sebuah kelenteng besar yang dibangun
dengan megah, sinar api lapat-lapat menyorot keluar dari dalam kelenteng. Serta merta dia menghentikan
langkah di depan kelenteng besar itu lapat-lapat masih dapat dibacanya di atas pigura yang tergantung di
atas pintu yang terbuka itu bertuliskan "Lo-kian-ceng-goen-si", tulisan yang lebih kecil tak terbaca lagi
olehnya. Berhenti sejenak baru dia putar badan hendak meninggalkan tempat itu, mendadak sekilas
dilihatnya empat sosok mayat tergeletak di dalam pintu. Rasa aneh dan ingin tahu mengetuk hatinya, segera
dia melangkah masuk ke dalam kelenteng.
Melewati pekarangan dan serambi panjang, beruntun ditemukan beberapa mayat pula, semua korban
mengenakan seragam hitam. Sinar api terang benderang disebelah dalam, namun tak terdengar suara
orang, suasana terasa seram dan menakutkan. Sebentar dia ragu-ragu, segera dia melesat masuk ke ruang
tengah, seketika dia merinding, berdiri bulu kuduknya, keringat dingin membasahi sekujur badannya.
Tertampak puluhan meja perjamuan berjajar rapi di tanah berumput di tengah pekarangan. Hidangan
dan arak belum digasak habis, terang perjamuan itu baru saja dimulai. Namun mayat bergelimpangan
disekitar meja kursi, tiada satupun yang hidup.
Te-gak Suseng bergidik seram, tentunya kelenteng besar ini adalah pusat kekuasaan dari sesuatu
organisasi persilatan, kenapa semua orang di sini terbunuh seluruhnya? Lalu siapakah orang yang bertindak
keji? Dia berjongkok dan memeriksa mayat seorang yang paling dekat, dilihatnya sang korban tidak
menunjukan sesuatu luka, entah bagaimana dia bisa mati? Kembali dia memeriksa lebih cermat. Tiba-tiba
mukanya berubah dan berjingkat berdiri sampai sempoyongan mundur, mulutnya bersuara tertahan.
"Apa mungkin ....... tadi kenapa?"
Dia berdiri kesima dengan bingung, badannya gemetar, pandangannya menyapu mayat-mayat yang
bergelimpangan di dalam pekarangan ini, alisnya berkerut dalam.
"Mungkin orang-orang ini mempunyai cara sendiri untuk menghabisi jiwa," ia menghibur dirinya sendiri
dengan pikiran yang tidak masuk akal ini, lalu dia putar badan hendak meninggalkan kelenteng ini.
Tapi baru saja dia membalik badan, laksana kena aliran listrik tegangan tinggi, dia menyurut kembali
dangan kaget, pikirannya menjadi kacau balau. Beberapa tombak di sebelah sana di jalanan yang ma¬suk
ke ruang tengah ini, tertampak sesosok bayangan merah nan jelita, dia bukan lain adalah si gadis baju
merah pujaannya, tambatan hatinya yang diuber-ubernya selama ini.
Bagaimana dia dapat muncul disaat ini? Lalu apa sangkut pautnya semua korban ini dengan dia? Muka
gadis berbaju merah kelihatan mengunjuk amarah yang tak tertahankan, matanya seperti hampir tarbakar.
Apakah yang telah terjadi? Dengan langkah berat Te-gak Suseng maju beberapa tindak, lalu sapanya,
“Tak nyana di tempat ini bertemu lagi dengan nona?"
"Te-gak Suseng." bentak si gadis baju merah dengan bengis, "kejam benar perbuatanmu ............"
Terkesiap hati Te-gak Suseng, serunya: "Nona bilang apa?"
"Kau tidak berperikemanusiaan."
"Cayhe baru saja tiba, mayat-mayat ini .........”
“Tutup mulutmu. Dengan mataku sendiri pernah kusaksikan kau membunuh orang tanpa neninggalkan
bekas, kini kenyataan terpampang di depan mata, tiada alasan bagimu untuk mungkir lagi. Hayo katakan,
dengan cara keji apa kau membunuh mereka?"
Te-gak Suseng tertawa getir, katanya: "Bukan Cayhe yang melakukannya."
"Memangnya siapa?”
"Ini .......... entahlah."
"Berani membunuh orang kenapa kau tidak berani mengakuinya?”
"Terus terang, tidak sedikit orang yang telah kubunuh, namun kejadian di sini memang betul-betul bukan
perbuatanku."
"Cara bagaimana kau bisa berada di tempat ini?"
"Tanpa sengaja aku masuk kemari.”
"Hm," dengus si nona.
Watak Te-gak Suseng angkuh dan latah, biasanya dia tidak sudi banyak bicara, namun keadaan hari ini
berbeda dengan biasanya, orang yang dihadapinya adalah gadis pujaannya, walau cintanya bertepuk
sebelah tangan, namun hal ini cukup menjadikan alasan untuk mengekang perasaan dan kendalikan
wataknya, kalau orang lain tentu sikapnya sudah jauh berubah.
Namun sekarang meski dia ingin melimpahkan isi hatinya juga tidak mungkin lagi, betapa risau hatinya,
dapatlah dibayangkan, dan yang lebih penting adalah bahwa si nona yang turun tangan jahat membunuh
orang sebanyak ini, dan berbalik menuduhnya malah, semua ini secara langsung telah memunahkan citacita
dan keinginannya. Setelah membisu sekian lamanya, lalu dia bertanya,
"Nona bernama siapa?"
"Kau tidak perlu tahu," semprot si gadis baju merah, "aku tidak sudi beritahu kepadamu."
Berkerutuk gigi Te-gak Suseng, sedapat mungkin dia menahan perasaan dan gejolak hatinya, katanya,
"Lalu apa sangkut paut nona dengan semua korban ini?"
Meadelik mata gadis berbaju merah, serunya beringas,
"Aku ini adalah penuntut batas sakit hati mereka."
Te-gak Suseng menyurut mundur.
"Sekali lagi kunyatakan, bukan aku yang membunuh mereka."
"Jiwa ratusan orang, apakah cukup dengan jawaban sepatah kata ini?"
"Lalu apa yang harus Cayhe katakan dan buktikan?"
Semua korban tiada satupun yang terluka atau keracunan, cara membunuh orang yang tiada keduanya
ini, kecuali kau memangnya siapa lagi orangnya?"
"Nona terlalu yakin akan pendirian sendiri. Cayhe tak tahu apa pula yang harus kukatakan."
Tiba-tiba derap kaki orang banyak datang dari luar. Sebuah tandu berhias dipikul empat laki-laki kekar
mendatangi, langsung menuju pekarangan tengah. Di belakang tandu beriring puluhan orang seragam
hitam. Tandu diturunkan, keempat pemikulnya berdiri tegak di tempatnya sambil meluruskan tangan.
Lekas si gadis baju merah menghampiri ke depan tandu, lalu berbisik-bisik dari balik kerai, entah apa
yang dia laporkan, lalu diapun berdiri ke samping.”
Te-gak Suseng menjadi sebal, siapakah orang yang berada dalam tandu? Semua orang berbaju hitam
sama memandangnya dengan sorot mata gusar penuh kebencian, seakan-akan ingin membeset kulit dan
mengiris dagingnya.
Suasana hening mencekam perasaan, lama sekali baru terdengar sebuah suara perempuan yang kereng
berkata,
"Kau ini berjuluk Te-gak Suseng?"
"Betul!"
"Terangkan asal usulmu."
"Maaf, tak bisa kupenuhi permintaan ini."
"Hm, dengan keji kau menghabisi ratusan jiwa orang, apa alasanmu?"
"Sudah berapa kali Cayhe menyatakan, bukan Cayhe yang melakukannya."
"Dengan apa kau membuktikan bukan perbuatanmu?"
"Dengan kehormatan pribadiku."
"Hahaha, kau, Te-gak Suseng, juga berani bicara soal kehormatan pribadi."
Berubah roman muka Te-gak Suseng, dia tidak terima dihina dan dicemooh, hawa hitam di tengah kedua
alisnya semakin tebal, siapapun akan merinding melihat nafsunya yang mulai berkobar. Katanya sambil
melangkah dua tindak ke arah tandu,
"Siapa sebutan yang mulia?"
"Kau belum setimpal untuk tanya diriku."
Tak tertahan lagi Te-gak Suseng segera ayun tangannya menggempur ke arah tandu, serangan yang
dilandasi hawa amarah ini, kekuatannya bagai kilat menyambar dan seperti badai mengamuk.
Semua orang berbaju hitam yang hadir sama menggerung gusar, namun tiada satupun yang berani turun
tangan. Gadis berbaju merah sebaliknya mengunjuk rasa jijik mencemoohkan.
Kerai tandu tampak sedikit bergoyang, dari dalam tandu timbul serangkum angin lembut, seketika
damparan badai pukulan Te-gak Suseng yang dahsyat itu sirna tanpa bekas.
Gemetar dan merinding Te-gak Suseng, Lwekang orang dalam tandu sungguh teramat tinggi. Tiba-tiba
teringat olehnya, Siang-thian-ong pernah memberi peringatan kepada Bu-cing-so bahwa gadis baju merah
ini mempunyai tulang punggung yang amat tangguh, siapapun tak berani mengusiknya, agaknya kata-kata
itu bukan gertakan belaka.
Sesaat lamanya dia menjadi bingung, bagaimana baiknya. kenyataan membuktikan bahwa dirinya bukan
tandingan orang, namun dasar wataknya kaku dan suka menang, tak pernah terpikir olehnya untuk
menyingkir saja, apalagi di hadapan si gadis baju merah yang dipujanya, tak sudi dia unjuk kelemahan.
Terdengar orang di dalam tandu buka suara pula:"Te-gak Suseng, berkatalah terus terang sajal"
"Tiada yang harus kukatakan," jawab Te-gak Suseng.
"Kau ingin mampus?"
"Belum tentu kau mampu!"
"Agaknya sebelum melihat peti mati, kau tidak akan menangis," kembali kerai tandu bergoyang,
segulung angin kencarg mendampar keluar, secara refleks Te-gak Suseng ayun tangan memapak dengan
pukulan.
"Plok" seperti ledakan halilintar di tengah angkasa, Te-gak Suseng terhuyung-huyung puluhan langkah,
mukanya pucat pasi, dua jalur darah meleleh dari ujung mulutnya. Sejak dia mengembara, baru pertama
kali ini bertemu dengan musuh tang¬guh yang menakutkan ini, sampai balas menyerang atau membela
diripun ia tak mampu.
Gadis berbaju merah berkata dingin,
"Te-gak Suseng, baiknya berterus teranglah."
Sorot mata Te-gak-Suseng menatap wajah si¬gadis, walau mukanya diliputi rasa dendam dan kebencian,
namun tetap menggiurkan, sikapnya agung berwibawa.
Seketika kuncup amarah Te-gak Suseng yang meluap-luap berhadapan dengan si gadis yang telah
menambat hatinya itu. Sungguh dia tidak habis mengerti akan perasaannya ini, katanya getir sambil
membersihkan noda darah dimulutnya,
“Nona, bukan aku pembunuhnya."
Terdengar suara kereng dari dalam tandu.
"Periksa dengan teliti jenazah para saudara yang menjadi korban."
Beberapa orang mengiakan, puluhan orang berbaju hitam segera bekerja memariksa mayat-mayat yang
bergelimpangan, tempat-tempat yang terlarangpun tidak ketinggalan mereka periksa, akhirnya semua
memberi laporan yang sama,
"Tiada tanda-tanda luka sedikit pun."
Te-gak Suseng menengadah mukanya berkerut, dia tahu sebabnya, namun tidak mau mengatakan.
"Majukan tandu ini!" bergegas empat pemikul tandu angkat tandu berhias itu dan maju langsung
mendekati Te-gak Suseng.
Suara orang dalam tandu semakin dingin,
"Te-gak Suseng," serunya, "pada dirimulah kubongkar teka teki ini,"
"Yakin yang mulia pasti akan kecewa."
"Tunggu saja hasilnya nanti."
Beberapa jalur kencang mendesir keluar dari balik kerai tandu. Secepat kilat Te-gak Suseng melejit ke
samping, gerak geriknya boleh dikata teramat cepat. Namun kepandaian orang dalam tandu sungguh luar
biasa, seolah-olah dia sudah memperhitungkan dengan tepat ke mana Te-gak Suseng akan bergerak, maka
dalam waktu yang sama beruntun beberapa jalur angin kencang menyambar pula, sehingga Te-gak Suseng
seperti memapak sendiri ke arah terjangan angin kencang ini. Kontan sekujur badan tergetar, darah terasa
bergolak seperti beribu ular menggigit badannya, betapa besar siksa derita ini sukar dilukiskan.
Keringat berketes-ketes, saking kesakitan raut mukanya sampai berubah bentuk, badannya mengejang.
Tapi dia mengertak gigi tanpa mengeluh sedikit pun, kedua biji matanya merah membara dan melotot.
Lama kelamaan pandangan matanya semakin kabur dan berkunang-kunang.
"Buuk", akhirnya dia roboh terguling dan berkelejotan beberapa kali, lalu merangkak bangun dan
meronta kesakitan, ingin memaki namun tak mampu mengeluarkan suara.
"Kau mau bicara tidak?"
"Ti....tidak .........''
"Bluk", kembali dia terguling jatuh, badannya meliuk-liuk dan meringkal, napasnya mulai memburu, dari
mulut, kuping dan hidung merembes darah.
2.4. Jangan Sentuh Dia ....... !!!
Kata orang di dalam tandu itu penuh kebencian: "Te-gak Suseng, tak nyana terhadap badanmu sendiri
kaupun berlaku begini kejam."
Menghimpun seluruh tenaganya, Te-gak Suseng menjerit dengan beringas: "Kalau ...... kalau aku .....
tidak .... mati, ..... aku ...... bersumpah akan mem ....... membunuhmu."
“Geledah badannya," orang dalam tandu itu memberi perintah, "keluarkan sesuatu yang bisa
menunjukkan tanda dirinya."
Seorang laki-laki tua baju hitam segera melangkah maju sambil mengiakan, dia membungkuk badan
serta ulur tangan. Tiba-tiba laki-laki baju hitam memekik seram terus terbanting jatuh, sebentar kaki tangan
meronta-ronta cepat sekali jiwanya lantas melayang.
Terdengar gerungan gusar, kembali sejalur angin lesus menyampuk keluar dari dalam kerai. Kontan
badan Te-gak Suseng terlempar beberapa tombak dan terbanting diam.
"Bunuh dia," orang di dalam tandu memberi perintah, dua orang berbaju hitam mengiakan sambil
menghunus pedang,
"Berhenti!" di kala kedua orang berbaju hitam itu merandek karena seruan itu, sesosok bayangan orang
bagai kilat tahu-tahu melayang turun, kiranya seorang gadis jelita.
“Siapa kau?" bentak orang di dalam tandu.
"Thian-thay-mo-ki."
"Apa maksud kedatanganmu?"
"Kau bertindak keterlaluan."
"Apa maksudmu?"
"Te-gak Suseng memang dugal dan nyentrik, namun dia bukan laki-laki rendah yang tidak punya rasa
tanggung jawab, kalau membunuh orang tidak nanti dia mungkir."
"Kau sekomplotan dengan dia?"
“Asal usulnya aku tidak tahu, namun belum ada setengah jam dia baru berpisah dengan aku, kusaksikan
sendiri dia masuk ke kelenteng ini, lalu kalianpun berdatangan, apakah kau yakin dalam waktu setengah jam
ini dia mampu membunuh ratusan orang yang berkepandaian tinggi?"
“Soalnya tidak terletak pada waktu, namun terletak pada cara dia membunuh."
"Aku berani menjadi saksi bahwa bukan dia pembunuhnya."
"Kemungkinan kau bekerja sama dengan dia."
Membesi wajah Thian-thay-mo-ki, katanya murka,
"Kau berkepandaian silat tinggi lalu kau boleh sembarangan menuduh orang?"
"Hm, kalau kau memang sekomplotan, kaupun takkan luput dari tanggung jawab, seluk beluk urusan ini
pasti akan terbongkar."
Badan Te-gak Suseng tampak bergerak-gerak, dengan rasa iba Thian-thay-mo-ki mengawasinya lalu
berkata kepada si gadis baju merah: "Nona, tentunya kau tidak lupa bahwa dia pernah menolong kau dari
tangan orang-orang Ngo-lui-kiong bukan?"
Berubah air muka si gadis baju merah: "Betul, hal itu takkan kulupakan, namun jiwa ratusan orang
.........”
"Kenyataan belum membuktikan bahwa dialah pembunuhnya bukan?"
"Hanya dia yang ada di sini, orang yang baru saja mati ini, keadaannya mirip dengan yang lain-lain,
apakah ini tidak bisa dijadikan bukti, coba bagaimana kau akan menjelaskan?"
"Aku tidak perlu menjelaskan, namun aku yakin bukan dia yang turun tangan, kutanggung ........."
"Kau tidak setimpal untuk menanggung dia ........" sela orang di dalam tandu.
Thian-thay-mo-ki angkat tangannya, serunya,
"Kalau dengan ini bagaimana?”
Di antara jari telunjuk dan jari tengahnya terselip sebentuk batu giok yang berbentuk menyerupai hati
sebesar telapak tangan bayi, batu giok itu berlobang tiga di tengahnya.
"Sam-ci-ciat!" orang di dalam tandu berseru kaget.
"Betul kau kenal benda ini?" jengek Thian-thay-mo-ki dingin.
"Kau ....... kau murid beliau?”
"Betul!"
Berdiam sesaat lamanya, lalu terdengar orang di dalam tandu bersuara berat,
"Baik, mengingat benda ini, persoalan sementara sampai di sini dulu, namun urusan belum selesai
.........”
"Kalau kelak dapat dibuktikan bahwa Te-gak Suseng ada sangkut pautnya dengan pembunuhan ini,
kutanggung menggusur dia kehadapanmu, terserah kau menghukumnya."
"Baik, boleh kau membawanya pergi."
"Hiat-tonya yang tertutuk ........”
“Sudah dibebaskan, kalau tidak tentu jiwanya sudah melayang sejak tadi.''
Terunjuk perasaan serba salah pada wajah Thian-thay-mo-ki, sesaat dia bungkam, tiba-tiba dia banting
kaki terus membungkuk dan hendak memanggulnya ...........
Tak terduga pada saat itu pula tiba-tiba Te-gak Suseng membuka mata,
"Jangan kau sentuh aku," katanya dengan suara gemetar, dengan tangan menyanggah tanah, dia
merangkak bangun dengan sempoyongan.
Thian-thay-mo-ki melenggong, kembali wajahnya mengunjuk perasaan benci tapi juga kasihan, mulut
sudah bergerak namun urung bicara.
Dengan tatapan dingin Te-gak Suseng menyapu pandang semua orang yang hadir, lalu dia tatap pula
muka si gadis baju merah sebentar, habis itu baru berputar kepada Thian-thay-mo- ki dan berkata,
"Kebaikanmu ini akan terukir dalam hatiku.”
Lalu dengan langkah sempoyongan dia beranjak ke pintu kelenteng.
Bulan sabit menghiasi angkasa, bintang-bintang bertaburan, cakrawala remang-remang kebiruan, angin
malam terasa dingin mengiris kulit.
Thian-thay-mo-ki mengintil di belakang Te-gak Suseng, entah berapa jauh mereka berjalan, akhirnya dia
berkata,
"Dik, lukamu tidak ringan, berobat dulu lebih penting."
Betapapun dingin dan kaku sikap Te-gak Suseng, akhirnya terharu juga akan kebaikan orang, katanya
sambil menghentikan langkah,
"Terima kasih atas perhatianmu, rasanya Cayhe tahu cara bagaimana harus mengurus diri. Sekarang
boleh silakan pergi saja, Cayhe tak ingin bikin repot kau."
Dengan mendongkol Thian-thay-mo-ki melerok ke arah Te-gak Suseng, katanya dingin,
"Kau tidak sudi bergaul bersamaku?"
"Bukan begitu, Cayhe tidak suka terlalu banyak utang budi."
"Te-gak Suseng," seru Thian-thay-mo-ki marah-marah, "kau kira aku ini betul-betul perempuan rendah?
Hm!"
Dengan murka dia terus putar badan dan berlari pergi, cepat sekali bayangannya menghilang ditelan
kegelapan malam.
Te-gak Suseng ingin memanggil dan memberi penjelasan, namun urung, ia tahu isi hati orang, namun
dia merasa sebal berhadapan dengan tingkah laku orang yang genit.
Dia geleng-geleng kepala, lalu beranjak masuk ke hutan, luka dalam yang parah, ditambah siksa tutukan
jalan darah yang terbalik, sungguh tak tertahankan lagi, untunglah wataknya yang keras tetap bertahan,
kalau tidak, mungkin dia tak kuat bergerak lagi. Sekarang yang penting mengobati luka-luka, urusan lain
harus dikesampingkan dulu.
Dengan mengerahkan seluruh tenaganya baru dia dapat tiba di dalam hutan, lalu duduk di bawah sebuah
pohon, tenaga seolah-olah sudah habis sama sekali, tulang sekujur badan serasa retak dan terlepas dari
ruasnya. Dia tenangkan diri mengatur napas lalu keluarkan dua butir obat dan ditelannya, pelan-pelan ia
pejamkan mata, pusatkan pikiran untuk bersamadhi.
Tiba-tiba sesosok bayangan orang yang besar bagai setan menyelinap ke luar dari dalam hutan, matanya
menyapu keadaan sekelilingnya, lalu melompat dekat ke arah Te-gak Suseng. Saat-saat genting tengah
dicapai dalam latihan Te-gak Suseng yang sedang samadhi ini, maka apa yang terjadi di sekelilingnya tidak
dilketahui sama sekali. Bayangan orang itu tiba-tiba angkat tangan memukul batok kepala Te-gak Suseng.
Dalam keadaan seperti Te-gak Suseng ini, cukup sedikit sentuh dengan tutukan jari saja akan
membuatnya celaka, kalau tidak Cau-hwe-jip-mo dengan badan cacat, malah mungkin nyawa bisa
melayang.
Pada detik-detik genting itu, sebelum jiwa Te-gak Suseng direnggut pukulan telapak tangan bayangan
besar itu, di luar dugaan, tahu-tahu orang itu menghentikan tangan di tengah udara, seakan-akan sedang
memikirkan sesuatu, lama sekali baru kembali dia ayun tangannya.
"Heh!" tiba-tiba terdengar suara orang mendengus, reaksi bayangan orang itu teramat cepat dan sukar
dilukiskan, secepat kilat dia menubruk ke arah datangnya suara.
"Siapa?" hardiknya.
Dari balik pohon sana„ melompat ke luar sesosok bayangan langsing.
“Hm, Thian-thay-mo-ki " jengek bayangan orang tadi.
"Betul, tuan ini orang kosen dari mana?"
Ternyata setelah tinggal pergi dengan rasa dongkol. Thian-thay-mo-ki tidak tega meninggalkan Te-gak
Suseng dalam keadaan sepayah itu, maka diam-diam dia putar balik, kebetulan bayangan aneh yang hendak
membunuh Te-gak Suseng ini kepergok olehnya. Kuatir mengganggu Te-gak Susen.g, maka dia hanya
tertawa dingin dan berusaha memancing bayangan misterius itu.
Di bawah sinar bulan sabit yang remang-remang menembus dari sela-sela dedaunan, kelihatan bayangan
mis¬terius ini adalah seorang berjubah sutera dan berkedok. Bahwa namanya sendiri diketahui orang,
sebaliknya siapa orang itu Thian-thay-mo-ki tidak tahu, mau tidak mau ia merasa ngeri namun tetap
waspada.
Orang berkedok itu berkata dengan menyeringai: "Budak, siapa diriku kau tidak perlu tahu, yang terang
kau takkan bisa pergi dengan hidup."
Thian-thay-mo-ki terkikik,
"Lho, memangnya kenapa? " tanyanya.
"Tidak apa-apa"
"Manusia durjana sekalipun, kalau membunuh orang tentu punya alasan."
"Omong kosong, untuk membunuhmu tidak perlu pakai alasan segala, cukup asal kuanggap perlu
membunuhmu."
Tegak alis lentik Thian-thay-mo-ki. Katanya,
"Lantaran aku mengganggu tuan membunuh Te-gak Suseng?"
"Anggaplah betul ucapanmu."
"Te-gak Suseng bertangan gapah, semua korbannya tidak meninggalkan bekas-bekas luka, membunuh
dia berarti memberantas kejahatan di Kangouw, namun tuan kan tidak perlu membunuh dan menutup
mulutku ...........”
"Ha ha ha, perempuan jalang, kau kira orang macam apa diriku ini, kau naksir dia, tapi dia tidak suka
padamu, barusan kau pergi dengan marah-marah, kenapa sekarang putar balik lagi?"
Berubah air muka Thian-thay-mo-ki, agaknya bayangan misterius ini mengetahui apa yang telah terjadi,
lalu apa tujuannya hendak membunuh Te-gak Suseng? Meski tahu takkan memperoleh jawabnya, namun
bisa mengulur waktu, juga baik, dia berharap Te-gak Suseng lekas bangun dari samadhinya. Maka dengan
tertawa menggiurkan dia berkata,
"Agaknya tuan malah yang berminat?"
"Sudah tentu."
"Dari perawakan tuan tentunya bukan sebangsa manusia rendah, dalam Bu-lim tentu punya kedudukan
penting, apakah tidak malu melakukan perbuatan rendah .......”
"Kau keliru, aku tidak pedulikan segala peraturan."
"Oh, kau takut kalau sebentar dia siuman, kau bukan tandingannya?"
"Terserah apa yang kau duga, yang terang kalian harus sama-sama mampus. Kau hendak mengulur
waktu, bukan? He he he ......" di tengah tawa dinginnya, tahu-tahu tangannya mencengkeram kearah Thianthay-
mo-ki, gerakannya secepat kilat, aneh lagi.
Namun Thian-thay-mo-ki waspada dan siaga, baru pundak orang bergerak, dia ayun tangan, segenggam
jarum segera dia taburkan, jarum rahasianya ini selembut bulu kerbau, beberapa tombak sekelilingnya bisa
dicapainya, apa lagi jarak kedua orang begini dekat, mustahil kalau lawan tidak terluka.
Tapi orang berkedok acuh tak acuh seperti tidak terserang apa-apa, gerak tangannya tetap
mencengkeram, hujan jarum itu sebagian besar mengenai badan orang, namun pergelangan tangan Thianthay-
mo-ki juga terpegang oleh lawan.
Serasa terbang sukma Thian-thay-mo-ki saking kaget, bahwa jarum-jarumnya itu adalah senjata rahasia
yang terkenal ganas dan ditakuti persilatan, yaitu Siok-li-sin-ciam (jarum gadis suci) yang bisa nyusup ke
badan manusia mengikuti aliran darah, kalau terlambat diobati, jarum akan merusak jantung orangnya
binasa.
Selama dia berkelana baru pertama kali ini dia kebentur seorang yang tidak takut, terluka oleh jarumjarum
saktinya, dan lebih menakutkan lagi bahwa jarum-jarum yang mengenai badan orang itu tahu-tahu
sama rontok berjatuhan, sungguh luar biasa dan sukar dibayangkan.
Sedikit orang berkedok itu kerahkan tenaga seketika Thian-thay-mo-ki merasa sekujur badannya lemas
lunglai, tenaga murninya tak mampu dikerahkan lagi.
Orang berkedok itu terloroh-loroh, matanya memancarkan sinar jalang serta merta terasa oleh Thianthay-
mo-ki akan maksud jahat orang, seketika kecut perasaannya.
Dengan sebelah tangannya orang berkedok mengusap wajah Thian-thay-mo-ki, sorot matanya yang
bernafsu menjelajah seluruh badan orang yang padat berisi, lalu gumamnya dengan suara berat,
"Sayang sekali kalau kubunuh begini saja, makhluk seayu ini, kenapa tidak kunikmati dulu.......”
Pucat pias muka Thian-thay-mo-ki, badanpun gemetar.
Kata orang berkedok dengan tawa lebar,
"Rase genit, walau aku sudah setengah baya, namun Soal hubungan laki perempuan tanggung nomor
satu di dunia ini. Kau tidak percaya? Sebentar boleh kau buktikan, ha ha ha ha...........!"
Gelak tawa yang penuh nafsu birahi itu menyentak sanubari Thian-thay-mo-ki. Tapi dia berjuluk Mo-ki
(iblis genit), tentunya julukannya ini bukan diperolehnya secara gampang, cepat dia ubah sikap dan unjuk
tawa genit dengan aleman,
"Apa benar?" tanyanya.
"Sudah tentu, kenyataan akan membuktikan." ujar orang berkedok itu lalu cekakak seperti orang gila.
"Kalau begitu ....... lepaskan tanganku."
"Tidak bisa, diriku tidak gampang dipermainkan, memangnya aku tidak tahu apa yang terkandung dalam
hatimu? Hahaha ......" lalu ia seret Thian-thay-mo-ki ke arah Te-gak Suseng, katanya pula,
“Ilmu silatmu akan kupunahkan dulu, sekarang kubereskan anak keparat ini, kemudian bersenangsenang
dengan kau." Tiba-tiba jari telunjuknya bergerak, Thian-thay-mo-ki terhuyung-huyung jatuh
terduduk tak mampu bergerak lagi. Orang berkedok itu lalu menghampiri Te-gak Suseng yang masih
samadhi itu.
Hakikatnya Te-gak Suseng tidak menyadari bahwa elmaut tengah mengancam dirinya. Seakan-akan
menyala kedua biji mata Thian-thay-mo-ki, jari tengahnya tiba-tiba menutuk beberapa Hiat-to di badan
sendiri, tahu-tahu dia melompat berdiri dengan gerakan gemulai terus menubruk ke arah orang berkedok.
Hampir dalam waktu yang sama, terdengar jeritan seram yang menggetarkan sukma, dengan muntah
darah Te-gak Suseng terpukul mencelat beberapa tombak jauhnya. Sigap sekali orang berkedok itu
membalik badan, kebetulan dia menampak kedatangan Thian-thay-mo-ki, dengan bersuara heran, kontan
dia ayun tangannya menyapu,
"Blang,” Thian-thay-mo-ki juga terpental balik.
Badan Te-gak Suseng terbanting keras dan tidak bergerak mungkin jiwanya sudah melayang.
"Hebat juga rase genit ini,” dengus orang berkedok, "ternyata kau tidak mempan tutukan."
Thian-thay-mo-ki ayun tangan, sebuah benda. berkilauan tiba-tiba menyambar orang berkedok itu.
"Cit-sian-hwi-yim!”, teriak orang berkedok kaget. Sebat sekali dia berkelebat menyingkir, namun benda
berkilau itu seperti benda hidup layaknya, tahu-tahu melingkar balik terus berputar-putar satu lingkaran, dua
lingkaran dan seterusnya, belum lingkaran pertama lenyap, lingkaran selanjutnya sudah saling susul
menjadikan taburan sinar bundar laksana jala yang ketat dengan mengeluarkan desis angin kencang, siapa
takkan kaget dan takut.
Gerakan orang berkedok ternyata bagai setan berkelebat di tengah-tengah kepungan jala bersinar tajam
itu. Tiba-tiba terdengar mulutnya menggerang cahaya terangpun seketika kuncup, tertampak kain kedok
kepala orang berkedok tadi basah oleh darah, jelas sekali batok kepalanya tergores luka selebar tiga senti.
"Rasakan sekali lagi," teriak Thian-thay-mo-ki geram, kembali dia ayun tangannya. Tapi orang berkedok
bergerak lebih cepat, belum sempat Cit-sian-hwi-yim (pisau terbang) di lepaskan, bagai kilat menyamber
tahu-tahu orang berkedok itu sudah melejit ke atas seraya memukul dengan kedua tangannya, pada saat
senjata rahasia Thian-thay-mo-ki ditimpukkan, pukulan dahsyat lawanpun sudah mendampar tiba "Blang",
kontan dia terguling roboh. Pisau terbangnya yang melengkung itu sempat berputar di tengah udara, namun
bayangan orang berkedok sudah berkelebat di luar jangkauan lingkaran cahaya terang itu. Setetah
melingkar tujuh kali, pisau melengkung itu akhirnya jatuh di atas tanah.
Orang berkedok mendekati Thian-thay-mo-ki. Dilihatnya darah meleleh dari mulut dan hidungnya, jelas
napasnya sudah terhenti, sejenak dia termenung berkata dingin,
"Perempuan sundel, boleh kau menjadi pasangan di alam baka dengan anak keparat itu."
Habis berkata, berkelebat bayangannya lantas lenyap.
Suasana dalam hutan hening lelap, hanya suara keresekan daun pohon yang tertiup angin sehingga
kesunyian mencekam perasaan. Setengah jam telah berlalu, dua orang laki-laki berbaju hitam memasuki
hutan untuk meronda, tiba-tiba satu diantaranya menjerit kaget,
"Lihat, apa itu?"
Bergegas mereka melompat maju, seorang yang lain juga berteriak,
"Hah, bocah itu!”
"Siapa?" tanya temannya.
"Te-gak Suseng."
Serta merta keduanya menyurut dua langkah, sesaat mereka mematung, setelah ditunggu tiada gerak
apa-apa, salah seorang coba melangkah maju pula. Setelah longok sana longok sini, dia ulur tangan
menyentuh badan orang, kemudian teriaknya dengan mendelik,
"Sudah mati!"
"He, di sana juga ada ...... itulah Thian-thay-mo-ki, dia juga mati.”
"Aneh, kenapa mereka sama-sama mampus dalam hutan ini, siapakah pembunuhnya?"
"Mungkin dia orang tua .........”
"Tutup mulutmu, kau ingin mampus, berani cerewet!"
"Hihi, coba lihat, nona yang begini menggiurkan, meski sudah tidak bernyawa .........”
"Kenapa?"
"Hehe ......sungguh ....... sungguh membuatku tak tahan lagi."
"Li Ji, keparat kau ini, jangan terpikat paras cantik, dia kan sudah mati."
"Lo-ong, terus terang, di kala dia masih hidup, untuk mencium pantatnya saja jangan kau harap ......."
"Memangnya kau hendak memperkosa mayatnya?"
"Ah, tidak, tapi merabanya saja kan boleh?" orang berbaju hitam yang dipanggil Li Ji lantas mendekati
Thian-thay-mo-ki terus berjongkok dan mengulur tangan.
"Waaaah!" jeritan panjang yang seram dan mengerikan memecah kesunyian. Li Ji terbanting roboh
celentang, kepalanya pecah mukanya hancur, jiwanya melayang seketika.
Laki-laki berbaju hitam yang lain serasa copot nyalinya. Memangnya orang mati mampu membunuh
orang? Tahu-tahu Thian-thay-mo-ki melompat bangun dengan gaya yang menggiurkan.
Seperti dikejar setan laki-laki berbaju hitam itu segera lari lintang pukang, beberapa langkah lagi dia
sudah tiba di pinggir hutan, tahu-tahu seorang membentak dingin di hadapannya,
"Berhenti!"
Bergidik dan gemetar sekujur badan laki-laki berbaju hitam itu, bulu kuduknya berdiri semua, yang
mencegat di tengah jalan kiranya Thian-thay-mo-ki. Noda darah masih meleleh dari hidung dan mulutnya.
Kaki terasa lemas, kontan dia jatuh terkulai, mulut terpentang dan megap-megap tak mampu bersuara.
sekian lamanya baru dia berteriak serak,
"Kau.... kau setan atau manusia?"
"Berapa jauh terpautnya antara setan dan manusia?" ujar Thian-thay-mo-ki dingin.
"Apakah kau ti ...... tidak mati? Tapi, jelas tadi kau sudah tak bernapas?"
"He he, kalau Thian-thay-mo-ki gampang mati, biar kuhapus saja nama julukanku." Habis kata-katanya
itu, sekali dia tepuk telapak tangannya, laki-laki berbaju hitam menjerit terus roboh binasa.
Bergegas Thian-thay-mo-ki berlari masuk hutan menghampiri Te-gak Suseng, air mata tak tertahan lagi
bercucuran, mulutnya menggumam sambil sesenggukkan,
“Beginikah kau mengakhiri hidupmu?"
Sambil bicara dia duduk bersimpuh tangannya terulur ......
"Jangan sentuh dia!"
Tiba-tiba sebuah suara dingin berkumandang di belakangnya. Dengan kaget lekas Thian-thay-mo-ki tarik
tangannya seraya meloncat berdiri.
Dilihatnya seorang perempuan setengah umur berwajah welas asih berdiri di sampingnya. Bagaimana
perempuan ini berada di dekatnya sedikitpun tidak disadarinya, dari sini dapatlah dibayangkan bahwa
kepandaian silat orang ini cukup tinggi.
Kini teringat olehnya bahwa Te-gak Suseng pernah mencegah dirinya menyentuh tubuhnya. Perempuan
yang muncul mendadak ini juga melarang dirinya menyentuh jenazahnya, kenapa? Siapakah petempuan ini?
Dengan hambar dia lantas bertanya,
“Siapakah Cianpwe ini?"
"Namaku tidak perlu disebut lagi.”
Thian-thay-mo-ki melengak, tanyanya,
"Kenapa Cianpwe melarang aku menyentuhnya?"
Tidak menjawab pertanyaannya, perempuan itu malah maju mendekat, dengan jari-jari tangannya yang
halus putih meraba sekujur badan Te-gak Suseng.
Tak tahan Thian-thay-mo-ki berkata,
"Seorang berkedok telah memukulnya mati di saat dia bersamadhi."
Perempuan setengah umur itu menghela napas penuh rasa iba, dua butir air mata menetes, katanya pilu,
"Kasihan!"
Dengan terbelalak Thian-thay-mo-ki mengawasi, tanyanya,
"Cianpwe kenal dia?"
"Bukan saja kenal, dia .......”
"Cianpwe pernah apa dengan dia?"
"Ah, tak perlu dibicarakan lagi.”
Jawaban yang tak karuan, ini membuat Thian-thay-mo-ki tidak sabar, bukan saja Te-gak Suseng tidak
menyintai dirinya, malah bersikap kasar, namun dia benar-benar menaruh hati kepadanya. Perasaan
manusia, memang sulit diraba, dia sendiri tidak habis mengerti kenapa dirinya kasmaran terhadap laki-laki
berlengan buntung yang baru dikenalnya ini.
Mungkin karena watak mereka ada titik persamaannya, atau mungkin Te-gak Suseng memang laki-laki
yang patut dicintai setiap perempuan, pendek kata Te-gak Suseng sudah menambat hatinya. Kini dia sudah
meninggal, semua ini seperti sebuah impian belaka yang berakhir dengan tragis. Tak tertahan tercetus
sumpahnya,
"Aku akan menuntut balas."
Perempuan setengah umur mengawasi Thian-thay-mo-ki dengan tertegun, tanyanya kemudian,
"Kau ....... kau ingin menuntut balas? Kukira sulit sekali."
"Cianpwe tahu siapa laki-laki berkedök itu?"
"Ai, inilah karma, apa pula yang harus kukatakan. Kalian ........”
"Tiada hubungan apa-apa," ujar Thian-thay-mo-ki getir. "Kami hanya bersua secara kebetulan saja."
"O, barusan kelihatannya kaupun sudah mati .....”
"Tapi aku hidup kembali."
"Siapakah gurumu?"
"Aku dilarang menyebut nama beliau."
Kembali perempuan setengah umur meraba-raba sekujur badan Te-gak Suseng, lalu katanya sedih,
"Memang sudah nasibnya, hanya mati yang mengakhiri semua dendam. Ai, mestinya belum saatnya dia
mati ......"
"Belum saatnya mati, kenapa?" tanya Thian-thay-mo-ki.
"Daya hidupnya belum pudar, sayang sekali ......”
"Perempuan itu menjawab ragu-ragu.
2.5. Balasan Pengorbanan Darah
Tergerak hati Thian-thay-mo-ki, tanyanya,
"Jadi dia masih punya harapan hidup?"
"Ya, tapi aku ..... hanya berpeluk tangan saja."
"Kenapa?"
"Hanya sesuatu saja dalam langit ini yang mampu menghidupkan nyawanya."
Bersinar biji mata Thian-thay-mo-ki, serunya gugup,
"Apakah sesuatu itu?"
"Ah, tak usah kukatakan. Benda pusaka tak bisa diperoleh secara paksa, apalagi daya hidupnya hanya
bertahan sebentar lagi.”
"Cobalah Cianpwe katakan benda apakah itu?” pinta Thian-thay-mo-ki.
"Sek-liong-hiat-ciang (darah naga batu), obat mujarab yang ada di dalam dongeng.”
"Sek-liong-hiat-ciang ..... Sek-liong-hiat-ciang!” gumam Thian-thay-mo-ki dengan haru dan kegirangan.
Bercucuran pula air mata perempuan setengah umur, katanya tersedu-sedu. "Nona, sikapmu
memberitahu kepadaku akan hubungan kalian, aku tak bisa lama di sini, kupikir kau sudi menguburnya
dengan selayaknya. Tapi ingat, jangan kau sentuh badan bagian kiri, sekarang aku hendak pergi.”
Pelan-pelan dia berdiri lalu berdoa,
"Nak, maafkan aku.... aku .....," kata-kata selanjutnya tertelan oleh sedu sedannya. Sekali berkelebat,
tahu-tahu bayangannya sudah menghilang.
"Cianpwe, tunggu dulu!" teriak Thian-thay-mo-ki. Tapi dia tidak memperoleh jawaban, perempuan
setengah umur pergi dan datang secara mendadak. Terpaksa Thian-thay-mo-ki duduk di samping mayat Tegak
Suseng, lama dia terlonggong, akhirnya dia berkertak gigi dan ambil keputusan.
"Baik akan kucoba." gumamnya.
Dia singkap lengan bajunya, dengan kuku jarinya yang panjang runcing dia gores lengannya yang putih
halus, darah segar segera mengucur keluar. Cepat tangannya yang lain menyanggah dagu Te-gak Suseng
sehingga mulutnya terpentang, cucuran darahnya segera di teteskan ke mulutnya. Setengah jam kemudian,
Te-gak Suseng sudah menelan puluhan teguk darahnya. Thian-thay-mo-ki menarik napas panjang, ia
menghentikan tetesan darahnya terus bersimpuh istirahat.
Setelah istirahat sekian lama, dilihatnya tubuh Te-gak Suseng tetap kejang dingin tidak menunjuk
sesuatu perubahan. Apa boleh buat dia menghela napas putus asa, gumamnya: "Agaknya memang sudah
takdir.”
Tapi pada saat itulah, tiba-tiba dilihatnya badan Te-gak Suseng mulai bergerak. Dia sangka pandangnya
kabur, setelah kucek mata dia pandang lagi lebih jelas terlihat dada orang bernapas turun naik dengan
teratur. Sungguh bukan kepalang girangnya. Segera ia hendak meraba dada orang, namun teringat akan
peringatan perempuan tadi, lekas-lekas dia tarik tangannya pula, lalu meraba hidungnya, betul-betul terasa
hembusan hangat dari lubang hidung.
"Dia hidup kembali Sek-liong-hiat-ciang betul-betul bisa menghidupkan orang yang sudah mati. Kenapa
sebelum ini tidak teringat olehku. Untung perempuan itu menyinggungnya, kalau tidak, kematiannya tentu
amat 'penasaran," begitulah dia menggumam sendiri dengan suara gemetar. Wajahnya nan ayu bak bunga
mekar menampilkan perasaan yang aneh, sudah tentu Te-gak Suseng yang belum siuman itu tidak tahu.
Sebetulnya Thian-thay-mo-ki bisa salurkan hawa murninya membantu orang siuman lebih cepat, tapi
teringat pada peringatan perempuan itu, terpaksa dia menahan sabar menunggu reaksi selanjutnya.
Kenapa dia dilarang menyentuh badan bagian kiri, dan di mana letak rahasia Te-gak Suseng yang
membunuh orang tanpa meninggalkan bekas luka-luka, tetap akan menjadi teka-teki bagi dirinya. Sang
waktu berjalan lambat di dalam penantian yang menggelisahkan.
Bintang-bintang sudah buram, hawa dingin semakin menusuk tulang, hari sudah mendekat fajar. Tibatiba
Te-gak Suseng membuka kedua mata, remang-remang dilihatnya seseorang bersimpuh di sampingnya.
Alam pikirannya masih kabur, lama sekali dia masih dalam keadaan setengah sadar. Akhirnya menjadi jelas
juga penglihatannya, dengan sendirinya ingatannya lambat launpun menjadi jernih.
"Oh, dia." ia mengeluh dalam batin, sebelah tangannya menyanggah tanah, ia bangun berduduk.
Sungguh bukan kepalang senang hati Thian-thay-mo-ki, katanya,
"Dik, kau kau akhirnya hidup kembali.”
Terkesiap darah Te-gak Suseng, dia hanya ingat dirinya masuk hutan dan bersamadhi menyembuhkan
luka-luka dalamnya. namun tahu-tahu diserang orang dan apa yang terjadi selanjutnya tidak diketahui.
Ucapan ‘hidup kembali’ betul-betul membuatnya kaget dan heran.
"Apa katamu, aku hidup kembali?" ia menegas.
"Benar, tadi kau sudah mati sekali."
"Apa yang terjadi?"
"Waktu kau bersamadhi, tiba-tiba muncul seorang laki-laki kekar berkedok dan berjubah sutera ......”
"Berjubah sutera dan mengenakan kedok? Lalu bagaimana?"
“Kebetulan aku datang waktu dia hendak memukulmu, lantas kupancing dia pergi, tapi aku bukan
tandingannya, jarum-jarum saktiku yang keji tak kuasa melukai dia."
"Oh, orang macam apakah dia?"
"Dia tak mau memperkenalkan diri, entah apa alasannya dia menyerang kau."
"Hm, dan selanjutnya?"
"Dia meringkus aku, menutuk hiat-toku. Untung aku bisa membebaskan diri dengan menjebol jalan darah
yang tertutuk hingga terluka. Waktu dia menyerangmu lagi, aku tak sempat membebaskan tutukannya
namun aku sempat melukai dengan senjataku yang lain, meninggalkan tanda mata di atas kepalanya.
Akhirnya aku menipunya dengan pura-pura mati setelah menutup Hiat-to menghentikan denyut nadi .......”
"Kau tidak terluka?"
"Terluka parah, tapi dalam waktu singkat aku bisa menyembuhkan lukaku."
Te-gak Suseng berdiri, katanya dingin,
"Ceritamu sudah tamat?"
Berubah air muka Thian-thay-mo-ki mendengar nada pertanyaan orang yang ganjil, serunya,
"Cerita? Apa maksudmu?"
Jawab Te-gak Suseng tak acuh,
"Karanganmu amat menarik, sungguh menyentuh sanubari. Semalam kau memang pernah membantuku,
kelak pasti akan kubalas kebaikanmu, tapi tidak sepantasnya kau membuntuti diriku..... Aku tak berminat
terhadap dirimu.”
"Aku ...... aku membuntuti kau?" desis Thian-thay-mo-ki dengan gusar, badan gemetar wajahpun merah
padam.
"Laki-laki kekar berkedok dengan jubah sutera yang kau katakan itu aku kenal, malah erat hubungannya
dengan aku. Dia mengenakan Thian-hian-ih (baju sutera langit) yang tidak takut api air dan segala macam
senjata tajam, maka jarum-jarummu tak dapat melukai dia .......”
"Oh, kau ........”
"Ketahuilah, dia adalah ayahku, mungkinkah dia membunuhku? Siapa mau percaya cerita bohongmu?"
"Dia ....... dia ayahmu?"
"Sedikitpun tidak salah!"
"Tapi dia betul-betul hendak membunuh kau." kata Thian-thay-mo-ki dengan suara tertekan. "Te-gak
Suseng, apa yang aku katakan adalah kejadian nyata, terserah kau mau percaya, mungkin dandanannya
yang mirip ayahmu.”
"Tidak mungkin.”
"Di atas kepalanya telah kuberikan tanda mata."
"Itu akan kuselidiki.”
"Dan masih ada ..........”
''Cukup sekian saja, banyak urusan yang harus kuselesaikan, tiada tempo buat ngobrol disini."
Sebetulnya Thian-thay-mo-ki hendak mengisahkan munculnya perempuan setengah umur itu, serta
mendengar ucapan orang yang tak kenal budi amarahnya jadi memuncak, matanya merah, teriaknya
beringas,
"Te-gak Suseng, kau binatang berdarah dingin, tidak punya perikemanusiaan .......”
"Anggaplah begitu, selamat berpisah," jengek Te-gak Suseng, lenyap kata-katanya bayangannya sudah
berkelebat beberapa tombak jauhnya.
Bergontai badan Thian-thay-mo-ki yang padat semampai, matanya mendelik memancarkan kebuasan,
dengan darah sendiri dia menolong jiwa orang, tak nyana begini kasar dan tak kenal budi perlakuan yang
diterimanya. Betapa benci dan dendam hatinya sungguh tak terlukiskan dengan kata-kata. Setelah
terlongong sekian lamanya, tiba-tiba dia membanting kaki, katanya,
"Kalau tidak kubunuh kau, aku bukan manusia.”
o0o
Sementara itu Te-gak Suseng tengah berlari, ia mengakui bahwa sikapnya rada keterlaluan terhadap
Thian-thay-mo-ki, dasar wataknya memang nyentrik dan kaku, dia tak suka bermuka-muka kepada orang
lain.
Betapapun cerita Thian-thay-mo-ki tentang orang berkedok yang hendak membunuh dirinya sudah
menggores dalam lubuk hatinya. Ia anggap demi mencapai cita-citanya sengaja Thian-thay-mo-ki
mengarang cerita bohong ini, karena semua itu tidak mungkin terjadi. Namun orang berani bersumpah dan
katanya meninggalkan tanda mata di atas kepala orang itu, hal inilah yang perlu dia selidiki kebenarannya.
Kalau betul, maka orang berkedok itu pasti penyamaran seseorang jahat yang punya tujuan buruk,
memangnya pernah terjadi dalam dunia ini seorang ayah membunuh anak kandungnya sendiri? Siapapun
tiada yang mau percaya.
Malam berakhir dan fajarpun menyingsing, Te-gak Suseng mencuci muka di sebuah sungai kecil,
membersihkan noda-noda darah di bajunya, lalu melanjutkan perjalanan. Setiba di jalan raya kebetulan
dilihatnya beberapa orang penunggang kuda mendatangi, lekas dia menyingkir ke pinggir, tiba-tiba seekor
kuda meringkik berjingkrak dan berhenti di sampingnya, seseorang berseru,
"Bukankah kau ini Ji Bun.”
Kejutnya bukan kepalang, selama dia mengembara, belum pernah dia menyebut nama sendiri. Tiada
seorangpun kaum persilatan yang tahu nama aslinya. Serta merta dia angkat kepala, hatinya seketika
berdetak, ternyata yang menegur adalah Ciang Wi-bin, si hartawan terkaya di Kayhong, seorang tokoh yang
di segani pula di daerah Tionggoan. Walau beberapa tahun tak pernah bertemu, namun wajah orang yang
kereng dan berwibawa masih diingatnya dengan baik, terutama jenggot orang yang menjuntai panjang di
depan dada.
Ribuan li ditempuhnya hendak melamar puteri orang she Ciang ini, lantaran si gadis berbaju merah itulah
sehingga dirinya berubah niat semula, entah orang sudah tahu belum akan hal ini? Bagaimana kalau
ditanyakan, tentu serba runyam dan memalukan. Maka dengan tersipu-sipu dia memberi hormat,
"Keponakan bodoh Ji Bun memberi salam hormat kepada paman Ciang."
Ciang Wi-bin tergelak-gelak sambil melompat turun. Delapan Centing di belakangnya beramai-ramai ikut
turun pula.
"Hiantit (keponakan baik), apakah ayahmu baik-baik saja belakangan ini?" tanya orang tua itu.
"Berkat doa paman, beliau sehat-sehat saja."
"Dalam sekejap enam tahun sudah berselang, Hiantitpun sudah dewasa, eh, kau ..........”
Tanpa sadar Te-gak Suseng Ji Bun menyurut mundur, sahutnya dengan kebat-kebit,
"Paman ada petunjuk apa?"
"Lengan kirimu ........”
"Salah latihan, terpaksa dibuntungi."
"Dibuntung, mana boleh jadi?"
Ji Bun tidak menjawab, jantungnya berdebar-debar, ia kuatir orang tanya berbelit-belit.
Berubah roman Ciang Wi-bin mengawasi lengan kiri Ji Bun yang kosong melambai, gumamnya,
"Bagaimana mungkin, bagaimana mungkin ......" berkelebat sorot matanya mengawasi Ji Bun, katanya
dangan nada rendah, "Kenapa Hiantit datang ke Kayhong seorang diri?"
Ji Bun menjawab dengan suara tergagap,
"Di samping melancong untuk menambah pengalaman, sambil menyelesaikan ...... menyelesaikan suatu
urusan."
"Jadi kau juga belajar silat?"
Ji Bun mengiakan sambil mengangguk.
"Ayahmu dulu menamakan kau `Bun` (sastra), maksudnya supaya kau memperdalam Ilmu sastra tanpa
belajar silat, tak nyana dia telah berubah haluan ........"
"Maksud ayah supaya keponakan belajar silat untuk jaga diri, sebetulnya......"
Tiba-tiba seorang menjerit kaget diantara para Centing itu dan berseru: "He, pasti dia inilah.”
"Kurangajar," bentak Ciang Wi-bin sambil menoleh, "ada apa berteriak-teriak."
Lekas centing itu menunduk, sahutnya takut-takut, "Hamba ...... tiba-tiba teringat seorang tokoh
Kangouw yang belakangan ini amat menggemparkan. Wajah dan dandanan yang dilukiskan itu mirip benar
dengan Ji-kongcu."
"Tokoh macam apa dia?" tanya Ciang Wi-bin.
"Gelarnya adalah Te-gak Suseng!”
"Apa? Te-gak Suseng?”
"Ya, mohon ampun akan kesemberonoan hamba."
Bertaut alis Ciang Wi-bin, beberapa kali dia menyapu pandang ke arah Ji Bun, tanyanya gemetar,
"Jadi hiantit inikah Te-gak Suseng yang dimaksud itu?"
Ji Bun tergagap, akhirnya ia berterus terang,
"Betul!"
Bergetar jenggot panjang Ciang Wi-bin, sesaat lamanya dia tak bersuara. Te-gak Suseng, julukan ini
sama buruk dan jahatnya seperti setan iblis.
Tokoh yang biasanya bertindak jujur dan terus terang ini betul-betul sangat kaget dan keheranan.
Sungguh tak pernah terpikir o!ehnya bahwa calon menantunya ternyata adalah Te-gak Suseng yang
terkenal jahat dan kejam, membunuh orang tanpa meninggalkan bekas.
Berhadapan dengan calon mertuanya, perasaan Ji Bun seperti duduk di atas jarum, dengan senyuman
kecut, katanya,
"Kalau paman tiada petunjuk, keponakan mohon pamit saja...."
"Kau tidak mampir dulu ke rumahku?"
"Lain hari sajalah."
Ciang Wi-bin menatap sesaat lagi, mulutnya sudah terbuka hendak bicara, namun urung, akhirnya dia
mengulap tangan, ujarnya,
"Kalau begitu pergilah."
Lekas Ji Bun memberi hormat terus melangkah pergi dengan perasaan enteng. Enam tahun yang lalu,
dirinya adalah seorang pemuda cakap, namun sekarang adalah laki-laki yang buntung lengannya, tidak
heran Ciang Wi-bin kelihatan bimbang dan tidak menyinggung soal pernikahan dirinya dengan puteri
tunggalnya. Hal ini terasa sangat menguntungkan dan melegakan hatinya malah.
Bayangan si gadis baju merah nan molek selalu terbayang di depan kelopak matanya, tanpa terasa dia
tertawa geli sendiri, bagaimana perasaannya sekarang, dia sendiri tidak tahu.
Begitulah sambil berjalan tanpa tujuan pikirannya melayang jauh ke berbagai soal yang melibatkan
dirinya akhir-akhir ini, tahu-tahu ia menyadari dirinya berada di tengah ladang belukar yang jarang diinjak
manusia, ia berdiri melenggong sejenak. Sang surya sudah tinggi di tengah cakrawala. Setelah menerawang
keadaan sekelilingnya, kemudian ia menuju ke arah barat.
Tiba-tiba sebuah tandu kecil yang dipikul dua orang berlalu tak jauh di depannya sana, langkah kedua
pemikul tandu kecil itu ringan dan cepat, jelas mereka adalah ahli silat yang berkepandaian tinggi. Tergerak
hati Ji Bun, tiba-tiba teringat olehnya tandu berhias yang dilihatnya di Ceng-goan-si, apakah tandu ini sama
dengan tandu yang diiringi gadis berbaju merah itu?
Kepandaian tokoh kosen dalam tandu itu betul-betul membuat hatinya jeri dan kagum, namun rasa
penasaran dan dendamnya tetap berkecamuk dalam sanubarinya. Dia tahu belum saatnya sekarang dia
menuntut balas, namun siapa dan bagaimana asal usul orang dalam tandu itu patut dia selidiki.
Dan yang lebih penting adalah dia tidak bisa melupakan si gadis berbaju merah itu.
Bergegas dia berlompatan ke sana memburu ke arah lenyapnya tandu berhias itu, setelah melewati
semak belukar, di depan sana mengadang sebidang hutan pohon cemara, tandu berhias itu menyusup
masuk ke dalam hutan dan lenyap.
Setelah berpikir sejenak, Ji Bun segera mengejar masuk ke dalam hutan cemara. Semak-semak berduri
menyulitkan perjalanannya, beberapa jauh dia harus melewati belukar berduri ini, akhirnya lapat-lapat
dilihatnya di depan sana ada bayangan sebuah bangunan megah.
Tempat apakah ini? Demikian dia bertanya-tanya. Apakah markas komplotan rahasia yang sering
beroperasi di Kangouw? Kalau main terjang secara gegabah, jiwanya bisa terancam bahaya, namun untuk
putar balik rasanya teramat berat. Apalagi di siang hari bolong begini, kalau di dalam hutan ada pos-pos
penjagaan rahasia, pasti jejaknya sudah konangan dan akibat yang bakal menimpa dirinya harus dia
perhatikan juga.
Namun dasar wataknya angkuh dan suka menang, jarang dia menyerah pada keadaan. Setelah berpikir
sejenak, segera dia angkat langkah maju pula ke depan.
Semakin jauh semakin gelap dan dingin, akhirnya tiba di depan sebuah kelenteng.
Aneh, tiada kelihatan jejak manusia, namun tandu kecil tadi jelas lenyap ke dalam hutan ini, memangnya
ke mana tujuannya? Agaknya ada apa-apa di dalam kelenteng bobrok ini.
Sebentar dia ragu-ragu, akhirnya dia melesat masuk ke dalam kelenteng, tertampak patung-patung
pemujaan sudah tiada yang utuh, meja roboh debu menumpuk. Dengan langkah tetap dia beranjak ke arah
dalam, setelah melewati balairung, tiba-tiba pandangannya menjadi terang, di antara semak-semak rumput
yang tumbuh tinggi di pojok sana, tandu kecil berhias tadi tampak ada disana. Namun jelas baginya bahwa
tandu yang ini bukan tandu hias yang dilihatnya di Ceng-goan-si kemarin, rasa was-was seketika hilang
setengah, namun rasa heran dan curiga lantas mengetuk hatinya.
Bahwa tandu ini ada di sini pasti ada penghuni dalam kelenteng bobrok ini, soalnya di mana mereka
menyembunyikan diri? Kenapa tidak dijaga dan membiarkan orang luar seperti dirinya terobosan kemari
sesukanya? Didorong oleh rasa ingin tahu, timbul keinginannya untuk menyelidiki supaya jelas duduk
persoalannya.
Segera dia mendekati tandu itu dan menyingkap kerai, ternyata kosong tiada apa-apa. Namun dari dalam
tandu terendus bau wanita, tentu adalah seorang perempuan yang naik tandu ini.
Tiba-tiba terdengar sebuah suara lirih di belakangnya, tergerak hati Ji Bun, namun dia sengaja pura-pura
tidak tahu, maka terdengar pula suara yang menusuk menegurnya,
"Sahabat ini sungguh lucu, kenapa terobosan ke kelenteng bobrok dan kotor ini?"
Pelahan Ji Bun memutar badan, di depannya berdiri seorang laki-laki tua berjubah hitam bertubuh kurus,
wajahnya dingin culas, begitu dirinya putar badan, laki-laki tua ini seketika berubah romannya, serunya
gemetar,
"Apakah saudara ini .........”
"Aku yang rendah Te-gak Suseng .......”
"Oh," tanpa sadar laki-laki jubah hitam menyurut mundur, "untuk apa kau kemari?" tanyanya.
Tidak menjawab Ji Bun malah balas bertanya,
“Siapakah tuan ini?"
"Ah, aku Si It-ho."
"Tempat apakah ini."
"Sebuah ..... kelenteng bobrok ........”
"Dimanakah orang yang naik tandu tadi?"
Laki-laki berjubah hitam tertawa kering, sahutnya,
"Orang naik tandu siapa?”
Tegak alis Ji Bun, katanya,
"Jangan kau memancing kemarahanku untuk membunuhmu, bicaralah terus terang?"
Berubah air muka laki-laki berjubah hitam alias Si It-ho itu, katanya tergagap,
“Pernah apa saudara dengan orang yang naik tandu ini?"
"Kau tidak perlu tahu katakan saja di mana dia sekarang?''
"Maksud saudara .......”
"Jangan banyak omong," potong Ji Bun.
Laki-laki kurus berjubah hitam angkat pundak seraya mengusap kepalanya yang agak pelontos, hanya
sedikit menggerakan tangan, seketika terendus bau harum merangsang hidung. Ji Bun mendengus sekali,
tangan sudah terayun hendak memukul, namun pikirannya bekerja secepat kilat, lekas dia turunkan
tangannya dengan pura-pura sempoyongan, mukanya mengunjuk rasa bingung seperti orang linglung.
Laki-laki kurus berjubah hitam mundur dua langkah dengan tajam dia tatap muka Ji Bun, tiba-tiba dia
cekakak kegirangan, katanya,
“Te-gak Suseng, tahukah kau tempat apa ini?"
Sikap Ji Bun linglung seperti orang lupa ingatan, sahutnya,
"Ini ........ tempat apakah ini?"
"Ki-po-hwe."
"Ki. ...po....Hwe.. .. Oh, kenapa kepalaku menjadi pusing?"
"Saudara, ikutilah aku," kata laki-laki kurus berjubah hitam, lalu dia mendahului jalan ke arah serambi, ke
ruang pemujaan. Ji Bun mengikuti dengan langkah sempoyongan seakan-akan amat payah menggerakkan
langkahnya. mulutnya menggumam,
"Tuan hendak membawaku ke mana? Aneh, apakah aku ini sakit ......?”
Tiba-tiba terdengar suara berisik, tahu-tahu meja besar pemujaan di depan deretan patung-patung
pemujaan bergeser pelahan-lahan, muncullah sebuah !ubang yang menjurus ke bawah dengan undakan
batu. Seperti orang kehilangan ingatan Ji Bun mengikuti langkah orang memasuki pintu bawah tanah ini.
Kira-kira tiga tombak kemudian, undakan batu berakhir, pandangan matanya menjadi terang, ternyata
lorong panjang ini diterangi cahaya mutiara yang tertatah di dinding batu. Setiap tombak dijaga dua orang
laki-laki berseragam hitam, tangan masing-masing menghunus senjata tajam, penjagaan keras dan ketat.
Para penjaga itu semua memberi hormat kepada laki-laki berbaju hitam ini.
Cepat sekali mereka tiba di depan sebuah pintu besar yang gelap, dipandang dari luar, tertampak pilarpilar
batu berderet panjang serta pintu yang berlapis-lapis. Siapa akan menyangka di bawah kelenteng
bobrok ini ternyata ada bangunan di bawah tanah yang begini besar dan megah.
Tepat di tengah-tengah pintu besar terukir deretan huruf yang berbunyi "Ki-po-hwe". Di depan pintu
berbaris 12 orang yang bersenjata pedang. Semua beralis tebal dan mata melotot, tak ubahnya seperti
patung-patung batu.
Seorang pemuda berusia 20an muncul di ambang pintu, wajahnya halus pakaiannya perlente. Lekas lakilaki
berbaju hitam memberi hormat, sapanya,
"Siau-hwe-cu (majikan muda) baik-baik saja?"
Pemuda baju putih mengawasi Ji Bun, tanyanya,
"Siapa dia?"
"Te-gak Suseng,” sahut laki-laki kurus berbaju hitam.
"Apa?" seru pemuda baju putih kaget, "Te-gak Suseng?" suaranya gemetar dan jeri.
"Katanya dia mengikuti tandu, terpaksa hamba mengundangnya kemari."
"Bagus, Si-tongcu, bawa dia ke kamar nomer 2 dan korek keterangannya."
"Terima perintah!" Si It-ho mengiakan. Setelah menyapu pandang pula kepada Ji Bun. baru pemuda baju
putih itu berlalu.
Laki-laki she Si lantas berkata,
"Saudara, mari ikut aku!"
Seperti orang linglung, dengan kaku Ji Bun pandang orang serta mengikutinya masuk ke dalam. Setelah
melewati berlapis-lapis pintu dan ruangan, akhirnya mereka tiba di depan sebuah kamar batu yang tertutup
rapat. laki-laki baju hitam mengetuk pintu tiga kali. Pintu besi yang besar dan berat itu lantas terbuka
pelahan.
Suasana dalam ruang besar ini amat seram dan khidmat, begitu masuk mereka dihadang sebuah meja
besar, meja yang biasanya digunakan para hakim, di belakang duduk seorang perempuan setengah baya
dengan pakaian mewah gemerlapan, sanggulnyapun dihiasi batu manikam, di sebelah kiri berdiri pemuda
baju putih yang dipanggil "Siau-hwe-cu" tadi, tak jauh di depan meja berderet empat buah kursi, kursi
ketiga di duduki seorang gadis yang bermuka kaku dengan pandangan pudar, usianya tujuh belasan,
wajahnya cantik jelita.
Dibelakang gadis berdiri dua laki-laki berbaju hitam sambil memeluk tangan, suasana menyerupai hakim
sedang bersidang dan gadis ayu itu menjadi terdakwa.
Laki-laki kurus membungkuk badan terus melangkah masuk, katanya penuh hormat kepada perempuan
bersolek itu,
"Lwetong Si It-ho menghadap Hwe-cu."
"Hm," sahut perempuan itu, matanya yang tajam segera memandang ke arah Ji Bun, katanya,
"Tinggalkan dia di sini, biar aku sendiri yang membereskan dia, kau boleh pergi."
Laki-laki kurus alias Si It-ho mengiakan.
"Perkeras penjagaan, jangan sampai ada orang luar menyelundup kemari."
Si It-ho segera mengundurkan diri, pintu besi yang tebal itu segera menutup pula.
Dengan terlongong Ji Bun berdiri mematung di balik pintu.
Jari-jari tangan Ki-po-hwe-cu yang. bertaburan mutiara terangkat, katanya,
"Kau inikah Te-gak Suseng?"
Ji Bun hanya sedikit mengangguk dengan linglung.
"Kau boleh duduk."
2.6. Pertemuan Tak Terduga.
Seperti robot saja Ji Bun melangkah maju dan duduk di kursi sebelah gadis yang berdandan seperti
puteri raja ini.
"Kau kemari untuk dia?" tanya Ki-po-hwe-cu.
"Dia?" Ji Bun menegas dengan tak mengerti.
"Pernah apa kau dengan dia?"
"Dia? Cayhe ...... tidak kenal.”
"Kenapa kau menguntitnya?"
"Cayhe ...... hanya tertarik, lalu mengikutinya,"
"Oh," Ki-po-hwe-cu berpaling kepada pemuda baju putih sambil manggut, katanya,
"Kita lanjutkan persoalan genduk ayu ini."
Sejak Ji Bun memasuki ruang sidang ini, gadis rupawan itu tak pernah angkat kepala atau melirik
kepadanya.
Dengan suara halus dan ramah Ki-po-hwe-cu berkata kepada gadis rupawan itu,
"Nona, kau bernama Ciang Bing-cu? Puteri tunggal Ciang Wi-bin?"
"Ya," sahut gadis itu, suaranya merdu. Bergetar badan Ji Bun, namun tiada orang yang memperhatikan
dirinya.
Pemuda baju putih menyela bicara.
"Nona Ciang, terpaksa, kau harus tinggal beberapa hari di sini, kutanggung kami takkan mengganggu
seujung rambutmu, sebagai puteri mestika seorang hartawan Kayhong, kalau hanya mengeluarkan lima
renteng mutiara dan lima ribu tahil emas, tentunya ayahmu tidak akan keberatan, bila barang-barang yang
kami minta diantar kemari, kaupun boleh pulang, dengan selamat "
Kembali bergetar badan Ji Bun, namun roman mukanya tidak mangunjuk reaksi apa-apa.
Berkata Ciang Bing-cu dengan suara lembut,
“Kalian menculikku dan hendak memeras ayahku?”
Ki-po-hwe-cu terkekeh-kekeh, katanya,
"Nona, selama hidupku ini, hobiku adalah mengumpulkan segala macam benda-benda mestika, itulah
azas tujuan berdirinya organisasi ini, soal memeras, mencuri dan segala cara bisa saja kami halalkan."
Berputar biji mata Ciang Bing-cu yang pudar, bibirnya bergerak-gerak, namun dia tidak menanggapi.
Ki-po-hwe-cu berkata kepada puteranya: "Bawa dia ke belakang. Ingat, jangan kau sentuh dia, inilah
undang-undang, jangan sudah tahu kau sengaja melanggarnya''
"Anak tahu," sahut pemuda baju putih. Lalu dia berkata pada kedua laki-laki baju hitam,
"Kalian tetap di sini, aku sendiri yang akan menggusurnya."
Lalu dia mendekati Ciang Bing-cu, katanya,
"Nona, marilah ikut aku, di sini tiada urusanmu lagi."
Tiba-tiba Ji Bun menanggapi dengan suara dingin,
"Nanti dulu!" Nadanya rendah berat, namun bertenaga, dan berwibawa, tiada tanda-tanda seperti
seorang yang hilang ingatan, kecuali Ciang Bing-cu yang tetap kehilangan kesadaran, empat orang yang
hadir sama berjingkat kaget.
Melotot biji mata pemuda baju putih, katanya sambil menatap Ji Bun,
"Kau ....... apa katamu?”
Lenyap rona muka Ji Bun yang pura-pura linglung tadi, suaranya tetap dingin kaku,
"Kataku nanti dulu, jelaskan dulu persoalannya."
"Persoalan? Persoalan apa yang dijelaskan?"
“Memangnya kedatanganku ini harus sia-sia?”
“Kau ......" gemetar suara Ki-po-hwe-cu tiba-tiba, "Te-gak Suseng, pintar sekali kau berpura-pura."
Mendadak Ji Bun berdiri, matanya menyapu pandang ke seluruh ruang sidang, katanya,
“Obat biusmu memangnya bisa berbuat apa terhadapku..”
Ternyata waktu mendengar nama Te-gak Suseng tadi, Si It-ho, laki-laki kurus berbaju hitam tadi tak
berani melawannya secara kekerasan, ia tahu dirinya bukan tandingan orang, maka dia menggunakan obat
bubuk dengan harapan dapat membius ingatan orang. Tak nyana, Ji Bun sekaligus gunakan muslihat ini
untuk menipu musuh supaya dirinya leluasa menyusup ke sarang musuh. Namun mimpipun tak pernah
terpikir olehnya, bahwa di sini dia akan bertemu dengan Ciang Bing-cu puteri tunggal Ciang Wi-bin atau
calon isterinya pula.
Dalam waktu singkat ini dia sudah sempat memperhatikan lawan jenisnya ini, memang rupawan dan
menawan hati. Sayang lubuk hatinya sudah terisi bayangan si gadis berbaju merah. Maka batalnya
pernikahannya dengan gadis yang satu ini tidak menjadikan penyesalan baginya. Apalagi waktu bersua
Ciang Wi-bin di tengah jalan tadi, ketika melihat lengannya buntung sebelah, sikap Ciang Wi-bin menjadi
dingin dan kurang simpatik. Hal ini lebih meyakinkan pendiriannya untuk menggagalkan perjodohan ini.
Betapapun hubungan kekeluargaan sudah mendalam, soal jodoh meski batal, namun sebagai seorang
laki-laki tak mungkin ia berpeluk tangan. Apalagi Ciang Wi-bin bukan tokoh sembarangan, namun Ki-po-hwe
berani menculik puterinya dan hendak minta tebusan, sungguh kejadian yang cukup mengejutkan.
Kedua laki-laki seragam hitam secara diam-diam menggeremet ke belakang Ji Bun, tanpa bersuara
serentak mereka mencengkeram bersama.
"Jangan turun tangan!" Ki-po-hwe-cu membentak gusar akan kelancangan anak buahnya.
Namun sudah terlambat jeritan yang mengerikan menelan suara bentakkannya, sigap sekali mendadak Ji
Bun membalik badan, kontan kedua laki-laki seragam hitam terkapar jatuh binasa. tak tertampak sesuatu
luka, Ji Bun juga tak menunjukkan sesuatu gerakan.
Pemuda baju putih berteriak kaget.
“Brak!" Ki-po-hwe cu menggebrak meja, bentaknya,
“Te-gak Suseng, berani kau membunuh orangku di sini?"
Ji Bun mendengus, jengeknya,
"Kenapa tidak berani. Kau sendiri perlu kuperingatkan, jangan kau main peras terhadap Ciang Wi-bin.”
"Kematianmu sudah depan mata, masih berani kau membual,“ seru Ki-po-hwe-cu dengan suara parau.
"Ketahuilah, tempat ini tak ubahnya seperti neraka ......”
"Hah!"secepat kilat tahu-tahu Ji Bun menubruk ke sana, pergelangan tangan pemuda baju putih ternyata
sudah dicengkeramnya.
"Lepaskan!" hardik Ki-po-hwe-cu.
"Masakah begini gampang," Ji Bun menyeringai sinis.
"Kau ...... apa yang hendak kaulakukan terhadapnya?"
"Tiada apa-apa? Biar dia mengantarku bersama nona Ciang ini keluar meninggalkan tempat ini, kalau
tidak, nyawanya akan lenyap seketika."
Sekilas mata pemuda baju putih melirik ke arah kedua anak buahnya yang terkapar binasa di lantai,
seketika sukmanya seperti melayang, mukanya menjadi pucat.
Namun Ki-po-hwe-cu tidak kalah akal, tiba-tiba iapun berkelebat, sekali raih, tahu-tahu Ciang Bing-cu
sudah dijinjingnya, katanya,
"Te-gak Suseng, kalau kau tak ingin dia mampus, lekas lepaskan puteraku."
Ji Bun tak menduga orang begitu licik dan licin, sesaat dia melenggong, namun cepat sekali pikirannya
bekerja, dengan sikap tenang dan tak acuh dia berkata,
"Kalau Hwe-cu merasa setimpal, marilah kita barter saja."
"Barter!" Ki-po-hwe-cu menegas.
"Puteramu cukup setimpal dengan puteri tunggal keluarga Ciang, bukan?"
“Lalu bagaimana?"
"Kita adakan tukar menukar tawanan."
"Te-gak Suseng, jiwamu sendiri, bagaimana?”
"Cayhe tidak pikirkan mati hidup lagi,” jawab Ji Bun.
"Kalau jiwamu harus dikorbankan, apakah pihakmu tidak rugi?"
"Soal rugi tidak kupikirkan, yang penting puteramu ini takkan bernyawa juga."
Cukup lama Ki-po-hwe-cu termangu, akhirnya berkata dengan menggertak gigi,
"Anggaplah kau yang menang, selama gunung tetap menghijau dan air terus mengalir, akan datang
suatu ketika akan kutuntut perhitungan ini."
Ji Bun terkekeh dingin, sahutnya,
"Akan selalu kunantikan!"
"Lepaskan dia, kau boleh pergi membawa dia."
"Pertanggungan jawab apa yang kuperoleh dari kau?"
"Hm, Te-gak Suseng, memangnya kau kira aku bakal ingkar janji?"
"Baiklah!" segera Ji Bun lepaskan pemuda baju putih, sebat sekali pemuda berbaju putih melompat jauh
ke depan lalu mundur ke belakang meja, teriaknya beringas,
"Te-gak Suseng, mampuslah kau di sini.”
"Jangan gegabah," bentak Ki-po-hwe-cu, "biarkan mereka keluar."
Dengan penasaran pemuda baju putih mendelik kepada Ji Bun tanpa bicara lagi. Maka Ki-po-hwe-cu juga
segera membebaskan Ciang Bing-cu, serta mendorongnya kearah Ji Bun, katanya,
"Te-gak Suseng, jangan lupa, dalam perhitungan ini kau utang dua jiwa kepadaku.”
"Kalau aku lupa, kelak Hwe-cu boleh memberi ingat kepadaku."
"Antar mereka keluar!" Ki-po-hwe-cu memberi perintah kepada pemuda berbaju putih. Dengan sikap
penasaran pemuda berbaju putih menekan sebuah tombol untuk membuka pintu besi. Ji Bun segera
menggandeng tangan Ciang Bing-cu, namun cepat sekali dia tarik kembali tangannya katanya: "Nona Ciang,
marilah kita keluar."
Memangnya Ciang Bing-cu tidak kuasa pada dirinya sendiri, tanpa ragu-ragu segera dia mengintil di
belakang Ji Bun. Setiba di luar lorong, Si It-ho, laki-laki kurus berbaju bitam itu sudah menunggu di luar
pintu, segera dia angkat tangan sambil berkata,
"Marilah ikut aku!"
Mereka berputar kian kemari beberapa kejap lamanya, tak lama kemudian terdengarlah suara gemericik
air mengalir, tahu-tahu sebuah sungai di bawah tanah menghadang di pengkolan sana, arus air sangat
deras, sebuah sampan tertambat di piriggir sana.
Menunjuk sampan itu Si It-ho berkata,
"Silakan naik sampan ini."
Mengawasi sungai yang berarus deras ini, berkerut alis Ji Bun, katanya,
"Ke mana sungai ini mengalir?”
"Menuju ke dunia bebas," jawab Si It-ho.
Menebal hawa hitam di tengah alis Ji Bun. Matanya memancarkan cahaya terang, katanya sekata demi
sekata,
"Orang she Si, untuk membunuhmu semudah membalik telapak tanganku."
Si lt-ho menyurut mundur, katanya memberanikan diri,
"Te-gak Suseng, kalau Hwe-cu kita tak niat membebaskan kau meski kepandaianmu setinggi langit juga
jangan harap bisa keluar dari dalam bumi yang serba rahasia ini."
Sudah tentu Ji Bun tahu banyak perangkap dan alat-alat rahasia terpendam di bawah istana ini. Demi
keselamatan Ciang Bing-cu, terpaksa dia harus bersabar. Ka!au menurut wataknya, sejak tadi dia sudah
renggut jiwa orang. Keadaan memaksa dia bertindak cepat dan tidak bersangsi lagi, sekali tarik dia peluk
pinggang Ciang Bing-cu terus melompat ke atas sampan.
Si lt-ho melepaskan tambatan tali, maka meluncurlah sampan itu mengikuti arus.
Sungai di bawah tanah ini agaknya memang dibangun demi kebutuhan setempat yang liku-liku dan
memusingkan kepala, kadang-kadang sempit tahu-tahu lebar, kecuali suara percikan air, suasana hening
dan gelap gulita, lima jari sendiripun tidak kelihatan, untungnya sampan ini dituntun seutas tali yang terikat
pada kawat panjang di sebelah atas mengikuti liku-liku sungai, sehingga lajunya tenang dan tidak sampai
terbalik.
Ji Bun duduk berhadapan dekat sekali dengan si nona sampai bersentuh lutut, bau harum anak perawan
yang memabukkan merangsang hidungnya membuat perasaan tergoncang dan hati dak-dik-duk. Kalau dua
hari yang lalu dia tidak mengubah haluan, kemungkinan perempuan cantik di depannya ini sudah menjadi
isterinya. Sekarang mereka bersua dan mengalami kesulitan bersama, demi keadilan dan kebenaran, maka
dia menolongnya.
Jikalau Ciang Bing-cu dalam keadaan sadar dan segar bugar, mungkin keadaan sekarang akan berubah,
sayang ia terpengaruh obat bius, yang menghilangkan daya pikirnya, tak ubahnya seperti orang linglung.
Sudah tentu hal ini juga menguntungkan dan mengurangi banyak kesulitan bagi Ji Bun.
Entah berapa panjang sungai dibawah tanah ini, entah menembus ke mana pula, kira-kira dua jam
mereka dibuai arus sungai dalam keadaan gelap gulita, lambat laun di depan sana tampak secercah cahaya.
"Byarr," tahu-tahu sampan ini menerobos keluar dari lubang sempit dan tibalah mereka di alam bebas.
Sinar matahari membuat Ji Bun silau tak kuasa membuka mata, sebentar dia pejamkan mata, lalu pelanpelan
membukanya lagi, ternyata sampan mereka sudah berada di pinggir sebuah sungai besar, lorong
sungai kecil di bawah tanah berada tak jauh di belakang sana, kalau tidak mengalami sendiri, siapa akan
tahu dan mau percaya kalau lorong sungai itu merupakan jalan rahasia dari sebuah sindikat gelap.
Ji Bun gandeng tangan Ciang Bing-cu dan melompat ke daratan. Sampan itu tahu-tahu meluncur balik
dan laju melawan arus masuk kembali ke dalam lorong itu.
Dengan hambar Bing-cu mengawasi Ji Bun, selama ini dia tetap bungkam. Ji Bun menariknya ke bawah
sebuah pohon, lalu mengeluarkan sebutir pil, katanya,
"Silakan nona menelannya."
Dengan kaku Ciang Bing-cu menerima obat itu serta bertanya,
"Apakah ini?"
"Obat penawar.”
"Obat penawar?"
"Ya, nona dibius oleh orang-orang Ki-po-hwe. Pil ini adalah penawarnya, silakan telan saja."
Seperti menyadari sesuatu Ciang Bing-cu manggut-manggut terus masukkan pil itu ke dalam mulut dan
menelannya, dengan tenang Ji Bun menunggu reaksinya dari samping. Tak lama kemudian, tampak
perubahan mulai terunjuk pada muka Ciang Bing-cu, matanya pudar dan hambar mulai hilang. sinar
matanya bening cemerlang laksana kilauan kaca mengawasi Ji Bun. Semula marasa takut-takut dan curiga,
akhirnya dia menunduk, tenggelam dalam renungan.
Tahu kasiat obat penawarnya sudah bekerja, segera Ji Bun membuka suara lebih dulu,
"Nona Ciang, kau masih ingat kejadian yang kau alami?"
Sejenak Ciang Bing-cu mengerut alis dan mengenang kembali, katanya kemudian,
"Lapat-lapat masih kuingat, apakah Kongcu yang menolongku?"
"Secara kabetulan saja kupergoki kejadian ini.”
"Terima kasih atas budi pertolongan Kongcu," ujar Ciang Bing-cu sambil memberi hormat.
Tersipu-sipu Ji Bun balas memberi hormat, katanya,
"Nona tak perlu banyak peradatan, urusan sekecil ini tak usah dipikir dalam hati, kan hanya secara
kebetulan saja."
"Kongcu terlalu merendah hati, boleh tanya siapakah nama besar Kongcu?"
"Aku dijuluki Te-gak Suseng, gelar yang tak enak didengar."
“0h, ya ya. Kuingat mereka memanggil Kongcu demikian."
"Apakah nona masih merasa kurang sehat?”
“Tidak, sekarang sudah baik."
"Bagaimana nona bisa terjatuh di tangan orang-orang Ki-po-hwe?"
Timbul rasa gemas pada rona muka Ciang Bing-cu, katanya,
"Hari Ceng-bing waktu aku berada di pusara ibunda, tiba-tiba muncul dua laki-laki berbaju hitam, belum
sempat kumenegor mereka, tahu-tahu hidungku dirangsang bau harum, aku terus tak sadarkan diri."
"Perbuatan orang-orang Ki-po-hwe memang terlalu kotor, tujuan mereka hendak memeras ayahmu
untuk menebus nona. Kemungkinan surat ancaman dan tebusan mereka sudah disampaikan kepada
ayahmu, lebih baik nona lekas pulang saja."
"Betapa jauhnya tempat ini dari Kayhong, mohon Kongcu suka mampir ke rumah, agar ayah .....”
"Aku ada urusan penting," tukas Ji Bun, "lain kali saja aku berkunjung."
"Apakah Kongcu tidak sudi mampir?"
"Ah tidak, aku betul-betul punya urusan penting.”
Sekilas tatapan Ciang Bing-cu menyapu ke lengan kirinya yang buntung, katanya,
"Lengan Kongcu .......”
"Cacat karena latihan ilmu silat," sahut Si Bun. "Silakan, nona boleh berangkat."
"Kongcu sendiri hendak ke mana?"
"Menyeberang Huang-ho terus ke utara."
“Baiklah, aku ada sebuah tanda mata sebagai kenang-kenangan untuk menyatakan terima kasih pula.
Harap Kongcu tidak menolak," sembari berkata dia tanggalkan sebuah anting-anting batu kemala serta
berkata pula,
"Diseluruh wilayah utara dan selatan sungai besar, pada perusahaan dagang dan pegadaian apapun kau
boleh unjukkan anting-anting ini untuk ambil uang."
Ji Bun mundur selangkah, katanya sambil goyang tangan,
"Sangu yang kubawa cukup berlebihan, kebaikan nona cukup kuterima saja di dalam hati."
"Bagaimana kalau dianggap saja sebagai kenang-kenangan?"
Ji Bun sudah memperhitungkan untung ruginya, betapapun dia tak kan mau menerima hadiah, namun
didesak begini rupa, kalau tidak diterima terasa rikuh pula, ia jadi kehilangan akal.
Ciang Bing-cu sudah angsurkan anting-anting itu, ia jadi serba susah. Sebagai seorang gadis, memberi
milik pribadinya kepada laki yang masih asing baginya, betapapun bisa menimbulkan prasangka yang tidak
di inginkan.
Pada saat itulah, meluncur sesosok bayangan orang, kiranya Thian-thay-mo-ki yang muncul.
Ji Bun mengerut alis, belum sempat buka suara, Thian-thay-mo-ki sudah cekikikan, katanya,
"Dik, siapakah nona ini?”
Matanya mengerling kepada Ciang Bing-cu dengan tatapan cemburu.
Anak perempuan umumnya tajam perasaan, dari sorot mata orang Ciang Bing-cu segera merasakan hal
ini, lekas dia berkata,
"Kongcu nona ini ........”
Tiba-tiba tergerak hati Ji Bun, timbul suatu akal dalam benaknya, maka dengan tersenyum dia berkata,
“Thian-thay-mo-ki yang terkenal di Kangouw.“
Lalu dia berpaling memperkenalkan,
"Nona ini adalah puteri tunggal hartawan besar keluarga Ciang dari Kayhong."
"Oh," Thian-thay-mo-ki bersuara sambil manggut-manggut.
“Cici,” ujar Ji Bun, "aku memang hendak mencarimu."
Panggilan "cici" membuat Thian-thay-mo-ki senang setengah mati, sikap kasar dan kaku Ji Bun
sebelumnya tak terpikir lagi olehnya, katanya dengan senyum lebar,
"Kau mencari aku? Ada perlu apa?”
"Nanti kita bicarakan," jawab Ji Bun.
Dengan nanar Ciang Bing-cu pandang Thian-thay-mo-ki sekejap, lalu mengangsurkan anting-anting itu
kepada Ji Bun, katanya,
"Silahkan terima!"
Ji Bun mundur selangkah seraya berkata,
"Cayhe tidak berani menerima."
Thian-thay-mo-ki yang tidak tahu persoalannya berubah air mukanya.
Ciang Bing-cu kukuh akan pendiriannya, katanya,
"Kongcu, sekali mengulur tangan, sulit menariknya kembali."
Otak Ji Bun bekerja cepat, begitu Ciang Bing-cu tiba di rumah serta menceritakan pengalamannya, Ciang
Wi-bin pasti akan segera tahu akan dirinya. Anting-anting ini merupakan tanda kepercayaan yang berlaku
untuk mengambil uang di mana saja dalam wilayah utara dan selatan sungai besar, nilainya tentu amat
berarti. Ia tidak naksir orangnya, mana boleh menerima tanda mata ini. Namun ucapan Ciang Bing-cu betulbetul
menyulitkan dirinya seolah-olah terbelenggu oleh keadaan.
Tapi terpikir pula agar orang tidak mendapat malu, terpaksa diterima ala kadarnya saja, nanti kalau
pulang akan suruhan orang untuk mengembalikan saja, maka ia lantas ulur tangan menerima, katanya,
"Begini besar hasrat nona, baiklah sementara ini kuterima saja."
Ciang Bing-cu tersenyum senang dan lega, lekas dia ucapkan, "selamat berjumpa pula " terus melompat
jauh dan berlari dengan mengembangkan Ginkang, dari gerak-gerik dan gayanya, terang kepandaiannya
tidak lemah.
Kecut dan getir perasaan Thian-thay-mo-ki, tanyanya,
"Dik, kau terima tanda matanya?"
"Tanda mata? Bukankah kukatakan hanya ku terima untuk sementara, kelak akan kuusahakan untuk
mengembalikannya."
"Huh, berita aneh dan lucu, laki perempuan memberi tanda mata, mana ada yang pernah dikembalikan
.......”
"Ini persoalan pribadiku."
Thian-thay-mo-ki mengertak gigi, katanya gemas,
"Tadi kau bilang mencariku, ada perlu apa?"
"Tidak apa-apa, maksud tujuanku hendak mengurungkan kehendaknya saja."
"Apa, mengurungkan kehendaknya? Bukankah kau sudah terima tanda mata ......”
"Maaf, aku pamit lebih dulu!"
Seketika tegak alis Thian-thay-mo-ki, katanya geram,
"Apa sih maksudmu ini?”
"Tiada maksud apa-apa."
"Te-gak Suseng, tidak terlalukah kau menghinaku ....." matanya menjadi merah, tenggorokannya seperti
tersumbat sehingga kata-katanya tersendat.
Ji Bun rada menyesal juga, ia tahu perbuatannya tadi memang ketertaluan, namun sikapnya tetap dingin,
katanya angkuh,
"Apa kehendakmu?"
Gemetar badan Thian-thay-mo-ki saking murka, katanya sambil kertak gigi,
"Kubunuh kau!"
Telapak tangannya berbateng terus memukul ke dada Ji Bun.
"Blang," Ji Bun tergetar mundur selangkah, dia terima pukulan itu mentah-mentah tanpa balas
menyerang. Kepandaian Thian-thay-mo-ki memang tidak rendah, pukulan ini cukup membuat mata Ji Bun
berkunang-kunang, dada sakit, napas sesak, darah bergolak, seketika mengobarkan nafsu membunuhnya,
dengan geram ia mendesis,
"Jangan kau tidak tahu diri?"
Pilu, sedih, geram dan berbagai perasaan berkecamuk dalam hati Thian-thay-mo-ki. Sikapnya yang biasa
genit tersapu bersih, baru sekarang Ji Bun pertama kali melihat kecantikannya yang asli. Memang amat
menggiurkan dan mempesona, kalau gadis berbaju merah itu bak kembang teratai yang suci dan agung,
maka dia laksana bunga mawar yang mekar semerbak, namun berduri. Sayang kesannya ini hanya sekilas
saja.
Dilihatnya Thian-thay-mo-ki melejit mundur dua tombak, kedua tangannya menggenggam dua macam
senjata rahasia yang khas, teriaknya bengis,
"Te-gak Suseng, dalam jarak sejauh ini, kau takkan mampu membunuhku bukan?"
Tersirap darah Ji Bun, jengeknya,
"Kutahu maksudmu. Silakan coba saja!"
Membesi muka Thian-thay-mo-ki, katanya sambil menggerakkan kedua tangan,
"Kau takkan punya kesempatan. Ketahuilah, kau takkan lolos dari timpukan Soh-li-sin-ciam dan kejaran
Jit-soan-hwi-yim, kedua senjata rahasia tunggalku ini.”
Bergetar jantung Ji Bun, memang dalam jarak sejauh ini dia takkan mampu menyerang lawan, sebaliknya
jarak sejauh ini paling menguntungkan untuk menyerang dengan senjata rahasia. Soh-li-sin-ciam sudah
pernah menggempur mundur Pek-sat-sin The Gum, komandan ronda dari Ngo-lui-kiong. Ini disaksikannya
sendiri, Jit-soan-hwi-yim mungkin adalah senjata ampuh yang melukai orang berkedok seperti yang
diceritakan itu kalau betul orang berkedok itu adalah ayahnya, sekarang dirinya terang juga takkan mampu
menghadapinya.
Turun tangan lebih dulu akan lebih menguntungkan. Pikiran ini segera berkecamuk dalam benaknya.
3.7. Jit-sing-po Tersapu Bersih
Tapi Thian-thay-mo-ki sudah berkata pula. "Te-gak Suseng, bukan sengaja aku hendak pamer
kepadamu, tanpa aku kau sudah mampus ditangan orang berkedok, kau ..... kau memang laki-laki tidak
punya perasaan."
Ji Bun melengak, tutur kata dan sikapnya ini, seakan-akan ceritanya itu tidak bohong, peduli siapakah
orang berkedok itu, betapapun dia pernah menolong dirinya, rasa gusarnya lambat laun mulai pudar,
katanya menegas: "Apa betul kejadian itu?”
"Terserah kau percaya atau tidak. tak perlu aku membual kepadamu. Kalau kau ingin bukti, boleh kau
cari orang berkedok itu, tapi ..... kau takkan punya kesempatan lagi"
"Kenapa?"
"Aku bertekad untuk membunuhmu," teriak Thian-thay-mo-ki beringas.
Berkobar pula amarah Ji Bun, tahu-tahu dia melejit, secepat kilat dia menubruk maju.
Thian-thay-mo-ki ayunkan tangannya, segenggam jarum lembut selebat hujan memapak tubrukan Ji
Bun, rasa sakit seperti disengat kumbang merangsang tubuh Ji Bun. Seketika hawa murni dalam tubuhnya
kandas, badanpun anjlok ke bawah. "Seeer", selarik sinar kemilau mendesis terbang berputar-putar di
tengah udara, ternyata Thian-thay-mo-ki menimpukkan pula Jit-soan-hwi-yim.
"Sret" pisau terbang melengkung itu berputar membabat leher. Lekas Ji Bun menunduk kepala, senjata
rahasia itu menyamber lewat di atas kepalanya, belum lagi pikirannya bekerja, tahu-tahu pisau melengkung
itu sudah terbang balik, gaya putarannya semakin kencang laksana angin lesus menderu.
Serasa terbang sukma Ji Bun, ia terkena beberapa batang jarum, hawa murni buntu, tenaganya tak
mampu dikerahkan. Dengan mendelong dia hanya bisa mengawasi lingkaran sinar kemilau itu menyambar
tiba tanpa mampu berkelit, apa lagi hendak menangkisnya.
Pada detik-detik yang menentukan mati hidupnya itulah, di luar tahunya, tiba-tiba pisau terbang
melengkung itu melesat balik ke tangan Thian-thay-mo-ki.
"Te-gak Suseng, kau sudah mati lagi sekali!"
Gemerobyos keringat dingin Ji Bun namun sikapnya tetap angkuh, katanya: "Kenapa kau tidak tega turun
tangan?"
"Hm, kau ingin mati dengan mudah? Soh-li-sin-ciam yang mengenaimu itu sudah cukup untuk merenggut
jiwamu.”
"Kalau aku tidak mati, akan kubunuh kau,” habis berkata ia terus merangkak bangun dan tinggal pergi
dengan langkah sempoyongan. Karena banyak bergerak, jarum lembut itu bekerja lebih cepat mengikuti
darahnya yang mengalir, kalau sampai menusuk jantung, jiwanya pasti tak tertolong lagi.
"Berhenti!“ tiba-tiba Thian-thay-mo-ki menghadang di depannya.
Ji Bun berhenti sambil menegakkan badannya, suaranya gemetar menahan sakit: "Mau apa kau?"
"Plakl" tiba-tiba Thian-thay-mo-ki ayun tangan menamparnya, kontan Ji Bun terpental jatuh semaput.
Thian-thay-mo-ki mengerahkan Lwekang lalu ulur tangan, telapak tangannya sudah berubah warna
merah. Dari jarak beberapa senti, beruntun telapak tangannya bergerak-gerak keseluruh badannya,
sebatang demi sebatang jarum-jarum lembut yang mengeram dalam badan Ji Bun disedotnya keluar,
semuanya lengket di telapak tangannya. Hal ini terjadi hanya dalam waktu sekejap saja.
Setelah dia berhasil menyerap jarum-jarum dari badan Ji Bun dengan kepandaian Lwekang
perguruannya, kebetulan Ji Bun pun siuman dari pingsannya, melihat Thian-thay-mo-ki berada di
sampingnya, segera dia membentak: "Kau ingin mampus," tiba-tiba badannya melejit segesit kera
melenting. "Plak'', terdengar jeritan nyaring Thian-thay-mo-ki, kontan dia jatuh terguling.
Terasakan oleh Ji Bun dadanya menjadi longgar, badan segar, napas teratur, hawa murni mengalir
lancar, rasa sakit seperti disengat kumbang tadi sudah lenyap, waktu dia berpaling, dilihatnya jarum-jarum
lembut lengket di telapak tangan Thian-thay-mo-ki, seketika bergetar sekujur badannya. "Celaka!” keluhnya,
lekas dia menutuk beberapa Hiat-to ditubuh Thian-thay-mo-ki, waktu jarinya menyentuh kulit badannya
yang halus padat kenyal, pandangannya terpesona, tutukan jarinya berhenti di tengah jalan. Rona mukanya
berubah berganti, jantungnya serasa hendak meloncat keluar.
Untungnya dia masih sadar, lekas jarinya menutuk 36 Hiat-to di sekujur badan Thian-thay-mo-ki,
dikeluarkan pula tiga butir pil terus dijejalkan kemulutnya.
Hanya sekejap saja, keringat gemrobyos mem¬basahi sekujur badannya, dengan kerja keras sela¬ma
setengah peminuman teh, Thian-thay-mo-ki baru menarik napas panjang, pelahan ia mulai membuka
matanya.
"Kaupun sudah mati sekali." kata Ji Bun dingin.
Cepat Thian-thay-mo-ki melompat bangun, wa¬jahnya hambar dan bingung, sungguh dia tidak ha¬bis
mengerti kenapa tahu-tahu dirinya roboh, terkapar tak sadarkan diri, seingatnya, dia hanya merasa
badannya seperti sedikit disentuh, tahu-tahu dia kehi¬langan perasaan.
Ji Bun berkata lebih lanjut: "Kaulah orang pertama yang sudah mati dan hidup kembali ditangan¬ku,
selanjutnya kita tiada utang-piutang, selamat ber¬temu lagi.” Sekali lompat, badannya melesat ja¬uh terus
berlari pergi secepat terbang.
Thian-thay-mo-ki menghela napas dan masgul, iapun lekas-lekas meninggalkan tempat itu.
Marilah kita ikuti perjalanan Te-gak Suseng. Ji Bun yang berlari agak lama baru sampai di jalan raya, ia
terlambat larinya, hatinya ragu apa perlu lekas pulang atau tetap mengembara di Kangouw?
Dari dandanan dan perawakannya seorang di¬ri berjalan di jalan raya sudah tentu menarik per¬hatian
banyak orang, namun dia tidak ambil pu¬sing ia sibuk memikirkan persoalan yang berkeca¬muk dalam
benaknya.
Sekonyong-konyong sebuah rintihan orang mengejut¬kan lamunannya, waktu ia berpaling ke sana,
dili¬hatnya di bawah sebuah pohon terebah seorang ber¬baju hitam, caping lebar yang terbuat dari bambu
menutupi kepala dan mukanya, orang inilah yang merintih dan memilukan.
Ji Bun kira orang ini terserang penyakit di waktu menempuh perjalanan. Sekilas dia pandang, orang
berbaju hitam itu, lalu melanjutkan perjalanan, tak nyana suara rintihan, itu semakin keras dan
mengharukan, agaknya amat menderita, pulu¬han tumbak sudah di tempuhnya, namun rasa tertarik dan
ingin tahu tak tertahan, segera ia balik, mendekati dan berdiri disamping orang itu.
Agaknya orang itu sadar kalau ada orang mendekati dirinya, suara, rintihannya segera berhenti. Namun
badannya gemetar dan mengejang, agakny dia betul-betul sedang menahan rasa sakit.
Segera Ji Bun menegurnya: "Sahabat kenapa¬kah kau?"
Suara orang berbaju hitam itu menjawab gemetar: "Apakah kau kawan sehaluan,"
Ya, betul," sahut Ji Bun.
Orang baju hitam sedikit menyingkap caping rumputnya yang menutup mukanya, sorot matanya yang
pudar mengawasi Ji Bun beberapa kali, lalu dia turunkan pula capingnya. Cukup sekejap saja Ji Bun sudah
melihat jelas orang ini berusia kira-kira setengah abad, pipi kanan ada codet bekas telapak tangan yang
menyolok, baru saja hendak pergi, orang berbaju hitam itu buka suara.
"Siapa saudara cilik ini?"
"Aku ini, Te-gak suseng."
"Kau Te-gak Suseng? Kalau begitu boleh silakan pergi saja."
Ji Bun melengak heran. jawaban orang jadi membuatnya ingin tahu duduk persoalannya malah. "Apa
maksud tuan?” tanyanya.
"Cita-cita tidak sama, lebih baik tak bergaul."
"Oh, tuan anggap diri sendiri sebagai laki-laki sejati?"
Orang baju hitam tutup mulut, namun suara rintihan terdengar pula dari mulutnya, agaknya dia tidak
kuat menahan sakit.
Ji Bun alihkan pembicaraannya. "Tuan jatuh sakit atau terluka?"
Berkerutuk gigi orang baju hitam, katanya dingin: "Kau boleh silakan saja."
"Kalau aku mau pergi, kau takkan mampu menahanku, kalau aku tidak mau pergi, percuma kau banyak
mulut."
"Kau ....... apa keinginanmu?"
"Bereskan dulu persoalannya, kau punya nama bukan?"
"Tidak punya!"
Bangkit amarah Ji Bun, sekali tangannya menyapu caping lebar yang menutupi muka orang berbaju
hitam terpental beberapa tombak jauhnya, katanya geram: “Apa tuan malu dilihat orang?"
Melotot biji mata orang berbaju hitam itu seperti amat murka, dia berusaha merangkak bangun, namun
baru bergerak roboh lagi. Sorot mata Ji Bun dengan tajam mengawasi muka orang, tiba-tiba dia berseru
kaget: "He, kau terkena racun yang menyerang jantung!"
Orang berbaju hitam tertegun melongo, sekian lamanya baru kuasa mengeluarkan suara: "Saudara cilik
........ darimana kau bisa tahu?"
"Tuan terkena racun maha jahat, namun tidak seketika mati, Lweekangmu tentunya amat hebat ......”
"Kau ............"
"Tak usah heran dan kaget, aku yang rendah ini punya sedikit pengetahuan bermain racun."
Oh, saudara cilik .............."
"Walau tuan berhasil menahan menjalarnya kadar racun dengan tenaga murni sehingga belum
menyerang jantung, namun kau takkan bertahan lama, dalam setengah jam lagi, jiwamu pasti melayang.
Sudah berapa lama sejak tuan terkena racun?"
"Lima hari,"
“Hah lima hari?" teriak Ji Bun kaget, sudah lima hari terkena racun namun masih bertahan hidup
sungguh di luar dugaannya.
"Aku ...... kutahu jiwaku takkan lama lagi," demikian gumam orang berbaju hitam. "Hai matipun mataku
tidak akan meram!"
"Siapa yang melukai tuan?"
''Musuh besarku."
"Siapa dia?"
"Maaf, tak bisa kujelaskan."
Ji Bun membungkuk dan meraba urat nadi orang, balik kelopak matanya, tiba-tiba bergetar badannya
sambil menyurut mundur, timbul berbagai pikiran dalam benaknya. Dari kadar dan cara orang menggunakan
racun, dia yakin bahwa si penyerang ayahnya sendiri. Jadi musuh yang dimaksud adalah ayahnya,
memangnya ada permusuhan apakah di antara masing-masing pihak ini? Haruskah kubunuh dia, untuk
mengurangi musuh ayahnya? Atau membiarkan saja racun bekerja dan mampus sendiri? Atau
menolongnya?
Ji Bun sendiri menjadi geli dan kebodohan pikirannya untuk menolong orang yang mungkin adalah
musuh ayahnya, entah kenapa timbul pikiran demikian ini? Soalnya ia sendiri mengetahui perilaku ayahnya
biasanya memang amat kejam dan kurang terhormat, mungkin korban yang dihadapinya ini tidak bersalah
atau tidak berdosa. Sebagai orang persilatan, adalah jamak kalau sering terlibat dalam pertikaian bunuh
membunuh.
Wataknya dingin, angkuh, semua itu menjadikan jiwanya nyentrik. Untunglah di dalam lubuk hatinya
yang paling dalam masih terbetik juga sifat pembawaan yang baik, jiwa luhur dan cinta kasih terhadap
sesama manusia. Sayang keluhuran jiwanya ini sering tertekan oleh keangkuhannya sehingga menjadi
kontras antara luar dan dalam. Sudah tentu orang tidak tahu akan kekontrasan ini, kalau tidak tak mungkin
ia dijuluki Te-gak Suseng (pelajar dari neraka), maka dalam pandangan sesama kaum persilatan dia
dipandang tokoh jahat yang menakutkan.
Dirangsang oleh keluhuran budinya itu, tak tertahan Ji Bun bertanya: "Apakah musuh tuan adalah tokoh
jahat yang menakutkan."
Orang berbaju hitam meggertak gigi, sahutnya geram: "Iblis laknat, hina dina, setiap orang wajib
membunuhnya, dia tidak setimpal disebut manusia.”
Seperti dipukul godam hati Ji Bun, tanyanya: "Tuan bilang mati takkan meram, ada permusuhan dan
dendam apakah kau dengan dia?"
"Tak perlu kuberitahukan padamu?“
"Mungkin ada manfaatnya kalau kau jelaskan."
"Aku tak ingin mendapat manfaat apa-apa dari kau.”
"Kalau aku bisa menawarkan racun yang mengeram dalam tubuhmu?"
Seketika terbelalak mata orang berbaju hitam, suaranya gemetar, "Kau ..... kau bisa menawarkan
racun?”
"Betul, segampang membunuhmu."
Orang berbaju hitam melengak, sorot matanya memancarkan harapan hidup yang menyala, mulutnya
menggumam: "Aku harus hidup, aku harus bertahan hidup ...........”
Putusan Ji Bun sudah tetap, katanya: "Tuan jelaskan dulu duduk persoalannya, aku akan menawarkan
racun dalam badanmu?"
"Apakah itu syaratnya? Baiklah, kuberitahu kepadamu, musuh besarku adalah Jit-sing-po Pocu."
Merinding dan berdiri bulu kuduk Ji Bun, katanya berat: "Jit-sing-pangcu Ji Ing-hong?"
"Betul, tua bangka keparat itu."
"Permusuhan apa?"
"Merebut isteri dan merusak keturunanku."
Tanpa sadar Ji Bun menyurut mundur, merebut isteri membunuh keturunan orang merupakan dendam
kesumat setinggi langit dan sedalam lautan, apakah betul ayah pernah melakukan kejahatan yang kelewat
takaran ini? Timbul pertentangan pikiran di dalam benaknya. Kalau kutolong orang ini, tak ubahnya seorang
musuh yang bakal mendatangkan bencana bagi Jit-sing-po, kalau kubunuh dia, berarti menjilat ludahnya
sendiri. Dua alasan yang berlawanan ini, membuat hatinya bimbang.
Dia tak habis mengerti kenapa mendadak timbul rasa welas asih dalam lubuk hatinya, kenapa ia tak tega
membunuh orang yang sudah sekarat ini?
"Siapakah nama tuan?" tanyanya kemudian.
"Siangkoan Hong."
"Siangkoan Hong, Siangkoan Hong ..............”
"Saudara cilik, kalau kau bisa menawarkan racun dan menyembuhkan aku, kelak kau pasti akan
memperoleh balasan yang setimpal."
Mendelik mata Ji Bun, desisnya: "Aku harus membunuhmu!"
Bergetar tubuh orang berbaju hitam, dengan nanar dia tatap Ji Bun, sungguh dia tak bisa menangkap
alam pikiran anak muda yang lekas berubah tidak menentu ini.
Kata Ji Bun lebih lanjut: "Tapi tadi sudah kujanjikan untuk memberi obat penawar, hal ini tetap akan
kutepati, nah, inilah obatnya, kau terima!"
Lalu dikeluarkan sebutir pil warna putih dan dilempar ke arah orang.
Orang berbaju hitam menangkap obat itu lalu diamat-amati sejenak, katanya: "Saudara cilik, akan selalu
terukir kebaikanmu ini dalam hatiku."
"Tidak usahlah," jengek Ji Bun dingin, "mungkin pertemuan yang akan datang, aku akan merenggut
jiwamu."
Orang berbaju hitam melengak, namun tanpa ragu-ragu ia jejalkan pil itu ke mulut. Ji Bun menengadah
mengawasi angkasa. Ia tengah tenggelam dalam lamunan tentang apa yang telah dilakukannya ini? Kenapa
dia berlaku sebaik ini? Bahwa Te-gak Suseng menolong jiwa seseorang, malah musuh ayahnya, mungkinkah
orang-orang kangouw mau percaya akan kenyataan ini.
Sementara itu orang berbaju hitam tengah duduk semadhi, dia kerahkan hawa murni untuk
menyembuhkan diri. Perlahan Ji Bun alihkan pandangannya, pikirnya, belum terlambat sekarang kubunuh
dia. Lalu ia maju beberapa tindak, jarak mereka tinggal seuluran tangan saja. Pelahan telapak tangannya
terayun ......
Tiba-tiba terdengar suara berrisik daun pohon di atas kepalanya. Sebat sekali Ji Bun melompat mundur
tiga tombak, dilihatnya segulungan bayangan menggelinding turun dari atas pohon, dan mengeluarkan
suara jatuh gedebukan, sesudah melihat jelas, seketika iapun terkesiap.
Seorang kakek pendek buntak seperti bola pelahan merangkak bangun, tangan yang pendek kecil itu
menepuk-nepuk badan membersihkan debu, matanya yang sipit mengawasi Ji Bun dengan tertawa lucu,
katanya: “Anak muda, kau telah menolongnya, kenapa mau membunuhnya pula?"
Makhluk aneh ini bukan lain adalah Siang-thian-ong (Kakek Duka Cita) yang sudah menggetarkan
Kangouw pada enam puluhan tahun yang lalu, bahwa makhluk yang aneh ini sembunyi di atas pohon,
sedikitpun tidak diketahui oleb Ji Bun, sekilas ia tertegun jawabnya: "Tiada sangkut putnya dengan kau,"
Siang-thian-ong terkekeh dingin, ujarnya: "Bocah bagus. berarti kau kurang ajar terhadapku, kalau tidak
kupandang pertolonganmu kepadanya, kepalamu sudah kutempeleng pecah, sekarang lekas kau enyah dari
sini."
Ji Bun memangnya pemberang, seketika ia naik pitam, katanya angkuh: "Kalau aku tidak mau pergi?"
"Kusuruh kau enyah, kau harus lekas enyah," berbareng tangan si kakek yang pendek itu terayun.
Segulung angin keras seketika menyambar ke arah Ji Bun sehingga tergetar mundur beberapa langkah.
Semakin berkobar amarah Ji Bun, sekilas melejit dia malah menubruk maju dan melabrak Siang-thianong
tertampak Siang-thian-ong tetap berdiri di tempatnya tanpa bergeming sedikitpun. Namun disaat tubuh
Ji Bun hampir menerjang tiba, entah gerakan apa, seperti setan berkelebat, tahu-tahu ia sudah berpindah
tempat, belum sempat Ji Bun melancarkan serangan, tahu-tahu bayangan orang yang diincarnya sudah
lenyap, belum lagi pikirannya menyadari apa yang terjadi, segulung angin kencang menyampuk dari
belakang.
"Blang," Ji Bun terpental terbang tiga tombak lagi, namun tidak terlaka apa-apa, sigap sekali dia melejit
bangun, sorot matanya berkobar.
Pada saat itulah, orang berbaju hitam melompat bangun, melihat Siang-thian-ong, tersipu-sipu dia
memberi hormat, sapanya: "Locianpwe, Wanpwe beruntung hidup kembali."
“Bagaimana hasilnya?" tanya Siang-thian-ong.
"Dua hari dua malam Wanpwe menguntitnya, akhirnya kucandak dan kulabrak dia, tak nyana setelah
berpisah sepuluh tahun, ternyata dia pandai main racun karena tak terduga Wanpwe terbokong dan iapun
dapat melarikan diri.”
"Hm, memang nasibnya yang mujur, biarkan saja, suatu ketika pasti kita bisa menumpasnya.”
"Eh, dia ........" tiba-tiba pandangan orang berbaju hitam beralih ke arah Ji Bun yang berdiri di sana,
serunya "Te-gak Suseng, terima kasih akan kebaikanmu, kelak pasti akan kubalas."
Siang-thian-ong mendengus, jengeknya: "Bocah ini tidak genah tindak tanduknya, tadi dia hendak
membunuhmu ......”
Tanpa bersuara Ji Bun segera angkat langkah berlari pergi. Dari percakapan kedua orang yang
didengarnya tadi, lapat-lapat dia merasakan firasat jelek akan rumahnya yang kemungkinan mengalami
sesuatu bencana. Jelas ayah bukan tandingannya laki-laki berbaju hitam ini. kenyataan dirinya sudah
menyembuhkan seorang musuh tangguh bagi keluarganya. Akan tetapi dasar wataknya nyentrik, sedikitpun
ia tidak menyesal, ia tahu kalau tadi betul-betul menyerang orang berbaju hitam itu. Siang-thian-ong pasti
tidak tinggal diam.
Kalau orang berbaju hitam tidak mendapatkan obat penawarnya, jiwanya pasti melayang, kesalahan
sudah terjadi. Apalagi kalau pihak musuh tahu akan asal usul dirinya, betapa akibatnya sukar dia
bayangkan. Sedangkan Siang-thian-ong dan orang berbaju hitam jelas sehaluan, kepandaian mereka
teramat tangguh lagi. Kalau benar apa yang dikatakan mereka bahwa ayahnya merebut isteri dan
membunuh keturunannya, maka perbuatan ayahnya memang terampuni, sebagai puteranya, bagaimana dia
harus bersikap dan bertindak?
Tiba-tiba timbul rasa rindu terhadap kampung halaman, maka ia berkeputusan untuk pulang menjenguk
ibunya, segera ia menuju ke arah Jit-siang-po. Begitulah ia menempuh perjalanan siang malam, akhirnya
tibalah dikampung halamannya. Sebelum memasuki perkampungan, hatinya sudah merasa takut dan waswas,
tujuan perjalanan ke Kayhong kali ini adalah untuk melamar puteri keluarga Ciang, di tengah jalan
dirinya berubah pikiran dan batal. Bagaimana nanti dia harus memberi laporan kepada orang tuanya?
Jit-sing-po dengan pintu gerbangnya yang dibangun angker dan megah sudah kelihatan dari jauh dengan
perasaan tidak tenteram, ia berlari menuju ke arah pintu. Dari jauh ia sudah merasa heran kenapa penjaga
pintu yang biasanya mondar-mandir kali ini tidak kelihatan, paling tidak puluhan li sekitar Jit-sing-po
biasanya sudah ada orang yang menyambut kedatangannya. Pintu gerbang perkampungan yang dilapisi
papan besi tampak mengkilap terbentang lebar, suasana sepi tak kelihatan bayangan seorangpun .......
Pirasat jelek tiba-tiba merangsang hatinya.
Jantungnya segera berdetak keras, seperti mendadak terserang penyakit gila layaknya dia menerjang
masuk dengan kalap. Serangkum bau busuk merangsang hidung, serasa pecah jantung Ji Bun hatipun
hancur luluh, dengan langkah lebar dia berlari ke dalam gedung. Mayat-mayat bergelimpangan sepanjang
jalan, semua berwarna hitam, darah sudah membeku kering, pemandangan seram dan mengejutkan sekali.
Agaknya seluruh penghuni Jit-sing-po telah tersapu bersih tanpa satupun yang ketinggalan hidup.
Biji mata Ji Bun melotot merah, dengan langkah sempoyongan dia langsung lari ke ruang pendopo,
pemandangan yang mengerikan membuat kepalanya pusing, serasa sukma terbang dari raganya. Dia berdiri
terpaku diundakan, badannya bergoyang gontai.
Pilar-pilar batu sebesar pelukan tangan orang dewasa yang berjumlah enam di kanan kiri ruang pendopo
masing-masing terikat enam mayat dengan wajah yang amat dikenalnya. Mereka adalah enam jago kelas
wahid di antara delapan anak buah ayahnya, mata mereka mendelik, seperti orang mati penasaran. Di
pelataran, pekarangan serambi panjang dan di mana-mana mayat bergelimpangan.
Inilah peristiwa mengerikan, pembunuhan yang sudah di rencanakan terlebih dulu.
"lbu!,” mendadak Ji Bun melolong seperti orang kesurupan terus berlari ke belakang. Tak terduga
keadaan di belakang jauh berbeda, suasana tetap tenteram dan bersih tidak kelihatan noda darah,
mayatpun tak nampak di sini. Apakah ibu terhindar dari petaka ini? Lalu di mana para pelayan?
Dengan kepala berat dan pandangan berkunang-kunang ia lari kian kemari mencari, dari taman ke
dapur, setiap kamar sampai ke gudang, namun tiada sesuatu yang ditemukan. Air mata tak tertahan dan
bercucuran, baru sekarang dia betul-betul merasakan luluh dan lemas.
Hari sudah gelap. Dari gelap kembali menjadi terang, fajar telah menyingsing. Ji Bun tersadar dari duka
citanya yang keliwat batas, namun rasa benci dan dendam seketika merangsang sanubarinya. Aku harus
menuntut balas, ...... menuntut balas!
Pembunuh durjana adalah Siangkoan Hong yang pernah ditolongnya, tentunya tidak sedikit pula
pembantunya, mungkin Siang-thian-ong juga ikut serta. Belum genap sebulan ia meninggalkan kampung ini,
namun peristiwa telah mengubah keadaan menjadi begini seram dan mengerikan, sungguh mimpipun tak
terduga.
Seperti yang didengarnya dari percakapan Siang-thian-ong dan Siangkoan Hong, agaknya ayah masih
hidup, lalu di manakah ibu? Mati hidup mereka tak karuan paran, betapa sedih dan pilu hatinya, sungguh
tak terlukis dengan kata-kata.
Dia heran, tidak sedikit anak buah Jit-sing-po, yang terbunuh hanya sebagian kecil saja. Kenapa sisa lain
yang masih hidup tidak membereskan mayat-mayat mereka? Seorang diri ia kerja keras sambil bercucuran
air mata mengebumikan semua mayat-mayat itu. Kemudian meninggalkan kampung kelahirannya, dendam
kesumat menjadi bekal perjalanan yang kedua kalinya ini.
Langkah pertama, dia harus segera mencari dan menemukan ayah, lalu berusaha menuntut balas.
Sepanjang jalan ia berpikir dengan cermat, namanya saja Jit-sing-pang sebagai sindikat namun selama
beberapa tahun belakangan ini jarang ikut aktif di dalam pergerakan kaum persilatan. Dan dirinya, kalau
mendapat perintah ayahnya baru keluar meninggalkan rumah, di luar iapun tak pernah memperkenalkan
asal usul sendiri, maka dunia Kangouw hanya mengenal julukan Te-gak Suseng, namun dari mana asal
dirinya tiada seorangpun yang tahu, maka timbullah sesuatu akal cara bagaimana ia harus menuntut balas.
Sete!ah berkeputusan kini dia tidak tergesa-gesa untuk menemukan ayah bundanya, menuntut balas
harus diutamakan, merahasiakan asal usul dan menekan watak biasanya yang angkuh, ia harus bermukamuka
untuk mendekati dan mengikat hubungan dengan para musuhnya, kelak baru cari kesempatan untuk
turun tangan.
3.8. Pembunuh Berkedok Berjubah Sutera
Malam larut, di dalam sebuah hotel sinar lampu masih kelihatan menyorot keluar dari salah sebuah
kamar. Seorang pemuda berlengan satu duduk bertopang dagu di depan jendela, kadang-kadang ia
mengertak gigi dengan mata mendelik, sering pula menghela napas panjang, wajahnya kuyu dan lesu.
Pemuda ini adalah Te-gak Suseng Ji Bun.
Selama beberapa hari lupa makan lalai tidur, setiap detik setiap saat pikirannya tenggelam pada masa
lalu, duka lara telah menyiksa dirinya hingga patah semangat dan kurus. Memang kekuatan manusia ada
batasnya, pukulan batin jauh lebih parah dari pada siksaan badaniah.
Saking lelah tanpa terasa Ji Bun akhirnya jatuh pulas mendekap di atas meja, tidurnya begitu lelap
sampai ketajaman indranya seakan-akan berhenti bekerja sama sekali.
Sekonyong-konyong sesosok bayangan orang tinggi besar seperti setan muncul di belakangnya, di bawah
pancaran sinar lampu jelas kelihatan orang ini mengenakan jubah sutera, kain kembang menutupi selebar
mukanya, rambut tertampak sudah ubanan. Napas Ji Bun berat dan teratur, tidurnya amat lelap, sedikitpun
dia tidak menyadari seseorang telah berada di belakangnya.
Tangan orang berjubah sutera pelahan terangkat, sasarannya tepat di punggung Ji Bun, agaknya seperti
meragukan sesuatu, sekian lamanya tangannya berhenti di tengah udara. Cukup lama juga tangan orang
berkedok ini sudah naik turun sepuluh kali, namun Ji Bun sedikitpun tidak mengetahui. Akhirnya orang
berkedok seperti berkeputusan tegas, dengan menggeram lirih tangannya menggablok dengan keras.
Tanpa mengeluarkan suara Ji Bun tersungkur jatuh bersama kursi, darah kontan menyembur ke luar dari
mulutnya. Namun ia tidak mati seketika. Waktu ia membuka mata, sekujur badannya tiba-tiba mengejang
keras. Biji matanya hampir melotot keluar, ia mengerahkan sisa tenaganya dan berteriak dengan suara
serak: "Ayah engkau kenapa .......... kenapa hendak membunuhku?"
Orang berkedok tidak menjawab, namun badannya tampak bergetar, tangannya terayun pula. Teringat
oleh Ji Bun akan cerita Thian-thay-mo-ki, baru sekarang ia menyadari bahwa orang berkedok inilah yang
pernah memukul mati dirinya, mungkinkah orang ini ayahnya walau perawakan dan dandanannya mirip
sekali. Kembali ia membentak seram: "Siapa kau?"
Orang berkedok tetap tidak bersuara. Sekuat tenaga Ji Bun berguling ke samping, asal maju beberapa
kaki dan dapat menyentuh badan orang, ia yakin mampu, menewaskan pembunuh gelap ini. Namun
perhitungannya sia-sia, baru dia bergerak, telapak tangan orang sudah menjotos pula. "Waaah!" jeritan
panjang yang seram ini memecahkan kesunyian pagi, darah meleleh dari mulutnya, setelah berkelojotan
beberapa kali, Ji Bun rebah tidak bergerak lagi.
Orang berkedok melangkah maju meraba pernapasannya, memegang urat nadinya, setelah jelas sudah
mati, seperti datangnya tadi tiba-tiba bayangannya lenyap dalam sekejap.
Jeritan Ji Bun tadi mengejutkan para tetamu di kamar lain, beramai-ramai mereka berlari keluar, malah
seorang di kamar sebelah berteriak ketakutan: "Pembunuhan, ada pembunuhan!" Suasana menjadi kacau.
Pemilik hotel segera datang dan memeriksa keadaan, tapi segera ia menutup kamar itu dan lapor kepada
yang berwajib.
Entah berapa lama, akhirnya Ji Bun siuman dan mendapatkan dirinya diserang roboh oleh seorang
berkedok. Lekas ia bangun berduduk, badannya tidak merasa sakit. Sungguh aneh dan luar biasa, jelas
masih teringat olehnya, pukulan pertama pembunuh gelap itu membuatnya muntah darah dan tak mampu
bangun lagi.
Pukulan kedua membuatnya lupa ingatan, ia tahu pukulan kedua orang cukup berlebihan untuk
menamatkan riwayatnya. Orang berkedok sengaja hendak membunuh dirinya, tak mungkin ia menaruh
belas kasihan, dirinyapun tak pernah minum sesuatu dan tidak diobati, namun kini badannya tetap segar
bugar, sungguh kejadian yang tak habis dimengerti.
Mungkinkah si dia? Tiba-tiba teringat pada Thian-thay-mo-ki. Cerita Thian-thay-mo-ki tentang peristiwa
yang dialami tempo hari sukar dipercaya, namun kini dialaminya sendiri. Ini terbukti bahwa cerita yang
didengar itu bukan bohong belaka.
Mungkinkah dia mampu menghidupkan jiwanya pula? Tapi di mana dia sekarang? Tiba-tiba disadarinya
sikapnya selama ini terhadap nona yang satu ini memang terlalu dingin dan kasar.
Banyak persoalan yang sulit dipecahkan, sambil geleng-geleng segera dia berdiri. Aneh, badan terasa
nyaman segar dan enteng. Air sudah tersedia di dalam kamar, segera ia cuci muka dan membersihkan
badan. Pada saat itulah didengarnya suara ribut-ribut di luar, agaknya ada opas datang karena laporan
adanya pembunuhan di hotel ini.
Ji Bun melengak sebentar, ia tahu dirinyalah yang dijadikan sasaran keributan di luar itu. Supaya tidak
terlibat urusan yang bertele-tele, segera ia buka jendela terus melompat keluar secara diam-diam. Di luar
tahunya bahwa gerak-gerik dan kejadian di dalam hotel ini telah disaksikan dan diikuti oleh seseorang.
Sekaligus Ji Bun berlari keluar kota baru kemudian melambatkan larinya, bayangan orang berkedok yang
membunuh dirinya barusan masih terbayang pada benaknya. Siapakah orang yang menyamar mirip ayahnya
dan turun tangan sekeji ini kepada dirinya? Sampai detik ini ia yakin ayah kandung sendiri tak mungkin tega
membunuh puteranya.
Tengah mengayun langkah dengan pikiran butek, tiba-tiba di belakang terdengar seorang berteriak
memanggil: "Te-gak Suseng, tunggu sebentar!"
Ji Bun berhenti dan berpaling, seketika ia berdiri melongo dan dingin perasaannya. Yang datang adalah
Thian-thay-mo-ki. Ia jadi merasa sebal, namun mengingat sakit hati dan dendam keluarganya, selanjutnya
ia harus ubah sikap dan tindak-tanduk. Pengetahuan dan pengalaman Thian-thay-mo-ki rasanya dapat
dimanfaatkan untuk mengejar dan mencari jejak para musuh itu.
"Ada perlu apa?" tanya Ji Bun tawar.
Semula Thian-thay-mo-ki sudah siap menghadapi sikap kasarnya, diluar dugaan ia disambut tawar saja,
maka katanya dengan tersenyum lebar: "Hari ini kau jauh berbeda dari biasanya."
"Memang kurasakan sikapku selama ini terlalu kasar terhadap nona,” sahut Ji Bun.
"Kenapa?"
"Mungkin karena salah paham ..........”
"Salah paham soal apa?"
"Tentang orang berkedok itu."
"Oh, jadi sekarang kau sudah percaya?"
"Percaya, malah aku bersumpah bendak mencari tahu siapa dia sebetulnya dan apa tujuannya hendak
membunuh aku?"
"Tempo hari kau bilang dia adalah ayahmu?"
"Menurut cerita nona, pagi tadi .............”
"Sudah terbukti bahwa dia bukan ayahmu?"
"Eh, kau sudah tahu ......"
"Aku menyaksikan seluruh kejadian tadi."
"Oh, tak heran ...... tadinya kukira jiwaku sudah melayang .........”
"Tapi kau hidup kembali bukan?"
Timbul rasa terima kasih dalam lubuk hati Ji Bun, sikapnya ini bukan pura-pura, segera ia memberi
hormat, katanya: "Terima kasih akan budi pertolongan nona."
Thian-thay-mo-ki tertawa penuh arti, ujarnya: "Aku hanya menonton saja, tidak pernah turun tangan,
yang benar aku sendiri bukan tandingan orang berkedok itu."
"Kenapa sudah mati aku bisa hidup kembali?"
"Mungkin untuk selanjutnya kau tetap akan mengerti kejadian ini."
"Aku tidak habis mengerti."
"Ini ....... tak bisa kujelaskan, kelak kau akan mengerti sendiri."
Kalut pikiran Ji Bun dirangsang berbagai persoalan, namun dia harus menahan gejolak hati, menekan
perasaan dan berubah sikap, terutama terhadap Thian-thay-mo-ki, walau semestinya dia merasa jijik, sebal
dan benci akan tingkah lakunya yang genit.
"Adikku! Kau suka menerima panggilan ini bukan?"
Dalam hati Ji Bun menggerutu, namun sikapnya lain. "Boleh saja," sahutnya tertawa.
"Jadi kaupun suka memanggilku Cici?"
"Usiamu lebih tua, adalah pantas kalau kupanggil Cici padamu."
Riang hati Thian-thay-mo-ki, wajahnya bersemu merah, alisnya lentik, kerlingan matanya memang
mempesona dan menggiurkan, namun sedikitpun Ji Bun tidak tertarik.
”Dik, agaknya kau dirundung persoalan gawat?"
Ji Bun was-was, sengaja ia angkat alis, tanyanya: "Darimana kau tahu?”
"Di dalam hotel semalam kau kelihatan mengertak gigi dan mengepal tinju serta membanting kaki, sering
menghela napas panjang, betul tidak?"
Tersentuh luka-luka di lubuk hati Ji Bun dan hampir menetes air matanya, namun ia bertahan agar tidak
sampai menangis, dengan acuh ia tertawa, katanya: "Terkadang aku memang memikirkan berbagai kejadian
yang kurang menyenangkan, maklumlah sebagai kaum persilatan, kita harus siap menerima segala
gemblengan dan ujian, meski ada kalanya kita sendiri juga berbuat kesalahan."
Thian-thay-mo-ki cukup cerdik, ia tidak puas akan penjelasan ini, namun iapun tidak banyak debat lagi,
tanyanya ke lain persoalan: "Agaknya kau berubah begini mendadak?"
"Apa betul? Mungkin inilah hasil dari tempaan dari yang kualami itu."
"Orang berkedok berjubah sutera itu, apakah kau sudah berhasil menemukan jejaknya?"
"Belum, tapi pasti akan ketemukan dia dan menuntut balas."
"Kukira sulit."
"Sulit?"
"Dua kali kusaksikan sendiri, dengan gabungan kita berdua mungkin masih bukan tandingannya. Sudah
lama hal ini kupikirkan, namun tak berhasil menemukan alirannya, betapa banyak tokoh-tokoh kosen
berkepandaian tinggi .........”
"Memang orang pandai ada yang lebih pandai, setinggi-tinggi gunung masih ada yang lebih tinggi lagi.
Jika dia seorang tokoh yang jarang berkelana di Kangouw, dengan apa kau akan menerka asal usulnya?"
demikian diam-diam timbul pula pertempuran dalam hati Ji Bun.
Semula ia mengira orang berkedok sengaja menyamar ayahnya untuk mempermudah turun tangan
terhadap dirinya. Namun kepandaian silat orang jauh berlebihan untuk membunuh dirinya, buat apa harus
menyamar segala, dan yang lebih membingungkan, orang itu tidak mau buka suara dan tidak menjelaskan
maksudnya, peristiwa seperti ini jarang terjadi di Bu-lim.
Apakah ia memang ayahku sendiri? Namun kesan ini segera dia sangkal pula, tidak mungkin, jelas tidak
mungkin.
"Dik,” tanya Thian-thay-mo-ki, "sudikah kau beritahu asal usulmu?"
Ji Bun kaget, katanya: “Cici, maafkan, hal ini terlarang oleh perguruan, sekarang belum dapat
kuberitahu."
"Ya, sudah," ujar Thian-thay-mo-ki tak acuh, "aku sendiri ada kesulitan." Nyata, secara tidak langsung
iapun memberitahukan Ji Bun, bahwa kau pun tak usah tanya asal usulku.
"Cici, kita bertemu lagi secara kebetulan?"
"Boleh dikatakan demikian, aku sedang menempuh perjalanan untuk menghadiri suatu undangan
berdirinya, suatu perkumpulan besar, kita sama-sama menginap di hotel itu, bukankah ini kebetulan?"
"Menghadiri pembukaan perkumpulan apa?"
"Apa pernah dengar nama Wi-to-hwe?”
"Tiga hari lagi perkumpulan ini akan meresmikan berdirinya dan membuka markas. Semua Pang dan Pay
serta tokoh-tokoh bulim yang kenamaan sama diundang untuk menghadirinya."
"Oh, Cici juga diundang?" tanya Ji Bun, sementara hatinya membatin, kalau aku bisa ikut mungkin bisa
bertemu dengan musuh, sedikitnya ada kesempatan untuk mencari sumber penyelidikan, maka ia
menyambung: "Wi-to-hwe, sesuai dengan namanya tentunya menempatkan diri di pihak yang baik dan
menumpas kejahatan dan menindas kaum iblis bukan?”
“Tentunya demikian."
"Siapakah ketuanya?"
"Coba kau lihat sendiri." kata Thian-thay mo-ki, lalu mengeluarkan secarik kartu undangan besar warna
merah."
Ji Bun menerima undangan itu serta membacanya:
"Dengan hormat, seratus tahun belakangan ini, makna dan tujuan persilatan semakin pudar, keadilan
dan kebenaran semakin guram, azas orang belajar silat semakin kabur, dunia persilatan semakin kacau dan
kejahatan bersimaharaja, bahwa kaum iblis semakin tumbuh dan kaum pendekar malah kelelap, semua ini
menjadi kenyataan. Bagi kaum yang berdarah panas, yang mempunyai cita-cita luhur dan sehaluan dalam
satu tujuan, kita bersepakat untuk mendirikan perkumpulan penegak dan pembela keadilan dan kebenaran
ini dengan harapan bisa mengembalikan wibawa dan membangkitkan azas dan cita-cita semula sehingga
segala kejahatan dan kelaliman dapat kita tumpas. Pada tanggal sekian bertempat di Tong-pek-san, kita
resmikan berdirinya perkumpulan dan markas besar kami. Mohon kehadiran para pendekar dan semua
simpatisan.
Salam hormat, Wi-to-hwe Hwecu."
Jadi dalam undangan ini tidak disebut siapakah Hwecu atau ketua perkumpulan yang bakal berdiri ini,
undangan semacam ini boleh dikatakan jarang ada dan bertentangan dengan kebiasaan.
Ji Bun kembalikan undangan itu, katanya tak mengerti: "Siapakah sebetulnya ketua perkumpulan ini?"
"Entahlah," sahut Thian-thay-mo-ki sambil geleng-geleng."
"Masih tiga hari dari hari pembukaan, apakah bisa mencapai Tong-pek-san?"
"Kalau siang malam menempuh perjalanan, kukira tidak akan terlambat."
"Kalau begitu silakan Cici lekas berangkat.”
"Apa kau tidak ingin ke sana?"
Sudah tentu Ji Bun ingin pergi, namun lahirnya berpura-pura, katanya : "Aku tidak diundang.”
"Mungkin yang disuruh menyebar undangan tidak menemukan kau," ujar Thian-thay-mo-ki tertawa,
"masakah ketenaran Te-gak Suseng yang sudah menjulang tidak diundang, hayolah berangkat bersamaku,
kutanggung tiada orang yang menolak kedatanganmu."
"Perkumpulan, ini menamakan dirinya penegak dan pembela kebenaran, bertujuan menumpas kejahatan,
terus terang, dengan julukan dan gelaran. kita berdua, apakah kita tidak bakal ditumpas oleh mereka
malah?"
Thian-thay-mo-ki terkial-kial sekian lamanya, katanya: „Dik, memangnya perbuatan jahat apa yang
pernah kita lakukan? Soal gelar atau julukan kan mereka yang memberikan. Tekadku sudah bulat ingin
kulihat manusia macam apakah sebetulnya orang-orang yang berani menonjolkan dirinya dipihak penegak
dan pembela kebenaran itu.
"Baiklah mari berangkat," kata Ji Bun akhirnya.
^^^^
Pegunungan Tong-pek-san di perbatasan Holam dan Ouwpak, puncaknya terletak di bilangan utara.
Selama beberapa hari ini, tokoh-tokoh berbagai aliran persilatan berbondong-bondong menuju ke atas
gunung, di antara arus manusia yang beramai-ramai itu terdapat seorang pemuda berpakaian pelajar dan
buntung sebelah tangannya diiringi seorang gadis cantik dan bertingkah genit, mereka adalah Ji Bun dan
Thian-thay-mo-ki yang datang untuk menghadiri berdirinya Wi-to-hwe.
Banyak orang yang kenal mereka sama melotot gusar dan menyingkir jauh, seperti berhadapan dengan
setan iblis atau merasa jijik.
Di mulut gunung sebelum naik ke puncak didirikan sebuah barak besar khusus untuk menyambut
kedatangan para tamu. Semua tamu dipersilakan istirahat dan makan minum lebih dulu di barak ini baru
kemudian diantar naik ke atas gunung. Jalan berliku yang menjurus ke atas kebetulan terletak diujung
belakang barak besar itu, di mana berdiri seorang tua berpakaian hitam dengan delapan orang pengiring,
tugasnya khusus menyambut para tamu naik ke atas gunung.
Setelah istirahat dan menghilangkan lapar dan dahaga, Ji Bun dan Thian-thay-mo-ki sama berjalan
menuju ke arah mulut gunung.
Laki-laki baju hitam setengah umur itu segera memberi salam hormat, katanya memperkenalkan diri,
“Aku yang rendah Go it-hong menjabat Hek-ki-tongcu dalam Wi-to-hwe, kini bertugas menyambut
kedatangan para tamu. harap kalian tunjukkan tanda undangan."
Thian-thay-mo-ki tertawa lebar,katanya: "Kalau tidak punya undangan bagaimana?"
“Maaf, kami tidak melayani."
"Kepada siapa saja undangan disebar?"
"Kepada Pang, Pay atau perguruan silat dan para tokoh Bu-lim kenamaan."
"Apa pula maksudnya dengan tokoh kenamaan?”
"Soal ini ..... maaf, tugasku hanya menyambut tamu dan tidak melayani segala pertanyaan."
"Apakah Te-gak Suseng yang tenar ini tidak setimpal hadir?"
Berubah air muka Go It-hong, si Hek-ki-tongcu, sorot matanya tertuju kepada Ji Bun, sesaat dia
melongo, jelas dia tahu asal usul kedua orang ini, namun terbatas oleh peraturan, tak enak dia
berkeputusan sendiri.
Untunglah pada saat itu muncul seorang berbaju hitam pula berlari-lari turun dari atas gunung, langsung
dia memberi hormat kepada Go It-hong dan berkata: "Lapor Tongcu, Tocu disuruh menyampaikan
perintah."
“Oh, perintah apa?" tanya Go It-hong, lalu dia menyingkir ke samping sana, orang yang baru datang itu
lantas bisik-bisik dipinggir kupingnya terus berlari kembali ke atas Go It-hong lantas maju ke depan Ji Bun
serta memberi hormat, katanya : "Pembagi undangan memang ceroboh dan ketinggalan, Hwecu kami
merasa menyesal. harap Siauhiap maafkan. Silakan!"
Ji Bun melengak dan merasa heran, matanya melirik Thian-thay-mo-ki yang sedang mengangsurkan
undangannya kepada Go It-hong, nona itu berkata: "Mari dik, kita naik ke atas."
Ji Bun mengangguk, bersama Thian-thay-mo-ki mereka jalan berendeng, namun rasa herannya masih
belum lenyap, bahwa Wi-to-hwecu suruh orang mengirim perintah mengundang dirinya hadir dan minta
maaf lagi, sungguh membingungkan dan luar biasa, siapakah Hwecu sebenarnya?
Nama Te-gak Suseng dipandang sebagai setan iblis, perkumpulan ini berdiri untuk menumpas kejahatan,
satu sama lain bertentangan, kenapa dirinya malah disambut dengan hormat, mungkin ada sesuatu yang
mencurigakan di balik semua ini?
"Bagaimana?" ujar Thian-thay-mo-ki tertawa senang. "kan sudah kutanggung kau boleh hadir, soalnya
nama julukanmu memang, teramat tenar.”
Jalan gunung yang menanjak semakin tinggi dan berputar mengelilingi sebuah puncak yang tidak terlalu
tinggi. Setelah tiba di puncak gunung, maka muncullah pemandangan aneh dari lekuk-lekuk gunung yang
berlapis-lapis menjulang ke atas diantara jepitan dua puncak di sebelah sana.
Membelakangi tebing gunung yang menjulang ke langit berdiri sebuah "panggung" besar. Dari kejauhan
tampak batu bata merah dan genteng dari bangunan gedung yang megah itu.
Rombongan demi rombongan tamu-tamu yang berbondong datang itu terus mengayun langkah dengan
cepat menuju ke lekuk gunung sana. Ji Bun berjalan dengan lenggang kangkung seenaknya saja seperti
pelancongan.
Yang benar hati Ji Bun samakin tertekan, ia pikir kalau nanti melihat Siangkoan Hong, Siang-thian-ong
dan musuh juga hadir, terutama orang berkedok itu, lalu tindakan apa yang harus dirinya lakukan? Kalau
bertindak secara kekerasan, jelas kepandaian sendiri bukan tandingan mereka.
Sebelum berhasil menuntut balas, jiwa sendiri mungkin sudah berkorban, dengan menggunakan
kecerdikan dan akal adalah satu-satunya jalan untuk menumpas dan melenyapkan musuh-musuh itu satu
persatu, namun hal inipun terlalu banyak makan tenaga dan pikiran. Dan yang paling ia kuatirkan adalah,
jikalau dirinya tak kuasa menahan gejolak perasaan dendamnya sehingga rencana yang sudah teratur rapi
menjadi gagal total.
Setelah melewati lingkaran gunung, jarak dari bangunan gedung di tanah datar seperti panggung besar
itu sudah tidak jauh lagi, arus manusia kelihatan bergerak menjurus ke sana. Didepan terbentang hutan
bambu yang lebat dan terawat baik, pemandangan di sini terasa nyaman dan mempesona.
Mendadak langkah Ji Bun terhenti, sorot matanya menyala memandang hutan bambu sebelah kanan.
Sesosok bayangan merah tampak berdiri semampai di atas sebuah batu besar yang menonjol keluar, angin
gunung sepoi-sepoi menghembus sehingga pakaiannya melambai-lambai mempesona. Ji Bun sampai lupa
diri, jantungnya berdetak, seolah-olah dirinya sudah berdiri berdampingan dengan orang berbaju merah itu.
"Dik, kenapa kau?" tegur Thian-thay-mo-ki.
Seperti mengigau Ji Bun berkata: "Itu dia, gadis baju merah, hari ini pasti kutanya asal usulnya."
Berubah air muka Thian-thay-mo-ki, benci dan dendam seketika merangsang sanubarinya, namun Ji Bun
tidak perhatikan, langsung ia menghampiri ke sana. Orang dalam tandu yang berkepandaian tinggi, si gadis
berbaju merah yang dingin itu, sudah tak terpikir lagi dalam benaknya. Sebaliknya hancur luluh perasaan
Thian-thay-mo-ki, disadarinya betul-betul bahwa Ji Bun hakikatnya tidak suka dan menaruh hati terhadap
dirinya, hatinya sudah tercuri oleh gadis berbaju merah itu, maka dengan gegetun ia banting kaki, terus
menyingkir pergi.
Ji Bun sudah melupakan kehadiran Thian-thay-mo-ki, seorang diri ia terus menghampiri ke sana. Tapi
setelah dekat berada di belakang gadis berbaju merah, di mana pandangannya tertuju, seketika dia berdiri
tertegun. Di belakang batu gunung yang menonjol di sebelah kanan ternyata masih ada seorang pemuda
berbaju putih yang berdiri di sana.
Pemuda itu bagi Ji Bun tidak asing lagi, karena dia bukan lain adalah putera Cip-po-hwecu. Rasa
cemburu seketika membakar hatinya. Cip-po-hwe merupakan perkumpulan kelas tiga di Kangouw, dengan
segala cara kotor dan jahat mereka merebut, merampas dan mencuri barang berharga milik orang lain.
Penculikan Ciang Bing-cu puteri hartawan Kayhong yang berhasil dia gagalkan merupakan salah satu bukti.
Gadis berbaju merah itu bak sebutir mutiara yang agung dan suci bersih, kalau dia bergaul dan
berkumpul dengan pemuda macam ini, boleh dikatakan terlalu menurunkan derajat diri dan memalukan.
Kebetulan pemuda berbaju putih berpaling ke sini, begitu melihat Ji Bun seketika berubah hebat air
mukanya, serunya kaget: "Te-gak Suseng!"
Gadis berbaju merah ikut berpaling, dengan kaget, kebetulan sorot matanya kebentrok dengan
pandangan Ji Bun.
Sesuatu yang sukar diperoleh adalah yang paling berharga, hal ini memang tidak salah. Begitu
pandangan saling bentrok, badan Ji Bun seperti terkena aliran listrik, seolah-olah dalam jagat raya ini hanya
si dia inilah yang tercantik.
Gadis berbaju merah menarik muka, katanya: "Selamat bertemu!"
Karena berlengan buntung maka Ji Bun hanya membungkuk badan memberi hormat, katanva "Memang
beruntung dapat bertemu lagi di sini."
Dengan langkah cepat, pemuda berbaju putih mendekati gadis berbaju merah, katanya keheranan: "Adik
Hwi, kau sudah kenal?"
Panggilan "adik Hwi"menandakan hubungan mereka sudah tidak biasa, terasa kecut dan mendelu hati Ji
Bun.
Dengan lembut gadis berbaju merah berkata kepada pemuda berbaju merah dengan tertawa: "Siaumoay
pernah mendapatkan sedikit pertolongannya."
"Tuan penolong adik Hwi?" tanya pemuda berbaju putih," namun dia ........”
"Kenapa?"
"Dia adalah musuh besarku."
"Musuh besar? Ada permusuhan apa di antara kalian."
"Menerobos ke markas kami, membunuh dan menculik orang."
"Oh," gadis baju merah hanya bersuara dalam mulut dengan melongo.
Tak tertahan lagi kobaran amarah Ji Bun, hawa hitam yang tebal sudah terpusat di antara kedua alisnya,
dengan tajam dia tatap pemuda berbaju putih, dengusnya; "Kau ini terhitung barang apa?"
Agaknya pemuda baju putih betul-betul sudah jeri terhadap Ji Bun, dia menyurut mundur dan tak berani
menanggapi.
"Te-gak Suseng," seru gadis berbaju merah sedikit marah, "jangan memaki orang!"
3.9. Peresmian Perkumpulan Wi-to-hwe
Menyala biji mata Ji Bun, namun ia tahan perasaannya, katanya:" Cayhe mohon diberitahukan siapa
nama harum nona?”
"Aku bernanaa Pui Ci-hwi.”
“Kenapa nona Pui sudi bergaul dengan manusia macam dia ini?"
“Manusia macam dia apa maksudmu?"
“Kaum keroco di Kangouw, perbuatannya kotor dan wataknya bejat."
Karena dimaki dan dijelekkan dihadapan pujaan, meski jeri pemuda baju putih menjadi marah dan
berani, teriaknya: "Te-gak Suseng, sepak terjang dan nama gelaranmu itu memangnya harum bagi kaum
persilatan?"
Mata Ji Bun mengerling sedikit, jengeknya sinis: "Kau tidak setimpal menyinggung nama gelaran dan
perbuatanku."
"Aku pernah mendapat pertolongan tuan," kata gadis berbaju merah, "kelak pasti kubalas .......”
"Selamanya Cayhe tak pernah mengharap balas budi siapapun," ujar Ji Bun.
"Itu urusan lain, tuan kemari atas undangan?" tanya si gadis berbaju merah, "kenapa tidak langsung
masuk saja?"
Hampa hati Ji Bun karena sikap dingin dan diusir secara halus ini, ia merasa terpukul gengsinya, dengan
menarik muka ia berkata dengan mengertak gigi: "Nona Pui, Cayhe memberi peringatan setulus hati, hatihatilah
terhadap manusia tamak berhati serigala, cabul lagi, supaya kelak tidak menyesal setelah kasip."
Habis berkata ia terus putar badan hendak tinggal pergi.
Pemuda berbaju putih berkata dingin:"Orang seperti ini hadir dalam pembukaan Wi-to-hwe,
kehadirannya mengotori suasana saja."
Manusia mana yang suka mendengar makian atau ejekan yang menghina, apa lagi Ji Bun yang memang
berwatak nyentrik, walau dia sudah berjanji hendak ubah watak dan perilaku demi suksesnya menuntut
balas, namun sabar ada batasnya, apalagi dihina di depan gadis pujaan hatinya, segera ia membalik pula
dengan mendesis mendelik: "Kau ingin mampus?"
Tanpa sadar pemuda berbaju putih menyurut mundur dengan bergidik. Gadis berbaju merah maju
selangkah, serunya: "Tuan kemari sebagai tamu, harap tahu diri. Di sini bukan tempat untuk membunuh
orang." Kata-kata ini layaknya diucapkan oieh seorang tuan rumah.
Tergerak hati Ji Bun, mungkinkah dia salah seorang dari anggota Wi-to-hwe? Atau ada hubungan kental
dengan ketuanya? Kalau begitu orang dalam tandu yang melukai dirinya di Jing-goan-si tempo juga salah
seorang dari Wi-to-hwe ini, naga-naganya memang tidak kecil perbawa dan kekuatan Wi-to-hwe.
Tanpa hiraukan ucapan tajam orang, Ji Bun balas bertanya: "Jadi nona adalah tuan rumah di sini?"
"Ah, hanya boleh dikatakan setengah tuan rumah."
“Setengah?"
"Adik Hwi," sela pemuda berbaju putih, "pemandangan di sana begitu permai, bagaimana kalau kita
pindah tempat saja?"
Gadis baju merah sedikit mengangguk, dengan pandangan mesra ia mengerling kepada pemuda baju
putih, lalu berkata kepada Ji Bun yang dirangsang kemarahan: "Tuan boleh silakan."
Lalu dia ajak pemuda baju putih pergi dengan bergandengan tangan.
Kalau menuruti watak Ji Bun dulu, pemuda baju putih terang sudah mampus, akan tetapi ia kini betulbetul
sudah banyak berubah, ia tahu memang tidak leluasa main bunuh orang ditempat ini. Hal itu secara
langsung akan mempengaruhi rencananya untuk membalas dendam. Dengan mendelong dia mengawasi
bayangan merah putih semakin jauh, timbul rasa kecut dan getir dalam hatinya.
"Dik?" itulah suara panggilan Thian-thay-mo-ki, entah kapan tahu-tahu ia sudah berada di sampingnya.
Ji Bun berpaling sambil tertawa, tertawa ewa, tawa untuk menghilangkan rasa pedihnya, namun Thianthay-
mo-ki tidak hiraukan mimik tawanya, katanya dengan lembut dan prihatin: "Upacara pembukaan sudah
hampir tiba."
lnilah hubungan timbal balik yang serba bertentangan dan ruwet, Ji Bun naksir kepada Pui Ci-hwi, tapi
bukan saja Pui Ci-hwi tidak simpatik terhadapnya, boleh dikatakan malah merasa sebal dan benci, namun
dia rela menerima kenyataan ini.
Sebaliknya Thian-thay-mo-ki kesemsem kepadanya, namun sedikitpun dia tidak ambil perhatian, malah
ada kalanya berlaku kasar dan menyinggung perasaannya. Tapi Thian-thay-mo-ki pun tidak patah
semangat, ia tetap mengikutinya ke mana pergi. Apakah akibat yang bakal terjadi dari cinta segi tiga yang
aneh ini?
Pelahan perasaan Ji Bun, tenang kembali, ia sadar akan kelancangan dirinya, beban dan tanggung jawab
sakit hati belum terbalas, keselamatan ayah bunda belum lagi diketahui, yang dipikirkan malah soal cinta
melulu, inilah tindakan yang tidak bijaksana.
Setelah sadar akan kesalahannya, pikirannya jernih, hatipun lapang, katanya tenang kepada Thian-thaymo-
ki: “Cici, kau kira perbuatanku teramat bodoh bukan?”
"Tidak," ujar Thian-thay-mo-ki tertawa, "laki perempuan jatuh cinta adalah karunia Tuhan dan menjadi
sifat pembawaan manusia. Namun, soal cinta tidak boleh dipaksakan.”
Sudah tentu Ji Bun paham arti kata-kata orang, ia tidak mau membicarakan soal ini lagi. Supaya tidak
menimbulkan hal-hal yang merikuhkan, segera ia alihkan pembicaraan: "Cici, kuingat waktu berada di Jinggoan-
si kau pernah menunjukkan Sam-ci-ciat kepada orang dalam tandu, benda apakah sebetulnya Sam-ciciat
itu. boleh aku mengetahui?"
"Itulah tanda pengenal perguruanku."
"Tentunya gurumu seorang tokoh luar biasa.”
"Kau terlalu memuji beliau,” agaknya ia segan bicara soal ini. Ji Bun juga tidak bertanya lebih lanjut.
Mereka melanjutkan ke depan menuju kederetan bangunan gedung tadi.
Di depan gedung yang megah itu adalah sebidang tanah lapang yang luas, di sebelah utara dibangun
sebuah panggung seluas lima tombak persegi dan tinggi enam tombak lebih. Asap dupa mengepul tinggi,
api lilin terpasang menyala di mana-mana, barang-barang sesajian bertumpuk tinggi beraneka macam. Dua
laki-laki setengah umur berpakaian rapi berdiri di kedua samping meja sembahyang, mungkin dia itulah
pengantar upacara.
Kedua samping meja sembahyang rada ke belakang sana berderet delapan kursi kebesaran, tujuh orang
tua masing-masing menempati tujuh kursi. Kursi kedelapan yang paling kiri masih kosong. Enam belas orang
lagi yang berseragam ketat sebagai pembantu upacara masing-masing berdiri tersebar di bawah panggung.
Entah berapa manusia yang berjubel-jubel di bawah panggung, namun suasana hening dan tenang.
Ji Bun dan Thian-thay-mo-ki sementara berpisah mencari tempat duduk yang terpisah antara laki dan
perempuan. Sorot mata Ji Bun langsung tertuju kepada tujuh orang tua yang duduk di atas panggung.
Bu-cing-so, Siang-thian-ong ternyata duduk diantara tujuh orang tua. Diam-diam jantungnya berdetak,
pandangannya menjelajah keseluruh pelosok, ia ingin menemukan jejak Siangkoan Hong yang pernah
ditolongnya itu namun orang tak dilihatnya. Mungkinkah tragedi Jit-sing-po ada sangkut pautnya dengan Wito-
hwe? Tiba-tiba berkelebat dugaan ini di dalam benaknya, tanpa terasa ia bergidik. Kalau kenyataan ini
betul, betapa tambah sulit tugas dirinya untuk menuntut balas.
Ketujuh orang tua yang duduk di kursi kebesaran di atas panggung mungkin sukar dicari tandingnya.
Sebagai orang-orang yang duduk sejajar bersaing Siang-thian-ong dan Bu-cing-so, kelima orang tua yang
lain pasti tokoh kosen yang luar biasa pula. Memangnya untuk siapa pula kursi yang kosong di sebelah kiri
itu?
Tiba-tiba dilihatnya sebuah tandu berhias mendatangi langsung menuju ke panggung. Ke tujuh orang tua
di atas panggung serempak berdiri menyambut. Suara berisik mulai timbul di bawah panggung.
Mengencang perasaan Ji Bun, pikirnya, mungkin hari ini kudapat melihat wajah sebenarnya dari orang di
dalam tandu itu. Tak tahunya harapannya tidak terkabul, tandu berhias itu ternyata berhenti di kursi
pertama pada deretan sebelah kiri, orang di dalam tandu tetap tidak keluar.
Agaknya hadirin juga tidak tahu akan asal usul orang di dalam tandu yang misterius ini, maka suara
berisik semakin keras menjadi percakapan ramai di antara hadirin di bawah panggung. Suasana yang
semula khidmat dan tenang kini menjadi agak kacau dan ramai karena munculnya orang bertandu itu.
"Tang-tang-tang" tiga kali gentang bertalu, suasana ramai kembali sirap menjadi hening. Irama musik
segera mengalun dari belakang panggung, tampak seorang laki setengah baya dengan pakaian kebesaran di
dahului empat anak laki-laki pembawa Hiolo beranjak pelan menuju ke atas panggung. Muka yang kereng
tidak menunjuk perasaan apa-apa, namun sorot matanya berkilat tajam, dari tempat jauh dapat merasakan
ketajaman sinar matanya. Dia inikah Hwecu?
Ji Bun ingin mencari tahu kepada orang yang duduk di sebelahnya, waktu dia berpaling, dilihatnya mimik
orang yang duduk di sekitarnya juga menunjuk rasa bingung dan sangsi, agaknya merekapun tidak tahu
siapa dan bagaimana asal usul Wi-to-hwe.
Ji Bun membatin, nanti pasti dia akan memperkenalkan diri, tak kira kenyataan meleset pula dari
dugaannya, tertampak protokol mengumandangkan pengumuman dan upacara mulai berlangsung.
Di tengah suasana yang khidmat itu, entah mengapa perasaan Ji Bun menjadi risi dan kurang tentram,
terasakan ada sepasang mata tajam yang tengah mengawasi dirinya. Waktu ia berpaling ke sana, dilihatnya
seorang nyonya berpakaian hijau yang duduk di antara tamu-tamu perempuan di seberang sana kebetulan
melengos ketika dia berpaling, dari dandanan dan rambutnya terang usia perempuan ini sudah setengah
abad.
Siapakah perempuan ini? Seingat dia belum pernah kenal perempuan baju hijau berkedok kain sari tadi.
Tengah dia terlongong, dilihatnya sorot mata orang kembali tertuju ke arahnya, walau tertutup kain sari,
namun sinar matanya masih kelihatan cemerlang, sungguh luar biasa Lweekang perempuan tua ini.
Tiba-tiba dilihatnya perempuan berkerudung itu berangkat meninggalkan tempat duduknya, pelahan
berjalan keluar meninggalkan panggung, sebelum pergi tangannya sedikit terangkat dan menunjuk keluar.
Ji Bun semakin heran dan tidak mengerti, setelah berpikir bolak-balik, akhirnya ia ikut berdiri terus
beranjak keluar pula. Suasana tetap sunyi dan khidmat, hadirin sedang tumplek perhatiannya ke arah
panggung, di mana upacara sedang beriangsung, maka tiada orang yang memperhatikan gerak geriknya,
dengan leluasa ia meninggalkan tempat itu. Sebetulnya tingkahnya ini kurang terhormat dan bisa dicela
orang, untunglah dia tidak mendapatkan halangan.
Di ujung lapangan sebelah timur adalah hutan lebat, tanpa berpaling perempuan berkerudung itu
langsung masuk ke dalam hutan, seolah-olah dia yakin Ji Bun pasti mengikuti dirinya. Biasanya tempattempat
ini ada pos penjagaan, namun belakangan ini untuk menghormati para tamu, semua pos-pos
penjagaan ditarik seluruhnya, maka setelah meninggalkan gelanggang, tidak tampak lagi bayangan
seorangpun.
Dengan penuh tanda tanya Ji Bun ikut masuk ke dalam hutan. puluhan tombak kemudian, dilihatnya
perempuan berkerudung itu sudah menunggunya di sana.
"Kau bergelar Te-gak Suseng?” tanya perempuan itu dengan suara dingin tajam.
"Betul, mohon tanya ........”
"Tidak usah kau tanya siapa aku, sebutkan siapa gurumu dan dari aliran mana?"
“Sikapmu ini terlalu kasar dan tidak pandang sebelah mata ........”
"Pertanyaanku ini sudah terhitung cukup sopan.”
"Bagaimana yang tidak sopan?"
"Kau harus berlutut menjawab pertanyaanku. Tahu!"
Bergolak perasaan Ji Bun, namun dia tekan sekuat mungkin, pikirnya, inilah ujian dan gemblengn bagi
diriku, kalau gagal segalanya bakal berantakan. Demi berhasil menuntut balas, dia harus menempa diri,
berlaku bajik dengan penuh kesabaran. Maka tenanglah pikirannya, katanya tawar: "Ada petunjuk apa?"
Perempuan berkerudung diam sebentar, lalu berkata: "Kabarnya cara kau membunuh orang sangat aneh,
si korban tidak menunjuk sesuatu luka, sekarang coba kau pertunjukkan kemampuanmu terhadapku.”
Sikap kasar dan takabur ini membuat Ji Bun geli dan dongkol pula, namun diam-diam ia waspada, orang
mengajaknya kemari tentu bukan secara kebetulan, ia kuatir orang sudah kenal siapa dirinya, maka ia
berkata. Sungguh-sungguh: "Apa alasanku harus menyerangmu?"
"Kehendakku sendiri."
"Bolehkah aku tahu sebabnya?"
"Memangnya harus banyak omong?" tiba tangannya mencengkeram ke arah Ji Bun, gerakan tangan yang
lucu namun lihay, jarang ada serangan seaneh ini. Ji Bun merasa tak sempat berkelit atau menyingkir,
belum lagi pikirannya bekerja, tahu-tahu pergelangan tangannya sudah terpegang oleh orang. Waktu itu
sebenarnya dia bisa, memperoleh kesempatan menyerang, namun dia tetap diam saja, tangannya dibiarkan
terpegang, apa lagi serangannya belum tentu dapat merobohkan orang, dan itu berarti memenuhi keinginan
orang pula.
Begitu kerahkan tenaga, jari-jari perempuan berkerudung itu tanggem menjepit, rasa sakit menusuk
jantung, keringat bertetes membasahi jidat Ji Bun, namun ia mengertak gigi tanpa. mengeluh atau merintih
sedikitpun.
"Kau tak ingin mampus bukan?" tanya perempuan berkerudung dengan dingin.
"Mati atau hidup tidak menjadi soal lagi bagiku," sahut Ji Bun meringis.
"Hm, kau gila dan congkak sekali," jengek perempuan berkerudung sambil melepaskan pegangannya. Ji
Bun terhuyung mundur dua langkah, dengan melongo dia pandang orang.
"Anak muda," ujar perempuan berkerudung, "kau kenal Thian-thay-mo-ki?"
Ji Bun melengak, entah mengapa persoalan sampai melibatkan Thian-thay-mo-ki, ia mengangguk dan
mengiakan.
"Apa kau mencintainya? Jangan pakai macam-macam alasan, cekak saja, kau mencintainya tidak?"
Ji Bun jadi bingung cara bagaimana ia harus menjawab, hakikatnya ia tidak pernah timbul rasa cinta
terhadap perempuan genit itu, kalau mengatakan tidak, entah apa pula maksud tujuan pertanyaan orang
ini?
Baru pertama kali ini ia betul-betul menyadari untung ruginya bagi seorang menghadapi persoalan pelik.
Sekian lama ia melongo, lalu balas bertanya: "Pernah apa kau dengan Thian-thay-mo-ki? Tentunya kau
punya alasan menanyakan hubungan kami ini?”
"Aku hanya ingin satu jawaban yang tegas, tak perlu kau banyak omong lagi."
"Kami hanya bersahabat, belum menjurus ke soal cinta."
"Tahukan kau, kalau tiada dia jiwamu sudah melayang?"
"Budi dan dendam selamanya kubedakan dengan jelas, kelak pasti kubalas kebaikannya."
"Dengan cara apa kau hendak membalas budi?”
"Itu bergantung keadaan dan kebutuhan."
"Kau tahu kalau dia amat mencintaimu?"
"Cinta tidak boleh dipaksakan."
“Jadi kau tidak naksir kepadanya?"
"Cayhe tidak mengatakan demikian."
"Pungkir," bentak perempuan berkerudung tajam. "Anak muda, dalam hal apa dia tidak setimpal menjadi
jodohmu? Bahwa dia tidak mencela kau bertangan buntung, itupun sudah untung bagi kau?"
Merinding Ji Bun dibuatnya, kini baru jelas duduk persoalannya, memangnya perempuan berkerudung ini
adalah guru Thian-thay-mo-ki? Tapi jarang terjadi seorang guru memaksa orang lain untuk mencintai
muridnya.
"Maaf, Cayhe tidak dapat menjawab."
"Kau harus memberi putusan, cinta atau tidak, satu kata saja."
"Kalau Cayhe berkata tidak?"
"Kubunuh kau! Dia menolongmu dan akulah yang membunuhmu, hutang piutang menjadi lunas."
Tiba-tiba timbul pikiran Ji Bun, mungkinkah semua ini adalah muslihat Thian-thay-mo-ki yang hendak
mempermainkan dirinya demi mencapai tujuannya? Kalau betul, sungguh terlalu rendah dan hina.
Untunglah sebelum keadaan menjadi runyam, tiba-tiba berkumandang gelak tawa yang mengalun dari
belakang sana.
"Siapa?" bentak perempuan berkerudung tanpa berpaling.
Sebuah suara serak tua berkata: "Pasti ada pohon ribuan tahun di atas gunung, namun sukar ditemukan
manusia umur seabad di dunia ini. Aku sudah bosan hidup, tak kira ada juga manusia yang tamak hidup
malah, ha ha ha ha ......."
Di tengah gelak tawa yang menusuk telinga itu tampak bayangan hitam putih menggelundung tiba,
ternyata dialah Siang-thian-ong.
Bergetar hati Ji Bun, dari ucapan Siang-thian-ong tidak sulit diduga bahwa usia perempuan berkerudung
ini sudah melampaui seabad, walau mukanya berkerudung kain sari, tapi tingkah lakunya tidak sedikitpun
menunjukkan ketuaannya, sungguh aneh dan sulit dipercayai.
Perempuan berkerudung diam saja, sinar matanya yang tajam menembus kain sari menatap Siang-thianong.
Siang-thian-ong ngakak sekali lagi, katanya: "Sahabat lama dari Thian-thay, syukurlah watakmu tetap
abadi dan mencampuri urusan gendut genit itu, kalau, tidak pasti aku tidak mengenali dirimu, sang waktu
berlalu tanpa mengenal kasihan, puluhan tahun bagai hari kemarin, namun wajahnya tetap rupawan,
sungguh karunia ......."
"Lokoay (bangkotan aneh), sudah habis belum obrolanmu?" tukas perempuan berkerudung.
Siang-thian-ong garuk-garuk kepala lalu mengelus jenggotnya yang panjang, katanya: "Nenek galak,
ternyata watakmupun tidak berubah."
Kini yakinlah Ji Bun bahwa perempuan berkerudung adalah guru Thian-thay-mo-ki, atau pemilik dari
Sam-ci-ciat itu. Masih segar dalam ingatannya, tempo hari waktu Siang-thian-ong dan Bu-cing-so berkelahi
memperebutkan gadis berbaju merah, pernah mereka menjajal kepandaian silat Thian-thay-mo-ki dan
sebelum pergi mengatakan: "Kiranya kau ini murid nenek galak itu ....”
Selagi Ji Bun terlongong, pandangan Siang-thian-ong tertuju ke arahnya. Teringat dendam keluarganya,
seketika darah bergolak, amarah berkobar namun dia tetap waspada dan tekan perasaan, tahan dan sabar,
kalau tidak jangan harap bisa menuntut balas, demikian ia membatin.
Siang-thian-ong sehaluan dengan Siangkoan Hong yang pernah ditolongnya, bukan mustahil iapun ikut
menjagal orang-orang Jit-sing-po, hal ini harus diselidiki secara seksama dan mendalam, tidak boleh terburu
nafsu, dan lagi sepak terjang dan perilaku dirinya harus hati-hati dan ramah, sedikitnya tak boleh
menunjukkan tanda-tanda yang mencurigakan, maka tersipu-sipu ia memberi hormat: "Locianpwe selamat
bertemu.”
"Anak muda," ujar Siang-thian-ong sambil bertolak pinggang. "Syukurlah kaupun datang menghadiri
upacara kebesaran ini. Hayolah, mari kita minum sepuasnya,"
"Mohon tanya Locianpwe," tukas Ji Bun, "Orang kosen macam apakah Wi-to-hwe Hwecu"
"Hal ini sekarang belum boleh diumumkan.”
"Apakah saudara Siangkoan tempo hari itu juga akan kemari?"
Kemungkinan ada. Anak muda, marilah hari ini kau merupakan tamu teragung bagi Hwecu."
Kembali Ji Bun melongo, tanyanya heran: "Wanpwee ..... ... menjadi tamu agung Hwecu? Apakah
mungkin .........”
"Banyak sekali kejadian yang tidak mungkin anak muda, marilah ikut aku."
"Nanti dulu" sela perempuan berkerudung.
"Ada apa?“ tanya Siang-thian-ong dengan meninggikan suaranya.
"Urusanku belum selesai"
"Urusan apa?”
"Tiada sangkut pautnya denganmu, kau enyah saja."
"Nenek galak, jangan menimbulkan huru hara lagi. Urusan anak-anak biar mereka bereskan sendiri,
hematlah tenagamu."
"Omong kosong, dengan kedudukanku, masakah dia tidak mau menyebutkan asal usulnya ......."
"Nenek galak, jika kau sendiri tak mampu melihat asal usulnya, maka kau harus mawas diri ......."
"Bisa saja. Coba lihat!" tiba-tiba telapak tangan nenek itu ke arah Ji Bun.
Siang-thiang-ong mengadang sambil membentang kedua tangannya, katanya : "Nenek galak, kau tidak
takut kehilangan pamor, apalagi bocah ini memang berwatak kepala batu dengan caramu ini jangan harap
kau bisa mengorek keterangannya."
"Tua bangka," hardik perempuan berkeruduug. "Memangnya kau mau berkelahi?"
Siang-thian-ong tergelak-gelak keras, katanya: "Enam puluh tahun yang lalu sudah pernah kujajal kau,
sekarang terus terang aku tiada minat lagi."
"Kalau begitu lekas kau enyah saja!"
"Tapi Lohu(aku yang tua) menjalankan tugas, tak bisa kan berpeluk tangan."
"Menjalankan tugas apa?"
"Tugas menyambut tamu."
"Menyambut siapa?"
"Kau, dia, pokoknya kalian semua."
Semakin besar rasa curiga Ji Bun, betapapun dirinya tidak setimpal menjadi tamu agung segala apalagi
tokoh macam Siang-thian-ong mendapat tugas untuk menyambut tamu, malah dirinya dijajarkan bersama
perempuan berkerudung ini. Padahal siapa sebetulnya Hwecu atau ketua Wi-to-hwe yang baru berdiri ini,
sedikitpun dirinya tidak tahu.
Mungkinkah disebabkan dirinya pernah memberi sedikit pertolongan kepada gadis berbaju merah yang
mengaku bernama Pui Ci-hwi? Dari Pui Ci-hwi seketika dia teringat majikan muda atau pemuda Baju putih
dari Cip-po-hwe itu rasa cemburu seketika membakar hatinya. Memangnya pemuda yang kotor dan bejat itu
setimpal menjadi jodoh Pui Ci-hwi yang suci dan agung serta rupawan itu.
Sementara itu, perempuan berkerudung tengah berkata dengan angkuh, "Aku tidak ingin jadi tamu
agung segala, tua bangka, jangan kau bercapek lelah."
Siang-thian-ong berbatuk-batuk kering, katanya : "Nenek tua, kau sudah patut masuk liang kubur,
karena watakmu masih begini aseran .......”
"Tutup mulutmu, selama hayat masih dikandung badan, tiada orang yang berani mencampuri sepak
terjangku.”
"Jadi terang kan ingin cari gara-gara terhadap bocah ini?"
"Memangnya dia setimpal membuat perkara terhadapku? Sudahlah, tua bangka, jangan cerewet, jangan
nanti kau katakan aku tak ingat hubungan baik masa lalu?"
"Agaknya kau memang ingin memberi petunjuk kepadaku."
4.10. Tamu Agung Wi-to-Hwe
"Boleh saja bila kau suka. Sebaiknya kau tahu diri."
"Ha ha ha, nenek galak, selama hidup memang Lohu adalah orang yang tidak tahu diri,” lalu Siang-thianong
berpaling kepada Ji Bun dan menambahkan: "Anak muda, tiada urusanmu lagi disini, silakan pergi!"
Ji Bun tidak peduli pertengkaran mereka, mumpung ada kesempatan segera ia meninggalkan tempat ini.
"Jangan pergi," seru perempuan berkerudung, namun bersamaan waktunya Siang-thian-ong juga
bergerak, sebat sekali Ji Bun berkisar dan berbalik badan, badanpun melejit tinggi meluncur ke sana,
terdengar suara menggelegar di belakangnya, agaknya kedua bangkotan tua itu sudah saling hantam.
Hadirin yang berjejal di bawah panggung sudah bubar, keadaan panggung kini sudah kosong
melompong dan sunyi ditingkah sinar surya dan terang benderang. Segera Ji Bun beranjak menuju ke arah
bangunan gedung besar dan megah itu.
Seorang laki-laki baju hitam segera menyambut kedatangannya, sapanya sambil merangkap tangan:
"Apakah tuan ini Te-gak Suseng?"
Ji Bun mengangguk.
"Silakan ikut Cayhe,” kata orang itu.
Di bawah peturjuk laki-laki ini Ji Bun lantas memasuki gedung besar itu. Setelah melewati lorong pintu
yang panjang, mereka tiba di sebuah pekarangan luas, tampak meja perjamuan sudah tersebar ratusan
banyaknya, suara gelak-tawa bercampur percakapan yang ramai. Tidak kelihatan tamu perempuan hadir
dalam perjamuan ini, agaknya mereka dijamu di tempat lain.
Dengan tajam Ji Bun sapukan pandangnya ke seluruh gelanggang, ia ingin menemukan bayangan
Siangkoan Hong di antara hadirin. Namun ia kecewa, walau sudah menjelajah segala pelosok pekarangan
luas tempat perjamuan, ia tetap tak menemukan jejak Siangkoan Hong.
Akhirnya Ji Bun menyusur ke serambi panjang dipinggir ruang pendopo, diam-diam Ji Bun merasa heran,
ke mana dirinya hendak dibawa? Pada serambi luar ini berderet lima meja perjamuan, jelas sekali kelima
meja perjamuan adalah diperuntukkan para tokoh-tokoh tingkat tinggi. Tengah ia kebingungan, dilihatnya
laki-laki baju hitam yang menunjuk jalan tadi membungkuk badan ke arah meja tengah, serunya:
"Tamu sudah tiba!" lalu dia mundur dan berdiri di samping.
Bayangan seorang duduk, di tengah-tengah meja perjamuan itu kelihatan bangkit dan mengulur tangan,
serunya: "Sahabat muda, silakan duduk!"
Orang yang berbangkit dari tempat duduk dan ymnyilakan dirinya duduk ini terang adalah Wi-to-hwe
Hwecu. Ji Bun menjadi kaget dan kebingungan, mimpipun ia tidak habis mengerti bagaimana mungkin
dirinya dipandang sebagai tamu kehormatan? Namun kenyataan tidak memberi kesempatan untuk raguragu,
cepat ia membungkuk dan menyahut: "Aku yang rendah tak berani menerima kehormatan setinggi
ini."
"Ah, rendah hati, silakan, silakan duduk!"
Seluruh hadirin yang sudah duduk mengelilingi meja perjamuan serempak berbangkit juga, sorot mata
mereka tertuju ke arah Ji Bun. Sorot mata mereka sama-sama mengunjuk tanda tanya, kenapa Te-gak
Suseng bisa mendapat kehormatan setinggi ini?
Apa sebetulnya hubungan kedua pihak? Sudah tentu Ji Bun sendiripun tidak mengerti. Setelah basa basi
ala kadarnya, terpaksa dia menduduki kursi kosong di sebelah kiri.
Di antara orang yang duduk semeja dia hanya kenal Bu-cing-so seorang, yang lain masih asing dan tidak
dikenalnya. Air muka Wi-to-hwecu kelihatan kereng berwibawa, namun kaku dan dingin, sepintas pandang
membuat perasaan orang terasa risi.
Bubur sarang burung yang panas mengepul dan bau sedap segera disuguhkan. Cukup sekali tarik napas
saja sudah terasakan sesuatu oleh Ji Bun. Seketika ia mengerut kening, hampir saja ia berteriak kaget,
hidungnya yang sudah terlatih baik merasakan adanya sesuatu yang tidak beres pada hidangan bubur
sarang burung ini. Hidangan ini tercampur racun, malah racun jahat yang tidak berbau tidak berwarna,
namun bekerja lambat, siapapun sulit mengetahuinya.
Semua hadirin adalah tokoh-tokoh persilatan yang terpandang, kebanyakan adalah para pimpinan
sesuatu golongan atau aliran, atau pemimpin yang berkuasa di suatu daerah. Mereka termasuk kaum
pendekar yang meliputi enam puluh tiga wilayah di selatan dan utara. Jikalau mereka semua keracunan dan
binasa, betapa hebat akibatnya.
Dia ingin membongkar muslihat ini, namun segera pikirannya bergerak. Karena ia tahu cara penggunaan
racun ini adalah ajaran tunggal dari perguruannya, kecuali ayahnya, ia kira tiada orang kedua dalam
Kangouw yang mampu meracik dan membuat racun ini. Apa tujuan ayah menggunakan racun di sini? Untuk
menuntut balas? Padahal belum tentu semua hadirin adalah musuh.
Terbayang tragedi di Jing-goan-si, mereka pun mati keracunan dalam perjamuan, kenapa hal itu bisa
terjadi? Perlukah dia sekarang menggagalkan tragedi itu terulang lagi?
Tengah bimbang, di antara orang-orang yang hadir dalam perjamuan itu seorang laki-laki kurus berwajah
tirus tiba-tiba berteriak dengan gemetar: "Dalam bubur ada racun!”
Teriakannya seketika membuat seluruh hadirin menjadi ribut, semuanya berubah air mukanya, malah
tidak sedikit yang berseru kaget: "Ha, racun?”
Hanya Wi-to-hwecu saja yang berlaku tenang-tenang tanpa menunjukkan perubahan apa-apa, ia
berpaling dan berpesan kepada seorang pengawal pribadinya: "Perjamuan segera dihentikan, suruh
Cengkoan kemari."
Perjamuan sebanyak ratusan meja itu tidak mungkin bisa dihentikan begitu saja, namun perintah yang
dikeluarkan adalah menghentikan penyuguhan hidangan, agaknya pihak Wi-to-hwe memang sudah berhatihati
dan berjaga jaga akan segala kemungkinan.
Tanpa terasa Ji Bun melirik ke arah orang tua kurus itu, betapa kejut hatinya, karena racun yang
digunakan dan tercampur di dalam bubur sarang burung ini boleh dikatakan tidak berwarna dan tidak
berbau, kecuali orang yang tahu cara meracik dan membuatnya, dari penciuman khusus baru bisa
membedakannya. Siapakah orang tua ini dan bagaimana asal usulnya, apa iapun kenal akan racun ini?
Wi-to-hwecu berpaling ke arah orans tua kurus, katanya "Tidak meleset dari dugaanmu, kalau tidak
sungguh sulit bagiku memberikan pertanggungan jawab pada seluruh hadirin."
Bergetar kulit muka orang tua kurus, katanya: "Permainan kotor dan rendah ini, sungguh amat
memalukan sekali."
Wi-to-hwecu segera berseru lantang:" Tuan-tuan boleh silakan makan minum sepuasnya, tiada apa-apa!"
Suara ribut-ribut lambat laun mereda dan berubah gelak tawa dan percakapan pula.
Kembali Ji Bun mengarahkan pandangan pada orang tua kurus itu, kebetulan orang itu juga memandang
Ji Bun, katanya pelahan: "Kabarnya sahabat muda ini juga paham dan ahli di bidang racun?"
Tersirap darah Ji Bun, pikirnya, aku hanya sekali menolong Siangkoan Hong dan sekali menawarkan
racun permainan orang-orang Cip-po-hwe dan semua itu tidak diketahui orang lain, berdasarkan apa orang
tua ini bertanya demikian? "Kabarnya", kata-kata ini mengandung arti yang luas, mungkinkah .........
Segera ia berbangkit dan menjawab: "Hanya tahu sedikit kulitnya saja, belum terhitung ahli, dari mana
tuan mengetahui?"
"Ha ha, sahabat muda, tiada sesuatu yang ada di Kangouw ini yang serba rahasia."
Serasa menciut jantung Ji Bun.
"Sahabat muda," ujar Wi-to-hwecu sambil menunjuk si orang tua kurus, "marilah kuperkenalkan, di
dalam kalangan racun dia berjuluk .........”
Tiba-tiba Ji Bun ingat seseorang, tanpa terasa ia berteriak menukas: "Apakah Cui Bu-tok Cianpwee?”
"Betul," seru Wi-to-hwecu manggut-manggut, "sekali sahabat muda tebak lantas kena."
KembaJi Ji Bun berdiri memberi hormat, katanya: "Maaf, Wanpwee berlaku kurang hormat."
Cui Bu-tok tergelak-gelak, katanya: Ah, tidak apa!"
Dari ayahnya Ji Bun pernah meadengar cerita mengenai tokoh racun yang aneh ini. Di jaman ini hanya
dia seorang yang terhitung betul-betul ahli dalam permainan racun. Nama aslinya adalah Cu Ngo tok.
Sifatnya pendiam dan suka menyendiri, aneh lagi, jarang bergaul dengan siapapun, maka dia menggunakan
nama Ngo-tok (hanya aku sendiri).
Soal racun memang dipelajarinya secara mendalam, tiada racun yang tidak mampu dipunahkan olehnya.
Namun selama hidup belum pernah dia melukai orang dengan keahlian racunnya itu. Nama Ngo-tok dan Butok
(tak beracun) hampir sama, maka kaum persilatan memanggilnya Cui Bu-tok, nama aslinya malah
dilupakan orang.
Sepuluh tahun yang lalu, kabarnya orang tua ini sudah mengasingkan diri, tidak mau mencampuri urusan
duniawi lagi, bahwa Wi-to-hwe dapat mengundangnya, sungguh kejadian yang luar biasa.
Wi-to-hwecu angkat cangkir, katanya: "Kali ini Cui-loheng sudi turun gunung kembali, sudi menerima
jabatan Cong-tam-ciang-ling dari perkumpulan kita, sungguh kita semua merasa beruntung. Marilah
saudara-saudara, kita habiskan secangkir ini demi kejayaan dan ketenteraman kaum persilatan."
Ji Bun ikut minum bersama orang banyak.
Cui Bu-tok menuding bubut sarang burung sambil berkata kepadanya: "Sahabat muda tentunya tahu
racun apakah ini?"
Ji Bun pura-pura kikuk, sahutnya tertawa: "Racun ini tak bernama dan tidak berbau, akupun sulit
membedakannya.”
Pada saat itulah seorang laki-laki berpakaian biru mendatangi dengan langkah tergesa-gesa terus
memberi hormat dan melapor: "Congkoan Ko Cin-jin menghadap Hwecu."
"Ko-congkoan, apakah diketahui ada orang mencampur racun dalam hidangan?”
"Ya, hamba sedang mengusut dan mohon ampun akan keteledoran ini," sahut orang she Ko itu.
"Siapakah menurut pendapat Congkoan yang mencampur racun ini?"
"Soal ini ...... sebelum diperoleh bukti-bukti yang nyata, hamba tidak berani memberi kepastian dan
bertindak."
"Kalau demikian, Congkoan sudah menaruh curiga terhadap seseorang?"
"Ya, benar."
"Perintahkan pada Heng-tong Bun-tongcu untuk menghadap dan membawa anak buahnya, tangkaplah
orang-orang yang mencurigakan."
Congkoan Ko Cin-jin segera memberi hormat dan mengundurkan diri.
Berdebar-debar jantung Ji Bun, bahkan pejabat Heng-tong (seksi hukum) dipanggil, jelas hendak
membuka sidang dan memberi hukuman terbadap orang-orang yang bersalah di hadapan umum. Racun
yang digunakan ini jelas adalah hasil racikan khas ayahnya, memangnya siapa lagi yang menggunakan
racun di sini?
Segera seorang tua beralis tebal dan bermata besar, bercambang lebat datang diiringi empat laki-laki
berbadan kekar berotot kencang. Begitu tiba orang yang terdepan segera mamberi hormat, serunya: “Hengtong
Bun Kiat-san menunggu perintah."
"Segera persiapkan," kata Wi-to-hwe-cu dengan merendahkan suara, "setelah perjamuan bubar segera
membuka sidang."
"Terima perintah!" Bun Kiat-san lantas membawa anak buahnya mengundurkan diri.
Perjamuan besar ini bubar kira-kira menjelang tengah malam, tamu-tamu yang menginap segera
dipersilakan memasuki kamar-kamar yang sudah disediakan. Namun tak sedikit pula yang malam itu juga
turun gunung, dalam waktu sekejap keadaan menjadi sepi.
Ji Bun punya maksud tujuan sendiri, tengah ia bimbang apakah tetap tinggal atau pergi, Wi-to-hwecu
sudah berpaling ke arahnya, katanya: "Sahabat muda, silakan menghadiri sidang kita yang pertama."
Ji Bun tertegun, umumnya persidangan untuk menghukum atau memutuskan sesuatu dalam setiap Pang
atau Pay, perguruan silat atau perkumpulan selalu diadakan secara tertutup dan rahasia, tak pernah orang
luar dipersilakan hadir. Karena si¬dang ini dilakukan untuk urusan dalam perkumpulan itu sendiri, maka Ji
Bun menjadi rikuh dan bingung.
Sukar baginya meraba maksud orang menahan dirinya. Mungkinkah asal usul dirinya sudah dike¬tahui
mereka dan dirinya dicurigai sebagai orang yang menaruh racun dalam hidangan? Namun tadi orang sudah
memerintahkan untuk membekuk orang yang dicurigai menaruh racun.
"Saudara mungkin merasa kejadian ini di luar kebiasaan bukan? Perkumpulan kita baru berdiri dengan
resmi, lantas terjadi peristiwa yang memalukan ini, kalau tidak konangan dan segera dicegah dan bertindak,
betapa banyak orang yang akan menjadi korban, perkumpulan kita akan berdosa terhadap ribuan kaum
persilatan sepanjang masa. Oleh karena itu, malam ini kita bersidang dengan mengundang para Ciang-bunjin
dari segala aliran dan golongan yang hadir."
"Oh," lega hati Ji Bun, namun dia berkata heran: "Aku yang rendah ini dari golongan keroco, mana bisa
mendapat kehormatan ini ........”
"Jangan merendah diri, silakan ikut kami saja.”
Walau hatinya tidak tenteram, namun Ji Bun ingin juga tahu siapakah orang yang menaruh racun, maka
ia tidak banyak bicara lagi.
^^^^
Lilin sebesar kepalan sedang menyala terang di dalam ruangan besar yang cukup muat ratusan orang,
tiga meja besar berjajar di ujung tengah kiri dalam bentuk segi tiga. Asap dupa mengepul tinggi di meja
tengah yang di belakangnya tertaruh sebuah papan cendana yang diukir huruf indah berbunyi,
"Thian Te" (langit dan bumi).
Memang luar biasa dan berbeda dari meja pemujaan dari berbagai perguruan silat lain yang menaruh
abu pemujaan cakal bakal perguruannya, yang dipuja Wi-to-hwe adalah Thian Te, maksudnya mereka
berazas tujuan demi langit dan bumi untuk memberantas kelaliman, memang sesuai benar dengan nama
perkumpulannya.
Dua meja yang lain, yang di sebelah kiri diduduki Wi-to-hwecu, yang kanan ternyata ditaruh tandu
berhias yang misterius itu. Di belakang Wi-to-hwecu berderet berdiri tujuh orang tua, termasuk Bu-cing-so,
Siang-thian-ong dan Cu Bu-tok. Ji Bun teringat pada perempuan berkerudung kain sari itu, entah bagaimana
kesudahan perkelahian kedua orang tua itu setelah dirinya pergi?
Deretan meja kursi yang berjajar di sebelah kanan di mana Ji Bun berduduk bercampur dengan para
ketua dan pimpinan berbagai cabang persilatan, berhadapan dengan meja perjamuan sana. Heng-tong
Tongcu Bun Kiat-san berdiri dengan membusungkan dada bersama delapan anak buahnya.
Kesunyian mencekam perasaan dalam ruang yang besar dengan hadirin yang begini banyak, hanya api
lilin saja yang kadang-kadang meletik berbunyi.
Tiba-tiba sebuah suara lantang kumandang di depan pintu ruangan: "Oh-hiangcu, datang menghadap
untuk, terima perintah!"
"Masuklah!" seru Wi-to-hwecu dengan suara berat.
Seorang tua bermuka pucat kehijauan melangkah masuk dengan menunduk, di belakangnya diiringi dua
laki-laki kekar berpakaian serba merah, jelas laki-laki tua bermuka kehijauan ini digusur masuk sebagai
terdakwa dalam perkara peracunan ini.
Langkah laki-laki muka hijau rada sempoyongan dan ragu, kepalanya tetap menunduk terus menuju ke
tengah dan berdiri di belakang Bun Kiat-san.
"Buka sidang!" Heng-tong Tongcu Bun Kiat-san segera memberi aba-aba.
"Buka ...... sidang ......." sepuluh anak buahnya serempak meniru berseru lantang dan panjang. Tegang
seluruh hadirin, semua menaruh perhatian benar. Wajah Wi-to-hwecu tetap tenang hanya kulit mukanya
bergerak-gerak, lalu berkata dengan suara berat: "Go-hiangcu, kau sudah tahu apa dosamu?”
Laki-laki itu angkat kepalanya, suaranya gemetar: "Hamba tidak tahu dosa apa yang telah kulakukan?"
"Sewaktu masuk menjadi anggota perkumpulan kita kau telah bersumpah terhadap Bumi dan Langit,
betapapun kau sudah menjadi anak murid perkumpulan kita, kau mau mengakui hal ini tidak?"
"Ya, itu kuakui," jawab laki-laki itu.
"Kalau begitu, berlututlah terhadap pemujaan Bumi dan Langit."
Laki-laki baju hitam berlutut dan menyembah ke arah pemujaan, entah sengaja atau tidak, dikala
membungkuk badan, kepalanya sedikit miring dan matanya melirik ke arah Ji Bun.
Lirikan sekejap itu cukup membuat Ji Bun merinding dan tersirap seperti kesetrom listrik. Dari lirikan
orang sekaligus ia sudah dapat mengenali siapa sebetulnya Hiangcu she Go itu, lahirnya ia tetap berlaku
tenang, namun detak jantungnya berdebur laksana ombak mengamuk, ia tidak tahu apa yang harus
dilakukannya.
Setelah laki-laki baju hitam berlutut, berkata pula Wi-to-hwecu: "Menaruh racun di dalam makanan,
dengan tujuan membunuh para undangan perkumpulan kita, siapa yang menyuruhmu melakukan ini?"
"Hamba betul-betul tidak tahu menahu akan hal ini."
"Go Gun, jangan lupa, kau pernah bersumpah dihadapan Bumi dan Langit, sebaiknya berterus terang
saja."
"Harap kebijaksanaan Hwecu."
“Hm, Go Gun, ratusan murid perkumpulan yang mengadakan perjamuan di Jing goan-si, semuanya mati
keracunan, bukankah itupun hasil karyamu?"
"Bukan, hamba sungguh penasaran.”
Tiba-tiba kumandang dari dalam tandu hias: "Berikan bukti-bukti kepadanya."
Seperti dipukul godam jantung Ji Bun demi mendengar bukti yang hendak diajukan oleh pihak Wi-tohwe.
Seperti diketahui, tanpa juntrungan tempo hari ia main terjang ke dalam Jing-goan-si serta memergoki
pembunuhan itu, orang dalam tandu itu menuduh dirinya pembunuhnya. Untung Thian-thay-mo-ki muncul
dan menunjukkan tanda perguruannya dan menolong jiwanya, kiranya para korban, itu adalah murid-murid
Wi-to-hwe .....
Wi-to-hwecu tertawa dingin, katanya: "Go Gun, nama aslimu bukan Go Gun, bukan?"
Bergetar badan laki-laki berbaju hitam, dia tidak bersuara, sorot matanya kembali melirik Ji Bun. Semakin
tidak tenang perasaan Ji Bun, kalau laki-laki ini mengakui asal usulnya dan menuding siapa pula dirinya,
betapa akibatnya sungguh sukar dibayangkan.
Kepandaian orang dalam tandu, Bu-cing-so, Siang-thian-ong, semua sudah pernah dia saksikan sendiri.
Tentunya kepandaian Hwecu ini juga bukan main hebatnya, dirinya terang bukan tandingan mereka.
"Bun-tongcu!" seru Hwecu tiba-tiba.
"Hamba di sini."
"Copot kedok mukanya!"
"Terima perintah!” Bun Kiat-san segera melangkah maju.
Tiba-tiba laki-laki baju hitam melompat bangun, tangannya terus menjotos ke arah Wi-to-hwecu.
Terdengar gerungan rendah dari dalam tandu, segulung angin berkisar secara aneh menyambar dari
dalam tandu, jotosan kencang laki-laki berbaju hitam seketika sirna tanpa bekas.
Sementara Bun Kiat-san sudah menubruk maju seperti harimau menerkam mangsanya. Sekali telikung
dan tekan, dia terus tutuk Hiat-to laki-laki berbaju hitam, hanya sekali mendengus laki itu roboh terkulai tak
bergerak lagi.
Bun Kiat-san lantas meraih ke mukanya, kedok yang tipis halus segera tercomot ditangannya.
Tertampaklah seraut wajah yang merah seperti buah kurma berkulit kasar.
Wi-to-hwecu menyeringai dingin, katanya: "Inilah dia, aslinya Coangkoan Ji-sing-po, bernama Pui Pingjio."
Seluruh hadirin berjingkat kaget, kepala Lo-han-tong dari Siau-lim-si, It-sim Taysu segera bersabda
Buddha, suaranya lantang bagai lonceng bergema, katanya: "Ji-sing-pocu, Ji Ing-hong melakukan perbuatan
kotor yang memalukan ini, apakah tujuannya?"
Bu-cing-so segera menanggapi: "Maksud tujuannya amat besar, kemungkinan ingin merajai dan
berkuasa di seluruh Kangouw."
Pejabat ketua Bu-tong-Pay Cin-ji Totiang ikut menimbrung dengan suara kereng: ''Kabarnya markas Jising-
po diserbu dan seluruh anggotanya mati terbunuh, apakah hal ini memang sengaja dilakukan sendiri
oleh Ji Ing-hong untuk mengelabui mata umum?"
Seperti ditusuk sembilu hati Ji Bun, terbayang olehnya pemandangan seram dan mengerikan di Ji-singpo,
namun ia harus tekan perasaan dan tak boleh membeberkan rahasia ini, namun tekadnya untuk
menuntut balas semakin besar.
Orang dalam tandu bersuara pula: "Silakan Hwecu memberi keputusan hukum sesuai peraturan
perkumpulan kita!"
Secara tidak langsung ucapannya ini hendak menyatakan bahwa sidang dan keputusan yang terjadi di
dalam Wi-to-hwe orang luar tiada hak turut campur.
Ketua Bu-tong dan pimpinan Siau-lim-si tahu mereka telah kelepasan omong, maka selanjutnya mereka
hanya tutup mulut saja.
"Pui Ping-jio," bentak Wi-to-hwecu bengis, "Aku tetap memanggilmu Go-hiangcu, sekarang tahukah apa
dosamu?"
"Mau bunuh atau mau sembelih silahkan," teriak Pui Ping-jio beringas, "utang jiwa ini kelak pasti ada
orang yang menagih ......”
"Tutup mulutmu, kau pernah bersumpah masuk anggota, peduli bagaimana asalmu dan apa tujuannya,
kau tetap harus menerima putusan hukum perkumpulan kita, Bun-tongcu .....”
"Hamba sudah siap!"
"Apa hukumannya bagi anak murid kita yang melanggar undang-undang dan memberontak?"
"Menurut undang-undang nomor satu, bagi yang khianat harus dihukum mati."
"Gusur dia keluar!”
"Baik!" sahut Bun Kiat-san sambil mengusap tangan, dua orang segera maju memapah Pui Ping-jio
keluar.
Ji Bun tidak tahu apa tujuan ayahnya menyelundupkan Congkoan Pui Ping-jio ke dalam Wi-to-hwe dan
dua kali menaruh racun dalam makanan, namun dari situasi dan keadaan ini, tujuannya untuk menuntut
balas. Menuntut balas sakit hati soal apa belumlah jelas, kemungkinan Wi-to-hwecu ini adalah salah seorang
yang menimbulkan banjir darah di Ji-sing-po. Tak kuasa mengendalikan perasaannya lagi, tiba-tiba ia berdiri
......”
"Saudara muda, apakah kau punya usul dan ingin bicara?" tanya Wi-to-hwecu.
Ji Bun tahan mentah-mentah air mata yang hendak menetes dan darah yang hendak menyembur keluar,
dia kendalikan pula rasa benci dan dendamnya. Dengan sikap rikuh dan kikuk ia berkata: "Cayhe punya
urusan penting yang harus segera diselesaikan, harap Hwecu suka memberi izin supaya Cayhe boleh
mengundurkan diri lebih dulu."
Sudah tentu ini hanya alasan yang dibuat-buat, alasan yang sekenanya diucapkan karena terdesak oleh
keadaan. Ia harus menolong Pui-congkoan, namun keadaan tidak mengidzinkan dan ia memang tidak
mampu, maka dengan mendelong ia harus menyaksikan orang sendiri dihukum mati. Oleh karena itu hanya
menyingkir saja jalan satu-satunya buat meringankan tekanan batinnya.
Wi-to-hwecu tertawa lebar, katanya: "Saudara muda boleh silakan, kusuruh orang untuk mengantarkan,
kalau ada waktu harap suka mampir lagi."
Orang dalam tandu menimbrung: "Tempo hari aku salah paham dan turun tangan, apakah Siauhiap suka
memaafkan kesalahan itu?"
Dalam hati amat dendam, namun mulut Ji Bun menjawab: "Terlalu berat kata-katamu ini, urusan sekecil
itu kenapa dipikirkan?"
Sementara itu Pui Ping-jio sudah digusur keluar nasibnya tidak perlu ditanyakan lagi. Hati Ji Bun seperti
dibakar, sedetikpun tak tahan lagi tinggal di sini. Setelah memberi hormat, bergegas dia berjalan keluar.
Setiba dilapangan luas, seorang berbaju hitam lantas mendekatinya, sapanya sedikit membungkuk:
"Harap Siauhiap tunggu sebentar, hamba akan siapkan seekor kuda."
Ji Bun angkat tangan, katanya: "Tidak perlulah."
Sekali kaki menutul badannya terus melesat ke arah luar gunung. Dendam bertumpuk dalam hatinya,
membuat napas serasa sesak, rasanya ingin dia membunuh sepuasnya untuk melampiaskan dendamnya.
Namun kenyataan tidak memungkinkan, dia harus bekerja sesuai rencana.
Dari kejadian hari ini, ia percaya bahwa secara diam-diam ayahnya sudah mulai bergerak. Lebih tersiksa
perasaannya karena sedemikian jauh ia belum mengetahui siapakah sebetulnya musuh besarnya.
Setelah tiba di luar gunung, ia berdiri sejenak menghirup napas panjang untuk melapangkan
perasaannya. Tiba-tiba tak jauh dari tempatnya berdiri dari arah kiri sana berkelebat sesosok bayangan
orang menyelinap lenyap ke dalam hutan. Memangnya Ji Bun sedang merasa dongkol tak terlampiaskan,
segera ia menubruk ke hutan sana.
4.11. Kehilangan Anting Kenangan
Bayangan seorang bertubuh tinggi kekar tampak berdiri di dalam hutan. Dari sinar matahari yang
menembus dari celah-cela dedaunan pohon, dilihatnya jelas orang ini berjubah sutera mengenakan
kerudung kepala.
Tanpa pikir ia menubruk maju terus menyerang dengan pukulan ganas.
"Bun-ji, gila kau!" bentak bayangan kekar itu.
Mendengar suara bentakan ini, segera Ji Bun menahan terjangan dan menghentikan pukulannya,
teriaknya: "Apakah ayah?”
"Ya, inilah aku, kenapa kau?"
"Ayah!" seperti seorang anak yang tersiksa tahu-tahu berjumpa ayah bundanya, tak tertahan lagi air
matanya lantas bercucuran.
"Nak, kau .............”
"Yah, benteng kita ..............”
"Kau sudah tahu?"
"Ya, siapakah pembunuhnya
"Orang-orang Wi-to-hwe itulah."
"Oh ....., mereka?" terpancar cahaya penuh nafsu membunuh dari mata Ji Bun, darah terasa mendidih
dalam rongga dadanya.
“Nak, kenapa begitu melihat aku lantas kau menyerang seganas itu?"
"Tahukah ayah ada seorang menyaru dirimu, dua kali dia menyerangku ........."
"Apa, ada orang menyamar diriku?"
"Ya, persis sekali, tulen atau palsu sukar kubedakan."
"Mungkin perbuatan orang-orang Wi-to-hwe.... ."
"Tidak mungkin."
"Kenapa?"
"Baru saja aku menjadi tamu kehormatan mereka, dan mereka belum tahu asal usulku."
"Kau keliru nak, betapa keji culas muslihat orang-orang Kangouw, kemungkinan mereka memang sudah
mengatur secara rapi."
Memang tidak salah, demikian pikir Ji Bun, tanpa sebab kenapa dirinya diundang sebagai tamu
kehormatan, malah diminta hadir dalam sidang mereka, dalam hal ini pasti ada latar belakang dan tujuan
tertentu. Seketika ia bergidik sendiri, namun bara dendamnya semakin menyala.
"Yah, siapakah Wi-to-hwecu sebenarnya?” tanyanya kemudian.
"Sekarang belum diketahui secara pasti, kemungkinan salah seorang musuhku dulu."
"Dari mana ayah mendapat tahu."
“Nak, muka yang kau lihat itu bukan wajah aslinya, dia mengenakan kedok."
"Oh, pantas tak enak dipandang, tentunya ayah bisa menebak siapa dia, berapa gelintir saja orang-orang
yang berkepandaian setinggi itu.”
“Dunia terlalu luas, serba serbi dunia sukar diraba pula, musuh tangguh yang sekarang kemungkinan
adalah kaum keroco masa lalu, darimana kita bisa merabanya dengan tepat?"
"Apakah Siang-thian-ong dan lain-lain itupun ikut dalam peristiwa ini? Ada orang bernama Siangkoan
Hong, apakah dia pembunuh utamanya?"
Tiba-tiba orang berkedok menyurut mundur, suaranya gemetar: "Kau kenal Siangkoan Hong?"
"Ya, beberapa waktu yang lalu, ia tergeletak luka-luka di pinggir jalan, napas sudah kempas-kempis
karena keracunan, anak memang terlalu banyak ulah dan telah menolongnya."
"Dia tahu asal usulmu?"
"Tidak tahu"
"Betul, memang dia pembunuh utamanya."
“Siapakah Siangkoan Hong itu?"
"Terakhir dari Jit-sing-pat-siang (delapan panglima dari Jit-sing), belakangan dia lari menjadi
pengkhianat."
Mendelik biji mata Ji Bun, hal ini benar-benar di luar dugaannya, bahwa Siangkoan Hong adalah nomor
kedelapan dari Jit-sing-pat-ciang, sejak meningkat besar dan tahu urusan, seingatnya anak buah ayahnya
yang diandalkan hanya Jit-sing-lak-ciang (enam panglima) saja.
"Yah, lalu di mana salah seorang yang lain"
“Dialah tertua dari Jit-sing-pat-siang, sepuluh tahun yang lalu lari bersama Siangkoan Hong."
"Siangkoan Hong menyapu bersih benteng kita, Lak-ciang dibantainya pula, apakah tujuannya?”
"Ayah sendiri sampai sekarang belum jelas kemana maksud tujuan mereka itu, untuk ini kita harus
langsung tanya kepadanya."
"Bukankah ayah pernah bentrok dengan dia?”
"Ya, namun dia tidak pernah mengatakan alasannya. Lwekang dan Kepandaian silatnya sekarang teramat
tangguh di luar dugaanku, lika-liku persoalan itu kukira tidak mudah untuk diselami .....”
"Kalau demikian Siangkoan Hong pasti salah seorang dari Wi-to-hwe?"
"Kemungkinan besar."
"Oh, ya, ayah, tentang Pui-congkoan, dia. . . ."
"Kenapa?"
"Muslihatnya konangan musuh waktu menaruh racun dalam hidangan, kini dia sudah berkorban."
Bergetar tubuh orang berkedok, teriaknya dengan beringas: "Apa yang pernah dia katakan?"
"Sepatah katapun dia tidak mengaku."
"Bagus, bagus! Aku bersumpah akan menuntutkan balas baginya ...... sebetulnya ah, hanya menambah
jumlah tagihan saja."
"Ayah, maafkan anak bicara terus terang, seluruh ketua cabang persilatan pada jaman ini boleh
dikatakan hadir semua dalam perjamuan mereka, jikalau melihat Pui-congkoan berhasil ..........”
"Nak, ayahmu ini tidak suka bila banyak orang dalam dunia ini tak tunduk kepadaku."
Ucapan seorang durjana, Ji Bun merasa tertusuk kupingnya mendengar kata-kata ini, namun ia
berhadapan dengan ayah sendiri, apa yang bisa ia katakan?
Setelah dengan rasa serba salah, akhirnya Ji Bun bertanya dengan haru: "Yah, dimanakah ibu sekarang?"
"Akupun sedang mencarinya."
"Ibu tidak sampai tertimpa bencana, bukan?"
"Sudah tentu tidak. Entah kelak."
Berkerutuk gigi Ji Bun saking gemas, katanya dengan murka: "Bagaimana rencana ayah selanjutnya? "
"Membalas dendam tentunya. Ayah sudah mengatur rencana, lebih baik kau tetap bekerja seorang diri
mencari kesempatan untuk memberantas musuh satu persatu untuk mengurangi kekuatan mereka, namun
harus hati-hati dan jangan sampai meninggalkan bekas-bekas yang mencurigakan."
"Anak mengerti dan akan bekerja, seperti petunjuk ayah."
"Baiklah, kita ayah beranak tidak, bisa kumpul bersama, sekaligus juga untuk tetap merahasiakan asal
usulmu, kalau ada urusan akan kusuruh orang mengadakan kontak .......”
"Yah, masih ada suatu hal, soal lamaran puteri keluarga Ciang di Kayhong ........”
"Keluarga hancur jiwa terancam, hal itu tidak usah disinggung lagi. Nak, jaga dirimu baik-baik, ayah
berangkat dulu!"
Habis kata-katanya, sekali berkelebat lenyaplah bayangannya, meluncur ke dalam kegelapan sana.
Baru sekarang Ji Bun ingat perkataan Thian-thay-mo-ki, bahwa dia pernah meninggalkan tanda mata di
atas kepala orang berkedok, kenapa tadi dia lupa memeriksa dan membuktikan, sudah tentu curiga
terhadap ayah sendiri adalah sesuatu yang janggal dan menggelikan. Namun hal ini harus diberitahu kepada
beliau, dengan tanda-tanda ini beliau bisa ikut mencari orang yang menyarunya itu.
Keluarga berantakan, rumahpun sudah hancur, inilah tragedi yang paling mengenaskan dalam dunia.
Dengan terlongong ia berdiri mematung di bayang-bayang kegelapan hutan, sedapat mungkin ia
memusatkan pikirannya yang kalut.
Apa rencana ayahnya? Bagaimana dirinya harus bergerak? Ke mana pula ia harus menemukan ibunya? Di
mana Siangkoan Hong bersembunyi? Bahwa keparat itu adalah musuh ayahnya, namun telah ditolongnya
malah, sungguh perbuatan brutal yang lucu. Jikalau sejak mula dirinya sudah punya pendirian seperti
sekarang, kesalahan tentu tidak perlu terjadi?
Mengingat musuh-musuhnya, perasan Ji Bun menjadi berat, mereka sudah diketahui adalah bangkotanbangkotan
silat yang sukar ditandingi. Bicara soal menuntut balas, sungguh sukarnya buka main, dan
ayahnya seperti menyembunyikan sesuatu, tidak mau menjelas asal mula dari permusuhan ini.
Pikirannya teringat kepada Gadis baju merah Pui Ci-hwi pula, semula ia merasa cemburu akan pergaulan
pujaan hatinya ini dengan pemuda baju putih dari Cip-po-hwe yang bejat itu. Kini rasa cemburu ini sudah
lenyap, karena Pui Ci-hwi mengakui sebagai salah seorang Wi-to-hwe. Mereka adalah pembunuh-pembunuh
yang membantai seluruh penghuni Jit-sing-po, maka Pui Ci-hwi menjadi salah seorang musuhnya pula,
dendam dan cinta selamanya takkan berdiri berdampingan.
