Golok Yanci Pedang Pelangi **


Setiap orang tentu pernah bermimpi.

Mimpi memang sesuatu yang aneh. Banyak peristiwa yang tak mungkin terjadi dalam

kehidupan nyata sering kali dapat dialami dalam mimpi. Angan-angan yang sukar

terwujud dalam kehidupan nyata dapat dialami dalam mimpi.

Macam ragam pula orang bermimpi. Ada mimpi yang seram, mimpi yang sedih, mimpi

gembira, yang menakutkan dan menggusarkan.

Akan tetapi, siapapun pasti tidak pernah mengalami “mimpi aneh” yang akan kita

ceritakan seperti berikut ini.

Malam kelam, kabut tebal menyelimuti bumi.

Berjalan di tengah kabut yang mengambang itu, Ho Leng-hong merasa bagaikan sedang

berjalan di tengah awan, tubuh terasa enteng dan seakan-akan hendak melayang-layang

sehingga dia kelihatan lebih cakap dan bergairah.

Bila dalam sakunya waktu itu tidak diganduli dengan lima puluh tahil perak, bisa jadi dia

akan benar-benar melayang-layang terbawa kabut.

Orang kuno bilang: Kalau rejeki sudah nomplok, gunung pun tak dapat mengalanginya. Dan

malam ini Ho Leng-hong benar-benar telah meresapi kebenaran pepatah tersebut.

Ambil contoh seperti apa yang baru saja dialaminya di rumah perjudian keluarga Him sana,

dia bermain Pay-kiu. Kartu yang dipegang selalu bagus dan mengherankan.

Bila orang lain menjadi “Ceng” (bandar), kartu yang dipegangnya selalu mati dan pasti

tombok. Sebaliknya jika giliran Ho Leng-hong yang menjadi bandar, maka kartu yang

dipegangnya pasti bagus, andaikan tidak menang, paling sedikit juga seri. Bila pemain atau

pemasang mendapat kartu “Te kiu”, maka dia mendapat kartu “Thian-kiu”. Jika pemain

memegang kartu “Thian-tui” dan “Te tui”, dia mendapat kartu “Ci-cun” yang merupakan

kartu yang tak terkalahkan. Maklum, Ci-cun sendiri berarti yang maha besar.

Begitu bagus kartu yang dipegangnya sehingga membikin lawan-lawannya sama mendelik

dan kheki setengah mati, berulang-ulang mengusap keringat dan susul menyusul merogoh

saku ... akhirnya, semua isi saku lawan-lawannya berpindah tempat ke saku Ho Leng-hong.

Rumah perjudian keluarga Him itu berformat kecil, tapi uang “tong” cukup besar. Bukanlah

pekerjaan gampang jika ingin menang lima puluh tahil perak di sini.

Demi merayakan “panen” yang baru saja terjadi, Ho Leng-hong tidak mau menyiksa dirinya

sendiri, maka begitu meninggalkan rumah judi itu, segera ia masuk ke restoran Lau-muacu (si burik Lau) di penggaulan jalan sana.

Keluar dari restoran Lau si burik, sedikitnya delapan bagian di terpengaruh oleh minuman

keras. Tapi, biarpun mabuk, dia tak lupa daratan sama sekali, sedikitnya dia masih ingat ke

mana dia harus “mendarat”.

Dia masih ingat janjinya dengan Siau Cui yang lagi menunggu kedatangannya. Ia pun tidak

lupa di mana letak “Go-tong-kang” (gang waru), maka ke arah gang itulah dia menuju.

Waktu masuk ke lorong yang sudah apal baginya itu, tiba-tiba timbul semacam rangsangan

yang sukar dijelaskan. “Uang adalah nyali”, atau uang sama dengan keberanian.

50 tahil perak memang bukan suatu jumlah yang terlalu besar, tapi kalau digunakan

mengiming-iming di depan hidung kawanan budak germo itu, sedikitnya dapat membuat mata

anjing mereka melotot.

Maklum, biasanya Ho Leng-hong dianggap langganan “kurus”, bersaku kosong, sehingga

kurang mendapat pelayanan yang layak. Sekarang sakunya berisi 50 tahil perak, ia ingin

berlagak “Cukong” supaya kawanan budak itu tidak lagi menghinanya.

Begitulah, sambil menepuk sakunya yang berisi itu, ia berdehem sekali, lalu membusungkan

dada dengan lagak “dunia ini aku punya”, lalu dengan langkah berlenggang ia masuk ke

rumah pelacuran “Hong-hong-wan” atau Villa burung Hong, di mana Siau Cui sedang

menanti kedatangannya.

Meski sudah jauh malam, namun pintu gerbang Hong-hong-wan masih terbuka lebar, seorang

pesuruh rumah pelacuran itu menyambut kedatangan Ho Leng-hong dengan senyuman

dikulum.

“Ho-ya (tuan Ho), kau datang!” sapanya.

“Kenapa? Aku dilarang datang?” Ho Leng-hong menengadah dengan gaya menantang.

“Ai Ho-ya ini, masa aku bermaksud begitu? Sengaja mengundang Ho-ya saja belum tentu

bisa....”

“Ya, lantaran undak-undakan pintu Hong-hong-wan terlalu tinggi, jadi orang yang tak punya

fulus tak dapat masuk.”

Merasakan gelagat tak enak, cepat pesuruh berteriak, “Ho-ya datang, nona Siau Cui siap

menerima tamu!”

Teriakan itu secara beruntun disampaikan ke ruang dalam, sepanjang jalan pegawai itu

menyingkapkan tirai dan mempersilakan Ho Leng-hong masuk ke dalam.

Sebenarnya Ho Leng-hong ingin “mendamprat” lagi orang-orang itu, tapi lantas terpikir

olehnya bahwa “tuan besar” yang banyak uang biasanya enggan ribut dengan orang bawahan,

sebab hal ini hanya akan menurunkan derajat sendiri, maka ia lantas masuk saja dengan

tertawa tak acuh.

“Cepat benar berita yang diterima orang-orang ini,” demikian pikirnya sambil melangkah

masuk, “mereka tentu sudah tahu aku berhasil menang besar di rumah perjudian keluarga

Him, maka sikap mereka jadi lain daripada biasanya.”

Baru masuk ke kamar, kontan Siau Cui menggerutu, “Kenapa sekarang baru muncul? Kau

sudah berjanji mau datang sebelum tengah malam, bisa gila orang menunggu dirimu.”

“Sejak tadi aku mau kemari,” sahut Ho Leng-hong dengan tertawa, “tapi apa mau dikatakan

kalau dewa rejeki menahanku terus. Maka aku datang terlambat.”

Sebuah bungkusan kecil yang berat dikeluarkan dan dijejalkan ke tangan Siau-Cui, lalu

bisiknya dengan lembut. “Nih, ambillah!”

“Apa ini?”

“Buka saja, segera tahu.”

“Uang?” tanya Siau Cui sambil menimang-nimang bobot bungkusan itu.

“Benar, itulah yang kita butuhkan, lima puluh tahil, persis!” Ho Leng-hong tertawa bangga.

Ia mengira Siau Cui pasti akan terkejut bercampur gembira dan tentu akan buru-buru

membuka serta menghitungnya, atau mungkin saking girangnya dirinya akan dipeluk dan

diberi hadiah kecupan hangat . . . .

Siapa tahu, Siau Cui tidak kaget, atau melonjak kegirangan, iapun tidak membuka bungkusan

itu serta menghitung jumlahnya, bungkusan kecil itu malah dibuang begitu saja ke meja.

“tidak tahukah kau bahwa aku ada urusan penting hendak berunding denganmu?” katanya

sedih, “ai, mengapa kau hanya tahu minum arah dan berjudi? Selain pekerjaan itu tak

pernahkah kau memikirkan soal lain?”

“Siau Cui, aku berbuat demikian demi kau, bukankah ibumu sakit dan membutuhkan uang?”

“Sekalipun membutuhkan uang, bukan berarti harus mendapatkannya lewat berjudi, kukira

uang demikian bisa dijagakan?”

“Tentu saja, coba lihat! Aku berhasil menangkan uang itu seperti makan kacang goreng saja,

coba kalau tidak kangen padamu, sampai fajar nanti dua-tiga ratus tahil perak pasti bisa

kukeruk. Siau Cui, tahukah kau betapa anehnya kartu-kartu itu . . . .”

“Ah, enggan kudengarkan soal kartu, aku ada urusan penting hendak kurundingkan

denganmu.”

“Soal penyakit ibumu?”

Siau Cui menggeleng, “Penyakit ibu sudah agak baikan, yang hendak kurundingkan adalah

urusan mengenai dirimu sendiri.”

“Urusanku?” Ho Leng-hong melengak, “urusan apa?”

Siau Cui tidak menjawab, ia menuju keluar dan celingukan ke sekeliling situ, lalu dengan

hati-hati menutup pintu menguncinya dan menggandeng tangan Ho Leng-hong menuju ke

pembaringan.

Ho Leng-hong merasa tangannya begitu dingin, basah, sedikit gemetar, ini semua

membuatnya tercengang.

“Ada urusan apa sebenarnya? Jangan terlalu panik,” ia berbisik.

“Leng-hong,” kata Siau Cui serius, “aku ingin menanyakan suatu persoalan, dan aku harap

kau suka menjawab sejujurnya, bersedia bukan?”

“Baik, katakanlah!”

“Ai, sudah cukup lama kita berkenalan,” Siau Cui menghela napas. “dan selama ini tak pernah

kauanggap diriku sebagai pelacur, akupun tidak menganggapmu sebagai lelaki iseng, hal ini

penting artinya bagimu maupun bagiku, anggaplah sebagai permohonanku kepadamu jangan

menganggap ucapku ini sebagai gurauan belaka . . . .”

Terpaksa Ho Leng-hong menarik kembali senyumannya dan bersikap sungguh-sungguh.

Ia tahu, semakin serius seorang perempuan berbicara, semakin besar pula kemungkinan

persoalannya yang akan dikemukakan Cuma urusan sepele, dalam keadaan begitu, paling baik

bagi seorang lelaki adalah banyak mendengar dan sedikit bicara, walau dalam hati

meremehkan, tapi di luar harus menunjukkan sikap serius.

Begitu lirih suara Siau Cui, bibirnya hampir menempel di tepi telinga Ho Leng-hong,

ucapnya, “Leng-hong, kau masih muda dan lagi memiliki ilmu silat yang bagus, mengapa kau

selalu bergaul dengan kaum penganggur? Tidak inginkah kau menciptakan suatu pekerjaan

besar di dunia persilatan?”

Ho Leng-hong membungkam meski diam-diam keheranan, “Aneh benar budak ini, obat apa

yang dia makan hari ini? Kenapa tiba-tiba saja menyinggung soal tetek-bengek ini?”

“Eh, dengar tidak apa yang kukatakan?” tiba-tiba Siau Cui menggoncangkan tubuhnya.

“Sudah dengar!”

“Kenapa diam saja kalau sudah dengar?”

“Persoalan inikah yang kau maksudkan sebagai urusan serius?” tanya Ho Leng-hong setelah

berpikir sebentar.

“Benar, memangnya kauingin hidup luntang-lantung begini selamanya, tidak pernahkah

memikirkan soal masa depanmu?”

Ho Leng-hong tertawa “Lantas apa yang harus kulakukan? Mencuri? Merampok dengan

mengandalkan ilmu silatku? Atau membunuh orang untuk mempopulerkan namaku di mata

masyarakat?”

“Tidak, aku tidak berharap kau berbuat begitu, tapi kau kan bisa mengemban tugas suci

sebagai seorang pendekar untuk menolong yang lemah dan menumpas yang jahat,

menegakkan keadilan dan kebenaran bagi kaum kecil . . . .”

“O, itu bukan tugasku,” Ho Leng-hong mengangkat bahu, “hanya ada dua macam manusia di

dunia ini yang melakukan hal-hal begitu, pertama adalah keturunan orang kaya yang ingin

mencari nama, dan kedua adalah manusia miskin yang ingin menggunakan kesempatan itu

untuk mencari popularitas dan memperbaiki keadaan sosial pribadinya. Hah, jelasnya yang

dicari juga nama dan harta.”

“Kalau begitu, apakah mereka yang mengemban tugas suci sebagai seorang pendekar juga

manusia munafik?”

“Aku tidak memaki mereka sebagai munafik, juga tidak mengakui mereka sebagai seorang

Kuncu, sebab kalau mengemban tugas suci tanpa mencari nama, dari mana pula datangnya

nama-nama besar para pendekar itu? Kalau bukan lantaran harta, semua Hiap-kek (pendekar)

di dunia ini tentu sudah pada mampus kelaparan, memangnya mereka hanya makan nasi

sendiri dan harus mengurusi persoalan orang lain?”

“Bukan maksudku untuk mengajak kau berdebat persoalan ini, aku hanya ingin bertanya,

sekalipun tidak kaupikirkan tentang dirimu, seharusnya kau berpikir untukku, apakah kau

senang melihat aku bercokol terus di tempat semacam ini?”

