Hay Tong Kok 01

HAY TONG KOK

PERTEMPURAN DI LEMBAH BUNGA HAY-TONG
Cerita asli oleh : Cheng Cheng In/Zheng Zheng Yin
Diceritakan oleh: O.K.T.

 “Tjoen-tjoe, ke dalam daerah kita ada masuk sebuah perahu asing,” demikian laporannya satu penduduk, pada iapunya ketua, Tan Tay Yong. “Perahu itu datangnya tadi siang, penumpangnya ada satu nona umur tujuh- atau delapan belas tahun. Kita orang tadinya tidak terlalu perhatikan kandaran itu, sampai sudah jauh lewat lohor, ia masih belum mau berlalu, maka itu, aku datang mengasih warta.”
“Jikalau penumpang perahu itu tidak ada orang lelakinya, ia barangkali tidak ketahui aturan kita di sini,” berkata si ketua. “Sekarang kauorang jangan ganggu atau bertindak sembarangan, hanya pasang mata saja, coba kasih lewat satu malaman, besok kita nanti lihat lebih jauh. Larang siapa juga dekatkan atau naiki perahu asing itu, kita semua ada laki-laki sejati, jaga jangan sampai orang bilang kita menghina orang perempuan. Kita dapati dusun kita ini mengandel sama tenaga kita, dari itu, kita mesti jaga nama baik. Aku ingin laranganku ini diturut, jikalau tidak, hati-hati, jangan nanti sesalkan aku keterlaluan!”
“Baik, tjoen-tjoe,” kata penduduk itu, yang segera undurkan diri.
Tan Tay Yong ada ketua dari Giok-liong-giam Hie-tjoen, dusun perikanan dari lembah Giok Liong Giam.Dusun ini berada di bawahan, di sebelah hilir, dari sungai Eng-lok-kang. Sungai ini berada dalam daerah Lo Siauw San, di Ouw-lam. Di sebelah udik, di atasan Eng-lok-kang, ada berdiam rombongan penduduk lainnya, begitupun di sebelah bawahan dusun perikanan ini, ada lagi lain-lain penduduk. Hie-tjoen tidak punya perhubungan sama tetangga-tetangganya, malah sama rombongan dari Eng-lok-kang udik, mereka ada bertentangan, sebab merekalah yang dimusuhkan.
Daerah dari Hie-tjoen ada satu daerah yang bagus, indah pemandangan alamnya, sungainya banyak ikannya, daratannya ada sawah-kebunnya, hingga, di air mereka bisa tangkap ikan, di darat mereka bisa potong padi dan pungut hasil tanaman lainnya. Maka, dalam semua musim, mereka bisa hidup dalam kecukupan, apapula mereka semua ada hidup sederhana, makan-pakenya hemat, malah bahan pakaian mereka tenun sendiri. Di bawah anjurannya Tan Tay Yong, juga mereka semua ada punya simpanan uang, hingga umpama kata mesti nganggur sekian waktu, mereka tidak akan kekurangan belanja. Keadaan adal lain bagi pihak penduduk Eng-lok-kang udik: mereka ini tidak bersawah-kebun, tidak bercocok tanam, kalau musim paceklik, mereka nampak kesukaran, sedang di musim pasang mereka kebanjiran.

Giok-liong-giam Hie-tjoen ada punya aturan sendiri, yang diadakan untuk keselamatan diri sendiri, yaitu ia larang orang lain tempat datang tangkap ikan dalam daerahnya, ia larang orang lain kampung datang tinggal di dusunnya, malah orang tidak boleh bermalam di situ. Buat pesiar, orang dikasih ketika juga, tetapi tidak dalam rombongan-rombongan. Larangan ini diberikuti kekerasan, ialah andaikata ada yang langgar, orang yang melanggar lantas diusir, kalau perlu dengan paksa.
Satu kali telah terjadi bentrokan antara pihak Hie-tjoen dan pihak Eng-lok-kang udik. Sebabnya ialah serombongan penduduk Eng-lok-kang datang menangkap ikan, lantaran dilarang, mereka melawanl, hingga mereka jadi bertempur. Kesudahannya pihak Eng-lok-kang kalah, dengan kerusakan.
Pihak Eng-lok-kang juga penasaran, karena mereka anggap pihak Hie-tjoen sudah rampas itu daerah yang makmur, yang mereka anggap ada termasuk dalam kalangan mereka, sedang dengan dirampasnya dusun itu, mereka jadi kehilangan daerah air yang banyak ikannya.
Pihak Tan Tay Yong ini ada pengungsi dari daerah sungai Hoe Tjoen Kang. Tadinya, dalam satu rombongan, mereka datang ke Hie-tjoen, buat tangkap ikan, dari hanya bermondok, lantas mereka berumah-tangga, hingga tempat itu merupakan satu kampung kecil. Jumlah mereka ada kira-kira tujuh puluh keluarga. Tapi, meski kecil, jumlah mereka ada beragam dan kuat. Memangnya mereka ada asal rombongan nelayan yang berani.
Sebenarnya pihak Hie-tjoen ada dari rombongan Kioe-she Hie-kee, yaitu rombongan nelayan sembilan she, dari Hoe Tjoen Kang. Rombongan ini ada punya orang-orang yang gagah, paling belakang, masih ketinggalan dua tetuanya yang liehay, yaitu Hie-djin Tan Tjeng Po dari Tonglouw dan Lim Siauw Tjhong dari Liongyoe. Berdua mereka jarang muncul, kalau mereka, atau salah satunya, datang, tentu buat urusan penting, yaitu Hie-tjoen berada dalam bahaya atau ada salah satu anggota keluarga yang main gila dan perlu dikendalikan. Mereka bikin pernikahan secara diam-diam pada anak-cucu mereka. Pihak mereka tidak bergaul sama pihak lain, tapi mereka juga tidak mau ganggu lain orang. Maka itu, Tan Tay Yong selalu berjaga-jaga, supaya daerahnya tidak ada orang yang datangi.

Begitulah, lantas ada datang laporan berhubung sama kedatangannya itu perahu asing.
Perahu asing itu muncul di harian yang indah dari musim Tjoen, dari siang sampai sore, ia tidak berlalu lagi, tidak heran kalau penduduk Hie-tjoen jadi heran dan bercuriga, hingga mereka pasang mata. Meski begitu, Tan Tay Yong mau berlaku hati-hati.

Besoknya, sampai terang tanah, perahu asing itu tetap masih belum mau berlalu. Sekarang ketahuan, kecuali si nona, sebagai penumpang, ada lagi satu orang perempuan, satu nyonya setengah tua. Berhubung dengan ini, Tan Tay Yong telah terima laporan yang kedua kali. Tapi, meski demikian, ia belum mau ambil tindakan. Ia tidak percaya yang orang mau tinggal tetap.
Kemudian datang laporan yang ketiga, sekali ini adalah halnya perahu asing itu sudah pergi, entah ke mana.
Tan Tay Yong lantas pergi memeriksa, ia dapati laporan itu benar adanya.
“Bagus!” pikir Tan Tay Yong. “Memang lebih baik ia pergi siang-siang, kita jadi tidak usah pusing kepala! Baiknya aku tidak bertindak sembrono……”
Tapi, selagi ia memandang jauh ke sungai, tiba-tiba matanya lihat sebuah perahu kecil sedang mendatangi. Perahu itu dipakaikan layar, lajunya pesat laksana anak panah. Cepat sekali, itu perahu sudah mulai masuk ke dalam daerah Hie-tjoen.
Layar sudah dikasih turun, selagi perahu maju terus, sekarang karena pengaruhnya penggayuh.
Perahu itu telah dikepinggirkan, di tempat yang kemarin.
Si nona pandang Tan Tay Yong sekian lama, akan keluarkan satu rantang penuh makanan, dengan bawa itu, ia masuk ke dalam gubuk perahu.
Tay Yong bertindak maju, sampai dekat ke muka perahu, yang ia awasi dengan teliti. Ia dapat kenyataan, kendaraan itu bukan kepunyaan pihak Eng-lok-kang. Ia tadinya mau Tanya itu dua orang bahwa mereka ada orang mana dan mau apa datang ke Hie-tjoen, kesudahannya ia mesti batalkan niatan itu. Sebab itu dua orang perempuan selanjutnya tidak muncul lagi. Terpaksa ia ngeloyor pulang, dengan anggapan, karena mereka ada orang-orang perempuan, mereka mestinya bukan orang jahat atau dari pihak musuh.

 

Di lain harinya lalu ternyata bahwa kedua orang perempuan itu tidak niat berlalu dari Hie-tjoen yang terlarang itu. Mereka telah mendarat dan isihkan sebuah gubuk tertutup papan, yang mencil sendirian di tepi sungai. Itu ada gubuknya satu famili nelayan yang datang ke situ pada dua tahun berselang, tetapi mereka telah diusir oleh pihak Hie-tjoen dan berlalu dengan meninggalkan gubuknya itu, yang mereka tidak bikin rusak atau bongkar. Karena sudah lama tidak diisi, gubuk itu rusak di sana-sini. Tapi si nyonya dan nona telah dandanin sebisa-bisa mereka, hingga tidak lagi ada yang bocor atau berlubang.
Lagi-lagi Tan Tay Yong terima laporan.
“Sekarang ini tidak bisa lain, mereka itu mesti diusir,” demikian kata orang kampung. “Kita tidak bisa ijinkan orang asing tinggal nyelak di antara kita!”
“Sabar,” kata ketua itu. “Jangan kau orang bertindak sembarangan atau ganggu mereka. Mereka ada orang-orang perempuan, kita tidak boleh berlaku kasar. Tunggu, aku tahu bagaimana harus bertindak. Siapa tidak dengar aku, aku akan hukum menuruti aturan kita!”
Oleh karena sang ketua kata demikian, penduduk itu terpaksa menurut. Mereka hanya bisa menaruh perhatian saja.
Kuatir penduduknya main gila, pada suatu sore dengan diam-diam Tan Tay Yong pergi ke gubuk tua itu. Ia berniat tanyakan keterangan pada itu dua orang asing. Di tepi sungai, perahu kecil ada tertambat. Dari dalam gubuk, sinar api molos keluar. Jendela yang terbikin dari bamboo, telah ditempelin kertas.
Menghampirkan pintu, Tan Tay Yong sengaja batuk-batuk, selaku tanda.
“Nyonya dan nona, aku sengaja datang berkunjung!” ia berkata. “Ada suatu urusan yang aku hendak bicarakan sama kau orang!”
Daun pintu segera terpentang dan si nona muncul di muka pintu, ia manggut pada si ketua.
“Ibu, tjoen-tjoe datang berkundjung!” ia kata pada ibunya.“Rumah kita begini macam, cara bagaimana kita bisa sambut tetamu di sini?”
Lantas dari dalam terdengar suaranya si nyonya setengah tua:
“Tjoen-tjoe unjuk muka terang pada kita, cara bagaimana kita bisa tidak sambut padanya? Silahkan tjoen-tjoe masuk!”
Si nona lekas berdiri nyamping, ia menjura pada Tan Tay Yong.
“Tjoen-tjoe, silahkan masuk!” ia mengundang. “Silahkan duduk di dalam!”
Tay Tay Yong terima itu undangan, ia bertindak masuk.
Si nyonya telah muncul, ia terus unjuk hormatnya pada ia punya tetamu.
“Tjoen-tjoe, sukalah kau maafkan kita,” berkata ia. “Sebenarnya begitu lekas kita orang datang ke Giok-liong-giam ini, kita mesti kunjungi kau, siapa tahu sekarang tjoen-tjoe adalah yang mendului kita. Sungguh, kita merasa kurang enak. Tentang ini, harap tjoen-tjoe tidak tertawakan kita. Kita ada ibu dan anak, kita orang telah terlunta-lunta sampai kita hidup mirip pengemis, maka itu, kita hendak tinggal di sini, buat sementara waktu saja. Kita tidak punya apa-apa di sini, sampai pun kursi tidak ada, kecuali ini bangku tua. Silahkan duduk!”
Memang juga Tan Tay Yong tidak lihat perabotan lainnya dalam ruangan itu, malah pembaringan terbikin dari dua lembar papan pintu tua, yang diganjal dan dipalangin di bawahnya. Apa yang aneh, demikian miskin perlengkapannya rumah, tapi segala apa ada sangat bersih, begitu juga bersihnya pakaian dari itu ibu dan anak, meskipun pakaian mereka ada dari bahan cita yang murah.
Bangku kecil ada di dekat jendela, di situ Tay Yong duduk.
Nyonya rumah duduk di pembaringannya, ia punya gadis berdiri di sampingnya.
“Kita belum ketahui kau punya she dan nama, nyonya,” Tay Yong kemudian tanya. “Nyonya berdua sebenarnya ada asal mana?”
“Kita ada dari kaum keluarga Yan,” sahut si nyonya, “Kita asal Tjian-tong di Tjiat-kang tetapi sudah satu tahun lebih kita mengembara di Soe-tjoan.Di kampung kita, kita sudah tidak punya sanak-berayah lagi, kita sekarang tinggal berdua saja. Karena dari muda kita hidup di atas air, sekarang juga kita orang terpaksa main di perahu saja. Tjoen-tjoe telah kunjungi kita, apakah bisa jadi ada suatu urusan penting?”
Tay Yong heran. Kenapa nyonya dan anaknya ketahui ia ada ketua Hie-tjoen? Bukankah mereka ini baru datang dan tidak pernah bicara pada salah satu penduduk, malah sebaliknya penduduk rata-rata niat usir mereka? Kenapa si nyonya tampaknya tidak puas terhadap ia punya kunjungan ini? Mau tidak mau, ia lalu bicara dengan sikap sungguh-sungguh.
“Yan-toanio,” berkata ia, “aku datang kemari karena desakannya penduduk nelayan dari dusunku ini. Baiklah aku kasih keterangan. Giok-liong-giam Hie-tjoen ini dibuka oleh kita, kita tidak punya perhubungan sama pihak mana juga, kita hidup mengandal pada tempat dan tenaga kita sendiri. Oleh karena kita orang hidup menyendiri, kita pun telah adakan aturan istimewa ialah kita larang lain orang, yang bukan kaum atau golongan kita, tinggal di dalam daerah kita ini. Kau orang, nyonya, telah datang secara mendadakan, sudah begitu, kau orang lantas tinggal di ini rumah, perbuatan kau orang ini ada menentangi aturan kita. Nyonya berdua biasa hidup di atas air, nyonya niscaya ketahui sifatnya kaum nelayan. Mereka itu berniat minta nyonya berdua lekas keluar dari daerah kita ini, tetapi aku cegah tindakan lancang dari mereka. Kau orang tidak punya orang lelaki, kita tidak ingin menghina orang perempuan, maka itu, aku telah datang dengan maksud baik. Ini ada keteranganku yang sebenarnya, nyonya. Dusun kita ini ada aman dan makmur, sekalipun di musim paceklik, kita masih tidak kekurangan suatu apa. Peribahasa kata, satu keluarga hidup senang, lain keluarga penasaran. Ini sudah terjadi dengan kita. Kita yang hidup cukup dan tenang, pihak Eng-lok-kang udik yang iri dan berdengki, malah mereka niat rampas daerah ikan kita. Karena ini, duluan kita orang pernah bentrok satu kali, lantaran itu, kita selalu berjaga-jaga, sebab kita kuatirkan serangan yang kedua, yang mestinya ada terlebih hebat. Kapan itu akan terjadi, aku tidak bisa bilang, tapi kapan nanti terjadi, pasti ramainya bukan kepalang. Oleh karena keadaan ini, nyonya, apa bisa kita izinkan orang asing tinggal di dalam dusun kita ini? Sekarang kita minta nyonya dan anakmu suka berdaya, lebih lekas lebih baik, karena kau orang benar-benar tidak bisa tinggal di sini. Diumpamakan anak-anak muda kita bertindak lancang, terang dengan begitu kita jadi menghina pada nyonya berdua. Tidakkah nyonya pun ada berpikir seperti aku ini?”
Baru saja Tan Tay Yong tutup mulutnya, atau nyonya itu sudah bersenyum tawar.
“Inilah aneh!” ia kata. “Kita berdua hidup di atas perahu butut kita sudah buat banyak tahun, di tempat mana saja yang ada ikannya, kita selalu singgah untuk menangkap ikan, sampai sebegitu jauh, kita ada merdeka. Tan Tjoen-tjoe, kau ada orang dari kaum Sungai Telaga, kau niscaya ketahui, sungai ada kepunyaan orang banyak! Coba kau tolong artikan, apa maksudnya ‘Soe hay wie kee’, - empat penjuru lautan adalah rumah kita? Kau bilang, daerah ini kau yang buka, hasilnya semua kau yang punya, hingga kau larang lain orang turut mengecap. Tapi di sebelah itu aku ketahui, negeri ada kepunyaan pemerintah agung, sebagaimana ini Giok-liong-giam Hie-tjoen tidak menjadi kecuali! Tjoen-tjoe, apakah bisa jadi, ini daerah kau telah beli semua? Kita telah datang kemari, kita ada ibu dan anak, semuanya orang-orang perempuan, malah kita ada melarat, melihat keadaan kita, kita memang tahu kita gampang membikin orang memandang hina pada kita. Karena itu, kita tahu diri! Kita hidup dari hasil sungai, tetapi kita tidak tangkap ikan di dalam ini kalangan, maka buat menangkap ikan, kita pergi ke luar daerah. Begitupun buat tinggal, kita tidak berani masuk ke Hie-tjoen, kita hanya pilih ini gubuk di mulut muara, gubuk yang kosong dan rusak. Dengan tinggal di gubuk reyot ini, kita sama saja dengan orang yang dirikan gubuk saung, melulu buat lindungi diri dari serangannya angin dan hujan. Tapi tjoen-tjoe, kau larang kita menumpang di sini, apakah maksudmu yang sebenarnya? Undang-undang negeri ada keras, meski begitu, tidak nanti negeri tutup semua sungai, telaga dan laut! Kita tinggal di sini, tjoen-tjoe, tetap tidak nanti kita ganggu pihak kau. Anakku ini adalah yang biasa tangkap ikan, buat itu, ia ada punya kebisaannya sendiri. Kalau kau orang sedang tangkap ikan, kita menyingkir jauh-jauh, bukankah itu tidak menghalangi kau orang? Kita orang tidak bisa lantas pindah, maka, tjoen-tjoe, harap kau suka berlaku murah….”
Tan Tay Yong tercengang, itu jawaban adalah ia tidak sangka-sangka. Dan jawaban itu ada beralasan, hingga ia tidak dapat jalan buat bantah. Di sebelah itu, ia juga merasa tidak puas mendengar orang punya lagu suara yang menantang. Maka ia lalu kasih dengar suara di hidungnya.
“Yan Toa-nio, aku sebenarnya datang dengan maksud baik,” ia kata, dengan coba berlaku sabar. “Turut kau, nyonya, sudah terang kau tidak niat berlalu dari sini, kendati demikian, aku masih hendak pakai aturan. Aku hendak berdamai, nyonya, kenapa kau artikan aku secara keliru? Jikalau kau tetap tinggal di sini, buat kau bahayanya ada banyak. Andaikata orang-orang muda dari kampung kita tidak mau mengerti dan mereka kena ambil tindakan yang tidak pantas, yang tidak menguntungkan kau, aku benar-benar tidak bisa menanggung jawab, karena benar-benar aku tidak sanggup kendalikan lagi pada mereka itu. Dalam hal ini, aku minta nyonya tidak sesalkan aku….”
Air mukanya Yan Toa-nio tidak berubah meski ketua Hie-tjoen sudah bilang demikian.
“Aku tidak berdaya, tjoen-tjoe,” kata ia. “Sekarang baik tjoen-tjoe jangan perdulikan lagi pada kita, ibu janda, anak piatu. Kita sudah memikir betul, sebab kita – sejak dilahirkan – rupanya sudah bertakdir begini: senantiasa berperuntungan buruk!Biarlah takdir terus berkuasa atas diri kita, kita akan terima segala apa. Tapi aku bisa terangkan, kita berdua belum pernah lakukan apa-apa yang bertentangan sama peri-kepantasan dan peri-keadilan, maka aku percaya kita akhirnya tidak nanti ketemui orang yang mengandung maksud jahat terhadap kita. Andaikata penduduk Hie-tjoen mau ganggu kita, apa boleh buat. Kita berdua sudah merasa beruntung yang kita masih bisa hidup sampai sekarang ini, apa yang bakal terjadi selanjutnya, kita orang tidak pikirkan…. Jiwa kita sudah kita anggap sebagai benda yang tiada harganya…. Tjoen-tjoe, tidakkah kau ada sepaham sama kita?”
Tan Tay Yong jadi bertambah mendongkol. Nyonya itu omong dengan sabar, tetapi perkataan-perkataannya ada tajam; lagu suaranya ada menusuk ia punya hati. Ia datang dengan maksud baik, siapa nyana, orang telah salah tampa. Lantas, sambil tertawa dingin, ia berbangkit.
“Yan Toa-nio, aku mesti sesalkan diriku yang aku ada usilan,” kata ia, yang masih coba kendalikan diri. “Aku ada satu nelayan, tetapi sudah dua puluh tahun lamanya aku hidup di muka air, selama itu aku bawa sikap terus terang, aku ada junjung perikemanusiaan. Kau orang telah datang ke tempat kita ini, aku tidak niat menghina kau orang, aku tidak pernah pikir buat mengganggu, ini juga sebabnya aku datang sendiri pada kau. Aku merasa bahwa sebagai ketua aku ada lemah, tetapi tidak pernah aku berlaku kurang hormat pada orang luar yang datang kemari, dari itu aku menyesal bahwa aku telah menyebabkan Toa-nio jadi tidak puas. Maaf, aku telah gerecoki kau orang. Sampai lain hari!”

