Golok Yanci Pedang Pelangi **
Setiap orang tentu pernah bermimpi.
Mimpi memang sesuatu yang aneh. Banyak peristiwa yang tak
mungkin terjadi dalam
kehidupan nyata sering kali dapat dialami dalam mimpi.
Angan-angan yang sukar
terwujud dalam kehidupan nyata dapat dialami dalam mimpi.
Macam ragam pula orang bermimpi. Ada mimpi yang seram, mimpi
yang sedih, mimpi
gembira, yang menakutkan dan menggusarkan.
Akan tetapi, siapapun pasti tidak pernah mengalami “mimpi
aneh” yang akan kita
ceritakan seperti berikut ini.
Malam kelam, kabut tebal menyelimuti bumi.
Berjalan di tengah kabut yang mengambang itu, Ho Leng-hong
merasa bagaikan sedang
berjalan di tengah awan, tubuh terasa enteng dan seakan-akan
hendak melayang-layang
sehingga dia kelihatan lebih cakap dan bergairah.
Bila dalam sakunya waktu itu tidak diganduli dengan lima
puluh tahil perak, bisa jadi dia
akan benar-benar melayang-layang terbawa kabut.
Orang kuno bilang: Kalau rejeki sudah nomplok, gunung pun
tak dapat mengalanginya. Dan
malam ini Ho Leng-hong benar-benar telah meresapi kebenaran
pepatah tersebut.
Ambil contoh seperti apa yang baru saja dialaminya di rumah
perjudian keluarga Him sana,
dia bermain Pay-kiu. Kartu yang dipegang selalu bagus dan
mengherankan.
Bila orang lain menjadi “Ceng” (bandar), kartu yang
dipegangnya selalu mati dan pasti
tombok. Sebaliknya jika giliran Ho Leng-hong yang menjadi
bandar, maka kartu yang
dipegangnya pasti bagus, andaikan tidak menang, paling
sedikit juga seri. Bila pemain atau
pemasang mendapat kartu “Te kiu”, maka dia mendapat kartu
“Thian-kiu”. Jika pemain
memegang kartu “Thian-tui” dan “Te tui”, dia mendapat kartu
“Ci-cun” yang merupakan
kartu yang tak terkalahkan. Maklum, Ci-cun sendiri berarti
yang maha besar.
Begitu bagus kartu yang dipegangnya sehingga membikin
lawan-lawannya sama mendelik
dan kheki setengah mati, berulang-ulang mengusap keringat
dan susul menyusul merogoh
saku ... akhirnya, semua isi saku lawan-lawannya berpindah
tempat ke saku Ho Leng-hong.
Rumah perjudian keluarga Him itu berformat kecil, tapi uang
“tong” cukup besar. Bukanlah
pekerjaan gampang jika ingin menang lima puluh tahil perak
di sini.
Demi merayakan “panen” yang baru saja terjadi, Ho Leng-hong
tidak mau menyiksa dirinya
sendiri, maka begitu meninggalkan rumah judi itu, segera ia
masuk ke restoran Lau-muacu (si burik Lau) di penggaulan
jalan sana.
Keluar dari restoran Lau si burik, sedikitnya delapan bagian
di terpengaruh oleh minuman
keras. Tapi, biarpun mabuk, dia tak lupa daratan sama
sekali, sedikitnya dia masih ingat ke
mana dia harus “mendarat”.
Dia masih ingat janjinya dengan Siau Cui yang lagi menunggu
kedatangannya. Ia pun tidak
lupa di mana letak “Go-tong-kang” (gang waru), maka ke arah
gang itulah dia menuju.
Waktu masuk ke lorong yang sudah apal baginya itu, tiba-tiba
timbul semacam rangsangan
yang sukar dijelaskan. “Uang adalah nyali”, atau uang sama
dengan keberanian.
50 tahil perak memang bukan suatu jumlah yang terlalu besar,
tapi kalau digunakan
mengiming-iming di depan hidung kawanan budak germo itu,
sedikitnya dapat membuat mata
anjing mereka melotot.
Maklum, biasanya Ho Leng-hong dianggap langganan “kurus”,
bersaku kosong, sehingga
kurang mendapat pelayanan yang layak. Sekarang sakunya
berisi 50 tahil perak, ia ingin
berlagak “Cukong” supaya kawanan budak itu tidak lagi
menghinanya.
Begitulah, sambil menepuk sakunya yang berisi itu, ia
berdehem sekali, lalu membusungkan
dada dengan lagak “dunia ini aku punya”, lalu dengan langkah
berlenggang ia masuk ke
rumah pelacuran “Hong-hong-wan” atau Villa burung Hong, di
mana Siau Cui sedang
menanti kedatangannya.
Meski sudah jauh malam, namun pintu gerbang Hong-hong-wan
masih terbuka lebar, seorang
pesuruh rumah pelacuran itu menyambut kedatangan Ho
Leng-hong dengan senyuman
dikulum.
“Ho-ya (tuan Ho), kau datang!” sapanya.
“Kenapa? Aku dilarang datang?” Ho Leng-hong menengadah
dengan gaya menantang.
“Ai Ho-ya ini, masa aku bermaksud begitu? Sengaja mengundang
Ho-ya saja belum tentu
bisa....”
“Ya, lantaran undak-undakan pintu Hong-hong-wan terlalu
tinggi, jadi orang yang tak punya
fulus tak dapat masuk.”
Merasakan gelagat tak enak, cepat pesuruh berteriak, “Ho-ya
datang, nona Siau Cui siap
menerima tamu!”
Teriakan itu secara beruntun disampaikan ke ruang dalam,
sepanjang jalan pegawai itu
menyingkapkan tirai dan mempersilakan Ho Leng-hong masuk ke
dalam.
Sebenarnya Ho Leng-hong ingin “mendamprat” lagi orang-orang
itu, tapi lantas terpikir
olehnya bahwa “tuan besar” yang banyak uang biasanya enggan
ribut dengan orang bawahan,
sebab hal ini hanya akan menurunkan derajat sendiri, maka ia
lantas masuk saja dengan
tertawa tak acuh.
“Cepat benar berita yang diterima orang-orang ini,” demikian
pikirnya sambil melangkah
masuk, “mereka tentu sudah tahu aku berhasil menang besar di
rumah perjudian keluarga
Him, maka sikap mereka jadi lain daripada biasanya.”
Baru masuk ke kamar, kontan Siau Cui menggerutu, “Kenapa
sekarang baru muncul? Kau
sudah berjanji mau datang sebelum tengah malam, bisa gila
orang menunggu dirimu.”
“Sejak tadi aku mau kemari,” sahut Ho Leng-hong dengan
tertawa, “tapi apa mau dikatakan
kalau dewa rejeki menahanku terus. Maka aku datang
terlambat.”
Sebuah bungkusan kecil yang berat dikeluarkan dan dijejalkan
ke tangan Siau-Cui, lalu
bisiknya dengan lembut. “Nih, ambillah!”
“Apa ini?”
“Buka saja, segera tahu.”
“Uang?” tanya Siau Cui sambil menimang-nimang bobot
bungkusan itu.
“Benar, itulah yang kita butuhkan, lima puluh tahil,
persis!” Ho Leng-hong tertawa bangga.
Ia mengira Siau Cui pasti akan terkejut bercampur gembira
dan tentu akan buru-buru
membuka serta menghitungnya, atau mungkin saking girangnya
dirinya akan dipeluk dan
diberi hadiah kecupan hangat . . . .
Siapa tahu, Siau Cui tidak kaget, atau melonjak kegirangan,
iapun tidak membuka bungkusan
itu serta menghitung jumlahnya, bungkusan kecil itu malah
dibuang begitu saja ke meja.
“tidak tahukah kau bahwa aku ada urusan penting hendak
berunding denganmu?” katanya
sedih, “ai, mengapa kau hanya tahu minum arah dan berjudi?
Selain pekerjaan itu tak
pernahkah kau memikirkan soal lain?”
“Siau Cui, aku berbuat demikian demi kau, bukankah ibumu
sakit dan membutuhkan uang?”
“Sekalipun membutuhkan uang, bukan berarti harus
mendapatkannya lewat berjudi, kukira
uang demikian bisa dijagakan?”
“Tentu saja, coba lihat! Aku berhasil menangkan uang itu
seperti makan kacang goreng saja,
coba kalau tidak kangen padamu, sampai fajar nanti dua-tiga
ratus tahil perak pasti bisa
kukeruk. Siau Cui, tahukah kau betapa anehnya kartu-kartu
itu . . . .”
“Ah, enggan kudengarkan soal kartu, aku ada urusan penting
hendak kurundingkan
denganmu.”
“Soal penyakit ibumu?”
Siau Cui menggeleng, “Penyakit ibu sudah agak baikan, yang
hendak kurundingkan adalah
urusan mengenai dirimu sendiri.”
“Urusanku?” Ho Leng-hong melengak, “urusan apa?”
Siau Cui tidak menjawab, ia menuju keluar dan celingukan ke
sekeliling situ, lalu dengan
hati-hati menutup pintu menguncinya dan menggandeng tangan
Ho Leng-hong menuju ke
pembaringan.
Ho Leng-hong merasa tangannya begitu dingin, basah, sedikit
gemetar, ini semua
membuatnya tercengang.
“Ada urusan apa sebenarnya? Jangan terlalu panik,” ia
berbisik.
“Leng-hong,” kata Siau Cui serius, “aku ingin menanyakan
suatu persoalan, dan aku harap
kau suka menjawab sejujurnya, bersedia bukan?”
“Baik, katakanlah!”
“Ai, sudah cukup lama kita berkenalan,” Siau Cui menghela
napas. “dan selama ini tak pernah
kauanggap diriku sebagai pelacur, akupun tidak menganggapmu
sebagai lelaki iseng, hal ini
penting artinya bagimu maupun bagiku, anggaplah sebagai
permohonanku kepadamu jangan
menganggap ucapku ini sebagai gurauan belaka . . . .”
Terpaksa Ho Leng-hong menarik kembali senyumannya dan
bersikap sungguh-sungguh.
Ia tahu, semakin serius seorang perempuan berbicara, semakin
besar pula kemungkinan
persoalannya yang akan dikemukakan Cuma urusan sepele, dalam
keadaan begitu, paling baik
bagi seorang lelaki adalah banyak mendengar dan sedikit
bicara, walau dalam hati
meremehkan, tapi di luar harus menunjukkan sikap serius.
Begitu lirih suara Siau Cui, bibirnya hampir menempel di
tepi telinga Ho Leng-hong,
ucapnya, “Leng-hong, kau masih muda dan lagi memiliki ilmu
silat yang bagus, mengapa kau
selalu bergaul dengan kaum penganggur? Tidak inginkah kau
menciptakan suatu pekerjaan
besar di dunia persilatan?”
Ho Leng-hong membungkam meski diam-diam keheranan, “Aneh
benar budak ini, obat apa
yang dia makan hari ini? Kenapa tiba-tiba saja menyinggung
soal tetek-bengek ini?”
“Eh, dengar tidak apa yang kukatakan?” tiba-tiba Siau Cui
menggoncangkan tubuhnya.
“Sudah dengar!”
“Kenapa diam saja kalau sudah dengar?”
“Persoalan inikah yang kau maksudkan sebagai urusan serius?”
tanya Ho Leng-hong setelah
berpikir sebentar.
“Benar, memangnya kauingin hidup luntang-lantung begini
selamanya, tidak pernahkah
memikirkan soal masa depanmu?”
Ho Leng-hong tertawa “Lantas apa yang harus kulakukan?
Mencuri? Merampok dengan
mengandalkan ilmu silatku? Atau membunuh orang untuk
mempopulerkan namaku di mata
masyarakat?”
“Tidak, aku tidak berharap kau berbuat begitu, tapi kau kan
bisa mengemban tugas suci
sebagai seorang pendekar untuk menolong yang lemah dan
menumpas yang jahat,
menegakkan keadilan dan kebenaran bagi kaum kecil . . . .”
“O, itu bukan tugasku,” Ho Leng-hong mengangkat bahu, “hanya
ada dua macam manusia di
dunia ini yang melakukan hal-hal begitu, pertama adalah
keturunan orang kaya yang ingin
mencari nama, dan kedua adalah manusia miskin yang ingin
menggunakan kesempatan itu
untuk mencari popularitas dan memperbaiki keadaan sosial
pribadinya. Hah, jelasnya yang
dicari juga nama dan harta.”
“Kalau begitu, apakah mereka yang mengemban tugas suci
sebagai seorang pendekar juga
manusia munafik?”
“Aku tidak memaki mereka sebagai munafik, juga tidak
mengakui mereka sebagai seorang
Kuncu, sebab kalau mengemban tugas suci tanpa mencari nama,
dari mana pula datangnya
nama-nama besar para pendekar itu? Kalau bukan lantaran
harta, semua Hiap-kek (pendekar)
di dunia ini tentu sudah pada mampus kelaparan, memangnya
mereka hanya makan nasi
sendiri dan harus mengurusi persoalan orang lain?”
“Bukan maksudku untuk mengajak kau berdebat persoalan ini,
aku hanya ingin bertanya,
sekalipun tidak kaupikirkan tentang dirimu, seharusnya kau
berpikir untukku, apakah kau
senang melihat aku bercokol terus di tempat semacam ini?”
“Bukankah sudah kukatakan padamu, Siau Cui? Asal aku punya
uang, pasti kau akan
kutebus.”
“Tapi aku harus menunggu sampai kapan?”
“Ehm, kalau kulihat suasana malam ini, rasanya kau tak perlu
menunggu terlalu lama . . . .”
Ho Leng-hong tertawa.
“Tidak! Aku tak dapat menunggu, seharipun tak sudi aku
menunggu lagi. Leng-hong, kalau
kau masih menginginkan diriku, bawalah aku pergi sekarang
juga.”
“Sekarang? Detik ini juga?” seru Ho Leng-hong tercengang.
“Ya, detik ini juga kita harus pergi jauh dari sini, makin
jauh makin baik, kita cari suatu
tempat yang tak seorang pun kenal kita, sekalipun kehidupan
kita lebih susah juga aku rela . . ..”
“Siau Cui, kau sedang mengigau? Kau mabuk?” kata Ho
Leng-hong meraba jidat si nona,
“Sesungguhnya kau yang mabuk atau aku yang mabuk?”
Tiba-tiba Siau Cui memeluk pemuda itu erat-erat, lalu
berbisik dengan suara gemetar,
“Kumohon kepadamu Leng-hong, semua perkataanku benar-benar
timbul dari sanubariku,
cepatlah bawa aku pergi, kalau terlambat mungkin tak sempat
lagi . . . .”
“Siau Cui, ada apa kau hari ini?” Ho Leng-hong berkerut
kening, “hari kita masih panjang,
siapa bilang tak sempat lagi . . . .”
Sebelum perkataannya berlanjut, tiba-tiba terdengar suara
ketukan pintu.
Bagaikan seekor kelinci yang ketakutan, Siau Cui mendorong
tubuh Ho Leng-hong, lalu
melompat bangun sambil menutupi mulutnya dengan rasa kaget
dan takut luar biasa.
“Siapa?” tegurnya kemudian.
“Aku enso Go!” jawab orang di luar. “Buka pintu nona, aku
mengantar kuah penghilang
mabuk untuk Ho-ya.”
Tiba-tiba air muka Siau Cui berubah menjadi pucat, dengan
sedih ia melirik Ho Leng-hong
sekejap, lalu sambil menarik napas panjang ia membuka palang
pintu.
Tahun ini Go So atau enso (kakak ipar) Go berusia tiga
puluhan, dia adalah babu Hong-hongwan
yang khusus untuk pekerjaan kasar, tinggi besar seperti kuda
teji, badannya berotot
seperti kerbau, meski mukanya berbedak tebal dan bergincu,
tampangnya dipandang dari
sudut manapun tidak mirip seorang perempuan.
Dengan tangan sebelah membawa baki dan tangan yang lain
mendorong pintu, lebih dulu ia
melongo ke dalam kamar, lalu katanya kepada Ho Leng-hong
sambil tertawa, “Ho-ya, kau
memang orang yang paling sibuk, bila malam ini kau tidak
datang, sungguh nona Cui kita
bisa terserang penyakit rindu.”
Ho Leng hong enggan melayani perempuan macam banci ini, ia
tidak menjawab.
Go So melirik sekejap wajah Siau Cui, lalu tertawa lagi,
“Mama kita mendengar Ho-ya lagilagi
minum sampai mabuk, maka beliau menyuruh orang membuatkan
semangkuk kuah
penyadar mabuk untukmu, Ho-ya, minumlah cepat mumpung masih
panas.”
“Terima kasih, letakkan saja di meja!”
“Kuah penyadar mabuk makin panas semakin manjur,” desak Go
So lagi sambil
mengangsurkan bakinya ke depan pemuda itu, “apalagi sudah
larut malam, minum saja dulu
kemudian baru beristirahat, kalau masih ada urusan besok kan
masih ada waktu.”
“Baik, letakkan dulu di situ, nanti akan kuminum sendiri,”
kata Leng-hong.
Tapi Go So mendesak terus, kepada Siau-Cui ia berkata,
“Nona, jangan kauanggap aku
cerewet, biasanya orang mabuk itu cepat lelah, kau harus
mengajak Ho-ya beristirahat lebih
dulu, jangan bicara yang bukan-bukan, berilah kesempatan
kepada Ho-ya untuk menenangkan
diri.”
“Aku tahu,” bisik Siau-Cui.
“Bagus kalau sudah tahu, nona muda memang harus lebih banyak
belajar menghibur tuan
sekalian, apalagi hari esok kan masih panjang, sekalipun
masih ada persoalan segudang juga
dapat diselesaikan . . . .”
Ho Leng-hong berharap orang ini lekas pergi, maka dia ambil
kuah tadi dan sekali tenggak
menghabiskan isinya, lalu sambil mengulapkan tangan ia
berkata, “Sudahlah Go So, kau
harus beristirahat pula, kalau kau tidak pergi mana kami
bisa beristirahat?”
“O, rupanya tuan mengusir aku? Kuatir waktumu yang berharga
hilang? Baiklah, aku akan
pergi, aku segera pergi!”
Di mulut ia berkata akan pergi, tapi badannya tak bergeser,
ia malah memandang Ho Lenghong
sambil tertawa. Sikapnya seperti lagi menantikan sesuatu,
tapi apa yang ditunggu? Atau
mungkin sedang menunggu tip atau persen?
Muak rasanya Ho Leng-hong menyaksikan tampang orang, dia
ingin mengambil uang supaya
orang lekas pergi, tapi empat anggota badannya tiba-tiba
menjadi lemas tak bertenaga,
kelopak matanya menjadi berat, rasa mengantuk yang sukar
ditahan tahu-tahu menyerangnya.
Ya, orang yang mabuk arak memang sangat lelah.
Ho Leng-hong betul-betul lelah, saking lelahnya sampai badan
lemas tak bertenaga,
pikiranpun terasa kosong . . . .
Hanya satu keinginannya waktu itu, yakni memejamkan mata dan
tidur sepuasnya. Soal Go
So sudah pergi atau tidak? Kuah penyadar mabuk kenapa tidak
manjur? Ia malas untuk
memikirkannya lagi.
Dalam keadaan lamat-lamat ia pejamkan matanya, tidur lelap
dan terbuai di alam mimpi . . . .
-------------------------
Berapa lama ia tertidur? Ia tak tahu.
Bahkan sekarang ia masih tidurkah? Atau sadarkah? Ia
sendiripun tak tahu.
Ia cuma tahu, sebelum matanya terbuka, terenduslah bau harum
sayup-sayup.
Bau harum itu seperti datang dari bawah bantal, seperti juga
timbul dari seprei, sampai
kelambu, pembaringan . . . . pokoknya seluruh kamar dipenuhi
bau harum.
Bau harum itu amat sedap dan juga asing baginya, sudah jelas
bukan bau harum yang biasa
terendus dari bada nona-nona penghuni Hong-hong-wan, bau
harum itu jelas bau harum
tingkat tinggi.
Dia menggeliat lalu membuka matanya perlahan, pertama yang
dilihatnya adalah seorang
genduk cilik berbaju hijau berusia antara 13-14 tahun
berdiri di depan pembaringan sambil
mengulum senyum.
Ia mengkucak-kucak matanya serta memandang sekeliling
ruangan itu, ternyata ia sedang
berbaring di sebuah villa yang dibangun di tengah kolam.
Empat sisi ruang ada daun jendela, air nan hijau
mengelilingi villa tersebut, di tepi kolam di
depan sana kelihatan aneka warna bunga tumbuh dengan
indahnya . . . rupanya bau harum
yang terendus tadi berasal dari bau bunga yang tumbuh di
sekeliling tempat itu.
Hanya di surgaloka terdapat pemandangan seindah ini, atau
mungkin ia sudah kesasar ke
surgaloka seperti halnya dalam dongeng?
Sementara ia tercengang, genduk berbaju hijau itu telah
menyapa sambil tertawa, “Kau sudah
sadar Tuanku?”
Ho Leng-hong melenggong “Aku . . .”
“Nyenyak benar tidur Tuanku ini, sudah dua kali nyonya
menjenguk kemari tapi Tuan belum
bangun juga, bir hamba segera memberitahu kepada Hujin
(Nyonya). . . . .”
“Eh . . . eh . . . tunggu sebentar, bolehkah kutanya, tempat
manakah ini? Kenapa aku bisa
tertidur di sini?” Seru Ho Leng-hong.
Mula-mula genduk cilik itu tertegun, lalu sambil menutup
mulutnya ia tertawa geli, dan
berkata, “Toa-ya, tampaknya mabukmu belum hilang dan masih
mengigau.”
“Tidak! Aku tidak mabuk, aku segar bugar, aku benar-benar
tidak tahu tempat manakah ini.”
“O, Tuanku, jangan-jangan engkau sakit?” dayang itu tertawa
cekikikan. “Masa rumah sendiri
tidak kenal lagi?!”
“Rumah? Rumahku sendiri?”
“Tentu saja, siapa yang tidak tahu tempat ini adalah
Thian-po-hu yang tersohor di kolong
langit ini. Dan villa ini adalah Kiok-hiang-sia di belakang
taman yang paling disukai Tuan?”
“Thian-po-hu . . . Kiok-hiang-sia . . . .” gumam Ho
Leng-hong, tiba-tiba ia berseru tertahan,
“Hah, kaumaksudkan tempat ini adalah istana Thian-po-hu di
Kiu-ci-shia (benteng liku
sembilan)?”
“Terima kasih kepada langit dan bumi, syukurlah Tuan sudah
ingat kembali.”
“Lantas, siapakah aku?”
“Tuan, masa siapakah dirimu sendiri juga lupa?”
Ho Leng-hong menggeleng, “Bukannya lupa, kutahu benar
siapakah diriku, pada hakikatnya
aku tak mempunyai hubungan apapun dengan Thian-po-hu, kenapa
aku bisa tidur di sini?”
Genduk cilik itu tak bisa tertawa lagi, matanya terbelalak
lebar.
“Tuan, apa yang kaukatakan?” ia berteriak. “Masa kau
mengatakan dirimu tak ada
hubungannya dengan Thian-po-hu?”
“Ya, aku memang tak ada hubungan apa-apa dengan kalian, aku
she Ho dan tinggal di Lokyang,
sekalipun sudah lama kudengar kebesaran nama Thian-po-hu,
sayang selama ini tidak
ada berhubungan.”
“Apa? Kau she Ho?” kembali dayang cilik itu menjerit.
“Ya, betul!”
“Kau.... kau bilang tak pernah berhubungan Thian-po-hu...”
“Benar!”
“Kau.... kau..., siapakah dirimu sendiri juga tidak ingat
lagi?”
“Tidak, aku ingat dengan sangat jelas, aku Ho......”
Dengan mata terbelalak dayang itu menyurut mundur beberapa
langkah, tiba-tiba ia menjerit
kaget, lalu angkat langkah seribu, seakan-akan mendadak ia
lihat di atas kepala Ho Leng hong
tumbuh sepasang tanduk.....
Baru beberapa langkah ia lari keluar villa itu, hampir saja
ia bertumbukan dengan dua orang
yang muncul dari depan.
Kedua orang itu adalah majikan dan pelayan, yang satu
memakai baju berwarna kuning telur
berdandan pelayan, sedang yang lain adalah seorang nyonya
muda jelita, mereka sedang
menyeberangi jembatan dan masuk ke villa air tersebut.
Dengan suatu gerak cepat pelayan baju kuning itu menyambar
lengan si genduk cilik tadi dan
menegurnya, “He, Siau Lan, apa-apaan kau? Kenapa lari
seperti diuber setan?”
“O, nyonya, enci Bwe, kebetulan sekali kedatangan kalian,”
seru Siau Lan dengan napas
tersengal, “Cepat masuk dan tengoklah keadaan Tuan, dia . .
. dia . . . .”
“Tuan kenapa?” tanya nyonya cantik itu dengan kuatir.
“Dia . . . entah sebab apa Tuan selalu mengatakan tidak
kenal tempat ini . . . . dia mengaku
she Ho, katanya tak ada hubungannya dengan Thian-po-hu . . .
. . .”
“Ah, masa begitu?” seru si nyonya terperanjat.
“Hujin jangan percaya obrolannya,” hibur Bwe-ji cepat,
“tentu Tuan sengaja menggodanya
setelah sadar dari mabuknya, dan budak cilik ini
menganggapnya sebagai kejadian serius.”
“Tidak, Tuan tidak bergurau, semuanya adalah kejadian nyata,
Tuan bicara dengan serius,
tidak seperti bergurau, kalau tidak percaya masuklah dan
periksa sendiri.”
Nyonya cantik itu berkerut kening, ia tidak banyak bertanya
lagi dan cepat-cepat masuk ke
dalam rumah.
Tatkala dilihatnya Ho Leng-hong duduk di atas pembaringan
dengan tenang, ia mengembus
napas lega.
“Huh, Siau Lan si budak ini memang harus digebuk, coba
lihat, Tuan kan baik-baik saja, bikin
kaget hatiku saja.”
“Betul, Siau Lan suka gila-gilaan, mulutnya suka
ngaco-belo,” Bwe-ji menimpali.
“Tapi sungguh-sungguh aku tidak bohong, Tuan yang berkata
begitu kepadaku,” kata Siau
Lan dengan penasaran.
“Huh, masih membantah? Coba lihat, Tuan segar bugar, masa ia
mengucapkan kata-kata gila
begitu....” omel Bwe-ji.
“Eh nona, jangan kau salahkan dia, apa yang dikatakannya
memang benar dan bukan katakata
gila,” seru Ho Leng-hong tiba-tiba. “Aku memang she Ho dan
tak pernah datang ke
Thian-po-hu, mungkin terjadi kesalah-pahaman di antara
kita.”
“Kesalah-pahaman? Kesalahan-pahaman apa?” tanya Bwe-ji
dengan melengak.
“Kukira mungkin kalian telah salah menganggap diriku sebagai
seorang lain.”
Dengan bingung Bwe-ji memandang nyonya muda itu, sungguh ia
tidak percaya pada apa
yang didengarnya barusan.
Nyonya cantik itu kaget bercampur heran, sesudah tercengang
sejenak barulah katanya
dengan serius. “Jit-long, jangan bergurau macam begitu
dengan para dayang, sekalipun mau
bergurau, tahu diri sedikitlah. Gurauannya tidak apa-apa,
kalau sampai tersiar keluar,
bagaimana dengan nama baik Thian-po-hu?”
“Aku tidak bergurau, aku bicara sesungguhnya!” kembali Ho
Leng-hong menegas.
Sekilas perasaan bingung dan ragu menghias wajah nyonya muda
itu, “Jadi kauanggap dirimu
she Ho?”
“Bukan menganggap, sesungguhnya aku memang she Ho”
“Kalau begitu, kenalkah kau siapa diriku?”
“Maaf, sebelum perjumpaan ini tak pernah kita bertemu, tapi
dari panggilan kedua nona cilik
ini, agaknya nyonya inilah isteri Nyo-tayhiap dari
Thian-po-hu yang tersohor itu, betul
bukan?”
Nyonya muda itu merasa geli dan juga mendongkol, ia menengok
ke arah Bwe-ji dan
bertanya, “Coba dengar, perkataan manusiakah itu? Masa siapa
diriku tidak dikenalinya lagi.”
“Ya, mungkin semalam tuan mabuk keras, sampai sekarang
mabuknya belum hilang . . . . “
kata Bwe-ji.
“Tidak, aku tidak mabuk, aku merasa segar,” kata Leng-hong
cepat, “Setiap kalimat, setiap
perkataanku semuanya kuucapkan dengan pikiran yang sehat.”
Mata nyonya itu mulai berkaca-kaca karena sedih, katanya
dengan mendongkol, “Semua ini
gara-gara Lo-ya (tuan Lo) sekalian. Hmm, setiap kali mereka
selalu mengantarmu pulang
dalam keadaan mabuk. Coba lihat, sampai nama sendiri tak
tahu lagi, sanak keluarga juga
terlupakan semua.”
“Hujin, bagaimana kalau kita undang Lo-ya kemari?” bisik
Bwe-ji.
Nyonya itu berpikir sebentar, lalu manggut-manggut. “Betul,
aku haru minta pertanggungjawab
mereka . . . .”
Ia berpaling sambil memberi pesan, “Siau Lan, kau saja yang
ke sana dan sekalian beri kabar
kepadanya, semua orang yang semalam ikut minum harap datang
kemari, seorang pun tak
boleh berkurang. Hm, Siapa berani tak datang, hati-hati
kalau kulabrak ke rumahnya.”
Siau Lan mengiakan dan buru-buru berlalu.
Tiba-tiba Ho Leng-hong bertanya, “Apakah Lo-ya yang hendak
diundang Hujin itu ialah
Kwan-lok-kiam-kek (jago pedang dari Kwan-lok) Lo Bun-pin
yang tinggal di kota Lokyang?”
“Betul, mendingan kau masih ingat nama satu orang ini,”
jawab si nyonya jelita.
Ho Leng-hong menarik napas panjang, “Aku kenal orang ini,
baik sekali kalau dia diundang
kemari.”
“Hm, semoga iapun kenal padamu, kuharap pula dia masih ingat
siapakah dia.”
Perkataan itu bernada marah, tapi Ho Leng-hong Cuma tertawa
dan tidak membantah.
Ia percaya, kalau Kwan-lok-kiam-kek Lo Bun-pin kenal padanya
dan kenal juga Nyo Cu-wi,
pemilik istana Thian-po-hu, jika ia sudah datang, maka
duduknya perkara akan menjadi jelas.
Tapi masih ada satu persoalan yang membuatnya tidak
mengerti, ia masih ingat benar
semalam dirinya tertidur di kamar Siau Cui di rumah
pelacuran Hong-hong-wan, kenapa
secara tiba-tiba bisa muncul di Thian-po-hu?
Apa yang terjadi memang sungguh-sungguh ataukah dalam mimpi?
Kalau dalam mimpi, tak bisa disangkal lagi impian ini adalah
mimpi aneh yang tak masuk di
akal . . . .
-------------------------
Suara langkah kaki berkumandang di luar Kiok-hiang-sia,
agaknya tak sedikit orang yang
datang.
Orang pertama yang masuk adalah Lo Bun-pin, sedang di
belakangnya mengikut empat lima
orang laki-laki berbaju perlente, mereka semua adalah
jago-jago kenaman dari sekitar Kwanliok,
wajah mereka tampak kaget.
Rupanya Lo Bun-pin sudah diberitahu garis besar peristiwa
yang terjadi oleh Siau Lan,
wajahnya tampak gelisah dan bingung. Begitu melangkah masuk
ia lantas berteriak, “Saudara
Cu-wi, kenapa kau?”
Ho Leng-hong sedang duduk di kursi setelah berganti pakaian,
ia melengak mendengar
panggilan itu . . . . .
Sebelum ia menjawab, Lo Bun-pin telah menjura kepada
Nyo-hujin seraya bertanya, “Enso,
apa gerangan yang terjadi? Bukankah saudara Cu-wi duduk
segar di sini? Kenapa Siau Lan
bilang ia gila?”
“Hm, aku sendiri juga tak tahu ia sudah gila atau waras,”
sahut Nyo-hujin, “pokoknya
sebelum keluar rumah semalam ia masih segar bugar, tapi
setelah sadar pagi ini, ia telah
berubah menjadi seorang yang lain, tak kenal lagi akan diri
sendiri, sanak keluarga sendiri
juga tak dikenal, ia selalu mengatakan dirinya she Ho . . .
. . “
“Ah, masa begitu?” Lo Bu-pin terkesiap, “tapi . . . . ketika
pulang semalam, saudara Cu-wi
tidak menunjukkan gejala apa-apa, semua sobat yang ikut
minum semalam kini pun hadir di
sini, semua orang menyaksikannya dengan mata kepala
sendiri!”
“Ya, ya, aku tahu, kalian adalah sahabat karib, kenapa tidak
kautanya sendiri padanya?” kata
Nyo-hujin.
Lo Bun-pin manggut-manggut sambil berpaling ke arah Ho
Leng-hong, katanya, “Saudara
Cu-wi permainan apa yang kaulakukan? Jangan bergurau dengan
sobat lama, hah!”
Betapa kesal Ho Leng-hong karena berulang dipanggil “Saudara
Cu-wi”, setelah merenung
sejenak lalu berkata, “Coba kau teliti lagi saudara Lo,
benarkah aku ini Nyo Cu-wi dari Thianpo-
hu?”
“Kenapa?” Lo Bun-pin tertawa. “Masa Nyo-heng tidak
mengakui?”
“Tak sedikit orang di dunia ini yang mirip wajahnya, mungkin
mata Lo-heng kabur dan salah
melihat orang.”
“Hahaha . . . mana mungkin? Seandainya mataku sudah lamur,
tak mungkin sobat-sobat
lainnya juga lamur, kenapa Nyo-heng tidak tanya sendiri
kepada mereka . . . .”
“Betul, betul!” sahut semua orang, “sudah bertahun-tahun
kita bergaul dengan Thian-po-hu,
siapa yang tidak kenal Nyo-heng?”
“Tapi kalian telah salah melihat orang!”
“Ah, tak mungkin!” kembali semua orang menganggapi, “kita
kan kenalan lama, mana
mungkin salah lihat?”
“Aku berani bertaruh kalian pasti salah lihat, sebab aku
sendiri tahu siapakah diriku,
hakikatnya aku bukan Nyo Cu-wi.”
Semua orang sama melengak, siapapun bisa merasakan
keseriusan Ho Leng-hong, mereka
tahu orang ini tidak bergurau, tapi bicara sungguh-sungguh.
“Aku ingin cari tahu kabar seseorang, entah saudara Lo masih
ingat atau tidak?” kata Ho
Leng-hong lagi.
“Siapa?” tanya Lo Bun-pin.
“Suatu hari, ketika saudara Lo sedang berburu di luar kota,
pernahkah kau berebut seekor
kelinci liar yang terluka dengan seorang laki-laki miskin?
Akhirnya terjadi adu kepandaian
dan dilanjutkan dengan persahabatan, kalian bersama-sama
menyelenggarakan pesta daging
kelinci panggang di bukit itu serta menamai santapan lezat
nomor satu di dunia. . . .”
“O, kaumaksudkan Ho Leng-hong yang hidup menganggur itu?”
“Benar, masih ingatkah Lo-heng padanya?”
“Tentu saja masih ingat, ilmu silatnya tidak berada di bawah
kita, sayang ia lebih suka hidup
konyol bersama kaum penganggur.”
“Seandainya Ho Leng-hong duduk di sini sekarang, dapatkah
Lo-heng mengenalinya?”
“Pasti bisa, meski kami hanya berjumpa sekali saja, namun
kesan yang diberikan kepadaku
terlalu dalam, sampai kini aku masih ingat pada wajahnya . .
. . . Ai! Sayang sepotong batu
kemala yang tak pernah diasah harus terjerumus di
pencomberan, sungguh bikin orang
menyesal.”
“Masih inginkah saudara Lo bertemu lagi dengannya?”
“Sekalipun ingin, mau apa lagi?” Lo Bun-pin menggeleng,
“sayang selamanya tak dapat
bertemu lagi dengannya.”
“Kenapa?”
Kembali Lo Bun-pin menghela napas, “Sebab Ho Leng-hong itu
sudah mati!”
Ho Leng-hong melengak, cepat ia duduk tegak dan berseru,
“Siapa yang bilang?”
“Siau Thian yang membawa kabar ini barusan,” sahut Lo
Bun-pin sambil menuding seorang
di belakang.
Siau Thian atau Thian cilik bukan lagi anak kecil,
lengkapnya ia bernama Thian Pek-tat,
tahun ini usianya sudah mencapai empat puluh tahun lebih,
Cuma bila kau perhatikan
kepalanya yang kecil dengan sepasang mata tikusnya dan
kumisnya yang serupa kumis tikus,
tak sulit bagimu untuk menghubungkan orang ini dengan
kepandaian “kecil” yang pasti sudah
mencapai puncak kesempurnaan.
Sejak dilahirkan orang ini mempunyai wajah yang selalu
tersenyum, dia pandai bicara dan
pintar menyanjung, ia selalu bergaul dengan kalangan atas,
mata-telinganya tajam, sebab itu
orang menjulukinya sebagai Tiang-ni-siau-thian atau Thian
kecil si telinga panjang.
Kini Thian Pek-tat berdiri di belakang Lo Bun-pin, ia segera
melangkah ke depan demi
mendengar perkataan itu.
“Benar!” demikian tukasnya, “baru pagi ini kudengar kabar
tersebut.”
Sungguh Ho Leng-hong ingin persen beberapa tempelengan untuk
orang ini, tapi sedapatnya
ia menahan emosinya.
“Bagaimana kabarnya?” ia bertanya.
“Konon Ho Leng-hong baru saja menang banyak di meja
perjudian semalam, setelah minum
arak ia main perempuan di gang Waru, siapa tahu keesokan
harinya ia ditemukan tewas di
kamar tidur Siau Cui, pelacur langganannya, ada orang bilang
ia mampus karena perampokan,
ada pula yang mengatakan dia kehabisan . . . . “
Ia melirik sekejap wajah Nyo-hujin, kemudian sambil menampar
muka sendiri, katanya, “Aku
memang pantas mampus dan harus digebuk, aku lupa Hujin
berada di sini hingga telanjur
bicara yang bukan-bukan.”
Ho Leng-hong tertawa dingin, “Hm, jadi kau sendiri juga Cuma
mendengar dari orang lain
dan bukan melihat dengan mata kepala sendiri.”
“Tapi berita ini dapat dipercaya, semua orang di Lok-yang
telah mengetahui kejadian ini,
malah jenazahnya masih terbaring di rumah pelacuran
Hong-hong-wan.”
“Ya, Siaute pun ikut menyesal atas musibah yang menimpa Ho
Leng-hong itu, maka telah
kuutus orang untuk menyelidiki sebab kematiannya serta
mengurusi juga layonnya. Eh,
omong-omong kenapa saudara Cu-wi menyinggung orang ini? Kau
pun kenal padanya?”
tanya Lo Bun-pin.
Ho Leng-hong tertawa, “Bukan cuma kenal, malah aku tahu
kalau dia sampai saat ini masih
hidup hakikatnya dia tidak mati.”
“Dari mana kau tahu?” tanya lagi Lo Bun-pin
“Sebab akulah Hong Leng-hong!” sahut pemuda itu sekata demi
sekata.
Tentu saja semua orang terkejut dan saling pandang dengan
air muka berubah.
Lo Bun-pin coba meraba jidat Ho Leng-hong kemudian mengamati
wajahnya dengan
saksama, lalu dengan penuh perhatian ia bertanya. “Saudara
Cu-wi, kau tidak sakit bukan?”
“Apakah aku mirip orang sakit,” jawab Ho Leng-hong.
Lo Bun-pin menyengir, “Aku pernah melihat Ho Leng-hong, dia
adalah dia dan kau adalah
kau, mana bisa kalian dipersamakan menjadi satu?”
“Akupun lagi keheranan, jelas-jelas aku ini Ho Leng-hong,
kenapa kalian berkeras
menganggap aku adalah Nyo Cu-wi? Aku jelas masih hidup, tapi
kalian ngotot mengatakan
aku sudah mati?”
Lo Bun-pin terbelalak dengan mulut melongo dan tak tahu
bagaimana harus menjawab.
11
Nyo-hujin lantas menangis, dengan tersengguk dia berkata,
“Coba lihat, semua ini gara-gara
minum arak, kalianlah yang membuat dia menjadi begini, Ayo,
apa yang hendak kaukatakan
sekarang....”
“Jangan panik dulu enso, tenanglah,” bujuk Lo Bun-pin,
“Menurut pendapatku, mungkin
saudara Cu-wi kemasukan roh jahat, mungkin diganggu
setan...”
“Roh dan setan jahat apa? Hm, justru kalian inilah
setan-setan arak yang membuatnya jadi
begini,” teriak Nyo-hujin, “coba kalau kalian tidak
mengajaknya minum arak, masa dia jadi
begini? Pokoknya kalian harus bertanggung-jawab kepada ku
hari ini, kalau tidak, siapapun
jangan harap dapat meninggalkan Thian-po-hu.”
Malu sekali Lo Bun-pin menerima dampratan itu, ia menunduk
dengan wajah merah, setelah
termenung sebentar ia bertanya kepada Thian Pek-tat, “Siau
Thian, dapat dipercaya tidak
beritamu itu?”
“Tanggung bisa dipercaya, aku berani tanggung dengan batok
kepalaku,” jawab Thian Pektat.
“Kalau begitu kita harus berusaha memperlihatkan bukti
kepadanya, sekarang juga Siau Thian
berangkat ke Lok-yang serta mengangkat jenazah Ho Leng-hong
ke Kiu-cui-shia sini, biar dia
menyaksikan dengan mata kepala sendiri untuk membuyarkan
khayalan dalam benaknya,
otomatis sakitnya akan sembuh.”
“Benar!” Sungguh gagasan yang bagus” seru semua orang sambil
manggut-manggut.
“Enso, terpaksa kita harus mengangkut jenazah itu kemari,
tentunya kau tidak keberatan
bukan?” kata Lo Bun-pin kemudian.
“Manjur tidak?” tanya Nyo-hujin.
“Kukira hanya dengan cara inilah kita akan membuyarkan
khayalan dalam benaknya, supaya
dia percaya bahwa dirinya bukan Ho Leng-hong.”
Nyo-hujin menghela napas panjang. “Ai, baiklah, asal
Jit-long bisa disadarkan, tentu saja aku
setuju.”
“Akupun setuju,” sambung Ho Leng-hong sambil tertawa,
“bahkan aku berani bertaruh, batok
kepala Thian kecil si telinga panjang perlu dicarikan
cadangannya.”
Lo Bu-pin tidak menggubris ocehannya, buru-buru ia
perintahkan orang mengantar Thian
Pek-tat ke Lok-yang.
Semua orang yang mengelilingi tempat tidur hanya memandang
Ho Leng-hong dengan
perasaan kasihan, tidak ada yang mengajak bicara padanya.
Dalam anggapan mereka, Ho Leng-hong sudah gila, penyakitnya
betul-betul sudah gawat.
Maklum, kalau identitas sendiripun sampai keliru, kalau
bukan orang gila lantas apa
namanya?
Sebaliknya menurut pandangan Ho Leng-hong Lo Bun-pin dan
lain-lain itulah yang goblok
dan menggelikan sekali.
Bagaimana tidak? Seorang yang masih hidup segar bugar mereka
anggap sudah mati, Ho
Leng-hong yang mereka hadapi dikatakan sebagai Nyo Cu-wi,
terutama nyonya rumah Thianpo-
hu ini, orang asing dianggap sebagai suami sendiri . . . .
Kalau kejadian ini sampai tersiar ke luar bukankah akan
bikin orang tertawa hingga copot
giginya?
Semakin dibayangkan Ho Leng-hong makin geli.
Melihat dia tertawa sendiri tanpa sebab, orang semakin yakin
ia sudah gila.
Sebaliknya karena semua orang makin menganggapnya gila, Ho
Leng-hong juga tambah gila.
Maka suasana dalam Kiok-hiang-sia berubah menjadi
kacau-balau, ada yang menangis, ada
yang tertawa, ada yang berbisik-bisik, ada pula yang
menggeleng kepala sambil menghela
napas . . . .
-------------------------
12
Thian Pek-tat telah kembali.
Ia pulang bersama dua orang laki-laki yang menggotong sebuah
pembaringan butut, di atas
pembaringan membujur sesosok mayat yang dibungkus kain
kafan.
“Siau Thian, bikin repot dirimu!” kata Lo Bun-pin menyambut
kedatangannya.
“Repot sih tidak,” jawab Thian Pek-tat sambil membesut
keringat, “Cuma sepanjang jalan
kereta berjalan terlalu lambat, kalau bisa aku ingin
membawanya terbang pulang kemari.”
“Sudah kau selidiki sebab-sebab kematiannya? Apa yang
dikatakan mak germo Hong-hongwan?”
“Sudah kutanyakan langsung kepada Siau-Cui. Konon waktu
masuk ke sarang pelacuran
semalam, Ho Leng-hong sudah dalam keadaan mabuk, begitu
masuk kamar dia lantas tidur,
semalaman tidurnya nyenyak sekali, pagi-pagi baru diketahui
badannya sudah membujur kaku
dan dingin.....”
“Kalau begitu ia mati karena mabuk?”
“Keadaan yang sesungguhnya belum bisa kukatakan, tapi yang
pasti lima puluh tahil perak itu
masih berada di kamar Siau Cui, setahilpun tidak berkurang,
jadi tak mungkin mati lantaran
perampasan harta.”
Lo Bun-pin menghela napas panjang, “Ai, sayang benar!
Seorang lelaki perkasa harus mati
tanpa diketahui sebab musababnya . . . . .”
Kepada Ho Leng-hong ia berkata, “Nyo-heng kau berkeras
mengatakan dirimu adalah Ho
Leng-hong tapi kenyataan telah membuktikan Ho Leng-hong
telah mati di kota Lok-yang,
bahkan jenazahnya sekarang sudah diangkut kemari, tidak
inginkah kau memeriksanya
sendiri?”
“Tentu saja harus kuperiksa,” Ho Leng-hong tertawa, “aku
tidak percaya di dunia ini terdapat
dua orang Ho Leng-hong yang mempunyai bentuk wajah yang
sama.”
“Baik. Tapi kurasa mukanya tentu sudah tak sedap dipandang,
harap enso menyingkir dulu,”
kata Lo Bun-pin.
Nyo-hujin dan sekalian dayangnya lantas memutar badan dan
menghadap ke arah lain, Lo
Bun-pin segera menggapai kepada kedua laki-laki itu agar
menggotong masuk mayat tersebut.
Perlahan Thian Pek-tat membuka kain kafan yang menutupi
wajah jenazah.
Tiba-tiba senyuman Ho Leng-hong menjadi beku . . . siapa
lagi yang berbaring itu kalau
bukan Ho Leng-hong?
“Sekarang kau sudah percaya bukan, saudara Nyo?” tanya Lo
Bun-pin kemudian.
Kecurigaan seketika menyelimuti benak Ho Leng-hong,
tiba-tiba ia mencengkeram urat nadi
pada pergelangan tangan Thian Pek-tat, bentaknya “Dari mana
kaudapat mayat palsu itu?
Hayo lekas jawab!”
“Tidak! Tidak ada mayat palsu . . . ini . . . ini jenazah Ho
Leng-hong, jenazah asli bukan
palsu....” jawab Thian Pek-tat dengan tergagap.
“Tenang, tenang dulu saudara Nyo, jangan emosi . . . .” seru
semua orang sambil maju
melerai.
“Ya, lepaskan dulu Siau Thian, kalau ada persoalan boleh
kita bicarakan secara baik-baik.”
“Betul! Lepaskan dulu, semua kan sahabat sendiri . . . . “
Ho Leng-hong coba meraba muka sendiri, tiba-tiba timbul
perasaan merinding dari lubuk
hatinya, sambil membentak ia menggentakkan Thian Pek-tat ke
samping, lalu disambarnya
pembaringan butut itu dan dilemparkan ke luar . . . .
Kedua laki-laki itu tak dapat berdiri tegak dan terlempar
keluar berikut pembaringan tersebut.
Ho Leng-hong manfaatkan kesempatan itu untuk menerjang
keluar villa itu, ia coba melongok
ke luar pagar jembatan . . . .
“Cepat alangi, dia mau melompat ke air bunuh diri.”
“Tutuk dulu jalan darahnya, tangkap!”
13
“Dia sudah gila, cepat cepat! . . .”
Padahal Leng-hong tidak gila, iapun tidak bermaksud terjun
ke air untuk bunuh diri, dia hanya
ingin bersandar di tepi jembatan dan menggunakan air kolam
untuk melihat raut wajahnya
sendiri.
Dan sekarang ia dapat melihat jelas, seketika ia melongo.
Bukan wajah Ho Leng-hong yang muncul di permukaan air, tapi
seraut wajah tampan seorang
laki-laki setengah umur yang berkulit putih.
Tak bisa disangsikan lagi, laki-laki setengah umur yang
ganteng ini bukan lain adalah Nyo
Cu-wi, pemilik istana Thian-po-hu.
Ho Leng-hong belum pernah berjumpa dengan Nyo Cu-wi, tapi ia
merasa seperti pernah
kenal bayangan orang yang muncul di permukaan air itu.
Ia menjadi bingung dan ragu-ragu . . . jangan-jangan dia
memang sudah mati?
Benarkah dirinya sudah berubah menjadi Nyo Cu-wi? Tak sempat
ia berpikir lagi, tak sempat
ia memandang lebih teliti, sebab Lo Bun-pin dan lain-lain
sudah keburu maju merubungi, ada
yang menarik tangannya, ada yang memegang kakinya, bahkan
ada pula yang menutuk jalan
darahnya, kemudian beramai-ramai mereka menggotongnya masuk
kembali ke Kiok-hiangsia
. . . .
-------------------------
Pepatah kuno berkata: Sekali masuk rumah bangsawan, dalamnya
melebihi samudra.
Artinya rumah kediaman orang besar tidak gampang dikunjungi
atau ditinggalkan.
Meskipun Thian-po-hu di Kiu-ci-shia bukan istana kaum
bangsawan atau tempat orang
berpangkat, tapi tempat ini merupakan tempat tinggal jago
persilatan yang ternama, baik
luasnya bangunan, kemewahan, dan kemegahan perabot maupun
ketatnya penjagaan, tidak
kalah dengan gedung orang berpangkat.
Bila Ho Leng-hong ingin kabur dari Thian-po-hu, hal ini jauh
lebih sukar daripada naik ke
langit.
Sekalipun demikian, setiap saat ia selalu berusaha melarikan
diri dari sana.
Hal ini tidak berarti ia meremehkan kenikmatan hidup yang di
terimanya di Thian-po-hu, juga
tidak berarti ia enggan tinggal dalam gedung yang megah
melebihi istana ini, tapi dia harus
mencari jawaban terlebih dahulu tentang siapakah dia yang
sebenarnya? Sebab ia sendiripun
mulai bingung.
Semenjak melihat mayat “Ho Leng-hong”, sejak melihat tampang
“Nyo Cu-wi” yang muncul
di permukaan air, ia mulai ragu, ia mulai sangsi dan
bingung.
Jenazah itu tidak palsu, baik perawakan, panca indera, raut
wajah, semuanya persis Ho Lenghong,
sedikitpun tiada tanda-tanda yang mencurigakan.
Raut wajah Nyo Cu-wi juga tidak palsu, bukan saja semua
orang menganggap demikian,
bahkan Nyo-hujin sendiripun tidak curiga, bagaimanapun ia
menggosok dan mencuci
mukanya, semuanya membuktikan bahwa wajahnya bukan berubah
lantaran dirias dengan
obat-obatan.
Tapi, ia masih ingat dengan jelas bahwa dia adalah Ho
Leng-hong dari Lok-yang, kenapa
secara tiba-tiba bisa berubah menjadi Nyo Cu-wi dari
Thian-po-hu di Kiu-ci-shia?
Daya ingat serta cara berpikirnya dimiliki orang ini,
sebaliknya raut wajahnya, bentuk lahiriah
adalah milik orang yang lain, hal ini suatu kejadian yang
cukup menyiksa batin.
Maka dari itu, Ho Leng-hong ingin melarikan diri, bukan Cuma
ingin menghindari
penderitaan saja, tapi yang penting adalah ingin menemukan
dirinya sendiri.
Ia pikir, hanya seorang yang mungkin tahu duduk perkara yang
sesungguhnya . . . . . Siapakah
dia? --- Siau Cui.
14
Karena ia telah kehilangan pribadinya di pembaringan Siau
Cui, bahkan dia masih ingat,
ketika terjadi “musibah” tersebut, Siau Cui pernah mohon
kepadanya agar mengajaknya kabur
sejauh-jauhnya, kabur ke suatu tempat yang tak seorangpun
mengenali diri mereka . . . .
Bila dibayangkan kembali sekarang, bukankah ucapan itu suatu
pertanda bahwa segera akan
terjadi sesuatu?
Ho Leng-hong bertekad akan meninggalkan Thian-po-hu secara
diam-diam dan satu-satunya
jalan untuk mewujudkan cita-citanya adalah merebut
kepercayaan Nyo-hujin dan Lo Bun-pin
sekalian, bila sudah dipercaya, otomatis ia dapat bergerak
bebas lagi.
Dan untuk mendapatkan kepercayaan mereka, satu-satunya cara
adalah mengakui dirinya
adalah Nyo Cu-wi untuk sementara waktu.
Padahal keadaan telah memaksanya mau-tak-mau harus mengakui
kenyataan tersebut.
Sudah tiga hari Ho Leng-hong dipaksa berbaring dalam Kit-hiang-sia,
Lo Bun-pin sekalian
secara bergilir mendapat tugas untuk menjaga siang dan malam,
sekalipun alasan mereka
untuk menemani, padahal yang benar adalah untuk mengawasinya,
kuatir penyakit gilanya
angot lagi.
Enam-tujuh rombongan Hwesio dan Tosu siang malam secara
bergilir membacakan kitab di
luar villa air, mereka berdoa untuk mengusir setan dan
menundukkan roh jahat, suara
tetabuhan yang dibunyikan sangat berisik dan membuat orang
tak bisa beristirahat dengan
tenang.
Suara gaduh dan ribut macam begini jangankan bisa mengusir
setan atau roh jahat, sekalipun
orang yang tidak gila, lama kelamaan malah akan menjadi gila
sungguh-sungguh.
Tapi ada satu kesulitan bagi Ho Leng-hong untuk mengakui
dirinya sebagai Nyo Cu-wi,
sebab selama ini ia selalu berkeras mengatakan dirinya bukan
Nyo Cu-wi.
Untuk ini, sedikitnya dia harus mencari suatu “alasan” yang
tepat.
Tapi alasan apa yang dapat digunakannya? Ah, ada akal . . .
. .
Saat itu suatu rombongan Tosu sedang membunyikan alat
tetabuhan, berdoa sambil
mengelilingi villa itu.
Sebagai pemimpin rombongan adalah seorang Hoatsu (pendeta
agama To) yang bertubuh
kurus kering dengan kumis tikus, tampangnya rada mirip Siau
Thian.
Sejak semula Ho Leng-hong jemu melihat tampangnya, sebab
Tosu kecil ini bukan saja
suaranya tinggi melengking, caranya berdoa pun seperti
jeritan setan, bahkan beberapa kali
jeritannya menyadarkan dia dari tidurnya. Kini tiba
kesempatan yang baik untuk memberi
“hajaran” kepadanya.
Begitulah, tatkala Hoatsu itu tiba di pintu villa dan siap
menggoyangkan pedang kayunya
sambil membaca mentera pengusir setan, mendadak Ho Leng-hong
melompat bangun, lalu
berteriak keras, “Ada setan! Hai, kalian cepat kemari,
tangkap setan itu! Tangkap!”
Kebetulan Lo Bun-pin yang mendapat giliran berjaga,
buru-buru ia menghampirinya seraya
bertanya, “Saudara Cu-wi, apa yang kau lihat?”
“Setan! Setan bertubuh ceking, bertangan empat dan kaki
tiga! Cepat! Cepat tangkap! . . . . . “
“Di mana?” tanya Lo Bun-pin dengan melenggong.
Sambil menuding Hoatsu itu kembali Ho Leng-hong berteriak,
“Itu dia! Di depan pintu
kamar, itu yang memakai jubah Pat-kwa sambil membawa pedang
kayu . . . . . dia itulah setan
. . . . . dia setan! . . . . . .”
“Keliru besar saudara Cu-wi, orang itu bukan setan, dia
Ku-gwat Hoatsu dari Giok-siu-koan
yang sengaja di undang untuk menangkap setan . . . . . “
“Tidak! Dialah setannya!” teriak Ho Leng-hong lagi, “dengan
mata kepalaku sendiri kulihat
ada setan menyusup ke tubuhnya, kalian cepat menangkapnya,
cepat menangkapnya! . . . . . .
Sementara itu Nyo-hujin yang beristirahat di balik ruangan
serta para Busu (pesilat) yang
berjaga di sekitar villa itu sama berdatangan karena
mendengar suar ribut itu.
“Jit-long, benarkah kau melihat setan?” tanya Nyo-hujin
dengan penuh perhatian.
15
“Siapa bilang tidak? Setan itulah yang selama tiga hari
mencekik leherku, mengganggu
ketenanganku sehingga tak bisa beristirahat dengan baik,
cepat kalian tangkap setan itu!”
Nyo-hujin memandang Lo Bun-pin, lalu bisiknya, “Apa yang
terjadi?”
“Kejadian ini memang agak aneh, sudah tiga hari ia
membungkam, tapi begitu buka suara ia
menganggap Ku-gwat Hoatsu sebagai setan . . . . .”
“Hei, jangan biarkan dia kabur, cepat kalian tangkap setan
itu,” terdengar Ho Leng-hong
masih berteriak, “nyawaku telah tertelan ke perutnya, kalau
dia kabur dari sini, habislah
riwayatku.”
“Kukira kejadian ini agak mencurigakan,” kata Nyo-hujin
kemudian sambil berkerut kening,
“lebih baik kita turuti permintaan Jit-long, tangkap dulu
Tosu tersebut.”
“Tapi . . . tapi . . . rasanya kurang baik . . . .” Lo
Bun-pin ragu-ragu.
“Tidak menjadi soal, kita utamakan si sakit daripada Tosu
tersebut, sekalipun harus
menyakitinya, paling-paling kita beri saja uang yang lebih
banyak, dan urusan akan beres
dengan sendirinya.” Sambil berkata nyonya Nyo lantas memberi
tanda kepada para Busu.
Begitu mendapat perintah, serentak para Busu itu menyerbu
maju dan menangkap Ku-gwat
Hoatsu.
Tentu saja para Tosu yang sedang membaca mantra pengusir
setan tidak mengerti apa yang
terjadi, mereka menjadi panik saking kagetnya.
Lebih-lebih Ku-gwat Hoatsu, ia tidak habis mengerti dengan
kejadian yang menimpa dirinya,
dengan gelagapan ia bertanya, “He, apa-apaan ini . . . aku
datang untuk menangkap setan . . . .
kenapa kalian malah menangkap diriku! . . . .”
“Kaulah setannya, berani betul kau berpura-pura menangkap
setan?” hardik Ho Leng-hong.
“Aku . . . aku . . . .” Ku-gwat Hoatsu betul-betul jadi
bingung, dan tak sanggup berbicara.
“Mengaku sajalah, hayo cepat muntahkan keluar nyawaku, kalau
tidak . . . jangan menyesal
bila kuberi ganjaran yang setimpal,” teriak Leng-hong.
Mulut Ku-gwat Hoatsu melongo lebar-lebar dan tak tahu apa
yang mesti dikatakan.
“Pengawal, lolohkan kotoran manusia ke dalam mulutnya,
perintahkan kepadanya untuk
memuntahkan nyawaku, cepat lakukan!” teriak Ho Leng-hong
lagi.
Karena Nyo-hujin tidak menunjukkan rasa keberatan,
serta-merta para Busu itu mengerjakan
apa yang diperintahkan, segentong kotoran manusia segera
dipikul datang, lalu Ku-gwat
Hoatsu ditelentangkan di tanah dan dicekoki kotoran itu.
Kasihan Ku-gwat Hoatsu, mau menolak tak bisa, melawan juga
tak kuat, tak menolak
perutnya tak tahan . . . Akhirnya ia tumpah-tumpah hebat,
isi perutnya nyaris ikut tertumpah
keluar.
Sesudah Tosu itu tumpah-tumpah, Ho Leng-hong menarik napas
lega, ia memejamkan mata
dan berbaring kembali di atas pembaringan . . . .
Lo Bun-pin menyuruh para Busu membawa pergi Ku-gwat Hoatsu
yang “setengah mati”
sesudah diberi uang lebih banyak.
Setelah kawanan Tosu dienyahkan, Ho Leng-hong lantas sadar
kembali, kata pertama yang
diucapkan setelah membuka matanya adalah, “Aku lapar, apakah
ada makanan enak?”
Kalau orang sakit sudah tahu lapar, itu berarti penyakitnya
sudah sembuh.
Saking gembiranya hampir saja Nyo-hujin melelehkan air mata,
buru-buru ia titahkan orang
untuk menyiapkan makanan, lalu tanyanya, “Jit-long,
bagaimana perasaanmu sekarang?
Sudah mengerti bukan?”
“Aku baik sekali! Apakah yang tidak mengerti?”
“Sudah tahu siapa dirimu? Tempat apakah ini?”
“Lucu, tempat ini kan Kiok-hiang-sia, terletak di taman
belakan istana Thian-po-hu di Kiu-cisia,
inilah rumahku sendiri, kenapa tidak tahu?”
“Lalu siapa namamu . . . .”
“Aku Nyo Cu-wi, memangnya kalian kira aku ini siapa?”
16
Nyo-hujin menarik napas lega, “Terima kasih kepada langit
dan bumi, akhirnya kau sadar
kembali.”
“Eh, apakah terjadi sesuatu?” tanya Leng-hong.
“O, tidak . . . . tidak . . . . . .” buru-buru Lo Bun-pin
menanggapi sambil tertawa, “terlalu
banyak arak yang diminum Nyo-heng sewaktu ada di rumahku
tempo hari hingga mabuk
hebat, enso terus menerus mengomeli Siaute, untunglah
sekarang sudah beres, dapatlah
kumohon diri . . . . “
“Eh jangan pergi dulu, jangan pergi dulu, apa salahnya kalau
mabuk bila sobat lama
berkumpul. Kau kan tahu tabiat ensomu, masa masih marah
padanya?”
“Ah, mana berani,” kata Lo Bun-pin.
“Nah, begitulah,” kata Ho Leng-hong sambil tertawa, “kita
harus berkumpul beberapa hari
lagi, jangan pergi, kita boleh bercakap-cakap sepuasnya.”
“Bercakap-cakap boleh saja, tapi ingat, jangan minum sampai
mabuk lagi,” Nyo-hujin
memperingatkan.
“Kalau Cuma mabuk sedikit kan tidak apa, asal tidak kelewat
takaran,” ujar Ho Leng-hong,
“kenapa kau mesti menghilangkan kegembiraan orang banyak?”
“Betul!” Thian Pek-tat menanggapi sambil tertawa,
“Nyo-hujin, bukannya aku Siau Thian
rakus dan ingin minum arak, tapi pada umumnya barang siapa
baru sadar dari mabuk hebat
dia harus minum beberapa cawan arak lagi, dengan begitu baru
badan takkan terganggu, arak
ini namanya Hoan-hun-ciu (arak pengembali sukma).”
“Betul, memang begitu,” kata semua orang, “kalau tidak minum
Hoan-hun-ciu, orang akan
merasa pusing-pusing kepala selama beberapa hari, setiap
peminum sama mempunyai
pengalaman seperti ini.”
“Hahaha! Siau Thian memang selalu menarik dalam soal-soal
begini,” kata Ho Leng-hong
sambil tertawa, “rupanya Hoan-hun-ciu mau-tak-mau harus
kuselenggarakan.”
Di tengah gelak tertawa orang ramai, Nyo-hujin tak bisa
menolak lagi, terpaksa ia menyuruh
orang menyiapkan arak.
Ho Leng-hong bukanlah seorang yang gemar minum arak, ia
berbuat demikian hanya untuk
mencari kesempatan agar lebih memahami keadaan Thian-po-hu.
Terlampau sedikit yang diketahuinya tentang Thian-po-hu ini,
bahkan siapa nama kecil Nyohujin
pun tidak diketahui, kalau kurang lancar dalam soal panggil
memanggil bisa
mengakibatkan rahasianya ketahuan dan sulit lagi untuk
mendapatkan kepercayaan orang.
Betul juga, setelah “arak pengembali sukma” diselenggarakan,
semua kesulitan yang
dikuatirkan berhasil diatasi dengan mudah.
Bukan saja ia mengetahui Nyo-hujin bernama Pang Wan-kun,
bahkan mengetahui juga dia
adalah adik kandung It-kiam-keng-thian (pedang sakti
menuding langit) Pang Goan, pemilik
istana Cian-sui-hu dari Liat-liu-shia yang ilmu silatnya
tidak di bawah Nyo Cu-wi.
Thian-po-hu dari Kiu-ci-shia, Cian-sui-hu dari Liat-liu-shia
ditambah Hiang-in-hu dari Huyong-
shia di wilayah Leng-lam disebut orang sebagai Bu-lim-sam-hu
(tiga istana dunia
persilatan) mereka semua merupakan keluarga persilatan yang
tersohor di dunia.
Sebab itulah selain menaruh “hormat dan sayang”, Nyo Cu-wi
juga merasa “jeri” terhadap
istrinya yang cantik bak bidadari dari kahyangan ini.
-------------------------
Nyo Cu-wi terkenal sebagai laki-laki yang takut bini,
terpaksa Ho Leng-hong tak dapat
terlampau menunjukkan kejantanannya.
17
Karenanya ketika malam itu Pang Wan-kun minta ia pindah dari
Kiok-hiang-sia ke kamar
tidur mereka, ia tak berani membantah melainkan hanya
menurut saja.
Tapi sekarang muncul masalah baru.
Apabila suami isteri tidur bersama dalam satu kamar,
tentunya akan melakukan “tugas dan
kewajiban”, hal inilah yang menyulitkan Ho Leng-hong.
Sebenarnya soal “begituan” bukan hal baru bagi Ho Leng-hong,
yang merisaukan dia adalah
dalam bermesraan antara suami-isteri tentu ada sesuatu
“rahasia” yang menyangkut diri
pribadi, untuk ini jelas tak bisa “diwakilkan” kepada orang
lain, karena bila rahasianya
ketahuan, akibatnya pasti akan runyam.
Sejak kakinya melangkah masuk ke dalam kamar tidur, Ho
Leng-hong merasa hatinya
berdebar keras . . . .
Ia tak dapat menolak untuk tidur sekamar, maka satu-satunya
jalan untuk menghindari segala
kemungkinan hanya main “mengulur waktu”, diambilnya sejilid
buku, lalu duduk di tepi
jendela sambil membaca.
Apa isi buku itu tak sehuruf pun yang masuk dalam benaknya,
ia hanya berharap Pang Wankun
cepat-cepat tertidur, itulah sebabnya meski mata memandang
buku, tapi telinganya
memperhatikan suara gerak-gerik dalam kamar.
Bwe-ji telah membereskan pembaringan, menutup pintu dan
mengundurkan diri, apa mau
dikata, Pang Wan-kun justru tidak mau tidur, seorang diri ia
gemerasak dalam kamar, entah
apa yang dilakukannya.
Tak terlukiskan rasa gelisah Ho Leng-hong, terpaksa ia harus
berpura-pura menaruh
perhatian, katanya, “Wan-kun, tidurlah dulu, beberapa hari
ini kau tentu kepayahan.”
“Dan kau?” tanya Pang Wan-kun.
“Aku belum ngantuk, biar kuselesaikan dulu beberapa halaman
buku ini, tak usah tunggul
lagi.”
Langkah kaki tiba-tiba berkumandang makin dekat, dan Pang
Wan-kun malah muncul dari
dalam.
“Hei, buku apa yang kaubaca?” tegurnya sambil tertawa,
“tampaknya asyik benar, sampai
lupa tidur?”
Ah, buku . . . . . . .” tiba-tiba muka Ho Leng-hong menjadi
merah dan urung bicara, buku itu
cepat-cepat ditutup, kalau ada lubang ingin sekali buku itu
segera disembunyikan.
Sayang terlambat sebab Pang Wan-kun telah merampas buku itu.
“Buku baik biar akupun ikut baca, kenapa disembunyikan . . .
. .” ia mengomel. Tapi sebelum
lanjut ucapannya, mendadak pipinya berubah merah jengak,
sambil membanting buku itu,
serunya, “Sialan! Buku beginian yang kaubaca!”
Rupanya buku yang diambil Ho Leng-hong sekenanya dari rak
buku itu bukan lain adalah
buku porno.
Adalah wajar bila di kamar tidur suami-isteri muda tersimpan
buku macam begini, celakanya
Ho Leng-hong mengeluarkan buku demikian dalam suasana
seperti ini, hal ini ibaratnya api
disiram minyak, tambah merangsang nafsu . . . . .
Tampaknya sulit bila malam ini hendak dilewatkan dengan
“aman dan tenteram”.
Terpaksa Ho Leng-hong pura-pura bergelak untuk menutupi rasa
jengahnya, ia berbangkit,
katanya, “Baiklah, tidak membaca lagi, bagaimana kalau
jalan-jalan di taman saja?”
Wan-kun tidak menyatakan setuju, juga tidak menolak, dia
hanya menundukkan kepala
sambil memainkan ujung bajunya.
Ho Leng-hong membuka pintu yang menghubungkan villa itu
dengan taman, lalu menarik
napas panjang, katanya, “Betapa indahnya bulan purnama,
sayang bila malam seindah ini
dilewatkan begitu saja.”
Pang Wan-kun masih belum bersuara, dengan lembut ia
merangkul bahu pemuda itu dan
bersandar mesra di dadanya yang bidang.
18
Bulan purnama bersinar terang di angkasa, bau harum bunga
semerbak, membuat orang
terlena, kedua “suami isteri” berangkulan dengan mesra di
tengah keheningan malam yang
jernih, sungguh suasana yang romantis.
Ho Leng-hong tak dapat meresapi keindahan alam dan suasana
romantis itu, apa yang
dirasakan hanya keresahan, pikirannya tak tenang, ia hanya
berdoa semoga malam ini dapat
dilewatkan dengan selamat.
Di bawah sinar bulan purnama, kedua “suami isteri” itu
berjalan-jalan di tengah taman yang
sepi, rupanya Pang Wan-kun merasa dingin karena bajunya
tipis, ia bersandar dalam pelukan
Ho Leng-hong dengan manja.
Ho Leng-hong bukan laki-laki yang alim, hampir saja ia tak
sanggup mengendalikan diri,
terpaksa mereka duduk di sebuah bangku batu.
Begitu duduk, Pang Wan-kun lantas berbaring dalam pangkuan
sang “suami” sambil
menghela napas panjang, bisiknya lirih, “Jit-long, masih
ingatkah kau pada musibah yang
menimpamu tahun yang lalu?”
Ho Leng-hong melenggong dan tak dapat menjawab.
Untung Wan-kun tidak menanti jawabannya, ia bergumam
sendiri, “Musim semi tahun yang
lalu, keadaannya seperti juga sekarang, malam sunyi dengan
bulan purnama yang indah
sekali, waktu itu kitapun berdua, duduk di tepi telaga
Siau-thian-ti di puncak Lu-san sambil
menikmati keindahan rembulan....”
Ah, kiranya begitulah kejadiannya!
Buru-buru Ho Leng-hong tertawa, “Siapa bilang aku lupa?
Pemandangan alam Lu-san
memang lain daripada yang lain, sebab itulah dalam syair
kuno tercantum kata-kata yang
berbunyi: Sekalipun tidak kenal wajah Lu-san yang
sebenarnya, berjodohlah bila berada di
gunung tersebut....”
“Bukan keindahan alam Lu-san yang kumaksudkan,” tukas
Wan-kun cepat, “aku berbicara
tentang kau digigit ulat beracun itu.”
Sekali lagi Ho Leng-hong tertegun, ia tidak tahu Nyo Cu-wi
pernah digigit ulat beracun,
terpaksa sahutnya secara samar-samar, “Ya.... Lu-san memang
tempat yang menarik sayang
serangga beracunnya terlalu banyak, menjemukan....”
“Salah siapa?” Wan-kun menutup mulutnya sambil cekikikan,
“siapa suruh kau
membayangkan hal yang bukan-bukan? Tanpa sebab tiba-tiba kau
ingin menggaet rembulan
dalam kolam? Itulah akibatnya, rembulan tak berhasil
kaudapat, punggungmu malah disengat
makhluk beracun, esoknya luka ini bengkak besar dan akhirnya
terpaksa harus dioperasi dan
meninggalkan bekas luka. Masih ingatkah kau akan kejadian
itu?”
“Masih ingat, masih ingat,” Ho Leng-hong tertawa getir, “Ai,
waktu itu aku hanya ingin
main-main, siapa tahu bisa jadi sial begitu.”
Dengan lembut Wan-kun meraba pipi sang “suami”, dengan penuh
menyesal ia berkata,
“Padahal akulah yang menerbitkan gara-gara itu, akulah yang
menyuruh kau mengambilkan
rembulan itu di telaga segala. Ya, ketika itu kita memang
sedikit agak mabuk.”
“Ya, memang begitulah,” sambung Ho Leng-hong cepat, “kalau
tidak mabuk, siapa yang akan
melakukan perbuatan sebodoh itu.”
“Padahal waktu itu aku cuma bergurau, siapa tahu kau
menganggapnya sungguhkan?”
“Mana aku berani tidak anggap sungguhkan perkataanmu?
Sekalipun kau menginginkan
bintang di langit juga akan kucarikan tangga untuk naik ke
langit dan memetiknya bagimu.”
“O, Jit-long, sungguhkah kau begitu menurut pada
perkataanku?” bisik Wan-kun lembut.
“Tentu saja,...” tapi begitu jawaban diucapkan, segera
Leng-hong merasakan gelagat tak baik.
Jelas apa yang diucapkan Pang Wan-kun ini hanya kata-kata
“pengantar” belaka, sebab
tangannya sudah mulai merosot dari pipi ke tengkuk Ho
Leng-hong, bahkan terus turun ke
bawah, meraba dadanya, pinggangnya . . . terus . . . .
Tangan yang halus itu bagaikan seekor ular kecil yang
merayap masuk ke balik bajunya.
19
Kini Ho Leng-hong bersetatus sebagi “suami” tentu saja ia
tak dapat menolak belaian cinta
sang “isteri”, tapi ia sadar bila adegan panas yang
merangsang ini berlangsung terus,
“akibatnya”nya sukarlah dilukiskan.
Terpaksa ia berpura-pura takut geli, sambil menggeliat ke
sana kemari ia menangkap tangan
itu dari luar baju.
“Jangan begini Wan-kun,” bisiknya sambil tertawa, “kalau
dilihat para pelayan, kita bisa
ditertawakan . . . .”
“Hm, semua pelayan sudah tidur, lepaskan bajumu Jit-long,
biar kuraba bekas luka di
tubuhmu itu, mau?”
Sungguh gawat, sebab punggungnya hakikatnya tidak terdapat
codet seperti apa yang
dimaksudkan, kalau sampai diraba, bukankah urusan bisa
runyam?
“Ah, paling-paling Cuma sebuah codet belaka, apa enaknya
diraba?” kata Leng-hong cepat.
“Marilah Wan-kun, kita bicara soal lain saja . . . .”
“Tidak, aku suka merabanya, selama ini kau selalu
mengizinkan aku merabanya, kenapa
sekarang kautolak permintaanku?”
“Bukannya menolak, kukuati dilihat para pelayan yang
kebetulan masuk kemari.”
“Kan sudah kukatakan, semua pelayan sudah tidur, tak nanti
ada orang yang masuk kemari.”
“Sekalipun tak ada orang, siapa tahu kalau di sini ada ulat
beracunnya? Kalau sampai kena
disengat lagi, wah bisa celaka.”
“Jit-long,” kata Wan-kun seraya merayu, “selamanya kau
menuruti kehendakku, kenapa
sekarang sikapmu berubah?”
“Aku . . . aku . . . . “ Leng-hong gelagapan.
“Pokoknya aku tak mau tahu, aku tetap akan merabanya.”
Apa yang diucapkan segera dilaksanakan, ia merangkul leher
Ho Leng-hong dengan tangan
kiri, sedang tangan kanan dengan cepat merogoh ke balik
bajunya, lewat di bawah ketiak dan
meraba punggungnya . . . .
Ho Leng-hong tak bisa menghindar lagi, peluh dingin sampai
membasahi dahinya, dalam hati
ia mengeluh, “Habis, tamatlah lelakonku kini, semua
rahasiaku bakal terbongkar . . . .”
Tapi apa yang terjadi? Ketika tangan Pang Wan-kun berhenti
di punggungnya, ia tidak
menunjukkan sesuatu reaksi yang “di luar dugaan”, malah dia
merabanya dengan penuh kasih
sayang.
“O, codet yang menawan hati,” gumamnya dengan rasa puas,
“Inilah kenangan yang
kauberikan kepadaku akibat ingin mengambil rembulan di
kolam, sepanjang hidup akan
kubelai terus dengan kasih sayang, tak akan kubiarkan
kenangan itu meninggalkan jari-jari
tanganku untuk selamanya. . . .”
Ho Leng-hong menjadi kaget tercampur bingung, seketika ia
terkesima.
Mimpipun ia tak menyangka di punggungnya terdapat codet,
sebuah codet yang persis seperti
codet yang dimiliki Nyo Cu-wi.
Ia tak pernah menggaet rembulan di telaga Siau-thian-ti di
Lu-san, iapun tak pernah disengat
ulat beracun, tapi darimana datangnya codet? Apakah dirinya
memang Nyo Cu-wi yang
sesungguhnya?
Jangan-jangan Ho Leng-hong benar-benar sudah mati?
Atau mungkin . . . . . .
Tidak! Tak mungkin, untuk membuktikan kejadian yang
sesungguhnya, ia harus mencari Siau
Cui?
-------------------------
Siau Cui adalah pelacur yang terdaftar di rumah pelacuran
Hong-hong-wan, pelacur resmi,
siapapun boleh mencarinya.
20
Tapi tidak berlaku bagi Ho Leng-hong.
Sebab statusnya kini adalah pemilik Thian-po-hu yang
tersohor dan terhormat di Kiu-ci-shia,
tentu saja ia tak dapat sembarangan mengunjungi rumah
pelacuran dan menemui seorang
pelacur.
Untuk menyembunyikan identitasnya, sengaja Ho Leng-hong
mengenakan sebuah mantel
hitam serta sebuah topi lebar, sebagian besar wajahnya
hampir tertutup oleh tepian topi yang
lebar itu.
Ketika kentungan pertama baru lewat, dengan kepala tertunduk
ia melangkah masuk ke dalam
Hong-hong-wan.
Melihat ada tamu datang, pesuruh rumah pelacuran segera
berteriak lantang, “Ada tamu!”
Baru sepatah kata meluncur keluar, tiba-tiba mulutnya
tersumbat oleh sepotong benda keras.
Sekeping uang perak yang berkilauan.
“Jangan berteriak, jangan berisik,” desis Ho Leng-hong
sambil merangkul leher pesuruh itu.
“Beritahu kepadaku, Siau Cui ada atau tidak?”
Mula-mula pegawai itu kaget, tapi setelah memuntahkan benda
itu dari mulutnya dan
mengetahui benda apakah itu, dengan kejut bercampur girang
sahutnya cepat, “Ada! Ada!
Ada!”
“Dalam kamarnya ada tamu?”
“Ada! Ada! Ada . . . .” mendadak ia merasakan perkataannya
tidak tepat, cepat sambungnya
lagi “Tuan, yang kautanyakan adalah . . . . .”
“Nona Siau Cui yang tinggal di kamar serambi barat.”
“O, rupanya engkau menanyakan Siau Cui?” pesuruh itu
menyengir, “tidak ada, tidak ada
tamu, nona Siau Cui sudah tidak menerima tamu lagi, sekarang
iapun tidak tinggal di kamar
sebelah barat.”
“Oya? Kenapa?”
“Tuan, besar kemungkinan engkau datang dari luar daerah,
bukan? Masa engkau tidak tahu
Siau Cui tertimpa musibah?”
“Musibah apa?”
“Sebenarnya urusan semacam ini tidak pantas kukatakan kepada
Tuan,” ujar pelayan itu
berlagak rahasia, “cuma lantaran hamba lihat Tuan adalah
orang baik, hamba tidak tega untuk
mengelabuimu. Tuan, menurut pendapat hamba, Hong-hong-wan
kami masih banyak nona
cantik yang lain, mau pilih yang macam apapun ada, yang
lebih hebat dari Siau Cui pun ada,
tapi jangan sekali-kali kau mencarinya lagi.”
“Kalau mencarinya kenapa?”
“Terus terang kuberitahu kepadamu, Tuan, belakangan ini Siau
Cui lagi sial, seorang buaya
she Ho yang mabuk kedapatan mati dalam kamar Siau Cui, sejak
itulah siapapun tak berani
masuk ke kamarnya, sebab itulah Mama menyuruh dia berhenti
bekerja untuk sementara
waktu, sekarang ia sudah pindah ke kamar bagian belakang . .
. .”
“Kenapa secara tiba-tiba orang she Ho itu mati?”
“Siapa yang tahu? Pokoknya setiap hari bocah itu kerjanya
Cuma keluyuran, ya minum arak,
ya berjudi, jelas bukan manusia baik-baik. Menurut
pendapatku, kalau bukan mampus karena
luka akibat berkelahi, tentu mampus keracunan arak lantaran
terlalu banyak minum, orang
luar sih tidak peduli, mereka hanya tahu dia mampus di sini,
yang celaka adalah Siau Cui,
gara-gara kejadian ini ia nyaris diseret ke pengadilan.”
“Ah, orang yang mengatakan begitu sungguh keterlaluan,
sekalipun dia mati secara
mendadak, itu kan bukan salah Siau Cui?”
“Betul juga perkataanmu, tapi dia kan seorang nona
penghibur, kalau sampai mengalami
kejadian sial semacam ini, siapa lagi yang berani masuk ke
kamarnya?”
“Kalau begitu, jadi gara-gara orang she Ho itulah Siau Cui
ikut tertimpa sial?” jengek Lenghong.
21
“Bukan Siau Cui saja yang tertimpa malang, usaha kampiun
ikut terpengaruh. Ai, bocah she
Ho itu sungguh bikin celaka orang saja.”
Kalau bisa Leng-hong ingin memberi beberapa kali tempelengan
pada pesuruh yang lancang
mulut ini, tapi sedapatnya ia tahan perasaannya.
“Siau Cui tinggal di halaman belakang sebelah mana?”
tanyanya kemudian, “jangan kuatir,
bawa saja diriku ke sana, dan uang perak itu untuk minum
arak bagiku.”
“Tuan, kau tidak takut?” tanya orang itu dengan suara parau.
Ho Leng-hong menggeleng kepala sambil tertawa, “Jangan
kuatir, jika akupun ikut mampus
di halaman belakang, anggap saja aku yang mencari kematian
sendiri, tak nanti kubikin susah
kepadamu.”
Pesuruh tersebut ingin mendapatkan hadiah, cepat dia
celingukan ke sekeliling tempat itu, lalu
bisiknya sambil memberi tanda, “Baik, ikutlah padaku.”
Mereka berdua masuk lewat pintu samping lalu mengitari ruang
dan halaman tengah terus
masuk ke halaman belakang.
Sambil menuding sebuah rumah papan di sudut pekarangan sana,
bisik pesuruh itu, “Di
sanalah nona Siau Cui berdiam, Tuan jangan berdiam terlalu
lama di situ, kalau ketahuan
Mama, hamba bisa celaka.”
Ho Leng-hong menyuruh pergi orang itu, kemudian mengawasi
rumah kayu itu dengan
saksama.
Rumah kayu itu jelek, sudah tua dan dekat dinding
pekarangan, bagian sampingnya adalah
tempat menyimpan barang-barang tak terpakai, tentu saja
bedanya bagaikan langit dan bumi
bila dibandingkan kamar Siau Cui di serambi barat sana.
Meskipun Siau Cui hanya seorang pelacur yang hina dina, tapi
terhadap Leng-hong dia
memang jatuh cinta dengan tulus dan murni, Leng-hong
menyesal karena tak dapat memenuhi
harapan kekasihnya, apalagi setelah menyaksikan penderitaan
yang dialaminya sekarang, ia
menjadi malu hati.
Tapi, sesungguhnya salah siapakah itu?
Siapa yang telah “mencelakai” Ho Leng-hong?
Siapa yang membuat Ho Leng-hong “berubah” menjadi Nyo Cu-wi?
Apakah kejadian inilah yang disebut “roh masuk pada raga
orang lain”?
-------------------------
Ho Leng-hong jelas tidak mengakui dirinya telah “mati”,
iapun tidak percaya setan iblis
segala, apalagi tentang roh masuk ke tubuh orang lain.
Oleh sebab itu ia harus tanya langsung persoalan ini kepada
Siau Cui.
Cahaya redup tampak bersinar di balik jendela rumah kayu
itu, di dalam terdengar suara batuk
seorang yang berat.
Itulah suara batuk Siau Cui, paru-parunya memang lemah,
sering kali dia terbatuk-batuk
sebelum tidur, terutama bila ada persoalan yang mengganjal
dalam hatinya, ia akan
mengalami kesulitan untuk tidur.
Tiba-tiba Ho Leng-hong merasa terharu, ia menghela napas
perlahan lalu mengetuk pintu.
“Siapa?” suara Siau Cui berkumandang dari dalam.
“Aku! Buka pintu, Siau Cui!”
“Siapa kau?”
“Ho Leng-hong......”
Celaka! Ketika nama itu disebutkan, Ho Leng-hong segera tahu
urusan bakal runyam, tapi
mau ditarik kembali sudah tak keburu lagi.
Benarlah, dari balik ruangan berkumandang jeritan kaget,
disusul suara pembaringan kayu
yang bergetar keras....
22
Mungkin Siau Cui sedang berbaring ketika mendengar
jawabannya, sebab itu saking
kagetnya, ia melompat turun dari pembaringan.
“Aku datang untuk persoalan yang menyangkut Ho Leng-hong,”
cepat Leng-hong memberi
penjelasan, “Bukalah pintu, Siau Cui, mau bukan?”
“Krek!” pintu terbuka sedikit.
Dengan suatu gerakan cepat Ho Leng-hong menyelinap masuk ke
dalam, lalu menutup
kembali pintu kamar.
Suasana dalam rumah remang-remang, hanya sebuah lentera
menerangi tempat itu,
keadaannya sangat sederhana, hanya terdapat sebuah
pembaringan dan sebuah meja kecil.
Siau Cui meringkuk di pojok ruangan dengan muka pucat dan
badan gemetar, wajahnya
memancarkan perasaan takut.
“Siapa.... siapa kau?” tegurnya dengan tergagap.
Perlahan Ho Leng-hong menanggalkan topi lebarnya, lalu
berkata, “Siau Cui, aku adalah
Leng-hong, Sungguh! Meskipun mukaku telah berubah, tapi aku
betul-betul adalah Ho Lenghong,
kau harus percaya kepadaku...”
Mata Siau-Cui terbelalak, lalu menggeleng berulang, “Tidak!
Tidak! Kumohon kepadamu,
jangan menakuti diriku! Ho Leng-hong telah mati, siapa kau
sebenarnya?”
“Siau-Cui, tak perlu omong kosong, kau tahu jelas bahwa aku
tidak mati.”
Tidak, Ho Leng-hong benar-benar sudah mati, ia mati di kamar
sebelah barat sana, dengan
mata kepalaku sendiri kusaksikan ia digotong keluar ....”
“Aku tak peduli, siapa yang mereka gotong keluar, pokoknya
aku benar-benar adalah Ho
Leng-hong, sekarang aku masih hidup segar-bugar, Siau Cui,
kau harus percaya kepadaku.”
“Tidak, akut tidak percaya! Aku tidak percaya!” Siau Cui
menggeleng kepala, “aku tidak
kenal dirimu, aku hanya tahu Ho Leng-hong sudah mati.”
Leng-hong sadar bila keadaan begini berlangsung terus,
persoalan akan sukar selesai, maka ia
berubah taktik, katanya, “Baiklah, kalau kau berkeras tak
mau percaya kepadaku, akupun tak
akan memaksa. Sekarang perhatikan diriku baik-baik,
pernahkah kau melihat diriku sebelum
ini?”
Dengan seksama Siau Cui mengamati wajahnya, lalu menggeleng,
“Belum pernah!”
“Coba pikir lagi, pernahkah kenal denganku di suatu tempat?”
desak Leng-hong pula.
“Tidak pernah!”
“Jadi kita baru pertama kali bertemu sekarang?”
“Benar!”
“Tapi aku tahu di sebelah kiri perutmu, di bawah pusar,
terdapat setitik tahi lalat, di sebelah
kanan belakang pinggangmu juga terdapat sebuah toh hitam,
benar tidak?” kata Leng-hong
sambil tertawa.
Siau Cui melengak, sampai sekian lama ia melongo, lama
sekali baru bertanya dengan
tergegap, “Kau dengar dari siapa?”
“Kulihat dengan mata kepalaku sendiri,” Leng-hong tertawa,
“Seandainya kita tak pernah
kenal sebelum ini dan baru bertemu untuk pertama kalinya,
darimana kutahu akan tanda
rahasia di atas tubuhmu?”
Perlahan Siau Cui menghela napas panjang, “Kenapa heran?
Kami orang-orang yang
melakukan pekerjaan semacam ini sudah biasa buka pakaian di
depan setiap pria yang
berkunjung kemari, soal itu sudah bukan rahasia lagi.”
“Baiklah, bila kau anggap tanda rahasia di tubuhmu sudah
bukan rahasia lagi, kata-kata
pribadimu dengan Ho Leng-hong tentu tak diketahui orang lain
bukan? Sebagai contoh katakata
yang kau bicarakan malam menjelang kejadian itu, bukankah
kau minta kepada Ho
Leng-hong untuk membawamu kabur sejauh-jauhnya dari sini . .
. . “
23
Belum habis perkataan itu, air muka Siau Cui sudah berubah
hebat, tukasnya, “Apa yang kau
katakan? Sungguh aku tidak paham, aku tak pernah kenal
padamu, akupun tak ada waktu
untuk mengobrol denganmu, kuminta sekarang juga kau keluar
dari sini, keluar! . . . .”
Dengan tajam Ho Leng-hong mengawasinya tanpa berkedip,
katanya perlahan, “Siau Cui, kau
takut bukan? Waktu itu kau sudah tahu bakar terjadi sesuatu
maka kau mohon kepadaku
untuk membawamu pergi, kaupun tahu dalam kuah penyadar mabuk
itu . . . .”
Air muka Siau Cui semakin pucat, sebelum pemuda itu
menyelesaikan kata-katanya ia sudah
membentak, “Aku tidak mengerti akan perkataanmu, kuminta
segera kau tinggalkan tempat
ini, kalau tidak, segera aku akan memanggil orang.”
“Kau tidak akan memanggil orang, Siau Cui, kutahu kau tak
akan berbuat demikian karena
kau tahu siapa diriku, kaupun tahu apa yang telah terjadi,
hanya kau tak berani
mengatakannya.”
“Tidak tahu, aku tidak tahu . . . . apapun aku tidak tahu,
sungguh aku tidak tahu apa-apa,”
Seru Siau Cui sambil menggeleng kepala berulang kali dan
menutup telinganya dengan
tangan.
“Siau Cui, apa yang kau takuti? Kau diancam siapa? Kenapa
tidak berani bercerita?”
Dengan suara yang hampir menangis Siau Cui berkata, “Kumohon
padamu, janganlah
mendesakku terus menerus, sungguh aku tidak tahu, kalian
telah mencelakaiku hingga seperti
ini, apakah masih belum cukup?”
“Siapa yang mencelakaimu?” seru Leng-hong sambil menarik
lengannya, “Siau Cui, beri
tahukan padaku, siapa yang mencelakai . . . . “
Siau Cui tak bisa menjawab, dia hanya menangis tersedu-sedu.
“Bicaralah Siau Cui, cepat katakan kepadaku,” pinta
Leng-hong sambil mengguncangguncangkan
tubuh si nona, “aku adalah Leng-hong . . . .”
“Blang!” tiba-tiba pintu kamar didobrak orang secara paksa.
Dua sosok bayangan tubuh yang tinggi besar berdiri tegak di
depan pintu, seorang pria
berbaju serba hitam, bertubuh kekar dan berdandang sebagai
tukang pukul, sedang yang lain
adalah perempuan, dia lebih tegap daripada pria tersebut, ia
bukan lain adalah Go So.
Entah sejak kapan kedua orang itu tiba di luar kamar,
ternyata Ho Leng-hong tidak
mengetahui kehadiran mereka.
Agaknya Go So tidak kenal lagi pada Ho Leng-hong, sambil
menuding pemuda itu,
bentaknya, “Keparat, apa yang kau lakukan? Berani betul
menerbitkan keonaran dalam Honghong-
wan? Hm. Tampaknya tulang-tulang badanmu sudah gatal dan
minta digebuk!”
“Hm, kalian membuka rumah pelacuran ini untuk mencari uang,
asal Toaya punya uang, siapa
yang berani melarang kedatanganku?”
“Kalau bermain perempuan sepantasnya di ruang depan, apa
maksudmu tarik menarik dengan
nona yang beristirahat di ruang belakang? Mengapa kau datang
kemari secara diam-diam?
Keparat, tidak lekas lepas tangan, memangnya kau ingin
digebuk?”
Sambil berkata ia menggulung lengan bajunya dan siap
berkelahi.
“Tunggu sebentar!” tiba-tiba si baju hitam di sampingnya
mencegah, “rasanya kukenal wajah
tamu kita ini, seperti pernah bertemu di suatu tempat?”
“Hm, kau kenal aku?” jengek Ho Leng-hong ketus.
Laki-laki berbaju hitam itu tidak menjawab, ia mengamati
lawannya dengan cermat,
mendadak ia memberi hormat, “Ah, kukira siapa, rupanya
Nyo-tayhiap dari Thian-po-hu yang
berkunjung kemari. Maaf! Maaf!”
“Kau ini . . . . .” melengak juga Leng-hong.
“Hamba she Tan, anak buah Thian-toaya, orang menjuluki
diriku sebagai Thi-tau-siau Tan
(Tan kecil kepala baja).”
“O, jadi Hong-hong-wan ini termasuk wilayah kekuasaan?”
24
“Ah, tidak berani, tidak berani,” Thi-tau Tan menyengir,
“hamba hanya menjalankan perintah
Thian-ya, lantaran Ho Leng-hong kedapatan mati di sini, maka
aku diperbantukan selama
beberapa hari di sini, sungguh tak nyana Nyo-tayhiap bisa
berkunjung kemari. Bila kami
berbuat kesalahan karena tidak mengenal Nyo-tayhiap, harap
suka dimaafkan . . . .”
Kepada Go So segera ia membentak, “Kenapa tidak cepat-cepat
berlutut dan minta ampun!
Beliau inilah Nyo-tayhiap, pemilik Thian-po-hu yang
tersohor, biar sengaja diundang juga
belum tentu tamu agung kita ini mau datang kemari, kau si
goblok ini benar-benar anjing
betina yang buta . . . . .
Dengan cepat Go So berubah sikap, dengan lemas ia bertekuk
lutut.
“Nyo-tayhiap,” demikian ujarnya, “maafkanlah aku si tua
bangka yang punya mata tapi buta,
engkau adalah orang besar, tentu tak akan ingat kesalahan
orang kecil, anggap saja mulutku si
tua bangka tadi hanya kentut busuk dan janganlah marah
kepadaku”
Tiba-tiba Ho Leng-hong teringat kembali pada kuah penyadar
mabuk malam itu. Go So inilah
yang mengatar kuah itu baginya, seandainya dalam kuah
terdapat sesuatu yang mencurigakan
berarti Go So juga mengetahui persoalan ini sebelumnya . . .
. . .
Sementara ia masih melamun, Go So merangkak bangun sambil
berkata, “Tidak sepantasnya
menyambut kedatangan tamu agung di tempat sejelek ini, nona
Siau Cui, baik-baiklah
melayani Nyo-tayhiap, segera akan kuberi tahukan hal ini
kepada Mama . . . .”
“Tidak usah,” seru Leng-hong, “sebentar saja aku akan
pergi.”
“Mana boleh jadi?” kata Go So, “Nyo-tayhiap tertarik oleh
Siau Cui kami, hal ini merupakan
rejeki besar baginya, sekalipun tidak menginap, paling
sedikit harus minum arak lebih dulu
agar ia menemani Nyo-tayhiap bercakap-cakap.”
“Betul, biar hamba undang juga Thian-ya,” sambung Thi-tau
Tan, “Lo-ya sekalian juga akan
kuundang kemari, Wah suasana nanti pasti akan bertambah
meriah . . . . .”
Ho Leng-hong melirik Siau Cui sekejap, ia tahu tiada harapan
baginya untuk mencari
keterangan pada malam ini, ia menghela napas dan melepaskan
tangannya.
Diambilnya sekeping uang perak dan diserahkan kepada Thi-tau
Tan, lalu pesannya, “Aku
masih ada urusan dan harus segera berangkat. Nih, terimalah
sebagai ongkos minum arak, tapi
jangan sekali-kali kausiarkan kedatanganku ini di luaran,
mengerti?”
“Apakah terhadap Thian-ya sekalian juga . . . “
“Ya, terhadap mereka juga harus dirahasiakan, sebab aku tak
ingin seorang pun mengetahui
kejadian malam ini.”
Berputar biji mata Thi-tau Tan, katanya dengan tertawa, “Ah,
pahamlah hamba sekarang.
Padahal Nyo-tayhiap tak usah kuatir, Thian-ya kan sahabat
karib Nyo-tayhiap, tentang soal ini
tak mungkin mereka akan . . . .”
Ho Leng-hong tidak banyak bicara lagi, sambil mengulap
tangan ia meninggalkan rumah
kayu itu.
Siau Cui hanya menunduk sambil menangis, ia membungkam
seribu bahasa, tidak
mendongak juga tidak mengantar.
Tapi Go So mengantar sampai di luar pintu, katanya dengan
nada minta maaf, “Nyo-tayhiap,
tentunya kau tidak marah padaku bukan? Kalau malam ini tak
ada waktu, kapan-kapan
silakan datang lagi? Nyo-tayhiap . . . .”
Ho Leng-hong berlalu dengan langkah lebar hakikatnya seperti
orang lari, dia mengambil
langkah seribu meninggalkan rumah hiburan itu . . . .
Kejadian baik tak nanti keluar pintu, kejadian “busuk”
justru tersiar sampai ke mana-mana,
pepatah ini memang terbukti.
Sekeping uang perak yang dikorbankan Ho Leng-hong semalam
tidak berhasil menutup mulut
Thi-tau Tan, sebab keesokan harinya, pagi-pagi sekali, si
telinga panjang Siau Thian sudah
mendapat kabar dan muncul di Thian-po-hu.
25
Bagaimanapun Thian Pek-tat bersumpah bahwa ia tidak akan
membocorkan rahasia itu
kepada orang lain, akhirnya toh peristiwa ini diketahui juga
oleh Pang Wan-kun.
Kalau menuruti adat Ho Leng-hong, bila ketahuan ya sudahlah,
mau apa lagi.
Yang sulit justru pada saat ini ia berstatus sebagai Nyo
Cu-wi.
Dan justru pula Nyo Cu-wi terkenal sebagai laki-laki takut
bini.
Jika Ho Leng-hong sudah mengakui dirinya ialah Nyo Cu-wi,
mau-tak-mau dia harus
mewarisi tabiat Nyo Cu-wi itu. Apa boleh buat, terpaksa ia
harus tabahkan hati untuk
menerima dampratan .......
------------------
Air muka Pang Wan-kun tampak sedingin es, Cuma bagaimanapun
juga dia adalah wanita
yang berasal dari keluarga terhormat, jadi tak sampai
terjadi pertengkaran sengit yang
mengakibatkan piring terbang dan bakiak naik kepala.
Ia hanya bertanya dengan suara dingin, “Kudengar semalam kau
mencari kesenangan di luar
hem, mau jadi pemuda romantis lagi?”
Ho Leng-hong tak dapat mengatakan apa-apa ia hanya menyengir
saja.
Kembali Wan-kun berkata, “Kukira nona-nona di sana pasti
pandai, menyenangkan hati kaum
pria, kenapa tidak sekalian menginap saja? Nikmatilah surga
dunia sepuasnya, buat apa
pulang ke rumah?”
“Wan-kun, dengarkan dulu penjelasanku . . . . .” pinta Hong
Leng-hong sambil tertawa getir.
“Apa lagi yang hendak kau jelaskan?” suara Pang Wan-kun
lebih dingin daripada air
mukanya, tapi nada bicaranya penuh rasa sedih seperti minta
dikasihani.
Ia berkata lagi, “Jangan kau artikan aku cemburu, kutahu
setiap lelaki sekali tempo suka
iseng, kejadian semacam itu sudah lumrah, tapi tidak
sepantasnya kau pergi seorang diri,
lebih-lebih tak pantas pergi secara sembunyi-sembunyi,
bukankah caramu itu justru
menunjukkan kau berbuat karena mempunyai maksud tertentu?
Kalau sampai tersiar di dunia
persilatan, tidaklah nama baik Thian-po-hu akan tercemar?”
Leng-hong manggut-manggut, “Ya, aku tahu perkataanmu memang
benar, tapi tahukah kau
apa yang hendak kulakukan di sana?”
“Huh, memangnya perbuatan apa yang kau lakukan di tempat
rendah dan kotor semacam
itu?”
“Wan-kun, kau salah menuduhku, kudatang ke Hong-hong-wan
bukan untuk mencari
kepuasan, aku ke situ untuk mengenang seseorang, atau
anggaplah sebagai suatu tanda
simpatiku terhadap seseorang.”
“Siapa orang itu?” tanya Wan-kun dengan melengak.
“Kau masih ingat ketika sedang sakit tempo hari, bukankah
aku mengaku she Ho?”
“Ya, betul, kau terus menerus mengaku dirimu bukan she Nyo,
tapi she Ho . . . Ho apa
begitu!...”
“Tepat sekali...Nah, kedatanganku ke Hong-hong-wan semalam
justru demi orang she Ho
itu.”
“Bukankah orang she Ho itu sudah mati?”
“Justru karena dia sudah mati, maka secara diam-diam aku
datang ke sana untuk menyatakan
belasungkawa atas kematiannya. Wan-kun, tahukah kau sewaktu
aku tidak sadar tempo hari,
aku telah mendapat impian yang aneh sekali . . . . .”
“Impian aneh apa?” tanya Pang Wan-kun keheranan.
“Belum pernah aku berkunjung ke tempat semacam
Hong-hong-wan, tapi dalam impian
tersebut seakan-akan aku telah berubah menjadi orang she Ho,
bukan saja sering berkunjung
ke sana, bahkan apal benar keadaan tempat itu, malah
beberapa nama dari orang-orang yang
ada di situ dapat kupanggil secara tepat, semua perabot,
letak pintu dan sebagainya dapat
26
kuingat semua dengan jelas. Maka setelah sadar, makin
kupikir makin heran, akhirnya
kuputuskan untuk secara diam-diam menyelidiki tempat itu.”
“Dan bagaimana hasilnya?”
“Setelah kusaksikan sendiri semalam, dan kubuktikan bahwa
apa yang kulihat dalam impian
itu persis kenyataannya, di mana ada pintu, di mana ada
undak-undakan, semuanya tepat dan
persis. Coba bayangkan aneh tidak?”
“Ah, masa begitu?” saking terperanjatnya mata Pang Wan-kun
sampai terbelalak lebar.
“Tidak aneh kalau Cuma ingat saja pada keadaan dalam
Hong-hong-wan, yang lebih
mengherankan lagi adalah aku ternyata kenal semua orang di
sana, aku dapat pula
menyebutkan nama mereka satu persatu, Cuma tak seorang pun
di antara mereka kenal pada
diriku....”
“Cukup, cukup, jangan bicara lagi, jangan bicara lagi, bikin
bulu kudukku berdiri saja,” teriak
Wan-kun sambil menutup telinganya.
Sesungguhnya aku Cuma ingin membuktikan impianku saja,”
Leng-hong berusaha menakuti
lagi, “siapa tahu setelah berada di Hong-hong-wan, mendadak
kurasakan suasana yang
mengerikan, seakan-akan di situ tersembunyi bahaya besar.”
“Maksudmu di sana ada setannya?”
“Bukan, kucurigai tempat itu dipakai sebagai tempat
persembunyian orang-orang golongan
hitam, akupun curiga mereka sedang menyusun suatu rencana
jahat yang tidak
menguntungkan Thian-po-hu.”
“Hei, mengapa kau mempunyai jalan pikiran seaneh ini?” seru
Pang Wan-kun terkejut.
“Aku sendiri juga tak bisa mengatakan alasannya, yang pasti
timbul firasat tak enak dalam
hatiku, misalnya saja, dalam keadaan baik-baik kenapa aku
bisa mendapat impian seaneh itu?
Orang she Ho itu mati dalam keadaan tak jelas duduk
persoalannya, mungkinkah lantaran dia
penasaran, maka sukmanya menciptakan suatu impian kepadaku
dengan maksud memberi
peringatan....”
Makin didengar Pang Wan-kun makin terperanjat, hawa
amarahnya terbang entah ke mana,
sebagai gantinya adalah rasa kaget dan ngeri.
“Jit-long,” dia mengeluh, “kaupun percaya sukma bisa memberi
impian segala?”
“Kenapa tidak percaya? Manusia terdiri dari raga dan sukma,
orang mati wajar sukmanya
akan buyar mengikuti badan kasarnya yang musnah, sebaliknya
bila orang mati itu penasaran,
walaupun badan kasarnya membusuk, tapi sukmanya tidak akan
buyar, dia akan gentayangan
ke sana kemari mengikuti embusan angin, terkadang berkumpul
dan membentuk menjadi roh
jahat, bila penasarannya sudah hilang dan dendam terbalas,
dia baru membuyar dan lenyap....”
“Sudah, sudahlah, jangan kaulanjutkan ceritamu,” tukas Pang
Wan-kun, “sekalipun roh jahat
benar-benar ada, asal kita tak pernah melakukan perbuatan
jahat, buat apa kita
mempedulikannya?”
“Jika urusannya menyangkut diri kita, mana boleh kita
berdiam diri saja?”
“Apa sangkut pautnya dengan kita?”
“Sukma orang she Ho itu tidak mendatangi orang lain tapi
justru memberi impian kepadaku,
itu berarti urusan kemungkinan besar ada sangkut pautnya
dengan kita.”
“Jit-long, maksudmu . . . . .”
“Aku tetap mencurigai kematian yang menimpa orang she Ho
itu, sudah pasti di dalam rumah
pelacuran Hong-hong-wan tersembunyi marabahaya besar, kita
tak bisa berpeluk tangan
menghadapi kejadian ini, kita harus menyelidikinya hingga
duduk perkaranya menjadi jelas.”
“Bukankah Thian Pek-tat sedang melakukan penyelidikan atas
kematian orang she Ho itu!”
“Siau Thian secara terang-terangan menaruh orangnya di
Hong-hong-wan, mana mungkin
bisa menyelidiki duduk perkara yang sebenarnya? Kukira kita
harus mengadakan
penyelidikan secara diam-diam dengan begitu baru akan
mendatangkan hasil.”
27
“Kalau begitu, beri tahu saja kepadanya, agar Siau Thian
ganti taktik dan melakukan
penyelidikan secara diam-diam.”
“Tidak, Wan-kun kita harus bekerja sendiri dan tak dapat
minta bantuan orang lain, sebab
kemungkinan besar persoalan ini ada pengaruhnya bagi
Thian-po-hu kita.”
“Apa yang hendak kaulakukan?”
“Malam ini kita bersama-sama mengunjungi Hong-hong-wan serta
melakukan penyelidikan.”
“Apa? Kausuruh aku mengunjungi tempat kotor itu?” seru
Wan-kun tidak senang.
Ho Leng-hong tahu sang “istri” tak bakalan mau mengunjungi
tempat semacam itu, maka ia
berkata pula dengan sungguh-sungguh, “Wan-kun, kau harus
pergi, bila kaukuati menjumpai
sesuatu yang tak pantas, tunggu saja aku di luar, kita
adalah suami-isteri yang saling
mencintai, aku tak mau menimbulkan salah-pahammu
terhadapku.”
Tiba-tiba Wan-kun tertawa, katanya dengan gembira, “Rupanya
kau mengajak aku ke situ
hanya untuk menghindari tuduhan.”
“Ya, daripada dicurigai orang kan lebih baik aku
bersiap-siap lebih dulu, seperti kejadian
semalam, seharusnya lebih dulu kuberitahukan rencanaku ini
kepadamu, dengan demikian
kan takkan terjadi kesalahpahaman seperti ini.”
Wan-kun tersenyum, “Padahal, masakah aku benar-benar
berprasangka padamu? Aku hanya
ingin mengetahui apakah kau jujur atau tidak kepadaku, malam
ini kau boleh pergi dengan
hati tenang, dengan izinku ini kau bisa bekerja lebih
leluasa....”
Setelah berhenti sejenak, lanjutnya, “Tetapi, sekembalinya
dari sana harus kauceritakan
kejadian yang sebenarnya kepadaku, sepatah katapun tak boleh
ketinggalan, kalau berani
merahasiakan sebagian saja dari kisahmu, hmm, jangan
salahkan aku bila kutindak menurut
hukum rumah tangga.”
“Terima perintah!” sahut Ho Leng-hong sambil tertawa.
“Jangan keburu senang dulu,” kata Wan-kun lagi, “bisa jadi
kau di depan dan aku akan
mengintil secara diam-diam dari belakang, sedikit kau
menyeleweng, rasakan nanti!”
Walaupun di mulut Ho Leng-hong mengatakan “tidak berani”,
tapi secara diam-diam ia
sangat gembira.
Setelah mendapatkan “izin” tersebut, ia dapat mengunjungi
Hong-hong-wan secara terangterangan
dan menanyai Siau Cui hingga jelas.
Cuma, ia tetap memutuskan untuk pergi ke sana secara
diam-diam, sebab dari cara serta sikap
Siau Cui waktu bicara, tampaknya ia mempunyai kesulitan
untuk bercerita, bila ditanyai
secara langsung jelas dia tak akan bicara sejujurnya.
Selain itu masih ada lagi Go So, orang itu harus dihindari,
sebab gerak-geriknya sangat
mencurigakan, setiap kali bila keadaan genting, ia selalu
muncul secara mendadak,
tampaknya ia bertugas untuk mengawasi gerak-gerik Siau Cui.
Begitulah, setelah mengambil keputusan, malam itu ia
berkunjung lagi ke Hong-hong-wan....
----------------------
Tampaknya peristiwa “kematian” orang she Ho dalam
Hong-hong-wan tidak mempengaruhi
keramaian tempat itu, suasana masih diliputi kegembiraan,
irama musik, suara nyanyian dan
gelak tertawa masih bergema seperti biasa.
Setelah pengalaman semalam, Ho Leng-hong tak berani masuk
secara gegabah, ia minum
arak lebih dulu di sebuah kedai arak dekat sarang pelacuran
itu, lewat tengah malam, menurut
perkiraannya tamu yang masih ada tentu sudah masuk kamar,
yang tidak bermalam tentu
sudah pulang, ia membayar rekening minum dan perlahan
memasuki gang Waru.
Mula-mula ia mengitari dulu lorong tersebut, ketika
dilihatnya pintu sudah tertutup dan lampu
telah padam, barulah ia mempercepat langkahnya menuju ke
dinding perkarangan sebelah
belakang.
28
Untuk menghindari kepergok orang hingga statusnya sebagi
pemilik Thian-po-hu diketahui
orang, ia mengenakan sehelai kain yang menutupi sebagian
besar wajahnya, kemudian tarik
napas dan melompati tembok pekarangan itu.
Di mana ia melayang turun hanya beberapa tombak jauhnya dari
rumah kayu tersebut.
Suasana dalam halaman itu sunyi senyap, rumah kayu itupun
gelap gulita tak bercahaya,
tampaknya Siau Cui sudah tidur.
Dengan langkah hati-hati Ho Leng-hong mendekati pintu,
mencoba dulu pintu tersebut,
ternyata baik pintu maupun daun jendela dipalang dari dalam.
Perlahan ia mengetuk pintu, namun tiada jawaban yang
terdengar, suasana tetap hening.
Ho Leng-hong tak mau bersuara hingga mengejutkan orang lain,
ia mencari sepotong kayu
tipis, lalu dimasukkan lewat celah-celah pintu dan perlahan
membuka pantekan palang
pintu....
“Krek” pintu terbuka....
Ho Leng-hong menyusup ke dalam kamar sambil memanggil dengan
suara tertahan, “Siau
Cui, Siau.....”
Tiba-tiba suaranya seperti tersumbat dalam tenggorokkan,
hawa dingin ngeri membuat bulu
romanya sama berdiri.
Sesosok tubuh manusia tergantung mengapung di belandar,
itulah Siau Cui.
Menurut perkiraan, paling sedikit ia sudah putus nyawa pada
satu jam berselang.
Atau dengan perkataan lain, tatkala suasana di halaman depan
sedang ramai-ramainya
dikunjungi tamu, secara diam-diam Siau Cui telah menggantung
diri di kamar belakang.
Mengapa ia bunuh diri? Kenapa kejadian ini tidak dilakukan
dulu-dulu atau nanti, tapi justru
dilakukan setelah Ho Leng-hong mengunjunginya semalam? Untuk
menghindari kesulitan?
Atau dibunuh untuk menghilangkan saksi hidup.....?
Saking kagetnya Ho Leng-hong sampai lupa bersedih, buru-buru
ia menurunkan jenazah Siau
Cui, lalu dibaringkan di atas dipan. Ia periksa dulu keadaan
mayat, kemudian memeriksa pula
keadaan dalam ruangan itu....
Tapi ia tidak berhasil menemukan apa-apa.
Kecuali bekas jeratan pada leher jenazah, tidak ditemukan
luka lain.
Kamar itupun berada dalam keadaan teratur dan bersih, sama
sekali tidak terlihat tanda-tanda
kacau atau bekas pergulatan.
Tampaknya Siau Cui memang betul-betul membunuh diri, cukup
tenang dan teguh tekadnya
untuk bunuh diri, sebab itulah sepatah kata pesanpun tidak
ditinggalkannya.
Tapi, mengapa dia harus bunuh diri?
Hanya disebabkan seorang “Ho Leng-hong” yang lain kedapatan
mati di atas
pembaringannya?
Atau karena isi hatinya di yang penuh rahasia tak dapat
dilampiaskan keluar itu?
Baik kematian lantaran yang pertama maupun yang kedua, jelas
ia mati karena Ho Lenghong,
sayang cinta kasihnya ini hanya meninggalkan kebingungan,
kecurigaan serta
kecemasan bagi Ho Leng-hong.
Bila ia mempunyai keberanian untuk mati, mengapa tidak
memiliki keberanian untuk
mengungkapkan rahasia dalam hatinya . . . . . .
Kegelapan mencekam keadaan rumah kayu itu, tak ada lampu,
tak ada suara, suasana seram,
sepi!
Ho Leng-hong berdiri kaku di depan pembaringan, dia
mengawasi mayat yang membujur di
pembaringan itu dengan termangu, tidak bergerak dan tidak
bicara, seperti patung.
Yang terlihat olehnya seolah-olah bukan sesosok mayat yang
dingin dan kaku, melainkan
kekasih yang mencintainya dan menyayanginya yang berada
dalam pelukannya.
Kenangan lama seperti terbayang kembali di depan mata. Tak
mungkin lagi ia merasakan
kehangatan dan kemesraan seperti dulu.
29
Tiba-tiba pandangan Ho Leng-hong terasa kabur, pipi terasa
gatal dan cairan hangat perlahan
meleleh masuk ke ujung mulutnya.
Selama ini belum pernah ia kenal kesedihan atau kemurungan,
ia selalu hidup bebas tak
terbelenggu, tapi sekarang, untuk pertama kalinya ia
merasakan getirnya kehidupan . . . .
“Tok! Tok! Tok!”
Tiba-tiba berkumandang suara ketukan pintu.
Dengan terkejut Ho Leng-hong memutar badannya dan membentak
dengan suara tertahan,
“Siapa?”
“Aku!” dengus seorang perempuan, “Apa belum cukup masuk?
Hayo pulang!”
Ho Leng-hong kenal suara Pang Wan-kun, cepat ia membuka
pintu seraya berkata, “Wankun,
kebetulan sekali kedatanganmu, lekas masuk kemari...”
Pang Wan-kun mengenakan baju ringkas warna hitam, dua pedang
tersandang di
punggungnya, ia tampak gagah dan menawan, jauh berbeda
dengan dandanannya selama
berada di Thian-po-hu.
Cuma air mukanya sekarang kurang sedap dipandang, mukanya
cemberut dan alis matanya
berkernyit, dengan suara dingin ia berkata, “Leluasakah
bagiku untuk masuk ke situ?”
“Wan-kun, jangan salah paham di sini telah terjadi sesuatu.”
“Ah? Terjadi apa?”
“Masuk dulu kemari, kalau berdiri di depan pintu niscaya
jejak kita akan ketahuan orang.”
Baru sebelah kaki Wan-kun melangkah masuk ke dalam kamar,
tiba-tiba ia ragu-ragu, cepat ia
menarik kembali kakinya.
“Pasang lampu dulu, aku tak suka masuk ke tempat gelap dan
kotor begini . . . . .”
Tapi sebelum selesai ucapannya, Ho Leng-hong telah
menariknya masuk secara paksa dan
cepat-cepat menutup pintu.
“Nyonya besar,” demikian bisiknya, “turunkan sedikit
gengsimu, dalam kamar ada mayat,
mana boleh memasang lampu?”
“Mayat? Siapa yang mati?” tanya Wan-kun terkesiap.
“Nona Siau Cui, Hong Leng-hong yang memberi impian kepadaku
itu mati di kamarnya.”
“Kenapa dia mati? Jangan-jangan seperti juga orang she Ho
itu, barusan kalian . . . .”
“Jangan sembarangan menduga, mayat itu berada di
pembaringan, periksalah sendiri.”
Wan-kun mengawasi pembaringan tersebut, lalu dengan terkejut
katanya, “He, gejalanya
seperti mati tercekik. Jit-long, kau yang melakukan
perbuatan keji ini?”
Leng-hong tertawa getir, “Kenapa kau selalu menduga yang
bukan-bukan, ia mati
menggantung diri, sewaktu aku tiba di sini ia sudah lama
putus nyawa.”
“Kalau begitu, kita harus cepat-cepat tinggalkan tempat ini
daripada nanti dicurigai orang
sebagai pembunuh, mau apa lagi kau bersembunyi di sini?”
“Hendak kuperiksa sebab-sebab kematiannya.”
“Apa lagi yang perlu diperiksa? Seorang nona rumah pelacuran
bunuh diri kan bukan suatu
peristiwa besar, bila pemilik Thian-po-hu yang tersohor
kedapatan berada di kamar pelacur
yang bunuh diri, inilah yang menggemparkan orang.”
“Tapi kurasakan kematiannya sangat mencurigakan, siapa tahu
kalau di balik peristiwa ini
tersembunyi suatu rencana jahat yang berbahaya.....”
“Itu kan urusannya, apa sangkut-pautnya dengan kita?”
“Sebetulnya memang tiada sangkut-pautnya dengan kita, tapi
berhubung orang she Ho itu
sudah memberi mimpi kepadaku, dan lagi secara kebetulan kita
telah melihat peristiwa ini,
urusan yang menyangkut jiwa dua orang, apakah kita bisa
berpeluk tangan belaka?”
“Aduh Tuanku, kenapa kau sebodoh itu?” kata Wan-kun sambil
menggentakkan kaki ke atas
tanah, “sekalipun persoalan ini hendak kita selidiki, paling
tidak tempat yang tidak
menguntungkan kita ini harus ditinggalkan lebih dulu, besok
kita bisa suruh Thian-ya sekalian
melakukan penyelidikan secara terbuka. Bayangkan saja, bila
jejak kita ketahuan orang
30
sekarang, kalau mereka bertanya untuk apa di tengah malam
buta kau menyusup ke sarang
pelacuran? Nah, coba, cara bagaimana akan kaujawab?”
“Soal ini.....”
“Jangan lupa, meski kau tidak takut ditertawakan orang, aku
masih membutuhkan muka untuk
bertemu dengan sanak keluargaku. Hayo cepat pulang!”
Ho Leng-hong segera ditariknya keluar dari situ secara
paksa.
Sebenarnya Ho Leng-hong enggan meninggalkan tempat itu, tapi
sukar melawan Pang Wankun,
demi menjaga kebiasaan “takut bini”, terpaksa ia mengikuti
keinginan sang “isteri” dan
kembali ke Thian-po-hu.
Sementara fajar telah menyingsing, Ho Leng-hong tidak sabar
menunggu lagi, ia segera
menyuruh orang mengundang Thian Pek-tat.
Thian si telinga panjang memang seorang yang pandai melayani
kehendak orang, pada saat
kau perlu bertemu dengan dia, ia selalu akan muncul di
hadapanmu tepat pada waktunya.
Sebelum orang yang disuruh mengundangnya berangkat,
tahu-tahu Thian Pek-tat sudah
muncul lebih dulu di Thian-po-hu.
Begitu bertemu, tanpa menggunakan basa-basi lagi langsung
mengemukakan maksud
kedatangannya.
“Saudara Nyo, sudah kaudengar berita di luar dugaan? Kembali
ada orang kedapatan mati di
rumah pelacuran Hong-hong-wan,” demikian tuturnya.
Ho Leng-hong melengak, ia pura-pura bertanya dengan heran,
“Apa? Siapa lagi yang mati?”
Thian Pek-tat celingukan sekejap sekeliling tempat itu, lalu
bisiknya. “Dia bukan lain adalah
Siau Cui yang pernah Nyo-heng temui dua malam yang lalu,
entah kenapa tiba-tiba ia
menggantung diri semalam.”
“Hah? Tanpa sebab kenapa mendadak bunuh diri?” kembali Ho
Leng-hong pura-pura kaget.
“Ya, kalau dibicarakan, mungkin kejadian ini akan
mempengaruhi pula nama baik Nyo-heng,
sebab itulah begitu mendapat kabar segera kuberangkat
kemari.”
“Tapi apa sangkut-pautnya dengan diriku?”
“Nyo-heng, maaf bila Siaute bicara agak kasar, semestinya
kau tidak boleh secara diam-diam
menemuinya di halaman belakang kemarin malam dengan jalan
menyaru, mau ketemu
dengan di boleh saja, tapi tidak semestinya diketahui oleh
Go So, pelayan rumah pelacuran
itu. Kini secara tiba-tiba Siau Cui diketahui mati
menggantung diri, sedang Go So adalah
perempuan berlidah panjang yang tak bisa menyimpan rahasia,
bila ia menyiarkan kabar yang
bukan-bukan di luaran, sedikit banyak urusan ini akan
menyangkut diri Nyo-heng.”
“Apa yang dia katakan?”
“Hmm, perempuan kasar macam dia, mana bisa mengucapkan
kata-kata yang baik? Tentu
saja ngaco-belo ke sana sini dan dibumbu-bumbui, dia bilang
antara Nyo-heng dengan Siau
Cui ada hubungan gelap, lantaran orang she Ho kedapatan mati
di kamarnya, Nyo-heng
datang ke rumah pelacuran itu dan menanyai Siau Cui, karena
kaudesak, akhirnya ia
menggantung diri.”
“Biarkan saja apa yang akan dikatakannya, masa orang akan
percaya? Masa pemilik Thianpo-
hu yang tersohor bisa mencintai seorang pelacur dan
memaksanya sampai mati?”
“Nyo-heng persoalannya tidak sesederhana itu,” kata Thian
Pek-tat dengan serius, “Betapa
kebesaran nama Thian-po-hu dalam dunia persilatan, masa kita
biarkan dinodai orang
seenaknya? Bila perkataan semacam itu sampai tersiar keluar,
bagi nama baik Thian-po-hu
hal ini tentu merupakan pukulan yang cukup berat.”
“Siapa bersih dia selalu bersih, siapa kotor dia akan
kelihatan kotor. Bila ia berani menyiarkan
kabar bohong, memangnya aku tak bisa menjahit bibirnya
dengan benang?”
“Tak perlu Nyo-heng repot-repot, Siaute telah mengaturkan
segala sesuatunya bagimu.”
“Apa yang kau atur?”