“Bukankah sudah kukatakan padamu, Siau Cui? Asal aku punya uang, pasti kau akan

kutebus.”

“Tapi aku harus menunggu sampai kapan?”

“Ehm, kalau kulihat suasana malam ini, rasanya kau tak perlu menunggu terlalu lama . . . .”

Ho Leng-hong tertawa.

“Tidak! Aku tak dapat menunggu, seharipun tak sudi aku menunggu lagi. Leng-hong, kalau

kau masih menginginkan diriku, bawalah aku pergi sekarang juga.”

“Sekarang? Detik ini juga?” seru Ho Leng-hong tercengang.

“Ya, detik ini juga kita harus pergi jauh dari sini, makin jauh makin baik, kita cari suatu

tempat yang tak seorang pun kenal kita, sekalipun kehidupan kita lebih susah juga aku rela . . ..”

“Siau Cui, kau sedang mengigau? Kau mabuk?” kata Ho Leng-hong meraba jidat si nona,

“Sesungguhnya kau yang mabuk atau aku yang mabuk?”

Tiba-tiba Siau Cui memeluk pemuda itu erat-erat, lalu berbisik dengan suara gemetar,

“Kumohon kepadamu Leng-hong, semua perkataanku benar-benar timbul dari sanubariku,

cepatlah bawa aku pergi, kalau terlambat mungkin tak sempat lagi . . . .”

“Siau Cui, ada apa kau hari ini?” Ho Leng-hong berkerut kening, “hari kita masih panjang,

siapa bilang tak sempat lagi . . . .”

Sebelum perkataannya berlanjut, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.

Bagaikan seekor kelinci yang ketakutan, Siau Cui mendorong tubuh Ho Leng-hong, lalu

melompat bangun sambil menutupi mulutnya dengan rasa kaget dan takut luar biasa.

“Siapa?” tegurnya kemudian.

“Aku enso Go!” jawab orang di luar. “Buka pintu nona, aku mengantar kuah penghilang

mabuk untuk Ho-ya.”

Tiba-tiba air muka Siau Cui berubah menjadi pucat, dengan sedih ia melirik Ho Leng-hong

sekejap, lalu sambil menarik napas panjang ia membuka palang pintu.

Tahun ini Go So atau enso (kakak ipar) Go berusia tiga puluhan, dia adalah babu Hong-hongwan

yang khusus untuk pekerjaan kasar, tinggi besar seperti kuda teji, badannya berotot

seperti kerbau, meski mukanya berbedak tebal dan bergincu, tampangnya dipandang dari

sudut manapun tidak mirip seorang perempuan.

Dengan tangan sebelah membawa baki dan tangan yang lain mendorong pintu, lebih dulu ia

melongo ke dalam kamar, lalu katanya kepada Ho Leng-hong sambil tertawa, “Ho-ya, kau

memang orang yang paling sibuk, bila malam ini kau tidak datang, sungguh nona Cui kita

bisa terserang penyakit rindu.”

Ho Leng hong enggan melayani perempuan macam banci ini, ia tidak menjawab.

Go So melirik sekejap wajah Siau Cui, lalu tertawa lagi, “Mama kita mendengar Ho-ya lagilagi

minum sampai mabuk, maka beliau menyuruh orang membuatkan semangkuk kuah

penyadar mabuk untukmu, Ho-ya, minumlah cepat mumpung masih panas.”

“Terima kasih, letakkan saja di meja!”

“Kuah penyadar mabuk makin panas semakin manjur,” desak Go So lagi sambil

mengangsurkan bakinya ke depan pemuda itu, “apalagi sudah larut malam, minum saja dulu

kemudian baru beristirahat, kalau masih ada urusan besok kan masih ada waktu.”

“Baik, letakkan dulu di situ, nanti akan kuminum sendiri,” kata Leng-hong.

Tapi Go So mendesak terus, kepada Siau-Cui ia berkata, “Nona, jangan kauanggap aku

cerewet, biasanya orang mabuk itu cepat lelah, kau harus mengajak Ho-ya beristirahat lebih

dulu, jangan bicara yang bukan-bukan, berilah kesempatan kepada Ho-ya untuk menenangkan

diri.”

“Aku tahu,” bisik Siau-Cui.

“Bagus kalau sudah tahu, nona muda memang harus lebih banyak belajar menghibur tuan

sekalian, apalagi hari esok kan masih panjang, sekalipun masih ada persoalan segudang juga

dapat diselesaikan . . . .”

Ho Leng-hong berharap orang ini lekas pergi, maka dia ambil kuah tadi dan sekali tenggak

menghabiskan isinya, lalu sambil mengulapkan tangan ia berkata, “Sudahlah Go So, kau

harus beristirahat pula, kalau kau tidak pergi mana kami bisa beristirahat?”

“O, rupanya tuan mengusir aku? Kuatir waktumu yang berharga hilang? Baiklah, aku akan

pergi, aku segera pergi!”

Di mulut ia berkata akan pergi, tapi badannya tak bergeser, ia malah memandang Ho Lenghong

sambil tertawa. Sikapnya seperti lagi menantikan sesuatu, tapi apa yang ditunggu? Atau

mungkin sedang menunggu tip atau persen?

Muak rasanya Ho Leng-hong menyaksikan tampang orang, dia ingin mengambil uang supaya

orang lekas pergi, tapi empat anggota badannya tiba-tiba menjadi lemas tak bertenaga,

kelopak matanya menjadi berat, rasa mengantuk yang sukar ditahan tahu-tahu menyerangnya.

Ya, orang yang mabuk arak memang sangat lelah.

Ho Leng-hong betul-betul lelah, saking lelahnya sampai badan lemas tak bertenaga,

pikiranpun terasa kosong . . . .

Hanya satu keinginannya waktu itu, yakni memejamkan mata dan tidur sepuasnya. Soal Go

So sudah pergi atau tidak? Kuah penyadar mabuk kenapa tidak manjur? Ia malas untuk

memikirkannya lagi.

Dalam keadaan lamat-lamat ia pejamkan matanya, tidur lelap dan terbuai di alam mimpi . . . .

-------------------------

Berapa lama ia tertidur? Ia tak tahu.

Bahkan sekarang ia masih tidurkah? Atau sadarkah? Ia sendiripun tak tahu.

Ia cuma tahu, sebelum matanya terbuka, terenduslah bau harum sayup-sayup.

Bau harum itu seperti datang dari bawah bantal, seperti juga timbul dari seprei, sampai

kelambu, pembaringan . . . . pokoknya seluruh kamar dipenuhi bau harum.

Bau harum itu amat sedap dan juga asing baginya, sudah jelas bukan bau harum yang biasa

terendus dari bada nona-nona penghuni Hong-hong-wan, bau harum itu jelas bau harum

tingkat tinggi.

Dia menggeliat lalu membuka matanya perlahan, pertama yang dilihatnya adalah seorang

genduk cilik berbaju hijau berusia antara 13-14 tahun berdiri di depan pembaringan sambil

mengulum senyum.

Ia mengkucak-kucak matanya serta memandang sekeliling ruangan itu, ternyata ia sedang

berbaring di sebuah villa yang dibangun di tengah kolam.

Empat sisi ruang ada daun jendela, air nan hijau mengelilingi villa tersebut, di tepi kolam di

depan sana kelihatan aneka warna bunga tumbuh dengan indahnya . . . rupanya bau harum

yang terendus tadi berasal dari bau bunga yang tumbuh di sekeliling tempat itu.

Hanya di surgaloka terdapat pemandangan seindah ini, atau mungkin ia sudah kesasar ke

surgaloka seperti halnya dalam dongeng?

Sementara ia tercengang, genduk berbaju hijau itu telah menyapa sambil tertawa, “Kau sudah

sadar Tuanku?”

Ho Leng-hong melenggong “Aku . . .”

“Nyenyak benar tidur Tuanku ini, sudah dua kali nyonya menjenguk kemari tapi Tuan belum

bangun juga, bir hamba segera memberitahu kepada Hujin (Nyonya). . . . .”

“Eh . . . eh . . . tunggu sebentar, bolehkah kutanya, tempat manakah ini? Kenapa aku bisa

tertidur di sini?” Seru Ho Leng-hong.

Mula-mula genduk cilik itu tertegun, lalu sambil menutup mulutnya ia tertawa geli, dan

berkata, “Toa-ya, tampaknya mabukmu belum hilang dan masih mengigau.”

“Tidak! Aku tidak mabuk, aku segar bugar, aku benar-benar tidak tahu tempat manakah ini.”

“O, Tuanku, jangan-jangan engkau sakit?” dayang itu tertawa cekikikan. “Masa rumah sendiri

tidak kenal lagi?!”

“Rumah? Rumahku sendiri?”

“Tentu saja, siapa yang tidak tahu tempat ini adalah Thian-po-hu yang tersohor di kolong

langit ini. Dan villa ini adalah Kiok-hiang-sia di belakang taman yang paling disukai Tuan?”

“Thian-po-hu . . . Kiok-hiang-sia . . . .” gumam Ho Leng-hong, tiba-tiba ia berseru tertahan,

“Hah, kaumaksudkan tempat ini adalah istana Thian-po-hu di Kiu-ci-shia (benteng liku

sembilan)?”

“Terima kasih kepada langit dan bumi, syukurlah Tuan sudah ingat kembali.”

“Lantas, siapakah aku?”

“Tuan, masa siapakah dirimu sendiri juga lupa?”

Ho Leng-hong menggeleng, “Bukannya lupa, kutahu benar siapakah diriku, pada hakikatnya

aku tak mempunyai hubungan apapun dengan Thian-po-hu, kenapa aku bisa tidur di sini?”

Genduk cilik itu tak bisa tertawa lagi, matanya terbelalak lebar.

“Tuan, apa yang kaukatakan?” ia berteriak. “Masa kau mengatakan dirimu tak ada

hubungannya dengan Thian-po-hu?”

“Ya, aku memang tak ada hubungan apa-apa dengan kalian, aku she Ho dan tinggal di Lokyang,

sekalipun sudah lama kudengar kebesaran nama Thian-po-hu, sayang selama ini tidak

ada berhubungan.”

“Apa? Kau she Ho?” kembali dayang cilik itu menjerit.

“Ya, betul!”

“Kau.... kau bilang tak pernah berhubungan Thian-po-hu...”

“Benar!”

“Kau.... kau..., siapakah dirimu sendiri juga tidak ingat lagi?”

“Tidak, aku ingat dengan sangat jelas, aku Ho......”

Dengan mata terbelalak dayang itu menyurut mundur beberapa langkah, tiba-tiba ia menjerit

kaget, lalu angkat langkah seribu, seakan-akan mendadak ia lihat di atas kepala Ho Leng hong

tumbuh sepasang tanduk.....

Baru beberapa langkah ia lari keluar villa itu, hampir saja ia bertumbukan dengan dua orang

yang muncul dari depan.

Kedua orang itu adalah majikan dan pelayan, yang satu memakai baju berwarna kuning telur

berdandan pelayan, sedang yang lain adalah seorang nyonya muda jelita, mereka sedang

menyeberangi jembatan dan masuk ke villa air tersebut.

Dengan suatu gerak cepat pelayan baju kuning itu menyambar lengan si genduk cilik tadi dan

menegurnya, “He, Siau Lan, apa-apaan kau? Kenapa lari seperti diuber setan?”

“O, nyonya, enci Bwe, kebetulan sekali kedatangan kalian,” seru Siau Lan dengan napas

tersengal, “Cepat masuk dan tengoklah keadaan Tuan, dia . . . dia . . . .”

“Tuan kenapa?” tanya nyonya cantik itu dengan kuatir.

“Dia . . . entah sebab apa Tuan selalu mengatakan tidak kenal tempat ini . . . . dia mengaku

she Ho, katanya tak ada hubungannya dengan Thian-po-hu . . . . . .”

“Ah, masa begitu?” seru si nyonya terperanjat.

“Hujin jangan percaya obrolannya,” hibur Bwe-ji cepat, “tentu Tuan sengaja menggodanya

setelah sadar dari mabuknya, dan budak cilik ini menganggapnya sebagai kejadian serius.”

“Tidak, Tuan tidak bergurau, semuanya adalah kejadian nyata, Tuan bicara dengan serius,

tidak seperti bergurau, kalau tidak percaya masuklah dan periksa sendiri.”

Nyonya cantik itu berkerut kening, ia tidak banyak bertanya lagi dan cepat-cepat masuk ke

dalam rumah.

Tatkala dilihatnya Ho Leng-hong duduk di atas pembaringan dengan tenang, ia mengembus

napas lega.

“Huh, Siau Lan si budak ini memang harus digebuk, coba lihat, Tuan kan baik-baik saja, bikin

kaget hatiku saja.”

“Betul, Siau Lan suka gila-gilaan, mulutnya suka ngaco-belo,” Bwe-ji menimpali.