Lantas ia berbangkit.
Yan Toa-nio juga berbangkit, ia kata:
“Jangan mengucap begitu, tjoen-tjoe. Kau tidak gerecoki kita. Biasanya saja kalau orang mengurus satu pada lain. Aku malah berterima kasih, buat sikapmu ini. Tapi kita ada kita punya kesukaran, andaikata musti berlalu dari sini, barangkali tidak ada lain tempat di mana kita bisa tumpangkan diri. Cara bagaimana kita bisa pindah lagi? Tjoen-tjoe, maafkan kita…..”
Tan Tay Yong ada mendongkol, ia tidak mau sahuti lagi nyonya itu.
“In-djie, antarkan pada tjoen-tjoe,” sang nyonya kata pula. “Kau sudah besar, tjoen-tjoe datang buat unjuk kebaikannya, kenapa kau diam saja?………”
Si nona tidak jawab ibunya, ia hanya pergi antarkan tetamu yang tidak diundang itu.
Selagi tadi ia masuk, Tan Tay Yong kurang perhatikan di sekitarnya, tetapi sekarang, ia heran melihat di dalam pekarangan ada lima buah batu besar sekali, setiap batu barangkali beratnya ada tiga- atau empat puluh kati, ditaruhnya berbaris rapi. Ia tahu, batu sebesar demikian tidak terdapat di sekitar mulut muara, hanya batu begitu adanya di kaki bukit Giok-liong-giam. Tapi ibu dan anak itu baru saja sampai, cara bagaimana mereka bisa datangkan semua batu itu?
Meski hatinya bersangsi, Tan Tay Yong punya kaki berjalan terus.
“Maaf, tjoen-tjoe, aku tidak bisa mengantar lebih jauh!” berkata si nona, sesampainya ketua ini di luar pagar pekarangan. “Kalau ada tempo, sukalah kau datang pula buat duduk beromong-omong di sini….”
“Silakan kembali, nona,” sahut Tay Yong sambil putar tubuhnya.
Dengan tidak sungkan-sungkan, si nona tutup pintu pagar.
Baru saja Tan Tay Yong jalan tiga tindak atau ia dengar suara tertutupnya puntu gubuk, hingga ia menjadi heran.
“Begitu cepat ia jalan!” pikir ia. Zonder merasa ia merandek, balik ke pintu pagar, akan mengintip ke dalam. Benar saja, si nona sudah menghilang ke dalam rumahnya! Lantas di dalam rumah terdengar suara tertawa, disusul sama ini ucapan: “Pasti ia mendongkol bukan main!”
“Eh, In-djie, apa kau bilang?” terdengar tegurannya si nyonya tua. “Tetamu kita itu tentu belum pergi jauh....”
Tan Tay Yong coba pasang kupingnya, akan tetapi rumah itu jadi sunyi-sirep, maka dengan masygul, ia lanjuti perjalanannya pulang. Ia tetap ada bercuriga dan menduga-duga. Terang nyonya dan anaknya itu ada mencurigakan. Ada luar biasa, yang dua perempuan, mesti hidup berduaan saja di muka air, buat bergaul sama orang – orang-orang lelaki – dari segala macam tingkatan. Mereka katanya ada nelayan, tetapi roman mereka tidak menunjuki orang-orang yang biasa hidup kasar, keadaan mereka tidak menunjuki yang mereka hidup melarat dan bersengsara. Tidak bisa djadi mereka ada nelayan tulen. Kalau tidak demikian, kenapa perlengkapan rumah mereka ada demikian punya miskin?
“Anehnya, kenapa mereka juga tidak punya takut?” pikir tjoen-tjoe ini terlebih jauh. “Dengan maksud baik aku minta ia orang pindah, kenapa ia orang menolak? Aku ada seorang dengan cukup pengalaman, tetapi ibu dan anak itu aku tidak mampu duga ada dari golongan mana....”
Tan Yong pergi dengan diam-diam, ia tidak mau mengasih tahu pada orang kampung, tetapi toh ada orang yang dapat lihat ia pergi ke gubuk, betul mereka ini tidak berani mengikuti, tetapi mereka toh menunggui ia di muka kampung.
“Kapan mereka mau pergi?” demikian mereka menyambut.
“Ibu dan anak itu tidak punya andalan,” Tay Yong sengaja simpangkan, “sudah begitu, pihak Eng-lok-kang udik telah hinakan mereka, maka itu, mereka telah menyingkir kemari, katanya buat sementara waktu saja. Di sini mereka merasa lebih aman. Aku minta kau orang jangan lakukan apa-apa yang tidak pantas terhadap mereka itu.”
Keterangan ini dipercaya oleh itu beberapa orang kampung, mereka lantas bubaran.
Tay Yong pulang terus ke rumahnya. Ia ada satu famili sederhana, karena kecuali isterinya, ia tinggal cuma sama gadisnya, Giok Kouw, yang baru berusia enam belas tahun. Anak ini ia ajarkan silat dan berenang. Giok Kouw sering, bersama-sama kawan sepantarannya berlomba kemudikan perahu. Ia ada berotak terang, maka oleh ayahnya, ia suka diajak berdamai, sedang isterinya, Tay Yong seperti kesampingkan.
Itu malam Tay Yong pulang dengan masygul, ia tenggak beberapa cangkir arak, akan tungkuli diri, sesudah itu, ia terus naik ke pembaringan, akan tidur. Sejak pulang, ia tidak pernah ucapkan barang sepatah kata.
Giok Kouw lihat sikap ayahnya, ia tidak berani menanyakan, tetapi besoknya, justeru hawa udara jelek dan nelayan-nelayan tidak ada yang pergi berlayar, akan tangkap ikan, ia dekati ayahnya itu.
“Kau tampaknya tidak gembira, ayah, kenapakah?” ia tanya. “Kenapa ayah tidak mau bicara sama anakmu?”
“Sebenarnya aku bukannya tidak gembira,” Tay Yong jawab. “Sejak dari Hoa-tjoen-kang kita pindah kemari, berterima kasih pada Thian, yang tidak mau musnahkan kita pihak Kioe-she Hie-kee, aku ada merasa puas. Tahun ketemu tahun, hidup kita di sini ada dalam kecukupan dan aman sentosa, hingga aku merasa puas.........”
“Tetapi, ayah, kenapa semalam kau pulang dengan masygul?” Giok Kouw mendesak. “Kenapa kau berdiam saja? Apakah itu segala makhluk-makhluk menjemukan di tengah sungai lagi-lagi berniat ganggu kita dari Giok-liong-giam?”
“Mereka benar tidak puas terhadap kita, akan tetapi aku tidak pikirkan mereka!” kata Tay Yong dengan bersemangat. “Kalau mereka berani datang pula, aku nanti sambut mereka dengan labrakan. Apakah kau tidak ketahui halnya itu sebuah perahu kecil?”
“Ya, aku ketahui halnya itu perahu,” sahut si nona. “Malah aku pun pernah lihat sendiri perahu itu! Tapi ayah telah larang orang dekati kendaraan air tersebut, aku mana berani langgar larangan itu? Sebenarnya, ayah, mereka ada gelap bagi kita! Apakah mereka ada dari pihak Eng-lok-kang udik?”
“Inilah aku tidak berani pastikan,” sang ayah menyahut. “Aku pernah menduga demikian, tetapi aku masih sangsi, aku sangsi yang mereka datang dengan maksud jelek. Sikapnya itu ibu dan anaknya ada terlalu bersifat menyerang....”
Lantas Tay Yong tuturkan pengalamannya selama ia kunjungi Yan Toa-nio dan gadisnya itu, bahwa ia telah pikirkan ucapannya si nona Yan tapi tidak bisa menebak.
“Apa yang sudah pasti, ibu dan anak itu bukannya sembarang nelayan,” kemudian Tay Yong tambahkan. “Aku sekarang masygul, karena aku tidak tahu tindakan apa aku mesti ambil terhadap itu dua orang. Kita tidak ketahui mereka siapa, mereka belum berbuat jahat, cara bagaimana kita bisa keraskan mereka? Di sebelah itu, sebagai ketua, aku bertanggung jawab buat dusun kita dan semua penduduknya, apa kata andaikata terhadap mereka ada terjadi suatu bencana? Betapa susahnya buat buka lagi satu dusun perikanan seperti ini?”
Giok Kouw tertawa dengan mendadakan apabila ia dengar ayahnya itu.
“Ayah,” berkata ia, “sekalipun dalam hal ini kau tidak usahlah menjadi bersusah hati! Baik hal ini kau serahkan pada anakmu, aku yang nanti urus!”
Tay Yong tertawa melihat lagaknya ia punya anak ini.
“Jangan banyak tingkah di depan ayahmu!” ia menegur sambil main-main. “Mustahil aku kalah pengalaman terhadap kau? Coba bilang, daya apa kau ada punya?”
“Ayah, jangan kau pandang enteng padaku!” sang gadis pun tertawa. “Ada kalanja, seorang yang banyak pengalaman masih kalah terhadap seorang yang dikatakan masih hijau! Tidak, ayah, sekarang aku tidak mau omong dulu, aku hendak cari tahu hal-ihwalnya itu ibu dan anak, sesudahnya itu, ayah akan ketahui apa yang aku telah lakukan guna lenyapkan kemasygulanmu!”
Tay Yong kenal adat anaknya, ia tidak menanyakan lebih jauh. Ia pun telah bisa bikin hatinya menjadi lega.
Selama itu, tiga hari sudah lewat. Hie-tjoen ada aman dan tenang seperti biasa, dan si ibu dan anak, tetamu-tetamu yang dicurigai itu, juga tidak lakukan apa-apa yang menarik perhatian.
Itu hari, langit ada terang dan hawa nyaman. Giok Kouw ajak satu kawan yang bernama Siauw Hong pergi ke sungai, buat main perahu. Mereka gayuh masing-masing sebuah kendaraan, buat dipakai berlomba, seperti telah sering kejadian. Siauw Hong pandai berenang dan menggayuh, seperti lain-lain nona kaumnya.
Giok Kouw mendapat didikan seperti juga ia ada satu anak lelaki. Ia pandai betul main di air, berenang, selulup dan kemudikan perahu. Tapi juga Siauw Hong tidak mau kalah. Maka berdua mereka puas-puasan main di air, yang luasnya ada belasan lie.
Tatkala itu, matahari sudah mau turun, maka pemandangan alam di muka sungai ada indah dan menarik hati.Kedua perahu seperti main petak di muka air yang luas, yang bergelombang tinggi dan rendah. Kedua nona juga sering tertawa satu pada lain. Giok Kouw ada terlebih gembira, sebab ia dapati Siauw Hong, - yang tidak mampu menangi ia – nampaknya ada sangat bersemangat.
“Adik Siauw Hong, tenagamu sudah habis,” satu kali Giok Kouw berkata, apabila ia lihat perahunya ada di depan, tujuh atau delapan tumbak terpisahknya dari perahunya Siauw Hong. “Apakah kau tetap masih belum mau menyerah? Apa kau mau aku bikin menjadi lelah setengah mati?.......”
“Aku tidak percaya kau mampu bikin aku lelah setengah mati!” sahut Siauw Hong sambil tertawa. Dan ia gunai seantero tenaganya, buat susul itu kawan, perahu siapa tetap laju dengan pesat sekali.
Adalah di itu waktu, mendadakan di muka air, sedikit jauh di sebelah belakang mereka, ada muncul sebuah perahu lain, yang pesat lajunya, yang dalam sekejab telah potong dan lewati kedua perahunya si nona-nona dari Hie-tjoen itu.
“Ah!” berseru Giok Kouw dan Siauw Hong dengan berbareng.
Segera juga nona Tan kenali, itu perahu ada perahunya si orang asing, dan penumpang perahunya ada si nona she Yan sendiri, yang kelakuannya ada mencurigakan. Ia heran, kenapa perahu itu bisa muncul secara demikian mendadak. Saking penasaran, ia lantas gayuh perahunya, akan menyusul. Ia punya perbuatan ini diteladan oleh Siauw Hong, sebab juga ini kawan telah mendapat tahu hal adanya si perahu asing serta sikap aneh dari dua penumpangnya – yang dua-duanya ada orang-orang perempuan.
Dalam sekejab saja, kedua pihak sudah lantas saling susul, seperti juga mereka sedang berlomba. Si orang asing di depan, Giok Kouw di tengah dan Siauw Hong paling belakang.
Perahu kecil di depan terus laju dengan pesat, tujuannya ada mulut muara, akan tetapi segera juga kepalanya terputar, buat kembali ke muka sungai yang luas, menerjang ombak yang naik dan turun.
Giok Kouw dan Siauw Hong telah gunai tenaganya, akan berkuasa atas perahu mereka masing-masing, apa mau mereka tidak sanggup candak perahu di depan itu, mereka senantiasa ketinggalan di belakang tujuh atau delapan tumbak.
Nona asing di depan tidak pernah menoleh ke belakang, ia agaknya tidak ketahui bahwa di belakangnya ada orang yang susul atau kuntit padanya.
Sekarang barulah Giok Kouw menjadi heran. Biasanya nelayan dari Hie-tjoen paling terkenal pandai mengendarai perahu, lain-lain golongan tunduk terhadap mereka. Ia sendiri, di bawah pimpinan ayahnya, sudah menjagoi di dalam dusunnya – ia sudah belajar hampir sepuluh tahun – siapa nyana, sekarang ada orang yang melebihi ia! Ia jadi penasaran, karena ia ada punya sifat atau adat orang lelaki.
“Ia tentu sengaja pertontonkan kepandaiannya di depan aku,” ia pikir dengan sengit. Tapi sia-sia saja ia coba menyusul, ia tidak berhasil...........
Siauw Hong telah mandi keringat, ia bukan basah karena air sungai.
Cuaca telah mulai berubah, menjadi guram, tanda dari sang sore.
Saking penasaran, Siauw Hong pun jadi panas.
“Aku mesti kasih rasa padanya!” pikir ia. Ia mau potong jalan, ia hendak terjang perahu si nona asing, supaya perahu itu, apabila tidak terbalik dan tenggelam, sedikitnya akan makan air, sampai setengah perahu.
Perahu asing itu bisa didekati lebih dekat dan lebih dekat. Jalannya kedua kandaran tetap ada pesat sekali. Kapan ia rasa sudah datang cukup dekat, mendadakan Siauw Hong gunai tenaganya, akan bikin perahunya melesat, akan tubruk perahu asing itu, yang ia pandang sebagai musuh.
Di luar dugaan, mendadakan perahu asing berbelok dengan patah, lolos dari tubrukan, tubuhnya berada seperti berendeng satu pada lain. Sebab perahu Siauw Hong melesat, ia mendului, mendekati si nona tidak dikenal itu. Justru itu, mendadak Yan Leng, yang menggayuh, atas mana, perahunya Siauw Hong jadi hilang imbangannya, jadi miring ke kiri, sampai hampir terbalik. Syukur ia bisa imbangi sama tubuhnya sendiri.
Tatkala perahunya Giok Kouw sampai, perahunya nona Yan sudah melesat jauh lagi.
Siauw Hong mendongkol bukan main, mukanya menjadi pucat.
Giok Kouw tahu maksudnya ia punya kawan, ia menghibur.
“Jangan gusar, ia memang hendak permainkan kita,” ia kata.“Mari kita susul terus padanya.”
Sekarang, berendeng, mereka mulai dengan pengejaran mereka.
Perahu di depan agaknya tidak digayuh pesat, semakin lama, ia bisa disusul semakin dekat, sampai terpisahnya mereka ada empat tumbak satu pada lain.
“Adik Hong, hayo, keluarkan tenagamu!” Giok Kouw menganjurkan, sedang ia sendiri lantas putar kepala perahunya, buat mencegat, buat memotong jalan. Ia ada lebih kuat dari kawannya, perahunya bisa menyusul dengan cepat.
Kelihatannya perahunyaa Leng In bakal tersusul dan tertabrak, tetapi luar biasa, kapan dua penggayuhnya dikasih bekerja dengan lebih cepat, ia punya perahu segera melesat seperti loncat, dan kapan ia geraki dua penggayuhnya secara hebat, air muncrat di belakangnya, perahu itu berhenti secara mendadak! Dan dua perahu “musuh”, yang tubruk tempat kosong, berada empat tumbak di belakangnya! Hampir Giok Kouw dan Siauw Hong saling terjang............
“Sungguh nona-nona nelayan yang liehay!” buat pertama kali nona Yan buka mulutnya. “Jadinya semua perahu dari Giok-liong-giam Hie-tjoen ada begini liehay? Nona-nona, kenapa kau orang begini mendesak? Baiklah, besok kita orang ketemu pula!”
Dua-dua Giok Kouw dan Siauw Hong ada mandi keringat, napasnya memburu, baru saja mereka hendak menyahuti, atau dari kejauhan ada terdengar suara suitan bambu, yang berbunyi berulang-ulang. Mereka tahu, itu adalah tanda yang tjoen-tjoe sedang mendatangi.
Leng In juga dengar itu tanda suitan, sembari putar perahunya, ia bersenyum.
“Djiewie tjietjie, kau orang banyak capek! Nah, sampai kita orang ketemu pula,” ia berkata, seraya segera kasih bekerja ia punya penggayuh, bikin perahunya menggeser menuju ke mulut muara.
“Entjie, kita rubuh ini kali!” kata Siauw Hong pada kawannya.

“Tidak apa!” sahut Giok Kouw dengan sengit. “Asal ia tidak kabur, asal ia tidak tinggalkan Giok-liong-giam, masih banyak ketika buat kita orang ketemukan pula padanya! Mari kita pulang, tjoen-tjoe telah datang mencari kita..............”
Benar-benar segera tertampak sebuah perahu, yang lajunya pesat. Tan Tay Yong kelihatan di perahu itu.
“Giok Kouw, kau main gila!” demikian suaranya itu ayah.“Sekarang ini sudah jam berapa? Kenapa kau orang masih tidak mau lekas pulang?”
Giok Kouw dan Siauw Hong geraki perahu mereka, akan papaki ayah atau ketua itu.
“Ayah,” memanggil yang satu.
“Tjoen-tjoe,” memanggil yang lain.Tapi keduanya punya napas masih saja jalan dengan keras.
“Kita berdua telah bikin lolos seekor ikan besar!” Giok Kouw kemudian kata, sambil tertawa. “Tjoba ayah tidak datang, kita orang tentu masih tidak mau pulang!.........”
Tan Tay Yong kasih keluar suara dari hidung, ia romannya ada gusar.
“Hm, nona sudah begini besar, masih saja bengal!” ia kata.“Hayo lekas pulang, barang santapan sudah sedia!”
Lantas tjoen-tjoe ini perintah dua perahu itu jalan lebih dulu dan ia punya perahu dikasih jalan belakangan.
Ketika itu langit sudah gelap.Di dalam muara, di atas perahu-perahu nelayan, orang telah pasang pelita. Asap mengepul dari sana-sini, karena itu waktu penduduk Hie-tjoen sedang masak nasi.
Selagi berjalan pulang, Giok Kouw dan Siauw Hong menoleh ke rumah gubuk di tepi sungai, dari dalam rumah itu bersorot keluar sinar api.
Siauw Hong pulang sendirian ke rumahnya, Giok Kouw ikut ayahnya. Sesampainya di rumah, Tay Yong segera tegur gadisnya itu, yang selanjutnya ia larang bertindak dengan turuti suaranya hati. Ia unjuk bahayanya main di air, terutama di waktu malam, karena ombak tidak mengenal kasihan. Sekalipun siang, bahayanya masih tidak kurang.
“Kau jangan anggap dirimu sudah pandai berenang, tetapi yang binasa di air justru kebanyakan orang yang bisa berenang,” demikian ayah itu tegaskan. “Kalau kau tidak dengar perkataanku, kau bukannya aku punya anak yang baik!.............”
Giok Kouw tersenyum saja atas tegurannya itu ayah, ia dahar nasibnya.
“Ayah, kau masih belum ketahui duduknya perkara,” kemudian ia kata. “Aku bukannya satu orang gila akan tidak mengenal bahaya, tetapi aku terpaksa....”
Dan ia tuturkan pengalamannya bersama Siauw Hong, bagaimana Leng In permainkan mereka.
“Terang mereka bukannya nelayan sembarangan, ayah baik perhatikan mereka,” kata ini anak akhirnya.
Tay Yong berpikir. Ia memang sudah juga curiga, berhubung sama pengalamannya sendiri.
“Tapi mereka bukannya orang-orang jahat, inilah aku percaya,” ia unjuk. “Apa bisa jadi mereka ada dari kaum kita yang tidak bisa tancap kaki di lain tempat dan terpaksa mau menumpang sama kita? Atau mereka lagi menyingkir dari jaringnya hukum? Kenapa mereka mesti umpati diri?”
“Biar bagaimana, ayah, aku nanti selidiki mereka!” Giok Kouw kata dengan tetap. “Mereka mesti ada simpan rahasia, entah apa adanya itu....”
“Mereka tinggal di luar muara, bagi kita, mereka tidak ada bahayanya. Tapi, karena kita ada punya musuh-musuh, berlaku hati-hati tidak ada jahatnya. Kecuali mereka telah unjuk kejahatan, kita tidak boleh lakukan apa juga yang bisa menghina mereka.”
Giok Kouw manggut, ia setujui ia punya ayah itu.

Besok malamnya, selagi seluruh desa terbenam dalam kesunyian dan orang-orang di rumahnya sudah pada tidur, diam-diam Giok Kouw dandan dan keluar dari rumahnya, menuju ke gubuk di tepi kali di mana Yan Toa-nio dan anaknya mondok. Ia tidak nampak rintangan, sedang rembulan ada terang. Memang di dusunnya itu tidak ada penjagaan orang ronda, kecuali dua perahu, yang bikin penilikan di muka air. Hie-tjoen tidak menjaga malam, sebab sebegitu jauh mereka ada aman sentosa.
Keluar malam, di waktu terang bulan, ada menarik hati. Air sungai, yang gemerlap, ada memberikan pemandangan alam yang indah. Di darat adalah bukit Giok Liong Giam, yang permai, puncaknya tinggi, pepohohannya lebat.
Selagi berjalan, tiba-tiba Giok Kouw merandek dan terus sembunyikan diri di bawahnya satu pohon yanglioe. Di puncak bukit mendadak kelihatan satu bayangan, yang berlari-lari dengan pesat, cepat sekali melewati dua puncak yang lebih rendah.
“Apa itu?” nona ini menduga-duga. “Di sini tidak ada binatang liar, sebulan tiga kali, ayahku tentu ajak orang pergi memburu karena ia tidak ingin binatang jahat bersarang di daerah kita ini. Apa bayangan itu ada dari manusia?”
Giok Kouw pasang mata terus. Lekas sekali, bayangan itu sudah lari turun, menuju ke mulut muara, akan kemudian berada dekat sama ia – terpisahnya satu dari lain cuma belasan tumbak. Orang tidak lihat ia, karena ia sembunyikan diri. Bayangan itu betul ada dari manusia, tangannya menyekal seikat bambu panjangnya empat atau lima kaki, tujuannya adalah rumah gubuk. Larinya bayangan itu ada pesat sekali.
“Tidak bisa salah lagi, ibu dan anak itu orang-orang luar biasa,” pikir Giok Kouw.
Oleh karena penasaran dan ingin tahu, dengan berani nona Tan menuju ke gubuk. Banyak pohon telah alingi iapunya tubuh. Ia hampirkan pagar. Ia lihat cahaya api molos dari jendela. Selagi mendekati, kupingnya dapat tangkap suara nyaring seperti bambu dibelah.Lantas dari sela-sela pagar, ia mengintip ke dalam pekarangan. Dan lantas ia tampak pemandangan, yang bikin ia ternganga bahkan tercengang.
Satu orang – tentu salah satu dari itu ibu dan anak, sebab Giok Kouw tidak dapat lihat dengan tegas – sedang lakukan suatu latihan istimewa. Di tanah, dengan teratur, ada menggeletak bambu bulat, yang telah terpotong-potong pendek – rupanya setiap batas buku. Dan orang itu bertindak di atas itu potongan bambu, yang diinjak dengan keras, setiap kali kakinya menindak, bambu itu tentu pecah dan menerbitkan itu suara keras!
Nona Tan tahu dengan baik, bambu itu, apapula yang baru dipetik, ada ulet seperti kayu, maka ada luar biasa, itu orang bisa injak sampai jadi pecah. Itu adalah tanda bahwa orang punya tenaga menginjak ada besar luar biasa.
“Ayah ada gagah, tetapi ayah belum tentu mampu berbuat seperti ini....” Giok Kouw pikir.
Sekarang nona Tan bisa kenali yang mana ibu dan yang mana anak di antara itu dua tetamu asing yang luar biasa. Cahaya rembulan telah membantu ia punya mata. Ia pun bisa duga, potongan bambu ada dari empat sampai lima puluh potong.
“In-djie, bambu yang barusan kau ambil, pergi kau letaki di bawah jendela, buat dijemur lamanya setengah bulan, agar sarinya menjadi setengah kering, kemudian kita gunakan,” kedengaran suaranya Yan Toa-nio. “Mari kita lekas-lekas berlatih, supaya kita orang bisa mengasokan diri. Tadi kau telah buang tempo terlalu lama di atas bukit Giok Liong Giam.”
“Bulan ada begini indah, ibu, kenapa sih mesti terburu-buru mau masuk tidur?” kedengaran suaranya si anak. “Kita jangan sia-siakan ketika yang bagus seperti ini.... Apa tidak baik kita berlatih ‘Eng Hoan Tiauw Kie Tjiang’ dan ‘Toa Soei Pay Tjhioe’?”
“In-djie, jangan kau terlalu turuti kegembiraanmu,” kata si orang tua, yang mencegah anaknya. “Permainan bambu barusan telah meminta sangat kau punya tenaga, sedang tadi di atas bukit, memetik bambu, kau telah gunai tenaga, sedang tadi di atas bukit, memetik bambu, kau telah gunai tenaga lenganmu. Kau mesti mengerti, kalau tenagamu terganggu, pelajaranmu bisa terganggu semuanya....”
“Kau selamanya memang berlaku terlalu hati-hati, ibu,” membandel si anak. “Apa sih artinya memetik bambu seikat? Mustahil karena itu, lenganku tidak rusak? Dasar ibu yang lagi tidak gembira, maka ibu tidak mau layani aku.......... Tidak, ibu, sebelumnya kau temani aku, aku tidak mau kasih izin kau pergi tidur!”
“Kurang ajar!” kata sang ibu. “Kau berani paksa ibumu? Baik, kau mesti dikasih rasa, supaya kau mengerti! Kalau kau tidak mampu menyambutin awas, jangan kau kucurkan air matamu.......”
“Jangan omong besar dulu, ibu, jangan kau pandang terlalu rendah pada anakmu,” sahut si nona. “Mari kita mulai, andaikata aku tidak sanggup menyambutin, baik selanjutnya aku berhenti berlatih!”
“Ah, anak, jangan kau jumawa!” ibu itu menegur. “Tapi malam ini aku benar-benar lagi tidak gembira maka mari kita berlatih sebentar, lantas kita masuk tidur. Kau tahu, di dalam dusun orang telah curigai kita, apabila kemarin kau telah tontonin kau punya kepandaian.......”
“Sudah, ibu, jangan kau sebut-sebut kejadian kemarin,” anak itu kata, suaranya tercampur mendongkol. “Aku tidak ganggu mereka tetapi mereka seperti hendak hinakan aku, aku mana bisa antepi saja? Mereka itu telah dapat bagiannya.........”
“Sudah cukup!” Yan Toa-nio mencegah. “Mari kita mulai!”
Leng In turut ibunya, ia lantas undurkan diri, sebagaimana si ibu pun mundur, hingga mereka berdiri berhadapan jauh satu dari lain. Lantas keduanya geraki kaki dan tangan mereka, dalam serupa aksi, sesudah itu, mereka berlari-lari dengan cepat, terputar-putar di dalam pekarangan itu, akan kemudian mereka lari balik.
Kembali Giok Kouw jadi tercengang, buat orang punya kegesitan tubuh. Ia telah belajar di bawah pimpinan ayahnya, ia merasa ia ada gesit sekali, tetapi sekarang ia tampak dua orang siapa punya kegesitan ada jauh melebihi ia! Ia jadi ketarik, ia terus pasang matanya, ia ingin lihat, pertunjukan apa lagi ia bakal saksikan.
Entah kapan bergeraknya, sekarang tertampak tangannya Leng In ada menjekal satu batu besar, sambil bawa itu, ia lari menguber ibunya, yang kabur di sebelah depannya.
Mendadak Yan Toa-nio lompat melesat, ke sebelah timur.