Tanpa terasa ia terbayang pula pada Ciang Bing-cu serta merta ia merogoh saku, mengeluarkan antinganting
batu pualam pemberian nona itu. Anting-anting yang punya arti terlalu besar di mana saja ia berada
dengan sesuka hati boleh ambil dan menggunakan uang. Anting-anting ini terhitung pusaka yang tak ternilai
harganya.
Baru sekarang ia sempat memperhatikan anting-anting ini, sebetulnya tiada sesuatu yang istimewa, tak
ubahnya dengan anting umumnya. Dengan teliti ia bolak-balik memeriksanya, namun tidak diperoleh
sesuatu yang mencurigakan, apakah keluarga Ciang tidak takut orang memalsu anting-anting ini untuk
menggerogoti harta kekayaannya?
Sekonyong-konyong sebuah bayangan berkelebat laksana kilat menyambar, begitu cepat dan luar biasa
sekali, bagai setan dan seperti iblis. Ji Bun bukan kaum kroco, secara refleks ia melancarkan serangan
mematikan, namun bayangan itu tidak berhenti, sekali berkelebat tahu-tahu sudah lenyap pula.
Keruan bukan kepalang kaget Ji Bun. Tiba-tiba merasakan anting-anting yang dipegangnya telah lenyap,
bertambah besar kejutnya. Jika anting-anting itu terjatuh orang-orang yang tidak bertanggung jawab di
Kangouw, betapa besar akibat yang bakal timbul karenanya? Mungkinkah orang sudah tahu manfaat atau
kegunaan dari anting-anting itu serta mengintai dan mengincarnya selama ini.
"Kurcaci kurang ajar!" hardik Ji Bun, badan¬nya melenting secepat kilat mengejar ke arah lenyapnya
bayangan. Waktu itu malam gelap gulita, hutan lebat sehingga pandangan remang-remang, untuk mengejar
seorang yang punya gerak gerik begitu cepat dan gesit, jelas tiada harapan sama sekali. Setiba di luar
hutan, mana ada bayangan manusia.
Gemetar badan Ji Bun saking murka, dengan lesu ia menghentikan pengejarannya, hatinya lebih merasa
jeri dan ngeri daripada penasaran. Untuk pertama kali ini serangan dirinya yang ampuh kehilangan gunanya.
Hal ini tidak pernah terjadi, betapapun tinggi kepandaian silat seorang, kecuali tidak kena dengan telak,
kalau terpukul pasti jiwanya melayang. Namun bayangan yang satu ini tetap dapat kabur dan menghilang
setelah terkena serangannya.
Kecuali ayahnya, tak terpikir olehnya jago silat mana yang mampu bertahan hidup setelah kena
serangannya, sungguh hebat dan mengerikan. Siapakah orang yang kuat bertahan dari pukulan yang
mematikan ini? Mungkinkah perbuatan orang-orang Wi-to-hwe?
Sayang gerakan bayangan itu teramat cepat, hakikatnya ia tidak jelas membedakan bentuk bayangan itu.
Bagaimana ia harus memberi pertanggungan jawab kepada Ciang Bing-cu? Inilah persoalan penting dan
terbesar.
Orang yang tahu bahwa dirinya membawa anting-anting itu hanya Thian-thay-mo-ki seorang, namun
Thian-thay-mo-ki takkan kuat menghadapi pukulan yang mematikan. Pula gerak-geriknya tidak segesit itu. Ji
Bun jadi menyesal kenapa semula ia tidak menolak saja pemberian anting-anting ini, namun menyesalpun
sudah kasip.
Sedang terlongong dan kehabisan akal, kupingnya mendengar desiran seperti lambaian pakaian yang
tertiup angin. Tampak sesosok bayangan berlari mendatangi dari arah hutan sana. Kontan Ji Bun
menyambutnya dengan bentakan: "Berhenti!"
Bayangan segera berhenti, Ji Bun segera menubruk maju, setelah dekat dan melihat jelas, diam-diam ia
merasa sebal, ternyata pendatang ini adalah Thian-thay-mo-ki."
"Dik," kata Thian-thay-mo-ki, untunglah kau bersuara, kalau tidak kita takkan bertemu di sini."
Memangnya hati sedang gundah, maka Ji Bun menyambut dengan tak acuh: "Kau mengejar aku? Ada
keperluan apa?"
"Agaknya kau kurang senang?"
Tiba-tiba tergetar hati Ji Bun, mungkinkah perempuan berkerudung kain sari itulah yang merebut antingantingnya,
kepandaian orang begitu tinggi, kemungkinan sekali dialah orang yang melakukannya, dan lagi
yang tahu akan hal ini hanya Thian-thay-mo-ki, bukan mustahil ia memberitahu rahasia ini kepada gurunya,
betapapun arti dari anting-anting itu teramat besar, maka dengan sikap dingin ia bertanya: "Mana gurumu?"
"Guruku?"
"Ya, perempuan berkerudung kain sari hijau itu.”
"Dik, watak guruku terlalu nyentrik, kejadian yang kau alami anggaplah tidak ada."
"Memangnya aku tidak ambil peduli."
"Syukurlah kalau begitu."
"Siapakah nama julukan gurumu yang mulia?"
"Maafkan untuk hal ini, guruku tak senang namanya diketahui orang luar, sudah puluhan tahun beliau
tidak muncul di Kangouw."
"Kali ini gurumu turun gunung, tentunya mempunyai maksud-maksud tertentu?"
"Memang benar, namun itu urusan pribadi beliau."
"Gurumu masih ada di atas gunung ini?"
"Tidak, setelah berkelahi dengan Siang-thian-ong, ia lantas meninggalkan tempat ini. Dik agaknya ada
sesuatu yang mengganjal hatimu?"
"Ya, ada sedikit."
"Boleh beritahukan padaku?"
"Anting-anting pemberian Ciang Bing-cu tempo hari itu baru saja direbut seseorang."
"Apa, direbut orang? Ada orang berani merebut barang dari tangan Te-gak Suseng memangnya dia
sudah bosan hidup. Dik siapakah dia?"
Berkilat laksana bintang kejora biji mata Ji Bun di dalam kegelapan, dengan tajam ia tatap muka Thianthay-
mo-ki, seolah-olah hendak menyelami hatinya, apakah sikapnya ini pura-pura belaka atau bicara
setulus hati, dengan dingin ia menjawab: "Gerak gerik orang itu sangat mengejutkan, tidak sempat kulihat
jelas bagaimana bentuk bayangannya,"
Diliputi rasa kaget dan heran suara Thian-thay-mo-ki: "Memangnya tokoh macam apakah dia? Mungkin ia
sudah tahu manfaat anting-anting itu, kalau tidak buat apa dia merebutnya."
"Tapi soal anting-anting itu tiada orang lain yang tahu."
"Jadi kau curiga akan perbuatan guruku?"
"Aku tidak mengatakan demikian."
"Untuk ini aku berani tanggung, guruku takkan sudi melakukan perbuatan serendah ini."
Sikapnya yang sungguh-sungguh membuat Ji Bun percaya, keduanya berdiam sesaat lamanya, akhirnya
Thian-thay-mo-ki bersuara pula: "Dik, apakah gerak-gerik bayangan itu teramat cepat dan aneh?"
"Ya, seperti setan iblis layaknya."
"Mungkinkah ...... si dia?"
"Dia ......... siapa?"
Sejenak berpikir baru Thian-thay-mo-ki berkata: "Pernahkah kaudengar nama Biau-jiu Siansing (si Tuan
bertangan gaib)?"
"Pernah kudengar, kabarnya jejak orang ini pergi datang tidak menentu, pandai menyamar, jarang orang
melihat wajah aslinya ....."
"Dinilai kepandaiannya, mungkin hanya beberapa gelintir saja yang sejajar dengan Biau-jiu Siansing di
jaman ini, pula kepandaiannya mencuri begitu hebat, seumpama memetik bintang mengambil rembulan,
Lweekangnya kabarnya juga teramat tinggi."
"Cici menyangka akan perbuatannya?"
"Ini hanya dugaan saja."
"Cara bagaimana kita bisa menemukan dia?"
"Sulit, tapi ....... " Thian-thay-mo-ki mengerut kening dan berpikir sekian lama, lalu menyambung pula:
"Untuk mencari dia memang sesukar memanjat langit, terpaksa kita harus paksa dia sendiri yang muncul.”
"Memaksa muncul bagaimana?"
"Kita tawan seseorang sebagai sandera untuk memancingnya."
"Apa, menawan orang sebagai sandera?"
"Selain itu tiada cara lain."
"Lalu siapa yang harus kita tawan?"
"Kau kira cara ini boleh dilakukan? Baiklah, biarlah kuberitahu sebuah kisah rahasia dunia, persilatan
kecuali aku mungkin tiada orang kedua yang tahu. Biau-jiu Siansing punya seorang gundik, tinggal di .........”
"Gundik! Jadi dia punya keluarga?"
"Dengarkan ceritaku, gundiknya itu tinggal di sebuah gedung di dalam kota Cinyang, dari gundik ini dia
mendapatkan seorang putera, kira-kira berusia sepuluh, begitu besar kasih sayangnya terhadap puteranya
ini .......”
"Dari mana Cici mengetahui hal ini?"
"Dua tahun yang lalu, aku ada urusan ke Cinyang, karena mengejar seorang musuh aku kesasar
memasuki sebuah gedung kuno. Kutemukan penghuni gedung kuno ini adalah seorang ibu dan puteranya
yang masih kecil, pembantunya semua adalah perempuan. Namun gedung kuno itu dipajang dan dihias
serba mewah dan antik. Kebetulan seorang tua bungkuk melompat masuk tidak melalui pintu tapi dari atas
tembok belakang, gerakannya gesit dan cepat sekali. Semula aku kira orang ini adalah maling atau sebangsa
panca longok, namun dugaanku ternyata meleset. Dari pembicaraan mereka yang kucuri dengar, baru aku
tahu bahwa orang tua bungkuk kurus itu ternyata adalah Biau-jiu Siansing yang tersohor di Kangouw
...........”
"Orang tua renta bungkuk?"
"Itu bukan wajah aslinya, waktu itu kupikir seorang gadis tak enak mencuri dengar pembicaraan pribadi
orang lain, maka secara diam-diam aku mengundurkan diri. Namun pengalamanku yang tak terduga itu,
menimbulkan suatu ilham dalam benakku malah."
Ji Bun berkata: "Maksud Cici hendak menculik puteranya itu dan dijadikan sandera? Kenapa tidak kita
luruk saja ke gedung itu, kalau kepergok kebetulan malah, kalau tidak ketemu boleh kita tunggu sampai dia
muncul ........”
"Terlalu rendah kau menilai Biau-jiu Siansing, duplikatnya teramat banyak, pandai dan cerdik lagi. Jika
tidak kau pegang kelemahannya, jangan harap kau bisa berurusan sama dia."
"Baiklah, mari sekarang berangkat ke Cinyang."
"Nanti dulu."
"Cici masih ada urusan apa lagi?"
"Masin ingat tentang Sek-hud itu?"
"Sek-hud? Memangnya kenapa?”
"Pui Ci-hwi atau gadis baju merah itu sudah membeberkan rahasia tempat penyimpanan Sek-hud itu
kepada putera ketua Cip-po-hwe yang bernama Liok Kin itu."
"Pemuda baju putih itu bernama Liok Kin? Memangnya kenapa lagi?"
"Konon kabarnya Sek-hud merupakan benda pusaka yang tak ternilai, kini bakal terjatuh tangan Cip-pohwe
.......”
"Kukira tidak mungkin!"
"Kenapa tidak mungkin?"
"Jago-jago kosen Wi-to-hwe masakah berpeluk tangan saja?"
"Bukan begitu soalnya, Lok Kin mengaku sebagai putera seorang keluarga In di Jiciu, hakikatnya Pui Cihwi
tidak tahu akan asal usulnya, dengan segala daya dan akal licik Liok Kin berhasil menggait dengan
tujuan memperoleh Sek-hud itu. Kini mereka sudah turun dari Tong-pek-san, bagaimana nasib Pui Ci-hwi
selanjutnya sulit diramalkan. Betapapun terlalu banyak jumlah jago-jago kosen Wi-to-hwe, dalam waktu
dekat ini kita mungkin sukar bertindak."
Terbayang wajah molek dari gadis baju merah bak mutiara nan cemerlang dalam benak Ji Bun. Dalam
hati diam-diam ia memperingatkan diri sendiri bahwa nona itu adalah musuh, mati hidupnya tiada sangkut
paut dengan dirinya.
Akan tetapi iapun menyadari bahwa sesuatu sedang menggelitik di dalam lubuk hatinya, sehingga dia
sukar mengendalikan perasaannya lagi. Kekotoran jiwa dan kebejatan pemuda baju putih Liok Kin
membuatnya tak tahan untuk berpeluk tangan.
Akan tetapi dari jauh Thian-thay-mo-ki ke sini mencari dirinya untuk memberi tahu hal ini, apa pula
maksudnya? Semestinya dia benci pada Pui Ci-hwi karena orang ini menjadi saingan beratnya. Maka ia
lantas bertanya: "Cici, maksudmu menghendaki aku menolongnya dari cengkeraman Liok Kin yang kotor
itu?”
"Betul, bukankah kau mencintainya?"
Ji Bun melengak, tanyanya: "Cici, kau tidak membencinya?"
"Kenapa aku harus membencinya? Aku kasihan padanya malah."
"Kasihan? Kenapa Cici malah kasihan padanya?"
"Karena gadis yang masih suci bersih tidak menyadari bahwa dirinya dipermainkan orang."
Kata-kata ini seketika membakar rasa cemburu Ji Bun, memang aneh perasaan manusia, dia kasmaran
terhadap Pui Ci-hwi sampai perintah orang tua yang menyuruhnya melamar puteri keluarga Ciang di
Kayhong dia batalkan begitu saja, namun kenyataan gadis yang di kejar-kejar ini tidak membalas cintanya,
kini malah diketahuinya bahwa nona, itu adalah komplotan para musuhnya. Kenyataan ini tidak kuasa
menahan rasa cemburunya, hal ini membuat Ji Bun sendiri tidak mengerti kenapa teraknir ini ia kehilangan
pegangan akan sifatnya dulu yang keras kepala.
Mungkinkah Thian-thay-mo-ki sengaja mengatur muslihat dengan pura-pura "mundur untuk siap
melangkah maju setindak," sekaligus memperlihatkan kebesaran cintanya? Kalau dugaan benar, akal
muslihatnya ini sungguh lihay dan jitu. Karena ia tidak menaruh perhatian terhadap Sek-hud, akhirnya ia
bertanya: "Apa Cici ada maksud mereebut Sek-hud itu?"
"Tidak. Bagaimana tindakanmu selanjutnya?"
"Kenapa Cici tidak beritahu kepada Wi-to-hwe supaya mereka bereskan sendiri?”
"Aku tidak sudi berhubungan dengan mereka "
"Lalu kenapa kau beritahu kepadaku .........”
"Dik, jangan berbelit-belit, aku tahu cintamu hanya tertuju kepada Pui Ci-hwi," sampai di sini tiba-tiba
suaranya berubah rawan. "Terhadapku, hakikatnya melirikpun kau tidak sudi, mungkin kau pandang aku ini
perempuan jalang, atau mungkin kau pandang aku perempuan liar yang sudah kehilangan bentuk aslinya,
bahwa belakangan ini kau mau bergaul dengan aku hanyalah bermuka-muka saja .......”
Diam-diam Bun mengakui akan kelihayan Thian-thay-mo-ki, tukasnya: "Cici jangan salah paham."
"Dik, jangan kau menyangkal, tidak perlu memberi penjelasan. Dengarkan, walau aku tahu akan hal ini,
namun aku tetap senang bersamamu, dulu aku pernah lancang mulut mengatakan kita adalah sejenis, dari
golongan sesat, anggaplah ucapanku itu hanya isapan jempol belaka, yang betul kau bukan akupun bukan.
Kau sudah kupahami, bahwa cinta hakikatnya tidak boleh dipaksakan, tiada yang kupinta dan tiada yang
kuharapkan. Aku hanya mohon sukalah kau tetap pandang aku sebagai teman biasa. Mungkin kau mengira
aku punya tujuan tertentu, namun aku ingin berterus terang kepadamu, tidak sama sekali. Aku rela
mengabulkan cita-citamu, itulah sebabnya kenapa aku mau membeberkan semua rahasia ini kepadamu,
kuharap Pui Ci-hwi selanjutnya mau mengubah sikapnya terhadap kau.”
Ji Bun betul-betul terharu, ia terpukul dan malu diri akan sikap dan perlakuannya selama ini terhadap
Thian-thay-mo-ki. Terang sekali bahwa penilaiannya selama ini terhadap perempuan genit ini memang salah
sama sekali, yang betul dia ini seorang perempuan yang patut dipuji dan perempuan teladan.
Namun pikiran lain segera menyangkal akan pikiran bajiknya ini, sembilan diantara sepuluh orang
perempuan dalam dunia ini umumnya berjiwa cemburu, kecuali cinta jarang terjadi persahabatan yang
kental di antara laki dan perempuan, karena biasanya persahabatan itu tidak akan bertahan lama, dinilai dari
nama julukan Thian-thay-mo-ki, siapapun sukar mau percaya bahwa jiwanya begitu luhur.
Namun kenyataan, ia tidak kuasa mendebatnya. Dirinya tetap tidak menaruh cinta terhadapnya, yang
terang rasa kurang senangnya jauh lebih menjalari sanubarinya, sehingga sedemikian jauh ia tetap tidak
mau percaya bahwa perempuan ini berjiwa bersih. Namun ia toh harus menghadapi kenyataan ini, katanya:
"Cici, aku amat berterima kasih."
"Apa kau bicara setulus hatimu?"
Rada panas kulit muka Ji Bun, dengan suara lirih dia mengiakan.
"Baiklah, marilah kita berangkat!"
"Berangkat ke mana?"
"Kita harus mencegah Liok Kin membawa Pui Ci-hwi pulang ke markas besar Cip-po-hwe."
Kalau Pui Ci-hwi betul-betul kejeblos ke dalam markas Cip-po-hwe, maka hancurlah jiwa-raga Pui Ci-hwi,
peduli bagaimana sikap dan perasaannya sekarang terhadapnya, betapapun Ji Bun tak dapat berpeluk
tangan membiarkannya terjatuh ke tangan Liok Kin, "Apakah masih ada waktu," tanyanya.
"Ada, kita langsung kejar ke markas besar Cip-po-hwe, pasti bisa menyandaknya."
4.12. Kuil Mesum Siong-cu-am
Semula Ji Bun masih bimbang, apa manfaatnya? Kalau setengah hari yang lalu ia mendengar berita ini,
tanpa pikir tentu ia akan mengejarnya, namun setelah bertemu dengan ayahnya dan tahu siapa-apa
musuhnya, maka pikirannya banyak berubah. Bahwa ia pernah berbuat salah menolong jiwa Siangkoan
Hong yang menjadi musuh utama keluarganya, apakah kesalahan itu harus terulang dengan menolong Pui
Ci-hwi lagi. Namun sesuatu kekuatan yang mengeram dalam sanubarinya seolah-olah menyetir pikirannya,
sehingga dia tak kuasa lagi mengendalikan diri. Akhirnya dia manggut-manggut dan berkata: "Baiklah, mari
berangkat."
Keduanya segera meluncur ditengah malam gulita, sekuat tenaga mereka berlari. Sejam kemudian, sinar
cemerlang sudah menongol di ufuk timur sana, kokok ayampun sudah bersahutan. Setelah terang tanah
baru mereka mendapatkan sebuah kedai di pinggir jalan, kedai udik ini umumnya menyediakan kue-kue
kasar dan terbuat dari bahan-bahan kasar pula. Walau masih terlalu pagi, namun orang-orang desa yang
membawa dagangannya ke kota banyak yang mampir untuk tangsal perut dan melepaskan lelah
sekadarnya.
Mereka memilih tempat duduk menunggu sekian lamanya baru dilayani oleh seorang laki-laki gemuk
yang berlepotan minyak, setelah manggut-manggut pelayan ini bertanya: "Tuan dan nyonya hendak makan
atau minum arak?"
Sekilas Ji Bun melirik kepada Thian-thay-mo-ki, katanya: "Ada bubur?"
"Ada bubur beras menir, ada pula bakpau yang masih panas ......”
"Baik, sediakan pula nyamikan lain yang enak," pinta Ji Bun.
"Harap tunggu sebentar, segera kami siapkan," sahut pelayan terus mengundurkan diri.
Di tengah keributan tamu-tamu yang makan minum itu, terdengar seorang yang bersuara serak sedang
berkata: "Baru saja pergi sepasang, kini datang pula sepasang, kedua pasangan adalah orang-orang yang
mempesona, cuma sayang yang ........." Kata-katanya tidak dilanjutkan, namun kata-katanya yang terakhir
terang ditujukan kepada Ji Bun, cepat Thian-thay-mo-ki berkata: "Nah kau sudah dengar, mereka belum lagi
pergi jauh, dalam satu jam lagi pasti bisa menyandaknya."
Lekas mereka makan minum sekenyangnya terus melanjutkan perjalanan dengan kecepatan lari mereka,
lima puluh li kira-kira sudah mereka tempuh, namun bayangan pemuda baju putih dan Pui Ci-hwi tetap tidak
kelihatan.
Ji Bun menjadi gelisah, katanya: "Mungkin kita kesasar ......”
Thian-thay-mo-ki menengadah melihat cuaca, katanya: "Sekarang masih pagi, mari kita kejar lagi ke
depan."
Mereka mempercepat langkah mengejar ke depan, tanpa terasa hari sudah menjelang tengah hari, di
depan sana membentang hutan yang rimbun, di dalam hutan lapat-lapat kelihatan warna merah seperti
bangunan kelenteng.
Ji Bun menghentikan langkah, katanya: "Apa perlu masuk ke kelenteng itu untuk memeriksanya,
mungkin mereka sedang istirahat di sana."
Tengah mereka bicara, tiba-tiba tampak sesosok bayangan langsing berkelebat di dalam hutan. Tanpa
banyak kata Ji Bun segera melesat ke sana, sebuah kelenteng kecil mungil indah berdiri di dalam hutan,
pigura di atas pintu bertatahkan tulisan "Siong-cu-am". Agaknya kelenteng ini memuja Siongcu-nio-nio. Ji
Bun langsung mendekati pintu, belum lagi ia mengetuk pintu, kebetulan pintu kelenteng dibuka, seorang
Nikoh muda yang memegang kebutan muncul, dengan sebelah tangan ia memberi hormat serta bertanya:
"Sicu datang dari mana?"
Tampak Nikoh ini bersolek, alis lentik, bibir bergincu, pipinya kemerahan dan tingkah lakunya agak genit.
Ji Bun tahu kelenteng ini pasti tempat mesum, maka menjawab dengan suara kasar dan kaku: "Mencari
orang!"
Nikoh itu unjuk rasa heran dan bingung, tanyanya: "Siapa yang kau cari?”
“Seorang laki dan perempuan."
"Omitohud, kelenteng kami adalah tempat suci, mana ada laki perempuan, mungkin Sicu ........”
"Cayhe harus memeriksanya ke dalam."
"Sicu, laki-laki dilarang masuk ke dalam kelenteng."
Thian-thay-mo-ki segera beranjak maju, katanya dengan tertawa nyaring: "Kalau aku tidak jadi soal
bukan?" sembari berkata langsung melangkah masuk.
Nikoh muda ini segera melintangkan kebutnya, katanya: "Sicu ini harap tahu diri."
"Kelenteng adalah terbuka untuk umum bagi yang ingin menderma, Suhu cilik kenapa merintangi aku?”
“Sicu keliru, kelenteng kami tidak terima sumbangan."
"Kebetulan menghemat uangku," ujar Thian-thay-mo-ki terus menerjang masuk.
Berubah air muka si Nkoh, serunya: "Sicu mau pakai kekerasan?"
"Boleh saja!" jengek Thian-thay-mo-ki tak acuh. Mulut bicara kaki tetap melangkah badan langsung
menumbuk ke arah kebutan si Nikoh yang melintang. Sekali si Nikoh memutar pergelangan, benang kebutan
yang terbuat dari bulu ekor kuda tahu-tahu berubah keras laksana kawat tajam menyongsong terjangan
Thian-thay-mo-ki. Gerakan ini cukup keji dan hebat, namun Thian-thay-mo-ki cukup menyampuk sekali
sambil membentak: "Beginikah tingkah seorang beribadat?”
Sampokan ini membuat Nikoh muda itu sempoyongan mundur, Thian-thay-mo-ki langsung berlari ke
dalam. Dengan mendelik Nikoh muda ini pandang bayangan Thian-thay-mo-ki menghilang dan tetap
mengadang di pintu. Lekas sekali terdengar suara gedebukan dan suara bentakan dari dalam disusul jeritan
kesakitan. Cepat Ji Bun menerjang ke dalam.
"Berhenti, Sicu!" bentak si Nikoh muda.
"Ingin mampus kau?" jawab Ji Bun.
Nikoh muda itu menyurut menghadapi tatapan Ji Bun yang berwibawa, cepat sekali Ji Bun melesat ke
dalam, setelah membelok ke kiri di belakang dinding tertampak rebah seorang gadis berbaju hijau, di
sebelah sana Thian-thay-mo-ki tengah berhadapan dengan seorang Nikoh tua dan empat Nikoh muda yang
mengepungnya. Kedua pihak belum berhantam. Begitu Ji Bun berhenti, Nikoh muda yang mengejar dari
belakang sudah tiba, kebut terus menyabet punggung Ji Bun.
Ji Bun berkelit membalik badan, katanya: "Kuperingatkan lagi kepadamu, jangan cari mampus!" Kelima
Nikoh di sebelah dalam serempak alihkan pandangannya kemari.
Nikoh muda itu anggap tidak dengar peringatannya, begitu kebutannya luput, kembali ia melangkah
maju, telapak tangan kiri secepat kilat menebas ke depan.
Membesi dingin muka Ji Bun, kali ini ia tidak bergerak dan tak bersuara, diam saja membiarkan pukulan
lawan mengenai tubuhnya. "Huaaah!" jeritan tertahan keluar dari keluar mulut Nikoh muda itu terus
terguling dua kali dan tak bergerak lagi.
Berubah hebat air muka kelima Nikoh yang lain, terunjuk amarah yang meluap pada muka Nikoh tua itu,
desisnya gemetar: "Siapa Sicu ini?”
"Aku yang rendah Te-gak Suseng."
Berubah bingung dan jeri muka Nikoh tua yang diliputi amarah, keempat Nikoh muda itupun pucat dan
ketakutan serta berlompatan menyingkir kebelakang.
Segera Thian-thay-mo-ki berlari ke belakang.
"Cegat dia!" Nikoh tua memberi perintah, keempat Nikoh muda itu serentak mengadang maju, namun
tanpa berpaling Thian-thay-mo-ki gerakkan kedua tangannya, di tengah suara keluhan tertahan, keempat
Nikoh muda itu tersentak mundur berputar-putar.
Sekali berkelebat lagi bayangan Thian-thay-mo-ki sudah lenyap ke dalam pintu ini samping sana. Sambil
menggerung gusar keempat Nikoh muda itu beramai-ramai mengejar ke dalam.
Nikoh tua tuding Ji Bun, serunya: "Te-gak Suseng, apa maksudmu kemari?"
"Mencari orang."
"Cari siapa?"
"Bocah she Liok."
"Kau terlalu mengbina, berani kau berlaku kasar dan membunuh orang dalam kelenteng suci .......”
Ji Bun menunjuk gadis baju hijau yang tergeletak di pinggir tembok sana, tanyanya: "Siapakah gadis
yang mati itu?"
"Peduli siapa dia, kalian harus membayar hutang jiwa ini."
"Kuulangi perkataanku, apakah bocah she Liok dan gadis baju merah ada di dalam kelenteng ini?”
"Te-gak Suseng, kelenteng adalah tempat suci, mana boleh kau menghina dan bikin kotor di sini ......"
saking murka badan Nikoh tua sampai gemetar.
Ji Bun jadi rikuh akan sepak terjangnya, biarpun para Nikoh di sini semua cabul dan tidak menjalankan
ajaran agama semestinya, namun tanpa sebab dan alasan dirinya tanya keterangan bocah she Liok, padahal
kemungkinan para Nikoh ini memang tidak tahu siapa sebetulnya Liok Kin itu. Kini dua jiwa sudah menjadi
korban, ia jadi menyesal akan kebrutalannya.
Beruntun terdengar pula jeritan dari belakang, agaknya keempat muda itu sudah dirobohkan Thian-thaymo-
ki. Tengah ia terlongong, dilihatnya Nikoh tua dihadapannya menggerakkan ke dua tangan.
Baru saja Ji Bun hendak balas menyerang, tiba-tiba disadarinya bahwa pukulan lawan tidak membawa
gempuran tenaga atau samberan angin, namun serangkum bau harum segera merangsang hidungnya.
Tanpa terasa ia bergelak tertawa, katanya: "Orang beribadat ternyata juga pakai racun, sayang kau keliru
berhadapan dengan aku."
Seketika terunjuk mimik jeri dan ketakutan pada muka Nikoh tua, suaranya. bergetar: "Kau kau tidak
takut racun?"
"Bicara soal racun, kau, hanya bertingkah saja di hadapan seorang ahli."
Nikoh tua melangkah mundur, tangan kanan pelahan bergerak naik, waktu tangannya terangkat sejajar
kepalanya, telapak tangannya sudah berubah hitam legam, matanya beringas dan menakutkan sekali.
Ji Bun mengejek dingin: "Hek-sat-jiu! Baru setengah sempurna!"
"Serahkan jiwamu!" ditengah bentakan yang menusuk kuping, jari-jari tangan si Nikoh yang hitam bagai
cakar, tahu-tahu mencengkeram ke arah Ji Bun, gerakannya cepat, aneh dan ganas sekali, agaknya
kepandaian silat Nikoh tua ini tidak rendah.
Namun Ji Bun pandang serangan ini seperti sentuhan belaka tanpa dihiraukan. Jari-jari lawan dibiarkan
mencengkeram pundaknya, kukunya yang runcing sampai mencakar kulit dagingnya. Tapi Ji Bun tenangtenang
tanpa unjuk sesuatu katanya: "Sebetulnya Cayhe tidak ingin membunuhmu."
Nikoh tua itu menyeringai, berbareng telapak tangannya menabas tegak. Serangan ini diluar dugaan Ji
Bun, namun reaksinya cukup cepat, meski tidak sempat menangkis atau balas menyerang, namun untuk
menggunakan ilmu mujijatnya yang mematikan masih cukup berkelebihan.
"Blang", diselingi keluhan tertahan, Ji Bun muntah darah dengan badan terjengkang. Hampir dalam
waktu yang sama, Nikoh tua itupun sempoyongan ke belakang, tangannya yang gemetar menuding Ji Bun
yang sedang merangkak bangun, mulutnya berteriak menakutkan: "Kau .... kau....." bayangan abu-abu tibatiba
berkelebat, melesat melampaui wuwungan rumah terus lenyap.
Ji Bun melengak, untuk kedua kalinya ilmu mujijatnya yang mematikan gagal membunuh lawan yang
pertama adalah orang misterius yang merebut anting-anting itu, sejak dirinya berkelana hanya dua kali
kekecualian ini, selain tidak sempat menggunakan ilmunya yang ganas itu, biasanya setiap korbannya pasti
mampus.
Setelah terlongong sekian lamanya, baru dia teringat pada Thian-thay-mo-ki yang sudah sekian lamanya
melabrak ke dalam dan tiada kedengaran suaranya, mungkinkah mengalami sesuatu. Maka bergegas ia lari
ke belakang, di antara bayang-bayang pepohonan yang rimbun, di sana berderet tiga bangunan yang
mungil, di papiliun mungil itu menggeletak empat sosok mayat, suasana sunyi senyap tak kedengaran suara
apapun.
Sekali lompat Ji Bun tiba di serambi papiliun itu, dari jendela ia melongok ke dalam, tampak kamar-kamar
dipajang begitu indah dan serba mewah, bahwa tempat ini tidak mirip tempat suci yang biasa dihuni
sebangsa Nikoh yang memeluk agama, mungkin kelenteng ini hanyalah berkedok untuk berbuat mesum dan
kejahatan lainnya.
Yang tengah adalah ruangan tamu, panjangnya tak ubahnya seperti istana raja, kamar yang belakang
adalah kamar tidur, pajangan dan barang-barang yang ada mirip dengan kamar pertama. Ketiga kamar ini
semua kosong, tak tampak bayangan orang.
Terkerut alis Ji Bun, sesaat ia kehilangan Thian-thay-mo-ki terang takkan pergi begitu saja tanpa pamit,
memangnya ke mana dia? Kecerdikan dan kepandaian silatnya meyakinkan takkan mengalami sesuatu di
luar dugaan, namun ke mana dan di mana dia?
Tengah bingung dan mencari, tiba-tiba dilihatnya sebuah gambar dewi Koan-im yang tergantung di
dinding kamar tengah itu bergerak pelahan, maka muncullah sebuah pintu sempit yang tiba cukup untuk
lewat seorang. Berdegup jantung Ji Bun, hatinya menjadi tegang, disaat siap-siap bertindak, dilihatnya
seseorang menerobos keluar dari pintu gelap itu, kiranya Thian-thay-mo-ki adanya.
"He, apa yang telah terjadi?" tanya Ji Bun keheranan.
Dengan langkah gemulai Thian-thay-mo-ki bertindak keluar, katanya sambil acungkan jempolnya ke
belakang: "Kamar di bawah tanah itu megah sekali, tak kalah dengan kamar puteri raja.”
"Apa yang kautemukan di sana?"
"Tempat ini adalah salah satu cabang Cip-po-hwe ......”
"Cabang Cip-po-hwe?" seru Ji Bun kaget.
"Dik, coba kau masuk melihatnya sendiri. Sebentar kau akan paham.”
"Kalau benar tempat ini cabang Cip-po-hwe, bocah she Liok itu pasti mampir kemari."
"Memang tadi dia kemari, kini sudah pergi pula."
"Lalu Pui Ci-hwi?"
"Masuklah dulu melihatnya."
Tak habis heran Ji Bun karena didesak untuk memeriksa kamar di bawah tanah, namun rasa tertarik
memang tak tertahan lagi, sekilas ia melirik terus melangkah masuk.
Di belakang pintu sempit ini adalah sebuah lorong panjang yang pakai undakan, di ujung loteng sana
adalah jalanan datar halus yang cukup lebar sepanjang puluhan tombak. Tiga kamar kembali berjajar
segitiga di ujung sana, sehingga di tengah-tengah ketiga kamar ini merupakan pekarangan yang cukup luas.
Kamar yang tengah tertutup kerai dengan pintu tertutup rapat, dua kamar di kanan kiri semua tertutup dan
digembok dari luar.
Setelah bimbang sebentar Ji Bun menyingkap kerai mandorong pintu dan melangkah masuk ke kamar
tengah. Bahwa Thian-thay-mo-ki menyuruh dirinya memeriksa kamar di bawah tanah ini, ia menduga pasti
ada apa-apa di dalam ketiga kamar ini.
Begitu melangkah masuk bau wangi segera merangsang hidung, tampak pajangan berwarna warni,
sampaipun meja kursi semua terbuat dari barang-barang antik yang berukir indah dan hidup, jelas semua ini
adalah barang-barang peninggalan jaman dahulu kala. Sebuah ranjang kayu cendana terletak di bagian
dalam dengan kasur tinggi dan seprei jambon, kelambu menjuntai turun, keadaan ini tak ubahnva seperti
kamar tidur seorang permaisuri raja.
Bahwa di dalam sebuah kelenteng dibangun kamar-kamar seindah ini, maka dapatlah dibayangkan apa
gunanya tempat-tempat seperti ini. Tiba-tiba matanya bentrok dengan noda-noda darah yang berceceran
diatas ranjang darah kental yang belum kering, jantungnya berdegup semakin keras, dengan langkah lebar
ia memburu maju serta menyingkap kelambu.
"Hah!" tiba-tiba ia menjerit tertahan dan menyurut mundur, selebar mukanya merah jengah. Ternyata di
atas ranjang menggeletak dua sosok mayat, mayat yang di atas adalah seorang perempuan gundul atau
Nikoh muda yang cantik menggiurkan, yang dibawah adalah laki-laki bercambang dan bertubuh kekar.
Keduanya saling tindih dan telanjang bulat, badan bagian atas sudah terpisah. Namun keempat kaki
mereka masih saling tindih, dari badan merekalah darah itu mengalir ke bawah kasur.
Selama ini Ji Bun belum pernah melihat adegan yang memalukan seperti ini, sekian lamanya ia tertegun
di tempatnya. Lama sekali baru ia sadar kembali, ia duga pada saat kedua laki perempuan ini berbuat
mesum kepergok oleh Thian-thay-mo-ki, lalu dibunuhnya. Sebagai gadis perawan sudah tentu dia malu
menjelaskan, maka dia suruh dirinya turun kemari menyaksikan sendiri.
Ji Bun menggeram gusar, di mana kaki tangannya bergerak, semua perabot di dalam kamar ini
disapunya porak poranda, sudah tentu perbuatannya ini tiada gunanya, mungkin hanya untuk melampiaskan
rasa sebal dari menghilangkan rasa malunya saja.
Cepat ia berlari keluar lalu menarik pintu kamar di sebelah kiri, begitu pintu terbuka seketika dia
berjingkat. Seorang gadis berbaju hijau rebah tak bernapas di dalam kamar, dandanannya mirip dengan
gadis berbaju hijau yang mati di bawah tembok di luar tadi.
Seperti apa yang dikatakan Thian-thay-mo-ki, bahwa Siong-cu-am ini adalah salah satu cabang Cip-pohwe,
kedua gadis baju hijau ini terang adalah murid-murid yang datang dari markas pusat seperti yang
pernah dilihatnya tempo hari. Sayang sekali, Nikoh tua itu sempat melarikan diri.
Kembali ia menarik pintu kamar terakhir, pajangan kamar ini tak ubahnya seperti kamar di tengah,
perabuan yang berbentuk binatang terletak di atas meja masih mengepulkan asap dupa yang wangi
semerbak. Kelambu setengah terbuka, bantal guling dan seprei morat marit, seperti baru saja di tiduri orang
dan belum lama meninggalkan tempat ini. Selain itu tiada apa-apa lagi yang patut diperiksa, maka. Ji Bun
lekas keluar meninggalkan kamar bawah tanah itu.
"Bagaimana? " tanya Thian-thay-mo-ki tersenyum begitu dia keluar.
"Tempat mesum yang kotor, bakar saja," kata Ji Bun dengan uring-uringan.
"Demikian juga pikiranku," ujar Thian-thay-mo-ki.
"Darimana Cici tahu kalau tempat ini cabang Cip-po-hwe?"
"Kau sudah lihat mayat gadis baju hijau itu? Dialah yang mengaku sebagai dayang-dayang Liok Kin, ke
mana sang majikan pergi, ke situlah pula mereka berada .......”
"Ada kabar Pui Ci-hwi?"
"Ada, satu jam yang lalu mereka sudah pergi pula," sahut Thian-thay-mo-ki. "Dia sudah tergenggam di
tangan Liok Kin .......”
Mendelu perasaan Ji Bun, memang aneh perasaan itu, ia sudah tahu bahwa gadis berbaju merah adalah
sekomplotan dengan musuh, iapun sudah tegas memutuskan harapannya untuk mempersuntingnya, kini
setelah urusan mendesak, tak kuasa ia mengendalikan diri sendiri, biasanya sikapnya dingin, angkuh dan
nyentrik, namun tali asmara ini begitu ulet dan kencang mengikat sukma, tak kuasa dia memutuskan begitu
saja.
"Hayolah Dik, kita kejar lagi," ajak Thian-thay-mo-ki.
"Kejar ke mana?"
"Ke mana mereka akan mendapatkan Sek-hud itu."
"Sek-hud?" hakikatnya Ji Bun tak punya minat terhadap Sek-hud, maka reaksinya tawar saja, katanya:
"Kukira kita tidak usah bercapek lelah, tujuan Cip-po-hwe adalah mengumpulkan harta benda yang serba
antik, namun untuk tujuan kali ini pasti mereka salah alamat, para bangkotan dari Wi-to-hwe itu cukup
untuk membikin mereka kocar kacir."
"Betul ucapanmu, namun jiwa Pui Ci-hwi sulit dipertahankan lagi .............”
"Ada orang lain yang akan menagih jiwanya?."
"Memangnya apa pula maksud tujuan perjalanan kita ini?"
Setelah tertegun Ji Bun berkata: "Aku hanya ingin membantai bocah she Liok itu."
"Marilah kita kejar, kalau tidak bisa terlambat."
"Kenapa tergesa-gesa, markas Cip-po-hwe memangnya bakal pindah ke lain tempat?"
"Bukan markas Cip-po-hwe tujuan kita."
"Habis mau ke mana?"
"Biara nomor satu di kolong langit ini."
"Maksudmu Pek-ciok-am?” Ji Bun menegas, "apakah bocah she Liok itu ........."
"Menurut pengakuan gadis baju hijau itu, Liok Kin sedang menggusur Pui Ci-hwi ke sana untuk
mengambil Sek-hud, ini sesuai apa yang kucuri dengar waktu di Tong-pek-san. Pui Ci-hwi pernah
memberitahu kepada Liok Kin bahwa Sek-hud disembunyikan di puncak Pek-ciok-hong di belakang Pek-ciokam
itu"
Berkerut alis Ji Bun, katanya: "Sek-hud adalah peninggalan penting perguruan Pu.i Kenapa dia berani
membocorkan rahasia ini kepada orang luar?"
Thian-thay-mo-ki cekikikan, katanya: "Hubungan laki perempuan memangnya amat lugu, terutama bagi
seorang gadis yang baru mekar, sulitlah dijelaskan."
Secara tidak langsung ia mau bilang bahwa hubungan kedua muda mudi ini sudah melampaui batas
kesusilaan, sudah tentu menusuk bagi pendengaran Ji Bun, emosinya jadi sukar ditekan lagi."
"Cici tahu di mana letak Pek-ciok-am itu?"
"Tahu saja, kalau siang malam menempuh perjalanan, besok pagi kita bisa sampai di tempat tujuan."
"Hayolah kita susul ke sana."
"Bakar dulu sarang rase yang mesum ini."
Kain gordin penutup kain pemujaan disiram minyak lalu mereka sulut dengan api lilin, cepat sekali api
berkobar. Sebentar saja kelenteng itu sudah menjadi lautan api. Setelah meninggalkan Siong-cu-am, mereka
menuju ke arah timur.
Fajar menyingsing, kabut pagi masih tebal, hawa terasa dingin segar. Pada sebuah jalan pegunungan
yang kecil berliku tampak dua bayangan orang tengah mengayun langkah berlari bagai terbang, mereka
adalah Te-gak Suseng dan Thian-thay-mo-ki. Dari jauh Thian-thay-mo-ki menuding puncak di depan sana
yang tertampak sebuah bangunan berwarna putih, katanya: "Itulah Pek-ciok-am yang dipandang sebagai
biara nomor satu di kolong langit ini."
Ji Bun hanya mengiakan saja tanpa bicara, cepat sekali mereka sudah tiba di depan biara, pintu tertutup.
Seluruh bangunan ini serba putih dibangun dari kepingan batu putih.
"Mari kita langsung menuju ke belakang puncak!” ajak Thian-thay-mo-ki.
Ji Bun mengawasi pintu biara, katanya: "Apa tidak masuk dulu melihat keadaan di dalam?"
"Orang luar biasanya di larang masuk, walau (Nikoh sakti) sudah wafat, namun peraturan ini masih tetap
dipatuhi oleh segala lapisan."
Pada saat itulah, sekilas terlihat oleh Ji Bun serombongan orang sedang mendatangi dari bawah gunung
mengiringi sebuah tandu, katanya: "Orang dalam tandu! Tak nyana pihak Wi-to-hwe juga sudah mendapat
kabar dan meluruk kemari."
5.13. Perebutan Sek-hud
Beberapa kali Thian-thay-mo-ki menoleh ke bawah, katanya: "Kalau mereka sudah datang, kita tidak
usah turun tangan."
Ji Bun punya perhitungan tersendiri, ia tak mau berjumpa dengan orang-orang Wi-to-hwe, lekas ia
berkata: "Cici, bagaimana kalau kita menyingkir dulu?"
Heran tak mengerti Thian-thay-mo-ki melirik kepada Ji Bun. katanya: "Baiklah, kita sembunyi di dalam
gerombolan bambu sana."
Segera mereka menyingkap dedaunan menyelinap ke dalam semak-semak.
Tiba-tiba Ji Bun ingat sesuatu, tanyanya: "Cici, sebetulnya siapa ketua Wi-to-hwe?"
"Bukankah kau diundang sebagai tamu terhormat dan duduk semeja dengan dia?"
"Aku tidak tahu siapa dia, memangnya aku heran kenapa aku dihormati begitu rupa."
Derap langkah rombongan orang, radi semakin dekat. Tampak tujuh delapan bayangan orang
berlompatan, meluncur ke depan biara, tandu kecil itu cepat sekali juga sudah tiba. Dengan seksama Ji Bun
mengintip dari celah-celah dedaunan, tanpa terasa ia menjadi heran, tandu kecil ini bukan tandu milik
"orang dalam tandu," itu, pengiring-pengiring tandupun tiada yang dikenalnya, rombongan dari manakah
orang-orang ini?
Tandu diturunkan menghadap ke pintu biara, tiga orang tua pengiring dan lima laki-laki kekar segera
berdiri sejajar meluruskan tangan di samping tandu. Terdengar suara orang perempuan yang seperti sudah
dikenalnya dari dalam tandu: "Ho-tongcu, bawa orangmu dan periksa, ke dalam biara."
Salah satu di antara ketiga orang tua yang bermuka lonjong berdagu panjang dengan jenggot pendek
dan segera mengiakan sambil membungkuk, sahutnya: "Lapor Hwecu, selama puluhan tahun ini, tiada
seorangpun yang berani memasuki biara ini.”
Baru sekarang Ji Bun mengerti, ternyata Cip po hwe-cu yang berada di dalam tandu ini, tak tersangka
karena mengincar Sek-hud, sekali ini dia turun tangan sendiri memimpin seluruh anak buahnya.
Dingin suara Cip-po hwe-cu: "Ho-tongcu, itulah perintahku!"
Ho-tongcu mengiakan sambil membungkuk pula. Sekali ulap tangan, tiga laki-laki kekar segera tampil
dan mengintil di belakang orang she Ho ini dan melangkah ke arah biara.
Dengan rasa kebat-kebit Ho-tongcu melangkah ke depan pintu. Setelah ragu-ragu sebentar segera ia
nekat mendorong pintu, tak terduga pintu biara hanya dirapatkan saja, sekali dorong lantas terbuka.
Dari luar memandang ke dalam, tanaman kembang dan pepohonan teratur rajin, undakan dan serambi
panjang semuanya serba putih bersih tanpa berdebu seakan-akan setiap saat selalu dibersihkan orang.
Namun suasana tetap hening.
Tepat mengadang pintu berdiri sebuah pilar batu persegi yang ditatah beberapa huruf berbunyi:
“Tempat suci untuk membina diri, orang biasa dilarang masuk."
Sambil mengawasi batu pilar ini, Ho-tongcu dan ketiga laki-laki kekar tak berani melangkah masuk.
Cip-po hwe-cu bersuara dari dalam tandu: "Ho-tongcu, Pek- ciok Sin-ni sudah meninggal, memangnya
apa yang kau takuti?"
Rasa takut kelihatan di roman Ho-tongcu, katanya sambil menoleh dengan suara gemetar: "Hwecu, itu
hanya kabar angin .........”
"Kau berani menentang perintahku?" dengus Cip-po hwe-cu, "Hm, Li-tongcu."
Seorang tua lain yang bermuka bentuk segi tiga segera mengiakan dan tampil kemuka. "Kau masuk dan
periksa," kata Hwecu.
"Terima perintah," sahut Li-tongcu, membusung dada dan segera melangkah lebar memasuki biara.
Mungkin demi gengsi atau. karena takut akan peraturan perkumpulan, Ho-tongcu segera nekat
mendahului melompat masuk ke dalam.
"Hiiiaaaat!" jeritan ngeri tiba-tiba kumandang, tampak Ho-tongcu yang melesat masuk itu terpental
keluar dan "bluk" terbanting tak bergerak lagi, Li-tongcu dan ketiga laki-laki kekar itu sama terbelalak dan
mematung.
Di tempat sembunyinya Ji Bun berpaling kepada Thian-thay-mo-ki, bisiknya: "Apakah Pek-ciok Sin-ni
masih hidup?”
Thian-thay-mo-ki menggeleng tanda tidak tahu, mukanya serius dan curiga. Dari reaksi beberapa orang
ini, agaknya Pek-ciok Sin-ni memang seorang tokoh yang teramat disegani.
Berputar otak Ji Bun, tanyanya pula: "Cici, peduli siapa yang berada di dalam Pek-ciok-am, Sek-hud
adalah milik pribadi Sin-ni, walau Liok Kin diberi petunjuk oleh Pui Ci-hwi, usahanya pasti akan sia-sia, malah
mungkin jiwapun bisa melayang."
"Memangnya, Pui Ci-hwi terbius dan tak kuasa akan diri sendiri, kukira para bangkotan Wi-to-hwe itu
sudah mengetahui."
Agaknya Cip-po hwe-cu juga kaget akan kejadian diluar dugaan ini. Lama sekali dia tak bersuara,
akhirnya dia berseru lantang: "Tokoh kosen siapakah yang ada di dalam?”
Tiada reaksi atau penyahutan. Sementara itu, Ho-tongcu yang terlempar keluar ternyata masih hidup dan
sedang merangkak bangun dengan lemas gemetar, suaranya tersendat: "Lapor Hwecu ....... hamba ........”
"Kau kenapa?"
"Kepandaian silat dan Lweekangku punah,"
"Apa kau lihat jelas siapa yang menyerangmu?”
"Tidak, baru saja hamba melangkah masuk, entah diterjang angin dari arah mana tahu-tahu badan
terpental keluar.”
Kembali Cip-po hwe-cu berseru: "Sahabat yang ada di dalam biara kenapa tidak sudi keluar?"
Tetap tiada sahutan, suasana menjadi hening, dan mencekam.
"Li-tengcu, kalian mundur saja," Cip-po hwe-cu memberi aba-aba. Seperti mendapat pengampunan, ke
empat orang itu bergegas berlari balik.
Cip-po hwe-cu mendengus, jengeknya: "Sahabat tidak perlu main sembunyi, kalau malu dilihat orang,
baiklah aku mohon diri saja."
Lalu ia perintahkan anak buahnya: "Ho-tongcu boleh bawa dua orang turun gunung lebih dulu, yang lain
ikut aku ke belakang puncak."
Cepat sekah rombongan mereka lantas meninggalkan tempat ini.
"Kita bagaimana?" tanya Ji Bun, kepada Thian-thay-mo-ki.
"Marilah kita lihat tontonan ramai," ajak Thian-thay-mo-ki. Dari arah samping yang berlawanan, mereka
lantas menuju ke Pek-ciok-hong, puncak bagian belakang itu.
Di mana-mana batu putih melulu, tiada rumput atau pepohonan yang tumbuh di sini, hanya di ujung
jurang sana tumbuh beberapa pohon siong yang tua dan angker. Tepat di tengah-tengah serakan batu putih
itu terdapat sebuah panggung yang menyerupai kembang teratai.
Di tengah panggung ini berdiri pula sebuah menara setinggi beberapa tombak. Pada bagian muka
menara ini ditatah sebuah papan batu di mana terukir sebaris huruf yang berbunyi:
"Tempat semayam Pek-ciok Sin-ni nan abadi."
Kiranya di sinilah tempat kuburan jenazah Pek-ciok Sin-ni.
Di belakang panggung ini, menjulang kelangit sebuah puncak yang menembus mega, begitu tinggi dan
curam puncak ini, kira-kira terpaut tujuh delapan tombak dengan Pek-ciok-hong disini, jurang di bawahnya
tak terlihat dasarnya.
Bayangan orang banyak bermunculan di Pek-ciok-hong, jumlahnya tidak kurang 50an, agaknya demi
mendapatkan Sek-hud, kali ini Cip-po-hwe benar-benar mengerahkan seluruh kekuatannya.
Sambil mengendap dan menggeremet Ji Bun dan Thian-thay-mo-ki terus merambat naik ke puncak, lalu
menyembunyikan diri di lekukan batu.
Setelah dekat, dilihatnya Liok Kin bersama Pui Ci-hwi duduk berendeng di atas batu yang berbentuk
menyerupai seekor naga. Cip-po hwe-cu sudah keluar dari tandu, duduk diatas sebuah batu yang mencuat
keluar tak jauh dari anaknya, di belakangnya berderet puluhan anak buahnya.
Di belakang panggung teratai sana, delapan laki-laki berotot kekar berdiri dengan membawa cangkul,
sekop, linggis dan martir besar. Seorang tua baju hitam mondar mandir seperti sedang mengukur, akhirnya
dia berhenti lima tombak di belakang panggung menara itu.
Liok Kin berpaling ke arah Pui Ci-hwi dan berkata dengan suara halus dan ramah: "Adik Hwi, tidak salah
lagi tempat itu?"
Dengan kaku seperti linglung Pui Ci-hwi mengangguk.
Liok Kin segera memberi perintah dengan suara lantang: "Lekas keduk, harus bekerja cepat dan sekuat
tenaga."
Maka ramailah suara berkerontangan bekerjanya cangkul, linggis dan martir, batu-batu kerikil
beterbangan muncrat kemana-mana.
Ji bun mengertak gigi, katanya: "Cici, agak Pui Ci-hwi memang sudah terbius ......"
"Lalu apa yang hendak kau lakukan?"
"Akan kutamatkan dulu bocah she Liok itu.”
"Nanti dulu."
"Ada apa?"
"Kukira ada apa-apa yang kurang beres, peduli siapa orang dalam biara yang memunahkan ilmu silat Hotongcu,
yang jelas dia adalah sepihak dengan Pui Ci-hwi, kenapa sejauh ini dia tetap menonton saja.
Adegan-adegan tegang masih akan menyusul."
"Cip-po hwe-cu sudah tahu bahwa maksudnya telah diketahui orang, namun dia masih nekat pasti dia
punya keyakinan."
Thian-thay-mo-ki manggut-manggut. Tapi kenyataan justeru di luar dugaan, selama ini tiada orang yang
muncul mencegah pengedukan ini.
Sebuah papan batu akhirnya terbongkar keluar, disusul suara kaget dan kegirangan: "Sek-hud!"
Cip-po hwe-cu segera membentak: "Minggir semua!"
Belum lenyap kumandang suaranya, bagai kilat dia sudah melesat ke tempat galian. Delapan laki-laki
yang gemerobyos keringat itu segera mundur ke samping. Setelah mengawasi tempat galian dengan
seksama, akhirnya Cip-po hwe-cu menengadah sambil terloroh-loroh riang.
Seluruh anggota Cip-po-hwe yang hadir sama menjulur leher sepanjang mungkin dari tempatnya ingin
melihat lubang galian.
Cip-po hwe-cu pelan-pelan membungkuk badan mengulur tangan ke dalam lubang, dikeluarkannya
sebuah patung Budha yang terbuat dari batu putih setinggi satu kaki, agaknya patung Budha ini dibuat dan
diukir oleh seorang ahli sehingga dilihat dari kejauhan sungguh elok dan hidup.
Ji Bun berkata gemetar: "Mereka berhasil."
"Kulihat ada yang janggal," kata Thian-thay-mo-ki.
"Apanya yang janggal?"
"Apa kau tidak lihat patung itu berlubang di bagian badannya, kukira ada yang tidak beres."
"Pandangan Cici memang tajam, pengetahuanmu juga amat tinggi."
Ji Bun memuji sejujurnya, sejak wataknya berubah, baru pertama kali ini ia memuji orang lain.
Thian-thay-mo-ki membalas dengan senyuman riang, katanya: "Apa kau bukan menyindirku, Dik?"
"Aku bicara setulus hati."
"Banyak terima kasih."
Sementara itu, tampak Cip-po hwe-cu tengah membolak-balik patung Budha itu serta memeriksanya
dengan teliti. Akhirnya dia berpaling ke arah gadis baju merah dan bertanya dengan keheranan: "Nona Pui,
kenapa Sek-hud (patung Budha batu) ini tidak berhati?"
Keadaan Pui Ci- hwi tetap linglung, sahutnya datar: "Entah aku tidak tahu."
"Dulu waktu kau melihat Sek-hud ini apa demikian juga keadaannya?"
"Ya, gadis baju merah itu mengiakan.
Sekonyong-konyong Cip-po hwe-cu menjerit kaget, patung yang dipegangnya tahu-tahu lenyap. Tampak
seorang laki-laki tua bungkuk berdiri tiga tombak di ujung sana, patung Budha itu telah berpindah ke
tangannya.
Bagaimana orang tua bungkuk ini muncul dan cara bagaimana dia merebut Sek-hud seluruh hadirin tiada
yang tahu dan melihat jelas.
"Siapakah si bungkuk ini?" tanya Ji Bun terperanjat.
Suara Thian-thay-mo ki rada gemetar: "Dari gerak-geriknya itu, mungkin....”
Belum habis percakapan mereka di sini, di sana Cip-po hwe-cu sudah membentak dengan bengis: “Biaujiu
Siansing, dari mencuri kini kau berani terang-terangan main rebut?"
Orang tua bungkuk terkekeh-kekeh, katanya: "Kwik Un-hiang, cara bagaimana kau bisa mengenalku
sebagai Biau-jiu Siansing?"
"Panca longok macammu ini, memangnya ada orang duanya dalam Kangouw?"
"Anggaplah kau menebak betul, tapi Kwik-hwecu, kau memakiku panca longok, memangnya kau sendiri
ini apa .....”
"Lebih baik kau kembalikan patung itu."
"Kalau tidak?"
"Aku bersumpah takkan melepaskanmu."
"Ah, aku tidak peduli."
Mendengar laki-laki bungkuk ini adalah Biau-jiu Siansing, si maling sakti yang terkenal di Kangouw,
seketika Ji Bun naik pitam, tak usah diragukan lagi, orang yang merebut anting-anting giok dari tangannya
pasti dia orangnya. Dari caranya merebut patung tadi terbukti sama dengan cara orang merebut antinganting
dari tangannya, maka tanpa ragu segera ia melompat keluar.
"Te-gak Suseng!" teriak Cip-po hwe-cu kaget, mukanya seketika beringas dan diliputi nafsu menmbunuh.
Ji Bun hanya melirik sekejap terus melangkah ke arah Biau-jiu Siansing.
Berputar biji mata Biau-jiu Siansing, katanya :
"Te- gak Suseng, kau juga ingin merebut Sek- hud?"
"Cayhe tidak punya minat."
"Lalu apa kehendakmu?"
"Janganlah sudah tahu pura-pura tanya, dalam hatimu sudah tahu apa maksudku."
"Agaknya Lohu belum pernah bermusuhan dengan kau?"
"Hm, ucapanmu ini menjadikan kau ini lebih rendah dari panca-longok, maling yang hina dina ......."
"Tutup mulutmu, Te-gak Suseng, bicaralah yang sopan terhadap Lohu."
"Sopan? Apa kau setimpal bicara soal kesopanan?"
Dengan penuh keheranan Biau-jiu Siansing menatap Ji Bun, katanya kemudian: "Anak muda, ada urusan
apa boleh dikesampingkan dulu, biar Lohu bereskan urusan dengan mereka."
Menyala sinar mata Ji Bun, jengeknya dingin: "Jangan kau nanti berusaha lari .......”
"Omong kosong, memang gelaran Biau-jiu Sian¬sing tidak berharga seperti penilaianmu itu?"
"Baik, boleh kau bereskan dulu urusanmu."
Sorot mata Biau-jiu Siansing beralih ke arah Cip-po hwe-cu, katanya berseri tawa: "Kwik Un-hiang, dalam
sepuluh tahun ini kau sudah tumbuh sayap, siluman kecil menjadi setan besar, malah mendirikan
perkumpulan, membuka markas segala, kini menjadi ketuanya pula. Mencuri, menipu, merampok,
membegal dan merampas, semua itu dari satu sumber, apa kau masih tahu aturan?”
Berubah air muka Cip-po hwe-cu, tanyanya: “Aturan apa?"
“Keluarga punya aturan, golongan punya disiplin, dikalangan maling ada sumbernya yang terdiri delapan
tingkat."
Mundur setapak Cip-po hwe-cu, seluruh anak buahnyapun tersirap dan berubah air mukanya.
Maka terdengar Biau-jiu Siansing membentak dengan bengis: "Dalam delapan tingkat itu, kau termasuk
yang mana?"
Gemetar sekujur badan Cip-po hwe-cu, suaranyapun tersendat: Geledek, kilat, angin, api, gunung, air,
tanah dan kayu, aku termasuk gunung dari tingkat bawah."
Biau-jiu Siansing terloroh-loroh, katanya: "Tingkatan dan kemampuanmu masih terlalu jauh, ketahuilah
aku termasuk tingkat kilat dari tingkat atas."
Pucat keabu-abuan selebar muka Cip-po hwe-cu, katanya, menunduk: "Maaf akan kelancangan
Wanpwee."
"Kwik Un-hiang, bagaimana kalau kubawa Sek-hud ini?"
"Terserah, aku tak berani banyak mulut lagi."
"Aku tahu, dalam hati kau memberontak, biarlah kuberitahu. Pek-ciok Sin-ni menjadi simbol yang
diagungkan di seluruh lapisan persilatan, Pek-ciok-am adalah tempat suci yang tak boleh dilanggar oleh
golongan manapun, kau berani paksa anak buahmu masuk ke biara sini, betapa besar dosamu..."
Cip-po hwe-cu mengiakan sambil manggut-manggut.
"Dan lagi di pintu biara sudah kuberi tanda pengenalku menandakan bahwa golongan kilat sudah
mencampuri urusan ini, tapi kau masih berani melanggarnya, malahan berani menantang lagi, sungguh
bodoh dan picikkan?"
Kembali Cip-po hwe-cu hanya mengiakan saja.
Berkata Biau-jiu Siansing lebih lanjut: "Sekarang lihatlah pertanda yang ada di atas batu piramid itu."
"Hah!" waktu berpaling ke arah samping lubang yang digali anak buahnya tadi, seketika dia menjerit
kaget sambil mundur tiga langkah.
Seperti mengajar dan memberi peringatan kepada bawahannya saja Biau-jiu Siansing berbicara lebih
lanjut: "Menurut undang-undang kalangan kita, sesama golongan tidak boleh saling rebutan, masing-masing
tingkat ada perbedaan, untuk kali ini kau terhitung melanggar undang-undang karena berani menentang
tingkat yang lebih tinggi."
Lenyap wibawa dan keangkeran Cip-po hwe cu, badannya gemetar sampai perhiasan diatas kepalanya
ikut bergoyang-goyang.
Biau jiu Siansing ulapkan tangan: "Mengingat kau bersalah tanpa sengaja, biarlah kuampuni kali ini,
pergilah!"
"Banyak terima kasih!" tersipu-sipu Cip-po hwe cu berkata memberi hormat terus putar badan memberi
perintah kepada anak buahnya: “Turun gunung!"
Dengan menggandeng Pui Ci-hwi, Liok Kin berdiri hendak melangkah pergi. Tapi Ji Bun lantas melesat ke
depan Liok Kin, jengeknya: "Tinggalkan dia!"
Pui Ci-hwi melerok sekali kepada Ji Bun tanpa memberi reaksi apa-apa, keadaannya mirip sekali dengan
Ciang Bing-cu tempo hari, karena kesadarannya terpengaruh oleh obat bius.
Liok Kin mengertak gigi, desisnya: "Te-gak Suseng, apa hakmu?"
"Tanpa hak apa-apa, kalau kau masih ingin hidup lekaslah menyingkir saja."
"Jangan takabur dan menghina orang, Te-gak Suseng, dia tidak mencintaimu."
Kata-kata setajam sembilu menusuk ulu hati Ji Bun. Seketika beringas wajahnya: "Kau ingin mampus?"
hardiknya.
Cip-po hwe-cu menghampiri, katanya: ''Te-gak Suseng, tempo hari kau berani bikin onar di markas kami,
membunuh orang, menculik tawananku lagi, biarlah perhitungan itu kita bereskan sekalian."
Ji Bun berputar menghadapi Cip-po hwe-cu, tantangnya: "Bagus sekali, cara bagaimana
menyelesaikannya?"
"Utang jiwa bayar jiwa."
"Jiwa ragaku ada di sini, kalau kau mampu boleh kau renggutnya. Hayolah mulai!"
Tongcu she Li dan seorang kawannya tiba-tiba menubruk maju, puluhan anak buah yang lain serentak
ikut merubung maju, semua siap meraba senjata. Suasana menjadi tegang.
"Anak muda," seru Biau-jiu Siansing, "urusan kita biar diselesaikan lain hari saja, aku tidak sabar
menunggu di sini."
Ji Bun melompat mundur, teriaknya: “Tunggu sebentar ....." belum habis perkataannya, tahu-tahu
segulung angin keras menerpa ke arahnya, ternyata secara licik Cip-po hwe-cu menyerang ketika perhatian
Ji Bun terpencar.
Ji Bun tidak menduga bahwa lawan akan turun tangan, tenaga gerakan ditambah damparan pukulan
dahsyat ini, maka tubuhnya melayang kencang menerjang ke arah menara di panggung teratai sana. Jika
badannya sampai menubruk menara batu, pasti hancur lebur.
Untunglah serangkum angin lembut tahu-tahu menghembus enteng dari arah samping sana sehingga
luncuran tubuhnya yang kencang itu menjadi lambat. Pada detik-detik sebelum badannya membentur
menara, Ji Bun merasakan daya luncuran tubuhnya tiba-tiba jauh berkurang.
Maka lekas dia kerahkan kekuatan memberatkan tubuh, berbareng tangan menekan ke bawah, badan
berputar lagi sehingga dia berjumpalitan dan turun dengan enteng. Namun selebar mukanya sudah berubah
merah padam.
Orang yang menolongnya dengan dorongan serangkum angin enteng tadi adalah Biau-jiu Siansing. Ji
Bun tenangkan diri sebentar, katanya kemudian: "Terima kasih akan bantuan tuan."
"Tidak usah, rase kecil yang datang bersamamu itu cukup baik sekali latihannya, begitu sabarnya sampai
sedemkian jauh masih belum mau muncul." Yang dimaksud jelas Thian-thay-mo-ki. Ji Bun menjadi kikuk
dan risi.
Sebuah tawa nyaring tiba-tiba berkumandang, Thian-thay-mo-ki terpaksa unjuk diri, tubuhnya yang
gempal dan padat laksana segumpal bara yang menyala, membuat semua laki-laki yang hadir terbeliak.
Biau-jiu Siansing nienatap Ji Bun, katanya: "Anak muda, sebetulnya ada persoalan apa diantara kita?"
Belum Ji Bun menjawab, tiba-tiba gelombang gelak-tawa yang keras menusuk telinga menggetar bumi
bergema dari kejauhan, cepat sekali tahu-tahu sudah dekat di bawah bukit, hawa di atas puncak seketika
seperti bergolak hebat.
"Bu-ciang-so datang," Thian-thay-mo-ki berteriak tertahan.
Semua hadirin memang gemetar dengan muka pucat terpengaruh oleh gelombang tawa yang hebat ini,
hanya Biau-jiu Siansing saja yang kelihatan masih tenang-tenang seperti tidak terpengaruh sama sekali.
Serta merta Ji Bun kerahkan kekuatannya menurut ajaran Thian-thay-mo-ki untuk menolak pengaruh Thiancin-
ci-sut ini, betul juga napas yang tadinya memburu dan darah yang mendidih seketika tertekan kembali.
Hanya dalam waktu sekejap saja, para anak buah Cip-po-hwe yang berkepandaian dan Lwekangnya
rendah, satu persatu meringis kesakitan sambil mendekap kuping serta menungging. Untunglah gelombang
tawa itu cepat sekali sirap, tahu-tahu dua orang sudah muncul dihadapan orang banyak, kedua orang aneh
ini adalah Bu-cing-so dan Siang-thian-ong.
Membara dendam dan sakit hati Ji Bun, namun lahirnya dia tetap tenang, ia insaf bahwa dirinya bukan
tandingan kedua bangkotan aneh ini.
Dalam pada itu, Siang-thian-ong dan Bu-cing-so langsung meluruk ke arah Biau-jiu Siansing serta berdiri
dikanan-kirinya, agaknya kedua bangkotan tua inipun sengaja datang hendak merebut Sek-hud di tangan
Biau-jiu Siansing itu.
5.14. Sam-Cay-Ciat ..... Penyelamat
Lekas Cip-po hwe-cu memberi tanda, bersama anak buahnya, beramai mereka mengundurkan diri turun
gunung tanpa bersuara lagi. Liok Kin tetap menggandeng tangan Pui Ci-hwi, di tengah iringan anak
buahnya, merekapun ikut mengundurkan diri.
"Orang she Liok," seru Ji Bun, "jangan harap kau bisa pergi begini mudah."
Segera ia menubruk maju pula, Li-tongcu dan seorang Tongcu yang lain segera mengadang sambil
melontarkan pukulan telapak tangan, kali ini Ji Bun sudah waspada, sembari berkelit dari damparan pukulan
lawan, ia berkisar terus balas memukul.
"Plak, plok," disusul jeritan ngeri, seketika kedua orang ini terjungkir balik dan tak bergerak lagi, jiwanya
melayang.
Cip-po hwe-cu menggerung gusar menubruk ke arah Ji Bun, kedua telapak tangannya menghantam
dengan seluruh kekuatannya. Sebagai seorang ketua dari suatu perkumpulan, sudah tentu Lweekangnya
bukan olah-olah hebatnya. Serangan yang dilandasi kemarahan ini, boleh dikata sedahsyat gugur gunung.
Betapapun lihay Ji Bun, tak urung dia terpental juga oleh gempuran sengit ini, dengan sempoyongan
akhirnya punggungnya menumbuk cagak batu darah seakan-akan bergolak di rongga dadanya.
Sementara itu, Liok Kin sudah menarik Pui Ci-hwi berlari lebih dulu diiringi anak buahnya.
"Minggir!" tiba-tiba Thian-thay-mo-ki membentak, sebelah tanganpun bekerja menghamburkan
segenggam So-li-sin-ciam (jarum sakti gadis suci), maka terdengar jerit dan keluh orang banyak saling
susul, puluhan anak buah Cip-po-hwe terguling menjadi korban, sebat sekali tahu-tahu Thian thay-mo-ki
sudah mencegat di hadapan Liok Kin.
"Orang she Liok, lepaskan dia!"
"Tidak bisa!"
"Pihak Wi-to-hwe pasti akan mengobrak-abrik sarangmu."
Sambil memicingkan kedua matanya, Liok Kin mengawasi Thian-thay-mo-ki dengan penuh gairah, Thianthay-
mo-ki segera unjuk senyum genit se¬mekar kembang dimusim semi, katanya dengan kemayu: "Siauhwecu,
agaknya kaupun amat romantis."
Liok Kin tertawa lebar, katanya: "Nona secantik bidadari, siapa yang takkan terpesona?"
Semakin manis tawa Thian-thay-mo-ki, begitu menggiurkan dengan gerak-gerik yang menarik lagi,
katanya sambil melangkah maju: "Siau-hwecu, agaknya kaupun pintar menilai dan memilih."
Tegak alis Liok Kin, katanya: "Sudah tentu, memangnya kau kira aku ini seperti anak keparat sedingin
batu itu."
"Bagus sekali," ujar Thian-thay-mo-ki, tiba-tiba ia bergerak secepat kilat mencengkeram pergelangan
tangan Liok Kin.
Lekas Liok Kin miringkan tubuh seraya menarik Pui Ci-hwi untuk menghadang di depannya, jengeknya
dingin: "Thian-thay-mo-ki, jangan kau kira aku ini sebodoh kerbau."
Gerakan Thian-thay-mo-ki begitu cepat, baru saja Liok Kin buka mulut, jari-jari tangannya sudah
menyentuh pundak Pui Ci-hwi. "Blang" tahu-tahu sekenanya Pui Ci-hwi menamparkan tangannya.
Kontan Thian-thay-mo-ki digamparnya mundur tiga langkah. Bahwa dalam keadaan linglung Pui Ci-hwi
bisa menyerang, sungguh di luar dugaan Thian-thay-mo-ki, sunguh heran dan gemas pula hatinya.
Disebelah sana Ji Bun tengah melabrak Cip-po hwe-cu dengan sengit, Cip-po hwe-cu tahu bahwa
serangan Ji Bun hanya bisa dilancarkan dalam jarak dekat, maka dia tetap mempertahankan jarak tertentu
dengan serangan Bik-khong-ciang (pukulan dari jauh), dalam waktu dekat keduanya masih sama kuat alias
setanding.
Sementara Bu-cing-so dan Siang-thian-ong tanpa berkedip mengawasi Biau-jiu Siansing, maling sakti
yang menjagoi seluruh dunia dengan gerak geriknya yang luar biasa. Selama itu kedua pihak masih sama
bertahan dalam kewaspadaan tanpa bicara, namun dalam hati masing-masing cukup mengetahui bila
menilai kepandaian silat dan Lwekang, kedua bangkotan tua ini cukup berkelebihan untuk membunuh Biaujiu
Siansing.
Bahwa kedua jago kosen ini masih mengulur waktu, karena mereka tidak berani gegabah. Sekali meleset
perhitungan orang pasti dapat melarikan diri, atau mungkin ada soal-soal lain yang dikuatirkan pula.
"Orang she Liok," teriak Thian-thay-mo-ki, "mampuslah kau!"
Sekonyong-konyong, seorang nenek tua ubanan berpakaian warna-warni muncul segesit setan
melayang. Begitu aneh dan mendadak munculnya nenek ubanan ini, sehingga tiada orang yang menyadari
kehadirannya, seakan-akan sejak tadi memang dia sudah berada di situ.
Tanpa terasa Thian-thay-mo-ki melenggong. Begitu sorot matanya bentrok dengan pandangan orang,
seketika dia bergetar seperti kena aliran listrik, serta merta dia menyurut mundur. Tatapan mata nenek tua
ini seakan-akan memiliki daya magnit yang menyedot sukma sehingga orang yang dipandang merasa
dirinya, terlalu kecil, terpencil dan patah semangat.
Sorot mata nenek tua itu menyapu ke arah Liok Kin, bibirnya yang kering tiba-tiba bergerak, katanya
dingin: "Anak kelinci, lekas lepaskan dia!"
Liok Kin patuh, cepat ia lepaskan pegangannya, seakan-akan sorot mata dan perkataan nenek tua ini
mempunyai kekuatan yang tak mampu dilawannya, lekas dia mundur ke belakang.
Berkata pula nenek berpakaian warna-warni ini: "Nenek tua hari ini tidak ingin membunuhmu, jiwa
anjingmu sementara biar kutinggalkan!"
Habis berkata dia tarik dan kempit Pui Ci-hwi terus berkelebat menghilang entah ke mana.
Thian-thay-mo-ki masih terlongong, mulutnya menggumam: "Diakah? Ya, pasti dia! Tak nyana dia juga
menjadi anggota Wi-to-hwe ........”
Lamunan Thian-thay-mo-ki buyar dikejutkan suara seseorang yang mengerang menahan sakit, waktu ia
berpaling, dilihatnya Ji Bun terhuyung-huyung sambil muntah darah, keruan serasa remuk hatinya. Tersipusipu
dia melompat ke sana sambil bertanya dengan penuh perhatian: "Bagaimana keadaanmu, Dik?"
Ji Bun mengertak gigi, dengan tangannya dia menyeka darah yang meleleh di mulutnya, sahutnya
kemudian: "Ah, tidak apa-apa."
Dalam waktu sekejap, Cip-po hwe-cu dan anak buahnya sudah lari turun gunung secepat terbang,
puluhan mayat anak buahnya ditinggalkan begitu saja.
Ji Bun mendesis penuh dendam: "Sakit hati ini pasti kubalas. Cici, mana Pui Ci-hwi?"
Berubah air muka Thian-thay-mo-ki, hatinya kecut dan mendelu, namun sikapnya tetap halus dan ramah:
"Sudah dibawa pergi orang mereka sendiri.”
Terpukul batin Ji Bun, ia sendiri tak mengerti kenapa dirinya masih perihatin terhadap keselamatan si
nona? Bukankah dia sehaluan dengan musuh?
Pikiran bekerja matapun melirik ke arah sana, dilihatnya Bu-cing-so dan Siang-thian-ong masih
mengawasi Biau-jiu Siansing saja. Sedikitpun tak pernah kendur perhatian mereka.
Sorot mata Biau-jiu Siansing lambat laun mengunjuk perasaan gelisah. Maklumlah ditatap, diawasi dan
dijaga oleh dua bangkotan silat yang lihay ini. Betapapun aneh dan lihay gerak geriknya, juga tak berani
sembarang bergerak. Sekali salah langkah dan tak berhasil meloloskan diri, nama besar dan ketenarannya
bakal runtuh total.
Beberapa kejap pula, tiba-tiba Siang-thian-ong buka suara: "Sahabat, tinggalkan Sek-hud, kau boleh
pergi sesuka hatimu."
Biau-jiu Siansing ngakak, katanya: "Kalau aku yang rendah ini turun gunung dengan bertangan kosong,
apakah tidak malu terhadap nenek moyang, sendiri?"
"Memangnya kau mampu membawanya pergi?"
"Mungkin saja."
"Boleh, silakan coba," jengek Bu-cing-so. "Lohu tak sabar menunggu lagi."
"Kenapa kalian tidak turun tangan saja?" tantang Biau-jiu Siansing malah.
Bergeming badan Siang-thian-ong yang bulat tambun bagai bola itu, katanya:" Sahabat, hati kita masingmasing
sama tahu bukan?"
Dengam bingung sekilas Ji Bun melirik Thian-thay-mo-ki, maksudnya ingin tanya apa sebetulnya yang
sedang dilakukan ketiga orang ini, kenapa selama ini mereka bertahan dan mempersoalkan siapa lebih dulu
yang harus turun tangan.
Thian-thay-mo-ki tahu maksudnya, ia geleng-geleng bahwa dirinyapun tidak tahu.
Biau-jiu Siansing angkat Sek-hud di tangannya itu, katanya menyeringai: "Apa kalian tidak memberi
keringanan kepadaku?"
"Kecuali kau tinggalkan Sek-hud itu!"
"Baiklah kutegaskan sekali lagi, barang yang sudah berada di tanganku tak mungkin kulepaskan pula."
"Jadi perlu bertahan secara berlarut-larut begini?"
"Kalau kalian punya hobby demikian, biarlah aku iringi saja."
"Jika Lohu melancarkan Thian-cin-ci-sut sekuat tenaga, sementara saudara Siang-thian-ong menyerang
dengan Siang-thian-sin-ciang, kau tahu apa akibatnya bagi dirimu?"
"Cayhe yakin pasti dapat gugur bersama dengan salah satu di antara kalian."
"Umpama benar begitu, lalu apa yang dapat kau peroleh?"
"Memangnya apa pula yang bisa kalian dapatkan?"
Ji Bun benar-benar bingung dan tak mengerti akan percakapan mereka. Mungkinkah Biau-jiu Siansing
memiliki ilmu mematikan yang masih disimpannya. Begitu hebatkah ilmunya itu sampai dia tidak gentar
menghadapi kedua lawan tangguh ini?
Firasat lain membuat Ji Bun semakin bingung dan tak habis mengerti pula. Barusan dia terpukul luka
parah sampai muntah darah oleh Bik-khong-chiang Cip-po hwe-cu. Namun sekarang dia rasakan dadanya
longgar, darah mengalir seperti biasa tiada tanda-tanda terluka.
Belum lagi dia minum obat, juga tidak mengerahkan tenaga murni untuk berobat, namun luka-luka
dalamnya sembuh sendirinya, apa pula yang terjadi atas dirinya? Sudah tentu dia tidak bisa mengemukakan
perasaannya ini, hanya dalam hati saja ia bertanya-tanya.
"Maling cilik," kata Siang-thian-ong kuatir, apa kau ingin gugur bersama Sek-hud?"
Sahut Biau-jiu Siansing tanpa pikir: "Betul, namun satu diantara kalian atau keduanya juga pasti ikut
menjadi korban."
"Memang aku sudah bosan hidup, tak jadi soal jika aku iringi kematianmu,” ujar Siang-thian-ong.
"Ha ha ha ha, setimpal, aku yang rendah ini mendapat iringan seorang gembong silat masuk liang kubur,
matipun takkan menyesal."
"Nah, siaplah, Lohu akan turun tangan!"
Pada saat itulah tiba-tiba sebuah suara serak dengan nada yang kuat berkata: "Orang mati meninggalkan
nama, kalau maling tua harus mampus secara demikian, memang tenteramlah arwahmu di alam baka!"
Suara lenyap orangnyapun muncul, kiranya seorang laki-laki berpakaian pelajar warna biru sepasang
matanya memancar terang, namun roman mukanya rada pucat sehingga berlawanan dengan sorot
matanya, tangannya memegang kipas yang besar, di punggungnya menggemblok sebuah kantong atau tas
pelajar.
Biau-jiu Siansing melirik kepada pendatang ini, katanya: “Saudara ini orang kosen dari mana?"
Pelajar pertengahan umur itu membentang kipasnya serta melingkupkan pula, katanya: "Cayhe adalah
Jit-sing-ko-jin (orang lama dari Jit-sing)."
"Apa? Jit-sing-ko-jin?" seru Biau-jiu Siansing.
"Belum pernah kudengar."
"Maling tua, kau bisa mencuri segala benda di dunia ini, namun belum tentu mengenal semua tokohtokoh
tenar di jagat ini."
"Ehm, ya, memang betul."
Mendengar pelajar ini menyebut dirinya sebagai “orang lama dari Jit-sing", bergetar badan Ji Bun. la
dilahirkan di Jit-sing-po, sedang ayahnya adalah Jit-sing po-cu. Bahwa orang ini mengatakan dirinya juga
orang dari Jit-sing, memangnya dia ada hubungan dan sangkut paut dengan Jit-sing-po? Dengan cepat dan
cermat otaknya bekerja, membayangkan kembali bayangan orang ini, apakah pernah dilihat atau
dikenalnya, namun tiada membawa hasil.
Yang terbayang justeru tragedi yang mengerikan dengan pembantaian besar-besaran dari seluruh
penghuni Jit-sing-po itu, betapa dendam hatinya. Kini ibunyapun belum diketahui parasnya, hati terasa pilu
dan sedih. Musuh besar dihadapan, namun ia tidak mampu berbuat apa-apa, sampai asal usul diri sendiri
juga harus dirahasiakan.
Betapa derita siksa batin ini sungguh tak terlukiskan dengan kata. Ini hanya perubahan pikiran batinnya,
sudah tentu Thian-thay-mo-ki tidak tahu akan hal ini, karena dia tidak tahu riwayat hidup Ji Bun.
Sorot mata Jit-sing-ko-jin yang tajam itu sekilas melirik juga ke arah Ji Bun. Begitu saling ber¬adu mata,
serta merta bergetar perasaan Ji Bun, didapatinya sinar mata yang berkilat ini sayup-sayup mengandung
nafsu membunuh yang membara.
Tatapan orang sudah beralih, namun jantung Ji Bun masih berdebur keras, diam-diam ia bertanya, dalam
hati kenapa pelajar pertengahan umur ini menatap dirinya sedemikian rupa?
"Dik, kau tahu asal usul orang ini?" Thian-thay-mo-ki berbisik di sampingnya.
"Entah, aku tidak kenal."
"Orang ini kelihatannya bukan orang baik-baik."
"Kurasa memang demikian."
Jit-sing ko-jin tertawa lebar, katanya:"Siapapun berhak mendapat bagian di dalam memperoleh bendabenda
mestika, agaknya kedatanganku ini tidak akan sia-sia."
Tanpa berjanji Siang-thian-ong dan Bu-cing-so melirik ke arah Jit-sing-ko-jin, sorot matanya merasa
sebal, jijik dan menghina.
"Jit-sing-ko-jin," kata Biau-jiu Siansing. "pertaruhan apa yang kau siapkan?"
"Pertaruhan?"
"Ya, memangnya ada orang bisa memperoleh sesuatu tanpa mengeluarkan pengorbanan?"
"Bagaimana pendapat tuan, apa yang harus kupertahankan?"
"Lebih baik mengundurkan diri saja."
"Kalau tidak?"
"Tuan akan menyesal setelah kasip."
"Selamanya aku tak pernah mengenal arti menyesal."
"Hari ini kau akan meresapinya."
"Maling tua, bicara terus terang, keadaanmu sekarang seumpama naik di punggung harimau. Ingin
memiliki Sek-hud, juga ingin mempertahankan jiwa, betul tidak?"
"Kata-kata saudara setajam jarum menusuk ulu hatiku."
"Maka kunasehati kamu untuk menyerahkan barang itu saja."
"Ucapan saudara tidak enak didengar."
"Jadi kau ingin gugur bersama Sek-hud?"
"Kalau ada orang lain ingin mengiringi kematianku, Lohu tidak akan menolak."
Pandangan Jit-sing-ko-jin beralih ke arah Bu-cing-so, katanya dingin: "Cianpwe adalah tokoh yang
berbudi luhur dan terpandang, hitam dan putih jarang ikut campur, apakah kau juga kepingin memiliki Sekhud?"
"Disini tiada hakmu ikut bicara," sela Bu-cing-so sambil mengulap tangan. "Lebih baik kau lekas pergi
saja."
Jit-sing-ko-jin mendengus dingin, katanya: “Cianpwe kalau bicara harap sopan sedikit. Selamanya aku tak
sudi diancam atau diusir. Manusia boleh dibunuh pantang dihina."
"Jangan kau jual tampang dihadapanku, dalam kalangan Bulim mengutamakan tingkatan dan menunjung
tinggi peradaban, kau ini kurangajar terhadap orang yang lebih tua."
"Tahu diri untuk dihormati yang lebih muda, Cianpwe sendiri kemaruk akan Sek-hud, jelas sudah
kehilangan harga dirimu."
"Berani kau memperingatkan aku orang tua? siapa gurumu?"
"Kukira tak perlu kukatakan."
"Kau memang perlu dihajar adat."
"Aku tidak akan menyingkir."
Saking marah seolah-olah berdiri rambut Bu-cing-so. Telapak tangannya segera mendorong ke arah Jitsing-
ko-jin. Segulung angin bagai gelombang segera mendampar ke arah Jit-sing-ko-jin, begitu lihay pukulan
ini, sayup-sayup seperti terdengar bunyi gemuruh.
Jit-sing-ko-jin segera memapak dengan pukulan. “Pyaaar!" ditengah ledakan yang dahsyat, hawa panas
menjadi bergolak. Kekuatan yang saling ber¬hantam laksana guntur menggetar bumi, kontan Jit-sing-ko-jin
tergentak mundur dua langkah.
Ji Bun dan Thian-thay-mo-ki sama-sama tersirap kaget, bahwa Jit-sing-ko-jin mampu mengadu kekuatan
pukulan dengan Bu-cing-so tanpa terluka sedikitpun. Betapa tinggi Lwekangnya rasanya sukar dicari jagojago
kosen setinggi ini di dalam Bulim.
Bu-cing-so terkekeh, katanya: "Tak nyana kau punya kepandaian juga, tak heran kau bersikap garang
dan tidak tahu aturan. Nah, sambut lagi pukulan ini," kembali ia kerjakan tangannya, damparan angin
pukulan bagai gugur gunung laksana sambaran halilintar menggulung ke arah Jit-sing-ko-jin. Kekuatan
pukulan kedua ini terang jauh lebih hebat dan mengejutkan daripada pukulan pertama.
Bayangan biru berkelebat, tahu-tahu Jit-sing-ko-jin berkisar dan menyingkir ke samping, gerakannya
aneh seperti setan, betapa gesit dan cepat gerak tubuhnya, sungguh mengejutkan.
Dalam waktu yang sama, terdengar Siang-thian-ong membentak: "Lari ke mana!"
Waktu Ji Bun berpaling, bayangan Biau-jiu Siansing sudah tidak kelihatan lagi. Betapa cepat gerakan si
maling tua ini, sungguh tiada bandingan di dunia ini.
Demikian pula Siang-thian-ong juga lenyap dalam sekejap itu, Bu-ciang-so meninggalkan Jit-sing-ko-jin
dan ikut mengejar ke bawah gunung. Kini tinggat Jit-sing-ko-jin, Ji Bun dan Thian-thay-mo-ki bertiga
dengan puluhan mayat anak buah Cip-po-hwe.
Hati Ji Bun mendelu dan masgul, sebetulnya ia hendak tanya tentang anting-anting batu pualam yang
direbut orang itu kepada Biau-jiu Siansing. Namun orang yang dicarinya sekarang sudah pergi, untuk
menemukan pula tentu amat sulit karena maling tua ini pandai menyamar dan merubah diri, ginkangnya
tinggi Lwekangnya hebat, umpama betul-betul bersua juga belum tentu dirinya bisa mengenalinya.
Apalagi siapa dia dan bagaimana asal usulnya, mungkin tiada seorangpun dalam bulim ini yang tahu.
Untuk mengejarnya, jelas tidak mungkin.
"Dik," kata Thian-thay-mo-ki lesu, "marilah pergi."
"Nanti dulu," tiba-tiba Jit-sing-ko-jin bersuara hambar.
Tergerak hati Ji Bun, katanya dengan suara lebih dingin: "Tuan ada petunjuk apa?"
Beberapa kali sorot mata setajam kilat dari Jit-sing-ko-jin menatap Ji Bun, katanya sekata demi sekata:
"Kau inikah Te-gak Suseng? Kabarnya orang yang kau bunuh tidak meninggalkan bekas-bekas luka?"
"Apa maksud tuan?"
"Aku ingin mencobanya."
"Tuan mempertaruhkan jiwa sendiri?"
"Anggaplah begitu."
"Aku tidak ingin membunuh orang tanpa alasan."
"Anak muda, jangan takabur dan mengagulkan diri."
Selama beberapa hari ini, memangnya Ji Bun selalu uring-uringan, rasa dendam dan kebenciannya tidak
terlampias, karena tantangan Jit-sing-ko-jin ini seketika terbakar amarahnya, katanya mendesis: "Tuan
agaknya sengaja mencari perkara?"
Acuh dan dengan nada menghina Jit-sing-ko-jin berkata: "Mencari perkara? Hm, kau belum setimpal, aku
hanya ketarik dan ingin menjajal saja, biar kuuji sampai di mana kemampuanmu."
Watak nyentrik Ji Bun yang terpendam dan ditekan selama ini tak tertaharkan lagi, katanya mendelik:
"Sekali lagi kunyatakan, jangan tuan main-main dengan jiwamu.”
"Ha ha ha, si tua Bu-cing-so bangkotan itu toh tak mampu berbuat apa-apa terhadapku, kau ini terhitung
apa?"
"Jadi kau ini betul-betul ingin mampus?"
"Hayolah coba!"
Tak tahan lagi, Ji Bun melejit maju, secepat kilat ia menerjang lawan sambil melancarkan ilmu mujijat
yang mematikan itu. Jit-sing-ko-jin memperdengarkan tawa dingin, tidak menyingkir tidak menangkis.
Ternyata ilmu mujijat yang dilancarkan Ji Bun kali ini kehilangan daya keampuhannya terhadap orang
yang satu ini, keruan darahnya tersirap. Kembali ada seorang yang gentar dan kebal terhadap ilmunya yang
ditakuti itu, seketika dia melenggang.
“Blang," dada Ji Bun malah kena di hantam hingga jungkir balik, dengan mengerang keras Ji Bun
terpental menumbuk batu besar belakang sana. Badannya membal pula, terus terguling-guling, darah
mengucur dari hidung dan menyembur dari mulut.
Thian-thay-mo-ki memekik kuatir, kedua tangannya segera merogoh saku. Namun Jit-sing-ko-jin
bergerak lebih cepat, sambil menyeringai tahu-tahu ia sudah pegang dan tutuk Hiat-to Thian-thay-mo-ki
dengan lemas Thian-thay-mo-ki roboh terkulai. Sekali lompat Jit-sing-ko-jin menghampiri Ji Bun serta
mencengkeram dadanya terus dibawa lari ke jurang di belakang sana. Dari jauh ia ayun tangan terus
dilemparkan Ji Bun sekuatnya.
Hiat-to Thian-thay-mo-ki tertutuk, badan lunglai tak mampu bergerak, tapi ia melihat Ji Bun dilempar ke
jurang. Matanya seketika mendelik, hatinya remuk rendam, dendam dan gusar seketika merangsang
perasaannya. "Huuuuab!” sekumur darah tersembur dari mulutnya.
Jit-sing-ko-jin lompat kembali ke tempatnya, dengan nanar dan penuh nafsu ia pandang tubuh Thianthay-
mo-ki, sekejap ia berdiam diri, sorot matanya semakin liar diliputi nafsu binatang.
Dari sorot mata orang, Thian-thay-mo-ki sudah merasakan firasat jelek, jalan pikiran orang sudah dapat
dirabanya, namun ia tak mampu melawan, tahu-tahu pandangan menjadi gelap, hampir saja ia jatuh
semaput, badan tak mampu bergeming, namun mulutnya masih bisa bersuara, teriaknya dengan suara
memekik: "Kau ......... apa yang kau inginkan?"
Mulut Jit-sing-ko-jin terpentang lebar sambil ngakak kegirangan, namun dalam pendengaran Thian-thaymo-
ki, gelak tawa orang laksana setan iblis yang penuh nafsu, amat menakutkan sekali.
"Bret," baju di depan dadanya tiba-tiba dirobek, dada seketika terasa dingin, "bukit" halus nan licin
montok seketika terpampang di depan mata.
"Ha ha ha! He he he!" Jit-sing-ko-jin bergelak-tawa sepuasnya, "hidangan senikmat ini, kenapa disia-sia
kan, tak percuma perjalananku ini."
Seolah-olah manusia yang dibeset kulitnya hidup-hidup, demikian perasaan Thian-thay-mo-ki saat itu,
sukma serasa terbang ke awang-awang. Jari-jari iblis mulai merogoh celananya. Seumpama kematian yang
paling sadis, juga tidak lebih menakutkan dari kenyataan yang sedang dihadapi Thian-thay-mo-ki ini.
Lidahnya serasa kaku tak mampu bersuara pula, mukanya pucat pias, bibirnya bergetar menahan isak
tangis, jantung terasa hampir meledak. Sepasang matanya yang biasa suka melerok genit menawan sukma
laki-laki, kini mendelik sebesar kelereng seakan-akan melotot keluar.
Pada saat-saat kritis itulah, tiba-tiba Jit-sing-ko-jin menarik tangan seraya mundur, dengan tertegun dia
awasi sebuah cincin tiga lubang yang terikat di pinggang Thian-thay-mo-ki, terdengar mulutnya
menggumam: "Sam-cay-ciat. Dia ini muridnya .......”
Sorot matanya berubah dan berubah lagi, agaknya dia berat meninggalkan daging gemuk yang nikmat
dan dapat dilalapnya dengan mudah ini, namun dia kuatir dan jeri ........
Thian-thay-mo-ki kerahkan seluruh kekuatannya dengan kepandaian khas perguruannya untuk menjebol
Hiat-to yang tertutuk. Walau usahanya ini mungkin gagal dan sia-sia, namun bagi seseorang yang sudah
kepepet di jalan buntu, setitik harapanpun takkan dilepaskan begitu saja. Begitu merasakan perubahan sikap
dan rona muka orang, segera dia berkata: "Jangan kau memburu nafsu binatang saja, kelak kau akan
mendapat pembalasan setimpal."
Jit-sing-ko-jin tenggelam dalam pemikiran, tanpa berkata pula, tiba-tiba dia tutul kakinya terus melayang
pergi.
Seumpama lolos dari renggutan elmaut, Thian-thay-mo-ki menarik napas lega, sukma yang sudah
terbang melayang seperti kembali pula keraganya. Usaha menjebol tutukan Hiat-to segera dipergencar, kirakira
segondokan air, pelahan Hiat-tonya mulai lancar seperti biasa. Dia merangkak bangun sambil menutupi
dadanya, air mata tak tertahankan lagi bercucuran dengan deras.
Dia teringat akan nasib Ji Bun, sungguh tak nyana begitu mengenaskan kematiannya. Begitu besar dan
murni cintanya kepada Ji Bun, selama ini ia mengharapkan imbalan cinta yang sama dari perubahan sikap Ji
Bun yang selama ini bersikap dingin terhadapnya. Sekarang harapannya menjadi impian kosong belaka.
Mengangkat langkah rasanya seberat ribuan kati, pelahan dia menghampiri pinggir jurang, bukan
kepalang rasa pilu dan sedih hatinya, ia duduk, di atas batu, mata mendelong mengawasi jurang yang tidak
kelihatan dasarnya itu, hatinya semakin luluh, pikirannya menjadi butek dan kosong.
Air mata sudah membasahi pakaiannya, hembusan angin melambaikan rambutnya yang awut-awutan.
Entah berapa lama dia melamun seorang diri memikirkan nasibnya.
Tiba-tiba sebuah suara serak yang kuat berkata disampingnya: "Apakah nona ini Thian-thay-mo-ki?"
Thian-thay-mo-ki tersentak dari lamunannya, dengan kaget ia berpaling, "Hah!" Mulutnya menjerit kaget,
serta merta badannya melejit mundur beberapa kaki.
5.15. Kakek Aneh Di Dasar Jurang
Ternyata dihadapannya entah sejak kapan sudah berdiri seorang berkedok berjubah sutera. Orang inilah
yang pernah turun tangan dan memukul Ji Bun. Dengan senjata rahasia Jit-swan-hwi-jim tempo hari ia
pernah melukai kepala orang ini, namun Ji Bun tidak percaya akan ceritanya itu.
Apakah orang ini pula? Dengan tajam ia awasi orang dihadapannya ini, pandangannya terakhir berhenti
di atas kepala orang. Namun karena tertutup kerudung tak mungkin ia bisa melihatnya apakah ada codet
bekas luka di atas kepala orang ini.
Terdengar orang berkudung itu berkata pula : "Apakah nona adalah Thian-thay-mo-ki?"
Terpaksa Thian-thay-mo-ki menjawab dengan suara gagap: "Betul, tuan ....”
“Nona kenal Te-gak Suseng?" potong orang berkerudung.
Remuk rendam hati Thian-thay-mo-ki, tanpa sadar tangannya merogoh kantong senjata rahasianya,
sahutnya: "Kenal, tuan ada perlu apa?"
"Aku sedang mencarinya."
"Apa? Tuan ...... mencarinya?"
"Ya, kudengar orang mengatakan dia bersama nona menuju kemari, maka kususul ke sini."
Thian-thay-mo-ki mengertak gigi, tanyanya: "Apa maksud tuan mencarinya?"
Sejenak orang berkedok berpikir, lalu katanya dengan nada serius: "Apakah nona tahu hubungannya
dengan Lohu?"
Tergerak hati Thian-thay mo-ki, tanyanya: "Mohon diberitahu."
"Kami adalah ayah beranak."
Bergetar sekujur badan Thian-thay-mo-ki, ia menegas dengan suara gemetar: "Ayah beranak?”
"Ya, di mana dia sekarang?"
"Dia ..... sudah meninggal."
“Apa?" teriak orang berkedok beijingkrak seperti orang gila, "katakan sekali lagi."
Dengan menahan isak tangis dan kepiluan hatinya, Thian-thay-mo-ki mengulang sekali lagi "Dia sudah
meninggal."
Terhuyung badan orang berkedok, teriaknya seperti orang kalap: "Bagaimana dia bisa mati?"
Sebetulnya Thian-thay-mo-ki amat heran dan curiga, namun rasa sedih sudah merasuk perasaannya
sehingga pikirannya tidak jernih, katanya dengan geram: "Dia terpukul luka parah oleh seorang yang
mengaku sebagai Jit-sing-ko-jin, lalu dilempar ke jurang."
Bergoyang gontai badan orang berkedok, seperti hampir tersungkur jatuh, dengan berlinang air mata ia
mengawasi bawah jurang. Lama sekali baru tercetus kata-kata dari mulutnya: "Orang macam apakah Jitsing-
ko-jin itu?"
"Entahlah, di kalangan Kangouw belum pernah kudengar nama julukan orang ini."
"Bagaimana perawakan dan raut wajahnya?"
"Berpakaian jubah biru mirip pelajar berusia setengah umur, mukanya pucat, sorot matanya tajam buas,
sorot mata dan rona wajahnya amat berbeda, mudah dikenali, namun ..........”
"Namun bagaimana?"
Menurut penglihatanku, agaknya dia mengenakan kedok muka atau menyamar dengan obat-obatan!"
"Oh," orang berkedok bersuara dengan mulut melongo, lalu katanya pula: "Lohu akan perhatikan, dia
takkan lolos dari tanganku, aku bersumpah menuntut balas kematian puteraku. Nona, belum lama ini
anakku itu memberitahu kepadaku, katanya ada orang menyaru diriku dan menurunkan tangan jahat
kepadanya, tentunya nona tahu akan kejadian ini?"
Tanda tanya yang selama ini mengganjel hati Thian-thay-mo-ki kini disinggung oleh orang berkedok,
naga-naganya seperti dugaan Te-gak Suseng, memang ada seseorang yang menyaru ayahnya untuk
mempermudah turun tangan membunuhnya, maka dia mengangguk, sahutnya; "Ya, malah kusaksikan
sendiri."
Kembali orang berkedok tepekur sekian lama, katanya kemudian dengan setengah terisak: "Apakah nona
barusan bergebrak dengan orang?"
Bahwa dirinya hampir diperkosa orang sudah tentu malu diceritakan, namun rasa kebencian masih
menjalari nuraninya, katanya dengan geram; "Ya, orang yang mengaku sebagai Jit-sing-ko-jin itulah."
"Mana dia?"
"Belum lama dia pergi."
"Sampai keujung langitpun kubersumpah akan mencarinya untuk membayar utang jiwa puteraku, Nona,
agaknya kau menaruh hati terhadap puteraku?"
Tersentuh perasaan Thian-thay-mo-ki, hampir saja ia menangis gerung-gerung, ia hanya manggutmanggut
saja, tenggorokan seperti tersumbat sesuatu, sepatah kata pun tak kuasa diucapkannya.
Orang berkedok menghela napas, katanya rawan: "Begini besar dan suci murni cinta nona, sayang
anakku itu tak berumur panjang. Karma menghendaki demikian, apa pula yang bisa Lohu katakan."
Tak tertahan bercucuranlah air mata Thian-thay-mo-ki.
Orang berkedok berkata pula dengan mengertak gigi: "Maaf nona, pikiran Lohu amat kusut, biarlah kita,
bertemu lain kesempatan saja.
Lohu harus segera berusaha menemukan jenazahnya...." belum habis bicara ia sudah lari turun ke bawah
gunung, langkahnya kelihatan sempoyongan.
Tiba-tiba Thian-thay-mo-ki ingat kenapa tadi lupa tanya nama gelaran orang. Ia amat mencintai Ji Bun,
kini orang yang dicintai sudah meninggal, namun bagaimana asal usulnya sedikitnya ia tidak tahu, tak
ubahnya seperti orang asing yang tidak dikenalnya sama sekali, sampaipun siapa she dan namanyapun dia
tidak tahu, sungguh lucu dan tragis pula.
Pelahan ia duduk kembali di tempatnya tadi, dengan kaku ia tetap mengawasi bawah jurang. Dasar
jurang yang tidak kelihatan diliputi kabut nan gelap, pikirannyapun semakin butek dan kosong pula ...........
o0o
Kini marilah kita ikuti nasib Ji Bun yang terpukul luka parah dan dilempar ke jurang oleh Jit-sing-ko-jin
itu.
Pada detik-detik gawat waktu badannya melayang-layang di udara itulah, setitik sinar terang yang masih
sempat merasuk pikirannya adalah bahwa dirinya bakal terbanting hancur lebur di dasar jurang. Begitu
parah sekali luka-lukanya sampai tenaga untuk bergerakpun tak mampu, maka ia tinggal terima nasib saja
membiarkan dirinya meluncur ke bawah, akhirnya iapun kehilangan kesadaran.
Entah berapa lama kemudian, tiba-tiba kupingnya mendengar seruan kaget. Dalam keadaan sadar tak
sadar, seruan kaget itu terdengar jelas dalam hati Ji Bun, namun reaksinya begitu lembut laksana angin
menghembus permukaan air sehingga cuma menimbulkan sedikit gelembung air belaka, lalu lenyap dalam
sekejap mata.
"Ternyata dia masih hidup .........” Kembali kupingnya mendengar perkataan ini, dalam keadaan setengah
sadar lambat laun pikirannya menjadi sedikit jernih. Ia ingin membuka mata, namun kelopak matanya
rasanya seberat ribuan kati, sekuat tenagapun tak mampu ia membukanya, namun kini ia sudah mulai sadar
betul-betul.
"Apakah aku tidak mati?" demikian pikir Ji Bun, entah betapa lama lagi, hawa murninya yang semula
keruh pelan-pelan mulai jernih dan mengalir lancar pula. Baru sekarang dia kuat membuka sedikit kelopak
matanya, sinar terang yang remang-remang cukup menyilaukan matanya.
Agak lama pula baru dia bisa menyesuaikan keadaan terang dan bisa melihat jelas. Itulah dinding batu
yang licin mengkilap mengelilingi sekitarnya. Akhirnya iapun menyadari bahwa dirinya berada di dalam
sebuah gua batu.
"Aku ..... masih hidup!" ia berteriak kegirangan seperti putus lotre, namun suaranya begitu lemah sampai
ia sendiri tak mendengarnya. Ia hanya merasa bahwa dirinya barusan sudah berteriak sekeras-kerasnya.
"Buyung, takdir belum menentukan kau mampus, hampir mati tapi belum meninggal."
Dia jelas mendengar perkataan ini, suara serak tua dan bertenaga, dengan seluruh tenaga ia coba
berpaling, di mana sorot matanya memandang, seketika jantung serasa meloncat keluar. Ternyata di atas
tanah hanya beberapa kaki jauhnya dari tempatnya rebah, duduk bersimpuh "seekor" makhluk aneh, rambut
ubanan panjang menyentuh bumi, sampaipun jambangnya juga sudah ubanan dan panjang menutupi
selebar mukanya.
Hanya sepasang mata berkilat yang menembus keluar dari balik rambutnya. Jika makhluk aneh ini tidak
bersuara, sungguh Ji Bun takkan mau percaya bahwa makhluk ini adalah manusia.
Kini Ji Bun sudah yakin bahwa dirinya memang masih hidup, rasa senang di luar dugaan merangsang
hatinya sehingga mendatangkan kekuatan luar biasa. Sekuat tenaga ia membalik badan terus merangkak
bangun dengan kedua tangan me¬nahan tanah, walau badan bergoyang gontai dan gemetar, akhirnya ia
dapat berduduk juga.
Lama sekali ia terlonggong mengawasi orang aneh ini, akhirnya baru bersuara setelah tenangkan diri:
"Apakah Locianpwe yang menolong Wanpwe?"
Suara orang aneh yang menggetar telinga berkata; "Buyung, malah Locu yang hampir saja mampus
ditanganmu."
Ji Bun melongo, tanyanya tak mengerti: “Ini..... ini .... bagaimana mungkin?"
"Tanganmu yang beracun itulah!"
Tersirap darah Ji Bun, baru sekarang Ji Bun betul-betul sadar bahwa tangan kirinya yang selama ini ia
sembunyikan di dalam baju kini sudah terjulur, dengan tertegun ia mengawasi orang aneh ini tanpa
bersuara lagi.
Untuk pertama kali inilah rahasia dirinya betul-betul terbongkar. Tangan berbisa, tangan kirinya yang
beracun jahat ini sejak mula ia sembunyikan di dalam baju, dibagian ketiak dia bikin sebuah lubang,
dibagian luar terselubung oleh lengan baju yang menjuntai kosong, maka orang-orang yang tidak tahu
mengira dirinya seorang buntung.
Di waktu ia bergebrak melawan musuh, jika ada kesempatan mendekat, tangannya itu bisa menjulur
keluar melalui lubang baju dan cukup menyentuh sedikit badan lawan saja segera akan merenggut jiwa
orang. Selama ini rahasia ini belum diketahui siapapun, dan yang penting semua korban itu tidak kelihatan
terluka juga tidak nampak keracunan.
Orang aneh itu berkata pula: "Buyung, kalau dugaan Locu tidak meleret, racun yang lengket di tanganmu
itu adalah Bu-ing-cui-sim-jiu (tangan penghancur hati tanpa bayangan) yang paling ganas masa kini."
Kaget dan heran pula Ji Bun dibuatnya, katanya gemetar: "Memang tepat dugaan Locianpwe, memang
betul inilah Bu-ing-cui-sim-jiu."
Terpancar sorot mata dingin yang berkilauan dari kedua biji mata orang aneh, katanya dengan suara
berat: "Kau bisa meyakinkan ilmu beracun yang sudah lenyap ratusan tahun dari Bu-lim, jelas kau bukan
orang baik-baik, seharusnya Locu membunuhmu ......”
Hampir pecah nyali Ji Bun, dengan ketakutan ia meronta berdiri sambil mundur mepet dinding, bayangan
kematian melingkupi sanubarinya pula.
Pandangan orang aneh beralih mengikuti gerak geriknya, tatapannya tertuju kemukanya, lama sekali,
baru terdengar dia menggumam: “Kulihat kau ini berbakat dan cerdik pandai tak mirip orang jahat atau
kaum durjana......"
Ji Bun diam saja, dengan melongo ia balas pandang orang, namun hatinya bekerja mencari daya,
agaknya orang aneh ini tadi sudah menyentuh tangan kirinya, namun dia tidak apa-apa, malah bisa
menguraikan asal usul ilmu beracun yang dia yakinkan itu, terang orang aneh ini adalah tokoh yang luar
biasa. Untuk merenggut jiwanya, tentunya segampang membalikkan telapak tangan belaka. Kalau memang
demikian nasibnya, laripun tiada gunanya.
"Anak muda, kau dari perguruan mana?"
Ji Bun berpikir-pikir, katanya kemudian: "Jit-sing-pang"
"Pernah apa kau dengan Jit-sing-lo-jin?"
"Beliau adalah kakekku."
"Sekarang siapa yang menjabat sebagai Ciangbunjin?"
"Ayahku sendiri."
"Menurut apa yang kutahu. Jit-sing-lo-jin adalah seorang jujur dan luhur budi, berjalan lurus tak pernah
melakukan kejahatan, apa lagi menggunakan racun lalu dari mana kau mempelajari ilmu beracun ini?"
"Di ...... di.... diajarkan oleh ayah."
Orang aneh ini terpekur sekian lamanya pula, akhirnya berkata dengan nada sunggguh-sungguh:
"Menurut apa yang kuketahui, bisa Bu-ing-cui-sim-jiu ini teramat jahat dan paling beracun diseluruh jagat.
Orang yang terkena tidak menunjukkan tanda-tanda keracunan, namun begitu racun menyentuh badan,
segera menyerang jantung. Dan orang yang sempurna meyakinkan Bu-ing-cui-sim-jiu ini hanya seorang
tokoh yang bernama Kwi-kian-jiu (setanpun sedih melihatnya) yang hidup dua ratus tahun yang lalu. Konon
Kwi-kian-jiu akhirnya terbakar binasa dan tidak punya murid keturunan, apakah ayahmu mendapatkan Tokkeng
(kitab racun) peninggalannya?"
Ji Bun mengiakan dengan rasa was-was.”
"Tahukah kau bagi setiap insan yang meyakinkan Bu-ing-cui-sim-jiu ini selama hidupnya takkan bisa
disembuhkan lagi?"
"Ini ..... entahlah .........”
"Agaknya bapakmu itu manusia yang tak kenal perikemanusiaan, dia membiarkan dan menurunkan ilmu
beracun yang jahat ini kepada putera sendiri, masa depanmu tentu amat suram."
"Tapi Wanpwe selalu membawa obat penawarnya," ujar Ji Bun.
"Obat itu hanya bisa menawarkan orang lain yang terkena racunmu, namun racun yang mengeram
dalam tubuhmu sendiri tak mungkin ditawarkan lagi."
"Ah, mana mungkin?"
"Lohu hanya dengar cerita ini dan belum pernah menyaksikan Tok-keng itu, menurut cerita para orang
tua, bila Bu-ing-cui-sim-jiu sempurna diyakinkan racun dan jiwa raga orang yang meyakinkan akan terlebur
menjadi satu, kecuali kalau kau kutungi tanganmu sendiri, selama hidup racun ini takkan tawar dari tak bisa
disembuhkan."
Seperti kejeblos ke dasar lautan yang dalam dan dingin, perasaan Ji Bun serasa membeku. Jika
kenyataan memang demikian, hidupnya ini boleh terhitung sia-sia belaka, tiada masa depan yang bisa dia
harapkan, namun mungkinkah seorang ayah kandung tega merusak dan menjerumuskan darah daging
sendiri? Atau mungkin ayah sendiri tidak tahu akibat dari meyakinkan ilmu beracun ini?
Memang sejak dia mayakinkan ilmu ini, belum pernah ia dengar ayahnya membicarakan soal ini, hanya
pernah diberitahu, bila ilmu ini berhasil diyakinkan, tiada orang lagi di kolong langit ini yang bisa menandingi
dirinya. Namun ia pernah diperingatkan untuk tidak saling bersentuhan kulit dengan siapa saja, dan
kenyataan membuktikan ilmunya ini tidak seperti apa yang dikatakan ayahnya yakni tiada bandingannya di
jagat.
Kalau menghadapi seorang jago silat yang memiliki Lweekang tinggi, jika tidak saling gebrak, Tok-jiu
atau tangan beracunnya itu pasti kehilangan daya ampuhnya. Buktinya tadi ia dilukai dan terlempar ke
dalam jurang ini.
Jika sang ayah sudah tahu akibat yang akan timbul setelah meyakinkan ilmu ini, namun dirinya masih
disuruh pergi ke Kayhong untuk melamar puteri keluarga Ciang, lalu apa pula maksud tujuannya? Tanpa
sebab dan tak karuan juntrungan, ditengah jalan dirinya malah kepincut kepada Pui Ci-hwi, bukankah sepak
terjangnya belakangan ini terlalu brutal dan menggelikan?
Pikirannya lantas mengenang kembali pada masa-masa diwaktu dirinya berlatih ilmu beracun ini masih
segar dalam ingatannya. Waktu itu dia baru berusia delapan tahun, setiap hari dia rendam tangannya di
dalam air obat, lalu menelan obat pemunahnya setiap jangka waktu tertentu, pada waktu-waktu tertentu
pula bersemadhi mengerahkan hawa murni sesuai apa yang dipelajari dari penuturan ayahnya.
Sepuluh tahun penuh dia berlatih dengan giat baru ilmunya itu berhasil diyakinkan. Namun selama ini
belum pernah mendapat penjelasan dari ayahnya cara bagaimana dia harus memunahkan racun dan
Lwekang dari ilmu yang dipelajarinya ini. Apakah kenyataan memang sesuai apa yang diuraikan orang aneh
ini? Hal ini bukan saja menakutkan, malah boleh dikatakan terlalu kejam dan diluar perikemanusiaan.
"Buyung, kau tidak percaya?"
"Bukan ....... bukan tidak percaya," sahut Ji Bun tergugup, "namun sukar percaya ........"
"Ya, kelak kau boleh mencobanya."
"Kenapa Locianpwe sendiri tidak takut terhadap racunku ini?"
"Lohu sudah berhasil meyakinkan Kim-kong-sin-kang, seratus macam racun juga tidak mempan terhadap
diriku."
Kejut dan tersirap darah Ji Bun, sungguh tak kira orang aneh dihadapannya ini ternyata berhasil
meyakinkan Kim-kong-sin-kang, ilmu mujijat yang pernah didengarnya di dalam dongeng, mungkin di dalam
Bu-lim masa kini, orang tua aneh ini sudah tiada tandingan lagi, namun dalam hati ia tetap tak mengerti.
"Racun ini tak berwarna dan tak berbau, darimana Locianpwee bisa tahu?"
"Walau racun ini tak berwarna dan tak berbau namun pasti ada reaksinya bagi setiap orang yang terkena
racun ini."
"Oh, ya, mohon tanya siapa nama gelaran Locianpwe yang mulia?"
"Nama gelaranku sudah lama, kulupakan."
"Wanpwe dilempar ke dasar jurang ini, bagaimana Cianpwe bisa menolongku sehingga tidak terjatuh
hancur dari atas?"
"Akar-akar rotan menjalar di dinding gunung itulah yang menolong jiwamu dan tiada sangkut pautnya
dengan Lohu, anggaplah nasibmu yang belum ditakdirkan menemai ajal. Namun daya luncurmu meski
teralang oleh akar rotan baru kemudian terbanting jatuh dan terhindar dari hancur lebur. Kenyataan waktu
itu kau betul-betul sudah mati, denyut nadimu sudah berhenti, ini sudah kuperiksa dengan seksama. Tak
kira sejam kemudian, kau dapat bernapas kembali dan bergerak-gerak, kejadian ini belum pernah Lohu
alami selama hidup ..........”
"Apakah Locianpwe pernah memberikan pertolongan padaku?"
"Tidak, karena kenyataan kau memang sudah mati. Anak muda, apakah kau pernah makan obat-obat
yang mujarab?"
"Tidak," sahut Ji Bun tegas sambil menggeleng, beberapa kali ia sudah pernah mati namun akhirnya
hidup kembali, entah kenapa? Semakin dipikir hal ini semakin membingungkan dan tak habis dimengerti,
peristiwa aneh yang tak mungkin terjadi.
"Anak muda," ujar orang tua itu, "bagaimana kau sampai dilempar ke dasar jurang ini?"
"Aku diserang orang."
"Berapa banyak jiwa yang telah menjadi korban tangan berbisamu ini?"
"Kalau tidak terpaksa, Wanpwe tak pernah memakai tangan berbisa, aku yakin tak pernah membunuh
orang yang tak berdosa."
"Lohu kurang percaya?"
"Maksud Locianpwe ...........”
"Tadi sebetulnya Lohu sudah akan bikin cacat tanganmu untuk mengurangi bencana bagi kaum
persilatan, namun mengingat kakekmu Jit-sing-lojin dulu pernah bertemu muka beberapa kali denganku,
akhirnya kuubah niatku, maka tangan berbisamu ini tak kuusik sama sekali."
Enak saja orang tua aneh ini mengeluarkan kata-kata, namun bagi pendengaran Ji Bun bagai geledek
menyambar dipinggir kupingnya. Sifatnya yang nyentrik dan angkuh seketika kambuh, tak terbayang rasa
ingin minta ampun sedikitpun, maka dengan mengertak gigi ia berkata: "Locianpwe boleh menamatkan jiwa
Wanpwe, namun untuk mengutungi lenganku ini ...”
"Kenapa?"
"Jangan harap!"
"Anak muda, membunuhmu bagiku sama saja seperti memitas seekor kutu."
Beringas muka Ji Bun, katanya mendelik: "Boleh silakan turun tangan."
Orang tua aneh mengulur jari-jari tangannya yang kurus bagaikan kulit membungkus tulang, cukup sekali
angkat saja, seketika terasa oleh Ji Bun adanya daya sedot keras luar biasa, sehingga dirinya terseret maju
kehadapan orang tua.
Sekali raih pasti dirinya kena dipegang olehnya, sungguh sukma serasa copot dari raganya. Dengan
kepandaian setinggi ini, kalau orang menginginkan dirinya mati, walau jiwa sendiri rangkap dua belas juga
sudah melayang sejak tadi.
"Jadi kau rela mati daripada kutung lenganmu?"
"Tidak salah."
"Sudah kau pikirkan?"
"Tenaga dan kemampuanku tak kuasa melindungi jiwa raga sendiri, buat apa aku harus banyak pikir."
"Agaknya kau amat angkuh?" ujar orang tua aneh, lalu dia miringkan kepala menepekur. Tiba-tiba
tangannya menepuk bumi seraya berkata: "Hampir. saja Lohu lupa sebuah hal penting. Anak muda, kau
berada di Pek-ciok-hong, tentunya tadi kau lewat Pek-ciok-am bukan?"
Tergerak hati Ji Bun, tanyanya:" Ya, kenapa?"
"Bertemu dengan Nikoh busuk itu tidak?"
"Nikoh busuk siapa?"
"Yang menyebut dirinya Pek-ciok Sinni itu."
"Sudah lama jiwanya melayang ke sorga."
Bergetar badan orang tua aneh, mendadak dia berjingkrak bangun, sekali cengkeram dia pegang
pergelangan Ji Bun, teriaknya beringas: " Maksudmu dia sudah mati?"
Ji Bun terperanjat dan manggut-manggut sebagai jawaban.
"Apa benar dia sudah mati?" si orang tua menegaskan pula.
"Agaknya Wanpwe tidak perlu berbohong."
"Ha ha ha ha, he he he he, hi hi hi hi ... " ditengah gelak-tawa seperti orang kerasukan setan, orang tua
aneh kembali meloso jatuh terduduk. Lambat laun, gelak-tawanya berubah menjadi gerung tangis yang
keras, begitu keras gelak tawa dan gerung tangisnya menjadi perpaduan suara yang bergema bagai bunyi
genta besar yang bertalu-talu secara bergelombang di gua batu itu.
Kuping Ji Bun sampai pekak dan berdiri mematung mengawasi tiagkah laku orang yang lucu dan aneh. Ia
kehabisan akal dan tak tahu apa yang harus dilakukan. Lama sekali baru isak tangis orang aneh ini mulai
mereda, akhirnya menggumam seorang diri :"Dia sudah mati, sudah mampus lebih dulu, puluhan tahun
penantianku di sini menjadi sia-sia belaka ........"
Timbul rasa ketarik dan ingin tahu Ji Bun, pikirnya, agaknya orang tua aneh ini mempunyai hubungan
yang luar biasa dengan Pek-ciok Sinni, yang satu berada di puncak depan sana dan yang lain di dasar jurang
di belakang gunung, agaknya sudah sekian puluh tahun tak pernah berjumpa, sungguh aneh dan tak masuk
diakal. Maka tak tahan ia lantas bertanya:" Locianpwe, kenapa kau begini emosi?"
"Pergi, enyah dari sini!" ujar orang tua aneh dengan mengulap tangan, "urusan Lohu tak usah kau
banyak mulut."
Suatu kesempatan bagi Ji Bun, tanpa bicara lagi bergegas dia putar tubuh terus lari keluar gua.
"Hai, kembali!"
Tanpa kuasa Ji Bun menghentikan langkah.
"Hm, Anak muda, enak saja kau hendak pergi? Selama hidupmu jangan harap kau bisa keluar dari sini."
"Apa maksud Locianpwe?"
"Kecuali badanmu tumbuh sayap dan bisa terbang, kalau tidak jangan harap- kau bisa keluar dari tempat
terasing dan buntu ini. Ketahuilah, sarang setan ini dalamnya ribuan tombak, dikelilingi tebing gunung yang
terjal lagi, orang hutanpun tak mampu memanjat ke atas, kalau tidak, memangnya aku orang tua ini sudi
bersemayam di sini selama puluhan tahun.”
Ji Bun melengak, katanya tertawa kecut: "Tadi Locianpwe hendak mengutungi lengan kiriku, apakah
niatmu ini tidak berkelebihan, kalau aku tak bisa keluar dari sini, memangnya tangan berbisaku ini bisa
berbuat apa?"
"Omong kosong, aku orang tua tentu mempunyai perhitungan sendiri."
"Wanpwe mohon keterangan."
6.16. Dari Celaka Dapat Rejeki Nomplok
"Anak muda, sekarang Lohu sudah berubah pikiran, biarlah tanganmu itu tetap melengket di badanmu,
tapi ada syarat-syarat yang harus kau patuhi."
"Mohon dijelaskan syarat-syarat apakah"
"Kau harus sumpah berat, setelah muncul kembali di kalangan Kangouw, kau takkan menggunakan
tangan berbisa itu untuk melukai orang-orang yang tidak berdosa."
"Untuk hal ini Locianpwe tidak usah kuatir, selamanya Wanpwe tidak pernah melukai orang tanpa
sebab."
"Sekarang bersumpahlah."
"Locianpwe, soal jahat dan kebajikan hanya terpaut segaris dalam pikiran manusia, sumpah segala hanya
akan mengekang seorang Kuncu (lelaki ksatria) tapi takkan membatasi tingkah laku seorang Siaujin
(manusia rendah)."
"Hm, memang betul, tapi apakah kau bisa berbuat demikian?"
Untuk ini Wanpwe akan mematuhinya."
"Baiklah, Lohu percaya untuk pertama kali ini, akan kuusahakan supaya kau bisa keluar dari lembah maut
ini, namun kau harus berusaha mencarikan seseorang ...........”
Seketika terbangkit semangat Ji Bun, katanya:
"Silakan memberi petunjuk."
Tahu-tahu guramlah pandangan orang tua aneh itu, ujarnya:
"Mungkin orang yang harus kaucari sudah tiada lagi di dunia ini, namun sebelum Lohu mendapat bukti
nyata bahwa dia betul-betul sudah meninggal, betapapun aku takkan putus asa."
"Orang macam apakah dia?"
"Seorang perempuan."
"Perempuan?"
"Ehm, perempuan, perempuan cantik jelita. Ha ha ha, asmara tetap asmara, si jelita masa lalu entah
bagaimana keadaannya sekarang? Loyo? Seperti kuntilanak? Nenek reyot? atau mungkin sudah menjadi
tulang belulang.............."
Ji Bun menghirup napas panjang, tanyanya
"Siapakah dia?"
Wajah si orang tua seperti kehilangan semangat, katanya dengan melamun:
"Dia bernama Toh Ji-lan, Ji-lan, Ji-lan, ayu jelita, ratu kecantikan.......,” suaranya semakin lirih,
pandanganpun mendelong, agaknya ia tambah terkenang pada masa mudanya dahulu.
Dengan bingung dan keheranan Ji Bun mengawasi orang tua yang serba misterius ini, ingin bersuara
namun merasa rikuh. Untunglah setelah sekian lama dibuai emosi, lekas sekali orang tua aneh ini tenang
kembali dan berkata pula sambil menggerakkan tangan:
"Duduklah, dengarkan petunjukku,"
Ji Bun lantas duduk mendeprok di atas tanah, terpancar sinar terang yang aneh dari kedua biji mata si
orang tua, berhenti sejenak baru ia berkata dengan kalem seperti menekan perasaan:
"Puluhan tahun yang lalu, muncullah sepasang kembang kakak beradik di dunia Kangouw, yang tua
bernama Toh Ji-hwi, adiknya bernama Toh Ji-lan kecantikan dan kepandaian ilmu silat mereka menjagoi
jagat, sehingga menimbulkan banyak huru-hara dan sering menggegerkan dunia persilatan, tak terhitung
jumlah pemuda yang sama mengejar dan kepincut oleh kepandaian dan kecantikan mereka. Di antara
sekian banyak pemuda yang menjadi pemujanya, ada seorang ahli pedang yang berpandangan tinggi
angkuh, pada suatu kesempatan yang tak terduga, jago pedang ini berkenalan dengan sepasang kakak
beradik ini, jago pedang itu akhirnya jatuh cinta kepada sang adik, hubungan semakin intim dan akhimya
mereka bersumpah setia, sehidup semati. Sayang sang Taci secara diam-diam juga jatuh cinta kepada jago
pedang itu .......”
Sampai disini ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan,
"dari cinta sepihak, cinta yang hanya dipendam di dalam hati akhirnya sang kakak menjadi kerasukan
iblis, namun dia tetap sadar, tak mungkin ia merebut kekasih adiknya, maka akhirnya, dia rela mencukur
rambut menjadi Nikoh (biarawati)."
"O," lapat-lapat dalam hati Ji Bun sudah meraba makna dari rangkaian cerita ini, maka tanpa sadar
mulutnya bersuara.
Orang tua aneh melirih sekejap padanya, lalu melanjutkan ceritanya
"Sejak kecil kedua kakak beradik ini tumbuh bersama tanpa asuhan orang tua, mereka hidup
berdampingan, sang adik amat berduka karena sang Taci rela mengasingkan diri menjadi pemeluk agama
yang asih, namun ia tidak tahu isi hati dan perasaan sang Taci, demikian pula jago pedang itupun tidak tahu
......... Tak lama kemudian, sang Taci mendapat suatu rejeki nomplok secara tidak terduga, dia menemukan
sebuah Sek-hud peninggalan orang aneh pada jaman kuno.
"Ah!" Ji Bun berseru kejut, inilah kisah rahasia yang tak mungkin diketahui oleh kaum persilatan.
Orang tua aneh tetap melanjutkan ceritanya:
"Akhimya dia berhasil meyakinkan kepandaian silat yang tiada taranya, kaum persilatan menjunjungnya
sebagai Sin-ni (Nikoh sakti), walau dia sudah menjadi biarawati, namanya tenar diagulkan, namun cinta
asmara yang terpendam di dalam sanubarinya temyata masih terukir amat mendalam. Suatu hari, karena
ingin lekas menikah dan berdampingan dengan kekasihnya, sengaja jago pedang itu berkunjung ke biara
tempat semayam sang Taci, di situ sang Taci mengajukan syarat, kecuali jago pedang itu menjadi jago silat
nomor satu diseluruh kolong langit ini, kalau tidak jangan harap bisa mempersunting adiknya ...........”
"Jago pedang itu minta petunjuk, cara bagaimana untuk menjadikan dirinya jago silat tanpa tandingan,
maka sang Taci mengeluarkan selembar daun bodi, katanya di atas daun bodi itu dimuat pelajaran Kimkong-
sin-kang dari aliran Hud yang tertinggi, untuk meyakinkan harus memiliki tubuh kuat dan perjaka lagi,
kalau berhasil, seluruh jagat pasti tiada tandingannya ....
"Setiap orang yang gemar meyakinkan ilmu silat umumnya pasti tergila-gila terhadap ilmu yang
dilatihnya, coba bayangkan, tanpa sebab dan secara mudah memperoleh ilmu sakti nan mujijat setelah
berhasil bukan saja menjagoi dunia, cita-citanya untuk mempersunting sang kekasihpun akan tercapai,
betapa takkan tertarik batinnya? Sudah tentu jago pedang itu amat terharu dan berterima kasih, dengan
riang dan setulus hati ia menerimanya."
"Segalanya berjalan lancar karena diatur oleh sang Taci, belakangan dia diantar ke sebuah tempat yang
amat tersembunyi untuk berlatih dan meyakinkan ilmu sakti itu, setelah menggembleng diri sekian lamanya,
kemudian ia menyadari adanya sesuatu yang kurang beres, yakni pada tingkat tertentu latihannya hawa
murninya selalu mengalami jalan buntu dan aliran darahnya selalu menyimpang, hampir saja dia Cau-hwejip-
mo (kelumpuhan), setelah diselami dan diyakini berulang kali dan tetap tidak berhasil, akhimya dia ingin
keluar menemui sang Taci untuk mohon petunjuk dan menyelidiki bersama, tapi didapatinya pintu rahasia
satu-satunya yang bisa dilalui untuk keluar itu sudah tertutup buntu.
"Jago pedang itu berteriak dan menggembor sejadi-jadinya, sesambatan dan mengamuk, namun siapa
yang tahu akan keadaannya yang terkurung di bawah tanah itu. Baru sekarang dia menyadari bahwa dirinya
terjeblos ke dalam perangkap yang agaknya memang sudah direncanakan sebelumnya, selama hidup ini
agaknya takkan bisa melihat langit dan hidup bebas lagi, dirangsang oleh emosi dan rasa dukanya, hampir ia
menjadi gila. Kiranya karena sang Taci patah arang, cintanya tak terbalas, hatinya menjadi benci dan
dendam, maka diaturlah rencana keji itu, dia yakin sang adikpun tidak tahu akan peristiwa tragis ini ..... "
Sampai di sini berlinang-linanglah air mata orang tua aneh itu.
Alis Ji Bun bertaut lebih kencang, diam-diam ia berpikir: apakah ini mungkin?
"Dalam keadaan putus asa itu," demikian orang tua menyambung ceritanya, "jago pedang itu sedapatnya
berpikir ke arah yang baik, ia berharap semua ini bukan kenyataan, kemungkinan setelah ia berhasil
meyakinkan ilmu mujijat itu sang Taci akan membuka pintu rahasia itu. Maka kembali ia menekuni pelajaran
yang termuat di atas daun bodi itu. Begitulah dari tahun ke tahun, akhimya didapatinya bahwa teori
pelajaran yang termuat pada daun bodi itu ternyata sebenarnya sudah diubah, tak heran dia selalu
mengalami jalan buntu dalam latihannya, darah mengalir balik dan bersimpang-siur .............”
“Demi berkumpul kembali dengan pujaan hati yang, amat dicintainya, maka dia harus berjuang, dan
bertahan hidup, dia percaya dan yakin akan keenceran otaknya, dengan tekun ia mempelajari dan
menyelidiki di mana letak kesalahan dari teori ilmu mujijat ini, selama sepuluh tahun dari hasil latihan dan
ketekunannya akhimya dia dapat meyakinkan Kim-kong-sin-kang itu dengan sempuma, pada waktu itu dia
berusaha pula untuk menjebol pintu rahasia yang tertutup itu, baru saat itu dia betul-betul menyadari dan
mengerti bahwa semua ini memang muslihat yang telah direncanakan. Bahwasanya jalan itu sudah buntu,
untuk keluar jelas takkan ada harapan lagi, maka pikirannya lalu beralih ke dinding jurang yang terjal dan
tinggi itu, dengan seluruh hasil kekuatan latihannya selama puluhan tahun ia melompat dan mengitari
tebing, namun dia tetap tak berhasil, kenyataan kembali menghancurkan setitik harapannya yang terakhir,
sayang karena dalam tahap permulaan meyakinkan ilmu mujijat itu dia sudah melakukan kesalahan,
sehingga urat nadi kakinya mengkeret dan menjadikan lumpuh total, dikala dia mengerahkan hawa murni
dan mencapai batas tertentu, setiap kali pasti mengalami gangguan mendadak, sehingga kepandaian
Ginkang yang tiada taranya itu tak dapat melampaui taraf yang dicapainya.”
"Kini dia betul-betul sudah putus harapan, namun dia harus tetap hidup, dia mengharap suatu ketika
sang kekasih dapat membongkar muslihat ini dan datang menolongnya, atau mungkin pula sang Taci insaf
dan bertobat akan dosa-dosanya, mau menolong keluar untuk melihat dunia ramai pula, oleh karena itu,
dalam keadaan kepepet dan putus asa itu, dia terus bertahan hidup dalam serba kekurangan dan menderita
sampai sekarang."
Habis cerita si orang tua aneh, sorot matanyapun semakin suram namun diliputi nafsu kebencian dan
putus harapan.
Terketuk hati sanuhari Ji Bun, hatinya amat terharu, ia amat simpatik akan nasib orang tua aneh yang
sengsara ini.
Seorang jago pedang yang muda belia harus hidup merana di lembah maut diliputi keputus asaan sampai
menjadi orang tua ubanan yang cacat lagi, sungguh teramat kejam dan tragis sekali.
Jelas bahwa jago pedang di dalam cerita itu adalah si kakek tua aneh dengan rambut dan jenggot
ubanan yang terurai panjang menyentuh bumi ini, sang Taci yang dimaksud dalam cerita itu adalah Pek-ciok
Sin-ni. Siapa akan mengira, Pek-ciok Sin-ni yang diagulkan dan dipandang sebagai biarawati nan suci dan
agung temyata sampai hati melakukan perbuatan nan culas diluar perikemanusiaan ini. Memangnya
beginilah sepak terjang kebanyakan tokoh-tokoh kosen yang menamakan dirinya pendekar pada jaman ini
diluar tahu khalayak ramai.
Betapa mengerikan dan menakutkan liku-liku kehidupan dunia persilatan ini, sungguh siapapun takkan
bisa membayangkan.
Sampai di sini tiba-tiba Ji Bun sadar akan keadaan dirinya pula bahwa orang tua aneh ini tak berhasil
keluar dari tempat ini meski sudah berusaha puluhan tahun, bukankah dirinyapun takkan ada harapan? Mautak-
mau ia berdiri gemetar dan lemas lunglai, keringat dingin gemerobyos.
Setelah menunduk dan menepekur sekian lama, tiba-tiba orang tua aneh angkat kepala dan berkata
dengan nada serius:
"Buyung, kau harus berjanji, apapun yang terjadi, kau harus bekerja untuk Lohu menemukan dan
mencari kabarnya Toh Ji-lan?"
"Baik, Wanpwe berjanji, tapi .........
"Tapi apa?"
"Bagaimana aku bisa keluar dari sini?"
"Itu soal mudah. Lohu akan bantu kau menjebol jalan darah mati hidupmu, lalu seluruh Lweekang dan
hawa murniku akan kusalurkan pula ke dalam tubuhmu, kutambah pelajaran ilmu Ginkang lagi, kau akan
melayang 'terbang' keluar dari sini.”
"Untuk ini terpaksa Wanpwe tidak bisa menerima," kata Ji Bun, "tiada alasan buat Cianpwe untuk
mengorbankan jiwa raga kepada Wanpwe."
"Bukankah Lohu menyuruhmu melakukan sesuatu?"
"Ya, tapi setelah Locianpwe salurkan Lweekang dan hawa murni ke dalam tubuhku, bagaimana pula
akibat yang harus kau alami?"
"Tidak seluruhnya, hanya delapan bagian saja, dua bagian yang tersisa cukup untuk bekalku
mempertahankan hidup di sini."
"Menurut pendapat Wanpwe yang bodoh, lebih baik cari jalan lain saja."
"Hahaha, buyung, karena ketulusan dan kejujuranmu ini, sekarang, Lohu betul-betul mau percaya
seluruhnya padamu. Ketahuilah, kecuali caraku itu, tiada jalan lain lagi, mari duduk membelakangi Lohu.”
Menghadapi keadaan di luar dugaan ini, Ji Bun menjadi bingung, mulutnya tergagap :
"Locianpwe. Kukira ..........
"Buyung, kau tidak berkuasa lagi," tahu-tahu angin keras menggulung Ji Bun hingga berkisar maju tanpa
daya, mendeprok di atas tanah setelah badannya terseret berputar-putar, kenyataan tak memberi
kesempatan baginya untuk ragu-ragu lagi, terpaksa ia duduk bersimpuh, segulung arus panas tahu-tahu
merembes melalui Bing-bun-hiatnya. Tenaga luar bergabung hawa murninya, lekas sekali bersatu padu
menjadi arus kuat bagai air bah yang tak terbendung lagi, terus menerjang kejalan darah Hian-koan, jalan
darah mati- hidupnya.
Sekali dua kali dan tiga kali, jalan darah mati hidupnya akhimya keterjang jebol, kerena terjangan yang
teramat keras ini, sehingga Ji Bun tergeletak semaput. Entah berapa lamanya, dikala dia sadar kembali,
terasakan sejalur tenaga hangat masih merembes melalui Pek-hwe-hiat masuk ke badannya, setelah
menyusup dan menerjang kian kemari keseluruh Hiat-to dan urat nadi, badan terasa panas seperti
dipanggang keringat mengalir deras membasah kuyup.
Cuaca dalam gua dari terang menjadi gelap dan dari gelap kembali terang. Akhimya Ji Bun sadar kembali
setelah digembleng sehari semalam, dilihatnya orang tua aneh itu duduk mendeprok lemas dibelakangnya,
sorot matanya yang tajam mengkilat kini sudah pudar. Sungguh menyesal dan terima kasih pula hati Ji Bun,
tersipu-sipu ia memberi sembah dan tak sanggup mengeluarkan kata-kata saking terharunya, ia pikir budi
kebaikan ini biarlah kuukir di dalam hati sanubari saja.
Sehari semalam telah lampau pula, selama ini dia berhasil mempelajari pula sejurus kepandaian Swankong-
hwe-seng-sin-hoat (gerakan terbang mumbul dengan berputar di udara) dari si orang aneh, gerakan
Ginkang tingkat ini berlandaskan sekali emposan hawa murni, sehingga badannya seenteng asap melesat
mumbul dengan berputar seperti kitiran, dengan meminjam tenaga tutulan kaki di dinding gunung,
badannya bisa melayang naik ke atas.
Dari celaka Ji Bun malah memperoleh rejeki nomplok, sungguh mimpipun tak pernah terbayang
sebelumnya.
Hari ketiga, di kala fajar menyingsing, orang tua aneh itu menyuruhnya berangkat meninggalkan tempat
itu. Kumpul selama dua hari dua malam menyebabkan hatinya merasa iba dan berat meninggalkan orang
tua aneh ini, sudah tentu perasaan ini timbul karena dia merasa utang budi.
Orang tua itu mengeluarkan sebuah tusuk kundai yang terbuat dari emas, dia berpesan dengan wantiwanti:
"Buyung, inilah tanda perkenalanku, bila kau menemukan perempuan yang bernama Toh Ji-lan itu ......
ah, tidak kini dia tentunya sudah berubah menjadi nenek tua ubanan juga, keluarkan tanda pengenalku ini,
beritahukan apa yang kau alami dan kau saksikan di sini kepadanya."
Dengan laku hormat Ji Bun terima tusuk kundai itu terus disimpan dalam sakunya, katanya:
"Locianpwe, sukalah kau memberitahu gelaranmu?”
Orang tua itu menggeleng :
"Tidak perlulah, cukuplah kalau dia mengenali tusuk kundai ini."
"Wanpwe mempunyai pendapat bodoh, apakah Cianpwe suka terima usulku ini?"
"Soal apa?"
"Setelah Wanpwe keluar dari sini, akan kucari tali, panjang untuk menolong Cianpwe."
"Jangan, jurang ini sedalam ribuan meter!”
"Ribuan meter hanya ukuran perkiraan saja, untuk mengusahakan tali sepanjang itu kukira bukan soal
sulit."
"Biarlah Lohu menunggu beritamu di sini saja, setelah kau keluar sukalah segera kau kerjakan pesanku
itu."
"Kenapa Locianpwe tak mau keluar saja?"
"Pek-ciok Sin-ni sudah mampus, kepada siapa aku harus melampiaskan dendamku ini, kekasihku dimasa
muda entah apakah masih hidup, usia Lohu sudah seabad, sudah dekat ajal, yang kunanti hanyalah
pengharapan terakhir untuk melihatnya sekali lagi atau mendengar beritanya, rasanya masa hidupku sudah
mencapai ujung pangkalnya apa lagi yang kuharapkan, lekaslah kau pergi."
Ji Bun amat pilu dan tidak tega, tak tertahan dia bercucuran air mata, inilah watak pembawaannya yang
bijaksana, memperlihatkan budi pekertinya yang sejati, selama hidupnya, untuk pertama kali inilah dia
mencucurkan air mata untuk orang lain. Orang aneh tua itupun agaknya amat emosi, namun dia tekan
perasaannya, katanya sambil ulap tangan berulang kali:
"Pergi, lekas pergi! Seorang jago silat, kenapa harus bertele-tele seperti orang perempuan."
Tanpa bicara Ji Bun menyembah pula terus keluar dari gua, waktu dia angkat kepala, tampak dinding
gunung begitu terjal dan tegak lurus selicin kaca, ujung puncak dari gunung terjal ini seakan-akan
menyundul langit, dia menjadi bimbang dan tidak yakin akan gerakan ginkang yang baru dipelajarinya itu,
apakah mampu "terbang" keluar dari tempat ini dengan, selamat. Tapi baru melihat keadaan begini saja,
hatinya merasa dak-dik-duk. Segera dia duduk bersemadi, hawa murni dipusatkan di pusar terus dituntun
berkeliling menyusup kesetiap urat nadi dan merembes keluar ke seluruh pori-pori kulitnya, sehingga
badannya seperti terselubung kabut putih, dalam semasakan air, Ji Bun sudah merasakan badannya segar
nyaman dan enteng sekali.
Diam-diam ternyata orang tua aneh itu telah merayap di belakangnya, katanya dengan suara berat:
"Keluarkan seluruh tenaga, hawa jangan sampai terhenti bangkit."
“Hiiiiaaaaaaat ......!" dengan teriakan melengking untuk menambah semangat dan mengobarkan
kekuatannya, Ji Bun gentakkan kedua kakinya, badannya segera meluncur ke atas bagai roket, sekali lompat
mencapai sepuluh tombak lebih, di tengah udara badannya lantas bergerak melintang berbareng kakinya,
menutul didinding gunung, meminjam daya tutulan ini kembali badannya berkisar mumbul pula, satu tingkat
demi satu tingkat, sedikitpun dia tidak berani mengalihkan perhatian mengendurkan tenaga, cepat sekali dia
sudah terbang berputar tiba di atas puncak, hampir dia tidak berani mempercayai kenyataan ini, namun
kenyataan kini ia sudah berada di atas.
Sejak dia berdiri menghimpun semangat dan memusatkan pikiran, lalu menghirup napas panjang
beberapa kali, dengan lengan baju ia usap keringat di atas jidatnya, kembali dia sembunyikan lengan kirinya
ke dalam baju, sehingga lengan bajunya yang kiri tetap kosong melambai.
Dalam waktu sekejap ini timbul beberapa kali perubahan pikiran dalam benaknya. Teringat olehnya akan
orang berkedok yang dua kali turun tangan terhadap dirinya, demikian pula Jit-sing-kojin yang begitu kejam
melempar dirinya ke dalam jurang tanpa sebab dan alasan yang meyakinkan. Diapun tak lupa akan para
musuh buyutan Wi-to-hwe. Sang ayah yang terpisah, demikian pula sang ibu yang lenyap.
Setelah memperoleh saluran tenaga dalam orang tua aneh di bawah jurang itu, entah sampai di mana
tingkat kekuatannya sendiri sekarang? Entah cukup mampu untuk bekal menuntut balas kepada para
musuhnya itu? Sudah tentu, soal ini lekas sekali akan memperoleh jawabnya.
Dunia seluas ini, ke mana dia dapat mencari perempuan yang bernama Toh Ji-lan sesuai pesan si orang
tua aneh itu? Secara langsung dia teringat kepada Pui Ci-hwi, sebagai murid Pek-ciok Sin-ni tentunya gadis
ini tahu di mana Susioknya berada sekarang.
Tiba-tiba waktu dia berpaling ke sana, dilihatnya di ujung batu di pinggir jurang sebelah sana duduk
melamun seorang perempuan yang mematung. Setelah dia perhatikan dengan seksama, hatinya seketika
tergoncang, batinnya: "Kiranya dia, tiga hari telah berselang, mungkinkah dia belum tinggal pergi?"
Bergegas dia memburu kesana seraya berteriak:
" Cici!"
Perempuan itu temyata adalah Thian-thay-mo-ki, tampak dia berpaling dengan lesu, tiba-tiba matanya
terbeliak, rona mukanya yang semula pucat berubah hebat, mulutnya melongo tanpa bersuara, sikapnya
hambar, kaget dan merasa aneh serta keheranan.
"Cici, kenapa kau?" tanya Ji Bun.
Sekali lompat Thian-thay-mo-ki melayang turun memapak kedatangannya, serunya dengan gemetar:
"Kau...... dik, kau tidak mati?”
Haru dan terpukul sanubari Ji Bun menghadapi sikapnya ini, katanya sambil mendekat dua langkah:
"Cici, aku tidak mati!"
"Apa betul? Atau hanya mimpi?" ujar Thian-thay-mo-ki tersendat. "Dik," tiba-tiba ia menggerung tangis
seraya menubruk maju dan membuka kedua tangan hendak memeluk Ji Bun.
Lekas Ji Bun menyingkir seraya berteriak,
"Jangan sentuh aku!"
Lekas Thian-thay-mo-ki mengerem gerakkannya sambil berpaling melengong, air mata seketika
bercucuran, sorot matanya memancarkan perasaan cinta kasih nan tebal seperti pandangan seorang ibu
yang amat prihatin terhadap kesehatan puteranya.
Ji Bun melihat jelas bahwa muka si nona kelihatan pucat dan agak kurus.
"Cici, selama ini kau belum pergi?"
6.17. Tabib Keliling Thian-bak-sin-jiu ......
"Dik, aku ....... beberapa kali aku hampir terjun ke bawah menyusulmu," dengan malu-malu Thian-thaymo-
ki menunduk, mukanya yang pucat menjadi merah.
Inilah limpahan isi hati yang murni, cinta sejati. Ji Bun amat menyesal, dia merasa tidak patut menerima
cinta murni ini, tiada apa-apa yang pernah dia berikan kepadanya, malahan rasa cinta sedikitpun tiada,
bahwa belakangan ini ia mau bergaul sama dia hanya ingin memperalatnya demi mencapai tujuan menuntut
balas keluarganya. Kini Ji Bun betul-betul malu diri ia merasa bahwa perbuatan dan tujuannya teramat hina
dan kotor, ia ingin membeber kenyataan ini dan mohon maaf. Malah iapun ingin memeluknya, serta
membisiki bahwa untuk selanjutnya ia akan memberi balasan setimpal akan cinta kasih besarnya.
Akan tetapi ia tidak berbuat sejauh itu, pikiran lain lekas sekali membuatnya tenang kembali, yaitu lengan
kirinya itu, tangan berbisa, jika benar apa yang dikatakan si orang tua aneh, maka selama hidup dirinya
takkan ada kesempatan lagi untuk main cinta dengan perempuan.
Seperti disayat dan ditusuk sembilu rasa hatinya, sungguh ia tidak habis mengerti kenapa semua ini bisa
terjadi, apakah ia harus menyalahkan ayahnya?
"Dik, bagaimana kau bisa tetap hidup?" tanya Thian-thay-mo-ki kemudian.
Ji Bun lantas ceritakan pengalamannya, namun soal tangan kirinya tetap dia rahasiakan. Lalu dia
bertanya:
"Cici, kau pernah dengar orang yang bernama Toh Ji-lan?"
"Belum pernah dengar, tapi bisa kita selidiki.”
"Kemana Jit-sing Kojin?”
Thian thay-mo-ki mengertak gigi, katanya :
"Hampir saja aku diperkosa olehnya, untung tanda perguruanku menyelamatkan aku.” Ia lantas
menceritakan kejadian terakhir yang dialaminya. Lalu katanya pula. "Dik, menurut hematku, Jit-sing kojin
pasti sekongkol dengan Biau-jiu Siansing."
"Mengapa kau berpendapat demikian??”
"Kenyataan amat jelas, Bu-cing-so dan Siang-thian-ong telah mengawasi Biau-jiu Siansing dengan ketat,
betapapun tinggi Ginkangnya jangan harap bisa lolos dari pengawasan kedua bangkotan lihay itu, namun
Jit-sing-kojin justeru muncul pada saat yang menentukan, dia sengaja memancing kemarahan Bu-cing-so
untuk melabraknya sehingga Biau-jiu Siansing mendapat kesempatan untuk lari."
"Analisamu memang masuk akal, namun kedua bangkotan tua itn sama-sama tak berani turun tangan
secara gegabah, agaknya merekapun menguatirkan sesuatu, sebetulnya gabungan kekuatan mereka cukup
berlebihan untuk membereskan seorang Biau-jiu Siansing, namun mereka tetap ragu-ragu, dari percakapan
mereka agaknya rela untuk gugur bersama Sek-hud, terang sekali di dalam hal ini ada latar belakang, yang
tidak kita ketahui.”
"Ya, akupun, seperasaan, cuma kita tak habis. pikir."
"Menurut pendapatmu, dapatkah kedua bangkotan itu menyandak Biau-jiu Siansing?"
"Tidak mungkin, Ginkang Biau-jiu Siansing tidak bernama kosong."
"Menurut kabar Sek-hud menyimpan rahasia pelajaran ilmu silat, Biau-jiu Siansing kalau berhasil
mempelajarinya, ditambah kepandaian sendiri yang, sudah begitu tinggi, mungkin tiada jago kosen yang
dapat menandinginya."
"Mungkin, namun pihak Wi-to-hwe tidak akan berpeluk tangan," dengan cekikikan Thian-thay-mo-ki lalu
menambahkan: "Dik, marilah kita turun gunung mencari makanan."
Baru sekarang Ji Bun juga merasakan perutnya keruyukan, laparnya setengah mati, sahutnya:
"Ya, tiga hari tidak makan, perutkupun sudah berontak."
Mereka lantas berlari turun dari Pek-ciok-kong, di bawah gunung ada sebuah kampung di mana mereka
mendapatkan sebuah warung lalu pesan makanan ala kadarnya.
"Dik," kata Thian-thay-mo-ki penuh perhatian, "kemana tujuan kita selanjutnya?"
Berpikir sebentar baru Ji Bun menjawab:
"Kita menuju ke Cinyang saja."
"Mencari Biau-jiu Siansing maksudmu?"
"Disamping minta kembali anting-anting, sekaligus kita cari jejak Jit-sing-kojin."
"Ya, jadi bekerja menurut rencana semula?"
"Kukira secara hormat kita mohon bertemu dulu, jelaskan maksud kedatangan, kalau mereka sengaja
main gila baru kita pakai kekerasan."
"Baiklah, kita bekerja menurut keadaan nanti."
o0o
Pada jalan raya di selatan kota Cinyang berdiri sebuah gedung kuno yang angker. Hari itu, dua mudamudi
mendatangi gedung kuno yang jarang dikunjungi orang karena terkenal sebagai rumah setan, mereka
adalah Te-gak Suseng dan Thian-thay-mo-ki. Menghadapi daun pintunya yang tertutup rapat itu Ji Bun
mengerut kening, katanya :
"Cici, gedung ini tak salah lagi?"
"Tak salah, aku masih ingat betul."
Ji Bun segera maju menggedor pintu, namun lama sekali tak terdengar penyahutan dari dalam, kemball
Ji Bun menggedor pintu dengan gelang besi yang tergantung di pintu itu, begitu keras suaranya, kecuali
orang tuli saja yang tidak mendengar. Namun tetap tiada reaksi.
Setelah ditunggu lagi sebentar, tiba-tiba sebuah suara bertanya:
"Kalian mau apa?"
Waktu Ji Bun berpaling, dilihatnya orang yang bicara adalah laki-laki yang berpakaian kasar dengan
jubah kusut, tangan memegang kelintingan, di punggung menggeblok sebuah peti obat, di atas peti obat
tertancap sebuah panji kecil di mana tertulis sebaris huruf yang berbunyi "mengobati berbagai penyakit yang
sukar disembuhkan", kiranya orang ini adalah tabib kelilingan.
Thian-thay-mo-ki lantas menjawab:
"Kami hendak mengunjungi pemilik rumah ini."
Terbelalak biji mata tabib kelilingan itu, katanya:
"Apa, kalian hendak mengunjungi pemilik gedung ini?"
“Tidak salah!" sahut Ji Bun.
"Kalian kenal baik dengan pemilik gedung ini, atau ....”
"Ya, kenalan lama," kata Ji Bun.
"Ha ha ha ha "tiba-tiba tabib kelilingan itu terkial-kial sampai terbungkuk-bungkuk, sambil membunyikan
kelintingnya, tabib itu terus putar badan dan tinggal pergi.
Melihat kelakuan tabib keliling ini agak ganjil, Ji Bun tahu urusan pasti tidak beres, sekali gerak segera
dia memburu ke depan dan mengadang, katanya:
"Tunggu sebentar sahabat!"
Dengan kaget dan melongo tabib kelilingan itu menyurut selangkah, tanyanya:
"Apa-apaan kau ini?"
"Kenapa saudara tertawa?"
"Tadi tuan bilang kenal baik dengan penghuni gedung ini, maka aku merasa geli."
"Memangnya apanya yang lucu?"
"Sudah lama gedung ini tiada penghuninya, di kota Cinyang gedung ini sudah terkenal sebagai rumah
setan .....”
Berubah air muka Ji Bun, teriaknya:
"Apa? Rumah setan?"
Dengan rasa jeri tabib kelilingan itu ke pintu gedung kuno itu, katanya:
"Betul, rumah setan. Setelah matahari terbenam, yang bernyali kecil tiada yang berani lewat jalanan.”
“Omong kosong, di dunia ini mana ada setan atau memedi segala, itu hanya pandangan dan pendapat
orang-orang bodoh belaka."
"Tuan, agaknya kau orang sekolahan, dalam ajaran Nabi toh tidak dikatakan beliau menyangkal adanya
setan, beliau hanya mengatakan tidak suka berbincang tentang setan, barusan tuan ada bilang kenal baik
dengan pemilik gedung ini, lalu bagaimana kau harus memberi penjelasan?"
Ji Bun kememek tak mampu menjawab, katanya kemudian setelah melenggong:
"Terus terang Cayhe berkunjung kemari karena mendengar ketenarannya, baru pertama kali ini aku ke
kota ini."
Mendapat angin tabib kelilingan tidak memberi kelonggaran, katanya mendesak:
"Mendengar ketenarannya, ketenaran nama siapa?"
Akhirnya Ji Bun naik pitam, katanya dingin:
"Apa saudara hendak mengorek keterangan dariku?"
Tabib itu terbahak-bahak, katanya:
"Terlalu berat ucapan tuan, Cayhe sudah biasa keluntang ke utara dan kelantung ke selatan, semua
berkat bantuan para sahabat, pengetahuan dasar seorang kelana sudah kupahami betul, mungkin ucapanku
tadi memang salah, harap dimaafkan, maksudku bahwa mungkin tuan salah alamat, terus terang seluruh
kota Cinyang ini tiada yang tidak kukenal, jangan kata rumah, sampai siapa dan berapa banyak
penghuninyapun sudah apal diluar kepalaku, mungkin bisa kubantu mencarikan siapa sebetulnya yang
hendak tuan kunjungi?"
Baru saja Ji Bun hendak menjawab, tiba-tiba Thian-thay-mo-ki menyeletuk:
“Kalau demikian tuan tentu bukan orang sembarangan, mohon tanya siapa gelaran tuan?"
"Aku yang rendah sering dipanggil Thian-bak-sin-jiu (tangan sakti bermata dewa), seorang kroco belaka,
harap nona tidak mentertawakan."
"Thian-bak-sin-jiu?"
"Betul, apa nona pernah dengar gelaranku ini?”
"Baru pertama kali ini."
"He he he, hi hi hi, sudah kukatakan aku ini kaum kroco, mana mungkin Lihiap ini tahu akan gelaranku."
"Jadi tuan punya pandangan tajam untuk menentukan penyakit orang, sekali periksa serta raba, penyakit
orang pasti dapat disembuhkan?"
"Ah, tidak, tidak, penglihatanku hanya menen¬tukan nasib orang, soal kesaktian tanganku ini me¬mang
sulit untuk menyembuhkan orang."
"Jadi pandanganmu juga bisa melihat nasib orang,"
"Ya, betul, di samping seorang tabib, aku yang rendah ini juga bisa meramal, he he, kepandaian rendah
dan nama kosong belaka."
Thian-thay-mo-ki cekikikan, katanya:
"Bagus sekali, kami kakak beradik tak menemukan orang yang kami cari, tentunya tuan juga bisa
meramalnya dengan baik?"
"Ai, ai, itu soal nujum, tapi aku bisa juga melakukannya."
"Baiklah, coba lihat nasib kami dengan nujummu," ujar Thian-thay-mo-ki, lalu ia mendekati undakan batu
dan duduk di tempat yang teduh di bawah pohon.
Sebetulnya Ji Bun merasa sebal melihat tingkah laku Thian-thay-mo-ki yang jalang ini, mungkin itulah
sebabnya kenapa selama ini tak pernah timbul rasa simpatik apalagi cinta terhadap perempuan yang satu
ini.
Thian-bak-sin-jiu menjinjing peti obatnya terus meletakkannya di atas undakan batu, lalu mendudukinya
sebagai kursi, katanya kemudian dengan sungguh-sungguh:
"Cukup asal nona katakan siapa orang yang kalian cari, tanpa kuramalkan, mungkin aku bisa memberi
petunjuk."
Ji Bun tidak sabar, selanya:
"Cici, masih ada urusan lain yang harus kita kerjakan.”
Thian-bak-sin-jiu mengerling sambil tertawa penuh arti, katanya:
"Tuan ini, bukan ku suka membual, untuk menjelaskan urusan apapun, bila bertemu dengan aku, pasti
semua urusan akan beres."
Dengan kedipan mata Thian-thay-mo-ki memberi isyarat, kepada Ji Bun supaya sabar, lalu dengan riang
ia berkata:
"Kalau demikian, sungguh beruntung kami dapat bertemu dengan tuan. Ada dua soal mohon, diberi
petunjuk."
"Boleh nona katakan saja."
"Pertama mencari orang, kedua mencari barang!"
Dengan jari-jarinya Thian-bak-sin-jiu mengelus jenggot-kambingnya, katanya sambil geleng-geleng lalu
memutar kepala:
"Harap katakan satu persatu saja."
"Berapa ongkosnya untuk ramalanmu?"
"ltu bergantung dari orang yang kau cari dan barang apa yang hendak kau temukan."
"Jadi taripnya disesuaikan dengan sesuatu yang hendak diramalkan itu?"
"He he, begitulah .......”
"Kalau tuan bisa nujum, nah silakan meramalkan apakah orang yang hendak kami cari bisa
diketemukan?"
Thian-bak-sin-jiu menarik tangannya ke dalam dengan bajunya yang longgar, mulutnya berkomat-kamit,
mata melek-merem, sesaat lamanya baru dia berkata:
"Yang dicari laki-laki atau perempuan?"
"Laki-laki!"
"Em, soal mencari orang, ..... kalian harus menuju ke arah barat, kira-kira 10-an li jaraknya, orang yang
dicari pasti dapat diketemukan."
"Jadi dalam kota Cinyang ini, kami tak bisa menemukan orang yang dicari itu?"
"Menurut ramalan memang demikian."
"Apa tepat dan dapat dipercaya?"
"Ramalanku selamanya tepat seratus persen, belum pernah meleset."
"Baiklah, berapa harus kubayar!".
"Sepuluh tahil perak, tiada mahal bukan?"
“Tidak, murah sekali.”
Ji Bun tidak sabar lagi, dia berpaling ke arah lain.
Thian-bak-sin-jiu tertawa lebar, katanya pula:
"Ramalan kedua, soal mencari barang?”
"Betul, tolong usahakan, apakah barang, yang hilang itu bisa ditemukan kembali?”
Kembali Thian-bak-sin-jiu melek-merem dan tekuk-tekuk jarinya sambil komat-kamit, setelah sekian
lama, tiba-tiba dia, berseru heran:
“He. Aneh!”
Alis Thian-thay-mo-ki menegak, tanyanya:
"Apanya yang aneh?"
"Menurut ramalan, barang yang hilang itu bukan milik nona."
Tergerak hati Ji Bun, pikirnya, mungkin tabib ini memang pandai meramal, anting-anting itu memang
bukan milik Thian-thay-mo-ki, hal ini ditebaknya dengan tepat.
Thian-thay-mo-ki tersenyum, ujarnya:
"Tebakan tuan memang betul, manjur benar ramalan tuan, apakah barang itu bisa diminta kembali?"
"Barang itu sudah ketemu pemiliknya, tak usah dicari lagi."
"Apa, sudah dimiliki orang?"
"Ya, aku hanya bilang menurut ramalanku."
"Jadi barang itu sudah tak bisa kami temukan lagi?"
"Ramalanku tak pernah meleset, kalau salah sejak kini aku mengasingkan diri saja."
"Tuan memang pandai meramal, mohon tanya siapa nama besar tuan?"
Thian-bak-sin-jiu terkekeh-kekeh, katanya:
"Nona hanya bergurau saja."
Ji Bun tak sabar lagi, tukasnya,
“Cici, hayolah pergi saja."
Thian-bak-sin-jiu tiba-tiba menghadapi Ji Bun, sambii miringkan kepala dia melirik beberapa kali,
akhirnya ia unjuk rasa prihatin, lalu katanya:
"Tuan ini, maaf kalau aku bicara terus terang, tuan kejangkitan penyakit jahat yang sukar diobati."
Ji Bun tersirap, Thian-thay-mo-ki berjingkat kaget. Ji Bun kaget karena ahli nujum ini tahu akan penyakit
tangan berbisanya, sedang Thian-thay-mo-ki hanya melongo karena tidak tahu duduk persoalan.
Ji Bun pura-pura tenang, katanya dingin:
"Perkataan tuan sukar dipercaya, aku sehat walafiat, segar bugar tidak merasakan apa-apa, dari mana
datangnya penyakit?"
"Tuan sendiri maklum, kenapa harus berpura-pura."
"Sungguh aku tidak mengerti apa yang kau maksudkan."
"Selamanya kuyakin pada pandangan kedua biji mataku ini, malah aku berani bilang, kalian bukan kakak
dan adik kandung, benar tidak?"
"Pengetahuan cetek begini tak perlu dibuat heran.”
"Tapi penyakit yang mengeram dalam tubuh tuan ini, menentukan nasib hidup tuan dimasa depan, tuan
harus terus membujang kalau ingin hidup lama.”
Sudah tak kuasa Ji Bun menahan perasaannya roman mukanya berubah, agaknya perkataan orang tua
aneh dibawah jurang Pek-ciok-hong itu memang benar, hatinya menjadi hambar, bahwa tabib ini sekali
pandang lantas tahu akan rahasia dirinya, hal ini sungguh amat aneh, namun juga menakutkan, apalagi
kalau rahasia dirinya ini bocor dan menjadi rahasia umum, akibatnya tentu amat besar, mungkinkah orang
ini punya maksud tertentu dengan mengatur muslihat bohong belaka?
Dengan pandangan penuh tanda tanya Thian-thay-mo-ki mengawasi Ji Bun, dari sikap dan perubahan air
muka Ji Bun, ia yakin bahwa ucapan tabib kelana ini memang bukan bualan, keruan hatinya ikut hampa,
bingung dan tak habis mengerti, betulkah tabib kelana ini pandai meramal atau hanya ......”
Thian-bak-sin-jiu berdiri sambil memanggul peti obatnya, katanya kepada Thian-thay-mo-ki:
"Nona, seluruhnya 20 tahil perak."
Cemberut muka Thian-thay-mo-ki, katanya:
"Tuan betul-betul minta uang?"
"Penghidupanku memangnya dari hasil ini."
"Usaha hidupmu pasti tidak hanya tukang nujum saja bukan?"
"Ya, obatku inipun sudah dikenal oleh segenap penduduk kota Cinyang ini."
Terpaksa Thian thay-mo-ki keluarkan sekerat emas sambil berkata: "Nah, tuan terimalah," dengan
mengerahkan sedikit tenaga ia lemparkan uang emasnya itu.
Tergopoh-gopoh Thian-bak-sin-jiu maju menerimanya, tapi tiba-tiba ia menjerit keras terus mendeprok
jatuh terduduk, uang emas itu terbuang jauh, dengan merintih-rintih dia memijat telapak tangannya, lalu
dengan menggelundung sambil merangkak ia menghampiri uang emas itu, setelah berdiri lagi dengan
menyeringai, tawa tidak meringis tidak dia berkata kepada Thian-thay-mo-ki: "Terima kasih nona!”
Sikapnya mirip sekali dengan orang-orang melarat umumnya yang dapat rejeki, cepat sekali dia sudah
berubah sikap dan berkata kepada Ji Bun:
"Tuan, tiada penyakit yang tidak tersembuhkan di dunia ini, semua itu tergantung jodoh dan Hokki,
selamat bertemu pada lain kesempatan."
Habis berkata sambil menggoyang-goyang kelintingannya segera ia melangkah pergi.
Bayangan orang sudah lenyap di pengkolan sana, namun dalam telinga Ji Bun masih terkiang kata "tiada
penyakit yang tak terobati di dunia ini, semua itu bergantung jodoh dan Hokki saja" mungkinkah tabib
kelana ini pandai menawarkan racun? Gerak-gerik orang ini memang tak ubahnya seperti tabib kelilingan,
namun tutur katanya sangat mencurigakan.
"Dik, tabib ini amat mencurigakan," demikian kata Thian-thay-mo-ki, "kukira dia sendiri penyamaran
Biau-jiu Siansing."
"Ya, mungkin sekali, kenapa tadi kubiarkan dia pergi."
''Marilah kita menuju ke barat menemuinya seperti ramalannya tadi," Thian-thay-mo-ki berpen¬dapat,
"kalau dia betul Biau-jiu Siansing adanya, tentu dia menunggu kita disana "
"Kalau dia hanya menipu saja?" tanya Ji Bun. "Belum terlambat kita kembali ke sini dan geledah gedung
setan ini.”
Begitulah mereka lantas keluar menuju ke barat, kira-kira sepuluh li jauhnya, tempat yang ditunjuk
ternyata adalah tegalan liar yang tak dihuni manusia, hanya sebuah jalan kecil lurus langsung ke arah barat.
Sekian lama mereka celingukan tak melihat bayangan seorangpun, setelah berunding, akhirnya mereka
maju lagi puluhan tombak jauhnya, namun tetap tidak melihat bayangan seorangpun.
"Agaknya kita memang ditipu," ujar Ji Bun gegetun.
"Ah, kenapa kau begini tak sabar, tuh lihat, bukankah di atas gundukan tanah sana ada orang?"
"Belum tentu dia orang yang hendak kita cari."
Sementara itu jarak mereka sudah semakin dekat. Nah, itulah dia, orang tua bungkuk!" teriak Ji Bun,
semangatnya seketika berkobar. "Hayolah cepat."
Dua sosok bayangan melesat bagai panah meluncur. Memang betul orang yang duduk di atas gundukan
tanah adalah orang tua bungkuk yang pernah mereka lihat di Pek-ciok-hong yaitu Biau-jiu Siansing.
Dari kejauhan Ji Bun menyapa sambil angkat sebelah tangan:
"Maaf, tuan menunggu terlalu lama."
Biau-jiu Siansing tertawa, katanya:
"Ah, tidak, Lohu juga baru datang."
"Tuan memang tabib kelilingan yang pintar...."
"Pujian, pujian! Kalian bisa mencariku ke gedung setan di kota Cinyang, patut dipuji juga."
"Marilah kita bicara soal itu, tentunya kau sudah tahu maksud kedatangan kami?"
"Karena sek-hud bukan?"
"Aku sendiri tiada minat mendapatkan sek-hud, tuan tak usah mungkir dengan urusan lain."
“Ucapanmu bikin Lohu heran dan tak mengerti."
Ji Bun mendengus, jengeknya:
"Cayhe kagum akan gerak gerik dan kepandaian silatmu.........”
"Hal itu tak perlu kau katakan, aku tidak suka dipuji ....”
"Lekaslah tuan kembalikan saja, tiada keinginan lain kecuali kuminta kembali barangku itu?"
“Em, kau semakin ngelantur, sebetulnya barang apa yang kau minta?"
"Anting-anting batu pualam itu."
Bergetar sekujur badan Biau-jiu Siansing, teriaknya dengan penuh haru:
"Apa? Apa katamu?"
"Anting-anting batu pualam itu."
"Kan....anting-anting itu hilang?" ucapan ini amat lucu, Ji Bun melengak malah.
Cepat Thian-thay-mo-ki menyela:
"Apa maksud perkataan Cianpwe barusan?"
Biau-jiu Siansing tergelak-gelak, sahutnya:
"Bukankah dia memperbincangkan anting-anting pualam itu?"
"Betul, tuan menegas anting-anting itu hilang, apa maksudmu?"
"Kalau tidak hilang, kenapa dicari kian kemari, bukankah persoalannya cukup jelas?"
"Jadi kau juga tahu akan anting-anting itu?"
"Orang sebagai diriku, barang berharga apa yang tidak kuketahui?"
"Cayhe memohon dengan hormat," tukas Ji Bun, "harap kau suka kembalikan."
"Apa, anak muda, kau kira Lohu yang mencurinya?" teriak Biau-jiu Siansing. "Berdasar apa kau berani
menuduh Lohu?"
Ji Bun tertegun bahwasanya bayangan yang merebut anting-anting dari tangannya itu tidak dilihatnya
jelas bentuknya, hanya menurut dugaan dan rabaan Thian-thay-mo-ki saja sehingga dia mencari Biau-jiu
Siansing yang gerak-geriknya memang mirip dengan pencuri itu, terang persamaan ini belum meyakinkan
untuk dibuat tuduhan, memang tidak sedkit orang yang mungkin memiliki Ginkang sehebat itu, namun
kepandaian mencuri setinggi itu rasanya sukar dicari keduanya. Maka Ji Bun lantas menjawab:
"Berdasarkan gerakan dan caranya."
"Cara bagaimana anting-anting itu lenyap?
"Direbut dari tanganku."
"O, rada ganjil kejadian ini."
"Tuan tak usah mungkir, lekaslah kembalikan, demi mengejar kembali anting-anting itu, aku takkan
segan-segan turun tangan dengan keji."
"Bicara soal cara dan kepandaian, kau anak muda ini belum apa-apa dibandingkan aku, dihadapan Lohu
jangan kau takabur, ketahuilah, dengan kedudukan dan ketenaran Lohu, tidak sudi aku melakukan cara
serendah itu, apalagi mungkir."
"Tapi barusan kau bilang tahu akan seluk anting-anting itu?"
"Kenapa harus heran, bukankah kau pernah menolong puteri keluarga Ciang dari Kayhong yang ditawan
Cip-po-hwe, karena merasa hutang budi, dia memberi anting-anting sebagai tanda mata .......”
Kejut dan berubah air muka Ji Bun. "Kau juga tahu akan hal itu?" suaranya gemetar.
6.18. Puteri dari Istana Ngo-lui-kiong
"Ya, kebetulan hari itu aku memergoki kejadian,” kata Biau-jiu Siansing, "di tanganmu anting-anting itu
adalah benda pusaka, namun di tangan orang lain tak ubahnya seperti barang rongsokan belaka."
"Kenapa?" Ji Bun heran dan tidak mengerti.
Berkata Biau-jiu Siansing sungguh-sungguh:
“Tanda kepercayaan Ciang Wi-bin untuk mengambil hartanya bukan terdiri dari anting-anting itu saja,
malah ada aturannya pula. Kalau dia berikan anting-anting itu pada seseorang, seluruh cabang
perusahaannya juga diberitahu kepada siapa dia berikan tanda kepercayaan itu, hanya dengan tanda
kepercayaan saja tak mungkin bisa ambil uang, harus tanda kepercayaan dan orang yang membawanya
cocok satu sama lain sesuai laporan dari pusat. Kalau tidak, betapa besar kekayaan Ciang Wi-bin, apa tidak
bakal bangkrut kalau hartanya boleh sesuka hati diambil orang?”
Hal ini memang tak pernah terpikir oleh Ji Bun, kedengarannya juga masuk akal.
Berkata Biau-jiu Siansing lebih lanjut:
"Persoalannya tidak terletak pada nilai dan manfaat dari anting-anting itu, tapi pada maksud dan tujuan
dari pemberian anting-anting kepadamu, betul tidak?”
Cep-kelakep, Ji Bun tak mampu menjawab, agaknya persoalan semakin rumit, peduli kemana maksud
tujuan Ciang Bing-cu memberi anting-anting itu, betapapun dirinya harus bertanggung jawab.
Tiba-tiba Thian-thay-mo-ki cekikikan, ujarnya:
“Ditangan orang lain mungkin anting-anting itu tak berarti lagi, namun kalau terjatuh ditangan tuan,
dengan kepandaian tuan menyamar.. ."
Terguncang hati Ji Bun, kepandaian Biau-jiu Siansing merias diri dan menyamar juga tiada bandingannya
dalam Bu-lim, selama ini tiada orang yang pernah melihat muka aslinya, jika anting-anting itu terjatuh di
tangannya, betapa dia takkan menyaru sebagai dirinya untuk melepaskan nafsu tamaknya, maka ia
manggut-manggut mendengar ucapan Thian-thay-mo-ki.
Biau-jiu Siansing terloroh-loroh, serunya:
"Orang maling juga ada aturannya, kau kira orang macam apa Lohu ini?"
"Menurut caramu merebut Sek-hud, persoalan apa pula yang tak bisa kau lakukan?"
Mendelik mata Biau-jiu Siansing, katanya:
"Harta benda dan Sek-hud merupakan persoalan yang berbeda bagi Bulim, betapa tenar dan tinggi
kedudukan Bu-cing-so dan Siang-thian-ong, mereka toh sekongkol hendak merebut Sek-hud itu?" kata-kata
yang tajam ini membuat Ji Bun mati kutu tak dapat mendebat lagi.
Tapi kecerdikan Thian-thay-mo-ki lebih tinggi daripada Ji Bun, segera ia menanggapi:
"Sesuai apa yang kau katakan, untuk sementata biar kami percaya omonganmu, tapi di puncak Pek-ciokhong
kau pernah membeberkan asal usul sendiri sebagai seorang pentolan maling yang bertingkat tinggi.
Hilangnya anting-anting itu bukan mustahil karena dicuri oleh orang golonganmu, sesuai kedudukan dan
tingkatanmu, apakah sudi tolong menyelidiki persoalan ini?"
Biau-jiu Siansing menepekur sebentar, sahutnya kemudian:
''Nah, kan harus begitu bicaranya. Baiklah, akan kubantu mencarinya."
Masgul hati Ji Bun, perjalanan kali ini terhitung sia-sia, ucapan Biau-jiu Siansing tidak meyakinkan dirinya,
namun ia tak berani berkukuh menuduhnya, agaknya memang sulit untuk menemukan anting-anting itu.
Maka segera Ji Bun buka suara:
"Cayhe masih mohon keterangan darimu."
"Soal apa?"
"Tentang Jit-sing kojin yang bersekongkol dengan tuan."
"Sekongkol denganku?" tukas Biau-jiu Siansing dengan mata melotot.
„Kejadian di Pek-ciok-hong itu, siapapun tahu apa latar belakang yang tersembunyi di balik peristiwa itu."
"Ha ha, anak muda, jangan kau kira otakmu paling pintar sendiri."
"Aku hanya ingin tahu jejak Jit-sing kojin.”
"Lho, memangnya kau tidak kenal dia? untuk apa kau cari Jit-sing kojin?"
"Untuk membuat perhitungan utang jiwa."
Kaget sambil menyurut mundur Biau-jiu Siansing, teriaknya terbeliak:
"Hutang jiwa siapa?"
Ji Bun menggertak gigi, tanyanya:
"Tuan sudi memberitahu jejaknya?"
Biau-jiu Siansing menggeleng, katanya dengan suara tawar:
"Aneh bahwa kau punya perhitungan dengan dia, kau menuntut balas sakit hati orang lain?"
Tanpa menjawab pertanyaan, Ji Bun, malah mendesak dengan suara berat:
“Ucapanmu membuktikan bahwa kau berhubungan erat dengan dia, harap kau suka beritahu di mana dia
sekarang?"
"Aneh .....” gumam Biau-jiu Siansing, "teka-teki apa yang telah dia lakukan?"
"Tuan tidak menolak perintahku?”
"Lohu akan sampaikan hal ini kepadanya, biar dia sendiri yang membereskan perhitungan ini dengan
kau."
"Cayhe harap bisa segera bertemu dengan dia."
"Tidak mungkin, jejaknya tidak menentu, tak punya tempat tinggal tetap lagi."
"Apa tuan betul-betul bisa menyampaikan kabar padanya?"
"Sudah tentu, masakah aku mesti ingkar janji padamu yang lebih muda."
Dengan demikian maksud semula untuk mencari Biau-jiu Siansing menjadi gagal, demikian pula antinganting
pualam itu tetap tidak diketahui parannya, jejak Jit-sing kojin juga tak bisa diketahui, sungguh Ji Bun
amat penasaran. Tiba-tiba pikirannya tergerak, timbul suatu akal yang mengilhami benaknya, akalnya ini
akan bisa membuktikan apa betul Biau-jiu Siansing ini adalah orang yang rebut anting-anting pualam dari
tangannya, yaitu tangan kirinya yang beracun dan pernah menyentuh penyerobot itu tapi tanpa
menimbulkan reaksi apa-apa.
Maka tanpa bicara lagi, seperti kilat mendadak ia menerjang ke arah Biau-jin Siansing, sejak jalan darah
mati-hidupnya ditembus oleh orang tua aneh dibawah jurang Pek-ciok-hong, ditambah hawa murninya
sendiri, Lwekangnya sekarang sungguh teramat tinggi, betapapun lihay dan tinggi kepandaian Biau-jiu
Siansing, tak pernah dia menduga bakal diserang secara mendadak.
Hanya sekali berkelebat, sebat sekali tahu-tahu Ji Bun sudah melayang kembali ketempatnya semula,
tangan kirinya yang beracunpun berhasil menutul badan orang.
"Te-gak Suseng," teriak Biau-jiu Siansing gemetar dengan menyurut mundur selangkah, "apa sih
maksudmu?"
Thian-thay-mo-ki, terkesiap kaget dan melongo karena tindakan Ji Bun yang aneh serta mendadak ini,
sudah tentu ia tidak mengerti maksud tujuan Ji Bun, soalnya dia tidak tahu menahu tentang rahasia tangan
berbisanya itu.
Berubah membesi kaku rona muka Ji Bun, katanya tandas:
"Nah, kenyataan sudah membuktikan. tidak usah mungkir lagi, serahkan anting-anting itu padaku."
"Kenyataan apa?" tanya Biau-jiu Siansing melengak keheranan.
"Terlalu sedikit orang yang mampu bertahan dari seranganku, kenyataan ini bukan kebetulan?"
''Maksudmu orang yang menyerobot anting-anting dari tanganmu itu juga lolos tanpa kurang suatu apa
meski terpukul tanganmu yang berbisa?"
"Kan kau sudah tahu, kenapa tanya pula?"
"Hm, cukup menarik juga persoalanmu,” ujar Biau-jiu Siansing. "Baiklah, apa yang pernah kuucapkan
pasti kutepati, bertanggung jawab dan takkan berubah."
"Cayhe takkan percaya begitu saja."
"Memangnya kau bocah ini bisa berbuat apa?" Biau-jiu Siansing mengejek, "kecuali tanganmu itu, kuingin
tahu ada apalagi kemampuanmu yang lain?"
"Kukira kau takkan kecewa. Nah, rasakan pukulanku ini!" sembari bicara Ji Bun lantas kerahkan tenaga
ke tangan kanannya, sejak mendapat saluran tenaga dari orang tua aneh, terasakan oleh Ji Bun bahwa
kekuatan yang ia kerahkan kali ini terasa amat keras dan dahsyat, di tengah suara hardikan terakhir, tangan
kananpun menjotos dengan kekuatan hebat.
Blau-jiu Siansing angkat sebelah tangan, sikapnya acuh tak acuh, namun sebelum kedua kekuatan saling
bentrok, terasakan olehnya tekanan pukulan Ji Bun begitu keras dan besar. Tahu gelagat jelek, lekas dia
menahan gerakannya, berbareng kaki menggeser cepat ke samping, namun demikian damparan angin
kencang yang dahsyat bagai gunung meledak membuat dirinya terguncang sempoyongan. Betapa tinggi dan
dalam kepandaian silat dari Lwekang Biau-jiu Siansing, toh tidak berani melawan secara kekerasan, hal ini
membuat Ji Bun sendiri amat kaget, disadarinya bahwa Lwekangnya sekarang betul-betul sudah terlampau
hebat daripada tingkat yang pernah dia bayangkan sebelumnya.
Biau-jiu Siansing mengunjuk heran dan kaget, serunya dirangsang emosi:
"Buyung, kau...... tak mungkin memiliki Lwekang setinggi ini?" kedengarannya amat lucu perkataan ini.
Thian-thay-mo-ki sudah tahu akan pengalaman Ji Bun yang ketiban rejeki didasar jurang itu, walau
merasa diluar dugaan, namun tidak heran dan kaget.
"Terlampau banyak kejadian yang tak mungkin dibayangkan di dunia ini," jengek Ji Bun,"Nah, rasakan
pukulanku lagi ........”
Dikala tangannya terangkat, tiba-tiba Biau-jiu Siansing juga bergerak, hanya sekali berkelebat, tahu-tahu
tubuhnya sudah menggeser 10 tombak jauhnya, begitu cepat sehingga sulit diikuti oleh pandangan mata.
Tapi kepandaian Ji Bun sekarang sudah bukan olah-olah hebatnya. "Lari kemana!" sembari membentak,
secepat terbang iapun bergerak mengejar, maka tertampaklah dua sosok bayangan orang berkelebat saling
susul meluncur bagai meteor, dalam waktu singkat bayangan mereka lantas lenyap.
Thian-thay-mo-ki melenggong sekejap, segera ia ikut mengejar ke arah sana, namun kedua bayangan
orang di depan sudah menjadi dua titik hitam yang melayang bagai asap terbang, sebentar lagi sudah tak
kelihatan.
Dalam pada itu Ji Bun telah mengerahkan seluruh kekuatannya sambil tancap gas mengejar dengan
kencang, gerakannya seenteng burung walet, ternyata Biau-jiu Siansing yang tersohor memiliki Ginkang
tiada bandingan ini dapat dikejarnya dalam jarak tertentu untuk sekian lamanya. Akan tetapi nama Biau-jiu
Siansing memang bukan gelaran kosong, hanya terpaut selangkah saja, betapapun Ji Bun tak mampu
menyandaknya.
Jurusan mereka menuju ke barat laut. Tak jauh di depan sana adalah pegunungan yang turun naik,
hutan lebat membentang di beberapa tempat, hanya sekali menyelinap terus membelok lagi ke kanan, tibatiba
bayangan Biau-jiu Siansing sudah lenyap ditelan semak-semak.
Dengan gemas Ji Bun terpaksa menghentikan pengejarannya, walau tak berhasil menyandak lawan, tapi
bisa mempertahankan dalam jarak tertentu dengan Biau-jiu Siansing yang memiliki Ginkang paling top itu,
hal ini sudah cukup melegakan hatinya.
Cepat sekali, sang surya sudah condong ke barat tanpa terasa. Ji Bun sudah putar balik hendak menemui
Thian-thay-mo-ki, namun ia merandek serta berpikir sekejap, lalu ia ubah niatnya semula. Setelah
menerawang keadaan sekitarnya, segera ia tahu bahwa tempat di mana dia berada termasuk pegunungan
Tong-pek-san.
Dalam perjamuan berdirinya Wi-to-hwe tempo hari. Wi-to hwe-cu pernah menyatakan padanya akan
menyambut kedatangannya setiap waktu, kini ia pikir Lwekang dan kemampuan silatnya sekarang kiranya
cukup berkelebihan untuk bekal menuntut balas, kenapa tidak langsung meluruk ke Tong-pek-san saja dan
bertindak menurut gelagat, kalau gelagat tidak menguntungkan boleh pura-pura menanyakan keselamatan
Pui Ci-hwi, sekaligus untuk mencari tahu jejak Toh Ji-lan, untuk menunaikan pesan orang tua aneh itu.
Setelah berketetapan, segera ia berlari menuju ke arah Tong-pek-san. Bayangan Biau-jiu Siansing masih
selalu mengganggu pikirannya, ia yakin anting-anting itu pasti terjatuh ke tangan maling sakti itu, yang
paling mengerikan adalah orang tidak jeri menghadapi tangannya yang berbisa, malah waktu menyamar
tabib kelilingan, orangpun mengorek rahasia pribadinya, hal ini sungguh amat luar biasa, kecuali ayahnya
rasanya tiada orang lagi selain orang tua aneh dalam jurang itu yang tahu, lalu dari mana Biau-jiu Siansing
bisa tahu pula? Orang ini pandai menyamar diri, sulit ditemukan, terutama dirinya harus memberi
pertanggungan jawab kepada Ciang Bing-cu, lebih celaka kalau keluarga Ciang mengalami kebangkrutan
harta benda, bukankah ia malu berhadapan dengan mereka.
Semakin dipikir semakin membuat hatinya masgul, liku-liku kehidupan Kangouw sungguh serba
berbahaya, malah kepandaian silat tinggipun takkan berguna, bekal pengalaman dan pengetahuan umum
adalah yang terpenting.
Sejak keluarganya mengalami bencana, sifatnya memang sudah jauh berubah, kini setiap menghadapi
persoalan dia cukup tabah untuk berpikir dan mengendalikan diri, watak aslinya yang tersembunyi selama
ini, baru sekarang mulai terhalau dan berubah semua sepak terjangnya, karena perubahan itu sendiri timbul
dari nuraninya yang murni, maka sifat brutalnya selama ini menjadi berubah tabah dan terkendali.
Karena alam pikirannya terus bekerja, sehingga tanpa terasa gerak badannya sedikit lamban. Magrib
sudah berlalu, tabir malampun menjelang, jagat raya kini sudah menjadi gelap gulita. Sinar pelita di
perkampungan di depan nan jauh sana sudah mulai tampak.
Sekonyong-konyong dari belakangnya berkumandang sebuah suara nyaring enteng:
"Berhenti tuan!"
Ji Bun tersentak kaget dari lamunannya, segera ia berhenti, waktu ia berpaling dilihatnya seorang gadis
berpakaian ketat warna putih berdiri di depannya, malam gelap remang-remang, namun bayangan yang
serba putih jelas kelihatan.
"Nona siapa?" tanya Ji Bun.
Tanpa menjawab gadis haju putih itu maju mendekat sambil mengamat-amati Ji Bun, katanya :
"Agaknya Siangkong (tuan muda) adalah Te-gak Suseng?"
Gadis ini masih asing bagi Ji Bun, namun ia mengiakan juga.
"Sungguh beruntung dapat bertemu di sini."
"Apa, kenapa beruntung?”
"Aku mendapat perintah majikan untuk ngundang Siangkong ke sana."
Heran Ji Bun, tanyanya dengan menegakkan alis,
"Siapakah majikanmu?"
"Setelah berhadapan tentu Siangkong akan tahu."
Ji Bun berpikir pulang pergi, ia kira orang mungkin dari aliran yang tidak genah, daripada tersangkut
banyak urusan lebih baik tidak, kunjungannya ke Wi-to-hwe untuk menyelesaikan pribadinya lebih penting.
Maka ia menjawab tawar:
"Harap beritahu kepada maiikanmu, aku sendiri ada urusan penting, terpaksa menolak undangannya."
"Tapi ada seseorang ingin betul bertemu dengan Siangkong."
"Siapa?"
"Thian- thay-mo-ki."
"Apa? Dia ......”
"Dalam detik-detik kehidupannya yang terakhir, ia ingin melihat Siangkong."
“Melihat yang terakhir? Apa maksudmu?"
"Setelah sampai di tempat tujuan, Siangkong akan jelas seluruhnya,"
Baru dua jam sejak Ji Bun mengejar Biau-jiu Siansing berpisah dengan Thian-thay-mo-ki, kata-kata yang
memancing dari gadis baju putih ini rada ganjil, walau dirinya tidak pernah menaruh cinta terhadap
perempuan yang disebut itu, namun selama bergaul belakangan ini timbul juga rasa persahabatannya,
keselamatan jiwanya tak boleh tidak diperhatikan sama sekali, maka ia berkata:
"Baiklah, mari tunjukkan jalannya."
"Silakan ikut diriku," ujar gadis berbaju putih sambil putar tubuh terus berlari ke arah selatan, setelah
berlari cukup lama, mereka membelok ke timur memasuki sebuah hutan. Kepandaian Ji Bun kini sudah
tinggi, nyalinyapun besar, walau merasa curiga, ia tak gentar. Tak jauh mereka memasuki hutan, tahu-tahu
menyala sebarisan lampu-lampu gantung berderet memanjang menuju ke depan sebuah kelenteng kecil, di
depan kelenteng berdiri berjajar di kanan-kiri delapan laki-laki berseragam putih, sikapnya garang dan
kereng, begitu Ji Bun muncul mereka sama mengunjuk rasa tegang. Memang nama Te-gak Suseng sudah
cukup menggetarkan nyali setiap insan persilatan, apalagi pukulan tangannya yang jahat, membunuh orang
tanpa meninggalkan bekas luka sedikitpun, mungkin hal inilah yang menciutkan nyali mereka.
Memasuki pintu besar, mereka tiba di sebuah ruang pendopo yang amat luas, di depan bagian pinggir,
empat gadis berpakaian ketat warna putih masing-masing berdiri di kanan kiri, dua lampion besar warna
merah tergantung di emperan, suasana terasa mencekam. Dari pintu besar sudah kelihatan jelas keadaan
ruang pendopo yang diterangi lampion warna kehijauan, sehingga keadaan di belakang sana rada remangremang,
asap mengepul tinggi, namun tidak kelihatan bayangan seorangpun.
Gadis yang menunjuk jalan membalik serta berkata:
"Harap Siangkong tunggu sebentar." lalu dia berlari ke belakang, tak lama ia keluar kembali dan gerakan
tangan: "Silakan masuk!"
Tanpa curiga dan tidak ragu sedikitpun, dengan langkah tegap Ji Bun lantas masuk. "Hah!" tiba-tiba ia
menjerit tertahan waktu memandang sana, di lantai ruang pendopo ternyata terbaring 13 mayat orang
berseragam putih, noda-noda darah belum kering, agaknya mereka terbunuh dalam waktu dekat ini.
Selagi dia melenggong, bau harum tiba-tiba merangsang hidung, tampak seorang gadis muda belia tak
ubahnya seorang puteri raja dengan pakaian serba putih berjalan keluar dari belakang tabir kain sari, di
belakangnya mengiring seorang laki-laki tua berjubah putih dan berperawakan tegap kekar.
Begitu meihat laki-laki tua jubah putih ini, Ji Bun lantas tahu siapa mereka orang ini. Orang Ngo-luikiong.
Laki-laki jubah putih bertubuh tinggi besar ini adalah komandan patroli Ngo-lui-kiong, yaitu Pek-sat-sin
The Cun yang pernah dilihatnya waktu memperebutkan Sek-hud tempo hari, Thian-thay-mo-ki pernah
melukainya dengan Soh-li-sin-ciam.
Dengan langkah gemulai puteri jelita berpakaian serba putih ini menuju ke tengah terus duduk di kursi
kebesaran yang berlapis kulit harimau, Pek-sat-sin tetap mengiringi disebelahnya.
Berkulit putih bersih rambut hitam mengkilap, bibir merah laksana delima merekah, mengenakan pakaian
serba putih, begitu cantik jelita puteri ini hingga menyiiaukan pandangan rasanya.
Tanpa terasa Ji Bun menelan air liur. Kelihatannya gadis berbaju putih ini lebih cantik dari gadis baju
merah Put Ci-hwi, sikapnya lebih agung dan suci, lembut dan ramah.
Dengan mata melotot Pek-sat-sin pandang Ji Bun, katanya:
"Te-gak Suseng, majulah menghadap Kiong-cu (puteri) kami."
Tergerak hati Ji Bun, tak diduganya bahwa puteri Ngo-lui-kiong akhirnya terseret juga ke percaturan
dunia persilatan, peduli kedudukan dan asal usulnya, apalagi dia seorang perempuan, betapapun dirinya tak
boleh berlaku gegabah dan tidak tahu aturan, maka ia segera mengangguk, katanya:
"Cayhe menyampaikan hormat."
Puteri baju putih mendehem, lalu menjawab:
"Tuan tak usah banyak adat!" suaranya semerdu kicauan burung kenari, walau sikapnya dingin, namun
kedengarannya nyaring.
"Ada persoalan apa nona mencariku?" tanya Ji Bun.
"Tentunya tuan tidak lupa utang tujuh jiwa anak buah kami bukan?
"Cayhe tidak pernah menyangkal, sebagai insan persilatan yang berkelana di Kangouw, golok selalu
berlumuran darah, jika aku tidak bunuh orang kepalaku sendiri yang bakal terpenggal, kalau kedua pihak
sudah saling bertentangan, mati-hidup atau luka-luka merupakan kejadian jamak, tentunya nona tahu juga
akan hal ini.”
Puteri baju putih itu tertawa tawar, katanya:
"Memang betul juga, namun caramu membunuh mereka kukira terlalu rendah."
"Jadi untuk hal inikah nona mengundangku kemari?"
"Agaknya tuan amat tabah dan sabar memangnya kau kira aku tidak punya pekerjaan dan hanya ingin
mengobrol dengan kau?”
"Lalu apa maksudmu, jelaskan saja."
"Tuan sudah melihat ke 13 mayat itu? itulah buah karya Thian-thay-mo-ki."
Berdegup hati Ji Bun, belum lama dirinya berpisah dengan Thian-thay-mo-ki, bagaimana mungkin dia
membunuh orang-orang ini? Dari pergaulannya belakangan ini ia tahu bahwa Thian-thay-mo-ki tidak bersifat
kejam dan suka membunuh orang, maka dengan sikap tak acuh ia berkata:
"Apakah mereka anak buahmu? Pandai betul mereka mencari kematian?"
Berubah rona muka puteri baju putih, katanya mendesis dengan mata setengah memicing:
"Tuan pandai putar lidah, namun menurut aturan Kang¬ouw, setiap utang jiwa harus bayar jiwa ....”
"Tanpa diselidiki dulu sebab musababnya dan pihak mana yang salah?"
"Terhadap orang-orang sebangsa tuan, kukira tidak perlu mempersoalkan siapa salah siapa benar."
Ji Bun naik pitam, mukanya membesi, katanya sambil mengernyit kening:
"Nona sendiri yang mengatakan demikian, bagus sekali, kalau begitu aku leluasa turun tangan."
"Te-gak Suseng," jengek puteri berbaju putih dengan nada mencemooh, "malam ini jangan harap kau
bisa bertingkah di sini."
"Agaknya nona amat yakin, apa kehendakmu?"
"Marilah ikut aku ke belakang," dengan gerakan bergontai ia berdiri terus menuju ke belakang deretan
patung pemujaan, begitu gemulai gerak-geriknya sungguh amat menawan hati. Ji Bun mengikut di
belakangnya, di balik deretan patung-patung mereka diadang sebuah pintu tengah. Begitu memasuki pintu
tengah ini, nafsu membunuh seketika merangsang hati Ji Bun.
Menyusuri serambi panjang yang terbuat dari papan-papan batu marmer, akhirnya mereka tiba di sebuah
pekarangan, di empat penjuru tergantung lampu-lampu kaca yang membuat tempat ini terang benderang,
tepat di tengah-tengah pekarangan, berdiri dua cagak kayu, seorang perempuan tampak terbelenggu di
cagak sebelah kanan, dia bukan lain adalah Thian-thay-mo-ki, tertampak kedua matanya guram, darah
meleleh dari hidung dan mulutnya, rambutnya awut awutan, pakaiannya kusut masai, kalau bukan terluka
parah waktu berhantam, tentunya dia disiksa dengan kejam.
Empat laki-laki berbaju putih berjajar di belakang cagak, dua diantaranya masing-masing mengacungkan
pedang ke Hiat-to mematikan dibadan Thian-thay-mo-ki.
Begitu melihat Ji Bun muncul, tiba-tiba terpancar cahaya aneh pada kedua biji mata Thian-thay-mo-ki
namun cepat sekali lantas lenyap pula, terunjuk senyuman getir pada wajahnya.
Puteri berbaju putih tadi beranjak ke kanan dan berdiri di pinggir sana, Pek-sat-sin The Gun tetap
mengiringi di belakangnya. Sementara empat orang laki-laki tua berjajar di sebelah kiri, agaknya kepandaian
dan kedudukan keempat orang ini tidak rendah.
Muka Ji Bun sudah membesi gelap, sekali melejit dia meluncur ke tengah pekarangan, katanya dengan
suara gemetar kepada Thian-thay-mo-ki :
“Cici, apa yang telah terjadi?"
Kata Thian-thay-mo-ki sayu:
"Tujuanku mengejarmu, di tengah jalan kepergok mereka, akhirnya tertawan .......”
"Kau terluka?"
"Ya, malah disiksa pula."
Mendadak Ji Bun putar badan, teriaknya beringas kepada puteri berbaju putih:
"Lepaskan dia!"
Dingin suara puteri baju putih :
"Cagak yang satu itu sudah kusiapkan untukmu, tuan! Pintu neraka sudah terbuka menyambut kalian."
Betapa sabar Ji Bun juga tak tertahan lagi, apalagi yang dihadapi adalah Ngo-lui-kiong, kenapa ia harus
sungkan-sungkan terhadap golongan rendah ini, saking gusar ia malah terbahak-bahak, serunya :
''Bagaimana kalau yang berkuasa di neraka juga takut menerima kedatanganku?"
"Kukira pikiranmu yang keblinger!”
"Nona masih muda dan cantik rupawan, apakah kau sudah bosan hidup?"
Tiba-tiba salah seorang berbaju putih di belakang cagak melolos sebilah badik terus diacungkan di depan
muka Thian-thay-mo-ki. Puteri baju putih berkata pula:
"Betapa cantik rupanya itu, apa kau senang melihat mukanya berhias?"
Agaknya Thian-thay-mo-ki sudah nekat, serunya:
"Dik, jangan hiraukan aku, kau tahu apa yang harus kau lakukan."
Badik di tangan laki-laki itu tiba-tiba menggores ke muka Thian-thay-mo-ki yang cantik itu dan
meninggalkan sejalur luka memanjang yang berdarah.
Ji Bun mengertak gigi, tenaga sudah dipusatkan pada telapak tangan kiri. Mukanya merah padam
dilumuri nafsu yang membara, namun sedapat mungkin ia tekan perasaannya. Dengan tajam ia pandang
Thian-thay-mo-ki, pandangan yang menyatakan bahwa ia telah berlaku gegabah, membalas budi kebaikan
dengan kebrutalan. Thian-thay-mo-ki pejamkan mata, dua titik air mata membasahi pipinya.
"Te-gak Suseng, jangan kau tidak tahu diri, menyerahlah saja!" ejek puteri baju putih.
Mendelik sebesar kelereng biji mata Ji Bun, badannya gemetar menahan emosi, seluruh urat nadinya
terasa hampir meledak saking gusar dan gugup.
"Su-lo (empat tertua)," puteri baju putih memberi perintah, "tangkap dia!"
Serentak keempat laki-laki tua yang berdiri di sebelah kiri mengiakan, dengan langkah rapi dan teratur,
mereka bergerak pelahan menghampiri Ji Bun, bahwa pihak musuh mulai bergerak sebetulnya malah
kebetulan bagi Ji Bun, namun jiwa Thian-thay-mo-ki terancam di ujung pedang musuh. Menangkap
perampok harus menawan pentolannya.
Begitu timbul pikiran ini, cepat sekali ia menubruk ke arah puteri berbaju putih itu.
Agaknya puteri baju putih sudah menduga dan siaga, begitu Ji Bun berkelebat segera ia gerakkan kedua
tangannya memapak, ia berduduk sambil melontarkan pukulannya, namun kekuatannya sungguh hebat luar
biasa.
"Blum!" di tengah suara dasyat ini, gerak-gerik Ji Bun sedikit terganggu, Pek-sat-sin yang siap dari
samping segera menghantam. Hebat sekali Ji Bun mematahkan serangan orang dengan telapak tangan
kanan. Sejak Lwekangnya berlipat ganda, setiap gerak-geriknya membawa desir angin kencang. Dua
kekuatan saling bentrok mengeluarkan angin yang berderai ke empat penjuru, tampak Pek-sat-sin
terhuyung-huyung, darah menyemprot dari mulutnya, puteri baju putih menjerit kaget karena tidak
menduga bahwa Ji Bun memiliki kekuatan yang luar biasa ini.
Dalam pada itu keempat laki-laki tua serba putih juga lantas melompat maju mengurung Ji Bun, setiap
kali menubruk dan menerjang, setiap kali serangan Ji Bun selalu gagal dan kandas, ia tetap terkepung oleh
empat lawannya. Semua ini terjadi dalam sekejap saja. Tanpa bersuara, cukup dengan isyarat kedipan mata
serempak keempat laki-laki tua itu dapat bergerak bersama dan menggempur.
Dapatkah Thian-thay-mo-ki diselamatkan oleh Ji Bun?
Siapakah sebenarnya si pencuri anting-anting milik Ji Bun dan dapatkah ditemukan kembali?
7.19. Racun Paling Dikenal, Jarang Dan ... Sama
Angin pukulan dahsyat bersimpang siur menerjang dan menggencet semakin kencang. Dalam waktu
singkat benturan-benturan keras bagai halilintar menggetar bumi merontokkon debu di atas wuwungan
rumah.
Gerak-gerik Ji Bun kelihatan semakin semrawut, seperti terombang ambing oleh damparan kekuatan
delapan jalur pukulan musuh, keruan tersirap darahnya, teringat pelajaran tempo dulu waktu dirinya
terkepung oleh The Gun, cepat-cepat ia menghimpun semangat memusatkan pikiran, lambat-laun gerak
langkahnya mulai terkendali, sekali menggerakkan tangan, ia serang laki-laki tua yang berdiri tepat di
hadapannya.
"Blang", pukulan dahsyat ini dilandasi tambahan damparan kekuatan lawan sehingga menambah
perbawa serangannya, lekas ia berputar secara berlawanan dari pusaran kekuatan musuh, sehingga
serangan para lawannya sebagian besar dapat dipunahkan.
Ji Bun nekat, ia menggeser badan terus mendorong dengan seluruh kekuatannya. Suara keras kembali
berdentuman, salah satu dari Su-lo tampak tergentak mundur jatuh terduduk, tiga yang lain sempoyongan
mundur. Darah tampak meleleh dari ujung mulut Ji Bun. Gempuran kekerasan ini boleh dikata sedahsyat
ledakan gunung. Semua hadirin sama berteriak kaget.
Napsu membunuh Ji Bun semakin berkobar, darah tak kuasa ditekan lagi, beberapa kali berkelebat,
terdengarlah salah satu dari Su-lo menjerit roboh binasa. "Huuuaaah!" seorang lagi jatuh terkapar tak
bernyawa.
"Berhenti!" hardikan nyaring seolah-olah mempunyai wibawa yang besar, tanpa terasa Ji Bun
menghentikan serangan dan memutar badan. Muka puteri berbaju putih membesi berdiri di belakang Thianthay-
mo-ki, sorot matanya beringas memantulkan sinar yang mengerikan. Beberapa laki-laki baju putih itu
juga sama mundur berderet di belakang cagak kayu. Air muka Pek-sat-sin The Gun berkerut berubah
bentuk, agaknya dia tersiksa oleh rasa sakit dalamnya.
"Te-gak Suseng," bentak puteri baju putih, "agaknya terlalu rendah aku menilaimu."
Ji Bun menggeram, katanya: "Lepaskan dia, akan ku beri kesempatan hidup kalian."
"Jangan kau mimpi, sebelum aku mati, dia akan mampus lebih dulu," ancam puteri baju putih.
Baru saja Thian-thay-mo-ki hendak membuka suara, puteri baju putih segera menutuk lehernya, seketika
badannya mengejang dan merontah-rontah, mulut terbuka tapi tak keluar suara, wajahnya yang cantik
menyeringai seram seperti drakula.
Ji Bun semakin beringas, teriaknya kalap. "Ingin mampus kau!" Segera ia menerjang ke arah cagak.
"Berdiri!" puteri baju putih membentak, jari-jari tangannya yang halus mengancam batok kepala Thianthay-
mo-ki.
Dengan mengertak gigi terpaksa Ji Bun menghentikan aksinya, sungguh dia tidak tega melihat Thianthay-
mo-ki gugur di depan matanya secara mengenaskan. Dua orang tua yang masih hidup segera
menubruk bersama.
Lekas puteri baju putih mencegah.
"Ji lo harap mundur!"
Dengan mendelik gemas terpaksa ke dua orang tua mundur tanpa bersuara. Dua mayat orang tua yang
lain segera digotong ke samping oleh empat laki-laki baju putih.
"Sekali lagi kuperingatkan, lepaskan dia!" ancam Ji Bun.
Berkilauan biji mata puteri baju putih, setelah menepekur sebentar baru berkata:
"Lepaskan boleh, tapi ada syaratnya."
"Syarat apa?"
"Terangkan asal usul dan aliran perguruan kalian, perhitungan ini boleh kita selesaikan kelak."
"Soal perhitungan ini selalu kutunggu tuntutanmu di Bulim, soal asal usul jangan harap kau mengetahui."
"Tapi inilah syaratku."
"Tak dapat kuterima."
Pada saat itulah dua kali lolong jeritan berkumandang dari pintu kelenteng, semua orang termasuk Ji Bun
sama terperanjat, Pek-sat-sin The Gun segera berlari masuk ke dalam kelenteng, cepat sekali terdengar
benturan keras, agaknya dalam segebrak Pek-sat-sin juga kena dibereskan oleh si pendatang.
"Blak, bluk," tahu-tahu dua sosok mayat terlempar ke luar jatuh di tengah pekarangan.
Kiranya mayat kedua laki-laki baju putih, setelah mampus mayatnya di lempar keluar.
Pucat beringas muka puteri baju putih. Sesosok bayangan berkelebat seenteng, setan melayang keluar
dan berdiri tegak di tengah lapangan.
Kedua orang tua baju putih segera menghadang maju, seorang di antaranya membentak:
"Sahabat orang kosen dari mana?"
Waktu Ji Bun berpaling, dilihatnya yang datang seorang laki-laki pertengahan umur bermuka hitam,
kedua matanya menyorot terang, Ji Bun merasa pernah melihat sorot mata orang ini, namun tak teringat di
mana dan kapan pernah melihat wajah seperti ini.
Pandangan laki-laki muka hitam menyapu ke seluruh gelanggang, katanya dingin:
"Seratus li disekeliling daerah Tong-pek-san ini dilarang membunuh orang, apakah kalian tidak tahu
aturan ini?”