“Tapi sungguh-sungguh aku tidak bohong, Tuan yang berkata begitu kepadaku,” kata Siau

Lan dengan penasaran.

“Huh, masih membantah? Coba lihat, Tuan segar bugar, masa ia mengucapkan kata-kata gila

begitu....” omel Bwe-ji.

“Eh nona, jangan kau salahkan dia, apa yang dikatakannya memang benar dan bukan katakata

gila,” seru Ho Leng-hong tiba-tiba. “Aku memang she Ho dan tak pernah datang ke

Thian-po-hu, mungkin terjadi kesalah-pahaman di antara kita.”

“Kesalah-pahaman? Kesalahan-pahaman apa?” tanya Bwe-ji dengan melengak.

“Kukira mungkin kalian telah salah menganggap diriku sebagai seorang lain.”

Dengan bingung Bwe-ji memandang nyonya muda itu, sungguh ia tidak percaya pada apa

yang didengarnya barusan.

Nyonya cantik itu kaget bercampur heran, sesudah tercengang sejenak barulah katanya

dengan serius. “Jit-long, jangan bergurau macam begitu dengan para dayang, sekalipun mau

bergurau, tahu diri sedikitlah. Gurauannya tidak apa-apa, kalau sampai tersiar keluar,

bagaimana dengan nama baik Thian-po-hu?”

“Aku tidak bergurau, aku bicara sesungguhnya!” kembali Ho Leng-hong menegas.

Sekilas perasaan bingung dan ragu menghias wajah nyonya muda itu, “Jadi kauanggap dirimu

she Ho?”

“Bukan menganggap, sesungguhnya aku memang she Ho”

“Kalau begitu, kenalkah kau siapa diriku?”

“Maaf, sebelum perjumpaan ini tak pernah kita bertemu, tapi dari panggilan kedua nona cilik

ini, agaknya nyonya inilah isteri Nyo-tayhiap dari Thian-po-hu yang tersohor itu, betul

bukan?”

Nyonya muda itu merasa geli dan juga mendongkol, ia menengok ke arah Bwe-ji dan

bertanya, “Coba dengar, perkataan manusiakah itu? Masa siapa diriku tidak dikenalinya lagi.”

“Ya, mungkin semalam tuan mabuk keras, sampai sekarang mabuknya belum hilang . . . . “

kata Bwe-ji.

“Tidak, aku tidak mabuk, aku merasa segar,” kata Leng-hong cepat, “Setiap kalimat, setiap

perkataanku semuanya kuucapkan dengan pikiran yang sehat.”

Mata nyonya itu mulai berkaca-kaca karena sedih, katanya dengan mendongkol, “Semua ini

gara-gara Lo-ya (tuan Lo) sekalian. Hmm, setiap kali mereka selalu mengantarmu pulang

dalam keadaan mabuk. Coba lihat, sampai nama sendiri tak tahu lagi, sanak keluarga juga

terlupakan semua.”

“Hujin, bagaimana kalau kita undang Lo-ya kemari?” bisik Bwe-ji.

Nyonya itu berpikir sebentar, lalu manggut-manggut. “Betul, aku haru minta pertanggungjawab

mereka . . . .”

Ia berpaling sambil memberi pesan, “Siau Lan, kau saja yang ke sana dan sekalian beri kabar

kepadanya, semua orang yang semalam ikut minum harap datang kemari, seorang pun tak

boleh berkurang. Hm, Siapa berani tak datang, hati-hati kalau kulabrak ke rumahnya.”

Siau Lan mengiakan dan buru-buru berlalu.

Tiba-tiba Ho Leng-hong bertanya, “Apakah Lo-ya yang hendak diundang Hujin itu ialah

Kwan-lok-kiam-kek (jago pedang dari Kwan-lok) Lo Bun-pin yang tinggal di kota Lokyang?”

“Betul, mendingan kau masih ingat nama satu orang ini,” jawab si nyonya jelita.

Ho Leng-hong menarik napas panjang, “Aku kenal orang ini, baik sekali kalau dia diundang

kemari.”

“Hm, semoga iapun kenal padamu, kuharap pula dia masih ingat siapakah dia.”

Perkataan itu bernada marah, tapi Ho Leng-hong Cuma tertawa dan tidak membantah.

Ia percaya, kalau Kwan-lok-kiam-kek Lo Bun-pin kenal padanya dan kenal juga Nyo Cu-wi,

pemilik istana Thian-po-hu, jika ia sudah datang, maka duduknya perkara akan menjadi jelas.

Tapi masih ada satu persoalan yang membuatnya tidak mengerti, ia masih ingat benar

semalam dirinya tertidur di kamar Siau Cui di rumah pelacuran Hong-hong-wan, kenapa

secara tiba-tiba bisa muncul di Thian-po-hu?

Apa yang terjadi memang sungguh-sungguh ataukah dalam mimpi?

Kalau dalam mimpi, tak bisa disangkal lagi impian ini adalah mimpi aneh yang tak masuk di

akal . . . .

-------------------------

Suara langkah kaki berkumandang di luar Kiok-hiang-sia, agaknya tak sedikit orang yang

datang.

Orang pertama yang masuk adalah Lo Bun-pin, sedang di belakangnya mengikut empat lima

orang laki-laki berbaju perlente, mereka semua adalah jago-jago kenaman dari sekitar Kwanliok,

wajah mereka tampak kaget.

Rupanya Lo Bun-pin sudah diberitahu garis besar peristiwa yang terjadi oleh Siau Lan,

wajahnya tampak gelisah dan bingung. Begitu melangkah masuk ia lantas berteriak, “Saudara

Cu-wi, kenapa kau?”

Ho Leng-hong sedang duduk di kursi setelah berganti pakaian, ia melengak mendengar

panggilan itu . . . . .

Sebelum ia menjawab, Lo Bun-pin telah menjura kepada Nyo-hujin seraya bertanya, “Enso,

apa gerangan yang terjadi? Bukankah saudara Cu-wi duduk segar di sini? Kenapa Siau Lan

bilang ia gila?”

“Hm, aku sendiri juga tak tahu ia sudah gila atau waras,” sahut Nyo-hujin, “pokoknya

sebelum keluar rumah semalam ia masih segar bugar, tapi setelah sadar pagi ini, ia telah

berubah menjadi seorang yang lain, tak kenal lagi akan diri sendiri, sanak keluarga sendiri

juga tak dikenal, ia selalu mengatakan dirinya she Ho . . . . . “

“Ah, masa begitu?” Lo Bu-pin terkesiap, “tapi . . . . ketika pulang semalam, saudara Cu-wi

tidak menunjukkan gejala apa-apa, semua sobat yang ikut minum semalam kini pun hadir di

sini, semua orang menyaksikannya dengan mata kepala sendiri!”

“Ya, ya, aku tahu, kalian adalah sahabat karib, kenapa tidak kautanya sendiri padanya?” kata

Nyo-hujin.

Lo Bun-pin manggut-manggut sambil berpaling ke arah Ho Leng-hong, katanya, “Saudara

Cu-wi permainan apa yang kaulakukan? Jangan bergurau dengan sobat lama, hah!”

Betapa kesal Ho Leng-hong karena berulang dipanggil “Saudara Cu-wi”, setelah merenung

sejenak lalu berkata, “Coba kau teliti lagi saudara Lo, benarkah aku ini Nyo Cu-wi dari Thianpo-

hu?”

“Kenapa?” Lo Bun-pin tertawa. “Masa Nyo-heng tidak mengakui?”

“Tak sedikit orang di dunia ini yang mirip wajahnya, mungkin mata Lo-heng kabur dan salah

melihat orang.”

“Hahaha . . . mana mungkin? Seandainya mataku sudah lamur, tak mungkin sobat-sobat

lainnya juga lamur, kenapa Nyo-heng tidak tanya sendiri kepada mereka . . . .”

“Betul, betul!” sahut semua orang, “sudah bertahun-tahun kita bergaul dengan Thian-po-hu,

siapa yang tidak kenal Nyo-heng?”

“Tapi kalian telah salah melihat orang!”

“Ah, tak mungkin!” kembali semua orang menganggapi, “kita kan kenalan lama, mana

mungkin salah lihat?”

“Aku berani bertaruh kalian pasti salah lihat, sebab aku sendiri tahu siapakah diriku,

hakikatnya aku bukan Nyo Cu-wi.”

Semua orang sama melengak, siapapun bisa merasakan keseriusan Ho Leng-hong, mereka

tahu orang ini tidak bergurau, tapi bicara sungguh-sungguh.

“Aku ingin cari tahu kabar seseorang, entah saudara Lo masih ingat atau tidak?” kata Ho

Leng-hong lagi.

“Siapa?” tanya Lo Bun-pin.

“Suatu hari, ketika saudara Lo sedang berburu di luar kota, pernahkah kau berebut seekor

kelinci liar yang terluka dengan seorang laki-laki miskin? Akhirnya terjadi adu kepandaian

dan dilanjutkan dengan persahabatan, kalian bersama-sama menyelenggarakan pesta daging

kelinci panggang di bukit itu serta menamai santapan lezat nomor satu di dunia. . . .”

“O, kaumaksudkan Ho Leng-hong yang hidup menganggur itu?”

“Benar, masih ingatkah Lo-heng padanya?”

“Tentu saja masih ingat, ilmu silatnya tidak berada di bawah kita, sayang ia lebih suka hidup

konyol bersama kaum penganggur.”

“Seandainya Ho Leng-hong duduk di sini sekarang, dapatkah Lo-heng mengenalinya?”

“Pasti bisa, meski kami hanya berjumpa sekali saja, namun kesan yang diberikan kepadaku

terlalu dalam, sampai kini aku masih ingat pada wajahnya . . . . . Ai! Sayang sepotong batu

kemala yang tak pernah diasah harus terjerumus di pencomberan, sungguh bikin orang

menyesal.”

“Masih inginkah saudara Lo bertemu lagi dengannya?”

“Sekalipun ingin, mau apa lagi?” Lo Bun-pin menggeleng, “sayang selamanya tak dapat

bertemu lagi dengannya.”

“Kenapa?”

Kembali Lo Bun-pin menghela napas, “Sebab Ho Leng-hong itu sudah mati!”

Ho Leng-hong melengak, cepat ia duduk tegak dan berseru, “Siapa yang bilang?”

“Siau Thian yang membawa kabar ini barusan,” sahut Lo Bun-pin sambil menuding seorang

di belakang.

Siau Thian atau Thian cilik bukan lagi anak kecil, lengkapnya ia bernama Thian Pek-tat,

tahun ini usianya sudah mencapai empat puluh tahun lebih, Cuma bila kau perhatikan

kepalanya yang kecil dengan sepasang mata tikusnya dan kumisnya yang serupa kumis tikus,

tak sulit bagimu untuk menghubungkan orang ini dengan kepandaian “kecil” yang pasti sudah

mencapai puncak kesempurnaan.

Sejak dilahirkan orang ini mempunyai wajah yang selalu tersenyum, dia pandai bicara dan

pintar menyanjung, ia selalu bergaul dengan kalangan atas, mata-telinganya tajam, sebab itu

orang menjulukinya sebagai Tiang-ni-siau-thian atau Thian kecil si telinga panjang.

Kini Thian Pek-tat berdiri di belakang Lo Bun-pin, ia segera melangkah ke depan demi

mendengar perkataan itu.

“Benar!” demikian tukasnya, “baru pagi ini kudengar kabar tersebut.”

Sungguh Ho Leng-hong ingin persen beberapa tempelengan untuk orang ini, tapi sedapatnya

ia menahan emosinya.

“Bagaimana kabarnya?” ia bertanya.

“Konon Ho Leng-hong baru saja menang banyak di meja perjudian semalam, setelah minum

arak ia main perempuan di gang Waru, siapa tahu keesokan harinya ia ditemukan tewas di

kamar tidur Siau Cui, pelacur langganannya, ada orang bilang ia mampus karena perampokan,

ada pula yang mengatakan dia kehabisan . . . . “

Ia melirik sekejap wajah Nyo-hujin, kemudian sambil menampar muka sendiri, katanya, “Aku

memang pantas mampus dan harus digebuk, aku lupa Hujin berada di sini hingga telanjur

bicara yang bukan-bukan.”

Ho Leng-hong tertawa dingin, “Hm, jadi kau sendiri juga Cuma mendengar dari orang lain

dan bukan melihat dengan mata kepala sendiri.”

“Tapi berita ini dapat dipercaya, semua orang di Lok-yang telah mengetahui kejadian ini,

malah jenazahnya masih terbaring di rumah pelacuran Hong-hong-wan.”

“Ya, Siaute pun ikut menyesal atas musibah yang menimpa Ho Leng-hong itu, maka telah

kuutus orang untuk menyelidiki sebab kematiannya serta mengurusi juga layonnya. Eh,

omong-omong kenapa saudara Cu-wi menyinggung orang ini? Kau pun kenal padanya?”

tanya Lo Bun-pin.

Ho Leng-hong tertawa, “Bukan cuma kenal, malah aku tahu kalau dia sampai saat ini masih

hidup hakikatnya dia tidak mati.”