Melihat begitu, Leng In yang sedang mengejar di barat, turut lompat seraya berseru:
“Ibu, sambutlah ini!”
Dan tangannya segera menimpuk, dengan batu tiga, atau empat puluh kati beratnya itu, mengarah si ibu punya pundak kiri!
Anehnya, ia seperti menimpuk dengan bola yang enteng.
Itu batu menyambar Yan Toa-nio selagi pundaknya hampir terkena, ia berkelit ke kiri, seraya putar tubuhnya, berbareng dengan itu, dua tangannya diangkat, kelihatannya seperti mau menampah itu batu, tidak tahunya, batu itu disampok kembali hingga jadi berbalik menyambar ke jurusan penyerangnya.
Baru saja Leng In menimpuk, ia sudah pungut batu yang kedua, maka selagi batu pertama balik ke jurusannya, ia sudah bisa menimpuk pula seraya kembali serukan:
“Nah, terimalah ini satu lagi!”
Sekarang ia mengarah orang punya dada, sebab ibunya lagi hadapi. Tapi berbareng dengan itu, ia jadi repot sendirinya, karena batu pertama sudah datang dekat padanya, tidak tempo lagi, ia ambil sikap seperti ibunya, dengan dua tangan ia sambut batu itu, buat disampok pergi pula!
Giok Kouw tercengang bukan main, hingga ia melongo. Ia benar-benar tidak sangka, ibu dan anak itu ada punya tenaga begitu besar, ada punya kejelian mata dan kepandaian buat saling sambuti batu besar itu!
Toa-nio sedang mau lari tatkala batu yang kedua menyambar ia, ia punya dada yang diarah, karena ia sudah mulai bergerak, batu itu sekarang menuju ia punya iga kanan.
“Kurang ajar!” ia berseru, seraya egos sedikit tubuhnya buat angkat kedua tangannya. Kendati demikian, ia bukannya sampok pulang batu itu seperti tadi dengan ia punya dua tangan itu, hanya dengan sebelah tangan kanan!
Hampir berbareng kedua batu yang disampok pulang masing-masingk, telah kebentrok satu pada lain, dengan menerbitkan suara keras, dan karena kebentroknya hebat sekali, lelatu api dan lelatu batu telah menyamber dan melesat berhamburan. Kedua batu itu telah jatuh ke tanah dengan terbelah umpama kata hancur.
Setelah menyampok, Yan Toa-nio lompat akan lari pula.
Leng In penasaran, ia jumput batu yang ketiga, dengan cekal itu, dengan kedua tangannya, lagi-lagi ia kejar ia punya ibu. Ia bisa mendekati ibunya, kira-kira terpisahnya satu tumbak lebih dari ibu itu, ia menimpuk pula. Sekali ini ia tidak berseru, hanya diam-diam saja. Karena mereka berada dekat, tidak heran bila datangnya batu ada cepat luar biasa.
Yan Toa-nio lari terus, ia seperti tidak ketahui bahwa anaknya sudah menimpuk, ia baru bergerak kapan ia rasai sambaran angin dari batu itu. Secara mendadak, ia lompat jumpalitan, tangannya menyambar ke jurusan batu, buat ia tanggapi. Ia masih belum berdiri betul ketika batu itu sudah tersampok pula, cuma dari mulutnya terdengar seruan:
“Anak nakal! Terimalah ini batu kembali!”
Cepat luar biasa, batu itu balik menyambar ke jurusan dada si nona.
Cepat-cepat Leng In mundur dengan kaki kanan, yang ia tekuk sedikit, tubuhnya ikut mendek, kedua tangannya ia angkat, kapan batu itu sampai, dengan dua tangannya, ia menyampok, hingga batu kembali pula pada si nyonya. Boleh jadi karena tenaga yang dipakai ada kurang, tempo sampai di dekat Toa-nio, itu batu lantas turun menuju ke tanah, seperti mau jatuh. Tapi justeru itu, Toa-nio lompat menghampirkan, buat memapaki, dengan dua tangannya, ia cegah batu itu jatuh ke tanah, hanya ia terus lempar ke jurusan pagar. Di sini baru itu batu jatuh ke tanah, menyebabkan pasir dan tanah muncrat berhamburan!
Dari tercengang, Giok Kouw menjadi kaget, syukur batu itu tidak sampai ke pagar, kalau tidak, ia bisa jadi celaka, karena batu justru menjurus pada tempat di mana ia sedang mengintip. Ia bergidik kalau ingat bahaya yang barusan mengancam itu.
“Nah, anak, sekarang kau tidak boleh buka mulut besar lagi!” segera terdengar suaranya sang ibu. “Sekarang ternyata, pelajaran ‘Eng Hoan Tiauw Kie Tjiang’ dan ‘Toa Soei Pay Tjhioe’ tidak lagi kau boleh pandang enteng. Peladjaran itu meminta peryakinan belasan tahun, baru bisa didapati dengan sempurna.......”
Leng In punya air mata mengucur, separuh mewek, ia kata:
“Ibu, kau telah piara satu anak yang tak punya guna.... Aku tidak punya harapan lagi, selanjutnya aku tidak mau yakini lagi ini ilmu menimpuk dan menyambut batu....”
Mendengar begitu, si ibu yang tadi bersenyum, sudah lantas lari menghampirkan anaknya, yang ia segera rangkul, seperti juga gadis itu ada satu bocah cilik.
“In-djie,” ia kata, seraya kemudian tepuk-tepuk orang punya pundak, “kau sudah begini besar, kenapa kau masih kekurangan semangat? Kenapa sih kau tidak sanggup tahan sedikit kekalahan? Kalau kau betul begini lemah, percuma aku telah piara kau belasan tahun! Aku bukannya mau umpak-umpak kau, kebisaanmu sebenarnya tidak lemah! Satu anak perempuan sudah bisa berkepandaian seperti kau, itulah bukannya gampang. Sudah, anak, kau jangan berduka. Kau harus ketahui, aku punyakan kepandaianku sesudah belajar di bawah pimpinan kau punya engkong luar sejak umur delapan tahun. Dan ini ilmu menimpuk dan menyangga batu besar baru aku yakinkan sempurna pada tiga tahun yang lalu. Bukankah dulu-dulu aku masih tidak mampu? Jangan putus asa, anak, jangan kau bikin hatiku jadi tawar. Lebih dulu maksud hati kita harus kesampaian, baru kita boleh alpakan ilmu silat kita, itu waktu aku nanti tuntut penghidupan suci. Sekarang kau mesti pusatkan perhatianmu, empos semangatmu, buat berlatih lebih jauh! Anak, kau ada satu anak yang cerdik, kau tentunya telah insyaf sendiri! Melulu buat guna kau, aku masih hidup sampai sekarang ini, kalau tidak ada aku, apa kau kira kau pun masih bisa hidup di dalam ini dunia? Sudah, jangan berduka, buat dapati kepandaian sempurna, kau mesti berlatih keras. Ilmu silat tidak bisa didapati dengan tempo yang pendek. Apa yang kita harapi sekarang adalah kita bisa panjang umur, biarlah kita lawan penderitaan hidup.Mustahil Thian akan antapi kita orang binasa dengan menelan penasaran?.......”
Leng In susut air matanya, lantas saja ia tertawa.
“Ibu, kau paling bisa dustakan anakmu!” kata ia. “Tadi kau hinakan aku, sekarang kau angkat! Baiklah selanjutnya aku akan belajar dengan sungguh-sungguh! Sekarang mari kita masuk tidur!”
Anak ini tarik tangan ibunya, buat diajak masuk.
Giok Kouw mengelah napas lega, ia bangun berdiri. Sedari tadi ia berjongkok saja, mengintip mereka. Tapi justru ia berdiri, dengan tidak disengaja, ia kasih dirinya kelihatan oleh Leng In, yang kebetulan menoleh ke jurusannya, sebab nona ini balik tubuh, akan pegang tangan ibunya.
“Siapa itu di luar?” Nona Yan segera menegur. “Kau sudah datang ke mari, kenapa, kau umpeti diri? Silahkan masuk, kita berdua bukannya tukang makan orang.....”
Giok Kouw jadi malu, tapi sudah terlanjur, ia tidak bisa singkirkan diri.
“Aku ada orang dari dalam dusun,” ia menyahut. “Aku jalan-jalan kemari, melihat di ini gubuk ada orang, aku melongok. Maaf, sampai besok!”
Tapi Leng In telah tolak ibunya dan ia tertawa.
“Aku kira siapa, kiranya kau entjie!” ia berkata. “Kita sudah kenal satu sama lain! Kau sudah datang entjie, kalau kau tidak masuk dan duduk dulu, terang kita berlaku tidak hormat!”
Sembari kata begitu, nona Yan lari ke pagar buat buka pintu.
Giok Kouw tidak bisa menyingkir lagi. Dengan anggap, mengintip saja bukannya satu kesalahan atau perbuatan jahat, ia lantas balik tubuhnya, akan terima itu undangan. Ia bertindak masuk.
Di bawah terangnya si puteri malam, Leng In lihat orang punya muka bersenyum, tidak bengis seperti di sungai, maka ia menghampirkan, buat jabat orang punya tangan.
“Entjie, aku masih belum ketahui kau punya she.....” ia kata.
“Aku ada orang she Tan,” Giok Kouw menyahut. “Tjoen-tjoe dari Giok-liong-giam Hie-tjoen adalah ayahku. Aku bernama Giok Kouw. Aku minta maaf buat kelakuanku kemarin.”

“Djangan minta maaf, entjie!” Leng In tertawa. “Dengan tidak kebentrok dulu, kita orang tidak nanti bisa berkenalan. Kita ada sama-sama orang perempuan, bukankah? Silakan masuk!”
Ia tarik orang punya tangan, buat diajak masuk.
Yan Toa-nio berdiri menantikan.
Leng In kata pada ibunya itu:
“Ibu, ini adalah nona Giok Kouw, puterinya Tan Tjoen-tjoe! Rumah kita ada begini buruk dan kita harus sambut satu tetamu agung!”
Giok Kouw girang melihat orang berlaku demikian manis terhadap ia, ia pun jadi tidak likat-likat lagi. Ia samperi nyonya rumah seraya berkata:
“Yan Peh-bo, aku ada satu anak dusun. Tengah malam aku datang kemari, mengganggu kau orang, aku minta maaf....”
Nyonya Yan pandang nona itu sambil bersenyum.
“Jangan bilang begitu, nona,” kata ia. “Kita lancang datang kemari dan kita tidak mau pergi lagi, dalam ini hal kita mengharap kemurahan hati dari tjoen-tjoe. Kita pun mengharap maaf kau, nona!”
Mendengar begitu, Giok Kouw malu sendirinya, hingga ia jadi jengah.
“Terima kasih, peh-bo,” sahut Giok Kouw, yang lantas bertindak masuk, si nyonya mendului ia, si nona dampingi padanya.
Benar seperti kata ayahnya, Giok Kouw dapati sebuah gubuk yang kosong melompong, tidak ada perabotannya, malah tidak ada kursinya. Maka itu, Leng In minta ia duduk di bangku, sedang ibunya di pembaringannya.
“Nona, mari kau duduk sama aku di sini,” Toa-nio memanggil.
Nona Tan berbangkit, buat menghampirkan nyonya rumah, di samping siapa ia duduk.
Toa-nio pegang orang punya tangan, ia awasi orang punya muka.
“Nona, berapa usiamu ini tahun?” ia tanya.
“Aku berumur enam belas, pehbo.”
“Kalau begitu, kau sama umur dengan In-djie!” berseru nyonya itu. “Nona, kau pasti pernah yakinkan ilmu silat, kalau tidak, tidak nanti tadi kau tonton kita dengan asyik!........”
Giok Kouw terperanjat dalam hatinya.
“Rupanya orang telah pergoki aku....” pikir ia. “Sungguh berbahaya......” Tapi ia lalu bersenyum. “Aku hanya berlatih beberapa jurus di bawah pimpinan ayah, itulah sebabnya kenapa tubuhku sehat. Ayah sendiri tidak mengerti banyak, ia hanya mengerti sedikit ilmu pihaknya keluarga Tjhung.”
Toa-nio tertawa.

“Mengerti silat sedikit dan tubuh sehat, itulah sudah cukup,” ia bilang. “Kau toh tidak mau mengembara buat jual silat, bukan? Apa perlunya buat belajar sampai pandai betul?”
Di dalam hatinya Giok Kouw tertawai ini nyonya.
“Kau pandai bicara putar-balik, nyonya,” pikir ia. “Kau bilang pelajaranku sudah cukup tapi kau sendiri dan anakmu masih belum puas...........”
Kendati ia pikir demikian, Giok Kouw toh tidak berani tanggapi.
“Maafkan aku, pehbo, tetapi aku ingin sekali ketahui, pehbo berdua ada asal mana?” kemudian ia tanya. “Apa pehbo berniat tinggal tetap di sini? Kemarin ini, karena desakan penduduk kampung, ayah telah datang kemari, hingga ia sudah omong lebih banyak dari semestinya. Syukur penduduk kita tidak datang sendiri. Aku kagum buat entjie In punya kepandaian kendalikan perahu, aku ingin menjadi sobatnya entjie. Umpama kata pehbo niat tinggal lama di sini, aku hendak ajak pehbo dan entjie datang ke dalam kampung kita, supaya kita orang bisa tinggal sama-sama. Tidakkah ini baik?”
Toa-nio pandang gadisnya, ia tertawa.
“Terima kasih buat kebaikan kau, nona,” ia menyahut. “Buat sementara ini kita memang tidak niat berlalu dari sini, tetapi itu bukannya berarti kita mau tinggal tetap buat selama-lamanya. Kelihatannya bakal membikin berabe saja buat kita pindah tinggal ke dalam dusun.Dengan tinggal di mulut muara ini, kita ada merdeka, kapan kita suka, kita bisa lantas berangkat pergi. Tidakkah nona anggap benar begitu?”
Giok Kouw tidak puas dengan itu jawaban, tetapi ia tidak kentarakan perasaan hatinya itu.
“Kepandaiannya entjie Yan, apakah pehbo yang ajarkan sendiri?”
“Kepandaian apa sih ia ada punya? Aku sendiri tidak punya guna, apa yang aku bisa pelajarkan padanya?”
Dasarnya satu nona, Giok Kouw tidak bisa kendalikan hatinya. Ini jawaban juga bikin ia tidak puas.
“Yan Pehbo, di dusun kita ini tidak tinggal barang satu orang asing!” kata ia dengan nyaring. “Semua penduduk dusun ada saudara-saudara dan keponakan, sedikitnya ada saudara-saudara angkat, maka itu, bisa dimengerti yang penduduk sini tidak bisa awasi saja pehbo mau memaksa berdiam di sni. Ayah ada sebagai tjoen-tjoe, adalah ia punya kewajiban buat campur tahu urusan pehbo ini. Aturan kita, kita mesti pegang. Coba terhadap lain orang, tindakan keras mestinya sudah diambil. Tapi pehbo berdua ada orang-orang perempuan, kita dari itu berlaku sungkan, tentang ini aku minta pehbo sudi mengerti. Sebagaimana pehbo lihat sendiri, aku telah datang kemari, aku telah saksikan pehbo berdua punya kepandaian, kenapa sekarang pehbo perlakukan aku sebagai bocah cilik? Apakah itu disebabkan pihak kita sudah berlaku tidak pantas terhadap kau orang berdua? Benar-benar, pehbo, aku tidak mengerti kenapa kau menyangkal.............”
Yan Toa-nio pandang itu nona, ia lalu bicara, dengan sungguh-sungguh juga.
“Nona, taruh kata kita benar ada punya kepandaian, kalau kita bicarakan itu pada kau, kau niscaya tidak akan mengerti,” demikian katanya. “Apa yang kita bisa adalah latihan biasa saja, buat setiap malam. Mana ini bisa diartikan kepandaian sejati?”
Giok Kouw benar-benar jadi tidak senang.
“Toa-nio, kau sudah ada umur, tidak pantas buat aku berlaku kurang ajar terhadap kau,” ia kata pula. “Tapi dari kelakuan kau, dari sikapmu ini, terang kau pandang di dusun kita tidak ada orang yang berharga. Toa-nio, apa yang barusan kauorang buat latihan, itu adalah kepandaian sejati, aku tidak punya guru yang pandai, tetapi sedikitnya aku pernah dengar orang bicara tentang boegee. Toa-nio keliru apabila kau anggap kita dari Hie-tjoen ada tukang gegares melulu. Ayah telah berbuat sebisanya, akan kendalikan penduduk kita, supaya mereka tidak berbuat tidak selayaknya terhadap Toa-nio berdua, siapa tahu, Toa-nio sebaliknya berlaku keterlaluan pada kita ayah dan anak. Kalau tetap kau berpendirian demikian, Toa-nio, baiklah, kita ayah dan anak tidak bisa campur lagi urusan kau orang, andaikata ada nelayan yang berlaku tidak pantas, kita orang lepas tangan!”
Setelah kata begitu, Giok Kouw berbangkit, akan awasi itu ibu dan anak, tapi mereka itu saling pandang sambil bersenyum, hingga ia jadi mendongkol sekali. Dengan tidak pamitan lagi, ia bertindak pergi.
“Entjie Giok, mari!”Leng In memanggil, selagi orang bertindak. “Jangan gusar, entjie. Ibu sudah ada umur, apa yang ia bilang ada hal yang benar, tetapi karena ia hidup di atas air melulu, ia kurang pergaulan. Entjie, apakah kau tidak bisa mengasih maaf?”
“Aku ada seorang kasar,” Giok Kouw jawab sambil menoleh. “Aku selamanya berlaku terus terang, maka itu, aku tidak bisa lihat yang orang bicara putar-balik. Sudahlah, sampai lain kali saja!”
Ia tolak daun pintu, ia terus bertindak keluar.
Toa-nio dan Leng In mengikuti keluar.
“Nona Giok, tunggu sebentar,” berkata si nyonya. “Aku si nelayan perempuan yang menjemukan memang biasanya tidak bisa bicara dengan manis, ini juga sebabnya aku jadi tidak punya sanak dan tidak punya kadang, tidak punya senderan dan andalan, tetapi kendati demikian, mustahil kita orang tidak mengerti maksud baik dari kau orang, ayan dan anak. Nona, aku minta kau jangan pandang aku sebagai si perempuan gila, yang ngomong ngaco-belo. Kalau sebentar kau pulang, pergi kau sampaikan pada ayahmu, bahwa aku telah ketemu orang berilmu, yang telah ajarkan aku sedikit ilmu, hingga aku mengerti juga perihal hong-soei.Kau lihat Hie-tjoen, di waktu malaman terang bulan seperti ini! Tidakkah ini desa mirip dengan Toh Hoa Goan, itu daerah sumbernya bunga toh dalam kenang-kenangan? Di luar tahunya kau orang, desa yang begini inilah, sekarang telah mulai tertawung dengan awan kedukaan dan halimun kesedihan. Jikalau mataku tidak lamur, kira-kira dalam tempo sepuluh hari ini, aku kuatir bakal terjadi suatu bencana besar, begitu besar hingga aku kuatir juga, kendati kita jaga, belum tentu bencana itu bisa diluputkan! Tinggal dengan tenang tetapi toh tetap memikirkan dan bersiaga terhadap mara-bahaya itu adalah ujar-ujarnya rasul dan nabi, untuk kita orang menjaga dan pelihara diri. Tjoen-tjoe ada satu orang berpengalaman dari kalangan Sungai Telaga, ia mestinya mengerti ini. Bukankah tinggal di Hie-tjoen, kauorang ada secara mengungsi?Kau orang ada punya rumah tangga, rumah tangga asli dan asalnya, di manakah adanya? Bukankah kau orang ada sama saja dengan kita, yang sedang merantau? Tempat ada begini bagus dan aman, apakah tidak sayang andaikata tempat ini mesti dipasrahkan pada lain orang? Nona, aku telah bicara, sekarang, percaya atau tidak, terserah pada kau orang! Aku hendak utarakan rasa syukurku pada kau orang, ayah dan anak, yang sudah tidak segera usir kita yang sekarang lagi menumpang di sini. Dengan sebenarnya, kita masih ingin tinggal lamaan sedikit di ini tempat..... Di bawahnya sarang yang terbalik, tidak akan ada telur yang utuh, maka utuh, selagi kau orang sebagai tuan rumah masih tidak mampu bela diri, apalagi kita, orang-orang tumpangan, tetamu yang tidak diundang? Tapi mudah-mudahan, ketemu bahaya, bahaya itu bisa berubah menjadi keselamatan, ketemu kesukaran, kesukaran itu bisa menjadi kebaikan, dengan begitu, itu berarti keberuntungan dari aku, si perempuan nelayan tua yang tak berguna.......”
Giok Kouw tercengang mendengari orang punya ucapan yang panjang lebar itu, ia bisa lihat ucapan dikeluarkan dengan suara dan roman sungguh-sungguh, tetapi semua itu tidak masuk pada otaknya. Ia anggap nyonya ini benar-benar sedang ngaco-belo!
“Ia telah berlaku tidak semestinya pada kita, tetapi sekarang ia hendak bujuki kita,” demikian ia pikir, “apakah ia kira kita ada bocah-bocak cilik, yang boleh dilagui?”
Karena memikir demikian, nona Tan tertawa.

“Yan Toa-nio, kau bukan melulu pandai di muka air, tapi kau ternyata ada seperti separuh dewa!” kata ia dengen mengejek. “Mengetahui kau ada berilmu, cara bagaimana kita orang berani tidak percaya kau? Baiklah, sebentar aku nanti sampaikan ucapan kau ini pada ayahku, aku akan anjurkan supaya ayah lekas-lekas ajak semua penduduk dari Hie-tjoen pergi menyingkirkan diri, supaya kalau nanti ancaman bahaya telah datang, mereka tidak usah menjadi menjesal dan penasaran! Kita orang tadinya tinggal dengan aman dan senang di ini tempat yang indah, sekarang ternyata, kita orang tidak punya rezeki buat tinggal kekal di tempat yang indah dan makmur ini. Inilah yang dibilang orang yang tidak punya hokkie mesti mengalah pada orang yang hokkienya besar! Dengan angkat kaki, kita jadi bisa serahkan tempat kita pada orang yang kehendaki ini, apakah itu bukan takdir?”
Setelah kata begitu, dengan bersenyum sindir, Giok Kouw lantas angkat kakinya, buat berlalu dari rumah gubuk itu.
Yan Toa-nio dan gadisnya berdiri di depan pintu, mereka mengawasi terus pada si nona tetamu, mereka seperti juga tidak mau masuk ke dalam gubuk mereka. Giok Kouw ketahui orang punya kelakuan itu, ia berpura-pura tidak tahu dan jalan terus, di bawahnya sinar bulan yang permai itu. Sebab jagat ada sunyi, nyata ia dengar ucapannya Yan Toa-nio yang terakhir, katanya:
“Ini bocah perempuan tidak mau percaya perkataanku, sayang.... Nanti sesudah bencana besar datang menimpa, barulah ia percaya padaku....”
Giok Kouw tidak gubris itu “ocehan”, ia malah jalan lekas-lekas akan pulang ke dalam kampungnya......
 Tatkala itu, seluruh dusun sudah sunyi sekali, tandanya semua penduduk sudah pada tidur nyenyak, tetapi ketika Giok Kouw sampai di rumahnya dan menolak pintu pekarangan, ia dapati ayahnya sedang berdiri di latar, lagi jalan mondar-mandir. Dan ayah ini bersenyum apabila ia melihat puterinya pulang.
“Anak nakal, kau benar bernyali besar!” ini ayah menegur sambil tertawa. “Kau jadinya sudah pergi pada itu ibu dan anaknya di mulut muara! Bukankah kau telah berhasil memperoleh keterangan jelas perihal mereka itu berdua?”
Ditegur demikian, mukanya Giok Kouw menjadi merah dengan mendadak. Ia keluar di luar tahunya ia punya ayah, siapa nyana, ayah itu telah dapat ketahui ia punya perbuatan. Tapi karena ia pulang dengan tangan kosong, malah dengan menahan kemendongkolan, ia jadi mungsang-mangsing.

“Ayah, apakah kau kira kita orang berdua masih bisa tinggal di sini lebih lama?” demikian ia kata pada orang tua itu. “Tidak bisa tidak, ayah, kita harus segera usir itu ibu dan anaknya, mereka itu tidak boleh tinggal lebih lama lagi di desa Hie-tjoen kita ini, tidak juga di daerah Giok-liong-giam! Mereka ternyata telah pandang kita orang sebagai nelayan biasa saja, yang kasar dan bodoh! Ayah, tidak saja mereka berani perhina kau, juga aku, aku mereka berani permainkan! Mereka pandang kita penduduk Hie-tjoen tidak berharga semuanya, mereka mesti segera diusir pergi! Kalau tidak, kecewa kita dari pihak Kioe-she Hie-kee!”
Tan Tay Yong tidak menjadi heran melihat sikap gadisnya ini, yang menjadi uring-uringan, karena ia bisa lantas duga, mestinya juga ini anak telah tidak dapat sambutan manis dari mereka punya dua tetamu yang tidak diundang itu. Ia tidak mau menggoda lebih jauh, malah ia manggut-manggut ketika ia jawab gadis itu:
“Baik! Kita orang mesti kasih rasa pada itu dua orang, supaya mereka tidak lagi pandang tidak mata pada kita dari pihak Hie-tjoen! Tapi, bagaimana itu ibu dan anak perlakukan kau? Mari kita duduk di dalam, supaya kau bisa menutur dengan jelas, supaya aku bisa pikir, tindakan apa aku mesti ambil...............”
Giok Kouw turut ayahnya, maka mereka lantas masuk, begitu lekas sudah berduduk, ia lantas ceritakan halnya ia punya penyelidikan, bagaimana bermula ia saksikan kepandaian dari itu anak dara dan ibunya, sampai kemudian ia bicara sama mereka, mulai dari manis, buntutnya ia orang jadi seperti berbentrok, karena ia tidak bisa dengar “ocehannya” Yan Toa-nio itu.
Tan Tay Yong terperanjat buat dengar Yan Toa-nio dan gadisnya mengerti “Eng Hoan Tiauw Kie Tjiang” dan “Toe Soei Pay Tjhioe”, dua macam ilmu menimpuk dan menyambut timpukan batu, yang berhubungan satu sama lain. Itu ada salah satu ilmu dari “ahli dalam” (lwee-kee) yang liehay. Ia malah belum pernah dengar, ada orang perempuan yang yakinkan ilmu itu, yang meminta tenaga luar biasa.
“Kenapa mereka mengerti dua macam ilmu itu?” demikian ia pikir. “Terang sekali, ibu dan anak itu ada punya asal-usul yang tidak sembarangan. Perlu aku selidiki mereka dengan teliti. Di pihak Kioe-she Hie-kee, adalah ketua Tan Tjeng Po dan Lim Siauw Tjhong yang mengerti kedua macam ilmu itu..........”
“Selanjutnya kau baik jangan coba pergi pula pada mereka itu,” akhirnya ia pesan ia punya anak. “Kita tidak boleh kasih alasan hingga mereka curigai kita. Aku nanti berdaya akan selidiki mereka lebih jauh.”
Demikian, besoknya, diam-diam Tan Tjoen-tjoe telah kasih perintah pada penduduk Hie-tjoen akan mereka intip gerak-geriknya itu dua tetamu perempuan, tetapi mereka dipesan supaya jangan kasih kentara hal pengintipannya itu. Meski demikian, “ganjalan” toh telah mengambil tempat.
Empat buah perahu telah ditaruh di mulut muara, dekat gubuknya Yan Toa-nio dan anaknya. Kewajiban perahu-perahu ini adalah buat setiap waktu, siang dan malam, pasang mata atas itu nyonya dan nona. Yan Toa-nio berdua tidak bisa larang orang dekati mereka, meski sebenarnya mereka tidak puas. Mereka menumpang dan tidak punya hak apa-apa, dan rombongan pengintip juga tidak ganggu mereka. Adalah selang tiga empat hari, baru ganjalan tercipta.
Empat nelayan muda tidak punya cukup kesabaran, tidak saja mereka tidak berlaku hati-hati, malah mereka sengaja goda itu ibu dan anak. Kalau Yan Toa-nio keluar menangkap ikan, mereka menguntit, mereka sengaja datang dekat-dekat, dan apabila orang sedang menebar jala, mereka sengaja majukan perahu mereka, hingga ikan jadi kaget dan lari.Benar mereka tidak kata apa-apa, toh terang ini ada berupa gangguan.
Pada suatu hari, Leng In keluar sendirian, justru ia hendak lepas jalanya, ia diganggu oleh empat pemuda nelayan, hingga ia jadi mendeluh. Batal menangkap ikan, ia angkat jalanya, ia punya perahu ia kasih laju, dengan pesat, dengan tidak menoleh lagi pada mereka itu, ia berseru, sebagai juga seorang diri, katanya:
“Kawanan kerbau dungkul, apakah kau orang mau adu kepandaian sama nona Yan! Nyatalah kau orang sendiri yang berniat pesiar ke dalam istananya si raja naga!”