Tergerak hati Ji Bun. Seorang tua baju putih yang lain segera membuka suara:
"Sahabat, perkenalkan dirimu."
"Akulah komandan ronda Wi-to-hwe."
"Komandan ronda Wi-to-hwe?" puteri baju putih menegas.
"Betul, nona ini tentunya puteri kesayangan Ciangbunjin Ngo-lui-kiong In Giok-yan?"
"Ya, memang aku inilah."
"Kenapa nona membunuh orang di tempat terlarang kami?"
"Pihak kalian tak pernah mengumumkan bahwa daerah ini terlarang."
"Peraturan ini sudah diketahui oleh umum."
"Lalu bagaimana komandan harus bertanggung jawab atas kedua jiwa orang kami?"
"Orang-orangmu tak mau memperkenalkan diri, malah menyerang lebih dulu, mereka memang harus
menerima ganjarannya."
Kedua orang tua baju putih menggeram gusar, kata salah seorang: "Sahabat menghina orangkarena
merasa berkepandaian tinggi?"
"Kalau benar kau mau apa?" jengek laki-laki muka hitam.
"Kau harus membayar dengan jiwamu."
"Boleh, kalau kalian yakin bisa menagih kepadaku."
"Jangan bertingkah!" kedua orang tua ini barusan sudah terjungkal di tangan Ji Bun, hatinya penasaran
dan tidak terlampias, kini mereka mendapatkan sasarannya, serempak mereka menyerang.
Laki-laki muka hitam mengekeh dingin, katanya: "Biar aku menjajal sampai di mana kehebatan Ngo-luikang."
Mulut bicara tangan bergerak, kaki berkisar maju, kedua tangannya terangkat masing-masing
menghadapi seorang tua baju putih.
"Daar, pyaar!" dua kali suara keras, seketika kedua orang tua baju putih tergeliat, laki-laki pertengahan
umur muka hitam juga tersurut mundur setindak.
Ji Bun mundur dan menonton sambil berpeluk tangan, Wi-to-hwe adalah musuhnya, orang-orang Ngalui-
kiong inipun memusuhinya, biarlah mereka berhantam mati-matian, hal ini akan menguntungkan dirinya.
Karena lebih banyak seorang, sudah tentu kedua orang tua baju putih semakin berkobar semangat
tempurnya, ditengah gerungan panjang, kembali mereka ayun tangan, menghadapi damparan angin
pukulan sedahsyat gugur gunung ini, laki-laki muka hitam hanya melayangkan kedua tangannya saja dari
jauh, belum lagi kekuatan pukulan kedua orang tua itu dilontarkan, mendadak mereka terhuyung mundur
sendiri dan sama menjerit: "Racun!" keduanya lantas terjungkal bersama, setelah berkelejetan, lalu tak
bergerak lagi.
Mencelos hati Ji Bun, tak kira laki-laki muka hitam inipun pandai main racun, dari kematian kedua orang
tua baju putih ia dapat meraba racun yang digunakan laki-laki muka hitam bukan sembarang racun.
In Giok-yan atau puteri baju putih tampak pucat. ''Nona In," ujar laki-laki muka hitam," aku tidak ingin
membunuh kau, kau boleh lekas pergi. Sambil gigit bibir sekian lamanya ln Giok-yan menatap laki-laki muka
hitam, mendadak tangannya terangkat hendak mengepruk kepala Thian-thay-mo-ki.
"Berani kau!" bentak Ji Bun dengan gemetar.
"Jangan melukainya," dalam waktu yang sama laki-laki muka hitam juga membentak.
In Giok-yan melengak, hanya serambut telapak tangannya hampir mengenai batok kepala Thian-thaymo-
ki, kalau tenaga dia kerahkan, batok kepala Thian-thay-mo-ki pasti pecah berantakan.
"Jangan kau melukainya, perkumpulan kami sedang mencarinya,” ujar laki-laki muka hitam lebih lanjut.
"Aku harus menuntut balas bagi orang-orangku yang menjadi korban keganasannya."
"Pihak kami inginkan dia hidup."
"Maaf tidak bisa ........."
"Jangan kau paksa aku membunuhmu?"
Berkeriut gigi In Giok-yan, katanya penuh kebencian: "Sejak kini Ngo-liu-kiong akan membuat
perhitungan kepada Wi-to-hwe.. ..... "
"Itu soal lain. Kapan saja kalian boleh menuntut balas."
Setelah sekian lamanya, secara diam-diam Thian-thay-mo-ki sudah berhasil menjebol tutukan Hiat-tonya,
maka ia bersuara tertahan: "Dik, lihatlah kulit kepalanya, dia inilah orang berkedok yang pernah turun
tangan jahat kepadamu."
Bergetar pula badan laki-laki muka hitam, sorot matanya seketika beringas buas.
Ji Bun sendiri juga tersentak kaget, waktu ia pandang kepala orang, memang betul, diatas telinga kanan
laki-laki muka hitam ini ada bekas codet memanjang, walaupun ditutupi rambut, namun sebagian masih
kelihatan jelas, kalau Thian-thay-mo-ki tidak memberitahu, musuh yang misterius ini mungkin akan
dibiarkan begitu saja. Tak nyana bahwa orang yang menyaru ayahnya dan turun tangan dua kali secara keji
terhadap dirinya ternyata adalah orang Wi-to-hwe pula. Kenapa dia ingin membunuhku? Mungkinkah pihak
mereka sudah tahu rahasia pribadiku? Berdiri bulu kuduk Ji Bun, terasa olehnya seolah-olah sekeliling dirinya
sudah diawasi oleh orang-orang mereka.
Laki-laki muka hitam mendadak menghampiri Ji Bun malah. Ji Bun mendesis geram sambil mengertak
gigi:
"He he, agaknya Thian memang sudah mengatur pertemuan kita malam ini."
"Anak keparat, rupanya nyawamu masih panjang?"
"Perbuatanmu sungguh rendah dan memalukan."
"He he he he, anak keparat, malam ini kau pasti mampus!"
Amarah membakar dada Ji Bun, kebencianpun meresap pada sendi-sendi tulang dan di dalam aliran
darahnya, namun ia menekan sekuatnya, ia harus bikin terang persoalannya lebih dulu, perbuatan orang ini
pasti mempunyai latar belakang, maka ia berkata:
"Tuan turun tangan dengan segala cara yang rendah dan kotor, dua kali jiwaku hampir tamat karena
pembokonganmu, kenapa?"
Laki-laki muka hitam menyeringai sadis, ujarnya:
"Karena aku ingin kau mampus."
"Kau, ingin aku mampus? Kita belum pernah kenal, tidak bermusuhan lagi bukan?"
"Kukira tiada perlunya kuberi penjelasan."
"Di balik semua peristiwa ini pasti ada orang yang mengendalikan, siapa yang suruh kau berbuat jahat
kepadaku?"
"Terserah bagaimana dugaan dan pikiranmu?"
"Siapa yang menyuruhmu?" Ji Bun menegas pula.
"Jangan mengoceh saja, setelah mampus kau akan mengerti."
Ji Bun tak kuasa mengendalikan emosinya lagi, bentaknya: "Akan kubikin kau hancur!" Di tengah
hardikannya, telapak tangan kiri dikerahkan sepenuh tenaganya, telapak tangan kanan juga menabas.
Laki-laki baju hitam tidak gegabah, iapun angkat tangan menyambut dengan kekerasan, ditengah suara
gemuruh yang menggetar bumi, hawa panas serasa pecah berderai ke empat penjuru, lampu-lampu kaca
yang bergantungan sama pecah berjatuhan, Ji Bun tergeliat, sementara laki-laki muka hitam terpental
mundur empat langkah.
Lekas In Giok-yan memberi isyarat kepada anak buahnya, beberapa orang di belakangnya segera maju,
seorang segera melepas tali-tali yang membelenggu Thian-thay-mo-ki.
Laki-laki muka hitam tertawa sinis, tahu-tahu badannya berkisar satu lingkaran ke sana, tiba-tiba
bayangannya berkelebat ke tempatnya semula pula, di sana terdengar suara gedebukan, empat orang anak
buah In Giok-yan sama terjungkal roboh tak bernyawa, yang masih hidup sama terpaku gemetar.
Ji Bun sendiri bergidik melihat kehebatan gerakan ini, untung dia mendapat saluran Lwekang orang tua
aneh, betapapun dia masih bukan tandingan musuhnya. Begitu cepat gerakan laki-laki muka hitam, tanpa
berhenti tiba-tiba dia menubruk kearah Ji Bun seraya mencengkeram dadanya, kecepatannya laksana kilat
menyamber. Kebetulan bagi Ji Bun, tidak berkelit dia malah memapak maju, telapak tangannya tegak
menebas ke dada lawan pula. Dua keluhan keluar dari dua mulut. Jubah Ji Bun tercengkeram robek tak
keruan sehingga lengan kirinya yang disembunyikan di dalam baju kelihatan. Namun tangan kiri beracun. Ji
Bun inipun berhasil memukul dada lawan.
"Tangan!"
Thian-thay-mo-ki dan In Giok-yan menjerit bersama tanpa berjanji.
Setelah terhuyung dua langkah, laki-laki muka hitam lantas terkapar celentang. Ji Bun memburu maju
terus mencengkeram baju dada orang serta menjinjingnya, teriaknya beringas:
"Matipun takkan kubiarkan badanmu utuh ....." belum habis dia berkata, tiba-tiba telapak tangan laki-laki
muka hitam menggenjot ke dada Ji Bun.
Mimpipun Ji Bun tidak menyangka lawan bakal pura-pura terluka parah oleh racunnya dan secara
mendadak membokongnya pula, betapa keras genjotan jarak dekat ini, apalagi lawan memang sudah siap
dan menghimpun setaker tenaganya.
Thian-thay-mo-ki dan ln Giok-yan sama menjerit kaget. Dengan muntah darah Ji Bun terlempar beberapa
tombak jauhnya. Laki-laki muka hitam mendongak sambil tergelak-gelak. Sebaliknya hancur luluh hati Thianthay-
mo-ki, dengan menjerit kalap segera ia meronta sehingga tali yang meringkusnya itu putus berkepingkeping.
Tak pernah terpikir oleh In Giok-yan bahwa Thian-thay-mo-ki mampu menjebol Hiat-to yang tertutuk,
perubahan ini terjadi secara mendadak pula sehingga membuatnya tertegun kaget.
Gerak gerik laki-laki muka hitam sungguh laksana kilat, belum lagi Thian-thay-mo-ki berlari mencapai
tujuannya, beruntung ia melontarkan tiga kali pukulan, kontan Thian-thay-mo-ki terpental, darah meleleh
dari mulut dan hidungnya. Sebelum badannya tersungkur jatuh ke tanah, sebat sekali laki-laki muka hitam
melejit maju sambil ulur tangan mencengkeramnya.
In Giok-yan masih melenggong ditempatnya, iapun mati kutu.
Kata laki-laki muka merah sambil melirik kepada In Giok-yan: "Sebelum pikiranku berubah ingin
membunuhmu, lekas kau enyah dari sini, orang-orangmu di luar masih hidup, hanya Hiat-tonya saja
tertutuk."
In giok-yan membanting kaki, serunya: "Sejak kini kami bersumpah takkan hidup sejajar dengan Wi-tohwe!"
Habis berkata ia gerakkan tangan terus bergegas keluar, anak buahnya yang masih tersipu-sipu mengintil
di belakangnya, mayat teman-temannya pun tak sempat diurus lagi.
Sambil menyeret Thian-thay-mo-ki, laki-laki muka hitam mendekati Ji Bun. "Apa yang hendak kau
lakukan?" teriak Thian-thay-mo-ki serak.
Laki-laki muka hitam menyeringai seram, katanya.
"Tangan bocah keparat ini beracun, hatinya jahat lagi, badannya harus dileburkan supaya tidak
menimbulkan bencana bagi orang lain."
"Baik, menjadi setanpun takkan kuampuni kau!" desis Thian thay-mo-ki.
"Ha ha ha, nona ayu, kau takkan menjadi setan!" sorot matanya semakin jalang, nafsu birahinya tampak
berkobar.
Karena urat nadi tangannya terpegang. Thian-thay-mo-ki tak mampu meronta, apalagi Lwekang laki-laki
muka hitam jauh lebih tinggi, umpama dia tidak tertawan juga takkan mampu melawan.
Laki-laki muka hitam angkat tangannya terus mengepruk ke batok kepala Ji Bun. Thian-thay-mo-ki
pejamkan mata dan menjerit tertahan, serasa sukmanya ikut terbang bersama nyawa Ji Bun yang sudah
tamat. "Blang", hancur luluh hati Thian-thay-mo-ki. terasa badannya ikut terseret mundur gentayangan.
"0-mi-to-hud (Amitha Budha)," sekonyong-konyong seseorang bersabda dengan suara lantang. "Wi-tohwe
hanya namanya saja membela keadilan dan menegakkan kebenaran, namun anak buahnya ternyata
melakukan perbuatan serendah dan sekotor ini."
Suara yang keras berisi ini membuat Thian-thay-mo-ki tersentak sadar dari kepedihannya, waktu dia
angkat kepala, dilihatnya pujaan hatinya masih rebah tak bergerak, tidak nampak tanda terluka, namun di
depan sana tahu-tahu berdiri seorang Hwesio besar yang kereng berwibawa.
Jari-jari laki-laki muka hitam yang memegangi Thian-thay-mo-ki terasa rada gemetar, ini membuktikan
bahwa hatinya agak jeri.
"Siapakah Toa-hwesio ini?" tanyanya.
"Pinceng Thong-sian," sahut hwesio itu, tiba-tiba kedua biji matanya memancarkan sinar terang,
bentaknya menatap tajam laki-laki muka hitam: "Lepaskan perempuan ini!"
"Cayhe hanya bertindak menurut perintah."
“Perintah siapa?"
"Sudah tentu Hwecu (ketua) kami."
"Pinceng suruh kau melepaskan dia, kalau tidak terpaksa Pinceng melanggar pantangan."
Berputar biji mata laki-laki muka hitam, katanya:
"Silakan Toa-hwesio unjukkan dulu kepandaian, supaya Cayhe ada alasan untuk memberi laporan?"
Tong-sian berpikir sebentar, tiba-tiba bibirnya mencebir, segulung angin segera meniup dari mulutnya ke
arah lampu gelas yang tergantung lima tombak diemperan sana. "Cret", lampu gelas itu tahu-tahu
berlubang sebesar jari, sinar apipun seketika padam.
Bergetar suara laki-laki muka hitam: "Sian-thian-cin-kin, hebat betul Lwekang Toa-hwesio," lenyap
pujiannya, mendadak ia lempar Thian-thay-mo-ki ke arah Thong-sian, sebat sekali ia terus melesat keluar.
Thong-sian bersabda sekali lagi, kaki kanan berkisar ke samping sehingga tubuhnya ikut menyingkir,
sebetulnya ia tak mau bersentuhan dengan tubuh perempuan. Tak nyana daya luncuran tubuh Thian thaymo-
ki yang terlempar ini sungguh kencang, sehingga luncurannya bertambah jauh ke sana dan jatuh
terguling di tanah, mulutnya masih sempat berpekik: "Racun!" Badannya terus lunglai tak bergerak lagi.
"Amitha Budha." Thong-sian bersabda pula, "perbuatan kejam dan keji. Pinceng salah hitung dan
dikelabui." Cepat ia melangkah maju serta meraba pernapasan Thian-thay-mo-ki katanya membanting kaki:
"Celaka!" Tiba-tiba badannya melenting tinggi terus melayang bagat seekor bangau, mengejar ke sana.
Tak lama setelah Thong-sian melesat terbang mengejar musuh, tiba-tiba Ji Bun merintih sekali terus
membuka mata, sekejap dia celingukan terus geleng kepala, dengan cepat pikirannya lantas sadar dan
jernih kembali, semua kejadian segera terbayang di dalam benaknya. setelah menghirup napas panjang ia
berkata:
"Jiwa manusia begini culas, kenapa aku selalu kena diselomoti?"
Di mana matanya menyapu pandang, tiada seorang hidup yang dilihatnya, dua lampu kaca masih
menyala menerangi mayat-mayat yang bergelimpangan di tanah. Pelan-pelan dia berdiri, tiada rasa
kesakitan sedikitpun, ia coba mengempos semangat, Lwekangnya masih penuh berisi, dalam hati diam-diam
ia amat kaget, jelas tadi dadanya terpukul serangan dahsyat yang mematikan, namun kenapa sekarang
tidak merasakan sakit atau luka-luka, bukan sekali ini saja kejadian demikian berlangsung. Kenapa?
Matanya menjelajah sekelilingnya ia ingin memperoleh jawab akan pertanyaan hatinya. "Haya!" tiba-tiba
ia berpekik mengawasi Thian-thay-mo-ki yang menggeletak tak bergerak di atas tanah. Apakah sudah mati?
Demikian ia membatin, segera iapun memburu maju, begitu tangannya meraba tubuh orang, seketika ia
bergidik gemetar, tanganpun ditarik.
Ternyata karena gugup dan gelisahnya, tangan yang diulur hendak meraba adalah tangan kirinya yang
beracun jahat. Kini dia ganti tangan kanan, cepat ia raba urat nadi, terasa denyutnya amat lemah, tiada
daya hidup sedikitpun. Lekas dia membalik jazad orang, baju didepan dadanya yang robek tersingkap,
payudaranya yang montok menongol keluar, tertampak sebutir buah anggur merah menghiasi bukit tandus
nan putih licin ini, seketika semangat Ji Bun seperti terbang keawang-awang, darah seketika bergejolak,
mukapun terasa panas. Cepat ia pejam mata, setelah tenangkan diri, ia buka mata pula terus meraba
pernapasannya, lalu memeriksa kelopak matanya juga. “Racun," gumamnya, "aneh betul"
Yang membuatnya heran dan kaget bukan lantaran Thian-thay-mo-ki terkena racun, asal daya hidupnya
masih kuat bertahan, racun jahat macam apapun ia masih sanggup menawarkannya, namun racun yang ini
adalah racun yang paling dikenal, juga racun yang jarang terdapat di dunia ini, sungguh tak pernah terpikir
olehnya, kecuali ayah dan dirinya, masih ada orang lain yang pandai pula menggunakan racun ini?
Tiba-tiba ia teringat akan Cui Bu-tok, si ahli racun sakti yang kini berada di Wi-to-hwe. Kalau laki-laki
muka hitam itu adalah komandan ronda dari Wi-to-hwe, bukan mustahil dia adalah murid didik Cui Bu-tok,
tidaklah heran kelak tidak takut racun malahan juga pandai menggunakan racun.
7.20. Bu-lim-siang-koay
Lekas ia ke!uarkan obat penawat racun terus dijejalkan ke mulut Thian-thay-mo-ki, seiring dia tutuk pula
beberapa Hiat-to dibadannya. Kira-kira segodokan air mendidih, pelan-pelan Thian-thay-mo-ki mulai
bergerak lalu membuka mata, setelah melihat keadaan sekitarnya, segera ia meloncat bangun, katanya
dengan penuh haru: "Dik, kau masih hidup? betapa besar perhatiannya, sungguh tak terlukiskan dengan
kata-kata.
Ji Bun juga amat terharu, katanya, "Cici juga tidak apa-apa?"
"Aku tidak apa-apa. Mana Hwesio gede yang bergelar Thong-sian itu? Untung dia muncul tepat pada
waktunya, kalau tidak pasti kau sudah binasa di tangan komandan ronda Wi-to-hwe tadi."
"Waktu aku siuman keadaan sunyi senyap tak kelihatan seorangpun."
Thian-thay-mo-ki merasa dadanya dingin, waktu ia menunduk, seketika mukanya menjadi merah, cepat
ia membetulkan bajunya yang sobek dan berkata: "Dik, tanganmu ternyata tidak cacat?”
Karena rahasia sudah terbongkar, terpaksa Ji Bun bicara terus terang: "Cici, soalnya tanganku teramat
beracun .....”
"Apa, teramat beracun?" Thian-thay-mo-ki menegaskan dengan kaget.
"Benar, setelah aku meyakinkan semacam ilmu beracun yang sudah lama putus turunan, siapa saja bila
tersentuh kulitnya, segera racun akan menyerang jantung dan kematian, sang korban tak memperlihatkan
tanda yang mencurigakan, namun bagi orang yang mengerti soal racun dengan cepat akan dapat
diketahuinya."
"Pantas kau melarang orang menyentuhmu. O ya. sekarang kuingat seseorang, selama ini kulupa
memberitahu padamu.”
“Siapa?" tanya Ji Bun.
"Seorang nyonya berpakaian hitam yang berwajah welas asih."
Tegak alis Ji Bun, katanya heran dan bingung: "Nyonya berbaju hitam, siapa namanya?"-
“Entahlah, dia tidak memperkenalkan diri, kukira kau mengenalnya,” lalu Thian-thay-mo-ki menceritakan
kejadian yang dialaminya dulu.
Serius dan penuh perhatian rona muka Ji Bun, lama sekali baru dia bersuara dengan penuh emosi:
"Wajahnya welas asih?"
"Ya, secerah sinar surya di pagi hari pada musim semi."
Perawakannya sedang? Mungkinkah .......
"Siapakah dia?"
"Ibuku!" jawab Ji Bun. "Tapi, ah, tak mungkin dia meninggalkan diriku terkapar begitu saja. Lalu apa pula
yang dikatakannya?"
"Tidak ada, dia tidak berkata apa-apa lagi."
Ji Bun tenggelam dalam alam pikirannya, ia kecuali ayahnya hanya ibunya saja yang tahu akan rahasia
tangannya vang beracun, namun ibunya tak pernah memakai baju hitam, begitu besar kasih sayangnya
terhadap dirinya, umpama dia salah periksa dan menyangka dirinya sudah mati, tak mungkin dia berpesan
kepada orang lain untuk mengurus jenazahnya, lalu siapakah dia? Suatu teka teki yang meresahkan hati
pula. Setelah berpikir pula sebentar, tetap tidak menemukan jawabannya, terpaksa dia, berkata dengan
rawan:
"Sudahlah, sementara tak urus persoalan ini, Cici, untuk sementara biarlah kita berpisah di sini saja."
Berubah wajah Thian-thay-mo-ki, suaranya gemetar: "Dik, kau hendak berpisah dengan aku? Kau tak
sudi berteman denganku lagi?"
"Tidak, Cici jangan salah paham, aku ada urusan penting .......”
"Apa aku tak bisa membantu."
"Tidak, buat apa kau menempuh bahaya."
"Menempuh bahaya? Aku malah ingin ikut. Ke mana? Menyelesaikan urusan apa?”
Serba susah Ji Bun dibuatnya, sikap dan kesannya terhadap Thian-thay-mo-ki sudah jauh berubah,
setelah bergaul sekian lama ini, disadarinya bahwa kesan buruknya dulu ternyata tidak berdasar sama
sekali, berbagai peristiwa telah menjalin hubungan mereka semakin dekat dan intim.
Sesuai apa yang dinamakan "cinta timbul setelah bergaul yang lama, meski asmara Ji Bun hanya timbul
di dalam relung hatinya yang paling bawah, namun kata-kata dan sikapnya sekarang adalah tulus, ia tidak
ingin Thian-thay-mo-ki ikut menempuh bahaya.
"Dik," kata Thian-thay-mo-ki, "katakan, apa yang hendak kau lakukan?"
Ji Bun menggeleng-geleng tanpa menjawab.
"Jangan serba susah dik, kau pergilah."
Dengan rasa iba dan penuh penyesalan Ji Bun menatapnya dalam-dalam, ingin dia berbincang beberapa
kata, namun tak kuasa diucapkan, sorot mata nan pilu dan syahdu membuat hatinya terguncang. akhirnya
ia mengeraskan hati, katanya: "Maafkan Cici, ada kesulitan yang tak bisa kuterangkan, jika aku tidak mati,
kita pasti akan bertemu lagi."
Setelah berkata ia terus berlari pergi ditelan kegelapan.
Dikala malam berganti pagi, Ji Bun tiba di puncak utara Tong-pek-san, di sinilah tempo hari peresmian
berdirinya Wi-to-hwe diadakan, dari sini ke lembah sana akan langsung menuju ke markas besar Wi-to-hwe.
Semula kedatangannya dirangsang emosi yang berkobar untuk menuntut balas, setiba di tempat tujuan,
hatinya menjadi bimbang, karena belum memperoleh langkah-langkah yang dirasa baik untuk menjalankan
aksinya. Dia perlu berpikir pula dengan kepala dingin, maka ia berlari sepuluh li ke arah yang berlawanan,
akhirnya berhenti disebuah hutan yang berhawa sejuk nyaman dan sunyi, setelah memilih tempat yang
tersembunyi, dia lalu duduk bersimpuh dan mulai putar otak.
Situasi mengubah dirinya menjadi tabah dan pendiam, wataknya nyentrik yang dulu sudah tersapu
bersih, serupa seorang setan judi, disaat menyadari bahwa modalnya bertaruh kurang banyak, terpaksa
taruhannya harus cermat dan teliti.
Dia menilai Lwekangnya sendiri, sekarang untuk melawan satu persatu dengan tokoh-tokoh kosen
macam Siang-thian-ong masih cukup mampu, namun kalau melawan orang di dalam tandu dan Wi-to-hwecu
masih merupakan tanda tanya besar, tapi kalau menghadapi keroyokan mereka, betapa akibatnya dia tak
berani membayangkan. Kalau Menggunakan akal, dikuatirkan asal usul sendiri sudah terbongkar oleh pihak
sana, dalam keadaan yang serba salah ini tentu sukar turun tangan baginya, dan yang terpenting, bila
dirinya memperkenalkan diri dan menantang untuk menuntut balas secara terus terang, pihak musuh pasti
akan turun tangan keji dengan tanpa mengenal kasihan. Situasi agaknya menyudutkan dirinya untuk berlaku
nekat secara untung-untungan. Sejauh ini ayahnya tidak pernah muncul dan mengadakan kontak pula, hal
ini menyebabkan dia harus bertindak secara diam-diam seorang diri.
Disaat hatinya risau dan gundah tak bisa ambil putusan, tiba-tiba kupingnya mendengar suara isak tangis
perempuan yang sayup-sayup terbawa kesiur angin. Siapa yang menangis di hutan belukar yang sepi ini?
Sebetulnya ia tak ingin ambil peduli, namun gejolak perasaannya tak bisa dikendalikan, akhirnya ia
berdiri dan melangkah ke arah datangnya suara tangisan. Semakin dekat isak tangispun semakin terang dan
keras. Mendadak bayangan merah sesosok tubuh orang muncul di depan. Seketika Ji Bun berdiri tertegun,
sungguh di luar dugaannya bahwa orang yang menangis ini ternyata adalah gadis berbaju merah, Pui Cihwi.
Karena apa dia begitu sedih? Kenapa berkeluh kesah seorang diri ditempat sunyi ini? Seperti bara api di
bawah sekam, asmara yang sudah hampir padam direlung hatinya tiba-tiba berkobar pula, namun sebuah
pikiran lain segera menyangkal alam pikirannya ini nona itu adalah komplotan musuh.
Pui Ci-hwi menggelendot dibatang pohon, ke dua pundaknya tampak gemetar, isak tangisnyapun begitu
pilu, memang kaum perempuan suka menangis, tapi bagi seorang perempuan persilatan, kalau tidak
kebentur suatu peristiwa yang betul-betul mengetuk hati sanubarinya, orang takkan menangis begitu sedih.
Inilah kesempatan baik, segera timbul ilham dalam benak Ji Bun, cari keterangan Toh Ji-lan kepadanya
untuk menunaikan pesan orang tua aneh sebagai imbalan budinya yang telah menyalurkan Lwekang kepada
dirinya. Tanya pula siapa saja yang ikut serta dalam pembantaian besar-besaran di Jit-sing-po yang
menimbulkan korban begitu banyak dan mengerikan, apa pula sebab dan alasan mereka turun tangan sekeji
itu, mengorek pula keterangan, apakah mereka sudah tahu akan asal usul diriku, hal inilah yang paling
penting. Demikianlah Ji Bun sudah berketetapan, disaat dia hendak bertindak ..........
Sekonyong-konyong sesosok bayangan berkelebat, tahu-tahu seorang nenek berpakaian warna-warni
bagai setan berkelebat muncul disamping Pui Ci-hwi, lekas Ji Bun tarik kakinya yang sudah terangkat hendak
melangkah itu, serta menyelinap ke belakang pohon. nenek ini pernah muncul di Pek-ciok-hong waktu
terjadi perebutan Sek-hud tempo hari, pasti dia inilah yang merebut Pui Ci-hwi dari tangan Liok-Kin.
Tentunya nenek ini juga salah seorang anggota Wi-to-hwe. Terdengar nenek itu berkata dengan nada
kereng berwibawa: "Budak usil, hayo pulang."
Pui Ci-hwi membalik serta angkat kepala, suaranya tegas dan tandas: "Lolo (nenek), aku tidak mau
pulang" Air matanya bercucuran membasahi mukanya, wajahnya sayu penuh kepedihan, begitu iba dan
memelas sekali keadaannya, hati Ji Bun ikut terharu.
Nenek itu mendengus geram, katanya: "Berani kau bertingkah dengan adatmu."
Tiba-tiba Pui Ci-hwi tekuk lutut, katanya dengan isak tangis yang memilukan: "Lolo, maafkan anak Hwi
yang tidak berbakti ini ......" kata-kata selanjutnya tertelan dalam tenggorokan.
"Lalu apa keinginanmu?"
"Aku ...... aku .... hanya ingin mati."
"Apa-apaan ucapanmu, budak bodoh."
"Lolo, tak berarti hidupku ini."
Ji Bun yang mencuri dengar menjadi keheranan, entah apa hubungan antara tua dan muda ini? Kenapa
pula dia mengucapkan kata-kata yang begitu putus asa.
Setelah menghela napas, nenek itu berkata dengan suara lebih lembut: "Anak bodoh, sebetulnya apa
sebabnya kau sampai berpikir sependek ini?"
Pui Ci-hwi menunduk sambil menangis gerung-gerung, sama sekali dia tak dapat bicara.
Nenek itu mengelus rambutnya, seperti membujuk anak kecil saja ia berkata: "Anak bodoh, siapa yang
telah menyalahi kau, katakan, Lolo akan melampiaskan kedongkolanmu?"
Semakin keras isak tangis Pui Ci-hwi mendengar bujukan ini, tiba-tiba nenek itu mendengus sekali, tahutahu
dia putar tubuh terus melompat pergi, lekas sekali dia sudah putar balik, tangannya menjinjing seorang
berpakaian putih. "Bluk", ia banting orang itu ke tanah, orang baju putih itu mengeluh kesakitan.
Waktu melihat orang baju putih ini, berdegup jantung Ji Bun, ternyata orang ini bukan lain adalah putera
Cip-po-hwecu, yaitu Liok Kin adanya, dengan cara rendah dan kotor, Liok Kin berhasil mengorek keterangan
rahasia Sek-hud dari mulut Pui Ci-hwi, sehingga Sek-hud terjatuh ke tangan Biau-jiu Siansing, ternyata
pemuda bergajul ini masih berani kelayapan di Kang-ouw, memang pemuda yang tidak tahu diri.
Sambil menuding Liok Kin nenek itu berkata: "Budak, bocah inikah yang menyakiti hatimu? Kenapa tadi
kau mohon ampun baginya?"
Tersipu-sipu Liok Kin merayap bangun, katanya penuh nada sedih kepada Pui Ci-hwi: "Adik Hwi, memang
akulah yang ceroboh sampai berbuat tidak senonoh terhadapmu, aku tahu matipun takkan setimpal
menebus dosaku, maka sengaja aku susul kau kemari, aku tidak ingin mohon pengampunan, aku hanya
ingin mati ditanganmu .....” lalu ia berlutut dan menyembah, air matapun bercucuran.
Dengan mengertak gigi Pui Ci-hwi melotot kepada Liok Kin, desisnya penuh kebencian: "Akan Kubeset
kulitmu dan kulebur badanmu."
Sekali angkat seperti menjinjing anak ayam saja si nenek mengangkat Liok Kin tinggi-tinggi, bentaknya
bengis: "Bocah keparat, akan kucincang kau."
"Adik Hwi, selamanya aku mencintaimu, semoga pada penitisan mendatang kita berkumpul lagi!" seru
Liok Kin.
Tak keruan rasa hati Ji Bun, dia heran dan bingung, apa betul bocah she Liok ini menaruh cinta secara
murni? Sungguh meragukan.
Si nenek melempar Liok Kin ke atas terus menangkap kedua kakinya, tangannya sudah bergerak
terentang ke dua samping .......
"Lolo!" Pui Ci-hwi memekik dengan suara serak. Terpaksa si nenek menghentikan gerakannya.
"Budak, apa sih maksudmu sebetulnya?"
"Harap Lolo suka membebaskan dia."
"Apa? membebaskan dia? bukankah kau ingin membeset tubuhnya? Budak, jangan kau terkibul oleh
mulut manisnya, pemuda berhati serigala macam ini, memangnya kau belum cukup menderita? Masa kau
belum melihat watak bejat bocah bergajul ini?"
"Lolo, harap engkau ..... suka mengampuninya."
"Ai," nenek itu berkeluh terus ayun badan Liok Kin serta melemparnya pergi. "Blum," Liok Kin menjerit
jatuh dua tombak jauhnya, kebetulan dia terlempar ke arah tempat sembunyi Ji Bun, jaraknya hanya
beberapa kaki saja. Sebetulnya ingin Ji Bun menghantamnya mampus, namun ia masih dapat bersabar.
Sekian lama setelah rasa kesakitan lenyap baru Liok Kin mampu merangkak berduduk, katanya dengan
muka sedih dan mewek-mewek: "Adik Hwi, sukalah kau sempurnakan diriku saja."
"Enyahlah kau!" bentak Pui Ci-hwi beringas.
Setelah menghela napas, dengan nada yang penuh iba Liok Kin barkata: "Adik Hwi, sekali salah langkah,
aku tahu selama hidup ini takkan bisa mempersunting dirimu lagi, apa pula faedah hidup dalam dunia ini,
aku hanya ingin mati untuk menebus dosaku, sukalah adik mengabulkan keinginanku."
Pui Ci-hwi membanting kaki sambil menutup muka dengan kedua tangannya, bentaknya: "Enyahlah kau!"
Suaranya jauh lebih lemah dan tidak sebengis tadi.
Liok Kin berkata pula: "Adikku yang terkasih, aku bersumpah kepada Thian, selama hidupku hanya
adiklah yang terisi dalam kalbuku."
Si nenek menjadi tidak sabar, bentaknya dengan mendelik: "Keparat, jangan jual lagak kalau ingin hidup
lekas menggelinding pergi, kalau tidak kubunuh kau."
Liok Kin menatap Pui Ci-hwi terakhir kali, katanya mohon kasihan: "Adikku tercinta, selamat berpisah,
maaf kalau tidak kuucapkan selamat berjumpa lagi."
Habis kata-katanya segera ia putar badan terus berlari sekencang-kencangnya, Pui Ci-hwi sudah
membuka mulut hendak berteriak, namun suaranya tidak keluar, air mata kembali berderai.
Ada keinginan Ji Bun mengejar Liok Kin dan membunuhnya, namun pikiran lain membatalkan niatnya, ia
harus mencari kesempatan untuk bicara dengan Pui Ci-hwi, banyak persoalan yang harus mendapatkan
jawaban dari mulutnya, hal ini jauh lebih baik dari pada dia main teka teki sendiri, cuma yang dia kuatirkan
adalah nenek berpakaian warna warni ini.
Tengah ia berpikir-pikir, tiba-tiba didengarnya si nenek mengejek dingin: "Siapa itu, tidak lekas
menggelinding keluar sendiri, memangnya perlu dipersilakan keluar?"
Bergetar hati Ji Bun, ia kira jejaknya sudah konangan, baru saja ia hendak keluar, tiba-tiba terdengar
suara tawa dingin yang berat, bayangan seorang berperawakan besar tiba-tiba muncul dari semak-semak
dedaunan sana. Diam-diam Ji Bun merasa lega, ternyata yang dimaksud bukan dirinya. Waktu ia mengintip
ke sana, dilihatnya yang muncul adalah seorang Thauto atau imam piara rambut yang sudah ubanan
dengan rambut terikat gelang perak di atas kepalanya. Tangannya menjinjing sebatang sekop besar,
beratnya mungkin ada seratusan kati.
Agaknya nenek itu juga merasa diluar dugaan, teriaknya dengan terbeliak: "Oh, kau?"
Tak acuh sikap Thauto itu melangkah ke depan si nenek, setombak jauhnya baru berhenti, katanya
dengan cengar-cengir: “Tidak sangka bukan?"
"Hm," si nenek menggeram, "Pek-siu-thay-swe, memang tidak kusangka, kukira kau sudah lama mampus
dan tinggal tulang belulangmu saja."
Hati Ji Bun betul-betul amat terkejut, tak nyana bahwa Thauto ini adalah salah satu dari Bu-lim-siangkoay
(dua orang aneh dari Bu-lim) yang pernah dia dengar dari cerita ayahnya. Jika begitu, jadi si nenek ini
adalah Jay-ih-lo-sat tentunya. Kedua orang aneh ini sama-sama bertabiat miring dan menyendiri, kejam dan
keji. Puluhan tahun yang lalu, tokoh-tokoh dari aliran putih dan golongan hitam sama lari terbirit-birit bila
mendengar nama mereka, kabarnya kedua orang aneh ini akhirnya gugur bersama setelah saling berhantam
sengit, mayat mereka yang terjatuh ke dalam jurang tak ditemukan, agaknya berita yang didengarnya itu
jauh menyimpang dari kenyataan, buktinya kedua orang aneh ini sekarang muncul berhadapan pula di sini.
Terdengar Pek-siu-thay-swe menyeringai seram menunjukkan gusinya yang ompong: "Jay-ih-lo-sat,
kalau aku mampus, siapa yang akan membereskan mayatmu?"
Si nenek menarik muka, dengusnya: "Katakan terus terang, apa maksud kedatanganmu?"
"Tentunya membuat perhitungan lama itu."
"Dengan cara apa kau hendak membuat perhitungan?"
"Pertempuran di puncak Kim-ting di gurun Gobi pada 30 tahun yang lalu tadinya kukira bakal
menentukan siapa unggul dan asor di antara kita, tak nyana kini kau masih tetap hidup ........”
"Jadi maksudmu ingin menyelesaikan persoalan itu sampai salah satu pihak menemui ajal."
"Memangnya kau kira bisa hidup lagi?"
“Baik, silakan turun tangan."
"Nanti dulu peraturan lama tak boleh dilanggar, selama kita bergebrak aku tidak ingin ada orang ketiga
hadir di sini."
Jay-ih-lo-sat mengulap tangan kepada Pui Ci-hwi, katanya: "Budak, pergilah kau, pulang saja.”
"Lolo," sahut Pui Ci-hwi tertegun, "aku tak mau pulang."
"Kau mau ke mana? Berani kau tidak patuh pada omonganku?"
Rawan pandangan Pui Ci-hwi. Bibirnya bergerak, namun urung bicara, akhirnya ia membungkuk memberi
hormat terus beranjak ke luar hutan.
Terbangkit semangat Ji Bun, inilah kesempatan baik, dari mulut Pui Ci-hwi dia akan berhasil membongkar
segala persoalan yang selama ini mengganjal hatinya. Pada saat ia hendak menggeremet mundur untuk
mengejar Pui Ci-hwi, tiba-tiba Pek-siu-thay-swe berseru: "Anak muda, menggelinding keluar!"
Karena jejaknya sudah konangan, sudah tentu Ji Bun tak bisa ngeloyor pergi, cepat ia sembunyikan
lengan kirinya ke dalam baju terus melangkah keluar.
Tanpa bicara Pek-siu-thay-swe angkat sekop terus mengepruk kepala Ji Bun.
"Tahan!” bentak Jay-ih-lo-sat.
"Apa maksudmu?" Pek-siu-thay-swe menghentikan gerakkannya sambil menoleh.
"Kau dilarang menyentuhnya."
"Siapa sih dia?"
"Teman Hwecu kami."
"Hwecu. Ha ha ha, hampir aku lupa bahwa Jay-ih-lo-sat sekarang juga membela keadilan menegakkan
kebenaran segala, sungguh berita gembira dalam Bu-lim sepanjang masa ......”
"Kenapa harus ditertawakan, jahat dan baik hanya terpaut segaris saja, taruhlah golokmu dan sembahlah
pada Buddha."
"Jay-ih-lo-sat sudah telanjur kotor dan bau darah kedua tangannya, memangnya juga bisa diterima
menjadi murid Buddha?"
"Tak perlu banyak cerewet!" sahut si nenek.
"Baiklah, kulanggar kebiasaanku sekali ini, lekaslah enyah, anak muda!"
"Dia justeru harus tetap di sini, sebagai wasit dan menjadi saksi."
"Berita aneh, berita aneh! Ha ha! Nenek tua renta seperti kau ini juga memerlukan wasit dan saksi segala
......”
"Hm, sebagai seorang anggota Wi-to-hwe, meski untuk menyelesaikan urusan pribadi juga tidak
ditertawa orang."
"Apa dia setimpal jadi saksi?"
"Kenapa tidak setimpal?"
"Nenek cerewet, kau paksa aku melanggar kebiasaan, baiklah, biar dia di sini supaya bisa mengurus
mayatmu nanti, daripada Lohu sendiri yang bekerja, tapi ada syaratnya."
"Syarat apa?"
"Dia harus mampu melawan sekali pukulan Lohu."
"Pek-siu-thay-swe, jangan takabur, memangnya kau bermaksud membunuhnya bukan?"
Ji Bun menjadi gregeten, sebetulnya ia tidak mau jadi wasit atau saksi segala, siapa hidup atau mati toh
tiada sangkut pautnya dengan dirinya, namun ia ingin mendapat kesempatan menyaksikan kepandaian silat
dan Lwekang kedua orang aneh ini, bahwa Jay-ih-lo-sat adalah salah satu anggota Wi-to-hwe, iapun
merupakan salah satu musuhnya yang tangguh pula, di dalam melaksanakan rencananya menuntut balas,
betapapun ia perlu menyelami sampai di mana tingkat kepandaiannya, di samping itu ia merasa penasaran
karena di ejek, dicemooh oleh Pek-siu-thay-swe, bukankah nama gelaran Te-gak Suseng cukup cemerlang
bagi telinga kebanyakan orang. Maka dengan dingin ia segera menyeletuk: "Kalau begitu, Cayhe jadi
kepingin menjadi saksi."
Dengan temberang Pek-siu-thay-swe berkata: "Anak muda, apa kau sudah tahu bahwa menjadi saksi itu
tidak gampang?”
Jay-ih-lo-sat segera menanggapi: "Kenapa kau harus menjajal dia dengan pukulanmu?"
"Ingin kulihat apa dia setimpal menjadi saksi atau tidak?"
"Tiada persoalan setimpal atau tidak! Nenek bawel, kau sendiri yang main-main mengajukan saksi
segala?”
"Kau suruh dia menghadapi pukulanmu, terang kau bermaksud tidak baik."
Ji Bun mengelutuk tawar: "Tidak jadi soal, aku siap menghadapi pukulannya."
Melotot mata Jay-ih-lo-sat, katanya: "Buyung, kau adalah tamu agung Hwecu kami, bagaimana aku
harus memberi keterangan kepada Hwecu nanti?"
Ji Bun tertawa geli dalam hati, tamu agung segala, bukan mustahil di balik semua ini ada latar
belakangnya, betulkah begini besar perhatiannya? Dua jiwanya hampir tamat oleh serangan gelap
Komandan ronda perkumpulan itu, semua peristiwa yang saling bertentangan ini, sungguh sukar diraba,
maka ia berkata dengan kukuh: "Biarlah, Cayhe betul-betul ingin menjajal pukulan Cianpwe ini."
"Kutarik pernyataanku tadi, tidak perlu pakai saksi segala, Buyung, kau pergilah."
Pek-siu-thay-swe mendengus: "Kau ini plintat-pelintut, Lohu tidak akan menjilat lidah sendiri, kalau dia
mau pergi juga harus menerima pukulanku dulu."
"Memangnya membunuh orang sebagai hobimu?"
"Nenek bawel, kenapa hatimu menjadi begini baik? Ha ha ha ha ...........”
Ji Bun tahu bahwa Jay-ih-lo-sat kuatir dirinya tidak kuat menghadapi pukulan Pek-siu-thay-swe, karena
tujuan Pek-siu-thay-swe memang hendak memukul mampus dirinya untuk mempertahankan kebiasaannya.
Tapi kenapa Jay-ih-lo-sat begitu getol membela dirinya, hal ini merupakan tanda-tanda tanya pula, segera ia
maju dua langkah dengan membusung dada, serunya: "Silakan memberi petunjuk."
7.21. Racun Bu-ing-cui-sim-jiu
Apa boleh buat Jay-ih-lo-sat mundur ke samping, katanya: "Kesatria boleh dibunuh pantang dihina,
secara sukarela Cayhe menerima gemblengan ini."
Pek-siu-thay-swe pindah sekopnya ketangan kiri, lalu berkata dengan suara berat: "Sambut pukulan ini!"
Kedua lutut rada ditekuk dan setengah jongkok, telapak tangan kanan tiba-tiba mendorong ke depan,
segulung angin kencang seketika menerjang ke arah Ji Bun.
Sedikitpun Ji Bun tak berani lena, ia kerahkan sepenuh kekuatannya, begitu menarik napas, mulut
berteriak ia songsong pukulan lawan.
“Daaar!" dahsyat luar biasa pasir berterbangan dan batu berloncatan, dan pohon sama berhamburan,
beberapa tombak sekeliling gelanggang pepohonan sama tergetar, sungguh hebat dan mengejutkan
bentrokan kedua kekuatan yang luar biasa ini.
Kontan Ji Bun merasakan pandangan berkunang-kunang, darah mengalir balik ke atas hampir
menyembur dari mulutnya, namun ia tetap tak bergeming di tempatnya berdiri sekokoh gunung.
Sebaliknya Pek-siu-thay-swe tergeser empat kaki dari kedudukan semula, kulit daging mukanya berkerut,
matanya memancarkan sinar-sinar tajam yang mengerikan, keringat bertetes-tetes, lama sekali baru dia
kuasa berbicara: "Habis ludes! Lohu memang cari penyakit dan memungut malu sendiri, sejak kini gelar Peksiu-
thay-swe kuhapus dari permukaan bumi.”
Sekali berkelebat, badannya melejit tinggi dan lenyap di dalam hutan.
Jay-ih-lo-sat sebaliknya berdiri melongo untuk sekian lamanya tanpa bersuara, hasil adu kekuatan ini
sungguh di luar dugaannya, mimpipun tak pernah dia duga bahwa penilaiannya terhadap Ji Bun meleset
begitu jauh.
Ji Bun sendiri juga amat haru, diam-diam ia meyakinkan diri sendiri dari hasil ujian barusan, ia percaya
bahwa kemampuannya sudah cukup berkelebihan untuk bekal menuntut balas kepada musuh-musuhnya.
Dengan melongo Jay-ih lo-sat berkata: "Sahabat muda, Lwekangmu jauh di atas dugaanku."
"Ah, terlalu memuji," mulut Ji Bun menjawab, namun dalam hati ia membatin: "Memang masih banyak
persoalan yang berada di luar dugaanmu."
Setelah tertegun lagi sejenak Jay-ih-lo-sat berkata: "Sahabat muda hendak kemana, atau kebetulan lewat
di sini?"
Tergerak hati Ji Bun, sahutnya: "Cayhe ada urusan, sengaja hendak mengunjungi Hwecu kalian."
"O, kalau begitu marilah kuantar," langsung mereka terus berlari menuju ke markas Wi-to-hwe. Dalam
hati Ji Bun rada kecewa karena tak sempat menguntit gadis baju merah Pui Ci-hwi sesuai rencananya tadi
kesempatan itu mungkin sukar diperoleh lagi, kalau tidak menggunakan akal, apa lagi hendak membongkar
semua teka-teki yang selama ini mengganjel hatinya, namun urusan sudah kadung berlarut, biarlah cari
kesempatan lain saja.
Sepanjang jalan, diam-diam Ji Bun memperhatikan sekelilingnya, didapatinya bahwa situasi sekarang
sudah jauh berbeda dengan pertama kali dia datang tempo hari, mulut lembah untuk memasuki markas
besar kini sudah didirikan pos penjagaan, sepanjang jalan banyak tersebar pula petugas ronda, di sekitar
markas besar tidak sedikit pula didirikan rumah-rumah gedung dengan denah yang cukup luas.
Agaknya Jay-ih-lo-sat mempunyai kedudukan tinggi di dalam perkumpulan, tanpa memberi laporan lebih
dulu, dia langsung membawa Ji Bun masuk ke ruang pendopo. Setelah Ji Bun dipersilakan duduk, Jay-ih-losat
lantas mengundurkan diri.
Pikiran Ji Bun cepat bekerja, sebentar lagi ia harus mengorek keterangannya. Belum berhasil pikirannya
menemukan putusan, tahu-tahu Wi-to-hwecu sudah muncul dari pintu sana.
Lekas Ji Bun berdiri menyambut, katanya sambil membungkuk hormat: "Cayhe menghadap Hwecu."
Wi-to-hwecu tertawa lantang, katanya riang: "Sahabat muda tak perlu banyak adat, silakan duduk."
"Terima kasih," sahut Ji Bun. Setelah masing-masing duduk, seorang pelayan kecil muncul menyuguhkan
teh.
Wi-to-hwecu berkata pula: "Syukurlah sahabat muda suka berkunjung kemari lagi, aku senang sekali."
Tutur katanya ramah dan rendah hati lagi, ini menandakan bahwa dia sangat menghargai kedatangan Ji
Bun, namun bagi penerimaan Ji Bun justeru kebalikannya, semakin dipikir ia merasa tingkah orang teramat
ganjil, entah muslihat keji apa pula yang tersembunyi di balik keramah-tamahan ini, maka ia berdiri dan
berkata: ''Kunjunganku yang tiba-tiba ini harap Hwecu tidak berkecil hati." Ia sudah berkeputusan untuk
bicara blak-blakan, maka melanjutkan: "Hwecu, Cayhe mempunyai suatu permintaan yang mungkin kurang
patut diajukan."
"Ada persoalan apa, silakan saudara katakan saja," sambut Wi-to-hwecu tersenyum.
"Cayhe ingin bertemu dengan komandan ronda perkumpulan kalian untuk bicara beberapa patah kata."
“Khu In maksudmu? Saudara kenal dia?"
"Pernah bertemu sekali."
"Itu gampang," kata Wi-to-hwecu lalu ia memukul genta kecil di samping tempat duduknya. Seorang lakilaki
berpakaian hitam segera muncul di ambang pintu, serunya: "Ong Cap-yang berdinas siap menerima
perintah."
"Panggil komandan Khu untuk menghadap!"
Laki-laki itu mengiakan sambil membungkuk terus mengundurkan diri. Tidak lama seorang laki-laki
berperawakan sedang bermuka hitam memasuki ruang pendopo. Serunya: "Hamba Khu In menghadap
hwecu!"
"Kemarilah."
Laki-laki muka itu mengiakan dan maju berdiri di depan sang Hwecu dengan tangan lurus kebawah.
Seketika Ji Bun dirangsang nafsu membunuh namun sekuatnya ia tekan gejolak hatinya sehingga
lahirnya tetap kelihatan tenang dan wajar.
"Hwecu memanggil entah ada tugas apa?" tanya orang itu.
"Siauhiap ini ingin bertemu dengan kau.”
"O," Khu In bersuara dalam mulut dengan nada heran, pandangannya pun penuh tanda tanya menatap
Ji Bun, Kebetulan sorot mata Ji Bun juga menatapnya, terasakan sinar mata orang ini rada berbeda, namun
bentuk dan perawakan tubuh serta dandanannya mirip sekali.
"Siauhiap ingin bertemu dengan aku?" tanya Khu In "Entah ada persoalan apa?"
Pelan-pelan Ji Bun berdiri meninggalkan tempat duduknya, katanya dengan suara berat dan prihatin
"Sengaja aku kemari untuk menyatakan terima kasih akan hadiah yang kau berikan semalam."
"Apa?" Khu In melengak kaget, mukanya yang hitam menjadi semakin gelap dan mengunjuk rasa
bimbang.
Ji Bun menarik muka, katanya dingin: "Perbuatanmu sungguh amat mengagumkan, sayang caranya
kurang bisa dihargai."
Kedua biji mata Wi-to-hwecu memancarkan sinar yang berwibawa, katanya sekata demi sekata:
"Komandan Khu, sebetul apa yang telah terjadi?"
Dengan heran dan bingung Khu In mundur selangkah, katanya: "Hamba tidak tahu apa yang dikatakan
Siauhiap ini."
Ji Bun menyeringai tawar, katanya: "Hm, seorang laki-laki berani berbuat harus berani bertanggung
jawab, kalau sudah berkepala harimau kenapa jadi berekor ular, aku yakin selamanya tak pernah
bermusuhan denganmu, perbuatanmu kemarin tentu ada maksud tujuannya, maka sengaja aku kemari
mohon penjelasan."
Wi-to-hwecu membentak bengis: "Komandan Khu, jangan kau lupa akan kedudukanmu dan peraturan
perkumpulan, tiada persoalan yang harus dirahasiakan, sebetulnya apa yang pernah kau lakukan?"
Bertaut alis Khu In, katanya bingung: "Hamba betul-betul tidak tahu apa-apa."
"Masakah begitu?" sang Hwecu menegas.
"Kalau ada yang kurahasiakan, hamba rela dihukum sesuai peraturan perkumpulan."
"Saudara muda, persoalan ini tidak sulit untuk diselidiki dan dibikin terang, silakan duduk, mari bicara
secara blak-blakan saja."
Ji Bun mendongkol, namun ia duduk kembali ke tempatnya, rasa benci dalam dadanya hampir saia
meledak, kalau ia tidak kuatir akan situasi sekelilingnya, mungkin sejak tadi sudah melabrak muka hitam ini.
Kata Wi-to-hwecu lebih lanjut: "Saudara muda, sukalah kau ceritakan terus terang apa yang pernah
kaualami, mungkin aku bisa bertindak menurut keadaan?"
"Belum lama berselang," demikian tutur Ji Bun, "Cayhe disergap seorang misterius berpakaian jubah
sutera mengenakan kedok, hampir saja jiwaku melayang ....”
Bergetar tubuh Wi-to-hwecu, serunya: "Orang berkedok berjubah sutera?"
Dengan nanar Ji Bun pandang muka orang, seolah-olah dia ingin meraba isi hati atau jalan pikiran Hwecu
yang misterius ini, dari sorot matanya ia hendak meraba rasa kaget yang merangsang sanubarinya setelah
mendengar keterangannya, agaknya persoalan takkan meleset terlalu jauh dari yang diduganya semula,
maka dia menambahkan: "Betul, seorang berkedok yang mengenakan jubah sutera warna hijau. Apa Hwecu
kenal dia?"
"Silakan saudara lanjutkan ceritamu."
"Setelah itu, di dalam hotel, kembali aku diserangnya secara menggelap, jiwaku hampir direnggut
elmaut, penyerang gelap ini tetap orang berkedok berpakaian jubah sutera itu."
Serta merta matanya melirik kearah Khu In.
"Hah ..... dan selanjutnya?"
"Kemarin malam, di sebuah kelenteng kira-kira seratus li dari sini, aku mengalami serangan ketiga yang
hampir menamatkan jiwaku pula."
"Penyerangnya tetap orang berkedok berjubah sutera itu?"
"Kali ini bukan, tapi komandan ronda itu she Khu inilah.”
Khu In mundur dua langkah dengan mata terbeliak dan mulut terbuka lebar, suaranya tidak terdengar,
mukanya yang hitam menjadi merah padam.
Sejenak Wi-to-hwecu menepekur, lalu katanya: "Hal ini tidak mungkin."
Ji Bun tertawa dingin, katanya: "Tentu Hwecu punya alasan dalam hal ini.”
"Ya. ada dua alibi untuk menyangkal tuduhanmu. Pertama, kemarin malam komandan Khu menghadiri
sebuah rapat yang kupimpin sendiri, setapakpun dia tidak meninggalkan sidang, sudah tentu tak mungkin
dia pergi ke kelenteng sejauh seratus li untuk membunuh Siauhiap. Kedua, menurut laporan Jay-ih-lo-sat
yang membawa Siauhiap kemari, katanya Siauhiap kuat beradu pukulan dan mengalahkan Pek-siau-thayswe,
ini membuktikan bahwa kepandaian silat Siauhiap jauh lebih tinggi dari komandan Khu, terang
komandan Khu takkan mampu menyerang saudara bukan?"
Kedua alasan ini kedengarannya masuk akal, namun Ji Bun sendiri sudah mempunyai pendapat dan
bukti-bukti yang nyata, maka iapun tak mau mundur, katanya dingin: "Apa Hwecu sudi mendengar buktibukti
yang akan kuajukan?"
"Ya, sudah tentu, silakan terangkan."
"Pertama, sebelum turun tangan orang itu memperkenalkan diri sebagai Komandan ronda
perkumpulanmu, apalagi perawakan dan bentuk rupanya sama. Kedua, ada saksi dan korban lain pada
waktu itu."
"Siapa?"
"Para korban itu adalah murid: Ngo-liu-kiong, yang menjadi saksi adalah Thian-thay-mo-ki dan Thongsian
Hwesio."
"Siapa itu Thong-sian Hwesio?"
"Aku sendiri belum tahu."
Wi-to-hwecu mengawasi Khu In, namun Khu In menggeleng dengan kebingungan, setelah menepekur
pula sejenak akhirnya Wi-to-hwecu berkata kepada Ji Bun: "Saudara muda, mungkin ada orang yang
menyamar komandan Khu?"
Pihak sana menyangkal tuduhannya dengan berbagai alasan, Ji Bun menjadi tidak sabar lagi, mendadak
ia berdiri, katanya penuh emosi: "Cayhe masih punya bukti-bukti lain."
"Saudara masih ada bukti?" Wi-to-hwecu menegas.
"Ya, buktinya ada di tubuh komandan Khu ini.”
"Di badanku?" teriak Khu In melongo sambil menuding hidung sendiri.
Wi-to-hwecu juga berdiri, katanya serius: “Bukti apa, coba tunjukkan,"
"Harap komandan Khu tanggalkan ikat kepalanya."
Seketika Khu In unjuk rasa gusar, namun dihadapan sang Hwecu ia tidak berani marah. Wi-to-hwecu
memberi isyarat pelahan.
Apa boleh buat, Khu In melepas ikat kepalanya.
Ji Bun terbelalak dan tertegun di tempatnya, ternyata di atas jidat dan pinggir kuping komandan Khu
tiada kelihatan codet bekas luka-luka, masih segar dalam ingatannya, laki-laki muka hitam yang
memperkenalkan diri sebagai komandan ronda Wi-to-hwe ini pernah panik waktu Thian-thay-mo-ki
membongkar kedoknya sebagai orang berkedok yang menyaru ayahnya dan ingin membunuhnya itu, di atas
kuping sampai jidatnya ada codet luka memanjang yang kelihatan jelas, namun codet itu sekarang sudah
lenyap. Sungguh kejadian aneh luar biasa.
"Saudara muda, silakan tunjukkan di mana?" tanya Wi-to-hwecu.
Ji Bun tidak menjawab, codet itu bisa saja ditutupi dengan keahlian seseorang yang pandai merias, tapi
satu hal tak mungkin dipalsukan, yaitu laki-laki muka hitam itu pernah kena serangan tangannya yang
beracun tanpa kurang suatu apa, dan kini tibalah saatnya dia membongkar segala persoalan. Kalau langkah
terakhir ini berhasil, walau menyadari dirinya berada di dalam sarang harimau, terpaksa dia harus berjuang
mati-matian mempertahankan hidup. Secepat kilat mendadak ia menerjang ke arah Khu In serta
melancarkan serangannya yang jahat beracun.
Wi-to-hwecu tidak menduga Ji Bun bakal turun tangan, ia berteriak kaget, "He, kau?"
Ditengah teriakan kaget inilah, "blang," Khu In jatuh terkapar, kaki tangan berkelejetan sebentar terus
lemas lunglai tak bergerak lagi.
"Saudara berani membunuh orangku di sini?” bentak Wi-to-hwecu.
Kalut pikiran Ji Bun, semua harapannya gagal total, kenyataan komandan khu ini tidak kuat menahan
serangannya, apakah dirinya harus berterus terang untuk menuntut balas? Ataukah menolong jiwanya untuk
mengatur rencana lebih lanjut? Cepat sekali ia ambil berkeputusan, obat penawar dikeluarkan terus
dijejalkan kemulut komandan Khu, lalu menutuk beberapa Hiat-to lagi, baru kemudian berkata dengan
mengertak gigi: "Dia tidak bakal mati, Cayhe hanya menjajalnya untuk yang terakhir."
Setajam pisau sorot mata Wi-to-hwecu menatap muka Ji Bun, sekian lama dia diam saja. Ji Bun menduga
orang mungkin bisa turun tangan namun orang tetap berpeluk tangan saja, hal ini membuatnya bingung
malah.
Kini sudah terbukti bahwa Khu In bukan orang yang beberapa kali membokong dirinya, apakah asal usul
sendiri sudah diketahui pihak lawan, masih merupakan teka teki pula. Memang siapakah orangnya yang
menyaru Khu In? Apa tujuannya hendak membunuh dirinya?
"Saudara muda, tiada persoalan lagi bukan?" tanya Wi-te-hwecu penuh kesabaran.
Ji Bun menarik napas panjang, sahutnya: "Cayhe amat menyesal dan mohon maaf."
"Syukurlah kalau urusan bisa selekasnya dibikin terang, kejadian ini tak perlu dipersoalkan."
"Terima kasih akan keluhuran Hwecu."
"Tadi saudara ada menyinggung orang berkedok? Apa sangkut pautnya dengan komandan Khu?"
"Pembunuh kemarin malam yang memperkenalkan diri sebagai komandan ronda itu, di pinggir jidatnya
ada bekas luka yang mirip benar dengan codet di jidat orang berkedok itu, oleh karena itu Cayhe terpaksa
harus menjajalnya."
"O, kiranya begitu, baiklah, kutanggung didalam waktu singkat teka teki ini pasti dapat dibongkar."
Tergerak pikiran Ji Bun, katanya: "Apakah Hwecu sudah tahu siapa orang berkedok itu?"
"Sedikit banyak sudah dapat kuraba juntrungannya."
Berdegup jantung Ji Bun, salah satu dari orang berkedok itu adalah ayah kandungnya, seorang yang lain
adalah samaran, lalu siapa yang dimaksud dengan ucapan Wi-to-hwecu dari kedua orang itu? Kalau dirinya
bertanya lebih lanjut, mungkin menimbulkan curiga orang.
Sementara itu Khu In sudah mulai siuman sambil merintih lemas, tak lama kemudian pelan-pelan dia
merangkak bangun.
"Komandan Khu," kata Wi-to-hwecu sambil mengulap tangan, tiada persoalan, kau boleh silakan
istirahat."
Khu In melirik ke arah Ji Bun, setelah memberi hormat. ia mengundurkan diri.
Setelah berhadapan langsung dengan musuh besarnya, sungguh berat rasa hati Ji Bun untuk tinggal
pergi begitu saja, betapapun dia harus mencari keterangan sebagai ancang-ancang untuk rencananya yang
akan datang, namun bagaiman ia harus berkata? Setelah dipikir bolak balik, akhirnya ia mendapat akal,
tanyanya: "Hwecu, bolehkah Cayhe mengajukan sebuah pertanyaan lagi?"
"Boleh saja, ada persoalan apa, boleh saudara utarakan. Silakan duduk."
Kembali mereka duduk menyanding meja, setelah menghirup seteguk air teh, pelan-pelan Ji Bun berkata:
"Cayhe seorang keroco dalam Bulim, namun di sini Hwecu menyambutku sebagai tamu terhormat, hal ini
sungguh membingungkan diriku."
Wi-to-hwecu tergelak-gelak, katanya: "Saudara, mungkin inilah yang jodoh, terus terang aku amat
mengagumi watak dan kepolosan hatimu."
"Gelaranku terlalu jelek didengar, orangpun anggap sepak terjangku nyeleweng badanku cacad lagi
.......”
"Saudara, badaniah jangan disejajarkan dengan hatiniah, soal nama dan gelarankan hanya sebutan
kosong belaka. Yang penting perbuatan atau prilaku."
"Dalam hal ini, Cayhepun teramat rendah untuk dikatakan berperilaku baik, sungguh tak berani aku
terima pujian Hwecu yang berkelebihan ini .....”
"Saudara terlalu rendah hati .....”
Percakapan ini berarti sia-sia, Wi-to-hwecu memang pandai berdiplomasi, dirinya terang takkan unggul
berdebat, mungkinkah ia memang belum tahu asal usul dirinya?
Tapi persoalan lain seketika menggejolak sanubarinya pula, dengan sikap wajar segera ia bertanya:
"Apakah Hwecu kenal orang yang bernama Siangkoan Hong?"
Bergetar badan Wi-to-hwecu, matanya menatap Ji Bun sekian lamanya, katanya: "Kenal, bukankah dia
pernah mendapat pertolongan saudara, setiap waktu setiap saat dia tidak pernah melupakan budi
kebaikanmu itu."
Kembali diluar dugaan Ji Bun, terus terang pembicaraan secara blak-blakan ini meyakinkan dirinya bahwa
orang memang belum tahu akan asal usul dirinya. Maka ia bertanya lebih lanjut: "Harap tanya, di manakah
dia sekarang?"
"Karena ada kesulitan maka sementara dia harus mengasingkan diri, untuk hal ini harap saudara suka
maklum."
"O, tentunya dia juga seorang anggota Wi-to-hwe?"
"Betul, dia seorang anggota kehormatan."
"Kabarnya isterinya direbut dan puteranya dibunuh oleh Jit-sing-pocu Ji Ing-hong, apa benar?"
Terpancar sinar kebencian yang menyala dari mata Wi-to-hwecu, namun cepat sekali sudah lenyap pula,
katanya sambil manggut-manggut: "Betul, memang ada kejadian itu."
"Belakangan ini kudengar berita yang tersiar di kalangan Kang-ouw, kabarnya Jit-sing-po sudah hancur
berantakan?"
"Saudara kira itu perbuatan Siangkoan Hong?"
"Setelah tahu ikatan permusuhan kedua pihak, mau tak mau Cayhe harus berpikir demikian."
"Apa maksud dan tujuan saudara menanyakan hal ini?"
"Hanya tanya sambil lalu saja."
Berpikir sebentar, Wi-to-hwecu berkata: "Bicara sejauh ini, biarlah kuberitahu kepada saudara, bahwa
saudara dipandang tamu terhormat oleh perkumpulan kami, juga karena ada hubungannya dengan
Siangkoan Hong."
"O," baru sekarang Ji Bun paham, soal tamu terhormat sudah terjawab sekarang, cuma kedudukan
Siangkoan Hong terang cukup tinggi di dalam Wi-to-hwecu, bila perlu biarlah kelak memaksanya keluar
untuk membuat perhitungan.
Kembali Wi-to-hwecu berkata: "Selain itu boleh kujelaskan juga, bahwa sasaran Siangkoan Hong hanya Ji
Ing-hong saja, tiada sangkut paut orang lain ....!”
Ji Bun melengak, tanyanya tak sabar: "Jadi maksud Hwecu, yang menghancur leburkan Jit-sing-po bukan
Siangkoan Hong?"
"Ya, memang bukan."
"Kepandaian Jit-sing pocu dan Jit-sing-pat-ciang anak buahnya itu semua tinggi, memangnya siapa yang
mampu membunuh mereka?"
"Sampai detik ini, peristiwa itu masih teka-teki, tapi Ji Ing-hong memang harus menerima ganjarannya
setimpal dengan perbuatan-perbuatan jahatnya, tidak sedikit dia menanam permusuhan."
Ji Bun mengumpat dalam hati.
Tiba-tiba sebuah suara serak tua yang kuat terdengar berkata dari ambang pintu: "Bu-ing-cui-sim-jiu."
Kaget dan berubah air muka Ji Bun, mendadak ia melonjak berdiri. Dilihatnya seorang laki-laki tua kurus
kering muncul di depan pintu, dia bukan lain adalah Cui Bu-tok yang pegang kekuasaan hukum di Wi-tohwe,
pernah semeja dalam perjamuan tempo hari dengan Ji Bun.
Tiada racun yang tidak dikenal, dan tiada racun yang tak bisa ditawarkan oleh Cui Bu-tok, ia merupakan
tokoh dan ahli dibidang permainan racun masa kini, namun selama hidup ia tidak pernah mencelakai orang
dengan racunnya.
Wi-to-hwecu mengerut alis, tanyanya: "Cui-ciangling, ada keperluan?"
Latihan batin Ji Bun masih belum matang, terlalu gampang dirangsang emosi, lekas dia tenangkan diri
dan duduk kembali di tempatnya.
Cui Bu-tok memberi hormat, katanya: "Lapor Hwecu, bolehkah hamba duduk berbicara dengan Jisiauhiap
ini?"
"Boleh saja, silakan masuk."
Dengan langkah lebar Cui Bu-tok memasuki ruang pendopo, setelah dekat ia angkat tangan memberi
hormat kepada Ji Bun, katanya: "Siauhiap, selamat bertemu."
"Sama-sama," sahut Ji Bun memanggut, "Tuan ada petunjuk apa?"
"Cui-ciangling, apa tadi yang kau serukan?" tanya Wi-to-hwecu dengan tatapan tajam.
"Hamba tadi bilang Ji-siauhiap ini telah berhasil meyakinkan Bu-ing-cui-sim-jiu yang hanya pernah
kudengar dalam dongeng."
"O, Bu-ing-cui-sim-jiu?" sorot mata Wi-to-hwecu yang memancar tajam ke arah Ji Bun.
Hati Ji Bun amat kaget, kecuali orang aneh dibawah jurang Pek-ciok-hong dan orang yang menyaru Khu
In, kini tambah seorang lagi yang mengetahui rahasia dirinya. Urusan sudah sejauh ini, berdebat tiada
artinya, maka dia manggut-manggut sambil mengiakan.
Kata Cui Bu-tok sambil mengawasi Ji Bun: "Ada beberapa patah kata ingin kusampaikan, harap Siauhiap
tidak berkecil hati."
"Ada omongan apa, silakan berkata."
"Murid-murid kita yang menjadi korban di Jing-goan-si tempo hari, semua juga terkena racun Bu-ing-cuisim-
jiu."
Tersirap darah Ji Bun, katanya: "Jadi kau menyangka ......”
"Tidak, tidak," sahut Cui Bu-tok goyang tangan, "Siauhiap jangan salah paham, semua korban di Jinggoan-
si itu terbunuh oleh racun yang dicampur dalam makanan, malah bukan semuanya, terbunuh oleh Buing-
cui-sim-jiu, namun .......”
"Namun bagaimana?"
"Racun yang khusus hanya merangsang jantung ini, adalah ramuan dari resep yang telah lama lenyap,
sulit untuk meracik racun hebat ini ternyata Siauhiap malah sudah meyakinkan Bu-ing-cui-sim-jiu, sungguh
merupakan keajaiban."
"Kabarnya tiada racun yang tidak bisa kau tawarkan?"
"Kecuali racun yang satu ini," sahut Cui Bu-tok. "Bolehkah Siauhiap perkenalkan nama perguruanmu?"
Sejenak Ji Bun terdiam, lalu menjawab: "Untuk ini maaf tidak bisa kuterangkan."
Mendadak seorang laki-laki setengah umur berpakaian jubah biru tergopoh-gopoh datang dan berdiri di
luar pintu, suaranya kedengaran gugup gemetar,
"Congkoan Ko Ling-jin ada urusan penting memberi laporan kepada Hwecu."
Wi-to-hwecu memandang ke arah Ko Ling-jin, katanya: "Ada urusan penting apa?"
"Ada serombongan orang menyerbu ke atas gunung?”
"Apa, ada orang menyerbu kemari?"
"Betul."
Mendadak Wi-to-hwecu berdiri, Cui Bu-tok ikut berdiri.
"Orang-orang macam apa mereka?"
"Ngo-lui-kiong-cu, Tin-kiu-thian In Ci-san memimpin 50-an anak buahnya datang menuntut balas .......”
"Menuntut balas? Selamanya perkumpulan kita tidak bermusuhan dengan Ngo-lui-kiong, permusuhan apa
yang mereka tuntut?"
"Mereka datang dengan garang, pos terdepan sudah bobol, murid-murid kita sudah ada puluhan yang
gugur ........”
Dingin sorot mata Wi-to-hwecu, serunya bengis: "Apakah Tio-tongcu tidak kuat menghadapi mereka?"
"Tio-tongcu sudah gugur pada saat pos terdepan dibobol musuh."
"Apa, Tio-tongcu telah gugur?"
"Ya, semua murid-murid yang bertugas di sana seluruhnya gugur."
"Begitu gawat?"
"Kedua Ho-hoat agung (pelindung) juga sudah datang membantu, namun tetap tak dapat membendung
serbuan musuh."
"Berapa sih kemampuan Tin-kiu-thian In Ci-san?"
"Ada dua orang yang memiliki kepandaian luar biasa diantara anak buahnya ......”
"Hm. Cui-ciangling," seru Wi-to hwecu.
Cui Bu-tok melangkah maju seraya memberi hormat, sahutnya: "Hamba siap menerima tugas."
"Perintahkan untuk siap tempur, kumpulkan untuk kelompok bendera merah putih dengan seluruh
hulubalangnya untuk maju ke depan laga bersamaku, yang lain tetap bertugas di pos masing-masing."
Cui-ciangling mengiakan dan segera mengundurkan diri, sebelum pergi dia melirik sekilas ke arah Ji Bun.
"Ko-congkoan," seru sang Hwecu pula.
8.22. Dalang Penyerangan Wi-to-hwe
"Hamba siap di sini!" jawab Ko Ling-jin.
"Penjagaan dan mempertahankan markas besar kuserahkan kepadamu untuk memimpinnya."
"Hamba terima perintah," setelah memberi hormat Ko Ling-jin segera mengundurkan diri pula.
Pikiran Ji Bun bekerja cepat, ia menduga kedua Hou-hoat yang dimaksud mungkin adalah Bu-cing-so dan
Siang-thian-ong, kedua bangkotan tua itu, kalau betul, kekuatan Ngo-lui-kiong sungguh amat mengejutkan,
kesempatan ini cukup baik bagi dirinya untuk menuntut balas kepada musuh-musuh besar ini?
Dalam hati dia sudah tahu kenapa pihak Ngo-lui-kiong meluruk kemari menuntut balas, tentu karena
anak buahnya yang dipimpin Ngo-lui-kiongcu In Giok-yan terbasmi oleh laki-laki muka hitam yang
menyamar sebagai Komandan ronda Wi-to-hwe di kelenteng itu.
Dalam pada itu, sikap Wi-to-hwecu tetap tenang saja, katanya: "Saudara muda, sukalah duduk lagi
sebentar, biar aku keluar sejenak untuk membereskan persoalan ini."
Lekas Ji Bun berdiri, sahutnya: "Cayhe ingin ikut Hwecu untuk menghadapi musuh yang menyerbu itu."
"Kalau demikian, marilah kita keluar bersama!" Sekeluar ruang pendopo, mereka sudah ditunggu dua
orang tua dan enam laki-laki berpakaian ketat yang siap dengan senjata lengkap berjajar di luar pintu,
mungkin mereka inilah pimpinan kelompok bendera merah putih beserta para hulubalangnya. Di sana
bayangan orang banyak juga bergerak, agaknya mereka mulai siap siaga suasana menjadi tegang.
Sambil mengulap tangan Wi-to-hwecu segera pimpin anak buahnya berlari keluar, Ji Bun mengiringinya,
dibelakangnya kedua Hiangcu dari kelompok bendera merah putih. Setelah melewati lapangan luas dan
mengitari lembah, sayup-sayup sudah terdengar suara pertempuran yang riuh rendah.
Lekas sekali mereka sudah berada di mulut gunung yang bertanah lapang, tertampak di tengah tanah
lapang dua orang tua ubanan bertubuh tinggi dan cebo! sedang bertempur sengit melawan dua orang
berbaju putih, begitu hebat jalannya pertempuran ini sampai orang-orang yang menonton mundur cukup
jauh dari arena, puluhan orang berdiri sejajar disebelah sana, di depan barisan orang-orang berbaju putih ini
berdiri seorang laki-laki tinggi berbaju putih, tentunya dia inilah Ketua Ngo-liu-kiong, Tin-kui-thian In Ci-san.
Beberapa mayat sudah menggeletak di sana sini, yang terluka parah merintih-rintih mengenaskan.
Wi-to-hwecu bersama Ji Bun dan lain-lain langsung memasuki gelanggang.
Dalam Bu-lim masa ini, tokoh-tokoh kosen yang kira-kira setanding dengan Bu-cing-so dan Siang-thianong
dapat dihitung dengan jari, namun kedua orang berbaju putih anak buah Ngo-lui-kong ini termasuk jago
yang berkepandaian paling tinggi, mereka kuat bertahan menghadapi kedua bangkotan tua ini, maka betapa
tinggi kepandaian Ngo-liu-kiong-cu In Ci-san, sungguh sukar dibayangkan.
Bu-cing-so memiliki ilmu Thian-cin-ci-sut, kenapa ilmu sakti ini tidak dia gunakan? Demikian pula ilmu
pukulan Siang-thian-ong juga merupakan kepandaian yang tiada taranya, namun dia juga tak dapat
mengalahkan lawannya.
"Berhenti!" begitu tiba Wi-to-hwecu segera berseru dengan suara menggeledek, empat orang sedang
bertempur segera melompat mundur, tertampak oleh Ji Bun, kedua anak buah Ngo-lui-kiong itu kira-kira
berusia empat puluhan, muka tidak merah, napas tidak memburu, sebaliknya Bu-cing-so dan Siang-thianong
sama mengunjuk rasa lelah, setelah mundur mereka diam saja sambil menunduk lesu.
Wi-to-hwecu berkata dengan nada berat: "Harap kalian mundur dan istirahat, biar kubereskan mereka."
Tegak alis Bu-cing-so, katanya uring-uringan: "Mereka bisa main racun, syukur Lohu berdua mampu
bertahan, kalau tidak akibatnya sukar dibayangkan."
Tergerak hati Ji Bun. Wi-to-hwecu manggut-manggut, katanya lantang: "Silakan In-ciangbun maju
bicara."
Laki-laki tinggi besar berjubah putih beranjak ke depan menghadapi Wi-to-hwecu.
Wi-to-hwecu segera angkat tangan serta menyapa: "In-ciangbun meluruk datang dengan anak buah
sebanyak ini, tentunya ada alasan yang bisa diberikan kepada kami?"
In Ci-san terkekeh dingin, katanya: "Perkumpulanmu mengagulkan diri sebagai Wi-to (menegakkan
keadilan), namun sepak terjangnya amat kotor dan memalukan, ketahuilah kami datang untuk menuntut
balas."
"Menuntut balas apa, In-ciangbun mempunyai bukti-bukti yang nyata?"
"Sudah tentu, delapan puluh tujuh murid kami beruntun terbunuh oleh Wi-to-hwe kalian ........."
"Aku sendiri tidak tahu, bukankah kejadian ini amat aneh?"
"He he, utang darah bayar darah, banyak mulut takkan berguna."
"Kenapa tidak kau jelaskan duduk perkara yang sebenarnya?"
"Tanyakan kepada dirimu sendiri, aku tak sudi banyak omong lagi."
"Sebetulnya apa maksud tujuanmu?"
"Tiada lain menuntut balas bagi murid-murid kita yang gugur."
Wi-to-hwecu menggeram gusar, katanya: "In Ci-san, jangan bertingkah dan main bunuh di daerahku,
perbuatanmu ini terlalu menghina, kalau tidak memberikan tanggung jawab, jangan harap kau bisa turun
dari Tong-pek-san."
Ngo-lui-kiongcu menyeringai, katanya: "Hwecu bermulut besar, jangan kau menggertak orang, justru
pihak kamilah yang akan mencuci bersih To-pek-san dengan darah."
"Azas berdirinya perkumpulan kami demi menegakkan keadilan dan kebenaran, segala persoalan harus
diselidiki dulu supaya jelas duduknya perkara.''
"He he, merdu sekali kata-kata Hwecu, coba jawab, kalian meresmikan perkumpulan dan mendirikan
markas dengan simbol menegakkan keadilan segala, namun sepak terjangnya kotor dan rendah. Kau sendiri
menyembunyikan asal-usul dan tidak mengumumkan nama sendiri kepada kaum persilatan, maka kami ingin
mendengar penjelasanmu."
Terbangkit semangat Ji Bun, pertanyaan ini sudah lama juga menjadi teka-teki didalam benaknya.
Maka terdengar Wi-to-hwecu berkata dengan aseran: "Suatu perkumpulan berdiri dan berkecimpung
dalam Bu-lim, asal dia tidak melanggar 'Bu-to' (aturan persilatan), tidak mengingkari azas tujuannya, tidak
perlu malu hidup berjajar dengan sesamanya. Soal asal-usul dan namaku kan termasuk urusan pribadi
seseorang, diumumkan atau tidak kan tidak melanggar peraturan."
"Itu pembela diri yang menyimpang dari kebenaran, seluruh kaum persilatan dari golongan lurus pasti
tidak menerimanya."
"Orang she In, tidak usah kau mencari alasan dan mengoceh, marilah kita bicarakan urusan yang
sebenarnya."
Tiba-tiba sorot mata Tin-kui-thian In Ci-san menatap ke arah Ji Bun, serunya: "Dia ini Te-gak Suseng
bukan?"
"Betul!" sahut Wi-to-hwecu.
"Ternyata dia juga salah seorang algojo dari Wi-to-hwe, diapun utang puluhan jiwa orang-orang kami."
Wi-to-hwe-cu berpaling ke arah Ji Bun. Tentu saja Ji Bun tahu apa yang dimaksud oleh ucapan In Ci-san
tadi, dalam situasi seperti sekarang tak berguna dia membela diri dan menjelaskan duduk persoalannya,
namun bahwa dirinya dianggap sebagai anggota perkumpulan yang menjadi musuh besarnya, hal ini harus
segera dijelaskan, maka ia menjengek, katanya: "Cayhe bukan anggota Wi-to-hwe, In ciangbun harap tahu
akan hal ini."
"Maksudmu, anak muda, kau hendak bertanggung jawab seorang diri?"
"Ya, boleh silakan," jawab Ji Bun.
"Bagus sekali," kata Ngo-lui-kiongcu.
"Saudara muda," Wi-to-hwecu, segera menyela, "kau adalah tamu kami, tidak boleh sembarangan turun
tangan, menjadi tanggung jawab kami untuk melindungi keselamatanmu."
Dalam hati Ji Bun mengumpat, namun mulutnya menjawab tawar: "Terima kasih, tapi Cayhe tidak
menolak segala tantangan."
Tatapan dingin tajam Wi-to-hwecu menyapu ke arah Ngo-lui-kiongcu, katanya tandas: "Orang she In,
katakan caranya untuk menyelesaikan persoalan ini?”
Ngo-lui-kiongcu menyeringai seram, katanya: "Perlu apa pakai cara segala, kedatangan kami bukan
untuk mengadu kepandaian, biarlah puluhan, jiwa orang-orang Ngo-lui-kiong gugur di Tong-pek-san atau
Wi-to-hwe kalian yang hancur lebur?"
Wi-to-hwecu mengertak gigi, serunya: "Tanpa pikirkan akibatnya?"
"Itulah tujuan kedatangan kami!”
"Baik, sekali lagi kuperingatkan, belakangan, ini sudah kami selidiki adanya manusia-manusia licik dan
licin yang menyaru menjadi anggota kami serta melakukan kejahatan di luar, jelas tujuannya untuk merusak
nama baik kami, untuk ini harap kau suka berpikir sekali lagi."
"Hanya anak kecil yang mau percaya pada omonganmu ini."
Wi-to-hwecu dan seluruh Hiangcu dan Tongcu yang hadir sama menggeram gusar, mata melotot gigi
berkerutuk menahan marah. Saat itu, penguasa hukum markas pusat Cui Bu-tok sudah memburu tiba
dengan membawa dua puluhan anak buahnya, segera dia memberi pertolongan kepada Bu-cing-so dan
Siang-thian-ong yang terkena racun.
Hasrat Ji Bun untuk menuntut balas sudah berkobar dalam benaknya, jika kedua pihak mulai berhantam,
seluruh jago-jago Wi-to-hwe pasti terlibat dalam pertempuran sengit secara terbuka, maka tibalah saatnya
dia langsung menghadapi Wi-to-hwecu, setelah itu baru meruntuhkan yang lain satu persatu, tidak sulit
rasanya mencapai cita-cita yang selama ini dinantikan, meski perbuatannya ini termasuk mengail di air
keruh, namun demi menuntut balas ratusan jiwa orang-orang Jit-sing-po, segala carapun boleh dilakukan.
Suasana semakin tegang dan mencekam perasaan seluruh hadirin. Dengan bekal Lwekang Ji Bun
sekarang serta tangannya yang berbisa, kalau secara mendadak melancarkan serangan, maka dapatlah
dibayangkan bagaimana nasibnya yang bakal menimpa pihak Wi-to-hwe. Sudah tentu tiada orang lain yang
tahu akan jalan pikiran Ji Bun.
Bergetarlah suara Wi-to-hwecu: "in Ci-san, berulang kali sudah kujelaskan, itu berarti aku sudah
memberikan pertanggungan-jawab kepada kaum persilatan, maka segala akibat yang bakal terjadí menjadi
tanggung-jawabmu."
Acuh sikap Ngo-lui-kiongcu, katanya: "Bagaimana jalan pikiranmu semua orang juga dapat menebaknya,
kulitnya saja kalian mengagulkan diri sebagai penegak keadilan, namun kenyataan membuat onar dan
melakukan kejahatan di Bulim, perbuatan rendah dan kotor ini sungguh amat memalukan."
"Baik buruk akhirnya akan diputuskan oleh kesimpulan umum, sudahlah, tak usah banyak cerewet."
Ngo-lui-kiongcu segera angkat tangan dan memberi aba-aba dengan bentakan menggeledek: "Maju!"
Puluhan orang berbaju putih itu serempak menerjang maju. Wi-to-hwecu juga segera memberi tanda
kepada anak buahnya untuk menyambut serbuan musuh, pertempuran sengit segera berlangsung dengan
gegap gempita.
Setelah memberi aba-aba, In Ci san segera menubruk maju ke dapan Wi-to-hwecu sambil melayangkan
telapak tangannya yang segede kipas. Sementara Bu-cing-so dan Siang-thian-ong tetap melayani kedua
orang baju putih yang menjadi lawan mereka tadi. Yang lain-lain saling baku hantam dengan sasaran
masing-masing.
Ji Bun menonton di pinggir gelanggang sambil berpeluk tangan. Dilihatnya orang-orang Ngo-lui-kiong
kecuali kedua orang berbaju putih yang melawan Bu cing-so dan Siang-thian-ong itu, selebihnya
berkepandaian rendah, maka gerak-gerik kedua orang baju putih itu kelihatan menonjol. Orang yang
melawan Siang-thian-ong berperawakan tinggi, setiap jurus, setiap pukulan berhantam dengan cara keras
lawan keras, kekuatan kedua pihak seimbang, yang berperawakan pendek menghadapi Bu-cing-so, gerakTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
geriknya amat gesit dan enteng, gerak langkahnya amat aneh, dia main sergap dan bertempur dengan
putar-memutar.
Di sebelah sini, setiap kali melontarkan pukulannya, In Ci-san membarengi suara bentakan bergemuruh
seperti suara guntur, namun Wi-to-hwecu menghadapinya dengan tenang dan seenaknya, jelas Lwekang
dan kepandaiannya masih lebih unggul daripada lawannya, disinilah letak perhatian Ji Bun. Wi-to-hwecu
beserta orang dalam tandu yang belum muncul merupakan dua jago terkosen yang paling sukar dihadapi,
sementara Jay-ih-lo-sat kira-kira bisa ditimbang dari kekuatan Pek-siu-thay-swe yang pernah kecundang
ditangannya, jadi kira-kira dirinya cukup mampu menghadapinya, kalau jago-jago Wi-to-hwe hanya
beberapa gelintir orang ini, harapan untuk menuntut balas menjadi lebih meyakinkan.
Pertempuran semakin memuncak, jeritan benturan senjata dan teriakan membangkit semangat, terbawa
hanyut oleh desiran angin gunung yang menghembus santer sehingga menjadi paduan suara yang seram
mengerikan.
Situasi sudah semakin kentara, kecuali Wi-to-hwecu bersama Bu-cing-so, Siang-thian-ong dan Cui Bu-tok
serta beberapa jago-jago kosen lainnya harus roboh, tujuan Ngo-lui-kiong hendak mencuci bersih Tong-peksan
dengan darah jelas takkan mungkin terlaksana, sebaliknya, kekuatan Wi-to-hwe masih segar, bala
bantuan di belakang masih cukup banyak, ratusan orang yang mempertahankan markas pusat merupakan
kekuatan yang tak boleh dipandang enteng, hal ini tidak menguntungkan Ngo-lui-kiong, kalau pertempuran
ini terus dilanjutkan, bagaimana akibatnya sudah bisa diramalkan.
Ji Bun tetap berdiri sekokoh batu karang yang didampar amukan ombak ditengah ajang pertempuran
yang sengit itu, gejolak hatinya ikut memuncak menyertai perobahan yang mulai kentara di tengah
gelanggang.
Dia berpikir, kalau saat ini ayahnya muncul, sungguh merupakan kesempatan terbalk yang sukar dicari.
Jika sekarang juga dirinya ikut terjun ke dalam ajang pertempuran, situasi pasti akan segera banyak
berubah.
"Ngek! Huuuaa!" tampak Ngo-lui-kiongcu mengerang kesakitan, dadanya terpukul Wi-to-hwecu, darah
menyembur dari mulutnya, tapi tenaga pukulan Ngo-lui-ciang sekeras guntur itu tetap hebat dan tidak
menjadi asor karenanya.
Puluhan jiwa sudah melayang, mayat bergelimpangan. Rambut dan jenggot ubanan Siang-thian-ong
beterbangan, badannya yang pendek buntak menggelinding pergi-datang seperti bola yang ditendang kian
kemari, gelagatnya dia mulai terdesak oleh rangsakan orang berbaju putih yang ganas, sedang partai Bucing-
so kelihatan masih setanding alias sama kuat.
Segara turun tangan atau menanti kelanjutannya? Demikian Ji Bun bertanya-tanya dalam hati. Dia
menghadapi suatu pilihan yang menentukan. Ia maklum pihak musuh lebih banyak dan kuat, sekali turun
tangan ia pantang mundur dan harus berhasil, kalau tidak, aksi untuk menuntut balas selanjutnya bakal sulit
dan berbahaya.
Sampai sekarang hatinya masih bimbang dan bertanya-tanya, apa betul Wi-to-hwecu adalah durjana
yang menghancur leburkan Jit-sing-po, namun ayahnya jelas menuduh pihak Wi-to-hwe yang menjadi
algojo-algojonya. Siangkoan Hong yang menjadi biang keladi dari pembantaian besar-besaran itu sampai
sejauh ini belum pernah muncul, memangnya siapa saja yang menjadi musuh-musuh besarnya yang sejati
sampai sekarang dia masih belum berhasil mengumpulkan data-data yang menyakinkan, kalau bergerak
secara membabi buta, sudah tentu tidak menguntungkan? Kecuali dia berhasil membekuk Wi-to-hwecu?
Baru saja hasrat ini berkelebat dalam benaknya, sekonyong-konyong jeritan seram saling susul
kumandang dari sana sini, orang berbaju putih sama roboh binasa. Tampak bayangan warna warni
berkelebat pergi datang bagai seekor naga yang memainkan ombak di tengah samudera raya, tahu-tahu
Jay-ih-lo-sat sudah berada di tengah gelanggang. Di belakang menyusul beberapa bayangan orang lagi,
sehingga seluruh gelanggang seperti dipagari oleh barisan manusia. Pelan-pelan sebuah tandu atau joli
berhias dipikul memasuki arena.
Berdegup hati Ji Bun, hasrat turun tangan yang sudah berkobar seketika diurungkan. Joli itu langsung
menuju ke arah Siang-thian-ong yang sedang berhantam dengan orang berbaju putih.
"Berhenti!" orang dalam tandu membentak enteng, suaranya tidak keras, namun kedengarannya setajam
jarum menusuk kuping, seluruh hadirin yang lagi bertempur tiada yang tidak mendengarnya, ini pertanda
bahwa Lwekang orang dalam tandu sudah mencapai taraf yang tiada taranya.
Dalam waktu yang sama, Ngo-lui-kiongcu kembali kena sekali pukulan Wi-to-hwecu, darah kembali
menyemprot dari mulutnya, jubahnya yang putih berlepotan darah, langkahnyapun sempoyongan hampir
jatuh. Untung Wi-to-hwecu tidak menambahi serangan, dia mundur dan menghentikan serangan. Yang lain
segera menghentikan pertempuran dan mundur ke barisan masing-masing.
Puluhan mayat sudah berjatuhan sehingga darah mengalir berceceran. Murid-murid Ngo-lui-kiong
merupakan jumlah yang terbesar di antara mayat-mayat yang bergelimpangan.
Walau sudah berhenti dan mengundurkan diri, namun Siang-thian-ong masih melotot beringas, rambut
dan janggutnya bergerak-gerak.
Terdengar orang dalam tandu bersuara tajam: "Tuan ini jago kosen dari mana?"
Orang berbaju putih berperawakan tinggi yang bertempur melawan Siang-thian-ong terkekeh dingin,
katanya: "Apakah pertanyaanmu ini tidak berkelebihan, sudah tentu aku ini anak buah Ngo-lui-kiong."
Murid Ngo-lui-kiong yang masih hidup beramai-ramai kumpul di belakang Tin-kiu-thian In Ci-san, pihak
Wi-to-hwe sudah menguasai suasana.
Dalam hati Ji Bun amat menyesal, kesempatan baik tadi sudah disia-siakan, kalau sejak tadi dia mau
turun tangan, situasi tentu jauh berubah, namun hatinya masih was-was, kedua orang baju putih itu
berkepandaian lebih tinggi dari Ketua Ngo-lui-kiong In Ci-san, hal ini sungguh luar biasa. Maka seluruh
perhatiannya kini ia tujukan ke arah orang dalam tandu itu.
Didengarnya orang dalam tandu tertawa dingin, katanya: "Sahabat, jangan menyembunyikan kepala tapi
memperlihatkan ekor, kau dan temanmu yang satu ini pasti bukan anak buah Ngo-lui-kiong, pertama, ilmu
silat kalian tidak serasi, kedua, anak buah biasa mana mungkin berkepandaian lebih tinggi dari
pemimpinnya."
Dengan kaget orang berbaju putih menyurut mundur, katanya: "Kenapa kau tidak keluar saja,
memangnya kau ini kura-kura yang malu dilihat orang."
"Kurangajar," segulung angin tahu-tahu melanda dari dalam tandu menerjang orang berbaju putih,
seketika ia tergetar mundur empat langkah.
Tersirap darah Ji Bun, kepandaian orang baju putih barusan sudah disaksikan sendiri, namun dia tidak
kuasa melawan damparan angin si orang dalam tandu. apakah dirinya kuat menandinginya masih sukar
diraba juga.
Terdengar orang dalam tandu berkata pula: “Sahabat, katakanlah asal usulmu?"
"Kenapa tidak yang mulia dulu memperkenalkan diri?"
"Akulah yang tertua dari para Hou-hoat Wi-to-hwe."
"Tentunya kau punya nama dan gelaran."
"Kau melanggar daerah terlarang dan main bunuh ditempat kami, undang-undang Bu-lim sudah kau
injak-injak, terus terang aku tidak ingin membunuh orang yang tidak kukenal."
Di sebelah sana Wi-to-hwecu juga sedang mengajukan pertanyaan kepada Ketua Ngo-lui-kiong Tui-kiuthian
In Ci-san: "Sebagai ketua suatu aliran, tentunya kau berani bertanggung jawab bukan?"
Ngo-lui-kiongcu mendehem geram, katanya: "Selama air mengalir dan gunung menghijau pasti akan
datang saatnya untuk memberikan pertanggungan jawab."
"In Ci-san," desis Wi-to-hwecu, "kukira kau takkan bisa turun gunung hari ini."
"Takabur sekali kau."
"Kenyataan akan membuktikan."
Disebelah sini, orang dalam tandu memberi peringatan terakhir: "Sahabat, kau tidak mau
memperkenalkan diri, terpaksa kupandang kau sepihak dengan musuh ......”
"Terserah!" sahut orang berbaju putih tak acuh.
Pada saat itulah, sesosok bayangan orang tahu-tahu meluncur datang dan hinggap di pinggir
gelanggang, seketika Ji Bun mengerut alis, karena yang datang adalah Thian-thay-mo,ki, katanya aseran:
"Cici, kenapa kaupun kemari?"
Thian-thay-mo-ki tersenyum kecut, tanyanya: "Kau tidak senang?"
Lekas Ji Bun menyangkal: "Tidak, tiada maksudku demikian."
"Dik, tahukah kau siapa baju putih yang berdiri di sebelah kanan Ngo-lui-kiongcu itu?"
"Siapa dia?" tanya Ji Bun sambil memandang orang berbaju putih yang tadi bertempur melawan Bu-cingso.
Thian-thay-mo-ki melirihkan suaranya: "Tanpa sengaja aku mencuri dengar pembicaraan mereka bahwa
pihak Ngo-lui-kiong berani meluruk kemari mencari setori lantaran dihasut dan didukung oleh kedua orang
baju putih itu, mereka mengenakan kedok dan merias diri, menyaru jadi anak buah Ngo-lui-kiong, si baju
putih yang itu bukan lain adalah Biau-jiu Siansing yang kau cari-cari itu."
Seketika merah padam muka Ji Bun, sorot matanya membara, katanya gugup: "Apa benar?"
"Kau tidak percaya pada Cicimu ini?"
"Lalu siapa laki-laki baju putih yang lain itu?"
"Entahlah, tapi sayup-sayup seperti kudengar mereka menyinggung Jit-sing-kojin."
8.23. Jiwa Kesatria Tak Gentar Elmaut
Ji Bun mengertak gigi, katanya: "Kemungkinan mereka sekomplotan, bukan mustahil orang yang
menyaru dengan kedok hijau dan berjubah sutera itupun komplotan mereka."
Habis berkata segera ia melejit maju ke depan orang berbaju putih, secara reflek si baju putih menyurut
mundur sambil berjaga, sorot matanya hambar dan kaget, seluruh hadirin juga terkejut terhadap perbuatan
Ji Bun yang mendadak ini.
Ji Bun terkekeh dingin, sapanya: "Selamat bertemu tuan!"
Orang baju putih melengak, katanya: "Te-gak Suseng, persoalan kita kukira kurang leluasa dibereskan
disini dan sekarang juga."
"Untuk menemukan jejakmu terlalu sulit, mumpung kepergok di sini, tentunya kau harus memberi
pertanggungan jawab kepadaku."
Ngo-lui-kiongcu tiba-tiba beranjak maju, katanya, dengan mendelik: "Anak muda, kebetulan kau
menampilkan diri, utangmu pada pihak kami biar dibereskan sekarang juga," belum habis bicara, telapak
tangannya yang segede kipas itu segera melayang menghantam Ji Bun
Ji Bun mendengus geram, sedikit miring sebelah tangannya bergerak menangkis, "Plak", seluruh hadirin
tergetar oleh benturan dasyat ini, kontan Ngo-lui-kiongcu sempoyongan mundur tiga langkah, luka
dalamnya seketika kambuh, darah kembali meleleh dari mulutnya. Sisa kekuatan benturan membuat pasir
debu beterbangan memenuhi angkasa.
Ji Bun melirik ke arah Ngo-lui-kiongcu dan tetap menghadapi orang berbaju putih tadi, katanya dengan
suara rendah: "Bagaimana kau?"
"Kenapa tidak bersabar sebentar, setelah urusan di sini selesai saja?"
"Untuk apa membuang-buang waktu, nasib orang-orang Ngo-lui-kiong sudah jelas, jangan harap kau
dapat turun dari Tong-pek-san."
"Belum tentu, boleh kau buktikan sendiri."
Tengah percakapan berlangsung, mendadak Wi-to hwecu menjerit kaget seraya berteriak: "Ngo-lui-cu!"
Dengan kaget Ji Bun berpaling, dilihatnya Ngo-lui-kiongcu sudah mundur dua tombak di sebelah sana,
tangan kanannya menggengam sebuah bola warna merah sebesar kepalan, menyusul kedua orang baju
putih itupun turut melejit mundur seraya mengacungkan bola bundar warna merah yang sama bentuk dan
besarnya.
Lekas Thian-thay-mo-ki melompat maju ke samping Ji Bun serta menarik lengannya teriaknya gugup:
"Lekas mundur!"
"Ada apa?" tanya Ji Bun tak mengerti.
"Kau belum pernah dengar Ngo-lui-cu (mutiara guntur)?"
"Benda apa sih Ngo-lui-cu itu?"
"Pusaka pelindung Ngo-lui-kiong, namanya saja mutiara, yang betul merupakan granat yang seketika
meledak bila dilemparkan, betapa tinggi kepandaianmu juga sukar terluput dari sasarannya."
"Jadi Ngo-lui-cu sama seperti Bik-lik-tan (granat halilintar)?”
"Betul, lekas kau mundur Dik," tanpa banyak bicara lagi segera ia seret Ji Bun mundur beberapa tombak.
Ji Bun terbelalak bingung, sungguh perubahan yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya, tiga butir
Ngo-lui-cu kiranya cukup berlebihan untuk merobohkan Wi-to-hwecu dan seluruh anak buahnya. Sisa anak
buah Ngo-lui-kiong akan lebila leluasa menerjang ke atas dan menyerbu markas dan mendudukinya, dibantu
kedua orang baju putih lagi, seluruh anggota Wi-to-hwe akan ditumpas habis-habisan.
Apakah dirinya harus tinggal pergi demikian saja? Kalau tetap berada di sini, bukan mustahil dirinya bakal
ikut menjadi korban. Sementara itu, Ngo-lui-kiongcu dan kedua orang baju putih yang masing-masing
mengacungkan Ngo-lui-cu berpencar ke tiga arah, jarak antara ketiganya kira-kira dua tombak, itu berarti
sepuluh tombak disekitar mereka dapat mereka capai dengan sekali timpukan granat yang mematikan itu.
Pucat dan berubah air muka orang-orang Wi-to-hwe, tandu berhias itupun menyurut mundur setombak
lebih. Rambut ubanan Bu-cing-so dan Siang-thian-ong sempat bergerak-gerak berdiri, agaknya mereka
teramat murka.
Ngo-lui-kiongcu tertawa gelak-gelak seperti orang kesurupan, katanya: "Wi-to-hwe akan tamat hari ini,
kalian masih ada pesan apa lagi?"
Tajam tatapan Wi-to-hwecu, namun suaranya masih mantap dan kuat: "ln Ci-san, kau memang licik dan
keji, boleh kau coba timpukan senjatamu itu."
In Ci-san menyeringai, katanya: "Tadi sudah kukatakan kalau bukan aku yang gugur di sini, maka akulah
yang akan mencuci tanah Tong-pek-san ini dengan darah kalian ini."
Orang berbaju putih yang dituding sebagai Biau-jiu Siansing oleh Thian-thay-mo-ki tadi mendadak
berpaling ke arah Ji Bun, katanya: "Anak muda, kalau kau tidak ingin mampus, lekas tinggalkan tempat ini."
Ji Bun menjadi serba susah, kata-kata orang berbaju putih ini terasa mengandung arti mendalam namun
sukar ditebak, kalau dirinya sampai ikut jadi korban ledakan Ngo-lui-cu. bukankah keinginannya bakal
tercapai malah? Tapi dia justeru menganjurkan dirinya lekas pergi, apa sih maksudnya? Tak tertahan ia
bertanya: "Apa maksud tuan?"
"Aku tidak ingin kau mampus di sini," kata orang itu.
“Kau kira dengan menanam kebajikan padaku, lantas dapat merubah sikapku kepadamu?"
Thian-thay-mo-ki juga menarik muka, sikapnya rada gelisah, katanya: "Bagaimana?"
Tegas kata-kata Ji Bun: "Dalam hal ini pasti ada muslihatnya, aku takkan ditipu mentah-mentah, kalau
mau pergi aku bisa segera berangkat, tidak mungkin lataran aku seorang dia melemparkan Ngo-lui-cu, lagi
kepandaian orang-orang ini, orang di dalam tandu, belum tentu mereka takkan mampu menyelamatkan diri,
aku justeru ingin melihat akhir dari pertempuran di sini."
"Dik, ketiga orang yang membawa Ngo-lui-cu berkepandaian tinggi, keadaan ini jangan kau remehkan,
memang tidak sulit bagi Wi-to-hwecu dan lain? yang berkepandaian tinggi untuk menyelamatkan diri,
namun bagaimana kelanjutannya? Urusan belum beres, yang celaka adalah mereka yang berkepandaian
rendah, memang markas ini harus dikosongkan."
Lahirnya Wi-to-hwecu tenang-tenang saja, namun hatinya tegang dan gelisah, keadaan seperti ini takkan
bisa dikuasai hanya dengan kekuatan Lwekang atau kepandaian silat, memang tiada cara lain yang tepat
untuk mengatasinya, urusan sekarang bukan saja merupakan persoalan mati hidup jiwa orang-orang yang
hadir, juga mengenai nama dan kebesaran Wi-to-hwe yang harus tetap diperjuangkan, sekali salah langkah,
Wi-to-hwe akan lenyap dan tak bisa lagi berdiri di kalangan Bu lim.
"Te-gak Suseng," orang baju putih samaran Biau-jiu Siansing bicara lagi. "kau ingin menghadap Giam-loong?"
Ji Bun mengertak gigi tanpa menjawab, dalam hati ia sudah berkeputusan tidak akan berpihak kepada
musuh, namun bila Wi-to-hwecu dan lain-lain semua mampus karena ledakan Ngo-lui-cu maka gagal
harapannya untuk menuntut balas, betapa hati takkan menyesal dan malu kepada para arwah yang telah
mendahuluinya. Kembali dia menghadapi satu pilihan. Sebaiknya sekarang dia bertindak secara mendadak
membekuk Wi-to-hwecu dan meninggalkan tempat ini, peduli apa yang bakal terjadi di sini.
Maka ia lantas berbisik kepada Thian-thay-mo-ki: "Cici, lekas kau pergi "
"Tidak, mati hidup aku tetap berdampingan dengan kau."
"Kau bisa menggagalkan rencana besarku," ucap Ji Bun sambil membanting kaki.
Baru saja Thian-thay-mo-ki hendak membuka mulut, tiba-tiba rombongan orang yang berjaga dimulut
gunung sana seperti tersibak ombak sama menyingkir ke samping, tampak seorang Hwesio bertubuh besar
melayang tiba seperti awan mengembang. Suasana menjadi hiruk-pikuk.
Ngo-lui-kiongcu berpaling sambil membentak lantang: "Hwesio keparat, berhenti di situ!"
Seperti tidak mendengar, Hwesio itu tetap melangkah maju dengan enteng. Keruan Ngo-lui-kiongcu naik
pitam, bentaknya: "Tangkap dia!"
Dua laki-laki memegang pedang segera menubruk maju, aneh sekali, entah menggunakan gerakan apa,
tahu-tahu Hwesio itu berkelebat sekali, bayangannya tahu-tahu lenyap, kedua orang itu menubruk tempat
kosong, hampir saja mereka jatuh tersungkur, sementara Hwesio gede sudah berada di tengah arena.
Gerakan Hwesio ini seketika mengejutkan setiap hadirin. Tiba-tiba Thian-thay-mo-ki berseru dengan
suara haru tersendat: "Dik, itulah dia!"
Ji Bun garuk-garuk kepala, tanyanya: "Dia siapa?"
"Thong-sian Hwesio yang pernah menolong kita itu."
Begitu tiba Thong-sian menyapu pandang ke seluruh gelanggang, akhirnya pandangannya berhenti pada
Ji Bun dan Thian-thay-mo-ki, masih segar dalam ingatannya, bahwa Ji Bun dan Thian-thay-mo-ki waktu itu
sudah mati betul-betul.
Lekas Ji Bun tampil kemuka sembari memberi hormat: "Banyak terima kasih atas pertolongan Siansu
tempo hari.”
"Apa, jadi kalian ......”
"Kami berdua lolos dari elmaut."
"Amitha Budha!" Thong-sian bersabda, lalu dia berpaling kepada Ngo-lui-kiongcu, katanya: "In sicu,
simpanlah Ngo-lui-cu itu."
"Siapakah gelaran Toa-hwesio?" tanya Ngo-lui-kiongcu, suaranya hambar.
"Pinceng Thong-sian."
"Orang beribadat kenapa mencampuri urusan duniawi?"
"Omitohud, kebajikan adalah pangkal ajaran Budha, mendarma baktikan kebijaksanaan demi menolong
sesamanya adalah kewajiban setiap insan."
"Sekali lagi kuulangi, lekaslah Toa-hwesio pergi saja."
"Memang Pinceng harus datang kemari dengan sia-sia."
"O, memangnya Toa-hwesio berdiri di pihak mana?"
"Di pihak yang benar."
"Pihak mana yang benar?"
"Pinceng harap Sicu menyimpan Ngo-lui-cu dan mundur lima tombak."
"Cukup dengan sepatah katamu saja?"
"Kukira cukup berkelebihan."
"Lekas Toa-hwesio mengambil sikap, ke mana kau berpihak, kalau tidak, aku tidak kenal ajaran bajik
atau bijak segala."
Terpancar sinar terang jernih pada mata Thong-sian Hwesio, dengan tajam dia tatap muka Ngo-luikiongcu,
begitu tenang dan berwibawa sekali sorot matanya, tanpa terasa In Ci-san menyurut mundur
dengan keder.
Wi-to-hwecu dan lain-lain saling adu pandang dengan heran, tiada seorangpun yang tahu asal-usul
Hwesio ini, kawan atau lawan juga belum jelas.
Orang baju putih yang ada di sebelah kiri tiba-tiba berbisik: "In-ciangbun, baiknya kita mundur saja
sementara."
In Ci-san amat angkuh dan terlalu menjaga gengsi, demi nama baiknya, mana dia mau takluk kepada
seorang Hwesio yang belum diketahui asal-usulnya, maka dia menggeleng, katanya: "Toa-hwesio, apa sih
maksudmu sebetulnya?"
Dengan angker berwibawa Thong-sian Hwesio berkata: "Aku kemari demi menegakkan keadilan bagi Bulim."
Orang baju putih di sebelah kiri itu mendadak berseru tertahan, kakinya menyurut beberapa langkah,
agaknya dia mengenali siapa Hwesio gede ini, sorot matanya seketika memancarkan nafsu keji, tiba-tiba
kakinya menjejak tanah, badannya melejit mundur, berbareng tangannya terayun ke depan, Ngo-lui-cu
ditangannya itu dia timpukkan kepada Thong-sian Hwesio. Padahal saat itu Thong-sian Hweesio berdiri di
tengah antara kedua pihak.
Perbuatan nekat orang berbaju putih yang diluar dugaan ini sungguh mengejutkan seluruh hadirin
termasuk Ngo-lui-kiongcu sendiri, sekali meledak, Kekuatan Ngo-lui-cu dapat mencapai lima tombak
jauhnya, dalam jarak sejauh ini, tiada seorangpun yang bisa lolos dari renggutan elmaut.
Di tengah teriakan orang banyak mereka sama melompat mundur sejauh mungkin. Jarak Ji Bun dan
Thian-thay-mo-ki hanya setombak lebih dengan Thong-sian Hwesio, untuk berkelit atau menyingkir jelas
tidak mungkin lagi.
Untunglah pada detik-detik yang menegangkan itu, tiba-tiba tangan Thong-sian terangkat sambil
melambai, seperti orang bermain sulap saja tahu-tahu Ngo-lui-cu yang hampir jatuh menyentuh bumi itu
berhenti di tengah udara terus meluncur kesamberan tangan Thong-sian.
Rasa kejut semua orang masih belum hilang, tapi mereka tak lupa berseru memuji.
Ji Bun dan Thian-thay-mo-ki saling berpandangan dengan tertawa getir, keringat dingin sudah
membasahi badan mereka. Sebaliknya rona muka Ngo-lui-kiongcu berubah tidak menentu, kedua biji
matanya terbelalak.
Sorot mata Thong-sian setajam golok seterang bintang kejora menatap ke arah si orang berbaju putih
tadi, katanya: "Kenapa Sicu turun tangan sekeji ini kepada Pinceng?"
Nafsu jalang siorang baju putih yang terpancar dari sorot matanya berubah rasa jeri dan ketakutan,
tanpa bersuara lagi dia melirik memberi tanda kepada Biau-jiu Siansing, serempak keduanya lantas melejit
tinggi dan meluncur turun ke lamping gunung, gerak-geriknya aneh secepat kilat lagi, dalam sekejap sudah
lenyap dari pandangan mata.
Setelah Ji Bun sadar kembali dari lamunannya katanya sambil membanting kaki: "Kembali dia lolos."
Dengan ditinggal pergi kedua orang baju putih yang menjadi tulang punggungnya, Ngo-lui-kiongcu
menjadi patah semangat, seperti burung yang patah sayapnya, keruan dia menjadi bingung dan gelisah,
Ngo-lui-cu tak bermanfaat lagi. apalagi anak buahnya juga patah semangat dan banyak yang terluka.
Wi-to-hwecu masih berdiam diri tanpa bertindak untuk menunggu reaksi Thong-sian Hwesio selanjutnya.
Tampak Thong-sian menarik tangan menyimpan Ngo-lui-cu rampasan dalam lengan bajunya, lalu katanya
kepada Wi-to-hwecu sambil melangkah maju: "Sicu ini adalah Hwecu?"
"Ya, Toa-hwesio ada petunjuk apa?"
"Pinceng membawa firman Thian untuk menunaikan darma bakti demi keserasian hidup kaum persilatan,
untuk ini harap Sicu selekasnya membubarkan Wi-to-hwe."
Sudah tentu seluruh hadirin terperanjat mendengar ucapan ini.
Tidak malu Wi-to-hwecu sebagai seorang pemimpin, terlebih dulu dia membalas hormat lalu berkata.
dengan sewajarnya: "Ucapan Taysu ini tentu punya dasar dan alasannya?"
"Sepak terjang anak buahmu di luar tentunya Sicu sendiri juga tahu, apa yang dinamakan menegakkan
keadilan, tak ubahnya melanggar kemanusiaan belaka, ini jelas tidak boleh dibenarkan."
"Taysu mendengar omongan orang atau menyaksikan sendiri?"
Thong-sian menuding Ji Bun berdua. katanya: "Kedua Sicu muda ini adalah salah dua korban dari
kekejaman anak buahmu."
Berkata Wi-to-hwe-cu dengan nada serius: "Di kalangan Kang-ouw sudah disinyalir adanya orang-orang
yang menyaru murid-murid kami dan melakukan kejahatan di luaran, untuk ini kami sudah mengerahkan
tenaga untuk menyelidikinya, dalam waktu dekat pasti kami dapat memberikan pertanggungan jawab
kepada Bulim."
"Omitohud! Seorang Buddhis pantang berbohong, Pinceng tak dapat percaya begini saja."
"Lalu bagaimana pendapat Taysu?"
"Bubarkan saja perkumpulanmu."
"Tidak mungkin," sahut Wi-to-hwecu tegas.
Berkilat biji mata Thong-sian Hwesio, katanya dengan suara kereng, "Pinceng terpaksa harus melanggar
pantangan."
Bu-cing-so, Siang-thian-ong dan Cui Bu-tok serempak melompat maju sambil menggerung gusar,
suasana kembali memuncak tegang. Tandu berhias itupun segera melayang datang, kata orang di dalam
tandu itu: "Taysu dari aliran dan perguruan mana?"
"Pinceng tidak punya aliran, melainkan pendeta sebatang kara dari kelenteng bobrok belaka."
"Gerakan Taysu waktu menangkap Ngo-lui-cu tadi jelas adalah Sian-thian-chin-khi?"
Terunjuk rasa kaget dan heran pada muka Thong-sian Hwesio, katanya setelah melengak sejenak: "Luas
juga pengetahuan Sicu, ya, memang betul Sian-thian-chin-khi."
Sian-thian-chin-khi merupakan ilmu Lwekang yang tiada taranya, sekuat besi seulet baja, kalau latihan
sudah sempurna dapat digunakan sesuka hati, sedikit pikiran bergerak cukup untuk melukai lawan, bagi
yang berkepandaian rendah tidak ambil peduli, namun bagi pendengaran Siang-thian-ong dan lain-lain,
bukan kepalang kejut mereka.
"Jadi Taysu adalah murid keturunan Sin-ceng (paderi sakti)?" kata orang dalam tandu pula.
Thong-sian menarik muka dan merangkap tangan, katanya: "Betul, beliau adalah guruku almarhum.
Pandangan Sicu begini luas, sungguh mengagumkan."
"Tapi Taysu menghendaki perkumpulan kami bubar apakah permintaan ini tidak keterlaluan?"
"Betapapun Pinceng tidak gampang mengubah keputusan."
Wi-to-hwecu segera menyela bicara: "Kita yakin tak pernah melanggar Wi-to, Taysu begini memaksa,
lebih baik kita gugur seluruhya."
Thong-sian menepekur sebentar, katanya kemudian: "Kalau Sicu mampu melawan tiga kali pukulanku,
selanjutnya Pinceng tidak akan mencampuri lagi urusan Kang-ouw."
"Baik, kuterima tantangan ini," jawab Wi-to-hwecu nekat.
"Jangan Hwecu," orang dalam tandu mencegah dengan suara bimbang.
Persoalan sudah jelas, Thong-sian Hwesio telah berhasil meyakinkan Sian-thian-chin-khi, Lweekang yang
tiada taranya, betapapun tinggi kepandaian seseorang takkan kuat menghadapi ujung jarinya, apalagi tiga
kali pukulan. Tapi kaum persilatan memandang nama lebih berharga daripada jiwa raga, demi gengsi
mereka rela berkorban, apalagi seorang pemimpin yang harus membubarkan perkumpulannya, sudah tentu
dia lebih suka gugur dari pada hidup mendapat malu.
Si cebol bundar Siang-thian-ong segera menggelinding maju, serunya. " Biar Lohu dulu yang menghadapi
tiga pukulanmu."
Wi-to-hwecu angkat tangan, serunya: "Ini urusanku sendiri, harap Hou-hoat mundur dan jangan banyak
bicara lagi."
"Hwecu," seru orang dalam tandu, "sebagai kepala para Hou-hoat, biar aku yang menerima tantangan
ini."
Tidak, aku ini seorang pemimpin, akulah yang harus menghadapi ujian ini, kalau aku tidak beruntung,
boleh Cong-hou-hoat segera bubarkan perkumpulan kita ini."
Sungguh jiwa ksatria yang tak gentar menghadapi elmaut.
"Hwecu" seru orang dalam tandu, pertimbangkan kembali putusanmu."
"Tiada yang perlu dipertimbangkan lagi, putusanku tak dapat diubah, beberapa persoalan kita yang
belum sempat kubereskan harap kau sudi menyelesaikannya."
Lalu dia melangkah kehadapan Thong-sian, tantangnya dengan ketus: "Silakan mulai!"
Thong sian maju beberapa langkah, jarak mereka tinggal setombak lebih, keduanya berdiri tegak
berhadapan. Suasana hening lelap, jarum jatuhpun bisa terdengar, hawa seperti membeku, ketegangan
mencekam sanubari setiap hadirin.
Tapi begitu pandangan kedua orang saling bentrok, keduanya sama-sama melongo dan mematung.
Dengan suara haru gemetar, tiba-tiba Wi-to-hwecu bertanya: "Belum genap 20 tahun Taysu mencukur
rambut bukan?"
Jelas Thong-sian sangat kaget, romannya berubah. "Betul" sahutnya.
"Nama preman Taysu she Ciu?"
"Sicu, kau ......" Thong-sian mundur tiga langkah, kulit daging mukanya gemetar, agaknya
pertanyaannya yang berulang ini membuatnya kaget dan kebingungan.
Tiba-tiba Wi-to-hwecu angkat tangan kanan, jempol dan jari telunjuknya terangkat berkembang,
sementara tiga jarinya yang lain ditekuk turun, katanya gemetar: "Taysu sudah mengerti?"
Kembali Thong-sian menyurut mundur, suaranya tersendat: "Kaukah ini?"
“Ya" sahut Wi-to-hwecu singkat. Teka-teki apa yang dibicarakan kedua orang ini tiada yang tahu.
Thong sian segera merangkap tangan, lalu komat-kamit, akhirnya bersuara: "Bagus, bagus, sungguh
diluar dugaan Pinceng. Sicu, bereskan dulu persoalan di sini."
Wi-to-hwecu mendekati Ngo-lui-kiongcu, katanya dengan suara berat: "In-ciangbun, sekali lagi
kunyatakan bahwa anak buahku pasti tiada yang membunuh anak muridmu, yang terang memang ada
orang yang mengadu domba. Tidak sedikit jatuh korban di antara kita, sebetulnya pihakmulah yang harus
bertanggung jawab seluruhnya, namun sesuai azas tujuan berdirinya perkumpulan kami, biarlah persoalan
ini kami anggap malapetaka yang tak terduga, anggaplah selesai persoalan ini, bagaimana pendapatmu?”
In Ci-san tahu situasi tidak menguntungkan pihaknya, kalau tidak mau terima saran pihak sana,
memangnya dia hendak berbuat apalagi? Setelah diam sebentar, lalu berkata dengan penuh kebencian:
"Baiklah soal ini sementara selesai sampai di sini, namun cepat atau lambat perhitungan ini pasti akan kami
tagih."
"Itu urusan kelak, bagaimana kalau tuan dan anak buahmu mampir dulu untuk istirahat dan mengobati
yang luka-luka?"
"Tidak perlu, selamat bertemu kelak," In Ci-san putar badan memberi tanda kepada sisa anak buahnya,
serunya: "Bawa mayat-mayat teman-temanmu."
Beramai anak buah Ngo-lui-kiong bekerja cepat, cepat sekali para korban sudah dipanggul dan dibawa
turun gunung.
Pertikaian yang berlangsung secara aneh ini lekas sekali sudah usai, namun hati semua orang dirundung
awan gelap, ada hubungan apakah sebetulnya antara Wi-to-hwecu dengan Thong-sian Hwesio? Cukup
dengan beberapa patah kata yang tidak dimengerti tadi, dengan mudah Wi-to-hwecu dapat mengubah
tekad dan pendirian Thong-sian?
Hati Ji Bun berat seperti diganduli barang ribuan kati, niatnya hendak menuntut balas ketika mendapat
kesempatan tadi telah lenyap, dia pikir harus selekasnya bertemu dengan ayah, setelah jelas duduk
persoalannya, barulah mereka bergabung mengambil tindakan.
Setelah membereskan urusannya, Wi-to-hwecu mendekati Ji Bun, katanya: "Sahabat muda, sekarang
silakan."
Diam-diam Ji Bun mengertak gigi, sahutnya: "Sekarang juga kami mohon diri, kalau ada kesempatan
kelak kami pasti berkunjung pula."
"Kenapa tergesa-gesa?"
"Banyak urusan yang harus kami bereskan," sahut Ji Bun lalu dia memutar ke arah Thong-sian, katanya:
"Taysu, terima kasih akan pertolongan tempo hari, Wanpwe mohon diri."
Thong-sian tidak bersuara, dia hanya mengangguk sambil merangkap kedua tangan di depan dada,
namun sorot matanya berkilauan menatap muka Ji Bun. Setelah basa-basi ala kadarnya pula, segera Ji Bun
turun gunung bersama Thian-thay-mo-ki.
8.24. Tuduhan Pembunuh dan Pemerkosa ....
Setiba dibawah gunung, Ji Bun menarik napas panjang, pikiran masih terasa pepat, ayah berkelana di
Kang-ouw tidak menentu jejaknya, demikian pula bunda tak keruan paran, kekuatan musuh semakin
bertambah, banyak tanda tanya yang selama ini dapat terbatas?
Tiba-tiba dia sadar, dirinya melupakan suatu hal penting, kenapa tadi tidak sekalian mencari kabar
kepada orang dalam tandu atau kepada Wi-to-hwe tentang adik Pek-ciok Sin-ni yang bernama Toh Ji-lan itu,
tugas dan pesan orang tua di dalam jurang itukan harus selekasnya diselesaikan.
"Dik," tiba-tiba Thian-thay-mo-ki buka suara, "apakah musuhmu berada di Wi-to-hwe?"
Tergetar hati Ji Bun. "Kenapa Cici tanya hal ini?”
"Sorot mata dan sikapmu memberitahu padaku.
"Apa benar?"
"Waktu peresmian berdirinya We-to-hwe tempo hari sudah kudapati perubahan sikapmu ini, aku tak
berani tanya, namun perubahan saling susul atas dirimu, watakmu yang nyentrik dulu sudah kau buang
jauh, perubahan secara dratis ini bukan menandakan pengalamanmu yang semakin bertambah, tapi karena
adanya tekanan batin tertentu sehingga jiwamu tertekan, atau mungkin juga hal ini memang kehendakmu
sendiri karena sesuatu hal, maaf aku bicara secara blak-blakan."
Merinding bulu kuduk Ji Bun, diam-diam ia mengagumi ketelitian Thian-thay-mo-ki, namun diam-diam
iapun semakin waspada, disadarinya bahwa keadaan dirinya semakin ruwet, ayah sendiri tidak mau
menjelaskan peristiwa hancurnya Jit-sing-po, sejauh ini tidak mau kerja sama dengan dirinya, tidak
menunjukkan aksi lagi. Secara langsung dia menyadari juga bahwa ayahnya telah banyak berubah pula,
sehingga hubungan mereka ayah beranak menjadi renggang seperti dibatasi sesuatu jalur yang tidak
kelihatan. Kenapa bisa demikian?
Begitulah tanpa bersuara mereka melanjutkan perjalanan tanpa arah. Tiba-tiba pandangan mereka
terasa kabur, bayangan putih tahu-tahu berkelebat di depan mata, seorang berbaju putih entah kapan
sudah mengadang di depan mereka, Ji Bun berdua segera berhenti, seketika berkobar semangat Ji Bun,
orang yang mencegatnya ini ternyata Biau-jiu Siansing adanya.
"Tuan menungguku di sini?" tanya Ji Bun.
"Ya, begitulah," sahut Biau-jiu Siansing.
"Agaknya tuan dapat dipercaya."
"Omong kosong, memangnya Lohu harus ingkar janji terhadap anak muda," ujar Biau-jiu Siansing,
"banyak orang mondir-mandir di sini, marilah kita cari tempat lain."
"Di dalam hutan sana, bagaimana?" tanya Ji Bun. Hutan yang ditunjuk terletak disebelah kiri, dengan
pepohonan yang rindang.
"Baik, namun Lohu ada pendapat."
"Pendapat apa?"
"Untuk menyelesaikan pertikaian kita, lebih baik kalau tiada orang ketiga menyaksikan." Maksudnya
mengusir Thian-thay-mo-ki secara halus.
Berubah air muka Thian-thay-mo-ki, katanya: "Biau-jiu Siansing, hubungan kami sudah kau ketahui, aku
bukan orang luar."
"Hubungan kau dipaksakan," jengek Biau-jiu Siansing terkekeh lucu.
"Baiklah, Cici," tukas Ji Bun, "kau tunggu saja di luar hutan."
Apa boleh buat, Thian-thay-mo-ki akhirnya mengangguk, pesannya: "Hati-hati, Dik."
"Aku tahu, Cici tidak usah kuatir."
Biau-jiu Siansing berkelebat seperti bayangan setan, tahu-tahu lenyap kedalam hutan. Lekas Ji Bun
mengudak kesana.
Waktu itu sudah mendekati magrib, cuaca dalam hutan remang-remang gelap, namun Biau jiu Siansing
mengenakan pakaian putih bayangannya cukup menyolok.
Kira-kira puluhan tombak Ji Bun mengudak, dilihatnya bayangan orang sudah berdiri menanti
kekedatangannya. Ji bun mendekati dalam jarak beberapa kaki, secara langsung dia buka suara: "Tuan, tak
perlu banyak omong, bagaimana anting-anting pualamku itu?"
"Kenapa kau menuduh aku yang merebut anting-antingmu itu?"
"Jadi kau mungkir?"
"Tak pernah aku merebut barangmu, bagaimana aku harus mengaku."
"Aku tidak percaya."
"Te-gak Suseng, perlu kutanyakan dengan tegas, kalau kau punya bukti bahwa memang aku yang
melakukan, batok kepalaku boleh kuserahkan kepadamu, kalau tidak, jangan kau melanggar aturan Kangouw,
menuduhku secara tidak semena-mena."
Sudah tentu mulut Ji Bun terkancing, bicara soal bukti hakikatnya dia tidak bisa menunjukkan, hanya
berdasarkan gerakan dan kebal racun tangannya saja, maka dia menuduh Biau-jiu-Siansing.
"Kau harus lekas memberi keterangan kepada pemilik barang itu, supaya mereka lekas bertindak, kalau
tidak harta bendanya bakal ludes dalam sekejap mata, bagaimana akibatnya, kau yang harus memikulnya."
Memang benar, anting-anting itu milik pribadi Ciang Bing-cu, nilai anting-anting itu sendiri mungkin tidak
seberapa, namun arti dari akibat hilangnya anting-anting itu tak terkira besarnya, kalau sampai hal ini bocor
dan diketahui keluarga Ciang, bagaimana dirinya harus menghadapinya? Benak berpikir, namun mulutnya
tetap kukuh: "Tuan bilang hendak mempertaruhkan batok kepalamu?"
"Betul."
"Baik, soal ini sementara boleh ditunda."
"Anak muda, masih ada satu hal perlu kuperingatkan padamu, nama gelaran Thian-thay-mo-ki terlalu
buruk di kalangan Kang-ouw .......”
"Aku tahu kau tidak usah kuatir," kata Ji Bun, "lalu bagaimana janjimu tempo hari?"
"Janji apa?"
"Kau pernah berjanji hendak menyampaikan kabar kepada Jit-sing-kojin, supaya selekasnya mencari aku
buat menyelesaikan ......”
"Dia tidak mencarimu?" seru Biau-jiau Siansing, "aneh sekali, hal itu sudah kusampaikan padanya, dia
juga sudah berjanji hendak menemui kau?"
"Sekarang boleh kau katakan di mana dia berada, biar aku yang mencarinya."
"Dia tidak punya tempat tinggal yang tetap."
"Itu hanya alasan belaka, kaukan sekelompok dengan dia, di mana jejaknya kau pasti tahu."
"Ada permusuhan apakah antara kau dengan dia?"
"Sudah tahu masih pura-pura tanya?"
"Aku betul-betul tidak tahu, sukalah kau terangkan?"
"Kau tidak perlu tahu, katakan saja alamatnya."
"Tidak bisa."
"Kenapa?" desis Ji Bun, "untuk mencapai keinginanku, tindakan apapun bisa kulakukan."
"Kau menantang Lohu, he?"
"Kalau kau tidak terus terang, kuganyang kau."
Biau-jiu Siansing menepekur sebentar, katanya: "Berilah waktu kepadaku, kapan dan di mana, biar dia
sendiri yang mencarimu?"
"Aku tidak sabar menunggu," jawab Ji Bun.
„Lima hari lagi kita bertemu dijalan raya yang menuju ke Kayhong, bagaimana?" tanya Biau-jiu Siansing
tanpa hiraukan sikap ketus Ji Bun.
"Baiklah, tapi ada syaratnya."
"Syarat apa?"
"Jelaskan asal usul Jit-sing-kojin."
"Hal itu biar dia sendiri yang menjelaskan padamu, Lohu tidak berhak."
"Kalau kau tidak menerima syaratku, aku juga tidak terima janjimu."
"Te-gak Suseng," desis Biau-jiu Siansing, "kau suka bertingkah, selama hidup belum pernah Lohu
diancam dan ditekan orang."
"Kalau begitu jangan harap kau bisa pergi."
"Memangnya kau mampu menahan Lohu?" lenyap suaranya badannya tiba-tiba melesat kebelakang, Ji
Bun menghardik keras, telapak tangannya menepuk "Blang" ditengah suara gemuruh sebatang pohon besar
roboh, namun bayangan Biau-jiu Siansing sudah lenyap.
Serasa meledak dada Ji Bun, amarahnya memuncak, cepat ia menyelinap ke dalam hutan dan melesat
seringan burung walet, sayang hutan ini terlalu lebat, pandangannya selalu terhalang, langkahnyapun sedikit
terganggu oleh semak-semak. Tiba-tiba ia teringat akan Ginkang berkisar dengan badan memutar mumbul
ke atas ajaran orang tua aneh di bawah jurang Pek-ciok-hong itu, segera badannya melejit tinggi berputar
mumbul ke tengah angkasa, kakinya menutul pucuk-pucuk pohon sehingga gerakannya secepat burung,
terbang, namun ke mana pandangannya menjelajah, hanya tampak setitik putih berkelebat di kejauhan
sana, segera dia mengudak kencang kearah bayangan putih itu.
Dengan seluruh kekuatannya dia kembangkan Ginkang yang tiada bandingan ini, seenteng asap
melayang cepat sekali dia sudah menempuh delapan li, cuaca sudah gelap, untung bayangan itu
mengenakan baju putih sehingga Ji Bun tidak kehilangan sasaran.
Tak jauh di depan sana terlihat sinar pelita, agaknya sebuah kota kecil, kalau orang yang dikejarnya ini
sampai memasuki kota, untuk mencarinya tentu lebih sukar, karena gugup Ji Bun tambah tenaga dan
mengejar semakin kencang, bagai segulung kabut entengnya ia berhasil melampaui orang lalu berhenti
setombak di depan orang, mulutpun membentak: "Berhenti!"
Bayangan putih itupun segera menghentikan langkahnya.
Tapi Ji Bun seketika melongo dan berdiri kaku, ternyata bayang putih yang dikejarnya ini bukan Biau-jiu
Siansing, tapi seorang Nikoh muda belia.
Dongkol dan merengut wajah Nikoh muda ini, serunya marah-marah: "Apa maksud Sicu mencegatku?"
Ji Bun menjadi kikuk, ia menyengir kecut, namun dalam hati ia memuji akan gerakan orang yang hebat,
katanya tergagap: "Maaf, Cayhe keliru, kusangka Suthay adalah orang yang tadi kukejar."
Dengan seksama Nikoh muda itu mengamati Ji Bun, katanya dengan suara rada gemetar: "Apakah Sicu
Te-gak Suseng adanya?"
"Betul, memang akulah yang rendah."
Tiba-tiba mendelik gusar mata Nikoh muda, bentaknya beringas: "Te-gak Suseng, kau binatang yang
tidak berperi kemanusiaan ini, kalau tidak kuhancur leburkan kau kubersumpah tidak jadi manusia."
Kaget dan heran Ji Bun dibuatnya, serunya sambil mundur: "Apa maksudmu Siau-suthay?”
Desis Nikoh muda penuh kebencian dan dendam: "Perbuatanmu tak terampunkan."
Ji Bun bingung, tanyanya tak mengerti: "Cayhe tidak tahu apa yang Suthay katakan."
Nikoh muda mendesis pula, sambil mengertak gigi: "Di tempat suci kau telah berani berbuat jahat dan
kotor."
Ji Bun geleng-geleng, ujarnya: "Cayhe betul-betul tidak mengerti."
"Seorang Suciku yang soleh dan patuh pada ajaran agama, namun kau telah memperkosa dan
membunuhnya, kau ..... kau .....”
Ji Bun berjingkat, serunya gemetar, "Apa? Memperkosa dan membunuh?"
"Ya, kau membunuh setelah memperkosa Suciku."
“Lho, berdasar apa kau menuduhku demikian?"
"Te-gak Suseng, memangnya siapa lagi kecuali kau yang membunuh orang tanpa meninggalkan bekas?"
Ji Bun mundur selangkah lagi, teriaknya terbeliak: "Membunuh tanpa meninggalkan bekas?"
"Betul, kau berani mungkir?"
Ji Bun berpikir, hanya Cui-sim-tok yang sanggup membunuh orang tanpa meninggalkan tanda-tanda
yang mencurigakan, dan racun ini kecuali dirinya hanya ayahnya yang bisa menggunakan, namun kalau
bicara soal kepandaian silat dan Lwekang, tentunya tidak sedikit jago-jago kosen yang mampu juga
membunuh orang tanpa meninggalkan bekas, maka dia membela diri dengan tenang: "Siausuthay, jangan
hanya berdasar bukti-bukti yang masih belum jelas terus menuduh Cayhe yang melakukannya."
Sedih dan haru membuat badan Nikoh muda itu bergetar, teriaknya menahan isak: "Kau menyangkal?"
"Ya, dengan tegas kusangkal tuduhanmu ini."
"Serahkan jiwamu!" tahu-tahu telapak tangan Nikoh itu menggempur ke dada Ji Bun, kekuatannya
sungguh amat mengejutkan, namun sekali berkisar Ji Bun sudah berkelebat menyingkir, teriaknya: "Siausuthay
orang yang beribadat, kenapa begini galak dan berpandangan sempit?"
Nikoh muda itu anggap tidak dengar peringatannya, sekali pukulannya luput, serangan kedua segera
menghantam pula, caranya nekat dan seranganpun membabi buta.
Ji Bun berkelit ke kiri dan menyingkir ke kanan, lama kelamaan ia menjadi keripuhan juga, kalau tidak
melawan atau menangkis, tentu jiwanya bisa melayang, namun kalau tinggal pergi begini saja, bukankah
namanya bakal dicap semakin kotor, lebih celaka lagi Nikoh ini akan lebih yakin bahwa dirinya memang
seorang pembunuh, urusanpun akan berlarut. Betapapun dia harus menyelidiki peristiwa ini dan
membongkar pembunuhan ini. Karena itu ketika lawan menyerang lagi, sebat sekali dia menyelinap miring
terus melintangkan tangan balas menjojoh, terdengar Nikoh itu mengerang pendek dan sempoyongan,
namun Nikoh ini sudah kalap, seperti kerasukan setan kembali ia menubruk maju dengan serudukan dan
tendangan secara keji.
Ji Bun naik pitam menghadapi serangan membabi buta ini, kalau menuruti wataknya dulu, mungkin
Nikoh muda ini sudah tak bernyawa lagi, namun dia hanya mendengus gusar, dikala lawan menyeruduk tiba
pula, ia kerahkan tenaga di telapak tangan terus menahan kedepan. Nikoh itu menjerit ngeri, badannya
tersungkur ke samping, darah meleleh dari mulutnya.
Ji Bun berkata dengan nada berat: "Cayhe tidak ingin melukai Suthay, soalnya Suthay bertindak
serampangan, tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan."
Semakin berkobar rasa benci yang tersorot dari mata Nikoh muda, desisnya mengertak gigi: "Te-gak
Suseng, kenyataan sudah membuktikan, kau masih berani menyangkal."
"Pandangan Suthay terlatu sempit, apa yang kau katakan kenyataan hanya obrolan mulut Suthay sendiri,
coba, kapan peristiwa itu terjadi dan di mana?"
Nikoh muda itu menyeka darah yang meleleh di pinggir mulutnya, sekian lama dia masih melotot gusar,
katanya kemudian: "Lagakmu seolah-olah kau tidak tahu sama sekali."
"Kenyataan memang demikian, aku tidak tahu apa-apa."
"Baik, selamat bertemu, sakit hati ini pasti akan kubalas, Thian akan menjatuhkan hukuman setimpal
atas perbuatanmu," lenyap suaranya orangnyapun sudah berkelebat beberapa tombak jauhnya.
Ji Bun pikir, urusan ini harus selekasnya diselidiki dan dibereskan, soal ini boleh dikesampingkan, namun
tuduhan membunuh dan memperkosa ini sungguh bukan urusan sepele, maka segera ia angkat langkah
mengejar, gerak-gerik Nikoh muda itu ternyata cukup tangkas dan tinggi Ginkangnya, dengan mengerahkan
sepenuh tenaganya baru Ji Bun dapat menyusul dalam jarak tertentu.
Setelah melampaui kota kecil, kembali mereka dihadang sebidang hutan liar, cukup lama mereka harus
berlari diantara semak-semak hutan dengan naik turun bukit-bukit yang terjal, akhirnya tampak sebuah
kelenteng kecil, itulah biara yang khusus ditempati oleh Nikoh atau biarawati. Setelah Nikoh itu menyelinap
masuk ke dalam kelenteng, barulah Ji Bun lari mendekat, dilihatnya sebuah pigura besar cat hitam
tergantung di atas pintu dengan empat tulisan emas yang berbunyi "Ci-hang-boh-toh", kiranya sebuah
kelenteng Kwan Im, suasana hening lelap di dalam kelenteng kecil ini, pintu kelenteng setengah terbuka
setelah Nikoh muda tadi menyelinap masuk.
Sejenak ragu-ragu, akhirnya Ji Bun memberanikan diri melangkah maju terus menyelinap masuk juga
dengan langkah enteng tidak bersuara.
Kelenteng kecil, namun terawat baik, begitu masuk Ji Bun lantas berada di ruang sembahyang, di
samping sana adalah sebuah halaman yang ditanami tetumbuhan, di belakang taman adalah dua kamar
yang berjajar dalam keadaan gelap. Menjurus ke kiri adalah serambi panjang yang menuju ke belakang.
Sinar pelita yang guram menerangi ruang sembahyang yang sunyi dan tidak kelihatan bayangan orang.
Kamar di sebelah timur gelap gulita, tapi sinar pelita menembus keluar dari kamar sebelah barat, dua sosok
bayangan orang tampak di jendela, agaknya mereka tengah bicara.
Ji Bun berpikir sebalum bertindak lebih jauh, sebagai seorang laki-laki asing, malam-malam keluyuran di
biara Nikoh, hatinya menjadi tidak tenteram, lebih baik bersuara menyatakan maksud kedatangannya,
supaya tidak timbul salah paham dan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Namun sebelum dia buka suara, sebuah suara serak berkumandang dari kamar sebelah barat itu,
"Apakah Te-gak Suseng Sicu yang datang? Silakan masuk!" Suara ini seperti sudah amat dikenal, tergerak
hati Ji Bun, siapakah dia? Dalam hati dia bertanya-tanya.
Kamar di sebelah tengah segera menjadi terang, itulah sebuah kamar tamu yang dipajang sederhana,
Nikoh muda yang dikuntitnya tadi membuka pintu terus mundur kesamping, kedua tangan terangkap di
depan dada, sambutnya dingin: "Silakan masuk!"
Ji Bun membungkuk lalu melangkah masuk ke ruang tamu, tampak seorang Nikoh setengah umur sudah
duduk di atas sebuah kasur bundar, mukanya tampak jernih, sikapnya kereng, sinar matanya memancar
terang, membawa daya tarik yang kuat.
"Silakan duduk," sapanya setelah Ji Bun masuk.
"Terima kasih," Ji Bun duduk di sebuah kursi di depan nikoh tua itu. Nikoh ini belum pernah dikenalnya,
betapapun dia tak habis pikir di mana dan kapan dia pernah berjumpa atau mendengar suaranya?
"Mohon tanya, siapakah nama gelaran Cianpwe?"
"Gelaran Pin-ni, Siu-yen."
"Tengah malam buta Wanpwe memberanikan diri keluyuran di tempat suci ini, harap, Suthay memberi
ampun."
"Tidak, Pin-ni memang mengharapkan kedatangan Sicu."
"Barusan murid Suthay .....”
Siu-yen angkat sebelah tangannya, dia cegah kata-kata Ji Bun selanjutnya, katanya: "Memang muridku
itu ceroboh, dia malah salah paham kapada Sicu, hal ini tidak perlu diungkat lagi."
Ji Bun jadi melenggong, apakah pembunuhnya sudah ketangkap, kalau tidak kenapa dikatakan salah
paham.
"Kedatangan Wanpwe memang ingin bikin terang peristiwa ini, kalau memang salah paham, baiklah
Wanpwe mohon diri saja "
"Nanti dulu."
"Cianpwe masih ada petunjuk apa?”
"Sukalah Sicu memeriksa jenazah muridku dulu," lalu dia berbangkit dan berkata kepada Nikoh muda
yang berdiri di ambang pintu: “Ngo-cin, nyalakan lampu!"
Ngo-cin segera masuk ke kamar sebelah, keluarnya sudah membawa pelita. Siu-yen memberi tanda
kepada Ji Bun, segera dia mengikuti Nikoh tua ini melangkah keluar menuju serambi panjang ke arah
belakang. Setelah memasuki sebuah pekarangan lainnya, mereka berhenti di sebuah kamar yang tertutup
kain putih, Siu-yen melangkah masuk, Ji Bun ikut di belakangnya, dilihatnya sesosok jenazah berbaring
diatas sebuah dipan, jenazah ini ditutupi selempang kuning, tentu Nikoh inilah yang terbunuh setelah
diperkosa.
Wajah Siu-yen yang alim jernih tampak guram dan berkeriut, agaknya tengah menekan perasaan haru
dan sedih hatinya, jari-jari tangannya gemetar menuding ke arah jenazah, katanya: "Inilah muridku yang
tertua, Ngo-sim, karena ada urusan Pinni sedang keluar, Ngo-cin juga keluar memetik daun obat, hanya
Ngo-sim seorang di dalam biara, sebelum terbunuh dia sudah dinodai lebih dulu kesuciannya, namun
sekujur badannya tidak ada luka-luka atau tanda-tanda keracunan, maka Ngo-cin mengira Sicu yang
melakukannya ....”
Berkerut alis Ji Bun, katanya: "Lalu dari mana Cianpwe bisa mengatakan semua ini salah paham terhadap
diri Cayhe?"
"Karena Pinni tahu, waktu peristiwa ini terjadi, Sicu berada di tempat Wi-to-hwe."
"O," hambar dan hampa hati Ji Bun, dari mana Nikoh tua ini tahu kalau dirinya berada di markas besar
Wi-to-hwe?
Berkata Siu-yen Nikoh lebih lanjut: "Tempo hari, murid-murid Wi-to-hwe juga pernah mengalami
peristiwa yang sama, setelah diselidiki dapat diketahui bahwa mereka terbunuh oleh racun Bu-ing-cui-sim
Sicu adalah orang ahli dalam bidang racun ini, maka sukalah Sicu memeriksanya."
Tersirap darah Ji Bun, suaranya Nikoh tua yang seperti amat dikenalnya ini, seakan-akan jelas mengenai
seluk beluk dirinya, sungguh suatu hal yang amat mengejutkan, maka dia tidak bertanya lebih lanjut,
katanya: "Biarlah Wanpwe memeriksanya, coba tolong singkapkan tutup mukanya.”
Ngo-cin, Nikoh muda itu segera maju menyingkap kasa yang menutupi muka Ngo-sim, tampak wajah si
korban begitu halus putih seperti orang hidup yang tidur nyenyak, kecantikannya boleh diagulkan, namun
bibirnya mengerut kencang seperti menahan sakit dan derita, jelas dia mati membawa dendam dan
kebencian yang luar biasa. Ngo-cin berpaling, seperti tidak tega melihat wajah Sucinya.
Dengan jari telunjuk Ji Bun singkap kelopak mata sang korban, dengan seksama dia memeriksa, lama
kelamaan jantungnya berdetak semakin keras, memang tidak salah korban mati karena keracunan Bu-ingcui-
sim. Kecuali mereka ayah dan anak, apakah ada orang lain yang mampu menggunakan racun jahat ini?
Sejak dirinya berhasil meyakinkan Bu-ing-cui-sim-jiu, racun sudah bersatu padu dalam darah dagingnya,
kalau orang lain menggunakan racun ini harus memasukkan racun ke dalam mulut si korban baru akan
membawa hasil, jelas pembunuhan ini seperti sudah direncanakan terlebih dulu. Mungkinkah perbuatan
ayahnya? betulkah sang ayah sampai berbuat sekotor dan sehina ini? Tanpa merasa dia bergidik sendiri.
"Bagaimana Sicu?'' Siu-yen bertanya dengan suara berat.
"Betul, memang keracunan Bu-ing-cui-sim."
"Kalau begitu kecuali Sicu yang sudah menyatu-padukan racun ini dengan jiwa raga, siapa pula yang
mampu menggunakan racun Bu-ing-cui-sim ini."
Darah Ji Bun tersirap, namun lahirnya tenang-tenang, sahutnya: "Untuk hal ini maaf Wanpwe tidak bisa
menerangkan."
Terpancar sinar gemerlap kedua mata Siu-yen, tanyanya mendesak: “Pin-ni memberanikan diri, harap
Sicu suka memperkenalkan perguruanmu?"
"Terpaksa Wanpwe harus menolak permintaanmu ini."
"Hm ...... adakah saudara seperguruan Sicu yang berkelana di Kang-ouw?“
"Kukira tidak ada."
Mendadak Siu-yen mendesis beringas: "Pasti dia, kecuali dia tiada orang lain lagi."
Serta merta berdiri bulu kuduk Ji Bun. "Dia siapa?" tanyanya.
Lama Siu-yen menatap Ji Bun dengan pandangan berkobar, seolah-olah ingin meraba perasaan Ji Bun.
Lekas Ji Bun tenangkan diri, pura-pura bingung, sesaat kemudian baru Nikoh tua buka suara pula: "Seorang
iblis laknat yang pandai menggunakan racun."
"Tidak sedikit orang yang pandai menggunakan racun dalam Bu-lim .......”
“Memang, tapi Pin-ni yakin dan punya alasan untuk menuduhnya."
"Bolehkah hal ini dijelaskan?"
"Kukira Sicu tidak perlu tahu."
Karena ada maksud lain, maka Ji Bun mendesak: "Wanpwe ingin tahu siapakah tokoh yang ahli
menggunakan racun ini?"
"Urusan ini sukar diduga, kemungkinan juga meleset, sebagai seorang beribadat tidak boleh aku
sembarangan omong, untuk ini harap Sicu maklum.”
Ji Bun terbungkam, tiada alasan dia mendesak keterangan orang, namun dalam hati sudah menambah
perhatian dan kewaspadaan, menurut kejadian dan hasil pemeriksaannya, dia yakin kalau yang melakukan
perbuatan rendah dan kotor ini adalah ayahnya, karena racun Bu-ing-cui-sim ini hanya bisa dibuat dari resep
rahasia yang hanya dimiliki ayahnya, sampaipun Cui Bu-tok yang mengagulkan diri seorang ahli dalam
permainan racun pun mengakui hanya tahu nama racun ini, tapi tidak mampu menawarkan, memangnya
siapa pula dalam Kang-ouw yang bisa menggunakan racun ini?
Tapi segera dia teringat kepada beberapa orang misterius yang kebal menghadapi racun jahatnya,
pertama orang berkedok yang menyaru ayahnya, lalu salah seorang anak buah Cip-po-hwe, Nikoh tua di
biara Siong-cu-am, Jit-sing-kojin, orang yang merebut anting-anting pualam, serta orang yang menyamar
sebagai komandan ronda Wi-to-hwe itu, demikian pula Biau jiu Siansing, semuanya kebal terhadap
racunnya, kemungkinan sekali orang-orang yang kebal racun ini pun pandai menggunakan racun. Maka lega
dan lapanglah dadanya, dia berdoa semoga bukan ayahnya yang melakukan perbuatan keji dan kotor ini.
Siu-yen mengulap tangan, katanya: "Sicu, silakan minum teh di kamar tamu."
Ji Bun pikir tak perlu lama-lama berada disini, maka dia mohon diri: "Biarlah Wanpwe mohon pamit saja.”
"Pin-ni amat menyesal karena kesalahan paham ini.”
"Tidak apa, Wanpwepun ikut berduka cita karena peristiwa ini.”
Sedikit membungkuk segera ia mengundurkan diri langsung keluar kelenteng. Sesaat lamanya ia berjalan
dengan pikiran kosong, tiba-tiba dia tersentak sadar. baru sekarang dia ingat kepada Thian-thay-mo-ki yang
ditinggalkan waktu mengejar Biau-jiu Siansing tadi, waktu sudah berselang cukup lama, kemungkinan nona
itu sudah pergi, maka dia merasa tidak perlu balik menemuinya lagi, urusannya lebih penting dan harus
segera dibereskan.
Sekarang dia harus cepat menuju jalan raya yang menjurus ke Kayhong untuk menemui Jit-sing-kojin
seperti yang pernah dijanjikan oleh Biau-jiu Siansing, di samping untuk merebut kembali anting-anting
pualam, dia juga akan mampir ke Kayhong menemui Ciang Wi-bin untuk tanya jejak ayahnya. Malam itu
juga dia menempuh perjalanan.
Hari itu, dia tiba di Jip-seng, sebuah kota kecil yang masih cukup jauh dari Kayhong, hari ini sudah hari
keempat, namun Jit-sing-kojin yang hendak ditemuinya itu tetap tidak kelihatan bayangannya. Setelah
ditunggu sekian lamanya, orang belum kunjung tiba juga, lama hatinya menjadi dongkol dan penasaran,
agaknya ucapan Biau-jiu Siansing tak dapat dipercaya lagi. Karena tiada minat masuk kota, maka dia
memutar ke pintu barat serta istirahat disebuah warung arak di luar kota.
Tengah dia menunduk menikmati hidangannya, didengarnya pembicaraan beberapa orang tamu yang
duduk di meja sebelah sana, seorang laki bersuara serak kasar tengah berkata: "Jiya, The Liok kali ini betulbetul
terbuka matanya ........”
Orang yang dipanggil Jiya adalah seorang laki-laki bermuka kuning, segera dia angkat alis, tanyanya:
"Lo-liok, kalau bicara kau selalu ngelantur, memangnya kau tak pernah melek?"
"Jiya, bukan aku Siau-kim-kong ini suka membual, setua ini hidupku, baru pertama kali ini, sungguh tidak
penasaran ......”
"Sebetulnya ada apa?“
9.25. Ayah Meninggal .. Dendam Makin Membara
"Ji-ya kenal Sin-eng-pangcu Ko Giok-wa tidak.”
"Sudah tentu tahu, kenapa?"
"Bagaimana kepandaian silat Ko-pangcu?”
"Hebat," puji laki-laki muka kuning sambil mengacungkan jempol, "seorang jagoan kelas satu dalam Bulim.”
"Heh,” seru laki-laki bersuara serak kasar tadi sambil gebrak meja, "semalam aku kebetulan lewat Jit-likang
dan menyaksikan peristiwa itu, 20-an anak murid Sin-eng-pang di bawah pimpinan Ko-pangcu sendiri,
mengobrak-abrik dan menghancurkan Thian-ong-ce, kini gunung itu sudah mereka caplok dan dijadikan
cabang Sin-eng-pang. Dengan kemenangan gemilang itu mereka kembali lewat Jit-li-kang, namun di sana
mereka tertimpa nasib malang ........ "
"Tertimpa nasib malang bagaimana?"
"Mereka dicegat seorang laki-laki berkedok yang mengenakan jubah sutera."
Tersirap Ji Bun mendengar kata-kata terakhir itu, segera dia pasang kuping.
"Bagaimana selanjutnya?" tanya laki-laki muka kuning setelah meneguk araknya.
"Agaknya orang berkedok berjubah hijau itu memang sengaja hendak cari perkara, dia memperkenalkan
diri sebagai teman pihak Thian-ong-ce yang hendak menuntut balas bagi kematian teman-temannya, maka
terjadilah bentrokan sengit ....."
Agaknya laki-laki muka kuning tidak tertarik oleh cerita ini, katanya tawar: "Pertikaian orang-orang
persilatan umumnya memang berbuntut panjang, tiada akhirnya."
Laki-laki suara serak kasar tadi penasaran, teriaknya: “Ji-ya, ceritaku kan belum tamat, adegan yang
lebih seram belum sempat kuceritakan. Ketahuilah, kepandaian orang berkedok itu ternyata hebat sekali,
dalam tiga kali gebrakan saja, ya, tiga ......” dia acungkan tiga jari sambil menyambung dengan ludah
beterbangan, "dalam tiga gebrak saja, Ko-pangcu sudah menggeletak tak bernyawa ......''
"Hah," berubah hebat air muka laki-laki muka kuning sambil berjingkrak berdiri, suara gemetar: "Apa
betul?"
Ikut tegang hati Ji Bun, orang berkedok yang diceritakan itu entah ayahnya atau bukan? Seluruh tamutamu
yang ada dalam warung arak kecil ini jadi tertarik oleh cerita orang bersuara serak dan perhatian
mereka tertuju ke arah sini.
Tahu banyak orang tertarik dan memperhatikan ceritanya, semakin keras suara orang serak kasar: "Ji-ya,
itu baru permulaan. Orang berkedok itu betul-betul keji, setelah membinasakan Ko-pangcu, beruntung dia
melancarkan serangan ganas pula, 20 lebih jago-jago Sin-eng-pang yang berkepandaian tinggi semua
menggeletak dibunuhnya, tiada satupun yang ketinggalan hidup."
"Siapakah orang berkedok itu?"
"Entah, setelah dia uraikan alasannya, kenapa dia menuntut balas terus turun tangan secara kejam."
"Ehm, tentunya dia bukan sembarangan tokoh.......”
"Memangnya, Ji-ya, buntutnya ternyata lebih seram dan menegangkan. Tahu-tahu muncul lagi seorang
berkedok berjubah pula ......"
"Apa? Jadi ada dua?"
"Ya, bentuk dan perawakan kedua orang berkedok ini persis satu sama lain, seperti pinang dibelah dua,
sukar dibedakan mana yang datang duluan dan mana yang baru tiba, begitu berhadapan tanpa bicara terus
gerak tangan dan angkat kaki, keduanya berkelahi dengan dahsyat dan sengit, serang menyerang dengan
pukulan mematikan, serasa terbang sukmaku waktu menyaksikan pertempuran hebat itu ..........”
Mengencang jantung Ji Bun, darah mengalir lebih cepat, dia sudah berdiri, namun duduk kembali sambil
menenggak secangkir arak.
Setelah istirahat sebentar, orang itu melanjutkan ceritanya: "Pertempuran itu berlangsung selama satu
jam, dari atas bukit bergumul sampai ke bawah jurang, akhirnya mereka berhantam sampai ke dalam hutan,
kelihatannya keduanya sama kuat, namun lama-lama kehabisan tenaga juga. Pada saat pertempuran
memuncak dan hampir berakhir tahu-tahu muncul pula seorang berpakaian hitam, malam itu terlalu gelap,
sukar dilihat macam apa orang berpakaian hitam ini, namun kudengar dia mendengus menggumam seorang
diri. 'Ajal tua bangka ini sudah di depan mata namun masih saling cakar dan akhirnya gugur bersama. Thian
memang murah untuk membalas kelaliman mereka, agaknya sakit hatiku akan terbalas.' Habis berkata
orang baju hitam itu menerjang kedalam hutan .........”
“Bagaimana akhirnya," tanya laki-laki yang dipanggil Ji-ya.
“Kudengar suara gerungan dan bentakan berulang kali dari dalam hutan, disusul dua kali jeritan yang
menyayat hati, suasana lantas sunyi senyap.”
Semua orang yang mendengarkan cerita itu sama melongo.
"Karena tertarik, diam-diam aku merayap masuk ke dalam hutan, waktu aku melongok kesana .... Hiiii!”
"Ada apa?"
"Kedua orang berkedok itu sama-sama menggeletak di dalam hutan, batok kepalanya hancur, mukanya
rusak tak terkenali lagi, seram dan mengerikan sekali kematian mereka."
Laksana disambar geledek kepala Ji Bun, dadanya terasa sesak, sekali lompat dijambretnya baju si orang
bersuara serak, dicengkeramnya pundaknya, bentaknya bengis: "Apakah ceritamu betul-betul terjadi?"
Lemas lunglai badan laki-laki itu, tenaga untuk merontapun tiada, namun matanya melotot gusar,
teriaknya: "Keparat kau, apa ...... apaan ini?”
Karena diburu emosi, rona muka Ji Bun sudah berubah, sorot matanya liar dan buas, desisnya
mengancam: "Katakan, apa betul-betul terjadi?"
Laki-laki muka kuning tiba-tiba berdiri, telapak tangannya menempeleng ke batok kepala Ji Bun, agaknya
Ji Bun sudah kerasukan setan pikirannya sudah pepat, secara reflek dia melancarkan serangan balasan
dengan tangan berbisa.
Dengan teriakan yang seram dan mengerikan laki-laki muka kuning roboh menimpa meja, kaki tangan
berkelejetan sebentar, jiwapun melayang. Seluruh tamu sama terbeliak kaget dan gemetar ketakutan.
Laki-laki suara serak ketakutan setengah mati, suaranya menjadi lirih tertelan di dalam ombak
kerongkongan: "Tuan ... tuan ini..... Te-gak Suseng?"
"Lekas katakan sebenarnya, kalau tidak kucincang badanmu," ancam Ji Bun beringas.
"Memang kejadian nyata, ..... bukan bualan."
"Berapa jauh Jit-li-kang dari sini?"
"Kurang lebih 30 li ke arah barat .....”
Sambil lepas tangan Ji Bun dorong badan orang, cepat sekali dia sudah melesat keluar warung makan
dan berlari ke arah barat, pikirannya kosong dan hambar, seolah-olah sukma sudah meninggalkan raganya.
Lekas sekali jarak 30 li telah dicapainya, setelah dia tanya letak Jit-li-kang kepada orang jalan, langsung
dia menuju ke sana. Setiba di atas bukit, dilihatnya keadaan memang porak peronda, seperti pernah terjadi
pertempuran sengit di sini, di bawah bukit sebelah kanan adalah hutan lebat, begitu subur dan rimbun
tetumbuhan di sini sampai sinar matahari tak tertembus ke dalam hutan, begitulah keadaan hutan belantara
ratusan li ini. Dengan langkah sempoyongan, Ji Bun berlari masuk ke dalam hutan.
Suara gedebukan seperti sesuatu benda berat menyentuh tanah terdengar saling bergantian di sebelah
depan. Tanpa menentukan arah Ji Bun terus berlari ke dalam. Di tanah kosong sebelah sana, dilihatnya dua
orang petani sedang mengeduk tanah, membuat liang lahat. Begitu melihat kedatangan Ji Bun, segera
mereka menyurut mundur dengan ketakutan. Tampak oleh Ji Bun tak jauh di sana menggeletak dua sosok
mayat yang sukar dikenali lagi bentuk rupanya, seperti orang gila segera ia menubruk kesana. Terasa bumi
seperti berputar jungkir balik, mata berkunang-kunang, langkahnya lemas sempoyongan dan hampir
terjungkal.
Kedua mayat mengenakan pakaian yang sama, jubah sutera warna biru, batok kepala remuk dan
mukanya hancur, jelas orang yang turun tangan memang amat keji.
Kedua petani itu berdiri berhimpitan, dengan melongo dan takut mereka mengawasi Ji Bun.
Ji Bun kuatkan hati dan tenangkan diri, dengan badan bergoyang gontai pelan-pelan dia berjongkok,
sesaat dia melenggong, sukar baginya menentukan yang manakah jenazah ayah kandungnya. Terpaksa dia
periksa badan jenazah yang lebih dekat, saku bajunya kosong tiada sesuatu yang dapat menentukan asalusulnya,
lalu dia memeriksa kantong jenazah kedua, botol obat, buntalan puyer dan peralatan untuk meracik
racun yang dibuat sedemikian mungil dan rapi, kini menjadi jelas dan pasti bahwa jenazah kedua inilah
jasad ayahnya.
Bergegas dia berlutut menyembah berulang kali, jari-jari tangannya meraba dan mengelus jenazah yang
sudah dingin dan kaku ini, air mata bercucuran. Terasakan segala sesuatu di dunia ini sedang berubah, alam
terasa menjadi hampa dan semuanya menjadi serba kelabu. Dia menangis tanpa bersuara, gigi
berkerutukan, air mata tak terbendung lagi.
Kedua petani itu sebetulnya hendak mengubur mayat kedua orang ini, kini melihat orang ini sudah
mengenali jenazah familinya, memangnya mereka takut kena perkara, terutama soal bunuh membunuh
kaum persilatan, maka secara diam-diam mereka mengeluyur pergi.
Tetesan air hujan yang dingin menyentak sadar Ji Bun, dengan perasasan luluh dia mendeprok di atas
tanah. Pikirannya bekerja: "Ayah telah meninggal, siapakah pembunuhnya? Orang yang menyaru ayahnya
ini juga mati, siapakah dia ini?"
Kini dia sudah meninggal, teka-teki ini takkan terbongkar untuk selamanya. Namun dendam kehancuran
Jit-sing-po betapapun harus dibalas. Ini merupakan tugas penting yang harus dipikulnya. Mendadak dia
berdiri sambil banting-anting kaki, dia menyesali kelemahan sendiri yang terlalu was-was dan berhati-hati,
sehingga banyak kesempatan disia-siakan, kini tibalah saatnya untuk beraksi. Dia mendongak mengawasi
mega yang bergerak, hatinya pepat seperti dirundung mega mendung, tiba-tiba dia tertawa, geli akan
nasibnya sendiri, tawa yang mengobarkan semangat menuntut balas.
Segera dia masukkan kedua jenazah ke dalam liang lahat yang sudah digali kedua petani tadi, dengan
batu gunung ia mendirikan nisan serta berlutut dan berdoa semoga arwah ayahnya diterima disisi Thian, dia
memohon pula supaya arwah ayahnya memberi bekal kekuatan lahir batin untuk menuntut balas sakit hati
ini. Setelah menyembah sekali lagi segera dia keluar dari hutan itu.
Hawa hitam di antara kedua alis yang selama ini lenyap, kini kelihatan lagi, demikian pula tangan berbisa
yang selama ini disembunyikan dalam lengan bajunya telah dikeluarkan, kini tiada yang perlu
disembunyikan, tiada yang dirahasiakan, kini tibalah saatnya untuk mencuci tangan ini dengan darah para
musuhnya.
Pikiran tenang kepalai dingin, dia mulai menerawang langkah-langkah yang harus dilakukan selanjutnya.
Dia rasa masih perlu untuk menempuh perjalanan ke Kayhong, soal anting-anting pualam itu harus
dibereskan, jika aksi balas mulai dilakukan, mati hidup diri sendiri sukar diramalkan, tapi soal ini tidak boleh
ditunda-tunda lagi.
Besok dia bakal berhadapan dengan Jit-sing-kojin, sesuai yang dijanjikan Biau-jiu Siansing, kalau orang
tidak menepati janji, maka dapatlah diduga bahwa orang berkedok menyaru ayahnya itu pasti dia adanya,
kalau sebaliknya, betapapun permusuhan dirinya harus dibereskan juga. Begitulah dengan pikiran mantap
dan langkah tenang dia menuju ke Kayhong.
Tunggu punya tunggu, tahu-tahu hari ke tujuh sudah berselang, Jit-sing-kojin tetap tidak kunjung tiba,
bayangan Biau-jiu Siansingpun tidak kelihatan, mau tak mau Ji Bun tambah yakin bahwa dugaannya tidak
meleset. Jit-sing-kojin adalah orang berkedok berbaju sutera yang menyaru ayahnya.
Hari itu dia tiba di Kayhong, kota kuno yang dulu pernah menjadi ibukota ini memang angker
bangunannya, kemegahan kota ini memang jauh berbeda dengan kota-kota lain.
Keluarga Ciang adalah hartawan terkaya dan ternama di Kayhong, tanpa menemukan kesulitan Ji Bun
berhasil menuju ke tempat yang dituju.
Pikirannya mulai bimbang pula, apa yang harus diutarakan setelah masuk pintu dan berhadapan? Kedua
keluarga mereka memang kenalan karib, namun beberapa tahun belakangan ini tidak saling hubungan,
keluarganya kini sudah berantakan, kalau datang-datang dia langsung minta bertemu dengan Ciang Bing-cu,
tentunya kurang pantas, bagaimana pula dia harus memberi penjelasan kepada Ciang Wi-bin setelah
berhadapan? Entah Ciang Wi-bin tahu tidak tentang pemberian anting-anting pualam Ciang Bing-cu kepada
dirinya? la pikir biarlah nanti bertindak menurut keadaan maka segera dia menuju ke gedung keluarga
Ciang.
Seorang kakek berpakaian hitam tiba-tiba muncul dari balik pintu, melihat dandanannya seperti seorang
pesuruh, dengan nanar dia mengawasi Ji Bun sapanya: “Kongcu cari siapa?"
Ji Bun menyahut: "Sudahkah laporan kepada majikanmu, katakan Ji Bun ingin bertemu.”
"Wah, tidak kebetulan, majikan kami sedang keluar, belum kembali."
“Kalau begitu .... apakah siocia ada dirumah?"
Bertolak pinggang laki baju hitam, katanya dengan menarik muka: "Sukalah Kongcu tahu diri."
Ji Bun tertawa, katanya ramah: "Cayhe adalah kenalan lama dengan keluarga Ciang, tolong sampaikan
kepada Siocia bahwa Ji Bun ingin bertemu."
Orang tua baju hitam mengerut kening, katanya: “Baiklah, harap tunggu sebentar."
Tak lama kemudian, orang tua ini sudah keluar pula, sikapnya jauh berubah, wajahnya berseri-seri, dari
belakangnya memburu keluar seorang pelayan perempuan kecil, begitu tiba dia memberi hormat kepada Ji
Bun, katanya: “Siocia tidak leluasa keluar menyambut, harap Siangkong masuk saja.”
Ji Bun manggut-manggut, dia mengikuti pelayan cilik ini masuk ke dalam. Gedung keluarga Ciang yang
kaya raya memang teramat besar dan luas sekali, sekian lama mereka putar kayun memasuki beberapa
pintu dan melewati beberapa pekarangan serta serambi panjang yang berliku-liku, baru tiba di pekarangan
yang dikelilingi tembok tinggi dengan pintu bundar rembulan, tampak seorang gadis bersolek dengan
pakaian kuno melangkah keluar menyambut, katanya dengan malu-malu: "Siangkong sudi berkunjung,
silakan duduk di dalam."
Merah dan panas muka Ji Bun, lekas dia membungkuk, katanya likat: "Berkunjung secara sembrono,
harap adik memaafkan."
"Ah, tidak apa, silakan."
Keduanya masuk kedalam sebuah rumah samping lalu duduk di kursi marmer, seorang pelayan
menyuguh teh. Ciang Bing-cu lantas buka suara: "Ayah bilang, katanya keluarga kakak ketimpa bencana,
Siaumoay ikut berduka dan prihatin."
Pedih hati Ji Bun, katanya: "Terima kasih akan perhatian adik."
"Apakah para musuh sudah diketahui?"
"Ya, sudah ada tanda-tanda yang mencurigakan, ujar Ji Bun, setelah berdiam sebentar segera ia
menambahkan: "Adik Ciang, kedatanganku ini hendak mohon maaf kepadamu .......”
"Mohon maaf, kenapa?"
"Anting pualam pemberian adik dulu, tak sengaja telah kuhilangkan .....”
Berubah air muka Ciang Bing-cu, tanyanya: “Bagaimana bisa hilang?"
Merah muka Ji Bun, katanya rikuh: "Kalau dikatakan memang aku terlalu bodoh, waktu aku keluarkan
dan kubuat main-main, tahu-tahu diserobot orang."
“O”, Ciang Bing-cu bersuara dalam mulut.
Kuduga penyerobot itu sudah lama mengintip dan menguntit aku, begitu ada kesempatan lantas turun
tangan, yang membuatku menyesal, selama ini aku masih belum berhasil menemukan jejaknya, lebih malu
lagi karena bentuk dan rupa orang itupun tidak kulihat jelas."
“Kakak Ji, kejadian sudah berselang, biarlah, anting itu takkan berguna bagi orang lain."
"Tidak aku bersumpah pasti akan mencarinya, adik sudi memaafkan, aku merasa tidak enak. Katanja
paman sedang keluar apa betul?"
"Betul, mungkin dalam dua hari ini beliau akan pulang."
“Kedatanganku hanya mau menjelaskan soal tadi disamping menyampaikan sembah sujud kepada
paman ......."
"Urusan sekecil ini, tidak perlu diperhatikan ......"
"Baiklah, sekarang aku mohon pamit ....."
"Kakak Ji, kukira sikapmu tidak benar," kata Ciang Bing-cu, "walau ayah tidak dirumah, tapi keluarga kita
kan kenalan lama, adik menyambut kedatanganmu sebagai tuan rumah, sukalah menginap beberapa hari,
tunggulah ayah pulang. Apakah paman dan bibi .........”
Sedih hati Ji Bun, hampir saja dia meneteskan air mata, dia tidak ingin menyinggung soal yang
menyedihkan ini, wataknya yang keras juga tidak ingin mendapatkan belas kasihan orang lain katanya:
"Beruntung beliau-beliau terhindar dari malapetaka."
Tidak lama mereka bicara, pelayan sudah menyiapkan sebuah meja perjamuan. Ji Bun tak bisa menolak
terpaksa dia iringi kehendak Ciang Bing-cu makan minum. Setelah beberapa cangkir arak dan hidangan
hampir dilalap habis, tiba-tiba Ciang Bing-cu berjingkat sadar, tanyanya heran: "Kakak Ji, maaf akan
kelancanganku, bukankah tangan kirimu .......”
Ji Bun tertawa getir, terpaksa dia ceritakan rahasia tangannya yang berbisa.
Terbeliak kedua biji mata Ciang Bing-cu, katanya penuh haru: "Ah, kabarnya setelah orang berhasil
meyakinkan racun Bu-ing-cui-sim-jiu, selama hidupnya takkan bisa ditawarkan lagi, apa betul?"
Ji Bun manggut-manggut dengan gerakan berat, katanya: "Ya, memang demikian."
Besar perhatian Ciang Bing-cu, "Kenapa engkau dulu mau meyakinkan ilmu beracun ini?"
"Ini ..... yang benar aku tidak bisa menentang kehendak ayah, masing-masing orang memang punya
nasibnya sendiri, begitulah."
"Ai," helaan napas Ciang Bing-cu mengandung putus harapan, sedih dan rawan. Tiba-tiba Ji Bun ingat
kata-kata Biau-jiu Siansing, pikirnya, apa betul dia memang ada maksud tertentu?
"Kakak Ji, aku tak kuat banyak minum, silakan kau makan sekenyangnya."
Ji Bun mengiakan, penasaran dan dendam selama ini yang belum terlampias membuat pikirannya pepat,
tanpa terasa secangkir demi secangkir dia telah tenggak puluhan cangkir arak, lama kelamaan kepala terasa
berat, pandanganpun mulai kabur, setelah dia melihat dua bayangan Ciang Bing-cu baru dia melonjak kaget,
ia tahu bahwa dirinya mulai mabok, segera ia letakkan cangkir dan bangkit berdiri dan berkata: "Maaf akan
kekasaranku ini ...... aku mohon pamit saja."
Begitu bergerak, badannya seketika tergeliat, kaki terasa enteng kepala amat berat, hampir saja dia jatuh
tersungkur, untung Ciang Bing-cu lantas memapahnya.
Kata Ciang Bing-cu lembut: "Kau mabok, kakak Bun."
Ji Bun ingin menolak bantuan orang, namun badan lemas dan kaki sempoyongan, kepalapun pening,
terpaksa dia mendoprok duduk dikursinya lagi. Selama hidup baru pertama kali Ji Bun minum arak sampai
mabok, andaikata kepandaiannya setinggi langit juga takkan mampu mengendalikan diri lagi.
"Marilah kupapah masuk kekamar istirahat,” kata si nona.
"Ma .... mana boleh, jangan, jangan kau sentuh tangan kiriku."
"Aku tahu," kata Ciang Bing-cu, dia tarik tangan kanan Ji Bun serta memapahnya keluar villa terus
menuju ke pintu rembulan di kanan sana. Para pelayan yang meladeni di situ sama melongo dan keripuhan,
tanpa perintah mereka tiada yang berani maju membantu.
Dengan langkah sempoyongan dan setengah terseret Ji Bun membiarkan dirinya dipapah masuk sebuah
kamar buku, begitu rebah di atas ranjang, badan terasa lunglai tak mampu bergerak lagi. Ciang Bing-cu
segera menurunkan kelambu serta menutup pintu dan tinggal pergi.
Waktu Ji Bun sadar dan membuka mata, matanya silau oleh sinar lampu, malam sudah larut, namun dia
bergegas bangun duduk, kepalanya masih terasa berat, mulutpun kering, baru saja dia bergerak hendak
turun mengambil air, sebuah suara lembut berkata: "Kakak Bun, mari minum teh"
Sebuah cangkir porselin yang berbentuk indah disodorkan ke dalam kelambu, ternyata Ciang Bing-cu
meladeni dengan tekun.
Gugup dan malu Ji Bun dibuatnya. "Ah, perhatian adik bikin aku malu saja."
Pikirannya sedikit jernih, lalu katanya pula: "Banyak terima kasih, sekarang waktu apa?"
"Jam empat pagi."
"Silakan adik juga istirahat saja."
"Baik, engkau juga harus tidur, keperluanmu sudah kusediakan, silakan ambil di sini."
"Terima kasih," kata Ji Bun.
Dengan pandangan tajam Ciang Bing-cu menatap Ji Bun sekali lagi, lalu beranjak keluar dengan langkah
gemulai, tak lupa dia tutup pintu dari luar.
Ji Bun duduk melamun dipinggir ranjang, tak tahu betapa perasaan hatinya sekarang apakah setimpal dia
mendapat pelayanan begini? Laki perempuan ada batasnya, walau sama-sama orang persilatan, namun
batas-batas tertentu masih harus dipegang teguh, lantas apa maksud dan sikap Ciang Bing-cu yang luar
biasa ini?
Setelah menghabiskan secangkir teh, Ji Bun merebahkan diri, rasa kantuknya sudah hilang, bayangan
Ciang Bing-cu nan molek masih terbayang-bayang, setelah gulak-gulik tak bisa tidur, pikirannya semakin
kusut, akhirnya ia bangkit dan turun dari ranjang, langkah kakinya masih enteng seperti mengambang.
9.26. Kau .... Tidak Takut Racun ......??
Dia mondar-mandir di kamar buku itu, akhir¬nya duduk dikursi dekat rak buku, tanpa tujuan dia
memandangi koleksi buku-buku kuno serta lukisan dari pujangga jaman dahulu. Mendadak dia terkesiap,
pandangannya terbeliak. Ternyata diantara rak buku dan barang-barang antik sana, pada kotak kedua baris
tengah, tampak sebuah patung Budha kecil ukuran dua kaki yang terbuat dari batu putih, tepat pada letak
jantung dari patung itu berlubang sebesar kepalan anak kecil.
Tidak salah lagi, patung Budha batu putih ini jelas adalah Sek-hud yang pernah diperoleh Cip-po-hwecu
dan akhirnya direbut oleh Biau-jiu Siansing, seperti diketahui Sek-hud dipandang pusaka persilatan yang
diperebutkan berbagai golongan, bagaimana mungkin tahu-tahu berada di antara rak barang-barang antik di
rumah Ciang Wi-bin?
Berapa jiwa sudah berkorban karena Sek-hud, tidak sedikit manusia yang rela mengorbankan jiwa raga
untuk merebut Sek-hud ini. Entah cara bagaimana Ciang Wi-bin bisa mendapatkan Sek-hud ini, mestinya dia
menyimpannya di tempat rahasia, kenapa hanya ditaruh begini saja di antara koleksi barang-barang
antiknya? Mungkinkah dia tak tahu seluk-beluk dan nilai Sek-hud ini? Tapi ini tidak mungkin.
Sek-hud adalah barang peninggalan Pek-ciok Sin-ni, Pui Ci-hwi adalah murid didiknya, namun Wi-to-hwe
mempunyai hubungan yang kental dengan Pui Ci-hwi, betapa banyak jago-jago silat Wi-to-hwe yang
berkepandaian tinggi, kenapa pihak mereka diam saja tanpa mengambil tindakan? Hal ini benar-benar sulit
dimengerti, mungkin ada udang dibalik batu?
Lama sekali Ji Bun melamun mengawasi Sek-hud, martabat Ciang Wi-bin dikenal cukup bijaksana dan
suka blak-blakan, hal inipun sukar untuk dijajaki. Selagi dia tenggelam dalam pemikiran, tiba-tiba pintu
kamar berbunyi berkeriut dibuka dari luar, waktu Ji Bun putar badan, tampak seorang tua bertubuh tegap
berjenggot kambing melangkah masuk.
Bahwa Ciang Wi-bin kembali pada saat pagi buta begini, hal ini betul-betul diluar dugaan Ji Bun, tersipusipu
dia melangkah maju memberi hormat: "Keponakan tidak berbudi memberi salam hormat pada paman."
Ciang Wi-bing tergelak-gelak sambil mengelus jenggotnya, katanya: "Hiantit, kebetulan sekali, syukurlah
kau sudi berkunjung kerumahku, silakan duduk."
"Paman juga silakan duduk."
"O, apakah Hiantit sedang menikmati Sek-hud ini."
Merah muka Ji Bun, sahutnya likat: "Ya, kabarnya Sek-hud ini adalah barang pusaka persilatan .....”
"Semula memang benar, namun kini tidak.”
"Kenapa demikian?"
"Apakah Hiantit tidak melihat Sek-hud ini rada ganjil?"
"Lubang yang tepat berada dihati Sek-hud ini, maksud paman?"
"Ya, benar, kemujijatan Sek-hud terletak pada Hud-sim (hati Budha), namun patung ini sudah tak
berhati. Paman membelinya dari tukang loak, kulihat buatannya cukup baik dan antik, maka kubeli dengan
sepuluh tahil perak."
"Dari mana paman tahu kemujijatan Sek-hud ini terletak pada Hud-sim?"
"Setiap orang akan tahu, tiada sebuah patung manapun yang dibuat atau diukir tanpa hati, pada lubang
itu ada bekas-bekas cukilan. Betapa tinggi nilai keantikan Sek-hud ini, bagaimana mungkin bisa terjatuh ke
tangan tukang loak?"
Sementara itu mereka sudah duduk berhadapan, wajah Ciang Wi-bin menampilkan rasa duka,
suaranyapun sedih: "Keluargamu tertimpa bencana, paman amat menyesal tidak bisa memberi bantuan
apapun"
Pilu hati Ji Bun, air mata sudah berkaca dikelopak matanya, namun dia tahan jangan sampai menetes,
katanya: "Terima kasih atas perhatian paman, Siautit bersumpah akan membalas dendam.”
Katanya kau sudah berhasil mencari tahu siapa-siapa musuhmu itu?"
"Ya, tapi masih belum bisa dipastikan."
"Hiantit, hubungan keluarga kita seperti saudara kandung sendiri, aksi apa yang hendak kau lakukan
sukalah kau memberitahu kepadaku lebih dulu."
"Baik, keponakan berjanji."
"Ai, ayahmu berwatak aneh dan menyendiri, sejak peristiwa itu terjadi selama ini tak pernah dia muncul
tentunya kau tahu dimana jejaknya sekarang?"
Terbayang akan kematian ayahnya yang mengenaskan di hutan, tak tertahan lagi bercucuran air
matanya giginya berkerutukan menahan gelora sakit hatinya, sorot matanyapun penuh kebencian, wajahnya
pucat pasi, ingin menerangkan, namun mengingat ini adalah nasib jelek dirinya sendiri, segala siksa derita
harus ditanggung sendiri, maka dengan sedih ia menjawab: "Sampai sekarang keponakan juga sedang
berusaha menemukan ayah."
"Lalu bagaimana ibumu,"
"Jejak ibupun tidak diketahui,"
"Ai, agaknya takdir memang berkehendak demikian. Kuharap keponakan tidak usah putus asa, aku sudah
minta bantuan orang untuk mencari mereka,” demikian kata Ciang Wi-bin, lalu dia bertanya, "Kau kemari
lantaran soal anting-anting pualam itu?"
"Keponakan amat menyesal ......”
"Soal ini tidak perlu dibuat risau, paman punya cara untuk menyelesaikannya."
"Tapi keponakan tidak tenteram."
Ciang Wi-bin menepekur sebentar, katanya kemudian: "Tentunya kau sudah tahu akan ikatan jodohmu
dengan anak Cu oleh ayahmu dulu. Anak Cu juga pernah dapat pertolonganmu dari orang-orang Cip-pohwe,
arti dari pemberian anting-anting itu memang amat mendalam, tapi paman tidak akan memaksakan
soal ini, soal jodoh harus sama-sama disetujui oleh kedua pihak ......."
Dia hentikan kata-katanya sambil mengawasi reaksi Ji Bun.
Ji Bun menjadi gundah dan bingung, soal ikatan jodoh ini tidak akan dia sangkal, Ciang Bing-cu termasuk
seorang gadis jelita, namun tangan kirinya yang berbisa merupakan penghalang yang membatasi diri untuk
berdekatan dengan lawan jenisnya, apalagi keluarganya tertimpa bencana, sebelum sakit hati terbalas,
betapapun dia pantang membicarakan jodoh, maka dia berkata: "Tentunya paman sudah tahu akan rahasia
tangan berbisa keponakan?”
Berubah air muka Ciang Wi-bin, katanya: "Ya, ini memang soal pelik, tapi paman akan berusaha untuk
mendapat obat penawarnya meski harus mengorbankan apapun .....”
"Kebaikan paman akan terukir dalam lubuk hati keponakan, cuma racun ini mungkin tiada obat
penawarnya."
"Thian punya kuasa manusia berusaha, asal kita mau berusaha, tiada sesuatu persoalan yang tidak bisa
dibereskan. Demikian pula tiada racun yang tak bisa ditawarkan."
"Menawarkan racun soal gampang, sulit untuk melenyapkan landasan Lwekangnya."
"Soal ini boleh kita tunda saja, bagaimana pendapatmu terhadap Bing-cu?”
Serba susah bagi Ji Bun untuk memberi jawaban, gadis baju merah Pui Ci-hwi terlebih dulu menarik
perhatiannya, namun setelah tahu orang sekomplotan dengan musuhnya, rasa cintanya ini sudah pudar.
Begitu tinggi cinta murni Thian-thay-mo-ki terhadap dirinya, sayang kelakuannya terlalu tercela. Gadis
semacam Ciang Bing-cu memang jodoh yang setimpal dan menjadi idam-idaman banyak orang. Dendam
sakit hati keluarga belum terbalas, mati hidup diri sendiri juga sukar diramalkan, ilmu berbisa merupakan
penghalang yang terbesar lagi, kalau tiada harapan untuk ditawarkan, sebagai seorang laki-laki sejati mana
boleh menelantarkan masa remaja seorang gadis yang punya masa depan gemilang? Maka dengan sungguh
dia berkata: "Budi luhur dan perhatian paman tak berani keponakan melupakan dan menampik, apalagi ada
perintah orang tua, namun keponakan sekarang belum berani menerimanya ...."
"Kenapa?"
"Selama ilmu beracun ini masih melekat pada tubuh keponakan, betapapun keponakan tak berani
menyia-nyiakan masa remaja adik Cu."
"Memang bijaksana keputusanmu, namun Bing-cu si budak itu sudah bersumpah dalam hati, betapapun
dia tidak akan mengingkari janji kedua keluarga yang telah menjodohkan kalian."
Ji Bun amat menyesal, katanya: “Harap paman suka membujuk adik Cu dan menjelaskan kesulitan
keponakan ini."
"Watak adikmu terlalu keras dan kukuh, tiada gunanya aku membujuknya."
Ji Bun menunduk dengan masgul, lama dia termenung, lalu berkata sambil angkat kepala: "Baiklah,
Siautit berjanji, dikala ilmu beracun ini dapat ditawarkan saat itulah Siautit akan memenuhi janji perjodohan
ini."
Ciang Wi-bun mengunjuk rasa serba susah, lama sekali iapun berdiam diri.
"Agaknya paman ada kesulitan, silakan katakan saja,"
Ciang Wi-bin berdiam sesaat lamanya lagi, dengan apa boleh buat akhirnya dia buka suara: "Adikmu
mengatakan .....”
Tergerak hati Ji Bun, lebih besar keinginan untuk tahu, tanyanya: "Paman jelaskan saja."
"Anak Cu bilang umpama tiada obat penawarnya, terpaksa ...."
"Terpaksa apa?"
"Terpaksa potong saja lengan kirimu."
Ji Bun betul-betul kaget, namun dia mengakui, memang hanya inilah jalan satu-satunya, walau
keputusan itu agak kejam, namun kesalahan terletak, pada sang ayah yang telah menurunkan ilmu Bu-ingcui-
sim-jiu ini padanya, kemungkinan sang ayah dulu mempunyai perhitungannya sendiri, meski kesalahan
sudah terjadi kini beliau sudah meninggal, sebagai seorang anak yang harus berbakti kepada orang tua, apa
pula yang harus dia katakan. Maksud Ciang Bing-cu juga baik, tujuannya hanya ingin menikah dengan
dirinya, tujuan baik dan luhur ini sekaligus menandakan betapa mendalam dan suci murni cintanya terhadap
dirinya.
"Maksud adik Cu cukup mengharukan, memang cara itu boleh dilaksanakan bila terpaksa, namun
demikian keponakan akan menjadi seorang cacad, apakah setimpal berjodoh dengan adik Cu ......”
"Hiantit, paman sudah bilang, akan berusaha mendapatkan obat penawarnya meski harus mengorbankan
apapun sekarang soal ini boleh dikesampingkan dulu."
"Masih ada persoalan yang perlu kusampaikan kepada paman."
"Ya, katakan saja."
"Dendam keluarga betapapun harus dibalas, jejak ayah-bunda belum terang, mati-hidup keponakan kelak
sukar diramalkan, maka usul paman ini kukira ditunda dulu."
"Ayahmu seorang luar biasa, tentu diapun punya perhitungan yang luar biasa pula, aku percaya secara
diam-diam dia pasti sudah mengatur rencana untuk menuntut balas, kuharap di dalam, setiap langkahlangkah
keponakan harus dipikir dulu secara seksama."
Berlinang-linang air mata Ji Bun, ayahnya sudah meninggal, rencana apa pula yang dapat dilakukan
beliau, sayang dia belum mampu menumpas para musuhnya secepat mungkin.
Ciang Wi-bin berbangkit, katanya: "Kau masih harus istirahat, hari sudah hampir terang tanah segala
persoalan bicarakan besok saja."
Ji Bun ikut berdiri, katanya: "Setelah terang tanah, keponakan ingin pamit ....."
"Tidak, jangan, betapapun kau harus menginap beberapa hari di sini," habis berkata Ciang Wi-bin lantas
keluar.
Perasaan pilu dan sedih yang belum pernah dirasakan oleh Ji Bun tiba-tiba merangsang sanubarinya,
masa depan masih kabur, nasib apa yang bakal menimpa dirinya?
Api lilin sudah guram, cuaca diluar sudah mulai remang-remang fajar telah menyingsing.
Sekonyong-konyong terdengar jengekan tawa dingin di luar kamar buku begitu dingin dan menggiriskan
sekali tawa ini. Bukan kepalang kejut Ji Bun, dia berjingkrak berdiri, bentaknya: "Siapa?"
Sebat sekali badannya melayang keluar kamar dan hinggap di luar pekarangan.
Gerakan Ji Bun cukup sebat, namun tiada sesuatu bayangan yang dilihatnya. Tengah dia melenggong,
kembali terdengar jengek tawa dingin tadi, kali ini berkumandang dari arah wuwungan sebelah kiri. Reaksi Ji
Bun boleh dikata sudah teramat cepat, bagai anak panah tubuhnya segera meluncur ke atas wuwungan,
dilihatnya sesosok bayangan abu-abu tengah kabur ke arah barat, karena gregetan, tanpa pikir Ji Bun
segera mengejar dengan kencang.
Bayangan itu sungguh sangat gesit dan cepat sekali, dalam sekejap bayangan itu tahu-tahu sudah lenyap
di balik wuwungan rumah sekitarnya. Tahu tiada harapan menyusul lagi, dengan lesu Ji Bun putar balik,
baru saja badannya meluncur turun di pekarangan, dilihatnya Ciang Wi-bin beserta, beberapa orang
pembantunya tengah ribut-ribut di kamar.
Bing-cu berlari keluar memapaknya, katanya: "Kakak Bun, adakah kau lihat jejak musuh?"
“Cepat sekali gerakan orang itu, aku kehilangan jejaknya," sahut Ji Bun. "Apa yang terjadi di dalam?"
"Sek-hud telah dicuri orang," tutur si nona.
Ji Bun menjadi kikuk dan rikuh, dia merasa dirinya teramat bodoh, begitu gampang dikelabuhi dengan
pancingan orang meninggalkan kamar buku sehingga Sek-hud dicuri orang.
Seperti tidak terjadi apa-apa Ciang Wi-bin melangkah keluar, katanya: "Hantit tidak usah berkecil hati,
Sek-hud sudah tak berharga lagi, hilang ya sudahlah."
Sementara itu hari sudah terang tanah, Ciang Wi-bin bersama puterinya mengundurkan diri, Ji Bun
kembali ke kamar dan membersihkan badan, tak lama kemudian seorang kacung membawanya ke villa yang
kemarin Ji Bun bicara dengan Ciang Wi-bin. Ciang Wi-bin berdua sudah menunggu kedatangannya, mereka
menyambut dengan hangat, walau sarapan pagi, tapi hidangan cukup banyak ragamnya.
Setelah makan, dengan kukuh Ji Bun minta diri. Terunjuk rasa hambar seperti kehilangan sesuatu pada
wajah Ciang Bing-cu. Walau Ciang Wi-bin sudah membujuk berulang kali, tapi Ji Bun tetap kukuh hendak
menunaikan tanggung jawab keluarga. Hari itu juga Ji Bun lantas meninggalkan tempat keluarga Ciang.
Dengan langkah lebar Ji Bun meninggalkan Kayhong langsung menuju ke Tong-pek-san, kini dia merasa
sudah tiba saatnya untuk beraksi, pertama dia harus menuju ke Wi-to-hwe menyelidiki jejak Siangkoan
Hong, lalu menuntut balas secara terbuka. Lwekang dan kepandaian silatnya sekarang sudah meyakinkan
untuk menuntut balas seorang diri.
Hari itu dia tiba di tempat yang dulu untuk pertama kali dia melihat gadis baju merah Pui Ci-hwi sehingga
membatalkan niatnya mengajukan lamaran kepada puteri keluarga Ciang, serta merta langkahnya
merandek, terbayang akan pengalaman selama ini, cintanya bertepuk sebelah tangan. Namun sejak tahu Pui
Ci-hwi adalah segolongan dengan para musuhnya, cintanya itu sudah lama pudar, apalagi Cui Pi-hwi
sekarang sudah dinodai oleh Liok Kin, majikan muda dari Cip-po-hwe.
Tengah dia berdiri melamun, tiba-tiba bayangan merah nan molek semampai terbayang dikelopak
matanya, berdegup jantungnya, dia kira pandangannya kabur, setelah dikucek-kucek, jantungnya berdebardebar
setelah melihat lebih jelas lagi, kiranya bayangan merah itu memang betul Pui Ci-hwi adanya.
Wajah Pui Ci-hwi agak pucat, badanpun rada kurus, sorot matanya pudar menampilkan kepedihan. Lekas
Ji Bun mendekatinya, sapanya: ''Selamat bertemu nona Pui."
Pui Ci-hwi berhenti sambil berpaling, mukanya yang pucat bersemu merah, namun cepat sekali sikapnya
berubah dingin pula, katanya tawar: “O, kiranya tuan."
"Tunggu sebentar nona Pui.” seru Ji Bun memburu maju waktu melihat orang hendak pergi, "ada urusan
yang hendak kubicarakan dengan nona."
"Jadi kau mencari aku?" tanya Pui Ci-hwi, "ada apa?"
"Apakah nona betul murid Pek-ciok Sin-ni?" tanya Ji Bun.
Pui Ci-hwi melengak, dengan heran dia balas bertanya: "Untuk apa tuan tanya hal ini?"
"Ada beberapa persoalan yang ingin kuketahui."
"Mengingat tuan pernah menolong aku, sebagai tamu kehormatan perkumpulan kami pula, baiklah
kujawab pertanyaan ini secara terus terang. Aku bukan murid beliau."
"Apa?" teriak Ji Bun tertegun heran. "Kau bukan murid Sin-ni? Lalu darimana nona bisa tahu rahasia Sekhud
itu sehingga diburu-buru orang persilatan."
"Maaf hal ini tak bisa kujelaskan.”
Maksud Ji Bun hendak mencari tahu jejak Toh Ji-lan, adik kandung Pek-ciok Sin-ni, perempuan yang
harus ditemuinya sesuai pesan seorang tua aneh di bawah jurang, harapan itu kini menjadi kosong, namun
dia tidak putus asa, tanyanya: "Apa betul nona tidak hubungan apa-apa dengan Sin-ni?"
"Hubungan sih memang ada," sahut Pui Ci-hwi kaku sambil mengerut kening.
"Syukurlah, kalau begitu Cayhe ingin mencari tahu seseorang kepada nona."
"Mencari siapa?"
"Yaitu adik kandung Sin-ni yang bernama Toh Ji-lan."
Bergetar badan Pui Ci-hwi, air mukapun berubah, tanyanya melongo: "Untuk apa tanya tentang beliau?"
"Cayhe mendapat pesan seseorang untuk mencari tahu jejaknya."
"Pesan siapa?"
"Seorang tua, namun Cayhe sendiri tidak tahu nama dan gelarannya."
“Sayang beliau sudah tak berada di dunia fana ini."
"Sudah meninggal maksudmu?" Ji Bun menegas.
"Ya, sudah lama meninggal dunia."
"Tolong tanya, dimanakah pusara beliau?"
Kaget dan heran Pui Ci-hwi menatap Ji Bun, kepalanya sedikit menggeleng, sahutnya: "Hal ini tak boleh
kukatakan."
Ji Bun menarik napas panjang, pikirnya, kalau dia sudah meninggal, biarlah kuberi kabar secara terus
terang kepada orang tua aneh itu, timbul juga rasa kasihan terhadap orang tua itu, hanya karena ingin
bertemu sekali lagi dengan kekasih, maka orang tua itu bertahan hidup sekian puluh tahun di bawah jurang
dengan siksa derita, betapa kejam akhir dari semua ini.
Soal lain segera timbul dalam benaknya, hawa hitam yang selama ini lenyap kini kentara pula di antara
kedua alisnya, sikapnyapun kembali kaku dingin membuat Pui Ci-hwi menyurut jeri. "Nona juga anggota Wito-
hwe?" tanyanya.
Pui Ci-hwi mengiakan sambil mengangguk.
Berkerutuk gigi Ji Bun, sedapat mungkin dia tekan emosinya, namun suaranya semakin dingin kaku: "Apa
nona tahu kenapa Wi-to-hwe bermusuhan dengan Jit-sing-pangcu Ji Ing-hong?"
"Kau ..... untuk apa kau tanya hal ini?"
"Karena Cayhe ingin tahu duduknya persoalan. Nah, jawablah nona."
"Wi-to-hwe hakikatnya tidak bermusuhan dengan Jit-sing-po."
"Akan tetapi Jit-sing-po hancur lebur?"
"Entah, aku tak tahu."
"Ji Ing-hong ditemukan mati di dalam hutan dengan mengenaskan, siapa pula yang membunuhnya?"
"Tidak tahu."
"Nona Pui," tak tahan Ji Bun menahan rangsangan dendam dan benci, suaranya bengis, "Hari ini kau
harus menjawab pertanyaanku sejujurnya."
"Kenapa aku harus menjawab, tidak sudi,“ sahut Pui Ci-hwi ketus.
'"Demi mencapai tujuanku aku tidak segan-segan turun tangan secara keji."
"Kau hendak membunuhku?" teriak Pui Ci-hwi, mukanya yang pucat menjadi merah padam.
"Untuk membunuhmu segampang membalikkan tangan, jawab pertanyaanku. Di mana Siangkoan Hong
sekarang?"
“Siangkoan Hong? Untuk apa kau mencari dia?"
Pui Ci-hwi balas bertanya: "Bukankah kau pernah menolong jiwanya?"
"Ya tempo hari aku belum terlibat dalam urusan ini, sekarang ........”
"Soal ini boleh kau tanya kepada Hwecu saja."
"Tentu! akan kucari dia, tapi sekarang kau yang kutanyai."
"Aku tidak sudi menjawab."
Ji Bun menggeram murka, secepat kilat dia mencengkeram pergelangan tangan Pui Ci-hwi, tangan
berbisa segera terangkat tinggi, katanya mengancam: "Untuk membunuhmu sekarang bagiku segampang
memites seekor semut."
Bergetar tubuh Pui Ci- hwi, air mukanya berubah, matanya mendelik, tanpa bicara ia menatap Ji Bun
dengan penuh kebencian.
"Lepaskan dia!" sekonyong-konyong sebuah hardikan berkumandang dari belakang. Cepat Ji Bun
menoleh, dilihatnya seorang setengah tua berperawakan sedang, bermuka tirus bermata sipit berdiri dua
tombak di belakangnya, jubahnya hitam, rambut kepalanya diikat kain hitam pula, dandanan demikian rada
ganjil dan aneh.
"Tuan orang kosen dari mana?" tanya Ji Bun.
“Kwe-loh-jin.”
Mendelik buas mata Ji Bun, ancamnya: “Kalau kau masih ingin hidup, lekas enyah dari sini.”
Orang yang menamakan dirinya Kwe-loh-jin atau orang lewat di jalanan ini tertawa menyengir, ujarnya:
"Te-gak Suseng, membual saja kepada orang lain."
Memangnya dendam dan amarah Ji Bun tidak terlampias, kata-kata orang ini seperti api disiram minyak,
membuat amarahnya semakin berkobar, desisnya dingin: "Kau betul-betul ingin mampus?"
"Nanti dulu, aku kemari hendak membuat perhitungan dagang dengan kau."
"Perhitungan dagang apa? Aku tidak punya minat."
"Te-gak Suseng, setelah kujelaskan, kutanggung minatmu pasti besar."
Sebelum orang bicara habis, sebat sekali Ji Bun melepaskan tangan Pui Ci-hwi terus menubruk ke arah
Kwe-loh-jin, tangan berbisa sekaligus menyerang dengan gerakan secepat kilat, tahu-tahu dia sudah
mencengkeramnya pula pergelangan tangan Pui Ci-hwi dan berdiri di tempatnya semula, betapa cepat dan
tangkas gerakannya ini, sungguh luar biasa.
Tapi hasil dari serangannya sungguh di luar dugaannya, Kwe-loh-jin yang kena serangan tangan berbisa
tidak roboh binasa, orang malah berdiri tersenyum simpul. Diam-diam Ji Bun menjadi sangsi akan ilmu
pukulan berbisa yang diyakinkannya selama ini, ternyata Kwe-loh-jin kebal terhadap racun latihannya, apa
betul masih banyak lagi orang-orang yang tidak mempan terhadap racun jahatnya?
Seperti tidak kurang suatu apa, Kwe-loh-jin berkata: "Te-gak Suseng, marilah kita bicarakan soal dagang
itu."
Tanpa sadar Ji Bun bertanya : "Kau....tidak takut racun?"
"Bu-ing-cui-sim-jiu memang teramat jahat, namun bagiku racun itu bukan apa-apa," ujar Kwe-loh-jin
tertawa lebar.
"Siapakah kau?" tanya Ji Bun.
"Orang lewat!"
"Apa maksud dan tujuanmu?"
"Sejak tadi sudah kukatakan, untuk membicarakan soal dagang."
"Baiklah coba kau terangkan."
Sebelum bicara "orang lewat" seperti menahan perasaannya, katanya dengan nada yang dibuat setenang
mungkin.
"Bukankah kau ingin memperoleh kembali barangmu yang hilang?"
"Barang hilang?" teriak Ji Bun, "barang apa?"
"Anting-anting pualam yang tak ternilai harganya untuk mengambil uang di mana saja."
Seperti hendak meledak dada Ji Bun, sinar matanya liar, suaranya mengancam gemetar: "Bagus sekali,
jadi yang merebut anting-anting itu adalah kau, berani kau bicara soal dagang segala dihadapanku?"
9.27. Rahasia Rumah Setan di Kay-hong
"Orang Lewat" terloroh-loroh, katanya: "Te-gak Suseng jangan kau umbar amarahmu, jangan kau harap
bisa merebutnya kembali tanpa memberikan imbalan kepadaku."
"Bukan saja anting-anting itu harus kurebut kembali, kepalamu juga harus kupenggal, itulah yang harus
kau berikan padaku."
"Baiklah, boleh coba,” tantang orang itu.
Untuk kedua kali Ji Bun melepas pegangan tangan Pui Ci-hwi, telapak tangannya terus memukul ke arah
Orang Lewat, betapa dahsyat kekuatan pukulan bagai gugur gunung ini, tapi hanya sekali berkelebat, tahutahu
Orang Lewat sudah menyingkir tiga tombak jauhnya, gerakan badan begitu gesit dan enteng, sungguh
tidak kalah dibandingkan Biau-jiu Siansing.
Gerakan seringan kapas seperti setan melayang ditambah orang juga tidak gentar terkena pukulan
beracunnya, ini lebih meyakinkan Ji Bun bahwa orang ini memang betul adalah orang yang merebut antingantingnya.
Pui Ci-hwi tetap berdiri kaku di tempatnya tanpa, bergerak, seolah-olah apa yang terjadi disekelilingnya
tidak dilihat dan tak didengar, peduli amat semua peristiwa yang tiada sangkut paut dengan dirinya.
"Te-gak Suseng," orang lewat berseru memberi peringatan, "kalau main pukul lagi, terpaksa kutinggal
pergi saja."
"Hm, memangnya kau bisa lolos?"
"Omong kosong, sungguh menggelikan, kalau berhantam, sepuluh atau dua puluh kali pukulanmu masih
belum apa-apa bagiku, kalau mau pergi, memangnya kau mampu merintangi?"
"Katakan, apa kehendakmu?" bentak Ji Bun dongkol.
"Gampang saja, serahkan dia kepadaku, anting-anting akan kukembalikan padamu, nah, kita main
barter."
Tergerak hati Ji Bun, tanyanya: "Dia? Kenapa aku harus serahkan dia padamu?"
"Untuk barter, kutukar dengan barangmu yang hilang."
Mendelik gusar pandangan Pui Ci-hwi menga¬wasi "orang lewat", tapi tetap tidak bersuara.
Memang Ji Bun ingin sekali mendapatkan anting-antingnya yang hilang, tapi tegakah dia menyerahkan
Pui Ci-hwi sebagai barang tukaran? Apa pula maksud "orang lewat" dengan mengajukan syarat yang tidak
berperikemanusiaan ini? Maka dia mendengus dingin, katanya: "Apa maksudmu sebenarnya?"
Tenang-tenang saja sikap "orang lewat", katanya: “Bukankah tadi kau hendak membunuhnya? Kalau
sekarang dia kutukar anting-anting pualam itu, kan tidak merugikan kau?"
"Pernah apa kau dengan dia? Apa tujuanmu menghendaki dirinya?" tanya Ji Bun.
"Bukan apa-apaku. Soal untuk apa aku ingin memiliki dia itu bukan urusanmu," sahut "orang lewat". Lalu
dia merogoh kantong mengeluarkan anting-anting pualam serta ditimang-timang di telapak tangannya, lalu
segera ia menyimpannya pula. Nyata, anting-anting itu memang betul adalah miliknya yang hilang itu.
Serasa pecah kepala Ji Bun saking murka, sekonyong-konyong telapak tangannya menyapu ke depan,
serangan ini secepat kilat menyambar, kekuatannya bukan olah-olah hebatnya. Karena tidak menduga dan
kurang siaga, orang lewat tersampuk sempoyongan oleh damparan angin kencang ini. Amarah Ji Bun sudah
memuncak, begitu sampukan tangan berhasil membuat orang gentayangan, kembali pukulan kedua
menyusul tiba, namun "orang lewat” sempat melintangkan tangan menangkis, di tengah suara keras beserta
angin kencang berderai keempat penjuru, terdengar keluhan tertahan, "orang lewat" menyurut mundur
beberapa langkah.
Mendapat angin dengan kedua pukulannya, Ji Bun tidak menyia-nyiakan kesempatan, segera ia
mendesak maju, secepat kilat jari-jarinya mencengkeram ke dada lawan. Kali ini "orang lewat”
memperlihatkan kemampuan silatnya yang luar biasa, tampak bayangannya melejit, ke sana terus mengoget
seperti ikan selicin belut tahu-tahu orang sudah menyingkir dari cakaran tangan Ji Bun, terdengar pula suara
teriakan kaget, tahu-tahu Pui Ci-hwi menjadi tawanan si "orang lewat".
Gerakan orang ini betul-betul diluar dugaan Ji Bun, keruan ia melenggong.
Dengan sombong dan tertawa senang, "orang lewat" berkata: "Te-gak Suseng, sekarang kau sudah tiada
hak untuk barter lagi dengan aku."
"Hm, kau kira bisa pergi dengan selamat?”
Sekali jinjing terus dikempit, mendadak "orang lewat" melenting jauh ke sana. Namun sekali berkelebat Ji
Bun juga sudah melejit ke sana menghadang di depannya, sekaligus dia melontarkan serangan mematikan,
"orang lewat" dipaksa mundur ke tempatnya semula, dengan langkah berat Ji Bun mendesak maju.