“Dari mana kau tahu?” tanya lagi Lo Bun-pin

“Sebab akulah Hong Leng-hong!” sahut pemuda itu sekata demi sekata.

Tentu saja semua orang terkejut dan saling pandang dengan air muka berubah.

Lo Bun-pin coba meraba jidat Ho Leng-hong kemudian mengamati wajahnya dengan

saksama, lalu dengan penuh perhatian ia bertanya. “Saudara Cu-wi, kau tidak sakit bukan?”

“Apakah aku mirip orang sakit,” jawab Ho Leng-hong.

Lo Bun-pin menyengir, “Aku pernah melihat Ho Leng-hong, dia adalah dia dan kau adalah

kau, mana bisa kalian dipersamakan menjadi satu?”

“Akupun lagi keheranan, jelas-jelas aku ini Ho Leng-hong, kenapa kalian berkeras

menganggap aku adalah Nyo Cu-wi? Aku jelas masih hidup, tapi kalian ngotot mengatakan

aku sudah mati?”

Lo Bun-pin terbelalak dengan mulut melongo dan tak tahu bagaimana harus menjawab.

11

Nyo-hujin lantas menangis, dengan tersengguk dia berkata, “Coba lihat, semua ini gara-gara

minum arak, kalianlah yang membuat dia menjadi begini, Ayo, apa yang hendak kaukatakan

sekarang....”

“Jangan panik dulu enso, tenanglah,” bujuk Lo Bun-pin, “Menurut pendapatku, mungkin

saudara Cu-wi kemasukan roh jahat, mungkin diganggu setan...”

“Roh dan setan jahat apa? Hm, justru kalian inilah setan-setan arak yang membuatnya jadi

begini,” teriak Nyo-hujin, “coba kalau kalian tidak mengajaknya minum arak, masa dia jadi

begini? Pokoknya kalian harus bertanggung-jawab kepada ku hari ini, kalau tidak, siapapun

jangan harap dapat meninggalkan Thian-po-hu.”

Malu sekali Lo Bun-pin menerima dampratan itu, ia menunduk dengan wajah merah, setelah

termenung sebentar ia bertanya kepada Thian Pek-tat, “Siau Thian, dapat dipercaya tidak

beritamu itu?”

“Tanggung bisa dipercaya, aku berani tanggung dengan batok kepalaku,” jawab Thian Pektat.

“Kalau begitu kita harus berusaha memperlihatkan bukti kepadanya, sekarang juga Siau Thian

berangkat ke Lok-yang serta mengangkat jenazah Ho Leng-hong ke Kiu-cui-shia sini, biar dia

menyaksikan dengan mata kepala sendiri untuk membuyarkan khayalan dalam benaknya,

otomatis sakitnya akan sembuh.”

“Benar!” Sungguh gagasan yang bagus” seru semua orang sambil manggut-manggut.

“Enso, terpaksa kita harus mengangkut jenazah itu kemari, tentunya kau tidak keberatan

bukan?” kata Lo Bun-pin kemudian.

“Manjur tidak?” tanya Nyo-hujin.

“Kukira hanya dengan cara inilah kita akan membuyarkan khayalan dalam benaknya, supaya

dia percaya bahwa dirinya bukan Ho Leng-hong.”

Nyo-hujin menghela napas panjang. “Ai, baiklah, asal Jit-long bisa disadarkan, tentu saja aku

setuju.”

“Akupun setuju,” sambung Ho Leng-hong sambil tertawa, “bahkan aku berani bertaruh, batok

kepala Thian kecil si telinga panjang perlu dicarikan cadangannya.”

Lo Bu-pin tidak menggubris ocehannya, buru-buru ia perintahkan orang mengantar Thian

Pek-tat ke Lok-yang.

Semua orang yang mengelilingi tempat tidur hanya memandang Ho Leng-hong dengan

perasaan kasihan, tidak ada yang mengajak bicara padanya.

Dalam anggapan mereka, Ho Leng-hong sudah gila, penyakitnya betul-betul sudah gawat.

Maklum, kalau identitas sendiripun sampai keliru, kalau bukan orang gila lantas apa

namanya?

Sebaliknya menurut pandangan Ho Leng-hong Lo Bun-pin dan lain-lain itulah yang goblok

dan menggelikan sekali.

Bagaimana tidak? Seorang yang masih hidup segar bugar mereka anggap sudah mati, Ho

Leng-hong yang mereka hadapi dikatakan sebagai Nyo Cu-wi, terutama nyonya rumah Thianpo-

hu ini, orang asing dianggap sebagai suami sendiri . . . .

Kalau kejadian ini sampai tersiar ke luar bukankah akan bikin orang tertawa hingga copot

giginya?

Semakin dibayangkan Ho Leng-hong makin geli.

Melihat dia tertawa sendiri tanpa sebab, orang semakin yakin ia sudah gila.

Sebaliknya karena semua orang makin menganggapnya gila, Ho Leng-hong juga tambah gila.

Maka suasana dalam Kiok-hiang-sia berubah menjadi kacau-balau, ada yang menangis, ada

yang tertawa, ada yang berbisik-bisik, ada pula yang menggeleng kepala sambil menghela

napas . . . .

-------------------------

12

Thian Pek-tat telah kembali.

Ia pulang bersama dua orang laki-laki yang menggotong sebuah pembaringan butut, di atas

pembaringan membujur sesosok mayat yang dibungkus kain kafan.

“Siau Thian, bikin repot dirimu!” kata Lo Bun-pin menyambut kedatangannya.

“Repot sih tidak,” jawab Thian Pek-tat sambil membesut keringat, “Cuma sepanjang jalan

kereta berjalan terlalu lambat, kalau bisa aku ingin membawanya terbang pulang kemari.”

“Sudah kau selidiki sebab-sebab kematiannya? Apa yang dikatakan mak germo Hong-hongwan?”

“Sudah kutanyakan langsung kepada Siau-Cui. Konon waktu masuk ke sarang pelacuran

semalam, Ho Leng-hong sudah dalam keadaan mabuk, begitu masuk kamar dia lantas tidur,

semalaman tidurnya nyenyak sekali, pagi-pagi baru diketahui badannya sudah membujur kaku

dan dingin.....”

“Kalau begitu ia mati karena mabuk?”

“Keadaan yang sesungguhnya belum bisa kukatakan, tapi yang pasti lima puluh tahil perak itu

masih berada di kamar Siau Cui, setahilpun tidak berkurang, jadi tak mungkin mati lantaran

perampasan harta.”

Lo Bun-pin menghela napas panjang, “Ai, sayang benar! Seorang lelaki perkasa harus mati

tanpa diketahui sebab musababnya . . . . .”

Kepada Ho Leng-hong ia berkata, “Nyo-heng kau berkeras mengatakan dirimu adalah Ho

Leng-hong tapi kenyataan telah membuktikan Ho Leng-hong telah mati di kota Lok-yang,

bahkan jenazahnya sekarang sudah diangkut kemari, tidak inginkah kau memeriksanya

sendiri?”

“Tentu saja harus kuperiksa,” Ho Leng-hong tertawa, “aku tidak percaya di dunia ini terdapat

dua orang Ho Leng-hong yang mempunyai bentuk wajah yang sama.”

“Baik. Tapi kurasa mukanya tentu sudah tak sedap dipandang, harap enso menyingkir dulu,”

kata Lo Bun-pin.

Nyo-hujin dan sekalian dayangnya lantas memutar badan dan menghadap ke arah lain, Lo

Bun-pin segera menggapai kepada kedua laki-laki itu agar menggotong masuk mayat tersebut.

Perlahan Thian Pek-tat membuka kain kafan yang menutupi wajah jenazah.

Tiba-tiba senyuman Ho Leng-hong menjadi beku . . . siapa lagi yang berbaring itu kalau

bukan Ho Leng-hong?

“Sekarang kau sudah percaya bukan, saudara Nyo?” tanya Lo Bun-pin kemudian.

Kecurigaan seketika menyelimuti benak Ho Leng-hong, tiba-tiba ia mencengkeram urat nadi

pada pergelangan tangan Thian Pek-tat, bentaknya “Dari mana kaudapat mayat palsu itu?

Hayo lekas jawab!”

“Tidak! Tidak ada mayat palsu . . . ini . . . ini jenazah Ho Leng-hong, jenazah asli bukan

palsu....” jawab Thian Pek-tat dengan tergagap.

“Tenang, tenang dulu saudara Nyo, jangan emosi . . . .” seru semua orang sambil maju

melerai.

“Ya, lepaskan dulu Siau Thian, kalau ada persoalan boleh kita bicarakan secara baik-baik.”

“Betul! Lepaskan dulu, semua kan sahabat sendiri . . . . “

Ho Leng-hong coba meraba muka sendiri, tiba-tiba timbul perasaan merinding dari lubuk

hatinya, sambil membentak ia menggentakkan Thian Pek-tat ke samping, lalu disambarnya

pembaringan butut itu dan dilemparkan ke luar . . . .

Kedua laki-laki itu tak dapat berdiri tegak dan terlempar keluar berikut pembaringan tersebut.

Ho Leng-hong manfaatkan kesempatan itu untuk menerjang keluar villa itu, ia coba melongok

ke luar pagar jembatan . . . .

“Cepat alangi, dia mau melompat ke air bunuh diri.”

“Tutuk dulu jalan darahnya, tangkap!”

13

“Dia sudah gila, cepat cepat! . . .”

Padahal Leng-hong tidak gila, iapun tidak bermaksud terjun ke air untuk bunuh diri, dia hanya

ingin bersandar di tepi jembatan dan menggunakan air kolam untuk melihat raut wajahnya

sendiri.

Dan sekarang ia dapat melihat jelas, seketika ia melongo.

Bukan wajah Ho Leng-hong yang muncul di permukaan air, tapi seraut wajah tampan seorang

laki-laki setengah umur yang berkulit putih.

Tak bisa disangsikan lagi, laki-laki setengah umur yang ganteng ini bukan lain adalah Nyo

Cu-wi, pemilik istana Thian-po-hu.

Ho Leng-hong belum pernah berjumpa dengan Nyo Cu-wi, tapi ia merasa seperti pernah

kenal bayangan orang yang muncul di permukaan air itu.

Ia menjadi bingung dan ragu-ragu . . . jangan-jangan dia memang sudah mati?

Benarkah dirinya sudah berubah menjadi Nyo Cu-wi? Tak sempat ia berpikir lagi, tak sempat

ia memandang lebih teliti, sebab Lo Bun-pin dan lain-lain sudah keburu maju merubungi, ada

yang menarik tangannya, ada yang memegang kakinya, bahkan ada pula yang menutuk jalan

darahnya, kemudian beramai-ramai mereka menggotongnya masuk kembali ke Kiok-hiangsia

. . . .

-------------------------

Pepatah kuno berkata: Sekali masuk rumah bangsawan, dalamnya melebihi samudra.

Artinya rumah kediaman orang besar tidak gampang dikunjungi atau ditinggalkan.

Meskipun Thian-po-hu di Kiu-ci-shia bukan istana kaum bangsawan atau tempat orang

berpangkat, tapi tempat ini merupakan tempat tinggal jago persilatan yang ternama, baik

luasnya bangunan, kemewahan, dan kemegahan perabot maupun ketatnya penjagaan, tidak

kalah dengan gedung orang berpangkat.

Bila Ho Leng-hong ingin kabur dari Thian-po-hu, hal ini jauh lebih sukar daripada naik ke

langit.

Sekalipun demikian, setiap saat ia selalu berusaha melarikan diri dari sana.

Hal ini tidak berarti ia meremehkan kenikmatan hidup yang di terimanya di Thian-po-hu, juga

tidak berarti ia enggan tinggal dalam gedung yang megah melebihi istana ini, tapi dia harus

mencari jawaban terlebih dahulu tentang siapakah dia yang sebenarnya? Sebab ia sendiripun

mulai bingung.

Semenjak melihat mayat “Ho Leng-hong”, sejak melihat tampang “Nyo Cu-wi” yang muncul

di permukaan air, ia mulai ragu, ia mulai sangsi dan bingung.

Jenazah itu tidak palsu, baik perawakan, panca indera, raut wajah, semuanya persis Ho Lenghong,

sedikitpun tiada tanda-tanda yang mencurigakan.

Raut wajah Nyo Cu-wi juga tidak palsu, bukan saja semua orang menganggap demikian,

bahkan Nyo-hujin sendiripun tidak curiga, bagaimanapun ia menggosok dan mencuci

mukanya, semuanya membuktikan bahwa wajahnya bukan berubah lantaran dirias dengan

obat-obatan.

Tapi, ia masih ingat dengan jelas bahwa dia adalah Ho Leng-hong dari Lok-yang, kenapa

secara tiba-tiba bisa berubah menjadi Nyo Cu-wi dari Thian-po-hu di Kiu-ci-shia?