“Bawa masuk!” seru Thian Pek-tat tiba-tiba sambil memberi
tanda keluar pintu.
31
Bersama suatu sahutan dari luar, muncul Thi-tau Tan yang
pernah dilihat Ho Leng-hong di
rumah pelacuran kemarin dulu itu. Dia masuk sambil membawa
sebuah kotak kayu panjang
persegi, setelah memberi hormat, kotak kayu itu ditaruh di
depan Ho Leng-hong.
“Barang apakah ini?” tanya Leng-hong.
“Silakan Nyo-heng periksa sendiri!” sambil berbisik Thian
Pek-tat membuka tutup kotak
tersebut.
Dua buah batok kepala yang masih berpelepotan darah terletak
berjajar dalam kotak itu.
Yang sebuah adalah batok kepala Go So, sedang yang lain
adalah batok kepala pesuruh rumah
pelacuran yang bertugas menjaga pintu itu.
Dengan perasaan bergetar dan wajah berubah Ho Leng-hong
berkata, “Siau Thian, mana
boleh kau lakukan perbuatan sekejam ini?”
Thian Pek-tat tertawa licik, “Orang yang berjiwa kecil bukan
seorang Kuncu, orang yang
tidak kejam bukan lelaki sejati. Demi mempertahankan nama
baik serta martabat Thian-po-hu
di mata masyarakat, demi melenyapkan bibit bencana di
kemudian hari, terpaksa harus
bertindak cepat dan tegas . . . .”
“Tapi sebelum bertindak seharusnya kaurundingkan dulu
persoalan ini denganku.”
“Waktu sudah tidak mengizinkan lagi, begitu Siaute mendapat
kabar, Go So telah siap
melaporkan Nyo-heng kepada mak germonya, untung dicegah Siau
Tan, berbareng ia
mengirim kabar kepadaku, jika harus kuminta izin dulu pada
Nyo-heng, mungkin rahasia ini
akan bocor, sebab itu segera kuperintahkan menyikat mereka.
Tapi Nyo-heng tak usah kuatir,
kedua sosok mayat itu sudah kutelanjangi dan diletakkan
bersama di satu ranjang, orang tentu
akan menduga mereka terbunuh karena berzina.”
“Ai, Siau Thian, kau terlampau sembrono,” kata Ho Leng-hong
sambil menghela napas
panjang, “caramu membunuh orang untuk melenyapkan saksi
bukan perbuatan yang terpuji
bagi kaum kita.”
Thian Pek-tat tertawa, “Dalam keadaan terdesak tak mungkin
bagiku untuk berpikir panjang
apa yang Siaute lakukan adalah demi kepentingan Nyo-heng,
sebab kutahu nama baik Thianpo-
hu ditegakkan dengan susah payah, mana boleh kebesaran nama
ini dihancurkan oleh
mulut seorang kecil?”
“Sekalipun demikian, caramu ini terlalu berlebihan, hanya
bikin orang merasa tak tenang
saja,” kata Leng-hong sambil menggeleng kepala berulang
kali.
“Bila Nyo-heng merasa tidak tenang, beri saja sedikit uang
agar penguburan mereka lebih
meriah dan urusan kan beres.”
Ho Leng-hong benar-benar tak bisa berbuat apa-apa melainkan
gelang kepala dan menghela
napas belaka.
Sebenarnya dia ingin mohon bantuan Thian Pek-tat untuk
menyelidiki sebab kematian Siau
Cui, tapi dengan demikian terpaksa ia harus membatalkan
maksudnya semula.
Padahal, sekalipun ia tidak membatalkan maksudnya juga tak
bakalan berhasil usahanya itu.
Sebab setelah berturut-turut terjadi empat kali kematian
dalam Hong-hong-wan, semuanya
mati dalam keadaan tidak jelas, semakin berkurang tamu yang
berkunjung ke situ, tak lama
kemudian rumah “P” itupun terpaksa tutup pintu.
Burung terbang berpencar, manusia pergi gedungnya kosong,
rumah pelacuran Hong-hongwan
yang ramai itu berubah menjadi sebuah gedung kosong yang
menyeramkan, sekalipun di
balik kesepian tersimpan pelbagai rahasia, dari mana pula
rahasia itu akan diselidiki?
Dengan demikian, satu-satunya harapan Ho Leng-hong untuk
mencari tahu duduk perkara
yang sebenarnya pun putus di tengah jalan, satu-satunya yang
bisa ia lakukan sekarang hanya
berdiam terus di Thian-po-hu, dan melanjutkan statusnya
sebagai Nyo Cu-wi yang tersohor
karena “takut bini”.
Namun demikian tidak berarti ia sudah mengakui dirinya
sebagai Nyo Cu-wi.
32
Ia mengerti, kemungkinan besar peristiwa ini hanya suatu
rencana jahat, suatu intrik yang
mengerikan. Ada orang mempergunakan dirinya untuk menyaru
sebagai Nyo Cu-wi, dan
orang itu pasti mempunyai maksud tujuan yang menakutkan.
Tapi, maksud tujuan apakah itu? Dia sendiri tak tahu.
Tapi dia percaya, pada suatu saat “tujuan”itu pasti akan
terlihat, dan ia yakin hal ini tak akan
terlampau lama.
Maka dari itu di harus menanti, menanti dan menanti terus
dengan sabar . . . . .
-----------------
Menanti adalah suatu pekerjaan yang menjemukan, apalagi Ho
Leng-hong harus mewakili
seorang lain serta hidup di lingkungan yang sama sekali
asing baginya.
Setiap saat ia harus waspada, harus selalu berhati-hati agar
rahasianya tidak diketahui orang,
tapi iapun harus melakukan penyelidikan terus menerus, ia
juga berusaha mengetahui
peraturan dalam Thian-po-hu, kebiasaan hidup Nyo Cu-wi,
bahkan nama serta panggilan para
pelayannya.
Untung segala sesuatunya dapat berjalan lancar. Dalam waktu
singkat sebulan sudah lewat,
Ho Leng-hong sudah apal terhadap segala sesuatu yang ada
dalam Thian-po-hu, yang lebih
hebat lagi, kehidupan “suami-isteri” antara dia dengan Pang
Wan-kun dapat pula berlangsung
dengan “klop” tanpa kurang sesuatu.
Pengawasan Pang Wan-kun terhadapnya tidak ketat, asal ia
tidak meninggalkan gedung itu,
tidak bergurau dengan pelayan muda, boleh dibilang
kehidupannya dapat berlangsung dengan
“bebas”.
Lo Bun-pin serta Siau Thian sekalian sahabatnya boleh
dibilang setiap hari selalu berkumpul
dan bersenang-senang, kalau bukan minum arak tentu
berjudi.....
Hari demi hari dilewatkan dengan penuh kenikmatan, setiap
hari kerjanya hanya makan,
minum serta berjudi, suatu pekerjaan seriuspun tak pernah
dilakukan.
Selama satu bulan ini, Ho Leng-hong dapat meresapi benar
kehidupan keluarga kaya dan
terhormat itu, kerja mereka hanya makan, minum, berjudi dan
tentu saja bermain perempuan,
dalam anggapan mereka perbuatannya ini merupakan perbuatan
romantis, padahal sebenarnya
perbuatan yang memalukan.
Yang disebut sebagai golongan “pendekar”tidak lebih hanya
kulit manusia yang menutupi
wajah masing-masing, yang dilakukan belum tentu perbuatan
“manusia”. Sekalipun
kadangkala melakukan perbuatan kebajikan, itupun demi nama
baik sendiri, kuatir orang lain
tak tahu bahwa mereka yang melakukannya, kuati orang lain
tidak tahu namanya.
Berbuat kebajikan supaya diketahui orang lain bukanlah
kebajikan yang murni. Sekalipun Ho
Leng-hong bukan seorang Kuncu, toh dia merasa muak
menyaksikan tingkah laku orangorang
kalangan atas ini. Coba kalau tidak ada urusan penting,
sungguh ia ingin mendepak
pergi manusia-manusia munafik itu.
Tentu saja ia tak dapat berbuat demikian. Sebab ia sedang
menantikan sesuatu yang sukar
diduga, lagi pula rumah ini juga bukan miliknya.
Hari berganti hari, lama kelamaan Ho Leng-hong mulai merasa
tak tahan dan habis sabarnya.
Tengah hari itu tiba-tiba ia merasa kesal, pada kesempatan
semua orang sedang berjudi di
ruang depan, seorang diri ia kembali ke ruangan belakang.
Hari itu udara panas dan hawa lembab, seperti akan hujan.
Dari Bwe-ji diketahui bahwa Pang Wan-kun baru saja masuk
tidur siang, untuk sementara
jelas tak dapat membangunkannya, suasana di ruang belakang
amat hening, para pelayan pada
bersembunyi mencari tempat yang sejuk.
Selesai membersihkan badan dan berganti pakaian, Leng-hong
enggan kembali ke ruang
depan, maka seorang diri ia berjalan-jalan di taman.
33
Entah berapa lama ia berjalan, akhirnya tiba di depan
Kiok-hiang-sia.
Duduk di dalam villa air yang nyaman, apalagi menghadapi air
nan hijau di bawah embusan
angin yang sepoi-sepoi, lama kelamaan orang akan mengantuk.
Ho Leng-hong mengantuk sekali, ia bersandar di atas kursi
berbantal tangan.
Di tengah tidur tak tidur, mendadak ia mendengar seperti ada
orang sedang berkasak-kusuk.
Yang sedang berbicara adalah seorang lelaki dan seorang
perempuan, suara mereka terbawa
angin ke dalam rumah, sekalipun tidak terlalu jelas, namun
lamat-lamat terdengar apa yang
sedang dibicarakan.
Mula-mula Ho Leng-hong mengira kaum hamba yang sedang
melakukan pertemuan gelap,
dia enggan memperhatikannya, tapi lama kelamaan ia merasa
apa yang mereka bicarakan
semakin tak beres . . . .
Terdengar yang pria berkata, “ . . . menurut berita yang
bisa dipercaya, kemarin Ji-beng-kaucu
(si monyet dua kuda) sudah tiba di Hong-leng-toh, dalam
satu-dua hari ini pasti akan sampai
di tempat tujuan, tiba waktunya nanti kau harus lebih
berhati-hati, jangan sampai jejak kita
ketahuan.”
“Sungguh aku rada kuatir, konon si monyet dua kuda itu
sangat cerdik, kalau sampai . . . .”
“Jangan kau takut,” tukas si lelaki, “semuanya sudah kuatur
dengan sempurna, hadapi saja
dengan tabah, tapi harus ingat, bila tidak perlu, kurangi
berbicara, dengan begitu tipis
kemungkinan jejak kita akan ketahuan.”
“Begitu barangnya kita dapatkan, kenapa tidak cepat-cepat
kabur? Apa yang harus kita
nantikan lagi?”
"Tidak bisa, monyet itu sangat cerdik, siapa tahu secara
diam-diam iapun mengadakan
persiapan, kalau sampai ketahuan, pengejaran tentu segera
dilakukan, bukankah hal ini akan
merepotkan kita.”
“Aku cuma kuatir malam yang terlampau panjang akan banyak
menimbulkan impian buruk,
bisa-bisa orang she Ho itu ketahuan rahasianya.”
“Jangan kuatir, orang she Ho itu lebih teliti daripadamu,
selama sebulan lebih ini tampaknya
ia sudah cukup lumayan, tiba waktunya nanti dia pasti dapat
menghadapi dengan prihatin, tak
perlu kuatirkan dia...”
Ho Leng-hong merasakan jantungnya berdebar keras... Orang
she Ho? Kalau bukan aku Ho
Leng-hong yang dimaksudkan, siapa lagi? Keparat, ternyata
benar, ada suatu perangkap besar,
mereka hendak memperalat aku orang she Ho untuk mendapatkan
suatu “barang”.
Tapi barang apakah itu?
Siapa yang dimaksudkan sebagai Ji-be-kaucu (si monyet dua
kuda)?
Ho Leng-hong merasa semangatnya berkobar, rasa lelah dan
mengantuk seketika lenyap,
seketika itu juga dia ingin melompat bangun, memburu ke
sana, serta mencari tahu siapa
gerangan kedua orang itu . . . . .
Tapi ia tidak berbuat demikian, ia tetap diam saja.
Karena jarak dari villa itu menuju seberang sana cukup jauh,
lagi pula medan terlalu terbuka,
ditambah lagi laki-perempuan itu bersembunyi di balik
pepohonan yang rindang, sulit baginya
untuk menentukan arah mereka yang sebenarnya.
Bila ia mengejar ke sana melalui jembatan penyeberangan,
maka kemungkinan besar lebih
dulu jejaknya akan ketahuan lawan.
Jangan kira Ho Leng-hong sama sekali tak bergerak, kedua
matanya seperti lampu sorot
celingukan ke sana kemari, selain memperhitungkan tempat
persembunyian kedua orang itu,
diam-diam iapun mencari akal untuk menyeberangi kolam itu.
Dalam pada itu, suara kasak-kusuk masih berkumandang terbawa
angin, kedengaran si
perempuan lagi berkata, “. . . . kulihat orang she Ho itu
tidak goblok, sekalipun selama
sebulan lebih ia menetap di sini sebagai Nyo Cu-wi dan
sedikitpun tidak menyinggung soalsoal
masa lampau, siapa tahu kalau secara diam-diam sedang
menyusun suatu rencana keji?”
34
“Keadaannya sekarang sudah tidak bebas, rencana busuk apa
yang bisa ia lakukan? Sekalipun
dia mengatakan yang sesungguhnya, tak nanti ada orang mau
percaya lagi kepadanya.”
“Apakah atasan telah memberi pesan cara bagaimana kita harus
menghadapinya setelah benda
itu kita dapatkan?”
“Tidak ada. Sekalipun ada, itu kan tugas orang lain, tak ada
sangkut pautnya dengan kita.
Tugas kita hanya mendapatkan benda itu lain tidak.”
Sesaat lamanya perempuan itu termenung, kemudian berkata
lagi, “Baiklah, cepatlah kau
keluar, jangan terlalu lama ngendon di sini, nanti mereka
curiga.”
“Baik! Aku pergi dulu, ingat tugas kita harus berhasil dan
tak boleh gagal, harus berjuang
dengan sepenuh tenaga....”
Mendengar sampai di sini, Ho Leng-hong tahu bahwa ia tak
dapat menunggu lebih lama,
cepat ia melompat keluar.
Ia tidak mengejar lewat jembatan penyeberang, tapi ke atas
atap villa itu.
Dari atas atap yang tinggi, pemandangan sekeliling taman
dapat dilihatnya dengan jelas.
Benar juga, di balik semak-semak sebelah barat daya sana
menyusup keluar dua sosok
bayangan orang, bayangan laki-laki dan yang lain perempuan.
Yang lelaki mengenakan jubah panjang berwarna biru, yang
perempuan memakai gaun
berwarna hijau pupus, sayang jaraknya terlampau jauh
sehingga raut wajah maupun potongan
badan tak sempat terlihat jelas.
Betapa gelisahnya Ho Leng-hong, tak terpikir lagi harus
sembunyi atau tidak, sambil menarik
napas panjang ia melayang lewat kolam dan langsung menubruk
ke sana.
Kedua orang itu kabur terpisah, yang lelaki menuju ke ruang
depan, sedang yang perempuan
menuju ke belakang, betapa terkejutnya mereka menyaksikan
kemunculan Ho Leng-hong,
serentak mereka menyusup lagi ke balik semak-semak.......
“Sobat, kalian tak dapat bersembunyi lagi,” bentak
Leng-hong. “Lebih baik menyerahkan diri
saja!”
Tiada jawaban, suasana di balik semak tetap hening tak
terdengar suara apapun.
Pelahan Ho Leng-hong mendekati semak-semak tersebut, lalu
katanya lagi, “Membungkam
juga percuma, sejak tadi sudah kuketahui siapakah kalian,
tidak cepat-cepat menggelinding
keluar, apakah perlu kupersilakan kalian keluar?”
Tiada jawaban pula di balik semak-semak itu.
Leng-hong mendengus, dengan suatu gerakan gesit ia menerjang
ke balik semak . . . . . . . .
Aneh, ternyata di balik semak itu kosong melompong, sesosok
bayangan pun tidak kelihatan!
Ho Leng-hong tertegun, andaikata tidak menyaksikan dengan
mata kepala sendiri, hampir ia
tak percaya kedua orang laki-perempuan itu memiliki gerakan
secepat itu, di bawah sinar
matahari yang terang benderang, bagaikan setan saja
tahu-tahu lenyap tak berbekas!
Dengan penasaran ia melakukan pencarian, namun hasilnya
nihil, cepat Ho Leng-hong lari
menuju ke gedung belakang.
Ia tidak menuju ke ruang depan melainkan ke belakang,
pertama ruang depan terlalu banyak
orang, di antaranya ada beberapa orang mengenakan jubah
panjang berwarna biru hingga
sukar dibedakan, kedua gedung belakang lebih dekat letaknya,
di sana Cuma ada beberapa
orang dayang, untuk menemukan yang perempuan tadi rasanya
tidak sulit.
Ketika menerjang masuk ke sana, kebetulan Pang Wan-kun
didampingi Bwe-ji sedang
menuruni tangga loteng.
Pang Wan-kun mengenakan baju warna kuning telur, rambutnya
kusut dan tampaknya baru
saja bangun tidur.
Bwe-ji mengenakan baju pendek warna merah dengan gaun
berwarna putih, masih dengan
dandanan semula.
“Jit-long, kenapa kau?” tegur Wan-kun keheranan melihat
tingkah laku suaminya, “air
mukamu kelihatan aneh, kenapa kau awasi kami seperti baru
kenal?”
35
“Kalian baru turun dari atas loteng?” tanya Leng-hong.
“Benar,” sahut Bwe-ji, “nyonya baru saja bangun tidur siang.
Ada sesuatu yang tidak beres?”
Leng-hong tidak menjawab, kembali tanyanya, “Sewaktu kalian
turun, apakah melihat
seseorang lari ke atas loteng?”
“Tidak! Kami tidak melihat apa-apa!” jawab Bwe-ji keheranan.
“Jit-long, siapa yang kau cari?” tanya Wan-kun.
“Seorang perempuan yang mengenakan gaun warna hijau pupus,
dengan mata kepalaku
sendiri kulihat ia kabur ke arah sini.”
“Ada apa dengan perempuan itu? Kenapa kau kejar-kejar dia?”
tanya Wan-kun pula.
“Ia mengadakan pertemuan dengan seorang pria di taman,
pertemuan itu kupergoki tanpa
sengaja, dia lantas kabur kemari.”
“Wah, celaka, Jit-long, kau berhasil melihat wajahnya?”
tanya Wan-kun terkejut.
“Sayang hanya sepintas lalu, tak sempat kulihat jelas.”
Wan-kun menarik muka, katanya kepada Bwe-ji, “Sampaikan
perintahku, segenap dayang
yang ada di gedung belakang supaya berkumpul di sini,
bagaimanapun juga hari ini dia harus
ditemukan. Hm, di tengah hari bolong berani mengadakan
pertemuan dengan kaum pria,
betul-betul kurang ajar.”
“Tapi Hujin . . . . dayang di gedung belakang puluhan orang
banyaknya, apakah . . . .”
“Semuanya dikumpulkan di sini, seorangpun tak boleh absen,
perintahkan juga kepada
mereka tak boleh berganti pakaian, semuanya segera kemari.”
“Jangan, Wan-kun! Tindakan semacam ini hanya akan
menggelisahkan semua orang,” cegah
Leng-hong, “cukup kita titahkan orang untuk menutup jalan
tembus ke ruang depan, jangan
ribut untuk sementara, asal kita adakan pemeriksaan secara
diam-diam, tak sulit untuk
menemukan orang itu.”
“Perkataan Toaya memang benar” cepat Bwe-ji menanggapi,
“dayang yang bekerja di gedung
belakang ada tiga-empat puluh orang, hampir semuanya
mengenakan gaun berwarna hijau
pupus, bila kita menyimak rambut mengejutkan ular hingga ia
berganti pakaian lain, ke mana
kita akan mencari biang keladinya?”
Kemarahan Pang Wan-kun belum mereda, ia menggentakkan
kakinya ke tanah seraya
berkata, “Baiklah, perintahkan untuk menutup semua jalan
tembus, siapapun dilarang masuk
keluar, akan kuadakan pemeriksaan sendiri.”
Bwe-ji segera melaksanakan perintah itu dengan menutup semua
jalan tembus, pemeriksaan
pun dilakukan.
Pang Wan-kun memimpin sendiri pemeriksaan tersebut, setiap
dayang yang mengenakan
gaun hijau pupus segera digiring ke dalam taman untuk
diperiksa oleh Ho Leng-hong.
Tak lama kemudian sudah tujuh belas orang dayang yang
digiring ke taman, mereka
mengenakan warna baju yang sama, suara juga sama, namun dari
hasil pemeriksaan
menunjukkan bahwa tak seorangpun di antara mereka pernah
masuk ke taman belakang.
Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Ho Leng-hong
mengulapkan tangan untuk
membubarkan sekalian dayang-dayang tersebut.
Akhirnya setelah bekerja keras setengah hari, bukan saja
orang yang dicurigai tak ditemukan,
sebaliknya ia malah menerima gerutuan Pang Wan-kun dan
ejekan para dayang secara diamdiam
. . . .
Walaupun Leng-hong merasa kecewa, namun tidak putus asa,
paling sedikit ia sudah tahu
bahwa dirinya berada di tengah suatu intrik keji mengerikan,
dan dalam satu-dua hari
mendatang tentu akan terjadi peristiwa penting.
Tapi peristiwa apa yang bakal terjadi?
Jawabannya akan segera ditemukan bila “si monyet dua kuda”
telah tiba di situ.
Peristiwa ini bukan Cuma suatu perangkap, bahakan juga suatu
rencana besar yang
mengerikan, suatu peristiwa aneh yang jarang dialami dalam
kehidupan orang.
36
Kini Ho Leng-hong sudah ikut terlibat dalam perangkap itu,
mau-tak-mau dia harus
menghadapinya dengan hati yang sabar, apabila dalam kejadian
ini secara beruntun sudah
empat nyawa melayang, andaikan tidak terlibat langsung juga
ia tak mau berpeluk tangan
belaka.
Manusia hidup seratus tahun akhirnya mati juga.
Daripada hidup tanpa suatu kegiatan, lebih baik hidup sehari
secara gegap gempita, jika mati
pun tidak gentar, apalagi yang ditakuti seorang?
Sesudah mengambil keputusan nekat, hati Ho Leng-hong jadi
lebih tenang.
Ia tidak berminat untuk menyelidiki siapa lelaki berjubah
biru dan perempuan berbaju hijau
lagi, setiap hari kerjanya hanya makan minum, kalau bukan
berjudi tentu minum sampai
mabuk, seakan-akan hidupnya hanya untuk berfoya-foya saja.
Ia percaya, bagaimanapun juga orang lain tak akan
mengubahnya menjadi Nyo Cu-wi secara
Cuma-Cuma, bila “si monyet dua kuda” telah muncul duduknya
persoalan tentu akan
ketahuan.
Sehari, dua hari lewat dengan cepatnya, tak ada kejadian
apapun, “si monyet dua kuda” yang
ditunggu-tunggu juga belum muncul.
Tengah hari ketiga, sewaktu Ho Leng-hong sedang berjudi
dengan Lo Bun-pin sekalian di
ruang depan, tiba-tiba muncul seorang Busu memberi laporan,
“Kuloya (tuan ipar) datang!”
“Kuloya?” Ho Leng-hong tertegun, “Kuloya siapa?”
“Nyo-heng,” Thian kecil si telinga panjang berbisik,
“jangan-jangan Pang-loko dari Cian-suihu
yang datang.”
“Kau maksudkan Pang Goan? Jangan bergurau ia jauh berada di
Liat-liu-shia, mas bisa
datang ke Lok-yang?”
“Tak salah, pasti dia yang datang, dia adalah kakak lenso,
kalau bukan dia lantas siapa lagi?”
Air muka Lo Bun-pin tiba-tiba saja berubah hebat, cepat
katanya, “Kalau begitu kita harus
cepat-cepat membereskan keadaan di sini, kutahu Pang-loko
paling benci pada segala bentuk
perjudian, kalau sampai ketahuan kita bakal dimaki
habis-habisan.”
“Apa yang mesti ditakuti? Kalian bermain saja dengan
permainan kalian, aku akan keluar
untuk menengoknya sebentar, kalau memang dia, langsung akan
kubawa dia ke belakang . . .
.”
“Tidak usah,” tiba-tiba seorang menanggapi dengan suara
dingin, “aku sudah masuk sendiri.”
Ho Leng-hong segera menengadah, tanpa rasa ia melengak.
Seorang kakek udik telah berdiri di ambang pintu, usianya
lima puluhan, badannya kurus dan
pendek, bibirnya lancip dengan kening yang sempit, sepasang
lengannya luar biasa
panjangnya, bajunya berwarna hijau dan hampir putih karena
terlalu sering dicuci, sepatu
rumputnya penuh debu kotoran.
Yang paling aneh ia menggendong sebuah bungkusan panjang,
bungkusan itu diikat dengan
rantai sebesar ibu jari, dan ujung rantai yang lain melilit
pada lehernya.
Beginikah tampang It-kiam-keng-thian (pedang sakti penunjang
langit) Pang Goan yang
tersohor dari Cian-sui-hu di Liat-liu-shia?
Hakikatnya tidak lebih gagah daripada seorang petani desa.
Meski begitu, tak seorangpun di antar hadirin dalam ruangan
berani memandang hina orang
ini.
Jangan dikira bajunya kasar dan mukanya lucu, ia mempunyai
mata yang lebih tajam daripada
sembilu, sinar mata yang kemerah-merahan membuat jeri orang
sehingga semua orang sama
diam, bahkan bernapas saja tak berani keras.
Dari sorot matanya semua orang tahu tenaga dalamnya sudah
mencapai puncak
kesempurnaan, bahkan yang dilatihnya adalah
Tay-yang-sin-kang dari Khong-tong-pay yang
paling sukar dilatih.
37
Ho Leng-hong pernah mendengar nama besar Pang Goan, tapi
belum pernah berjumpa
dengan “kakak ipar” ini, terperanjat juga hatinya setelah
berhadapan sekarang.
Ia bukan kaget lantaran mata Pang Goan yang membetot sukma,
ia terkesiap karena potongan
badannya serta raut wajahnya yang luar biasa itu.
Tubuhnya kurus kecil, kedua tangannya justru luar biasa
panjangnya, bibir yang lancip
dengan kening sempit, ditambah sepasang Kim-cing-hwe-gan
(mata emas merah berapi) yang
tajam....
Bentuknya tiada ubahnya seperti seekor monyet?
Sekarang ia baru mengerti yang dimaksudkan “dua kuda” adalah
tulisan “Pang”, atau dengan
perkataan lain “monyet dua kuda” bukan lain adalah Pang
Goan.
Begitu menyadari persoalan tersebut Ho Leng-hong merasa
bergidik, cepat ia bangun berdiri
dan memberi hormat.
“Sungguh tak kusangka kakak akan berkunjung kemari....”
katanya.
Pang Goan mendengus, “Hm, akupun tak menyangka Thian-po-hu
yang tersohor telah
menjadi rumah judi yang ramai.”
“Lotoako jangan marah,” buru-buru Leng-hong berkata sambil
tertawa, “mereka ini adalah
sahabat-sahabat Siaute, lantaran iseng, tak ada pekerjaan,
maka kami bermain judi untuk
membuang waktu.....”
“Hm, jadi kedatanganku tentunya mengganggu.....”
“Ah, kenapa Lotoako berkata demikian? Sekalipun diundang
saja belum tentu engkau mau
datang.....”
“Kalau begitu, kenapa tidak lekas enyahkan mereka dari
sini!”
“Baik, baik, mereka memang sudah mau bubaran, silakan duduk
dulu Lotoako!”
“Tak usah sungkan-sungkan,” dengan tajam Pan Goan menyapu
pandang semua orang itu,
lalu berkata pula, “kalian tidak tahu diri, apakah perlu aku
orang she Pang melemparkan
kalian satu persatu?”
Mendengar ancaman tersebut, semua orang berseru, “Baik, kami
segera pergi! Harap Pangtoako
jangan marah!”
Sungguh menggelikan, kawanan jago ternama dari Lok-yang ini
ternyata diusir mentahmentah
oleh Pang Goan, bukan saja tak berani membantah, berdiam
sedetik lebih lama pun
tidak berani.
Ho Leng-hong merasa geli, tapi wajahnya pura-pura mengunjuk
sikap serba salah.
“Jit-long,” kata Pang Goan sambil menggeleng kepala, “bukan
maksudku ingin
menasihatimu, tapi perbuatanmu memang kelewat batas, seorang
muda kenapa tidak berusaha
untuk maju, sebaliknya tiap hari kerjanya hanya minum dan
berjudi melulu?”
“Harap Toako jangan marah, “kata Leng-hong dengan
tersipu-sipu, “kebetulan saja hari ini
Siaute menyelenggarakan pertemuan semacam ini, padahal
hari-hari biasa juga tidak
demikian.”
“Kebetulan saja? Tak kusangka kau masih berani berkata
demikian, manusia hidup di dunia
ini paling-paling Cuma puluhan tahun, waktu yang lewat tak
mungkin ditemukan kembali,
enak saja kau menerima warisan orang tua dan
saudara-saudaramu, sekalipun tak pernah
mengalami susah payahnya mendirikan keluarga jaya ini,
sedikitnya kau memikirkan untuk
mempertahankan nama baik keluarga, tapi kerjamu selama ini
bukan saja malu terhadap
leluhur dan kakak-kakakmu, malu juga terhadap anak isteri,
bukan berjuang untuk kemajuan,
kau masih iseng berbuat hal-hal yang kurang baik ini.”
Ho Leng-hong tidak menyangka “kakak iparnya” adalah seorang
yang alim dalam tata
kehidupan, terpaksa ia tundukkan kepala rendah-rendah.
“Terima kasih untuk nasihat Toako, selanjutnya Siaute tentu
akan memperbaiki kelakuanku,”
kata Leng-hong.
38
“Memperbaiki diri? Hm, gampang saja kaubicara, tapi sudah
sekian lama kau bergaul dengan
teman-teman semacam itu, matamu sudah ternoda dan telingamu
sudah kotor, kebiasaan jelek
sudah meresap dalam tubuhmu, memangnya kau anggap mudah
untuk memperbaikinya?”
“Lain kali Siaute tak akan berhubungan lagi dengan mereka!”
Leng-hong memberikan
janjinya.
“Soal ini memang bicara gampang tapi sukar untuk
melaksanakannya, hubungan antara
sesama Siaujin manis bagaikan madu, siapa dekat dengan gincu
akan menjadi merah, siapa
dekat tinta bak akan menjadi hitam, aku tidak percaya
kaudapat putuskan hubungan dengan
mereka.”
Ho Leng-hong didamperat hingga tak bisa mendongakkan
kepalanya, diapun tak bisa marah,
terpaksa menjawab sambil tertawa getir, “Menurut perkataan
Toako, bukankah Siaute tak bisa
ditolong lagi?”
Pang Goan menggeleng kepala berulang kali, “Dari penghemat
menjadi pemboros lebih
gampang, dari pemboros menjadi penghemat justru sukar,
begitulah kebiasaan manusia. Ai,
jika kau tak mau berjuang untuk kemajuan, aku tak ingin
menyalahkan dirimu, aku hanya
benci pada kebodohanku sendiri.”
“Kau benci pada kebodohanmu sendiri?”
“Kenapa tidak? Bila sejak semula kutahu kau ini manusia tak
becus seperti ini, masa aku mau
menjodohkan adikku kepadamu?”
“Sudahlah, Lotoako, nasihat sudah kau berikan, makian juga
sudah cukup, sekarang duduklah
lebih dulu, akan kupanggilkan Wan-kun untuk menemani kau
bercakap-cakap.”
Begitulah, setelah minta maaf, mengaku salah, setengah
membujuk dan memberi hormat,
dengan susah payah akhirnya Pang Goan berhasil juga dibujuk
untuk duduk, cepat Leng-hong
menyuruh orang mengundang Pang Wan-kun di belakang.
“Tak usah tergesa-gesa” cepat Pang Goan mencegah, “soal
rumah tangga kapan saja bisa
dibicarakan, sekarang justru aku ada urusan penting yang
hendak kubicarakan empat mata
denganmu.”
“Ah, soal apa yang hendak Lotoako bicarakan? Silakan memberi
petunjuk.”
Pang Goan melirik sekejap sekeliling tempat itu, lalu
katanya, “Tempat ini terlampau ramai,
bukan tempat ideal untuk berbicara, adakah suatu tempat yang
sepi?”
“Kiok-hiang-sia di taman belakang adalah tempat yang baik.”
“Baik! Mari kita ke sana.”
Sambil membawa Pang Goan ke belakang, sepanjang jalan Ho
Leng-hong berpikir, “Ya,
akhirnya datang juga, yang mau dibicarakan pasti menyangkut
buntalan di punggungnya itu,
kalau ditinjau dari sikapnya yang serius, benda itu tentu
amat berharga sekali . . . . . .”
Dugaannya memang tidak keliru, baru saja duduk dalam villa
itu, Pang Goan telah
mengeluarkan sebuah anak kunci dari sakunya, lalu membuka
rantai di tubuhnya dan
melepaskan buntalan kain itu.
Ho Leng-hong tak tahu benda apakah dalam bungkusan itu, tapi
bila dilihat dari bentuk serta
bobotnya yang berat, kemungkinan besar adalah sebangsa kotak
logam.
Pang Goan meletakkan bungkusan itu di meja, lalu katanya
dengan wajah bersungguhsungguh,
“Jit-long, kita masih saudara, aku yang menjadi kakakmu
inipun suka berterus
terang, ada sepatah kata hendak kutanyakan kepadamu, dan
kuharap kau bersedia menjawab
dengan sejujurnya pula.”
“Silakan bertanya Lotoako, Siaute pasti akan menjawab dengan
sejujurnya, aku tak akan
membohongimu.”
“Bagus! Terus terang akuilah berapa banyak yang berhasil
kaukuasai dalam permainan golok
sakti keluarga Nyo kalian?”
“Tentang ini . . . .”
“Tak usah mengibul, aku ingin mengetahui keadaan yang
sesungguhnya.”
39
Ho Leng-hong berpikir sebentar, lalu menjawab, “Bakat maupun
kecerdasan Siaute sangat
terbatas, mungkin hanya empat bagian yang berhasil
kukuasai.”
Ia agak jeri terhadap sinar mata Pang Goan yang lebih tajam
dari sembilu itu, karenanya ia tak
berani bicara terlalu banyak.
“Aku sendiri kebetulan juga berlatih ilmu golok,” demikian
ia berpikir, “sekalipun bukan
golok sakti keluarga Nyo yang kupelajari, pada hakikatnya
ilmu silat di dunia ini bersatu
sumber, kalau kukatakan empat bagian mungkin bolehlah.”
Siapa tahu Pang Goan segera menggeleng kepala berulang kali,
“Bila menurut pengamatanku,
mungkin empat bagian pun belum berhasil kaucapai.”
“Oya!”
“Bakat maupun kecerdasanmu tidak jelek, mestinya tak mungkin
hanya mencapai empat
bagian saja, tapi bila kulihat caramu bersenang-senang
setiap hari dengan begundalmu itu,
sudah pasti ilmu silatmu terbengkalai sama sekali, oleh
sebab itulah aku hanya berani menilai
bahwa kepandaianmu Cuma mencapai tiga bagian saja.”
Ho Leng-hong tertunduk malu.
“Jit-long, kita adalah famili dekat, bukannya aku yang
menjadi kakak ingin mengomeli kau,
tapi kalau keadaan ini dibiarkan berlangsung terus, cepat
atau lambat nama Thian-po-hu pasti
akan rontok ditanganmu, sementara jangan kita singgung dulu
makna yang sebenarnya dari
ikatan perkawinan antara Thian-po-hu dengan Cian-sui-hu,
coba kautanya kepada hati
nuranimu sendiri, apakah kau dapat mempertanggung-jawabkan
dirimu terhadap ayahmu
yang membangun kejayaan keluarga ini dengan susah payah?
Masih punya mukakah kau
untuk bertemu dengan kakak-kakakmu yang telah mati secara
perkasa dan ikhlas?”
“Membangun kejayaan keluarga dengan susah payah” tak sulit
diserap maknanya, tapi apa
pula yang dimaksud “mati secara perkasa dan ikhlas?”
Nama kecil Nyo Cu-wi adalah “Jit-long” atau si ketujuh, jadi
di atasnya masih ada enam
orang kakak, apakah keenam saudaranya telah mati semua
secara perkasa dan ikhlas.
Mengapa mereka mati secara perkasa dan ikhlas.
Apa pula makna yang seberanya di balik ikatan perkawinan
antara Thian-po-hu dengan Ciansui-
hu?
Dengan sorot mata tajam Pang Goan mengawasi Ho Leng-hong
sekian lama, tiba-tiba ia
menghela napas dan membuka bungkusan kain di meja.
Betul juga, isinya adalah sebuah kotak besi yang berwarna
hitam mengkilap.
Kotak besi itu digembok pula.
Pang Goan tidak membuka kotak itu lagi, tapi berikut sebuah
anak kunci benda-benda itu di
dorong ke hadapan Ho Leng-hong.
“Benda ini adalah milik keluarga Nyo kalian.” Demikian
katanya, “batas janji selama dua
tahun sudah penuh, dan sekarang aku membawanya sendiri
kemari serta diserahkan kembali
kepadamu, Cuma ada satu persoalan harus kuberitahukan
kepadamu.”
Ho Leng-hong ingin sekali mengetahui benda apa yang ada di
dalam kotak besi itu, terpaksa
ia bersabar untuk menunggu kelanjutan ucapannya..
Terdengar Pang Goan berkata pula, “Sepanjang perjalanan
menuju ke timur sini, sudah empat
kali kurasakan jejakku dibuntui orang, rupanya mereka hendak
mencuri benda ini. Malah dua
diantaranya sudah menyusup ke dalam kamarku, setelah
beruntun kulukai dua orang
diantaranya, benda ini berhasil kuantar sampai di sini
dengan selamat.”
“Siapakah orang-orang itu?” tanya Leng-hong sambil
mendongak.
“Masa perlu kautanyakan? Dua tahun belakangan ini, meski
dunia persilatan tampaknya
tenang dan tak pernah terjadi sesuatu apapun, bukan berarti
orang lain telah mengendurkan
pengawasannya terhadap kita.”
“Hm . . .” Leng-hong mendengus.
40
Ia tak tahu siapakah “orang” yang dimaksudkan itu, iapun tak
tahu kenapa ada orang
mengawasi Thian-po-hu dan Cian-sui-hu.
Tapi dengusan tersebut menunjukkan bahwa ia marah sekali
atas kejadian tersebut. Tapi ada
juga satu hal yang diketahuinya, yakni ada orang mengincar
barang dalam kotak besi ini dan
berusaha mencurinya, bahkan orang-orang itu sudah
menyelundup ke dalam Thian-po-hu.
Cuma sayang ia tak dapat memberitahukan urusan ini kepada
Pang Goan.
Pang Goan memandangnya sambil tertawa hambar, lalu berkata,
“Marah tak akan menolong
dalam urusan ini, selama dua tahun benda ini berada di
tanganku, sedikit banyak pihak lawan
masih agak jeri padaku, tapi sekarang sesudah kuserahkan
kembali kepadamu, yakinkah kau
dapat melindunginya serta tidak akan jatuh ke tangan orang
lain?”
“Siaute akan berusaha dengan sepenuh tenaga.”
“Dalam hal ini bukan soal berusaha dengan sepenuh tenaga
atau tidak,” kata Pang Goan
sambil menggeleng, “tapi yakinkah kau dapat melindunginya?”
Ho Leng-hong termenung sejenak, lalu sahutnya, “Aku tak
berani mengatakan punya
keyakinan, tapi aku mempunyai akal bagus untuk menjamin
keselamatannya.”
“Oya?!” Pang Goan berkerut kening, jelas ia tak percaya.
Ho Leng-hong menempelkan jari tangannya pada bibir, lalu
menulis beberapa huruf di atas
meja, begitu selesai dibaca tulisan itu cepat-cepat dihapus.
“Bagaimana pendapat Lotoako akan siasat ini?” ia bertanya
lirih.
Pang Goan mengernyit alis, sekali ini jelas sebagai tanda
memperingatkan agar waspada.
Menyusul dengan suara rendah ia berbisik, “Menurut
anggapanmu, mereka akan turun tangan
di gedung ini?”
“Dalam hal ini bukan soal mungkin atau tidak melainkan
mereka pasti akan turun tangan
dalam gedung ini,” jawab Ho Leng-hong menirukan nada orang.
Pang Goan tertawa, ia tepuk bahu Ho Leng-hong seraya
berkata, “Jit-long sungguh tak
kusangka kau dapat berpikir secerdik ini, baik kita lakukan
begitu saja.”
Anak kunci segera diambil dan kotak besi pun dibuka.
Dalam kotak besi terdapat pula sebuah kota yang terbuat dari
kayu, di tengah kotak kayu
dengan alas kain merah tersimpanlah sebilah golok dan
sejilid kitab pusaka ilmu golok.
Golok itu pakai sarung terbuat dari kulit ular, gagangnya
disepuh emas dengan empat huruf
yang terbuat dari batu permata, “Yan-ci-po-to” atau golok
pusaka gincu merah.
Kitab pelajaran ilmu golok hanya terdiri dari beberapa
halaman, pada kulit buku itu tertera
huruf yang berbunyi: Tay-sin-pat-to (delapan jurus golok
malaikat sakti), itulah ilmu golok
keluarga Nyo.
Perlahan Ho Leng-hong mencabut golok itu, seluruh tubuh
golok berkilat bagaikan cermin,
lamat-lamat tampak pancaran sinar merah jambon.
“Golok bagus!” pujinya dalam hati.
Sebenarnya di ingin memeriksa juga kitab pusaka itu, tapi
niatnya dapat ditahan.
Sebab baik golok maupun kitab pusaka itu kan miliknya
sendiri, adalah lucu kalau dia tertarik
pada benda miliknya sendiri.
Dari atas dinding ia menanggalkan sebilah golok biasa, lalu
dimasukkan ke dalam kotak besi
dan kemudian kotak itu dikunci kembali.
Setelah itu ia membungkus golok dan kitab pusaka itu dengan
secarik kain kumal, bungkusan
itu dimasukkan ke dalam laci di bawah almari.
“Aman tidak kalau disimpan di sini?” tanya Pang Goan dengan
suara agak parau.
“Semakin terbuka tempat seperti almari ini semakin aman,
bila mereka hendak mencari golok
pusaka, tak mungkin akan mereka perhatikan laci tempat
barang rongsokkan semacam ini,
sekalipun laci dibuka, merekapun tak akan menyangka golok
pusaka dibungkus dalam secarik
kain kumal.”
41
Pelahan Pang Goan mengangguk, “Aku hanya ada waktu tiga atau
lima hari, aku masih harus
pergi ke Sengtoh, mudah-mudahan aku tidak tertahan terlalu
lama di sini.”
“Tiga sampai lima hari sudah lebih dari cukup, selama
beberapa hari ini silakan Lotoako
berdiam di sini, aku percaya mereka pasti akan lebih gelisah
daripada kita.”
Tengah bicara tiba-tiba terdengar suara gemerencing
perhiasan orang perempuan, tampak
Bwe-ji sedang menyeberangi jembatan.
Cepat Ho Leng-hong memberi tanda kepada Pang Goan dengan
kerlingan mata, lalu kotak
besi itu buru-buru dibungkus dengan kain, dirantai dan
dikunci kembali.
Bwe-ji telah masuk ke dalam ruangan, ia memberi hormat lebih
dulu kepada Pang Goan
seraya berkata, “Ketika Hujin mendengar tentang kedatangan
Kuloya, ia merasa gembira
sekali. Perjamuan telah disiapkan, hamba perintahkan datang
untuk minta petunjuk Loya,
perjamuan akan diselenggarakan di ruang belakang ataukah
diantar ke Kiok-hiang-sia sini?”
Pang Goan masih mengusirkan golok pusaka, jawabnya setelah
berpikir sebentar, “Tempat ini
bagus sekali, mana nyaman dan tenang lagi.”
“Begitupun boleh,” sambung Ho Leng-hong segera, “sesudah
melakukan perjalanan jauh,
Lotoako memang harus membersihkan badan dan beristirahat
lebih dulu, biar Siaute
mengantar benda ini ke dalam kamar, kemudian baru datang
kemari lagi bersama Wan-kun.”
Pang Goan tidak menghalangi, sambil mengulapkan tangan ia
berkata, “Kita adalah orang
sendiri, asal bisa bertemu dan bercakap-cakap, itu sudah
cukup, kenapa musti sungkansungkan?”
Sambil mengempit kotak besi itu Ho Leng-hong pun mohon diri
dan berlalu, sedang Bwe-ji
tetap tinggal di situ melayani Pang Goan membersihkan badan.
Sekembali Leng-hong di belakang, Pang Wan-kun telah selesai
berdandan dan sedang
menantikannya, begitu berjumpa ia lantas bertanya, “Kudengar
Koko begitu masuk pintu
lantas marah-marah, apa gerangan yang terjadi? Dari tadi
sampai sekarang kalian bercakapcakap
terus di Kiok-hiang-sia sampai pelayanpun tak boleh masuk,
sebetulnya apa yang
sedang kalian bicarakan?”
Ho Leng-hong tertawa, katanya sambil menunjuk kotak besi
itu, “Apa lagi kalau bukan
lantaran benda ini, kakakmu sengaja mengantarnya pulang,
begitu masuk pintu ia lihat
mereka sedang bermain dadu, langsung saja aku di damperatnya
habis-habisan.”
“Ya, memang begitulah watak Koko, dia berangasan dan
pemarah, seolah-olah hanya dia
sendiri yang suci di dunia ini, Jit-long, kau tidak marah
kepadanya bukan?”
“Tentu saja tidak,” Ho Leng-hong tertawa, “kendatipun
perkataannya kurang sedap didengar,
tapi semuanya demi kebaikanku, apalagi kau hanya punya
seorang kakak, kecuali menerima
nasihatnya, apalagi yang dapat kita katakan?”
Wan-kun menghela napas panjang, “Ai, tak kusangka kaudapat
menyelami perasaannya,
bicara sejujurnya, meski kami adalah saudara, tapi umur kami
selisih separo lebih, jangankan
kau, aku pun agak takut untuk bertemu dengannya.”
“Mau menghindari juga percuma sekarang, lebih baik simpan
dulu benda itu, perjamuan
diselenggarakan di Kiok-hiang-sia, sebentar kita ke sana
bersama.”
Ketika menerima kotak besit itu, tiba-tiba air muka Wan-kun
berubah serius, bisiknya, “Apa
isi kotak ini....”
“Kitab pusaka dan golok pusaka Yan-ci-po-to!”
“Ah, jadi kita menikah sudah dua tahun lamanya?” kejut dan
girang Wan-kun.
“Siapa bilang tidak, kedatangan kakakmu ini justru khusus
untuk mengantarkan golok
mestika dan kitab pusaka ini.”
Kotak besi itu dipeluk Wan-kun erat-erat, lalu setelah tarik
napas panjang ia bergumam,
“Waktu sungguh cepat berlalu, dua tahun telah lewat dalam
sekejap mata, bila terkenang
kembali ketika kaudatang ke Cian-sui-hu untuk melamarku dua
tahun yang lalu, rasanya
seperti kejadian kemarin saja.”
42
“Padahal tidak terhitung lama, paling-paling cuma tujuh
ratus hari saja,” sambung Ho Lenghong
sambil tertawa.
“Jit-long, tak heran kalau Koko marah-marah, dua tahun
belakangan ini kita benar-benar telah
menelantarkan pelajaran silat kita, bukan saja kerjamu
setiap hari hanya bersenang-senang
main judi dan minum arak, akupun tak pernah memikul tanggung
jawab dengan
sesungguhnya, mulai hari ini . . . . . “
“Mulai hari ini aku pasti akan mawas diri baik-baik,
berlatih ilmu golok secara tekun untuk
mencapai kemajuan yang pesat, nah puas? O, isteriku yang
bijaksana, jangan lupa kakakmu
masih menunggu di Kiok-hiang-sia untuk bersantap malam,
kalau kita sebagai tuan rumah
tidak lekas ke sana, masa menyuruh sang tetamu menunggu
dengan perut lapar?”
“Hm, orang lagi bicara serius denganmu, kau malah
cengar-cengir belaka,” omel Pang Wankun
melotot sekejap ke arahnya.
“Melayani kakak ipar juga terhitung urusan serius, Hujin,
kita harus berangkat sekarang.”
Pang Wan-kun segera berbangkit, mengambil kunci dan membuka
almari pakaiannya.
“Jangan kau simpan dalam lemari,” Leng-hong mencegah, “golok
dan kitab itu adalah pusaka
keluarga Nyo kita, sekali-kali tidak boleh hilang.”
“Tempat ini kamar tidur kita, siapa yang berani melakukan
pencurian dalam Thian-po-hu
kita?”
“Kukira lebih baik berhati-hati, sebab menurut penuturan
kakakmu, sepanjang perjalanan
katanya banyak orang yang menguntitnya dan berusaha mencuri
golok pusaka ini.”
“Ah, masa betul begitu?” Wan-kun tercengang.
“Tentu saja betul, justru demi keamanannya, kakak telah
menggunakan rantai dan
menggembok kotak ini di lehernya.”
“Lantas benda ini harus di simpan di mana baru aman?” tanya
Wan-kun sambil celingukan ke
sana kemari.
“Lemari besi yang kau pakai untuk menyimpan perhiasan itu
kuat sekali, akan lebih aman
kalau kita simpan di sana saja. Nah, masukkan ke lemari besi
itu untuk sementara waktu.”
Wan-kun manggut-manggut, dia lantas membuka lemari besi di
sudut kamar sana.
Dinding lemari besi itu tebalnya empat-lima senti dengan
berat ratusan kati, bukan saja
ditanam di dinding sehingga hanya pintu lemari saja yang
menongol di luar, dari dalam
sampai luar pun ada tiga lapis kunci yang sangat kuat.
Tempat sekuat ini hanya ada satu kekurangan, yakni ruang
lemari tersebut terlampau sempit,
apalagi di situ sudah tersimpan beberapa kotak perhiasan,
boleh dibilang sudah tiada tempat
lagi untuk menyimpan golok tersebut.
Ho Leng-hong turun tangan sendiri untuk memindahkan kotak
perhiasan ke lemari pakaian,
kemudian setelah memasukan golok tersebut ke dalam lemari
besi, lalu dikunci dan anak
kunci itu dimasukkan ke dalam saku sendiri.
“Jit-long, masa akupun tidak kaupercayai?” keluh Wan-kun
setelah menyaksikan perbuatan
suaminya.
“Bukan begitu maksudku, bukankah perhiasanmu sudah dipindah
semua ke almari pakaian?
Kau kan sudah tidak membutuhkan anak kunci lagi. Lagipula
kuperlukan melatih ilmu golok
itu secara tekun, bila kuncinya kubawa, maka setiap saat
bisa kulakukan latihan dengan lebih
leluasa.”
“Begitupun bolehlah,” Wan-kun tertawa, “golok pusaka itu
telah kausimpan sendiri, anak
kuncinya berada pula di sakumu, jadi seandainya hilang kan
tak ada sangkut pautnya lagi
denganku.”
Leng-hong hanya tertawa dan tidak menanggapi. Begitulah
bersama Pang Wan-kun berangkat
mereka menuju ke Kiok-hiang-sia.
------------------------
43
Perjamuan diatur dengan sangat mentereng, hidangan pun amat
banyak dan aneka ragam,
sayang suasananya agak kaku.
Mungkin hal ini disebabkan selisih umur yang terlampau
banyak antara kedua bersaudara
Pang, mungkin juga lantaran Wan-kun agak jeri terhadap
kakaknya, kecuali dalam sopan
santun, hampir boleh dibilang perempuan itu tundukkan kepala
belaka.
Pang Goan sendiri mungkin memang berwatak kurang suka
bicara, mungkin juga lantaran
kuatir golok Yan-ci-po-to, sikapnya amat kaku dan jarang
berbicara.
Lebih-lebih Ho Leng-hong, ia kuatir banyak berbicara hanya
akan membongkar rahasia
sendiri, maka ia makin jarang bersuara.
Pokoknya perjamuan ini berlangsung dalam keadaan kaku dan
tidak meriah, setelah minum
beberapa cawan arak dan paksakan diri bersantap sedikit,
perjamuan pun diakhiri.
Selesai bersantap, minuman teh dihidangkan. Inilah saat yang
biasa dipakai untuk
membicarakan soal-soal kecil tapi lantaran tiada soal
“kecil” yang dibicarakan, maka sesudah
duduk kaku sejenak, Ho Leng-hong dan Pang Wan-kun lantas
mohon diri.
Pang Goan tidak mengalangi mereka, katanya dengan hambar,
“Aku akan berdiam beberapa
hari lagi di Lok-yang, pada kesempatan ini kita harus
berlatih sebaik-baiknya To-kiam-happing-
tin (perpaduan golok dan pedang), Siaumoay (adik) juga harus
bersiap-siap.”
“Toako suruh aku ikut pula dalam latihan
To-kiam-hap-ping-tin?” tanya Wan-kun.
“Tentu saja, selama dua tahun ini hakikatnya kau tidak
melaksanakan kewajiban untuk
melakukan pengawasan, sekarang waktunya tidak banyak lagi,
kau harus ikut serta dalam
barisan ini untuk menutupi kekurangannya.”
Wan-kun hanya mengangguk tanpa membantah.
Setiba kembali di kamarnya, dengan sedih ia mengomel kepada
Ho Leng-hong, “Jit-long,
coba pikirlah, selama beberapa tahun ini demi mendorong
kemajuanmu, aku tak segan-segan
menerima tuduhan orang sebagai perempuan judas dari
Thian-po-hu, hari ini aku ditegur oleh
kakak, bayangkan sendiri apakah aku tak pernah menasihatimu?
Mulai hari ini kauharus
menuruti perkataanku!”
“Wan-kun, tak usah bersedih hati,” hibur Leng-hong sambil
membelai sang isteri, “Toako
tidak dapat memahami bagaimana kesenangan seseorang yang
baru kawin, sebab itulah kau
kena teguran.”
“Kakak ibaratnya pengganti orang tua, aku tak akan murung
lantaran didamprat olehnya, aku
hanya benci pada diriku sendiri, benci akan nasibku yang
jelek hingga suami sendiripun tidak
percaya kepadaku . . . . .”
“Eh, kapan aku tidak percaya kepadamu?”
“Ai, tak usah disinggung lagi,” Wan-kun menggelengkan kepala
berulang kali.
“Tidak, kau harus mengatakan kepadaku, sebagai suami-isteri
yang bahagia tak boleh ada
rahasia yang disembunyikan dalam hati masing-masing, sebab
hal ini sangat mempengaruhi
saling percaya antara suami isteri.”
“Ah, aku hanya berbicara seadanya saja, coba lihat, kau
lantas menganggapnya serius.” Wankun
tertawa.
“Wan-kun, jangan bohongi aku, kupercaya ucapanmu muncul cari
sanubarimu yang
sesungguhnya, tak mungkin hanya bicara main-main belaka.”
“Sungguh, aku tidak apa-apa, kau tak boleh menebak secara
ngawur!”
“Supaya aku tidak menebak secara ngawur, harus kaukatakan
yang sesungguhnya kepadaku.”
“Jit-long, kenapa kau hari ini? Hanya sepatah kataku yang
tidak sengaja kenapa kaudesak
terus untuk mengetahui sejelas-jelasnya?”
“Sebab belum pernah kauucapkan kata-kata semacam ini, tentu
ada suatu urusan yang tidak
berkenan di hatimu sehingga tanpa terasa kau mengucapkan
kata-kata seperti itu.”
44
“Ah, itu hanya sentuhan hati kecil belaka, bukan urusan yang
membuat aku tak senang,
sudahlah, jangan kautanyakan lagi.”
“Tidak, aku harus tahu, kalau tidak aku tak bisa tidur
nyenyak malam nanti.”
“Kau sungguh-sungguh ingin tahu?”
“Tentu saja!”
“Harus mengetahuinya?”
“Ya, harus mengetahuinya.”
Tiba-tiba Pang Wan-kun tertawa cekikikan, sambil mencolek
jidat Leng-hong dengan jari ia
berkata, “Tolol, coba lihat betapa kau cemas. Baiklah akan
kuberitahukan kepadamu, aku
hanya tak enak hati lantaran persoalan sore tadi, maka
sengaja kugoda dirimu.”
“Urusan sore tadi? Urusan apa?”
Wan-kun mengerling sekejap dan berkata, “Apa lagi? Tentu
saja soal menyimpan golok
pusaka tadi, bukan saja lemari perhiasanku kaukangkangi,
bahkan anak kuncinya ikut dibawa,
bukankah ini sama artinya dengan tidak percaya lagi
kepadaku?”
“O, jadi bicara pulang pergi, rupanya kau tak senang hati
lantaran persoalan itu.”
“Kenapa?” Wan-kun mencibir, “kau tidak tahu sikapmu pada
waktu itu, seolah-olah aku
kauanggap sebagai pencuri yang setiap saat bisa melarikan
golok rongsokanmu itu, tentu saja
aku merasa tak senang hati.”
Sambil berkata dengan muka masam dia bangkit dan duduk di
ujung pembaringan sana.
Cepat Leng-hong mendekatinya dan berkata, “Sudahlah, jangan
marah, tak ada harganya
untuk marah lantaran urusan sekecil itu, jangan menaruh
curiga apa-apa. Aku mengambil
anak kunci itu hanya supaya leluasa saja.”
“Aku adalah isterimu, apakah kurang leluasa bila anak kunci
itu aku yang menyimpan? Toako
suruh aku ikut serta dalam latihan To-kiam-hap-ping-tin,
apakah aku tidak boleh ikut
membaca isi kitab pusaka Nyo-keh-sin-to tersebut.”
“Boleh, tentu saja boleh,” Leng-hong tertawa, “Nah, kuncinya
ada di sini, sekarang kuminta
maaf dan mengembalikan kunci ini kepadamu, tentunya amarahmu
bisa mereda buka?”
“Huh, sekarang baru dikembalikan kepadaku, siapa yang sudi?”
omel Wan-kun seraya
melengos.
Leng-hong sisipkan anak kunci ke balik baju bagian dadanya,
lalu tertawa lirih, “Kau tak sudi
anak kunci ini, justru anak kunci ini sudi kepadamu, lantas
bagaimana baiknya?”
“He, kau cari mampus,” jerit Pang Wan-kun sambil melompat
bangun.
Tentu saja Leng-hong tak membiarkan dia kabur sebab anak
kunci masih berada dalam baju
dadanya, ia harus mengambilkan pula....
Gara-gara ingin mengambil anak kunci, kedua orang lantas
bergumul di atas pembaringan.
Maka terdengarlah suara tertawa cekakak dan cekikik, lalu
suara napas yang tersengal-sengal,
menyusul lampu lantas padam dan.....
Malam begitu indah, begitu hangat, sekalipun hujan badai
mungkin akan turun keesokan
harinya, yang jelas malam ini hanya ada kemesraan dan
kehangatan yang memabukkan.
Malam akan terasa pendek dalam kegembiraan, tapi terasa
lewat lebih cepat pada saat-saat
yang penuh kehangatan.
Malam lewat dan fajarpun menyingsing pula.
Waktu Ho Leng-hong bangun dari tidurnya, Wan-kun masih
tertidur nyenyak.
Tubuhnya yang putih halus bagaikan kemala hanya tertutup
oleh selapis selimut tipis,
rambutnya terurai indah, tubuhnya meringkuk di ranjang
dengan senyuman puas masih
menghiasi ujung bibirnya.
Anak kunci itu tergeletak di sisi bantal yang berbau harum.
Dengan kasih sayang Leng-hong membelai rambutnya yang halus,
lalu anak kunci itu diambil
dan perlahan turun dari pembaringan.
45
Agaknya Wan-kun merasakan gerak-geriknya itu, dengan mata
yang masih sepat ia
memandangnya sekejap, lalu sambil menggeliat bisiknya,
“Jit-long . . . jangan . . . jangan
pergi . . . . “
Tak tahan Leng-hong, ia membungkukkan badan dan mencium
pipinya, Wan-kun tidak
bergerak, kembali ia terlelap.
Udara pagi terasa agak dingin, Leng-hong bantu menyelimuti
tubuh Wan-kun, kemudian ia
sendiri mengenakan pakaian dan berjalan menghampiri almari
perhiasan, berjongkok dan
memeriksa tanda rahasia yang sengaja ia tinggalkan di pintu
almari besi.
Tapi apa yang kemudian terlihat membuat hatinya terkesiap.
Ketika menutup almari besi semalam, secara diam-diam ia
telah meninggalkan seutas rambut
di celah pintu, tapi sekarang rambut itu sudah rontok dan
ada di atas lantai.
Hal ini menandakan semalam setelah ia tertidur ada orang
telah membuka lemari besi itu.
Leng-hong segera bangun dan memeriksa semua jendela dan
pintu yang ada di ruangan itu,
tapi nyatanya baik daun jendela maupun daun pintu semuanya
terkunci rapat, tidak berubah
sedikitpun.
Tapi kalau tak ada yang masuk ke kamar, siapa yang membuka
almari besi?
Cepat Leng-hong membuka semua gembok pada pintu almari besi
itu, apa yang ditemukan?
Kotak besi berisi golok pusaka yang berada dalam almari itu
telah lenyap tak berbekas.
Macam-macam pikiran timbul dalam benaknya, tapi ia pura-pura
tidak tahu apa-apa, semua
gembok kembali dikunci, almari besi itupun dikunci seperti
semula, setelah mengembalikan
anak kuncinya ke sisi bantal, ia mengenakan pakaian, membuka
pintu, turun dari loteng dan
buru-buru menuju ke Kiok-hiang-sia.
Baru sampai pintu taman ia berpapasan dengan Bwe-ji.
Waktu itu Bwe-ji sedang keluar dengan rambut kusut, wajah
lesu seakan-akan kurang tidur
atau baru bangun tidur.
Ia tampak gugup dan kelabakan ketika berjumpa dengan Ho
Leng-hong, sambil berdiri
dengan kepala tertunduk, bisiknya, “Tuan, kau sudah bangun!”
“Hei, sepagi ini ada apa kau ke taman?” tegur Leng-hong
sambil menatapnya tajam-tajam.
Merah jengah wajah Bwe-ji, “Aku.... aku melayani Kuloya
di.... di Kiok-hiang-sia....”
sahutnya tergegap.
“Apakah semalam kau....”
“Kuloya mabuk arak, ia minta hamba tetap tinggal di sana.”
“Ngawur!” omel Leng-hong di dalam hati, dia memberi tanda
dan berkata, “Cepat kembali ke
kamarmu, bagaimana jadinya kalau ketahuan orang?”
Bwe-ji mengiakan dengan takut-takut, baru saja akan pergi,
Leng-hong kembali berkata,
“Tunggu sebentar, apakah Kuloya telah bangun?”
“Belum!”
“Apakah terjadi sesuatu di Kiok-hiang-sia semalam?”
“Tidak!”
“Bagus sekali!” kata Leng-hong, setelah termenung sejenak
sambungnya, “Beristirahatlah
dulu, Hujin belum bangun. Urusanmu ini jangan kauberitahukan
kepadanya untuk sementara
waktu.”
Bwe-ji mengiakan dengan lirih, lalu berlalu.
Sepergi dayang itu, Leng-hong, mendongakkan kepalanya dan
mengembus napas panjang, ia
pikir, “Di luar saja Pang Goan bicara seperti orang alim,
tak tahunya iapun seorang laki-laki
bangor, bila aku masuk sekarang, mungkin dia akan kehilangan
muka, lebih baik kutunggu
sejenak lagi baru ke sana.”
Begitulah, setelah mengambil keputusan ia lantas berganti
arah dan berjalan-jalan lebih dulu
ke dalam taman.
46
Sambil berjalan otaknya merenungkan kembali peristiwa
semalam, ia menaruh kecurigaan
besar atas tercurinya golok mestika, untuk sebelumnya ia
sudah melakukan persiapan, coba
kalau tidak, tentu penjahat-penjahat itu sudah berhasil.
Ketika terbayang kembali keangkeran Pang Goan sewaktu
memberi nasihat, lalu
membayangkan pula keadaan Bwe-ji yang mengenaskan, diam-diam
ia merasa geli sekali.
Anak keturunan keluarga ternama umumnya memang lebih binal,
yang benar-benar suci
bersih rasanya sangat sedikit.
Sambil berjalan sambil berpikir, tanpa terasa sampailah di
sisi batu gunung yang pernah
digunakannya untuk duduk bersama Pang Wan-kun.
Ho Leng-hong berdiri termenung, ketika teringat kembali
adegan waktu itu, diam-diam ia
merasa malu.
Terbayang sudah sekian lama ia masuk ke Thian-po-hu secara
ajaib, meskipun peristiwa ini
terjadi bukan atas kehendak sendiri, tapi kenyataan
menunjukkan ia telah menggunakan nama
orang lain, mengangkangi isteri orang dan harta kekayaan
orang.
Tapi hingga kini ia masih belum berhasil menyelidiki
asal-usul para penjahat dibalik
persoalan ini, bahkan mati-hidup Nyo Cu-wi, pemilik
Thian-po-hu yang sesungguhnya pun
tidak diketahui, betapa hatinya tidak merasa malu . . . .
Sementara ia termenung dengan perasaan malu dan menyesal,
tiba-tiba dari balik pepohonan
sana terdengar suara deru angin yang santar.
Deru angin yang mirip dengan suara sambaran senjata tajam,
seperti pula suara tenaga dalam
yang dipancarkan.
Dengan langkah yang sangat hati-hati Leng-hong mengitari
pepohonan dan mengintip ke
sana, maka terlihatlah seorang sedang berlatih jurus silat
dengan telapak tangan sebagai
golok.
Ilmu yang sedang dilatih orang itu jelas serangkaian ilmu
golok yang bersifat keras, di mana
telapak tangannya menyambar, angin menderu-deru, daun dan
ranting pohon di sekitar
sepuluh tombak sekeliling tempat itu sama rontok dan hampir
menutupi raut wajah orang itu.
Makin diperhatikan Ho Leng-hong merasa semakin terperanjat,
ia tak mengerti siapa
gerangan jago lihai yang sedang berlatih kungfu di dalam
istana Thian-po-hu ini?
“Siapa yang sedang mencuri lihat di sana?” tiba-tiba orang
itu menghentikan latihannya
sambil membentak.
Karena ia berhenti berlatih, daun yang berguguran pun ikut
berhenti, tapi hal ini justru makin
mengejutkan Ho Leng-hong, sebab sekarang ia dapat melihat
jelas siapa orangnya.
Ternyata tokoh sakti ini tak lain adalah Pang Goan.
Dengan langkah cepat Leng-hong mendekat ke sana, lalu
sapanya dengan nada kaget
bercampur heran, “Lotoako, sejak kapan kau bangun?”
“Sebelum fajar menyingsing aku telah bangun dan berlatih
ilmu golok di sini, adakah sesuatu
yang tidak beres?” Pang Goan balas bertanya dengan heran.
“Kalau begitu semalam Lotoako tidak suruh dayang Bwe-ji
menemani tidur di Kiok-hiangsia?”
“Menemani tidur?!” terbelalak mata Pang Goan, sinar matanya
penuh rasa marah, “kau
menganggap diriku sebagai manusia macam apa? Sudah belasan
tahun aku tak pernah
mendekati perempuan, mana mungkin kupaksa dayang adikku
untuk menemani aku tidur?
Kau anggap aku secabul dirimu?”
“Wah, celaka kalau begitu,” seru Leng-hong tiba-tiba, tanpa
menunggu lama ia lantas putar
badan dan lari pergi.
“Berhenti!” bentak Pang Goan sambil menghalangi jalan
perginya, “sebelum kauterangkan
duduknya perkara, jangan tinggalkan tempat ini.”
47
Terpaksa Leng-hong berkata sambil menghela napas, “Lotoako,
kita harus cepat-cepat
kembali ke Kiok-hiang-sia, kemungkinan besar golok mestika
dan kitab pusaka telah dicuri
orang.”
“Mana mungkin?” Pang Goan ikut terperanjat, “sebelum
meninggalkan tempat itu sudah
kuperiksa sendiri . . . . . .”
“Wah, kalau begitu lebih celaka lagi, kita harus cepat ke
sana,” belum selesai berkata, secepat
terbang ia terjang keluar hutan.
Pang Goan melengak, buru-buru ia menyusul ke sana . . . . .
-------------------
Apa yang mereka duga ternyata benar, laci lemari buku itu
sudah kosong, baik golok mestika
maupun kitab pusaka itu sudah lenyap tak berbekas.
Dengan gemas Leng-hong berkata, “Tak kusangka kalau Bwe-ji
si dayang itu adalah seorang
pengkhianat, lebih-lebih tak kusangka ketika kepergok tadi,
kulepaskan dia begitu saja . . . . . .
.”
Sambil berkata sebenarnya dia hendak memerintahkan para Busu
untuk melakukan
pengejaran.
Pang Goan meski juga terperanjat, sikapnya tetap tenang,
sambil menggoyangkan tangannya
ia berkata, “Tak perlu dikejar lagi, sekalipun dayang itu
berhasil disusul juga tak ada gunanya,
sebab kalau pihak lawan sudah mengatur rencana untuk
mendapatkan golok mestika dan kitab
pusaka itu, masakah mereka tidak menyiapkan orang lain untuk
menerima barangnya. Bila
benda tersebut telah mereka dapatkan, sudah pasti barang itu
segera dikirim keluar.”
“Tapi barang sudah dicuri, apakah kita hanya diam saja?”
“Tentu saja tidak, bila kita berkaok-kaok dan mengerahkan
orang banyak untuk mengusut,
bukan saja tidak ada manfaatnya malah merepotkan saja. Kau
duduklah lebih dulu dan mari
kita pelajari apa yang terjadi, asal apa yang diatur musuh
sudah kita pahami, tak sulit untuk
berusaha merampasnya kembali barang yang telah hilang. Harus
diketahui, semakin kita tidak
bereaksi, semakin sulit bagi lawan untuk menduga apa yang
akan kita lakukan, dan juga
semakin mudah menemukan titik-titik kelemahan mereka.”
Ho Leng-hong tak berdaya, ia menarik napas panjang dan duduk
kembali.
Pang Goan duduk pula, katanya, “Sekarang ceritakan dulu
kejadian ketika kaupergoki Bwe-ji,
ceritakan setelitinya.”
Leng-hong manggut-manggut, ia mengisahkan apa yang dialami
pagi tadi, iapun
menceritakan perundingan rahasia yang sempat disadap olehnya
ketika seorang pria dan
seorang perempuan sedang berunding di dalam taman baru-baru
ini, iapun mengisahkan
kejadian sekembalinya ke kamar semalam dan hasil pemeriksaan
terhadap lemari besi tadi . . .
. .
Pang Goan hanya mendengarkan dengan saksama tanpa memberi
komentar apa-apa, setelah
Leng-hong menyelesaikan ceritanya, ia baru berkata, “Bila
kita tinjau dari kisahmu barusan,
bukan saja pihak lawan telah mengetahui gerak-gerik kita, di
dalam sini ada pengkhianat, di
luar masih ada yang menunggu, itu berarti kecuali kau dan
aku, dalam gedung Thian-po-hu
ini sudah tidak ada orang ketiga yang dapat dipercaya lagi.”
“Siaute sendiripun mempunyai perasaan demikian, terutama
sekembalinya ke kamar
semalam, kunci lemari besi itu belum pernah meninggalkan
pembaringan, pintu dan jendela
pun tak berubah, tampaknya Wan-kun pun tak lepas dari
kecurigaan.”
“Wan-kun adalah isterimu dan merupakan adikku pula, mana
mungkin dia akan membantu
orang luar? Kupikir, orang yang membuka lemari besi itu
pastilah Bwe-ji, dia adalah dayang
kepercayaan kalian, untuk masuk-keluar kamar bukan pekerjaan
yang sukar, tentu dia yang
telah membuka lemari besi itu. Setelah mengetahui isi kotak
golok adalah benda palsu, maka
48
ia lantas mengintip di luar Kiok-hiang-sia. Ya, tidak
seharusnya kuperiksa lagi laci tersebut
sebelum pergi sehingga rahasia ini diketahui olehnya.”
“Tapi seandainya ia masuk ke kamarku di tengah malam, tak
mungkin aku tidak mengetahui
sama sekali.”
Pelahan Pang Goan menggeleng kepala, “Bila sebelum itu ia
mencampurkan sesuatu dalam
air tehmu, bahkan mencampuri obat dalam arak perjamuan
semalam, darimana kau bisa
merasakannya?”
Leng-hong tertegun, ia benar-benar tak sanggup menjawab.
Pang Goan kembali berkata, “Oleh sebab itulah barusan
kukatakan setiap orang dalam Thianpo-
hu ini mungkin tak dapat dipercaya lagi, aku lebih-lebih
berani memastikan bahwa orang
yang ditugaskan lawan untuk menerima benda itu besar
kemungkinan adalah salah seorang di
antara kawan berfoya-foyamu, kau mengakui tidak?”
Leng-hong menundukkan kepalanya, bagaimanapun juga dia harus
mengakui kebenaran
ucapan tersebut.
Pang Goan berkata lebih jauh, “Kalau kitab pusaka itu
hilang, untuk sementara waktu
kehilangan tersebut tak akan menimbulkan pengaruh apa-apa
terhadap kita, karena Po-in-pattay-
sik (delapan jurus sakti ilmu pemecah awan) adalah ilmu
golok keluarga Nyo kalian dan
sama sekali tidak mencakup ilmu pedang Keng-hong-kiam-hoat
(ilmu pedang kejutan
pelangi) Cian-sui-hu kami, kalau melulu Nyo-keh-sin-to atau
Keng-hong-kiam-hoat masih
belum dapat menandingi kelihayan Hiang-in-hu, untunglah
rumus barisan To-kiam-hap-ping
yang hendak kita latih bersama belum sampai tercuri lawan.”
Satu ingatan dengan cepat melintas dalam benak Ho Leng-hong,
pikirnya, “Kalau didengar
dari nada perkataannya ini, jangan-jangan pihak yang
memusuhi Thian-po-hu adalah istana
Hiang-in-hu di Hu-yong-shia daerah Leng-lam . . . .?”
Baru saja ingatan tersebut terlintas, Pang Goan telah
berkata lebih jauh, “Masalah terpenting
yang kita hadapi sekarang adalah berusaha mendapatkan
kembali golok Yan-ci-po-to yang
tercuri, sebab golok ini sudah mempunyai sifat hidup,
tajamnya luar biasa, bila sampai
diperoleh orang she Hui itu, keadaannya akan mirip harimau
tumbuh sayap, untuk
mengalahkan dia mungkin kita akan mengalami kesulitan.”
“Bila golok mestika itu sudah mereka dapatkan niscaya
orang-orang itu sudah kabur jauh, ke
mana kita akan menyusulnya?”
Pang Goan berpikir sebentar, lalu berkata, “Untuk mengatasi
persoalan ini, kita harus bekerja
secara terpencar, kau selidiki pengkhianat dalam
Thian-po-hu, sedang aku menyelidiki pihak
luar yang menjadi penadahnya. Sebentar aku akan tinggalkan
tempat ini, andaikata Wan-kun
menanyakan, katakan saja aku ada urusan penting dan pulang
ke Sengtoh.”
“Lotoako bermaksud akan pergi ke mana?”
“Aku pikir, kalau pihak musuh telah menggunakan pelbagai
akal dan cara untuk mendapatkan
golok mestika dan kitab pusaka itu, maka di sekitar tempat
ini tentu telah disiapkan tempat
lain untuk mengadakan kontak, begitu barang berhasil
didapatkan, dengan melalui saluran
penghubung barang itu akan diantar keluar, lalu oleh pihak
utusan benda itu akan diteliti, jika
terbukti asli mereka akan mencari orang yang sesuai untuk
membawa golok itu dan
melanjutkan perjalanan, atau paling tidak hingga dewasa ini
benda tersebut belum lagi
meninggalkan wilayah Kwan-lok.”
Ho Leng-hong manggut-manggut sependapat.
Kembali Pang Goan berpesan, “Sepeninggalku nanti, jangan
sekali-sekali kau menunjukkan
sesuatu reaksi, segala sesuatu lakukan saja sewajarnya,
berpura-puralah seperti tak pernah
terjadi sesuatu apapun, bahkan harus berpura-pura rileks dan
gembira, kumpulkan semua
temanmu berfoya-foya, mau minum arak boleh, mau berjudi juga
boleh, pokoknya seorang
pun jangan sampai bolos, semuanya harus datang dan
berusahalah sedapat mungkin untuk
menahan mereka di sini, jangan biarkan mereka tinggalkan
tempat ini.”
49
“O, aku mengertilah akan maksudmu, kausuruh aku menahan
mereka agar dapat diselidiki
siapa di antara mereka yang paling mencurigakan?”
Pang Goan menggeleng, “Mencari tahu siapa yang paling
mencurigakan adalah tugasmu,
sedang kepergianku dari Thian-po-hu secara tiba-tiba hanya
ingin membuat pihak lawan
merasa curiga dan tak berani mengantar pergi golok mestika
secara gegabah.”
“Toako, menyuruh aku menyelidikinya dengan cara bagaimana?”
“Sederhana sekali, cukup kauperhatikan dua hal.”
“Dua hal bagaimana?”
“Pertama, perhatikan siapa yang datang paling dulu dan siapa
yang paling menaruh perhatian
pada kepergianku? Kedua, perhatikan sewaktu berjudi, siapa
yang pikirannya tak terpusatkan
dan siapa yang kalah paling banyak?”
Mula-mula Leng-hong agak melengak, tapi segera ia paham,
katanya sambil tertawa, “Toako
tak pernah berjudi, tak kusangka pengetahuanmu tentang jiwa
penjudi sedemikian dalamnya.”
Pang Goan tertawa, “Orang yang tidak makan kan tidak berarti
dia berpuasa bukan?”
“Seandainya orang yang berada di belakang layar adalah orang
lain lagi dan susah payah kita
melakukan penyelidikan di sini, sedangkan dia telah kabur
jauh-jauh dengan membawa golok
mestika itu.....”
Pang Goan menggoyang tangan.
“Peduli siapapun dia, sebelum arah tujuanku diketahui dengan
jelas, tak nanti mereka berani
bergerak secara sembarangan,” demikian katanya “ketika
datang dari Cian-sui-hu, kotak
golok itu kurantai pada leherku, sekarang benda itu sudah di
tangan mereka, mana ia berani
bertindak secara gegabah.”
Bicara sampai di sini ia lantas berdiri.
“Bagaimana caraku untuk mengadakan kontak dengan Lotoako?”
tanya Leng-hong.
Pang Goan termenung sejenak, kemudian jawabnya, “Setiap pagi
dan malam berusahalah
mencari kesempatan untuk masuk ke taman sini, aku akan
muncul dengan sendirinya untuk
bertemu denganmu.”
Leng-hong masih ingin mengetahui hal-hal yang menyangkut
musuh pihak Thian-po-hu, tapi
Pang Goan telah melompat keluar dan berlalu dengan
tergesa-gesa.
Taman di pagi itu masih sunyi, kabut tipis menyelimuti
permukaan tanah.
Sepintas lalu Thian-po-hu masih tenang seperti hari-hari
biasa, seakan-akan tidak pernah
terjadi sesuatu.
Tapi lamat-lamat Leng-hong seperti telah mencium bau amisnya
darah di tengah udara pagi
yang segar itu, suatu intrik jahat, suatu perangkap besar
seakan-akan mulai tersingkap seperti
kabut tipis yang mulai buyar itu.
Secara aneh dan tanpa disadari ia ikut terlibat ke dalam
intrik jahat ini, urusan ini sebenarnya
tidak ada sangkut-paut dengan dirinya, kini bagaikan pusaran
air telah menyeretnya ke dalam,
membuat ia tak bisa menghindarkan diri dan terpaksa harus
mengikuti pusaran arus.
Ia tak tahu haruskah dirinya melanjutkan peranan tersebut,
tapi perkembangan kejadian di luar
serta perasaan ingin tahu di dalam hatinya memaksa pemuda
ini mau-tak-mau harus
melanjutkan peranannya, sudah terlanjur begini, ia tak dapat
melepaskan diri lagi.
--------------------
Sekembalinya dari Kiok-hiang-sia, baru masuk ke kamarnya,
tiba-tiba Ho Leng-hong
melenggong.
Pang Wan-kun telah bangun tidur, ia sedang menyisir
rambutnya di depan toilet.
Orang yang membantunya menyisir rambut bukan lain adalah
Bwe-ji.
Besar amat nyali dayang ini, bukan saja golok mestika dan
kitab pusaka telah dicurinya, dia
juga berani bohong dan memfitnah nama baik Pang Goan, dan
ternyata tidak melarikan diri?
50
Bukan saja tidak melarikan diri, sewaktu melihat Ho
Leng-hong, sikapnya tetap wajar seolaholah
tak pernah terjadi suatu peristiwa apapun.
“Selamat pagi Tuan!” demikian sapanya sambil tertawa.
Api amarah segera berkobar, Leng-hong mendengus. Sebenarnya
dia hendak mengumbar
marahnya, tapi bila teringat pesan Pang Goan tadi,
mau-tak-mau dia menahan kata-kata
dampratannya.
Pang Wan-kun sedang mengawasi gerak-geriknya dari balik
cermin, dengan melongo ia
berpaling dan menegur, “Hei, kenapa kau? Sepagi ini kau
telah marah kepada siapa?”
Ho Leng-hong duduk di tepi pembaringan tanpa menjawab.
“Hei, apa yang terjadi? Kenapa diam saja?” Wan-kun kembali
menegur dengan heran.
Leng-hong melirik Bwe-ji sekejap, tiba-tiba ia menghela
napas panjang, dan berkata, “Ai,
Toakomu telah pergi!”
“Apa?” seperti tertusuk jarum, Wan-kun melompat bangun,
jeritnya melengking, “Toako
pergi? Kapan?”
“Baru setengah jam yang lalu.”
“Kenapa ia pergi secara tiba-tiba?”
Sekali lagi Leng-hong memandang Bwe-ji sekejap lalu menghela
napas pula, “Entahlah, aku
juga tak tahu apa sebabnya.”
“Kau tidak bertanya padanya?”
“Sudah kutanyakan, ia hanya bilang ada urusan penting harus
diselesaikan di Sengtoh, tapi
tidak dijelaskan urusan penting apakah itu.”
“Hei, apa-apaan ini? Susah payah dari Cian-sui-hu yang
ribuan li jauhnya datang kemari, ada
persoalan penting apa yang lebih penting dari
To-kiam-hap-ping-tin? Lagi pula kami baru
berjumpa sekali, kendatipun ada urusan penting seharusnya
dilaporkan dulu kepadaku....”
Leng-hong tidak bersuara, ia hanya melirik sekejap ke arah
Bwe-ji, dilihatnya air muka Bweji
tetap tenang dan sama sekali tidak menunjukkan sesuatu
tanda.
Agaknya Pang Wan-kun mengetahui Ho Leng-hong sedang
memperhatikan Bwe-ji, ia lantas
bertanya, “Bwe-ji, waktu kaulayani Kuloya semalam, apa
kaulakukan sesuatu yang
membuatnya kurang senang? Kalau tidak, kenapa pagi-pagi
benar ia sudah pergi tanpa
pamit?”
“Tidak, Hujin, kemarin Kuloya malah mengeluarkan pakaian
dari bungkusannya dan
menyuruhku untuk mencucinya, ia bilang mungkin akan berdiam
cukup lama di sini.”
Sewaktu bicara, air mukanya tidak merah, suaranya tidak
gemetar, sikapnya wajar dan biasa,
sulit bagi orang lain untuk mengetahui apakah dia sedang
berbohong atau tidak.
Tanpa terasa Leng-hong berpikir, “Dugaan Pang Goan tampaknya
tidak salah, jelas Wan-kun
tidak tahu kalau dayangnya sudah dibeli orang luar untuk
mengkhianatinya, sekarang ada
baiknya jangan kubongkar dulu kebohongannya, tapi dia
mengira aku orang she Ho gampang
ditipu, keliru besarlah dugaanmu.”
Maka dia sengaja mengembus napas panjang seraya bangkit
berdiri, katanya, “Bagaimanapun
jua orangnya sudah pergi, apa gunanya kita menebak alasan di
balik kepergiannya. Ai, baru
saja kemarin kita berkumpul dan sekarang Toako telah pergi
dengan marah. Bwe-ji,
perintahkan orang untuk mengundang semua sobat karibku,
suruh mereka datang secepatnya,
pertemuan kemarin harus dilanjutkan hari ini, jangan lupa,
seorangpun tak boleh
ketinggalan!”
“Siapa tahu kalau kepergian Toako lantaran marah pada
perbuatanmu kemarin, tidak dapatkah
kau lewatkan sehari ini dengan tenang?” pinta Wan-kun.
“Ah, beberapa hari ini kehidupanku terasa hambar tak
menyenangkan, isteriku sayang, jangan
kau siram kepalaku dengan air dingin, izinkan aku bermain
sepuasnya hari ini, boleh bukan?”
kata Leng-hong sambil tertawa.
51
“Baik! Baik! Aku tak akan mengurus dirimu lagi, tapi kau
harus tahu diri, main sih boleh, tapi
jangan lupa, berlatih adalah pekerjaan yang utama,” kata
Wan-kun sambil menghela napas
dan menggeleng kepala berulang.
“Aku tahu, setelah permainan hari ini, lain waktu aku pasti
akan menjaga diri baik-baik dan
berlatih kungfu dengan tekun. Bwe-ji, kenapa tidak cepat
laksanakan perintahku?”
Bwe-ji mengiakan dan cepat turun dari loteng.
Sepergi Bwe-ji, sambil tertawa cengar-cengir kembali Ho
Leng-hong mencumbu Pang Wankun,
setelah puas baru ia pergi.
Tak lama kemudian, Bwe-ji telah muncul untuk memberi
laporan.
Merasa di sekeliling situ tak ada orang, sambil menarik muka
Leng-hong segera menegur,
“Bwe-ji, kini Hujin tak ada di sini, aku ingin bertanya
kepadamu, dalam hal apakah kau telah
menyalahi Kuloya sehingga ia pergi dengan marah?”
Dengan mata terbelalak Bwe-ji menggeleng kepala dan
menjawab, “Aku . . . . .aku tidak . . . .
. . . benar-benar tidak . . . . . .”
“Kenapa pagi-pagi baru kaukembali dari Kiok-hiang-sia?
Kenapa secara tiba-tiba Kuloya
memutuskan untuk pergi?”
“Tuan, apa yang kau maksudkan?” keluh Bwe-ji dengan bingung,
“siapa yang pagi-pagi baru
pulang dari Kiok-hiang-sia . . . . . aku tidak mengerti.”
Leng-hong tertawa dingin, “Aku pergoki sendiri dirimu,
kenapa? Mau coba mungkir?”
Mata Bwe-ji terbelalak, rasa kejut dan heran menghiasi
wajahnya, ia berkata dengan tergagap,
“Kapan Tuan bertemu dengan hamba? Sungguh hamba tidak paham
apa yang Tuan katakan?”
“Baik, jika kau menyangkal terus, akan kukatakan terus
terang kepada Hujin, ingin kulihat di
manakah akan kautaruh mukamu?”
Air mata membasahi wajah Bwe-ji, tiba-tiba ia berlutut,
ratapnya, “Perbuatan apakah yang
hamba lakukan? Mohon Tuan sudi menjelaskan, hamba sungguh
tak tahu.”
“Aku ingin bertanya kepadamu, semalam kau tidur di mana?”
“Tentu saja di kamar!” jawab Bwe-ji tanpa pikir.
“Ya, kutahu kau tidur di kamar, yang kutanyakan tidur di
kamarmu sendiri ataukah di kamar
baca Kiok-hiang-sia?”
Warna merah tiba-tiba menghiasi wajah Bwe-ji, katanya dengan
terkejut, “Tuan, kenapa kau
berkata begitu? Hamba . . . . .”
“Kenapa berkata begitu?” tukas Leng-hong, “Hm, justru aku
mengetahuinya dari mulutmu
sendiri, bukankah kausendiri yang mengatakan padaku ketika
kupergoki dirimu di depan
pintu taman pagi tadi?”
“Tuan, pagi-pagi tadi kau pergoki diriku di pintu taman?
Sungguhkah itu?”
“Hm, sungguh atau tidak hanya kau yang tahu, waktu itu
rambutmu kusut, pakaianmu tidak
teratur, ketika kutanya padamu datang dari mana, kaubilang
Kuloya menyuruhmu
menemaninya tidur di Kiok-hiang-sia, benar tidak kejadian
ini?”
Bwe-ji tidak menjawab, tapi sambil menutup mukanya
meledaklah isak tangisnya.
“Menangis sekarang apa gunanya? Mungkin saja lantaran
terlalu banyak minum arak Kuloya
telah melakukan hal itu, dan sebagai orang bawahan kau tak
berani menolaknya, inipun bisa
dimaafkan. Dengan maksud baik kurahasiakan kejadian ini pada
Hujin, tapi sekarang kau
menyangkal terus, tindakanmu inilah yang tidak pantas.”
Air mata membasahi wajah Bwe-ji, ia menggeleng kepala
berulang kali, “Tuan, aku tidak,
Tuan pasti salah lihat, aku benar-benar tidak . . . . .”
“Sampai sekarang kau masih coba menyangkal?”
“Hamba adalah pelayan Hujin, sekalipun tolol juga tak nanti
melakukan perbuatan semacam
itu,” kata Bwe-ji sambil menangis, “bila Tuan tidak percaya,
tanyalah Siau Lan, semalam
hamba berada terus bersamanya, mohon Tuan sudi memeriksa
sejelasnya . . . . .”
52
Tampaknya Pang Wan-kun dibuat kaget oleh isak tangis
tersebut, ia lari turun dari loteng
sambil membentak, “Ada apa? Siapa yang menangis macam setan
menjerit?”
“O, Hujin, berilah keadilan bagi hamba,” seru Bwe-ji sambil
memeluk kaki Pang Wan-kun.
Secara ringkas ia lantas menceritakan apa yang dituduhkan
kepadanya.
“Jit-long, apa maksudmu?” kata Pang Wan-kun sambil menarik
muka, “Sebagai seorang
gadis, yang paling penting adalah kehormatan, kenapa tanpa
sebab kau mengarang kejadian
yang membingungkan semacam ini?”
“Apa yang kuucapkan adalah sesungguhnya, semua ini kudengar
dari mulutnya, justru
persoalan inilah Pang-toako pergi dengan marah. Aku hanya
ingin mengetahui duduk
persoalan yang sebenarnya, aku tidak menyalahkannya, tapi ia
menyangkal terus.”
“Tapi setahuku Toako selalu mengutamakan ilmu silat, tak
pernah ia bermain perempuan,
mana mungkin melakukan perbuatan hal demikian.”
“Tapi hal ini Bwe-ji sendiri yang mengatakan padaku, aku
dengan dia tak ada dendam atau
sakit hati, buat apa kufitnahnya dengan menciptakan cerita
bohong?”
Wan-kun termenung sebentar, kemudian berkata, “Soal ini
tidak sukar untuk diselidiki,
panggil Siau Lan sebagai saksi.”
Tak lama kemudian Siau Lan muncul di situ.
Ketika didengarnya apa yang terjadi, dengan tegas katanya,
“Semalam, enci Bwe-ji memang
selalu berada bersamaku, ketika tengah malam aku ke kakus
masih kulihat ia berada di kamar,
pagi tadi akulah yang membangunkan dia untuk membantu Hujin
menyisir rambut.”
“Sudah kaudengar sekarang” kata Pang Wan-kun sambil melirik
Leng-hong. “Apa lagi yang
hendak kau katakan?”
Ho Leng-hong tidak dapat bersuara lagi, dia hanya memandang
Bwe-ji dengan rasa bingung.
Ia percaya tak mungkin salah melihat orang, tapi iapun tak
bisa menyangkal keterangan
mereka, kecuali di Thian-po-hu terdapat dua orang Bwe-ji.
Kalau bukan begitu, tentunya ada orang yang menyaru sebagai
Bwe-ji dan membuat
kekacauan.
Tapi, bukankah dayang yang bekerja di gedung belakang ada
puluhan orang banyaknya,
untuk menyaru yang lain jauh lebih mudah daripada menyaru
sebagai Bwe-ji, mengapa
menyaru sebagai Bwe-ji?
Meskipun tujuannya menyaru sebagai Bwe-ji hanya untuk
mempermudah gerak-geriknya,
kenapa ia menggunakan “menemani tidur” sebagai dalihnya? Ho
Leng-hong benar-benar
dibuat bingung oleh teka-teki ini.
Cuma ada satu hal yang diketahuinya dengan jelas, yakni di
antara Bwe-ji dan Siau Lan
paling sedikit ada seorang sedang berbohong, bahkan mungkin
juga kedua-duanya memang
berkomplot dan sengaja berbohong . . . . . .
Kebetulan datang laporan dari ruang depan waktu itu bahwa
tamu sudah berdatangan.
Cepat Leng-hong menggunakan kesempatan itu untuk meloloskan
diri, persoalan mengenai
Bwe-ji pun tertunda untuk sementara waktu.
-----------------
Thian si telinga panjang memang orang yang pandai menyelami
perasaan orang.
Maka ia datang paling pagi, begitu mendapat berita, dengan
gerakan tercepat ia berangkat ke
Thian-po-hu.
Begitu berjumpa, Thian Pek-tat tertawa lebar sampai bibirpun
tak bisa merapat, dengan
berseri ia berkata, “Kabar ini sungguh merupakan berita yang
paling baik, saudara Cu-wi,
bicara terus terang, semalam Siaute benar-benar mengusirkan
dirimu, bagaimanakah watak
kakak iparmu kita sama tahu, permainan kemarin yang
dibubarkan itu memang bukan soal
53
bagi kami, tapi sedikit banyak Nyo-heng tentu diomeli.
Bagaimana, kalian tidak sampai ribut,
bukan?”
“Ah, tidak apa-apa,” Leng-hong tertawa, “paling-paling cuma
dinasihati dan didamprat, masa
ia akan membunuhku?”
“Syukurlah kalau begitu, siapa suruh dia adalah kakaknya
lenso, usianya lebih tua lagi dari
kita. Ya, mendengarkan beberapa patah kata nasihatnya juga
pantas, nanti kan bosan sendiri.”
“Untuk dia masih ada urusan penting, sejak pagi tadi sudah
pamit pergi, mumpung ada
kesempatan baik, kita harus lanjutkan permainan kemarin,
kita kumpul beramai-ramai selama
beberapa hari.”
“Mungkin Thian kasihan kepadaku, kemarin nasibku kurang baik
dan kalah tak sedikit, siapa
tahu kalau kekalahanku bersama rentenya akan kutarik kembali
sekarang?!”
Tiba-tiba ia mengalihkan pembicaraan ke soal lain,
lanjutnya, “Eh, jauh-jauh datang dari
Cian-sui-hu, tentunya kakak iparmu itu ada urusan penting
bukan?”
“Urusan penting sih tidak ada, hanya lantaran sudah beberapa
tahun tak bertemu dengan
isteriku, maka sengaja datang untuk menengoknya sekedar
melepas rindu.”
“Kalau begitu, seharusnya ia berdiam lagi beberapa hari,
kenapa ia berangkat lagi secara
tergesa-gesa?”
“Siapa tahu?” Leng-hong mengangkat bahu, “pokoknya ia mau
datang lantas datang, mau
pergi lantas pergi, bergantung pada kemauan hatinya.”
“Siaute ada sepatah kata, mungkin aku berkuatir tanpa
alasan, tapi tidak mustahil terjadi, bila
kukatakan nanti harap saudara Cu-wi jangan marah.”
“Silakan bicara!”
“Menurut pendapat Siaute, bila kita mau berkumpul dan
bersenang-senang, sebaiknya kita
ganti tempat lain.”
“Kenapa?”
“Terus terang Siaute agak curiga tentang maksud kakak iparmu
pulang ke Sengtoh,
seandainya dia Cuma bermaksud mencoba dirimu, pura-pura
pamit pulang, tapi tahu-tahu
muncul lagi, kami sih tidak apa-apa, tapi Nyo-heng yang akan
kena dampratan lagi.”
“Tidak mungkin,” Leng-hong tertawa, “sekali dia berkata akan
pergi, tak mungkin kembali
lagi, kau tak usah kuatir.”
“Dengan dasar apa Nyo-heng merasa yakin dia tak bakal
kembali lagi?”
Leng-hong sengaja berpikir sebentar, lalu bisiknya,
“Sebetulnya masalah ini adalah urusan
pribadi rumah tanggaku, bila kuberitahukan padamu harap kau
jangan menyampaikannya lagi
kepada orang lain.”
“Ah, saudara Cu-wi, bagaimanakah hubungan kita selama ini?
Masakah kau masih tidak
mempercayai aku orang she Thian?”
“Tentu saja aku percaya padamu,” Ho Leng-hong
manggut-manggut, “cuma persoalan ini
menyangkut kejelekan rumah tanggaku, mestinya tak pantas
dikatakan kepada orang luar, aku
cuma dapat memberi sedikit berita saja padamu, terus terang
saja kakak iparku pergi lantaran
malu dengan suatu perbuatan brutalnya.”
“Oya?!” Thian Pek-tat berseru heran.
Leng-hong tertawa, katanya, “Terus terang kuberitahukan
kepadamu, ia tertarik oleh seorang
pelayanku, tanpa sengaja perbuatannya kupergoki, lantaran
malu maka iapun mohon diri
secara tergesa-gesa.”
“Ah, sungguh tak kusangka,” kata Thian Pek-tat dengan
tercengang, “kelihatannya saja dia
begitu serius dan terpelajar, rupanya iapun seorang yang
suka begituan.”
“Oleh karena itulah tak usah kuatir, sekalipun dijemput
dengan tandu besar yang digotong
delapan orang, tak nanti ia punya muka untuk kembali lagi ke
sini.”
Sampai di sini, kedua orang itu tak dapat menahan rasa
gelinya lagi, mereka mendongak dan
tertawa terbahak-bahak.
54
Dari depan pintu masuk seseorang, dan langsung menanggapi,
“Siapa yang bilang aku tak
berani kemari, bukankah aku telah datang lagi?”
Yang muncul adalah Kwan-lok-kiam-kek Lo Bun-pin, ia
mengenakan pakaian ringkas,
tangannya menenteng hasil buruan berupa ayam hutan, kelinci
liar, dan lain-lain.
Begitu melangkah masuk segera katanya sambil tertawa,
“Pang-lotoa sudah pergi? Inilah
yang dinamakan Thian masih memenuhi harapan orang. Siaute
lagi berburu, begitu
mendengar berita baik ini, tidak sempat bertukar pakaian
lagi segera kulari kemari, hasil
buruanku ini anggap saja sebagai oleh-olehku, kita harus
minum arak dan pesta pora sepuaspuasnya.”
“Saudara Lo, jangan keburu senang dulu,” kata Thian Pek-tat
sambil menyongsong
kedatangan rekannya, “siapa tahu kalau nasib orang akan
berubah pada hari ini, kemarin Loheng
menang banyak lantaran lagi mujur, siapa tahu kemenanganmu
kemarin akan ludes hari
ini.”
“Menang atau kalah apa artinya, “Lo Bun-pin tertawa, “asal
dapat main, kalah sedikit uang
tidak mengapa, daripada kesal di rumah memeluk bini.”
Sementara mereka bercakap-cakap, teman-teman lainnya telah
berdatangan, bagaikan setan
kelaparan dan setan judi yang baru dibebaskan dari neraka,
serentak mereka menarik kursi
dan mengatur meja untuk minum arak sambil berjudi.
Diam-diam Ho Leng-hong menghitung jumlah anggota yang datar,
ternyata yang hadir
kemari sekarang juga lengkap, mala ditambah pula dengan
beberapa orang yang tak kelihatan
kemarin, tentu saja suasana bertambah ramai.
Begitu semuanya sudah duduk, dengan suara lantang Leng-hong
berkata, “Adapun maksud
Siaute mengundang kehadiran saudara sekalian karena ada dua
alasan. Pertama, tentu saja
untuk mohon maaf kepada saudara sekalian atas sikap kasar
kakak iparku kemarin. . . . . .”
“Kita adalah saudara sendiri, buat apa membicarakan urusan
semacam itu?” seru semua
orang, “Hei, saudara Cu-wi, kenapa hari ini kau menjadi
sungkan-sungkan dengan kami?”
“Meskipun kita adalah sahabat, adat kesopanan tak boleh
ditinggalkan. Terutama setelah
kukemukakan alasan yang kedua, kumohon kawan-kawan sekalian
bersedia memenuhi
harapanku ini.”
“Katakan saja terus terang, asal dapat kita laksanakan,
siapa yang tidak mau anggaplah dia
anak kura-kura,” sahut semua orang lagi.
Ho Leng-hong tertawa, katanya, “Maksud baik saudara sekalian
Siaute ucapkan banyak
terima kasih lebih dulu, padahal persoalan ini hanya
menyangkut persoalan pribadiku, seperti
diketahui, jauh-jauh dari Cian-sui-hu kakak iparku telah
berkunjung kemari, ia ada pesan dan
minta kepadaku untuk mulai berlatih sejenis ilmu silat
keluarga, mungkin setelah hari ini kita
akan semakin jarang bertemu lagi.”
Karena keterangan ini, gemparlah para hadirin.
Ada di antaranya yang segera berkata, “Yang berlatih biarlah
berlatih, yang bersenang-senang
boleh bersenang-senang, buat apa Nyo-heng mesti mengurung
diri dan menjauhi kawan
lama?”
“Antar teman bisa berkumpul dan bersenang-senang bersama,
betapa gembiranya suasana
seperti ini, sekalipun mau berlatih silat juga tidak harus
pantang minum arak dan berjudi?”
sambung yang lain.
Bahkan ada pula yang berkata begini, “Saudara Nyo, ilmu
silat macam apakah yang hendak
kaulatih hingga hubungan dengan para sahabatmu pun harus
diputus?”
Begitulah, seketika macam-macam bisikan dan pertanyaan
berkumandang memenuhi
ruangan, mereka sama menujukan perasaan heran dan ragu.
Ho Leng-hong menjura, lalu katanya, “Maksud Siaute bukan
hendak memutuskan hubungan
dengan para kawan, perpisahan ini hanya bersifat sementara,
karena harus menutup diri untuk
berlatih, kita akan lebih jarang bertemu. Cuma untuk
perpisahan tersebut, maka mulai
55
sekarang kita boleh berkumpul dan bergembira sepuas-puasnya,
siapapun di antara kalian tak
boleh mengundurkan diri di tengah perjamuan, kita harus
bermain sampai puas baru bubar,
Siaute telah berpesan kepada para Busu, sebelum perjamuan
bubar, tak seorangpun di antara
kalian boleh meninggalkan gedung ini. Di samping itu pihak
dapur telah menyiapkan
hidangan yang takkan berhenti, kita akan pesta pora
sepanjang hari, paling sedikit tiga hari,
tiga malam pesta ini akan terus berlangsung.”
Mereka yang hadir ini sebagian besar adalah anak orang kaya,
mereka lupa diri setlah
mendengar perkataan itu, serentak mereka berteriak
menyatakan akur.
Maka pesta segera diselenggarakan, meja judi pun disiapkan,
dengan riang gembira para tamu
mengambil tempat duduk dan mulai berpesta pora.
Selama pesta gila-gilaan berlangsung, Leng-hong sangat
memperhatikan gerak-gerik Thian
Pek-tat, ia lihat meski orang ini ikut minum arak dan
berjudi seperti lain-lainnya, namun
sering kali keningnya berkerut, seakan-akan ada sesuatu hal
yang membuat perasaannya tidak
tenang.
Thian Pek-tat datang paling cepat, dia pula yang amat
menaruh perhatian terhadap kepergian
Pang Goan, mungkinkah dia yang diam-diam bersekongkol dengan
pihak lawan?
Tanpa terasa Leng-hong teringat kembali pada kematian Siau
Cui, lalu kematian pesuruh
Hong-hong-wan dan Go So yang dibunuh untuk melenyapkan saksi
hidup . . . . .
Semua itu hakikatnya berhubungan dengan Thian Pek-tat, hal
ini membuat Leng-hong
semakin curiga.
Bila ditinjau dari pelbagai gejalanya, meski Thian Pek-tat
bukan otak dari pencurian golok
mestika itu, paling sedikit ia sudah dibeli oleh pihak
lawan, bahkan mungkin dia pula
orangnya yang mengadakan perundingan rahasia dengan gadis
baju hijau di luar Kiok-hiangsia
itu.
------------------
Tak lama setelah perjudian dimulai, benar juga, Thian
Pek-tat mengalami kekalahan total.
Sambil berpura-pura menaruh perhatian Leng-hong menepuk
bahunya, lalu berkata seraya
tertawa, “Siau Thian, tampaknya hari ini nasibmu kurang
mujur, beristirahatlah dahulu.”
Thian Pek-tat menggeleng kepala berulang kali, ia berikan
tempatnya untuk Lo Bun-pin, lalu
berdiri.
Pada kesempatan itu sengaja Leng-hong mengajak Thian Pek-tat
ke luar rumah, lalu bisiknya,
“Kalah berapa kau?”
“Tidak banyak, tiga laksa lebih, entah kenapa, hari ini aku
memang lagi sial,” Thian Pek-tat
tertawa getir.
“Tidak menjadi soal,” kata Leng-hong dengan tertawa, “tiga
laksa tahil perak bisa direbut
kembali dengan sekali permainan, kalau modalnya kurang
katakan saja kepadaku.”
“O, uang sejumlah itu masih bisa kutanggung, Cuma kartu itu
yang sialan, bikin orang
menjadi penasaran saja.”
“Aku lihat sikapmu tidak tenang, seakan-akan ada rahasia
dalam hatimu, apa gerangan yang
kau pikirkan?”
Thian Pek-tat seperti agak terkejut, cepat katanya, “Ah,
tidak! Atau mungkin Nyo-heng
melihat sesuatu yang tidak beres atas diriku?”
“O, tidak, aku hanya merasa konsentrasimu buyar, hatimu tak
tenang dan perhatianmu tak
dapat terpusat di meja judi.”
Tiba-tiba Thian Pek-tat berseru dengan suara tertahan sambil
tertawa, “Ah, benar, setelah
disinggung saudara Nyo, Siaute menjadi ingat kembali.
Padahal juga tidak terhitung rahasia
besar, selama ini Siaute hanya teringat dengan ucapan yang
Nyo-heng katakan tadi, dan
hatiku terasa agak sedih.”
56
“Oo? Perkataan apa yang kaumaksudkan?”
“Aku ini meski luas pergaulan, tapi paling tidak suka
menyanjung dan menjilat, bicara terus
terang, di antara sekian banyak teman, Siaute merasa paling
cocok dan paling menaruh
hormat terhadap Nyo-heng.”
Leng-hong cuma tertawa saja dan tidak memberi tanggapan
apa-apa.
“Oleh sebab itu,” demikian Thian Pek-tat melanjutkan,
“ketika kudengar pengumuman Nyoheng
yang bermaksud menutup diri sementara waktu untuk melatih
sejenis ilmu silat, tiba-tiba
saja Siaute merasa berat hati dan amat sedih.”
“Ya, apa boleh buat? Hal ini terpaksa harus kulakukan,
untung yang harus kulatih adalah ilmu
silat keluargaku sendiri, percayalah masa tirakat diriku tak
akan berlangsung terlalu lama.”
“Saudara Cu-wi,” kata Thian Pek-tat pula dengan wajah
serius, “maafkan bila ada kata-kataku
yang sembrono, terhadap musibah yang menimpa Thian-po-hu,
meski Siaute adalah orang
luar, sedikit banyak cukup tahu keadaan yang sebenarnya.
Bersahabat memang penting, tapi
berlatih untuk membangun kembali nama baik keluarga jauh
lebih penting daripada
segalanya, terhadap hal ini memang Nyo-heng tak boleh
teledor.”
Ketika mendengar kata “membangun kembali nama baik
keluarga”, satu ingatan tiba-tiba
terlintas dalam benak Ho Leng-hong, segera ia bertanya,
“Siau Thian, berapa banyak yang
kauketahui tentang persoalan keluarga kami?”
“Dulu ketika kakakmu yang menjadi ketua gedung ini, Siaute
kurang begitu rapat
hubungannya dengan Thian-po-hu, apa yang kudengar pun hanya
berita selentingan di luar,
jadi apa yang kuketahui hanya sedikit sekali.”
“Oya?! Apa yang dibilang orang luar?”
“Ah, tidak lebih Cuma berkisar pada kekalahan kakakmu dalam
pertemuan Lo-hu-to-hwe
serta usaha Thian-po-hu untuk meminang puteri Cian-sui-hu
dengan menyerahkan golok
mestika kalian kepada pihak perempuan.”
“Oo!” Leng-hong bersuara tertahan, pikirnya, “Dugaanku
ternyata benar, Lo-hu-to-hwe di
selenggarakan di Leng-lam, tentu masalah ini ada hubungan
dengan pihak Hu-yong-shia.”
Dalam hati ia berpikir demikian, di luar sengaja menghela
napas sambil tunduk kepala dan
membungkam.
Padahal yang benar ia sedang menunggu komentar Thian Pek-tat
lebih lanjut.
Benar juga, dengan penuh perhatian Thian Pek-tat berkata
lagi, “Saudara Cu-wi, kita boleh
dibilang ada jodoh, syukur engkau menganggapku sebagai sobat
karibmu, maka aku ingin
memberi nasihat padamu. Dengan ilmu golok warisan
Thian-po-hu ditambah dengan golok
mestika Yan-ci-po-to sepantasnya kalian tak sampai kalah
dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe,
tahukah kau apa sebabnya kakakmu sampai menderita kekalahan
total?”
Darimana Ho Leng-hong bisa tahu, terpaksa ia menggeleng
kepala belaka.
“Kekalahan yang diderita kakakmu bukan lantaran ilmu
silatnya tak dapat menandingi orang,
sebetulnya ia dikalahkan oleh satu huruf.”
“Huruf apa?” tanya Leng-hong sambil melengak.
“Perempuan!” air muka Thian Pek-tat berubah menjadi serius,
“ketika itu kakakmu masih
muda dan berdarah panas, tapi ia telah terjebak oleh
Bi-jin-keh (siasat perempuan cantik),
bukan saja rahasia ilmu golok Po-in-pat-tay-sik telah
dibocorkan, sebelum bertanding iapun
kena dicelakai lebih dulu sebab itulah gelar
Thian-he-te-it-to (golok nomor satu di dunia)
terpaksa diserahkan kepada pihak Hiang-in-hu.”
Hiang-in-hu?! ternyata benar Hiang-in-hu dari Hu-yong-shia
di wilayah Leng-lam.
Tak dapat dilukiskan perasaan Leng-hong ketika itu, entak
kejut atau bergirang ataukah
terbangkit semangatnya?
“Siau Thian, darimana kautahu tentang persoalan ini?”
buru-buru ia tanya.
Thian Pek-tat tertawa, ia menjawab, “Meski hal ini merupakan
suatu rahasia besar, tapi mana
bisa lolos dari pendengaranku si telinga panjang. Terus
terang kukatakan padamu, ada
57
seorang Bu-lim-cianpwe yang telah membocorkan rahasia ini,
waktu itu Cianpwe tersebut
ikut dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe, dengan mata kepala
sendiri ia saksikan kakakmu
menderita kekalahan total, rupanya peristiwa itu menimbulkan
kecurigaannya, kemudian
setelah dilakukan penyelidikan secara diam-diam, terbuktilah
bahwa apa yang dicurigainya
memang betul.”
“Tapi belum pernah kakakku menceritakan kejadian itu
padaku.”
“Setelah terkena siasat Bi-jin-keh lawan, tentu saja ia
merasa malu untuk menceritakan
kejadian ini kepadamu. Cuma bila kita tinjau apa yang diatur
dan dipersiapkannya sebelum
meninggalkan tempat ini, dapat kita simpulkan bagaimanakah
perasaan hatinya waktu itu.”
“Oya?” Leng-hong berseru heran.
“Dengan Yan-ci-po-to sebagai alasan, kakakmu berangkat ke
Cian-sui-hu, jelas dia ingin
menggunakan ilmu pedang Cian-sui-hu untuk menutupi kelemahan
Po-in-to-hoat keluargamu,
di samping itu, iapun berharap dengan kecantikan serta
kebijaksanaan nona Wan-kun
kehidupanmu bisa dikendalikan sehingga tak sampai terperosok
lagi seperti apa yang
dialaminya.”
Diam-diam Leng-hong mengenang kembali perkataan Pang Goan,
mau-tak-mau dia harus
mengakui ucapan Thian Pek-tat ini memang masuk di akal.
Hanya ada satu hal yang tidak dipahami, yaitu kenapa Thian
Pek-tat memberitahukan hal ini
kepadanya?
Jika Thian Pek-tat adalah orang pihak Hiang-in-hu,
lebih-lebih tidak seharusnya membongkar
rahasia ini.
Ketika melihat rekannya hanya diam saja, Thian Pek-tat
berkata pula, “Saudara Cu-wi, selama
ini kita hanya berpesta pora dan berfoya-foya, urusan yang
penting memang telah kita abaikan
sekian lama, untuk menambal kekurangan kita di masa lalu,
rasanya belum terlalu terlambat,
sebagai sahabat aku berkewajiban memberi nasihat,
selanjutnya hendaknya kaubangkit
menjunjung kembali nama baik Thian-po-hu, sebab cita-cita
luhur kakakmu terletak dia atas
pundakmu.”
Leng-hong mengangguk.
Tiba-tiba Thian Pek-tat berbisik, “Seperti tindakanmu
menyelidiki Hong-hong-wan tempo
hari, sejak kini mesti diperhatikan sebaik-baiknya, siapa
tahu kalau tempat itu adalah
perangkap yang telah diatur oleh pihak Hiang-in-hu.”
Mendengar perkataan ini, Leng-hong merasa terkejut, baru
saja dia hendak bersuara, saat itu
kebetulan Lo Bun-pin muncul.
Begitu bertemu, orang she Lo itu lantas berseru dengan suara
lantang, “Hai, apa yang kalian
rundingkan di sini? Cepat masuk ruangan, kini Lo Cin lagi
mujur besar, semua orang tak
mampu menahan kehebatannya.”
Dengan cepat Thian Pek-tat berganti sikap lain, katanya
sambil tertawa, “O, ya?! Lo Cin lagi
jagoan sekarang? Itulah yang dinamakan: bila di gunung tak
ada harimau, monyet pun
menjadi raja. Hayo berangkat, biar aku orang she Thian
ringkus monyet itu!”
Begitulah mereka bertiga lantas masuk kembali ke arena judi.
Leng-hong sudah tidak berhasrat untuk berjudi lagi, setelah
melayani sekian lama, ketika
senja hampir tiba, ia mengundurkan diri, dan kembali ke
taman belakang.
Pang Goan hanya berjanji akan mengadakan dua kali pertemuan
dalam sehari, pagi sekali dan
malam sekali, tapi ia tidak menetapkan waktu yang tepat.
Dengan tergesa-gesa Leng-hong melakukan pencarian di sekitar
taman, tapi tak sesosok
bayangan manusia pun ditemukan, selagi gelisah, mendadak di
antara embusan angin ia
merasa ada suara pembicaraan orang.
Di mana Ho Leng-hong berada sekarang adalah tepi hutan
buatan yang tadi pagi digunakan
Pang Goan untuk berlatih silat, suara pembicaraan itu
berasal dari balik hutan sana, seperti
58
ada dua orang sedang berbisik-bisik di sana, tapi apa yang
sedang mereka bicarakan tidak
kedengaran jelas.
Setelah diperhatikan sekian lama, Leng-hong hanya dapat
membedakan bahwa suara itu
berasal dari dua orang perempuan.
Sesungguhnya Leng-hong ingin menghardik kedua orang itu,
tapi ingatan lain mencegahnya
untuk berbuat begitu, agar tidak “mengusik rumput
mengejutkan ular”, ia tidak masuk ke
hutan, tapi ia melayang ke atas pohon dan bersembunyi di
antara daun yang rimbun.
Tak lama kemudian, suara pembicaraan itu berhenti, menyusul
lantas kedengaran suara
langkah orang yang perlahan.
Dua orang gadis berjalan keluar dari balik hutan sambil
bergandengan tangan.
Leng-hong bersembunyi di atas pohon dengan menahan napas,
dilihatnya kedua gadis itu
lewat di bawah pohon, dan terlihat jelas bahwa kedua orang
itu tak lain adalah Bwe-ji dan
Siau Lan.
Bwe-ji menenteng sebuah keranjang bunga, di dalamnya
terdapat beberapa tangkai bunga
sedap malam.
Siau Lan membawa cangkul kecil, di ujung cangkul masih
tersisa sedikit tanah lumpur.
Sepintas lalu kedua orang itu seperti baru saja menanam
bunga, tapi mengapa menanam
bunga di waktu malam?
Lebih tak mungkin lagi kalau menanam bunga di dalam hutan
yang penuh pepohonan.
Gerak-gerik kedua orang itu sangat rahasia dan mencurigakan,
setelah keluar dari hutan,
mereka celingukan dulu ke sana kemari, sesudah yakin di
sekitar situ tak ada orang, segera
mereka melompat keluar dengan cepat, sesudah jauh dari
pepohonan, langkah mereka baru
diperlambat.
Kedengaran Bwe-ji sedang berbisik lirih, “Lebih baik kita
berpisah di sini saja, ingat, suruh
dia datang tengah malam nanti, dan jangan lupa harus
berhati-hati.”
“Aku tahu, kau sendiri juga mesti berhati-hati, jangan
sampai dilihat orang lain,” jawab Siau
Lan.
Kedua orang itu berpisah di tepi hutan, Bwe-ji menuju ke
timur dan kembali ke loteng, sedang
Siau Lan ke barat dan menuju ke pintu taman belakang.
Leng-hong segera memutuskan untuk menguntit Siau Lan, dia
ingin tahu manusia macam
apakah yang hendak ditemuinya, tapi baru saja dia hendak
melompat turun, tiba-tiba dari atas
kepalanya menyambar turun sebuah tangan dan mencengkeram
kuduk bajunya.
Saking terkejutnya hampir saja Leng-hong berseru, cepat ia
mendongak ke atas, ternyata Pang
Goan yang nongkrong di antara rimbunnya dedaunan.
Ketika melompat ke atas pohon tadi, pemuda itu tidak
mengetahui di atas pohon sudah hadir
seorang yang lain, diam-diam ia merasa malu, dengan suara
serak katanya, “Lotoako, sudah
kau lihat kedua orang dayang itu?”
Pang Goan mengangguk, “Aku datang lebih dulu dari mereka
berdua, tentu saja dapat kulihat
dengan jelas.”
“Apakah kautahu perbuatan apa yang mereka lakukan di dalam
hutan ini?” tanya Leng-hong.
“Rupanya sedang menanam suatu benda.”
“Menanam sesuatu benda? Benda apa yang mereka tanam?”
“Aku tidak jelas benda apa yang mereka tanam, Cuma . . . “
tiba-tiba ia tertawa lebar, “bila
nasib kita tidak jelek, kemungkinan besar itulah benda yang
sedang kita cari.”
“Golok mestika Yan-ci-po-to?” Leng-hong berseru tertahan.
Sambil tertawa Pang Goan manggut-manggut, katanya, “Padahal
mestinya kita dapat berpikir
ke situ. Ketika fajar tadi dayang tersebut kaupergoki tanpa
sengaja, ia berada dalam keadaan
tangan hampa tanpa membawa sesuatu, bila kita pikirkan, bisa
disimpulkan tentunya karena
hari sudah terang tanah, mereka tak sempat menyelundupkan
benda curian itu keluar.”
59
“Benar,” seru Leng-hong sambil bertepuk tangan, “Jika golok
mestika itu berhasil
diselundupkan keluar gedung, sudah pasti mereka akan kabur
meninggalkan tempat ini, dan
tak mungkin tetap tinggal di sini menempuh bahaya.”
“Sesudah mengetahui isi kotak itu ternyata golok palsu,
mestinya mereka menyadari golok
asli tak dapat dicuri semudah itu, kemudian karena aku
kurang berhati-hati sehingga tempat
menyimpan golok pusaka itu diketahui mereka dan benda itu
berhasil mereka dapatkan, tapi
karena tak sempat lagi menyelundupkannya keluar, terpaksa
mereka menanamnya lebih dulu
di sini.”
“Tapi seandainya pada saat terakhir mereka putuskan untuk
menanam golok pusaka itu,
sepantasnya benda itu di tanam di sekitar Kiok-hiang-sia,
kenapa tidak disembunyikan di
tempat yang dekat, sebaliknya malah menanamnya di hutan yang
jauh letaknya sini.”
“Apa yang perlu diherankan lagi?” Pang Goan tertawa,
“mula-mula tentunya mereka akan
menyembunyikannya di sekitar Kiok-hiang-sia, tapi lantaran
tempat tersebut luas dan dekat
air, mungkin sulit untuk digali, maka terpaksa malam-malam
begini mereka menanamnya di
sini.”
Begitulah, hasil analisa kedua orang ini menunjukkan golok
mestika Yan-ci-po-to bukan saja
belum meninggalkan gedung Thian-po-hu, benda tersebut pasti
ditanam di dalam hutan ini
oleh Bwe-ji dan Siau Lan.
Ho Leng-hong merasa semangatnya berkorbar, katanya, “Sungguh
atas berkah Thian,
Lotoako, mari kita gali golok pusaka itu, kemudian baru kita
menunggu sang kelinci keluar
dari liangnya, bila tengah malam nanti mereka datang untuk
mengambil golok, kita ringkus
mereka semua.”
Pang Goan menyatakan akur, bahkan pesannya, “Sebentar bila
sudah mendapatkan kembali
golok mestika tersebut, lebih baik kau kembali ke ruang
depan dan jangan menunjukkan tanda
apa-apa, kita bukan saja mendapatkan kembali golok mestika
itu, yang lebih penting adalah
menyelidiki siapakah yang berdiri di belakang layar dalam
peristiwa ini.”
“Siaute sudah melakukan pengamatan secara diam-diam, aku
rasa Thian Pek-tat merupakan
orang yang mencurigakan.”
Secara ringkas iapun menceritakan apa yang dialaminya selama
berada di ruangan depan tadi.
Selesai mendengarkan penjelasan tersebut, Pang Goan tidak
memberi komentar apa-apa,
dengan suatu gerakan lincah dia merosot turun ke bawah pohon
dan masuk ke hutan untuk
mencari tempat penanaman golok.
Orang lain memberi poyokan padanya sebagai “Monyet Pang”,
kenyataannya bukan saja
tampangnya mirip monyet, ternyata kepandaiannya memanjat
pohon juga lebih lincah
daripada monyet, caranya menerobos hutan, bukan saja gesit,
juga cepat luar biasa.
Tak berapa lama kemudian, dengan mudah mereka berhasil
menemukan sebuah gundukan
daun busuk di engah hutan, tampak jelas daun-daun busuk itu
pernah disentuh orang.
Dengan kedua tangannya, Pang Goan membongkar daun-daun busuk
itu, benar juga di bawah
tumpukan daun tadi ditemukan tanah lumpur yang barusan
digali, bahkan diberi pula sebuah
tanda sebagai tanda.
“Nah, pasti di sini tempatnya,” kata Leng-hong “harap
Lotoako tunggu sebentar, akan
kucarikan sebuah cangkul.”
“Hanya tanah lumpur saja, buat apa pakai cangkul?”
“Sambil berkata, dengan kesepuluh jari tangannya yang
dipentangkan bagaikan cakar ia
menggali tanah tersebut, sekali mencengkeram segumpal tanah
lantas diangkatnya.
Orang ini memang tangguh, kedua tangannya ternyata lebih
berguna daripada cangkul, tak
lama kemudian tergali sebuah liang besar.
Benar juga, di dalam liang tertanam satu pak panjang yang
dibungkus dengan kain minyak.
Pang Goan menengadah dan menarik napas panjang, katanya
dengan perasaan lega, “Ai,
akhirnya benda mestika ini berhasil ditemukan kembali,
mungkin arwah kakakmu melindungi
60
kita, juga takdir telah menetapkan bahwa Thian-po-hu harus
mengembangkan kembali nama
baiknya.”
Dengan tatapan tajam Leng-hong memperhatikan bungkusan kain
minyak itu sekian lama,
tiba-tiba katanya, “Lotoako jangan keburu gembira lebih
dulu, kulihat isi bungkusan ini rada
mencurigakan.”