Empat pemuda itu tertawa berkakakan melihat orang pergi dengan belum dapat barang seekor ikan, hampir dengan berbareng, mereka geraki penggayuh mereka, buat kasih perahu mereka menyusul. Mereka berniat terjang perahunya si nona hingga terbalik. Mereka tidak puas terhadap ketua mereka, yang dikatai bersikap terlalu lemah pada itu dua tetamu perempuan, sekarang mereka mau umbar kemendongkolannya itu.
Sebenarnya Leng In ada terlebih pandai dalam menggunai penggayuhnya, ia punya perahu laju pesat luar biasa, apa mau sekarang ia hadapi perahu yang menggunakan empat penggayuh dan yang geraki penggayuh pun ada orang-orang muda, yang bertenaga besar, yang semangatnya sedang berkobar-kobar, tidak heran, belum terlalu lama, ia punya perahu sudah dapat didekati, melulu karena ia pandai kemudikan perahunya itu, ia tidak sampai bikin perahunya kena kebentur. Tapi ini melulu bikin empat nelayan itu jadi gusar, saking penasaran karena berulang-ulang, maksud mereka selalu kacau. Mereka telah mandi keringat, mereka jadi malu sendirinya. Lalu, dengan mengincar, mereka coba lagi sekali, akan tabrak si nona.
Leng In tidak mau kasih perahunya diterjang, kendati demikian, dengan sendirinya, ia bikin kendaraannya terbalik dan karam begitu lekas ia sudah bisa menyingkir dari tabrakan yang hebat itu, ia telah mesti tercebur dan hilang dari muka air.
“Hura!” berteriak itu empat anak muda, berulang-ulang. Mereka puas sekali melihat orang punya perahu tenggelam dan si nona mandi terpaksa. Tapi baru saja mereka berhenti berteriak-teriak, atau mereka sekarang pada menjerit: “Eh, eh, celaka! Ia tentu ganggu kita!........”
Itulah sebab perahu mereka mendadak bergoncang. Perahu itu memang tidak laju lagi, begitu lekas mereka tungkulan bersorak hingga mereka alpakan penggayuh mereka.
Mereka kaget tidak lama, atau kaget itu sampai di puncaknya! Mendadak perahu mereka terbalik, hingga dengan tidak berdaya, mereka mesti pada terjun ke air, mengantapi perahu mereka itu tenggelam. Dua di antaranya, saking kaget, sudah kena telan air, sampai mereka gelagapan. Syukur mereka semua pandai berenang, dari itu berdua mereka sampai tenggelam. Sekarang mereka mesti muncul di muka air sambil berenang.
Leng In sudah muncul duluan, dengan sebat ia telah bisa bikin perahunya terbalik pula, buangi airnya dan lompat naik atas perahu itu, buat terus digayuh. Ia sengaja tujukan kepala perahu pada itu empat nelayan, hingga mereka ini mesti lekas-lekas menyelam supaya tidak sampai kena kebentur! Dan ketika mereka timbul pula, mereka lihat si nona telah kasih perahunya laju menuju ke mulut muara!
Empat pemuda ini menjadi masygul berbareng mendongkol, sia-sia saja mereka gunai tenaga mereka, siapa tahu kesudahannya mereka kecele, mereka sendiri yang dibikin keok dan malu. Dengan lesu, mereka perbaiki perahu mereka dan gayuh pulang....
Adalah sejak kejadian ini, anak-anak muda itu jadi tidak berani lagi bertindak sembarangan.
Dua hari lewat sejak kejadian tersebut, mendadak di mulut muara ada muncul dua rombongan tjoan-pang atau perahu, yang nyata ada kepunyaannya pihak Eng-lok-kang udik. Maka tidak heran, rombongan perahu itu seperti telah memenuhkan atau menutup mulut muara.
Di mana pihak Hie-tjoen memang ada punya perahu-perahu penilik di sebelahnya mereka yang biasa keluar-masuk hampir tidak putusnya, tidak heran apabila datangnya rombongan perahu-perahu asing ini segera dapat diketahui. Laporan segera sampai pada Tan Tay Yong , begitu juga laporan dari empat pemuda nelayan yang diwajibkan mengintai si ibu dan gadis, malah mereka ini menyangka ibu dan anak itu ada kawannya pihak Eng-lok-kang udik itu, hingga dua orang perempuan itu jadi semakin dicurigai.
Untuk membikin penyelidikan sendiri, dengan menyamar, Tan Tay Yong keluar dengan sebuah perahu kecil. Ia telah berlayar memutar, kemudian ia balik, ke dekat gubuknya Yan Toa-nio. Sampai sebegitu jauh, ia pun sudah lantas bercuriga, karena ia lihat, dua rombongan perahu itu bukannya perahu-perahu mayang yang sering tertampak dari lain-lain rombongan nelayan.
Di sepanjang dua tepi mulut muara ada berbaris tidak kurang dari tiga puluh buah perahu. Anehnya tidak ada di antara perahu itu yang memuat penumpang perempuan. Pun kelihatan kecuali tiga orang tua, usia di atas lima puluh tahun, yang lain kebanyakan ada pemuda-pemuda umur dua sampai tiga puluh tahun. Ia lihat segala pesawat keperluan nelayan akan tetapi, di mata yang tajam dari Hie-tjoen Tjoen-tjoe, mereka mestinya bukan bermaksud menangkap ikan melulu.
Sesudah menyelidiki sekian lama, Tay Yong kembali ke dalam muara.
Pihak Hie-tjoen memang larang orang menangkap ikan di daerahnya, dilarang juga orang asing dan perahunya bermalam di daerah dusun perikanan ini, akan tetapi itu dua rombongan, mereka tidak bisa datang-datang usir, sebab ia orang sedang singgah dan singgahnya juga di luar mulut muara. Buat mengusir, mereka tidak dapati alasan.
Sesampainya di dalam dusun, Tay Yong kasih perintah bunyikan suitan bambu, buat kumpulkan semua penduduk Hie-tjoen. Maka semua nelayan menjadi repot, lekas sekali mereka siap sama layar mereka. Mereka heran juga, selagi air pasang dan bukan waktunya buat keluar bekerja, mereka mesti dengar itu pertandaan.
Dengan dikepalai oleh perahunya Tay Yong, semua perahu nelayan segera bergerak. Dalam satu rombongan besar atau lerotan panjang, mereka menuju ke satu tempat jauhnya lebih dari pada satu lie dari Hie-tjoen. Di sini mereka bisa berkumpul dengan leluasa. Tapi karena mereka kumpul di sini, baru semua nelayan ketahui yang mereka keluar bukannya buat tangkap ikan.
Oleh karena mereka sudah terlatih, mereka telah atur rapi barisannya mereke punya perahu masing-masing, kemudian yang menjadi kepala rombongan, yang dipanggil tauwbak, atas satu tanda, datang berkumpul bersama ketua mereka.
“Kita orang sekarang berkumpul di sini, karena satu bahaya sedang mengancam kita,” kata Tan Tay Yong dengan langsung. “Kita orang mesti berkumpul buat berunding, supaya kita orang jaga saja diri kita baik-baik. Tegasnya, aku ingin kita orang bersiap, buat membela diri.”
Tay Yong telah dapat sambutan yang hangat, karena semua nelayan sudah mengerti keadaan mereka, hingga mereka tidak bersangsi sedikit juga, akan berikan janjian – janji tenaga dan jiwa. Mereka nyatakan bersedia akan turut segala titah atau pengaturannya ini ketua.
Buat sementara, Tay Yong mau pecah semua penduduk dalam dua rombongan, buat menjaga siang dan malam dengan tergiliran. Kecuali mulut muara, yang dijaga keras, di atas Giok Liong Giam juga hendak dipasang pengawas di empat penjuru, supaya dari jauh-jauh mereka sudah bisa dapat lihat apabila ada gerakan apa-apa dari pihak penyerang.
“Juga yang giliran menjaga siang tidak boleh alpa,” Tay Yong minta. “Aku tidak bilang musuh akan serang kita ini malam, akan tetapi mereka pasti bisa serang kita setiap waktu. Mereka telah datang dari tempat jauh, mestinya mereka sudah siap betul-betul. Andaikata musuh menyerang, selainnya menangkis, tindakan pertama adalah mengasih tanda, supaya semua pihak kita bisa lantas sedia akan sambut mereka. Terutama mulut muara mesti dijaga keras. Panah kita mesti sedia banyak. Musuh tidak boleh diizinkan bisa lintasi mulut muara.”
Tan Tay Yong juga sediakan dua puluh orang, akan teristimewa menjaga pihaknya Yan Toa-nio, yang mesti dikurung.

“Mereka itu liehay sekali, panah saja mereka dari jauh,” ia pesan. “Jangan dekati mereka, kendati kau orang mengerti silat, itulah percuma. Aku pun nanti coba tindas mereka terlebih dulu, agar mereka tidak jadi penyambut bagi pihak musuh.
Kemudian Tay Yong kasih tahu, ini ada tindakan pertama, dan tindakan kedua ia akan pikir lebih jauh. Tindakan kedua ia maksudkan sebagai daya akan selamati Hie-tjoen untuk selama-lamanya.
Semua nelayan unjuk semangat mereka, mereka ada tidak senang dan bersedia buat bergulat.
“Tjoen-tjoe jangan kuatir,” kata satu nelayan, yang bernama Lim Siong Soe. “Tidak nanti kita tinggalkan Hie-tjoen – kita akan hidup atau musnah bersama-sama dusun kita ini. Kalau terpaksa, aku akan bikin karam semua perahu kita, supaya musuh tidak dapat punyakan!”
Lim Siong Sioe ini ada Tan Tay Yong punya tauwbak keempat. Sama sekali ada empat tauwbak, yang setiap harinya, apabila sedang keluar menangkap ikan, ada pegang pimpinan, mewakilkan tjoen-tjoe. Semua nelayan mesti tunduk pada mereka. Tauwbak pertama ada Wan Sam Sioe, yang kedua Yap A Tiong, dan yang ketiga Ho Djin. Mereka semua masih muda, pandai berenang di air. Di antaranya adalah Siong Sioe, yang mengerti silat cukup baik, adatnya pun paling keras.
“Kau benar, saudara Lim,” kata Wan Sam Sioe. “Kita dari pihak Kioe-she Hie-kee, ke mana saja kita pergi, kita tidak boleh kasih orang pandang renteng, biar musuh ada punya tiga kepala dan enam tangan, kita toh mesti lawan padanya!”
“Jikalau kau orang sudah insyaf, itu bagus,” kata Tay Yong pada dua orang kepercayaannya itu. ‘Memang, berhasilnya kita melindungi Hie-tjoen berarti juga kita pegang kekal pamornya Kioe-she Hie-kee. Sekarang karena gentingnya keadaan di mana kau orang telah akui, aku minta kau orang semua dengar aku! Siapa saja, ia mesti turut perkataanku! Umpama kata ada orang yang bandel dan bantak aku, aku tidak mau hukum padanya, tetapi aku minta aku diganti oleh lain orang! Bukankah di antara kita tidak ada orang luar?”
“Kau keliru, tjoen-tjoe,” Yap A Tiong berkata. “Kita telah angkat kau menjadi tjoen-tjoe, sudah tentu kita akan dengar perkataan kau! Kita ada punya aturan, siapa bersalah, tjoen-tjoe mesti jalankan aturan terhadap dianya! Bukankah kita sekarang tidak bisa lago angkat kaki dari Hie-tjoen, melulu buat hidup sendiri?”
“Perkataan kau, saudara, menyatakan kau punya kecintaan atas diriku!” Tay Yong bilang.
Kemudian Ho Djin nyatakan apa tidak terlebih baik, mereka turun tangan terlebih dulu terhadap Yan Toa-nio dan anaknya.
“Tidak,” Tay Yong jawab. “Kita curigai mereka, tetapi bukti kita belum punya, sebagai laki-laki, aku malu menghina orang perempuan! Sekarang kita perlu awasi saja sepak-terjangnya mereka,”
“Kalau begitu, kasihlah aku yang ajak saudara-saudara pergi mengawasi mereka,” Ho Djin minta tanggung jawab. “Apabila benar mereka main gila, aku ingin sekali buktikan, bagaimana sih liehaynya mereka!”
Tan Tay Yong terima baik permintaan itu.
“Tapi ingat kehormatan kita, aku minta jangan kau sembrono,” ia pesan. Ia lantas tetapkan kewajibannya tauwbak itu, kemudian ia kata pada Siong Sioe: “Silakan bawa semua perahumu pergi menjaga mulut muara. Jaga supaya jangan ada perahu kita yang sembarangan keluar batas. Sebelum musuh unjuk bukti mereka mau menyerang, kita pun jangan kentarakan suatu apa. Aku kasihkan kau dua puluh saudara, mereka mesti sembunyi di mulut muara, di pepohonan, di tanjakan, sedialah panah, apabila musuh merangsek, lantas gencet dan serang mereka. Di waktu bertempur, kita tidak boleh bersangsi lagi akan turun tangan. Sekarang ada saatnya buat kita jual jiwa!”
“Benar, tjoen-tjoe!” sahut Lim Siong Sioe, yang terima kewajiban itu.
Setelah itu, Tan Tay Yong kasih perintahnya pada Wan Sam Sioe dan Yap A Tiong:
“Kau orang berdua boleh kepalai masing-masing punya rombongan seperti biasa. Sam Sioe, kau boleh menjaga, di depan Hie-tjoen. Kau, A Tiong, kau boleh pecah-pecah rombonganmu itu, begitu sang malam datang, lantas kau rondai seluruh daerah kita. Sekalipun tempat yang buntu, kau mesti perhatikan, maka itu, kirimlah dua perahu dengan dua saudara, menjaga di kaki Giok Liong Giam, asal ada gerakan apa-apa, mereka ini mesti segera memberi tanda.”
“Tjoen-tjoe nampaknya terlalu berhati-hati,” A Tiong bilang. “Bukankah dari atas Giok Liong Giam tidak ada jalanan sama sekali? Dari mana juga, dari pihak bukit, kita sebenarnya tidak punya hubungan sama pihak luar yang mana saja.....”
“Bukannya begitu, saudara Yap. Kita lebih baik berhati-hati daripada beralpa. Bukankah penjagaan itu tidak ada ruginya bagi kita”? Maka, silahkan kau pergi bekerja!”
A Tiong tidak membantah. Ia pun terima baik kewajibannya.
Kemudian Tay Yong berikan lain-lain titah, sesudah mana ia ajak semua nelayan berangkat pulang, buat mereka itu lantas bekerja.
Giok Kouw sambut ayahnya, tempo ayah itu pulang, ia lantas tanya apa yang ayah itu atur.
Tay Yong tuturkan segala apa pada anaknya itu, pada siapa ia tidak simpan rahasia.

“Hie-tjoen ada daerah yang bagus, aku percaya, biarnya ia liehay, musuh rasanya tidak akan mampu celakai kita,” Giok Kouw nyatakan. “Apa yang aku harap adalah rombongan di muka muara kita itu bukannya dari pihak Eng-lok-kang udik, yang dulu ada jadi musuh kita. Tentang mereka perlu dicari tahu, supaya kita tahu pasti mereka ada dari golongan mana.”
“Kau benar, anak. Turut penyelidikanku, mereka pasti bukannya penduduk Eng-lok-kang yang tinggal berdekatan sama kita, aku percaya sebagian di antaranya ada dari Eng-lok-kang udik, sisa dari musuh-musuh kita yang duluan menjadi pecundang kita. Kalau aku tidak salah, mereka ada rombongan Kang San Pang dari Yo Ban Hoo, hanya apa yang aneh, di antara mereka tidak ada hoei-hie-tjoen, perahu-perahu istimewa dari rombongan itu.”
“Kalau begitu, kita perlu bikin penyelidikan lebih jauh,” Giok Kouw nyatakan.
“Aku pun sudah pikir begitu. Kalau sebentar tidak ada perubahan apa-apa, aku hendak ajak beberapa saudara yang pandai berenang dan menyelam, akan hampirkan perahu-perahu mereka.”
“Ayah benar, malah lebih lekas lebih baik.”
Boleh dibilang hampir tidak mengaso lagi, Tan Tay Yong lantas keluar pula, sekarang guna tilik semua nelayan, akan lihat mereka itu punya pekerjaan sebagaimana tadi telah diatur, kesudahannya ia merasa puas. Semua orang telah bekerja betul dan malah mereka itu nampaknya siap sungguhan, seperti juga bahaya sudah pasti bakal mengancam mereka.
Tan Tjoen-tjoe punya hati jadi tenteram sekali, karena ia percaya, dengan jalan akur dan bersungguh hati, bahaya, andaikata ada, tentu bisa dihindarkan. Karena ini ia lalu tetapkan niatannya akan bikin penyelidikan ke perahu asing. Tapi sebelumnya pulang, ia pergi ke mulut muara, akan tilik rombongan perahu-perahu yang dicurigakan itu. Buat keheranannya, selama itu pihak asing itu telah dapat tambahan lebih daripada dua puluh perahu lagi, semuanya perahu-perahu kecil, yang lajunya pesat. Meski begitu, penumpang-penumpang perahu itu anteng semuanya, mereka bicara dan pasang omong dengan merdeka dan sewajarnya, pada mereka tidak tertampak gerakan apa juga yang bisa datangkan kecurigaan.
“Benar ini luar biasa,” pikir Tan Tay Yong.
Dalam perjalanan pulang, ketua Hie-tjoen ini coba melongok ke gubuknya Yan Toa-nio dan anak, ia lihat ibu dan anak, dengan tenang, sedang bekerja membikin bale atau pembaringan bambu, mereka ini sama sekali tidak bersikap luar biasa. Pemandangan ini menambah leganya ia punya hati.
Selagi lewat di tempat di mana berada rombongan perahunya Lim Siong Sioe – barisa ke empat – Tay Yong lihat, tauwbaknya lagi jalan mondar-mandir di gili-gili, melihat padanya, tauwbak itu menegur. Tiba-tiba ia ingat suatu hal, ia lantas gapein tauwbak itu.
“Aku ingin kau lakukan suatu pekerjaan,” kata ketua ini, sesudah Siong Sioe hampirkan ia. “Apa kau bisa pilih beberapa orang di antara orang-orangmu yang paling pandai berenang dan menyelam?”
”Aku bisa sediakan orang-orang itu,” Siong Sioe jawab. “Dua puluh tahun berada dalam latihan bersama, saudara-saudaraku semua sudah boleh diandalkan. Apa tjoen-tjoe berniat bokong musuh?”
Ditanya begitu, Tay Yong tertawa.
“Saudara, kau ngaco!” ia kata. “Orangmu cuma dua puluh lebih dan perahu-perahu di sana sekarang telah jadi lima puluh lebih, satu tanda jumlah jiwa penumpangnya ada banyak, maka itu, cara bagaimana kau bisa pikir buat serang mereka dengan diam-diam? Aku tidak pikir demikian, saudara, aku hanya ingin bikin penyelidikan buat dapati kepastian, mereka sebenarnya datang dari mana dan dari golongan mana. Mengetahui jelas tentang mereka berarti ada lebih gampang buat kita hadapi mereka itu. Maksudku adalah kirim beberapa perenang menghampirkan perahu-perahu mereka, akan selidiki mereka dari dekat.

 

Setelah mengetahui maksud ketuanya, Lim Siong Sioe bersenyum.
“Aku kira pekerjaan bagaimana, tidak tahunya cuma penyelidikan,” berkata ia. “Itulah tidak berarti banyak! Tjoen-tjoe, serahkan pekerjaan itu padaku, tjoen-tjoe harap sedia saja buku jasa, untuk catat nama rombongan kita!”
“Saudara, jangan kau pandang pekerjaan ini seperti permainan anak-anak,” Tay Yong mengasih ingat. “Bukankah pepatah ada bilang, kenal diri sendiri, kenal musuh, baru seratus kali berperang kita bisa seratus kali menang? Tapi aku tidak mengharap begitu, buat aku, cukup asal Kioe-she Hie-kee bisa lindungi pamornya. Di kalangan kita, kau memang terkenal gagah, tetapi di kalangan Sungai Telaga, kau mengerti orang pandai bukannya sedikit. Kalau kita alpa dan memandang enteng semua orang, gampang sekali kita dibikin gagal. Kalau kita pergi bekerja, jangan lantas kita harapi pahala sudah cukup, asal kita jangan bekerja salah. Kita mesti jaga, kita pergi buat berhasil, tetapi jangan, kita pergi buat kasih orang bikin kita kecele dan malu.....”
Tan Tay Yong tahu tauwbak itu beradat tinggi dan berhati keras, maka itu, ia telah bicara dengan tandas.
Lim Siong Sioe tidak berani adu bicara sama ketuanya, meski ia tidak setujui nasihat ketua itu.
“Baiklah, tjoen-tjoe, aku nanti pergi,k aku tidak akan bikin gagal!” ia kata. Kendati demikian, pada air mukanya tertampak nyata ia ada kurang puas.
Melihat orang punya sikap itu, Tay Yong punya hati ada tidak tenteram, akan tetapi karena ia tahu, tidak ada lain rombongan nelayan yang terlebih pandai daripada barisan keempat ini, ia terpaksa percayakan kewajiban penting itu pada ini tauwbak.
“Baiklah,” ia kata. Ia terus kasih tahu, bagaimana penyelidikan mesti dilakukan, kemudian lagi sekali ia pesan wanti-wanti supaya tauwbak ini berlaku hati-hati. Sesudah itu, ia terus pulang.
Kapan sang malam telah sampai, pihak Hie-tjoen telah siap dengan penjagaannya, di antara itu, rombongan keempat juga siap, buat jalankan kewajiban yang dipasrahkan oleh ketua mereka. Dalam gelap gulita, Siong Sioe pimpin ia punya pasukan. Setiap satu tumbak jauhnya, ada laju dua buah perahu, setiap perahu ada muat dua nelayan dengan dua tempuling dan dua panah berikut banyak anak panahnya. Dandanan mereka ada celana pendek, baju ringkas dan kepaladibungkus. Mereka tidak bawa pelita atau obor, tapi mereka tidak maju terus, hanya menantikan waktu.
Di kiri kanan dan mulut muara, yang tinggi merupakan bukit, ada masing-masing sepuluh nelayan yang membikin penjagaan. Perhatian mereka ditujukan terutama ke jurusan gubuknya Yan Toa-nio. Mereka ini termasuk pada rombongan dari pasukan ketiga dari tauwbak Ho Hong, yang ada membawa delapan perahu pengawasan.
Barisannya Yap A Tiong, enam belas buah perahu rombongan kedua, tersebar di muka air, buat meronda. Setiap perahu ada bawa alat tanda, buat mengasih tahu ada bahaya atau buat kumpulkan kawan.
Tan Tay Yong sendiri, bersama empat nelayan sebagai pengikutnya, menilik semua-semua, guna lihat orang bekerja sungguh-sungguh atau tidak. Persiapan malam dan siang memang ada beda.
Kurang lebih jam satu, Lim Siong Sioe mendarat, naik di puncak mulut muara. Dari sini ia bisa melihat jauh ke jurusan pihak asing, yang disangka musuh. Di sana, keadaan ada tenang. Cuma satu cahaya terang ada tertampak.
“Sedari mulai gelap tadi, sampai sekarang, mereka itu tidak bikin gerakan apa juga,” begitu keterangannya satu nelayan, yang pasang mata.
“Baik, kau jagalah seperti biasa,” kata Siong Sioe, yang lantas kembali ke perahunya.
Sekarang tauwbak ini panggil empat saudaranya, yang ia mau ajak pergi bikin penyelidikan. Ia jelaskan pada mereka hal tugas yang tjoen-tjoe serahkan padanya, ia unjuk bahwa ia telah omong besar, maka ia minta itu empat kawan suka bekerja sama-sama ia dengan sungguh-sungguh. Ia kata, ia malu pulang ke Hie-tjoen andaikata mereka gagal.
“Jangan kuatir, tidak nanti kita bikin kecele pada tjoen-tjoe,” kata empat kawan itu.
“Bagus! Sekarang hayo kita mulai bekerja!” kata Siong Sioe dengan girang.
Empat kawan itu, dengan ampir berbareng, lantas terjun ke air, buat terus berenang sambil menyelam, Siong Sioe sendiri menyusul paling belakang. Ia benar liehay, dengan lekas ia telah bisa susul empat kawan itu. Cepat sekali mereka sudah sampai di luar mulut muara. Di sini mereka timbul sebentar, akan menyedot hawa, akan lihat jurusan.
“Kita mesti pecah dua,” Siong Sioe kata. “Kau orang berdua maju dari kanan, aku bertiga dari kiri. Harap kau orang berlaku hati-hati.”
Dua nelayan yang jalan di kanan itu ada Tjio Liong dan Tjian Sioe Gie. Dua, yang turut tauwbak ini, ada Thia Toa Yoe dan Ie A Po.
Dengan berenang dan menyelam bergantian, berlima mereka menghampirkan perahu-perahu asing. Mereka bisa datang dekat dengan tidak nampak rintangan. Dengan tanda, Siong Sioe minta kawan-kawan itu jangan lantas dekati perahu, hanya mereka mesti melanglang dulu, guna lihat orang ada pasang pengawas atau tidak.
Sendirian saja, Siong Sioe berenang ke sebuah perahu besar, di mana ada cahaya api. Ini perahu berlabuh di tengah-tengah dari yang lain-lain. Ia angkat kepalanya tinggi-tinggi setelah ia sudah datang dekat. Sekarang ia dapat buktikan kebenarannya dugaan dari Tan Tay Yong. Perahu besar ini ada dari Kang San Pang. Dan perahu macam itu ada tujuh, berlabuhnya bercampuran sama lebih daripada tiga puluh perahu lainnya, hingga dari jauh, ada sukar buat mengenali dengan segera.
Siong Sioe berlaku hati-hati sekali. Ketika itu ia berada di belakangnya perahu besar itu. Ia cabut golok, yang ia sorong di pinggangnya. Ia kuatir musuh ada pasang jaring atau gaetan. Dalam gelap gulita, biar bagaimana juga, orang tidak bisa bergerak leluasa seperti di waktu siang. Jalan bisa meringkus orang tetapi gaetan adalah pertandaan.
Memegang perahu, dengan hati-hati sekali, Siong Sioe gunai tenaganya, buat angkat ia punya tubuh, dengan begitu ia bisa melihat ke dalam kendaraan itu – di bagian belakang. Ia lihat satu perapian besar. Di dekat situ, ada rebah seorang tua usia lima atau enam puluh tahun, rupanya empe-empe itu tidur kepulasan, karena kipasnya – kipas daun palem – menggeletak di pahanya. Api di perapian sudah hampir padam, tetapi tekonya telah kasih dengar suara air yang bergolak-golak.
Percaya tukang perahu itu sedang tidur nyenyak, Siong Sioe lalu melapay ke sebelah kiri. Di sini, dengan berani, ia lompat naik ke atas perahu, buat hampirkan jendela dari gubuk perahu. Ia dengar suara dua orang bicara, karena daun jendela tertutup rapat, ia tidak bisa memandang ke dalam.
“Kita tidak boleh pandang terlalu enteng pada orang punya daerah berharga yang seperti mustika itu,” demikian ia dengar satu suara. “Kita orang hendak buka jalan hidup buat saudara-saudara kita, buat itu kita mesti gunai antero tenaga kita. Aku percaya mereka tidak menjaga sejaga-jaganya saja, mereka mestinya ada atur daya-upaya lainnya yang sempurna.”