"Berani kau turun tangan, dialah yang akan mati lebih dulu!" ancam "orang lewat" menyeringai sadis.
Ji Bun nekat, jengeknya "Kaupun tidak akan hidup, kalau bertangan kosong, mungkin kau punya
kesempatan buat lolos. tapi dengan menggondol dia, jangan harap kau bisa pergi."
Hal ini memang betul, "orang lewat" hanya mengandal gerakan tubuhnya yang lihay dan sedikit lebih
tinggi dari Ji Bun. Bicara soal Lwekang dia malah lebih rendah dua tingkat, kalau dia berkukuh hendak
menggondol pergi Pui Ci-hwi, betapapun gerakannya juga kurang leluasa, dengan sendirinya permainan
silatnya akan terhalang, bagaimana mungkin dia mampu meloloskan diri?
"Kau tidak mau menukarnya dengan anting-anting, itu berarti jiwanya tidak lebih berharga daripada
anting-anting itu."
"Kau keliru, aku bisa membunuhnya, karena soal sakit hati, tapi untuk barter, masakah aku ini manusia
rendah yang sudi berbuat sekeji itu."
"Te-gak Suseng, jangan kau membual, aku tahu kau ingin dia hidup untuk mengorek keterangan asalusul
para musuhmu bukan?"
Diam-diam terperanjat Ji Bun, segala persoalan dirinya agaknya sudah tergenggam di tangan orang,
katanya dingin: "Dari orang lainpun aku bisa mendapat keterangan yang kuinginkan. Lepaskan dia!"
Agaknya "orang lewat" gentar menghadapi tekat Ji Bun yang membara, sesaat dia berpikir, lalu katanya:
"Te-gak Suseng, anggaplah aku berhasil memungut dia tanpa sengaja, soal barter batal saja, tapi antinganting
tetap kukembalikan padamu.”
Sebetulnya Ji Bun hampir terbujuk, namun teringat anting-anting soal kecil, lebih penting adalah
menuntut balas, hanya Pui Ci-hwi satu-satunya sumber untuk menyelidiki para musuhnya, betapapun dia
tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan baik ini. Segera ia menjawab: "Tidak bisa."
"Te-gak Suseng, untuk membunuhnya sekarang aku tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga, kalau dia
betul-betul mampus ditanganku, apa yang akan, kau peroleh?"
Memang tepat dan lihay gertakan "Orang Lewat" itu, kalau betul dia membunuh Pui Ci-hwi terus tinggal
pergi, bukankah anting-anting itu tetap takkan berhasil diminta kembali? Namun Ji Bun juga maklum bahwa
"Orang Lewat" ini ingin membawa pergi Pui Ci-hwi pasti punya maksud tertentu, untuk ini tidak mungkin dia
berani membunuhnya, maka dengan mendengus dia berkata: "Kau membunuh dia, lalu aku membunuhmu,
itulah akhirnya."
"Memangnya kau mampu membunuhku?" cemooh orang itu.
Ji Bun menggerung gusar, belum lenyap suara gerungannya, jari-jari tangannya sudah mencengkeram
dengan gerakan yang luar biasa, namun "Orang Lewat" berkelit ke kiri terus menerjang ke kanan, serangan
Ji Bun tidak menjadi kendur, beruntun jari tangannya bekerja dengan serangan lihay, karena tangannya
memegangi Pui Ci-hwi, betapa tinggi dan lihay gerakan "Orang Lewat", lama kelamaan menyurut juga.
"Cret", suatu ketika jari Ji Bun berhasil menarik kain hitam yang mengikat rambut kepala "Orang Lewat".
"Hah," seketika Ji Bun menjerit kaget sambil menyurut mundur, matanya terbeliak dengan muka pucat
lalu merah dan kehijauan, mimiknya seperti orang ketakutan melihat setan iblis. Ternyata di atas kuping
sebelah kanan "Orang Lewat" kelihatan codet bekas memanjang. Codet ini memberi kesan yang mendalam
bagi Ji Bun, begitu tajamnya seperti goresan pisau di ulu hatinya, dalam benaknya selalu terbayang orang
berkedok, berjubah sutera yang kepalanya ada codet bekas luka, jadi antara Orang berkedok, laki-laki muka
hitam, dan "Orang Lewat” ini ternyata adalah satu orang. Jadi dia belum mati?
Dengan kedua tangannya sendiri dia mengubur dua orang yang sama-sama berkedok dan berjubah
sutera, salah satu adalah ayahnya, lalu siapa yang satu lagi? Mungkinkah masih ada orang ketiga? Sungguh
luar biasa, berulang kali orang ini hendak menghabiskan jiwanya, kini hendak membawa Pui Ci-hwi kenapa?
Lekas Ji Bun tenangkan diri, waktu dia menyapu pandang sekelilingnya, ternyata Orang Lewat dan Pui Cihwi
sudah lenyap, agaknya orang melarikan diri waktu dirinya linglung tadi.
"Siapa dia? Siapa dia?" tak tertahan Ji Bun berteriak-teriak seperti orang gila. Bukan saja kejadian ini
teramat aneh, juga amat menakutkan. Diantara serangkaian kejadian ini seakan-akan berselubung suatu
teka-teki yang serba misterius, namun teka-teki yang menakutkan ini tidak mudah dibongkar. Ji Bun
tenggelam dalam pemikirannya, sepak terjang orang seperti setan gentayangan, dengan bentuk wajah yang
selalu berubah, gerakan badan yang terlalu hebat dan mengejutkan. Secara wajar, dia lantas berpikir
kepada Biau-jiu Siansing. Dia lebih condong menaruh curiga kepada Biau-Jiu Siansing karena orang inipun
memiliki gerakan tubuh dan Ginkang sehebat itu, lagi tidak takut menghadapi Bu-ing-cui sim-jiu yang amat
beracun itu. Ya pasti dia, ke¬cuali dia pasti tiada orang yang punya kemampuan seperti itu, demikian pula
Jit-sing-ko-jin bukan mustahil adalah samarannya. Teka-teki ini harus cepat dibongkar, kalau tidak dirinya
takkan hidup tenang, salah-salah jiwa sendiri bisa melayang oleh kelicikan dan kelicinan musuh.
Gedung setan di kota Cinyang, seperti apa yang dikatakan Thian-thay-mo-ki adalah sarang atau tempat
sembunyi Biau-jiu Siansing, katanya isteri dan seorang puteranya berdiam di gedung setan itu. Tempo hari
kalau tidak ketemu tabib keliling dan dipancing keluar kota mungkin teka-teki ini sudah berhasil
dibongkarnya.
Untuk menuju Tong-pek-san kebetulan harus lewat kota Cinyang, setelah dipikir secara seksama, Ji Bun
berkeputusan untuk mampir ke kota Cinyang mencari Biau-jiu Siansing, segera dia keluar hutan dan
menempuh perjalanan lewat jalan raya.
Hari kelima pagi-pagi benar Ji Bun sudah sampai di kota Cinyang, karena terlalu pagi, tidak leluasa untuk
bekerja, kuatir jejaknya diketahui pihak musuh. Supaya tidak mengejutkan pihak sana, maka dia tidak
masuk kota, tapi berputar menuju ke sebuah kota kecil di selatan Cinyang yang jaraknya kira-kira beberapa
li. Di sini dia mencari hotel untuk melepaskan lelah dan menghabiskan waktu, malam nanti setelah
kentongan kedua baru akan mulai beraksi.
Setelah cuci muka dan ganti pakaian, dia pesan makanan, seorang diri mondar-mandir di dalam kamar.
Tak lama kemudian, sendirian dia sudah makan minum dengan lahapnya. Tiba-tiba pelayan masuk, katanya:
"Siangkong, ada seorang tamu suruh hamba menyampaikan sepucuk surat."
Tergerak hati Ji Bun, katanya: "Bawa kemari.”
Pelayan angsurkan surat itu, itulah secarik kertas tanpa sampul sebesar telapak tangan. Begitu membaca
tulisan di atas kertas itu, seketika berubah air muka Ji Bun, suaranya gemetar: "Mana orang yang membawa
surat ini?"
"Sudah pergi."
"Bagaimana raut wajahnya?"
"Entahlah, agaknya seperti orang persilatan."
"Baik, tiada apa-apa, kau boleh keluar."
Dengan heran dan curiga si pelayan melirik sekejap pada Ji Bun, lalu mengundurkan diri. Ji Bun
membaca sekali lagi tulisan surat itu, bunyinya demikian:
"Disampaikan kepada Te-gak Suseng. Kalau ingin memperoleh si jelita tanpa kurang suatu apa dan
anting-anting, lekaslah kau pergi ke Wi-to-hwe, suruh ketuanya menukar jiwa nona itu dengan Hud-sim.
Kubatasi 10 hari, selewatnya hari yang kutentukan, keselamatan jiwanya bukan tanggung jawabku lagi,
kalau ketuanya setuju, Hud-sim boleh diserahkan padamu, akan kujanjikan tempat dan waktunya setelah
tiba waktunya. Tertanda Kwe-loh-jin."
Gemas dan dongkol ji Bun bukan main, agaknya gerak-geriknya selalu diintai oleh lawan, perjalanan kali
ini agaknya bakal gagal lagi. Jadi terang sekarang tujuan-tujuan "Orang Lewat" menculik Pui Cui-hwi
ternyata untuk barter dengan Hud-sim, mungkinkah "Orang Lewat" pula yang melakukan pencurian Sek-hud
di gedung keluarga Ciang?
Musuh ditempat gelap, dirinya ditempat terang, urusan ini memang serba sulit dan dirinya dipihak yang
dirugikan. Dengan terlongong Ji Bun mengawasi kertas ditangannya, dari gejala yang sudah teraba secara
beruntun ini, dia lebih yakin bahwa "Orang Lewat" ini memang duplikat Biau-jiu-Siansing, mencuri, menipu,
merampas dan merebut, ditambah mengancam dan menindas. Semua ini merupakan perbuatan kotor dan
rendah yang selalu terjadi dikalangan Kang-ouw oleh manusia-manusia rendah, hal ini memang sudah
sering terjadi dan tidak mengherankan dirinya, yang belum diketahui hanyalah apa tujuan orang ini selalu
hendak membunuh dirinya, ia yakin dirinya belum pernah bermusuhan dengan dia.
Apakah sekarang ia harus pergi ke Tong-pek-san dan bekerja sesuai yang diminta "Orang Lewat" seperti
yang ditulis dalam suratnya ini? Dengan keras dia gebrak meja, sambil menengadah dia tenggak habis
secangkir arak, mulutnya menggumam: "Malam ini harus kubongkar seluk-beluk si maling tua itu."
o0o
Kentongan kedua baru saja berkumandang, Sesosok bayangan dengan cepat melayang ke arah "gedung
setan" di kota Cinyang. Dia bukan lain Te-gak Suseng Ji Bun adanya.
Memang sesuai betul keadaan Gedung Setan ini dengan namanya, tidak nampak bayangan orang lewat
di sini, suasana hening mencekam, keadaan tidak berbeda dengan tempo hari waktu pertama kali dia
datang, pintu besarnya tertutup rapat, galagasi berada dimana-mana, debu setebal beberapa mili.
Sejenak Ji Bun berdiri di atas pagar tembok menerawang keadaan sekelilingnya, lalu berputar ke arah
samping, sekali lompat dia naik ke atas wuwungan, denah gedung ini cukup luas dan besar, tampak rumah
berderet, pekarangan berlapis-lapis, tetumbuhan tua tersebar dimana-mana. Selayang pandang keadaan
serba gelap, hawapun terasa lembab dan menggiriskan orang. Mungkinkah ada orang tinggal di tempat
seperti ini? Ji Bun jadi terlongong bingung.
Ji Bun tidak takut setan, juga tidak percaya di dunia ini ada setan, rumah serta tempat-tempat yang
sering dikatakan keramat dan dihuni setan hanya permainan kotor orang-orang persilatan yang suka mainmain
dengan tujuan tertentu belaka.
Tapi kalau, rumah ini dihuni manusia, pasti ada sinar lampu atau lilin, namun yang dihadapinya sekarang
hanya kepekatan yang menyeramkan. Sudah tentu Ji Bun tidak mau berhenti begini saja dan balik dengan
tangan hampa, setelah bimbang sebentar, akhirnya dia enjot kaki dan melayang turun di pekarangan.
Malam memang teramat gelap, namun bagi orang yang berkepandaian setinggi Ji Bun sekarang,
matanya masih bisa melihat sesuatu di tempat gelap dengan jelas. Tertampak pekarangan ini sudah lebat
ditumbuhi semak-semak rumput dan pepohonan liar, jalur jalan kecil yang berliku-liku juga sudah penuh
ditumbuhi lumut dan rumput-rumput serta ditumpuki daun kering, bangunan rumah-rumah disekelilingnya
juga banyak yang rusak dan bobrok, jendela dan pintunya sama runtuh, yang masih ketinggalan sedang
berbunyi berkeriut ditiup angin, bayang-bayang pepohonan mirip setan iblis yang menjulurkan jari-jari
tangan siap menerkam mangsanya.
Betapa tinggi kepandaian Ji Bun menghadapi suasana yang seram menggiriskan ini, berdiri juga bulu
kuduknya, merinding. Dengan langkah pelan dan hati-hati dia mendekati pintu rembulan dan menuju ke
halaman kedua. Keadaan di sini tak ubahnya dengan pekarangan pertama, hening lelap, hawa seperti
membeku, seolah-olah tiada kehidupan lagi di dunia fana ini, bau busuk merangsang hidung. Namun Ji Bun
tidak putus asa, dia membelok ke serambi sana terus memasuki pekarangan lapis ketiga. Pemandangan di
sini jauh berubah, tanaman di sini kelihatannya teratur dan teramat baik, seperti kebun yang selalu diatur
oleh tangan-tangan manusia. Serta merta hati Ji Bun menjadi tegang, selepas matanya memandang,
dilihatnya di antara sela pepohonan lapat-lapat kelihatan sinar pelita yang menyorot keluar. Kalau dipandang
dari wuwungan rumah, karena teraling dan tertutup oleh bayang-bayang dedaunan yang lebat, sinar pelita
ini terang tidak akan kelihatan. Agaknya tidak sia-sia perjalanan Ji Bun kali ini. Apa yang dinamakan gedung
setan, kiranya hanya nama kosong dan gertakan bagi yang bernyali kecil belaka, muslihat menakuti orang
dengan tujuan tertentu.
Apa yang pernah dilihat dan dialami Thian-thay-mo-ki dulu agaknya memang kenyataan. Dengan enteng
Ji Bun melayang ke arah sinar pelita, dengan berindap dan menggeremet Ji Bun maju semakin dekat. Kini
dia sudah melihat jelas, sinar pelita, itu menyorot keluar dari sebuah kamar yang tertutup kain gordin,
karena kain gordin kurang rapat sehingga sinar pelita ini menyorot keluar dari sela-sela meski hanya segaris
saja. Waktu Ji Bun sampai di serambi luar kamar itu sinar pelita di dalam kamar itu mendadak padam.
Keruan kaget berdegup hati Ji Bun, dia tahu bahwa jejaknya sudah konangan, gedung sebesar ini kalau
pihak sana sengaja mau menyembunyikan diri, untuk mencarinya tentu sesulit memanjat ke langit. Lalu
tindakan apa yang harus dia lakukan. Atau .... kalau Biau-jiu Siansing memang seorang tokoh yang punya
gengsi dan berbobot, bila dirinya bersuara dan memperkenalkan diri, tentu dia tidak akan menyembunyikan
diri. Maka Ji Bun lantas bersuara, "Te-gak Suseng mohon bertemu dengan tuan rumah."
Beruntun dia berkaok tiga, kali, namun tiada reaksi apa-apa, keruan Ji Bun naik pitam, dengan amarah
yang berkobar segera dia mendekati pintu.
"Berdiri!" sekonyong-konyong suara seorang perempuan berkumandang di belakangnya.
Bercekat hati Ji Bun, namun dengan tabah, pelan-pelan dia putar badan di mulut serambi sana dilihatnya
berdiri seorang nyonya berpakaian serba hijau, kedua matanya menyala terang seperti mata harimau di
malam, agaknya Lwekang dan kepandaian silatnya tidak rendah.
Saat lain, dilihat pula sesosok bayangan kecil seringan burung melayang turun dari atap rumah, kiranya
seorang laki-laki berusia 10–an tahun.
"Bagaimana," tanya nyonya baju hijau.
Biji mata bocah itu berputar mengawasi Ji Bun sekejap. Sahutnya dengan suara nyaring: “Ada orang
menguntit, tapi sekarang sudah pergi.”
"Baik, nyalakan lagi api di dalam kamar," perintah nyonya baju hijau.
Bocah itu segera berlari masuk ke dalam, segera sinar lampu menyala lagi di dalam dan kebetulan
menyorot dimuka nyonya baju hijau ini, maka jelas kelihatan raut mukanya yang sudah agak berkeriput,
agaknya usianya ada setengah abad, namun bekas-bekas kecantikannya masih kelihatan, sayang rona
mukanya menampilkan mimik yang aneh.
"Siapakah yang mulai ini?" sapa Ji Bun lebih dulu.
Nyonya itu menuding ke dalam, katanya: "Mari bicara di dalam.” Lalu dia mendahului melangkah masuk.
Sekilas Ji Bun melenggong, tapi dia lantas ikut masuk.
Pajangan kamar ini cukup bagus namun sederhana, suasana terasa redup dan nyaman dibawah sinar
lampu teplok, anak kecil tadi sudah tidak kelihatan bayangannya.
Nyonya baju hijau tidak bersuara, namun dengan nanar dia awasi muka Ji Bun, air mukanya berubahubah.”
Tak tahan Ji Bun buka suara pula: "Apakah engkau majikan gedung ini?''
"Bukan, aku terhitung tamu juga disini."
"Tamu?" Ji Bun mengernyit kening.
"Kau heran bukan?”
Memang Ji Bun heran dan tak mengerti, menurut cerita Thian-thay-mo-ki, katanya nyonya ini adalah
isteri Biau-jiau Siansing atau gundiknya. Bocah tadi adalah putera tunggalnya, namun nyonya ini bilang
dirinya hanya seorang tamu. Maka dengan dingin dia mengejek: "Tapi kutahu bahwa engkau adalah
penghuni gedung ini?"
"Soal kecil ini tidak perlu diperdebatkan," ujar nyonya baju hijau lesu, "kau inikah Te-gak Suseng? Apa
maksud kedatanganmu?"
“Sengaja mengunjungi Biau-jiu Siansing Locianpwe," sahut Ji Bun garang sedapat mungkin dia
kendalikan rasa geramnya.
”Siapa katamu?" bentak nyonya baju hijau dengan air muka berubah.
"Biau-jiu Siansing!" Ji Bun mengulangi dengan tegas.
“Siapakah Biau-jiau Siansing? Darimana tahu kalau dia tinggal di gedung setan?"
"Tiada sesuatu rahasia mutlak di dunia ini."
"Berapa rahasia yang sudah kau ketahui?"
"Soal ini saja sudah cukup berlebihan."
"Kalau begitu biar kukasih tahu, disini tiada orang bernama Biau-jiu Siansing."
Cukup sepatah kata jawabanmu ini lantas hendak mengusirku pergi. Sebelum kutemukah dia, aku tidak
akan meninggalkan gedung ini."
"Berdasarkan apa kau yakin Biau-jiu Siansing berada di gedung ini?"
“Berdasarkan berita yang kuperoleh,"
”Kabar dari mana?”
"Nyonya tidak perlu tahu."
“Aku. Tidak tahu apa itu Biau-jiau Siansing segala."
Ji Bun menarik muka, dia sudah berkeputusan, meski harus menggunakan cara keji apapun juga akan
mengobrak-abrik gedung ini dan mengorek usal-usul Biau-jiu Siansing yang sesungguhnya, maka dengan
geram dia berkata dingin: "Hu-jin (nyonya) tidak akan memaksaku untuk bertindak, bukan?"
"Kau mengancamku?”
"Bukan mengancam demi mencapai keinginan yang kuharapkan, aku tidak segan bertindak dengan cara
apapun."
"Kau berani bertingkah di sini?"
"Kalau tidak berani tidak akan kemari."
"Dengan cara apa kau hendak bekerja?”
"Sulit dikatakan. Biau-jiu Siansinglah yang mengajarkan padaku, bukan saja dia licin dan licik malah
rendah dan hina ....”
"Kentutmu! Omong kosong!"
"Jadi Hujin mengakui akan kenyataan ini? Kalau Hujin tidak kenal dia, buat apa kau membela dia?"
Mencorong sinar mata nyonya baju hijau, bentaknya bengis: "Biau-jiu Siansing adalah tokoh aneh di
kalangan Kang-ouw, mengandalkan apa kau berani memaki dan menghinanya?"
Ji Bun mendengus berat, jengeknya: "Tokoh aneh apa? Memangnya dia setimpal?"
"Kenapa tidak setimpal"
"Main curi, rebut, menipu, memeras dan segala tipu kotor, setimpalkah orang yang melakukan perbuatan
serendah itu dimanakah tokoh aneh?"
Dengan mengertak gigi nyonya baju hijau menatap Ji Bun sekian lama, mendadak dia berkata, "Kau
bernama Ji Bun bukan?”
Hati Ji Bun betul-betul tergoncang hebat, nama aslinya selamanya belum pernah bocor di kalangan Kangouw,
kecuali Ciang Wi-bin dan puterinya tiada orang lain yang tahu. Namun nyonya ini dapat menyebut
namanya dengan tepat, sungguh mengejutkan dan mengerikan, dengan gemetar dia berkata: “Dari mana
Hujin tahu aku bernama Ji Bun?"
Dingin sekali sikap nyonya baju hijau, katanya: “Malah aku juga tahu kau ini adalah putranya Ji Inghong.”
Serasa meledak Ji Bun, darah seketika tersirap ke atas kepala, beruntun dia menyurut tiga tindak, hampir
saja meja kursi diterjangnya roboh, mata terbeliak mulut melongo, lama sekali dia mengawasi nyonya itu
tanpa bersuara.
Dengan haru dan penuh emosi nyonya baju hijau berkata pula: "Kau tahu siapa aku?"
Tergagap-gagap Ji Bun berkata: "Hujin ..... siapa?"
“Kau pernah dengar nama gelaran Khong-kok-lan So Yan?"
“Be ..... belum pernah.”
Terpencar sorot kebencian yang menyala dari kedua biji mata nyonya baju hijau, giginya berkerutukan
menahan gejolak hati, lama kemudian baru dia berkata: "Kalau Lan Giok-tin?”
Bergetar sekujur badan Ji Bun, serunya: "Itulah ibundaku."
"Dia yang melahirkan kau?"
"Ya....dari mana Hujin tahu....."
"Dia masih hidup?" pertanyaan mendadak ini teramat menusuk, namun Ji Bun sudah terkekang oleh
suasana yang mengejutkan ini, tanpa ragu dia menjawab: "Mati hidup ibu sampai sekarang belum
kuketahui."
"Hm, memang dia bakal mengalami hari naas."
"Hujin ..... apa maksudmu?"
"Ketahuilah, Ji Bun, aku inilah isteri Ji lng-hong yang resmi, Khong-kok-lan So Yan."
Seperti ditusuk sembilu sekujur badan Ji Bun, seketika menjadi linu dan pati rasa, penasaranpun terasa
sesak hampir berhenti, sungguh kejadian yang tak pernah dia bayangkan meski di dalam mimpi, bahwa
nyonya baju hijau ini ternyata adalah isteri tua dari ayahnya. Tak heran dia bisa menyebut namanya yang
merupakan rahasia bagi orang lain. Bagaimana mungkin dia bisa berada di gedung setan ini? Siapa pula
bocah itu? Apakah adiknya dari tunggal bapak lain ibu? Ji Bun jadi ragu-ragu, apakah gedung ini betul
adalah tempat sembunyi Biau-jiu Siansing?
Selama hidup Ji Bun belum pernah, bertemu atau melihat nyonya ini, dia hanya tahu bahwa ibunya isteri
kedua, dulu pernah dia tanya tentang nyonya besar ini kepada ibunya, katanya sudah lama meninggal
apakah dia ini setan gentayangan? Teringat akan setan, sementara dirinya berada di dalam gedung setan
pula, seketika dia merinding dan gemerobyos keringat dinginnya.
Berkata pula Khong-kok-lan So Yan: "Sayang sejauh ini aku belum berhasil membunuh Ji Ing-hong
dengan kedua tanganku sendiri."
Bergidik pula Ji Bun dibuatnya mendengar kata-kata ini, entah ada permusuhan apa pula antara ayah
dan nyonya besar ini? "Taybo .........”
“Jangan panggil aku Taybo (ibu tua), aku sudah putus hubungan dengan Ji Ing-hong. Aku she So,
terserah kau ingin panggil apa padaku."
Apakah wanita setengah baya ini benar ibu tiri Ji Bun? Dan siapa pula anak laki-laki itu?
Dapatkah Ji Bun mengorek rahasia mengenai Biau-jiu Siansing?
10.28. Wi-to-hwe Terima Syarat Barter
Ji Bun menelan air liur seka!i, timbul perasaan dingin dari relung hatinya, katanya kemudian: "Apakah
ada kesalahan paham?"
"Salah paham apa? Hm, yang jelas dendam berdarah!"
"Dendam berdarah?" teriak Ji Bun sembari mundur selangkah pula, poci dan cangkir teh di atas meja
sama menggelinding jatuh keterjang pantat Ji Bun. Sungguh peristiwa yang sukar diterima oleh akal sehat
bahwa di antara suami isteri bisa terjadi dendam berdarah? Serta merta dia teringat kepada Siangkoan
Hong, dia pernah bilang punya dendam kesumat terhadap Ji Ing-hong yang merebut isteri dan membunuh
anaknya, mungkinkah dia ..... tak tertahan ia berteriak tanpa sadar: "Taybo kenal ...."
"Aku bukan Taybo," bentak Khong-kok-lan bengis.
Ji Bun angkat pundak, sesaat dia kememek, apa boleh buat dia mengubah panggilan: "Apakah Socianpwe
kenal Siangkoan Hong?"
"Siangkoan Hong? Belum pernah dengar."
Ji Bun melengak, agaknya dugaannya meleset, segera dia bertanya pula: "Bolehkah jelaskan duduk
persoalan yang sebenarnya?"
"Kau boleh tanya kepada bapakmu."
"Dia ..... beliau sudah ...... meninggal."
"Apa? Ji ing-hong sudah mampus?"
"Ya”, sahut Ji Bun, "terbunuh oleh musuh yang tidak dikenal."
Gemetar keras sekali sekujur badan Khong-kok-lan So Yan, tanyanya: "Kapan kejadiannya?"
"Sepuluh hari yang lalu."
"Bagus sekali, memang setimpal dia mampus...."
Mendelik Ji Bun, mengingat orang adalah isteri tua ayahnya, mulutnya tetap terkancing saja, betapapun
dirinya adalah anak muda yang harus tetap hormat terhadap orang tua, bukan mustahil di balik peristiwa ini
ada rangkaian cerita yang menakutkan? Dari mana mungkin antara suami isteri bisa terjalin dendam
berdarah? Sayang sekali sejak kecil dirinya hidup secara terisolir, mengenai seluk beluk keluarga sendiripun
tidak jelas. Setelah dewasa dia diperintahkan berkelana dan langsung menuju Kayhong untuk melamar
puteri keluarga Ciang. Celakanya keluarga serta seluruh penghuni Jit-sing-po tahu-tahu telah hancur lebur,
semuanya gugur melawan para penyerbu sehingga segala sesuatu semakin kabur.
Pada saat itulah, bocah tadi tiba-tiba muncul lagi, dia masuk dari luar kamar, mimik wajah Khong-kok-lan
So Yan yang menakutkan dirangsang oleh emosinya tadi segera lenyap begitu bocah ini muncul, tanyanya
dengan ramah dan lembut: “Siau-po, kau harus berjaga di luar sana."
“Bayangan tadi muncul kembali. Kalau tidak salah menguntit dia," sahut bocah itu sambil menuding Ji
Bun.
Tergerak hati Ji Bun, siapakah yang menguntit dirinya? Mungkin Kwe-lo-jin? Kalau demikian mungkin
pemilik gedung ini memang bukan Biau-jiu Siansing, tapi .......
"Siau-po, kau jaga di luar saja."
"Untuk apa dia kemari?" tanya anak itu.
"Nanti kuberi tahu padamu."
Bocah yang bernama Siau-po memang penurut, segera ia berlari keluar, bayangannya lenyap ditelan
kegelapan, usianya masih begitu kecil, namun gerak-geriknya amat cekatan, tak tertahan Ji Bun bertanya:
"Siapakah dia?"
"Kau tidak perlu tahu," sahut Khong-kok-lan So Yan, "kau masih ada urusan?"
Ji Bun ingin tanya liku-liku persoalan ini supaya jelas, namun dia juga tahu pertanyaan akan sia-sia.
Nyonya ini jelas tak mau menjelaskan, yang terang ayahnya sudah meninggal, peduli bagaimana duduk
persoalan sebenarnya, anggap berakhirlah segala dendam kesumat, kelak kalau ibunya berhasil ditemukan
dapat tanya kepada beliau saja, namun bayangan Biau-jiau Siansing masih melekat dalam benaknya.
"Kau boleh pergi," kata Khong-kok-lan So Yan sambil angkat sebelah tangannya.
Ji Bun mengeraskan kepala, katanya: "Mengenai Biau-jiu Siansing .......”
"Di sini tiada Biau-jiu Siansing. Ji Bun, kuberitahukan padamu, kalau bukan lantaran sesuatu hal, jiwamu
sudah melayang sejak tadi, lekaslah kau pergi sebelum aku mengubah sikapku, kalau tidak .......”
"Bagaimana?"
"Kubunuh kau!"
Ji Bun tak kuasa menahan sabar, jengeknya: "Kuhormati kau sebagai Taybo. Tapi bukan soal gampang
untuk membunuhku."
"Hm, majulah selangkah dan berpalinglah ke belakang, lihat apa itu?"
Setengah percaya Ji Bun maju selangkah terus berpaling. "Crat," sebatang lembing yang runcing
mengkilap tiba-tiba menjulur keluar dari dalam dinding, tepat mengincar punggung di mana tadi dia berdiri,
karuan dia berteriak kaget sambil melompat menyingkir, keringat dingin membasahi jidatnya. Serangan
gelap macam ini, betapapun sulit dihindarkan, susul menyusul terdengar pula suara "ser, ser", pu!uhan
batang anak panah berseliweran di depan dan kanan kiri, semuanya menancap di dinding.
"Bagaimana?" tanya si nyonya.
Ji Bun mengertak gigi, tanpa bersuara lagi segera dia enjot kaki melesat keluar gedung setan, waktu itu
sudah mendekati kentongan keempat, sekaligus dia berlari menuju ke hotel tempat menginap. Tanpa
mengeluarkan suara langsung dia masuk ke kamar dan rebah di atas ranjang dan merenungkan pengalaman
tadi.
Pengalaman selama dua jam ini sungguh aneh bin ajaib, dia tak habis mengerti dan tidak mampu
memecahkan persoalan ini. Baru sekarang dia merasakan urusan keluarganya benar-benar serba rumit,
namun keluarga sudah berantakan, orang-orang yang berkepentinganpun sudah wafat, apa pula yang harus
dirisaukan? Kecuali menuntut balas, tiada tugas apapun yang setimpal untuk dipikirkan. Peduli bagaimana
martabat ayahnya di masa hidup, sebagai seorang anak yang harus bakti terhadap orang tua, betapapun dia
harus bekerja sekuat tenaga, soal tetek bengek tidak usah ambil pusing.
Kini yang dia pikirkan adalah permintaan Kwe-loh-jin melalui secarik kertasnya itu. Kalau Kwe-loh-jin
benar adalah duplikat Biau-jiu Siansing, kesempatan masih ada untuk berhadapan dengan dia. Agaknya dia
harus bekerja secara bertahap, terlebih dulu harus membereskan persoalan yang menakutkan ini. Jika dia
harus beraksi menuntut balas, terang dirinya tak bisa minta kepada Wi-to-hwe untuk mengeluarkan Hud-sim
dan barter dengan Pui Ci-hwi, dengan sendirinya pula rahasia pribadi Biau-jiu Siansing juga sukar untuk
dibongkar.
Biau-jiu Siansing bilang supaya Wi-to-hwe menyerahkan Hud-sim kepada dirinya. Kapan dan di mana
akan dilakukan pertukaran akan diberitahu lebih lanjut, agaknya orang juga jeri menghadapi jago-jago Wito-
hwe. Hal inipun menandakan kecerdikan dan kelicikannya.
Pihak Wi-to-hwe mau menerima syarat barter ini? Apa betul Hud-sim terjatuh ke pihak Wi-to-hwe? Diamdiam
Ji Bun bersyukur bahwa dia tidak katakan asal usul dirinya kepada Pui Ci-hwi, kalau tidak situasi pasti
sudah jauh berubah. Kalau asal dirinya diketahui pihak musuh, terang Wi-to-hwe akan mengerahkan seluruh
kekuatannya untuk menghadapi dirinya.
Setengah malam dia bekerja berat, namun dia lupa lelah dan tidak kantuk, semua persoalan yang serba
rumit ini satu persatu berganti berkelebat dalam benaknya.
Hotel-hotel di kota kecil seperti ini kebanyakan dihuni oleh kaum pedagang yang menempuh perjalanan
jauh, begitu ayam jago berkokok, suasana hotel kecil itu sudah menjadi ramai dan ribut.
Karena tidak bisa tidur, Ji Bun sekalian bangun dan cuci muka. Setelah tangsel perut ala kadarnya, belum
lagi hari terang tanah, dia segera melanjutkan perjalanan menuju ke Tong-pek-san, untuk tiga kali dia naik
ke gunung ini.
Lekas sekali hari sudah terang tanah, sang surya memancarkan sinarnya yang cemerlang di ufuk timur.
Tengah dia mengayun langkah, tiba-tiba sebuah tandu berhias dipikul empat orang mendatangi. Waktu Ji
Bun angkat kepala, hatinya bersorak girang, kiranya yang mendatang adalah tandu berhias dengan orang
dalam tandu yang misterius itu, dengan kedudukan dan jabatan orang dalam tandu di Wi-to-hwe, soal Hudsim,
tentunya dapat diajukan kepadanya, kan dapat mengurangi tenaga supaya tidak usah jauh-jauh pergi
ke markas besarnya.
Sementara itu, tandu itupun sudah berhenti tak jauh di depannya, Ji Bun angkat kedua tangan memberi
hormat, sapanya: "Selamat bertemu yang mulia!"
"Saudara kecil hendak ke mana?" tanya orang dalam tandu.
"Aku hendak naik gunung mengunjungi Hwecu."
"Ada urusan?"
"Ada urusan penting perlu segera kubicarakan berhadapan dengan Hwecu sendiri."
"O, sayang Hwecu kebetulan sedang turun gunung untuk suatu keperluan, ada urusan apa boleh kau
katakan padaku, mungkin aku bisa memberi keputusan."
Ji Bun keluarkan surat tulisan Kwe-loh-jin, katanya. "Silakan baca surat ini."
Salah seorang laki-laki baju hitam yang memikul tandu segera menerima surat itu dan diangsurkan ke
dalam tandu. Ji Bun diam dan menunggu reaksi dengan tenang-tenang.
Tak lama kemudian, orang dalam tandu menggeram gusar, katanya kemudian dengan nada yang
menggiriskan: "Saudara kecil, apakah yang telah terjadi?"
"Seperti apa yang dikatakan dalam surat itu, nona Pui sudah diculik oleh orang itu."
"Berani dia mengajukan syarat seperti ini? Siapakah Kwe-loh-jin itu?"
"Entah, akupun tidak kenal dia."
"Lalu kenapa kau jadi penengahnya?”
"Ya, karena anting-anting pualam milikku terjatuh di tangannya, untuk mengembalikan anting-anting itu,
dia mengajukan syarat ini."
"Kepandaianmu sudah begini tinggi, masakah kau juga mau ditekan dan diperas?"
"Banyak kejadian dalam dunia ini sukar dipertimbangkan dengan akal sehat."
"Keparat ..... tolong saudara cilik sampaikan kepada Kwe-loh-jin, suruh dia berhadapan langsung dengan
aku .....”
"Hal itu tak mungkin dilaksanakan, hakikatnya aku tidak bisa menemukan jejaknya."
"Kukira tidak mungkin."
Ji Bun naik pitam, katanya aseran: "Kau kira Cayhe sekomplotan dengan Kwe-loh-jin?"
Sesaat orang dalam tandu berpikir, katanya kemudian: "Bukan aku banyak curiga, rasanya siapapun pasti
akan berpikir demikian."
"Kalau begitu anggaplah Cayhe salah alamat, selamat berpisah."
"Tunggu sebentar, saudara cilik."
"Masih ada omongan apa lagi?"
"Tahukah kau apa sebenarnya Hud-sim itu?"
"Cayhe tidak tahu, juga tidak ingin tahu." ucapannya ini terlalu angkuh tak ubahnya seorang jago silat
tulen.
"Menurut pendapatanmu, orang dari golongan manakah Kwe-loh-jin ini?"
"Ini ...... dugaan memang ada, namun bagaimana kenyataannya sulit dikatakan, terus terang Cayhe tidak
berani sembarangan omong."
Uutuk sekian lamanya keduanya diam saja. Akhirnya orang dalam tandu bersuara dengan nada berat:
"Saudara cilik, biarlah aku yang tanggung untuk menerima syarat yang diajukan Kwe-loh-jin ini, tapi .....”
Tak terduga oleh Ji Bun bahwa orang dalam tandu bakal menerima syarat yang diajukan Kwe-loh-jin,
tanyanya: "Tapi apa?"
"Aku menguatirkan keselamatan Pui Ci-hwi .....” Yang dimaksud dengan keselamatan sudah tentu bukan
hanya mati-hidup jiwanya. maklumlah Pui Ci-hwi gadis jelita yang masih perawan. Kalau sampai terjatuh ke
tangan manusia rendah dan cabul, banyak hal yang harus dikuatirkan. Sudah tentu Ji Bun maklum akan
maksud ini, katanya dengan menegak alis: "Malingpun mempunyai aturannya sendiri, kukira hal-hal yang
tidak penting itu tidak perlu dipikirkan dan dikuatirkan."
"Kau tidak berani menanggung?"
"Maaf, hal ini aku tidak berani tanggung."
"Bukan aku minta pertanggunganmu, tapi aku tetap berkuatir, maka kuharap dikala kau menukar orang,
kau harus perhatikan kekuatiranku ini."
"Baiklah. Cayhe akan bekerja melihat gelagat."
"Saudara cilik, sekali lagi kupesan wanti-wanti."
"Cayhe akan bekerja sekuat tenaga."
Di mulut dia berkata demikian, namun timbul suatu perasaan aneh dalam relung hatinya, dia merasa
kelakuannya kali ini amat lucu dan menggelikan, malah sukar dimengerti, secara beruntun dia bekerja untuk
kepentingan pihak musuhnya, namun aksi menuntut balas yang sudah dirancangnya sekian lama belum
dilaksanakan, selalu terhalang oleh macam-macam perubahan yang dihadapinya, kalau dipikir dia tertawa
sendiri.
"Saudara cilik hendak menunggu di mana?"
"Kutunggu di hotel Im-ping-can di kota kecil Ngo-li-cip di selatan kota Cinyang."
"Baiklah, dalam tiga hari, aku pasti antar barang itu ke sana."
"Cayhe akan menunggu dengan sabar."
Tandu berhias itu segera putar balik ke arah datangnya tadi, agaknya kepandaian silat keempat laki-laki
pemikul tandu amat tinggi, langkah mereka ringan dan cepat bagai terbang.
Tiga hari cukup lama bagi Ji Bun untuk menunggu di sebuah hotel di kota sepi ini. Menurut
perhitungannya, paling cepat hari ke tiga baru barang itu akan diantar kemari, ia menjadi iseng tanpa
kerjaan. Hari itu tanpa tujuan dia jalan-jalan memasuki sebuah jalanan. Dalam hati dia berpikir, setelah
selesai barter dengan Kwe-loh-jin, langkah pertama yang dia lakukan yaitu membongkar kedok orang, lalu
melalui Pui Ci-hwi satu persatu dia akan mulai aksinya menuntut balas kepada para musuhnya. Dalam
suasana tenang dan pikiran jernih ini, kembali dia merangkai langkah-langkah yang lebih sempurna untuk
menunaikan tugas berat ini.
Kenapa Taybo Khong-kok-lan So Yan kedapatan berdiam di gedung setan dalam kota Cinyang? Dendam
berdarah apakah yang terjadi antara dia dengan ayah? Siapa pula bocah yang bernama Siau-po itu? Dengan
tegas So Yan menyangkal bahwa dirinya ada sangkut paut dengan Biau-jiu Siansing, apakah ini dapat
dipercaya?"
Betulkah Kwe-loh-jin merupakan salah satu duplikat Biau-jiu Siansing? Siapakah orang berkedok yang
gugur bersama ayahnya? Apakah Siangkoan Hong pembunuhnya? Dikala mendengar jejak ibunya belum
diketahui parannya, Taybo bilang pasti akan datang saat naasnya, apakah maksudnya? Semakin dipikir Ji
Bun merasa persoalan ini semakin simpang siur dan ruwet.
Sang surya sudah tinggi, alam semesta terang benderang, namun hatinya seperti diliputi mega mendung,
risau dan gundah.
Tiba-tiba bayangan semampai seorang berlari mendatangi dan langsung menubruk ke arahnya. Sekali
mengegos Ji Bun menghindar, dilihatnya seorang nona belia berusia tujuan belas dengan rambut
semerawut, pakaian kumal dan sorot mata guram, namun berwajah molek.
Begitu tubrukan luput gadis itu lantas putar badan, katanya sambil tertawa cekikikan, "Liok-koko, aku
tahu kau pasti akan kembali." Lalu kedua tangan terpentang terus menubruk maju pula hendak mendekap.
Ji Bun terperanjat, lekas ia mengegos ke samping pula, rupanya gadis ini orang sinting, demikian
pikirannya.
Karena dua kali luput menubruk, gadis itu menegakkan alis, mulut cemberut, katanya sedih: "Liok-koko,
kau sudah tidak mencintaiku lagi?"
"Aku bukan she Liok," kata Ji Bun.
"Ha ha ha ha, Liok-koko, walau menjadi abu juga tetap kukenal kau, jangan kau menyiksaku lagi."
"Siapakah Liok-kokomu itu?" tanya Ji Bun.
Berubah air muka gadis sinting, teriaknya mendelik liar: "Liok Kin, seluruh milikku sudah kuberikan
padamu, kau justeru membuangku begini saja, kau .... kau sungguh kejam!"
Baru sekarang Ji Bun mengerti, kiranya gadis sinting ini mengira dirinya sebagai Liok Kin, itu majikan
muda Cip-po-hwe yang bergajul. Agaknya gadis ini dirayu oleh Liok Kin, setelah dipermainkan dan dinodai
kesuciannya terus ditinggal pergi begitu saja. Saking marah, penasaran dan malu, sehingga gadis ini kurang
waras pikirannya.
Tempo hari Jay-ih-lo-sat hendak merobek tubuh Liok Kin, namun gadis baju merah malah memohonkan
ampun baginya. Waktu itu Liok Kin pernah bersumpah sambil menuding langit dan bumi, bahwa selama
hidupnya hanya mencintai Pui Ci-hwi saja, Sampai sekarang Pui Ci-wi masih dikelabui dan belum sadar
bahwa dirinya hanya dipermainkan belaka, nasibnya tidak lebih baik daripada gadis sinting ini, mereka
adalah korban permainan Liok Kin. Sungguh tak nyana pemuda keparat ini ternyata seorang bergajul,
pemuda cabul yang suka mempermainkan anak perawan.
Gadis sinting itu tiba-tiba menutup muka sambil menangis sesenggukan, katanya: "Liok-koko, bukankah
kau pernah bersumpah, seumpama laut kering dan batu membusuk, tapi cintamu takkan berubah? Kau .....
kini kau tidak menghiraukan diriku lagi?" Agaknya dia tetap anggap Ji Bun sebagai Liok Kin.
Seperti diketahui Ji Bun pernah jatuh hati terhadap Pui Ci-hwi. Namun setelah cintanya bertepuk sebelah
tangan, setelah tahu Pui Ci-wi sehaluan dengan para musulmya, cinta itu sudah pudar. Namun biasanya
orang paling sukar melupakan cinta yang pertama, lahirnya memang sudah buyar, namun suatu ketika kalau
ada sentuhan dari luar, rasa cintanya itu akan berkobar pula. Demikianlah keadaan Ji Bun sekarang, namun
dari cinta sekarang dia menjadi dendam, dan dendam ini dia limpahkan kepada Liok Kin yang tidak
bertanggung jawab, tanpa sadar tiba-tiba dia menggeram: "Liok Kin, kalau tidak membunuhmu, aku
bersumpah bukan manusia."
Gadis sinting itu tertegun dan menghentikan tangisnya, dengan kaku dan linglung dia awasi Ji Bun,
katanya: "Liok-koko apa katamu?”
Ji Bun jadi dongkol dan gemes, serunya: "Aku bukan Liok-kokomu.”
Sorot mata hambar gadis sinting itu terbeliak buas, air mukanyapun beringas, selangkah demi selangkah
ia menghampiri Ji Bun.
Keruan Ji Bun gugup dan keripuhan, orang yang sudah kehilangan pikiran waras, hakikatnya tidak bisa
diurus lagi, namun dia tidak mungkin turun tangan kepadanya, apalagi nasibnya harus dikasihani. Kalau
tinggal pergi begini saja, betapapun hatinya tidak tega. terpaksa ia bersabar, dalam keadaan apa boleh
buat, terpaksa ia mengada-ada: “Nona hendak mencari Liok Kin bukan?”
Gadis sinting lantas menghentikan langkahnya, katanya dengan memiringkan kepala: "Apakah kau ini
bukan Liok-koko?"
"Bukan, tapi aku bisa bantu kau mencarinya. Aku tidak menipumu, siapakah namamu?"
"Aku .... aku ..... Liok-koko kan sudah tahu."
"Tapi aku tidak tahu?"
"Aku bernama Dian Yong-yong .... Yong-yong, dia memanggilku Yong-moay."
"Nona Dian tinggal di rumah mana?"
"Rumah? Rumah? Aku sudah tidak punya rumah lagi, aku hendak pergi ke rumah Liok-koko saja."
Ji Bun tertawa getir, katanya: "Nona Dian, kau harus pulang, nanti ku suruh Liok Kin menjemputmu di
rumah."
"Aku ..... dimanakah rumahku?"
Pada saat itulah terdengar suara kelintingan berkumandang dari ujung jalan sana, seorang laki-laki
berjubah kasar dengan jenggot kambing, punggungnya menggendong peti obat sedang mendatangi sambil
menggoyang-goyang kelintingan ditangannya. Kiranya seorang tabib kelilingan.
Mendengar suara kelinting segera Ji Bun berpaling, air mukanya seketika membesi kaku, sorot
matanyapun penuh nafsu membunuh. Yang datang ini memang bukan lain adalah salah satu duplikat Biaujiu
Siansing, tempo hari telah menyamar jadi tabib kelilingan dan mengaku bergelar Thian-gan-sin-jiu.
Dengan terkekeh dingin Ji Bun menyapa: "Biau-jiu Siansing, selamat bertemu."
Tanpa hiraukan seruan Ji Bun, tabib keliling itu terus mendekati Ji Bun seperti tidak ada persoalan apaapa.
Sorot matanya mengawasi si gadis sinting, tiba-tiba ia berkata: "Hah, sakit ingatan, untung bertemu
dengan Lohu."
Ji Bun melenggong, batinnya: mungkin dia mampu mengobati sakit gila? Tapi mengingat siapa dia
sebenarnya, kesan ini seketika lenyap, jengeknya dingin: "Kau tidak usah pura-pura, bukankah kau
mencariku?"
"Memang betul, aku mencarimu," ujar Biau-jiu Siansing terus terang.
"Bagus sekali, akupun sedang mencari kau."
"Persoalan kita sementara ditunda dulu, Lohu harus mengobati gadis yang sakit ingatan ini?"
"Apa betul kau mampu mengobati penyakit gila?"
"Omong kosong! Di seluruh pelosok kota Cinyang, tua-muda, besar kecil, siapa yang tidak kenal nama
Thian-gan-sin jiu?"
"Kuperingatkan jangan kau main-main terhadapku ......”
"Kalau hanya main-main buat apa aku harus mencarimu?"
"Jadi kau punya tujuan mencariku?"
Biau-jiu Siansing turunkan peti obatnya, katanya menggumam: "Kasihan, gadis ayu dan segar bugar
berubah begini rupa."
Tak sadar Ji Bun menanggapi: "Dia dipermainkan oleh Liok Kin, majikan muda Cip-po-hwe, sayang dia
tidak bisa mengatakan di mana tempat tinggalnya."
"Lohu tahu, rumahnya ada di pusat kota Cinyang, Dian Pek-ban yang terkenal adalah ayahnya."
"Dari kalangan Bu-lim juga?"
"Bukan, keluarga biasa yang mengukuhi adat leluhurnya, sebutir Ya-bing-cu (mutiara yang bersinar
ditempat gelap) warisan leluhur keluarga Dian telah lenyap tercuri orang, ternyata perbuatan Cip-po-hwe."
10.29. Salah Duga Terhadap Biau-jiu Siansing
Waktu rebutan Sek-hud di puncak Pek-ciok-hong dulu, Biau-jiu Siansing pernah menggunakan tingkat
kedudukannya yang lebih tinggi dikalangan Kangouw untuk merebut Sek-hud dari tangan Cip-po-hwe yang
terhitung bawahannya, hakikatnya mereka segolongan. Tanpa sadar Ji Bun menyeringai ejek, katanya:
"Mencuri mestika dan merusak paras ayu, dosa yang tidak terampunkan, bagaimana pendapatmu akan
perbuatan rendah dari golonganmu?"
Mendelik mata Biau-jiu Siansing, katanya kereng: "Keluarga punya aturan, negara ada undang-undang,
peristiwa ini merupakan pelanggaran di dunia Kang-ouw, Lohu pasti akan bertindak menurut aturan."
"Cayhe bersumpah pasti akan membunuh pemuda bergajul itu," kata Ji Bun dingin.
Biau-jiu Siansing tidak bicara lagi, beruntun dia menutuk beberapa Hiat-to di tubuh Dian Yong-yong,
seketika Dian Yong-yong terkulai lemas,. Lalu ia membuka peti obat dan mengeluarkan beberapa macam
obat, jumlahnya sekitar 10-an butir terus dijejalkan ke mulut Dian Yong-yong, lalu berkata: ”Sakit ingatan
tidak akan bisa diobati dengan obat saja, dia harus dibantu dengan pengobatan tusuk jarum, disini tidak
leluasa, dia harus diantar pulang dulu baru aku bisa bekerja ........”
"Apa, kau hendak meloloskan diri?" sela Ji Bun.
Pelan-pelan dan rapi sekali Biau-jiu Siansing memasukkan botol-botol obat ke dalam petinya pula, sesaat
kemudian baru dia berdiri, katanya: "Menolong orang seperti menolong kebakaran, terpaksa kau harus ikut
susah payah."
"Tidak bisa."
"Tidak bisa? Apa maksudmu?"
"Perhitungan kita sekarang harus dibereskan."
"Lho aneh, ada perhitungan apa di antara kita yang harus dibereskan?"
"Aku tidak punya tempo ngobrol dengan kau, barang yang kau kehendaki, dalam tiga hari pasti diantar
......”
Bingung, kaget dan heran sorot mata Biau-jiu Siansing, tanyanya menegas: "Lohu menghendaki barang
apa."
"Hud-sim!" bentak Ji Bun gemas.
"Hud-sim apa?"
Ji Bun acungkan telapak tangannya sambil mengancam: "Setelah kubelah batok kepalamu, kau pasti
tahu."
Lekas Biau jiu Siansing goyang tangan, katanya: “Jangan terburu nafsu, bicaralah dulu persoalannya, tadi
kau bilang apa? Hud-sim?"
Sikap dan tingkah orang betul-betul membuat Ji Bun kewalahan, ternyata orang begini licik dan licin
serta pandai main sandiwara pula, syarat yang dulu diajukan orang dan menghendaki barang pusaka itu,
tidak mungkin dia mungkir begini saja. Sekilas ia berpikir, lalu katanya dengan suara berat: "Tanggalkan ikat
kepalamu. Aku ingin membuktikan asal-usulmu yang sebenarnya."
"Asal-usulku kan tidak diukir di atas kepala?"
"Lebih baik lekas kau lakukan permintaanku."
Biau-jiu Siansing bergelak-gelak, pelan-pelan dia menarik ikat kepalanya dan seketika Ji Bun berdiri
melongo.
Ji Bun yakin bahwa orang-orang yang menyaru orang berkebok berjubah sutera, laki-laki muka hitam
komandan ronda Wi-to-hwe serta Kwe-loh-jin adalah duplikat Biau-jiu Siansing, akan tetapi kenyataan
sekarang membuktikan di atas jidat kanan orang ini ternyata tidak ada codet atau bekas luka apapun.
"Apa maksudmu memaksaku menanggalkan ikat kepala?" jengek Biau-jiu Siansing.
Ji Bun menyengir kikuk, katanya: "Sekarang Cayhe baru membuktikan bahwa engkau memang bukan
orang yang kusangka."
"Memangnya kau kira siapa aku ini?"
"Hal ini tidak perlu kukatakan."
"Orang yaog kau bayangkan tadi apa ada sangkut pautnya dengan Hud-sim?"
"Ya, tapi kau tidak perlu tahu."
"Anak keparat, kau terlalu angkuh, katakan, mungkin aku bisa memberi sedikit keterangan."
Ji Bun perpikir sebentar, katanya: "Menurut apa yang kau tahu, kecuali kau sendiri, siapa lagi yang
pandai menyaru dan pintar merias?"
Biau jiu Siansing menepekur sebentar, katanya: "Sukar dikatakan, kukira cukup banyak orang, soalnya
cuma pandai dan ahli atau tidak."
"Menurut pendapatmu tokoh-tokoh mana saja yang termasuk ahli dalam bidang ini?"
"Ehm .... Jian-bin-khek (tamu seribu muka), tapi orang ini sudah puluhan tahun tidak muncul di
Kangouw. Yu-ing-long-kun (Satria bayangan) sudah lama meninggal dunia, Pek-pian-kwi-li (setan
perempuan seratus perubahan), kabarnya kini sudah jadi biarawati."
"Kecuali itu?"
"KuKira tiada lagi yang dapat dikatakan ahli."
Ji Bun berpikir: Pek-pian-kwi-li adalah perempuan, tidak perlu dipikir, sudah meninggal, tinggal Jian-binkek
saja, walau sudah puluhan tahun tidak pernah muncul, siapa tahu kalau belakangan ini dia mulai beraksi
lagi? Kecuali ketiga orang ini, bukan mustahil anak murid mereka pasti ada yang berkelana di Kangouw,
namun soalnya tetap tidak terpecahkan, yaitu, kenapa dirinya yang menjadi incaran pembunuhan ini?
Biau-jiu Siansing berkata sambil mengawasi Yong-yong yang menggeletak di tanah: "Lebih penting
kutolong dia, Lohu boleh pergi bukan?"
"Nanti dulu."
"Masih ada persoalan apa?"
Maksud Ji Bun ingin tanya apakah dia majikan dari gedung setan, namun mengingat ada Khong-kok-lan
So Yan disana, sedang ibu tuanya menyangkal adanya Biau-jiu Siansing di sana, kalau soal ini sekarang dia
tanyakan berarti membocorkan rahasia ibu tuanya itu. Mungkin dulu Thian-thay-mo-ki salah dengar, atau
salah duga, maka pertanyaan yang sudah hampir dia ajukan segera ditelan kembali, benaknya memikirkan
soal lain yang lebih penting. Katanya: "Agaknya kau ini pelupa?"
"Pelupa? Apa maksudmu?"
"Kau pernah berjanji dalam jangka lima hari hendak mempertemukan aku dengan Jit-sing-ko-jin ......”
"O, ini .......”
Ji Bun manyeringai, jengeknya: "Kenapa kau membual belaka?"
Biau-jiu Siansing menghela napas dengan suara berat, katanya: "Untuk apakah kau sebenarnya ingin
bertemu dengan Jit-sing-ko-jin?"
"Jawab saja pertanyaanku, soal lain tidak perlu dibicarakan."
"Tapi Lohu ingin tahu duduk persoalannya?"
"Itu soal pribadiku, tidak perlu kau mengetahui."
Biau-jiu Siansing menunduk sedih, katanya kemudian: "Jit-sing-ko-jin sudah mati."
"Apa katamu?" bentak Ji Bun mendelik gusar sambil mendesak maju selangkah. "Biau-jiu Siansing,
ternyata kau begini rendah dan tidak tahu malu."
Sikap Biau-jiu Siansing tidak berubah, namun sorot matanya menjadi tajam dan gusar, desisnya geram:
"Anak muda, jangan takabur, dalam hal apa Lohu rendah dan tidak tahu malu?"
"Ji-sing-ko-jin sekomplotan dengan kau, berulang kali kau menjilat ludahmu sendiri, kini membual lagi."
"Siapa bilang aku membual?"
"Katamu dia sudah mampus, mana mayatnya? Buktikan?"
"Kau sendiri yang mengubur mayatnya."
"Aku?" seru Ji Bun berjingkrak kaget.
"Apakah kau sendiri tidak menemukan sesuatu di jalan raya Kayhong?"
"Soal apa yang kau maksud?" tanya Ji Bun gemetar.
"Kau pernah mengubur dua mayat orang, benar tidak?"
Bergetar tubuh Ji Bun, dari mana orang tahu dirinya pernah mengubur kedua mayat itu? Waktu itu hanya
dua petani yang menyaksikan, belakangan mereka lari secara diam-diam, mungkinkah gerak gerik dirinya
berada dalam genggamannya? Kalau demikian, rahasia pribadinya tentu juga sudah diketahuinya, sungguh
menakutkan sekali.
"Darimana kau tahu aku mengubur dua mayat?"
"Kudengar dari petani, kuyakin pelajar yang dimaksudkan pasti kau adanya, apalagi waktu itu tepat pada
hari yang kita janjikan."
"Memangnya kenapa kalau benar?"
"Salah satu dari kedua mayat itu adalah Jit-sing-ko-jin.”
Melotot besar biji mata Ji Bun, umpama Jit-sing-ko-jin menyaru ayahnya dan kepergok lalu keduanya
bertempur sampai kehabisan tenaga, orang ketiga lantas mengambil keuntungan membunuh mereka. Akan
tetapi orang berkedok yang dua kali mencelakai jiwanya dan jidatnya terluka oleh senjata rahasia Jit-swanhwi-
jim Thian-thay-mo-ki terang adalah duplikat Kwe-loh-jin yang misterius itu, memangnya ada liku-liku
apa yang tersembunyi di balik rangkaian kejadian ini, Ji Bun tidak bisa memecahkan persoalan yang rumit
ini. Semula dia kira bila berhadapan dengan Biau-jiu Siansing, maka segala soal akan terbongkar dengan
sendirinya, tapi kenyataan sekarang jauh di luar perhitungannya.
Lalu siapakah pembunuh Jit-sing-ko-jin dan ayahnya? Siapa pula sebetulnya Jit-sing-ko-jin ini? Bahwa
Biau-jiu Siansing sehaluan dengan Jit-sing-ko-jin sudah jelas, kemungkinan orang tahu seluk beluknya, maka
ia lantas bertanya: "Kalau betul katamu, lalu siapakah mayat seorang yang lain?”
"Ini .... aku sendiri tidak tahu."
"Baik, sekarang jelaskan, Jit-sing-ko-jin berdandan sebagai pelajar, kenapa berubah pakai kedok dan
jubah sutera?"
"Itu kan rahasia pribadinya."
"Tapi kau tahu rahasianya itu bukan?"
"Tidak tahu."
"Baik, umpama betul kau tidak tahu, sekarang kau harus menjawab sebuah pertanyaan lagi, siapakah
nama asli atau gelaran Jit-sing-ko-jin serta riwayat hidupnya?"
Biau-jiu Siansing menggeleng-geleng. "Tidak tahu," jawabnya. "Sekarang giliran aku bertanya apakah
setiap orang yang selalu bergaul dengan kau pasti kau ketahui riwayat dan asal-usulnya?"
Cep-klakep, Ji Bun tidak mampu bersuara lagi. Semakin dipikir, otaknya terasa semakin tumpul, seolaholah
dia menghadapi lautan mega yang tebal dan pekat, tiada sesuatu yang dapat dilihat dan diraba, air
mukanya berubah ganti berganti.
Ji Bun angkat tangan bergaya seperti merintangi, katanya: "Pokoknya sebelum memberi jawaban, kau
tidak boleh pergi."
"Anak muda, lain waktu kesempatan masih ada, biarlah aku menolong jiwa gadis ini."
"Tidak bisa, sekarang kau harus jawab pertanyaanku tadi."
"Memangnya kau tega melihat gadis ini semakin parah?"
Ji Bun menjadi bimbang, matanya melirik ke arah Dian Yong-yong, katanya kemudian dengan mengertak
gigi: "Baiklah, silakan, tapi ingat perhitungan kita belum beres."
"Anak muda, sebelum kau mencariku, mungkin aku akan mencarimu, terus terang, kalau selama ini aku
selalu mengalah dan memberi kelonggaran padamu juga ada sebabnya."
"Sebab apa?"
"Karena Lohu sudah berjanji kepada seseorang untuk melindungimu."
"Melindungi aku? Siapa yang suruh kau?" bentak Ji Bun kaget.
"Hartawan Kayhong, Ciang Wi-bin."
"Apa, kau mendapat pesan paman Ciang .....” kejut Ji Bun bukan kepalang, sekian lama dia berdiri
tertegun.
"Kau tidak percaya?" tanya Biau-jiau Siansing melihat kesangsian orang.
"Ya, sukar untuk dipercaya," sahut Ji Bun. "Kau bernama Ji Bun, putera tunggal Ji Ing-hong, benar
tidak?"
Ji Bun tersentak mundur tiga langkah, matanya terbeliak, mulut melongo, ternyata orang sudah tahu
asal-usul dirinya, agaknya memang tidak membual.
Berkata Biau-jiu Siansing lebih lanjut: "Ji Bun, Ciang Wi-bin dan Lohu adalah dua manusia yang senyawa,
puterinya itu sudah bersumpah takkan menikah kecuali kawin dengan kau, Ciang Wi-bin hanya punya anak
satu-satunya ini, dapatlah kau bayangkan sendiri betapa besar perhatian dan harapan yang dia limpahkan
padamu."
Ji Bun bergidik tanpa kedinginan, bahwa dia berjanji akan mempersunting Ciang Bing-cu setelah kadar
racun dalam tubuhnya dapat ditawarkan hanya alasan untuk mengulur waktu belaka, karena ilmu racun ini
hakikatnya tidak mungkin ditawarkan lagi, betapapun ia tidak tega menyia-nyiakan masa remaja Ciang Bingcu
yang molek itu. Maka katanya: "Kapan kau mendapat pesan itu?"
"Beberapa hari yang lalu, setelah kau meninggalkan gedung keluarga Ciang."
"Memangnya aku ini tidak mampu mempertahankan jiwa raga sendiri ....”
"Ji Bun, jangan angkuh dan keras kepala, Lwekangmu memang tinggi, namun pengalamanmu terlalu
cetek."
Ji Bun ragu-ragu, kecuali berhadapan dengan Ciang Wi-bin serta membuktikan sendiri, jelas soal ini tidak
bisa dibuktikan, teringat akan janjinya dengan Kwe-loh-jin dalam 10 hari ini, ia pikir sebagai jago silat
kawakan yang luas pengalamannya, mungkin Biau-jiu Siansing tahu asal-usul Kwe-loh-jin, semoga dia dapat
memberi keterangan, maka dia lantas berkata dengan sungguh-sungguh: "Apakah kau kenal seorang
bernama Kwe-loh-jin?"
"Kwe-loh-jin? Belum pernah dengar, macam apa dia?"
"Scorang laki-laki kekar berusia antara setengah abad."
"Sulit .... Lohu tak bisa meraba siapa dia. Tapi aku bisa perhatikan dan mencari tahu. Untuk apa kau
tanya dia?"
"Kalau kau tidak kenal dia, tidak perlu kuterangkan.”
"Jangan gegabah dan menuruti adatmu sendiri, katakanlah, mungkin aku bisa memberi tahu apa-apa
yang bermanfaat bagimu."
"Kau boleh silakan pergi saja."
Biau-jiu Siansing melengak sebentar, lalu dia kempit Dian Yong-yong terus melangkah pergi.
Ji Bun menghela napas berat, kepalanya terasa pening dan pikiran pepat menghadapi berbagai persoalan
yang tiada juntrungannya ini. Dia merasa kehabisan akal.
Dengan perasaan hambar dia melangkah kembali ke hotel di luar kota Cinyang dan mengeram di dalam
kamar selama tiga hari tanpa keluar, dia menunggu utusan si orang dalam tandu yang akan mengantar
Hud-sim kemari, dengan Hud-sim ini dia akan membuat barter dengan Kwe-loh-jin atas diri Pui Ci-hwi dan
anting-anting pualamnya itu.
Dikala orang-orang mulai menyulut pelita, seorang diri Ji Bun mondar-mandir dalam kamarnya, dia
memperhitungkan utusan orang dalam tandu pasti akan datang pada saat-saat tak lama ini.
Tiba-tiba seorang gadis manis berpakaian anak dusun sambil menenteng keranjang berjalan masuk,
mulutnya berkaok-kaok menjajakan dagangannya: "Kacang, kwaci, manisan!"
Setelah berputar di antara beberapa tamu, akhirnya dia berhenti di depan pintu kamar Ji Bun yang tidak
tertutup, katanya sambil berseri tawa: "Siangkong, belilah kacang, kwaci atau manisan dan lain-lain ........”
Ji Bun menggeleng kepala.
Mendadak gadis itu melangkah maju dan berkata sambil merendahkan suaranya: "Siangkong inikah Tegak
Suseng?"
Tersirap darah Ji Bun, tanyanya heran: "Siapa kau?"
"Aku adalah utusan majikan tandu berhias untuk mengantar sesuatu kepada Siangkong."
"O, silakan masuk."
“Jangan, banyak orang di sini, nanti menarik perhatian orang lain, aku harus lekas pulang memberi
laporan. Silakan Siangkong terima barang ini,” dari bawah keranjangnya dia menarik keluar sebuah buntalan
kain terus diangsurkan kepada Ji Bun. Cepat Ji Bun menerimanya, terasa benda ini cukup berat, belum lagi
dia sempat membuka buntalan kain itu, gadis dusun itu sudah melangkah pergi sambil berkaok-kaok pula
menjajakan dagangannya.
Lekas Ji Bun tutup pintu serta menyulut api, dia taruh buntalan itu di atas meja. Menghadapi buntalan
kain yang berisi pusaka persilatan, napas Ji Bun terasa sesak dan rada gemetar, entah berapa jiwa sudah
berkorban karena benda ini, namun masih banyak pula yang rela korbankan jiwa untuk merebutnya.
Sekarang barang ini diperolehnya tanpa mengeluarkan tenaga apapun. Setelah tenang perasaannya, lalu dia
buka buntalan itu, tertampak sebuah benda putih berbentuk seperti hati.
Lama ia mengamat-amati benda itu, dipegangnya dan dibolak-balik, ia periksa dengan teliti dan seksama.
terasa oleh Ji Bun kecuali mengkilap dan bersih, tiada sesuatu yang aneh dan mencurigakan pada benda ini,
lalu di manakah letak keajaiban batu ini? Tulen atau palsu juga sukar diketahui. Apakah mungkin Kwe-loh-jin
dapat membedakannya?
"Tok-tok-tok!" tiba-tiba ada orang mengetuk pintu, cepat Ji Bun bungkus lagi "Hati Buddha" itu dengan
kain semula, sementara mulutnya berseru: "Siapa?"
Terdengar suara pelayan di luar pintu: "Siangkong, inilah hamba mengantar hidangan malam."
Lekas Ji Bun buka pintu dan berkata: "Bawa masuk!"
Pelayan itu mengiakan, setelah menurunkan beberapa macam hidangan di atas meja, sekenanya dia
dorong buntalan kain itu ke pinggir meja, mendadak dia menjerit kaget: "Wah, berat betul!"
Ji Bun melotot kepadanya, katanya: "Keluarlah, kalau perlu akan kupanggil."
Sebelum beranjak pergi pelayan itu merogoh-rogoh kantong baju dan celananya, akhirnya dia keluarkan
secarik kertas yang kumal dan berkata: "Siangkong, tadi ada seorang tamu minta menyampaikan surat ini
padamu."
Tergerak hati Ji Bun, dia sudah maklum, tanpa bicara dia terima surat itu dan ditaruh di meja, setelah
pelayan keluar baru Ji Bun makan minum seorang diri sambil membuka surat itu.
Hanya sebaris kata yang berbunyi:
"Kentongan ketiga nanti lima li ke arah barat, bawa barang itu dan temui aku di sana. Perhatikan: jangan
sampai dikuntit orang. Kwe-loh-jin."
Ji Bun bakar surat itu, hatinya diam-diam gelisah dan was-was, baru saja barang ini diantar kemari,
namun Kwe-loh-jin sudah lantas tahu, gerak-geriknya seperti setan yang sukar ditangkap juntrungannya,
sungguh sukar menghadapi bangkotan semacam ini. Seorang diri dia habiskan beberapa cangkir arak untuk
menghabiskan waktu, pikirannya terus bekerja, cara bagaimana malam nanti dia harus bekerja.
Setelah kedua pihak menukar barang-barang yang diinginkan, secara mendadak dia harus membekuknya
dan mengompes keterangan teka-teki yang selalu menghantui sanubarirya selama ini, soalnya apakah di
dalam permainan barter ini Kwe-loh-jin bakal menggunakan akal licik, karena sepak terjang orang selama ini
terlalu licin, hal ini harus diperhatikan. Namun dia juga tahu betapapun dia waspada, yang jelas dirinya
berada dipihak yang tidak menguntungkan.
Kehilangan Hud-sim bagi dirinya tidak menjadi soal, keselamatan jiwa Pui Ci-bwi juga bukan
perhatiannya, yang penting hanyalah anting-anting pualam itu dan membongkar kedok asli orang. Begini
mudah Wi-to-hwe mau menyerahkan Hud-sim, mustahil pihak mereka tidak bertindak secara diam-diam?
Betapa banyak jago-jago silat Wi-to-hwe, masakah mereka berpeluk tangan dan mau dirugikan, apakah
mereka tidak curiga terhadap dirinya? Kalau dirinya mau bertindak secara tamak, mencaplok Hud-sim dan
tinggal pergi, bukankah mereka akan kehilangan segalanya?
Setelah pelayan kukuti mangkok piring, Ji Bun lantas merebahkan diri di atas ranjang, baru saja
kentongan ketiga bertalu di kejauhan, Ji Bun segera kempit buntalan Hud-sim terus melompat luar lewat
jendela.
Dengan kencang Ji Bun lari ke arah barat, sepanjang jalan dia selalu perhatikan belakangnya kalau-kalau
ada orang menguntitnya, namun sekian jauh dia tidak melihat tanda-tanda yang mencurigakan.
Kwe-loh-jin hanya bilang lima li ke arah barat tanpa menyebut nama tempatnya, dari sini lebih
mempertegas tindak-tanduknya yang licik dan licin serta banyak akal. Menurut perhitungannya sekarang, dia
sudah berlari hampir lima li jauhnya. Mendadak kumandang sebuah suara dari dalam hutan tak jauh di
depan sana: "Te-gak Suseng, sudah kau bawa barang itu?"
Ji Bun berhenti dan mendengarkan dengan seksama, dia membedakan arah datangnya suara. Terdengar
suara itu berkata pula: "Lebih baik kau jangan bertindak serampangan, atau kau ingin membatalkan barter
ini?"
Memuncak amarah Ji Bun, serunya geram. "Kwe-loh-jin. kau tidak berani unjuk diri?"
"Kita hanya bicara soal barter saja."
“Barang sudah kubawa, cara bagaimana menukarnya?"
"Boleh kau taruh barang itu di atas batu di sebelah kiri tempat kau berdiri sekarang."
Dingin perasaan hati Ji Bun, agaknya rencana yang dirancangnya tadi tak berguna lagi, katanya: "Apa
maksudmu?"
"Taruh saja di tempat yang kutunjuk, Lohu akan mengambilnya sendiri."
"Lalu mana anting-anting dan gadis itu?"
"Membelok ke timur, kau akan menemukan sebuah kelenteng kecil, anting-anting dan gadis itu berada di
dalam kelenteng."
Ji Bun mengertak gigi saking gemasnya, desisnya: "Kau tidak ingin membuktikan tulen atau palsunya
barang ini?"
Kwe-loh-jin terkekeh-kekeh, katanya: "Lohu percaya padamu."
Apa boleh buat, agaknya orang memang tidak ingin berhadapan muka dengan dirinya, kalau kesempatan
ini hilang, selanjutnya jangan harap dirinya bisa menemukan jejak orang, diam-diam ia perhitungkan tempat
sembunyi orang serta jaraknya, ia siap bertindak.
Tak terduga ketika suara Kwe-loh-jin berkata pula, tempatnya sudah berpindah: "Te-gak Suseng,
bekerjalah menurut petunjukku. Terus terang, dengan kepandaian dan gerak gerikmu sekarang kau belum
mampu memaksa aku keluar, gadis pujaanmu itu kena kututuk dengan ilmu khusus, kalau dalam satu jam
tidak lekas ditolong mungkin akan menjadi cacat."
Tidak kepalang gusar Ji Bun, teriaknya: "Keparat, licik benar kau ......”
"Umpama betul, maksud Lohu hanya untuk menyelesaikan barter ini, tidak ada maksud lain."
"Betapapun aku tidak bisa mempercayai obrolanmu?"
"Itu terserah, kalau barter kali im gagal, Lohu masih bisa membuat kontak dengan pihak Wi-to-hwe
untuk membicarakan soal ini, soal anting-antingmu itu, jangan harap kau bisa mengambilnya kembali."
Serasa meledak kepala Ji Bun karena amarah yang meluap-luap, namun ia tidak mampu berbuat apaapa,
tak mungkin dia bertindak menurut rencananya tadi.
"Bagaimana, lekas putuskan."
"Baik," pada saat suaranya masih kumandang, secara kilat Ji Bun menubruk ke arah datangnya suara,
namun bayangan setanpun tidak dilihatnya, kini suara itu berkumandang pula dari arah lain, nadanya
mengejek: "Anak muda, jangan kau membuang waktu percuma, kalau nona itu menjadi cacat, bagaimana
kau harus memberi pertanggungan jawab kepada Wi-to-hwe?"
10.30. Cinta-Dendam Tak Bisa Berdampingan
Dengan uring-uringan Ji Bun putar ke tempat semua, walau hatinya tidak rela, namun apa boleh buat,
diam-diam ia sesalkan dirinya yang terlalu angkuh dan suka membawa adatnya sendiri, kenapa petunjuk
Biau-jiu Siansing diabaikan untuk membicarakan persoalan ini, kalau dia mau membantu secara diam-diam,
jelas Kwe-loh-jin takkan mampu menyembunyikan diri lagi, namun menyesal sudah kasip dan tak berguna,
kini dia harus mengaku kalah, bagaimanapun anting-anting pualam itu harus segera direbut kembali, lalu
mencari tahu asal-usul lawan dari mulut Pui Ci-hwi. Maka ia lantas keluarkan Hud-sim serta menaruh di atas
batu, serunya: "Kwe-loh-jin, anggaplah kau yang menang, nah inilah kutaruh di sini."
Kwe-loh-jin tergelak-gelak kesenangan, serunya: "Sekarang boleh kau pergi ambil barangmu."
Ji Bun menekan rasa gemasnya, cepat ia meluncur ke arah timur. Jarak tiga li sekejap saja sudah
dicapainya, memang di atas gundukan tanah di tengah hutan sana bertengger sebuah kelenteng kecil,
suasana gelap dan sunyi seram.
Ji Bun kuatir ditipu, lekas dia dorong pintu terus melangkah masuk, di bawah meja sembayang,
dilihatnya meringkel sesosok tubuh, memang dia bukan lain Pui Ci-hwi adanya. Sementara anting-anting
pualam di taruh di atas meja. Dia jemput anting-anting itu lebih dulu, setelah diperiksa dan, tidak kurang
suatu apa barulah lega hatinya, dia simpan ke dalam kantong lalu memeriksa keadaan Pui Ci-hwi.
Tampak wajahnya pucat dan kurus, kedua matanya terpejam, keadaannya seperti tidur pulas,
napasnyapun teratur, bertambah lega hati Ji Bun. Di mana tutukan Hiat-to Kwe-loh-jin harus memeriksanya
dulu baru akan diketahuinya, hal ini membuatnya ragu-ragu. Memang Pui Ci-hwi adalah musuh, dia boleh
membunuhnya, namun dia tidak berani menyentuhnya. Tapi keadaan sekarang tidak memberi waktu
kepadanya untuk bimbang. Terpaksa dia keraskan kepala, dengan jari-jari gemetar dia pegang urat nadi
pergelangan tangan si nona tidak ada tanda apa-apa, lalu dia bergantian meraba tempat lain, terasa empuk
licin dan halus, setelah sekujur badan orang dia raba kian kemari tetap tidak menemukan apa-apa, ditambah
bau harum gadis jelita, seketika jantung Ji Bun berdebur keras sekali.
Memangnya dia pernah kasmaran terhadap gadis jelita ini, namun situasi kemudian yang kejam ini telah
mengubah segalanya.
Setelah dia periksa semua Hiat-to sekujur badannya, dan tidak menemukan keanehan apa-apa, diteliti air
mukanya, baru mendadak dia sadar kemungkinan si nona terpengaruh oleh obat racun yang menidurkan,
jadi bukan lantaran Hiat-tonya tertutuk seperti apa yang dikatakan Kwe-loh-jin.
Menawarkan racun bagi Ji Bun bukan kerja yang sulit, lekas dia keluarkan sebutir Pit-tok-tan yang selalu
dibawanya dan dijejalkannya ke mulut Pui Ci-hwi, hanya dalam sekejap saja Pui Ci-hwi sudah bergerak dan
siuman, dengan mengeluh lirih dia membalik tubuh.
"Hah, kau ......" teriaknya sambil merangkak bangun, agaknya dia kaget dan heran melihat keadaan
dirinya ditempat asing ini.
Sekuatnya Ji Bun tekan perasaannya yang berkobar tadi, katanya dingin: "Nona Pui merasa tidak apa
bukan?"
Sekejap Pui Ci-hwi menatap Ji Bun, tanyanya dingin: "Apa yang telah terjadi?"
Di bawah cahaya remang bintang-bintang di langit, Ji Bun melihat wajah si nona murung dan masgul
seperti semula sebelum diculik Kwe-loh-jin tempo hari, walau menghadapi musuh besar, namun sedikitpun
tidak gentar. Tapi Ji Bun tidak peduli akan sikapnya ini, katanya terus terang: "Perkumpulanmu
mengeluarkan imbalan yang cukup besar untuk menolong jiwa nona melalui tanganku."
"Apa ...... apa katamu?"
"Nona sekarang sudah merdeka."
"Maksudmu dengan imbalan tadi?"
"Ya, Wi-to-hwe sudah mengeluarkan imbalannya."
"Imbalan apa?"
"Dengan Hud-sim, kau ditukar dari tangan Kwe-loh-jin."
"Hud-sim?" teriak Pui Ci-hwi keras-keras, mukanya yang semula dingin kaku kini berubah haru dan sedih,
suaranya gemetar: “Katamu Hud-sim? Untuk menebus diriku?"
Tiba-tiba dia menjambak rambut kepalanya sendiri, badannya terbungkuk-bungkuk dan sempoyongan,
mulutnya berteriak-teriak seperti orang kalap: "Hud-sim adalah benda yang tak ternilai harganya, aku tidak
setimpal, aku .... aku tidak .... tidak setimpal ....”
Ji Bun jadi ketarik dan ingin tahu, tanyanya: "Tidak setimpal? Kenapa?”
Seperti orang mengigau Pui Ci-hwi berkata: "Dosaku terlalu besar, mampuspun tidak setimpal untuk
menebusnya."
Ji Bun melengak, dia tidak tahu apa arti ucapan Pui Ci-hwi, walau dia tidak ingin mengorek rahasia
orang, namun tak urung dia bertanya pula, "Apa maksud nona dengan katamu tadi?"
Membesi muka Pui Ci-hwi, katanya sepatah demi sepatah: "Aku ini orang yang patut mati, tidak perlu Gihu
mengeluarkan imbalan sebesar itu.”
"Gi-hu (ayah angkat)? Siapa ayah angkat nona?" tanya Ji Bun.
Sedikit ragu-ragu akhirnya Pui Ci-hwi berkata dengan tegas: "Wi-to-hwecu.”
"O!" baru sekarang Ji Bun mengerti, waktu pertama kali dirinya naik ke Tong-pek-san, Pui Ci-hwi pernah
mengaku dirinya terhitung setengah majikan di sana, kiranya dia adalah anak angkat ketua Wi-to-hwe, tapi
kenapa dia bilang dirinya patut mampus?"
Semula Ji Bun kira orang adalah murid Pek-ciok Sin-ni, belakangan baru diketahui bahwa dugaan
meleset, namun dari terjadinya peristiwa Sek-hud tempo hari, dapatlah disimpulkan kalau Wi-to-hwe pasti
ada hubungan erat dengan Pek-ciok Sin-ni, namun hal ini tidak perlu dia ketahui lebih lanjut. Sekarang dia
alihkan pembicaraan pada persoalan yang pokok: "Nona patut mati, apa maksudmu?"
"Karena .... karena aku merusak diriku sendiri, juga membikin kotor nama baik Gihu, lebih celaka lagi aku
telah menyia-nyiakan kebaikan orang-orang yang memperhatikan diriku, sekarang ketambahan lagi kejadian
ini, matipun belum setimpal menebus dosaku."
"Cayhe tidak mengerti," ujar Ji Bun.
Tiba-tiba Pui Ci-hwi menarik muka, katanya dengan nada haru dan tandas: "Bolehkah aku mohon
sesuatu padamu?"
"Memohon kepada Cayhe ..... soal apa?"
"Sukakah kau tolong aku membunuh Liok-kin.”
Ji Bun heran dan tidak mengerti, si nona pernah jatuh cinta pada pemuda itu, pernah ditipu, pernah pula
memohonkan ampun kepada Jay-ih-lo-sat yang hendak membunuhnya, kini dia minta padanya untuk
membunuhnya, kenapa begini? Serta merta dia terbayang kepada Dian Yong-yong, gadis jelita yang menjadi
gila karena dipermainkan cintanya, rasanya dia menjadi paham sedikit, tanpa terasa, dia bertanya:
"Membunuh Liok-kin keparat itu? Bukankah nona pernah menyintainya?"
Gemetar dan berkerut-kerut kulit muka Pui Ci-hwi, sorot matanya memancarkan sinar hijau yang diliputi
napsu dendam dan membunuh, teriaknya bengis: "Ya, aku pernah mencintainya, tapi sekarang aku ingin
membunuhnya, karena dia telah menodai aku ......."
"Menodai kau?"
"Ya, dia menodai kesucianku!"
Berubah air muka Ji Bun, timbul pula perasaan aneh yang sukar diutarakan dengan kata-kata. Maklumlah
dulu dia pernah terpikat dan mengejar gadis pujaan hatinya dengan bertepuk sebelah tangan, namun
karena keadaan situasi memaksa sehingga belakangan berubah perasaan ini, cinta pertama yang pernah
membuat getir hatinya sudah lama terpendam, namun asmara yang terpendam ini akan timbul bila
dipengaruhi oleh sesuatu. Kini bak sebentuk batu pualam yang semula mulus bersih dan kini telah retak dan
cacat, warnanya luntur lagi, si nona tidak sebersih dan sesuci dulu pula.
Tak heran sekarang dia kelihatan seperti kehilangan gairah hidup, sikapnya begitu aneh dan
bertentangan terhadap Liok Kin bocah keparat itu, serta merta terbakar rasa cemburunya, tanpa pikir segera
ia berkata: "Untuk ini aku menerimanya, sebetulnya aku memang ingin membunuhnya."
"Siangkong," kata Pui Ci-hwi tertawa, getir, "tiada yang dapat kuberikan untuk membalas kebaikanmu,
terimalah ucapan terima kasihku dulu."
Sebutan yang mendadak berubah ini terasa asing dan risi bagi pendengaran Ji Bun. namun menimbulkan
perasaan kecut dalam sanubarinya, katanya tawar: "Tidak perlu nona sungkan-sungkan."
Ragu-ragu sebentar, tampak wajah Pui Ci-hwi yang kurus pucat bersemu merah, katanya dengan tertawa
getir: "Siangkong, terpaksa aku harus berterus terang, aku tahu bagaimana perasaan dan sikapmu dulu
padaku, soalnya kesanku terlalu jelek akan, nama gelaranmu, maka tidak kuterima maksud baikmu itu.
Sekarang segalanya sudah terlambat .....”
Habis berkata dengan sedih ia menangis sambil menunduk.
Kusut pikiran Ji Bun, perasaannya menjadi tidak karuan darahnya bergolak, ingin juga dia melimpahkan
isi hatinya. Walau sudah terlambat, dia dapat memaafkannya. Namun dia tidak kuasa buka suara, karena
segala ini tidak mungkin terjadi. Memang cinta dan dendam tak bisa berdampingan, apa lagi sekarang si
nona bukan gadis lagi ......”
Mendadak Pui Ci-hwi berteriak kalap, tangannya terayun terus mengepruk batok kepalanya sendiri.
Kejadian berubah amat mendadak, tak sempat berpikir bagi Ji Bun, secara refleks tangannya menyampuk.
"Plak", Pui Ci-hwi kontan jatuh tersungkur, darah meleleh dari mulutnya. Dia ingin buka suara, namun hanya
mulutnya bergerak beberapa kali terus jatuh semaput. Ji Bun berkeringat dingin, dalam detik-detik yang
menentukan tadi, syukur dia masih sempat menyelamatkan jiwanya.
"Amitha Bundha!" tiba-tiba berkumandang sabda Buddha yang keras dari samping. Dengan kaget Ji Bun
membalik tubuh sambil menyingkir ke samping, tampak seorang Hwesio kereng berperawakan tinggi besar
entah sejak kapan sudah berdiri disampingnya.
Setelah melihat jelas baru dikenalinya bahwa yang datang adalah Thong-sian Hwesio yang punya
kemampuan luar biasa itu.
Kedua biji mata Thong-sian kelihatan berkilauan seperti mutiara di malam gelap, sinar matanya
memancar terang dan mengejutkan.
Dingin perasaan Ji Bun, katanya setelah menarik napas sambil memberi hormat: "Cayhe unjuk hormat
pada Taysu"
“Tidak usahlah, syukur barusan kau telah menolong jiwanya," mulut bicara kepada Ji Bun, namun sorot
mata Thong-sian tertuju ke arah Pui Ci-hwi.
Thong-sian Hwesio menggembol sebuah buntalan kain, tanpa sadar dia menjerit kaget: "Hud-sim?"
Tubuhnya gemetar, kakipun menyurut mundur, barang ini bukankah sudah dia serahkan pada Kwe-lohjin,
bagaimana bisa terjatuh ke tangan Thong-sian Hwesio?
“Betul, memang inilah Hud-sim yang tadi kau bawa," ujar Thong-sian kalem.
“Taysu ...... bagaimana bisa ......”
"Manusia culas dan tamak, mana boleh dia dibiarkan malang melintang sesukanya?"
"Apakah Kwe-loh-jin sudah Taysu .........”
"Mungkin ajalnya belum tiba, begitu kau taruh Hud-sim di atas batu, pinceng terburu nafsu, sebelum dia
muncul, aku lantas mengambil Hud-sim ini, agaknya dia tahu diri terus melarikan diri, jadi sejak itu dia tidak
menampakkan diri."
"O," Ji Bun baru paham. Jadi setelah orang dalam tandu suruh orang mengantar Hud-sim kepadanya,
lalu iapun mengatur rencana, seperti walang hendak mencaplok tonggeret, tidak disadari bahwa burung
gereja juga sudah siap menerkam di belakangnya. Betapapun licik dan licinnya Kwe-loh-jin, ternyata dia
tidak mampu berbuat apa-apa, tapi dari kejadian ini, Ji Bun yakin pula bahwa Thong-sian Hwesio telah
menjadi anggota Wi-to-hwe.
Semula dia hendak mengorek keterangan dari mulut Pui Ci-hwi, tak terduga perkembangan belakangan
ini semua berada di luar perhitungannya, kini Thong-sian muncul, rencananya semula terang gagal total
pula, karuan hatinya menjadi masgul, patah semangat dan penasaran pula.
Sementara itu Thong-sian sedang membungkuk memeriksa keadaan Pui Ci-hwi, katanya: "Kasihan gadis
ini tersiksa begini rupa."
Nadanya iba dan mengandung perasaan dekat. Ji Bun ikut merasa terharu, dari sini ia dapat menarik
kesimpulan bahwa Thong-sian Hwesio pasti mempunyai hubungan luar biasa dengan Wi-to-hwe. Dengan
bertambahnya seorang Thong-sian Hwesio, terang beban dirinya di dalam menyelusuri jejak musuhmusuhnya
akan bertambah berat. Seorang Thong-sian saja bukan tandingannya, maka dapatlah
dibayangkan betapa sukar usaha dirinya untuk menuntut balas.
Lekas sekali Pui Ci-hwi sudah siuman dari pingsannya atas pertolongan Thong-sian, katanya dengan
hambar: "Aku ...... belum mati? Kenapa ti ..... tidak biarkan aku mati saja ....." lambat dia angkat kepala dan
memutar biji matanya, setelah melihat jelas orang yang menolong dirinya, seketika dia menjerit: "Taysuhu,
kau ..... siapa kau?
Agaknya dia belum kenal Thong-sian Hwesio. Waktu Ngo-lui-kiong menyerbu Wi-to-hwe dan Thong-sian
Hwesio muncul tempo hari, kebetulan dia sedang mengembara di luar, jadi tidak mengenalnya.
"Anak manis," ujar Thong-sian welas asih, "Pinceng adalah sahabat baik ayahmu."
"O, kau .......”
"Sekarang mari ikut aku pulang ke gunung.”
"Tidak ..... aku tidak mau, malu aku bertemu dengan siapapun.”
"Anak bodoh .......”
“Oh, tidak ...." teriak Pui Ci-hwi dengan sesambatan, tangisnya begitu sedih memilukan, tangis seorang
gadis yang menyesali nasibnya setelah kesuciannya ternoda.
Ji Bun merasa tak perlu berada di sini lebih lama, kesannya cukup baik terhadap Hwesio yang pernah
menolong dirinya ini, maka dengan hormat dia berkata: "Taysu, Cayhe mohon diri.”
Pada saat itulah, mendadak Pui Ci-hwi berseru melengking, badannya mencelat ke atas terus terbanting
jatuh dan berkelejetan, buih keluar dari mulutnya dan tidak sadarkan diri.
Ji Bun kaget, dia tarik kakinya yang sudah melangkah itu. Thong-sian Hwesio juga merasa di luar
dugaan, serunya: "Apa yang terjadi?"
Ji Bun juga tidak mengerti, kalau ada orang membokong, jangan kata dirinya, dengan kehadiran Thongsian
di sini, nyamuk terbangpun diketahui, masakah bisa mengelabui mereka. Mungkinkah sampukan
tangannya tadi terlalu berat, maklumlah gerakan refleks untuk menyelamatkan jiwanya, namun setelah
diperiksa dan diobati kesehatannya sudah sembuh, ialu apa yang terjadi?
Agaknya Thong-sian juga tidak berhasil menemukan sebab musababnya, katanya uring-uringan: "Aneh,
aneh!"
Tiba-tiba tergerak hati Ji Bun, pikirnya: "Kwe-loh-jin teramat culas dan licin, bukan mustahil dia telah
menaruh apa-apa atas tubuh Pui Ci-hwi, segera dia berkata: "Taysu, bolehkah Cayhe memeriksanya?"
"Ya," Thong-sian mengiakan sambil mundur.
Dengan pengalamannya yang luar biasa dalam bidangnya, dengan seksama Ji Bun memeriksa, tiba-tiba
dia menjerit kaget dan melotot: "Racun!"
Terpancar sinar terang dari Thong-sian, katanya gemetar: "Apa racun? Kabarnya Sicu cukup ahli dalam
permainan racun, racun apakah yang mengenai dia?"
"Entahlah," sahut Ji Bun haru dan penuh emosi, "racun ini sebelumnya tidak pernah kulihat."
"Apa bisa ditawarkan?"
"Akan kucoba," lalu dia keluarkan tiga butir Pit-tok-tan dan diserahkan kepada Thong-sian. Thong-sian
memijat dagu Pui Ci-hwi sehingga mulutnya terbuka, ketiga butir pil itu terus dia jejalkan ke dalam mulut,
kembali dia menutuk sekali di Ho-ciat-hiat, sehingga ketiga butir pil tertelan ke dalam perut.
Lama ditunggu tetap tidak membawa reaksi. Tak sabar Ji Bun, ia coba memeriksa bibir, kelopak mata
dan lidahnya, akhirnya dia berkata. "Tak berguna. Racun apakah ini, begini ganas?"
Tiba-tiba berkumandang sebuah suara yang sudah amat dikenalnya dari luar pintu: "Itu namanya Giamong-
ling (perintah raja akhirat), tiada orang yang dapat menawarkannya di jagat ini."
"Kwe-loh-jin!" teriak Ji Bun. Sebat sekali ia melesat keluar pintu, gerakannya boleh dikatakan secepat
percikan api. Namun setiba di luar, tak dilihatnya bayangan orang. Dengan menggeram segera dia lompat
naik ke atap rumah, selepas mata memandang, tiada sesuatu yang dilihatnya, terpaksa dia lompat turun
kembali ke dalam kelenteng.
Dilihatnya Thong-sian masih berjaga disamping Pui Ci-hwi, pikirnya, Hwesio ini amat tabah, dengan
Lwekang dan kepandaiannya, kalau dia mau tentu gerak-gerik lawan dapat diikuti.
Agaknya Thong-sian dapat meraba isi hati Ji Bun, katanya tawar: "Dia kemari dengan maksud dan tujuan
tertentu, kau tidak perlu memaksa dia nanti dia akan keluar sendiri, kini dia ada di belakang kelenteng."
Dalam hati Ji Bun merasa ngeri, namun iapun memuji akan kepintaran dan pengalaman orang yang luas.
Betul juga dari atap rumah sebelah belakang segera terdengar Kwe-loh-jin bersuara: "Thong-sian memang
kau lebih pintar."
Tegak alis Ji Bun, tanyanya: "Dari mana Taysu tahu?"
"Waktu dia bicara, kata-katanya yang terakhir diucapkan menjurus ke kiri, jadi dia bicara sudah tidak di
tempatnya semula, ini membuktikan dia berkisar dari arah kiri ke belakang, begitu habis kata-katanya,
bayangannyapun lenyap dari tempat semula, maka percuma Siau-sicu hendak mencarinya."
Ji Bun membentak gusar: "Kalau kau berani hayo unjukkan dirimu, kenapa malu sembunyi seperti
bangsa kunyuk?"
Kwe-loh-jin terloroh-loroh, seringan daun jatuh dia melayang turun di pekarangan. Terpancar sinar
membara dari mata Ji Bun, otot hijau menonjol di jidatnya kakinya sudah melangkah dan hendak .....
Kwe-loh jin angkat sebelah tangannya, katanya: "Te-gak Suseng, lebih baik jangan kau turun tangan,
cukup hanya sepatah kataku saja kau akan mampus tanpa ada liang kubur."
"Bagus, ingin aku mencobanya,” tantang Ji Bun berani.
“Anak muda," jengek Kwe-loh-jin kau tidak ingin aku membongkar rahasia pribadimu bukan?"
Ji Bun tertegun, tanyanya gemetar: "Apa maksudmu?"
"Kalau rahasia pribadimu kubeberkan hah, kau tahu betapa banyak orang yang menginginkan jiwamu."
Perasaan dingin menjalari sekujur badan Ji Bun. berdiri bulu kuduknya, agaknya Kwe-loh-jin juga tahu
tentang asal-usulnya, ini sungguh menakutkan, memangnya siapa dan dari golongan manakah dia? Ya,
kalau dia pernah menyamar sebagai ayah dan pernah membunuh dirinya, sudah tentu dia jelas mengetahui
seluk-beluk pribadinya, hal ini tidak perlu dibuat heran, namun apa sebabnya sampai berulang kali dia
berusaha membunuh aku?
Terdengar Thong-sian membuka suara dengan kalem dan tandas: "Sicu, inikah Kwe-loh-jin? Apa
tujuanmu?"
"Ah, masakah perlu ditanya lagi."
"Tujuanmu pada Hud-sim ini?"
"Ya, Hud-sim bisa kuganti dengan obat penawar?"
"Kau kira Pinceng mau terima?"
"Tentu saja, kecuali kau tidak pedulikan jiwa nona itu."
"Apa kau tidak pikir, untuk membunuh bagi Pinceng bukan kerja berat?"
"Ha ha ha, Thong-sian. Hal ini sudah kuperhitungkan, aku yakin kau tidak akan turun tangan terhadapku.
Memangnya kau tega melihat dia mampus."
"Dia tidak akan mati, bukan kau saja yang pandai bermain racun."
"Betul, tapi jangan lupa, Giam-ong-ling adalah racun yang sudah lenyap selama ratusan tahun dari Kangouw,
kuyakin pasti tiada orang yang mampu menawarkannya, jangan kau kira Cui Bu-tok si keledai kurus itu
mampu, ah, dia masih terpaut jauh sekali."
Thong-sian menjawab sekata demi sekata: "Jika kutukar jiwanya dengan jiwamu, sekaligus untuk
melenyapkan bencana bagi insan persilatan bagaimana?"
Kwe-loh-jin sedikitpun tidak gentar, katanya. mantap: "Kuyakin kau takkan berbuat demikian, kalau
tidak, sejak tadi kau sudah beraksi."
"Apakah Sicu yakin betul?"
"Sudah tentu, umpamanya kan ingin meringkus diriku untuk paksa menyerahkan obat penawarnya, tapi
obat penawarnya tidak kubawa, jadi kau tetap tidak akan bisa menukar jiwanya dengan obat penawar itu,
soalnya aku juga hanya menjalankan perintah."
"Sicu ...... menjalankan perintah siapa?"
"Mungkinkah kujawab pertanyaan ini?"
"Pinceng yakin tiada orang yang tidak takut mati, demikian pula kau."
"Tapi jiwa ragaku ini sudah kuserahkan kepada seseorang, aku tidak lagi berkewajiban melindungi jiwa
ragaku sendiri."
Ji Bun tidak tahan lagi, sambil menggerung dia menubruk maju, seiring dengan tubrukan pukulannya pun
dilontarkan secepat kilat. "Blang"
Ji Bun tergentak turun ke tanah, sementara Kwe-loh-jin terhuyung empat langkah baru berdiri tegak
pula. Sedikit merandek segera Ji Bun bergerak maju serta menyerang pula.
"Berhenti!" bentak Kwe-loh-jin sambil mengegos ke samping.
Karena serangannya luput, serta merta Ji Bun menghentikan aksinya.
"Anak muda," ancam Kwe-loh-jin, "memangnya kau ingin kubongkar rahasia pribadimu?"
Benci Ji Bun setengah mati, dia menjadi nekat, jawabnya: "Katakan saja, aku tidak peduli, yang terang
kau tidak akan hidup lewat hari ini."
Kwe-loh-jin terkekeh-kekeh, serunya: "Apa kau tidak pikirkan keselamatan jiwa ibumu?"
Seperti disamber geledek kejut Ji Bun, dengan terbeliak dia menyurut mundur, sejak Jit-sing-po hancur,
baru pertama kali ini mendengar berita tentang ibunya, agaknya bukan saja orang tahu jelas seluk beluk
dirinya, malah ibunya yang hilang dan jejaknya sekarang diketahui, jelas di balik batu pasti ada udang,
sumber berita ini betapapun takkan begini saja, maka dengan penuh emosi dia berteriak: "Kau tahu jejak
ibuku? Di mana beliau?
"Kini bukan waktunya ngobrol, kau paham maksudku?"
"Jangan kau bertingkah .....”
"Anak muda, persoalanmu boleh dikesamping dulu, setelah urusanmu di sini beres baru kita selesaikan
pula perhitungan lain," kata Kwe-loh-jin.
Apa boleh buat, demi keselamatan ibundanya, terpaksa Ji Bun mundur setombak lebih, betapapun dia
pantang melakukan kecerobohan yang akan membahayakan jiwa ibunya, asal ibu beranak bisa kumpul
kembali, dia tidak peduli pengorbanan apapun yang harus dia pertaruhkan.
Kwe-loh-jin bekerja atas perintah orang, memangnya siapa orang yang berada di belakang layar itu?
Waktu dia membunuh diriku memangnya juga atas perintah? Adakah hubungannya dengan hancurnya Jitsing-
po serta kematian ayahnya? Pikir punya pikir, Ji Bun sampai berdiri menjublek, namun darah dalam
tubuhnya masih mendidih. Memang dalam suasana yang menegangkan ini, persoalan begini ruwet sehingga
tiada kesempatan baginya untuk berpikir.
Kini Kwe-loh-jin menghadapi Thong-sian, katanya dingin: "Thong-sian, kau mau menyerahkan Hud-sim?”
Melotot bagai kelereng biji mata Thong-sian, tatapannya begitu tajam dan mengerikan, katanya dengan
suara berat: "Sicu harus katakan dulu atas perintah siapa kau bekerja?"
"Hal itu terang tidak mungkin kukatakan."
"Agaknya Pinceng terpaksa harus melanggar pantangan untuk menamatkan riwayatmu .....”
"Lohu tidak takut diancam, "jawab Kwe-loh-jin. "Thong-sian, setengah jam lagi nona ini akan berubah
menjadi cairan darah, sampai tulang belulangnya luluh, nah boleh kau tunggu dan saksikan sendiri."
Sekejap Thong-sian berpaling memandang Pui Ci-wi, tampak kaki tangannya meringkel, mukanya merah
legam kehitaman, matanya terpejam, mulutnya megap-megap, agaknya amat menderita dan tersiksa sekali.
"Mana obat penawarnya?"
"Kau mau serahkan Hud-sim?"
"Baiklah, sementara ini Pinceng mengaku kalah."
"Bagus, nah serahkan Hud-sim kepadaku."
"Sebelum obat penawar kau serahkan, masakah aku harus percaya padamu?"
"Begini saja," ujar Kwe-loh-jin, "biarlah anak muda ini tetap menjadi penengahnya. Hud-sim serahkan
padanya, biar dia ikut aku mengambil obat penawarnya, kau boleh tunggu setengah jam di sini, dia pasti
kembali membawa obat penawarnya, nah bagaimana?"
Thong-sian tidak bicara lagi, segera dia lemparkan Hud-sim ke arah Ji Bun, lekas Ji Bun menerimanya.
Sambil tertawa lebar Kwe-loh-jin segera berseru: "Anak muda, marilah"
Ditengah kumandang suaranya, tubuhnya melesat ke wuwungan, lekas Ji Bun mengikuti dengan gerakan
tak kalah tangkasnya, susul menyusul dua bayangan berlari kencang beberapa li jauhnya, di depan adalah
hutan lebat, Kwe-loh-jin langsung menerjang masuk.
Kokok ayam sudah sayup-sayup terdengar di kejauhan, cepat sekali sinar sang surya sudah mencorong
di ufuk timur, sebentar lagi bakal terang tanah. Ji Bun ikut melesat kedalam hutan. Tiga tombak di dalam
hutan Kwe-loh-jin berhenti dan menunggu, katanya: "Berhenti anak muda!"
Ji Bun mengerem luncuran tubuhnya, dengan dongkol dia tatap orang, ingin rasanya dia keremus dan
mencacah tubuh orang.
"Anak muda, agaknya kau ingin berbicara?" tanya Kwe-loh-jin.
"Betul, kau menyamar orang berkedok beberapa kali hendak membunuhku, apakah aksimu itu juga atas
perintah orang?"
"Kau keliru, selamanya Lohu bekerja sendiri dan atas kehendak sendiri pula, apa yang dinamakan
perintah tidak lebih hanya muslihat untuk menipu si kepala gundul tadi."
"Kau keparat hina dina yang tidak tahu malu," maki Ji Bun dengan murka dan gemas. "Siapakah kau
sebetulnya?"
"Siapa aku, selamanya kau tidak akan tahu dan mengerti. Ingat, jangan bertingkah terhadapku,
keselamatan jiwa ibumu berada ditanganku."
Bergidik Ji Bun dibuatnya, katanya sesaat kemudian: "Bagaimana ibuku bisa jatuh di tanganmu?”
"Untuk ini kau tidak perlu tanya, suatu hari kau akan mengerti sendiri."
"Bagaimana keadaan ibuku?"
"Dia baik-baik saja, asal kau tidak bersikap bermusuhan terhadapku, kujamin dia tidak kurang suatu apaapa."
"Kau kira bisa mengancamku. Hm, sebelum mencacah tubuhmu tidak terlampias dendamku."
"Kalau begitu Lan Giok-tin akan mati lebih dulu."
Darah serasa hendak menyemprot dari mata Ji Bun, tapi Kwe-loh-jin tidak peduli, katanya pula: “Ji Bun,
waktu tidak dapat menunggu, marilah kau tukar obat penawarnya,"
11.31. Hmm, ...... Tidak Tahu Malu
"Kaukah yang melakukan pembantaian di Jit-sing-po?" tanya Ji Bun pula.
"Pertanyaan ini dapat kujawab, ibumu, Lan Giok-tin sendiri bilang, pihak Wi-to-hwe dan anak buahnya
yang melakukan."
"Apa betul?"
"Terserah padamu."
Ji Bun mengertak gigi, dia percaya, ayahnya juga pernah bilang demikian, soal menuntut balas boleh
ditunda, sebaliknya sehari saja ibunya belum bebas dari genggaman tangan-tangan iblis, betapapun
hidupnya takkan bisa tenteram, selamanya dirinya tidak punya permusuhan dengan orang ini, namun orang
ini bilang demi keselamatan jiwa raganya sendiri terpaksa hendak membunuhnya serta menculik ibunya.
Siapakah sebetulnya orang ini? Memangnya ada latar belakang yang terahasia di balik semua peristiwa ini?
"Kwe-loh-jin," kata Ji Bun kemudian, "peduli siapa kau, pokoknya asal kau bebaskan ibuku, boleh
kubatalkan niatku untuk menuntut balas terhadapmu, seluruh perhitungan dulu dapat dianggap lunas, nah,
bagaimana?"
"Saatnya belum tiba, tak usah dibicarakan," sahut Kwe-loh-jin.
"Saat apa maksudmu?"
"Urusanku sendiri, kau tidak perlu tahu, namun kau harus ingat satu hal, jangan kau cari setori padaku,
kalau tiba saatnya, kalian ibu beranak pasti akan bertemu, kalau kau melanggar peringatan ini sukar
kukatakan apa akibatnya."
Berkerutuk gigi Ji Bun saking gemasnya dan hampir membuat dadanya meledak.
"Hayo serahkan!" seru Kwe-loh-jin.
Ji Bun berpikir, kalau betul Wi-to-hwe adalah musuhnya buat apa dia harus menolong para musuhnya
itu, kenapa harus bicara soal keadilan dan kebenaran segala. "Kwe-loh-jin, kita bisa bicara secara dagang,"
katanya.
"Dagang bagaimana?"
"Cayhe akan menyerahkan Hud-sim sebagai imbalannya, ......" sampai di sini mendadak ia berhenti,
sebetulnya ia bermaksud menukar keselamatan dan kebebasan ibunya. Namun setelah kelepasan omong
baru dia merasa jalan pikirannya ini kurang tepat, dendam tetap dendam, sebagai insan persilatan yang
harus teguh berjiwa ksatria. Walau julukan Te-gak Suseng kurang sedap didengar, namun dia yakin selama
dirinya mengembara, sepak terjangnya belum pernah melanggar kesalahan. Kalau sekarang demi
menyelamatkan ibunya dia harus ingkar janji dan melakukan kesalahan ini, betapa dirinya takkan dipandang
hina dan rendah dan itu berarti memusuhi kaum persilatan umumnya? Apa pula bedanya perbuatan ini
dengan ketamakan, kelicikan dan kekotoran perbuatan Kwe-loh-jin ini? Hud-sim bukan miliknya,
berdasarkan hak apa dia berani memberikan kepada Kwe-loh-jin untuk menukar keselamatan dan
kebebasan ibunya, apalagi belum tentu Kwe-loh-jin mau menerima usulnya ini, kalau gagal dan ditolak,
bukankah dirinya sendiri yang akan malu dan ditertawakan orang?
"Tukar apa yang kau maksud?" tanya Kwe-loh-jin.
"Tak jadilah," ujar Ji Bun sambil ulap tangan, "serahkan obat penawarnya."
Kwe-loh-jin mengerut kening, lalu dia mengeluarkan sebuah botol porselin kecil, setelah dibuka tutupnya
dia menuang sebutir pil warna hijau pupus terus dilemparkan ke arah Ji Bun.
Ji Bun menerimanya, katanya: "Tadi kau bilang obat penawarnya tidak kau bawa?"
Kwe-loh-jin terkekeh-kekeh, ujarnya "Anak muda, itu namanya bekerja menurut gelagat."
"Hm, tidak tahu malu."
"Jangan cerewet, serahkan!"
Ji Bun ragu-ragu, katanya: "Apakah obatmu ini tulen?"
"Tidak usah kuatir, kali ini aku tidak menipu."
Ji Bun melemparkan buntalan Hud-sim, ingin dia bicara, namun sekilas dia merasa sungkan, maka tanpa
bersuara cepat ia berlari kembali ke kelenteng kecil itu. Sementara itu fajar sudah menyingsing.
Thong-sian sudah menunggu dengan tidak sabar, melihat Ji Bun muncul segera ia tanya: "Bagaimana?"
"Obat penawarnya sudah kudapat," dingin sikap Ji Bun. Lekas ia mendekati Pui Ci-hwi dan jejalkan pil itu
ke mulutnya. Tak lama muka Pui Ci-hwi yang sudah menghitam itu mulai berubah, lambat laun menjadi
pucat terus bersemu merah segar, napaspun mulai teratur, denyut nadi juga semakin keras, dalam
sepeminuman teh, dia telah siuman kembali.
"Siau-sicu," ujar Thong-sian dengan sikap sungguh-sungguh, "ada sebuah permintaan Pinceng yang
mungkin agak merikuhkan."
"Silakan katakan saja."
"Mohon Sicu suka mengantarnya kembali ke atas gunung."
"Wah, ini ...." Ji Bun menjadi ragu-ragu, beruntun ia bekerja demi kepentingan pihak musuh, lalu
terhitung apa ini? Tapi pikiran lain segera berkelebat dalam benak Ji Bun, lekas dia berkata: "Baiklah."
"Syukurlah, selamat bertemu. Pinceng bersumpah untuk menyelidiki asal usul Kwe-loh-jin dan
membongkar perbuatan jahatnya," habis berkata dia angkat sebelah telapak tangan ke depan dada, tahutahu
badannya melejit ke atas bagai burung melayang ke atas wuwungan.
Agaknya Pui Ci-hwi kehabisan tenaga, cukup lama masih belum mampu bergerak, apa lagi berdiri.
Menghadapi gadis jelita yang pernah menjadi pujaan hatinya, Ji Bun merasa iba juga melihat keadaan
orang, namun cepat sekali perasaan iba ini lenyap, air mukanya seketika berubah kaku dingin, katanya:
"Bagaimana perasaan nona?"
Pui Ci-hwi pandang Ji Bun dengan rasa haru dan terima kasih, pelan-pelan meronta bangun lalu duduk
bertopang kaki meja sembahyang, katanya lemah: "Beruntung tidak apa-apa."
"Cayhe diwajibkan untuk mengantar nona pulang ke atas gunung."
Pui Ci-hwi tertawa getir, air mata berkaca-kaca dikelopak matanya, katanya sedih: "Siangkong, aku tidak
mau pulang."
Bertaut alis Ji Bun, katanya: "Tapi Cayhe sudah berjanji kepada Thong-sian Taysu untuk antar nona?"
Tiba-tiba sesosok bayangan abu-abu masuk kelenteng. Waktu Ji Bun berpaling, yang datang ternyata
adalah Siu-yan Nikoh, itu kepala biara Boh-to-am, muridnya yang bergelar Ngo-sim pernah dibunuh setelah
diperkosa, dan dirinyalah yang menjadi kambing hitam disangka membunuhnya, karena sang korban mati
tanpa meninggalkan bekas apa-apa di atas tubuhnya. Sungguh tak nyana Nikoh tua ini bisa muncul di
kelenteng kecil ini, cepat dia angkat tangan memberi hormat: "Selamat bertemu Suthay."
Siu-yan membalas hormat, matanya tertuju kepada Pui Ci-hwi.
Berubah air muka Pui Ci-hwi, tersipu-sipu dia menyembah, air mata tak tertahan lagi bercucuran.
"Budak binal," kata Siu-yan tegas dan bengis, "terlalu jual lagak kau."
Dengan sesenggukan Ci-hwi berkata: "Anak Hwi memang tidak becus, anak Hwi patut mati."
Bergetar jantung Ji Bun, apakah Siu-yan juga salah seorang pentolan dari Wi-to-hwe? Dari nada
pembicaraan kedua orang seolah-olah mereka punya hubungan dan ikatan yang bukan sembarangan.
Dengan marah Siu-yan Loni mengebaskan lengan bajunya, katanya lebih bengis: "Kau masih tidak mau
pulang?"
"Anak Hwi tiada muka bertemu dengan orang banyak."
"Lalu apa keinginanmu?"
"Anak Hwi hanya ..... hanya ingin ..... ingin mendapat kebebasan."
"Besar nyalimu, tidakkah kau berpikir betapa ayah angkatmu susah payah membimbingmu sampai
sebesar ini?"
"Anak Hwi tahu matipun tidak dapat menebus dosaku," sahut Pui Ci-hwi sesenggukan lebih keras.
"Kesalahan itu kau lakukan diluar kesadaranmu, semua orang akan memaafkan kau."
"Harap engkau suka menerima sebuah permintaan anak Hwi."
"Soal apa?"
"Terimalah anak Hwi dan cukurlah rambutku."
"Kau ingin jadi Nikoh? Tidak boleh."
"Kalau begitu biarlah anak Hwi mati saja, biarlah dalam penitisan mendatang kubalas kebaikan orang
banyak."
Siu-yan Loni menarik napas panjang, ujarnya: "Karma, karma! Anak bodoh, tahukah kau siapa
sebenarnya ayah angkatmu itu?"
"Siapakah beliau?” tanya Ci-hwi.
"Ayah kandungmu sendiri. Riwayat hidupmu mengandung rangkaian cerita yang membawa banjirnya air
mata berdarah, dan sekarang kau berbuat begini, apakah tidak meluluhkan hati dan menghancurkan
harapan orang tuamu?"
Terbeliak mata Pui Ci-hwi, katanya gemetar: "Jadi beliau adalah ayah kandungku? Jadi anak Hwi bukan
she Pui?"
"Bukan, kau bukan she Pui, dulu karena menghindari tekanan dan kejaran musuh, terpaksa kau ganti she
dan namamu."
"Oooo...." Ci-hwi mendekam di lantai dan pecahlah jerit tangisnya, begitu sedih dan memilukan isak
tangisnya.
Ji Bun ingin tahu seluk-beluk dan muka asli Wi-to-hwecu dari pembicaraan kedua orang ini, namun dia
amat kecewa, banyak kata-kata yang tidak dimengerti olehnya. Pui Ci-hwi sendiri ternyata punya riwayat
hidup yang mengenaskan. Apakah yang dikatakan hanjir air mata berdarah? Dan apa yang dikatakan musuh
besar, apakah ada sangkut pautnya dengan peristiwa pembantaian di Jit-sing-po?
Kembali Siu-yan Loni menghela napas, suaranya berubah welas asih: "Nak, jangan menangis lagi, segala
persoalan biarlah ayahmu sendiri yang memutuskan, bangunlah."
Pelan-pelan Pui Ci-hwi merangkak bangun, wajahnya basah air mata bak sekuntum bunga basah oleh air
embun.
Tak tahan Ji Bun bertanya: “Apakah Suthay juga anggota Wi-to-hwe?"
Setelah melengak Siu-yan Loni menjawab: "Loni tidak menyangkal."
"Apakah peristiwa dalam biara, tempo hari sudah Suthay selidiki?”
Marah dan benci terbayang sekilas pada air muka Siu-yan, katanya: "Pinni berani pastikan adalah
perbuatan Jit-sing-pocu Ji Ing-hong keparat itu, sayang ........”
Mendelu hati Ji Bun, “Ji Ing-hong?" dia menegas. "Apanya yang sayang?"
"Sayang dia sudah mampus."
Diam-diam Ji Bun mengertak gigi, namun sikapnya pura-pura kaget, tanyanya: "Ji Ing-hong sudah mati?
Siapakah yang membunuhnya?"
"Entahlah, Pinni sendiri tidak tahu."
Dalam pembicaraan ini sikap Siu-yan Loni tawar dan acuh tak acuh, Ji Bun menjadi bingung dan tak
habis mengerti, kalau benar ayahnya terbunuh oleh orang-orang Wi-to-hwe, terang sikapnya akan
mengunjuk keanehan, namun sikap dingin dan tawar Siu-yan Loni sungguh di luar dugaannya. Maka dia
mendesak lebih lanjut: "Lwekang Ji Ing-hong amat tinggi, pandai menggunakan racun lagi, kukira tidak
banyak tokoh-tokoh silat Kang-ouw yang mampu membunuhnya? Bagaimana pendapat Suthay?"
"Tiada yang bisa kujadikan pegangan untuk menduga-duga soal ini."
"Mungkinkah perbuatan Siangkoan Hong?"
Sama berubah air muka Siu-yan Loni dan Pui Ci-hwi, biji mata Siu-yan Loni malah mencorong terang
menatap muka Ji Bun. seakan-akan ingin menyelami isi hatinya, lama sekali baru dia bersuara: "Berdasarkan
apa Sicu bilang demikian?"
Berputar pikiran Ji Bun, dia jadi nekat, biarlah bicara blak-blakan saja untuk menyelidiki persoalan ini
lebih terang, maka jawabnya kereng: "Siangkoan Hong kan bermusuhan dengan Ji Ing-hong?"
"Tapi bukan Siangkoan Hong yang berbuat."
"Berdasarkan apa Suthay berani berkata demikian?”
"Sepak terjang Siangkoan Hong cukup diketahui olehku."
"Kejadian yang amat kebetulan ........”
"Apa yang kebetulan?"
"Waktu Ji Ing-hong menemui ajalnya bersama orang berkedok lain, kebetulan Cayhe lewat ditempat
kejadian, percakapan yang kudengar dari mulut Ji Ing-hong sebelum dia terbunuh, telah menyinggung nama
Wi-to-hwe." Inilah akal yang seketika timbul dalam benak Ji Bun, maksudnya hendak paksa orang bicara
terus terang.
Siu-yan Loni tertawa kalem, katanya: "Mungkin saja dia menyinggung Wi-to-hwe, namun hal ini tidak
bisa membuktikan bahwa Siangkoan Hong atau jago-jago Wi-to-hwe lainnya yang melakukan, kalau betul,
Pinni malah tidak akan menyesal."
"Cayhe ingin betul berhadapan dengan Siangkoan Hong."
"Kenapa?"
"Untuk membuktikan dan membuat terang peristiwa ini."
Timbul pula sorot terang yang mencorong dari kedua biji mata Siu-yan Loni, katanya: “Siau-sicu, mau tak
mau Pinni harus minta keterangan padamu."
Terunjuk pula mimik aneh pada muka Ji Bun, tanpa gentar iapun balas menatap mata orang, suaranya
penuh emosi: "Keterangan apa?"
“Bukan sekali ini saja Sicu menaruh perhatian terhadap peristiwa Jit-sing-po?"
"Memangnya kenapa?"
"Bu-ing-cui-sim-jiu yang Sicu yakinkan, bukankah satu sumber dengan racun penghancur jantung yang
menjadi kemahiran Ji Ing-hong?"
"Untuk ini Cayhe tidak menyangkal," sahut Ji Bun.
"Kalau demikian, kau pasti ada hubungan dengan Ji lng-hong."
"Betul."
"Pernah apa Sicu dengan dia?"
Muka Ji Bun membesi hijau, kini cukup sepatah kata saja bakal merubah situasi seluruhnya. Kalau dia
berterus terang akan asal usulnya sendiri, itu berarti dia harus mulai beraksi menuntut balas kepada para
musuhnya secara terbuka. Perlukah dia tetap merahasiakan diri untuk beberapa lama? Sebelum mendapat
keterangan dan mengumpulkan data-data yang lengkap tidak akan bertindak? Atau sekarang juga dia harus
bekerja? Apakah waktu dan sasaran yang harus diganyangnya sekarang tepat? Beberapa kali pikirannya
berputar, akhirnya dia berkeputusan, dikala berhadapan langsung dengan Siangkoan Hong barulah tiba
saatnya yang paling baik untuk dia turun tangan, maka dia tekan gejolak hatinya yang hampir meledak. Dia
sengaja pura-pura penasaran, katanya: "Hubungan kami bukan sembarangan, tapi juga tidak terlalu kenal,
keadilan Bu-lim tidak boleh diinjak-injak, betul tidak?"
"Sicu tidak bicara setulus hati bukan?" jengek Siu-yan.
Diam-diam terperanjat hati Ji Bun akan kelihayan orang, namun lahirnya dia amat tenang, katanya purapura
bingung: "Apa yang Suthay maksudkan?"
"Apa betul Siau-sicu bertujuan demi keadilan Bu-lim?"
"Kukira memang demikian,"
"Sebelum bicara soal keadilan, apakah perlu membedakan salah dan benar secara jelas?"
Ji Bun mati kutu, namun dia balas bertanya dengan pedas: "Cayhe justru ingin tahu di mana letak salah
benar dari peristiwa besar ini.”
"Siau-sicu, kau pernah menolong jiwa Siangkoan Hong, karena keluhuran budimu ini, seluruh Wi-to-hwe
meski harus bertindak kepadamu juga pasti memberi kelonggaran, kubisa menerima pendirianmu dalam
menyelidiki peristiwa besar namun kau sendiri harus berterus terang menjelaskan asal-usulmu bukan."
Kembali Ji Bun gelagapan, dia merasa kehabisan kata-kata, setelah ragu-ragu sebentar, dia, menjawab:
"Cayhe harap bisa berhadapan langsung dan bicara dengan Siangkoan Hong sendiri."
Siu-yan Loni manggut-manggut, katanya kemudian setelah berpikir: "Boleh, kapan Sicu akan berkunjung,
ke Tong-pek-san?"
"Sekarang juga boleh berangkat."
"Baik, akan kuatur supaya kau bertemu dengan dia."
"Terima kasih. Cayhe mohon diri," setelah memberi hormat Ji Bun putar tubuh dan tinggal pergi.
Sekeluar dari pintu kelenteng Ji Bun disongsong cahaya matahari yang terang benderang, kicau burung
nan merdu berkumandang di dalam hutan, kabut mulai menghilang, cuaca cerah cemerlang, namun relung
hatinya diliputi awan mendung yang tebal.
Dari apa yang pernah dia dengar dari cerita ayahnya, serta kata-kata Kwe-loh-jin waktu membicarakan
keselamatan ibundanya, Ji Bun yakin bahwa pihak Wi-to-hwelah yang melakukan pembantaian besarbesaran
di Jit-sing-po, namun beberapa kejadian nyata yang pernah dialaminya beberapa kali belakangan ini
seolah-olah melunturkan keyakinan dan dugaannya semula.
Dari pembicaraan dengan Siu-yan Loni barusan, jelas Siangkoan Hong merupakan salah seorang tokoh
yang berkedudukan penting dan dihormati dalam Wi-to-hwe, hatinya semakin berat. Mau tidak mau ia
terbayang pula akan kematian ayahnya di jalan raya Kay-hong yang mengenaskan itu. Peristiwa di Bok-toam
yang mengerikan dan kejam itu betulkah perbuatannya? Jika peristiwa ini tersiar luas di kalangan Kangouw,
reaksi apa pula yang bakal timbul oleh sesama kaum persilatan?
Tidak lama kemudian Ji Bun sudah tiba di jalan raya dan menuju ke arah Tong-pek-san. Adanya kejadian
yang berlainan satu sama lain menjadikan perasaan Ji Bun berlainan pula setiap kali dia menuju ke Tongpek-
san. Pikirnya, setelah berhadapan dengan Siangkoan Hong, kalau dia menyangkal atau mungkin soal
perbuatan Wi-to-hwe yang melakukan pembantaian di Jit-sing-po, tidak mengaku telah membunuh ayahnya
pula, lalu tindakan apa yang harus dia lakukan? Thong-sian Hwesio terang tidak berada di markas, berarti
mengurangi kekuatan musuh yang tangguh, namun adanya Bu-cing-so, Siang-thian-ong dan lain-lain jago
kosen, apa lagi kalau mereka mengeroyok dirinya, yakinkah dirinya bisa mengalahkan mereka?
Tengah dia berjalan dengan pikiran kusut, tiba-tiba sebuah suara berkumandang dari belakangnya: "Jisiauhiap,
tunggu sebentar!"
Kejut Ji Bun bukan main, baru pertama kali ini ada orang memanggilnya dengan nama aslinya, segera ia
berhenti dan berpaling dengan siaga, seorang laki-laki yang masih asing telah berdiri didepannya, sorot
matanya tajam, dan jelilatan mengawasi dirinya.
Sekilas dia tatap laki-laki asing ini, lalu bertanya dengan kereng: "Orang kosen darimana sahabat ini?"
Laki-laki tak dikenal itu bergelak tawa, ujarnya : "Tak berani kuterima sebutan orang kosen, aku hanya
seorang pesuruh saja."
"Darimana kau bisa tahu kalau aku she Ji? Siapa pula yang menyuruhmu kemari?"
"Orang yang menguasai mati hidup ibundamu itulah."
Mendidih darah Ji Bun, otot di jidatnya seketika menegang, wajahnya merah diliputi nafsu membunuh,
bentaknya: "Kau sekomplotan dengan Kwe-loh-jin?"
"Ji Bun," jengek laki-laki tak dikenal itu, "bicaralah dengan sopan, kedatanganku ini membawa manfaat
bagimu ........”
"Manfaat? Hm, kebetulan kau datang, ada beberapa persoalan kau harus menjawabnya."
"Jangan terlalu banyak kau menaruh harapan pada diriku, kecuali menjalankan perintah, segala
persoalan aku tidak tahu menahu."
"Memangnya kau takkan buka mulut bila kuringkus."
"Ji Bun," kata orang itu tanpa menghiraukan ancaman Ji Bun, "bukankah sekarang kau hendak ke
markas Wi-to-hwe, untuk menuntut balas? Kau hanya mengantar jiwamu saja."
"Mengantar jiwa saja? Apa maksudmu?"
"Dengan bekal kepandaianmu sekarang. Kau mampu melawan keroyokan mereka?"
"Itu urusanku, tak perlu kau campur tahu."
"Masih ada, kau yakin bisa menyelamatkan diri dari Sian-thian-cin-khi Thong-sian Hwesio yang lihay itu?”
"Apa maksudmu?"
"Aku hanya disuruh menyampaikan beberapa patah kata saja padamu."
"Siapa majikanmu? Apa pula tujuanmu?"
"Maaf, siapa majikanku tidak bisa kujelaskan, soal tujuan, ialah meminjam tanganmu untuk
menghancurkan Wi-to-hwe, dua pihak sama-sama memungut untungnya."
"Apa? Meminjam tanganku?" teriak Ji Bun kaget.
"Betul, majikanku berjanji, setelah tugas berat ini berhasil, kau akan diberi kesempatan menemui
ibundamu dan membeber segala persoalannya."
Memang sebuah umpan besar yang penuh daya tarik bagi Ji Bun, apalagi menghancurkan musuh
memang menjadi idamannya untuk menuntut balas bagi seluruh warga Jit-sing-po yang telah gugur. Diamdiam
ia menimbang, kepandaian Kwe-loh-jin cukup tangguh, gerak-gerik serta sepak terjangnya serba
misterius, bukan mustahil majikan orang ini adalah juga dia. Memangnya ia sendiri merasa kekurangan
tenaga dan tak mampu membebaskan ibunya, tak sangka orang malah mengajak kerja sama, maka dengan
nada haru ia berkata: "Apakah janji majikanmu dapat dipercaya?"
"Apa yang diucapkan majikanku pasti dapat dipercaya?"
"Kau bilang meminjam tanganku, padahal tadi kau bilang kemampuanku belum mencukupi untuk
menghadapi jago-jago mereka?"
"Jangan kuatir, majikanku sudah mengaturnya dengan rapi."
Bangkit semangat Ji Bun, katanya: "Rencana apa yang telah diaturnya?"
"Jangan tergesa-gesa, belum selesai aku bicara."
"Baik, coba jelaskan."
"Tahukah kau siapa pembunuh ayahmu dan seorang berkedok yang menyamar beliau?"
11.32. Rahasia Wi-to-hwecu
"Siapa pembunuhnya?"
"Thong-sian Hwesio."
"Apa? Dia?" teriak Ji Bun. sorot matanya seketika beringas, memang kecuali Thong-sian Hwesio tiada
tokoh lain yang punya kepandaian tinggi dan mampu membunuh ayahnya dan orang berkedok itu. Desisnya
sambil mengertak gigi: "Siapa saksinya?"
"Majikanku."
Ji Bun melenggong, siapakah majikannya? Kenapa selalu menyuruh Kwe-loh-jin turun tangan kepada
dirinya? Kenapa menculik ibunya? Semua ini sulit terjawab olehnya.
"Kenapa majikanmu ingin pinjam tanganku untuk menghancurkan Wi-to-hwe?"
"Sederhana saja, karena majikanku hendak memberantas penghalang bagi cita-citanya."
"Tapi aku sendiri tidak yakin dapat melawan mereka dan bertahan hidup."
"Jangan kuatir, bukankah kau boleh keluar masuk markas Wi-to-hwe, malah dipandang tamu terhormat?
Maka untuk turun tangan, kau harus mencari kesempatan yang paling baik, kau harus pilih waktu dan saat
Thong-sian dan Wi-to-hwecu hadir baru turun tangan, kalau kedua orang ini mampus, yang lain tidak
menjadi soal lagi."
"Lalu cara bagaimana aku harus turun tangan?" tanya Ji Bun penuh semangat.
Laki-laki tak dikenal itu celingukan sebentar, lalu mengeluarkan sebuah kantong kecil, katanya: "Nah, kau
periksa sendiri."
Ji Bun menerima dan membuka kantong itu, waktu ia melongok ke dalam kantong, seketika ia menjerit
kaget: "Ngo-lui-cu?"
Laki-laki tak dikenal itu menyeringai, katanya: "Ya, Ngo-lui-cu, kau kan sudah tahu kekuatannya,
malaikat dewatapun tak bisa lolos dalam jarak tiga tombak."
Gemetar jari-jari tangan Ji Bun yang memegangi kantong kecil itu, memang hanya Ngo-lui-cu saja
senjata terampuh yang tepat untuk menghancurkan musuhnya sekaligus, dengan membawa benda peledak
ini, Sian-thian-sin-kang Thong-sian Hwesio tidak perlu ditakuti lagi, kalau dapat mengatur keadaan dengan
baik, bukan mustahil seluruh jago Wi-to-hwe juga akan dijaring dan dibunuhnya semua.
Ji Bun betul-betul sudah dirangsang dendam dan hasrat menuntut balas yang tebal, sehingga kepalanya
terasa panas dan pikiran butek. Tak terpikir lagi olehnya apa maksud tujuan dari bantuan orang tak dikenal
ini dengan memberikan Ngo-lui-cu, yang terang kini tibalah kesempatan paling baik untuk dirinya menuntut
balas. Asal sakit hati terbalas dan dapat bertemu dengan ibunda, segata pengorbanan boleh saja dilakukan.
Tanyanya menegas: "Majikanmu bilang setelah tugasku selesai, dia akan membebaskan ibuku?".
"Ya, sekaligus hendak membeber sebuah rahasia."
"Apakah aku harus percaya demikian saja oleh obrolanmu ini?”
"Orang she Ji, kalau majikanku sengaja mau main tipu, segala janji tetap takkan berguna. Pertama,
ibumu berada di tangan kami, kedua, kau di tempat terang dan kami di tempat gelap, ketiga, dengan
memegang rahasia pribadimu, berarti sudah menggenggam mati-hidupmu pula."
Bergidik Ji Bun dibuatnya, apa yang diucapkan ini memang benar, dari sini sekaligus membuktikan bahwa
majikan orang itu adalah seorang yang menakutkan. Kini Hud-sim terjatuh ke tangannya. Kalau dia berhasil
mempelajari ilmu yang tertera di dalam Hud-sim, pasti tiada tandingannya dikolong langit. Betapa besar
ambisi orang ini dapatlah dibayangkan.
Terdengar laki-laki itu berkata pula: "Ngo-lui-cu amat dahsyat kekuatannya, kalau kau menggunakan
tepat pada waktunya, terang kau akau berhasil dengan baik, cukup kau gunakan sedikit tenaga untuk
menimpukannya saja."
“Cara memakainya aku sudah tahu."
"Kalau begitu kudoakan semoga kau berhasil, selamat bertemu!” tanpa berpaling tahu-tahu badannya
melesat terus menghilang, gerakannya sungguh mengejutkan.
Semula Ji Bun kira hanya Biau-jiu Siansing yang memiliki gerakan tubuh paling gesit, agaknya dugaan ini
kurang tepat lagi, orang ini hanya seorang pesuruh. Dapatlah dibayangkan betapa hebat kepandaian
majikannya.
Dengan hati-hati Ji Bun simpan Ngo-lui-cu di ikat pinggangnya, ia merasa semakin mantap dan
terlindung, untuk kali terakhir sekarang ia pergi ke Tong-pek-san.
****
Pos terdepan yang rusak digempur pihak Ngo-lui-kiong tempo hari kini sudah di bangun lagi lebih
mentereng dan angker. Begitu Ji Bun tiba di depan benteng, seorang laki-laki pakaian biru segera keluar
menyambut, dia bukan lain adalah Congkoan Wi-to-hwe Ko Ling-jin, cepat ia memberi hormat sambil berseri
tawa: "Siau-hiap tentu lelah dalam perjalanan, silakan, hamba mendapat perintah untuk menyambut."
"Terima kasih!" kata Ji Bun.
Di belakang benteng sudah siap menunggu dua ekor kuda, mereka naik kuda menuju ke markas.
Sepanjang jalan jantung Ji Bun berdebar keras, hatinya merancang bagaimana dirinya harus bekerja nanti.
Apakah Thong-sian Hwesio sudah kembali? Cara bagaimana dia harus berusaha mengumpulkan pentolanpentolan
musuh supaya lebih leluasa turun tangan?
Cepat sekali mereka sudah tiba di depan markas, seorang penjaga maju menerima kuda tunggangan
mereka. Di bawah petunjuk dan iringan Ko Ling-jin, Ji Bun langsung menuju ke ruang pendopo.
Wi-to-hwecu sudah menunggu dan menyongsong kedatangannya. Setelah duduk Wi-to-hwecu berkata
kepada Ko Ling-jin: "Ko-congkoan, siapkan perjamuan, undanglah para Houhoat dan semua tamu-tamu
yang ada untuk hadir."
Ko Ling-jin mengiakan sambil memberi hormat terus mengundurkan diri.
Diam-diam Ji Bun bersorak dalam hati, sungguh kebetulan sekali, kesempatan bakal tiba tanpa susah
payah. Cuma apakah Thong-sian termasuk orang yang akan hadir di dalam perjamuan nanti?"
"Maksud kedatangan saudara muda sudah Lohu ketahui namun ada suatu persoalan mohon saudara
muda suka menjelaskan secara jujur?" kata Wi-to-hwecu mulai.
Ji Bun tenangkan diri, sahutnya: "Ada pertanyaan apa?, silakan Hwecu katakan."
Wajah Wi-to-hwecu yang kaku tidak menunjukkan perasaan apa-apa, namun suaranya kedengaran
hambar, katanya: "Siangkoan Hong pernah mendapat pertolongan saudara muda, untuk ini dia tidak akan
melupakan selama hidup. Kalau saudara bertekad ingin menemuinya demi menyelesaikan permusuhan
dengan Jit-sing-po atas kematian Ji Ing-hong, oleh karena itu, terpaksa aku mohon tanya ada hubungan
apakah sebetulnya antara saudara muda dengan Ji Ing-hong?"
Berhadapan dengan musuh besar, ingin rasanya Ji Bun mengkeremusnya, namun sekarang belum
waktunya atau segala rencananya bakal gagal total, maka ia berkata: "Apakah hal ini boleh kuumumkan
setelah berhadapan dengan Sangkoan Hong?"
Berkerut alis Wi-to-hwecu, katanya: "Tidak bisa dijelaskan dulu padaku?"
"Belum tiba saatnya."
"Baik, aku tidak memaksa, namun ingin kuwakili Siangkoan Hong untuk menjelaskan duduk persoalan
dari permusuhan ini."
Kebetulan bagi Ji Bun, katanya: "Dengan senang hati."
Sudah lama dia mengharapkan hal ini, sayang tiada kesempatan, yang diketahui hanya ayahnya
bermusuhan dengan Siangkoan Hong lantaran rebut isteri dan membunuh anaknya. Tentang bagaimana
persoalan yang sebenarnya tidak diketahui. Hal ini pernah dia tanyakan kepada sang ayah, namun
jawabannya juga samar-samar. Kini Wi-to-hwecu mau mengungkat peristiwa lama ini, tentu saja amat cocok
dengan keinginannya.
Sekilas terunjuk sorot derita dan sedih pada sinar mata Wi-to-hwecu, katanya pelan dengan suara berat:
"Untuk menjelaskan peristiwa ini harus kembali pada masa kira-kira 20-an tahun lalu. Pada waktu itu muncul
seorang perempuan cantik molek, namanya harum terkenal di seluruh jagat. Dia bernama Cu Yan-hoa, yaitu
isteri Siangkoan Hong. Yang laki-laki tampan dan yang perempuan jelita, entah berapa banyak sesama kaum
persilatan yang iri terhadap pasangan ini .....”
Terbayang oleh Ji Bun akan codet atau bekas luka yang membuat buruk muka Siangkoan Hong. Kalau
yang perempuan dikatakan jelita mungkin benar, tapi kalau dikatakan yang lelaki tampan, hal ini amat
meragukan.
Setelah merandek Wi-to-hwecu melanjutkan: "Pada suatu hari, mendadak Cu Yan-hoa lenyap tak karuan
parannya. Semula Siangkoan Hong tidak menaruh perhatian, ia sangka isterinya keluar mengurus sesuatu.
Namun setelah beruntun beberapa hari tidak kunjung pulang barulah Siangkoan Hong menyadari urusan
tidak sederhana. Selama mereka menikah belum pernah mereka berpisah, hal ini menandakan isterinya pasti
mengalami sesuatu yang harus dikuatirkan, apalagi waktu itu Cu Yan-hoa sedang hamil .....”
Dengan hati gelisah, masgul dan lama kelamaan putus asa, Siangkoan Hong menjadi gelandangan Kangouw
untuk mencari isterinya. Betapa sedih dan tersiksa hatinya, kiranya siapapun dapat membayangkan.
Tak lama kemudian, dia mendapat kabar bahwa isterinya, Cu Yan-hoa diculik oleh Jit-sing-pocu Ji Ing-hong
......”
Berubah air muka Ji Bun, namun sekuatnya dia menahan diri.
Tutur Wi-to-hwecu lebih lanjut dengan mengertak gigi: "Jit-sing-pang berkuasa dan banyak tenaganya.
Jit-sing-po merupakan sebuah perkampungan angker dalam Bu-lim. Lwekang dan kepandaian silat Ji Inghong
teramat tinggi. Untuk menolong isterinya dari mulut harimau, Siangkoan Hong tahu dirinya tidak
mampu, namun isterinya tercinta sedang hamil, betapapun sulitnya juga harus berusaha menolongnya.
Dalam keadaan terpaksa akhirnya dia merusak wajah sendiri dan menyelundup ke Jit-sing-po ....”
"Bagaimana kelanjutannya?" tanya Ji Bun tak sabar.
"Setelah berada di dalam benteng perkampungan, dia berlaku hati-hati. Setiap hari dia harus bermukamuka
dan munduk-munduk untuk mengambil hati Ji Ing-hong. Syukurlah dia dibekali kepandaian yang
berbakat, akhirnya dia diangkat menjadi salah seorang guru silat, duduk berdampingan dan berdiri sejajar
dengan tujuh jago kosen lainnya di dalam perkampungan, mereka dijuluki Jit-sing-pat-ciang (delapan
panglima Jit-sing)."
Nafas Ji Bun agak memburu, walau dia adalah Siau-pocu, namun sejak kecil terisolir, dididik dalam
lingkungan tersendiri, maka segala seluk beluk dalam perkampungan sama sekali tidak diketahui. Kini
seakan-akan dia mendengar dongeng saja.
"Sekejap mata beberapa tahun telah berselang. Usaha Siangkoan Hong memang tidak sia-sia, akhirnya ia
berhasil menyelidiki bahwa isterinya ternyata telah menjadi gundik kedua Ji Ing-hong. Ia marah dan berduka
akan nasib isterinya karena kekejian dan kekotoran Ji Ing-hong. Sampai sekian lamanya dia tetap tak
berhasil mendapatkan kesempatan menemui isterinya. Mengingat keturunan yang dikandung dalam perut
isterinya, tekadnya menjadi besar untuk selekasnya berhadapan dengan isteri terkasih, maka dia tidak kenal
putus asa, dia menanti dengan sabar, sabar ......”
"Apakah ini kenyataan?" tak tertahan Ji Bun bertanya.
Geram menyala sorot mata Wi-to-hwecu, penuh dendam dan kebencian, katanya: "Sudah tentu
kenyataan. Pada suatu hari, akhirnya ia mendapat kesempatan bertemu dengan isterinya. Dari pertemuan
itu baru dia tahu bahwa isterinya bertahan hidup demi keturunan darah daging dalam kandungannya. Iapun
berharap dapat bertemu sekali lagi dengan suaminya .......”
"Jadi ada keturunan Siangkoan Hong yang tertinggal dalam perkampungan?"
"Semula hal ini masih teka-teki, karena setelah Cu Yan-hoa melahirkan, anaknya segera disingkirkan. Dia
sendiri tidak tahu anaknya itu laki-laki atau perempuan, juga tidak tahu apakah anaknya itu masih hidup
atau sudah mati, untuk inilah dia bertahan hidup. Sayang pertemuan mereka suami isteri konangan oleh Ji
Ing-hong.
"Ji Ing-hong memang manusia durjana yang kejam, dia tidak bersikap apa-apa pada waktu itu. Beberapa
hari kemudian, dia menjamu Siangkoan Hong, dia berjanji memberi kesempatan kepada mereka suami-isteri
untuk berkumpul dan hidup rukun kembali, iapun mengakui akan kesalahannya ...... “ sampai di sini, kulit
muka Wi-to-hwecu tampak mengencang dan gemetar, suaranyapun menjadi serak namun dendam dan
kebenciannya tetap menyala-nyala.
Timbul perasaan ruwet dalam hati Ji Bun. Di samping merasakan tugas menuntut balas yang kian
menekan, iapun merasa malu dan menyesal akan perbuatan ayahnya yang kotor dan hina dimasa hidup itu.
Agaknya Wi-to-hwecu juga berusaha menekan emosinya, lama sekali baru dia melanjutkan: "Dendam
Siangkoan Hong tetap tak berkurang karena isterinya diculik. Namun waktu itu terpaksa dia harus tunduk
pada keadaan, perjamuan itu akhirnya berlalu dalam suasana janggal dan kurang menyenangkan. Setelah
perjamuan usai, Ji Ing-hong menyuruh tertua dari Jit-sing-pat-ciang yang bernama Ciu Tay-lian mengantar
Siangkoan Hong ke luar perkampungan. Lahirnya saja diantar, yang benar dia menyuruh Ciu Tay-lian
membunuh Siangkoan Hong secara diam-diam ......”
"Jadi Siangkoan Hong tidak mati terbunuh?"
"Ehm, hubungan Ciu Tay-lian dengan Siangkoan Hong amat kental, watak mereka berdua jauh berbeda
dengan keenam teman-teman sejawatnya. Iapun amat marah dan mengutuk perbuatan Ji Ing-hong yang
tidak tahu malu, akhirnya dia membongkar perbuatan di luar perikemanusiaan itu ......”
"Perbuatan apa yang dia bongkar?"
"Ji Ing-hong sudah membunuh Cu Yan-hoa, perjamuan yang diadakan itu menghidangkan daging Cu
Yan-hoa ........" tiba-tiba Wi-to-hwecu menggebrak meja sampai semplak sebagian, matanya mendelik
sebesar kelereng, mukanya gelap dan suaranya geram: "Saudara muda, itulah perbuatan binatang, kalau dia
manusia, apakah dia sampai hati berbuat sekejam ini?"
Merinding dan gemetar sekujur badan Ji Bun, apakah betul kenyataan? Betulkah ayahnya begitu jahat?
Sungguh peristiwa tragis yang belum pernah ada duanya di jagat ini, daging manusia sebagai hidangan
perjamuan ......”
Hampir melotot keluar biji mata Wi-to-hwecu, katanya dengan nada hampir menangis :"Saudara muda,
Siangkoan Hong telah makan darah daging isterinya sendiri ......"
"Tidak mungkin," teriak Ji Bun tiba-tiba seperti orang kalap.
"Kenapa tidak mungkin?"
"Ji-pocu tidak mungkin melakukan perbuatan sekejam itu.”
"Tapi kenyataan memang demikian."
"Bagaimana kelanjutannya?"
"Sudah tentu Siangkoan Hong bersumpah menuntut balas."
"Siangkoan Hong mengumpulkan komplotan untuk menghancur leburkan Jit-Sing-po?"
"Umpama betul dia menghancur leburkan Jit-Sing-po juga belum terlampias dendamnya, tapi dia tidak
berbuat demikian, dia hanya mencari Ji Ing-hong saja."
"Lalu siapa yang membantai seluruh penghuni Jit-sing-po?"
"Entah, tiada yang tahu."
"Lalu siapa yang membunuh Ji-pocu di jalan raya menuju Kay-hong?"
"Juga tidak diketahui."
Ji Bun mengertak gigi, katanya: "Lalu kemana Ciu Tay-lian, tertua dari Pat-ciang itu?"
"Setelah dia melepas pergi Siangkoan Hong, jejaknya pun tidak diketahui."
"Tadi Hwecu bilang keturunan Siangkoan Hong ditinggal dalam Jit-sing-po?"
"Menurut dugaan waktu itu. Namun belakangan setelah diselidiki baru diketahui orok yang baru lahir
itupun sudah dibunuh."
"Apakah hari ini Cayhe bisa berhadapan langsung dengan Siangkoan Hong?"
"Tentu boleh."
Tiba-tiba Ko Ling-jin melangkah masuk memberi hormat serta memberi lapor: "Perjamuan sudah siap."
Wi-to-hwecu berdiri, katanya: "Silakan, saudara muda!"
"Tak berani," sahut Ji Bun. "Hwecu silakan.”
"Baiklah, mari bersama saja."
Perjamuan diadakan di sebuah gardu besar di luar ruang tamu yang terbuka. Begitu Ji Bun dan Hwecu
tiba, semua hadirin segera berdiri menyambut.
Sekilas pandangan Ji Bun menyapu para hadirin. Seketika pula jantungnya berdebur keras, Thong-sian
Hwesio, Siu-yan Suthay, Bu-cing-so, Siang-thian-ong, Jay-ih-lo-sat dan jago-jago Wi-to-hwe yang lain sama
hadir kecuali orang dalam tandu yang tidak tampak bayangannya. Diam-diam Ji Bun bersyukur bahwa Thian
agaknya akan memenuhi keinginannya.
Perjamuan ini terdiri atas dua meja, Ji Bun duduk di tempat tamu, paling atas adalah Wi-to-hwecu, Bucing-
so dan Siang-thian-ong duduk paling bawah. Jay-ih-lo-sat berhadapan dengan Ji Bun. Sementara
Thong-sian Hwesio dan Siu-yan duduk menyendiri di meja lain yang lebih kecil, maklumlah mereka orang
beribadat, hidangan mereka berbeda dengan hidangan di meja sebelah sini.
Diam-diam Ji Bun meraba-raba dan sukar menebak maksud Wi-to-hwecu mengumpulkan jago-jagonya
dalam perjamuan ini, namun hal ini tidak sempat dipikirkan lagi, yang terpikir hanyalah cara bagaimana
nanti dia harus menggunakan Ngo-lui-cu, supaya tiada satupun diantara hadirin yang lolos dari reng¬gutan
maut.
Situasi amat menguntungkan dirinya, sekarang persoalan hanya terletak pada keselamatan dirinya
sendiri. Sebutir Ngo-lui-cu cukup berkelebihan untuk menghancurkan gardu ini beserta seluruh isinya,
namun cara bagaimana dirinya harus membebaskan diri? Pura-pura minta diri meninggalkan perjamuan lalu
melemparkan Ngo-lui-cu? Tapi semua hadirin adalah bangkotan silat yang memiliki kepandaian tinggi.
Sedikit lena dan gerak-geriknya kurang wajar pasti akan menimbulkan curiga pihak sana, semua ini bakal
menggagalkan usahanya, tapi untuk selanjutnya juga tiada kesempatan sebaik hari sekarang ini, ia ragu dan
serba salah.
Yang terpenting sebelum turun tangan, dia harus memperkenalkan diri, supaya musuh mati tanpa
penasaran. Kalau mereka mati penasaran, arti penuntutan balas ini dirasakan kurang setimpal. Namun
demikian, apa pula resiko yang harus dihadapinya?
Beberapa cangkir arak sudah dihabiskan, namun pikiran Ji Bun masih tenggelam dalam keraguan. Dia
insaf harus segera berkeputusan dan bertindak. Kalau kesempatan ini lenyap, menyesalpun sudah kasep.
Gugur bersama musuh merupakan kesuksesan dalam menuntut balas ini. Tapi ibunya masih berada dalam
cengkeraman orang. Sukses atau gagal usahanya ini, bukan saja merupakan penuntutan balas bagi para
korban, juga menyangkut keselamatan jiwa ibundanya. Kalau dirinya mati, ibu beranak takkan berjumpa
lagi, lalu bagaimana nasib ibunya kelak?
Dia tidak berani melirik ke arah Thong-sian Hwesio. Menurut apa yang dikatakan laki-laki tak dikenal,
Hwesio gede ini adalah pembunuh ayahnya. Dia kuatir kalau terlalu banyak mengawasi musuhnya ini takkan
kuasa mengendalikan emosinya lagi. Hal ini akan menimbulkan curiga pihak lawan.
Perjamuan ini berlangsung dalam suasana tenteram, tiada yang buka suara, hanya suara beradunya
mangkok piring dengan sumpit.
Sesosok bayangan merah secara diam-diam memasuki gardu tanpa bersuara dan duduk di samping Siuyan
Suthay, dia bukan lain adalah Pui Ci-hwi. Hanya beberapa hari, kelihatan dia sudah banyak berubah,
kurus dan pucat seperti sekuntum bunga yang sudah layu. Ji Bun meliriknya sebentar, hatinya bertambah
mantap, jiwa seorang akan bertambah jadi korban dalam gardu ini. Apakah tiba saatnya dia harus turun
tangan? Terasa sesuatu tekanan yang amat berat seperti menindih sanubarinya sehingga dia sukar
bernapas. Dia tidak berani membayangkan, sekali dia melemparkan Ngo-lui-cu, akibat apa yang bakal
terjadi. Tiba-tiba dia sadar telah melalaikan suatu hal, segera ia buka suara: "Hwecu, agaknya masih ada
seorang tamu terhormat yang belum hadir?"
"Siangkoan Hong maksud saudara muda?" Hwecu menegas, "sebentar lagi dia pasti datang."
Perhatian seluruh hadirin serta merta tertuju kepada Ji Bun, laksana anak panah sama diarahkan dirinya.
Namun dia anggap sepi dan tak acuh. Beberapa kejap lagi, tiada seorangpun yang hadir ini akan ketinggalan
hidup, segalanya bakal lenyap tak berbekas lagi. Diam-diam ia sudah berkeputusan, mati hidup sendiri
bukan soal lagi, ia sudah bertekad, hanya boleh sukses pantang gagal.
Setiap orang persilatan yang berjiwa ksatria selamanya siap menghadapi kematian. Tapi betapapun dia
adalah manusia, dan manusia adalah makhluk yang punya daya pikir dan punya reaksi tajam, menghadapi
detik yang menentukan ini, timbul berbagai bayangan yang berbeda dalam benak Ji Bun.
Ayahnya meninggal secara mengenaskan, ibunya tidak keruan paran. Thian-thay-mo-ki yang lahirnya
genit dan cabul, namun mempunyai jiwa luhur. Ciang Wi-bin ayah beranak yang punya tekad dan perhatian
serta menaruh harapan terhadap dirinya. Khong-kok-lan So-yan yang bertempat tinggal di gedung setan di
kota Cinyang, Biau-jiu Siansing, Jit-sing-ko-jin, orang tua di bawah jurang Pek-ciok-hong. Bayangan orangorang
ini satu persatu timbul dalam benaknya.
Mendadak Wi-to-hwe-cu berdiri serta berkata: "Saudara muda, nah, inilah Siangkoan Hong telah datang!"
Sembari bicara tangannya mengusap ke muka sendiri, segera tertampak seraut wajah yang bopeng sebelah
dihiasi codet yang buruk sekali.
Mendidih darah dalam tubuh Ji Ban, dengan terkejut ia berjingkrak seraya berteriak: "Kau ...... kau inikah
Siangkoan Hong?"
"Ya!" sahut Wi-to-hwecu alias Siangkoan Hong sambil duduk kembali.
Lama sekali Ji Bun mengawasi muka Wi-to-hwecu tanpa bersuara, mimpi juga tidak pernah pikir olehnya
bahwa Hwecu yang misterius ini adalah duplikat Siangkoan Hong. Tak heran selama ini dirinya disambut
sebagai tamu terhormat.
Pandangan hadirin yang tajam semua tertuju kepadanya pula. Ji Bun seperti tidak merasakan sama
sekali, sorot matanya tetap tertuju kepada muka Siangkoan Hong tanpa berkedip.
"Saudara muda," kata Wi-to-hwecu alias Siangkoan Hong dengan suara berat, "cerita tentang Siangkoan
Hong sudah tamat, sekarang silakan terangkan asal usulmu."
Karena meyakinkan Bu-ing-cui-sim-jiu, tangan kiri Ji Bun amat beracun, selama ini disembunyikan di
dalam lengan baju, hal ini diketahui oleh semua hadirin dan tidak ambil peduli. Tapi tangan kirinya itu pelanpelan
dijulurkan keluar dari lengan bajunya yang kosong melambai, tahu-tahu tangannya sudah
menggenggam Ngo-lui-cu.
Orang lain belum tahu dan tidak soal, namun Ji Bun sendiri amat tegang sampai telapak tangannya
basah oleh keringat dingin, karena sekejap lagi semuanya bakal berakhir. Sudah tentu pertanyaan
Siangkoan Hong harus ia jawab dulu sebelum bertindak, maka ia meninggalkan tempat duduknya, mukanya
kaku dingin dan penuh nafsu liar, katanya: "Aku bernama Ji Bun, keturunan Ji Ing-hong."
"Kau ...... adalah keturunan Ji lng-hong?"
11.33. Siapa Pembunuh Te-gak Suseng?
Wi-to-hwecu berjingkrak berdiri. Hadirin yang lain juga ikut berdiri. Suasana seketika memuncak tegang,
semua hadirin sama dijalari nafsu membunuh.
Sudah tiada pilihan lain bagi Ji Bun, dalam keadaan seperti ini hanya gugur bersama musuh, tangan kiri
yang menggenggam Ngo-lui-cu sampai gemetar, sudah tentu semua hadirin tidak tahu bahwa elmaut sudah
diambang pintu.
Agaknya perjamuan yang diadakan Wi-to-hwecu ini memang ada sangkut pautnya untuk membongkar
kedok dirinya. Tanpa jeri mata Ji Bun melirik ke arah Thong-sian Hwesio, mata orangpun sedang menatap
dirinya. Ji Bun buka suara "Taysu, ada sebuah hal mohon petunjukmu.”
"Katakan saja!"
"Kabarnya kematian ayahku dan seorang berkedok lain adalah buah karya Taysu?"
Seketika mencorong sinar mata Thong-sian Taysu. "Pinceng pembunuhnya maksudmu?" desisnya, "siapa
bilang?"
"Kabarnya demikian, siapa yang bilang Taysu tidak perlu tahu. Pokoknya ada saksi."
"Omong kosong," teriak Thong-sian.
"Taysu tidak berani mengaku?"
"Kalau benar harus diakui, kalau tidak kenapa harus mengaku, jadi bukan soal berani atau tidak."
"Tapi tuduhan ini betulkan?"
"Tidak!"
"Ji Bun," sela Wi-to-hwecu, "apa tujuanmu?"
"Menuntut balas!" Ji Bun mengertak gigi.
Suara Siang-thian-ong yang berat laksana geledek berkata: "Anak muda, kau sedang mimpi di siang hari?
Soal menuntut balas kau salah alamat, apalagi kau mempunyai ayah durjana, kau sendiri harus mawas diri
dan merasa malu, bicara sakit hati, kau justeru sasaran Hwecu untuk menuntut balas atas perbuatan
bapakmu ......"
"Tutup mulutmu!" bentak Ji Bun.
"Ji Bun," bentak Siu-yan Suthay bengis dan kereng. "Mengingat kau pernah menolong jiwa Hwecu, tiada
kesempatan lagi bagimu bicara disini ....."
Ji Bun mendengus berat, jengeknya: "Semua yang hadir ini ikut membantai penghuni Jit-sing-po bukan?"
"Kentutmu busuk," bentak Siang-thian-ong, "memangnya kau pandang Lohu sama dengan Ji Ing-hong,
manusia srigala yang kejam itu?"
"Tua bangka, jangan memaki orang," damprat Ji Bun.
Saking marah rambut ubanan Siang-thian-ong yang jarang sampai berdiri. Sudah tentu badannya yang
serba buntak tambun itu kelihatan lucu dan menggelikan, tapi juga cukup menakutkan, agaknya dia sudah
tak sabar lagi.
"Laki-laki sejati putus hubungan tidak akan mengeluarkan kata-kata kotor," demikian Bu-cing-so
memenyelutuk, "Sahabat muda, kau harus membedakan salah dan benar."
"Cayhe sudab cukup membedakannya," sahut Ji Bun.
"Ji-sicu," ujar Siu-yan Suthay, "Kalau kami pandang kau sebagai musuh, jelas kau tiada kesempatan
mengundurkan diri, kau percaya tidak? Tahukah kau kenapa selama ini Siangkoan Hwecu bersabar dan
menyembunyikan diri saja?"
"Tidak perlu tahu, kalau tempo hari aku sudah tahu siapa dia sebenarnya, jiwanya sudah lama kuhabisi,
buat apa aku menolongnya."
"Ji Bun," ujar Wi-to-hwecu, "kau pernah menolongku, sekarang kusilakan kau turun gunung, utang
piutang kedua pihak sudah lunas sejak kini, "
"Tidak perlu!" teriak Ji Bun beringas.
"Kau menghapus kenyataan, membual hendak menuntut balas segala, dengan cara apa kau hendak
menuntut balas?"
Ji Bun terdesak dan nekat, teriaknya kalap: "Utang darah bayar dengan darah!"
Diam-diam genggaman tangannya kiri semakin mengencang, kalau dia lemparkan Ngo-lui-cu di tengah
perjamuan ini, pasti tiada seorangpun di antara hadirin yang selamat.
Dengan tatapan beringas dia menyapu pandang muka seluruh hadirin. Waktu matanya bentrok dengan
pandangan Pui Ci-hwi, serta merta timbul perasaan dalam sanubarinya, gadis jelita yang pernah menjadi
pujaannya, kini juga akan gugur bersama. Kehidupan manusia di dunia fana ini memang tiada yang abadi,
nasib sering mempermainkan setiap orang. Kini tibalah saatnya dia turun tangan, tidak boleh ragu-ragu.
Mendadak ia keluarkan tangan kiri serta teracung ke atas, tiada orang atau sesuatu yang dapat mengubah
lagi nasib semua hadirin?
Pada detik-detik yang gawat sebelum Ji Bun sempat menjatuhkan Ngo-lui-cu, tiba-tiba terasa oleh Ji Bun
lengan kirinya kesemutan dan mengejang. Seluruh tenaga yang dikerahkan seketika lenyap. Lebih celaka
lagi, Ngo-lui-cu tahu-tahu sudah terlepas dari genggamannya, lengan kirinya lantas menjulur lemas ke
bawah.
Kejut Ji Bun luar biasa, serasa sukma meninggalkan raganya, siapakah yang kebal terhadap racun di
tangan kirinya, sehingga segala usahanya menjadi gagal total?
Dalam sekejap itu. Ji Bun merasa kepala berat dan mata berkunang, bumi terasa bergunjing, pikirannya
menjadi hampa dan kabur.
Sekali sapu ia tendang meja kursi terus melompat mundur, waktu dia berpaling, seketika ia melenggong.
Tahu-tahu dalam gardu bertambah seorang nyonya muda, begitu molek dan rupawan sampai Ji Bun tidak
berani menatapnya terang-terangan, pakaian yang dikenakan berwarna serba merah, tak ubahnya seperti
puteri raja. Tangannya tengah menimang-nimang Ngo-lui-cu, wajah nan cantik membesi geram, sepasang
matanya yang bening bersih mempesona menyorotkan sinar terang.
Pandangan seluruh hadirin tertuju kepada nyonya muda ini, begitu kereng dan penuh wibawa nyonya
muda ini, meski berdiri tidak bergerak, namun tiada orang yang berani mengawasinya lama-lama. Hening
lelap sekian lama, akhirnya Siang-thian-ong yang bersuara: "Ngo-lui-cu!"
Serta merta pandangan hadirin berbalik ke arah Ji Bun yang berdiri bagai patung.
Sungguh menyesal, benci dan murka dan kaget hati Ji Bun. Kalau sejak tadi dia turun tangan, segalanya
sudah berakhir. Padahal sejak kapan nyonya muda ini berada di beiakangnya, sama sekali tidak
diketahuinya.
Bu-cing-so berdiri paling dekat dengan nyonya muda ini, segera ia memberi hormat padanya serta
menyapa: "Sejak kapan Siancu tiba?"
"Baru saja," sahut nyonya muda baju merah, suaranya merdu nyaring bagai kicau burung kenari,
"agaknya memang sudah kehendak Thian!"
Siancu? Siapakah dia? Ji Bun bertanya-tanya dalam hati.
“Darimana Siancu tahu ......" tanya Bu-cing-so.
Nyonya muda baju merah segera memotong: "Seorang yang mempunyai sesuatu rencana jahat, jika
menghadapi situasi yang menegangkan dan tetap tidak tergoyahkan pendiriannya, itu berarti dia sudah
nekat dan bertekad gugur bersama musuh, agaknya kalian lalai dalam hal ini."
Beberapa patah kata ini membuat seluruh jago-jago silat yang hadir sama merah mukanya.
Tiba-tiba Pui Ci-hwi, seharusnya bernama Siangkoan Ci-hwi, karena dia puteri kandung Siangkoan Hong,
menjerit pelahan terus menubruk ke dalam pelukan nyonya muda itu. Nyonya muda baju merahpun lantas
memeluknya. Lalu dia membalik tubuh dan mengundurkan diri, masuk lewat pintu bundar yang ada di arah
kiri sana.
Siang-thian-ong menggeram bagai guntur menggelegar, serunya: "Ayahnya srigala, puteranyapun
srigala, mana boleh diantapi hidup di dunia ini."
Ji Bun tersentak sadar dari kejut yang membuat pikirannya butek. Mendadak ia menyadari keadaan
dirinya yang serba kepepet dan nasib apa yang bakal menimpa dirinya. Tanpa bicara mendadak dia
menubruk ke arah Siangkoan Hong, beruntun dia lancarkan serangan dengan Bu-ing-cui-sim-jiu. Gerak
tubrukannya ini secepat kilat, mendadak lagi, siapapun yang disergap begini pasti akan kelabakan. Tapi
secara refleks Wi-to-hwecu angkat sebelah tangannya menangkis, dia lupa bahwa Ji Bun menyerang dengan
tangan beracun yang bakal mencabut nyawanya.
"Blang", disusul suara gerungan rendah, tampak Ji Bun terpental balik menumbuk dinding malah, begitu
keras benturan ini sampai gardu itu terasa guncang. Tapi segera tubuh Ji Bun terpental balik dan terhuyung
hampir roboh, darah menyembur dari mulutnya.
Yang menolong Siangkoan Hong ternyata adalah Thong-sian Hwesio. Pertama kali Ji Bun merasakan
kekuatan dan kehebatan Sian-thian-cin-khi. Hampir dalam waktu yang sama, suara bentakan dan hardikan
saling susul, beberapa gelombang angin pukulan sekaligus menerjang secara beruntun dengan dahsyat,
namun hanya terlambat sedetik saja, gempuran hebat ini semuanya mengenai tempat kosong.
Berubah air muka Wi-to-hwecu, yang lainpun ikut pucat dan beringas.
Ji Bun insaf usahanya sudah gagal dan entah nasib apa yang akan menimpa dirinya, namun dia pantang
menyerah, meski harus menemui ajal dia tetap berjuang sampai titik darah terakhir.
Setelah menyeka darah diujung mulutnya, dengan niat gugur bersama musuh, tangannya membelah ke
arah Bu-cing-so yang berdiri paling dekat. Walaupun dia sudah terluka, namun sejak mendapat saluran
Lwekang orang tua aneh di jurang Pek-ciok-hong, kecuali Thong-sian Hwesio, kekuatannya kini tiada orang
lain yang mampu menandinginya, maka dapatlah dibayangkan betapa dahsyat serangan yang nekat dan
siap adu jiwa ini.
Bu-cing-so melayani secara tergesa-gesa dan keripuhan, keruan ia terdesak mundur hingga keluar gardu.
Di tengah bergolaknya angin pukulan yang menderu, semua perabot yang ada di dalam gardu sama tersapu
porak peronda, tiang gardu juga berguncang seakan-akan ambruk.
Setelah melancarkan serangannya, Ji Bun tidak pedulikan hasilnya, sigap sekali dia putar tubuh terus
menubruk ke arah Wi-to-hwecu. "Omitohud!' ditengah sabda Thong-sian yang bergema itu telapak
tangannya cepat mengebut. Segulung angin lembut dan kuat segera menerjang Ji Bun, kelihatan kebutan
tangan ini menimbulkan segulung angin lunak, tapi begitu Ji Bun keterjang, baru terasa kekuatannya
ternyata bukan kepalang hebatnya.
Bagai diterjang badai mengamuk seketika badan Ji Bun terpental terguling-guling di luar pekarangan dan
tak mampu bangun lagi, lukanya bertambah berat, darah menyembur semakin banyak. Orang-orang di
dalam gardu serempak memburu keluar dan mengurungnya di tengah.
Setelah mengatur napas, pelan-pelan dengan menahan sakit Ji Bun merangkak bangun, teriaknya
beringas: "Aku tak kuasa mengkerumus daging kalian, matipun aku akan mencabut nyawa kalian!" Betapa
tebal kebencian yang terkandung dalam sumpahnya ini, orang-orang yang mengelilinginya sama merasa jeri
dan ngeri.
Siang-thian-ong, si cebol tua paling berangasan, badannya yang buntak tambun seperti bola menggeser
maju, bentaknya. "Anak keparat ini memang berwatak srigala, jangan dibiarkan hidup merajalela di dunia
ini."
Di tengah bentakannya, pukulannyapun melanda ke arah Ji Bun.
Mendelik liar mata Ji Bun, sekuatnya dia himpun sisa kekuatannya untuk menangkis. "Plak." Siang-thianong
menggelinding balik, sementara Ji Bun roboh terguling lagi, darah tambah deras menyemprot dari
mulutnya, mukanya pucat pias seperti kertas. Namun dia berusaha bangun, tapi tersungkur jatuh, beruntun
tiga kali baru dia berhasil berdiri dengan langkah sempoyongan dan badan limbung.
Siang-thian-ong menggerung seperti banteng ketaton, badannya yang bundar tiba-tiba membal ke atas,
telapak tangannya sebesar kipas terus mengepruk. Pandangan Ji Bun berkunang-kunang, kupingnya
mendenging, jangan kata melawan, untuk berkelitpun sudah tak kuasa lagi, terpaksa dia terima ajal saja.
Bayangan berkelebat, tahu-tahu Wi-to-hwecu maju menahan pukulan Siang-thian-ong, katanya: “Harap
berhenti dulu!"
Dengan bersungut gusar Siang-thian-ong mundur ke belakang.
Wi-to-hwecu langsung mendekati Ji Bun, katanya: "Ji Bun, kali ini kubebaskan kau turun gunung,
selanjutnya masing-masing pihak tiada utang piutang, kalau bertemu lagi, aku pasti membunuhmu."
Ji Bun tenangkan diri, katanya dengan tegas: "Siangkoan Hong, hari ini kau tidak membunuhku, aku
bersumpah akan menuntut balas kepadamu."
"Terserah!" ujar Wi-to-hwecu, lalu dia berpaling dan berseru kepada Ko Ling-jin yang berdiri jauh di
belakang sana: "Ko-congkoan, antar dia turun gunung."
Ko Ling-Jin mengiakan. Dengan tatapan penuh dendam dan kebencian Ji Bun tatap setiap orang yang
hadir, lalu dengan langkah sempoyongan beranjak keluar. Ko Ling-jin mengikuti di belakangnya. Tiada yang
dipikirkan, seperti orang yang baru sembuh dari sakit lama, langkah Ji Bun turun naik sambil menahan derita
luar biasa. Hanya dendam dan kebencian saja yang mempertahankan dirinya, kalau tidak mungkin dia sudah
tidak sanggup angkat kaki.
Setelah keluar dari benteng terdepan, Ko Ling-jin segera kembali. Seorang diri Ji Bun turun dari Tongpek-
san, waktu itu sudah kentongan kedua, perjalanan yang biasanya hanya ditempuh setengah jam, kini
harus empat jam. Akhirnya ia tersungkur roboh di pinggir jalan, tak tertahan lagi ia merintih-rintih. Rebah
telentang kira-kira semasakan air, kembali ia meronta bangun melanjutkan perjalanan dengan jatuh bangun.
Setelah fajar menyingsing baru jalan pegunungan itu dilaluinya.
Terasa sekujur badan sakit sekali seperti habis digebuki, tulang-tulang sama nyeri, selangkahpun ia tak
kuasa lagi berjalan. Ji Bun sadar bahwa luka dalamnya amat parah, kalau tidak lekas diobati, mungkin bisa
mendatangkan bahaya bagi jiwanya.
Maka sambil merangkak dan meronta dia merayap memasuki hutan, akhirnya ia duduk di bawah pohon,
dengan tertawa getir ia menggumam: "Beruntung tidak mati, kelak pasti masih ada kesempatan."
Sekonyong-konyong sebuah suara yang cukup dikenalnya berkata: "Te-gak Suseng bagaimana hasilnya?”
Sekuatnya Ji Bun angkat kepala, laki-laki tak dikenal yang memberikan Ngo-lui-cu itu tahu-tahu sudah
berdiri di depannya.
"Gagal total," sahut Ji Bun menyengir.
“Apa gagal? Bagaimana bisa gagal?"
"Digagalkan seorang nyonya muda berbaju merah."
"Siapa dia? Mana Ngo-lui-cu itu?"
"Direbut nyonya muda itu, kalau tidak mana aku bisa gagal."
"Bagaimana kau bisa meloloskan diri?"
"Mereka melepas aku pergi."
"Lho, kenapa?"
"Apa pernah menolong jiwa Wi-to-hwecu, dia utang budi kepadaku."
Memancar sinar terang yang mengandung nafsu membunuh dari mata laki-laki tidak dikenal, katanya
dingin: "Kau, pernah menolong jiwanya?"
Ji Bun mengatur napas, sahutnya gusar: "Kau hendak mengorek keteranganku?"
"Aku harus memberi laporan. Kau sudah tahu wajah aslinya?"
"Sudah, dia itulah Siangkoan Hong."
"Sejak kini kau sudah bermusuhan dengan Wi-to-hwe?"
"Memangnya perlu omong lagi?"
"Kau ingin bertemu dengan ibumu bukan?"
"Sudah tentu, tapi majikanmu .....”
Bertambah tebal nafsu membunuh laki-laki tak dikenal, katanya menyeringai: "Majikanku sudah
berpesan, kalau kau ingin bertemu dengan ibumu, pergilah ke alam baka saja."
Hampir pecah dada Ji Bun laksana dipukul godam, mendadak dia berdiri, serunya: "Apa maksudmu?"
"Kalau berhasil, anak dan ibu akan kumpul kembali, kalau gagal hanya kematianlah yang harus kau
tempuh.."
Ji Bun menyurut mundur membelakangi pohon, desisnya mengertak gigi: "Siapa sebetulnya majikanmu?
Bagaimana keadaan ibuku."
"Kau akan bertemu dan melihatnya di alam baka."
Mendidih darah Ji Bun, sambil menggerung gusar dia menubruk ke arah laki-laki tak dikenal. Karena
mengerahkan hawa murni dan menyerang dengan kalap, luka-lukanya seketika kambuh. Rasa sakit yang
luar biasa seketika membuat pandangannya gelap, badannya yang menubruk itu seketika tersungkur kaku
tak bergerak lagi.
Laki-laki tak dikenal itu menggumam: "Jangan salahkan aku, tidak bisa tidak aku harus membunuhmu."
Tangan terangkat terus menggablok punggung Ji Bun, hanya mengerang lirih Ji Bun tak bergerak Iagi,
darah merembes dari mulut dan hidungnya, daun-daun kering menjadi basah oleh darahnya.
Laki-laki tak dikenal berjongkok memeriksa urat nadi dan pernapasan Ji Bun. Setelah terbukti jantungnya
berhenti bekerja, sungguh diluar dugaan tahu-tahu dua titik air mata meleleh dari uiung matanya, katanya
menghela, napas: "Demi aku yang hidup, maka kau harus mati, jangan salahkan aku, ini memang sudah
nasibmu."
Habis berkata, dengan telapak tangannya yang kuat dia menggali liang lahat terus menggotong Ji Bun
dan direbahkan telentang dalam lubang serta menguburnya. Dicarinya sebuah batu besar, diatas batu dia
mengukir "Tempat abadi Te-gak Suseng". Di tengah helaan napas laki-laki tak dikenal itu terus putar badan
dan pergi.
Setelah membunuhnya, kenapa menghela napas? Kenapa menangis pula? Siapakah sebetulnya laki-laki
tidak dikenal ini?
Sang surya sudah tinggi di cakrawala, sinarnya menembus daun-daun pepohonan menyinari pusara baru
ini. Te-gak Suseng Ji Bun sudah bersemayam dalam tanah ini untuk selamanya?
Menjelang tengah hari, dua bayangan orang berlari mendatangi memasuki hutan itu, seorang adalah
nyonya baju hijau yang mengenakan cadar, tak diketahui usianya, seorang lagi adalah gadis cantik.
Nyonya berkedok itu berkata: "Kau tahu pasti kalau dia pernah kemari?"
Gadis cantik itu mengiakan.
"Memangnya laki-laki dikolong langit ini sudah mampus seluruhnya, sehingga kau justru menujui dia?"
"Suhu luluskanlah keinginan murid."
"Budak bodoh, ada permusuhan apakah dia dengan Wi-to-hwe?"
"Entahlah, murid hanya kuatir dia dibunuh oleh gembong-gembong silat durjana itu."
"Ah, menyebalkan. Tunggu di sini, aku masuk ke sana sebentar," nyonya berkedok masuk ke dalam
hutan, sementara si gadis mondar mandir. Mendadak pandangannya tertuju ke sana, pada sebuah kuburan
baru. Setelah dia melihat jelas, seketika dia memekik keras: "Dia ... dia sudah mati!"
Cepat dia menubruk maju dan mendekam di atas pusara Ji Bun dan jatuh semaput.
Tak lama kemudian nyonya berkedok telah katanya keras: "Ada apa gembar gembor ..... Heh?" Cepat dia
lari mendatangi, setelah melihat tulisan diatas nisan mulutnya mengerut: "Agaknya betul dugaan budak ini,
wah celaka!" dia melangkah maju mengebas Thian-in-hiat si gadis. Segera si gadis siuman dari pingsannya
serta menubruk kedua kaki nyonya berkedok, pecah tangisnya dengan sedih.
Lama sekali baru si gadis menghentikan tangisnya. Ia berdiri dan bersumpah dengan murka: "Aku akan
menuntut balas!"
“Menuntut balas, memangnya siapa musuhnya?"
"Siapa lagi kalau bukan orang-orang Wi-to-hwe?"
"Budak, cara bagaimana kau akan menuntut balas?"
"Dengan cara apapun, cara yang paling keji."
Si gadis mengertak gigi dan menghampiri pusara Ji Bun, air mata bercucuran pula, katanya sesenggukan:
"Adik, aku bersumpah .... menuntut balas kematianmu, kau ..... istirahatlah dengan tenteram, dik, sungguh
tak nyana kita akan berpisah untuk selamanya ..... takkan lama lagi, Cici pasti akan menyusulmu di alam
baka, tunggulah kedatanganku!"
"Anak bodoh, memangnya kau sudah tidak ingat kepada gurumu lagi."
Si gadis diam saja, hatinya luluh. Siapakah dia? Ia bukan lain Thian-thay-mo-ki adanya. Sekian lamanya
dia melamun, mendadak ia angkat kedua tangannya menggempur gundukan tanah pusara.
Lekas Nyonya berkedok menangkap tangannya, serunya: "Apa yang kau lakukan?"
"Murid ingin melihatnya untuk terakhir kali."
"Nak, dia sudah meninggal, kau tahu bagaimana keadaannya sekarang?"
"Kuburan ini masih baru, pertanda dia belum lama mati."
"Yang sudah mati biarlah pergi, kenapa kau mengusik jenazahnya ........”
"Tapi ..... oh ..... Dik!" Thian-thay-mo-ki menggerung-gerung sesambatan, begitu sedih memilukan
suaranya.
Nyonya berkedok diam saja, dia tidak membujuk atau menghiburnya. Biarlah dia menangis sepuasnya
untuk melampiaskan duka citanya. Dalam keadaan seperti ini, bujuk dan hiburan akan percuma saja.
Cukup lama baru tangis Thian-thay-mo-ki mereda. Sambil berlutut di depan pusara Ji Bun diam-diam dia
berdoa dan mengheningkan cipta. Entah apa yang diucapkannya, bibirnya kelihatan bergerak. Kejap lain
mereka sudah berangkat menuju ke markas besar Wi-to-hwe.
Tak lama setelah bayangan Thian-thay-mo-ki dan gurunya lenyap, sesosok bayangan orang muncul dari
balik hutan langsung menghampiri pusara Ji Bun, katanya menghela napas: "Tuhan menghendaki dia
berpulang, apa boleh buat. Di sini bukan tempat semayam yang cocok untuk dia, aku harus memindahkan
dan menguburnya di tempat lain dengan cara yang memadai, anggaplah sebagai kewajiban seorang sahabat
........" maka dia bekerja mengeduk tanah, keadaannya sudah tidak menyerupai manusia. Jenazah digotong
keluar serta dibaringkan di tanah berumput, orang itu menyobek pakaian dengan air yang ada disungai tak
jauh diluar hutan sana, dia membersihkan muka dan kaki tangan Ji Bun.
"Siapa di situ?" ditengah hardikan nyaring sesosok bayangan meluncur tiba. Dia adalah Thian-thay-mo-ki
yang telah kembali. Begitu melihat jenazah Ji Bun, tanpa menghiraukan siapa orang di depannya dan
bagaimana jenazahnya bisa keluar dari liang kubur, segera dia mendekap jenazah Ji Bun serta meraungraung.
Cepat sekali beberapa orang telah bermunculan pula, yang terdepan adalah nyonya berkedok baju Hijau,
di belakangnya adalah Wi-to-hwecu, Thong-sian Hwesio dan empat laki-laki seragam hitam. Mereka
menyapu pandang ke arah jenazah Ji Bun lebih dulu. Lalu perhatian tertuju kepada orang yang mengeduk
kuburan.
"Sahabat, sebutkan namamu?" tanya Wi-to-hwecu kereng.
"Cayhe adalah Thian-gan-sin-jiu!" ternyata si tabib kelilingan samaran Biau-jiu Siansing.
Mendadak Thian-thay-mo-ki berdiri, serunya menuding Biau-jiu Siansing: "Apa maksudmu
mengeluarkannya dari liang lahat?”
"Jenazahnya akan kupindah dan kukubur semestinya."
"Omong kosong, dengan alasan apa kau hendak memindah kuburannya?”
“Karena aku pernah mendapat pesan seseorang untuk melindunginya.”
"Pesan siapa?"
"Ciang Wi-bin dari Kay-hong."
`'Apa hubungan Ciang Wi-bin dengan dia?"
"Ciang Wi-bin adalah mertuanya."
"Siapa bilang?"
"Aku yang bilang, belum lama ini dia pernah mengikat perjodohan dengan puteri Ciang Wi-bin di Kayhong."
"Tak mungkin mana bisa ......”
Nyonya berkedok angkat tangan mencegah Thian-thay-mo-ki bicara lebih lanjut, lalu berkata bengis
kepada Wi-to-hwecu: "Jenazahnya ada di sini, nyata bukan?"
"Siapakah yang membunuhnya?" tanya Wi-to-hwecu.
"Kalau bukan kau pasti anak buahmu," kata si nyonya.
"Tanpa ada perintah anak buahku takkan berani sembarangan turun tangan."
"Kau sendiri bilang, waktu dia turun gunung sudah terluka parah, siapapun bisa membunuhnya dengan
gampang."
"Dengan kedudukan dan pribadiku aku berani menjamin anak buahku pasti tiada yang berani berbuat di
luar perintahku."
"Kau memang pandai mungkir dan berpura-pura."
Tiba-tiba Thong-sian menyelutuk: "Sicu ini kenapa begini kukuh."
Gusar dan membentak nyonya berkedok: "Kau ini terhitung apa, berani bicara kepadaku!"
Berubah hebat air muka Thong-sian, namun dia tetap sabar, katanya: "Pinceng pandang kau sebagai
tokoh terkemuka Bu-lim .......”
"Kau belum setimpal bicara soal ini."
Betapapun sabar Thong-sian Hwesio juga menjadi gusar, matanya mendelik, katanya: "Sam-cai Lolo,
harap kau tahu diri."
"Kau minta aku tahu diri? Ha ha ha, sudah lama aku tidak membunuh orang .......”
"Sicu mau bunuh orang? Sicu kira Sam-cai-cui-hun tiada bandingannya dikolong langit ini?"
Sam-cai Lolo terkekeh, katanya: "Jika puluhan tahun yang lalu berani kau kurangajar padaku, sejak tadi
kau sudah mampus."
"Locianpwe," sela Wi-to-hwecu, "bicara dulu persoalan sekarang saja."
"Nanti akan kubereskan dengan kau," bentak Sam-cai Lolo murka. Tiba-tiba dia gerakkan tangan
kanannya, dengan jari-jari telunjuk, tengah dan manis, sama teracung menuding Thong-sian Hwesio,
bentaknya bengis: "Kalau segera kau berlutut minta ampun, aku boleh ampuni jiwamu."
Tanpa dihembus angin, jubah Thong-sian Hwesio yang longgar melambai-lambai, katanya tegas: "Biar
Pinceng menyambut tiga jari sicu."
Sam-cai Lolo menggereng gusar, ketiga jarinya teracung kearah samping, "ser, ser, ser!" tiba-tiba pohon
sebesar pelukan tiga orang setombak di sebelah kiri sana bergetar, tiga lobang yang dalam menghiasi
batang pohon yang besar itu.
Kerena memakai kedok, bagaimana reaksi dan mimik muka Wi-to-hwecu tidak diketahui, namun sorot
matanya nampak ngeri dan jera, anak buahnya sama merinding ketakutan. Memangnya siapa yang pernah
melihat dan menyaksikan ilmu jari selihay ini, mendengarpun belum pernah.
Hanya Thong-sian Hwesio tetap tenang-tenang dan adem ayem, agaknya dia tidak terkejut atau gentar
sama sekali.
"Hwesio cilik," kata Sam-cai Lolo, tak acuh dengan nada menghina, "bagaimana dirimu dibandingkan
dengan pohon itu?"
12.34. Te-gak Suseng Hidup Kembali .....??
Usia Thong-sian sudah lebih setengah abad, namun dipanggil "Hwesio cilik” sungguh lucu dan
menggelikan, namun dia tetap tenang dan berkata serius: "Sicu boleh turun tangan, kalau aku tidak kuat
melawan, anggaplah Pinceng yang bernasib jelek."
"Selama hidupku belum pernah kuhadapi kurcaci seangkuh kau, memangnya kau sudah bosan.”
"Bukan bosan hidup, tapi aku yakin dapat melawan ilmu jarimu," demikian tantang Thong-sian malah.
"Sambut jariku!" hardik Sam-cai Lolo, tiga larik sinar kemilau laksana kilat sama menyambar ke arah
Thong-sian Hwesio. Thong sian berdiri tenang sekokoh gunung, bukan saja tidak melawan juga tidak
berkelit.
Terbelalak pandangan Wi-to-hwecu, berubah pula air muka Thian-thay-mo-ki, belum pernah dia melihat
gurunya gusar dan menggunakan kepandaian mujijatnya ini.
"Cres, cres, cres", desis suara yang berubah menjadi letupan keras beruntun tiga kali. Begitu sinar
kemilau putih mengenai jubah Hwesio seperti menumbuk dinding baja saja, seketika pecah berderai
keempat penjuru. Thong-sian Hwesio hanya tergetar mundur setengah tindak.
"Sian-thian-cin-khi," seru Sam-cai Lolo terkejut.
Thong-sian menarik ilmu saktinya, katanya tawar: "Sicu memang berpengalaman luas, memang tidak
malu sebagai tokoh terkemuka Bu-lim."
Pujian atau cemoohan, orang lain tidak merasakan perbedaannya, namun bagi pendengaran Sam-cai
Lolo sungguh tidak karuan rasanya. Sejak seabad yang lalu dia sudah terkenal. Sam-cai-sinkang selamanya
belum pernah menemukan tandingan, di mana Sam-cai-ciat muncul, golongan hitam putih sama lari
menyingkir. Sungguh tak nyana setelah puluhan tahun mengasingkan diri, hari ini sudah kecundang habishabisan.
Karuan gemetar sekujur badannya saking gusar dan malu, teriaknya melengking: "Budak, hayo
pergi."
Thian-thay-mo-ki melirik ke arah jenazah Ji Bun, katanya pilu: "Suhu ......."
"Mau pergi tidak?" bentak Sam-cai Lolo.
"Locianpwe tidak mempersoalkan sebab musabab kematiannya tanya Wi-to-hwecu dengan suara ramah.
Tanpa bicara dan tidak melirik, tahu-tahu Sam-cai Lolo berkelebat menghilang.
Thian-thay-mo-ki sudah angkat langkah menyusul ke sana. Tapi pada saat itulah, tiba-tiba Biau-jiu
Siansing berteriak dengan suara aneh: "Lihat ..... dia ..... dia tidak mati."
Thian-thay-mo-ki segera putar balik, teriaknya penuh emosi: "Dia tidak bisa mati, kenapa tidak terpikir
sejak tadi olehku."
Wi-to-hwecu dan lain-lain sama melenggong bingung, memang badan Ji Bun kelihatan bergerak-gerak
seperti mengejang dadanya pun turun naik. Seseorang yang sudah mati dan dikubur masih bisa hidup
kembali, sungguh kejadian yang aneh sekali.
Mungkin karena terlalu senang, kaki Thian-thay-mo-ki sampai lemas dan mendeprok di tanah.
Di antara tatapan semua orang yang serba aneh, kaget dan tidak percaya, pelan-pelan tapi pasti daya
hidup Ji Bun pulih kembali. Sepeminuman teh kemudian, semua orang menanti dan menyaksikan dengan
sabar, terdengar tenggorokannya berbunyi, dia kini betul-betul sudah hidup kembali setelah mati.
"Terima kasih kepada Thian Yang Maha Kuasa, ini berarti jiwa seorang yang lain telah engkau
selamatkan juga," demikian ujar Biau-jiu Siansing seorang diri.
Siapakah jiwa seorang yang lain? Kata-katanya ini tidak menimbulkan reaksi apa-apa, karena perhatian
semua orang tertuju kepada kejadian di depan mata yang aneh dan jarang terjadi ini.
Kejadian mayat hidup sering terdengar dan diceritakan oleh orang-orang yang suka mendongeng, mayat
hidup umumnya kaku, namun mayat yang mereka lihat sekarang ini adalah lemas dapat bergerak bebas
seperti manusia biasa, bau mayat tidak tercium. Malah suara deru napasnya terdengar dengan jelas.
Thian-gan-sin-jiu alias Biau-jiu Siansing segera berjongkok memeriksa denyut nadi Ji Bun. Teriaknya
gembira: "Betul-betul hidup kembali, sungguh berbahaya, kalau bukan pikiranku ingin mengebumikannya di
tempat lain, mungkin dia sudah mati betul-betul."
Tiba-tiba dia berputar ke arah Thian-thay-mo-ki dan bertanya: “Nona tadi bilang dia tidak akan mati dan
seharusnya ingat akan hal ini ...... apakah maksud ucapanmu .......”
Sudah terpentang mulut Thian-thay-mo-ki, namun dia urung bicara, ia geleng kepala tanpa menjawab.
Biau-jiu Siansing angkat kepala, katanya kepada Wi-to-hwecu: "Hwecu tidak keberatan bila dia kubawa
pergi bukan?"
Wi-to-hwecu menoleh kearah Thong-sian Hwesio, Thong-sian Hwesio sedikit mengangguk, lalu Wi-tohwecu
berkata: "Boleh, tapi beritahu kepadanya, pihak kami sudah mengalah sejauh ini, kelak kalau bersua
lagi, bergantung kepada nasibnya saja,” kembali dia pandang Ji Bun sebentar lalu ajak Thong-sian dan lainlain
pergi.
Ji Bun merintih pelahan, namun kedua matanya masih terpejam, agaknya daya hidupnya masih terlalu
lemah.
Dengan penuh kasih sayang Thian-thay-mo-ki mengawasi dan menunggu perkembangan selanjutnya dia
berdiri lalu berkata kepada Biau-jiu Siansing: "Tuan hendak membawanya pergi? Kenapa?"
"Cayhe mendapat pesan dari seorang untuk melindunginya."
"Kularang kau menyentuhnya. Aku sendiri yang akan merawat dia."
"Nona," kata Biau-jiu Siansing tergelak-gelak, "ketahuilah, dia laki-laki yang sudah punya isteri dan
keluarga?"
Berubah air muka Thian-thay-mo-ki, desisnya dingin: "Berdasar apa kau berani berkata demikian? Apa
pula buktinya?"
"Ciang Bing-cu sudah berikan anting-anting pualam kepadanya sebagai tanda pertunangan."
"Mungkin kau salah mengerti, hal ini kuketahui dengan jelas, hakikatnya dia tidak menaruh cinta kepada
Ciang Bing-cu."
"Mungkin nona betul, namun kejadian di dunia ini sering berubah. Nanti setelah dia siuman, boleh kau
tanya dia."
Kebetulan Ji Bun membuka mata, pandangannya pudar, biji matanya berputar dengan hambar agaknya
belum sadar betul-betul.
"Dik, adik," panggil Thian-thay-mo-ki iba.
Lama sekali baru timbul perubahan pada air muka Ji Bun, akhirnya mulutnya bergerak, suaranya lirih
bagai nyamuk: ''Aku ..... sudah mati?"
"Tidak, Dik, kau tidak bisa mati, kau hidup kembali!"
"Mana ..... laki-laki itu? Laki-laki yang turun tangan .... kepadaku."
"Laki-laki? Siapa dia?''
"Cici, kaukah yang menolongku?"
"Nanti saja dibicarakan, sekarang biar kubantu kau memulihkan tenaga."
"Jangan ...... sentuh tangan kiriku."
Bercahaya mata Biau-jiu Siansing, katanya: "Mengobati luka menyembuhkan sakit adalah keahlianku,
biarlah aku saja yang membereskan."
"Baiklah," ujar Thian-thay-mo-ki, "bikin repot kau saja."
Pandangan Ji Bun beralih kepada Biau-jiu Siansing, tanyanya keheranan: "Kau juga berada di sini?"
"Ji Bun," ujar Biau-jiu Siansing tertawa, "Kau .......”
"Dia bernama Ji Bun?'' tanya Thian-thay-mo-ki matanya terbeliak.
Biau-jiu Siansing diam saja, agaknya dia menyesal kelepasan omong membongkar asal-usul Ji Bun.
Dengan penuh penyesalan Ji Bun pandang Thian-thay-mo-ki, katanya terus terang: "Cici, maafkan
kerahasiaan ini sekian lama, adik memang bernama Ji Bun, putera tunggal Jit-sing-pocu Ji Ing-hong."
“O,” tukas Thian-thay-mo-ki bersuara sekali, seperti hendak bicara lagi. Namun melihat keadaan Ji Bun
yang lemah, dia urungkan niatnya, berhenti sebentar baru dia menambahkan: "Dik, biar kubantu
pengobatan dirimu."
"Nona," tukas Bian-jiu Siansing, “dia harus minum obat untuk menambah semangat .......”
"Tidak usah," tukas Thian-thay-mo-ki ketus, tanpa menghiraukan reaksi Biau-jiu Siansing, dia berjongkok
dan duduk di samping Ji Bun, telapak tangan menempel di Meh-kin-hiat Ji Bun, pelan-pelan hawa murni dia
salurkan ke badan orang. Cara pengobatan seperti ini biasanya memang sering dilakukan oleh kaum
persilatan.
Ji Bun pejamkan kedua mata, dengan sisa tenaganya pelan-pelan iapun himpun hawa murni dan
pusatkan tenaga, mukanya yang pucat pelan-pelan bersemu merah. Kira-kira satu jam kemudian baru
Thian-thay-mo-ki berhenti dan menarik tangannya berdiri, wajahnya kelihatan pucat.
Ji Bun buka mata dan bergegas berdiri, katanya tulus. "Cici, banyak terima kasih atas pertolonganmu."
Thian-thay-mo-ki meleroknya sekali, katanya: "Terima kasih segala, aku tidak suka mendengarnya."
"Ji Bun," timbrung Biau-jiau Siansing, apakah yang telah terjadi?"
Ji Bun mengerut alis, katanya: "Apa yang kau ketahui?"
"Pengalamanmu sampai kau dikubur di sini."
Mengawasi liang kubur dan batu nisan yang bertata nama julukannya, berkobar amarah Ji Bun. Dia tahu
dengan pengalaman Biau-jiu Siansing yang luas mungkin tahu siapa majikan yang dikatakan laki-laki tak
dikenal itu, maka dengan sabar dia mulai ceritakan pengalamannya. Dia menambahkan: "Tahukah kau siapa
kiranya majikan orang tak dikenal itu?"
"Kukira tidak mungkin, kecuali ......” Biau-jiu Siansing ragu-ragu.
"Kecuali apa?"
Sorot mata Biau-jiau Siansing menampilkan rona yang serba susah, dia menengadah mengawasi langit,
lama sekali baru berkata dengan nada berat: "Liku-liku persoalan ini amat rumit, perlu waktu cukup lama
untuk menyelidikinya."
"Tuan tahu asal usul orang itu?"
"Tidak tahu."
"Tapi kau tadi bilang tidak mungkin kecuali .... apa maksudnya?"
"Itu hanya dugaan, mungkin tidak cocok satu dengan yang lain."
"Kurasakan kau tidak bicara sejujurnya."
"Ji Bun, dalam waktu sebulan pasti kuberi jawabanku, bagaimana?"
"Apakah kau bisa menepati janji?"
"Omong kosong," ujar Biau-jiu Siansing sungguh-sungguh, "begini saja, kau boleh ajukan persoalan ini
kepada mertuamu Ciang Wi-bin."
Tiba-tiba berubah air muka Thian-thay-mo-ki, selanya: "Dik, sejak kapan kau mengikat pernikahan
dengan puteri keluarga Ciang?"
Kikuk dan rikuh Ji Bun, sahutnya: Ah, tidak."
"Ji Bun," kata Biau-jiu Siansing dingin, "seorang laki-laki harus menepati janji, mana boleh kau menjilat
ludahmu sendiri?"
Panas muka Ji Bun, katanya: "Berapa banyak persoalan yang tuan ketahui?"
"Semua persoalanmu tidak seluruhnya kuketahui, namun delapan puluh persen kukira ada."
"Dik, jadi hal itu memang benar?" tanya Thian-thay-mo-ki sedih.
"Tidak!" sahut Ji Bun tegas.
"Ji Bun, soal ini tiada sangkut pautnya dengan Lohu, namun kusaksikan sendiri dari kecil Bing-cu tumbuh
dewasa, sekali-kali kau jangan menghinanya."
"Menghina?"
"Kau menerima anting-antingnya, pernah berjanji mengikat perjodohan pula bukan?"
"Dia sendiri yang memberikan anting-anting, waktu itupun kuajukan syaratku."
"Mana boleh dikatakan syarat, kau lupa janji dan ikatan kedua orang tua kalian."
"Soal jodoh ini tidak ditentukan secara adat waktu itu, kan hanya secara lisan saja .....”
"Memangnya apa maksudmu waktu kau berjanji dihadapan mertuamu?”
"Janji apa?"
"Kau berjanji begitu racun dalam tubuhmu bisa ditawarkan, segera kau akan menepati janji
melangsungkan pernikahan, betul tidak?"
"Benar, tapi kenyataan telah bicara, racun ini selamanya takkan bisa tawar."
"Siapa bilang tidak bisa ditawarkan?"
Tersirap darah Ji Bun, teriaknya: "Apakah ......"
"Ya, Ciang Wi-bin sudah memperoleh cara untuk menawarkan racunmu, katanya, umpama dia harus
mengorbankan segalanyapun tidak akan menyesal."
Ji Bun diam, hatinya bergolak seperti ombak samudera yang mengamuk, terbayang olehnya betapa besar
perhatian dan kasih sayang Ciang dan puterinya pada saat dirinya menghadapi jalan buntu, sungguh tidak
ternilai .....”
Pucat, muka Thian-thay-mo-ki, air mata tak tertahan bercucuran, katanya sedih: "Dik, semoga kelak ......
berjumpa lagi!" Dengan langkah cepat dia terus berlari pergi.
"Cici!" teriak Ji Bun serta melesat ke sana mengejar, tapi sekali gerak Biau-jiu Siansing sudah
menghadang di depannya, katanya: "Tak usah dikejar."
"Apa tuan tidak keterlaluan mengurusi diriku?” semprot Ji Bun gusar.
"Soalnya Lohu dipercayai orang untuk ......”
"Cayhe tidak suka ada orang mencampuri urusan pribadiku."
"Jadi kau mau ingkar janji?”
"Siapa bilang?"
"Baiklah, datanglah ke Kay-hong dan bicaralah secara langsung dengan mertuamu."
Ji Bun tahu betapa besar dan murni cinta Thian-thay-mo-ki terhadap dirinya. Caranya berlari pergi
dengan sedih dan putus harapan, tentu hatinya sangat menyesal. Akan tetapi dendam sakit hati keluarga
belum terbalas, mati hidup sendiri susah di ramalkan, terutama tangan kirinya yang beracun pantang dirinya
mendekati perempuan. Apakah pantas dirinya memperoleh cinta kedua orang gadis? Dengan tertawa getir
dia merogoh keluar anting-anting pualam dari sakunya, katanya: "Tolong tuan kembalikan anting-anting ini
kepada paman Ciang, beliau pasti maklum akan kesulitan Cayhe."
Biau-jiu Siansing melengak, tanyanya: "Kau sudah mendapat kembali anting-anting ini?"
"Ya, dari tangan Kwe-loh-jin."
"Ehm, tapi .... Lohu tidak berani mengurus soal ini. Dengan setulus hati dan cintanya yang sejati Ciang
Bing-cu berikan anting-anting ini sebagai tanda mata padamu, kini kau putuskan hubungan atau atau mau
ingkar janji, kau harus bicara sendiri saja."
Ji Bun jadi serba susah, kata-kata Biau-jiu Siansing mengetuk hati dan menusuk perasaannya. Terbayang
olehnya betapa kasih sayang Ciang Bing-cu yang menungguinya semalam suntuk di kamar buku tempo hari,
meladeninya dengan telaten, betapapun dirinya sudah pernah berjanji.
"Ji Bun," ujar Biau-jiu Siansing, "Lohu peringatkan sekali lagi, untuk menyembuhkan tangan kirimu ini,
siang malam Ciang Wi-bin berusaha tanpa mengenal lelah, betapapun dia berusaha mencari obat pemunah
racun tanganmu. Kini resep-resep obat yang dibutuhkan sudah mulai terkumpul, memangnya kau anggap
sepele susah payahnya itu?"
Ji Bun percaya apa yang dikatakan orang tua aneh di dasar jurang tentang ilmu beracun tangan kirinya
memang takkan tawar kalau ajalnya belum tiba atau tangannya ini dibuntungi, bahwa sekarang Ciang Wibin
katanya berhasil memperoleh obat penawarnya, ini sungguh diluar tahunya, karena tertarik, ia bertanya:
"Resep apakah yang diperoleh paman Ciang untuk menawarkan racun tanganku?"
"Lohu sendiri tidak tahu, kau tanya langsung padanya saja."
Ji Bun tidak bertanya lagi, kini tak terpikir pula olehnya untuk menawarkan racun ditangan kirinya, hanya
satu niat yang masih berkobar dalam benaknya, yaitu menuntut balas. Tangan kirinya yang beracun
merupakan senjata ampuh yang menjadi andalannya, soal lain tidak pernah terpikir lagi.
Tiba-tiba Biau-jiu Siansing unjuk rasa, heran, tanyanya: "Aneh, bagaimana kau bisa tidak mati?"
Selama ini Ji Bun sendiri juga sedang bingung. Seingatnya belum pernah dia makan sesuatu obat
mujarab apapun, tidak pernah meyakinkan suatu ilmu sakti. Namun beruntun dirinya pernah mati tiga kali,
tiga kali pula dirinya hidup kembali dengan segar bugar. Kenapa hal ini bisa terjadi? Memang kejadian ini
merupakan peristiwa aneh dan janggal.
Sejak dirinya luka dan terpukul mampus oleh laki-laki tak dikenal terus dikubur, sedikitnya dirinya sudah
mati selama satu jam. Manusia biasa tentu sudah mati terpendam tanpa bisa bernapas, masakah dirinya
masih bisa hidup? Ataukah ada seseorang yang selalu menolongnya secara diam-diam? Lalu siapakah dia?
Semakin dipikir semakin bingung dan pusing kepalanya, terasa kejadian ini sangat aneh dan mengerikan.
Sebab apakah setelah dirinya mati bisa hidup kembali? Dengan bingung dia geleng-geleng kepala,
katanya:"Cayhe sendiri juga tak tahu persoalannya.”
Seperti ingat sesuatu, tiba-tiba Biau-jiu Siansing berkata: "Ya. sekarang Lohu ingat, pasti dia tahu seluk
beluk persoalannya."
"Dia?" tanya Ji Bun melenggong. "Siapa?"
“Thian-thay-mo-ki, dia pernah bilang sesuatu, namun Lohu tidak perhatikan, kini kalau dipikirkan, pasti
ada latar belakangnya ......”
"Ada yang dia katakan?"
"Dia bilang: “seharusnya aku ingat akan hal ini, dia tidak bisa mati."
"O," kata Ji Bun, "apakah dia yang mengeduk Cayhe dari liang lahat?"
"Bukan, Lohu yang mengeluarkan kau."
"Kau yang mengeluarkan aku?"
"Ya, maksudku semula hendak memindah jenazahmu dan dikubur semestinya untuk memenuhi pesan
Ciang Wi-bin. Tak nyana kau malah hidup kembali, sungguh kebetulan sekali, kalau bukan lantaran
keinginanku itu, mungkin sekarang kau masih rebah di bawah tanah."
Merinding Ji Bun dibuatnya, memang betul, kalau Biau-jiu Siansing tidak mengeduk dirinya, jiwanya pasti
sudah tamat. Itu berarti dirinya utang jiwa padanya, lekas dia memberi hormat serta berubah panggilan:
"Terima kasih atas pertolongan Cianpwe, kelak pasti kubalas kebaikan ini.”
"Ah, sudahlah," ujar Biau-jiu Siansing tertawa lebar, "anggaplah ajalmu belum tiba, sehingga mengalami
kejadian yang sangat kebetulan. Cuma secara tulus Lohu mengharap kau tidak menyia-nyiakan harapan
keluarga Ciang kepadamu, terutama Ciang Bing-cu yang begitu besar dan murni cintanya padamu. Sejak
kau menolongnya dari tangan orang-orang Cip-po-hwe, dia sudah bersumpah tanpa kau dia tidak akan mau
kawin dengan laki-laki lain, umpama kau mati begini saja, kukira budak itu juga akan mencari jalan pendek."
Tersirap darah Ji Bun, batinnya, betulkah begitu luhur dan murni cinta Ciang Bing-cu kepadaku? Kalau
betul, cara bagaimana diriku harus menyelesaikan soal asmara ini? Lalu bagaimana pula dirinya harus
bersikap terhadap Thian-thay-mo-ki.
Teringat Thian-thay-mo-ki, pikirannya menjadi kalut, dia merasa utang budi atas pertolongannya
beberapa kali. Iapun sudah meresapi betapa besar pula cinta orang terhadap dirinya. Sayang dia tidak
senang melihat tingkah lakunya yang genit, sepak terjangnya tak ubahnya seperti perempuan jalang.
Melihat Ji Bun melongo saja, Biau-jiu Siansing bertanya pula: "Ji Bun, soal menuntut balas, kuharap kau
berembuk dulu dengan Ciang Wi-bin sebelum bertindak.”
Ji Bun mengiakan dan manggut-manggut.
"Sekarang boleh langsung kau pergi ke Kay-hong. Ingat, dalam satu bulan Lohu akan bantu kau
menyelidiki siapa penculik dan musuh yang melukai kau, tiba waktunya nanti Lohu akan mencarimu lagi."
"Cianpwe boleh silakan dulu."
Biau-jiu Siansing geleng-geleng kepala, setelah menghela napas, dia melejit pergi.
Pikiran Ji Bun masih kalut, hatinya risau, perasaannya campur aduk, entah benci, dendam, kecut atau
getir .....”
Dia masih mematung diam dikala sebuah bayangan tiba-tiba meluncur turun dihadapannya, ternyata
Biau-jiu Siansing putar balik lagi.
Ji Bun bertanya : "Ada petunjuk apa lagi Cianpwe?”
"Maukah kau menutupi muka aslimu saja?"
"Kenapa?”
"Situasi sekelilingmu amat genting, keadaanmu sekarang amat berbahaya, banyak orang menghendaki
jiwamu"
"Maksud Cianpwe supaya aku menyamar?“
"Ya, disamping orang-orang Wi-to-hwecu, Kwe-loh-jin yang kau katakan sudah tiga kali membunuhmu,
walau kurang jelas tujuannya, namun dia tetap tidak akan melepasmu. Bukan mustahil begitu kau muncul,
kau akan mengalami pembokongan lagi. Kau di tempat terang musuh dipihak gelap. Untuk membongkar
kedoknya jelas amat sulit, jalan baik untuk meluruskan usahamu, sekarang kuburan ini harus dikembalikan
dalam bentuk semula, supaya dia tidak mengira kalau kau telah hidup kembali."
"Tapi soal Wanpwe hidup kembali kan sudah diketahui dan disaksikan orang lain."
"Itu tidak penting, tujuannya hanya untuk mengaburkan pandangan musuh saja, dan lagi setelah
menyamar dalam bentuk lain, untuk selanjutnya nama Te-gak Suseng harus dihapus dari kalangan Kangouw.
Carilah kesempatan dan menyelidiki, Lohu juga akan bekerja dari jurusan lain, mungkin dengan kerja
sama kita akan berhasil membongkar kedoknya."
Ji Bun berpikir sebentar, akhirnya menjawab: “Baiklah, kuterima usul Cianpwe."
Maka kuburan Te-gak Suseng kembali ditegakkan lagi.