“Oya?” desis Pang Goan kaget.
“Seandainya bila bungkusan ini sudah ditanam selama sehari
di sini, bila digali keluar lagi
tentu akan memperlihatkan tanda kelembaban, tapi kain minyak
ini tampak kering dan masih
baru, jelas belum lama ditanam di sini . . . .”
Belum habis kata-katanya, buru-buru Pang Goan membuka
bungkusan kain minyak itu, isi
bungkusan itu memang sebilah golok besar.
Cuma golok tersebut bukan golok mestika Yan-ci-po-to yang
sedang mereka cari, golok ini
hanya sebilah golok biasa yang umum.
Kontan saja Pang Goan mendengus marah, katanya, “Kurang ajar
benar kedua perempuan
anjing itu, berani betul mereka melakukan siasat licik ini
untuk menipu kita.”
Leng-hong berpikir sebentar, lalu katanya, “Namun ada satu
hal yang mencurigakan,
darimana mereka tahu kita bakal datang dan menyiapkan lebih
dulu sebatang golok palsu
ini?”
“Mungkin kedua orang perempuan hina itu sengaja bermaksud
mengambil golok mestika
pada waktu malam, tapi tiba-tiba melihat kaupun berada di
taman sini, maka pada saat
terakhir mereka ganti siasat dan sengaja menanam golok biasa
di sini, lalu pada kesempatan
kita sedang menggali di sini, mereka gunakan peluang
tersebut untuk menyelundupkan golok
mestika itu keluar, untuk mendapatkan sebilah golok biasa
dalam Thian-po-hu kan tidak
sukar?”
“Seandainya . . . .”
“Jangan pakai seandainya, untung belum terlambat, golok
mestika Yan-ci-po-to itu pasti
masih berada di sekitar Kiok-hiang-sia, kalau kita lakukan
pengejaran sekarang, mungkin
masih belum terlambat.”
Rasa gusar, gemas dan cemas membuat tokoh Cian-sui-hu ini
ingin sekali melompat
mencapai Kiok-hiang-sia, ketika kata terakhir diucapkan,
bagaikan angin ia sudah melayang
keluar dari hutan sana.
Cepat Leng-hong mengikut di belakangnya.
Tapi tak lama setelah keluar hutan, tiba-tiba Leng-hong
menarik ujung baju Pang Goan
sambil berbisik, “Lotoako, harap tunggu sebentar.”
“Tunggu apa?” tanya Pang Goan sambil berhenti.
Leng-hong tidak menjawab, ia celingukan sejenak memandang
sekeliling tempat itu, lalu
menariknya masuk kembali ke dalam hutan.
“Hei, apa yang kau lakukan?” tegur Pang Goan keheranan, “Kau
tahu, waktu sudah
mendesak, jangan sampai kehilangan waktu yang berharga.”
Ho Leng-hong menggoyangkan tangannya berulang, katanya
dengan suara parau,
“Bagaimana juga Siaute merasa di balik kejadian ini masih
ada hal lain yang mencurigakan,
Lotoako boleh melakukan pemeriksaan di sekitar
Kiok-hiang-sia, tapi jangan sampai jejakmu
ketahuan orang, sedang Siaute akan tetap menunggu saja di
sini.”
“Apa yang hendak aku tunggu di sini?”
“Siaute mempunyai suatu firasat, bila golok mestika
Yan-ci-po-to tiada di Thian-po-hu, maka
kemungkinan besar benda tersebut masih berada dalam hutan
ini.”
Pang Goan berpikir sebentar, kemudian katanya, “Baiklah, kau
boleh tinggal di sini, sedang
aku akan melakukan pemeriksaan di sekitar Kiok-hiang-sia,
bila di sana tidak berhasil
kutemukan sesuatu, aku akan segera kembali ke sini.”
61
Leng-hong membiarkan Pang Goan berlalu, ia tunggu bayangan
orang sudah tak tampak baru
kembali ke tepi liang penyimpan golok tadi.
Mula-mula ia masukkan dulu golok tersebut ke tempatnya
semula, lalu ditimbun dengan tanah
dan akhirnya diberi saputangan dan ditutup pula dengan daun
busuk.
Ketika segala sesuatunya sudah beres, Leng-hong baru
melayang kembali ke atas dahan
pohon, menutupi badannya dengan dedaunan dan menunggu di
sana dengan tenang.
Apa yang dinantikan? Ia sendiripun tak dapat menerangkan,
tapi bagaikan seorang pemburu
yang berpengalaman ia menunggu dengan penuh kesabaran dan
penuh rasa percaya pada diri
sendiri.
Sekian lama sudah, tapi suasana tetap hening, Pang Goan juga
belum kembali.
Leng-hong tetap duduk diam di atas pohon, ia perhatikan
suasana di sekeliling tempat itu
dengan seksama.
Lewat sekian lama pula, suasana di sekeliling situ tetap
hening, sama sekali tiada suatu yang
mencurigakan.
Leng-hong mulai gelisah..... bukan karena dugaannya keliru,
tapi merasa kuatir atas
keselamatan Pang Goan yang pergi dan tak kembali lagi itu.
“Sret!” mendadak terdengar suara enteng, tahu-tahu di bawah
pohon telah bertambah dengan
sesosok bayangan manusia.
Sungguh cepat kemunculan orang ini, suara gemersik dan
kelebatan bayangan hampir terjadi
pada saat yang sama, baru saja desir angin terdengar
tahu-tahu orang itu sudah berada di
bawah pohon.
Betapa kejut Leng-hong, ia nyaris terjatuh dari atas pohon.
Apalagi setelah melihat jelas raut
wajah serta dandanan orang itu, hampir ia menjerit kaget.
Orang ini mengenakan gaun berwarna kuning telur, ternyata
tak lain adalah Pang Wan-kun.
Gerak-gerik Pang Wan-kun kelihatan agak gugup, tampaknya ia
tak menyangka di atas pohon
bersembunyi seseorang, dengan sorot mata tajam ia awasi
tempat penyimpanan golok itu, lalu
mencabut sebilah pisau belati dan mulai menggali tanah
dengan tergesa-gesa.
Sesungguhnya Leng-hong hendak menegurnya, tapi setelah
menyaksikan keadaan itu ia
urungkan niatnya.
Pang Wan-kun bukan Cuma gugup, baju dan rambutnya juga kusut
tak teratur, pula bahu
kirinya kelihatan berdarah, jelas ia terluka.
Sebab apa ia terluka? Darimana ia tahu golok mestika itu
disembunyikan di sini? Mengapa ia
gugup? Apa yang hendak digalinya....
Semua pertanyaan itu dengan cepat telah memperoleh
jawabannya. Pang Wan-kun bekerja
dengan cepat, tak seberapa lama golok berbungkus kain minyak
itu sudah tergali keluar.
Tapi ia tidak memperhatikan golok tersebut dan dibuang
begitu saja ke samping, lalu
melanjutkan pekerjaannya menggali liang.
Tak lama kemudian, dari dalam liang ia mengeluarkan pula
suatu bungkusan yang lain.
Mencorong sinar mata Ho Leng-hong, cukup sekilas pandang
saja ia lantas mengenali benda
itu sebagai bungkusan yang digunakannya untuk menyimpan
golok Yan-ci-po-to semalam.
Kiranya benda yang disembunyikan Bwe-ji dan Siau Lan memang
benar-benar adalah golok
mestika Yan-ci-po-to, Cuma pada lapisan yang atas mereka
taruh pula sebilah golok biasa.
Kecuali menyaksikan dengan mata kepala sendiri, siapa yang
akan menduga di dalam liang
telah ditanam dua bilah golok yang berbeda?
Ho Leng-hong tak menyangka, Pang Goan yang cerdik dan teliti
pun tak mengira.
Tapi, dari mana Pang Wan-kun bisa tahu?
Melihat gelagatnya, bukan saja ia tahu tentang penyimpanan
golok mestika itu, bahkan bisa
jadi Bwe-ji dan Siau Lan melakukan pekerjaan itu atas
perintahnya . . . .
62
Pelbagai pikiran berkecamuk dalam benak Ho Leng-hong,
meskipun ia merasa terkejut,
macam-macam tanda tanya selama beberapa hari akhirnya
tersingkap juga, dengan enteng ia
lantas melayang turun ke bawah.
Waktu itu Pang Wan-kun sedang membuka kain yang membungkus
golok tersebut, betapa
terperanjatnya demi melihat kemunculan Ho Leng-hong, air
mukanya berubah hebat, sambil
mundur dua-tiga langkah ia sembunyikan golok mestika itu di
belakang punggungnya.
Leng-hong tertawa lebar, katanya, “Hah, tak kausangka bukan
bahwa aku akan muncul di
sini?”
Dengan tangan kiri masih disembunyikan di belakang punggung,
Pang Wan-kun menepuk
dadanya dan mengembuskan napas, katanya sambil tertawa, “Ai
benar-benar tak kusangka,
Jit-long kaubikin kaget padaku saja.”
“Nona, kupikir sebutan di antara kita kini perlu diganti,”
kata Leng-hong sambil tertawa.
“Kenapa?”
“Sebab kau bukan Pang Wan-kun, dan kaupun tahu aku bukan Nyo
Cu-wi, sandiwara suamiisteri
sudah berlangsung hingga kini, apakah tidak perlu diakhiri
saja?”
“Aku tidak paham akan maksudmu!”
Ho Leng-hong mendesak maju selangkah, lalu katanya lagi
dengan suara tertahan, “Apa
susahnya untuk memahami? Tujuan kalian adalah mencuri golok
mestika Yan-ci-po-to,
sebenarnya urusan ini tak ada sangkut pautnya denganku, tapi
dengan pelbagai akal muslihat
kalian telah menyeretku terjerumus ke dalam pusaran air
ini.”
Bergetar badan Pang Wan-kun, ditatapnya wajah Ho Leng-hong
dengan tajam, ia tidak
membenarkan pun tidak menyangkal ucapannya.
Leng-hong menjadi semakin bangga, katanya lebih lanjut,
“Kalau dipikir kembali, sungguh
aku amat bodoh. Selama ini, hampir saja kuanggap diriku
benar-benar adalah Nyo Cu-wi, tak
lama berselang akupun masih menganggap kau sebagai Pang
Wan-kun yang sesungguhnya,
tapi sekarang aku telah paham. Cuma, nona, dengan berani kau
menyamar sebagai majikan
perempuannya gedung Thian-po-hu, begini persis samaranmu
sehingga Pang-toako pun
terkelabui, hal ini membuktikan bahwa kecerdikan maupun
keberanianmu sungguh sangat
mengagumkan.”
Pang Wan-kun berkedip-kedip seperti orang bingung, katanya
dengan ragu, “Jit-long, kau
omong apa? Jangan-jangan menyakitmu kumat lagi?”
“Ya, mungkin saja menyakitku kumat lagi,” kata Leng-hong
sambil tertawa, “tapi sekali ini
untung hadir seorang tabib sakti di sini. Nona, asal
kauserahkan golok Yan-ci-po-to itu
kepadaku, lalu kita bersama-sama menghadap Pang-lotoa, siapa
yang sakit dan siapa yang
tidak dengan cepat pasti akan diketahui.”
“Hei, apa yang kau maksudkan dengan golok Yan-ci-po-to? Di
mana ada Yan-ci-po-to?”
“Itu dia, di belakang punggungmu! Bagaimanapun kita sudah
menjadi suami-isteri, lebih baik
serahkan sendiri kepadaku, sebab kalau terpaksa harus
kugunakan kekerasan, tentu akan
lenyaplah semua hubungan kasih mesra suami-isteri antara
kita berdua.”
Pang Wan-kun mengulurkan tangan kirinya dan memperlihatkan
sarung golok ke depan,
katanya, “Apakah golok ini yang kaumaksudkan sebagai
Yan-ci-po-to?”
“Masa bukan? Kukenal dengan jelas kain pembungkus golok itu,
dan lagi pada gagang golok
terdapat huruf yang gemerlapan . . . . “
Pang Wan-kun menghela napas panjang, ia sodorkan sarung
golok itu ke depan Leng-hong,
katanya, “Ai, kalau kau ngotot mengatakan golok ini adalah
golok mestika Yan-ci-po-to
segala, nah ambil dan lihatlah sendiri.”
“Ya, aku memang ingin memeriksanya dengan seksama, mana
mungkin kusalah lihat . . . .”
Baru saja tangannya memegang ujung sarung golok, baru
disadarinya bukan salah melihat
terhadap goloknya melainkan orangnya.
63
Waktu Pang Wan-kun menyodorkan golok itu kepadanya, ekor
sarung golok itu tertuju ke
arah Ho Leng-hong dengan gagang golok menghadap ke arahnya
sendiri, dan tatkala anak
muda itu memegang sarung golok, tiba-tiba ia membalik
telapak tangannya dan tahu-tahu
gagang golok telah tergenggam.
“Creng!” cahaya tajam gemerlapan, golok itu secepat kilat
sudah dilolos dari sarungnya.
Ho Leng-hong hanya merasa ketiaknya tersambar angin dingin,
cepat ia lepaskan pegangan
sambil melompat mundur, tapi antara pinggang dan perut telah
tersayat suatu luka sepanjang
tujuh delapan inci, dara segera mengucur keluar.
Pang Wan-kun membalik lagi tangan kanannya dan meraih sarung
golok dari tangan Lenghong,
katanya sambil tertawa dingin kepada Leng-hong, “Mengingat
hubungan suami-isteri,
kuampuni jiwamu dari tebasan golok tadi, maka lebih baik
jangan kauterangkan asal-usulmu
kepada si monyet Pang, sebab jika ia sampai mencari tahu
jejak Nyo Cu-wi dan isterinya,
maka kau pun akan mengalami kesulitan sendiri.”
Selesai berkata ia masukkan goloknya ke dalam sarung, lalu
memutar badan dan berlalu dari
situ.
Dengan sempoyongan Leng-hong memburu maju tapi darah segar
mengucur lebih deras dari
lukanya, tenggorokkan terasa kering seperti terbakar, kepala
pusing dan hampir roboh.
Ia sadar musuh tak mungkin terkejar, terpaksa ia himpun
tenaga dan berteriak keras-keras,
“Pang-toako . . . Pang-toako . . . .”
Tapi sebelum mendengar suara jawaban Pang Goan, robohlah dia
tak sadarkan diri.
-----------------------
Entah sudah lewat beberapa lama, entah apa pula yang terjadi
kemudian.
Ketika Ho Leng-hong mengendus bau harum bunga dan membuka
matanya, baru
diketahuinya dirinya berbaring dalam Kiok-hiang-sia.
Duduk di kursi di tepi pembaringan seorang nyonya muda
berwajah cantik sedang
menundukkan kepala sambil menyulam kain sarung bantal.
Dipandang dari samping, jelas nyonya cantik ini bukan lain
adalah Pang Wan-kun.
Sungguh tidak kepalang kaget Ho Leng-hong, hampir saja ia
melompat bangun dari
pembaringan.
Tapi baru saja setengah badannya terangkat, lambungnya
terasa sakit sekali, ia mengeluh dan
roboh kembali ke atas bantal.
Rintihannya mengejutkan Pang Wan-kun yang duduk di
sampingnya, buru-buru ia menaruh
sulamannya dan berpaling, lalu sapanya dengan tersenyum,
“Jit-long, kau telah sadar? Tidur
saja dengan tenang, jangan sampai pecah lagi lukamu.”
Dengan sorot mata kaget, gusar, mendongkol dan cemas
Leng-hong melototi nyonya itu,
seakan-akan sedang berhadapan dengan setan iblis yang
menyeramkan.
Pang Wan-kun tertawa manis, pelahan ia membetulkan ujung
selimut, katanya, “Kenapa kau
melotot padaku? Seperti tidak kenal aku lagi?”
“Hm, kau perempuan siluman, tak kusangka kau masih berani
tinggal di sini!”
“Kenapa aku tak boleh tinggal di sini? Tempat ini adalah
Thian-po-hu, rumah kita . . . .”
“Cis!” sungguh Leng-hong ingin meludahi nyonya muda
tersebut, katanya sambil menggigit
bibir, “apa yang kauinginkan sudah didapatkan, kenapa tidak
lekas angkat kaki? Kauanggap
aku tak berani membongkar rahasiamu ini kepada Pang-toako?”
Wan-kun sama sekali tidak marah, dengan tenang katanya,
“Jit-long, agaknya penyakit
gilamu kambuh lagi!”
“Kausendiri yang gila,” teriak Leng-hong dengan marah,
“terus terang kukatakan padamu,
aku hendak . . . .”
64
“Kauhendak bilang apa? Terhadap siapa? Jit-long, kuanjurkan
lebih baik tenanglah dulu,
sekarang semua orang tahu kau mengidap penyakit gila, apapun
yang kaukatakan tak akan
dipercaya oleh siapapun.”
“Semua kejadian akan kusingkap, kau yang mencuri
Yan-ci-po-to, kau juga yang melukai
diriku.”
Wan-kun tertawa tak acuh, “Terserah apa katamu, pokoknya
Toako sudah tahu Bwe-ji dan
Siau Lan yang mencuri golok itu, dan kau terluka di tangan
seorang berkerudung, untung aku
datang tepat pada waktunya hingga jiwamu selamat, malah
akupun terluka karena berusaha
menolongmu, sedang orang berkerudung itu berhasil meloloskan
diri.”
“Tapi kutahu Bwe-ji dan Siau Lan mendapat perintahmu, atau
paling sedikit mereka adalah
dayang-dayang kepercayaanmu, bagaimanapun jua tak mungkin
kau tak tahu menahu akan
perbuatan mereka.”
“Ya, memang, mereka adalah dayang-dayang kepercayaanku, tapi
bukan aku yang membawa
mereka dari Cian-sui-hu, jika mereka sampai bersekongkol
dengan orang luar, apa aku yang
bertanggung jawab?”
“Hm, cepat atau lambat merekapun takkan lolos dari
cengkeraman Pang-lotoa, asal satu saja
di antara mereka tertangkap, tak sulit untuk memaksanya
mengaku.”
“Sayang selamanya mereka takkan tertangkap lagi,” kata
Wan-kun sambil mengangkat bahu.
“Berdasar apa kauberani berkata demikian?”
“Sebab mereka telah dibunuh orang di dekat Kiok-hiang-sia
semalam!”
“Kau yang membunuh mereka?”
“Tentu saja bukan aku, pembunuh itu datang dari ruang depan,
lagipula seorang pria, justru
lantaran Toako harus mengejar pembunuh itu, maka ia tak bisa
kembali ke hutan tepat pada
saatnya.”
“Ia pasti akan berhasil menyelidiki siapa pembunuh itu?”
“Seharusnya ia akan berhasil, sayang tindakannya terlampau
buru-buru, dan lagi sahabatsahabat
anjingmu terlalu jeri kepadanya, maka akhirnya kecuali
membubarkan mereka, hasil
apapun tidak ditemukan.”
“Di mana orangnya sekarang?”
“Itu!” Pang Wan-kun memondongkan mulutnya keluar jendela,
“ia tak pernah putus
harapannya untuk menemukan golok mestika itu, dianggapnya
benda tersebut masih ada di
dalam taman, sejak tengah malam kemarin ia pimpin sendiri
orang-orang untuk menggali
taman dan hingga sekarang belum juga istirahat, sayang
sekali tanaman bunga-bunga dalam
taman di sekitar Kiok-hiang-sia semuanya porak poranda.”
Ho Leng-hong coba melongok keluar lewat jendela, kemudian
dengan sedih ia menghela
napas panjang.
Bayangan manusia tampak bergerak di sekitar Kiok-hiang-sia,
suara cangkul dan sekop
kedengaran nyaring, dipimpin sendiri oleh Pang Goan, puluhan
orang Busu itu bekerja keras
menggali hampir seluruh pelosok taman untuk mencari golok
mestika Yan-ci-po-to.
“Selama Pang-lotoa masih berada di Thian-po-hu, pati akan
berakhir riwayatmu,” kata Lenghong
dengan gemas, “akan kubongkar semua rahasiamu kepadanya.”
Pang Wan-kun kembali tertawa, “Kau tak akan berbuat
demikian, sebab hal ini tak ada
manfaatnya bagimu, malah sebaliknya akan mendatangkan banyak
kesulitan, apalagi kau
pernah mengidap penyakit gila, siapa yang akan percaya pada
keteranganmu?”
“Tapi paling sedikit aku sudah tahu kau bukan majikan
perempuan dari Thian-po-hu, Pang
Wan-kun adalah saudara kandung Pang Goan, ia pasti dapat
membuktikan bahwa kau adalah
Pang Wan-kun gadungan.”
Wan-kun tertawa senang, katanya pula, “Dengan cara apa
hendak ia buktikan aku ini
gadungan? Saudara seayah lain ibu, lagi pula usianya selisih
sekian puluh tahun, hidup
terpisah sekian lama, sewaktu di rumah pun sehari belum
tentu bertemu satu kali, apalagi
65
setelah kawin, sekalipun di tubuhku mempunyai tanda khusus
juga belum tentu ia akan
mengetahuinya, sekalipun tahu, masa dia akan mencopot bajuku
untuk melakukan
pemeriksaan?”
Setelah berhenti sebentar, katanya lebih lanjut, “Apalagi
aku bukan Pang Wan-kun dan
kaupun bukan Nyo Cu-wi, bila urusannya terbongkar, apakah
kau tidak kuatir akan kugigit
dirimu bahwa kita bersekongkol?”
Ho Leng-hong terbelalak dan melongo, untuk sesaat ia tak
sanggup membantah.
“Benar juga kata-katanya,” demikian ia berpikir, “bukan saja
aku tak punya bukti, asal usulku
juga tak jelas, mana mungkin perkataanku akan dipercaya oleh
Pang Goan?”
Sambil tertawa Pang Wan-kun duduk di tepi pembaringan,
dipegangnya bahu pemuda itu
dengan tangannya yang halus, lalu katanya dengan lembut,
“Jit-long, kau adalah orang yang
pintar, tak nanti melakukan perbuatan sebodoh itu.”
Harta kekayaan, kedudukan dan isteri cantik belum tentu bisa
didapatkan orang lain meski
dalam mimpi, tapi kau telah memperolehnya secara gampang,
apalagi yang masih kurang?”
Ho Leng-hong tak bisa bersuara lagi, ia merasa timbul hawa
dingin dalam lubuk hatinya,
rasanya seperti terjerumus ke gudang es.
Perempuan itu sungguh terlalu lihay, segala sesuatunya telah
diatur secara cermat dan rapi,
apa lagi yang dapat dikatakannya?
Agaknya Pang Wan-kun dapat menebak isi hatinya, kembali ia
berkata, “Pepatah kuno
mengatakan: menjadi suami isteri dalam semalam, selamanya
terkenang tak terlupakan. Kita
adalah suami isteri, tak mungkin kucelakai dirimu.”
Ho Leng-hong termenung agak lama, kemudian menghela napas
panjang, katanya, “Beri
tahukan padaku, sesungguhnya siapa kau? Golok Yan-ci-po-to
telah kaudapatkan, apa lagi
yang kauinginkan?”
Sambil tersenyum Wan-kun mentowel pipinya lalu berbisik
lirih, “Aku bernama Pang Wankun,
kau bernama Nyo Cu-wi, aku adalah isterimu dan kau adalah
suamiku, sekarang
demikian, besokpun begitu. Sebagai seorang isteri, kecuali
memikirkan suami sendiri, apa lagi
yang perlu dipikirkan?”
Ucapan ini penuh nada kasih sayang, tapi bagi pendengaran Ho
Leng-hong cukup mendirikan
bulu kuduknya.
“Kita suami isteri sudah bicara cukup lama,” kata Wan-kun
kemudian, “sedang Toako masih
sibuk menggali pusaka di luar sana, sepantasnya diundang
masuk untuk beristirahat.”
Tidak menunggu jawaban Leng-hong dia lantas berteriak dengan
nyaring, “Peng-ji!”
Seorang genduk cilik bermuka bulat lari masuk ke kamar,
“Hujin memanggil hamba?”
tanyanya.
“Beri tahukan kepada Kuloya, katakan Tuan sudah sadar dan
mengundang beliau kemari,
jangan menggali terus menerus!”
Ho Leng-hong kenal genduk yang bernama Peng-ji itu adalah
babu pekerja kasar di situ,
orangnya rada bodoh dan cara bekerjanya agak lambat, mungkin
lantaran Bwe-ji dan Siau
Lan mati secara beruntun, maka ia ditaruh di sana untuk
melayani segala keperluan.
Kini Leng-hong tak berani memandang rendah seorang babu
bodoh lagi, sebab kalau Pang
Wan-kun memilihnya sebagai orang kepercayaan, sudah tentu
orang itu merupakan pembantu
yang telah dipersiapkan.
Siapapun tak tahu ada berapa banyak orang yang telah ia
siapkan dalam Thian-po-hu? kalau
ditinjau dari keadaannya, jelas jumlahnya tidak sedikit,
sebab kalau tidak demikian tak
mungkin ia bisa membinasakan Bwe-ji dan Siau Lan sementara
ia sendiri masih berani tinggal
di situ.
66
Tiba-tiba Leng-hong merasa kekuatannya terlalu kecil dan
menyendiri, kecuali Pang Goan
rasanya tak seorangpun yang bisa dipercaya lagi, sebaliknya
Pang Goan baru dikenalnya
belum lama, mungkinkah ia akan percaya pada perkataannya?
Makin dipikir, rasa percaya pada diri sendiri makin hilang,
akhirnya ia berbaring dengan
lemas.
Tak lama kemudian, Pang Goan masuk dengan langkah lebar,
begitu bertemu ia lantar berkata
dengan menyesal, “Akulah yang salah dan akulah yang teledor,
yang kuperhatikan waktu itu
Cuma mengejar si pembunuh, mimpipun tak kuduga di dalam
taman telah bersembunyi pula
seorang musuh. Jit-long, cepat beri tahukan padaku, macam
apakah tampang orang itu?”
Baru saja Leng-hong hendak menjawab, Wan-kun yang berada di
sampingnya segera
mendahului, “Waktu itu dia terluka, mana bisa memperhatikan
tampang lawannya? Tapi
beruntung aku dapat melihatnya, Cuma orang itu mengenakan
kerudung hitam, jadi sukar
untuk mengenalinya.”
“Walaupun tampangnya sukar dikenali, paling sedikit kan bisa
membedakan lelakikah dia
atau perempuan? Bagaimana pula dandanannya?”
“Toako, bukankah sudah kukatakan padamu, seorang laki-laki,
berperawakan tinggi besar dan
memakai pakaian malam berwarna hitam . . . . .”
“Bisa jadi kau tidak jelas melihatnya, aku perlu tanya
sendiri kepada Jit-long. Sudahlah, kau
jangan menimbrung saja,” kata Pang Goan.
Wan-kun tidak menghiraukan, katanya pula sambil tersenyum,
“Baiklah, tanyalah sendiri
kepadanya, Cuma jangan lupa, lukanya tidak enteng, banyak
bicara bisa mengganggu
kesehatannya.”
“Aku mengerti, bila laki-laki sedang membicarakan soal yang
serius, lebih baik kaum wanita
jangan banyak menimbrung!”
Senang hati Leng-hong demi mendengar perkataan itu, meski
ucapan itu hanya merupakan
omelan seorang kakak terhadap adiknya, tapi bagi pendengaran
Leng-hong pada saat ini justru
terasa cocok.
Akan tetapi, waktu sinar matanya berbentur dengan senyum
yang menghiasi ujung bibir Pang
Wan-kun, hatinya kembali menjadi dingin.
Sepintas lalu senyuman itu kelihatan seperti lembut dan
penurut, padahal justru
melambangkan kebanggaan serta keyakinan pada diri sendiri.
Ya, jika ia tidak penuh keyakinan, mungkinkah Pang Goan
diizinkan bertemu dengannya?
Ho Leng-hong merasa dirinya ibarat binatang buas dalam
rombongan sirkus, meskipun punya
taring dan cakar yang tajam, tapi harus tunduk pada cambuk
sang pawang, ia harus bermain di
depan penonton menurut kehendak pawang.
Dan perempuan yang menyaru sebagai Pang Wan-kun ini tak lain
adalah seorang pawang
yang lihai.
Jelas Pang Goan bukan seorang penonton yang cermat, dengan
tak sabar ia lantas bertanya,
“Jit-long, coba bayangkan kembali kejadian waktu itu,
kemudian beritahu padaku dengan
saksama, manusia macam apakah dia itu? Apa yang kalian
alami? Dan cara bagaimana ia
melukai dirimu?”
Leng-hong tarik napas panjang-panjang, lalu tertawa getir,
“Apa yang dikatakan Wan-kun
memang benar, orang itu memakai baju warna hitam,
berperawakan tinggi besar dan
mengenakan cadar hitam, jadi tampangnya tidak kelihatan.”
“Cara bagaimana kaupergoki dia?”
“Setelah berpisah di tepi hutan tadi, aku merasa gerak-gerik
Bwe-ji dan Siau Lan sangat
mencurigakan, agaknya mereka seperti sudah tahu ada yang
mengintip perbuatannya, maka
sengaja ditanamnya sebilah golok biasa di situ, padahal
kedatangan Lotoako lebih awal dari
mereka, tak mungkin jejakmu bakal ketahuan, maka aku lantas
mencurigai mereka bukan
67
memakai benda itu untuk menipu musuh melainkan sebagai tanda
bagi komplotannya dengan
tujuan tertentu.”
“Ehm, benar juga dugaanmu,” Pang Goan manggut-manggut.
“Maka sekembalinya ke dalam hutan, aku berjaga-jaga di dekat
liang, betul juga, tak lama
kemudian kulihat ada orang menyusup ke dalam hutan dan
menggali liang itu.”
“Bukankah isi liang itu Cuma sebilah golok biasa?”
Leng-hong menghela napas, “Ai, Lotoako! Kita sudah tertipu,
di bawah golok itu justru
tersimpan golok mestika Yan-ci-po-to yang kita cari itu.”
“Ah!” mencorong sinar mata Pang Goan, tubuhnya tergentar
karena emosi, “sungguh siasat
mengelabuhi lawan yang amat sempurna!”
Diam-diam Leng-hong melirik Pang Wan-kun, perempuan itu
kelihatan sedang
mendengarkan pembicaraan mereka dengan tersenyum.
“Jit-long, bukannya aku ingin menegurmu,” kata Pang Goan
kemudian, “jika golok mestika
Yan-ci-po-to sudah kau temukan, semestinya kau melihat
gelagat pada waktu itu, bila tidak
yakin dapat mengatasinya, kenapa tidak berteriak saja agar
orang itu dikepung.”
Leng-hong tertawa getir, “Waktu itu musuh berada di pihak
yang terang dan aku di pihak
yang gelap, sebenarnya sudah kucegat dia, tak kusangka
bangsat itu sangat licin, dengan
berpura-pura hendak mengembalikan golok itu kepadaku,
tiba-tiba saja suatu serangan
dilancarkan, aku hendak berteriak, tapi sudah terlambat.”
“Benar,” sambung Wan-kun cepat, “ketika mendengar teriakan
Jit-long, buru-buru kususul ke
situ, siapa tahu bukan saja licik dan cerdik orang itu ilmu
silatnya juga lihay, akupun gagal
untuk mengalangi larinya.”
“Kalau begitu Yan-ci-po-to telah dicuri dari Thian-po-hu,
sedang kita tak tahu siapa
musuhnya,” keluh Pang Goan sambil menghela napas.
“Tak bisa diragukan lagi, orang itu pasti utusan Hu-yong-sia
dari Leng-lam,” kata Wan-kun.
“Darimana kautahu perbuatan ini dilakukan pihak Hiang-in-hu
dari Hu-yong-sia?”
“Hanya Hiang-in-hu yang mempunyai alasan untuk melakukan
pencurian, dan hanya pihak
mereka yang mempunyai kemampuan berbuat demikian, untuk
menjaga nama baik Thian-hete-
it-to (golok nomor satu di dunia) jangan sampai terjatuh ke
tangan orang lain, dengan
segala tipu daya mereka berusaha mendapatkan golok mestika
kita ini.”
“Tidak mungkin! Hiang-in-hu dari Leng-lam bukan manusia
semacam itu, sekalipun mereka
ingin menjaga agar nama baik Thian-he-te-it-to jangan sampai
terjatuh ke tangan orang lain,
tak nanti mereka lakukan tindak pencurian ini,” kata Pang
Goan sambil menggeleng.
“Kenapa?” tanya Leng-hong tercengang.
Ia selalu beranggapan Hiang-in-hu adalah satu-satunya musuh
tangguh dari Thian-po-hu,
bahkan memastikan perempuan yang menyaru sebagai Pang
Wan-kun ini adalah mata-mata
yang dikirim dari Hiang-in-hu, maka setelah mendengar
perkataan Pang Goan sekarang, ia
menjadi heran.
Kalau bukan Hiang-in-hu yang menjadi dalangnya, lantas siapa
yang berdiri di belakang layar
peristiwa pencurian ini?
Dengan wajah serius Pang Goan berkata lagi, “Thay-yang-to
(si golok matahari) Hui Pek-ling
dari Hiang-in-hu meski berwatak agak berangasan, tapi jujur
dan lurus, dulu ketika Thian-pohu
berhasil merebut gelar itu dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe,
belum pernah timbul maksud
Hui Pek-ling untuk mencuri golok mestika itu, buat apa ia
mesti menunggu sampai sekarang?
Selain itu, kalian jangan lupa, ketika gelar
Thian-he-te-it-to didapatkan oleh Hiang-in-hu,
merekapun tidak memiliki senjata mestika, kalau tanpa golok
mestika saja Hui Pek-ling
berhasil mendapatkan kemenangan, buat apa ia lakukan
perbuatan rendah itu sekarang?”
“Tapi, bukankah Lotoako pernah berkata seandainya golok
Yan-ci-po-to sampai didapatkan
orang she Hui itu, akan lebih sulit bagi kita untuk
mengalahkan dia?”
68
“Aku hanya kuatirkan bila golok mestika itu didapatkan
olehnya, bukan mengatakan ia bakal
mencuri golok mestika tersebut!”
“Tapi, apa pula bedanya?”
“Tentu saja ada bedanya. Dengan kepandaian silat Hui
Pek-ling, Nyo-keh-sin-to dan Kenghong-
kiam-hoat dari Cian-sui-hu masih belum sanggup
menandinginya, yang menjadi
tumpuan harapan kita, selain ilmu To-kiam-hap-ping-tin,
dengan golok Yan-ci-po-to di
tangan sedikit banyak juga ada manfaatnya, tapi jika golok
mestika itu sampai terjatuh ke
tangan Hui Pek-ling, hal ini sama artinya dengan merugikan
kita dan menambah keuntungan
bagi lawan.”
“O, jadi maksud Lotoako, tak mungkin Hui Pek-ling yang
menjadi otak dari pencurian ini,
tapi bila si pencuri mempersembahkan golok mestika itu
kepadanya, Hiang-in-hu tentunya tak
akan menolak pemberian tersebut?”
“Demikian halnya, bila seorang menjadi terkenal karena ilmu
goloknya, siapakah yang tidak
berharap akan bisa mendapatkan golok mestika?”
Ho Leng-hong tak bicara lagi, karena pengetahuannya tentang
Hiang-in-hu amat terbatas.
Pang Wan-kun yang sejak tadi hanya diam saja, tiba-tiba
malah bertanya, “Tapi, kecuali
Hiang-in-hu, siapa lagi yang mempunyai ingatan untuk mencuri
golok tersebut? Dan lagi,
siapakah yang mempunyai keberanian untuk berbuat demikian?”
Pang Goan menggeleng kepala, “Justru soal inilah yang harus
kita selidiki, bila ditimbang atas
dasar keterangan yang kalian berikan, ilmu silat pencuri itu
pasti lihay sekali, sepantasnya
mereka bukan manusia tak bernama. Siapa tahu kalau tujuannya
mencuri golok mestika itu
bukan ingin diberikan kepada Hiang-in-hu melainkan hendak
dipergunakan sendiri untuk
merebut gelar Thian-he-te-it-to dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe
yang akan datang?”
“Wah, jadi kalau begitu setiap orang yang belajar ilmu golok
di dunia ini harus dicurigai?”
kata Wan-kun.
“Jumlah orang yang belajar ilmu golok di dunia ini memang
banyak, tapi yang pantas muncul
dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe Cuma beberapa orang saja, kita
pasti berhasil
menyelidikinya.”
“Toako jangan terlalu percaya kepada orang,” kata Wan-kun
sambil angkat bahu, “menurut
dugaanku, si pencuri golok itu tak mungkin orang lain,
seratus persen pasti perbuatan pihak
Hiang-in-hu.”
Tapi Pang Goan masih tetap menggeleng tidak percaya, tapi ia
tidak melanjutkan
perdebatannya.
Dengan tercengang Ho Leng-hong mengawasi perempuan itu
beberapa saat, pikirnya, “Heran,
mengapa ia berkeras menuduh Hiang-in-hu sebagai pencuri
golok? Untuk menghilangkan
jejak bila diselidiki Pang Goan? Atau karena ada tujuan
lain?”
Rupanya Pang Wan-kun merasakan juga perkataannya terlampau
menyolok, sambil tertawa
katanya lagi, “Bagaimanapun juga golok mestika itu sudah
hilang, terjatuh di tangan siapa
pun pasti tidak menguntungkan kita, kukira yang harus kita
lakukan sekarang adalah
bagaimana caranya melacaki pencuri itu, apakah Toako sudah
mempunyai perhitungan?”
Pang Goan termenung sebentar, lalu jawabnya, “Jika benda itu
sudah keluar dari Thian-po-hu,
penyelidikan agak sukar dilakukan, apalagi mata-mata yang
ada di sini sudah terbunuh,
sedang musuh di luar sukar diselidiki, hal ini memang sulit
untuk dilakukan.”
“Lotoako, sewaktu kau mengejar pembunuh itu, apakah tiada
titik terang yang kautemukan?”
Leng-hong coba bertanya.
“Sungguh memalukan sekali, waktu itu cuaca gelap dan lagi
orang itu sangat apal dengan
jalan dalam gedung ini, mungkin bahu kirinya berhasil
kulukai, tapi ia masih dapat kabur
dengan membawa luka.”
69
Ho Leng-hong lantas teringat pada luka di bahu kiri Pang
Wan-kun ketika hendak menggali
golok mestika dalam hutan malam itu, jelas dia pembunuh
Bwe-ji dan Siau Lan.
Tentu saja ia lebih apal jalan-jalan dalam gedung ini
daripada Pang Goan, setelah membunuh
Bwe-ji dan Siau Lan, ia sengaja memancing Pang Goan ke ruang
depan, sementara ia sendiri
putar balik ke belakang untuk menggali golok mestika itu.
Waktu itu dia pasti menyaru sebagai seorang pria, dengan
begitu Pang Goan dapat dikelabuhi.
Dan tak salah lagi, tentu dia otak pencurian golok mestika .
. . . .
Berpikir demikian, Ho Leng-hong merasa darahnya mendidih,
kalau bisa semua rahasia itu
hendak dibongkarnya pada saat itu juga. Tapi segera ia
berpikir lebih lanjut, perempuan ini
licik sekali, kalau tak dapat menemukan buktinya lebih dulu,
hanya bicara saja tak ada
gunanya, malah bila usaha ini gagal, kemungkinan besar Pang
Goan akan ikut dicelakai
olehnya, maka ia memutuskan untuk membungkam lebih dulu,
nanti kalau luka di bahunya
sudah terlihat jelas barulah semua kejadian akan diungkap.
Berpikir sampai di sini, ia lantas pura-pura menghela napas,
katanya, “Sayang ia berhasil
kabur dari sini, bila salah seorang bisa tertangkap
hidup-hidup, tak sulit rasanya untuk
menyelidiki keadaan yang sebenarnya.”
“Aku mempunyai akal bagus, entah bisa digunakan atau tidak?”
tiba-tiba Pang Wan-kun
mengusulkan.
“Coba katakan!” ucap Pang Goan.
“Kupikir, jika pembunuh Bwe-ji dan Siau Lan itu sedemikian
apal dengan jalanan dalam
Thian-po-hu, kemungkinan besar dia adalah anggota
Thian-po-hu sini, atau mungkin juga
salah seorang di antara sahabat Jit-long.”
“Em, mungkin juga!” Pang Goan manggut-manggut.
“Sekalipun dalam kegelapan Toako tak sempat melihat jelas
raut wajahnya, tapi serangan
yang kau lancarkan pasti akan meninggalkan bekas di atas
tubuhnya, kenapa tidak kita
kumpulkan segenap penghuni di sini untuk diadakan
pemeriksaan. Barang siapa yang bahu
kirinya kedapatan terluka, dia itulah yang pantas
dicurigai.”
Pang Goan berpikir sebentar, lalu katanya, “Meskipun cara
ini adalah cara yang bodoh, tapi
tak ada salahnya untuk dicoba, Cuma . . . penghuni gedung
ini dapat kita periksa, bagaimana
pula dengan sahabat-sahabat Jit-long?”
“Ah, itu kan soal gampang,” kata Wan-kun sambil tertawa,
“terhadap penghuni gedung kita
lakukan pemeriksaan terang-terangan, sedangkan terhadap
kawan Jit-long kita lakukan
pemeriksaan secara diam-diam, asal Toako tampil sendiri dan
mengunjungi rumah mereka
satu persatu, lalu memaksa mereka membuka pakaian untuk
membuktikan kebersihan dirinya,
siapa yang berani menolak?”
“Tidak bisa, kita tak boleh berbuat demikian,” Pang Goan
menggeleng kepala, “meskipun
mereka bukan ksatria sejati, jelek-jelek mereka itu adalah
teman Jit-long, di wilayah Kwanlok
ini juga ada nama dan kedudukan, kupikir cara demikian agak
kelewat batas.”
“Kalau begitu, gunakanlah waktu di tengah malam buta, pada
waktu semua orang sudah tidur
penyelidikan ini dilakukan, dalam keadaan begini, barang
siapa terluka tentu tak bisa
menutupi dirinya lagi.”
“Bagaimanapun kukira cara ini kurang baik, kita tak boleh
kehilangan golok mestika, lebihlebih
tak boleh sampai ditertawakan orang, sekarang akan kuperiksa
dulu semua orang dalam
gedung ini, jika tidak menghasilkan sesuatu baru kita adakan
pembicaraan lebih lanjut.”
Selesai berkat, ia lantas bangkit dan berlalu.
Setelah bayangan tubuh Pang Goan sudah pergi jauh, tiba-tiba
Wan-kun tertawa dingin, lalu
gumamnya, “Sungguh tak kusangka si monyet Pang yang biasanya
sombong, sekali ini juga
agak tahu aturan.”
“Kau tahu cara ini tak akan menghasilkan apa-apa, kenapa kau
suruh dia berbuat demikian?”
tanya Leng-hong.
70
“Siapa bilang tak akan berhasil?” sahut Wan-kun dengan
kening berkerut, “asal ia bersedia
melakukan penyelidikan, pasti akan diperoleh hasil yang
diinginkan.”
“Jangan-jangan kau tahu siapa yang terluka bahu kirinya?”
Wan-kun tertawa, “Bukan cuma aku yang tahu, mestinya kaupun
dapat menduga sampai ke
situ.”
“Oya?! Siapakah dia?”
“Kecuali Thian Pek-tat, siapa lagi?”
Ho Leng-hong jadi melenggong.
Benar juga perkataan ini, sejak peristiwa di rumah pelacuran
Hong-hong-wan sampai
tercurinya golok Yan-ci-po-to, dalam setiap peristiwa yang
terjadi, Thian Pek-tat adalah orang
yang paling mencurigakan, tapi sekalipun Thian Pek-tat
benar-benar seorang mata-mata
musuh, seharusnya ia segolongan dengan Pang Wan-kun, mengapa
perempuan ini malah
membongkar rahasianya?
Jangan-jangan mereka bukan sekomplotan?
Mungkin mereka hanya mempunyai tujuan yang sama?
Atau karena mereka sudah menemui jalan buntu maka Pang
Wan-kun menggunakan siasat
“pinjam golok membunuh orang” untuk melenyapkan Thian
Pek-tat dan menghilangkan
saksi?
Ho Leng-hong merasa persoalan ini makin lama makin bertambah
ruwet, hakikatnya
membuat orang bingung dan tidak habis mengerti . . . .
Cuma, berhubung Pang Wan-kun ada niat untuk mencelakai Thian
Pek-tat, hal ini
menimbulkan setitik harapan bagi Ho Leng-hong.
Harapan itu adalah . . . , kemungkinan besar golok
Yan-ci-po-to belum meninggalkan gedung
Thian-po-hu.
Usaha Pang Goan untuk mencari orang yang terluka bahu
kirinya tentu saja tidak
mendatangkan hasil apa-apa.
Tapi, lantaran ia harus memeriksa semua Busu yang ada di
dalam gedung, Pang Goan berhasil
menemukan sesuatu hasil di luar dugaan.
Menurut laporan para Busu yang melakukan penjagaan pada
malam itu, jumlah peronda yang
berjaga di sekitar gedung malam tersebut lebih banyak satu
kali lipat daripada biasanya,
semua orang menyatakan tidak ditemukan seorang manusiapun
yang keluar-masuk dari
Thian-po-hu.
Hari itu Ho Leng-hong telah berpesan kepada anak buahnya
agar tidak mengizinkan siapapun
keluar, maka para Busu yang melakukan perondaan dilipatkan
jumlahnya, jadi seandainya ada
orang meninggalkan gedung, hal ini tak mungkin bisa
mengelabuhi para Busu.
Penemuan tak terduga ini justru cocok dengan analisa Ho
Leng-hong, terbukti bahwa Yan-cipo-
to meski sudah dibawa keluar oleh Pang Wan-kun dari dalam
hutan, tapi berhubung
tergesa-gesa, dan lagi tak ada pembantu, golok tersebut
belum sempat diselundupkan keluar
gedung.
Asal Yan-ci-po-to masih berada dalam Thian-po-hu, berarti
setiap saat bisa mengalami
perubahan.
Sayang luka di lambung Leng-hong belum sembuh dan harus
berbaring di atas pembaringan,
jadi ia tak ada kesempatan untuk mengadakan pertemuan empat
mata dengan Pang Goan.
Selama tiga hari beruntun Pang Wan-kun tak pernah
meninggalkan sisi Leng-hong, meskipun
dengan alasan menemani, yang jelas adalah mengawasi
gerak-geriknya.
Untuk menyelidiki jejak golok mestika, keadaan Pang Goan
ibaratnya semut dalam kuali
panas, sejak pagi hari ia sudah keluar rumah, bila malam
tiba baru kembali, daerah sekitar
Kwan-lok hampir telah dijelajahinya, bahkan para Busu dalam
jumlah yang besar pun dikirim
keluar untuk mencari berita.
Tiga hari sudah lewat, namun tiada sesuatu yang berhasil
didapatkan.
71
Pagi itu, dengan wajah yang lelah dan kusut Pang Goan pulang
dari bepergian, sekilas
pandang saja dapat diketahui bahwa semalam suntuk ia tak
tidur.
Lama kelamaan Ho Leng-hong menjadi tak tega sendiri, segera
hiburnya, “Lotoako, tak usah
terlampau bersusah payah, sekalipun tanpa golok mestika
Yan-ci-po-to kita tetap mempunyai
harapan untuk mengalahkan Hiang-in-hu, bukankah Hui Pek-ling
juga berbuat yang sama
ketika itu?”
Pang Goan geleng kepala berulang kali, katanya, “Walaupun
begitu, dengan hilangnya golok
mestika, aku merasa bersalah kepada kakakmu, dan lagi aku
tidak rela menyerah sampai di
sini saja.”
“Apa yang kaumaksudkan dengan tidak rela?” tanya Wan-kun.
“Selama beberapa hari ini, bukan saja ratusan li di sekitar
Kwan-lok telah kujelajahi, akupun
telah minta bantuan orang Kay-pang untuk membantu usahaku,
tapi kabar berita tentang
golok Yan-ci-po-to itu seolah-olah tenggelam di dasar
samudra, berita sedikitpun tak ada.
Masakah golok itu punya sayap dan bisa terbang sendiri?”
“Padahal masalah itu bukan masalah yang harus diselesaikan
dengan segera, siapa tahu kalau
golok itu masih . . . .”
Rupanya Pang Wan-kun sudah menduga apa yang hendak dikatakan
olehnya, buru-buru ia
menambahkan, “Benar, siapa tahu golok itu tidak terbang
melainkan disembunyikan orang,
semakin cemas kaulakukan penyelidikan, semakin tak berani
berkutik pencuri golok itu. Wah,
kalau begitu, jejaknya makin susah dicari lagi.”
Pang Goan manggut-manggut, “Aku telah memikirkan juga
kemungkinan ini, ditinjau
menurut keadaan sekarang, rasanya golok itu memang belum
meninggalkan wilayah Kwanlok,
bahkan belum meninggalkan gedung Thian-po-hu.”
“Ada seorang yang paling cepat memperoleh berita tentang
kejadian di sekitar Kwan-lok,
kenapa Toako tidak mencarinya?”
“Siapa?”
“Thian Pek-tat! Dia adalah kawan Jit-long yang bergelar
Tiang-ni-siau-thian (Thian kecil si
telinga panjang).”
“O, dia kiranya!”
“Toako jangan pandang rendah orang itu, di adalah orang yang
paling luas pergaulannya di
wilayah Kwan-lok, baik urusan kecil maupun urusan besar, ia
selalu mengetahui dengan
cepat, siapa tahu dari mulutnya Toako akan mendapat
petunjuk?”
“Aku sudah ke sana, sayang ia tak ada di rumah.”
“Tak ada di rumah? Ke mana ia pergi?”
“Konon sekembalinya dari sini, Thian Pek-tat telah diundang
seorang temannya pergi ke Lanhong,
dan hingga kini belum pulang.”
“Oya?! Masa ada kejadian yang begitu kebetulan? Toko,
jangan-jangan kau dibohongi
orang!”
“Tidak mungkin, telah kuselidiki sendiri ke rumahnya, Thian
Pek-tat memang tidak berada di
rumah.”
“Wah, ini baru mengherankan, kenapa ia tidak pergi sejak
dulu atau pergi beberapa hari lagi,
tapi justru setelah Yan-ci-po-to dicuri orang baru dia pergi
meninggalkan rumah”
“Wan-kun, jangan berkata demikian,” kata Leng-hong, “Siapa
tahu kalau secara kebetulan dia
ada urusan . . . .”
“Ah, kau ini suka membela teman-temanmu,” omel Wan-kun.
Setelah berhenti sejenak, katanya kepada Pang Goan, “Toako,
jelas kejadian ini sangat
mencurigakan, siapa tahu kalau golok mestika Yan-ci-po-to
sudah dibawa kabur oleh orang
she Thian itu?”
72
Pang Goan tertegun, katanya kemudian sambil tertawa, “Hal
ini tak mungkin terjadi, dengan
mata kepalaku sendiri kusaksikan mereka meninggalkan
Thian-po-hu, jangankan golok
mestika, sebilah pisau pun ia tidak membawanya.”
“Apakah ia tak bisa menerima golok itu setelah berada di
luar gedung, lalu membawanya
kabur dari wilayah Kwan-lok?”
“Waktu keluar ia tidak membawa golok, orang dalam gedung
juga tak ada yang keluar pintu,
bagaimana caranya golok itu dioperkan kepadanya?”
“Misalnya saja malam itu ia sembunyikan golok mestika
tersebut di sekitar dinding
pekarangan, sedang ia sendiri tidak keluar, lalu keesokan
harinya meninggalkan gedung
dengan tangan hampa, setelah penjagaan agak kendor ia balik
lagi untuk mengambil golok,
dengan demikian siapa yang akan menduga bahwa golok itu
dicuri olehnya?”
Air muka Pang Goan berubah hebat, “Ya, mungkin juga . . . .”
“Tidak mungkin!” tukas Leng-hong mendadak.
Pang Goan berpaling dan memandangnya dengan tercengang.
Sebaliknya air muka Pang
Wan-kun tampak dingin, terlihat jelas betapa gemas perempuan
itu.
Tapi Leng-hong pura-pura tidak melihat, pelahan katanya,
“Kita jangan lupa, pembunuhan
yang terjadi atas Bwe-ji dan Siau Lan serta penggalian golok
mestika dalam hutan hakikatnya
adalah dua orang yang berbeda, setelah kejadian itu, seorang
kabur ke ruang depan sedang
yang lain kabur dari taman, lagipula orang yang menggali
golok dalam hutan adalah seorang
berkerudung yang berperawakan tinggi besar, Thian Pek-tat
tidak terhitung tinggi besar.”
Padahal jelas diketahui Ho Leng-hong bahwa pembunuh Bwe-ji
dan Siau Lan serta orang
yang menggali itu adalah perbuatan Pang Wan-kun seorang,
kendatipun ia tidak berkesan baik
terhadap Thian Pek-tat, namun entah apa sebabnya ia lebih
suka membela orang itu.
Mungkin juga hal ini dikarenakan dia ingin membalas dendam
kepada Pang Wan-kun!
Tiba-tiba saja ia merasa muak dan sebal terhadap perempuan
yang pernah mempunyai
hubungan mesra dengannya itu, betapa gembiranya apabila dia
dapat memancing kegusaran
dan kebencian perempuan itu.
Pang Wan-kun benar-benar telah dibikin gusar oleh perkataan
itu, tapi ia masih berusaha
untuk menekan hawa amarahnya agar jangan meledak, ia
tertawa, katanya kemudian,
“Sebagai kawan sekomplot, masa tak mungkin yang satu
menyembunyikan golok, sedang
yang lain membawa pergi?”
“Kalau demikian, itu berarti manusia berkerudung yang
menyembunyikan golok itu masih
ada dalam Thian-po-hu, kita harus mengadakan pemeriksaan
terhadapnya,” kata Leng-hong.
Dengan gemas Pang Wan-kun mendengus, “Hm, kaukira
Thian-po-hu adalah benteng yang
dilapisi dinding baja yang kuat, kauanggap keterangan para
Busu itu bisa dipercaya? Masa
tidak mungkin mereka sengaja berkata begitu untuk mengelak
tanggung jawab?”
“Andaikata manusia berkerudung itu mampu masuk keluar gedung
Thian-po-hu dengan
sekehendak hatinya, buat apa ia sembunyikan golok itu lebih
dulu dan kemudian baru
mengoperkannya kepada Thian Pek-tat? Bukankah tindakannya
ini sama sekali tak ada
gunanya?”
“Aku tidak mengatakan Thian Pek-tat telah berhasil membawa
lari golok mestika itu, aku
hanya mengemukakan kemungkinan yang bisa terjadi?”
“Akupun hanya berbicara menurut apa yang terjadi, kurasakan
hal ini tidak mungkin . . . .”
“Cukup, cukup!” seru Pang Goan sambil mengulapkan tangan,
“kita lagi merundingkan
masalah penting, tidak perlu saling ngotot. Bagaimanapun
hilangnya Thian Pek-tat cukup
mencurigakan dan perlu diselidiki, aku dapat membereskan hal
ini.”
“Kalau ingin bekerja harus dilaksanakan secepatnya, sebab
kalau semakin berlarut dan
lukanya telah sembuh, sulitlah untuk mencari buktinya.”
“Aku tahu, tapi kaisar tak akan mengirim tentara yang
kelaparan, Siaumoay, tolong sediakan
sayur dan arak untuk Toako, setelah kenyang baru Toako bisa
bekerja dengan baik.”
73
“Baik, akan kusuruh Peng-ji menyiapkan hidangan . . . .”
“Siaumoay,” kembali Pang Goan tertawa, “tolong siapkan
sendiri bagiku, sudah lama aku
tidak merasakan kuah lobakmu, mau bukan bikinkan buat
Toako?”
Pang Wan-kun agak ragu, tapi Leng-hong segera menyela,
“Betul, kuah lobak Wan-kun
memang sangat nikmat, tak mungkin koki bisa menyiapkan
hidangan selezat itu.”
Rupanya pemuda itu sengaja membonceng, dengan berkata
demikian maka Wan-kun tak bisa
menolak lagi, bila hidangnya nanti kurang enak hal ini sama
membongkar rahasia sendiri.
Tentu saja, yang lebih penting adalah menyingkirkan
perempuan itu dari hadapannya agar ia
bisa berbicara empat mata dengan Pang Goan.
Wan-kun bukan orang bodoh, tentu saja ia dapat menduga
tujuannya, tapi ia tidak menolak
sambil tertawa iapun beranjak.
“Sudah lama aku tak pernah turun ke dapur, biarlah kucoba,
bila masakanku nanti kurang
sedap harap jangan ditertawakan.”
Lalu sambil melirik sekejap ke arah Ho Leng-hong, katanya
lagi, “Jit-long, terlalu banyak
bicara bisa mengganggu kesehatan, bila ingin cepat sembuh
lebih baik beristirahatlah dengan
tenang dan jangan banyak bicara.”
“Jangan kuatir, aku bisa menjaga diriku sendiri,” kata
Leng-hong sambil tertawa.
Pang Goan tidak buka suara, diawasinya Wan-kun sampai keluar
villa, tiba-tiba keningnya
berkerut dan mukanya menunjukkan suatu perubahan yang sangat
aneh.
Leng-hong menarik pula senyumnya, lalu tanyanya lirih,
“Lotoako, ada sesuatu yang tak
beres?”
“O, tidak apa-apa,” sahut Pang Goan sambil menggeleng, “aku
hanya heran, berapa tahun
tidak berjumpa ternyata kalian telah berubah semua.”
Terkesiap hati Leng-hong, “Kami? Maksud Lotoako aku ataukah
Wan-kun?”
“Keduanya!” sahut Pang Goan, ditatapnya wajah Leng-hong
lekat-lekat, lalu terusnya, “kau
berubah menjadi gesit, lebih cerdik, dan lebih jantan
daripada dulu, sekarang kau lebih mirip
sebagai seorang laki-laki, sedang Siaumoay juga berubah
menjadi lebih cekatan.”
“Maksud Lotoako....”
“Dulu ia tak pernah turun ke dapur, iapun tidak pernah
membuat kuak lobak atau hidangan
lain.”
Ho Leng-hong menarik napas, dan mulut melongo.
Sedetik itu tak dapat diketahui bagaimanakah perasaannya,
entah kaget atau girang? Harus
mengaku ataukah harus menyangkal?
Si monyet Pang memang cerdik, jelas ia sudah menemukan titik
kelemahan perempuan yang
menyaru sebagai Pang Wan-kun itu, maka sengaja dipakainya
“kuah lobak” sebagai
pancingan.
Tapi, apakah iapun sudah tahu Nyo Cu-wi juga seorang
gadungan pula? Kalau sudah tahu,
kenapa belum juga turun tangan? Kenapa nada ucapannya masih
tetap tenang?
Seandainya dirinya bongkar semua ini, dapatkah orang
mempercayainya? Apakah orang
takkan mencurigai dirinya sebagai komplotan perempuan yang
menyaru sebagai Pang Wankun
. . . . . . ?
Perasaan Leng-hong waktu itu bagaikan benang kusut, kalut
sekali pikirannya, dia Cuma bisa
mengawasi Pang Goan dengan termangu. Untuk sesaat ia tidak
tahu apa yang mesti
dilakukannya.
Waktu itu, dengan sinar mata yang tajam Pang Goan sedang
mengawasinya tanpa berkedip,
seakan-akan hendak menembus lubuk hatinya.
Lama dan lama sekali Pang Goan baru menghela napas panjang,
bisiknya, “Jit-long, kau
adalah suaminya, masa sedikitpun tidak kaurasakan sesuatu
yang mencurigakan?”
“Merasakan apa?”
“Dia adalah Wan-kun gadungan!” jawab Pang Goan sekata demi
sekata.
74
“Oo?!” Leng-hong bersuara singkat.
“Sejak hari pertama kudatang kemari sudah kurasakan suaranya
agak kurang beres,” Pang
Goan menerangkan, cuma waktu itu tidak terlampau kupikirkan,
tapi selama beberapa hari ini,
makin kulihat tingkah laku dan cara bicaranya, aku semakin
curiga, barusan . . . . .
“Hati-hati, Lotoako!” Leng-hong memperingatkan dengan
memondongkan mulut keluar
pintu.
Peng-ji, si dayang berdiri di luar dan sedang celingukan ke
dalam ruangan.
Mencorong sinar mata Pang Goan, katanya dengan suara
tertahan, “Apakah kau berada di
bawah ancamannya?”
Leng-hong menggoyangkan tangan berulang kali, “Persoalan ini
sukar untuk dibicarakan
dengan sepatah dua kata, kalau Lotoako sudah mulai waspada,
lebih baik jangan tunjukkan
dulu sesuat gerakan yang mencurigakan daripada memukul
rumput mengejutkan ular. Tengah
malam nanti, harap kautunggu di kamar tamu, kita bicarakan
persoalan ini dengan lebih
terperinci lagi . . . .”
Tiba-tiba Peng-ji mendorong pintu dan masuk ke dalam,
menyusul kemudian Pang Wan-kun
diikuti dua orang pelayan masuk juga ke situ.
Kedua orang pelayan itu, yang satu membawa kotak bersisi
makanan sedang yang lain
membawa guci arak dan cawan.
“Toako, maaf,” kata Wan-kun sambil tertawa, “kebetulan hari
ini tak ada lobak di dapur,
terpaksa kusuruh mereka menghidangkan dulu daging dan kacang
goreng sebagai teman
minum arak, tidak keberatan bukan?”
Pang Goan manggut-manggut, “Anggap saja aku memang tidak
beruntung, kalau ada arak
dan makanan sekedarnya,mari sembari makan kita
bercakap-cakap lagi.”
Ia berusaha bersikap sewajarnya, padahal dia memang merasa
lapar sekali, harum arak juga
memancing nafsu makannya.
Pang Wan-kun turun tangan sendiri mengatur peralatan makan,
bahkan menemani pula di
samping meja, sepanjang perjamuan berlangsung dia juga
menuangkan arak, mengambilkan
sayur buat Pang Goan. Sikapnya bagaikan seorang adik yang
sedang melayani kakaknya.
Semua arak dan sayur diberikan kepada Pang Goan dicicipi
dulu olehnya sebelum diberikan.
Pang Goan menenggak dua cawan arak, kemudian katanya sambil
tertawa, “Siaumoay,
mengapa kau tidak minum secawan?”
“Aku tidak biasa minum arak sepagi ini, lebih baik Toako
minum sendiri.”
“Minum arak sendirian rasanya kurang berarti, Jit-long,
bagaimana kalau temani Lotoako
minum dua guci arak?”
“Siaute menerima perintah!” sahut Leng-hong sambil bangun
berduduk di pembaringan.
Pang Wan-kun tidak mengalanginya, cuma pesannya dengan
hambar, “Jangan minum terlalu
banyak, hati-hati lukamu belum sembuh!”
Kemudian ia turun tangan sendiri dan penuhi cawan Leng-hong
dengan arak.
“Lotoako, kuhormati secawan arak kepadamu, mari minum!” kata
Leng-hong sambil
mengangkat cawan.
“Jangan terburu nafsu,” cegah Pang Goan sambil menggoyang
tangan, “lukamu belum
sembuh, jangan minum secara terburu nafsu, cicipi dulu.”
Ho Leng-hong menurut, sambil tertawa ia cicipi arak itu satu
cegukan.
“Bagaimana rasanya arak ini?” tiba-tiba Pang Goan bertanya.
“Sedaap!”
“Bukankah sedikit kecut?”
“Arak ini adalah arak Li-ji-ang, biasanya memang terasa rada
asam!”
“Kau keliru,” kata Pang Goan sambil menggeleng kepala, “arak
ini rasanya tidak kecut, tapi
ada orang telah mencampuri arak ini dengan sesuatu, maka
rasanya menjadi begini.”
“Sungguh?” teriak Leng-hong dengan kaget.
75
“Kalau tidak percaya, kenapa tidak kautanyakan kepada
Siaumoay?”
Sebelum Leng-hong mengajukan pertanyaannya dengan ketus Pang
Wan-kun telah berkata,
“Benar, akulah yang mencampurkan San-kang-sah (pasir
pembuyar tenaga ke dalam arak
ini).”
Suaranya dingin, kaku dan tenang, mukanya tidak merah,
sikapnya tidak gugup, seakan-akan
mengakui bahwa dalam kuah telah ditambah beberapa minyak dan
kejadian itu bukan sesuatu
yang diherankan.
Hampir saja Leng-hong melompat bangun dari tempat duduknya,
dengan suara keras ia
berteriak, “Hei, apa maksudmu?”
“Tidak ada maksud apa-apa,” jawab Wan-kun dengan suara
berat, “berhubung tenaga dalam
Toako sangat lihay, dan aku kuatir bukan tandingannya
terpaksa aku mesti mengadakan
persiapan lebih dulu.”
“O, kau masih memanggil Toako padaku?” ejek Pang Goan sambil
tertawa.
“Mengapa tidak? Aku adalah bininya Jit-long, sedang kau
adalah kakak iparnya, kalau kau
tidak kupanggil sebagai Toako lantas mesti memanggil apa?”
Pang Goan sedikitpun tidak marah, dia mengangguk berulang
kali, “Benar, panggilan itu
memang benar, sebagai saudara, ada persoalan apa boleh
dibicarakan secara baik-baik,
kenapa mesti gunakan kekerasan?”
Sekali tenggak, kembali dia menghabiskan secawan arak.
“Lotoako, kau tak boleh minum terlampau banyak . . . . .”
cegah Leng-hong dengan cemas.
Pang Goan terbahak-bahak, “Hahaha . . . . pasir pembuyar
tenaga akan segera bekerja begitu
masuk tenggorokkan, minum secawan atau sepuluh cawan tidak
berbeda jauh, apa salahnya
kalau minum sampai mabuk lebih dulu?”
Ho Leng-hong melongo, tiba-tiba air mukanya berubah.
Meskipun hanya secegukan ia cicipi arak tersebut, tapi saat
ini perutnya mulai terasa aneh
sekali, perutnya seolah-olah ditembusi oleh suatu benda
sehingga timbul banyak lubang, hawa
murninya kontan menjadi buyar dan tak sanggup dihimpun
kembali.
Pang Wan-kun tertawa dingin, dia penuhi kembali cawan Pang
Goan dengan arak, lalu
katanya, “Meskipun apa yang Toako katakan memang benar, tapi
ada baiknya Jit-long jangan
minum terlalu banyak, sebab minum arak terlalu banyak bisa
mendatangkan keburukan buat
lukamu.”
“Hm, kau masih berpura-pura baik hati macam kucing menangisi
tikus?” teriak Leng-hong
dengan marah, “Jika aku sampai mampus karena terluak parah,
bukankah hal ini akan
memenuhi harapanmu?”
“Jit-long, jangan kau bicara tanpa berperasaan seperti itu,”
tegur Pang Goan, “bagaimanapun
kalian adalah suami isteri, masa dia berharap kau lekas
mati? Seandainya kau benar-benar
mati, kan ilmu To-kiam-hap-ping-tin tak bisa dilatih lagi?”
“Betul!” puji Pang Wan-kun sambil tertawa, “Toako memang
cerdas sekali, perasaan orang
lainpun dapat kaupahami.”
“Tapi sayang, To-kiam-hap-ping-tin berada dalam perutku,
sekalipun kau dapat
membuyarkan hawa murniku, belum tentu bisa kaukorek keluar
ilmu To-kiam-hap-ping-tinhoat
tersebut dari perutku.”
“Ah, apa susahnya? Aku mempunyai cukup waktu dan kesabaran,
asal luka yang diderita Jitlong
telah sembuh, pelahan kita masih bisa merundingkannya lagi.”
Kemudian ia bertepuk tangan dua kali sambil berseru,
“Pengawal!”
Dua orang pelayan yang mengantarkan santapan tadi segera
muncul, Cuma kali ini mereka
tidak membawa arak melainkan menghunus golok panjang yang
bersinar gemerlapan.
“Kuloya telah mabuk, bawalah ke kamar tamu untuk
beristirahat, layani dengan hati-hati dan
sebaik-baiknya, jangan ayal.”
76
Kedua pelayan itu mengiakan, satu di kiri yang lain di
kanan, segera mereka gusur Pang Goan
keluar.
Pang Goan sama sekali tidak melawan, malah sambil tertawa
terkekeh ejeknya, “Hehehe . . .
Siaumoay, kenapa tidak dibicarakan sekarang juga? Kalau
kaukatakan jejak Wan-kun
kepadaku, mungkin akupun akan mengungkapkan rahasia
To-kiam-hap-ping-tin-hoat
kepadamu.”
“Aku tidak terlalu terburu nafsu untuk mengetahui rahasia
barisan itu,” jawab Pang Wan-kun
ketus, “lagipula waktu masih cukup banyak buat kami, kau
masih mabuk, lebih baik pulang
kamar dulu dan beristirahat.”
“Betul juga,” Pang Goan manggut-manggut, “minum arak dengan
perut kosong memang
gampang mabuk, Jit-long, lain kali kau musti ingat.”
Dua orang pelayan itu rata-rata bertubuh kekar dan bertenaga
besar, sebaliknya Pang Goan
kurus lagi kecil, belum habis perkataannya, seperti burung
elang mencengkeram anak ayam,
ia terus digusur keluar.
Benarkah It-kiam-keng-thian (pedang sakti penyanggah langit)
dari Cian-sui-hu itu harus
keok di tangan seorang perempuan?
--------------------
Betapa sedih Leng-hong waktu itu, ia merasa segala sesuatu
itu gara-gara tindakannya,
andaikata ia bongkar semua rahasia ini kepada Pang Goan
semenjak orang tiba di Thian-pohu,
tak mungkin akan timbul akibat seperti apa yang dialaminya
sekarang.
Ia dapat merasakan hingga detik itu Pang Goan masih
menganggapnya sebagai Nyo Cu-wi,
sebab itu orang pun masih curiga kepadanya, kalau tidak, tak
mungkin orang menyuruh dia
ikut minum arak yang telah dicampuri racun pembuyar tenaga
itu.
Jelas Pang Goan berbuat demikian dengan maksud untuk
menyelidiki apakah dia berkomplot
dengan musuh atau tidak, dari sini dapat ditarik kesimpulan
bahwa orang menaruh curiga
kepadanya. Kalau sudah demikian, dapatkah ia mengaku terus
terang siapa sebenarnya dirinya
sendiri?
Sesungguhnya Ho Leng-hong adalah seorang luar yang dipaksa
untuk melibatkan diri dalam
pertikaian ini, kini secara tiba-tiba ia merasa dirinya
berhak pula untuk membongkar
duduknya persoalan ini hingga jelas, sebab hanya dengan
demikianlah bisa membuktikan
kebersihannya.
Ia telah diubah oleh komplotan Pang Wan-kun gadungan menjadi
Nyo Cu-wi, Pang Goan
sendiripun menganggap dia sebagai Nyo Cu-wi, maka sudah
menjadi kewajiban baginya
untuk berjuang sampai titik darah penghabisan menghadapi
kawanan penjahat tersebut,
kemudian baru berusaha mencari tahu jejak Nyo Cu-wi
suami-isteri yang sebenarnya serta
menyelamatkan Pang Goan . . . .
Setelah mengambil keputusan, ia berlagak mengomel, “Wan-kun,
bagaimana kau ini?
Kauminta aku merahasiakan urusan ini, sebaliknya kau sendiri
malah menyiarkan rahasia ini.”
Dengan dingin Wan-kun melotot ke arahnya, ejeknya, “Benarkah
kau dapat merahasiakan
soal ini?”
“Tentu saja, aku telah menyanggupi permintaanmu, tak
kusangka kau malah mencampur
sesuatu di dalam arak.”
Wan-kun tertawa, “Sebetulnya aku tak ingin turun tangan,
tapi apa yang hendak
kauberitahukan kepadanya tengah malam nanti? Daripada kau
yang mengungkapkan
persoalan ini, lebih baik aku membongkarnya sendiri.”
“O, jadi kau telah mendengar semua pembicaraan kami?” seru
Leng-hong terkejut.
“Kalau tak ingin diketahui orang, kecuali tidak berbuat.
Jangan kauanggap aku ke dapur, lalu
semua kejadian di sini bisa mengelabuhi diriku.”
77
Leng-hong tertawa jengah, “Padahal kau salah paham, justru
lantaran ia mulai curiga
kepadamu, maka aku harus membaiki dia, aku malah sudah
bersiap hendak mengajak kau
membicarakan soal ini secara pribadi serta mencari akal cara
menghadapinya malam nanti.”
“Benarkah itu? Bagaimana rencanamu untuk memberi penjelasan
kepadanya?”
“Tentu saja aku tak akan mengakui kau ini gadungan, tentang
kepandaian di dapur, aku bisa
mengatakan kepandaian itu dipelajari setelah kawin, lantaran
aku suka makan kuah lobak,
maka . . . .”
“Cukup! Cukup!” sela Wan-kun sambil mengulapkan tangannya
dengan tidak sabar, “Jadi
maksudmu kau bersedia bekerja sama denganku serta menurut
semua perintahku?”
“Benar! Aku sudah terlanjut basah, kecuali begitu tiada
pilihan lain lagi.”
“Bagus sekali,” Wan-kun manggut-manggut, “sekarang akan
kuserahi suatu tugas kepadamu
dan kau harus menyelesaikannya dengan baik.”
“Aku akan berusaha sebaik-baiknya.”
“Nasihatilah Pang-lotoa, suruh dia cepat-cepat membeberkan
rahasia ilmu To-kiam-hap-pingtin-
hoat tersebut kepada kami.”
“Aku tentu akan menasihatinya, Cuma iapun mulai curiga
kepadaku, mungkin ia enggan
membertahukan rahasia tersebut kepadaku.”
“Paling sedikit ia masih mengakui dirimu sebagai Nyo Cu-wi,
tak ada salahnya kau katakan
bahwa Pang Wan-kun yang asli sudah berada di tanganku,
seluruh gedung Thian-po-hu juga
berada dalam cengkeramanku, bila ia enggan memberitahukan
rahasia To-kiam-hap-ping-tinhoat,
maka Thian-po-hu dan Cian-sui-hu bakal lenyap dari
percaturan dunia persilatan.”
“Kalau begitu, nona ini dari Hiang-in-hu?” Leng-hong coba
menyelidik.
Wan-kun tidak menjawab, sebaliknya malah bertanya, “Kau kira
kecuali Thian-po-hu dan
Cian-sui-hu, di dunia persilatan hanya tertinggal
Hiang-in-hu saja yang paling hebat?”
Leng-hong tertawa, “Habis nona datang dari nama? Siapa
namamu? Paling sedikit kau harus
mengungkapkan hal itu kepadaku, agar aku ada alasan untuk
menasihati Pang-lotoa.”
Wan-kun termenung sebentar, katanya kemudian, “Jika kau
ingin tahu, hanya empat baik
syair yang dapat kukatakan kepadamu, soal lain boleh
kautebak sendiri.”
“Coba katakan!”
“Badan ramping tubuh lemah semangat tinggi, tinggalkan jarum
belajar golok, gemuruh
guntur membangunkan orang tidur, baru tahu si perempuan
adalah seorang ksatria.”
----------------------
Pang Goan rebah di pembaringan dengan siku sebagai bantal,
matanya terpejam dan sikapnya
adem ayem.
Habis mendengar keempat baik syair yang dibacakan oleh Ho
Leng-hong, kontan saja ia
mendengus.
“Hmm, syair kentut anjing,” serunya mendongkol, “artinya tak
lebih adalah orang perempuan
ingin berebut kedudukan dengan kaum pria, mengenai nama dan
asal-usulnya hampir tidak
disinggung satu kata pun.”
“Tapi paling tidak kan sudah diketahui bahwa dia bukan dari
Hiang-in-hu.”
“Sejak pertama kali sudah kuketahui akan hal ini, sekarang
akupun enggan mencari tahu asal
usulnya, aku hanya ingin tahu bagaimana nasib Siaumoay.”
Ho Leng-hong menghela napas panjang, “Dia hanya mengaku
Wan-kun berada di tangan
mereka, sedang soal lain sama sekali tak disinggung.”
“Sebelum ia memberi pertanggungan jawab nasib Siaumoay,
jangan harap akan memaksa aku
mengungkapkan rahasia To-kiam-hap-ping-tin.”
78
Tiba-tiba ia membuka matanya dan menatap Leng-hong
lekat-lekat, “Kalian adalah suamiisteri,
masa isteri yang tiap hari tidur bersama ditukar orang juga
tidak tahu? Aku benar-benar
tak habis mengerti, sesungguhnya kau ini terdiri dari darah
daging atau balok kayu?”
“Tepat sekali teguran Lotoako,” Ho Leng-hong menunduk
kepala, “tapi penyaruannya terlalu
persis, bukan saja perawakan dan suaranya sama, bahkan tanda
khusus ditubuhpun tak ada
yang berbeda, ditambah lagi Bwe-ji dan Siau Lan, kedua
dayang itu sudah disuap mereka,
siapakah yang akan menyangka?”
“Sebelum dan sesudah kejadian, apakah dalam rumah tidak
terlihat sesuatu tanda yang
mencurigakan?”
“Benar-benar tak ada, bukan saja semua penghuni gedung tak
tahu, teman-teman juga tak
tahu, malah sewaktu Lotoako datang, bukankah engkaupun
dikelabuhi?”
Pang Goan manggut-manggut, “Perempuan ini memang tidak
sederhana, kecuali penyaruan
yang sempurna, pemikiran yang tajam, persiapan yang cermat
serta rencana yang tepat, boleh
dibilang tiada titik kelemahan sedikitpun, cuma ia toh tetap
melupakan satu hal.”
“Dalam hal apa?” tanya Leng-hong lirih.
Pang Goan cuma tertawa dan tidak menjawab, diambilnya sebuah
cangkir teh dari meja kecil,
pelahan ditempelkan telapak tangan kanan di mulut cangkir
tersebut.
Dalam waktu singkat seluruh telapak tangan kanannya berubah
menjadi merah darah, uap
panas mengepul, asap mengepul tiada hentinya.
Tak lama kemudian warna merah itu hilang, ketika ia
menggeser telapak tangannya, tahu-tahu
cawan itu sudah penuh arak.
Kejut dan gembira Leng-hong, bisiknya dengan suara gemetar,
“Lotoako, kau . . . .”
Pang Goan menunjuk ke pintu dengan mulutnya sambil menukas,
“Pulang dan beritahukan
kepada mereka, katakan aku sanggup membeberkan
To-kiam-hap-ping-tin kepadanya asal ia
membertahukan lebih dulu jejak serta keselamatan Wan-kun,
kalau tidak, tiada perundingan
lebih lanjut.”
“Baik, segera akan kusampaikan kepadanya, semoga Toako
baik-baik menjaga diri . . . . “
bisik Leng-hong.
Ia masih ingin mengucapkan sesuatu tapi Pang Goan telah
membuang arak itu ke bawah
pembaringan sambil memberi tanda agar ia tinggalan tempat
itu.
Setibanya di luar kamar tamu, Leng-hong merasa langkah
kakinya bertambah ringan.
Itulah yang dikatakan orang pintar sejaman, bodoh sesaat.
Kalau perempuan itu tahu ilmu silat
Pang Goan sangat lihay, tidaklah terpikir olehnya bahwa
“pasir pembuyar tenaga” belum
tentu efektif terhadapnya?
Tak heran Pang Goan berkata begini, “Minum arak waktu perut
kosong paling gampang
mabuk.”
Rupanya hal ini menunjukkan ia sudah waspada terhadap arak
dan sayur yang dihidangkan,
dengan kecermatan Pang Goan, tentu saja dia tak akan
dikerjai begitu saja oleh orang.
Atau dengan perkataan lain, ia pura-pura keracunan tak lebih
hanya siasat belaka. Pertama
karena kuatirkan keselamatan Pang Wan-kun, kedua, dengan
cara itu dia hendak menyelidiki
asal-usul musuhnya.
Tentu saja masih ada alasan lain, yakni lantaran luka yang
diderita Ho Leng-hong belum
sembuh, dia harus bersabar untuk menghindari segala
kemungkinan yang tak diinginkan.
Dengan masih utuhnya tenaga dalam Pang Goan berarti setiap
saat ia bisa membekuk
perempuan yang menyaru sebagai Pang Wan-kun itu, asal
perempuan itu tertangkap, mustahil
asal-usul mereka tak terungkapkan?
Sungguh gembira perasaan Ho Leng-hong ketika itu, tapi ia
harus berusaha mengendalikan
pergolakan emosi tersebut dengan berpura-pura murung dan
kesal, apa yang dikatakan Pang
Goan segera disampaikan kepada “Pang Wan-kun”.
79
Rupanya Pang Wan-kun gadungan ini sudah menduga sampai ke
situ, sambil tertawa dingin
katanya, “Aku Cuma bisa mengatakan bahwa dia berada di
tangan kami dan sehat saja, soal
bukti tak bisa kami perlihatkan, jadi mau percaya atau tidak
terserah padanya.”
“Tapi, tanpa suatu bukti tak mau ia ungkapkan rahasia
To-kiam-hap-ping-tin dan lagi
bukankah orang itu berada di tangan kalian? Kenapa tidak
digusur sebentar ke sini agar
mereka bisa berjumpa muka?”
“Tak mungkin,” sahut Pang Wan-kun gadungan sambil
menggeleng, “sekalipun bisa
dipenuhi, paling banter ia Cuma bertemu dengan seseorang
Pang Wan-kun yang berwajah
mirip denganku, tetap tak bisa dibedakan asli atau palsu.”
“Ya, apa boleh buat?” Leng-hong angkat bahu, “kalau kalian
tetap ngotot, akupun tak bisa
berbuat lain. Pokoknya Pang-lotoa juga kukuh dengan
pendiriannya, sebelum bertemu dengan
adiknya, jangan harap bisa memperoleh To-kiam-hap-ping-tin
darinya.”
“Pang Wan-kun” tertawa dingin, “Hmm, aku punya cara untuk
memaksanya berbicara,
tunggu saja nanti!”
Ketika Ho Leng-hong bertanya lagi cara apa yang hendak
dipergunakan, “Pang Wan-kun”
tidak menjawab melainkan hanya tertawa dingin saja.
Sejak itu sampai tiga-empat hari kemudian, ternyata tiada
sesuatu tindakan yang dilakukan,
hari demi hari lewat dengan tenang.
Pang Goan tinggal di kamar tamu sebelah depan, kecuali dua
orang pelayan yang melayani
keperluannya siang-malam, ia tidak mendapat pengawalan yang
ketat, asal tidak
meninggalkan gedung Thian-po-hu, hampir boleh dibilang tak
ada orang yang mengurusi
gerak-geriknya.
Ia boleh keluar masuk taman belakang, bermain catur dengan
Ho Leng-hong atau jalan-jalan
dalam taman, bila dia mau bahkan makan bersama dengan “Pang
Wan-kun” dan bergurau
pula bersama, bagaikan kakak yang bercanda dengan adiknya.
Mereka seakan-akan sudah mempunyai persetujuan bersama,
bukan saja tidak menyinggung
soal Pang Wan-kun, merekapun tidak menyinggung soal
To-kiam-hap-ping-tin, kedua orang
itu tetap rukun seperti tak pernah terjadi sesuatu apapun.
Ho Leng-hong jadi bingung sendiri setelah menyaksikan
keadaan tersebut.
Beberapa kali ia coba menyelidiki hal ini, tapi kedua pihak
tidak memberi jawaban yang
memuaskan, meski demikian ia dapat merasakan ketenangan di
luar tak bisa mengendalikan
kekalutan di dalam, suatu badai hebat setiap saat bisa
terjadi, hanya tidak diketahui kapan
meledaknya.
Selama beberapa hari belakangan ini ia telah menemukan pula
suatu kejadian yang
mengerikan, ternyata semua pelayan yang berada di taman
belakang adalah komplotan “Pang
Wan-kun”, lagipula ilmu silat mereka rata-rata cukup tinggi.
Jelas perempuan-perempuan itu berasal dari suatu perkumpulan
yang sama dan telah
mendapat pendidikan yang keras, jelas komplotan itu bukan
dibentuk secara terburu-buru.
Maka dari itu, meski di luar tampaknya Pang Goan bisa
bergerak bebas, sesungguhnya setiap
saat dan setiap detik ia berada di bawah pengawasan yang
ketat.
Rupanya Pang Goan juga mengetahui akan hal ini, maka iapun
bersikap tenang dan tak
pernah melewati daerah terlarang, setiap kali bertemu dengan
Ho Leng-hong, yang
dibicarakan hanya masalah umum.
Tampaknya mereka seperti sedang menantikan sesuatu.
Selama perang dingin berlangsung, luka di lambung Ho
Leng-hong secara berangsur telah
sembuh kembali.
Hari ini, Ho Leng-hong merasakan situasi agak tak beres.
Sejak sore hari, tiba-tiba di taman belakang Thian-po-hu
muncul beberapa orang perempuan
asing.
80
Leng-hong berani bertaruh perempuan-perempuan itu bukan
pelayan Thian-po-hu, tapi
mereka mengenakan seragam pelayan Thian-po-hu, jumlahnya
kurang lebih enam-tujuh,
dipimpin seorang perempuan setengah umur, mereka melakukan
perondaan yang saksama di
setiap sudut taman, termasuk juga ruang tidur di atas
loteng.
Rupanya mereka sedang memeriksa setiap tempat yang mungkin
dibuat tempat bersembunyi,
terutama terhadap ruang atas boleh dibilang pemeriksaan
dilakukan amat teliti, kemudian
empat orang di antaranya menyebarkan diri di dalam taman,
sedang perempuan setengah
umur itu beserta dua orang lainnya tetap tinggal di ruang
atas dan menjaga jalan masuk-keluar
tempat itu.
“Pang Wan-kun” tidak memberi penjelasan apa-apa terhadap
kemunculan beberapa
perempuan asing itu, tapi Ho Leng-hong dapat menyaksikan
betapa hormatnya terhadap
perempuan setengah umur yang baru datang itu, bahkan
memanggilnya dengan sebutan “Liu
A-ih” atau bibi Liu.
Sikap bibi Liu sangat angkuh dan tinggi hati, mukanya selalu
dingin bagaikan es dan tak
pernah kelihatan bersenyum.
Jika pernah senyum atau tertawa, maka hal ini terjadi ketika
pertama kali berjumpa dengan
Ho Leng-hong, setelah memperhatikan sekujur badan pemuda itu
dengan sorot mata
menghina, tiba-tiba ia tertawa.
Ketika tertawa tertampaklah dua baris giginya yang hitam
seperti buah delima yang telah
busuk, begitu seramnya tertawa perempuan itu membuat
Leng-hong bergidik.
Suka atau tidak suka adalah urusan lain, yang pasti dengan
tertawa tersebut Ho Leng-hong
berhasil memperoleh sedikit hasil yang di luar dugaan.
Ditinjau dari gigi Liu A-ih yang hitam itu bisa diduga
delapan puluh persen ia suka
mengunyah sirih, ketika diperhatikan lagi dialek bicaranya,
maka terdengarlah ia bicara
dengan logat wilayah Leng-lam.
Hal ini segera menghubungkan pikiran Ho Leng-hong dengan
letak Hiang-in-hu yang berada
di Hu-yong-shia wilayah Leng-lam, bukankah hal ini
menunjukkan rombongan Liu A-ih
umpama bukan anak buah Hiang-in-hu, tapi sedikit banyak
tentu ada hubungannya? Kalau
tidak, maka kemungkinan besar mereka adalah gundik atau
pelayan Hui Pek-ling yang
berkhianat dan beraksi di luar tahu Hui Pek-ling.
Ingin sekali Ho Leng-hong melaporkan hasil penemuannya ini
kepada Pang Goan di ruang
depan, sayang ia tidak memperoleh kesempatan, terpaksa
secara diam-diam saja
diperhatikannya setiap gerak-gerik di bawah loteng.
Senja itu, ketika Peng-ji mengantar makan malam ke loteng,
ia membisikkan sesuatu ke sisi
telinga “Pang Wan-kun”.
“Aku tahu,” Wan-kun manggut-manggut, “aku dapat
menyelesaikannya, suruh mereka
berhati-hati terutama bagian depan.”
Setelah meletakkan hidangan di meja, Peng-ji mengundurkan
diri.
Leng-hong tertawa dan menegur, “Wan-kun, urusan apa yang
hendak kalian selesaikan?”
“Lebih baik jangan banyak bertanya,” sahut Wan-kun dengan
ketus, “setelah makan kenyang
tidurlah baik-baik, apapun yang terjadi, janganlah
kautinggalkan kamar tidur ini.”
“Aku bisa menebaknya, bukankah kalian hendak menghadapi
Pang-lotoa? Kedatangan Liu Aih
pasti khusus untuk menyelesaikan persoalan ini.”
Pang Wan-kun cuma tertawa dingin, ia tidak membenarkan pun
tidak menyangkal, rupanya ia
tak peduli apakah Ho Leng-hong mengetahui rahasia ini atau
tidak, selain itu iapun sudah
menduga pemuda itu pasti bisa berpikir sampai ke situ, maka
ia tidak heran.
Andaikata Leng-hong pura-pura tidak mengetahui soal apapun,
mungkin tindakan ini malah
akan memancing kecurigaan mereka.
Kembali Leng-hong menghela napas panjang, “Aku adalah orang
di luar garis, dengan kedua
belah pihak tak ada hubungan apa-apa, hakikatnya apa yang
hendak kalian lakukan terhadap
81
Pang-lotoa sama sekali tak ada hubungannya denganku, cuma
sebagai penonton kuharap agar
kalian jangan mencelakai jiwanya, ia sudah kehilangan ilmu
silatnya, jelas tak bisa
menandingi kalian......”
“Hei, kusuruh kau jangan mencampuri urusan ini, mengerti
tidak kau?” hardik Wan-kun.
“Baik, aku takkan bertanya lagi, setelah makan aku akan
tidur senyenyaknya, tentunya boleh
bukan?”
Habis berkata ia lanjutkan santapannya dengan lahap, betul
juga, ia tidak buka suara lagi.
Pang Wan-kun bersantap dengan tergesa-gesa, setelah menyuruh
Peng-ji membersihkan meja,
merekapun turun dari loteng. Sebelum pergi, pintu kamar
dikunci dari luar, Leng-hong
dikurung dalam loteng.
Mungkin mereka mengira tenaga Ho Leng-hong telah buyar,
lukanya belum sembuh, maka
jalan darahnya tidak perlu ditutuk.
Ho Leng-hong sudah mempunyai rencana sendiri, buru-buru ia
membuka baju luarnya dan
membuat orang-orangan di balik selimut, setelah memadamkan
lampu, ia membuka daun
jendela.
Dari jendela tertampaklah suasana dalam taman gelap gulita,
sebaliknya ruang tengah di
bawah loteng terang benderang dan bermandikan cahaya lampu.
Pang Wan-kun dan Liu A-ih rupanya berada dalam ruangan
semua, di dalam taman pun
terdapat penjaga, tapi suasana di luar loteng amat hening,
tak nampak sesosok bayangan
manusia pun.
Ditinjau dari keadaan tersebut, bisa diduga malam itu
mungkin ada seorang penting akan
berkunjung ke situ, maka semua orang menantikan
kedatangannya dengan tenang.
Tentu saja orang yang akan datang itu mempunyai kedudukan di
atas A-ih, atau bahkan
mungkin juga otak yang mendalangi operasi pencurian golok
mestika.
Pelahan Ho Leng-hong membuka jendela dan menyelinap keluar,
lalu merosot ke sebuah
balkon di bawah jendela, dengan tangkas sebelah tangan
memegang kosen jendela, tangan
yang lain digunakan memegang emper rumah, dari situ ia ambil
tangga tali yang berada di
tepi emper.
Tangga tali tersebut sudah disiapkan dua hari yang lalu, dan
disembunyikan di talang emper
rumah, semula dipersiapkan untuk kabur bila keadaan
terdesak.
Sekarang ia tahu tak mungkin turun lewat tangga tali itu
sebab tindakan ini tentu akan
mengejutkan para peronda dalam taman, sebaliknya naik ke
atas, bukan saja lebih leluasa, dan
lagi aman.
Setiba di atas atap rumah, orang bisa memperhatikan keadaan
sekitarnya dengan saksama,
andaikata bisa melintasi rak bunga di sebelah sana, di balik
semak bunga akan lebih mudah
baginya untuk menyembunyikan diri.
Begitulah, meski Ho Leng-hong tak dapat mengerahkan tenaga
dalamnya, tapi ia bisa
bergerak lincah, sekali berjumpalitan ke atas, tahu-tahu ia
sudah berada di atas atap rumah.
Kemudian ia menarik tangga tali itu, dia atur napas, dan
menelusuri atap, pelahan ia merayap
ke arah rak bunga.
Baru saja melewati tiga kali lukukan genteng, tiba-tiba ia
mendengar suara pembicaraan orang
di sebelah bawah.
Leng-hong mengintai ke sana, dilihatnya dua buah lentera
mengiringi serombongan orang
sedang naik ke ruang atas dari arah barat.
Dua orang dayang cilik yang membawa lampu lentera adalah
anggota Thian-po-hu, di
belakang mengikut empat orang perempuan berbaju hitam, dua
di muka dan dua di belakang,
mengiringi seorang gadis berbaju merah.
Empat orang perempuan berbaju hitam itu mempunyai perawakan
yang cebol tapi kekar,
bajunya juga istimewa, bagian bawah mengenakan celana
panjang yang ketat sedang bagian
atas mengenakan baju pendek yang longgar dengan bagian leher
sangat lebar, baju itu tidak
82
berkancing tapi diikat dengan ikat pinggang lebar berwarna
hitam, andaikata mereka tidak
bersanggul tinggi, orang akan mengira mereka sebagai lelaki.
Yang lebih istimewa lagi adalah pinggang masing-masing
terselip dua bilah golok, yang satu
panjang dan yang lain pendek.
Yang pendek cuma dua kaki, gagang golok itu malah mencapai
tujuh-delapan inci, sedangkan
golok panjang berukuran empat-lima kaki, gagangnya sendiri
juga mencapai satu kaki lebih.
Lebar mata golok hanya sebesar tiga jari, bentuknya ramping
tapi panjang, sedikit mirip
pedang, Cuma ujungnya melengkung ke atas dan jelas hanya
mata golok sebelah saja yang
tajam.
Jelek-jelek begitu, Ho Leng-hong terhitung seorang ahli
golok, tapi selama hidup belum
pernah ia lihat golok panjang (samurai) seaneh ini.
Nona berbaju merah itu tak bersenjata api gayanya lembut dan
terpelajar, sekalipun dalam
kegelapan tak dapat melihat wajahnya, api umurnya mungkin
belum melampaui dua puluhan,
dan mungkin sangat cantik.
Baru saja rombongan itu tiba di luar pintu, Pang Wan-kun
serta Liu A-ih dengan langkah
cepat menyambut kedatangan mereka.
“Menyambut kedatangan Samkongcu!” seru mereka sambil memberi
hormat.
“Tak usah banyak adat,” nona berbaju merah itu mengulapkan
tangannya, “mari kita bicara di
dalam saja.”
Pang Wan-kun dan Liu A-ih segera memberi jalan, didahului
keempat orang perempuan
berbaju hitam tadi mereka lantas masuk ke dalam.
Ho Leng-hong diam-diam merasa heran, pikirnya, “Hebat benar
perempuan ini, bukan saja
bergelar Tuan Puteri, punya pengawal pribadi pula, tampaknya
kehebatan mereka jauh
melebihi Thian-po-hu. wah, jika ditilik dari sikap Pang
Wan-kun berdua, rupanya perempuan
yang menyaru Pang Wan-kun ini hanya seorang keroco, sedang
Liu A-ih tak lebih Cuma
seorang pelayang . . . . .”
Berpikir sampai di sini, dengan cepat ia ubah rencananya
semula, diputuskan penyampaian
berita kepada Pang Goan sementara waktu ditunda, dia akan
mengikuti dulu pembicaraan apa
yang sedang berlangsung di bawah loteng.
Tapi penjagaan di sekitar ruangan itu sangat ketat,
bagaimana caranya mengikuti pembicaraan
mereka?
Ah, ada akal! Pelahan Leng-hong melintasi wuwungan rumah, ia
manjat ke atas rak bunga,
dengan tangkai bunga sebagai aling-aling pelahan ia melayang
turun ke bawah, kemudian
dengan sikut menggantikan kaki ia merangkak, dari rak bunga
merangkak sampai ke bawah
dinding kamar, dari mana ditemukan sebuah lubang hawa yang
ditutupi dengan terali besi.
Di dalam lubang hawa adalah ruangan bawah tanah.
Leng-hong masih ingat, dalam ruangan itu terdapat sebuah
perapian yang terbuat dari batu,
perapian itu dipersiapkan sebagai penghangat udara di musim
dingin, cerobong perapian tadi
justru menembus ke dinding rangkap di ruang tengah.
Seandainya ia merangkak masuk ke dalam cerobong asap, tempat
itu sungguh tempat
persembunyian yang paing bagus untuk mencuri dengar
pembicaraan yang sedang
berlangsung.
Dengan sangat hati-hati ia melepaskan terali besi lubang
hawa itu, kemudian tanpa
mempedulikan kotornya debu dan hangus, bagaikan seekor ular
pelahan ia merayap ke dalam
cerobong.
Ternyata segala sesuatunya persis seperti apa yang
diharapkan, letak perapian itupun sangat
menguntungkan, ditambah lagi cerobong asap tersebut cukup
lebar, sehingga seorang yang
berdiri di dalamnya masih terasa longgar.
Yang lebih menguntungkan lagi adalah baik pada cerobong asap
maupun dinding rangkap
terdapat pintu kecil guna keperluan pembersihan, dengan
dibukanya pintu kecil tersebut,
83
bukan saja pembicaraan dalam ruangan dapat terdengar, bahkan
pemandangan dalam ruangan
juga dapat terlihat jelas.
Satu-satunya hal yang patut disesalkan adalah ketika Ho
Leng-hong tiba di cerobong tersebut,
Samkongcu itu sudah berduduk, kebetulan ia duduk
membelakangi pintu kecil sehingga raut
wajah sama sekali tak terlihat olehnya.
Tapi bila ditinjau dari bayangan punggungnya terbuktilah apa
yang dibayangkan Ho Lenghong
memang tepat . . . . Dia adalah seorang gadis muda yang
lemah lembut dan
berperawakan menarik.
Liu A-ih duduk di sebuah bangku di sampingnya, sementara
keempat orang perempuan
bersamurai itu berdiri di kiri kanan, Pang Wan-kun tampak
berdiri dan sedang menuturkan
kepada Samkongcu semua kejadian yang berlangsung belakangan
ini.
Waktu itu laporan baru berlangsung satu bagian, rupanya
Samkongcu merasa kurang puas
atas laporan tersebut, pelahan katanya, “Selama ini,
penampilanmu memang tak jelek, tapi
kalau dibilang dengan begitu lantas Thian-po-hu dan
Cian-sui-hu telah berhasil
kaukendalikan, hal ini terlalu berlebihan. Kautahu, tujuan
kita bukan menguasai Thian-po-hu
dan Cian-sui-hu, yang kita butuhkan adalah golok mestika
Yan-ci-po-to serta intisari ilmu Tokiam-
hap-ping-tin-hoat tersebut, kemudian dalam pertemuan
Lo-hu-to-hwe yang akan datang
kita hajar mereka sampai kalah, agar setiap pria di dunia
tunduk di bawah kekuasaan Cimoay-
hwe kita.”
“Hamba mengerti!” kata Pang Wan-kun.
“Kalau sudah tahu, tidak seharusnya kaugunakan kekerasan,
terutama terhadap Pang Goan,
tidak seharusnya kaubocorkan rahasiamu, dengan demikian
intisari To-kiam-hap-ping-tin
baru akan diuraikan kepada kalian.”
“Tapi ia sudah mulai menaruh curiga kepada hamba.”
“Hal ini membuktikan pekerjaanmu masih kurang sempurna,
dalam menghadapi pelbagai
persoalan pun kurang sabar, daripada rahasiamu ketahuan kan
lebih baik berusaha
menghilangkan kecurigaan itu dengan cara yang lain.”
Pang Wan-kun menunduk kepala dan bungkam.
Samkongcu berkata lebih lanjut, “Yang paling tak bisa
dimaafkan adalah tindakanmu yang
tergesa-gesa untuk mencuri golok mestika tersebut, semua
persiapan kurang sempurna
sehingga akhirnya kita berkorban nyawa dua orang anggota
kita, lalu apakah tindakan ini bisa
menutupi titik kelemahanmu? Toh akhirnya jejakmu ketahuan
juga, bayangkan sendiri,
berhargakah tindakanmu itu?”
“Hamba mengaku salah,” Pang Wan-kun menundukkan kepalanya
lebih rendah.”
Samkongcu menghela napas panjang, katanya lagi, “Ketika
Kongcu mengetahui kejadian ini,
ia marah sekali. Tapi mengingat golok mestika Yan-ci-po-to
berhasil kaudapatkan, maka
dosamu tak sampai dituntut, sebab itulah aku dan Liu A-ih
sengaja dikirim kemari untuk
membereskan langkah yang berantakan ini.”
“Terima kasih atas kebijaksanaan Hwe-cu, terima kasih pula
kepada Samkongcu yang telah
membantu diriku,” kata Pang Wan-kun sambil memberi hormat.
“Sekarang serahkan Yan-ci-po-to itu kepadaku dan serahkan
Pang Goan kepada Liu A-ih
untuk digusur pergi, dan kau sudah tak ada urusan lagi. Cuma
kau harus tetap tinggal di
Thian-po-hu untuk melanjutkan kedudukanmu sebagai nyonya Nyo
Cu-wi, berusahalah
menyelidiki asal-usul Thian Pek-tat, yang penting ia
menjalankan perintah siapa? Apa pula
tujuannya? Bila berhasil mendapatkan keterangan, laporkan
kepada kantor cabang, jangan
mengambil tindakan secara gegabah.”
Pang Wan-kun mengiakan pula.
“Selain itu, tak perlu kauberi pasir pembuyar tenaga kepada
orang she Ho itu, dia adalah hasil
karya kita yang telah banyak makan tenaga dan pikirkan, ilmu
silatnya tidak tinggi, asal
84
diawasi secara ketat sudah lebih dari cukup. Harus kauberi
obat penawar kepadanya, rayu dia
dengan segala kelembutan dan kemesraan agar ia mau kita
gunakan secara sukarela.”
Pang Wan-kun hanya mengiakan berulang kali.
Dari nada pembicaraan mereka, Ho Leng-hong dapat merasakan
bahwa ilmu silatnya
dianggap rendah bahkan bernada menghina, hal ini amat
menggusarkan hatinya.
Diam-diam ia tertawa dingin, pikirnya, “Budak sialan,
kauanggap orang she Ho ini laki-laki
bangor yang bernyali tikus? Hmm, kau telah salah melihat
orang! Walaupun ilmu silatku
rendah, tapi bukan laki-laki yang gampang dikendalikan . . .
.”
Sementara itu Liu A-ih berbangkit sambil bertanya, “Kongcu
bermaksud akan berangkat
kapan?”
“Berangkatlah dulu bersama tawananmu, setelah mendapatkan
golok mestika itu aku segera
menyusul,” kata Samkongcu.
“Sekarang juga hamba akan ke taman untuk mengambil golok,”
kata Pang Wan-kun cepat,
“biar Peng-ji yang mengantar Liu A-ih ke ruang depan.”
“Kausembunyikan golok mestika itu di taman?” tegur Samkongcu
dengan kening berkerut.
“Benar, sebetulnya hamba akan mengambilnya dari sana, tapi
perbuatanku diketahui Ho
Leng-hong sehingga terpaksa harus kulukai dia, waktu itu
hamba tak sempat membawanya
pergi, maka golok itu kusembunyikan kembali dalam liang
semula, untung Pang Goan tidak
menyangka golok mestika itu masih berada di tempat semula.”
“Perbuatanmu itu terlalu berbahaya,” kata Samkongcu sambil
menggeleng, “cepat ambil,
semoga tidak terjadi hal-hal di luar dugaan lagi.”
Pang Wan-kun mengiakan dan keluar dari ruangan, Ho Leng-hong
buru-buru menerobos
keluar dari lubang hawa itu.
Ia tidak kuatir Pang Goan akan digusur pergi Liu A-ih, maka
diputuskan untuk mendahului
Pang Wan-kun dan merebut kembali Yan-ci-po-to itu.
Atau paling sedikit dia akan mengacau agar Yan-ci-po-to
tidak sampai dibawa kabur oleh
Samkongcu.
Ho Leng-hong sadar di sekitar loteng pasti dijaga ketat oleh
anggota “Ci-moay-hwe”
(perkumpulan kaum perempuan), tapi ia tidak mempedulikan
soal itu, ia menelusuri rak
bunga yang gelap dan menerobos ke belakang loteng menuju ke
hutan.
Suatu keanehan kembali terjadi, sekalipun ia kabur dengan
cara sekasar itu, namun jejaknya
ternyata tidak diketahui oleh para penjaga.
Dalam waktu singkat pemuda itu sudah berada di tepi hutan,
menurut perhitungannya Pang
Wan-kun tentu masuk ke hutan lewat arah lain. Ia tak berani
ayal, dengan langkah cepat ia
masuk ke tengah hutan.
Ketika dia tiba di tempat penyimpanan golok tersebut,
tiba-tiba dari depan terdengar suara
langkah kaki orang.
Diam-diam Leng-hong gelisah, sebab menurut keadaan tersebut
tak mungkin baginya untuk
mengambil golok mestika itu mendahului Pang Wan-kun,
sekalipun mereka tiba berbareng,
dengan kepandaian silatnya jelas ia bukan tandingan
perempuan itu.
Terpaksa ia berhenti dan menutup mulutnya dengan tangan,
maksudnya mengurangi napasnya
yang tersengal, kemudian ia pasang telinga dan memperhatikan
gerak-gerik lawan.
Tapi, sungguh aneh, ketika ia berhenti, suara langkah kaki
itupun ikut berhenti.
Ia coba maju dua langkah, ternyata di depan tidak ada reaksi
apapun.
Sesungguhnya apa yang terjadi? Mungkinkah lantaran terlalu
tegang maka ia salah dengar?
Keadaan sudah mendesak, Ho Leng-hong tak sempat berpikir
panjang lagi, dengan langkah
cepat ia memburu ke depan.
Tapi setibanya di tanah lapang dalam hutan, ia tertegun.
85
Di sekitar liang telah bertumpuk tanah baru, jelas liang
tersebut baru digali orang. Tapi bukan
Pang Wan-kun yang menggali liang tersebut, sebab perempuan
itu masih berdiri di tepi liang,
tangannya kosong dan tubuhnya kaku, jelas jalan darahnya
ditutuk orang.
Ho Leng-hong coba memeriksa keadaan di sekitar situ, namun
tiada sesosok bayangan pun,
dengan cepat ia bertanya, “Mana golok mestika itu? Apakah
golok mestika itu telah dibawa
kabur orang?”
Pang Wan-kun tidak menjawab, kecuali biji matanya masih
dapat bergerak-gerak, sekujur
badanya kaku seperti patung.
Bila jalan darah seorang tertutuk, mana bisa ia menjawab?
Leng-hong ingin cepat-cepat mengetahui Yan-ci-po-to, ia
mengitari liang itu dan menepuk
beberapa kali punggung perempuan itu.
Tapi hawa murninya tak bisa dihimpun, otomatis pukulannya
juga tak bertenaga,
bagaimanapun juga ia menepuk, jalan darah Pang Wan-kun sukar
dilancarkan.
Dengan gemas Leng-hong menggentak kaki ke tanah, bentaknya,
“Obat penawar kaubawa
tidak? Kalau ada, kerdipkan matamu dua kali!”
Pang Wan-kun segera mengerdipkan matanya dua kali.
Cepat Leng-hong menggeledah sakunya, betul juga dekat
belahan baju dalamnya ia temukan
sebuah botol porselen bulat pipih.
“Apakah botol ini berisi obat penawar?” tanyanya pula.
Sekali lagi Wan-kun mengerdipkan matanya.
Leng-hong membuka tutup botol dan mengeluarkan sebutir obat
penawar terus dimasukkan
ke dalam mulut.
Setelah obat itu ditelan, tak lama kemudian muncul aliran
panas dari bagian dada, bagaikan
minum arak panas aliran itu terus turun ke perut.
Segera Leng-hong menarik napas panjang, pelahan hawa
murninya dihimpun kembali lalu
disalurkan ke telapak tangan kanannya....
Tapi sebelum bertindak sesuatu, tiba-tiba terlintas satu
ingatan dalam benaknya, “Tidak,
perempuan ini tak boleh dibebaskan dulu jalan darahnya, ilmu
silatnya mungkin lebih tinggi
daripadaku, setelah dibebaskan, bisa jadi aku akan dijegal
malah, kan bisa runyam?”
Berpikir demikian, maka tepukan tangannya dialihkan ke
tempat lain, yakni pada jalan darah
bisu di kuduk perempuan itu.
Pang Wan-kun terbatuk-batuk, setelah tumpah segumpal riak
kental, ia dapat bersuara
kembali.
“Cepat katakan, Yan-ci-po-to itu digali siapa?” tanya
Leng-hong.
Bukan menjawab, Wan-kun malah berkata, “Jit-long, bebaskan
dulu jalan darahku,
bagaimanapun juga kita pernah menjadi suami isteri, lagipula
obat penawar pasir pembuyar
tenaga telah kuberikan padamu, masa kau tak mau menolong aku
yang sedang tertimpa
kesusahan?”
“Katakan dulu padaku, siapa yang telah membawa kabur golok
mestika itu, asal kau megaku
terus terang, tentu saja akan kutolong dirimu.”
“Aku pasti akan memberitahukan kepadamu, tapi bebaskan dulu
jalan darahku.”
“Hmm, sampai sekarang pun kau masih ingin bertukar syarat
denganku?”
“Aku tidak minta tukar syarat, aku hanya mohon kepadamu,
sebab bila golok mestika itu
sampai hilang, aku bakal dihukum mati.”
“Huh, kau tak boleh kehilangan golok mestika, apakah aku
boleh kehilangan? Jangan lupa,
Yan-ci-po-to bukan milikmu.”
Wan-kun tertawa getir, “Jit-long, apa gunanya membicarakan
persoalan itu dalam keadaan
seperti ini? Baik golok itu milik siapa, kita sama-sama tak
ingin kehilangan, bukan?”
Tentu saja Leng-hong tak dapat menyangkal, iapun tahu,
seandainya Yan-ci-po-to sampai
terjatuh ke tangan orang lain, hal ini tak ada manfaat
baginya.
86
Wan-kun kembali berkata, “Lepaskan aku, Jit-long! Kita harus
bekerja sama untuk mengejar
kembali golok mestika itu, kita tak boleh saling mencurigai,
bila golok itu berhasil kita
dapatkan kembali, aku pasti akan menceritakan segala
sesuatunya kepadamu.”
“Kalau begitu beritahu dulu kepadaku, siapa yang telah
melarikan golok mestika tersebut?”
Pang Wan-kun menghela napas panjang, “Bila kuberitahukan
dulu hal ini kepadamu, apakah
kau dapat pegang janji dan melepaskan diriku?”
“Tentu saja, orang she Ho bukan seorang laki-laki yang suka
mengingkar janji.”
Wan-kun tertawa, katanya lagi, “Bersediakah kau bersikap
seperti dulu, menganggapku
sebagai isterimu?”
“Kau sesungguhnya mau bicara atau tidak?” seru Leng-hong
dengan marah, “aku tak ada
waktu untuk mengobrol dengan kau.”
“Ai, bagi kaum pria mungkin dianggap mengobrol, tapi bagi
kaum wanita justru lebih penting
daripada nyawa sendiri,” kata Pang Wan-kun dengan menyesal,
“Jit-long, meskipun kita
bukan suami isteri sungguhkan, tapi selama beberapa bulan
kita telah menikmati penghidupan
sebagai suami-isteri, peduli kau percaya atau tidak, yang
pasti dalam hidupku ini hanya kau
kuanggap sebagai suamiku, nama dan she boleh palsu, tapi
perasaan kita tak mungkin palsu,
Jit-long, kau . . . . .”
“Cukup,” tukas Leng-hong sambil menggoyang tangan,
“sekalipun kau amat mencintaiku,
sekarang bukan waktunya untuk membicarakan soal tersebut,
kita harus menyelesaikan dulu
masalah penting, soal cinta kasih ini boleh dibicarakan lain
waktu saja, setuju bukan?”
Hampir meledak gelak tertawanya, perempuan ini memang lucu,
baru saja Samkongcu
menitahkan dia merayu dengan segala kemesraan, kontan ia
laksanakan tugas, sayang
waktunya tidak sesuai sehingga siapa yang bernafsu untuk
meresapinya?
Agaknya Pang Wan-kun merasakan juga suasananya tidak cocok,
dengan tersipu-sipu ia
alihkan pembicaraan ke soal lain, katanya, “Baiklah kalau
kau ingin mengetahui dulu siapa
yang melarikan golok mestika itu aku dapat memberitahukan
padamu, besar kemungkinan
orang itu adalah Thian Pek-tat!”
“Kenapa kaukatakan besar kemungkinan?” tanya Leng-hong
tercengang.
“Ia menggunakan kain kerudung pada wajahnya, pakaian yang
dikenakan juga ringkas, tanpa
melihat raut wajah yang sesungguhnya darimana aku bisa tahu
pasti dia atau bukan, tapi
menurut perkiraanku, kecuali Thian Pek-tat tak mungkin orang
lain.”
Leng-hong memang mencurigai Thian Pek-tat, maka setelah
termenung sejenak lalu katanya,
“Ilmu silatnya tidak terlalu tinggi, kenapa jalan darahmu
bisa tertutuk olehnya?”
“Ia menyergap diriku secara mendadak dan di luar dugaan,
lagipula dalam hutan tersembunyi
pula beberapa orang komplotannya.”
“Semua beberapa orang? Setelah berhasil mereka kabur ke arah
mana? Sudah berapa lama?”
“Jumlah yang pasti aku tidak tahu, mungkin dua-tiga orang,
setelah mendapatkan golok
mestika itu mereka kabur ke arah Kiok-hiang-sia.”
Kiok-hiang-sia terletak dekat kamar loteng, bila maju lagi
akan tiba di ruang depan, ditinjau
dari keadaan pada umumnya, Thian Pek-tat mestinya kabur
lewat taman belakang, tapi
mengapa ia malah lari ke ruang depan?”
Tercengang juga Ho Leng-hong menghadapi hal ini, tapi
lantaran waktu amat mendesak, tak
mungkin lagi baginya untuk bertanya lebih jauh, sesudah
termenung sebentar iapun putar
badan dan berlalu.
“He, Jit-long, bukankah kau telah menyanggupi akan
membebaskan jalan darahku?” seru
Wan-kun cemas.
“Sebenarnya hendak kubebaskan jalan darahmu, tapi setelah
kau kehilangan Yan-ci-po-to,
Samkongcu tak nanti akan percaya begitu saja, maka lebih
baik kau diam beberapa saat lagi di
sini, hal ini akan lebih menguntungkan kau.”
“Hei, Jit-long, kaut tak boleh ingkar janji!” teriak
Wan-kun, “Jit-long.... Jit-long....”
87
Leng-hong menutuk lagi jalan darah bisunya, kemudian sambil
menepuk pelahan pipinya ia
berbisik, “Aku berbuat demikian demi kebaikanmu, kalau kita
bukan suami isteri, tentu
kulepaskan dirimu agar didamprat dan dihukum oleh Samkongcu
itu, bila kau dalam keadaan
begini, kan terlepaslah tanggung jawabmu.”
Habis berkata dia lantas meninggalkan hutan.
Menurut perhitungannya, Liu A-ih dan anak buahnya pasti
sudah tiba di ruang depan, bila
Pang Goan tak mau menyerah, pertarungan mungkin sudah
berkobar, maka begitu keluar dari
hutan ia langsung menuju ke ruang depan.
Tapi baru saja ia melewati pintu taman, suara bentakan
nyaring sudah terdengar di depan
sana. Suara itu berasal dari ruang loteng, malah kedengaran
juga suara Pang Goan.
Cepat Leng-hong putar arah dan menelusuri taman dan balik
lagi ke ruang loteng.
Dari kejauhan ia dapat menyaksikan lampu menerangi sekitar
tempat itu, dua sosok bayangan
sedang terlibat dalam pertarungan yang seru.
Sambil berdekap tangan Samkongcu berdiri di undak-undakan
batu, sementara keempat
perempuan pendek berbaju hitam itu berdiri berjajar di
depannya.
Di bawah cahaya lentera, untuk pertama kalinya Leng-hong
melihat jelas wajah Samkongcu.
Ia lembut dan cantik, paling banter usianya baru delapan
atau sembilan belas tahunan,
matanya besar, bibirnya tipis dan sekilas pandang dapat
diketahui bahwa dia adalah seorang
gadis yang cerdik, cuma sorot matanya setajam sembilu dan
lagi rada menyeramkan.
Sementara kedua orang yang terlibat dalam pertempuran itu
adalah Liu A-ih melawan Pang
Goan.
Kedua orang itu sama-sama bertarung dengan tangan kosong,
bila ditinjau dari situasi
pertarungan, pukulan Pang Goan yang kuat membawa desing
angin tajam, jelas ia menduduki
posisi di atas angin, tapi gerakan tubuh Liu A-ih amat gesit
dan lincah, meskipun harus
menerobos ke sana kemari di antara pukulan Pang Goan yang
bertubi-tubi, sedikitpun tidak
terlihat tanda-tanda akan kalah.
Agaknya pertarungan antara mereka sudah berlangsung cukup
lama.
Dengan sorot mata tajam, Samkongcu mengikuti jalannya
pertarungan dengan saksama,
sekeliling gelanggang hampir dipenuhi oleh anggota
Ci-moay-hwe, tapi tak seorangpun di
antara mereka yang turun kalangan dan memberi bantuan.
Jago-jago itu hanya menonton jalannya pertarungan dengan
tenang, seakan-akan mereka tidak
terburu nafsu untuk mengalahkan Pang Goan.
Diam-diam Leng-hong gelisah, pikirnya, “Betapa baiknya jika
saat ini dia memegang Yan-cipo-
to....”
Sementara ia masih bingung apakah mesti membantu Pang Goan
atau tidak, tiba-tiba
Samkongcu membentak, “Liu A-ih, mundur!”
Liu A-ih segera tarik serangan dan melompat keluar dari
gelanggang, keningnya sudah basah
keringat.
Samkongcu memberi tanda, tiba-tiba keempat perempuan pendek
berbaju hitam itu melolos
samurainya, kemudian menyerbu ke tengah gelanggang dan
mengepung Pang Goan rapatrapat.
“Perempuan busuk, rupanya kalian hendak bertarung secara
bergantian?” dengus Pang Goan,
“hayo majulah, aku orang she Pang tak jeri melayani
barisanmu itu.”
Samkongcu tidak menjawab, katanya kepada anak buahnya,
“Berikan sebilah pedang
kepadanya.”
Liu A-ih melolos sebilah pedang seorang gadis pembawa
lentera, lalu melemparkannya
kepada Pang Goan.
Setelah menerima pedang itu, Pang Goan merasa tercengang
juga, katanya kemudian sambil
tertawa, “Hei, kenapa? Kalian ingin bunuh diri? . . .
barangkali sudah bosan hidup?”
88
“Kami tak ingin mencari kemenangan dengan mengandalkan
jumlah lebih banyak,” kata
Samkongcu tenang, “tapi keempat orang ini selalu bertempur
dengan ilmu golok gabungan,
maka untuk adilnya kuberikan pula sebilah senjata padamu.”
Mendengar ucapan ini, Pang Goan tertawa terbahak-bahak,
“Hahaha, tapi kalian jangan lupa,
ilmu pedang Keng-hong-kiam-hoat dari Cian-sui-hu sudah
tersohor selama puluhan tahun
dalam dunia persilatan, begitu orang she Pang turun tangan,
mereka tak ada harapan untuk
hidup lagi.”
“Coba saja bagaimana akhirnya nanti!” kata Samkongcu, ia
lantas bertepuk tangan tiga kali.
Mendengar tepukan tangan itu, keempat orang perempuan cebol
berbaju hitam itu segera
membentak dan menyerbu ke depan.
Mereka sama membawa sebilah samurai panjang dan sebilah
pisau pendek, tapi selama
pertarungan berlangsung, pisau pendek tetap terselip di
pinggang, sementara samurai itu
digenggam dengan kedua tangannya.
Di antara bentakan nyaring, empat bilah samurai menabas
bersamaan dari kiri dan kanan,
dalam waktu singkat keempat perempuan cebol itu sudah
melancarkan dua belas kali tabasan.
Cahaya samurai berkilauan memenuhi angkasa, dalam waktu
singkat sekeliling gelanggang
seolah-olah diliputi kabut samurai yang menyeramkan.
Ho Leng-hong juga seorang ahli golok, tapi belum pernah ia
lihat ilmu golok secepat dan
seganas itu, tak urung peluh dingin membasahi juga tubuhnya
karena mengusirkan
keselamatan Pang Goan.
Di tengah bayangan golok yang berlapis-lapis, Pang Goan
tertawa nyaring, serentak ilmu
pedangnya dikembangkan.
Belum sempat Leng-hong menyaksikan bagaimana caranya orang
itu menyerang, mendadak
ia merasakan pandangannya menjadi kabur, tahu-tahu suara
beradunya senjata berkumandang
memekak telinga, disusul percikan bunga api di udara . . . .
Waktu maju tadi keempat perempuan cebol itu dapat bergerak
cepat, sewaktu mundurpun tak
kurang cepatnya, masing-masing menyurut mundur tiga-empat
langkah, tapi masih dalam
posisi mengepung Pang Goan.
“Boleh juga ilmu silatmu!” puji Samkongcu sambil tersenyum.
Pang Goan mendengus, “Hm, budak busuk, berapa banyak anak
buahmu, suruh mereka maju
semua!”
Samkongcu Cuma tertawa dan tidak menjawab, kembali ia
bertepuk tangan empat kali.
Dua orang perempuan cebol diantaranya segera menyimpan
kembali samurainya sambil
mundur, sebaliknya dua orang lain sekali lagi melancarkan
serangan.
Sekali ini kedua samurai itu menyerang secara teratur, yang
satu menyerang tubuh bagian
atas, sedang yang lain menyerang perut dan kaki, semuanya
dengan gerakan cepat dan kerja
sama yang ketat. Sekalipun dalam hal senjata telah berkurang
dua bilah, tapi justru serangan
ini terasa lebih dahsyat.
Rupanya Pang Goan belum lagi memperhatikan serangan kedua
samurai itu, pedangnya
berputar menciptakan selapis cahaya yang menyilaukan mata.
“Ting! Ting!” dua kali benturan nyaring, hampir bersamaan
waktunya kedua samurai lawan
tertangkis balik.
Akhirnya Leng-hong dapat melihat jelas, meski Pang Goan
hanya memainkan satu jurus, tapi
sekaligus dapat menangkis dua serangan lawan.
Sebetulnya serangan itu digunakan menyongsong ancaman yang
datang dari atas, tapi ketika
terjadi benturan senjata, tiba-tiba pedang itu memerosot ke
bawah, bagaikan besi semberani
yang mengisap jarum, samurai yang mengancam tubuh bagian
atas itu dipaksa ke bawah
sehingga tepat menangkis samurai yang mengancam tubuh bagian
bawah itu.
89
Atau dengan kata lain, gerakan tersebut adalah satu gerakan
dengan dua guna, meminjam
golok untuk menangkis golok, baik ketepatan waktu, jurus
serangan dan tenaga, semuanya
digunakan dengan tepat.
“Ilmu pedang bagus!” puji Samkongcu tanpa terasa, beruntun
ia tepuk tangan lagi dua kali.
Tiba-tiba barisan serangan keempat perempuan cebol itu
berubah lagi, bayangan manusia
berkelebat, empat orang itu segera berdiri dalam satu garis
lurus, sementara samurai pendek
yang terselip di pinggang pun dicabut keluar.
Perempuan cebol yang pertama bergerak lebih dulu, samurai
panjang dan pendek digunakan
bersama untuk menyerang Pang Goan, tapi baru terjadi kontak
senjata, tiba-tiba ia tarik
serangan sambil mundur ke belakang, sementara perempuan
cebol kedua segera maju
menggantikan posisinya, seperti yang pertama tadi, begitu
terjadi kontak senjata ia terus
mundur untuk digantikan orang ketiga....
Begitulah, secara bergilir keempat orang perempuan cebol itu
melancarkan serangan secara
bergantian, delapan samurai panjang dan pendek bagaikan
bunga salju yang berhamburan di
sekitar Pang Goan.
Setiap kali mereka menyerang, arah sasarannya selalu
berbeda, jurus serangan yang
digunakan pun aneh dan berlainan, yakni sekali menyerang
segera berganti orang lagi.