 

“Sebagai orang terhormat, kita tidak harus berlaku curang!” kata suara yang kedua, yang nyaring. “Kita sudah berkumpul di sini, itu tandanya kita telah berlaku terus terang. Mereka ada satu rombongan kecil, apa terhadap mereka kita perlu lagi kirim surat tantangan perang?”
Siong Sioe menjadi ketarik, ia ingin sekali lihat macamnya itu dua orang. Sekarang ia dapat lagi bukti, bukti yang memastikan bahwa Giok-liong-giam Hie-tjoen benar-benar sedang hadapi musuh – musuh buat hidup dan mati. Baru saja ia bergerak dengan niatan melewati jendela itu, atau mendadak di dalam gubuk perahu ada orang tertawa terbahak-bahak seraya terus berkata:
“Aku tidak percaya segala anak kucing dan anak anjing berani molos kemari!.......”
Ucapan itu sudah lantas disusul sama suara disingkapnya kere.
Siong Sioe terperanjat, hingga di dalam hatinya, ia berseru: “Celaka! .........” tidak buang tempo lagi, ia pegangi pinggiran perahu dan terjun ke air.
Berbareng dengan itu, di kepala perahu ada terdengar orang berseru kaget disusul dengan suara berisik.
Dengan tidak perdulikan itu semua, Siong Sioe menyelam terus ke kepala perahu, sampai ia terpisah satu tumbak labih.
Di muka air, segala apa ada gelap, di perahu sebaliknya ada kelihatan seekor ikan yang panjangnya tiga kaki lebih, telah lompat meletik ke kepala perahu, hingga di sana orang jadi berseru kaget. Karena itu, semua orang di dalam perahu lantas memburu keluar.
“Han Soehoe, ada apa?” demikian orang menanya.
Orang di kepala perahu itu segera menyahut, katanya:
“Kelihatannya usaha kita bakal berhasil! Aku ada dengar suara, aku tadinya menyangka pada kucing atau anjing, yang berniat main gila di sini, tidak tahunya seekor ikan besar sudah meletik naik ke dalam perahu kita! Ini ada suatu alamat baik, kita bakal dapat untung!”
Orang yang dipanggul Han Soehoe itu lantas unjuki seekor ikan.
“Lauw Ho, Lauw Ho!” ia lalu memanggil.

Dari dalam lantas muncul satu orang, yang matanya kesap-kesip.
Di kepala perahu sekarang berkumpul lima orang, si Ho Tua, sudah lantas angkat itu ikan, buat dibawa pergi.

“Bawa ini ikan!” ia memerintah.
Lauw Ho, atau si Ho Tua, sudha lantas angkat itu ikan, buat dibawa pergi.

Siong Sioe mengerti bahwa orang telah pergoki ia, baiknya ada sang ikan, yang rupanya kaget karena ia terjun, sudah lompat meletik ke atas, naik ke perahu, hingga perhatian orang jadi ditujukan pada ikan itu. Ia tidak takut, tetapi orang di perahu ada terlalu banyak, buat ia layani, sedang ia punya tujuan adalah bikin penyelidikan di luar tahu musuh. Tapi ia belum peroleh hasil yang memuaskan, apabila suara sudah milai sirap, ia menghampirkan ke sebelah kanan perahu itu. Ia masih ingin lihat dua orang tadi. Ini kali ia berhasil.
Dua orang itu dandanannya bukan sebagai nelayan, yang satu berusia kurang lebbih enam puluh tahun, tubuhnya tinggi besar, mukanya merah, berkumis dan brewokan hitam, bajunya ada baju panjang warna biru. Orang yang satunya lagi berusia lebih tua, ditaksir umurnya tujuh puluh tahun lebih, kumisnya jarang, mukanya kurus, tetapi sepasang matanya tajam betul sampai bersinar. Mestinya aki-aki ini ada seorang yang liehay.
Selagi Siong Sioe mengawasi terus, mendadak si brewokan hitam tertawa dan kata:

 

“Tjoei Loosoe, inilah yang dibilang, rezeki tidak datang bareng bahaya tidak jalan sendirian! Yang tadi itu adalah penipuan belaka! Lihat malam ini dua rupa kegirangan datang berbareng! Lihat, Loosoe, ikan yang belakangan ini ada terlebih besar daripada yang ditangkap tadi!”
Sembari berkata begitu, empe ini geraki tangannya, menuding ke air, berbareng dengan itu, sebuah senjata seperti paku perak, melesat menyambar ke jurusan tauwbak dari Hie-tjoen.
Siong Sioe mengawasi orang dengan tubuh tengkurap di air, kedua tangannya dipakai menahan dirinya, supaya bisa berdiam terus, ia tidak sangka bahwa ia bakal diserang secara demikian mendadak, kendati ia gesit, ada sukar buat ia tolong diri, justru ia mau bergerak dengan menjangka ia ada bagian mampus, tiba-tiba ia rasai kedua kakinya ada yang samber dan betot begitu keras, hingga ketika senjata rahasia sampai, senjata itu lewat persis di atasan kepalanya. Kemudian ia telah dibetot terus, masuk ke dalam air, sampai di bawahnya perahu besar itu, sedang kupingnya masih dengar secara lapat-lapat suara tiga orang terjun ke air, rupanya buat cari ia. Malah tiga orang itu semuanya cerdik, karena mereka telah berpencaran, salah satu di antaranya, sudah menuju ke dasar perahu.
Oleh karena ia telah dibetot secara mendadak, kendati ia pandai berenang dan menyelam, saking kagetnya Lim Siong Sioe telah kena juga tenggak air, hingga ia gelagapan, syukur buat dia, ia punya pikiran masih sadar, meski ia ada lelah, ia toh berdaya akan singkirkan diri. Ia melesat ke samping, kedua kakinya digeraki, atas mana, iapunya tubuh lantas mencelat ke atas. Satu kali kepalanya nongol di muka air, ia bisa buang napas dan menarik napas. Tapi ia tidak bisa sia-sia tempo. Ia merasa ada orang susul ia, lekas-lekas ia hunus goloknya.
Pihak pengejar rupanya ada pandai sekali, ia bisa menyusul dengan lekas, tangannya sudah lantas menjambret. Dengan egos diri ke kiri, Siong Sioe menyabet dengan goloknya. Untuk tolong diri, penyerang itu segera menyelam.
Adalah di itu waktu, muncul Thoa Toa Yoe dan Ie A Po. Mereka juga sudah kena dipergoki oleh musuh, mereka telah diserang. Pihak musuh ada bertiga. Kemudian di pihak musuh datang si brewokan, yang ternyata ada liehay, dengan bantuannya dia ini, dua nelayan dari Hie-tjoen itu dengan gampang kena ditangkap, lantas mereka dicelupkan keluar-masuk sampai mereka berkeadaan setengah mati.
Siong Sioe telah dapat lihat dua kawannya digaet naik ke perahu, ia ada mendongkol berbareng kuatir dan malu. Ia telah buka mulut besar, sekarang ia gagal. Ia malu buat pulang. Tapi, kalau tidak pulang, tidak bisa jadi. Ia perlu pulang, buat mengasih laporan. Di lain pihak, sekarang ia dikepung oleh tiga orang!........
Dalam keadaan seperti itu, tauwbak ini menjadi nekat. Ia ingin bisa bacok salah satu penyerangnya, supaya ia sedikitnya tidak hilang muka, atau ia tidak nanti binasa secara kecewa. Sayang buat ia, kendati ia pandai berenang dan menyelam, ia punya ilmu silat ada rendah, sedang tiga musuhnya ternyata mengepung ia dengan maksud separuh menilik padanya. Beberapa kali ia ditubruk, beberapa kali ia bisa egos diri.
Akhirnya si brewokan hitam jadi penasaran.

“Kalau kita tidak bisa bekuk dia ini, orang tentu tidak akan pandang mata pada kita!” demikian ia berseru. “Silakan kau orang minggir, nanti aku layani sendiri padanya! Aku mau lihat, ia sebenarnya ada orang liehay macam bagaimana!”

Lantas saja ini orang tua selam.
Siong Sioe mengerti yang ia lagi hadapi musuh tangguh, kendati benar musuh ini bicara terlalu takabur, untuk bikin perlawanan, ia tidak alpa akan ambil kepastian. Ia lihat lowongan di jurusan barat-utara, ia segera berenang ke sana, lantas ia menyelam, baru saja mengenjot tiga kali, ia sudah pisahkah diri jauhnya dua tumbak lebih. Dengan ini cara, ia bisa jauhkan diri dari dua musuh, yang sedang awasi dia. Kapan ia timbul, ia kehilangan si orang tua brewokan hitam, yang telah menyelam sedari tadi.
Untuk cari musuh, Siong Sioe celingukan, tatkala mendadak ia rasai kedua kakinya membentur suatu apa. Ia kaget, ia segera menabas ke jurusan kakinya. Baru saja ia membacok, atau bebokongnya ada yang sambar, ia segera dibetot. Ia menahan napas, ia coba pertahankan diri, tetapi justru itu, ia merasa tubuhnya segera ditolak, sampai ia terdorong jauh, hingga ia muncul di muka air. Ini ketika ia pakai, buat membuang napas akan sedot hawa udara baru.
Di depan ia, ia lihat air bergelombang, apabila ia awasi, ia lihat romannya si empe brewokan hitam. Berbareng dengan itu, di lain jurusan, ia tampak air bergelombang, cuma dalam gelap gulita, ia tidak sanggup melihat tegas. Ia menjadi heran, hingga saking bersangsi, ia tidak ingat akan lekas undurkan diri. Ia sedang bengong tatkala dengan mendadak, di belakang ia, ia dengar teguran ini:
“Manusia tidak tahu malu! Apakah kau lagi tunggui kematianmu? Kenapa kau tidak mau lekas menyingkir, lari pulang?”
Siong Sioe kaget, ia menoleh dengan lekas, tetapi ia tidak lihat orang yang menegur ia. Tapi sekarang ia insyaf, maka ia tidak berajal buat melarikan diri.
Lantas di muka air ia dengar seruan:

“Han Loosoe, malam ini kita bisa rubuh! Kita tidak boleh sudah saja, kita mesti cari padanya!”
Siong Sioe tidak perduli musuh, ia lari terus. Di tengah jalan, ia ketemu sama Tjian Sioe Gie, yang berada di kanan ia, bersama-sama Tjio Liong. Mereka lari terus, sampai di mulut muara, baru mereka merasa lega. Tauwbak itu diam saja, ia ada berduka dan malu. Ia telah kehilangan dua kawannya.
Di mulut muara mereka naik atas perahu mereka. Mereka buka pakaian mereka yang basah, buat susuti tubuh mereka.
“Aku rubuh,” akhirnya kata Siong Sioe dengan menghela napas panjang. “Aku malu buat tinggal lebih lama di Giok-liong-giam..............”
“Lim Soehoe, kenapa kau berpikiran begini cupat?” Tjian Sioe Gie kata. “Terang orang telah bersiaga. Kita berdua telah hampiri beberapa perahu, saban-saban kita orang tidak mampu datang dekat sekali, kita orang mesti dengar ucapan-ucapan pedas, yang berupa jengekan terhadap kita. Ada satu waktu, orang sengaja siram kita dengan air kotor. Karena ini kita segera mengerti yang musuh sedang permainkan kita, tetapi karena terpaksa, kita sabar saja, sampai akhirnya kita mundur sendiri.”
Siong Sioe jadi tambah berduka, ia tidak kata apa-apa pada itu dua orangnya, tapi ia punya muka ada merah dan suram, maka Sioe Gie lalu ajak Tjio Liong undurkan diri ke perahu mereka. Mereka tahu tauwbak itu sedang mendongkol.
Masih sekian lama, Siong Sioe berada dalam kemendongkolan dan kesangsian. Ia malu bukan main, terutama karena ia tahu di Hie-tjoen rata-rata orang ada hargakan ia, karena ia punya kepandaian main di air dan ilmu silatnya. Baru sekarang ia mengerti betul, siapa berada di tempat tinggi, jatuhnya parah. Karena malu, ia kertek gigi.
“Biar bagaimana, aku mesti kembali pada musuh, akan cari Toa Yoe dan A Po, untuk tolongi mereka!” demikian akhirnya ia pikir. “Kalau aku berhasil, syukur, kalau tidak, tidak nanti aku kembali kemari. Kioe-she Hie-kee ada melarang orang meninggalkan golongan sendiri tetapi aku terpaksa mesti menyingkir dari sini, aku baik pulang dulu ke Hoe Tjoen Kang, akan asingkan diri di sana.”
Setelah ambil putusan, Lim Siong Sioe lantas ambil uang, yang ia gubet di pinggangnya, sesudah itu ia ambil baju, buat dipakai. Adalah justru itu waktu, ia dengar orang ketok jendelanja sambil berkata-kata:
“Lim Siong Sioe, kau tidak tahu diri! Kenapa kau bikin turun derajatnya kau punya leluhur? Kenapa sekarang kau mau lakukan lain kedosaan lagi? Kalau sampai kau terjatuh di tangan orang, sekalian aku, kau bikin jatuh merk juga! Kenapa kau tidak mau diam saja, bantu menjaga ini mulut sungai? Cucu yang tidak berguna, awas, aku nanti terlebih dulu bereskan pada kau!”
Siong Sioe kaget, hingga bajunya baru dipakai separuh, ia sudah tunda dengan membengong. Ia tadinya menyangka pada Tan Tjoen-tjoe, yang menegur ia, tidak tahunya, suara itu bukan suaranya Tan Tjoen-tjoe.
“Siapa?” ia menegur, seraya ia buka pula bajunya. Ia sembat goloknya, dengan tidak tunggu jawaban, ia lari keluar gubuk perahunya. Tapi di perahunya itu tidak ada orang, muka air ada tenang seperti biasa. Sebuah perahu, salah satu dari rombongannya, berada di sebelah depan perahunya.
“Lie Hong,” ia tanya, “apa kau lihat orang di perahuku ini?”
“Tidak,” ada jawabannya Lie Hong, orang yang ditanya itu, ialah nelayan dari perahu itu.
Mau tidak mau, Siong Sioe menjadi heran bukan main, hingga lagi-lagi ia mengawasi muka air, yang tetap ada tenang, tidak ada tanda-tandanya bekas ada orang berenang di situ. Ia menjadi masygul, ia kerutkan alis. Akhirnya, dengan lesu, ia bertindak masuk pula ke dalam perahunya, goloknya ia lemparkan. Ia duduk dengan jatuhkan diri. Di kupingnya masih berdengung suara tadi.
“Terang ia ada orang dari pihak Kioe-she Hie-kee,” ia berpikir. “Ia toh katakan aku cucu yang tidak berguna. Di sini aku benar paling muda, sebaliknya, dari golongan tua, cuma ada empe dan entjek, maka itu, ada siapa yang panggil aku cucu? Kalau ia ada dari pihak luar, kenapa ia panggil aku cucu? Lagian, dengan penjagaan begini kuat, cara bagaimana musuh bisa datang kemari dengan tidak ketahuan atau mendapat rintangan? Jikalau benar musuh bisa masuk dengan diam-diam, oh, benar-benar kita berada dalam bahaya besar!...... Dan tadi, di dalam air, siapa itu orang, yang telah tolongi aku dari ancaman bahaya? Terang ia ada berkepandaian tinggi luar biasa, orang dengan kepandaian semacam itu, aku belum pernah lihat..........”
Mendadakan Siong Sioe ingat apa-apa.
“Apakah ia bukannya salah satu dari leluhur kita, Tan Tjeng Po atau Lim Siauw Tjhong?” demikian ia menduga. “Lim Tjouw-hoe ada aku punya engkong dari turunan langsung tetapi ia telah jauhkan diri dari kita, tidak ketahuan ia tinggal di mana, malah pihak kita di Hoe Tjoen Kang tidak pernah ada yang ketahui ianya, cara bagaimana sekarang ia bisa ketahui yang anak cucunya telah merantau sampai di sini? Malah ia ketahui kita sedang terancam bahaya besar dan telah datang pada saat yang berbahaya ini? Tidak, inilah tidak bisa menjadi!...............”
Memikir lebih jauh, Siong Sioe sekarang insyaf, muda ia ada ia kurang pengalaman dan kepandaiannya masih banyak cacatnya, hingga belum waktunya buat ia masuk dalam kalangan Sungai Telaga. Oleh karena ini, ia jadi bersangsi, hingga ia duduk diam saja, lantaran ia ketahui, baik ia pergi atau jangan, akan tolongi dua kawannya ...........

Rebahkan diri, tauwbak ini tidak bisa pulas, pikirannya masih terus bekerja. Adalah itu waktu, mendadak perahunya bergoncang keras, di kepala perahunya ia dengar suara menyebur dua kali, tanda orang terjun ke air atau dilemparkan ke sungai. Dengan kaget, ia lompat bangun, ia sembat goloknya, lupai segala bahaya, ia lari keluar, kapan baru saja ia melongok di mulut pintu, ia jadi tercengang, matanya melotot.
Di atas perahu, ada rebah dua orang yang rupanya baru saja diangkat naik dari air, dua-duanya tidak bergerak, seperti mayat.
Siong Sioe kerutkan alis, ia beranikan hati. Ia hampirkan itu dua orang, buat segera berseru:
“Oh, kiranya kau orang berdua!”
Mereka itu memang Thio Toa Yoe dan Ie A Po, yang tadi tertawan musuh, sekarang pulang, entah siapa yang antarkan.
Dengan lantas Siong Sioe raba orang punya dada, ia rasakan jantung masih memukul. Adalah orang punya perut, yang tenggak terlalu banyak air, yang bikin dua nelayan itu jadi pingsan, rebah sebagai mayat.
Siong Sioe segera teriaki kawan-kawannya dari perahu tetangga, beberapa orang segera datang, apabila mereka lihat, keadaannya Toa Yoe dan A Po, lantas mereka turun tangan, akan menolongi buat sadarkan dua saudara itu.
Tidak lama setelah air di perutnya dikuras dan mereka dicekoki air jahe hangat, Toa Yoe dan A Po lantas sadar, ia orang buka matanya, buat terus berseru bahna heran. Tapi ini justru bikin lega hatinya Siong Sioe, begitupun yang lain-lain.
“Ajak mereka ke dalam,” Siong Sioe kata.
Beberapa orang lantas dukung dua saudara ini, dengan dipepayang, mereka dibawa ke dalam perahu, buat terus direbahkan separuh nyender. Mereka sudah sadar, tetapi buat ingat betul beberapa ketika masih mesti lewat. Itulah sebab mereka ada terlalu lemah. Mereka hirup lagi air jahe, baru kemudian mereka bisa bicara.
“Sioe-nia, malam ini kita orang jatuh merk,” akhirnya kata mereka pada Siong Sioe. “Kita orang bisa lolos dari tangan musuh, ini di luar dugaan kita......”
“Saudara-saudara, aku menyesal sekali atas ini kejadian,” berkata Siong Sioe, sang pemimpin atau sioe-nia. “Kau orang telah terjatuh di tangan musuh, aku niat tolongi kau, sayang tenagaku tidak ada. Aku malu sekali. Aku sampai di rumah dengan merasa sangat malu, aku tidak ada punya muka buat hidup lebih lama pula. Bilang padaku, siapa telah tolongi kau orang?”
“Begitu kami ditangkap, kita lantas tidak ingat suatu apa,” Toa Yoe jawab. “Kelihatan musuh tidak mau celakai kita, mereka taruh kita di kepala perahu, ditengkurapkan, sampai air di perut kita keluar sendiri. Ketika kita sadar, jangan kata lari, geraki tubuh saja kita tidak mampu. Kita orang diam saja, bersedia akan terima binasa. Sembari rebah, kita dengar suara orang bicara di dalam gubuk perahu, rupanya mereka sedang berebut pikiran. Karena kita ketulian, kita orang tidak bisa dengarkan perkataan mereka. Adalah itu waktu, dari perahu sebelah, mendadak ada lompat datang dua orang, tubuh siapa ada sangat enteng dan gerakannya gesit sekali. Mereka pakai pakaian mandi dan kepala dibungkus. Kita lihat mereka ada orang-orang perempuan, malah mirip dengan Yan Toa-nio dan gadisnya. Dalam keadaan seperti itu, gelap dan mata kita masih seperti lamur, kita orang tidak mampu menegasi. Lantas dua orang itu samber kita masing-masing dan dibawa terjun ke air, kelihatannya kita mau dibawa pulang, tetapi kita tidak ketahui betul, karena begitu lekas masuk di air, lekas juga kita pingsan lagi, sebab percuma kita menahan napas, lantaran kita masih sangat lemah. Sejak pingsan, kita tidak tahu apa-apa lagi!”

 

Siong Sioe goyang-goyang kepala. Ia ada bingung, ia tidak mampu memikir.
“Kenapa justru mereka yang datang menolongi, sedang mereka yang kita curigai?” demikian ia paksa asah otaknya.
Syukur buat Siong Sioe, ia tidak usah putar otak terlebih jauh. Sebuah perahu mendatangi, lantas ternyata, perahu itu ada perahunya Tjoen-tjoe Tan Tay Yong yang diiring oleh empat nelayan. Mereka itu sedang melakukan penilikan. Terpaksa ia menahan malu dan sambut itu ketua.
Begitu lekas Tay Yong telah berada di perahunya, Siong Sioe tuturkan tentang ia punya perjalanan dan pengalaman luar biasa. Ia utarakan menyesalnja buat ia punya kegagalan. Ia pun tuturkan pengalaman dari Toa Yoe dan A Po.
“Apa yang aneh, mereka bilang bahwa yang tolong mereka ada seperti itu ibu dan anak yang kita curigai,” ia tambahkan akhirnya. “Aku tadinya mau kasih laporan pada tjoen-tjoe, tetapi sekarang tjoen-tjoe telah datang lebih dulu. Sekarang aku minta tjoen-tjoe angkat lain orang, buat ambil tempatku, kemudian tjoen-tjoe boleh hukum aku menurut aturan kita, aku akan terima segala hukuman! Aku malu sekali, sebelumnya bertempur sama musuh, aku telah bikin turun merk kita..........”
Mendengar begitu, Tay Yong goyangi tangan berulang-ulang.
“Jangan kata begitu,” ia bilang. “Titah saja sudah membikin penyelidikan sudah berarti bahaya, apapula dijalankannya titah itu. Kau jangan anggap menurunkan merek yang kau telah gagal, kau mesti insyaf pentingnya perkara. Sekarang mari kau ikut aku.”
Siong Sioe diam saja, ia ikut diajak ke perahunya ketua itu. Di sini ia disuruh duduk. Ia menurut.
“Aku tahu, Siong Sioe, mengenai urusan kita, kau selalu ada bersungguh-sungguh,” kemudian kata ketua ini. “Aku juga tahu, kau memang ada punya adat keras dan selamanya ingin menang sendiri. Kita memangnya bukan bangsa nelayan sembarangan, kita ada dari Kioe-she Hie-kee, kita telah wariskan sifatnya leluhur kita. Buat kita, hidup atau mati, senang atau terhina, mesti sama-sama. Kau anggap kau malu, tetapi ke mana kau hendak pergi? Bukankah ada aturan kita yang melarang anggotanya berlalu dari rombongan, yang tidak boleh ditinggal pergi? Kau mesti insyaf ini, kau harus hormati aturan kita itu. Kita hidup senang di sini, itu semua bukan karena bisaku sendiri sebagai ketua, itu hanya disebabkan ragamnya kita semua. Maka kau ada berhak icipi apa yang kita semua icipkan! Kalau kau menyingkir, kau tentu pulang ke Hoe Tjoen Kang, apabila itu terjadi, di sana kau mestinya merasa malu sendiri. Kita sekarang terancam bahaya paling hebat, ini kau bisa buktikan dari pengalamanmu sendiri, maka itu, kita tidak boleh pandang enteng pada musuh. Terang musuh ada liehay, apabila ia telah turun tangan, pertempuran hebat mesti terjadi Giok Liang Giam bakalan mandi darah, maka itu, kita justru mesti keluarkan seantero tenaga, akan bela diri, akan lawan musuh. Buat kita, tambah satu orang berarti tambah satu tenaga. Tentang ilmu silat, kita tidak boleh ambil kepastian, karena ada ia yang pandai dan lebih pandai lagi. Tentang orang yang bantu kita secara menggelap, kecuali sudah pasti ia berilmu tinggi, aku duga pasti ia ada dari kaum kita. Aku pun merasa aneh pada Yan Toa-nio ibu dan anak, kita sangka mereka sebagai cecolongok, penyakit di dalam, siapa nyana mereka justru ada bintang penolong kita! Apa penolong ini bukannya mereka berdua? Tapi, di sebelah segala apa, kita lagi hadapi musuh berbahaya!..........”
Lim Siong Sioe tunduk saja, ia malu bukan main.