12.35. Orang Desa Penagih Darah
Biau-jiu Siansing keluarkan dua butir macam bundar sebesar kelengkeng, katanya: "Yang berwarna
kelabu adalah obat untuk merias muka, gunakan air dan poleskan dimuka leher dan kaki tangan yang
terlihat dari luar, kulit badanmu akan berubah. Sedang yang berwarna putih ini untuk pemunahnya atau
untuk memulihkan bentukmu semula. Kulitmu yang sudah berubah warna, kecuali dipunahkan dengan obat
aslinya, selamanya tidak akan luntur. Dan satu hal lagi harus kau perhatikan, setelah kulit wajahmu
berubah, suaramu juga harus kau ganti supaya tidak konangan, dengan dasar latihan Lwekangmu, kukira
bukan soal sulit untuk mengubah suaramu."
"Soal kecil ini pasti dapat kulakukan," sahut Ji Bun.
"Demikian pula dandananmu selanjutnya harus diganti, Lohu kebetulan membawa bekal pakaian, nah
ambillah," Biau-jiu Siansing membuka peti obatnya, di lapisan paling bawah dia keluarkan seperangkat
pakaian dan diberikan pada Ji Bun.
Itulah satu stel baju dan celana katun warna biru, warnanya sudah luntur dan agak kumal. Bajunya
malah sudah tambalan. Dalam hati Ji Bun membatin, dengan berdandan seperti ini entah berubah jadi apa
bentuk dirinya ini ......”
Biau-jiu Siansing panggul peti obatnya, dengan menenteng dan membunyikan kelintingan dia beranjak
pergi.
Setelah ganti pakaian, Ji Bun memendam pakaiannya yang berlepotan darah, lalu pergi ke sungai di
pinggir hutan untuk membersihkan badan. Obat rias bungkusan kelabu dia keluarkan lalu dicampur air
sungai dan dipoleskan ke muka dan seluruh badan, kedua lengannya kini berubah coklat legam.
Habis merias diri dia berkaca pada air sungai yang jernih. Seketika dia tertawa geli sendiri. Pelajar yang
semula ganteng kini berubah jadi orang desa yang bermuka coklat legam, jangan kata orang lain, dia
sendiripun tak kenal lagi pada wajahnya.
Kini ke mana dia harus pergi? Ia melamun. Dendam kebencian berkobar pula dalam hatinya. Biau-jiu
Siansing menyuruhnya pergi ke Kay-hong merembuk dengan Ciang Wi-bin, sakit hati keluarga mana boleh
menyangkut jiwa orang lain. Apalagi musuh sehebat Thong-sian Hwesio, memang Ciang Wi-bin mampu
menandinginya.
Memandang jauh ke puncak Tong-pek-san di sebelah utara sana, darahnya yang bergolak serasa
mendidih. Namun dia belum kuasa menuntut keadilan kepada orang-orang yang katanya menjunjung
keadilan. Betapa derita dan tersiksa lahir batinnya sungguh sukar dibayangkan.
Dengan hambar tanpa tujuan akhirnya dia keluar dari hutan menempuh perjalanan.
Kini tugas dan kewajibannya bertambah besar, dengan munculnya nyonya muda berbaju merah di
markas Wi-to-hwe. Dengan mudah orang merampas Ngo-lui-cu dari tangannya, jelas Lwekangnya lebih
tinggi dari Thong-sian Hwesio. Serta merta dia bergidik. Sungguh dia tidak habis pikir, kenapa tokoh-tokoh
silat kosen di jagat ini seolah-olah berkumpul di dalam Wi-to-hwe?
Tengah ia berjalan, tiba-tiba dari sebelah atas sana terdengar bentakan: "Berhenti!"
Ji Bun berhenti dan memandang ke sana, tampak tujuh orang berseragam hijau berjajar di sana, seorang
pemimpinnya memegang sebuah panji kecil segi tiga dengan huruf "ronda" ditengah, agaknya mereka ini
rombongan peronda dari Wi-to-hwe. Nafsu membunuh seketika bersemi dalam hati Ji Bun.
Sikap pemimpin ronda ini ternyata cukup ramah, setelah mengawasi Ji Bun sekian lama baru menegur:
"Orang mana kau?"
Untuk menghabisi nyawa ketujuh orang bagi Ji Bun segampang membalik tangan. Namun setelah dipikir,
sementara dia tekan nafsunya. Terhadap kaum keroco tiada gunanya mengumbar nafsu. Maka dengan
suara serak dia berkata: "Hamba orang berdekatan sini."
"Dimana tempat tinggalmu?"
"Ngo-li-kip di luar kota Cinyang."
"Untuk apa kau datang kemari?"
"Mencari binatang piaraan yang hilang."
"Jangan kau kira mataku ini sudah lamur sahabat, kau terang orang persilatan?"
Walau Ji Bun sudah menyamar dan berganti dandanan, namun dia lupa bahwa Lwekangnya tinggi,
langkah kaki dan sorot matanya tentu jauh berbeda dengan orang biasa, sekali bertemu orang tentu segera
tahu. Otak Ji Bun cukup cerdik, segera dia menyadari akan kekurangannya ini, terpaksa harus bersabar,
katanya tertawa lebar: "Betul, aku si hitam memang pernah belajar beberapa jurus silat, tapi bukan
persilatan."
Laki-laki yang memegang panji ronda mengamatinya lagi sekian lamanya, katanya kereng: "Saudara tahu
tempat apakah ini?"
"Di bawah Tong-pek-san."
"Kau melihat tanda-tanda yang berada di sana?"
"Wah ..... hi hi hi ..... aku orang desa, buta huruf."
Seorang baju hitam yang lain tiba-tiba nyeletuk: "Thaubak (pemimpin), di sini baru saja terjadi perkara
jiwa, orang hitam ini agak mencurigakan, lebih baik digusur ke atas gunung untuk ditanyai keterangannya?"
Laki-laki pemegang panji manggut-manggut, katanya kepada Ji Bun: "Sahabat, sukalah kau ikut kami ke
atas gunung, kalau betul kau penduduk sekitar sini, kami pasti tidak akan mengganggumu."
Berkerut alis Ji Bun, katanya: "Kau suruh aku naik gunung, ah, aku tidak punya tempo."
"Sahabat, kami sudah cukup sabar dan ramah terhadapmu, kuharap kau tidak mempersulit kami, kalau
terpaksa ......"
"Terpaksa apa? Sudah kubilang tiada tempo," berkobar pula nafsu Ji Bun.
Laki-laki pemegang panji menarik muka, katanya: "Sahabat, apa sih artinya kalau pakai kekerasan?”
"Apa kekerasan? Jadi kau mau berkelahi? Hari ini aku tidak ingin membunuh orang."
Kata-kata ini membuat ketujuh orang itu berubah air mukanya, pemimpinnya, segera menjengek:
"Sahabat, di wilayah Wi-to-hwe yang terlarang tidak boleh membunuh orang."
Ji Bun memang ingin membunuh mereka, tapi sekilas dipikir, buat apa membuat gara-gara dengan kaum
kroco, katanya dingin: "Jangan kau paksa aku membunuh kalian. Minggir!"
"Sahabat memangnya sudah gila," bentak laki-laki pemegang panji kecil. Tiba-tiba dia menubruk maju
seraya ulur tangan mencengkeram pundak Ji Bun, serangan ini cukup lihay dan cekatan. Agaknya dia
memang memiliki kepandaian lumayan, tapi kebentur Te-gak Suseng, kepandaian ini seperti telor
menumbuk batu. Kalau ketujuh orang ini tahu siapa yang berhadapan dengan mereka, pasti sudah sejak
tadi lari terbirit2.
"Huuuaaaah!" ditengah lolong panjang yang menyayat hati, laki-laki pemimpin itu tiba-tiba jatuh
terjengkang. Kaki tangan berkelejetan sebentar terus tak bergerak lagi. Keruan keenam peronda yang lain
serasa copot nyalinya, mereka berdiri terpaku dengan mata terbeliak, lawan tidak kelihatan bergerak,
namun pemimpinnya sendiri tiba-tiba jatuh mampus, sungguh kejadian aneh.
Begitu nafsu membunuh timbul sudah tidak terbendung lagi. Terbayang oleh Ji Bun betapa mengenaskan
kematian seluruh penghuni Jit-sing-po. Kini tibalah saatnya utang darah ditagih dengan darah pula. Kenapa
aku harus menaruh kasihan segala.
Maka tanpa berhenti segera ia melangkah maju, belum lagi keenam peronda itu sempat menyelamatkan
diri, beruntun mereka menjerit berjatuhan saling tindih. Dalam sekejap ketujuh peronda Wi-to-hwe ini sudah
dicabut nyawanya.
Sekilas Ji Bun mengawasi mayat-mayat yang bergelimpangan itu, lalu tinggal pergi, langkahnya tetap
bergoyang gontai dan lambat. Belum sepuluh tombak dia berjalan, sebuah suara dingin berkumandang dari
jauh: "Bocah keparat, putarlah kembali."
Ji Bun menoleh, dilihatnya tiga bayangan orang meluncur tiba berdiri sejajar diantara mayat-mayat yang
bergelimpangan. Laki-laki muka hitam yang terdepan jelas adalah komandan ronda Wi-to-hwe yang
bernama Khu In, dua orang dibelakangnya adalah laki-laki kekar. Agaknya bergelora dendam kesumat
ketiga orang ini, sorot mata mereka buas dan liar karena anak buahnya dibunuh.
Tiba-tiba terkiang pesan ayahnya diwaktu masih hidup: "Berantas satu persatu!" Segera dia membalik
badan dan menghampiri musuh dengan langkah lebar.
Tampang dan dandanannya mirip benar dengan orang desa yang bodoh. Keruan Khu In mengerut
kening, mungkinkah laki-laki yang tidak terpandang ini adalah pembunuh? Dengan bingung dan kurang
percaya Khu In mengawasi Ji Bun, katanya: "Kaukah yang membunuh mereka?"
"Betul," sahut Ji Bun.
Khu In tetap ragu-ragu, ia tidak percaya kalau anak buahnya terbunuh oleh orang desa ini. Kedua
pengawalnya agaknya sudah tidak sabar lagi, mereka sudah mencincing lengan baju dan menggosok
kepalan.
Ji Bun menjengek hina: "Khu In, kau tidak percaya?"
Khu In berjingkat mundur, katanya gemetar: "Sekarang aku harus percaya, dari mana kau bedebah ini
tahu namaku?"
"Memangnya ini bukan rahasia? Betul tidak?"
Muka Khu In yang hitam menjadi legam, sorot matanya bersinar buas, bentaknya kereng: "Sebutkan
nama dan gelaranmu?"
Sekilas Ji Bun mendapat ilham, segera ia menjawab dingin: "Aku yang rendah adalah Siu-hiat-jin
(penagih darah)."
"Apa? Siu-hiat-jin? Tak pernah dengar di kalangan Kang-ouw ada nama gelaran ini?"
"Itulah karena kau cetek pengalaman dan sempit pengetahuan."
Kedua laki-laki pengawal itu betul-betul tidak sabar lagi, namun sebelum mendapat perintah mereka
tidak berani bertindak. Khu In si komandan rondapun menjadi gusar, bentaknya; "Apa betul kau yang
membunuh mereka?"
"Perlu keterangan lagi?"
"Kenapa kau bunuh mereka?"
"Menagih darah."
"Menagih darah apa?"
"Setelah kau mampus, kau akan mengerti."
"Ringkus dia!" bentak Khu In. Memangnya perintah ini yang ditunggu kedua pengawalnya. Serempak
mereka menubruk maju seperti harimau menerkam mangsanya, keempat tangan mereka mencakar
bersama.
"Cari mampus!" Ji Bun menggeram, tangan kiri menutul enteng, berbareng tangan kanan menyapu
keras, kontan dua jeritan berkumandang menggema lembah pegunungan. Orang di sebelah kiri seperti
ketumbuk dinding tak kelihatan, seketika terbanting berguling-guling tak bergerak lagi, sementara orang di
sebelah kanan terpental tiga tombak jauhnya.
Serasa pecah jantung Khu In, hardiknya: "Siu-hiat-jin, terlalu rendah aku menilaimul"
Di tengah bentakannya, segulung angin badai seketika menyambar ke arah Ji Bun.
Ji Bun gerakkan kedua tangan, dengan kekuatan besar dia menahan. "Plaak!" di tengah benturan
dahsyat, tanah dan rumput terbang berhamburan. Komandan ronda Khu In mengoak tertahan dan beruntun
mundur empat langkah, mukanya yang hitam semakin gelap, darah meleleh dari ujung mulutnya
membasahi pakaiannya.
Ji Bun mendesak maju hawa nafsunya semakin bertambah, desisnya: "Khu In, serahkan jiwamu!"
"Berhenti!" untunglah pada detik-detik yang menentukan itu, sebuah bentakan yang cukup dikenal
suaranya berkumandang dari kejauhan.
Serta merta Ji Bun hentikan tangannya di tengah udara, waktu berpaling, dilihatnya sebuah tandu dipikul
mendatangi bagai terbang, dalam sekejap sudah tiba di depan mereka. Begitu tandu diturunkan, keempat
pemikul tandu yang berotot segera mundur berjajar ke belakang.
Komandan ronda Khu In segera menyongsong sambil membungkuk memberi hormat serunya:
"Menghadap Thay-siang-hau-hoat (pelindung agung)."
"Komandan Khu tidak usah banyak adat, silakan mundur ke samping."
Memangnya nafsu Ji Bun tak terkendali lagi. Kedatangan orang dalam tandu amat kebetulan baginya
untuk dibunuh satu persatu dan mengurangi kekuatan musuh.
"Komandan Khu," kata pula orang dalam tandu dengan suara dingin bengis, "periksa kematian para
korban."
Khu In mengiakan, dia membalik mayat-mayat itu serta memeriksa dengan teliti.
Pandangan tajam Ji Bun menatap ke arah tandu. Bagaimana bentuk dan tampang orang tandu sampai
sejauh belum diketahuinya, yang terang dia adalah perempuan, Lwekang dan kepandaian silatnya tinggi,
terutama tutukan jarinya yang sakti.
Namun sejak mendapat tambahan Lwekangnya dan kepandaian dari orang tua di dasar jurang
kemampuan Ji Bun sudah berlipat ganda. Namun belum pernah bentrok secara langsung dengan orang
dalam tandu, apakah kuat mengalahkan orang, dia belum punya keyakinan. Diam-diam dia menerawangkan
cara bagaimana harus paksa musuh keluar dari tandu?
Khu In berdiri serta melotot kepada Ji Bun, lalu mendekati tandu, lapornya: "Lapor Thay-siang-hou-hoat,
para korban tiada bekas luka-lukanya."
"Apa, tiada bekas luka?"
"Ya, menurut hamba, seperti ..... seperti Te-gak Suseng membunuh orang."
"Maksudmu Bu-ing-cui-sim-jiu?"
"Mirip sekali, namun belum berani dipastikan."
"Baik kau mundur," ujar orang dalam tandu, lalu dengan suara dingin dia tanya Ji Bun: "Siapakah
sahabat ini?"
"Siu-hiat-jin."
"Siu-hiat-jin, dari mana kau?"
"Kenapa kau tidak keluar saja, memangnya malu dilihat orang?"
"Kurangajar, Siu-hiat-jin, apa alasanmu membunuh orang?"
"Menagih darah."
"Sasarannya adalah perkumpulan kami?"
"Tepat sekali."
Orang dalam tandu diam, agaknya tengah berpikir, suasana menjadi sepi, namun tegang. Lama sekali
baru orang dalam tandu bersuara dengan nada berat: "Siu-hiat-jin, pernah apa kau dengan Te-gak Suseng?"
Otak Ji Bun bekerja cepat, perlukah terus terang. Kalau mengakui, arti dari penyamarannya menjadi tak
berguna, padahal lawan mengerahkan segenap kekuatan untuk menempur dirinya. Kalau menyangkal,
lawan sudah tahu akan ilmu beracunnya, terang sukar untuk mengelabui dia. Sudah tentu, kalau sekali
gebrak dia dapat membunuh lawan tanpa seorangpun ditinggalkan hidup, segala persoalan pun tidak perlu
dikuatirkan lagi, tapi apakah dirinya mampu bertindak, masih merupakan tanda tanya. Oleh karena itu dia
berkata samar-samar: "Hal ini kau tidak perlu tahu."
"Baik, soal ini tidak usah dibicarakan, ikutlah aku ke atas gunung atau terpaksa aku harus turun tangan?"
"Ikut kau ke atas gunung? He he he he ....... kalian yang ada di sini jangan harap bisa hidup lebih lama
lagi."
"Keparat!" tiba-tiba segulung angin menerjang ke luar dari dalam tandu. Ji Bun tak pernah lena, lekas dia
berkisar dan sedikit jongkok, kedua tangan menyongsong datangnya serangan dengan setakar kekuatannya.
Cara tempur dengan kekerasan merupakan adu kekuatan Lwekang. Semakin matang latihannya semakin
hebat kekuatannya, sedikitpun tidak dapat dipalsukan dan tidak mungkin menggunakan akal atau muslihat.
Memang dua tujuan yang memaksa Ji Bun memakai cara tempur yang memeras keringat ini, pertama,
supaya lekas berakhir dan menentukan, kedua, untuk menyelidiki dan menjajal sampai di mana sebetulnya
kekuatan lawan.
"Blak," dua tenaga pukulan yang dasyat saling hantam menimbulkan suara dasyat. Hawa seketika
bergolak, tandu berhias itu sampai semplak dan pecah tercerai berai. Keempat pemikul tandu sama berubah
air mukanya, mereka melompat mundur dua tombak jauhnya. Komandan ronda Khu In yang berdiri jauh di
sana juga melongo.
Sementara itu, keadaan Ji Bun juga cukup mengenaskan. Getaran tenaga tadi membuat kedua kakinya
yang bertahan sekokoh gunung itu lantas ambles ke dalam tanah sebatas mata kakinya. Sementara orang
dalam tandu yang selama ini bersembunyi dalam tandu terpaksa harus mengunjuk diri, dia ternyata adalah
seorang Nikoh tua.
Hampir saja Ji Bun menjerit kaget setelah mengenali siapa sebetulnya orang yang berada di dalam tandu
ini, karena dia bukan lain adalah ketua Boh-to-am, yaitu Siu-yan Loni. Maklumlah lantaran dia seorang
beribadat, kalau mencampurkan diri menjadi anggota suatu persilatan di Kang-ouw mungkin bisa
menimbulkan hal-hal yang tidak di inginkan disamping bisa menjadikan cemooh dan tutur kata orang banyak
dan lagi dia akan banyak mengalami kesulitan di dalam melaksanakan kewajibannya sebagai seorang
anggota suatu perserikatan. Oleh karena itu dia selalu naik tandu berhias untuk menyembunyikan diri, kini Ji
Bun kenal Siu-yan Loni, tapi Siu-yan Loni tidak mengenalnya lagi.
Orang dalam tandu ini pernah sekian lamanya membuat Ji Bun bertanya-tanya dalam hati, betapa susah
payahnya dia berusaha untuk menyelidiki dan membongkar asal usulnya. Tak nyana hari ini dengan mudah
dan tanpa sengaja keinginannya itu terlaksana dengan mudah sekali.
Agaknya Siu-yan Loni menahan gejolak perasaannya, karena badan gemetar, kulit mukanya yang penuh
keriput tampak berkerut. Sorot matanya tajam dan menakutkan, katanya penuh emosi: "Siu-hiat-jin, tidak
lemah kepandaianmu."
Dengan menyindir jawab Ji Bun: "Ah, Suthay terlalu memuji."
"Tapi jangan kau takabur, kalau Pinni tak mampu membereskan kau, segera aku bunuh diri
dihadapanmu."
Sudah tentu tersirap darah Ji Bun mendengar ancaman ini, bahwa Nikoh tua ini berani mempertaruhkan
jiwanya, sudah tentu bukan gertak sambal belaka. Dia cukup trampil melihat situasi, karena daerah
sekarang dia berada masih merupakan kekuasaan Wi-to-hwe, bala bantuan musuh bukan mustahil akan
menyusul tiba secepat mungkin. Kalau ditambah dua tiga musuh bangkotan lagi, tidak sulit diramalkan
bagaimana akhir dari nasibnya. Jalan tepat yang harus dilaksanakan sekarang adalah selekasnya mengakhiri
pertempuran. Segera ia melangkah maju, tantangnya: "Boleh kau mencobanya lagi," Belum selesai ia
berkata, pukulannya sudah dilontarkan lebih dulu.
Dingin muka Siu-yan, kedua lengan bajunya bersilang laksana gunting dikebaskan ke depan. Segulung
angin lunak dan kuat seketika menerpa seperti angin puyuh dasyatnya.
Seketika Ji Bun merasakan seperti diterjang kekuatan ribuan kati beratnya, tanpa kuasa tubuhnya íkut
berputar-putar, diam-diam dia mengeluh. Sebelum dia dapat menguasai diri, Siu-yan Loni kembalikan kedua
lengan bajunya dengan gaya yang sama, beruntun angin kebasan lengan baju menerjang secara berantai
......
Kalau Ji Bun tarik kembali pukulan dan balas menggempur, waktunya jelas tidak sempat lagi, terpaksa
dia kerahkan tenaga pada kedua kakinya. Secepat kilat tubuhnya melenting ke samping, ketangannya ditarik
terus di dorong untuk mengurangi daya tekanan lawan, lalu dari samping tiba-tiba dia lontarkan pukulan.
Kali ini Ji Bun memang cukup cerdik dan tepat mengambil kesempatan. Sedetik peluang ini sudah cukup
membuat Siu-yan merasakan dirinya keterjang angin badai sehingga tubuhnya terhuyung mundur.
Pertempuran tokoh-tokoh kosen terletak pada kesempatan pertama dapat mendahului melancarkan
serangan. Sudah tentu Ji Bun tidak sia-siakan kesempatan yang baik ini. Sebat sekali dia maju lagi, Bu-ingcui-
sim-jiu dengan cepat luar biasa menyerang pula ke arah lawan.
Bu-ing-cui-sim-jiu adalah ilmu beracun tertinggi dari golongan racun masa kini, cukup ujung jarinya saja
menyentuh tubuh lawan, sang korban akan jatuh terguling dan jiwapun melayang dalam beberapa detik
saja.
Di kala jari-jari Ji Bun hampir mengenai kulit daging lawan, damparan angin kencang tiba-tiba menyibak
datang dari arah samping. Hebat juga terjangan ini sehingga Ji Bun yang tidak mengira akan bokongan ini
terpental miring. Serangannya luput kesempatanpun sirna, malah Siu-yan Loni punya peluang balas
menyerang sehingga Ji Bun terpukul mundur beberapa tombak jauhnya.
Orang yang membokong dari samping ternyata adalah komandan ronda Khu In adanya. Sudah tentu
bukan kepalang murka Ji Bun, nafsunya pun semakin berkobar. Begitu kaki menyentuh tanah, tangkas sekali
dia jumpalitan dan lompat kembali menubruk ke arah Khu In.
"Berani kau!" bentak Siu-yang Loni, kedua tangan serempak di dorong ke depan, dua jalur angin kencang
memecah udara menderu ke depan.
"Bluk, ngek!" sekaligus terdengar dua suara berbeda, komandan ronda Khu In terkapar di tengah
serangan yang terakhir, sementara Ji Bun menguak seperti sapi digorok lehernya, badannya bergoyang
dengan kaki terhuyung. Sekujur badan serasa kosong dan lunglai karena terjangan angin pukulan Siu-yan
Loni yang lihay ini.
Khu In sempat berkelejetan tiga kali, badannya seketika lemas tak bergerak lagi.
Serasa copot sukma Ji Bun, tenaganya macet sehingga tak mampu dikerahkan lagi, itu berarti dia harus
berpeluk tangan terima kematian. Entah menggunakan ilmu apakah Nikoh tua ini, dalam jarak yang cukup
jauh dia mampu mematahkan kekuatan lawan hanya dalam segebrakan saja?
Siu-yan Loni melengking murka, lengan baju bergoyang telapak tanganpun bekerja, "Blang!” diselingi
jeritan keras, kembali Ji Bun terlempar dua tombak jauhnya, darah menyembur dari mulutnya, rebah dan
tak berkutik lagi.
"Kutungi dulu lengan kirinya!" dalam murkanya Siu-yan memberi perintah, salah seorang pemikul tandu
mengiakan, "sret", ia melolos pedang dari pinggangnya, terus menghampiri Ji Bun.
Hampir pecah biji mata Ji Bun mendelik gusar, otot hijau jidatnya merongkol keluar, sambil mengertak
gigi dia meronta bangun, mulutnya menjerit beringas: "Berani kau!"
Mendadak darah menyemprot pula, badan limbung dan hampir terjungkal lagi.
Laki-laki yang menenteng pedang agaknya menjadi jeri menghadapi manusia darah yang seram dan
berwibawa ini, serta merta dia berhenti, namun hanya sekilas saja dia sudah melangkah maju pula dalam
jarak dekat. Ji Bun tidak sanggup lagi menggerakkan tangannya, apa lagi menyerang.
Sinar kemilau berkelebat, tajam pedang yang dingin seketika terayun menabas ke arah lengan kiri Ji-Bun.
Serasa meledak dada Ji Bun, darah menyembur pula dari mulutnya, namun kenyataan dia tak kuasa lagi
menghindari ancaman yang akan memisahkan lengan dari tubuhnya karena tiada tenaga untuk berkelit.
Namun secara refleks Ji Bun telah menjatuhkan diri menggelundung sejauh mungkin. Karena tabasannya
luput, laki-laki itu menggeram gusar terus memburu maju dan ayun golok pula. Kali ini Ji Bun betul-betul
mati kutu, dengan mendelong dia hanya mengawasi pedang orang terayun ke arah lengannya tanpa dapat
berbuat apa-apa.
Pada detik-detik yang gawat itulah mendadak sebuah bentakan menghentikan gerakan pedang laki-laki
itu: "Berhenti, mundur!"
Bahwa yang berseru ini adalah Siu-yan Loni betul-betul membuat Ji Bun kaget dan heran tapi juga
bersyukur, tadi memberi perintah supaya menabas lengannya, kini mencegahnva lagi, kenapa demikian?
12.36. Jejak Ibunda, Mulai Tercium
Dengan mendelong dia awasi orang, tampak wajah Siau-yan Loni penuh emosi yang campur aduk,
matanya menatap ke arah tanah di sebelahnya, dengan heran Ji Bun menoleh ke arah orang memandang.
Seketika hatinya tergerak, ternyata di sampingnya menggeletak sebentuk barang, itulah tanda pengenal
pemberian si orang tua aneh di dasar jurang di belakang Pek-ciok-hong yang harus diserahkan kepada Toh
Ji-lan. Mungkin waktu dia menjatuhkan diri dan menggelundung tadi benda itu jatuh keluar dari kantongnya,
kenapa Nikoh tua ini begini besar perhatiannya terhadap tanda pengenal ini, mungkinkah .......
Mendadak Siu-yan Loni melompat maju memungut benda itu, dia bolak balik serta memeriksanya dengan
teliti, katanya kemudian dangan suara rada gemetar: "Darimana kau dapatkan barang ini?"
Ji Bun seka darah yang meleleh diujung mulutnya, tanyanya: "Apakah Suthay kenal benda ini?"
"Bukan hanya kenal saja."
"Apakah Suthay ada hubungan dengan barang ini?" tanya Ji Bun.
Siu-yan Loni pejamkan mata sebentar seperti menenangkan gejolak hatinya, lama sekali baru dia buka
suara dengan gemetar: "Siu-hiat-jin, bagaimana barang ini bisa berada di tanganmu?"
"Cayhe mendapat pesan seorang Cianpwe dengan tanda pengenal ini mencari seorang untuk
menyampaikan beberapa patah kata."
"Siapa yang berpesan padamu?"
Ji Bun menyadari di balik kejadian hari ini serta melihat sikap Siu-yan Loni pasti ada latar belakang yang
menarik, maka dia balas bertanya: “Apa maksud Suthay bertanya soal ini?"
“Siu-hiat-jin, apakah kau muridnya?"
"Muridnya siapa?”
"Giok-bin-hiap Cu Kong-tam!" Setiap patah kata diucapkan Siu-yan dengan penuh emosi.
Ji Bun membatin: Giok-bin-hiap (pendekar wajah kemala) Cu Kong-tam mungkin adalah orang tua aneh
di bawah jurang itu. Dari julukannya dapatlah dibayangkan dimasa mudanya dulu pasti orang tua aneh itu
adalah seorang pemuda cakap dan ganteng. Memangnya siapa pula Nikoh tua ini? Dari mana dia tahu akan
tanda pengenal ini, tahu siapa pemiliknya dan dirangsang emosi lagi.
"Maksud Suthay pemilik barang ini? Cayhe bukan murid beliau, namun pernah memperoleh banyak
kebaikan dari beliau.”
Siu-yan melangkah maju setindak, dengan haru dan girang dia bertanya: "Dia.. .... dia..... masih hidup?
Di .... dimana dia sekarang?”
"Harap Suthay suka jelaskan dulu siapa sebenarnya kau?”
"Pinni ...... Siu-hiat-jin, katamu kau dipesan untuk mencari seseorang? Siapa yang kaucari?”
"Tapi konon orang itu sudah meninggal dunia.”
"Katakanlah siapa dia?”
"Adik kandung Pek-ciok Sinni yang bernama Toh Ji-lan."
Seperti kena aliran listrik tiba-tiba Siu-yan Loni berjingkat mundur, mukanya yang berkeriput tampak
berkerut-kerut, suaranya semakin gemetar: "Katamu Toh Ji-lan? Dia sudah meninggal dunia?"
"Siangkoan Ci-hwi yang bilang demikian."
"O," terpancar cahaya pilu dan sedih sekali dari sinar mata Siu-yan Loni, seperti bermimpi saja mulutnya
mengigau: "Tidak, dia ..... masih hidup? Dia ..... belum mati? ..... Ah, tidak mungkin. Tidak terduga, tapi
...... segalanya sudah terlambat."
Yang dimaksud "dia" adalah orang tua aneh di dasar jurang? Ini menandakan bahwa Siu-yan ada
hubungan yang intim dan luar biasa dengan beliau. Sudah terlambat, semuanya sudah terlambat?
Memangnya Nikoh tua ini adalah ..... tapi Siangkoan Ci-hwi bilang Toh Ji-lan sudah meninggalkan dunia
yang fana ini. Maka Ji Bun bertanya: "Siapakah nama preman Suthay?"
"Siu-hiat-jin, Pinni adalah orang yang sedang kau cari."
Ji Bun kerjingkrak berdiri dan menyurut mundur, pekiknya: "Suthay adalah Toh Ji-lan Cianpwe?"
"Ya, memang Pinni adanya."
“Ini .... ini ..... mana mungkin?"
"Kenapa tidak mungkin?"
"Nona Siangkoan bilang bahwa To-cianpwe sudah .......“
"Apakah budak itu bilang Pinni sudah meninggal?"
"Dia bilang Cianpwie sudah meninggal dunia fana .......”
"Ya, meninggalkan dunia fana bukan berarti sudah mati, apakah kau tidak pernah pikir seorang biarawati
harus meninggalkan urusan duniawi?"
Ji Bun melongo kesima, memang, kenapa semula ia tidak berpikir ke arah itu. Kalau tidak secara
kebetulan tanda pengenal itu jatuh, bukankah bakal menyia-nyiakan harapan si orang tua aneh yang sudah
menunggu berpuluh tahun di dasar jurang. Ternyata beliau adalah Giok-bin-hiap Cu Kong-tam.
"Di mana Cu Kong-tam sekarang berada?"
"Di dasar jurang di belakang Pek-ciok-hong."
"Apa, dia berada di dalam jurang?"
"Menurut cerita Cu-cianpwe, dulu Tacimu Pek-ciok Sinni Toh Ji-hwi telah menjebloskan Cu-cianpwe ke
gua rahasia untuk meyakinkan Pi-yap-sin-kang, lalu menutupnya. Selama puluhan tahun, Cu-cianpwe masih
bertahan hidup dengan satu keyakinan, yaitu ingin bertemu muka sekali lagi dengan Suthay."
"Taciku, dia ......" pucat pias wajah Siu-yan Loni, wibawa seorang beribadat serta sikap yang welas asih
lenyap tak membekas lagi, rona wajahnya kini dilembari rasa benci, dendam, marah dan emosi campur
aduk.
Diam-diam terkejut juga sanubari Ji Bun, sejak jaman dulu entah berapa banyak muda mudi yang
menjadi korban cinta. Walau dia tidak tahu bagaimana jalinan asmara kedua orang tua ini, namun pasti
banwa mereka adalah korban dari asmara juga. Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, sang waktu
berlalu dan tak pernah kembali lagi. Di kala kehidupan hampir mencapai akhirnya, namun asmara itu masih
kekal abadi ........
Dalam sekejap ini Siu-yan Loni tampak semakin tua, dia menghela napas panjang yang mengandung
kerawanan dan kepedihan hati, mengandung rasa putus asa dan kecewa. Puluhan tahun dia hidup
menderita, pahit getir semuanya terkandung dalam helaan napas ini. "Sudah terlambat, semuanya sudah
berselang!" demikian nada suaranya terdengar hambar dan hampa.
Mengingat budi kebaikan Giok-bin-hiap Cu Kong-tam yang menolong dan mengajarkan ilmu kepadanya,
betapapun Ji Bun harus bertanggung jawab akan tugas yang harus ditunaikan, maka dengan berat dia
berkata: "Suthay, Cu-cianpwe berpesan kepada Wanpwe bila setelah menemukan Cianpwe supaya
menyampaikan beberapa patah kata ........."
"Pesan apa, katakanlah."
"Beliau ingin bertemu muka sekali lagi dengan Suthay."
"Pinni adalah seorang biarawati ........”
"Kalau Suthay tidak sudi menemuinya, terpaksa Wanpwe harus kembali memberi laporan dan
menyampaikan kejadian hari ini."
"Pinni .... aku ...... aku pasti akan menemuinya, kalau musabab ini tidak berakhir, Pinni takkan bisa
tenteram."
"Bolehkah Wanpwe mohon penjelasan?"
"Soal apa?"
"Kenapa dulu Sin-ni menjebloskan dan mengurung Cu-cianpwe di dasar jurang itu?"
Berkerut-kerut muka Siu-yan Loni alias Toh-ji-lan. “Karma, itulah karma," ujarnya setengah berbisik.
"Cu Kong-tam lenyap, itu membuat Pinni benci, dendam dan marah sehingga mencukur rambut menjadi
orang beribadat. Tak nyana .... sungguh tak nyana semua ini adalah perbuatan Taciku, sekarang baru aku
mengerti."
"Mengerti apa?"
"Taciku dulu juga mencintainya, karena tujuan tidak tercapai, maka dia hendak membunuhnya .....
Amitha Budha! Ah, apa saja yang telah Pinni katakan?"
Bergidik seram Ji Bun, Pek-ciok Sin-ni terpandang sebagai tokoh yang diagungkan, tak nyana dalam
lembaran hidupnya ternyata juga pernah melakukan perbuatan rendah dan hina, manusia memang makhluk
yang luar biasa.
Tiba-tiba Siu-yan berpaling dan berkata kepada para pemikul tandu: "Kalian boleh segera kembali ke
gunung, laporkan kepada Hwecu, katakan bahwa aku meninggalkan arena Bulim, semua jenazah ini harus
kalian bawa kembali, kebumikan sepantasnya sebagai orang-orang persilatan umumnya."
Keempat pemikul tandu sejak tadi berdiri jauh dengan melongo, mereka saling pandang lalu mengiakan
bersama, dengan tangkas mereka bekerja, lalu pergi dengan memanggul mayat-mayat itu.
Barulah Siu-yan Loni berpaling kepada Ji Bun katanya: "Siu-hiat-jin, peduli apa maksud tujuanmu. Pinni
ingin memberi peringatan padamu, sebagai seorang persilatan yang hidup di arena kau harus dapat
membedakan salah dan benar. Kepandaianmu terhitung kelas wahid, semoga kau suka berpikir, sebelum
bertindak." Habis berkata dia lantas melangkah pergi.
Tugas dan pesan si orang tua di dasar jurang boleh dikatakan sudah ditunaikan. Pesan Siu-yan sebelum
pergi memang masuk akal namun bagi pendirian Ji Bun sekarang wejangan ini sudah tiada artinya lagi,
utang darah dia harus menagihnya dengan darah pula.
Pengalaman Siu-yan Loni dengan Giok-bin-hiap Cu Kong-tam sudah merupakan contoh nyata bagi Ji Bun,
maka dia merasa harus segera membuat penyelesaian dengan Ciang Bing-cu. Setelah itu tanpa ada ganjelan
hati baru melaksanakan keinginan menuntut balas secara terbuka. Mati hidup sendiri sudah menjadi
tanggung jawab awak sendiri pula, tapi dalam keadaan sudah selarut ini, seperti apa yang dikatakan Biau-jiu
Siansing bahwa Ciang Bing-cu bersumpah hanya akan kawin dengan dirinya. Kalau hal ini tidak dibereskan
dengan baik, mungkin akan terjadi suatu tragedi yang mengenaskan. Sekarang musuh-musuh tangguh ada
dihadapannya, mati hidup dirinya sukar diramalkan, tegakah dia menelantarkan masa remaja seorang gadis
jelita?
Cara bagaimana dia harus membereskan hal ini, sampai sekarang dia belum mendapatkan jalan
keluarnya, tapi dia sudah menempuh perjalanan dengan tujuan Kay-hong. Karena dia sudah berubah
dandanan dan wajah, maka sepanjang jalan tidak menarik banyak perhatian orang.
Pagi hari itu dia tiba di Bik-seng dan menuju ke Ling-eng, sudah setengah jalan ditempuhnya. Supaya
tidak malu dan dipandang hina setiba di gedung keluarga Ciang, maka dia membeli seperangkat pakaian
dan jubah warna biru, topi kaum pelajar warna biru pula. Setelah berganti pakaian, kelihatan dia mirip
seorang pelajar bermuka hitam.
Setelah beberapa kejadian yang menambah pengalamannya, kini dia tidak memperlihatkan lagi sorot
matanya yang tajam berkilat. Keadaannya sudah jauh berubah, tak ubahnya seperti manusia awam
umumnya.
Tengah dia berjalan, bayangan seorang tampak menyongsong datang: "Selamat datang Siau-hiap ini."
Ji Bun melenggong, dilihatnya orang yang menyapa ini juga berdandan seorang pelajar, wajahnya bersih,
cuma agak kurus pucat, usianya sekitar 25-an. Orang ini terlalu asing baginya, maka tanyanya heran:
"Saudara menyapa aku?"
"Siau-hiap she Ji bukan?" tanya orang itu.
Bukan kepalang kejut Ji Bun, kecuali Biau-jiu Siansing tiada orang lain yang tahu kalau dirinya
menyamar, memangnya dari mana laki-laki tak dikenal ini tahu she dan namanya, sungguh menakutkan.
"Siapakah saudara ini?" Ji Bun balas bertanya.
"Aku yang rendah Ui Bing, teman-teman Kang-ouw memberi julukan Sian-tian-khek kepadaku."
"Sian-tian-khek (si kilat)?"
"Julukan yang tidak berarti. Harap Siau-hiap tidak mentertawakan."
"Dari mana Ui-heng tahu kalau aku she Ji?"
Sian-tian-khek Ui Bing tertawa penuh arti, katanya: "Cayhe mendapat tugas untuk menunggu Siau-hiap
di sini."
"Atas perintah siapa?"
"Guruku, Biau-jiu Siansing."
"O," baru Ji Bun paham, kalau dia murid Biau-jiu Siansing, tidak perlu heran kalau tahu siapa dirinya.
Ui Bing tertawa lebar, katanya lantang: "Guruku menaruh perhatian besar terhadap Siau-hiap, beliau
berpendapat engkau adalah tunas muda yang berbakat tinggi selama ratusan tahun belakangan ini."
"Ah, gurumu terlalu memuji," ujar Ji Bun kikuk.
Ui Bing miringkan kepala, katanya: "Agaknya usiaku lebih tua, bolehkah kupanggil Hiante (adik) saja?
Panggilan Siau-hiap rasanya kurang enak diucapkan."
Melihat orang pandai bicara, timbul kesan Ji Bun, katanya tersenyum: "Kenapa tidak boleh?"
"Kalau begitu, syukurlah. Hiante hendak pergi ke Kay-hong bukan?"
"Betul, entah Ui-heng ada petunjuk apa?"
"Wah, jangan melantur, petunjuk segala, aku hanya mendapat pesan guru untuk mengajakmu ke suatu
tempat untuk melihat sesuatu."
Ji Bun tak mengerti tanyanya: "Melihat apa?"
"Kau akan tahu setelah tiba di sana, sekarang belum waktunya, marilah kita masuk kota minum arak
dulu."
Memangnya Ji Bun tidak terburu-buru pergi ke Kay-hong, terlambat beberapa hari juga tidak jadi soal
maka dia memanggut, jawabnya. "Baik, marilah."
Mereka memutar ke jalanan kecil langsung menuju ke dalam kota, di lihatnya sebuah restoran, agaknya
Ui Bing adalah langganan lama. Pelayan menyambutnya dengan hormat, ia langsung membawa Ji Bun ke
loteng, dipilihnya meja dekat jendela yang mengarah ke jalan raya di bawah.
Sejak kecil sudah biasa makan minum secara berlebihan, hidangan yang dipesan Ui Bing cocok dengan
seleranya. Dasar Ui Bing suka ngobrol panjang lebar, yang dibicarakan adalah peristiwa-peristiwa Kang-ouw
dan serba serbi yang pernah terjadi. Ji Bun amat berkesan dan mendengarkan dengan asyik.
Di kala mereka makan minum sambil berbincang, seorang berbaju hitam tiba-tiba muncul, mukanya
tampak serius, Ui Bing berhenti bicara serta menoleh, katanya dengan muka kereng: "Ada urusan apa?"
"Dapatkah hamba bicara?”
Ui Bing melirik Ji Bun, katanya: "Sesama dupa di dalam hiolo tidak usah kuatir."
Ji Bun tahu kedua orang sedang bicara dengan bahasa kode, agaknya Ui Bing minta orang baju hitam
bicara saja blak-blakan dan tidak usah kuatir karena kehadiran Ji Bun.
Orang baju hitam melangkah maju, lutut bertekuk dan badan terbungkuk, kedua tangan terangkat tinggi
di atas kepala mempersembahkan sebuah kotak kayu, serunya lantang: "Aliran ada aturan, rumah punya
tata tertib, semua sumber dalam kalangan maling, delapan tingkat dapat diperiksa. Gu Su, anak murid dari
tingkat huruf ‘tanah' menghadap kepada atasan."
Ui Bing mengulapkan tangan, ujarnya: "Sesama keluarga tidak perlu banyak adat, berdirilah."
"Terima kasih," sahut laki-laki baju hitam sambil berdiri, kotak kayu dipeluk di depan dada, sikapnya
prihatin dan hormat. Lalu menaruh kotak itu di atas meja, pelan-pelan ia membuka tutupnya.
Serta merta Ji Bun arahkan pandangannya ke kotak yang terbuka itu, seketika dia melongo terbeliak,
bulu kuduknya berdiri. Ternyata di dalam kotak berisi sebuah lengan manusia yang masih berlepotan darah.
Ui Bing ulur tangan mengeluarkan kutungan lengan itu dan diacungkan di depan Ji Bun, lalu ditaruh
kembali ke dalam kotak, katanya: "Ya, bolehlah."
Cepat laki-laki baju hitam menutup kotak terus mengundurkan diri.
Dengan heran dan tak habis mengerti Ji Bun mengawasi Ui Bing dan ingin bertanya, namun mengingat
urusan mungkin menyangkut rahasia sesuatu perkumpulan, orang luar pantang mencampuri, tapi kalau
tidak tanya, hati terasa mengganjel sehingga sikapnya menjadi kikuk.
Ui Bing malah buka suara: "Hiante, kau sudah melihatnya?"
"Melihat apa?"
"Kutungan tangan tadi. Khusus tangan tadi memang diperlihatkan padamu."
"Tadi Ui-heng bilang mendapat perintah gurumu untuk melihat sesuatu, apakah tangan tadi yang kau
maksudkan?"
"Betul. Tentunya Hiante masih ingat kepada Liok Kin?"
"Ketua muda Cip-po-hwe"
"Tangan tadi adalah lengannya."
"Lengan Liok Kin?"
"Betul, anggota perkumpulan maling bercampur aduk dari segala lapisan, namun undang-undang yang
menjadi tradisi aturan perserikatan kita cukup keras dan berdisiplin. Liok Kin mengkoleksi harta. Hal ini
memang menjadi salah satu azas tujuan perserikatan kita. Namun dia main perempuan dan melakukan
perbuatan kotor, hal ini melanggar undang-undang. Hiante sudah paham?"
Ji Bun manggut-manggut, sahutnya: "Siaute mengerti."
Ui Bing angkat cangkir, katanya: “Marilah kita habiskan secangkir lagi."
Cuaca sudah gelap, pelayan masuk menyulut pelita, waktu itu memang saatnya orang-orang makan
malam, tetamu memenuhi restoran besar ini. Di antara berisik percakapan dan gelak tawa para tamu,
sayup-sayup terdengar juga suara nyanyian diiringi petikan kim (harpa).
Takaran minum Ji Bun memang terbatas, sebanyak itu dia minum, kini kepala sudah rada pusing,
katanya: "Hayolah kita pergi saja?"
"Habiskan dulu sepoci ini," ajak Ui Bing.
Tak enak menolak keinginan orang, maka duduk lagi.
Restoran ini memang kelas tinggi dan serba mewah, bagian loteng ini khusus kelas satu dengan
pelayanan yang serba istimewa. Bentuknyapun serba berkotak, jadi merupakan sebuah petak atau kamar
khusus dengan meja yang muat delapan orang. Jadi perjamuan satu sama lain para tamu itu tidak saling
ganggu.
Di kala Ji Bun dan Ui Bing hendak meninggalkan perjamuan, tiba-tiba dari petak sebelah kanan sana
berkumandang irama nyanyian yang menawan hati. Seketika Ji Bun melongo dan asyik mendengarkan lagu
ini, benaknya terbayang sebuah pemandangan alam yang mempesona. Di dalam pekarangan yang sepi dan
dikelilingi tembok tinggi, seorang pelayan cilik perempuan berpakaian hijau tengah duduk di atas sebuah
kursi batu di bawah pohon, di hadapannya berdiri seorang anak laki-laki berusia enam tujuh tahun. Dia
tengah asyik mendengarkan pelayan cilik itu mengalunkan suaranya yang merdu menyanyikan sebuah lagu
perpisahan antara seorang jejaka yang meninggalkan gadis pujaannya untuk merantau mencari nafkah demi
masa depan mereka. Begitu penuh perasaan gadis pelayan itu membawakan lagu ini seperti dia sendiri yang
ditinggal sang kekasih, bocah laki-laki itu mendengarkan dengan mata mendelong, dia merasa bahwa lagu
yang dibawakan bujangnya sedemikian merdu ........
Itulah gambaran masa lalu di kala Ji Bun masih kanak-kanak. Tanpa terasa berkaca-kaca mata Ji Bun
mengenang masa kecilnya dulu.
Nyanyian merdu itu kini berkumandang pula, yang dibawakan adalah lagu sedih yang menyentuh hati.
Air mata tak terbendung lagi membasahi pipi Ji Bun, pikiran Ji Bun tenggelam di dalam kenangan keluarga
dan rumahnya yang hancur berantakan. Kepedihan betul-betul mengetuk sanubarinya sehingga tanpa sadar
ia menangis tersedu.
Ui Bing melihat sikap Ji Bun yang aneh ini, serunya: "Hiante, kenapa kau?"
Ji Bun masih tenggelam dalam impian masa kecilnya itu, mungkin dia tidak mendengar pertanyaan ini,
maka diam saja.
"Hiante," kata Ui Bing pula, "kenapa sih kau sebetulnya?"
Tanpa sadar Ji Bun buka suara: "Siapakah yang nyanyi itu?"
"Apa? Yang nyanyi ........?”
"Ui-heng tidak mendengar?"
"O, perempuan yang nyanyi di sebelah? Siapa dia kurang jelas, tapi dia sudah cukup lama mencari
nafkah dengan menjual suara di daerah ini. Orang-orang dalam kota ini sama memanggilnya Ing-ing
(burung kenari)."
"Ing-ing?” seru Ji Bun berjingkrak.
“Ya, karena begitu merdu suaranya bagai kicauan burung kenari."
"Berapa usianya?"
"Kira-kira sudah tiga puluhan kenapa Hiante tanya dia?"
"Karena ......." belum habis dia bicara, tiba-tiba didengarnya suara berdehem tertahan di kamar sebelah.
Tersirap darah Ji Bun, segera dia berdiri dan lari keluar menyingkap kerai. Tampak bayangan punggung
seseorang yang dikenalnya tengah melompat turun dari loteng, seketika Ji Bun melenggong, entah siapa
bayangan punggung yang dikenalnya ini? "Oh, dia, Kwe-loh-jin!" teriaknya tiba-tiba, cepat dia berlari ke
arah tangga.
"Haya!" tiba-tiba didengarnya Ui Bing menjerit di sebelah sana. Serta merta Ji Bun berhenti sambil
menoleh, dilihatnya sebelah kaki Ui Bing sudah melangkah kekamar sebelah dan berseru kepada Ji Bun:
"Hiante, dia sudah mati."
Ji Bun batalkan pengejaran terhadap Kwe-loh-jin, lekas dia memburu masuk ke kamar sebelah. Tampak
Ji Bun seorang perempuan pakaian hitam rebah di pinggir meja, seketika dia menjerit: "Bwe-hiang, ternyata
betul kau .....”
Ui Bing ikut memburu ke sampingnya, tanyanya: "Hiante kenal dia?"
"Dialah pelayan pribadi ibuku," sahut Ji Bun sambil memapah perempuan baju hitam dan didudukkan di
atas kursi, teriaknya berulang-ulang: "Bwe-hiang, Bwe-hiang!"
Napas perempuan itu amat lemah, agaknya tidak jauh lagi dari kematian, sekilas Ji Bun memeriksa
keadaannya, katanya kemudian: "Dia terkena racun."
Lekas dia keluarkan obat penawar yang yang selalu dibawanya, tiga butir dia jejalkan ke mulut Bwehiang.
Ui Bing lari mengambil secangkir teh dan bantu Ji Bun mencekoki perempuan ini, tanyanya: "Kena racun?
Bisa ditolong tidak?"
"Inilah racun Giam-ong-ling, aku tidak mampu menolongnya," beruntun Ji Bun menutuk beberapa Hiatto.
Setelah dipijat dan urut, pernapasan perempuan baju hitam itu bertambah kuat, sesaat kemudian dia
mulai membuka mata.
"Bwe-hiang, Bwe-hiang ....." Ji Bun memanggil-manggil dengan suara serak, keringat membasahi
jidatnya.
Berkedip biji mata perempuan baju hitam ini. lama sekali baru membuka suara: "Kau ..... ini .... siapa?
Dari mana tahu ......”
"Bwe-hiang," teriak Ji Bun penuh emosi, "kau tidak mengenalku lagi?"
"Hiante," sela Ui Bing, "jangan lupa kau menyamar .......”
Ji Bun sadar akan kelalaian ini, segera dia berkata gugup: "Bwe-hiang, aku adalah Ji-kongcu, aku sedang
menyamar ........”
"Oooooh," perempuan baju hitam mengeluh panjang, badannya kejang, kulit mukanya bergemetar,
sekuatnya dia gigit bibir, mukanya yang pucat menjadi merah. Dengan sekuat tenaga dia bicara: "Kau ......
inikah Ji-kongcu?"
"Ya, betul, Bwe-hiang, kau kenal suaraku? Ibuku, di mana Ji-hujin sekarang?"
"Aku mendengar ..... beliau ada di ..... di Lam-cau ......”
"Lam-cau ...... papilion yang ada di Se-ek itu?"
“ya ....... ya."
Ji Bun menjadi bingung, bukankah ibunya diculik dan menjadi tawanan Kwe-loh-jin? Bagaimana bisa
berada di Lam-cau, papilion ayahnya dimasa hidupnya? Apakah rumah itu sudah diduduki musuh?
"Apakah beliau selamat?"
"Se ..... sela .... mat."
“Kenapa kau jual suara di sini?"
"Atas perintah Ji-hujin, aku melarikan diri untuk mencari ...... Ji-kongcu."
"Lari untuk mencariku? Ada urusan apa?"
"Ji-hujin suruh hamba ..... memperingatkan .... Ji-kongcu ........" suaranya semakin lirih dan lemah.
Keruan Ji Bun gugup, teriaknya: "Bwe-hiang, keraskan hatimu, memperingatkan apa padaku?"
Bibir perempuan baju hitam bergerak-gerak, namun suaranya sudah tidak terdengar, sorot matanyapun
guram.
Serasa disayat-sayat isi perut Ji Bun, keringatnya gemerobyos, otot hijau merongkol di jidatnya. Dia
goyang-goyang pundak si perempuan sambil berteriak seperti orang kalap: "Siapakah yang menculik Jihujin?"
Perempuan itu mengerahkan sisa tenaganya, namun hanya beberapa patah kata terputus-putus yang
keluar dari mulutnya: "Dia ..... dia .......”
Tiba-tiba kepalanya menjadi lemas dan miring kesamping, napaspun berhenti.
Melotot biji mata Ji Bun, gigipun berkerutuk, tiba-tiba dia menguak, darah menyembur dari mulutnya.
Ui Bing menjadi gugup, katanya: "Hiante, kau .... tenanglah."
Ji Bun angkat kepala, katanya menahan gejolak hati: "Ui-heng, kita baru berkenalan, namun Siaute
mohon dua kali bantuanmu ......”
"Urusan apa Hiante, katakan saja."
"Sukalah kau urus penguburan Bwe-hiang." Ji Bun keluarkan anting-anting pualam, "selain itu tolong
antar sekalian anting-anting ini ke Kay-hong kepada paman Ciang Wi-bin. Ceritakan apa yang terjadi hari ini,
bahwa aku harus segera bertindak untuk menolong ibu yang disekap musuh."
"Hiante hendak ke Lam-cau? Kukira lebih baik kau pargi ke Kay-hong dulu dan berunding dengan Ciangcianpwe."
"Siaute tak sabar lagi, harap Ui-heng suka memaklumi perasaanku,” kata Ji Bun sambil angsurkan antinganting
pualam.
Ui Bing menjadi serba susah, katanya: "Hiante, betapapun sulit bagiku untuk bantu mengantar antinganting
ini, apakah kau .......”
"Ui-heng jangan salah paham, hanya dendam dan sakit hati yang terpikir dalam benakku, setiap saat aku
menghadapi ancaman elmaut, kuharap barang ini tidak terjatuh ke tangan orang lain kalau aku gugur."
"Bagaimana kalau titip saja sementara waktu?" ujar Ui Bing.
Kukuh pendapat Ji Bun, katanya: "Tidak, tolong Ui-heng antar kembali pada pemiliknya saja."
“Baiklah, akan kuusahakan. Harap Hiante jaga dirimu baik-baik."
Ji Bun menunduk mengawasi jenazah Bwe-hiang, dengan sedih dia berdoa: “Bwe-hiang, aku bersumpah
menuntut balas sakit hatimu, akan kuhancur leburkan dia, kau ...... tenanglah di alam baka."
Habis berkata ia melompat keluar dari jendela, malam itu juga dia langsung menuju ke Lam-cau.
Rumah yang ada di Lam-cau adalah salah satu dari tiga tempat peristirahatan Ji Ing-hong dulu, waktu
kecil dulu pernah beberapa kali Ji Bun ikut ibunya ke sana, setelah besar pernah juga pergi sekali. Tak
nyana tempat itu kini sudah diduduki musuh dan dijadikan tempat untuk menyekap ibunya.
13.37. Pengkhianatan Kacung Keluarga
Ji Bun lupa lapar dan dahaga, tidak merasakan lelah, siang malam dia menempuh perjalanan, hanya
"dendam" yang selalu menggejolak sanubarinya. Semakin dekat tempat tujuan hatinya semakin tidak
tenteram, dia tahu musuh pasti telah mengatur jebakan dan muslihat untuk menyambut kedatangannya.
Namun demi keselamatan ibunya, walau dia harus menghadapi hutan golok dan rimba pedang, lautan
apipun akan diterjangnya.
o0o
Lam-cau adalah sebuah kota kecil yang ramai, di ujung jalan yang menjurus keluar kota dari jalan raya
yang menuju barat terdapat sebuah taman hiburan yang terkenal diseluruh pelosok kota, itulah salah satu
rumah Jit-sing-pocu Ji Ing-hong.
Pagi hari itu, seorang pemuda muka hitam berjubah biru mondar-mandlr di depan pintu taman yang
tertutup rapat, dia bukan lain adalah Te-gak Suseng Ji Bun yang datang dengan dendam kesumat untuk
menolong ibunya. Taman ini terhitung saiah satu tempat milik keluarganya, namun sekarang dia mondarmandir
di luar seperti orang asing, tidak berani ketok pintu atau menerobos masuk secara langsung.
Pintu besar yang berwarna merah sudah agak luntur catnya, gelang tembaga yang tergantung di tengah
pintu juga sudah menghijau berdebu, agaknya sudah lama tidak terjamah tangan manusia, namun
pepohonan di dalam pagar tembok tampak hidup subur dan berkembang dengan lebat.
Lama sekali Ji Bun mondar-mandir dengan ragu-ragu, akhirnya dia berkeputusan dan mengetok pintu.
Lama Ji Bun menunggu baru terdengar suata keresekan daun kering yang terinjak kaki, disusul suara
serak orang berseru: "Siapa?"
Ji Bun tidak asing akan suara ini, hatinya menjadi bingung dan heran, suara serak orang tua ini adalah si
kakek berjenggot, bukankah ibunya diculik kemati? Kenapa yang menjaga rumah dan membuka pintu tetap
penjaga lama?
"Siapa yang ketok pintu di luar?" suara serak si jenggot bertanya pula.
Ji Bun sudah jelas dan yakin bahwa yang bertanya di dalam memang si Jenggot adanya, hatinya
bergirang, cepat ia menjawab: "Pak jenggot, inilah aku!"
"Kau ..... kau siapa?"
"Bun-ji kongcu."
"Oooo," orang di dalam berseru kaget, agaknya di luar dugaannya. Pintu segera dibuka separo,
menongollah seraut wajah seorang tua yang kurus kering, mukanya penuh berewok kaku, di antara
rambutnya yang awut-awutan, tampak sepasang matanya memancarkan sinar tajam, sorot matanya
mengunjuk rasa kaget dan heran.
"Pak jenggot!" sapa Ji Bun
"Siapa kau berani mengaku sebagai .....”
"Pak jenggot, masa kau tidak kenali suaraku lagi?"
Setelah tangan memegangi pintu, si jenggot mengawasi Ji Bun dari atas ke bawah, akhirnya ia berkata:
"Wajahmu tidak mirip .......”
"Pak jenggot, aku sedang menyamar, duduk persoalannya nanti kuceritakan."
Sinar mata si jenggot yang tajam seperti mata burung elang menyelidik, suaranya ragu: "Apa betul .....
kau ini Ji-kongcu? Kau ..... tidak mati?"
"Apa? Mati? Bagaimana kau, bisa bilang demikian?"
Si jenggot menjadi gelagapan, katanya: O. tidak, hamba kira Ji-kongcu ikut menjadi korban musuh."
"Memang berulang kali aku mengalami bencana, syukur aku tidak mati. Pak jenggot, mana ibuku?"
"Ji-hujin?"
"Memangnya otakmu sudah miring, masakah orang lain yang kutanyakan."
"Ji-kongcu," ujar pak jenggot menghela napas panjang. ''sampai sekarang jejak Ji-hujin belum diketahui
parannya."
"Apa katamu?” hardik Ji Bun beringas.
Kaget dan ketakutan pak jenggot menyurut mundur sampai mulut melongo.
Sudah tentu Ji Bun amat penasaran, apa yang dikatakan Bwe-hang sebelum ajal pasti tak salah, bahwa
ibunya disekap di rumah yang ada di Lam-cau ini. Kini pak jenggot bilang ibunya tak keruan paran,
bagaimana dia takkan naik pitam? Tapi iapun percaya kalau pak jenggot inipun takkan berbohong.
Sulit dia menganalisa liku-liku persoalan yang ganjil ini, sungguh luar biasa. "Pak jenggot, siapa pula
yang tinggal di sini?" tanyanya kemudian.
"Hanya hamba seorang saja."
"Apa, hanya kau seorang? Pernah terjadi apa-apa di sini?”
"Terjadi apa? Tidak pernah, kenapa Kongcu tanya hal ini?"
Ji Bun semakin bingung, Bwe-hiang adalah pelayan pribadi ibunya, yang membunuhnya adalah Kwe-lohjin,
bayangan orang dilihatnya jelas demikian pula racun Giam-ong-ling hanya dimiliki oleh Kwe-loh-jin
seorang, semua ini tidak akan palsu. Bagaimana seluk beluk kejadian ini harus diselidiki? Maka dia tanya
dengan suara lebih keras: "Pak jenggot kau bicara dengan jujur?"
Pak jenggot menjadi gugup, sahutnya: "Ji-kongcu, hamba tidak tahu apa yang kau maksudkan?"
"Kau masih ingat Bwe-hiang tidak?"
"Bwe-hiang? Ya, sudah tentu, budak mungil dan pandai nyanyi, budak yang menyenangkan sekali.
Kenapa dia, Kongcu?"
"Aku bertemu dengan dia?"
"O, Kongcu bertemu dia? Dia kenapa dan mana dia sekarang?"
"Dia sudah meninggal."
"Meninggal? Bagaimana mungkin ......."
"Sebelum ajalnya dia bilang bahwa ibu berada di rumah ini."
Pak jenggot mundur dua langkah, suaranya gemetar ngeri. "Hamba menjadi bingung, bukankah dia
sama menghilang bersama Ji-hujin?"
Ji Bun melangkah masuk ke taman, lalu membalik menutup pintu. "Hayolah bicara di dalam saja."
Suara pak jenggot kedengaran kurang wajar, katanya: "Ji-kongcu silakan duduk di gardu saja, biar
hamba buatkan makanan dan menyediakan arak, ai ....." lalu ia mengundurkan diri menuju ke samping
rumah sebelah kiri.
Ji Bun melepas pandang ke seluruh penjuru taman yang amat dikenalnya ini, rumput-rumput liar sama
tumbuh, tanaman bunga yang dulu teratur dan tumbuh subur sama layu bercampur dengan rumput-rumput
liar, hanya belukar melulu yang kelihatan.
Dengan mengerut alis, seorang diri dia berjalan sambil menekan perasaan sedihnya, setelah melewati
taman bunga dia masuk ke gardu ujung, penjagaan yang ada di dalam gardu tetap seperti sedia kala, cuma
debu tebal, gelagasi terbentang di mana-mana. Menghadapi keadaan yang serba rusak tak terurus ini, Ji
Bun berdiri kesima.
Entah berapa lamanya, baru pak jenggot muncul lagi, dia repot membersihkan debu, mulutnya mengeluh
panjang pendek. Ji Bun duduk tenggelam dalam kedukaan. Setelah membersihkan gardu. pak jenggot
berlari pergi dan membawakan hidangan dan arak. Katanya: "Ji-kongcu, silakan dahar seadanya."
"Ehm," baru sekarang Ji Bun angkat kepala, dalam waktu sesingkat ini ternyata pak jenggot mampu
menyiapkan delapan macam hidangan, empat macam diantaranya malah hidangan daging dan ikan, keruan
dia heran: "Pak jenggot, agaknya kau pandai merawat diri."
Pak jenggot melengak, tanyanya: "Apa maksud Kongcu?"
"Kau amat memperhatikan menu untuk hidupmu sehari-hari, kalau tidak dalam waktu sesingkat ini
darimana kau bisa menyiapkan hidangan sebanyak ini?”
"O, he he he, hal ini hamba sih.. ....ai,ai!." Tersipu-sipu dia mengisi cangkir arak Ji Bun.
"Marilah pak jenggot kau, iringi aku makan minum."
Semula pak jenggot rikuh dan tidak berani, setelah dipaksa akhirnya duduk di depan Ji Bun, keduanya
lantas makan minum sambil ngobrol, sudah tentu yang dibicarakan hanya soal-soal yang menyangkut
keluarga dan peristiwa hancurnya jit-sing-po.
Entah berapa cangkir sudah Ji Bun menghabiskan arak yang selalu di isi pak jenggot, lalu tanyanya: "Pak
jenggot, urusannya agak ganjil."
"Soal apa yang ganjil?"
"Sebelum ajal Bwe-hiang bilang bahwa Ji-hujin bersama penculiknya ada di tempat ini."
Pak jenggot berjingkat berdiri, serunya mendelik: "Bagaimana mungkin."
Pada saat itulah, mendadak Ji Bun merasakan kepala sedikit pusing, lekas dia menahan tubuh dengan
kedua tangan memegangi meja.
Pak jenggot memburu maju dan bertanya gugup: "Ji-kongcu, kenapa kau?"
"Beberapa hari ini aku menempuh perjalanan siang malam, mungkin terlalu capai .....”
"He he he he ......" tiba-tiba berubah air muka pak jenggot dengan menyeringai.
Tersirap darah Ji Bun mendengar tawa aneh ini, seketika dia mendapat firasat jelek, baru saja dia berdiri,
lekas sekali dia duduk lemas di kursinya pula, serunya: "Pak jenggot, apa yang kau lakukan .......”
"Ji-kongcu, terpaksa kau pasrah nasib saja, jangan kau salahkan hamba, kau sendiri yang meluruk
kemari."
Hampir meledak kepala Ji Bun, saking murka, bentaknya: "Anjing tua, kau ...... apa katamu?"
Pak jenggot menyeringai, ujarnya: "Kuharap kau menyerah dan terima kematian saja."
Sudah tentu bukan kepalang gusar Ji Bun, dengan melotot dia tatap pak jenggot, darah mendidih, ingin
rasanya ia merobeknya. Namun tenaga tak kuasa dikerahkan, racun sudah menjalar ke seluruh tubuh. Kalau
dirinya harus mati demikian, sungguh penasaran sekali. Mulutnya megap-megap seperti binatang kelaparan,
hardiknya kalap: "Tua bangka, kau ..... kau ..... berani mencelakai aku?”
Pak jenggot menyurut takut melihat wajah Ji Bun yang beringas seram, dia tahu Ji Bun takkan mampu
berbuat apa-apa, namun wajahnya yang beringas buas sungguh menakutkan, katanya setelah mundur
cukup jauh: "Ji-kongcu, Lwekangmu sungguh hebat, orang lain takkan tahan terkena racun ini."
"Anjing tua, katakan ...... kau ....... kenapa...."
"Ji-kongcu, jangan salahkan aku, setelah diakhirat, kau akan tahu siapa pembunuhmu."
Ji Bun berteriak kalap, darah menyembur dari mulutnya, kepala pusing pandangan gelap, badannya
bergoyang gontai berpegangan meja. Apa yang dikatakan Bwe-hiang memang tidak salah, bahwa musuh
telah menduduki rumah ini, pak jenggotpun sudah menyerah kepada musuh, sungguh sukar dipercaya.
Sekuatnya dia bertahan, setelah menarik napas, dia kuatkan hati menenangkan pikiran, katanya sambil
mengertak gigi: "Pak jenggot, siapa yang suruh kau?"
Pak jenggot bergelak tertawa, katanya: "Lebih baik kau tidak tahu, kau takkan meram di alam baka."
Darah yang mendidih merangsang benaknya, seketika pandangan Ji Bun menjadi gelap badanpun
tersungkur di meja, muka dan dadanya sama basah oleh masakan. Pada detik-detik yang gawat itulah
mendadak sebuah suara bentakan berkumandang di sebelah tubuhnya: "Pak jenggot, berani kau!"
Susah payah Ji Bun angkat kepalanya, kedua tangan menyanggah meja, sehingga badannya melorot
duduk di atas kursi pula, mata berkunang-kunang dan tidak jelas melihat siapa orang yang baru datang itu.
"Aduh!" terdengar pak jenggot menjerit disusul sebuah bentakan kereng: "Keluarkan obat pemunahnya."
Sekilas pikiran jernih mengetuk benak Ji Bun, cepat tangannya meraba kantong dan mengeluarkan
beberapa butir Pi-tok-tan terus dimasukkan mulut, dengan air ludah dia telan seluruhnya, rasa pening
segera berkurang. Namun pandangannya masih remang-remang, lapat-lapat ia kenal siapa pendatang yang
meringkus pak jenggot itu, dia bukan lain adalah Thian-gan-sin-jiu alias Biau-jiu Siansing.
Bahwa Biau-jiu Siansing muncul di sini tepat pada waktunya, sungguh amat diluar dugaan. Pak jenggot
yang teringkus oleh Biau-jiu Siansing tampak pucat wajahnya.
Agaknya Biau-jiu Siansing juga terlalu emosi, napasnya memburu, badanpun gemetar, mulutnya
menggumam: "Mana mungkin, peristiwa yang tidak mungkin bisa terjadi, kenapa ........”
Ji Bun mulai sadar, pikirannya sudah jernih, gumam Biau-jiu Siansing tadi dapat didengarnya, namun dia
masih lemas dan belum sempat memikirkan arti kata-kata orang itu.
Terdengar Biau-jiu Siansing membentak pula dengan bengis: "Pak jenggot, kau sadar tidak apa yang
kaulakukan ini?"
Gemetar tubuh pelayan tua itu, jawabnya: "Kau orang kosen dari mana?"
"Tak perlu kau tanya, katakan, kenapa kau melakukan semua ini?"
"Tahukah kau bahwa mencampur tangan urusan keluarga orang lain merupakan pantangan besar kaum
persilatan?"
"Keparat, tua bangka, serahkan obat penawarnya jika tidak ingin kukerjain kau hingga setengah
mampus."
Bergidik pak jenggot dibuatnya, katanya: "Apa tuan mampu berbuat demikian? Meski mati ditanganmu,
jaagan harap kau bisa keluar dari sini." demikian pak jenggot malah menantang.
"Anjing tua, mana obat pemunahnya?"
"Tidak. ...punya."
Jari Biau-jiu Siansing segera menutuk, kontan pak jenggot berkuik-kuik seperti babi disembelih, keringat
sebesar kacang membasahi selebar mukanya, mukanya yang penuh keriput berubah bentuk menahan sakit.
"Ada tidak?" bentak Biau-jiu Siansing.
Pak jenggot terus merintih-rintih, namun tetap tidak mau menjawab.
Kembali Biau-jiu Siansing menutuk pula, pegangan tangan dilepaskan, "Bluk", pak jenggot bergulingguling,
buih meleleh dari mulutnya, mukanya seram dan matanya melotot sambil menjerit-jerit.
"Keluarkan obat pemunahnya," bentak Biau-jiu Siansing pula.
Meski sudah tua, ternyata pak jenggot tahan disiksa, keadaannya sudah sepayah itu, namun dia tetap
tak mau buka suara.
Dengan gusar Biau-jiu Siansing turunkan kotak obatnya lalu mengeluarkan sebilah pisau yang biasanya
dibuat operasi, teriaknya: "Kuping kiri,” dan sekali pisaunya bergerak, daun kuping kiri pak jenggot seketika
berpisah dengan kepalanya, darah mengalir deras.
"Kuping kanan!" kembali pisau bekerja, dan kuping kanan pak jenggot diirisnya pula.
Keruan bertambah sakit dan tersiksa keadaan pak jenggot, namun mulutnya malah menyeringai: "Kau
..... tunggu saja, kaupun .... akan disiksa ..... sepuluh kali lipat .... lebih menderita daripada aku."
Biau-jiu Siansing berteriak aneh: "Sepasang mata!" pisaunya kembali mengiris kemuka orang, betapapun
pak jenggot tak berani mengambil resiko lagi, jika mata buta, hiduppun tak berarti orang berhati keras
bagaimanapun juga kalau kedua mata diancam, terbang juga sukmanya, maka luluhlah hatinya, teriaknya;
"Baiklah ..... kuambilkan ......”
Biau-jiu Siansing tarik pisaunya, pak jenggot benar-benar sudah kehabisan tenaga, suara rintihanpun tak
terdengar lagi, seperti mampus saja ia melingkar di lantai. "Harap bebaskan dulu tutukanmu," pinta orang
tua itu.
"Katakan dulu di mana obat pemunahnya?"
"Di ..... di .... biarlah aku yang pergi mengambil."
"Tidak, katakan saja."
"Obat pemunahnya ada .... di atas loteng yang terletak di pekarangan barat .... di dalam laci kelima
almari sebelah timur ..... botol putih .....”
Tanpa membuang waktu lagi Biau-jiu Siansing segera berlari ke sana, seolah-olah sudah apal akan
keadaan taman luas ini, dalam sekejap saja dia sudah lari kembali, tangannya memegangi sebuah botol
porselin kecil putih, katanya sambil diacungkan ke depan pak jenggot: "Apakah ini?"
“Ya ........”
Biau-jiu Siansing lantas membuka tutukan Hiat-to pak jenggot, namun beruntun dia menutuk dua Hiat-to
yang lain pula, katanya dingin: "Kalau obatmu ini betul mujarab baru kupastikan nasibmu."
Segera ia menghampiri Ji Bun serta menuang sebutir pil dari dalam botol terus dijejalkan ke mulut Ji Bun.
Kena racun berbeda dengan luka-luka parah oleh pukulan, asal obatnya tepat dan mujarab, segera akan
punah dan sembuh seperti sediakala. Lekas Ji Bun mengunyah pil itu serta ditelan ke dalam perut, cepat
sekali keringat dingin merembes dari seluruh pori-pori badannya, kadar racun seketika tawar dan hawa
murnipun dapat terhimpun pula. Sekali melejit dia melompat bangun terus memburu ke sana, berbareng
tangan terayun.
Biau-jiu Siansing segera berteriak mencegah: "Jangan dibunuh!"
Sayang sudah terlambat, terdengar jeritan menyayat hati, batok kepala pak jenggot kontan hancur luluh,
tamatlah riwayat budak ayahnya yang ternyata khianat ini.
Maklumlah bukan kepalang benci dan sakit hati Ji Bun, maka dia menyerang dengan penuh emosi. Walau
dia mendengar teriakan Biau-jiu Siansing sayang dia sudah tak kuasa mengendalikan tenaga pukulannya.
Setelah kepala orang terhantam remuk baru dia sadar, namun menyesalpun sudah kasip.
Berkerut alis Biau-jiu Siansing: "Mestinya kau harus mengompes keterangannya dulu."
"Ya, memang Wanpwe yang salah, "ujar Ji Bun menyesal, "terima kasih atas pertolongan Cianpwe.”
"Lohu sudah memberi peringatan supaya sebelum bertindak kau pergi ke Kay-hong dulu untuk
merunding dengan Ciang Wi-bin
"Betul, namun hubungan ibu dan anak betapapun tidak dapat sabar dan membuang waktu lagi, begitu
mendapat sumber berita segera aku menuju kemari."
"Tekadmu memang dapat dimengerti, Lohu sendiri juga pernah berjanji dalam sebulan untuk bantu
menyelidiki seluk beluk musuh, kau harus menunggu, bahwa Lohu suruh kau menyamar adalah untuk
mengelabuhi pihak lawan supaya tidak terjadi sesuatu di luar dugaan, kalau Ui Bing tak segera memberi
laporan dan aku menyusul kemari tepat pada waktunya, tentu kau bisa bayangkan akibatnya."
Merinding Ji Bun, memang, kalau maling sakti ini tidak muncul tepat pada waktunya, mana mungkin
dirinya masih bernyawa sekarang. Bahwa musuh berulang kali cari kesempatan hendak membunuh dirinya,
sekarang menawan ibunya sebagai sandera pula. Apa maksud tujuannya sukar diraba, lebih celaka lagi
kacung ayahnya yang setia dulu sekarang juga menyerah dan menjadi kaki tangan musuh hendak
mencelakai jiwanya pula, sungguh suatu hal yang mengerikan. Tapi bagaimana keadaan ibunya? Tegakah
dia membiarkan ibunya tersiksa dan menderita dibelenggu musuh?
Rencana kerja yang diatur dan dilaksanakan Biau-jin Siansing serta tutur katanya telah menunjukkan
bahwa seluk beluk musuh sedikit banyak sudah dapat merabanya. Hanya tinggal mencari bukti dan
kenyataan, maka dia berkata dengan suara haru: "Tentunya Cianpwe sudah tahu asal usul musuh."
"Boleh dikatakan demikian, tapi .......”
Tersirap hati Jl Bun, tanyanya mendesak. "Tapi kenapa?"
"Menurut rabaan, tidak mungkin ada kejadian-kejadian seaneh ini, akan tetapi kenyataan justeru
menyulitkan Lohu akan analisa semula."
"Wanpwe hanya menguatirkan keselamatan ibuku."
"Dia tidak akan mengalami apa-apa."
"Berdasarkan apa Cianpwe berkata demikian?"
"Menurut keadaan yang sudah Lohu ketahui."
"Cianpwe tidak suka memberitahu seluk beluknya?”
"Bukan tidak suka, tapi belum bisa, kau harus bersabar, dalam sebulan pasti bisa kuselidiki dengan
terang, menurut pendapatku, lebih baik sekarang juga kau harus berangkat ke Kay-hong."
Timbul rasa duka dalam hati Ji Bun, pengalaman getir yang beberapa kali ini sungguh merupakan
peristiwa yang terlalu berat untuk dipikul dan dirasakan oleh anak semuda dirinya.
Minat untuk ke Kay-hong tiada, dalam situasi seperti sekarang, dirinya sudah tersudut dan menghadapi
jalan buntu. Sejak meyakinkan Bu-ing-cui-sim-jiu yang ganas, lalu mendapat saluran kekuatan dari orang
tua di dasar jurang itu, ia yakin bekal untuk menuntut balas sudah cukup melampaui, namun di luar
perhitungannya, kekuatan musuh ternyata satu kuat dari yang lain, dendam berdarah keluarganya entah
kapan baru bisa terbalas?
Seperti memikirkan sesuatu Biau-jiu Siansing berkata: "Kita harus segera meninggalkan tempat ini, pak
jenggot sudah mati, tiada orang hidup lain di sini. Sampai sedemikian jauh kau harus tetap merahasiakan
dirimu. Obat pemunah racun Giam-ong-ling ini boleh kau bawa, mungkin setiap waktu bisa kau gunakan,"
lalu ia tuang beberapa butir ditelapak tangannya, sisanya yang ada di dalam botol ia serahkan pada Ji Bun.
Ji Bun menerimanya sambil mengucap terima kasih, katanya lebih lanjut: "Waktu ayah mendapatkan
Tok-keng dulu, dia mengagulkan diri sebagai tokoh beracun yang tiada tandingan. Tak nyana gunung satu
lebih tinggi daripada gunung yang lain, racun Giam-ong-ling ini biarpun ayah sendiripun tak mampu
menawarkannya."
Terpancar sinar mata Biau-jiu Siansing yang aneh, katanya: "Darimana kau tahu ayahmu tak mampu
menawarkannya?"
13.38. Kedok dan kemunafikan Sang Ayah ....??!!
"Karena tak pernah beliau sebut-sebut nama Giam-ong-ling."
"Itu tidak bisa membuktikan bahwa dia tidak mampu menawarkannya."
"Pi-tok-tan yang selalu Wanpwe bawa bisa menawarkan segala macam racun, namun terhadap Giamong-
ling ini kehilangan khasiatnya, ini membuktikan ........”
Biau-jiu Siansing goyang-goyang tangan: "Itu belum tentu, apakah kau sendiri pernah mempelajari Tokkeng?"
"Tidak, apa yang Wanpwe dapatkan adalah ajaran ayah secara lisan."
"Nah, kalau begitu siapa tahu kalau racun Giam-ong-ling ini juga tercatat di Tok-keng itu?"
"Memangnya antara ayah dan anak juga perlu main rahasia segala?"
"Menurut aturan tidak, namun kejadian di dunia ini kadang-kadang sukar diterima oleh akal sehat."
Ji Bun diam saja, dia tidak percaya kalau ayahnya sekikir itu dan sengaja merahasiakan pelajaran
terhadap puteranya, namun dia toh tidak berani menyangkal adanya kemungkinan ini, Kini ayahnya sudah
meninggal, namun ada dua persoalan yang masih merupakan tanda tanya bagi dirinya. Pertama, dirinya
belum pernah membaca Tok-keng. Kedua, ayahnya jelas tahu setelah meyakinkan Bu-ing-cui-sim-jiu, maka
selama hidup dirinya tak boleh bersentuhan kulit dengan lawan jenisnya. Hal ini bukan saja mematahkan
harapan hidup bahagia di kemudian hari, sekaligus juga memutuskan keturunan keluarga Ji. Dan setahunya
Jit-sing-pang belum pernah mengikat permusuhan dengan siapapun, tiada ambisi untuk menguasai dunia,
mestinya tidak perlu meyakinkan ilmu beracun yang ganas ini, ayahpun tahu hal ini, justeru mengajarkan
kepada dirinya, mengapa?
Tiada ayah bunda di dunia ini yang tidak sayang kepada putera-puterinya, namun tindakan ayahnya
dalam hal ini jelas salah. Sebagai putera puteri yang harus berbakti kepada orang tua, apa yang harus
dilakukannya sekarang?
Terbayang juga olehnya cerita Siangkoan Hong yang menggiriskan itu, demikian pula peristiwa
pembunuhan murid Siu-yan Loni yang diperkosa lebih dulu. Jika betul ayahnya seorang jahat dan bermoral
bejat, bukankah dia merupakan sampah persilatan yang patut dibunuh oleh setiap insan? Hal inilah yang
betul-betul mengetuk sanubarinya, bukan saja ia amat berduka dan menderita lahir batin, diapun merasa
malu.
"Lekaslah kita pergi!" ujar Biau-jiu Siansing pula.
Ji Bun hanya manggut-manggut, dia ikuti langkah Biau-jiu Siansing keluar, mereka menuju ke barat terus
keluar kota, mereka tiba di tegalan yang penuh belukar. Biau-jiu Siansing berhenti, katanya; "Kita berpisah
di sini, selamat bertemu di Kay-hong."
Tiba-tiba teringat sesuatu hal yang selama ini mengganjel hatinya, ia bertanya. "Cianpwe, apakah sudi
memberi penjelasan suatu persoalan yang mengganjel hati Wanpwe?"
"Soal apa?"
"Tentang gedung setan di kota Cinyang ..........”
Biau-jiu Siansing menepekur sebentar, katanya: "Kau pernah ke sana bukan? Baiklah Lohu akan berterus
terang padamu. Memang gedung setan itu adalah salah satu tempatku yang dirahasiakan."
Perasaan Ji Bun menjadi bergolak, katanya: "Disana Wanpwe bertemu dengan ......”
"Istri bapakmu yang resmi, Khong-kok-lan So Yan?" Biau-jiu Siansing menukas.
"Wanpwe mohon penjelasan, kenapa ibu tua tampaknya amat dendam dan benci terhadap ayah?"
"Ya, pernikahan Khong-kok-lan So Yan dengan ayahmu memang banyak lika-likunya."
"Bolehkah Wanpwe mengetahui?"
"Ehm, baik juga kalau kau tahu akan peristiwa itu. Waktu mudanya dulu ibu tuamu itu cukup tenar juga
di kalangan Kang-ouw, entah berapa banyak pemuda yang tergila-gila padanya, namun dia hanya menyintai
seorang muda yang bergelar Hing-thian-kiam Gui Han-bun, keduanya sumpah setia sehidup semati. Pada
suatu malam hari terang bulan. kedua insan yang sedang memadu kasih di puncak Siau-sit-hong di gunung
Siong-san mendadak kepergok oleh musuh. Hing-thian-kiam terpukul jatuh masuk jurang oleh musuhnya,
jenazahnya hilang tidak berbekas. Sudah tentu Khong-kok-lan amat sedih, dia bersumpah menuntut balas
pembunuh kekasihnya. Suatu ketika jerih payahnya tidak sia-sia, musuh berhasil ditemukan, maka kedua
pihak bertarung mati-matian ........”
Sampai disini Biau-jiu Siansing merandek, seperti mengenang dan merangkai cerita yang akan diuraikan,
lalu melanjutkan: "Sayang kepandaian Khong-kok-lan setingkat lebih rendah, dia terluka parah oleh pukulan
musuh. Melihat wajahnya ayu jelita, musuhnya itu timbul nafsu birahinya, ketika dia hendak diperkosa,
muncullah seorang tokoh muda lainnya. Musuh berhasil dibunuh olehnya, maka Khong-kok-lan dibawanya
pergi, diobati dan dirawat dengan tekun .........”
Biau-jiu Siansing pejamkan mata, suaranya meninggi: "Setelah luka-luka Khong-kok-lan sembuh,
disamping amat haru dan berterima kasih akan perawatan dan pertolongannya, diapun merasakan
penolongnya ini seorang muda yang baik hati, malah membujuk dan meminangnya berulang-ulang.
Akhirnya dia menikah dengan penolongnya itu .....”
Jantung Ji Bun berdebur, lekas dia menukas: "Siapakah penolongnya itu?"
Membelalak kedua biji mata Biau-jiu Siansing, sahutnya: "Dia adalah ayahmu Ji Ing-hong."
“O, bagaimana selanjutnya?"
"Kira-kira tiga tahun kemudian, datang seorang menuntut balas ke jit-sing-po, sekaligus terbongkarlah
satu muslihat yang menakutkan ........”
"Rahasia apakah yang terbongkar?"
Biau-jiu Siansing mengertak gigi, katanya dengan keren: "Ternyata Hing-thian-kiam yang dipukul jatuh
ke dalam jurang tiga tahun yaog lalu itu, memang pembunuhan yang sudah direncanakan ........"
"Pembunuhan yang sudah direncanakan?" Ji Bun menegas pula.
"Ya, muslihat yang rendah dan hina dina tujuannya adalah Khong-kok-lan .....”
Berat perasaan ji Bun, hampir dia tak berani mendengar lebih lanjut, namun rasa ingin tahu tetap
merangsang dihatinya, tanyanya dengan gemetar:
"Muslihat siapakah itu?"
"Ayahmu!"
Bergidik Ji Bun seperti mendadak kecebur sumur es yang dingin, teriaknya dengan histeris: "Tidak, ...
tidak mungkin!"
"Kau harus menerima kenyataan ini dengan kepala dingin."
"Siapa bisa membuktikan?"
"Ji Bun, kau kira siapa yang menuntut balas ke Jit-sing-po?"
"Siapa?"
"Ji-susiokmu (paman guru kedua)! Sam-susiokmu dibunuh ayahmu setelah Hing-thian-kiam berhasil
dijerumuskan ke jurang."
Ji Bun mundur tiga langkah, mulutnya menggumam: "Betulkah ayah macam orang demikian? Dia .....
ternyata .....”
"Watak Sam-susiokmu mirip dengan ayahmu, maka dialah yang menjadi korban muslihat keji dan kotor
itu."
"Lalu bagaimana dengan Ji-susiok?"
"Akhirnya iapun terbunuh oteh ayahmu."
"Oh, ini ..... ini sungguh menakutkan."
"Ibu tuamu Khong-kok-lan tahu kepandaian silatnya bukan tandingan ayahmu, maka dia cari
kesempatan, untuk turun membalas kekejian ayahmu ........”
Terbayang oleh Ji Bun betapa dendam dan benci ibu tuanya terhadap ayahnya, dia percaya ini pasti
bukan bualan belaka, perbuatan rendah dan hina dina yang diwariskan ayahnya ini, betapapun takkan
tercuci bersih, namun derita lahir batin ini takkan bisa dilenyapkan untuk selamanya, tanyanya: "Dia berhasil
menuntut balas?"
"Tidak. Setelah ayahmu memperoleh Tok-keng, lebih-lebih tiada kesempatan lagi."
"Bagaimana beliau bisa berada di gedung setan?"
"Secara suka rela aku menolong dan menerimanya."
"Siapakah bocah bernama Siao-po itu?"
Terunjuk rasa pilu pada sorot mata Biau-jiu Siansing, katanya gemetar: "Itulah puteraku, waktu
dilahirkan ibunya meninggal, sekarang kuserahkan dia untuk merawat dan membimbingnya."
"Cianpwe memang sudah tahu sebelumnya akan peristiwa itu?"
"Tidak, belakangan ini, setelah kau mampir ke gedung setan itu, ibumu menceritakannya padaku."
"Cianpwe mau menerima ibu tua disana, tentu ada sebabnya? Bolehkah Wanpwe tahu?"
"Ini ..... ayahmu ada hubungan kental dengan keluarga Ciang, betul tidak?"
"Itu memang kenyataan.”
"Karena itulah, Lohu mau menerimanya, karena Lohu juga punya hubungan luar biasa dengan keluarga
Ciang."
"Apakah ayahku almarhum tidak tahu?"
"Yang tahu sarang rahasiaku kau inilah orang pertama."
Tengah mereka berbincang, sekonyong-konyong bayangan seorang bagai angin lesus melesat lewat di
samping mereka, tanpa sadar Ji Bun berteriak memuji: "Gerakan hebat, dapat dijajarkan dengan Cianpwe."
Belum habis Ji Bun bicara, bayangan orang yang sudah lewat itu tiba-tiba melesat kembali dan berhenti
di hadapan mereka, kiranya seorang Siucay (pelajar tua) yang berdandan seperti guru kampungan, namun
sorot matanya tajam menatap Biau-jiu Siansing, katanya setelah mengawasi sekian lamanya: "Tuan ini
adalah Thian-gan-sin-jiu?"
Biau-jiu Siansing ngakak, sahutnya: "Memang akulah yang rendah, ahli mengobati penyakit aneh, bisa
meramal dan lain-lain, saudara ........”
"Tuan juga adalah Biau-jiu Siansing, betul tidak?" tukas Siucay tua dingin.
Agaknya Biau-jiu Siansing betul-betul terperanjat, matanya melirik kepada Ji Bun, lalu balas bertanya:
“Pandanganku mungkin sudah kabur, maka mohon tanya saudara ini orang kosen darimana?"
Berputar biji mata Siucay tua yang berkilau itu, katanya: "Tuan tidak perlu tahu, kalau aku sembarangan
menyebut sebuah nama, tentunya tiada gunanya buat kau .......”
"Betul lalu saudara ada petunjuk apa?"
"Aku ingin mencari tahu seseorang."
"Siapa?"
"Jit-sing-po-cu Ji Ing-hong."
Berdebar hati Ji Bun. orang yang berdandan pelajar kampungan ini entah darimana asalnya. Untuk apa
pula mencari tahu jejak ayahnya? Dari mana dia tahu asal usul Biau-jiu Siansing?
"Kenapa saudara mencari tahu jejak Ji Ing-hong kepadaku?"
"Karena kalian sekomplotan."
Tersirap darah Ji Bun. Sungguh tak pernah terpikir olehnya bahwa Biau-jiu Siansing sekomplotan dengan
ayahnya. Serta merta dia melirik Biau-jiu Siansing dengan tatapan curiga, sejauh memang dirinya belum
berhasil melucuti wajah aslinya maling tua ini, yang diketahui hanya Biau-jiu Siansing adalah duplikat Thiangan-
sin-jiu.
"Apa?" teriak Biau-jiu Siansing keras. "Ji Ing-hong sekomplotan denganku?"
"Apa kau menyangkal?" tanya orang itu.
"Kau pasti punya dasar tuduhan ini? Coba jelaskan."
"Tuan bersama Ji Ing-hong menyaru jago Ngo-lui-kiong, ikut membuat huru-hara ke Wi-to-hwe, benar
tidak?"
"Darimana kau tahu?"
"Cukup asal kau mengaku saja, soal lain tak usah ditanya."
Semakin bergolak perasaan Ji Bun, sungguh tak nyana orang baju putih yang mengacungkan Ngo-lui-cu
di Tong-pek-san dan dicegah Thong-sian Hwesio itu ternyata adalah ayahnya. Kenapa Biau-jiu Siansing tidak
pernah menyinggung soal ini? Memang waktu Biau-jiu Siansing pernah memperingatkan dirinya supaya
meninggalkan gelanggang, kiranya ada sebabnya. Sepak terjang Biau-jiu Siansing sungguh sukar diraba.
Biau-jiu Siansing terdiam sebentar, tanyanya: "Untuk apa saudara mencari tahu jejaknya?"
Berkilat sinar mata Siucay tua itu, katanya: "Untuk menagih utang lama."
"Kukira kau takkan bisa menagih utangmu itu. Jit-sing-pocu sudah meninggal di jalan raya yang menuju
ke Kay-hong."
Siucay tua terkekeh-kekeh dingin, katanya: "Maling tua, berani kau mengatakan bahwa yang mati betulbetul
Ji Ing-hong si keparat itu?"
Mendengar orang memaki dan menghina ayahnya, Ji Bun naik pitam, namun dia tekan amarahnya. Katakata
orang juga mengejutkannya, jenazah ayah dan dia sendiri yang mengubur. Walau wajahnya sukar
dikenali, namun dari barang-barang peninggalan yang ada di kantong bajunya, jelas adalah milik ayahnya.
pakaiannyapun cocok dan tidak mungkin dipalsukan. Cukong atau majikan Kwe-loh-jin pernah suruh orang
berpesan kepadanya bahwa ayahnya mati terbunuh oleh Thong-sian Hwesio.
Biau jiu Siansing juga melenggong sekian lama. Hati Ji Bun juga dirundung kecurigaan, bukan mustahil
peristiwa pembunuhan itu juga merupakan muslihat belaka? Akhirnya Biau-jiu Siansing buka suara nadanya
rendah dingin: "Aku tidak mengerti apa maksud saudara."
"Maling tua, dihadapan sang Buddha jangan kau bersembahyang dengan dupa palsu, bicaralah terus
terang saja."
"Saudara terlalu menghina dan pandang rendah orang lain."
"Sikapku ini terhitung memberi muka padamu."
Ji Bun tidak sabar lagi, segera ia menyeletuk dengan sinis: "Kenapa tuan ini tidak berterus terang akan
pribadi sendiri?"
Mengerlingpun tidak mata Siucay tua, hakikatnya dia anggap tidak dengar ucapan Ji Bun, katanya
melengking: "Buyung, tiada urusanmu disini."
"Kenapa tidak?"
"Hm, apakah kau tahu di mana Ji ing-hong berada?"
"Mungkin aku tahu."
Tiba-tiba Siucay tua berputar menghadap Ji Bun, sorot matanya bagai kilat tajam menatap anak muda
itu. Ji Bun tidak gentar, ia balas tatap orang, katanya: "Sekarang mohon tanya nama gelaran tuan."
"Selamanya Lohu tidak suka mengagulkan diri."
"Kalau demikian, jangan harap tuan bisa mendapat jawaban."
"Kau congkak sekali, anak muda. Aku tidak sabar lagi,"
"Akupun tidak sabar untuk menggebahmu pergi.”
Lekas Biau-jiu Siansing menyela: "Berdasar apa kau bilang yang mati di jalan raya Kay-hong itu bukan Ji
Ing-hong?"
"Kenapa Ji Ing-hong dibunuh? Siapa yang menyaksikan? Dengan bekal kepandaiannya, kukira jarang ada
orang yang mampu membunuhnya? Apalagi, dia pandai main racun?“
"Memang beralasan, tapi masih banyak orang pandai di kalangan Kang-ouw."
"Meski demikian, masakah Ji Ing hong tidak mampu melarikan diri, apalagi manusia berjiwa kerdil dan
jahat seperti dia, tentu sebelumnya dia sudah mengatur jalan mundur."
"Jangan saudara lupa, dia terbunuh setelah berhantam mati-matian dengan lawan dan akhirnya gugur
bersama."
"Kau sendiri tidak menyaksikan bukan? Kabar angin tidak boleh dibuat bukti. Ketahuilah maling tua,
korban itu mati lantaran keracunan, tiada luka apa-apa di badannya, wajahnya dihancurkan setelah jiwanya
melayang, maka darah yang meleleh tidak banyak. Luka-lukanyapun tiada sesuatu yang luar biasa. Cara
mengelabuhi orang begitu masakah bisa mengaburkan pandangan Lohu."
"Jadi tuan sendiri menyaksikan kejadian itu?" tanya Biau-jiu Siansing.
"Aku datang kemudian, namun mayat-mayat mereka pernah kuperiksa."
Goyah pendirian dan pendapat Ji Bun, jika betul begitu, maka dalam peristiwa pembunuhan ini pasti ada
latar belakangnya. Sudah tentu ia harap ini jadi kenyataan, ia berharap ayahnya masih hidup. Keja¬dian ini
betul-betul merupakan keanehan. Maka ia ber¬kata: "Agaknya tuan selalu menguntit jejak Ji-pocu."
"Ya, boleh dikatakan demikian."
"Soal mati hidupnya tak perlu diungkat lagi, perhitungan apa yang hendak tuan tagih dari dia?"
"Anak muda, tadi kau bilang tahu jejaknya?”
"Ya, Cayhe tahu kalau dia sudah meninggal, malah aku sendiri yang mengubur mereka, akupun
mendapatkan tanda-tanda bukti dari kantong bajunya, menandakan asal usul si korban."
“Apakah tidak terpikir olehmu bahwa itu muslihat Ji Ing-hong untuk mengalihkan perhatian musuh
terhadap jiwanya?"
"Tiada alasan kenapa aku harus berpikir demikian.”
"Bedebah, minggir kau, soal ini kau tidak usah campur."
Bangkit watak angkuh Ji Bun, dengusnya: “Cayhe justru ingin ikut campur."
"Anak muda," desis Siucay tua, "Apa maksudmu?"
"Agaknya kau sudah bosan hidup?" ancam Siucay. "Jangan kau paksa aku membunuhmu." Belum lenyap
kumandang suaranya, tangannya tiba-tiba terulur ke dada Ji Bun, gerakan cengkeraman ini aneh dan cepat
sekali. Ji Bun menggeram rendah, iapun bergerak dalam waktu yang sama, telapak tangannya memapas
pergelangan tangan lawan.
Belum lagi gerakannya berhenti, tahu-tahu setengah tubuhnya terasa kejang dan linu, tahu-tahu Jiankin-
hiat di pundak telah terpegang oleh lawan, telapak tangannya juga berhasil menabas pergelangan
lawan.
Seketika Siucay tua menjerit kaget: "Tangan beracun!" pegangan dilepas, kaki menyurut mundur,
wajahnya berubah pucat.
Dingin Pandangan Ji Bun, dia tunggu reaksi namun Siucay tua ini tidak terjungkal roboh, hanya mulutnya
sedikit mengernyit seperti menahan sakit. Seorang yang tidak gentar terhadap tangan beracun.
Terdengar Siucay tua barkata tertahan: "Kau inikah Te-gak Suseng? Kenapa tidak mirip wajah yang
pernah kudengar ..... oh, ya, keluyuran bersama si maling, tentunya bukan wajahmu yang asli ......" hanya
bicara beberapa patah kata ini, keringat sudah berketes-ketes di jidat si Siucay. Kalau dia dapat melawan
menjalarnya racun dengan tenaga dalam, dapatlah dibayangkan betapa tinggi Lwekangnya.
"Latihan Lwekang tuan memang amat mengejutkan, namun racun tetap tidak akan bisa ditawarkan,
paling-paling hanya mengulur waktu saja."
"Ehm, bagus, anak muda, Lohu tak pernah pikir bakal kecundang olehmu, mungkin memang sudah
nasibku."
"Apakah tuan tidak takluk dan menyerah saja?"
"Kalau tahu kau ini Te-gak Suseng, tiada kesempatan bagimu menggunakan racun."
"Mungkin, tapi sudah terlambat, menyerah saja."
Mendadak Biau-jiu Siansing berkata keras: "Berikan obat penawarnya!"
"Kenapa?" tanya Ji Bun melengak.
"Nak, berikan kepadanya!" kata Biau-jiu Siansing tegas.
Ji Bun berpikir, mungkin Biau-jiu Siansing punya maksud tertentu, maka tanpa bersuara segera dia
keluarkan sebutir pil terus diangsurkan. Lekas Siucay itu menerima dan ditelapnya, rasa derita seketika sirna
dari wajahnya. Katanya sambil membanting kaki: "Selamat bertemu lagi"
Sekali berkelebat, bayangannya tahu-tahu sudah menghilang.
Begitu membalik badan, tahu-tahu Siucay tua itu sudah berkelebat menghilang, kecepatan dan
ketangkasannya ternyata tidak di bawah Biau-jiu Siansing.
Dengan heran Ji Bun bertanya: "Kenapa harus memberi obat penawar kepadanya?"
"Lohu .... curiga akan seseorang.”
"Siapa?"
"Lan Sau-seng."
"Orang macam apakah Lan Sau-seng itu?"
"Dia adalah adik ibumu."
"Pamanku? Apakah Cianpwe tidak yakin dia ini orangnya?"
"Tidak, sebab Lohu belum pernah melihat mukanya."
"Lalu kenapa Cianpwe curiga kalau dia ini paman ku?"
"Dulu, waktu ibumu Lan Sau-tin menikah dengan ayahmu, pamanmu ini menentangnya secara keras,
karena itu hubungan kakak beradik menjadi putus. Dalam gusarnya pamanmu mengusir ibumu dan
bersumpah suatu ketika hendak membuat perhitungan dengan ayahmu .....”
Ji Bun ketarik, inilah sekelumit riwayat hidup keluarganya yang belum diketahuinya, maka dia bertanya
gugup: "Kenapa dia menentang pernikahan ibuku?"
"Karena ayahmu sudah menikah dengan ibu tuamu Khong-kok-lan So Yan, jadi ibumu hanya seorang
gundik."
“O, kiranya begitu, agaknya amat besar cinta ibu kepada ayah dulu. Lalu berdasar apa Cianpwe menaruh
curiga."
"Pertama, dia bilang hendak membuat perhitungan namun tidak mau menyebut nama sendiri. Kedua,
bahwa ayahmu sering menyamar jadi orang berkedok berjubah sutera, hal ini jarang diketahui orang di
kalangan Kang-ouw, namun dia tahu. Ketiga, gerak geriknya aneh dan cepat, menurut apa yang pernah
dikatakan ayahmu, pamanmu Lan Sau-seng memang ahli dalam Ginkang."
“O, kenapa tadi Cianpwe tidak tanya kepadanya?"
"Kalau salah bagaimana? Jumlah musuh tidak sedikit, sekali lena dan gegabah, banyak buntutnya. Kelak
kau masih punya banyak waktu untuk menyelidiki hal ini."
Ji Bun manggut-manggut, katanya sungguh-sungguh: "Betul¬kah ayah belum meninggal?"
Biau-jiu Siansing balas bertanya: "Apa kau sendiri berpendapat hal ini mungkin?"
"Sesuai apa yang dikatakan Siucay tadi mungkin saja. Pertama, ayah seorang ahli dalam permainan
racun, tidak mungkin dia mati keracunan. Kedua, bahwa dia gugur bersama dengan Jit-sing-kojin, kenapa
keduanya tidak nampak luka-luka? Ketiga, setelah jiwa melayang baru kepala mereka dihancurkan, jelas
peristiwa ini memang, ada latar belakangnya."
"Jadi kau berpendapat ayahmu memang sengaja main muslihat?"
Ji Bun diam saja, sudah tentu dia berharap timbulnya suatu kegaiban, bahwa yang terbunuh itu memang
bukan ayahnya. Namun dalam hati dia merasa malu diri, karena perbuatan seperti ini tidak pantas dilakukan
oleh seorang pendekar yang berjiwa ksatria.
Agaknya Biau-jiu Siansing sudah segan membicarakan hal ini, peti segera dipanggul dan tangan
menggoyang kelinting, katanya: "Lohu harus segera berangkat, selamat bertemu lagi." lalu ia melangkah
pergi.
Dalam jangka setengah hari ini, banyak yang diperoleh Ji Bun mengenai rahasia keluarganya. Dari
rahasia keluarga yang diketahui ini secara beruntun membongkar kedok dan kemunafikan ayahnya. Hal ini
sungguh sangat menusuk hatinya, diam-diam ia malu dan berduka.
Kalau ayah tidak mati, bagaimana bisa menuduh Thong-sian Hwesio sebagai pembunuh? Pula Thong-sian
Hwesio tidak pernah pakai racun, juga tak mungkin dia menghancurkan kepala orang setelah
membunuhnya? Sayang waktu dia mengubur kedua mayat itu tidak memikirkan hal ini. Semua persoalan
yang diajukan oleh Siucay tua tadi sebetulnya bisa segera membuktikan kenyataan.
Semua perubahan yang bertambah rumit ini merupakan pukulan yang menggoyahkan tekad Ji Bun untuk
menuntut balas, apalagi sepak terjang ayahnya dulu memang terlalu rendah dan hina. Semakin dipikir
semakin kalut.
Sekarang dia benar-benar merasa perlu untuk segera pergi ke Kay-hong, hanya Ciang Wi-bin seorang
yang sekarang bisa diajak berunding. Bukan saja bisa meminjam tenaganya, iapun bisa diminta saran untuk
merancang penuntutan balas, maka tanpa banyak pikir lagi Ji Bun segera mengayun langkah kembali ke
kota Lam-cau.
13.39. Korban Ilmu Hian-giok-siu-hun
Masuk dari pintu barat tanpa sadar dia langsung menuju ke rumah ayahnya. Dia pikir kalau pak jenggot
sudah mau dibeli oleh musuh dan menjadi kaki tangannya, pasti ada orang lain pula yang menghuni rumah
besar itu, mungkin ada jejak lain yang bisa ditemukan di sana. Seumpama secara tidak terduga diperoleh
sumber, tentu tidak usah banyak membuang tenaga dan memeras pikiran lagi. Hanya jejak dan keselamatan
ibunya yang masih mengganjel hatinya.
Dia melompat ke wuwungan rumah dari arah samping, kembali dia menyelundup kedalam taman, setiba
ruang depan, dilihatnya mayat pak jenggot masih menggeletak di tempat semula. Sesaat dia berdiri
melongo, apa betul dalam rumah sebesar ini hanya dihuni pak jenggot seorang? Jadi pak jenggot memang
sudah lama mendapat perintah untuk menjebak dirinya.
Pak jenggot adalah warga Jit-sing-po yang tertua, bahwa dia mau menjadi kaki tangan dan mencelakai
jiwa tuan mudanya, sungguh suatu hal yang luar biasa?
Dengan seksama Ji Bun periksa seluruh isi rumah ini, namun tiada sesuatu yang didapatkan. Walau ia
amat dendam dan benci kepada pak jenggot yang khianat ini, namun sebagai manusia berhati luhur, Ji Bun
menggotongnya keluar dan dikebumikan di taman, di sinilah letak kebajikan Ji Bun.
Selesai mengubur mayat pak jenggot, haripun sudah mendekati magrib, ia pikir harus segera pergi. Tapi
baru saja timbul niatnya, kesiur angin dari lambaian pakaian orang terdengar oleh kupingnya yang tajam.
Tergerak hati Ji Bun, cepat dia menyelinap ke balik rumpun bunga.
Beberapa orang tampak melompat turun dari atap rumah, yang terdepan adalah Bu-cing-so diiringi
delapan laki-laki berseragam hitam, segera Bu-cing-so angkat tangan memberi perintah: "Dua orang satu
kelompok, geledah dengan teliti, begitu menemukan apa-apa, segera memberi tanda peringatan."
Serempak kedelapan orang mengiakan terus memencarkan diri. Pelan-pelan Bu-cing-so pandang ke
seluruh penjuru, mulutnya mengguman sendiri: "Pernah ada orang bergebrak disini."
Ji Bun keheranan, apa tujuan Wi-to-hwe mengutus orang-orangnya kemari? Dendam kembali membakar
dadanya. "Berantas satu persatu" itulah semboyan dalam rangka menuntut balas. Sekarang dia yakin
dengan bekal Lwekangnya, pasti cukup untuk menghadapi Bu-cing-so bersama delapan anak buahnya.
Begitu nafsunya timbul segera dia berkelebat keluar.
Bu-cing-so kaget, tanpa sadar dia mundur selangkah, bentaknya: "Siapa kau?"
Tujuan Ji Bun merenggut jiwa orang, dia kira tidak perlu banyak mulut lagi. Secepat kilat tangan
kanannya membelah ke depan sementara tangan kiri ikut memotong miring melintang.
Tak pernah diduga Bu-cing-so bahwa laki-laki muka hitam ini mendadak muncul lantas menyerang
dirinya, malah serangannya bukan olah-olah hebatnya. Secara refleks dia melompat ke belakang, begitu kaki
menginjak tanah, kedua tangan segera di dorong kedepan.
"Blang", begitu pukulan saling bentur, Bu-cing-so tergetar selangkah, tak pernah terbayang olehnya
bahwa lawannya memiliki Lwekang setinggi ini, maka tadi ia hanya mengerahkan enam bagian tenaganya.
Gerakan tangan kanan Ji Bun hanya tipuan belaka, sebaliknya tangan kiri mengerahkan seluruh
kekuatannya, karena Bu-cing-so tergetar mundur jaraknya agak jauh, sukar untuk melancarkan ilmu
beracun, namun demikian Bu-cing-so berhasil dipukul mundur ini menandakan bahwa Lwekangnya lebih
tinggi dari lawan.
Mimpi juga Bu-cing-so tidak pernah menduga dalam segebrak meja dirinya sudah kecundang, bentaknya:
"Sebutkan namamu."
Ji Bun tak pedulikan, tenaga dikerahkan, kedua tangan terus menggempur lagi, damparan angin seketika
menerjang ke depan. Kali ini Bu-cing-so sudah kapok dan tak berani memandang rendah musuh, iapun
kerahkan seluruh kekuatannya menangkis. "Plak", hawa bergolak bumi terasa bergoyang. Gerakan Ji Bun
hanya teralang sekejap, sebaliknya Bu-cing-so terdorong mundur tiga empat langkah. Ji Bun tidak beri
kesempatan lawan bernafas, kembali telapak tangannya tegak menabas dengan gerak mendorong lurus ke
depan.
"Blang", di tengah gerungan tertahan, Bu-cing-so sempoyongan, air mukanya berubah sama sekali.
Tahu-tahu dua larik sinar pedang meluncur datang, kiranya dua diantara anak buahnya memburu tiba
karena mendengar keributan di sini.
Ji Bun ayun tangan kanan, dia tangkis kedua pedang lawan, berbareng kakinya berkisar kesamping dan
memiringkan badan, sebat sekali tangan kirinya mengebas.
"Waaah ...... waaaah ..... kedua ahli pedang ini menjerit dan terbanting mampus.
Ji Bun membalik badan, desisnya beringas: "Bu-cing-so, tibalah saat kematianmu."
Mendadak Bu-cing-so bergelak tertawa, tergetar hati Ji Bun, tiba-tiba diingatnya lawan tengah
melancarkan ilmu saktinya Thian-cin-ci-sut. Lekas dia pergunakan ilmu yang diajarkan Thian-thay-mo-ki
untuk melawan getaran ilmu lawan, dengan langkah enteng dia mendesak maju. Melihat ilmu saktinya tidak
manjur, serasa terbang sukma Bu-cing-so, gelak tertawanya seketika berhenti.
Beberapa kaki di depan lawan, Ji Bun angkat tangannya menyerang pula. Tapi sebelum serangannya
dilancarkan Bu-cing-so sudah mendahului bergerak. Secepat kilat ia menyerang dengan sengit, kekuatan
dan latihannya yang sudah matang, sudah tentu membawa tenaga yang dahsyat. Ia yakin hanya beberapa
tokoh yang mampu melawannya. Namun tujuan Ji Bun memang memancing lawan turun tangan
menyerangnya. Kalau tidak sulit baginya untuk menggunakan tangan beracun, dengan tangan kanan
menangkis, secepat kilat tangan kiri terus menjojoh.
"Berhenti!" pada detik yang menentukan itu mendadak sebuah bentakan menggelegar, berbareng
segulung angin menyamber tiba. Kedua orang sama tersiak mundur.
Tampak oleh Ji Bun seorang laki-laki setengah tua berdiri di samping sana, mukanya dihiasi codet
sebesar telapak tangan. Dia bukan lain adalah Wi-to-hwecu Siangkoan Hong adanya. Berhadapan dengan
musuh, seketika menyala biji mata Ji Bun.
Kereng dan berat suara Siangkoan Hong: "Harap Hou-hoat mundur dulu, biar aku tanya dia."
Tanpa bersuara Bu-cing-so lantas mengundurkan diri.
Kejap lain beberapa bayangan orangpun bermunculan, Siang-thian-ong, Jay-ih-lo-sat Cui Bu-tok, dua
orang tua dan seorang pertengahan umur, hanya Thong-sian Hwesio yang tidak kelihatan. Bahwa ketuanya
datang sendiri, jelas urusan tentu cukup penting.
Ji Bun menerawang keadaan, dia yakin dengan Bu-ing-cui-sim-jiu beberapa jiwa musuh pasti bisa
diganyangnya, sudah tentu sasaran utama adalah Siangkoan Hong.
Wi-to-hwecu adu pandang dengan Ji Bun dengan sengit dan beringas, dalam hati sama-sama waspada
dan saling menjajaki isi hati masing-masing, suasana menjadi tegang.
Mendadak Cui Bu-tok menjerit: "Lapor Hwecu, kedua orang kita ini mati karena racun penghancur
jantung yang amat jahat."
Semua hadirin sama tersirap darahnya mendengar itu.
Memancar terang sinar mata Wi-to-hwecu, katanya dengan nada berwibawa: "Sebutkan namamu."
Ji Bun mengertak gigi, dia balas bertanya: "Siangkoan Hong, apa maksud kedatanganmu?"
Wi-to-hwecu mendengus, bentaknya: "Pernah apa kau dengan Ji Ing-hong?"
Ji Bun melangkah setindak, katanya dingin tajam: "Akulah penuntut balasnya."
"Bagus sekali, dimana Ji Ing-hong menyembunyikan diri?"
Tergetar hati Ji Bun, jadi Wi-to-hwe meluruk kemari lantaran ayahnya, bukankah ayahnya mati terbunuh
oleh Thong-sian Hwesio di jalan raya Kay-hong, kenapa mereka malah tanya ayahnya? Naga-naganya
omongan laki-laki tak dikenal yang sehaluan dengan Kwe-loh-jin itu hanya bualan belaka. Sesaat lamanya
dia melenggong entah apa yang harus dilakukannya.
"Saudara," bentak Wi-to-hwecu pula, "bicaralah terus terang."
Ji Bun menjengek: "Siangkoan Hong, Ji-pocu sudah mati di jalan raya ke Kayhong ......”
"Ha ha ha, saudara, kau sendiri juga tahu bukan? Ji Ing-hong belum mampus."
"Apa? Thong-sian Hwesio membunuh orang? Kau sedang membual ya?"
"Memangnya bukan?"
"Kalau Thong-sian Hwesio membunuh tidak perlu pakai racun?"
Ji Bun tertegun, jawaban ini persis dengan apa yang dia dengar dari Siucay tua itu. Seketika dia menjadi
bingung dan hambar, urusan semakin simpang siur dan susah diraba juntrungannya, bahwa Thong-sian
bukan pembunuh, si korban juga bukan ayahnya. Menurut tuduhan malah perbuatan ayahnya sendiri yang
sengaja hendak mengalihkan perhatian lawan. Lalu kenapa selama ini ayahnya tidak pernah kontak dengan
dirinya? Memangnya beliau tidak tahu bahwa dirinya mempertaruhkan jiwa raga demi menuntut balas sakit
hati keluarga? Maka dia menegas: "Lalu apa kehendakmu?"
"Aku hanya mengejar Ji Ing-hong saja."
Berubah pikiran Ji Bun. pihak lawan belum tahu dirinya, maka dia harus segera, membongkar rahasia
kematian ayahnya, habis itu baru bicara soal menuntut balas. Dia yakin kunci dari semua rahasia ini berada
di tangan Biau-jiu Siansing. Katanya kemudian: "Cayhe sendiri juga sedang mencarinya."
"Apa, kau juga mencari?
"Ya, jika dia sudah mati, akulah yang akan menuntut balas kematiannya, kalau belum meninggal, Cayhe
akan selidiki duduk persoalannya."
"Memangnya apa hubunganmu dengan Ji Ing-hong?"
"Erat sekali, tapi kau tidak perlu tahu."
"Kau kira kami mau percaya obrolanmu". Wi-to-hwecu mengejek, "jangan kau menyesal kalau tidak mau
menerangkan."
"Omong kosong, Cayhe selamanya tidak pernah kenal menyesal."
Tiba-tiba Wi-to-hwecu berkelebat kesana, dari seorang anak buahnya dia rebut sebatang pedang. Sebat
sekali sudah berdiri pula di tempatnya semula, gerak-geriknya cekatan, cepat menakjubkan.
Lahirnya saja Ji Bun bilang tidak menyesal seharusnya dia tidak memberi kesempatan kepada Siangkoan
Hong untuk bersenjata. Bicara soal Lwekang, diantara musuh yang hadir tiada satupun yang menjadi
tandingannya, namun terpautnya tidak jauh, yang menjadi andalannya hanya tangan kirinya yang beracun,
namun kalau bertangan kosong, menghadapi senjata lawan, sulit sekali untuk melancarkan serangan
mematikan. Celaka kalau dirinya, dikeroyok beramai-ramai. Urusan sudah selarut ini, dia tetap harus
bertindak.
"Menurut apa yang kami ketahui," demikian kata pula Wi-to-hwecu, "putera Ji Ing-hong meyakinkan ilma
beracun ini. Ji Ing-hong sendiri malah tidak, mungkin saudara tidak tahu, sekarang kau harus membela diri,
aku akan turun tangan segera.”
Tahu tak bisa menghindari bentrokan, Ji Bun segera melancarkan serangan lebih dulu, ternyata
keampuhan ilmu pedang Wi-to-hwecu amat mengejutkan. Hanya sekali pedangnya bergerak miring dengan
garis melintang, gerakan Ji Bun tahu sudah terkunci. Keruan tercekat hati Ji Bun, kembali dia lancarkan tipu
serangan lain, kali ini kerahkan sepenuh tenaganya. Dua orang segera tubruk menubruk dan berhantam
dengan sengit, betapa hebat pertempuran ini sungguh sangat menggiriskan.
Ji Bun pusatkan seluruh pikiran dan semangat, dia selalu waspada dan mencari lubang kesempatan
untuk melancarkan serangan maut dengan tangan beracun. Namun Wi-to-hwecu juga tidak kalah tangkas
dan selalu waspada juga dalam melancarkan jurus-jurus tipu silatnya, semuanya sudah diperhitungkan
dengan tepat dan rapi. Pusaran angin pedang yang dimainkan begitu kencang dan tajam sampai anak
buahnya menyingkir jauh dari gelanggang.
Dalam sekejap puluhan gebrak telah berlangsung, gerakan pedang Wi-to-hwecu semakin mantap dan
ganas. Walau Lwekang Ji Bun amat tangguh, namun lawannya juga tidak lemah, malah bersenjata, keadaan
menjadi bertahan sama kuat alias setanding.
Dalam pandangan Bu-cing-so dan jago Wi-tohwe lainnya, Lwekang dan kepandaian Ji Bun cukup
mengejutkan, bahwa dia kuat berhadapan dengan ketua mereka yang bersenjata dengan bertangan kosong.
Siapakah tokoh kosen dalam Bu-lim ini? Asal-usul Ji Bun yang menyamar ini betul-betul membuat hati
mereka tidak tenteram dan tak habis terpikir oleh mereka. Siapakah diantara tunas-tunas muda masa ini
yang mempunyai kepandaian setinggi ini.
Ji Bun maklum, kalau bertempur berlarut-larut situasi akan menyulitkan dirinya. Sebenarnya tidak sukar
untuk mengundurkan diri, namun hatinya tidak rela. Sekonyong-konyong dia kerahkan setaker tenaganya
beruntun melancarkan delapan kali pukulan berantai. Angin membadai dengan suara gemuruh bagai
samudera mengamuk, tampak Wi-to-hwecu terdesak kian kemari seperti daun yang dipermainkan badai,
kakinya menyurut tiga langkah, Ji Bun tidak mengendorkan serangannya, dibarengi dengan hardikan keras,
tangan beracun menyerang ........”
Walau terdesak dan terombang-ambing namun Wi-to-hwecu tetap waspada, baru saja menyadari adanya
lubang kelemahan dirinya, sigap sekali dia melompat mundur beberapa kaki. Tangan kiri Ji Bun jadi
menyerang tempat kosong, sementara lengan kanan menabas tegak.
Pertempuran tokoh silat kelas tinggi sering mengutamakan sedetik kesempatan saja. Pada saat-saat
gawat begini, sekali lena, untuk mengalihkan posisi dirinya sudah sukar bagi Wi-to-hwecu apalagi Lwekang
Ji Bun masih lebih unggul.
"Bluk", dengan pukulan telapak Ji Bun mengenai sasarannya, Wi-to-hwecu terpental sempoyongan,
pedang kirinyapun tergentak ke samping. Tangan beracun Ji Bun kembali dilancarkan.
Sejak permulaan Siang-thian-ong dan lain-lain sudah siaga di luar gelanggang, begitu melihat Ji Bun
menggerakkan tangan kiri, dia tahu tangan orang ini tentu menyembunyikan sesuatu yang berbahaya, pada
saat Wi-to-hwecu sempoyongan itulah, serentak jago-jago Wi-to-hwecu yang lain melancarkan pukulan Bikkhong-
ciang dari jarak jauh.
Gempuran dahsyat dari berbagai penjuru terpusat ke arah Ji Bun seorang. Jika Ji Bun tidak urungkan
serangan dan mundur menyelamatkan diri, walau musuh terluka atau mati oleh tangan beracunnya, dirinya
sendiri juga pasti mampus hancur lebur tergencet oleh pukulan gabungan lawan.
Tapi Ji Bun sudah nekat, serangan tetap diteruskan. Pada detik-detik yang gawat itulah, sesosok
bayangan orang laksana setan tahu-tahu menyelinap masuk gelanggang menghadang di depan Wi-tohwecu,
maka serangan tangan kiri Ji Bun dengan telak mengenai bayangan orang ini. Namun Ji Bun sendiri
juga terlempar pergi oleh pukulan musuh yang beruntun mengenai dirinya, darah mendidih, pandangan
menjadi berkunang-kunang.
Pikirannya masih sadar bahwa musuh kedatangan bala bantuan yang tangguh dan menakutkan, tak
sempat dia pikir dan melihat jelas siapa musuh yang baru datang dan membantu ini, tangkas sekali
badannya melejit berbalik menerjang ke arah Siang-thian-ong yang berjarak paling dekat. Dia sudah
bertekad untuk memberantas lawan satu persatu sampai titik darah penghabisan.
Kepandaian silat Siang-thian-ong juga bukan olah-olah tingginya, badannya yang buntak pendek seperti
bola tiba-tiba menggelinding pergi, berbareng tangannya yang pendek kecil menepuk balik. Keruan Ji Bun
menubruk tempat kosong, tepukan lawan malah menyongsong dirinya, terpaksa dia menangkis. "Blang",
kontan Ji Bun melosot turun ke tanah, sedang Siang-thian-ong menggelinding lebih jauh lagi.
Kini setelah berdiri tegak baru dia melihat jelas penolong jiwa Wi-to-hwecu ternyata adalah perempuan
rupawan yang berdandan perlente, Siangkoan Hwi juga berada disampingnya.
Berkicau suara perempuan rupawan ini: "Diapun meyakinkan Bu-ing-cui-sim-jiu."
Mencelos hati Ji Bun, kemampuan perempuan rupawan ini betul-betul mengejutkan, dalam segebrak saja
sudah tahu akan tangan kirinya yang beracun, namun dalam hati dia memuji akan obat rias Biau-jiu Siansing
yang tetap berhasil mengelabui lawan, sehingga wajah aslinya tidak konangan lawan.
Hadirin mengkirik mendengar ucapan perempuan rupawan, Bu-ing-cui-sim-tok merupakan racun terlihay
dan terganas pada jaman ini. Sejak dua ratus tahun yang lalu, hanya seorang yang mampu meyakinkan dan
menciptakan ilmu ini. Namun sekarang beruntun muncul dua orang yang mampu menggunakan ilmu
beracun ini, dan keduanya memiliki kepandaian silat dan Lwekang tinggi, tiada diantara, mereka menduga
bahwa lawan dihadapan mereka ini adalah Te-gak Suseng Ji Bun.
Munculnya perempuan rupawan mengubah situasi. Cukup dia seorang berkelebihan untuk menundukan
Ji Bun dan kenyataan Ji Bun memang mati kutu terhadap lawan yang satu ini.
Sorot mata Ji Bun menjelajah muka setiap hadirin, disaat tatapannya tertuju ke wajah Siangkoan Hwi,
serta merta bergoncang perasaannya. Betapapun gadis ini pernah mengisi relung hatinya, namun pikiran
asmara ini hanya selintas saja. Sorot matanya akhirnya berhenti pada muka perempuan rupawan. Dalam
keadaan terkepung dan menghadapi keroyokan musuh, tidak gampang untuk mengundurkan diri,
betapapun dia tidak rela menerima ajal begini saja.
Lari, belum pernah terpikir olehnya, selama menghadapi musuh, betapapun tangguhnya lawan, belum
pernah dia mencawat ekor. Namun sekarang situasi lain, sebelum mati hidup ayahnya terbongkar dan jejak
ibunya ditemukan, betapapun dia tidak rela mati, sebab inilah dia merasa harus bertahan.
Agaknya kedudukan perempuan ini teramat agung dan tinggi di antara hadirin. Sejak dia muncul semua
orang berdiri tegak hormat sambil menahan napas, tiada orang berani bergeming atau buka suara, demikian
pula Wi-to-hwecu.
Suara perempuan rupawan yang merdu tapi dingin berkata pula: "Siapa kau? Mengakulah, jangan kau
paksa aku gunakan siksaan untuk mengompesmu?"
Ji Bun merinding dibuatnya mendengar suara perempuan nan cantik jelita namun bersuara dingin kaku.
Ji Bun yakin orang bukan mengertak. Tapi rasa dendam dan benci menjalari benaknya, sahutnya berani:
"Aku tidak peduli cara apa yang hendak kau gunakan terhadap diriku."
Dalam hati dia sudah merancang, tak jauh disamping sana berdiri pohon besar setinggi puluhan tombak,
dengan Ginkang gaya pusaran mumbul ke atas yang berhasil diperajarinya dari orang tua di jurang Pek-ciokhong
itu, yakin dirinya bisa meluncur ke pucuk pohon dan melarikan diri. Hanya inilah satunya cara untuk
menyelamatkan diri.
Perempuan rupawan buka suara pula, nadanya tajam mengancam: "Kuharap kau tidak berusaha
melarikan diri."
Kata-kata ini amat menusuk hati Ji Bun, mungkinkah orang dapat membaca isi hatinya? Diam-diam dia
bergidik, waktu amat mendesak, terpaksa dia harus bertindak cepat dan mencobanya. Diam-diam ia
kerahkan tenaganya. tanpa bersuara tiba-tiba badannya menjulang tinggi mumbul keatas dengan badan
ber¬putar, gesit sekali dia sudah melenting ke pucuk pohon, di bawah terdengar seruan kaget banyak
orang, gerakan seaneh ini, sungguh jarang terlihat dan amat mengejutkan.
Ditengah seruan kaget hadirin itulah, sesosok bayangan lain tiba-tiba juga meluncur ke atas secepat kilat,
begitu cepat sehingga orang merasa pandangannya kabur, namun kecepatan luncuran orang ini
memperlihatkan gaya yang indah pula, hampir dalam waktu yang sama iapun mumbul setinggi Ji Bun di
pucuk pohon.
Baru saja kakinya menyentuh dahan pohon bagai burung elang yang kelaparan mengejar mangsanya. Ji
Bun melompat pula ke pucuk pohon yang lain. "Bluk", terdengar erangan tertahan di udara setinggi puluhan
tombak. Di bawah orang bersorak kagum dan kaget pula.
Dua bayangan orang beruntun anjlok ke bawah, Ji Bun terjatuh lebih dulu, disusul luncuran tubuh
gemulai seindah bidadari melayang turun dari kahyangan, dia bukan lain adalah perempuan rupawan tadi.
Ji Bun terbanting jatuh hampir semaput, sejenak dia geleng-geleng kepala dan cepat melompat bangun,
namun beruntun tiga kali dia meronta baru bisa berdiri tegak. Perempuan cantik itu seperti tidak terjadi apaapa
berdiri di depan sana, wajahnya dingin kereng.
"Lwekang Hujin sungguh membuka mata Lohu," demikian suara Siang-thian-ong yang keras
berkumandang seperti bunyi genta.
Perempuan rupawan menoleh sambil tersenyum manis, diam saja tidak memberi tanggapan. Sebaliknya
Ji Bun merasa gusar dan malu, untung dia tidak jatuh semaput.
Hujin (nyonya)? Siapakah perempuan cantik rupawan ini? Serasa tenggelam perasaan Ji Bun, sungguh
tak nyana malam ini dia terjungkal habis-habisan dihadapan sekian banyak musuh, cepat atau lambat kedok
aslinya pasti terhongkar, sungguh dia tidak berani membayangkan akibat yang bakal menimpa dirinya.
Kaki tangannya lemas dan linu, dendam dan kebencian hampir membuatnya gila, kedua biji matanya
membara, kembali dia sapu satu persatu setiap wajah para musuhnya. Keadaannya mirip betul seekor singa
jantan yang marah dan terluka, juga kelaparan dan haus darah.
Perempuan rupawan berpaling ke arah Wi-to-hwecu, katanya: "Bagaimana membereskan dia?"
"Suruhlah menerangkan jejak Ji Ing-hong," ujar Wi-to-hwecu tajam.
"Bocah ini terlalu angkuh dan keras kepala, mungkin sulit mengompes keterangannya."
"Hu-jin bisa menggunakan Hian-giok-siu-hun .......”
"Sejak berhasil meyakinkan ilmu ini, belum pernah kugunakan, biarlah malam ini aku mencobanya."
Apakah Hian-giok-siu-hun itu, Ji Bun belum pernah mendengar, namun dia menduga itulah suatu cara
siksaan yang paling ganas untuk mengompes keterangannya. Perempuan rupawan ini terang adalah isteri
kedua Siangkoan Hong. Siangkoan Hwi adalah puteri mereka, tapi mungkinkah hal ini terjadi? Perempuan
rupawan ini kelihatan baru berusia dua puluhan, Siangkoan Hwi sendiripun sudah berusia delapan belas.
Siangkoan Hong pernah menyatakan bahwa ayah Ji Bun pernah membunuh isteri dan puteranya yang
baru dilahirkan, kejadian sudah berselang dua puluh tahun. Itu berarti Siangkoan Hwi belum lahir waktu itu,
tapi Siu-yan Loni bilang bahwa Siangkoan Hwi adalah anak kandung Siangkoan Hong. Jadi terang anak dari
isteri kedua, mungkinkah kecuali perempuan rupawan ini Siangkoan Hong masih punya gundik lagi?
Diam-diam Ji Bun geli dan malu sendiri, dalam keadaan seperti ini, kenapa otaknya ngelantur memikirkan
persoalan tetek-bengek yang tiada sangkut paut dengan dirinya.
Wajah perempuan cantik itu semakin membesi kaku, katanya kepada Ji Bun: "Sekarang saatnya kau
membuka mulut?"
Benci dan dendam menjalari sanubari Ji Bun desisnya: "Sayang sekali aku tak bisa menghancur leburkan
kalian anjing laki perempuan ini."
"Tutup mulutmu!" bentak perempuan rupawan, "memangnya kau ingin disiksa?"
"Punya cara apa boleh kau gunakan saja," jengek Ji Bun, "matipun orang she Ji takkan mengerut alis."
Maksud tujuannya memperkenalkan diri orang she Ji lantaran dia tidak ingin berkorban sia-sia, paling
tidak biar musuh tahu Kalau dirinya gugur dalam menunaikan tugas menuntut balas, hal ini jauh lebih jantan
dari pada rahasia dirinya nanti terbongkar oleh mereka.
"Apa?" seru Wi-to-hwecu, "kau she Ji?"
"Betul," teriak Ji Bun beringas, "Aku inilah Te-gak Suseng Ji Bun, sayang aku tak bisa membunuhmu
........”
Seluruh hadirin sama kaget setelah tahu siapa dia, kini Ji Bun bicara dengan nada suaranya yang asli.
Wi-to-hwecu terkekeh dingin, katanya: "Sejak tadi seharusnya aku sudah mengenalimu."
"Sekarang juga belum terlambat," Ji Bun menggertak gigi. Lenyap suaranya, sigap sekali mendadak dia
melesat ke arah Wi-to-hwecu.
"Blang"
"Ngek", sekali kebas tangan, Ji Bun dipukul terpental oleh perempuan rupawan, darah menyembur dari
mulutnya, namun dia keraskan hati, pelan-pelan ia meronta bangun, wajahnya beringas dan buruk sekali.
"Ji Bun," kata Wi-to-hwecu serius, "sejak kini di antara kita sudah tiada utang-piutang lagi."
"Betul, boleh silahkan kau turun tangan," tantang Ji Bun murka.
"Dimanakah sekarang ayahmu?"
"Mau bunuh boleh bunuh, aku orang she Ji tak becus meyakinkan ilmu. Hari ini kecundang di tangan
kalian, namun jangan harap mendapatkan keterangan apapun dari mulutku."
Perempuan rupawan menggeram gusar, tiba-tiba jari telunjuknya menyentik sekali, sejalur angin tajam
mendenging membawa asap putih melesat ke arah Ji Bun.
Ji Bun menjerit sejadi-jadinya dan roboh terguling, rasa sakit yang teramat besar tiba-tiba merangsang
ulu hati, tulang belulang seperti copot, saking tak tahan dia bergelindingan di tanah, rambut dijambak
sendiri dan pakaian dicomoti sampai dedel dowel, darah terus meleleh dari mulutnya, tapi dengan sekuat
tenaga dia masih berusaha meronta berdiri wajahnya seram seperti setan.
Gadis baju merah, Siangkoan Hwi, menjadi tidak tega, katanya: "Bu!"
"Ada apa?" sahut Si perempuan rupawan.
"Bebaskan dia."
"Kenapa? Kau lupa ibu tuamu dirajang dan dimasak menjadi hidangan?"
"Bu, aku utang budi padanya."
Sorot mata perempuan rupawan menyelidik ke muka Wi-to-hwecu, agaknya mohon pendapatnya, sekilas
Wi-to-hwecu melirik Siangkoan Hwi, akhirnya ia memanggut dan berkata berat: "Baiklah, turuti kehendak
anak Hwi."
Sekali tangan menuding, beruntun perempuan rupawan itu menutuk tiga kali, jerit lolong Ji Bun seketika
berhenti, namun napasnya sudan kempas-kempis, saking tersiksa badannya lemas lunglai dan masih kejang
dan gemetar.
"Ji Bun, sekarang mau buka suara bukan?" tanya Wi-to-hwecu.
Berkerutukan gigi Ji Bun, dia tetap tak mau buka suara.
14.40. Lelaki Penderita Tanpa Daksa
Merah muka Siangkoan Hong, matanya beringas, bentaknya kereng: "Ji Bun aku ada cara lain untuk
paksa kau buka mulut."
Dia memberi tanda kepada pengawal pribadinya, lalu katanya: “Tabas dulu tangan kirinya, lalu gusur dia
pulang ke markas."
Dua orang bersenjata pedang segera mengiakan dan melompat maju, satu di antaranya angkat pedang
terus menabas ke lengan kiri Ji Bun. Mendadak Ji Bun meronta seraya menggembor keras, entah darimana
datangnya tenaga, sekali menggelinding, dia luputkan diri dari tabasan pedang, pada saat badannya
menggelinding itu, tangan kirinya berhasil menutuk lutut penyerangnya.
Kontan si penyerang itu melolong panjang, badan terbanting dan mampus seketika.
"Berani kau," bentakan ini sedetik terlambat dari jerit lolong tadi, namun Ji Bun juga menguak sekali,
badannya terlempar dua tombak oleh pukulan Wi-to-hwecu, ia jatuh di antara semak-semak berduri, darah
terus menyembur dari mulut, pikirannya butek. Sudah beberapa kali dia pernah merasakan kematian seperti
ini.
"Yah, lepaskan dia saja," seru Siangkoan Hwi tidak tega.
"Apa katamu?" bentak Siangkoan Hong.
"Anak mohon supaya ayah suka membebaskan dia."
"Budak binal, jangan kau terlalu membawa keinginanmu sendiri."
"Selanjutnya anak tidak akan minta apa-apa lagi," demikian ujar Siangkoan Hwi tegas. Daya
pendengaran Ji Bun belum lenyap, segera timbul suatu perasaan yang sukar dilukiskan dalam benaknya.
"Tidak mungkin!" Wi-to-hwecu berkata kereng.
Pucat wajah Siangkoan Hwi, air mata bercucuran, kepala tertunduk dan sesenggukan.
Perempuan rupawan tadi melirik penuh kasih sayang, katanya kepada Wi-to-hwecu: "Turutilah
keinginannya."
"Segala menuruti keinginannya," bentak Wi-to-hwecu, "kalau dia tidak begini binal, mungkinkah terjadi
peristiwa keparat she-Liok itu ........” sampai di sini dia berhenti.
Siangkoan Hwi menjerit sedih sambil putar tubuh dan berlari pergi. Tapi perempuan rupawan lantas
menghadang dan memeluknya, serunya kereng: "Markas Cip-po-hwe sudah kuhancur-leburkan, itu kan
sudah cukup."
Agaknya Wi-to-hwecu juga merasakan kekasaran sikapnya tadi, air mukanya tenang kembali, sorot mata
yang mengandung permintaan maaf tertuju kepada perempuan rupawan, ujarnya: "Ji Ing-hong selicin belut
dan selicik srigala, untuk menemukan jejaknya, betapapun anaknya ini tidak boleh dilepaskan dia."
"Tujuanmu hanya menemukan Ji Ing-hong, ku kira tiada halangan kau lepaskan."
"Aku tidak mengerti maksudmu."
"Akan kupunahkan ilmunya, lepaskan dia pergi, akhirnya toh dia akan pergi mencari ayahnya ......”
"O," seru Wi-to-hwecu paham, katanya: "Memang Hujin lebih cerdik pandai."
Walau dalam keadaan sekarat, namun percakapan orang masih terdengar oleh Ji Bun, diam-diam ia
membatin "Aku hendak dijadikan umpan untuk memancing dan mencari jejak ayah, bukankah maksud
mereka hanya impian belaka, apalagi mati hidup ayah masih teka-teki .......”
"Baiklah, kita putuskan begitu saja, Hujin," kata Wi-to-hwecu kemudian.
Dari kejauhan perempuan rupawan angkat jarinya terus menjentik beberapa kali, terasa oleh Ji Bun
angin tajam sekuat pukulan godam mengenai badannya merembes seluruh badan. Hawa murni dalam
badannya seketika buyar, badan lunglai tidak bertenaga lagi. Tapi pikiran Ji Bun menjadi jernih malah.
"Mundur semua!" sekali aba-aba, beruntun terdengar kesiur angin orang banyak berlompatan pergi,
dalam sekejap suasana kembali sunyi.
Ji Bun meriggerakkan badannya, terasa sekujur badan linu dan sakit bukan main, tulang-tulang seperti
copot dari ruasnya, sungguh bukan kepalang siksa yang dialami kali ini. Dia mendongak mengawasi bintangbintang
di langit, dalam sekejap ini dia merasakan lebih sedih daripada mati, Lwekang lenyap kepandaian
punah. Hidup lebih sengsara daripada mati, segala cita-cita yang diharapkan selama ini bakal menjadi
impian kosong belaka, hanya kebencian saja yang tetap menjalari sanubarinya.
Malam rasanya tak berpangkal dan tak berujung, derita batin ditambah rasa sakit luka-luka dadanya yang
terkena pedang tak pernah reda sedetikpun, seolah-olah dirinya berada di neraka.
Tanpa terasa hari mendekati terang namun sinar terang seakan-akan sudah lenyap bagi dirinya. Sejak
kini dirinya akan terus hidup dalam kegelapan, tanpa cita rasa, sampaipun sesuatu yang ingin dipikirkanpun
tiada sanggup lagi.
Punahnya ilmu silat menjadikan dirinya tak ubahnya manusia awam umumnya, tinggal tangan kirinya
yang tetap beracun, lalu apa pula gunanya? Habis segalanya, tamat semuanya. Pentingkah dirinya bertahan
hidup?
Sekonyong-konyong sebuah suara timbul dalam relung hatinya yang dalam: "Ji Bun, jangan kau pikirkan
mati, belum saatnya, kalau ayah benar-benar belum mati, kau akan melihat musuh terpenggal kepalanya.
Pula kau harus menemui ibumu sekali lagi."
Fajar menyingsing, hari sudah terang tanah, lekas sekali sinar sang surya sudah menerangi jagat raya.
Bagai sebuah impian belaka, namun impian ini akan terus berlangsung.
Susah payah akhirnya ia berhasil meronta bangun, karena Lwekang lenyap, untuk penyembuhan diri
dengan kekuatan hawa murni sudah tidak mungkin lagi, namun obat-obatan yang dibawanya masih ada,
jauh mencukupi untuk mempertahankan hidup. Sebutir pil saja rasanya berat dan sukar untuk menelannya.
Sejam kemudian baru dia bisa bergerak leluasa, bagai semut merambat dia mulai melangkah pergi ke
empang yang ada dipojok gardu sana mencuci muka dan membersihkan obat penyamarannya, noda-noda
darahpun dibersihkan, namun pakaiannya sudah tidak keruan waktu dirinya tersiksa oleh tutukan Hian-gioksiu-
hun tadi.
Dia menuju ke belakang, akhirnya ditemukan seperangkat pakaian kaum bujang yang sudah butut,
sekenanya dia ganti pakaian, untung menemukan pecahan uang pula, semua itu milik pak jenggot yang
sudah tiada.
Kejap lain dia sudah beranjak di jalan raya, dia tahu Wi-to-hwe pasti mengutus seseorang untuk
membuntuti dirinya, karena mereka kira ia akan mencari ayahnya, hanya Thian yang tahu apakah ayahnya
masih hidup atau sudah mati.
Seperti mayat hidup saja, dia meninggalkan kota Lam-cau dengan langkah lemas bergontai. Ji Bun tidak
tahu ke mana harus pergi, segala persoalan sudah tak terpikir lagi olehnya.
"Adik!" teriakan mesra nan girang dan kaget tiba-tiba berkumandang dari belakang.
Bergetar badan Ji Bun, dia tahu siapa yang memanggilnya, ingin rasanya dia lari dan sembunyi masuk ke
liang. Sejenak dia melenggong, waktu dia angkat kepala, dilihatnya bayangan semampai nan menggiurkan
sudah berdiri dihadapannya, dia bukan lain adalah Thian-thay-mo-ki.
Dengan tertegun penuh kejut dan tanda tanya Thian-thay-mo-ki mengawasi Ji Bun, katanya kemudian
penuh haru: "Adik, kenapa kau?"
Ji Bun menjadi bimbang, ia lihat Thian-thay-mo-ki masih seperti dulu, kecuali agak kurus, masih tetap
cantik menggiurkan, sebaliknya dalam semalam dirinya telah berubah menjadi seorang lain yang tak
berguna lagi.
Seperti ketemu anggauta keluarga, terharu hatinya dan tak sanggup berucap, keadaan seperti ini, dia
perlu hiburan dan bujukan, perlu bantuan, dia tahu betapa besar dan murni cinta Thian-thay-mo-ki
kepadanya. Dalam keadaan apapun dia tetap seorang pembantu yang dapat dipercaya, ingin rasanya
memeluk dan menciumnya. Ia ingin menangis, namun mendadak ia tersentak sadar, kini dirinya bukan Tegak
Suseng yang dulu, sekarang dia seorang awam, manusia, rasa rendah diri yang tebal merangsang
sanubarinya. Dasar wataknya memang angkuh dan tinggi hati, tanpa terasa ia menjerit: "Minggir kau,
jangan hiraukan aku!"
Dia menderita, namun dia rela menelan segala kegetiran hidup ini. Dia tidak punya hak mengecap cinta
kasih orang lain, bukan kewajibannya pula untuk menerima cintanya, kenyataan ini cukup kejam.
Agaknya Thian-thay-mo-ki amat terperanjat, sejenak dia melenggong, katanya dengan gemetar: "Dik,
kenapakah kau?"
Ji Bun tekan perasaannya yang menggelora, menahan kepedihan yang tak terhingga, sekuatnya dia
tahan emosi dan pura-pura bersikap dingin: “Tidak apa-apa!"
"Tapi sikap dan air mukamu amat ganjil sekali?"
"Jangan kau hiraukan aku."
"Dik, kau ....." merah mata Thian-thay-mo ki dan mukanya membesi hijau.
Remuk rendam hati Ji Bun melihat sikap dan wajah Thian-thay-moki itu, namun dia harus tetap bersikap
demikian. Hubungan asrama mereka tidak mungkin dilanjutkan, ilmu silat sudah punah, masa depan suram.
Mungkinkah dirinya mengawini seorang gadis untuk menyia-nyiakan masa remajanya? Dengan mengertak
gigi, dia tetap bersikap dingin: "Kupikir, hubungan diantara kita sudah harus diakhiri sampai di sini saja."
Air mata Thian-thay-mo-ki bercucuran katanya dengan pilu: "Aku mengerti, selama ini kau pandang, aku
seumpama kembang dipinggir jalan atau dikaki tembok yang tidak patut dipandang dan dinikmati. Namun
..... aku ..... tak pernah, aku berbuat atau melakukakan sesuatu yang membuatmu malu atau, merugikan
kau ......”
Bak sekuntum kembang yang ditaburi air embun, Ji Bun hampir saja menubruk dan memeluknya. Namun
wataknya yang mempertahankan sikapnya, sorot matanya memandang ketempat jauh, katanya tawar.
"Biarlah segalanya berakhir begini saja."
"Ji Bun, betulkah kau begini kaku, ketus dan kejam?”
Seperti ditusuk sembilu hati Ji Bun, dia banyak hutang budi, namun tak pernah dirinya memberi apa-apa
terhadapnya, menyampaikan sepatah kata hiburanpun tiada, umpama betul Thian-thay-mo ki terlalu jalang,
namun cintanya yang luhur dan murni, segala sepak terjangnya masa lalu patut dimaafkan. Sayang
kenyataan sekarang tak mungkin untuk menerima semua ini, tak boleh ia bikin kapiran masa depan orang
lain. Sesungguhnya inipun merupakan suatu cara untuk menyatakan cinta, cuma secara diam-diam dan
diluar tahu orang yang bersangkutan.
Derita semakin bertambah, Ji Bun merasa tiada tempat bagi dirinya untuk berpijak lagi di bumi ini, katakata
yang terlalu menyakiti tak sampai hati diucapkan.
Dengan segala kekuatannya, Ji Bun tekan emosinya yang berkobar. Katanya mengeraskaa hati: "Tiada
yang bisa dikatakan lagi."
Sekian lamanya keheningan mencekam sanubari kedua insan yang dirundung malang ini. Walau tiada
yang bersuara, namun hati keduanya sama-sama remuk seperti digerogoti oleh sesuatu sebab yang timbul
secara berlainan.
Akhirnya dengan suara yang menggetar sukma Thian-thay-mo-ki bersuara. "Dik agaknya aku telah
menjilat kata-kataku dulu ...... tidak pantas sikapku ini, pernah aku bilang, cukup asal di dalam sanubarimu
ada tempat bagi diriku, tiada sesuatu lebih besar yang kuharapkan dari kau. Dulu kau kasmaran terhadap
gadis baju merah, sekarang kau berkiblat kepada Ciang Bing-cu, kenapa aku tidak bisa mengendalikan rasa
cemburuku. Dik, kawinlah dengan wanita yang kau cintai, namun kuharap .... kau ti .... tidak melupakan .....
diriku dan .... bersikap begini kepadaku. Pernah aku ingin membencimu, namun aku selalu gagal, aku ....
sungguh tidak sampai hati ......" air mata segera berderai membasahi pipinya.
Setiap kalimat setiap kata mengandung cinta murni nan luhur, namun terasa setajam duri pula yang
menusuk ulu hati Ji Bun. Hati Ji Bun serasa mengkerut, mengejang, ingin dia memeluknya, menciumnya
dengan kasih mesra, membeberkan hatinya secara gamblang, namun tiada keberanian, karena dia harus
memikirkan buntut yang bakal timbul dengan akibat yang sukar dibayangkan.
Derita dan siksaan badaniah tidak menjadikan dia patah semangat. Matipun terasa bukan soal baginya,
namun tanggung jawab dan beban batin membuatnya betul-betul sukar ditahan, menimbulkan derita yang
tak pernah dirasakan selama hidup.
"Cici," kata Ji Bun kemudian, "kau tahu kita tak mungkin .....”
"Aku tahu, aku tidak mengharapkan itu, aku hanya minta hubungan kita selama ini jangan menjadi putus
begini saja."
"Cici, kau harus mencari jodoh demi ......”
"Kecuali kau, tiada bahagia lagi bagiku.”
Tidak tega hati Ji Bun, air mata berlinang-linang di kelopak matanya, tanpa sadar dia maju selangkah
sembari ulur tangan kanan. Semula Thian-thay-moki tertegun, namun lekas sekali dia memahami maksud Ji
Bun. Wajahnya nan sayu sedih seketika mengulum senyum syahdu, bak sekuntum bunga yang mekar
ditimpa air hujan, tanpa pikir iapun beranjak mendekat.
Pada saat kedua insan ini hampir berpelukan, kesadaran Ji Bun tiba-tiba menyentak sanubarinya, apa
yang akan kulakukan? Demikian dia bertanya kepada diri sendiri, pertanyaan ini membuat pikirannya jernih,
sekaligus mempertebal keyakinannya untuk lebih baik kehilangan daripada membikin susah orang lain.
Mendadak tangan kanan yang sudah diulur diturunkan lagi, berbareng menyurut mundur beberapa langkah.
Thian-thay-mo-ki melengak, senyum mekar di wajahnya seketika membeku kelam, hati dan badan
seketika terasa dingin dan kejang. Bak secercah cahaya matahari yang baru muncul di balik gumpalan awan,
tiba-tiba terbenam pula dibalik mega mendung, serentak timbul perasaan terhina dalam hatinya.
Tapi siapa yang tahu betapa derita hati Ji Bun? Dia perlu hiburan, namun dia menolak, dia perlu
perhatian dan simpatik orang lain, namun dia menyingkir dari perhatian, kenapa? Dia sendiri tidak tahu?
Kalau tahu, lalu kenapa pula? Karena dia betul-betul sudah jatuh cinta terhadap Thian-thay-mo-ki, karena
cinta maka dia wajib melindunginya, jangan karena demi ketenteraman dan mencapai keinginan pribadi dia
sampai mengorbankan kekasihnya. Itulah cinta sejati, cinta murni, karena cinta itu sendiri perlu
pengobanan, bukan monopoli.
"Ji Bun, kau sengaja hendak menghinaku?” desis Thian-thay-mo-ki geram.
Ji Bun diam saja, dia tidak menjelaskan, dia harus mengeraskan hati menelan segala derita dan kegetiran
hati, karena maklum, sekali dia mengobarkan api asmara, dia akan mengalami keruntuhan total.
Laksana induk kijang yang sedang marah, sifat Thian-thay-mo-ki yang lembut lenyap seketika, amarah
dan dendam membara dalam benaknya, teriaknya berjingkrak: "Ji Bun kau manusia berdarah dingin."
Bergetar tubuh Ji Bun, namun dia tetap diam saja, sedapat mungkin dia menekan emosinya yang
bergolak.
Terangkat tangan Thian-thay-mo-ki, teriaknya beringas: "Ji Bun, bunuhlah aku, atau aku yang
membunuhmu."
Tanpa sadar, Ji Bun menyurut mundur. Dia tahu kalau Thian-thay-mo-ki memukul sekuat tenaga dirinya
yang lunglai kehilangan ilmu silat pasti akan binasa seketika. Mulutnya sudah terpentang hendak bicara,
namun tiada kata-kata yang keluar.
Berkerutuk gigi Thian-thay-mo-ki, katanya: "Te-gak Suseng, gunakan tanganmu yang beracun,
membunuh orang tanpa banyak membuang tenaga bukan?"
Ji Bun pejamkan mata, katanya: "Kau boleh turun tangan, aku tidak akan membalas."
"Kau kira aku takut?"
"Tidak, aku ..... aku .......”
"Ji Bun, kau pandang diriku mirip kembang jalanan, kau anggap cinta murniku bagai kotoran. Memang,
aku sendiri tidak tahu diri, aku tidak tahu malu, kenapa sebelum menyelami keaslian jiwamu, tanpa tedeng
aling-aling kucurahkan segala perasaanku."
Air matapun bercucuran semakin deras.
Dalam hati Ji Bun berteriak: "Cici, aku amat menyintaimu, memang dulu aku pernah menghina dan
memandang rendah dirimu, namun sekarang aku memang betul-betul mencintaimu setulus hatiku." Tapi
lahirnya dia tetap bersikap kaku dingin seperti patung.
"Plak", disertai suara mengaduh, Ji Bun terpukul mencelat dan jatuh terkulai di atas rumput di pinggir
jalan, darah seperti sumber air menyembur dari mulutnya.
Sudah tentu hal ini membuat Thian-thay-mo-ki tertegun, agaknya tak pernah diduganya bahwa ia terima
dihajar tanpa membalas atau menghindar.
Tenaga untuk merontapun tiada lagi, terpaksa Ji Bun rebah diam saja diatas rumput, perasaannya
hambar, tidak merasa benci, marah atau dendam. Ia pikir, mungkin inilah suatu cara untuk membayar utang
atas permainan asmara yang tiada berkeputusan ini. Keadaannya sekarang lebih sengsara dari pada mati,
kalau dirinya mati ditangannya kan lebih baik?
Entah dendam atau benci Thian-thay-mo-ki, lama sekali baru ia bersuara: "Kenapa kau tidak melawan?”
Ji Bun nekat, dia menyeringai, dengan seluruh kekuatannya yang ada ia berteriak: "Thian-thay-mo-ki,
bukankah kau hendak membunuhku. kenapa tidak kau lanjutkan? Kau tidak berani?"
Berkobar pula amarah Thian-thay-mo-ki, wajahnya nan putih molek kini menjadi hijau membesi, sorot
matanya menyala, bagai binatang buas yang kelaparan. "Ji Bun," desisnya tajam. "jangan pura-pura lagi,
atau kau akan menyesal setelah kasep."
"Aku tidak akan menyesal," sahut Ji Bun tegas.
"Baiklah, biar kau membenciku sepanjang masa!" ancam Thian-thay-mo-ki sambil angkat tangannya
terus membelah kedadanya.
Ji Bun diam saja tidak bergeming, ujung mulutnya malah menyungging senyuman, dia siap untuk
menyambut ajalnya. Tak terduga di tengah jalan Thian-thay-mo-ki menghentikan gerakannya, agaknya dia
marah dan penasaran, tiada maksud sungguh untuk membunuh Ji Bun.
"Ji Bun, kenapa kau tidak melawan?”
Cukup menjawab sepatah kata saja, mungkin situasi akan berubah, namun Ji Bun sudah nekat dan
mengeraskan hati, dia malah menjengek dingin: "Kau tidak tega?"
Serba sulit bagi Thian-thay-mo-ki, tiada peluang untuk memilih, umpama betul tidak tega, dalam
keadaan kepepet seperti ini terpaksa dia harus turun tangan, namun dia tahu watak Ji Bun. Dia pasti tidak
menggunakan akal muslihat, sikapnya yang tenang menunggu kematiannya sungguh menimbulkan curiga,
akhirnya dia turunkan pula tangannya katanya dengan suara kalem: “Kenapa kau berbuat demikian?"
"Tidak kenapa-kenapa, kalau mau boleh kau bunuh aku, atau pergilah yang jauh, selamanya ..... tak
usah ......”
"Ji Bun, jangan kau kira dirimu ini terlalu .......”
"Tidak pernah aku bilang aku ini gagah."
"Kenapa kau pura-pura lemas tak mau berdiri, memangnya pukulanku tadi mampu melukai Te-gak
Suseng yang terkenal itu?"
Kini terasa oleh Ji Bun luka-lukanya ternyata sudah sembuh diluar tahunya tanpa minum obat, rasa sakit
yang menyiksa tadipun sudah lenyap, pelan-pelan dia berdiri, betapa heran hatinya sungguh sukar
dilukiskan, kini betul-betul dirasakan dan terbukti dalam keadaan dirinya sudah sadar benar-benar, bahwa
didalam tubuhnya tersembunyi suatu kekuatan luar biasa yang terpendam, kekuatan ini mampu
menyembuhkan segala luka-luka dan penyakit, kekuatan itu pula yang menyebabkan dirinva hidup kembali
setelah mati beberapa kali, kenapa demikian? Seingatnya dia belum pernah makan atau minum sesuatu obat
mujijat, sungguh aneh bin ajaib.
"Ji Bun, betulkah kau begini tidak kenal budi?"
"Tidak, aku terpaksa. Akan datang suatu ketika kaupun akan mengerti."
"Bohong, alasan yang dibuat-buat belaka, Ji Bun, baru sekarang aku mengenalmu ......" Dengan
mendekap mukanya Thian-thay-mo-ki terus berlari pergi.
Mengawasi bayangan orang yang semakin jauh dan akhirnya lenyap di balik pohon, remuk rendam hati Ji
Bun. Sekian lama dia terlongong dan menggumam seorang diri: "Dia sudah pergi, aku ..... akupun harus
pergi. Kemana aku harus menuju?”
Sekonyong-konyong dalam hutan tak jauh di sana beruntun terdengar dua kali jeritan yang mengerikan.
Mencelos hati Ji Bun, secara refleks dia bersiaga hendak melompat ke sana, mendadak ia sadar bahwa
Lwekang dan kepandaian silatnya sekarang sudah punah. seketika dia menjadi lesu dengan geleng-geleng
kepala. Kejadian bunuh membunuh sekarang sudah tidak menarik perhatian lagi.
Mendadak diiihatnya sesosok bayangan orang yang melayang ke depannya, waktu dia angkat kepala
serta merta kakinya menyurut mundur, tahu-tahu di situ berdiri seorang Siucay tua berusia setengah umur,
dandanan guru kampung dengan kain kasar ini tidak asing lagi baginya. Dia bukan lain adalah Siucay yang
pernah terserang tangan beracunnya di luar kota Lam-cau tempo hari.
Dengan dingin Ji Bun pandang orang sejenak, katanya: “Tuan ada petunjuk apa?"
Tajam pandangan Siucay tua ini, desisnya: "Tak nyana kau ini anak Ji Ing-hong, kalau kedua penguntit
Wi-to-hwe tadi tidak mengaku, hampir saja aku menyia-nyiakan kesempatan baik ini. Agaknya Thian
memang maha pengasih ......." Jadi kedua jeritan tadi adalah dua orang Wi-to-hwe yang ditugaskan
menguntit dirinya, keduanya sudah terbunuh oleh Siucay ini.
"Siapakah sebetulnya tuan?" tanya Ji Bun.
14.41. Moyang Perguruan Racun
"Kau akan tahu, kabarnya kau keras kepala dan angkuh, tahan disiksa lagi, walau sekarang kau
kehilangan kepandaian silat, namun kita harus cari tempat lain untuk berbicara ......" sembari bicara dia
menyopot jubah luarnya, sekali gerak dia ikat tangan dan tubuh Ji Bun terus dijinjingnya lari masuk ke
dalam hutan. Hakikatnya Ji Bun tidak kuasa melawan, maka dia diam saja menerima nasib, tujuan orang
menelikung kedua tangan dan mengikat badannya karena takut tersentuh tangan kirinya, hal ini cukup
dimengerti Ji Bun.
Setelah keluar dari hutan, Siucay tua ini tidak berhenti, dia terus berlari-lari dengan kencang, begitu
cepat, Ji Bun merasa seperti meluncur secepat angin, lekas sekali mereka tiba ditepi sebuah sungai besar,
ombak bergulung-gulung, arus sungai cukup deras.
Setiba dipinggir sungai baru Siucay tua berhenti lari, tampak sebuah perahu layar yang cukup besar
sudah menunggu di sana. Sekali lompat Siucay tua itu naik ke atas kapal, Ji Bun dilempar ke dalam bilik, lalu
ia membuka tali tambatan sehingga kapal ini hanyut terbawa arus.
Entah berselang berapa lama, entah berapa jauh kapal ini sudah berlaju, tahu-tahu kapal ini tak terasa
terombang-ambing lagi. Siucay tua masuk ke dalam bilik di mana Ji Bun menggeletak, katanya setelah
duduk: "Bangun, mari kita bicara."
Tanpa bersuara Ji Bun berdiri, dia duduk di kursi yang ada disebelahnya.
"Kau putera Ji Ing-hong? Dimana sekarang dia berada?"
"Entah.”
"Betul kau tidak tahu?”
“Terserah kalau tidak percaya."
"Anak muda, cara yang kugunakan jauh lebih hebat daripada Hian-giok-siu-hun, kuharap kau tahu diri."
Terbayang akan siksaan Hian-giok-siu-hun, Ji Bun bergidik, namun sikapnya semakin tawar lagi, setelah
Lwekang dan kepandaiannya punah, hakikatnya hidup lebih sengsara daripada mati, maka katanya dingin:
"Cayhe maklum, paling-paling mati sekali lagi."
"Jangan kau salah sangka, jangan kau kira gampang untuk mati, kau akan sekarat, setengah mati
setengah hidup. Lohu akan tutuk beberapa Hiat-to sehingga kaki tanganmu lumpuh, mata bisa memandang,
kuping dapat mendengar, mulut tak bisa bicara, lalu dengan semacam obat kubuat hilang ingatanmu. Kau
akan lupa pada dirimu sendiri, segala pengalaman dan semua milikmu akan terlupakan. Lalu kulepas kau
dikota yang ramai, sebagai manusia umumnya kau akan berjuang untuk hidup, dan kau akan terlunta-lunta
sebagai pengemis yang cacat dan harus dikasihani ......”
"Tutup mulutmu!” bentak Ji Bun keras, serasa meledak dadanya.
Siucay tua tidak hiraukan reaksi Ji Bun, Dia tetap bicara dengan acuh tak acuh: "Setiap tengah hari, kau
akan terserang suatu penyakit aneh, deritanya tentu lebih hebat daripada Hian-giok-siu-hun ........”
Mendadak Ji Bun melompat berdiri terus menubruk maju, tangan kiri bergerak. "Bluk", tahu-tahu sejalur
angin kencang menekan dan menyurungnya mundur terduduk pula dikursinya.
Siucay tua melanjutkan: "Sudah tentu, supaya tidak menimbulkan bencana bagi masyarakat ramai,
tangan kirimu yang beracun ini harus dikutungi.”
Bukan kepalang benci Ji Bun, teriaknya: “Tuan mudamu menyesal tempo hari memberikan obat
pemunah padamu...."
"Umpama sepuluh kali kau berikan obat pemunah padaku juga belum setimpal untuk menebus kejahatan
ayahmu, dalam hal ini Lohu tidak perlu menaruh belas kasihan, tidak perlu bicara soal aturan Bu-lim segala."
Ji Bun terempas-empis menahan marah, teriaknya dengan serak: "Ada permusuhan apa sebenarnya kau
dengan ayahku?"
Terpancar sinar dendam dan kebencian pada mata Siucay tua, giginya berkerutuk, sahutnya. "Dendam
setinggi gunung dan sedalam lautan, anak muda, sekarang katakan, dimana anjing tua itu menyembunyikan
diri?"
"Jangan harap kau bisa mendapatkan apa-apa dari tuan-mudamu ini," bentak Ji Bun beringas.
"Anak muda, orang yang berbuat kejahatan, anak isterinya tidak ikut berdosa, bicaralah terus terang,
Lohu akan memberi kesempatan hidup padamu."
"Jangan harap!"
"Kau akan mengaku, Lohu punya cara sehingga kau akan buka mulut ........”
Ji Bun maklum siksaan yang di luar perikemanusiaan bakal menimpa dirinya, kini dirinya lemas lunglai,
tenaga untuk bunuh diripun tak mampu, dia tidak takut mati, malah ingin cari mati. Namun dia kuatir kalau
kepalang tanggung, jika terjadi seperti apa yang dikatakan Siucay tua ini, dirinya akan hidup merana
terlunta dengan badan cacat ......”
Mendadak sekilas ia melihat ujung sebatang paku yang menongol keluar dari dinding papan kapal,
panjangnya ada dua senti, letaknya tepat mengarah Thay-yang-hiat dipelipisnya, jaraknya hanya beberapa
senti lagi, cukup asal dirinya miringkan kepala dengan mengerahkan sedikit tenaga, tentu dengan mudah
dapat menghabisi jiwa sendiri. Penemuan ini seketika menentramkan hatinya, sekarang dia harus cari akal
untuk mengalihkan perhatian orang. Maka dia berkata: "Apakah tuan she Lan?"
Sincay tua melengak, sahutnya ragu-ragu: "Aku ......”
"Tuan bernama Lan Sau-seng?" Ji Bun menegas.
"Aku bukan Lan Sau-seng, kalau masih hidup dia juga akan bertindak seperti aku."
Agaknya paman atau adik ibunya, Lan Sau-seng, sudah meninggal dunia, tahu siapakah Siucay tua ini?
Soal ini tidak penting, karena tujuan Ji Bun ingin mengalihkan perhatian orang dan mencari kesempatan
untuk bunuh diri.
Mendadak Siucay tua bersuara keras: "Anak muda, pernahkah kau mendengar seorang yang bernama So
Yan?”
Tanpa pikir Ji Bun berkata: "Bukan hanya mendengar, belum lama ini ....." sampai di sini baru dia
menyadari telah kelepasan omong. Darimana Siucay tua ini dapat tahu nama ibu tuanya? Kenapa tanya
tentang dia? Siapakah Siucay tua ini?
Mendadak Siucay tua berjingkrak berdiri, suaranya menggerang penuh emosi: "Kau pernah melihatnya?"
Sudah kadung omong terpaksa Ji Bun keraskan kepala: "Betul!" sahutnya.
"Dia ...... dia belum mati?"
"Pernah apa tuan dengan So Yan?"
Tidak menjawab mendadak Siucay tua malah menangkap kedua pundak Ji Bun serta digoyanggoyangkan,
teriaknya: "Katakan, dimana dia?"
Inilah kesempatan baik yang tak terduga, walau Lwekang sudah punah, namun tangan kirinya yang
berbisa masih mampu bekerja dengan baik, cukup sedikit menyentuh badan orang dan lawan akan
keracunan. Tapi Lwekang Siucay tua ini sangat tinggi, meski keracunan ia pasti sanggup bertahan untuk
sekian lama lagi. Sedang dirinya sendiri dalam keadaan lemas, obat penawar di dalam kantong pasti dengan
mudah dapat digeladah orang dan akibatnya celaka lagi nasibnya nanti.
Hanya sekejap saja, agaknya Siucay tua juga tersentak sadar lekas dia lepas tangan dan menyurut
mundur. Kesempatan menjadi sia-sia begitu saja. Terpaksa Ji Bun kembali pada rencananya semula,
membunuh diri dengan membenturkan kepala pada paku yang menongol di dinding kapal.
Siucay tua itu masih dirangsang emosi yang meluap, mata melotot badan gemetar, napas memburu, kulit
mukanya berkerut, bahwa seorang yang berkepandaian silat tinggi juga dirangsang emosi begini meluap
sehingga napas memburu, dapatlah dibayangkan betapa besar pukulan yang menimpa sanubarinya. "Anak
muda, katakan, dimana kau bertemu dengan Khong-kok-lan So Yan?”
Ji Bun bersikap acuh sambil angkat pundak, diam-diam ia sudah mengincar dengan tepat, pelipisnya
tepat diarahkan ke ujung paku, jaraknya tinggal dua senti lagi, sekarang cukup dia gelengkan kepala.
segalanya akan beres.
Sudah tentu mimpipun Siucay tua itu tidak tahu rencana Ji Bun, namun matanya masih melotot gusar
menanti jawaban. Walau ibu tuanya sudah putus hubungan dengan ayah, kini menjadi musuh besar malah,
namun Ji Bun tidak rela mengatakan jejaknya, karena hal ini sekaligus bakal mendatangkan bencana bagi
Biau-jiu Siansing.
"Katakan tidak?" bentak Siucay tua pula.
"Tidak!" jawab Ji Bun singkat.
"Agaknya sebelum disiksa kau tidak kapok ......"
Ji Bun mengertak gigi, baru saja hendak benturkan kepalanya ke arah paku ...... sekonyong-konyong
sebuah suara bentakan bagai geledek berkumandang: "Ji Ing-hong, sekarang kau boleh unjukkan diri."
Berubah roman Siucay tua, sigap sekali dia melompat keluar bilik.
Berdegup jantung Ji Bun, sesaat itu menjadi bingung apa yang telah terjadi. Kenapa di luar orang
menyebut nama ayahnya. Tanpa pikir dia berdiri dan dorong jendela melongok keluar. Tampak tiga buah
perahu tengah laju mendatangi, perahu pertama berdiri jajar Wi-to-hwecu Siangkoan Hong bersama si
perempuan rupawan, perahu kedua berdiri Siang-thian-ong dan Bu-cing-so, perahu ketiga dinaiki Thong-sian
Hwesio dan Jay-ih-lo-sat.
"Ji Ing-hong," terdengar Siangkoan Hong membentak dengan suara kereng, "meski tumbuh sayap juga
hari ini jangan harap kau bisa terbang meloloskan diri."
Siucay tua terloroh-loroh, serunya: "Para saudara, di sini tiada Ji Ing-hong."
Suara Siang-thian-ong bagai bunyi genta berkumandang: "Tutup mulutmu, jangan menggonggong di
sini, lekas suruh keparat tua itu keluar."
Tergerak pikiran Ji Bun, seketika dia menjadi sadar dan mengerti apa yang terjadi, setelah memunahkan
Lwekang dan kepandaian silatnya, perempuan rupawan membiarkan dirinya pergi, tujuannya adalah untuk
mengejar jejak ayahnya. Siucay tua ini telah membunuh kedua anak buah Wi-to-hwe yang ditugaskan
menguntit dirinya, lalu membawa lari dirinya, kemungkinan ada penguntit lain yang melihat, lalu memberi
laporan ke pusat, maka cepat sekali orang-orang Wi-to-hwe ini mengejar datang.
Tujuan kedua pihak sama mengejar ayahnya, setelah kedua pihak bicara jelas dan terus terang akan
duduk persoalannya, tentu dirinya pula yang bakal ketiban pulung alias celaka. Waktu matanya menjelajah
sekelilingnya, dilihatnya mereka berada pada sebuah telaga yang luasnya beberapa hektar. Telaga ini
dikelilingi dinding-dinding gunung yang tinggi mencuat ke langit, walau tengah hari, namun cuaca di sini
remang-remang dingin.
Tepat di tengah di depan sana adalah sebuah tebing batu besar yang melintang di antara apitan dua
dinding gunung, dari mana air menerjun turun dengan deras, air muncrat keras jatuh di tabir batu besar itu
terus mengalir ke telaga ini. Air mengalir tenang keluar kearah kanan, dimana saluran pintunya sempit
sehingga air bergolak dan berbuih, gemuruh air amat mengejutkan sekali.
Ji Bun bertindak dengan tegas dan bertekad lebih baik mati karam di telaga daripada tertawan musuh
dan disiksa. Kesempatan baik sekarang jangan disia-siakan, maka dengan menggeremet diam-diam ia
menuju ke belakang, dan jendela dibuka lalu merangkak keluar, tanpa mengeluarkan suara dia meluncur ke
dalam air.
Permukaan air kelihatan tenang mengalun, tak nyana begitu Ji Bun masuk ke dalam air seketika dia
tersedot oleh pusaran arus yang deras. Karena tak pandai berenang, begitu tenggelam, Ji Bun merontaronta
dan tersedot ke bawah sampai kedasar telaga. Karena kepandaian punah dan Lwekang lenyap,
dengan sendirinya dia tidak mampu mengerahkan tenaga untuk menahan nafas, akhirnya air terus tercekok
ke dalam tenggorokan.
Secara refleks Ji Bun meronta-ronta sekuatnya supaya dirinya mengambang ke atas. Namun sedotan
pusaran air di bawah ini amat keras, usahanya sia-sia, malah tubuhnya semakin terseret turun. Sekonyongkonyong
badannya terombang ambing berputar terbawa arus, seketika dia kehilangan kesadaran. Dalam
keadaan setengah sadar terakhir dia masih merasakan dirinya terbawa hanyut keluar dari pintu sempit yang
menjurus entah ke mana.
Rasa dingin dan sakit yang menusuk tulang tiba-tiba menyentaknya bangun, waktu dia buka mata,
bintang-bintang tampak bertaburan di cakrawala, tabir malam menyelimuti jagat, didapatinya dirinya rebah
di atas batu cadas yang dingin, hembusan angin malam nan sepoi-sepoi terasa amat dingin membeku.
Gemuruh air amat mengganggu pendengarannya. Sesaat itu ia sukar membedakan dimana dirinya berada,
entah masih hidup atau sudah mati? Atau di alam mimpi?
Lama sekali setelah berhasil memulihkan sedikit tenaga baru dia yakin bahwa dirinya masih hidup dan
bernapas dengan teratur, rasa sakit ditubuhnya merupakan bukti yang nyata. Maka dengan penuh
keheranan dia merangkak duduk, ia celingukan kian kemari, dilihatnya dirinya rebah di atas batu yang
terletak tiga kaki dipinggir jurang, dibawahnya adalah jurang seratus tombak. Sungai yang membawa keluar
dirinya tampak berliku-liku di bawah sana mirip seekor ular raksasa. Tempat apakah ini? Siapakah yang
menolong dirinya? Jelas dirinya tidak mati walau terjun ke telaga dengan maksud bunuh diri, bagaimana
mungkin kini bisa terbang ke atas jurang yang tinggi ini?
Sekonyong-konyong sebuah suara serak tua berkumandang di pinggir telinganya: "Suco berada di sini,
kenapa tidak lekas berlutut?"
Bukan kepalang kejut Ji Bun, tersipu-sipu dia merangkak bangun, terlihat di depan sana di atas sebuah
batu, duduk tersimpuh seorang laki-laki tua bertubuh kurus kering seperti kayu, kedua matanya tengah
menatap dirinya dengan pandangan tajam berwibawa.
Suco? Dari mana datangnya Suco (kakek guru). Sejak kecil dia belajar silat dari keluarga, belum pernah
dia mengangkat seorang guru. Namun kakek tua kurus yang aneh ini mengapa mengaku dirinya sebagai
kakek gurunya, bukankah aneh? Dengan kaget dan heran Ji Bun menyurut mundur, tak mampu bicara
karena kebingungan.
Orang tua itu bersuara lagi: "Apakah gurumu tidak memberi penjelasan padamu?"
Akhirnya Ji Bun menjawab terputus-putus: “Gu ..... guru? Wanpwe tidak punya ....... guru."
Mencorong sinar mata orang tua kurus, kulit mukanya yang tinggal kulit membungkus tulang kelihatan
berkerut, bentaknya: “Kau tidak punya guru?"
"Ya," Ji Bun mengiakan.
"Bagaimana kau bisa kemari?"
"Sebetulnya Wanpwe terjun ke air hendak bunuh diri. entah bagaimana ..........”
Sinar mata si orang tua menyapu turun naik sekujur badan Ji Bun, akhirnya dia membentak bengis: "Lalu
siapakah yang mengajarkan Bu-ing-cui-sim-jiu yang kau yakinkan itu?”
Jantung Ji Bun serasa melonjak keluar. Tampaknya orang tua ini rada ganjil, sahutnya kemudian:
"Ayahku almarhum"
"Apa, ayahmu almarhum, jadi dia sudah mati?"
Ji Bun mengangguk.
"Sebelum ajal dia yang suruh kau kemari bukan? Mana Tok-keng?" tanya kakek itu.
Semakin kebingungan Ji Bun, pertanyaan yang susul menyusul ini membuatnya garuk-garuk kepala
tanpa tahu duduk persoalannya. "Lo ...... Locianpwe adalah .......”
Berdiri alis putih si orang tua kurus, kepalanya geleng-geleng, mulutnya menggumam: "Tidak beres, dia
tidak akan berani mendurhakai perguruan, namun berani menentang peraturan dengan kawin dan punya
anak, tapi ini ......" sampai di sini mendadak ia membentak: "Kapan keparat itu mampus?"
"Keparat? Siapa?”
"Orang yang mengajar ilmu beracun padamu itu.”
"O, mendiang ayahku? Baru beberapa bulan yang lalu beliau meninggal."
"Hm," mulut siorang tua kurus menggeram gusar, suaranya dingin seram nadanya aneh lagi. Ji Bun
merinding dan berdiri bulu kuduknya, sungguh tidak habis mengerti, apa sebetulnya yang pernah terjadi.
Sekian lama siorang tua kurus seperti menahan gejolak amarahnya, akhirnya bersuara pula seperti bicara
pada dirinya sendiri: "Tidak menepati janji sepuluh tahun ..... cara bagaimana dia mati?”
"Dicelakai para musuhnya, tapi ......”
"Tapi apa?"
"Akhir-akhir ini muncul gejala-gejala yang mencurigakan, agaknya ...... ayah seperti masih hidup."
"Pernahkah dia menyinggung peraturan perguruan padamu?”
“Tidak, sahut Ji Bun menggeleng.
“Lalu bagaimana kau bisa berada di Kiu-coan-ho ini?”
“Wanpwe diculik orang, suatu ketika berhasil terjun ke air, maksudku hendak bunuh diri saja ...... apakah
Locianpwe yang menolong diriku?”
Orang tua kurus diam sebentar, mulutnya menggumam: "Lwekang anak ini tertutup, mungkin pikirannya
terganggu dan menjadi linglung. Kalau tidak mengapa jadi begini?”
"Lwekangnya tertutup", kata-kata ini amat menggetarkan hati Ji Bun, yang jelas dia sendiri merasakan
Lwekang dan kepandaian silatnya sudah punah, namun orang tua kurus ini bilang hanya di "tutup", betapa
jauh bedanya antara "tutup" dan "punah" itu? Secara tak disadarinya dia lalu himpun tenaga dan tarik napas
panjang. Mendadak hawa murni bagai air bah yang jebol dari bendungan bergulung-gulung timbul dari
sumbernya. Entah bagaimana Lwekangnya ternyata sudah pulih kembali seperti sediakala.
Betapa kejut dan tergetar hatinya sungguh bukan kepalang. Orang tua ini bilang Lwekangnya di tutup,
kini telah terbuka dan lancar kembali. Jelas orang tua kurus ini yang membuka segelan Lwekangnya, naganaganya
bukan sembarangan tokoh kosen kakek kurus ini. Dia menyebut diri sebagai Suco, menyinggung
tangan beracun lagi, mungkinkah memang dia ini guru dari ayah?
Orang tua kurus menggapai padanya, katanya: "Mari masuk."
Bayangannya tiba-tiba lenyap, heran Ji Bun melototkan matanya, didapatinya di balik batu di mana orang
kurus itu bersimpuh tadi adalah lubang batu, tadi karena teraling dan seluruh perhatiannya tertumplek pada
si orang tua, maka Ji Bun tidak melihat adanya lubang gua ini.
Sejenak dia ragu-ragu, akhirnya melompat naik ke atas terus melangkah ke dalam gua batu itu. Gua ini
sempit, hanya tiba cukup untuk satu orang keluar masuk, lorong gua gelap dan lembab, kira-kira puluhan
tombak kemudian baru pandangannya terbeliak pada sebuah kamar batu yang luas, meja kursi dan perabot
lainnya semua terbikin dari batu, tepat di tengah sana terletak sebuah meja pemujaan. Asap dupa mengepul
tinggi menambah khitmadnya suasana.
Orang tua kurus tampak berdiri di pinggir meja, begitu Ji Bun melangkah masuk, segera dia berseru
lantang: "Tempat semayam Cosu (leluhur) ada di sini, lekas berlutut."
Sekilas Ji Bun tertegun. Waktu ia pandang ke arah meja pemujaan, tampak sebuah papan batu panjang,
ditengah-tengah bertuliskan beberapa huruf yang berbunyi:
"Tempat semayam moyang racun Kwi-kian-jiu Le Bung".
Teringat oteh Ji Bun akan penuturan orang tua aneh di dasar jurang Pek-ciok-hong dulu bahwa Bu-ingcui-
sim-jiu adalah ciptaan seorang tokoh silat ahli racun yang bergelar Kwi-kian-jiu pada dua abad yang lalu,
ilmu ini sudah lama putus turunan, secara tidak sengaja, agaknya dirinya telah ke sasar ke tempat asal
perguruannya sendiri yang asli.
Setengah kaget setengah girang, tersipu-sipu Ji Bun berlutut lalu menyembah berulang kali, tak lupa
iapun menyembah kepada si orang tua kurus, serunya: "Ji Bun yang tidak berbudi, menghadap Suco."
"Berdiri!” seru si orang tua kurus dengan badan gemetar.
Cepat Ji Bun berdiri, pandangannya heran penuh tanda tanya kepada si orang tua aneh.
"Kau bernama Ji Bun?" orang tua itu bertanya penuh emosi.
Ji Bun mengiakan.
“Siapa nama ayahmu?"
"Beliau bernama Ji Ing-hong."
“Kau bukan murid perguruan kami!” kata si kakek tiba-tiba.
Ji Bun mundur tiga langkah, pandangannya sayu seperti mendadak menjadi bodoh. Selama hidup belum
pernah dia mengalami kejadian seperti ini, begitu berhadapan orang tua ini mengaku sebagai Suco. Kini
bilang dirinya bukan murid perguruannya, agaknya semua persoalan timbul lantaran dirinya meyakinkan Buing-
cui-sim-jiu itu, dulu cara bagaimana ayahnya memperoleh kitab pelajaran ilmu beracun ini?
Orang tua kurus duduk di atas kursi batu, sekian lama dia pejamkan mata entah merenungkan apa dan
begitu membuka mata segera bertanya pula: "Pernah kau mendengar nama Ngo Siang?"
"Tidak pernah," jawab Ji Bun.
"Pernah melihat Tok-keng?"
"Juga tidak."
"Bagaimana kau bisa meyakinkan Bu-ing-cui-sim-jiu"
"Ayah yang mengajarkan secara lisan."
"Apakah ayahmu juga meyakinkan tangan beracun?"
"Menurut apa yang Wanpwe ketahui, agaknya tidak."
"Pernah dengar dia menyinggung soal Tok-keng?“
"Tidak pernah beliau menyinggung Tok-keng segala."
Untuk sekian lama pula si orang tua berdiam diri, suasana menjadi hening. Ji Bun tidak tahu apa yang
sedang dipikirkan si orang tua. Entah vonis apa pula yang akan dijatuhkan atas dirinya, namun nalarnya
yakin bahwa dirinya tidak akan mengalami nasib jelek, terutama Lwekang dan kepandaian silatnya sudah
pulih, hal ini menimbulkan gairah dan mengobarkan semangat, dia merasa seperti hidup kembali setelah
berkayun di neraka.
Sampai sekian lamanya kedua orang tiada yang buka suara, lama kelamaan Ji Bun menjadi tidak sabar.
Mendadak orang tua kurus berdiri lalu berlutut di depan meja sembahyangan, mulutnya bersabda: "Ban
Yu-siong, murid generasi ke-12 bersembah sujud di hadapan Suco, demi mengembangkan perguruan
supaya tidak putus turunan, Tecu memberanikan diri memutuskan untuk menerima murid dan menurunkan
ilmu, harap dimaklumi dari unjuk periksa adanya!"
Habis bersabda ia berdiri di pinggir meja, katanya dengan suara kereng dan serius: "Ji Bun, ayahmu
adalah murid generasi 14 dari perguruan kita, kini kau adalah generasi ke 15, sekarang pasang dupa dan
bersembahyang kepada leluhur."
"Heran dan tidak habis mengerti Ji Bun dibuatnya, tampaknya tiada peluang baginya untuk berpikir
panjang, entah berdasar apa orang tua ini berani memutuskan bahwa ayahnya adalah murid generasi ke 14,
kalau toh sudah telanjur adanya ikatan ini, apa pula yang harus dikatakan, yang terang budi orang tua ini
memulihkan dan membuka segel Lwekangnya. Sulit bagi dirinya untuk menolak segala perintah dan
permintaannya, maka dia lantas melangkah maju mengambil tiga batang hio dan disulut terus berlutut di
depan meja pemujaan.
"Bersumpah!" seru orang tua itu.
Kembali Ji Bun tertegun, cara bagaimana harus bersumpah, sekilas dia berpikir, lalu dia berseru lantang
sesuai peraturan bagi sesuatu aliran yang hendak memungut murid: "Ji Bun, murid generasi ke-15, berkat
keluhuran budi Suco yang sudi menerimanya sebagai murid, dengan ini bersumpah untuk mendarma
baktikan jiwa raga bagi perkembangan dan kejayaan perguruan serta bersumpah untuk mematuhi segala
peraturan perguruan, kalau melanggarnya, biarlah Thian menjatuhkan hukumannya."
"Dengarkan maklumat!” kembali si orang tua kurus berseru lantang.
14.42. Murid Ban-tok-ci-bun
Ji Bun berlutut dan menyembah tanpa bersuara, hakikatnya memang, dia sendiri tidak tahu apa yang
harus dia lakukan untuk mengiringi upacara ini. Lalu berkatalah Ban Yong-siang lebih lanjut dengan nada
kereng berwibawa. "Perguruan kita adalah Ban-tok-ci-bun (perguruan selaksa racun). Berdiri dan
berkembang demi kesejahteraan manusia, hidup rukun saling membantu, membela yang benar menindas
kelaliman, membantu yang lemah menumpas yang kuat dan jahat, takkan berbuat salah dan tidak menuntut
kegaiban. Dapatkah kau mematuhinya?”
"Hamba bersumpah akan patuh dan taat!"
"Dengarkan tata tertib!"
“Tecu siap mendengarkan."
"Pertama dilarang berbuat jahat dan cabul, kedua dilarang mencuri atau merampok, ketiga dilarang
membunuh tanpa berdosa, keempat dilarang membantu kejahatan atau kelaliman. Dapatkah kau mematuhi
semua ini?"
Ji Bun mengiakan.
"Nah, sekarang dengarkan peraturan hukum. Mendurhakai perguruan dan leluhur, hukumnya mati.
Mengajarkan ilmu beracun secara semena-mena dihukum gantung. Yang membocorkan rahasia perguruan
dihukum mati. Berbuat kejahatan dan melanggar perikeadilan dihukum mati. Dapatkah kau mematuhi
semua ini?"
Ji Bun mengangguk dan menyatakan patuh.
"Nah, sekarang kau boleh berdiri, nak."
Ji Bun berdiri lalu menghadapi Ban Yu-siong dan memberi hormat.
"Tidak perlu banyak adat, berdirilah!" wajah orang tua itu sekarang kelihatan welas asih penuh kasih
sayang, sorot matanya yang tajam tadi telah lenyap, katanya sambil menuding bangku batu di sebelahnya:
"Duduklah, kuingin bicara dengan kau."
"Terima kasih," ucap Ji Bun sambil duduk.
"Tuturkan riwajat dan asal usulmu."
"Tecu Ji Bun, keturunan Jit-sing pang Pangcu Ji Ing-hong, anak tunggal dan mewarisi ajaran keluarga,
tidak pernah berguru pada aliran lain."
"Baiklah, nak, dengarkan dengan cermat. Perguruan kita bernama Ban-tok-ci-bun, cikal-bakal kita adalah
Kwi-kian-jiu yang tersohor sejak ratusan tahun hingga sekarang. Beliau bernama Le Bong. Perguruan kita
diwariskan dari satu generasi kepada generasi yang lebih muda, setiap generasi , hanya menerima seorang
murid, inilah peraturan yang diwariskan oleh cikal bakal kita dan pantang dilanggar, oleh karena itu ada
larangan barang siapa yang melanggar aturan dan sembarangan mengajarkan ilmu beracun kepada orang
lain, harus dihukum mati."
"Pernahkah Suthayco berkelana di Kang-ouw?"
"Sudah enam puluh tahun aku menyepi diatas gunung.“
"Lalu generasi yang lalu ......”
"Cosuya (Cikal bakal) kita mewariskan aturan cara untuk mendapatkan murid, ini boleh dibilang sebagai
rahasia perguruan kita pula. Pada dua ratus tahun yang lalu Cosuya secara tidak disengaja menemukan gua
rahasia yang tersembunyi di celah-cela Kiu-coan-ho ini, maka sejak itu beliau lantas bersemayam dan
mengasingkan diri di sini. Setelah menggembleng diri selama 60 tahun, bukan saja ilmu silatnya mencapai
puncak yang tiada taranya, yang lebih penting beliau berhasil menyelami ajaran Tok-keng yang paling
mendalam. Tiba-tiba timbul nalarnya yang luhur, jika ilmu-ilmu ciptaannya sampai putus turunan dan lenyap
terbawa mati, kan amat sayang, namun beliau sudah bersumpah untuk mengasingkan diri, tak mungkin
melanggar sumpah untuk keluar mencari murid ......"
Sampai disini dia berhenti sebentar, lalu menyambung, "Oleh karena itu Cosuya mendapatkan akal
secara untung-untungan bagi yang berjodoh mendapatkan rejeki, beliau mencatat semua ciptaan ilmunya
pada dua buah kitab, pada jilid pertama diterangkan, bagi seorang yang menemukan buku itu harus
mempelajarinya dengan tekun dan rajin. Dalam jangka 10 tahun, jika mencapai hasil, boleh kemari untuk
angkat guru dan memperdalam pelajaran jilid kedua. Jilid pertama dan keterangannya itu oleh Cosuya
dimasukkan ke dalam sebuah gelembung kulit terus dilempar ke sungai biar terbawa arus, kemungkinan
memang buku itu tidak akan ditemukan orang dan akan lenyap tak keruan parannya. Namun cita-cita
Cosuya ini memang hanya dipertaruhkan kepada orang-orang yang kebetulan punya jodoh saja ......”
Asyik sekali Ji Bun mendengarkan cerita ini, akhirnya tak tahan ia bertanya, "Tentu bungkusan itu
ditemukan orang, lalu bagaimana?"
Ban Yu-siong manggut-manggut, katanya: "Ya, kalau tidak masakah perguruan kita bisa bertahan turun
temurun sampai sekarang."
“Harap Suthayco melanjutkan kisah ini."
"Enam tahun kemudian, suatu hari ketika Cosuya sedang memancing ikan di tepi sungai, mendadak
dilihatnya sesosok tubuh manusia terhanyut dibawa arus, cepat beliau menolongnya ke atas, untung orang
itu belum meninggal. Pada badannya ternyata ada kitab Tok-keng jilid pertama. Setelah ditolong dan
diobati, baru diketahui bahwa orang ini memang hendak menghadap kepada guru, sayang ia kesasar dan
terpeleset jatuh ke sungai ......"
"Hah!" Ji Bun bersuara dalam mulut.
"Waktu itu bukan kepalang senang hati Cosuya, segera orang itu diangkat jadi murid dan mulai
mendirikan sebuah perguruan yang dinamakan Ban-tok-bun. Sejak itu keluarlah aturan perguruan. Di
samping itu mengingat ajaran ilmu beracun tidak sama dengan pelajaran ilmu silat, sekali salah tangan pasti
mengakibatkan tewasnya orang, jika anak murid sendiri tidak dibatasi gerak geriknya, kelak bisa
menimbulkan petaka bagi dunia persilatan, oleh karena itu ditentukan setiap generasi hanya boleh
menerima seorang murid saja .......”
"Memang bajik dan bijaksana sekali Cosuya," ujar Ji Bun.
"Orang itu adalah Suco dari generasi kedua bernama Hoan Goan-liang, karena pengalaman Hoan-suco
ini, maka Cosuya menyadari suatu cara untuk menjajaki jiwa manusia. Setiap orang yang memperoleh Tokkeng
jilid pertama dan menjadi murid keturunannya, dia harus menceburkan diri di hulu Kiu-coan-ho,
setelah mengalami ujian berat dengan mempertaruhkan jiwa raga ini baru dia setimpal dan punya bobot
untuk diangkat menjadi murid secara resmi ......"
"Jika orang itu hilang terbawa arus, lalu bagaimana?" tanya Ji Bun.
"Tidak mungkin, arus air dibawah bukit itu memang aneh, setiap orang yang ceburkan diri ke sungai
akhirnya pasti akan terlempar ke atas daratan, disamping itu Cosuya juga memasang jala besar, setiap
benda yang terhanyut kesana pasti terjala, boleh dikata segala kemungkinan sudah dipikirkan dengan
matang ......."
"O," demikian kata Ji Bun, "pantas datang-datang tadi engkau orang tua lantas mengaku diri sebagai
Suco, jadi engkau kira Tecu juga menceburkan diri ke air demi masuk perguruan."
"Ya, nak, itulah yang dinamakan jodoh.”
"Maaf akan kelancangan mulut Tecu, jika diantara sekian banyak generasi itu kehilangan kitab pusaka,
bukankah ajaran akan terputus juga?”
"Pertanyaan bagus, itulah yang Suco katakan sebagai menyenggol rejeki, kalau memang tidak berjodoh,
sudah tentu perguruan kita akan putus di tengah jalan."
"Kalau yang menemukan seorang jahat dan membuat petaka Bulim, dan orang itu hakikatnya tiada
tujuan hendak masuk perguruan, lalu bagaimana jadinya?"
Orang tua kurus tersenyum, ujarnya : "Suco tetap punya cara untuk mengatasinya, tiga tahun setelah
kitab diturunkan, generasi yang terdahulu harus turun gunung mengadakan pemeriksaan, karena ajaran
racun merupakan ilmu sampingan, setiap orang mendapatkan ilmu ini pasti akan tenar dan berkecimpung di
Bu-lim, maka tidak sukar untuk menemukan jejaknya. Kalau murid itu orang jahat, dia akan dihukum
menurut peraturan serta merebut kembali Tok-keng, lalu mencari calon murid yang lain. Setelah diselidiki
dengan baik, maka dia harus pulang gunung dan menunggu datangnya generasi yang akan tiba, dia wajib
menurunkan pelajaran yang tertera pada jilid dua, begitulah seterusnya."
"Kalau demikian, sudah menjadi ketentuan adanya dua generasi yang harus tinggal di atas gunung untuk
mempelajari ilmu ciptaan Cosuya bersama .......”
“Ya, begitulah kenyataannya."
"Mohon tanya, siapakah generasi ke-13?"
"Murid generasi ke-13 bernama Ngo Siang, tiga tahun kemudian setelah dia nyenggol rejeki jodoh itu, dia
mendapat perintahku turun gunung untuk mencari calon murid generasi mendatang, mungkin orang yang
berjodoh adalah ayahmu Ji Ing-hong, dia terhitung generasi ke-14, Ngo Siang mungkin mengalami sesuatu
bencana, sehingga sekian tahun tidak kunjung pulang, kini ayahmu dicelakai orang lagi, beruntung Thian
sudah mengatur segalanya dan kaulah yang dituntun kemari."
Bergidik Ji Bun dibuatnya, analisa orang tua kurus ini agaknya tepat, namun ayahnya lebih dari 10 tahun
mendapatkan Tok-keng, agaknya dia sengaja tidak mau masuk perguruan, malah sepak terjangnya justeru
melanggar pantangan yang paling besar dari aturan perguruan. Jika Ngo Siang generasi ke-13 itu masih
hidup di dunia ini, suatu hari pasti akan mengadakan pembersihan.
Terdengar Ban Yu-siong berkata pula: "Ayahmu melanggar aturan, mengajarkan ilmu perguruan
terhadapmu. Jika dia masih hidup, dia pasti dikejar oleh hukuman. Dan kau, setelah meyakinkan ilmu
beracun itu pernahkan kau sembarangan membunuh?”
"Tecu yakin tidak pernah membunuh secara serampangan," sahut Ji Bun tegas.
"Bagus, bagus sekali."
"Masih ada satu hal, ingin Tecu bertanya?"
"Boleh, soal apa?"
"Menurut cerita beberapa sesepuh Bu lim, bahwa Bu-ing-cui-sim-jiu selama ratusan tahun ini hanya Suco
seorang saja yang berhasil meyakinkan."
"Itu memang benar."
"Jadi diantara puluhan generasi itu tiada .......”
"Tidak demikian halnya, ajaran Bu-ing-cui-sim-jiu dimuat pada jilid pertama dan sukar dipahami. Setiap
generasi yang pulang keperguruan sesuai batas 10 tahun itu, jarang yang berhasil meyakinkan dengan baik,
sekalipun ada dua tiga orang, tapi kalau tidak dipergunakan, maka kaum Bu-lim tentu tiada yang tahu.
Setelah berada dalam perguruan, meski berhasil dengan gemilang, waktupun sudah berlarut terlalu lama
dan tiba saatnya dia harus menerima jabatan sebagai ahli waris. Hakikatnya dia tiada kesempatan berkelana
di Kang-ouw untuk mengembangkan ilmu ini, karena tujuannya turun gunung yang kedua kalinya adalah
mencari calon murid. Umpamanya kau, lain dari yang lain, rasanya sukar terjadi pada generasi yang
mendatang."
"Jika kurang hati-hati, sehingga Tok-keng hilang dan terjatuh ke tangan orang lain?"
"Orang yang menemukan buku itu akan mati mengenaskan."
"Kenapa?"
"Buku itu mengandung racun yang jahat, begitu tangan menyentuh buku ia akan keracunan dan dalam
seratus hari jika tidak diobati pasti mati."
Ji Bun merinding, tanyanya pula: "Tapi bagaimana dengan orang pertama yang mendapatkan, buku itu?"
"Di dalam buku ada suatu lembar keterangan di mana dijelaskan cara untuk menawarkan racun,
penjelasan itu harus segera dibakar sambil berlutut setelah dia memperoleh buku itu. Oleh karena itu tidak
mungkin ada orang kedua yang menjadi murid generasi yang sama, lebih tidak mungkin ada orang luar
yang bisa belajar ilmu perguruan kita."
Ji Bun tunduk dan kagum lahir batin terhadap cikal bakal yang memikirkan segala ini sedemikian cermat,
jika demikian halnya, jadi ayah bukan orang kedua yang sama-sama mendapatkan buku pelajaran itu, kalau
benar, bukankah dia sudah mati keracunan, ini membuktikan bahwa ayahnya adalah calon murid yang
dipilih oleh Ngo Siang, tapi perbuatannya jauh melanggar peraturan perguruan, jika ........ Ji Bun tak berani
membayangkan lebih lanjut. Karena celaka, dirinya sekarang malah ketiban rejeki, secara aneh dan luar
dugaan dirinya pulang kandang perguruan asalnya, seperti pengalaman dalam mimpi saja rasanya.
Tiba-tiba terangkat alis putih si orang tua, katanya: "Nak, ketika membuka tutukan Lwekangmu yang
disegel tadi kudapati Lwekangmu begitu kuat dan mengejutkan, rasanya tidak memadai dengan usiamu,
mungkin kau .....”
"Tecu mendapat saluran Lwekang dari seorang Locianpwe yang bergelar Ciok-bin-hiap Cu Kong-tam"
"Kau mengangkatnya jadi guru?"
"Tidak, kami bertemu di dasar jurang, dia berpesan kepada Tecu untuk menyelesaikan suatu urusan,
maka dia salurkan Lwekangnya kepadaku untuk lolos dari tempat itu."
"Ah, kiranya begitu, hawa murnimu mencapai latihan puluhan tahun, dengan landasan yang kau miliki
sekarang, kira-kira cukup setahun saja pasti berhasil mempelajari ilmu tingkat tertinggi dari perguruan kita."
"Setahun?"
"Kenapa nak, kau kira terlalu lama? Setiap Ciangbun dari generasi terdahulu, sedikitnya berlatih lima
tahun, ada yang sampai puluhan tahun."
"Maaf akan kelancangan Tecu."
"Dalam keluarga jangan terlalu banyak menggunakan adat, jangan kau bersikap demikian."
"Konon setiap orang yang berhasil meyakinkan Bu-ing-cui-sim-jiu, selama hidupnya tak bisa dipunahkan,
apakah betul demikian?”
"Nak, itu hanya dasarnya, tingkat permulaan, jika dilatih sampai tingkat terakhir, racun dapat kau
gunakan sesuai keinginan hatimu. Keadaan tak ubahnya seperti orang biasa, semua ini tak perlu kau
tanyakan, kelak kau akan tahu sendiri. Sekarang kau boleh mulai kerja bakti, kamar batu sebelah kanan
adalah dapur, kamar kedua itu boleh buat tempat tinggalmu, kamar pertama disebelah iri adalah tempat
tinggal Suco, kamar kedua adalah tempat latihan, pergilah kau membuat makanan dulu, besok pagi boleh
kau mulai belajar."
Sampai detik ini Ji Bun masih merasa dirinya seolah-olah di alam mimpi, karena pengalamannya ini
teramat aneh, sukar dipercaya, kalau betul ada kejadian ajaib di dunia pengalamannya inilah buktinya.
Di dalam gua tidak kenal hari, bulan dan tahun. Sang waktu berjalan tanpa terasa. Ji Bun lupa makan
lupa tidur, rajin belajar giat menggembleng diri. Ada kalanya beberapa hari dia tidak makan dan tidak tidur.
Hari itu dia kembali ke kamar latihan langsung menghampiri si orang tua dan teriaknya girang: "Suthayco,
aku sudah berhasil."
Dari pergaulan hari ke hari ini, setiap saat mereka berdampingan. Hubungan mereka kini tak ubahnva
seperti kakek dengan cucu sendiri, maka sikap dan gerak gerik serta tutur kata keduanya sudah tidak
dibatasi oleh aturan-aturan yang mengekang lagi.
Si orang tua mengelus jenggotnya yang ubanan, katanya tertawa lebar: "Nak, kuucapkan selamat
padamu, setengah tahun kau lebih dini berhasil dari perhitungan semula.”
Ji Bun sendiri sudah lupa waktu dan memperhitungkan hari, iapun merasa heran dan tidak percaya,
"Apa, setengah tahun?"
"Ya, setengah tahun kurang sehari. Nak, besok pagi kau boleh turun gunung."
"Besok pagi?"
Wajah si orang tua yang berseri girang tiba-tiba dihapus oleh rasa sedih. Ji Bun melihat perubahan
roman mukanya, dalam hati juga timbul rasa berat untuk berpisah, namun dia tahu tidak mungkin tidak
meninggalkan tempat ini. Selama ini tidak pernah dirasakannya, kini setelah berhasil meyakinkan ilmu,
dendam yang tersekam itu seketika berkobar lagi.
"Nah, setelah turun gunung, ada beberapa tugas yang harus kau kerjakan," demikian kata si orang tua.
"Anak Bun siap mendengarkan petuah."'
"Pertama, usahakan untuk menemukan kembali Tok-keng, sekaligus carilah calon penggantimu untuk
ahliwaris angkatan ke-16 yang akan datang. Kedua, selidikilah jejak dan kabar kakek gurumu, Ngo Siang.
Ketiga, carilah sebab musababnya kenapa setelah mendapatkan Tok-keng, ayahmu tidak kembali ke
gunung."
Berdetak jantung Ji Bun, namun dia menjawab dengan hormat: "Anak Bun mengingatnya dengan baik,
Suthayco ada pesan apa lagi?"
"Sekarang segala racun tidak akan mempan pada dirimu, namun demi mendarma baktikan dirimu bagi
masyarakat umumnya, kau perlu membawa beberapa macam obat, di atas rak obat, kau boleh ambil
secukupnya dan pilih mana saja yang kau rasa perlu. Dalam jangka sepuluh tahun kau harus kembali ke sini,
murid perguruan kita tidak dilarang menikah, tapi ilmu kita dilarang diajarkan kepada anak cucu sendiri, kau
tetap harus melaksanakan peraturan yang telah diwariskan leluhur kita, dengan cara 'rejeki tiban' itu, kau
hanyalah satu-satunya orang yang teristimewa di antara sekian murid-murid yang pernah terjadi sejak
perguruan kita berdiri. Untunglah kau sendiri juga sudah mengalami petaka di dalam air."
"Terima kasih atas budi Suthayco."
"Tok-jiu-sam-sek (tiga jurus tangan berbisa) terlalu ganas, kalau lawanmu tidak setimpal mati, jangan
sekali-kali kau gunakan. Disamping itu di atas rak pada kotak pertama dibaris teratas terdapat sebotol Hoatwan
(pil maut pelaksana hukum), hasil buatan dan peninggalan Suco, kau boleh membawa sebutir."
Bergetar tubuh Ji Bun, namun dia mengiakan. Dia pikir, kalau ayah masih hidup, memang dia setimpal
diberi Hoat-wan ini untuk bunuh diri, namun sebagai seorang anak, mungkinkah .......
"Puncak gunung ini dikelilingi air dan dipagari dinding gunung yang curam, hanya ada sebuah jalan
rahasia di belakang gunung, sekarang kau boleh melihatnya ......." dengan jari telunjuk dia menggores
sebuah peta sambil menerangkan cara bagaimana Ji Bun harus keluar dan masuk, Ji Bun mengingatnya
dengan baik. "Sekarang kau boleh mengundurkan diri."
Ji Bun menyahut terus mengundurkan diri ke kamar sendiri, hatinya gundah dan resah, dengan bekal
yang dipelajarinya sekarang, pasti tugas menuntut balas kali ini akan bisa terlaksana dengan baik.
Pengalaman selama setengah tahun ini, kembali dia ulang dalam pikiran, terasa masih banyak liku-liku yang
masih gelap baginya, terutama sepak terjang dan keselamatan jiwa ayahnya menjadi topik pemikirannya.
Dia berdoa semoga ayahnya masih hidup, ini jamak, namun iapun ingat betapa kerasnya aturan
perguruan, bagaimana kelak dirinya harus bertindak? Ngo Siang pejabat generasi ke 13 sudah lenyap
puluhan tahun, dunia seluas ini, ke mana dia harus mencarinya? Tok-keng pasti masih ada di tangan ayah,
kalau dia belum mati, bagaimana harus merebutnya .......”
Tiba-tiba dia ingat akan racun, Giam-ong-ling yang pernah dipergunakan Kwe-loh-jin, sekarang baru dia
tahu bahwa racun ini juga salah satu dari ciptaan perguruannya, mungkinkah Tok-keng terjatuh ke
tangannya? Ini mungkin sekali, tapi kenapa dia tidak mati keracunan setelah memperoleh buku itu, sungguh
sukar diselami.
Kecuali seseorang yang pernah meyakinkan Kim-kong-sin-kang yang kebal terhadap racun Bu-ing-cuisim-
jiu, tiada orang yang kuat menahannya, kecuali diberi obat penawar perguruannya. Tapi Kwe-loh-jin dan
beberapa orang lainnya ternyata tidak gentar dan kebal juga terhadap racun ganas ini, terang mereka belum
mencapai tingkat Kim-kong-sin-kang, memangnya mereka memiliki obat penawarnya? Lalu dari mana
diperoleh obat penawar itu? Inilah soal yang mencurigakan dan sukar dipecahkan.
Diapun teringat pada Biau-jiu Siansing, orang ini juga tidak takut racun, betapapun teka teki ini harus
secepatnya dibongkar.
Waktu berjalan cepat sekali, hari kedua pagi-pagi benar Ji Bun sudah pamitan kepada kakek gurunya
terus menyusuri jalan rahasia di belakang gunung. Tanpa susah dia keluar dari lingkungan gunung terus
menempuh perjalanan menuju ke Kay-hong.
Banyak persoaian besar yang ingin, dia minta penjelasan dari Biau-jiu Siansing, perjanjian setahun tempo
hari, kini sudah berjalan setengah tahun mungkin Ciang Wi-bin ayah dan anak sudah tidak sabar menanti.
Setengah tahun cukup lama, tapi juga terlalu cepat berlalu, entah apa pula yang telah terjadi selama ini
dikalangan Kangouw?
Hari itu, dia tiba di Bik-su, dia cari hotel terus ganti pakaian, sekarang tidak perlu main sembunyi dengan
menyamar segala, dibelinya seperangkat dan kipas, topi serta keperluan lainnya, dia berdandan lagi sebagai
seorang pelajar yang berwajah cakap.
Semu hijau yang dulu selalu timbul di antara kedua alisnya, sejak dia meyakinkan ilmu tingkat tinggi
perguruannya, kini tidak kelihatan lagi. Namun setiap kali dia mengerahkan hawa murni menurut ajaran
perguruan, sorot matanya pasti mencorong kehijauan, inilah keistimewaan ilmu perguruannya.
Malamnya seorang diri dia makan minum di kamarnya. Mendadak dari kamar sebelah luar sama
terdengar suara ribut-ribut, seseorang berteriak kaget dan ketakutan, tamu-tamu sama berlari keluar,
terdengar seorang berkata: "Apa yang terjadi?"
"Entah kenapa tua bangka ini mati, yang muda genit itu entah lenyap ke mana?”
Kematian seseorang, bagi setiap insan persilatan sudah biasa dan bukan soal besar. Ji Bun tidak tertarik,
ia tetap makan minum seenaknya. Tapi kupingnya mendengarkan keributan diluar.
Terdengar seseorang berseru pula: "Eh, barang apakah ini?"
"Sebuah cincin kok ada tiga lubangnya?"