Dengan tangguh dan gagahnya Pang Goan melayani kerubutan
keempat orang itu, setiap
serangan dipatahkan dengan serangan, setiap bacokan dihadapi
dengan bacokan, dalam
sekejap mata dua puluh gerakan sudah lewat . . . .
Ho Leng-hong merasa matanya sampai berkunang-kunang, ia
merasa kagum dan juga
gembira, terasa olehnya permainan pedang Pang Goan begitu
luwes dan leluasa, setiap
serangannya selalu dilancarkan dengan enteng, lincah tapi
kuat, memang tak malu sebagai
seorang jago kenaman.
Diam-diam semua jurus ampuh itu diingatnya di dalam hati,
sebisanya Leng-hong
memperhatikan setiap gerakan dengan saksama.
Sementara ia memusatkan perhatiannya untuk mengikuti
jalannya pertarungan itu, tiba-tiba
terdengar seseorang tertawa dingin, dari kegelapan seseorang
berseru, “Wahai orang she
Pang, jangan kaukeluarkan semua ilmu silatmu, selanjutnya
kau tak bisa tancap kaki lagi
dalam dunia persilatan!”
Meskipun suara itu sangat pelahan, tapi setiap patah katanya
dapat didengar semua orang
yang hadir ini dengan jelas.
Pang Goan segera menarik serangannya sambil melompat mundur,
bentaknya, “Sahabat dari
manakah itu? Silakan tampil ke depan!”
Tiada jawaban yang terdengar, suasana tetap hening dan
gelap.
Samkongcu pun menitahkan keempat perempuan cebol itu
menghentikan serangannya,
kepada Liu A-ih katanya sambil mengangguk, “Lumayan juga
hasil yang kita peroleh malam
ini, mari kita pergi!”
“Tapi golok itu . . . “ bisik Liu A-ih.
“Benda itu sudah tidak terlampau penting lagi artinya. Hayo
berangkat!” tangan Samkongcu
lantas memberi tanda, serentak lampu di empat penjuru
menjadi padam.
“Perempuan busuk, mau lari ke mana kalian?” bentak Pang Goan
cepat.
Pedang bergerak dan langsung membabat ke pinggang seorang
perempuan cebol berbaju
hitam yang kebetulan berada di dekatnya.
Perempuan cebol itu tidak menangkis melainkan melompat ke
samping dan menghindarkan
diri, sebelah tangannya lantas menyebarkan seenggan kabut
berbau harum.
Kebanyakan kabut asap yang berbau harum adalah kabut yang
mengandung obat pemabuk.
Cepat Pang Goan menutup pernapasannya sambil melompat ke
belakang dan buru-buru
mengambil geretan api.
90
Tapi ketika cahaya api menerangi sekeliling tempat itu,
hanya kabut tebal berbau harum yang
menyelimuti taman bunga itu, sementara Samkongcu dan
rombongannya telah lenyap tak
berbekas.
Buru-buru Leng-hong melompat keluar dari tempat sembunyinya
sambil berseru, “Lotoako,
musuh yang kalah tak perlu dikejar lagi, biarkan mereka
pergi!”
Pang Goan mengangkat tinggi-tinggi obornya, lalu serunya
dengan tercengang, “Jadi kau
yang bersuara tadi?”
Leng-hong menggeleng kepala, “Siaute juga Cuma mendengar
suaranya dan tidak melihat
orangnya, tapi kukira ia memang tidak bermaksud jelek.”
“Darimana kautahu ia tidak bermaksud jelek?”
“Soal itu kita bicarakan nanti saja, sekarang kita harus
menangkap seseorang lebih dulu,
jangan sampai ia sempat meloloskan diri.”
“Siapa?”
“Perempuan yang menyaru sebagai Wan-kun!”
Betapa girangnya Pang Goan, “Jadi ia sudah kautangkap? Di
mana sekarang?”
Leng-hong memberi tanda dan segera berangkat lebih dulu.
Tapi ketika mereka sampai di hutan tempat golok itu
disimpan, di sana tak mereka jumpai
seorang pun, Pang Wan-kun ternyata sudah lenyap tak
berbekas.
“Heran!” keluh Leng-hong, “padahal Cuma sebentar
kutinggalkan tempat ini, dan lagi jalan
darahnya sudah kututuk, masa ia bisa terbang sendiri?”
Pang Goan mengomel, “Kau sudah tahu perempuan itu penting
sekali artinya buat kita, kalau
sudah dibekuk kenapa tidak dibawa serta? Besar kemungkinan
ia pasti telah ditolong oleh
kawanan perempuan busuk komplotannya.”
“Tidak mungkin, Samkongcu tidak tahu kalau anak buahnya
sudah kubekuk, lagipula mereka
baru saja pergi, hakikatnya tak ada waktu bagi mereka untuk
menolongnya.”
“Jangan-jangan ia diselamatkan oleh orang yang memberi
peringatan tadi?”
Kembali Leng-hong menggeleng-geleng kepala, “Itupun tak
mungkin, sebab peringatan tadi
justru mengingatkan kita agar jangan tertipu, atau dengan
perkataan lain iapun bermusuhan
dengan Ci-moay-hwe, tidak mungkin ia menyelamatkan perempuan
itu.”
“Apa yang diperingatkan kepada kita? Siapa pula Ci-moay-hwe
itu?” tanya Pang Goan
keheranan.
Secara ringkas Leng-hong menceritakan apa yang didengarnya
tadi . . . .
Selesai mendengar cerita itu, dengan wajah kurang percaya
Pang Goan berkata, “Kalau
begitu, Ci-moay-hwe adalah suatu organisasi yang sangat
besar?”
“Bukan saja organisasi besar, bahkan ambisinya juga besar,
tujuan mereka bukan hanya
menghadapi tiga istana persilatan saja, bahkan kalau bisa
semua pria di dunia ini hendak
dikuasai dan ditaklukkannya.”
“Tapi yang pasti perempuan busuk itu tak mungkin jatuh dari
langit, mereka pasti mempunyai
asal-usul tertentu, kenapa dalam dunia persilatan belum
pernah kudengar nama organisasi
itu?”
“Menurut dugaanku, mungkin mereka beranggapan bahwa kini
belum saatnya untuk
meresmikan organisasinya secara terbuka, maka nama
perkumpulan masih dirahasiakan, bila
mereka sudah yakin dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe nanti pasti
akan berhasil mengalahkan
semua jago di dunia, otomatis nama perkumpulan mereka akan
diumumkan secara terbuka.”
Pang Goan tertawa dingin, “Huh, aku tidak percaya hanya
beberapa perempuan busuk yang
tak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi, seluruh dunia
persilatan dapat mereka kuasai?”
“Ya, sebab itulah mereka ingin mencuri belajar ilmu
pedangmu,” kata Leng-hong.
“Mencuri belajar ilmu pedangku?” Pang Goan tertegun,
“maksudmu . . . .”
91
“Sengaja Samkongcu menitahkan keempat orang perempuan cebol
itu menyerangmu secara
bergilir, tujuannya tak lain adalah untuk menyadap ilmu
pedang Keng-hong-kiam-hoatmu,
sayang pada waktu itu kita tidak menyadari hal ini.”
Pang Goan termenung dan berpikir sebentar, tiba-tiba air
mukanya berubah hebat, lalu
serunya, “Betul juga, seandainya orang itu tidak
memperingatkan, aku benar-benar tak
mengira sampai ke situ, tak aneh kalau secara beruntun
perempuan-perempuan busuk berubah
serangan sampai tiga kali, rupanya mereka tidak sungguh
bertempur . . . . . “
Sesudah berhenti sebentar, lalu katanya pula, “Jit-long,
menurut anggapanmu, mungkinkah ia
bisa mengingat setiap jurus pedangku cukup hanya menyaksikan
jalannya pertarungan tadi?”
Leng-hong mengangguk, “Bila dia mempunyai daya ingat yang
bagus, kukira semua jurus
pedangmu dapat diingat seluruhnya.”
“Tapi masa dia mempunyai bakat tinggi semacam itu?”
Leng-hong kembali mengangguk, “Aku percaya bisa, kalau
tidak, tak mungkin ia atur
keempat perempuan cebol itu untuk menyadap ilmu pedangmu.
Lagipula . . . . .”
“Lagipula apa?”
Setelah tertawa getir, kata Leng-hong, “Terus terang kuakui
Lotoako, ketika Siaute
menyaksikan jalannya pertarunganmu melawan keempat perempuan
cebol tersebut, lantaran
terpesona pada kehebatan ilmu pedang Lotoako maka secara
diam-diam akupun telah
menyadap beberapa jurus diantaranya.”
“Oya? Berapa jurus kauingat?”
“Kurang lebih dua puluhan jurus!”
Tentu saja Pang Goan tidak percaya, katanya sambil tertawa,
“Baik, sekarang coba
kaumainkan di hadapanku.”
Setelah memberi hormat Leng-hong berkata, “Siaute hanya
berbuat seperti apa yang kuingat,
jika salah harap Lotoako jangan menertawakan.”
Pang Goan tidak berkata apa-apa, sambil tertawa dia
angsurkan pedangnya kepada Lenghong.
Setelah menerima pedang, Leng-hong mundur ke belakang, lalu
mulai mainkan jurus pedang
yang berhasil disadapnya tadi, benar juga, semua jurus
pedang yang telah digunakan Pang
Goan untuk bertarung melawan keempat perempuan wol tadi
dapat dimainkan satu persatu
dengan tepat.
Dengan saksama Pang Goan awasi setiap gerakan itu, mula-mula
ia cuma tercengang,
kemudian terkejut, dan akhirnya senyuman yang semula
menghiasi bibirnya berubah menjadi
rasa kaget.
Sedikitpun tidak salah, itulah ilmu pedang
Keng-hong-kiam-hoat dari Cian-sui-hu di Liat-liushia.
Ho Leng-hong mainkan ilmu pedang itu sampai jurus yang kedua
puluh satu, kemudian
memberi hormat, katanya dengan tertawa, “Malam ini Lotoako
telah memainkan dua puluh
empat jurus, sayang Siaute terlalu bodoh sehingga hanya
ingat dua puluh satu jurus saja,
mungkin di antaranya ada bagian-bagian yang salah.”
Pang Goan tidak menjawab, ia geleng-geleng kepala berulang
kali sambil bergumam, “Tidak!
Tidak! Tak mungkin, hakikatnya tak mungkin . . . .”
“Lotoako, hal ini mungkin saja terjadi, kalau Siaute saja
bisa mengingat sampai dua puluh
satu jurus, mungkin sekali Samkongcu dapat mengingat dua
puluh empat jurus itu sekaligus,
kalau tidak, tak mungkin dia mengatakan bahwa hasil yang
diperolehnya malam ini cukup
lumayan.”
Pang Goan hanya berdiri termangu di situ, lama kemudian baru
ia menghela napas panjang.
“Tak kusangka di dunia ini benar-benar terdapat orang yang
bisa mengingat segala apa hanya
sekali lihat saja, hal ini benar-benar sukar dipercayai.”
92
“Mereka telah berhasil mendapatkan kitab pusaka
Po-in-pat-toa-sik dari Nyo-keh-sin-to, tapi
tidak tahu cara berlatih To-kiam-hap-ping-tin-hoat, maka
sengaja diaturnya keempat
perempuan cebol yang lihai dalam ilmu golok itu untuk
menyerang Lotoako dengan berbagai
jurus serangan yang berbeda, pada kesempatan tersebut
diam-diam ia sadap ilmu pedang
Keng-hong-kiam-hoat, sudah pasti tujuannya adalah untuk
mencari intisari kepandaian
tersebut untuk menciptakan semacam To-kiam-hap-ping-tin,
bila kepandaian tersebut berhasil
dipahaminya, jelas, dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe yang akan
datang ia dapat mengalahkan
tiga gedung besar dunia persilatan.”
Pang Goan tertawa getir, “Seandainya benar begitu, kita
masih terhitung untung di tengah
ketiak keberuntungan, paling tidak karena lukamu belum
sembuh, kita masih belum lagi
mulai mempelajari ilmu To-kiam-hap-ping-tin yang diincar
mereka.”
“Hal ini disebabkan perempuan yang menyaru sebagai Wan-kun
itu bertindak terlampau
tergesa-gesa, coba kalau Yan-ci-po-to tidak dicuri dengan
terburu nafsu, kemungkinan besar
kita sudah terperangkap.”
Pang Goan mengangguk tanda membenarkan, “Diapun mempunyai
alasan yang terpaksa,
kalau golok mestika Yan-ci-po-to tidak dicuri lebih dulu,
sulit bagi keempat orang perempuan
cebol itu untuk menyerangku, dan merekapun tak akan berhasil
menyadap ilmu pedang Kenghong-
kiam-hoat.”
Setelah berhenti sebentar, katanya lagi, “Ilmu pedang
Keng-hong-kiam-hoat mengandung
unsur gabungan Thian-kang, semuanya terdiri dari tiga puluh
enam jurus, untungnya masih
ada dua belas jurus inti yang tidak berhasil mereka sadap,
mulai sekarang kita harus lebih
waspada.”
“Kini situasinya berkembang makin kacau dan tak keruan.
Ci-moay-hwe mempunyai ambisi
yang amat besar, tapi ada orang yang rupa-rupanya memusuhi
mereka secara diam-diam,
misalnya saja dicurinya golok mestika Yan-ci-po-to serta
orang yang memberi peringatan
kepada kita tadi, cuma tidak diketahui mereka berasal dari
aliran mana?”
“Tercurinya Yan-ci-po-to untuk sementara waktu bukan suatu
perintang besar, siapakah orang
yang memperingati kita secara diam-diam juga tak usah
terburu-buru diselidiki, yang perlu
kita pahami sekarang adalah rahasia sekitar perkumpulan
Ci-moay-hwe, organisasi ini selain
misterius juga luas pengaruhnya, di kemudian hari pasti akan
merupakan bibit bencana bagi
umat persilatan.”
“Lantas kita bagaimana menurut pendapat Lotoako? Bagaimana
kita mesti turun tangan?”
Setelah berpikir sebentar, kata Pang Goan, “Kukira, jika
tujuan Ci-moay-hwe adalah untuk
berebut gelar juara dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe, berarti
mereka tak akan melepaskan pula
Hiang-in-hu di Leng-lam, maka aku bermaksud berangkat
sendiri ke Hu-yong-shia dan
menemui Hui Pek-ling, cuma sebelum keberangkatanku ini kita
masih harus menyelesaikan
dulu satu persoalan.”
“Persoalan apa?”
“Mumpung hari masih malam, aku ingin mewariskan dulu
To-kiam-hap-ping-tin kepadamu,
kupercaya dengan daya ingatanmu yang baik, semua jurus
serangan bisa kauingat baik-baik,
kemudian pelahan kaupelajari dan resapi, sebelum pertemuan
Lo-hu-to-hwe nanti kita boleh
melatihnya beberapa kali, kemudian dapat digunakan setiap
waktu.”
“Lotoako bermaksud begitu, sesungguhnya aku harus menurut,
cuma ada satu hal yang harus
kuterangkan juga sebelum Lotoako wariskan ilmu
To-kiam-hap-ping-tin-hoat tersebut
kepadaku....”
“Tidak usah kaukatakan lagi,” tukas Pang Goan sambil
menggoyang tangan, “apa yang
hendak kau katakan sudah kuketahui, lagipula sudah
kupertimbangkannya, pokoknya kau
telah menjadi majikan Thian-po-hu dan mulai sekarang boleh
melanjutkan kedudukanmu
dengan hati tenang, mengenai soal lain tak perlu
kaupikirkan.”
93
“Lotoako, benarkah kau sudah mengetahui apa yang ingin
kukatakan?” tanya Leng-hong
terkesiap.
“Mataku belum buta, telingaku tidak tuli, Wan-kun saja dapat
kuketahui sebagai gadungan,
masakah tidak kupikirkan pula dirimu?” kata Pang Goan dengan
wajah serius, “terutama
setelah kejadian malam ini, lebih terbukti lagi bahwa
dugaanku tidak salah, terus terang
kukatakan kepadamu, manusia macam apakah Nyo Cu-wi itu masa
aku tak tahu? Andaikata
dia memiliki separoh dari bakatmu, tak mungkin Thian-po-hu
akan berada dalam posisi sulit
semacam ini.”
Leng-hong terkejut dan melongo, sepatah katapun tak mampu
menjawab.
Pang Goan tertawa getir, sambil menepuk bahunya ia berkata
lagi, “Lote, peduli siapakah kau,
dalam pikiranku kau tetap Nyo Cu-wi, seandainya adikku
suami-isteri sudah tertimpa
musibah, maka kau adalah majikan Thian-po-hu untuk
selamanya, dalam pertemuan Lo-huto-
hwe yang akan datang, sepantasnya pula Thian-po-hu diwakili
olehmu, sebaliknya bila
adikku suami-isteri masih hidup, maka kau adalah tuan
penolong dari Thian-po-hu dan Ciansui-
hu, selamanya aku akan menganggapmu sebagai saudara kandung
sendiri, suatu hari jika
aku mati, maka Cian-sui-hu adalah rumahmu.”
“Lotoako . . . . . . .” saking terharunya Ho Leng-hong tak
sanggup melanjutkan kata-katanya.
“Cukup, soal lain tak usah dibicarakan lagi, aku hanya ingin
jawabanmu sekecap saja, yakni
siapa namamu?”
“Aku she Ho bernama Leng-hong!”
“O, Ho Leng-hong!” dengan suara rendah Pang Goan mengulang
nama itu beberapa kali, lalu
sambil mengangguk terusnya, “nama hanya tanda pengenal
seseorang, untuk menghindari
segala kesulitan lebih baik kusebut Jit-long saja padamu.
Hayo berangkat Jit-long! Kita harus
mulai berlatih To-kiam-hap-ping-tin-hoat . . . .”
“Lotoako, bolehkah kuucapkan sepatah kata lagi?”
“Katakanlah!”
“Siaute merasa menyelidiki asal usul Ci-moay-hwe adalah
suatu hal yang penting, mencari
jejak Nyo-tayhiap suami-isteri juga tidak kurang pentingnya,
mana boleh kita pergi ke Lenglam
malah.”
“Meskipun persoalan itu tampaknya dua, hakikatnya hanya satu
masalah, bisa kita tebak kalau
Cu-wi dan Wan-kun telah terjatuh ke tangan pihak
Ci-moay-hwe, kalau tidak, tak mungkin
mereka berani datang kemari serta berbuat sewenang-wenang,
jadi asal rahasia Ci-moay-hwe
berhasil kita ketahui, hal ini sama pula berhasil mengetahui
jejak Wan-kun suami-isteri.”
“Tapi perjalanan menuju ke Leng-lam jauh sekali, untuk
pulang-pergi membutuhkan waktu
cukup lama, padahal Samkongcu dari Ci-moay-hwe berada di
dekat sini, kenapa kita menolak
yang dekat dan meraih yang jauh? Kenapa kita tidak turun
tangan mulai dari Samkongcu ini?”
Pang Goan termenung sebentar, ia tanya kemudian, “Apakah kau
ada akal untuk menyelidiki
tempat pondokan budak itu?”
“Tidak sulit untuk hal itu, kita boleh pancing mereka datang
lagi ke Thian-po-hu, atau dari
musuh-musuh mereka kita berusaha mencari tahu tempat
mereka.”
Kemudian dengan suara lirih ia jelaskan rencananya.
“Apakah kau yakin?” tanya Pang Goan kemudian dengan dahi
berkerut.
“Tujuan mereka adalah To-kiam-hap-ping-tin-hoat, sehari
Lotoako sebelum meninggalkan
Thian-po-hu, tak mungkin mereka akan berlalu dengan begitu
saja.”
“Baiklah,” kata Pang Goan sambil mengangguk, “kita tunggu
tiga hari lagi, dalam tiga hari
bila tak ada berita apa-apa, kita baru berangkat menuju ke
Leng-lam.”
------------------------------
94
Sejak hari kedua, penjagaan di Thian-po-hu tiba-tiba
diperketat, di samping itu diumumkan
pula “Pit-hu-sia-khek” (tutup pintu dan tidak terima tamu).
Mendapat perintah tersebut, seluruh Busu dalam gedung
bergerak melakukan penjagaan yang
ketat, terutama dinding taman bunga bagian belakang, hampir
boleh dibilang setiap tiga
langkah terdapat penjaga, tiap lima langkah sebuah pos,
siang maupun malam Busu
berseragam lengkap melakukan perondaan, tak seorang pun
diizinkan mendekati dinding
taman belakang.
Pihak Thian-po-hu tak pernah mengumumkan alasannya
Pit-hu-sia-khek, tapi penduduk di
sekitarnya sama-sama menyiarkan berita yang menyatakan bahwa
Nyo Cu-wi, majikan Thianpo-
hu sedang tirakat untuk melatih sejenis ilmu silat yang
istimewa dan bersiap-siap akan
mengikuti pertemuan Lo-hu-to-hwe yang akan datang.
Tentu saja sumber berita itu berasal dari mulut para Busu,
tapi hakikatnya Ho Leng-hong dan
Pang Goan memang benar-benar sedang berlatih
To-kiam-hap-ping-tin, sekalipun untuk
melatih ilmu barisan itu tidak perlu mengurung diri, mereka
berharap dengan To-kiam-happing-
tin sebagai umpan dapat memancing kedatangan Samkongcu ke
Thian-po-hu.
Oleh sebab itulah, meski penjagaan di luar gedung tampaknya
sangat ketat, sesungguhnya
penjagaan di dalam gedung sendiri amat kendur, kalau siang
hari perondaan dilakukan
berulang-ulang, maka bila malam tiba, penjagaan berubah
menjadi penjagaan secara diamdiam,
kecuali para Busu di luar tembok yang berjaga dengan obor di
mana-mana suasana
dalam taman bagian dalam amat sepi, kecuali petugas peronda
dan penyampai berita, tiada
pengadaan atau pemeriksaan yang teliti.
Hari pertama bisa dilalui dengan tenang, apa pun tidak
terjadi.
Hari kedua kembali lewat, tapi belum juga ada sesuatu yang
mencurigakan.
Pada hari ketiga, Pang Goan sudah mulai tak sabar, sudah
lewat tengah hari, tapi kabar
tentang Ci-moay-hwe belum juga didapatkan, ia mulai
bersiap-siap melakukan penjagaan.
Menjelang senja itulah, tiba-tiba di luar gedung kedatangan
seorang tamu.
Orang itu masih muda sekali, sekitar dua puluh tahunan, raut
mukanya bulat, matanya besar
dan giginya rata, cuma hidungnya agak pesek. Ia mengenakan
baju dari kain kasar, membawa
buntalan dan mukanya kotor penuh debu.
Kalau dilihat wajahnya yang kusut dan letih bisa diketahui
dia baru saja menempuh
perjalanan jauh dan khusus datang untuk menyambangi
Thian-po-hu.
Ia mengaku she Oh, datang ke sini ingin bertemu dengan Nyo
Cu-wi, majikan Thian-po-hu.
Ketika para Busu mengatakan bahwa majikannya sedang
“Pit-hu-sia-khek”, orang itu
berkeras ingin menjumpainya, katanya ada urusan penting yang
hendak dibicarakan secara
langsung tapi ia enggan memberi penjelasan yang terperinci
tentang nama dan maksud
tujuannya.
Ia hanya berkata seandainya Nyo Cu-wi sedang tutup pintu
tidak menerima tamu, maka ia rela
menunggu terus di luar gedung.
Ketika Leng-hong menerima laporan dari para Busu, ia lantas
mencari Pang Goan untuk
berunding, “Kemungkinan besar orang ini adalah utusan dari
Ci-moay-hwe yang ditugaskan
untuk mencari berita. Lotoako, mari kita temui bersama.”
Pang Goan berpikir sebentar, lalu sahutnya, “Kukira cara ini
kurang baik, lebih baik salah
seorang di antara kita menjumpainya dan yang lain
bersembunyi. Begini saja, kau yang temui
orang itu dan aku akan mengintip secara diam-diam, apapun
maksud kedatangannya lebih
baik kita tahan dia agar menginap di kamar tamu ruang depan,
kita harus menggunakan
ketenangan untuk menghadapi segala perubahan yang penting,
selidiki dulu asal-usulnya.”
Selesai berunding, Leng-hong muncul sendiri ke ruang depan
dan Pang Goan sembunyi lebih
dulu di belakang ruang tamu.
Ketika orang itu berjumpa dengan Ho Leng-hong, sambil
memberi hormat ia bertanya,
“Tolong tanya, apakah saudara ini Nyo Cu-wi, Nyo-tayhiap
dari Thian-po-hu?”
95
“Benar,” sahut Leng-hong sambil tersenyum, “Sebetulnya,
karena ada urusan, Siaute sedang
mengurung diri dan tidak menerima tamu, tapi berhubung
kudengar Oh-heng datang dari
jauh, terpaksa kusambut kedatanganmu, bolehkah kutahu ada
urusan apa Oh-heng mencari
Siaute?”
Dengan sorot mata tajam orang itu memperhatikan Ho Leng-hong
dari atas sampai ke bawah,
lalu katanya, “Maaf, aku belum pernah berjumpa dengan
Nyo-heng, karena itu maaf jika
sekiranya ucapanku kurang pantas, dapatkah Nyo-heng
menjelaskan apakah kau benar-benar
majikan dari Thian-po-hu?”
“Aku tidak mengerti maksud Oh-heng.....” kata Leng-hong
dengan melengak.
“Maksudku, berhubung urusan ini penting dan sangat rahasia,
maka sebelum kuutarakan lebih
baik Nyo-heng membuktikan diri sendiri sebagai majikan
Thian-po-hu.”
“Tempat ini adalah Thian-po-hu dan akulah Nyo Cu-wi,
memangnya Oh-heng minta aku
membuktikan dengan cara bagaimana?”
“Gampang sekali, bila Nyo-heng dapat mengundang keluar enso,
maka akupun akan
percaya.”
“Apakah Oh-heng kenal dengan Wan-kun?” tanya Leng-hong
dengan agak tercengang.
“Ya, tiga tahun yang lalu pernah kuberjumpa dengan
Pang-toaci, atas kebaikannya kami telah
mengikat menjadi.....”
Menjadi apa? Tiba-tiba ia tutup mulut dan tidak melanjutkan,
agaknya tidak leluasa
dijelaskannya.
Leng-hong tambah terkejut, katanya dengan suara tertahan,
“Oh-heng, sesungguhnya siapa
kau? Ada urusan apa datang ke Thian-po-hu?”
“Maaf,” sahut orang itu sambil memberi hormat, “sebelum
bertemu dengan Pang-toaci dan
terbukti kau betul-betul adalah Nyo-heng, aku tak dapat
menjawab pertanyaanmu.”
“Kau . . . . “
Pang Goan yang bersembunyi di belakang pintu angin tiba-tiba
tertawa dan berseru, “Jit-long,
tak usah kau tanya dia lagi, aku tahu siapakah dia.”
Sambil melangkah keluar dari tempat sembunyiannya, Pang Goan
berkata seraya menuding
orang itu, “Kau adalah Siau-cu-cu (si cu kecil), betul
tidak?”
Agaknya orang itu tidak kenal dengan Pang Goan, dengan
bingung sahutnya, “Benar, dan
siapakah kau . . . .”
“Kau hanya ingat pada Pang-toaci seorang, masakah tidak tahu
akan Pang-toako?”
“O!” orang itu cepat-cepat memberi hormat, “maaf, kiranya
Pang-toako juga berada di sini.”
Pang Goan memberi tanda agar semua Busu dan pelayan keluar
ruangan, kemudian dengan
wajah serius katanya kepada Ho Leng-hong, “Jit-long, dia ini
Hui Beng-cu, putri tunggal Hui
Pek-ling dari Hu-yong-shia, di Leng-lam.”
Leng-hong melonjak kaget buru-buru ia memberi hormat sekali
lagi, “Nona Hui, kenapa jauhjauh
kau datang kemari? Lagi pula perempuan menyaru sebagai
laki-laki?”
Sebelum menjawab, mata Hui Beng-cu sudah merah lebih dulu,
sambil menahan isak
tangisnya ia berkata, “Terus terang kuberitahukan kepada
Toako berdua, kedatanganku
kemari adalah khusus untuk minta bantuan.”
“Apa? Jadi Hiang-in-hu juga tertimpa musibah?” seru Pang
Goan kaget.
“Pang-toako, kenapa kau mengatakan ‘juga tertimpa musibah’?”
tanya Hui Beng-cu, “janganjangan
di Cian-sui-hu juga terjadi sesuatu peristiwa besar?”
Sambil menghela napas Pang Goan geleng-geleng kepala
berulang kali, “Cian-sui-hu sih tak
terjadi apa-apa, tapi Thian-po-hu telah mengalami kesulitan,
Siaucu, coba terangkan dulu
kejadian yang telah menimpa Hiang-in-hu kalian.”
“Dapatkah kujumpai Pang-toaci lebih dulu?” pinta Hui
Beng-cu, ia masih agak sangsi.
96
“Tak usah kau singgung dia lagi, persoalan ini justru
terjadi atas dirinya, terus terang
kuberitahukan padamu, ia sudah ditawan orang dan tak ada di
sini, kemungkinan besar telah
dicelakai musuh dan tiada di dunia lagi.”
Ketika dilihatnya wajah Hui Beng-cu diliputi rasa kaget dan
curiga, ia berkata lebih jauh,
“Cuma kau jangan kuatir. Aku Pang-toako bukan gadungan,
kalau tidak, mana mungkin nama
kecilmu bisa kusebut, meskipun kita belum pernah bertemu,
tapi pernah kudengar Wan-kun
menceritakan perkenalannya denganmu, konon kalian bertemu
dalam pertemuan Lo-hu-tohwe
yang lalu, mula-mula bertarung dan akhirnya mengikat tali
persaudaraan, bahkan berjanji
akan main bersama-sama ke pulau Bu-to-san di Lam-hay, betul
tidak?”
Dengan air mata bercucuran Hui Beng-cu mengangguk, “Benar,
sebenarnya Pang-toaci ajak
aku pesiar ke laut selatan, tapi karena pertemuan To-hwe
berakhir sebelum saatnya, niat
tersebut tidak terlaksana, kemudian kudengar Taci kawin
dengan majikan Thian-po-hu,
sebetulnya aku mau datang menyampaikan selamat, tapi ayah
tidak mengizinkan..., sungguh
tak nyana perpisahan itu adalah perpisahan untuk selamanya.”
Ketika mengucapkan kata-kata terakhir, meledaklah isak
tangisnya.
“Nona jangan bersedih hati dulu,” hibur Leng-hong,
“bagaimanakah keadaan Wan-kun
hingga kini belum diketahui dengan pasti, coba beritahukan
dulu kepada kami, apa yang
terjadi di Hiang-in-hu?”
“Panjang sekali ceritanya,” tutur Hui Beng-cu dengan air
mata bercucuran, “ini harus dimulai
ketika pertemuan Lo-hu-to-hwe yang lalu.”
“Tidak menjadi soal, tahan dulu rasa sedih nona, kemudian
baru bercerita.”
Hui Beng-cu mengusap air matanya, setelah menenangkan hati
lalu ia berkata dengan sedih,
“Pertemuan Lo-hu-to-hwe yang diselenggarakan setiap empat
tahun sekali itu selalu dijuarai
oleh Thian-po-hu, tapi semenjak gelar Thian-he-te-it-to
berhasil diperoleh ayahku dalam
pertemuan yang lampau, dalam dunia persilatan lantas tersiar
berita yang mengatakan bahwa
Hiang-in-hu telah mempergunakan siasat Bi-jin-ke (siasat
perempuan cantik) yang
mengakibatkan pemilik Thian-po-hu kehilangan tenaga dalamnya
sebelum bertanding
sehingga kedudukan terhormat itu dirampas orang. Ayahku
marah dan mendongkol sekali
setelah mengetahui kabar ini, dia bersumpah akan
mempertahankan gelar tersebut selama
hidup, maka mulailah dengan usaha ayahku untuk mencari golok
mestika . . . . “
Ho Leng-hong dan Pang Goan saling pandang sekejap, namun
keduanya tetap bungkam.
“Kemudian datang seorang perempuan asing yang menawarkan
sebilah golok (samurai),
perempuan asing itu berdandan genit dan menyolok, ia pandai
pula berbicara, setelah
melakukan tawar menawar, akhirnya bukan saja ayahku membeli
samurai tersebut,
perempuan asing penjual samurai itupun diminta pula tinggal
di rumah.”
“Apakah perempuan asing itu adalah orang Ainu dari negeri
Timur?” tiba-tiba Leng-hong
menyela.
“Nyo-toako, darimana kautahu?” tanya Hui Beng-cu tercengang.
Ho Leng-hong tertawa getir, “Kejadian selanjutnya tidak nona
katakanpun aku sudah tahu,
tentunya perempuan asing itu merayu ayahmu dan merengek
kepada ayahmu agar diajari ilmu
golok Hiang-in-hu bukan?”
“Memang demikianlah. Ilmu golok keluarga Hui kami bernama
Liat-yam-cap-sa-cam,
biasanya tidak diwariskan kepada anak perempuan, tapi
berhubung ayah Cuma mempunyai
seorang puteri, maka terpaksa ilmu itu diwariskan kepadaku,
tak nyana ayah juga telah
mewariskan kepandaian saktinya itu kepada seorang perempuan
asing yang tidak diketahui
asal-usulnya.”
“Lama kelamaan perempuan asing itu tentunya mendatangkan
banyak konco-konconya untuk
mengurusi semua pekerjaan rumah, selain itu memperuncing
pula hubungan kalian ayah dan
anak, betul tidak?” tanya Leng-hong pula.
97
“Tepat sekali, sejak ayah memelihara perempuan asing itu,
wataknya sama sekali berubah, ia
melarang aku berhubungan dengan Pang-toaci, kemudian ketika
Cian-sui-hu berbesanan
Thian-po-hu, akupun dilarang kondangan, satu persatu anggota
lama dalam gedung dipecat
dan diganti oleh konco-konco perempuan asing itu, bahkan
belakang ini keadaannya
bertambah hebat, ia hendak memaksaku untuk kawin dengan
Congkoan (kepala rumah
tangga) baru bernama Kim Pang, kumohon agar perkawinan ini
dibatalkan, tapi ayah tak mau
ubah pendiriannya, terpaksa aku minggat dari rumah.”
Leng-hong hanya mendengarkan tanpa berbicara, ia seakan-akan
sedang memikirkan sesuatu
persoalan.
Sebaliknya dengan marah Pang Goan berkata, “Sungguh tak
nyana nama besar Tay-yang-to
Hui Pek-ling harus kandas di tangan orang perempuan asing
pada usia tuanya.”
“Aku sendiripun tidak menyangka,” kata Beng-cu pula dengan
gegetun, “kecuali agak
berangasan, sesungguhnya ayahku adalah seorang yang jujur
dan berhati lurus, tapi sekarang
ia seperti telah kena guna-guna dan berubah menjadi seorang
yang lain....”
“Nona Hui, apakah ibumu masih hidup?” tiba-tiba Leng-hong
bertanya.
“Tidak, ibuku sudah lama meninggal dunia, waktu itu aku baru
berusia empat tahun.”
“Selama ini pernahkah ayahmu bermaksud kawin lagi?”
“Tidak pernah, ayahku selalu kangen dan memikirkan ibu,
hakikatnya sama sekali tak berniat
mencari isteri baru, belasan tahun belakangan ini kami
berdua ayah dan anak selalu hidup
berdampingan.”
“Kalau begitu, kenapa setelah bertemu dengan seorang
perempuan asing dia lantas menjadi
bodoh dan mau dirayu? Betul-betul tua bangka pikun dan
keblingar!” omel Pang Goan
dengan gemas.
“Lotoako tak boleh menyalahkan Hui-locianpwe,” kata
Leng-hong sambil geleng kepala,
“menurut dugaanku kejadian ini lagi-lagi adalah hasil karya
Ci-moay-hwe.”
“Maksudmu, Hui Pek-ling yang asli telah ditukar dengan Hui
Pek-ling gadungan?”
“Ya, kalau mereka bisa melatih seorang Pang Wan-kun
gadungan, kenapa tak bisa melatih
pula seorang Hui Pek-ling gadungan?”
“He, apa yang kalian bicarakan?” seru Hui Beng-cu
kebingungan, “Ci-moay-hwe apa maksud
kalian? Dan apapula yang asli dan gadungan?”
Secara ringkas Leng-hong lantas menceritakan kejadian yang
telah menimpa Thian-po-hu,
tentu saja merahasiakan tentang dirinya yang dijadikan Nyo
Cu-wi gadungan ini.
Ketika mendengar cerita tersebut, Hui Beng-cu melongo kaget,
sampai lama ia tak sanggup
mengucapkan sepatah katapun, kemudian ia menggeleng kepala
sambil mengeluh, “Tak
kusangka di kolong langit ada kejadian seperti ini, masa
seorang bisa diubah menjadi orang
lain, hal ini . . . hal ini benar-benar terlalu mengerikan.”
“Untuk berhasil merajai dunia persilatan dan memusuhi kaum
pria, pertama-tama Ci-moayhwe
harus berhadapan dulu dengan Bu-lim-sam-hu (tiga gedung
dalam dunia persilatan), asal
mereka membuang pikiran dan tenaga dengan mencari seorang
yang berwajah mirip,
kemudian diberi pula latihan yang ketat, untuk menyamar
sebagai seseorang memang bukan
sesuatu pekerjaan yang sukar.”
Tiba-tiba ia tertawa, lalu katanya lagi, “Setelah mereka
sanggup merias wajah seseorang, lalu
diselundupkan ke suatu tempat untuk menyelidiki suatu
rahasia, kukira hal ini suatu pekerjaan
yang sangat mudah.”
Hui Beng-cu tertegun, serunya, “Nyo-toako, apakah kaupun
mencurigai diriku sebagai
seorang yang menyamar orang lain?”
“Bukannya aku suka curiga,” kata Ho Leng-hong sambil
tertawa, “tapi justru karena pihak Cimoay-
hwe sedang berusaha dengan segala akal untuk menyusupkan
orangnya ke Thian-pohu,
dan kebetulan nona seorang gadis pula yang belum pernah kami
lihat, maka bila nona
dapat membuktikan kebenaran asal-usulmu, tentu saja hal ini
akan jauh lebih baik.”
98
“Cara yang paling baik adalah mempersilakan nona memainkan
Liat-yam-cap-sah-cam dari
perguruanmu.”
Hui Beng-cu berpikir sebentar, lalu katanya, “Padahal cara
inipun belum dapat membuktikan
kebenaran asal usulku, sebab ayahku telah mengajarkan pula
Liat-yam-cap-sah-cam tersebut
perempuan siluman itu.”
“Tidak menjadi soal, meskipun perempuan siluman itu juga
bisa memainkan ilmu golok Liatyam-
cap-sah-cam, kesempurnaannya tentu masih jauh daripada yang
diharapkan,
bagaimanapun tentu berbeda dengan nona yang telah
mempelajarinya sejak kecil.”
Kembali Hui Beng-cu termenung sebentar, katanya kemudian,
“Baiklah, aku akan
mempertunjukkan, Cuma akupun mempunyai satu permintaan.”
“Katakan saja nona!”
“Ayahku telah dikuasai mereka, apakah dipalsui atau tidak,
yang pasti keadaannya sangat
berbahaya, bila sudah kubuktikan kebenaran asal-usulku,
Toako berdua harus menyanggupi
akan menemaniku berangkat ke Leng-lam dan menyelamatkan
ayahku.”
“Soal ini tak perlu nona katakan lagi,” sahut Leng-hong
tanpa ragu-ragu, “Bu-lim-sam-hu
sama-sama tertimpa musibah, sudah sepantasnya kita saling
membantu untuk menghadapi
musuh yang sama.”
Hui Beng-cu tidak banyak bicara lagi, ia membuka
bungkusannya dan meloloskan sebilah
golok melengkung yang amat tajam.
Golok itu bentuknya seperti sabit, lebar golok hanya tiga
jari dengan gagang dari emas serta
rantai perak pengikat tangan, pada kedua sisi sarung golok
masing-masing terdapat sebuah
mutiara besar yang dijadikan sebagai lukisan matahari,
sekilas pandang dapat diketahui
bahwa senjata tersebut adalah golok mestika yang tak
ternilai harganya.
Hui Beng-cu melolos goloknya, lalu melangkah ke luar
ruangan, setelah memberi hormat,
katanya, “Mohon petunjuk Toako berdua.”
“Tidak berani!” Leng-hong dan Pang Goan segera membalas
menghormat.
Hui Beng-cu menarik kaki kanannya ke belakang lalu tubuhnya
berputar setengah lingkaran,
tangan kiri direntangkan, pelahan hawa murninya dikerahkan.
Dalam waktu singkat, air mukanya dari merah, berubah menjadi
pucat, sebaliknya goloknya
yang bening tajam pelahan memancarkan selapis hawa berwarna
merah.
Melihat ini, entah mengapa tiba-tiba Leng-hong teringat pada
golok mestika Yan-ci-po-to.
Baik Tay-yang-sin-to dari keluarga Hui maupun Nyo-keh-sin-to
dari Thian-po-hu, keduanya
adalah ilmu golok terkenal di dunia persilatan, Cuma bedanya
Po-in-pat-toa-sik dari Nyo-kehsin-
to lebih mengutamakan keganasan, keanehan dan kelincahan,
sehingga dibandingkan
dengan Liat-yam-cap-sah-cam dari Tay-yang-sin-to lebih
tinggi setengah tingkat.
Sebab itulah kemenangan yang beruntun dalam pertempuran
Lo-hu-to-hwe sebagian besar
disebabkan keanehan serta kelincahan ilmu golok terebut,
ditambah lagi dengan Yan-ci-po-to
yang amat tajam, jadi mustahil kalau sampai kalah di tangan
Hui Pek-ling.
Kalau memang begini, lantas apa yang menjadi sebab utama
kekalahan Thian-po-hu dalam
pertemuan Lo-hu-to-hwe yang lampau? Kecuali berita yang
mengatakan lantaran terkena
siasat Bi-jin-ke, mungkinkah masih terselip sebab-sebab
lain?
Andaikata memang benar terjebak oleh siasat Bi-jin-ke,
siapakah yang secara diam-diam
mengatur segala sesuatunya itu?
Seandainya siasat Bi-jin-ke datangnya dari pihak
Ci-moay-hwe, mengapa pula keuntungan
besar ini mereka berikan kepada Hui Pek-ling dengan begitu
saja?
Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benak Ho Leng-hong, dari
hawa golok yang dipancarkan
Tay-yang-sin-to, ia membayangkan kembali Yan-ci-po-to yang
dicuri orang, lalu terbayang
lenyapnya Thian Pek-tat dan manusia misterius yang
memperingatkan Pang Goan secara
diam-diam, serta mati hidup Nyo Cu-wi suami isteri..... dan
sebagainya.
99
Di antara sekian banyak kejadian ia merasa satu sama lainnya
mempunyai kaitan yang erat,
dan satu hal ia yakin benar, yakni selain Ci-moay-hwe pasti
ada pula organisasi rahasia
lainnya yang turut dalam pertikaian ini.
Pada mulanya Ho Leng-hong mencurigai pihak Hiang-in-hu dari
Hu-yong-shia yang diamdiam
berperan, tapi setelah terbukti bahwa Hui Pek-ling
sendiripun dikuasai orang, ia semakin
yakin ada sekelompok manusia misterius lagi yang diam-diam
sedang beradu kekuatan
dengan Ci-moay-hwe, sedang golok Yan-ci-po-to itu justru
telah terjatuh ke tangan manusia
tersebut....
Sementara ia masih melamun, Hui Beng-cu telah berseru
nyaring, lalu mulai mainkan ilmu
golok Liat-yam-cap-sa-cam, tiga belas jurus bacokan bara
api.
Cepat-cepat Leng-hong membuang jauh semua pikiran dan
pusatkan perhatiannya mengikuti
permainan tersebut.
Tertampaklah golok Hui Beng-cu telah memancarkan selapis
cahaya merah, tatkala golok
mulai bergerak, maka terasalah seperti segulung kobaran api
seolah-olah sedang menyambar
ke sana kemari, semua jurus serangannya merupakan jurus
aliran keras, demikian hebatnya
gerakan itu, tak malulah ilmu golok tersebut disebut ilmu
golok jempolan.
Selesai ilmu golok itu diperlihatkan, tampak jidat Hui
Beng-cu sedikit berkeringat,
bagaimanapun kekuatan kaum wanita memang ada batasnya, tentu
saja ia merasa agak lelah
memainkan ilmu golok aliran keras semacam ini.
Leng-hong mengerling sekejap ke arah Pang Goan sambil
bertanya, “Bagaimana?”
“Memang betul ilmu golok Tay-yang-sin-to asli, tak mungkin
salah lagi,” kata Pang Goan
sambil manggut-manggut.
Tersenyum Ho Leng-hong dan segera memberi hormat, katanya,
“Nona Hui, maafkanlah bila
kurang hormat tadi, silakan masuk ke dalam untuk bicara.”
“Sekarang tentunya kalian sudah percaya bahwa aku bukan
samaran orang lain?”
“Setelah menyaksikan sendiri kelihaian ilmu golok Leng-lam,
tentu saja kami percaya.”
Hui Beng-cu mengembus napas lega, “Kalau begitu menurut
rencana Toako kapan kita
berangkat ke Leng-lam?”
“Hari ini jelas tak sempat, lagipula nona baru datang dari
tempat jauh, silakan cuci badan,
ganti pakaian dan beristirahat dulu, malam nanti akan
kusiapkan perjamuan untuk menyambut
kedatangan nona, sekalian kita rundingkan lagi rencana
selanjutnya, setuju?”
“Ah, akupun bukan orang yang tak tahu diri, setibanya di
sini, sedikitnya harus mengganggu
beberapa hari lebih dulu sebelum berangkat,” kata Hui
Beng-cu sambil tertawa.
Maka Leng-hong lantas menyuruh pelayan menemani Hui Beng-cu
membersihkan badan
mengganti pakaian, lalu memerintahkan koki menyiapkan
perjamuan.
Begitu Hui Beng-cu berlalu, buru-buru Pang Goan bertanya,
“Jit-long, apakah ketiga belas
jurus ilmu golok tadi sudah kau ingat semua?”
“Jangan kuatir, sudah ada di sini semua,” jawab Leng-hong
sambil mengetuk batok kepala
sendiri.
“Bagus sekali,” sorak Pang Goan dengan gembira, “meskipun
kita sudah kecurian ilmu Po-inpat-
toa-sik dan dua puluh empat jurus ilmu pedang, setelah kita
berhasil menyadap Liat-yamcap-
sa-cam dari Hiang-in-hu, rasanya tidak rugi terlalu besar
kita ini.”
“Cuma, Siaute merasa Tay-yang-sin-to terlalu banyak kerasnya
daripada kelincahan, bila
ketemu dengan golok mestika yang tajam maka sulit untuk
mengembangkan kelihaian ilmu
golok tersebut.”
“Sebab itulah Hui Pek-ling berusaha dengan segala daya upaya
untuk mendapatkan sebilah
golok mestika.”
Tapi Leng-hong geleng kepala berulang kali, “Siaute bukan
maksudkan hal ini, aku merasa
untuk menandingi Po-in-pat-toa-sik dan Yan-ci-po-to dari
Thian-po-hu dengan Tay-yang-sinto,
sesungguhnya tidak besar kesempatan untuk merebut
kemenangan, kalau begini, maka aku
100
menjadi berpikir kembali berdasar apakah Hui Pek-ling
berhasil mengalahkan Thian-po-hu
dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe yang lalu?”
“Kenapa secara tiba-tiba kau berpikir sampai ke situ?” tanya
Pang Goan tertegun.
“Sesungguhnya persoalan ini sudah lama terpikir olehku,
setelah nona Hui menyinggung soal
‘Bi-jin-ke’ tadi, lalu kuputuskan untuk menanyakan soal ini
kepada Lotoako.”
“Apa yang ingin kau ketahui?”
“Teringat sewaktu kita berjumpa untuk pertama kalinya dulu
Lotoako pernah menyinggung
soal ‘rela menghadapi kematian’, bolehkah kutahu apa
sebabnya para kakak Nyo Cu-wi rela
mati? Apa pula maksud tujuannya yang sesungguhnya di balik
perkawinan antara Thian-pohu
dengan Cian-sui-hu?”
“O, rupanya persoalan ini yang kautanyakan, waktu itu aku
mengira kau adalah Nyo Cu-wi,
maka tidak kuberi penjelasan lebih lanjut, kemudian setelah
dikacau oleh Ci-moay-hwe,
akupun lupa membertahukan hal ini kepadamu, bila
dibicarakan, sebenarnya hingga kini
peristiwa tersebut masih merupakan teka-teki besar.”
“Apakah menyangkut keluarga Nyo dari Thian-po-hu?”
“Benar. Tapi mungkin juga ada hubungannya dengan Ci-moay-hwe
atau keluarga Hui di Huyong-
shia.”
“Dapatkah Lotoako menjelaskan lebih terperinci?”
Pang Goan manggut-manggut, “Aku ingin menjelaskan semua yang
kuketahui, sayangnya apa
yang kuketahui tidak terlalu banyak . . . “
-----------------------
“Cerita ini dimulai pada empat ratus tahun yang lalu,”
demikian Pang Goan mulai
menuturkan suatu cerita yang aneh dan misterius, “konon pada
jaman itu hidup sepasang
suami-isteri, yang pria she Oh, asalnya adalah seorang
panglima perang di bawah pimpinan
Gak Hui, ilmu goloknya sangat lihay dan pernah menghancurkan
pasukan kuda berantai dari
tentara Kim, kemudian setelah Gak Hui tewas di tangan
menteri dorna, dalam keputusasaannya
ia meletakkan jabatan dan hidup berkelana sebagai seorang
pendekar, dengan
sebilah goloknya secara beruntun ia mengalahkan delapan
puluh sembilan orang jago lihay
ahli golok sehingga namanya termasyhur dalam dunia
persilatan sebagai To-seng (nabi
golok), maka iapun memberi nama pada dirinya sendiri sebagai
Oh It-to atau Oh si golok.”
“Bagus juga nama ini,” kata Leng-hong sambil tertawa.
Bukan cuma namanya saja yang bagus, ilmu golok Oh It-to
terhitung juga sakti luar biasa,
sukar diraba kehebatannya, orang persilatan pada jaman itu
jarang ada yang sanggup
menangkis sekali bacokannya. Sayang saking keranjingannya
dengan ilmu goloknya, Oh It-to
sampai melupakan isterinya, dan lebih celaka lagi isterinya
ternyata seorang ahli golok pula.”
“Oo? siapakah nama isterinya?”
“Siapa namanya kurang begitu jelas, orang hanya tahu dia
bernama Hui-nio, lantaran seharihari
ia gemar berpakaian gaun merah, orang menyebutnya sebagai
Ang-ih Hui-nio (Hui-nio si
baju merah).”
“Apakah ilmu goloknya sangat lihay?”
Pang Goan manggut-manggut, “Konon Ang-ih Hui-nio berasal
dari keluarga kaya, lagipula
dia memiliki bakat alam dan otak cerdas, ketika kawin dengan
Oh It-to, usia mereka selisih
tiga puluh tahunan, sebetulnya orang tua Hui-nio tidak
setuju dengan perkawinan ini, tapi
berhubung Hui-nio begitu terpesona pada ilmu silat Oh It-to,
ia rela retak hubungan dengan
orang tua dan kawin dengan pujaan hatinya, pada akhirnya
kedua orang itu kawin juga,
sayang belum sampai setahun suami isteri itu lantas mulai
cekcok dan tidak akur, pada
akhirnya harus berpisah.”
“Ai, sungguh drama yang menyedihkan,” bisik Leng-hong sambil
menghela napas.
101
“Memang tragedi yang mengharukan. Setelah putus hubungan
dengan orang tua, dan disiasiakan
pula oleh suaminya, setelah perpisahan tersebut Hui-nio
merasa malu bercampur
marah, sejak itu ia bertekad menciptakan sejenis ilmu golok
dan bersumpah hendak
mengalahkan Oh It-to. Setelah berlatih sepuluh tahunan,
akhirnya berhasil juga ia ciptakan
serangkaian ilmu golok yang lihay, maka secara resmi ia
tantang Oh It-to untuk menentukan
siapa yang lebih hebat!”
“Bagaimana akhirnya?” tanya Leng-hong dengan cepat.
Pang Goan tersenyum getir, katanya, “Suami-isteri itu secara
beruntun telah melangsungkan
delapan kali pertandingan, setiap kali pertempuran
berlangsung tak pernah lebih dari satu
gebrakan, sebab setiap kali Oh It-to melancarkan serangan,
jurus serangannya selalu
terbendung, delapan kali pertarungan delapan kali pula ia
menderita kekalahan, satu kalipun
tak pernah menang.”
“Oh, masa sampai begitu?”
“Sebetulnya kejadian ini tidak aneh, sebab pada dasarnya
Ang-ih Hui-nio adalah orang yang
cerdas dan berbakat bagus, usianya masih muda, selama
menjadi suami-isteri dia sudah apal
dengan rahasia ilmu golok Oh It-to, selain itu iapun memeras
otak selama sepuluh tahun
untuk menciptakan ilmu golok saktinya, tentu saja ia dapat
merebut posisi menguntungkan
dan mengatasi semua serangan Oh It-to, tapi dengan
terjadinya peristiwa ini, meskipun Angih
Hui-nio berhasil melampiaskan rasa dendamnya, tapi nama
besar Oh It-to pun hancur
berantakan, hitung-hitung kedua pihak sama-sama menderita
kerugian besar.”
“Bagaimana kemudian?”
“Delapan kali pertarungan yang mereka lakukan hampir
berlangsung sepuluh tahunan
lamanya, semenjak itu Oh It-to tak pernah muncul lagi di
dunia persilatan, sedang usia Ang-ih
Hui-nio pun sudah empat puluh tahunan, kedua suami isteri
itu tak pernah terjun lagi ke
dalam dunia persilatan.”
“Dapatkah mereka rukun kembali?”
Pang Goan menggeleng kepala, “Sekali suami isteri sudah
bertengkar, sukar bagi mereka
untuk rujuk kembali.”
“Tapi apa hubungannya antara peristiwa itu dengan
Thian-po-hu?” tanya Ho Leng-hong
sesudah termenung sebentar.
“Besar sekali hubungannya. Sebab dalam delapan kali
pertarungan antara Oh It-to melawan
Ang-ih Hui-nio, setiap jurus serangan yang ia gunakan
merupakan intisari dari ilmu golok Oh
It-to yang kemudian disebut sebagai Po-in-pat-toa-sik
(delapan jurus sakti pembelah awan).”
“O!” Ho Leng-hong bersuara kaget, “ternyata Nyo-keh-sin-to
(golok sakti keluarga Nyo)
berasal dari Oh It-to? Cuma . . . . . . .”
Setelah berhenti sejenak, seperti memahami akan sesuatu,
katanya pula, “Kalau Po-in-pat-toasik
pernah dipatahkan oleh Ang-ih Hui-nio, jangan-jangan Hui
Pek-ling telah berhasil
mendapatkan ilmu golok dari Ang-ih Hui-nio?”
“Itu sih tidak. Cuma konon ilmu golok sakti Ang-ih Hui-nio
telah diwariskan pula dalam
bentuk sejilid kitab pusaka, justru untuk menemukan kitab
pusaka ilmu golok itulah Nyo-sihengte
dari Thian-po-hu telah mengorbankan jiwanya di lembah Bi-kok
(lembah sesat).”
“Bi-kok?” Leng-hong menegas.
“Benar. Lembah itu adalah lembah misterius yang amat
berbahaya dan buas, konon di situlah
bersembunyi anak murid Ang-ih Hui-nio, semua murid-muridnya
rata-rata memiliki ilmu
golok yang lihai, tapi tak seorang pun yang pernah
meninggalkan lembak tersebut, orang luar
pun tak boleh masuk ke situ, barang siapa berani memasuki
Bi-kok, jangan harap bisa muncul
lagi dalam keadaan hidup, entah bagaimana kejadiannya,
berita itu akhirnya diketahui oleh
Nyo Ciau-thong, majikan tua dari gedung Thian-po-hu, sebelum
wafat rahasia ini ia
beritahukan pula kepada putera sulungnya, Nyo Han-wi.”
102
“Maksud Nyo Ciau-thong waktu itu mungkin hanya ingin
menjelaskan kepada anak cucunya
bahwa ilmu Poh-in-pat-toa-sik bukan kepandaian yang tiada
tandingannya di dunia ini, cerita
tersebut diturun terurunkan dengan maksud sebagai peringatan
saja. Siapa tahu Nyo Han-wi
yang masih muda dan berjiwa panas menganggap hal ini sebagai
suatu bibit bencana terbesar
bagi Thian-po-hu, maka begitu ayahnya meninggal, segera ia
serahkan semua urusan rumah
tangga Thian-po-hu kepada Ji-long (saudara kedua), ia
sendiri lantas berangkat ke Bi-kok,
semenjak itu tiada kabar beritanya lagi dan mungkin jiwanya
telah melayang....”
Ho Leng-hong menghela napas panjang.
Setelah berhenti sebentar, Pang Goan bercerita lebih lanjut,
tujuh bersaudara keluarga Nyo
rata-rata adalah pemuda berwatak tinggi hati, ketika Lotoa
pergi tak kembali, Ji-long
melakukan tindakan yang sama dan menyerahkan tanggung jawab
Thian-po-hu kepada Samlong,
tapi iapun pergi tak kembali lagi, maka menyusul kemudian
Su-long, Ngo-long.... satu
persatu pergi meninggalkan rumah untuk tidak kembali lagi,
dalam beberapa tahun saja secara
beruntun Nyo-keh-hengte telah tewas semua, selama beberapa
tahun belakangan itu seluruh
perhatian dan pikiran mereka hanya terpusatkan untuk
melakukan misi terebut, merekapun tak
ingin diketahui orang luar, sehingga tidak memperdalam ilmu
silatnya lagi, sebab itulah Laklong
Nyo Ci-kong harus menelan kekalahan getir di tangan Hui
Pek-ling dalam pertemuan
Lo-hu-to-hwe tahun lalu.”
“Ya, maklumlah! Jika seorang yang belajar silat sudah
mengalihkan perhatiannya ke masalah
lain, otomatis ilmu silatnya akan terbengkalai,” kata Ho
Leng-hong sambil menghela napas,
“tapi persoalan ini merupakan rahasia keluarga Nyo, darimana
Lotoako mengetahuinya?”
“Lak-long Nyo Ci-kong yang memberitahukan sendiri kepadaku.
Sebelum berangkat ke
pertemuan Lo-hu-to-hwe, ia menyadari bahwa ilmu silatnya
terbengkalai dan kemungkinan
besar bakal kalah, tapi ia bertekad tidak menyampaikan
rahasia ini kepada Jit-long Nyo Cu-wi
agar keturunan keluarga Nyo tidak putus di tengah jalan,
pada waktu itu dengan perasaan
tertekan ia berangkat untuk ikut serta dalam pertemuan,
betul juga akhirnya ia dikalahkan
oleh Hui Pek-ling.
“Setelah kejadian itu, dengan membawa kitab pusaka ilmu
golok dan golok mestika Yan-cipo-
to warisan leluhurnya ia datang sendiri ke Cian-sui-hu untuk
melakukan lamaran, pada
kesempatan itu ia memberitahukan rahasia tersebut kepadaku
di samping memohon agar
adikku dikawinkan dengan adiknya, selain itu iapun ingin
menggunakan To-kiam-hap-pingtin
untuk membantu Thian-po-hu serta mendorong Jit-long agar
berjuang untuk kemajuan.
Iapun bertekat merahasiakan soal Bi-kok agar jangan sampai
membuat pikiran Jit-long
bercabang, bersamaan dengan itu juga minta kepada adiknya
agar memusatkan pikiran untuk
berlatih silat dan menjunjung kembali nama baik keluarga
setelah ia menderita kekalahan di
tangan orang. Dengan dasar tujuannya yang baik dan mulia
itu, hatiku menjadi terharu
sehingga lamarannya pun kuterima.”
“Setelah mengatur perkawinan adiknya, apakah Lak-long Nyo
Ci-kong juga berangkat ke
lembah Bi-kiok?” tanya Leng-hong.
“Benar!” Pang Goan mengangguk.
“Seharusnya Lotoako nasihati dia agar jangan menempuh jalan
yang salah lagi!”
“Tentu saja kunasihati, tapi ia menyatakan hanya ingin
mencari jejak kelima orang
saudaranya dan bukan lantaran ingin mencari ilmu silat
peninggalan Ang-ih Hui-nio, kupikir
niat tersebut dapat dimengerti, tentunya tak bisa kualangi
dia.”
“Lalu, apakah ia pernah memberitahukan kepada Lotoako di
manakah letak Bi-kok tersebut?”
“Tidak!”
“Kenapa Lotoako tidak bertanya kepadanya?”
“Kenapa aku mesti bertanya? Apakah keenam nyawa keluarga Nyo
masih belum cukup?”
Leng-hong berpikir sebentar, kemudian tanyanya, “Apakah
adikmu Wan-kun juga
mengetahui akan rahasia ini?”
103
“Hanya tahu garis besarnya saja.”
“Wah, celakalah kalau begitu!” tutur Leng-hong sambil geleng
kepala dan menghela napas.
“Kenapa celaka?”
“Kemungkinan besar nona Wan-kun telah memberitahukan soal
lembah Bi-kok kepada Nyo
Cu-wi, jadi lenyapnya suami-isteri mereka kemungkinan besar
karena berangkat ke Bi-kok.”
“Tapi mereka tidak tahu di mana letak Bi-kok, ke mana mereka
akan mencarinya?”
“Meskipun Nyo Ciau-thong merahasiakan peristiwa lembah
Bi-kok, tapi setelah keenam
orang saudaranya dalam waktu singkat beruntun pergi dan tak
kembali lagi, tak mungkin Cuwi
sama sekali tidak mengetahui akan kejadian ini, mungkin saja
ia hanya mendengar
sekadarnya, dan kemudian soal tersebut hanya disimpan dalam
hati saja, kemudian setelah
dibuktikan dengan cerita dari adikmu, mana bisa dia tidak
tergerak hatinya untuk menyelidiki
mati hidup saudara-saudaranya? Hal ini ditambah pula mereka
sebagai suami-isteri muda,
rasa ingin tahunya masih sangat tebal, besar kemungkinan
mereka meneruskan perbuatan
keenam saudaranya yang lain.”
Setelah mendengar uraian ini, air muka Pang Goan makin lama
makin bertambah serius, lewat
sesaat kemudian baru berkata, “Kalau memang demikian
jadinya, akulah yang paling
berdosa.”
“Satu-satunya kekeliruan yang dilakukan Lotoako adalah tidak
seharusnya memberitahukan
kejadian yang sesungguhnya kepada adikmu Wan-kun.”
Pang Goan manggut-manggut lalu geleng kepala, sambil
menghela napas ia berkata lagi,
“Sesungguhnya aku pun tahu, tetapi aku dan adikku bukan
dilahirkan oleh ibu yang sama,
usia kampiun terpaut separuh lebih, sekalipun bersaudara,
sedikit banyak hubungan batin
kami agak jauh, hal ini menyangkut kehidupan selanjutnya,
mana boleh kurahasiakan
persoalan ini padanya? Hanya aku tak mengira kejadian ini
akan disampaikannya pula kepada
Nyo Cu-wi.”
“Mereka adalah suami-isteri, sudah barang tentu persoalan
ini akan dibicarakan, hanya saja . .
. .” tiba-tiba Leng-hong alihkan pembicaraan ke soal lain,
katanya lagi, “Lotoako, percayakah
kau bahwa Ang-ih Hui-nio dan lembah Bi-kok adalah kejadian
yang sesungguhnya?”
“Sebetulnya aku tidak percaya, tapi hal ini diceritakan
sendiri oleh Nyo Ciau-thong, majikan
tua Thian-po-hu, lagipula lenyapnya tujuh bersaudara
keluarga Nyo merupakan kenyataan,
hal ini membuat aku mau-tak-mau harus percaya..”
“Tidak mungkinkah kenyataan ini adalah sebagian dari
perangkap yang sengaja diatur oleh
perkumpulan Ci-moay-hwe?”
“Tentu saja kemungkinannya selalu ada. Tapi munculnya
Ci-moay-hwe baru terjadi beberapa
tahun belakangan ini, sebaliknya rahasia tentang Bi-kok
sudah ada sejak belasan tahun
sebelum meninggalnya Nyo Ciau-thong, Cuma saja Nyo
Ciau-thong tidak pernah
mengungkapnya.”
Leng-hong tertawa, “Siaute malah berharap lembah Bi-kok
memang benar-benar ada, bila ada
kesempatan nanti ingin sekali kusaksikan sendiri kehebatan
ilmu golok warisan Ang-ih Huinio
itu.”
Sementara pembicaraan berlangsung sampai di situ, Hui
Beng-cu telah keluar setelah
membersihkan badan dan berganti pakaian perempuan, sambil
tertawa ia bertanya, “Ilmu
golok apakah yang maha hebat? Bolehkah kuikut Nyo-toako
untuk menyaksikannya
bersama?”
Meskipun hidung Hui Beng-cu agak pesek, tapi kekurangannya
itu telah tertutup oleh
matanya yang besar dan jeli, dengan tubuh yang padat sebagai
gadis-gadis wilayah selatan
umumnya, ia tampak montok dan memesona, malahan hidungnya
yang agak pesek justru
menambah daya pikatnya.
104
Ho Leng-hong pernah bertemu dengan Pang Wan-kun gadungan, ia
tahu Pang Wan-kun
cantik sekali, tapi bila dibandingkan dengan Hui Beng-cu,
maka yang pertama kalah daya
pesonanya.
Kalau kecantikan Wan-kun termasuk perempuan yang lembut dan
agung, maka Hui Beng-cu
mempunyai tipe yang lebih menggiurkan, di antara
kegenitannya rada-rada bersifat
“berandalan”, hal ini membuat siapa pun ingin memandang
beberapa kejap lebih banyak
kepadanya.
Bukan cuma Ho Leng-hong yang mempunyai perasaan demikian,
bahkan hati Pang Goan juga
agak goyah, ia memandang beberapa kejap lebih banyak sebelum
melengos ke arah lain.
Pada saat itu muncul seorang pelayan yang melaporkan,
“Perjamuan telah siap!”
------------------------
Perjamuan untuk menyambut kedatangan Hui Beng-cu berlangsung
hingga menjelang tengah
malam dan dengan hati puas.
Setelah kembali ke taman belakang, Leng-hong bertanya,
“Lotoako, benarkah kita akan
mengiringi nona Hui pulang ke Leng-lam?”
“Tentu saja, sekarang Hui Pek-ling sedang tertimpa musibah,
perempuan asing itu jelas pula
anggota Ci-moay-hwe, asal perempuan itu berhasil kita bekuk,
kemungkinan besar latar
belakang perkumpulan Ci-moay-hwe bisa kita singkap, kenapa
tidak pergi?”
“Tapi Siaute masih merasa keheranan, Samkongcu berada di
sekitar sini, kenapa ia tidak
tertarik oleh To-kiam-hap-ping-tin dan sampai sekarang belum
lagi melakukan gerakan apaapa?”
“Kupikir, mungkin juga mereka sudah meninggalkan wilayah
Kwan-lok,” kata Pang Goan
dengan kening berkerut.
“Tidak mungkin, untuk mendapatkan Yan-ci-po-to dan
To-kiam-hap-ping-tin-hoat entah
sudah berapa banyak pikiran dan tenaga yang telah
dicurahkan, tidak mungkin mereka
lepaskan dengan begitu saja.”
“Mungkin karena penjagaan dalam gedung terlalu ketat
sehingga mereka tak berani bergerak
secara gegabah.”
“Itupun tak mungkin, semakin ketat penjagaan kita semakin
menunjukkan betapa pentingnya
To-kiam-hap-ping-tin-hoat tersebut, hanya beberapa orang
Busu kita masa berada dalam
pandangan mereka?”
“Wah, kalau begitu aku jadi tidak mengerti, jangan-jangan
mereka mempunyai rencana lain?”
“Tepat. Ketidak bergerak mereka membuktikan mereka mempunyai
rencana lain.”
Tiba-tiba hati Pang Goan tergerak, bisiknya, “Apakah kau
mencurigai asal-usul Hui Bengcu?”
Ho Leng-hong tidak menjawab, tapi berdiri, katanya kemudian,
“Lotoako, lebih baik kita
berlatih dalam taman!”
“Baik!” Pang Goan setuju.
Dengan membawa senjata kedua orang itu menuju ke tanah
lapang dalam taman, pertamatama
Leng-hong mengontrol dulu penjagaan di sekitar taman,
setelah terbukti keadaan aman
tenang, ia baru mulai berlatih.
Yang dimaksud sebagai To-kiam-hap-ping-tin-hoat, sesuai
namanya yaitu permainan
kombinasi ilmu golok dan pedang, tapi berhubung dalam
pertemuan Lo-hu-to-hwe hanya
diizinkan menggunakan golok dan tak boleh memakai pedang,
lebih-lebih tak diizinkan dua
orang maju bersama, maka oleh Nyo Ci-kong, kitab pusaka
Nyo-keh-sin-to tersebut
diserahkan kepada Pang Goan agar setelah memahami kunci ilmu
golok terebut, kemudian
ditambah dengan Keng-hong-kiam-hoat dari Cian-sui-hu, kedua
ilmu dilebur menjadi satu
105
dan menciptakan serangkaian jurus serangan baru yang bisa
menggunakan golok dan pedang
sekaligus.
Dia berharap dengan bekal ilmu gabungan golok dan pedang
ini, gelar Thian-he-te-it-to dapat
direbut kembali oleh Thian-po-hu.
Tampaknya golok dan pedang itu hampir sama bentuknya, tapi
penggunaannya jauh berbeda.
Pedang mengutamakan kelincahan, sedang golok mengutamakan
kemantapan, terutama Poin-
pat-toa-sik dari Thian-po-hu terlebih keras dan mantap,
ganasnya juga cukup ganas, Cuma
kurang lincah dan gesit.
Setelah bersusah payah selama dua tahun baru Pang Goan
berhasil melebur kedelapan jurus
ilmu pedang Keng-hong-kiam-hoatnya yang lincah dan gesit ke
dalam gerakan Po-in-pat-toasik
sehingga dapat mengurangi kekerasan dan keganasannya, juga
menambah kegesitan dan
kelincahannya.
Atau dengan perkataan lain, diambil kelebihan yang terdapat
pada ilmu andalan Cian-sui-hu
dan Thian-po-hu, ia membuat permainan golok mengandung
gerakan pedang, hal ini akan
sangat bermanfaat untuk menghadapi Tay-yang-sin-to dari Hui
Pek-ling.
Oleh karena itulah selama berlatih Pang Goan selalu menjadi
lawan umpan latihan, mereka
sama-sama memegang pedang di tangan kiri dan golok di tangan
kanan.
Setiap jurus selesai dilatih, golok dan pedang segera
bertukar, dengan begitu penggunaan
golok sebagai pedang dapat dilakukan setiap saat dan tidak
canggung lagi antara golok dan
pedang.
Ho Leng-hong belum pernah mempelajari Po-in-pat-toa-sik,
tapi dia masih ingat setiap gerak
jurus Keng-hong-kiam-hoat, maka Pang Goan harus mengajarkan
dulu Nyo-keh-sin-to
kepadanya sebelum mengajar To-kiam-hap-ping-tin tersebut.
Untung Ho Leng-hong berbakat bagus dan otak yang encer,
setiap jurus serangan yang pernah
dilihatnya segera apal di luar kepala, maka cukup bagi Pang
Goan untuk bermain satu kali,
setiap jurus serangan segera diingatnya, tinggal soal
latihan dan kesempurnaan belaka.
Cuma latihan mereka malam ini tentu saja bukan
To-kiam-hap-ping-tin sesungguhnya,
mereka memang bergebrak ke sana kemari dengan gesitnya, hal
ini hanya sengaja supaya
dilihat orang dan menunggu sang ikan menyambar umpan.
Suasana dalam taman amat sepi, kecuali Pang Goan dan
Leng-hong hampir tidak terlihat
orang ketiga.
Tapi, tiba-tiba Leng-hong merasa ada sepasang mata yang jeli
sedang mengawasinya di balik
kegelapan sana.
Letak tanah rumput di mana mereka berlatih di depan semak
bunga sebelah utara Kiok-hiangsia.
Tempat itulah untuk pertama kalinya diketahui oleh Ho
Leng-hong sebagai tempat pertemuan
rahasia kedua orang laki-perempuan itu.
Sembari melancarkan serangan, Ho Leng-hong memberi tanda
kedipan mata kepada Pang
Goan sambil berbisik, “Perhatikan sebelah utara
Kiok-hiang-sia, agaknya sang ikan sudah
mencium harum umpan!”
Sambil putar badan dan melancarkan suatu tusukan, bisik Pang
Goan, “Betul, dugaanmu
memang benar . . . . Hei . . . . rupanya dia . . . . .”
“Jangan bersuara, pelahan kita bergeser ke sana, kita cegat
jalan larinya dari kanan-kiri.”
Pang Goan mempergencar serangannya, maka cahaya tajam segera
berhamburan mengurung
tubuh Ho Leng-hong dengan rapat.
Sambil bertarung pelahan mereka bergeser sedikit demi
sedikit, akhirnya mereka semakin
dekat Kiok-hiang-sia.
“Lotoako, perhatikan seruanku, kau ke barat dan aku ke
timur, kita adang jalan larinya . . . .”
bisik Leng-hong, kemudian bentaknya mendadak, “Siapa di
situ? Berhenti!”
106
Berbareng dengan suara bentakannya, cahaya pedang dan sinar
golok segera berpencar, kedua
orang sama melayang ke arah yang berbeda, mengitari
pepohonan sana.
Mata jeli itu tidak bergerak, malah pemiliknya pelahan
berjalan keluar dari balik pepohonan
sambil tertawa.
“Akulah yang berada di sini!” katanya, “hebat betul semangat
Toako berdua, sudah jauh
malam, bukannya pergi beristirahat, sebaliknya malah
berlatih kungfu di bawah sinar bulan.
“Nona Hui, bukannya beristirahat di kamar tamu, untuk apa
datang ke taman sini?” tegur
Leng-hong.
“Aku mempunyai penyakit yang aneh, yakni bila baru pertama
kali tiba di suatu tempat asing,
aku menjadi tak dapat tidur,” jawab Hui Beng-cu sambil
tertawa, “sewaktu jalan-jalan tadi,
tanpa kusadari telah tiba di taman ini.”
“Lalu kenapa kau sembunyi di balik pepohonan dan mengintip
kami berlatih?” tanya Pang
Goan.
“Tidak, aku tidak bersembunyi, lantaran kalian sedang
berlatih dengan sungguh-sungguh,
maka aku tidak menyapa kalian karena kuatir akan mengganggu
konsentrasi Toako berdua.”
“Tapi nona kan tahu, mencuri lihat ilmu silat orang lain
adalah pantangan besar bagi umat
persilatan,” kata Leng-hong.
Hui Beng-cu tersenyum, “Aku tidak bermaksud mencuri lihat
ilmu silat orang, hanya secara
kebetulan saja kulewat di sini. Lagipula sore tadi kan Toako
berdua juga telah menguji Tayyang-
sin-to keluarga ku? Apa salahnya kalau akupun menyaksikan
ilmu silat Toako berdua?”
Leng-hong dan Pang Goan hanya saling pandang belaka, mereka
tak sanggup membantah
lagi.
Sambil tertawa kembali Hui Beng-cu berkata, “Setelah
menyaksikan ilmu golok dan pedang
Toako berdua, aku benar-benar merasa kagum sekali!
Kepandaian Toako berdua memang
sangat hebat, tampaknya Hiang-in-hu kami pasti akan
menderita kalah dalam pertemuan Lohu-
to-hwe yang akan datang!”
“Aku kuatir bukan Cuma Hiang-in-hu saja yang bakal kalah,
melainkan Bu-lim-sam-hu akan
menderita nasib yang sama.”
“Hei, kalau begitu siapa yang bakal menang?”
“Tentu saja Ci-moay-hwe!” kata Leng-hong.
“Sungguhkah mereka selihay itu?” tanya Beng-cu tercengang.
“Sebenarnya mereka tidak terlalu lihay, tapi setelah mereka
mendapatkan ilmu sakti dari
Leng-lam, dan sekarang berhasil pula menyadap ilmu silat
Cian-sui-hu dan Thian-po-hu,
sudah barang tentu lebih mudah bagi mereka untuk mencari
cara mematahkannya.”
Ia sengaja menandaskan kata “sekarang” dengan nada berat
dengan maksud untuk memancing
reaksi Hui Beng-cu.
Ternyata Hui Beng-cu tidak menunjukkan rasa kikuk atau
gugup, malah sambil mengangguk
katanya, “Perkataan Nyo-toako memang benar, setelah ilmu
silat Bu-lim-sam-hu disadap
semua oleh mereka, peristiwa ini memang akan menyulitkan
posisi kita, cuma, asal kita mau
bekerja sama dan menciptakan jurus serangan baru, rasanya
masih bisa kita hadapi kelihayan
mereka, entah bagaimana pendapat Toako berdua?”
Sekali lagi Leng-hong dan Pang Goan tak sanggup memberi
jawaban.
“Padahal kita sama-sama umat persilatan,” kata Hui Beng-cu
lebih lanjut, “sudah sewajarnya
kalau saling tolong menolong, saling bantu-membantu agar
ilmu silat lebih maju dan
cemerlang, bila masing-masing orang menyimpan ilmunya
sendiri seperti menyimpan azimat
dan enggan menurunkan kepandaian leluhurnya kepada
masyarakat, lama kelamaan dunia
persilatan pasti akan bertambah lemah, pada akhirnya ilmu
silat yang sakti itu akan terus
menyusut turun temurun dan akan menjadi ilmu ‘terakhir’
pula.”
Perkataan itu cukup keras dan tegas, hal ini membuat
perasaan Ho Leng-hong dan Pang Goan
tergetar juga.
107
Pang Goan mendongakkan kepalanya sambil menarik napas
panjang, kemudian gumamnya,
“Tak kusangka, nona yang masih muda ternyata mempunyai jiwa
yang besar, sungguh sukar
dicari bandingannya.”
“Sayang kebanyakan orang persilatan adalah manusia rakus
yang terlalu mementingkan diri
sendiri tidak seperti nona yang berjiwa besar dan dapat
berpandangan jauh,” sambung Lenghong.
Hui Beng-cu hanya tersenyum, lalu berkata lagi, “Kata-kata
semacam itu memang sulit
diterima orang lain, tapi setelah Toako berdua pergi ke
Leng-lam dan menyaksikan keadaan
di rumahku, kalian akan percaya bahwa perkataanku bukan cuma
khayalan belaka, tapi timbul
dari fakta yang sudah ada.”
“Baik, persoalan ini tak bisa ditunda lagi, kita putuskan
berangkat besok pagi,” kata Pang
Goan.
Leng-hong tidak menyatakan setuju, juga tidak menolak,
dilihat dari perubahan wajahnya,
agaknya iapun kehilangan rasa percaya pada diri sendiri
setelah gagalnya rencana “menunggu
kelinci masuk perangkap”.
Dari wilayah Kwan-lok ke Leng-lam ada ribuan li jauhnya,
untuk menempuh perjalanan
sejauh ini sebetulnya mereka harus berjalan secepatnya, tapi
ketiga laki perempuan ini justru
berjalan dengan sangat lambat.
Sepanjang jalan Ho Leng-hong dan Pang Goan makan minum dan
berpesiar dengan
santainya, seakan-akan sedang menunggu sesuatu.
Hui Beng-cu tidak nampak gelisah, malah sebaliknya kelihatan
gembira, ia selalu menemani
kedua Toako itu berpesiar dan menikmati keindahan alam,
gelak tertawa yang riang selalu
menyemarakkan suasana, seakan-akan iapun sudah lupa pada
keadaan di Hiang-in-hu, di
rumahnya sendiri.
Setengah bulan setelah meninggalkan Kiu-ci-shia, mereka baru
tiba di sekitar Siang-hoan.
“Sepanjang perjalanan ini kita selalu menunggang kuda dan
naik kereta, lama-lama menjadi
bosan juga, bagaimana kalau perjalanan kita selanjutnya kita
ganti naik kapal saja? Lebih
cepat dan lebih nyaman rasanya,” usul Leng-hong.
Sebelum Pang Goan menjawab, Hui Beng-cu segera berseru lebih
dulu, “Bagus sekali, kita
boleh menyewa kapal sampai Liang-han, sekalian pesiar di
telaga Tong-teng, dari situ dengan
menunggang kuda kita melintasi Ngo-leng-san, perjalanan ini
tentu lebih cepat.”
“Orang bilang: ‘Kapal di selatan dan kuda di utara’. Nona
Hui sebagai gadis yang dibesarkan
di wilayah selatan, apakah tidak merasa bosan naik kapal?”
tanya Leng-hong.
“Mana bisa bosan!” sahut Beng-cu dengan tertawa, “aku paling
suka naik kapal, tapi dulu aku
hanya naik kapal laut, kapal sungai belum pernah kurasakan.”
Pang Goan manggut-manggut, “Kalau begitu kita putuskan untuk
menyewa kapal setibanya di
Huan-shia nanti.”
Hari itu juga mereka tiba di Huan-shia. Setelah menginap
semalam, tengah hari keesokannya
dengan meninggalkan Pang Goan yang beristirahat seorang diri
di hotel, Ho Leng-hong dan
Hui Beng-cu berangkat ke dermaga untuk menyewa kapal.
Sebetulnya soal menyewa kapal bisa diselesaikan oleh pelayan
penginapan, tapi Hui Beng-cu
ingin memilih kapal yang nyaman sekalian menikmati
pemandangan di dermaga, maka Lenghong
terpaksa harus menemaninya ke dermaga.
Setibanya di dermaga, tampaklah layar kapal berjajar di sana
sini, tapi sebagian besar adalah
kapal layar yang memuat bahan obat-obatan dan sekalian
membawa penumpang, jarang sekali
ada kapal yang khusus hanya mengangkut penumpang.
Terpaksa mereka menelusuri sungai tepi untuk mencari kapal,
tapi beberapa buah kapal yang
dikunjunginya semua memberi jawaban yang sama, “Kebanyakan
perahu di kota Huan-shia
108
adalah perahu pengangkut barang, untuk menyewa perahu
penumpang harus menyeberang ke
kota Siang-yang!”
“Baiklah,” kata Leng-hong kemudian, “apa salahnya kita
mengunjungi kota Siang-yang!”
“Nyo-toako, coba lihat! Bukankah di sana terdapat sebuah
kapal penumpang?” tiba-tiba Hui
Beng-cu menuding ke arah sungai.
Mengikuti arah yang ditunjuk, betul juga Leng-hong lihat ada
sebuah perahu penumpang
dengan layar rangkap yang indah membuang sauh di tengah
sungai, perahu itu bercat masih
baru, ruang duduknya bersih dan luas, ketika itu sedang
membuang sauh kurang lebih sepuluh
tombak di tengah sungai.
Leng-hong segera menggapai seorang tukang sampan, sambil
menuding ke arah kapal layar
itu ia bertanya, “Lotoa, tahukah kau siapa pemilik perahu
itu?”
Tukang perahu itu mengamati perahu itu sejenak, kemudian
menggeleng kepala, jawabnya,
“Entahlah, dulu rasanya belum pernah melihat perahu ini, di
atas perahu juga tidak terdapat
bendera perkumpulan atau organisasi tertentu, mungkin saja
perahu pribadi orang kaya.”
“Peduli perahu pembesar atau perahu orang kaya, apa salahnya
kalau kita tanya dia, siapa
tahu perahunya kebetulan kosong, dan dia bersedia memuat
kita?”
Ho Leng-hong tertawa dan tidak omong lagi, dengan membimbing
Hui Beng-cu mereka naik
ke sampan kecil itu.
Tiba di dekat perahu penumpang itu terasa suasana amat
hening, sesosok bayangan pun tak
kelihatan.
Sambil melompat ke atas geladak, Hui Beng-cu berteriak,
“Hei, ada orangkah di sini?”
Setelah berteriak beberapa kali, dari buritan menongol
keluar sebuah kepala gundul, sahutnya,
“Mau apa kalian? Cari siapa?”
Orang itu adalah seorang kakek kurus berusia enam-tujuh
puluh tahunan, mukanya penuh
berkeriput, kepalanya botak dan tak berambut, mungkin ia
lagi tidur di buritan, maka
sikapnya agak uring-uringan.
“Maaf jika kami telah mengganggu,” cepat Leng-hong memberi
hormat, “kami ingin
menyewa perahu, ingin kami tanya apakah perahu ini boleh
disewa atau tidak?”
“Kau bilang apa?” tanya si kakek sambil miringkan kepalanya.
Terpaksa Leng-hong mengulangi lagi kata-katanya.
Kali ini kakek itu dapat mendengar dengan jelas, ia
mengulapkan tangan berulang kali,
“Pergi! Pergi! Perahu ini bukan perahu penumpang yang
disewakan, perahu ini adalah perahu
pribadi, lebih baik menyewa perahu di tempat lain!”
“Apa salahnya dengan perahu pribadi? Kami bersedia membayar
tinggi, satu jalan pula,
kenapa tidak bisa?” kata Hui Beng-cu.
Sambil memicingkan matanya kakek itu memperhatikan mereka
sekejap, lalu bertanya,
“Apakah kalian suami-isteri?”
Merah wajah Hui Beng-cu, cepat-cepat sangkalnya, “O, bukan!
Aku she Hui dan dia adalah
Nyo-toako, Nyo-tayhiap pemilik Thian-po-hu di Kiu-ki-shia.”
“Aku tidak kenal Nyo atau Nya, aku cuma ingin tahu kalian
mau ke mana? Dan berapa berani
bayar?”
“Kami ingin pesiar ke Tong-ting-ou, kemudian berganti kuda
ke Leng-lam, jadi hanya satu
jalan, terserah berapa besar ongkos yang kau minta.”
Kakek itu segera menghitung sambil bergumam, “Sejalan ke
Tong-ting berarti tidak akan
kembali ke sini . . . dari sini menuju Ji-han mengikuti arah
arus, waktu berbelok ke Tong-ting
harus berlayar melawan arus . . . waktu berangkat
membutuhkan lima hari, waktu pulang
tujuh sampai delapan hari . . . ”
Tiba-tiba ia tanya lagi, “Apakah hanya kalian berdua? Boleh
tambah penumpang tidak?
Sepanjang jalan akan mendarat atau tidak?”
109
“Kita berjumlah tiga orang dan langsung menuju ke Tong-ting,
dalam perjalanan pun tak akan
mendarat. Tentu saja kami sewa seluruh perahu ini jadi tak
boleh menambah penumpang
lagi.”
Kembali kakek itu bergumam, “Kalau begitu, kuhitung seratus
tahil perak saja.”
“Ha, masa begitu mahal?” teriak Hui Beng-cu.
“Kalau merasa mahal lebih baik jangan menyewa,” kata kakek
itu dengan wajah cemberut,
“terus terang kuberitahu kepada kalian, perahu ini adalah
perahu pribadi Paduka wali kota
Keng-ciu, sebetulnya aku tak boleh menerima permintaan
kalian, tapi berhubung majikan
kami sedang menemani nyonya berziarah ke Siong-san dan
setengah bulan kemudian baru
pulang, daripada waktu senggang terbuang begitu saja,
kuputuskan untuk mengantar kalian
dan mencari sedikit tambahan penghasilan.”
“Sekalipun begitu jangan seratus tahil perak, ah!” kata
Beng-cu.
“Masa seratus tahil perak kauanggap mahal? Mari kuperinci
untukmu, kelasi berikut aku ada
empat orang, untuk melakukan dagang gelap yang menyerempet
bahaya ini kan pantas kalau
setiap orang mencari untung dua puluh tahil perak? Nah, dua
kali empat adalah delapan
berarti sudah termakan delapan puluh tahil perak, sisanya
yang dua puluh tahil perak adalah
makanan dan minuman untuk kalian bertiga, begini masa
kaubilang mahal?”
“Ya, tidak mahal, kami akan sewa perahu ini,” kata Leng-hong
cepat. Diambilnya selembar
daun emas dan diperlihatkan kepada kakek itu, lalu katanya
lagi, “Benda ini adalah daun
emas, seberat sepuluh tahil, nilainya sama seratus tahil
perak. Nah, orang tua, kapan kita akan
berangkat?”
Kakek itu memandang daun emas itu sekejap, lalu memandang
pula wajah Leng-hong, tibatiba
ia tertawa, “Sekaligus kau bayar sewa perahu ini, apakah
tidak takut kabur setelah
menerima uang?”
“O, tidak menjadi soal, kupercaya penuh kepadamu.”
“Bagus sekali,” kata kakek itu sambil menerima daun emas
tersebut, “kita putuskan begini
saja, setelah menambah bahan makanan dan air tawa tengah
hari nanti, kita segera berangkat.
Jadi tengah hari nanti kalian boleh naik perahu.”
“Bolehkah kutahu kau orang tua she apa? Dan siapa namamu?”
“Aku she Kim, panggil saja Kim-lotoa kepadaku!”
Ho Leng-hong segera memberi hormat dan bersama Hui Beng-cu
turun ke sampan.
Di tengah jalan, Hui Beng-cu tiada hentinya berpaling ke
arah perahu itu katanya, “Kulihat
kakek she Kim itu bukan orang baik-baik!”
“Oya?! Kenapa?”
“Sikapnya tidak sopan, waktu bicara mau menangnya sendiri,
sedikitpun tidak mirip seorang
pembantu orang kaya yang mendapat pendidikan.”
Leng-hong tertawa, “Justru lantaran dia bekerja pada orang
kaya, maka sikapnya kurang ajar
dan tak tahu sopan, sewaktu berbicara pun hanya mau
menangnya sendiri.”
“Nyo-toako, bagaimanapun juga aku tetap merasa tidak
seharusnya kau bayar dulu ongkos
perahu itu, andaikata dia benar-benar seorang penipu,
setelah terima uang lantas kabur,
bukankah kita akan membuang uang percuma?”
“Jangan kuatir, aku bertaruh ia tak akan kabur, sekalipun
diusir dengan pecut pun dia takkan
pergi!” jawab Leng-hong sambil tertawa.
-----------------------------
Tengah hari itu, mereka bertiga pun naik perahu. Benar juga,
Kim-lotoa tidak kabur, bahan
makanan dan air tawar di atas perahu pun telah ditambah,
maka begitu Leng-hong bertiga
sudah naik, mereka segera berangkat.
110
Tiga orang kelasi di atas perahu itu rata-rata adalah pemuda
berusia dua puluh tahunan,
semuanya bertubuh kekar, berotot dan cekatan.
Leng-hong mempersilakan Hui Beng-cu berdiam seorang diri di
ruang tengah, sedang ia dan
Pang Goan berdiam di ruang lain.
Kim-lotoa adalah juru mudi, ia tinggal di ruang kemudi,
sedang tiga orang kelasinya tinggal
di ruang depan, seorang mengurusi dapur, sedang dua lagi
bertugas di bagian layar.
Begitulah, dari kota Huan-shia menuju ke selatan perahu
berlayar dengan lancar karena
mengikuti arus, hari itu juga mereka telah melewati kota
Cwan-shia dan malamnya berlabuh
di teluk, keesokan harinya mereka tiba di kota Tin-kang,
jaraknya dengan kota Ji-han tinggal
sehari perjalanan air.
Selama dua hari ini suasana di atas perahu tetap tenang,
tapi Leng-hong telah menemukan ada
sebuah perahu yang selalu mengikuti di belakang perahu
mereka.
Perahu itu adalah sebuah perahu barang yang penuh dengan
muatan bahan obat serta bahan
lainnya, mulai dari kota Huan-shia, perahu itu membuntuti
terus dengan ketatnya, meskipun
kadang-kadang kala melewati perahu mereka, tapi mereka
lantas menunggu lagi di depan
sana, setelah perahu penumpang itu lewat mereka baru
berlayar lagi.
Di atas perahu berang itu hanya ada lima-enam orang kelasi,
tidak tampak penumpang lain
dan tidak dijumpai pula orang-orang yang menyolok.
Diam-diam Ho Leng-hong memberitahukan hal ini kepada Pang
Goan.
Mendengar laporan itu, Pang Goan tertawa dingin, katanya,
“Sejak pertama kali tadi sudah
kuperhatikan, selain itu Kim-lotoa dan ketiga orang
kelasinya juga adalah jago-jago silat,
tampaknya kungfu mereka tidak lemah.”
“Lantas mengapa mereka belum juga turun tangan?” ujar
Leng-hong.
“Siapa yang tahu?” Pang Goan angkat bahu, “mungkin mereka
sedang menunggu bala
bantuan, pokoknya cepat atau lambat mereka pasti akan
bergerak.”
“Menurut dugaanku mereka pasti lantaran takut pada
seseorang, jadi sampai sekarang belum
juga turun tangan,” kata Leng-hong sambil tertawa.
“Takut kepada siapa?”
“Kau, Lotoako!”
“Kenapa mereka takut padaku?” tanya Pang Goan tertegun.
“Tujuan mereka yang terutama adalah ingin mengetahui ilmu
To-kiam-hap-ping-tin, sekarang
kau telah mengajarkan padaku, maka asal aku berhasil
ditangkap dan dipaksa untuk bicara,
urusan tetap akan beres, untuk menghadapiku adalah urusan
gampang, tapi berhubung ada
Lotoako, maka tak berani turun tangan.”
“Kalau begitu aku mesti menyingkir dulu?”
“Benar!” Leng-hong mengangguk, “lebih baik Lotoako
bermain-main di darat, sementara
Siaute tinggal di perahu . . . . . ini namanya memberi
kebebasan kepada orang.”
Pang Goan tertawa terbahak-bahak, ia lantas beranjak dan
menuju ke geladak.
Suasana di luar gelap gulita, hanya kerlipan api di balik
pintu ruangan, itulah lelatu api dari
pada Huncwe (pipa tembakau) yang sedang dihisap Kim-lotoa.
Pelahan Pang Goan menghampirinya sambil menyapa, “Lotoa,
apakah di atas perahu tersedia
arak?”
“Tidak ada!” jawab Kim-lotoa dengan ketus dan tanpa
mendongakkan kepalanya.
“Bolehkah aku meminjam seorang anak buahmu untuk membelinya
sebentar di daratan?”
“Maaf, para kelasi sudah bekerja keras seharian penuh, besok
pagi-pagi harus bekerja lagi,
kini sudah tidur semua.”
“Kalau begitu . . . . . .” Pang Goan berpikir sebentar, lalu
katanya, “Terpaksa aku harus pergi
membeli sendiri, tolong sewakan sampan tentunya boleh bukan,
Lotoa?”
“Tempat ini bukan dermaga besar, mana ada sampan yang bisa
disewa?” kata Kim-lotoa, lalu
sambil menuding ke belakang buritan, katanya lagi, “Tuh, di
sana ada sampan yang tersedia di
111
perahu kami, kalau kau bisa mendayung sendiri, aku sih
dengan senang hati akan
membantumu untuk menurunkannya ke air.”
“Mendayung perahu sih aku bisa, tak perlu bantuan Lotoa
lagi, aku bisa turun tangan sendiri.”
Agaknya ia memang sengaja hendak pamer kekuatan, setelah
menghampiri sampan itu
dengan langkah lebar, dicekalnya pinggiran sampan dengan
kedua tangan, begitu hawa
murninya dikerahkan, sampan kecil yang cuma muat tiga-empat
orang ini segera terangkat
dengan enteng.
Kim-lotoa tidak menunjukkan wajah kaget atau ketakutan,
malah sambil tertawa katanya,
“Wah, hebat juga tenagamu.”
Pang Goan mendengus, “Hei, Kim-lotoa, sanggupkah kau lakukan
cara yang sama?”
Kim-lotoa menggeleng kepala, “Aku tak lebih cuma seorang
juru mudi, bukan kuli panggul di
dermaga yang biasa mengangkuti karung berat, apa gunanya
memiliki tenaga sebesar itu?”
Mendongkol Pang Goan karena dipersamakan dengan kuli, segera
dilemparkan sampan itu ke
permukaan air.
“Plung!” sampan itu terjatuh di air kurang lebih sepuluh
tombak dari perahu tersebut.
Sekali lompat Pang Goan melayang ke sana dan turun di atas
sampan itu, tanpa menggunakan
dayung maupun gala, ia menggerakkan kedua lengan bajunya
secara bergantian, di antara
deru angin yang keras, bagaikan anak panah terlepas dari
busurnya sampan itu meluncur ke
arah daratan.
Kim-lotoa masih saja berjongkok di geladak sambil mengisap
Huncwe, tampaknya ia sama
sekali tidak tertarik oleh demonstrasi kekuatan Pang Goan
itu.
Lelatu api pada pipa tembakaunya kembali berkedip tiga kali
panjang dan tiga kali pendek.
Perahu barang yang buang sauh pada setengah li di depan
perahu penumpang, di buritan
perahu itu juga ada seorang sedang mengisap Huncwe sehingga
kerlipan apinya juga tiga kali
panjang dan tiga kali pendek.
Tak lama kemudian, sebuah sampan kecil tanpa menimbulkan
suara mendekati perahu
penumpang itu.
Di atas sampan berdiri lima orang perempuan, mereka adalah
Liu A-ih beserta empat orang
perempuan cebol yang menyandang sepasang samurai panjang dan
pendek.
Dengan langkah cepat Kim-lotoa menyambut kedatangan mereka,
kemudian bisiknya, “Si
monyet dua kuda sedang naik ke darat, Hui Beng-cu ada di
ruang tengah, sedang ‘sasaran’
ada di ruang nomor dua sebelah kiri.”
“Ehm, tahu,” Liu A-ih manggut-manggut, “kau tetap berjaga di
luar perahu, kami bisa
bereskan sendiri persoalan ini.”
Sambil memberi tanda, ia membawa keempat orang perempuan
cebol berbaju hitam itu
menyerbu ke dalam kabin.
Agaknya ia apal sekali letak ruang di atas perahu tersebut,
tanpa membuang banyak waktu
ruang kedua di sebelah kiri telah ditemukan, ia lantas
mengetuk pintu.
“Pintu tidak dikunci, silakan masuk sendiri!” sahut
Leng-hong dari dalam
Sambil mendorong pintu Liu A-ih mendadak menyerbu ke dalam,
menyusul keempat orang
cebol berbaju hitam itupun ikut menyerbu ke dalam ruangan.
Suasana dalam ruangan terang benderang, Ho Leng-hong sedang
duduk menghadap ke pintu,
ia duduk di atas sebuah kursi, di atas lututnya tergeletak
sebilah golok dan sebilah pedang.
Golok dan pedang diletakkan menjadi satu hanya gagangnya
menghadap ke arah yang
berlawanan, gagang golok menghadap ke kanan dan gagang
pedang menghadap ke kiri.
Dengan mengulum senyum, Ho Leng-hong manggut-manggut sambil
berkata, “Sungguh tak
kusangka begini cepat Liu A-ih akan sampai di sini. Maaf
kalau aku tak menyambut
kedatangan kalian, silakan duduk!”
“Jadi kau sudah tahu kami akan datang?” tanya A-ih.
112
“Benar!” Leng-hong tertawa, “Bukan cuma tahu kalian akan
datang, bahkan telah kuduga
pula kalian enggan berjumpa dengan Pang-toako, maka kuminta
dia naik ke daratan. Sekarang
di sini sudah tak ada orang lain lagi, kita boleh
bercakap-cakap dengan tenang dan santai.”
“Apa yang ingin kaubicarakan?” tanya A-ih.
“Apa yang kalian inginkan, itu pula yang kita bicarakan!”
Biji mata Liu A-ih berputar-putar, setelah memeriksa sekejap
sekeliling ruangan, ia baru
berkata, “Baiklah! Setelah kau berlapang dada, kami pun tak
akan berkecil hati, mari kita
bicarakan persoalan ini dengan sebaik-baiknya.”
“Silakan duduk!” kata Leng-hong.
Liu A-ih maju dua langkah dan duduk di sebuah bangku panjang
dekat pintu, sedangkan
keempat orang perempuan cebol berbaju hitam itu berdiri
berjajar di depan pintu.
“Bila keempat Taci itu tak mau duduk juga tak menjadi soal,
tapi lebih baik pintunya ditutup
saja agar orang lain tidak mengganggu,” kata Leng-hong
dengan tertawa.
Keempat perempuan cebol berbaju hitam itu melirik sekejap ke
arah Liu A-ih, ketika
dilihatnya orang mengangguk kepala, pintu kamar segera
ditutup rapat.
Setelah pintu tertutup, Ho Leng-hong baru mengembus napas
lega, katanya, “Baiklah,
sekarang kita boleh mulai bicara secara resmi, tapi sebelum
pembicaraan berlangsung,
kuharap kedua pihak harus mempunyai niat yang
bersungguh-sungguh, siapa pun jangan coba
main kotor dan siapa pun tak boleh memanasi hati lawan,
dengan demikian kita baru dapat
menyelesaikan urusan secara adil, entah bagaimana menurut
pendata Liu A-ih?”
“Aku setuju!”
“Baiklah, kalau setuju, maka kitapun tak usah membicarakan
soal-soal lain lagi, langsung saja
menyinggung ke masalah pokok. Liu A-ih yang akan bicara dulu
atau aku lebih dulu?”
“Kau saja yang berbicara lebih dulu?”
Leng-hong manggut-manggut, setelah berdehem iapun mulai
berkata, “Pertama-tama hendak
kuterangkan dulu kedudukanku sekarang, aku bukan anggota
dari Bu-lim-sam-hu, juga tak
ingin mencari nama dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe yang akan
datang, lebih-lebih lagi tak
ingin terlibat dalam pertikaian ataupun perselisihan antar
aliran atau golongan, terjunku ke
dalam air keruh ini adalah karena terpaksa, boleh juga
dibilang pihak Ci-moay-hwe yang
memaksa aku terjun ke liang api ini, kurasa dalam hal ini
Liu A-ih tak akan menyangkal
bukan?”
Liu A-ih tidak menyangkal pun tidak mengakui, hanya katanya
dengan ketus, “Katakan saja
apa yang ingin kaukatakan, jangan bertanya melulu kepadaku.”
“Baiklah setelah Ci-moay-hwe mengubah diriku menjadi Nyo
Cu-wi, terpaksa aku harus
menyesuaikan keadaan dan menganggap diriku sebagai Nyo Cu-wi
dan berdiri di pihak
Thian-po-hu, maka saat ini akupun harus tampil dalam
kedudukan sebagai majikan Thian-pohu
untuk berunding dengan kalian, tentang soal ini akupun minta
Liu A-ih suka
memperhatikan.”
Liu A-ih kembali mendengus, rasa memandang hina terlintas
pada wajahnya, tapi ia tidak
berkata apa-apa.
Maka Leng-hong berkata lebih lanjut, “Sesungguhnya pertemuan
Lo-hu-to-hwe yang
diselenggarakan empat tahun sekali adalah tempat untuk
memperebutkan nama dan
kedudukan, dalam pertemuan tersebut tidak dibatasi jumlah
golongan yang ingin ikut, setiap
jago silat di dunia berhak naik ke panggung untuk
memperlihatkan kebolehannya, jadi bila
Ci-moay-hwe ingin beradu kekuatan dengan kaum pria di dunia
ini, takkan ada orang yang
melarang atau mengalanginya, sebab kalian berhak untuk
berbuat begini, cuma seharusnya
kalian mempergunakan cara yang wajar, jangan menggunakan
cara licik dan rendah semacam
ini untuk mencelakai orang di sana sini, karena hal ini
tidaklah pantas . . . .”
“Cukup,” sela Liu A-ih tiba-tiba, “kami bukan datang untuk
mendengar ceramahmu, lebih
baik simpan saja kata-katamu yang tak sedap ini, mari
bicarakan dulu masalah pokok.”
113
“Jangan terburu-buru,” kata Leng-hong dengan tertawa,
“sekarang juga akan kubicarakan
masalah pokok.”
“Kuharap kaubicara ringkas saja dan jangan mencoba mengulur
waktu, sebab kalau sampai si
monyet dua kuda datang, hal itu sama sekali tak ada
manfaatnya bagimu.”
“Hei, jangan kaunilai orang lain dengan pikiran picikmu,
kalau aku ingin menunggu sampai
kembalinya Pang-toako, tak nanti kudesak kepadanya agar
menyingkir dulu ke daratan.”
Setelah berhenti sejenak, lalu Leng-hong berkata pula,
“Sekarang marilah kita bicara blakblakan,
bukanlah kerja keras dan usaha Ci-moay-hwe selama ini dengan
melatih manusiamanusia
gadungan, tujuannya tak lain adalah untuk mendapatkan golok
mestika Yan-ci-po-to
serta ilmu To-kiam-hap-ping-tin-hoat?”
Liu A-ih tidak menjawab, dan diam berarti telah mengakuinya.
“Kalau memang begitu, soal ini lebih gampang lagi untuk
dibicarakan,” kata Leng-hong, “kini
Yan-ci-po-to sudah dicuri orang dan entah ke mana perginya,
jadi maaf kalau aku tak dapat
memenuhi harapan kalian, lain halnya dengan ilmu
To-kiam-hap-ping-tin-hoat, kepandaian
tersebut telah berada dalam benakku semua, asal syaratnya
cocok setiap saat dapat
kupersembahkan dengan begitu saja kepada kalian, mau
diajarkan secara lisan atau tulisan,
boleh terserah kemauan kalian.”
Mencorong sinar mata Liu A-ih, ia lantas tanya, “Syarat apa
yang kaukehendaki?”
“Sederhana sekali, dengan ilmu To-kiam-hap-ping-tin-hoat
ditukar dengan keterangan jejak
Nyo Cu-wi suami isteri.”
Tiba-tiba Liu A-ih mengerutkan dahinya, “He, syarat ini atas
niatmu atau maksud Pang
Goan?”
“Maksudku tentu Pang-toako juga setuju!”
Liu A-ih tertawa dingin, “Heran, aku betul-betul tak habis
mengerti, Pang Goan bersaudara
kandung dengan Pang Wan-kun, tidak aneh jika ia menguatirkan
keselamatan saudaranya,
sebaliknya kau bukan sanak bukan keluarga mereka, mau apa
kau mencampuri urusan ini?”
“Sesungguhnya urusan ini memang tiada sangkut pautnya
denganku, tapi kalian yang telah
memaksaku untuk menyaru sebagai Nyo Cu-wi? maka mau-tak-mau
aku harus
memperhatikan juga nasib mereka.”
“Apa jeleknya kami mengubah kau menjadi Nyo Cu-wi?
seandainya mereka tak pulang lagi
ke Thian-po-hu, maka selamanya kau dapat menikmati segala
kehormatan, kedudukan serta
harta kekayaan yang melimpah, mengapa tidak kau nikmati
rejeki nomplok itu, malah
sebaliknya mengharapkan kembalinya Nyo Cu-wi?”
Ho Leng-hong tertawa, “Seandainya aku bisa menyaru menjadi
dia selama hidup, tentu saja
aku tidak berharap ia pulang kembali, sayang semua rahasia
kini telah terbongkar, bukan
kalian saja yang tahu bahwa aku ini Nyo Cu-wi gadungan,
bahkan Pang-toako juga tahu,
pikirlah sendiri, mana mungkin aku tinggal diam terus
menerus?”
“Sekalipun tak bisa melanjutkan penyaruanmu, kau boleh
berdiri di luar garis, apa gunanya
kaubantu mereka mencari kembali Nyo Cu-wi?”
“Sayang selama beberapa waktu belakangan ini aku sudah
terbiasa dengan kehidupan mewah,
agak keberatan juga bagiku untuk melepaskan semua itu dengan
begitu saja.”
“Kalau memang begini, lebih-lebih tidak pantas bagimu untuk
menemukan kembali Nyo Cuwi
suami-isteri.”
“Tentu saja di samping ini masih ada masalah lain,” kata
Leng-hong lebih lanjut sambil
tertawa, “aku ingin kehidupan yang mewah, tapi tak perlu
menyaru sebagai Nyo Cu-wi, dan
kebetulan Pang-toako telah menyanggupi permintaanku, asal
Nyo Cu-wi kembali ke Thianpo-
hu, dia akan mengajakku pulang ke Cian-sui-hu di
Liat-liu-shia serta mengangkat diriku
menjadi saudaranya, keluarga Pang tak punya keturunan, bila
Lotoako berpulang ke alam
baka, secara resmi aku akan menjadi majikan Cian-sui-hu,
bukankah cara ini jauh lebih
menguntungkan diriku daripada melanjutkan penyaruan sebagai
Nyo Cu-wi?”
114
“O, jadi berbicara pulang pergi rupanya kau sedang mengincar
harta kekayaan Cian-sui-hu
dan kau sudah kena disuap oleh Pang Goan?” kata Liu A-ih.
“Ah, betapa tak sedapnya kata suap itu,” seru Leng-hong
sambil menggoyangkan tangannya,
“bila manusia tidak mementingkan diri sendiri, matilah dia,
bagaimanapun juga aku harus
memikirkan kehidupanku seterusnya, apalagi kami suka sama
suka, siapapun tak memaksa
yang lain.”
“Hehehe, manusia tak mementingkan diri sendiri matilah dia,
sungguh kata yang bagus,” ejek
Liu A-ih, “Bila kutawarkan harta kekayaan dua kali lipat
lebih besar daripada Cian-sui-hu,
apakah kau bersedia menukarnya dengan ilmu
To-kiam-hap-ping-tin-hoat?”
“O, hal itu tak mungkin terjadi, sebab meskipun kau bisa
memberikan harta kekayaan dua kali
lebih besar, kan sekaligus tak dapat kauberi nama
Cian-sui-hu kepadaku.”
“Dapat! Bukan cuma nama besar seperti Cian-sui-hu, kampiun
sekaligus dapat pula
memberikan nama seharum Thian-po-hu kepadamu, agar kecuali
Ci-moay-hwe, kau
merupakan manusia yang paling berkuasa, laki-laki paling
kaya dan terhormat di dunia ini,
percaya tidak?”
“Aku tak berani mempercayainya,” kata pemuda itu sambil
mengangkat bahu.
“Kalau begitu dengarkan baik-baik,” sengaja Liu A-ih
mempertinggi nada pembicaraannya,
“asal ilmu To-kiam-hap-ping-tin-hoat kau berikan kepada
kami, dan mulai sekarang kau
bersedia mendengarkan perintah Ci-moay-hwe, maka selama
hidup ini tak akan terbongkar
rahasia penyaruanmu sebagai Nyo Cu-wi, bahkan akan kami
bantu dirimu untuk melenyapkan
Pang Goan agar sekaligus kau menjadi majikan Thian-po-hu
maupun Cian-sui-hu serta
menikmati segala kehormatan dan kejayaannya.”
“Apakah kalian mempunyai keyakinan dapat melenyapkan
Pang-toako?”
“Apa susahnya untuk berbuat demikian?” ejek Liu A-ih dengan
sombongnya, “kami telah
berhasil memahami inti sari ilmu pedang
Keng-hong-kiam-hoatnya, jika dapat memperoleh
rahasia To-kiam-hap-ping-tin lagi, bukan masalah sulit untuk
menyingkirkan dia.”
Ho Leng-hong berpikir sebentar, lalu berkata lagi,
“Sekalipun Pang-toako dapat disingkirkan,
andaikata secara tiba-tiba Nyo Cu-wi suami-isteri muncul
kembali di Thian-po-hu, bukankah
rahasia tersebut akhirnya terbongkar juga?”
“Jangan kuatir, mereka tak mungkin bisa kembali lagi . . . “
tiba-tiba Liu A-ih merasa salah
omong, buru-buru katanya lagi, “andaikata ia pulang juga,
asal kau berkeras menuduh mereka
sebagai gadungan, siapakah yang berani tidak percaya pada
perkataanmu?”
“Liu A-ih!” kata anak muda itu kemudian dengan serius,
“tolong beritahu kepadaku dengan
sejujurnya, apakah kalian telah membunuh Nyo Cu-wi
suami-isteri?”
“Tidak!”
“Lalu berdasarkan apa kau berani mengatakan bahwa mereka tak
mungkin kembali lagi?”
“Aku tidak mengatakan demikian, hal itu cuma dugaan dan
perumpamaan saja.”
Leng-hong mendengus, “Kalau cuma dugaan saja, kenapa kalian
berani mengangkangi Thianpo-
hu dengan sewenang-wenang? Paling sedikit, kalian pasti tahu
jejak mereka berdua.”
“Wahai orang she Ho, jangan lupa kita sedang merundingkan
pertukaran syarat,” teriak Liu
A-ih dengan suara keras, “sekalipun kami mengetahui
jejaknya, tidak menjadi keharusan
bagiku untuk memberitahukan padamu . . . . .”
“Beritahu atau tidak, mungkin kau tak bisa lagi berbuat
sesuka hatimu!”
Ucapan ini bukan berasal dari mulut Ho Leng-hong melainkan
datang dari luar pintu ruangan.
Bersamaan itu, “blang,” pintu ruangan terpentang dan
melayang masuklah sesosok tubuh
manusia . . . .
Ketika keempat perempuan cebol berbaju hitam yang berdiri
berjajar membelakangi pintu itu
mendengar sambaran angin dari belakang, tanpa berpaling
empat bilah samurai segera dilolos
bersama.
115
Di antara berkelebatnya cahaya golok, seketika itu juga
tubuh manusia itu tercincang menjadi
beberapa bagian dan rontok ke lantai, ternyata orang itu
bukan lain adalah Kim-lotoa yang
gundul.
Liu A-ih menjerit kaget, serentak ia mendorong bangku dan
melompat bangun.
Ia cepat, ternyata Leng-hong jauh lebih cepat daripadanya,
golok dan pedang yang berada di
lututnya serentak dicabut, sambil bangkit berdiri dan
tertawa, katanya, “Liu A-ih, jika kau
ingin menyaksikan ilmu To-kiam-hap-ping-tin, bagaimana kalau
sekarang juga kumainkan di
hadapanmu?”
“Betul!” sambung orang di luar ruangan itu, “sudah sering
kita tekun berlatih, tapi belum ada
kesempatan untuk dipraktekkan dengan musuh, hari ini kita
harus mencoba dengan sebaikbaiknya.”
Yang berbicara adalah Pang Goan, ia berdiri di depan pintu
dengan golok dan pedang
terhunus.
Sementara itu meski keempat perempuan cebol berbaju hitam
itu telah meloloskan
samurainya, berhubung ruangan dalam perahu amat sempit dan
lagi mereka harus berdiri
saling berdesakan, hakikatnya sulit bagi mereka untuk
mengembangkan serangan goloknya.
Air muka Liu A-ih agak berubah, tapi ia masih diam saja
tanpa mengucapkan sepatah
katapun.
“Sekarang kalian sudah tiada jalan keluar untuk mundur
lagi,” kata Leng-hong, lebih baik
simpan saja senjata kalian dan katakan secara jujur di
manakah Nyo Cu-wi suami-isteri
berada, asal kalian mau mengaku, kampiun tak akan
menyusahkan kalian.”
Liu A-ih hanya mendengus, ia tetap belum membuka suara.
Pang Goan habis sabarnya, dengan gusar ia membentak,
“Perempuan busuk, rupanya kau
minta diperlakukan keras. Hmm, kau anggap kami tak berani
membunuh dirimu?”
Seraya berkata ia lantas melangkah masuk ke dalam dan siap
turun tangan.
Pada saat itulah tiba-tiba dari luar muncul seorang yang
segera menjerit, “Pang-toako, apa
yang terjadi? Siapakah orang-orang ini....”
Waktu itu Pang Goan baru saja melangkah masuk ke dalam
ruangan, mendengar teguran
tersebut, ia berpaling, tertampaklah Hui Beng-cu dengan
golok lengkungnya terhunus berdiri
di belakangnya.
Tiba-tiba timbul kewaspadaannya, cepat ia putar badan dan
menyingkir ke samping.
Liu A-ih tidak membuang kesempatan baik itu, ia segera
mencabut senjata sambil
membentak, “Serbu!”
Serentak keempat orang perempuan cebol berbaju hitam itu
melancarkan serangan, dengan
menciptakan selapis cahaya tajam samurai mereka terayun ke
depan dan menerjang ke arah
pintu.
Pang Goan membentak, dengan pedang di kiri dan golok di
kanan, ia melancarkan serangan
berbareng.
Di tengah bentrokan senjata yang ramai, dua orang perempuan
cebol berbaju hitam terdepan
segera termakan oleh serangan tersebut, yang seorang
tertebas lambungnya dan tewas
seketika, sedang yang lain kena dikutungin lengan kanannya,
samurai dan kutungan
lengannya terjatuh ke lantai.
Untuk pertama kalinya To-kiam-hap-ping-tin dipergunakan
untuk menghadapi musuh
tangguh, nyata ilmu gabungan antara golok dan pedang ini
memang maha sakti.
Namun perempuan cebol berbaju hitam itu betul-betul pasukan
berani mati, meskipun orang
yang terbacok kutung lengah kanannya sudah terluka parah,
bahkan darah mengucur dengan
derasnya, namun ia pantang menyerah, sambil meloloskan
samurai kecil dengan tangan kiri ia
menerjang lagi ke arah pintu dengan garang.
116
Kedua perempuan cebol berbaju hitam yang berada di
belakangnya ikut menyerbu maju,
mereka malah mempergunakan mayat rekannya sebagai tameng
untuk disodorkan ke arah
Pang Goan.
Semua kejadian ini berlangsung dalam sekejap mata, tahu-tahu
Pang Goan sudah terdesak
meninggalkan pintu ruangan, ketika dia hendak mengalangi
lagi, namun sudah terlambat.
Jarak Ho Leng-hong lebih jauh lagi, ia tahu dikejarpun tak
ada gunanya, namun pemuda itu
tidak tinggal diam, cepat ia menerobos jendela dan dari
geladak berputar menuju ke depan
perahu.
Hui Beng-cu berdiri di depan pintu, entah lantaran kaget
atau diterjang oleh perempuanperempuan
cebol berbaju hitam yang dahsyat, beruntun ia mundur dua
langkah ke belakang
sebelum golok dicabut keluar.
Tapi keadaan sudah terlambat, dengan kekuatan seorang dan
sebilah golok, mana mungkin
terjangan keempat orang itu dapat dibendung? Baru bergebrak
satu jurus, ia terdesak mundur
oleh samurai panjang dan pendek dari ketiga perempuan cebol
itu.
Bagaikan air bah yang menjebolkan tanggul Liu A-ih dan
ketiga orang perempuan cebol itu
menerjang keluar pintu dan langsung melarikan diri.
Tapi baru tiba di luar, Leng-hong telah menghadangnya lagi.
Sementara itu Pang Goan juga menyusul tiba pada saatnya.
Melihat gelagat tidak menguntungkan, Liu A-ih buru-buru
melancarkan dua kali bacokan,
kemudian kabur ke tepi perahu dan terjun ke dalam sungai.
Sedangkan ketiga perempuan cebol berbaju hitam itu di bawah
kerubutan Leng-hong dari
belakang dalam waktu singkat salah seorang di antaranya
kembali terluka.
Leng-hong kuatir Pang Goan menyerang terlampau berat,
buru-buru teriaknya, “Lotoako,
bekuk mereka hidup-hidup.”
Waktu itu golok di tangan kanan Pang Goan sedang menangkis
bacokan samurai pendek dari
perempuan yang kutung tangannya, sementara pedang di tangan
kirinya siap melancarkan
tusukan, ketika mendengar teriakan tersebut,jurus serangan
segera berubah, dengan gagang
pedang ia sodok jalan darah di pinggang perempuan itu.
Kedua orang lainnya tak berani bertarung lebih lanjut,
sambil menjerit aneh merek sambitkan
samurai itu sebagai senjata rahasia ke arah Ho Leng-hong dan
Pang Goan.
Pada waktu Leng-hong dan Pang Goan memukul rontok samurai
tersebut, kedua orang
perempuan cebol itu melepaskan kabut pemabuk dan melompat ke
dalam sungai.
Baik Leng-hong maupun Pang Goan sama-sama tak pandai
berenang, terpaksa mereka
membentang mata lebar-lebar dan sambil menyaksikan kedua
orang musuh melarikan diri.
“Jangan kuatir, mereka tak bakal lolos!” teriak Hui Beng-cu
tiba-tiba, ia pun terjun ke dalam
sungai.
“Perempuan busuk, anggap saja nasib kalian masih baik,” maki
Pang Goan dengan
mendongkol, “jika sampai ketemu lagi lain kali, jangan harap
kalian bisa kabur.”
Leng-hong memandang ke depan, ia lihat perahu barang tadi
sedang menaikkan jangkar dan
kabur dengan tergesa-gesa.
Dengan saksama kedua orang itu menggeledah seluruh perahu,
tapi ketiga orang kelasi yang
berada di ruang depan tadi telah lenyap pula tak berbekas.
“Untung kau segera memberi peringatan sehingga berhasil kita
tangkap seorang musuh,
bagaimana kalau kita mendarat dulu kemudian baru memeriksa
dia?” kata Pang Goan.
“Lotoako, kau terlalu cepat pulang kembali ke perahu, coba
sedikit lebih lambat, mungkin
dari mulut perempuan busuk she Liu itu dapat kupancing
keterangan yang lebih terperinci
lagi.”
“Sesungguhnya akupun tak ingin cepat-cepat menampakkan diri,
tapi berhubung kakek she
Kim itu sangat lihai, sewaktu menundukkannya mungkin akan
terlihat oleh orang yang berada
di atas perahu barang, maka daripada rahasianya bocor,
kupercepat tindakanku.”
117
“Hahaha, kali ini Ci-moay-hwe betul-betul rugi besar,
menurut perhitungan mereka pasti akan
berhasil membekuk kita, siapa tahu justru kitalah yang
berhasil menangkap salah seorang di
antara mereka.”
Pang Goan ikut tertawa, “Sekalipun perempuan busuk she Liu
itu berhasil meloloskan diri,
sepulangnya dari sini pasti akan dicaci maki oleh
pemimpinnya, betapapun ia telah merasakan
kelihaian To-kiam-hap-ping-tin kita, sayangnya jurus-jurus
serangan itu tak dapat
diingatnya.”
Tiba-tiba satu ingatan terlintas dalam benaknya, katanya
pula, “Saudaraku, menurut
pendapatmu apa pula yang akan terjadi pada budak Hui itu?
Mungkinkah dia akan kembali
lagi kemari?”
“Kukira dia tak akan kembali lagi ke sini,” jawab Ho
Leng-hong dengan dahi berkerut.
“Kenapa? Apakah dia betul-betul anggota Ci-moay-hwe?”
Leng-hong menggeleng kepala berulang kali, “Soal ini sulit
untuk dipastikan Cuma
penampilannya malam ini mau-tak-mau menimbulkan juga
kecurigaan kita.”
Pang Goan termenung sejenak, kemudian menarik napas panjang,
“Andaikata ia benar-benar
tidak kembali lagi ke sini, apakah kita akan melanjutkan
perjalanan ke Leng-lam?”
“Pergi ke Leng-lam atau tidak adalah urusan nomor dua,
kurasa masalah paling penting yang
kita hadapi sekarang adalah mencari tahu mati-hidup Nyo
Cu-wi suami-isteri, menurut apa
yang dikatakan perempuan busuk she Liu itu, kemungkinan
besar Nyo Cu-wi suami isteri
tidak berada di tangan Ci-moay-hwe, sekali pun dulu pernah
terjatuh ke tangan mereka,
sekarang sudah tidak berada di sana lagi.”
“Apa yang dia katakan?” tanya Pang Goan.
“Ia tidak bicara terus terang, tapi jelas mereka ketahui
bahwa Nyo Cu-wi suami-isteri tak
mungkin kembali ke Thian-po-hu lagi, bahkan selamanya tak
mungkin pulang lagi, dari sini
terbuktilah bahwa mereka mengetahui jejak Nyo Cu-wi
suami-isteri.”
“Bukankah hal ini sama artinya dengan menyatakan bahwa
mereka sudah terbunuh?” kata
Pang Goan dengan kuatir.
“Tapi kukira tujuan mereka adalah menguasai dunia
persilatan, jadi tiada alasan bagi mereka
untuk mencelakai jiwa Nyo Cu-wi suami-isteri.”
“Perempuan sialan!” maki Pang Goan, “jika mereka berani
mengganggu seujung rambut
Wan-kun, aku bersumpah akan membantai setiap anggota
Ci-moay-hwe yang kujumpai.”
Setelah berhenti sejenak, katanya lagi, “Mari, kita periksa
dulu perempuan busuk itu.”
Dengan langkah lebar ia menuju ke lorong sana,
dicengkeramnya perempuan cebol berbaju
hitam yang sudah buntung itu.