“Aku bersyukur yang tjoen-tjoe sudi mengasih ampun padaku,” ia bilang, “tetapi keampunan ini membikin aku jadi lebih-lebih bersusah hati. Buat guna keselamatannya Kioe-she Hie-kee, aku tidak mampu berbuat apa-apa, bagaimana aku tidak malu dan menyesal? Tapi aku berjanji, aku akan serahkan jiwaku, aku akan kucurkan daraku untuk Giok Liong Giam. Melainkan satu hal aku minta, sukalah tjoen-tjoe menjaga hati-hati. Aku baru pergi ke rombongan musuh sebelah kiri, mereka semua sudah liehay bukan main. Aku tidak takut tjoen-tjoe cela aku, buat omong terus terang, di Hie-tjoen ini ada sukar buat cari tandingan musuh, kecuali itu orang-orang yang dengan menggelap telah bantu kita. Dua kali aku telah bantu kita. Dua kali aku telah didekati, dua-dua kalinya aku tidak bisa lihat padanya. Bukan aku saja, juga pihak Kang San Pang tidak dapat lihat padanya, meskipun pihak itu ada liehay. Karena ini, bentrokan di antara mereka itu belum pernah terjadi. Kalau itu orang-orang dalam rahasia suka bantu kita, harapan kita ada besar. Ketika keluar dari penjagaan musuh, mereka itu telah lumpuhkan penjagaan musuh. Tapi, yang tadi berkata-kata menegur aku dari luar perahu, ia terang ada pihak tetua dari Kioe-she Hie-kee. Coba tjoen-tjoe pikir, siapa kiranya dia itu?”
“Sekarang ini yang sanggup tolongi kita hingga Giok Liong Giam tidak usah jatuh ke dalam tangan musuh melainkan ada dua orang,” Tay Yong berkata. “Mereka ada orang-orang luar biasa dari kaum kita, ialah aku punya peh-hoe Tan Tjeng Po serta kau punya engkong Lim Siauw Tjhong. Tapi mereka umpetkan diri di daerah Hoen Tjoen Kang, sudah banyak tahun mereka tidak pernah muncul. Malah masih ada satu pertanyaan yang kedua loodjinkee itu ketahui atau tidak tentang kepindahan kita ke mari.......... Maka adalah luar biasa, justru kita berada dalam bahaya, mereka lantas datang menolongi kita! Sungguh, aku tidak berani mengharap buat mereka punya kedatangan! Tentang Yan Toa-nio dan gadisnya, aku bersangsi buat tetepi mereka ada orang macam atau dari golongan apa, maka itu, mereka tetap menjadi kecurigaan kita. Tentang mereka, aku juga telah pikir, sampai seharian, akhirnya aku masih sangsi. Menampak keadaan musuh demikian rupa, sedang bala bantuan kita tidak bisa dapati, tidak bisa lain, terpaksa kita mesti mengandal pada diri sendiri! Kalau bisa, kita bela, jikalau tidak, kita toh akan bela sampai mati. Tay Yong tidak akan menyingkir dari ini, apa pula buat menyingkir sendirian! Segala apa aku pasrah pada Thian........... Penjagaan di mulut muara masih kurang, coba kau tambah dengan seluruh pasukanmu, Siong Sioe, tetapi hatimu jangan sangsi! Kau niat kucurkan darah untuk Giok Liong Giam, angan-anganmu sama dengan angan-anganku! Nah, mari kita orang bekerja!”
Siong Sioe bersyukur pada tjoen-tjoe yang baik budi itu.
“Baik, tjoen-tjoe!” ia berkata. “Aku nanti atur saudara-saudaraku, guna bela ini mulut muara! Tentang Yan Toa-nio dan anaknya, baik tjoen-tjoe jangan alpa, baik kau minta Ho Siokhoe dari pasukan ketiga, yang lakukan penilikan. Siapa tahu hati manusia? Sungguh berbahaya kalau dalam perut kita ada tersembunyi musuh!.........”
“Aku mengerti,” sahut Tay Yong, yang lantas saja minta Siong Sioe balik ke perahunya dan ia lantas bawa perahunya, akan lanjuti ia punya penilikan.
Dari mulut muara, Tan Tay Yong memandang ke jurusan perahu-perahu musuh. Malam ada gelap, cahaya api tidak ada, ada sukar buat dapat lihat rombongan musuh itu. Keadaan pun ada sunyi. Maka itu, ada sukar akan menduga-duga aksi musuh. Hanya satu hal sudah pasti, ia harus berlaku hati-hati, karena musuh yang sudah datang, tentunya sudah siap sedia akan menyerang, tinggal tunggu waktu saja. Dengan masygul, ia berjalan pulang, sembari lewat, ia memandang ke jurusan gubuknya Yan Toa-nio dan anak. Gubuk ada gelap dan sunyi, rupanya orang sudah tidur dengan tenang....... karena biasanya, gubuk itu selalu ada pasang api.
Mengawasi ibu dan anak ini, ada kewajibannya Ho Djin dari rombongan ketiga, ia ini keluar menemui Tay Yong kapan ketua itu datang ke tempat jagaannya.

“Kenapa api di gubuk itu padam?” Tay Yong tanya. “Apa ada kelihatan itu ibu dan anaknya keluar masuk?”
“Tadi, begitu lekas cuaca menjadi gelap, mereka pasang api terang sekali, tidak berhentinya mereka mondar-mandir,” Ho Djin kasih tahu. “Sejak jam dua, api dipadamkan dan lantas gubuk itu jadi sunyi, sampai sekarang, tidak kelihatan ada gerakan apa juga di dalam situ. Aku percaya mereka tidak akan lolos dari pengawasanku.”
Tay Yong geleng kepala, ia tidak kata apa-apa.
“Ancaman bahaya ada hebat, kau harus waspada,” kata ia kemudian, yang terus pulang. Ia terus tidak bertentram hati, hingga orang-orang di rumahnya turut jadi ibuk.
Giok Kouw yang tunggui ayahnya, sudah sambut ayah itu, ia bisa lihat orang punya roman kucel.
“Malam ini toh tidak ada bahaya, ayah?” kata puteri ini. “Ayah lelah, baik sekarang kau pergi rebahkan diri.”
Tay Yong menghela napas, sambil batuk-batuk, ia jatuhkan diri di kursi. Ia lihat pelita sudah guram, maka ia berbangkit seraya ulur tangannya, akan tarik sumbu pelita itu. Atau mendadak ia terperanjat.
Di bawah pelita ada selembar kertas!
Giok Kouw mendekati, ia pun tidak kurang herannya. Ia jumput kertas itu, yang ada suratnya, maka berdua ayahnya, ia membaca. Surat itu berbunyi begini:
“Perhatikan!
Pihak Eng-lok-kang niat mencari balas, barisan perahunya sudah siap! Jangan memandang enteng! Mereka telah berhasil berserikat sama pihak Kang San Pang yang tangguh! Kau orang bukan tandingan mereka tetapi jagalah mulut muara dengan kuat, guna lindungi Hie-tjoen! Jangan bertindak sembrono, untuk mencegah keruntuhan, yang harus disingkirkan. Di saatnya yang berbahaya, aku nanti datang akan lindungi keselamatannya anak-cucu dari Kioe-she Hie-kee, supaya mereka terluput dari pembasmian secara kejam! Maka, hati-hatilah kau orang!
SIAUW TJHONG
Siauw Tjhong berarti Tjhong si Kecil, bukan “Siauw” dari Siauw Tjhong. Yang sama adalah itu huruf “Tjhong”.
Siapakah adanya Siauw Tjhong?
Bagaimanakah nasib dusun Giok-liong-giam Hie Tjoen?
Berhasilkan sang tjoen-tjoe Tan Tay Yong menyelamatkan desanya?
Siapakah sebenarnya Yan Toa-nio ibu dan anak?

Ayah dan anak itu menjadi girang, setelah besarkan api, dengan hati-hati mereka letaki itu surat di atas meja dan keduanya lantas unjuk hormat sambil paykoei pada surat itu.
“Dasar anak-cucunya Kioe-she Hie-kee di sini tidak bakalan ludes, mereka telah bikin tergerak hatinya leluhur kita hingga mereka hendak ditolongi,” kata Tay Yong kemudian pada anaknya. “Siauw Tjhong ini adalah Tjouw-hoe Lim Siauw Tjhong.”
“Dengan begini, menjadi nyata, Lim Tjouwhoe dan engkong kita terang telah masih berada di dalam dunia,” kata Giok Kouw yang kegirangan.”Sudah lama aku tidak lihat mereka itu, mereka telah bertapa hingga ada yang kata mereka telah jadi malaikat, dan tidak campur lagi urusan dunia, siapa nyana sekarang mereka masih ingat anak-cucunya, yang mereka hendak lindungi keselamatannya.”
“Sekarang telah menjadi terang, Lim Siong Sioe berlima telah ditolong oleh Lim Tjouwhoe,” Tay Yong kata. “Tjouwhoe janji mau bantu kita, kendati demikian, kelihatannya kita masih mesti lakukan satu pertempuran hebat, karena musuh ada tangguh sekali. Aku kuatir kalau mereka lakukan pembokongan terhadap kita.........”
Tay Yong berhenti bicara dengan mendadak, karena ia dengar suara apa-apa di jendela, bersama anaknya, ia ada kaget, sebab ia lihat daun jendela terbuka sendirinya. Hampir dengan berbareng, mereka lompat ke dua pinggiran, tapi daun jendela tertutup pula, kapan dari luar ada melesat masuk selembar kertas.
Ketika tjoen-tjoe ini lari ke luar rumah, sampai di lataran, ia tidak lihat siapa juga. Malam ada tenang sekali. Dari empat penjuru, di mana kaumnelayan ada lakukan penjagaan, tidak ada gerakan apa juga.
“Ayah, mari!” terdengar suaranya Giok Kouw di dalam rumah.
Tay Yong masuk, akan lihat muka anaknya pucat.
“Apakah bunyinya surat itu?” ia tanya.
Giok Kouw angsurkan itu kertas pada ia punya ayah, siapa segera membaca. Surat itu datangnya dari Na Thian Hong, ketua dari Eng Lok Kang Tjoan-pang dan Pian Sioe Hoo, ketua dari Kang San Pang Tjoan-pang. Tjoan-pang berarti rombongan perahu nelayan. Mereka itu tidak menulis apa-apa, kecuali memberi hormat......
“Ini ada suatu hinaan besar bagi kita!” kata Tay Yong dengan gusar sekali. “Kita telah kirim orang membikin penyelidikan, kita gagal, sudah begitu, mereka sengaja antarkan surat mengirim salam ini. Dengan ini, jalan mereka sananya mengajukan tantangan secara hormat, inilah tanda bahwa mereka mau tumplek seantero tenaganya buat hadapi kita, guna rampas Giok-liong-giam Hie-tjoen! Maka sekarang, tidak ada lain jalan daripada kita terima tantangannya itu! Jangan kuatir, anak, kita akan hadapi segala apa!”
“Kita memang tidak usah takut, ayah,” Giok Kouw bilang. “Aku memang ketahui, ayah ada berani dan tidak takut mati. Tapi, dengan penjagaan ada begini kuat, musuh bisa datang dan pergi dengan merdeka, apakah artinya penjagaan kita terlebih jauh?.........”
Belum Tay Yong sahut anaknya atau kuping mereka dengar suitan bambu, maka berdua mereka lari keluar, akan cari keterangan, justru satu nelayan dari mulut muara datang pada mereka, untuk mengasih laporan.
“Ada apakah?” Tay Yong mendului tanya.
“Dari jurusan mulut muara, tidak ada gerakan apa-apa, tanda datang dari jurusan Giok Liong Giam,” sahut pembawa warta itu.
Tay Yong menoleh pada gadisnya.
“Pergi pulang dan tunggu rumah, aku mau pergi melihat,” ia kata.
“Aku juga mau pergi melihat,” kata si nona.
Tay Yong sudah lantas lari menuju ke jurusan bukit, ia ambil jalan air – buat nama telah telah dibuka satu jalanan air yang sempit, yang muat hanya sebuah perahu kecil. Ia lompat turun atas perahu dan anaknya turut. Dua nelayan sudah menunggu di perahu itu, yang segera digayuh pergi.
Di sepanjang jalan, ada nelayan-nelayan yang menjaga, tapi saban kali Tan Tjoen-tjoe menanya, selalu ia dapat jawaban bahwa tanda datangnya dari atas bukit, bahwa sudah ada orang yang memburu naik ke atas bukit itu.
“Apakah ada musuh datang dari sana?”
Semua orang menjawab tidak terang. Maka Tay Yong maju terus, dengan terus menanya tidak berhentinya, sampai lekas juga ia sampai di tempat tujuan. Di sini, ia dapat kenyataan, nelayan-nelayan dari empat perahu yang menjaga di situ sudah pergi melakukan penyelidikan, dan dari atas bukit tertampak dua lentera sorot Khong-beng-teng yang mengasih sinar kuning.
“Apakah tjoen-tjoe yang datang?” demikian terdengar orang menanya.
“Benar,” sahut Tay Yong, yang segera ajak puterinya mendarat dan naik terus.
“Tidak apa-apa, tjoen-tjoe,” mengasih laporan satu pemimpin rombongan, Lie Tjoan Seng namanya. Ia telah papak itu ketua. “Kita sudah periksa semua tempat di sini, kita tidak dapatkan apa juga............”
“Sebenarnya, apakah sudah terjadi?” ketua itu tegasi.
“Kita diperintah menjaga di bawah curam,” Tjoan Seng jawab. “Kita tidak lihat suatu apa, sampai barusan satu saudara dengan suara apa-apa di atas curam ketika ia pergi periksa, samas-samar ia tampak bayangan orang. Ia kuatir matanya kabur, ia tidak berani banyak berisik, tapi ia dengan diam-diam kasih kabar padaku, maka aku segera kirim dua saudara akan pasang mata. Belum lama, dari bawah ada lompat naik satu bayangan, loncat tinggi sampai tiga kaki, maka dengan tiga kali loncatan saja, ia telah bisa sampai di atas. Ia segera ditegur oleh saudara-saudara yang menjaga di atas, tetapi ia tidak menjawab, ia malah lari terus, ketika ia dipanah, ia lolos. Kemudian ada muncul satu bayangan lain yang mengejar bayangan pertama, bayangan kedua ini ada punya gerakan tubuh yang tidak kalah gesitnya. Ia ini juga ditegur, tetapi ia diam saja. Maka itu terang mereka bukan ada orang dari pihak kita. Karena ini, tanda suitan lantas dibunyikan. Dari bawah, kita semua memburu ke atas, buat lakukan peperiksaan, tetapi kesudahannya nihil, cuma di kejauhan kita seperti dengar orang bertempur seraya saling menegur.
Hatinya Tay Yong berdebar mendengar keterangan itu. Ada di luar dugaan yang orang benar-benar ambil jalan dari atas bukit, dari curam yang tidak disangka-sangka, sedang yang dijaga keras adalah mulut muara. Cara bagaimana orang bisa jalan di tempat yang tidak ada jalanannya itu, yang penuh dengan bahaya?
Dengan ajak kawan, Tan Tjoen-tjoe coba bikin peperiksaan sendiri, lentera khong-beng-teng telah digunai, hasilnya sama saja, yaitu kosong. Di tempat yang sukar itu tidak kedapatan tanda atau bekas apa juga yang mencurigakan.
Akhirnya Tay Yong pulang sesudah ia pesan buat Lie Tjoan Seng menjaga pula dengan hati-hati seraya tambah jumlahnya saudara yang menjaga di atas curam itu. Ia ajak Giok Kouw mampir ke mulut muara, akan menilik pula sambil menanyakan keterangan kalau-kalau di muara ada gerakan apa-apa, tapi jawaban yang ia dapat adalah bahwa segala apa ada tenang seperti biasa. Cuma tadi, di pihak musuh, ada datang lagi tiga buah perahu kecil, yang menghampirkan perahu besar di kiri dan kanan, muatannya ada tujuh atau delapan orang yang dandanannya bukan seperti dari Eng Lok Pang.
Tan Tay Yong manggut-manggut, ia mengerti bahwa musuh telah tambah tenaga, bahwa Hie-tjoen terancam bahaya. Ia utarakan apa yang ia pikir ini terhadap anaknya.
Tatkala itu sudah terang tanah.
Dalam perjalanan pulang, Tay Yong coba melihat ke jurusan gubuk, ia lihat ibu dan anak dari famili Yan itu berada di dalam pekarangan rumahnya, sikapnya ada tenang.
Lagi-lagi Tay Yong geleng kepala. Ia ada seorang yang berpengalaman, tetapi sekarang ia menjadi bingung. Apa ia mesti bikin pada ibu dan anak itu, yang ia tidak berani – malah tidak nanti – usir dengan paksa? Ia toh tidak berani pastikan itu dua orang asing ada sobat atau musuh, sedang mereka ada orang-orang perempuan.
“Taruh mereka datang buat bantu aku, aku toh harus malu, karena aku tidak mampu duga mereka dengan jitu.....” demikian ia pikir.
Kira-kira tengah hari, dari mulut muara datang satu nelayan yang melaporkan bahwa pemimpin dari Eng Lok Pang, Na Thian Hong, ada kirim utusan membawa karcis nama dan surat, buat minta ketemu sama dia.
Tay Yong berpikir sebentar, lantas ia perintah utusan itu diizinkan masuk ke mulut muara, ia akan menantikan di sana di dalam perahunya.

Seperginya itu nelayan, Tan Tjoen-soe lantas siap dan pergi ke mulut muara, di sini ia naik sebuah perahu besar dan atur sejumlah saudara-saudara nelayan buat berbaris menyambut utusan musuh. Mereka ini berbaris rapi dan unjuk roman keren tetapi tidak dikasih sedia senjata.
Tidak antara lama dari mulut muara kelihatan mendatangi sebuah perahu, yang laju sekali. Di kepala perahu itu ada berdiri tegak satu orang, tubuhnya tidak bergeming kendati juga parahu ada memain karena bergeraknya penggayuh. Ia berumur tiga puluh lebih, baju dan celananya hijau, kaki celananya digulung, hingga kelihatan kakinya yang bertelanjang, hanya dibungkus sama tjauw-eh, sedang kepalanya ditutup sama tudung rumput. Melihat romannya, ia ada seorang yang cerdik.
Sebentar saja, perahu nelayan itu telah sampai pada perahu besar. Dengan tubuh yang nampaknya enteng sekali, itu orang mencelat lompat dari perahunya pindah ke perahu besar itu. Dari kere, yang memisahkan mereka, Tan Tay Yong bisa lihat nyata orang punya gerakan yang gesit itu, hingga ia bisa menduga pada kepandaian orang.
Satu nelayan segera singkap kere seraya berkata:
“Silakan, tuan, tjoen-tjoe undang kau masuk!”
Dengan tindakan gagah, tetamu itu bertindak masuk.

Tay Yong berbangkit menyambut sambil unjuk hormatnya.
“Aku girang sekali jikalau kau sudi perkenalkan dirimu, tuan,” ia kata.
“Aku ada Tjee See Kiat, orang sebawahan dari Na Loo-to-tjoe dari Eng Lok Tjoan-pang,” sahut tetamu itu. “Apa aku lagi berhadapan sama tjoen-tjoe dari Giok-liong-giam Hie-tjoen?”
“Benar. Silakan duduk!”
“Terima kasih, tjoen-tjoe. Aku sedang terima perintah, aku pun ada pegawai rendah dalam Eng Lok Pang, mana aku berani berlaku tidak tahu aturan.....”
Sembari kata begitu, dari jepitan surat yang ia cekal, ia keluarkan selembar karcis nama dan sepucuk amplop, yang mana ia serahkan pada tuan rumah.
Tay Yong menyambuti sambil mengucap terima kasih, lagi sekali ia mengundang duduk. Tapi tetamu ini tetap berdiri diam.
Segera juga Tay Yong kenali karcis nama itu, yang sama dengan yang ia terima di waktu malam. Maka ia lalu buka suratnya dan baca sebagai berikut:

Yang terhormat,
Tjoen-tjoe Tan Tay Yong
Dari Giok Liong Giam
Hie-tjoen
Dengan hormat,
   Duluan karena paksaannya musim paceklik, pihak kita telah coba pinjam tempat di daerah perikanan Giok Liong Giam, apa mau, karena penolakan tjoen-tjoe, satu pertempuran yang menyedihkan telah terjadi. Tatkala itu, lantaran sedang bepergian, aku tidak bisa lantas datang pada Tjoen-tjoe, buat menghaturkan maaf. Sejak itu, banyak tahun telah lewat, tetapi saudara-saudaraku yang telah terima budi kebaikan Tjoen-tjoe, tidak ada satu yang bisa lupai itu. Demikianlah, sekarang kita orang datang berkunjung. Dalam tempo tiga hari, saudara-saudara kita akan memasuki Giok Liong Giam, untuk minta pengajaran, aku minta sukalah Tjoen-tjoe jangan menampik.
Sekian, lain tidak.
Hormatnya
NA THIAN HONG
Tay Yong tertawa setelah ia baca habis surat itu.
“Aku merasa girang sekali yang pemimpin kau begini hargakan aku,” kata ia, “aku pun girang yang ketua dari Kang San Pang turut datang juga. Memang, sejak di Hoe Tjoen Kang, kita orang memang sudah punyai perkenalan, aku tidak nyana, setelah berselang dua puluh tahun lebih orang masih tidak bisa lupai aku! Di mana omongan ada terlebih sempurna daripada surat, maka sobat, kau saja tolong sampaikan jawaban dari aku. Tempo tiga hari itu aku terima baik, itu waktu aku akan sediakan air dan arak guna menyambut kauorang, sebagaimana keharusannya satu tuan rumah. Kau banyak capek, sobat, sampai secangkir thee kau tidak minum, aku tidak berani tahan kau lebih lama lagi, nah, persilakan! Sampai ketemu pula lagi tiga hari!”
“Terima kasih, Tjoen-tjoe,” sahut tetamu itu. “Kau sudi terima kita, menyatakan kau ada satu sobat. Nah, sampai ketemu pula!”
Ia putar tubuhnya dan bertindak pergi, Tay Yong mengantarkan, hingga ia bisa lihat bagaimana leluasa orang lompat balik ke perahunya, perahu tidak bergeming, papan perahu tidak bersuara, mula-mula kakinya dia itu berdiri sebelah, dalam sikap dari “Kim kee tok lip” atau “Ayam emas berdiri dengan sebelah kaki”, kemudian ia putar tubuhnya seraya terus angkat kedua tangannya menghadapi tuan rumah.
“Maaf, aku tidak mengantar lebih jauh!” kata Tay Yong yang balas hormat itu.
Anak perahu dari Giok Liong Giam tidak senang menampak orang punya sikap jumawa itu, maka, di waktu ia kasih bekerja panggayuhnya, akan bikin perahu mulai berangkat, ia sengaja gunai tenaganya dengan dikageti. Biasanya gerakan itu akan bikin terpelanting orang yang sedang berdiri di atas perahu. Tapi ini kali, Tjee See Kiat sudah turunin sebelah kakinya yang lain, hingga ia injak papan perahu dengan kedua kakinya – kedua kaki yang berdiri dengan tetap!
“Saudara-saudara, kau orang benar pandai!” ia kata sambil bersenyum. “Kau orang pasti ada banyak capek!”
Anak-anak perahu itu menjadi malu sendirinya, dengan tidak kata apa-apa, mereka kasih perahunya jalan terus, sampai di mulut perahu, di mana itu tetamu yang jumawa segera lompat ke perahunya sendiri, buat lanjuti perjalanannya pulang.
Sementara itu Tan Tay Yong sudah lantas pergi pulang, sedang tadinya orang mengharap ia menutur satu dan lain berhubung dengan diterimanya karcis nama dan surat dari Eng Lok Kang itu. Karena ini, mereka jadi bisa hanya menduga-duga.
Giok Kouw mengerti kesukaran ia punya ayah. Pian Sioe Hoo dari Kang San Pang dan Na Thian Hong dari Eng Lok Kang memang ada musuh-musuh yang harus dimalui, sedang Giok-liong-giam Hie-tjoen punya tenaga melainkan cukup buat dipakai melayani orang-orang biasa saja, tidak segala jagoan dari kalangan Sungai Telaga. Karena ini, ia pun diam saja, ia ikuti ayahnya pulang.
Alisnya Tay Yong ada mengkerut. Ia tahu ia lagi hadapi musuh berbahaya dan ia tidak bertetap hati kendati ia ketahui, pada pihaknya ada bantuan dari pihak tetuanya yaitu Lim Siauw Tjhong.
“Ayah, bukalah pikiranmu,” kata Giok Kouw akhirnya buat hiburi ayah itu. “Selagi bahaya mengancam, kita mesti lupakan segala apa kecuali persiapan buat membela diri. Louw Tjouwhoe telah janji akan bantu kita, aku percaya ia tidak akan antap anak-cucunya menjadi korban musuh. Umpama kata kita tidak berdaya, ini juga bukannyaalasan buat kita mandah saja! Kalau sudah sampai saatnya, mari kita melawan, apabila mesti binasa, mari kita binasa semuanya!”
Tay Yong manggut-manggut, anak itu benar adanya.
“Aku mengerti,” ia bilang, “ini ada jalan satu-satunya bagi kita.”
Lantas Tay Yong ajak pengiring, akan melakukan penilikan lagi, setelah mana ia himpunkan semua kepala rombongan, pada mereka ia beritahukan tentang tantangan musuh dan minta semua bersatu hati untuk usir musuh. Ia minta, sekalipun siang, jangan ada yang alpa.
Penjagaan di atas Giok Liong Giam juga telah ditambah.
Kemudian Tay Yong longok lagi Nyonya Yan dan anaknya, buat kesangsiannya, ia dapati ibu dan anak itu ada tenang seperti biasa. Ia benar-benar tidak bisa tebak halnya ini dua orang asing.
Sementara itu, dua hari telah lewat dengan tenteram.
Di hari ketiga, seantero hari tidak ada gerakan apa-apa dari pihak musuh. Di waktu sore, Tay Yong juga tidak dapati munculnya Lim Siauw Tjhong, ia punya soesiok, tetua dari Kioe-she Hie-kee, ia menjadi bingung. Maka ia kumpulkan empat tauwbak Wan Sam Sioe, Yap A Tiong, Ho Djin dan Lim Siong Sioe.
“Kita telah terima tantangannya Na Thian Hong, malam ini adalah waktu yang ditetapkan,” berkata ia. “Mereka ini ada punya banyak orang pandai, inilah terpaksa aku mesti bilang terus terang pada kau orang. Sebagai ketua, aku tidak boleh ucapkan kata-kata yang bisa melemahkan pihak kita, toh aku tidak bisa sembunyikan rasa hatiku. Apa faedahnya, akan omong besar, apabila bukti ada sebaliknya? Aku tahu, apabila tidak ada orang berilmu bantu kita, kita mesti tampak kekalahan, tetapi sebagai ketua, aku akan pertaruhkan jiwaku, akan bela Hie-tjoen sebisa-bisaku. Di atas itu, aku mesti lindungi kehormatannya Kioe-she Hie-kee! Maka sekarang aku harap semua sauara pun ada bersatu pikiran dengan aku!”
Empat tauwbak itu tidak kenal takut, sebaliknya mereka ada bersemangat.
“Jangan tjoen-tjoe berkuatir,” mereka nyatakan. “Kita semua tidak takut mati, kita akan belakan Giok Liong Giam dengan jiwa kita, kalau perlu kita akan siram Hie-tjoen dengan darah kita!”
“Inilah baru turunan dari Kioe-she Hie-kee!” kata Tay Yong sambil manggut-manggut. “Sekarang aku mau minta perhatian kauorang. Kalau sebentar musuh datang, apabila perahu mereka tidak melebihkan sepuluh buah, kau orang boleh izinkan mereka masuk, tetapi begitu mereka sudah ada di dalam, mulut muara mesti ditutup, dengan tidak ada titahkan penutupan itu tidak boleh dibuka, satu perahu jua tidak boleh keluar! Tentang kejadian di dalam, semua pihak penjagaan di sini jangan ambil tahu. Buat penjagaan di mulut muara, aku ingin disediakan dua puluh empat perahu, setiap perahu mesti pasang dua lentera merah dan empat obor. Semua perahu ini mesti berbaris dari Hie-tjoen sampai di mulut muara. Mulai dari mulut muara, Lim Siong Sioe mesti menjaga bersama delapan buah perahu. Pasukan ketiga dari Ho Djin tidak usah semuanya mengawasi Nyonya Yan dan anaknya. Kau mesti siap-siap buat bantu sebelah dalam muara, buat jaga kalau-kalau musuh menerjang dengan mendadak. Pasukan kedua dari Yap A Tiong semasuknya perahu-perahu musuh, mesti lantas gabungkan diri sama pasukan kesatu dari Wan Sam Sioe, kau mesti terpencar di sekitar daerah kita, buat tunggu titah terlebih jauh. Ini malam ada malam terakhir bagi hidup atau musnahnya kita, aku harap semua insyaf kewajiban masing-masing. Sekarang, silakan kau orang bekerja!”
Empat tauwbak itu berikan janji mereka, sesudah itu mereka pergi dengan berpencaran, akan siap menuruti perintah ketua itu. Maka selanjutnya, Hie-tjoen malam itu ada beda daripada biasanya. Maka setiap satu tumbak lebih, tentu ada kedapatan dua perahu di kiri dan kanan, masing-masing dengan dua lentera dan empat obor.
Di depan Hie-tjoen ada enam belas perahu besar, pada setiap tiang layarnya ada satu lentera merah yang besar, pada setiap kepala perahu ada empat nelayan, yang bersenjata tempuling, pakaiannya pakaian berenang, kepalanya dibungkus rapi.
Di pantai di depan Hie-tjoen, di mana ada lapangan yang besar, ada ditaruh enam belas perangkat kursi meja, guna sambut tetamu. Di sini, ada diatur barisan dari empat puluh nelayan, sebagian pegangi lentera, sebagian bersenjata tempuling, golok dan kelewang peranti di air.
Tan Tay Yong pakai tungsha biru, ia tidak bekal senjata, hanya karcis nama. Ia telah siap akan sambut tetamu.
Giok Kouw telah dandan dengan ringkas, tetapi orang-orang perempuan lainnya, semua berdiam di dalam rumah, semua dilarang keluar. Toh mereka insyaf pentingnya saat, mata mereka pada tidak masuk tidur.
Sekalipun adanya persiapan, seluruh Hie-tjoen ada sunyi senyap. Maka Tan Tay Yong merasa puas di waktu ia pergi bikin penilikan, ia dapati semua titahnya telah dijalankan dengan betul.
Belum terlalu lama, dari atas Giok Liong Giam, ada terdengar suara suitan bambu, yang beruntun terus, satu kali. Suitan itu memang ada pertandaan dan suaranya ada rupa-rupa, dengan dengar suara, orang lantas ketahui ada terjadi apa-apa.
Tan Tay Yong terperanjat.
“Kembali di puncak ada orang yang menyelusup dengan diam-diam,” ia kata. “Sekarang semua mesti siap dan pasang mata! Na Thian Hong gunai ini cara, terang ia bukannya satu sobat dari kalangan Sungai Telaga. Kita sudah bikin perjanjian, kenapa ia bersikap begini? Sekarang, hayo, kasih dengar tanda, supaya semua orang kita umpati diri, supaya dilepaskan anak panah terhadap siapa saja yang melintas dalam daerah kita!”
Baru saja titah itu hendak dijalankan, mendadak dari tempat gelap di samping mereka, ada lompat keluar satu orang, yang lompat ke depannya Tay Yong sekali.

Semua orang menjadi kaget, mereka menyangka musuh, lantas mereka maju.
Tan Tay Yong tidak bersenjata, tetapi ia tidak takut, dengan tabah ia awasi orang itu.
“Siapa kau, sobat?” ia menegur. “Kenapa kau lancang masuk kemari?”
Ditegur demikian, orang itu tertawa berkakakan.
“Aku pulang ke rumah sendiri, kenapa aku dikatakan lancang?” ia kata.
Tay Yong lihat orang ada pakai baju biru dengan celana pendek biru juga, kakinya tidak terbungkus kaus, sepatunya sepatu rumput, kepalanya ditawungi tudung lebar, hingga orang itu mirip dengan satu nelayan atau tukang sawah. Mengawasi lebih jauh, ia taksir orang punya usia tujuh puluh lebih, kumis dan jenggotnya ubanan, mukanya kurus tetapi segar dan sehat. Tiba-tiba ia terperanjat, lantas ia menghampirkan, buat berlutut.

“Siokhoe, Tay Yong unjuk hormatnya pada kau!” berkata ia.
Melihat sikapnya ketua itu, semua orang lantas batalkan sikap mengancam mereka.
“Bangun, bangun!” berkata orang tua itu, yang bukan lain daripada tetua Kioe-she Hie-kee Lim Siauw Tjhong. “Sekarang bukan waktunya buat bicara lagi, segera juga kedua kunyuk tua dari Eng Lok Pang dan Kang San Pang bakal datang kemari! Aku datang bersama dua orang, aku nanti ajar kau kenal sama mereka........”
Sembari begitu, tetua itu menoleh ke tempat gelap dan menggapai.
“Mari sini! Sekarang aku telah jadi tuan rumah di sini, aku undang kau orang buat minum thee! Mari!”
Berbareng sama undangan itu, dari tempat gelap ada lompat keluar dua orang – lompat turun dari tempat tingginya tiga tumbak, dan turunnya tepat di sampingnya Lim Siauw Tjhong sekali. Dua-dua mereka ada punya roman yang luar biasa. Yang pertama ada punya rambut dan kumis-jenggot ubanan, alis tidak terkecuali, tubuhnya tinggi dan besar, muka bundar dan montok dan segar, satu muka tidak harusnya dipunyai oleh satu aki-aki. Bajunya, warna abu-abu, ada thungsha, dengan kancing-kancing tembaga yang besar, tangan bajunya lebar dan panjang, hingga jadi gerombongan. Ia punya kaki ada pakai kaus panjang dan sepati. Ia punya air muka ada tersungging dengan senyuman. Yang kedua, beda dengan si jangkung dan besar itu, ada bertubuh kate dan kurus luar biasa, mirip dengan kulit membungkus tulang, pakaiannya ringkas dan pendek, sepatunya ada sepatu rumput dengan tidak pakai kaus kaki, sedang kulit mukanya ada pucat kuning seperti seorang yang penyakitan. Berdua mereka jadi tambah luar biasa, karena mereka berdiri berendeng, hingga roman mereka jadi beda sekali satu dari lain!
“Djiewie loosoehoe, ini adalah keponakanku yang tak berguna, Tan Tay Yong namanya,” kata Lim Siauw Tjhong pada kedua tetamunya. “Apa yang bakal terjadi malam ini, keponakanku sekalian ada mengandal betul pada kau orang berdua......”
“Siauw Tjhong, kau aneh!” ia berkata. “Kita orang bekerja janganlah seperti katanya peribahasa, ‘Kapan sudah terdesak, baru merangkul kaki Buddha’, sesudah lewati kali, lantas merusaki jembatan, sesudah luka sembuh, lantas melupai sakit, atau, sesudah urusan beres, lantas berpura tidak kenal, hingga dua atau tiga tahun, kau sukar buat dicari ketemu! Inilah aku tidak mau, sobat, dengan begitu kau bukanlah sobatku! Kita orang saudara-saudara biasanya tidak punya hutang, kita menjual kontan dan tidak mainin tempo, maka kalau nanti urusan sudah beres, dengan baik-baik kau harus undang kita berjamu!.......”
Tay Yong sementara itu sudah lantas berlutut di depannya tetamu itu, buat perkenalkan diri sambil unjuk hormatnya.
Si kate kurus, yang romannya mirip dengan kunyuk, sudah lantas berkata dengan suaranya yang rada serak:
“Cucu, apakah kau kenal dengan kita orang siapa? Dengan kau berlutut di depan kita, apakah itu tidak menurunkan derajatmu sebagai ketua di sini?” demikian ia tanya.
“Aku minta lootjianpwee, jangan tertawai aku, dengan sebenarnya aku tidak kenal pada lootjianpwee berdua....” jawab Tay Yong dengan jengah. Kemudian ia menoleh pada Lim Siauw Tjhong sambil menanya: “Siokhoe, tolong kau ajar aku kenal sama djiewie lootjianpwee ini.........”
Tetua Kioe-she Hie-kee manggut, ia segera tunjuk si tinggi-besar yang ubanan:
“Ini ada Hengyang Hie-in Sian Ie, buat di seluruh Ouwlam, dengan ia punya ilmu silat Bian-tjiang Kang-hoe, ia telah pimpin semua ahli silat.....” Kemudian menunjuk si kurus-kering yang beroman kunyuk, ia tambahkan: “Ia adalah tukang usil urusan sewenang-wenang di daerah Tiangkang hingga orang juluki ia Souw-po-soe atau si Pembalasan Cepat. Ia ada orang she Tjoekat bernama Pok.”
Baru saja Lim Siauw Tjhong tutup mulutnya atau ada lompat turun orang yang ketiga, yang ada punya kumis dan jenggot hitam yang menutupi mulutnya.
“Dan ini ada Hee In Hong, yang namanya tersohor di Selatan dan Utara Taykang karena ia punya golok besar Kim-pwee Kam-san-too,” ia segera perkenalkan lebih jauh.

Maka Tay Yong pun lekas-lekas hunjuk hormatnya pada orang ketiga ini. Kemudian ia lekas berbangkit, buat mengundang duduk pada tiga tetamu itu.
Beberapa nelayan sementara itu sudah lantas menyuguhkan thee panas.
“Kau telah undang kita, apa begini caranya kau sambut tetamumu?” menegur Tjoekat Pok pada Lim Siauw Tjhong. “Kau orang semua benar-benar tidak boleh dibuat permainan. Sampaipun arak kau tidak sediakan! Kau kenapa begini muris, sampai uang dipandang dan disayang seperti jiwa sendiri?”
“Jangan tidak kenal aturan, sobat!” Lim Siauw Tjhong baliki. “Dengan tidak berjasa, kau menerima pahala, aku kuatir, umpama kau makan, barang makanan juga tidak nanti mau hancur. Kau lihat cuaca, sekarang ini sudah jam berapa? Bukankah di mulut muara ada sedang menantikan sahabat-sahabat karib kita! Kita harus usir pergi terlebih dulu pada mereka, baru kemudian kita orang bisa makan dan minum dengan tenang, buat rayakan pesta kemenangan! Itu waktu barulah barang makanan bisa digayam hancur!..........”
“Kau harus hati-hati dengan sesudah lewati kali, lantas merusak jembatan, atau sehabisnya liam-keng lantas memukul hweeshio!” berkata Souw-po-soe Tjoekat Pok sambil tersenyum. “Kau harus mengerti, aku bisa membayar dan membalas kontan pada kau, jangan, karena kau telah cari aku, lantas kau boleh perintah aku sebagai si kacung tolol, yang boleh diperintah menjual tenaga buat si orang she Lim! Bukankah kau ada dari pihak Kioe-she Hie-kee? Jikalau padaku tidak dihaturkan terima kasih sebagaimana sepantasnya, di antara kita mesti ada perhitungan yang belum beres!..........”
“Eh, Tjoekat Pok, kenapa sih kau tidak mengenal kira?” menegur Hee In Hong. “Kenapa di antara sekalian tetua, kau berhitungan begini matang? Apa kau tidak kuatir kehormatan dirimu nanti jadi turun harga?”
Hengyang Hie-in tertawa berkakakan.
“Tjoekat Loosoe, apa kau tidak dengar itu suara suitan di mulut muara?” ia tanya. “Bukankah itu ada tanda bahwa di mulut muara orang telah bergerak? Pasti, rupanya, usaha kita bakal segera dimulai!...........”

Benar saja, suara suitan lantas terdengar berulang-ulang, disusul sama lajunya dengan pesat sebuah perahu kecil di atas mana ada tanda lentera dan bendera merah. Sesampainya di depan Hie-tjoen, satu nelayan yang berdiri di kepala perahu kecil itu, sambil goyang bendera merahnya, segera berseru:
“Tiga perahu besar dari pihak luar sudah mulai masuk!”
“Aku tahu,” jawab Tay Yong seraya berbangkit.
Atas itu, perahu kecil tersebut segera pergi kembali.
Sekarang semua mata ditujukan ke muka air, di jurusan mulut muara. Tiga buah perahu nelayan besar tertampak sedang mendatangi, empat buah perahu di kiri dan kanan, ada mengiringi. Muka air menjadi terang, di situ ada memain cahaya obor dan lentera, air jadi bercahaya gemerlapan. Lajunya perahu-perahu ada cepat, air sungai sampai jadi berombak.

Tay Yong ajak sejumlah saudaranya pergi ke tepi, untuk membikin penyambutan. Delapan nelayan, dengan masing-masing pegang lentera, berbaris di kedua pinggiran.
Selagi tiga perahu besar mendatangi, ada empat anak buahnya berdiri di kepala perahu, pakaiannya serupa, tangannya menjekal seorang satu obor, sedang di perahunya ada dua buah lentera besar. Terang kelihatan, di kertas lentera ada tiga huruf “Kang San Pang.” Kedua jendela telah dipentang, di dalam perahu kelihatan tiga orang sedang berduduk. Lainnya penumpang ada enam anak buah dan satu tukang kemudi.
Perahu yang kedua ada sama segala apanya, kecuali di lenteranya ada tertulis tiga huruf lain yaitu “Lan Kie Pang”.

Adalah perahu ketiga yang pakai lentera dengan tiga huruf “Eng Lok Pang” dan di situ ada berduduk lima atau enam orang.
Sebentar kemudian ketiga perahu sudah sudah berlabuh, dari perahu pertama ada mendarat satu anak-buah, tangannya menyekal karcis nama, yang mana sambil menjura, ia serahkan pada Tan Tay Yong. Ia kata itu adalah karcis nama tanda menghormat dari pihaknya – pihak tetamu.

Di antara terangnya lentera, Tay Yong periksa karcis nama itu. Ia baca:
Na Thian Hong, pemimpin dari: Eng Lok Pang.
Pian Sioe Hoo, pemimpin dari: Kang San Pang.
Han Kak, pemimpin dari: Hang Tjioe Pang.
Ie Tong, pemimpin dari: Lan Kie Pang.
Auwyang Tjoe Him, pemimpin dari: Tong Louw Pang.
Soen Po Sin, pemimpin dari: Liong Yoe Pang.
Tjoei Tjoe Ie.
Tjia Kioe Djie.
Dua nama yang tidak berpartai itu ada ahli-ahli silat ternama di Tiangkang.
Cepat sekali Tay Yong perintah satu nelayan bawa itu surat pada Lim Siauw Tjhong, agar tetua itu ketahui siapa-siapa yang datang pada pihak musuh, ia sendiri lalu kata pada pembawa karcis nama musuh itu:
“Silakan sekalian tetamuku mendarat!”
Sementara itu sekalian tetamu sudah mulai mendarat, maka kapan mereka itu telah datang dekat, sambil bertindak ke samping, Tay Yong angkat kedua tangannya buat unjuk hormatnya.
“Tan Tay Yong dari Giok Liong Giam Hie-tjoen berterima kasih yang tjoe-wie loosoehoe telah sudi datang ke desaku ini, harap dimaafkan, yang aku telah lambat menyambut.......” ia kata. “Silakan tjoe-wie loosoehoe duduk akan minum thee.......”
Na Thian Hong adalah yang kepalai kawan-kawannya itu. Di antara mereka ini, empat dandan sebagai nelayan sejati, yaitu baju dan celana pendek, kaki telanjang, cuma pakai tjauw-eh, hanya mereka semua pada bekal senjata, senjata rahasia tidak terkecuali.
Dengan sikap menghormat, Tay Yong pimpin rombongan tetamunya menuju ke kursi meja di mana Lim Siauw Tjhong bersama tiga sobatnya sudah berbangkit dan bertindak maju akan bikin penyambutan.
Selagi kedua pihak saling mendekati, Hengyang Hie-in Siau Ie sudah lantas mendului kawan-kawannya maju ke depan, sembari tertawa, ia sudah lantas berkata:
“Malam ini pertemuan kita ada suatu pertemuan yang beruntung sekali! Aku tidak sangka bahwa Pian Loosoehoe dari Kang San Pang juga telah turut datang! Ini ada pertemuan yang sukar dicari keduanya! Dan kau, Auwyang Loosoehoe dari Tong Louw Pang, apakah kau masih kenali aku, Hengyang Hie-in Sian Ie? Tjoe Ie, Kioe Djie, djiewieloosoehoe, kau orang telah bisa membuang tempo akan datang kemari! Kalau tidak keliru, sudah beberapa tahun telah lewat sejak kita orang bertemu paling belakang!”
Jadi dari pihak tetamu, empat orang telah dikenali oleh Sian Ie.
Di antara tetamu-tetamu itu, Pian Sioe Hoo adalah yang merasa paling heran atas beradanya Hengyang Hie-in di Giok-liong-giam Hie-tjoen, keheranan ini sampai terpeta pada air mukanya, akan tetapi ia sudah lantas maju, akan jabat orang punya tangan seraya berkasa sambil paksakan bersenyum.
“Sian Loosoe, kau telah datang kemari, buat bantu meramaikan pertemuan kita, inilah hal yang kita sebenarnya minta pun tidak berani! Adalah pengharapanku, ke mana saja kita sampai, kita akan ketemu sobat-sobat kekal, karena dengan begitu, kita orang jadi bisa bicara dengan leluasa. Loosoehoe, aku ingat, kita orang telah berpisah lamanya empat atau lima tahun....”
 