Daya ingat serta cara berpikirnya dimiliki orang ini, sebaliknya raut wajahnya, bentuk lahiriah

adalah milik orang yang lain, hal ini suatu kejadian yang cukup menyiksa batin.

Maka dari itu, Ho Leng-hong ingin melarikan diri, bukan Cuma ingin menghindari

penderitaan saja, tapi yang penting adalah ingin menemukan dirinya sendiri.

Ia pikir, hanya seorang yang mungkin tahu duduk perkara yang sesungguhnya . . . . . Siapakah

dia? --- Siau Cui.

14

Karena ia telah kehilangan pribadinya di pembaringan Siau Cui, bahkan dia masih ingat,

ketika terjadi “musibah” tersebut, Siau Cui pernah mohon kepadanya agar mengajaknya kabur

sejauh-jauhnya, kabur ke suatu tempat yang tak seorangpun mengenali diri mereka . . . .

Bila dibayangkan kembali sekarang, bukankah ucapan itu suatu pertanda bahwa segera akan

terjadi sesuatu?

Ho Leng-hong bertekad akan meninggalkan Thian-po-hu secara diam-diam dan satu-satunya

jalan untuk mewujudkan cita-citanya adalah merebut kepercayaan Nyo-hujin dan Lo Bun-pin

sekalian, bila sudah dipercaya, otomatis ia dapat bergerak bebas lagi.

Dan untuk mendapatkan kepercayaan mereka, satu-satunya cara adalah mengakui dirinya

adalah Nyo Cu-wi untuk sementara waktu.

Padahal keadaan telah memaksanya mau-tak-mau harus mengakui kenyataan tersebut.

Sudah tiga hari Ho Leng-hong dipaksa berbaring dalam Kit-hiang-sia, Lo Bun-pin sekalian

secara bergilir mendapat tugas untuk menjaga siang dan malam, sekalipun alasan mereka

untuk menemani, padahal yang benar adalah untuk mengawasinya, kuatir penyakit gilanya

angot lagi.

Enam-tujuh rombongan Hwesio dan Tosu siang malam secara bergilir membacakan kitab di

luar villa air, mereka berdoa untuk mengusir setan dan menundukkan roh jahat, suara

tetabuhan yang dibunyikan sangat berisik dan membuat orang tak bisa beristirahat dengan

tenang.

Suara gaduh dan ribut macam begini jangankan bisa mengusir setan atau roh jahat, sekalipun

orang yang tidak gila, lama kelamaan malah akan menjadi gila sungguh-sungguh.

Tapi ada satu kesulitan bagi Ho Leng-hong untuk mengakui dirinya sebagai Nyo Cu-wi,

sebab selama ini ia selalu berkeras mengatakan dirinya bukan Nyo Cu-wi.

Untuk ini, sedikitnya dia harus mencari suatu “alasan” yang tepat.

Tapi alasan apa yang dapat digunakannya? Ah, ada akal . . . . .

Saat itu suatu rombongan Tosu sedang membunyikan alat tetabuhan, berdoa sambil

mengelilingi villa itu.

Sebagai pemimpin rombongan adalah seorang Hoatsu (pendeta agama To) yang bertubuh

kurus kering dengan kumis tikus, tampangnya rada mirip Siau Thian.

Sejak semula Ho Leng-hong jemu melihat tampangnya, sebab Tosu kecil ini bukan saja

suaranya tinggi melengking, caranya berdoa pun seperti jeritan setan, bahkan beberapa kali

jeritannya menyadarkan dia dari tidurnya. Kini tiba kesempatan yang baik untuk memberi

“hajaran” kepadanya.

Begitulah, tatkala Hoatsu itu tiba di pintu villa dan siap menggoyangkan pedang kayunya

sambil membaca mentera pengusir setan, mendadak Ho Leng-hong melompat bangun, lalu

berteriak keras, “Ada setan! Hai, kalian cepat kemari, tangkap setan itu! Tangkap!”

Kebetulan Lo Bun-pin yang mendapat giliran berjaga, buru-buru ia menghampirinya seraya

bertanya, “Saudara Cu-wi, apa yang kau lihat?”

“Setan! Setan bertubuh ceking, bertangan empat dan kaki tiga! Cepat! Cepat tangkap! . . . . . “

“Di mana?” tanya Lo Bun-pin dengan melenggong.

Sambil menuding Hoatsu itu kembali Ho Leng-hong berteriak, “Itu dia! Di depan pintu

kamar, itu yang memakai jubah Pat-kwa sambil membawa pedang kayu . . . . . dia itulah setan

. . . . . dia setan! . . . . . .”

“Keliru besar saudara Cu-wi, orang itu bukan setan, dia Ku-gwat Hoatsu dari Giok-siu-koan

yang sengaja di undang untuk menangkap setan . . . . . “

“Tidak! Dialah setannya!” teriak Ho Leng-hong lagi, “dengan mata kepalaku sendiri kulihat

ada setan menyusup ke tubuhnya, kalian cepat menangkapnya, cepat menangkapnya! . . . . . .

Sementara itu Nyo-hujin yang beristirahat di balik ruangan serta para Busu (pesilat) yang

berjaga di sekitar villa itu sama berdatangan karena mendengar suar ribut itu.

“Jit-long, benarkah kau melihat setan?” tanya Nyo-hujin dengan penuh perhatian.

15

“Siapa bilang tidak? Setan itulah yang selama tiga hari mencekik leherku, mengganggu

ketenanganku sehingga tak bisa beristirahat dengan baik, cepat kalian tangkap setan itu!”

Nyo-hujin memandang Lo Bun-pin, lalu bisiknya, “Apa yang terjadi?”

“Kejadian ini memang agak aneh, sudah tiga hari ia membungkam, tapi begitu buka suara ia

menganggap Ku-gwat Hoatsu sebagai setan . . . . .”

“Hei, jangan biarkan dia kabur, cepat kalian tangkap setan itu,” terdengar Ho Leng-hong

masih berteriak, “nyawaku telah tertelan ke perutnya, kalau dia kabur dari sini, habislah

riwayatku.”

“Kukira kejadian ini agak mencurigakan,” kata Nyo-hujin kemudian sambil berkerut kening,

“lebih baik kita turuti permintaan Jit-long, tangkap dulu Tosu tersebut.”

“Tapi . . . tapi . . . rasanya kurang baik . . . .” Lo Bun-pin ragu-ragu.

“Tidak menjadi soal, kita utamakan si sakit daripada Tosu tersebut, sekalipun harus

menyakitinya, paling-paling kita beri saja uang yang lebih banyak, dan urusan akan beres

dengan sendirinya.” Sambil berkata nyonya Nyo lantas memberi tanda kepada para Busu.

Begitu mendapat perintah, serentak para Busu itu menyerbu maju dan menangkap Ku-gwat

Hoatsu.

Tentu saja para Tosu yang sedang membaca mantra pengusir setan tidak mengerti apa yang

terjadi, mereka menjadi panik saking kagetnya.

Lebih-lebih Ku-gwat Hoatsu, ia tidak habis mengerti dengan kejadian yang menimpa dirinya,

dengan gelagapan ia bertanya, “He, apa-apaan ini . . . aku datang untuk menangkap setan . . . .

kenapa kalian malah menangkap diriku! . . . .”

“Kaulah setannya, berani betul kau berpura-pura menangkap setan?” hardik Ho Leng-hong.

“Aku . . . aku . . . .” Ku-gwat Hoatsu betul-betul jadi bingung, dan tak sanggup berbicara.

“Mengaku sajalah, hayo cepat muntahkan keluar nyawaku, kalau tidak . . . jangan menyesal

bila kuberi ganjaran yang setimpal,” teriak Leng-hong.

Mulut Ku-gwat Hoatsu melongo lebar-lebar dan tak tahu apa yang mesti dikatakan.

“Pengawal, lolohkan kotoran manusia ke dalam mulutnya, perintahkan kepadanya untuk

memuntahkan nyawaku, cepat lakukan!” teriak Ho Leng-hong lagi.

Karena Nyo-hujin tidak menunjukkan rasa keberatan, serta-merta para Busu itu mengerjakan

apa yang diperintahkan, segentong kotoran manusia segera dipikul datang, lalu Ku-gwat

Hoatsu ditelentangkan di tanah dan dicekoki kotoran itu.

Kasihan Ku-gwat Hoatsu, mau menolak tak bisa, melawan juga tak kuat, tak menolak

perutnya tak tahan . . . Akhirnya ia tumpah-tumpah hebat, isi perutnya nyaris ikut tertumpah

keluar.

Sesudah Tosu itu tumpah-tumpah, Ho Leng-hong menarik napas lega, ia memejamkan mata

dan berbaring kembali di atas pembaringan . . . .

Lo Bun-pin menyuruh para Busu membawa pergi Ku-gwat Hoatsu yang “setengah mati”

sesudah diberi uang lebih banyak.

Setelah kawanan Tosu dienyahkan, Ho Leng-hong lantas sadar kembali, kata pertama yang

diucapkan setelah membuka matanya adalah, “Aku lapar, apakah ada makanan enak?”

Kalau orang sakit sudah tahu lapar, itu berarti penyakitnya sudah sembuh.

Saking gembiranya hampir saja Nyo-hujin melelehkan air mata, buru-buru ia titahkan orang

untuk menyiapkan makanan, lalu tanyanya, “Jit-long, bagaimana perasaanmu sekarang?

Sudah mengerti bukan?”

“Aku baik sekali! Apakah yang tidak mengerti?”

“Sudah tahu siapa dirimu? Tempat apakah ini?”

“Lucu, tempat ini kan Kiok-hiang-sia, terletak di taman belakan istana Thian-po-hu di Kiu-cisia,

inilah rumahku sendiri, kenapa tidak tahu?”

“Lalu siapa namamu . . . .”

“Aku Nyo Cu-wi, memangnya kalian kira aku ini siapa?”

16

Nyo-hujin menarik napas lega, “Terima kasih kepada langit dan bumi, akhirnya kau sadar

kembali.”

“Eh, apakah terjadi sesuatu?” tanya Leng-hong.

“O, tidak . . . . tidak . . . . . .” buru-buru Lo Bun-pin menanggapi sambil tertawa, “terlalu

banyak arak yang diminum Nyo-heng sewaktu ada di rumahku tempo hari hingga mabuk

hebat, enso terus menerus mengomeli Siaute, untunglah sekarang sudah beres, dapatlah

kumohon diri . . . . “

“Eh jangan pergi dulu, jangan pergi dulu, apa salahnya kalau mabuk bila sobat lama

berkumpul. Kau kan tahu tabiat ensomu, masa masih marah padanya?”

“Ah, mana berani,” kata Lo Bun-pin.

“Nah, begitulah,” kata Ho Leng-hong sambil tertawa, “kita harus berkumpul beberapa hari

lagi, jangan pergi, kita boleh bercakap-cakap sepuasnya.”

“Bercakap-cakap boleh saja, tapi ingat, jangan minum sampai mabuk lagi,” Nyo-hujin

memperingatkan.

“Kalau Cuma mabuk sedikit kan tidak apa, asal tidak kelewat takaran,” ujar Ho Leng-hong,

“kenapa kau mesti menghilangkan kegembiraan orang banyak?”

“Betul!” Thian Pek-tat menanggapi sambil tertawa, “Nyo-hujin, bukannya aku Siau Thian

rakus dan ingin minum arak, tapi pada umumnya barang siapa baru sadar dari mabuk hebat

dia harus minum beberapa cawan arak lagi, dengan begitu baru badan takkan terganggu, arak

ini namanya Hoan-hun-ciu (arak pengembali sukma).”

“Betul, memang begitu,” kata semua orang, “kalau tidak minum Hoan-hun-ciu, orang akan

merasa pusing-pusing kepala selama beberapa hari, setiap peminum sama mempunyai

pengalaman seperti ini.”

“Hahaha! Siau Thian memang selalu menarik dalam soal-soal begini,” kata Ho Leng-hong

sambil tertawa, “rupanya Hoan-hun-ciu mau-tak-mau harus kuselenggarakan.”

Di tengah gelak tertawa orang ramai, Nyo-hujin tak bisa menolak lagi, terpaksa ia menyuruh

orang menyiapkan arak.

Ho Leng-hong bukanlah seorang yang gemar minum arak, ia berbuat demikian hanya untuk

mencari kesempatan agar lebih memahami keadaan Thian-po-hu.

Terlampau sedikit yang diketahuinya tentang Thian-po-hu ini, bahkan siapa nama kecil Nyohujin

pun tidak diketahui, kalau kurang lancar dalam soal panggil memanggil bisa

mengakibatkan rahasianya ketahuan dan sulit lagi untuk mendapatkan kepercayaan orang.

Betul juga, setelah “arak pengembali sukma” diselenggarakan, semua kesulitan yang

dikuatirkan berhasil diatasi dengan mudah.

Bukan saja ia mengetahui Nyo-hujin bernama Pang Wan-kun, bahkan mengetahui juga dia

adalah adik kandung It-kiam-keng-thian (pedang sakti menuding langit) Pang Goan, pemilik

istana Cian-sui-hu dari Liat-liu-shia yang ilmu silatnya tidak di bawah Nyo Cu-wi.