Dengan bentakan pelahan jari tangannya bekerja, beruntun
menutuk empat jalan darah
penting di tubuh perempuan cebol itu.
Buru-buru Leng-hong memburu ke situ, tapi ia segera
terperanjat, sebab air muka perempuan
cebol itu telah berubah menjadi hitam pekat, cairan darah
berwarna hitam kental meleleh dari
ujung bibirnya, keadaan sangat gawat, jelas ia telah menelan
racun sebelum sempat diperiksa.
Dengan paksa Pang Goan memencet rahangnya dan membuka mulut
yang terkatup, kemudian
digabloknya punggung perempuan itu keras-keras, sebiji gigi
palsu yang telah tergigit pecah
terjatuh ke geladak.
Melihat itu, Leng-hong menggeleng kepala berulang kali,
“Sungguh tak kusangka mereka
telah menyiapkan racun dalam mulutnya, ai . . . sayang . . .
sayang . . . .”
Tak terlukiskan kemarahan Pang Goan, ia menampar wajah
perempuan cebol itu sekeraskerasnya
dan membentak, “Perempuan busuk, ayo bicara! Kalian apakan
Wan-kun? Ayo
bicara!”
Tapi kepala perempuan cebol berlengan kutung itu lantas
menjuntai dengan lemas, seluruh
tubuhnya berpelepotan darah, napasnya telah berhenti.
Leng-hong menghela napas, “Ai, tampaknya kita tetap harus
berkunjung ke Leng-lam....”
118
Tengah bicara, tiba-tiba terdengar suara percikan air
disusul munculnya seseorang....
Di luar dugaan, orang ini ternyata adalah Hui Beng-cu!
Lebih-lebih di luar dugaan lagi, di bawah ketiak Hui Beng-cu
ternyata mengempit seorang
perempuan cebol berbaju hitam.
Leng-hong dan Pang Goan saling pandang dengan melenggong,
mereka tak menyangka Hui
Beng-cu akan muncul kembali, lebih-lebih tak menyangka ia
kembali dengan membawa
seorang tawanan hidup.
Dengan tangan sebelah mengepit tawanan, tangan yang lain
memegang pinggiran perahu, Hui
Beng-cu berteriak, “Toako berdua, cepat bantu aku menyeret
tawanan ini ke atas!”
“Matai atau masih hidup?” tanya Pang Goan.
“Tentu saja masih hidup, Cuma ia sudah kutenggelamkan ke
sungai hingga banyak minum
air, sekarang ia tak sadarkan diri!”
“Dalam mulutnya terdapat gigi palsu yang berisi racun,
apakah kau tahu?” kembali Pang
Goan bertanya.
“Jangan kuatir, gigi racunnya telah kucabut, jangan harap
permainan busuk orang Ainu ini
akan mengelabuhi diriku!”
Pang Goan sangat gembira, ia segera mencengkeram rambut
perempuan Ainu itu dan
menyeretnya ke atas perahu.
Hui Beng-cu melompat ke atas, sambil membesut air yang
membasahi wajahnya ia berkata,
“Pompa dulu perutnya agar air tertumpah keluar, kemudian
baru bertanya kepadanya, hatihati
pada bahu kirinya terdapat luka tusukan pedang, jangan
biarkan darah mengalir terlalu
banyak . . . ada seorang lagi yang kulukai, sayang ia
berhasil melarikan diri.
Sementara itu Pang Goan telah memompa keluar air dalam perut
perempuan cebol itu,
kemudian menghentikan pula cucuran darah pada bahunya.
Kali ini ia turun tangan dengan sangat hati-hati, ia takut
tawanannya mati lagi sehingga sukar
mencari jejak Pang Wan-kun.
Kali ini Leng-hong tidak membantu ataupun membuka suara, dia
hanya memandang wajah
Hui Beng-cu dengan termangu, ia rada bingung.
Tak lama perempuan itu sudah sadar kembali dari pingsannya,
begitu membuka matanya dan
menyaksikan keadaan di sekeliling situ, cepat ia menggertak
gigi rapat-rapat . . . .
“Apa yang kau lakukan?” ejek Pang Goan sambil tertawa
dingin, “gula-gula dalam mulutmu
itu tak perlu dicari lagi, sudah terlepas dan dimakan ikan!”
Air muka perempuan itu berubah hebat, tiba-tiba ia angkat
telapak tangannya untuk
menghantam kepala sendiri.
Tapi baru sampai di tengah jalan, tangannya sudah keburu
dicengkeram oleh Pang Goan,
“Jangan buru-buru mampus,” katanya, “nanti saja kalau mau
mati, sesudah menjawab
pertanyaan kami.”
Beruntun ia tutuk enam jalan darah penting pada badannya,
kemudian baru lepas tangan.
Setelah seluruh tubuh tak bisa berkutik perempuan cebol itu
memejamkan matanya, dua titik
air mata meleleh membasahi pipinya.
“Beginilah tabiat perempuan bangsa Ainu,” kata Hui Beng-cu,
“mereka suka kekerasan dan
menolak cara halus, kalau tidak diberi sedikit kelihaian,
mereka tak akan bicara terus terang.”
“O, itu sih gampang,” kata Pang Goan.
Jari tangannya segera bekerja cepat, menutuk empat-lima
tempat jalan darah perempuan Ainu
itu, akhirnya ia tabok belakang tengkuknya.
Seperti terkena listrik tegangan tinggi tiba-tiba sekujur
tubuh perempuan itu gemetar keras,
butiran keringat sebesar kacang membasahi jidatnya, kulit
wajahnya berkejang, giginya
gemertakan, rintihan kesakitan berkumandang tiada hentinya.
119
“Mulai sekarang setiap pertanyaanku harus kaujawab dengan
sejujurnya,” bentak Pang Goan,
“kalau tidak, akan kusuruh kau rasakan bagaimana nikmatnya
beribu semut menerobosi
hatimu, kubikin kau tak sempat bernapas selama tiga hari
tiga malam.”
Dengan air mata bercucuran, terpaksa perempuan Ainu itu
mengangguk kepala.
Pang Goan segera membebaskan jalan darahnya yang tertutuk,
kemudian sambil tertawa
dingin katanya, “Beritahu dulu kepadaku, siapa pemimpin
Ci-moay-hwe? Di mana letak
markas besarnya?”
Perempuan itu menjawab dengan logat yang kaku dan sukar
dimengerti.
“Hei, apa yang kau katakan?” bentak Pang Goan.
Hui Beng-cu tertawa geli, katanya, “Dia perempuan asing yang
kurang fasih berbicara dengan
logat kita, dia menjawab tidak tahu.”
“Omong kosong, kau adalah anggota Ci-moay-hwe, masa tidak
tahu tentang urusan Ci-moayhwe?”
teriak Pang Goan.
Kembali perempuan Ainu itu mengoceh dengan kata-kata yang
kurang jelas.
Terpaksa Hui Beng-cu bertindak sebagai juru bahasa, “Ia
bilang benar-benar tidak tahu, sebab
orang itu tidak ia kenal, tempat pun tak diketahui.”
“Baik, sekalipun tak dapat kau sebutkan nama orang dan
tempatnya, tentunya kau tahu
bagaimana jalan menuju ke sana?”
Perempuan Ainu itu mengangguk kepala berulang kali, “Ya, ya
. . . aku tahu.”
“Kalau begitu, bawalah kami ke sana.”
Perempuan itu berkerut dahi sambil menunjukkan tanda-tanda
keberatan.
“Kenapa? Apakah siksaan yang kau rasakan tadi belum cukup?”
hardik Pang Goan.
Perempuan itu mengucapkan dua-tiga kata.
Kali ini Pang Goan dapat menangkap maksudnya, ia mendengus,
“Hmm, mereka dapat
membunuhmu, apakah aku tak bisa membunuhmu pula? Ketahuilah,
aku bisa membunuhmu
dengan cara yang lebih keji, apakah kau ingin mencobanya?”
Buru-buru perempuan berbaju hitam itu geleng kepala.
“Kalau tidak ingin mampus, bawalah kami ke sana. Sekarang
aku hendak bertanya satu hal,
Nyo....”
Mendadak ia teringat bahwa Hui Beng-cu masih belum
mengetahui asal-usul Ho Leng-hong
yang sebenarnya, maka ia ganti perkataan, “Apakah Nyo-hujin
dari Thian-po-hu yang
bernama Pang Wan-kun terjatuh ke tangan Ci-moay-hwe?”
Kembali perempuan itu menjawab dengan logat yang sukar
dimengerti.
Pang Goan tahu, kalau begini caranya tak mungkin akan
didapatkan apa yang diharapkan,
maka ia putuskan untuk mencari dulu markas Ci-moay-hwe,
sebab dengan sendirinya jejak
Nyo Cu-wi suami-isteri akan diketahui bila markas musuh
telah diketemukan.
Maka katanya kepada Hui Beng-cu, “Dengan perempuan asing ini
sebagai penunjuk jalan,
lebih baik kita langsung menuju ke markas besar Ci-moay-hwe,
kalau mau membekuk
bajingan lebih dulu harus bekuk pemimpinnya, asal sarang
mereka sudah kita aduk, otomatis
urusan di rumahmu akan beres juga dengan sendirinya, entah
bagaimana pendapat nona?”
Hui Beng-cu berpikir sebentar, lalu jawabnya, “Baiklah,
kalau mau pergi harus segera
berangkat, daripada rahasia ini bocor dan mereka keburu
kabur.”
Ho Leng-hong hanya mengikuti pembicaraan itu dari samping,
ia tidak buka suara juga tidak
memberi komentar apa-apa.
Begitulah, dengan menggusur perempuan Ainu itu berangkatlah
mereka bertiga meninggalkan
perahu, di kota Tin-kang mereka menyewa sebuah kereta dan
dua ekor kuda, sebelum fajar
menyingsing mereka meneruskan perjalanan.
Ho Leng-hong dan Pang Goan menunggang kuda, sedang Hui
Beng-cu dan perempuan baju
hitam itu numpang di dalam kereta, atas petunjuk perempuan
itu mereka telusuri jalan lama,
balik ke kota Siang-yang.
120
Di tengah jalan, Pang Goan sengaja memperlambat lari
kudanya, kepada Ho Leng-hong
bisiknya, “Lote, apakah kau masih mencurigai asal-usul budak
she Hui itu?”
Leng-hong menarik napas panjang, “Aku tak dapat mengemukakan
alasan apa-apa, tapi
bagaimanapun aku tetap merasa di balik soal ini ada sesuatu
yang kurang beres.”
“Andaikata dia adalah anggota Ci-moay-hwe, kenapa ia
membantu kita membekuk seorang
tawanan hidup?”
“Aku tidak mengatakan dia adalah musuh,” ujar Leng-hong
sambil tertawa getir, “pokoknya
lebih baik kita berhati-hati sepanjang perjalanan, sebab aku
mendapat firasat bahwa di tengah
jalan nanti mungkin akan terjadi sesuatu.”
“Dalam hal apakah yang kau maksudkan?”
“Segala hal bisa terjadi, tapi yang paling penting adalah
perempuan Ainu itu, kita harus
mengawasinya secara khusus.”
“Kenapa dengan perempuan itu?”
“Kalau bukan dia yang akan mencelakai kita, tentu pula
Ci-moay-hwe akan
membinasakannya.”
“Oo!?” Pang Goan seperti memahami akan sesuatu.
Ternyata dugaan mereka memang benar, malam itu juga
peristiwa tersebut telah terjadi.
-------------------------
Berangkat dari Tin-kang menuju ke barat, malam itu sampailah
mereka di sebuah kota kecil di
sebelah utara Keng-ciu, kota kecil ini bernama Kian-yang-gi.
Kota ini merupakan persimpangan jalan raya yang
menghubungkan Keng-ciu dan Siang-yang,
menuju ke arah timur akan sampai di Ji-han, ke barat akan
sampai Sam-shia, ke utara bukan
saja sampai Siang-hua, malah ada jalan raya menuju ke
Kam-siok, sebab itulah suasana di
kota kecil ini ramai sekali.
Mereka menginap di rumah penginapan “Hong-an”, Pang Goan dan
Ho Leng-hong memakai
satu kamar, sedang Hui Beng-cu dan perempuan Ainu itu
tinggal di kamar yang lain.
Selesai bersantap malam, sebelum tidur, Pang Goan
memperingatkan Hui Beng-cu secara
khusus, katanya, “Jangan terlalu nyenyak tidurmu malam
nanti, jangan kau bebaskan pula
jalan darah perempuan asing itu, jika ada sesuatu yang
mencurigakan, segera panggil kami.”
“Jangan kuatir Pang-toako,” sahut Hui Beng-cu sambil
tertawa, “tanggung tak akan terjadi
apa-apa, aku akan mengawasinya sepanjang malam, sekalipun
punya sayap jangan harap akan
terbang dari hadapanku.”
Sekembalinya ke kamar, Pang Goan kembali berunding dengan Ho
Leng-hong, mereka
putuskan untuk jaga malam secara bergilir, Ho Leng-hong
menjaga setengah malam pertama
dan Pang Goan setengah malam berikutnya.
Setengah malam yang pertama berlangsung tenang tanpa terjadi
apapun.
Ketika giliran Pang Goan menjaga setengah malam berikutnya,
kurang lebih dua jam
menjelang fajar, Pang Goan mengambil sebuah bangku dan duduk
bersila di tepi jendela
sambil mengatur napas diam-diam ia perhatikan gerak-gerik
kamar sebelah.
Satu jam sudah lewat, tapi suasana tetap tenang.
Ketika fajar menjelang tiba, pada cuaca paling gelap, waktu
itu Pang Goan masih duduk
bersila sambil terkantuk-kantuk, mendadak ia mendengar suara
aneh di kamar Hui Beng-cu.
Suara rintihan yang lemah dan lirih, seakan-akan ada
seseorang sedang dicekik lehernya
hingga ingin berteriak pun tak mampu bersuara.
Dengan sigap Pang Goan melompat bangun lalu teriaknya dari
jendela, “Beng-cu! Beng-cu! .
. .”
Panggilannya yang berulang kali itu tidak memperoleh jawaban
apa-apa, malah rintihan tadi
mendadak berhenti.
121
Pang Goan tidak membuang waktu lagi, ia hantam daun jendela
hingga terpentang lebar,
kemudian menyerbu ke dalam ruangan.
Ia cepat masuk, waktu keluarpun tak kalah cepatnya, sambil
melompat mundur dari ruangan
itu serunya dengan cemas, “Jit-long, cepat bangun, terjadi
peristiwa . . . . ”
“Apa yang terjadi?” buru-buru Leng-hong lari keluar dari
kamarnya.
Sambil menuding ke arah kamar tidur Hui Beng-cu, kata Pang
Goan dengan napas terengah,
“Entah bagaimana caranya, perempuan asing itu berhasil
meloloskan diri, ia sedang mencekik
Beng-cu . . . .”
“Sungguh? Kita harus menolongnya!” seru Leng-hong dengan
terkejut.
Tapi Pang Goan segera mengalanginya sambil menggoyang tangan
berulang, “Tidak
mungkin, kita kurang leluasa untuk masuk ke sana, kita harus
cari akal.”
“Kenapa?” tanya Leng-hong.
Dengan wajah merah kata Pang Goan, “Perempuan asing itu
dalam . . . dalam keadaan
telanjang . . . pan . . . pantatnya kelihatan jelas . . . .”
Mendengar ucapan tersebut, Leng-hong merasa geli dan
dongkol, katanya, “Lotoako, dalam
keadaan apakah ini? Kenapa kau urus soal semacam itu?”
Sekali melompat ia melewati Pang Goan dan langsung menerjang
masuk ke dalam ruangan.
Apa yang dikatakan Pang Goan memang tak salah, perempuan
Ainu itu betul-betul dalam
keadaan telanjang bulat, waktu itu ia sedang menunggangi
tubuh Hui Beng-cu sementara
tangannya mencekik leher gadis itu dengan keras-keras.
“Lepaskan!” bentak Leng-hong.
Perempuan itu benar-benar lepaskan tangannya, cuma bagaikan
angin puyuh ia memutar ke
arah pemuda tersebut.
Seandainya Pang Goan yang menghadapi kejadian ini, jangankan
melawan, melihat gayanya
yang “mengerikan” itu saja mungkin sudah kabur
terbirit-birit.
Sayang dijumpainya kali ini adalah Ho Leng-hong.
Ho Leng-hong tidak menganggapnya sebagai manusia, apalagi
sebagai seorang perempuan,
adegan semacam ini sudah biasa baginya, sedikitpun tidak
heran dan terangsang.
Ia menganggapnya seperti gumpalan daging atau seekor babi
betina, tanpa pikir tangan kiri
menyodok ke depan.
Sodokan ini telak bersarang di perut perempuan cebol itu.
“Aduh!” karena kesakitan perempuan itu membungkukkan
badannya, seakan-akan mendadak
merasa malu.
Sedikitpun tidak terlintas dalam benak Ho Leng-hong rasa
kasihan, bagaikan sebilah golok
telapak tangan kanannya membacok kuduk perempuan itu dengan
keras.
“Ouh . . .” perempuan itu mengerang kesakitan dan jatuh
berlutut di lantai.
Dengan cekatan Leng-hong menjambak rambutnya, menutuk jalan
darahnya dan
membungkus tubuhnya yang telanjang itu dengan selimut,
kemudian dilemparkan ke atas
pembaringan.
Sesudah bertepuk tangan, ia baru mengalihkan sinar matanya
ke wajah Hui Beng-cu.
Ketika itu Hui Beng-cu sudah hampir jatuh semaput, ia sedang
mengurut leher sendiri,
napasnya tersengal dan tak sekatapun sanggup diucapkan.
“Bagaimana Jit-long?” kedengaran Pang Goan bertanya di luar
jendela.
Sambil memberi secawan teh pada Hui Beng-cu agar
tenggorokannya basah, jawab Lenghong,
“Sudah beres, silakan masuk!”
Tapi rupanya Pang Goan belum percaya, dia melongok dari luar
jendela, setelah Leng-hong
memasang lampu, dengan hati lega baru ia berani masuk ke
dalam.
“Siapa yang membebaskan jalan darahnya?” tegur Leng-hong
kemudian.
“Aku . . .” jawab gadis itu dengan napas terengah.
122
“Bukankah kau bilang akan mengawasinya sepanjang malam dan
tak akan terjadi apa-apa?
Kenapa kau bebaskan jalan darahnya?”
“Aku tertipu oleh siasat perempuan busuk ini, mula-mula dia
bilang mau kencing, maka
kubebaskan jalan darah kakinya, kemudian ia bilang bahwa
perempuan Ainu biasa tidur
dalam keadaan telanjang, kupikir bila ia berada dalam
keadaan telanjang, tentu dia tak
mungkin akan kabur, maka...”
“Maka kaubebaskan jalan darah tangannya? Maka lehermu
dicekik perempuan itu?”
Hui Beng-cu tundukkan kepalanya rendah-rendah, katanya
dengan menyesal, “Tidak kupikir
sampai sejauh itu. Akulah yang salah, akulah yang terlalu
gegabah.”
“Andaikata ia bilang perempuan Ainu kalau tidur tentu
memeluk sebilah golok, apakah kau
juga akan memberikan golok padanya?”
Hui Beng-cu tak dapat menjawab, hanya tunduk kepala dan
bungkam.
Pang Goan kuatir gadis itu merasa jengah, buru-buru selanya,
“Kejadian yang lewat biarlah
lalu, untung kita cukup waspada dan tak sampai perempuan itu
kabur, lain kali sedikitlah
lebih berhati-hati, Jit-long, mari kita kembali ke kamar.”
Leng-hong tidak berkata apa-apa, ia putar badan dan
melangkah keluar.
Sambil memandang bayangan punggung orang yang berlalu, kata
Hui Beng-cu dengan suara
takut, “Agaknya Nyo-toako sangat marah dan menyalahkan aku,
padahal aku sungguhsungguh
teledor, aku tidak sengaja melepaskan dia . . . .”
“Aku mengerti,” kata Pang Goan sambil tertawa, “Jit-long
juga tidak benar-benar
menyalahkan dirimu, tujuannya agar kau jangan tertipu lagi
di kemudian hari, sekali tertipu
lain kali harus hati-hati. Sudahlah, beristirahatlah, akupun
akan pergi.”
Ketika kembali ke kamar sebelah, Leng-hong sedang berbaring
sambil menopang tengkuknya
dengan tangan, pemuda itu sedang memandang langit-langit
dengan termangu, wajahnya
tampak amat serius.
Tak tahan lagi Pang Goan menggerutu, “Kau juga kelewatan,
kenapa tidak memberi muka
pada budak keluarga Hui itu? Apa yang kaukatakan tadi
terlalu berat bagi pendengarannya.”
“Lotoako, kau anggap apa yang diucapkan tadi adalah
kata-kata yang sejujurnya?”
“Masa bukan?”
Leng-hong tertawa dingin, “Paling sedikit ada satu hal yang
tidak kupercayai, dengan ilmu
silat Hui Beng-cu, tak mungkin segampang itu ia dapat
dibekuk oleh perempuan Ainu itu
sekalipun dibekuk, paling sedikit juga akan bersuara,
lebih-lebih orang tak perlu mencekik
lehernya dalam keadaan telanjang . . . .”
“Jadi maksudmu . . . . .” kata Pang Goan setelah termenung
sejenak.
“Sedang bermain sandiwara, sandiwara yang sengaja
diperlihatkan kepada kita.”
“Sekalipun bermain sandiwara, kan tidak perlu bersandiwara
dalam keadaan bugil.”
“Ya, tapi sandiwara ini hanya khusus dipertunjukkan buatku
seorang.”
“Aku tidak paham maksudmu.”
“Sederhana sekali, mereka tahu aku mencurigai asal-usul Hui
Beng-cu, maka sengaja
dimainkan sandiwara tersebut dengan tujuan untuk melenyapkan
rasa curigaku terhadap Hui
Beng-cu, agar kelihatan lebih seram dia sungguhkan, mereka
atur waktu kau bertugas
meronda, tapi takut aku tak sempat ikut menyaksikan, maka
mereka putuskan untuk berperan
dalam keadaan bugil. Mereka menduga kalau Lotoako tak akan
tega menyaksikan adegan
semacam itu dan akulah yang pasti disuruh masuk, tercapailah
tujuan mereka, asal adegan itu
kusaksikan sendiri, mereka yakin aku pasti akan percaya
asal-usul Hui Beng-cu.”
Pang Goan manggut-manggut, “Kalau begitu, kau yakin budak
keluarga Hui ini adalah
gadungan?”
“Aku tidak berani mengatakan apakah dia Hui Beng-cu asli
atau tidak, aku Cuma tahu dia
sekomplotan dengan Ci-moay-hwe, dulu cuma curiga saja, tapi
sekarang hakikatnya sudah
pasti.”
123
Pang Goan termenung, katanya kemudian, “Jika dugaanmu benar,
itu berarti kepergian kita ke
markas besar Ci-moay-hwe akan terjebak, cuma sebelum
mendapat bukti nyata lebih baik kita
jangan menuduh orang dengan begitu saja, persoalan ini kita
simpan saja dalam hati dan
jangan disiarkan untuk sementara, coba kita lihat dulu
bagaimanakah perkembangan
selanjutnya.”
“Setelah kita tahu kejadian ini adalah suatu jebakan, kenapa
kita masih menuruti perintah
mereka?”
“Tujuan mereka adalah untuk mendapatkan
To-kiam-hap-ping-tin-hoat, setelah dapat kita
pahami duduknya persoalan, kini merekalah yang berada dalam
perhitungan kita, kenapa kita
tidak menggunakan siasat untuk melawan siasat?”
Leng-hong tidak bertanya lebih jauh, sebab ia mengerti Pang
Goan “si monyet dua kuda”
bukanlah orang bodoh, ia pasti sudah mempunyai rencana yang
matang untuk menghadapi
persoalan ini.
---------------------------------
Ketika melanjutkan perjalanan pada keesokan harinya, keadaan
aman tenteram seperti tak
pernah terjadi apa-apa.
Cuma setiap kali Hui Beng-cu bertemu dengan Ho Leng-hong,
wajahnya selalu tampak kikuk,
seperti malu dan rada takut.
Kereta bergerak menuju ke utara menurut petunjuk perempuan
cebol ini, selewatnya Sianghuan,
tiba-tiba mereka berbelok ke barat, melewati Bu-tong-san
terus menuju ke Tay-pa-san
di daerah Siamsay.
Tak lama setelah melewati tembok besar, mereka sudah berada
di lereng pegunungan,
perjalanan tak dapat dilakukan lagi dengan menunggang
kereta.
Terpaksa Pang Goan harus meninggalkan kuda dan keretanya,
setelah membebaskan jalan
darah kaki perempuan pendek itu, berempat mereka mendaki
gunung dengan berjalan kaki.
Agaknya perempuan itu apal sekali dengan jalanan bukit itu,
sepanjang perjalanan ia selalu
memilih jalan setapak yang sepi, dalam sehari mereka dapat
menempuh dua sampai tiga puluh
li jalan gunung yang tak ada manusianya.
Ho Leng-hong jadi curiga, bisiknya kepada Pang Goan,
“Lotoako, tampaknya agak kurang
beres, tujuan Ci-moay-hwe adalah menguasai dunia persilatan,
tak mungkin markas besarnya
didirikan di tengah gunung yang jauh dari keramaian.”
“Aku tahu,” jawab Pang Goan sambil tertawa, “perempuan asing
ini sengaja mengajak kita
berputar kayun di atas gunung untuk membuang waktu,
tujuannya agar perempuanperempuan
busuk itu melakukan persiapan.”
“Menurut pendapat Lotoako, apa yang sedang mereka
persiapkan?”
“Jangan pedulikan cara apa yang akan mereka gunakan,
pokoknya ingat saja, bila sampai
terjadi sesuatu, aku yang menghadapi serangan luar dan
kauhadapi musuh dari dalam.”
Leng-hong mengangguk dan tertawa.
Tentu saja ia mengerti apa yang dimaksudkan “musuh dari
dalam”, tanpa terasa ia berjalan
menghampiri Hui Beng-cu.
Waktu itu Hui Beng-cu sedang membuat api unggun di tepi
sebuah batu karang, karena hari
mulai gelap dan terpaksa harus menginap di udara terbuka,
mereka harus membuat api untuk
mengusir ular dan sebangsanya.
Perempuan Ainu itu duduk bersila di depan mulut gua dan
memejamkan mata, menundukkan
kepala seperti mengantuk.
Api unggun baru saja dibuat, Hui Beng-cu sedang mengebaskan
lengan bajunya untuk
membuyarkan asap tebal.
124
Ho Leng-hong menghampirinya, sambil tertawa ia menyapa,
“Nona Hui, merepotkan dirimu
saja, nona keluarga kenaman harus melakukan pekerjaan kasar
seperti ini.”
“Mengapa kau berkata begitu? Membuat api dan memasak air
adalah pekerjaan kaum wanita.
Silakan duduk, Nyo-toako.”
Setelah duduk di tepi api unggun, kembali Leng-hong berkata,
“Selama di Hiang-in-hu,
apakah kau juga melakukan pekerjaan rumah tangga?”
“Meskipun tak pernah kulakukan secara resmi, tapi belajar
sih pernah, ayahku selalu menaruh
perhatian khusus terhadap kepandaian puteri.”
“Pantas kepandaian nona membuat api unggun dan memotong kayu
bakar sudah
berpengalaman, bukan seperti orang yang melakukan untuk
pertama kali.”
Tiba-tiba Hui Beng-cu berkerut dahi, lalu berkata dengan
lirih, “Nyo-toako, ada beberapa
persoalan sebetulnya ingin kubicarakan denganmu, sayang
selama ini tak ada kesempatan,
cuma setelah kuucapkan nanti harap kau jangan marah.”
“Ah, masa marah? Bila ada persoalan katakan saja terus
terang,” jawab Leng-hong sambil
tertawa.
“Aku merasa, sejak kedatanganku di Thian-po-hu, agaknya
Nyo-toako tidak menyukai diriku,
benar tidak?”
“Hei, kenapa kau mempunyai pikiran seaneh itu?!”
Hui Beng-cu tertawa getir, katanya lagi, “Misalkan saja pada
hari pertama aku tiba di Thianpo-
hu, kau telah mencurigai diriku gadungan.”
“Jangan berpikir yang bukan-bukan nona, maklumlah, terpaksa
aku harus hati-hati, sebab
belum lama berselang Ci-moay-hwe baru saja mengacau di
Thian-po-hu, jadi mau-tak-mau
aku harus waspada.”
“Nyo-toako, aku tidak berpikir yang bukan-bukan, lebih-lebih
tidak menyalahkanmu, aku
dapat memakluminya, bahkan enso pun telah dipalsukan oleh
Ci-moay-hwe sehingga Nyotoako
tertipu sekian lama, tak heran rasa bencimu terhadap
Ci-moay-hwe telah merasuk
tulang, tapi akupun sama-sama menderita akibat ulah mereka,
Nyo-toako, tak boleh lantaran
perbuatan Ci-moay-hwe maka seluruh perempuan yang ada di
dunia kaubenci semua!”
“Soal ini . . . “ Leng-hong jadi gelagapan.
Hui Beng-cu kembali berkata, “Nyo-toako, kau mencurigaiku
sebagai mata-mata dari Cimoay-
hwe, hal ini adalah urusanmu sendiri dan aku tidak
menyalahkanmu, tapi aku harap
sebelum ada faktanya jangan kauambil kesimpulan sendiri,
apalagi dalam peristiwa di rumah
penginapan Hong-an, tidak semestinya kau menuduh aku
bersandiwara untuk menipumu, atau
paling sedikit kau harus menunggu setibanya di markas besar
Ci-moay-hwe atau setelah tiba
di Hiang-in-hu dan menyelidiki duduk perkara yang sebenarnya
baru menarik kesimpulankesimpulan,
terus terang kukatakan bahwa sikapmu itu sangat menyedihkan
hatiku,
membuatku penasaran.”
Makin bicara makin emosi, akhirnya sambil mendekap wajahnya
ia menangis tersedu-sedu.
Leng-hong tidak menyangka semua pembicaraannya dengan Pang
Goan telah didengar
olehnya, lebih-lebih tidak menyangka bakal ditegur secara
terus terang, untuk sesaat pemuda
itu menjadi gelagapan dan tak tahu bagaimana mesti menjawab.
Setelah tertegun sekian lama, akhirnya ia berkata, “Nona
Hui, ucapanmu memang benar,
mungkin rasa benciku terhadap Ci-moay-hwe sudah terlampau
mendalam sehingga
prasangkaku lebih besar dan mengakibatkan terjadinya
kesalahpahaman ini, kuharap kau
memahami bahwa aku tidak bermaksud jahat, seandainya aku
pernah melakukan kesalahan
atau menyinggung perasaanmu, kuharap kau bersedia
memaafkan.”
Hui Beng-cu menggeleng kepala berulang kali, sambil terisak
katanya, “Tidak, Nyo-toako,
aku tidak bermaksud menyalahkan dirimu! Aku hanya... hanya
merasa sangat sedih, aku tak
menyangka maksudku mohon bantuan pada Thian-po-hu akan
berakibat begini . . . .”
125
“Sudahlah, jangan bersedih hati, apa yang terjadi hanya
suatu kesalah-pahaman kecil,
peristiwa ini tak akan mempengaruhi hubungan persahabatan
antar Bu-lim-sam-hu, kita masih
tetap sesama saudara sendiri, nanti kalau markas besar
Ci-moay-hwe telah ditemukan dan
siapa pemimpinnya berhasil kita ketahui, aku pasti akan
menemanimu pergi ke Hiang-in-hu,
aku pasti akan membantumu untuk menghadapi komplotan
penjahat yang telah menguasai
ayahmu itu.”
“Sungguh?” Hui Beng-cu mendongakkan kepalanya, “Nyo-toako,
kau benar-benar mau
menemaniku pergi ke Leng-lam? Kau masih bersedia
menganggapku sebagai adikmu?”
“Tentu saja sungguh, kita mempunyai musuh yang sama dan
penderitaan yang sama pula,
bukankah begitu?”
Hui Beng-cu tertawa, katanya, “Nyo-toako, kau tidak
membohongiku bukan?”
“Persoalan ini adalah masalah serius, buat apa aku
membohongimu?” Leng-hong ikut tertawa.
“Kalau begitu legalah hatiku, terus terang kukatakan,
semenjak bertemu denganmu untuk
pertama kalinya, aku telah menyukaimu, aku tak punya kakak
atau adik, selanjutnya aku akan
menganggapmu sebagai kakakku sendiri, Nyo-toako kau bersedia
bukan?”
“Ya, bersedia,” Leng-hong segera mengalihkan pembicaraan ke
soal lain, “Sekarang tanyakan
kepada perempuan asing itu, kapan kita baru akan sampai di
markas besar Ci-moay-hwe?”
“Sudah kutanyakan kepadanya, bila sepanjang jalan tiada
rintangan, besok malam kita akan
tiba di tempat tujuan.”
“Apakah kau tidak berusaha mencari kabar tentang keadaan
markas besar Ci-moay-hwe?”
“Sudah kutanyakan, tapi ia tak mau menjawab, ia hanya bilang
keadaan di sekitar tempat itu
sangat curam dan berbahaya, di situlah berdiri istana
Ci-moay-kiong, sebuah istana yang
megah dan mewah, katanya penghuni istana itu seluruhnya
adalah perempuan, lagipula ilmu
silat mereka rata-rata sangat tinggi.”
Sambil mendengarkan keterangan itu Leng-hong
mengangguk-angguk seakan-akan
mendengarkan secara serius, tapi seperti juga sangat kecewa,
gumamnya, “Kalau begitu,
besok kita akan berhasil membongkar rahasia yang menyelimuti
Ci-moay-hwe? Kenapa
sampai saat ini keadaan masih tetap tenang-tenang saja?”
“Betul, akupun merasa heran,” kata Beng-cu, “semestinya
semakin mendekati sarang Cimoay-
hwe, semakin banyak gangguan atau pengadangan akan terjadi.”
Leng-hong tertawa, bisiknya, “Siapa tahu kalau malam nanti
bakal ada gerakan? Kau harus
hati-hati.”
Setelah melirik sekejap ke arah perempuan negeri seberang
itu, dia lantas bangkit dan
meninggalkan api unggun.
Perempuan Ainu itu masih duduk bersila tanpa bergerak,
seolah-olah sudah tertidur, ketika
Leng-hong berlalu, tiba-tiba ia bangkit dan putar badan
masuk ke dalam gua di belakangnya.
Tempat itu merupakan sebuah tebing yang menonjol keluar di
kaki gunung, di sekeliling sana
terdapat enam-tujuh buah gua yang tidak sama dalamnya,
sedangkan yang cetek hanya muat
satu badan, di depan sana ada sebuah sungai, pemandangan
indah, suatu tempat berkemah
yang baik.
Setelah kenyang mengisi perut, keempat orang itu
masing-masing lantas mencari sebuah gua
untuk beristirahat.
Agar lebih leluasa mengontrol perempuan Ainu itu, Hui
Beng-cu mencari sebuah gua yang
agak dalam dan tinggal bersamanya, ia menyuruh perempuan itu
tidur di dalam gua,
sementara ia sendiri di mulut gua.
Pang Goan dan Leng-hong berjaga secara bergilir, mereka
mendiami dua buah gua yang agak
cetek di kiri kanannya.
Api unggun terletak persis di muka gua yang ditempati Hui
Beng-cu, seandainya ada orang
mendekati tebing tersebut, kebanyakan mereka akan
memperhatikan gua di bagian tengah
daripada kedua gua yang terletak di sisinya.
126
Secara kebetulan sekali, baru saja mereka beristirahat,
tiba-tiba kedengaran suara langkah
kaki manusia ramai.
Pang Goan paling dulu mendengar suara langkah manusia itu,
tapi ia hanya membetulkan
letak senjatanya tanpa bergerak dari tempatnya.
Leng-hong coba melongok dan melirik sekejap ke arah gua
sebelah tengah, ia tidak tampak
Hui Beng-cu, mungkin gadis itu pun mendengar suar tersebut
dan mengundurkan diri ke
dalam gua.
Maka Leng-hong pun diam saja.
Yang datang berjumlah empat orang, seorang pendeta dan tiga
orang preman, pakaian mereka
compang-camping, kepala tertunduk rendah dengan langkah
sempoyongan, agaknya mereka
sama terluka.
Leng-hong duduk di dalam gua dan tak sempat melihat jelas
raut wajah keempat orang itu,
tapi ia merasa di antara keempat orang itu paling sedikit
ada seorang yang sudah dikenalinya.
Orang pertama adalah seorang Hwesio berusia lima puluhan,
jubahnya terkoyak-koyak dan
berpelepotan darah, di belakangnya mengikut tiga orang
laki-laki preman setengah umur,
tubuh merekapun babak-belur.
Dengan terhuyung-huyung keempat orang itu mendekati api
unggun, rupanya mereka sudah
kehabisan tenaga, mendadak mereka roboh terkapar di tanah
dan tidak berkutik lagi.
Tergetar perasaan Leng-hong, baru saja dia hendak berdiri .
. . . .
“Tunggu sebentar!” seru Pang Goan dengan suara tertahan,
“kendalikan emosimu, keempat
orang itu sudah tewas, jangan pedulikan mereka, hati-hati
dengan musuh tangguh yang
bersembunyi di tempat gelap!”
Terpaksa Leng-hong tarik napas panjang dan menekan gejolak
emosinya.
Tapi setelah ditunggu sekian lama, belum kedengaran juga
suara yang lain, bahkan tidak
nampak sesosok bayangan pun yang muncul di situ.
Sementara itu keempat sosok mayat tadi terkapar di dekat api
unggun, jelas mereka sudah
putus nyawa karena tubuh kaku dan tak berkutik lagi.
“Lotoako, kaulihat benda di atas dada mereka?...” bisik Ho
Leng-hong dengan suara parau.
“Sudah! Jangan bergerak dulu, biar kuperiksa daerah
sekeliling tempat ini!”
Begitu selesai berkata, bagaikan seekor monyet, dengan gesit
Pang Goan melayang keluar
gua.
Tidak lama kemudian ia muncul kembali dengan wajah serius,
sambil menggapai katanya,
“Keluarlah Beng-cu! Tutuk dulu jalan darah perempuan asing
itu, jangan sampai dia sempat
melarikan diri.”
Leng-hong dan Beng-cu sama muncul dari gua, setelah
memeriksa keempat sosok mayat di
tepi api unggun itu, perasaan semua orang sama tertekan.
Sebelum tiba di dekat api unggun jelas keempat orang itu,
seorang pendeta dan tiga orang
preman, telah terluka parah, bahkan kedatangan mereka ke
sana menjelang ajalnya pun bukan
atas keinginan mereka sendiri.
Sebab tangan mereka berempat sama diikat oleh seutas tali
panjang, lagi pula dada masingmasing
tergantung sebuah lencana kayu yang berukirkan sebuah huruf
besar berwarna merah
darah.
Dibaca menurut urutannya dari pendeta itu, maka tersusunlah
empat kata yang berbunyi,
“Jip”, “Kok”, “Cia” dan “Si” yang artinya, “Barang siapa
masuk ke dalam lembah, mati!”
Meskipun sekujur badan keempat orang itu penuh dengan luka,
tapi luka yang mengakibatkan
kematian mereka adalah sama, yakni dada kiri ditembus ujung
golok hingga tembus ke hulu
hati, sekalipun malaikat dewata juga tak bisa menyelamatkan
jiwa mereka.
Tusukan menembus hati itu bukan saja dilakukan dengan sangat
jitu, besar-kecilnya luka dan
dalam cetaknya luka ternyata persis sama satu dengan
lainnya.
Pang Goan geleng kepala berulang kali dan berkata, “Sungguh
ilmu golok yang amat keji!”
127
“Betul!” Leng-hong menanggapi, “kesempurnaan ilmu golok
pembunuh itu tampaknya tidak
berada di bawah ilmu golok Thian-po-hu maupun Hiang-in-hu.”
“Jit-long, kenalkah kau pada keempat orang ini?” tanya Pang
Goan kemudian.
“Aku hanya kenal lelaki nomor dua yang mengenakan baju hijau
itu, sedang sang pendeta ini
kemungkinan besar adalah Hwesio dari Siau-lim-si.”
“Oya? Lantas siapakah laki-laki itu?”
“Thian Pek-tat!”
“Thian si telinga panjang?” ulang Pang Goan dengan air muka
berubah hebat.
“Memang dia inilah orangnya, bukankah Lotoako pernah bilang
secara tiba-tiba dia diajak
temannya meninggalkan rumah dan menuju ke Lan-hong? Bisa
jadi kedua orang ini adalah
sahabatnya yang mengajaknya pergi, kemungkinan besar
kepergian mereka ke Lan-hong
adalah untuk mengunjungi Siau-lim-si . . . cuma, kenapa
mereka bisa mati di sini?”
“Kalau begitu, kecurigaanmu padanya sebagai mata-mata
Ci-moay-hwe jelas keliru besar,”
kata Pang Goan dengan kening berkerut.
“Baik dalam tindak tanduknya maupun dalam pembicaraannya,
Thian Pek-tat merupakan
seorang yang patut dicurigai, maka menurut dugaanku jika ia
bukan mata-mata Ci-moay-hwe,
jelas dia orang suruhan dari kelompok organisasi misterius
lainnya, kalau tidak, tak mungkin
tanpa sebab musabab ia mendatangi pegunungan Tay-pa-san
ini.”
“Lantas siapa pula kelompok manusia yang misterius itu?”
“Tentang ini tak berani kukatakan secara gegabah, Cuma
selalu kurasakan sejak tercurinya
Yan-ci-po-to seakan-akan terdapat sekelompok manusia yang
diam-diam memusuhi pihak Cimoay-
hwe, mungkin saja merekapun mengincar golok mestika
tersebut, dan mungkin juga
mempunyai tujuan tertentu, tapi kawankah atau musuhkan?
Sukar untuk dikatakan dengan
begitu saja, sayang Thian Pek-tat telah mati, kalau tidak,
mungkin dari mulutnya akan
diperoleh sedikit titik terang.”
Pang Goan termenung sebentar, lalu berkata, “Kalau demikian,
suasananya makin lama
berkembang makin kacau, kecuali Ci-moay-hwe, siapa lagi yang
berhasrat mendapatkan
golok mestika Yan-ci-po-to?”
“Lotoako, masih ingatkah kau Yan-ci-po-to telah dirampas
oleh seorang berkerudung yang
tinggi besar? Hakikatnya Samkongcu dari Ci-moay-hwe tidak
berhasil mendapatkan golok
mestika tersebut.”
Tergerak juga hati Pang Goan, katanya, “Benar, waktu itu aku
mengira pihak Ci-moay-hwe
berbohong, bila kita bayangkan kembali sekarang rasanya
memang ada beberapa bagian yang
bisa dipercaya . . . . .”
Sementara mereka membicarakan kejadian yang berlangsung di
Thian-po-hu tempo hari, Hui
Beng-cu menjadi tidak sabar, selanya, “Hei, apa yang kalian
bicarakan? Sepatah katapun tidak
kupahami. Sekarang lebih baik kita rundingkan dulu apa yang
mesti dilakukan dengan
keempat sosok mayat ini.”
“Gali saja sebuah liang dan kita kubur mereka.....” usul
Pang Goan.
“Tidak, tak boleh dikubur!” mendadak seseorang menganggapi,
bersamaan itu dari atas tebing
melayang turun sesosok manusia.
Baik Pang Goan maupun Ho Leng-hong, kedua-duanya tidak
menyangka di atas tebing telah
bersembunyi seseorang, serentak mereka lolos golok dan
pedang.
“Jangan menggerakkan senjata,” kembali orang itu berkata,
“kedatanganku orang tua ini
hanya bermaksud menasihati kalian saja, mau turut atau tidak
terserah kepada kalian sendiri,
dan tak perlu bersitegang macam begini.”
Orang yang mengaku sebagai orang tua itu memang telah lanjut
usia, wajahnya penuh keriput,
rambut dan jenggotnya telah memutih, badannya agak
membungkuk, meskipun belum
mencapai sembilan puluh, paling sedikit juga melampaui
delapan puluh.
128
Meski begitu, tongkat baja sebesar telur itik yang berada
dalam genggamannya itu memiliki
bobot yang hampir sebanding dengan usianya, kalau tidak
mencapai sembilan puluh kati,
delapan puluh pasti ada.
Dengan usianya yang tua namun sanggup membawa tongkat
seberat itu, dari sini saja dapat
diketahui bahwa orang tua ini memang bukan orang
sembarangan.
Pang Goan bukan orang bodoh, golok dan pedangnya tidak
digunakan untuk menyerang, tapi
disilangkan untuk melindungi badan, lalu tegurnya dengan
suara berat, “Siapa kau?”
“Aku adalah orang di luar garis, bila kalian suka panggil
saja aku orang di luar garis.”
“Kalau begitu, kau tak ada hubungan apa-apa dengan
Ci-moay-hwe?” sela Ho Leng-hong.
Kakek itu tertawa, “Dengan sebutan orang di luar garis,
berarti aku tak ada hubungan apa-apa
dengan pihak manapun.”
“Lantas dengan maksud apa kau bersembunyi di puncak tebing
itu?” tegur Pang Goan.
“Pang-lote, jangan berkata begitu!” ujar kakek itu sambil
menarik senyumnya, “tebing ini
bukan milik Cian-sui-hu, kalian boleh datang kemari kenapa
aku tak boleh datang? Lagipula
aku datang lebih awal daripada kalian, semenjak tadi aku
sudah berdiam di atas tebing itu,
adalah kalian yang tidak melihat jejakku, masa kini
menyalahkan aku si kakek mengintip
kalian?”
“Kalau begitu, anggap saja ketajaman pendengaran kamilah
yang kurang . . . .” kata Lenghong
kemudian, “tapi, bolehkah kutahu mengapa kau melarang kami
mengubur mayat-mayat
ini?”
“Untuk mengetahui alasannya, maka lebih dulu ingin kutanya,
jauh-jauh kalian datang ke
tempat sepi semacam ini, sesungguhnya apa tujuan kalian?”
“Kami sedang mencari suatu tempat!”
“Apakah alamat markas besar Ci-moay-hwe yang sedang kalian
cari?”
“Benar!”
“Aku ingin bertanya lagi, tahukah kalian siapakah yang
membunuh keempat orang ini?”
“Tentu saja orang-orang Ci-moay-hwe!”
“Mengapa pihak Ci-moay-hwe membunuh mereka?”
“Jelas sekali, mereka sengaja pamerkan kekuatan agar kami
tak berani melanjutkan
perjalanan.”
“Apakah kau kira markas besar Ci-moay-hwe terletak di atas
bukit di sebelah depan sana?”
tanya kakek itu lagi.
“Betul,” jawab Leng-hong.
Ditatapnya pemuda itu dengan tersenyum, lalu kata si kakek,
“Tak kunyana, kau benar-benar
pintar!”
“Tak berani kuterima pujianmu . . . . .” Leng-hong memberi
hormat.
Tiba-tiba kakek itu menarik muka sambil meludah ke tanah,
“Pintar?” ejeknya, “Cis! Pintar
kentut, Hei, anak muda, kau anggap dirimu sangat pintar?
Padahal gobloknya melebihi
kerbau.”
Leng-hong melenggong, “Orang tua, kau . . . . .”
“Hmm, aku sudah cukup sungkan padamu, coba kalau tidak
sungkan, ingin sekali kuhadiahi
beberapa tempelengan untukmu. Apakah tidak kau bayangkan,
setelah Ci-moay-hwe dapat
masuk keluar dengan seenaknya sendiri di Bu-lim-sam-hu
bagaikan di rumah sendiri, apakah
mereka mau mendirikan markas besarnya di tengah bukit liar
semacam ini?”
Sekalipun sedang didamprat, namun Leng-hong cuma diam saja,
sebab ia merasa perkataan
itu memang benar.
Terdengar kakek itu berkata lebih jauh, “Lagipula,
seandainya mereka tak ingin kedatangan
kalian, banyak kesempatan bagi mereka untuk turun tangan di
sepanjang jalan, kenapa harus
pamer kekuatan pada saat seperti ini? Jikalau keempat orang
itupun bisa mereka bunuh,
mengapa mereka tidak dapat membunuh kalian pula? Apa gunanya
membuka celana untuk
129
kentut, melakukan tindakan berlebihan? Memangnya kalian
bertiga lebih hebat daripada
mereka berempat?”
“Jadi maksud orang tua, kedatangan kami memang telah diatur
oleh Ci-moay-hwe secara
diam-diam?”
“Kalau tidak, apakah kalian bisa sampai di sini dengan
lancar?”
“Kalau begitu, mereka sengaja mengatur jebakan agar kami
masuk perangkap?”
Tersungging juga senyuman pada wajah kakek itu, “O, rupanya
kau memang tidak terlalu
goblok, akhirnya keluar juga sepatah kata cerdik.”
“Lalu, siapakah yang membunuh keempat orang itu? Jebakan
apakah yang mereka siapkan di
atas bukit?” tanya Leng-hong lagi.
Kakek itu menggeleng kepala berulang kali, “Baru saja
kukatakan kaupintar, kenapa menjadi
bodoh lagi? Terus terang kuberitahukan padamu, inilah siasat
Cioh-to-sat-jin (pinjam golok
membunuh orang) dari Ci-moay-hwe, mengerti?”
“Aku belum mengerti!”
“Sialan, terpaksa harus kuterangkan lebih terperinci
padamu,” keluh kakek itu sambil
menghela napas, “ketahuilah, pihak Ci-moay-hwe sengaja
mengirim anak domba ke mulut
harimau, kalian di pancing ke sebuah lembah yang mengerikan,
meskipun tempat itu tiada
jebakan yang berbahaya, tapi hanya bisa datang dan jangan
harap akan keluar lagi, sebab
barang siapa telah masuk ke dalam lembah itu, selamanya tak
mungkin keluar lagi dalam
keadaan hidup . . . .”
“Apakah kau maksudkan lembah Mi-kok?”
Tiba-tiba air muka kakek itu berubah, “Sudah terlalu jelas
keteranganku tadi, apapun nama
tempat itu, pokoknya lebih baik jangan di datangi, aku hanya
orang di luar garis, sampai di
sini saja apa yang bisa kukatakan, mau percaya atau tidak
terserah kepada kalian sendiri.”
Dia lantas mengangkat tongkatnya dan siap meninggalkan
tempat itu.
“Tunggu sebentar!” seru Pang Goan tiba-tiba sambil mengadang
jalan perginya.
Sambil tertawa dingin kakek itu menghentikan langkahnya,
“Pang-lote, apakah masih ada
urusan lain?”
“Aku ingin tanya satu hal, sebagai orang di luar garis,
kenapa begitu banyak persoalan tentang
Ci-moay-hwe yang kauketahui? Darimana pula kau tahu bahwa
setiap orang yang masuk ke
lembah Mi-kok tiada harapan lagi untuk keluar dalam keadaan
hidup?”
“Pang-lote,” kata kakek itu sambil menarik napas panjang,
“aku bermaksud baik, jangan kau
anggap aku bermaksud jahat.”
“Kalau betul bermaksud baik, kenapa tidak berani sebutkan
namamu?”
“Apa gunanya memaksa orang melakukan hal yang tidak
diinginkannya?” kata kakek itu lagi
sambil tertawa.
“Oleh karena kau orang di luar garis yang terlalu banyak
mencampuri urusan ini.”
“Jika aku tak bersedia menyebutkan namaku?”
“Terpaksa akan kuselidiki asal-usulnya dari ilmu silatmu?”
“Hahaha . . . kau hendak bertarung denganku?” seru si kakek
sambil tertawa terbahak-bahak.
“Betul, silakan!”
Dengan golok di tangan kiri dan pedang di tangan kanan, Pang
Goan segera menunjukkan
gaya pembukaan ilmu To-kiam-hap-ping-tin.
Ho Leng-hong kuatir mereka benar-benar berkelahi, segera
teriaknya, “Pang-toako, bolehkah
aku mengajukan beberapa pertanyaan dulu kepada orang tua
ini?”
“Baik, tanyalah lebih dulu!”
Leng-hong memberi hormat kepada kakek itu, lalu katanya,
“Aku percaya kau orang tua
benar-benar bermaksud baik, tapi ucapanmu baru sampai di
tengah jalan, kenapa lantas buruburu
mau pergi?”
130
“Apa yang bisa kukatakan telah kuutarakan, urusan apa yang
kaumaksudkan cuma setengah
jalan?”
“Tadi kami hendak mengubur keempat sosok jenazah ini, tapi
dialangi olehmu, sampai
sekarang belum kaujelaskan kepada kami kenapa jenazah mereka
tak boleh dikubur.”
“O, rupanya persoalan ini yang kau tanyakan,” kata si kakek
sambil tertawa, “Baiklah! Akan
kuterangkan padamu, keempat sosok mayat dan lencana kayu di
tubuh mayat tersebut
merupakan sebagian dari siasat Ciok-to-sat-jin dari
Ci-moay-hwe. Jika kalian mau menurut
anjuranku, maka cepatlah bakar mayat itu dengan api,
kemudian tinggalkan Tay-pa-san, kalau
tidak, maka tak lama bakal ada bencana besar yang akan
menimpa kalian.”
“Kenapa mayat-mayat itu mesti dibakar dengan api . . . .”
tanya Leng-hong dengan
tercengang.
“Ah, terlalu banyak yang kautanya!” tukas kakek itu marah,
tongkatnya segera diketukkan ke
tanah dan tubuhnya melayang pergi meninggalkan tempat itu.
“Jangan pergi dulu! Sambut seranganku ini.” Bentak Pang
Goan.
Tampak cahaya tajam berkilau, golok di tangan kiri dan
pedang di tangan kanannya segera
menyerang bersama.
Waktu itu kedua kaki si kakek sudah meninggalkan permukaan
tanah, tiba-tiba ia tertawa
dingin, “Jurus serangan bagus!”
Bayangan tongkat berkelebat membelah angkasa, di antara
getaran ujung tongkat terciptalah
selapis cahaya hitam.
Ketika serangan golok dan pedang Pang Goan membentur cahaya
hitam tersebut . . . . .
“Trang!” golok dan pedang terpental kembali.
Untung Pang Goan tidak menggunakan segenap tenaganya dalam
serangan tersebut, ia
tergetar mundur dua langkah dengan sempoyongan, tangannya
terasa panas dan sakit, hampir
saja senjatanya terlepas dari genggaman.
Kakek itu sama sekali tidak menghentikan gerak tubuhnya,
sekali berjumpalitan ia sudah
melayang ke atas tebing dan lenyap dibalik batu itu.
“Toako terluka tidak?” tanya Leng-hong cepat.
Pang Goan menggeleng kepala dengan wajah terkejut katanya,
“Betapa sempurnanya tenaga
dalam kakek itu, hidup sampai setua ini baru sekali ini aku
benar-benar menjumpai seorang
jago tangguh.”
“Sudah Toako tahu asal-usulnya?”
Kembali Pang Goan menggeleng, “Tidak berhasil kuketahui,
tenaga dalam orang ini jauh di
atasku, belum pernah kudengar dalam dunia persilatan
terdapat seorang jago setangguh ini.”
Padahal Pang Goan adalah seorang tinggi hati dan tak pernah
tunduk kepada orang lain, tapi
sekarang ia mengucapkan kata-kata semacam itu, dapat
diketahui bahwa perasaannya betulbetul
tergetar keras.
“Untung ia menyebut dirinya sebagai orang di luar garis,
jadi tidak bermusuhan dengan kita,
kalau tidak, sungguh seorang musuh tangguh.”
Hui Beng-cu yang membungkam terus sejak tadi tiba-tiba
berkata sambil tertawa, “Menurut
pendapatku, usianya sudah terlalu lanjut, senjatanya juga
kelewat berat, andaikata benar-benar
terjadi pertarungan, belum tentu dia bisa menandingi
kelihayan Pang-toako.”
“Kau tak perlu bantu menutupi maluku,” kata Pang Goan sambil
tertawa getir, “di atas langit
masih ada langit, di atas manusia pintar masih ada yang
lebih pintar, dunia persilatan penuh
dengan orang kosen yang tak terhitung banyaknya, tenaga
dalam tak dapat menandingi
bukanlah sesuatu yang memalukan, tak berani mengaku kalah
barulah suatu kejadian yang
memalukan.”
Merah wajah Hui Beng-cu karena jengah, katanya sambil
tertawa, “Maksudku jurus pedang
Pang-toako belum tentu kalah dengannya, misalnya saja kalau
ia tidak cepat-cepat pergi, bila
131
Pang-toako telah mengembangkan ilmu To-kiam-hap-ping-tin,
siapa yang bakal menang atau
kalah masih sukar diramalkan.”
“Sekarang tak usah membicarakan soal semacam itu,” kata
Leng-hong, “yang mesti kita
rundingkan sekarang adalah apakah kita harus mengikuti
anjurannya atau tidak?”
Pang Goan berkerut kening, untuk sesaat ia tak berkata
apa-apa.
“Aku pikir anjurannya tak perlu digubris,” kata Beng-cu,
“bahkan siapakah dia saja tidak kita
ketahui, dengan dasar apa kita harus menuruti perkataannya?”
“Tapi, apa yang dikatakannya ada benarnya juga, andaikata
hal ini benar-benar merupakan
rencana busuk Ci-moay-hwe, mau-tak-mau kita harus waspada
dan mencegahnya.”
“Bagaimanapun besok kita akan tiba di tempat tujuan, sampai
waktunya bukankah semua
persoalan akan tersingkap dengan sendirinya? Jangan lantaran
Cuma sepatah katanya lantas
melepaskan semua usaha kita yang telah kita capai dengan
susah-payah.”
Leng-hong berpikir sejenak, kemudian berpaling, “Bagaimana
pendapatmu, Lotoako?”
Pang Goan menarik napas panjang, “Kukira ucapan kakek itu
tak mungkin tanpa alasan,
mungkin saja ia bermaksud baik, Cuma kita tak boleh
melepaskan usaha kita sampai setengah
jalan saja ....”
“Benar!” Beng-cu menyambung, “asal kita lebih berhati-hati,
sekalipun di depan sana ada
marabahaya juga tak perlu takut.”
Pang Goan tidak menanggapinya, katanya, “Menurut perkataan
orang tua itu, kemungkinan
besar lembah tersebut adalah Mi-kok seperti apa yang tersiar
dalam dunia persilatan selama
ini, andaikata betul, sekalipun harus menyerempet bahaya
tetap akan kita datangi tempat itu,
sedang mengenai keempat sosok mayat ini, kupikir memang ada
baiknya dibakar saja seperti
usulnya tadi.”
Tiba-tiba Leng-hong tertawa, katanya, “Siaute telah
mendapatkan suatu akal bagus, entah
Toako menyetujui atau tidak?”
“Coba katakan.”
“Kukira ucapan kakek itu dapat dipercaya, cuma keterangannya
tidak terperinci sehingga
bikin orang bingung, bagaimana kalau kita lakukan
percobaan?”
“Percobaan bagaimana?”
“Ia sarankan agar mayat ini dibakar, dikatakan pula keempat
sosok mayat dan lencana kayu
ini merupakan sebagian dari siasat Cioh-to-sat-jin (pinjam
golok membunuh orang) dari Cimoay-
hwe, aku rasa dibalik ucapan tersebut tentu ada
sebab-sebabnya, maka menurut
pendapatku untuk sementara waktu kita jangan melanjutkan
perjalanan dulu, mayat-mayat
inipun tak usah kita bakar, biarkan saja mayat dan lencana
kayu berada di tempat semula,
kemudian kita sembunyi dan menunggu satu hari, coba kita
lihat peristiwa apa yang akan
terjadi?”
“Bagus sekali!” sorak Beng-cu, “aku sangat setuju dengan
percobaan ini, toh terlambat satudua
hari juga tidak apa-apa.”
Pang Goan termenung sejenak sebelum menjawab, “Mungkin juga
bencana yang
dimaksudkan tak akan terjadi di sini, kalau begitu, bukankah
kita akan menunggu dengan siasia
di sini?”
“Meski demikian, hal tersebut sama sekali tidak mempengaruhi
rencana kita semula,
selewatnya besok kita masih bisa membakar mayat-mayat ini
dan melanjutkan perjalanan, apa
artinya tertunda sehari?”
“Baiklah,” kata Pang Goan kemudian sambil mengangguk, “kita
coba saja kalau begitu.”
“Aku akan coba mencari apakah di sekitar sini ada tempat
persembunyian yang baik?” kata
Beng-cu cepat.
“Tak usah dicari lagi, bukanlah di atas sana merupakan
tempat persembunyian yang baik?”
kata Leng-hong sambil menuding tonjolan tebing sebelah atas.
132
Tiga orang itu segera melompat ke puncak tebing itu, betul
juga, mereka temukan sebuah gua
di sana, mulut gua ciut, dan pendek, tapi perut gua itu
lebar dan dalam sekali, pada ujung lain
terdapat jalan tembus dan melingkar sampai sejauh puluhan
tombak lebih.
Gua itu benar-benar aman dan rahasia letaknya, tak aneh
kakek yang menyebut dirinya,
“orang luar garis” itu begitu mencapai puncak tebing ini
lantas lenyap.
Hui Beng-cu membawa juga perempuan Ainu itu ke atas tebing
dan meletakkannya di dalam
gua, sementara api unggun dan mayat dibiarkan tetap berada
di tempat semula.
Setelah segala sesuatunya selesai diatur, ketiga orang itu
lantas bertiarap di depan gua sambil
menantikan perubahan selanjutnya.
Malam itu lewat dengan aman tenteram, tiada peristiwa apapun
yang terjadi. Tak lama setelah
fajar menyingsing, ketiga orang itu mulai merasa letih.
“Secara bergilir kita mesti beristirahat dulu,” kata Pang
Goan, “kita harus simpan tenaga,
sebab kita akan menunggu sehari semalam lagi.”
Hui Beng-cu tampak menguap, katanya sambil tertawa, “Aku
memang merasa lelah, baiklah
aku tidur sebentar lebih dulu, bila ada apa-apa panggillah
aku!”
“Mumpung sekarang hari baru terang, bebaskan dulu jalan
darah perempuan asing itu agar
membuang hajat di belakang gua sana, sebab jalan darah yang
terlalu lama ditutuk bisa
mengakibatkan beku peredaran darahnya.”
Beng-cu mengiakan dan berbangkit, tapi tiba-tiba matanya
terbelalak lebar, sambil menuding
ke bawah tebing sana katanya, “Coba lihat, mayat itu....”
“Mengapa dengan mayat-mayat itu?” tanpa terasa Pang Goan dan
Leng-hong tanya bersama.
Waktu itu api unggun telah padam, tapi keempat sosok mayat
itu masih tergeletak di tepi api
unggun, sama sekali tiada suatu yang aneh.
Dengan suara kaget Hui Beng-cu berkata lebih jauh, “Ke . . .
. ke mana larinya lencana kayu
pada mayat itu? Ke . . . kenapa bisa lenyap semua . . .”
Pang Goan dan Leng-hong cepat-cepat mengalihkan pandangannya
ke bawah, segera
merekapun terperanjat.
Betul juga, keempat buah lencana kayu di tubuh mayat itu
betul-betul telah lenyap tak
berbekas.
“Lotoako, lindungi aku dari atas, bias aku turun ke bawah
untuk melakukan pemeriksaan!”
kata Leng-hong dengan suara tertahan.
“Jangan sembarangan bergerak,” cegah Pang Goan cemas,
“kejadian ini sangat mencurigakan,
mungkin sekali inilah yang dimaksudkan si kakek sebagai
rencana busuk itu!”
“Semalam jelas benda-benda itu masih ada,” kata Beng-cu,
“semalam suntuk kitapun tak
pernah memejamkan mata, mengapa lencana-lencana kayu itu
bisa lenyap dengan
sendirinya?”
Kenyataannya memang demikian, semalam suntuk mereka bertiga
mengawasi terus sekitar
tempat itu, “tiada embusan angin rumput tentu tak kan
bergoyang”, kenapa keempat buah
lencana kayu itu bisa lenyap secara tiba-tiba?”
Untuk sesaat mereka bertiga hanya saling pandang dengan
tercengang.
“Masa ada setan di sini?” gumam Hui Beng-cu, “kalian turun
saja ke bawah melakukan
pemeriksaan, aku akan melindungi kalian dari sini.”
Tentu saja Ho Leng-hong dan Pang Goan tidak percaya setan,
namun merekapun tak bisa
memecahkan teka-teki di sekitar lenyaplah keempat lencana
kayu itu, saking ingin tahunya,
serentak mereka melayang turun ke bawah.
Setelah mendekati tumpukan api unggun itu, Pang Goan berdua
jadi tertegun.
Empat sosok mayat itu masih tetap seperti semula, cuma
lencana kayu dan tali temali yang
meringkus tubuh telah lenyap tak berbekas, di bawah bekas
tali dan lencana kayu itu
133
ditemukan bubuk kayu yang amat tipis, abu itu sedang
menyebar ke mana-mana terembus
angin.
Ini menunjukkan bahwa lencana kayu itu bukan terbuat dari
kayu, tali juga bukan buatan
bahan rami melainkan terbuat dari sejenis bahan khusus yang
secara otomatis akan lenyap
dengan sendirinya setelah diembus angin semalam suntuk.
Tapi terbuat dari bahan apakah itu? Siapapun tak tahu.
Mengapa diatur siasat seperti ini. Sungguh memusingkan
kepala orang.
Tapi lenyapnya tali dan lencana kayu itu memang fakta.
Tiba-tiba Ho Leng-hong mendesis, “Ah, mengertilah aku
sekarang . . .”
“Kau mengerti apa?”
“Tak heran itu melarang kita mengubur jenazah ini, rupanya
inilah siasat Cioh-to-sat-jin dari
Ci-moay-hwe.”
“Siasat pinjam golok membunuh orang bagaimana maksudmu?”
“Bayangkan saja, andaikata pihak penghuni lembah sedang
mengadakan pencarian terhadap
keempat orang ini, dan semalam kita mengubur jenazah mereka,
bila hal ini sampai diketahui
mereka, bagaimanakah penjelasan kita terhadap peristiwa
itu?”
“Orang-orang itu bukan mati di tangan kita, tentu saja kita
menceritakan hal yang
sesungguhnya.”
“Dengan demikian, pihak lawat pasti akan menggali kubur
untuk memeriksa mayat-mayat
tersebut, dengan bukti di depan mata, maka keterangan kita
yang jujur akan berubah menjadi
kata-kata bohong, siapa yang percaya orang-orang ini bukan
mati di tangan kita?”
Pang Goan menarik napas dingin, gumamnya, “Benar juga,
tatkala mana kita benar-benar tak
akan mampu menyangkal, sungguh siasat mereka ini . . . .”
Belum habis ia berkata, tiba-tiba dari atas tebing terdengar
jeritan kaget, “Pang-toako, Nyotoako,
lekas kemari!”
Serentak Pang Goan dan Ho Leng-hong melompat ke atas tebing,
tapi Hui Beng-cu yang
berada di dalam gua kini tidak nampak lagi.
“Celaka, perempuan asing itu berhasil kabur,” seru Leng-hong
dengan gemas.
Buru-buru mereka mengejar ke dalam gua, ketika menyusul
sampai di ujung gua sana mereka
melihat Hui Beng-cu sedang berdiri termangu di depan gua
sambil memegang golok yang
memancarkan sinar kemilau.
“Di mana orangnya?” bentak Leng-hong.
“Aku . . . aku tidak tahu . . . .”
“Orang itu kan berada dalam gua, mengapa kau tidak tahu?”
“Aku betul-betul tidak tahu,” jawab Beng-cu dengan wajah
merah padam, “ketika aku berdiri
di atas tebing sambil mengawasi sekeliling tempat ini,
kudengar di dalam gua seperti ada
langkah manusia, waktu aku memburu kemari, perempuan asing
itu sudah lenyap, tapi di sini
aku menemukan sebilah golok.”
Pang Goan menerima golok itu, mendadak dengan air muka
berubah teriaknya tertahan, “Hah,
golok mestika Yan-ci-po-to?!”
Tak salah lagi, sarung golok terbuat dari kulit ular, gagang
pelindung terbuat dari emas dan
empat huruf mutiara tertata pada gagangnya, memang itulah
golok mestika Yan-ci-po-to.
Golok tersebut lenyap tercuri sewaktu berada di Thian-po-hu,
tapi kini di temukan kembali di
luar gua di atas bukit yang jauh dari keramaian manusia.
Jelas orang-orang Ci-moay-hwe yang telah menyelamatkan
perempuan Ainu tadi serta
meninggalkan Yan-ci-po-to di sini.
Kejadian ini membuat Pang Goan menjadi bingung dan tak habis
mengerti.
Ditatapnya Ho Leng-hong, tanyanya, “Sesungguhnya apa yang
telah terjadi?”
134
Dengan serius jawab Ho Leng-hong sepatah demi sepatah,
“Inilah senjata yang mendatangkan
bencana.”
“Apakah Thian Pek-tat berempat mati dibunuh dengan
Yan-ci-po-to?” tanya Pang Goan
terkejut.
“Benar. Sekarang persoalannya sudah jelas. Rupanya Thian
Pek-tat ada hubungan dengan
orang-orang dari lembah maut itu, setelah berhasil
memperoleh Yan-ci-po-to di Thian-po-hu,
bersama tiga orang lainnya mereka mengantar senjata ini ke
Tay-pa-san, siapa tahu mereka
dicegat oleh orang-orang Ci-moay-hwe, bukan saja golok
dirampas, Thian Pek-tat
berempatpun dibunuh, kemudian golok mestika dan mayat-mayat
mereka digunakan sebagai
alat untuk melimpahkan bencana buat orang lain.....”
Pang Goan segera paham, dengan gelisah katanya, “Kalau
begitu kita harus segera tinggalkan
tempat ini!”
“Terlambat,” kata Leng-hong sambil menggeleng, sorot matanya
beralih keluar gua.
Ketika Pang Goan mengikuti arah pandangannya, seketika
hatinya ikut tercekat.
Entah sejak kapan, di luar gua telah muncul tiga orang
perempuan dengan golok terhunus.
Ketiga orang perempuan itu semuanya mengenakan baju merah
dengan golok panjang yang
berbentuk sama, air muka mereka amat dingin, tanpa emosi.
Di antara ketiga orang itu, ada seorang yang berusia paling
tua, yaitu sekitar tiga puluh
tahunan, pada tepi gaun merahnya kelihatan sulaman benang
biru.
Dua orang yang lain berusia tujuh-delapan belas tahunan,
pada tepi gaun mereka bersulamkan
benang hitam.
Dari warna pakaian dan dandanan ketiga orang itu, tiba-tiba
Pang Goan teringat kembali pada
cerita mengenai lembah “Mi-kok” dan “Ang-ih Hui-nio”, tanpa
terasa hatinya bergolak keras .
. . .
“Lotoako, setelah tertipu, kita harus menghadapi segala
persoalan dengan tenang,” kata Lenghong
setengah berbisik, “lebih baik kita selidiki dulu apakah
mereka benar-benar orang Mikok
atau bukan.”
“Jangan kuatir, aku tahu,” jawab Pang Goan dengan tertawa.
Sementara berdua sedang bercakap-cakap, mendadak dari
belakang gua terdengar lagi suara
orang, tahu-tahu dua orang gadis berbaju merah yang bergolok
muncul di belakang mereka.
Dengan cepat Beng-cu lolos golok lengkungnya lalu bertanya,
“Kita sudah terkepung, apa
daya sekarang?”
Pang Goan memandang sekejap ke muka dan ke belakang, lalu
hiburnya, “Jangan takut,
tampaknya perempuan baju merah bersulam benang biru itu
adalah komandan mereka, mari
kita turun untuk berbicara dengannya.”
Ketika mereka bertiga melompat ke bawah, dua gadis bergaun
merah dengan sulaman benang
hitam yang ada di luar gua itu serentak mengangkat goloknya,
sedang dua orang yang berada
dalam gua juga melolos senjata sambil ikut melompat ke
bawah, dengan cepat mereka
membentuk posisi mengepung terhadap ketiga lawannya.
Hanya perempuan setengah umur bersulam benang biru yang
tetap tak bergerak, ditatapnya
ketiga orang itu dengan sorot mata dingin, kemudian
bertanya, “Siapakah kalian? Datang
darimana? Dan mau ke mana?”
Sambil tertawa Pang Goan segera memberi hormat, “Enso,
bolehkah aku bertanya lebih dulu,
apakah kalian adalah murid Ang-ih Hui-nio?”
“Kalian juga tahu tentang Ang-ih Hui-nio?” seru nyonya muda
itu dengan air muka berubah.
“Dulu kami cuma mendengar ceritanya saja dan tidak tahu
benarkah lembah Mi-kok itu ada
atau tidak, tapi setelah melihat keadaan sekarang ini, kami
baru percaya bahwa cerita tersebut
memang benar.”
Nyonya muda itu mengerdip mata beberapa kali, tiba-tiba
memberi tanda sambil
memerintahkan, “Gusur mereka pulang!”
135
Keempat anak dara tadi segera mengiakan, serentak mereka
maju mengepung.
“Tunggu sebentar!” seru Pang Goan, “antara kami dengan
kalian hakikatnya ‘air sungai tidak
menggenangi air sumur’, bertemu pun baru pertama kali,
dengan alasan apa kalian hendak
membawa kami pergi?”
“Tak usah banyak bicara,” bentak nyonya muda itu, “katakan
saja, kalian mau lepaskan
senjata dan ikut kami pergi ataukah hendak menunggu kami
bertindak dengan kekerasan?”
“Wah, kalau begitu, tak mau pergi pun tak bisa?” kata Pang
Goan sambil tertawa.
“Boleh saja, kecuali kalian bisa menangkan permainan golokku
ini.”
“Sudah lama kudengar kehebatan ilmu golok aliran Mi-kok,”
kata Pang Goan sambil tertawa,
“betapa senangku jika diberi kesempatan untuk mencobanya!”
Nyonya muda itu maju dua langkah sambil meraba gagang
goloknya, “Silakan turun tangan!”
Tiba-tiba Ho Leng-hong maju ke depan dan mengadang di
hadapannya, lalu berbisik lirih,
“Lotoako, biarlah Siaute coba dulu kelihayannya.”
Pedang di tangan kirinya disimpan kembali, kemudian golok
Yan-ci-po-to pelahan diangkat
ke udara.
Rupanya nyonya muda itu cukup mengetahui nilai barang,
dengan dahi berkerut katanya,
“Apa kedudukanmu di Thian-po-hu di kota Kiu-ki-shia?”
“Nama tidak terlalu penting, silakan nona memberi petunjuk!”
sahut Leng-hong.
“Baik!” kata nyonya muda itu sambil tertawa dingin, “Kalau
kau memang tak tahu diri, akan
kusuruh kau rasakan betapa lihaynya Ang-sui-to-hoat (rahasia
golok baju merah).”
Segera dia lolos golok panjang dari sarungnya.
“Mengapa nona tidak turun tangan lebih dulu?” tanya
Leng-hong.
“Antara tamu dan tuan rumah ada bedanya, kupersilakan kau
turun tangan dulu!”
Meskipun Leng-hong tahu ilmu golok dari lembah Mi-kok justru
merupakan tandingan dari
Nyo-keh-sin-to, namun sambil tersenyum katanya pula, “Tamu
yang sopan harus
menghormati tuan rumah, lagipula golokku ini adalah golok
mestika, hendaklah nona tak usah
sungkan-sungkan lagi!”
“Hmm, kau anggap dengan golok mestika lantas bisa menarik
keuntungan? Kalau demikian
anggapanmu, maka perhitunganmu itu keliru besar. Sambutlah
seranganku ini.”
Begitu golok dilolos, cahaya tajam segera berkilauan dan
mata golok lantas menyambar tiba.
Sungguh cepat tak terlukiskan gerakan melolos goloknya,
bahkan Pang Goan dan Hui Bengcu
yang memperhatikan dengan saksama pun tak sempat mengikuti
bagaimana caranya
perempuan itu menggerakkan tubuhnya.
Lebih-lebih Ho Leng-hong, ia Cuma merasakan pandangannya
kabur, buru-buru ia mundur
dua langkah, kemudian goloknya diputar dan menciptakan
selapis cahaya tajam untuk
melindungi badan.
Sewaktu mulai menyerang saja gerakan nyonya muda itu amat
cepat, ketika berganti jurus
pun jauh lebih cepat lagi, dari gerak membacok golok panjang
itu berubah menjadi gerakan
menabas.
Sambil putar senjata untuk melindungi badan Ho Leng-hong
main mundur terus ke belakang,
ia merasa golok panjang nyonya muda berbaju merah itu
seakan-akan telah menempel dengan
golok mestika Yan-ci-po-to, bukan saja sukar dibendung,
dihindari pun sulit.
Terpaksa ia putar golok dengan kencang sambil mundur terus,
hakikatnya tiada kesempatan
baginya untuk berganti jurus serangan.
Dalam keadaan demikian, asal ia menghentikan gerakannya,
maka setiap saat golok panjang
si nyonya berbaju merah itu akan menembus sinar senjatanya
dan melukainya.
Gerakan Ho Leng-hong rada gugup dan kacau, dalam waktu
singkat ia sudah terdesak mundur
dua lingkaran, sementara nyonya berbaju merah itu masih
terus menyerang dengan gencar.
Melihat gelagat yang tidak menguntungkan itu, Pang Goan
segera membentak, “Tahan!”
136
Bersama dengan suara bentakan itu, Hui Beng-cu melolos
senjatanya untuk menyerang
nyonya merah itu dari belakang.
Bayangan manusia berkelebat diikuti bunyi bentakan nyaring,
di tengah gulungan cahaya
golok, sesosok bayangan merah melompat ke udara dan
berjumpalitan beberapa kali,
kemudian melayang turun di belakang sana.
Dengan melompat perginya nyonya berbaju merah itu, secara
mengherankan Ho Leng-hong
dan Hui Beng-cu saling bertumbukan sendiri, tanpa terasa
mereka saling bacok membacok
sebanyak tiga empat gebrakan sebelum mengetahui bahwa lawan
adalah orang sendiri, cepatcepat
mereka tarik kembali serangannya sambil melompat mundur.
Kemudian kedua orang itu saling pandang dengan tertegun.
Nyonya muda berbaju merah itu tertawa sombong, lalu katanya,
“Jika kalian bertiga mau
maju bersama, akupun tidak menolok, tapi lebih baik katakan
terus terang, jangan gunakan
siasat ‘suara di timur menyerang dari barat’, yang seorang
bicara tiada hentinya, sedang yang
lain menyergap dengan cara yang rendah dan keji.”
“Sekalipun harus bertarung satu lawan satu juga aku tidak
takut,” kata Hui Beng-cu dengan
marah.
“Benarkah demikian? Bagaimana kalau dicoba?”
“Coba juga boleh, memangnya aku takut?”
Dengan geramnya Beng-cu memutar golok lengkungnya, langsung
menerjang perempuan
berbaju merah itu.
“Tunggu sebentar!” cegah Pang Goan sambil merentangkan
tangannya.
Dengan napas terengah-engah kata Hui Beng-cu, “Pang-toako,
perempuan ini terlalu
sombong, biar kuberi pelajaran kepadanya.”
“Memberi pelajaran kepada kaum wanita adalah urusan kami
orang lelaki, mundurlah dulu,
lihat saja kehebatan Pang-toakomu.”
“Manusia yang tahu diri,” teriak perempuan berbaju merah itu
dengan gusar, “kalau kau
berani sembarangan bicara, hati-hati kalau nyonya besar
potong lidahmu.”
“Marilah,” kata Pang Goan sambil tertawa, “lidah itu berada
di mulutku, yang dikuatirkan
justru kau tak punya kemampuan untuk berbuat begitu.”
Perempuan berbaju merah itu mendengus, sambil mengerahkan
goloknya ia segera menerjang
ke depan.
Tujuan Pang Goan memang ingin memancing marahnya, sebelum
terjangan orang tiba,
dengan cepat ia menyongsong, golok di tangan kiri dan pedang
di tangan kanan melancarkan
serangan sekaligus.
Begitu bertemu, kedua belah pihak saling menyerang dengan
cepat, tampaklah cahaya golok
berkilauan, bayangan pedang saling menyambar ke sana kemari,
dalam waktu singkat telah
berlangsung lima-enam gebrakan.
Kelima-enam jurus serangan itu seluruhnya merupakan serangan
mematikan.
Tapi anehnya, sekalipun cahaya golok dan bayangan pedang
menyelimuti udara, tidak
terdengar sama sekali suara bentrokan senjata, juga tidak
kelihatan ada yang terluka.
Ternyata setiap jurus serangan yang mereka lancarkan,
semuanya merupakan ancaman yang
harus dihindari, siapapun tak ingin adu jiwa, maka begitu
merasa terancam bahaya, cepat
mereka tarik serangan di tengah jalan untuk melindungi diri
sendiri.
Oleh sebab itulah, meskipun kedua orang itu melancarkan
serangan dengan gerakan cepat,
jurus serangan mereka tak berani digunakan sampai tuntas,
semua serangan golok dan pedang
begitu dilancarkan segera ditarik kembali, jadi tak sejurus
pun terjadi keras melawan keras.
Atau dengan perkataan lain, kedua orang itu mempunyai
pikiran yang sama, yakni sama-sama
berharap bisa menggetar hati lawan dengan tenaga serangan,
dengan menggunakan titik
kelemahan musuh untuk mematahkan ancamannya, menghindari adu
kekerasan yang tak
berguna.
137
Akhirnya, siapapun tidak berhasil memperoleh keuntungan
apa-apa.
Pang Goan menggunakan pedang sebagai senjata utama dan golok
sebagai pembantu, yang
dikembangkan adalah To-kiam-hap-ping-tin yang maha dahsyat
itu, namun lima-enam jurus
kemudian ternyata belum sanggup juga mematahkan serangan
nyonya berbaju merah itu,
terpaksa ia tarik serangannya dan melompat mundur.
Rupanya perempuan berbaju merah itupun menyadari bertemu
dengan musuh tangguh, cepat
ia menarik kembali serangannya dan tak berani mendesak lebih
jauh.
Kedua orang itu saling bertatap sekian lama, sejenak
kemudian Pang Goan baru menarik
napas panjang, lalu menyimpan kembali golok dan pedangnya.
Perempuan berbaju merah itupun ikut simpan goloknya ke dalam
sarung.
“Ilmu golokmu terhitung sangat hebat juga, tapi sayang
tenaga dalammu kurang sempurna,
andaikata kita harus bertarung dengan tenaga sejati maka
akhirnya yang rugi tetap kau,” kata
Pang Goan.
Nyonya berbaju merah itu tidak menyangkal, katanya sambil
tertawa, “Kau sendiripun tak
akan mendapat hasil apa-apa, paling banter kita sama-sama
menderita kerugian.”
“Apa kedudukanmu di dalam lembah?”
“Perguruan kami membagi tingkatan dalam sulaman benang emas,
perak, biru, putih, dan
hitam, aku tak lebih Cuma seorang peronda gunung berbenang
biru dari tingkatan tiga,
sekalipun tenaga dalammu lebih hebat daripadaku juga bukan
suatu yang luar biasa.”
Pang Goan tarik napas panjang, sambil tertawa getir ia
berpaling ke arah Ho Leng-hong
sembari berkata, “Tampaknya, urusan ini sudah pasti kita
ikut terseret.”
“Asal kita tak bersalah, ke manapun kita berani menghadap.”
“Tapi, Pang-toako . . . .” bisik Beng-cu.
Pang Goan memberi tanda dan tidak membiarkan gadis itu
berkata lebih jauh, kepada
perempuan berbaju merah itu ia berkata, “Bawalah kami! Akan
kami temui majikan lembah
kalian.”
Ternyata sikap perempuan itupun menjadi lebih sungkan,
katanya seraya menjura, “Silakan!”
Keempat orang gadis lainnya ikut menarik kembali senjatanya,
kemudian dua di kanan dan
dua di kiri, seperti menggusur tawanan, mereka membawa Pang
Goan bertiga meninggalkan
mulut gua.
Sesudah mengitari tonjolan batu padas di depan sana, Pang
Goan baru tahu bahwa pilihannya
memang tepat.
Di tepi api unggun di bawah tebing sana telah muncul kembali
seorang petugas peronda
gunung “bersulam benang biru” dengan diiringi empat gadis
bersulam hitam, mereka sudah
meletakkan mayat Thian Pek-tat berempat di atas usungan yang
terbuat dari kayu dan sedang
menunggu di sana.
------------------------------
Mi-kok, nama yang misterius dan menggetarkan sukma.
Tentu orang akan membayangkan lembah tersebut sebagai suatu
tempat yang rahasia sekali
letaknya dengan sekelilingnya diliputi oleh tebing tinggi
menyulang ke angkasa, burung dan
monyet sulit melewatinya dan sepanjang tahun diliputi kabut
yang tebal, atau mungkin jalan
masuknya merupakan sebuah terowongan gua, atau jalan setapak
yang penuh kemisteriusan . .
. .
Bila bayangannya demikian, maka kelirulah semua itu.
Benar memang, tempat itu merupakan sebuah yang dikelilingi
oleh tebing tinggi, namun
bukan tempat yang curam berbahaya atau sepanjang tahun
dikelilingi kabut tebal.
Lembah tersebut merupakan sebuah lembah yang indah dan
hangat, sama sekali tidak nampak
misterius, di belakang lembah terdapat jurang, di mulut
lembah ada jalan dan di tengah
138
lembah terdapat tanah datar yang luar, di situ ada
rerumputan, ada sawah, ada bebuahan dan
kerbau serta ternak unggas lainnya.
Anggota lembah tersebut terdiri dari lelaki dan perempuan,
yang lelaki hidup bertani dan yang
perempuan menenun, mereka melewatkan penghidupan yang
sederhana tapi bahagia, suatu
kehidupan surga yang penuh dengan kedamaian . . . .
terkecuali bangunan megah, kompleks
perumahan yang berada dalam hutan bebuahan sana.
Anggota perkampungan itu semuanya perempuan yang bergolok
panjang dan mengenakan
baju serba merah.
Sekalipun mereka termasuk juga sebagian dari anggota lembah,
namun pekerjaan mereka
tidak bertani atau bertenun, kehidupan mereka jauh berbeda
dengan orang-orang lainnya.
Perempuan dalam perkampungan itu merupakan pilihan dari
anggota penduduk lembah,
mereka harus cerdik dan berbakat bagus, semenjak kecil sudah
masuk perkampungan dan
belajar silat, setelah dewasa bertugas melindungi
keselamatan penduduk sesuai dengan tingkat
tenaga dalam yang dimiliki, mereka tergabung dalam pasukan
Ang-ih-bok-lan-tui (pasukan
Bok-lan berbaju merah)
Perkampungan itu sendiri bernama perkampungan Bok-lan-ceng.
Cengcu (kepala kampung) dari marga Ui dan sudah turun
temurun menjadi Kokcu (kepala
lembah) dalam lembah tersebut, hingga kini entah sudah
keturunan yang keberapa?
--------------------------------
Dikawal oleh dua orang peronda gunung dan delapan anak dara
berbaju merah, dengan lancar
Pang Goan bertiga memasuki lembah itu dan tiba di depan
pintu perkampungan.
Di luar lembah tidak terlihat penjagaan yang ketat, setelah
masuk ke dalam lembah juga tidak
ada pemeriksaan atau pengadangan, ketika rakyat dalam lembah
itu berjumpa dengan mereka,
kecuali tersenyum sambil menganggukkan kepala, sama sekali
tidak menunjukkan sikap
permusuhan.
Inikah lembah Mi-kok yang diberitakan sebagai tempat yang
misterius dan penuh rahasia?
Di sinikah tempat pengasingan Ang-ih Hui-nio yang lihay itu?
Di sinikah tempat kubur dari tujuh bersaudara Nyo dari
Thian-po-hu?
Tidak! Tak akan ada yang percaya, sekalipun mereka dibunuh
orang juga tak ada yang
percaya.
Tapi perempuan-perempuan itu semuanya berbaju merah, ilmu
golok mereka pun sangat
lihay, hal ini adalah kenyataan, seandainya mereka bukan
keturunan dari Ang-ih Hui-nio
mana mungkin mereka dapat mendidik sekian banyak murid yang
berilmu tinggi.
Sepanjang perjalanan, kernyitan alis Pang Goan tak pernah
mengendur, berbeda dengan Ho
Leng-hong, wajahnya selalu kaku tanpa emosi.
Dalam hati kecil mereka sama-sama diliputi teka-teki yang
mendebarkan hati dan ingin tahu.
Hui Beng-cu sendiri dengan perasaan waswas tiada hentinya
menengok ke sana kemari,
seakan-akan tertarik dan senang dengan keadaan yang asing
baginya ini.
Dua orang gadis baju merah yang bergolok berdiri menanti di
depan pintu perkampungan,
gaun mereka bersulamkan benang putih.
Ketika mereka melihat mayat yang berada di atas usungan,
wajah mereka menunjukkan
perasaan kaget.
Salah seorang di antaranya segera maju menyongsong sambil
bertanya dengan suara lirih,
“Apa yang telah terjadi? Apakah mereka berempat terbunuh
semua?”
Nyonya muda berusia tiga puluhan itu manggut-manggut, lalu
balik bertanya, “Kokcu berada
di mana?”
“Barusan beliau menanyakan kabar kalian, mungkin masih
berada dalam taman bunga
sebelah timur, akan kulaporkan untuk kalian.”
139
“Tidak usah, aku dan Lim Ci akan melaporkan sendiri kepada
Kokcu, kalian jaga baik-baik
ketiga orang ini.”
Berbicara sampai di sini, dia bersama peronda gunung lainnya
masuk ke dalam kampung.
Seperginya kedua orang itu, gadis penjaga pintu itu
mengamati sekejap Pang Goan bertiga,
lalu dengan keheranan ia bertanya, “Apakah kalian bertiga
pembunuhnya?”
“Mungkin!” jawab Pang Goan sambil mengangkat bahu.
“Kenapa kau katakan mungkin?” gadis penjaga pintu itu
melengak.
“Sebab kami tidak pernah membunuh orang,” jawab Pang Goan
sambil tertawa, “akan tetapi
keempat orang itu mati di tempat kami bermalam, bila kami
katakan bukan pembunuhnya,
kalian pasti tidak percaya, sebaliknya kalau bilang benar,
kamilah yang tidak percaya.”
Gadis penjaga pintu itu tertawa geli, “O, aku dapat memahami
perkataanmu itu, jadi tuduhan
tersebut membuat kalian penasaran?”
“Mungkin!” sekali lagi Pang Goan mengangkat bahu sambil
tertawa.
Dengan wajah serius gadis penjaga pintu berkata, “Tampaknya
kalian memang tidak mirip
pembunuh, Cuma dengan maksud baik ingin kunasihati padamu .
. . .”
“Menasihati apa?”
“Jika kalian betul-betul bukan pembunuh, janganlah
sekali-kali kalian mengaku sebagai
pembunuh, sebab Kokcu kami paling benci pada mereka yang
gemar membunuh, terutama
mereka yang mengandalkan kungfunya untuk menindas kaum yang
lemah serta membunuh
orang, andaikata kalian betul-betul pembunuh kejam, jangan
harap jiwa kalian akan
diampuni.”
“Kalau begitu, Kokcu kalian tentu berhati welas asih,” kata
Pang Goan.
“Siapa bilang bukan? Kokcu kami bukan cuma welas asih saja,
tabiatnya juga amat baik,
terhadap orang lain juga ramah-tamah . . . . .”
“Tapi dia tahu aturan tidak?” tiba-tiba Ho Leng-hong
menukas.
“Apa maksudmu berkata begitu?” gadis penjaga pintu itu
menegur dengan nada tak senang.
“Misalnya saja, bila kedatangan kami ke bukit ini tanpa
sengaja dan tidak mengandung
maksud jahat, dapatkah ia memberi kebebasan kepada kami
untuk meninggalkan tempat ini?”
“Kenapa kalian tak boleh meninggalkan tempat ini? Bila
kalian tersesat di gunung dan tiba di
sini tanpa sengaja, berarti kalian adalah tamu kami, dengan
segala kehormatan kami akan
melayani kalian, kemudian mengantar kalian pergi dari sini,
tentu saja kalian harus
merahasiakan keadaan lembah ini kepada orang lain.”
Tanpa terasa Ho Leng-hong dan Pang Goan saling bertukar
pandang sekejap dengan penuh
tanda tanya, sedang dalam hati timbul pula pertanyaan yang
sama: “Kalau begitu, kenapa
ketujuh Nyo bersaudara tak pernah muncul kembali setelah
berangkat kemari?”
Ternyata gadis penjaga pintu itu cukup cerdik, melihat kedua
tamunya masih belum percaya,
ia berkata lagi, “Kami tak ingin orang luar mengetahui
keadaan di sini, inipun karena
terpaksa, sebab tempat kami hanya sebesar ini, tak mungkin
muat terlalu banyak orang, selain
itu kamipun kuatir bila ada orang persilatan berniat buruk
ingin mencuri belajar ilmu kami
sehingga menambah banyak kerepotan, peraturan ini ditetapkan
oleh leluhur kami dan bukan
atas kemauan Kokcu sendiri, cuma bila kalian sendiri tak
bersedia tinggalkan tempat ini dan
ingin tinggal di sini untuk selamanya, tentu saja niat ini
akan kami sambut dengan senang hati
. . . .”
Ia seperti masih ingin bicara lagi, tapi nyonya berbaju
merah tadi keburu datang, nyonya itu
memberi tanda kepada Pang Goan sekalian sambil berkata,
“Kokcu mengundang kalian untuk
menghadap, mari ikut diriku!”
Sebelum pergi, Leng-hong tersenyum ke arah gadis penjaga
pintu itu sambil berkata, “Tolong
tanya siapa nama nona?”
“Aku bernama Pui Hui-ji, anggota Bok-lan-pek-tul (barisan
Bok-lan putih)!”
140
“Bila Kokcu tidak menyalahkan kami, mungkin aku akan memohon
untuk tinggal di sini,
sampai waktunya harap nona bersedia memberi petunjuk,” kata
Leng-hong sambil tertawa.
Tanpa malu-malu gadis penjaga pintu itu menjawab dengan
tertawa, “Baik, semoga kau
mempunyai rejeki itu!”
Mereka bertiga melangkah masuk ke dalam pintu gerbang dan
mengikut nyonya berbaju
merah tadi masuk ke dalam perkampungan.
Di tengah jalan Hui Beng-cu sengaja berjalan agak lambat,
kemudian ia tanya dengan
setengah berbisik, “Nyo-toako, benarkah kau ingin tinggal di
sini dan tidak kembali ke Thianpo-
hu lagi?”
Leng-hong tersenyum, “Tempat ini bagaikan surgaloka, jauh
berbeda dengan gedung Thianpo-
hu, apa salahnya tinggal di sini?”
“Hm, kaum pria kalian semuanya memang tak punya perasaan,
begitu bertemu dengan gadis
yang cantik, semua warisan dan jerih payah leluhur pun
terlupakan sama sekali.”
“Ah, kaum pria tak bisa disalahkan, siapa suruh kaum gadis
rata-rata berwajah cantik?” jawab
Leng-hong sambil tertawa.
“Ciss!” dengan mangkel Beng-cu mempercepat langkahnya ke
depan lebih dulu.
Sesudah mengitari taman bunga, di depan sana muncul sebuah
serambi panjang, setelah
mengitari mereka tiba di ruang tengah sebelah timur.
Di depan ruangan berdiri empat orang gadis dengan baju merah
bersulam benang putih, pintu
ruangan masih tertutup rapat.
Nyonya berbaju merah itu membawa mereka menuju ke depan
ruangan, kemudian katanya,
“Kokcu hendak langsung menanyai kalian, harap semua senjata
bawaan ditinggal di luar.”
Ini selain peraturan juga merupakan sopan santun, apalagi
nyonya berbaju merah itu
mengucapkannya dengan nada sungkan, membuat orang tak dapat
menolak permintaannya
itu.
Pang Goan angguk kepala kepada kedua rekannya, kemudian
melepaskan golok dan pedang
bawaannya, terpaksa Ho Leng-hong dan Hui Beng-cu harus
mengikuti perbuatannya.
Keempat gadis itu menerima senjata mereka lalu mendorong
pintu lebar-lebar.
Pang Goan melangkah masuk ke dalam, ternyata ruangan itu
kosong tak nampak seorang pun,
di tengah ruangan terdapat sebuah meja panjang, di atas meja
terletak kertas, pit dan alat tulis
lainnya, sementara di belakang meja tersedia empat buah
kursi yang semuanya kosong.
Sementara mereka masih tercengang, nyonya baju merah itu
menyusul masuk, lalu
membunyikan sebuah alat kecil tiga kali.
“Tiga orang tertuduh telah dibawa menghadap, dipersilakan
para petugas hukum naik
mimbar!” serunya.
Kain tirai di pintu samping segera terbuka dan muncul dua
belas orang perempuan baju merah
dengan pinggiran warna biru, mereka masing-masing berdiri di
kiri dan kanan meja panjang,
setiap orang bergolok panjang dan bersikap kereng.
“Wah, kalau dilihat caranya ini, kita seolah-olah berada
dalam ruang pengadilan!” omel Pang
Goan sambil tertawa.
“Jangan sembarangan bicara!” bentak nyonya baju merah di
belakangnya dengan suara
tertahan.
Menyusul kemudian dari balik pintu berjalan keluar lagi
empat orang perempuan.
Keempat orang ini rata-rata sudah berusia lanjut, yang
termuda pun sekitar enam puluhan,
sedang yang tua sudah delapan atau sembilan puluh tahunan,
semuanya berwajah keriput
dengan rambut beruban, mukanya kurus jelek dan masing-masing
menempati empat kursi
kosong itu.
Mereka juga memakai baju berwarna merah, Cuma sulaman tepi
gaunnya dari benang perak.
Pang Goan tahu bahwa kedudukan empat orang nenek ini tidak
rendah, diam-diam ia merasa
geli sekali, pikirnya, “Wah, kalau melihat keadaannya
seolah-olah kami telah dituduh sebagai
141
pembunuh yang sesungguhnya, semoga jangan diputuskan segera
penggal kepala, bisa mati
penasaran.”
Pada ujung meja sebelah kiri dan kanan masing-masing
berduduk seorang perempuan
berbenang biru, setelah duduk mereka lantas menyiapkan
kertas dan alat tulis lainnya,
ternyata mereka bertindak sebagai “panitera”.
Di tengah keheningan, nenek berusia paling tua yang berada
di dekat ujung kanan itu segera
berkata, “Atas kasih sayang Thian dan berkat leluhur,
kehidupan kami di tengah gunung yang
terpencil sama sekali tidak berniat berebut rejeki dengan
orang lain, kami mengutamakan
cinta damai dan hidup bahagia dengan tenang, karenanya
terhadap segala kejahatan itu, tapa
ampun akan dijatuhi hukuman berat.”
Baru selesai perkataan itu, nenek di sebelah kiri telah
memukul meja keras-keras sambil
membentak, “Siapa nama kalian bertiga? Datang dari mana?
Mengapa membunuh orang?
Ayo mengaku satu persatu!”
Ho Leng-hong dan Hui Beng-cu tetap bungkam.
Pang Goan juga tidak menghiraukan pertanyaan tersebut, dia
hanya memperhatikan pukulan
si nenek pada meja panjang itu, meski suaranya nyaring namun
meja itu sendiri tidak tergetar,
namun meja tersebut tahu-tahu melesak satu inci lebih ke
dalam tanah.
Tapi setelah diperhatikan lagi, ternyata bukan kaki meja
yang masuk ke dalam tanah,
melainkan kaki meja itu sendiri yang tiba-tiba menyusut
hingga lebih pendek.
Ini menunjukkan tenaga pukulan si nenek itu sudah mencapai
tingkatan Keh-san-ta-gu (dari
balik gunung memukul kerbau).
Pang Goan menyadari dirinya sendiri tak mampu berbuat
demikian, ini semua membuatnya
terperanjat sehingga lupa untuk menjawab pertanyaan si nenek
tadi.
Nyonya berbaju merah yang berada di belakangnya segera
menegur, “He, Tong-popo lagi
bertanya kepada kalian, mengapa tidak menjawab?”
“Tong-popo yang mana?” tanya Pang Goan setelah menenangkan
hatinya.
“Itu dia, nomor dua dari sebelah kiri, barusan beliau
menanyakan nama dan asal usul kalian.”
Pang Goan tertawa, “Mereka berjumlah empat orang, jika
semuanya mengajukan pertanyaan,
entah yang manakah harus dijawab lebih dulu, sedangkan kami
bertiga, kalau semuanya
menjawab juga tentu akan bikin kalian bingung untuk
mendengarkannya, maka aku ada usul,
entah kalian bersedia mengikutinya atau tidak?”
“Coba katakan!” kata nenek she Tong itu.
“Gampang sekali, mari kalian berempat pilih seorang wakil
untuk bertanya, sedang dari pihak
kami bertiga akan diwakili pula seorang untuk menjawab,
bukankah hal ini akan lebih enak?”
Mencorong sinar tajam dari mata nenek she Tong itu, ia
memandang sekejap rekan-rekan di
sekelilingnya, lalu berkata, “Ehm, ini memang suatu usul
yang bagus.”
Keempat orang nenek lalu saling mengalah dan saling
mempersilakan rekannya sebagai wakil
mereka.
Pada kesempatan itu, Pang Goan berkata kepada Ho Leng-hong,
“Jit-long, kau saja yang
menjawab pertanyaan mereka, kalau perlu bersikap tegas,
katakan segala sesuatunya secara
terus terang, tapi untuk sementara waktu jangan kausinggung
dulu masalah Thian-po-hu.”
“Mengapa bukan Lotoako yang tampil ke muka?” tanya
Leng-hong.
“Rasanya setiap masalah dalam lembah ini bagaikan suatu
teka-teki, bila kita ingin hidup
lebih lanjut, kita juga harus main sandiwara menurut
gelagat, dengan begitu baru tersedia
jalan mundur jika keadaan kepepet.”
Ho Leng-hong mengangguk tanda mengerti, diam-diam ia
berpikir, “Pang-toako selalu tinggi
hati dan tak mau tunduk kepada orang, sejak kapan ia belajar
menyesuaikan diri dengan
keadaan?”
142
Sementara itu keempat orang nenek pun selesai berunding,
tetap si nenek she Tong itu sebagai
juru bicaranya, ia bertanya, “Apakah kalian telah selesai
berunding? Siapa yang akan
menjawab pertanyaan kami?”
“Aku!” jawab Leng-hong.
“Bagus sekali, Cuma akupun hendak memperingati satu hal
padamu, setelah bersedia
menjawab pertanyaan kami, maka setiap ucapanmu harus dapat
dipertanggungjawabkan,
sebab semua perkataanmu akan kami catat dan tak bisa
disesali kembali.”
“Tentu saja!” kata Leng-hong.
“Nah, sekarang laporkan dulu nama serta tempat tinggal
kalian bertiga,” kata nenek Tong
sambil manggut-manggut.
Leng-hong mengakui dirinya sebagai Nyo Cu-wi dari
Thian-po-hu, selain itu juga melaporkan
nama Pang Goan dan Hui Beng-cu.
Setelah mendengar nama-nama itu keempat orang nenek tersebut
menunjukkan wajah kaget,
buru-buru mereka berunding dengan suara lirih.
Lewat sejenak kemudian, nenek Tong bertanya pula, “Kau
mengaku sebagai Nyo Cu-wi dari
Thian-po-hu, sedang mereka berdua dari Cian-sui-hu dan
Hiang-in-hu, benarkah pengakuan
itu?”
“Benar!”
“Kalau begitu ingin kutanya sesungguhnya ada beberapa orang
Nyo Cu-wi dari Thian-pohu?”
“Cuma ada seorang!”
Air muka nenek Tong berubah serius, katanya, “Kuharap kau
menjawab dengan sejujurnya,
sebab barang siapa berani berbohong, dia akan mendapat
ganjaran yang setimpal.”
“Kenapa? Masa urusan Thian-po-hu kau lebih jelas
daripadaku?” bantah Leng-hong, “apakah
di lembah ini terdapat juga Nyo Cu-wi yang lain?”
Air muka nenek Tong berubah pula, tapi ia tidak mendebat, ia
mengalihkan pertanyaan pada
soal lain, katanya, “Atas alasan apa kalian datang ke
Tay-pa-san ini?”
Tanpa merahasiakan sedikit pun Leng-hong mengisahkan
bagaimana Ci-moay-hwe mengutus
seorang Pang Wan-kun gadungan untuk mencari golok
Yan-ci-po-to, lalu bagaimana
menggunakan siasat Cioh-to-sat-jin untuk memancing mereka
bertiga datang ke Tay-pa-san,
dan apa yang terjadi dengan lencana kayu dan tali istimewa
untuk memfitnah mereka . . . . .
Sementara ia menuturkan pengalamannya, dua orang gadis
petugas panitera mencatat semua
pengakuan itu.
Ketika pemuda itu selesai dengan penuturannya, nenek Tong
bertanya pula, “Ci-moay-hwe
yang barusan kau singgung itu sesungguhnya organisasi macam
apa? Siapakah pemimpinnya?
Apakah kautahu?”
“Seandainya aku tahu, tak nanti bisa terkena siasat
Cioh-to-sat-jin mereka. Cuma ada satu hal
yang kuyakini benar, yakni di kala Thian Pek-tat berempat
terbunuh semalam, mereka pasti
berada di sekitar tempat ini, bahkan mungkin saja saat ini
masih berada di daerah pegunungan
ini.”
“Tidak mungkin, siang malam petugas peronda kami melakukan
patroli di sekeliling
pegunungan ini dan belum pernah kami temukan jejak mereka,
selain itu, kalau benar mereka
berusaha dengan segala daya upaya untuk mendapatkan golok
mestika Yan-ci-po-to, setelah
berhasil mendapatkannya, kenapa dikembalikan kepadamu dengan
begitu saja. Jadi ceritamu
tentang melimpahkan bencana kepada orang lain itu sama
sekali tidak masuk di akal.”
“Mau percaya atau tidak adalah urusan kalian, tapi yang
pasti semua perkataanku adalah
sejujurnya.”
“Kau berani diadu dengan petugas peronda kami?”
“Tentu saja berani.”
“Bagus, panggil petugas peronda bukit untuk menghadap ke
depan pengadilan!”
143
Nyonya berbaju merah tadi mengiakan dan tampil ke muka,
katanya, “Hamba petugas
peronda, komandan barisan ketujuh Bok-lan-la-tui Hoa Jin
siap memberi keterangan!”
“Hoa Jin, apakah kau adalah petugas ronda hari ini?” tanya
nenek Tong.
“Benar!”
“Kaukah yang menemukan jenazah dari para korban?”
“Benar!”
“Apakah kau pula yang menangkap mereka?”
“Benar!”
“Bagus sekali, laporkan sekali lagi kejadian yang telah
berlangsung.”
“Hamba sebagai petugas peronda mendapat perintah untuk
menyambut . . . .”
“Secara ringkas saja,” tiba-tiba nenek Tong menukas,
“laporkan saja sekitar penemuan mayatmayat
tersebut.”
“Baik,” kata Hoa Jin, “Jejak Hui-goan Taysu berempat
berhasil hamba temukan lewat tengah
malam kemarin, pagi tadi ketika kami tiba di bawah gua
karang, ditemukan keempat orang itu
sudah tewas di samping api unggun, setelah dilakukan
pencarian yang saksama, akhirnya
disebuah gua kami berhasil mengadang ketiga orang pembunuh
itu, mula-mula mereka
melakukan perlawanan, tapi akhirnya mereka menyerahkan
diri.”
“Apakah diperiksa juga senjata yang dipergunakan lawan?”
“Menurut hasil pemeriksaan, keempat orang itu tewas oleh
Yan-ci-po-to, mulut lukanya
sangat lebar, dan senjata pembunuh itu justru ditemukan
berada pada orang she Nyo ini.”
“Apakah pada jenazah juga ditemukan lencana kayu? Atau bekas
tali yang dipakai untuk
membelenggu mereka?”
“Tidak!”
“Waktu itu apakah tertuduh menyangkal telah membunuh orang?”
“Tidak!”
“Apakah ditemukan orang yang mencurigakan di sekitar
mereka?”
“Juga tidak.”
“Sudah mendengar? Apa lagi yang hendak kaukatakan?” kata
nenek Tong kemudian sambil
menatap Ho Leng-hong dengan sorot mata tajam.
“Hal tersebut sudah kukatakan semua,” teriak Leng-hong
dengan suara lantang, “Waktu itu
peronda she Hoa itu tidak menanyakan soal pembunuhan, mana
kami bisa menyangkalnya?”
Nenek Tong tertawa dingin, “Hehehe, sekalipun ia tidak
menanyakan soal ini, kenapa kalian
tidak melakukan penyangkalan, padahal tahu di bawah bukit
membujur empat sosok mayat?
Dan lagi senjata pembunuh merupakan bukti yang jelas,
penyangkalan kalian semakin
membuktikan hati kalian amat kalut dan takut, ingin
menyangkal pun kini sudah terlambat.”
Ho Leng-hong seperti ingin mengucapkan sesuatu lagi, tapi
nenek Tong lantas berbangkit
sambil berseru, “Pemeriksaan telah selesai, perhatikan
baik-baik keputusan kami!”
Serentak ketiga orang nenek yang lain bangkit berdiri,
suasana dalam ruangan berubah
menjadi hening dan serius.
Nenek Tong berunding sebentar dengan ketiga orang rekannya,
lalu dengan wajah serius
katanya, “Tertuduh Nyo Cu-wi, Pang Goan dan Hui Beng-cu
terbukti bersalah melakukan
pembunuhan bersama yang mengakibatkan kehilangan jiwa orang
lain, kesalahan ini
melanggar peraturan lembah ini, lagipula setelah bersalah
tidak berobat, bahkan berusaha
mungkir, dosa ini amat besar, maka pengadilan memutuskan
untuk menjatuhkan hukuman
‘Khek-sin’ kepada mereka, untuk sementara para tertuduh
dimasukkan tahanan menanti
pelaksanaan hukuman.”
Selesai berkata ia lantas mengundurkan diri.
“Apa yang disebut Khek-sin?” tanya Beng-cu.
“Artinya akan dihukum pancung di hadapan umum,” jawab Hoa
Jin.
144
Betapa gusarnya Hui Beng-cu, teriaknya, “Hm, keterlaluan
sekali! Pang-toako, mari kita turun
tangan . . . . .”
Baru saja ia berteriak, “Cring! Cring!” dua belas orang
perempuan bersulam benang biru telah
melolos golok dan merubung maju.
Cahaya golok berkilauan, langsung mengancam perut dan
punggung mereka bertiga, padahal
Pang Goan sekalian dalam keadaan tangan telanjang tanpa
senjata apapun.
Sambil tertawa getir Ho Leng-hong segera memandang ke arah
Pang Goan, lalu katanya,
“Lotoako, kali ini kita benar-benar terjebak.”
Pang Goan mendengus, “Orang she Hoa, kau bilang Kokcu kalian
hendak berbicara sendiri
dengan kami, rupanya kau berbohong?”
“Kokcu harus mendengarkan dulu laporan keempat Popo sebelum
memutuskan apakah perlu
menanyai kalian langsung, sebab untuk melaksanakan hukuman
penggal kepala mesti ada
persetujuan lebih dulu dari Kokcu, jadi seandainya kalian
bernasib baik, mungkin saja masih
ada kesempatan bertemu dengan Kokcu.”
“Umpama kami hendak titip pesan, apakah kau dapat menolong
kami untuk menyampaikan
kepada Kokcu?”
“Tentu saja!”
Pang Goan menarik napas panjang, kemudian berkata, “Kalau
begitu tolong sampaikan
kepada Kokcu kalian bahwa Yan-ci-po-to dan kitab pusaka
Poh-in-pat-toa-sik itu adalah
palsu, jika ingin tahu berita tentang kitab dan golok yang
asli, silakan menanyai sendiri
padaku.”
Kemudian sambil mendongakkan kepala ia menambahkan, “Di mana
letaknya penjara?
Silakan membawa kami ke sana, sesudah lelah semalaman, kami
ingin beristirahat dulu dalam
penjara.”
Hoa Jin memandangnya dengan melongo, rupanya ia sedang
meresapi makna kata-katanya
itu.
Bahkan Ho Leng-hong dan Hui Beng-cu juga ingin bertanya
padanya.
Akan tetapi Pang Goan tidak berkata apa-apa, sambil
busungkan dada dan melangkah dengan
lebar, ia berlalu lebih dulu dari ruangan tersebut......
----------------------------
Rumah penjara terletak di kaki bukit bagian belakang
perkampungan tersebut.
Dua baris rumah baru yang berderet bagaikan gua itu meski
kecil dan sempit, tapi sangat
kering dan rajin, setiap ruangan terdapat meja, bangku dan
pembaringan, selain itu terdapat
pula alat-alat untuk bersihkan badan serta membuang hajat,
keadaannya mirip dengan sebuah
“rumah tamu”.
Ruang penjara itu bernomor, di sebelah kiri bernomor ganjil
sedang di sebelah kanan
bernomor genap.
Pengurus rumah penjara adalah seorang perempuan setengah
umur dari kelompok benang
biru, ia bernama Yu Ji-nio dan membawahi empat orang gadis
dari barisan Bok-lan-pek-tui.
Sikap Yu Ji-nio terhadap orang sangat ramah tamah,
sedikitpun tidak mencerminkan sikap
seorang sipir penjara yang buas dan garang, atau mungkin
lantaran suasana penjara amat sepi,
maka ketika mengetahui ada tiga orang “tamu terhormat”
diantar ke sana, tampaknya ia
sangat senang.
Ia menjadi repot sekali masuk keluar tiada hentinya,
menyiapkan air teh, menyiapkan nasi dan
sayur, pelayanannya betul-betul sangat bagus.
Pang Goan bertiga dimasukkan dalam ruang penjara di sebelah
kiri, Pang Goan menempati
satu, Ho Leng-hong menempati ruang tiga dan Hui Beng-cu
ruang lima.
145
Selesai bersantap dan mencuci muka, Yu Ji-nio secara khusus
menghidangkan secawan air teh
panas untuk mereka, katanya sambil tertawa, “Kalian adalah
tamu yang datang dari jauh,
berdosa atau tidak tak ada sangkut pautnya dengan diriku,
aku selalu menganggap kalian
sebagai tamu-tamu kehormatan, jika butuh makanan atau perlu
sesuatu katakan saja
kepadaku, Cuma janganlah melakukan perbuatan bodoh yang
bikin susah padaku, setelah
berada di sini, jangan harap kalian bisa keluar lagi dari
lembah ini, sekalipun berhasil
melarikan diri dari mulut lembah, tak mungkin bisa kabur
meninggalkan Tay-pa-san ini.”
“Yu Ji-nio, jangan kuatir,” jawab Pang Goan sambil tertawa,
“untuk keluar kami pasti akan
keluar, tapi kami tak akan kabur dari penjara, kami masuk
kemari secara terang-terangan,
pergi dari sini juga secara terang-terangan, kalau tidak,
sekalipun diantar dengan tandu besar
yang digotong delapan orang, belum tentu kami sudi pergi
dengan begitu saja.”
“Bagus, bila kalian dapat pergi dari sini nanti, aku pasti
akan memasang petasan untuk
mengantar keberangkatan kalian.”
“Mengantar sih tidak perlu, sekarang silakan kau keluar
lebih dulu, berilah kesempatan
kepada kami untuk tidur siang sepuasnya, boleh bukan?”
“Tentu, tentu!” sambil tertawa Yu Ji-nio mengajak keempat
orang gadis itu berlalu dari situ.
Pang Goan segera menggeliat dan menguap lalu gumamnya,
“Setelah bergadang semalam
suntuk, inilah kesempatan yang sangat baik untuk tidur,
dengan demikian kita ada kekuatan
dan semangat untuk berunding dengan Kokcu.”
Selesai berkata, ia lantas menjatuhkan diri di pembaringan.
Ho Leng-hong yang berada di kamar sebelah tak dapat setenang
itu, sambil mengetuk dinding
bisiknya, “Lotoako, jangan tidur dulu, kita harus
merundingkan persoalan ini . . . . .”
“Apa lagi yang mesti dirundingkan?” tanya Pang Goan.
“Tadi kau berkata kepada mereka bahwa golok mestika
Yan-ci-po-to dan kitab pusaka itu
adalah palsu, pengakuan itu memang pengakuan yang betul
ataukah cuma bohong-bohongan
saja?”
“Pada waktu perlu bohong boleh bohong, bila perlu sungguh
harus sungguh. Hidup manusia
bagaikan impian, kenapa mesti begitu serius?”
Ucapan tersebut makin lama makin lirih, kemudian lantas
terdengar suara dengkuran yang
keras, ternyata ia sudah tertidur pulas.
Meskipun pelbagai kecurigaan masih menghantui pikirannya,
karena yang ditanya tetap
membungkam, terpaksa sambil menghela napas panjang diapun
berbaring.
Pada saat pikirannya sedang kalut dan bingung itulah,
tiba-tiba terdengar Hui Beng-cu yang
berada di kamar sebelah memanggil dengan suara tertahan,
“Nyo-toako, cepat kemari, cepat
kemari......”
“Ada apa?” tanya Leng-hong.
“Coba lebih mendekatlah denganku, akan kuberitahukan satu
hal kepadamu . . . .” bisik Bengcu.
“Sudah, tak usah repot-repot, tiada yang perlu dibicarakan
lagi, bagaimana kalau kita
beristirahat lebih dulu?”
“Tidak bisa, bagaimanapun persoalan ini harus kukatakan
kepadamu sekarang juga,
kutemukan sebaris tulisan di dinding ruangan ini . . . .”
“Apa bunyi tulisan itu?” tanya Leng-hong.
“Agaknya tulisan ini ditinggalkan oleh enso ....”
“Apa kaubilang? Siapa yang meninggalkan tulisan itu?” cepat
Leng-hong melompat bangun
sambil berseru.
“Kalau diperhatikan dari nada tulisannya, tampaknya seperti
tulisan dari enci Wan-kun, tapi
jika ditinjau dari kata-katanya seperti juga bukan ....”
“Coba bacakan tulisan itu!”
146
Hui Beng-cu segera membaca dengan lirih, “Untuk mencuci
bersih rasa malu akibat
kekalahan yang diterima, dengan mempertaruhkan jiwa raga
kekasih telah masuk ke istana
Peng-kiong, keturunan Thian-po-hu berakhir sampai di sini .
. . . di bawahnya seperti masih
ada tulisan, cuma sudah tidak jelas lagi, tapi yang
menandatangani tulisan ini adalah Wankun.”
“Wan-kun?” Ho Leng-hong menarik napas dingin, “Ternyata
mereka benar-benar telah
datang ke lembah Mi-kok ini.”
“Tapi, bukankah kau masih hidup baik-baik di Thian-po-hu?
kenapa dia mengatakan bahwa
‘kekasih masuk ke istana Peng-kiong’? kenapa pula dia bilang
keturunan Thian-po-hu
berakhir sampai di sini? Apa pula maksudnya mengucapkan
kata-kata tersebut?”
Ho Leng-hong tidak memberi keterangan, iapun tak dapat
memberi keterangan, terpaksa
tukasnya, “Coba kauperiksa lagi dengan saksama, apakah masih
ada tulisan lagi yang
ditinggalkan?”
Lewat sejenak kemudian, Hui Beng-cu berkata lagi, “Sudah tak
ada lagi, hanya tulisan ini
yang terukir di dinding batu di ujung pembaringan.”
“Apakah di bawah tanda tangan itu tercantum hari dan
tanggal?” kembali Ho Leng-hong
bertanya.
“Tidak ada . . . Ah, tunggu sebentar . . . di sini terdapat
sebuah huruf ‘Ka’ di bawahnya ada
sebuah huruf lagi, sayang cuma separuh, tapi agaknya mirip
huruf ‘Gin’, sayang tulisannya
tidak lengkap.”
“Tahun Ka-gin? Itu berarti setahu yang lalu,” gumam Ho
Leng-hong, “ehm, betul cocok
memang dengan waktunya, ya, pasti dia . . . .”
“Kalau betul dia, lantas kenapa?” tiba-tiba Pang Goan
menyela, “tidak dapatkah kalian tenang
sejenak, agar orang lain memperoleh kesempatan untuk
beristirahat sebentar?”
Cepat-cepat Ho Leng-hong mendekati dinding sebelah kanan,
lalu bisiknya, “Lotoako, Wankun
dan Nyo . . . .”
“Sudah kudengar, semua hal ini sudah berada dalam dugaanku,
tapi kita harus berpura-pura
tidak tahu, tak peduli siapa yang bertanya padamu, jangan
kau mengaku keadaanmu yang
sebenarnya, kecuali kau bertemu sendiri dengan Wan-kun, maka
ceritakanlah seluruh
kejadian yang sesungguhnya.”
“Menurut dugaanmu, mungkinkah Wan-kun masih berada di dalam
Mi-kok?”
“Lebih baik kita tak usah menduka secara mengawur, asal
telah bertemu dengan Kokcu,
otomatis semua duduknya perkara akan menjadi jelas.”
“Ai, benarkah Kokcu bersedia menjumpai kita?” bisik
Leng-hong sambil menghela napas.
“Kenapa tidak? Bukankah mereka telah datang?”
Betul juga, terdengar suara langkah manusia yang semakin
mendekat, menyusul kemudian
terlihat Yu Ji-nio muncul bersama Hoa Jin.
“Pasti kau yang pertama-tama yang akan dijumpai,” bisik Pang
Goan, “ingat, apa yang boleh
dan yang tidak boleh dibicarakan, soal kitab pusaka ilmu
golok boleh kau limpahkan
pertanggungan-jawabnya kepadaku.”
Ternyata dugaannya memang tepat, Yu Ji-nio dan Hoa Jin
langsung menuju ke kamar tahanan
nomor tiga dan berhenti di situ.
Setelah berada dalam kamar, dengan saksama Hoa Jin
memperhatikan diri Ho Leng-hong dari
ujung kepala sampai ujung kakinya, setelah itu tanyanya,
“Sungguhkah kau ini majikan
Thian-po-hu yang bernama Nyo Cu-wi?”
“Kenapa?” Ho Leng-hong pura-pura bersikap ketus, “memang ada
yang gadungan di sini?”
Hoa Jin tertawa, “Kau betul-betul bernasib baik, Kokcu ingin
berjumpa denganmu, semoga
kau bersedia bicara secara jujur.”
147
Waktu itu Yu Ji-nio telah membuka borgol pintu dengan
kuncinya, lalu sambil mendorong
pintu terali besi ke samping, katanya dengan tertawa,
“Nyo-tayhiap, selamat jalan, semoga
kau tidak kembali lagi kemari.”
Ho Leng-hong mengangkat bahu, kemudian berkata, “Pelayanan
Ji-nio amat menyenangkan
hati, agaknya aku bakal mengganggu dirimu selama beberapa
hari lagi.”
Keluar dari ruang penjara, ia segera disambut oleh empat
orang gadis berbenang biru dengan
senjata terhunus, ternyata ketat juga pengawalan di situ.
Dengan dipimpin oleh Hoa Jin, rombongan itu berjalan masuk
ke sebuah halaman yang amat
sepi, setelah melewati serambi akhirnya masuk ke dalam
sebuah ruangan besar.
Selain luas dan hening, suasana dalam ruangan itu amat
bersih dan rapi, pintu ruangan terbuka
lebar, keadaan ruangan persis seperti keadaan dalam ruangan
“pengadilan”, cuma di sini tiada
pengawalan yang ketat.
Empat gadis pengawal tadi berhenti di ruang depan, hanya
diantar oleh Hoa Jin saja Ho Lenghong
masuk ke dalam ruangan.
Hening sekali ruangan itu, bukan saja tanpa pengawalan, di
situpun tiada senjata yang
berkilauan, seorang gadis baju merah sedang berduduk di
belakang meja sambil memeriksa
setumpuk surat.
Agak jauh di belakang gadis itu terdapat pula sebuah kursi,
seorang perempuan bercadar
hitam duduk di situ.
Mula-mula Ho Leng-hong mengira perempuan bercadar itulah
Kokcunya, akan tetapi setelah
diperiksa lebih saksama, ia terperanjat.
Ternyata meskipun perempuan bercadar itu mengenakan pakaian
warna merah juga, namun
pada gaunnya tidak terdapat sulaman apa-apa, sebaliknya
gadis yang sedang memeriksa
setumpuk dokumen itu justru mempunyai sulaman benang emas
pada gaunnya.
Gadis itu sedang menundukkan kepalanya, maka tak terlihat
raut wajahnya, tapi baik
diperhatikan dari sudut manapun, bisa diduga usianya tak
akan melampaui dua puluh tahun.