“Rasanya jauh terlebih lama daripada itu, loosoehoe!” Sian Ie jawab. “Pada tujuh tahun yang lalu, di waktu aku pergi ke See Ouw, aku telah ketemu kau di sana! Bukankah apa yang aku ingat ini ada tidak keliru?”
Pemimpin dari Kang San Pang, yang bergelar Tiat-hong-liong, si Naga Besi, manggut.
“Matahari dan bulan lewat laksana melesatnya anak panah, apa yang sudah lewat nampaknya ada seperti di depan mata,” berkata ia. “Lihatlah, sekarang rambut dan kumis kita sudah putih, akan tetapi kita orang tidak sadar sang tempo telah lewat berapa banyak, tahu-tahu kita orang telah menjadi tua!”
“Tetapi, Pian Loosoe, aku sendiri merasa bahwa aku masih belum tua!” berkata Nelayan Tersembunyi dari Hengyang. “Coba kau pikir, kita orang, si sobat tua-bangka, kalau bukannya pada diri kita masih ada hati jagoan, mana kita orang masih berani campur tahu segala urusan lain orang?”
Mukanya ketua dari Kang San Pang menjadi bersemu merah, ia merasa terpukul sindir oleh itu kenalan, yang bicara secara manis dan halus, tetapi yang maksud ucapannya ada menusuknya. Maka ia lekas-lekas simpangin pembicaraan.
“Loo-hiapkek, di sini masih ada orang yang belum dikenal, mari kita orang belajar kenal, supaya leluasa kita orang pasang omong,” demikian katanya.
Mendengar itu, Tan Tay Yong segera mendului.
“Ini ada Tjoekat Pok Loosoehoe,” berkata ia. “Ini ada Hee In Hong Loosoehoe. Dan ini ada pamanku Lim Siauw Tjhong.”
Atas itu, ketua dari Eng Lok Pang, Na Thian Hong, juga maju, akan perkenalkan ia punya kawan-kawan, sebagaimana nama-nama mereka telah termuat dalam karcis nama.
Sampai di situ, barulah mereka pada ambil tempat duduk.
Beberapa nelayan sudah lantas datang menyuguhkan thee.
“Berhubung dengan kedatangan kita malam ini, aku minta Tan Tjoen-tjoe tidak anggap kita lancang,” Na Thian Hong mulai berkata. “Untuk kebaikannya nelayan dari kedua pihak, untuk penghidupan mereka, aku anggap soal lebih baik diurus beres terlebih siang. Seperti telah diketahui, Eng Lok Pang telah hidup turun-temurun sebagai keluarga nelayan yang hidupnya di muka air selalu. Beberapa ratus keluarga kita tidak pernah memikir buat hidup dari lain macam usaha. Adalah tidak beruntung, selama ini kita telah hadapi bahaya paceklik, hingga kita telah ke Giok-liong-giam Hie-tjoen ini. Daerah Giok Liong Giam adalah daerahnya Eng Lok Pang, adalah sejak Tan Tjoen-tjoe pimpin rombongan kau, kau telah duduki daerah ini. Ketika itu kita telah ketahui, yang daerah ini telah diduduki oleh kau orang, tetapi kita orang diam saja. Itulah disebabkan adanya tahun-tahun yang makmur, hingga kita masing-masing bisa hidup senang dan tenteram di masing-masing daerah sendiri. Adalah karena nasihat dari aku, Na Thian Hong, maka pihak Eng Lok Pang diam saja mengawasi sepotong dari daerahnya ini diduduki oleh lain pihak. Kita orang sama-sama mau cari hidup dan aku telah larang pihakku ganggu lain pihak. Apa lacur, tiga tahun beruntun, kita telah alami saat-saat yang sukar, di sebelah itu, kita mesti melihat Giok-liong-giam ada tidak kurang suatu apa, malah sebaliknya daripada terancam bahaya, ia bertambah makmur. Giok-liong-giam, di air ada banyak ikannya, di darat ada subur sawah-kebunnya. Ini adalah suatu imbangan tidak adil, karena satu pihak terancam bahaya lapar, lain pihak ada makmur. Ini juga sebabnya kenapa kita akhirnya menoleh kemari, kenapa kita orang jadi mengharap buat mendapat bagian. Kita anggap keinginan kita ada pantas dan sah. Pantas karena kita ada sesama manusia dan sah karena ini daerah pada asalnya ada daerah kita. Tapi sayang, maksud kita itu tidak kesampaian. Kau ketahui sendiri, Tan Tjoen-tjoe, kauorang telah kangkangin Giok-liong-giam, yang kau orang telah jadikan seperti kepunyaanmu sendiri, dan sudah begitu, lain pihak, ialah kita dari Eng Lok Pang, dilarang datang kemari sekalipun buat tangkap ikan. Sebuah pun perahu kita, tidak boleh masuk kemari! Kalau kau ada pihak Eng Lok Pang juga, kita masih bisa bicara halnya siapa datang duluan dan datang belakangan, tetapi ini tidak, karena kau ada pihak tetamu dan kita tuan rumah. Kenapa, sebagai tetamu, kau larang tuan rumah masuk ke dalam daerahnya sendiri? Oleh karena ini, seperti telah diketahui, maka telah terjadi bentrokan di antara kita. Sebab anak-anak muda kita yang tidak bisa dikasih mengerti, yang telah turut suara hatinya, sudah datang juga kemari dengan paksa, tetapi mereka telah diserang dan diusir, hingga antara mereka ada yang binasa dan luka, ada perahu-perahunya yang karam, kena dirampas dan rusak. Kejadian ini, aku anggap, ada tidak pantas, ini ada sebab kenapa pembicaraan secara baik sampai tertukar dengan cara keras. Kendati demikian, aku tidak mau berlaku lancang. Maka ini juga sebabnya kenapa kita orang sengaja datang kemari secara baik, untuk lakukan pembicaraan. Kita tidak datang sendiri, kita datang beramai-ramai, bersama sobat-sobat yang kita sengaja undang. Mereka ada dari berbagai-bagai kalangan. Dengan bertindak begini, aku tidak ingin nanti dikatakan bahwa kita telah gunai paksaan.”
“Dengan ada saksi, kita orang bisa pasang omong, guna cari keadilan, siapa benar, siapa salah. Tjoen-tjoe, kau telah pegang pimpinan, kau mesti ada dari satu rombongan. Ini ternyata benar, sebab aku dengar kau sebenarnya ada asal Hoe Tjoen Kang, dari pihak Kioe-she Hie-kee. Karean kau ada dari Hoe Tjoen Kang, tindakan jadi terlebih-lebih tidak pantas. Hoe Tjoen Kang ada jauh dari ini, daerah itu ada luas, beberapa ratus lie lebarnya. Di sebelah mana saja di sana, kau bisa dirikan pangkalan, maka kenapa kau justru datang ke sini, daerah Eng Lok Pang, dan di sini kau duduki tempat secara paksa dan segera menjagoi, hingga tuan rumah sendiri kau usir, tidak mengasih injak sebelah kaki? Dengan menuruti kau, Tjoen-tjoe, tidak bisa tidak, adalah terlebih baik buat kita buat bubarkan saja Eng Lok Pang, semua angkat kaki dari muka air, akan cari penghidupan baru di daratan! Maka sekarang, Tjoen-tjoe, aku telah datang kemari, maksudku adalah buat minta kau suka mengalah, supaya kau orang pulang ke Hoe Tjoen Kang dan ini Giok-liong-giam kau serahkan kembali pada kita, selanjutnya kita orang hidup dengan tidak saling ganggu. Tapi, andaikata kau paksa mau gunai kekerasan, sudah terang di antara kita tidak bisa lagi ada pembicaraan secara baik, kita hanya mesti andelin tenaga dan kepandaian masing-masing!”
Tan Tay Yong antap orang bicara dengan merdeka, adalah setelah tetamu sudah tutup mulutnya, ia tertawa berkakakan.
“Eng Lok Pang-tjoe, terhadap pengutaraan kau ini, aku tidak puas,” ia berkata. “Sebegitu jauh aku ketahui kaum nelayan di Eng-lok-kang adalah merdeka, mereka tersebar di muka air, mencari penghidupan mereka dengan tidak memakai modal uang, adalah pihak kau yang telah persatukan mereka, hingga kemudian mereka berpencarian secara terang, hingga pemerintah, ialah pembesar negeri, telah berikan garis-garis di mana mereka bisa menangkap ikan, hingga lain pihak dilarang berusaha di situ. Orang-orangku sekarang memang berasal dari Hoe Tjoen Kang, dari pihak Kioe-she Hie-kee, tetapi kita ada penduduk yang merdeka, buat usaha kita, kita tidak dibatakan oleh aturan-aturan atau larangan-larangan dari pembesar negeri. Kita ada merdeka buat pergi ke mana kita suka. Dari Hoe Tjoen Kang, benar aku telah datang kemari, tetapi aku tidak bermaksud buat ganggu orang, aku telah kendalikan aku punya orang-orang yang berjumlah seratus jiwa lebih. Kau ketahui sendiri, muara ini dulunya adalah muara yang tersia-sia, tertutup dan balah, coba ini ada satu muara seperti sekarang keadaannya, siang-siang tentu sudah ada orangku yang usahakan dan duduki, tidak nanti pihakku kebagian ketika akan berusaha di sini! Kau tahu, berapa banyak keringat telah kita kucurkan, tempo beberapa tahun kita mesti lewatkan, untuk bikin Giok-liong-giam Hie-tjoen berupa seperti sekarang ini! Kau orang cuma melihat dan berniat mendapat hasil, kau orang tidak memikir orang punya susah-payah bertahun-tahun, mana itu adil! Cara bagaimana kau bisa datang-datang mau enak dahar lain orang punya cape-lelah? Secara begitu, kau jadinya menghina, bersikap keterlaluan! Aku sudah ambil tujuan, kita tidak mau ganggu orang, kita juga tidak mau diganggu! Giok-liong-giam ini ada tempat kita, di sini kita tidak mau berlalu! Na Pang-tjoe, buat suruh kita mengalah, itu adalah soal lain!”
Na Thian Hong tertawa dingin.
“Tan Tjoen-tjoe, aku minta kau jangan pandang urusan secara begini enteng!” ia mengasih ingat. “Aku si orang she Na memang ada satu nelayan yang tidak ternama, tetapi, setelah aku datang kemari, jangan kau ambil putusan secara sembarangan. Bisa jadi aku sendiri suka terima perkataan, tidak demikian dengan aku punya rombongan! Kau telah saksikan sendiri, kawanan dari Eng Lok Pang sudah ambil sikapnya terhadap Giok Liong Giam, maka aku kuatir, kapan sudah sampai saatnya, urusan tidak bisa diperbaiki lagi! Jangan kau nanti menyesal sesudahnya terlambat!.....”
Tan Tay Yong juga tertawa berkakakan.
“Na Pang-tjoe, kau menjadi satu ketua, kau ada orang berarti dari rombonganmu, kenapa kau bicara secara begini rupa?” ia menegur. “Kita dari pihak Kioe-she Hie-kee, yang tua yang ubanan, yang muda sampai pada bocah cilik, semuanya tidak kenal apa yang disebut ‘takut mati’. Djikalau kau paksa kehendaki Giok Liong Giam ini, kita orang tidak bisa merasa puas kecuali kau telah unjuki dirimu siapa! Apa juga kesudahannya tindakan kita ini, tidak nanti aku menyesal! Maka, Na Pang-tjoe, kau boleh bertindak sesukamu, jangan kau sungkan-sungkan!”
Tan Tay Yong telah bicara sebagai tjoen-tjoe, kendatipun di situ ada Lim Siauw Tjhong yang menjadi tetua. Ia berani tanggung jawab atas sikap keras dan putusannya yang pasti itu.
Na Thian Hong ada beradat keras, ia segera berbangkit.
“Tan Tjoen-tjoe, kau berani omong besar, ini ada urusanmu sendiri!” berkata ia dengan nyaring. “Kau nanti lihat aku si orang she Na ambil tindakan!”
Lim Siauw Tjhong berada di tempat berkumpul itu, selama orang bicara, dari pelahan sampai keras, ia diam saja, ia melainkan bersenyum kapan ia saksikan pihak tetamu punya sikap jumawa itu.
Ketua dari Kang San Pang, Tiat-hong-liong Pian Sioe Hoo, sudah lantas berbangkit.
“Na Loosoe, jangan kau gusar dulu,” ia kata. “Jikalau begini macam ada jalannya pembicaraan, kita orang sebagai sobat-sobat pasti tidak perlu lagi berada di sini. Dalam ini urusan, pertimbangannya orang banyak adalah yang perlu, karena kita orang datang kemari pun ada untuk mencari keadilan. Tunggu sebentar, loosoe, aku ingin bicara sedikit sama Tan Tjoen-tjoe.”
Mendengar orang punya ucapan, Tay Yong segera unjuk hormatnya pada si Naga Besi itu.
“Pian Pang-tjoe, silakan bicara,” ia kata. “Dalam rombongan Hoe Tjoen Kang aku ada dari golongan muda, dalam kalangan tjoan-pang, rombonganku pun ada dari golongan kecil, maka itu aku ada seorang yang kurang pengalaman, hingga aku selalu bersedia akan terima pengajaran. Aku juga mohon maaf andaikata dalam omonganku ada apa-apa yang tidak seharusnya......”
“Jangan terlalu sungkan, Tan Tjoen-tjoe,” Pian Sioe Hoo bilang. “Kita orang dari kalangan tjoan-pang, masing-masing ada punya aturan sendiri. Itu bukannya undang-undang negeri akan tetapi aturan itu biasanya dijunjung tinggi oleh kalangan kita, dan biasanya tidak ada yang berani melanggar. Kita kaum nelayan memang ada merdeka, lebih-lebih mereka yang tidak tunduk langsung di bawahnya pembesar setempat, tetapi kendati demikian, apabila berbareng pun tidak ada aturan dari kita, sebenarnya kita orang sukar merasai ketenteraman. Aku tahu betul, sejak dulu, pihak Kioe-she Hie-kee hidup di daerah Hoe Tjoen Kang, belum pernah ada yang pindah atau mengembara, hanya baru Tan Tjoen-tjoe sendiri, yang ajak suatu rombongan pergi merantai sampai di Giok Liong Giam ini, ialah daerah dari sungai Eng-lok-kang. Memang kita tahu Tjoen-tjoe adalah orang yang buka ini daerah perikanan, hingga menjadi makmur seperti sekarang. Tapi juga benar, pihak Eng Lok Pang yang terdiri dari beberapa ribu keluarga, di muka perairan, belum pernah ganggu lain pihak. Jadi tegasnya, masing-masing pihak hidup sendiri, tidak terbitkan onar, tidak saling ganggu. Adalah melulu karena tadinya ada hidup dalam kecukupan, pihak Eng Lok Pang tidak pernah perhatikan daerah Giok Liong Giam ini, akan tetapi selama beberapa tahun yang paling belakang ini, ia telah mengalami kesukaran, bahaya paceklik telah mengancam hidup mereka, maka akhirnya mereka menoleh kemari. Tjoen-tjoe, kau ada punya daerah perikanan yang makmur, dari pihak tetamu, kau sekarang menjadi tuan rumah, dengan melarang pihak Eng Lok Pang mencari hidup di sini, menurut aku, kau berlaku kurang adil. Di kalangan Sungai Telaga, ada suatu aturan umum, yaitu siapapun juga, tidak boleh bertindak melewati batas. Maka, dalam hal ini, tjoen-tjoe, aku mau minta supaya kau sudi mengalah sedikit. Umpama kata kau berkukuh, hingga kedua pihak mesti mengalami kerusakan, itu bukannya tindakan dari seorang yang cerdik! Kenapa mesti ambil tindakan tolol? Tjoen-tjoe, kita ada orang luar, kita datang buat bantu cari pemberesan. Menurut aaku, daerah perikanan ini baiklah dibuka, kau kasih izin buat pihak mana saja menangkap ikan di sini, siapa ada nelayan pandai, dialah yang akan peroleh oleh-oleh banyak. Biarlah semua orang punyai hak, akan dapati hasil dari ini muara pemberian Thian. Bukankah ini ada tindakan yang bagus, yang menguntungi dua-dua pihak?”
Tay Yong hendak jawab tetamunya, tetapi Hengyang Hie-in Sian Ie, yang datang atas undangannya Lim Siauw Tjhong, telah dului ia. Ini orang tua, sambil urut kumisnya yang telah jadi putih semua, berkata dengan sabar:
“Pian Pang-tjoe, kau punya pertimbangan ini benar ada pertimbangan buat damaikan perselisihan, maka menuruti aku, setelah dengar kau, Tan Tjoen-tjoe haruslah mengalah, mengalah dengan banyak. Memang biasanya, dalam mendamaikan perselisihan, orang mesti lihat siapa si juru damai itu. Di antara Eng Lok Pang dan pihak Giok-liong-giam Hie-tjoen sekarang telah terdapat satu jalan buntu, kesudahan dari itu akan ada suatu pertempuran yang hebat. Maka tidak heran sekarang, dari daerah Hoe Tjoen Kang, telah muncul orang ternama dari Kang San Pang, yang mau jadi juru damai, guna bikin kedua pihak menjadi akur! Tan Tjoen-tjoe, tidak peduli beralasan atau tidak, kau seharusnya mengalah pada Pian Pang-tjoe. Dilihat dari pihak perseorangan, kau orang berdua tidak punya pergaulan rapat, tetapi dilihat dari tjoan-pang, ialah kalangan nelayan, kau orang sedikitnya ada punya hubungan. Tidakkah Kang San Pang dan Giok Liong Giam telah hidup dari serupa mangkok nasi? Tan Tjoen-tjoe, jangan kau tidak puas akan pertimbangannya Pian Pang-tjoe, kau mesti pandang si juru pendamai, maka hayolah kau bikin sudah perselisihan ini, kau harus lekas ajak semua penduduk Hie-tjoen mundur dari Giok Liong Giam dan terus pulang ke Hoe Tjoen Kang, di sana ada menantikan kau orang punya periuk yang lama!.......”
Setelah mengucap demikian, Sian Ie tertawa bergelak-gelak.
Mukanya Pian Sioe Hoo menjadi merah. Ia merasa ketusuk dengan ucapan itu.
“Sian Tay-hiap, kita ada sama-sama orang dari kalangan Sungai Telaga, kalau bicara, aku minta sukalah kau omong dengan terus terang!” ia kata. “Aku minta jangan orang bicara dengan andalkan lidahnya yang tajam: Tay-hiap, andaikata kau anggap kita orang, orang-orang luar, ada terlalu usilan, baiklah, aku akan segera undurkan diri dari Giok Liong Giam ini!”
“Pian Pang-tjoe, kau omong terlalu jauh!” berkata Sian Ie dengan lekas. “Sebagai seorang tua, aku biasa omong terus terang, apa yang dipikir di hati, dikeluarkan di mulut. Bukankah kita ada orang-orang dari serupa golongan, yaitu golongan yang paling suka campur tahu urusannya sobat-sobat agar sobat-sobat itu menjadi akur? Apakah yang Pang-tjoe dan Kioe-she Hie-kee ada punya ganjalan itu hendak dibikin beres sekarang, justru ada ini urusan sulit. Kalau tidak, Pang-tjoe, kau dan aku ada sama saja, ialah kita datang kemari untuk mendamaikan. Dalam hal ini, aku minta janganlah orang berpemandangan cupat!...........”
Mukanya Pian Sioe Hoo menjadi bertambah merah, tanda dari kemurkaannya, ia tentu sudah lantas berbangkit, kalau tidak Han Kak, ketua dari Hang Tjioe Pang, ulapkan tangannya, akan menyegah padanya.
“Sian Loo-hiapkek, kau adalah tetua dalam kalangan Boe-Lim, kendatipun aku belum pernah ketemu kau, toh nama kau yang besar aku telah pernah dengar,” berkata orang she Han ini. “Di kalangan Sungai Telaga, apakah yang paling dijunjung tinggi? Tidakkah kita orang paling bisa membedakan di antara kebaikan dan kejahatan, persobatan dan permusuhan? Kalau kita ada punya ganjalan sama pihak Kioe-she Hie-kee, tidak nanti kita gunai ini ketika dari adanya urusan dari Na Pang-tjoe, kita tidak akan pinjam orang punya golok buat bunuh orang! Loo-hiapkek, ucapan kau barusan ada melukai perasaan orang. Kita yang datang semua ada sobat-sobat, kecuali Na Pang-tjoe, tidak satu dari kita ada musuhnya Tan Tjoen-tjoe. Kita datang buat guna perikeadilan, maka itu, kita anggap, ada kurang benar buat pihak Hie-tjoen kangkangin ini muara...............”
Mendengar perkataannya ketua dari Hang Tjioe Pang, Lim Siauw Tjhong lantas berbangkit, dengan angkat kedua tangannya, ia unjuk hormat pada tetamunya itu.
“Lauw-hia, terima kasih buat perkataan kau,” kata ini tetua dari Kioe-she Hie-kee. “Mengenai urusan kita ini barangkali, satu penjelasan ada perlu. Pada dua ratus tahun yang lalu, oleh leluhur kita, kita dilarang meninggalkan Hoe Tjoen Kang. Maksud dari larangan itu ada baik, tetapi akibatnya ada berbahaya. Mana bisa buat kita hidup di satu tempat turun-temurun, dengan tidak ada perubahan, sedang kita ada kaum yang gagah dan bersemangat? Dulu kita bisa hidup menyendiri, tetapi sekarang tidak. Jumlah kita bertambah dan daerah tidak ikut meluas mengimbangi jumlah itu, maka untuk hidup kita, anak-cucu kita harus cari jalan sendiri. Semua orang tahu, kalangan pencarian kita ada cupat, dan pihak yang memusuhkan kita bukannya tidak ada. Sampai sebegitu jauh, pihak kita hidup dalam lapangan yang sempit, maka adalah bisa dimengerti yang kita ada menghadapi kesukaran. Meski begitu, kita jaga diri, kita tidak mau ganggu lain pihak, kita tetap berusaha sendiri. Kita pun tetap hidup di muka air. Adalah karena terpaksa, ada di antara kita yang meninggalkan Hoe Tjoen Kang. Rombongan dari Tan Tay Yong ini ada satu di antaranya. Ia duduki Giok Liong Giam dengan tidak menyusahi pihak mana juga, ia banting tulang, makan dan pakai dari hasil tenaga sendiri. Semua orang ketahui, daerah perikanan ini tadinya ada daerah kosong dan tersia-sia, daerah ini baru jadi makmur setelah disiram keringat mereka yang bercapek-lelah. Apakah adil, kalau sekarang mereka hendak diganggu? Kenapa tidak dari tadi-tadinya, dari mulanya diusahakan, mereka dilarang dan dicegah? Kenapa baru sekarang mereka didatangi, dengan bawa satu jumlah besar, dengan bikin pusing sobat-sobat, yang sedikit pun tidak punya kepentingan dalam hal ini? Tidakkah ini jalan bakal bikin kita jadi tidak enak hati terhadap sobat-sobat itu? Kalau Eng Lok Pang hargai persobatan, tidak nanti ia datang dan ganggu kita! Kalau Eng Lok Pang tidak ganggu kita, sudah pasti kita tidak akan ganggu padanya. Adalah kalau terpaksa, baru kita tidak bisa diam saja. Maka sekarang aku tegaskan, pihak Hie-tjoen tidak bisa berlalu dari sini, kecuali apabila darah kita telah mengucur habis. Terserah pada Eng Lok Pang, tindakan apa ia hendak ambil!”

 

Ketua dari Tong Louw Pang, Auwyang Tjoe Hin, berbangkit.
“Lim Loo-enghiong, apakah kau bukannya Lootjianpwee Lim Siauw Tjhong, ketua dari Kioe-she Hie-kee?” ia tegaskan.
“Itulah benar,” ia menyahut dengan manis.
“Lim Loo-enghiong,” kata pula Auwyang Tjoe Hin, “sebenarnya adalah keinginanku, yang kedua pihak saling mengalah. Dalam ini hal, kita sebenarnya cocok sama bunyinya peribahasa yang membilang, ‘Orang hanya lihat keuntungan, tidak bahayanya, seperti ikan cuma lihat umpan, tidak melihat pancing.’ Dari peribahasa ini, kita mesti menyingkir. Mengalah ada berarti keberuntungan kita, kalau sebaliknya itu berarti jalan buntu, orang sama-sama ada di pojokan. Apakah artinya kalau kedua pihak sampai nampak kerugian, hingga muka air mesti disiram darah? Menurut aku, loo-enghiong baik mengalah dan Na Pang-tjoe jangan mendesak, dengan begitu, perselisihan bisa dibubarkan......”
Mendengar begitu, Sam-siaong Tjoei Tjoe Hoo dan Kim-pian Tjia Kioe Djie, kedua ahli silat undangannya Na Thian Hong, lalu berbangkit.
“Kita kaum Sungai Telaga memang harus saling mengalah,” ia berkata. “Na Pang-tjoe inginkan Kioe-she Hie-kee berlalu semua dari Hie-tjoen ini, itu ada keterlaluan, dan Tan Tjoen-tjoe berkukuh mau kangkangin ini daerah, ini pun ada kurang pantas. Di sini mesti ada tempat buat tuan rumah dan tetamu, Kioe-she Hie-kee tetap ada tetamu, kendati ia sudah banting tulang mengusahakan daerahnya ini, maka itu, ia mesti sedikit sungkan. Di sebelah itu, Tan Tjoen-tjoe juga niscaya telah saksikan kesulitan hidup dari pihak Eng Lok Pang. Satu makmur dan ada kelebihannya, satu malang dan satu lagi menderita. Bagaimana sekarang? Menurut aku, baiklah Hie-tjoen bagikan umpama separih dari hasil kelebihannya, buat tolong pihak yang menderita dari Eng Lok Pang. Dengan begitu, kedua pihak jadi saling menolong, kedua pihak tidak bermusuhan lagi..... Apakah kedua pihak sudi dengar pertimbanganku ini?”
“Cara pemecahan ini, maafkan aku, aku tidak bisa terima!” kata Na Thian Hong sambil bersenyum tawar. “Kalau ini dilakukan duluan, bisa menjadi, tetapi sekarang, tidak! Sekarang melainkan ada satu jalan, ialah pihak Kioe-she Hie-kee mesti angkat kaki semua dari Giok Liong Giam, aku tidak akan ganggu selembar jiwa atau sebuah perahu, jikalau tidak, tidak bisa lain, kedua pihak harus unjuk kegagahannya! Aku si orang she Na tak punya guna, aku bersedia akan korbankan semua orang dari Eng Lok Pang! Aku ada punya kepandaian, akan ambil pulang Giok Liong Giam! Maka Kioe-she Hie-kee baik lekas mundur, kita lantas jadi tidak saling ganggu! Aku telah bicara, izinkanlah aku berlalu!”
Baru saja Na Thian Hong tutup mulutnya atau satu suara tertawa yang panjang dan nyaring, yang membikin sakit kuping terdengarnya, menyerang kupingnya ketua dari Eng Lok Pang ini!
Itu ada suara tertawa dari Souw-po-soe Tjoekat Pok, tetamu yang kurus-kering dari Lim Siauw Tjhong. Dia ini sampai sebegitu jauh duduk diam saja, atau ia bicara sambil tertawa-tawa sama Hee In Hong, ia seperti tidak punya sangkutan suatu apa sama jalannya pembicaraan, yang begitu hebat, malah ia agaknya tidak tidak sudi dengar pembicaraan orang. Tapi sekarang, dengan tiba-tiba, ia kasih dengar suaranya – suara yang tidak diingin! Kemudian, setelah lenyapnya suara tertawanya itu, ia hadapi Na Thian Hong sambil menggapai-gapai seraya terus berkata:
“Sobat, tunggu dulu! Dengan maksud apa kau datang kemari? Dengan cara bagaimana barusan kau datang kemari? Apa bisa kau pergi dengan begini saja? Apakah kau telah tidak tanyakan dulu pada ketua dari Giok Liong Giam Hie-tjoen, apakah ini tempat bisa antapi orang datang dan pergi dengan sesuka-sukanya saja? Tunggu dulu, sobat, aku Tjoekat Pok, aku ingin tanya kau!”
Mendengar orang punya suara dan melihat orang punya sikap, bukan main mendongkolnya Na Thian Hong.
“Eh, sobat, jangan kau berlaku kurang ajar pada aku si orang she Na!” ia menegur. “Aku bukannya orang yang boleh kau permainkan menurut sukamu! Apakah bisa jadi kau hendak larang aku pergi?”
“Sobat, sikapmu sungguh aneh!” kata Tjoekat Pok, yang tidak pedulikan orang ada gusar. “Kalau kau datang kemari dengan maksud buat gunai kekerasan saja, kau sebenarnya tidak perlu omong banyak! Kau telah datang kemari dengan cara baik, bukankah ada maksudmu buat kita gunai cara-cara terhormat dari kalangan Sungai Telaga, maka kenapa sekarang kau main ancam-ancaman? Lihatlah kaupunya pasukan perahu di luar muara! Dengan itu kau boleh gerak segala penduduk biasa! Kalau dengan pasukan itu kau hendak gertak Hie-tjoen, kau keliru! Nyata sekali, dengan bawa pasukan, kau sudah berniat menyapu Hie-tjoen ini! Tapi, kejadiannya bakal tidak ada begitu gampang seperti kau kira! Bukankah di sini ada berkumpul banyak sobat-sobat baik, yang mau rekokin urusan? Maka aku percaya, urusan akhir-akhirnya akan dapat dibikin beres. Sobat, turutlah aku, bikinlah beres urusan secara damai, kekerasan tidak akan ada faedahnya. Kenapa air sungai ini mesti disiram dengan darah? Bisakah kau berlaku sabar? Kalau tidak, sobat, sekarang kau boleh mundur dari Giok Liong Giam, aku kasih kau tempo sepuluh hari, akan menyerang masuk kemari. Selama tempo itu, andaikata ada sebuah saja dari perahumu, yang lolos ke dalam muara ini, aku akan nyatakan takluk padamu, aku akan angkat kau menjadi guru! Ingat, sobat, buat bekerja, orang jangan ingat saja keuntungan diri sendiri, orang mesti ingat juga kepentingannya lain orang! Kau terlalu kouw-ka-tie, ke sana kau hendak korbankan banyak jiwa, malah juga jiwanya sobat-sobatmu! Bukankah ada jalan paling adil kalau sekarang ditetapkan, dua kali dalam satu tahun, setiap musim Tjoen dan Tjioe, pihak Giok Liong Giam membantu pihak kau dengan barang-barang kelebihan hasilnya, buat dibagikan di antara nelayan-nelayan Eng Lok Pang yang paling melarat? Cara ini akan menyingkirkan pertempuran yang tidak ada perlunya, akan memegang kekal persobatan kita orang. Kenapa tidak ambil tindakan ini, Na Pang-tjoe?”
Bagaimana kesudahannya perundingan ini?
Bagaimana nasib dusun Giok-liong-giam Hie-tjoen kemudian?
Apakah akan terjadi pertempuran antara golongan Eng Lok Pang dkk. dengan golongan Kioe-she Hie-kee dkk?

     

Posted by Admin