"Itulah cincin batu jade dengan tiga lubang jari?" Ji Bun terjingkat dikamarnya, sebat sekali dia memburu
keluar terus berlari ke kamar tetangga sana, dilihatnya orang banyak berkerumun di depan pintu, pemilik
hotel melongo di serambi sambil menjublek kehilangan akal.
Ji Bun langsung menyelinap masuk ke kamar. Seketika dia berseru kaget. Di atas lantai dalam kamar
rebah celentang seorang perempuan tua berpakaian hijau, darah berceceran, di samping mayat
menggeletak sepotong batu jade berlubang tiga, itulah cincin tiga lubang yang dibicarakan orang banyak.
Ji Bun menjemputnya dan diperiksa, ia kenal inilah Sam-cay-ciat yang biasa dipakai oleh Thian-thay-moki.
Dari dandanan orang tua ini, Ji Bun yakin dia pasti Sam-cay Lolo, guru Thian-thay-mo-ki. Di mana Thianthay-
mo-ki? Orang bilang kamar ini dihuni dua orang tua dan muda, yang muda genit pasti Thian-thay-mo-ki
adanya.
Waktu Ji Bun berdiri dan membalik badan, pandangannya menjadi canang. Dinding di pinggir jendela
sana terlihat ada beberapa lubang yang tak terhitung jumlahnya. tiga lubang menjadi satu kelompok, itulah
bekas-bekas yang ditinggalkan oleh ilmu Sam-cay-cui-hun kebanggaan Sam cay Lolo.
Sam-cay Lolo cukup tenar dan merupakan tokoh kosen kelas wahid. Kepandaiannya hanya setingkat di
bawah Thong-sian Hwesio. Golongan hitam putih sama jeri berhadapan dengan Sam-cay-cui-hun. Lalu
siapakah yang mampu membunuh pendekar aneh perempuan tua di hotel ini? Apa pula tujuannya?
Ji Bun membatin: "Kejadian ini pasti sebelum aku masuk ke hotel ini, kelihatan mereka juga bertempur
lebih dulu, kalau tidak masakah dirinya tidak mendengar apa-apa, lalu siapakah pembunuhnya, hanya
beberapa gelintir jago silat saja yang mampu membunuhnya."
Sam-cay Lolo terbunuh, bagaimana nasib Thian-thay-mo-ki dapat dibayangkan. Keruan hati Ji Bun
gelisah, dia merasa terlalu banyak utang budi kepada Thian-thay-mo-ki, perbuatan sendiri setengah tahun
yang lalu juga keterlaluan.
Mendadak seorang tua berpakaian hitam melongok sekali ke dalam kamar, seketika mukanya pucat pias.
dia menghampiri pemilik hotel serta berbisik: "Jangan ribut-ribut, lekas dikebumikan, tak usah lapor kepada
yang berwajib, supaya hotelmu tidak mengalami gangguan."
Habis berkata dia menyurut mundur terus tinggal pergi.
"Berhenti!" Ji Bun menghardik.
Laki-laki baju hitam menoleh, dilihatnya cuma seorang pemuda berdandan pelajar, nyalinya menjadi
besar, namun mimiknya yang kaget dan takut masih kelihatan, suaranya gemetar: "Siau-hiap ini ada
petunjuk apa?"
"Siapa yang membunuh di sini?"
"Ini ..... ini .......”
"Lekas katakan."
"Apakah Siau-hiap tidak melihat cap pupur di atas dinding itu .......”
Baru sekarang Ji Bun sempat memeriksa keadaan kamar, dilihatnya di dinding memang terdapat sebuah
cap sebesar telapak tangan, bentuknya mirip sekuntum bunga Bwe, keruan dia heran dan tak mengerti,
tanyanya: "Cap kembang Bwe, memangnya kenapa?"
"Masakah Siauhiap tidak tahu?"
"Kalau tahu buat apa tanya padamu."
"Ini .... ini .... aku tidak berani menjelaskan," mendadak dia putar tubuh terus menyelinap pergi di antara
orang banyak, lekas sekali bayangannya sudah lenyap.
Pertanda apakah cap bunga Bwe ini? Ji Bun tidak habis pikir, kenapa orang tua itu begitu ketakutan?
Kalau bukan tanda khas seseorang yang ditakuti pasti merupakan tanda pengenal dari suatu perkumpulan
rahasia. Sekian lama dia menjublek, akhirnya dia mencari daya untuk menyelidiki pembunuhan ini, maka dia
memberi uang kepada pemilik hotel serta menyuruhnya mengubur mayat Sam-cay Lolo. Lalu dia masukkan
Sam-cay-ciat ke dalam kantong.
Menghadapi hidangan di kamarnya, Ji Bun tiada selera makan lagi, otaknya memikirkan peristiwa aneh
ini. Kebetulan pelayan masuk membereskan mangkok piring dan berkata dengan cengar-cengir: "Siangkong,
di dalam kamar begini gerah, kenapa tidak cari angin di luar?"
Tiba-tiba timbul ilham Ji Bun, segera ia merogoh uang dan berkata: "Siau-jiko, 10 tail ini berikan kepada
majikanmu untuk ongkos penguburan, beberapa uang receh ini kuberikan kepadamu, pergilah ke toko
belikan sebatang kipas lempit berwarna, hitam legam."
"Kipas Hitam?”
"Ya, kipas lempit warna hitam polos, jangan yang bergambar atau sudah ada tulisannya, cukup yang
bertulang bambu saja."
"Kipas tulang bambu cukup murah, uang sebanyak ini .....”
“Sisanya boleh kau miliki."
"Terima kasih Siangkong, sebentar kuambilkan sepoci air teh dulu, segera kubelikan kipas ke toko
sebelah."
Seorang diri Ji Bun mondar-mandir di dalam kamarnya, dia merancang akal supaya lebih matang sesuai
dengan rencananya untuk mengejar jejak si pembunuh. Tidak lama menunggu pelayan itu telah kembali
dengan berseri tawa, tujuh delapan kipas lempit dia taruh di atas meja.
"Kau pandai bekerja. kalau perlu nanti kupanggil kau lagi," kata Ji Bun.
15.43. Misteri Perkumpulan Ngo-hong-kau
Pelayan itu mengundurkan diri sambil menutup pintu dari luar.
Sekenanya Ji Bun jemput sebatang kipas terus dibeber, dengan handuk basah dia basahi permukaan
kipas hitam itu lalu menyelinap masuk ke kamar sebelah. Kipas hitam yang basah segera dia tempel dan
tekan pada cap kembang pupur di atas dinding itu. Cap pupur kembang itu segera mengecap balik di atas
kipasnya. Sekembali di kamarnya dia keringkan kipasnya, lalu kipas itu dilempitnya pula, kemudian ia
berjalan keluar.
Di jalanan Ji Bun sengaja pentang kipas hitamnya, bagian yang ada cap kembang sengaja dia unjuk ke
depan, sambil jalan dia goyang-goyang kipas seperti pelajar umumnya, dia mondar mandir di jalan raya
yang banyak dilalui orang.
Di antara sekian banyak orang-orang yang lewat tidak sedikit kaum persilatan. Begitu melihat cap
kembang di kipasnya, berubah air muka mereka dan cepat menyingkir pergi. Seperti tidak terjadi sesuatu, Ji
Bun putar kayun lalu mampir di sebuah warung teh yang berloteng. Sambil menikmati air teh, sering dia
gunakan kipas untuk menghilangkan rasa gerah badannya. Aneh sekali, tamu lain satu persatu juga
mengundurkan diri.
Ji Bun menunggu dengan sabar, didapatinya seorang tua baju hitam bersama seorang laki-laki kekar
lainnya baru datang dan mengunjuk mimik heran dan kaget pada dirinya. Mereka bisik-bisik sambil melirik
ke arahnya, diam-diam girang hati Ji Bun, segera dia buka suara dan bersenandung. Bait-bait syair yang
dibawakan dalam senandungnya tidak serasi satu sama lain, namun laki-laki baju hitam itu berubah air
mukanya, bergegas aia berdiri menghampiri Ji Bun, katanya sambil menyengir: "Bolehkah Lohu duduk di
sini?”
"Kenapa boleh?" Ji Bun menyilakan.
Setelah duduk orang ini mengawasi Ji Bun dengan curiga, lalu berkata dengan suara lirih sekali, "Apakah
kau duta pusat?"
Berdebar jantung Ji Bun, mungkin syair-syair senandungnya tadi secara tidak sengaja tepat mengenai
sandi-sandi rahasia perkumpulan mereka. Dari sini dia menarik kesimpulan bahwa cap kembang ini pasti
merupakan tanda pengenal dari suatu perkumpulan di Bu-lim, maka dengan wajah serius dia mengiakan.
Terunjuk sikap gelisah pada wajah orang baju hitam, serunya tersipu-sipu: "Hamba Tio Wi-kong, pejabat
Hiangcu dari anak cabang kedua, tidak tahu kedatangan yang mulia, harap dimaafkan akan keteledoran ini,"
sembari bicara iapun berdiri.
"Duduklah!"
"Hamba tidak berani ......”
"Aku yang suruh kau duduk"
"Kalau begitu, hamba memberanikan diri, maaf."
Otak Ji Bun bekerja cepat, orang pandang dirinya utusan dari markas pusat. Ia menduga perkumpulan
yang menggunakan tanda pengenal cap kembang ini pasti teramat besar dan mewah, kedudukan duta dari
pusat juga teramat tinggi, maka dia cari daya untuk mengorek keterangannya dari mulut orang ini, namun
dia harus hati-hati supaya tidak mengunjuk tanda-tanda yang mencurigakan.
Beberapa kali mulut Tio Wi-kong sudah terbuka hendak bicara, tapi selalu urung. Ji Bun diam saja, ia
pikir, gunakan titik kelemahan orang, mungkin bisa dikorek sedikit keterangan dari mulutnya. Maka dia
mencobanya: "Apakah Tio-hiangcu ada waktu senggang?"
Serius wajah Tio Wi-kong, sahutnya: "Mana berani, hamba bertanggung jawab terhadap semua mata
telinga yang disebar di sini."
"Ehm, tugasmu cukup berat dan besar artinya, Hiangcu harus bekerja baik dan hati-hati."
"Ya, ya, mohon petunjuk."
Tidak tahu Ji Bun dengan cara apa dia harus mengorek keterangan orang, terpaksa sekenanya dia
bicara: "Mengenai peristiwa di hotel itu ........” sampai disini dia berhenti sambil mengawasi mimik muka
orang, betul juga orang baju hitam tertegun sebentar, seperti sangsi dan heran, lalu sahutnya tergagap:
"Apakah duta tidak mengetahui ........”
Tahu pertanyaannya meleset dan menimbulkan curiga orang, lekas Ji Bun unjuk senyuman, katanya
tawar. "Tidak, hanya kutanya sekenanya saja, karena ......." sengaja tidak dia lanjutkan, supaya tidak salah
omong.
Sudah tentu Tio Wi-kong tidak berani tanya lagi, sekenanya ia berkata: "Apakah Duta sudah bertemu
dengan pimpinan anak cabang?"
"O, belum, aku tidak akan menemuinya, ada tugas lain yang harus kukerjakan."
"Apakah Duta tidak sejalan dengan kedua orang yang ditugaskan menggusur perempuan itu?"
Senang hati Ji Bun, tanpa ditanya orang menyinggung kepersoalan yang ingin diketahuinya, ia pura-pura
bersikap penuh rahasia, katanya: "Sudah tentu sejalan, namun aku ada tugas lain lagi, karena ......." katakata
ini melanjutkan ucapannya tadi "karena pusat mensinyalir adanya seseorang yang mencampuri urusan
ini, maka aku ditugaskan untuk menyelidiki."
Bualannya memang tepat dan masuk akal, maka Tio Wi-kong tidak menaruh curiga, katanya: “Entah
siapakah ....?”
Dengan serius Ji Bun berkata: "Te-gak Suseng "
Kaget Tio Wi-kong, laki-laki berbaju hitam ini, serunya: "Bukankah Te-gak Suseng sudah mati di Tongpek-
san?"
Ji Bun menggertak gigi, katanya: "Siapa bilang, memangnya Te-gak Suseng gampang mati, kuburannya
itu palsu."
Melotot biji mata Tio Wi-kong, melenggong karena ucapan Ji Bun, sesaat baru dia berkata: “Urusan ini
cukup genting, hamba harus segera menyebar kaki tangan ........”
"Jangan hal ini kau bocorkan."
Tio Wi-kong mengiakan sambil munduk-munduk.
"Oleh karena itu, eh, ya, untung bertemu dengan kau, beritahukan rencana gerakan pihak sini supaya
aku tidak susah-susah putar kayun lagi."
Tio Wi-kong melirik sekelilingnya dulu, setelah jelas tiada orang memperhatikan, lalu dengan suara lirih ia
berkata: “Kaucu sendiri yang turun tangan .........”
Sedikit berubah air muka Ji Bun. Kaucu? Kaucu dari mana? Apakah Bwe-hoa-kau? Jadi Sam-cay Lolo mati
di tangan Kaucu mereka. Tiba-tiba ia tersentak sadar, orang sedang mengawasi wajahnya, tahu dirinya
telah mengunjuk gejala-gejala yang mencurigakan, maka cepat ia berkata; "Coba lanjutkan.”
"Ya, karena perjalanan cukup jauh, maka sementara digusur ke cabang, baru saja dua Duta datang, kata
mereka mendapat tugas untuk menggiringnya besok pagi ke markas pusat, pihak kami cukup menyediakan
sebuah kereta saja."
Ji Bun manggut-manggut, otaknya bekerja, tiba-tiba pikirannya tergerak, terpikir olehnya majikan yang
pernah dikatakan Kwe-loh-jin itu mungkin adalah Kaucu ini? Inilah kesempatan baik untuk menyelidiki,
sekali-kali jangan diabaikan saja. Ia coba tanya: "Apakah Hiangcu ada di tempat sekarang?"
Agaknya Tio Wi kong merasa bangga karena berkesempatan menjilat kepada utusan dari pusat, lekas ia
menjawab: "Hamba sekalian siap menunggu perintah."
Ji Bun pura-pura berpikir, katanya kalem: "Sebetulnya tiada urusan apa-apa, cuma Hiangcu orang sini
apal seluk beluk, ada urusan kecil perlu bantuan ........”
"Tidak berani, silakan Duta katakan saja."
"Siapakah orang itu?" tanya Ji Bun sambil menunjuk dengan gerakan bibir ke arah laki-laki yang semeja
dengan Tio Wi-kong tadi.
"O, dia seorang Thaubak pembantu hamba."
"Baik, kalian berdua boleh keluar kota .......”
"Apakah ke Lam-seng?"
"Betul, aku akan berangkat lebih dulu," Ji Bun lantas berdiri sambil merogoh saku.
"Silakan Duta berangkat saja, rekeningnya biar hamba yang bayar."
"Baiklah, kalian harus segera datang, jangan beritahu orang lain."
Setelah meninggalkan warung teh, Ji Bun langsung menuju ke selatan, memangnya dia tidak membawa
bekal apa-apa, maka tidak perlu kembali ke hotel, baru saja dia membelok ke jalan besar, seorang pengemis
tua mata satu tiba-tiba mendatangi dengan langkah terserot-serot. "Eh, kau!" tiba-tiba pengemis itu berseru
dan melotot, berhenti dan mencegat di depan Ji Bun.
Ji Bun melengak, dilihatnya pengemis tua ini tidak pernah dikenalnya. “Tuan ..... tuan ada perlu apa?”
tanyanya.
Pengemis tua itu unjuk senyum lebar, katanya "Hiante, masa kau tidak kenal suaraku lagi? Setengah
tahun lamanya, hampir kedua kakiku patah mencari kau.”
Seketika berkobar semangat Ji Bun, tak pernah disangkanya di sini dia bakal bertemu dengan Sian-tiankhek
Ui Bing murid Biau-jiu Siansing.
"Siaute mohon maaf," Ji Bun berkata penuh sesal.
"Guruku mengerahkan puluhan orang, minta bantuan pihak Kay-pang pula," demikian Ui Bing
menjelaskan, "jejakmu dicari di segala pelosok, gelagatnya kau malah, adem ayem saja, dimana kau selama
setengah tahun ini?"
"Toako, sekarang aku ada urusan, nanti saja kita bicara lagi!"
Seorang pengemis tua yang kotor, berbicara dengan seorang pelajar yang berpakaian bersih dan cakap
di tengah jalan raya, sudah tentu menarik perhatian banyak orang.
Ui Bing tahu diri lekas dia berbisik; "Baiklah, kau berangkat lebih dulu.” Sambil bertopang tongkat Pakkau-
pang, dengan terserot-serot dia melangkah pergi.
Ji Bun mempercepat langkahnya, lewat jalan kecil yang lebih dekat, ia langsung menuju ke pintu selatan,
ia menyusur jalan kampung terus naik ke atas gundukan tanah tinggi. Saat mana menjelang kentongan
ketiga, kalau di dalam kota masih ramai, di luar kota sebaliknya sudah sepi, tidak kelihatan ada bayangan
orang.
Baru saja Ji Bun tiba di atas bukit, Ui Bing juga lantas tiba, memang tidak malu dia dijuluki Sian-tiankhek,
namun bagi pandangan Ji Bun sekarang yang telah mempelajari ilmu tingkat tinggi Ban-tok-bun,
kepandaian orang hanya biasa saja, tiada yang perlu dibanggakan.
Setiba di atas bukit Ui Bing segera bertanya: "Ada apa Hiante?”
“Aku menunggu orang."
“Siapa?"
“Aku belum tahu siapa mereka, yang jelas dia adalah seorang Hiangcu dari pimpinan sebuah anak
cabang dari suatu ‘Kau’ entah apa namanya."
Ui Bing tampak kaget, katanya: "Apakah mereka menggunakan tanda kembang Bwe?"
"Ya, kenapa? Toako tahu perkumpulan mereka?"
"Namanya Ngo-hong-kau, baru beberapa bulan ini timbul di kalangan Kangouw, namun gerakan, mereka
sudah menggemparkan Bu-lim."
"Ngo-hong-kau? Siapakah Kaucunya?"
"Belum diketahui, kabarnya orangnya yang berhasil merebut Hud-sim."
"Bagaimana bisa diketahui bahwa Ngo-hong-kaucu adalah adalah orang yang berhasil merebut Hudsim?"
"Masa kau belum tahu, Bu-lim sudah geger, memangnya di mana saja kau selama ini?"
Karena aturan perguruan yang keras, tidak mungkin Ji Bun menjelaskan rahasia Ban-tok-bun, maka ia
menjawab seenaknya saja: "Siaute mengalami hal yang aneh, terpaksa menyepi setengah tahun."
Lalu dia alihkan pembicaraan: "Toako, anting-anting yang kutitip padamu untuk dikembalikan kepada
keluarga Ciang, bagaimana akhirnya?"
"Aku dicaci maki oleh Ciang-lothau, masakah tanda pertunangan boleh sembarangan dikembalikan ........”
"Bagaimana reaksi Ciang Bing-cu?"
"Waktu itu dia hendak mencukur rambut menjadi Nikoh, untung berhasil dibujuk," lalu dengan nada
prihatin ia menyambung, "Hiante, begitu besar dan luhur cinta nona Ciang, jangan kau menyia-nyiakan
harapannya."
"Soal ini kelak dibicarakan saja, apakah yang terjadi belakangan ini, kenapa Bu-lim sampai geger?"
"Petaka di Bu-lim mulai bersemi, agaknya sukar dihindari bakal terjadi bencana berdarah ini," ujar Ui
Bing. "Tiga bulan yang lalu, beruntun terjadi peristiwa besar di Bu-lim, semua yang terbunuh adalah tokohtokoh
kenamaan dari aliran baik, di tempat yang ditinggalkan cap bunga Bwe, tak lama kemudian lantas
muncul perkumpulan yang bernama Ngo-hong-kau ........”
"Langkah pertama mereka mencaplok Sin-eng-pang dan dijadikan cabang ketiga, disusul Ngo-lui-kong
yang kini dinyatakan sebagai cabang utama dari Ngo-hong-kau, yang lain-lain umpamanya It-kiam-hwe,
Ang-eng-pang dan sindikat-sindikat kecil lain, semua ditelan mentah-mentah."
"Tidak kecil ambisi mereka?"
"Ya, sampai keluarga Ciang di Kay-hong juga dirampok habis-habisan, untung paman Ciang dan
puterinya sempat menyingkir."
Tergetar hati Ji Bun, tanyanya: “Bagaimana selanjutnya?”
"Markas Wi-to-hwe diserbu, ratusan anak buahnya gugur, Bu-cing-so dan Jay-ih-lo-sat gugur, Thong-sian
Hwesio terluka parah, untung isteri Wi-to-hwecu segera tiba, dengan gigih dia tempur Ngo-hong-kaucu,
kalau tidak tentu Wi-to-hwe sudah ditumpas habis, tapi Ngo-hong-kau pasti tidak akan tinggal diam."
Jantung Ji Bun berdebar keras, Bu-cing-so dan Jay-ih-lo-sat berkepandaian tinggi, jiwa merekapun
melayang, maka dapatlah dibayangkan betapa tinggi kepandaian Ngo hong-kaucu, sungguh amat
menakutkan. Untunglah Wi-to-hwecu dan Thong-sian Hwesio masih hidup, kelak masih sempat dia cari
kesempatan untuk menuntut balas.
"Kini tinggal Kay-pang dan beberapa aliran besar saja yang belum diusik."
"Toako tahu, Sam-cay Lolo juga sudah mati dan Thian-thay-mo-ki diculik mereka."
"Ya, bagaimana tindakan Hiante?"
"Aku akan menolongnya.”
"Kukira amat sulit."
“Siaute akan pertaruhkan jiwa raga."
"Di mana kira-kira sekarang dia disekap?"
"Ada, hubungannya dengan orang yang kujanjikan kemari ini. Toako tahu di mana letak markas cabang
mereka di kota ini?.''
"Aku sendiri belum menemukan, tapi tidak sulit untuk menyelidiki."
"Nah, itulah mereka datang, Toako tak usah ikut bicara.”
Dua bayangan orang tampak berlari naik ke atas bukit, gerak-gerik mereka cukup cekatan, agaknya
berkepandaian lumayan. Begitu tiba di bawah bukit, Hiangcu yang bernama Tio Wi-kong segera bersuara
"Apakah Duta ada di atas?”
"Ya, aku di sini, kalian boleh kemari," Ji Bun mengiakan.
Begitu tiba di atas bukit Tio Wi-kong berdua tertegun melihat kehadiran Ui Bing. Lekas Ji Bun berkata
dengan angkuh, ”Orang sendiri, tidak usah kuatir."
Tio Wi-kong bersama anak buahnya segera memberi hormat kepada Ji Bun, dengan lirikan curiga dan
tidak tenteram dia pandang Ui Bing yang menyamar jadi pengemis tua bermata satu, lalu Tio Wi-kong
berkata penuh hormat: "Duta ada perintah apa, silakan pesan saja."
Tujuan Ji Bun mengundang kedua orang ini adalah untuk mendapatkan keterangan supaya lebih leluasa
menolong Thian-thay-mo-ki. Sekilas dia melirik Ui Bing, lalu pandang laki-laki baju hitam di depannya dan
katanya: "Kau, siapa namamu?”
Seperti takut tapi juga senang sikap laki-laki ini dengan munduk-munduk sahutnya tergagap: "Tecu ......
seorang Thaubak di bawah pimpinan Tio-hiangcu, bernama Ci Tay-khing, mohon Duta suka memberi
bimbingan."
"Ehm," dengus Ji Bun, lalu berkata dengan nada lebih kereng: "Agaknya kau pintar dan cekatan bekerja,
kelak pasti ada harapan ditarik ke markas pusat."
Laki-laki baju hitam munduk-munduk lagi, suaranya gemetar senang: "Semua berkat bantuan Duta."
Ji Bun menunjuk Ui Bing, katanya: "Dia ini Duta rahasia dari pusat. Dia ingin berhadapan langsung
seorang diri dengan ketua cabang kalian, baru pertama kali dia kemari, belum tahu jalan dan seluk beluk di
sini, supaya tidak terlalu banyak orang tahu jejaknya, kaulah yang ditugaskan menunjuk jalan baginya."
Laki-laki baju hitam mengiakan, lalu dia memberi hormat kepada Ui Bing, katanya: "Silakan ikut hamba."
Sikap Ui Bing lebih sombong, tongkat penggebuk anjing di tangannya terangkat, suaranya keluar dari
hidung. "Ya, tunjukkan jalan."
Dengan langkah tergopoh-gopoh laki-laki baju hitam putar tubuh terus lari turun bukit kecil ini. Ui Bing
sedikit mengangguk, pertanda bahwa dia tahu maksud Ji Bun, lekas sekali dia melompat turun ke bawah
pula.
Setelah kedua orang tak kelihatan bayangannya, sorot mata Ji Bun tiba-tiba mencorong, dengan suara
dingin ia mendesis: "Kau tahu siapa aku?”
Agaknya Tio Wi-kong belum tahu persoalan apa yang ditanyakan, seketika dia melenggong, sahutnya
ragu-ragu: "Entah siapakah nama Duta yang terhormat .......”
"Aku inilah Te-gak Suseng."
"Hah!" Tio Wi-kong kaget setengah mati, mukanya pucat terus putar tubuh hendak lari.
"Jangan bergerak," bentak Ji Bun, "kau takkan bisa lolos, sekarang katakan, siapa Kaucu kalian? Dimana
letak markas pusatnya?"
"Ini ....... tidak tahu."
Ji Bun berkata pula, suaranya bengis berwibawa: "Orang she Tio, bicaralah terus terang .......”
Serta merta Tio Wi-kong menyurut mundur, wajahnya yang semula kelihatan pucat ketakutan kini
berubah menyeringai, jari-jari tangannya mengusap ke mulut, katanya: “Kau mau apa?"
"Jawab pertanyaanku."
"Te-gak Suseng, yang kau andalkan hanya Bu-ing-cui-sim-jiu, nah kau boleh coba atas, diriku."
Ji Bun tertegun malah, apakah orang ini tidak takut terhadap racun? Kalau dia ini sekomplotan dengan
Kwe-loh-jin dan lain-lain, maka tidak perlu dibuat heran. Kini dia menjadi paham, jari-jari tangan orang
mengusap mulut tadi mungkin menelan obat penawarnya, maka dia berani bicara besar dan garang. Namun
Ji Bun sekarang bukan Ji Bun setengah tahun yang lalu, katanya: "Aku takkan menggunakan tangan
beracun, kalau kau mampu melawan sejurus saja, kau boleh pergi sesukamu."
"Memangnya kau mampu menahanku di sini?” jengek Tio Wi-kong.
"Nah, cobalah," ujar Ji Bun, sebelah tangannya terus memotong miring ke depan, kelihatannya gerakan
tangan ini enteng dan tidak menggunakan tenaga, namun kekuatannya dahsyat luar biasa. Tio Wi-kong
memutar kedua tangan turun naik menyerang sambil bertahan. Dinilai permainannya, memang dia terhitung
jago kelas tinggi dikalangan Kang-ouw. Baru saja serang menyerang kedua pihak berlangsung, tenaga yang
dikerahkan telapak tangan Ji Bun tiba-tiba dimuntahkan, kekuatannya sungguh hebat dan tidak
terbendungkan.
"Huuuuaaaah!" ditengah jeritan ngeri Tio Wi-kong muntah darah, kakinya mundur beberapa langkah,
akhirnya jatuh terduduk.
Sesosok bayangan melayang turun dengan enteng, kiranya Sian-tian-khek yang menyaru jadi pengemis
telah putar balik.
"Bagaimana Toako?” tanya Ji Bun.
"Jalan menuju ke markas cabang sudah kuketahui."
"Mana orang itu?''
"Sudah kuantar dia pulang ke neraka. Lihay juga dia, pandai main racun. Kalau aku tidak segera turun
tangan, hampir saja aku dikibuli."
"Seeeer!" tiba-tiba sejalur api menyala menjulang tinggi ke angkasa. Kiranya melihat gelagat tidak
menguntungkan, dikala kedua orang bicara, diam-diam Tio Wi-kong menyambitkan panah berapi ke udara
untuk minta bala bantuan.
Ji Bun mendengus sekali, tahu-tahu tubuhnya melejit tinggi, badannya berputar secepat kitaran, mumbul
laksana roket meluncur, melampaui luncuran panah berapi dan mengebasnya jatuh di tengah angkasa,
maka berpijarlah kembang api beterbangan di udara dan berjatuhan. Cepat sekali dan seenteng kipas Ji Bun
meluncur turun pula. Lwekang tingkat tinggi yang berhasil dipelajarinya dari perguruan Ban-tok-bun dia
kombinasikan dengan Ginkang pusaran angin lesus yang dia pelajari dari orang tua aneh Giok-bin-hiap Cu
Kong-tam di dasar jurang itu, sekaligus dia demonstrasikan.
"Hiante," seru Ui Bing terbelalak, "terbuka mataku malam ini. Guruku terkenal oleh Ginkangnya yang
tinggi, agaknya beliau takkan lebih unggul dari pada kau."
Ji Bun geleng-geleng, sahutnya: "Ah, kau terlalu memuji.”
Tio Wi-kong berdiri menjublek, sukmanya serasa terbang dari raganya, mulut melongo, mata terbeliak,
hampir dia tidak percaya bahwa ini kenyataan.
Ji Bun putar badan dan berkata dengan bengis: "Sekarang jawablah beberapa pertanyaanku."
Tio Wi-kong menyurut mundur dengan ketakutan, namun dia masih bandel: "Tiada yang harus
kujelaskan."
Ji Bun mengertak gigi, katanya: "Pernah kau pikir cara bagaimana kematianmu nanti?"
Gemetar Tio Wi-kong melihat sorot mata Ji Bun: "Kuterima nasib. Jangan kau paksa aku."
"Memaksamu? Ha ha ha, sebaliknya sudah lama aku menahan diri, baru sekarang aku menemui sasaran
yang tepat untuk menagihnya."
"Aku utang apa terhadapmu?"
"Boleh kau tanya Kaucu kalian."
"Apa yang hendak kau lakukan terhadapku?"
"Kau bicara terus terang, kuampuni jiwamu."
"Anak didik Ngo-hong-kau tidak gentar diancam dan disiksa, mau bunuh atau disembelih silakan lekas,
pasti ada orang yang akan membuat perhitungan padamu nanti."
"Memangnya tulang-tulangmu sekeras besi?"
Tio Wi-kong balas dengan mendengus tanpa menjawab.
"Hiante," sela Ui Bing, "jangan membuang waktu, gerak gerik Ngo-hong-kaucu serba misterius. Anak
buahnya sendiri tiada yang pernah melihat wajah aslinya. Kalau kita menemui ketua cabang mungkin bisa
berhasil."
15.44. Duta Istimewa Ngo-hong-kau
"Darimana kau bisa berpendapat demikian?" tanya Ji Bun.
"Ada seorang Tongcu dari Ngo-hong-kau yang tertawan oleh Wi-to-hwe, meski dikorek, hasilnya tetap
nihil."
Ji Bun sudah angkat tangan hendak membunuh Tio Wi-kong, namun tiba-tiba dia ingat akan pantang
perguruan, apakah ini juga termasuk membunuh secara semena-mena? Yang terang orang ini memang
belum setimpal dihukum mati, maka gerakan tangan yang membelah dia ubah jadi tutukan, ilmu orang dia
punahkan, ditambah tutukan jalan darah menidurnya, lalu katanya kepada Ui Bing: "Toako, berapa lama lagi
akan kentongan kelima, marilah kita tunggu saja di sekitar luar pintu kota."
"Menunggu apa?" tanya Ui Bing.
"Mereka hendak menggusur Thian-thay-mo-ki ke markas pusat, antara kentongan kelima akan keluar
dari pintu selatan."
“O, Hiante, kukira kita tidak perlu turun tangan tergesa-gesa."
"Kenapa?"
"Kuntit mereka, supaya tahu di mana letak markas mereka."
"Ya, akal bagus. Marilah!" mereka turun dari bukit langsung menuju ke selatan dan sembunyi di semaksemak.
Ayam sudah berkokok, lekas sekali fajar telah menyingsing, asap dapur sudah mengepul tinggi dari
rumah-rumah penduduk dalam kota, namun sejauh ini tidak tampak sebuah keretapun yang keluar kota.
Ji Bun gugup dan naik pitam, dia merasa telah dikibuli, hawa marahnya menjadi berkobar, katanya
kepada Ui Bing: "Tunggulah sebentar di sini!"
Sekali lompat dia meluncur balik ke arah bukit kecil tadi, namun setiba di tempat, seketika dia menjadi
lesu. Tio Wi-kong yang ditutuknya tadi sudah tidak kelihatan bayangannya. Setelah ilmu silatnya punah, di
tutuk lagi sehingga tidur pulas, untuk siuman juga perlu berselang dua jam kemudian, agaknya dia telah
ditolong orang.
Dengan adanya kejadian ini, sudah tentu pihak musuh akan berubah siasat, sebaliknya dirinya bersama
Ui Bing menunggu angin secara sia-sia. Diam-diam ia menyesal kenapa tadi bertindak kurang tegas, kalau
Tio Wi-kong dibunuh, mungkin situasi tidak akan berubah, kejadian ini betul-betul ibarat "menyingkap
rumput mengejutkan ular", urusan akan semakin rumit dan sukar dibereskan.
Ui Bing bilang Kaucu Ngo-hong-kau adalah orang yang berhasil rebut Hud-sim, namun menurut apa yang
dia tahu Hud-sim akhirnya terjatuh ke tangan Kwe-loh-jin, ini membuktikan bahwa Ngo-hong-kaucu pasti
majikan Kwe loh-jin dan laki-laki tak dikenal yang pernah membunuhnya tempo hari, maka persoalan
sekarang bertambah ruwet. Bukan saja harus menolong Thian-thay-mo-ki, ibunyapun berada di tangan
mereka, mati hidupnya sukar diramal. Keruan giginya berkerutuk saking gemas dan geram, hatinya panas
dan gelisah seperti semut di dalam wajan.
Hari sudah terang tanah, lalu lintas sudah ramai di jalan raya. Tak lama kemudian Ui Bing juga menyusul
ke atas bukit. Keduanya hanya saling pandang dengan melongo.
Sekonyong-konyong sebuah suara melengking dingin berkumandang: "Te-gak Suseng, tibalah sekarang
saat kematianmu."
Ji Bun dan Ui Bing kaget dan sama-sama menoleh, tampak dari balik pohon di belakang bukit sana
muncul dua orang, ternyata dua pemuda berbaju sutera yang bermuka tirus dan kejam, usianya sekitar
likuran tahun, satu diantaranya berhidung betet, matanya jalang sadis, seorang lagi kulit mukanya kasar dan
beringas, keduanya tampak cekatan, langkahnya enteng.
Ji Bun menyapu pandang, jangeknya: "Kalian pasti anak buah Ngo-hong-kau?"
Pemuda berhidung betet menjawab dengan suara sumbang: "Betul, kami adalah Ngo-hong-su-cia."
"Ada petunjuk apa?"
"Akan memenggal batok kepalamu."
"Kalau kalian mampu, boleh ambil saja."
Ngo-hong-su-cia yang bermuka kasar ikut bicara: "Te-gak Suseng, ada pesan apa lekas katakan
kepadaku saja."
Terpancar sinar cemerlang dari biji mata Ji Bun, tanya garang: "Dimana Thian-thay-mo-ki yang kalian
tawan itu?"
"Kau ingin tahu? Sekarang dia sudah menjadi teman seranjang Kaucu kami."
Darah seketika tersirap ke atas kepala Ji Bun, hardiknya: "Ingin mampus kau!"
Telapak tangannya segera tegak dan menabas, utusan Ngo-hong-kau yang bicara tadi memapak maju,
dia menyambut secara kekerasan. Sementara temannya melompat menyingkir.
"Bluk!" suara menggelegar, keduanya sama-sama bertolak mundur setapak, hati Ji Bun mencelos, walau
dirinya belum kerahkan seluruh kekuatan, namun musuh kuat melawan. Betapa tinggi kepandaian anak
muda ini sungguh amat mengejutkan. Tampaknya tidak lebih lemah dari pada Siang-tian-ong dan lain-lain,
tak heran Ngo-hong-kau berani bersimaharaja di Bu-lim.
Tapi kejut orang itu lebih besar, Lwekang Ji Bun agaknya di luar perhitungannya. Cepat sekali keduanya
sudah saling tubruk dan serang menyerang, pertempuran amat sengit dan dahsyat, dalam waktu singkat
susah dibayangkan pihak mana bakal menang.
“Pengemis tua,” ujar utusan yang lain, “biar kau kubereskan lebih dulu."
Tanpa banyak komentar segera dia menyerang Ui Bing. Hanya tiga gebrakan saja Ui Bing sudah terdesak
keripuhan, malah kemampuan untuk balas menyerangpun tiada, julukannya Sian-tian-khek, mestinya gerakgeriknya
cukup hebat, maka begiitu melihat gelagat jelek, selicin belut segera dia menyelinap keluar
gelanggang.
"Gerakan bagus, tapi jangan harap kau bisa lolos!" seru orang itu, tahu-tahu badannya berkelebat, Ui
Bing dipukul mundur pula oleh gerakan lawan yang lihay, kalau dalam keadaan biasa, mungkin Ui Bing
sudah lari, tapi Ji Bun masih berhantam dengan musuh, betapapun dia tidak tega lari seorang diri, namun
kepandaian lawan teramat tangguh bagi dirinya, hanya sedetik dia bimbang dan meleng badannya sudah
terpukul sekali.
Dengan menguak darah muntah dari mulut Ui Bing, tongkat ditangannyapun mencelat, terbang entah ke
mana, maklum dia bukan orang Kay-pang, tongkat itu hanya pelengkap dari penyamarannya, hakikatnya
tongkat itu bukan senjata andalannya.
Di sebelah sana kelihatan Ji Bun lebih unggul menghadapi orang itu, lawan didesaknya mundur berulangulang,
namun untuk menamatkan jiwanya tidak mungkin dilakukan dalam dua tiga gebrakan saja. Melihat Ui
Bing terluka, hati Ji Bun gelisah.
Terdengar orang yang berhadapan dengar, Ui Bing tengah membentak: "Pengemis tua, rebahlah kau!"
Jeritan ngeri segera bergema di lembah pegunungan menyusul suara bentakan tadi, Ui Bing tergulingguling
roboh.
Ji Bun betul-betul kaget, kini tiada pilihan lagi, seraya menghardik, jurus pertama Kian-ciau-kwi-cau
(burung terbang balik kesarang) dari Tok-jiu-sam-sek segera dia lancarkan.
Ban-Yu-siong, kakek gurunya itu pernah berpesan bahwa Tok-jiu-sim-sek terlalu ganas, sekali-kali tidak
boleh dilancarkan kalau tidak terpaksa, kini demi menolong jiwa Ui Bing, terpaksa dia berlaku tegas
melancarkan ilmu dahsyat ini.
Baru pertama kali ini Tok-jiu-sim-sek sejak diciptakan betul-betul digunakan untuk menyerang musuh,
sampai di mana kehebatan dan keganasannya, Ji Bun sendiripun belum tahu.
Dengan gerakan aneh dan cepat menakjubkan tangan beracunnya tahu-tahu menembus bayangan
pukulan lawan yang rapat tanpa setitik lubangpun, langsung mengincar ulu hati. "Ngek" gerungan tertahan
terdengar, suaranya rendah tapi menyayat hati, utusan itu terhuyung-huyung terus jatuh celentang, darah
membasahi dadanya, jiwanya seketika melayang.
Ji Bun sendiri seketika berdiri menjublek melihat hasil keganasan serangannya. Bu-ing-cui-sim-jiu sudah
terampuh tiada duanya dalam dunia ini, apalagi kerjanya racun amat pesat, begitu racun bekerja di dalam
badan, dewapun takkan bisa menolongnya.
Orang yang lain pecah nyalinya. dengan ketakutan tanpa buka suara segera ia ngacir sipat kuping.
Ji Bun lari ke sana memapah Ui Bing tanyanya: "Bagaimana Toako?"
Ui Bing sendiri juga melongo melihat kehebatan Ji Bun membunuh orang yang melukai dirinya itu sekian
lama dia terlongong tidak mampu menjawab.
Terpaksa Ji Bun mengulangi pertanyaannya, Ui Bing baru tersentak dan tertawa getir, katanya: "Jangan
kuatir, aku takkan mati."
Dengan kedua tangan Ji Bun pegang kedua pundak Ui Bing, tiba-tiba Ui Bing berteriak kaget dan ngeri:
"Hiante, tangan kirimu .......”
"O," ujar Ji Bun "tidak apa-apa!"
"Apakah ilmu beracunmu itu sudah punah?"
"Tidak."
"Wah, jiwaku bisa melayang?”
Ji Bun ragu-ragu sejenak, katanya: "Tanganku ini sekarang bisa membedakan musuh dan kawan sendiri,
kau takkan terluka, tidak usah kuatir."
"Ini ....... mungkinkah?"
"Toako, aku takkan menipumu, namun tak mungkin kujelaskan apa sebabnya, kuharap kau tidak tanya
soal ini."
“Jadi ada hubungannya dengan rejeki nomplok yang pernah kau katakan itu? Agaknya jerih payah
guruku akan sia-sia."
"Jerih payah gurumu apa maksudmu?"
"O, tidak, aku salah omong, maksudku jerih payah calon mertuamu Ciang Wi-bin ........”
"Jerih payah paman Ciang bagaimana?"
"Bukankah beliau pernah kirim kabar melalui guruku bahwa dia sudah mendapatkan resep untuk
memunahkan ilmu beracunmu itu?"
"Ya, gurumu pernah menyinggung soal ini, kenapa?"
"Di dalam sejilid kitab kuno yang hampir rusak, Ciang Wi-bin memperoleh resep obat yang khusus untuk
memunahkan macam racun, namun untuk lima macam di antara obat yang harus diraciknya, dia harus
merogoh kantong membayar tiga ribu tahil uang emas, uang bagi dia tidak soal, tiga laksa tahil emas juga
mampu dibayarnya .........”
"O," tidak tenteram hati Ji Bun.
Berkata Ui Bing lebih lanjut: "Demi perjodohanmu dan puterinya, Ciang Wi-bin betul-betul sudah
mempertaruhkan segala dayanya ......."
"Toako, hampir lupa kutanya padamu. Apa saja kerugian keluarga Ciang setelah dirampok oleh Ngohong-
kau?"
"Beberapa pembantu keluarganya gugur, tapi mereka ayah beranak sempat menyingkir, sayang semua
barang-barang antik dan barang-barang berharga lainnya telah dikuras habis."
"Dimana sekarang nona Ciang?"
"Entahlah, Ciang Wi-bin punya banyak tempat rahasia yang tersebar di mana-mana."
"Ehm, sampai di mana cerita Toako tadi?"
"Untuk melengkapi usahanya menolong kau, seorang diri beliau menuju ke barat naik ke Cong-lam-san."
Ji Bun merasa kikuk dan menyesal sekali, begitu besar perhatian orang terhadap dirinya, sebaliknya
dirinya bersikap tawar. Tanpa terasa jidatnya dibasahi keringat dingin tanyanya: "Obat apa yang hendak
dicari paman Ciang di Cong-lam-san?'
"Namanya Kim-sian-jau-koh, kecuali orang-orang yang ahli dalam bidang pengobatan tiada yang tahu
bila di dunia ini ada buah bergaris emas ini, konon hanya tumbuh dan berbuah di Cong-lam-san di tepi
'danau iblis'. Sudah tiga bulan ia pergi, sampai sekarang belum kunjung pulang. Danau iblis hanya pernah
kudengar dalam dongeng. Apakah beliau bisa menemukan tempat itu serta memperoleh buah yang
diharapkan, hanya Thian yang tahu."
Gelisah perasaaan Ji Bun, katanya haru: "Sudah tiga bulan beliau belum kembali?"
Ui Bing meringis menahan sakit, darah masih mengalir dari luka-lukanya, segera Ji Bun hendak
menolongnya, tapi Ui Bing menolak, ia duduk di atas batu dan mengeluarkan obat-obatan yang diperlukan,
lalu membalut lukanya sendiri.
JI Bun tak bersuara, dengan siaga dia berdiri di sampingnya, pikirannya kusut, hati tidak tenteram. Selagi
dia terlongong, tiba-tiba dilihatnya beberapa bayangan orang berlari-lari mendatangi dari beberapa arah,
tujuan ke bukit ini.
Ji Bun menoleh, dilihatnya Ui Bing tengah bersimpuh mengerahkan hawa murni untuk berobat diri
memulihkan kekuatan. Cepat Ji Bun menerawang situasi sekelilingnya. Cepat dia mundur dua tombak,
dipilihnya posisi yang lebih enak dengan membelakangi tanah tandus yang meninggi di sebelah belakang.
Dari sini dia lebih leluasa bergerak, sekaligus untuk mengawasi Ui Bing dan memberi pertolongan bila perlu.
Orang-orang itu cepat sekali sudah berdatangan dan berdiri membundar dari lima tombak jauhnya, yang
terdepan adalah seorang tua berwajah putih tidak berjenggot, mukanya segi tiga, bentuknya mirip kepala
ular berbisa. Disampingnya berdiri Ngo-hong-su-cia berhidung betet yang tadi melarikan diri. Agaknya
kedudukan orang tua ini lebih tinggi, yang lain-lain semuanya berseragam hitam. Terlebih dulu laki-laki tua
ini pandang mayat Ngo-hong-su-cia yang masih menggeletak di tanah berumput sana, sorot matanya yang
tajam segera menatap muka Ji Bun. Suaranya yang serak seperti gembreng pecah lantas berkata: "Te-gak
Suseng, berani kau membunuh Duta kami, memangnya kau sudah bosan hidup?"
"Siapa kau, sukalah perkenalkan diri?" tanya Ji Bun.
"Aku Duta istimewa Ngo-hong-kau Kian Ceng-san yang berkuasa di daerah barat ini."
Sudah tentu Ji Bun belum pernah kenal namanya. "Kau meluruk kemari dengan sekian banyak orang,
apa maksudmu?"
"Te-gak Suseng, sudah tahu jangan pura-pura tanya segala. Walau belum lama Ngo-hong-kau berdiri,
namun belum pernah melepaskan seorang musuhpun.”
"Kau begitu takabur. Kalau mampu, hayolah maju, tapi sebelumnya aku ingin tanya beberapa hal?"
"Coba katakan."
"Ada orang bernama Kwe-loh-jin, apakah dia anggota kalian?"
"Kwe-loh-jin? Belum pernah dengar."
Ji Bun melenggong, lalu tanya pula: “Di mana sekarang Thian-thay-mo-ki yang tertawan kalian? Kian
Ceng-san menyeringai lebar, gelak tawanya sengaja dibikin keras bagai srigala melolong, katanya "Dia, kini
sudah menjadi isteri Kaucu kami.”
Seperti disambar geledek kepala Ji Bun, rasa sakit hati seketika membakar dada, sorot matanya juga
mencorong menakutkan, desisnya: "Baik, akan kubuat perhitungan dengan Kaucu kalian."
“Memangnya kau setimpal?” desis orang itu.
"Masih ada sebuah pertanyaan, betulkah Kaucu kalian menahan seorang nyonya yang bernama Lan Gioktin?"
Berubah hebat air muka Kian Ceng-san, "Untuk apa kau tanya ini?" suaranya gemetar.
"Kau tidak perlu tahu, aku ingin mengunjungi Kaucu kalian, di mana letak markas pusat kalian?"
"Apa kau bermimpi. Sekarang kau tidak punya kesempatan."
"Kau mampu berbuat apa atas diriku?"
"Tidak perlu putar lidah, sekarang serahkan jiwamu,” sembari mengancam Kian Ceng-san meloncat tinggi
ke atas, laksana burung elang tiba menukik menubruk ke arah Ji Bun, jari-jari kedua tangannya terpentang
laksana cakar.
Ji Bun gerakkan kedua tangannya, hawa seketika bergolak dengan kekuatan bagai gugur gunung
menerjang ke arah Kian Ceng-san. Gerakan Kian Ceng-san seketika terbendung dan anjlok turun. Kini
keduanya berdiri berhadapan sejauh dua tombak, malah Ui Bing hanya delapan kaki disampingnya, keadaan
amat berbahaya, bila tujuan lawan mencelakal jiwa Ui Bing, pasti dengan mudah dapat dikerjakannya.
Oleh karena itu Ji Bun tidak berani ayal, kaki melangkah, sekaligus dia lancarkan Kian-ciau-kui-cau, jurus
pertama Tok-jiu-sam-sek, bagai kilat menyamber tangannya memotong ke depan.
Duta berhidung betet segera berseru memperingatkan: "Awas serangan ganas!”
Kepandaian Kian Ceng-san memang hebat. Hampir bersama dengan peringatan temannya, sebat sekali
dia sudah mencelat mundur setombak lebih. Ji Bun dibuat kaget malah, setiap kali jurus Tok-jiu-sam-sek
dilancarkan pasti melukai musuh namun lawan yang satu ini berhasil meloloskan diri tanpa kurang suatu
apa, terpaksa dia ulangi serangan yang pertama pula, Kian Ceng-san kembali menyurut mundur, namun dia
sudah terdesak dan tak mampu balas menyerang.
Sementara itu, si hidung betet secara diam-diam menubruk ke arah Ui Bing yang masih duduk
bersimpuh.
Perhatian Ji Bun tidak pernah kendor, mungkin karena dia harus membagi perhatian sehingga Tok-jiusam-
sek tidak bisa membawa hasil seperti yang diharapkan. Begitu melihat Duta hidung betet bergerak,
tangan kanan segera menghantam dengan kekuatan cukup keras. "Blang", si hidung betet terpukul telak
dan terlempar bergulingan. Tapi dalam waktu yang sama, angin pukulan Kian Ceng-san juga menggulung ke
arah Ji Bun.
Lekas Ji Bun tarik tangan menutup diri, namun hanya terpaut setengah detik, kontan dia terdorong
empat langkah, terasa olehnya Lwekang Kian Ceng-san tidak lebih lemah daripada Thong-sian Hwesio.
Jantungnya seketika mengencang, dia maklum bahwa pertempuran kali ini cukup berbahaya dan amat
menentukan langkah usaha selanjutnya.
Tatkala itu Ji Bun tergentak sempoyongan dan Duta hidung betet belum berdiri tegak, tiga laki-laki yang
berdiri di atas tanah tinggi sana mengira punya kesempatan turun tangan, serentak mereka melompat
menubruk Ui Bing.
Sedikit kerahkan tenaga, kaki Ji Bun menutul, bagai percikan api cepatnya tubuhnya berputar setengah
lingkaran, tahu-tahu dia sudah berdiri ditempat semula. "Bluuuk, huaaah!" jeritan secara beruntun. Ketiga
laki-laki itu satu persatu tersungkur roboh, jiwa melayang seketika. Kejadian ini betul-betul amat
mengejutkan semua hadirin, semuanya berdiri terbeliak.
"Te-gak Suseng," bentak Kian Ceng-san, "kau memang lihay dan bandel." Kedua tangan bertepuk terus
meraih membundar, dengan gerakan aneh tenaga serangannya bergulung-gulung dengan hebat.
Semakin tajam sorot mata Ji Bun. Segera dia songsong pukulan lawan dengan kekerasan, diam-diam ia
amat kaget karena Kian Ceng-san kebal akan racun Bu-ing-cui-sim-jiu.
Sudah tentu Duta hidung betet tidak mau membuang kesempatan. Begitu Ji Bun berhantam dengan Kian
Ceng-san, segera dia lontarkan Bik-khong-ciang, pukulan jarak jauh ke arah Ui Bing.
Kaget dan berubah air muka Ji Bun, jurus pertama Tok-jiu-sam-sek kembali dia lancarkan. Kian Ceng-san
sudah kapok dan tahu diri, lekas dia menyingkir, namun Ji Bun hanya bergerak setengah jalan, sebat sekali
dia putar balik dan kebetulan menyongsong pukulan si hidung betet yang menerjang ke arah Ui Bing,
pukulan angin ini cukup dahsyat. "Blang". Dengan badannya Ji Bun menerima pukulan ini secara mentahmentah.
Keruan saja dia sempoyongan dan mulutnya menggerung kesakitan, namun jiwa Ui Bing telah
diselamatkan. Kini dia harus ubah cara menghadapi lawan, dia mengadang di depan Ui Bing menghadapi
kedua musuh tangguh. Orang lain sementara tidak dihiraukan, yang terang kepandaian mereka hanya
sedang saja dan tak mungkin menimbulkan gara-gara.
Ditengah hardikan mengguntur, Kian Ceng-san bersama si hidung betet serempak menyerang. Ji Bun
mengertak gigi, dia menyongsong maju, tangan kanan menahan si hidung betet dan tangan kiri
menggunakan jurus kedua dari Tok-jiu-sam-sek yang bernama Tok-liong-cam-kau (naga beracun
membunuh ular).
"Hek," Kian Ceng-san terhuyung sambil meraba dada, mukanya pucat pasi. Sementara Ji Bun dan si
hidung betet sama-sama mundur setapak. Dalam gebrakan ini, karena Ji Bun harus memencar kekuatan,
maka jiwa Kian Ceng-san tidak sampai melayang. Tapi hal ini sudah cukup membuat Kian Ceng-san jera,
sekali ulap tangan segera dia mendahului lari mencawat ekor, agaknya luka-lukanya tak ringan, si hidung
betet juga tidak berani bertahan, segera dia memberi aba-aba, cepat iapun mendahului melesat pergi,
sudah tentu anak buahnya seperti anjing yang ketakutan lari pontang panting.
Nafsu Ji Bun masih berkobar, sekali jejak kakinya ia melambung tinggi meluncur beberapa tombak dan
turun di antara rombongan orang-orang yang tengah berlari. Di mana kaki tangan bergerak, jeritan saling
susul, dalam sekejap puluhan orang telah rebah tak bernyawa.
Karena menguatirkan keselamatan Ui Bing, dia tidak berani mengejar lebih lanjut dan kembali ke atas
bukit. Ternyata Ui Bing sudah selesai semadi dan luka-lukanya banyak sembuh, melihat sekelilingnya, dia
berdiri menjublek.
"Toako, kau tidak apa?" tanya Ji Bun.
"Hiante," ujar Ui Bing terharu dan berterima kasih, "syukur atas pertolonganmu. Siapakah mereka tadi?"
"Disamping pemuda yang lolos tadi, dia membawa Duta istimewa yang berkuasa di daerah barat sini
bernama Kian Ceng-san."
"Hah, Kian Ceng-san?" seru Ui Bing.
"Toako kenal orang ini?”
"Julukannya 'ulat menggeragot mayat', semula dia diangkat sebagai Bengcu kalangan hitam, namun
karena bertangan keji, tidak sedikit anak buah sendiri yang dibunuhnya, sehingga menimbulkan rasa
dendam khalayak ramai. Akhirnya dia kabur ke luar daerah, tak tahunya sekarang telah menjadi antek Ngohong-
kau."
"Tampangnya memang kejam menakutkan."
"Hiante, bagaimana langkah kita selanjutnya?”
"Beritahukan saja alamat markas cabang mereka padaku."
"Tidak, aku saja yang bawa kau ke sana."
"Jago-jago Ngo-hong-kau yang berkedudukan tinggi hampir rata-rata tidak gentar terhadap racun, hal ini
akan kuselidiki dan Toako jangan ikut menempuh bahaya."
"Aku akan tunggu di luar saja dan memberi bantuan apabila perlu."
Ui Bing berpikir sejenak, lalu katanya pula: "Begini saja, kau tunggu sebentar." Lalu dia lompat ke semaksemak
dalam hutan, hanya sebentar saja. Pengemis tua mata satu tahu-tahu sudah berubah jadi seorang
pelayan rumah makan dan berdiri dihadapan Ji Bun sambil membungkuk seraya berkata dengan tertawa:
"Siangkong, hamba unjuk hormat."
Ji Bun betul-betul kagum akan kepintaran orang menyamar.
"Hiante," kata Ui Bing kemudian, "nah, perhatikan, di sini letak cabang markas mereka. Kanan-kiri samasama
ada jalan tembus, biar aku tunggu kau di sini." Sembari menjelaskan Ui Bing mencoret-coret dengan
ranting kayu di atas tanah, lalu diusap dengan telapak kakinya. "Nah, aku berangkat lebih dulu," sekali
berkelebat bayangannya lenyap di balik bukit sana.
Ji Bun membetulkan pakaian yang kotor dan kusut, diapun berlari turun langsung menuju ke markas
cabang Ngo-hong-kau yang ditunjuk Ui Bing tadi. Banyak orang memperhatikan dirinya sepanjang jalan, tapi
Ji Bun tak ambil pusing.
Kedatangannya ini ada tiga tujuan, pertama untuk membuktikan apakah Thian-thay-mo-ki masih disekap
di markas cabang ini. Kedua, mencari tahu meski harus secara kekerasan, di mana letak markas pusat
mereka dan menolong ibunya. Ketiga, dia berharap bisa bertemu dengan Kwe-loh-jin atau orang-orang lain
yang pernah turun tangan terhadap dirinya.
15.45. Lorong Rahasia Ngo-hong-kau
Kira-kira semasakan air dia sudah tiba di tempat yang ditunjuk oleh Ui Bing. Pintu besar tertutup rapat,
suasana sunyi tidak kelihatan jejak manusia, mungkinkah markas cabang Ngo-hong-kau ada di sini? Ji Bun
menjublek di tempatnya. Mungkin Ui Bing tertipu? Tapi dia cukup cerdik dan cekatan, tak mungkin dikibuli
orang. Sesaat lamanya Ji Bun kebingungan, maju mundur serba salah. Tampaknya gedung ini tempat
tinggal keluarga besar, mungkinkah suatu cabang perkumpulan berada digedung yang sepi dan tidak terjaga
ini. Dilihatnya jalan raya ini hanya terdapat dua gedung besar dan luas.
Selagi Ji Bun berdiri bingung, tiba-tiba pintu besar yang bercat hitam itu pelan-pelan terbuka, seorang
laki-laki tua reyot menongol keluar. Begitu melihat Ji Bun berdiri di depan pintu, kepalanya lantas miringmiring
mengamatinya sekian lama, tanyanya dengan suara serak: "Kongcu ini mencari siapa?"
Serba susah Ji Bun menjawabnya, laki-laki tua ini tidak mirip seorang persilatan, namun tak mungkin dia
tidak menjawab pertanyaan orang, maka dia berkata: "Cayhe mohon bertemu dengan majikanmu."
"Majikanku? Apakah Kongcu tidak salah alamat?"
"Kukira tidak, betul gedung ini."
"Kongcu she apa? Pernah apa dengan majikan kami?"
"Setelah bertemu dengan majikanmu, dia tentu tahu."
"Majikanku takkan tahu untuk selamanya."
"Apa maksudmu?”
"Majikan sudah meninggal tiga tahun yang lalu, kini tinggal majikan perempuan dan puterinya berdua,
siapa yang hendak Kongcu temui?"
Ji Bun menjublek tak bisa bicara lagi. Laki-laki tua itu segera menarik kepalanya sambil menggerutu.
"Blang", dengan keras dia menutup daun pintu.
Ji Bun jadi geli sendiri, segera ia berlari-lari menuju ke tempat yang dijanjikan untuk bertemu dengan Ui
Bing. Setiba di lorong jalan sana dia putar ke kanan, dipengkolan jalan dilihatnya Ui Bing sedang berdiri di
depan sebuah rumah berloteng. Melihat Ji Bun lari mendatangi segera dia memberi isyarat kedipan mata,
sebat sekali dia menyelinap masuk ke rumah. Ji Bun langsung memburu masuk, serunya: "Salah alamat!"
Ui Bing berhenti di sudut yang gelap, katanya heran: "Apa katamu?"
Dengan lesu Ji Bun ceritakan pengalamannya tadi.
"Ai." Ui Bing membanting kaki. "kau tidak tahu seluk beluk dunia persilatan, tempat itu tidak akan salah,
mungkin di dalam markas cabang itu tiada jago yang mampu menghadapi kau, terpaksa mereka main
kucing-kucingan."
Sungguh malu dan gusar Ji Bun dibuatnya, kejadian apapun pernah dialaminya. Kini dirinya masih begini
gegabah, kenapa mau percaya obrolan orang begitu saja. Tanpa bersuara segera dia berlari kencang
menuju ke tempat semula.
"Hiante, jangan tergesa-gesa, marilah bicaralah dulu," teriak Ui Bing.
Ji Bun anggap tidak dengar, secepat kilat dia berlari ke lorong jalan sana. Pintu besar bercat hitam masih
tertutup rapat, suasana tetap sunyi senyap tidak kelihatan bayangan orang, namun keadaan Ji Bun berbeda
dengan datangnya semula. "Brak”, begitu tiba langsung dia angkat tangan menghantam ke arah pintu.
Suara gemuruh bergema di lorong jalan yang sepi ini.
Pintu segera terbuka, yang muncul adalah laki-laki tua kurus tadi, dengan suara gemetar dia memaki,
"Memangnya kalau janda dan yatim boleh dihina dan dipermainkan begini?"
Ji Bun menubruk maju, laki-laki tua mengkerut sambil menutup pintu, namun sudah terlambat, tahu-tahu
lengan kirinya terpegang kencang oleh Ji Bun. Biji mata si orang tua yang semula pudar tiba-tiba berkilat
tajam, sekuat tenaga dia meronta, namun sia-sia, tiba-tiba telapak tangannya menjojoh, jelas
kepandaiannya cukup tangguh. Namun sedikit menggerakkan jari telunjuknya, lengan kanan si orang tua
seketika lemas. Wajahnya yang tua keriput menjadi pucat kelabu.
"Anjing tua, kau sudah bosan hidup?" desis Ji Bun garang.
"Siau-hiap ..... ada urusan ..... apa ....?" suara si orang tua tergagap menahan kesakitan.
"Jangan cerewet," bentak Ji Bun, "bawa aku menemui pimpinan cabang kalian."
"Apa, cabang apa ..... aku ..... tidak tahu."
"Berani kau membual, kurobek mulutmu." Ji Bun segera menjinjingnya masuk ke dalam. Suara di luar
sudah cukup gaduh, namun tetap tidak kelihatan ada orang lain muncul. Lekas sekali Ji Bun sudah
menyusuri serambi panjang memasuki sebuah ruang tamu yang dipajang amat megah, barang-barang antik
merupakan pajangan utama di gedung ini. Memang tidak mirip sebuah markas cabang suatu perkumpulan.
Ji Bun tampar orang tua tawanannya itu dan bentaknya beringas: "Bawa aku menemui pimpinanmu."
"Siau-hiap ...... jangan kau ..... salah paham, gedung ini ditempati keluarga baik-baik."
Berkobar nafsu Ji Bun, sekali injak dia bikin lengan si orang tua patah dan remuk, keruan si orang tua
berkaok-kaok kesakitan. Ji Bun mendesis berapi-api: "Kau tidak akan kubunuh, tapi jangan kau pura-pura
atau tangan kananmu akan kubuntungi."
Tiba-tiba air hujan beterbangan dari atap rumah, setiap tetes air yang menyentuh lantai seketika
menimbulkan kepulan asap tebal, itulah cairan beracun yang amat jahat. Si orang tua mengeluarkan jeritan
yang mengerikan. Tubuhnya berkelejetan sebentar lalu tak bergerak. Cepat sekali badan yang utuh itu luluh
menjadi cairan darah yang mengeluarkan bau amis. Pakaian Ji Bun berlubang-lubang seperti sarang tawon.
Kecuali merasa sedikit gatal, Ji Bun tidak kurang suatu apa. Ini membuktikan bahwa segala racun tidak
mempan atas dirinya, namun situasi betul-betul amat mengejutkan.
Setelah hujan cairan beracun ini, suasana tetap sunyi. Amarah Ji Bun berkobar, namun dia tidak
menemukan sasaran untuk melampiaskan dendamnya. Sekilas dia berpikir, matanya menjelajah
sekelilingnya, lalu mundur keundakan sana. Tenaga di kerahkan, kedua tangan terus menghantam ke arah
belandar yang terletak di tengah.
"Blang", seluruh gedung besar ini bergetar. Genteng sama rontok berjatuhan, belandarpun ikut sempal.
Mungkin tiga kali pukulan cukup untuk meruntuhkan seluruh gedung. Keadaan inilah akan menimbulkan
reaksi yang diharapkan Ji Bun.
Maka terdengarlah sebuah suara dingin menusuk telinga berkumandang di sebelah dalam: "Te-gak
Suseng, takabur benar kau ini!"
"Hayo menggelinding keluar!" bentak Ji Bun.
Bayangan seorang tiba-tiba muncul, ternyata Duta istimewa di daerah barat Kian Ceng-san adanya,
mukanya yang pias menyeringai sadis. Di belakang dan sekeliling gedung serempak muncul bayangan orang
banyak. Ji Bun terkepung. Setiap orang yang muncul membawa senjata dan menggengam senjata rahasia.
Duta hidung betet juga muncul di samping Kian Ceng-san mengiringi seorang pemuda lain berpakaian jubah
sutera.
Pemuda jubah sutera ini buka suara lebih dulu: "Te-gak Suseng, apa maksudmu kemari?"
"Sebutkan dulu namamu," desis Ji Bun kereng.
"Aku inilah pimpinan cabang di sini, Kiang Giok."
"Bagus sekali, lekas serahkan Thian-thay-mo-ki dan katakan dimana letak markas pusat kalian."
"Kau kira kami akan luluskan tuntutanmu?”
"Kalau tidak markasmu ini akan kusapu bersih dengan darah kalian."
Kian Ceng-san terloroh-loroh, katanya menyeringai: "Te-gak Suseng, akulah yang akan menyobek dan
meleburkan badanmu, kalau tidak belum terlampias dendamku."
"Kau ini ulat busuk pemakan bangkai, hari ini bangkaimu yang akan dimakan ulat," balas Ji Bun.
Berubah air muka Kian Ceng-san, tak pernah diduganya bahwa Ji Bun bisa menyebut nama julukannya,
keruan dia mencak-mencak gusar, teriaknya: "Anak keparat, hatimu akan kutelan mentah-mentah."
"Selama sisa hidupmu ini jangan kau harap," jengek Ji Bun menghina.
“Hm, serang!" ditengah aba-aba itu, Kian Ceng-san dan Kiang Giok segera menyerang dengan kedua
tapak tangan. Dua jalur angin pukulan berkisar menjadi badai yang dahsyat menerpa datang, di samping itu
berbagai senjata rahasia yang tak terhitung banyaknya serempak beterbangan dari berbagai penjuru, bagai
hujan lebat mengincar Ji Bun.
Betapa hebat dan mengerikan kekuatan serangan gabungan ini, dari luncuran senjata rahasia yang
mendenging kencang itu dapat dinilai bahwa semua orang, yang hadir sama berkepandaian tinggi.
Betapapun tinggi kepandaian seseorang, kalau tergencet oleh sekian banyak serangan, kalau tidak mati
seketika juga pasti terluka parah.
Ji Bun bertindak tegas dan cepat meloncat. Ia kembangkan Ginkang pusaran angin lesus, badannya
mumbul ke atas berputar seperti kitiran, empat tombak tingginya badan terapung. Semua senjata rahasia
berseliweran lewat di bawah kakinya, ditengah udara badan Ji Bun berputar dua lingkaran, sekali kali
memancal, badannya segera melesat ke arah serambi di luar sana. Sasarannya menubruk ke arah Kian
Ceng-san dan Kiang Giok yang sudah menyingkir keluar rumah lebih dulu.
Kiang Giok dan Kian Ceng-san berpencar ke samping, belum lagi badan Ji Bun meluncur turun, keduanya
sudah melontarkan pukulan maut. Pertempuran yang menentukan mati hidup kedua pihak, serangan
mereka ini sungguh teramat lihay.
Ji Bun nekat, dia tidak hiraukan serangan Kiang Giok di sebelah kiri, dengan jurus kedua dari Tok-jiusam-
sek dia sambut serangan Kian Ceng-san.
Lolong yang mengerikan sebelum ajal tiba seketika menggetarkan sanubari setiap orang yang hadir,
tampak Kian Ceng-san roboh tengkurap dengan batok kepala remuk.
Punggung Ji Bun menerima pukulan Kiang Giok mentah-mentah, badannya terhuyung lima langkah baru
berdiri tegak kembali, dua jalur darah meleleh dari ujung mulutnya.
Hanya sekali gebrak Kian Ceng-san sudah mampus, keruan Kiang Giok ketakutan setengah mati. Dia
berdiri menjublek lupa melancarkan serangan pula. Tiba-tiba Ji Bun berputar menghadapinya, matanya
memancarkan sinar yang tajam menyedot sukma orang. Anak buah Ngo-hong-kau yang mengelilingi tak
pernah melihat peristiwa sehebat ini, serasa copot nyali mereka.
Sebat sekali Ji Bun menubruk maju, sekali raih ia cengkeram pergelangan tangan Kiang Giok. Anak
buahnya sama berseru kaget, namun tiada yang berani bergerak. Sedikit kerahkan tenaga, kelima jari Ji Bun
ambles ke pundak Kiang Giok, darah segera meleleh dari sela-sela jarinya.
Pucat selebar muka Kiang Giok, sedikitpun dia tidak mampu bergerak lagi.
"Kiang Giok, sekarang kaulah yang harus buka mulut!" desis Ji Bun mengancam.
Sebagai pimpinan cabang meski kaget dan ketakutan, betapapun dia tetap ingin mempertahankan
wibawa dan keangkerannya, jawab Kiang Giok dengan mengertak gigi. "Tiada yang bisa kukatakan."
Saking marah Ji Bun hampir gila dibuatnya, sikapnya mirip malaikat yang kebakaran jenggot saja. Setiap
patah katanya tegas dan sekeras baja: "Orang she Kiang, aku bisa membesetmu secara hidup-hidup."
Memang untuk membunuh Kiang Giok semudah Ji Bun membalik telapak tangan sendiri, namun
tujuannya bukan membunuh orang, tapi menolong Thian-thay-mo-ki dan mencari jejak ibunya. Kalau Kiang
Giok dibunuh, demikian pula semua anak buahnya, urusan tetap tidak akan beres.
Kiang Giok sudah dibekuk, namun dia bandel tak mau mengaku, keruan hatinya gelisah dan risau. Pada
saat dia kebingungan itulah, tiba-tiba dilihatnya Kiang Giok mengangkat tangan kirinya ke arah mulutnya
sendiri, air mukanya seketika pula berubah.
Ji Bun menjengek dingin: "Kau hendak menelan racun bunuh diri? Dihadapanku, jangan kau harap bisa
berbuat sesuka hatimu."
Sembari bicara beruntun dia menutuk tiga Hiat-to di dada orang, lalu merogoh sebutir pil dan dijejalkan
ke mulut Kiang Giok.
Kiang Giok betul-betul mati kutu, ingin hidup sukar dipertahankan, minta mati juga tidak bisa. Ji Bun
kerahkan tenaganya pula, Kiang Giok segera merintih kesakitan, Hiat-to di pundaknya yang tercengkeram
seketika melelehkan darah pula. Betapa siksaan ini membuat keringat dinginnya gemerobyos, ototnya
merongkol keluar, kulit mukanyapun berkerut berubah bentuknya.
"Jangan harap ada keajaiban muncul di sini, kecuali mengaku terus terang, tiada jalan lain yang bisa kau
tempuh."
"Te-gak Suseng, aku tetap tidak akan tunduk padamu.”
"Baiklah rasakan permainanku."
Pada saat itulah tiba-tiba di antara gerombolan anak buah Ngo-hong-kau tampil keluar seseorang yang
mengempit seorang yang empas-empis. Begitu mata Ji Bun melirik, seketika jantungnya hampir pecah, yang
datang ternyata Duta hidung betet yang sempat melarikan diri itu. Orang yang empas-empis dan dikempit di
bawah ketiaknya adalah Sian-thian-kek Ui Bing.
Bahwa Ui Bing terjatuh ke tangan lawan, sungguh tak pernah terduga oleh Ji Bun.
"Te-gak Suseng," Duta hidung betet menyeringai kejam, "kau kenal dia bukan?”
"Lepaskan dia!" bentak Ji Bun murka.
"Kau kira begitu mudah?"
“Kau ingin mampus?"
"Dia yang akan mati lebih dulu!" jengek Duta hidung betet sambil menuding kepala Ui Bing. Telapak
tangannya mengarah tepat di ubun-ubun kepala Ui Bing, "tidak sukar untuk mengepruk remuk batok
kepalanya, betul tidak?”
Gigi Ji Bun berkeriutan, tidak sukar baginya untuk menubruk ke arah Duta bidung betet serta
membinasakannya. Tapi jiwa Ui Bing juga pasti melayang.
Ji Bun hampir gila dibuatnya, ibunda, kekasih dan sekarang teman yang terdekat menjadi tawanan
musuh lagi, betapa dia takkan naik pitam? Tegakah dia mengorbankan Ui Bing? Tidak, kalau ibun¬da dan
kekasihnya belum ajal kelak masih ada kesempatan untuk menolongnya. Namun mati hidup Ui Bing hanya
bergantung pada pendiriannya.
Sikap Ji Bun yang ragu-ragu sudah terasakan oleh Duta hidung betet. Namun dia kuatir kalau Ji Bun
berlaku nekat, tentu semua orang yang ada di sini bisa dibunuh seluruhnya, maka dia jambak rambut Ui
Bing serta ditariknya mendongak, serunya: "Te-gak Suseng sudah ambil putusan?"
Ji Bun membanting kaki, katanya mengertak gigi: "Baik, sekali ini kalian beruntung, bisa lolos dari
tanganku."
Duta hidung betet segera memberi aba-aba: "Semua mundur!"
Seperti lolos dari renggutan el-maut, buru-buru anak buah Ngo-hong-kau berlari sipat kuping dan dalam
sekejap saja sudah bersih. Hampir meledak dada Ji Bun, namun dia tak bisa berbuat apa-apa.
Setelah anak buahnya mundur semua baru Duta hidung betet berkata pula pada Ji Bun: "Te-gak Suseng,
sekarang kau boleh lepaskan dia."
"Kau dulu yang harus melepasnya."
"Dihadapanmu yang jelas berkepandaian begini tinggi, memangnya aku bakal mungkir?"
"Betapapun aku tidak percaya padamu."
"Memangnya kau sendiri dapat dipercaya?"
"Te-gak Suseng selamanya tidak pernah melakukan perbuatan rendah dan kotor."
Sekilas Duta hidung betet berpikir, Ui Bing diturunkannya di atas lantai, lalu mundur tiga tombak,
agaknya dia takut kalau Ji Bun tiba-tiba menyergap. Begitu menyentuh lantai Ui Bing tampak menggeliat
sambil merintih, kalau Hiat-to tidak tertutuk, tentu dia terluka dalam yang cukup parah.
"Orang she Kiang,"' ujar Ji Bun, "hari ini kau yang beruntung."
Lalu dia lepaskan Kiang Giok dan melompat kesamping Ui Bing, dengan teliti dia memeriksa, ternyata
Hiat-to Ui Bing memang tertutuk, lekas dia membebaskan tutukan itu. Ui Bing mengeluh sekali, kemudian
katanya: "Hiante, aku menggagalkan usahamu ........”
"Toako," ujar Ji Bun tertawa getir, "syukurlah kalau kau selamat, kesempatan masih ada lain kali."
Waktu dia menoleh, orang she Kiang dan Duta hidung betet sudah tak kelihatan lagi bayangannya,
gedung sebesar ini diliputi keheningan.
"Toako, bagaimana kau bisa .....”
"Sungguh harus disesalkan, memang akulah yang ceroboh. Dikala kau kembali menemui aku tadi jejakku
dengan sendirinya sudah konangan mereka. Kalau aku segera pindah tempat, tentu takkan terjadi begini,
namun kepandaianku memang bukan tandingan lawan, untung dia tidak turun tangan secara keji."
"Marilah kita geledah gedung ini."
"Nanti dulu, jangan gegabah, bukan mustahil mereka pasang perangkap di sini."
"Betul, Toako telan dulu obat ini, dia angsurkan sebutir pil kepada Ui Bing, dalam jangka setengah jam,
segala racun tidak akan mempan terhadapmu."
Ui Bing menerima terus ditelan, berendeng mereka masuk ke ruang pendopo. Begitu tiba diserambi yang
menembus ke dalam, tiba-tiba Ui Bing menyurut mundur seraya berseru kaget. Ternyata diserambi sana
menggetetak kerangka manusia yang tinggal tulang belulang saja, kulit dagingnya sudah luluh menjadi
cairan merah kental berbau amis dan busuk. Kiranya mayat Kian Ceng-san pun dibubuhi racun yang
meluluhkan mayatnya, betapa jahat racun yang digunakan lawan sungguh amat mengerikan.
Menuding kerangka tulang itu Ji Bun berkata: “Toako, itulah kerangka Kian Ceng-san, Bengcu kalangan
hitam dari Kwan-gwa."
Ui Bing bergidik ngeri, "Kejahatan orang ini memang sudah kelewat batas, akhirnya dia memperoleh
ganjaran yang setimpal.”
Mereka melangkah masuk lebih jauh, geledah sana cari sini, tetapi tiada sesutu yang mereka temukan,
bangunan gedung ini terdiri tiga lapis deretan ke belakang, sebelah samping kanan kiri juga terdiri
bangunan yang terdapat banyak kamar, namun gedung sebesar ini tak kelihatan bayangan orang, banyak
kamar kosong berdebu dan dihiasi sawang melulu, pertanda sudah lama tidak ditempati, memangnya ke
mana penghuni gedung ini?
Menyesal tapi juga marah, Ji Bun terpaksa mereka harus membebaskan musuh yang telah ditawannya
karena harus meugutamakan jiwa Ui Bing. Kuatir Ui Bing berduka, sudah tentu sedapat mungkin dia
bersikap biasa dan wajar.
Sebagai murid Biau-jiu Siansing, gembongnya maling, sudah tentu Ui Bing mempunyai kepandaian
khusus dalam bidangnya. Pintu yang tertutup rapatpun bisa ditembusnya, demikian pula segala alat rahasia
dengan mudah bisa dipecahkan, seperti anjing pelacak saja dengan teliti dari satu tempat ke lain tempat dia
memeriksa, sesuatu barang yang mencurigakan tidak lepas dari perhatiannya, entah diketuk, dipukul, diraba
dan diputar ........
Akhirnya dia bersorak girang dengan penuh emosi. "Nah, inilah di sini."
Tatkala itu mereka berada disudut sebuah gardu yang terletak di taman belakang. Ui Bing sedang sibuk
membongkar sebuah pintu angin yang cukup besar dan lebar.
Pintu angin ini berdiri di antara pintu kamar dan gardu, kelihatannya tidak menunjukkan sesuatu yang
mencurigakan, keruan Ji Bun bertanya keheranan: "Toako, apa yang kau temukan?"
"Mulut sebuah jalan rahasia."
"Darimana kau bisa menemukannya?"
“Lihatlah jejak kaki yang semrawut ini, semua berhenti di depan pintu angin ini?"
Mulut bicara tangan bekerja, dengan pelan dan hati-hati jari-jarinya meraba-aba. Dikala jarinya
menyentuh kepala seekor burung yang terpahat di atas pintu angin, seketika terdengar suara keresekan.
Terbangkit semangat Ji Bun. Waktu dia menoleh, dilihatnya dinding sebelah kiri bergerak-gerak dan
tampak sebuah lubang merekah diantara sudut dinding itu. Segera dia maju mendekat, dilihatnya di
belakang pintu rahasia terdapat undakan batu yang menjurus ke bawah. Ada puluhan undakan banyaknya,
lorong rahasia ini entah menembus ke mana. Lebarnya cukup untuk dua orang jalan berdampingan. Karena
terlalu gelap, kekuatan mata Ji Bun tak kuasa melihat terlalu jauh.
Ui Bing mendekat, katanya: "Kalau tempat ini bukan kamar rahasia di bawah tanah, tentu lorong rahasia
yang menembus ke suatu tempat."
"Mari kita periksa ke dalam," ajak Ji Bun.
"Hati-hati terhadap alat-alat rahasia," kata Ui Bing. Sekenanya dia tarik kain gardu yang tebal dan berat
terus dilempar ke dalam lorong sana, tapi tidak menimbulkan reaksi apa-apa.
"Marilah masuk, lorong ini tentu dibangun oleh pemilik gedung ini. Kalau dia bukan golongan persilatan,
tak mungkin membangun jalan rahasia ini. Agaknya karena baru saja berdiri, maka Ngo-hong-kau
menggunakannya ala kadarnya, sehingga belum diperbaiki dan dipasangi perangkap."
Segera Ji Bun mendahului berlari turun, Ui Bing mengikuti dari belakang. Setiba di ujung undakan,
mereka langsung menuju ke lorong datar yang gelap gulita, betapapun tajam pandangan orang kelima jari
sendiri juga tidak kelihatan, hawa lembab dan berbau apek. Untung Ji Bun sudah digembleng oleh kakek
gurunya, namun dia hanya mampu melihat sejauh lima tombak. Lekas Ui Bing keluarkan ketikan api lalu
menyulut sebuah obor kecil. Agaknya tidak sedikit perlengkapan yang selalu dibekalnya.
Kini ganti Ui Bing yang jalan di depan, mereka terus maju ke depan menyusuri lorong panjang ini, lorong
ini seperti tak berujung. Setelah belak-belok sekian lamanya, tetap tidak menemukan ujungnya, semakin
dalam lorong ini ternyata malah lurus memanjang.
Sambil jalan Ui Bing berkata: “Diukur dari kecepatan kita berjalan dan jauhnya lorong ini, agaknya kita
sudah berada di luar kota."
"Luar kota?" Ji Bun heran.
Tengah bicara tiba-tiba mereka dihadang tiga cabang lorong, seketika mereka menjublek bingung, ke
arah mana mereka harus pilih? Sementara itu Ui Bing sudah mengganti sebuah obor lain, dengan seksama
dia memeriksa jejak-jejak kaki di tanah. Lorong yang menembus kekanan kiri memang ada jejak kaki,
namun tapaknya jelas hanya dilewati dua tiga orang, lain dengan jejak kaki orang banyak yang menuju ke
lorong tengah ini.
"Toako, tunggu sebentar," seru Ji Bun, "coba lihat sebelah kiri ......"
Pada dinding yang menjurus ke kiri tergantung sebuah papan yang bertuliskan beberapa huruf warna
merah darah berbunyi:
"Tempat terlarang, hukuman mati bagi yang melanggarnya."
"Maksud Hiante .........”
"Tujuan kita mencari orang, bukan mengejar jejak mereka, umpama berhasil menyandak mereka belum
tentu ada manfaatnya, maka daerah terlarang ini jangan dilewati begini saja, betapapun harus kita selidiki."
Ji Bun mendahului menyusuri lorong ke kiri, tiga tombak kemudian, mereka membelok ke kanan dan
dihadang sebuah pintu besi yang kelam, di atas pintu bertuliskan juga beberapa huruf merah darah yang
berbunyi sama. Ji Bun maju mendorong dengan tangan, segera dia berseru: "Hebat, pintu ini dilumuri racun
jahat."
Ui Bing kaget, katanya: "Agaknya Ngo-hong-kau pandai juga main racun."
Sudah tentu kata-kata ini menusuk perasaan Ji Bun, dirinya kini adalah Ciangbunjin generasi ke-15 dari
Ban-tok-bun, gembongnya golongan beracun. Entah berapa banyak aliran dan perguruan yang pandai
menggunakan racun di seluruh jagat ini? Hanya yang diketahui cuma Cui Bu-tok dari Wi-to-hwe juga pandai
dalam bidang ini, entah siapa lagi. Jika ayahnya bukan calon pewaris generasi ke-14, maka beliau dari aliran
lain, namun dari kepandaian Bu-ing-cui-sim-jiu, ini jelas bahwa ayahnya juga dari aliran yang sama. Lalu
Ngo-hong-kau termasuk aliran mana? Sembari berpikir kembali dia mendorong dengan mengerahkan
setaker tenaga, namun pintu besi ini tidak bergeming sedikitpun.
"Tang!" tiba-tiba diatas pintu terbuka lubang bundar, sebuah suara yang cukup mendirikan bulu kuduk
orang berkata: "Siapa berani melanggar daerah terlarang ini?”
Ui Bing padamkan obornya, sahutnya: "Utusan dari pusat datang menginspeksi."
Dari lobang bundar ini muncul sepasang mata yang bersinar hijau tajam, di belakangnya remang-remang
menyorotkan secercah sinar pelita. Di balik pintu tentu terpasang lampu, dengan sendirinya di luar gelap di
dalam menjadi terang, maka Ji Bun berdua dapat melihat agak jelas. Suara orang dibalik pintu kedengaran
agak curiga: "Duta mana telah tiba?"
Ji Bun menyingkir ke samping, dia tiru suara Kian Ceng-san dan menjawab dengan nada dingin
berwibawa: "Di sini Kian Ceng-san."
Gertakan ini ternyata berhasil, segera terdengar suara berkeret, pelan-pelan pintu besi tebal itu lantas
terbuka.
Di belakang pintu adalah sebuah kamar batu, di mana di pasang sebuah lentera minyak, maka keadaan
di sini cukup terang. Seorang laki-laki bertubuh besar dengan telanjang dada, tampak bulu dadanya lebat
menghitam, kulit dagingnya berotot keras bagai badak, dengan bertolak pinggang dia berdiri di ambang
pintu. Begitu melihat wajah Ji Bun berdua segera dia menggerung murka:" Siapa kalian? Berani menyaru
.......”
Cepat Ji Bun menyelinap masuk, mulutnya menjawab: "Akulah Te-gak Suseng!”
Wajah laki-laki kekar itu menegang, bentaknya: "Cari mampus!"
Telapak tangannya yang sebesar kipas terus menabok ke arah Ji Bun.
Ji Bun angkat tangannya, sekali raih dengan mudah dia pegang pergelangan tangan orang. Tapi laki-laki
besar itu meronta sekuatnya sehingga Ji Bun terseret maju sempoyongan. Diam-diam dia terkejut akan
kekuatan raksasa lawan, kelima jarinya memegang dengan lebih kencang. Kontan laki-laki itu berkaok
kesakitan.
Ji Bun pandang ke dalam kamar, di sisi kanan sana terdapat sebuah pintu kecil, di pojok terdapat sebuah
balai yang dilembari kulit binatang, mungkin tempat tinggal laki-laki besar ini. Sebaliknya pintu besi di
sebelah kiri terkunci dengan gembok besar, rahasia pasti ada di belakang pintu itu. Diam-diam Ji Bun
membatin: ”Mungkinkah ibu atau Thian-thay-mo-ki yang terkurung di dalam sana?" Segera dia membentak
kepada laki-laki itu: "Siapa yang dikurung di dalam?"
Karena pergelangan tangan terpegang, laki-laki ini mati kutu tiada tenaga untuk meronta lagi, namun
sorot matanya ber-api-api sebuas binatang. “Apa tujuan kalian?" tanyanya.
"Buka pintu itu. Kalau membangkang kubunuh kau."
"Kalau aku mati, kalian kelinci cilik ini jangan mengira bisa hidup."
Membara amarah Ji Bun, ia sungkan adu mulut lagi, sekali kepruk dia pukul pecah batok kepala laki-laki
besar itu serta menendang mayatnya ke samping.
Di tempat ini Ui Bing kembali memperlihatkan keahliannya, entah dari mana dia sudah mengeluarkan
sebatang kunci, segera dia maju kesana membuka gembok besar itu, begitu pintu terbuka, serentak Ui Bing
didampar segulung angin kencang.
16.46. Siapa Murid Angkatan-13 Ban-tok-bun ??
Begitu besar terjangan angin ini sampai Ui Bing tergentak mundur menubruk Ji Bun yang berada
dibelakangnya. Cepat Ji Bun menahan punggungnya, namun dorongan kekuatan begitu dahsyat sampai
mereka sama tersurut tiga langkah lagi, maka dapatlah dibayangkan betapa hebat kepandaian orang yang
menyerang.
Belum lagi hilang rasa kejut mereka, tampak di belakang pintu adalah sebuah kamar kurungan persegi,
seorang tua baju hitam tengah melongo mengawasi mereka. Tampak oleh Ji Bun, di belakang kamar sana
terdapat pula sebuah pintu besi yang terkunci. Terang laki-laki tua baju hitam ini adalah penjaganya. Begitu
besar dan ketat penjagaan orang ini, tentu di balik pintu sana tersembunyi sesuatu yang cukup penting
artinya.
"Kalian mau apa ke sini?" tanya laki-laki baju hitam itu sambil menyeringai.
"Mau mencabut nyawamu!" desis Ji Bun. Belum habis bicara tiba-tiba dia menubruk maju seperti harimau
menerkam mangsanya, jurus Tok-jiu-sam-sek yang pertama dilancarkan, kontan laki-laki baju hitam
menjerit sekali terus roboh binasa. Ji Bun langsung lari ke arah pintu. Untung pintu yang satu ini tidak
terkunci, maka dengan mudah dia menariknya terbuka, di dalam adalah terali besi, sebuah kerangkeng.
Berkat sinar api dari luar, terlihat oleh Ji Bun di dalam kerangkeng meringkuk seorang laki-laki beruban. Jadi
bukan orang-orang yang diperkirakan oleh Ji Bun semula, keruan hatinya menjadi dingin.
Ui Bing ikut melongok ke dalam, katanya: "Entah siapa yang dikurung di sini, kenapa sampai dijaga
begini kuat dan ketat?"
"Ya, harus diselidiki biar terang persoalannya. Toako, tolong ambilkan obor itu," lalu dia maju mendekat
dan puntir putus rantai yang melingkar di antara jeruji-jeruji besi ini. Bayangan orang yang meringkel di
pojok sana tidak bergerak sama sekali. Kini dia melihat lebih jelas, kiranya seorang tua kurus kering tinggal
kulit membungkus tulang. Ji Bun mendekatinya, tanyanya: "Siapakah tuan ini?"
Orang tua itu bergerak sedikit, terdengar suaranya yang lemah, namun mengandung kebencian:
"Keparat, kau akan mendapatkan ganjaran setimpal"
Ji Bun tertegun, dia menoleh sekejap pada Ui Bing, lalu katanya: "Cayhe bukan orang Ngo-hong-kau,
silakan tuan bangun untuk bicara."
Dengan tangan menyanggah tanah pelan-pelan orang tua kurus itu meronta bangun, pandangannya
pudar dan lesu. Ji Bun berdua hampir menjerit kaget melihat wajah orang yang rusak tak menyerupai
bentuk manusia. "Siapakah tuan?" tanyanya.
"Kau ...... kau siapa pula?"
"Cayhe digelari Te-gak Suseng di kalangan Kangouw."
"Apakah keparat itu yang menyuruh kalian kemari?"
"Siapakah keparat itu? Cayhe mengejar seseorang masuk kemari, entah apa maksudmu?"
Pandangan orang tua yang redup kembali mengawasi wajah mereka sekian lamanya, suaranya dingin:
"Mau menolong Lohu keluar dari sini, betul tidak?"
"Sudah tentu," sahut Ji Bun tanpa pikir, "kalau sudah. kepergok olehku, masakah aku harus berpeluk
tangan."
"Ada syaratnya?"
"Syarat? Ah, omongan apa ini."
"Masakah tanpa syarat?"
"Tidak pernah terpikir olehku. Siapakah tuan, tolong beri tahu lebih dulu."
"Kau ..... betulkah bukan utusan keparat itu untuk menyiksa diriku?"
"Siapakah keparat yang kau maksud?"
"Muridku!" desis orang tua itu dengan gemas.
"O," Ji Bun bersuara heran, "kau dikurung oleh muridmu sendiri? Kenapa?"
"Tentu karena kepandaian dan rahasia pelajaranku."
Tak tertahan Ji Bun mengumpat: "Durhaka terhadap guru, manusia terkutuk dan pantas disamber
geledek."
Dengan mendelik gusar, orang tua itu berkata: "Lohu bertahan hidup sampai sekarang, memangnya
ingin menunggu dia mendapatkan ganjaran itu, sayang, ai .... mungkin takkan tercapai maksudku.“
"Siapakah nama murid durhaka tuan?"
"Lohu tidak tahu."
"Apa tidak tahu?" sungguh berita aneh yang paling lucu di dunia ini, masakah seorang guru tidak tahu
nama muridnya.
Orang tua mengertak gigi, mukanya yang kurus kering tidak mengunjukkan mimik apapun, hanya, biji
matanya yang pudar tiba-tiba memancarkan rasa kebencian yang berkobar. "Ya, sampai sekarang masih
belum kuketahui namanya."
"Tapi asal-usulnya mungkin diketahui?"
"Yang terang dia adalah pemilik gedung ini."
"Pemilik gedung ini, itulah Kiang Giok pimpinan cabang Ngo-hong-kau di sini."
"Dia ..... dia bernama Kiang Giok? Kalian musuhnya?"
"Boleh dikatakan demikian."
Kedua biji mata orang tua yang cekung tiba-tiba meneteskan air mata, katanya penuh kepedihan:
"Kepandaian Lohu sudah dipunahkan, tidak ubahnya dengan sesosok mayat hidup yang bisa bernapas saja,
aku tak ingin melihat sinar matahari lagi, cuma matipun aku takkan meram, sayang aku tak bisa memberi
pertanggungan jawab bagi perguruan ........."
"Tuan dari perguruan mana?"
"Terbatas oleh peraturan perguruan, maaf tidak boleh kukatakan."
Ji Bun mengerut kening, katanya: "Jadi nama dan gelaran tuan juga tak boleh diperkenalkan?"
Orang tua kurus itu mengangguk-angguk.
Ji Bun menepekur sejenak, katanya: "Bagaimana kalau tuan ikut kami keluar saja? Cayhe masih ada
urusan penting yang harus segera dibereskan, tak bisa lama di sini. Bicara terus terang, akupun sedang
mengejar jejak murid tuan.
"O," orang tua kurus menatap tajam Ji Bun, sorot matanya berubah tak menentu, ini menandakan bahwa
orang tua ini dirundung perasaan yang bergolak.
Semula Ji Bun berharap di dalam kamar tahanan ini ada disekap ibu atau Thian-thay-mo-ki, sekarang
kenyataan telah menumbangkan harapan itu. Sudah tentu pikirannya menjadi gundah dan melayang ke
tempat jauh, terasa sedetikpun tak kuasa lagi tinggal di sini. Menolong orang tua ini hanya sambil lalu saja
disamping merasakan adanya kewajiban bagi seorang persilatan yang harus menolong sesamanya. Kalau
tidak, menghadapi sikap si orang tua yang serba bimbang dan seperti menyembunyikan sesuatu ini, sejak
tadi dia tentu sudah tinggal pergi.
Ui Bing yang berpengalaman luas dalam seluk beluk kehidupan malah dapat bersabar, katanya kalem:
"Cianpwe, setiap urusan pasti ada beda ringan dan berat, sering pula terjadi perubahan, kau harus lekas
ambil keputusan. Kalau kami tidak kebetulan menerobos kemari, bagaimana pula nasib Cianpwe? Urusan
aliran dan perguruan orang luar memang tidak boleh tahu, tapi kalau Cianpwe merasa perlu minta bantuan
kami, tentu kami akan bekerja sekuat tenaga."
Ji Bun sudah tak sabar lagi, tanyanya: "Tuan sudah berpikir?"
Tiba-tiba orang tua itu geleng kepala, katanya: "Lohu sudah berkeputusan tidak akan meninggalkan
tempat ini "
Ji Bun melengak, tanyanya tak mengerti: ”Tuan tidak mau meninggalkan penjara seperti neraka ini?"
Nada si orang tua tegas: "Ya, Lohu sudah berpikir masak, kecuali mati demi pertanggungan jawab
kepada perguruan, tiada jalan lain yang harus kutempuh, hanya matiku ini tetap membuatku penasaran."
"Kalau kau tidak rela mati demikian saja, kenapa tidak mau meninggalkan tempat ini?"
"Aku mati penasaran tidak berarti takut mati, Soalnya tugas perguruan teramat berat."
Tugas berat apa, Ji Bun ingin tanya, namun melihat sikap si orang tua yang begitu patuh dan tunduk
terhadap peraturan perguruannya, maka ia telan pertanyaannya. Sebentar kemudian baru orang tua itu
berkata pula: "Urusan ini menyangkut peraturan perguruan, ada sesuatu tapi Lohu tidak bisa bicara terus
terang ..... "
"Sulit kalau begitu," ujar Ui Bing menghela napas, "apakah Cianpwe ada saudara seperguruan, kami bisa
mengirim kabar kepada mereka?"
Orang tua diam saja, agaknya dia tenggelam dalam pemikiran, mungkin dia sedang berpikir secara
mendalam cara bagaimana harus ambil keputusan.
Hati Ji Bun seperti dibakar, seperti semut dalam kuali panas, tak tahan ia berkata pula: "Tuan, kami akan
segera berangkat."
Dengan gerakan lemah tak bertenaga orang tua itu angkat tangannya, katanya: "Nanti dulu, Lohu ada
sebuah permintaan."
"Silakan bicara," jawab Ji Bun.
"Kuharap saudara cilik suka wakilkan aku mencari keparat itu, bunuh dia untuk mencuci nama baik
perguruanku .......”
"Membersihkan nama baik perguruanmu? Apakah tugas berat ini boleh diwakilkan kepada orang luar?"
"Tiada jalan lagi, perguruan kami memiliki sebuah Pit-kip (kitab pusaka) yang terjatuh ke tangan keparat
itu, harap rebutlah kembali ........"
"Apa betul murid tuan bernama Kiang Giok, pimpinan cabang Ngo-hong-kau di sini?"
"Lohu hanya tahu dia pemilik gedung ini."
"Baiklah, untuk membuktikan asal usulnya, Harap tuan suka memberikan keterangan mengenai ciricirinya
......”
"Ciri-cirinya, dia ..... dia pandai menggunakan racun."
"Ya, Cayhe sendiri pernah merasakannya, hampir saja jiwaku ini melayang."
"Ya, tidak akan salah kalau begitu."
"Setelah Pit-kip perguruanmu itu berhasil direbut kembali, lalu kepada siapa harus kuserahkan?"
"Ini ....... entah saudara dari aliran mana?"
"Hal ini sukar kujawab.”
"Baiklah, di sini Lohu meninggalkan pesan tertulis dalam lipatan kertas ini, semoga setelah Pit-kip itu
direbut kembali kau bisa bekerja menurut petunjuk yang tertera di kertas ini."
"Boleh saja."
Dari tumpukan rumput kering di bawah tubuhnya, si orang tua mengeluarkan secarik kertas tebal yang
sudah kuning dan kotor, dengan hati-hati dan penuh prihatin dia sodorkan kepada Ji Bun, katanya: "Inilah,
kalau saudara bisa membereskan urusan ini, di alam baka Lohu akan istirahat dengan tenteram."
"Soal membersihkan perguruanmu itu ......"
"Sudah diterangkan di dalam tulisan ini. Saudara baru boleh membuka lempitan kertas ini setelah
berhasil rebut kembali Pit-kip itu."
Ji Bun menerimanya, tanyanya: "Tuan betul-betul sudah berkeputusan tak mau keluar? Untuk ini Cayhe
mohon sukalah tuan memperkenalkan diri, ini tak melanggar aturan perguruanmu, bukan?"
"Baiklah, Lohu bernama Ngo Siang."
Ji Bun berjingkat kaget, mulutnya ikut berteriak: "Ngo ..... Siang?"
"Betul saudara .........”
Berubah hebat air muka Ji Bun, katanya berpaling kepada Ui Bing: "Toako, maaf, silakan kau tunggu
sebentar di luar."
Dengan heran dan tak habis mengerti Ui Bing mengawasi Ji Bun, namun dia menurut, obor dia tancap di
dinding pinggir pintu lalu melangkah keluar.
Orang tua yang bernama Ngo Siang juga mengunjuk keheranan dan kaget, tanyanya: "Saudara,
kenapakah kau?"
Dengan rasa haru dan penuh emosi Ji Bun berkata: "Apakah guru tuan she Ban bernama Yu-siong?"
Muka si orang tua yang kurus keriputan itu kelihatan gemetar, bibirnya bergetar, matanya terbeliak, lama
sekali baru dia kuasa mengendalikan emosinya, katanya tergagap: "Kau .... kau ..... darimana bisa tahu?"
Ji Bun segera bertekuk lutut, serunya terharu: "Murid generasi ke-15 Ji Bun, menghadap Suco."
"Apa? Kau ....... kau?"
"Tecu Ji Bun, berkat kemurahan hati dan kebajikan Suthayco telah diangkat sebagai penerus dari
generasi ke-15.”
"Ini .... mana ..... mana mungkin? Hah, Cosuya maha kuasa dan bermurah hati, Cosuya .....” kata orang
tua alias Ngo Siang itu dengan terharu.
Setelah menyembah, Ji Bun segera bersimpuh dan berkata: "Harap Suco suka dengarkan liku-liku
persoalan ini."
Tubuh Ngo Siang bergetar, inilah keajaiban yang tak pernah dimimpikan, kejadian yang terlalu
mendadak, begitu aneh dan nyata sehingga orang sulit percaya dalam waktu sesingkat ini, mulutnya
melongo, suaranya lemah hampir tidak terdengar, "Kau ....... baiklah ...... katakan .......”
Segera Ji Bun ceritakan semua pengalamannya, tiba-tiba Ngo Siang menjatuhkan diri berlutut, matanya
yang cekung mengalirkan air mata, teriaknya serak: “Tecu tak berbudi ...... Tecu tidak becus .........”
Ji Bun segera membujuk: "Suco, harap suka memperhatikan kesehatan sendiri."
Ngo Siang merangkak bangun dan duduk kembali ke tempatnya, lama dia menepekur dengan pandangan
terlongong, katanya kemudian: "Berikan kertas itu, tak berguna lagi."
Ji Bun segera merogoh lempitan kertas tadi serta diangsurkan dengan kedua tangan.
Ngo Siang lantas membebernya, ternyata lapisan dalam dari lipatan kertas ini adalah selembar kain
sutera yang amat tipis, di atas kain yang sudah butut ini terdapat noktah darah yang sudah mengering,
huruf-huruf yang tertulispun menggunakan tinta darah. Ngo Siang menyobek kertas kain ini, lalu menjemput
sebuah buntalan kain kecil dan ditimang-timang di telapak tangan, katanya setelah menghela napas:
“Aturan yang harus dilakukah bagi setiap murid angkatan kita dengan tulisan dalam kertas lipatan ini tentu
kau sendiri juga sudah tahu, maka tugas selanjutnya untuk menumpas murid durhaka itu terpikul di atas
pundakmu.”
"Tecu menerima setiap petunjuk Suco."
"Generasi ke-14 tidak diangkat secara resmi oleh perguruan, karena dia juga telah mengkhianati
perguruan, maka kau tidak perlu pandang dia sebagai angkatan yang lebih tua. Lebih penting kau
melaksanakan aturan perguruan untuk menumpasnya dengan cara apapun. Demikian saja kata-kataku."
"Cucu murid ingin membawa Suco keluar dari sini, biarlah kita berusaha .......”
"Tidak usahlah."
"Bagaimana kehendak Suco?" tanya Ji Bun melengak.
Lemah tapi tegas setiap patah kata Ngo Siang: "Suco tidak berbakti, sejauh ini tidak mampu
melaksanakan tugas yang kupikul, sehingga ajaran perguruan hampir putus di tanganku ....... maka kau
harus dengar kata-kataku. Sesuai peraturan, waktu aku turun gunung mencari calon pengganti yang harus
ikut juga digembleng dalam kebiasaan 'menyenggol rejeki’, ternyata usahaku sia-sia belaka. Setiap pelosok
Kang-ouw sudah kujelajahi, namun tetap tak berhasil kuperoleh seorang calon yang memenuhi syarat.
Begitulah, dari tahun ke tahun sehingga aku akhirnya berpendapat bahwa Tok-keng jilid pertama
kemungkinan tidak terjatuh ke tangan seseorang, namun aku tetap menunggunya dengan sabar, siapa tahu
kalau terjadi suatu kemungkinan ........”
Setelah menghela napas dan berhenti sebentar Ngo Siang melanjutkan ceritanya: "Tiga tahun yang lalu,
karena terpaksa aku sengaja mendemonstrasikan ilmu perguruan kita, maksudku untuk mencari jejak
apakah betul jilid pertama dari buku pelajaran perguruan kita itu sudah berada ditangan seseorang. Betul
saja, tidak lama kemudian aku lantas menemukan dia. Semula aku hendak menyelidiki watak dan mencari
tahu asal-usulnya secara diam-diam, tak tahunya malah dia mengenali asal-usulku lebih dulu. Dia berkata
bahwa ada seseorang sakit keras dan berpesan padanya supaya mencarikan orang-orang seperguruannya.
Katanya ilmu beracun yang dia pelajari didapat dari orang sakit itu. Karena kurang teliti, aku percaya begitu
saja. Dia membawaku ke sebuah kamar rahasia di bawah tanah, sehingga aku terjebak ke perangkapnya.
Bukan saja ilmuku dipunahkan aku disekap di sini pula. Sering keparat itu datang kemari menyiksa aku
supaya menyerahkan atau mengajarkan ilmu tingkat tinggi perguruan kita .......”
Ji Bun naik pitam, katanya gusar: "Tecu membakal Hoat-Wan, aku bersumpah akan menghukumnya
sesuai hukum perguruan."
"Ya, tadi kau menceritakan pengalamanmu, katamu kau sudah mempalajari Bu-ing-cui-sim-jiu, apa betul
kau diajar ayahmu secara lisan?”
Ji Bun mengiakan.
"Dari mana pula ayahmu bisa mendapatkan buku pelajaran ilmu rahasia perguruan kita?"
"Mati hidup ayahku sekarang masih merupakan teka teki, biarlah setelah berhasil membekuk Kiang Giok,
pasti bisa membongkar rahasia ini."
Diam-diam Ji Bun amat bersyukur, semula dia berpendapat bahwa orang yang memperoleh jilid pertama
Tok-keng itu adalah ayahnya, sedang dirinya harus menjalankan tugas membersihkan perguruan dari anasir
penghianat, memangnya dia sebagai anak harus membunuh ayah kandung sendiri? Kini sudah terbukti
bahwa Kiang Giok adalah orang yang memperoleh buku itu. Persoalan ini akan lebih mudah dibereskan. Soal
bagaimana ayahnya bisa mendapatkan pelajaran ilmu beracun, mungkin Kiang Giok sengaja hendak menjadi
penghianat maka dia sengaja mengajarkan ilmu beracun itu kepada orang luar sehingga terjadilah buntut
yang berlarut-larut ini.
Ngo Siang bertanya, "Apa pula hubungan ayahmu dengan Kiang Giok?"
"Cucu muridpun tidak tahu."
"Siapa tahu kalau ayahmu justeru orang yang pegang rol di belakang layar?"
Tersirap darah Ji Bun, betul, ini bukan mustahil, maka dia mengertak gigi, katanya: "Cucu murid akan
menyelidikinya."
"Kalau kelak terbukti bahwa orang pertama yang memperoleh Tok-keng adalah ayahmu, bagaimana kau
akan ambil tindakan?"
Terkesiap hati Ji Bun, katanya setelah berpikir: "Cucu murid akan bekerja sesuai dengan hukum
perguruan, demi kebenaran dan kebesaran nama baik perguruan, meski terhadap ayah sendiripun, aku akan
tetap ambil tindakan."
"Bagus sekali semoga kenyataan tidak demikian," ujar Ngo Siang.
Tiba-tiba terlihat oleh Ji Bun orang tua itu tengah menggelinding sebutir pil Merah darah yang menyolok
sekali, seketika dia berteriak kaget: "Hoat-wan.”
"Benar," kata Ngo Siang, "memang Hoat-wan, pil ini kubawa waktu aku disuruh turun gunung oleh Suco,
sekarang tiba saatnya aku akan menggunakannya."
Saking gugup tanpa sadar Ji Bun ulur tangan hendak mengambilnya, mulutpun berteriak: "Jangan Suco!"
"Jangan bergerak," tiba-tiba Ngo Siang menghardik dengan bengis. Kata-katanya begitu keras
berwibawa, sehingga tanpa sadar Ji Bun menarik pula tangannya. Dalam sekejap itulah Ngo Siang sudah
menjejalkan pil merah itu ke dalam mulut terus di telan.
Tak pernah terpikir oleh Ji Bun bahwa Ngo Siang akan bertindak setegas ini, serasa pecah jantung Ji Bun.
Hoat-wan adalah obat warisan cikal bakal perguruan mereka yang digunakan untuk menghabisi nyawa
sendiri, sejak diciptakan tak pernah dibuat obat penawarnya, maka setiap orang yang telan pil racun ini
takkan tertolong lagi. Itupun berarti sudah menunaikan bakti terhadap perguruan, umpama ada obat
penawarnya juga tidak boleh ditolong.
Gaya duduk Ngo Siang sekarang berubah setengah berlutut, sorot matanya tenang dan tenteram. Lekas
Ji Bun juga berlutut, air mata lantas bercucuran, waktu dia angkat kepala pula, Ngo Siang sudah mangkat
untuk selamanya.
Semua kejadian dan pengalaman ini bagai mimpi belaka, obor kecil milik Ui Bing sudah mulai guram,
mungkin minyaknya sudah hampir habis. Maka Ji Bun menoleh keluar serta memanggil: "Toako, kau boleh
masuk."
Tiada penyahutan, kembali ia berseru dengan suara lebih keras, namun tetap tiada reaksi. Keruan
hatinya gugup, mungkin Ui Bing mengalami sesuatu? Bergegas dia melompat keluar, beruntun dia melewati
dua kamar batu. Setiba diujung lorong ini, tetap tidak kelihatan bayangan Ui Bing. Sesaat dia berdiri
melongo tak tahu apa yang harus dia lakukan? Tak mungkin Ui Bing pergi tanpa sebab kecuali terjadi
sesuatu. Lekas dia berlari kembali ke dalam kamar mengambil obor, tapi baru saja dia putar balik hendak
mencari Ui Bing pula ....
sekonyong-konyong suara gemuruh dengan getaran hebat. Seluruh kamar batu itu bergoncang seperti
dikocok oleh kekuatan yang dahsyat. Bau belerang dan asap putih yang tebal seketika bergulung-gulung
masuk ke dalam kamar. Semua obor yang tersulut di dalam kamar seketika padam, keadaan menjadi gelap.
Saking kaget serasa terbang sukma Ji Bun. Lama sekali baru dia berhasil menenteramkan hatinya. Dia
tidak tahu apa yang terjadi, lama sekali baru dia pelan-pelan menggeremet maju, dimana jari tangannya
meraba. Seketika dia mengeluh, ternyata lorong bawah tanah sudah tertimbun tanah dan buntu, batu-batu
besar menyumbat mulut lorong. Dia putar balik memeriksa lorong sebelah dalam, ternyata juga telah
tersumbat, ternyata hanya kamar batu dimana dia berada saja yang masih utuh tidak ikut runtuh. Sayang
jenazah Suco telah terkubur disebelah dalam.
Sungguh suatu keberuntungan di dalam bencana ini. Kalau dirinya tidak kebetulan balik ke kamar batu
ini, mungkin dirinya juga terkubur hidup-hidup di lorong tadi. Tapi dalam keadaan seperti ini, apa pula
bedanya kalau dirinya tidak terkubur hidup-hidup di dalam kamar ini? Panjang lorong ini ada beberapa
tombak, cukup asal sebagian diledakkan, dewapun takkan bisa meloloskan diri, kamar batu ini dilapisi batubatu
tebal. Entah berapa dalamnya letak kamar batu ini dari permukaan bumi, harapan untuk keluar dari
timbunan tanah ini jelas nihil.
Siapakah yang meledakan lorong ini? Tentunya orang-orang Ngo-hong-kau. Adakah sangkut paut dengan
menghilangnya Ui Bing? Atau mungkin Ui Bing sendiri sudah terkubur juga ditempat lain?
16.47. Dua Generasi Terkubur ....... ??!!
Ji Bun betul-betul merasa putus harapan. Kalau dia tidak bertemu dengan Suco Ngo Siang, sejak tadi
tentu dia sudah pergi bersama Ui Bing. Kini dua generasi terkubur sekaligus di dalam liang yang sama.
Dia pernah berulang kali mengalami bencana kematian namun kali ini dia betul-betul putus asa, kejadian
gaib tak mungkin terjadi lagi. Manusia, memangnya mungkin dia keluar dengan menerobos bumi. Dengan
lunglai dia duduk mendeprok di atas tanah, tiada yang dipikirkan lagi karena dia tahu berkelebihan untuk
memikirkan sesuatu dalam keadaan seperti ini. Tanpa merasa jari-jari tangannya meraba juga buntalan di
kantongnya, dimana Hoat-wan pemberian Suthayco Ban Yu-siong dia simpan. Dalam hati dia sudah
berkeputusan bila dirinya tak tahan menghadapi siksaan hidup ini biarlah menghabisi jiwa sendiri dengan pil
racun ini.
Nasib manusia memang sukar diramalkan, siapa pernah menduga dikala kepandaian silatnya sekarang
sudah mencapai taraf yang sedemikian tinggi, harapan menuntut balas tinggal soal waktu saja, ternyata dia
harus mengalami peristiwa tragis ini. Dari seorang yang sudah putus asa, semua perasaan cinta, benci, suka
duka sudah kehilangan arti sama sekali.
Waktu berjalan tanpa mengenal kasihan rasa lapar dan dahaga mulai merangsang dirinya. Apalagi dalam
keputus-asaan seperti ini, rasa lapar dan dahaga itu lebih terasa lagi. Tak lama, ia tidak tahan lagi, ia pikir,
nyawa sendiri bakal berakhir, lebih menderita juga tidak menjadi soal.
Beberapa kali dia hendak menelan Hoat-wan namun rasa ingin hidup tetap bertahan dalam sanubarinya.
Selama hayat masih dikandung badan, betapapun manusia harus tetap bertahan hidup. Siksa derita lambat
laun berubah pati rasa. Ini membuktikan bahwa dirinya sudah cukup lama terkurung di dalam kamar batu
ini.
Mendadak timbul sesuatu pikiran, ia lihat kamar batu ini dibawah tanah, lorong sudah buntu, semestinya
untuk bernapaspun menjadi persoalan setelah terkurung sekian lama, namun sedikitpun dia tidak merasa
sesak dan sumpek. Mungkinkah ada celah-celah atau tempat untuk memasukkan hawa kedalam kamar ini?
Bergegas Ji Bun melompat bangun, penemuan inilah seperti selarik sinar harapan baginya untuk cari hidup.
Ia mulai bekerja dengan teliti, setiap tempat, celah-celah atau lekukan dinding dia raba dan diendus
dengan hidung. Setiap senti jengkal mulai diperiksanya dengan seksama, namun sedemikian jauh ia tidak
menemukan apa-apa, tiada sesuatu tempat yang terasa membawa masuk hawa ke dalam kamar ini. Tapi
kenyataan hawa di dalam kamar ini tetap segar, tidak mungkin tiada sebabnya. Maka ia putar otak, ia
teringat akan atap kamar. Maka dia melompat ke atas sambil sebelah tangan terulur ke atas, ternyata
tangan meraba sebuah celah yang cukup besar. Lekas jari tangannya berpegang pada batu-batu yang
menonjol, sehingga dia bergelantung sedikit mengerahkan tenaga dia berusaha menempelkan badannya
pada atap batu, jadi seperti cecak saja tubuhnya bergelantung. Kembali hidungnya mengendus-ngendus,
lalu menarik napas panjang. Ternyata hawa segar mengalir di antara celah-celah ini.
Keruan senangnya bukan main, harapan hidup seketika berkobar. Segera ia melayang turun ke bawah,
kalau celah-celah ini ada hawa segar mengalir masuk, tentu kamar batu ini tidak terlalu dalam dari
permukaan bumi. Lalu tindakan apa yang harus dia lakukan sekarang? Rasa senang luar biasa membuatnya
gemetar, namun juga kebingungan seperti kehilangan akal. Pikir punya pikir, hanya ada satu jalan untuk
lolos keluar, yaitu menjebol atap dinding ini, namun dia juga harus mengambil resiko. Kalau atap dinding ini
runtuh, berarti dirinya akan terkubur seketika. Daya tarik hidup betapapun !ebih besar dari pada resiko
apapun yang harus dihadapinya. Kalau tidak berani menyerempet bahaya bagaimana mungkin dirinya bisa
hidup. Lalu dia menggeremet mundur ke pintu besi, pintu besi ini sudah jebol dan miring keterjang batu
sehingga merupakan suatu lubang yang cukup besar. Jika atap kamar ini nanti ambruk, ke lubang besar di
samping pintu besi inilah dia akan menyelinap dan menyelamatkan diri.
Maka dia berjongkok memasang kuda-kuda, kepalanya mendongak. Setelah napas teratur dan tenaga
penuh, mendadak dia berdiri tegak serta memukul, dengan kedua tangan ke atas, "Blang", tak kalah keras
dari pada ledakan pertama tadi. Batu pasir dan debu sama rontok berjatuhan, pandangan matanya menjadi
terganggu, terasa debu pasir sama berjatuhan menguruk tubuhnya, badannya tertimbun setinggi dada.
Setelah pikiran tenang dan pelan-pelan membuka mata, seketika dia berteriak kegirangan. Tampak
sebuah lubang cukup besar di atas atap yang tergempur pukulannya tadi. Sinar sang surya menyorot masuk
sehingga pandangannya menjadi silau. Dinilai dari tebalnya lubang besar ini, diperkirakan kamar batu ini
terletak dua tombak di bawah permukaan bumi. Sungguh suatu keajaiban yang betul-betul sukar dipercaya.
Waktu ia mengawasi sekelilingnya, kecuali guguran tanah yang tebal, tiada barang lainnya lagi. Jika lubang
di atas atap yang gugur lebih banyak lagi, pasti dirinya ikut terkubur hidup-hidup. Namun demikian batubatu
saka yang menyanggah atap toh sudah bergoyang, mungkin tersentuh sedikit saja akan ambruk
seluruhnya sungguh ngeri sekali.
Sekali lagi dia terhindar dari malapetaka, pelan-pelan dia meronta naik dari timbunan tanah, sekali
melejit lagi dia melesat keluar dari lubang besar di atas atap itu. Waktu pandangannya menjelajah
sekelilingnya, didapati dirinya berada di tanah pekuburan yang liar dan sepi, namun tanah pekuburan ini
berada tak jauh dari kaki tembok kota. Tak jauh di sebelah sana tampak jalan raya, rumah-rumah penduduk
pun tampak dikejauhan sana.
Waktu dia mendongak, sekarang kira-kira sudah menjelang tengah hari, ia pikir sedikitnya dirinya sudah
sehari semalam terkurung di bawah tanah. Sekarang tugas penting, yang harus dia bereskan adalah mengisi
perut serta ganti pakaian, maklum bajunya sudah hancur tinggal beberapa carik kain yang masih
bergelantung dibadannya, kotor lagi. Kalau ketemu orang tentu dirinya dikira mayat hidup yang bangkit dari
liang kubur. Untung barang-barang miliknya yang tersimpan di kantong pinggang serta obat-obatan tidak
hilang, demikian pula Sam-cay-ciat milik Thian-thay-mo-ki yang dipungutnya di hotel juga masih ada.
Untuk mengeduk jenazah Ngo Siang dari urukan tanah yang begini tebal, jelas tidak mungkin lagi, maka
dia berlutut dan menyembah kearah lubang, tak lupa iapun berdoa, lalu berdiri dan berlari menuju ke salah
sebuah rumah yang berdiri menyendiri dari kelompok rumah yang lain.
Rumah yang didirikan dekat pekuburan ini terdiri tiga petak rumah atap, sekelilingnya dipagari tembok
tanah yang sudah berlubang dan banyak yang gugur. Hanya beberapa kali lompatan saja Ji Bun sudah
berada di luar tembok, sejenak dia berpikir lalu menghampiri pintu dan berkaok: "Ada orang di dalam?"
Beruntun tiga kali dia berkaok-kaok, tetap tidak ada sahutan. Ji Bun jadi ragu-ragu, mungkin rumah
kosong yang tidak dihuni orang? Tapi asap tampak mengepul dari cerobong dapur, dikaki tembok sana juga
tampak tumpukan kayu kering, di atas gala bambu yang melintang di sana juga dijemur pakaian orang, tak
mungkin rumah ini kosong, kecuali orangnya sedang keluar semua. Sekilas dia berpikir, lalu memberanikan
diri mendorong pintu melangkah masuk, serunya sekali lagi. "He, ada orang tidak?"
Mulut berkaok kaki melangkah masuk, setiba di ambang pintu dia melongok ke dalam, pemandangan
ngeri dan seram seketika terpampang dihadapannya, hampir saja dia menjerit kaget. Tampak darah
menggenang di situ, diantara genangan darah rebah empat sosok manusia, satu perempuan tiga laki-laki.
Darah masib belum membeku, ini pertanda bahwa empat orang ini belum lama terbunuh.
Pantas tiada sahutan orang, ternyata penghuninya terbunuh seluruhnya. Siapakah pembunuh keluarga
ini? Musuh besarnya atau perampok biasa? Ji Bun tak banyak pikir, tujuannya mencari pakaian untuk ganti,
kalau pemiliknya sudah mati, tidak perlu kuatir apa lagi, langsung dia memasuki kamar di sebelah kiri sana.
Dari sebuah almari dia menemukan sebuah jubah hijau, ikat kepala. Waktu dijajal ternyata pas dengan
perawakan tubuhnya. Dari dalam laci yang lain dia mengeluarkan pula sebuah celana sutera, langsung dia
berganti dan berdandan ala kadarnya, lalu masuk dapur cari makanan dan mencuci muka. Baru sekarang dia
betul-betul merasa segar dan nyaman.
Sekonyong-konyong sejalur angin kencang terasa menerjangnya dari belakang.
Ji Bun agak kaget, kaki menggeser dan tangan bekerja. "Hah, kau?" kedua orang sama-sama berteriak
kaget dan girang. Ji Bun menarik tangannya, Ui Bing juga menurunkan pedangnya, keduanya saling
berpandang sekian saat.
"Hiante," kata Ui Bing, "kau ....... tidak mati?"
"Ya, tidak mati, Toako bagaimana ...."
"Bukankah kau terpendam di bawah lorong itu?"
"Benar tapi Thian masih memberi berkah hidup padaku, kembali aku lolos dari renggutan maut."
"Lalu kau ..... bagaimana bisa keluar?"
“Menjebol atap kamar batu, itulah letaknya di tanah pekuburan sana."
"O, sungguh terima kasih kepada langit dan bumi, sekian lamanya aku menjadi kuatir dan kebingungan,
bagaimana Hiante bisa berada di sini?"
"Mencari baju untuk ganti pakaian."
"Orang tua dalam kamar tahanan itu?"
"Sudah meninggal!"
Ui Bing tidak tanya Lebih lanjut, malah Ji Bun balas bertanya: "Toako, kenapa kau mendadak menghilang
dari bawah lorong itu?"
Ui Bing menghela napas, katanya. "Kau minta aku menyingkir sementara, maka aku keluar menuju
kamar batu di sebelah luar. Tidak lama kemudian kudengar langkah orang mendatangi, segera aku lari
keluar. Setiba dipersimpangan jalan, kulihat dua bayangan orang berlari balik menuju ke lorong semula.
Baru saja aku hendak mengejar kesana, mendadak kucium bau bahan peledak yang terbakar, ku tahu
gelagat berbahaya, namun tidak berhasil kutemukan di mana letak bahan peledak itu dipendam, terpaksa
aku berlari balik. Namun baru beberapa tombak, dinamit itu sudah meledak, lorong yang menuju
kekurungan orang tua seluruhnya menjadi buntu. Aku sendiri hampir saja mampus teruruk tanah waktu itu,
aku kebingungan, tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku juga kuatir kepergok musuh, kau tahu, jago-jago
Ngo-hong-kau semua berkepandaian tinggi, aku jelas bukan tandingan mereka."
Ji Bun menuding keempat sosok mayat, tanyanya: "Toako yang membunuh sekeluarga ini?“
"Ya, aku yang membunuhnya."
"Kenapa Toako bunuh mereka?"
"Kau kira siapa mereka? Kaki tangan Ngo-hong-kau! Mulut lorong di bawah tanah itu terletak di bawah
meja dalam ruang tamu di bilik sebelah sana. setelah terjadi ledakan di bawah tanah itu, aku lalu lari keluar
dan tiba di sini. Cukup payah juga aku membunuh keempat orang ini, untung aku tidak kepergok dengan
Kiang Giok dan rombongannya."
Ji Bun manggut-manggut mengerti, tanyanya: "Ke mana rombongan Kiang Giok itu?"
"Entah, dari salah seorang mereka yang kukompes keterangannya, setelah keluar dari sini, katanya
mereka lantas berpencar."
"Terpaksa kita harus geledah gedung mereka itu?"
"Begitupun baik, mari kita masuk kota, tetap masuk dari pintu besar gerak-gerik harus lebih cekatan,
lubang ini harus kita timbun dulu."
Keduanya lalu keluar, dengan pukulan beberapa kali, tiga rumah atap ini mereka pukul sampai ambruk,
pagar tanahpun mereka gempur dan kebetulan untuk menyumbat mulut lorong di bawah meja.
"Toako", ujar Ji Bun setelah selesai bekerja, "kukira kau tidak usah pergi, agak berbahaya bagimu."
"Hiante, kenapa kau bilang demikian."
"Toako, terus terang, persoalan ini menyangkut urusan dalam perguruanku, kuharap Toako maklum.”
"Kalau urusan menyangkut perguruanmu, aku tak bisa bilang apa-apa, kepandaianmu memang cukup
berlebihan untuk mempertahankan diri, namun pengalamanmu masih cetek, ini menguatirkan."
"Terima kasih akan perhatian Toako, Siaute akan bertindak hati-hati."
Urusan perguruan umumnya tidak boleh dicampuri orang lain, hal ini Ui Bing cukup maklum, karena Ji
Bun tidak menjelaskan maka Ui Bing juga tidak berani tanya, meski dalam hati ingin tahu, terpaksa dia
berkata dengan rikuh: "Baiklah, tapi ingat, setelah urusanmu selesai, datanglah ke hotel itu, kutunggu di
sana. Cukup katakan hendak mencari seorang tua, pemilik hotel akan tahu."
"Baiklah, oya, Siaute masih ingin tanya, di manakah gurumu sekarang?"
Ui Bing melengak, sahutnya: "Guruku pergi ke suatu tempat yang jauh, dalam waktu dekat sukar
kembali, ada apa?"
“Gurumu pernah berjanji untuk bertemu di rumah keluarga Ciang di Kay-hong sebulan kemudian, banyak
persoalan rumit yang hendak dijelaskan padaku. Tak nyana karena kebentur suatu urusan aku pergi sampai
setengah tahun sehingga tidak dapat menepati janji ..........”
"Guruku pernah menyinggung soal ini, terpaksa kau harus menunggu beliau kembali."
"Baiklah, Siaute mohon diri sekarang."
"Jangan lupa setelah urusanmu beres, carilah aku."
Ji Bun mengiakan, sekali lompat dia berlari-lari menuju ke tanah pekuburan, sebentar dia berdiri
celingukan, tiada bayangan orang lain, langsung dia lari masuk kota menuju gedung cabang Ngo-hong-kau.
Pintu besar yang bercat hitam hanya tertutup separo, keadaan di luar tetap sunyi. Tanpa pikir dengan
langkah lebar dia beranjak masuk.
"Siapa?" tiba-tiba sebuah bentakan berkumandang seorang laki-laki baju hitam muncul, melihat Ji Bun,
tiba-tiba dia menjerit seram seperti melihat setan di siang bolong. Cepat dia putar tubuh lari sipat kuping,
tapi sekali berkelebat Ji Bun tangkap kuduk laki-laki itu, katanya dingin: "Di mana pimpinan kalian?"
Saking ketakutan pecah nyali laki-laki itu, mana dia sanggup bicara, kuatir Kiang Giok mendengar suara
gaduh dan melarikan diri, Ji Bun tidak banyak tanya lagi, dia tutuk Hiat-to orang. Laki-laki itu menjerit sekali,
terus roboh menggeletak tak bernyawa. Ji Bun berlari masuk dan langsung menuju ke ruang pendopo,
dilihatnya di dalam banyak bayangan orang tanpa mengeluarkan suara secepat kilat tiba-tiba dia menerjang
ke dalam. Agaknya kedatangannya terlalu mendadak, di samping gerak geriknya yang tarlalu cepat, tiada
yang melihat jelas wajahnya. Begitu tubuhnya berdiri tegak barulah orang-orang disekelilingnya sama
menjerit kaget: "Te-gak Suseng!"
Maksud Ji Bun semula hendak langsung membereskan orang-orang Ngo-hong-kau, tapi sekilas pandang,
seketika dia berdiri melongo, karena keadaan dalam ruang besar ini agak ganjil. Puluhan orang berkelompok
menyendiri di sebelah sana, tampak Kiang Giok dibekuk oleh dua orang laki kekar, di sampingnya lagi berdiri
Thong-sian Hwesio, Siang-thian-ong dan Siucay tua yang menggusur ke atas perahu itu. Kalau demikian
laki-laki baju hitam yang dia bunuh di luar tadi ternyata anak buah Wi-to-hwe. Bahwa Siucay tua ini akhirnya
masuk kelompok orang-orang Wi-to-hwe, hal ini sungguh di luar dugaan Ji Bun. Seluruh perhatian dan
pandangan hadirin dalam ruang pendopo ini tertuju ke arah Ji Bun.
Segera Ji Bun tahu apa yang telah terjadi di sini, agaknya Kiang Giok mengira dirinya sudah mampus
tertimbun di lorong bawah tanah, maka dia balik ke gedungnya ini, tak nyana pihak Wi-to-hwe mendadak
menggerebek tempat ini sehingga dia tertawan oleh jago-jago Wi-to-hwe yang berkepandaian tinggi.
Siucay tua segera melangkah maju dan berdiri mengadahg pintu, katanya sambil tertawa dingin kepada
Ji Bun: "Te-gak Suseng, kau belum mampus?"
"Kalau Cayhe mati, bukankah para cecunguk bakal merajalela?"
"Kebetulan kau kemari, Lohu tidak perlu membuang waktu mencarimu."
"Akupun hendak mencarimu, perlakuanmu setengah tahun yang lalu, memangnya harus kutelan.”
"Takabur sekali kau, dengan cara apa kau hendak membalas diriku?"
"Gampang saja, kucabut nyawamu!"
Siucay tua itu mendengus, jengek: "Anak serigala, boleh kau mencobanya."
"Baik, sambut pukulanku!" ditengah seruannya, Tok-jiu-it-sek dilontarkan.
Betapa dahsyat serangan ini, Siucay tua tahu datangnya bahaya, serasa terbang sukmanya, bukan saja
dirinya tidak mampu membela diri, kesempatan untuk menyingkirpun tiada. Thong-sian Hwesio menjerit
kaget, pandangannya lebih tajam. Dia lihat serangan Ji Bun ini betul-betul lihay, untuk membantu jelas tidak
sempat lagi, dalam gugupnya timbul akalnya, sekali tangan bergerak sejalur angin kencang halus dan lunak
membikin Siucay tua terdorong sempoyongan dua langkah. Terpaut beberapa senti saja jiwanya hampir
direnggut oleh serangan Tok-jiu-it-sek yang hebat.
Selama setengah tahun Ji Bun digembleng dan ditempa sehingga ilmu yang dipelajarinya sudah
mencapai taraf tertinggi. Kepandaiannya dapat digunakan sesuka hati, sebelum tenaga murninya dia
salurkan, serangan hebat itu sudah ditariknya kembali.
Namun demikian Siucay tua itu sudah pucat pias mukanya saking jera, tak pernah terpikir olehnya dalam
jangka setengah tahun saja Te-gak Suseng sudah mencapai sukses yang demikian besar dan mengejutkan.
Siang-thian-ong sendiri juga kaget dan ciut nyalinya. Sorot mata Thong-sian terang tajam, wajah Ji Bun
ditatapnya sekian saat, katanya dengan suaranya berat: "Kelihatannya hari ini Pinceng harus
membunuhmu.”
Setengah tahun yang lalu dia berkata demikian bukanlah membual. Namun sekarang keadaan sudah jauh
berbeda sejak mempelajari ilmu tingkat tinggi dari Ban-tok-bun. Kepandaiannya sekarang boleh dikatakan
sudah sukar dicari tandingannya.
"Thong-sian Hwesio hendak membunuh aku," jengek Ji Bun, "kukira sukar terlaksana."
"Biarlah kenyataan akan membuktikan omonganku."
"Thong-sian Hwesio, ada beberapa pertanyaan kuharap kau suka menjawab sejujurnya."
"Coba katakan."
"Jit-sing-pocu Ji ing-hong, apa benar kau yang membunuhnya?"
"Apa? Darimana kau ........”
"Dua orang berkedok yang mati dipinggir jalan Kay-hong itu."
"Apakah itu Ji Ing-hong?"
"Ya, seorang yang lain adalah Jit-sing-ko-jin. Kau mengaku?"
"Omong kosong belaka. Jit-sing-ko-jin adalah duplikat ayahmu sendiri."
Ji Bun menyurut kaget, serunya gemetar: "Thong-sian, kaulah yang membual."
"Ayahmu menyamar jadi Jit-sing-ko-jin, sekongkol dengan Biau-jiu Siansing dan merebut Sek-hud,
belakangan dia menyamar jadi murid Ngo-lui-kiong dan membuat huru hara ke Tong-pek-san, semua ini
kenyataan."
"Lalu siapa yang terbunuh di jalanan menuju Kay-hong itu?"
"Kau sendiri tentu tahu lebih jelas."
"Aku tidak tahu."
"Sulit dipercaya."
Ji Bun merasa bingung, apa yang diucapkan Thong-sian agaknya memang benar namun kalau betul Jitsing-
ko-jin duplikat ayahnya, kenapa dia berusaha membunuh dirinya? Adakah seorang ayah tega
membunuh puteranya sendiri? Tidak mungkin. Tanpa sadar Ji Bun menggembor sekeras-kerasnya: ”Tidak
mungkin!"
"Thong-sian," setelah tenangkan diri Ji Bun berkata pula, "katakan saja, apakah kau yang membunuh
kedua orang berkedok itu?"
"Bukan."
"Lalu berdasarkan apa kau berani mengatakan Jit-sing-ko-jin adalah duplikat ayahku?"
"Semua kenyataan hanya bisa mengelabuhi orang sementara, Pinceng kenal betul perawakan, sepak
terjang dan kepandaian silatnya."
"Kau .... jadi kau hanya berdasar beberapa dugaanmu ini?"
"Kedua orang yang mati itu terkena racun, sedang ayahmu seorang ahli dalam bidang ini."
"Ayahku bukan seorang ahli racun."
"Lalu bagaimana pendapatmu?"
“Ayahku bukan Jit-sing-ko-jin, tapi kenyataan bahwa kedua orang tuaku dicelakakan."
Terbayang sorot bimbang pada pandangan Thong-sian, dia cukup berpengalaman, dari nada bicara dan
mimik Ji Bun, dia yakin Ji Bun tidak membual, kalau betul apa yang dikatakan Ji Bun bahwa Ji Ing-hong
belum mati, tidak mungkin Ji Bun mengawasinya dengan pandangan begitu benci dan dendam terhadap
dirinya. "Ji Bun," katanya kemudian, "Katakan kenapa Jit-sing-ko-jin bukan ayahmu?"
"Karena Jit-sing-ko-jin pernah mencelakai aku."
Semakin tebal bayangan ragu dan bimbang pada pandangan Thong sian.
Dengan suara lantang Ji Bun melanjutkan: "Siangkoan Hongkah yang membantai orang-orang Jit-singpo?"
"Bukan," jawab Thong sian.
Otak Ji Bun seperti dibalut kabut tebal, beruntun dirinya mencari balas kepada Wi-to-hwe, tapi kenyataan
semuanya meleset dari dugaan dan analisa yang pernah dirangkainya, betapa rumit dan lika liku persoalan
ini? "Katamu, kau punya kesan mendalam terhadap ayahku? Coba jelaskan."
"Betul, memang kau harus tahu, tentunya kau masih kenal cerita yang pernah dikisahkan Siangkoan
Hong kepadamu bukan?"
Teringat akan cerita itu, bukan kepalang derita hati Ji Bun karena kesalahan memang terletak pada
ayahnya. Bukan saja rebut isteri orang, anaknya dibunuh pula, akhirnya daging isteri orang dimasak buat
hidangan menyuguhi suaminya pula. Perbuatan diluar perikemanusiaan ini seakan-akan bukan dilakukan
oleh manusia sehat. Namun sebagai seorang anak, betapapun jahat dan salah ayahnya, tidak mungkin dia
mencercahnya, apalagi kini ayahnya sudah mati, maka dengan mengertak gigi dia manggut-manggut,
sahutnya: "Masih ingat, kenapa?"
"Dulu Siangkoan Hong terpaksa merusak wajahnya sendiri menyelundup ke Jit-sing-po dan diangkat
sebagai salah seorang Jit-sing-pat-ciang. Tujuannya adalah untuk bertemu dengan isterinya yang direbut
dan anak yang dikandung isterinya. Celakalah karena rahasianya terbongkar, jejaknya konangan ayahmu,
maka isterinya dibunuh ........”
"Tidak usah kau lanjutkan," tukas Ji Bun dengan suara serak.
16.48. Silat Tinggi .... Cetek Pengalaman
Thong-sian Hwesio tertegun sebentar, lalu melanjutkan. "Ayahmu mengutus tertua dari Jit-sing pat-ciang
mengantar Siangkoan Hong keluar benteng, yang terang ayahmu memerintahkan Ciu Tay-lian untuk
memenggal kepalanya. Namun Ciu Tay-lian sendiri sadar akan semua perbuatan ayahmu yang kelewat
jahat, malah dia bersimpatik terhadap Siangkoan Hong, akhirnya mereka minggat bersama ....... (baca
pembukaan cerita ini)."
"Siapa bisa membuktikan bahwa ceritamu ini berdasar kenyataan?" tanya Ji Bun.
"Pinceng sendiri. Karena pinceng menyaksikan semua peristiwa ini."
"Thong sian, kejadian ini mungkinkah disaksikan orang luar?"
"Kau tahu nama asli Pinceng?"
"Siapa kau?"
"Pinceng adalah tertua dari Jit-sing-pat-ciang yang dahulu she Ciu bernama Tay-lian."
"Kau ......" kepala Ji Bun seperti dipukul godam, badannya limbung dan sempoyongan. Mimpipun tak
pernah dia bayangkan bahwa Thong-sian Hwesio yang memiliki Lwekang dan kepandaian silat setinggi ini,
dulu adalah tertua dari Pat-ciang yang menjadi andalan ayahnya.
"Ji Bun," tiba-tiba Thong-sian berseru lantang, "sudah tiada yang perlu diomongkan lagi, sekarang
Pinceng mau turun tangan."
Ji Bun menyurut mundur, katanya: "Thong-sian, lebih baik kau tidak turun tangan, kau bukan
tandinganku."
''Mungkin, tapi sebagai seorang insan persilatan, demi membela kebenaran, meski gugur juga terasa
bangga."
“Aku tidak ingin membunuhmu."
“Tapi Pinceng justeru akan membinasakan kau demi ketenteraman Bu-lim umumnya."
Ji Bun mundur lagi sampai keluar undakan, katanya: "Boleh kau mencobanya?”
Thong-sian juga melangkah keluar, kedua orang berhadapan di serambi luar yang luas. Suasana seketika
menjadi tegang dan mencekam.
"Silakan turun tangan!” tantang Ji Bun.
"Ji Bun, mestinja Pinceng tidak boleh menyerangmu, namun kenyataan memaksa ....."
"Tidak perlu kau pura-pura welas asih."
"Lihat pukulan!" tiba-tiba Thong-sian menghardik, berbareng lengan jubahnya mengebas. Segulung
angin kencang seketika menungkup ke arah Ji Bun.
Ji Bun mengertak gigi, iapun ayun kedua tangan menyambut serangan. "Plok", seperti suara baja yang
pecah berkeping-keping kedua orang tergentak mundur. Bayangan kedua orang hanya berpencar sekejap
terus saling tubruk dan serang menyerang dengan seru. Ketika Ji Bun mengerahkan sepenuh tenaganya,
ditengah suara yang memekak telinga, Ji Bun tergeliat sedikit, sebaliknya Thong-sian Hwesio mundur dua
tindak. Semua hadirin sama terbelalak pucat.
Thong-sian menggerung rendah, bayangan tangannya bergulung-gulung dan berlapis-lapis dari pukulan
jarak jauh, kini dia menyerang sesungguhnya dengan kekuatan kepalannya. Ji Bun juga berseru melengking.
Jurus Tok-jiu-it-sek tahu-tahu menembus bayangan telapak tangan orang yang berlapis-lapis dan langsung
menjojoh ulu hati orang.
Di tengah jeritan kaget orang ramai, tahu-tahu Thong-sian menyurut lima langkah, wajahnya tampak
jera dan ngeri. Sebelum dia sempat bertindak lebih lanjut, Ji Bun sudah berkelebat maju pula, kini dia
lancarkan Tok-jiu-ji-sek yang bernama To-liong-jan-kiau.
Jeritan orang banyak kembali membuat suasana tegang semakin mencekam, hawa seolah-olah membeku
dalam waktu sesingkat itu, setelah lenyap suara jeritan, keadaan menjadi sunyi senyap. Telapak tangan Ji
Bun berhenti mendadak kira-kira tiga senti di atas, Hian-ki-hiat di tubuh Thong-sian. Telapak tangan malah
sudah menempel ubun-ubun kepala Thong-sian yang gundul. Jelas ketika jiwa Thong-sian hampir terenggut
oleh serangan Ji Bun itu mendadak dia menghentikan serangan. Semua hadirin sama melihat jelas, kalau
gerakan tangannya tidak direm tepat pada waktunya, jiwa Thong-sian pasti sudah melayang.
Terbayang perasaan ngeri dan seram pada wajah Thong-sian yang jiwanya telah berada ditepi jurang
kematian, selebar mukanya pucat pasi. "Bunuhlah, Pinceng menyerahkan jiwa ragaku."
Ji Bun menarìk tangan, katanya dingin: "Aku pernah utang budi sekali padamu, sekarang utangku sudah
kubayar, selanjutnya kita tiada utang piutang lagi."
Thong-sian menghela napas dengan lesu, dia tidak bicara lagi.
Ji Bun mundur dua langkah, sorot matanya tertuju ke ruangan menatap Kiang Giok tanpa berkesip. Kiang
Giok tertunduk, dia tahu, peduli Te-gak Suseng atau Wi-to-hwe, jiwanya bakal tak tertahankan lagi.
Ji Bun tiba-tiba berpaling ke arah Thong-sian, katanya: "Serahkan dia padaku."
"Kukira tidak mungkin."
"Apa yang telah kukatakan tidak boleh ditentang."
"Te-gak Suseng," semprot Siang-thian-ong, "terlalu takabur kau!"
Tanpa melirik sedikltpun, Ji Bun menjengek: "Bukan urusanmu, jangan cerewet."
"Anak srigala," desis Siaucay tua penuh kebencian, "kau ingin membawanya pergi, bunuh dulu semua
hadirin di sini "
"Kalau perlu bisa saja kulakukan."
"Ji Bun," lekas Thong-sian bersuara, "apa tujuanmu membawa pergi?"
"Pertama, menyelidiki di mana letak markas pusat Ngo-hong-kau. Kedua ada urusan pribadi yang harus
kubereskan."
"Tujuan pertama sejalan dengan maksud kedatangan kami, untuk ini ingin mengadakan perjanjian secara
laki-laki ..........”
"Perjanjian apa?” tanya Ji Bun.
"Bahan-bahan yang kau dapat dari mulutnya mengenai Ngo-hong-kau, pihak kami harus diberitahu
juga," agaknya Thong-sian bersedia mengalah.
Kini semakin jelas bahwa pihak Wi-to-hwe sebetulnya tiada permusuhan yang mendalam dengan dirinya,
kini setelah kesannya jauh berubah, sudah tentu dia tidak ingin mengikat permusuhan lagi, maka dia
manggut-manggut: "Soal ini dapat kuterima.”
"Baik, boleh kau membawanya pergi, yang lain-lain akan membereskan mereka."
Tujuan Ji Bun hanya Kiang Giok seorang, karena dia adalah murid murtad perguruannya, dirinya harus
menjalankan perintah dan aturan mencuci nama baik perguruan, tentang orang-orang Ngo-hong-kau yang
lain tidak perlu diurus.
Siucay tua dan Siang-thian-ong meski tidak terima, namun tiada seorangpun hadirin yang menjadi
tandingan Ji Bun. Kalau main kekerasan, akibatnya tentu fatal. Thong-sian sebagai pimpinan dalam operasi
ini sudah memberikan persetujuan kepada Ji Bun, sudah tentu mereka tidak enak menentangnya, meski hati
uring-uringan dan mata mendelik, namun tidak berani banyak omong lagi.
Otak Ji Bun bekerja, ke mana dia harus membawa Kiang Giok? Ia pikir lebih tepat dibereskan di tempat
ini juga, maka ia berkata: "Thong-sian, Kiang Giok ditinggalkan saja, yang lain terserah kalian hendak
menghukumnya, silakan mundur dari ruangan ini."
Thong-sian berpikir sebentar, lalu mengulap tangan memberi perintah: "Semua mundur, orang-orang ini
gusur keluar!"
Murid-murid Wi-to-hwe bergegas keluar semua.
"Te-gak Suseng," ancam Siucay tua sebelum pergi, "urusanmu denganku belum selesai bukan?"
"Setiap saat aku menunggu kau," tantang Ji Bun.
Setelah semua orang pergi, kini tinggai Kiang Giok bersama Ji Bun, dengan pandangan ngeri ketakutan
dia mengawasi Ji Bun.
Ji Bun memasuki ruangan, sorot matanya setajam pisau seterang nyala bara, katanya menatap Kiang
Giok: "Kiang Giok, marilah kita bicara beberapa persoalan dulu baru membereskan urusan pokok, kuharap
kau bicara terus terang dan blak-blakan, jangan kau paksa kugunakan siksaan untuk mengompes
keteranganmu."
Kiang Giok jelas tertutuk Hiat-tonya, tak nampak gejala-gejala ingin melawan, wibawanya yang angker
sudah sirna tak membekas, jauh berbeda dengan sikapnya semula waktu mereka berhadapan pertama kali.
Hening sekian lamanya, baru Ji Bun baka suara: "Siapa yang membunuh Sam-cay Lolo di dalam hotel
itu?"
"Kaucu sendiri yang turun tangan."
"Lalu di mana gadis itu?"
"Sudah di bawah ke markas pusat."
"Di mana letak markas pusat kalian?"
"Aku tidak tahu."
"Kau ingin merasakan siksaanku?”
"Penggal kepalaku juga tetap kubilang tidak tahu."
"Baik, soal ini kesampingkan dulu. Siapakah Kaucu kalian?"
"Entahlah."
Ji Bun naik pitam, hardiknya murka: "Sekali lagi kau jawab tidak tahu, Awas!”
"Te-gak Suseng," kata Kiang Giok mengertak gigi: "Tak beruntung aku jatuh ke tanganmu, mau kau
bunuh dan sembelih boleh, silakan. Ketahuilah, kau sendiri tidak akan berumur panjang, akan datang orangorang
kita mencari balas padamu."
"Kaucumu maksudmu?"
“Kau belum setimpal dihadapan beliau."
Hampir meledak dada Ji Bun, sekali ulur dia hendak tutuk orang, namun pikirannya tiba-tiba tergerak, dia
hentikan gerakannya, Kiang Giok adalah murid generasi perguruan yang lebih tinggi dari dirinya, dia harus
bertindak menurut undang-undang perguruan, kalau sampai menggunakan siksaan, itu sudah keluar dari
batas-batas ketentuan, lawan belum tahu asal usul dirinya, kalau hubungan kedua pihak dia beber, tentu
orang tidak bisa mungkir dari segala tanggung jawab lagi. Maka dengan wajah kereng katanya tajam:
"Kiang Giok, sebutkan nama perguruanmu."
Kiang Giok diam saja, tidak perdulikan pertanyaannya.
"Dengan cara keji kau mengurung orang tua di bawah tanah itu, tahukah kau telah melanggar tata
tertib?"
"Tata tertib apa?"
"Mendurhakai moyang menyalahi guru, mati hukumannya."
"Durhaka terhadap moyang dan berbuat salah terhadap guru?" Kiang Giok menegas.
"Memangnya kau masih mau mungkir?”
Sekonyong-konyong sebuah suara yang seram mendirikan bulu kuduk berkumandang dari arah pintu:
"Anak muda, memangnya kau telan empedu biruang dan makan hati harimau, berani kau mencari setori
pada Ngo-hong-kau?"
Waktu Ji Bun berpaling, seketika dia merinding, tampak di depan pintu berdiri mahluk yang lebih
menyerupai setan daripada manusia, rambutnya merah panjang menjuntai kepundak, codet besar melintang
di mukanya dari arah jidat kirinya mencoreng ke mulut kanan. Mata kiri dan separo hidungnya lenyap tinggal
lobang-lobang besar yang mengerikan, kulitnya hitam legam, badannya kurus seperti bambu, tak ubahnya
seperti mayat hidup. Mata kanannya memancarkan sinar hijau yang menyedot sukma orang, pakaiannya
serba hitam, bunkan saja longgar juga kedodoran, mirip sekali dengan orang-orangan rumput yang
tergantung di tengah sawah.
Ji Bun tenangkan diri, katanya: "Tuan ini siapa."
"Akulah Hu-kaucu (wakil ketua) Ngo-hong-kau, Jit-sat-sin Jiu Jing."
"Kemari mengantar jiwa?"
"He he he, anak muda, Lohu akan membeset kulitmu hidup-hidup."
"Dengan tampangmu yang seram ini?"
"Anak muda, menggelinding keluar sini!"
Ji Bun tutuk Kiang Giok lebih dulu, katanya: "Kiang Giok, aku mendapat perintah dari Suco agar
mengadakan pembersihan, kau tunggu di sini saja."
Pelan-pelan dia beranjak keluar. Berkedip mata satu Jit-sat-sin Jiu Jing bergema suaranya yang pecah
gemeratak: "Anak muda, kau hendak mencuci nama baik perguruan mana?"
Ji Bun berhenti dihadapan orang, sahutnya dingin: "Peduli apa dengan kau."
"Anak muda," tanya Jit-sat-sin Jiu Jing, "kau seperguruan dengan Kiang Giok? Tapi menurut apa yang
kutahu, Kiang Giok tidak punya saudara seperguruan, kau anak muda .........”
"Tutup mulutmu, aku tiada tempo mengobrol dengan kau, jawab sepatah kata pertanyaanku, siapa
Kaucu kalian?"
"Kau belum setimpal menanyakan beliau."
"Bagus sekali, kali terakhir inilah kau bisa membuka mulut," dengan mengerahkan segenap tenaganya,
kedua tangan segera membelah ke depan. Ji Bun sudah bertekad di dalam tiga gebrakan jiwa lawan harus
ditamatkan untuk selanjutnya mengompes Kiang Giok. Betapa hebat kepandaian silat Ji Bun sekarang,
serangannya sungguh bukan olah-olah lihaynya.
Jit-sat-sin Jiu Jing melengking aneh, seperti gasingan tiba-tiba tubuhnya berkisar ditempatnya, meski
damparan angin pukulan sekeras gugur gunung, dia tetap mendesak maju. Sepuluh jari tangannya yang
kurus bagai cakar mengincar ulu hati dan muka Ji Bun. Gerakan ini sungguh merupakan suatu ilmu mujijat
yang jarang ada di dunia persilatan sehingga lawan yang diserang seakan-akan takkan mungkin membela
diri atau meyingkir apalagi balas menyerang.
Ji Bun terkejut, sigap sekali kakinya melangkah minggir tiga kaki selicin belut. Tapi gerakan jit-sat-sin
seperti bayangan saja terus mengikuti, serangannya tetap membadai. Tapi hanya memperoleh kesempatan
sedetik menyingkir tadi, Ji Bun sudah dapat kesempatan untuk balas menyerang. Tok-jiu-it-sek laksana kilat
menggaris ke arah musuh, dengan menyerang dia hadapi serangan lawan pula.
Kini ganti Jit-sat-sin yang berteriak kaget sambil melejit mundur beberapa kaki, serangan ajaib dan
kelihatannya mustahil ini sungguh membuat jantungnya bergetar kaget. Ji Bun tidak beri kesempatan lawan
ganti napas dan menempatkan diri pada posisi yang menguntungkan, Tok-jiu-ji-sek segera dilontarkan pula
secara berantai.
"Ngek!" terdengar Jit-sat-sin Jiu Jing mengeluh tertahan, suaranya tenggelam dalam tenggorokan seperti
anjing keselak tulang dikerongkongannya. Badannya limbung sempoyongan beberapa tindak, dia mundur
sampai di bawah serambi, rambut kepalanya yang gondrong merah seakan-akan berdiri, wajahnya yang
buruk seram begitu beringas buas, terutama codet yang menakutkan itu bertambah mengerikan
kelihatannya, hanya sekali melejit ia melambung tinggi ke wuwungan rumah terus berkelebat lenyap entah
kemana.
Ji Bun juga terperanjat, sungguh tak nyana, lawan hanya terluka sedikit dan tidak roboh meski terkena
serangan Tok-jiu-ji-sek, ini membuktikan bahwa Lwekang dan taraf kepandaian Jit-sat-sin betul-betul amat
mengejutkan, naga-naganya masih lebih unggul dibandingkan Thong-sian Hwesio atau Kian Ceng-san yang
dibunuhnya itu, tiada minatnya untuk mengejar. Pikirannya tertuju kepada Kiang Giok sebagai murid murtad
perguruannya. Cepat ia lari masuk ke ruangan, namun seketika dia melongo, ternyata Kiang Giok sudah
tidak kelihatan bayangannya.
Hiat-to Kiang Giok tertutuk, kalau tiada orang lain menolongnya tak mungkin dia bisa menjebol tutukan
dan melarikan diri. Ini membuktikan bahwa pihak lawan masih menyembunyikan jago-jago yang cukup
diandalkan di dalam gedung ini. Saking gusar dan gemas, serasa hampir meledak dada Ji Bun. Jenazah Suco
Ngo Siang belum lagi dikebumikan dengan semestinya, petuahnya bagai masih mengiang di tepi telinga,
setimpalkah dia membiarkan murid durhaka itu bebas berbuat jahat lagi di luaran.
Sekali pukul dia bikin remuk pintu angin, tetap tidak kelihatan bayangan orang, setiap pintu kamar
digempurnya runtuh, dari sekian banyak pintu-pintu kamar tiada satupun yang utuh, namun bayangan
orang tetap tidak nampak.
Memuncak rasa gusarnya, namun tiada sasaran untuk melampiaskan murkanya. Bahwa Kiang Giok
berhasil lolos, itu berarti segala upaya bakal sia-sia belaka. Nama baik perguruan tetap tak berhasil dia cuci
bersih, nasib Thian-thay-mo-ki dan ibundanya tetap merupakan tanda tanya besar. Ngo-hong-kau tidak
menggunakan kode-kode rahasia khusus, kecuali mereka mencari setori pada dirinya, kalau tidak sulit
menemukan jejak mereka. Ji Bun jadi serba susah, maju mundur serba salah.
Kalau Ui Bing ada di sampingnya, tentu urusan tidak sampai runyam seperti ini, namun mengingat
urusan perguruan sendiri betapapun pantang diketahui orang luar, maka dia berkeras tidak mengikut
sertakan Ui Bing dalam melaksanakan tujuannya kali ini. Sekarang baru betul-betul dia menyadari
kesempitan pikiran dan ceteknya pengalaman, kalau tidak, urusan tidak akan gagal serunyam ini.
Sekian lamanya nuraninya diamuk emosi, lambat laun tenang juga pikirannya, diam-diam ia menerawang
sikap dan tindakan apa yang harus segera dilaksanakannya.
Pertama, dia merasa penting untuk mengetahui letak markas pusat Ngo-hong-kau baru urusan lain bisa
diselami satu persatu secara berantai, namun usahanya ini terang teramat sulit, dia hanya pasrah kepada
nasib dan keberuntungan belaka. Maka dengan lesu lunglai dia meninggalkan gedung ini, tanpa disadari dia
telah keluar dari kota Bik-su.
Di jalanan dia keluntungan tanpa arah menentu, pikirannya selalu dikocok oleh usaha membalas dendam
dan menumpas kejahatan. Tiba-tiba pikirannya tergerak. Menurut Ui Bing, Sin-eng-pang sudah dicaplok oleh
Ngo-hong-kau, kini sudah dijadikan cabang kedua dari Ngo-hong-kau. Kalau sekarang dia menuju ke markas
Sin-eng-pang dulu, bukan mustahil disana bakal menemukan sesuatu yang diharapkan. Maka dia percepat
langkah menuju ke tempat Sian-eng-pang.
Hari ketiga, tidak lama setelah fajar menyingsing, Ji Bun tiba di Ciam-liong-kok, di mana markas Sin-engpang
dulu didirikan. Ciam-liong-kok (lembah naga sembunyi) adalah sebuah selat yang diapit gunung
gemunung, kalau tidak apal jalannya sulit menemukan lembah ini.
Ji Bun berhenti di mulut lembah, sekian saat dia celingukan memeriksa sekelilingnya, tidak nampak ada
sesuatu gerakan yang mencurigakan, diam-diam hatinya menggerutu. Agaknya Ngo-hong-kau memang
sebuah perkumpulan serba misterius, yang anggotanya bergerak seperti setan gentayangan. Sejenak dia
berpikir, lalu dia melangkah masuk ke dalam lembah.
Jalanan tidak lebar, sebuah jalanan lika-liku yang berputar kian kemari di antara tumpukan batu-batu
aneh, Ji Bun menyusuri jalan-jalan lika-liku ini terus maju kedepan. Kira-kira seratus tombak kemudian, tibatiba
telinganya mendengar suara gemeretak yang cukup keras dan mencurigakan. Waktu dia menoleh,
dilihatnya asap tebal bergulung-gulung membubung tinggi ke angkasa, ternyata mulut lembah dari mana
tadi dia masuk telah ditutup dan disumbat dengan kobaran api yang teramat besar.
Ji Bun maklum bahwa pihak lawan telah siaga, kedatangannya sudah direka oleh lawan, maka mereka
memasang perangkap untuk menjebak dirinya, namun sikapnya tak acuh, langkahnya tetap maju ke depan.
Tiba-tiba asap tebal tampak berkobar pula disebelah depan, lekas sekali "jago merah" sudah menyala
besar sekali sehingga depan dan belakang tersumbat atau terkurung oleh kobaran api yang mengganas.
Dedaunan dan rumput-rumput kering dalam lembah memang banyak, maka cepat sekali api merambat
seperti mengejar mangsa. Apalagi pihak lawan agaknya memang sudah sengaja mengatur sehingga dalam
sekejap api sudah menjalar kian kemari. Suhu panas dalam lembah seketika juga naik, lembah ini diapit
tebing gunung yang tinggi dan curam. Terkepung ditengah kobaran api seperti ini, agaknya nasibnya bakal
terbakar hangus.
Keadaan cukup gawat, Ji Bun harus berusaha menyelamatkan diri. kalau orang lain mungkin tak bisa
berbuat apa-apa kecuali menanti ajal saja. Tapi Ji Bun sudah siaga, walau menghadapi mara bahaya
sedikitpun tidak menjadi gugup, pikiran tetap tenang dan jernih. Giok-bin-hiap Cu Kong-tam, siorang tua
aneh didasar jurang dulu pernah mengajarkan Ginkang pusaran lesus sehingga tubuhnya bisa melayang
mumbul ke atas. Jurang ratusan tombak di belakang Pek-ciok-hong dulupun bisa dicapai dengan mudah,
apalagi tebing gunung di depannya ini, walau amat berbahaya, namun dia yakin, tingginya takkan melebihi
jurang di belakang Pek-ciok-hong dulu. Untuk meloloskan diri jelas bukan soal baginya, apalagi sekarang dia
sudah ketambahan ilmu dari Ban-tok-bun.
Setelah melihat keadaan memang tak boleh tertunda lama lagi, segera ia menarik napas mengerahkan
hawa murni, tenaga dikerahkan, kedua kaki lalu menjejak sekuatnya, seketika tubuhnya meluncur ke atas
terus mengambang, dan berputar terus naik ke udara semakin tinggi, hanya sekejap saja, tempat dimana
tadi dia berada sudah termakan jago merah menjadi lautan api.
Ji Bun menarik napas sekali lagi untuk menambah kekuatan sehingga tubuhnya seenteng bulu. Cukup
tujuh kisaran lagi, dia sudah berhasil tancap kaki di puncak gunung. Waktu dia melongok ke bawah, lembah
sesempit itu sudah merupakan lautan api yang mengganas, asap tebal bergulung-gulung menjulang tinggi
ke langit. Diam-diam Ji Bun merinding seram dan bersyukur bahwa jiwanya tidak sampai melayang.
Namun perasaan syukur ini lekas sekali dirangsang oleh dendam dan kebencian yang memuncak
nafsunya berkobar tak kalah dahsyatnya dari kobaran api di dasar lembah itu. Sekilas dia menerawang
sekelilingnya, lalu berlari-lari mengikuti pinggiran jurang ke arah utara, lautan api kira-kira sepanjang satu li
lebih. Lekas sekali lembah yang dimakan api sudah dia tinggalkan di belakang. Dari atas memandang ke
bawah, karena adanya cahaya kobaran api dari lembah sebelah depan sana sehingga keadaan lembah di
sebelah dalam remang-remang kelihatan. Bayangan manusia tampak bergerak-gerak, rumah-rumah tampak
mengepulkan asap dari dapur. Jelas di sinilah letak markas pusat Sin-eng-pang dulu.
Bentuk Ciam-liong-kok ini depan sempit dalam lebar seperti botol yang panjang lehernya. Sebentar dia
mengukur keadaan di sini serta letak dirinya, kembali dia empos semangat dan hawa murninya. Lalu seperti
seorang atlit loncat indah dia terjun dengan kepala di bawah dan kaki ke atas, seperti elang menukik
menerkam mangsa. walau tubuhnya dapat menahan sebagian daya luncurannya, namun tubuhnya tetap
anjlok ke bawah dengan cepat. Kecuali Ji Bun, siapa berani menempuh bahaya dengan badan hancur lebur
kalau terjatuh ke bawah, asal sedikit lena dan meleset mengatur napas, bukan saja jiwa melayang,
badanpun pasti hancur luluh.
Untunglah dia selamat mencapai bumi, di mana dia tancap kaki dekat kaki gunung, seluruh perhatian
orang dalam lembah tertuju ke arah kobaran api di sebelah depan sana. Tiada yang menduga bahwa musuh
yang hendak mereka bakar mati justeru telah melayang turun dari langit, jiwa mereka sendiri bakal menjadi
bulan-bulanan musuh malah.
Ji Bun menyembunyikan diri di balik batu besar, matanya yang tajam dengan seksama menyapu ke arah
rombongan orang banyak sejauh puluhan tombak sana. Tampak orang-orang itu sudah tidak mengenakan
seragam Sin-eng-pang, kini mereka berganti seragam hitam. Ini membuktikan bahwa mereka betul-betul
sudah dicaplok dan dijadikan anak buah Ngo-hong-kau. Dengan teliti dia menjelajah, namun tak kelihatan
ada bayangan Sin-eng-pangcu Ko Giok-hwa.
Kobaran api di depan lembah sudah mulai mereda, sinar sang surya yang baru menyingsing
menggantikan kobaran api yang tadi menyala terang. Lembah yang tadi gelap, pelan-pelan mulai remangremang
dan lekas sekali menjadi terang benderang. Bagai dedemit yang menunggu mangsa, Ji Bun tetap
sembunyi di belakang batu. Dia harus mencari sasaran yang tepat baru akan unjuk diri, kalau mengusik
rumput mengejutkan ular, urusan tentu akan berantakan.
Api sudah padam, tinggal asap masih mengepul. Seorang tua baju putih tampak berlari mendatangi,
rombongan baju hitam segara berpencar memberi jalan, sebentar celingukan melihat keadaan rombongan
besar ini. Si orang tua segera berseru memberi perintah: "Bersihkan dan sapu lembah di depan, temukan
abu tulang belulangnya!"
Sekonyong-konyong sebuah suara dingin berkumandang: "Jangan repot-repot, aku ada di sini."
Serempak rombongan orang banyak itu menjerit kaget, tanpa sadar mereka sama berlari mundur, lakilaki
tua baju putih menjadi pucat mukanya, kakinya seperti terpaku di tanah, mata terbelalak, mulut
melongo lebar, suaranya tergagap: "Kau ...... kau ......"
"Aku inilah Te-gak Suseng adanya!"
"Kau .... kau tidak .... tidak terbakar mampus?"
"Kalau gampang dibakar mati, bukankah sia-sia saja aku punya julukan Te-gak Suseng?"
"Kau ...... apa maksud kedatanganmu?"
"Pertama, kau harus sebutkan dulu siapa gelaranmu?"
Baru sekarang laki-laki tua ini menyurut mundur, sahutnya dengan suara galak: "Lohu ketua hukum dari
anak cabang di sini, Ang Jit."
"Aku hendak bertemu dengan ketua cabang kalian"
"Kau ingin bertemu dengan aku?" sebuah suara serak kasar berkumandang dari arah samping sana.
Waktu Ji Bun menoleh, tiga tombak di sebelah sana berdiri seorang muda sebaya dirinya, berpakaian sutera
dan menyoreng pedang, wajahnya diliputi nafsu sadis, namun kelihatan juga rasa kaget dan jerinya.
Dandanan pemuda ini mirip sekali dengan para duta Ngo-hong-kau yang pernah dihajarnya pontang
panting dulu itu. Dia mengaku sebagai ketua cabang di sini, lalu di mana Ko Glok-wa? Dibunuh atau ..... tapi
tujuannya bukan ini. Ji Bun segan berpikir panjang, sekilas dia memandangnya, lalu bertanya: "Kau ketua
cabang di sini?"
"Memang jabatanku bisa dipalsukan?"
"Sebutkan namamu?"
"Kho Tay-seng!"
"Dimana Ko Giok-wa?"
"Kau bermusuhan dengan dia?"
"Hanya kutanyakan sambil lalu saja."
"Orang she Ko itu bernasib jelek dan pendek umur, kini sudah mangkat."
"Membunuh orang dan merebut kedudukannya, memangnya perbuatan kalian orang-orang Ngo-hongkau
serba kotor dan hina dina, kejam dan keji."
"Karena itu kau kemari?" tanya Kho Tay-seng menyurut mundur.
"Memangnya kau kira aku ini suka iseng dan ingin mencampuri urusan ini?"
"Lalu untuk apa kau kemari?"
"Aku ingin menemui Kaucu kalian."
"Kau ingin bertemu dengan Kaucu? Kau belum setimpal."
"Kho Tay-seng," desis Ji Bun dingin, "berani sekali lagi kau berkata demikian ..........”
Pemuda baju sutera terpengaruh oleh ancaman dan tatapan mata Ji Bun yang menyala berwibawa,
kembali dia menggeremet mundur, katanya: "Lalu kenapa?"
"Ciam-liong-kok akan kucuci dengan darah kalian, ayam anjing seekorpun takkan hidup."
"Kau mampu berbuat demikian?"
"Kenyataan akan menjawabnya nanti."
Pemuda baju sutera mundur semakin jauh, "sret", dia melolos pedang. Sekali gerak dan bergetar, ujung
pedangnya seperti mekar dan berbintik-bintik cahaya. Terang bahwa latihan ilmu pedangnya sudah cukup
sempurna, serentak anak buahnya berkaok-kaok sambil melolos senjata dan memasang panah di busur, siap
untuk bertempur.
Rasa murka yang menggelora di dada Ji Bun sungguh tak terkendali lagi, maklumlah, kalau tidak
mengandalkan sinkang tingkat tinggi yang mujijat itu, sejak tadi dirinya sudah terkubur menjadi abu di
lembah sana. Walau dalam tata tertib perguruannya dilarang setiap muridnya melakukan pembunuhan,
namun di samping persoalan pribadi yang penuh dendam, perbuatan orang-orang Ngo-hong-kau ini
memang terlalu kejam. Mereka merupakan anasir-anasir jahat yang kelewat batas bagi insan persilatan
umumnya, maka setimpal kalau dihukum mati. Karena keyakinan inilah, pelan-pelan dia menghimpun
kekuatan pada kedua lengannya. Sorot matanyapun menyala semakin benderang, siapa saja yang
menghadapinya pasti bergidik ketakutan.
17.49. Pembantaian Di Lembah Ciang-liong-kok
"Hiaaat!," ditengah lolong panjang dari mulut Kho Tay-seng, pedang di tangannya berkelebat bagai kilat
menyambar Ji Bun.
Ji Bun mendengus pendek, Tok-jiu-it-sek bergerak dengan kecepatan yang sama tingginya menembus
lingkaran cahaya pedang lawan. Keruan bukan kepalang kaget dan takut Kho Tay-seng, lekas dia tarik
pedang seraya melejit mundur sambil memberi aba-aba: "Maju semua!"
Pertama-tama ketua hukum Ang Jit bersama empat anak buahnya ahli pedang merangsak bersama.
Nafsu Ji Bun sudah tak terbendung lagi, telapak kanan tegak membelah miring ke arah Ang Jit yang
menyerang tiba itu, sementara telapak tangan kiri menggaris ke arah keempat orang bersenjata pedang.
Walau gerakan tangan kiri dan kanan saling susul, namun kecepatan geraknya sungguh seperti dilancarkan
bersamaan.
Ang Jit menggeram rendah, keempat ahli pedang menguik seram, darah menyembur dari mulut Ang Jit
yang terpukul terbang ke tengah udara dan terbanting, keempat ahli pedang itu lebih celaka. Belum lagi
pedang mereka dilancarkan, satu persatu sudah roboh terkapar tak bernyawa lagi. Keruan semua anak buah
Ngo-hong-kau yang hadir sama takut luar biasa, mereka mendelik dengan mulut melongo.
Ji Bun tidak berhenti begitu saja, tiba-tiba kakinya menggeser miring, tubuh berkelebat ke samping pula,
tahu-tahu telapak tangan kanan sudah bekerja. "Huaaak", Ang Jit yang baru bangun kena sekali pukulan
pula, badannya kembali mencelat dan terbanting dengan keras, jelas jiwanya takkan tertolong pula.
Kho Tay-seng menjerit kalap, seperti banteng ketaton dengan nekat dia ayun pedang, jaraknya delapan
kaki, namun ayunan pedangnya menerbitkan sinar pedang yang memanjang sejauh tujuh kaki. Jarak ini
cukup tiba untuk menggal kepala Ji Bun, betapa bebat lihay permainan ilmu pedangnya, sungguh aneh, keji
dan ganas sekali. Memangnya siapa yang pernah dan mampu melawan ilmu pedang yang luar biasa ini.
Apalagi serangan ini menggunakan setaker tenaga dan seluruh perbendaharaan ilmu yang pernah dia
yakinkan, tekadnya hendak mengadu jiwa lagi. Keruan Ji Bun dibikin kaget juga, lekas dia mundur setapak.
"Cret", baju di depan dada tak urung tergores sobek sepanjang satu kaki.
Mendapat angin, Kho Tay-seng bertambah beringas, sebat sekali gerak geriknya seperti bayangan,
secepat kilat sekaligus dia lancarkan serangan membadai, setombak sekitar gelanggang, merupakan sasaran
empuk bagi tajam pedangnya.
Ji Bun dipaksa mundur tujuh kaki, demikian pula anak buah Ngo-hong-kau yang berkepandaian lebih
tinggi juga menyurut mundur setapak, namun lekas sekali mereka sudah merubung maju, karena dikira
mendapat peluang untuk mengerubut bersama.
Hampir meledak dada Ji Bun, di saat lawan berhenti setelah habis melancarkan delapan belas kali
serangan pedang, secepat kilat dia mendesak maju selicin belut menyelinap ke dalam liang, dia lancarkan
Tok-jiu-ji-sek.
"Aduh ........" pekik kesakitan yang mengerikan terdengar, pedang terlempar, Kho Tay seng sendiri
terjungkir balik. Namun pada waktu yang sama, berbagai senjata tajam juga serempak menyambar ke arah
Ji Bun selebat hujan badai.
Mendadak Ji Bun melambung tinggi ke tengah udara, maka terdengarlah suara berdering senjata yang
beradu di bawah kakinya, di tengah udara tubuhnya terputar sambil meliuk, dengan gaya menukik dia
menyerang dari atas, kekuatan serangan ini sungguh lihay luar biasa.
Jeritan menyayat hati memekak telinga, tujuh delapan orang kontan roboh mandi darah. Begitu tubuh
meluncur turun dan menancapkan kaki, segesit kera dia terus menubruk ke arah orang yang bergerombol
lebih banyak, di mana kaki tangannya bergerak, seketika terjadilah pembantaian besar-besaran. Pekik seram
saling susul menegangkan urat syaraf. Keruan anak buah Ngo-hong-kau yang masih hidup menjadi
ketakutan, bagai tikus lari sipat kuping.
Nafsu Ji Bun sudah menggila, orang-orang Ngo-hong-kau ini tak ubahnya ayam dan anjing dalam
pandangannya. Di mana tangannya bergerak, di situ manusia terbabat roboh tak bernyawa. Hanya sekejap
saja suasana gaduh dari jerit tangis manusia seketika sirap. Manusia bergelimpangan memenuhi lembah,
semua tubuh sudah tak bernyawa lagi, untuk pertama kali inilah sejak Ji Bun mengembara di dunia
persilatan membunuh orang sedemikian banyaknya.
Nafsu Ji Bun sudah kadung membara, tekadnya melampiaskan dendam masih belum padam, maka dia
berlari ke arah rumah-rumah di belakang lembah sana. Rumah-rumah di sini dibangun dengan dinding batu,
pendek bangunannya dan amat kokoh. Yang tengah dibangun cukup megah dengan ruang pendopo, di sini
letak pusat pemerintahan cabang Ngo-hong-kau yang berkuasa penuh dilembah ini. Di kanan kira pendopo
merupakan deretan kamar berbentuk bundar, bangunan lain terletak di belakang ruang pendopo ini, dengan
bentuk yang teratur dan rapi.
Begitu banyak dan luas bangunan rumah-rumah ini, tapi sekarang tidak kelihatan bayangan seorangpun.
Tentunya kekuatan mereka tadi tidak ditumplek seluruhnya untuk menghadapi dirinya, bukan mustahil ada
yang menyembunyikan diri. Tepat di tengah pendopo yang membelakangi tempat duduk kebesaran, di atas
dinding dihiasi setabir sutera berwarna dasar hitam bersulam sekuntum kembang Bwe warna putih yang
menyolok sekali, itulah pertanda khas dari Ngo-hong-kau.
Di bawah tabir besar ini adalah sebuah meja panjang, setabung panji segitiga kecil warna-warni
menghiasi di atas meja, di belakangnya berderet tiga kursi kebesaran yang dilapisi kulit harimau, di kanan
kiri sebelah luarnya masing-masing berderet lima kursi kayu cendana. Agaknya susunan pimpinan cabang
Ngo-hong-kau di sini tak ubahnya seperti perkumpulan Kang-ouw lainnya.
Ji Bun menerobos terus ke dalam, setelah melewati tujuh lapis bangunan, tetap tidak melihat bayangan
seorangpun. Keruan darahnya semakin mendidih, kedatangannya kali ini bukan saja hampir dihanguskan,
boleh dikata tujuannya menjadi sia-sia pula, keruan hatinya amat dongkol dan uring-uringan. Thian-thaymo-
ki dan ibunya berada di tangan mereka, mati hidup masih merupakan tanda tanya. Menurut apa yang
dia selidiki dari sepak terjang Kwe-loh-jin, jelas pihak Ngo-hong-kau yang membantai habis semua penghuni
Jit-sing-po. Sekarang dia merasa, menyesal kenapa tiada satupun yang dia tinggalkan hidup untuk dikompes
keterangannya, kini sumber yang diharapkanpun telah putus.
Kiang Gok, si murid murtad pengkhianat perguruan juga lolos. Ngo Siang, sang Suco terkubur di kamar
tahanannya, di alam baka tentu dia takkan bisa meram. Semakin dipikir semakin gemas hatinya, namun
kenyataan sekarang dia tidak bisa berbuat apa-apa. Namun dia tahu, tak mungkin Ciang-liong-kok ini hanya
orang-orang yang terbunuh di luar tadi, lembah ini tiada jalan keluar lainnya, terang mereka
menyembunyikan diri, entah di kamar rahasia atau di tempat lain yang tersembunyi.
Serang dengan api. Pikiran ini berkelebat di benaknya. Api pasti dapat paksa mereka yang sembunyi itu
terbirit keluar. Maka dia mulai mencari ketikan api, dari luar ke dalam, setiap tempat dia menyulut kain
jendela atau barang-barang lain yang mudah terbakar. Setelah api yang disulutnya mulai berkobar semua,
baru dia keluar ke lapangan rumput di sebelah depan sana sejauh jarak panahan, di sini dia berpangku
tangan menanti reaksi.
Cepat api berkobar, jago merah mengamuk hebat, segala benda dilalapnya tanpa ampun. Bangunanbangunan
yang terdiri dari kayu itu walau kokoh, namun mudah terbakar, sebentar saja seluruh bangunan
berlapis itu sudah terjilat api.
Betul juga, sesuai dugaan Ji Bun, hanya dalam sekejap, bayangan orang mulai tampak berseliweran lari
kian kemari. Ji Bun sudah ambil keputusan lihat satu bunuh satu, kepergok dua bunuh sepasang. Maka di
tengah kobaran api yang gemuruh itu diselingi suara jerit tangis, pekik teriakan campur aduk, suasana
menjadi kacau balau. Laki-laki yang berlarian kian kemari saling terjang dan hantam sendiri demi
menyelamatkan jiwa, namun mereka menjadi makanan empuk bagi Ji Bun.
Akhirnya bermunculan juga perempuan yang menyeret anak-anak. Betapapun besar murka Ji Bun,
terhadap kaum lemah dan anak-anak yang tidak berdosa ini, dia tidak tega turun tangan, segera dia mundur
ke samping. Dengan tajam dia awasi setiap orang yang muncul. Dia harus mencari sasaran di antara sekian
banyak orang untuk didengar keterangannya.
Seorang kakek tua beruban dengan langkah, sempoyongan jatuh bangun ikut berlari keluar di antara
rombongan perempuan dan anak-anak itu, sekian kelihatannya sudah loyo dan lemah karena usianya yang
sudah lanjut. Anak-anak berjerit tangis, kaum ibu sibuk mencari putera puterinya yang lari entah ke mana,
terketuk juga hati nurani Ji Bun.
Sekonyong-konyong, tampak kakek ubanan itu berpaling sekilas sambil melirik ke arah Ji Bun. Cukup
lirikan, mata ini sudah memberi peringatan kepada Ji Bun bahwa kakek tua yang pura-pura loyo ini
sebetulnya adalah seorang silat yang tinggi kepandaiannya.
"Hai, kau kemari!" gerakannya Ji Bun lebih cepat dari ucapannya, kata-kata terakhir baru diucapkan,
bayangannya sudah menghadang di depan si kakek.
Kakek itu tiba-tiba angkat kepala, wajahnya yang penuh keriput seketika menarik tegang, mulutnya
tergagap: "Kau ...... orang tua loyo seperti akupun tidak kau lepaskan ..........”
"Kau memang tua, tapi tidak loyo. Kemarilah!" dengus Ji Bun, gerakannya cepat sekali, tahu-tahu
pergelangan tangan si orang tua sudah dipegangnya terus diseret ke samping, di mana terdapat batu-batu
yang berserakan, setiba di tempat sepi dan tersembunyi, dia lepaskan pegangannya, dengan suara dingin
gemetar diliputi emosi, dia hertanya: "Tua bangka, bicaralah singkat, sebutkan dulu namamu!"
Bibir si orang tua yang kering tampak gemetar, sekian lama dia megap-megap tak mampu bicara. Ji Bun
mengancamnya dengan nada bengis: "Bicaralah terus terang atau kubunuh lebih kejam dari orang lain.”
Si kakek ubanan manggut-manggut.
Ji Bun bertanya: "Belakangan ini adakah orang yang lari kemari?"
"Ke mana maksud kata-katamu itu?"
"Umpamanya ada jago-jago kalian dari cabang lain yang berkepandaian tinggi, atau ada menggusur
orang luar kemari ......”
"Ya, memang ada."
"Siapa?"
"Pimpinan cabang kedua dari perkumpulan kami, yaitu Kiang Giok."
"Hm, Kiang Giok. Di mana dia sekarang?"
"Di dalam kamar rahasia di bawah lembah yang terlarang sana."
Berkobar semangat Ji Bun, agaknya perjalanan hari ini tidak sia-sia, kalau Kiang Giok si murid murtad
dapat dibekuk, sebagian sudah tercapai tujuannya segala teka-teki bakal terbongkar seluruhnya, maka
dengan suara haru dia bertanya: "Letaknya di belakang barisan rumah-rumah itu?"
"Ya, tepat di bawah kaki bukit, di mana ada sebuah bangunan mungil, ada tanda papan yang
menyatakan tempat itu terlarang bagi orang luar."
"Baik kau boleh pergi."
"Kau ....... tidak membunuhku?"
"Jiwamu kuampuni!"
Si kakek menyeringai, katanya: "Te-gak Suseng, kau melepaskan Lohu, tapi Lohu tidak dapat
mengampuni jiwa sendiri, tamak hidup tunduk kepada musuh, betapa aku harus berhadapan dengan para
saudara yang sudah mendahuluiku di alam baka" ........ "plak" tiba-tiba tangannya terayun mengepruk pecah
batok kepala sendiri, memang tidak malu kakek tua ini sebagai insan persilatan yang berjiwa kesatria,
setelah sadar akan kesalahan, lebih baik mati dari pada hidup menjadi cercahan orang lain.
Ji Bun geleng-geleng kepala sambil menghela napas panjang, segera dia meluncur ke belakang kobaran
api, dengan menerjang gulungan asap tebal yang mengadang jalan, dia terus melesat ke belakang, kakinya
sedikit menutul, sekali lompat beberapa tombak jauhnya. Lekas sekali dia sudah tinggalkan tempat
kebakaran dan masuk ke dasar jurang.
Betul juga di antara bayang-bayang hutan di sebelah dalam sana lapat-lapat kelihatan sebuah bangunan
mungil, di luar hutan berdiri sebuah papan batu yang bertuliskan "Daerah terlarang". Letak rumah kecil ini
terpaut beberapa puluh tombak dengan tanah lapang yang cukup luas, seluruhnya merupakan tanah yang
berlapiskan batu cadas yang dibikin rata mengkilap, tiada rumput dan pepohonan tumbuh di sini, maka
kobaran api meski teramat besar di sebelah depan, hutan di belakang lembah ini sedikitpun tidak terjilat api.
Jantung Ji Bun berdebur semakin ketas, dengan langkah mantap dia memasuki daerah terlarang. "Siapa
berani terobosan di daerah terlarang?” tiba-tiba berkumandang peringatan dari balik batu sana, dua orang
baju putih segera muncul mengadang.
Tanpa buka suara, dengan langkah cepat Ji Bun menubruk maju, di mana tangan beracun bergerak,
belum lagi kedua orang ini melihat jelas siapa yang datang, tahu-tahu sudah mengaduh terus roboh terkulai
dan melayang jiwanya.
Bau khas yang merangsang hidung meyakinkan Ji Bun bahwa di dalam hutan terlarang ini ada ditaburi
racun jahat yang tidak berwarna, namun Ji Bun yang sudah mempelajari ilmu tingkat tinggi Ban-tok-bun
sudah kebal segala racun. Sekali tendang ia singkirkan mayat kedua orang terus beranjak menyusuri jalan
batu menjurus ke rumah kecil itu.
Rumah ini di kelilingi hutan, merupakan suatu pekarangan tersendiri dengan dipagari tembok batu, tepat
di tengah dibuat pintu bundar, di dalam pintu dipajang beberapa perabot yang terbuat dari batu dan bambu.
Begitu Ji Bun tiba di pintu, empat orang baju putih, terdiri seorang tua dan tiga muda tahu-tahu menubruk
tiba. Pikiran Ji Bun hanya ingin selekasnya membekuk Kiang Giok si murtad, maka dia tidak peduli siapa
orang-orang ini. Kedua tangan segera bergerak menyongsong kedatangan orang-orang itu. Segulung angin
keras menerpa ke depan. Keempat, orang bagai daun kering yang tersapu angin puyuh terjungkal sungsang
sumbel. Tanpa hiraukan mati hidup mereka, Ji Bun langsung menghampiri rumah mungil itu.
"Kau ..... " di tengah teriakan kaget, sesosok bayangan orang jumpalitan keluar dari balik jendela dengan
gemetar. Dia bukan lain adalah Kiang Giok.
Terpencar cahaya kelam dari biji mata Ji Bun, suaranya kereng berwibawa: "Kiang Giok, agaknya Suco
memberkahi usahaku untuk menumpas kau."
Kiang Giok menyurut ke belakang bersandar dinding, wajahnya membesi kelabu, kelihatan dia terluka
oleh Sian-thian-sin-kang Thong-sian Hwesio sampai sekarang belum lagi sembuh. "Te-gak Suseng," ujarnya,
"apa sebetulnya yang kau bicarakan?"
"Kiang Giok, bicara soal tingkatan, kau memang lebih tinggi dari padaku, namun, aku membawa pesan
dan perintah Suco, maka aku harus menunaikan tugas melaksanakan tata tertib dan hukum perguruan
secara tegas."
"Hukum perguruan? Apa maksudnya?"
"Menghadapi hukum perguruan ini, memangnya kau masih belum bertobat dan menyesal? Hm, Kiang
Giok, aku .........”
"Terus terang, aku tidak tahu soal apa yang kau obrolkan?" kata Kiang Giok diliputi rasa heran, takut dan
tak habis mengerti.
Sikapnya ini menambah semangat Ji Bun malah, bentaknya: "Berlututlah, terima pelaksanaan hukum
perguruan ini.”
Bergetar badan Kiang Giok, semakin tebal rasa bingung dari sorot matanya. "Te-gak Suseng," desisnya,
"kau ini orang apa, siapa pula aku dari mana kau hendak melaksanakan hukum perguruan atas diriku?"
"Kau masih berani mungkir?"
"Seorang laki-laki sejati berani berbuat berani tanggung jawab, aku terjatuh ke tanganmu, memang
nasibku soal mungkir aku tidak sampai sepengecut itu."
"Baik, jawablah pertanyaanku, siapakah orang tua yang kau kurung di bawah tanah di gedungmu itu."
"Dia ..... siapa dia?"
"Aku justru tanya kau?"
"Aku tidak tahu?"
"Kentut! Kau murid durhaka menghadapi kematian masih belum mau bertobat."
Mulut Kiang Giok terpentang lebar, sikapnya hambar dan penasaran, jelas kelakuan ini bukan pura-pura
belaka. Keruan Ji Bun menjadi bimbang dan sangsi, mungkinkah dalam persoalan ini ada liku-liku yang sulit
dijajaki pula?
"Kiang Giok, betulkah kau tidak tahu asal usul orang tua itu?"
"Tidak tahu."
"Lalu dari mana kau mempelajari ilmu beracun itu? Kenapa kau mengatur jebakan dan mengurung
beliau, memaksanya mengajarkan ilmu dan hendak merebut kitab pelajarannya pula?”
"Pelajaran ilmu dari perguruanmu? Kau dari mana?"
"Jawab dulu pertanyaanku."
"Uh ........" tiba-tiba Kiang Giok-mengeluh seram, badannya tersungkur berkelejetan sebentar terus tak
bergerak, jiwanya melayang seketika.
Kaget sekali Ji Bun, cepat dia membalik badan, di mana matanya memandang, darah seketika terbawa
nafsunya membunuh membara pula. Tampak seorang berdiri di ambang pintu, dia bukan lain daripada Kweloh-
jin, musuh besarnya. "Kwe-loh-jin." desis Ji Bun. ''sungguh kebetulan kau muncul sendiri."
Kwe loh-jin terkekeh dingin, jawabnya: "Anak muda, agaknya nyawamu serap duabelas, sudah beberapa
kali kau lolos dari kematian, kini pasti kuhancurkan kepalamu, ingin kulihat apakah betul kau memang tak
dapat mati?"
Ji Bun tahan perasaannya, banyak persoalan yang harus dia tanyakan dulu sebelum bertindak. “Kwe-lohjin,
jadi kau juga anggota Ngo-hong-kau?"
"Ya, tidak salah."
"Jadi majikan yang kau maksudkan itu ialah Ngo-hong-kaucu?”
"Tepat sekali," sahut Kwe-loh-jin.
"Dan apa alasanmu selalu ingin membunuhku?"
"Pokoknya kau harus mati, tentang alasannya, kau tidak perlu tahu."
“Siapa sebenarnya Kaucu kalian?"
"Selama hidupmu kau takkan memperoleh jawaban."
"Kwe-loh-jin, agaknya semua pertanyaan tidak akan kau jawab dengan baik?"
"Terserah keadaan."
"Baik, sebuah pertanyaan lagi, kuingin bertemu dengan Kaucu kalian, sudilah kau membawaku
kepadanya?"
"Kau hanya bercita-cita kosong belaka, ketahuilah Ciang-liong-kok ini bakal menjadi tempat kuburan."
"Tentunya kau juga ikut membantai orang-orang Jit-sing-po?“
Terpancar cahaya aneh dari mata Kwe-loh-jin, beberapa kali air mukanya berubah, lama sekali baru dia
berkata dingin: "Apakah Siangkoan Hong tidak memberi jawaban padamu?"
"Kau memfitnah mereka, apa tidak merasa malu dan hina?"
"Memfitnah? Anak muda, perlukah aku berbuat demikian?"
"Kenapa kau tidak berani mengaku?”
"Kenyataan memang begitu."
Kembali Ji Bun menghadapi pertentangan batin siapakah sebetulnya musuh besarnya? Ngo-hong-kau
atau Wi-to-hwe? Karena kedua pihak sama tidak mau mengaku, namun kedua pihak sama patut dicurigai.
Dianalisa dari permulaan peristiwa ini, memang pihak Wi-to-hwe yang dipimpin Siangkoan Hong amat
mencurigakan, ditambah pesan ayahnya waktu terakhir kali mereka berjumpa bahwa musuh besar
keluarganya adalah komplotan Siangkoan Hong.
Tapi perkembangan selanjutnya dari berbagai kejadian yang dialaminya sendiri, satu persatu
menumbangkan keyakinannya semula, berbalik dia yakin bahwa Ngo-hong-kaulah yang membantai seluruh
penghuni Jit-sing-po. Kematian ayahnya, ibunya diculik, beberapa kali peristiwa terbunuhnya diri sendiri,
ketambahan Kiang Giok yang berselubung, teka teki bersama ayahnya, lebih menambah kerumitan
persoalan ini. Tujuan Kwe-loh-jin membunuh Kiang Giok jelas karena hendak menutup mulutnya, tapi
kenapa? Persoalan yang sudah hampir terang kini menjadi gelap dan terselubung pula.
Pengalaman menambah pengetahuan. Kini Ji Bun betul-betul menyadari, kalau mau main selidik, mencari
bukti dan menguber sumber kejadian dari segala teka teki ini, dia harus menggunakan cara ganas dan
kejam, kalau tidak dia akan selalu menghadapi jalan buntu alias gagal total.
Karena itu, watak angkuhnya yang sudah lenyap sekian lama, kini mulai bersemi pula, hawa gelap
meliputi kedua alisnya, dengan suara geram dia berkata: "Kwe-loh-jin, kenapa ibundaku kalian tawan?”
"Sederhana saja, untuk merajai Kangouw, maka aku harus bertindak tidak kenal kasihan, walau cara keji,
kejam dan kotor juga harus dihalalkan."
"Dan bagaimana dengan Thian-thay-mo-ki?"
"Sama juga alasannya."
"Kiang Giok, kaubunuh apa juga dengan alasan yang sama? Memangnya kau ini manusia?"
"Anak muda, tidak perlu putar lidah lagi ...... Sekonyong-konyong Ji Bun melompat maju sambil
membentak. "Agaknya sikapku terhadap kalian selama ini adalah kesalahan besar."
Kwe-loh-jin merasa jeri, tanpa terasa ia menyurut mundur.
“Kwe-loh-jin, sebelum melihat peti mati, agaknya air matamu takkan bercucuran," bentak Ji Bun seraya
mendekat.
Cepat Kwe-loh-jin melompat mundur keluar rumah sambil terloroh-loroh, serunya: "Anak muda, marilah
sini!"
Ji Bun melejit keluar, belum lagi dia berdiri tegak, Kwe loh-jin sudah menyerangnya lebih dulu. Telapak
tangan kiri menggempur, jari-jari kanan mencengkeram, enam Hiat-to mematikan di dada menjadi sasaran.
Betapa ganas dan lihay serangannya ini sungguh amat mengejutkan.
Dalam keadaan kepepet Ji Bun lancarkan jurus Tok-jiu-it-sek. Kontan Kwe-loh-jin berseru heran,
serangannya berubah di tengah jalan. Ji Bunpun berdiri tegak di atas tanah.
17.50. Bukan ......... Murid Angkatan 14
"Anak muda, nasibmu memang mujur, jiwa anjingmu berulang kali lolos dari renggutan elmaut, agaknya
belakangan ini kau memperoleh pelajaran baru!"
Jelas yang dimaksud adalah jurus Tok-jiu-it-sek yang lihay ini. Memang sejak membekal ilmu mujijat ini Ji
Bun belum pernah berhadapan dengan lawan tangguh yang betul-betul setimpal jadi tandingannya.
Tanpa hiraukan ocehan orang, Ji Bun menghardik: "Serahkan nyawamu!" dengan kekuatan membadai
Tok-jiu-ji-sek dilontarkan.
Kembali Kwe-loh-jin bersuara heran, dengan suatu gerakan yang aneh dan gesit, tiba-tiba dia berkelebat
menyingkir. Bahwa Kwe-loh-jin dapat menghindarkan diri dari rangsakan Tok-jiu-ji-sek, hal ini betul-betul
membuat Ji Bun terperanjat, agaknya dalam setengah tahun ini pihak lawan juga memperoleh tambahan
ilmu yang tinggi. Kalau dinilai dari kepandaiannya dulu, tak mungkin Kwe-loh-jin mampu selamat dari
serangan Tok-jiu-ji-sek.
"Sambut sejurus lagi!” teriak Ji Bun, kembali Tok-jiu-ji-sek dilontarkan.
Kwe loh-jin menyingkir lagi dengan gerakan semula dari posisi yang tidak menguntungkan, namun
mulutnya menggeram aneh, badan meliuk sambil balas menyerang sekali. Gerakan serangan ini sungguh
menakjubkan, siapapun yang melihatnya pasti melelet lidah dan kagum sekali, karena semua tempat-tempat
yang berbahaya di bagian depan menjadi sasaran. Jalan mundur dan kesempatan untuk balas
menyerangpun tersumbat, sungguh bukan main serangannya ini.
Beruntung Ji Bun juga memperoleh rejeki nomplok, di dalam detik-detik yang gawat itu, ilmu tingkat
tinggi yang dipelajarinya baru-baru ini memperlihatkan kemujijatannya. Dalam posisi yarg terdesak itu,
terpaksa dia lintangkan kedua telapak tangan terus bergerak melingkar. Inilah gerak pertahanan yang paling
hebat betapapun ganas rangsakkan lawan pasti dapat ditandingi sama kuat.
"Plok, plok, plok ......" benturan secara berantai terjadi dalam sekejap mata, telapak tangan kedua orang
saling adu kekuatan sebanyak lima puluhan kali, betapa tinggi tingkat kepandaian silat Kwe-loh-jin dapatlah
dibayangkan dari tingkat permainannya ini. Masing-masing pihak maklum, taraf kepandaian mereka kira-kira
setanding, umpama ada perbedaan, terpautnya juga terbatas.
Ji Bun tak habis pikir, dalam jangka setengah tahun ini entah dari mana Kwe-loh-jin memperoleh ilmu
kepandaian yang begini mengejutkan. Sebaliknya Kwe-loh-jin juga kagum dan heran pula bahwa kepandaian
Ji Bun entah betapa tingkat lebih tinggi dibanding setengah tahun yang lampau.
Kwe-loh-jin saja sudah setinggi ini kepandaiannya, tentu kepandaian Ngo-hong-kaucu jauh lebih luar
biasa pula. Mau-tidak mau Ji Bun rada keder dan patah semangat, sebetulnya dia yakin dengan kepandaian
terakhir yang diperolehnya sudah cukup untuk menuntut balas. Siapa nyana, satu jengkal kepandaian
sendiri bertambah, satu depa pula ilmu musuh bertingkat. Untuk menuntut balas, menolong ibu dan
kekasihnya, agaknya bakal sia-sia belaka.
Hanya setengah tahun saja, namun tingkat kepandaian Kwe-loh-jin betul-betul melampaui taraf
kepandaian Thong-sian Hwesio yang tak terukur itu, bukankah perubahan ini amat menakutkan. Mau tak
mau pikirannya mengingatkan Hud-sim yang pernah direbut lawannya ini, bukan mustahil Kwe-loh-jin sudah
berhasil mendapat inti rahasia pelajaran silat yang terkandung di dalam hati Buddha itu. Kemungkinan ini
amat besar, sayang awak sendiri terlalu asing terhadap permainan silat Pek-ciok Sinni. Kalau tidak dirinya
tentu tidak akan melawan musuh secara meraba-raba, karena itu tanpa terasa mulutnya berteriak: " Kweloh-
jin, ilmu yang terkandung di dalam Hud-sim sungguh bukan kepalang hebatnya?"
Kwe-loh-jin melenggong sebentar, lalu katanya sinis: "Betul, jagat seluas ini, memangnya siapa yang
mampu melawanku lagi?"
"Belum tentu, akulah lawanmu!” seru Ji Bun. Tok-jiu-sam-sek (jurus ketiga) akhirnya dia lontarkan
dengan dilandasi sepenuh tenaga. Inilah senjata terakhir yang paling diandalkannya, merupakan puncak
tertinggi dari segala gemblengan yang pernah dialaminya. Kalau senjata terakhir ini juga tidak mampu
merobohkan musuh, segala persoalan tidak perlu dibicarakan lagi.
Jurus ketiga ini dinamakan Giam-ong-yan-khek (raja akhirat menjamu tamu). Sesuai dengan namanya,
merupakan jurus serangan mematikan yang melampaui segala ilmu silat yang pernah berkembang di
kalangan Bu lim. Begitu jurus ini dilontarkan, sorot mata Kwe-loh-jin seketika mengunjuk rasa ketakutan,
boleh dikatakan tanpa banyak pikir lagi bergegas dia berkelebat mundur. "Ngek!" tak urung mulutnya
mengerang kesakitan, badanpun sempoyongan tujuh delapan langkah jauhnya, darah meleleh dari
mulutnya.
Berkobar semangat Ji Bun, sebat sekali dia bergerak pula. Tapi sekali melejit dan jumpalitan ke belakang,
tahu-tahu Kwe-loh-jin sudah melenting ke dalam hutan dan lenyap.
“Lari ke mana?” bentak Ji Bun sambil mengundak, namun bayangan Kwe-loh-jin sudah lenyap di balik
hutan. Marah dan benci mengaduk hatinya hampir gila Ji Bun dibuatnya saking gemas, menghadapi musuh
yang, licik, licin dan kejam ini. Ji Bun betul-betul menyadari bahwa tindakannya masih kurang tegas. Dengan
lolosnya Kwe-loh-jin kali ini, pihak Ngo-hong-kau pasti mengerahkan segala kekuatannya untuk menghadapi
dirinya. Untuk mencari tahu letak markas pusatnya, tentu akan lebih sukar lagi.
Kematian Kiang Giok paling menyakiti hatinya, pesan dan tugas perguruan yang dibebannya terang
sudah gagal. Murid murtad tak bisa dihukum sesuai peraturan yang berlaku. Betapapun dia belum mencapai
tujuan untuk membersihkan nama baik perguruan.
Dia meiangkah balik ke bilik bambu itu, berdiri melongo mengawasi jenazah Kiang Giok. Tiba-tiba
matanya terbeliak, didapatinya tubuh Kiang Giok masih bergerak, napasnya belum putus, kaki tangan masih
bisa bergerak. Sungguh girangnya seperti putus lotre, bergegas dia jongkok dan menopang kepala. Ji Bun
lalu salurkan tenaga dalam ke tubuh orang sehingga menambah harapan hidup Kiang Giok, meski itu hanya
sementara saja.
Lekas sekali nyawa Kiang Giok sudah diseret kembali dari perjalanan menuju ke akhirat, pelan-pelan dia
membuka mata. Dalam hati Ji Bun sudah berkeputusan, untuk menolong jiwanya terang tiada harapan, tapi
cukup puas kalau dapat menunaikan tugas perguruan saja.
Ji Bun tekan urat nadi Kiang Giok, hawa murni disalurkan dengan tenaga yang cukup besar, dia tahu tipis
kesempatan untuk menolongnya supaya bicara. Sekali cekalan tangan dilepas, jiwa orang pasti melayang,
sebaliknya hawa murni tersalur melampui batas, orang juga tidak akan tahan, bahwa Kiang Giok masih kuat
bertahan hidup untuk kesekian detik lamanya sudah merupakan suatu keajaiban. Sedetikpun tak boleh
terbuang percuma, maka segera ia bertanya: "Kiang Giok, kau tahu apa dosamu?"
Gemetar bibir Kiang Giok, suaranya lirih seperti bunyi nyamuk: "Tidak ..... tahu ......."
Beringas dan mendelik Ji Bun, katanya: "Sudah mendekati ajal kau tetap tidak bertobat?"
"Ber ..... bertobat ...... karena apa?”
"Durhaka terhadap leluhur dan menipu guru, kau melanggar banyak pantangan perguruan ......”
"Mungkin ... kau yang salah, kau ..... dari perguruan ...... mana?"
Mulut Ji Bun sudah terbuka, namun dia urungkan kata-katanya, tak boleh dia sembarangan menyebut
nama perguruannya, inipun salah satu larangan, maka ia ganti cara mengajukan pertanyaan.
"Di mana Tok-keng yang kau peroleh?"
"Apa? ........ Tok-keng apa?"
"Ya, katakan, di mana kau simpan?"
"Aku tidak tahu."
Gemes dan mendongkol Ji Bun, hardiknya bengis: "Darimana ilmu beracun yang kau yakinkan?"
"Diajarkan ...... oleh Kaucu sendiri."
Bergetar hati Ji Bun, perkembangan ini lagi-lagi di luar dugaannya, kalau demikian murid murtad
perguruan, Ngo-hong-kaucu adanya, sungguh mengerikan dan sukar dibayangkan. Ia harus cepat
menggunakan kesempatan terakhir yang masih ada untuk mencari sumber yang tepat. maka dia bertanya
gugup: "Katamu diajarkan oleh Kaucu? Siapa Kaucumu?"
"Entah...... tiada yang tahu."
"Kiang Giok, orang-orang seperguruanmu tidak segan turun tangan menamatkan jiwamu untuk menutup
mulutmu, kenapa kau masih menyimpan rahasia ini."
"Aku betul-betul tidak tahu. Kau ..... Kaucu amat misterius .......”
"Di mana markas besar Ngo-hong-kau?"
"Di belakang puncak ...... Siong-san ...... Aok!" tiba-tiba suaranya terputus seperti tenggorokan
tersumbat, laksana lampu kehabisan minyak, jiwanya telah melayang.
Ji Bun berdiri, dia menarik napas panjang, beruntung telah diperoleh sedikit keterangan. betapapun
luasnya daerah pegunungan di belakang puncak Siong-san, akhirnya pasti dapat diselidiki dan ditemukan,
setelah ada tujuan tertentu, tak perlu dia bekerja secara serampangan lagi.
Ia pikir agaknya Suco memberikan berkahnya sehingga Kiang Giok masih sempat dikorek keterangannya.
Kalau tidak murid murtad perguruan akan bebas berbuat kejahatan tanpa ada yang dapat menumpasnya.
Celakanya dirinya salah menuduh dia sebagai murid pengkhianat, ia sudah mati, segala persoalanpun
himpas.
Ji Bun tenangkan pikiran, kembali dia merangkai rencana, bahwa Ngo-hong-kaucu adalah orang yang
mendapatkan Tok-keng. Ini jelas tak salah, jadi dia pulalah murid generasi tingkat ke-14 yang dipenujui Ngo
Siang sebagai calon penggantinya yang harus melakukan tugas rutin menyerempet bahaya untuk
mendapatkan rejeki nomplok. Sayang Ngo Siang ditipu dan dibikin cacat, dipaksa menyerahkan ilmu
perguruan, semua ini adalah perbuatan dan dosa Ngo-hong-kaucu.
Sudah puluhan tahun yang lalu ayahnya memperoleh ilmu beracun ini, sebaliknja Ngo-hong-kau baru
berkembang dalam beberapa tahun terakhir ini, mungkin ayahnya dulu punya hubungan luar biasa dengan
Ngo-hong-kaucu ini. tentang kematian ayahnya, dan beruntun dirinya mengalami pembunuhan, tentu Ngohong-
kaucu sendiri yang bisa memberikan jawaban.
Dengan analisa yang meyakinkan ini, maka pihak yang membantai orang-orang Jit-sing-po terang adalah
pihak Ngo-hong-kau, tapi kenapa ayahnya tempo hari mengatakan pihak Wi-to-hwe? Ayahnya terang tidak
akan membela musuh yang menghancurkan keluarganya sendiri. Namun kenyataan justru bertentangan
satu sama lain, sungguh sukar diselami. Mau tidak mau dia lantas teringat pada Biau-jiu Siansing, paling
tidak maling sakti ini pasti dapat membongkar teka teki ini.
Biau-jiu Siansing dapat mengubah diri dengan samaran beratus rupa, gerak geriknya sukar dijajaki,
kecuali dia unjuk diri sendiri, biasanya sukar mencarinya.
Sudah tentu nasib ibunda dan Thian-thay-mo-ki tetap merupakan topik pemikirannya, gelisahpun tak
berguna. Perkembangan terakhir ini juga di luar dugaan semula, yang terang usahanya kali ini sedikit
banyak telah mendapatkan hasil yang cukup besar artinya bagi usaha selanjutnya untuk menyelusuri jejak
musuh.
Tanpa sadar kakinya bergerak pergi dan lekas sekali ia sudah berada di luar Ciang-liong-kok. Setelah
menentukan arah, ia siap menuju ke Siong-san, namun pikirannya tiba-tiba teringat suatu hal cukup penting
pula. Ui Bing pernah bilang bahwa pamannya Ciang Wi-bin sedang pergi ke Cong-lam-sam mencarikan obat
untuk menawarkan racun Bu-ing-cui-sim-jiu, supaya dirinya bisa kembali menjadi manusia awan umumnya.
Danau setan yang dituju dan dicarinya itu hanya ada di dalam dongeng. Di sana katanya bisa memperoleh
buah rumput bergaris emas, namun sudah tiga bulan lamanya beliau belum kunjung pulang.
Sudah tentu tujuan utama Ciang Wi-bin dalam usahanya ini adalah demi kebaikkan puterinya yang
dijodohkan pada dirinya, namun kebaikan dan budi ini takkan bisa dihapus demikian saja, jika orang
mengalami sesuatu, selama hidup ini jiwanya pasti tertekan.
Tujuan mencari Ngo-hong-kau tidak boleh ditunda, tapi perjalanan ke danau setan juga tidak boleh
terlambat. Sudah sekian lama Thian-thay-mo-ki terjatuh ke tangan Ngo-hong-kau, nasib apa yang
menimpanya, sukar diramalkan, kalau terjadi sesuatu yang merugikannya, selama hidup ini dirinya pun akan
merana. Siong-san terletak di timur laut, sebaliknya danau setan terletak di Siamsay, itu berarti dia harus
menuju ke barat, arah yang berlawanan.
Dari sini ke Cong-lam-san, paling cepat satu bulan baru dapat mencapai tempat tujuan, dalam sebulan ini
perubahan apa yang akan dialami ibunda dan Thian-thay-mo-ki? Tapi demi dirinya, paman Ciang telah
menempuh perjalanan sejauh itu, menempuh mara bahaya lagi, keluarga sendiri dirampok habis-habisan
juga tidak dipedulikannya, mati hidupnya masih sukar diramalkan, relakah dia berpeluk tangan tanpa
bertanggung jawab? Ia jadi bingung, maju mundur serba susah baginya.
Siong-san hanya ratusan li saja dari sini, menurut perhitungannya, kalau dia tempuh perialanan ini
dengan kecepatan tinggi, paling-paling dua hari dua malam sudah mencapai tujuan. Setelah
dipertimbangkan secara masak, dia berkeputusan pergi ke Siong-san lebih dulu.
Entah berapa jauh ia berlari-lari, lambat laun terasa perut mulai lapar, baru sekarang dia sadar sudah
sehari semalam dia tidak makan sebutir nasipun, rangsum kering yang dibawanya sudah habis dimakan
sebelum dia memasuki Ciang-liong-kok.