Gadis semuda inikah Kokcu dari Mi-kok?
Ho Leng-hong tercengang, baru saja melangkah ke dalam
ruangan ia segera berhenti.
Gadis itu masih juga menundukkan kepalanya dan memeriksa
dokumen, cuma sekarang di
memberi tanda sambil berkata, “Ambilkan kursi untuk
Nyo-tayhiap!”
Hoa Jin mengambilkan sebuah kursi dan Leng-hong duduk di
kejauhan, saking tegangnya
untuk mengembus napas keraspun tak berani.
Ia merasa setiap ucapan gadis tersebut seakan-akan memiliki
kewibawaan yang sukar
dibantah, membuat orang lain merasa rendah diri dan berada
di bawah pengaruhnya.
Suasana dalam ruangan amat hening, sedemikian heningnya
sampai suara jarum jatuh ke
lantai pun kedengaran jelas, siapapun tidak membuka suara,
cuma perempuan bercadar itu
yang terus mengawasi Ho Leng-hong.
Diam-diam Leng-hong memperhatikan pula perempuan itu, hanya
saja ia tak dapat menebak
asal-usulnya?
Lewat sesaat kemudian, pelahan gadis benang emas baru
mendongakkan kepalanya, lalu
sambil tertawa kepada Ho Leng-hong katanya, “Benarkah
Nyo-tayhiap ini majikan Thian-pohu?”
Ketika gadis itu mendongakkan kepalanya, semakin terbuktilah
bahwa dugaan Leng-hong
tidak keliru, usia gadis itu paling banter Cuma
delapan-sembilan belas tahunan, mukanya
masih ke kanak-kanakan, wajahnya cantik jelita, sinar
matanya jernih tenang, tapi juga
menggidikkan hati.
Tanpa terasa Ho Leng-hong mengalihkan pandangannya ke arah
lain, kemudian jawabnya
lirih, “Betul!”
“Ada berapa banyak Thian-po-hu di dunia ini?”
“Hanya ada satu Thian-po-hu di kota Kiu-ki-shia.”
148
“Kalau begitu, Nyo-tayhiap adalah majikan keturunan berapa
dari Thian-po-hu?”
Ho Leng-hong tertegun sejenak, kemudian jawabnya,
“Thian-po-hu didirikan oleh mendiang
ayahku dan mempunyai tujuh anak semenjak ayahku wafat, kakak
sulungku Han-wi beserta
kelima saudara lainnya secara beruntun pergi meninggalkan
rumah dan tidak kembali lagi,
kini akulah yang mewarisi kedudukan itu.”
Sambil mendengar gadis itu manggut-manggut berulang kali,
katanya lagi sambil tersenyum,
“kalau begitu, Nyo-tayhiap adalah majikan terakhir
Thian-po-hu?”
“Betul!”
“Tadi Nyo-tayhiap berkata bahwa enam saudaramu secara
beruntun pergi meninggalkan
rumah untuk tidak kembali lagi, tahukah kau ke mana mereka
telah pergi?”
“Kokcu, kalau sudah tahu apa gunanya bertanya lagi? Keenam
saudaraku telah pergi
meninggalkan rumah lantaran hendak mencari ilmu golok sakti
peninggalan Ang-ih Hui-nio
dan secara beruntun pergi ke Mi-kok ini, masakah Kokcu tidak
tahu?”
Gadis itu tertawa, ia tidak mengaku juga tidak menyangkal,
ia ingin mengalihkan
pembicaraan ke soal lain, katanya, “Ilmu golok
Nyo-keh-sin-to telah merajai dunia, apa
gunanya kalian mencari ilmu golok lain yang lebih dahsyat?”
“Sebab gelar kehormatan Thian-he-te-it-to tersebut telah
dirampas oleh pihak Hiang-in-hu
dari Leng-lam pada pertemuan Lo-hu-to-hwe yang lalu, maka
kami bersaudara berhasrat
untuk menjunjung kembali nama baik keluarga, oleh karena
kami dengar ilmu golok Ang-ih
Hui-nio merupakan ilmu golok tandingan Nyo-keh-sin-to, maka
kami harus menemukannya.”
Gadis itu menggeleng kepala berulang kali, “Hakikatnya ilmu
silat di dunia ini tiada batasnya,
betapa hebat sesuatu ilmu silat tak lebih hanya gerakan
lincah yang memanfaatkan kelemahan
pihak lawan, kepandaian semacam ini mana pantas disebut ilmu
yang tiada tandingannya?
Setelah menderita kekalahan, mengapa kalian tidak mencoba
untuk bertanya pada diri sendiri
sudahkan kepandaian keluarga digunakan semaksimalnya?
Pernahkah terpikir hendak
mempopulerkan kehebatan Nyo-keh-sin-to? Kalau yang
dipikirkan hanya ingin belajar
kepandaian orang lain, sungguh tindakan ini adalah tindakan
yang bodoh.”
Ho Leng-hong tidak menyangka gadis semuda ini ternyata
sanggup memberi keterangan
panjang lebar seperti ini, tergerak juga perasaannya.
“Apa yang Kokcu terangkan memang tepat dan masuk diakal,”
demikian katanya, “sayang
sekali hanya sejumlah kecil manusia di dunia ini yang dapat
mawas diri serta mengintropeksi
diri sendiri, sementara sebagian besar lainnya tetap dungu
dan tak berguna.”
“Tolong tanya Nyo-tayhiap adalah manusia dari jenis yang
mana?”
“Aku . . . tentu saja dari golongan yang bodoh.”
“Kalau begitu, maksud kedatangan Nyo-tayhiap ke lembah ini
juga untuk mencari ilmu golok
yang maha sakti itu?” tanya gadis itu.
“O, tidak, pada hakikatnya aku tidak tahu di manakah letak
Mi-kok ini, sesungguhnya
kedatangan kami ke sini hanya ingin mencari sarang
Ci-moay-hwe, tak tahunya malah
terpancing sampai di Tay-pa-san ini.”
“Apa yang terjadi dengan perkumpulan Ci-moay-hwe?”
“Keadaan yang sebetulnya masih kurang jelas, aku cuma tahu
tentang munculnya sebuah
organisasi rahasia dalam dunia persilatan, semua anggota
mereka adalah kaum wanita dan
cita-citanya adalah beradu kekuatan dengan kaum pria di
dunia.”
Gadis itu tertawa, “Ambisi orang-orang itu terlalu besar,
Thian menciptakan makhluk laki dan
perempuan, Im dan Yang, dengan maksud agar ada perbedaan di
antara umatnya dengan tugas
dan tanggung jawab yang berbeda, kaum pria bertugas keluar
dan kaum wanita bertugas ke
dalam, sebetulnya tiada sesuatu yang pantas diperebutkan,
apalagi adu kekuatan. Ambil
contoh saja lembah kita ini, meskipun kaum wanita diwajibkan
belajar silat, hal ini
disebabkan ilmu silat leluhur kami lebih cocok untuk kaum
wanita, ini tidak berati kaum
wanita lebih tangguh daripada kaum prianya. Lagi pula,
kecuali urusan ilmu silat, kaum lelaki
149
tetap merupakan kepala rumah tangga, mereka saling hormat
menghormati, sayang
menyayangi, bukankah hal ini bagus sekali?”
Sampai di sini, tiba-tiba ia menarik kembali senyumnya,
kemudian berkata dengan nada
sungguh-sungguh, “Nyo-tayhiap, aku ingin bertanya lagi
padamu dan kuharap kau bersedia
bicara terus terang.”
“Silakan bertanya, Kokcu!”
Ditatapnya wajah Ho Leng-hong dengan sinar mata tajam,
kemudian sepatah demi sepatah
katanya, “Benarkah kau Nyo Cu-wi, majikan Thian-po-hu?”
Hati Leng-hong tergerak, bukannya menjawab ia malah
bertanya, “Apakah Kokcu mencurigai
diriku sebagai gadungan?”
“Betul, aku memang merasa curiga terhadap asal-usulmu.”
“Kenapa?”
“Sebab tahun yang lalu ada seorang Nyo Cu-wi yang mendatangi
lembah ini, dia menyebut
dirinya sebagai pemilik Thian-po-hu.”
“Oya? Tak nyana di dunia ini terdapat kejadian yang begini
kebetulan? Kini Nyo Cu-wi
tersebut berada di mana?”
“Dia sudah mati!”
“O, sayang sekali,” kata Leng-hong pura-pura menyesal,
“kalau tidak, ingin sekali kujumpai
sahabat yang mempunyai nama dan she yang sama dengan diriku
itu.”
“Maksudmu dia telah menyaru sebagai dirimu?”
Ho Leng-hong tersenyum, “Dia dan aku bukan hanya bernama dan
she sama, keduanya juga
sama mengaku majikan dari Thian-po-hu, salah seorang di
antara kami sudah pasti adalah
gadungan, tapi sekarang ia sudah mati, siapa yang asli dan
siapa gadungan rasanya tidak
penting lagi artinya.”
“Tidak, justru penting sekali artinya, seyogyanya kau
mengaku secara terus terang, sebab
kalau tidak akan berakibat fatal bagimu.”
Leng-hong berpikir sebentar, lalu katanya, “Orang yang sudah
mati tak mungkin bisa
dijadikan sebagai saksi, sekalipun aku gadungan, seandainya
aku berkeras menatakan diriku
adalah yang asli, bagaimana pula cara Kokcu akan
membedakannya?”
“Tentu saja aku ada akal untuk membedakannya, cuma kuharap
kau bersedia mengaku terus
terang, sebab jika aku sampai membuktikannya, kau tak ada
kesempatan untuk melakukan
pemilihan lagi.”
“Bagaimana kalau ada kesempatan untuk memilih, dan bagaimana
kalau tak ada
kesempatan?” tanya Leng-hong sambil tertawa.
“Berbicara terus terang berarti ada kesempatan hidup,
berbohong berarti kematian.”
Leng-hong termenung sebentar, kemudian katanya, “Kurasa
semua perkataanku adalah
sejujurnya, soal Kokcu mau percaya atau tidak jelas tidak
berani kupaksa, lebih baik Kokcu
segera membuktikannya sendiri.”
“Kau tidak menyesal?”
“Tentu saja tidak.”
“Bagus!” gadis itu lantas berpaling ke arah perempuan
bercadar itu sambil mengangguk,
“Coba periksalah dia, sebetulnya dia ini asli atau palsu?”
Perempuan itu mengiakan, pelahan ia melepaskan kain cadar
yang menutupi wajahnya.
Tiba-tiba mata Leng-hong terbeliak lebar, jeritnya, “Wan . .
. kun . . . .”
Tak salah lagi, dia memang Pang Wan-kun.
Ditinjau dari raut wajahnya, ia tak berbeda dengan Pang
Wan-kun gadungan dari Ci-moayhwe,
Cuma sikap maupun gerak-geriknya jauh lebih anggun daripada
perempuan gadungan
itu.
Bagaimana pun juga, seorang mungkin dapat menyaru raut wajah
orang lain, mungkin juga
dapat meniru suara bahkan gerak-geriknya, tapi sikap dan
gaya seseorang sukar untuk ditiru.
150
Sikap dan gaya melambangkan kepribadian seseorang,
melambangkan tingkat pendidikan
serta pengetahuannya, melambangkan pula semua pengaruh
lingkungan serta pengalaman
yang pernah dialaminya semenjak kecil.
Di dunia yang luas ini tak mungkin ada dua manusia yang
memiliki pengalaman yang sama,
sebab itu tak ada pula dua orang yang memiliki sikap serta
gaya yang sama.
Oleh sebab itu, meski baru bertemu sekali, Ho Leng-hong
merasa yakin bahwa Pang Wan-kun
yang berada di hadapannya itulah Pang Wan-kun yang asli, ia
tak mungkin Pang Wan-kun
jadi-jadian dari Ci-moay-hwe.
Lantaran itulah Ho Leng-hong bersuara kaget . . . dengan
masih hidupnya Pang Wan-kun di
lembah Mi-kok ini berarti penyamaran si gadungan segera akan
terbongkar.
Ho Leng-hong mengawasi Pang Wan-kun dengan mata melotot,
hampir saja jantungnya mau
melompat keluar dari rongga dadanya, sementara Pang Wan-kun
sendiri pun mengawasi
pemuda itu tanpa berkedip, wajahnya tetap dingin dan tawar
tanpa emosi.
Walaupun sudah lewat sekian lama, akan tetapi ia tetap tidak
bicara ataupun bergerak,
ditatapnya Ho Leng-hong tanpa berkedip.
“Pang Wan-kun, sudah kaulihat jelas?” tanya gadis itu
tiba-tiba.
Pelahan Pang Wan-kun mengangguk.
“Apa yang dikatakan tadi juga sudah kaudengar semua?”
kembali gadis itu bertanya.
Sekali lagi Pang Wan-kun mengangguk.
“Nah, sekarang beritahukan kepadaku, orang ini benar-benar
suamimu Nyo Cu-wi?” desak
gadis itu.
Pang Wan-kun tidak menjawab, tetap kepalanya tertunduk
rendah.
Sedemikian gelisahnya Ho Leng-hong waktu itu, hampir saja ia
merengek, memohon
kepadanya agar jangan memberi jawaban negatif, sebab
jawabannya itu berarti maut baginya.
“Mengapa kau tidak menjawab?” tanya gadis itu lagi,
“sebenarnya dia benar-benar Nyo Cuwi
atau bukan?”
Sekali lagi Pang Wan-kun mendongakkan kepalanya menatap Ho
Leng-hong, akhirnya ia
menarik napas panjang, “Dia....dia memang benar....”
Baru empat patah kata itu diucapkan, matanya lantas
berkaca-kaca, mendadak ia menutup
wajahnya dan menangis tersedu-sedu.
Pengakuan ini sungguh di luar dugaan Ho Leng-hong, ia tak
dapat mengatakan terkejut
ataukah bergirang? Untuk sesaat pemuda itu hanya berdiri
mematung.
Ia tahu tak mungkin Pang Wan-kun salah mengenali suaminya,
apalagi dalam dinding penjara
tercantum pula kata-kata “kekasih masuk istana es, aku masuk
penjara”, jelas Pang Wan-kun
sudah mengetahui akan jejak Nyo Cu-wi, tapi mengapa mengakui
seorang asing sebagai
suaminya.
Cuma tak ada waktu lagi bagi Ho Leng-hong untuk memikirkan
sebab musababnya, cepatcepat
ia berlagak sedih dan terharu, katanya dengan suara gemetar,
“Wan-kun, terima kasih
pada langit dan bumi, ternyata kau masih hidup, sudah lama
amat menderita kucari dirimu.”
Si gadis memandang sekejap ke arah Ho Leng-hong, lalu
memandang pula Pang Wan-kun,
setelah itu sambil tertawa katanya, “Di dunia ini memang
terlalu banyak kejadian aneh, tahun
yang lalu seorang Nyo Cu-wi telah mati dan tahun ini muncul
lagi seorang Nyo Cu-wi,
ternyata kedua orang Nyo Cu-wi itu semuanya adalah asli!”
Pang Wan-kun menundukkan kepalanya rendah-rendah, “Tahun
yang lalu aku hanya
mendengar beritanya saja dan tidak kusaksikan dengan mata
kepala sendiri, setelah aku
melihat sendiri sekarang, kuyakini dia inilah yang asli.”
“Mau yang asli juga boleh, yang palsu juga tak mengapa, asal
kau bersedia mengakuinya, itu
sudah cukup. Cuma setelah kau akui keasliannya, maka segala
sesuatunya harus dilaksanakan
menurut peraturan lembah ini, tentunya kau tak akan menyesal
bukan?”
151
“Aku tak akan menyesal!”
“Baik,” kata nona itu kemudian sambil mengangguk, “kuberi
waktu semalam untuk kalian,
sebelum fajar menyingsing besok harus sudah ada keputusan.”
Diberinya tanda di atas selembar dokumen, lalu katanya lagi,
“Oleh karena Nyo Cu-wi adalah
suami Pang Wan-kun, untuk sementara waktu pelaksanaan
hukuman Khek-sin ditangguhkan,
pengawasan sementara waktu diserahkan kepada Pang Wan-kun
dan harus memberi laporan
sebelum fajar menyingsing besok. Sekarang bawa menghadap
Pang Goan.....”
“Lapor Kokcu,” cepat Pang Wan-kun berkata, “Pang Goan adalah
saudara kandungku, tolong
Kokcu bersedia menyerahkan tanggung jawab pengawasan atas
dirinya kepadaku.”
Tapi gadis itu menggeleng, “Dia adalah orang yang telah
divonis bersalah, menurut peraturan
lembah, meski saudara juga tidak ada ampun sesuai peraturan
kita.....”
“Kokcu, mengingat jasaku yang melayani Kokcu selama setahun
ini, sudilah kiranya
meluluskan permintaanku ini?”
Dengan dahi berkerut gadis itu termenung sebentar, akhirnya
ia berkata, “Baiklah, akan
kuberi waktu sehari kepadamu, termasuk Hui Beng-cu
kuserahkan semua pertanggungan
jawabnya padamu, semoga kalian berunding baik dan memberi
laporan kepadaku sebelum
fajar besok.”
“Terima kasih Kokcu,” cepat Pang Wan-kun memberi hormat.
Gadis itu menutup dokumen-dokumennya dan menarik napas
panjang seperti ada maksud tapi
seperti tak sengaja melirik sekejap ke arah Ho Leng-hong
lalu tersenyum, kemudian bangkit
dan mengundurkan diri.
“Jit-long, mari ikut aku,” bisik Pang Wan-kun kemudian.
“Perlukah kita menunggu Toako sekalian?”
“Tidak perlu, sebentar mereka akan datang sendiri ke
tempatku.”
Sesudah mengundurkan diri dari ruang tengah mereka berbelok
ke barat dan melewati
beberapa halaman, akhirnya sampai di depan sebuah rumah
tembok kecil yang indah.
Pang Wan-kun membuka pintu dan mempersilakan Ho Leng-hong
masuk ke dalam, dalam
ruang tengah tampak sebuah patung dewi Kwan-im, asap dupa
memenuhi seluruh ruangan
tapi tempatnya bersih dan teratur rapi.
Banyak persoalan yang mencurigakan memenuhi benak Leng-hong,
tak tahan lagi ia tanya,
“Wan-kun, di sinikah tempat kediamanmu? Leluasakah kita
bercakap-cakap di sini?”
“Jangan gelisah dulu, duduklah, setelah memasang hio di
depan Budha baru kita bicara lagi.”
Terpaksa Leng-hong harus menahan sabar dan mempersilakan
Pang Wan-kun mencuci
tangan, memasang hio menyembah Budha, semua gerak-geriknya
sangat lamban tapi penuh
sujud, untuk memasang hio dan berdoa di depan patung suci
saja membutuhkan waktu sekian
lama.
Leng-hong berusaha menenangkan hatinya, menurut pendapatnya
selama setahun hidup di
lembah Mi-kok, Pang Wan-kun tentu banyak mengalami
suka-duka, pengakuannya kepada
dirinya yang Nyo Cu-wi gadungan pun pasti ada alasan
tertentu.
Betul juga, ketika selesai berdoa, ucapan pertama dari Pang
Wan-kun adalah, “Aku tahu kau
bukan Cu-wi, bahkan Kokcu juga tahu, maka sekarang kita tak
perlu berbohong lagi.”
Sedikit banyak malu juga Ho Leng-hong, katanya sambil
tertawa, “Leluasakah kita berbicara
di sini nona?”
“Sangat leluasa, kecuali beberapa orang kepercayaan Kokcu,
orang lain tak berani
sembarangan masuk ke sini, jangan kuatir.”
Leng-hong manggut-manggut, katanya, “Nona Pang, pertama-tama
hendak kuterangkan dulu
kepadamu, meski aku bukan Nyo Cu-wi yang sesungguhnya, akan
tetapi kakakmu betul-betul
adalah majikan Cian-sui-hu.”
“Aku tahu!”
152
Maka secara ringkas Leng-hong menceritakan asal-usulnya dan
bagaimana caranya ia
dipergunakan untuk menyaru sebagai Nyo Cu-wi dan tinggal di
Thian-po-hu.
Pang Wan-kun mendengarkan semua keterangan itu dengan
tenang, seakan-akan kejadian
tersebut telah berada dalam dugaannya.
Setelah Leng-hong selesai bercerita, Wan-kun berkata sambil
menghela napas panjang,
“Semua ini adalah permainan busuk Ci-moay-hwe, kita
selangkah demi selangkah telah
masuk ke dalam perangkap mereka.”
“Apakah kalian suami isteri juga tertipu oleh Ci-moay-hwe?”
tanya Leng-hong tercengang.
Wan-kun tertawa getir, “Siapa bilang bukan, justru mereka
yang memberitahukan alamat Mikok
ini kepada Jit-long . . . .”
Bicara sampai di sini, Pang Goan dan Hui Beng-cu secara
beruntun telah di antar pula ke
tempat Pang Wan-kun, ternyata yang mengantar mereka adalah
Pui Hui-ji, gadis Bok-lan-pektui
yang bertugas menjaga pintu itu.
Perjumpaan antara kakak beradik ini sedikit banyak
menimbulkan kesedihan bagi kedua
pihak, dalam penuturan pengalaman kemudian diketahuilah cara
bagaimana Pang Wan-kun
suami istri meninggalkan Thian-po-hu . . . .
Ternyata ketika Pang Wan-kun menikah dengan Nyo Cu-wi, meski
ia tahu kejadian yang
menimpa Nyo-keh-hengte dalam Mi-kok, namun ia sendiri tak
tahu di manakah letak lembah
tersebut, setelah menikah iapun tak pernah menceritakan hal
ini kepada Nyo Cu-wi.
Waktu ia mengetahui dirinya sedang mengandung dan hendak
memberitahukan kabar
gembira ini kepada suaminya, tiba-tiba Nyo Cu-wi
meninggalkan surat dan pergi dari rumah.
Yang lebih mengherankan lagi, ternyata dalam surat Nyo Cu-wi
mengetahui bahwa isterinya
telah mengandung, bahkan memberi pesan baik lelaki atau
perempuan yang bakal dilahirkan,
pokoknya Thian-po-hu sudah mempunyai keturunan, sedang ia
akan meneruskan perjuangan
saudara-saudaranya untuk mencari ilmu golok peninggalan
Ang-ih Hui-nio agar nama baik
Thian-po-hu bisa dibangun kembali, seandainya dalam setahu
ia tidak pulang, maka Pang
Wan-kun dipersilakan menjadi majikan Thian-po-hu.
Pang Wan-kun segera putar otak memikirkan persoalan itu, ia
merasa hanya pelawan Bwe-ji
yang mengetahui dia sedang mengandung, ketika Bwe-ji ditanya
baru diketahuinya bahwa
pelayan itu mempunyai hubungan cinta gelap dengan Nyo Cu-wi,
bahkan diketahui juga
sebelum meninggalkan rumah, Nyo Cu-wi pernah berunding
secara rahasia dengan Thian
Pek-tat, sedang Thian Pek-tat juga sangat banyak mengetahui
kejadian di Thian-po-hu,
kemungkinan besar dia yang telah membocorkan alamat Mi-kok
itu kepada Nyo Cu-wi.
Ketika Thian Pek-tat didesak kemudian, akhirnya diketahui
lembah Mi-kok teretak di tengah
pegunungan Tay-pa-san.
Tapi menurut pengakuan Thian Pek-tat, katanya Nyo Cu-wi
sudah mengetahui tentang
peristiwa Ang-ih Hui-nio, iapun tahu keenam saudaranya pergi
tak kembali lantaran persoalan
itu, cuma keluarga Nyo belum ada keturunan dan lagi ia
merasa mempunyai tanggung jawab
besar, maka rahasia tersebut selalu dipendam dalam hati
saja.
Waktu itu Pang Wan-kun sendiri tak sempat menganalisa benar
atau tidaknya persoalan itu,
waktu itu juga ia berangkat ke Tay-pa-san.
Sepanjang jalan ia tidak berhasil menemukan jejak Nyo Cu-wi,
tapi merasa seolah-olah ada
orang yang secara diam-diam memberi petunjuk kepadanya,
sehingga tanpa susah payah ia
berhasil menemukan Mi-kok.
Setelah di lembah ini ia baru tahu Nyo Cu-wi telah tiba di
situ sehari sebelumnya, bahkan
telah memilih jalan “menerobos istana es” dan “menembus
liang api” . . . karena itulah kedua
suami isteri tak pernah berjumpa muka lagi.
Pang Wan-kun disekap dalam penjara, ia berpikir dengan
cermat, demi janin dalam
kandungannya sambil menahan rasa sedih terpaksa ia memilih
untuk menetap dalam lembah
sambil menunggu kesempatan . . . .
153
Setelah mendengar kisah tersebut, Ho Leng-hong bertiga
menghela napas terharu, di
antaranya Hui Beng-cu yang sebenarnya tidak mengetahui
tentang diri Ho Leng-hong,
sekarang baru tahu bahwa dia bukan Nyo Cu-wi, sebab itu
dalam kesedihan terselip juga
beberapa bagian rasa kaget dan tercengang.
Dengan air mata bercucuran Pang Goan berkata, “Adikku, kau
terlampau bodoh, setelah
mengetahui kepergian Cu-wi waktu itu, sepantasnya kalau
kaupulang dulu ke rumah untuk
berunding denganku.”
“Sesungguhnya akupun berhasrat pulang ke rumah untuk minta
petunjuk Toako, tapi
berhubung waktu sangat mendesak dan tidak memungkinkan
diriku pulang dulu ke Cian-suihu,
dan lagi setibanya di Tay-pa-san akupun merasa mulai terikat
oleh sesuatu, maka seperti
sadar-tak-sadar akupun menerobos masuk ke dalam lembah ini.”
“Kalau demikian, kemungkinan besar Thian Pek-tat adalah
orangnya Ci-moay-hwe,” kata
Leng-hong, “Tapi mengapa ia menyerobot Yan-ci-po-to itu dan
diantar ke Mi-kok sini?”
“Bajingan itu banyak tipu muslihatnya, delapan bagian dia
adalah mata-mata bermuka dua,
mulut untuk Ci-moay-hwe dan kemudian berpihak kepada lembah
Mi-kok . . . . .”
Tiba-tiba hatinya tergerak, katanya lagi, “Ah, benar!
Bukankah Mi-kok melarang anggotanya
keluar dari tempat ini dan tak pernah berhubungan dengan
dunia luar? Kenapa Thian Pek-tat
beserta Hui-goan Taysu dari Siau-lim-pay dapat mengadakan
kontak dengan pihak Mi-kok?”
Pang Wan-kun menghela napas, katanya, “Sungguhpun masalah
ini merupakan suatu rahasia
besar, kalau aku tidak berdiam selama setahun di sini,
mungkin rahasia ini tak akan kita
ketahui untuk selamanya.”
Tiga orang lainnya hanya diam saja dan mendengarkan kisah
itu selanjutnya.
Dengan sedih Pang Wan-kun berkata pula, “Sejak Ang-ih
Hui-nio mengasingkan diri dalam
lembah Mi-kok, ia tak pernah berhubungan dengan dunia luar,
iapun berharap lembah
tersebut dapat menjadi surgaloka di luar keramaian manusia,
sebab itu dibuatlah suatu
peraturan yang melarang ahli warisnya meninggalkan
Tay-pa-san, tapi orang lain juga
dilarang memasuki lembah ini, barang siapa masuk ke lembah
ini, bila orang itu tidak
berdosa, hanya ada dua pilihan baginya, yakni menetap dalam
lembah atau memasuki istana
es dan menembusi liang api untuk mencari hidup . . . . . .”
Ia tidak memberi penjelasan tentang apa yang dimaksudkan
sebagai “memasuki istana es” dan
“menembusi liang api” tersebut, sambungnya pula, “Tapi
belakangan ini, berhubung tujuh
bersaudara keluarga Nyo dari Thian-po-hu berturut-turut
mendatangi lembah Mi-kok, rupanya
kejadian ini menimbulkan perhatian Ci-moay-hwe, merekapun
mengutus jago-jago lihaynya
untuk menyeludup ke lembah Mi-kok, mereka kebanyakan
berpura-pura ingin menetap di
situ, padahal sesungguhnya ingin menarik perhatian anggota
Mi-kok agar bersedia bekerja
sama dengan pihak mereka, lalu dengan ilmu golok yang tiada
tandingannya dari Ang-ih Huinio
mereka juga akan merajai dunia persilatan. Untunglah Kokcu
lembah ini Tong Siau-sian,
meski masih kecil namun kecerdasannya melebihi orang lain
dan lagi sifatnya tawar terhadap
segala macam keramaian. Maka begitu orang-orang Ci-moay-hwe
mengetahui tak mungkin
menarik perhatiannya, diam-diam merekapun membeli beberapa
orang Popo dan tokoh
berbenang biru untuk membantu mereka mendesak kepada Tong
Siau-sian agar terjun
kembali ke dunia persilatan, tapi Kokcu tak mau, secara
diam-diam mereka lantas melakukan
segala persiapan dan mengadakan kontak dengan dunia luar,
kupikir dengan cara inilah Thian
Pek-tat serta Hui-goan Taysu berhasil mengadakan kontak
dengan pihak Mi-kok.”
“Apakah Kokcu Tong Siau-sian tidak mengetahui persoalan
ini?” tanya Leng-hong.
“Ia telah mendapat kabar selentingan tentang itu, Cuma
lantaran tak ada bukti, dan lagi tidak
tahu berapa banyak orangnya yang telah berkomplot dengan
orang luar, ia tidak mengambil
tindakan untuk sementara waktu, dan lagi sekalipun
kedudukannya sebagai Kokcu amat
terhormat, hakikatnya ia berada dalam posisi terjepit, ia
sangat membutuhkan bantuan orang
154
lain, kalau tidak, tak mungkin dia mau menuruti permintaanku
setelah diketahui bahwa kau
adalah Nyo Cu-wi gadungan.”
“Adikku, bagaimana hubunganmu dengan Tong Siau-sian?” tanya
Pang Goan.
“Dia sangat baik kepadaku, selama setahun ini ia selalu
melindungi dan memperhatikan
diriku, sekalipun sepintas lalu tampak bagaikan majikan dan
bawahan, namun kenyataannya
kami adalah sahabat karib.”
“Kalau begitu bagus sekali,” kata Pang Goan dengan gembira,
“kita bersedia membantunya
untuk menyelidiki siapa-siapa yang telah dibeli orang luar,
bahkan membantunya juga untuk
menangkap agen Ci-moay-hwe, tentu saja bila diapun bersedia
menukar ilmu golok sakti
Ang-ih Hui-nio kepada kita.”
Tapi Pang Wan-kun menggeleng kepala berulang kali, “Urusan
ini tak segampang apa yang
kaubayangkan, sebagai seorang Kokcu, mana mungkin dia
meminjam kekuatan luar untuk
menindak anggota perguruannya sendiri? Lagipula, jumlah
anggota lembah yang berkomplot
dengan Ci-moay-hwe tentu tidak sedikit jumlahnya, bila kita
melakukan suatu tindakan,
bukannya membantu, malah kemungkinan besar akan
mencelakainya.”
“Kalau begitu, apa maksudnya menyerahkan kami kepadamu?”
tanya Pang Goan.
“Oleh karena aku bersedia menetap di lembah ini, maka
menurut peraturan lembah, kalian
sebagai sanak keluargaku mendapat kesempatan juga untuk
tinggal di sini, maksudnya tentu
saja agar aku bisa mengajak kalian menetap di sini dan
membantu dia.”
“Ah, mana mungkin?” kata Pang Goan, “kalau kami tinggal di
sini, bukankah selama hidup
tak mungkin keluar lagi? Bagaimanapun juga, tidak seharusnya
kita meninggalkan hasil karya
leluhur untuk hidup dalam lembah ini. Aku orang pertama yang
tidak setuju dengan usul
tersebut.”
“Bagaimana pula jika kami tidak bersedia menetap di sini?”
tanya Leng-hong kemudian.
Pang Wan-kun tertawa getir, “Waktu itu karena memikirkan
anakku, maka kupilih untuk tetap
tinggal di sini, sungguhpun aku tak ingin menetap sampai tua
di lembah ini, akan tetapi jika
tidak bersedia menetap, kita hanya ada satu jalan, yakni
menembus istana es dan menerobos
liang api, padahal jelas jalan ini adalah jalan kematian.”
“Apa yang dimaksudkan dengan memasuki istana es dan
menerobos liang api?”
“Lembah ini letaknya sangat istimewa, tempatnya persis di
atas sumber air dan liang api yang
berdekatan letaknya, di belakang lembah situ ada sebuah
jalan tembus, separuh di antaranya
berhawa sangat dingin dan sepanjang tahun diliputi oleh
salju beku yang tebal dan tak pernah
cair, tempat itu dinamakan ‘Peng-kiong’ (istana es), sukar
bagi orang untuk hidup selama satu
jam di sana, kemudian separuh jalan berikutnya orang akan
melewati sebuah jalan yang
panasnya bagaikan dalam neraka, dari bawah lembah tiada
hentinya menyembur api dahsyat,
jangankan tubuh manusia, besipun akan meleleh bila berada di
situ, tempat itu disebut ‘liang
api’, bila orang tak mau menetap di sini, kecuali menembusi
istana es dan liang api, jangan
harap bisa keluar dari Mi-kok ini!”
“Apakah tujuh bersaudara keluarga Nyo dari Thian-po-hu
memilih jalan ini semua?” tanya
Leng-hong.
“Benar!” Wan-kun mengangguk, “mereka semua tewas dalam
istana es, tak seorangpun
berbasil lolos dalam keadaan selamat.”
“Belum pernah ada orang bisa melewati jalan itu dengan
selamat?”
“Belum pernah, semenjak Mi-kok ini ada, belum pernah ada
seorang pun yang bisa melewati
istana es dan liang api dengan selamat, sebab itu dalam
lembah ini tersiar sebuah syair yang
sangat populer, katanya, ‘Berlatih golok dalam istana es,
melatih sukma dalam liang api’!”
“Apa pula arti dari ucapan tersebut?” tanya Leng-hong
tercengang.
“Maksudnya semua jurus ilmu golok maha sakti peninggalan
Ang-ih Hui-nio yang bernama
Ang-siu-to-hoat (rahasia ilmu golok baju merah) berada dalam
gua salju tersebut, barang
siapa masuk ke istana itu maka dia pasti akan tertarik
perhatiannya oleh kelihaian ilmu golok
155
yang terdapat di situ, tapi bila ingin menguasai seluruh
jurus serangan ilmu golok tersebut,
paling sedikit seorang membutuhkan waktu selama satu jam,
bila ilmu golok itu berhasil
diingat semua, tentu orangnya akan mati kedinginan lebih
dulu. Mengenai kata yang terakhir,
tentu saja berarti kalau orang tidak mati kedinginan dia
akan mati terbakar dalam liang api,
sebab itu barang siapa memasuki istana es dan liang api,
belum pernah ada yang berhasil
keluar dalam keadaan selamat.”
Sesudah mendengar keterangan tersebut, perasaan mereka
bertiga mulai menjadi murung dan
berat.
Lama sekali Ho Leng-hong termenung, kemudian sambil menghela
napas katanya, “Wah,
dingin dan panas merupakan siksaan yang tak dapat ditahan
oleh tubuh manusia, agaknya
terpaksa kita harus memilih jalan menetap di lembah ini.”
Hui Beng-cu yang sejak tadi terus membungkam tiba-tiba
menutupi wajahnya sambil
menangis terisak, “Kalian tentu saja tak mengapa karena tak
ada yang dipikirkan, tapi
bagaimana dengan diriku? Ayahku berada dalam cengkeraman
Ci-moay-hwe, kalau aku tak
pulang, betapa akan gelisahnya beliau?”
Leng-hong mengangkat bahu, “Ya, urusan sudah menjadi begini,
gelisahpun tak ada gunanya,
lebih baik kita mengirim surat kepada ayahmu dan mengundang
beliau agar menetap pula di
Mi-kok ini, dengan demikian semua orang bisa hidup senang di
tempat yang indah bagaikan
surgaloka ini.”
“Hei, saat macam apakah sekarang ini? Tak nyana kau masih
ada pikiran untuk bergurau?”
tegur Pang Goan.
Ho Leng-hong tertawa, “Sekalipun sedih, apa pula manfaatnya?
Lebih baik sebelum hujan
sedia payung, kita membuat dulu perhitungan yang paling
jelek.”
Tiba-tiba ia mengalihkan pokok pembicaraan sambil berpaling
tanyanya, “Nyo-hujin, tadi
kaubilang demi anakmu maka kau memilih tetap tinggal di
sini, entah anakmu itu lelaki
ataukah perempuan?”
“Laki-laki, baru berusia setengah tahun!”
“Mengapa tidak kau gendong keluar untuk menjumpai pamannya?”
“Tentang ini . . . .” Pang Wan-kun ragu-ragu sejenak, lalu
menambahkan, “bocah itu tak ada
di rumah, ia dibawa Kokcu pergi bermain.”
Wan-kun menundukkan kepalanya rendah-rendah, “Ya, Kokcu amat
sayang kepada bocah itu,
setiap hari ia pasti mengajak bocah itu bermain.”
“O, baikkah Kokcu itu kepadamu?” kembali Leng-hong bertanya.
“Sudah kukatakan tadi, meskipun kami tampak sebagai majikan
dan bawahan, hakikatnya
hubungan kami akrab seperti sahabat.”
Leng-hong manggut-manggut, “Ya, begitu sayangnya dia kepada
anakmu, tentu saja kaupun
tidak dianggapnya sebagai orang luar, buktinya kau
diperbolehkan berdiam dalam gedung
belakang, malahan tanpa sangsi dia serahkan kami kepadamu.”
“Memang begitulah keadaannya!”
“Menurut penglihatanku, Kokcu yang sekarang ini Tong
Siau-sian seorang gadis yang amat
cerdik, bukannya ia tak ingin membasmi mata-mata dari
Ci-moay-hwe, soalnya kekuatannya
sangat minim, maka terpaksa ia berlagak tuli dan pura-pura
tidak tahu orang-orangnya telah
mengadakan kontak rahasia dengan Ci-moay-hwe.”
“Ya, memang begitulah.”
“Ia begitu baik kepada Hujin, dengan kamipun boleh dibilang
mempunyai musuh yang sama,
berbicara menurut keadaan umumnya, sepantasnya kita bekerja
sama menghadapi Ci-moayhwe,
cuma tidak diketahui bantuan apakah yang ia perlukan?”
“Apakah kau bicara dengan sungguh-sungguh!”
“Tentu saja sungguh-sungguh!” sahut Leng-hong.
156
Dengan gembira Wan-kun berkata, “Jika kalian bersedia
tinggal di sini, sekarang juga
kulaporkan soal ini kepada Kokcu, mengenai cara bagaimana
kerja sama kita untuk
menghadapi mata-mata Ci-moay-hwe, kita rundingkan lagi
dikemudikan hari, setuju?”
“Tentu saja, kita sudah bertekad tetap tinggal di sini . . .
. .” kata Leng-hong tanpa ragu-ragu.
“Tidak! Aku tidak setuju!” tiba-tiba Pang Goan menyela.
“Akupun tidak setuju!” sambung Beng-cu.
“Toako, kenapa kau berkeras kepala,” ujar Leng-hong, “Selama
gunung tetap hijau, tak usah
takut kekurangan kayu bakar, dalam istana es dan liang api
kita hanya akan menemukan jalan
kematian, apa gunanya . . . .”
“Jangankan cuma istana es dan liang api, sekalipun gunung
golok atau kuali minyak mendidih
akupun tidak takut, kalau mau tinggal di sini boleh kau saja
tinggal di sini sendirian, aku dan
Siau-cu bertekad akan menerobos istana es dan liang api
itu.”
“Toako, dengarkan dulu perkataanku . . . .” pinta Wan-kun.
“Tidak usah banyak bicara, pokoknya sebagai seorang lelaki
sejati aku lebih rela mati dalam
istana es daripada hidup sampai tua di lembah terkurung
ini.”
“Nyo-hujin, tak perlu kaubujuk dia lagi,” kata Leng-hong,
“bila ia bertekad hendak menjadi
lelaki sejati dan lebih suka menjadi seorang yang tidak bisa
dipercaya dan tidak setia kawan,
biarkanlah ia pergi.”
“Kau mengatakan siapa yang tak bisa dipercaya dan tidak
setia kawan?” teriak Pang Goan
marah.
“Tentu saja kau. Aku ingin tanya, sewaktu kau menerima pesan
dari keluarga Nyo untuk
bantu Thian-po-hu berdiri kembali dengan jaya, sudahkah
tugas itu terselesaikan bila jiwamu
kau korbankan dalam istana es liang api, bukanlah tindakanmu
itu berati tidak memenuhi
janjimu kepada keluarga Nyo?”
Pang Goan melenggong dan terdiam.
Leng-hong berkata pula, “Secara beruntun tujuh bersaudara
keluarga Nyo dari Thian-po-hu
tewas dalam Mi-kok, satu-satunya keturunan yang masih ada
sekarang masih kecil, dengan
menahan segala siksaan dan penderitaan adikmu menyambung
hidup demi mempertahankan
keturunan keluarga Nyo, sebaliknya kau tidak mempedulikan
nasib adikmu dan anaknya, tapi
demi kepuasan diri sendiri hendak memasuki istana es dan
liang api, Kematianmu tak akan
menjadi soal, tapi meninggalkan adikmu dan anaknya bukan
suatu tindakan yang terpuji.”
Pang Goan terbelalak dan tak dapat mengucapkan sepatah
katapun, akhirnya sambil menghela
napas ia menundukkan kepalanya.
Leng-hong mengerling sekejap ke arah Pang Wan-kun, kemudian
katanya lagi, “Silakan
memberi laporan kepada Kokcu, katakanlah bahwa kami bersedia
menetap di lembah ini.”
Wan-kun sangat gembira, buru-buru ia mengundurkan diri.
Setelah Pang Wan-kun pergi, dengan suara rendah Leng-hong
berbisik, “Lotoako, mengapa
kau pintar sepanjang waktu tapi bodoh sesaat? Apakah tidak
kaulihat bahwa adikmu tak bebas
bergerak dan berada di bawah ancaman orang lain?”
“Sungguhkan perkataanmu?” tanya Pang Goan terperanjat.
Leng-hong segera berkata kepada Hui Beng-cu, “Duduklah dekat
pintu sana, perhatikan
adakah orang mencuri dengar, kita harus berunding secepatnya
untuk menghadapi segala
kemungkinan.”
Beng-cu manggut-manggut, ia lantas duduk di pinggir pintu
dan bertugas mengawasi keadaan
di sekitar sana.”
“Ho-lote, darimana kautahu kalau Wan-kun telah dikuasai
orang lain?” tanya Pang Goan
cemas.
“Dengan jelas ia tahu aku bukan Nyo Cu-wi, tapi ia mengakui
diriku sebagai Nyo Cu-wi,
kejadian ini sudah amat mencurigakan, seandainya ia ingin
bertemu dengan kita karena ingin
merundingkan cara meloloskan diri, semestinya hal itu sudah
ia sampaikan, tapi bukan
157
rencana kabur yang dirundingkan, ia malah menganjurkan kita
untuk bergabung dengan pihak
Mi-kok, di sinilah titik kelemahannya yang paling besar.”
Pang Goan mengangguk berulang kali.
Leng-hong berkata lebih lanjut, “Kokcu Tong Siau-sian adalah
seorang nona yang cerdik,
meski usianya masih muda namun tindak tanduknya cukup matang
dan berpengalaman, kalau
dibilang hubungannya dengan adikmu sangat akrab, sudah
sepantasnya ia membiarkan anak
Wan-kun menjumpai pamannya, anehlah kalau dalam keadaan
begini dia malah membawanya
dan diajak bermain ke tempat lain? Dari sini dapat diketahui
bahwa mengajaknya bermain
cuma alasan, yang benar adalah menjadikan bocah itu sebagai
sandera, agar adikmu tunduk
dan bersungguh-sungguh melaksanakan perintahnya.”
“Tapi kita sudah tertangkap, mau dibunuh atau dibiarkan
hidup bergantung pada
keputusannya, apa pula tujuannya berbuat begitu?” kata Pang
Goan dengan terkesiap.
“Apa tujuannya? Tak berani kukatakan dengan pasti, mungkin
saja tong Siau-sian benarbenar
ingin meminjam kekuatan kita untuk melawan para pengkhianat
dalam lembah,
mungkin juga ingin mempergunakan kekuatan kita untuk
melakukan suatu pekerjaan yang
berbahaya, atau bahkan mungkin Mi-kok adalah sarang
Ci-moay-hwe, sedan Tong Siau-sian
adalah ketua Ci-moay-hwe tersebut.... setiap kemungkinan
bisa terjadi di sini.”
Baik Pang Goan maupun Hui Beng-cu merasa bulu romannya sama
berdiri karena ngeri.
“Cuma, ada satu hal yang dapat dipastikan,” kata Leng-hong
lagi, “baik tempat ini adalah Mikok
atau sarang Ci-moay-hwe, yang pasti di antara mereka
terdapat dua golongan kekuatan
yang saling berebut kekuasaan dan saling depak mendepak.
Lebih baik kita berlagak bodoh
dan mendengarkan semua perintahnya, bila keadaan yang
sesungguhnya telah jelas baru kita
ambil tindakan.”
“Aku cuma merasa keadaan di sini mengerikan sekali,” kata
Hui Beng-cu dengan suara
gemetar, “kalau Pang toaci pun tidak bisa dipercaya, lalu
kita harus percaya kepada siapa?”
“Ia bukannya tak bisa dipercaya, melainkan dewasa ini ia
mempunyai kesulitan yang tak
dapat diutarakan, maka pertama-tama kita harus turuti
kehendaknya kemudian baru
menyelidiki latar belakang yang sebenarnya.”
Sementara mereka berbicara sampai di situ, Pang Wan-kun
telah kembali.
Ia muncul bersama Pui Hui-ji serta dua orang perempuan lain
yang berdandan seperti pelayan,
masing-masing membawa sebuah kotak makanan.”
Dengan senyum di kulum Pang Wan-kun segera berkata, “Ketika
Kokcu mengetahui kalian
bersedia menetap di sini, betapa gembiranya hati beliau,
arak dan makanan harap kalian cicipi
dulu, nona Pui dari Bok-lan-pek-tui ini ditugaskan untuk
menemani kalian.”
Kedua pelayan itu membuka kotak makanan yang dibawa,
tertampaklah makanan dan arak.
Leng-hong bertiga memang sudah lapar, tanpa sungkan-sungkan
mereka duduk dan mulai
makan minum dengan lahapnya.
Ternyata takaran minum Pui Hui-ji amat besar, beruntun ia
menenggak habis belasan cawan
arak tanpa berubah air mukanya, gelagatnya seakan hendak
meloloh Pang Goan sampai
mabuk, sebab selama ini hanya dia saja yang diloloh terus
dengan minuman.
Ho Leng-hong mempunyai perhitungan sendiri dalam hati, tapi
iapun tidak membongkar
rahasia tersebut, ketika arak sudah diminum hingga setengah
mabuk, sambil tertawa ia
berkata, “Setelah kami mengambil keputusan untuk tinggal di
lembah ini berarti selanjutnya
kita adalah orang sekeluarga, terhadap peraturan lembah kami
kurang mengerti, harap nona
suka memberi petunjuk.”
“Peraturan sih tidak ada,” kata Pui Hui-ji sambil tertawa,
“cuma, walaupun kalian sudah
memohon untuk menetap di sini, sekarang kalian masih belum
terhitung penduduk lembah,
sebab bila kalian sudah menjadi penduduk di sini, maka kau
dan Pang-toako tidak dapat lagi
minum arak.”
“Masa untuk mohon menetap pun ada syarat lainnya?”
158
“Tentu saja ada. Misalnya saja kalian adalah orang yang
dijatuhi hukuman mati, maka untuk
bisa menetap di lembah ini pertama-tama harus membuat jasa
dulu untuk menebus kesalahan,
kemudian izin menetap baru akan diberikan.”
Leng-hong pura-pura kaget, “Kami tak dapat meninggalkan
lembah ini lagi, jasa apa yang
bisa kami lakukan?”
“O, kesempatan untuk membuat jasa banyak sekali, tidak harus
melakukannya di luar
lembah,” kata Pui Hui-ji sambil tertawa.
“Apakah nona Pui bisa memberikan sebuah contoh?”
Pui Hui-ji menengok sekejap ke arah Pang Wan-kun, lalu
katanya, “Misalnya saja di depan
mata sekarang pun ada kesempatan untuk membuat jasa, cuma
kalian bersedia untuk
melakukannya atau tidak . . . .”
“Kalau bisa membuat jasa untuk Mi-kok, itulah yang kami
harapkan, siapa bilang kami tidak
bersedia? Nona Pui, tolong beri tahukanlah kepada kami.”
Pui Hui-ji termenung dan berpikir sebentar, lalu jawabnya,
“Kukira lebih baik Pang-toaci saja
yang menjelaskan.”
Seperti sudah tidak sabar lagi, buru-buru Leng-hong berseru,
“Wan-kun, cepatlah katakan!”
Wan-kun tidak buru-buru bicara, pelahan dia mengangkat cawan
untuk minum secegukan
arak, rupanya ia sedang berpikir bagaimana caranya untuk
mulai bicara.
“Sebetulnya kesempatan macam apakah yang dimaksudkan?” tanya
Leng-hong lagi, “katakan
saja terus terang, asal kami sanggup melakukannya, pasti
akan kami laksanakan sedapatnya.”
Pang Wan-kun tertawa, dia memberi tanda kepada dua orang
pelayan itu agar mengundurkan
diri, “Berdirilah di luar sana, jangan izinkan siapapun
masuk kemari.”
Sesudah kedua pelayan itu mengundurkan diri, senyuman di
bibir Wan-kun mendadak lenyap,
sebagai gantinya dengan wajah serius ia berbisik, “Nona Pui
adalah orang kepercayaan
Kokcu, semua orang yang hadir di sini juga tiada orang luar,
aku akan bicara terus terang.”
Setelah berhenti sejenak, dengan wajah serius ia berkata
lebih jauh, “Kokcu memegang
tampuk kekuasaan untuk mengatur semua kehidupan dalam
lembah, tapi berhubung usianya
masih muda, maka tata pemerintahan dibantu oleh para Popo,
dan sekarang diketahui bahwa
para Popo itu telah dibeli pihak luar, di mana setiap
perbuatannya selalu bermusuhan dengan
Kokcu, bahwa tampaknya mereka berencana hendak merebut
tampuk pimpinan . . . . .
Berbicara sampai di sini, sengaja ia berhenti dan menyapu
pandang sekejap wajah Ho Lenghong
bertiga, rupanya ia sedang mengawasi reaksi mereka.
Leng-hong bertiga tetap tenang dan sama sekali tidak
memberikan reaksi apa-apa.
Tampaknya Pang Wan-kun merasa agak kecewa, katanya pula,
“Misalkan saja maksud kalian
bertiga hendak menetap di sini, tentu saja Kokcu menyambut
niat kalian dengan segala
senang hati sebenarnya dia ingin mengabulkannya, tapi para
Popo berkeras menolak, sampai
kini mereka masih ngotot, inilah contoh nyata yang paling
jelas . . . . .”
“Wan-kun!” tiba-tiba Leng-hong tertawa, “mengapa tidak
kauterangkan saja secara langsung,
sesungguhnya apa yang dikehendaki Kokcu?”
“Baik, akan kuterangkan sesingkatnya dan jelas, Kokcu tidak
tahan melihat sepak terjang para
Popo, ia bertekad membubarkan ‘Tian-lo-wan’ (lembaga para
tertua) dan membasmi mereka
dengan alasan bersekongkol dengan orang luar, maka Kokcu
ingin minta bantuan kalian.”
“Cara bagaimana dia menghendaki kami membantunya?”
“Kokcu tidak berharap kalian ikut campur dalam persoalan ini
secara langsung, dia Cuma
berharap kalian mengambilkan sebuah benda untuknya agar ia
dapat menindas sendiri para
pengkhianat tersebut!”
“Beda apakah yang diharapkan?”
“Golok mestika Yan-ci-po-to!”
Leng-hong saling pandang sekejap dengan Pang Goan dan
tersenyum penuh berarti . . .
agaknya ucapan tersebut sudah berada dalam dugaan mereka.
159
“Adikku, Kokcu belum pernah meninggalkan lembah Mi-kok,
darimana ia tahu tentang Yanci-
po-to segala?” tanya Pang Goan.
“Akulah yang memberitahukan kepadanya.”
“Ang-siu-to-hoat merupakan ilmu golok yang tiada
tandingannya di kolong langit, apa pula
gunanya golok mestika itu baginya?” sela Leng-hong.
“Bagi orang lain, Ang-siu-to-hoat memang ilmu golok yang
tiada tandingannya, tapi setiap
anggota lembah Mi-kok mempelajari ilmu tersebut, maka
kepandaian itu bukan ilmu yang
hebat lagi, sementara tenaga dalam Kokcu hanya seimbang
dengan para Popo, hanya dengan
golok mestika ini ia bisa mengalahkan mereka.”
“Kalau begitu Kokcu yang menitahkan Thian Pek-tat serta
Goan-hui Taysu dari Siau-lim-si
untuk mencuri golok mestika itu?” tanya Pang Goan.
“Tidak, mereka mendapat petunjuk dari Tong-popo serta
kelompok Tiang-lo-wan, semula
yang ditugaskan menyambut golok di luar lembah adalah Hoa
Jin, tapi lantaran kabar ini
diketahui Kokcu dan malam itu juga mengirim pasukan peronda
yang berpuluh regu
banyaknya untuk mengadang mereka, maka begitu Hoa Jin merasa
gelagat tidak
menguntungkan, ia segera turun tangan membinasakan mereka,
perkara itu lantas
dilimpahkan kepada kalian bertiga, oleh karena itulah begitu
masuk ke lembah, Tong-popo
langsung memimpin sidang dan menjatuhkan hukuman mati kepada
kalian.”
“Tapi kedatangan kami ke Tay-pa-san ini adalah karena
terpancing oleh siasat Ci-moay-hwe,”
kata Leng-hong, “Tidak mungkin Hoa Jin mengetahui kami bakal
datang ke sini.”
“Justru Tong-popo dan Hoa Jin sekalian mengadakan
persekongkolan dengan Ci-moay-hwe.”
“Ah, hal ini lebih tak mungkin lagi,” sela Pang Goan, “orang
yang mengatur siasat dalam
Thian-po-hu untuk mencuri golok mestika itu adalah
Ci-moay-hwe, Thian Pek-tat
menggunakan kesempatan sewaktu Ci-moay-hwe bentrok dengan
kami untuk merampas
golok mestika itu, jika dia bersekongkol, kenapa ia malah
menggigit rekan sekomplotan
sendiri?”
“Hal ini adalah urusannya dengan Ci-moay-hwe, aku kurang
begitu jelas, Kokcu cuma tahu
bahwa golok mestika yang berhasil mereka dapatkan adalah
benda bagus, maka ia berpesan
kepadaku agar menyampaikan kepada kalian bahwa ia sangat
berharap kalian suka
menyerahkan Yan-ci-po-to yang asli kepadanya.”
“Jika Yan-ci-po-to berhasil kami peroleh, apa pula
imbalannya untuk jasa tersebut?”
“Kokcu ada perintah, jika kalian bersedia membantu kami
untuk menindas kaum pengkhianat,
maka setelah urusan selesai kalian dipersilakan meninggalkan
lembah ini dengan bebas,
kitapun selamanya akan menjadi sahabat, janji ini pasti
takkan dipungkiri.”
“Kami masih ada suatu permintaan lagi, yakni kuharap
Yan-ci-po-to dapat ditukar dengan
rahasia ilmu Ang-siu-to-hoat.”
Pui Hui-ji berpikir sebentar, lalu katanya, “Tentang ini
maaf kalau aku tak berani
memutuskan, akan kusampaikan kepada Kokcu dan kupercaya
Kokcu pasti akan
mengabulkannya.”
“Kalau begitu tolong laporkan kepada Kokcu bahwa
Yan-ci-po-to tidak berada pada kami,
untuk mendapatkannya dia harus melepaskan kami dulu
meninggalkan lembah ini.”
“Tentang ini Kokcu sudah ada rencana,” kata Pui Hui-ji
sambil tertawa, “kalian cukup
memberitahukan tempat golok itu saja, kami akan mengambilnya
sendiri.”
“Tempat itu sangat rahasia letaknya, kecuali kupergi sendiri
tak mungkin orang lain bisa
menemukannya.”
“Silakan Pang-toako katakan, di manakah letak tempat itu?”
Pang Goan berpikir sebentar, kemudian katanya, “Tak mungkin
bisa diterangkan dengan
mulut, pokoknya tempat itu sulit dicari . . . . begini saja,
akan kubuatkan peta untuk kalian,
bila pencarian dilakukan menurut keterangan dalam peta,
tentu akan lebih gampang
pencariannya.”
160
Pui Hui-ji sangat gembira, serunya, “Cara ini paling baik,
silakan Pang-toako membuat peta
itu, sementara kulaporkan dulu hal ini kepada Kokcu....”
“Tunggu sebentar,” cegah Ho Leng-hong, “kalian tak pernah
meninggalkan Mi-kok,
sekalipun ada peta, siapa yang akan pergi mencarinya?”
Kembali Pui Hui-ji tertawa, “Untuk melawan kekuasaan
Tiang-lo-wan selama beberapa tahun
ini kamipun sudah menyiapkan beberapa pos mata-mata di luar
lembah, asal peta
penyimpanan golok sudah siap, kami bisa mengutus orang untuk
mencarinya sesuai dengan
petunjuk peta.”
“Tapi ada satu hal tolong nona sampaikan juga kepada Kokcu,
kami harap bisa menukar peta
penyimpanan golok dengan Ang-siu-to-hoat, harap nona suka
menyampaikan beberapa kata
manis di depan Kokcu nanti.”
Pui Hui-ji manggut-manggut, “Aku pasti akan melakukannya,
kalian jangan kuatir.”
Setelah mengantar kepergian Pui Hui-ji, Pang Wan-kun menarik
napas panjang, ia lantas
menyiapkan alat tulis dan kertas untuk Pang Goan membuat
peta penyimpanan golok.
Pang Goan juga tidak menolak, dalam sekejap mata ia telah
membuat dua buah lukisan, yang
selembar adalah letak Cian-sui-hu, sedangkan yang selembar
lagi adalah tempat golok itu
disembunyikan.
Peta itu dilukis dengan terperinci dan sangat rahasia,
terutama tempat golok itu disimpan,
betul-betul dilukis dengan amat berhati-hati sehingga baik
Ho Leng-hong maupun Pang Wankun
juga tidak mengetahui.
Setelah peta selesai dibuat ia baru berkata kepada Wan-kun
dengan serius, “Adikku,
mumpung peta ini belum kuserahkan kepada Tong Siau-sian,
kuharap kau bersedia
memberitahukan suatu hal kepadaku, kita adalah saudara
sekandung, bagaimanapun kau harus
berterus terang.”
“Aku tidak bermaksud membohongi Toako?” kata Pang Wan-kun
dengan tercengang.
“Yang sudah lewat aku tak ingin menyelidikinya, sekarang aku
hanya ingin bertanya padamu,
jika golok mestika Yan-ci-po-to telah kami serahkan,
benarkah Tong Siau-sian akan
membebaskan kami untuk meninggalkan Mi-kok ini.”
“Ia pasti akan memenuhi janji, dia adalah seorang yang bisa
dipercaya,” jawab Wan-kun
tanpa ragu.
“Apakah kau dan anakmu juga akan dilepaskan semua?” desak
Pang Goan lebih jauh.
“Tentang ini . . . . .” agaknya perasaan Wan-kun bergetar
keras, “Toako, kenapa secara tibatiba
kau ajukan pertanyaan ini?”
“Sebab kami tahu Tong Siau-sian menggunakan anakmu sebagai
sandera untuk memaksa kau
melakukan semua petunjuknya, antara kau dengan dia pada
hakikatnya bukan sahabat karib
seperti yang kaulukiskan.”
Tiba-tiba sinar mata Pang Wan-kun memancarkan perasaan
kuatir dan ngeri, dengan mulut
membungkam ia tunduk kepala rendah-rendah.
“Nyo-hujin,” kata Leng-hong dengan suara tertahan, “kalian
adalah saudara sekandung, sudah
seharusnya semua rahasia hatimu diutarakan secara
blak-blakan, tak perlu dirahasiakan lagi.”
“Benar,” sambung Hui Beng-cu, “kita berempat harus bersatu
dan berusaha dengan segala
kemampuan menghadapi apapun, Pang-toaci, cepatlah katakan
secara terus terang!”
Pelahan Wan-kun mendongakkan kepalanya, bibirnya bergetar
dan memperlihatkan
senyuman getir, katanya, “Dari bagian yang manakah aku harus
mulai dengan keteranganku?
Ia bersikap sangat baik padaku, bukan terbatas sampai
persahabatan saja, hakikatnya kami
bagaikan kakak beradik, tetapi....”
“Tetapi ia telah menahan anakmu sebagai sandera, agar kau
melaksanakan semua perintahnya
tanpa berani membangkang, bukankah begitu?” sambung Pang
Goan.
Wan-kun tidak mengaku pun tidak menyangkal, ia mengembuskan
napas panjang.
161
“Aku amat menyayangi puteraku, ini kenyataan . . . .”
demikian katanya, “Kupikir, tujuannya
menahan puteraku adalah agar aku tidak kabur dari Mi-kok,
iapun kuatir aku menaruh
dendam padanya karena kematian Jit-long dalam istana es . .
. . .”
“Kalau begitu, mana mungkin ia mengizinkan kami meninggalkan
Mi-kok?”
“Dewasa ini, untuk menghadapi pertentangannya dengan
Tiang-lo-wan, ia betul
membutuhkan bantuan orang, jika kita berhasil membantunya,
kuyakini dia pasti akan
mengizinkan kita untuk meninggalkan tempat ini.”
Tapi Ho Leng-hong segera menggeleng kepala, “Meski perempuan
itu masih muda, tapi
otaknya cerdas dan akalnya banyak, kukuati sampai waktunya
nanti . . . .”
Belum habis perkataannya, tiba-tiba terdengar suara langkah
orang dari luar, cepat semua
orang mengakhiri pembicaraan dan kembali ke tempat duduknya
masing-masing.
Sambil tersenyum simpul Pui Hui-ji masuk ke dalam ruangan,
kemudian tegurnya, “Pangtoako,
sudah selesai petamu?”
Pang Goan tidak menjawab sebaliknya malah bertanya,
“Bagaimana tanggapan Kokcu atas
permintaan kami?”
“Telah kusampaikan kepada Kokcu dan beliau sangat gembira,
permintaan kalian segera
dikabulkan, bahkan suruh aku memberitahukan pula kepada
kalian agar jangan kuatir, asal
golok mestika telah didapatkan, rahasia Ang-siu-to-hoat
pasti akan diajarkan kepada kalian,
bahkan beliau akan berterima kasih pula kepada kalian
semua.”
“Berterima kasih sih tak usah, sampai waktunya aku cuma
memohon agar kami bisa
membawa bocah itu meninggalkan lembah ini bersama-sama agar
ada keturunan keluarga
Nyo yang bisa melanjutkan perjuangan leluhurnya.”
“O, pasti, pasti, Kokcu tak akan menyia-siakan harapan
kalian,” sahut Pui Hui-ji.
Pang Goan mengeluarkan peta dan berkata lagi, “Dari sini
menuju ke gedung Cian-sui-hu di
kota Liat-liu-shia ada ratusan li lebih, entah kalian
membutuhkan beberapa lama untuk
mengambil golok tersebut?”
“Tentu saja lebih cepat lebih baik, jika peta Pang-toako
dibuat dengan cermat, maka paling
banter sepuluh hari kemudian semuanya sudah beres.”
“Baik,” kata Pang Goan sambil menyerahkan peta itu kepada
Pui Hui-ji, “semoga kalian cepat
kembali, agar kami tak usah menunggu terlalu lama.”
Pui Hui-ji merentangkan peta itu dan memandang sekejap
secara garis besarnya, kemudian
dengan sangat berhati-hati menyimpannya dalam saku, setelah
itu ia baru bertepuk tangan tiga
kali.
Serombongan orang mengiakan sambil masuk ke dalam, ternyata
mereka adalah Yu Ji-nio
dan dua orang gadis berbenang putih.
“Nona Pui, apa maksudmu?” teriak Pang Goan dengan marah.
“harap kalian jangan salah paham,” kata Pui Hui-ji sambil
tertawa, “oleh karena ini adalah
tempat tinggal kaum wanita, Kokcu merasa kurang leluasa
untuk kalian tinggal di sini, selain
itu demi keamanan kalian serta menghindari gangguan dari
pihak Tiang-lo-wan, untuk
sementara waktu kalian dipersilakan kembali ke ruang
belakang untuk beristirahat, kalau
golok mestika sudah ditemukan, kalian pasti akan
dilepaskan.”
“Hm, jadi kami harus disekap selama belasan hari lagi?” seru
Pang Goan sambil mendengus.
“Bukan, bukan disekap, berhubung pihak Tiang-lo-wan tetap
tidak setuju dengan maksud
kalian untuk bermukim di sini, terpaksa Kokcu harus
mengambil tindakan begini.”
“Kalian jangan kuatir,” kata Yu Ji-nio sambil tertawa,
“meskipun kurang bebas selama tinggal
di gedung belakang, dalam soal penghidupan tak nanti kami
telantarkan kalian.”
Pang Goan memandang sekejap ke arah Pang Wan-kun, kemudian
mendengus, “Hm, adikku,
sekarang percaya tidak bahwa perkataanku bukan hanya dugaan
belaka!”
Wan-kun menunduk kepala dan membungkam.
162
-------------------
Sekembalinya ke penjara, sikap Yu Ji-nio jadi lebih sungkan,
“pelayanan” pun tambah baik.
Tapi kemarahan Pang Goan tak terbendung, dalam penjara dia
membanting semua ini
membuat beberapa gadis penjaga pintu tak berani mendekati
pintu terali besi nomor satu.
Karena kehabisan akal, terpaksa Yu Ji-nio memindahkan Pang
Goan ke ruang penjara nomor
tiga, sedangkan Hui Beng-cu diberi kamar nomor satu.
Ternyata cara ini manjur juga, setelah pindah kamar sikap
Pang Goan jauh lebih tenang.
Bukan hanya tenang saja, malah tak lama kemudian ia tertidur
dengan nyenyaknya.
Hanya Leng-hong yang tahu bahwa rekan itu tidak benar-benar
tidur, tapi iapun tidak bicara
apa-apa, sesudah Yu Ji-nio pergi, pelahan ia mengetuk
dinding.
Betul juga, Pang Goan hanya pura-pura tertidur, segera ia
berbisik, “Jangan mengetuk lagi,
suruh Siau-cu jaga pintu, kalau ada orang suruh dia dehem.”
“Jangan kuatir, aku sudah memberitahukan kepadanya, sekarang
marilah kita berbicara
dengan hati lega, tak mungkin ada orang mendengarkan
pembicaraan kita.”
Pang Goan merangkak bangun dari pembaringan lalu mendekati
ujung dinding dan berkata,
“mulai sekarang, kau harus memperhatikan dua hal.”
“Dua hal apa?” tanya Leng-hong.
“Pertama, berapa banyak pengawal dalam rumah penjara ini?
Kedua, berapa lama mereka
berganti penjaga? Terutama keadaan pada waktu malam,
perhatikan secara khusus.”
“Lotoako, mau apa kau?”
“Kabur!”
“Kabur?” sekalipun Leng-hong telah menduga, terkejut juga
demi mendengar perkataan itu,
“kau bermaksud kabur dari Mi-kok ini?”
“Benar, tempat setan ini penuh dengan kejadian yang bikin
orang tidak habis mengerti, Wankun
dikuasai pula oleh mereka, maka kita harus mengandalkan
kekuatan kita sendiri untuk
kabur dari sini.”
“Tapi kungfu orang-orang di lembah ini sangat lihay,
tidaklah gampang untuk kabur dari
sini.”
“Tentu saja tidak gampang, tapi bagaimanapun kita harus
berusaha kabur, sebab paling
banyak kita hanya tersedia waktu selama sepuluh hari, jika
menunggu orang-orang yang
mengambil golok telah kembali, kita tak ada kesempatan lagi
untuk berbuat demikian.”
“Apakah peta rahasia tersebut palsu?”
“Hahaha, kaukira akan kuberikan peta yang benar kepada
mereka?” Pang Goan balik bertanya
sambil tertawa, “terus terang kuberitahukan kepadamu, letak
tempat yang kulukis dalam peta
adalah kubang tinja dalam Cian-sui-hu, kecuali kotoran
manusia jangan harap bisa
menemukan golok!”
Betapa bangga gelak tertawa itu, seakan-akan ia telah
menyaksikan cara bagaimana orangorang
Mi-kok yang mencari golok mestika itu tercebur ke dalam
lubang tinja dan kenyang
minum air kotoran.
Ho Leng-hong juga ingin tertawa tapi tak mampu bersuara,
sambil menggeleng katanya,
“Lotoako, jangan terlampau menuruti emosi, sebab perbuatanmu
ini bisa mencelakai Wankun,
bila Tong Siau-sian merasa tertipu, ia pasti takkan
melepaskan Wan-kun.”
“Kita bisa mengajak Wan-kun kabur bersama.”
“Persoalannya tidak segampang itu, sekalipun Wan-kun
berhasil kita bawa kabur, anaknya
belum tentu bisa sekaligus kita selamatkan, padahal anak itu
adalah itu adalah satu-satunya
tumpuan harapan Wan-kun, selama bocah itu tak bisa ikut,
Wan-kun juga tidak akan ikut
pergi.”
163
Pang Goan termenung sebentar, akhirnya dengan menyesal ia
berseru, “Celaka, waktu itu
kenapa aku tidak memikirkan masalah bocah tersebut? Wah,
kalau begitu perbuatanku benarbenar
amat sembrono.”
Leng-hong menghela napas panjang, “Ai, sekarang urusan telah
berkembang jadi begini, tak
mungkin kita pasrah nasib kepada mereka, kita harus kabur
bahkan bawa serta Wan-kun dan
anaknya, dan satu-satunya cara untuk kita adalah menempuh
bahaya . . . .”
“Menempuh bahaya bagaimana maksudmu?”
“Kita berusaha membekuk Tong Siau-sian dan menyanderanya,
asal dia dipaksa untuk
mengantar kita keluar lembah, urusan kan beres.”
“Apakah kau ada akal bagus?”
“Sekarang belum, tapi kita bisa mendapatkannya dari
seseorang.”
“Siapa?” cepat-cepat Pang Goan bertanya.
“Pui Hui-ji!”
-----------------------
Ketika Pui Hui-ji muncul lagi dalam penjara sikapnya sudah
jauh berbeda daripada
sebelumnya.
Kalau dahulu ia selalu tersenyum simpul dan bersikap ramah
tamah, maka kini meski
senyuman masih menghiasi bibirnya, namun senyuman itu sangat
dingin, membuat siapa pun
yang melihatnya segera tahu bahwa senyuman itu diperlihatkan
secara terpaksa dalam
keadaan yang tidak dikehendakinya.
Begitu masuk ke dalam penjara, keningnya segera berkerut,
senyuman pun lenyap, tegurnya
dengan ketus, “Ada urusan apa kalian mencari aku?”
Buru-buru Leng-hong mendekati terali besi sambil berbisik,
“Nona Pui, ada urusan penting
hendak kubicarakan secara pribadi denganmu, dapatkah kau
mencari suatu tempat yang agak
rahasia. . . . .”
Kening Pui Hui-ji makin berkerut, dengan wajah tak sabar
serunya, “Kalau ada urusan
katakan sekarang saja, aku repot dan tak punya waktu.....”
“Tempat ini terlalu banyak mata-matanya, kukuati pembicaraan
kita akan terdengar oleh
pihak ketiga, tapi kalau nona Pui enggan mendengarkan juga
tak apa-apa, cuma andaikata
Yan-ci-po-to sampai terjadi sesuatu di luar dugaan, jangan
salahkan kami sebelumnya tidak
memberi kabar kepada nona.”
Pui Hui-ji terkejut, “Apa? Yan-ci-po-to akan mengalami
kejadian apa?”
Leng-hong tidak menjawab, ia meninggalkan terali besi dan
membaringkan diri.
Sikap Pui Hui-ji seketika berubah, dengan senyum manis cepat
ia menitahkan Yu Ji-nio
membuka pintu penjara, bahkan menghampiri sendiri ke tepi
pembaringan dan berkata
dengan lembut, “Ho-toako, akulah yang salah, aku memang
sangat repot, aku tidak sengaja
hendak menyinggung perasaanmu . . . sesungguhnya ada apa
dengan golok mestika Yan-cipo-
to . . . . .”
“Sudah kukatakan, di sini terlalu banyak mata dan telinga,
tidak leluasa untuk bercakap-cakap
di sini,” tukas Leng-hong ketus.
“Ah, itu gampang, akan kutemani Ho-toako untuk
bercakap-cakap dalam kamar Yu Ji-nio.”
“Kamarnya juga kurang leluasa.”
“Lantas menurut keinginan Ho-toako.....”
“Tempat manapun boleh, asal tak ada orang yang mencuri
dengar, terlebih jangan sampai
diketahui oleh Hoa Jin.”
“Hoa Jin?” tiba-tiba air muka Pui Hui-ji berubah, setelah
merenung sejenak, akhirnya berkata,
“Baiklah? Mari ikut aku.”
164
Ternyata ia benar-benar orang kepercayaan Kokcu, cukup
mengucapkan sesuatu kepada Yu
Ji-nio, tanpa dikawal ia meninggalkan rumah penjara.
Setelah menelusuri kaki bukit dan belok ke kiri, sampailah
mereka di muka sebuah rumah
batu, di depan pintu duduk seorang nenek sedang menambal
baju.
Pui Hui-ji memberi kode tangan kepada nenek itu, kemudian
mengajak Leng-hong masuk ke
dalam, katanya, “Nenek itu seorang tuli, dulu dia adalah
inang pengasuh Kokcu, asal kita
bercakap-cakap dalam rumahnya, tak nanti ada orang yang
mencuri dengar.”
Leng-hong memperhatikan sekejap susunan perabot di dalam
ruangan itu, setelah duduk,
katanya, “Yang paling penting, apa yang kita bicarakan
sekarang jangan sampai diketahui
Hoa jin, kaupun harus berpesan secara khusus kepada Yu
Ji-nio agar ia tidak membacakan
rahasia kita ini.”
“Sebenarnya ada apa dengan Hoa Jin?” tanya Pui Hui-ji tidak
sabar.
“Semalam ia datang ke penjara mencari diriku.”
“O, benarkah itu?” seru Pui Hui-ji kaget, “mau apa dia
mencarimu?”
“Sebenarnya dia hendak bicara dengan Pang-toako, tapi
kucegat dan akhirnya kami bicara
hampir setengah jam lamanya . . . . .”
“Apa saja yang kalian bicarakan?” tanya gadis itu cemas.
“Setelah kukatakan, harap kau jangan kaget, ia datang ke
penjara karena golok mestika Yanci-
po-to itu.”
“Oya? Apa yang dia katakan kepadamu? cepat katakan!”
Sengaja Leng-hong tertawa, katanya, “Entah darimana ia
dengar kabar tentang golok mestika
Yan-ci-po-to yang disimpan dalam Cian-sui-hu, maka ia
mencari kami untuk membicarakan
syarat penukaran, merekapun menginginkan selembar peta.”
“Sudah kau kabulkan permintaannya?”
“Belum,” jawab Leng-hong sambil menggeleng, “Cuma syarat
yang ia ajukan ternyata lebih
menyenangkan dari pada syarat Kokcu.”
“Dia bilang apa?”
“Katanya, asal kami bersedia melukiskan pula selembar peta
untuk mereka, maka bukan saja
kami akan segera dibebaskan menurut pilihan kami sendiri,
bahkan ia jamin Wan-kun dan
anaknya akan diserahkan pula kepada kami, katanya juga bila
kami ingin tinggalkan tempat
ini, pihak Tiang-lo-wan bersedia menghadiahkan
Ang-siu-to-hoat kepada kami, serta
membantu kami menumpas Ci-moay-hwe, kalau pilih tinggal di
sini, maka setelah Kokcu
naik tahta, Wan-kun dan Beng-cu boleh masuk Tiang-lo-wan,
sedang aku dan Pang-toako
akan diangkat sebagai pelindung Mi-kok dengan hak istimewa
untuk masuk keluar lembah ini
sesuaka hati . . . .”
Ia masih ingin mengibul terus, tapi Pui Hui-ji sudah keburu
jengkel sehingga mukanya
berubah menjadi hijau membesi, tukasnya, “Ho-toako, jangan
sekali-kali kau tertipu, Tianglo-
wan hakikatnya tidak memiliki kekuasaan sebesar ini, mereka
tidak berhak mengubah
peraturan Mi-kok, Kokcu kami adalah jabatan turun temurun,
kecuali melakukan pelanggaran
besar, Tiang-lo-wan tidak berhak mengganti Kokcu baru,
lebih-lebih tak berhak untuk
mengangkat orang luar sebagai pejabat dalam lembah ini.”
“Tapi mereka menyatakan,” kata Leng-hong sambil tertawa,
“bila Kokcu mencari bantuan
orang luar untuk menentang Tiang-lo-wan, maka perbuatan ini
adalah suatu pelanggaran
besar.”
Dengan jengkel Pui Hui-ji mendengus, “Hm, jika Tiang-lo-wan
mengandalkan kekuatan luar
untuk melawan Kokcu, perbuatan inipun suatu pelanggaran
besar, Tong-popo telah
bersekongkol dengan Ci-moay-hwe untuk mengincar jabatan
Kokcu, dosa ini jelas terbukti,
Kokcu berhak membubarkan Tiang-lo-wan serta menjatuhi
hukuman kepada mereka untuk
memilih Tiang-lo baru . . . . .”
165
“Soal siapa berhak atau tidak merupakan urusan Mi-kok kalian
sendiri, kami tak ingin
mencampurinya, terus terang saja harapan kami hanya
bagaimana caranya menukar golok
mestika dengan rahasia Ang-siu-to-hoat dan meninggalkan
lembah ini dengan selamat.
Semula kami ingin membantu Kokcu, tapi hasilnya kami harus
masuk penjara menjadi
tawanan, bila dibandingkan satu sama lain tentu saja kami
merasa syarat mereka jauh lebih
menarik daripada syarat dari pihak Kokcu.”
“Ho-toako, jangan kau percaya pada mereka,” seru Pui Hui-ji
dengan gelisah, “pasti Hoa Jin
perempuan rendah itu sengaja membohongimu, jika kau
menyerahkan peta tersebut, jangan
harap kalian bisa tinggalkan Mi-kok dengan selamat.”
“Tapi setelah kami serahkan peta rahasia itu kepada Kokcu,
apa pula jaminan buat kami untuk
meninggalkan tempat ini dengan selamat?”
“Tak usah kuatir, sekarang juga akan kulaporkan soal ini
kepada Kokcu, tempat tinggal kalian
pun harus diatur lagi dengan sebaiknya . . . . .”
Kemudian dengan penuh kebencian serunya lagi, “Yu Ji-nio
juga kurang ajar sekali, tujuan
Kokcu mempersilakan kalian tinggal dalam penjara adalah
untuk mencegah agar pihak Tianglo-
wan jangan mengacau, ternyata dia malah berani memasukkan
Hoa Jin dalam penjara!”
“Dalam peristiwa ini jangan kau tegur Yu Ji-nio, sebab Hoa
Jin menyusup masuk secara
diam-diam di tengah malam buta, mungkin juga ia sudah atur
orangnya dalam penjara, Yu Jinio
sama sekali tidak tahu akan perbuatannya.”
“Akan kuperiksa, hmm, lihat saja akibatnya nanti,” dengus
Pui Hui-ji.
“Bila nona ingin melakukan pemeriksaan, aku mempunyai suatu
akal bagus,” kata Leng-hong
sambil tertawa.
“Oya?! Akal apa?”
“Nona Pui, kejadian tanpa bukti ini sulit diperiksa, jika
kauingin memeriksanya harus
mempunyai bukti yang jelas, kalau tidak, memukul rumput
mengejutkan ular, akibatnya mala
kurang baik.”
“Maksudmu . . . . .”
“Sepulangnya dari sini nanti nona jangan bicara apa-apa,
hari ini atau besok kukira Hoa Jin
pasti akan kembali lagi ke sini, jika diam-diam nona
bersembunyi dalam ruangan Hui Bengcu,
kan dapat memergokinya?”
“Ya, ini memang akal bagus!” seru Pui Hui-ji gembira.
“Cuma, nona mesti perhatikan dua hal, pertama harus datang
secara diam-diam, jangan
sampai ketahuan penjaga penjara, bila perlu Yu Ji-nio juga
harus dikelabui.”
“Soal ini gampang!” Pui Hui-ji manggut-manggut.
“Kedua, kau harus membawa kunci kamar penjara, setelah
bersembunyi dalam kamar Bengcu
pintu terali besi harus dalam keadaan terkunci, maka setelah
Hoa Jin datang ia akan
langsung menuju ke kamar nomor tiga di mana aku berada. Nah,
tiba waktunya nanti nona
boleh keluar dari kamar nomor satu secara tiba-tiba, adang
dulu jalan mundurnya kemudian
baru memergokinya, bukankah kau segera akan menangkap basah
padanya?”
Pui Hui-ji manggut-manggut, “Baik, kita laksanakan menurut
cara usulmu.”
“Menurut apa yang kuketahui,” kata Leng-hong lebih lanjut,
“setiap petang para penjaga
bergilir makan malam, penjagaan waktu itu agak mengendur,
maka pergunakanlah
kesempatan itu untuk menyusup ke sini, tengah malam nanti
Hoa Jin tentu masuk perangkap.”
Pui Hui-ji mengangguk tanda setuju.
“Nona Pui, dengan rencana kita ini berarti aku telah
memutuskan hubungan dengan Tiang-lowan,
setelah urusan berhasil jangan kau ingkar janji, dan terus
menerus menganggap kami
sebagai tawanan......”
“Jangan kuatir, pasti akan kusampaikan hal ini kepada Kokcu,
tanggung tak akan merugikan
kalian.”
166
Selesai berunding, Pui Hui-ji mengantar Leng-hong pulang ke
penjara, sementara ia sendiri
pergi melakukan persiapan.
Sekembalinya ke kamar, Leng-hong menceritakan semua kejadian
itu kepada Pang Goan dan
Hui Beng-cu, diam-diam ketiga orang itupun melakukan
persiapan.
------------------------------
Malam itu Pui Hui-ji benar-benar telah menyusup ke dalam
penjara secara diam-diam.
Ia masih mengenakan baju merah bersulam benang putih, persis
dandanan para gadis penjaga
penjara, tidak ketinggalan iapun membawa golok panjang.
Cahaya lampu dalam penjara amat suram, ketika ia membuka
pintu terali kamar nomor satu
dan menyusup pintu, Hui Beng-cu sudah menanti di pinggir
pintu sambil menegur, “Apa nona
Pui di situ?”
Pui Hui-ji mengiakan, baru saja dia akan menutup pintu, Hui
Beng-cu telah menarik
tangannya sambil berseru, “Cepat bersembunyi di dalam!”
Pui Hui-ji merasa pergelangan tangannya mendadak menjadi
kaku, menyusul kemudian jalan
darah Ki-bun-hiat di bawah iganya disodok oleh sikut
keras-keras, tak sempat mengeluh lagi
ia roboh tak sadarkan diri.
Dengan tangan kiri Hui Beng-cu merampas anak kunci, tangan
kanan menyambar tubuh Pui
Hui-ji, dengan setengah memondong setengah menyeret ia
membawanya ke tepi
pembaringan, membungkusnya dengan selimut dan dimasukkan ke
kolong ranjang, setelah itu
disodorkan anak kunci itu lewat terali besi kepada Ho
Leng-hong . . . . .
Dalam waktu singkat suasana dalam penjara pulih kembali
dengan tenang, siapapun tidak
menyangka dalam penjara telah bertambah dengan seorang,
siapapun tidak mengetahui kalau
kunci pintu penjara telah terbuka.
Selesai bersantap para penjaga masuk melakukan pemeriksaan,
keadaannya tidak berbeda
dengan keadaan biasa.
Mendekati tengah malam, Ho Leng-hong mengetuk dinding kiri
dan kanannya, ketiga orang
itu lantas bangun, membuka pintu terali besi dan tanpa
membuang banyak tenaga menutuk
jalan darah kedua gadis penjaga malam yang tertidur,
kemudian menyeret mereka ke dalam
kamar penjara.
Hui Beng-cu melucuti pakaian luar gadis-gadis itu, dua di
antaranya diberikan kepada Ho
Leng-hong dan Pang Goan, sedang ia sendiri mengenakan baju
merah bersulam benang putih
milik Pui Hui-ji, dengan memegang golok panjang berangkatlah
mereka meninggalkan
penjara.
Pui Hui-ji dan kedua gadis penjaga tersekap dalam penjara.
Sepanjang perjalanan dari penjara mereka tidak menjumpai
alangan apa-apa, ketiga orang itu
mempercepat langkahnya, tak lama kemudian sampailah di depan
gedung Yu-tim-cing-sih.
“Tempat tinggal Tong Siau-sian tentu dijaga ketat,” bisik
Pang Goan kemudian, “kita butuh
Wan-kun sebagai penunjuk jalan. Tunggulah kalian di sini,
akan kutemui Wan-kun lebih
dulu.”
“Berhati-hatilah Lotoako, mungkin saja demi keselamatan
anaknya, Wan-kun tak mau
menempuh bahaya, bila perlu kita paksa dia untuk menyetujui
pendapat kita!”
“Aku mengerti!” Pang Goan lantas maju mengetuk pintu.
Ketika ketukan diulangi sampai ketiga kalinya baru terdengar
suara Pang Wan-kun tanya dari
dalam, “Siapa?”
Pang Goan memberi tanda agar kedua rekannya bersembunyi,
kemudian sahutnya lirih,
“Wan-kun, cepat buka pintu, aku, Toako!”
Agaknya Wan-kun sangat terkejut, serunya, “Toako? Kenapa kau
bisa . . . . . .”
“Jangan banyak bertanya dulu, cepat buka pintu dan
membiarkan aku masuk!”
167
Dalam ruangan terjadi sedikit kegaduhan, menyusul pintupun
lantas terbuka.
Dengan cepat Pang Goan menyusup masuk ke dalam ruangan, lalu
menutup pintu, bisiknya,
“Wan-kun, benahi barangmu, mari ikut Toako pergi mencari
Tong Siau-sian untuk menolong
anakmu!”
Rambut Wan-kun tampak kusut, agaknya baru bangun tidur,
dengan melenggong ia awasi
Pang Goan, lalu tanyanya dengan terperanjat, “Toako, kenapa
kau bisa sampai di sini? Hanya
kau seorang diri?”
“Kita tak dapat pasrah nasib, maka dengan menyerempet bahaya
kami kabur dari penjara,
sengaja kujemput dirimu agar kita bisa kabur bersama,
Leng-hong dan Siau-cu sudah
menunggu di luar, ayo cepat berganti pakaian.”
“Kalian ingin kabur dari Mi-kok ini?”
“Benar, kamipun bermaksud menangkap Tong Siau-sian, menolong
anakmu, kemudian kita
kabur bersama!”
“Tidak. Tidak mungkin!” Wan-kun menggeleng kepala berulang
kali, “kalian tak mungkin
bisa lolos dari cengkeraman mereka, sekalipun berhasil kabur
dari lembah Mi-kok, tak
mungkin bisa lolos dari Tay-pa-san. Toako, dengarkan
baik-baik perkataanku, jangan
kaulakukan perbuatan bodoh ini . . . .”
“Asal Tong Siau-sian berhasil kita tangkap sebagai sandera,
siapa yang berani mengalangi
kita?”
“Jangan bermimpi di siang bolong, penjagaan di tempat
kediaman Kokcu sangat ketat, ilmu
silat Tong Siau-sian tiada tandingannya, jelas jalan yang
kalian tempuh tak mungkin bisa
tertembus.”
“Sekalipun tidak tembus juga harus dicoba, sekarang kita
sudah lolos dari penjara, apakah
mesti kembali lagi ke sana? Sekalipun kami bersedia kembali,
tidak mungkin Tong Siau-sian
akan melepaskan kami lagi, bagaimanapun hanya ada jalan
kematian bagi kita, daripada
pasrah nasib kenapa tidak menyerempet bahaya untuk mencari
hidup?”
“Kalau kaukembali ke penjara belum tentu mati, sebaliknya
jika melarikan diri dari lembah
ini hanya kematian saja yang bakar kalian terima.”
“Kami lebih suka terbunuh waktu kabur daripada duduk menanti
kematian, Wan-kun, jangan
banyak bicara lagi, cepat benahi barang-barangmu dan kita
kabur bersama.”
“Tidak, aku tak dapat melarikan diri, sebab perbuatanku ini
akan menyusahkan anakku
sendiri, bila aku bisa kabur sudah semenjak dulu-dulu aku
kabur, kenapa menunggu sampai
sekarang? . . . .” kata Wan-kun sambil geleng kepala
berulang kali.
“Tapi keadaannya sekarang bagaikan anak panah di atas busur,
sekalipun harus pertaruhkan
jiwa raga akan kami selamatkan juga anakmu, apa lagi yang
perlu disangsikan?”
Sementara itu pintu diketuk orang, menyusul suara Hui
Beng-cu menegur, “Pang-toako,
waktu sudah mendesak, cepat suruh Toaci berangkat.”
“Wan-kun, kau mau kabur tidak?” seru Pang Goan dengan suara
tertahan.
“Aku bukannya tak mau kabur, oleh karena aku terlampau paham
keadaan Mi-kok ini, maka
kutahu bahwa harapan untuk kabur tak ada, sebab kita tak
mungkin bisa lolos.”
“Baik!” kata Pang Goan sambil mencabut goloknya,
“Thian-po-hu cuma mempunyai seorang
anak, Cian-sui-hu juga Cuma kita berdua, bila kau tak mau
kabur mengikuti aku, demi
menyelamatkan putera dari keluarga Nyo, sekarang juga akan
kugorok leherku agar semua
orang tak perlu kabur lagi.”
Cepat-cepat Wan-kun memeluk tangan sang kakak yang memegang
golok itu, kemudian
berkata sambil menangis, “Toako, kenapa kau mengucapkan
kata-kata semacam itu? Aku
bukannya tak mau kabur, aku kuatir jika kita gagal.”
“Siapa tahu di tengah kegagalan akan kita jumpai jalan
hidup? Kita sudah bertekad untuk
berjuang mati-matian, darimana kautahu kita tak akan
berhasil?”
168
“Soal ini bukan soal tekad, ilmu silat Tong Siau-sian sangat
tinggi, kita semua bukan
tandingannya.”
“Kita hadapi mereka dengan akal dan hindari kekerasan,
sekalipun ilmu silatnya lebih tinggi
juga tak perlu kuatir.”
Wan-kun termenung sejenak, akhirnya dengan perasaan apa
boleh buat ia menarik napas
panjang, “Ai, baiklah, kalian tunggulah sebentar di luar.”
Pang Goan menyahut dengan gembira, ia segera mengundurkan
diri ke luar ruangan.
“Apakah ia bersedia?” Leng-hong segera menyongsong
kedatangan Pang Goan sambil
bertanya.
Pang Goan mengangguk, “Mula-mula ia tak mau, setelah
kugunakan siasat menyiksa diriku
sendiri, akhirnya dia mau juga.”
“Dalam perjalanan kita dari sini menuju kediaman Tong
Siau-sian mungkin akan kita jumpai
pengadangan, sebentar biar Beng-cu berjalan bersamanya,
sedang kita mengikutinya secara
diam-diam.”
“Kalau begitu kita buka pakaian penjara ini, seorang
laki-laki sejati harus mengenakan
pakaian perempuan, wah, betul-betul runyam.”
“Sekarang kita belum boleh melepaskannya, paling sedikit
harus tunggu setelah berhasil
kabur dari lembah ini . . . . .”
Dalam pada itu Wan-kun telah selesai berdandan dan keluar
dari ruangan.
Yang dimaksud berdandan masih tetap memakai baju merah tanpa
sulaman itu, bertangan
kosong tanpa membawa apa-apa, bahkan senjata pun tidak
membawa.
Ketika Ho Leng-hong menjelaskan siasatnya, Wan-kun
menggeleng kepala, katanya, “Tidak
perlu, kalian semua ikuti saja diriku, bila ada pengadangan
aku yang akan menghadapinya,
tapi semua orang tak boleh membawa senjata.”
“Andaikata terjadi hal-hal di luar dugaan dan pertarungan
berkobar . . . . .”
Wan-kun tertawa getir, “Ilmu golok Ang-siu-to-hoat dari
Mi-kok adalah kepandaian yang
tiada tandingannya di dunia ini, seandainya benar-benar
terjadi pertarungan, apa pula gunanya
membawa golok? Bukan saja mudah menimbulkan kecurigaan
orang, pun tak ada manfaat
apa-apa, umpama memerlukan senjata, di manapun bisa kalian
dapatkan, kenapa mesti
membawanya dari sini?”
Ketiga orang itu merasa ucapan tersebut ada benarnya juga,
terpaksa mereka lepaskan golok
dan disembunyikan di Jut-tim-cing-sih.
Pang Wan-kun membawa ketiga orang itu menuju ke ruang tengah
di mana Kokcu berdiam,
setelah melewati serambi, ia masuk ke gedung tengah tanpa
sembunyi-sembunyi, sekalipun di
tengah jalan mereka bertemu dengan gadis-gadis peronda
malam, karena semuanya kenal
pada Pang Wan-kun, maka setelah saling menyapa dengan
tertawa mereka berlalu dengan
begitu saja, sama sekali tidak ada pemeriksaan apa-apa.
Tapi Ho Leng-hong dan Pang Goan yang menyaru sebagai
perempuan merasa jantungnya
berdebar karena tegang, sepanjang jalan mereka hanya
menundukkan kepala dengan peluh
dingin membasahi telapak tangan.
Setelah masuk ke ruang tengah, mendadak penjagaan di situ
tambah ketat dan rapat.
Di pintu masuk tampak berdiri seorang gadis bergaun merah
dengan sulaman benang putih
memimpin empat orang gadis lainnya melakukan penjagaan, di
bawah beranda dan di balik
semak bunga sana tampak juga ada penjaga, seluruh halaman
tersebut telah dijaga dengan
ketatnya.
Setelah menyaksikan semua itu, Pang Goan baru percaya pada
perkataan Wan-kun, bila ingin
menangkap Tong Siau-sian dengan kekuatan mereka bertiga,
sungguh perbuatan yang bodoh.
Tentu saja penjagaan semacam ini bukan khusus ditujukan
untuk menghadapi mereka, tapi
penjagaan terhadap serangan mendadak dari pihak
Tiang-lo-wan.
169
Entah apa yang dibisikkan Wan-kun kepada gadis bersulam
benang putih penjaga pintu itu,
tiba-tiba anak dara itu memperhatikan Pang Goan bertiga,
kemudian sambil tertawa katanya,
“Baiklah, suruh mereka masuk ke serambi dan menunggu di
situ, tapi tak boleh sembarangan
lari.”
“Sudah kalian dengar?” kata Wan-kun, “istirahat dulu di
serambi sana, jangan sembarangan
pergi, aku akan segera lapor kepada Kokcu.”
Ho Leng-hong bertiga tak berani buka suara, dengan kepala
tertunduk mereka masuk ke
dalam.
Ketika melewati ruangan, beberapa orang gadis penjaga sama
menutupi mulut dan tertawa
cekikak-cekikik, dan sekalipun mereka sudah tiba di bawah
serambi, gadis-gadis penjaga itu
masih mengawasi dari kejauhan sambil berbisik-bisik dan
tertawa geli.
Berdiri bulu roma Leng-hong menyaksikan tertawa mereka,
bisiknya, “Lotoako, tampaknya
keadaan kurang beres, agaknya dayang-dayang itu sudah
mengetahui rahasia kita.”
“Akupun merasa gelagat kurang beres, jangan-jangan Wan-kun
telah membocorkan rahasia
kita,” kata Pang Goan.
“Ya, hal ini sukar untuk dikatakan,” sambung Hui Beng-cu,
“dia memang tidak setuju dengan
rencana kita, sebelum datang iapun suruh kita jangan membawa
senjata, entah apa yang
direncanakannya.”
“Tidak mungkin, hal ini tidak mungkin,” bisik Pang Goan
segera, “dia adalah adikku, tak
mungkin mengkhianati kita.”
Tiba-tiba Ho Leng-hong menghela napas panjang, “Ai, jika ia
berkeras hendak mengkhianati
kita, terpaksa kita harus menghadapi kenyataan....”
Pang Goan merasa ucapan tersebut aneh sekali nadanya, ketika
mengikuti arah tatapannya,
kontan hatinya tercekat....
Entah sejak kapan, dua orang telah berdiri di pintu,
ternyata mereka adalah Pui Hui-ji dan Yu
Ji-nio.
Suara langkah manusia berkumandang juga dari kiri-kanan
serambi, menyusul kemudian
muncul dua baris pasukan anak perempuan bersenjata lengkap.
Tak lama kemudian, pintu ruang tengah terbuka lebar dan
muncul Tong Siau-sian diiringi
oleh Pang Wan-kun.
Kontan Pang Goan naik darah, sambil melotot dengan penuh
kebencian serunya, “Beginikah
hubungan erat seorang adik dengan kakak kandungnya?”
Dengan perasaan malu Wan-kun menunduk kepala rendah-rendah,
katanya lirih, “Toako,
jangan salahkan aku, kalian tak akan berhasil melarikan diri
dari sini . . . .”
Pang Goan membentak gusar dan menerjang ke sana.
Tapi sebelum sempat berbuat sesuatu, cahaya tajam
berkilauan, menyusul dua bilah golok
panjang telah mengadang di depannya, serentak gadis lain di
bawah serambi pun melolos
senjatanya.
Tong Siau-sian tersenyum, katanya, “Lebih baik kalian
bertiga kembali saja, kami anggap
peristiwa malam ini sebagai tak pernah terjadi, janji yang
tempo hari masih tetap berlaku, aku
tak akan bikin susah kalian bertiga.”
Tentu saja Pang Goan mengerti bahwa ucapan tersebut cuma
basa-basi, justru lantaran golok
mestika Yan-ci-po-to belum berhasil didapatkan, maka Tong
Siau-sian harus bersikap
sungkan, coba kalau tidak begitu, tak akan ramah begini
sikapnya.
Tapi persoalan telah berkembang menjadi begini, dalam
keadaan tanpa senjata jelas tak
mungkin bagi mereka untuk menerobos keluar lembah Mi-kok.
Gusar dan gemes Pang Goan, ditatapnya Wan-kun dengan mata
melotot, kalau mungkin dia
hendak menelan adiknya bulat-bulat.
170
Ternyata Leng-hong jauh lebih berlapang dada, sambil angkat
bahu dan tertawa katanya,
“Lebih baik Kokcu perkuat penjagaan dalam penjara, kalau
perlu terali basinya dipertebal
beberapa kali lipat, sebab kalau tidak kami masih tetap akan
berusaha untuk kabur.”
“Kau anggap masih ada kesempatan untuk kabur?” ejek Tong
Siau-sian.
“Setiap kesempatan yang ada adalah hasil usaha manusia, kami
sudah jemu terhadap
pelayanan dalam penjara setiap saat mungkin kami akan
mengubah suasananya.”
“Kalian tak akan melakukan perbuatan bodoh lagi, dan pihak
kamipun tak akan
memperkenankan kalian melanggar kesalahan yang sama untuk
kedua kalinya,” ucap Tong
Siau-sian sambil tertawa.
Leng-hong tidak berkata lagi, setelah menjura ia berjalan
keluar lebih dahulu.
Pang Goan masih melotot dengan penuh kegusaran, ia masih
penasaran, Hui Beng-cu segera
mendorongnya sambil berbisik, “Pang-toako, mari kita pergi!
Mungkin Toaci mempunyai
kesulitan yang tak bisa diutarakan.”
Pang Goan menggeleng sambil mendengus, kemudian putar badan
dan berlalu.
Yu Ji-nio dan Pui Hui-ji mengiringi ketiga orang itu, selain
mereka ada lagi delapan orang
gadis bersenjata yang mengiringi mereka dari kiri-kanan.
Rupanya amarah yang berkobar dalam dada Pang Goan belum
reda, ia lupa Hui Beng-cu
mengikut di belakang, dengan gemas ia berseru, “Hmm,
perempuan tetap perempuan, tak bisa
diajak berunding untuk urusan besar!”
Hui Beng-cu tahu orang sedang menjongkok, maka iapun cuma
tertawa saja tanpa memberi
komentar.
“Aku tidak setuju dengan perkataanmu,” kata Leng-hong sambil
tertawa, “Sebetulnya
perempuan adalah partner yang baik, bergantung berapa banyak
kebaikan yang bisa
kauberikan kepadanya, dan berapa besar keuntungan yang dapat
ia raih? Yu Ji-nio betul tidak
perkataanku ini?”
“Aku tidak tahu!” jawab Yu Ji-nio ketus tanpa berpaling.
“Tentu saja sekarang kaubilang tidak tahu, tapi kemarin
mengapa kau kelihatan gembira
sewaktu kuberitahukan kepadamu bahwa kau hendak diangkat
menjadi Tianglo oleh pihak
Tiang-lo-wan?”
Mendadak Yu Ji-nio berhenti, lalu menegur dengan suara
dalam, “Hei, kau ngaco-belo apa?”
“Sekarang urusan sudah lewat,” kata Leng-hong sambil
tertawa, “apa salahnya kalau
disinggung lagi? Tentu saja ucapanku itu hanya membohongi
kau, tapi waktu itu kau telah
menganggapnya sebagai sungguh-sungguh.”
Yu Ji-nio marah sekali, katanya, “Selama kalian masih berada
dalam penjara, aku selalu
melayani kalian secara baik-baik, kenapa kau memfitnah
diriku dengan kata-kata yang tak
senonoh?”
“Baiklah, tidak kusinggung lagi, kenapa marah, kalau aku
bermaksud memfitnahmu, ketika
berada di hadapan Kokcu tadi tentu kuungkapkan masalah ini,
buat apa menunggu sampai
sekarang?”
Tak terlukiskan rasa gusar Yu Ji-nio, tapi pada dasarnya ia
berlidah kaku dan tak pandai
bicara, sesaat ia tak tahu apa yang harus dikatakan,
terpaksa sambil menggertak gigi ia
bungkam saja.
Pui Hui-ji yang berada di belakangnya segera berteriak,
“Orang she Ho, kuharap kau bersikap
lebih jujur, Yu Ji-nio selalu setia kepada Kokcu, jangan
mimpi kau akan meretakkan
hubungan kami.”
“Baik, anggap saja tanpa sengaja aku hendak meretakkan
hubungan kalian!” kata Leng-hong
sambil merentangkan tangan, “untung kata-kata yang
terucapkan dari mulut bagaikan angin
lalu, siapapun tak bisa membuktikannya. Cuma, sebagai orang
pintar seharusnya bisa berpikir,
andaikata tak ada permainan, mana bisa kau menyusup ke dalam
penjara segampang itu . . . .
.”
171
Belum habis kata-katanya, Yu Ji-nio tidak tahan lagi, segera
ia mencabut goloknya.
“Hei, mau apa kau?” Leng-hong mundur beberapa langkah sambil
menegur dengan serius,
“apakah kau hendak membunuh orang untuk melenyapkan saksi?”
“Kau..... kau binatang!” bentak Yu Ji-nio marah.
Pada dasarnya dia memang tidak pandai bicara, apalagi
setelah gusar, ia semakin tak tahu
makian apa yang pantas dilontarkan, maka begitu membentak,
golok panjang secepat kilat
menyambat tubuh bagian bawah Ho Leng-hong.
Tindakan tersebut mencerminkan bahwa ia masih jeri akan
sesuatu kendatipun kesadarannya
hampir terpengaruh oleh emosi, meskipun ia sangat benci pada
Ho Leng-hong, namun tidak
berani sungguh-sungguh membunuhnya, maka tabasan itu dituju
pada bagian tubuh yang
tidak berbahaya sebagai pelampiasan rasa gemasnya.
Ho Leng-hong pun telah menduga orang tak akan berani
membunuh, maka sambil pura-pura
takut ia menjerit lalu melarikan diri terbirit-birit . . . .
.
Baru dia menyingkir, cahaya golok berkilauan dan . . . . .
“trang!” tahu-tahu serangan Yu Jinio
tertangkis.
“Ji-nio!” Pui Hui-ji membentak dengan menarik muka, “ketiga
orang ini adalah tamu Kokcu
kita, bila kaulukai mereka, siapa yang akan bertanggung
jawab bila Kokcu menegur nanti?”
“Tapi dia . . . dia terlalu menjengkelkan . . . .” seru Yu
Ji-nio dengan marah
“Ia bicara sendiri. Asal kau tidak merasa berbuat, kenapa
orang hendak kaubunuh untuk
membungkam mulutnya?”
“Benar!” cepat Leng-hong menyambung, “aku tak akan
memberitahukan hal ini kepada
Kokcu, kenapa kau kuatir?”
Kata-kata tak sedap itu semakin mengobarkan amarah Yu
Ji-nio, saking tidak tahan tiba-tiba
ia menjadi nekat, teriaknya, “Minggir kau! Akan kubunuh
binatang ini lebih dulu baru
kemudian menerima hukuman dari Kokcu.”
Sambil menjerit, golok panjang segera bergetar, dalam waktu
singkat ia sudah melancarkan
tiga-empat bacokan ke arah Pui Hui-ji.
Sambil menangkis ancaman itu, Pui Hui-ji membentak pula
kepada delapan orang gadis di
sisinya, “Yu Ji-nio berani membangkang perintah dan
mengkhianati kita, tangkap dia!”
Kedelapan anak dara tersebut mengiakan dan serentak
mengangkat senjatanya.
Yu Ji-nio semakin marah, bentaknya, “Kurang ajar, kalian
berani turut perintah seorang
pengawal barisan Pek-tui dan mengerubungi seorang anggota
pasukan berbenang biru?”
Kedelapan orang itu saling pandang sekejap, betul juga, tak
seorang pun berani maju.
Peraturan dalam Mi-kok amat ketat dan disiplin, sekalipun
Pui Hui-ji adalah orang
kepercayaan Kokcu, namun ia cuma seorang pengawal bersulam
benang putih, sebaliknya Yu
Ji-nio adalah komandan pasukan benang biru, kedudukannya
jauh lebih tinggi daripada Pui
Hui-ji, apalagi kedelapan anak dara tersebut termasuk
pasukan “Benang putih”, tingkatan
mereka justru jauh di bawah Yu Ji-nio.
Sementara kedelapan anak dara itu ragu-ragu, mendadak Ho
Leng-hong membentak, “Mau
apa kalian berdiri tertegun di situ? Yu Ji-nio sudah gila,
cepat laporkan kepada Kokcu kalian.”
Setelah diingatkan barulah anak dara itu sadar, segera ada
tiga-empat orang lari ke ruang
tengah untuk memberi laporan.
Tiga-empat orang lainnya hanya berdiri tertegun di tempat
dengan bingung, tidak tahu siapa
yang harus dibantu?
Dalam pada itu antara Yu Ji-nio dengan Pui Hui-ji telah
bertarung belasan gebrakan, cahaya
golok gemerdep menyilaukan mata.
Ho Leng-hong memberi tanda kedipan mata kepada Pang Goan dan
Hui Beng-cu, tiba-tiba ia
mendekati seorang anak dara bergolok dan membentak, “Berikan
senjatamu kepada!
Kaumundur ke samping sana!”
172
Waktu itu anak dara itu sedang berdiri dengan wajah cemas,
ketika mendengar bentakan
tersebut, tanpa berpikir lagi dia segera mengangsurkan
goloknya kepada Ho Leng-hong.
Pang Goan dan Hui Beng-cu bersama-sama juga mendekati dua
anak dara lainnya dan
mengambil golok mereka, namun kedua gadis tersebut kelihatan
ragu-ragu.
Akan tetapi ketika mereka lihat rekannya sudah menyerahkan
goloknya kepada Ho Lenghong,
dan rupanya tindakan itu tidak keliru, akhirnya mereka pun
serahkan goloknya kepada
kedua orang itu.
Setelah senjata dalam genggaman, Leng-hong bertiga merasa
semangat kembali berkobar.
Leng-hong yang bertindak lebih dulu, sambil memutar goloknya
ia terjun ke tengah
gelanggang pertempuran.
Jurus ilmu golok yang digunakan persis seperti ilmu golok
Ang-siu-to-hoat yang dimainkan
Yu Ji-nio, sedang sasarannya adalah Pui Hui-ji.
Tentu saja kejadian ini sangat mengejutkan Pui Hui-ji, cepat
teriaknya, “Hei, Ho Leng-hong,
kau salah sasaran . . . . . .”
“Tidak, aku tidak salah sasaran,” jawab Leng-hong sambil
tertawa, “setelah membereskan
dirimu, barulah kami bereskan dia!”
Sambil berkata, golok berputar terus menyerang gadis itu
dengan dahsyatnya.
Untuk melawan Yu Ji-nio saja Pui Hui-ji sudah kewalahan
apalagi sekarang bertambah
dengan seorang Ho Leng-hong, ia semakin kepayahan dan tak
tahan, karena gugup,
permainan goloknya menjadi kacau, segera Leng-hong
manfaatkan kesempatan itu, sekali
sabat goloknya tepat mengenai lutut kanan gadis itu.
Untung serangan tersebut dilancarkan dengan punggung golok,
Pui Hui-ji mengeluh tertahan,
kemudian roboh terjungkal.
Setelah berhasil dengan serangannya, Ho Leng-hong berpaling
ke arah Yu Ji-nio dan berkata
sambil tertawa, “Terima kasih banyak atas kesempatan yang
kauberikan kepada kami untuk
merebut golok, sekarang dosa mengkhianati lembah sudah pasti
akan dituduhkan padamu,
setelah kepergian kami, kaupun tak nanti bisa hidup aman,
lebih baik ikut kami dan pergi
bersama, tempat di dunia luar sangat luas, asal kau mau ikut
kami, tanggung kau akan hidup
senang bahagia . . . . .”
“Tutup mulut!” bentak Yu Ji-nio, “kau binatang, masih belum
cukupkah penderitaan yang
kaulimpahkan padaku?”
“Walaupun aku pernah mencelakaimu, akupun telah menolongmu,
jadi boleh dibilang sudah
impas dan masing-masing tidak berutang kepada yang lain,
jika kau tidak ikut kami pergi, bila
Tong Siau-sian sampai di sini, semua dosa ini pasti akan
dilimpahkan oleh budak Pui ke atas
pundakmu, waktu itu meski menyesal juga sudah kasip.”
“Aku dapat menangkap kalian dan menjelaskan semua duduknya
perkara di hadapan Kokcu.”
Ho Leng-hong tertawa, katanya, “Kaukira tiba waktunya nanti
aku akan bantu bicara
untukmu? Gadis-gadis pengawal itu semuanya menyaksikan cara
bagaimana kubantu kau
membereskan Pui Hui-ji, sekalipun kau memiliki tiga mulut
juga sukar mengharap Tong Siausian
akan percaya pada keteranganmu.”
Yu Ji-nio bungkam, sebab apa yang diucapkan Leng-hong memang
benar, tapi ia dilahirkan di
Mi-kok, dibesarkan juga dalam lembah tersebut, sesungguhnya
ia merasa berat hati untuk
mengkhianati lembah kesayangannya itu, tetapi kalau tidak
pergi berarti dia bakal
menanggung dosa besar, semua ini membuat hatinya menjadi
bingung.
“Waktu sudah sangat mendesak sekali,” kembali Ho Leng-hong
berkata, “jika kau tak mau
ikut, kami akan segera berangkat!”
Tiba-tiba Pui Hui-ji meronta bangun berduduk di tanah,
bentaknya, “Yu Ji-nio, kalau
kauberani melepaskan ketiga orang itu, pasti perbuatanmu
kulaporkan kepada Kokcu agar kau
merasakan siksaan hidup yang paling kejam di dunia.”
173
Sebenarnya Yu Ji-nio masih ragu-ragu untuk mengambil
keputusan, tapi setelah mendengar
ancaman tersebut, kontan saja sekujur tubuhnya bergetar
keras, bulu kuduknya pada berdiri,
segera iapun mengambil keputusan.
Tiba-tiba ia membalikkan mata goloknya yang tajam ke dada
Pui Hui-ji dan menusuknya
hingga tembus ke punggung.
Di antara percikan darah yang berhamburan, terdengar ketiga
gadis pengawal itu menjerit
kaget.
Dengan ujung golok yang masih berlumuran darah, Yu Ji-nio
menuding mereka sambil
membentak, “Kalian budak sialan, biasanya kalian sok
menggunakan kekuasaan Kokcu untuk
berbuat sewenang-wenang, sudah cukup penderitaan yang
kurasakan, tapi mengingat kalian
adalah sesama saudara seperguruan, kuampuni jiwa kalian,
cepat enyah!”
Tanpa sepotong besipun di tangan, gadis-gadis pengawal itu
tidak dapat berkutik, terpaksa
mereka turut perintah dan cepat kabur dari situ.
Rupanya Ho Leng-hong tidak mengira Yu Ji-nio bakal turun
tangan kejam kepada Pui Hui-ji,
sambil tertawa katanya, “Ji-nio, sekarang kita adalah kawan
senasib, padahal jalan dalam Mikok
tidak kami ketahui dengan jelas, cara bagaimana supaya bisa
lolos dengan selamat, harap
Ji-nio suka memberi petunjuk.”
Yu Ji-nio mendongak kepala sambil menarik napas panjang,
katanya kemudian, “Kalian ikut
diriku!”
Dengan mengikut di belakang Yu Ji-nio, dalam sekejap saja Ho
Leng-hong bertiga telah
melewati beberapa halaman luas, ternyata arah perjalanan
mereka bukan menuju ke mulut
lembah, sebaliknya malah kabur ke timur, menuju ke bangunan
gedung sebelah timur itu.
“Yu Ji-nio!” Pang Goan menegur dengan suara tertahan, “kami
hendak ke luar lembah kenapa
kaubawa kami ke tempat tinggal mereka?”
“Tanda bahaya dengan cepat akan tersiar sampai di mana-mana,
kini mulut lembah sudah
tertutup, hakikatnya tak mungkin buat kita untuk menerobos
keluar lagi.”
“Lantas apa yang harus kita lakukan sehingga bisa lolos dari
cengkeraman mereka?”
“Dewasa ini kita tidak mempunyai cara kabur yang terbaik,
maka sengaja kubawa kalian ke
suatu tempat dan sementara bersembunyi di situ, dan menunggu
kesempatan.....”
“Tidak bisa,” cepat Pang Goan berhenti, “Malam ini kita
harus menerjang keluar lembah ini,
jika bersembunyi terus dalam lembah, cepat atau lambat jejak
kita pasti akan ketahuan.”
“Ya, jika kau tidak bersedia menjadi penunjuk jalan, kami
bisa berusaha sendiri,” sambung
Hui Beng-cu.
Yu Ji-nio tertawa dingin, “Hehe . . . jika kalian tidak mau
menurut nasihatku, akibatnya hanya
satu, yakni pulang kembali ke dalam penjara.”
Ho Leng-hong segera menggoyang tangan mencegah Pang Goan dan
Hui Beng-cu berkata
lebih jauh, sambil tertawa katanya, “Ji-nio, sekarang kita
adalah kawan senasib dan
sependeritaan, tentu saja kami akan menuruti anjuranmu, tapi
sepantasnya kaupun
membeberkan rencanamu kepada kami, agar kami ikut tahu juga
duduk persoalan yang
sebenarnya.”
“Sudah kukatakan kepada kalian tadi, tak mungkin buat kabur
pada saat ini, sementara kita
mesti bersembunyi dulu sambil menunggu kesempatan.”
“Kau hendak mengajak kami bersembunyi di mana? Beberapa lama
kita harus
menyembunyikan diri?”
“Menurut apa yang kuketahui, di sudut timur gedung sana
terdapat sebuah taman, dalam
taman, terdapat gunung-gunungan, mari kita bersembunyi dalam
gua di balik gununggunungan
tersebut, tentang berapa lama, ini bergantung pada keadaan
selanjutnya.”
“Setiap gua dalam gunung-gunungan tentu tak luput dari
pemeriksaan, amankah tempat itu?”
“Tentu saja sangat aman.”
“Kenapa?” tanya Leng-hong.
174
“Sebab taman itu terletak di ruang sebelah timur, padahal
gedung sebelah timur adalah Tianglo-
wan. Kokcu tidak akur dengan pihak Tiang-lo-wan, para Popo
tak akan mengizinkan
mereka melakukan pencarian kemari.”
Leng-hong berpikir sejenak, kemudian katanya, “Tapi kau
harus tahu, para Popo dari Tianglo-
wan pun tak akan melepaskan kami dengan begitu saja.”
“Oleh karena itulah sengaja kupilih gedung timur sebagai
tempat sembunyi, jejak kita pasti
akan ditemukan oleh Kokcu, setelah dia tahu kita masuk ke
gedung timur, tentu dia akan
menaruh curiga jangan-jangan Tiang-lo-wan sengaja melindungi
kita, sudah pasti mereka
akan minta orang kepada para Popo, dengan demikian antara
Kokcu dan para Popo akan
terjadi perselisihan, bahkan pertarungan. Nah, saat itulah
penjagaan di mulut lembah pasti
kendur, lalu kita gunakan kesempatan baik itu untuk
melarikan diri.”
Ho Leng-hong termenung sejenak, kemudian sambil tertawa dia
mengangguk, “Baiklah, kalau
begitu kita ikuti saja rencana Ji-nio!”
Karena Ho Leng-hong sudah menyatakan setuju, maka Pang Goan
dan Hui Beng-cu juga
tidak banyak komentar.
Mereka lantas menyusup ke gedung sebelah timur dan
bersembunyi dalam gua di balik
gunung-gunungan, sepanjang perjalanan, karena dipimpin oleh
Yu Ji-nio, maka jejak mereka
tidak konangan.
Sesungguhnya gua dalam gunung-gunungan itu tidak termasuk
tempat persembunyian yang
rahasia, tapi berhubung termasuk dalam lingkungan pengaruh
Tiang-lo-wan dan lagi tidak
setiap orang boleh masuk ke sana, maka suasana amat tenang.
Setelah beristirahat sebentar, haripun sudah terang, dalam
taman mulai terdengar suara
langkah kaki para Popo yang sedang berjalan-jalan dan
berlatih kungfu, tidak ada yang
menyangka di dalam gua, di balik gunung-gunungan bersembunyi
sekelompok pelarian.
Mendekati lohor, suara manusia di luar kedengaran makin
bertambah ramai, tapi suasana
dalam taman justru sepi, tak kelihatan seorang pun, menurut
dugaan mereka, pastilah Kokcu
Tong Siau-sian sedang memeriksa jejak kaki yang ditinggalkan
mereka berempat semalam
dan sedang menuntut kepada pihak Tiang-lo-wan untuk
melakukan pemeriksaan, sudah
barang tentu permintaan ini ditolak oleh para Popo.
Setengah hari kemudian sudah lewat, kini hari mulai gelap
lagi, ternyata dalam taman tidak
dilakukan penggeledahan, sedang suasana di luar rasanya
dapat diduga biarpun tidak
melihatnya sendiri. Setelah sehari penuh tidak mengisi
perut, mereka berempat mulai merasa
lapar sekali.
“Tunggulah kalian di sini dengan tenang,” akhirnya Yu Ji-nio
berkata, “aku akan pergi
mencari berita sambil berusaha mencari makanan.”
“Aku ikut!” Leng-hong berkata.
“Mana mungkin? Semua anggota dalam gedung ini adalah kaum
perempuan, kalau kauikut
tentu tidak bebas bergerak. Percayalah, dengan cepat aku
akan kembali lagi ke sini.”
“Kalau kaupergi sendirian, bila terjadi hal-hal yang tidak
diinginkan, siapa yang akan
membawa kabar kemari? Lebih baik nona Hui menemani dirimu.”
Tentu saja Yu Ji-nio juga tahu pemuda itu merasa sangsi bila
dirinya pergi seorang diri, maka
Hui Beng-cu disuruh ikut sekalian mengawasi gerak-geriknya.
Iapun tidak menolak,
diajaknya Hui Beng-cu meninggalkan gua.
Begitu mereka berangkat, Pang Goan dan Ho Leng-hong mulai
mengadakan perundingan.
Sejak pengkhianatan Pang Wan-kun, tampaknya Pang Goan
menaruh curiga terhadap
siapapun, dengan hati yang kusut katanya, “Kulihat perempuan
she Yu itu tidak bisa
dipercaya, pada hakikatnya dia tidak ingin meninggalkan
Mi-kok, sebaliknya bermaksud
menggabungkan dengan pihak Tiang-lo-wan, dengan kepergiannya
ini, ia pasti mengkhianati
kita untuk membuat pahala bagi pihak Tiang-lo-wan.”
175
“Kemungkinan tersebut tentu saja bisa terjadi, tapi dewasa
ini kita masih membutuhkan
bantuannya untuk kabur dari lembah ini, sebagai kawan
senasib kita harus percaya
kepadanya, meskipun secara diam-diam kitapun harus waspada
dan siap menghadapi segala
kemungkinan yang tidak dinginkan.”
“Seandainya ia benar-benar mengkhianati kita, menurut kau
apa yang harus kita lakukan?”
Leng-hong tersenyum getir, “Kita cuma bisa berharap agar
tidak terjadi apa-apa, tapi kalau
terjadi juga, hanya ada satu cara untuk kita, yakni
bertarung mati-matian, kita tak boleh
tertangkap lagi, untung aku telah berhasil menyadap beberapa
jurus ilmu golok mereka, bila
sampai terjadi pertarungan, mungkin jurus-jurus ilmu golok
ini akan banyak membantu.”
“Ah, betul, memang hendak kutanyakan masalah ini, semalam
ketika kau melabrak Pui Huiji,
apakah Ang-siu-to-hoat dari Mi-kok ini yang kaugunakan?”
“Beberapa jurus serangan itu berhasil kusadap tatkala Yu
Ji-nio bertarung melawan Pui Huiji,
soal kesempurnaan tentu saja masih jauh, hanya bisa
dikatakan dengan modal beberapa
jurus ini kita bisa mengungkap rahasia ilmu golok mereka,
bagaimana kalau kumainkan untuk
Lotoako agar bilamana perlu jurus-jurus ilmu golok ini bisa
kita gunakan untuk menghadapi
segala kemungkinan?”
“Tunggu sebentar,” cegah Pang Goan sambil menggoyang tangan,
“untuk menghindari segala
kemungkinan, lebih baik kita berpindah tempat lebih dulu,
kemudian baru berlatih ilmu golok
itu.”
“Berpindah tempat? Kita bisa pindah ke mana?”
“Tempat manapun boleh asal jangan di gua ini, aku selalu
merasa bahwa perempuan she Yu
itu tidak bisa dipercaya, lebih baik kita sedia payung
sebelum hujan.”
Kedua orang segera merangkak keluar gua, kemudian celingukan
keempat penjuru, namun di
sekitar situ tiada tempat lain yang bisa digunakan untuk
sembunyi, kecuali di sudut pintu
masuk taman terdapat sebuah gapura batu, belakang gapura
dapat dipakai untuk tempat
sembunyi dua orang.
Gapura itu mungkin tugu peringatan ketika membangun taman
ini, sebab penuh berisikan
tulisan, akan tetapi Pang Goan tidak berminat mengamatinya,
ia menarik Ho Leng-hong dan
buru-buru sembunyi di belakang tempat itu.
Baru saja mereka sembunyi dan belum sempat Leng-hong
menerangkan jurus ilmu golok
Ang-siu-to-hoat kepada Pang Goan, tiba-tiba dari luar taman
ada suara langkah orang.
Sebuah lentera muncul disusul dua orang, yang di depan
adalah Yu Ji-nio, tapi yang di
belakang bukan Hui Beng-cu.
Yu Ji-nio berjalan dengan wajah murung dan lemas sambil
membawa lentera, sedang orang
yang mengikut di belakangnya penuh dihiasi senyuman cerah,
ternyata dia adalah Hoa Jin!
Tidak kepalang murka Pang Goan, ia menggenggam gagang
goloknya erat-erat dan
meloloskannya dari sarung.
Ia berusaha keras menenangkan hatinya, apa mau dikata kelima
jari tangannya yang
menggenggam golok justru gemetar tiada hentinya, sulit
rasanya untuk menenangkan
perasaannya yang bergolak.