Thian-po-hu dari Kiu-ci-shia, Cian-sui-hu dari Liat-liu-shia ditambah Hiang-in-hu dari Huyong-

shia di wilayah Leng-lam disebut orang sebagai Bu-lim-sam-hu (tiga istana dunia

persilatan) mereka semua merupakan keluarga persilatan yang tersohor di dunia.

Sebab itulah selain menaruh “hormat dan sayang”, Nyo Cu-wi juga merasa “jeri” terhadap

istrinya yang cantik bak bidadari dari kahyangan ini.

-------------------------

Nyo Cu-wi terkenal sebagai laki-laki yang takut bini, terpaksa Ho Leng-hong tak dapat

terlampau menunjukkan kejantanannya.

17

Karenanya ketika malam itu Pang Wan-kun minta ia pindah dari Kiok-hiang-sia ke kamar

tidur mereka, ia tak berani membantah melainkan hanya menurut saja.

Tapi sekarang muncul masalah baru.

Apabila suami isteri tidur bersama dalam satu kamar, tentunya akan melakukan “tugas dan

kewajiban”, hal inilah yang menyulitkan Ho Leng-hong.

Sebenarnya soal “begituan” bukan hal baru bagi Ho Leng-hong, yang merisaukan dia adalah

dalam bermesraan antara suami-isteri tentu ada sesuatu “rahasia” yang menyangkut diri

pribadi, untuk ini jelas tak bisa “diwakilkan” kepada orang lain, karena bila rahasianya

ketahuan, akibatnya pasti akan runyam.

Sejak kakinya melangkah masuk ke dalam kamar tidur, Ho Leng-hong merasa hatinya

berdebar keras . . . .

Ia tak dapat menolak untuk tidur sekamar, maka satu-satunya jalan untuk menghindari segala

kemungkinan hanya main “mengulur waktu”, diambilnya sejilid buku, lalu duduk di tepi

jendela sambil membaca.

Apa isi buku itu tak sehuruf pun yang masuk dalam benaknya, ia hanya berharap Pang Wankun

cepat-cepat tertidur, itulah sebabnya meski mata memandang buku, tapi telinganya

memperhatikan suara gerak-gerik dalam kamar.

Bwe-ji telah membereskan pembaringan, menutup pintu dan mengundurkan diri, apa mau

dikata, Pang Wan-kun justru tidak mau tidur, seorang diri ia gemerasak dalam kamar, entah

apa yang dilakukannya.

Tak terlukiskan rasa gelisah Ho Leng-hong, terpaksa ia harus berpura-pura menaruh

perhatian, katanya, “Wan-kun, tidurlah dulu, beberapa hari ini kau tentu kepayahan.”

“Dan kau?” tanya Pang Wan-kun.

“Aku belum ngantuk, biar kuselesaikan dulu beberapa halaman buku ini, tak usah tunggul

lagi.”

Langkah kaki tiba-tiba berkumandang makin dekat, dan Pang Wan-kun malah muncul dari

dalam.

“Hei, buku apa yang kaubaca?” tegurnya sambil tertawa, “tampaknya asyik benar, sampai

lupa tidur?”

Ah, buku . . . . . . .” tiba-tiba muka Ho Leng-hong menjadi merah dan urung bicara, buku itu

cepat-cepat ditutup, kalau ada lubang ingin sekali buku itu segera disembunyikan.

Sayang terlambat sebab Pang Wan-kun telah merampas buku itu.

“Buku baik biar akupun ikut baca, kenapa disembunyikan . . . . .” ia mengomel. Tapi sebelum

lanjut ucapannya, mendadak pipinya berubah merah jengak, sambil membanting buku itu,

serunya, “Sialan! Buku beginian yang kaubaca!”

Rupanya buku yang diambil Ho Leng-hong sekenanya dari rak buku itu bukan lain adalah

buku porno.

Adalah wajar bila di kamar tidur suami-isteri muda tersimpan buku macam begini, celakanya

Ho Leng-hong mengeluarkan buku demikian dalam suasana seperti ini, hal ini ibaratnya api

disiram minyak, tambah merangsang nafsu . . . . .

Tampaknya sulit bila malam ini hendak dilewatkan dengan “aman dan tenteram”.

Terpaksa Ho Leng-hong pura-pura bergelak untuk menutupi rasa jengahnya, ia berbangkit,

katanya, “Baiklah, tidak membaca lagi, bagaimana kalau jalan-jalan di taman saja?”

Wan-kun tidak menyatakan setuju, juga tidak menolak, dia hanya menundukkan kepala

sambil memainkan ujung bajunya.

Ho Leng-hong membuka pintu yang menghubungkan villa itu dengan taman, lalu menarik

napas panjang, katanya, “Betapa indahnya bulan purnama, sayang bila malam seindah ini

dilewatkan begitu saja.”

Pang Wan-kun masih belum bersuara, dengan lembut ia merangkul bahu pemuda itu dan

bersandar mesra di dadanya yang bidang.

18

Bulan purnama bersinar terang di angkasa, bau harum bunga semerbak, membuat orang

terlena, kedua “suami isteri” berangkulan dengan mesra di tengah keheningan malam yang

jernih, sungguh suasana yang romantis.

Ho Leng-hong tak dapat meresapi keindahan alam dan suasana romantis itu, apa yang

dirasakan hanya keresahan, pikirannya tak tenang, ia hanya berdoa semoga malam ini dapat

dilewatkan dengan selamat.

Di bawah sinar bulan purnama, kedua “suami isteri” itu berjalan-jalan di tengah taman yang

sepi, rupanya Pang Wan-kun merasa dingin karena bajunya tipis, ia bersandar dalam pelukan

Ho Leng-hong dengan manja.

Ho Leng-hong bukan laki-laki yang alim, hampir saja ia tak sanggup mengendalikan diri,

terpaksa mereka duduk di sebuah bangku batu.

Begitu duduk, Pang Wan-kun lantas berbaring dalam pangkuan sang “suami” sambil

menghela napas panjang, bisiknya lirih, “Jit-long, masih ingatkah kau pada musibah yang

menimpamu tahun yang lalu?”

Ho Leng-hong melenggong dan tak dapat menjawab.

Untung Wan-kun tidak menanti jawabannya, ia bergumam sendiri, “Musim semi tahun yang

lalu, keadaannya seperti juga sekarang, malam sunyi dengan bulan purnama yang indah

sekali, waktu itu kitapun berdua, duduk di tepi telaga Siau-thian-ti di puncak Lu-san sambil

menikmati keindahan rembulan....”

Ah, kiranya begitulah kejadiannya!

Buru-buru Ho Leng-hong tertawa, “Siapa bilang aku lupa? Pemandangan alam Lu-san

memang lain daripada yang lain, sebab itulah dalam syair kuno tercantum kata-kata yang

berbunyi: Sekalipun tidak kenal wajah Lu-san yang sebenarnya, berjodohlah bila berada di

gunung tersebut....”

“Bukan keindahan alam Lu-san yang kumaksudkan,” tukas Wan-kun cepat, “aku berbicara

tentang kau digigit ulat beracun itu.”

Sekali lagi Ho Leng-hong tertegun, ia tidak tahu Nyo Cu-wi pernah digigit ulat beracun,

terpaksa sahutnya secara samar-samar, “Ya.... Lu-san memang tempat yang menarik sayang

serangga beracunnya terlalu banyak, menjemukan....”

“Salah siapa?” Wan-kun menutup mulutnya sambil cekikikan, “siapa suruh kau

membayangkan hal yang bukan-bukan? Tanpa sebab tiba-tiba kau ingin menggaet rembulan

dalam kolam? Itulah akibatnya, rembulan tak berhasil kaudapat, punggungmu malah disengat

makhluk beracun, esoknya luka ini bengkak besar dan akhirnya terpaksa harus dioperasi dan

meninggalkan bekas luka. Masih ingatkah kau akan kejadian itu?”

“Masih ingat, masih ingat,” Ho Leng-hong tertawa getir, “Ai, waktu itu aku hanya ingin

main-main, siapa tahu bisa jadi sial begitu.”

Dengan lembut Wan-kun meraba pipi sang “suami”, dengan penuh menyesal ia berkata,

“Padahal akulah yang menerbitkan gara-gara itu, akulah yang menyuruh kau mengambilkan

rembulan itu di telaga segala. Ya, ketika itu kita memang sedikit agak mabuk.”

“Ya, memang begitulah,” sambung Ho Leng-hong cepat, “kalau tidak mabuk, siapa yang akan

melakukan perbuatan sebodoh itu.”

“Padahal waktu itu aku cuma bergurau, siapa tahu kau menganggapnya sungguhkan?”

“Mana aku berani tidak anggap sungguhkan perkataanmu? Sekalipun kau menginginkan

bintang di langit juga akan kucarikan tangga untuk naik ke langit dan memetiknya bagimu.”

“O, Jit-long, sungguhkah kau begitu menurut pada perkataanku?” bisik Wan-kun lembut.

“Tentu saja,...” tapi begitu jawaban diucapkan, segera Leng-hong merasakan gelagat tak baik.

Jelas apa yang diucapkan Pang Wan-kun ini hanya kata-kata “pengantar” belaka, sebab

tangannya sudah mulai merosot dari pipi ke tengkuk Ho Leng-hong, bahkan terus turun ke

bawah, meraba dadanya, pinggangnya . . . terus . . . .

Tangan yang halus itu bagaikan seekor ular kecil yang merayap masuk ke balik bajunya.

19

Kini Ho Leng-hong bersetatus sebagi “suami” tentu saja ia tak dapat menolak belaian cinta

sang “isteri”, tapi ia sadar bila adegan panas yang merangsang ini berlangsung terus,

“akibatnya”nya sukarlah dilukiskan.

Terpaksa ia berpura-pura takut geli, sambil menggeliat ke sana kemari ia menangkap tangan

itu dari luar baju.

“Jangan begini Wan-kun,” bisiknya sambil tertawa, “kalau dilihat para pelayan, kita bisa

ditertawakan . . . .”

“Hm, semua pelayan sudah tidur, lepaskan bajumu Jit-long, biar kuraba bekas luka di

tubuhmu itu, mau?”

Sungguh gawat, sebab punggungnya hakikatnya tidak terdapat codet seperti apa yang

dimaksudkan, kalau sampai diraba, bukankah urusan bisa runyam?

“Ah, paling-paling Cuma sebuah codet belaka, apa enaknya diraba?” kata Leng-hong cepat.

“Marilah Wan-kun, kita bicara soal lain saja . . . .”

“Tidak, aku suka merabanya, selama ini kau selalu mengizinkan aku merabanya, kenapa

sekarang kautolak permintaanku?”

“Bukannya menolak, kukuati dilihat para pelayan yang kebetulan masuk kemari.”

“Kan sudah kukatakan, semua pelayan sudah tidur, tak nanti ada orang yang masuk kemari.”

“Sekalipun tak ada orang, siapa tahu kalau di sini ada ulat beracunnya? Kalau sampai kena

disengat lagi, wah bisa celaka.”

“Jit-long,” kata Wan-kun seraya merayu, “selamanya kau menuruti kehendakku, kenapa

sekarang sikapmu berubah?”

“Aku . . . aku . . . . “ Leng-hong gelagapan.

“Pokoknya aku tak mau tahu, aku tetap akan merabanya.”

Apa yang diucapkan segera dilaksanakan, ia merangkul leher Ho Leng-hong dengan tangan

kiri, sedang tangan kanan dengan cepat merogoh ke balik bajunya, lewat di bawah ketiak dan

meraba punggungnya . . . .

Ho Leng-hong tak bisa menghindar lagi, peluh dingin sampai membasahi dahinya, dalam hati

ia mengeluh, “Habis, tamatlah lelakonku kini, semua rahasiaku bakal terbongkar . . . .”

Tapi apa yang terjadi? Ketika tangan Pang Wan-kun berhenti di punggungnya, ia tidak

menunjukkan sesuatu reaksi yang “di luar dugaan”, malah dia merabanya dengan penuh kasih

sayang.

“O, codet yang menawan hati,” gumamnya dengan rasa puas, “Inilah kenangan yang

kauberikan kepadaku akibat ingin mengambil rembulan di kolam, sepanjang hidup akan

kubelai terus dengan kasih sayang, tak akan kubiarkan kenangan itu meninggalkan jari-jari

tanganku untuk selamanya. . . .”

Ho Leng-hong menjadi kaget tercampur bingung, seketika ia terkesima.

Mimpipun ia tak menyangka di punggungnya terdapat codet, sebuah codet yang persis seperti

codet yang dimiliki Nyo Cu-wi.

Ia tak pernah menggaet rembulan di telaga Siau-thian-ti di Lu-san, iapun tak pernah disengat

ulat beracun, tapi darimana datangnya codet? Apakah dirinya memang Nyo Cu-wi yang

sesungguhnya?