Selepas mata memandang, hanya gunung gemunung yang serba liar dan belukar yang belum terinjak
manusia. Agaknya untuk mencapai tempat yang ada penduduk atau perkampungan harus menempuh
perjalanan sehari paling cepat. Walau kekuatan badan masih kuat bertahan, namun rasa lapar perutnya
sungguh tidak enak. Dalam keadaan kepepet dia berpikir minum air gunung untuk menahan lapar juga
mending, maka dia lantas berlari ke selokan di bawah jurang sebelah depan sana.
Sekonyong-konyong sesosok bayangan semampai berkelebat dan tahu-tahu sudah meluncur
dihadapannya. Lekas Ji Bun mengerem langkahnya. Waktu dia melihat jelas, kiranya seorang gadis belia
berusia tujuh belas tahun, berwajah jelita, namun di antara lirikan matanya nampak wataknya yang genit
dan pasti pandai main asmara, terang gadis ini bukan perempuan baik-baik. Apalagi gadis secantik ini
muncul di gunung belukar yang tidak pernah diinjak manusia, tentu dia bukan permpuan sembarangan,
bukan mustahil sebangsa siluman atau dedemit.
Sekian lamanya gadis baju hijau ini mengawasi Ji Bun, akhirnya ia unjuk senyum manis mesra, suaranya
merdu: „Siauhiap ini siapa namanya?"
Ji Bun terlongong, sahutnya: „Cayhe she Ji."
Gadis itu cekikikan, katanya dengan gaya yang memikat: „Ji-siauhiap, apa kau tidak kesasar?”
Ji Bun melengak, serunya: "Apa, aku salah arah? Apa maksudmu?"
"Tentu saja salah arah, ke timur adalah arah untuk keluar gunung, seharusnya kau menuju ke selatan."
Seperti digerujuk air dingin kepala Ji Bun, bahwasanya dia tidak tahu apa maksud perkataan gadis baju
hijau ini, jawabnya ingin tahu : „Kenapa aku harus menuju ke selatan?"
„Ji-siauhiap, terus terang aku bermaksud baik memberi petunjuk kepadamu."
„Nona tahu kemana Cayhe hendak pergi? Apa pula tujuanku?"
„Sudah tentu aku tahu .......”
Kaget dan heran Ji Bun, gadis ini muncul secara mendadak, kata-katanya pun mengandung arti yang
sukar diselami. Sungguh luar biasa gadis ini.
Gadis baju hijau melirik genit, katanya pula dengan gaya aleman "Ji-siauhiap, kau tidak percaya?"
Ji Bun menjadi mual menghadapi sikap genit ini, suaranya dingin: "Darimana nona bisa tahu?"
Gadis baju hijau mendekat dua langkah, sepasang biji matanya sebening kaca berkedip-kedip pada Ji
Bun, seperti seekor kucing yang mengincar ikan asin, katanya cekikikan: "Bukankah kau hendak bersembah
sujud kepada San-lim-li-sin?"
Ji Bun tertegun, tanyanya tidak mengerti: "Apa itu San-lim-li-sin (perempuan sakti pegunungan)."
Bertaut alis gadis baju hijau, ganti dia yang mengunjuk rasa heran, katanya: Masakah bukan ke sana
tujuanmu?"
"Selamanya belum pernah Cayhe mendengar nama San-lim-li-sin segala,"
"Lalu untuk apa kau berada di atas gunung ini? "
"Aku kebetulan lewat saja."
"Inilah pertemuan aneh yang dinamakan ada jodoh, kuharap Siauhiap tidak menyia-nyiakan kesempatan
baik ini?"
Kata-kata ini menimbulkan daya tarik bagi hati Ji Bun, tanyanya: "Siapakah sebenarnya San-lim-li-sin?"
"Sssst!" lekas gadis baju hijau angkat jari ke depan mulut mencegah Ji Bun bicara lebih lanjut, katanya:
"Kalau dia sudah disebut sakti bagai malaikat, jangan kau menyebutnya sebagai manusia biasa, kata-kata
Siauhiap barusan terlalu semberono."
"Nona," ujar Ji Bun tertawa lebar, "walau Cayhe ini orang awam yang kasar, tapi pernah juga membaca
buku, soal setan dan malaikat segala, apa betul ada di dunia ini?"
"Soal ada atau tidak boleh kau buktikan sendiri. Nah, Siauhiap melihat puncak tunggal yang mencakar
langit itu?"
"Ya, kenapa?"
San-lim-li-sin bersemayam di puncak itu, sebulan yang lalu, mendadak beliau memperlihatkan
kesaktiannya, siapapun boleh naik kesana mengagungkan beliau, kalau nasibmu baik, mungkin kau bisa
ditarik menjadi dewa gunung, betapa banyak orang-orang yang berduyun-duyun kemari tak terhitung
jumlahnya."
Dalam hati Ji Bun geli, namun lahirnya tetap wajar, katanya: "Kalau orang sudah diangkat jadi dewa
gunung, lalu bagaimana?"
"Tentunya banyak sekali manfaat yang bakal diperolehnya."
"Manfaat apa?"
"Kabarnya demikian saja, sampai di mana manfaatnya aku sendiri belum tahu."
"Menurut pendapat nona apakah Cayhe ini bakal diterima oleh San-lim-li-sin?”
"Siauhiap begini tampan, berbakat lagi, pasti kau bakal ketiban rejeki."
"Bicara sejauh ini, masih belum kutanya nama harum nona?"
"Aku bernama Liu Gim-gim."
"Pernah apa nona Liu dengan San-lim-li-sin itu?"
"O, tidak. Siauhiap jangan menduga yang bukan-bukan akupun mengikut orang banyak kemari hendak
sembah sujud kepada beliau, kulihat Siauhiap kesasar kemari, karena iseng sengaja kususul dan ..... ah,
mungkin aku terlalu bawel ..........”
Ji Bun menduga dalam hal ini tentu ada latar belakangnya, munculnya gadis ini tentu punya tujuan dan
ada sebabnya, namun dia pura-pura tidak tahu, katanya: "Kalau begitu Cayhe jadi ketarik hendak
membentur rejeki ..........”
"Semoga Siangkong berhasil mendapatkan rejeki!“ baru terdengar suaranya, tahu-tahu Ji Bun merasa
pandangannya kabur, bagai bayangan setan saja gadis baju hijau sudah berkelebat hilang. Keruan
jantungnya berdebar keras sekali, mulut terpentang dan mata terkesima, sungguh kejadian aneh luar biasa.
Di siang hari bolong, seorang masakah bisa lenyap tanpa bekas dari pandangan mata, malah hidungnya
masih mengendus bau harum semerbak, mungkinkah ini hanya impian belaka?
Ji Bun celingukan, suasana di atas gunung sepi, sinar matahari mencorong terang, namun bayangan
apapun tiada dilihatnya. Ia menjublek di tempatnya sampai sekian lama.
Betulkah ada setan dan malaikat di dunia ini? mungkin gadis ini memang diutus untuk memberi petunjuk
kepadaku? Waktu kecilnya memang sering mendengar dongeng dari mak inang, katanya sang dewi sering
menampakkan diri terhadap orang-orang yang berjodoh, lalu bayangannya tiba-tiba lenyap setelah timbul
pusaran angin lembut, betulkah ada kenyataan ini? Tanpa terasa pandangannya tertuju ke puncak gunung
yang jauh di selatan sana, rasa ingin tahunya semakin berkobar. Rasa lapar sudah terlupakan, tanpa sadar
segera ia berlari menuju puncak di selatan itu.
Kira-kira semasakan air mendidih, dia sudah tiba di bawah gunung, waktu dia memandang ke atas,
dilihatnya bentuk puncak tunggal ini memang luar biasa, berbeda dari pada keadaan gunung umumnya.
Puncak gunung ini besar dan luas, sebaliknya bagian bawahnya semakin mengecil, mirip benar dengan
sebuah menara yang diputar balik letaknya. Tingginya tak terukur, puncaknya berselubung mega, memang
bentuk dan keadaannya mirip sekali dengan gunung kediaman malaikat dewata.
Tatkala itu bayangan seorang tampak sedang bergerak-gerak di lamping gunung, waktu ditegasi, kiranya
seorang tua, setiap langkah kakinya pasti menyembah sekali, cara begitulah dia terus menggeremet ke atas
gunung, betapa sujud dan khidmatnya, jelas kelihatan dari tingkah lakunya.
Tatkala Ji Bun mengawasi dengan melenggong, tampak bayangan seorang tiba di bawah kaki gunung
pula, kiranya seorang Busu berusia 30-an, namun sikap Busu ini juga sangat sujud, prihatin dan amat
berhati-hati. Sekian lama dia mendongak mengawasi puncak gunung, tiba-tiba dia membuka ikatan pedang
di pinggang dan terus dibuang begitu saja di tanah, setelah membetulkan pakaian, iapun tinggalkan kantong
rangsumnya.
Melihat rangsum ini segera rasa lapar Ji Bun bergolak pula, cepat ia maju menyapa: “Saudara, bolehkah
Cayhe mohon sedikit rangsum keringmu ini?"
Busu itu seperti tidak mendengar, tidak berpaling dan tidak melirik, bersuarapun tidak, tahu-tahu dia
lempar kantong rangsum itu ke arahnya. Lekas Ji Bun menerimanya, sikapnya rada kikuk, baru saja dia
hendak menyatakan terima kasih, Busu itu sudah berlutut dan menyembah, lalu mulai naik ke atas gunung,
setiap tiga langkah menekuk lutut menyembah tiga kali, begitulah seterusnya. Ingin Ji Bun tertawa, namun
tak bisa tertawa, tanpa sungkan-sungkan segera ia mendekati kantong rangsum itu, setelah dibuka ternyata
makanan yaag dibawa Busu ini sangat lezat. Isinya adalah setengah ekor kelinci panggang, kira-kira
setengah kilo dendeng sapi dan sebuah bakpao yang besarnya satu piring. Setelah dimakan seluruhnya,
perutpun sudah kenyang, waktu dia angkat kepala. dilihatnya Busu tadi baru tiba kira-kira setengah li. Ji Bun
lari kepinggir sungai untuk minum menghilangkan dahaga. Manusia itu besi, dan nasi adalah baja, setelah
perutnya kenyang, semangatnya menyala.
Dalam hati Ji Bun merasa heran dan curiga, betapapun dia tidak percaya adanya ''Malaikat perempuan"
segala. Memang dunia persilatan ini banyak diliputi serba-serbi keanehan, namun semua itu hanyalah
permainan orang-orang persilatan itu sendiri yang ingin angkat nama atau mempermainkan orang lain.
Setelah bimbang sebentar, akhirnya Ji Bun meleset ke atas puncak.
Lekas sekali Busu tadi telah disusulnya, tampak Busu itu mengawasinya dengan pandangan kaget heran,
geleng-geleng kepala, lalu melangkah dan menyembah lagi. Sekaligus Ji Bun berlari-lari sejauh tiga li,
jaraknya dengan puncak sudah tidak jauh lagi, pemandangan disinipun sudah jauh berubah.
Setelah dekat keadaan lebih jelas, puncak ini menjulang tinggi mencakar langit sukar diukur karena
puncaknya yang tertinggi diselubungi awan yang bergulung-gulung. Bagian bawah yang semakin mengecil
dari kaki bukit ini tampak bagian tengah dibuatkan undakan batu yang lurus ke atas. Entah berapa undakan
itu, kecuali jalan undakan yang di buat ditengah lekukan alam ini, tiada tempat lain yang dapat dibuat naik
ke atas, karena begitu curam, kerapun takkan mungkin manjat kesana.
17.51. Malaikat Perempuan Penunggu Gunung
Tempat di bawah undakan batu adalah sebidang tanah yang miring seluas puluhan tombak, di sini orangorang
yang bergiliran naik keatas puncak menunggu dengan sabar, kira-kira ada puluhan orang yang
berlutut di sana sini, setiap orang begitu sujud dan patuh sekali, mengawasi puncak yang tidak tampak
bayangannya. Diam-diam Ji Bun berpikir: "Cukup seorang yang memiliki dasar ilmu silat berjaga di sebelah
atas, betapapun tinggi Lwekang seorang juga pasti sukar naik ke atas dengan selamat."
Kebetulan diiihatnya bayangan seorang beranjak turun dari undakan batu, kelihatan lesu dan bergontai
langkahnya, terus turun gunung, agaknya dia tidak berjodoh untuk mendapat berkah dari "Malaikat
Perempuan."
Tampak seorang yang berlutut disebelah kiri depan menyembah tiga kali, bergegas dia melangkah
kearah undakan batu dengan munduk-munduk, lalu manjat ke undakan itu.
Orang-orang yang berada dilapangan ini sama menoleh kearah Ji Bun, sikap Jr Bun angin-anginan dan
tidak menampakkan sikap menghormat, semua merasa heran dan kaget. Kebetulan bagi Ji Bun, iapun awasi
setiap orang yang berada di sekitarnya, ternyata kebanyakan anak-anak muda dari golongan persilatan.
Tiba-tiba pandangannya tertarik pada seorang pengemis yang meringkuk di sebelah kanan, agak jauh di
sana, pengemis ini sedang tidur dengan mengorok keras. Melihat pengemis ini hampir saja Ji Bun tertawa,
karena dia bukan lain samaran Sian-tian-khek Ui Bing. Walau sudah berubah bentuk lain, namun Ui Bing
tetap mengenakan pakaian lama waktu dia menyamar pengemis tua mata satu, buntalan kain yang
berbentuk bundar dan persegi di atas punggungnya merupakan tanda yang khas, karena kedua buntalan
bundar persegi inilah maka sekilas pandang Ji Bun lantas mengenalinya.
Agaknya Ui Bing sedang mimpi muluk, dia tidak melihat kedatangan Ji Bun. Pelan-pelan Ji Bun
menghampiri dan duduk di samping Ui Bing. Tiba-tiba Ui Bing membuka mata dan berteriak tertahan: "He,
kaupun kemari?"
Ji Bun manggut-manggut sambil tersenyum, katanya: "Tak nyana bertemu disini."
"Kaupun ingin bersujud pada Malaikat perempuan?"
"Anggaplah begitu, Toako kira .......”
"Sama-sama, hal ini tak usah dibicarakan."
"Apakah paman Ciang Wi-bin sudah ada kabarnya?"
"Tiada, mungkin mengalami sesuatu."
"Setelah menyelesaikan suatu persoalan, Siaute akan menyusulnya ke Cong-lam-san. Bagaimana
gurumu?"
"Beliau juga tiada kabar ceritanya."
"Apa yang akan Toako lakukan di sini?"
Ui Bing menuding dengan ujung bibirnya ke arah undakan, katanya: "Aku tidak berjodoh, belum lagi
sampai di atas sudah dipukul mundur lagi."
"O, jadi ada yang jaga di atas sana?”
"Kira-kira demikian, dari atas menyerang ke bawah, posisinya jauh lebih menguntungkan, kemampuanku
amat terbatas, tak bisa berbuat apa-apa."
“Agaknya jago lihay yang berjaga diatas. Bagaimana keadaannya?"
"Entahlah, tiada yang tahu."
"Biarlah Siaute mencobanya?"
"Orang-orang ini sudah mendapatkan nomor, yang datang duluan lebih dulu naik ke atas, kau mungkin
harus tunggu sampai besok pagi."
ji Bun mengerut kening, matanya menyapu sekelilingnya, katanya: "Ada jalan lain?"
"Mana mungkin, tiada tempat berpijak ........."
"Siaute yakin bisa mencobanya."
"Kukira tidak setimpal kau menempuh bahaya," ujar Ui Bing menatap Ji Bun sekian lama, "mungkin kau
bisa berhasil namun aku khawatir ada serangan yang membokong."
Perhatian yang tulus hati ini betul-betul mengetuk sanubari Ji Bun, katanya sungguh-sungguh: "Toako,
Siaute akan berhati-hati."
Pelan-pelan ia lantas berdiri.
Tiba-tiba Ui Bing menarik Ji Bun terus diseret ke belakang sebuah pohon. Ji Bun kaget, tanyanya: "Ada
apa?"
"Ada orang datang, jangan kau menampilkan diri lebih dulu."
"Siapa yang datang?"
"Ngo-hong-su-cia."
Dari celah-celah dedaunan Ji Bun mengintip ke sana, betul juga dilihatnya seorang pemuda berbaju
sutera, seperti tiada orang lain disekitarnya langsung berlenggang ke arah undakan.
Memuncak amarah Ji Bun, desisnya geram: "Biar kubunuh manusia keparat ini."
Lekas Ui Bing menariknya, bujuknya: "Hiante, jangan terburu nafsu, biar dia membuka jalan, pasti akan
ada tontonan yang menyenangkan."
Sementara itu Ngo-hong-su-cia tadi langsung telah menuju ke undakan, seorang laki-laki muka merah
yang berlutut di bawah undakan seketika menggerung gusar: "Anak muda, apa yang hendak kau lakukan?"
Ngo-hong-su-cia berhenti memutar badan, katanya dingin menghadapi laki-laki muka merah yang
berlutut: "Mulutmu harus bicara yang bersih tahu!”
Laki-laki muka merah mengertak gigi, agaknya dia menekan perasaan, namun suaranya mengandung
kemarahan yang meluap: "Anak keparat, segala urusan harus menurut aturan, kau datang belakangan harus
antri, sikapmu ini sungguh kurangajar .......”
"Memangnya peduli apa dengan kau?”
"Bapakmu ini ingin mengajar adat padamu," belum habis dia berbicara, "Plak", disusul suara jeritan
keras, laki muka merah itu terguling roboh sejauh delapan kaki, darah bercucuran dari mulutnya, mukanya
yang merah menjadi kelam, pipinya bengap sebesar mangkok.
Ji Bun sudah hendak memburu ke luar, namun Ui Bing menekan pundaknya.
Perbuatan kasar semena-mena Ngo-hong-su-cia menimbulkan kemarahan umum, tujuh delapan orang
kontan berjingkrak gusar sambil mengepal tinju. Ngo-hong-su-cia malah bertolak pinggang, wajahnya
tersenyum sinis.
Seorang laki-laki berbadan besar seperti kerbau tiba-tiba menggeram gusar: "Anak kelinci, biar tuan
besarmu mengajar adat .........." sambil mengayun tinjunya sebesar mangkok terus menjojoh ke dada
pemuda baju sutera, begitu keras ayunan tinjunya sampai mengeluarkan deru angin, betapa dahsyat
pukulannya ini sungguh amat mengejutkan.
"Blang," dibarengi pekik mengerikan, tahu-tahu raksasa itu sendiri yang terpental roboh celentang,
jiwanya seketika melayang. Tidak kelihatan Ngo-hong-su-cia bergerak, kedua tangan masih bertolak
pinggang, hanya dada yang dibusungkan menerima pukulan secara telak, namun sikapnya seperti tidak
terjadi suatu apa. Keruan kejadian ini membikin seluruh hadirin melongo kaget dan jeri, mereka yang tadi
menggulung lengan siap mengajar pemuda kurang ajar ini menjadi kuncup nyalinya.
Dengan pandangan menghina Ngo-hong-su-cia menyapu seluruh hadirin, lalu sambil menjengek dia
putar tubuh terus manjat ke atas undakan. Kelihatannya dia melangkah lamban, namun kenyataan
tubuhnya melayang seperti anak panah meluncur, hanya sekejap mata bayangannya sudah lenyap ditelan
awan.
Suasana tanah lapang menjadi sunyi, namun kini ketambahan sesosok mayat manusia yang tidak
terurus. Hampir melotot biji mata Ji Bun menyaksikan kekejaman pemuda baju sutera tadi, sayang dia di
tahan oleh Ui Bing, sehingga tak terlampias rasa gusarnya.
"Cobas lihat!" kata Ui Bing lirih.
Segulung bayangan tiba-tiba bergelinding turun dari atas undakan, akhirnya terbanting diam di bawah
kaki undakan. Kiranya Ngo-hong-su-cia yang tadi manjat keatas jiwanya kini sudah melayang, punggungnya
ketambahan beberapa huruf merah yang menyolok dan mengejutkan: "Mati bagi yang kurang ajar."
Sama berubah rona muka hadirin, Ji Bun sendiri juga terkejut, kepandaian silat Ngo-hong-su-cia pernah
dilawannya, dan terhitung kelas wahid. Namun hanya sekejap mata dia sudah mampus dibuatnya, peduli
yang membunuhnya di atas bukit tadi manusia atau malaikat, yang terang kejadian ini cukup seram dan
mengerikan. Kalau puncak ini tempat semayam para malaikat, tiada alasan untuk menyebar kabar angin
mengundang sekian banyak orang untuk membuat onar di sini. Jikalau manusia, apa pula tujuan dari
permainan ini?
Sebetulnya dengan Ginkang "pusaran angin" yang dimiliki Ji Bun bukan soal sulit untuk manjat ke atas
puncak tanpa melalui undakan langit ini. Namun sekarang dia ganti haluan semula, dia ingin manjat ke atas
lewat undakan ini, dia ingin tahu bahaya apa yang mengancam setiap insan yang naik ke sana. "Toako,"
katanya, "biar aku mencobanya."
"Hiante harus berhati-hati."
"Siaute tahu," sebat sekali dia melompat dan melesat ke arah undakan, karena adanya peristiwa yang
dialami Ngo-hong-su-cia, maka tiada orang lagi yang merintangi Ji Bun. Mereka tinggal diam saja
mengawasi Ji Bun dengan penuh perhatian.
Ji Bun menghimpun hawa murni, badannya seringan burung walet, dengan enteng dia melayang naik
melalui undakan. Kelihatan sikapnya wajar dan tenang-tenang saja, namun hatinya merasa gundah dan
jantungnya dak-dik duk. Kekuatan Lwekangnya sudah dikumpulkan siap menunggu segala perubahan yang
mungkin menimpa dirinya.
Undakan ini lurus lempeng menanjak curam ke atas, lebarnya hanya empat kaki, kedua sisinya dipagari
dinding batu gunung yang licin mengkilap laksana kaca, kera pun takkan mampu manjat ke atas, hanya
undakan satu-satunya jalan untuk naik ke atas.
Ji Bun terus berlari-lari dengan tangkas dan enteng, lekas sekali dia sudah hampir mencapai puncak,
jaraknya tinggal puluhan tombak lagi. Waktu ia mendongak, tampak undakan alam ini seolah-olah sudah
bertautan dengan langit, sebuah papan batu yang besar sekali berdiri di ujung undakan. Empat huruf besar
dengan tulisan gaya kuno berjajar melintang "Tempat semayam malaikat perempuan". Kecuali keempat
huruf ini tiada kelihatan apa-apa lagi. Sekilas Ji Bun menghentikan langkahnya, ia bimbang apakah harus
menerjang terus ke atas atau bersuara mohon bertemu. Tiba-tiba dari atas puncak sana berkumandang
suara: "Malaikat perempuan memanggil Ji-siauhiap.”
Mendengar "Ji-siauhiap", Ji Bun lantas tahu pembicara adalah seorang jago silat dari Bu-lim, seketika
bangkit nyali Ji Bun, namun hatinya merasa heran pula, bahwa nama dirinya sudah diketahui, ini sungguh
membingungkan.
Segera dia mengenjot kaki melayang maju pula dengan beberapa kali lompatan. Akhirnya dia tiba di
bawah papan batu besar, di mana matanya menjelajah, seketika mengkirik bulu kuduknya. Tampak dua
kakek yang berbentuk aneh, laksana dua patung raksasa, masing-masing berduduk di kanan kiri undakan,
keduanya memejamkan mata bersimpuh tak bergerak. Kedatangan Ji Bun seperti tidak diketahui oleh
mereka.
Ji Bun tenangkan diri, waktu dia memandang ke depan, kiranya luas puncak bukit ini kira-kira ada satu
hektar. Batu-batu aneh tersebar dimana-mana, pohon-pohon cemara bertebaran. Tepat di tengah sana
berdiri sebuah bangunan berloteng, atapnya dihiasi naga dan burung hong, bentuknya tak ubahnya seperti
kelenteng, tapi megahnya tidak kalah daripada istana raja.
Bayangan seorang semampai tampak berdiri di jalanan kecil yang menuju ke loteng megah itu. Ji Bun
disonggong dengan senyuman manis. Begitu melihat orang ini lebih yakin dan mantap hati Ji Bun akan
dugaan semula, karena orang yang menunggu dirinya ini bukan lain adalah gadis baju hijau yang mengaku
bernama Liu Gim-gim, serunya segera: "Nona Liu!"
Tidak nampak lagi sikap genit Liu Gim-gim. Sahutnya setelah memberi hormat: "Atas perintah Li-sin,
silakan Siauhiap masuk menghadapnya."
"Apa betul Cayhe ada jodoh?" tanya Ji Bun geli dan mengada-ada.
"Mungkin, silakan ikut hamba," ujar Liu Gim-gim dengan tertawa manis.
"Silakan tunjuk jalan," kata Ji Bun.
Liu Gim-gim langsung membawa Ji Bun naik ke loteng, setelah melewati serambi berpagar batu putih,
mereka tiba di depan pintu sebuah ruangan besar. Empat gadis baju hijau dengan sikap hormat berbaris di
depan pintu, masing-masing memegang kebutan, pedang, mistar, dan alat tabuhan.
Bentuk luar bangunan ini sudah megah, ternyata pajangan dan perabot yang ada di dalam jauh lebih
mewah lagi. Dari luar tak kelihatan ada bayangan orang di dalam.
Liu Gim-gim berhenti beberapa langkah di luar pintu, katanya penuh hormat: "Ji-siauhiap mohon
bertemu."
Liu Gim-gim menyingkir memberi jalan, keempat, gadis baju hijau tadi juga berpencar ke kanan kiri. Hati
Ji Bun menjadi tegang, karena mengikuti rasa ingin tahunya saja dia meluruk ke tempat ini. Tujuan yang
pasti tiada, juga tiada maksud-maksud tertentu, soalnya dia tidak tahu siapa sebetulnya orang yang
tersembunyi dibalik semua kejadian ini. Namun dalam hati ia tetap yakin bahwa tiada "malaikat" segala di
dunia ini, kehadiran Liu Gim-gim sudah merupakan bukti bahwa orang di belakang layar pasti juga seorang
persilatan, cuma dari keadaan yang dihadapinya ini, jelas dia pasti bukan orang sembarangan.
Pelahan-lahan dia melangkah masuk, lalu berdiri tegak sambil berpangku tangan menghadap kain
gorden. Terdengar suara merdu yang menarik di belakang tabir berkumandang pula: "Ji Bun, apa
maksudmu kemari?"
Ji Bun kaget bukan main, sekali buka mulut orang sudah menyebut namanya, jelas sudah tahu asal usul
dirinya, pula suara orang ini tidak terasa asing baginya. Namun dalam waktu singkat ini sukar dia memikir di
mana pernah dengar suaranya, sejenak dia ragu-ragu, lalu katanya: "Anak buahmu sendiri yang
membawaku kemari."
"Jadi karena ketarik dan ingin tahu saja?"
"Ya, boleh dikatakan demikian."
"Apa pula permintaanmu sekarang."
"Ingin melihat pamor malaikat perempuan yang sebenarnya."
"Hanya itu saja? Ketahuilah, manusia biasa mana boleh berdekatan dengan malaikat, masakah begitu
mudah terlaksana keinginanmu?"
"Jadi kau masih tetap mengagulkan diri sebagai malaikat segala?"
"Apa maksudmu?”
"Tiada maksud apa-apa, walau Cayhe orang bodoh, tidak pernah kupercaya adanya malaikat segala."
"Jadi kau anggap aku ini manusia biasa?"
"Malah sebelum ini kita pernah berkenalan, bukan?"
"Bagus, tahukah kau, apa maksudku menyuruh Liu Gim-gim membawamu kemari?"
"Mohon diberi keterangan."
"Kalau kau menjadi sandera di sini, memangnya Ji Ing-hong tidak akan keluar?"
Terkesiap hati Ji Bun. "Siapakah kau? Betulkah ayahku masih hidup?''
"Mungkin saja Ji Ing-hong licik dan licin, tipu muslihatnya masakah dapat mengelabui mata seorang ahli,
mungkin kau memang tidak tahu dan dikelabui ayahmu sendiri."
Perasaan Ji Bun tergerak pula, jelas orang ini pasti musuh. apakah betul ayahnya belum mati? Mana
Mungkin? Jari tangan sendiri yang menggali liang lahat dan mengubur jenazahnya. Barang-barang
peninggalan ayahnya juga dia temukan pada jenazah itu, sayang wajah si korban remuk dan tidak bisa
dikenali lagi, memangnya di sinikah letak persoalannya? Dia tidak habis mengerti, namun dia berdoa,
semoga hal ini memang betul. Maka dia berkata dingin: "Kau bermusuhan dengan ayahku? Biarlah aku yang
bertanggung jawab memikul semua perbuatannya."
"Kau tidak akan mampu memikulnya. Ji Bun, kau kira siapa aku ini?"
''Kenapa tidak kau keluar menampakkan dirimu?”
Pelan-pelan kain gorden tersingkap, muncul bayangan semampai seorang perempuan jelita.
Ji Bun menjerit kaget dan menyurut mundur. Kiranya orang yang muncul ini bukan lain adalah
perempuan rupawan yang disebut Siancu oleh orang-orang Wi-to-hwe itu. Sungguh tak pernah terpikir
olehnya bahwa hari ini dirinya bakal masuk perangkap orang-orang Wi-to-hwe pula. Memangnya apa tujuan
orang menjunjung diri sebagai San-lim-li-sin dan membuat keonaran ini? Tentunya bukan melulu ditujukan
kepada ayah dan dirinya, karena dirinya hanya kebetulan lewat di sini.
Dahulu dia bukan tandingan perempuan rupawan ini, tapi sekarang mungkin dia mampu melawannya
sama kuat. Tanyanya segera: "Apakah kau ini betul-betul Siangkoan-hujin?"
"Ya, ada apa?"
"Kenapa harus pura-pura jadi malaikat segala untuk menipu orang banyak?"
"Ji Bun, kau salah, San-lim-li-sin adalah ibuku, berdasar apa kau mengatakan kami menipu orang?”
"Yang terang dalam Bu-lim belum pernah kudengar nama julukan ini."
"Itu karena pengetahuanmu yang terlalu cetek,” sahut perempuan rupawan itu, lalu menambahkan:
"Memang baru-baru ini saja orang-orang berduyun-duyun kemari."
"Apa tujuannya?"
"Baiklah kuberitahu. Demi membela kebenaran."
"Membela kebenaran?"
"Tempat ini merupakan perangkap bagi kaum bejat dan sampah persilatan, kau tahu?"
Ji Bun mengertak gigi, wajahnya unjuk rasa gusar, sesuai perkataan orang, dirinya jadi termasuk sampah
persilatan. Namun dia segan berdebat, katanya dingin: "Memang tidak sedikit orang-orang munafik dalam
dunia Kang-ouw, jahat lurus sukar dibedakan. Lalu maksud Hujin memancingku kemari hendak menjadikan
diriku sandera karena permusuhan Siangkoan-Hwecu dengan ayahku itu?"
"Ya, permusuhan ini harus dibereskan sendiri oleh Ji Ing-hong."
"Tapi bagaimana dengan peristiwa hancurnya Jit-sing-po?"
"Wi-to-hwe tidak bertanggung jawab dalam peristiwa itu."
"Memangnya siapa pang harus bertanggung jawab?"
"Sudah tentu orang yang berbuat, pihak yang melakukan."
"Siapa yang melakukan?"
"Tidak usah aku menjawab pertanyaan ini."
"Tatkala peristiwa itu terjadi, betulkah Siangkoan Hong sendiri juga menuntut balas?"
"Ya, tapi sasaran yang dicarinya hanya ayahmu seorang."
"Dapatkah ucapanmu ini dipercaya? Bagaimana kalau aku menuduh Siangkoan Hong yang menjadi biang
keladi dari pembantaian besar-besaran itu?"
"Aku tidak bisa, melarang kau mengajukan pendapatmu."
"Jadi kau mengakui tuduhanku ini?"
"Aku tidak ingin berdebat denganmu, sejak sekarang, kau sudah menjadi tawananku."
Bangkit nafsu Ji Bun, serunya gusar: "Kukira tiada orang yang mampu menahanku di sini."
"Boleh kau mencobanya?" habis berkata bayangan perempuan cantik itupun menghilang bagai setan,
kain gorden hanya sedikit bergeming.
Rasa benci dan dendam membara di dada Ji Bun, kesan dan tindaknya di Ciang-liong-kok seketika timbul
dalam benaknya. Kalau tidak menggunakan cara keras dan keji, jangan harap tercapai cita-citanya untuk
menuntut balas. Alasan menjadikan dirinya sebagai sandera untuk memancing ayahnya keluar bukan
mustahil hanya alasan kosong belaka? Entah apa tujuan yang tersembunyi balik penahanan dirinya ini?
Segera dia angkat tangan memotong ke arah kain gorden, di tengah suara robeknya kain gorden, entah
kemana perginya perempuan rupawan tadi.
Sesaat dia melenggong, entah sejak kapan pintu keluar ternyata juga sudah tertutup oleh sebuah jaring
besar, sekali melejit dia menerjang ke arah pintu, sekuatnya tangan menarik dan menyendal, seketika ia
terkesiap, jaring ini entah terbuat dari bahan apa. Betapa pula besar kekuatannya sekarang, namun
tarikannya sedikitpun tidak bisa memutuskan jaring itu.
Keempat gadis baju hijau tetap berdiri di luar pintu, salah seorang yang memegang mistar tiba-tiba
berpaling sambil berkata tertawa: "Te-gak Suseng, tenangkanlah dirimu, jaring benang ulat sutera ini takkan
putus dibacok dan dipotong dengan senjata tajam, dibakarpun tidak akan luluh. Betapapun besar
kekuatanmu hanya sia-sia belaka, dan atap rumah ini dibangun dengan lapisan besi, kuharap kau tidak
membuang-buang tenaga."
Dingin perasaan Ji Bun, namun nafsunya semakin berkobar malah, di mana tangannya terayun, beberapa
jalur angin kencang meluncur ke arah empat gadis yang berdiri di luar pintu. Sebat sekali keempat gadis itu
melompat terpencar, segesit kera tahu-tahu mereka sudah berdiri pula di tempatnya semula, gerakannya
aneh dan tangkas.
Saking murka, Ji Bun himpun tenaganya menggempur ke arah dinding. "Blang!” suaranya menggelegar,
malah diri sendiri terpental mundur oleh tenaga sendiri, gema dari pukulannya sampai sekian lama
berkumandang, begitu keras suaranya sampai kuping sendiri serasa pekak. Mau tak mau dia harus percaya
apa yang diucapkan si gadis baju hijau tadi. Umpama kepandaian setinggi langit juga akan sia-sia belaka,
tapi rasa benci, dendam, marah betul-betul hampir membuatnya gila, dia menggerung dengan suara
bergetar: "Perbuatan hina dan rendah ini, memangnya kalian tak malu mengagulkan diri sebagai penegak
kebenaran?"
Terdengar suara perempuan rupawan yang berkumandang entah dari mana. Suaranya hampa mengalun
di tengah udara: "Ji Bun, tidak kugunakan kekerasan terhadapmu, itu terhitung aku menggunakan cara yang
paling baik."
"Kalau kau mengaku sebagai insan persilatan, kenapa tidak dibereskan dengan kepandaian ilmu silat?"
tantang Ji Bun.
"Tentu, cuma waktunya belum tiba."
"Sehari Ji Bun tidak mampus, aku bersumpah akan menumpas habis seluruh Wi-to-hwe."
"Asal kau mampu, kutunggu sampai Ji Ing-hong mengunjuk diri. Ketahuilah kehadiran kau di sini sudah
tersebar luas di dunia persilatan." Habis berkata suasana menjadi hening.
Bagai harimau yang terkurung dalam kerangkeng, Ji Bun mondar mandir dengan mengepal tinju, hatinya
murka dan penasaran, namun tak berdaya untuk meloloskan diri.
Lima hari sudah Ji Bun terkurung. Lima hari, namun bagi perasaan Ji Bun seperti lima tahun. Selama lima
hari ini yang sering dilihat dan bertemu muka hanya Liu Gim-gim seorang, walau dirinya dikurung namun
pelayanan terhadap dirinya cukup baik, Liu Gim-gim selalu memberikan segala keperluan yang dia butuhkan.
Diam-diam Ji Bun gegetun dan dongkol pula terhadap gadis yang satu ini, kalau bukan gara-gara cewek
dirinya pasti takkan terkurung. Setiap kali muncul dihadapannya, sikap Liu Gim-gim amat menantang lagi.
Tengah hari itu, seperti biasa Liu Gim-gim datang membawa rangsum, satu persatu dia masukkan
hidangan yang dibawanya melalui sebuah lubang khusus. Wajahnya selalu bersenyum manis mesra, lalu dia
menunggu di luar jaring sambil berdiri dengan gaya menantang. Entah sengaja atau tidak, dia sering
menggerakkan pinggang dan pinggul, membusungkan payu dara yang baru mekar dan hanya terlindung
oleh bajunya yang tipis.
Kali ini Ji Bun tidak mau menyiksa diri, makanan yang dibawakan untuknya disikatnya habis, dengan
lahap dia makan sambil menunduk kepala, hati juga bekerja merancang cara dan akal untuk meloloskan diri.
Dengan pandangan pesona Liu Gim-gim mengawasi Ji Bun, jejaka bak arjuna yang meluluhkan hati
setiap insan lawan jenisnya, senyuman mesra dan genit wajahnya bertambah mekar. Entah apa yang
tengah dipikirkan? Selama lima hari ini, Ji Bun sudah mual kalau tidak mau dikata jijik menghadapi tingkah
pola cewek yang jalang ini, selama ini belum pernah dia memberi hati kepada orang, melirikpun dia tidak
sudi.
Dengan suara aleman memikat tiba-tiba Liu Gim-gim berkata "Ji-siauhiap, apakah tidak pernah kau
merasa kuatir akan masa depanmu sendiri?"
Ji Bun tetap sibuk menyikat makanannya, sedikitpun tidak menghiraukan ocehan orang.
“Siauhiap seorang berbakat, laki-laki sejati, pribadimu tentu jauh berbeda dengan orang kebanyakan,
kesabaran dan ketekunanmu, serta harkat dirimu sungguh membuatku takluk."
Tergerak hati Ji Bun, perempuan ini pandai membual, berjiwa munafik dan pintar memikat, kenapa tidak
kuperalat dia saja? Maka lekas dia turunkan mangkok dan sumpit, dimasukkan nampan terus didorong
keluar, katanya dingin sambil berdiri: "Nona Liu ada petunjuk apa terhadapku?"
Biji mata Liu Gim-gim yang jeli bening memancarkan sinar aneh, katanya aleman: “Ji-siauhiap berada di
dalam kurungan, namun masih bersikap begini tenang dan wajar, sungguh mengagumkan.”
"Memangnya aku ini seorang persilatan ynag harus berani mempertaruhkan jiwa raga, kenapa harus
gentar menghadapi ujian hidup."
"Karena itulah hamba tadi bilang amat kagum akan kebesaran jiwa Siauhiap."
"Ah, kau terlalu memuji."
Sekian saat Liu Gim-gim menepekur sambil gigit ujung jari, lalu katanya dengan suara lirih: "Apakah
Siauhiap tidak ingin lolos?"
"Kalau dikatakan ingin, kenyataan tidak mungkin."
"Jadi Siauhiap ingin lolos?"
"Sudah tentu, manusia mana yang tidak ingin bebas merdeka? Demikian juga aku ini.”
"Akan tetapi, apa pula rencana Siauhiap setelah bebas?"
"Mungkin nona bisa memberi petunjuk?”
Diam sebentar, akhirnya Liu Gim-gim berkata pula "Dua hari yang lalu, majikan kami telah turun
gunung." Kata-kata ini tiada juntrungannya, namun mengandung maksud tertentu bagi pendengaran Ji Bun,
tidak mungkin tanpa sebab nona ini bicara soal ini.
Dasar cerdas, cepat sekali Ji Bun dapat meraba ke mana arah perkataannya, namun dia pura-pura
bodoh, tanyanya: "Majikanmu itu, apakah si Malaikat perempuan?"
"Bukankah Siauhiap sudah tahu, kok tanya lagi .......”
"Kudengar orang memanggilnya Siancu ......."
"Ya, julukan Hujin adalah ..........”
"Kenapa tidak kau lanjutkan?"
Sedikit berobah rona muka Liu Gim-gim seakan-akan sadar kata-katanya terlalu semberono, disadarinya
bahwa dirinya telah berbuat salah dan menyerempet bahaya, namun toh dia tetap memberi jawaban,
karena pikirannya sekarang sudah dirasuk perasaan lain dari seorang anak perawan yang baru mekar,
kesadarannya sudah tenggelam dikuasai oleh asmara. "Dia bergelar Hun-tiong-siancu," demikian
disambungnya.
"O, Hun-tiong-siancu (dewi dalam mega), memang dia setimpal mendapatkan julukan ini. Apakah dia
cantik?"
18.52. Keluar Dari Kurungan Jala Sutera
"Sukar dicari bandingannya, dia amat cantik. Dan bagaimana dengan hamba?"
"Kaupun ayu, terutama gerak gerikmu teramat anggun."
"Hamba hanya seorang pesuruh, mana berani mendapat pujian Siauhiap."
Geli hati Ji Bun, agaknya nona ini sudah pusing tujuh keliling karena mabuk kepayang terhadap dirinya,
namun kalau sandiwara ini dilanjutkan, persoalan pokok pasti akan segera disinggung. Maka dia lalu bicara
blak-blakan: "Apakah nona ada maksud memberi bantuan kepada Cayhe?"
"Wah, terus terang hamba tidak berani mempertaruhkan jiwa raga sendiri, tapi ........”
"Tapi kenapa?"
"Hatiku tidak tega melihat engkau menderita."
"Aku tahu. Sebetulnya nona ingin membantu, namun ada syaratnya bukan?"
Liu Gim-gim terkikik sambil menutup mulut, matanya melirik penuh arti, katanya sedikit kikuk: "Jisiauhiap
memang lebih cerdik daripada orang lain, terus terang hamba tak berani mengajukan syarat segala,
cuma .... cuma tujuanku ......"
“Apa tujuanmu?"
Jengah wajah Liu Gim-gim, katanya dengan malu-malu kucing: "Hamba hanya seorang pelayan rendah,
kurela menyerahkan jiwa ragaku demi Siauhiap." Biji matanya yang jeli menatap penuh harapan ke arah Ji
Bun.
Memang Ji Bun sudah menduga apa yang terkandung dalam benak cewek ini, maka dia tidak kaget atau
heran, katanya tawar: "Apakah ini syaratnya?”
"Terserah kepada Siauhiap."
"Lalu bagaimana aku harus menepati syaratmu ini?"
"Bersumpah kepada langit dan bumi bahwa engkau akan mengawiniku dan menjadi suami istri sampai
hari tua, segera hamba akan berusaba menolong Siauhiap."
Ji Bun tertegun, berusaha lolos adalah keinginan dan harapan yang mendesak bagi Ji Bun. Untuk lolos
dia boleh menggunakan cara keji atau muslihat kotor apapun, peduli cara keji apa yang akan dia
laksanakan. Bagi seorang insan persilatan yang betul-betul berjiwa ksatria jelas pantang ingkar janji. Lalu
mungkinkah dia menikah dengan perempuan jalang seperti Liu Gim-gim ini? Tidak mungkin, namun
kesempatan sebaik ini, mana boleh diabaikan demikian saja. Kalau Hun-tiong Siancu ada di kandang,
umpama nyali Liu Gim-gim setinggi langit juga takkan berani berbuat senekat ini, maka lama sekali Ji Bun
tak membuka suara.
"Hamba tahu Siauhiap pasti tidak sudi sama sekali mengawini aku yang rendah ini ........"
Agak kusut pikiran Ji Bun, tak tahu bagaimana dia harus menjawab, katanya sesaat kemudian: "Biarlah
kupikirkan dulu, ini urusan besar, demi masa depan."
Liu Gim-gim celingukan, lalu katanya gugup: "Ji-koko, waktu tidak memberi kesempatan untuk bimbang
hati, kalau Hujin keburu pulang, segala harapan akan sirna."
Merinding sekujur badan Ji Bun mendengar orang memanggil "Ji-koko" kepadanya, hatipun muak,
sebetulnya dia bisa berbuat apa saja terhadap perempuan genit ini. Namun Ji Bun tidak sudi berbuat kotor
demi kebersihan nama baik sendiri, maka dia berkata pula: "Berilah satu jam untuk kupikirkan, bagaimana?"
"Wah ..... baiklah, satu jam kemudian aku kemari lagi," sembari bicara Liu Gim-gim ulurkan tangan ke
dalam lubang hendak mengukuti perabot, lengannya tampak putih halus, jari-jarinya runcing. Melihat lengan
orang, suatu pikiran berkelebat dalam benak Ji Bun, batinnya: "Memberi kelonggaran kepada musuh berarti
berlaku kejam terhadap diri sendiri." Maka dengan segera dia berkeputusan, dengan senyum lebar tiba-tiba
dia membungkuk sambil mengelus lengan orang.
Semula Liu Gim-gim kaget dan secara refleks hendak menarik tangannya, namun dia urungkan niatnya,
tangannya dibiarkan dipegang dan dielus-elus, katanya cekikikan senang: "Ji-koko, kau sudah berubah
pikiran dan mantap?"
Tiba-tiba Ji Bun bersikap dingin, katanya dengan suara berat: "Kau tahu apa julukanku?"
Liu Gim-gim tertegun, jawabnya: "Te-gak Suseng."
Ji Bun lepas pegangannya, suaranya lebih dingin: "Bagus, kuharap kau tidak melupakan nama gelaranku
ini."
Lenyap tingkah genit Liu Gim-gim tadi, katanya mengerut kening penuh keheranan: "Apa maksudmu?”
"Ketahuilah, bahwa aku ini bukanlah manusia yang mudah dipelet dan dipermainkan. Sekarang buka
jaringan ini."
Liu Gim-gim menyurut mundur, suaranya gemetar: "Kau belum menerima syaratku .........”
"Aku tidak berminat sama sekali."
"Kenapa aku harus membebaskan kau?"
"Untuk menolong jiwamu sendiri. Sudah kupoles racun yang jahat pada lenganmu, tiada orang yang bisa
menawarkan racun itu, dalam jangka seperempat jam, nona secantik dirimu bakal melayang jiwanya. Kalau
kamu mau membuka jaringan ini, aku berjanji akan menolongmu."
Pucat wajah Liu Gim-gim, dia mundur lagi, teriaknya beringas menuding Ji Bun: "Kau sungguh kejam
........"
"Sesuai dengan nama gelaranku, memang aku bukan orang baik-baik."
"Ji Bun, kalau aku mati, memangnya kau bisa hidup?"
"Itu persoalan lain."
Berkerutuk gigi Liu Gim-gim, serunya. "Dalam jangka seperempat jam, aku sudah cukup berlebihan untuk
menghancur leburkan tubuhmu."
"Kau berani? Boleh coba."
Sekilas Liu Gim-gim melengong, mendadak dia putar tubuh, tangannya meraih cakar naga yang menjadi
hiasan ukiran di atas saka di serambi sana.
Mencelos hati Ji Bun, sungguh tak pernah dibayangkan bahwa gadis ini berani nekat, cakar naga itu pasti
kunci rahasia untuk memutar suatu alat senjata yang ganas. Dirinya terkurung di sini hakikatnya tak mampu
mencegah perbuatan orang. Kalau benar dirinya sampai berkorban di tangan budak jalang ini, sungguh
matipun takkan meram.
Jari-jari Liu Gim-gim sudah pegang cakar naga, desisnya mengancam: "Ji Bun, jangan kau menyesal!''
Seperti dibakar hati Ji Bun, namun lahirnya dia tetap tenang-tenang, katanya angkuh: "Aku tidak pernah
merasa menyesal."
"Baik, akan kutonton cara bagaimana kau meregang jiwa."
"Liu Gim-gim," pada detik-detik yang menentukan itu, tiba-tiba sebuah bentakan berkumandang dari
serambi luar sana, "besar sekali nyalimu!"
Tahu-tahu seorang nyonya baju hitam setengah baya sudah muncul di depan kamar, kereng wajah
nyonya ini, sorot matanya menyala mengawasi Liu Gim-gim. Seperti berhadapan dengan dedemit, Liu Gimgim
tampak ketakutan, beruntun dia mundur sampai mepet pintu dan berada di depan jaring.
"Budak keparat," damprat nyonya baju hitam bengis, “apa yang hendak kau lakukan?"
Suara Liu Gim-gim penasaran: "Aku .... aku .... terkena racunnya."
Nyonya baju hitam melirik ke arah Ji Bun, katanya: "Kau tahu dia tawanan penting Hujin? Kalau kau
membunuhnya dengan Kang-niu-tin, akibat apa yang akan terjadi?”
"Tapi, jiwa hamba tinggal beberapa detik lagi ........”
"Tutup mulutmu, tiada anak buah Siancu yang sebejat dirimu, berani kau berkhianat terhadap Siancu,
hendak melakukan perbuatan kotor lagi, kau sendiri harus menerima ganjarannya. Hayo berlutut.”
Liu Gim-gim bertekuk lutut, mulutnya sesambatan: "Congkoan, ampunilah akan kesalahanku yang
pertama kali ini."
"Undang-undang yang di tegakkan oleh Li-sin, biarpun Siancu sendiri juga tidak berani mengubahnya,
tutup mulutmu."
Seperti kertas air muka Liu Gim-gim, badannya gemetar. Congkoan, nyonya baju hitam itu, mendekati
jaring, katanya: "Ji Bun, kuharap kau memberi obat penawarnya."
“Kenapa? "
"Dia akan mendapat hukuman sesuai peraturan disini."
"Siapa nama yang mulia?"
"Sun Hoan-ji, menjabat Congkoan di sini."
Sejak digembleng dengan ajaran ilmu tingkat tinggi Ban-tok-bun, cara menggunakan racun sudah terlalu
mahir bagi Ji Bun. Dikala mengelus tangan Liu Gim-gim tadi dia sudah mengeluarkan racun penghancur
jantung, namun kini dia dapat mengendalikan racun itu supaya bekerja pada waktu-waktu tertentu dan
dapat diperhitungkan sesuai dengan keadaan. Kalau setengah tahun yang lalu, siapa saja yang kesentuh
tangan kirinya pasti mampus seketika. Sekarang sekujur badannya boleh dikatakan berlepotan racun,
namun racun dalam tubuhnya hanya bisa mencelakai jiwa orang kalau dikehendakinya sendiri. Hari ini
pertama kali dia gunakan ilmu tingkat tinggi yang baru dipelajarinya itu, soalnya juga karena terpaksa.
Apalagi gerak geriknya selalu terkendali oleh larangan perguruan yang tidak boleh sembarangan
membunuh, yang benar dia sendiri juga tidak ingin mengambil jiwa Liu Gim-gim. Oleh karena itu dia berkata
keras: “Nona Liu coba ulurkan kemari tanganmu."
"Untuk apa?" tanya Liu Gim-gim menoleh.
"Menawarkan racun dalam tubuhmu."
"Tidak mau."
"Kenapa?”
"Akhirnya aku juga mati, biar aku mati di tanganmu saja."
"Memangnya kau bisa berbuat sesukamu di sini?" damprat Sun Hoan-ji, sekali lompat dia jinjing tubuh
Liu Gim-gim dan tangannya dimasukkan ke dalam lubang.
Mata mendelik dan gigi berkerutuk, namun Liu Gim-gim tidak bisa meronta, dia tidak berani melawan.
Lekas Ji Bun pegang pergelangan tangan orang, diam-diam dia kerahkan tenaga murni menyedot kadar
racun di badan orang, dengan cepat dia lepas tangan lagi, katanya: "Sudah selesai."
Cara menawarkan racun yang aneh luar biasa ini, selama hidup belum pernah Nyonya baju hitam
mendengar atau menyaksikan, sesaat dia berdiri melongo.
Pada saat itulah, dari bawah loteng sana tiba-tiba berkumandang suara hardikan dan berdentingnya
suara senjata, agaknya terjadi baku hantam yang ramai di bawah sana. Berubah air muka nyonya baju
hitam, sekali berkelebat dia bawa Liu Gim-gim pergi.
Ji Bun merasa kaget, siapakah yang berani mencari setori di atas puncak ini? Suara gaduh pertempuran
berkumandang di sana sini, pekik teriakan kesakitan juga saling susul, agaknya korban sudah mulai
berjatuhan. Dari suara baku hantam yang gaduh ini, terang tidak sedikit orang yang tengah bertempur.
Tiba-tiba sesosok bayangan orang meluncur naik ke atas loteng, secepat kilat menubruk kebilangan
kanan, namun cepat sekali berlari keluar pula dan menyusup ke arah kiri. Agaknya dia sedang mencari apaapa,
menggeremet di depan kamar tempat Ji Bun dikurung, melihat jaring besar ini, seketika mulutnya
bersuara terjepit.
Ji Bun berjingkrak mendengar suara orang, keruan senangnya bukan main, lekas dia berteriak: "Toako,
aku ada di sini."
Yang datang kiranya Ui Bing, kini dia menyamar sebagai seorang Busu baju hitam, kalau tadi dia tidak
bersuara pasti Ji Bun tidak mengenalnya.
Ui Bing mendekati jaring, serunya: "Hiante, kau masih sehat? Sudah lima hari, kuduga kau sudah tiada,
apakah yang terjadi?"
"Aku terkurung oleh jaring ulat ini. Siapakah yang berhantam di luar itu?”
"Jago-jago Ngo-hong-kau, jumlahnya 50-an, aku mencampurkan diri di antara mereka, baru berhasil
menyelundup kemari."
"Tangga batu yang sempit berbahaya itu tak kuasa menghalangi mereka?"
Setelah mengorbankan 12 jagonya baru Ngo-hong-kau dapat menjebol penjagaan itu.”
"Kedua makhluk yang berjaga itu?"
"Sudah tentu mampus. Biar kucari alat pembukanya dulu."
Habis berkata, tangan meraba dan menendang, dengan teliti dia mencari tombol untuk membuka
jaringan ini Sebagai murid Biau-jiu Siansing, maling sakti nomor wahid di seluruh jagat, sudah tentu Ui Bing
cukup ahli juga dalam hal alat-alat rahasia.
"Awas!" tiba-tiba Ji Bun berseru memperingatkan, sejalur angin kencang tiba-tiba menerjang ke arah Ui
Bing, penyerangnya adalah seorang gadis baju hijau, munculnya begitu mendadak, namun Ui Bing berjuluk
Sian-tian-khek, gerak geriknya tentu cukup tangkas. Tapi kalau dibandingkan lawannya dia masih kalah,
beruntun dicecar tiga kali tabasan pedang, sehingga Ui Bing melompat mundur kewalahan, keadaannya
sangat berbahaya. Dalam sepuluh jurus, jelas Ui Bing tidak akan lolos dari rangsakan pedang si gadis.
Ji Bun gelisah, tangan diulur keluar jaring, dengan tenaga selentikan jari dia menyerang lawan dengan
kekuatan murninya. "Trak", kepala naga yang ada di saka, tiba-tiba protol dan terlempar jauh.
"Rebahlah," berbareng si gadis menghardik, di tengah kumandang suaranya, pundak Ui Bing kontan
berdarah, tubuhnya sempoyongan. Gerakan pedang si gadis tidak berhenti, tahu-tahu ujungnya mengancam
ulu hati Ui Bing, sebat sekali Ui Bing berusaha melompat, namun gerak geriknya selalu dibayangi oleh ujung
pedang sigadis, agaknya dia sukar terhindar dari bahaya.
Untunglah bertepatan dengan protolnya kepala naga itu, tiba-tiba jaring besar yang mengurung Ji Bun
tiba-tiba menggulung sendiri keatas. Keruan bukan kepalang girang Ji Bun, selentikan jari tadi sebetulnya
menyerang si gadis, namun gerakan si gadis teramat gesit, malah sebaliknya kepala naga ini yang terkena
selentikan tenaga jarinya dan mengenai alat rahasia yang tepat sehingga membebaskan diri sendiri.
"Huuuaaah!" di tengah teriakan yang mengerikan, tampak gadis baju hitam itu roboh tersungkur roboh
binasa.
"Hiante, kau ...." seperti melihat suatu keajaiban, tiba-tiba Ui Bing berteriak.
"Secara kebetulan, mimpi juga aku tidak menduganya," ujar Ji Bun sambil menuding ke arah saka.
"Bagaimana keadaan Toako?"
"Luka-luka luar saja, tidak jadi soal," lekas-lekas dia keluarkan obat, menelan pil serta membubuhi puyer
pada luka-lukanya.
Suara baku hantam masih gaduh di luar, namun semakin mendekati bangunan loteng. Menyala sinar
mata Ji Bun, serunya penuh murka :"Akan kucuci tempat ini dengan darah."
"Jangan!" lekas Ui Bing mencegah.
"Kenapa?"
"Kau mau membantu Ngo-hong-kau? Sebagai seorang Busu, memangnya kau hendak mengail di air
keruh?"
Sejenak Ji Bun ragu-ragu, katanya: "Apa harus tinggal pergi begini saja?"
"Kalau pihak tuan rumah tiada bala bantuan, pihak Ngo-hong-kau pasti berhasil menguasai keadaan di
sini.”
Tatkala mereka bicara, tiba-tiba sesosok bayangan orang melesat ke atas loteng. Kiranya seorang
pemuda baju sutera, tangan menenteng pedang sekujur badan berlepotan darah. Begitu berdiri tegak
segera dia menuding Ui Bing seraya membentak: "Kenapa tidak turun tangan?" agaknya dia kira Ui Bing
sebagai anak buah Ngo-hong-kau.
Ji Bun melirik sekitarnya, lalu menyambut dengan suara dingin: "Selamat bertemu!"
Pemuda baju sutera adalah salah satu Ngo-hong-su-cia yang pernah bentrok di luar kota Bik-seng tempo
hari, temannya sudah mati di tangan Ji Bun. Berhadapan dengan pemuda ini mau tak mau Ji Bun lantas
ingat pada kekasihnya, Thian-thay-mo-ki, nafsunya seketika memuncak tak terkendali lagi.
Begitu berhadapan dan melihat jelas musuh dihadapannya, seketika berobah roman pemuda baju sutera,
cepat dia putar badan hendak melarikan diri. Sebat sekali Ji Bun berkelebat mencegat, desisnya: "Kau harus
mampus!" kontan dia menyerang dengan Tok-jiu-it-sek.
Lekas Ngo-hong-su-cia melintangkan pedang terus membabat, namun sebelum gerak pedangnya
dikembangkan, tiba-tiba mulutnya menjerit keras terus terjungkal roboh.
Ji Bun tidak hiraukan mati hidup orang, segera dia melayang turun sambil berseru: "Toako, hayo keluar."
Ui Bing segera melejit turun pula di belakangnya.
Mayat sudah bergelimpangan di bawah loteng, ada laki-laki ada perempuan, yang perempuan adalah
anak murid Hun-tiong Siancu, di mana-mana orang masih baku hantam dengan sengit, suara gaduh masih
menguasai keadaan. Sekilas Ji Bun memandang, dilihatnya perempuan baju hitam yang menamakan diri
Congkoan Sun Hoan-ji tengah bergebrak melawan seorang tua baju sutera. Dari cara tempur dan tipu-tipu
yang dilontarkan, jelas mereka merupakan lawan setanding yang berkepandaian paling tinggi di antara
kelompok lain. Namun setiap kelompok yang lagi bertahan, semuanya bertempur sengit dan seru, nekat
mengadu jiwa.
Ui Bing segera menuding laki-laki tua baju sutera itu, katanya: "Itulah pimpinan orang-orang Ngo-hongkau."
Ji Bun manggut, sebuah hardikan berkumandang dari arah kiri, tampak seorang gadis baju hijau
tersungkur roboh binasa oleh tabasan pedang seorang laki-laki baju sutera, agaknya laki-laki ini masih
belum puas, meski lawannya sudah mampus, tapi dia masih memburu maju, baju si gadis diiris sobek
sehingga dada si gadis terbuka lebar. Perbuatan yang kotor dan rendah serta hina ini membuat Ji Bun naik
pitam, sekali lompat dia menubruk ke sana, belum lagi laki-laki baju sutera itu melihat jelas siapa yang
menyerang dirinya, tahu-tahu kepalanya sudah pecah terhantam oleh Ji Bun.
Entah siapa tiba-tiba berteriak ketakutan: "Te-gak Suseng!"
Teriakan ini sungguh menimbulkan pengaruh besar, semua orang yang lagi bertempur segera berhenti
dan berlompatan mundur.
Ji Bun segera menuju ke arah laki-laki tua baju sutera, di mana tangannya bekerja musuh pasti
bergelimpangan, sejauh lima tombak dia melangkah, pihak Ngo-hong-kau roboh tujuh orang. Cepat orang
tua baju sutera melancarkan tiga kali pukulan mendesak mundur perempuan baju hitam, lalu menubruk ke
arah Ji Bun.
Melihat Ji Bun tiba-tiba muncul, tapi orang-orang Ngo-hong-kau yang dipukulnya binasa, keruan
perempuan baju hitam berdiri melongo kaget.
Sementara itu Ji Bun telah menyongsong kedatangan laki-laki tua baju sutera, tanpa bicara dia lontarkan
jurus Tok-jiu-it-sek. Ternyata kepandaian lawan teramat tinggi, gerakannya tangkas, mundurnya juga tidak
kalah sebatnya, hanya sedikit bergoyang tahu-tahu dia sudah meluputkan diri dari serangan Ji Bun yang
mematikan, belum lagi gerakan Ji Bun berubah, pedang panjang orang sudah menyerang laksana samberan
kilat. Mau tidak mau Ji Bun terdesak mundur dua langkah, disaat mundur itu sekaligus iapun menabas
dengan telapak tangan yang dilandasi sepenuh tenaganya.
Dahsyat sekali pukulannya, gerakan pedang si orang tua sampai tersampuk miring, gerakkannya menjadi
sedikit lamban, pada detik inilah jurus kedua Ji Bun sudah menyerang tiba.
Tapi pada waktu yang sama Ji Bun juga merasakan angin dingin hawa pedang tengah mengincarnya dari
belakang. Dari samberan anginnya, Ji Bun tahu si penyerang adalah seorang ahli pedang yang
berkepandaian tinggi. Didesak keadaan, terpaksa Ji Bun menggeser tubuh ke samping, karena gerakannya
ini, dengan sendirinya kekuatan serangan jurus kedua menjadi berkurang, namun Tok-jiu-ji-sek memang
bukan main lihaynya, tak urung laki-laki tua baju sutera mengerang kesakitan dan sempoyongan beberapa
tindak.
Ji Bun melirik ke belakang, seketika mulutnya berteriak kaget, mata seketika menjadi gelap, hampir saja
dia terjungkal roboh. Orang yang membokongnya dengan pedang ternyata adalah paman Ciang.
Untuk menyembuhkan tangan kirinya yang beracun, Ciang Wi-bin pergi ke danau setan di Cong-lam-san
mencarikan obat, tak terkira tiba-tiba muncul di sini, lebih tidak pernah terpikir bahwa beliau sudah menjadi
anak buah Ngo-hong-kau serta tega menyerang dirinya.
“Kenapa orang sendiri dan musuh sama ingin membunuh diriku? Kenapa sahabat ayah yang selalu
dihormati ini tega membunuh diriku. Sungguh Ji Bun tidak habis mengerti. Hatinya sakit seperti ditusuk
sembilu.
Disebelah sana Ui Bing juga berteriak kaget dan girang pula.
Ciang Wi-bin berkata: "Ji Bun, tidak pantas kau membantu musuh."
Megap-megap mulut Ji Bun, sekian lama baru keluar suaranya: "Aku ...... membantu musuh?"
Ciang-Wi-bin membentak: “Apa kau lupa, Wi-to-hwe adalah musuh besarmu?"
"Paman ........”
"Jangan banyak bicara, sekarang bereskan orang-orang Wi-to-hwe."
Tiba-tiba Ui Bing berteriak: "Dia bukan Ciang Wi-bin, dia palsu."
Ji Bun tersentak sadar, mulutnya menggerung sekeras-kerasnya, dengan sengit segera dia layangkan
kepalannya. Sementara itu perempuan baju hitam telah melawan laki-laki tua baju sutera yang sudah
terluka itu.
Permainan pedang orang yang memalsu Ciang Wi-bin ternyata cukup lihay, walau Ji Bun menyerang
dengan sengit, namun dia tetap bertahan ketat malah balas menyerang setiap ada kesempatan. Hawa
pedang yang dimainkan bisa merobek badan orang, sinar pedangnya laksana jala yang berlapis-lapis, rapat
dan ketat. Tujuh delapan gebrak telah lewat namun keduanya masih setanding.
18.53. Rahasia Ngo-hong Kaucu
Tiba-tiba sebuah jeritan keras menyayat hati membarengi si orang tua baju sutera roboh terkapar. Lakilaki
yang memalsu Ciang Wi-bin segera memberi aba-aba: "Mundur!"
Karena memecah perhatian memberi perintah ini, Ji Bun memperoleh kesempatan, Tok-jiu-sam-sek
laksana kilat cepatnya dilancarkan, sebetulnya Ji Bun belum berani melancarkan serangan ganas dari Giamong-
yan-khek ini, namun besar niatnya hendak merobohkan lawan yang satu ini maka tanpa banyak pikir
segera dia lancarkan serangan yang mematikan ini.
Ciang Wi-bin palsu kontan roboh binasa. Anak buah Ngo-hong-kau serempak berlarian menuju ke tangga
hendak meloloskan diri ke bawah puncak, suasana menjadi gaduh dan panik.
Ji Bun berteriak sambil menuding mayat di sampingnya ke arah Ui Bing: "Toako, lihatlah wajah aslinya!"
Akhiri kata-katanya itu tubuhnya sudah melambung tinggi meluncur ke arah undakan batu. Rasa
bencinya sudah memuncak, sengaja dia tidak mau membiarkan seorangpun anak buah Ngo-hong-kau lolos.
Maka di tengah udara secepat angin lesus dia berputar terus meluncur turun ke tempat di mana semula
kedua makhluk tua itu berada. Begitu dia membalik tubuh, kebetulan anak buah Ngo-hong-kau yang lari
paling depanpun tiba, kontan dia kebutkan lengannya, dua jeritan memecah keheningan udara, bayangan
orang satu persatu terjungkal roboh binasa. Laksana membabat rumput saja Ji Bun binasakan semua anak
buah Ngo-hong-kau yang lari dikejar anak buah San-lim-li-sin. Hanya sekejap saja pertempuran telah
berakhir, darah berceceran di mana-mana, mayat bergelimpangan.
Sebagai Congkoan, segera perempuan baju hitam Sun Hoan-ji perintahkan anak buahnya membersihkan
darah dan menggotong pergi mayat-mayat yang bergelimpangan. Langsung dia menghampiri Ji Bun,
katanya sungguh-sungguh: "Kami mewakili Hujin menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada
Siauhiap yang telah membantu kami."
"Tidak usah," ujar Ji Bun dingin, "aku tak sengaja membantu kalian."
Berubah air muka perempuan baju hitam, tanyanya: "Cara bagaimana kau bisa lolos?”
"Kukira tak perlu aku menjelaskan."
Ui Bing mendatangi dengan langkah lebar.
"Toako," tanya Ji Bun, "siapakah yang memalsu paman Ciang?"
"Belum pernah kenal, yang terang dia adalah jagoan Ngo-hong-kau."
"Apa maksud mereka menyamar jadi paman Ciang?"
"Marilah kita turun dulu, nanti kujelaskan."
"Sulit dikatakan, mungkin ingin memfitnah, supaya pihak Wi-to-hwe mencari perhitungan kepada beliau,
atau mungkin ada muslihat lain."
"Darimana Toako tahu kalau dia palsu dan samaran."
"Marilah kita turun dulu, nanti kujelaskan."
"Sun-congkoan," kata Ji Bun, "tidak lama kami akan bertemu lagi, dikala aku kemari, keadaan akan
melebihi hari ini."
"Silakan saja," sahut Sun-congkoan.
Ji Bun berdua segera turun dari undakan, ternyata orang-orang yang bersembah sujud dibawah bukit
sudah tidak kelihatan lagi bayangannya. Maka sambil berjalan Ui Bing lalu memberi penjelasan: "Pertama,
paman Ciang pergi ke danau setan, tak mungkin muncul secara mendadak di sini. Kedua, suara dan
permainan silatnya jauh berbeda. Ketiga, baru saja paman Ciang dirampok habis-habisan, tidak mungkin dia
mau menyerah kepada musuh."
"Betul, kenapa aku mudah dikelabui, sebetulnya aku sudah menduga sebelumnya," lalu Ji Bun
menceriterakan pengalamannya kenapa sampai dirinya terkurung.
Tatkala itu mereka sudah tiba di bawah gunung, Ui Bing perlambat langkah, kakinya, katanya: "Hiante,
bagaimana kalau sekarang kita menuju ke danau setan untuk mencari jejak paman Ciang?"
Berkata Ji Bun dengan serius: "Tidak, Siaute ingin, pergi ke markas Ngo-hong-kau lebih dulu."
"Kau sudah tahu di mana letak markas pusatnya?”
"Ya, berada di belakang puncak Siong-san, dari sini jaraknya tidak terlalu jauh."
Ui Bing berpikir sebentar, lalu katanya: "Baiklah, mari kita berangkat."
"Tidak, kita harus bekerja secara terpencar, kuharap Toako berusaha menemukan gurumu, karena
banyak persoalan yang ingin kumohon petunjuknya, setelah kubereskan urusan di Ngo-hong-kau, baru
.......”
“Watak guruku aneh, kecuali dia yang mencarimu, kemanapun kau mencarinya pasti takkan ketemu."
"Mohon Toako suka berusaha menemukan beliau?"
"Hiante kira kepandaianku rendah dan takkan bisa bekerja, serta merupakan beban belaka bagimu?"
"Bukan begitu maksudku," jawab Ji Bun. Yang betul Ji Bun tidak ingin Ui Bing ikut menyerempet bahaya,
tujuan ke Ngo-hong-kau tak ubahnya memasuki rawa naga dan sarang harimau, jago-jago sllat Ngo-hongkau
amat banyak, seorang Duta saja, Ui Bing bukan tandingannya. Apalagi dari keterangan Kiang Giok
sebelum ajal, kemungkinan sekali Ngo-hong Kaucu adalah murid murtad perguruannya, kalau Ui Bing
mendampinginya, terlalu sukar untuk menyelesaikan pembersihan perguruan ini. Namun dia kehilangan
kata-kata untuk mencegah ikutnya Ui Bing, alisnya bertaut, lama dia berpikir mencari akal.
Sebagai kawakan Kangouw, jalan pikiran Ui Bing cukup teliti dan terbuka, melihat sikap Ji Bun yang serba
salah ini, terpaksa dia ubah sikap: "Apakah Hiante ada kesulitan yang bisa diutarakan?”
Apa boleh buat Ji Bun manggut-manggut, ujarnya: "Memang benar.“
"Baiklah, aku tidak jadi ikut, lalu di mana selanjutnya kita bertemu?"
"Di kota Jip-ciu, bagaimana?”
"Baik!" keduanya terus berjalan di lereng pegunungan, menjelang magrib baru mereka keluar dari
gunung, di depan mengadang persimpangan jalan. Kata Ui Bing sambil pegang tangan Ji Bun: “Hiante kita
harus berpisah, jagalah dirimu dalam sepuluh hari bertemu lagi di kota Jip-ciu."
o0o
Siong-san, di mana Siau-lim-pay yang merupakan simbul kebesaran kaum persilatan berada, walau
beberapa tahun belakangan ini, kebesaran dan kecemerlangannya agak pudar, namun kejayaannya tetap
tidak pernah runtuh.
Bagian belakang gunung nan dalam dan jauh sana, jarang diinjak manusia, gunung gemunung sambung
menyambung seperti gajah beriring, jurang berlapis, puncak bertingkat, keadaan di sini penuh hutan belukar
dan liar.
Tengah hari itu, tatkala kabut di atas gunung sirna dibuyarkan oleh panasnya matahari, tampak seorang
pemuda pelajar berjubah hijau tengah berlenggang dengan langkah ringan berlari-lari, di pegunungan yang
penuh belukar itu. Dia bukan lain adalah Ji Bun yang dirundung niat menyala untuk menolong ibu dan
kekasihnya.
Sang waktu berjalan tanpa terasa, matahari tahu-tahu sudah doyong ke barat, Ji Bun sudah mengobrakabrik
pegunungan seluas puluhan li, namun tetap tidak menemukan tanda-tanda yang mencurigakan.
Jangankan orang Ngo-hong-kau, seorang penebang kayupun tidak ditemukan. Hari hampir sore, kabut mulai
timbul lagi, namun hasil usahanya tetap nihil. Kini dia berdiri di atas sebuah puncak tinggi, hatinya kecewa
dan putus asa. Kalau benar Ngo-hong-kau mendirikan markas di sini, sedikit banyak pasti ada jejaknya,
apakah keterangan Kiang Giok dapat dipercaya? Dia mulai sangsi.
Mendadak bayangan seorang laksana setan melayang keluar dari hutan yang lebat sana. Kuping dan
mata Ji Bun cukup tajam, segera dia merasakan kedatangan orang. Waktu dia putar tubuh, dilihatnya lima
tombak di sebelah sana berdiri seorang pemuda baju sutera, dari dandanan orang dia yakin bahwa orang ini
pasti salah seorang Duta Ngo-hong-kau, penemuan ini seketika mengobarkan semangatnya, terhitung
sukseslah perjalanannya kali ini.
Pemuda baju sutera buka suara lebih dulu: "Te-gak Suseng, untuk apa kau kemari?"
Ji Bun melompat maju ke depan orang, katanya: "Kau ini Ngo-hong-su-cia? Aku hendak ketemu dengan
Kaucu kalian."
"Ya, untuk apa kau hendak bertemu dengan Kaucu kami? Yang terang Kaucu tidak ingin menemuimu?"
"Apa maksudmu?"
"Aku diperintahkan kemari untuk menyampaikan berita padamu."
Diam-diam terkesiap hati Ji Bun, kiranya perjalanan dirinya kemari sudah diketahui pihak lawan.
"Menyampaikan berita apa?" tanyanya.
"Ibu dan kekasihmu Thian-thay-mo-ki mendapat pelayanan yang baik sekali."
Bersinar pandangan Ji Bun. "Masih ada apa lagi?”
"Kaucu mengajukan satu syarat sebagai imbalannya, kalau kau berhasil melakukannya, ibu dan
kekasihmu akan dibebaskan."
"Kalau tidak kuterima syarat ini?"
"Selama hidupmu takkan bisa bertemu lagi dengan mereka."
"Apakah syaratnya?"
"Batok kepala Wi-to-hwecu suami isteri sebagai imbalannya."
"Apa, batok kepala Siangkoan Hong dan Hun-tiong Siancu? Kau yakin aku mau melakukannya?”
"Sudah tentu. Pertama, Siangkoan Hong suami isteri adalah musuhmu. Kedua, demi keselamatan ibu dan
kekasihmu kau harus bekerja menurut petunjuk kami."
Alasan ini memang tepat dan benar, namun masakah Ji Bun mau dipermainkan begini saja setelah
berhasil menemukan markas musuh? Maka dengan dingin dia mendengus: "Inikah beritamu? Aku takkan
menerimanya."
Berubah air muka pemuda baju sutera, serunya: "Kau akan menyesal. Sampai bertemu!”
"Jangan bergerak," bentak Ji Bun. "Jangan kau kira bisa pergi demikian saja, sebutkan dulu nama
Kaucumu.”
"Kau kira keinginanmu dapat terlaksana?"
"Memangnya kau berani membangkang," Ji Bun mendesak maju.
Pemuda baju sutera menyurut mundur dengan ketakutan, tiba-tiba dia melompat balik terus lari sipat
kuping, gerakkannya teramat cepat dan mengejutkan, namun Ji Bun tak membiarkan dia lolos. "Berhenti,"
ditengah hardikannya, tak kalah cepatnya tubuhnya berkelebat, tahu-tahu ia sudah menghadang di depan
orang.
Dengan gerakan cepat sementara itu mereka sudah berada di pinggir hutan, kalau pemuda baju sutera
itu sampai menyusup ke dalam hutan, urusan tentu runyam.
Bagai kilat menyambar, sambil melompat Ji Bun kebaskan lengannya, walaupun serangan ini tidak sekuat
biasanya, di mana angin menggulung, pemuda baju sutera tergentak sompoyongan. Sebat sekali Ji Bun
menubruk maju seraya membentak: "Kau kira mampu lolos dari tanganku?”
Pucat pemuda itu, kembali dia menyurut sejauh mungkin, tahu-tahu tangannya terayun. Serangkum bau
harum tiba-tiba merangsang hidung Ji Bun. Tak terduga Ji Bun malah menjengek dengan nada menghina:
"Ternyata kau juga belajar menggunakan racun, sayang kebentur aku si bangkotan pemakai racun."
Karena terdesak dan kehabisan akal sehingga tanpa pikir pemuda baju sutera menyerang dengan
menggunakan racun, tak pernah terpikir olehnya bahwa Te-gak Suseng gembongnya ahli racun jaman itu.
Kini Ji Bun lebih yakin lagi bahwa Ngo-hong Kaucu pasti orang yang memperoleh Tok-keng, tapi
mengkhianati perguruan.
Mendadak pemuda itu berteriak aneh, serangannya bagai kilat menyambar, dengan nekat dia merangsak
Ji Bun. Seperti kata pameo "seorang berlaku nekat, orang banyakpun tak kuat melawannya". Lwekang
pemuda dari Ngo-hong-kau ini memangnya tinggi, kini menyerang dengan nekat dan membabi buta lagi,
sudah tentu Ji Bun menjadi kerepotan juga meski kepandaian silatnya lebih unggul. Sayang kekuatan
pemuda baju sutera juga terbatas, yang diandalkan hanya semangat yang menyala sebentar, bicara soal
Lwekang dan kepandaian, betapapun dia terpaut jauh sekali dibanding Ji Bun. Setelah rangsakkan pemuda
itu hampir mencapai titik balik yang menentukan, Ji Bun pun mendapatkan kesempatan untuk melancarkan
Tok-jiu-it-sek.
"Ciiaaaat!" pemuda baju sutera menggembor sekeras-kerasnya, darah menyembur dari mulutnya, badan
terkapar sebentar, ternyata dia masih kuat meronta berdiri pula. Ji Bun tahu dia harus mempertahankan
jiwa orang ini untuk didengar keterangannya, maka dia tidak menggunakan tenaga sepenuhnya.
"Boleh kau tidak menjawab pertanyaanku, tapi tunjukkan jalan menuju ke markas pusat kalian!”
Menyeka darah dimulutnya, pemuda baju sutera menjawab tegas: "Jangan harap!"
Keruan memuncak amarah Ji Bun, sekali ulur tiba-tiba dia cengkeram pundak orang, kelima jarinya
ambles ke kulit daging pundak orang, darah meleleh dari sela-sela jarinya, warna darah yang menyolok
kelihatan segar membasahi baju sutera berwarna kelabu itu.
"Berani sekali lagi kau mengatakan tidak?”
"Tidak!" tegas jawab pemuda itu.
Ji Bun perkeras cengkeramnya, pemuda baju sutera seketika melolong seperti binatang kesakitan, tulang
pundaknya remuk, keringat dingin sebesar kacang berketes-ketes, kulit daging wajahnya berkerut-kerut
aneh, sorot matanya diliputi ketakutan seram penuh kebencian serta dendam. "Te-gak Suseng," desisnya
menahan sakit, "kau akan mendapat balasan sepuluh kali lipat lebih berat daripada deritaku ini."
"Itu bukan urusanmu. Katakan, kau mau tidak tunduk akan perintahku?" karena pemuda baju sutera
tetap bungkam, semakin berkobar nafsu Ji Bun, hardiknya: "Kau tidak mau buka mulut, memangnya orang
lain tidak, kalau kau ingin mampus, jangan kau salahkan aku berlaku kejam terhadapmu."
Sekonyong-konyong puluhan bayangan orang muncul bersama dari berbagai penjuru, semuanya
berseragam baju sutera, bersenjata pedang dan lain-lain senjata tajam. Sekilas pandang Ji Bun lantas tahu
yang datang semua adalah anak buah Ngo-hong-kau. Akhirnya dari rombongan belakang tampil seorang
laki-laki berjubah sutera yang gagah perkasa, langsung dia menghampiri Ji Bun, bentaknya dengan suara
berat: "Lepaskan dia!"
Tajam dan wapada Ji Bun awasi orang, katanya, "Siapa tuan ini?"
"Aku adalah Ngo-hong Kaucu!"
Darah kontan mendidih di rongga dada Ji Bun, sorot matanya semakin jalang, sekali gentak dan ayun,
pekik panjang seketika menggema di angkasa. Ngo-hong-su-cia yang jadi tawanannya tiba-tiba dia lempar
sejauh lima tombak dan membentur batu serta pecah kepalanya.
"Ji Bun," teriak Ngo-hong Kaucu, "Gila kau!"
Tanpa gentar sedikitpun Ji Bun mendelik ke arah Ngo-hong Kaucu, ingin dia saksikan secermatnya wajah
murid murtad ini, lama sekali baru dia mendesis di antara sela-sela giginya yang berkerutuk itu: "Siapa
nama gelaran Tuan?"
Ngo-hong Kaucu terloroh-loroh, ujarnya: "Anak muda, kau belum setimpal tanya namaku."
Sejenak Ji Bun menepekur, katanya: "Kebetulan kau datang, marilah kita bicarakan dulu persoalan
pribadi ........"
"Apa, urusan pribadi? Baiklah, ada dendam apa kau?"
"Bukankah kalian yang membantai orang-orang Jit-sing-po?"
"Aku pernah menyuruh orang menyampaikan kabar padamu, pergilah temui Wi-to-hwecu."
"Kau ini sebagai Kaucu, apakah kata-katamu boleh dipercaya?"
"Sudah tentu."
"Memangnya kenapa ibuku harus kau tawan?"
"Demi merajai Bu-lim, demi mencapai cita-cita, perduli pakai cara apapun, untuk ini tidak perlu aku
memberi penjelasan padamu."
"Aku kurang puas akan jawabanmu ini. Lalu apapula tujuanmu membunuh Sam-cay Lolo dan menculik
Thian-thay-mo-ki?”
"Sudah tentu karena alasan yang sama."
"Sekarang lepaskanlah ibuku dan Thian-thay-mo-ki."
"Hm, memangnya begitu mudah?" jengek Ngo-hong Kaucu.
"Kau harus kerjakan apa yang kukatakan, kalau tidak anjing ayampun takkan kutinggalkan hidup di
dalam Ngo-hong-kau."
"Kata-katamu yang takabur ini memangnya dapat membuat aku jeri?"
Ji Bun sudah ingin turun tangan, namun dia tetap bersabar diri, karena banyak persoalan perlu dia
bicarakan lebih dulu. Lagi orang adalah sesama saudara seperguruan dari dua generasi yang berlainan,
terpaksa ia tekan gejolak hatinya meski sudah hampir meletus, katanya pula dengan menggertak gigi: "Tuan
mau melepaskan mereka tidak?"
"Kecuali barter dengan kepala Siangkoan Hong suami isteri. Membunuh dua orang dalam pandanganku
tak ubahnya seperti memites dua ekor semut."
"Kau ..... memang tidak berperi-kemanusiaan ........"
"Kalau bicara peri-kemanusiaan, aku takkan hidup sampai sekarang."
Tatkala itu sang surya sudah doyong ke ufuk barat, sinar surya yang kuning emas terpancar benderang.
Semua hadirin berdiri tegak dengan kereng, pedang mereka tampak gemerlapan, suasana menanjak tegang,
hawa terasa dingin mencekam.
Sejenak Ji Bun tenangkan diri, namun matanya tetap menyala, desisnya: "Soal pribadi boleh di
kesampingkan dulu, marilah kita bicarakan pula urusan keluarga ......."
"Apa urusan keluarga?"
"Peristiwa orang tua she Ngo yang kau kurung di bawah tanah dalam gedung di kota Bik-su itu, kau
takkan mungkir bukan?"
Ngo-hong Kaucu menyurut mundur, matanya mendelik ganas, suaranya gemetar: "Kau anggap ini
urusan keluarga? Apa maksudmu?
"Jadi kau ngaku akan perbuatanmu? Suruh anak buahmu menyingkir."
"Kenapa?"
"Urusan keluarga orang luar dilarang ikut campur tangan."
Ngo-hong Kaucu mundur selangkah pula, suaranya dingin mengancam: "Ji Bun, manfaat apa yang kau
peroleh dari tua bangka she Ngo itu?"
Ji Bun menghardik murka: "Kau berani menghina beliau? Singkirkan anak buahmu."
"Tidak perlu. Kau belum setimpal."
Hampir meledak dada Ji Bun, larangan Ban-tok-bun menyebutkan bahwa semua urusan rahasia
perguruan dilarang bocor, dihadapan sekian banyak anak buah Ngo-hong-kau, tak mungkin Ji Bun bicara
secara blak-blakan dan berbuat menurut aturan perguruan, namun Ngo-hong Kaucu ini amat temberang,
hakekatnya dia tidak perduli akan segala aturan perguruan, keruan bukan kepalang keki dan dongkol
hatinya, katanya geram: "Kau ingin aku turun tangan?”
"Katakan dulu apa arti urusan keluarga yang kau maksud?"
"Singkirkan dulu anak buahmu atau aku yang wakilkan kau menggebah mereka?" sembari bicara tibatiba
secepat kilat dia menubruk ke arah rombongan orang banyak.
"Berani kau?" teriak Ngo-hong Kaucu, iapun menubruk kearah Ji Bun. Tapi sudah terlambat, jeritan saling
susul, tiga orang yang berdiri paling depan terjungkal roboh binasa, dalam waktu yang sama damparan
angin pukulan Ngo-hong Kaucu laksana hujan badai juga menyambar tiba sehingga kekuatan pukulan Ji Bun
terhenti dalam batas tertentu hingga tidak menimbulkan korban lebih banyak, Ji Bun sendiri juga tergetar
mundur dua langkah.
Ngo-hong Kaucu terkekeh-kekeh. "Anak muda, kalau tidak kubunuh kau, aku bukan manusia!" kedua
tangan membundar terus mendorong ke depan, segulung angin menderu laksana angin lesus menyambar
tiba.
Tersirap darah Ji Bun, kekuatan angin pukulan yang dilandasi hawa murni luar biasa ini tak terpecahkan
dengan segala ilmu kekuatan lain dan merupakan inti sari dari segala kekuatan ilmu pukulan di dunia ini.
Seingatnya hanya Hun-tiong Siancu dan Thong-sian Hwesio yang juga meyakinkan pukulan yang dilandasi
kekuatan hawa murni ini. Tak nyana Ngo-hong Kaucu juga meyakinkan ilmu yang lebih tinggi pula
Lwekangnya dari kedua orang terdahulu. Lekas Ji Bun kerahkan ajaran perguruan, dengan sepenuh tenaga
dia menyongsong dengan kekerasan pula.
"Blang!" di tengah getaran yang mengguntur, dahan-dahan pohon serentak berjatuhan dan hangus,
batu-batu berloncatan debu pasir beterbangan, hawa laksana pecah berderai. Anak buah Ngo-hong-kau
yang berdiri dalam jarak tiga tombak sama terdorong mundur pontang-panting, semuanya kaget dan pucat
ketakutan.
Ji Bun dan Ngo-hong Kaucu sama bertolak mundur tiga empat langkah. Gebrakan yang dahsyat ini,
ternyata setanding alias sama kuat. Kini keduanya berdiri saling tatap seperti dua jago yang tengah beradu
di arena. Ngo-hong Kaucu bersuara: "Ji Bun, dalam setengah tahun ini, rejeki apa yang kau peroleh?"
"Peduli amat dengan kau?" jengek Ji Bun.
Besar tekad Ji Bun untuk membersihkan perguruan dari anasir jahat dan murid yang lalim ini, lalu
menolong ibu dan kekasihnya. Tapi sebaliknya Ngo-hong Kaucu juga besar niatnya membunuh Ji Bun yang
merupakan lawan tertangguh selama ini. Dari tatapan mata kedua pihak dapatlah diselami betapa besar
hasrat kedua pihak dalam menuntut keinginan masing-masing. Semua anak buah Ngo-hong Kaucu sampai
mengkirik seram dan tegang.
Keduanya tak ubah seperti patung batu yang berdiri kaku, tak bergerak dan tak bersuara, hawa seperti
membeku, semua orang tercekam oleh ketegangan yang memuncak ini. Sinar surya seakan-akan ketakutan
juga menyaksikan adegan adu nyawa yang menggiriskan ini dan sudah tenggelam di ufuk barat, tabir
malampun tiba.
Keduanya sama mengadu kekuatan batin dalam mengendalikan ketenangan pikiran dan pemusatan
semangat serta kekuatan, sedikit lena dan terpecah perhatian, serangan lawan yang mematikan bakal
merupakan genta kematian bagi jiwa raga sendiri. Satu jam telah berselang, keringat sudah membasahi
jidat kedua orang. Akhirnya Ji Bun yang berdarah panas tidak tahan lagi, dia tidak membuang-buang waktu.
"Ciiaaaat!" di tengah gemboran yang menggetar sukma, Ji Bun melancarkan Tok-jiu-it-sek. Dalam waktu
yang sama, permainan Ngo-hong Kaucu yang sengit dan lihay juga dilontarkan. Inilah bentrok antara kedua
kekuatan keras lawan keras, keduanya sama-sama menyerang tanpa pikirkan pertahanan, dua bayangan
seperti saling bergumul sekejap, segera terdengar suara gerungan rendah, dua bayangan sama-sama
terpental mundur, namun cepat sekali keduanya sudah saling tubruk lagi, kini Ji Bun lancarkan Tok-jiu-jisek.
"Blang, blang,'' herangan tertahan kembali berkumandang, dua bayangan terpisah lagi, keduanya
sempoyongan mundur, darah meleleh dari mulut masing-masing.
Semua orang yang menonton serasa rontok nyalinya. semuanya menyingkir semakin jauh.
"Robohlah!" di tengah teriakan, yang menggiriskan ini, Ji Bun lontarkan jurus Tok-jiu-sam-sek. Serangan
jurus ini merupakan tempaan dari seluruh kekuatan Lwekangnya, merupakan serangan mematikan terakhir
yang diandalkan pula. Kalau jurus ini juga tak kuasa mengalahkan lawan, bagaimana akhir dari pertempuran
malam ini entahlah nanti jadinya. Untunglah jerit kesakitan segera berpadu dengan teriakan seram, tampak
Ngo-hong Kaucu terlempar jauh dan roboh terguling.
Anak buah Ngo-hong-kau sama berteriak kaget dan kuatir, tanpa komando serentak mereka menubruk
maju menggerakkan senjata, terutama cahaya pedang laksana jala sinar pating seliweran merangsak ke
arah Ji Bun.
Biji mata Ji Bun sudah merah, di tengah bentakan kalap, secepat kilat kedua tangan menggaris dan
memukul. Seperti membabat rumput belaka, satu persatu anak buah Ngo-hong-kau dibikin roboh binasa,
sisanya yang masih hidup lekas lari mencawat ekor, seranganpun terhenti.
Dengan badan limbung Ngo-hong Kaucu melompat berdiri, suaranya serak seperti kehabisan tenaga:
"Kalian mundur!"
Sisa anak buahnya segera menyingkir jauh.
Waktu Ji Bun berpaling, seketika dia mendelik seram: "O, kiranya kau adanya."
Ikat kepala yang dikenakan Ngo-hong Kaucu sudah terlempar jatuh. Di pinggir kepala di atas telinga
kanan tampak sebuah codet menggaris panjang. Dia ternyata bukan lain adalah Kwe-loh-jin sendiri alias
manusia berjubah berkedok yang pernah membunuhnya dulu, orang yang berhasil merebut Hud-sim pula.
Memang tak pernah terpikir oleh Ji Bun bahwa Ngo-hong Kaucu yang diliputi misteri ini ternyata adalah
Kwe-loh-jin yang pernah bentrok beberapa kali dengan dirinya. Lwekang dan kepandaian Kwe-loh-jin
sekarang ternyata sudah jauh berbeda dan lebih tangguh dari pada dulu. Tentunya ini hasil dari Hud-sim
yang pernah direbutnya dulu itu.
Tapi siapa sebetulnya orang ini, tetap merupakan teka teki yang sukar dipecahkan.
Semula Kwe-loh-jin pura-pura mengatakan dirinya utusan seseorang majikan yang menulang punggungi
segala perbuatannya, kiranya ini hanya palsu belaka, jadi waktu dia menyamar laki-laki muka hitam sebagai
komandan ronda Wi-to-hwe dulu juga salah satu duplikatnya belaka. Betapapun teka-teki ini sudah
terbongkar separo, namun masih cukup jauh dari terbebernya rahasia yang sangat diharapkannya itu.
Ji Bun melangkah setapak.
"Jangan bergerak" bentak Ngo-hong Kaucu.
18.54. Penderitaan Puteri Musuh Besar
Tanpa sadar Ji Bun menghentikan langkah, katanya rnenyeka darah dipingglr mulutnya: "Kuperintahkan
kau menyingkirkan anak buahmu, kalau tidak satupun takkan kubiarkan hidup."
"Kau takkan berani. Mati hidup ibumu Lan Giok-tin dan Thian-thay-mo-ki tergenggam di tanganku."
"Jiwamu sendiri berada ditanganku, memangnya kau punya kesempatan berbuat jahat lagi."
"Sebelumnya sudah kuatur sedemikian rupa, setengah jam setelah matahari terbenam kalau tiada
perintahku, Lan Giok-tin dan Thian-thay-mo-ki akan dipancung kepalanya, sekarang waktu yang ditentukan
sudah akan tiba."
Semakin beringas Ji Bun dibuatnya, mendadak dia jadi nekat, kaki menjejak tangan menyerang. Asal dia
bisa membekuk Ngo-hong Kaucu, segala persoalan akan dapat dibereskan. Tapi Ngo-hong Kaucu bukan
tokoh sembarang tokoh. Sudah tentu sebelumnya dia sudah siaga dan berjaga diri. Pada saat secepat
percikan api seperti bayangan setan saja tahu-tahu orangnya berkelebat lenyap kedalam hutan. Gerakan
kedua pihak hampir dalam waktu yang sama. Sudah tentu Ji Bun menubruk tempat kosong, dengan
bentakan murka segera ia mengudak ke dalam hutan.
Tabir malam sudah menyelimuti jagat raya, dalam hutan gelap gulita, walau dia memiliki pandangan
yang tajam, namun hanya dalam sekejap jejak Ngo-hong Kaucu sudah lenyap entah kemana.
Sebuah suara menggema dari kejauhan: "Anak muda, jangan lupa perjanjian barter kita dengan batok
kepala orang yang kuminta."
Ngo-hong Kaucu mengirim gelombang suara dari jauh sehingga posisinya sukar ditentukan. Betapa Ji
Bun amat penasaran, dengan kalap ia terjang kian kemari mengobrak abrik hutan, namun hasilnya nihil.
Hutan ini cukup luas, dari puncak yang satu bersambung pula kepuncak yang lain.
Setengah malam sudah Ji Bun bekerja berat dengan sia-sia, dia pikir letak markas Ngo-hong-kau tentu
berada di suatu tempat yang tersembunyi, pegunungan seluas ini kemana harus menemukannya, tak
mungkin dia bisa menjelahi seluruh pelosok pegunungan ini.
Penasaran, marah, benci dan dendam berkecamuk dalam benaknya, pikirannya bergolak, namun tetap
tak berdaya. Akhirnya dia menemukan sebuah batu besar segede kerbau, lulu ia duduk dan merenungkan
pengalamannya ......”
Keselamatan ibu dan Thian-thay-mo-ki untuk sementara, terang tidak akan terancam, karena Ngo-hong
Kaucu minta barter dengan kepala Siangkoan Hong suami isteri, walau tujuannya sulit diraba, namun sudah
jelas kalau orang hendak pinjam tangan membunuh orang, kecuali keadaan betul-betul mengancam,
sandera ditangannya terang takkan terganggu keselamatannya.
Apakah dia harus menerima syarat ini untuk menolong ibu dan Thian-thay-mo-ki? Walau Siangkoan Hong
dan Hun-tiong Siancu juga musuh besarnya, namun sakit hati tetap sakit hati dan tidak pantas bertindak di
luar etika persilatan yang harus berjiwa kesatria. Apalagi kini dirinya sebagai seorang pejabat Ciangbun
(ketua) Ban-tok-bun yang terhormat.
Tapi kalau tidak menurut kehendak musuh, apa pula langkah yang harus dilakukannya? Persoalan yang
paling penting adalah Ngo-hong Kaucu ini murid murtad seperguruan, peraturan perguruannya amat keras,
pesan Suco harus dilaksanakan, selama hayat masih dikandung badan dirinya harus menegakkan wibawa
peraturan perguruan. Kalau sampai dirinya harus tunduk akan ancaman musuh, lalu di mana dia harus
menaruh mukanya.
Ilmu beracun dirinya diperoleh dari ajaran ayahnya secara lisan, sumber pelajaran ilmu beracun dari
ayahnya ini terang dari Tok-keng, sedang Tok-keng dimiliki oleh Ngo-hong Kaucu. Lalu ada hubungan
rahasia apa di antara Ngo-hong Kaucu dengan ayahnya?
Mau tidak mau dia lantas ingat pada Biau-jiu Siansing, seperti diketahui ibu tua atau isteri pertama
ayahnya yang telah dicerai itu berada di rumah Biau-jiu Siansing. Khong-kok-lan So Yan sedemikian dendam
dan benci terhadap ayahnya. Siucay tua pernah bilang, Biau-jiu Siansing sehaluan dengan ayahnya. Biau-jiu
Siansing pernah berjanji hendak membantu dirinya untuk membereskan beberapa persoalan. Dari semua
gejala-gejala ini, terang Biau-jiu Siansing tahu akan seluk beluk persoalan ini.
Sungguh Ji Bun ingin bia segera berhadapan dengan Biau-jiu Siansing untuk tanya semua urusan ini
sampai jelas. Tapi Ui Bing bilang jejak gurunya tidak menentu, entah sengaja menghindari dirinya atau .....”
Rangsum kering dikeluarkan untuk mengisi perut, selesai makan, haripun telah fajar, sudah terang
benderang. Namun Ji Bun tidak rela tinggal pergi demikian saja, teringat akan ibu dan kekasihnya yang
ditawan musuh, meski dirinya memiliki kepandaian setinggi langit juga percuma, mereka tetap tak bisa lolos
dari cengkeraman iblis. Tanpa terasa air mata berlinang membasahi pipi, hati amat pilu seperti ditusuk
sembilu.
Kini dia mulai mencari dengan cara yang lebih teliti, daerah yang diobrak-abrikpun semakin luas. Dia
percaya sarang Ngo-hong-kau pasti tidak akan lebih dari sepuluh li dari sekitar dirinya, kalau tidak, tak
mungkin terjadi peristiwa semalam, malah kemungkinan sarang musuh berada dekat di sekitarnya sekarang.
Sehari telah lalu pula, namun hasilnya tetap nihil. Betapapun kerasnya watak Ji Bun, akhirnya dia patah
semangat juga. Musuh sudah lari ketakutan dan menyembunyikan diri, kalau selalu mencari secara
membuta begini, apa yang bisa dihasilkan? Hal ini kiranya perlu dirundingkan dulu dengan Ui Bing untuk
menentukan langkah-langkah selanjutnya. Oleh karena itu dengan marah dan uring-uringan Ji Bun terpaksa
meninggalkan Siong-san, terus menuju ke kota Bik-ciu.
Setiba di kota Bik-ciu, dia pilih sebuah rumah makan besar yang bernama Jui-lay-kip, dan mencari
tempat duduk di pinggir jendela yang menghadap ke jalan raya. Dipesannya makanan dan minuman,
seorang diri dia makan minum sepuasnya.
Ui Bing hanya menjanjikan untuk bertemu di kota Bik-ciu tanpa menyebut tempatnya. Kini dia memilih
rumah makan terbesar ini, maksudnya supaya Ui Bing mudah menemui dirinya. Sebagai murid Biau-jiu
Siansing, gembong si maling yang punya kaki tangan yang tersebar, luas di mana-mana, tentu bukan soal
pelik bagi Ui Bing untuk mencarinya ke sini.
Beberapa jam sudah dia duduk seorang diri sambil menunggu dengan hati gelisah, namun bayangan Ui
Bing tetap tidak kunjung datang. Lama kelamaan dia merasa kurang enak, tamu lain sudah ganti berganti
keluar masuk. Kalau dirinya lama-lama berada di sini tentu mengganggu orang lain, maka dia panggil
pelayan untuk menghitung rekening.
Dengan cengar-cengir pelayan menghampiri, tanyanya lebih dulu: "Tuan datang dari Siong-san?”
Ji Bun melengak, jawabnya: "Ya, kenapa?"
"Tadi seorang tua meninggalkan pesan, katanya dia punya urusan penting dan tidak bisa menunggu
tuan, diminta supaya Tuan menyusulnya ke arah barat."
Lekas Ji Bun bayar rekening terus berangkat, orang ramai berlalu lalang di jalan raya, namun Ji Bun tidak
ingin menikmati pasar yang meriah ini, dia mencari hotel terdekat terus menyewa sebuah kamar. Sebelum
tidur Ji Bun sudah memikirkan langkah selanjutnya harus menyusul ke barat, tujuannya tentu danau setan di
Cong-lam-san untuk menyusul paman Ciang Wi-bin, bukan mustahil ke sana pula yang dituju Ui Bing dengan
ke arah barat itu. Setelah berkeputusan hati Ji Bun menjadi tenang, mungkin pula badan terlalu penat, maka
malam ini dia tidur amat nyenyak.
Waktu dia bangun besok paginya matahari sudah tinggi, lekas dia bergegas-gegas menempuh perjalanan
ke arah barat. Kira-kira tengah hari, dia sudah menempuh ratusan li jauhnya, kini dia berada di jalan raya
yang bertanah menguning, jauh dari kota dan dusun, sekelilingnya lereng pegunungan yang tidak kelihatan
bayangan manusia.
Ji Bun merasa kering kerongkongannya, dengan rasa dahaga terpaksa meneruskan perjalanan. Tak jauh
lagi di depan sebelah kanan yang jauh dari jalan raya dilihatnya sebidang hutan, di antara rimbunnya
pepohonan, lapat-lapat dilihatnya pagar tembok warna merah. Kalau bukan bangunan biara tentu sebuah
kelenteng. Kenapa tidak kesana minta air untuk menghilangkan dahaga sambil istirahat pula baru
melanjutkan perjalanan? Dengan langkah lebar Ji Bun berlari-lari menuju ke hutan itu. Lekas sekali dia
sudah tiba di pinggir hutan, kiranya memang benar sebuah kelenteng kecil, suasana sepi dan nyaman, tidak
terdengar suara manusia.
Ji Bun langsung menuju ke kelenteng itu, namun baru saja melangkah masuk, hatinya tiba-tiba melonjak,
hampir saja ia berteriak kaget, dilihatnya sesosok mayat melintang di belakang pintu, bau darah yang amis
merangsang hidung. Darah masih mengalir dan membeku, pertanda orang ini mati belum lama, dari
dandanannya orang ini kelihatan penghuni atau pemilik kelenteng kecil ini.
Siapakah yang tega membunuh seorang lemah yang tidak pandai silat ini? Waktu dia memeriksanya,
dilihatnya di dinding sekuntum bunga Bwe warna putih menghiasi dinding warna merah. Seketika ia menjadi
murka, dalam hati ia mengumpat: "Anak buah Ngo-hong-kau yang jahat dan laknat," sigap sekali dengan
gerakan enteng Ji Bun menyelinap masuk kedalam kelenteng.
Di dalam kelenteng, di undakan batu di tengah ruangan besar, berdiri seorang pemuda berlengan satu
baju sutera, wajahnya diliputi rasa dendam dan kebencian serta kesadisan. Di ujung undakan, duduk
seorang gadis baju merah semendeh dinding dengan perut yang membuncit, air mata bercucuran, badan
lunglai lagi, namun sinar matanya pun bercahaya terang penuh benci dan penasaran. Dengan kedua tangan
menahan perutnya yang bunting seperti menahan sakit, gadis baju merah itu sedang berteriak beringas:
"Kau ....... kau bukan manusia?"
Pemuda tengan satu menyeringai sadis, jengeknya: "Memangnya kenapa kalau aku bukan manusia?"
Saking murka gemetar sekujur badan gadis baju merah, katanya dengan menggertak gigi: "Aku ..... aku
...... ingin lalap dagingmu dan keremus tulang belulangmu.”
Pemuda lengan satu menyeringai, katanya: "Membunuh suami, menurut aturan kau harus dihukum
pancung, tahu?"
"Kau ...... binatang, kau ini anjing, kau tidak setimpal jadi manusia. Aduh!" tiba-tiba gadis baju merah
menjerit kesakitan sambil menekan perut yang sudah hamil tua.
Pemuda lengan satu terloroh-loroh, katanya: "Dendam membunuh ibu dan menghancurkan keluarga,
memangnya aku harus berpeluk tangan setelah lenganku inipun buntung ........”
Keringat gemerobyos, agaknya gadis baju merah menahan sakit yang luar biasa, teriaknya dengan
mengertak gigi: "Itulah ganjaran perbuatanmu."
Perempuan jalang, kau tidak akan kubunuh, namun akan kupinjam dirimu supaya ayah ibumu muncul,
sekarang hayo ikut aku."
"Apa yang hendak kau lakukan atas diriku?"
"Tidak apa-apa, yang terang bayi di dalam perutmu itu harus dilahirkan."
"Anak haram, bila lahir akan kucekik sampai mati dengan kedua tanganku sendiri," kata gadis itu.
"Memangnya kau mampu berbuat demikian."
"Binatang, kau telah menghancurkan masa depanku .........."
"Jangan cerewet, hayo berangkat!” bentak pemuda lengan satu, tangan diulur hendak menyeret tangan
si gadis. Agaknya gadis baju merah sudah mendekati saat-saat melahirkan jabang bayi yang dikandungnya,
mata mendelik hampir melotot keluar, namun dia tiada tenaga melawan.
Sekonyong-konyong sebuah suara yang amat dingin berkumandang: “Liok Kin, kiranya kau belum
mampus?"
Ternyata pemuda lengan satu itu adalah majikan muda Cip-po-hwe, yaitu Liok Kin adanya. Gadis baju
merah bukan lain adalah puteri Siangkoan Hong, yaitu Siangkoan Hwi, karena tertipu dan dipelet oleh
ketampanan wajah dan rayuan manis Liok Kin, Siangkoan Hwi sampai mengorbankan kesucian dan cintanya.
Akhirnya kedok Liok Kin terbongkar, tujuannya ternyata adalah Hud-sim, sehingga. Siangkoan Hwi beberapa
kali berusaha bunuh diri. Sudah tentu pihak Wi-to-hwe amat marah, di bawah pimpinan Jay-ih-lo-sat, Cippo-
hwe digerebeg dan dihancur leburkan. Untung Liok Kin sebelumnya sudah melarikan diri, namun karena
dia melanggar pantangan golongan maling, maka lengannya dikutungi sebagai ganjaran atas perbuatannya.
Begitulah serentak Liok Kin membalik tubuh, seketika dia gemetar ketakutan, serunya: "Te-gak Suseng."
Wajah Ji Bun diliputi hawa nafsu membunuh, desisnya: "Betul, memang aku adanya, selamat bertemu."
Pucat wajah Liok Kin, beruntun dia mundur menjauh, suaranya jeri: "Apa maksudmu?"
"Memenggal kepalamu."
"Kau ..... berani bermusuhan dengan Kau (agama) kami?"
"Ha ha ha, Liok Kin, tak kira kau terima jadi antek Ngo-hong-kau, memang cocok dan setimpal, kau
berada di sana. Ketahuilah, bukan kau saja, seluruh Ngo-hong-kau akan kusikat habis."
Liok Kin putar tubuh, hendak pergi. "Berdiri!" bentak Ji Bun, suaranya keras berwibawa, ternyata Liok Kin
tak berani melangkah lebih lanjut. "Putar tubuhmu!" terpaksa dia menurut, wajahnya putih laksana kertas.
Tanpa terasa Ji Bun melirik ke arah Siangkoan Hwi, si nona menunduk sambil mendekap muka, air mata
bercucuran. Timbul perasaan yang ruwet dalam benak Ji Bun, inilah gadis yang pertama kali mengisi relung
hatinya, pernah dia tergila-gila padanya, sayang orang tidak memandang sebelah mata kepada dirinya,
malah jatuh ke dalam pelukan Liok Kin si durjana ini. Kini perutnyapun sudah bunting, sayang sang kekasih
tidak berperikemanusian. Kini dirinya harus menaruh simpatik padanya atau mencercahnya? Atau bersorak
senang?
Mengingat perlakuan ayah bundanya terhadap dirinya, adalah pantas kalau sekarang dia membunuhnya,
namun tidak pernah timbul hasrat ini dalam benaknya, hatinya hanya merasa gegetun, penasaran dan serba
susah, tercampur pula oleh perasaan risau dan lain-lain yang sukar dilukiskan. Masihkah dia mencintainya?
Tentu tidak. Tapi betapapun tali asmara yang pernah berbenih dalam hatinya tak mungkin dihapus demikian
saja.
"Orang she Liok," kata Ji Bun kemudian, "kau berperikemanusiaan tidak?"
Liok Kin mundur lagi, mulutnya sudah terbuka, namun tidak bersuara.
Ji Bun berkata lebih lanjut: “Darah dagingmu terkandung dalam perutnya, kau mempermainkan dia,
menyia-nyiakan cinta dan merusak masa depannja, sekarang masih tega kau memaksa dan menyiksanya,
manusia macam dirimu tidak setimpal hidup di dunia ini ........"
Liok Kin menjadi nekat, katanya: "Te-gak Suseng, dulu kau pernah tergila-gila padanya, tapi dia tidak
mencintaimu, sekarang kau hendak bunuh aku untuk melampiaskan penasaranmu?" kata-katanya
mengandung arti yang dalam. Pikirnya dia hendak balas, mencercah untuk mengubah jalan pikiran Ji Bun,
dia tahu watak Ji Bun tentu tidak mengingkari kenyataan ini, namun dia salah sangka.
"Peduli apa saja yang kau katakan," ejek Ji Bun, "hari ini kau pasti mampus."
Tanpa bersuara lagi Liok Kin tiba-tiba enjot kaki, badan melenting melesat ke atap rumah, jelas
kepandaiannya sekarang jauh lebih maju dari dulu, namun dalam pandangan Ji Bun dia tidak lebih hanya
lawan enteng yang cukup dirobohkan dengan menggerakan sebuah jarinya saja.
"Kembali!" kontan Liok Kin terjungkal balik ke tempat semula dengan mengerang kesakitan. Ji Bun tetap
mendelik ditempatnya seolah-olah dia tidak pernah bergerak. Serasa terbang sukma Liok Kin, lututnya
terasa lunglai, hampir saja kakinya tak kuat menyanggah badannya.
Siangkoan Hwi meronta bangun, badannya limbung, lalu jatuh terduduk pula, wajahnya yang pucat,
keringat dingin berketes-ketes.
"Orang she Liok, masih ada pesan apa lagi kau?" bentak Ji Bun bengis.
Keruan Liok Kin ketakutan, dengan sempoyongan dia mundur dua langkah, suaranya serak dan tertelan
dalam tenggorokan: "Te-gak Suseng, aku .... aku bekerja menurut perintah Kaucu, sebentar Kaucu akan
datang kemari, kau .... takkan lolos."
"Tutup mulutmu!" hardik Ji Bun tak acuh, "kebetulan kalau Kaucu kalian berani datang, memangnya aku
kuatir tak bisa menemuinya."
"Jangan kau membunuhnya," tiba-tiba Siangkoan Hwi menjerit dengan suara memekik.
Ji Bun menoleh, tanyanya: "Apakah dia tidak setimpal dibunuh?"
Siangkoan Hwi tertunduk, dia tidak berani adu pandang dengan sorot mata Ji Bun.
Liok Kin pandai melihat gelagat, dengan sedih segera memohon: "Adik Hwi, memang aku bersalah,
mengingat orok dalam kandunganmu ......."
Permintaan Siangkoan Hwi itu adalah refleks setiap insan yang mempunyai nurani sehat dan bajik,
soalnya dia sedang mengandung anak Liok Kin, tapi itu hanya cetusan emosi selintas saja, karena
sesungguhnya dia amat membencinya, ingin rasanya melalap kulit daging dan menghirup darahnya, dendam
membara, kebencian yang timbul karena perubahan cinta yang tak tercapai, maka landasan benci inipun
jauh lebih hebat daripada tekanan luar lainnya. Dia maklum, kalau Ji Bun tidak muncul tepat pada waktunya,
sejak tadi dirinya sudah terjatuh ke tangannya. "Anjing kau!” akhirnya dia berteriak kalap.
Ji Bun berpaling seraya membentak: "Serahkan jiwamu!” di mana telapak tangannya menyambar, Liok
Kin seketika menjerit roboh. Setelah berkelenjetan beberapa kali, akhirnya terdiam dan tak bergerak lagi,
jiwanya melayang.
"Ooooh!" tak tertahan lagi pecah tangis Siangkoan Hwi.
Siangkoan Hwi menangis tersedu sedan. Ji Bun sudah angkat langkah hendak tinggal pergi, namun
mendadak timbul pikiran tak tega, katanya mengerut kening: "Bagaimana nona Siangkoan?"
Lemah suara Siangkoan Hwi, katanya terisak: "Ji-siauhiap .....kau ...... boleh silakan pergi."
Ji Bun serba salah, tiada omongan yang ingin dikatakan. Tiba-tiba Siangkoan Hwi berkata dengan suara
bergetar: "Ji-siauhiap, harap kemarilah kedekatku. Ada beberapa patah pesan hendak kusampaikan
kepadamu."
Tergerak hati Ji Bun, sahutnya: "Baik, silakan katakan."
"Tidak, marilah mendekat, masih ada ........”
Tanpa terasa Ji Bun melangkah maju: "Ada apa nona?''
"Sukalah kau bantu aku berdiri," Siangkoan Hwi ulurkan tangan, biji matanya memancarkan cahaya
aneh, timbul rasa heran dan curiga Ji Bun, dia tidak tahu apa keinginan dan maksud orang. Namun
mengingat kepandaian silatnya sekarang, dia tetap mendekati selangkah, tangan kanan diulur menarik
tangan kiri orang.
Mendadak tangan kanan Siangkoan Hwi mencengkeram ke tangan kiri Ji Bun. Gerakannya terlalu
mendadak, meski Ji Bun sudah waspada, namun karena gerakan ini tidak terduga, dengan telak lengannya
kena dipegang orang. Tapi sedikit mengerahkan tenaga dan menghentak, Siangkoan Hwi terpental jatuh
diundakan.
"Nona, apa maksudmu ini?" bentaknya.
Mulut, terbungkam, matapun terpejam, lama sekali baru Siangkoan Hwi membuka mata: "Kenapa aku
tidak mati?"
Sudah tentu Ji Bun melenggong, katanya: "Aku tidak bermaksud membunuhmu."
“Kau ...... bukankah kau meyakinkan Bu-ing-cui-sim-jiu, kenapa ...... aku tidak mati keracunan?"
Sekarang Ji Bun mengerti, kiranya Siangkoan Hwi sengaja hendak cari kematian, dengan memegang
lengan kiri Ji Bun. Dia berharap dirinya mati keracunan, maka katanya dingin: "Tangan beracunku sekarang
bisa kugunakan sesuka hati.”
"Aah!" mungkin karena kecewa dan putus asa Siangkoan Hwi menjerit panjang dan menangis
sesambatan. Menghadapi suasana yang merawankan hati entah bagaimana perasaan Ji Bun, dia merasa
kasihan, iba, simpatik.
Waktu dia menoleh lagi, tiba-tiba dia menjerit kaget, dilihatnya di bawah, di mana Siangkoan Hwi duduk
telah dibasahi oleh cairan darah. Dengan cepat Ji Bun maklum apa yang terjadi, keruan mukanya merah
jengah dan keripuhan, tak tahu apa yang harus dia lakukan. Kiranya Siangkoan Hwi akan melahirkan.
Selamanya belum pernah dia menghadapi kejadian seperti ini, namun pengalaman dari cerita orang dan
catatan dalam buku yang pernah dibacanya, dia tahu bahwa keadaan seperti ini adalah tanda-tanda bagi
seorang perempuan yang akan segera melahirkan, menghadapi sikap Siangkoan Hwi yang putus asa pula,
keruan dia semakin bingung.
"Tolonglah ...... sempurnakanlah aku!” ratap Siangkoan Hwi dengan pilu.
"Apa, menyempurnakan kau?”
"Ya, bantulah aku meringankan penderitaan ini, pada penitisan mendatang pasti kubalas kebaikanmu
ini."
"Aku .... aku ...... tidak bisa."
"Tolonglah, Ji-siauhiap ......."
Keringat dingin gemerobyos membasahi dahi Ji Bun. Kaki tangan terasa kaku, kepalanya mendengung
seperti hendak meledak, mata terbeliak, mulut ternganga tak mampu bersuara.
Tiba-tiba bau harum merangsang hidung. Waktu Ji Bun menoleh, tampak seorang perempuan cantik
rupawan tersipu-sipu melangkah masuk, di belakangnya mengintil empat gadis baju hijau. Dengan kaget Ji
Bun melangkah mundur dan berdiri berhadapan dengan perempuan rupawan itu.
Pendatang ini adalah Hun-tiong Siancu, isteri Siangkoan Hong dan ibu Siangkoan Hwi. Teringat sakit hati
dirinya dikurung tempo hari, seketika membara dendam Ji Bun. Dengan Hun-tiong Siancu menyapu pandang
sekejap kepada Ji Bun lalu memburu ke arah Siangkoan Hwi, serunya dengan penuh sedih dan kaget:
"Anakku sayang, sudah setengah bulan ibu mencarimu."
"Bu," Siangkoan Hwi mengeluh sekali terus jatuh pingsan, Hun-tiong Siancu memeluknya kencangkencang,
air matapun ikut bercucuran. Ji Bun menjublek ditempatnya. Betulkah Hun-tiong Siancu ibu
kandung Siangkoan Hwi? Usia kedua orang kelihatan hanya terpaut lima-enam tahun, namun hubungan
darah daging yang tak bisa dipalsukan ini terang takkan dilakukan seorang ibu tiri terhadap anak tirinya.
Kalau Ji Bun mau turun tangan, Hun-tiong Siancu terang takkan mampu melawannya. Seketika timbul
dalam ingatannya akan syarat yang diajukan Ngo-hong Kaucu dengan kepala Siangkoan Hong suami isteri
untuk barter dengan jiwa ibunya dan Thian-thay-mo-ki. Demi ibu dan kekasihnya, sebetulnya dia boleh
turun tangan tanpa ragu namun dia tidak tega turun tangan, karena dia seorang manusia yang memiliki hati
Buddha, seorang yang berperikemanusiaan, welas asih.
Tak lama kemudian, Siangkoan Hwi pun siuman, katanya serak: "Bu, kenapa tidak biarkan aku mati
saja?"
"Jangan bodoh nak, kau adalah tambatan hati ibu ..... kau masih kecil, belum tahu lika-liku kehidupan
Kang-ouw yang serba kotor, ibu memaafkan kesalahanmu."
"Tidak Bu, tidak pantas aku mendapat kasih sayangmu. Bu, aku ingin mati saja."
"Jangan kau berkata demikian, apakah dia....." tatapan matanya yang tajam melirik ke arah Ji Bun.
"Bu, dialah yang menolong puterimu."
"Ji Bun yang menolongmu? Oooo .......” serta merta ia menoleh ke arah mayat Liok Kin.
“Bu!" pecah lagi sedu sedan Siangkoan Hwi dengan sedih.
Bertaut alis Hun-tiong Siancu, segera ia memberi tanda kepada ke empat dayangnya, katanya: “Carilah
tempat yang bersih, bawalah Siocia kalian!”
Empat dayang mengiakan bersama, dua orang berjalan di depan menuju ke ruang belakang, dua
diantaranya memayang Siangkoan Hwi. Dengan gemetar tangan. Siangkoan Hwi menuding Ji Bun, katanya
lemah: "Bu, jangan kau mempersulit dia.”
“Ya, ibu tahu.”
Baru sekarang Ji Bun maklum, kiranya Hun-tiong Siancu turun gunung mencari puterinya sehingga
sarangnya kosong hingga kena diserbu dan diobrak-abrik pihak Ngo-hong-kau.
"Ji Bun," kata Hun-tiong Siancu menatap Ji Bun, "mengingat puteriku, sekarang kau boleh pergi,
perhitungan kita boleh dibereskan lain kesempatan.”
"Kalau sekarang juga aku ingin membereskan?” jengek, Ji Bun dingin.
"Aku harus merawat anak Hwi, tiada waktu ......"
Ji Bun tak bisa bicara, soalnya dia tidak ingin mengambil keuntungan dikala orang sedang kesulitan,
namun diapun maklum, kekuatan Lwekang kedua pihak terpaut tidak jauh, kalau betul-betul berhantam
takkan berakhir dalam dua-tiga gebrak, namun menghadapi musuh besar, betapapun hatinya penasaran,
kalau tinggal pergi begini saja. Kalau tidak kebetulan pesawat rahasia itu tersentuh, sampai sekarang pasti
dirinya pasti masih terkurung, nasibpun sukar diramalkan. Maka dengan gusar dia berkata: "Apakah aku
harus berkunjung pula ke San-lim-li-sin?"
19.55. Keluhuran Budi Thian-thay-mo-ki
"Tidak perlu, menurut laporan, kau bantu memberantas musuh yang menyerbu, sekarang kau tanam
budi pula pada puteriku. orang Bu-lim mengutamakan perbedaan budi dan dendam, selanjutnya aku takkan
lagi mencari setori padamu ...........”
"Nanti dulu. Bagaimana juga Cayhe harus membereskan persoalan itu."
"Sekarang?" seru Hun-tiong Siancu sambil melongok ke belakang, sinar matanya mengunjuk kegelisahan
hatinya.
"Baik, cara bagaimana perhitungan akan kau bereskan?"
"Yang kuat hidup yang lemah mampus,” kata Ji Bun tandas.
"Ji Bun, yang kau andalkan hanya racun, tapi racun adalah sepele dalam pandanganku, hal ini
kunyatakan lebih dulu."
"Kalau kau kira aku hanya mengandalkan racun salah sekali dugaanmu."
"Hayolah segera dimulai, aku tidak punya tempo lagi,"
Sejak digembleng ilmu tingkat tinggi dari Ban-tok-bun, belum pernah Ji Bun berhantam dengan seorang
musuh yang betul tangguh, bahwa Ngo-hong Kaucu yang berkepandaian tinggi itupun bukan tandingan
Hun-tiong Siancu, ini membuktikan bahwa kepandaian silatnya, di mulut dia bilang yang kuat hidup yang
lemah mampus, yang benar dia sendiri tidak punya keyakinan dapat merobohkan lawan. Namun tekadnya
sudah keras, tiada perasaan gentar sedikitpun, yang terang dendam hatinya harus dibalas. Serentak dia
teringat dua persoalan, maka ia bertanya: "Ada dua hal perlu kau jelaskan lebih dulu. Pertama, betulkah
bukan Siangkoan Hong yang menghancurkan Jit-sing-po?"
"Berulang kali kau sudah mengajukan persoalan ini."
"Tapi aku belum memperoleh jawaban yang meyakinkan."
"Baiklah sekarang kujelaskan, bukan dia yang melakukan, semula memang ada rencana, tapi akhirnya
rencana dibatalkan, yang dicari hanya biang keladinya."
"Apakah aku harus percaya?”
"Memangnya tidak perlu kupaksa kau mempercayainya."
"Bagus sekali. Sekarang kedua, kalau kau kalah, batok kepalamu harus kupenggal.”
Berubah wajah Hun-tiong Siancu, katanya dingin: "Asal kau mampu saja."
"Nah, sambutlah pukulanku ini!" tenaga penuh dikerahkan pada kedua lengan Ji Bun, dengan sepuluh
bagian kekuatannya dia menabas tegak, tujuannya hendak menjajaki sampai di mana taraf kekuatan
Lwekang lawan, supaya gebrak selanjutnya lebih mudah cari daya untuk mengalahkan.
Hun-tiong Siancu mengebaskan kedua lengan bajunya secara bersilang, segulung angin lunak segera
menyamber keluar. "Blang!" suara keras memekak telinga, kedua pihak tersurut selangkah, bertambah yakin
Ji Bun, kini kedua tangan dilandasi setaker kekuatan Lwekangnya. Tebasan kedua ini bagaikan gugur
gunung dahsyatnya. Hun-tiong Siancu juga kerahkan kekuatan dan himpun semangat balas menyerang.
"Blum!" ledakan terjadi pula lebih dahsyat, genteng sama rontok, debu beterbangan, kelenteng kecil ini
terasa holeng seperti keterjang gempa. Hun-tiong Siancu tergentak mundur tiga langkah, sebaliknya Ji Bun
sempoyongan lima langkah. Kenyataan membuktikan bahwa kekuatan Hun-tiong Siancu masih setingkat
lebih tinggi.
Sekarang jarak kedua orang menjadi jauh, sebat sekali Ji Bun mendesak maju, Tok-jiu-it-sek segera
menggaris keluar. Kekuatan racun kini dia kerahkan pada kesepuluh jarinya, ingin dia membuktikan apa
betul lawan tidak gentar mengadapi racunnya.
Kecuali Hun-tiong Siancu berhasil meyakinkan Kim-kong-sin-kang, kalau tidak, selain orang-orang
seperguruannya tiada seorangpun di dunia ini yang mampu menawarkan racun jahat ini, tapi umumnya Kimkong-
sin-kang hanya dilatih oleh kaum laki-laki. Hun-tiong Siancu scorang perempuan, tak mungkin dia
memiliki ilmu sakti itu.
Tampak Hun-tiong Siancu menggaris tangan terus diputar satu lingkar, maka Tok-jiu-it-sek yang
dilontarkan Ji Bun tertolak dan tertahan diluar lingkaran tenaganya. Gerakan menggaris dan membundar
tangan itu kelihatannya biasa dan enteng, tapi di dalam gerakan ini tersembunyi kekuatan yang luar biasa.
Mencelos hati Ji Bun, namun serangan tidak berubah, karena dia tahu walau lawan bisa membendung
jurus serangan dan meritul kekuatannya, betapapun racun pasti akan menyentuh jari-jari tangannya. Racun
itu sendiri tak mungkin ditahan dan ditolak oleh tenaga betapapun besarnya.
"Plak-plak!" telapak tangan saling beradu tujuh-delapan kali, namun hasilnya sungguh membuat Ji Bun
kaget bukan main, lawan ternyata betul-betul tidak gentar menghadapi racunnya.
Dikala serangan Ji Bun dilancarkan pada titik puncaknya, dalam waktu sesingkat percikan api, tiba-tiba
Hun-tiong Siancu melontarkan pukulan balasan dengan telapak tangan dari sudut yang tidak mungkin
terjadi. Serangan ini sungguh hebat sekali, apalagi sasaran yang diincar juga di luar kebiasaan ilmu
persilatan, orang lain jelas tidak mungkin bisa melakukannya.
"Bluk", diseling suara gerungan, Ji Bun tak kuasa menghindar diri, dengan telak dia kena pukulan.
Hakikatnya belum sempat dia pikirkan cara menghalau serangan lawan, tahu-tahu telapak tangan orang
sudah menahan dadanya, dia tergentak sempoyongan, darah segera meleleh dari mulutnya.
Kembali Hun-tiong Siancu mengebaskan kedua lengan bajunya, katanya dengan wajah kaku membeku:
"Te-gak Suseng, enyahlah kau hitung-hitung kubalas kebaikanmu."
"Tidak, aku tidak terima kebaikanmu!" desis Ji Bun, kaki melangkah tangan melancarkan Tok-jiu-samsek,
dia tahu jurus kedua terang takkan mampu melukai lawan, maka tanpa ragu-ragu dia lontarkan jurus
ketiga yang luar biasa dan merupakan inti kekuatan latihannya selama ini.
"Ciiaaat!" di tengah teriakan ini, tiba-tiba Hun-tiong Siancu meloncat mundur beberapa kaki, wajahnya
berubah, baju di bagian lengan di pinggir pundaknya tampak tersobek satu kaki panjangnya, darah juga
merembes keluar, lengannya yang putih halus dibasahi darah yang merah sehingga menimbulkan perhatian
yang menyolok.
Dalam keadaan nekat adu jiwa ini, mau tidak mau hati Ji Bun tetap mencelos.
Malu dan marah merangsang hati Hun-tiong Siancu, hardiknya: "Cari mampus kau!" di mana telapak
tangannya bekerja, dia melancarkan sejurus serangan yang ganas, sengit dan hebat sekali perbawanya. Ia
yakin tiada tokoh silat dalam dunia ini yang mampu melawan serangan ini.
Dasar watak Ji Bun memang angkuh, hatinya dirundung dendam kesumat, mati hidup sudah tidak
terpikir lagi, meski dia tahu apapun tetap takkan bisa menyelamatkan jiwa sendiri, namun sekuatnya dia
melawan. "Ngek!" tak urung dia mengerang kesakitan, darah menyembur dari mulut, badanpun terlempar
setombak jauhnya.
Serangan Hun-tiong Siancu dilancarkan bagai kilat menyamber, gerak-geriknya gesit dan ringan, tahutahu
bayangannya sudah menubruk maju pula. Tapi Ji Bun sekarangpun bukan lawan empuk, begitu kaki
menyentuh bumi, tenaga terhimpun lagi terus memberondong dengan jurus ketiga pula. Tak kira maju
mundur Hun-tiong Siancu begitu enteng dan tangkas laksana kilat berkelebat, di tengah jalan dia
menghentikan gerakan sambil menyingkir ke samping tiga kaki, maka pukulan dahsyat Ji Bun berhasil
dihindarkan. Begitu jurus pertama gagal, jurus kedua Ji Bun sudah dilontarkan pula, serangan tetap
menggunakan Tok-jiu-sam-sek, yaitu Giam-ong-yan-khek (raja akhirat menjamu tamu).
Tak tahunya baru saja serangan dilancarkan, bayangan lawan tiba-tiba lenyap, keruan dia melengak,
namun dia insaf dirinya dalam posisi yang berbahaya, sedikit lena bisa celaka jiwanya, cepat dia menerjang
maju terus putar badan, namun bayangan lawan tetap tidak kelihatan. Keruan serasa terbang sukmanya,
secepat kilat dia ikut berputar ketiga arah, namun bayangan lawan tetap tidak kelihatan. Ji Bun betul-betul
melengggong dibuatnya, dia yakin kepandaian sendiri tidak lemah, namun kenyataan bayangan lawan tahutahu
lenyap di bawah pandangan matanya, ini sungguh amat menakjubkan, betulkah ada gerakan seaneh
ini di dunia ini?
Tiba-tiba ia teringat waktu menempuh perjalanan di Siong-san tempo hari, di tengah jalan dia bersua
dengan Liu Gim-gim, orangpun tahu-tahu lenyap dari pandangan matanya. Waktu itu dia kira bertemu
dengan setan, kiranya gerakan mereka sama, malah Hun-tiong Siancu jauh lebih lihay dan tinggi.
"Rebahlah!" bentakan berkumandang di belakangnya, kontan Ji bun merasakan punggungnya seperti
dipukul godam, sakitnya bukan main, pandangannya seketika menjadi gelap, kontan dia roboh tersungkur,
darah menyembur sebanyak-banyaknya.
"Aku tak boleh mati!" hatinya berteriak, dengan mengertak gigi dia meronta berdiri, dilihatnya Hun-tiong
Siancu berdiri dekat sejangkauan tangan di depannya. Tanpa pikir, Tok-jiu-sam-sek dilancarkan pula.
Bayangan orang tahu-tahu lenyap pula. Karena serangan mengenai tempat kosong, badan Ji Bun terhuyung
maju dan tertelungkup jatuh, darah kembali menyemprot deras, matanya berkunang-kunang, hawa
murninya semakin buyar. Tamatlah sudah pikirnya, mungkin di sinilah ajalku. Tiba-tiba bayangan Hun-tiong
Siancu muncul pula di hadapannya.
"Bunuhlah, aku terima kematianku!" teriak Ji Bun kalap.
"Aku tidak ingin membunuhmu, tapi ..........”
"Tapi kau atau aku yang harus mati." Beringas Hun-tiong Siancu, katanya: "Dinilai dari perbuatan
ayahmu, memang tidak berlebihan aku membunuhmu, terus terang, kematianmu, belum setimpal menebus
dosanya. Sayang aku sudah berjanji pada puteriku."
"Te-gak Suseng tak pernah mengemis hidup kepada orang lain, aku takkan menerima kebaikanmu,
siapapun musuhku takkan kulepaskan...."
"Baiklah, kulaksanakan keinginanmu sendiri, semoga pada penitisan yang akan datang kau kembali
menjadi orang baik.”
Pada saat itulah tiba-tiba kumandang tangis orok dari belakang kelenteng. Ji Bun melongo Hun-tiong
Siancu juga tertegun, namun mimik mukanya tampak cemberut.
Seorang dayang berlari keluar. "Lapor Siancu nona telah melahirkan seorang putera!"
Hun-tiong Siancu mendengus sedih, katanya: “Sudah tahu, pergilah."
Cepat dayang itu mengundurkan diri, sekilas dia melirik ke arah Ji Bun dengan pandangan aneh, dan
kaget.
Tiba-tiba Hun-tiong Siancu membentak, katanya: "Te-gak Su-seng, kau ingin mampus, nah, pergilah
dengan dada lapang "
"Blang", tubuh Ji Bun terpukul terbang setinggi satu tombak, waktu tubuhnya melayang jatuh, pikiran
dan napas pun berhenti.
Tersipu-sipu Hun-tiong Siancu berkelebat masuk ke kelenteng belakang. Tertinggal dua sosok mayat
menggeletak tak bergerak, mayat Ji Bun dan Liok Kin, keduanya sama-sama masih muda.
Seorang bermuka hitam tahu-tahu melayang turun di pekarangan kelenteng, dia seorang pemuda,
sejenak dia celingukan, lalu menghampiri mayat Ji Bun, dengan tangan dia meraba pernapasan dan
memegang urat nadi Ji Bun, tak tertahan air matanya bercucuran. Mayat Ji Bun diangkatnya terus keluar,
memasuki hutan dan meletakkannya di bawah pohon yang rindang, katanya sedih sambil sesenggukan:
"Hiante, aku pasti menuntut balas kematianmu. Berpisah beberapa hari ini, tak nyana kita lantas berpisah
untuk selamanya, oh ......"
Siapakah pemuda muka hitam ini? Dia bukan lain Sian-tian-khek Ui Bing adanya. Dengan sedih Ui Bing
lantas menggali liang kubur, dia siap mengebumikan jenazah adik angkatnya ini. Lekas sekali liang sudah
digalinya, dicarinya sebuah, batu besar untuk batu nisan, dengan kekuatan jarinya dia mengukir beberapa
huruf yang berbunyi tempat semayam Te-gak Suseng Ji Bun, di bawahnya dia ukir pula namanya sendiri,
sebagai kakak angkat Ui Bing.
Setelah kerja selesai, dia menghampiri mayat Ji Bun hendak dimasukkan ke liang lahat.
Tak nyana tiba-tiba dilihatnya Ji Bun menggeliat sekali terus bangun berduduk. Keruan Ui Bing berteriak
kaget, bulu roma berdiri, merinding sekujur badannya, dikiranya mayat Ji Bun penasaran dan mau menuntut
balas. Soalnya dia sendiri sudah memeriksa keadaan Ji Bun, napas putus dan denyut nadinya sudah
berhenti, Ji Bun betul-betul sudah mati, (orang mati masakah bisa hidup kembali?
Ji Bun kucek-kucek mata lalu celingukan dengan pandangan hambar, akhirnya matanya memandang Ui
Bing. "Kau .... kau siapa?" tanyanya.
Gemetar suara Ui Bing: "Hiante, kau belum mati?"
"O, Toako? Kau yang menolongku?"
Ui Bing yakin bahwa Ji Bun betul-betul hidup kembali, rasa takut dan merindingnya segera lenyap,
katanya kegirangan: "Hiante sungguh ajaib ....”
"Apa? Ajaib?" Ji Bun tidak mengerti.
"Kau sudah mati, aku sudah siap menguburmu di sini, tak kira ....... ai, sungguh tak kira ........"
Ji Bun mengawasi liang dan tumpukan batu di sana, akhirnya dia manggut-manggut, katanya: "Ya,
sekarang aku ingat, aku terpukul mampus oleh serangan Hun-tiong Siancu ........."
"Jadi tadi itulah Hun-tiong Siancu?"
"Ya, isteri Siangkoan Hong."
"Begitu aku tiba, kebetulan kulihat dia memukulmu, tak sempat lagi aku mencegahnya, sebetulnya
dengan kekuatanku paling-paling cuma ikut mengorbankan diri belaka."
"Bagaimana Toako bisa mencari ke kelenteng ini?"
"Kudapat laporan bahwa kau menempuh perjalanan ke sini, maka kususul sepanjang jalan raya ini,
bayanganmu tak kelihatan, karena dahaga aku kemari ingin cari air .......”
"Dengan alasan yang sama kami masuk ke kelenteng ini, sungguh kebetulan."
"Hiante, bagaimana keadaanmu sekarang?"
Ji Bun kerahkan hawa murni, rasa sakit sudah lenyap, namun kepala masih rada pening, katanya dengan
tertawa getir: "Tidak apa, aku takkan mati,"
Ui Bing mengerut kening, katanya: "Hiante, jelas kau sudah mati, denyut nadimu berhenti, tapi kau hidup
kembali ......”
Ji Bun geleng kepala, katanya; "Toako, bukan sekali ini saja aku mati, entahlah aku sendiri tidak tahu apa
sebabnya."
"Tentu ada sebabnya."
"Siaute juga berpikir demikian, namun aku tak habis mengerti. O, Toako, pernahkah kau dengar ada
gerakan tubuh yang bisa menghilang mendadak?"
"Gerakan yang menghilang mendadak?"
"Ya, kalau tidak, aku tidak akan kecundang di bawah tangan perempuan itu."
Ui Bing berpikir sambil menunduk, katanya kemudian: "Ya, teringat olehku, itulah suatu gerakan tubuh
yang sudah lama putus turunan dari kalangan Bu-lim, namanya Wan-hun-hu-deh"
"Wan-hun-hu-deh (sukma penasaran melekat badan)?" Ji Bun menegas.
"Ya, kau kira bayangan orang bisa tiba-tiba lenyap? Sebenarnya kenyataan tidak demikian, dia hanya
berada di belakangmu, dia ikut bergerak mengikuti gerak-gerikmu, tak peduli kau mengubah posisi apapun,
jejak orang takkan bisa kau temukan, oleh karena itu dinamakan Wan-hun-hu-deh."
"O," Ji Bun manggut-manggut seperti menyadari sesuatu, batinnya, kalau tahu demikian, takkan
se¬mudah itu aku terjungkal di tangan Hun-tiong Siancu, betapapun hebat dan aneh gerakan itu, masakah
ia dapat merajai segala gerakan ilmu tubuh dalam dunia ini, sebetulnya cukup dirinya bergerak dan berputar
di tempat saja, atau melejit tinggi ke atas sudah cukup melayani gerakan lawan, memangnya ia juga
mampu mengikuti gerakan mumbul ke atas, apalagi dirinya pernah meyakinkan Ginkang angin lesus
berputar ke atas, ilmu ini kiranya cukup untuk mengatasi gerakan lawan yang aneh itu.
Setelah paham lika-liku rahasianya, diam-diam Ji Bun bertambah yakin akan dirinya sendiri. Menang
pengalaman merupakan guru yang paling bagus bagi perbendaharaan pengetahuan, apalagi ilmu dalam
dunia ini tiada batasnya, hanya mengandal ilmu silat tanpa dilandasi pengetahuan yang luas tetap tidak
cukup bekal untuk berkelana di Kang-ouw.
"Hiante," kata Ui Bing, "kukira kau pasti pernah makan sesuatu obat mujarab atau benda mestika
lainnya, kalau tidak, daya hidupmu takkan berkobar pula setelah padam, orang yang sudah mati takkan
semudah itu hidup kembali?"
Ji Bun geleng-geleng, ujarnya: "Toako, aku tidak menipumu, Siaute sendiri betul-betul tidak tahu
sebabnya?"
Sekonyong-konyong sebuah suara nyaring merdu tapi dingin kaku menanggapi: "Kalau kau tidak tahu,
biarlah aku yang beritahu padamu."
Ji Bun berjingkat kaget luka-lukanya belum sembuh seluruhnya, terutama hawa murni yang buyar belum
sempat dihimpun kembali, baru saja dia bergerak, kepala pening pandanganpun berkunang-kunang, tubuh
limbung hampir roboh, tak tertahan dia merintih tertahan.
"Siapa di situ?" Ui Bing segera menegur. Bagi Ji Bun, begitu mendengar suara orang segera dia tahu
siapa yang bicara, darah seketika mendidih, namun dia tahu keadaan sendiri sekarang tak sanggup
menghadapinya, namun sikapnya tetap angkuh dan ketus, tanyanya: "Kau tahu apa?"
Terdengar kesiur angin lambaian kain, sesosok bayangan tiba-tiba muncul di hadapan mereka, dia adalah
Hun-tiong Siancu. Wajahnya nan rupawan tidak mengunjuk kemarahan dan nafsu membunuh pula, katanya
tawar: "Ji Bun, dalam tubuhmu ada mengalir darah Thian-thay-mo-ki."
"Apa? Darah Thian-thay-mo-ki berada dalam, tubuhku? Aku tidak mengerti?"
"Sudah tentu kau tidak mengerti. Waktu pertama kali kau mendapat celaka, demi menolong kau,
terpaksa Thian-thay-mo-ki berkorban diri, dengan darahnya sendiri dia menolong jiwamu ......."
Terbelalak biji mata Ji Bun, rasa kaget, heran, dan tidak percaya melapisi mimik wajahnya, suaranya
gemetar: "Apa? Darahnya telah menolong aku?"
"Ya, karena dia pernah minum Sek-liong-hiat-ciang (darah naga batu), dalam darahnya mengandung
mujarab mestika yang tiada taranya itu sehingga melindungi jiwanya dari marabahaya, itulah sebabnya
kenapa berulang kali kau dapat hidup kembali setelah dipukul mati."
"Oh," Ji Bun dan Ui Bing sama-sama bersuara kaget, sungguh rahasia yang belum pernah mereka.
dengar, lain pula bagi penerimaan Ji Bun, hal ini merupakan pukulan batin dan beban yang bertambah berat
pula bagi nuraninya, betapa besar dan mendalam budi kebaikan Thian-thay-mo-ki terhadap dirinya ibarat
setinggi langit sedalam lautan dan tak mungkin bisa dilukiskan dengan kata-kata, imbalan apapun takkan
sembabat untuk membalas budinya. Sungguh celaka, bahwa selama ini dia tidak pernah menyinggung hal
ini, kalau tidak tentu hubungan mereka tidak akan seburuk ini, namun kenyataan Thian-thay-mo-ki tidak
mau menggunakan urusan ini untuk menarik simpatik darinya, betapa bajik dan bijak hatinya sungguh sukar
dilukiskan.
Lahirnya dia kelihatan sebagai perempuan jalang, wanita genit, yang benar ia memiliki hati Buddha, hati
suci nan murni. Agaknya hati manusia memang sukar dan tidak boleh diukur dari lahiriah atau dari sikap dan
tingkah lakunya melulu, bayangan si nona seketika mengisi seluruh sanubarinya. Namun Ji Bun masih rada
bimbang, tanyanya: "Darimana kau tahu akan rahasia ini?"
"Tanpa sengaja kudengar pembicaraannya dengan gurunya, Sam-cai Lolo. Ji Bun, kupukul kau tadi hanya
melampiaskan dongkol hatiku, aku tahu kau tidak akan mati, kalau aku sengaja membunuhmu, cukup
kupenggal kepalamu atau kupreteli kaki tanganmu, Sek-liong-hiat-ciang tetap takkan bisa mempertahankan
jiwamu."
Ji Bun menggertak gigi: "Kebaikanmu tidak akan kulupakan, kalau kau ingin turun tangan, sekarang juga
boleh."
"Tadi sudah kubilang takkan kubunuhmu, tapi kelak, entah kapan persoalan akan menjadi lain."
"Baik, selama hayat masih dikandung badan, akan datang suatu saat akulah yang akan memenggal
kepalamu," demikian ancam Ji Bun malah.
"Boleh saja, asal kau mampu."
"Lalu apa maksud Siancu kemari sekarang ini?"
"Beritahu kepada Ji Ing-hong, suruh dia sendiri unjuk diri membereskan persoalan lama. Kalau dia belum
mati, pasti akan membuat perhitungan, kalau sudah mati, akulah yang akan memikul segala akibat dari
perbuatannya."
Mulut Hun-tiong Siancu sudah bergerak, namun dia urung bicara, sekali berkelebat, tahu-tahu
bayangannya lenyap dari pandangan Ji Bun dan Ui Bing.
"Gerakan tubuhnya sungguh menyerupai ilmu dewa!" kata Ui Bing.
Ji Bun diam saja, hatinya memikirkan Thian-thay-mo-ki, diam-diam ia bersumpah dalam hati, setelah
dendam keluarga beres, dia ingin mengawini dan hidup sampai tua berduaan dengan Thian-thay-mo-ki. Tapi
kilas lain segera iapun teringat kepada Ciang Bing-cu. Betapa besar pula budi kebaikan Ciang Wi-bin dan
puterinya terhadap dirinya. Ciang Wi-bin sendiri sampai sekarang masih tak keruan parannya karena
mencarikan obat ke "danau setan" di Cong-lam-sam, tujuannya untuk menawarkan racun tangan kirinya
supaya dirinya mengawini puterinya. Bagaimana dia harus mempertanggung jawabkan persoalan ini?
Apabila Ciang Wi-bin mengalami petaka dalam perjalanannya, dirinya pula yang harus menanggung
segala akibatnya, lalu bagaimana ia harus menyelesaikan persoalan ini dengan Ciang Bing-cu? Keadaan
mendesak dirinya untuk segera menyusul ke danau setan secepat mungkin, kalau berhasil menemukan
Ciang Wi-bin dan beliau selamat tak kurang suatu apa, persoalan ini tentu dapat diselesaikan dengan baik.
Maka ia berkata kepada Ui Bing: "Toako, Siaute segera akan berangkat ke danau setan"
"Hiante," ujar Ui Bing, “Toako tidak bisa mengiringimu."
Ji Bun melengak, namun hatinya senang malah, yang benar dia tidak ingin Ui Bing ikut serta, karena ada
beberapa persoalan yang pantang diketahui orang luar, maka dia bertanya: "Kenapa?"
"Ada urusan yang harus segera kuselesaikan. Sebelum pergi Suhu ada pesan dengan wanti-wanti supaya
aku membereskannya, kini tiba saatnya, terpaksa aku harus melaksanakannya." Lalu ia menambahkan:
"Kalau di tengah jalan Hiante mendengar sesuatu kabar tentang guruku, boleh kau tak usah lanjutkan
perjalananmu mencari Ciang Wi-bin."
Ji Bun tidak mengerti, tanyanya: "Kenapa?"
Sejenak Ui Bing tergagap, katanya kemudian: "Guruku akan memberi tahu apa sebabnya, asal kau
mendapat kabar tentang beliau, usahakanlah menemuinya."
Ji Bun kebingungan, entah apa maksud ucapan Ui Bing ini? Apa sebabnya bila ketemu Biau-jiu Siansing
dirinya tidak perlu lagi mencari Ciang Wi-bin? Kan tujuannya untuk kebaikannya dan ini satu sama lain saling
bertentangan. Ui Bing justru tidak mau menjelaskan, maka dengan rasa sangsi ia mengiakan saja.
"Masih ada sesuatu, aku ada sebuah kantong sutera ......."
"Kantong sutera?" Ji Bun tertawa geli.
Ui Bing juga tertawa, dari kantong sutera dia mengeluarkan sebuah sampul besar yang tertutup rapat,
katanya: "Hiante, ini amat penting, jika menghadapi kesulitan dan sukar dibereskan, boleh kau
membukanya."
"Kalau tidak menghadapi kesulitan?"
"Bakar saja."
"Tidak boleh membukanya?"
"Lebih baik jangan dibuka," sahut Ui Bing serius. Lalu dia minta diri lebih dulu.
Setelah Ui Bing pergi, Ji Bun yakin Hun-tiong Siancu tidak akan mengganggu dirinya lagi, maka dengan
lega hati dia memberanikan duduk bersimpuh di dalam kelenteng menyembuhkan luka-luka dalamnya, satu
jam lamanya baru seluruh kekuatannya pulih, segera dia menempuh perjalanan ke arah barat.
Hari itu Ji Bun tiba di kaki Cong-lam-san, seluruh pelosok gunung sudah dia jelajahi, namun tiada orang
yang tahu di mana letak "danau setan", dia percaya apa yang dikatakan Ui Bing pasti bukan bualan, namun
ada kemungkinan nama "danau setan" ini diberi oleh orang-orang persilatan untuk menentukan suatu
tempat tertentu, yang tahu sudah tentu hanya orang-orang persilatan pula, rakyat jelata terang tidak tahu.
19.56. Misteri Danau Setan
Apa boleh buat, terpaksa Ji Bun menyiapkan makanan kering yang cukup banyak dan melanjutkan
pencariannya.
Kalau "danau setan" merupakan tempat tersembunyi dan jarang diketahui orang, letaknya tentu amat
rahasia dan belum pernah dijelajahi manusia. Karena itu, setelah masuk gunung, Ji Bun menuju tempattempat
tersembunyi dan berbahaya. Tiga hari sudah dia putar kayun di pegunungan itu. Siang malam
bekerja tidak kenal lelah, namun hasilnya nihil. Tapi dia tidak putus asa, dalam hati dia sudah bertekad
untuk mencari sampai memperoleh hasil yang diharapkan, kalau tidak lahir batin dia tak bisa memberi
pertanggungan jawab terhadap Ciang Bing-cu.
Hari keempat dengan Ginkang "angin lesus" yang lihay itu, dia melambung tinggi memanjat ke atas
sebuah puncak bukit yang tinggi dan berbahaya, puncak ini mencakar langit, kecuali burung terbang, kera
dan orang hutanpun takkan mungkin manjat ke atas karena dinding gunungnya berlumut dan tiada
tumbuhan pepohonan apapun.
Di atas puncak adalah hutan lebat dengan pepohonan-pepohonan besar dan tua, selayang pandang tak
kelihatan ujung pangkalnya seolah-olah puncak yang tinggi ini mengenakan sebuah topi hijau yang besar
sekali. Dari ketinggian memandang sekitarnya, tampak gunung-gunung terbentang luas dan panjang
sambung menyambung, selepas pandang, tak terlihat ada sebuah danaupun. Mungkin karena teraling oleh
pepohonan lebat, maka pandangannya hanya bisa melihat ke arah depan dan kiri saja, kalau ingin melihat
ke sebelah dalam dia harus menembus hutan lebat dan berada di bagian lain sana. Sejenak dia berpikir, lalu
melompat tinggi ke pucuk pohon, dari pucuk pohon satu ke pohon lain dia kembangkan pula ilmu ringankan
tubuh terus maju ke depan.
Puluhan tombak kemudian, tiba-tiba pandangannya terbeliak terang, tampak sebuah danau seluas
beberapa hektar terbentang dihadapannya, letaknya persis di tengah-tengah hutan, sekelilingnya dipagari
pohon-pohon tinggi dan tua, dari luar terang takkan kelihatan. Mungkinkah ini dinamakan "danau setan"?
Dengan rasa girang segera dia mempercepat langkahnya terus melayang turun di pinggir danau, kira-kira
sepuluh tombak jauhnya dia berhenti. Permukaan danau tampak berkilau, tenang tidak bergelombang
sedikitpun, permukaan air berselimut kabut tebal, kelihatannya seperti khayalan belaka, suasana di sini
diliputi hawa setan yang menggiriskan. Tanpa kuasa Ji Bun berteriak kegirangan: "Betul inilah danau setan!"
Mendadak dari tengah danau sana berkumandang gelak tawa yang menusuk kuping, Ji Bun jadi
merinding. Danau setan, memangnya ada setan di danau ini?
Gelak tawa itu sebentar putus sebentar bersambung, kedengarannya jauh tapi tahu-tahu amat dekat,
betapapun tinggi kepandaian dan Lwekang Ji Bun, dalam suasana seperti ini tak urung dia merasa kebatkebit
juga.
Betulkah Ciang Wi-bin pernah kemari dan sekarang berada di sini ataukah sudah pergi? Atau hakikatnya
tidak pernah menemukan tempat ini? Gelak tawa tadi sudah sirap, suasana kembali menjadi hening
mencekam perasaan.
Ji Bun tenangkan hati, lalu mengerahkan tenaga bersuara lantang: "Ji Bun angkatan muda dari Bu-lim,
mohon bertemu majikan tempat ini!"
Beruntun tiga kali dia berkaok-kaok tanpa mendapat jawaban, tak kelihatan ada reaksi apa-apa. Tengah
dia ragu-ragu, tiba-tiba dilihatnya bayangan seorang bagai setan melayang tahu-tahu muncul dari tengah
danau dan mendatangi ke arahnya. Tersirap hati Ji Bun, kagetnya bukan kepalang. Mungkinkah manusia
bisa berjalan di permukaan air? Kalau dia setan, di tengah hari bolong tak mungkin berani menampakkan
diri?
Bayangan itu semakin dekat, langkahnya berat, seperti bersuara tapi tak kedengaran pula. Air tidak
kelihatan terpercik, juga tidak mirip orang mengembangkan Ginkang tingkat tinggi, lalu apa sebabnya dia
bisa berjalan mengapung?
Jantung Ji Bun semakin mengencang mengikuti langkah bayangan itu yang semakin dekat. Kini dia sudah
melihat jelas, itulah seorang laki-laki yang tua berusia 50-an, bertubuh tegap, wajahnya tidak menunjukkan
mimik apa-apa, hanya sorot matanya tampak tajam berwibawa, dua kali dia melirik kepada Ji Bun, ujung
mulutnya bergerak-gerak pula, terus berputar ke kiri dan melangkah pergi.
Lekas Ji Bun merangkap tangan, sapanya: "Tuan ini harap berhenti!"
Tanpa berpaling lagi orang tua itu tetap melangkah pergi seperti seorang olah ragawan yang tengah
latihan dengan langkahnya yang ringan mengelilingi lapangan.
Ji Bun heran apakah orang tuli? Tapi matanya tidak buta, melihat orang asing datang, kenapa sikapnya
acuh tak acuh? Maka dia perkeras suaranya dan berseru: "Cayhe mohon bertanya!"
orang tua itu tetap tidak menghiraukan suaranya, lekas sekali dia berputar ke arah pinggir hutan.
Sekali melejit Ji Bun lompat ke depan orang, katanya dengan menahan marah: "Kenapa tuan bersikap
tak acuh begini?"
Orang itu tetap diam saja, namun langkahnya berhenti.
"Apakah tempat ini danau setan?" tanya Ji Bun pula dengan menekan perasaan.
Bertaut alis orang tua itu, sorot matanya menampilkan perasaan aneh, lalu dengan suara yang lirih
sekali, namun jelas terdengar dia berkata: “Lekas pergi!"
Ji Bun bingung dan curiga, entah apa maksud orang tua ini, tidak menjawab pertanyaannya, sebaliknya
menyuruhnya pergi. Sikapnyapun menampakkan rasa ragu dan kuatir, kenapa? Sedikit miring tubuh, tahutahu
si orang tua sudah menerobos lewat di sampingnya, gerak geriknya amat aneh dan cepat.
Sudah tentu Ji Bun tidak tinggal diam, secepat kilat iapun berkelebat melampaui ke depan orang,
serunya keras: "Cayhe mohon tanya, apakah ini tempat Danau Setan?"
Orang tua mundur beberapa langkah, wajahnya menampilkan derita dan sedih, bertambah heran dan
curiga Ji Bun dibuatnya, orang membisu dan pura-pura tuli, apa maksudnya?
Sekonyong-konyong dari tengah danau berkumandang sua-ra perempuan: "Dia tidak akan menjawab
segala pertanyaanmu!” Suara ini terang dikirim dengan gelombang suara panjang, jelas dan tegas, keruan Ji
Bun kaget sekali, namun kalau tiada orang bersuara, urusan akan gampang dibereskan, segera dia balas
bersuara: "Kenapa?"
"Kau tidak perlu tahu."
"Kau majikan dari tempat ini? Siapa gelaranmu?"
"Akulah Kwi-ouw Hujin (nyonya danau setan)!"
"Cayhe mohon bertemu!"
“Untuk urusan apa?”
"Cayhe mencari jejak seseorang."
"Siapa?"
"Ciang Wi-bin dari Kayhong, tiba bulan yang lalu beliau kemari mencari obat...."
"O, jadi kau inikah Te-gak Suseng?”
Dari pertanyaan balasan ini, Ji Bun yakin bahwa Ciang Wi-bin memang sudah pernah kemari dan
menjelaskan keperluannya, bisa jadi kini terkurung di sini, kalau tidak mana mungkin orang tahu nama
julukan dirinya? Maka dengan senang dia mengiakan.
"Kau ingin bertemu dengan Ciang Wi-bin? Kau kenal dia?"
Orang tua tadi berkedip-kedip memberi isyarat mata kepada Ji Bun, namun Ji Bun sudah kelepasan
omong: "Sudah tentu aku kenal dia!"
Terdengar Kwi-ouw Hujin terkekeh-kekeh, tiba-tiba suaranya menjadi dingin kaku: "Kau membual!"
Ji Bun tertegun, serunya: "Dari mana kau tahu aku membual?"
"Hakikatnya kau tidak kenal dia."
"Berdasar apa kau bilang demikian?"
"Coba, siapa yang ada dihadapanmu itu?"
Terkesiap Ji Bun, serta merta pandangannya menatap si orang tua tadi, jelas wajah orang sedikitpun
tidak mirip Ciang Wi-bin, kecuali perawakannya sedikit sama, terutama jenggot Ciang Wi-bin yang menjuntai
panjang sebatas dada, namun orang tua ini hanya bercambang pendek. Apapun yang telah terjadi tidak
mungkin dirinya pangling pada Ciang Wi-bin.
Kulit muka si orang tua tampak gemetar, mimiknya sangat lucu dan aneh, namun dia tetap tidak
bersuara. Kini Ji Bun sudah melihat jelas wajah orang tua ini, terdapat sebuah tahi lalat besar hitam
menyolok di antara kedua alisnya, menurut ilmu ramalan, tahi lalat yang terdapat di antara kedua alis ini
dinamakan Ji-liong-toh-cu (Dua naga berebut mutiara), yang jelas Ciang Wi-bin tidak mempunyai tanda khas
seperti ini, tapi kenapa Kwi-ouw Hujin menuding orang tua ini sebagai Ciang Wi-bin? Maka dengan cekak
dan tandas dia menjawab: "Dia bukan!"
"Apa dia bukan? Kalau begitu, tiada orang yang kau cari di sini."
Ji Bun menarik napas panjang, katanya: "Memang aku mau dipermainkan?"
"Memangnya kau setimpal kupermainkan?"
"Dengan hormat Cayhe mohon sukalah engkau bicara terus terang."
Laki-laki tua itu bergerak bibirnya, seperti hendak bicara tapi urung, lagaknya seperti takut bersuara.
Tiba-tiba Kwi-ouw Hujin terkial-kial, nadanya menghina dan mencemoohkan, katanya dingin: "Te-gak
Suseng, kalau tahu diri lekas menggelinding turun gunung."
Ji Bun naik pitam, jengeknya angkuh: "Kalau tidak?"
"Selamanya kau takkan turun lagi dari sini"
"Sebelum mencapai tujuan, Cayhe bersumpah takkan pergi dari sini."
Wajah si orang tua tak mengunjukan rasa gelisah, beruntun dia menggerakkan bibir, memberi isyarat
kepada Ji Bun supaya lekas pergi.
Mendengar suara Kwi-ouw Hujin berkumandang pula: "Ciang Wi-bin, perjanjian semula sudah batal, kau
boleh pergilah."
Berubah hebat air muka si orang tua tadi, mendadak hardiknya dengan bengis kepada Ji Bun: "Goblok,
kau bikin gagal segala daya upayaku!"
Habis berkata, sebat sekali dia melejit ke tengah Danau, cepat sekali bayangannya lenyap ditelan kabut
tebal.
Ji Bun menjublek, hardikan ini terang adalah suara Ciang Wi-bin, namun wajah orang jelas jauh
berlainan, apa pula artinya gagal segala usahanya? Tapi dengan begini berarti orang tua ini juga mengaku
dirinya sebagai Ciang Wi-bin? Kembali dia mendemontrasikan kepandaian jalan di permukaan air,
mungkinkah Ciang Wi-bin memiliki kepandaian setinggi ini?
Tiba-tiba dia teringat kantong sutera pemberian Ui Bing, katanya kalau menghadapi kesulitan baru
sampul surat itu boleh dibuka. Kini tibalah saatnya. Maka lekas dia keluarkan kantong itu terus membuka
sampul surat itu, dilihatnya di atas secarik kertas tertulis :
"Ciang Wi-bin adalah guruku, kalau bertemu seorang ada tahi lalat di tengah alisnya, itulah wajah asli
beliau."
"Hah!" teriaknya kaget, sekujur badannya gemetar, sungguh mimpipun tak pernah terbayang dalam
benaknya bahwa Biau-jiu Siansing ternyata duplikat Ciang Wi-bin. Baru sekarang teka-teki ini tersingkap,
banyak persoalan yang dulu mencurigakan kini menjadi terang. Jadi Ciang Wi-bin yang berjenggot panjang
itupun hanya samaran belaka, jadi orang tua dihadapannya tadi adalah Ciang Wi-bin asli.
Khong-kok-lan So Yan diterima tinggal di rumahnya dan dia bersekongkol dengan ayahnya, Berulang kali
menyuruh dirinya pergi ke rumah keluarga Ciang di Kayhong, agar berunding demi kepentingan Ciang Bingcu.
Ui Bing juga pernah berpesan, kalau bertemu dengan Biau-jiu Siansing supaya tidak usah mencari Ciang
Wi-bin teka teki yang semula sulit ditebak kini seluruhnya telah tersingkap dengan sendirinya.
Kalau Ciang Wi-bin sama dengan Biau-jiu Siansing, maka mati hidup ayahnya dan siapa sebetulnya Jitsing-
ko-jin pasti boleh ditanyakan padanya. Kini tiba saatnya memberitahu padanya bahwa Kim-sian-jau-koh
(buah bergaris emas) sudah tidak diperlukan lagi. Untuk apa harus minta-minta kepada Kwi-ouw Hujin?
Sekali lompat dia melesat beberapa tombak jauhnya, mendadak dia sadar bahwa di depannya adalah
permukaan air danau, namun gerakan sudah telanjur, kedua kakinya sudah meluncur ke permukaan air.
Saking kagetnya badan sampai berkeringat dingin, tapi begitu kaki menginjak turun, waktu dia menunduk,
hampir saja dia tertawa geli sendiri.
Mana ada air danau segala? Yang terinjak bawah kakinya ternyata adalah batu jade putih yang tumbuh
secara alamiah di puncak ini, Di bawah pancaran cahaya matahari, ditambah kabut tebal yang bergulunggulung
maka kelihatannya menjadi mirip air danau yang berkilauan. Tak heran Ciang Wi-bin bisa berlari
enteng seperti bergerak di tanah datar.
Mau tak mau Ji Bun amat kagum dan pesona oleh ciptaan alam yang aneh ini. Danau setan, memang
pantas kalau tempat ini dinamakan demikian, suasana dan hawa di sini memang diliputi hawa setan. Setelah
rahasianya terbongkar, bertambah besar nyali Ji Bun, segera dia melangkah lebar menuju ke tengah danau.
Semakin jauh ke sana kabut semakin tebal dan pekat, dengan ketajaman matanya, dia hanya bisa
melihat sejauh tiga tombak, dia harus waspada dan siaga menghadapi sergapan yang tidak terduga.
Tiba-tiba pandangannya menjadi terbeliak terang, tampak sebuah bangunan yang berbentuk dari
sebongkah besar batu putih berdiri dihadapannya. Kabut di sini agak tipis, sinar matahari memancar terang
benderang, sehingga segalanya kelihatan terang dan jelas, pintu besar terbentang lebar, tampak Ciang Wibin
berlutut di depan pintu. Didengarnya akhir kata Ciang Wi-bin: " ...... harap Cianpwe suka menarik
kembali keputusan semula."
Dari dalam rumah batu putih itu terdengar suara Kwi-ouw Hujin, nyaring dingin: "Tidak bisa!"
Di dengar dari suaranya, usianya agaknya belum lanjut, namun Ciang Wi-bin memanggilnya Cianpwe, ini
agak janggal.
"Wanpwe kan tidak buka suara dan melanggar janji?"
"Tidak peduli, apa yang sudah kuputuskan tak bisa diubah lagi"
"Harap ingatlah pada guru almarhum .......”
"Tutup mulutmu, kalau tidak mengingat gurumu Yu-ing-long-kun, memangnya kau kuijinkan berdiam di
atas puncak ini.”
Tergerak hati Ji Bun, kiranya Biau-jiu Siansing adalah murid Yu-ing-long-kun.
Terdengar Kwi-ouw Hujin berkata lebih lanjut: “Mengingat gurumu, sekarang bawa pergi bocah itu."
Agaknya kehadiran Ji Bun tetap tidak dapat mengelabuinya. Segera dia melangkah maju, serunya:
“Paman Ciang, silakan bangun, mari pulang."
Ciang Wi-bin mendesis dongkol: "Hiantit, kau bikin runyam urusanku."
"Paman, kini aku tidak memerlukan Kim-sian-jau-koh lagi.”
"Tidak memerlukannya lagi, kenapa?"
"Persoalannya nanti akan kujelaskan."
Dengan laku hormat segera Ciang Wi-bin memberi hormat ke arah pintu, serunya: "*Wanpwe mohon
diri!"
Lalu berdiri.
Ji Bun pikir, Kwi-ouw Hujin yang ada hubungan akrab dengan Yu-ing-long-kun kini usianya tentu sudah
mencapai seabad.
Terdengar suara Kwi-ouw Hujin berkumandang lagi: "Ji Bun, kau ini tidak tahu sopan santun, tidak kenal
adat terhadap orang tua."
Lekas Ji Bun mengubah sikap, serunya: "Terima kasih atas teguran Cianpwe, Wanpwe mohon maaf!”
Segera iapun menyembah, ia bersikap demikian karena memandang muka Ciang Wi-bin.
"Cukup sepatah kata dua kata begitu saja?"
Ji Bun melengak, katanya: "Habis bagaimana menurut maksud Cianpwe?"
"Kau harus diajar adat!"
"Diajar adat bagaimana?"
"Berhantam tiga jurus, jika kau mampu bertahan kau boleh turun gunung, kalau tidak kau tetap kutahan
di sini."
Keruan Ciang Wi-bin keripuhan, dia tarik Ji Bun dan berkata ke arah pintu: "Sukalah Cianpwe ampuni
kesalahannya, usianya masih muda .......”
"Bukan urusanmu!"
Ji Bun naik pitam, katanya dengan temberang: "Apa Cianpwe tidak keterlaluan?"
"Keterlaluan? Buyung, kau tidak setimpal bicara demikian ....." merandek sebentar, lalu ia berkata pula.
"Siau-bwe, keluarlah dan ajar adat bocah itu, jangan kau celakai jiwanya."
"Terima perintah!" sebuah sahutan berkumandang dari dalam.
Ji Bun kira Kwi-ouw Hujin sendiri yang hendak menjajal tiga jurus padanya, tak kira dia hanya menyuruh
anak buahnya, bicaranyapun seperti menghina sekali.
Berubah rona muka Ciang Wi-bin, katanya "Hiantit, kau terlalu sombong, dengan bekalmu sekarang
memangnya setimpal kau bergebrak dengan kaum Cianpwe, lekas kau mohon ampun dan mengaku salah
saja .......”
"Paman boleh minggir saja," ujar Ji Bun tawar, "Siautit yakin akan diriku sendiri."
"Ah, anak yang tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi,” kata Ciang Wi-bin
Waktu Ji Bun angkat kepala, tahu-tahu dihadapannya telah berdiri seorang nenek reyot beruban,
matanya bercahaya terang laksana lampu senter. Inilah orang yang dipanggil Siau-bwe oleh Kwi-ouw Hujin
tadi? Sedikitnya usianya sudah mencapai 70-80 tahun, tapi namanya Siau-bwe atau si Bwe kecil, kok seperti
nama genduk cilik saja.
"Yang mulia ini adalah Siau-bwe?" Ji Bun bertanya.
"Ceriwis, namaku memangnya boleh sembarangan kau sebut."
"Silakan mulai kalau begitu!"
"Jangan sombong, kau boleh turun tangan lebih dulu."
Keruan Ciang Wi-bin gugup, bentaknya gusar: "Ji Bun, kalau kau mampu sambut .......
"Ciang Wi-bin," bentak Kwi-ouw Hujin keras, "jangan kau langgar aturan di sini."
Dengan bersungut gusar terpaksa Ciang Wi-bin mundur ke samping. Ji Bun tahu maksud baiknya, orang
kuatir dirinya tak kuasa menghadapi tiga gebrakan. tapi dia tenang saja tanpa menghiraukan sikap Ciang
Wi-bin itu.
Nenek tua yang bernama Siau-bwe membentak: "Hayo mulai!"
Menurut aturan Kang-ouw, orang yang usianya lebih tua tidak akan turun tangan lebih dulu, maka Ji Bun
juga tidak banyak bicara, secepat kilat kontan dia lontarkan Tok-jiu-it-sek. Si nenek berseru kaget, sebat
sekali dia berkelit ke samping. Tergerak hati Ji Bun, orang mampu meluputkan diri dari Tok-jiu-it-sek, maka
dia ingin mengukur sampai di mana taraf kepandaiannya, tanpa memberi kesempatan lawan balas
menyerang, Tok-jiu-ji-sek segera dilancarkan pula.
Kedua jurus serangan ini merupakan tumpuan kekuatannya, maka terdengar si nenek mengerang sekali,
tubuhnya terhuyung ke belakang, wajahnya yang penuh keriput tampak menahan derita luar biasa.
Ji Bun tahu diri, dia tidak melanjutkan serangannya. Di samping Ciang Wi-bin mengunjuk rasa kaget dan
keheranan, Lwekang dan kepandaian Ji Bun betul-betul di luar dugaannya. Pengalaman Ji Bun selama
setengah tahun belakangan ini, hakikatnya dia memang tidak tahu.
"Locianpwe," seru Ji Bun ke arah pintu, "beruntung Wanpwe menang satu jurus."
Baru saja dia berkata, tahu-tahu suara dengungan berkumandang di depannya. Seorang perempuan
setengah baya berwajah ayu berdiri kereng di depan pintu. Ji Bun kaget, apakah dia ini Kwi-ouw Hujin yang
sudah berusia antara seabad itu.
"Hm, kau memang hebat, terlalu rendah penilaianku terhadapmu," kata perempuan itu.
"Apa petunjuk Cianpwe?" tanya Ji Bun.
"Aku sendiri akan menyambut tiga jurus seranganmu, gunakanlah seluruh kekuatanmu."
"Menggunakan seluruh kekuatanku ......,” Ji Bun ragu-ragu.
"Ya, aku takkan balas menyerang, aku hanya menyambut pukulanmu saja. Hayolah mulai!"
Serta merta Ji Bun melirik ke arah Ciang Wi-bin, dia ingin tahu reaksinya, namun wajah orang kelihatan
bersungut lesu malah, naga-naganya tidak mengharap Ji Bun turun tangan, tapi bak panah yang sudah
terpasang di busurnya, tidak bisa tidak harus dibidikkan, terpaksa ia pusatkan semangat dan menghimpun
tenaga, pelan-pelan tangannya bergerak melancarkan Tok-jiu-it-sek.
Kwi-ouw Hujin juga angkat sebelah tangannya, secara aneh tangannya bergerak melingkar. Dengan
kaget Ji Bun menarik serangannya. Ternyata gerakan membundar tangan lawan membuat serangannya
sukar dilancarkan, keruan bukan main kagetnya. Betapa tinggi Lwekang orang, agaknya masih lebih unggul
dari Ngo-hong Kaucu, Hun-tiong Siancu pun tak mampu berbuat demikian.
Dasar wataknya keras, timbul hasrat Ji Bun untuk menang, maka Tok-jiu-ji-sek segera dilancarkan pula.
Tapi keadaan tetap sama, Ji Bun dipaksa menarik serangannya di tengah jalan.
Lekas Ciang Wi-bin angkat tangan, serunya: "Hiantit, Lwekang Locianpwe tiada taranya, jangan kau
semberono mencobanya lagi.”
Kwi-ouw hujin berkata dingin: "Sudah kukatakan tiga jurus."
Ciang Wi-bin diam saja, namun hatinya cukup lega, karena Kwi-ouw Hujin berjanji tidak akan balas
menyerang.
Sudah tentu lain bagi penerimaan Ji Bun, dua jurus serangannya yang dahsyat dapat dipatahkan lawan.
Apakah jurus ketiga dapat berhasil, inilah merupakan tanda tanya pula. Padahal ketiga jurus pukulan ini
merupakan inti sari dari segala puncak ilmu Ban-tok-bun, kalau hari ini dikalahkan oleh Kwi-ouw Hujin,
sungguh merupakan tamparan dan penghinaan bagi perguruannya, sebab ini membuktikan bahwa meski
Kwi-ouw hujin tidak pernah mendirikan perguruan atau aliran, namun kenyataan ilmunya !ebih tinggi dari
perguruan sendiri.
Sebenarnya saja latihan Ji Bun yang belum matang, kematangan latihan akan sangat penting artinya bagi
perbawa ilmu yang dia lancarkan, kalau Lwekang bertambah tangguh, sudah tentu kekuatan jurus
serangannya juga akan bertambah kuat. Di samping itu, demi menjaga tata tertib perguruan, di waktu
melancarkan serangan ini dia pantang menggunakan racun, sudah tentu keadaan menjadi jauh berbeda.
Apalagi kalau Kwi-ouw Hujin balas menyerang, akibatnya tentu amat mengerikan. Sikapnya serius, sorot
matanya berkilat laksana api yang mencorong panas.
"Sambutlah jurus ketiga!" di tengah hardikannya, Tok-jiu-sam-sek segera dilancarkan dilandasi seluruh
kekuatannya.
"Ah," walau lirih suaranya, namun semua orang mendengar keluhan ini, Kwi-ouw Hujin agak limbung dan
tergetar mundur, segera ia mengayun tangan dan berkata: "Kalian boleh pergi!"
Suaranya terasa pahit getir, sedih lagi. Bayangkan, seorang tokoh Bu-lim yang sudah seabad usianya
dikalahkan seorang tunas muda, sudah tentu bukan kepalang rasa kecewanya.
Ji Bun sendiri tidak menyangka jurus ketiga serangannya bakal berhasil, keruan iapun melenggong.
Setelah orang buka suara baru dia sadar dan lekas memberi hormat, katanya penuh rasa sesal: "Locianpwe
suka mengalah, terima kasih."
Tanpa bicara lagi Kwi-ouw Hujin putar tubuh terus berkelebat masuk ke dalam pintu, nenek tua yang
dipanggil Siau-bwe tadi juga ikut lenyap ke dalam.
Ciang Wi-bin tertawa kecut, katanya: "Marilah kita pergi!"
Mereka berlari memasuki hutan dan menuju ke pinggir jurang. Ji Bun melongok ke bawah, katanya:
"Paman, cara bagaimana kau akan turun?"
"Ikatlah aku!" kata Ciang Wi-bin, setiba di celah-celah antara lekukan batu gunung, dari dalam lubang di
bawah batu Ciang Wi-bin merogoh keluar dua gulung tali, pada ujung tali terpasang gantolan besi yang
berbentuk cakar. "Pakai ini!" katanya.
"Silakan paman turun lebih dulu, Siautit punya cara lain."
Ciang Wi-bin heran, seperti hendak bicara, tapi urung, sambil menggerakan kedua cakar besi di
tangannya, segesit kera tubuhnya segera melorot turun ke bawah dan segera bayangannya ditelan
gumpalan awan.
Ji Bun kerahkan tenaga, lalu dengan Ginkang angin lesus pelan-pelan iapun melayang turun ke bawah.
Setiba di bawah, bayangan Ciang Wi bin tidak kelihatan, ia merasa heran. Secara beruntun mereka turun,
jarak waktunya tidak terlalu lama, kenapa bayangannya tidak kelihatan? Tak mungkin dia tinggal pergi
begitu saja.
Mendadak ia melihat sebuah cakar yang dipakai Ciang Wi-bin tadi jatuh di antara semak-semak sana, di
depan semak-semak tampak noda darah pula berceceran menuju ke arah kanan.
Keruan ia kaget, Ciang Wi-bin terang mendapat sergapan di luar dugaan, memangnya siapa yang pasang
perangkap menjebaknya di sini? Kenapa dirinya tidak mendengar keributan dari orang-orang yang berbaku
hantam di sini? Kepandaian silat Ciang Wi-bin cukup tangguh?
Dengan gelisah dia ikuti ceceran darah itu terus memasuki semak belukar, beberapa tombak kemudian
ceceran darah itu berhenti dan lenyap tiada kelanjutannya. Pandangannya di sini teraling dedaunan dan
semak belukar, tidak bisa melihat ketempat yang jauh. Tapi Ji Bun yakin, menurut waktu dia perhitungkan,
peduli apa yang telah terjadi, pihak lawan pasti tidak akan lari jauh. Maka dia melompat ke atas sebuah hatu
yang tinggi letaknya, dari atas melihat kebawah, namun selepas matanya menjelajah tiada yang ditemukan
sesuatu.
Kalau Ciang Wi-bin sampai mengalami nasib jelek, pasti bukan kepalang sesal hatinya, keringat
membasahi jidatnya, hatinya gelisah seperti dibakar.
Disaat dia celingukan, tiba-tiba didengarnya sebuah suara herangan lemah seperti suara yang bergema
dari bawah tanah, arahnya dari hutan yang tak jauh di sebelah depan sana, tanpa pikir Ji Bun lantas
menubruk kearah datangnya suara. Betul juga dilihatnya Ciang Wi-bin tertelikung tangannya, terikat pada
batang pohon, mulutnya disumbat kain tebal, hanya sepasang matanya saja yang kelihatan. Sekelilingnya
sunyi senyap tidak terdengar suara apapun.
Berkobar amarah Ji Bun, bergegas dia menghampiri Ciang Wi-bin. Sejak kelana berulang kali dia
mengalami bencana, liku-liku kehidupan Kang-ouw yang serba berbahaya kenyang baginya, maka dia sudah
meningkatkan kewaspadaan. Kalau menuruti adatnya yang dulu, sejak tadi dia sudah menubruk ke arah
Ciang Wi-bin serta membebaskannya.
"Uk, uk!" Ciang Wi-bin bersuara dalam tenggorokan, Ji Bun berhenti, matanya menjelajah sekitarnya, lalu
melangkah maju pula. Biji mata Ciang Wi-bin mendelik sebesar kelereng, sayang mulut tersumbat sehingga
tak dapat memberi peringatan bahaya apa yang bakal mangancam Ji Bun. Tapi Ji Bun cukup mengerti akan
sikapnya yang cemas dan kuatir itu.
Kalau tahu pasti ada perangkap, namun Ji Bun tetap melangkah mendekati Ciang Wi-bin. Mendadak
kedua kaki Ciang Wi-bin menggedok tanah, tanah dan daun serta ranting pohon yang kering sama
ditendangnya bertaburan.
Di situkah perangkapnya? Tiba-tiba Ji Bun tersadar, langkahnya diperlambat, sementara matanya
meneliti dengan seksama sekelilingnya, daun-daun kering dan tetumbuhan rumputpun tidak lepas dari
pengamatannya, ingin ditemukannya sesuatu yang mencurigakan.
Tiba-tiba sehuah suara yang amat lirih, sedemikian lirihnya kalau orang biasa pasti tak mendengarnya,
tapi kuping Ji Bun yang tajam dapat menangkapnya dan tahu letaknya kira-kira lima tombak di semak
pepohonan sana. Dasar cerdik dan waspada Ji Bun lantas tahu kalau di sebelah sana pasti ada orang yang
sembunyi sudah tentu tujuannya hendak membokong atau menyerang dirinya dengan cara apapun. Kini
barulah dirinya tahu apa maksud Ciang Wi-bin menggedok tanah dan melotot padanya, maksudnya jelas
mencegah dirinya mendekat lebih lanjut.
"Sret!" laksana kilat menyamber di tengah angkasa, cepat sekali Ji Bun menubruk ke semak pohon
sebelah sana.
"Blang'", pada waktu yang sama, tanah di mana barusan Ji Bun berpijak, meledak keras dengan
memercikan lelatu api, asap tebal membubung tinggi ke angkasa.
"Ngek!" di tengah herangan kesakitan, tahu-tahu seorang pemuda baju sutera telah dicengkeram oleh Ji
Bun. "Ngo-hong-su-cia! He he, sungguh tak kira kalian cakar-cakar iblis ini juga menguntit diriku sampai di
pegunungan ini ........”
Belum selesai Ji Bun bicara, Ngo-hong-su-cia yang diringkusnya mendadak menjerit ketakutan, “Ngo-luicu!"
Reaksi Ji Bun amat cepat dan tangkas, begitu lepas tangan, sebat sekali tubuhnya melompat tiga empat
tombak ke samping, maka terdengar ledakan keras pula, diiringi pekik tertahan Ngo-hong-su-cia yang mati
dengan tubuh hancur lebur, asap tebal mengelilingi sekitarnya, daun dan dahan pohon sama rontok
berjatuhan.
Beringas wajah Ji Bun, sekali lompat dan cengkeram, kembali dia berhasil membekuk seorang pemuda
baju sutera. Pengalaman merupakan pelajaran yang berharga, begitu berhasil membekuk seorang musuh,
segera dia melompat ke tempat lain. Maka bayangan orang segera bermunculan dari berbagai arah,
semuanya berseragam baju sutera warna bijau ketat, kecuali yang sudah mati bersama yang ditawan di
tangannya sekarang semuanya berjumlah delapan orang.
"Te-gak Suseng, hari ini kau pasti mampus!" seru seorang.
Ji Bun menoleh, dilihatnya dari balik pohon sebelah kanan sana muncul seorang aneh berambut merah,
matanya yang cuma satu bersinar terang buas dan liar, badannya kurus kering seperti genter, jubah yang
dipakainya panjang dan lebar kedodoran sehingga keadaannya mirip sekali setan gentayangan. Laki-laki ini
bukan lain adalah wakil Kaucu Ngo-hong-kau, jit-sat-sin Jiu Jing adanya, tempo hari dia pernah terluka oleh
Tok-jiu-it-sek, untung dapat melarikan diri.
"Hu-Kaucu," jengek Ji Bun sinis, "selamat bertemu!"
19.57. Beberapa Misteri Mulai Terkuak
"Aaaah!" pekik panjang yang mengerikan berkumandang di angkasa pegunungan. Sebab cengkeram dan
mengerahkan tenaga, secara hidup-hidup Ji Bun membetot protol tubuh pemuda baju sutera yang
dibekuknya tadi, sekenanya terus dilemparnya mayat itu ke depan.
Berpijar mata tunggal Jit-sat-sin Jiu Jing saking murka, teriaknya seperti kebakaran jenggot "Te-gak
Suseng, kalau hari tidak kuhancur leburkan tubuhmu, aku bersumpah tidak jadi manusia."
Ji Bun menyeringai, jengeknya: "Kalau tidak jadi manusia, nah, pergilah jadi setan!"
Belum lenyap dia bicara, tahu-tahu ia sudah menubruk ke arah Jit-sat-sin.
"Jangan bergerak!"
Ji Bun kaget, lekas dia hentikan aksinya, tampak Jit-sat-sin sudah melompat sembunyi ke belakang Ciang
Wi-bin, telapak tangannya menekan batok kepala Ciang Wi-bin.
Dengan murka Ji Bun membentak: "Jit-sat-sin, berani kau mengganggu seujung rambutnya, ayam
anjingpun takkan kubiarkan hidup dalam Ngo-hong-kau."
Semua orang mengkirik mendengar ancaman tegas ini. Wajah Ji-sat-sin sendiripun berubah, katanya
bergelak tawa: "Anak muda, kau tiada punya kesempatan lagi.”
"Belum tentu .......”
Tiba-tiba kedua kaki Ciang Wi-bin kembali menggedok-gedok tanah. Ji Bun seketika sadar dan waspada,
sigap sekali tiba-tiba dia membalik tubuh, dilihatnya seorang Sucia tengah mengayun tangan menimpukkan
Ngo-lui-cu, kekuatan Ngo-lui-cu dapat mencapai beberapa tombak, betapapun cepat gerakan Ji Bun takkan
lebih cepat dari pada ledakan Ngo-lui-cu itu.
Kalau Thong-sian Hwesio mampu menghentikan luncuran Ngo-lui-cu di tengah udara dengan ilmu Sianthian-
cin-khi, namun Ji Bun tak mampu berbuat demikian, soalnya masing-masing mempunyai keahliannya
sendiri. Waktu amat mendesak, tiada tempo buat Ji Bun mencari akal. Secara refleks terpaksa dia kerahkan
sepenuh kekuatannya menggempur dengan kedua telapak tangannya. Setelah pukulan jarak jauh
dilontarkan, cepat dia mendekam.
"Daaarl" karena kebentur oleh tenaga pukulan dari jauh sebelum jatuh menyentuh tanah sudah meledak
di tengah udara, terdengar dua kali jeritan pula, ketiga Sucia sekaligus terjungkal mampus.
Ji Bun gunakan kesempatan baik ini, di saat Jit-sat-sin terpencar perhatiannya, selicin belut segesit kera
tubuhnya tiba-tiba melenting ke belakang Jit-sat-sin, berbareng ia terus menutuk.
Jit-sat-sin tersadar dan kaget, namun sudah terlambat, kesempatan untuk menghantam batok kepala
Ciang Wi-bin sudah tiada lagi, lebih perlu menyelamatkan jiwa sendiri, terpaksa dia berkelit. Bahwa dia
berhasil meluputkan diri dari tutukan lihay ini membuktikan bahwa kepandaian silatnya memang bukan olaholah
tingginya.
Benci Ji Bun luar biasa terhadap musuh yang ini, di mana tubuh orang berkelebat, sigap sekali iapun
membayanginya, berbareng Tok-jiu-sam-sek dilancarkan. Kontan Jit-sat-sin melolong ngeri, tubuhnya
terjungkal roboh, namun dia masih kuat meronta bangun. Kembali Ji Bun ayun tangannya dengan telak
dada orang ditamparnya, tubuh orang kurus kering laksana genter itu seketika terlempar, "Bluk", begitu
terbanting di tanah lantas tak bergerak lagi. Empat Sucia lainnya yang ketinggalan pecah nyalinya, beramairamai
mereka angkat langkah seribu alias melarikan diri.
Ji Bun tak sempat mengejar dan membunuh mereka, menolong Ciang Wi-bin lebih penting.
Ciang Wi-bin menggosok tangannya yang terikat kencang tadi, katanya sambil tertawa getir: "Hiantit,
sungguh berbahaya, hampir saja jiwa kita melayang."
"Paman tidak apa-apa?" tanya Ji Bun prihatin.
"Tidak apa-apa."
"Agaknya mereka sudah pasang perangkap dan menunggu kita di bawah gunung?"
"Mereka kemari karena menguntit jejakmu, tujuannya hendak membunuhmu"
"Darimana mereka tahu paman berada bersamaku? Paman sudah beberapa bulan terkurung di atas,
setan atau malaikatpun tiada yang tahu, Siautit juga datang seorang diri, apalagi jarang orang Kangouw
yang pernah melihat wajah asli paman ini .......”
"Kejadian ini tidak mungkin kebetulan, aku tiba di bawah sini, lantas disergap, malah Jit-sat-sin membuka
kedok mukaku. Marilah duduk, ceritakan dulu pengalaman akhir-akhir ini padaku."
Ji Bun duduk di atas dahan pohon yang roboh, lalu menceritakan pengalamannya setengah tahun yang
lalu, karena adanya larangan perguruan, maka dia hanya menjelaskan sekenanya tentang rejeki yang
diperolehnya, seluk beluk Ban-tok-bun tidak dia ceritakan.
Ciang Wi-bin manggut-manggut, hatinya lega dan terhibur, katanya menghela napas: "Hiantit, dengan
kepandaianmu sekarang hanya beberapa gelintir orang saja yang mampu menandingimu."
Ji Bun geleng-geleng, katanya "Paman terlalu memuji, terhadap Kwi-ouw Hujin saja, kalau beliau mau
melawan secara sungguh-sungguh, siapa unggul atau asor sulit ditentukan."
"Coba kau terka, siapa sebenarnya Kwi-ouw Hujin? Dia adalah Pek-pian-mo-li yang dulu pernah
menggetarkan Bu-lim itu."
"O, tak heran wajahnya tidak cocok dengan usianya, ternyata iapun seorang gembong yang dalam
bidang tata rias."
"Bukan begitu, apa yang kau lihat adalah wajahnya yang sebenarnya, Lwekangnya sudah sedemikian
tinggi sehingga dapat mempertahankan kecantikan dirinya, secara serampangan akhirnya aku herhasil
menemukan danau setan. Mengingat hubungannya dengan almarhum guruku Yu-ing-long-kun dulu, dia mau
memberikan Kim-sian-jau-koh kepadaku, namun dia mengajukan syarat, bahwa aku harus berbakti
kepadanya setengah tahun lamanya..."
"Berbakti? Jadi kacungnya maksud paman?"
"Ya, di samping itu dalam syarat yang ditentukan juga bahwa aku dilarang berbicara dengan siapapun
yang datang dari luar."
"Kenapa demikian?”
“Dia kuatir aku membocorkan rahasia 'danau setan' ini."
"Sungguh orang aneh bertingkah ganjil pula."
"Memangnya. Eh, kau belum jelaskan kenapa kau tidak memerlukan buah itu lagi?"
"Tanpa sengaja kupernah mengalami suatu ke jadian aneh dan memperoleh rejeki nomplok, tangan
beracun sudah bisa kukendalikan menurut kemauan hati, tanpa diobati, racun sudah kutawarkan sendiri.
Sebaliknya jerih payah paman ini membuat hatiku tidak tenteram."
"Jangan kau singgung soal ini lagi ......... Kau masih ingat tentang janji sebulan pada setengah tahun
yang lalu? Sekarang kau boleh tanya langsung."
Ji Bun menyeka keringat jidatnya, setelah tenangkan hatinya yang bergejolak, lalu buka suara:
"Bagaimana tentang mati hidup ayah?"
Sikap Ciang Wi-bin tampak berobah, katanya sambil menggigit bibir: "Mungkin dia masih hidup."
"Hanya mungkin? Itu berarti belum tentu."
"Kemungkinan boleh diartikan masih hidup. Kau tahu siapa sebetulnya Jit-sing-ko-jin? Dia adalah duplikat
ayahmu sendiri."
Laksana disamber petir kaget Ji Bun, matanya mendelik, suaranya gemetar: "Tidak, tidak mungkin ......"
"Kenapa tidak mungkin?"
"Di puncak Pek-ciok-hong Siautit dipukulnya sampai terjungkal ke dalam jurang."
Ciang Wi-bin berjingkrak berdiri, serunya: "Ada kejadian begitu? Mungkinkah ........”
"Kenyataan begitu, Siautit tidak membual."
Ciang Wi-bin mendelong sekian lamanya, mulutnya melongo tanpa bersuara.
Pikiran Ji Bun menjadi kalut, seorang ayah tanpa sebab hendak membunuh puteranya sendiri, siapa mau
percaya? Tapi apa yang diucapkan Ciang Wi-bin pasti bukan bualan, cuma di dalam persoalan ini pasti ada
latar belakangnya yang sukar diraba, segera ia tanya: "Paman, lalu bagaimana dengan kedua mayat di jalan
raya ke Kay-hong itu?"
"Kalau Jit-sing-ko-jin adalah ayahmu, maka berani kupastikan ayahmu masih hidup."
"Dia ...... dia ....... kenapa bisa begitu?"
"Ya, untuk menghindari pengejaran Siangkoan Hong, karena dia sendiri atau Jit-sing-ko-jin merupakan
sasaran utama pihak Wi-to-hwe, maka dia mengatur muslihat ini."
"Tapi kenapa dia turun tangan terhadapku? Mungkinkah ada latar belakang yang serba rahasia?"
"Hal ini memang sukar diraba."
"Jadi kalau demikian, jadi ayah betul-betul belum mati? Paman pernah sehaluan dengan ayah bukan?''
"Ya, laki-laki tak dikenal dan Kwe-loh-jin yang berhasil merebut Hud-sim itu kuduga adalah samaran
ayahmu, sayang aku tak berhasil memecahkan seluk-beluk ini."
"Keponakan sudah tahu, Kwe-loh-jin adalah Ngo-hong Kaucu."
"Apa?" tertak Ciang Wi-bin, "Kwe-loh-jin adalah Ngo-hong Kaucu?"
"Ya, dia pula yang pernah menyamar jadi ayah, berjubah sutera dan berkedok, orang pertama yang
pernah membunuh keponakan."
"Kau sudah mendapatkan bukti?"
"Bukti dan nyata."
"Kalau demikian aku bisa menyimpulkan bahwa Jit-sing-ko-jin yang memukulmu itu bukan samaran
ayahmu, mungkin orang itu juga pandai rias diri, sebelumnya dia sudah mengintip dari tempat sembunyinya,
maka dengan mudah ia turun tangan padamu?”
"Analisa paman tentu tidak meleset, lalu siapa orang ini?"
"Mungkin Kwe-loh-jin itu ......”
"Untuk ini keponakan yakin pasti bisa membereskannya, Hud-sim tercuri di rumah paman, sebetulnya
dengan kemampuan paman ......”
Ciang Wi-bin geleng-geleng, katanya getir: "Waktu mendapatkan Hud-sim, kudapat patung itu sudah
kehilangan hatinya, kukira sudah tiada nilainya lagi, untuk menghindari bencana maka sengaja kubuat
pajangan supaya dicuri orang, untuk mengaburkan salah sangka orang."
"O, kiranya demikian. Ibu tua Khong-kok-lan So Yan menempati gedung setan milik paman di kota
Cinyang, hubungannya dengan ayah sudah retak ........”
"Liku-liku kejadiannya kau sudah tahu. Tentunya kau masih ingat kisah Hing-thian-kiam Gui Han-bun
yang bermusuhan dengan ayahmu? Karena ibu tuamu minta perlindunganku, terpaksa aku menerimanya,
aku menghargai dia dan simpatik padanya, soal ini ayahmu tidak tahu."
"Dan anak itu ......”
Terunjuk perasaan sedih pada wajah Ciang Wi-bin, katanya rawan: "Dia adalan putera paman, ibunya
meninggal waktu melahirkan dia, maka kutitipkan ibu tuamu untuk mengasuhnya."
Ji Bun manggut-manggut, katanya pula: "Kalau ayah masih hidup, kenapa dia tidak menemuiku?"
"Mungkin dia punya perhitungan sendiri, mungkin ...... Ai, sebetulnya tak perlu kubicarakan soal ini,
namun kau juga sudah tahu, betapa sepak terjang dan kelakuan ayahmu sebetulnya memang keterlaluan."
Anak pantang menista perbuatan ayah sendiri, apa pula yang bisa Ji Bun katakan? Maka dia alihkan
pokok pembicaraan, katanya: "Ibu diculik pihak Ngo-hong-kau, demikian pula Thian-thay-mo-ki ......”
Terbeliak mata Ciang Wi bin, katanya: "Sejak Jit-sing-po hancur, selalu dia bersama ayahmu, bagaimana
.......”
"Mungkin ayah dibunuh pihak Ngo-hong-kau?" seru Ji Bun kaget.
Ciang Wi-bin menepekur, rona mukanya berubah ganti berganti.
"Paman," kata Ji Bun pula, "maaf, sebetulnya ada hubungan rahasia apakah antara paman dengan
ayah?"
"Hubungan rahasia tiada, tapi ...... hal ini memang kau harus tahu, dulu aku bersahabat dengan ayahmu,
sayang aku tidak menyelami watak dan karakternya, belakangan baru kudengar banyak perbuatannya yang
tidak baik sehingga hubungan kami semakin renggang, sampai pada waktu kau menolong puteriku dari
markas Cip-po-hwe, sejak itu puteriku sudah menaksir padamu ...... Kemudian baru aku kontak pula sama
dia, kami masing-masing bertukar ilmu ........”
"Bertukar ilmu?"
"Ya, kuajarkan gerakan badan dan tata rias, sedang dia mengajarkan ilmu beracun, itulah sebabnya dia
pandai menyamar dan akupun tidak gentar terhadap serangan tanganmu yang beracun."
"O," dengan kaget Ji Bun mengiakan, sungguh hal ini tidak pernah dia bayangkan, secara langsung teka
teki selama ini telah tersingkap pula. Tanyanya: "Apakah paman tahu dari mana asal usul ayah
mendapatkan ilmu beracun itu?"
"Katanya tanpa sengaja dia memperoleh sejilid Tok-keng ......”
"Tok-keng? Pernahkah ayah menceritakan bagaimana dia memperoleh Tok-keng ini?"
"Tidak. Memangnya kau sendiri tidak tahu?'
"Keponakan diajarkan secara lisan, belum pernah melihat Tok-keng, entah bagaimana asal usulnya," lalu
ia menunduk memeras otak, mendadak dia angkat kepala sambil berseru; "Ya, aku sudah mengerti
sekarang."
"Kau mengerti apa?" tanya Ciang Wi-bin.
"Ngo-hong Kaucu adalah pemilik Tok-keng, mungkin di dalam suatu kejadian, ayah mendapatkan Tokkeng
ini dari dia, sedang ibu terkurung di Ngo-hong-kau, kalau benar apa yang paman katakan bahwa ayah
selalu bersama ibu, tentu ayah sudah terbunuh oleh pihak Ngo-hong-kau, kalau Ngo-hong-kau berusaha
membunuh keponakan dengan macam-macam cara, tujuannya tentu hendak mencari kembali ilmu beracun
itu .......”
"Kau yakin analisamu ini pasti tepat?"
"Umpama meleset juga tidak terlalu jauh."
"Apakah muridku Ui Bing sudah melaksanakan pesan yang kutinggalkan? Ketahuilah, tugas yang sedang
dia kerjakan bakal membantu membongkar teka-teki ini."
Tergerak hati Ji Bun, sebetulnya dia ingin tanya tugas apa yang dikerjakan Ui Bing, namun dia urung
bertanya.
Ciang Wi-bin mengerut alis, katanya: "Tapi bukan mustahil kalau komplotan Wi-to-hwecu Siangkoan
Hong yang melakukannya."
"Kukira tidak mungkin, bukti tidak ada."
"Memang, tapi ketika Jit-sing-po hancur, Siangkoan Hong juga meluruk datang hendak menuntut balas,
dendam Siangkoan Hong terhadap ayahmu sedalam lautan, apapun yang terjadi, dia takkan melepas
ayahmu."
"Tapi dulu paman pernah berulang kali mencegah aku menuntut balas?"
"Bukan mencegah, soalnya aku merasa peristiwa ini rada janggal, kuharap setelah kau berunding dengan
ayahmu baru bertindak, supaya tidak bekerja membabi buta dan menempuh bahaya yang tiada artinya. Tak
kira sejauh ini jejak ayahmu tetap menghilang.”
Ji Bun manggut dengan berat, katanya: "Keponakan bersumpah untuk membongkar kejadian ini sejelasjelasnya."
"Hiantit masih ada persoalan lain?"
"Sementara ini tidak ada."
"Baik, kini jawablah sebuah pertanyaan paman, tapi perlu kukatakan, kau tidak perlu rikuh, akupun tidak
memaksa. Katakanlah terus terang ..... Kau menyukai Bing-cu tidak?"
Seketika Ji Bun menjublek tak mampu menjawab, kalau dikatakan tidak suka, ini bertentangan dengan
sanubarinya, kalau menyatakan suka, jelas Ciang Wi-bin menuntut adanya ikatan nikah, lalu bagaimana dia
harus memberi pertanggungan jawab kepada Thian-thay-mo-ki yang telah mengorbankan segala miliknya
untuk dirinya? Sekian lama Ji Bun mematung tak mampu bicara.
"Banyak persoalan dalam dunia ini yang tak mungkin bisa dikerjakan secara paksa oleh siapapun"
demikian ujar Ciang Wi-bin menghela napas.
Kata-katanya laksana jarum menusuk hati Ji Bun, tapi apa yang dapat dia katakan? Suasana sesaat
menjadi hening, kikuk dan serba salah. Setelah berpikir baru Ji Bun berkata: "Paman, bagaimana kalau soal
ini kujawab setelah Siautit berhasil menuntut balas?"
"Masing-masing orang mempunyai cita-cita hidup sendiri, cuma perlu kutegaskan, puteriku itu berkeras
hati .......”
"Biarlah nanti Siautit sandiri yang bicara langsung dengan dia.”
“Maksudmu soal jodoh ini sukar terlaksana?"
"Siautit punya kesulitan, tentunya adik Bing-cu dapat memaklumi."
Terbayang rasa masgul pada wajah Ciang Wi-bin. Ji Bun sendiri juga merasa rikuh, serba salah dan
menyesal, terasakan betapa agung dan besar perhatian keluarga Ciang pada dirinya, selama hidup takkan
dilupakannya, malah kali ini demi perjodohan dirinya dengan putrinya, orang tua ini rela menempuh
perjalanan jauh dan bahaya mencarikan obat penawar racun tangannya, kini harapannya yang dinanti-nanti
akan sirna, betapa hati sang hartawan besar nomor satu dan tokoh aneh dari Kangouw ini takkan sedih dan
menyesal?
"Paman Siautit sangat menyesal."
"Soal ini tak usah dibicarakan lagi. Bagaimana tindakanmu selanjutnya?"
"Siautit akan meluruk ke markas Ngo-hong-kau baru nanti pergi ke Wi-to-hwe."
"Perjalanan ke Ngo-hong-kau boleh ditunda, paman sudah mengatur suatu muslihat, biarlah kita lihat
dulu hasil dari rencanaku itu baru nanti mengambil langkah selanjutnya."
"Langkah apakah yang telah paman atur?"
"Terlalu pagi untuk kujelaskan, akan kujelaskan setelah tiba saatnya."
"Kalau begitu Siautit akan pergi ke Tong-pek-san saja."
"Kenapa tidak ke Cinyang, temuilah Bing-cu di sana."
"O, ya, tentu ..... tentu Siautit akan ke sana.”
"Baiklah, kita berpisah di sini, selamat bertemu di kota Cinyang."
Ji Bun tahu Ciang Wi-bin tidak mau muncul dengan wajah aslinya di muka umum, mungkin setelah
berdandan baru akan menempuh perjalanan, maka Ji Bun juga tidak banyak bicara lagi. "Silakan paman."
katanya.
"Hati-hati terhadap orang Ngo-hong-kau, mungkin mereka mengatur perangkap dan main sergap."
Ji Bun mengiakan. Ciang Wi-bin segera melayang pergi. Ji Bun mendongak melihat cuaca, matahari telah
jauh doyong ke barat, lekas dia berlari-lari menuju ke arah timur.
Beruntung perjalanan ke "Danau Setan" ini tidak sia-sia. Ciang Wi-bin selamat, malah dia berhasil melihat
muka orang yang asli, banyak persoalan rumit tersingkap pula, sayang mati hidup ayahnya masih
merupakan tanda tanya. Keselamatan ibunda dan Thian-thay-mo-ki juga masih mengganjel hatinya.
Bagaimana dia harus bicara langsung terhadap Ciang Bing-cu setelah tiba di kota Cinyang? Inilah soal
pelik yang menjadi pemikirannya sepanjang jalan.
Sehari semalam baru dia keluar dari pegunungan Cong-lam-san, semalam dia menginap di hotel, setetah,
cukup istirahat dan memulihkan kesegaran badannya, esok pagi dia melanjutkan perjalanan menuju ke
tenggara.
Hari itu dia tiba di Sip-san, di gunung inilah San-lim-li-sim bersemayam, mau tidak mau dia teringat pada
Hun-tiong Siancu, jiwanya hampir mampus ditangannya, kalau dalam tubuhnya tiada darah Thian-thay-moki
yang pernah minum darah "naga batu", tentu sejak lama dirinya sudah mati. Dendam lama ditambah sakit
hati yang baru lalu, betapapun harus segera dibereskan. Maka Ji Bun membelok meninggalkan jalan raya
menuju ke arah bukit payung dimana tempat Hun-tiong Siancu bercokol.
Setelah tahu letaknya dan apal jalannya, dengan mudah dan cepat Ji Bun menuju ke puncak berbahaya
dengan undakan batu tunggal menuju ke atas itu. Di atas sanalah Hun-tiong Siancu berada.
Setelah diserbu pihak Ngo-hong-kau, adalah jamak kalau penjagaan lebih ketat dan kuat, lalu dirinya
harus menerjang secara terang-terangan lewat undakan batu ini atau mumbul ke atas menggunakan
Ginkang "pusaran angin lesus" saja.
Sebelum Ji Bun berkeputusan, "trang, trang", tiba-tiba didengarnya suara benturan senjata tajam dari
pinggir hutan sana, bangkit rasa ingin tahu Ji Bun, lekas dia melenting ke arah datangnya suara.
Keadaan di dalam hutan ternyata amat tegang dan mengejutkan. Seorang Siucay kampungan sedang
berhadapan dengan seorang laki-laki baju sutera, keduanya bersenjata pedang, pedang laki-laki baju sutera
menuding ke bawah, sedang pedang si Siucay melintang lurus ke depan, sementara tangan kiri melindungi
dada. Kedua orang menunjuk gaya yang berlainan dari permainan ilmu pedang umumnya, keringat sudah
membasahi jidat dan badan kedua orang, dada turun naik, agaknya mereka berhenti untuk mengatur napas
dan menghimpun kekuatan. Pertempuran ini tampaknya menjelang babak terakhir, yang terang keduanya
sama kuat alias setanding.
Masih ada lima orang berbaju sutera ketat bersenjata pedang berjajar setengah lingkaran di luar
gelanggang, masing-masing menduduki posisi yang mengurung, setiap pedang kelima orang ini
memancarkan sinar kemilau yang berceceran darah. Di atas tanah dua belas mayat bergelimpangan.
Ji Bun menyelinap maju lebih dekat, kedatangannya tidak diketahui, waktu dia menyapu pandang, segera
iapun maklum. Orang-orang baju sutera itu adalah jago-jago kosen Ngo-hong-kau. Siucay tua ini pernah
menawan dirinya dan belakangan menjadi anggota Wi-to-hwe pula. Asal-usulnya belum diketahui. Para
korban itu ternyata adalah anak buah Wi-to-hwe.
"Trang, trang!" sinar pedang berkelebat kemilau laksana kilat menyambar, hawa pedang terasa dingin
dan mengiris kulit, bayangan kedua orang berkutet sebentar lalu berpencar mundur, kembali keduanya
bergaya dengan posisi semula. Kepandaian ilmu pedang kedua orang ini jarang terlihat di kalangan Bu-lim.
Ji Bun pikir belum lama Ngo-hong-kau berdiri, namun berhasil menjaring jago-jago silat tinggi sebanyak
ini, taraf kepandaian keenam orang jago pedang ini sudah terhitung kelas satu di kalangan Kangouw. Tapi
mata Ji Bun lebih banyak menatap pada si Siucay tua, beruntung hari ini bertemu di sini, perhitungan lama
dibereskan nanti.
Terdengar laki-laki setengah umur baju sutera itu buka suara: "Saudara betul-betul tidak mau
memperkenalkan diri?"
"Tiada perlunya," suara si Siucay tua rada gemetar.
"Tapi permainan pedangmu sudah membongkar asal usul dirimu ..........”
"Kau sudah tahu?"
"Gui Han-bun, Hing-thian-it-kiam yang kau unjukkan barusan tentu dapat kukenali."
"Bagus, agaknya memang luas pengalamanmu?” jengek Siucay tua.
Mencelos hati Ji Bun, Hing-thian-it-kiam Gui Han-bun, bukankah dia ini suami atau kekasih ibu tua
Khong-kok-lan So Yan? Terbayang cerita yang dikisahkan Biau-jiu Siansing, agaknya Gui Han-bun tidak mati
ketika terjungkal ke dalam jurang. Ya, kini Ji Bun mengerti, kenapa tempo hari orang menculik dirinya dan
mengompes keterangan di mana ayahnya berada, kiranya menyangkut urusan permusuhan lama ini.
Pertempuran berlangsung pula dengan sengit. Pikiran Ji Bun sedang kusut. Bicara kejadian nyata,
perbuatan ayahnya dulu memang kotor dan memalukan. Petaka yang menimpa sepasang kekasih ini
memang sangat menyedihkan, siapapun pasti akan menaruh simpatik kepada mereka.