Leng-hong juga menggenggam goloknya, Cuma tangan yang lain
sekuat tenaga menekan
punggung tangan Pang Goan, itu berarti ia tidak mengharapkan
rekannya bertindak gegabah.
Mengikuti cahaya lentera akhirnya Yu Ji-nio membawa Hoa Jin
berhenti di samping gununggunungan.
Hoa Jin memandang sekejap ke arah perempuan itu. Lalu sambil
tersenyum bertanya, “Di
sini?”
Yu Ji-nio mengangguk.
Hoa Jin segera berdehem, lalu teriaknya, “Pang-tayhiap,
Ho-tayhiap, silakan keluar, Popo
telah menyiapkan meja perjamuan untuk menyambut kedatangan
kalian.”
176
Pang Goan mendengus pelahan, lalu dengan suara tertahan ia
mendamprat, “Perempuan
keparat, ternyata dugaanku tidak meleset!”
“Agaknya Beng-cu sudah terjatuh ke tangan mereka, Lotoako,
kita harus bertindak dengan
kepala dingin!” bisik Ho Leng-hong.
“Urusan sudah menjadi begini, terpaksa kita harus bertarung
sampai titik darah penghabisan,
mari kita jagal dulu kedua perempuan busuk ini.”
“Jangan terburu nafsu,” cegah Leng-hong, “sekalipun hendak
beradu jiwa, kita harus
menyelamatkan dulu Beng-cu, mumpung mereka sedang
menggeledah gua gunung-gunungan
itu, mengapa kita tidak masuk ke gedung sana untuk menolong
Beng-cu?”
“Betul!” mencorong tajam sinar mata Pang Goan, “kenapa aku
tidak berpikir sampai ke situ?”
Begitulah, setelah mengambil keputusan kedua orang itu
segera menyusup keluar gapura
dengan sangat hati-hati, lalu menerobos keluar pintu taman
dan percepat larinya menuju
gedung sebelah timur.
Ketika diperiksa, mereka merasa sudah pernah masuk gedung
sebelah timur itu, mereka pun
masih ingat arah ruang tengah. Sambil merayap dengan
setengah berjongkok, akhirnya
sampai juga mereka di luar ruang tengah.
Sinar lampu menerangi ruangan itu, tapi tidak kedengaran
sedikit suara pun, di depan pintu
ruangan juga tidak tertampak sesosok bayangan manusia pun.
Pang Goan coba mengintip melalui jendela, betul juga, sebuah
meja perjamuan dengan aneka
hidangan lezat tersedia di sana.
Arak telah memenuhi cawan, sayur masih mengepulkan asap
panas, tapi hanya dua orang
yang duduk berhadapan di meja perjamuan ini.
Si tuan rumah adalah Tong-popo, sebaliknya tamunya adalah
Hui Beng-cu.
Suasana dalam ruangan amat hening, tidak tampak orang
ketiga.
Setelah menyaksikan semua itu, Pang Goan jadi agak bingung,
sebab tubuh Hui Beng-cu
tidak diringkus dengan tali, tidak kelihatan seperti
tertutuk jalan darahnya, sekalipun hanya
duduk membungkam di situ, ternyata sikapnya sangat tenang,
bahkan sekulum senyuman
menghiasi ujung bibirnya.
Tong-popo sendiri duduk dengan mata setengah terpejam,
sikapnya tampak bersungguhsungguh
sedang melayani tamunya, sikap ini jauh berbeda dengan sikap
kerengnya ketika di
sidang pengadilan tempo hari, bahkan seperti dua orang yang
berlainan.
Ho Leng-hong mengernyitkan alis, jelas iapun bingung oleh
apa yang dilihatnya ini.
Pang Goan segera menuding diri sendiri, lalu menuding ke
ruang dalam dan membuat kode
tangan, maksudnya Ho Leng-hong diminta menunggu di luar
ruangan, sementara dia akan
masuk untuk menolong orang.
Leng-hong menggeleng kepala sambil memberi tanda pula,
artinya ia telah memahami rahasia
golok Ang-siu-to-hoat, jadi lebih baik dia yang masuk ke
dalam untuk menolong orang,
sedangkan Pang Goan diminta menunggu di luar saja.
Kedua orang itu tahu bahwa tenaga dalam Tong-popo amat
sempurna, sebab itu mereka hanya
bertukar pendapat dengan isyarat tangan, sama sekali tidak
berani menimbulkan suara, meski
demikian, ternyata perbuatan mereka tak dapat mengelabui
ketajaman pendengaran Tongpopo.
Mendadak nenek itu membuka matanya sambil menengadah,
kemudian tersenyum ke arah
luar jendela, katanya, “Silakan kalian masuk ke sini, sayur
dan arak sudah dingin!”
Pang Goan dan Leng-hong sama-sama terkejut, mereka saling
pandang sekejap dengan
perasaan tergetar, akhirnya terpaksa mereka mendorong pintu
dan masuk ke dalam.
Buru-buru Beng-cu berdiri, katanya dengan tersenyum,
“Pang-toako, Ho-toako, kita benarbenar
dungu, padahal Tong-popo sama sekali tidak bermusuhan dengan
kita, coba lihatlah,
ketika mendengar kita kelaparan seharian, buru-buru
dititahkan orang menyiapkan makanan
177
dan arak untuk kita, kemudian menyuruh pula Hoa-toanio untuk
menjemput kalian, apakah
kalian tidak berjumpa?”
Setelah gadis itu selesai berkata baru Pang Goan mendapat
kesempatan untuk buka suara,
katanya, “Aku suruh kau mencari berita, kenapa kau malah
memperlihatkan jejakmu?”
“Pang-toako, jangan kaumarah,” kata Hui Beng-cu sambil
tertawa, sesungguhnya jejak kita
sudah diketahui oleh Tong-popo, bahkan ia mengirim
orang-orangnya menjaga pintu taman,
oleh karena pada siang hari kurang bebas untuk mengadakan
pertemuan, maka begitu aku dan
Yu Ji-nio keluar dari taman kami segera diundang kemari.”
“Benar!” kata Tong-popo sambil tersenyum, “sesungguhnya
gerak-gerik kalian semalam telah
kuketahui semua dengan jelas, lagipula akupun menduga kalian
tak akan sanggup menerobos
keluar lewat mulut lembah, untuk itu hanya tempat inilah
yang bisa dibuat bersembunyi,
karena itulah sengaja kutitahkan orang untuk membuka pintu
masuk sehingga dengan leluasa
kalian bisa sampai di taman bunga di timur gedung ini.”
“Hm, jadi semua perbuatan kami sudah dalam perhitungan
Popo?” dengus Pang Goan.
“Bukannya berada dalam perhitungan,” jawab Tong-popo sambil
tertawa, “tapi
perkembangan situasilah yang memaksa kalian berbuat
demikian, atau dengan perkataan lain
takdir telah mengatur segala sesuatu menjadi begini. Saudara
berdua, sayur dan arak sudah
hampir dingin, mengapa tidak duduk dan makan, kemudian baru
bicara lagi.”
Pang Goan memandang sekejap ke arah Ho Leng-hong, akhirnya
mereka duduk di sebelah
kiri dan kanan Tong-popo sambil menggenggam gagang golok.
Rupanya Tong-popo tidak menghiraukan sikap mereka itu,
sambil mengangkat cawan katanya
dengan tersenyum, “Tentunya kalian sudah lapar bukan? Bila
perut dalam keadaan kosong,
janganlah bicara masalah besar, bagaimana kalau pembicaraan
dilanjutkan setelah makan
kenyang nanti?”
“Betul juga perkataanmu,” jawab Pang Goan, “bagaimanapun
seorang manusia hanya
membunyi selembar nyawa, setelah kenyang baru ada kekuatan
untuk beradu jiwa. Mari, kita
keringkan dulu secawan!”
Disambarnya cawan arak di hadapannya, lalu sekali tenggak
dihabiskan isinya.
Ho Leng-hong dan Hui Beng-cu memang sudah lapar, maka tanpa
sungkan mereka lantas
bersantap dengan lahapnya.
Rupanya Tong-popo tidak lapar, namun ia mengiringi para
tamunya minum arak dan makan,
sekalipun tiada gelak tertawa selama perjamuan berlangsung,
suasananya ternyata damai dan
tenang.
Tak lama kemudian, Hoa Jin dan Yu Ji-nio telah kembali ke
situ, cuma karena kedudukan
yang berbeda, mereka hanya melayani di samping, anehnya
selama inipun tidak nampak
orang luar masuk ke ruangan tersebut.
Setelah perjamuan berlangsung sekian lama, baru Tong-popo
angkat bicara lagi, katanya,
“Aku rasa kalian pasti kurang begitu paham dengan situasi
dalam lembah Mi-kok bukan?
Kokcu yang sekarang, Tong Siau-sian, tentu menjelek-jelekkan
pihak Tiang-lo-wan kami, di
hadapan kalian tentu dikatakan para Popo hendak merebut
kekuasaan dan mengincar Kokcu.
Mengenai persoalan ini harus kuberikan penjelasan lebih dulu
secara ringkas, bagaimana
kalau sambil bersantap kalian dengarkan kisahku tentang
persoalan yang mengakibatkan
persengketaan kami dengan Kokcu?”
Waktu itu mulut Pang Goan sedang penuh dengan makanan,
bersampur dengan suara
kunyahan katanya, “Katakan saja, akan kami dengarkan dengan
saksama.”
Tong-popo lantas bercerita, “Menurut peraturan leluhur kami,
Kokcu harus dijabat oleh
anggota keluarga turun temurun, dan lagi dia harus seorang
gadis, maka sebelum Kokcu itu
menginjak dewasa ia harus menuruti petunjuk pihak
Tiang-lo-wan, bila ia sudah dewasa nanti
baru diselenggarakan upacara cari jodoh, itupun pihak
Tiang-lo-wan yang menyelenggarakan.
Tegasnya, meskipun kedudukan Kokcu berasal dari keluarga
yang turun-temurun, hakikatnya
178
kekuasaan tetap dipegang oleh Tiang-lo-wan, hanya setelah
menikah atau sebelum Kokcu
yang akan datang menginjak dewasa dan menduduki jabatan
tersebut, Kokcu baru memegang
hak penuh terlepas dari kekuasaan Tiang-lo-wan . . . .”
Selama ini Pang Goan hanya makan minum dengan kepala
tertunduk, seakan-akan sama
sekali tidak memperhatikan keterangan tersebut, kini
tiba-tiba ia menyela, “Apa yang
dinamakan upacara cari jodoh?”
“Cari jodoh adalah memilihkan suami untuk Kokcu, yang
berarti pula sebagai persiapan untuk
kelahiran Kokcu generasi penerus, agar kedudukan yang
turun-temurun itu jangan sampai
terputus di tengah jalan.”
“Siapa pula yang berhak dipilih menjadi suami Kokcu?”
“Setiap lelaki yang belum menikah yang menetap dalam lembah
ini berhak ikut serta dalam
pemilihan ini, tentu saja pemilihan tersebut mencakup soal
raut wajah, perawakan, kecerdasan
. . . dan lain sebagainya. Tiang-lo-wan berhak melakukan
penelitian sebelum pemilihan
berlangsung, kemudian bila cocok baru orang itu boleh ikut
serta dalam kontes pemilihan
tersebut.”
“Bagaimana pula kontes pemilihan itu dilangsungkan?”
“Sangat sederhana sekali, bila Kokcu menginjak dewasa,
Tiang-lo-wan mulai memperhatikan
pemuda-pemuda tampan dan pintar yang berada dalam lembah ini
sebagai persiapan untuk
turut serta dalam kontes yang akan diselenggarakan, bila
pemuda yang cukup memenuhi
syarat sudah mencapai sepuluh orang ke atas, kami baru
menyelenggarakan upacara
pemilihan untuk Kokcu, pada saat itu seluruh penduduk lembah
akan berkumpul, bernyanyi
dan menari bersama, jika Kokcu tertarik kepada salah
seorang, dia akan mengalungkan
karangan bunga yang telah disiapkan pada leher orang itu,
dan orang yang terpilih pun akan
menjadi Mi-kok Huma (menantu Mi-kok), malam itu juga pesta
perkawinan diselenggarakan,
tapi Huma hanya diperkenankan berkumpul selama tiga hari
dengan Kokcu, hari keempat dia
harus pindah dari gedung itu untuk menunggu perintah
selanjutnya.”
“Mengapa begitu?” tanya Pang Goan.
“Sebab penghuni gedung hanya kaum wanita, sedang Huma Cuma
bertugas memberi
keturunan, bila bulan kedua Kokcu masih belum mengandung, ia
diperbolehkan menginap
tiga hari lagi dalam gedung, tapi jika setahun kemudian
belum hamil juga, maka pemilihan
terpaksa diselenggarakan sekali lagi.”
Rupanya Pang Goan mulai tertarik oleh cerita tersebut,
kembali ia bertanya, “Seandainya
mengandung, ternyata bukan bayi perempuan yang dilahirkan,
lalu bagaimana?”
“Jika dalam tiga kali kandungan bukan bayi perempuan yang
dilahirkan, maka harus
diselenggarakan pemilihan lagi, anak laki-laki yang
dilahirkan akan dipelihara oleh pihak
suami, bila bayi yang dilahirkan Kokcu adalah perempuan,
maka Huma dan Kokcu baru boleh
meneruskan hubungan suami isteri selamanya.”
“Wah, aku jadi teringat kepada kehidupan semut dan lebah,”
kata Pang Goan sambil tertawa.
“Ya, apa boleh buat? Untuk melaksanakan peraturan nenek
moyang kami, terpaksa kami
harus berbuat demikian, meski begitu, terhadap perempuan
lain dalam lembah ini tidak ada
pembatasan apapun.”
“Apa maksudmu memberitahukan hal ini kepada kami?”
“Aku memberitahukan semua ini dengan harapan agar kalian
memahami proses terjadinya
Kokcu dalam lembah kami, atau dengan perkataan lain ingin
kubuktikan bahwa pihak Tianglo-
wan tidak bermaksud merebut kekuasaan Kokcu, sebab meski
Tong Siau-sian adalah
Kokcu, sebelum kawin dia masih di bawah pengawasan
Tiang-lo-wan, ucapannya hanya
bermaksud menghasut karena ia hendak mengelabui kalian serta
mempergunakan tenaga
kalian untuk kepentingannya mencapai maksud pengkhianatannya
terhadap peraturan nenek
moyang kami.”
“Dia seorang Kokcu? Masa mengkhianati lembah sendiri?” kata
Pang Goan tercengang.
179
“Seperti kuterangkan tadi, Kokcu hanya namanya saja, padahal
tidak banyak kekuasaan yang
dimilikinya, jangan kaulihat usia Tong Siau-sian masih
kecil, tapi ambisinya besar sekali. Ia
tidak puas dengan peraturan yang ditinggalkan nenek moyang
kami, ia menganggap
kekuasaan Tiang-lo-wan melampaui kekuasaan seorang Kokcu,
maka Tiang-lo-wan hendak
dibubarkan agar kekuasaan terpusat di tangannya seorang,
untuk mencapai tujuan ini tak
segan-segannya bersekongkol dengan kekuatan luar untuk
menindas sesama anggota sendiri.”
“Kukira masalah ini tak ada sangkut pautnya dengan kami,
persoalan itu hanya urusan rumah
tangga kalian sendiri,” kata Pang Goan sambil tertawa,
“lagipula kamipun tak mempunyai
kekuatan cukup untuk membantu, lebih-lebih tak kami
kehendaki mencampuri urusan ini.”
“Bila Pang-tayhiap berdiri di luar garis, hal ini lebih baik
lagi, tapi tidak seharusnya kalian
serahkan golok mestika Yan-ci-po-to tersebut kepada Tong
Siau-sian, sebab hal ini sama
dengan membantu mereka untuk menentang Tiang-lo-wan.”
Pang Goan menggeleng kepala, “Kami hanya ingin menukar
Yan-ci-po-to dengan rahasia
Ang-siu-to-hoat serta meninggalkan lembah ini dengan
selamat, tidak terlintas ingatan dalam
benak kami untuk memusuhi pihak manapun.”
“Kalau begitu, seandainya Tiang-lo-wan dengan syarat yang
sama ingin menukar golok itu
dengan kalian, tentu kalian setuju bukan?”
“Sayang golok mustikanya cuma satu,” kata Pang Goan sambil
angkat bahu, “kami telah
memberikan selembar peta tempat menyimpan golok untuk Tong
Siau-sian, tak mungkin
memintanya kembali.”
“Ah, kalau cuma begitu, apa susahnya? Pang-tayhiap kan bisa
membuatkan selembar peta lagi
untuk kami, kujamin Ang-siu-to-hoat pasti akan kuberikan
kepada kalian, dan kalian pun akan
kami antar keluar lembah ini dengan selamat.”
“Sungguhkah perkataanmu?”
“Memangnya cuma main-main?”
“Jadi kalau kubuatkan selembar peta lagi untukmu, kau akan
mengantar kami meninggalkan
lembah ini?”
“Benar!”
Tampaknya perasaan Pang Goan agak “tertarik”, ia berpikir
sebentar lalu berkata, “Bisa saja
kukabulkan permintaanmu, cuma kami harus tinggalkan lembah
ini lebih dahulu, setibanya di
luar lembah peta tersebut baru kuserahkan kepadamu, setuju?”
“Tentu saja setuju, cuma kalau tanpa bukti, cara bagaimana
kami bisa percaya kau tak akan
ingkar janji setibanya di luar lembah? Lagipula darimana
kami bisa tahu peta penyimpanan
golok itu asli atau tidak?”
“Lantas bagaimana pendapatmu?”
“Kala menurut pendapatku, tentu saja aku berharap bisa
mendapatkan golok mestika Yan-cipo-
to lebih dahulu baru kemudian mengantar kalian keluar dari
lembah, untuk ini tentu juga
kalian tak akan percaya kepadaku, maka lebih baik kita
mencari suatu cara yang sempurna
agar kedua belah pihak sama-sama aman.”
“Betul, memang tepat sekali perkataan Popo, coba katakan!”
“Bicara terus terang, menurut peraturan lebah kami, tiada
kesempatan sama sekali buat kalian
untuk meninggalkan Mi-kok, sekalipun aku ada maksud
mengantar kalian pergi, itupun tak
bisa kulakukan secara terang-terangan, aku hanya bisa
membantu secara diam-diam.”
“Soal ini aku dapat memahaminya!”
“Aku pikir yang paling kalian takuti terhadap Mi-kok adalah
Ang-siu-to-hoat kami,
seandainya kalian berhasil menguasai ilmu golok itu,
sekalipun tak usah kami lindungi juga
dapat menerjang keluar sendiri, maka tak ada salahnya kalau
kita tukar peta tersebut dengan
To-hoat lebih dahulu, bila golok mestika itu sudah
kudapatkan dan kalian pun sudah
menguasai ilmu Ang-siu-to-hoat tersebut, waktu itu aku bisa
mengatur kesempatan baik untuk
180
kalian pergi dari lembah ini, entah setujukah kalian dengan
usulku ini?”
Pang Goan termenung sebentar, lalu berkata, “Popo akan
menyiapkan kesempatan yang
bagaimanakah untuk kami? Dapatkah kauungkapkan dulu kepada
kami?”
“Setelah peta kudapatkan, kalian akan kuantar dulu ke suatu
tempat yang aman, rahasia dan
tenang agar kalian bisa melatih Ang-siu-to-hoat dengan
bersungguh hati, bila golok mestika
telah kami dapatkan, Tiang-lo-hwe akan mengundang penduduk
untuk menyelenggarakan
pesta pemilihan suami buat Tong Siau-sian, nah, tatkala
semua rakyat lembah itu sedang
berpesta pora, secara diam-diam kalian bisa tinggalkan
lembah ini dengan selamat.”
“Akal bagus!” sorak Pang Goan sambil bertepuk tangan, “kita
tetapkan begini saja, sekarang
ambilkan kertas dan pit!”
Tak terlukiskan rasa girang Tong-popo, cepat ia siapkan
sendiri kertas dan pit, bahkan Hoa
Jin dan Yu Ji-nio pun disuruh pergi agar rahasia tak sampai
bocor.
Setelah sekeliling tak ada orang, Ho Leng-hong baru
berbisik, “Lotoako, jangan buru-buru
kaubuatkan peta itu, jelas nenek ini mempunyai rencana keji
. . . . .”
“Peduli amat, sahut Pang Goan dengan suara lirih,
“bagaimanapun tempat itu cuma sebuah
liang tinja, biarkan saja mereka saling berebutan tahi.”
Tak lama kemudian peta telah selesai dibuat, Tong-popo
memeriksanya sejenak, kemudian
menyatakan rasa puasnya, hari itu juga ia siapkan burung
merpati untuk mengantar peta itu
keluar lembah.
Kemudian kepada Hoa Jin pesannya pula, “Cepat siapkan
barang-barang kebutuhan untuk
Pang-tayhiap, akan kuantar sendiri mereka bertiga ke tempat
berlatih ilmu golok itu.”
Tak lama kemudian Hoa Jin datang melapor, “Semua barang
keperluan telah siap!”
Dengan wajah berseri Tong-popo segera mengulapkan tangan
seraya berkata, “Saudara
bertiga, mari ikut padaku!”
Keluar dari ruangan, ada empat orang perempuan dengan
“benang biru” pada gaunnya telah
menanti, di tangan masing-masing membawa sebuah bungkusan
besar.
Menyusuri kegelapan malam mereka berputar keluar dan menuju
ke timur sana, sepanjang
perjalanan tak ada yang berbicara, mereka tidak membawa
lampu, jelas hendak menghindari
pengintaian pihak Tong Siau-sian.
Tak lama kemudian mereka sudah keluar perkampungan bagian
belakang, arah yang dituju
ternyata adalah dasar lembah, lagipula makin ke depan
perjalanan makin sulit, pemandangan
di sekitar sana pun makin gersang, jangankan bangunan rumah,
pepohonan pun jarang.
Suatu perasaan waswas tiba-tiba muncul dalam hati Ho
Leng-hong, segera bisiknya, “Toako,
tampaknya keadaan semakin tak beres, coba perhatikan tanah
lumpur ini!”
Pang Goan menunduk, air mukanya kontan berubah.
“Kenapa dengan tanah lumpur itu?” tanya Hui Beng-cu
tercengang, rupanya ia tidak
menemukan sesuatu yang aneh.
“Tanah di sini jauh berbeda dengan tanah di depan lembah
sana,” Leng-hong menerangkan,
“makin ke dalam warna tanahnya makin gelap, coba lihat,
bukankah tanahnya sekarang
berwarna hitam pekat? Lagi pula dasar lembah ini kecuali
batu karang hampir boleh dibilang
tiada tumbuhan lain....”
“Lalu apa artinya semua itu?” tanya Hui Beng-cu belum juga
mengerti.
“Itu berarti tempat yang akan kita tuju kemungkinan besar
adalah istana es dan liang api.”
Sekujur badan Hui Beng-cu bergetar keras, akhirnya ia
mengerti,
Urusan telah jelas, dan merekapun sampai di tempat tujuan.
---------------------
181
Di bawah tebing terjal di dasar lembah berdiri sederetan
rumah batu, dalam rumah itu berdiri
tiga orang perempuan.
Ketiga orang perempuan itu telah berusia lanjut, kedudukan
mereka pun amat tinggi, dua
diantaranya berpangkat “benang biru”, sedang yang ketiga
ternyata berpangkat “benang
perak”, berarti diapun seorang Tianglo.
Tianglo tersebut berusia delapan puluh tahun lebih, meski
rambutnya telah beruban, wajahnya
wajah bocah, sayang matanya buta, kelopak matanya mencekung,
kelihatan dua lekukan yang
dalam.
Kedua nenek lainnya yang berpangkat “benang biru” berusia
sekitar lima puluhan, ternyata
mereka pun orang buta.
Ketika Tong-popo membawa rombongan itu sampai di depan rumah
batu, ketiga nenek buta
itu lantas mendengar suara kedatangan mereka dan menyongsong
di depan pintu.
Hampir semua orang buta memiliki suatu keistimewaan yang
sama, yakni pendengaran yang
tajam.
Sikap Tong-popo terhadap nenek buta yang paling tua
menghormat sekali, dengan hangat dan
tertawa ia menyapa, “Enci Po, sudah lama aku tidak
berkunjung kemari, baik-baikkah kau
selama ini?”
“Seperti biasa,” jawab nenek buta she Po itu ketus, “asal
bisa makan dan minum, rasanya juga
sudah cukup puas.”
“Itulah baru dinamakan Hok-ki,” kata Tong-popo sambil
tertawa, “tidak seperti diriku ini, dari
pagi sampai malam sibuk selalu, padahal juga tidak kuketahui
sibuk apa, sehingga ingin
makan atau minum pun tak punya waktu......”
Tiba-tiba nenek she Po itu memotong, “Ada keperluan apa
kaudatang ke lembah belakang
ini?”
“Aku mengantar tiga orang tamu kemari.”
“Tunjukkan lencana nomor kuncimu!” perintah nenek Po sambil
ulurkan tangannya.
Dari sakunya Tong-popo mengeluarkan sebuah lencana tembaga
kecil, lalu sambil tersenyum
diserahkan ke tangan salah seorang nenek “benang biru”, oleh
perempuan itu baru diserahkan
kepada nenek Po.
Bentuk lencana tersebut tidak jauh berbeda dengan lencana
biasa, cuma di atas lencana ini
terdapat lubang sehingga kelihatan agak istimewa.
Dengan teliti nenek Po meraba sekeliling lencana tersebut,
kemudian miringkan kepala sambil
bertanya, “Berapa orang?”
“Tiga orang!”
“Berapa orang lelaki dan berapa orang perempuan?”
“Dua tamu lelaki dan seorang gadis remaja!”
“Perlu dibagi menjadi berkelompok?”
“Tidak usah, mereka berasal dari satu rombongan.”
“Baik!” kata nenek Po kemudian, “tinggalkan semua barang
keperluan dan kau boleh segera
kembali!”
“Enci Po, ketiga orang tamu kita memiliki kungfu yang
lumayan, kau kudu baik-baik
melayani mereka.”
“Hmm! Jangan kuatir,” sahut nenek Po sambil mendengus,
“sekalipun sepasang mataku sudah
buta belum pernah ada seekor belut yang bisa lolos dari
sela-sela jari tanganku.”
Mendengar ucapan tersebut, Ho Leng-hong bertiga saling
pandang dengan terkesiap.
Tong-popo segera menitahkan orang untuk menyerahkan
bungkusan kepada mereka bertiga,
lalu katanya sambil tertawa, “Saudara bertiga, aku hanya
mengantar kalian sampai di sini saja,
urusan selanjutnya akan diatur nenek Po, moga-moga kalian
bisa berlatih ilmu golok dengan
tekun dan bersungguh hati, barang-barang ini pasti kalian
butuhkan nanti, silakan kalian
menerimanya.”
182
“Tapi tempat apakah ini,” seru Hui Beng-cu, “apa yang hendak
kaulakukan terhadap kami?”
“Sambil angkat bahu Tong-popo tertawa, “Bukankah kalian
bertiga ingin mencari suatu
tempat yang sepi untuk berlatih Ang-siu-to-hoat? Nah, di
sinilah tempat paling baik untuk
berlatih ilmu golok tersebut.”
Sehabis berkata ia lantas mengajak anak buahnya meninggalkan
tempat itu.
Dengan suara tertahan Hui Beng-cu berkata, “Pang-toako,
Ho-toako, kita tertipu, ternyata
nenek she tong itu tidak bermaksud baik!”
Pang Goan tidak menjawab, buru-buru ia membuka salah satu
bungkusan itu dan diperiksa
isinya.
Ternyata kecuali sebungkus ransum kering ada pula beberapa
setel pakaian tebal anti dingin.
Ketika bungkusan yang lain dibuka, ternyata isinya sama.
Sekarang Ho Leng-hong baru menghela napas panjang, keluhnya,
“Berlatih ilmu golok di
istana es. Ya, pasti tempat inilah Peng-kiong!”
“Benar!” sambung nenek Po mendadak, “tempat ini adalah
istana es!”
--------------------
Udara di dalam istana es dinginnya bukan kepalang, dalam
rumah batu itupun tak kurang
dinginnya.
Ho Leng-hong bertiga mengenakan pakaian tebal anti dingin.
Lalu di bawah “kawalan” nenek
Po dan kedua orang petugas “benang biru” mereka digiring ke
dalam rumah batu itu.
Wajah tiga orang perempuan itu lebih dingin daripada udara
dalam ruangan tersebut, pakaian
yang mereka kenakan juga sangat tipis.
Dari sini dapat diketahui bahwa ketiga perempuan buta itu
pasti memiliki tenaga dalam yang
luar biasa hebatnya.
Oleh sebab itu Pang Goan bertiga sangat tahu diri, mereka
menurut perintah tanpa
membantah, merekapun tidak mengatur rencana untuk kabur,
apalagi keadaan dalam lembah
tersebut memang tidak memungkinkan orang untuk melarikan
diri.
Setelah masuk ke dalam rumah batu, nenek Po menanyai dulu
nama mereka bertiga, lalu
sambil memberi tiga butir pil ia berkata, “Bila kalian tahu
nama istana es tentu pernah
mendengar juga nama liang api? Nah, agar kalian memiliki
kesempatan untuk
mempertahankan hidup secara adil, terlebih dahulu akan
kuterangkan segala sesuatu yang
menyangkut keadaan kedua tempat itu . . . . .”
Ketiga orang itu tidak bersuara, rupanya mereka sama sekali
tidak tertarik untuk
mempertahankan hidup.
Nenek Po melanjutkan perkataannya, “Istana es dan liang api
adalah tempat aneh dalam
lembah kami, tempat itu merupakan gudang penyimpan pusaka
pemberian alam, dalam istana
es itulah kitab ilmu golok Ang-siu-to-hoat disimpan, suhu
dalam istana es dingin luar biasa,
tiap titik air akan segera beku menjadi es, sekalipun ilmu
silat seseorang amat lihay juga
jangan harap akan hidup lebih enam jam di tempat itu . . . .
. .”
Setelah berhenti sebentar, sambil menuding ketiga biji obat
itu, lanjutnya pula, “Cuma untuk
memberi kesempatan kepada kalian agar bisa mendalami rahasia
Ang-siu-to-hoat tersebut,
maka barang siapa memasuki istana es akan diberi hadiah
sebuti obat kuat, setiap orang yang
makan pil itu bisa memperoleh kekuatan untuk menahan rasa
dingin selama enam jam, atau
dengan perkataan lain kalian mempunyai kesempatan untuk
hidup dua belas jam dalam istana
es, dalam waktu yang tersedia ini bukan saja dapat kalian
gunakan mempelajari rahasia ilmu
golok, kalian pun bisa memikirkan cara meloloskan diri dari
situ.”
Ketiga orang itu tidak bersuara, tapi mereka mendengarkan
keterangan itu dengan saksama,
akhirnya dapat disimpulkan bahwa mereka masih ada kesempatan
untuk lolos dengan
selamat.
183
Terdengar nenek Po berkata lebih jauh, “Pintu istana es
hanya bisa masuk dan tak bisa keluar,
satu-satunya jalan bagi kalian untuk mencari hidup adalah
menerobos liang api, tempat itu
pun harus dilewati dalam waktu dua belas jam. Antara liang
api dengan istana es hanya
terbatas oleh sebuah gua, tapi suhu udara di kedua tempat
sama sekali bertolak belakang,
dalam liang api terdapat api alam yang sepanjang tahun
menyemburkan api dahsyat,
jangankan manusia, sebatang baja pun akan meleleh, maka jika
kalian bisa menemukan cara
bagus untuk menembus liang api tersebut, bukan saja dapat
memperoleh ilmu Ang-siu-to-hoat
yang maha sakti itu, kalian akan disambut pula oleh segenap
rakyat lembah dengan segala
kehormatan, kalau perempuan akan diangkat menjadi Kokcu,
bila pria akan menjadi Huma . .
. . . tentu saja semenjak lembah ini didirikan hingga kini
belum pernah ada orang yang
berhasil melintasi istana es dan liang api dengan selamat,
sebaliknya jumlah yang tewas si situ
justru tak terhitung banyaknya.”
Berbicara sampai di sini tiba-tiba ia tertawa bangga,
katanya lagi, “Nah cukuplah keterangan
ini, apa yang harus kukatakan telah kuucapkan, jika kalian
masih ada pertanyaan boleh
diajukan sekarang kepadaku, dengan senang hati akan
kuterangkan, kalau tak ada pertanyaan,
maka kalian akan kuantar masuk ke istana es.”
Hui Beng-cu hanya memandang Pang Goan dan Leng-hong dengan
sedih, tiba-tiba air
matanya jatuh bercucuran.
Pang Goan menepuknya pelahan dan berkata pelahan dan berkata
dengan suara getir, “Siaucu,
jangan takut, manusia akhirnya akan mati, bukan sembarangan
orang bisa mendapatkan
kuburan yang panas-dingin komplit semacam ini, biasanya
tempat yang mengandung unsur
api dan air dikatakan Heng-sui yang baik, keturunan kita
kelak tentu akan makmur.”
Hui Beng-cu tak dapat menerima kata-kata gurauan seperti
itu, isak-tangisnya tak
terbendungkan lagi, air matanya jatuh dengan derasnya.
Ho Leng-hong tetap bersikap tenang dan sedikitpun tanpa
emosi, selang sejenak baru ia
berkata, “Nenek, bolehkah kuajukan dua pertanyaan?”
“Katakan!”
“Pertama, benarkah ketiga biji obat pemberian nenek ini
sangat manjur?”
“Tentu saja sangat manjur, aku dapat menghadiahkan obat itu
kepada kalian, buat apa
bohong? Kalau kau tidak percaya, setelah masuk ke dalam
istana es nanti makanlah obat ini,
dalam waktu dua belas jam kau takkan merasa kedinginan.”
Ho Leng-hong manggut-manggut, katanya lagi, “Kedua, aku
ingin bertanya, andaikata nasib
kami lagi mujur dan bisa lolos dari istana es dan liang api
dalam keadaan hidup, benarkah
akan memperoleh sanjungan dan penghormatan dari segenap
rakyat lembah?”
“Betul, ini sudah merupakan peraturan nenek moyang kami,
jadi bukan peraturan ciptaan
kami.”
“Baik! Asal kami tidak mati pasti akan berkunjung pula ke
lembah ini,” selesai berkata ia
masukkan ketiga biji obat itu ke dalam sakunya.
Nenek Po segera membuka sebuah pintu di ruang belakang, lalu
melangkah masuk lebih dulu.
Tanpa ragu Ho Leng-hong menyusul di belakangnya.
Pang Goan memayang Hui Beng-cu menyusul di belakangnya,
sedangkan kedua perempuan
tua berbenang biru berjalan paling belakang.
Di balik pintu adalah sebuah gua yang sangat gelap, di situ
tak ada cahaya lampu, yang ada
hanya hawa dingin yang merasuk tulang.
Sekalipun matanya buta, ternyata langkah kaki nenek Po
sangat cepat, untungnya permukaan
gua amat datar dan tiada tikungan, tak lama kemudian
sampailah mereka di depan sebuah
pintu batu.
Lambat-laun Ho Leng-hong sudah mulai terbiasa dengan
kegelapan, ia menghimpun segenap
kekuatannya untuk memperhatikan keadaan sekeliling tempat
itu.
184
Ternyata pintu batu itu sangat tebal dan beratnya ribuan
kati, gelang pintu terbuat dari baja
dan tampaknya terdapat pula sebuah lubang kunci raksasa.
Nenek Po memasukkan lencana tembaga tadi ke dalam lubang
kunci, setelah itu baru
menggunakan sebuah anak kunci untuk membuka kunci pintu,
pelahan pintu batu itu ditarik.
Setelah pintu terbuka, segulung angin dingin pun berembus
keluar, tanpa terasa Ho Lenghong
bertiga bergidik.
“Silakan masuk saudara bertiga!” kata nenek Po kemudian.
Leng-hong melongok ke dalam, di balik pintu merupakan sebuah
gua karang, cuma dari
kejauhan sana lamat-lamat kelihatan selapis cahaya putih
seperti lapisan kabut.
Ia menarik napas panjang-panjang, lalu melangkah masuk ke
dalam gua itu.
Pang Goan bermaksud membimbing Hui Beng-cu masuk pula ke
dalam gua, siapa tahu
mendadak gadis itu meronta dan melepaskan diri dari pegangan
Pang Goan, ia cabut golok
panjang di pinggang orang she Pang itu, sambil memutar badan
terus melancarkan serangan
kilat ke arah kedua orang perempuan buta berbenang biru di
belakangnya.
Perubahan kejadian ini sangat tiba-tiba, dalam kejutnya Pang
Goan ingin mencegah, sayang
tak sempat.
Jangan kira kedua orang perempuan itu buta, ternyata
perasaannya tajam sekali, baru saja Hui
Beng-cu melolos golok, kedua orang itu segera menubruk maju
dari kanan dan kiri.
Sambil membacok, Hui Beng-cu berteriak, “Aku tak mau ke
istana es, kalau ingin nyawa
cepat me . . . .”
Kata “menyingkir” belum selesai, pergelangan tangannya
tahu-tahu kaku dan gadis itupun
dicengkeram oleh salah seorang perempuan buta tadi.
Perempuan buta yang lain dengan cekatan merampas goloknya,
lalu mendorong Hui Beng-cu
ke dalam pintu.
Buru-buru Pang Goan menyambutnya, dengan sempoyongan mereka
berdua terdorong masuk
ke dalam gua.
“Blang!” pintu batu tertutup rapat memisahkan gua tadi
menjadi dua bagian.
Sambil menutup wajahnya Hui Beng-cu menangis tersedu-sedu,
pekiknya, “Pang-toako, Hotoako,
habislah riwayat kita, tak bisa tidak kita pasti mati dalam
istana es ini.”
“Sekalipun harus mati, apa gunanya menangis?” jawab
Leng-hong dengan tenang.
Hui Beng-cu mendongakkan kepalanya sambil berseru,
“Ho-toako, kenapa kau tidak takut?
Apakah sudah kautemukan akal untuk meloloskan diri?”
Leng-hong menggeleng kepala berulang kali, “Aku tidak takut
karena takut tak dapat
menyelamatkan jiwa kita, melawan juga bukan cara yang baik,
maka tidak perlu kita lakukan
perlawanan yang tak bermanfaat, kita harus menggunakan
segenap kekuatan yang kita miliki
untuk mencari jalan keluar.”
“Tapi istana es dan liang api jelas adalah jalan kematian,
tidak mungkin kita bisa keluar dalam
keadaan hidup,” keluh sang gadis sambil terisak.
“Sampai sekarang kita belum mencobanya, darimana kautahu
jalan ini adalah jalan
kematian?”
“Tidakkah kau dengar perkataan mereka? Sejak lembah Mi-kok
ini ada, belum pernah ada
orang berhasil lolos dari istana es dan liang api dalam
keadaan hidup.”
“Itu kan perkataan mereka, kan tidak berarti dulu tak pernah
ada orang yang berhasil dan
seterusnya juga tak ada, aku yakin pasti ada orang yang
berhasil menerobos kedua tempat
itu.”
“Darimana kautahu?”
“Bila tak pernah ada orang yang berhasil melewati istana es
dan liang api, darimana bisa
diketahui bahwa istana es dan liang api bisa menembus ke
luar lembah? Darimana diketahui
bahwa di belakang lembah adalah satu-satunya jalan keluar?”
185
Hui Beng-cu tertegun dan berhenti menangis, sesudah berpikir
sebentar, katanya pula,
“Mungkin tak pernah ada orang yang berhasil? Siapa tahu
ucapan tersebut hanya mereka
gunakan untuk membohongi orang lain?”
“Kalau bohong, tak mungkin nenek moyang lembah Mi-kok
menetapkan peraturan untuk
mengelu-elukan orang yang berhasil lolos dari dasar lembah
ini!”
Hui Beng-cu jadi bungkam dan tak dapat membantah lagi.
Selanjutnya Ho Leng-hong berkata pula, “Dari sini dapat
diketahui bahwa istana es dan liang
api bukan jalan buntu yang mematikan, tempat itu hanya bisa
disebut sebagai jalan keluar
yang sangat berbahaya, jika orang dulu bisa menembusnya,
kenapa kita tak berusaha
menembusnya pula?”
“Masuk akal,” kata Pang Goan, “mari kita coba sekarang
juga!”
Tapi Ho Leng-hong menggoyangkan tangannya dan berkata,
“Tunggu sebentar, jelas kita
harus cari dan coba, cuma kita tak boleh bertindak ceroboh.”
“Lalu apa yang mesti kita lakukan?”
“Pertama kita harus mengendalikan sisa waktu hidup
secermatnya, semakin lama waktu hidup
kita, semakin besar pula harapan kita untuk lolos dari
bahaya....”
“Betul!” Pang Goan manggut-manggut.
“Sejak kini kita hanya mempunyai waktu selama dua belas jam
untuk hidup, dalam waktu ini
di samping mencari jalan keluar kitapun harus berusaha
mempelajari rahasia ilmu golok Angsiu-
to-hoat, jadi dua pekerjaan ini lebih baik dilaksanakan oleh
dua orang, sementara seorang
lainnya tetap tinggal di sini, tak boleh bergerak, tempat
ini pasti jauh lebih hangat
dibandingkan di dalam istana es, jadi orang yang tetap
tinggal di sini tidak perlu makan obat,
dengan tersisanya sebutir pil berarti akan memperpanjang
waktu bergerak bagi kedua orang
yang lain.”
“Daya ingatanmu tajam, tugas mengapalkan rahasia ilmu golok
itu adalah bagianmu, sedang
mencari jalan keluar serahkan saja kepadaku,” kata Pang Goan
dengan cepat.
“Tidak!” seru Beng-cu, “kaum perempuan lebih teliti dan
saksama, tugas mencari jalan keluar
biar kulakukan untukmu, sedang Pang-toako beristirahat lebih
dulu . . . . .”
“Tidak, kau adalah seorang gadis, kau lebih pantas
beristirahat, biar segala pekerjaan
diselesaikan oleh kaum pria saja.”
“Kalian tak usah berebut,” kata Leng-hong, “mencari jalan
keluar adalah tugas yang berat,
orang yang tetap tinggal di sini pun tak boleh minum obat,
dia harus mengerahkan hawa
murninya untuk melawan hawa dingin, keadaan semacam itu
bukan perasaan yang nikmat.”
“Tak perlu berbuat demikian,” kata Pang Goan, “Siau-cu boleh
minum obatnya, biar sebutir
obatku yang disimpan, dapat menemukan jalan keluar atau
tidak dalam waktu enam jam
kukira sudah lebih dari cukup.”
“Masalah ini menyangkut mati-hidup kita, jangan kita
menuruti perkiraan saja, pada
umumnya untuk mengapalkan rahasia ilmu golok tidak perlu
membutuhkan waktu sampai
enam jam, tapi tugas ini sangat memeras pikiran dan tenaga.
Sekalipun demikian tugas
mencari jalan keluar tetap merupakan tugas terpenting, kalau
jalan keluar tidak ditemukan,
sekalipun ilmu golok sakti ini berhasil diapalkan, lalu apa
gunanya? Menurut pendapatku,
obat itu sepantasnya diberikan semua untuk Pang-toako.”
Hui Beng-cu tertawa getir, katanya, “Paling banyak kita cuma
ada waktu sehari untuk hidup,
buat apa persoalan itu diributkan? Sungguh perbuatan yang
tak ada harganya, sedikitnya kita
harus tinjau dulu keadaan dalam istana es sebelum
perundingan dilanjutkan, bagaimana
pendapat kalian?”
“Betul!” kata Pang Goan, “sekalipun kita bakal mampus di
sini, paling tidak harus kita tinjau
dulu tempat kubur kita ini. Mari berangkat!”
Tanpa makan obat, berangkatlah ketiga orang itu menyusuri
gua itu.
186
Gumpalan cahaya putih itu makin lama makin cemerlang dan
menyilaukan mata, tapi suhu
udaranya makin lama makin dingin.
Baru sampai di tengah jalan, ketiga orang itu sudah mulai
merasakan sekujur badannya kaku,
mau-tak-mau terpaksa mereka harus mengerahkan tenaga
dalamnya untuk melawan rasa
dingin yang luar biasa itu.
Semakin mendekati mulut gua, biji mata semua orang
seolah-olah ikut menjadi beku.
Tapi, pada saat itulah suatu pemandangan aneh tiba-tiba
muncul di depan mata....
Gua itu terletak dalam perut gunung, tingginya berpuluh
tombak dengan lebar tiga sampai
empat puluh tombak, bentuknya mirip sebuah tangkupan mangkuk
besar.
Dalam gua tiada cahaya lampu, tapi suasana terang benderang
bagaikan di siang hari, sebab
seluruh permukaan dinding gua itu berlapiskan es yang tebal
sekali, sementara dalam gua
yang tingginya lebih lima kaki di depan sana api berkobar
dengan keras.
Ketika cahaya api itu menimpa permukaan dinding es yang
tebal, maka terpancar sinar refleks
yang menyilaukan mata, keadaan ini ibaratnya sebuah cermin
besar dalam ruangan yang
tertimpa sinar matahari, hal ini membuat pemandangan dalam
gua itu bagaikan sebuah dunia
kaca, pemandangannya aneh, indah mempesonakan.
Rahasia Ang-siu-to-hoat yang dikatakan tiada tandingannya di
dunia ini justru tersimpan
dalam istana es yang indah, aneh dan fantastik ini.
Bukan kitab pusaka atau kertas bergambar penjelasan yang
berada di sana, melainkan
manusia sungguhkan yang memperagakan berbagai jurus
serangan.
Ilmu golok itu semuanya terdiri dari sembilan jurus yang
diperagakan oleh sembilan orang
gadis berbaju merah, dan semuanya terbingkai dalam es beku
di sekeliling gua.
Tentu saja kesembilan gadis itu bukan orang hidup, tetapi
kendati pun mayat itu sudah berusia
ratusan tahun, oleh karena berada dalam lapisan es yang
tebal, maka bukan saja tidak
membusuk, malah bentuknya masih tetap utuh seperti hidup.
Selain kesembilan sosok mayat itu, masih ada dua puluhan
sosok mayat lain yang tersebar di
sekeliling gua, ada di antaranya yang sedang duduk bersila,
jelas sedang memusatkan
perhatiannya untuk mempelajari intisari ilmu golok tersebut,
ada yang berbaring sambil
melingkarkan badan, jelas tidak tahan melawan hawa dingin
dan lapar, ada pula yang bermata
melotot dengan wajah gusar, seakan-akan tidak rela mati
dengan begitu saja, tapi ada pula
yang bersikap tenang seakan-akan puas menghadapi kematian
dalam keadaan seperti itu . . . .
Mereka semua adalah kawanan jago persilatan yang berdatangan
ke Mi-kok untuk belajar
ilmu golok, tentu saja tujuh bersaudara Nyo dari Thian-po-hu
termasuk di antaranya.
Pang Goan bertiga berdiri tertegun di depan pintu istana,
pemandangan aneh itu membuat
mereka terbelalak dan melongo, untuk sesaat tak tahu apa
yang mesti dilakukan . . . . .
Tiba-tiba Ho Leng-hong bergidik, serunya cepat, “Cepat
pejamkan mata dan mundur keluar!”
Bentakan itu dengan cepat menyadarkan Pang Goan dan Hui
Beng-cu, buru-buru mereka
kabur keluar dari gua tersebut.
Sesudah mengatur pernapasan sejenak, Pang Goan menggeleng
kepala sambil menghela
napas, “Bahaya . . . sungguh teramat berbahaya!”
“Pemandangan tersebut sungguh merupakan pemandangan aneh
yang sukar ditemui di
dunia,” kata Hui Beng-cu pula, “ditambah lagi jurus-jurus
ilmu golok yang indah dan
memesona, membuat aku terkesima hingga lupa mengatur
pernapasan. Ai, coba jika Ho-toako
tidak membentak tepat pada saatnya, nyaris akupun mati
kedinginan di situ.”
“Orang-orang itu justru mati dalam istana es lantaran
kejadian demikian,” kata Ho Leng-hong
dengan wajah serius, “sering kali orang terkesima bila
menjumpai pemandangan seaneh itu,
ketika mereka sadar akan bahaya, hawa dingin telah menyerang
dan mereka sama mati kaku
di situ, jangankan lolos dari tempat ini, mungkin kesempatan
untuk mencari jalan keluar pun
belum sempat dilakukan.”
187
Pang Goan manggut-manggut, “Untung kita masuk bertiga, coba
kalau sendirian, mungkin
tak seorangpun bisa lolos dari tempat ini dengan selamat.”
Leng-hong tertawa, katanya, “Cuma setelah ada pengalaman
ini, berarti menambah
kesempatan hidup kita.”
“Kenapa?” tanya Hui Beng-cu tercengang.
Leng-hong tidak menjawab, dia mengeluarkan obat itu dan
ditelan sebutir, lalu sisanya yang
dua butir diberikan kepada Pang Goan sambil berpesan,
“Tunggulah di sini, aku akan masuk
lebih duluan!”
“Kau hendak ke mana?” seru Hui Beng-cu.
Leng-hong tidak menjawab melainkan masuk lagi ke dalam
istana es.
Tak lama kemudian, ketika pemuda itu muncul kembali,
tangannya membawa sebuah
bungkusan kain, ketika bungkusan itu dibuka, ternyata isinya
adalah ransum kering serta
belasan butir pil.
Ransum kering itu ada sebagian yang telah berubah warna dan
tak bisa dimakan, tapi pil-pil
itu sama bentuknya seperti pil yang diberikan nenek Po
kepada mereka untuk melawan hawa
dingin, bahkan bentuknya sama sekali belum berubah.
“Hei, darimana kau peroleh barang-barang itu?” seru Hui
Beng-cu dengan mata terbelalak.
“Peristiwa barusan telah menimbulkan suatu pikiran dalam
benakku,” tutur Leng-hong sambil
tertawa, “Kupikir orang-orang yang mati dalam istana es
pasti membawa ransum kering dan
diberi pil, tapi sewaktu masuk ke istana es lantaran mereka
mengira dengan tenaga dalam
sendiri pasti mampu bertahan selama enam jam, pil-pil itu
tidak mereka makan, ketika
tubuhnya dirasakan mulai beku, tak sempat lagi untuk minum
obat, sebab itulah sengaja
kugeledah saku mereka, ternyata sebagian besar memang belum
pernah menggunakan ransum
serta obat mereka, dengan persediaan kita sekarang, paling
sedikit kita bisa tahan hidup tigaempat
hari lagi lebih lama.”
Beng-cu sangat girang, cepat ia hitung barang-barang
tersebut, ternyata masih ada enam-tujuh
bagian ransum kering itu yang masih bisa digunakan, sedang
pil penahan dingin berjumlah
tiga belas biji, jadi kalau dibagi untuk tiga orang bisa
digunakan untuk bertahan selama empat
hari.
Dengan kelebihan waktu empat hari mereka tidak sulit untuk
mencari jalan keluar, rasa
percaya diri sendiri seketika tambah kuat.
“Selanjutnya apa yang harus kita lakukan?” tanya Pang Goan
kemudian.
“Bila Lotoako janji tidak akan berebut denganku, bagaimana
kalau aku yang membagi
tugas?”
“Baik, akan kuturuti perkataanmu,” kata Pang Goan sambil
tertawa.
“Seperti semula, aku bertanggung jawab mengapalkan ilmu
golok Ang-siu-to-hoat, Lotoako
bertugas mencari jalan keluar, sedang Beng-cu tinggal di
sini mengurusi obat dan ransum,
cuma ada beberapa hal harus diperhatikan dan dipatuhi oleh
kita bersama.”
“Apa itu? Katakan saja!”
“Pertama, perhatian kita harus tertuju pada tugas yang
sedang dilaksanakan dan tak boleh
bercabang pikiran pada soal lain, misalnya saja Toako yang
bertugas mencari jalan keluar,
maka kau tak boleh pencarkan perhatian untuk mempelajari
ilmu golok.”
“Baik! Aku pasti dapat melakukannya!”
“Kedua, demi menjaga kekuatan tubuh kita maka semua orang
harus makan obat pada
saatnya, termasuk juga Beng-cu, kita tak boleh melawan hawa
dingin dengan tenaga dalam,
setiap tiga jam kita makan ransum sekali, setiap enam jam
makan obat sekali, kita tak boleh
berdiam terlalu lama dalam istana es ini, mengenai
perhitungan waktu kita tugaskan Beng-cu
untuk melakukannya, dan lagi setiap saat harus meninggalkan
tanda, begitu waktunya sampai
kau harus memanggil kami agar mengundurkan diri dari istana
es untuk beristirahat.”
Hui Beng-cu mengangguk tanda setuju.
188
Sayang dalam gua sukar untuk membedakan siang atau malam,
jadi sulit untuk menentukan
waktu secara tepat, terpaksa Beng-cu membagi ransum kering
itu menjadi beberapa bagian
dengan bobot yang sama, dengan perkiraan setiap bagian
ransum itu cukup mengisi perut
selama dua-tiga jam, dengan rasa lapar inilah ia menentukan
waktu, sekalipun tidak cocok
tapi masih bisa digunakan sebagai ancer-ancer untuk
menentukan pagi harikah atau malam
harikah waktu itu? Dan beberapa hari sudah dilewatkan?
Setelah makan kenyang, Pang Goan dan Leng-hong masuk ke
istana es untuk melaksanakan
tugas masing-masing, tiga jam kemudian sewaktu mengundurkan
diri untuk mengisi perut
pertama kalinya, air muka mereka tampak murung.
Leng-hong menyatakan bahwa ilmu golok Ang-siu-to-hoat meski
hanya terdiri dari sembilan
jurus, namun setiap jurus mengandung macam-macam perubahan,
untuk mengingat
gerakannya saja memang tidak sulit, tapi untuk meresapi
intisari dari tiap gerakan, setiap
jurusnya paling sedikit membutuhkan waktu dua-tiga jam.
Oleh sebab itu ia putuskan untuk mengapalkan jurusnya lebih
dulu, kemudian bila sudah lolos
dari bahaya baru akan diselami lagi gerak perubahan
rahasianya.
Kendatipun demikian, dalam tiga jam ia hanya berhasil
mengingat empat jurus belaka, itu
berarti belum mencapai setengah dari seluruh ilmu golok
Ang-siu-to-hoat yang ada.
Sebaliknya Pang Goan hanya mengembalikan kertas putih alias
kosong. Menurut hasil
penelitiannya selama tiga jam, hakikatnya tiada jalan keluar
di tempat tersebut.
Sekeliling dinding istana es hanya terdiri dari es yang
tebal, jangankan manusia, lalat pun tak
bisa menerobos keluar dari situ, dua jalan tembus yang
ditemukan di situ hanya terdiri dari
jalan menuju pintu istana es ini serta jalan tembus menuju
ke liang api.
Liang api itu hanya diketahui lima kaki tingginya, tapi
berapa dalam liang tersebut dan berapa
panjangnya ia tak tahu.
Api yang menyembur keluar dari liang itu berlangsung tiada
hentinya, antara liang api dengan
istana es terpisah oleh sebuah kolam, ternyata air dalam
kolam itu separuhnya dingin dan
separuh lagi panas, perbedaan itu menyolok sekali dan
ternyata tidak membaur menjadi satu.
Pang Goan pernah mencoba untuk melemparkan kepingan perak ke
dalam liang api, tapi
begitu kepingan perak itu masuk api segera sirna dan tidak
menimbulkan suara apa-apa, jelas
perak itu segera meleleh dan lenyap tak berbekas.
Selesai mendengar uraian tersebut, terpaksa Ho Leng-hong
harus menghibur mereka, katanya,
“Jangan putus asa, kalau jalan keluar itu mudah ditemukan
niscaya tidak terjadi banyak orang
mati dalam istana es, ilmu golok Ang-siu-to-hoat tentu juga
sudah lama tersebar luas dalam
dunia persilatan, carilah pelahan dan perhatikan
tempat-tempat yang mencurigakan, asal nasib
kita tidak ditakdirkan tamat di sini, akal untuk lolos dari
sini pasti akan kita temukan,
sebaliknya kalau memang sudah takdir, kitapun tak usah
menyesal.”
Pang Goan menggeleng kepala tanpa menjawab, mukanya tampak
sedih.
“Pang-toako,” tiba-tiba Beng-cu menyela, “kau telah
memeriksa keadaan dalam istana es, apa
salahnya kalau beristirahat dulu dan memikirkan suatu akal
untuk melepaskan diri dari sini,
sementara kesempatan ini biar kugunakan untuk melakukan
pemeriksaan pula, bagaimanapun
jalan pikiran satu orang tak akan menangkan hasil pemikiran
dua orang.”
Leng-hong termenung sebentar, kemudian jawabnya, “Ya, hal
ini memang bisa dicoba, tapi
harus ada satu orang tinggal di sini untuk siap sedia
menolong rekannya, bila ilmu golok Angsiu-
to-hoat telah berhasil kuapalkan, kita bersama-sama
melakukan pencarian lagi di sekitar
tempat ini.”
Tiga jam kembali sudah lewat, Hui Beng-cu kembali dengan
wajah murung dan putus asa.
Berbeda dengan Ho Leng-hong, dengan penuh kegirangan ia
berseru, “Kita tidak sia-sia
makan obat kuat, lumayan juga hasil yang kita capai.”
“Hasil apa?” tanya Beng-cu.
189
“Pang-toako, bukankah kau pernah berkata bahwa Ang-ih
Hui-nio pernah delapan kali
mengalahkan To-seng (nabi golok) Oh It-to, sedang kedelapan
jurus ilmu golok To-seng
bukan lain adalah Poh-in-pat-tay-sik dari Thian-po-hu dewasa
ini?”
“Benar!”
“Kalau begitu, seharusnya jurus ilmu golok yang ditinggalkan
Ang-ih Hui-nio juga terdiri dari
delapan jurus, tapi di dinding es itu kenapa terdapat
sembilan jurus.”
“O, ini memang rada aneh, kenapa bisa kelebihan satu jurus?”
seru Pang Goan keheranan.
“Mula-mula Siaute juga heran,” ujar Leng-hong sambil
tertawa, “sebab itu akupun menaruh
perhatian khusus terhadap jurus terakhir, itulah sebabnya
aku bilang perjalanan kita kali ini
tidak sia-sia, ternyata dalam jurus terakhir itulah
tercantum seluruh intisari dan kekuatan dari
segenap jurus serangan Ang-ih Hui-nio, dan di situ pula
tercantum segenap kepandaian
dahsyat yang diciptakan oleh Oh It-to sepanjang hidupnya.”
“Kenapa bisa begini?” tanya Pang Goan tercengang.
“Sebab setelah kalah delapan kali, Oh It-to memeras otak
untuk mencari akal untuk
memecahkan kehebatan ilmu golok Ang-ih Hui-nio, sayang niat
tersebut rupanya tidak
berhasil diwujudkan, tapi rahasia itu justru akhirnya
berhasil dipecahkan sendiri oleh Ang-ih
Hui-nio.”
“Jangan-jangan jurus kesembilan yang kaumaksudkan itu?”
tanya Pang Goan kaget.
“Benar, jurus kesembilan justru merupakan jurus tandingan
untuk mematahkan kedelapan
jurus lainnya, jadi asal jurus ini berhasil kita kuasai,
maka secara gampang ilmu golok Angsiu-
to-hoat akan kita patahkan, dan kitapun tak perlu takut lagi
menghadapi ilmu golok sakti
dari Mi-kok ini.”
Pang Goan tertegun sejenak, kemudian seperti baru memahami
sesuatu ia berseru, “Ya, pantas
tong Siau-sian dan Tong-popo berusaha dengan segala akal
untuk mendapatkan golok mestika
Yan-ci-po-to, kiranya di sinilah letak alasannya.”
“Tahu begini, mestinya Siaute apalkan dulu jurus tersebut,
sedang kedelapan jurus lainnya tak
ada artinya lagi.”
“Ah, kupikir tak bisa dikatakan demikian, sebab setiap jurus
ilmu golok Ang-siu-to-hoat
terkandung intisari ilmu golok, kendatipun jurus kesembilan
bisa mematahkan ilmu golok
Ang-siu-to-hoat, ini tidak berati jurus tersebut adalah
jurus yang tak terkalahkan.”
Sementara kedua orang itu terlibat dalam pembicaraan serius
tentang ilmu golok Ang-siu-tohoat,
dengan ogah-ogahan Hui Beng-cu menyela dari samping, “Bisa
atau tidak bisa
mematahkan ilmu golok Ang-siu-to-hoat tetap sama saja jika
kita gagal meninggalkan tempat
ini, apa gunanya semuanya itu?”
“Akal adalah hasil pemikiran manusia,” kata Leng-hong sambil
tertawa, “kalau ilmu golok
Ang-siu-to-hoat bisa dipecahkan, masakah hanya sebuah istana
es tak mampu diatasi?”
Perkataan yang gagah ini pun tidak bisa dikatakan salah,
sayang kenyataannya justru tidak
segampang apa yang mereka bayangkan.
Ho Leng-hong telah berhasil mengapalkan kesembilan jurus
Ang-siu-to-hoat, namun Pang
Goan dan Hui Beng-cu belum berhasil juga menemukan jalan
keluarnya.
Bahkan Ho Leng-hong akhirnya ikut mencari, meneliti dan
pemikiran, tapi jalan keluar tetap
merupakan tanda tanya besar.
Persediaan pil dan ransum kian menipis, tanda waktu yang
diukir di atas dinding makin
bertambah banyak, bekas telapak kaki ketiga orang itu hampir
menjelajahi setiap jengkal
tanah dalam istana es itu, namun tiada sesuatu yang berhasil
ditemukan.
Kecuali pintu istana di mana mereka datang, serta gua menuju
ke liang api, dalam istana es itu
tidak ditemukan lubang lain, pun tidak ditemukan jalan
keluar ketiga.
Pintu istana telah terkunci dari luar, mustahil bagi mereka
untuk mendobrak pintu dan kabur
dari situ, kini satu-satunya jalan keluar bagi mereka hanya
liang api dengan semburan api
yang dahsyat itu.
190
Api yang menyembur keluar dari dasar bumi tak pernah padam,
baik diguyur dengan air,
ditutup dengan salju, ternyata sama sekali tak ada gunanya.
Bahkan Ho Leng-hong telah mendorong sesosok mayat ke dalam
liang api sebagai percobaan,
hasilnya . . . dalam sekejap mata mayat itu hangus dan
lenyap, termasuk tulang-belulangnya
lenyap begitu saja.
Berhadapan dengan kobaran api yang begini dahsyat, wajah
mereka menjadi pucat.
Untuk mengirit persediaan pil dan ransum yang makin menipis,
terpaksa ketiga orang itu
harus beroperasi secara bergilir, dan lagi merekapun
berusaha memperpanjang waktu untuk
mengisi perut, bagi mereka yang tidak beroperasi, maka orang
itu harus berhenti makan pil
dan mesti mengerahkan hawa murni sendiri untuk melawan hawa
dingin.
Waktu berlalu dengan cepatnya, kini pil penahan dingin
tinggal empat biji saja.
Dengan perasaan apa daya terpaksa Ho Leng-hong menghentikan
operasi pencarian, mereka
bertiga duduk berdempet dalam gua, di samping mengerahkan
tenaga untuk melawan hawa
dingin, merekapun harus putar otak untuk mencari akal guna
meloloskan diri dari situ.
Menyusul ransum yang mereka miliki mulai habis.
Orang bilang, lapar dan dingin saling bergandengan. Artinya
barang siapa berada dalam
keadaan lapar, maka dia juga akan sulit melawan hawa dingin
yang main mencekam.
Setelah ransum habis, suasana dalam istana es seolah-olah
berubah menjadi neraka, hawa
dingin kian menghebat, sekalipun mereka bertiga telah
melingkarkan tubuh untuk menahan
rasa dingin, namun rasa dingin tetap merasuk tulang sumsum.
Tiba-tiba Leng-hong meronta bangun berdiri, serunya, “Kita
benar-benar amat bodoh, kenapa
hanya duduk terpekur di sini? Apa salahnya kalau kita pergi
mandi air panas?”
“Mandi?”serentak Pang Goan dan Hui Beng-cu memandang ke arah
Ho Leng-hong dengan
tercengang.
Leng-hong tertawa ewa, katanya lagi, “Masa kalian lupa?
Meskipun tempat ini sangat dingin
di samping liang api kan terdapat setengah kolam air yang
hangat.”
Dengan cemas Pang Goan menghela napas, “Lote,” katanya,
“jangan kaulakukan perbuatan
bodoh itu, dengan kelas kautahu air kolam itu separuhnya
dingin dan separuh lagi panas, yang
dingin bisa membekukan badan, dan yang panas dapat mematikan
orang.”
“Hanya berduduk di sini, cepat atau lambat juga mati,
daripada mati kedinginan enakan mati
kepanasan, malam mampusnya bisa lebih cepatan,” kata
Leng-hong.
Habis berkata, ia tarik napas panjang dan dengan sempoyongan
melangkah masuk ke istana
es.
Buru-buru Pang Goan melompat bangun dan berseru, “Jangan
pergi, aku masih ingin bicara
lagi!”
“Tak usah bicara lagi Lotoako,” kata Leng-hong sambil
berpaling, “hanya duduk belaka
sambil menanti kematian, akhirnya tetap mati, setelah
kupergi nanti gunakan keempat biji pil
itu untuk bisa hidup dua belas jam lagi, hal ini jauh lebih
baik daripada mampus semuanya.”
Selesai berkata ia percepat langkahnya dan masuk ke dalam
gua.
Gerak tubuh Pang Goan jauh lebih cepat lagi, sekali melompat
ia menerjang tubuh Ho Lenghong,
serta merta mereka berdua bergumul menjadi satu.
“Hei, ingatlah waktu apa ini, masa kalian masih ada tenaga
untuk berkelahi?” seru Beng-cu
dengan suara gemetar, “simpan saja tenaga kalian agar bisa
bertahan lebih lama, bukankah hal
ini jauh lebih baik?”
Dengan sepenuh tenaga Pang Goan menindih tubuh Ho Leng-hong,
lalu dengan napas
tersengal katanya, “Bila obat itu habis daya kerjanya,
akhirnya kita toh mati juga, tapi kalau
ingin hidup, kita harus hidup bersama, mau mati biar mati
bersama, apa bedanya antara enam
jam dengan dua belas jam? Siau-cu, bawa kemari obat itu, ayo
kita makan bersama sebutir
obat dan bersama melewati sisa enam jam yang terakhir ini.”
191
Hui Beng-cu angsurkan obat itu ke tangannya, tanpa banyak
bicara Pang Goan menjejalkan
sebutir pil ke mulut Ho Leng-hong, sementara ia dan Beng-cu
juga menelan sebutir, kemudian
melepaskan pemuda itu dari tindihannya.
Setelah obat itu masuk ke dalam perut, hawa hangat seketika
menjalar ke seluruh tubuh.
Ho Leng-hong menggeleng kepala dan tertawa getir, ia
berkata, “Lotoako, buat apa kau
berbuat demikian . . . . . .” Tanpa terasa air mata jatuh
berlinang membasahi pipinya.
“Hei, apa yang kau tangisi? Jangan bersikap tak becus
seperti itu, masa tidak takut ditertawai
Siau-cu?”
Air mata berderai membasahi wajah Ho Leng-hong, sambil
menahan isak tangisnya ia
berkata, “Aku menangis bukan lantaran takut mati, tapi apa
yang kita alami tadi justru
mengingatkan aku akan ibuku yang telah tiada . . . .”
“Mengapa dengan ibumu?” tanya Pang Goan tercengang.
“Sewaktu kecil dulu watakku sangat keras kepala, masih
kuingat suatu ketika tatkala kau
jatuh sakit, ibu suruh aku minum obat tapi aku tak mau, ibu
memaksaku untuk menghabiskan
obat itu, akhirnya kejadian seperti tadi, obat itu tumpah ke
tanah sedang ibuku kena
kutendang waktu mencekoki obat ke mulutku . . . .”
Kejadian itu merupakan pengalaman pada masa kecil yang mudah
menimbulkan gelak
tertawa, tapi entah mengapa, Pang Goan dan Hui Beng-cu tak
mampu tertawa.
Ho Leng-hong terbuai lagi dalam lamunannya, “waktu kecil
nakalku tidak ketolongan lagi,
sampai ibuku kehabisan akal padaku, suati hari seorang kakek
tetangga mati, keluarganya
mengeluarkan sebutir mutiara untuk dijual guna membeli peti
mati, ibu merasa senang dengan
mutiara itu tapi tak mampu membelinya, waktu itu aku berada
di sisinya dan berkata, “Ibu,
apa yang menarik dengan benda itu, bila aku dewasa nanti dan
kaya, bila ibu meninggal pasti
akan kubelikan sebuah peti mati kaca . . . .”
Belum habis perkataannya, mendadak mencorong sinar matanya.
Tiba-tiba ia melompat bangun dan lari masuk ke dalam istana
es.
Pang Goan dan Hui Beng-cu kuatir ia mengalami kejadian di
luar dugaan, buru-buru mereka
mengejar ke dalam.
Ketika itu daya kerja obat telah menyebar, setelah berada
dalam istana es, mereka tidak
merasa kedinginan.
Ho Leng-hong langsung menghampiri kolam di tepi liang api
itu, dengan mata melotot
ditatapnya dua sosok mayat di tepi kolam tersebut dengan
termangu.
Mayat tua dan muda itu mungkin terdiri dari seorang ayah
dengan puteranya, anak berbaring
di atas sebuah panggung es setinggi dua tombak, sedang
ayahnya berjongkok di tepi kolam
seperti sedang mengambil air, entah mengapa mereka berdua
sama-sama mati kedinginan di
situ.
Pang Goan dan Hui Beng-cu berdiri saling pandang, mereka
sama tercengang dan tidak
mengerti.
Tiba-tiba Ho Leng-hong bertanya, “Coba kalian lihat,
bukankah kematian kedua orang ini
sangat aneh?”
“Benar, memang aneh, cuma makna apakah yang terkandung di
balik keanehan itu?” ucap
Pang Goan.
“Coba kauterka, apa yang sedang mereka lakukan?”
Pang Goan berpikir sejenak, lalu sahutnya, “Mungkin
puteranya membeku karena kedinginan,
maka ayahnya ingin mengguyur tubuhnya dengan air panas,
sayang dia sendiripun tidak tahan
hingga akhirnya ikut mati di tepi kolam . . . .”
“Betul!” jawab Ho Leng-hong sambil mengangguk, “ia memang
sedang menolong puteranya,
sebab kematian puteranya dalam keadaan beku adalah karena
salah perhitungan.”
“Darimana kautahu?” tanya Pang Goan terkejut.
192
“Coba kalian perhatikan dengan saksama, di sini terdapat dua
bagian tempat yang pantas
diperhatikan secara khusus. Pertama, di mana puteranya
berbaring terdapat sebuah panggung
es yang tingginya mencapai dua kaki, sesungguhnya di situ
tiada bentuk tanah semacam itu.
Kedua, telapak tangan ayahnya hancur, ini menunjukkan air
yang diambil adalah air panas
dan bukan air dingin.”
“Tapi apa artinya semuanya itu?” kembali Pang Goan bertanya.
“Kupikir mereka telah berhasil menemukan cara untuk
meloloskan diri, sayang karena suatu
kekeliruan kecil mengakibatkan usaha mereka gagal total,
bahkan harus mati secara
penasaran,” tutur Leng-hong.
Berdetak keras jantung Pang Goan dan Hui Beng-cu setelah
mendengar perkataan itu,
serentak mereka berseru, “Bagaimana caranya itu?”
“Menyembunyikan orang di dalam es!” jawab Leng-hong dengan
serius.
“Menyembunyikan orang di dalam es?” seperti baru sadar akan
sesuatu Pang Goan segera
berseru, “maksudmu, kita simpan orang di dalam balok es,
lalu meneroboskannya lewat liang
api?”
“Benar. Keadaan ini persis seperti peti mati kaca yang tadi
kubicarakan, kurasa hanya dengan
cara ini saja orang bisa melewati liang api tanpa kuatir
terbakar tubuhnya!”
“Kalau begitu mari kita coba sekarang juga....” seru Hui
Beng-cu dengan girang.
Tapi Pang Goan segera menggoyang tangan dan mencegah gadis
itu berbicara lebih jauh,
kepada Ho Leng-hong ia berkata, “Apakah kau berhasil
menemukan sebab-sebab kegagalan
mereka?”
“Ya!” jawab Leng-hong sambil mengangguk, “mereka gunakan air
dingin untuk membuat
panggung es lebih dulu, kemudian menyuruh puteranya
berbaring di atas panggung itu, lalu
ayahnya menyirami tubuh anaknya dengan air dingin, karena
udara dalam ruangan ini sangat
dingin maka dalam waktu singkat sekeliling tubuh puteranya
sudah dilapisi oleh es beku, cara
ini memang sempurna, sayang mereka telah melupakan suatu hal
kecil, yakni setelah air itu
membeku maka lapisan es itu akan melengket menjadi satu
dengan lantai dan tak mungkin
bisa di gerakkan lagi, jelas ayahnya menjadi gelisah, dalam
keadaan begini, maka ia ingin
menggunakan air panas untuk melumerkan lapisan es, sebab itu
tangannya menjadi melepuh
dan luka parah, akibatnya mereka berdua mati di tepi kolam.”
Sambil mendengarkan uraian tersebut, Pang Goan mengangguk,
katanya kemudian,
“Mungkin juga tenaga dalam puteranya tidak cukup kuat dan
tak sanggup bertahan lama
dalam es, akibatnya ia mati sesak di situ.”
“Padahal kalau ingin menghindari pembekuan antara balok es
dengan lapisan es di lantai, asal
kita lapisi secarik kain lebih dulu di tanah sebelum
pembentukan balok es, hal ini akan beres
dengan sendirinya, kendati demikian masih ada dua hal yang
merupakan kekurangan besar
yang sulit untuk diatasi.”
“Dua hal bagaimana itu?”
“Pertama, cara ini terlalu menyerempet bahaya, sebab
siapapun tidak tahu berapa panjang
jarak liang api itu dengan daerah aman, kalau jaraknya lebih
jauh dari perkiraan, akibatnya
balok es itu habis cair lebih dulu sebelum sampai di tempat
tujuan, dalam keadaan demikian
kita bakal mati konyol.”
“Ya, kecuali cara ini tak ada jalan lain yang lebih baik
lagi, tapi tetap berharga untuk
menempuh bahaya ini. Coba sebutkan pula kekurangan kedua!”
“Kedua, untuk mewujudkan cara ini kita harus korbankan
seseorang untuk tetap tinggal di
sini, selain itu datarkah liang api itu? Tiadakah tikungan
lainnya? Hal ini masih bergantung
pada nasib mujur masing-masing, jelas tak mungkin diselidiki
sebelumnya.”
Pang Goan menengadah dan menarik napas panjang, “Tiada
sesuatu cara yang sempurna,
kurasa inilah satu-satunya cara yang bisa kita coba
sekalipun tetap harus menyerempet
193
bahaya. Bahwa seseorang harus berkorban dan tetap tinggal di
sini, kurasa jauh lebih baik
daripada semua orang mampus sekaligus, biar aku saja yang
tinggal di sini.”
“Tidak bisa, Toako adalah pemilik Cian-sui-hu, kalau
dibilang siapa yang harus berkorban
maka sepantasnya akulah yang tetap tinggal di sini,” kata
Leng-hong.
“Tidak, orang yang tinggal harus memiliki tenaga dalam yang
sempurna, dengan demikian
baru bisa cepat mendorong kedua rekannya melewati liang api
itu, tenaga dalammu tak dapat
menandingi kelihaianku, buat apa kau berebut denganku?”
“Tapi cara ini akulah yang mendapatkan, aku berhak untuk
membagi tugas kerja untuk
kalian.”
“Dalam hal ini jangan dibicarakan soal hak, kita mesti
berbicara mengikuti keadaan
umumnya, di antara kita bertiga, Siau-cu adalah kaum
perempuan, jelas ia tak boleh tinggal di
sini, sedang kau adalah satu-satunya orang berhasil
menguasai ilmu golok Ang-siu-to-hoat,
maka kaupun tak boleh tinggal di sini.”
“Di antara kalian berdua, yang seorang adalah pemilik
Cian-sui-hu, sedang yang lain adalah
puteri kesayangan dari Hiang-in-hu, kematian kalian berdua
sangat mempengaruhi keadaan
orang banyak, jadi kalian sama-sama tak boleh tinggal di
sini, hanya aku seorang yang hidup
sebatang kara tanpa sanak tanpa keluarga, maka pantas kalau
aku yang ditinggal di sini . . . . .”
“Cukup! Cukup!” teriak Hui Beng-cu dengan suara lantang,
“kalian dua orang lelaki selalu
ribut setiap menghadapi persoalan, sungguh menjemukan!
Menurut penilaianku, yang tinggal
di sini justru paling aman, sedang orang yang pertama yang
harus melewati liang api itu justru
paling berbahaya, sekarang kalian saling berebut sendiri,
apakah kalian sama-sama takut
mati?”
“Darimana kautahu yang tetap tinggal di sini justru yang
paling aman?” tanya Leng-hong
dengan penasaran.
“Kenapa tidak?” jawab Beng-cu, “coba bayangkan sendiri, bila
tidak berhasil melampaui
liang api, orang yang disimpan dalam balok es pasti akan
mati lebih dulu, sebaliknya kalau
berhasil, maka orang yang lolos itu masih bisa berusaha
untuk mengadakan pertolongan pada
temannya lewat pintu istana sebelah depan, bukankah yang
tinggal di sini paling aman?”
Ho Leng-hong dan Pang Goan menundukkan kepalanya dan
berpikir, mereka tidak bicara
lagi.
Ucapan Hui Beng-cu memang masuk diakal, tapi juga belum
tentu benar, karena orang yang
berada dalam balok es meski termasuk menyerempet bahaya toh
ia masih ada harapan untuk
hidup, sebaliknya mereka yang tinggal dalam istana es dengan
ransum yang sudah habis,
paling banyak Cuma bisa bertahan selama dua belas jam saja,
padahal keadaan dalam Mi-kok
amat kacau, siapa yang berani menjamin yang sudah lolos itu
akan memberi pertolongan
dengan lancar dalam sehari semalam yang amat singkat?
Kalau pertolongan datangnya terlambat, niscaya orang itu
akan tewas juga.
Berputar pikiran Pang Goan, tiba-tiba ia berkata, “Lote,
begini saja. Salah seorang di antara
kita berdua harus dapat menembus liang api ini meski
menyerempet bahaya, sedangkan yang
lain tetap tinggal di sini, untuk adilnya, marilah kita undi
saja?”
Leng-hong termenung agak lama, akhirnya ia setuju juga.
Dari sakunya Pang Goan mengambil keluar beberapa keping uang
perak, sambil digenggam
dalam tangan katanya, “Mari kita bertaruh jumlah kepingan
perak dalam genggamanku ini,
kita bertaruh dalam jumlah ganjil atau genap, yang salah
menebak dia harus menyerempet
bahaya untuk menerobos liang api, sedang yang menebak dengan
jitu tetap tinggal di sini,
taruhan hanya berlangsung sekali dan tak boleh menyesal.
Nah, tebaklah lebih dulu.”
“Uang perak itu milikmu, tentu saja kau tahu jumlahnya,”
kata Leng-hong.
“Sebab itulah kupersilakan kepadamu untuk menebak lebih
dulu, dengan demikian baru adil
namanya.”
Leng-hong berpikir sebentar, lalu katanya, “Baiklah, aku
tebak ganjil!”
194
Pang Goan segera membuka telapak tangannya sambil tertawa,
“Maaf, tebakanmu keliru,
perak ini berjumlah enam keping, jadi genap!”
Ho Leng-hong mencoba untuk memperhatikan keenam keping uang
perak itu, empat di
antaranya berwarna lusuh, jelas sudah lama, sedang dua
keping lainnya berwarna agak baru,
jelas secara diam-diam Pang Goan telah meremukkan kepingan
perak yang agak besar
menjadi dua keping kecil.
Ditatapnya Pang Goan dengan rasa haru, ia tak tega
membongkar rahasia itu, terpaksa katanya
dengan menghela napas, “Legakan hatimu Toako, bila aku
beruntung bisa lolos dengan
selamat, dalam waktu dua belas jam kami pasti akan kembali
ke sini untuk menolongmu.”
“Kaupun jangan kuatir,” sahut Pang Goan dengan tertawa,
“sepergi kalian nanti, aku akan
tidur sekenyangnya di sini, siapa tahu begitu mendusin dari
tidurku nanti, pintu istana telah
terbuka lebar.”
Habis berkata ia mulai membentang selembar pakaian di tanah
dan membuat panggung es.
Pang Goan dan Hui Beng-cu segera bekerja sama menyiramkan
air kolam ke atas tubuh Ho
Leng-hong, air yang diambil dari kolam segera membeku, tak
lama kemudian sebatas dada
Ho Leng-hong ke bawah sudah dilapisi oleh lapisan es yang
tebal.
Akhirnya bagian kepala pun dilapisi es, ia harus menahan
napas hingga keluar dari liang api
itu, otomatis pembentukan lapisan es dilakukan dengan lebih
cepat.
Sesaat sebelum mengguyurkan air dingin ke wajah Ho
Leng-hong, tiba-tiba Pang Goan
berbisik, “Golok mestika Yan-ci-po-to yang didapatkan
Ci-moay-hwe adalah golok yang asli,
tapi mata golok telah kupoles dengan air raksa sehingga
kelihatan amat tumpul, asal golok itu
kau garang sebentar di atas api, ketajamannya akan segera
pulih kembali . . . . Cian-sui-hu dan
Thian-po-hu kuserahkan kepadamu, semoga kau melindungi
Wan-kun dan menyayangi
anaknya . . . . . “
Jelas ucapan itu merupakan pesan terakhirnya sebelum
berpisah, ini membuktikan pula
tekadnya untuk mengorbankan diri sendiri serta tidak ada
niat untuk melanjutkan hidup.
Ho Leng-hong merasa darah dalam rongga dadanya bergolak
keras, hampir saja ia melompat
bangun.
Tapi sebelum ia sempat berusaha, bahkan sebelum ia
mengangguk atau melakukan gerakan
yang lain, air dingin telah diguyurkan pada wajahnya . . . .
.
Ho Leng-hong memejamkan mata dan menutup pernapasan,
telinganya sudah tak dapat
mendengar apa-apa lagi, ia hanya merasa tubuhnya seakan-akan
berada dalam sebuah peti
mati besar yang amat dingin, iapun merasa sekujur badan
bagaikan diikat kencang-kencang
oleh tali yang kuat sehingga sama sekali tak berkutik.
Namun ia tahu dengan jelas, justru dalam detik-detik yang
singkat inilah mati-hidupnya akan
ditentukan, kalau usahanya meloloskan diri gagal, maka
kemungkinan besar tidurnya ini akan
berlangsung untuk selamanya, atau mungkin juga badannya akan
hancur lebur terbakar
menjadi abu.
Ia bukan seorang laki-laki pengecut yang takut mati, tapi ia
selalu berharap dapat hidup lebih
lama karena tanggung jawab yang berada di pundaknya teramat
berat, semua ini membuatnya
tak boleh mati dan juga tak berani mati . . . .
Mendadak ia merasakan sekujur badan bergetar keras dan
seperti melayang di udara . . . hawa
dingin di sekelilingnya lenyap dengan cepat, disusul
kemudian udara yang amat panas
menyerang tubuhnya.
Sudah pasti lapisan es yang membungkus tubuhnya mulai cair
tertimpa panasnya api.
Udara yang panas membuat anak muda itu teringat pada api
yang berkobar dalam liang api,
dalam detik yang amat singkat ini, kemungkinan besar
tubuhnya akan terbakar lenyap tak
berbekas....
Segala apapun tak berani dibayangkan Ho Leng-hong lagi, ia
hanya berharap semoga
tubuhnya yang sedang melayang dapat berhenti dengan cepat.
195
Asal sudah berhenti maka mati-hidupnya akan diketahui, jika
berada di luar liang api berati
umurnya masih panjang, kalau berada dalam liang maka jangan
harap akan hidup terus.
Tapi justru guncangan tersebut dan gerakan melayang belum
juga berhenti, sebaliknya hawa
panas yang menyengat badan kian lama kian sukar ditahan,
seakan-akan berada dalam sebuah
kukusan raksasa yang airnya mendidih.
Dia ingin melihat keadaan itu, namun matanya tak sanggup
dibuka, ingin berteriak namun
tiada suara yang keluar, ingin meronta namun tiada tenaga,
dalam keadaan serba susah ia
merasa seakan-akan sekujur badan menjadi kaku, seperti
terbakar, dan berubah menjadi abu,
berubah menjadi asap . . . .
Blang! Terjadi getaran yang dahsyat, lalu ia tak sadarkan
diri.
-----------------------
Rasanya baru terjadi dalam sekejap, tapi juga seakan-akan
sudah berlangsung sangat lama.
Ho Leng-hong membuka matanya, pertama-tama ia lihat langit
yang biru, kemudian ia merasa
sekelilingnya berbau belerang yang amat tebal.
Reaksinya yang pertama adalah ingin melompat bangun dan
duduk, tapi sebuah tangan segera
menekan tubuhnya, menyusul bergema suara nyaring merdu di
sisi telinganya, “Jangan
sembarangan bergerak, apakah kau ingin membuat terbalik
perahu ini agar semua orang
berubah seperti ayam kucemplung kali?”
Itulah tangan seorang perempuan, suara perempuan, bahkan
kedengaran seperti sudah
dikenalnya.
Mula-mula Ho Leng-hong mengira perempuan itu adalah Hui
Beng-cu, tapi setelah berpaling
baru diketahui bahwa ia berbaring di atas sebuah perahu
kecil, orang yang sedang mendayung
perahu itu adalah seorang gadis asing.
Perahu itu kecil sekali, si nona masih amat muda, sekilas
pandang bisa diketahui bahwa
usianya baru dua puluh tahunan, mukanya bulat telur dengan
mata yang besar dan jeli,
bajunya berwarna hijau dengan gaun berwarna biru, separuh
gaunnya basah kuyup.
Leng-hong mencoba untuk duduk, sayang sampan itu terlampau
kecil, baru saja ia bergerak
segera menimbulkan guncangan keras.
Buru-buru nona berbaju hijau itu menghentikan dayungnya,
dengan setengah mengomel dan
setengah tertawa katanya, “Eh, bagaimana kamu ini?” Suruh
jangan bergerak, kenapa kau
tidak mau menurut perkataanku? Coba lihatlah, lantaran ingin
menolongmu, gaunku menjadi
basah kuyup, atau kau baru puas bila melihat sekujur badanku
menjadi basah?”
Terpaksa Leng-hong berbaring kembali, dengan menyesal
katanya, “O, maaf, aku tidak
bermaksud demikian, aku hanya ingin . . . ingin . . . .”
Nona berbaju hijau itu kembali mendayung, tukasnya,
“Bukankah kauingin bertanya padaku,
seorang kawan perempuanmu apakah juga sudah tertolong,
begitu bukan?”
“Benar! apakah nona melihatnya?” seru Leng-hong gelisah.
Nona berbaju hijau itu tertawa, “Tentu saja telah kulihat
dia, kalau tidak, darimana kutahu kau
masih mempunyai seorang kawan?”
“Sekarang ia berada di mana? Bagaimana keadaannya?”
“Jangan kuatir, ia baik-baik saja dan berada di perahu lain,
mungkin sudah berangkat pulang
duluan, taciku yang membawa perahu tersebut.”
“Terima kasih banyak nona . . . .”
Demi mengetahui Hui Beng-cu juga sudah tertolong, ia tak
tahu haruskah bergirang atau
sedih? Girang karena mereka berdua akhirnya berhasil lolos
dari liang api dengan selamat,
sedih karena meski Hui Beng-cu berhasil lolos dan tertolong,
ini membuktikan pula bahwa di
antara mereka berdua tentu terpaut suatu jarak waktu yang
cukup lama, hal ini kemungkinan
besar mempengaruhi keselamatan jiwa Pang Goan yang berada di
dalam istana es.
196
Tempat ini merupakan sebuah telaga kecil di atas gunung,
luasnya tidak seberapa besar,
berhubung letaknya dekat kawah, maka air telaga pun menjadi
panas dan mengandung
belerang.
Ho Leng-hong sangat menguatirkan keselamatan Pang Goan,
segera ia tanya pula, “Nona,
tahukah kau sudah berapa lama aku tercebur ke dalam telaga?”
“Hahaha, lucu amat pertanyaanmu,” kata si nona baju hijau
sambil tertawa, “masa kausendiri
tidak tahu sudah berapa lama tercebur ke dalam telaga?”
“Terus terang, ketika tercebur ke dalam telaga aku berada
dalam keadaan tak sadar,
hakikatnya aku tidak tahu soal waktu.”
“Apa sebabnya kau sampai tercebur ke dalam telaga?”
“Tentang ini . . .” Ho Leng-hong tak ingin menyinggung
masalah lembah Mi-kok, terpaksa
bohongnya, “aku dengan nona Hui sedang mencari obat di atas
gunung, karena kurang hatihati
kami berdua terpeleset jatuh ke bawah.”
“Mencari obat? Mencari obat apa? Gunung ini tandus dan
gersang, rumput pun tak bisa
tumbuh, apalagi tumbuhan obat segala?”
Seketika Leng-hong tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
Memang betul, bukit
belakang dekat Mi-kok memang sebuah bukit yang gersang dan
gundul, hanya di seberang
telaga saja ada tumbuh-tumbuhan.
Untung otaknya dapat berputar cepat, buru-buru katanya lagi
sambil tertawa, “Obat yang
kami cari bukan sembarangan rumput obat, melainkan sejenis
benda yang tertanam dalam
tanah, bila digali keluar akan bisa dipakai untuk bahan
mesiu.”
“O, tahulah aku sekarang, kalian pasti sedang mencari
belerang.”
“Bukan, bukan belerang, tapi sejenis benda yang hampir mirip
dengan belerang.”
Ia merasa gadis berbaju hijau ini mempunyai daya pikir yang
bagus, terutama bila
menghubungkan persoalan yang satu dengan lainnya, nona itu
pun suka tanya macam-macam,
maka ia tak berani bicara secara pasti.
Ternyata kali ini si nona tidak mendesak lebih jauh, sambil
tertawa katanya, “Ah, pokoknya
aku tahu kalian bukan datang untuk mencari obat, persoalan
ini tidak menyangkut diriku dan
akupun tak ingin banyak bertanya, dulu ibu sering berkata
kepadaku, ‘Kalau bertemu orang,
bicaralah tiga patah kata saja, agar jangan disangka yang
bukan-bukan oleh orang.’ Rupanya
kalian mempunyai jalan pikiran seperti itu?”
“Nona salah paham . . . .” kata Leng-hong sambil tertawa
getir. Cepat-cepat dia alihkan
pembicaraan ke soal lain, katanya, “Terima kasih banyak atas
bantuan nona. Bolehkah kutahu
siapa namamu?”
“Kautanya namaku? atau juga keluargaku?”
“Tentu saja menanyakan semuanya, sebab sebenarnya kita akan
berkunjung ke rumahmu serta
mengucapkan terima kasih langsung kepada ibumu.”
“Tidak usah, ibuku sudah lama tiada, di rumah hanya ada tiga
orang kakak beradik, kami dari
keluarga Kim, Toaci bernama Lam-giok, aku bernama Lik-giok
dan adikku bernama Honggiok,
maka panggil saja namaku Lik-giok!”
Sementara itu perahu sudah menepi dan berlabuh di sebuah
selat yang menyorok ke dalam.
Setelah menambat perahunya, Kim Lik-giok melompat ke daratan
lebih dulu, kemudian
menjulurkan tangannya seraya berkata, “Turunlah dengan
pelahan, jangan sampai membuat
sampan terbalik.”
Pelahan Ho Leng-hong berduduk dan mengatur napas, ternyata
isi perutnya tidak terluka,
hanya sekujur badan terasa pegal, keempat anggota badannya
lemas dan tak bertenaga, maka
di bawah bimbingan Lik-giok iapun naik ke darat.
Tak jauh di depan sana berlabuh pula sebuah sampan kecil,
papan geladaknya basah, tapi tak
nampak manusia, rupanya Hui Beng-cu benar-benar sudah
tertolong dan mendarat duluan.
197
Ketika Lik-giok melihat langkah Leng-hong amat susah, serta
merta dipayangnya pemuda itu
sambil berkata, “Tangga batu ini tinggi, mari kubimbing kau
ke atas.”
Buru-buru Ho Leng-hong mengucapkan terima kasih, di bawah
bimbingan Lik-giok
selangkah demi selangkah ia naiki tangga batu itu.
Tangga batu itu mencapai seratus undak lebih, pada ujung
tangga tersebut berupa sebuah
tanah lapang berumput yang luas, beberapa tombak di sebelah
depan sana berdirilah tiga buah
rumah gubuk berpagar bambu.
Ketika mencapai tepi pagar bambu, Ho Leng-hong sudah
kepayahan hingga napas tersengal,
dengan susah payah ia memasuki rumah tersebut, suasana di
situ amat hening dan tak nampak
sesosok bayangan manusia pun.
Lik-giok membimbingnya masuk ke dalam sebuah kamar di
samping kanan, lalu katanya,
“Lepaskan dulu pakaianmu yang basah, akan kubawa untuk
dijemur, setelah kering nanti
dikenakan kembali.”
Leng-hong coba memperhatikan sekejap sekeliling ruangan,
ditemuinya kecuali sebuah
selimut di atas pembaringan, di situ tidak ditemukan secuwil
kain pun, hal ini membuatnya
ragu.
“Ayo, cepat lepas pakaianmu,” desak Lik-giok lagi, “jangan
sampai masuk angin karena
memakai baju yang basah kuyup.”
Leng-hong tertawa jengah, katanya, “Nona, apakah kaupunya
pakaian untuk lelaki?
Pinjamkan untukku!”
“Wah, sulit, di rumah hanya terdiri dari tiga orang
perempuan, darimana datangnya pakaian
lelaki? Lebih baik berbaringlah dalam selimut, bagaimanapun
toh tak ada orang lagi, jangan
kuatir ketahuan orang lain.”
“Aku rasa . . . hal ini kurang baik!”
“Kenapa tidak baik? Itu pembaringanku, aku rela digunakan
olehmu, siapa yang berani
mengatakan tidak?”
Gadis itu ternyata tidak banyak pikir, sebaliknya Ho
Leng-hong merasa malu untuk
melepaskan pakaian dan berbaring dalam keadaan telanjang
bulat di atas pembaringan si
nona.
Bukannya dia tidak berpengalaman dalam keadaan demikian,
tapi gadis itu tak pernah
dikenalnya, tak pernah mempunyai hubungan apa-apa, lagi
telah menolong jiwanya,
kendatipun ia bukan seorang Kuncu (gentleman), tapi dia tak
ingin melakukan sesuatu yang
melanggar tata susila, apalagi berduaan saja dalam sebuah
kamar dengan seorang gadis muda.
Tapi dalam kamar tidak tersedia pakaian kering sebagai
penggantinya, bagaimana pun
mustahil baginya untuk berbaring di atas pembaringan dalam
keadaan basah kuyup . . . .
Sementara ia merasa serba susah, dengan tidak sabar Lik-giok
berkata, “Mengakunya seorang
lelaki sejati, tapi tidak tegas menghadapi persoalan,
sekarang kusediakan dulu makanan
untukmu, bila aku kembali nanti ternyata bajumu belum
dilepas, jangan menyesal jika aku
yang akan mencopot bajumu.”
Sepeninggal Lik-giok, Ho Leng-hong merasa kehabisan akal,
terpaksa ia lepaskan baju yang
basah dan buru-buru menyusup ke dalam selimut.
Tak lama kemudian Lik-giok telah kembali sambil membawa
semangkuk besar bubur hangat,
katanya sambil tertawa, “Kutahu perutmu tentu lapar, cepat
habiskan bubur ini sementara
kujemurkan pakaianmu yang basah ini.”
Leng-hong memang sangat lapar, baru saja Lik-giok keluar
kamar, separuh mangkuk bubur
sudah berpindah ke perutnya.
Manusia adalah besi, nasi adalah baja.
Setelah semangkuk bubur habis dimakan, Ho Leng-hong merasa
semangatnya pulih kembali,
rasa linu pegal berkurang banyak, iapun ingin cepat-cepat
bertemu dengan Hui Beng-cu dan
berusaha lekas kembali ke Mi-kok untuk menolong Pang Goan.
198
Siapa tahu Lik-giok sudah pergi lama sekali dan belum juga
kembali, suasana di sekeliling
sana amat sepi tak terdengar suara apapun, seakan-akan rumah
itu kokang, tak berpenghuni.
Lambat laun, cahaya matahari di luar jendela pun condong ke
barat.
Makin ditunggu Leng-hong merasakan keadaan semakin tidak
beres, sebenarnya ia ingin
bangun untuk memeriksa, apa daya, tubuhnya dalam keadaan
bugil, beberapa kali ia mencoba
berteriak, namun tak seorang pun yang menjawab.
Tak lama kemudian sang surya telah tenggelam di balik bukit,
senja pun tiba.
Leng-hong jadi teringat kembali akan suara Lik-giok yang
seperti sudah dikenalnya,
menyusul kemudian iapun teringat bahwa Lik-giok tak pernah
tanya nama dan alamatnya,
padahal di sekitar lembah tak ada penduduk, mana mungkin ada
orang luar yang bertempat
tinggal di dekat Mi-kok . . . . .
“Wah, celaka, aku tertipu!”
Dengan terperanjat Ho Leng-hong melompat bangun, baru saja
dia hendak merobek selimut
untuk menutupi bagian tubuhnya yang terlarang agar bisa
keluar dari situ, mendadak
bayangan seorang muncul di depan pintu.
Dia adalah seorang nona berbaju merah, entah sedari kapan
nona itu sudah berdiri di luar
pintu sambil memandangnya dengan senyum dikulum.
“Ho-tayhiap, masih kenal padaku?” sapa gadis itu sambil
tertawa cekikikan.
Warna pakaian yang sudah dikenalnya dengan suara yang amat
dikenal pula.
Rasa ngeri muncul dari lubuk hati Ho Leng-hong, tanpa terasa
ia berseru, “Samkongcu!”
Cepat-cepat ia menyusup lagi ke dalam selimut dan menutupi
tubuhnya yang bugil itu.
Sambil tertawa cekikikan Samkongcu melangkah ke dalam
ruangan, kemudian katanya, “Tak
kusangka Ho-tayhiap masih ingat padaku, cuma Samkongcu hanya
sebutan yang berlaku
dalam organisasi Ci-moay-hwe, namaku sekarang adalah Kim
Hong-giok!”
“O, kalau begitu Kim Lam-giok dan Kim Lik-giok adalah
Toakongcu dan Jikongcu dari Cimoay-
hwe?” pekik Ho Leng-hong dengan kaget.
“Ho-tayhiap memang tak malu disebut sebagai orang pintar,”
goda Samkongcu sambil
tertawa, “aku berurutan nomor tiga, tentu saja di atasku
masih ada dua orang kakak, sudah
lama sekali kami bertiga dari Ci-moay-hwe menanti kedatangan
Ho-tayhiap di sini.”
“Mau apa kalian menantikan kedatanganku?”
“Bersahabat, membicarakan transaksi dagang dan kedua belah
pihak akan sama-sama
mendapatkan untung.”
Ho Leng-hong tertawa dingin, “Hehehe, kalian telah
memperalah diriku sebagai Nyo Cu-wi,
lalu mencuri golok Yan-ci-po-to, kemudian memfitnah kami
agar ditangkap pihak Mi-kok . . .
tidak cukupkah kalian membikin celaka kami ini? Apa lagi
yang perlu dibicarakan? Maaf, aku
tidak berminat lagi.”
Samkongcu tidak menyangkal semua tuduhan tersebut, dengan
wajah masih dihiasi senyuman
ia berkata, “Urusan yang sudah lewat lebih baik jangan
dibicarakan lagi, yang perlu
dibicarakan adalah masalah sekarang, masalah yang menyangkut
tiga nyawa, kupikir Hotayhiap
pasti masih berminat.”
Karena ucapan yang penuh keyakinan itu mau-tak-mau Ho
Leng-hong harus memperhatikan,
tanyanya, “Tiga nyawa yang mana?”
“Kau, Hui Beng-cu serta Pang Goan yang masih tertinggal
dalam istana es dan menunggu
pertolonganmu.”
“Kau mengetahui semuanya?” desis Leng-hong.
Samkongcu manggut-manggut, “Bagaimanapun Hui Beng-cu masih
muda dan lebih jujur
dibandingkan dirimu, ia telah menceritakan semua kejadian
kepada kami. Nah, bagaimana?
Waktu tidak banyak, bersediakah kau melakukan suatu barter
yang adil?”
199
Menyinggung soal waktu, Leng-hong merasa gelisah sekali,
teringat pada Pang Goan yang
sedang menunggu dalam istana es ditambah lagi cuaca mulai
gelap, kendatipun gemas, tapi
apa daya?”
Akhirnya dengan perasaan apa boleh buat ia menghela napas
panjang, sedapatnya ia bersikap
tenang, katanya sambil tertawa, “Baiklah, anggap saja kau
yang menang, pertukaran apa yang
kauinginkan?”
“Tiga nyawa ditukar dengan rahasia ilmu golok
Ang-siu-to-hoat, adil bukan?”
“Kim Hong-giok, kau jangan keliru, aku Ho Leng-hong bukan
anggota lembah Mi-kok.”
“Aku tahu,” rupanya Kim Hong-giok sudah mempunyai
perhitungan sendiri, ia berkata lebih
jauh, “aku tahu baru saja kau menerobos istana es dan
menembus kawah api, baru lolos dari
kematian, tidak mungkin kau keluar dengan tangan hampa
bukan?”
Leng-hong tertawa getir, “Kalau sudah tahu kami baru lolos
dari kematian, mestinya kau juga
harus tahu bahwa kami tak punya waktu untuk mempelajari ilmu
golok tersebut.”
“buat orang lain mungkin ucapan ini benar, tapi tak berlaku
bagimu,” kata Kim Hong-giok
dengan tertawa.
“Tapi aku kan sama saja, juga seorang manusia.”
“Benar, kau memang manusia, tapi bukan manusia goblok, kau
adalah seorang manusia
cerdas yang tak akan melupakan apa yang pernah kaulihat.”
Kemudian ditatapnya wajah Ho Leng-hong dengan serius,
katanya lebih jauh, “Menurut apa
yang kuketahui, sewaktu berada di Tiang-lo-wan dalam Mi-kok,
cukup menyaksikan jalannya
pertarungan antara Pui Hui-ji dengan Yu Ji-nio, beberapa
jurus ilmu golok mereka tentu
berhasil kausadap, kukira hal ini pernah terjadi bukan?”
“Tapi bukankah kausendiri pernah juga menyadap
To-kiam-hap-ping-kiam-hoat Pang-toako
dengan cara menyuruh keempat perempuan Ainu itu
mengerubutinya?”
“Sebab itulah lebih baik kita bicara blak-blakan, apapun tak
usah membohongi yang lain,”
kata Kim Hong-giok sambil tertawa.
Leng-hong berpikir sebentar, lalu katanya, “Bukankah kau
telah bersekongkol dengan orangorang
dari Mi-kok? Untuk mencuri belajar ilmu golok mereka
sesungguhnya bukan pekerjaan
yang sulit, mengapa kau harus mengincar aku orang she Ho?”
“Ini disebabkan oleh dua alasan, pertama mengenai
untung-rugi kedua pihak, jadi tak
mungkin berhubungan secara jujur, kedua, aku ingin
membuktikan apakah ilmu golok yang
mereka pelajari adalah ilmu golok yang komplit? Ataukah
masih ada bagian yang sengaja
mereka rahasiakan?”
Ho Leng-hong tak ingin membuang waktu percuma, setelah
termenung sebentar, jawabnya,
“Baiklah, kukabulkan permintaanmu, tapi ada syaratnya yang
harus kaupenuhi dulu.”
“Katakan!”
“Bukankah kaubilang akan bertukar syarat denganku dengan
jaminan tiga nyawa, diantaranya
termasuk juga Pang-toako? Oleh karena itu, kau harus
membantu menolong Pang-toako lebih
dahulu sebelum ilmu golok Ang-siu-to-hoat kuberitahukan
kepadamu.”
“Maksudmu aku harus membantumu menyerbu ke Mi-kok, membuka
pintu istana es dan
mempersilakan Pang Goan keluar dengan terang-terangan?”
“Betul!”
“Maaf, aku tidak memiliki kekuatan tersebut. Bila istana es
bisa kumasuki sekehendak hatiku,
apa perlunya aku bertukar syarat denganmu?”
“Sekarang Pang-toako belum lolos dari bahaya, jadi kau tidak
dapat melaksanakan syarat kita,
lalu apa gunanya kaubicara pertukaran kepadaku.”
“Soal ini . . . . . .” Kim Hong-giok berpikir sejenak, “Yang
bisa kulakukan hanya
mengantarmu kembali ke Mi-kok, di samping itu kuberikan pula
perlindungan serta
keleluasaan untuk bergerak, mengenai pertolongan atas Pang
Goan adalah urusanmu sendiri,
maaf bila aku tak dapat membantu apa-apa.”
200
“Padahal dua masalah tersebut tak perlu bantuanmu, kauanggap
aku tak bisa pergi sendiri ke
Mi-kok?” seraya berkata ia lantas bangkit dan duduk di
pembaringan . . . . . . . .
Tapi baru setengah badan terangkat, cepat ia mengkeret lagi,
tiba-tiba ia menemukan dirinya
memang benar-benar tak bisa pergi lagi ke Mi-kok.
Pertama, tentu saja karena ia berada dalam keadaan bugil dan
tak mungkin turun dari
pembaringan.
Kedua, ia merasa dalam dadanya seperti ada gumpalan hawa
dingin yang menyumbat jalan
pernapasannya dan membuat ia tak mungkin mengerahkan tenaga
dalamnya.
Terhadap kesulitan yang pertama, ia masih sanggup untuk
melakukannya dengan tebalkan
muka, tapi terhadap kesulitan yang terakhir, mau-tak-mau ia
terkejut juga, jelas dalam bubur
panas tadi telah dicampuri sesuatu obat tertentu.
Kim Hong-giok tertawa genit, ucapnya dengan lembut,
“Ho-tayhiap, sekarang apa mau
bertukar syarat denganku? Aku tak terburu-buru ingin
mengetahui Ang-siu-to-hoat, tapi
kukuati Pang-tayhiap tidak memiliki waktu yang cukup untuk
menunggu kedatanganmu.”
“Orang she Kim, kau benar-benar manusia rendah yang tak tahu
malu,” damprat Leng-hong
gemas.
Kim Hong-giok tidak menyangkal, mala ucapnya dengan tertawa,
“Terhadap seorang yang
telah belajar Ang-siu-to-hoat harus di hadapi seperti
menghadapi seekor harimau ganas, mautak-
mau kami harus waspada.”
“Baik! Aku mengaku kalah,” jawab Leng-hong sambil memejamkan
mata, “beri aku pakaian
dan obat penawar, segera kudemonstrasikan ilmu golok
Ang-siu-to-hoat di hadapanmu.”
“Tahu begini, kita tak usah banyak bicara,” kata Kim
Hong-giok sambil tersenyum.
Ia bertepuk tangan tiga kali, seorang perempuan setengah
umur mengiakan dan melangkah
masuk, di tangannya membawa pakaian Ho Leng-hong serta
sebutir pil.
Kim Hong-giok meletakkan pakaian dan pil itu di ujung
pembaringan, sambil berbangkit
berdiri katanya, “Waktu lebih berharga daripada emas, aku
tak ingin mengganggumu lebih
lama, harap kau lakukan seperti apa yang dijanjikan agar
tidak mendatangkan kesulitan lagi
bagi nona Hui. Nah, akan kutunggu jawabanmu di luar.”
Seperti seekor ayam jago yang kalah bertarung, terpaksa
Leng-hong menuruti perintah si
nona.
-------------------
Ci-moay-hwe tidak malu disebut sebagai sebuah organisasi
yang amat rahasia, hingga kini
setiap langkah mereka selalu diatur dengan masak, setiap
persolan selalu berada dalam
perhitungan mereka, seolah-olah setiap urusan yang dicampuri
Ci-moay-hwe pasti akan
terjatuh dalam cengkeraman mereka, bahkan keadaan dalam
lembah Mi-kok pun tidak
terkecuali.
Akan tetapi, kendatipun Kim Hong-giok amat cerdik, tapi ia
melalaikan sesuatu yang justru
sangat penting artinya.
Yakni ia tidak tahu bahwa ilmu golok Ang-siu-to-hoat
sesungguhnya terdiri dari sembilan
jurus.
Setiap orang yang pernah mendengar kisah mengenai Ang-ih
Hui-nio dengan Oh It-to tentu
mengetahui bahwa sejak suami-isteri ini berpisah, mereka
telah bertarung sebanyak delapan
kali dari setiap kali bertarung hanya terdiri dari satu
jurus, yaitu asal mulanya ilmu golok Pohin-
pat-tay-sik dan ilmu golok Ang-siu-to-hoat.
Oleh sebab itu ketika Ho Leng-hong hanya memainkan delapan
jurus, dan jurus kesembilan
yang merupakan jurus terpenting sengaja dirahasiakan, Kim
Hong-giok sedikitpun tidak
merasa curiga.
201
Kendatipun hanya delapan jurus, ternyata sudah menarik
segenap perhatiannya, secara
beruntun dia paksa Ho Leng-hong berlatih tiga kali lagi baru
garis besar ilmu golok itu
berhasil di apalkan olehnya, tentu saja belum mencakup
intisarinya.
Kim Hong-giok memang cerdik, kalau Ho Leng-hong membutuhkan
waktu dua-tiga jam
untuk memahami satu jurus, maka Kim Hong-giok seluruhnya
hanya perlu dua-tiga jam untuk
memahami delapan jurus tersebut.
Ketika delapan jurus serangan itu selesai dilatih, tengah
malam pun sudah lewat.
“Hanya ini saja yang kuketahui,” demikian Leng-hong berkata
kemudian, “kini Pang-toako
sedang menunggu pertolongan dalam istana es, aku tak bisa
membuang waktu lebih lama lagi,
semoga perkataanmu bisa dipercaya dan berusaha membantu aku
masuk kembali ke Mi-kok.”
“O, tentu! Bukan Cuma membantumu kembali ke lembah saja,
kami pun berharap setelah
Pang Goan berhasil diselamatkan, kita masih bisa menjadi
sahabat untuk seterusnya, maka
kuputuskan untuk menemani kauberangkat ke Mi-kok.”
Leng-hong tercengang, ia tahu keberangkatan si nona ke
Mi-kok pasti mengandung maksud
tertentu, tapi untuk mengejar waktu ia tak sempat berpikir
panjang lagi, dia hanya berharap
bisa segera berangkat.
Agaknya Kim Hong-giok telah mengadakan persiapan, ketika
gaun merahnya diberi sedikit
perubahan dan ditambah jubah luar, maka berubahlah menjadi
dandanan seorang pengawal
“berbenang putih”, diajaknya Ho Leng-hong meninggalkan rumah
gubuk itu.
Dari rumah gubuk menuju ke mulut lembah ternyata tidak jauh,
Kim Hong-giok juga apal
dengan daerah ini, tak sampai setengah jam mereka telah tiba
di tempat tujuan.
Ketika tiba kembali di tempat lama, teringat pengalamannya
ketika lolos dari bahaya,
sungguh ngeri rasa hati Ho Leng-hong, ia berhenti di tempat
kejauhan sambil bisiknya, “Hei,
kita akan masuk secara terang-terangan ataukah secara
diam-diam?”
“Jangan kuatir,” jawab Kim Hong-giok sambil tertawa, “sudah
kuatur segala sesuatunya.”
Ia menyulut api, kemudian obor itu digoyangkan ke atas tiga
kali.
Tak lama kemudian dari mulut lembah muncul segerombolan
bayangan manusia yang
bergerak mendekat dengan cepat.
Mereka adalah lima gadis bergolok dan seorang utusan
“berbenang biru”, sekilas pandang Ho
Leng-hong kenal utusan tersebut sebagai Hoa Jin.
Kim Hong-giok membisikkan sesuatu kepada Hoa Jin, kemudian
membaukan diri ke dalam
kelompok perempuan pengawal itu.
Hoa Jin seperti tidak percaya dan terkejut, buru-buru ia
maju ke depan dan mengamati wajah
Ho Leng-hong dengan saksama, kemudian serunya tercengang,
“Ah, rupanya benar-benar
kau, sungguh tak pernah kusangka!”
“Akupun tak menyangka, tentu kemunculanku ini akan sangat
mengecewakan nenek Tong
dan saudara sekalian,” sahut Leng-hong dengan tertawa.
Hoa Jin tidak menjawab, dia memberi tanda dan berseru,
“Pasang obor, bunyikan terompet
penyambut tamu agung!”
Enam batang obor segera dipasang, menyusul kemudian suara
terompet bergema nyaring.
Dalam waktu singkat bunyi terompet bersahut-sahutan dari
dalam lembah, cahaya obor
bermunculan di mana-mana disusul gemuruh suara manusia.
“Hei, apa-apaan kau?” tegur Leng-hong tercengang.
Sambil memberi hormat, jawab Hoa Jin, “Ho-tayhiap berhasil
menerobos istana es dan
melewati kawah api dengan selamat, itu berarti kau telah
menjadi tamu terhormat lembah
kami, kedatanganmu akan disambut oleh segenap anggota
masyarakat kami.”
Tidak banyak berbicara lagi, mereka lantas mengiringi Ho
Leng-hong menuju ke mulut
lembah.
202
Sepanjang jalan tampak cahaya obor sambung-menyambung
bagaikan ular panjang, sejak
mulut lembah sepanjang jalan penuh berjejal manusia baik
lelaki maupun perempuan, tua dan
muda, saling berebut melihat kedatangan tamu agung tersebut.
Bunyi terompet yang sahut menyahut agaknya telah
membangunkan semua penduduk lembah
dari tidurnya.
Gerak-gerik Ho Leng-hong menjadi tak bebas, sepanjang jalan
ia dielu-elukan oleh
masyarakat lembah, ia digiring menuju ke depan perkampungan
di mana cahaya lampu pun
terang benderang, Kokcu Tong Siau-sian beserta para Popo
dari Tiang-lo-wan menyambut
kedatangannya di pintu perkampungan.
Air muka Tong Siau-sian lebih banyak diliputi rasa kejut
daripada rasa girang, gerak-geriknya
tampak kikuk, sebaliknya para Tianglo tampak diliputi rasa
gembira dan bangga.
Ketika Ho Leng-hong tiba di tempat tujuan, serentak bunyi
mercon digelar.
Tong Siau-sian mengalungkan sehelai selendang merah ke atas
bahu Ho Leng-hong,
kemudian bisiknya, “Semenjak berdirinya Mi-kok, Ho-tayhiap
adalah orang pertama yang
berhasil keluar dari istana es dalam keadaan hidup, dengan
inilah kami mengucapkan selamat
padamu.”
“Tidak berani,” sahut Leng-hong sambil menjura, “semua ini
berkat nasibku yang mujur, juga
berkat bantuan Kokcu.”
Entak mengapa, tiba-tiba air muka Tong Siau-sian bersemu
merah.
Tong-popo tertawa bergelak, “Hahaha, sungguh pandai bicara,
mungkin takdir yang
menghendaki Ho-tayhiap mencapai sukses.”
Diiringi orang banyak Ho Leng-hong dibawa masuk ke ruang
tengah, Tong Siau-sian segera
mempersilakan tamunya menempati kursi utama dengan
didampingi para Tianglo di kedua
sisinya, pelayan segera menghidangkan teh wangi.
Dulu sebagai tawanan dan kini sebagai tamu terhormat,
ternyata Ho Leng-hong sama sekali
tidak merasa senang, apa yang dipikirkan sekarang hanya
bagaimana caranya memasuki
istana es untuk menolong Pang Goan, cuma sayang ia tak punya
kesempatan untuk buka
suara.
Para pengawal berbenang putih belum berhak masuk ke dalam
ruangan menemani tamu, jadi
Kim Hong-giok pun tidak diketahui ke mana perginya.
Setelah air teh dihidangkan, Tong Siau-sian kembali
menitahkan orang untuk menyiapkan
arak, sementara ia sendiri mohon diri untuk meninggalkan
ruangan.
Begitu Tong Siau-sian pergi, Tong-popo lantas berkata dengan
tertawa, “Ho-tayhiap, sejak
kedatanganmu di lembah ini, aku sudah tahu bahwa kau bukan
manusia sembarangan,
buktinya memang demikian. Nah, aku ingin minta suguhan
secawan arak darimu.”
“Popo terlalu sungkan, aku orang she Ho adalah manusia tak
becus, keberhasilanku tak lebih
lantaran nasib lagi mujur,” sahut pemuda itu.
Di luar ia berkata demikian, dalam hati pikirnya, “Mau minum
arak boleh minum sepuasnya
nanti, yang penting sekarang lekas buka istana es dan
menjemput Pang-toako keluar dari situ .
. . . .”
Di dengarnya Tong-popo berkata lagi sambil tertawa,
“Ho-tayhiap adalah naga di antara
manusia, semua Popo telah membuktikan sendiri, menurut
pendapatku, persoalan inipun tak
usah dirundingkan lagi, kita tentukan besok sebagai hari
baik saja, entah bagaimana pendapat
Cici sekalian?”
“Bagus sekali! Bagus sekali!” sahut para Tianglo serentak.
Lalu Tong-popo berkata kepada Ho Leng-hong, “Inilah rejeki
Ho-tayhiap dan juga
merupakan peraturan dari lembah kami, kukira Ho-tayhiap tak
akan mengajukan pendapat
lain bukan?”
203
Apa yang dipikirkan Ho Leng-hong sekarang bagaimana caranya
masuk ke istana es,
hakikatnya ia tidak menaruh perhatian terhadap apa yang
mereka bicarakan, maka seenaknya
saja ia mengangguk.
“Popo sekalian tak usah terlalu berlebihan, sudah kukatakan
keberhasilanku adalah karena
nasibku lagi mujur . . . .”
Karena kurang memperhatikan, dia mengira orang sedang
berunding untuk mengadakan pesta
keesokan harinya untuk merayakan peristiwa besar ini.
“Baik!” ujar Tong-popo girang, “kita putuskan besok tengah
hari sebagai saat bahagia, segera
siarkan ke seluruh lembah agar bersiap mengadakan pesta.”
Ketika berita tersebut disiarkan, serentak semua anggota
masyarakat lembah itu
menyambutnya dengan sorak-sorai gembira, dentuman mercon
segera berbunyi di mana-mana
menambah semaraknya suasana.
Ho Leng-hong masih menyatakan terima kasih dengan senyum
dikulum, setelah bunyi
mercon mereda, ia baru memperoleh kesempatan untuk berkata,
“Sesungguhnya kalian tak
perlu merayakan kejadian ini secara besar-besaran, bila Popo
sekalian ingin merayakannya,
lebih baik kabulkan saja suatu permintaanku, untuk mana
selamanya aku akan berterima
kasih.”
Tong-popo tertawa, “Kini kita adalah orang sendiri, apa
permintaanmu, asal dapat kulakukan
pasti akan kukabulkan, buat apa sungkan-sungkan?”
“Popo tentu tahu bukan, aku mempunyai seorang teman she Pang
yang masuk ke istana es
bersamaku?”
“Benar, kaumaksudkan Pang Goan, Pang-tayhiap pemilik
Cian-sui-hu? kenapa dia?”
“Karena harus membantuku lolos, ia sendiri tak mampu
meninggalkan tempat tersebut,
hingga kini masih tertinggal di dalam istana es . . . .”
“O, sayang sekali,” tukas Tong-popo, “padahal aku selalu
menaruh hormat kepada Pangtayhiap,
ia rela membantu orang lain dengan mengorbankan diri
sendiri, jiwa besarnya itu
sungguh mengagumkan.”
“Popo telah salah mengartikan kata-kataku,” ucap Leng-hong
sambil menggeleng kepala dan
tertawa, “maksudku, hingga kini Pang-toako masih hidup dalam
istana es, ia belum mati.”
Tong-popo melengak, tiba-tiba ia menengadah dan tertawa
terbahak-bahak.
“Jangan tertawa Popo, aku bicara sesungguhnya,” kata
Leng-hong.
Sambil tertawa Tong-popo berpaling ke arah para Tianglo
lainnya seraya berkata,
“Percayakah kalian? Ia bilang Pang Goan masih hidup dalam
istana es, dan katanya ia tidak
bohong? Hahaha.....”
Beberapa nenek itupun ikut menggeleng kepala sambil tertawa,
“Mungkin itulah harapan Hotayhiap,
tentu saja kamipun berharap ia masih hidup, tapi harapan
tinggal harapan,
kenyataannya hal ini tak mungkin terjadi.”
“Ketika kumasuk ke istana es, bukankah kalian pun tidak
percaya bahwa aku akan keluar
dalam keadaan hidup?” kata Leng-hong serius, “tapi
kenyataannya sekarang aku bisa keluar
dengan selamat, ini kan juga suatu kenyataan!”
“Kami hanya mengakui kenyataan dan bukan khayalan, kecuali
Pang Goan pun bisa keluar
dengan selamat, siapapun tak akan percaya perkataanmu itu.”
“Kalau tidak percaya, boleh kita buka istana es dan
memeriksanya?”
Tong-popo menggeleng kepala berulang kali, “Tidak mungkin!
Menurut peraturan lembah
hanya satu orang yang boleh masuk ke istana es, dan lagi
diapun harus mempunyai alasan
khusus, itupun harus memperoleh persetujuan dulu dari dewan
para Tianglo.”
“Siapakah orang itu?” buru-buru Leng-hong bertanya.
“Kokcu!”
“Baik! Sekarang juga akan kutemui dia, kuharap Popo sekalian
mengizinkan ia masuk ke
istana es . . . .”
204
Sambil tertawa kembali Tong-popo menggeleng kepala,
“Ho-tayhiap, tak usah ke sana,
sebelum tengah hari besok, Kokcu takkan menjumpai dirimu.”
“Kenapa?” tanya Leng-hong.
“Sebab kalian belum melakukan upacara nikah secara resmi,
masa calon pengantin boleh
bertemu muka dulu?”
Leng-hong tertegun, ia termangu-mangu.
Sambil tertawa kembali Tong-popo berkata, “Jangan terburu
napsu, untuk menghormati kau
sebagai orang pertama yang bisa keluar dari istana es, kami
putuskan akan mengizinkan
Kokcu masuk ke istana es satu kali guna melakukan
pemeriksaan, akan tetapi itupun harus
dilakukan seusai upacara nikah kalian tengah hari esok,
harap kau bersabar dulu.”
“Tidak!” teriak Leng-hong sambil melonjak, “aku tidak mau
menjadi Huma dari Mi-kok,
lebih-lebih tidak ingin menetap di lembah ini, kembaliku
kemari hanya bermaksud menolong
Pang-toako....”
Air muka Tong-popo berubah masam, katanya dingin,
“Ho-tayhiap, sebelum bicara hendaklah
pikirkan dulu tiga kali. Inilah peraturan lembah dan kaupun
telah menyetujuinya, kini berita
perkawinan telah tersiar luas di seluruh lembah, kenapa kau
malah mengucapkan kata-kata
semacam itu?”
“Hei, sejak kapan aku menyetujui?”
“Bukankah tadi kau telah setuju, malahan kau minta agar
jangan terlalu meriah, masa
ucapanmu itu cuma omong kosong saja? Kami menjodohkan Kokcu
kepadamu, meski hanya
untuk memenuhi peraturan nenek moyang, itupun karena
menghormati dirimu, masa kau
bersikap plin-plan?”
“Bila kalian menghargai diriku, aku rela melepaskan
kesempatan untuk kawin dengan Kokcu,
aku hanya mohon agar Pang-toako diizinkan meninggalkan
istana es.”
“Ah, perkataan apakah itu?” kata Tong-popo tak senang hati,
“betapa terhormatnya seorang
Kokcu, masa kauanggap perkawinan sebagai permainan
kanak-kanak? Lagipula antara soal
perkawinan dengan mati-hidup Pang Goan hakikatnya merupakan
dua masalah yang tidak ada
hubungannya, jika kau tidak tahu adat lagi, jangan menyesal
bila kamipun tak akan sungkansungkan.”
Diam-diam Ho Leng-hong mengeluh, kini ia baru sadar bahwa
dirinya telah terjebak oleh
perangkap lawan.