Jangan-jangan Ho Leng-hong benar-benar sudah mati?

Atau mungkin . . . . . .

Tidak! Tak mungkin, untuk membuktikan kejadian yang sesungguhnya, ia harus mencari Siau

Cui?

-------------------------

Siau Cui adalah pelacur yang terdaftar di rumah pelacuran Hong-hong-wan, pelacur resmi,

siapapun boleh mencarinya.

20

Tapi tidak berlaku bagi Ho Leng-hong.

Sebab statusnya kini adalah pemilik Thian-po-hu yang tersohor dan terhormat di Kiu-ci-shia,

tentu saja ia tak dapat sembarangan mengunjungi rumah pelacuran dan menemui seorang

pelacur.

Untuk menyembunyikan identitasnya, sengaja Ho Leng-hong mengenakan sebuah mantel

hitam serta sebuah topi lebar, sebagian besar wajahnya hampir tertutup oleh tepian topi yang

lebar itu.

Ketika kentungan pertama baru lewat, dengan kepala tertunduk ia melangkah masuk ke dalam

Hong-hong-wan.

Melihat ada tamu datang, pesuruh rumah pelacuran segera berteriak lantang, “Ada tamu!”

Baru sepatah kata meluncur keluar, tiba-tiba mulutnya tersumbat oleh sepotong benda keras.

Sekeping uang perak yang berkilauan.

“Jangan berteriak, jangan berisik,” desis Ho Leng-hong sambil merangkul leher pesuruh itu.

“Beritahu kepadaku, Siau Cui ada atau tidak?”

Mula-mula pegawai itu kaget, tapi setelah memuntahkan benda itu dari mulutnya dan

mengetahui benda apakah itu, dengan kejut bercampur girang sahutnya cepat, “Ada! Ada!

Ada!”

“Dalam kamarnya ada tamu?”

“Ada! Ada! Ada . . . .” mendadak ia merasakan perkataannya tidak tepat, cepat sambungnya

lagi “Tuan, yang kautanyakan adalah . . . . .”

“Nona Siau Cui yang tinggal di kamar serambi barat.”

“O, rupanya engkau menanyakan Siau Cui?” pesuruh itu menyengir, “tidak ada, tidak ada

tamu, nona Siau Cui sudah tidak menerima tamu lagi, sekarang iapun tidak tinggal di kamar

sebelah barat.”

“Oya? Kenapa?”

“Tuan, besar kemungkinan engkau datang dari luar daerah, bukan? Masa engkau tidak tahu

Siau Cui tertimpa musibah?”

“Musibah apa?”

“Sebenarnya urusan semacam ini tidak pantas kukatakan kepada Tuan,” ujar pelayan itu

berlagak rahasia, “cuma lantaran hamba lihat Tuan adalah orang baik, hamba tidak tega untuk

mengelabuimu. Tuan, menurut pendapat hamba, Hong-hong-wan kami masih banyak nona

cantik yang lain, mau pilih yang macam apapun ada, yang lebih hebat dari Siau Cui pun ada,

tapi jangan sekali-kali kau mencarinya lagi.”

“Kalau mencarinya kenapa?”

“Terus terang kuberitahu kepadamu, Tuan, belakangan ini Siau Cui lagi sial, seorang buaya

she Ho yang mabuk kedapatan mati dalam kamar Siau Cui, sejak itulah siapapun tak berani

masuk ke kamarnya, sebab itulah Mama menyuruh dia berhenti bekerja untuk sementara

waktu, sekarang ia sudah pindah ke kamar bagian belakang . . . .”

“Kenapa secara tiba-tiba orang she Ho itu mati?”

“Siapa yang tahu? Pokoknya setiap hari bocah itu kerjanya Cuma keluyuran, ya minum arak,

ya berjudi, jelas bukan manusia baik-baik. Menurut pendapatku, kalau bukan mampus karena

luka akibat berkelahi, tentu mampus keracunan arak lantaran terlalu banyak minum, orang

luar sih tidak peduli, mereka hanya tahu dia mampus di sini, yang celaka adalah Siau Cui,

gara-gara kejadian ini ia nyaris diseret ke pengadilan.”

“Ah, orang yang mengatakan begitu sungguh keterlaluan, sekalipun dia mati secara

mendadak, itu kan bukan salah Siau Cui?”

“Betul juga perkataanmu, tapi dia kan seorang nona penghibur, kalau sampai mengalami

kejadian sial semacam ini, siapa lagi yang berani masuk ke kamarnya?”

“Kalau begitu, jadi gara-gara orang she Ho itulah Siau Cui ikut tertimpa sial?” jengek Lenghong.

21

“Bukan Siau Cui saja yang tertimpa malang, usaha kampiun ikut terpengaruh. Ai, bocah she

Ho itu sungguh bikin celaka orang saja.”

Kalau bisa Leng-hong ingin memberi beberapa kali tempelengan pada pesuruh yang lancang

mulut ini, tapi sedapatnya ia tahan perasaannya.

“Siau Cui tinggal di halaman belakang sebelah mana?” tanyanya kemudian, “jangan kuatir,

bawa saja diriku ke sana, dan uang perak itu untuk minum arak bagiku.”

“Tuan, kau tidak takut?” tanya orang itu dengan suara parau.

Ho Leng-hong menggeleng kepala sambil tertawa, “Jangan kuatir, jika akupun ikut mampus

di halaman belakang, anggap saja aku yang mencari kematian sendiri, tak nanti kubikin susah

kepadamu.”

Pesuruh tersebut ingin mendapatkan hadiah, cepat dia celingukan ke sekeliling tempat itu, lalu

bisiknya sambil memberi tanda, “Baik, ikutlah padaku.”

Mereka berdua masuk lewat pintu samping lalu mengitari ruang dan halaman tengah terus

masuk ke halaman belakang.

Sambil menuding sebuah rumah papan di sudut pekarangan sana, bisik pesuruh itu, “Di

sanalah nona Siau Cui berdiam, Tuan jangan berdiam terlalu lama di situ, kalau ketahuan

Mama, hamba bisa celaka.”

Ho Leng-hong menyuruh pergi orang itu, kemudian mengawasi rumah kayu itu dengan

saksama.

Rumah kayu itu jelek, sudah tua dan dekat dinding pekarangan, bagian sampingnya adalah

tempat menyimpan barang-barang tak terpakai, tentu saja bedanya bagaikan langit dan bumi

bila dibandingkan kamar Siau Cui di serambi barat sana.

Meskipun Siau Cui hanya seorang pelacur yang hina dina, tapi terhadap Leng-hong dia

memang jatuh cinta dengan tulus dan murni, Leng-hong menyesal karena tak dapat memenuhi

harapan kekasihnya, apalagi setelah menyaksikan penderitaan yang dialaminya sekarang, ia

menjadi malu hati.

Tapi, sesungguhnya salah siapakah itu?

Siapa yang telah “mencelakai” Ho Leng-hong?

Siapa yang membuat Ho Leng-hong “berubah” menjadi Nyo Cu-wi?

Apakah kejadian inilah yang disebut “roh masuk pada raga orang lain”?

-------------------------

Ho Leng-hong jelas tidak mengakui dirinya telah “mati”, iapun tidak percaya setan iblis

segala, apalagi tentang roh masuk ke tubuh orang lain.

Oleh sebab itu ia harus tanya langsung persoalan ini kepada Siau Cui.

Cahaya redup tampak bersinar di balik jendela rumah kayu itu, di dalam terdengar suara batuk

seorang yang berat.

Itulah suara batuk Siau Cui, paru-parunya memang lemah, sering kali dia terbatuk-batuk

sebelum tidur, terutama bila ada persoalan yang mengganjal dalam hatinya, ia akan

mengalami kesulitan untuk tidur.

Tiba-tiba Ho Leng-hong merasa terharu, ia menghela napas perlahan lalu mengetuk pintu.

“Siapa?” suara Siau Cui berkumandang dari dalam.

“Aku! Buka pintu, Siau Cui!”

“Siapa kau?”

“Ho Leng-hong......”

Celaka! Ketika nama itu disebutkan, Ho Leng-hong segera tahu urusan bakal runyam, tapi

mau ditarik kembali sudah tak keburu lagi.

Benarlah, dari balik ruangan berkumandang jeritan kaget, disusul suara pembaringan kayu

yang bergetar keras....

22

Mungkin Siau Cui sedang berbaring ketika mendengar jawabannya, sebab itu saking

kagetnya, ia melompat turun dari pembaringan.

“Aku datang untuk persoalan yang menyangkut Ho Leng-hong,” cepat Leng-hong memberi

penjelasan, “Bukalah pintu, Siau Cui, mau bukan?”

“Krek!” pintu terbuka sedikit.

Dengan suatu gerakan cepat Ho Leng-hong menyelinap masuk ke dalam, lalu menutup

kembali pintu kamar.

Suasana dalam rumah remang-remang, hanya sebuah lentera menerangi tempat itu,

keadaannya sangat sederhana, hanya terdapat sebuah pembaringan dan sebuah meja kecil.

Siau Cui meringkuk di pojok ruangan dengan muka pucat dan badan gemetar, wajahnya

memancarkan perasaan takut.

“Siapa.... siapa kau?” tegurnya dengan tergagap.

Perlahan Ho Leng-hong menanggalkan topi lebarnya, lalu berkata, “Siau Cui, aku adalah

Leng-hong, Sungguh! Meskipun mukaku telah berubah, tapi aku betul-betul adalah Ho Lenghong,

kau harus percaya kepadaku...”

Mata Siau-Cui terbelalak, lalu menggeleng berulang, “Tidak! Tidak! Kumohon kepadamu,

jangan menakuti diriku! Ho Leng-hong telah mati, siapa kau sebenarnya?”

“Siau-Cui, tak perlu omong kosong, kau tahu jelas bahwa aku tidak mati.”

Tidak, Ho Leng-hong benar-benar sudah mati, ia mati di kamar sebelah barat sana, dengan

mata kepalaku sendiri kusaksikan ia digotong keluar ....”

“Aku tak peduli, siapa yang mereka gotong keluar, pokoknya aku benar-benar adalah Ho

Leng-hong, sekarang aku masih hidup segar-bugar, Siau Cui, kau harus percaya kepadaku.”

“Tidak, akut tidak percaya! Aku tidak percaya!” Siau Cui menggeleng kepala, “aku tidak

kenal dirimu, aku hanya tahu Ho Leng-hong sudah mati.”

Leng-hong sadar bila keadaan begini berlangsung terus, persoalan akan sukar selesai, maka ia

berubah taktik, katanya, “Baiklah, kalau kau berkeras tak mau percaya kepadaku, akupun tak

akan memaksa. Sekarang perhatikan diriku baik-baik, pernahkah kau melihat diriku sebelum

ini?”

Dengan seksama Siau Cui mengamati wajahnya, lalu menggeleng, “Belum pernah!”

“Coba pikir lagi, pernahkah kenal denganku di suatu tempat?” desak Leng-hong pula.

“Tidak pernah!”

“Jadi kita baru pertama kali bertemu sekarang?”

“Benar!”

“Tapi aku tahu di sebelah kiri perutmu, di bawah pusar, terdapat setitik tahi lalat, di sebelah

kanan belakang pinggangmu juga terdapat sebuah toh hitam, benar tidak?” kata Leng-hong

sambil tertawa.

Siau Cui melengak, sampai sekian lama ia melongo, lama sekali baru bertanya dengan

tergegap, “Kau dengar dari siapa?”

“Kulihat dengan mata kepalaku sendiri,” Leng-hong tertawa, “Seandainya kita tak pernah

kenal sebelum ini dan baru bertemu untuk pertama kalinya, darimana kutahu akan tanda

rahasia di atas tubuhmu?”

Perlahan Siau Cui menghela napas panjang, “Kenapa heran? Kami orang-orang yang

melakukan pekerjaan semacam ini sudah biasa buka pakaian di depan setiap pria yang

berkunjung kemari, soal itu sudah bukan rahasia lagi.”

“Baiklah, bila kau anggap tanda rahasia di tubuhmu sudah bukan rahasia lagi, kata-kata

pribadimu dengan Ho Leng-hong tentu tak diketahui orang lain bukan? Sebagai contoh katakata

yang kau bicarakan malam menjelang kejadian itu, bukankah kau minta kepada Ho

Leng-hong untuk membawamu kabur sejauh-jauhnya dari sini . . . . “

23

Belum habis perkataan itu, air muka Siau Cui sudah berubah hebat, tukasnya, “Apa yang kau

katakan? Sungguh aku tidak paham, aku tak pernah kenal padamu, akupun tak ada waktu

untuk mengobrol denganmu, kuminta sekarang juga kau keluar dari sini, keluar! . . . .”

Dengan tajam Ho Leng-hong mengawasinya tanpa berkedip, katanya perlahan, “Siau Cui, kau

takut bukan? Waktu itu kau sudah tahu bakar terjadi sesuatu maka kau mohon kepadaku

untuk membawamu pergi, kaupun tahu dalam kuah penyadar mabuk itu . . . .”