Tiba-tiba kelima pemuda baju sutera menghardik bersama terus terjun ke tengah gelanggang, jadi enam
lawan satu kini, sudah tentu lekas sekali keadaan berubah. Betapapun tinggi kepandaian Hing-thian-it-kiam
Gui Han-bun, dalam beberapa gebrak saja sudah terancam maut, terang sekali Gui Han-bun bukan
tandingan keenam musuhnya.
Entah berdasarkan perasaan apa, tiba-tiba Ji Bun menghardik diluar sadarnya: “Berhenti!"
Sebat sekali dia melompat maju.
Orang-orang yang tengah berhantam berbareng menghentikan gerakannya dan mundur, serempak
mereka memandang ke arah datangnya suara. "Te-gak Suseng!" mereka berteriakan kaget.
Melihat Ji Bun, Siucay tua memandangnya dengan sorot penuh kebencian. Dengan langkah berat Ji Bun
menghampiri, lalu menghadapi laki-laki setengah umur yang menjadi pemimpin anak buah Ngo-hong-kau,
suaranya dingin: "Apa kedudukanmu di dalam Ngo-hong-kau?"
Laki-laki itu menyurut selangkah, katanya: "Te-gak Suseng, kuharap kau tidak bersikap bermusuhan
dengan pihak kami."
"Akan kuberantas kalian setan iblis ini!" Berubah roman keenam orang.
"Te-gak Suseng," kata laki-laki setengah umur geram, "jangan lupa akan keselamatan jiwa tawanan
kami?"
Menyinggung ibunda dan Thian-thay-mo-ki, hal ini malah mengobarkan amarah dan kebencian Ji Bun,
yang tak terkendali lagi, sorot matanya mencorong benderang, hardiknya kalap: "Serahkan jiwa kalian!" Kaki
menjejak maju, kedua tangan bergerak dengan sepenuh kekuatan, telapak tangan tegak menabas lalu
menggaris melintang, gelombang angin dahsyat bagai amukan ombak samudra menggulung maju.
Kepandaian laki-laki setengah umur memang lihay, tahu-tahu tubuhnya berkelebat miring menghindar ke
pinggir, berbareng pedangnya terayun. Sinar pedangnya memanjang delapan kaki, membabat dari samping
ke arah Ji Bun. Betapa lihay serangan ini sungguh amat mengejutkan. Dalam waktu yang sama, kelima
pedang lainnya juga menyerang dari berbagai arah.
Kedua tangan Ji Bun sudah terlanjur menyerang dengan kekuatan penuh maka kakinya mendesak maju
pula sambil menekuk badan. Laksana kilat tangannya bergerak, dua orang kontan menjerit ngeri pedang
terlempar dan badannya tersungkur tak bergerak.
"Mundur," laki-laki setengah umur memberi aba-aba. Dia mendahului lompat jauh, ketiga temannya
keruan ketakutan setengah mati berlomba mereka putar badan terus angkat langkah seribu.
"Kalian takkan lolos!" bentak Ji Bun. Secepat anak panah meluncur tiba-tiba Ji Bun menyusul ke arah
laki-laki setengah umur, telapak tangan diselingi tutukan jari yang mengandung racun bekerja, menutuk
sambil mencengkeram. Kontan laki-laki setengah umur mengerang panjang, badannya yang tengah lari
terbanting keras, kepalanya melesak ke dalam tanah, jiwapun melayang seketika.
Sebat sekali Ji Bun menjemput sebatang pedang dari tanah. Sekali ayun dia menimpuk ke arah pemuda
yang tengah lari sipat kuping ke arah kanan, begitu pedang meluncur, cepat sekali dia melejit mengejar ke
arah pemuda yang lari ke arah yang berlawanan itu. Lolong panjang berkumandang dari arah sana, pedang
menembus punggung ke dada dan memanteknya di atas tanah, pemuda itupun melayang jiwanya,
sementara kedua orang lagi tersusul Ji Bun. Seperti menjinjing anak ayam, batok kepala kedua orang dia
adu hingga pecah berantakan, hanya sekejap enam orang sudah tamat riwayatnya.
Ji Bun putar balik menghampiri Hing-thian-it-kiam, katanya: "Orang she Gui, selamat bertemu!”
Gui Han-bun menyurut mundur, suaranya dingin: "Te-gak Suseng, apa kehendakmu?"
20.58. Pembasmi Jit-sing-po
Serba salah, bagi Ji Bun tidak sukar untuk merenggut jiwa orang, namun mengingat perbuatan kejam
dan kotor ayahnya dulu terhadap orang ini, kalau sekarang dirinya membunuhnya pula, sungguh hatinya
tidak tega dan lagi melanggar azas kemanusiaan. Sebaliknya kalau dibebaskan, permusuhan ini entah
berlarut sampai kapan.
"Dulu aku lolos dari kematian, maka aku bersumpah menuntut balas kepada Ji Ing-hong," demikian desis
Gui Han-bun.
"Memangnya kau mampu?"
"Anak muda, kalau hari ini aku mati ditanganmu, mungkin itu sudah suratan takdir."
Berputar pikiran Ji Bun, katanya kemudian:
"Orang she Gui, permusuhanmu dengan ayah, bolehkah ditunda sementara?"
"Tidak mungkin"
"Kalau sekarang aku membebaskan dirimu .......”
"Anak muda, kalau aku mati memang itulah nasibku, orang she Gui pantang mengemis hidup kepada
orang lain."
"Orang she Gui, kalau kuinginkan kau mati, memangnya kau bisa hidup?"
"Silakan turun tangan," pedang ditangannya segera melintang, sikapnya tak acuh dan siap menghadapi
detik-detik kematiannya.
Perang batin bergejolak dalam sanubari Ji Bun, kalau musuh dibunuh, urusan akan beres, namun
sekarang dirinya sebagai seorang pejabat Ciangbun dari sebuah aliran, segala tindakan pantang menuruti
keinginan hati sendiri.
Pada saat itulah, bayangan seorang mendadak berkelebat ditengah udara dan meluncur tiba. Kiranya
seorang laki-laki tua baju hitam, wajahnya seram menakutkan. Seketika mendidih darah Ji Bun melihat
orang ini.
Orang yang baru datang langsung menghampiri si Siucay, katanya dengan menyeringai: "Gui Han-bun,
tak kira kau belum mampus."
"Siapa kau?" desis Gui Han-bun kereng.
"Inilah Kwe-loh-jin."
"Kwe-loh-jin apa?" tukas Ji Bun, "dia inilah Ngo-hong Kaucu."
Gui Han-bun mundur beberapa langkah, teriaknya: "Ngo-hong Kaucu?"
Ngo-hong Kaucu berpaling ke arah Ji Bun, katanya: "Urusan kita boleh ditunda sementara."
Belum mulutnya selesai bicara, tahu-tahu bayangannya sudah merangsak ke arah Gui Han-bun, betapa
hebat dan keji cara orang turun tangan sungguh mengejutkan. Entah menggunakan jurus apa, di tengah
suara bentaknya tahu-tahu pedang Gui Han-bun terjatuh, dadanya terluka panjang, pucat pias wajah Gui
Han-bun.
"Gui Han-bun," Ngo-hong Kaucu terkial-kial dan maju selangkah seraya mengancam, “kini tibalah saat
kematianmu!”
Bayangan tangan berlapis-lapis membentuk sebuah gulungan yang meninggi, tahu-tahu bayangan
gulungan ini melintir terus menggaris maju. Hing-thian-it-kiam Gui Han-bun pejamkan mata, hakikatnya dia
tidak mampu menangkis atau menghindar dari serangan telapak tangan yang hebat dari Ngo-hong Kaucu
ini.
"Tahan!" di tengah bentakan keras, "Blang" suara keras berkumandang pula, tampak Ngo-hong Kaucu
tersurut mundur, tahu-tahu Ji Bun sudah menghadang di antara kedua orang.
"Te-gak Suseng," teriak Ngo-hong Kaucu murka, apa maksudmu ini?"
"Tidak apa-apa, kularang kau membunuhnya."
"Anak keparat, kau tidak tahu kalau dia ini adalah satu Houhoat Wi-to-hwe?"
"Ya, aku tahu!"
"Kenapa kau membantu musuh malah?”
"Bukan urusanmu," Ji Bun berpaling lalu menambahkan, "Orang she Gui, kau boleh pergi."
Gui Han-bun melenggong bingung, Ji Bun tidak membunuhnya malah menolong jiwanya, sungguh hal ini
sukar diselami, namun sikapnya tetap angkuh, “Tek-gak Suseng, aku tak mau terima kebaikanmu.”
"Terserah!" jengek Ji Bun.
Tanpa bersuara tiba-tiba Ngo-hong Kaucu menyerang Ji Bun. Sergapan mendadak ini membuat Ji Bun
keripuhan, kontan dia terdesak beberapa langkah. Tujuan Ngo-hong Kaucu bukan menyerang Ji Bun,
setelah bikin Ji Bun mundur, secepat kilat dia berbalik menubruk ke arah Hing-thian-it-kiam Gui Han-bun,
agaknya besar tekadnya hendak menamatkan riwayat orang ini.
Serasa pecah dada Ji Bun, Ngo-hong Kaucu terlalu licik, Lwekang orang terpaut tidak jauh dengan
dirinya, untuk menolong Gui Han-bun terang tidak sempat lagi. Untunglah pada detik-detik yang gawat itu,
sejalur angin lunak tajam meluncur dari arah samping mengancam pelipis Ngo-hong Kaucu.
Ngo-hong-kaucu cukup cekatan, ia tahu betapa hebat serangan angin lunak ini. Kaki seperti terpaku di
tanah, tahu-tahu pinggangnva meliuk, terus mendoyong badan ke belakang, serangannya terpaksa urung
dilancarkan.
Sedikit peluang ini sudah cukup memberi kesempatan kepada Ji Bun, mendadak telapak tangannya
menabas, bencinya sudah kelewat takaran, maka serangannya ini menggunakan tenaga penuh, di tengah
jerit kesakitan, Ngo-hong Kaucu tersurut lima langkah jauhnya.
Cepat sekali dua sosok bayangan orang berdiri di tepi gelanggang, seorang laki-laki setengah umur
dengan muka codet, seorang yang lain adalah nyonya muda yang berwajah ayu laksana bidadari. Yang
muncul bersama ternyata suami-isteri Wi-to-hwecu Siangkoan Hong dan Hun-tiong Siancu. Pandangan
mereka tertuju ke arah Ji Bun sekejap lalu berpaling ke arah Ngo-hong Kaucu.
Munculnya kedua orang ini sunqguh di luar dugaan Ji Bun, dua pihak musuh yang yang saling
bertentangan hari ini sama kesaplok di sini, hati Ji Bun tidak keruan rasa, siapa biang keladi pembantaian di
Jit-sing-po kini bisa diadu maka untuk membeberkan secara jelas. Bagi Ngo-hong Kaucu kini bertambah satu
dosa, yaitu murid murtad dari Ban-tok-bun.
Dengan suara mantap Siangkoan Hong berkata: "Ngo-hong Kaucu, sungguh pertemuan yang tak
terduga."
Ngo-hong Kaucu terkekeh-kekeh, ujarnya dingin, “Ya, pertemuan yang tak terduga."
Hun-tiong Siancu menyela bicara: "Tapi semua permusuhan lama dan baru kebetulan bisa dibereskan
sekaligus sekarang."
"Sudah tentu," Ngo-hong Kaucu tertawa-tawa dingin, lalu dia berputar menghadapi Ji Bun, katanya:
"Anak muda, kalau kau ingin melaksanakan syarat itu, kini adalah saatnya yang terbaik, aku malah akan
membantumu, bagaimana?"
Inilah pancingan dan tekanan yang berat bagi Ji Bun. Dengan kekuatan Ji Bun dan Ngo-hong Kaucu
berdua mungkin tidak terlalu sukar untuk memenggal kepala Siangkoan Hong suami istri, itu berarti ibu dan
Thian-thay-mo-ki akan segera bebas dari cengkeraman iblis. Tapi apakah Ngo-hong Kaucu dapat dipercaya
dan mau menepati janji? Dengan jiwanya yang culas, licik dan kejam, bukan mustahil dia akan janji dan
melakukan perbuatan kotor pula. Apalagi dirinya sebagai pejabat Ciangbun suatu aliran yang disegani.
Pantaskah tunduk dan terima diperintah oleh seorang murid murtad?
Siangkoan Hong mengejek: "Kaucu ingin meminjam tangan Te-gak Suseng untuk menghadapi kami
suami isteri, setelah keinginanmu terlaksana lalu hendak merajai Bu-lim dan menguasai dunia, apakah
caramu ini tidak terlalu kotor dan hina?"
Jawab Ngo-hong Kaucu tanpa mengunjuk perobahan air muka: "Untuk mencapai cita-cita besar harus
menggunakan cara yang luar biasa pula."
"Dengan cara luar biasa, pasti akan mendapat ganjaran yang luar biasa pula," tiba-tiba Hun-tiong Siancu
melengking tinggi.
Ji Bun tidak sabar mendengar perang mulut ini, sekilas matanya menyapu para hadirin, lalu katanya
dingin: "Siapa sebetulnya yang melakukan pembantaian di Jit- sing-po?"
“Siangkoan Hong," Ngo-hong Kaucu segera bersuara, “Kau tidak berani mengaku?"
Siangkoan Hong tertawa dingin, baru saja dia mau bicara, tiba-tiba Hing-thian-it-kiam Gui Han-bun
tampil ke depan, katanya tegas: "Ji Bun, akulah yang melakukan."
Tersirap darah Ji Bun, kepalanya terasa berat seketika, teriaknya: "Kau?"
Sikap Hing-thian-it-kiam Gui Han-bun tampak amat menderita, katanya: "Betul, akulah yang melakukan,
sayang Ji Ing-hong sendiri dapat lolos."
Memuncak nafsu Ji Bun, sekian lamanya dia mengira biangkeladi pembunuhan orang-orang Jit-sing-po
adalah Wi-to-hwe dan Ngo-hong-kau. Kini teryata dugaannya meleset, yang melakukan adalah Hing-thian-itkiam
Gui Han-bun. Walau diluar dugaan, sebetulnya kejadian inipun bisa diterima bila dipikir dengan sehat,
karena Hing-thian-it-kiam ada alasan sendiri pula untuk melakukan pembantaian besar-besaran ini.
"Tuan sendiri yang melakukan? Kau ...... mampu?”
"Kenapa tidak mampu?"
"Dengan kekuatanmu seorang sanggup membunuh Jit-sing-lak-ciang dan lain-lain?“
"Ji Bun, bicara terus terang, dikala aku turun tangan, kebetulan Siangkoan Hwecu juga meluruk datang
hendak menuntut balas kepada ayahmu, tapi kenyataan ayahmu sendiri menyembunyikan diri."
"Bagus, sekarang tibalah saat kematianmu sendiri, tentunya kau tidak akan menyesal."
"Nanti dulu .......” seru Siangkoan Hong sambil angkat tangan.
"Hwecu ada pendapat apa lagi?" tanya Ji Bun garang.
"Gui-Houhoat adalah anggota kami, sama-sama menghadapi musuh, pengalaman kamipun sama ......”
"Memang permusuhanku dengan kalian suami isteri juga belum beres?"
"Boleh diperhitungkan sekarang juga."
"Bagus sekali!" kata Ji Bun.
Ngo-hong Kaucu menyeringai dingin, katanya: Ji Bun, seorang diri jangan harap kau bisa menuntut
balas. Bagaimana kalau aku membantumu?"
"Tutup mulutmu, urusanku tak usah kau turut campur."
Ngo-hong Kaucu membuka tangan sambil angkat pundak, katanya mundur selangkah: "Kalau begitu
biarlah aku nonton saja."
Kalau Siangkoan Hong suami isteri bergabung dengan Gui Han-bun, pihak mana yang bakal gugur
memang sukar diramalkan. Tapi Ji Bun berwatak keras dan angkuh, betapapun dia tidak sudi dibantu orang
luar, apalagi Ngo-hong Kaucu sendiri arus menyelesaikan dua persoalan dengan dirinya, ini lain dari
kenyataan, sebetulnya dia harus menumpasnya lebih dulu.
Hing-thian-it-kiam Gui Han-bun memberi hormat kepada Siangkoan Hong, katanya: "Hwecu, pertikaian
ini biarlah kuselesaikan sendiri."
"Gui-Houhoat, bukan lantaran kau adalah Houhoat kami maka aku mencampuri urusan ini, tapi demi
keadilan dan kepentingan umum."
Gui Han-bun bungkam. Sebaliknya Ngo-hong Kaucu mendongak dengan gelak tertawa dingin yang
panjang. Ji Bun tambah waspada, kalau Gui Han-bun sudah mengaku sebagai biangkeladi dari pembataian
besar di Jit-sing-po, tentu orang tidak akan melarikan diri, hal ini bisa diselesaikan menurut aturan Kangouw
secara adil. Lain halnya tengan Ngo-hong Kaucu yang kejam dan licik serta banyak muslihatnya ini. Siapa
dia sebenarnya masih merupakan tanda tanya. Kalau hari ini dirinya tak sempat membekuk atau
mengalahkan dia, perubahan apa yang akan terjadi kelak sulit diramalkan. Mendadak dia melangkah ke arah
Ngo-hong Kaucu, katanya: "Marilah urusan kita selesaikan lebih dulu."
Ngo-hong Kaucu bersuara heran, tanyanya: Ji Bun, apa maksudmu?"
"Urusanku dengan kau lebih penting untuk segera dibereskan."
"Kau tidak ingin menolong tawananku dulu?"
"Jangan kau kira dapat memeras aku dengan para tawanan itu."
"Te-gak Suseng, kau tidak ingat sakit hatimu lagi, kau akan menyesal ......”
"Siangkoan Hwecu dan lain-lain adalah insan persilatan yang sejati, aku percaya kepada mereka, takkan
melakukan perbuatan licik dan kotor," jawab Ji Bun.
"Jadi kau tak percaya padaku?" dengus Ngo-hong Kaucu. "Kalian hendak mengeroyokku?"
"Tua bangka, mereka tidak akan membantuku, namun betapa besar hasrat mereka untuk membunuhmu,
umpama mereka turun tangan, aku juga tidak perduli."
Ngo-hong Kaucu menyurut mundur, suaranya gemetar jeri: "Dengan cara apa kau selesaikan
perhitungan ini?"
Ji Bun mengertak gigi, katanya: "Sebelum turun tangan, aku ingin tanya, pernah apa ayahku dengan
kau?"
Ngo-hong Kaucu terloroh-loroh, serunya: "Darimana kau bisa bilang demikian?"
"Jangan mungkir, hatimu sendiri sudah tahu."
"Tahu apa?”
"Dari asal usul Tok-keng, kau pasti punya satu hubungan dengan ayahku."
Memancar terang biji mata Ngo-hong Kaucu, katanya menyeringai: "Ji Bun, jadi kau sedang mengejar
jejak Tok-keng itu? Baiklah biar kuberi tahu, Ji Ing-hong memang punya hubungan yang intim sekali dengan
aku."
Bergetar tubuh Ji Bun, tanyanya mendesak: “Kau pasti tahu di mana ayahku."
"Sudah tentu, kau ingin menemuinya? Kalau kau sudah melaksanakan syaratku, aku pasti beri sempatan
untuk berkumpul dengan ayah bundamu."
"Jadi .... dia ....... juga kau kurung?"
"Ah, cuma jadi tamuku saja."
Siangkoan Hong, Hun-tiong Siancu dan Hing-thian-it-kiam Gui Han-bun sama bersuara kaget, mereka
belum merasa lega sebelum membunuh Ji Ing-hong si durjana, kini setelah tahu dimana dia berada, keruan
dalam hati mereka bersorak girang.
Terutama Ji Bun, hatinya dirangsang emosi yang meluap-luap sampai badannya gemetar, ternyata
ayahnya masih hidup, dugaan Ciang Wi-bin ternyata tidak meleset.
"Tapi kau pernah bilang ayahku sudah gugur di tangan Thong-sian Hwesio."
"Ada kalanya membual akan ada faedahnya juga bagiku?"
"Hina, tidak tahu malu!"
"Kini bukan saatnya ngobrol, kau harus segera memberi keputusan."
Gemertak gigi Ji Bun, desisnya: "Biar kubunuh kau lebih dulu," tubuhnya segera menubruk ke arah, Ngohong
Kaucu.
Ngo-hong Kaucu menggeram sekali, dengan mengerahkan seluruh kekuatannya kedua tangan terangkat,
menyongsong maju. Lwekangnya hasil ajaran dari Hud-sim, betapa hebat, kuat dan lihaynya tiada lawan lagi
di seluruh jagat ini, kecuali Tok-jiu-sam-sek, tiada jurus ilmu manapun yang mampu mengatasinya.
"Plak," keduanya tertolak mundur beberapa langkah. Serempak Siangkoan Hong suami-isteri dan Gui
Han-bun berlompatan terpencar menduduki posisi masing-masing, agaknya mereka ingin turun tangan
dalam setiap kesempatan.
Ji Bun menyapu pandang mereka bertiga, katanya: "Kalian jangan ikut campur ......"
Hanya karena lena sejenak untuk bicara ini, tahu-tahu bayangan Ngo-hong Kaucu berkelebat pergi dan
lenyap ke dalam hutan.
"Lari kemana!" serentak berempat orang membentak, secepat kilat mereka berlomba mengejar.
Tak pernah terpikir oleh Ji Bun, bahwa sebagai seorang Kaucu, orang ternyata serendah dan sehina itu
perbuatannya, keruan benci dan dongkolnya bukan kepalang, reaksinya amat cepat dan cekatan, namun
hanya terpaut sedetik saja, ternyata Ngo-hong Kaucu sudah lenyap tanpa ketahuan parannya.
Di antara mereka berempat termasuk Hun-tiong Siancu yang memiliki gerakan tubuh paling aneh dan
cepat, sayang peringatan Ji Bun tadi sedikit banyak memancarkan perhatian mereka. Kalau tidak tak
mungkin Ngo-hong Kaucu bisa lolos sedemikian mudah. Hampir meledak dada Ji Bun, seperti orang
kesurupan dia mengobrak-abrik hutan, lari kesana terjang kemari, seluruh pelosok hutan dijajaki, namun
hasilnya tetap nihil.
Akhirnya dia kembali ketempat semula, baru memutar badan, tiga bayangan berturut-turut juga
melayang datang, mereka Siangkoan Hong suami-isteri dan Gui Han bun. Mereka tidak kabur, dalam hati Ji
Bun diam-diam memuji akan sepak terjang mereka yang jujur dan dapat dipercaya. Karena itu sikap Ji Bun
tampak sedikit lunak, namun ini tidak menurunkan rasa dendamnya, ini hanya soal sikap dan tindakan saja.
Karena pengalaman yang berbeda-beda, watak Ji Bun beruntun ikut berubah pula, dan perubahan ini
merupakan gemblengan sehingga Ji Bun sekarang menjadi insan persilatan yang sejati pula.
Siangkoan Hong berkata dengan nada serius: "Ji Bun, berkat bantuanmu atas pertolongan terhadap isteri
dan puteriku, kusampaikan ucapan terima kasih."
"Kukira tidak perlulah."
"Insan persilatan mengutamakan perbedaan antara dendam dan budi secara jelas."
"Hwecu ingin mencampuri urusanku dengan Gui Han-bun?"
"Pendirianku tadi sudah kuterangkan, mau tak mau aku harus ikut campur.”
"Baik, perlu juga kutandaskan, siapa yang ikut campur, tetap kupandang sebagai musuhku?"
"Menurut kenyataan, memang antara kita ada ikatan permusuhan, walau ini buah hasil perbuatan jahat
ayahmu."
"Bagus sekali, kini saatnya aku turun tangan!”
Habis berkata Ji Bun melangkah ke sana menghadapi Hing-thian-it-kiam Gui Han-bun.
Muka Gui Han-bun merah padam, benci dendam menjalari sanubarinya, meski hatinya tegang dan
dilandasi emosi, namun dia tidak gentar menghadapi saat-saat akhir dari adu jiwa ini. walau dia sendiri
menyadari kepandaian sendiri adalah paling lemah di antara empat orang yang hadir.
"Ji Bun," tiba-tiba Siangkoan Hong bersuara dengan angkat sebelah tangan, "aku masih ingin bicara.
Kenyataan tidak boleh disangkal, Gui-Houhoat bukan tandinganmu .......”
"Lalu kenapa?"
"Kau boleh robohkan kami berdua dulu baru jiwa Gui-Houhoat akan kuserahkan kepadamu."
"Jadi kecuali mati, urusan ini takkan selesai demikian saja?” kusut hati Ji Bun, ia bertekad membunuh Gui
Han-bun untuk membalas kematian para korban di Jit-sing-po. Terhadap Siangkoan Hong suami isteri, ia
tidak berniat membunuh mereka, kini keadaan memaksa dirinya melawan tiga orang, tiada pilihan lain dia
harus menggunakan ilmu beracun. "Kalian maju bersama?" tanyanya.
"Menilai perbuatan ayahmu Ji Ing-hong, untuk menghadapi kau boleh menggunakan cara apapun, tapi
kami tidak ingin menjadi buah tutur orang lain, marilah kita selesaikan pertentangan ini dengan aturan
Kangouw, satu lawan satu."
Menyinggung perbuatan ayahnya, bicara soal permusuhan kedua pihak, ini merupakan derita yang tak
terlukiskan dalam batin Ji Bun. Setiap insan persilatan yang sejati lebih cenderung untuk menyelesaikan
segala pertikaian dengan keadilan, kesetiaan dan kebijaksanaan. Kini dirinya berada di pihak yang keliru,
membela pihak yang salah, adalah jamak kalau merekapun berhak menggunakan cara apapun untuk
menghadapi dirinya.
Kenyataan telah mendesak dirinya ke sudut, terpaksa dia harus menghadapi segala persoalan ini tanpa
mengingat risikonya. Sejenak dia terdiam, lalu berkata dingin: "Siangkoan Hwecu, kalau bertanding satu
lawan satu, kau tidak akan unggul dalam tiga gebrak."
Dalam dunia persilatan masa kini siapa yang berani bicara seangkuh dan sesombong begini terhadap Wito-
hwecu, namun yang bicara adalah Te-gak Suseng, meski terlalu temberang, tapi siapapun tak berani
menyangkal akan kebenaran ini.
Berubah rona muka Siangkoan Hong, katanya dingin, "Te-gak Suseng, agaknya tiada orang lain yang
terpandang olehmu?"
"Aku berani membuktikan ucapanku."
"Kau berani bertaruh dengan aku?" tiba-tiba Hun-tong Siancu menyela.
”Bertaruh apa?"
Sebelum bicara Hun-tiong Siancu melirik kearah Siangkoan Hong, maksudnya supaya tidak campur
bicara, lalu katanya dengan nada berat: "Apakah akupun tak kuasa menghadapi tiga jurus serangan?"
Terhadap Hun-tiong Siancu, Ji Bun tidak berani membual, namun dasar berwatak angkuh, sikapnya tetap
keras. “Mungkin saja," jengeknya.
"Baiklah kita bertaruh dalam tiga gebrak,"
"Bertaruh bagaimana?"
"Akan kuterima tiga jurus seranganmu, kalau kalah, batok kepala kami bertiga boleh kau penggal sesuka
hatimu ......" pertaruhan ini amat megejutkan, diam-diam Ji Bun sendiri merasa mengkirik.
"Tapi kalau beruntung aku sanggup menerima seranganmu ...... kau harus batalkan tuntutanmu
terhadap Gui-Houhoat, biarlah dia sendiri membereskan perrmusuhannya dengan ayahmu."
"Dan kalian suami isteri?" tanya Ji Bun.
"Kami akan mencari ayahmu juga, tapi setiap saat kami tetap menerima tantanganmu."
Ji Bun berpikir sejenak, katanya tegas: "Baik, kuterima tantangan ini."
"Jangan Siancu," tiba-tiba Hing-thian-it-kiam Gui Han-bun tampil ke depan.
Hun-tiong Siancu menoleh, katanya melengak "Ada pendapat apa Gui-Houhoat?”
"Aku keberatan akan pertaruhan ini," kata Gui Han- bun.
"Apa yang telah kuucapkan tak boleh berubah lagi." sahut Hun-tiong Siancu.
"Tapi hatiku takkan tenteram selama hidup ini."
"Silakan mundur Gui-Houhoat, tak usah banyak bicara lagi," suaranya lembut, namun siapa yang
mendengar takkan berani melawannya.
Gui Han-bun mengertak gigi, apa boleh buat, terpaksa dia melangkah mundur, baru dia hendak bicara
lagi, tiba-tiba Siangkoan Hong menggoyang tangan mencegahnya.
20.59. Dendam Dibalas, Budi Pun Harus .....
Tadi sudah timbul hasrat Ji Bun hendak memberitahu Gui Han-bun tentang Khong-kok-lan So Yan,
namun saat lain dia batalkan niatnya. Soalnya dia tidak boleh membongkar rahasia Ciang Wi-bin, lagi peduli
bagaimana asal usul dan sepak terjang Khong-kok-lan, betapapun dia semula adalah isteri resmi ayahnya,
pertikaian ini memang sulit diselesaikan. Tujuan hari ini membunuh Gui Han-bun adalah menuntut balas
bagi seluruh penghuni Jit-sing-po yang menjadi korban.
"Te-gak Suseng," ujar Hun-tiong Siancu, "sekarang kau boleh siap turun tangan."
Tiba-tiba tergerak hati Ji Bun, katanya "Siancu mengandalkan ilmu Yan-hun-hu-deh .......”
"Ji Bun," potong Hun-tiong Siancu sambil angkat sebelah tangannya, "tiga jurus kuterima seranganmu
tanpa menggunakan gerakan apapun."
Hati Ji Bun sudah mantap, katanya: "Siancu boleh saja menggunakan gerakan tubuh itu, tapi cayhe perlu
memperingatkan, seranganku mengandung racun yang amat jahat."
"Tanpa kau katakan juga aku sudah tahu," sahut Hun-tiong Siancu tanpa pikir.
"Baiklah! Nah sambutlah pukulan pertama!" Tok-jiu-it-sek segera dilancarkan dengan mengerahkan
seluruh kekuatannya.
Lwekang Hun-tiong Siancu memang paling tinggi di antara mereka bertiga, jika dia tidak kuasa menerima
tiga jurus serangan ini, sudah tentu Siangkoan Hong dan Gui Han-bun juga bukan tandingan Ji Bun pula,
bahwa Hun-tiong Siancu mengadakan pertaruhan dengan tiga jurus serangan ini, maksudnya adalah untuk
menghindari bentrokan habis-habisan, biarlah seorang berkorban daripada bertiga gugur bersama, apalagi
bukan mustahil dirinya mampu menerima tiga jurus serangan Ji Bun.
Tanpa sengaja beruntun Ji Bun pernah menanam budi terhadap musuh-musuhnya. Pertama dia
menolong Siangkoan Hong yang keracunan, kemudian secara beruntun tiga kali menyelamatkan Siangkoan
Hwi lagi. Di tempat semayam Sam-lim-li-sin iapun bantu memberantas orang-orang Ngo-hong-kau yang
menyerbu datang. Setengah jam yang lalu iapun menolong jiwa Gui Han-bun dari renggutan elmaut Ngohong
Kaucu. Dengan berbagai alasan ini, maka Hun-tiong Siancu bertiga merasa rikuh dan tidak enak hati
untuk mengeroyoknya. Akan tetapi perbuatan jahat ayahnya memang kelewat takaran, bagaimanapun juga
tidak terlampias sebelum mencacah tubuhnya. Oleh karena itu, persoalan di antara mereka menjadi
berkepanjangan. Hal inipun dimaklumi oleh Ji Bun, maka begitu turun tangan segera dia kerahkan seluruh
kekuatannya.
Penderitaan hidup Hing-thian-it-kiam Gui Han-bun memang harus dikasihani, namun dosa dan
perbuatannya yang telah membantai seluruh penghuni Jit-sing-po betapapun takkan terampunkan, untuk
membunuhnya, terpaksa Ji Bun harus mengalahkan Hun-tiong Siancu pula. Maka pertempuran kali ini
merupakan pertempuran mati hidup, jika Hun-tiong Siancu kalah berarti tiga batok kepala harus diserahkan
mentah-mentah.
Oleh karena itu, Hun-tiong Siancu pun tidak berani lena, dia gerakkan kedua tangan, membundar terus
menggaris ke depan. "Blang, blung", benturan keras terjadi beberapa kali, dengan mudah ternyata Huntiong
Siancu berhasil menyambut serangan pertama.
Serasa membeku hati Ji Bun. Kepandaian perempuan ini memang amat mengejutkan, inilah lawan satusatunya
yang paling tangguh selama ini. Bukan saja tidak gentar terhadap serangan racun, dia pula orang
pertama yang kuasa memunahkan serangan tangan beracun yang ampuh ini.
Keringat mulai membasahi jidat Hun-tiong Siancu, hal ini menandakan betapa tegang hatinya. Begitu
mundur, Ji Bun segera membentak, "Sambutlah jurus kedua."
Tok-jiu-ji-sek segera dilontarkan pula.
Kali ini Hun-tiong Siancu rada menungging, mulutnya mengerang tertahan, kakinya tersurut tiga-empat
langkah, wajahnya kelihatan pucat, namun jurus kedua ini dapat dia terima tanpa kurang suatu apa-apa.
Kini tinggal jurus terakhir, jurus yang menentukan mati hidup. Saking tegang badan Gui Han-bun sampai
gemetar, telapak tangan berkeringat dingin. Demikian pula keringat Siangkoan Hwecu juga gemerobyos.
Tambah cemerlang sinar mata Ji Bun, pelan-pelan matanya menyipit, mulut terkancing rapat, sikap dan
perbawanya amat menggetarkan nyali setiap orang yang menghadapinya. Terdengarlah kata-kata berat,
yang mengandung nafsu membunuh dari mulutnya laksana godam yang mendentam di sanubari orang:
"Jurus terakhir!"
Agak bergetar tubuh Hun-tiong Siancu, mukanya yang pucat membesi hijau, wajahnya nan molek jelita,
menjadi guram dan sayu, butir-butir keringat bak mutiara nan berkilau menghiasi jidatnya.
Inilah jurus yang menentukan, Ji Bun sendiripun amat tegang. Telapak tangan pelan-pelan bergerak ke
atas, udara serasa membeku dan mencekam perasaan. Terbeliak mata Gui Han-bun dan Siangkoan Hong,
babak terakhir dari pertandingan yang jarang terjadi selama seratus tahun terakhir di Bu-lim akan
berlangsung. Telapak tangan Ji Bun terangkat tinggi tiba-tiba menggaris tegak dibarengi dengan pekik
panjang yang mengerikan.
Inilah Tok-jiu-sam-sek — yaitu Giam-ong-san-khek.
Hun-tiong Siancu melintangkan kedua tangan, masing-masing menggaris setengah lingkaran lalu beradu
di depan dada untuk bertahan, hawa seketika seperti teriris oleh pisau tajam sehingga mengeluarkan suara
mendesis tajam.
"Huuaaah ....." di tengah jeritan ngeri, tampak Hun-tiong Siancu terlempar jatuh.
Siangkoan Hong bersama Gui Han-bun berteriak kaget sambil memburu maju. Dalam sekejap itu Ji Bun
sendiri merasa pening kepalanya, matanya berkunang-kunang, hawa dan tenaga murni yang ia kerahkan
terlampau besar, mau tidak mau badannya gemetar, saking lelah langkahnya sampai sempoyongan.
Kalau Siangkoan Hong dan Gui Han-bun tidak hiraukan aturan Kang-ouw segala dan turun tangan
bersama, Ji Bun sendiri menjadi ragu apakah dia mampu menghadapi kedua lawan ini. Untunglah Siangkoan
Hong hanya mendelik dengan pandangan murka luar biasa. Sebaliknya Gui Han-bun juga tampak gemetar
dan sempoyongan karena dirangsang emosi.
Disana Hun-tiong Siancu telah meronta bangun, namun baru setengah berdiri, tubuhnya tersungkur lagi.
Kalau dia mau menggunakan gerakan tubuhnya yang lihay atau balas menyerang, mungkin keadaan
sekarang jauh berbeda. Namun secara mentah-mentah dia terima tiga kali serangan, walaupun kalah,
betapapun Ji Bun merasa kagum dan memuji dalam hati. Seorang perempuan namun memiliki jiwa kesatria,
siapapun akan tunduk dan merasa simpatik padanya.
Pandangan Ji Bun dari Siangkoan Hong beralih kearah Gui Han-bun dan berhenti.
Gui Han-bun mendongak sambil menghela napas panjang, katanya rawan: "Hwecu, Siancu, biarlah Hanbun
membalas budi kalian pada penitisan yang akan datang. Thian memang kurang adil, kenapa setan iblis
dibiarkan merasuk jiwa manusia ....." betapa besar dendam dan kebencian hatinya, dirundung kepedihan
dan kedukaan pula.
"Gui Han-bun," seru Ji Bun, "siaplah untuk mempertahankan dirimu, dengan tanganku akan kubunuh
kau."
Dengan gemetar Hing-thian-it-kiam Gui Han-bun mundur setapak, suaranya gemetar "Silakan, aku akan
bertahan sekuat tenaga."
Pada saat dulah tiba-tiba sebuah suara lemah berkata; "Tahan, aku toh belum mati!"
Waktu Ji Bun menoleh, tampak Hun-tiong Siancu telah berdiri, wajahnya pucat pasi.
Memang dia tidak mati, namun terluka parah, lalu apakah dapat dianggap mampu terima serangannya
atau tidak? Sayang pada permulaan mengikat pertaruhan tiga jurus ini tidak dinyatakan secara tegas. Kalau
tidak mati berarti kuat menerima tiga kali serangan, demikian pula sebaliknya, kalau mati berarti kalah.
"Ji Bun,” seru Siangkoan Hong penuh haru, menurut aturan biasanya, ketiga jurus seranganmu terhitung
sudah diterima dengan baik."
Ji Bun menggigit bibir, memang omongan ini tidak salah, sebab walau lawan roboh, namun masih kuat
berdiri pula meski terluka parah. Tengah ia menimang-nimang, "pluk", tiba-tiba dilihatnya Hun-tiong Siancu
tersungkur jatuh pula, mukanya membiru, bibirnya terkancing kencang, lama sekali tak bergerak lagi.
Sekilas pandang Ji Bun lantas mengerti jiwa orang tinggal menunggu waktu belaka kalau tidak segera
diberi pertolongan, itulah tanda-tanda racun tengah bekerja ditubuh orang.
Tangan beracun Ji Bun kini sudah bisa dilancarkan sesuka hatinya, dalam tiga jurus serangannya tadi
iapun gunakan ilmu racun yang hebat. Setelah terluka, keracunan lagi, namun jiwa Hun-tiong Siancu tidak
melayang seketika, betapapun hal ini amat mengejutkan sekali.
Naga-naganya Hun-tiong Siancu sudah meyakinkan Hu-sin-sin-cin, semacam ilmu pelindung badan yang
kebal dari segala racun, maka serangan jurus pertama dan kedua tidak membikinnya cedera apapun.
Namun jurus ketiga dia terluka, pertahanan ilmu kebalnya pun dengan sendirinya menjadi bobol sehingga
tak kuasa melindungi badan. Begitu racun menyerang dada, maka terjadilah keadaan yang menyedihkan ini.
Sudah tentu Siangkoan Hong maklum akan hal ini.
"Siangkoan Hwecu,” ujar Ji Bun dingin, "apa pula yang ingin kau katakan?"
Siangkoan Hong menggerung murka, serunya: “Ini memang takdir, kaulah yang menang."
"Bagaimana janjimu?"
"Tentu akan kulaksanakan."
Ji Bun benar-benar diliputi emosi yang meluap-luap kematian Gui Han-bun sudah terhitung mengakhiri
permusuhan kematian orang-orang Jit-sing-po. Dengan membekal batok kepala Siangkoan Hong suami
isteri, berarti dirinya dapat barter dengan keselamatan ibu dan Thian-thay-mo-ki, dan tugas selanjutnya
adalah mencuci bersih nama baik perguruan, menumpas murid murtad, Ngo-hong Kaucu harus ditundukkan
dan dibekuk untuk menerima hukuman sesuai peraturan perguruan. Tersimpul senyum getir pada wajahnya,
senyum getir yang mengandung, perasaan lega dari dendam dan penasaran. Betapa susah untuk mencapai
hasil ini.
"Omitohud!" sabda Buddha yang merdu nyaring tiba-tiba memecah kesunyian yang mencekam perasaan
orang. Tampak seorang Nikoh tua tiba-tiba muncul. Waktu Ji Bun menoleh ke sana, napasnya seketika
terasa sesak. Yang muncul bukan lain adik sepupu Pek-ciok Sin-ni, yaitu Toh Ji-lan, yang dulu selalu berada
di dalam tandu.
Tempo hari hampir saja jiwa Ji Bun melayang di tangan orang ini, untunglah mendadak Toh Ji-lan
melihat tanda pengenal Ji Bun yang terjatuh, setelah tanya jawab berlangsung barulah diketahui bahwa
Nikoh tua ini ternyata adalah kekasih Giok-bin-hiap Cu Kong-tan, alias orang tua aneh di dasar jurang yang
pernah memberi ajaran Ginkang "angin lesus" serta menyalurkan seluruh Lwekang pada tubuhnya. Kini Toh
Ji-lan, si orang dalam tandu bisa muncul di tempat dan waktu ini, sungguh di luar dugaan Ji Bun.
Lekas Siangkoan Hong dan Gui Han-bun memberi hormat kepada Nikoh tua ini. Nikoh tua itu menatap
tajam ke muka Ji Bun.
Tersipu-sipu Ji Bun memberi hormat juga, katanya: "Selamat bertemu Locianpwe, baik-baik saja selama
berpisah?"
Nikoh tua mengiakan sambil angkat sebelah tangan di depan dada.
Ji Bun bertanya pula: "Apakah Cu-cianpwe juga baik-baik?"
Kelam wajah si Nikoh tua, katanya sambil memejamkan mata: "Dia sudah meninggal dunia."
"Apa?" Ji Bun kaget, "Cu-cianpwe sudah meninggal dunia?"
"Ya, dia amat berterima kasih akan bantuanmu sehingga keinginannya tercapai, yaitu memberi kabar
kepadaku. Disamping itu beliau juga memperhatikan sepak terjangmu sejak meninggalkan Pek-ciok-hong
.......”
Sudah tentu Ji Bun maklum apa arti kata-kata ini, katanya sungguh-sungguh: "Sejak mendapat saluran
Lwekang dari Cu-cianpwe, selama ini Wanpwe takkan melupakan budi kebaikan ini, sungguh menyesal tiada
jalan lain untuk membalas budi ini, namun Wanpwe juga yakin, selama ini tak pernah melukai orang yang
tidak berdosa, apalagi salah membunuh orang."
"Bagus sekali, kalau tahu, tentu Cu-Kong-tam akan merasa lega dan tenteram di alam baka."
"Entah ada petunjuk apa pula akan kedatangan Cianpwe ini?''
"Kau tahu betapa perbuatan ayahmu?"
"Wanpwe tahu," sahut Ji Bun mengertak gigi.
"Tentunya kau juga maklum betapa mengerikan dan penderitaan Siangkoan Hwecu dan Gui Han-bun
karena perbuatan ayahmu?"
Ji Bun mengiakan sambil manggut-manggut.
"Menurut pendapatku, watak dan karaktermu jauh berbeda dengan ayahmu, kau berjiwa luhur dan
bijaksana, sudilah kau mendengar sepatah kataku?”
"Mohon diberi pengertian."
”Sudikah kiranya kau membatalkan tuntutan balas dendam ini?"
Sejenak Ji Bun berdiam diri, lalu katanya dengan suara berat: "Locianpwe, dalam keadaan seperti
Wanpwe sekarang ini, kukira sulit?"
"Maksudku pertikaian angkatan tua, biarlah diselesaikan sendiri oleh orang tuamu."
"Tapi sebagai seorang putera yang harus berbakti terhadap orang tuanya, meski tahu sesuatu itu tidak
pantas kulakukan, terpaksa harus kulakukannya juga!”
"Jadi kau harus memenggal kepala mereka bertiga?"
Ji Bun terkancing mulutnya, hatinya mendidih, resah dan gundah, sakit hati harus dibalas, budi juga
harus dibalas. Jika tiada Cu Kong-tam, tiada hari ini bagi dirinya, kalau menuruti nasihat Toh ji-lan
membatalkan balas dendam ini, betapapun hatinya takkan tenteram sepanjang masa. Sejenak berpikir,
akhirnya ia berkata. "Baiklah, mengingat Cu-cianpwe, Wanpwe berjanji untuk memberi kelonggaran sekali
ini."
"Tidakkah mereka yang bermusuhan saja menyelesaikan sendiri urusan ini."
"Maaf, Wanpwe tidak bisa terima usul ini."
"Baik, kuturuti kehendakmu."
Tak nyana urusan bisa berakhir demikian, hati Ji Bun menyesal juga marah, namun apa boleh buat,
katanya kemudian, “Wanpwe mohon diri!" Tubuhnya sudah berputar pergi, namun tiba-tiba merandek
sambil merogoh kantong dan mengeluarkan sebutir pil terus dilemparkan ke arah Nikoh tua, serunya: "Tohlocianpwe,
inilah obat penawar untuk menolong Hun-tiong Siancu."
Nikoh tua menerima obat itu, serunya haru: "Pin-ni akan selalu ingat kebaikkanmu ini."
"Tidak perlulah!" ujar Ji Bun, segera ia berlari pergi.
Ji Bun sendiri tidak mengerti kenapa dia berbuat demiklan, jelas musuh terluka parah, kenapa memberi
obat untuk menolong jiwanya malah tiada penjelasan lain. Inilah perbuatan seorang kesatria, kelakuan
seorang laki-laki sejati, karena dia tak pernah lupa bahwa dirinya adalah pejabat ketua suatu aliran
perguruan, sepak terjang dan perbuatan harus selalu menjunjung kebesaran dan kejayaan nama Ban-tokbun.
Setelah berlari-lari sekian lamanya, entah berapa jauh telah ditempuhnya, gejolak hatinya mulai mereda,
kini dia menerawang tindakan selanjutnya.
Ayahnya juga terkurung di Ngo-hong-kau, tidak heran selama ini tidak pernah mengadakan kontak
dengan dirinya, pertama kali bertemu dengan ayahnya bilang pihak Wi-to-hwe biang keladi dari
pembantaian orang-orang Jit-sing-po, padahal, si Siucay tua alias Hing-thian-it-kiam Gui Han-bun waktu itu
belum masuk jadi anggota Wi-to-hwe, hal ini jelas serba bertentangan satu sama lain, mungkinkah ayahnya
waktu itu juga hanya menduga-duga dan menaruh curiga belaka?
Kelicikan dan kemunafikan Ngo-hong Kaucu dirasakan amat sukar dihadapi, tapi toh harus ditumpas dan
dibereskan juga oleh tangan sendiri.
Biau-jiu Siansing Ciang Wi-bin ada janji untuk bertemu di kota Cinyang, kini tiba saatnya untuk bertindak
menurut langkah-langkah yang direncanakan. Di Cinyang dia bisa berunding sama Ciang Wi-bin, mencari
daya untuk menolong ayahnya, disamping memberi penjelasan langsung terhadap Ciang Bing-cu soal
perjodohan mereka. Seorang laki-laki harus menepati janji, soal ini harus selekasnya diselesaikan. Mengenai
permusuhannya dengan Siangkoan Hong untuk sementara biarlah ditunda dulu. Demikianlah ia lantas
menuju ke Cinyang.
Hari itu ia tiba di Cinyang, ia tahu pasti ada orang yang diam-diam menguntit dirinya, maka ia tidak perlu
buru-buru menuju ke "gedung setan", langsung dia mencari hotel kelas rendah yang letaknya di gang kecil.
Setelah makan malam, dia rebahkan diri menghabiskan waktu.
Yang dia kuatirkan bila rahasia Ciang Wi-bin terbongkar dan mengalami petaka di luar dugaan, pihak
Ngo-hong-kau jelas tidak akan menyia-nyiakan setiap kesempatan. Kalau tidak, dengan kepandaiannya
sekarang hakikatnya tidak perlu merahasiakan gerak-geriknya sendiri.
Kira-kira kentongan kedua, setelah meringkasi seperlunya, segera dia buka jendela dan melompat keluar
langsung menuju luar kota. Setelah yakin tiada orang yang menguntit baru, dia putar balik ke dalam kota,
langsung menuju ke gedung setan.
"Gedung setan" yang hening dan seram itu sudah apal baginya. Ji Bun langsung menuju ke pekarangan
kecil di mana tempo hari dia pernah bersua dengan Khong-kok-lan So Yan.
Malam pekat, sunyi senyap, tiada sinar lampu, tidak terdengar suara manusia, diam-diam merinding bulu
kuduk Ji Bun. Menurut kebiasaan, kedatangan dirinya pasti sudah diketahui oleh penghuni rumah maka dia
batuk pelan-pelan. Tapi ditunggu sekian lamanya tiada sesuatu reaksi. Aneh, mungkinkah telah terjadi
sesuatu?
"Ssssst!" Ji Bun kaget mendengar suara mendesis ini. Tapi jelas suara ini terdengar dari atas pohon yang
rimbun daunnya. Maka dengan dingin dia membentak: "Siapa?"
"Sssst! Kau Ji-seheng bukan?"
Mendengar suara anak kecil, Ji Bun lantas mengerti siapa yang bicara, cepat dia menyapa, "Apakah Siaupo?"
"Betul, aku di atas pohon."
Ji Bun melejit ke atas pohon, dilihatnya sesosok bayangan kecil nongkrong dipucuk pohon, dengan
enteng badannya berputar terus hinggap tanpa menimbulkan pantulan sedikitpun di dahan pohon
sebelahnya.
“Adik Siau-po, apa yang terjadi?" tanya Ji Bun lirih.
“Malam ini ada tamu kemari."
"Tamu, siapa?"
"Kawanan kunyuk Ngo-hong-kau."
"Darimana kau tahu akan kedatanganku?"
"Ayah yang bilang padaku, katanya malam ini kau pasti kemari, aku disuruh menunggumu di sini. Begitu
kau tiba, beliau lantas tahu."
"Kapan ayahmu pulang?"
"Kemarin."
"Mana beliau?"
"Ada di ruang bawah tanah."
"O, adik Siau-po, Tacimu ada?
"Ada, barusan dia tanya tentang kau, boleh kupanggil kau Toako?"
"Sudah tentu boleh."
"Toako, apa benar kau hendak menikah dengan Toaci?"
Ji Bun gelagapan tak bisa menjawab, menghadapi bocah yang jenaka ini, apa yang bisa dia katakan?
Agaknya Ciang Wi-bin ayah beranak sudah pernah membicarakan soal dirinya, untung malam amat gelap,
sehingga sikapnya yang kikuk tidak dilihat Siau-po.
"Siau-po, bicara dulu urusan yang lebih penting, sejak kapan orang-orang Ngo-hong-kau kemari?"
"Mereka mengejar ayah dan hendak membunuhnya."
"Rencana apa yang telah diatur oleh ayahmu?"
"Kata ayah, setelah Toako datang baru akan turun tangan sambil melihat gelagat, lebih baik ka¬lau bisa
membekuk pimpinannya untuk mengompes keterangannya."
Belum habis mereka bercakap-cakap, sebuah suara lirih lambaian pakaian yang memecah udara
terdengar dari arah luar. Lekas Ji Bun mendekap mulut Siau-po sambil memberi tanda supaya Siau-po tidak
banyak ulah. Dari suara desiran angin ini, Ji Bun tahu kepandaian pendatang ini amat tinggi.
Dengan cepat dua bayangan orang tanpa mengeluarkan suara telah melayang turun di pekarangan. Mata
Ji Bun amat jeli, walau di tempat gelap juga dapat melihat jelas bahwa yang datang ini adalah laki-laki yang
berpakaian ketat dari kain sutera. Ini sudah cukup menunjukkan asal usul mereka.
Terdengar salah seorang berkata: "Menurut laporan, ada bayangan orang masuk ke dalam rumah,
kenapa tidak kelihatan?"
"Mungkin bersembunyi."
"Kapan kita mulai bergerak?"
"Menunggu perintah komandan, mungkin setelah kentongan ketiga."
"Menghadapi seorang maling tua kenapa harus mengerahkan begini banyak jago-jago kosen?"
"Jangan kau pandang rendah Biau-jiu Siansing, sulit dilayani."
Ji Bun sudah tidak sabar lagi, dengan gerakan tangan dia memberi tanda kepada Siau-po supaya tidak
bergerak, lalu seringan daun dia melayang turun. Kedua orang itu agaknya berkepandaian tinggi,
pendengarannya tajam, luncuran Ji Bun sudah diketahui, serempak mereka putar tubuh seraya bersiaga.
Tanpa membuka suara, laksana setan tahu-tahu Ji Bun sudah menubruk tiba sambil menggerakan kedua
tangan. "Plak, plok," belum lagi kedua orang itu sempat melihat siapa yang menyerang, kontan badan
mereka tersungkur roboh binasa, segera Ji Bun menyeretnya ke sudut tembok sana.
Tiba-tiba dari kamar di depan sana menyala secercah sinar pelita yang kuning redup. Di atas pohon Siaupo
segera berseru lirih: "Toako, itulah tanda untuk memancing musuh."
Tergerak pikiran Ji Bun, cepat dia berkelebat masuk ke dalam kamar.
Kira-kira setengah jam kemudian, terdengar suitan panjang melengking dari arah tenggara, disusul
sambung menyambung pada setiap sudut rumah bersahutan suitan panjang yang sama. Agaknya gedung
setan ini sudah terkepung oleh orang-orang Ngo-hong-kau.
Ji Bun membatin, kejadian sungguh amat kebetulan, jika Biau-jiu Siansing tidak sempat pulang dan
dirinya tidak kebetulan tiba disini, rahasia gedung setan ini tentu bakal terbongkar oleh pihak Ngo-hong-kau,
betapa akibatnya sungguh sukar dibayangkan.
Dari berbagai sudut rumah dan pekarangan, tampak bayangan orang mulai bergerak, semua perhatian
tertuju ke arah sinar pelita di dalam kamar. Empat bayangan orang mendadak menubruk maju ke depan
kamar, masing-masing orang bersenjata pedang. Setelah saling memberi tanda serentak menyerbu kedalam
kamar.
"Waaah, aduh!" jeritan yang mengerikan memecah kesunyian malam, hampir bersamaan bayangan ke
empat orang yang menerjang ke kamar tadi, sama terlempar keluar, semuanya rebah tak bergerak.
Agaknya orang-orang Ngo-hong-kau tidak kenal jeri dan kapok, mereka yakin dengan kekuatan yang
dikerahkan malam ini dapat mencapai tujuan. Sepuluhan bayangan orang tanpa diperintah berlompatan pula
ke arah pekarangan kecil ini, yang terdepan adalah seorang tua baju sutera yang berjenggot uban, tentunya
dia inilah yang disebut komandan oleh kedua orang yang pertama datang tadi.
Dengan suara kereng dan berat orang tua berjenggot panjang ini berkata ke arah kamar, “Ciang Wi-bin,
keluarlah dan jawab beberapa pertanyaanku."
Tiada reaksi, ditunggu pula sesaat lamanya tetap tiada jawaban, terpaksa laki-laki tua berjenggot
mengulap tangan pada orang-orang bertubuh jangkung yang bersenjata pedang di belakangnya: "Terjang
ke dalam!"
Kedua ahli pedang serempak menghardik, dengan pedang melintang melindungi badan, sebelah tangan
terangkat di atas kepala, secepat anak panah mereka melesat ke dalam kamar.
Tak tersangka, begitu bayangan mereka lenyap, tidak terdengar suara apa-apa lagi. Akhirnya laki-laki tua
berjenggot perintahkan enam orang bersenjata pedang memburu masuk pula ke dalam, tapi aneh bin ajaib,
seperti batu kecemplung laut, keenam orang inipun lenyap tanpa suara. Keruan orang-orang yang di luar
merasa merinding, tapi juga gusar.
Melihat gelagat tidak menguntungkan, dengan suara gemetar si orang tua berjenggot membentak:
"Ciang Wi-bin, memangnya kau tidak berani keluar dan suka mengkeret seperti kura-kura?"
Sekarang baru ada jawaban dari dalam kamar: "Tuan siapa, sebutkan dulu namamu?"
"Komandan Busu dari markas pusar Ngo-hong-kau, Ih Ciau."
"Apa maksud kalian datang kemari?”
"Atas perintah Kaucu, kami ingin undang saudara ke markas kami."
"Beginikah cara kalian mengundang tamu?"
"Lekas saudara keluar saja."
"Kalau aku tidak sudi keluar?"
"Gedung setan akan kami bumi hanguskan hingga rata dengan tanah."
"Kau yakin dapat melakukan? Berapa banyak orang yang kau kerahkan?"
"Tidak banyak, hanya seratus Busu saja."
"Ah, terlalu sedikit."
"Apa maksudmu?"
"Nafsuku sudah membara untuk membunuh, jiwa seratus orang belum cukup untuk melampias angkara
murkaku."
Orang berjenggot terloroh-loroh, katanya: "Ciang Wi-bin, jangan membual, kalau tidak lekas keluar, akan
kuperintahkan menyulut api?"
"Orang she lh, kau yakin aku ini Ciang Wi-bin?"
"Jangan kau kira bisa mengelabui mata orang dengan samaranmu, aku yakin tidak akan salah."
"Baiklah, biar kau berkenalan dengan cara permainanku ...." ditengah-tengah kumandang kata-katanya,
tampak delapan Busu yang tadi menerjang masuk ke kamar beriring berjalan keluar, tapi setiba di
pekarangan, satu persatu mereka tersungkur roboh binasa. Keruan kejadian ini cukup menggetar nyali
semua orang.
Orang tua berjenggot segera maju memeriksa tiba-tiba dia menjerit kaget: "Racun jahat penghancur
jantung."
"lh Ciau" terdengar jengekan dari dalam kamar, "ternyata kau juga kenal racun jahat ini,"
"Kau .... siapa kau sebetulnya?"
"Kenapa tidak omong-omong di dalam saja?"
Sejenak orang tua berjenggot melenggong, katanya: "Jangan main teka-teki, aku sudah tidak sabar lagi."
"Memangnya kenapa kalau kau tidak sabar?”
"Kubakar habis seluruh gedung ini. Siap!" segera memberi aba-aba.
Bayangan orang serempak bergerak mundur tiga tombak, tangan setiap orang terangkat tinggi, jari
masing-masing menyekal sebuah benda bundar. Begitu si orang tua berjenggot bersuit, dari empat penjuru
segera suitan balasan. "Tunjukkan contohnyal"
Seorang Busu segera melemparkan benda bundar ditangannya ke rumpun bunga di depan sana. "Dar!"
Semak-semak yang lebat itu segera berkobar terjilat api, seluruh pekarangan menjadi terang benderang.
Ternyata bola hitam itu berisi belerang dan sebangsa obat peledak, begitu meledak api segera menyala,
entah berapa bekal bola hitam musuh. Kalau setiap bola dilemparkan, gedung setan pasti akan menjadi
lautan api.
"Hebat juga cara kalian!" sebuah bayangan tiba-tiba berkelebat keluar dari dalam kamar.
"Te-gak Suseng!” orang-orang yang mengepung itu sama menjerit kaget. Orang tua berjenggot seketika
pucat mukanya, sorot matanya memancarkan sinar yang menakutkan, bentaknya beringas: "Kiranya kau!"
"Ih Ciau," ejek Ji Bun dingin, "malam ini harus kutahan di sini.”
Laksana kilat menyambar ia menubruk ke arah si orang tua berjenggot.
Agaknya lh Ciau komandan Busu Ngo-hong-kau ini maklum bahwa dengan kekuatan seluruh anak
buahnya terang takkan mampu berhadapan dengan Te-gak Suseng yang terkenal kejam tanpa kenal ampun
ini, maka sejak tadi dia sudah bersiaga. Begitu Ji Bun bergerak, sebat sekali iapun melompat ke tempat
gelap dan menghilang. Ji Bun menubruk tempat kosong, keruan tidak kepalang penasaran hatinya.
Celakalah anak buah Ngo-hong-kau yang lain, ke mana kaki dan tangan Ji Bun bergerak, seperti membabat
rumput saja, beberapa jiwa segera melayang seketika.
Di tengah keributan itulah, entah siapa yang melempar bola hitam. "Dar, dar!" jago merah segera
menyala dan menjilat pekarangan kecil sebelah kiri sana. Cepat sekali pekarangan kecil serta bangunannya
telah menjadi lautan api.
Serasa menguap kepala Ji Bun saking murka, segera ia kembangkan kecepatan gerak tubuhnya,
bayangan berkelebat setiap orang yang kesamplok diganyang habis-habisan. Kepandaian para Busu ini jauh
lebih rendah dari pada tingkat para duta, jangan kata melawan, melarikan diripun tak sempat lagi, tahu-tahu
jiwa sudah melayang di tangan Ji Bun. Di tengah suara gemeretak yang gaduh dari api yang menyala-nyala
itu, di sana sini berkumandang pula jerit dan pekik orang-orang yang terenggut nyawanya. Tapi lebih
banyak jumlahnya yang sempat melarikan diri.
"Toako," mendengar seruan ini, mata Ji Bun yang sudah membara melihat Siau-po melayang datang ke
sampingnya, maka dengan suara gugup dia bertanya: "Siau-po, ayahmu dan lain-lain ........?”
"Beliau tidak kurang sesuatu apa, meski ada kebakaran tiga tahun juga tidak akan menjilat ke tempat
sembunyi mereka.
"Tapi kebakaran ini tidak boleh dibiarkan menjalar ke tempat lain, ini di dalam kota."
“Paling pekarangan kecil ini yang terbakar habis, sekelilingnya tempat kosong, di sana terlindung oleh
tembok tinggi lagi, cuma bangunan loteng di belakang itu harus dirobohkan walau terpaut satu gang kecil."
"Di mana?"
"Mari kutunjukkan tempatnya."
Waktu mereka tiba di belakang, api sudah menyala besar, loteng kecil itupun sudah hampir terjilat api. Ji
Bun segera memburu maju seraya suruh Siau-po menyingkir. Tangan terayun segera dia menggempur ke
arah saka, untung bangunan itu sudah cukup tua. Sekall pukul, seluruh bangunan loteng bergetar. Beruntun
Ji Bun memukul tiga kali ketiga tempat, loteng kecil itu segera ambruk dengan mengeluarkan suara gaduh.
Siau-po tenang-tenang saja, segera ia tarik lengan Ji Bun, katanya, "Toako, mari menemui ayahku."
Dengan menyeret Ji Bun, Siau-po berlari-lari kecil berputar kian kemari tujuh delapan kali ke kanan dan
ke kiri, akhirnya menyelinap masuk ke tengah-tengah gunung buatan, di sini dia menekan sebuah tombol
membuka pintu rahasia terus lari masuk ke lorong gelap yang menembus ke bawah. Ternyata ruangan di
bawah tanah dibangun dengan bentuk lain, pajangan di sini juga serba megah dan mewah.
Belum jauh mereka melangkah di antara lorong panjang, tampak Ciang Wi-bin menyongsong keluar,
Ciang Bing-cu mengikuti di belakangnya. Ciang Wi-bin tetap berdandan seperti hartawan kaya raya yang
berjenggot panjang seperti dulu. Setelah tergelak-gelak lalu berkata: "Hiantit, kedatanganmu sudah
kuperhitungkan dengan tepat."
"Paman, sayang sekali, Siautit kurang becus, pemimpinnya sempat melarikan diri."
"Peduli amat sama dia."
Ciang Bing-cu tampak sedikit kurus, namun pandangan matanya masih begitu jernih, pipinya bersemu
merah kemalu-maluan, sedikit menekuk lutut memberi hormat, dia menyapa: "Selamat bertemu Ji-seheng."
Panas muka Ji Bun, lekas dia balas menghormat dan menyapa.
"Marilah bicara di dalam," ujar Ciang Wi-bin.
Lorong ini cukup panjang dan lebar, tiga orang bisa jalan berjajar, Ciang Bing-cu mengikuti di belakang,
sejenak mereka sudah tiba di sebuah kamar batu yang besar.
Tampak Khong-kok-lan So Yan, si ibu tua tengah duduk di atas sebuah kursi besar berukir yang serba
antik. Melihat orang, timbul perasaan aneh dalam benak Ji Bun. Sebagai isteri tua ayahnya, walau sekarang
sudah jadi musuh, tata krama tidak boleh diabaikan, segera ia beranjak maju menyapa: "Tay-bo (ibu tua)
baik-baik saja .........?"
Sikap Khong-kok-lan So Yan kaku dingin. "Tempo hari pernah kuperingatkan, panggil aku Cianpwe saja."
20.60. Pemberian Thian-thay-mo-ki
"Selamat bertemu So-cianpwe.”
"Silakan duduk."
"Terima kasih."
Setelah semua orang mengambil tempat duduk, sesaat suasana menjadi hening, karena adanya
hubungan yang janggal antara Ji Bun dengan So Yan, siapapun menjadi kikuk untuk buka suara lebih dulu.
Setelah berdehem akhirnya Ciang Wi-bin membuka suara: "Hiantit, kejadian apa yang kau alami di
tengah jalan?"
"Di Sip-san, Siautit bersua dengan Ngo-hong Kaucu, sayang dia sempat melarikan diri, dari mulutnya,
Siautit mendapat kabar tentang jejak ayah.”
Berubah rona muka Khong-kok-lan So Yan, tapi diam saja.
Ciang Wi-bin mengerut kening, tanyanya: "Di mana ayahmu?"
"Bersama ibu mereka ditawan di markas pusat Ngo-hong-kau."
"Ngo-hong Kaucu sendiri yang mengatakan padamu? Apa maksudnya?"
"Sekarang belum diketahui, namun dia mengajukan syarat untuk membebaskan mereka."
"Syarat apa?"
"Dia minta barter dengan batok kepala Siangkoan Hong suami isteri."
"Hm, membunuh dengan pinjam tangan orang lain, muslihat Ngo-hong Kaucu memang terlalu keji. Lalu
rencana apa yang hendak kau lakukan untuk memenuhi syarat ini?"
"Kukira sulit dilakukan."
"Ya, aku sudah mengatur rencana, kita harus mencari tahu asal usul Ngo-hong Kaucu, kuyakin tak lama
pasti berhasil kuselidiki."
"Gi-heng," tiba-tiba Khong-kok-lan So Yan buka suara, "bahwa Ji Ing-hong masih hidup, tentunya kau
tidak merintangi aku menuntut balas padanya bukan?"
Panggilan "Gi-heng" atau kakak angkat baru pertama kali ini Ji Bun mendengarnya. Jelas, secara
langsung So Yan tidak akan peduli lagi adanya hubungan lantara Ciang Wi-bin dengan Ji Ing-hong di masa
lalu, bagi pendengaran Ji Bun sudah tentu amat menusuk kuping dan serba rikuh lagi.
Ciang Wi-bin melirik ke arah Ji Bun tanpa bersuara. Ji Bun sendiri juga maklum, dalam pembicaraannya
waktu pulang dari danau setan tempo hari, Ciang Wi-bin telah menarik kesan buruk terhadap perbuatan
jahat ayahnya, malah ada maksud memutuskan hubungan, maka dapatlah dibayangkan kalau kedudukan
dirinya sekarang menjadi serba susah.
Mendadak dia teringat kepada Hing-thian-it-kiam Gui Han-bun yang tidak mati seperti dugaan banyak
orang. Jit-sing-po pun telah dihancur leburkan, tapi dendam ibu tua ini agaknya sudah terlalu mendalam.
Betapapun So Yan pernah menjadi isteri ayahnya, lalu apa pula yang bakal terjadi bila satu sama lain
berhadapan?
Maka Ji Bun berkata sambil menatap Ciang Wi-Bin. "Paman, Siautit sudah menemukan biangkeladi yang
membantai orang-orang Jit-sing-po."
Tiba-tiba bercahaya biji mata Khong-kok-lan So Yan, rona mukanya terunjuk senang dan kaget.
"Siapa?" Ciang Wi-bin bertanya kaget. Sepatah demi sepatah Ji Bun menerangkan: “Hing-thian-it-kiam
Gui Han-Bun."
Kata-kata Ji Bun laksana geledek manyambar kepala, Khong-kok-lan berjingkat berdiri, mata mendelik
dan mulut melongo, badannya gemetar seperti orang kedinginan.
Ciang Bing-cu terbeliak kaget mengawasi Ji Bun, lalu memandang So Yan. Ciang Wi-bin juga berdiri.
"Siapa katamu?” tanyanya menegas.
"Hing-thian-it-kiam Gui Han-bun."
"Ini ...... ini ..... mana mungkin?"
"Peristiwa itu tak sampai merenggut jiwanya .......”
"Jadi ...... jadi dia masih hidup?"
"Ya, dia adalah Siucay tua yang baru-baru ini masuk jadi anggota Wi-to-hwe."
"Ah, sungguh di luar dugaan."
"Kau ..... apa yang kau lakukan atas dirinya?" tanya Khong-kok-lan So Yan dengan tergagap, suaranya
tertelan dalam tenggorokan.
"Aku tidak membunuhnya, dia masih hidup, sekarang berada di Wi-to-hwe."
"Dari mana kau tahu dia adalah biangkeladi yang menghancurkan Jit-sing-po?"
"Dia sendiri yang mengaku."
Berkaca-kaca mata Khong-kok-lan So Yan, berita gembira di luar dugaan ini membuat hatinya senang,
dan penuh emosi, dengan lunglai dia menjatuhkan diri ke atas kursi, napasnya agak memburu. Setelah
sekian lamanya baru tiba-tiba dia berdiri pula, katanya dengan suara gemetar kepada Ciang Wi-bin: "Selama
beberapa tahun ini, berkat budi kebaikan Gi-heng sehingga aku hidup tenteram di sini, tak perlu kiranya aku
banyak kata dengan ucapan muluk-muluk, bila selama hayat masih dikandung badan, aku tak bisa
membalas kebaikan ini, biarlah pada penitisan ......"
"Gi-moay, buat apa kau bilang begini ........”
"Sekarang aku mohon diri ......"
"Kau hendak ke mana?”
"Mencari Gui Han-bun."
"Dik, berpikirlah dengan kepala dingin, apakah Siau-po hendak kau tinggalkan?"
Dengan berlinang air mata Khong-kok-lan So Yan berkata: "Po-ji, kelak kita pasti akan berkumpul lagi,
sekarang kau sudah besar. Cici dan ayahmu akan menemanimu."
Siau-po menangis tergerung-gerung. Ciang Bing-cu ikut membujuk: "Gi-bo (ibu angkat), apa engkau
harus pergi?"
"Bing-cu aku harus menemuinya .......”
Ji Bun kebingungan, tidak tahu apa yang harus diiakukan, dalam keadaan demikian dia memang
kehabisan akal dan tak dapat ikut bicara.
"Gi-moay," ujar Ciang Wi-bin, "permusuhan lebih mudah di tanam dari pada dilerai, maka kuharap
setelah kau berkumpul dengan Han-bun mungkinkah ........”
"Gi-heng," tukas Khong-kok-lan So Yan, "kau tahu tak mungkin kubatalkan balas dendam terhadap Ji
Ing-hong. Bagaimana nasib kami selanjutnya entahlah Gi-heng, Bing-cu, Siau-po, selamat tinggal!"
Habis berkata dia kipatkan tangan Siau-po terus berlari keluar.
Siau-po berjingkrak dan tangisnya gerung-gerung. Bing-cu tersedu sedan. Ciang Wi-bin membanting kaki
dan menghela napas panjang sambil berkeluh kesah. Ji Bun membesi muka, mulut terkancing dan mata
melotot.
Untuk sesaat lamanya keadaan menjadi sunyi. Tiba-tiba Ciang Wi-bin tarik lengan Siau-po, katanya
gelisah: "Kaki tangan Ngo-hong-kau pasti tidak ditarik seluruhnya, hayolah kita antar ibu angkatmu."
Ayah beranak segera berlari keluar, sebelum pergi Ciang Wi-bin menatap Ji Bun penuh arti.
Kini dalam kamar di bawah tanah yang serba mewah ini tinggal Ji Bun dan Ciang Bing-cu berdua.
Pandangan Ciang Wi-bin sebelum berlalu tadi merupakan isyarat. Ji Bun maklum apa artinya, apa yang
dikatakan mengantar ibu angkat hanya alasan belaka, yang terang tujuannya adalah memberi kesempatan
pada dirinya untuk bicara dari hati ke hati dengan Ciang Bing-cu. Seperti diketahui waktu perjalanan pulang
dari "danau setan" Ciang Wi-bin pernah berjanji menjodohkan puterinya kepada Ji Bun.
Ji Bun menjadi kebingungan, sesaat lamanya dia sukar membuka mulut. Ciang Bing-cu sendiri agaknya
juga tahu akan hal ini, wajahnya tampak malu-malu, kepalanya tertunduk dan kedua tangannya mengucek
ujung baju, mulut terkancing tak bicara.
Akhirnya Ji Bun keraskan kepala, katanya: "Adik Cu, kakak ada beberapa patah kata yang muugkin
terlalu sembrono untuk kukatakan .......” sampai di sini dia berhenti, tak tahu kata-kata apa pula yang harus
diucapkan.
Ciang Bing-cu tetap menunduk, katanya dengan malu-malu: "Ada omongan apa silakan kakak katakan
saja."
"Betapa besar kasih sayang adik terhadap kakak, selama hidup terukir dalam sanubariku, sayang aku
ditakdirkan hidup dalam keluarga yang terlibat dendam kesumat, bagaimana nasibku kelak, sukar
diramalkan, oleh karena itu kumohon adik maklum akan keadaanku yang serba sulit ini, janganlah kau siasiakan
masa remajamu sendiri .......”
Tiba-tiba Ciang Bing-cu angkat kepalanya, wajahnya diliputi rasa marah dan penasaran, katanya sambil
tertawa dingin: "Ji Bun, aku tak pernah bilang harus menikah dengan kau."
Ji Bun tertegun, wajahnya merah dan tak dapat bicara lagi. Suasana menjadi beku dan serba kikuk.
Sambil mengebas lengan baju Ciang Bing-cu berdiri, air mata berlinang, dengan langkah lemas ia beranjak
ke arah kamar.
Ingin Ji Bun memanggilnya, tapi gerahamnya terasa kaku, mulut terpentang tapi tenggorokan seperti
tersumbat. Dia tahu betapa hancur luluh hati Ciang Bing-cu, malu lagi, akan tetapi Ji Bun tahu dirinya tak
kuasa menghindari kenyataan ini, budi dan cinta Thian-thay-mo-ki sedalam lautan, kesetiaannya sekokoh
gunung, betapapun dia tidak rela menyia-nyiakan kebaikan orang terhadap jiwa raga sendiri. Sekarang
urusan menjadi berkepanjangan, apa boleh buat, akhirnya dia menghela napas panjang.
"Hiantit, bagaimana hasil pembicaraan kalian?” tahu-tahu Ciang Wi bin melangkah datang, namun Siaupo
tidak ikut masuk, agaknya sengaja disuruh jaga di luar.
Ji Bun tertawa getir, katanya: "Se-moay tidak memaklumi keadaanku."
"Lahirnya dia lemah lembut, yang benar iapun berwatak keras, aku yang jadi ayahnya pun tak kuasa
membujuk dia. Tapi urusan masa depan tak boleh dibuat main-main, kuharap Hiantit bisa
mempertimbangkan lagi."
Apa boleh buat Ji Bun menjawab sekenanya: "Siautit akan berpikir lagi."
Ciang Bing-cu muncul pula, wajahnya tampak dingin kaku, katanya dengan nada sedih: "Ayah, kenapa
kau paksa orang, dia punya kesulitan .......”
"Bing-cu," kata Ciang Wi-bin lembut, "jangan kau mengumbar adat .......”
"Yah, puterimu bukan perempuan jalang dari kelas buangan, dia suruh Ui-suheng mengembalikan antinganting,
itu sudah jelas mengunjukkan sikapnya ........."
"Sebagai insan persilatan yang hidup di kalangan Kang-ouw, memangnya setiap orang mungkin saja
terlibat dalam urusan yang sukar dimaklumi orang lain."
"Anak tidak senang menyinggung persoalan ini lagi."
"Se-moay," kata Ji Bun sambil menyengir, "kakak amat menyesal ......”
"Buat apa menyesal, Se-heng terlalu rendah hati."
Ciang Wi-bin mengulap tangan, katanya tegas: "Baik, sampai di sini saja pembicaraan ini, sudah saatnya
perut kita ditangsal."
Dalam keadaan yang serba kikuk ini, sebetulnya Ji Bun ingin mohon diri, namun dia merasa kurang enak,
itu akan menandakan sikapnya kurang wajar, berjiwa dan berpikiran sempit. Apalagi hubungan mereka tak
mungkin dan tak boleh putus demikian saja. Kalau sekarang dirinya tinggal pergi bila bertemu lagi kelak
tentu serba runyam, pula kedua ayah beranak ini begini baik terhadap dirinya, keluhuran budi mereka tak
boleh dihapus begini saja.
Maka sambil manggut-manggut ia beranjak keluar meninggalkan kamar besar ini.
Seperti bangunan gedung umumnya, ruang bawah tanah inipun ada pula kamar tidur, kamar makan dan
kamar tamu. Semuanya dipajang perabot serba antik dan mewah. Dari sini dapat dinilai betapa besar jerih
payah Ciang Wi-bin waktu membangun rumah bawah tanah ini.
Hidangan sudah disiapkan di kamar makan, mereka tangsel perut ala kadarnya, masing-masing jarang
bicara, Siau-po pun jarang bicara, hanya Ciang Wi-bin saja yang bercerita panjang lebar tentang kejadiankejadian
di Kang-ouw masa silam, maksudnya hendak menambah gairah makan dan memulihkan hubungan
kedua pihak. Ji Bun tak berminat mendengar cerita, otaknya senantiasa berpikir cara bagaimana mencari
daya untuk memecahkan persoalan pelik ini?
Sekonyong-konyong sebuah bayangan berkelebat memasuki kamar makan, itulah seorang pemuda
berwajah putih cakap berpakaian sutera.
"Ngo-hong-su-cia!" bentak Ji Bun sambil berdiri.
Pemuda baju sutera langsung memberi hormat kepada Ciang Wi-bin, katanya: "Terimalah sembah sujud
murid Suhu."
Mendengar suara orang, seketika Ji Bun melengong, yang datang ternyata adalah Sian-thian-khek Ui
Bing. Sungguh ia tak habis mengerti, apa sebetulnya tujuan Ui Bing menyaru jadi Ngo-hong-su-cia, guru dan
murid ini memang serba misterius, sepak terjang mereka sukar diselami.
Tak lupa Ui Bing menyapa Ciang Bing-cu dan Siau Po, lalu berputar kepada Ji Bun, katanya: “Hiante,
bagaimana keadaanmu?"
Ji Bun menjawab, "Tidak apa-apa, silakan duduk Toako, minumlah sambil bercakap-cakap."
"Maaf, aku tidak punya waktu.”
"Bagaimana perkembangannya?" tanya Ciang Wi-bin serius.
"Belum ada tanda-tanda terang, cuma ada satu hal cukup mencurigakan. Yaitu cara dia menggunakan
tata rias, agaknya satu sumber dengan aliran kita ........."
"Itu tak perlu dibuat heran, ilmu tata rias dari tiga aliran yang ada di sini satu sama lain hanya sedikit
perbedaannya, yang penting adalah membongkar kedok aslinya atau cari tahu asal usulnya."
"Sungguh amat sulit dan serba susah, dia cukup licik dan licin, banyak muslihatnya lagi, dengan
kedudukan Duta, Tecu toh sukar sembarangan bergerak di markas pusat mereka."
"Betapapun sukarnya tetap harus kau kerjakan."
Ui Bing mengiakan.
"Toako," Ji Bun menyeletuk. "Bagaimana kau bisa menyaru jadi Ngo-hong-su-cia?"
"Kebetulan akhir-akhir ini Ngo hong kau mengadakan pemilihan calon-calon Duta, syarat-syarat yang
utama adalah bakat, kedua muda usia, ketiga adalah kepandaian silatnya. Dengan dandananku ini
beruntung aku diterima disana."
"O, dari mana dapat dicari pemuda sebanyak itu, mana harus berkepandaian silat lagi."
"Asal punya dasar dan bakat, Kaucu sendiri yang mengajarkan ilmu silat, dalam jangka sebulan akan
digembleng dengan hasil yang gemilang."
"Sejauh ini Toako masih belum tahu wajah asli Ngo-hong-kaucu?"
"Belum, kukira hanya beberapa orang saja yang tahu "
"Kenapa sampai sedemikian misterius?"
"Itulah perbedaan adanya lurus dan sesat, dari kalangan lurus yang diutamakan adalah keterus terangan
dan kejujuran, sedang orang-orang dari aliran sesat, yang diutamakan hanya tujuan. Meski harus
menggunakan cara kotor apapun, mereka tetap berani bertindak secara sembunyi serta menggunakan
muslihat."
"Bagaimana kalau Siaute memberi sedikit sumber penyelidikan."
"Sumber penyendikan apa?"
"Ngo-hong-kaucu adalah orang yang pernah beberapa kali berusaha membunuh Siaute, yaitu Kwe loh-jin
yang berhasil merebut Hud-sim."
"Bagus!" teriak Ui Bing.
"Anak muda," Ciang Wi-bin menyambung, "Jangan semberono sehingga menunjukkan belangmu sendiri.
Ada urusan apa lagi lekas katakan supaya segera kau dapat pergi"
"Hal ini ada hubungannya dengan Hiante," ujar Ui Bing menatap Ji Bun.
"Ada hubungan dengan Siaute?" Ji Bun menegas.
"Ya, coba kau lihat ini," kata Ui Bing sambil mengulurkan sebuah lipatan kertas. Ragu-ragu Ji Bun
menerimanya dan dibuka, seketika air mukanya berubah, kedua tangan gemetar, firasat jelek segera
menyentuh sanubarinya, kertas itu membungkus beberapa utas potongan rambut. "Toako .... ini .... apakah
ini?"
Dengan suara rawan Ui Bing berkata: "Itulah pemberian Thian-thay-mo-ki untuk Hiante."
Badan Ji Bun limbung, suaranya gemetar: "Pemberiannya? Toako sudah bertemu sama dia? Apakah dia
baik-baik?"
Guram sorot mata Ui Bing tiba-tiba, katanya dengan menunduk pilu: "Hiante, dia ..... dia sudah
meninggal."
Seperti disamber petir Ji Bun tersentak mundur dan "bluk" jatuh terduduk di atas kursi, mukanya
bergetar seram sehingga merubah bentuknya yang cakap, biji matanya melotot sebesar kelereng, mulutnya
bergumam serak: "Dia ..... sudah meninggal."
Ciang Bing-cu, Ciang Wi-bin, Siau Po sama pucat dan tegang. Ui Bing melangkah maju, tangannya
memegang, pundak Ji Bun, suaranya penuh rasa iba dan simpatik: "Hiante, orang mati tak dapat hidup
kembali, kau harus tabah menghadapi kenyataan ini."
Mendadak Ji Bun berdiri, dengan kencang dia pegang kedua pundak Ui Bing, bentaknya bengis:
"Bagaimana dia bisa mati?”
Karena terlalu emosi, pegangannya begitu kencang, saking kesakitan Ui Bing sampai mengertak gigi dan
keringat dingin berketes-ketes.
Dengan meringis Ui Bing menjawab: "Dia bunuh diri."
"Bunuh diri? Kenapa?"
“Karena kesuciannya dinodai oleh Ngo-hong Kaucu.”
"Keparat, kubunuh dia!" teriak Ji Bun kalap. Air mata meleleh dari kelopak matanya yang melotot, betapa
seram dan mengerikan keadaannya, sungguh siapapun akan merinding dan kasihan pula.
Saking tak tahan karena pergelangan tangan diremas, terpaksa Ui Bing menjerit kesakitan. Baru
sekarang Ji Bun sadar, lekas dia lepas pegangannya.
"Hiantit," ujar Ciang Wi-bin, "tenangkan pikiranmu."
Dengan jari-jari gemetar Ji Bun remas bungkusan rambut itu serta mendekapnya di depan dada, air mata
darah bercucuran dengan deras. Dalam sekejap ini, hatinya serasa disayat-sayat, sukmanya seperti dibetot
secara mentah-mentah dari raganya. Kepedihan dan kesedihan yang luar biasa membuat pikirannya hampa.
Cinta bertepuk sebelah tangan, budi belum terbalas, ternyata si dia kini sudah pergi meninggalkan dunia
fana ini, mati secara mengenaskan sesudah dikotori tubuhnya, dapatkah dia pergi dengan mata meram?
Kini dia sudah tiada, rambut peninggalan ini merupakan pertanda betapa besar cinta kasihnya yang
terbawa ke liang kubur. Tinggal kenangan abadi akan selalu terukir di dalam lubuk hatinya. Hanya satu citacitanya
semasa masih hidup, terangkap jodoh menjadi suami isteri, dan cita-cita inipun tetap terkandung
dalam hatinya sampai akhir hayatnya.
Sebetulnya Ji Bun sudah bersumpah untuk tidak lagi mengabaikan cinta murninya, akan tetapi semua ini
sudah sirna, hanyut terbawa sang waktu. Dia pergi membawa serta rasa kebencian yang tak terlampiaskan,
derita yang tak terperikan dan jiwanya nan luhur, bagai bunga, sehalus sutera dan berakhir begitu saja.
Hawa seperti membeku, tiada buka suara. Lama sekali, dengan kaku baru Ji Bun angkat kepala, suaranya
serak, tanyanya pada Ui Bing: "Toako, bagaimana kejadiannya?"
Dengan suara rendah Ui Bing mulai bercerita: "Beberapa hari yang lalu, kebetulan Kaucu sedang keluar,
untuk pertama kali aku ditugaskan berjaga di markas dalam. Sengaja aku cekoki para petugas lain sampai
mabuk, diam-diam aku menyelundup ke belakang. Kudengar suara isak tangis seorang perempuan, waktu
kuintip, ternyata dia ........”
“Segera aku memperkenalkan diri, maka dia memotong ujung rambutnya ini dan diberikan padaku
dengan berpesan: Sampaikan pesanku kepadanya, hidup ini tak tercapai cita-citaku, biarlah pada penitisan
mendatang kami hidup sebagai suami-isteri.
"Apa pula yang dikatakan?"
"Dia minta supaya, kau menjaga diri baik-baik, rambut ini ditinggalkan untuk kenang-kenangan
sepanjang masa. Dia bilang, walau mati cintanya tetap takkan berubah, dan cinta itu tetap akan terbawa ke
liang kubur, lalu dia ....... putuskan urat nadi sendiri membunuh diri."
Air mata darah kembali bercucuran, tiba-tiba Ji Bun menggembor kalap: "Kau tidak berusaha mencegah
dia bunuh diri?"
“Dia bilang, badan yang kotor ini tidak setimpal untuk menebus kematiannya, bahwa dia bertahan hidup
selama ini adalah untuk mencari kesempatan mengirim kabar ini. Dia mengharap kau menuntut balas bagi
kematian guru dan murid."
“Maksudku kenapa kau tidak cegah dia bunuh diri?”
“Tidak, sempat lagi."
"Kau terlalu mementingkan dirimu sendiri.”
Ui Bing mundur setapak, katanya haru dan dongkol: "Kenapa Hiante bilang begini, apakah aku orang
demikian?"
Setelah berkata Ji Bun sadar telah kelepasan omong. Secara tidak langsung kata-katanya merupakan
pukulan batin dan penghinaan terhadap Ciang Wi-bin dan puterinya. Namun untuk menarik balik katakatanya
tadi sudah tak keburu lagi. Tapi rasa sesal ini hanya sekejap saja, lain kejap hatinya sudah
dirundung kepedihan yang tak terperikan, katanya sesenggukan: "Kau tahu kalau dia bakal menempuh jalan
pendek, kenapa bilang tidak sempat?"
"Hiante, apakah aku harus membelah hatiku untuk diperlihatkan kepadamu? Hiante, aku tahu bagaimana
perasaanmu sekarang, aku tidak menyalahkan kau."
“Di mana jenazahnya?" tanya Ji Bun.
"Sudah kukebumikan di hutan belakang markas."
“Di mana letak markas Ngo-hong-kau?"
“Kelukan ketiga yang terletak di belakang Siong-san, di sana ada tiga pucuk pohon siong yang berdiri
segi tiga, masuk ke dalam kelukan terus menerobos ke dalam gua panjang, di sanalah letaknya."
"Hiantit," kata Ciang Wi-bin kemudian, "hatikupun ikut sedih, tiada yang bisa kukatakan cuma aku harap
kau tenang. Thian-thay-mo-ki memang bernasib malang, tapi masih banyak lagi insan persilatan yang
bernasib lebih jelek daripada dia. Dan tugasmu sekarang adalah menumpas kelaliman dan kejahatan untuk
menolong mereka yang tertindas.”
Dengan kaku Ji Bun manggut-manggut, katanya menatap Ui Bing: "Toako, adakah kabar ayahku?”
Ui Bing terbeliak, tanyanya: "Apakah ayahmu juga berada di Ngo-hong-kau?"
"Tidak salah, Ngo-hong Kaucu sendiri yang bilang padaku."
"Setelah kembali nanti akan kuselidiki.".
"Sekarang lekas kau pergi," ujar Ciang Wi-bin, "jangan membuat urusan menjadi berantakan.”
Ui Bing mengiakan, dia beri hormat kepada guru, lalu menjabat tangan Ji Bun dengan kencang, katanya:
"Hiante, kata-katamu memang betul, seharusnya aku sadar akan kejadian itu, namun aku lalai, hal ini akan
menjadikan sesal selama hidupku, tapi kuharapkan Hiante maklum. Aku tidak sengaja berpeluk tangan
menyaksikan drama itu berlangsung,"
"Berat kata-kata Toako, Siaute menjadi malu diri."
"Sampai bertemu lagi,” Ui Bing terus mengundurkan diri.
Sesaat kemudian baru Ciang Bing-cu memecah kesunyian: "Se-heng, begitu besarkah cintamu terhadap
Thian-thay-mo-ki?"
Ji Bun meliriknya sekejap, katanya sedih dengan cucuran air mata: "Terlalu banyak yang kuterima dari
dia, sebaliknya sedikitpun tak pernah aku membalas kebaikannya."
“Dia sangat cinta kepadamu?”
"Tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, cinta yang murni, cinta sejati, dia rela mengorbankan diri sendiri
demi cinta. Semula sikapku terlalu menghina kepadanya, belakangan baru kutahu keluhuran budinya,
kebesaran jiwanya, tapi ..... ai, semua itu sudah berakhir, sudah terlambat, dia tidak patut mati dalam usia
semuda ini, dia ...... kenapa harus, berbuat senekat itu? Umpama betul dia sudah ternoda oleh durjana itu,
sukma dan jiwanya, akan tetap suci dan agung, memangnya aku harus pedulikan semua ini ......"
"Bisa memperoleh cinta balasanmu, kukira iapun dapat tenteram di alam baka."
"Se-moay, dia tidak tahu, ha.... hatiku, aku tidak, pernah utarakan isi hatiku. Selama ini cintanya hanya
bertepuk sebelah tangan, malah pertemuan kami yang terakhir terjadi pertengkaran dan berpisah dengan
marah dan penasaran. Siapa tahu .... perpisahan ini berakhir untuk selamanya ......”
Jari-jari Ji Bun meremas rambut kepala sendiri, dia ingin menyiksa badan sendiri untuk mengurangi
penderitaan batinnya.
Haru dan kecut perasaan Ciang Bing-cu, bukankah dirinyapun teramat mencintainya?
"Se-moay, kau harus tahu, tanpa dia mungkin aku takkan hidup sampai sekarang.”
"Kenapa?"
"Suatu ketika aku dipukul luka parah oleh Ngo-hong Kaucu yang menyamar seperti ayahku. Dengan
gunakan darahnya dia telah menolong jiwaku .....”
“Darahnya?"
“Ya, dia pernah minum getah naga batu (Ciok-liong-hiat-ciang). Dalam darahnya mengandung obat
mujarab yang dapat menunjang nyawanya. Oleh karena itu, beberapa kali aku hidup kembali setelah
terpukul mati ......”
"Hah!" Ciang Wi-bin dan Ciang Bing-cu menjerit kaget, berbareng, sungguh berita yang belum pernah
tersiar di kalangan Kang-ouw. Apakah sebenarnya Ciok-liong-hiat-ciang atau getah naga batu itu, Ciang Wibin
yang berpengalam luas cukup tahu, maka ia manggut-manggut, katanya dengan nada simpatik: "Hiantit,
aku dapat memahami perasaanmu."
Ciang Bing-cu juga terketuk sanubarinya, namun seorang gadis biasanya lebih kenal malu dari pada
minta maaf, maka dia diam saja. Namun sikapnya sudah menunjukkan bahwa hatinya menyesal dan ikut
berduka.
Setelah membeberkan segala rahasia dan memperoleh pengertian mendalam dari Ciang Wi-bin dan
puterinya, lega juga hati Ji Bun. Namun dendam sakit hati ini harus selekasnya dibereskan. Apalagi ayah
bunda masih terbelenggu di tangan musuh, maka dia segera mohon diri.
"Kemana kau hendak perg?" tanya Ciang Wi-bin.
“Akan kuluruk ke markas pusat Ngo-hong-kau."
“Jangan bertindak sembrono."
"Tapi sedetikpun Siautit tak sabar lagi."
"Betapa banyak jago-jago Ngo-hong-kau, seorang diri Hiantit, menerjang sarang harimau ......”
"Siautit dapat berlaku hati-hati"
"Baiklah, aku akan berangkat bersamamu ....."
"Tidak," Ji Bun menggeleng.
Mendadak bayangan seorang tampak berlari masuk dengan langkah sempoyongan dan "Bluk", jatuh
tersungkur di lantai. Darah muncrat kemana-mana. Siau Po menjerit kaget, Ciang Wi-bin ayah beranak dan
Ji Bun juga terperanjat serta memburu maju.
Pendatang adalah pemuda berjubah biru, napasnya tampak empas-empis.
"Siapakah dia?" tanya Ji Bun kaget.
Sebat sekali Biau-jiu Siansing, memburu ke samping pemuda baju biru, mulutnya menyahut: “Inilah
muridku yang kedua, Si Ke-siu.”
Sembari bicara tangannya meraba urat nadi orang serta memeriksa luka-lukanya, teriaknya kaget:
"Terluka oleh pedang, keluar darah terlalu banyak, mungkin ......."
21.61. Mati .... Bagi Pengikut Ngo-Hong-Kau
Ji Bun ikut berjongkok memeriksa, tubuh orang memang terluka di banyak tempat, darah membasahi
seluruh tubuh, kulit badan boleh dikatakan sudah tiada yang utuh lagi, keadaannya amat mengerikan.
Bercucuran air mata Ciang Wi-bin, ia sesenggukan tak mampu bersuara.
Sementara itu Ciang Bing-cu bekerja dengan cekatan, lekas sekali dia sudah membawakan obat dan
diberikan kepada ayahnya.
"Celaka," tiba-tiba Ciang Wi-bin berteriak kaget.
"Apa yang celaka?” tanya Ji Bun heran.
"Mungkin Ke-siu terluka oleh jago-jago Ngo-hong-kau yang dipasang di sekitar gedung setan ini, dengan
luka-luka separah ini, darahnya bertetesan lari kemari mungkin jejaknya akan konangan musuh ......"
"Biar kukeluar memeriksanya?" kata Ji Bun.
"Siau Po, tunjukan jalan bagi Toako, kau sendiri jangan unjukkan diri," Can Wi-bin berpesan.
Siau Po mengiakan, ia menarik tangan Ji Bun terus berlari keluar, yang ditempuh bukan jalan masuk tadi,
kiranya ruang di bawah tanah ini masih ada jalan rahasia lain yang tidak sedikit jumlahnya.
Mereka dihadang oleh sebuah dinding, Siau Po entah gunakan benda apa, dia tekan-tekan, tahu-tahu
dinding batu setebal dua kaki itu merekah di tengah selebar tiga kaki, segera Ji Bun menyelinap keluar.
"Toako," kata Siau Po berbisik, "aku akan menengok keadaan Si-suheng, sebentar aku menyambut kau di
sini."
"Tak usahlah, aku bisa kembali sendiri."
"Toako, ganyang musuh sebanyak mungkin, jangan menaruh kasihan terhadap mereka."
"Jangan kuatir, Te-gak Suseng bukan laki-laki yang berhati lemah."
Setelah menyusuri lorong gelap sepanjang tiga tombak, Ji Bun tiba di deretan hutan bambu warna hijau
yang rimbun, pelan-pelan, dia menyingkap dedaunan, tampak hutan bambu ini berada di tengah gunung
buatan yang terletak di tengah-tengah empang besar, jaraknya ada empat tombak dari pinggir empang di
seberang. Diam-diam Ji Bun menghela napas lega dan kagum, pintu rahasia yang dibangun di tempat
tersembunyi seperti ini memang sukar ditemukan orang biasa.
Di seberang empang sana tampak bayangan orang mondar mandir. Dari kejauhan sayup-sayup
terdengar suara kentongan empat kali, masih banyak waktu untuk bekerja sebelum terang tanah. Cepat Ji
Bun mundur ke dalam hutan terus melompat ke atas gunung buatan. Dari tempat ketinggian ini dia
kembangkan ginkang “angin lesus", tubuhnya berputar mumbul melayang dan seringan daun melayang,
tanpa mengeluarkan suara dia hinggap di seberang.
Sejenak dia berdiri menerawang sekelilingnya. Didapatinya anak buah Ngo-hong-kau yang di pendam di
sekitar gedung setan ini tak terhitung banyaknya. Agaknya tekad musuh teramat besar untuk membekuk
dirinya dan Biau-jiu Sansing. Kobaran api di pekarangan kecil sana sudah padam.
"Srek, srek!" dengan sengaja Ji Bun melangkah ke tanah lapang sana dengan menerbitkan suara.
"Siapa itu? Di larang sembarangan bergerak!" agaknya orang menyangka Ji Bun kawannya sendiri.
Tanpa pedulikan seruan orang, Ji Bun malah percepat langkahnya. Segera tiga bayangan orang datang.
Tanpa perhatikan bagaimana bentuk rupa dan dandanan ketiga orang ini, kontan Ji Bun sambut mereka
dengan pukulan tangan beracun. "Plak, plak, plak!" di tengah nyaringnya tamparan tangannya, ketiga orang
sama terjungkal roboh jiwa melayang tanpa sadar apa sebabnya.
Kegaduhan di sini mengejutkan orang-orang lain, orang yang terpendam di tempat lain bergegas berlari
kemari.
"Siapa?" bentakan kumandang dari berbagai arah. Kembali lima bayangan orang melayang tiba dari
tempat gelap. Dengan cara yang sama, begitu musuh melayang datang, kelima orang inipun ditamatkan
jiwanya oleh Ji Bun.
"Kejam betul perbuatan saudara!" tiba-tiba sebuah suara membentak.
Sebat sekali Ji Bun membalik badan, tampak seorang pemuda jubah sutera tahu-tahu sudah berdiri tidak
jauh di belakangnya, maka dia mengejek dingin: "Ngo-hong-su-cia?"
Mungkin baru sekarang pemuda ini dapat mengenali Ji Bun, seketika ia berteriak kaget dan seru:
"Te-gak Suseng!"
"Betul, inilah aku!" dingin dan mengancam suara Ji Bun.
Tanpa menunggu Ji Bun habis bicara, tiba-tiba pemuda baju sutera itu putar badan terus meluncur ke
tempat gelap. Agaknya dia tahu diri, tak berani bentrok secara langsung dengan Ji Bun. Tapi Ji Bun sudah
kadung benci terhadap musuh, mana dia mau tinggal diam. Sebat sekali badannya berkelebat, tahu-tahu dia
berkisar dari arah samping, begitu cepat laksana gerakan setan, baru lima tombak Ngo-hong-su-cia itu
bergerak. Ji Bun sudah menghadang di depannya.
"Kau mau lari?” Ji Bun mendesis geram. Tok-jiu-it-sek segera dilancarkan, baru saja Ngo-hong-su-cia
sempat melolos pedang, mulutnya menguak, tubuhpun roboh binasa.
Suara suitan bersahutan dari sana sini. Ji Bun bergerak cepat menubruk ke arah suara suitan itu, tetap
musuh di ganyangnya habis-habisan, jerit dan pekik seram menyayat hati memecah kesunyian malam.
"Gedung setan” ini memang terkenal angker dan seram, kini betul-betul menjadi gedung setan sungguhan.
Kira-kira satu jam kemudian, suasana kembali hening, mayat-mayat malang melintang di mana-mana
yang ketinggalan hidup sudah tentu sejak tadi ngacir. Berapa jumlah anak buah Ngo-hong-kau yang gugur,
agaknya pihak mereka sendiri juga tidak tahu.
Kembali Ji Bun mengadakan pemeriksaan satu lingkaran, baru kembali ke hutan bambu di tengah
empang dan masuk ke ruang bawah tanah, ternyata Ciang Wi-bin sudah menunggu kedatangannya.
"Paman, bagaimana muridmu itu .........?”
"Luka dalamnya sangat parah, jiwanya tak tertolong lagi."
Dia pulang dalam situasi seburuk ini ........”
"Ya, dia pulang karena ada urusan penting."
"Urusan penting apa?"
"Seratusan murid Kay-pang ditahan orang-orang Ngo-hong-kau di dalam hutan sepuluh li di luar kota,
sebelum fajar menyingsing mereka akan dibantai bersama ......”
"Kenapa orang-orang Kay-pang sampai tersangkut urusan dengan pihak Ngo-hong-kau?"
"Ngo-hong-kau menuntut Kay-pang agar menyerahkan seorang pengemis bermata satu ......."
"O," Ji Bun teringat akan penyamaran Ui Bing sebagai pengemis mata satu tempo hari. Tak nyana
samarannya itu malah mendatangkan petaka bagi pihak Kay-pang.
"Urusan ini menyangkut Ui Bing ......”
"Siautit tahu. Biar Siautit pergi membereskan persoalan ini."
"Ya, terpaksa kau harus membantu ......”
"Kenapa paman omong demikian, inilah kesempatan baik untuk mengikis kekuatan Ngo-hong-kau, waktu
amat mendesak, sekarang juga Siautit mohon diri."
"Selesai urusanmu Hiantit harus kembali untuk berunding lebih lanjut ......“
Belum habis Ciang Wi-bin bicara, bayangan Ji Bun sudah tidak kelihatan. Dia maklum soal apa yang
hendak dirundingkan dengan dirinya. Sejak mendengar kabar kematian Thian-thay-mo-ki, duka cita
membangkitkan amarah dan dendam Ji Bun semakin memuncak, sedetikpun tak tahan lagi.
Cap-li-lim terletak di luar kota Cinyang, kegelapan masih menyelimuti alam semesta. Di dalam hutan
gelap gulita, jari sendiripun tak terlihat, namun di luar hutan tampak bayangan orang mondar mandir.
Tiba-tiba dalam hutan menyala empat batang obor besar, di bawah pantulan sinar obor ini, kelihatan
seratusan pengemis dangan pakaian compang camping sama berduduk di dalam hutan. Ada tua muda,
tinggi besar kurus gemuk, semuanya mendelik gusar, tapi tiada yang buka suara. Di empat penjuru berdiri
puluhan Busu berpakaian ketat, setiap lima seragam hitam berdiri pula seorang berpakaian sutera hijau.
Suasana hening dan tegang mencekam perasaan setiap orang.
Dari desa yang jauh letaknya di sebelah utara sana, sayup-sayup terdengar suara kokok ayam. Seorang
tua berjenggot putih kelihatan muncul, matanya menyapu pandang ke arah para pengemis, suaranya dingin
tajam: "Waktu yang ditentukan akan tiba, kalau Kay-pang tetap tidak menyerahkan orang yang kami tuntut,
kalian harus siap menjadi korban."
Seorang pengemis tua ubanan dari deretan paling depan segera berdiri, teriaknya dengan beringas:
"Ngo-hong-kau merajalela berbuat kejahatan di Bu-lim, kaum persilatan yang tidak berdosa di bunuh secara
kejam, hukum alam pasti akan mengganjar kalian .......”
"Tutup mulutmu!" bentak si orang tua jenggot putih, "Nyo-huthocu, sekarang bukan saatnya kau
memberi khotbah di sini. Begitu terang tanah, batas waktu yang kami tentukan sudah habis, awas jiwa
kalian."
"Hm, kalau markas pusat kalian tidak lekas menyerahkan pengemis mata satu yang kami tuntut, kami
masih mampu mengumpulkan seratus jiwa yang kedua dan ketiga dan seterusnya sampai pihak kalian
menyerahkan orangnya, betapapun banyak anggota Kay-pang, akhirnya tentu habis juga terbunuh."
"Hakikatnya tiada orang yang kalian tuntut di dalam Kay-pang kami."
"Omong kosong belaka," jengek si orang tua.
Fajar telah menyingsing, sinar obor menjadi guram. Seorang Busu berbaju sutera segera berteriak
lantang: "Lapor komandan. Batas waktu telah tiba!"
"Siap!" laki-laki tua berjenggot putih segera berteriak.
"Sreng," serentak semua Busu Ngo-hong-kau melolos senjata masing-masing.
Seratus orang Kay-pang juga serempak berdiri, sebentar saja suasana agak ribut, namun lekas sekali
tenang kembali, walau semua orang sama mendelik gusar. namun sebelum pimpinan mereka memberi
perintah, tiada seorangpun yang berarti bertindak. Ini menandakan anggota Kay-pang sangat berdisiplin,
sekaligus memperlihatkan keluarbiasaan murid-murid Kay-pang yang patuh kepada pimpinannya.
Dalam saat-saat tegang dan hening itulah, sekonyong-konyong sebuah suara berkumandang dari tempat
gelap di belakang gerombolan pohon sana: "Ih Ciau, kau ingin mampus dengan cara apa?"
Ternyata orang tua berjenggot ini adalah Busu dari markas pusat Ngo-hong-kau yang ditugaskan
menyerbu gedung setan, yaitu Ih Ciau adanya.
Berubah air muka si orang tua alias Ih Ciau, bentaknya marah: "Sahabat dari mana, silakan keluar!"
Semua busu yang telah menyoreng pedang sama kaget dan berubah pula air mukanya, tanpa berjanji
semua orang memandang kearah datangnya suara.
Orang-orang Kay-pang juga kaget dan melongo, menurut dugaan mereka, tempat di mana mereka
ditawan ini cukup dirahasiakan sehingga pimpinan pusat Kay-pang pun tidak tahu letaknya. Di samping itu
tiada jago sekosen ini di dalam Kay-pang, apalagi datang seorang diri untuk menolong mereka yang sekian
banyak ini.
Bayangan seorang laksana setan melayang muncul dari balik pohon, ternyata seorang pemuda pelajar
berjubah hijau dan berwajah tampan.
Enam jago pedang segera menubruk maju menghadang. Tapi sekali pemuda pelajar itu ayunkan
tangannya hanya sekejap saja keempat jago pedang itu menjerit ngeri terjungkal mampus. Dua yang masih
hidup melompat mundur dengan ketakutan.
"Te-gak Suseng," Ih Ciau menghardik dengan murka. Suaranya terdengar agak gentar pula, suara ini
mendatangkan bayangan kabut gelap bagi orang-orang Ngo-hong-kau. Sebaliknya merupakan pancaran
sinar harapan bagi murid-murid Kay-pang yang berada di ambang kematian. Tanpa diperintah orang-orang
Ngo-hong-kau segera mundur berkumpul sambil siaga.
Ji Bun mendekati Ih Ciau, katanya: "Semalam kau berhasil lolos, beberapa jam kau bertambah hidup,
sekarang habislah riwayatmu."
"Anak keparat, jangan takabur, siapa yang akan mampus, belum tentu?" teriak Ih Ciau murka. Kedua
tangan segera bergerak dengan gempuran sekuat tenaga. Sebagai komandan busu dari markas pusat, tentu
kepandaian Ih Ciau bukan olah-olah lihaynya. Apalagi menghadapi mati dan hidup, mau tidak mau dia harus
kerahkan setaker kekuatannya, maka dapat dibayangkan betapa dahsyat serangan kedua tangannya ini.
Tidak berkelit juga tidak menghindar? Ji Bun malah menyongsong pukulan lawan dèngan gerakan maju
pula. "Plak" ditengah benturan keras, tampak kedua orang terpental mundur setapak. Pada saat Ji Bun
terpental mundur itulah puluhan pedang dari sepuluhan orang baju sutera yang punya kepandaian tinggi
tiba-tiba menyerang dari berbagai arah dengan gencar dan ketat.
Mendengar samberan angin, sebat sekali Ji Bun membalik badan seraya geraki tangannya. Dua orang
menjerit roboh, namun tiga pedang berhasil menggores luka badan Ji Bun. Rasa sakit dan perih menambah
nafsu dan amarah Ji Bun, Tok-jiu-ji-sek segera dilancarkan. Dua orang terjungkal mampus lagi. Tanpa
menimbulkan suara tiba-tiba Ih Ciau menubruk maju dan menyerang dari belakang, telapak tangan kiri dan
cengkeraman jari-jari tangan kanan serentak menghantam dan menutuk ke Hiat-to mematikan dipunggung
orang.
"Blang," sambil mengerang tertahan badan Ji Bun tersungkur ke depan. Walau terkena pembokongan,
namun kedua tangan Ji Bun tidak berhenti bekerja, tiga jago pedang baju sutera berhasil dirobohkan lagi.
"Serahkan jiwamu!" mulut menghardik, gerakan Ji Bun laksana kilat berkelebat, dia membalik
menyambut pukulan Ih Ciau yang kedua. "Plak", darah seketika menyembur dari mulut Ih Ciau, sambil
menguak kesakitan tubuhnya sempoyongan ke belakang. Untung serangan pedang lain menghentikan
serangan kepada Ji Bun lebih lanjut.
Tangan kiri melingkar, tangan kanan menggenjot, Ji Bun menggempur balik semua pedang yang
menyerang dirinya dengan angin pukulan yang dahsyat, gesit sekali seperti harimau menerkam mangsanya,
tahu-tahu dia melompat ke depan mencengkeram si orang tua berjenggot, Ih Ciau.
Ih Ciau mengerahkan sekuat tenaga dan meronta untuk melepaskan diri, ternyata usahanya berhasil,
segera ia angkat langkah seribu.
"Berdiri!" bentakan Ji Bun laksana geledek berkumandang di tepi telinga Ih Ciau. Tahu-tahu orangnya
sudah menghadang di depannya, seketika pucat pasi muka Ih Ciau, dengan ketakutan dia menyurut
mundur.
Sementara itu si pengemis tua beruban telah memberi aba-aba kepada anak murid Kay-pang, serentak
mereka angkat senjata menyerbu maju.
Jago-jago pedang seragam hitam yang sejak tadi berbaris di luar garis hanya berjaga dan siaga saja, kini
mereka terpaksa angkat senjata membendung serbuan para pengemis yang berontak dan melawan secara
mati-matian. Di hadapan Ji Bun mereka seperti telur menumbuk batu, tapi terhadap anak murid Kay-pang
mereka laksana harimau kelaparan. Murid Kay-pang yang menyerbu diobrak-abrik hingga kacau-balau.
Hanya sekejap kedua pihak bentrok, banyak korban telah berjatuhan di pihak Kay-pang.
Sementara itu hari telah terang tanah, entah sejak kapan oborpun telah padam. Pertempuran besar
secara membabi buta berlangsung terus dengan sengit di dalam hutan yang masih diselimuti keremangan
kabut pagi. Beberapa jago pedang baju sutera masih mengelilingi ajang pertempuran Ji Bun yang
menggasak Ih Ciau itu dan siap terjun membantu pimpinan mereka.
Agaknya murid-murid Kay-pang juga tahu betapa kemampuan jago-jago pedang baju sutera ini, maka
mereka hanya menggasak jago-jago pedang baju hitam saja. Tiada yang berani mengusik jago-jago pedang
baju sutera, oleh karena itu korban yang jatuh di pihak mereka bisa dikurangi.
Mata Ji Bun sudah membara, amarahnya tidak terkendali lagi, ia menggerung seperti singa kelaparan, dia
tetap menggunakan Tok-jiu-ji-sek. Ih Ciau diserangnya pontang-panting seperti kucing mempermainkan
tikus.
"Huuuaaah!" di tengah teriakan panjang yang ngeri, Ih Ciau terlempar roboh binasa.
"Mundur!" salah seorang dari jago pedang baju sutera memberi aba-aba.
Ji Bun yang sudah telanjur marah, nafsunya sudah terkendali lagi. Hanya sekali putar tubuh, pemuda
baju sutera yang memberi aba-aba tadi seketika disapunya roboh binasa, menyusul seorang lagi tubuhnya
mencelat dan menyungsang diatas pohon karena pukulan Ji Bun yang dahsyat.
Luluh semangat tempur para Busu baju hitam tanpa diperintah mereka berlomba ngacir menyelamatkan
jiwa masing-masing. Tapi murid-murid Kay-pang yang berjumlah lebih banyak telah mengerubut dengan
ketat, dalam keadaan satu melawan lima orang atau lebih. Betapapun tinggi kepandaian mereka, akhirnya
banyak juga berguguran di antara mereka. Lebih celaka lagi, setiap tangan Ji Bun bergerak tentu jiwa orang
menjadi korban.
Sekilas Ji Bun menyapu gelanggang. Busu tingkat baju sutera sudah tiada satupun yang ketinggalan
hidup. Busu tingkat baju hitam yang masih bertahan mati-matian juga tinggal dua puluhan orang saja.
Murid-murid Kay-pang yang berlipat jumlahnya tentu berkelebihan membabat mereka. Cepat dia menjejak
kaki meluncur pergi meninggalkan gelanggang, di dalam hutan dia menemukan sebuah sungai kecil. Di sini
ia membersihkan noda darah ditubuhnya serta membubuhi obat pada luka-lukanya, sekejappun Ji Bun tidak
membuang waktu, bergegas dia berlari kencang menuju ke Siong san.
Kematian Thian-thay-mo-ki betul-betul menimbulkan pukulan yang amat hebat pada lahir batinnya,
betapa dendam sakit hati sungguh tak terlampiaskan.
Dalam setengah hari dia sudah menempuh seratus li lebih. Kibaran panji kuning yang bertulisan huruf
"arab" dari sebuah warung makan menimbulkan selera makannya, memang perutnya sedang keroncongan.
Dia pikir, perut perlu diisi, setelah kenyang baru menempuh perjalanan pula.
Maka dia mampir ke warung makan ini, dipesannya sepiring daging rebus, seekor ayam goreng, dan dua
poci arak. Seorang diri dia habiskan masakan dan minuman yang dipesannya. Arak yang masuk perutnya
semakin mengobarkan dendam sakit hatinya. Semula dia ingin sekedar istirahat dulu di warung makan ini,
kini dia malah perlu arak lebih banyak. Beberapa poci telah ditenggaknya, pikirannya kini semakin butek,
pandangannyapun menjadi kabur.
Dengan ketajaman kuku jarinya dia coba menusuk kulit mukanya, terasa dan pati rasa, inilah pertanda
taraf yang telah mendekati mabok. Tiba-tiba bayangan Than-thay-mo-ki nan semampai berkelebat di depan
matanya. Ingin dia menjerit tangis sepuas-puasnya, dia ingin bunuh seorang untuk melampiaskan rasa
penasaran ini, dia ingin melihat darah, darah merah menyolok dari badan para musuhnya.
Tiba-tiba pandangannya yang kabur melihat sesosok bayangan orang, seorang yang berkedok berjubah
sutera biru. Dia kira bayangan ini hanya dalam khayal belaka, setelah kucek-kucek mata, bayangan itu tetap
tidak lenyap. Arak yang masuk perutnya seketika gemerobyos keluar menjadi keringat dingin, dengan
menahan meja dia berjingkrak berdiri, biji matanya melotot, mukanya beringas diliputi nafsu membunuh.
Suaranya yang kereng gemetar sepatah demi sepatah tercetus dari mulutnya: "Murid murtad. kalau tidak
kuleburkan tubuhmu, aku bersumpah tidak jadi manusia."
Seluruh perhatian tamu-tamu yang lain seketika tertuju kearahnya. Lekas pelayan memburu maju,
katanya dengan menyengir kecut: "Tuan tamu, harap bersabar, warung kami kecil ........”
"Minggir!" bentak Ji Bun sambil mendorong. Pelayan itu sempoyongan mundur kepojok sana dan berdiri
dengan melongo.
Suara yang telah amat dikenal serta diharapkan siang dan malam, tiba-tiba tercetus dari mulut orang
berkedok jubah biru: "Nak, kau ..... kenapa?" Suaranya penuh diliputi rasa sedih dan kasihan.
Bergetar sekujur badan Ji Bun, nafsu membunuh yang sudah menyala seketika padam. Kini hatinya
berganti haru penuh emosi. "Yah, kaukah ini?" serunya.
"Nak, masakah diriku tidak kau kenal lagi?"
"Betulkah kau ini?"
"Nak, marilah bicara di luar saja."
Semula Ji Bun curiga akan perbuatan Ngo-hong Kaucu yang licik dan licin itu. Kini terbukti orang yang
berdiri dihadapannya betul-betul adalah ayahnya, saking haru kaki tangan terasa lunglai tanpa terbendung
air mata bercucuran.
Orang berkedok merogoh keluar pecahan uang perak dan ditaruh di meja sebagai pembayaran makan
minum Ji Bun. lalu putar badan mendahului keluar.
Seperti di dalam mimpi saja, dengan langkah bergontai Ji Bun ikut keluar.
Konon ayahnya dikurung di markas Ngo-hong-kau, cara bagaimana mendadak dia bisa lolos dan muncul
di sini?
Berjalan tidak lama, akhirnya ia memasuki hutan di pinggir jalan. Berhadapan dengan sang ayah yang
berulang mengalami petaka ini, rasa curiga dan waspadanya tidak pernah lenyap, pengalaman getir
beberapa kali yang telah terjadi menimbulkan syak dalam benaknya.
"Yah, bukankah kau terkurung di markas Ngo-hong-kau?" tanyanya kemudian.
"Ya, untung aku berhasil meloloskan diri."
"Bagaimana ibu?"
"Nak aku akan berusaha menolongnya."
"Apakah beliau tidak mengalami siksaan dan derita?"
"Di sana aku tidak pernah melihatnya."
"Yah, siapakah sebetulnya Ngo-hong Kaucu itu?"
"Ini ...... ayah sendiri juga tidak tahu."
"Ayah seharusnya tahu?"
"Kenapa aku harus tahu?"
"Darimana dulu ayah mendapat pelajaran ilmu beracun?"
"O, soal ini? ..... ayah belajar dari Ngo-hong Kaucu ....."
Ji Bun semakin heran dan curiga, suaranya gemetar: "Tapi ayah bilang tidak kenal siapa dia?"
21.62. Ibumu .... Tok-keng .... Paderi Siau-lim ....
"Nak, dengarlah penjelasanku. Waktu itu tanpa sengaja aku berjumpa dengan dia. Dia seorang misterius,
tak pernah mau memperlihatkan wajah aslinya, demikian juga asal usulnya tetap dirahasiakan sampai
sekarang."
"Lalu kenapa dia mengurung kau?"
"Hendak menarik balik ilmu yang ia ajarkan padaku," sembari bicara pelan-pelan tangan orang berkedok
menepuk pundak Ji Bun serta menambahkan dengan sedih: "Nak tentunya kau banyak menderita selama
ini?"
Sudah tentu bergetar jantung Ji Bun, namun terasa oleh nalurinya bahwa tepukan tangan orang orang
tidak bermaksud jahat, maka timbul rasa penyesalan dalam lubuk hatinya. Entah sudah berapa lamanya, tak
pernah dia diraba lagi oleh tangan-tangan ini, sebesar ini tak pernah pula dia memperoleh bujuk dan katakata
halus yang sedemikian besar perhatiannya. Sejak lama dia mengira selama ini takkan bertemu pula
dengan ayah kandung sendiri, sungguh tak nyana secara ajaib hari ini dia berjumpa pula dengan beliau.
Rasa duka seketika merangsang hatinya, tak tertahan air mata berlinang-linang. Banyak kata-kata yang
ingin dilimpahkan, banyak persoalan yang ingin dia tanyakan. tapi kejadian ini benar-benar di luar dugaan
sehingga dia tak tahu dari mana dia harus mulai bicara, entah soal apa pula yang harus dibicarakan.
Berkata orang berkedok dengan suara lembut: "Nak, kabarnya kepandaianmu sekarang teramat hebat,
apakah kau ketiban rejeki?"
Ji Bun hanya manggut-manggut.
"Bisakah kau jelaskan kepada ayahmu?"
"Yah, dilarang oleh aturan perguruan, maaf anak tidak bisa menjelaskan," bukan kepalang sesal hati Ji
Bun. Betapapun dia tak boleh membocorkan rahasia Ban-tok-bun, walau terhadap ayah kandung sendiri,
aturan perguruan lebih penting. Demi menghilangkan rasa canggung, cepat dia mengalihkan pembicaraan
ke persoalan lain: "Yah, dulu kau bilang yang membantai orang-orang Jit-sing-po kita adalah Siangkoan
Hong dan orang-orangnya."
"Memang, kenapa?"
"Anak sudah menyelidiknya."
"Siapa pelakunya?"
"Hing-thian-it-kiam Gui Han-bun."
Orang berkedok menyurut mundur, teriaknya kaget: "Mana mungkin? Dia ..... masih hidup?"
"Dia sendiri yang mengatakan kepadaku!"
"Di mana dia sekarang?"
"Di Wi-to-hwe."
"Kau tidak membunuhnya?"
"Ada sebab-sebab khusus terpaksa anak melepas dia, kelak pasti akan kuganyang dia ...."
Selama ini tangan orang berkedok masih berada di atas pundak Ji Bun, katanya setelah menghela napas
panjang: "Nak, perbuatan ayah dulu memang terlalu, aku ...... amat menyesal ......"
Inilah kata-kata yang diharap-harapkan oleh Ji bun, kini mendengar ayahnya mengaku salah dan
bertobat, keruan hatinya amat terharu, katanya: "Kejadian sudah berselang, tak perlu dibicarakan lagi."
"Nak, seorang hanya hidup sekali, jangan kau berbuat salah, sekali salah menyesal untuk selamalamanya."
"Yah, tanggalkan kedokmu, biar aku melihat wajahmu?"
"Nak ......"
Tiba-tiba Ji Bun merasakan Bing-bun-hiat terkena tutukan jari yang amat keras, rasa sakit seketika
merangsang badan dan menusuk ulu hati. Belum lagi dia sempat berpikir apa yang terjadi, seketika dia
menggerung roboh.
"Huaahaha..." orang berkedok tiba-tiba tertawa, suaranya bergelombang seperti bunyi kokok-beluk di
malam sunyi, seperti serigala melolong kelaparan di malam hening, suaranya menusuk telinga.
Sebelum lenyap kesadaran Ji Bun, dada terasa seakan meledak saking gusar dan gemas. Segalanya telah
habis, sedikitpun ia tidak pernah menduga kesalahan yang pernah terjadi kini terulang kembali atas dirinya.
Hari ini dia betul-betul terjungkal di tangan musuh yang satu ini. Sekuat tenaga dia berontak
mempertahankan diri, namun dia tersungkur roboh pula, terasa bumi berputar, kepala pusing tujuh keliling.
Bagaimana mungkin orang bisa menyaru begini mirip ayahnya? Mata Ji Bun beringas, suaranya serak:
"Kau ..... kau ...... hina dina ........”
"Nak," ujar orang berkedok ketawa sinis, "jiwamu memang rangkap dua belas, mati dapat hidup kembali,
tapi hari ini keajaiban itu takkan terulang lagi ......”
"Tutup mulutmu, Ngo-hong Kaucu, kau sendiri akan memperoleh ganjaran setimpal."
"Ganjalan apa? Nak, ha ha ha ha ........"
Menyesal dan kebencian sekaligus menyiksa batin Ji Bun, kalau ayahnya betul sudah tertawan musuh,
mana mungkin bisa melarikan diri dengan mudah? Dan dirinya begini gampang ditipu oleh musuh yang licik
dan licin, memang keajaiban takkan terulang kembali. Kali ini dia betul-betul roboh habis-habisan. Segala
dendam dan budi akau lenyap ditelan masa dan dibawa ke liang kubur. Satu hal yang membuatnya amat
penasaran adalah Ban-tok-bun bakal putus turunan di tangannya dan ilmu beracun bakal menjadi alat
terampuh bagi murid murtad ini untuk merajalela dengan segala kejahatan di Kang-ouw. Para Suco dari
beberapa generasi terdahulu akan menyesal di alam baka.
"Anak muda," kata orang berkedok sinis dingin, "sudah kuperintahkan untuk menukar ayah bundamu
dengan batok kepala Siangkoan Hong beserta isterinya dan kau sengaja membangkang malah berusaha
melawan, terpaksa aku harus bersiasat menamatkan riwayatmu."
Sedapat mungkin Ji Bun pertahankan hawa murni dalam tubuhnya yang sudah mulai buyar, teriaknya
beringas: "Semoga para Suco menjatuhkan sumpah dan kutukannya di alam baka, kelak kau akan mendapat
ganjaran yang setimpal."
"Suco? Hehehe! Hahaha! Ji Bun, tak nyana bahwa kau telah masuk parguruan Ban-tok-bun, maka kau
harus mampus lebih cepat lagi."
"Aaaaah ....." rasa sakit yang tak kepalang membuat Ji Bun menjerit sejadi-jadinya, darahnyapun
menyembur dari mulutnya, begitu hawa buyar seketika dia jatuh semaput. Betapapun penasaran dan
kebencian masih mempertahankan daya hidupnya, dia tidak rela mati begini saja, dengan cepat ia sudah
siuman kembali cuma keadaannya lemas lunglai.
Ngo-hong Kaucu terkekeh-kekeh, lalu herkata: "Nak, demi hidupku, maka kau harus mati, ini merupakan
hukum alam yang adil, mungkin takdir memang menghendaki nasibmu sejelek ini."
Ji Bun mencucurkan air mata berdarah. Untunglah pada detik-detik yang gawat ini, beberapa bayangan
orang tiba-tiba muncul bersama, lapat-lapat dia masih mengenali. bayangan yang berlari mendatangi adalah
Wi-to-hwecu Siangkoan Hong, Hun-tiong Siancu dan Thong-sian Hwesio, demikian pula orang dalam tandu
Toh Ji-lan, masih ada pula yang tak dikenalinya lagi dan .... akhirnya dia kehilangan kesadaran.
Entah berapa lama kemudian, pelan-pelan dia siuman kembali, bayangan orang banyak berkelebatan di
depan matanya. Lama sekali pandangannya yang semula remang-remang mulai jernih dan terang, dilihatnya
orang-orang yaag mengelilingi dirinya ternyata adalah rombongan Siangkoan Hong. Jadi dirinya tertolong
oleh musuh? Dengan menggertak gigi ia mendesis dan tanya: "Mana Ngo-hong Kaucu?
"Sayang dia berhasil lolos lagi," ujar Hun-tiong Siancu gegetun.
Ji Bun pejamkan mata memulihkan tenaga dan memusatkan pikiran, dia maklum, kalau dalam tubuhnya
tiada darah Thian-thay-mo-ki, setelah Bing-bun-hiat tertutuk, walau jiwa sendiri rangkap dua belas juga
sudah lama mati. Untunglah rombongan Siangkoan Hong keburu datang, kalau tidak hari ini pasti jiwanya
betul-betul sudah melayang oleh kekejian Ngo-hong Kaucu. Dia coba mengerahkan tenaga dan menyalurkan
hawa murni yang telah buyar, syukurlah Lwekangnya masih ada, cuma teramat lemah. Waktu ia membuka
mata pula, dia berkata dengan tertawa getir: "Kenapa kalian menolong aku?"
Dingin suara Wi-to-hwecu Siangkoan Hong: "Anggaplah kita menghadapi musuh bersama."
Dengan mengertak gigi Ji Bun gunakan kedua tangannya menahan tanah, pelan-pelan dia meronta
bangun.
Setajam pisau pandang kilat Siangkoan Hong menyapu tubuh Ji Bun, katanya: "Ji Bun, aku punya seratus
alasan untuk membunuhmu."
"Lalu kenapa kau tidak turun tangan?" jengek Ji Bun.
"Memalukan jika kubunuh dalam keadaanmu sekarang, kaum persilatan akan mencercah perbuatanku
dan lagi ..... maukah kau bekerja sama dengan kami?"
"Kerja sama apa?"
"Sementara kesampingkan dulu permusuhan pribadi antara kita, marilah kita bersama melenyapkan bisul
dunia persilatan lebih dulu."
"Tidak!"
"Kau tidak mau?"
"Aku akan bertindak sendiri."
Hun-tiong Siancu mendengus, jengeknya: "Ji Bun, mati hidup jiwamu sendiri kau tidak kuasa lagi?"
"Kalau kalian mau turun tangan, aku tidak gentar mati," tantang Ji Bun.
"Ji Bun, angkuh dan sombong tak berguna bagimu."
"Aku tidak pernah pikirkan soal guna atau tidak berguna."
"Kau tahu betapa banyak orang yang ingin mencabut nyawamu?"
"Cayhe maklum, kebaikan kalian hari ini akan selalu terukir dalam benakku."
"Pendek kata saja. Kau mau bekerja sama?"
"Tak mungkin aku mengubah pendirianku."
"Kalau demikian, lekaslah pergi kau, aku tidak ingin membunuhmu sekarang."
"Terima kasih, selamat bertemu!" dengan langkah gontai Ji Bun melangkah ke dalam hutan. Tujuannya
ingin mencari tempat sepi dan tersembunyi untuk berusaha berobat diri. Dalam keadaannya sekarang, kalau
kebentur salah seorang jago Ngo-hong-kau, pasti jiwanya bisa celaka. Tapi baru beberapa langkah, tiba-tiba
terdengar suara Wi-to-hwecu berkata di belakang: "Tunggu sebentar!”
Ji Bun menoleh, tanyanya: "Hwecu menyesal melepas aku pergi? Atau ada petunjuk apalagi?"
"Racun yang kau gunakan, agaknya mirip dan satu sumber dengan Ngo-liong Kaucu?"
Mencelos hati Ji Bun, tidak boleh mengaku, namun juga sulit menyangkal. Sesaat dia melenggong lalu
berkata: "Betapa banyak manusia yang menggunakan racun di dunia ini, satu sama lain memang hampir
mirip."
Wi-to-hwecu manggut-manggut, katanya pula dengan suara berat: "Tentunya kau tidak menyangkal
kalau Ngo-hong Kaucu merupakan bibit bencana bagi kaum persilatan? Oleh karena itu sebagai ketua Wi-tohwe
aku mengajukan permohonan padamu ......”
"Mengajukan permohonan kepada Cayhe?" Ji Bun melengak.
"Ya, kalau Te-gak Suseng hidup demi kesejahteraan umat persilatan umumnya, kuharap kau menerima
permohonanku ini."
"Coba Hwecu katakan?"
"Kuminta kau sudi memberitahu cara untuk mencegah keracunan."
Hal ini amat di luar dugaan, bahwa Wi-to-hwecu mengajukan permohonan kepada dirinya, berdiri di atas
garis persilatan. Demi jiwa beratus insan persilatan yang tidak berdosa, dia harus menerima permintaan ini,
akan tetapi pemohon adalah musuh besarnya.
Berkata Wi-to-Hwecu lebih lanjut: "Permohonanku ini kuajukan demi keadilan dan kebaikan insan
persilatan umumnya, takkan menyangkut kepentingan pribadi."
Ji Bun berpikir, Ngo-hong Kaucu adalah murid murtad seperguruannya, kalau dia menggunakan racun
mencelakai jiwa orang banyak, jelas melanggar aturan dan larangan perguruan. Betapapun dirinya sebagai
pejabat Ciangbun pantang berpeluk tangan, oleh karena itu segera ia mengangguk dan berkeputusan,
katanya: "Boleh!"
"Syukurlah, terlebih dulu kuucapkan banyak terima kasih."
"Tidak perlu. Tapi satu hal harus kutandaskan lebih dulu, pertikalan pribadi antara kita tetap harus
diperhitungkan?"
"Sudah tentu, tadi juga sudah kukatakan, permohonan ini tidak menyangkut kepentingan pribadi."
Ji Bun merogoh obat-obatan pemberian kakek gurunya waktu dia mau turun gunung, ia lemparkan ke
arah Siangkoan Hong, katanya: "Sebutir saja masuk mulut, kasiatnya dapat menawarkan seratus macam
racun.”
Siangkoan Hong menerimanya, katanya: "Kaum persilatan akan berterima kasih akan kesucian hatimu
ini."
Tindakan dan sikap Ji Bun betul-betul membuat semua orang yang hadir ini amat terharu dan berterima
kasih. Sekilas Ji Bun menyapu pandang ke arah mereka baru pelan-pelan putar badan, tak keruan
perasaannya. Dia pernah menolong jiwa Siangkoan Hong dan puterinya, tapi Siangkoan Hong juga pernah
menolong jiwanya. Kelak dalam pertemuan yang akan datang, pihak sana tidak akan memberi keringanan
sedikitpun terhadap ayahnya. Sudah tentu sebagai putera yang harus berbakti terhadap orang tua, dirinya
tidak boleh berpeluk tangan, permusuhan pribadi kaum persilatan memang luar biasa.
Ia dapat menemukan sebuah lubang dahan pohon besar, segera dia menyelinap masuk. Ia mengerahkan
hawa murni dan menjalankan penyembuhan menurut ajaran perguruan. Kalau orang lain setelah Bing-bunhiat
ditutuk tentu sejak lama jiwanya sudah melayang, bahwa Ji Bun mampu bertahan hidup selama ini
adalah karena darah yang mengandung "getah naga batu" yang disalurkan oleh Thian-thay-mo-ki. Esoknya,
pagi-pagi benar Ji Bun berhasil menyembuhkan diri.
Keluar dari lubang pohon dia menggeliat badan lalu menyapu pandang ke sekelilingnya, tiba-tiba dia
menjerit kaget. Tampak lima sosok mayat bergelimpangan tak jauh dari lubang pohon di mana semalam ia
bersemadi. Kelima mayat itu berpakaian sutera, dari seragam ini jelas bahwa mereka adalah anggota Ngohong-
kau setingkat dengan Duta. Bagaimana kelima orang ini bisa mati di sini? Semalam suntuk dirinya
sibuk bersemadi menyembuhkan luka-luka dalam sendiri, sedikitpun tidak merasakan adanya kegaduhan di
luar. Kalau kelima orang ini mencari jejaknya, itu berarti jiwanya telah lolos dari lubang jarum pula. Lalu
siapakah orang yang membantu secara diam-diam?
Kepandajan jago seragam sutera ini termasuk kelas wahid dalam kalangan persilatan, tak mungkin
dibunuh oleh sembarangan orang, apalagi mereka berlima. Lalu siapakah orang yang telah membunuh
mereka? Rombongan Siangkoan Hong?
Mendadak satu di antara kelima mayat tampak bergerak. Agaknya jiwanya belum melayang. Sekilas Ji
Bun terbeliak, cepat dia menubruk maju, begitu jongkok segera ia memeriksa, pemuda yang belum putus
napasnya ini. Ternyata keadaannya jauh lebih parah dan mengerikan daripada keempat mayat yang lain.
Sebatang pedang menembus punggung ke depan dadanya, tubuhnya penuh luka-luka, sebaliknya empat
mayat yang lain utuh tidak sesuatu luka apapun.
Dengan seksama dia memeriksa, kembali ia meloncat kaget, ternyata keempat mayat yang lain ini mati
karena keracunan. Sungguh luar biasa, mungkinkah yang menolong dirinya ahli racun? Terbukti bahwa
dugaanya semula meleset, karena Siangkoan Hong dan lain-lain tiada yang pandai menggunakan racun.
Walau Cui Bu-tok seorang ahli dalam bidang ini, tapi jago racun ini tiada dalam rombongan Siangkoan Hong,
dan lagi dia hanya menyembuhkan orang-orang yang keracunan, tak pernah menggunakan racun untuk
mencelakai jiwa orang. Lalu siapakah yang melakukan ini? Segera dia memeriksa lagi pemuda yang
badannya tertembus pedang serta membalik tubuhnya.
"Haah!" tiba-tiba Ji Bun berteriak kaget, bulu romanya berdiri, napaspun terasa berhenti seketika. Oh
Thian, pemuda baju sutera yang tertusuk pedang dadanya ternyata adalah kakak angkatnya, Sian-tian-khek
Ui Bing yang ditugaskan oleh gurunya menyelundup ke dalam Ngo-hong-kau itu, luka pedang yang begini
parah, jelas jiwanya tak tertolong lagi. Tubuh Ji Bun sampai limbung saking terpukul hatinya, sekian
lamanya dia berdiri mematung.
Kaki tangan Ui Bing tampak bergerak-gerak, "Toako, toako," Ji Bun berteriak-teriak dengan pilu. Lekas
dia tutuk beberapa Hiat-to ditubuh Ui Bing, lalu dia tekan urat nadinya dan salurkan tenaga ke tubuh orang.
Lambat laun wajah Ui Bing yang pucat bersemu merah, napaspun bertambah keras dan mulai teratur. Kalau
Ji Bun sedikit lena dan kurang berhati-hati jiwa Ui Bing pasti akan melayang seketika. Dengan bercucuran air
mata, dengan sabar dan tekun Ji Bun terus salurkan tenaga murninya. Kira-kira setengah jam kemudian,
pelan-pelan Ui Bing membuka mata, sorot matanya kuyu dan redup.
"Toako, Toako, aku Ji Bun, keraskan hatimu!" teriaknya sambil menggoyang pundak orang. Pandangan
Ui Bing yang redup akhirnya berhenti di wajah Ji Bun. Lama sekali seolah-olah dia tak mengenali orang di
depannya. Kulit mukanya tampak bergerak, sekuatnya dia menggerakkan bibir, mungkin ingin bicara, namun
suaranya tidak keluar, sorot matanya menampilkan penderitaan yang luar biasa.
Ji Bun terus salurkan tenaga murninya, dia berharap sedikitnya Ui Bing meninggalkan sesuatu pesan
sebelum ajal. Tak lama kemudian, tenggorokan Ui Bing mulai bersuara, namun kata-katanya lemah dan lirih
seperti bunyi nyamuk, hampir tidak terdengar apa yang dikatakan. Ibumu .... ibumu ....."
Mendengar ibunya disinggung, mengencang jantung Ji Bun, napaspun menjadi sesak, katanya dengan
cemas, "Toako, bagaimana ibuku? Kenapa ibuku?"
Ui Bing tampak meronta, dia sedang berusaha sekuat tenaga, akhirnya beberapa patah kata tercetus
pula dari mulutnya: "Tok-keng ....... paderi Siau-lim ......”
Hampir melonjak keluar jantung Ji Bun, Tok-keng adalah kitab pusaka perguruannya, kini dirinya
mengemban tugas perguruan untuk mencari pusaka ini, maka cepat dia mendesak: "Tok-keng kenapa?
Apakah terjatuh ke tangan paderi Siau-lim ......”
Tak terduga tiba-tiba kepala Ui Bing lantas doyong ke samping, jiwapun melayang.
Bagai terpeleset dan kejeblos ke jurang es yang dingin, sekujur badan Ji Bun seketika menggigil. Ui Bing
telah mangkat, namun meninggalkan teka-teki yang tak terpecahkan.
Dua murid Biau-jiu Siansing Ciang Wi-bin secara beruntun gugur dalam menunaikan tugas, mereka mati
demi keselamatan kaum persilatan yang lain.
Entah berselang berapa lamanya barulah Ji Bun menangis gerung-gerung, untuk pertama kali sejak
berkelana di dunia persilatan. Dia menangis dengan pilu, sekaligus melampiaskan duka hatinya selama ini,
namun tangis ini tidak bisa sekaligus melenyapkan penderitaan batinnya.
Belum genap setahun berkenalan dan angkat saudara dengan Ui Bing, namun Ui Bing tak ubahnya
seperti saudara sekandung sendiri bagi Ji Bun.
Siapakah pembunuhnya? Kalau pembunuh bertujuan menolong dirinya dan tidak mengetahui asal-usul Ui
Bing, maka kematiannya sungguh terlalu penasaran. Itu berarti kematian Ui Bing secara tidak langsung
disebabkan dirinya pula. Sudah tentu di samping sedih hatinyapun menyesal pula, derita hatinya bertambah
getir.
Apapun yang terjadi, sebab dari semua peristiwa ini adalah akibat kejahatan yang dilakukan Ngo-hong
Kaucu. Satu jam Ji Bun berdiri terlongong baru dia menyeka air mata. Di tempat itu juga dia menggali liang
lahat mengebumikan jasad Ui Bing dengan jari tangan dia mengukir batu sebagai nisan.
Kuatir jenazah Ui Bing mengalami kerusakan karena diganggu orang, maka Ji Bun juga mengubur
keempat mayat yang lain di tempat itu, tapi tidak membuat batu nisan, cukup ditutupi dengan dedaunan
serta gundukan tanah tinggi saja. Selesai bekerja dia berlutut dan memberi penghormatan terakhir di depan
pusara Ui Bing, lalu dia duduk tenggelam dalam renungan yang mendalam.
"Ibumu ...... Tok-keng .... paderi Siau-lim ....." Apa maksudnya? Mungkinkah ibunya telah lolos dari
cengkeraman jari-jari iblis serta membawa lari Tok-keng? Lalu apa pula maksudnya "paderi Siau-lim"?
Tempat ini jauh dari Siong-san, bukan lingkungan yang dikuasai oleh orang-orang Siau-lim pula, apalagi
pihak Siau-lim-pay selamanya tak pernah ikut berkecimpung dalam pertikaian orang-orang persilatan, muridmuridnya
amat patuh pada peraturan agama.
Begitulah pikirannya hanya berputar dalam lingkaran ketiga persoalan ini. Paderi Siau-lim? Tok-keng? Ya,
maksudnya tentu Tok-keng terjatuh ke tangan paderi Siau-lim. Sebagai murid tertua Biau-jiu Siansing,
sudah tentu kepandaiannya dibidang teramat tinggi, umpama dia berhasil mencuri Tok-keng. Kemudian Tokkeng
itu terjatuh pula ke tangan paderi Siau-lim, ini mungkin sekali, mereka berlima mengalami bencana
sehingga jiwa melayang, kebetulan paderi lewat, begitu melihat Tok keng, tentu saja mereka lantas
mengambilnya.
Kemungkinan pula paderi itu adalah pembunuh kelima orang tujuannya merebut Tok-keng. Beruntung
dirinya sembunyi di dalam lubang pohon, malam gelap lagi sehingga jejaknya tidak diketahui orang.
Betapapun untuk membongkar rahasia ini harus mulai dari paderi-paderi Siau-lim, betapapun juga Tok-keng
pantang jatuh ke tangan orang lain.
Tentang, ibunya yang disinggung Ui Bing, sejauh ini Ji Bun masih belum mampu memecahkan soalnya.
Biarlah hal ini ditunda setelah rahasia tentang Tok-keng dibongkar dari mulut paderi Siau-lim, bukan
mustahil kunci dari semua perisiwa ini terletak di tangan paderi Siau-lim itu. Namun paderi Siau-lim yang
dimaksud hanya seorang atau ada beberapa orang, hal ini sukar diraba.
Menuju ke Siau-lim-si. Dalam hati Ji Bun sudah berkuputusan. Tujuan perjalanan kali ini sebetulnya
menagih utang darah terhadap Ngo-hong-kau, markas Ngo-hong-kau ada di belakang puncak Siong-san,
sedang Siau-lim-si berada di depan. Jadi seperjalanan, sekaligus dia bisa menyelesaikan kedua persoalan ini.
Bergegas dia berdiri, di depan pusara Ui Bing ia menggumam: "Toako, tenanglah istirahat aku akan
pergi, persoalan akan kuselidiki supaya kau mati dengan tenteram ......" Tak kuasa Ji Bun melanjutkan katakatanya,
air mata membuat pandangannya burem, duka cita membuat tenggorokannya tersumbat.
Tak lama kemudian Ji Bun sudah keluar dari hutan dan menempuh perjalanan ke arah timur. Karena
kepedihan yang luar biasa dan terangsang oleh pukulan lahir batin ini, Ji Bun sampai lupa tidak merasakan
lapar dan dahaga. Sehari semalam dia menempuh perjalanan tanpa istirahat, tidak berani berhenti, dia
kuatir dirinya bisa gila dibuatnya.
Hari itu, menjelang magrib, Ji Bun tiba di depan gunung di mana Siau-lim-si berada. Dua paderi setengah
baya segera muncul menghadang, seorang merangkap tangan menyapa: "Entah ada keperluan apa Sicu
berkunjung ke biara kami?"
"Cayhe minta bertemu dengan Ciangbunjin kalian," jawab Ji Bun dingin.
"Menemui Ciangbunjin? Tolong tanya ada keperluan apa?"
"Soal itu kau tidak perlu tahu."
Terunjuk rasa kuatir pada roman kedua paderi itu, salah satu paderi itu buka suara pula: “Lalu
bagaimana Siauceng harus memberi lapor?"
"Katakan saja, aku Te-gak Suseng mohon bertemu."
21.63. Pertanggungan Jawab Paderi Siau-lim-si
Berubah hebat air muka kedua paderi itu, tanpa berjanji mereka menyurut mundur berbareng sikapnya
kelihatan kaget dan jeri.
Duka dan kebencian telah terlebur dalam benak Ji Bun, tapi dia masih ingat dirinya sebagai pejabat
Ciangbunjin dari suatu aliran, maka dia perlu menggunakan tata krama, mohon bertemu dengan cara
umum, walaupun dalam hati dia tidak sabar lagi. Maka segera dia menambahkan: "Cayhe tidak sabar
menunggu terlalu lama."
Kedua paderi tak berani banyak bicara lagi, keduanya putar badan terus berlari ke atas gunung dengan
cepat bagai terbang. Ji bun melangkah pelan-pelan menaiki undakan batu yang memanjang ke arah pintu
biara besar. Tepat pada saat dia tiba di depan pintu biara, seorang paderi tua kebetulan menyongsong
keluar. Melihat paderi tua ini, Ji Bun lantas mengenalnya, yaitu It-sim Taysu ketua Lo-han-tong, waktu Wito-
hwe berdiri dahulu mereka pernah bertemu sekali. Cepat ia merangkap tangan memberi hormat:
"Selamat bertemu Taysu!"
Dengan kaget dan sangsi It-sim pandang Ji Bun sebentar, lalu iapun merangkap kedua telapak tangan di
depan dada, suaranya berat: "Sicu berkunjung, entah ada petunjuk apa?"
"Untuk memecahkan sebuah persoalan umum, terpaksa mohon bertemu dengan Ciangbun kalian.”
"Persoalan umum? Mari silakan duduk di dalam sambil menikmati secawan air teh," lalu ia menggeser ke
samping memberi jalan.
Kembali Ji Bun bersoja, katanya: "Taysu silakan tunjukkan jalan." Lalu dengan langkah tegap sambil
menegakkan kepala Ji Bun melangkah ke dalam biara. Mereka langsung menyusuri pendopo Wi-tho-tian,
paderi penyambut tamu segera menyambut. Sekilas dia memandang It-sim Taysu, lalu menuding ke kamar
kiri sana, katanya: "Silakan Sicu menunggu di kamar tamu."
Otak Ji Bun bekerja, kadatangannya bukan bertamu, maka dengan dingin dia berkata: "Tidak usah,
urusan ini amat penting, tak bisa aku tinggal terlalu lama di sini."
It-sim Taysu melangkah setindak, katanya: "Maksud Sicu ...."
"Sekarang juga Cayhe mohon bertemu dengan Ciangbunjin."
"Bolehkah Sicu beritahu dulu persoalannya, kalau dapat kupertanggung jawabkan, kukira tidak perlu
mengganggu ketenangan Ciangbunjin lagi?"
"Aku yakin Taysu takkan berani bertanggung jawab dan ambil keputusan."
Berubah rona muka It-sim Taysu, katanya mendesak: "Coba Sicu katakan saja."
"Ada orang pihak kalian telah membunuh serta mencuri pusaka kami."
It-sim Taysu kaget sekali, tanpa terasa dia menyurut dua langkah, serunya gemetar. "Membunuh dan
mencuri? Barang apa yang dicuri? Siapa pula yang dibunuh?"
"Yang dicuri adalah Tok-keng jilid pertama, yang dibunuh adalah lima duta Ngo-hong-kau."
"Hah, adakah kejadian ini ...... sicu saksikan sendiri?"
"Boleh dikata demikian, salah seorang korban membeber peristiwa ini sebelum ajal."
"Kenapa sedikitpun aku tidak tahu akan kejadian ini?"
"Maka itulah aku ingin bertemu dengan Ciangbunjin."
Sejenak It-sim Taysu menepekur akhirnya dia mengulap tangan kepada paderi penyambut tamu,
katanya: "Laporkan kepada Ciangbunjin." Setelah paderi penyambut tamu berlalu, It-sim berkata pula
kepada Ji Bun: "Harap tunggu sebentar!"
Lekas sekali paderi penyambut tamu sudah berlari keluar pula, serunya: "Lapor susiok, Ciangbunjin
sedang menunggu akan kedatangan tamu."
It-sim berdehem sekali lalu berkata: "Silakan Sicu."
Setiba di Tay-hiong-po-tiam (pendopo agung) tampak suasana di sini amat khidmat. Seorang paderi tua
yang mengenakan kasa kuning emas tampak duduk dengan angkernya. Di belakangnya berdiri berjajar 12
paderi bertubuh tegap kereng, agaknya para pelindung pribadi Siau-lim Ciangbun.
It-sim memburu maju serta menjura sekali terus mundur ke samping. Ji Bun mendekat serta memberi
hormat, serunya: "Ji Bun angkatan muda dari Bu-lim, menyampaikan salam hormat pada Ciangbunjin yang
mulia."
Suara Siau-lim Ciangbun nyaring seperti genta bertalu, katanya: "Sicu tak usah banyak adat, silakan
terangkan maksud kedatanganmu.”
"Beberapa hari yang lalu, di jalan raya Cu-ping, terjadi perampokan dan pembunuhan. Salah seorang
korban yang belum mati menerangkan, bahwa yang melakukan kejahatan adalah murid perguruan kalian,
maka sengaja aku kemari mohon penjelasan, harap Ciang-bunjin mengadakan penyelidikan tentang kejadian
ini."
Berkerut alis ketua Siau-lim-si itu katanya: "Apakah Sicu itu tidak salah dengar obrolan orang ......”
"Pasti tidak, "jawab Ji Bun dingin, "Cayhe yakin apa yang dikatakan sang korban seratus persen dapat
dipercaya."
"Sebagai Ciangbunjin aku berani mengatakan dengan tegas bahwa murid perguruan kami takkan berani
melakukan kejahatan seperti itu."
"Ciangbunjin tidak terlalu yakin terhadap diri sendiri?"
"Beberapa hari belakangan ini, tiada murid kami yang keluar pintu ........"
"Mungkinkah tiada yang di luar?"
"Sudah tentu ada, yaitu Go-goan Taysu, tertua dari Houhoat Tianglo, mungkinkah dia melakukan
kejahatan ini?"
"Sulit dikatakan."
Berubah rona muka Siau-lim Ciangbun, bentaknya keras: "Sicu tidak percaya?"
"Apakah Go-goan Taysu sudah pulang?" tanya Ji Bun.
"Baru tadi dia pulang."
"Bolehkah mengundangnya keluar untuk bicara?"
Sedikit angkat sebelah tangan, salah seorang paderi dibelakang Ciangbunjin segera membungkuk badan
terus mengundurkan diri. Tak lama kemudian dia kembali bersama seorang paderi tua beralis putih,
bertubuh tinggi dan berpundak lebar. Dari kejauhan dia mengawasi Ji Bun, lalu memberi hormat kepada
Ciangbunjin, katanya: "Entah ada keperluan apa Ciangbunjin mengundangku kemari?”
Siau-lim Ciangbun mengulangi tuduhan Ji Bun, tampak Go-goan Taysu menyebut Buddha, katanya:
"Tecu tidak tahu menahu tentang kejadian ini."
Amarah membakar dada Ji Bun. Omongan Ui Bing tidak akan salah, pula Go-goan Taysu kebetulan baru
tadi kembali ke biara. Waktunya tepat satu sama lain, namun mereka mungkir secara tegas. Maka dengan
dingin dia berkata: "Lalu bagaimana keputusan Ciangbunjin terhadap peristiwa ini?"
Siau-lim Ciangbun tampak kurang senang oleh pertanyaan ini, katanya: "Lalu bagaimana aku harus
bertindak menurut pendapat Sicu?"
"Serahkan dulu Tok-keng."
"Tok-keng? Darimana aku harus menyerahkan?"
"Tanyakan kepada Ciangbunjin sendiri."
Betapapun sabar hati Siau-lim Ciangbun akhirnya naik pitam juga, bentaknya kereng: "Agaknya Sicu
kemari sengaja hendak mencari gara-gara?"
Dengan garang Ji Bun balas melotot, jengeknya: "Memangnya kenapa kalau cari gara-gara."
It-sim Taysu, ketua Lo-han-tong berwatak keras, segera ia membentak gusar: "Apa tujuan Sicu harap
terangkan secara blak-blakan saja, jangan menggunakan alasan kosong ......”
"Taysu berkata begitu, kau kira aku sengaja cari perkara tanpa sebab?"
"Sicu sendiri yang mengerti."
"Mungkinkah seorang yang sudah dekat ajalnya sengaja memfitnah kalian?”
"Tadi Sicu bilang yang jadi korban adalah jago-jago dari tingkat Duta Ngo-hong-kau."
Beringas muka Ji Bun, katanya: "Taysu tentu dapat membayangkan akibatnya."
Siau-lim Ciangbun mencegah It-sim bergerak, lalu berkata dengan suara kereng penuh wibawa: "Biarlah
akan kupanggil semua murid kami untuk berkumpul, akan kuselidiki secara seksama, bagaimana kalau
besok kuberikan jawaban?"
"Kalau tiada murid kalian yang pernah keluar, untuk menyelidikinya sekarang juga bisa segera dilakukan,
kenapa harus menunggu sampai besok?”
Yang kumaksud adalah murid-murid tingkatan tinggi dan lulus ujian, bagi tingkatan yang masih rendah,
sudah tentu takkan pernah keluar."
Ji Bun ragu-ragu, tak tahu apa yang harus dia lakukan. Ucapan orang memang beralasan, tapi bukan
mustahil dalam waktu sehari semalam ini akan terjadi sesuatu di luar dugaan, betapapun Tok-keng pantang
terjatuh ke tangan orang lain, lebih penting lagi menurut pesan Ui Bing, hal ini secara langsung juga
menyangkut ibunya.
Pada saat itulah, paderi penyambut tamu tampak berlari datang dengan langkah gopoh. Setelah memberi
hormat terus memberi lapor kepada Ciangbunjin: "Ada seorang Sicu yang bergelar Thian-gan-sin-jiu mohon
bertemu."
Kaget Ji Bun, bagaimana mungkin Ciang Wi-bin juga meluruk ke Siau-lim-si?
Sejenak Siau-lim Ciangbun ragu-ragu, lalu katanya: "Dia bilang hendak menemui aku? Sudah kau tanya
apa keperluannya?"
"Katanya ada urusan penting hendak disampaikan."
"Baik sebentar hendak kutemui dia."
Segera Ji Bun bersuara: ''Thian-gan-sin-jiu ini kukenal dengan baik mungkin dia kemari karena persoalan
ini pula ......”
Dengan nanar Siau-lim Ciangbun pandang Ji Bun sekejap, katanya: "Silakan dia masuk!"
Paderi penyambut tamu mengiakan, terus mengundurkan diri, tak lama kemudian dia sudah masuk pula
membawa seorang tabib kelilingan, tangan memegang kelincingan, kotak obat dipanggul dipunggungnya,
tapi di ketiak kiri mengempit sebuah buntalan panjang besar, dengan langkah bergontai berjalan masuk.
Sekali pandang Ji Bun mengenalinya, memang Thian-gan-sin-jiu salah satu penyamaran Biau-jiu Siansing
Ciang Wi-bin. Begitu melihat Ji Bun disitu, Ciang Wi-bin juga bersuara heran tertahan, tanyanya bingung;
"Kenapa kaupun disini?"
Sudah tentu Ji Bun tidak suka membongkar samaran orang, dia merangkap tangan memberi hormat,
katanya tawar: "Ada keperluan penting disini, selamat bertemu!"
Ciang Wi-bin tidak banyak bicara lagi, dia meletakkan buntalan besar itu lalu memberi hormat kepada
Ciangbun: "Yang rendah Thian-gan-sin-jiu, memberi hormat kepada Ciangbunjin."
"Sicu tak usah banyak adat, entah ada petunjuk apa?" tanya ketua Siau-lim-si.
"Ada suatu hal amat penting dan besar pengaruhnya, mohon Ciangbunjin suka memberi penjelasan."
"Silakan Sicu katakan."
"Harap Ciangbunjin lihat ini dulu,” lalu dia buka buntalan besar itu.
"Hah!" semua paderi Siau-lim yang hadir sama menjerit kaget. Ternyata dalam buntalan adalah jenazah
seorang Hwesio. Berubah hebat wajah Siau-lim Ciangbun, katanya dengan suara haru tertekan: "Sicu, apa
maksudnya ini?"
Dingin suara Ciang Wi-bin: "Silakan Ciangbunjin memeriksanya, apakah dia murid kalian?”
Kepala Houhoat Go-goan Taysu segera tampil ke depan, dia memeriksa dengan seksama, lalu katanya
dengan suara gemetar: "Lapor Ciangbun, inilah Liau-khong, murid angkatan ketiga-belas."
Siau-lim Ciangbun menyebut nama buddha, sorot matanya berkilat menatap Ciang Wi-bin, katanya
kemudian: "Harap Sicu sudi menerangkan."
Sebagai ahli racun sekilas pandang Ji Bun lantas berteriak kaget: "Mati keracunan!"
Semua orang terbeliak kaget. Ciang Wi-bin melirik ke arah Ji Bun, katanya: "Betul, dia mati keracunan.”
Semua paderi Siau-lim yang hadir sama melotot kepada Ciang Wi-bin. Dengan dingin Ciang Wi-bin balas
menyapu pandang mereka, lalu berkata kepada Ciangbunjin dengan nada berat: "Kebetulan semalam aku
menginap di Ciang-ling-si di luar kota Hong-seng. Murid kalian ini juga menginap di kuil itu. Tengah malam
secara diam-diam dia mencuri lihat sebuah sampul surat rahasia, ini ......”
"Sicu boleh teruskan saja."
"Untuk ini kumohon keterangan lebih dulu dari Ciangbunjin, apakah Clangbunjin menugaskan si korban
untuk menyampaikan surat rahasia itu?"
Sepucuk surat ..... coba panggil Kam-si (pengawas biara) kemari," seru ketua Siau-lim-si.
Seorang Hwesio muda mengiakan terus mengundurkan diri. Suasana menjadi hening dan tegang. Tak
lama kemudian seorang Hwesio bermuka kereng bundar seperti muka harimau datang dengan langkah
cepat. "Go-tin, pejabat Kam-si, menghadap Ciangbunjin yang mulia.”
"Ya, apakah kau menugaskan Liau-khong keluar? Coba lihat itu!"
Go-tin berputar dan memandang mayat yang menggeletak di lantai, tak tertahan dia menjerit kaget:
"Liau-khong, dia ........”
Ciangbunjin menarik muka, katanya kereng: "Go-tin, kau belum memberi penjelasan."
Go-tin putar tubuh seraya meluruskan kedua tangan, katanya: "Dua bulan yang lalu, Tecu memang
mengutus Liau-khong pergi ke biara cabang Poh-tian di Hok-kian ........”
"Apa betul dua bulan yang lalu?"
Go-tin mengiakan.
“Tapi Thian-gan-sin-jiu ini bilang semalam Liau-khong mencuri baca surat rahasia di kuil Ceng-ling-si .....”
"Lapor Ciangbunjin, kalau dihitung waktunya, memang tepat pulangnya dia menunaikan tugas."
"Tapi surat rahasia bukan berisi surat agama," jengek Ciang Wi-bin.
"Lalu apa isinya?" tanya Siau-lim Ciangbun melengak.
"Sejilid kitab pusaka yang dilumuri racun jahat, justeru dia mati karena mencuri baca kitab pusaka itu."
Cemberut wajah Ciangbun, paderi yang lain sama bersuara kaget. Biji mata Ji Bun juga mendelik
menahan perasaan.
Berkata Ciang Wi-bin lebih lanjut: "Oleh karena itu aku yang rendah memberanikan diri datang kemari,
harap Ciangbunjin menerangkan asal usul kitah pusaka beracun itu."
Dengan pandangan heran dan curiga Ciangbunjin melirik Go-tin, lalu berkata dengan sungguh-sungguh:
“Pit-kip (kitab pusaka) yang berlumur racun? Apa nama Pit-kip itu?"
Dari kotak obatnya Ciang Wi-bin mengeluarkan sebuah bungkusan kulit kambing yang tebal, katanya
sambil mengangkatnya tinggi di atas kepala: "Tok-keng!"
"Tok-keng?" semua hadirin serempak berpadu suara dengan kaget.
Bergetar badan Ji Bun, tanpa sadar dia berteriak penuh emosi: "Paman, serahkan kitab itu kepadaku."
Ciang Wi-bin menoleh dan menatap Ji Bun penuh keheranan. Sejenak barulah dia lemparkan buntalan
kulit kambing itu ke arah Ji Bun. Begitu menangkapnya Ji Bun lantas membuka buntalan itu dengan tangan
gemetar. Buntalan itu berisi sejilid buku tipis yang sudah kuno, di atas sampulnya bertuliskan huruf kuno
pula yang berbunyi "TOK-KENG" dan di bagian bawahnya dengan huruf lebih kecil tertulis "Jilid ke-1."
Selamanya belum pernah dia melihat buku pusaka peninggalan cikal-bakal perguruannya ini. Namun dari
bentuk dan kertasnya yang sudah menguning jelas buku ini memang milik perguruannya. Setelah membalik
beberapa halaman dan membaca isinya, dia tambah yakin lagi. Cepat dia masukkan kitab itu ke dalam
kantong baju.
"Paman," kata Ji Bun kepada Ciang Wi-bin yang tengah mengawasinya dengan melongo, “Karena Tokkeng
inilah Siautit meluruk ke Siau-lim-si ini."
"Karena Tok-keng itu? Jadi kau sudah tahu kajadian ini?"
"Bukan, tapi ......” Tapi apa dia tak kuasa melanjutkan, kerongkongannya seperti disumbat, tak tertahan
air mata bercucuran.
"Apakah sebetulnya yang terjadi?" tanya Ciang Wi-bin.
Sambil menahan tangis dan menekan perasaan duka Ji Bun berkata: "Ui Bing Toako, dia ..... sudah
meninggal."
Seperti digodam Ciang Wi-bin tergentak mundur beberapa tindak, matanya mendelik, teriaknya beringas:
"Ui Bing sudah mati?"
"Sudah mati dengan mengenaskan sekali .... dia tewas dengan dada ditembus pedang."
"Di ....... mana?"
"Di jalan raya Cu-ping ..... Siautit yang menguburnya."
Ciang Wi-bin terguguk-guguk, badannya gemetar saking sedih, tak tertahan air mata berlinang
membasahi pipi.
Semua paderi Siau-lim sama berdiri menjublek mengawasi kedua orang yang bertangisan ini, tiada
satupun yang buka suara.
"Bagaimana kejadiannya?" tanya Ciang Wi-bin menyeka air mata.
Ji Bun lantas menuturkan kejadiannya. Terpencar sinar buas dan dendam dari mata Ciang Wi-bin, jarang
terlihat sikapnya sedemikian garang dan beringas selama Ji Bun kenal calon mertuanya ini. Sebagai seorang
maling sakti, biasanya ia bertingkah jenaka dan supel, banyak akal lagi.
Ji Bun menghadapi Siau-lim Ciangbun, katanya: "Sekarang Ciangbunjin bisa memberi penjelasan bukan?"
Siau-lim Ciangbun tersentak, katanya: "Apa yang harus kujelaskan?"
"Dari mana Liau Khong bisa membawa Tok-keng ini?"
"Dia sudah mati karenanya, akan kusuruh menyelidiki hal ini."
"Menyelidiki apalagi? Bukti sudah jelas, keempat Sucia dari Ngo-hong-kau mati karena keracunan, dan
seorang lagi adalah saudara angkatku, dia terbunuh dengan badan ditembus pedang. Sebelum ajal dia
menerangkan bahwa yang melakukan adalah murid Siau-lim. Liau-khong ini juga mati keracunan, jelas dia
tidak mampu melakukan pembunuhan dan merebut Tok-keng itu. Dalam kejadian ini pasti ada latar
belakang yang rumit dan semua lika-liku ini, harap Ciangbunjin suka memberi penjelasan." Habis bicara
serta merta matanya melirik ke arah tertua Houhoat, Go-goan Hwesio.
Baru pagi ini Go-tin kembali ke biara, kebetulan waktunya tepat dengan kejadian, dinilai tingkat
kepandaiannya, dia cukup mampu membunuh Ui Bing.
"Clangbunjin," kata Ciang Wi-bin mengancam, "Ui Bing adalah muridku, dia kuutus menyelundup ke
dalam Ngo-hong-kau. Sekarang dia terbunuh dengan penasaran sebelum menunaikan tugasnya. Ini terang
merupakan pembunuhan yang direncanakan."
"Pembunuhan yang direncanakan?"
"Memangnya bukan?”
Go-tin segera mendamprat: "Sicu jangan kurang ajar."
Saking dukanya, Ciang Wi-bin yang biasanya supel dan penuh akal telah terangsang oleh emosi,
cemoohnya dengan gusar: "Kurangajar? Kalau hari ini urusan tidak dibereskar, tempat suci ini akan banjir
darah!"
Kata-katanya merubah air muka semua paderi yang hadir, semua melotot gusar, namun karena patuh
aturan dan disiplin, tiada yang buka suara atau bertindak.
"Ciangbunjin," Ji Bun menambahkan, "lekaslah kau berkeputusan?”
"Sicu jangan bertingkah, kau kira kami ini kaum kroco?"
"Tidak berani, Cayhe hanya menagih jiwa terhadap orang yang melakukannya."
"Mayat murid kami sudah menggeletak di depan kalian memangnya jiwanya harus melayang percuma?'`
"Cayhe tidak wajib menjawah soal ini."
"Bagaimana Sicu hendak menyelesaikan soai ini?"
"Lebih dulu berikan pertanggungan jawab atas perampokan dan pembunuhan ini."
"Sebelum duduk persoalannya jelas, bagaimana aku harus memberi pertanggungan jawab."
"Kalau begitu jangan menyesal kalau Te-gak Suseng bertindak kejam ........"
"Kau berani bertindak apa?” Houhoat tertua Gi-goan mengejek.
"Kubunuh kalian," desis Ji Bun dengan geram.
Semua paderi Siau-lim sama menggerung bersama. Siau-lim Ciangbun menyebut Buddha, katanya:
"Sang Buddha bijaksana, sejak biara ini didirikan, belum pernah darah mengalir dalam biara ini.”
"Tapi hari ini akan terjadi banjir darah disini," seram kedengaran ancaman Ji Bun.
It-sim Taysu, ketua Lo-han-tong segera merangkap tangan, katanya: "Harap Ciangbun ambil keputusan."
Tanpa ada angin jubah kuning Siau-lim Ciangbun bergoyang melembung, jelas iapun amat marah. Lohan-
tong wajib melindungi dan menjaga keselamatan seluruh warga biara. Kini ketuanya mohon putusan,
itu berarti minta izin untuk tampil ke medan pertempuran, dan akibat dari semua ini tentu mengerikan.
Sejak lama Siau-lim-si menutup diri dari percaturan Bu-lim. Namun apapun yang terjadi dan berlangsung di
dunia Kang-ouw dapat mereka ketahui dengan baik. Belakangan ini nama Te-gak Suseng sudah
menggetarkan Bu-lim, hal inipun mereka ketahui, terutama tangannya yang beracun amat ditakuti. Lalu
siapa di antara tokoh-tokoh Siau-lim yang mampu menghadapinya?
Bertaut alis Ciangbunjin, kulit mukanya yang sudah keriput bergetar. Bagaimana dia harus menghadapi
situasi yang gawat ini? Suasana tegang diliputi hawa angkara murka.
Ciang Wi-bin terloroh-loroh, serunya: "Hari ini aku tak kuasa membalas sakit hati muridku, kubersumpah
takkan turun dari Siau-sit-san ini.” Tiba-tiba dia melompat maju ketengah pelataran.
Semua murid Siau-lim bersiaga, terutama It-sim, Go-goan dan Go-tin, tiga tokoh yang paling tinggi
kedudukannya serempak menghadang di depan Ciangbun mereka.
Lekas Ji Bun melompat maju mengadang di depan Ciang Wi-bin, katanya: "Paman, serahkan kepada
Siautit untuk membereskannya." Dengan pandangan berkilat dia pandang Siau-lim-sam-ceng, lalu katanya:
"Kalau Cayhe turun tangan, pasti ada yang terluka atau mampus, kalian bertiga maju bersama atau siapa
maju lebih dulu?"
Tantangan yang takabur ini sungguh menggetar nyali siapapun yang mendengarnya. Memang semua
hadirin maklum tiada yang kuat melawan tangan beracun Ji Bun, karena racun tak mungkin dilawan dengan
Lwekang sembarangan. Tapi ketua Lo-han-tong melangkah maju setapak, kata-katanya tegas: "Akulah yang
akan hadapi tantangan demi kebesaran dan kemurnian Siau-lim-si.”
"Silakan mulai!"
"Kami tuan rumah, Sicu silakan mulai dulu."
“Baik sambut seranganku," kontan Ji Bun menyerang dengan jurus Tok-jiu-it-sek sepenuh kekuatannya.
Taysu mengebas lengan baju, seperti menutup laksana membendung, dia melakukan pertahanan yang
kokoh kuat, namun serangan balasannyapun tidak kalah dahsyatnya. Dinilai dari gerakan tipu serangan,
permainan kedua pihak sama-sama lihay dan menakjubkan.
"Plok," Tok-jiu-it-sek ternyata berhasil dipunahkan. Dalam menggunakan racun Ji Bun sudah dapat
menguasai sesuka hati, jurus pertama ini dia tidak mengerahkan racunnya, seluruhnya menggunakan
kekuatan murni yang ampuh. Kalau tidak, begitu tangan bersentuh tangan, jiwa lt-sim Taysu pasti melayang
seketika.
Berhasil menahan serangan lawan, maka berkobarlah semangat dan keyakinan It-sim Taysu akan diri
sendiri. Dia kira kepandaian Te-gak Suseng juga cuma demikian saja. Sembari membentak segera dia
lancarkan salah satu ilmu ampuh dari 72 jenis ilmu silat Siau-lim yang hebat, yaitu Cui-pi-ciang (pukulan
penghancur pilar). Pukulan ini mengutamakan kekuatan besar yang luar biasa, siapapun akan melelet lidah
melihat dahsyatnya.
Namun dia berhadapan dengan Ji Bun, pemuda yang berwatak keras, angkuh dan tinggi hati, kedua
tangan bergerak terus menyongsong ke depan. Kali ini dia tetap tidak mengerahkan kekuatan racun, ingin
dia mengukur betapa tinggi kepandaian silat ketua Lo-han-tong yang paling diagulkan mempunyai kekuatan
luar biasa ini dengan tenaga murni sendiri.
"Duum!" benturan dahsyat menggetar hingga genteng terasa holeng, debu berhamburan, tiga tombak
sekitar gelanggang terjangkit angin keras mem¬bumbung ke angkasa. Orang-orang yang berdiri di pinggir
gelanggang sama terdorong mundur semua.
Di tengah suara erangan tertahan tampak It-sim Taysu sempoyongan mundur, badannya bergontai
hampir roboh. Ji Bun sendiri juga tertolak mundur oleh benturan dahsyat ini, batu marmer di bawah kakinya
sampai retak.
Gebrak kedua ini menambah ketegangan semua hadirin. It-sim Taysu adalah ketua Lo-han-tong.
Kepandaiannya termasuk kelas tinggi diantara penghuni biara Siau-lim-si, namun dia tidak kuasa melawan
gebrak kedua ini. Dari sini dapat dinilai bahwa kemampuan Ji Bun masih lebih unggul, jelas It-sim Taysu
sudah asor.
Dengan suara dingin Ji Bun berkata: "Mengingat tempat suci ini, Cayhe tidak bermaksud jahat. Kedua
gebrakan ini, Cayhe tidak menggunakan racun. Sekarang terpaksa aku melanggar pantangan, hal ini perlu
kuperingatkan lebih dulu."
Bicara soal racun, Siau-lim Ciangbun ikut terbeliak dan pucat mukanya.
"Hiantit," seru Ciang Wi-bin murka, "jangan menaruh kasihan, ganyang saja!"
Houhoat tertua Go-goan Taysu menyebut Buddha dengan enteng dia tampil ke muka menggantikan
kedudukan It-sim Taysu. wajahnya nan tua putih tampak membesi hijau, suaranya bergetar : "Sicu boleh
turun tangan!"
Ji Bun yakin Go-goan Taysu pasti ada sangkut paut dengan Tok-keng dan kematian Ui Bing, maka
tekadnya lebih besar lagi untuk membalas sakit hati. Biji matanya tiba-tiba mendelik, serunya sambil angkat
kedua tangan: "Go-goan, aku ingin kau mampus dalam satu gebrak."
Wajah Go-goan berubah menjadi kelam, kedua biji matanya melotot besar, jubah yang dipakainya tibatiba
melembung dan bergoyang-goyang tanpa tertiup angin. Kiranya dia kerahkan seluruh kekuatan
Lwekangnya. Semua hadirin menjadi tegang, jantung berdebur dengan kencang.
Pucat dan kaku wajah Siau-lim Ciangbun, sorot matanya menampilkan perasaan hatinya.
Disaat ketegangan semakin memuncak, tiba-tiba berkumandang suara bentakan gema dari dalam
pendopo agung: "Su-co-hud datang."
Seketika seluruh hadirin Siau-lim-si sama menegak sambil merangkap kedua tangan di depan dada.
Wajah semua orang menampilkan rasa girang, kaget serta prihatin dan khidmat, di tengah iringan suara
mantra, beramai-ramai paderi yang berdiri di pelataran sama mundur dan berbaris di pinggir menjadi dua
barisan. Go-goan Taysu yang sudah tampil di tengah gelanggangpun ikut ke dalam barisan.
"Tang! Tang!" gema genta bertalu-talu, suasana tegang yang diliputi hawa angkara murka tadi seketika
lenyap seperti terusir oieh kekuatan gema genta itu.
Hampir ... Mengotori Kuil Suci
Tanpa terasa Ji Bun juga menyurut mundur ke samping Ciang Wi-bin, matanya melirik penuh tanda
tanya.
Tampak seorang paderi tua bertubuh kurus kering dan beralis putih, wajahnya bersih dan agung. Kedua
matanya terpejam, duduk bersimpuh di atas kasur bundar yang dipikul oleh empat Hwesio bertubuh tinggi
besar. Pelan-pelan mereka muncul dari dalam pendopo sana. Seluruh paderi sama bersabda serta
membungkuk hormat menyambut kedatangannya.
Kasur bundar itu diturunkan di depan undakan, dengan laku hormat, keempat Hwesio pemikulnya lantas
mundur dan berdiri berjajar di belakang. Dengan perasaan kebat-kebit Siau-lim Ciangbun maju memberi
hormat: "Tecu tidak becus, sampai mengejutkan Suco yang mulia."
Paderi tua beralis putih berbadan kurus sedikit angkat tangan, namun tetap tidak bersuara. Suasana
kembali menjadi hening, suara gentapun telah berhenti.
"Tak nyana bangkotan tua ini masih hidup," demikian gumam Ciang Wi-bin, "pantas pihak Ngo-hong-kau
tidak berani mengusik Siau-lim-si.”
Menegas alis Ji Bun, tanyanya: "Bagaimana penyelesaiannya?"
Ciang Wi-bin menepekur sebentar, katanya: "Terserah bagaimana keinginan mereka, yang terang
peristiwa ini harus segera dibereskan."
Maka berkatalah paderi tua beralis putih tadi, suaranya tidak keras, namun setiap patah katanya tajam
berisi, anak telinga peka tergetar: "Paderi tua Hoan-ceng, sudah tiga puluh tahun tidak pernah ikut campur
urusan duniawi, tak terduga hari ini terseret juga ke dalam pertikaian Bu-lim. Tempat suci dan bersih ini
pantang dikotori, apakah kedua Sicu tidak keterlaluan?"
Baru saja Ciang Wi-bin hendak buka mulut, Ji Bun sudah mendahului menjawab: "Apakah Lo-siansu
sudah tahu sebab musabab dari pertikaian ini?”
“Ya, aku sudah tahu."
"Mohon tanya bagaimana Lo-siansu hendak menyelesaikan soal ini?"
"Apa yang terjadi harus diselidiki, Sicu berdua harap mundur dulu, tunggulah jawaban kami."
"Wanpwe berharap sekarang juga hal ini dibicarakan."
"Tidak mungkin, paling tidak harus makan waktu beberapa hari."
"Wanpwe tidak bisa terima."
"Lalu apa yang Siau-sicu ingin lakukan?"
"Sebelum urusan ini beres, Wanpwe tidak akan pergi dari Siau-lim-si."
Kedua mata paderi tua yang terpejam mendadak terpentang, dua jalur sorot mata yang berkilau laksana
kilat menatap muka Ji Bun. Jantung Ji Bun seperti terpukul, serta merta kakinya menyurut mundur setindak.
Dari pancaran sinar mata paderi tua ini Ji Bun dapat mengukur betapa tinggi taraf kepandaian silat dan
Lwekang paderi tua ini. Suasana kembali tenggelam dalam keadaan tegang dan mencekam.
Tiba-tiba paderi tua beralis putih itu memejamkan mata dan bergumam: "Sang Buddha maha bijaksana,
tiga puluh tahun Tecu bersemadi menghadap tembok, namun tetap mempunyai pikiran kusut dan terbuai
oleh perasaan keduniawian ......"
Mendadak Siau-lim Ciangbun berlutut dan menyembah, serunya: "Dosa Tecu beramai memang terlalu
besar."
Sudah tentu murid-murid Siau-lim yang lain mengikuti perbuatan Ciangbunjin, mereka ikut berlutut dan
menyembah berulang-ulang, suasana yang semula tegang berubah menjadi khidmat.
"Paman," kata Ji Bun memandang Ciang Wi-bin, "bagaimana baiknya?"
Pikiran Ciang Wi-bin sudah tenang kembali, katanya: "Marilah kita selesaikan dulu urusan besar lain yang
lebih penting."
"Urusan besar?'' Ji Bun menegas. "Baiklah."
Dengan suara berat Ciang Wi-bin berkata kepada paderi tua alis putih: "Siansu adalah paderi agung,
terpaksa melanggar pantangan demi menjernihkan suasana, biarlah Wanpwe berdua mundur secara teratur.
Tapi demi keselamatan umat persilatan umumnya, harap dalam jangka lima hari dapat memberi jawaban
pasti kepada kami, sekarang Wanpwe berdua sementara mohon diri."
Setelah memberi hormat, dia tarik Ji Bun terus lari keluar. Paderi-paderi sama bersabda Buddha dan
memanjatkan mantra.
Setiba di bawah gunung, segera Ji Bun bertanya: "Paman, siapakah paderi alis putih itu?"
"Dia Suheng Ciangbunjin dari generasi yang dahulu, usianya sudah lebih seabad, gelarannya Bu-siang.
Enam puluh tahun yang lalu dia termasuk tokoh nomor satu dari Siau-lim-pay, tabiatnya amat aneh,
kejahatan dipandangnya sebagai musuh utama. Setiap insan persilatan sama kagum dan menaruh hormat
kepada beliau, maka dia pernah dianugerahi gelar Sin-ceng (paderi sakti)."
"Urusan besar apa yang paman maksudkan?" tanya Ji Bun kemudian.
"Ya, karena urusan inilah sengaja kususul kemari, Bing-cu juga ikut kemari."
"O, lalu di mana dia ........"
"Menunggu di bawah gunung. Menurut aturan Siau-lim, kaum wanita dilarang masuk biara."
"Apa yang dimaksud paman dengan urusan besar?"
"Wi-to-hwe mengerahkan seluruh kekuatannya menyerbu Ngo-hong-kau ........"
Bergetar jantung Ji Bun, teriaknya: "Kapan?"
"Peristiwa yang menyangkut Tok-keng ini kupergoki secara kebetulan, maka sengaja kuputar balik
kemari, mengingat Tok-keng ada bubungan erat dengan ayahmu, kemungkinan juga menyangkut pihak
Ngo-hong-kau, maka di tengah jalan kudengar kabar bahwa pagi hari ini orang-orang Wi-to-hwe akan
memasuki pegunungan belakang Siong-san ........”
"Jadi sekarang mungkin kedua pihak sudah mulai bentrok?"
"Mungkin, urusan menyangkut petaka kaum persilatan, akupun termasuk orang yang tertimpa musibah
ini, maka aku ingin mengorbankan sedikit tenaga demi persoalan ini. Tak tersangka ...... ai, Ui Bing sudah
mendahului mengalami bencana."
Sampai di sini tak tertahan air matanya bercucuran, dari sini dapatlah kita bayangkan betapa erat
hubungan antara guru dan murid ini.
Sebaliknya darah bergolak di rongga dada Ji Bun, hatinya gelisah, Ngo-hong Kaucu adalah murid murtad
perguruannya. Betapapun dia tidak boleh berpeluk tangan membiarkan pihak Wi-to-hwe mendahului dirinya
memberantas pengkhianat itu walau pihak mana yang bakal unggul sukar diramalkan. Namun ayah
bundanya masih disekap di tangan orang-orang Ngo-hong-kau, apalagi Siangkoan Hong dan orang-orang
Wi-to-hwe yang lain bermusuhan dengan ayahnya. Kalau Wi-to-hwe berhasil, maka dapatlah dibayangkan
bagaimana nasib ayahnya nanti. Umpama sekarang dirinya menyusul kesana juga pasti sudah terlambat.
Karena itulah hatinya semakin gundah, ingin rasanya bisa terbang ke sana secepat mungkin.
"Hiantit," tiba-tiba Ciang Wi-bin menghentikan langkah, "mungkin kita yang salah."
"Salah, apanya yang salah?"
"Kau bilang bahwa sebelum ajal Ui Bing sempat mengucap beberapa patah kata yang terputus-putus
bukan? Semula kuanjurkan Ui Bing berusaha menyelundup ke Ngo-hong-kau dengan tiga tujuan. Pertama,
menyelidiki asal-usul Ngo-hong Kaucu serta riwayat hidupnya, kedua berusaha mencuri Hud-sim dan ketiga
mendarma baktikan keluhuran jiwa kita demi kesejahteraan insan persilatan umumnya. Oleh karena itu ada
satu kemungkinan, yaitu waktu Ui Bing berusaha mencuri Hud-sim dan tidak berhasil, sebaliknya Tok-keng
berhasil dia ambil. Keempat Duta itu terang mengudak Ui Bing dan memperebutkan Tok-keng itu sehingga
mereka mati keracunan. Secara kebetulan pula peristiwa ini kepergok oleh murid Siau-lim sehingga timbul
ketamakan mereka untuk merebutnya pula ......"
"Lalu bagaimana dengan kematian Ui-toako?”
"Kini sudah kuduga, bahwa dia mati oleh salah seorang dari Duta-duta itu, karena hanya mereka yang
bersenjata pedang. Setahuku pihak Siau-lim-pay tiada murid yang pernah menggunakan pedang sebagai
senjata dan itu berarti waktu paderi Siau-lim berebut Tok-keng, Ui Bing sendiri sudah terluka parah namun
belum putus napasnya."
Ji Bun manggut-manggut, katanya: "Analisa paman memang masuk akal."
"Tapi masih ada kemungkinan lain.”
"Kemungkinan apa?”
"Ui Bing tahu bahwa jiwanya tak tahan hidup lebih lama lagi, maka dia serahkan dan titipkan Tok-keng
itu kepada paderi Siau-lim. Sayang paderi Siau-lim itu juga telah meninggal."
"Ya, ini juga mungkin, tapi kenapa Ui-toako menyinggung soal ibuku lebih dulu."
"Mungkin dia sudah bertemu dengan ibumu, dia ingin memberi kabar tentang ibumu, namun tenaga
sudah habis. Pada hal dia tahu soal Tok-keng juga tidak boleh terbengkalai, maka sekuatnya dia hanya
sempat mengatakan tiga patah kata yang terputus-putus itu."
Ji Bun menepekur sebentar, katanya kemudian: "Bila bisa bertemu dengan ibu, soal ini tentu bisa
terjawab seluruhnya."
Pandangannya tertuju ke depan nan jauh sana, katanya menambahkan: "Paman tahu jalan pendek yang
langsung menuju ke belakang gunung?"
"Ada, tapi jalanan dari sini lebih berbahaya, bukan lebih dekat, kau akan memakan waktu lebih lama
malah.”
"Jalan sukar dan berbahaya tidak jadi soal bagiku, biarlah Siautit berangkat lebih dulu, silakan paman
menjemput adik Bing-cu."
"Baiklah, kau boleh berangkat lebih dulu. O, hai, tunggu sebentar ....."
"Paman ada pesan apa?"
"Dulu pernah kau melihat Tok-keng itu?"
"Belum, tapi ilmu beracun yang tertera di dalam buku cocok dengan apa yang pernah kupelajari waktu
kecil, tadi sempat kubaca beberapa halaman."
"Aku masih menaruh curiga akan satu hal."
"Hal apa?"
"Ayahmu pasti ada sangkut pautnya dengan Ngo-hong Kaucu."
"Kuduga demikian juga, syukurlah tak lama lagi hal ini dapat dibuktikan."
"Baiklah, lekas kau berangkat, aku segera menyusul bersama Bing-cu."
Ji Bun mengiakan, dengan cepat ia meluncur turun ke bawah gunung. Seluruh kekuatan dikerahkan
untuk mengembangkan ilmu ringankan tubuh, setiap detik amat berharga, apalagi untuk mengejar waktu
yang telah ketinggalan. Tapi betapapun cepatnya dia "tancap gas" toh kekuatan manusia ada batasnya.
Dalam perjalanan melalui gunung gemunung yang berbahaya ini, sedikitnya Ji Bun harus menempuh tujuh
delapan puluh li jauhnya, bahwa dia menempuhnya dalam waktu dua jam sudah terhitung luar biasa.
Tengah dia ayun langkah dengan cepat, tiba-tiba dilihatnya bayangan seorang yang sempoyongan
mendatangi dari depan. Serta merta Ji Bun mengerem langkahnya. Tampak yang mendatang adalah
seorang paderi, keadaannya serba runyam dan mengenaskan, timbul sesuatu pikirannya, teriaknya:
“Berdiri!"
Paderi itu berusaha menghentikan langkah sambil menengok ke arah Ji Bun, mendadak "bluk", tubuhnya
tersungkur jatuh, buih meleleh dari mulutnya, napasnya menggeros seperti sapi hendak disembelih.
Agaknya dia kehabisan tenaga karena baru lari sekuatnya. Ji Bun pikir, dirinya tiada waktu mencampuri
urusan tetek bengek lagi, maka dia melencing ke depan pula.
Tiba-tiba beberapa bayangan orang tampak berlari-lari ke arahnya. Paderi Siau-lim itu meronta bangun
sambil menoleh ke belakang, tapi baru lari beberapa langkah sudah jatuh tersungkur pula.
Mau tidak mau kejadian ini menarik perhatian Ji Bun, segera ia hentikan larinya. Bayangan orang banyak
sudah meluncur dekat, kiranya empat orang laki-laki seragam hitam ketat, satu di antaranya terdengar
berteriak: "Di mana kepala gundul itu?"
Empat orang seragam hitam sama berhenti, semuanya melotot gusar, satu di antaranya menghardik
bengis: "Anak muda, kau ingin mampus?"
Sementara seorang temannya menubruk ke arah Paderi yang kehabisan tenaga itu.
Tanpa menoleh tiba-tiba badan Ji Bun berkelebat, tahu-tahu bayangannya sudah berada di tempat
semula seakan-akan tidak pernah bergerak sedikitpun. Tapi laki-laki yang menubruk ke arah paderi Siau-lim
itu menjerit ngeri terus roboh binasa, keruan tiga temannya berjingkat kaget.
"Sebutkan siapa kalian?" bentak Ji Bun.
Gemetar suara orang seragam hitam: "Peronda gunung dari Ngo-hong-kau .....”
Belum habis dia bicara Ji Bun sudah turun tangan, cukup dia mengulap tangan, ketiga orang seragam
hitam segera menungging roboh binasa. Sampai jiwa melayang mereka tidak tahu cara bagaimana nyawa
mereka ditamatkan.
Ji Bun melangkah balik mendekati Paderi Siau-lim, tanyanya: "Kau murid Siau-lim?"
"Ya," sahut paderi itu mengangguk. "Sicu, kau, apakah kau ....... Te-gak Suseng?"
Ji Bun melenggong, tanyanya: "Betul, kenapa?"
Hwesio itu bergegas berdiri dengan sempoyongan, serunya penuh haru: "Omitohud! Sang Buddha maha
bijaksana. Siau-ceng memang sedang mencari Sicu."
"Apa?" teriak Ji Bun kaget, "mencari Cayhe ......."
"Siau-ceng bergelar Liau-ing, sungguh kebetulan pertemuan ini."
"Untuk apa kau mencari Cayhe?"
“Beberapa hari yang lalu, tanpa sengaja, di jalan raya Cui-ping kupergoki sebuah pembunuhan tragis,
lima jago baju sutera dari Ngo-hong-kau saling baku hantam sendiri. Satu di antaranya meski terluka parah
masih belum ajal. Kebetulan melihat Siau-ceng lewat, maka dia titip sesuatu barang untuk diserahkan
kepada Sicu ....."
Berubah air muka Ji Bun, tanyanya gemetar: "Dan selanjutnya?"
Dengan was-was Liau-ing mengawasi Ji Bun sejenak, katanya: "Karena ada keperluan lain Siau-ceng
menyerahkan barang itu kepada Sute Liau-Khong untuk dibawa pulang dulu ke Siau-lim-si ...."
"Hah," Ji Bun menyurut mundur tiga langkah, air mukanya pucat. Sikapnya yang luar biasa ini membikin
Liau-ing kaget dan curiga, kata-katanya terhenti.
Salah paham ini sungguh sangat mengerikan. Kalau Bu-siang Siansu tidak muncul, mungkin darah sudah
banjir di kuil suci yang diagungkan insan persilatan itu, dan kenyataan ternyata tepat seperti dugaan Ciang
Wi-bin. Sungguh beruntung sekali tidak sampai terjadi petaka yang tidak inginkan ini. Maka dengan haru dia
bertanya: "Pesan apa pula yang diberikan?"
"Tiada, dia hanya bilang barang itu harus berusaha diserahkan pada Te-gak Suseng, dan lagi kami
dilarang menyentuh barang yang ada di dalam buntalan itu, karena berlumuran racun jahat, habis berkata
dia terus ........"
"Dari mana Taysu tahu kalau aku ini Te-gak Suseng?"
"Gelaran tangan beracun Sicu menggoncangkan dunia persilatan. Siapa yang tidak tahu akan namamu?"
Sesal tak kepalang hati Ji Bun, katanya: "Mohon Taysu lekas kembali ke Siau-lim dan laporkan kepada
Ciangbunjin akan permintaan maaf sebesar-besarnya dari wanpwe. Perjanjian lima hari dibatalkan saja,
kelak Cayhe pasti datang untuk minta maaf dan terima hukuman."
Liau-ing kebingungan, katanya: "Siau-ceng tidak tahu, apa maksud Sicu?"
Tak sempat memberi penjelasan, sekenanya Ji Bun berkata: "Setiba di Siau-lim-si, Taysu akan tahu
duduk perkaranya, maaf aku tidak dapat menunda waktu, selamat bertemu?"
Habis memberi hormat, bergegas dia lari pergi bagai terbang.
Setengah jam kemudian Ji Bun sudah tiba di belakang gunung Siong-san. Sesuai petunjuk Ui Bing tempo
hari dia langsung memburu ke markas Ngo-hong-kau yang letaknya tersembunyi di dalam lembah.
Begitu memasuki lembah, dilihatnya mayat bergelimpangan di sana-sini. Ini menandakan bahwa Wi-tohwe
sudah menyerbu datang. Keruan hatinya semakin gugup. Semakin dekat mayat-mayat yang
menggeletak semakin banyak, dari seragam pakaian mereka jelas tampak yang menjadi kurban kebanyakan
anggota Ngo-hong-kau.
Lekas sekali Ji Bun sudah berada di jalan yang memasuki perut gunung. Tiba-tiba bayangan beberapa
orang menubruk keluar menghadang, yang terdepan adalah seorang laki-laki setengah baya berpakaian
biru, dia ternyata Wi-to-hwe Congkoan Ko Ling-jin adanya. Bahwa Ko Ling-jin memimpin anak buahnya
berjaga di sini itu menandakan bahwa serbuan pihak Wi-to-hwe berhasil dengan gemilang.
Langsung Ji Bun menyapa dengan dingin: "Ko-congkoan, selamat bertemu!"
Ko Ling-jin merangkap kedua tangan, katanya tertawa lebar: "Kebetulan Siau-hiap telah datang, silakan
masuk!”
Habis berkata dia lantas menyingkir kesamping.
Tanpa banyak pikir Ji Bun segera menerjang ke dalam lorong panjang yang guram cahayanya. Sepanjang
lorong mayat bertumpuk semakin banyak, bau darah semakin keras. Agaknya cukup banyak pengorbanan
pihak Wi-to-hwe untuk menjebol pertahanan lorong ini.
Setelah melewati lorong panjang yang guram ini, tiba-tiba pandangan mata menjadi terang. Kini Ji Bun
tiba di dalam lembah. Suara gaduh dari pertempuran orang banyak gegap gempita. Selepas mata Ji Bun
memandang, lembah yang berbentuk aneh dari ciptaan alam ini dikelilingi dinding gunung yang tinggi
sehingga bentuknya mirip sebuah perigi. Di bagian dalam sana bangunan rumah berlapis-lapis dan
bertingkat membelakangi dinding gunung. Bayangan orang bergerak-gerak di berbagai tempat, teriakan dan
gempuran senjata bersahutan dimana-mana, sinar senjata berkilauan berkelebatan sehingga suasana dalam
lembah menjadi kacau balau.
Sejenak Ji Bun memandang, segera ia meluncur ke tengah arena. Warna darah yang menyolok, mayatmayat
yang bergelimpangan dengan badan tidak utuh lagi, senjata patah berserakan. Semua ini menjadi
pemandangan yang menyolok dan mengerikan.
Pertampuran sengit terus berlangsung, laksana air mendidih di dalam kuali, siapapun tiada yang
memperhatikan kehadiran Ji Bun, elmaut yang bakal merenggut jiwa setiap orang yang menjadi incarannya.
Ji Bun langsung menerjang ke tengah pertempuran, tampak Siangkoan Hong suami isteri menghadapi
Ngo-hong Kaucu. Baku hantam ketiga orang ini terhitung yang paling dahsyat di antara sekian banyak
pasangan yang tengah berhantam. Sementara orang dalam tandu, yaitu Toh Ji-lan, Siang-thian-ong, Thongsian
Hwesio, Cui Bu-tok dan jago-jago kelas tinggi Wi-to-hwe yang lain satu lawan satu menghadapi jago
Ngo-hong-kau yang semuanya berseragam sutera. Sementara yang berkepandaian rendah juga baku
hantam di luar lingkaran. Semua orang bertempur dengan beringas, mata berapi dan buas. Semua orang
sama mandi darah.
Yang menjadi perhatian Ji Bun kecuali pasangan Siangkoan Hong yang menggasak Ngo-hong Kaucu,
iapun selalu mengawasi ke arah sana, dimana ibu tuanya, Khong-kok-lan bersama Hing-thian-it-kiam Gui
Han-bun masing-masing menghadapi seorang jago Ngo-hong-su-cia. Gaya pedang Hing-thian-it-kiam
berkelebat laksana lembayung, lawan dirangsak dengan gencar hingga kerepotan. Sebaliknya Khong-kok-lan
So Yan terdesak hebat oleh serangan lawan yang gencar, gerak geriknya sudah kacau.
Pikiran Ji Bun bekerja cepat, melihat gelagatnya, pihak Wi-to-hwe berada di bawah angin. Namun dalam
jangka pendek, keadaan tidak akan memburuk, yang penting sekarang dirinya harus selekasnya berusaha
menolong ayah bundanya. Maka dia menerobos lewat medan pertempuran langsung menuju ke deretan
rumah di belakang sana.
Dikala dia lewat disamping Khong-kok-lan yang tengah berhantam dengan musuh, sekenanya tangannya
melayang ke arah musuh "Huuaaah!" Pemuda baju sutera kontan menjerit roboh. Sudah tentu Khong-koklan
menjadi melongo kaget oleh kejadian yang tak terduga ini. Sementara Ji Bun sudah menyelinap ke sana
di antara orang-orang yang tengah bertempur.
Seperti berjalan di tanah lapang layaknya, setiap kali tangan Ji Bun bargerak, puluhan jiwa melayang
ditangannya, maka dengan leluasa dia melampaui arena pertempuran ini. Yang dikuatirkan hanya
keselamatan ibunya, maka ia langsung menerobos masuk ke dalam rumah. Dari satu bilik dia geledah ke
bilik yang lain, namun bayangan seseorangpun tidak diketemukan. Agaknya seluruh kekuatan Ngo-hong-kau
telah dikerahkan untuk membendung serbuan pihak Wi-to-hwe.
Tiba-tiba Ji Bun sadar perbuatannya ini terlalu bodoh. Kalau Ngo-hong-kau membangun markas di
tempat tersembunyi seperti ini, tentu juga dia membangun tempat-tempat rahasia yang tak mungkin terlihat
oleh mata telanjang. Apalagi ayah bundanya disekap musuh, tentu dikurung di kamar rahasia yang sulit
diketahui, orang. Kalau mencari secara semberono seperti dirinya sekarang bukankah hanya membuang
waktu dan tenaga belaka, lebih penting orang Ngo-hong-kau dan Kaucunya dibereskan lebih dulu. Maka
bergegas dia lari keluar pula.
Hanya dalam sekejap situasi gelanggang pertempuran sudah jauh berbeda. Anggota Ngo-hong-kau
karena dikandang sendiri, maka mereka bertempur dengan gigih. Kecuali jago-jago yang berkepandaian
tinggi, orang-orang Wi-to-hwe yang menyerbu datang kebanyakan sudah gugur, jelas sekali kekuatan kedua
pihak berbeda amat menyolok.
Tiba-tiba sebuah jeritan ngeri berkumandang dari sebelah sana, Thong-sian Hwesio berhasil merobohkan
lawannya. Menyusul Siang-thian-ong juga berhasil mengganyang musuhnya. Kedua jago kawakan ini segera
menubruk ke dalam pertempuran pula. Anak buahnya yang sudah terdesak menjadi bangkit semangatnya
karena mendapat bantuan yang kuat dan tangguh ini.
Tanpa bersuara Ji Bun langsung memasuki arena pertempuran mendekati Ngo-hong Kaucu.
"Te-gak Suseng!" entah siapa yang berteriak, suasana menjadi gempar dan menambah kabut gelap di
hati setiap anggota Ngo-hong-kau.
Kalau Ngo-hong Kaucu tidak berhasil meyakinkan ilmu mujijat yang tertera di dalam Hud-sim, jelas dia
bukan tandingan Siangkoan Hong suami isteri. Apalagi bertahan sekian lamanya dengan sama kuat.
Mendengar teriakan kuatir anak buahnya baru Ngo-hong Kaucu sempat melirik ke arah Ji Bun yang
sudah berada di luar lingkaran.
Pertempuran jago silat kelas tinggi pantang lena dan terpecah perhatiannya, karena sedikit melengos ini
berarti memberi kesempatan kepada lawan, "Blang, blang, blang!" Kontan Ngo-hong Kaucu mengerang
tertahan, badannya sempoyongan darahpun menyembur dari mulutnya. Tiga pukulan telak, satu dari
pukulan Siangkoan Hong dan dua pukulan dari Hun-tiong Siancu tepat mengenai tubuhnya. Sebat sekali
kedua lawan lantas menubruk maju pula.
Hebat sekali gerak gerik Ngo-hong Kaucu. Belum lagi berdiri tegak, tubuhnya bergerak aneh dan
berkelebat menyingkir keluar lingkaran dari jangkauan serangan kedua musuhnya. Sekali tubuhnya
jumpalitan mundur ke belakang terus meluncur ke arah markas di belakang sana. Tapi dalam waktu yang
sama sesosok tubuh meluncur pula ke tengah udara dan tepat menungkup dari atas membawa damparan
angin pukulan yang dahsyat sekali.
"Ngek!" kembali Ngo-hong Kaucu mengeluh tertahan, badannya terpental balik ke tengah gelanggang.
Sosok bayangan yang lainpun melayang turun dengan ringan, kiranya Te-gak Suseng Ji Bun adanya.
Kini kedua orang berdiri berhadapan, dengan kaget dan seperti ketakutan Ngo-hong Kaucu menyurut
dua langkah. Sorot mata Ji Bun menyala penuh kebencian, ia mendesak maju dengan beringas.
Hun-tiong Siancu menggerakkan badan, pelan-pelan dia tegakkan telapak tangan terus menabas miring
ke belakang punggung Ngo-hong Kaucu.
"Tahan!" tiba-tiba Ji Bun menghardik.
Tangan Hun-tiong Siancu terhenti di tengah jalan, dia menoleh dan memandang heran kepada Ji Bun.
Ngo-hong Kaucu berdiri dan tak mundur lagi, sorot matanya tampak gentar dan panik.
Dengan menggertak gigi, Ji Bun membentak beringas: “Sekarang tibalah saatnya kau menyerahkan
jiwamu."
Ngo-hong Kaucu terkekeh-kekeh suaranya aneh, katanya: "Ji Bun, kalau kau ingin jiwa raga ayah
bundamu, sekarang belum terlambat melaksanakan janjimu dulu ........”
Melotot biji mata Ji Bun, teriaknya: "Tutup mulutmu, kau bermimpi."
"Kau kira aku sudah kalah? Kau kira Ngo-hong-kau bakal hancur berantakan? Ketahuilah, anak muda,
kalau demikian pikiranmu, kau keliru!”
"Di mana ayah bundaku kau kurung?”
"Kau ingin bertemu dengan mereka? Gampang saja, tepatilah janjimu dulu."
Ingin rasanya Ji Bun membesek kulit dan menelan daging orang mentah-mentah. Tok-keng sudah
berada di tangannya, tugas beratnya sekarang hanya berusaha, menolong ayah bundanya, lalu
melaksanakan tugas perguruan untuk menghukum murid murtad ini.
Sementara pertempuran orang banyak masih terus berlangsung dengan sengitnya. Siangkoan Hong
suami isteri berdiri siaga di samping menghadapi Ngo-hong Kaucu dan Ji Bun. Sementara orang dalam
tandu, Toh Ji-lan, juga sudah membereskan lawannya dan kini sedang mendekati ke arah sini, segera dia
menjengek: "Ngo-hong Kaucu, serahkan Hud-sim kepadaku!"
Pandangan Ngo-hong Kaucu yang penuh kelicikan melirik Toh Ji-lan sekejap, katanya: “Tentu, kalau kau
punya kepandaian, boleh kau ambil sendiri!"
Toh Ji-lan ayun tangan menampar ke arah Ngo-hong Kaucu. Ji Bun maju menghadang sembari berseru:
"Siapapun dilarang turun tangan."
Toh Ji-lan menarik tangan, serunya geram: "Ji Bun, apa maksudmu?"
"Akulah yang harus membekuk dan menghukumnya," sahut Ji Bun tanpa menoleh.
"Ji Bun," sela Siangkoan Hong, "kau harus tahu betapa besar arti kehadirannya dan merupakan ancaman
bagi setiap insan persilatan umumnya."
"Cayhe mengerti," sahut Ji Bun.
"Dengan cara apa kau hendak membekuk dan menghukum dia?"
Sudah tentu Ji Bun tidak dapat membocorkan rahasia perguruan, sekilas berpikir dia menjawab:
"Siangkoan Hwecu, menurut pendapatku, kau harus lekas mengakhiri pertempuran ini baru membereskan
soal lain, urusan di sini akulah yang, bertanggung jawab."
Kata Wi-to-hwecu ragu-ragu: "Pihak kami sudah Mempertaruhkan imbalan cukup besar. Dapatkah kau
menegakkan keadilan dan kebenaran kaum persilatan?"
"Secara pribadi aku bertanggung jawab."
22.65. Akal Bulus Ngo-hong Kaucu
“Baik, sementara kuserahkan padamu untuk membereskan," kata Siangkoan Hong lalu dia memberi
tanda gerakan tangan kepada Hun-tiong Siancu dan orang dalam tandu, Toh Ji-lan. Mereka lantas bantu
anak buahnya menggasak orang-orang Ngo-hong-kau yang masih bertahan mati-matian.
“Ji Bun," sinis suara Ngo-hong Kaucu, "kau sekongkol dengan musuhmu sendiri, dendam keluarga kau
abaikan demikian saja ........”
"Itu bukan urusanmu," dengus Ji Bun.
"Tidakkah kau berpikir kalau dirimu diperalat untuk menghancurkan kita, lalu dengan cara keji apa pula
mereka akan mengganyangmu?"
"Itu urusanku dan aku mampu menanggulanginya."
"Kau rela mengorbankan jiwa ayah-bundamu?"
"Apapun yang kau katakan hanya isapan jempol belaka. Hari ini kau harus terima hukuman setimpal
dengan perbuatanmu menurut aturan perguruan.”
Ngo-hong Kaucu menyurut mundur, katanya: "Berulang kali kau bicara soal aturan perguruan segala,
urusan apakah itu?"
Melihat sekelilingnya tiada orang, dengan menekan suara serendah mungkin Ji Bun berkata:
"Pengkhianat! Ketahuilah aku sudah diangkat sebagai Ciangbunjin Ban-tok-bun dari generasi ke-15,
sekarang kau sudah mengerti?"
Mendelik biji mata Ngo-hong Kaucu, serunya serak: "Kau ..... kau diangkat oleh Ngo Siang?"
"Salah, aku dianugerahi langsung oleh Thay-suco dan diperintahkan membersihkan perguruan dari
anasir-anasir jahat."
"Kau .... mendapat perintah .... dari Thay ..... Thay-suco?"
"Katakan dulu, dimana ayah bundaku disekap?"
"Lebih baik tidak kukatakan ...."
"Kenapa?"
"Siangkoan Hong suami isteri, Hing-thian-it-kiam, Khong-kok-lan, apakah mereka mau membiarkan dia
begitu saja?"
Ji Bun melenggong, hal ini memang benar, ibunya tidak jadi soal, tapi sekali ayahnya muncul, tentu para
musuhnya itu akan menuntut balas padanya, tapi tegakah dia membiarkan ayah bundanya disekap musuh
dalam keadaan yang belum diketahui nasibnya?
Sebelum melihat mereka, betapapun hatinya masih sangsi akan keselamatan beliau? Maka dengan
menggertak gigi dia berkata: "Soal mereka menuntut balas adalah urusan lain, katakan saja di mana kau
mengurung beliau?"
"Tempat kurungan itu amat tersembunyi, kecuali aku, tiada orang lain yang tahu ...."
"Maka kau sendiri yang harus mengatakan?"
"Biar kukatakan juga takkan bisa kau temukan, kecuali aku sendiri yang menunjukkan tempatnya."
"Urusan sudah larut begini, kau masih mau main apa lagi? Memangnya sampai mati kau tidak akan
bertobat?"
Ngo-hong Kaucu menyeringai, ujarnya: "Siapa bilang aku akan mati? Kalau aku mati, semua orang yang
ada di sini juga harus mengiringi kematianku!"
Ancaman ini sungguh membuat merinding setiap orang yang mendengarnya.
Beringas Ji Bun dibuatnya, desisnya: "Kalau hari ini kau bisa lolos dari tanganku, aku akan segera bunuh
diri."
"Baiklah, lekas kau siap bunuh diri saja."
"Kau ...... memang tidak berperikemanusiaan?”
"Ha ha ha! Anak muda, perikemanusiaan atau berhati binatang, berapa sih perbedaannya?"
Ji Bun tekan nafsunya yang sudah berkobar, katanya geram: "Biarlah kita bereskan urusan pribadi saja,
dengan berbagai bentuk samaran, berulang kali kau membokong aku .......”
"Dan kau tidak mampus, agaknya umurmu memang panjang.”
"Thian-thay-mo-ki kau perkosa sampai membunuh diri ........"
"Me