Persekongkolan antara Samkongcu Kim Hong-giok dengan
Tong-popo untuk memaksanya
kawin jelas suatu intrik yang busuk dengan tujuan tertentu,
soal ini bisa tidak diurus, apakah
dirinya mengawini Tong Siau-sian atau tidak juga bukan
masalah penting, tapi Pang Goan
yang menanti pertolongan dalam istana es jelas tak bisa
ditunda-tunda lagi, betapapun tak
dapat menunggu usainya upacara perkawinan tengah hari besok,
persoalan ini justru masalah
yang paling penting.
Dalam cemasnya hampir saja ia hendak menerjang masuk ke
dalam istana es dengan
kekerasan, tapi ia sadar kekuatannya terbatas, dua kepalan
sukar menandingi empat tangan,
apalagi jago-jago dalam lembah tak terhitung banyaknya.
Ia sadar umpama istana es berhasil diterobos, Pang Goan
dapat diselamatkan, belum tentu ia
bisa lolos keluar Mi-kok, sekalipun bisa keluar dari lembah
ini, Hui Beng-cu yang ada di
tangan Ci-moay-hwe pasti juga akan celaka.
Sungguh masalah pelik yang sukar diatasi.
Untung Ho Leng-hong bukan seorang yang keras kepala, setelah
berpikir sebentar, tiba-tiba
senyuman menghiasi wajahnya.
“Ya, karena cemas aku sampai keblingar,” demikian katanya,
“entah berapa banyak orang
yang mengimpikan untuk menjadi Huma dari Mi-kok, masa
kesempatan baik yang
kudapatkan kutolak begitu saja? Sungguh tindakan yang salah
besar.”
“Jadi sekarang kau sudah memahaminya?” tanya Tong-popo
ketus.
205
“Ya, sudah paham, sebagai manusia mau-tak-mau harus
memikirkan diri sendiri, hanya orang
bodoh yang tidak menggunakan kesempatan baik ini, mengenai
mati-hidup Pang Goan, aku
telah berusaha sepenuh tenaga, kesetiaan kawan paling-paling
cuma begini saja, kupercaya
dia tak akan menyalahkan diriku.”
Tampaknya Tong-popo rada curiga terhadap perubahan sikapnya
yang tiba-tiba itu, namun ia
tidak mengusut lebih jauh, hanya katanya dengan hambar,
“Kalau bisa demikian akan lebih
baik, sudah sepantasnya kita berusaha sepenuh tenaga demi
sahabat, tapi tidak perlu urus soal
waktu yang cuma setengah hari saja.”
“Betul,” kata Leng-hong sambil tertawa, “bila ia sudah mati,
cemas juga tak berguna,
sebaliknya kalau ia tidak ditakdirkan mati, Pang-toako pasti
dapat menunggu diriku setengah
hari lagi.”
Sejak itu masalah yang menyangkut Pang Goan tidak
disinggung-singgung lagi, Leng-hong
bersenda-gurau dan tertawa, ia membual tentang pengalamannya
ketika lolos dari istana es.
Tak lama kemudian, perjamuan sudah siap, para Tianglo pun
menemani Ho Leng-hong
bersantap.
Kelakuan Leng-hong bagaikan orang yang delapan keturunan tak
pernah minum arak, setiap
cawan yang diangkat segera dihabiskan, tentu saja beberapa
orang nenek itu bukan
tandingannya minum arak.
Tak lama kemudian, para nenek itu menjadi mabuk dan pusing
kepala, semua orang tak
berani minum lagi, sedangkan Ho Leng-hong masih saja
memaksanya minum, dalam keadaan
demikian terpaksa nenek-nenek itu harus mengambil langkah
seribu.
Perjamuan itu hanya berlangsung dalam waktu singkat dan
diakhiri begitu saja.
Bagaimanapun Tong-popo adalah nenek yang lanjut usia,
setelah minum beberapa cawan arak
akhirnya dia tak tahan, setelah menitahkan orang menyiapkan
kamar tidur di bilik timur buat
Ho Leng-hong, ia sendiri pun kembali ke Tiang-lo-wan untuk
istirahat.
Leng-hong tahu bahwa di sekeliling bilik timur pasti
tersebar para penjaga yang mengawasi
gerak-geriknya, maka ia sengaja memanggil petugas penjaga
untuk menghadap.
Kepada penjaga itu dikatakannya, “Aku tahu penghuni
perkampungan ini kebanyakan adalah
kaum perempuan, padahal aku mempunyai kebiasaan tidur
telanjang, oleh karena itu untuk
menjaga tata kesopanan terpaksa pintu dan jendela akan
kututup rapat, tolong nona sampaikan
kepada semua orang, harap malam ini jangan mendekati kamar
bilik timur.”
Semakin ia bersikap misterius, para penjaga semakin tak
berani gegabah. Baru saja ia masuk
kamar, penjaga itu segera melaporkan kejadian tersebut
kepada Hoa Jin.”
Mendengar laporan tersebut, Hoa Jin tertawa dingin, katanya,
“Kalian masih gadis dan belum
kawin, tentu saja harus menghindarinya, lain dengan diriku
yang sudah kawin dan pernah
punya anak, aku tidak takut hal begitu, tugas jaga malam ini
serahkan saja kepadaku.”
Ketika semua orang sudah beristirahat, Hoa Jin dengan golok
terhunus mendatangi bilik
timur, betul juga, lampu kamar telah dipadamkan, pintu mau
pun jendela juga tertutup rapat.
Pelahan Hoa Jin menghampiri jendela dan coba
memperhatikannya, ternyata suasana dalam
kamar amat hening, bahkan suara napas pun tidak terdengar.
Timbul curiga dalam hatinya, jangan-jangan Ho Leng-hong
sudah tidak berada di dalam
kamar lagi?
Untuk melaksanakan tugasnya, mau-tak-mau dia harus
“nyerempet bahaya” untuk melakukan
pengintipan.
Hoa Jin tarik napas panjang, setelah berhasil menenangkan
hatinya, pelahan ia merobek
sedikit kertas jendela dan mengintip ke dalam.
Hah, aneh benar! Hanya kegelapan dalam ruangan tersebut,
apapun tidak dilihatnya.
Ia mengucak mata kemudian mengerahkan ketajaman matanya
untuk memperhatikan lebih
jauh tapi tetap kegelapan saja yang di lihat, jangankan
bayangan orang pembaringan dan meja
kursi pun tidak kelihatan.
206
Akhirnya, setelah diperhatikan lebih jauh, ia menjadi paham,
ternyata dibalik jendela telah
ditutup secarik kain hitam, sudah barang tentu sulit bagi
orang luar untuk melihat keadaan
dalam kamar.
Hoa Jin tertawa dingin, pelahan ia membuka daun jendela.
Kain hitam itu tergantung tiga kaki dari daun jendela, ia
harus menyingkap kain tersebut
untuk bisa melihat ke arah pembaringan, karena tiada jalan
lain, terpaksa dengan sangat hatihati
ia memasukkan separoh badannya ke dalam jendela, kemudian
dengan tangannya
menyingkap kain hitam itu . . . .
Mimpipun tak disangkanya kalau Ho Leng-hong justru
bersembunyi di balik kain hitam itu,
baru saja ujung kain tersingkap, mendadak sekujur badannya
menjadi kaku dan jalan darah
pada pergelangan tangannya kena dicengkeram oleh Ho
Leng-hong.
Belum sempat ia berteriak minta tolong, tahu-tahu jalan
darah bisu sudah tertutuk, menyusul
separuh badanya ikut tertarik masuk ke dalam ruangan.
Masih untung di halaman tiada orang lain, coba kalau
perbuatan Hoa Jin “menerobos jendela”
itu diketahui orang, biarpun keramas tujuh hari pun nodanya
takkan tercuci bersih . . . . . . .
Sambil tertawa lirih Leng-hong berkata, “maaf, kukira
budak-budak kecil itu tak pernah lihat,
maka mereka ingin menambah pengalaman, tak tahunya Hoa-toaso
sendiri yang berkunjung
kemari, maaf kalau aku bersikap kurang sopan.”
Seraya berkata ia mulai mencopoti jubah luar Hoa Jin dan
ambil goloknya, lalu dikenakan di
tubuh sendiri, sekali lompat ia sudah keluar jendela,
kemudian ia tutup kembali daun jendela
dan berangkatlah ia menuju ke lembah belakang.
Hoa Jin tertutuk dan tak bisa berteriak, apalagi berkutik,
terpaksa ia cuma bisa menyaksikan
kepergian pemuda itu dengan mata melotot, entah harus gusar
ataukah kecewa?
Sesaat menjelang fajar, biasanya merupakan suasana yang
paling gelap.
Ketika Ho Leng-hong tiba di lembah belakang, itulah saat
fajar hampir menyingsing, dari
kejauhan ia sudah berhenti, melepaskan baju merah Hoa Jin
dan membuang pula sarung
goloknya, sambil menghunus golok ia beristirahat sebentar
untuk menunggu kesempatan.
Tiga orang nenek buta yang menjaga pintu masuk istana es itu
terdiri dari seorang Tianglo
dan dua orang “berbenang biru”, tentu saja kungfu mereka
tidak lemah.
Ho Leng-hong mengerti bahwa kehadirannya tak akan mampu
mengelabuhi mereka, maka ia
membuang lelah dulu agar bilamana perlu ia bisa menyerbu
secara kekerasan.
Pemuda itu bertekad, bagaimanapun jua sebelum fajar
menyingsing nanti dia sudah harus
dapat menyelamatkan Pang Goan serta meninggalkan Mi-kok,
kemudian baru berusaha
menyelamatkan Hui Beng-cu.
Seandainya di antara Pang Goan dan Hui Beng-cu dia hanya
bisa menolong satu orang saja,
dia pasti akan memilih Pang Goan karena ini adalah soal
moral.
Bila pertolongan harus dibedakan mana lebih dulu, dia juga
akan menolong Pang Goan
duluan, sebab Hui Beng-cu yang berada di tangan Ci-moay-hwe
tak akan segera mati,
sebaliknya Pang Goan yang terkurung di istana es justru
berada dalam keadaan kritis.
Pemilihan demikian adalah pemilihan terpaksa, sebab kecuali
cara demikian ia tidak punya
cara lain yang lebih sempurna.
Oleh sebab itu, ketika sambil membawa golok ia berjalan
mendekati rumah batu, hatinya
merasa berat sekali.
Setelah ambil keputusan yang terpaksa, tentu saja dia tak
mau mengalami kegagalan di sini
sana.
Betul juga, kedatangannya tak dapat mengelabui nenek Po yang
berada dalam rumah batu,
baru saja berada tiga kaki dari pintu rumah, dari dalam
telah berkumandang suara bentakan,
“Siapa di situ? Berhenti!”
207
Ho Leng-hong berjalan maju beberapa kaki lagi sebelum
berhenti, goloknya segera
disembunyikan di balik siku, sementara persiapan dilakukan
secara diam-diam guna
menghadapi segala kejadian yang tidak diinginkan.
Nenek Po diiringi dua orang perempuan buta lainnya
menyongsong kedatangannya, dengan
mata putih mendelik ia membentak.
“Besar amat nyalimu! Suruh kau berhenti, ternyata kau malah
berani maju dua kaki lagi
sebelum berhenti? Sebutkan namamu!”
“Aku she Ho, ada urusan penting hendak masuk ke istana es,
harap Popo mengabulkan
permintaanku.”
“She Ho? Ho apa? Aku seperti merasa pernah kenal suaramu,”
kata nenek Po dengan
tercengang.
Leng-hong segera menyebutkan namanya, kemudian ia
menambahkan, “Aku adalah orang
yang masuk ke dalam istana es bersama dua orang rekanku
beberapa hari yang lalu, apakah
Popo masih ingat?”
Mendengar jawaban tersebut, nenek Po menjadi sangat girang,
buru-buru sahutnya, “Ah, ya,
yaa . . . aku masih ingat, aku masih ingat, kenapa tidak
ingat? Aku dengar Ho-tayhiap telah
lolos dari istana es dan kawah api dengan selamat, besok
akan menjadi Huma lembah kami,
hampir saja aku si nenek lupa menyampaikan selamat
kepadamu.”
Kepada kedua orang perempuan buta lainnya ia lantas
menitahkan, “Tamu terhormat telah
datang, cepat mempersilakan Ho-tayhiap duduk di dalam, kita
harus menyampaikan selamat
kepadanya.”
Buru-buru kedua orang perempuan buta itu masuk ke dalam
ruangan, memasang lampu dan
mempersilakan Ho Leng-hong masuk ke dalam.
Tindakan tersebut sedikit di luar dugaan Ho Leng-hong,
katanya sambil tersenyum, “Popo tak
usah sungkan, aku masih ada seorang teman yang ketinggalan
di dalam istana es, dia harus
cepat ditolong keluar, sebab itulah mohon kepada Popo suka
membukakan pintu istana, untuk
mana kami akan sangat berterima kasih kepadamu.”
“Apa? Kau hendak masuk lagi ke istana es?”
“Betul, mohon Popo suka mengabulkan permintaanku ini.”
Nenek Po berpikir sebentar, kemudian katanya, “Baiklah,
terpaksa kuucapkan selamat kepada
Ho-tayhiap setelah upacara perkawinan besok.”
Ho Leng-hong tidak mengira orang akan mengabulkan
permintaannya, dengan girang ia
berseru, “Terima kasih banyak, nenek!!”
Selesai berkata ia langsung melangkah ke ruangan dalam.
Mendadak nenek Po mengulurkan tangan ke depan sambil
berseru, “Coba perlihatkan dulu!”
“Apa yang kau maksudkan,” tanya Ho Leng-hong tertegun.
“Lencana nomor, nomor kunci untuk membuka pintu istana!”
“Soal ini....” Leng-hong menjadi bingung, selang sejenak ia
baru berkata lagi sambil tertawa,
“Maaf, lantaran datang terburu-buru, kulupa minta Ho-pay
(tanda nomor) dari Tong-popo,
apakah bisa ditiadakan saja untuk kali ini?”
“Tidak, tidak bisa,” jawab nenek Po sambil geleng kepala,
“untuk membuka pintu istana
harus ada Ho-pay lebih dulu, terpaksa Ho-tayhiap harus
kembali dulu ke Tiang-lo-wan untuk
mengambil Ho-pay tersebut.”
“Tapi aku harus segera masuk, aku tak ada waktu untuk pergi
datang lagi.”
“Maaf,” kata nenek Po sambil mengangkat bahu, “tanpa Ho-pay,
siapapun jangan harap bisa
memasuki istana es, aku hanya seorang penjaga pintu dan
harus melaksanakan tugas, aku
betul-betul tak bisa membantumu.”
“Keadaan sangat mendesak, tolonglah untuk sekali ini saja,
sekembaliku dari sana nanti baru
disusulkan tanda nomornya.”
“Tidak bisa!” jawab nenek Po tegas.
208
Diam-diam Ho Leng-hong berpikir, “Nenek ini berdisiplin
tegas dan tidak kenal kompromi,
agaknya banyak bicara juga tak berguna, lebih baik kubekuk
dulu orang ini . . . .”
Begitu ingatan tersebut terlintas dalam benaknya, golok
segera berputar dan siap melancarkan
serangan.
Pada saat itulah tiba-tiba dari belakang berkumandang suara
orang berdehem lirih, menyusul
kemudian seseorang berkata, “Ho-pay berada di sini!”
Buru-buru Leng-hong berpaling, ia lihat sesosok bayangan
manusia berdiri di sana sambil
mengangkat tinggi-tinggi sebuah lencana nomor kunci.
Dia ternyata adalah Tong Siau-sian, sang Kokcu.
Tampaknya Tong Siau-sian sudah berdiri lama di situ, hingga
Leng-hong melihat jelas dia
baru dia maju mendekat.
Rupanya dia kuatir Leng-hong salah mengartikan maksud
kedatangannya, sambil berjalan
mendekat katanya, “Leng-hong, kau memang terlalu terburu
nafsu, nenek Po adalah seorang
berhati baja yang tidak kenal kompromi, tanpa Ho-pay tak
nanti kau diizinkan masuk. Karena
kutahu kau tak akan berhasil, maka kususulkan Ho-pay
kemari.”
Nada pembicaraan lembut dan hangat, bagaikan ucapan seorang
calon isteri, ditambah pula
Ho-pay tersebut memang berada di tangannya, ini membuktikan
kedatangannya memang
tidak bermaksud jahat.
Ho Leng-hong menjadi bingung dan tak mampu bersuara.
“Hormat, Kokcu!” buru-buru nenek Po dan kedua orang buta itu
memberi hormat.
“Tak usah banyak adat,” kata Tong Siau-sian sambil tertawa,
“ambil Ho-pay ini dan tunggu di
pintu istana, masih ada beberapa persoalan hendak
kubicarakan dulu dengan Ho-tayhiap,
sebentar aku menyusul ke sana.”
Nenek Po mengiakan, setelah menerima Ho-pay mereka
mengundurkan diri dari situ.
Setelah ketiga orang itu masuk ke dalam ruangan batu, Tong
Siau-sian baru berkata sambil
menghela napas sedih, “Jangan menatap aku dengan sinar mata
seperti itu, dengan tulus ikhlas
ingin kubantumu, Ho-pay itu asli, bukan palsu seperti peta
penyimpan golokmu.”
“Urusan yang sudah lewat harap jangan dipikirkan lagi,
Kokcu,” kata Ho Leng-hong sambil
menjura, “bila sobatku bisa diselamatkan, selama hidup orang
she Ho akan sangat berterima
kasih kepadamu.”
“Aku tidak mengharapkan terima kasihmu,” kata Tong Siau-sian
sambil tersenyum getir, “aku
hanya ingin tanya satu soal, kuharap kau menjawab dengan
jujur.”
“Katakan saja Kokcu, pasti akan kujawab dengan sejujurnya,”
ucap Leng-hong cepat.
Tong Siau-sian menunduk kepala rendah-rendah, lalu dengan
suara lirih bertanya, “Aku
hanya ingin tahu, apa rencanamu menghadapi peristiwa besok.”
“Tentang ini . . . . .” Leng-hong agak sangsi, kemudian
katanya dengan serius, “terus terang,
aku merasa rendah diri, aku tak berani mengharapkan yang
muluk-muluk dan mendapat jodoh
Kokcu, kudatang kemari hanya ingin menolong temanku yang
masih terkurung.”
Tong Siau-sian sama sekali tidak menunjukkan sikap di luar
dugaan, ucapnya dengan tenang,
“Setelah Pang-tayhiap berhasil diselamatkan, lalu
bagaimana?”
“Setelah itu . . . tentu saja aku harus berusaha untuk
menolong nona Hui dari Hiang-in-hu
yang terjatuh di tangan Ci-moay-hwe.”
“Bila aku berhasil membantumu menyelamatkan nona Hui?”
“Kami . . . . kami pasti akan sangat berterima kasih kepada
Kokcu.”
“Hanya sepatah kata terima kasih saja dan habis perkara?”
“Tentu saja bila kaupun mengharapkan bantuanku, dengan
sepenuh tenaga akan kulaksanakan
demi membalas budi kebaikan Kokcu.”
“Seperti telah kukatakan tadi, aku tidak mengharapkan
balasan apa-apa, aku hanya ingin tahu
bagaimana rencanamu tentang persoalan besok?”
209
Lantaran di desak terus, Leng-hong merasa kewalahan,
terpaksa katanya sambil tertawa, “Apa
yang Kokcu ingin kulakukan, tentu akan kulakukannya.”
“Aku ingin mengetahui jalan pikiranmu sendiri!” desak Tong
Siau-sian lebih jauh.
Leng-hong benar-benar kehabisan akal, terpaksa sambil angkat
bahu katanya, “Apa lagi yang
bisa kukatakan? Bila Kokcu tidak merasa derajatku terlampau
rendah, tentu saja akupun akan
menerimanya dengan senang hati, cuma bila burung gagak
mendampingi burung hong, hal ini
tentu akan menodai nama baik Kokcu . . . .”
Tong Siau-sian mendongakkan kepalanya dan menatap pemuda itu
tajam-tajam, kemudian
tanyanya, “Tuluskah ucapanmu ini?”
“Setiap patah kataku keluar dari lubuk hatiku yang murni,
tentu saja aku berbicara dengan
tulus ikhlas.”
Tong Siau-sian mengembus napas pelahan, katanya, “Baik, aku
percaya kepadamu, sekarang
akupun ingin memberitahukan sepatah dua kata kepadamu,
meskipun nenek Tong mengatur
perkawinan ini atas dasar peraturan lembah, tapi iapun telah
merundingkan suatu siasat keji
dengan pihak Ci-moay-hwe untuk mencelakai jiwa kita berdua.”
“Hah?! Apa rencananya terhadap kita?”
“Persoalan ini panjang sekali untuk dibicarakan, lebih baik
kita selamatkan dulu Pangtayhiap.”
Mereka lantas menembus ruang batu dan masuk ke dalam gua,
belum sampai beberapa
langkah mendadak Tong Siau-sian berhenti seraya bertanya,
“Yakinkah kau bahwa Pangtayhiap
masih hidup?”
“Dia pasti masih hidup, pil anti dingin yang dimilikinya
masih sanggup mempertahankan
hidupnya selama dua belas jam, padahal aku baru sepuluh jam
meninggalkan istana es.”
“Kalau begitu, tunggu aku di pintu istana, akan kuwakilimu
untuk menyelamatkan Pangtayhiap.”
“Mengapa harus demikian?”
“Sebab nenek Po adalah seorang yang berdisiplin keras dan
tidak kenal kompromi, menurut
peraturan hanya aku seorang yang boleh masuk-keluar istana
es, kendatipun kau memiliki Hopay
juta tidak boleh masuk keluar seenaknya, setelah masuk ke
dalam kau tak bisa keluar lagi,
terutama bila nenek Po menutup pintu istana setelah kau
masuk, bukankah hal ini akan
menambah kesulitan pula?”
Ho Leng-hong tak pernah berpikir sampai di situ, ia menjadi
tertegun, tiba-tiba ia dapat
meresapi ucapan Tong Siau-sian itu, rupanya si nona
mempunyai tujuan lain.
Dengan menggunakan nama nenek Po sebagai alasan rupanya ia
ingin menunjukkan
keikhlasannya yang benar-benar ingin membantu, bila Ho
Leng-hong dibiarkan masuk sendiri
ke istana es, mungkin dia akan sangsi bila pintu istana
tiba-tiba ditutup, maka ia rela
mewakilinya dengan meninggalkan Ho Leng-hong di luar sebagai
tanda bahwa ia tidak
berniat mencelakainya.
Padahal Ho Leng-hong tak pernah mencurigainya, meski
demikian terharu juga hatinya, tentu
saja dia tak tega untuk menolak maksud baik si nona.
Maka sambil menggenggam tangannya dengan senyum dikulum ia
berkata, “Kalau begitu
kutitipkan tugas ini padamu, aku dan Pang-toako selamanya
akan ingat atas budi kebaikanmu
ini.”
Genggamannya yang hangat itu membuat Tong Siau-sian girang
bercampur malu, buru-buru
ia menarik kembali tangannya dan lari masuk ke sana.
Dalam pada itu nenek Po dan kedua orang perempuan buta itu
sudah lama sekali menunggu di
pintu istana es.
Setibanya di hadapan mereka Tong Siau-sian segera berkata,
“Ho-tayhiap telah memutuskan
tidak masuk ke istana es, aku akan mewakilinya masuk ke
dalam, tak lama aku berada di
dalam. Kalian tunggu saja di sini dan pintu istana tak perlu
dikunci.”
210
Sebetulnya nenek Po sudah siap mengeluarkan anak kuncinya
untuk membuka pintu, ketika
mendengar perkataan ini tiba-tiba ia berkata, “Bila Kokcu
ingin masuk ke istana es, kau perlu
minta persetujuan lebih dulu dari Tiang-lo-wan.”
“Tentu saja Tiang-lo-wan sudah setuju,” sahut Tong
Siau-sian, “kalau tidak, darimana aku
bisa mendapatkan Ho-pay?”
“Hanya Ho-pay saja masih tidak cukup, harap Kokcu tinggalkan
pula Kim-to-leng, dengan
demikian pintu istana baru takkan kukunci.”
“Apakah kau tidak tahu aku ini Kokcu?” tegur Tong Siau-sian
dengan tidak senang.
Nenek Po segera membungkuk badan dan memberi hormat, “Hamba
buta, sulit untuk
menentukan diri seseorang hanya berdasarkan suara saja,
lebih baik Kokcu bertindak
menuruti peraturan agar hamba tidak serba sulit.”
Nenek ini betul-betul disiplin dan tidak kenal kompromi, dia
hanya kenal benda dan tidak
kenal orang, bahkan terhadap Kokcu sendiri pun tak mau
memberi muka.
Tong Siau-sian berpaling ke arah Ho Leng-hong sambil tertawa
getir, kemudian katanya lagi,
“Nenek Po, jadi kau berkeras ingin minta Kim-to-leng
daripada menurut perkataanku?”
“Hamba hanya melakukan tugas menurut peraturan, lencana
nomor kunci hanya tanda masuk
dan buka tanda keluar, bila ingin pintu istana tidak
dikunci, Ho-pay dan Kim-to-leng harus
lengkap tersedia.
Dengan perasaan apa boleh buat Tong Siau-sian geleng kepala
berulang kali, “Ai, tak heran
kalau selama hidup kau diberi bertugas menjaga pintu istana
dan siapapun tak ada yang bisa
menggeser kedudukanmu. Baiklah, Kim-to-leng berada di sini,
ambillah!”
Nenek Po menjulurkan tangannya untuk menerima, siapa tahu
tangan Tong Siau-sian
mendadak menekan ke bawah, secepat kilat ia mencengkeram
jalan darahnya.
Kedua perempuan buta lainnya terperanjat, cepat mereka
melolos senjata.
Dengan suara tertahan Tong Siau-sian membentak, “Leng-hong,
kuasai mereka, cepat!”
Sesungguhnya Ho Leng-hong sendiripun merasa terkejut dan
heran, tapi lantaran kedua
perempuan buta itu sudah melolos golok masing-masing, tak
sempat baginya untuk
menganalisa sebab musabab terjadinya peristiwa itu, cepat
iapun mencabut goloknya dan
turun tangan . . . .
Ilmu silat kedua orang perempuan buta itu sangat lihay,
sayang Ho Leng-hong bukan saja
memahami ilmu golok Ang-siu-to-hoat, iapun memiliki jurus
sakti anti kelihaian ilmu golok
tersebut, maka cuma lima gebrakan, kedua perempuan buta itu
sudah terdesak hingga mundur
ke sudut pintu istana dan tak mampu berkutik.
Ho Leng-hong segera melompat maju dan membekuk kedua
perempuan buta itu.
Cepat Tong Siau-sian menggeledah anak kunci dari saku nenek
Po, setelah pintu istana
terbuka, segera ia pesan, “Leng-hong, awasi mereka, aku
pergi menolong Pang-tayhiap.”
Sebelum Leng-hong menjawab nona itu sudah menerobos masuk ke
dalam istana es.
Meskipun diliputi rasa sangsi, Leng-hong tidak sempat tanya
gadis itu, dia hanya menduga
tentu Tong Siau-sian mempunyai alasan yang memaksanya
berbuat demikian, mungkin waktu
sudah mendesak, ia tak ingin berdebat lebih jauh dengan
nenek Po, maka terpaksa diambilnya
tindakan tersebut . . . . .
Untung tindakannya ini bertujuan membantunya untuk menolong
orang, jadi apapun juga
tindakannya dapat dimaklumi.
Hawa dingin yang berembus keluar dari balik pintu istana
membuat orang tak tahan, terpaksa
Leng-hong merapatkan pintu batu itu dan memindahkan tubuh
nenek Po serta kedua
perempuan buta itu ke kaki dinding sana agar jalan tidak
teralang.
Tetapi, meski sudah ditunggu sekian lama, ternyata Tong
Siau-sian belum muncul juga.
Leng-hong mulai berpikir, “Jangan-jangan dia menjadi kaku
kedinginan karena tidak makan
obat anti dingin? Atau mungkin dia tidak kenal Pang-toako
dan tidak menemukan di mana ia
berada?”
211
Berpikir sampai di situ, hatinya terasa gelisah, buru-buru
ia membuka pintu batu dan siap
masuk ke dalam . . . .
Mendadak dari lorong gua berkumandang suara langkah kaki
orang yang riuh.
Buru-buru Ho Leng-hong menutup pintu batu, ia menatap ke
sana, segera ia terperanjat.
Sesosok bayangan orang muncul, orang itu memakai baju merah
dengan sulaman benang
emas, ternyata orang inipun Tong Siau-sian.
Leng-hong kucek-kucek matanya, ia pandang pintu batu di
belakangnya, ia menjadi bingung.
Gua itu gelap tak berlampu, dengan ketajaman matanya ia
lihat Tong Siau-sian yang baru
muncul ini tidak berbeda dengan Tong Siau-sian yang masuk ke
istana es tadi, yang satu
sudah berada dalam istana es dan yang lain baru datang, ini
membuktikan bahwa salah
seorang di antaranya adalah gadungan.
Ketika Tong Siau-sian yang baru datang ini menemukan Ho
Leng-hong berada di sini, segera
ia menegur, “Besar amat nyalimu, berani kau datangi istana
es sendirian. Ketahuilah bahwa
perbuatanmu ini merupakan pantangan besar lembah kami, kalau
sampai ketahuan orang, kau
bisa dijatuhi hukuman mati, mengerti?”
Leng-hong tidak menjawab, dia hanya mengawasi orang
lekat-lekat, sebab ia benar-benar tak
bisa membedakan manakah Tong Siau-sian yang asli.
Karena pemuda itu tidak menjawab, Tong Siau-sian maju
beberapa langkah lagi ke depan,
ucapannya dengan suara tertahan, “Orangnya sudah kautolong
belum? Sebentar fajar akan
menyingsing, tidak cepat-cepat kau tinggalkan tempat ini,
apalagi yang kautunggu?”
Leng-hong menarik napas panjang, pelahan dan sepatah demi
sepatah ia menegur, “Siapa
kau?”
“Hei, aneh benar kau ini? Masa tidak kenal siapakah aku?”
“Kenal sih kenal, Cuma aku tidak tahu kau ini asli ataukah
yang gadungan?”
Tong Siau-sian melengak, “Dalam Mi-kok ini hanya ada aku
seorang sebagai Kokcu, masa
ada yang gadungan?”
“Betul,” Leng-hong mengangguk, “barusan ada seorang juga
mengaku sebagai Kokcu dari
Mi-kok, kini ia berada dalam istana es, aku tidak tahu
siapakah di antara kalian yang
gadungan, pokoknya salah satu pasti palsu.”
“Hah, masa ada kejadian begini?” seru Tong Siau-sian
terperanjat, “Wah, kalau begitu dia
pastilah Samkongcu Kim Hong-giok dari Ci-moay-hwe, konon dia
cerdas dan berbakat,
sesuatu yang dilihatnya tak pernah terlupa lagi, diapun
pandai menirukan logat bicara orang
lain, Ho-tayhiap, jangan kau tertipu olehnya . . . .”
“Aku tak mau tertipu oleh siapapun, akupun enggan mengurusi
siapakah di antara kalian ini
Tong Siau-sian dan Kim Hong-giok, aku hanya ingin menolong
orang, siapa bisa
membantuku menolong orang, aku akan percaya kepadanya.”
“Bila kau berharap Kim Hong-giok akan membantumu menolong
orang, keliru besarlah kau,”
kata Tong Siau-sian dengan cemas, “tujuannya masuk ke istana
es tidak lain adalah ingin
mencuri belajar ilmu golok Ang-siu-to-hoat dari lembah
kami.”
“Lantas, apa pula tujuanmu?”
“Aku . . . .” rupanya Tong Siau-sian tidak tahu cara
bagaimana harus memberi penjelasan,
kakinya menggentak tanah dan serunya, “Tentu kuharap bisa
membantumu, kalau tidak, tak
nanti aku menyusul kemari.”
“Mengapa kau membantuku?”
“Karena Tong-popo dan Ci-moay-hwe telah bersekongkol dan
bermaksud jahat terhadap kita
berdua, kini situasinya tidak menguntungkan kita, kau dan
aku harus bekerja sama untuk
menghadapi musuh yang sama.”
“Kaumaksudkan masalah perkawinan?”
“Benar, atas dasar peraturan leluhur ia paksa kita kawin,
padahal tujuan sebenarnya adalah
ingin membinasakan kita berdua, agar ia dapat mengangkangi
Mi-kok sendirian.”
212
Nada ucapannya tak jauh berbeda dengan apa yang diucapkan
Tong Siau-sian pertama tadi,
siapa yang asli dan siapa yang gadungan? Makin lama semakin
sulit untuk dibedakan.”
Leng-hong berpikir sebentar, katanya kemudian, “Dengan cara
bagaimana kau bisa
membuktikan bahwa dirimu adalah Tong Siau-sian sedang dia
adalah Kim Hong-giok?”
“Gampang sekali, kau bisa tanya langsung kepada nenek Po,
suruh dia saja yang
membedakan.”
Leng-hong menggeleng kepala, “Dia seorang buta, jawabnya
belum tentu tepat.”
“Kokcu mempunyai sebuah lencana Kim-to-leng, aku bisa
menunjukkan kepadamu.”
Ho Leng-hong masih juga menggeleng kepala, “Belum pernah
kulihat lencana tersebut, orang
saja bisa dipalsukan apalagi cuma sebuah benda, kan bisa
dicuri atau dipalsukan.”
Tong Siau-sian termenung sebentar, kemudian katanya, “Ah,
betul, kepadaku mungkin kau
tidak percaya, tapi terhadap Pang Wan-kun tentu kau percaya
bukan? Dia berada di luar, kita
boleh memanggilnya ke sini untuk menjadi saksi.”
“Bila seorang berada dalam ancaman sering kali dia akan
bicara bohong, aku pernah tertipu
satu kali, aku tak ingin tertipu untuk kedua kalinya.”
“Ai, lalu dengan cara bagaimana baru kau mau percaya?” tanya
Tong Siau-sian dengan
gelisah.
“Aku pikir, satu-satunya cara yang terbaik adalah menunggu
sampai Tong Siau-sian itu keluar
dari istana es, asal kalian berdua berhadapan satu sama
lain, siapa asli dan siapa gadungan
pasti akan segera ketahuan.”
“Tapi kalau menunggu sampai ia berhasil mempelajari ilmu
golok Ang-siu-to-hoat, bukan
saja jiwa Pang-tayhiap akan lenyap, kaupun takkan lolos dari
kematian, bahkan akupun akan
ikut menjadi korban.”
“Kenapa kau akan ikut jadi korban?”
“Peraturan dalam Mi-kok amat ketat, apabila salah seorang di
antara suami-isteri melanggar
peraturan lembah dan dijatuhi hukuman mati, maka orang
satunya harus ikut berkorban pula,
inilah rencana keji Tong-popo untuk mencelakai kita berdua.”
“Tapi kita sekarang kan belum resmi menikah!”
“Aku adalah seorang Kokcu, setelah perjodohan ditentukan
berarti kita sudah menjadi suamiisteri
. . . apalagi yang perlu kukatakan . . . .”
Ia memang telah mengucapkan semuanya, lambat laun Ho
Leng-hong juga mulai percaya,
sebab sudah sekian lama Tong Siau-sian yang pertama masuk ke
istana es dan hingga kini
belum tampak keluar, jelaslah ia masuk ke dalam istana bukan
untuk menolong Pang Goan.
Tapi, kendatipun ia mulai curiga bahwa gadis yang pertama
adalah Kim Hong-giok, tapi
karena urusan menyangkut keselamatan Pang Goan, dia tak
berani bertindak secara gegabah.
Sementara dia merasa ragu, tiba-tiba dari lorong gua
berkumandang seruan yang gelisah,
“Kokcu, cepat dikit, Tiang-lo-wan sudah mulai bergerak,
mungkin lenyapnya Ho-tayhiap
telah mereka ketahui.
“Kaudengar tidak,” kata Tong Siau-sian dengan cemas,
“sekarang keadaan sangat mendesak,
apakah kau benar-benar rela terjatuh ke dalam perangkap
Tong-popo?”
Sambil menggertak gigi Ho Leng-hong tetap membungkam.
Sejenak kemudian di luar gua kembali terdengar seruan
nyaring, “Kokcu, lampu merah tanda
bahaya telah dipasang dalam perkampungan, kita tak bisa
menunggu lagi . . . .”
Ho Leng-hong jadi nekat, katanya tiba-tiba, “Pergilah lebih
dulu, segera kususul.”
“Mau apa lagi kau tinggal di sini?”
“Aku harus menolong Pang-toako, kalau tidak aku lebih rela
mati di dalam istana es.”
“Sekarang kita sudah sehidup-semati, kalau kau tidak mau
pergi, akupun tidak pergi,
kutemani kau masuk ke istana es untuk menolong
Pang-tayhiap,” kata Tong Siau-sian tegas.
Leng-hong tak bisa menolak niat orang, dia mengangguk dan
segera mendorong pintu batu
itu.
213
Pintu baru terbuka, segera Tong Siau-sian menerobos masuk
lebih dahulu . . . .
Di balik pintu itu masih terdapat sebuah lorong penghubung,
tapi di bawah pantulan cahaya
istana es dan kawah api, lamat-lamat dapat terlihat jelas
keadaan lorong tersebut.
Pintu batu itu berat sekali, Ho Leng-hong harus mengerahkan
tenaga untuk menggeser pintu
itu, baru saja ia akan ikut menerobos masuk, tidak tersangka
dari balik pintu tiba-tiba
berkelebat keluar sesosok bayangan manusia, hampir saja
kedua orang saling bertumbukan.
Orang itu tak lain adalah Tong Siau-sian pertama tadi, kalau
sewaktu masuk ia tidak
membawa apa-apa, maka sekarang tangannya telah bertambah
dengan sebilah golok panjang.
Leng-hong tidak menyangka orang akan bersembunyi di balik
pintu, sebaliknya nona itupun
tidak menyangka orang yang menerjang masuk adalah Ho
Leng-hong, maka pergokan ini
membuat kedua pihak sama-sama kaget.
“Di mana Pang-toako?” bentak Leng-hong cepat.
“Ia sudah mati, aku telah berusaha, tapi gagal menyelamatkan
jiwanya . . . .”
“Omong kosong! Dia berada di mana?” bentak Leng-hong pula.
“Itu? Di kaki dinding sana, kalau tidak percaya periksalah
sendiri,” kata orang itu sambil
menunjuk ke sana.
“Baik, ayo ikut ke sana!” teriak Leng-hong lagi sambil
melintangkan goloknya.
“Aku . . . aku . . . .” belum habis perkataannya, mendadak
golok nona itu membacok.
Ho Leng-hong mundur setengah langkah sambil miring ke
samping, ditangkisnya bacokan itu,
lalu secepat kilat melancarkan serangan balasan.
Dalam waktu singkat kedua orang itu sudah bergebrak
empat-lima jurus, semua gerakan yang
dipergunakan adalah jurus-jurus ilmu golok Ang-siu-to-hoat,
ternyata keduanya sama kuat.
“Kim Hong-giok, rupanya kau!” teriak Leng-hong terkesiap.
Orang itu tertawa dingin, “Benar, sayang sudah terlambat,
aku telah menguasai sembilan jurus
Ang-siu-to-hoat, kukira kau tak bisa lagi mengapa-apakan
diriku.”
“Aku tidak peduli Ang-siu-to-hoat segala,” bentak Leng-hong
dengan gusar, “pokoknya kalau
sampai Pang-toako mengalami sesuatu, aku bersumpah akan
mencincang tubuhmu.”
Baru selesai ia berkata, tiba-tiba terdengar jeritan kaget
Tong Siau-sian, “Jangan lepaskan dia,
Pang-tayhiap telah dibunuhnya....”
Jeritan tersebut bagaikan bunyi guntur di siang bolong,
hampir saja golok panjang di tangan
Ho Leng-hong terlepas dari genggaman, cepat ia tanya, “Ia
benar-benar sudah mati?”
“Lambungnya tertusuk golok perempuan hina itu, lukanya parah
sekali, tapi nyawanya belum
putus.”
Merah membara mata Ho Leng-hong saking gusarnya, sambil
membentak golok segera
membacok Kim Hong-giok.
Keadaan anak muda itu sekarang ibaratnya harimau terluka,
dengan kalap dia lancarkan
serangan secara bertubi-tubi, semua jurus serangan
mematikan.
Entah cuma pura-pura atau memang gentar pada keberingasan
wajah lawan yang mengerikan,
secara beruntun Kim Hong-giok terdesak mundur tiga-empat
tindak.
Kedua orang itu bertarung di depan pintu batu, setelah yang
satu maju dan yang lain mundur,
akhirnya mereka tiba di luar pintu, hawa dingin yang
berembus keluar dari istana es membuat
anggota tubuh mereka terasa kaku, permainan golok otomatis
tak bisa dikembangkan
sebagaimana mestinya lagi.
Ho Leng-hong ingin melukai Kim Hong-giok, tapi dia lupa
menyumbat jalan mundurnya.
Sebaliknya Kim Hong-giok hanya memikirkan bagaimana cara
meloloskan diri, begitu
melihat ada kesempatan ia lantas berpura-pura tidak tahan,
sambil berseru ia terus mundur ke
dinding sebelah kiri.
Leng-hong sangat girang, goloknya berputar dan menyerang
pula.
214
Diam-diam Kim Hong-giok mengerahkan tenaga dalam dan
menangkis bacokan itu dengan
sepenuh tenaga, pada kesempatan tersebut ia berputar dan
menerjang keluar dengan
menyusuri kaki dinding, lalu sambil bergelinding beberapa
kali menerobos lewat di bawah
kaki Ho Leng-hong.
Serangan Ho Leng-hong yang lain belum sempat dilancarkan
lagi, iapun tak menduga Kim
Hong-giok akan mengeluarkan jurus bahaya seperti itu untuk
meloloskan diri, padahal kaki
dinding merupakan sudut mati, untuk membacok ke bawah jelas
tak sempat lagi . . . .
Sementara ia tertegun, Kim Hong-giok telah melompat keluar,
ini berarti pula mereka telah
bertukar arah.
Tentu saja Kim Hong-giok gunakan kesempatan tersebut dengan
baik, begitu melompat
bangun di lantas kabur keluar.
Dengan sendirinya Ho Leng-hong tak mau melepaskannya dengan
begitu saja, sambil
membentak goloknya disambitkan ke depan.
Kim Hong-giok ketika itu mungkin terlalu girang, atau
mungkin terpengaruh hawa dingin
istana es sehingga anggota badannya tak bisa bergerak
selincah dulu, ketika mendengar
desing golok dari belakang, buru-buru ia berusaha berkelit
ke samping, sayang terlambat
setengah langkah, mata golok yang dingin dan tajam sekali
telah menembus bahu kirinya.
Ia mengeluh tertahan dengan sempoyongan, tapi ia tak berani
berhenti, sambil membawa
golok yang masih menancap di tubuhnya ia kabur keluar . . .
Ho Leng-hong mengejar dari belakang, ia sambar golok nenek
Po yang tergeletak di tanah
dan siap mengejar lebih jauh, tapi saat itulah terdengar
Tong Siau-sian berteriak, “Pangtayhiap
tidak tahan lagi, cepat . . . cepat kemari . . . .”
Terpaksa Ho Leng-hong melepaskan Kim Hong-giok kabur dengan
membawa luka dan buruburu
kembali ke dalam sana.
Pang Goan tampak berbaring di sisi dinding, perutnya
terbacok hingga keadaannya sangat
gawat, tapi nyawanya belum putus, ia masih berusaha meronta
untuk duduk.
Leng-hong segera membuang goloknya dan berjongkok, katanya,
“Pang-toako, maafkan aku
datang terlambat.”
Napas Pang Goan tersengal, tapi sekulum senyum masih juga
menghiasi bibirnya, sahutnya
lirih, “Tidak, kedatanganmu belum terlambat, adalah
perempuan hina itu yang datang
selangkah lebih dulu, waktu itu aku sangat lemas karena
lapar, maka perutku kena dibacok
satu kali . . . .”
“Mari kita tinggalkan tempat ini, lukamu perlu cepat diobati
. . . .”
“Jangan, jangan kau angkat diriku meninggalkan tempat ini.”
Cegah Pang Goan sambil
menggeleng kepala, “tempat ini sangat dingin maka darah yang
mengalir keluar dari lukaku
menjadi beku, sebab itu pula aku sanggup bertahan untuk
mengucapkan beberapa patah kata
padamu, sekali kau membawaku meninggalkan tempat ini, aku
akan mati lebih cepat.”
“Benar juga perkataanmu,” bisik Tong Siau-sian, “ikuti saja
keinginannya, dengarkan dulu
pesan apa yang hendak ia sampaikan kepadamu.”
Leng-hong mengangguk, bagaimanapun dinginnya udara dalam
istana es, menetes juga air
matanya yang panas.
“Apakah Siau-cu juga selamat?” tanya Pang Goan dengan napas
tersengal, “kenapa ia tidak
ikut kemari?”
“Ia baik-baik saja,” jawab Leng-hong dengan tersendat, “dia
. . . lantaran ada urusan lain, ia
tak dapat kemari . . . .”
Dalam keadaan seperti ini, ia benar-benar tak tega untuk
memberitahukan keadaan Hui Bengcu
yang sesungguhnya.
“Syukurlah kalau selamat, dulu kita salah menuduhnya yang
bukan-bukan, mulai sekarang
kita tak boleh membuatnya menderita lagi.”
“Aku tahu!” Leng-hong mengangguk, air matanya jatuh
bercucuran.
215
Tiba-tiba Pang Goan tertawa, katanya, “Terus terang, aku
kuatir sekali kalian akan
terpanggang mati dalam kawah api itu, beri tahulah kepadaku,
bagaimana rasanya di sana?
Tentunya panas sekali bukan?”
Ho Leng-hong mengangguk, “Benar . . . . di sana memang panas
sekali . . . tapi kami semua
tidak terluka, kami . . . entah bagaimana harus berterima
kasih kepada Toako . . . .”
“Berterima kasih apa!” kata Pang Goan, “apa yang kulakukan
tidak lebih cuma mendorong
kalian belaka... Bicara terus terang, sungguh akupun ingin
sekali tidur dalam balok es, sayang
aku tak mungkin bisa merasakannya.”
Setelah berhenti sebentar, katanya pula, “Kalian sudah
bertemu dengan Wan-kun?”
“Sudah, iapun sangat baik....”
“Sekarang ia berada di luar gua,” sambung Tong Siau-sian
dengan cepat, “bagaimana kalau
kupanggil dia masuk kemari?”
Pang Goan menggeleng kepala, lalu pegang tangan Ho
Leng-hong, katanya, “Kabulkanlah
permintaanku, jangan salahkan dia yang telah membohongi kita
tempo hari, kutahu iapun
bermaksud baik.”
“Jangan kuatir Toako, tak ada orang yang menyalahkan dia,
aku akan melindunginya serta
mengantar dia bersama anaknya pulang ke Thian-po-hu.”
“Bagus! Bagus sekali!” lambat laun tangan Pang Goan berubah
menjadi amat dingin, sinar
mata pun menjadi pudar, ia celingukan sekejap ke sekeliling
situ, lalu gumamnya,
“Sesungguhnya tempat ini adalah suatu tempat istirahat yang
sukar dicari, sayang udaranya
terlampau dingin . . . .”
“Pang-toako . . .! Pang-toako . . . .” Leng-hong tak dapat
mengendalikan rasa sedihnya, ia
menangis tersedu-sedu.
Di tengah panggilan yang memilukan hati itulah Pang Goan
menghembuskan napasnya yang
penghabisan . . . . .
-----------------------
Pintu batu istana es kembali ditutup, jalan darah nenek Po
dan kedua orang perempuan buta
yang tertutuk kini telah dibebaskan, mereka menerobos lorong
gua dan menuju ke rumah
batu.
Sepanjang jalan tidak ada yang berbicara, jelas hati setiap
orang dicekam oleh perasaan yang
berat.
Dengan membawa luka Kim Hong-giok berhasil melarikan diri,
Pang Goan mengakhiri
hidupnya dalam istana es, sedang keselamatan Hui Beng-cu
masih merupakan sebuah tanda
tanya yang besar . . . .
Yang sudah lewat kini telah lewat, kejadian pada masa
mendatang sukar diduga, hanya satu
hal yang harus segera dihadapi, yakni, Tong-popo tidak akan
melepaskan mereka dari
tuduhan “masuk ke dalam istana es yang terlarang”, bahkan
mungkin orang di luar sedang
menantikan kemunculan mereka.
Barang siapa berani masuk ke daerah terlarang itu,
hukumannya adalah mati. Kendatipun
Tong Siau-sian adalah pejabat Kokcu, sulit baginya untuk
mengelakkan peraturan “hukuman
mati” atas suaminya, asal ia mati, maka kekuasaan memerintah
Mi-kok akan terjatuh ke
tangan Tiang-lo-wan, dan hal inilah yang diidam-idamkan oleh
Tong-popo.
Tidak sulit bagi Tong Siau-sian untuk membayangkan girang
Tong-popo saat ini, tapi
kesalahan ini sudah terbukti dan jelas tidak bisa dibantah
lagi, atau dengan perkataan lain
dalam perebutan kekuasaan kali ini, ia sudah jelas berada di
pihak yang kalah.
Bukan saja kalah dalam berebut kekuasaan, bahkan jiwanya
ikut pula menjadi korban.
216
Ia tidak menyesal, iapun tidak takut, karena sekalipun ia
kehilangan segala-galanya, namun
berhasil mendapatkan cinta yang paling berharga, bagi
seorang gadis hal ini sudah lebih dari
cukup.
Mungkin saja Ho Leng-hong bukan laki-laki paling sempurna di
dunia ini, tapi kerelaannya
untuk memperjuangkan keadilan dan kebenaran bagi Thian-po-hu
membuktikan bahwa ia
seorang lelaki yang jujur, keberhasilannya lolos dari kawah
api membuktikan akan
kecerdasannya, daya ingatnya yang kuat serta keberhasilannya
mempelajari ilmu golok Angsiu-
to-hoat membuktikan kepintaran serta bakatnya yang bagus,
sikap pegang janji serta tidak
lupa kepada budi yang diperlihatkan selama ini membuktikan
pula bahwa dia adalah seorang
lelaki berhati mulia . . . .
Laki-laki semacam inilah merupakan teman hidup yang paling
diidam-idamkan oleh setiap
gadis.
Tong Siau-sian telah mengambil keputusan dalam hati,
sekalipun harus mati, ia rela
mendampinginya sampai akhir hayat.
Selama masih hidup, iapun tak segan-segan mendampingi
kekasihnya untuk mendobrak
kepungan serta berusaha meninggalkan Mi-kok.
Oleh sebab itu, sepanjang perjalanan mendampingi Ho
Leng-hong, ia tidak merasa takut
menghadapi apapun.
Apa yang diduga ternyata benar, dalam rumah batu telah
dipenuhi bayangan manusia.
Sebagai pemimpin adalah Tong-popo, hampir seluruh anggota
Tiang-lo-wan hadir di situ,
kecuali itu, di bawah pimpinan Hoa Jin, dua belas orang jago
berbenang biru dengan golok
terhunus siap sedia di sekitar sana.
Di luar rumah batu masih ada pula dua puluh empat pengawal
perempuan pelaksana hukum
serta hampir ratusan pasukan yang tergabung dalam
Bok-lan-pek-tui dan Bok-lan-hek-tui.
Waktu itu fajar telah menyingsing, di luar sana lautan
manusia sudah berkumpul, sebagian
besar masyarakat lembah telah tiba di luar ruangan batu itu.
Pang Wan-kun tampak dibelenggu dan berada di barisan depan
pasukan pelaksana hukum
Baru saja Ho Leng-hong melangkah masuk ke dalam ruangan
batu, Tong-popo segera
membentak, “Tangkap dia!”
Ke-12 orang berbenang biru serentak mengiakan dan menyerbu
maju.
“Berhenti!” bentak Tong Siau-sian, “kalian mau berontak?”
Bagaimanapun dia adalah Kokcu, begitu dia membentak, Hoa Jin
sekalian lantas tak berani
bergerak lagi.
Tong-popo tertawa dingin, ejeknya, “Tong Siau-sian, tak
perlu kaupamer kuasa sebagai
seorang Kokcu, ketahuilah jabatan itu bukan hak Tong
Siau-sian lagi!”
“Kedudukan Kokcu adalah kedudukan yang turun-temurun,”
bentak Tong Siau-sian lantang,
“sejak dulu sampai sekarang hanya keluarga Tong yang berhak
menjadi Kokcu, siapa yang
berani tidak menghormati diriku?”
“Memang, selama ini kedudukan Kokcu secara turun-temurun
dipegang oleh keluarga Tong,
tapi itu cuma berlangsung sampai kau Tong Siau-sian, menurut
peraturan lembah, Tiang-lowan
berhak memilih Kokcu baru setelah kau meninggal dunia.”
“Tapi sampai sekarang aku belum mati!”
“Ya, belum, tapi hampir. Kau telah setuju kawin dengan Ho
Leng-hong, dan sekarang ia
sudah melanggar peraturan dan harus dijatuhi hukuman mati,
menurut peraturan kau harus
mengiringi pula kematiannya.”
“Ho Leng-hong adalah pahlawan lembah kita, kesalahan besar
apa yang dilakukan dia?”
“Malam-malam ia memasuki lembah belakang dan menerobos ke
dalam istana es secara
paksa, kesalahan tersebut pantas dijatuhi hukuman mati.”
“Memutuskan hukuman mati terhadap seseorang merupakan hak
dan keputusan Kokcu, bukan
Tiang-lo-wan yang berhak memutuskannya dengan begitu saja.”
217
“Jika orang yang melanggar peraturan adalah calon suami
Kokcu, apa lagi Kokcu sendiripun
tersangkut dalam peristiwa ini, tentu saja Tiang-lo-wan
berhak memutuskan hukuman
tersebut.”
“Hehe, omong kosong, sehari aku belum mati, sehari pula aku
menjadi Kokcu Mi-kok, Tianglo-
wan tidak lebih hanya merupakan pemangku sementara bila aku
mati, kalian tidak berhak
merebut kedudukanku sebagai Kokcu dengan begitu saja.
Tong-popo, kau begitu takabur,
berani menghina diriku, tidak menuruti peraturan leluhur,
rupanya kau hendak mengkhianati
lembah dan merombak peraturan?”
“Aku bertindak demikian justru untuk melaksanakan peraturan
leluhur, Ho Leng-hong telah
melanggar peraturan dan harus dijatuhi hukuman mati, menurut
peraturan kaupun harus
mengiringinya mati, apakah kau hendak melanggar peraturan
leluhur kita ini?”
“Bersalah atau tidaknya Ho Leng-hong adalah hakku untuk
memutuskan, sebelum ia
diputuskan bersalah, siapa yang berani tidak mengakui diriku
sebagai Kokcu Mi-kok?”
Saking mendongkol Tong-popo mendengus, tanyanya, “Baik,
anggaplah kau masih seorang
Kokcu, sekarang aku ingin tanya padamu, Ho Leng-hong yang
telah masuk ke daerah
terlarang dengan paksa harus dikatakan berdosa atau tidak?”
“Berdosa atau tidak harus disertai dengan bukti, kau tak
boleh menuduh seenaknya saja, siapa
yang bisa membuktikan ia telah masuk daerah terlarang?”
“Baru saja ia keluar dari lambung bukit, apakah hal ini
belum cukup sebagai bukti?” teriak
Tong-popo.
Tong Siau-sian mengangkat bahu, “Itupun hanya membuktikan ia
memasuki lorong dalam
lambung bukit, bukan bukti ia memasuki istana es, lorong
dalam lambung bukit bukan daerah
terlarang, selama ia tidak masuk ke istana es secara paksa,
menurut peraturan ia tak dapat
dijatuhi hukuman mati, apakah kau menyaksikan dengan mata
kepala sendiri bahwa ia masuk
ke istana es?”
“Sekalipun aku tidak menyaksikan sendiri, nenek Po dan kedua
orang petugas penjaga pintu
istana telah menyaksikannya.”
Tong Siau-sian tertawa, “Wahai Tong-popo, hendaknya
kaubicarakan yang jelas, nenek Po
dan kedua orang petugas itu semuanya buta, hakikatnya tak
mungkin mereka menyaksikan
apa pun.”
Ucapan ini seketika membuat Tong-popo menjadi bungkam.
Sekalipun semua orang yang hadir tahu alasan Tong Siau-sian
terlalu dipaksakan, tak urung
mereka alihkan juga sorot matanya ke wajah nenek Po.
“Mataku memang buta, tapi hatiku tidak buta,” kata nenek Po
dengan tenang, “aku merasa
yakin masih sanggup untuk menjadi saksi apakah Ho Leng-hong
telah masuk ke istana es atau
tidak, cuma tak tahu apakah kalian mau percaya pada
pengakuan si nenek buta atau tidak.”
“Betul,” seru Tong-popo dengan girang, “meskipun mata enci
Po buta, kutahu tindakanmu
selalu jujur dan tidak mengenal kompromi, selaku pemegang
kunci istana es, memang dia
pantas dijadikan saksi.”
“Apakah kesaksianku bisa kalian percayai?” tanya nenek Po
dengan wajah tanpa emosi.
“Pati percaya,” jawab Tong-popo cepat, “enci Po, katakanlah
kesaksianmu itu, kami percaya
padamu.”
Diam-diam Tong Siau-sian amat gelisah, buru-buru ia menyela,
“Nenek Po, aku selalu
bersikap baik padamu, kuminta jangan sampai kaujerumuskan
orang baik ke dalam lembah
kehancuran.”
“Aku si nenek buta tak pernah bermusuhan dengan siapapun,”
kata nenek Po hambar, “aku
hanya tahu menjaga pintu istana es adalah tugas kewajibanku,
apa yang terjadi hari ini akan
kukatakan apa adanya dan bagaimana kejadiannya, aku tidak
peduli kesaksianku ini akan
menyinggung perasaan ataupun akan menguntungkan orang lain.”
“Nenek Po . . . .” rengek Tong Siau-sian dengan suara lirih.
218
“Rekan-rekan seperguruan,” kata Tong-popo segera dengan
suara lantang, “masuk ke daerah
terlarang secara paksa adalah suatu kejadian serius, kalau
Kokcu berkeras menghendaki bukti,
marilah kita dengarkan bersama kesaksian enci Po, apakah Ho
Leng-hong bersalah atau tidak
akan kita putuskan setelah mendengarkan kesaksiannya.”
Seketika itu suasana di luar maupun dalam ruangan batu
menjadi hening, semua orang
menahan napas dan siap mendengarkan pengakuan nenek Po.
“Nah, enci Po,” kata Tong-popo kemudian dengan bangga,
“harap berikan kesaksianmu
dengan suara keras agar setiap orang dapat mendengarkan.”
Berputar biji mata nenek Po yang putih, lalu dengan suara
lantang katanya, “Po Sui-lan
bertugas menjaga istana es sebagai daerah terlarang, untuk
mempertanggung jawabkan
kewajibanku, dengan ini kuberikan kesaksian yang
sebenar-benarnya. Hari ini Kokcu dan Ho
Leng-hong benar-benar telah datang ke istana es . . . .”
Kontan saja Tong-popo dan Hoa Jin sekalian menyambut dengan
sorakan senang.
“Jangan berisik dulu,” bentak nenek Po lantang,
“keteranganku belum selesai kuucapkan . . . .
Sambil tertawa Tong-popo berkata, “Baik, silakan enci Po
menyelesaikan kata-katanya, kami
semua pasti mendukung kesaksian enci Po ini.”
Nenek Po berdehem, lalu serunya lagi dengan suara lantang,
“Aku dapat membuktikan bahwa
Kokcu dan Ho Leng-hong hanya sampai di depan pintu istana
es, mereka sama sekali tidak
melangkah masuk ke dalam istana tersebut!”
Begitu kesaksian ini diutarakan, kontan suasana di
sekeliling tempat itu menjadi sunyi, tak
kedengaran sedikit suarapun, semua orang sama tertegun.
Selang sesaat kemudian, dari luar ruangan baru meledak suara
sorak sorai yang nyaring,
“Hidup Kokcu! Hidup Huma!”
Hampir saja Tong Siau-sian tidak percaya hal itu bisa
terjadi, ditatapnya nenek Po sekejap
dengan sorot mata penuh rasa terima kasih, lama dan lama
sekali ia baru berbisik dengan
gemetar, “Terima kasih banyak, nenek Po!”
Tapi luapan terima kasih yang lirih itu telah tertutup oleh
gemuruh sorak sorai di luar
ruangan, serta merta pasukan pelaksana hukum melepaskan tali
yang membelenggu tubuh
Pang Wan-kun.
Air muka Tong-popo berubah menjadi merah padam, lalu berubah
pucat pias, dengan gemas
serunya, “Bagus sekali tua bangka she Po, kita lihat saja
nanti!”
“Tidak usah menunggu sampai nanti,” jawab nenek Po tenang,
“kauberani memfitnah Kokcu
dengan tuduhan yang bukan-bukan, menghasut khalayak ramai
untuk memberontak, kau
pantas dijatuhi hukuman mati. Hmm, kaukira hari ini bisa
keluar ruangan ini dengan
selamat?”
Tong-popo mendengus, “Hmm, aku tidak percaya ada orang mampu
menahan diriku di sini.
Ayo pergi!”
Sambil mengulap tangannya, ia berjalan keluar ruangan itu.
“Berhenti!” terdengar bentakan nyaring.
Sambil melolos golok panjang milik seorang perempuan buta,
Tong Siau-sian maju ke depan
sambil membentak, “Tong Siok-tin, besar amat nyalimu,
setelah melakukan kesalahan besar,
berani pula kau melawan perintah. Hmm, kau masih menghargai
peraturan lembah atau
tidak?”
“Selaku seorang Tianglo yang memimpin Tiang-lo-wan,
kedudukanku tidak berada di bawah
kedudukanmu sebagai Kokcu, kau tak perlu pamer kekuasaanmu
di depan si nenek.”
“Tong Siok-tin berani melawan dan mengkhianati lembah,
dosanya tak terampunkan, atas
nama Kim-to-leng yang diwariskan leluhur, mulai detik ini
kupecat Tong Siok-tin dari
kedudukannya sebagai Tianglo,” seru Tong Siau-sian dengan
suara lantang, “dengan ini pula
diperintahkan kepada seluruh anggota perguruan agar
bersama-sama menangkap pengkhianat
itu, barang siapa berhasil menangkap Tong Siok-tin, dia akan
kuangkat sebagai pemimpin
219
para Tianglo, barang siapa berkomplot dengan Tong Siok-tin
akan dianggap sebagai
pengkhianat dan dijatuhi hukuman mati.”
Semua anggota lembah Mi-kok saling pandang dengan sangsi,
untuk sesaat mereka tak tahu
apa yang harus dilakukan?”
Tong-popo segera menengadah sambil tertawa terbahak-bahak,
ejeknya, “Tong Siau-sian,
Kim-to-lengmu itu tak lebih Cuma kekuasaan sebesar ini. Hm,
Tiang-lo-wan adalah lembaga
paling tinggi dalam lembah ini, kau tidak berhak menghapus
atau memecat seseorang dari
kedudukannya sebagai Tianglo, sebaliknya kami justru
mempunyai hak untuk memecat kau
sebagai Kokcu yang tak becus . . . .”
Bicara sampai di sini ia lantas berpaling ke arah beberapa
orang Tianglo lain seraya berkata,
“Saudara sekalian, urusan telah berkembang menjadi begini,
lebih baik kita turun tangan saja
membekuk budak ini, entah bagaimana pendapat kalian?”
Beberapa orang Tianglo itu hanya saling pandang saja dengan
terbelalak, sikap mereka
kelihatan sangsi.
Melihat gelagat tidak menguntungkan, Tong-popo segera
memberi tanda sambil membentak,
“Tong Siau-sian tidak becus dan tak pantas memimpin Mi-kok,
Tiang-lo-wan memutuskan
bahwa mulai saat ini dia dipecat dari jabatannya untuk
kemudian memilih Kokcu baru lagi.
Pengawal tangkap dia!”
Seseorang mengiakan sambil melolos senjatanya, ternyata dia
adalah Hoa Jin, tapi ketika ia
celingukan ke sana kemari dan diketahui cuma di sendiri yang
menyahut, ia menjadi gugup
dan ragu untuk bertindak lebih lanjut.
Tong Siau-sian segera mengeluarkan sebilah pisau kecil
berwarna emas, sambil
mengangkatnya tinggi-tinggi ia berseru, “Hoa Jin berani
berkomplot untuk melakukan
pengkhianatan, barang siapa menangkap Hoa Jin, dia akan
kuberi jabatan sebagai Tianglo
berbenang perak!”
Baru saja ucapan itu diutarakan, seseorang segera tampil ke
depan seraya berseru, “Terima
perintah!”
Orang itupun seorang petugas “Benang biru”, dia tak lain
adalah Yu Ji-nio.
“Kau manusia plin-plan dan pengecut,” maki Hoa Jin dengan
gusar, “setelah keadaan berubah
menjadi begini, kenapa kau malah membantu orang lain?”
“Kentut busuk,” bentak Yu Ji-nio, “turun temurun kita
menetap dalam lembah ini, belum
pernah ada orang berani menggeser kedudukan Kokcu, kauingin
memfitnah diriku sebagai
pengkhianat? Hmm, justru aku sekarang hendak membekukmu
untuk menebus dosa. Lihat
serangan!”
Golok panjangnya segera bergetar dan langsung menyerang Hoa
Jin.
Bagaimanapun lebih banyak anak murid Mi-kok yang berjiwa
jujur daripada yang bermaksud
khianat, sekalipun mereka tak berani bertindak ketika
terjadi percecokan antara Kokcu dan
pemimpin Tianglo, tapi terhadap Hoa Jin tak seorang pun yang
merasa takut, begitu Yu Ji-nio
turun tangan, serentak merekapun ikut berkobar jiwa
ksatrianya, sambil berteriak nyaring
masing-masing melolos golok dan ikut mengerubuti Hoa Jin.
Begitulah suasana dalam ruangan telah berubah, dari luar
ruangan pun terjadi pergolakan,
semua anak murid Mi-kok serentak melolos senjata
masing-masing dan ikut terjun dalam
gerakan menentang pengkhianatan.
Melihat masa jaya baginya sudah lewat, dengan penuh
kebencian Tong-popo menggentakan
kakinya ke tanah, lalu sambil putar senjata ia terjang
keluar ruangan.
Bagaimanapun dia seorang Tianglo, tentu saja tenaga dalamnya
jauh lebih sempurna
dibandingkan para jago Benang Biru serta para anggota
pasukan Bok-lan-tui, di mana cahaya
golok berkelebat segera timbul gelombang hawa dingin, kontan
semua orang menyingkir ke
belakang, dengan demikian dalam waktu singkat ia berhasil
menerobos pergi.
220
Menyaksikan hal tersebut, Tong Siau-sian mau turun tangan
sendiri, tapi pada saat itulah
tanpa menimbulkan suara Ho Leng-hong telah melompat ke depan
dan mengadang jalan lari
Tong-popo.
Selama ini beberapa orang nenek lainnya yang tergabung dalam
Tiang-lo-wan tidak
melakukan gerakan apa-apa, jelas mereka tidak setuju dengan
tindakan Tong-popo yang
berkhianat secara terang-terangan itu.
Saat itulah Tong Siau-sian baru bisa mengembuskan napas
lega, bisiknya kepada nenek Po,
“Bila semua pengkhianat telah berhasil dibekuk, aku pasti
akan berterima kasih atas
perlindungan kau orang tua . . . .”
“Tak usah berterima kasih kepadaku,” kata nenek Po sambil
menggeleng, “kalau ingin
berterima kasih, seharusnya kau berterima kasih kepada Ho
Leng-hong.”
“Kenapa?” tanya Tong Siau-sian tercengang.
Nenek Po menghela napas, “Ai, selama berpuluh tahun ini
tidak sedikit sudah orang yang
kuantar masuk ke dalam istana es, meskipun mereka tewas
dalam istana es, tapi tiada bedanya
seperti mati di tanganku, dengan susah payah akhirnya ada
juga seorang yang berhasil keluar
dengan selamat, mana aku sampai hati mencelakai lagi jiwanya
dengan sepatah kataku?”
Tong Siau-sian tertawa, tanyanya pula, “Tapi kau orang tua
selamanya tak pernah bohong,
kenapa sekali ini . . . .”
Biji mata nenek Po yang putih berputar, “Siapa bilang aku
tak pernah bohong? Aku hanya
tidak mendapatkan kesempatan saja. Kalau ada orang mengaku
selama hidupnya tak pernah
bohong, maka pengakuan itu sendiri adalah bohong besar.”
Di dunia ini memang tak ada orang yang tak pernah bohong,
seperti juga di dunia ini tak
pernah ada orang yang tak mengampuni kesalahannya sendiri.
Justru karena semua orang
suka memaafkan kesalahan sendiri, maka mereka suka
berbohong.
------------------------
Sesungguhnya tenaga dalam Leng-hong bukan tandingan
Tong-popo, tapi lantaran ia
memahami jurus kesembilan yang merupakan jurus anti ilmu
golok Ang-siu-to-hoat, maka
setiap gebrakan ia selalu mengawasi keadaan dan membuat
permainan golok Tong-popo
sukar dikembangkan.
Tak sampai lima enam gebrakan, secara beruntun Tong-popo
telah menerima dua kali
bacokan sekalipun tidak parah, namun cukup menggetarkan
sukma Tong-popo.
Setelah sadar bahwa ia bukan tandingan Ho Leng-hong,
tiba-tiba nenek itu berkata lirih, “Hei,
orang she Ho, jangan terlalu mendesak diriku, kau masih
ingin menolong Hui Beng-cu
tidak?”
Tergerak juga hati Ho Leng-hong, serangan goloknya
dikendurkan, lalu balik bertanya, “Kau
sanggup menolongnya?”
“Jika kau mau melepaskan diriku, tentu saja aku mempunyai
cara untuk menolongnya lolos
dari cengkeraman orang.”
“Coba jelaskan dulu!”
“Setelah terluka, sampai sekarang, Samkongcu dari
Ci-moay-hwe belum meninggalkan
lembah ini, hanya aku yang mengetahui di mana dia
bersembunyi, kalau kausetujui untuk
melepaskan diriku dari sini, dia akan kuserahkan padamu,
dengan ia sebagai sandera, apa
susahnya untuk memaksa pihak Ci-moay-hwe membebaskan Hui
Beng-cu.”
Mencorong sinar mata Ho Leng-hong, ia menarik kembali
goloknya seraya bertanya,
“Sekarang dia berada di mana?”
“Sedang merawat lukanya dalam lembah ini, asal Ho-tayhiap
bersedia memberi jalan lewat,
sekarang juga kuajak kau ke sana . . . .”
221
“Baik. Ayo bawa aku ke sana!” golok Leng-hong segera ditarik
kembali dan memberi jalan
lewat, secepat kilat Tong-popo kabur dari situ.
“Leng-hong, cepat cegat dia!” teriak Tong Siau-sian kaget.
Ho Leng-hong mengulapkan tangannya seraya berkata dengan
suara tertahan, “Baik-baiklah
mengatur urusan lembah sini, serahkan orang itu kepadaku,
jangan mengirim orang untuk
menyusulnya, aku akan kembali dengan cepat.”
Tong Siau-sian masih ingin tanya lagi, tapi Ho Leng-hong
telah melayang ke sana menyusul
Tong-popo.
----------------------------
Sebagian besar anak murid Mi-kok telah berkumpul di belakang
lembah ini hingga bangunan
induk terasa lenggang dan sepi.
Tong-popo langsung kembali ke Tiang-lo-wan, ibaratnya anjing
yang kena gebuk, ia pulang
dengan lemas dan murung.
Kendatipun dalam gedung saat itu tinggal beberapa orang
pelayan saja, orang-orang itupun
diusir keluar semua.
Dalam keadaan demikian, kecuali kepada diri sendiri boleh di
bilang ia tidak percaya pada
orang lain lagi, selain itu iapun tak berani berdiam lama
dalam lembah, maka sebelum
meninggalkan tempat itu untuk selamanya, beberapa macam
barang berharga perlu dibawa
serta.
Di antara barang mestika termasuk juga dua bilah golok
pusaka, yang pertama adalah Yan-cipo-
to dari Thian-po-hu, sedang yang kedua adalah golok sabit
dari Hui Beng-cu.
Terhadap asli tidaknya golok mestika Yan-ci-po-to untuk
sementara waktu belum dapat
ditentukan, maka dia hanya menyandangnya di punggung,
sementara golok sabit milik Hui
Beng-cu dipegangnya dan siap dipergunakan untuk menghadapi
segala kemungkinan.
Ho Leng-hong mengadang jalan perginya di tengah halaman,
begitu ia muncul, pemuda itu
segera menegur dengan ketus, “Kim Hong-giok bersembunyi di
mana? Kalau tidak
kauserahkan padaku, jangan harap meninggalkan lembah Mi-kok
dengan selamat.”
Sesudah lolos dari kepungan, apalagi golok mestika sudah
berada dalam genggaman, Tongpopo
kelihatan tidak takut lagi, katanya sambil tertawa,
“Ho-tayhiap, antara kau dan aku
ibaratnya air sumur tak melanggar air sungai, aku harap kau
jangan mendesak orang
keterlaluan, selewatnya hari ini, rasanya kita masih akan
berjumpa lagi.”
“Boleh saja aku tidak mencampuri urusan dalam lembah kalian,
tapi harus kauserahkan Kim
Hong-giok kepadaku, sebab itulah syarat bagimu untuk
meloloskan diri dari sini.”
“Bila orang itu kuserahkan padamu, dapatkah kau menjamin
bahwa Tong Siau-sian akan
mengundurkan diri dari jabatannya dan menyerahkan semua
kekuasaan Mi-kok kepadaku?”
“Itu urusan lembah kalian, aku tidak dapat memberi jaminan
seperti itu.”
“Makanya akupun tak dapat menyerahkan Kim Hong-giok
kepadamu,” jawab Tong-popo
sambil tertawa dingin, “sebab mereka akan mendukungku
kembali ke sini, sudah lama Cimoay-
hwe menyiapkan orang-orangnya di sekitar sini, kalau aku
sampai bentrok dengan
mereka, siapa yang akan mendukungku kembali ke lembah ini?”
“Jadi kau hendak mengingkar janji?” bentak Leng-hong.
“Bukanya aku ingkar janji, terus terang kuberitahu, tadi Kim
Hong-giok telah kabur pergi dari
Mi-kok, apa yang kuucapkan tadi tidak lebih hanya siasat
belaka.”
Betapa geram Ho Leng-hong, bentaknya, “Kalau begitu, jangan
harap kau bisa lolos dari
sini!”
“Ho-tayhiap, sekalipun kau menahan diriku atau menyerahkan
diriku kepada Tong Siau-sian
untuk dijatuhi hukuman, hal inipun tidak bermanfaat bagimu,
sebaliknya bila kau ikut diriku
meninggalkan lembah ini, bisa saja kubawa kau ke markas
rahasia Ci-moay-hwe, tentu saja
222
berhasil atau tidaknya kau menolong Hui Beng-cu bergantung
kepada kepandaianmu sendiri,
aku hanya bertugas membawa jalan, aku tak ingin menyalahi
teman-temanku sendiri.”
Nenek itu sungguh licik dan banyak tipu muslihatnya, jelas
tujuannya hanya ingin
mempergunakan Ho Leng-hong untuk melindunginya meninggalkan
Mi-kok, andaikata tiba
di sarang rahasia Ci-moay-hwe, diapun pasti akan berpihak
kepada Ci-moay-hwe dan
membekuk Ho Leng-hong guna mencari pahala, jadi kalau dia
bilang berniat membantu
pemuda itu menolong Hui Beng-cu, hal ini jelas hanya tipuan
belaka.
Tapi Ho Leng-hong seolah-olah tidak berpikir sampai ke situ,
setelah termenung sebentar, dia
mengangguk, “Baik, aku percaya padamu sekali lagi, kalau kau
berani membohongi pula,
jangan menyesal bila aku tidak sungkan lagi padamu.”
“Jangan kuatir,” kata Tong-popo dengan tertawa, “sekali ini
aku bicara sejujurnya.
Bayangkan sendiri, setelah kabur dari Mi-kok, kecuali menuju
ke Ci-moay-hwe, aku dapat
kabur ke mana lagi?”
“Ayo berangkat!” seru Leng-hong kemudian, segera ia
berangkat lebih dulu meninggalkan
gedung tersebut.
Tiba di mulut lembah, belasan orang pengawal dari
Bok-lan-pek-tui telah mengadang mereka,
seorang petugas dari benang biru segera berkata, “Tong-popo
telah berkhianat dan melarikan
diri, Kokcu memberi perintah agar membekuknya, siapapun
dilarang meninggalkan lembah
ini.”
“Berilah jalan lewat padaku, bila Kokcu menegur nanti,
akulah yang bertanggung jawab,”
sahut Ho Leng-hong.
“Ho-huma adalah tamu agung kami, untuk melepaskanmu pergi
kami masih berani
melakukannya, tapi Tong-popo . . . . .”
“Aku yang membawanya pergi, bila terjadi sesuatu tentu saja
aku pula yang bertanggung
jawab.”
Petugas penjaga lembah itu menjadi serba susah, katanya
dengan ragu, “Tentang ini . . .
bagaimana kalau hamba minta persetujuan Kokcu lebih dulu?”
“Aku ada urusan yang mendesak, tiada waktu lagi untuk
menunggu jawaban kalian,” kata
Leng-hong dengan tidak sabar, “pokoknya sampaikan saja apa
yang kukatakan ini kepada
Kokcu.”
Sampai di sini, tanpa menunggu jawaban lagi, ia lantas
menerobos lewat lebih dulu.
Dengan golok sabit terhunus Tong-popo ikut menerjang keluar
pula.
Para penjaga tak ada yang berani turun tangan mengalangi
mereka, dengan mata terbelalak
terpaksa mereka membiarkan kedua orang itu meninggalkan
lembah.
Pada waktu pergi Tong-popo masih sempat mendamprat dengan
penuh kebencian tapi para
penjaga pura-pura tidak mendengar, setelah kedua orang itu
pergi jauh, satu di antara penjaga
itu secara hati-hati sekali membuntuti kedua orang itu dari
kejauhan.
Sekalipun orang itu mengenakan baju barisan “benang putih”,
kenyataannya dia adalah Pang
Wan-kun.
----------------------------
Yang dimaksudkan sebagai markas rahasia Ci-moay-hwe oleh
Tong-popo, pada hakikatnya
adalah rumah gubuk yang terletak di bukit gerbang di
belakang Mi-kok.
Sepanjang jalan ia lari berdampingan dengan Ho Leng-hong,
ketika mendekati rumah gubuk
itu tiba-tiba ia mengerahkan tenaga dalam dan mempercepat
langkahnya.
Leng-hong kuatir nenek itu akan kabur, buru-buru mengerahkan
tenaga dalam untuk
menyusul.
Satu di depan yang lain di belakang, dalam waktu singkat
kedua orang telah tiba di tanah
lapang di depan rumah gubuk itu.
223
Tiba-tiba Tong-popo mencabut golok lengkungnya sambil
membentak, “Ho Leng-hong,
jangan kau mendesak orang keterlaluan, aku sudah terperosot
seperti ini, tapi kau masih
mengejar tiada hentinya. Hm, biarlah aku beradu jiwa
denganmu.”
Seraya berkata goloknya terus berputar dan menerjang Ho
Leng-hong.
Tapi baru bergebrak beberapa jurus, mendadak ia berlagak
tidak tahan, permainan goloknya
menjadi kalut, bersamaan itu ia berteriak dengan gugup,
“Nona Lik-giok, cepat bantu aku.
Samkongcu telah terjebak dalam Mi-kok, kalian tak dapat
berpeluk tangan belaka....”
Di tengah teriakannya itu, bayangan manusia segera
bermunculan, dalam waktu singkat dua
puluhan orang perempuan berbaju hitam telah muncul di situ.
Perempuan-perempuan berbaju hitam itu semuanya memakai baju
pendek dengan ujung
lengan lebar, rambutnya disanggul tinggi, setiap orang
menggenggam sebilah golok panjang
sempit dan sebilah pisau pendek terselip di pinggang.
Bersamaan itu pula, dari balik rumah gubuk berjalan keluar
dua orang, seorang mengenakan
baju warna hijau dan yang lain berjubah biru.
Yang memakai baju hijau itu adalah Kim Lik-giok, sedangkan
yang memakai jubah biru
belum pernah dijumpainya.
Akan tetapi usia maupun kedudukan perempuan berjubah biru
ini agaknya di atas Kim Likgiok,
ditinjau dari dandanannya jelas dia adalah seorang perempuan
asing suku Ainu.
Begitu muncul ia lantas membentak, “Tahan!”
Bahasa yang dipergunakan adalah Bahasa Han, akan tetapi
logatnya kaku sehingga
kedengarannya sangat lucu.
Tong-popo dan Ho Leng-hong segera menarik kembali
serangannya sambil mundur ke
belakang, serentak para perempuan Ainu yang berada di
sekeliling tempat itu bergerak maju
dan mengurung kedua orang itu rapat-rapat.
Tong-popo kelihatan tercengang, serunya, “Nona ini adalah .
. . .”
“Dia adalah Toasuci,” jawab Kim Lik-giok, “bernama Kim
Lam-giok, ketua perkumpulan
kami.”
Kim Lam-giok! Ketua Ci-moay-hwe!
Tanpa terasa Ho Leng-hong berpaling ke arah perempuan itu,
usia Kim Lam-giok baru 26 –
27 tahun, amat cantik dan sedikit agak genit, diam-diam
hatinya tergiur juga.
Sementara itu Tong-popo tersenyum ketika mengetahui bahwa
perempuan itu adalah ketua
Ci-moay-hwe, katanya cepat, “O, rupanya Toakongcu, terimalah
hormatku.”
“Tak usah banyak adat,” sahut Kim Lam-giok ketus, “Benarkah
apa yang kau ucapkan tadi?”
“Aku dengan perkumpulan kalian telah mengikat tali
persahabatan, untuk apa aku
berbohong?”
“Tapi, mengapa kau menderita kekalahan sedemikian
mengenaskan? Kenapa Sammoay bisa
terjebak dalam Mi-kok?”
“Semuanya itu adalah gara-gara orang she Ho ini . . .” sahut
Tong-popo sambil menuding Ho
Leng-hong dengan ujung goloknya.
Secara ringkas diceritakannya bagaimana Ho Leng-hong dan
Tong Siau-sian memasuki istana
es, bagaimana Kim Hong-giok terluka dan bagaimana nenek Po
memberikan kesaksiannya . .
. .
Tampaknya Lam-giok tidak tertarik pada urusan Tong-popo
berebut kekuasaan dengan Tong
Siau-sian, semua perhatiannya hanya tertuju pada soal Kim
Hong-giok, kembali ia tanya,
“Kalau Sammoay terluka, mengapa kau tidak membawanya kemari?
Kenapa kau
meninggalkannya dalam lembah?”
“Setelah terluka parah, Samkongcu tidak leluasa untuk
bergerak, terpaksa kusembunyikan di
dalam gua di balik gunung-gunungan dalam taman Tiang-lo-wan,
tempat itu sangat rahasia
dan tak mungkin bisa ditemukan orang, setelah urusanku
gagal, sebetulnya aku hendak
menolongnya kabur, tapi orang she Ho ini mengikuti diriku
terus menerus, dalam keadaan
224
demikian terpaksa kupancing ia kemari. Bila Hwecu ingin
menolong Samkongcu, silakan
membekuk Ho Leng-hong lebih dulu, kemudian kita bersama-sama
kembali ke Mi-kok dan
melenyapkan Tong Siau-sian, tentu Samkongcu bisa kita
selamatkan.”
Kim Lam-giok mendengus, “Hmm, maksudmu kami harus membantumu
untuk melenyapkan
musuh tangguhmu lebih dulu, kemudian mengantarmu pulang
untuk menjadi penguasa Mikok?”
“Tidak, aku tidak bermaksud begitu,” sahut Tong-popo cemas,
“setelah terjebak dalam
lembah, keadaan Samkongcu berbahaya sekali, kita tak bisa
mengulur waktu lagi, kendatipun
kalian membantuku, sama artinya menolong Samkongcu, tindakan
ini akan menguntungkan
kedua pihak.”
“Ya, tapi urusan beradu jiwa dengan musuh, kauminta
Ci-moay-hwe melakukannya bagimu?”
“Sebetulnya kita tak perlu beradu jiwa dengan musuh,” kata
Tong-popo lagi, “Ho Leng-hong
adalah calon suami Tong Siau-sian, asal kita berhasil
membekuknya, tidak sulit untuk
memaksa Tong Siau-sian menuruti kehendak kita!”
“Kalau begitu, silakan kau sendiri membekuk orang itu!”
“Tapi . . .” Tong-popo menjadi sangsi, “orang ini telah
berhasil menguasai golok lembah
kami, dengan kekuatanku seorang sulit merobohkan dia ....”
“Lantas apa gunamu kecuali berpeluk tangan menunggu hasil
yang menguntungkan, apa yang
bisa kau lakukan?” bentak Kim Lam-giok.
Sambil mengulap tangannya ia lantas berseru, “bunuh orang
itu . . . .”
Belum habis ucapannya, Kim Lik-giok yang berada di
sampingnya tiba-tiba menyela,
“Tunggu sebentar, masih ada persoalan hendak kutanyakan
padanya.”
Perempuan Ainu yang berada di sekeliling telah mengangkat
golok tinggi-tinggi sambil maju
memperkecil lingkaran kepungan, mereka telah siap
melancarkan serangan.
“Tong-popo,” kata Lik-giok kemudian, “kita telah bekerja
sama, adalah pantas kalau masingmasing
berusaha dengan sepenuh tenaga dan saling tolong-menolong,
kini Sammoay terluka,
kau tidak melindunginya, sebaliknya malah kabur sendiri, tak
heran kalau Toaci menjadi
marah.”
“Kalian hanya menyalahkan diriku, kenapa tidak menyalahkan
diri sendiri?” kata Tong-popo
dengan marah, “ketika Kim Hong-giok menyeludup ke dalam
istana es untuk mencuri belajar
Ang-siu-to-hoat, sebelumnya ia tak pernah memberitahukan
apa-apa kepadaku, tapi setelah
kejadian itu aku telah menyembunyikan dia, apakah akupun
salah?”
“Tentu saja bukan seluruhnya kesalahanmu, aku ingin tanya
padamu, benar amankah tempat
sembunyi Sammoay?”
“Tanggung . . .”
“Tanggung tidak aman!” tiba-tiba seorang menyela ucapan
Tong-popo.
Menyusul ucapan tersebut, serombongan besar bayangan orang
melayang ke atas tanah
lapang . . . . mereka adalah kedua belas jago “kelompok
benang biru” yang memimpin empat
puluhan orang pasukan berbenang hitam yang tergabung dalam
Bok-lan-pek-tui.
Di tengah berkelebatannya bayangan merah, dalam waktu
singkat puluhan perempuan pendek
berbaju hitam suku Ainu itu sudah terkepung.
Sebagai pemimpinya bukan lain adalah Tong Siau-sian. Kokcu
lembah Mi-kok, sedang yang
berbicara adalah Pang Wan-kun.
Dua anggota Bok-lan-pek-tui menggotong sebuah pembaringan
kayu, di atas pembaringan
membujur tubuh Samkongcu Kim Hong-giok yang tertutuk jalan
darahnya.
Air muka Kim Lam-giok dan Kim Lik-giok berubah menjadi pucat
seperti mayat, mereka
menatap Kim Hong-giok yang berada di pembaringan dengan rasa
cemas dan gelisah.
Keadaan Tong-popo lebih mengenaskan lagi, ibaratnya seekor
anjing liar yang menghadapi
jalan buntu, dengan sinar mata yang penuh rasa cemas ia
celingukan ke sana kemari sambil
berusaha keras mencari kesempatan untuk kabur.
225
Tapi hampir ratusan orang telah mengepung sekeliling tempat
itu, cahaya golok berkilauan,
apa lagi di sampingnya masih berdiri seorang Ho Leng-hong
yang mengawasinya tanpa
berkedip, ingin kabur? Jelas bukan pekerjaan gampang.
Walaupun Pang Wan-kun tidak mengenakan seragam Mi-kok, kini
ia merupakan seorang
yang mempunyai kedudukan tinggi dalam Mi-kok, terdengar ia
berseru dengan suara lantang,
“Ci-moay-hwe bukan saja berani memasuki tempat terlarang
lembah kami dan mencuri
belajar ilmu silat kami, kalian pun berani pula melindungi
buronan lembah kami, bicara soal
kesalahan kalian pantas dihukum mati, bila ada di antara
kalian yang mau melepaskan senjata
dan menyerahkan buronan, Kokcu kami bersedia mengampuni dosa
kalian dengan memberi
jalan hidup. Nah, sekarang siapa yang ingin hidup dan siapa
ingin mati terserah pada pilihan
kalian sendiri.”
Kim Lam-giok dan Kim Lik-giok tidak bicara apa-apa, kedua
puluh orang perempuan Ainu
pun tak ada yang melepaskan senjata, jelas kendatipun mereka
merasa tak bisa menang
menghadapi lawan lihai, namun mereka pantang menyerah dengan
begitu saja.
Menyaksikan keadaan ini, Pang Wan-kun berpaling ke arah Tong
Siau-sian, gadis itupun
mengangguk.
Hal ini berarti segala sesuatunya telah diserahkan kepada
Pang Wan-kun untuk memutuskan.
Dengan wajah serius pelahan Pang Wan-kun mengangkat tangan
kanannya, lalu berkata,
“Kalian sendiri yang mencari mampus, jangan menyesal jika
pihak kami tidak memberi
kesempatan lagi kepada kalian!”
Baru saja ia hendak menitahkan anak buahnya untuk
melancarkan serangan, tiba-tiba Kim
Lam-giok menengadah sambil tertawa terbahak-bahak....
“Hei, kematian sudah berada di ambang pintu apa yang kau
tertawakan?” bentak Wan-kun.
“Benar, ilmu golok Ang-siu-to-hoat dari Mi-kok memang tiada
tandingan di dunia ini, apalagi
dengan jumlah orang yang banyak, bila terjadi pertarungan
mungkin saja Ci-moay-hwe kalah,
tetapi sebelum menderita kekalahan total, kami pun tak akan
melepaskan orang yang berada
di tangan kami.
Sambil berpaling ke arah rumah gubuk, bentaknya, “Suheng,
gusur ke keluar orang-orang
itu!”
Dari dalam rumah gubuk terdengar suara orang menyahut,
menyusul muncul serombongan
orang, orang pertama adalah laki-laki setengah umur bertubuh
pendek tapi kekar, di
belakangnya mengikuti dua orang laki-laki berbaju pendek dan
menggusur seorang lelaki dan
seorang perempuan.
Lelaki itu berusia lima puluhan, berwajah keren, bermuka
merah, beralis tebal dan dibelenggu
oleh tali sekujur badannya sehingga mirip seorang tawanan.
Yang perempuan adalah Hui Beng-cu, iapun dibelenggu kencang
dengan golok dipalangkan
pada tengkuknya.
“Ho Leng-hong!” kata Kim Lam-giok kemudian, “tahukah kau
siapa tawanan laki-laki ini?
Jika kau ingin tahu, silakan tanya sendiri kepada Pang
Wan-kun!”
“Tak perlu tanya, aku tahu dia pastilah pemilik gedung
Hiang-in-hu dari Hu-yong, Tay-yangto
(golok matahari) Hui Pek-ling!”
“Hahaha, kau memang pintar sekali!” kata Kim Lam-giok sambil
tertawa, “Kalau begitu, kau
tentu mengetahui bukan, seandainya orang-orang Mi-kok sampai
turun tangan, apa yang akan
kuperbuat terhadap kedua orang ayah dan anak ini?”
Hawa amarah terpancar dari wajah Ho Leng-hong, bentaknya
dengan menahan geram,
“Perselisihan kalian dengan Mi-kok apa sangkut pautnya
dengan mereka ayah dan anak?
Tidakkah kau merasakan perbuatanmu itu terlalu rendah dan
kotor?”
“Mereka ayah dan anak mempunyai hubungan dengan kau, dan kau
adalah tamu agung Mikok,
asal kaumau tampil ke depan, perselisihan di antara kedua
pihak baru bisa terselesaikan,”
jawab Kim Lam-giok dengan tertawa.
226
Leng-hong hanya mendengus dan tidak berkata apa-apa.
Kembali Kim Lam-giok berkata, “Kami tidak mempunyai
permintaan lain, aku hanya ingin
menggunakan kedua orang ini untuk ditukar dengan Sammoayku
Hong-giok, kemudian Cimoay-
hwe akan segera angkat kaki dari Tay-pa-san ini, mengenai
Tong-popo, kuserahkan
penyelesaiannya kepada kalian, entah bagaimana pendapat
Ho-tayhiap dengan syarat ini?”
Belum sempat Ho Leng-hong menjawab, dengan gusar Tong-popo
telah berteriak,
“Perempuan busuk, lantaran posisiku sudah tersudut, maka kau
‘setelah menyeberang sungai
lantas menghancurkan jembatan’? Hm, terus terang
kuberitahukan padamu, tidak segampang
itu rencanamu bisa terpenuhi, bila aku si nenek tak mampu
meloloskan diri, kalian perempuan
asing busuk juga jangan harap bisa meninggalkan tempat ini
dengan selamat.”
“Hei, apa gunanya kau marah kepada kami?” ejek Kim Lam-giok,
“bukannya aku tak sudi
membantumu, adalah kau yang mencelakai Sammoay lebih
dahulu!”
Kemarahan nenek Tong tak terkendalikan lagi, tiba-tiba ia
putar goloknya dan menerjang ke
arah rumah gubuk itu.
Begitu dia turun tangan, serentak perempuan-perempuan Ainu
yang berada di sekeliling
sanapun turun tangan mengalanginya, serentak cahaya golok
dan bentakan nyaring lantas
berjangkit di sana sini.
Sekalipun jumlah perempuan Ainu itu sangat banyak, ilmu
golok mereka jauh ketinggalan
bila dibandingkan Ang-siu-to-hoat dari Mi-kok, begitu
pertarungan berkobar, beruntun empat
lima orang telah terluka, Tong-popo berhasil menerobos
lingkaran tersebut.
Tapi di luar lingkaran kepungan perempuan Ainu itu masih ada
sekelompok besar anak murid
Mi-kok.
Dengan tenaga dalamnya yang sempurna, secara nekat Tong-popo
menerjang.
“Cegat jalan perginya, mati atau hidup, bekuk dia!” bentak
Pang Wan-kun.
Empat jago “benang biru” serentak maju bersama mengadang
jalan pergi Tong-popo.
Waktu itu Tong-popo mulai menyadari lemahnya kekuatan
sendiri, bukan pekerjaan gampang
untuk menembus kepungan rapat itu, tapi iapun sadar bila
menyerah berati mati, sebaliknya
kalau nekat mungkin masih ada harapan untuk hidup, maka
seperti harimau terluka, goloknya
diputar sedemikian rupa untuk menghadapi kepungan musuh.
Baru tiga-empat gebrakan, salah seorang lawan kena dibacok
bahunya sehingga melompat
mundur.
Seorang jago kelompok benang biru dengan cepat melompat maju
untuk menutup kekosongan
tersebut, dengan demikian posisinya masih tetap empat lawan
satu.
Makin lama Tong-popo makin nekat, di tengah
bentakan-bentakan gusar yang nyaring,
kembali ia berhasil membacok roboh seorang lawan.
Begitu orang itu terluka dan mundur, segera orang lain
menutupi kekosongan tersebut,
sedikitpun tidak memberi peluang bagi nenek Tong untuk
melarikan diri. Keadaan tersebut
amat tidak menguntungkan nenek Tong, karena kawanan jago
benang biru berjumlah dua
belas orang, sedang ia cuma seorang diri, apalagi di luar
lingkaran kepungan masih ada empat
puluh orang lebih pasukan Bok-lan-tui.
Pertarungan ini betul-betul pertarungan kalap seperti seekor
binatang yang terjebak, sengit
dan tegang, seperti demonstrasi kelihayan ilmu golok aliran
Mi-kok, semua ini membuat para
perempuan Ainu yang berada di sekitar situ menjadi tertegun.
Baju merah saling berkelebat, cahaya golok menyilaukan mata.
Bagaimanapun Tong-popo
hanya seorang diri, dalam suatu kesempatan akhirnya suatu
bacokan sempat mampir juga
pada pahanya.
Darah segera berhamburan membasahi pakaiannya yang berbenang
perak itu, begitu
kehilangan banyak darah, tenaga makin lemah, gerakannya jadi
lamban, akhirnya lengan kiri
dan pinggang juga kena bacokan.
227
Tong-popo tidak tahan lagi, sambil melepaskan serangan,
buru-buru ia mundur dengan
sempoyongan.
Tiba-tiba satu tangan memayang tubuhnya, menyusul terdengar
Ho Leng-hong menghela
napas panjang, “Ai, apa gunanya saling membunuh dengan
sesama saudara perguruan,
lepaskan golokmu Popo!”
Sekuat tenaga Tong-popo bermaksud menyerang pula, tapi
pergelangan tangan segera
kesemutan dan golok lengkung sudah dirampas oleh Ho
Leng-hong.
Segenap anggota Mi-kok menyambut kejadian itu dengan sorak
kegirangan, serentak mereka
menerobos kepungan perempuan-perempuan Ainu dan berkerumun
ke depan . . . .
“Jangan buru-buru turun tangan,” seru Ho Leng-hong, “ada
yang hendak kukatakan lebih
dulu.”
Dengan sebelah tangan memegang golok dan tangan lain
memayang Tong-popo, pemuda itu
berkata lebih jauh, “Nona Tong, bersediakah kau mengabulkan
permintaanku?”
“Kenapa? Kau ingin mintakan ampun baginya?”
“Sebenarnya aku tidak berhak mintakan ampun bagi Tong-popo
yang telah melanggar
peraturan Mi-kok, tapi bagaimanapun dia adalah ahli waris
Ang-ih Hui-nio, ia keblingar dan
melakukan kesalahan besar lantaran kemaruk kekuasaan, apakah
nona bersedia memandang
hubungan persaudaraan dan mengampuni jiwanya? Biarkan dia
hidup sampai akhir hayatnya
alam lembah dengan status sebagai orang hukuman!”
Tong Siau-sian mengernyitkan alis, lalu berkata, “Ia telah
menipumu masuk ke istana es,
berulang kali ingin mencelakai jiwamu, apakah kau telah
melupakan semua itu?”
Ho Leng-hong tertawa getir, “Bila mana bisa mengampuni
orang, ampunilah dia! Ia sudah tua
dan paling banter hidup beberapa tahun lagi, apa salahnya
kalau kita ampuni jiwanya dan
memberi kesempatan kepadanya untuk melewatkan sisa-sisa
kehidupannya saat ini?”
Tong Siau-sian termenung sejenak akhirnya ia mengangguk,
“Baiklah, kukabulkan
permintaanmu, tapi ilmu silatnya harus dipunahkan dan
sepanjang hidupnya ditahan dalam
penjara!”
“Terima kasih, nona!” Leng-hong segera memberi hormat.
Ia lantas melepaskan golok mestika Yan-ci-po-to dari
punggung Tong-popo, menutuk jalan
darahnya dan menyerahkan nenek itu kepada dua orang petugas
benang biru untuk
menggusurnya pergi.
Semua perempuan Ainu yang berada di sekitar situ dapat
mengikuti adegan tersebut, mereka
sama terharu sehingga banyak di antaranya tanpa sadar
menurunkan samurainya masingmasing.
Ho Leng-hong menyapu pandang sekejap wajah orang-orang di
sekelilingnya, lalu dengan
suara lantang berkata, “Kalian semua adalah perempuan
baik-baik bangsa Ainu, kenapa kalian
mau diperalat orang dan jauh-jauh menyeberangi lautan datang
ke Tionggoan untuk
mengantar kematian? Ketahuilah, laki-laki dan perempuan
secara kodrat mempunyai
kewajiban yang berbeda, perempuan Ainu terkenal bijak dan
alim, apa gunanya kalian datang
ke wilayah Tionggoan sini? Apakah kalian tidak rindu pada
orang tua yang berada di
negerimu sendiri?”
Perempuan Ainu itu saling pandang tak seorang pun bersuara
atau memberi komentar.
“Ho Leng-hong, jangan kau memecah belah kekuatan
Ci-moay-hwe!” teriak Kim Lam-giok,
“kami perempuan bangsa Ainu sudah muak dan tak tahan
diperbudak oleh kaum pria macam
kau, sebab itu kami mengambil keputusan untuk mendirikan
Ci-moay-hwe, kamipun ingin
membuat kaum lelaki merasakan bagaimana rasanya kalau
ditindas dan diperbudak orang.”
“Sekalipun demikian, sepantasnya kaudirikan Ci-moay-hwe di
negerimu sendiri yang
menindas dan memperbudak kalian dan bukan laki-laki bangsa
Tionggoan, apa gunanya
kalian bikin kacau di wilayah Tionggoan kami?”
228
“Ini . . . .” seketika Kim Lam-giok terbungkam, tapi setelah
berpikir sebentar, katanya lagi,
“hal ini disebabkan daratan Tionggoan sangat luas dan
rakyatnya banyak, kami akan
mendirikan Ci-moay-hwe di sini lebih dulu, setelah daratan
Tionggoan kami kuasai, tidaklah
sulit bagi kami untuk menguasai bangsa Ainu.”
Ho Leng-hong tersenyum, katanya, “Sayang perempuan Tionggoan
kebanyakan berwatak
bajik, tak mudah mereka terpengaruh, kalau tidak percaya
tanyalah kepada puluhan orang
perempuan Tionggoan yang hadir di sini, siapa di antara
mereka yang mau menggabungkan
diri dengan Ci-moay-hwe?”
Puluhan anggota Mi-kok sama tergelak, mereka merasa
persoalan Ci-moay-hwe ini sangat
lucu dan tak seorang pun tertarik untuk menjadi anggota.
Tiba-tiba Leng-hong berkata dengan kereng, “Masalah
Tong-popo telah berakhir, seperti apa
yang dijanjikan oleh Mi-kok Kokcu, barang siapa ingin pulang
ke negeri asalnya dalam
keadaan hidup boleh segera membuang senjatanya ke tanah,
masing-masing akan diberi
pesangon seratus tahil perak untuk ongkos pulang, kalau
tidak, maka Tay-pa-san akan
menjadi kuburan kalian untuk selamanya.”
Baru selesai ia berseru, belasan orang di antara dua puluhan
perempuan Ainu itu membuang
senjata mereka dan mengundurkan diri ke samping.
Buru-buru Kim Lam-giok membentak dengan bahasa Ainu,
ternyata bentakan itu tak ada
gunanya, kembali ada beberapa orang membuang senjata mereka.
Kim Lik-giok menjadi gugup, katanya dengan agak gemetar,
“Ho-tayhiap, kami tidak ingin
memusuhi dirimu, asalkan Sammoay Hong-giok dilepaskan, kami
segera akan angkat kaki
dari sini.”
“Ya, kalau tidak terpaksa kami akan bunuh Hui Pek-ling dan
putrinya lebih dulu, kemudian
baru bertarung mati-mati melawanmu,” sambung Kim Lam-giok.
Ho Leng-hong menggeleng kepala, “Kim Hong-giok telah mencuri
belajar ilmu aliran Mikok,
perbuatannya itu melanggar peraturan Mi-kok, aku tidak
berhak melepaskannya, kalau
kalian berani melukai ayah dan anak keluarga Hui itu, jangan
harap kalian bisa lolos dengan
selamat.”
“Barusan kau telah mintakan ampun bagi Tong-popo, sekarang
apa salahnya kamipun
mintakan ampun buat saudaraku?” pinta Kim Lik-giok.
“Tong-popo adalah anggota lembah, sebaliknya Kim Hong-giok
hendak meninggalkan
lembah ini, jadi aku tak bisa memintakan ampun baginya.”
Kim Peng yang sejak tadi membungkam mendadak membentak, “Ho
Leng-hong, jangan
latah, kalau punya kepandaian, beranikah bertaruh denganku?”
“Bertaruh bagaimana?” tanya Leng-hong.
“Beranikah kau berduel denganku tanpa menggunakan ilmu golok
aliran Mi-kok, jika kau
menang, kami bersedia membubarkan Ci-moay-hwe, semuanya
bergabung dengan Mi-kok
dan selamanya tidak pulang ke negeri asal.”
“Seandainya aku kalah?” tanya Ho Leng-hong sambil tertawa.
“Kalau kaukalah, maka harus kausuruh Tong Siau-sian
membubarkan Mi-kok dan bergabung
dengan Ci-moay-hwe, Mi-kok akan menjadi pusat markas besar
perkumpulan Ci-moay-hwe
kami.”
“Maaf, aku tak dapat menerima taruhan seperti itu, karena
Mi-kok bukan milikku,” kata
Leng-hong sambil menggeleng kepala.
“Kau tidak berani menerima tantanganku?” ejek Kim Peng
sambil tertawa dingin.
“Bukannya tidak berani, aku tak bisa menyanggupi . . . .”
“Aku setuju!” mendadak seorang menyambung.
Orang itu ternyata adalah Tong Siau-sian.
Leng-hong melenggong, katanya cepat, “Nona, persoalan ini
bukan masalah kecil, Mi-kok
mempunyai aturan leluhur yang ketat, andaikata . . . .”
229
“Tak ada andaikata, aku percaya kau pasti akan merebut
kemenangan.”
“Sudah lama Kim Peng berdiam di wilayah Leng-lam,” kata
Leng-hong dengan kening
berkerut, “ia sudah apal sekali Tay-yang-sin-to (tiga belas
bacokan panas matahari) dari
Hiang-in-hu, aku tidak mempunyai keyakinan akan menangkan
perarungan ini.”
Tong Siau-sian tertawa, “Dia Cuma berlatih ilmu golok dan
tak pernah berlatih ilmu pedang,
lagipula kecuali Ang-siu-to-hoat, di dunia dewasa ini ada
ilmu golok macam apakah yang
sanggup menandingi Poh-in-pat-tay-sik (delapan jurus sakti
pembuyar mega) kemahiranmu
itu?”
“Kokcu sendiri tidak kuatir, apalagi yang kaukuatirkan?”
bisik Pang Wan-kun, “turun
tanganlah, beri ajaran setimpal pada si kate itu!”
Kenyataannya tidak mengizinkan Ho Leng-hong untuk bersangsi
lebih lama, karena waktu itu
Kim Peng dengan langkah lebar telah menuju ke tengah arena,
semenara perempuanperempuan
Ainu serta anggota Mi-kok yang berada di tanah lapang telah
mengundurkan diri
dari situ.
Terpaksa Ho Leng-hong mengangkat bahu, setelah menyelipkan
Yan-ci-po-to ke ikat
pinggang, sambil menenteng golok lengkung ia menyongsong ke
depan.
Setelah kedua orang itu berdiri berhadapan, ternyata Ho
Leng-hong lebih tinggi satu kepala
daripada Kim Peng, sebaliknya pinggang Kim Peng satu kali
lebih besar dibandingkan
pinggang Ho Leng-hong.
Yang satu langsing dan jangkung, yang lain kekar dan pendek,
masing-masing telah
mengambil posisi siap tempur.
Ho Leng-hong membawa dua bilah golok, Kim Peng juga memegang
samurai panjang dan
sebilah pedang pendek.
“Ingat!” kata Kim Peng kemudian sambil menengadah, “kau tak
boleh menggunakan Angsiu-
to-hoat dari Mi-kok!”
“Jangan kuatir!” sahut Leng-hong sambil mengangguk.
“Kita tidak membatasi jumlah jurus, pokoknya menang-kalah
ditentukan bila salah seorang
terkena, barang siapa berhenti di tengah jalan, dia dianggap
kalah.”
“Boleh!”
“Untuk memperoleh kemenangan, semua pihak diperkenankan
mempergunakan cara apapun,
tapi hanya terbatas saling menutul saja.”
“Baik!”
Tiba-tiba Kim Peng berseru ke arah belakang Ho Leng-hong,
“Hei, nona, harap mundur
sedikit, tidak boleh membantu secara diam-diam!”
Ho Leng-hong mengira ada orang hendak membantunya secara
diam-diam, cepat ia berpaling
. . . . .
Pada saat ia berpaling itulah cahaya golok secepat kilat
menggulung pinggangnya. Ternyata
Kim Peng hanya pura-pura membentak untuk mengalihkan
perhatian pemuda itu, lalu ia
menyergap secepat kilat.
Karena tidak menyangka, hampir saja Ho Leng-hong termakan
serangan itu, buru-buru ia
bergeser ke samping dan putar badan . . . . .
Kendatipun tebasan itu berhasil dihindari, tapi Kim Peng
telah berhasil merebut posisi di atas
angin, samurainya berputar sedemikian rupa sehingga berwujud
satu lingkaran sinar, dalam
sekejap ia telah melancarkan tujuh-delapan kali tebasan
maut.
Di bawah tekanan musuh yang bertubi-tubi, Ho Leng-hong tak
sempat menghentikan gerak
tubuhnya, dia terdesak mundur sejauh satu tombak lebih, ia
membentak dan segera ayun
goloknya untuk menangkis dengan keras lawan keras.
“Trang!” mendadak Ho Leng-hong merasa tangannya menjadi
ringan, ternyata golok
lengkung itu patah menjadi dua.
230
Ho Leng-hong jadi teringat pada cerita Hui Beng-cu,
dikatakan bahwa ayahnya, Hui Pek-ling,
terpikat oleh Kim Lam-giok lantaran ingin mencari sebilah
golok mestika, rupanya golok
mestika yang berada di tangan Kim Peng inilah yang
dimaksudkan.
Padahal golok lengkung juga golok pilihan, siapa sangka
sekali bentrok lantas kutung menjadi
dua, pantas Kim Peng seperti begitu yakin pada pertarungan
ini, rupanya ia mengandalkan
golok mestika tersebut.
Tanpa senjata di tangan, posisi Ho Leng-hong menjadi
berbahaya, terpaksa ia buang gagang
golok itu, ia berjumpalitan di udara dan melayang lewat di
atas kepala Kim Peng, kesempatan
itu dipergunakan melolos golok mestika Yan-ci-po-to yang
terselip di pinggang itu.
Kendatipun Yan-ci-po-to telah dipoles dengan cairan air
raksa sehingga menutupi
ketajamannya, paling sedikit ia tak kuatir goloknya akan
terpapas kutung lagi.
Oleh sebab itu, begitu melayang turun ia lantas
mengembangkan goloknya dan melancarkan
serangan balasan.
Kim Peng masih juga berusaha untuk mengutungi Yan-ci-po-to,
tapi setelah beberapa kali
bentrokan tidak berhasil, ia mulai kuatir dan ketakutan.
Dengan demikian, Ho Leng-hong dapat merebut kembali
posisinya, ia mendesak maju terus.
Dalam paniknya Kim Peng ganti serangan, kali ini dia khusus
menyerang tiga arah bagian
bawah lawan, dengan potongan badan yang pendek, ia
mengelilingi kaki Ho Leng-hong
dengan gerakan cepat dan mengembangkan ilmu golok
Tay-yang-sin-to dari Hiang-in-hu.
Tay-yang-sin-to ini bukan cuma bergerak cepat, sewaktu
dikembangkan golok itu
memancarkan hawa berwarna merah darah bagaikan kobaran api.
Tentu saja untuk memainkan ilmu golok Tay-yang-sin-to ini
banyak tenaga dalam yang harus
digunakan.
Tapi Kim Peng seperti memiliki tenaga yang tiada habisnya,
permainan goloknya kian lama
kian cepat, di antara putaran goloknya, kabur merah
menyelimuti angkasa dan seakan-akan
mengurung Ho Leng-hong dalam sebuah tungku api yang membara.
Hawa udara yang panas tentu saja tidak enak, ditambah lagi
Ho Leng-hong yang jangkung
harus menghadapi lawan yang cebol, keadaan ini sangat tidak
menguntungkan dia, tak lama
kemudian sekujur badannya sudah basah kuyup oleh keringat.
Tapi iapun berhasil menemukan sesuatu yang aneh . . . golok
mestika Yan-ci-po-to seakanakan
kian lama kian bertambah tajam.
Ia jadi teringat pada pesan Pang Goan, bahwa mata golok
Yan-ci-po-to telah dipoles dengan
air raksa sehingga kelihatannya tumpul, tapi kalau digarang
api sehingga air raksa meleleh,
maka ketajamannya akan pulih kembali, jangan-jangan lantaran
Kim Peng menggunakan ilmu
golok Tay-yang-sin-to, maka air raksa pada mata golok
menjadi meleleh?
Ho Leng-hong masih juga tidak percaya, pada suatu
kesempatan, tiba-tiba ia membacok tubuh
lawan dengan sepenuh tenaga.
Sesungguhnya Kim Peng mempunyai peluang untuk berkelit, tapi
diam-diam timbul hawa
napsu membunuhnya. Mendadak golok di pindah ke tangan kanan,
kaki setengah berlutut,
dengan jurus Heng-ka-kim-ko (menangkis melintang batang
emas) ia sambut bacokan lawan
dengan keras lawan keras, sementara tangan kiri secepat
kilat melolos pisau pendek dari
pinggang dan menikam lambung anak muda itu.
Jurus serangan ini benar-benar ganas dan keji Tong Siau-sian
menjerit saking terkejutnya.
Keadaan waktu itu memang gawat, tangkisan samurai Kim Peng
telah mengunci mati golok
Ho Leng-hong, sementara tikaman tangan kiri berlangsung
dalam jarak yang amat dekat,
serangan yang tidak terduga . . . .
Serentak jeritan ngeri berkumandang menggetar perasaan
setiap orang.
Hampir setiap orang yang berada di situ menganggap Ho
Leng-hong pasti terluka, tapi
kenyataannya ternyata tidak.
231
Yang terluka sebaliknya adalah Kim Peng, golok panjangnya
kutung, bahkan seluruh lengan
kirinya ikut terpapas kutung juga, darah membasahi sebagian
besar tubuhnya dan ia sendiri
roboh tak sadarkan diri.
Tangan kirinya yang menggenggam golok pendek itu tergeletak
di samping kaki Ho Lenghong,
ujung jolok itu sempat melubangi jubah luar yang dikenakan
anak muda itu.
Ho Leng-hong berdiri termangu di situ sambil mengawasi golok
mestika Yan-ci-po-to itu
dengan terkesima, tampak bingung dan tak habis mengerti.
Tiba-tiba Kim Lam-giok menjerit, “Orang she Ho, kau
benar-benar rendah dan tak tahu malu,
tadi telah janji hanya terbatas saling menutul saja kenapa
sekarang kau gunakan serangan
sekeji ini?”
Sepatah katapun Ho Leng-hong tidak bersuara, ia hanya
menutuk jalan darah sekitar luka Kim
Peng, lalu mengangkatnya bangun.
“Lepaskan dia! Lepaskan dia....” bentak Kim Lam-giok dengan
gusar.
Leng-hong tetap membungkam, ia menerobos kepungan orang
Mi-kok dan berhenti di
hadapan Tong Siau-sian, tanyanya lirih, “Apakah nona membawa
obat penghenti darah?”
Tong Siau-sian mengangguk, Pang Wan-kun segera mengeluarkan
sebutir pil dan
diangsurkan.
Ho Leng-hong mencekokkan obat itu ke mulut Kim Peng,
kemudian katanya, “Aku telah
salah melukainya, untuk membayar kesalahan ini, bersediakah
nona memenuhi suatu
permintaanku?”
“Katakanlah, asal aku sanggup pasti kukabulkan.”
“Harap nona membebaskan Kim Hong-giok, biar mereka membawa
Kim Peng pergi, segala
akibatnya akan kutanggung sendiri.”
Tong Siau-sian ragu-ragu sejenak, katanya, “Apakah kaulupa
bahwa Kim Hong-giok telah
mencuri belajar Ang-siu-to-hoat kita? Melepaskan harimau
kembali ke gunung hanya akan
mendatangkan bencana bagi kita di kemudian hari.”
Leng-hong mengangguk, “Aku akan menunggu sampai mereka
berhasil meyakini Ang-siu-tohoat,
lalu menentukan suatu tempat untuk berduel lagi,
bagaimanapun aku tak ingin orang
asing menertawakan bangsa kita yang cuma sanggup menyerang
orang yang sedang susah!”
Mencorong tajam sinar mata Tong Siau-sian, katanya sambil
tertawa, “Baik, sebagai bangsa
yang besar harus memiliki jiwa ksatria seperti itu.”
Ia lantas memberi tanda, dua orang pengawal lantas
membebaskan Kim Hong-giok dari
pengaruh tutukan.
“Padahal kaupun tak perlu menyalahkan diri sendiri,” bisik
Pang Wan-kun kemudian, “apa
yang terjadi dapat kita saksikan dengan jelas, caramu
melukainya dengan tidak sengaja,
sebaliknya dia yang berhati keji dan bermaksud merenggut
nyawamu....”
Ho Leng-hong tertawa hambar, “Bangsa Ainu tersohor
berpandangan picik dan berjiwa
sempit, bagaimanapun yang terluka kan dia.”
Bicara sampai di sini, ia lantas serahkan Kim Peng kepada
Kim Hong-giok, katanya, “Kutahu
nona telah mengikuti kejadian tadi dengan mata kepala
sendiri, semua budi dan dendam
hanya menyangkut aku orang she Ho seorang dan sama sekali
tak ada hubungannya dengan
ayah dan anak keluarga Hui, kuharap nona segera mengambil
keputusan.”
Kim Hong-giok manggut-manggut, sambil mengangkat tubuh Kim
Peng ia berjalan ke rumah
gubuk.
Tapi baru beberapa langkah, mendadak ia berpaling dan
berkata, “Apakah semua keputusanku
akan kauterima?”
“Tentu saja!”
“Kau tidak menyesal?”
“Pasti tidak!”
Kim Hong-giok tertawa, ia percepat langkahnya dan kembali ke
rumah gubuk itu.
232
“Apakah perlu kita kepung rumah gubuk itu untuk mencegah
niat jahat mereka melukai ayah
dan anak keluarga Hui?” tanya Wan-kun kemudian.
“Aku rasa tidak perlu,” jawab Leng-hong sambil menggeleng,
“aku percaya Kim Hong-giok
bukan manusia semacam itu.”
Akan tetapi kejadian selanjutnya ternyata di luar dugaan
mereka semua.
Sekembalinya ke rumah gubuk, Kim Hong-giok sama sekali tidak
membebaskan Hui Pek-ling
dan Hui Beng-cu, setelah tiga bersaudara seperguruan itu
berunding sejenak mereka
mengantar Kim Peng masuk ke dalam rumah, kemudian Kim
Lam-giok tampil ke depan dan
berkata, “Harap Nyo-hujin dari Thian-po-hu datang kemari
sebentar untuk merundingkan
sesuatu.”
“Permainan apalagi yang hendak dilakukan perempuan asing
ini?” bisik Wan-kun agak
bingung.
“Penuhi saja permintaan mereka, jangan kuatir,” ujar
Leng-hong, “tampaknya mereka tidak
bermaksud jahat, kalau tidak, tak mungkin dia memanggilmu
dengan sebutan demikian.”
Tong Siau-sian ikut berkata, “Ya, sebelum meninggalkan
Tay-pa-san, tak nanti mereka berani
melukaimu, mungkin saja mereka hendak merundingkan syarat
meloloskan diri dari sini.”
Terpaksa Wan-kun memberanikan diri menuju ke rumah gubuk
itu, kedatangannya segera
disambut oleh Kim Lam-giok dan diajak masuk ke dalam rumah,
selang sejenak Wan-kun
muncul kembali seorang diri.
Sekembalinya dari rumah gubuk itu, ternyata ia menghindari
Ho Leng-hong dan langsung
mengajak Tong Siau-sian ke samping serta berbisik-bisik
dengan suara lirih.
“Hei, apa yang kalian rundingkan?” tak tahan Ho Leng-hong
lantas menegur.
Tong Siau-sian tidak menjawab, tapi ia segera menitahkan
pasukannya kembali ke Mi-kok.
Leng-hong bingung sekali, ia berdiri termangu dan tak tahu
apa gerangan yang terjadi.
“Sudahlah, jangan melongo saja,” tegur Wan-kun sambil
tertawa misterius, “mari kita pulang
dulu ke Mi-kok, persoalan ini sebentar pasti akan
kuberitahukan padamu.”
“Secara teratur pasukan Bok-lan-tui membubarkan kepungan dan
kembali ke lembah, ternyata
para perempuan Ainu bekas anggota Ci-moay-hwe lantas
membuntuti pula di belakang
mereka, kemudian empat bersaudara Kim, Hui Pek-ling dan Hui
Beng-cu sekalian juga
meninggalkan rumah gubuk, ikut kembali ke Mi-kok.
Ho Leng-hong yang selama ini terkenal cerdik, kali ini
benar-benar dibuat bingung dan tidak
habis mengerti oleh kejadian ini.
-----------------------
Upacara perkawinan diselenggarakan dalam Mi-kok bukan cuma
meriah saja, bahkan amat
megah dan mewah, aneka warna lampion bergelantungan di sana
sini, suasana gembira ria
meliputi seluruh pelosok lembah.
Semenjak dulu Mi-kok selalu mengadakan pesta perkawinan bagi
Kokcunya, tapi tak satu
kalipun sedemikian megah dan meriah seperti upacara
perkawinan sekali ini.
Karena menurut pengumuman resmi pihak Tiang-lo-wan, bahwa
sejak hari perkawinan itu,
Kokcu lembah Mi-kok tidak harus lagi dijabat oleh seorang
perempuan, kedudukan itupun
tidak bersifat turun-temurun lagi, setiap lelaki maupun
perempuan yang berbakat cerdik dan
berhati mulia mempunyai hak yang sama untuk menduduki
jabatan Kokcu berikutnya.
Tentu saja, menyusul perubahan tata cara jabatan seorang
Kokcu, banyak peraturan lain yang
kurang sesuai mengalami pula perubahan dan penambahan,
semenjak itu lembah Mi-kok
tidak putus hubungan dengan dunia luar lagi, asal mereka
tidak berniat jahat, setiap saat boleh
masuk ke lembah untuk berdagang ataupun menetap di situ . .
. .
233
Akan tetapi semua perubahan ini tidak berhasil juga membuat
Ho Leng-hong paham terhadap
persoalan yang selama ini mengganjal hatinya, persoalan
tersebut akhirnya dipahami juga
setelah upacara perkawinan dilangsungkan.
Ternyata pengantin perempuan yang berdiri di sisi permadani
merah ada dua orang.
Yang satu adalah Tong Siau-sian sedang yang lain ialah Kim
Hong-giok.
Hui Pek-ling dan Hui Beng-cu telah menjadi comblangnya,
pihak Tiang-lo-wan menjadi wali
untuk Tong Siau-sian, Pang Wan-kun dengan kedudukan sebagai
enso bertindak selaku wali
Ho Leng-hong, sedangkan wali untuk Kim Hong-giok ternyata
adalah Kim Peng yang kini
berlengan buntung.
Kim Lam-giok dan Kim Lik-giok menjadi pendamping pengantin,
bukan pengantin
perempuan yang didampingi, dengan satu di kiri dan yang lain
di kanan mereka justru
mengapit Ho Leng-hong.
Ho Leng-hong sendiri tidak menyangka akan digiring begitu
saja, sedikit sangsi segera ia
dijepit oleh kedua orang iparnya hingga tak mampu berkutik
lagi.
Dengan nada menggertak Kim Lam-giok berkata, “Tahu diri
sedikit, jangan coba kabur dari
sini. Ketahuilah, untuk menjamin agar ilmu golok Ang-siu-to-hoat
tak sampai tersiar ke luar,
terpaksa Sammoay menerima bujukan kami dan mau dimadu, kalau
kau berani
menelantarkannya, hati-hati kalau kamipun akan menuntut
dendam terpapasnya lengan
Suheng kami.”
Ho Leng-hong tertawa getir, “Tapi perkawinan adalah masalah
besar yang menyangkut
kehidupan seseorang, seharusnya kalian memberitahukan
kepadaku lebih dahulu.”
“Ah, kenapa memberitahukan padamu?” tukas Kim Lam-giok, “enso
bagaikan ibu, asal Nyohujin
sudah setuju, apalagi yang bisa kaukatakan?”
Ya apalagi yang bisa dikatakan Ho Leng-hong?
Bagaimanapun juga mereka sudah berada di ruang upacara,
tentu saja ia tak bisa berteriak,
juga tak dapat kabur, terpaksa ia “pasrah nasib” terhadap
apapun yang akan menimpa dirinya.
Padahal di dunia ini pasti sangat banyak lelaki yang ingin “pasrah
nasib” semacam itu, sayang
mereka tidak mujur seperti apa yang dialami Ho Leng-hong . .
. .
==== TAMAT ====