Air muka Siau Cui semakin pucat, sebelum pemuda itu menyelesaikan kata-katanya ia sudah

membentak, “Aku tidak mengerti akan perkataanmu, kuminta segera kau tinggalkan tempat

ini, kalau tidak, segera aku akan memanggil orang.”

“Kau tidak akan memanggil orang, Siau Cui, kutahu kau tak akan berbuat demikian karena

kau tahu siapa diriku, kaupun tahu apa yang telah terjadi, hanya kau tak berani

mengatakannya.”

“Tidak tahu, aku tidak tahu . . . . apapun aku tidak tahu, sungguh aku tidak tahu apa-apa,”

Seru Siau Cui sambil menggeleng kepala berulang kali dan menutup telinganya dengan

tangan.

“Siau Cui, apa yang kau takuti? Kau diancam siapa? Kenapa tidak berani bercerita?”

Dengan suara yang hampir menangis Siau Cui berkata, “Kumohon padamu, janganlah

mendesakku terus menerus, sungguh aku tidak tahu, kalian telah mencelakaiku hingga seperti

ini, apakah masih belum cukup?”

“Siapa yang mencelakaimu?” seru Leng-hong sambil menarik lengannya, “Siau Cui, beri

tahukan padaku, siapa yang mencelakai . . . . “

Siau Cui tak bisa menjawab, dia hanya menangis tersedu-sedu.

“Bicaralah Siau Cui, cepat katakan kepadaku,” pinta Leng-hong sambil mengguncangguncangkan

tubuh si nona, “aku adalah Leng-hong . . . .”

“Blang!” tiba-tiba pintu kamar didobrak orang secara paksa.

Dua sosok bayangan tubuh yang tinggi besar berdiri tegak di depan pintu, seorang pria

berbaju serba hitam, bertubuh kekar dan berdandang sebagai tukang pukul, sedang yang lain

adalah perempuan, dia lebih tegap daripada pria tersebut, ia bukan lain adalah Go So.

Entah sejak kapan kedua orang itu tiba di luar kamar, ternyata Ho Leng-hong tidak

mengetahui kehadiran mereka.

Agaknya Go So tidak kenal lagi pada Ho Leng-hong, sambil menuding pemuda itu,

bentaknya, “Keparat, apa yang kau lakukan? Berani betul menerbitkan keonaran dalam Honghong-

wan? Hm. Tampaknya tulang-tulang badanmu sudah gatal dan minta digebuk!”

“Hm, kalian membuka rumah pelacuran ini untuk mencari uang, asal Toaya punya uang, siapa

yang berani melarang kedatanganku?”

“Kalau bermain perempuan sepantasnya di ruang depan, apa maksudmu tarik menarik dengan

nona yang beristirahat di ruang belakang? Mengapa kau datang kemari secara diam-diam?

Keparat, tidak lekas lepas tangan, memangnya kau ingin digebuk?”

Sambil berkata ia menggulung lengan bajunya dan siap berkelahi.

“Tunggu sebentar!” tiba-tiba si baju hitam di sampingnya mencegah, “rasanya kukenal wajah

tamu kita ini, seperti pernah bertemu di suatu tempat?”

“Hm, kau kenal aku?” jengek Ho Leng-hong ketus.

Laki-laki berbaju hitam itu tidak menjawab, ia mengamati lawannya dengan cermat,

mendadak ia memberi hormat, “Ah, kukira siapa, rupanya Nyo-tayhiap dari Thian-po-hu yang

berkunjung kemari. Maaf! Maaf!”

“Kau ini . . . . .” melengak juga Leng-hong.

“Hamba she Tan, anak buah Thian-toaya, orang menjuluki diriku sebagai Thi-tau-siau Tan

(Tan kecil kepala baja).”

“O, jadi Hong-hong-wan ini termasuk wilayah kekuasaan?”

24

“Ah, tidak berani, tidak berani,” Thi-tau Tan menyengir, “hamba hanya menjalankan perintah

Thian-ya, lantaran Ho Leng-hong kedapatan mati di sini, maka aku diperbantukan selama

beberapa hari di sini, sungguh tak nyana Nyo-tayhiap bisa berkunjung kemari. Bila kami

berbuat kesalahan karena tidak mengenal Nyo-tayhiap, harap suka dimaafkan . . . .”

Kepada Go So segera ia membentak, “Kenapa tidak cepat-cepat berlutut dan minta ampun!

Beliau inilah Nyo-tayhiap, pemilik Thian-po-hu yang tersohor, biar sengaja diundang juga

belum tentu tamu agung kita ini mau datang kemari, kau si goblok ini benar-benar anjing

betina yang buta . . . . .

Dengan cepat Go So berubah sikap, dengan lemas ia bertekuk lutut.

“Nyo-tayhiap,” demikian ujarnya, “maafkanlah aku si tua bangka yang punya mata tapi buta,

engkau adalah orang besar, tentu tak akan ingat kesalahan orang kecil, anggap saja mulutku si

tua bangka tadi hanya kentut busuk dan janganlah marah kepadaku”

Tiba-tiba Ho Leng-hong teringat kembali pada kuah penyadar mabuk malam itu. Go So inilah

yang mengatar kuah itu baginya, seandainya dalam kuah terdapat sesuatu yang mencurigakan

berarti Go So juga mengetahui persoalan ini sebelumnya . . . . . .

Sementara ia masih melamun, Go So merangkak bangun sambil berkata, “Tidak sepantasnya

menyambut kedatangan tamu agung di tempat sejelek ini, nona Siau Cui, baik-baiklah

melayani Nyo-tayhiap, segera akan kuberi tahukan hal ini kepada Mama . . . .”

“Tidak usah,” seru Leng-hong, “sebentar saja aku akan pergi.”

“Mana boleh jadi?” kata Go So, “Nyo-tayhiap tertarik oleh Siau Cui kami, hal ini merupakan

rejeki besar baginya, sekalipun tidak menginap, paling sedikit harus minum arak lebih dulu

agar ia menemani Nyo-tayhiap bercakap-cakap.”

“Betul, biar hamba undang juga Thian-ya,” sambung Thi-tau Tan, “Lo-ya sekalian juga akan

kuundang kemari, Wah suasana nanti pasti akan bertambah meriah . . . . .”

Ho Leng-hong melirik Siau Cui sekejap, ia tahu tiada harapan baginya untuk mencari

keterangan pada malam ini, ia menghela napas dan melepaskan tangannya.

Diambilnya sekeping uang perak dan diserahkan kepada Thi-tau Tan, lalu pesannya, “Aku

masih ada urusan dan harus segera berangkat. Nih, terimalah sebagai ongkos minum arak, tapi

jangan sekali-kali kausiarkan kedatanganku ini di luaran, mengerti?”

“Apakah terhadap Thian-ya sekalian juga . . . “

“Ya, terhadap mereka juga harus dirahasiakan, sebab aku tak ingin seorang pun mengetahui

kejadian malam ini.”

Berputar biji mata Thi-tau Tan, katanya dengan tertawa, “Ah, pahamlah hamba sekarang.

Padahal Nyo-tayhiap tak usah kuatir, Thian-ya kan sahabat karib Nyo-tayhiap, tentang soal ini

tak mungkin mereka akan . . . .”

Ho Leng-hong tidak banyak bicara lagi, sambil mengulap tangan ia meninggalkan rumah

kayu itu.

Siau Cui hanya menunduk sambil menangis, ia membungkam seribu bahasa, tidak

mendongak juga tidak mengantar.

Tapi Go So mengantar sampai di luar pintu, katanya dengan nada minta maaf, “Nyo-tayhiap,

tentunya kau tidak marah padaku bukan? Kalau malam ini tak ada waktu, kapan-kapan

silakan datang lagi? Nyo-tayhiap . . . .”

Ho Leng-hong berlalu dengan langkah lebar hakikatnya seperti orang lari, dia mengambil

langkah seribu meninggalkan rumah hiburan itu . . . .

Kejadian baik tak nanti keluar pintu, kejadian “busuk” justru tersiar sampai ke mana-mana,

pepatah ini memang terbukti.

Sekeping uang perak yang dikorbankan Ho Leng-hong semalam tidak berhasil menutup mulut

Thi-tau Tan, sebab keesokan harinya, pagi-pagi sekali, si telinga panjang Siau Thian sudah

mendapat kabar dan muncul di Thian-po-hu.

25

Bagaimanapun Thian Pek-tat bersumpah bahwa ia tidak akan membocorkan rahasia itu

kepada orang lain, akhirnya toh peristiwa ini diketahui juga oleh Pang Wan-kun.

Kalau menuruti adat Ho Leng-hong, bila ketahuan ya sudahlah, mau apa lagi.

Yang sulit justru pada saat ini ia berstatus sebagai Nyo Cu-wi.

Dan justru pula Nyo Cu-wi terkenal sebagai laki-laki takut bini.

Jika Ho Leng-hong sudah mengakui dirinya ialah Nyo Cu-wi, mau-tak-mau dia harus

mewarisi tabiat Nyo Cu-wi itu. Apa boleh buat, terpaksa ia harus tabahkan hati untuk

menerima dampratan .......

------------------

Air muka Pang Wan-kun tampak sedingin es, Cuma bagaimanapun juga dia adalah wanita

yang berasal dari keluarga terhormat, jadi tak sampai terjadi pertengkaran sengit yang

mengakibatkan piring terbang dan bakiak naik kepala.

Ia hanya bertanya dengan suara dingin, “Kudengar semalam kau mencari kesenangan di luar

hem, mau jadi pemuda romantis lagi?”

Ho Leng-hong tak dapat mengatakan apa-apa ia hanya menyengir saja.

Kembali Wan-kun berkata, “Kukira nona-nona di sana pasti pandai, menyenangkan hati kaum

pria, kenapa tidak sekalian menginap saja? Nikmatilah surga dunia sepuasnya, buat apa

pulang ke rumah?”

“Wan-kun, dengarkan dulu penjelasanku . . . . .” pinta Hong Leng-hong sambil tertawa getir.

“Apa lagi yang hendak kau jelaskan?” suara Pang Wan-kun lebih dingin daripada air

mukanya, tapi nada bicaranya penuh rasa sedih seperti minta dikasihani.

Ia berkata lagi, “Jangan kau artikan aku cemburu, kutahu setiap lelaki sekali tempo suka

iseng, kejadian semacam itu sudah lumrah, tapi tidak sepantasnya kau pergi seorang diri,

lebih-lebih tak pantas pergi secara sembunyi-sembunyi, bukankah caramu itu justru

menunjukkan kau berbuat karena mempunyai maksud tertentu? Kalau sampai tersiar di dunia

persilatan, tidaklah nama baik Thian-po-hu akan tercemar?”

Leng-hong manggut-manggut, “Ya, aku tahu perkataanmu memang benar, tapi tahukah kau

apa yang hendak kulakukan di sana?”

“Huh, memangnya perbuatan apa yang kau lakukan di tempat rendah dan kotor semacam

itu?”

“Wan-kun, kau salah menuduhku, kudatang ke Hong-hong-wan bukan untuk mencari

kepuasan, aku ke situ untuk mengenang seseorang, atau anggaplah sebagai suatu tanda

simpatiku terhadap seseorang.”

“Siapa orang itu?” tanya Wan-kun dengan melengak.

“Kau masih ingat ketika sedang sakit tempo hari, bukankah aku mengaku she Ho?”

“Ya, betul, kau terus menerus mengaku dirimu bukan she Nyo, tapi she Ho . . . Ho apa

begitu!...”

“Tepat sekali...Nah, kedatanganku ke Hong-hong-wan semalam justru demi orang she Ho

itu.”

“Bukankah orang she Ho itu sudah mati?”

“Justru karena dia sudah mati, maka secara diam-diam aku datang ke sana untuk menyatakan

belasungkawa atas kematiannya. Wan-kun, tahukah kau sewaktu aku tidak sadar tempo hari,

aku telah mendapat impian yang aneh sekali . . . . .”

“Impian aneh apa?” tanya Pang Wan-kun keheranan.

“Belum pernah aku berkunjung ke tempat semacam Hong-hong-wan, tapi dalam impian

tersebut seakan-akan aku telah berubah menjadi orang she Ho, bukan saja sering berkunjung

ke sana, bahkan apal benar keadaan tempat itu, malah beberapa nama dari orang-orang yang

ada di situ dapat kupanggil secara tepat, semua perabot, letak pintu dan sebagainya dapat

26

kuingat semua dengan jelas. Maka setelah sadar, makin kupikir makin heran, akhirnya

kuputuskan untuk secara diam-diam menyelidiki tempat itu.”

“Dan bagaimana hasilnya?”

“Setelah kusaksikan sendiri semalam, dan kubuktikan bahwa apa yang kulihat dalam impian

itu persis kenyataannya, di mana ada pintu, di mana ada undak-undakan, semuanya tepat dan

persis. Coba bayangkan aneh tidak?”

“Ah, masa begitu?” saking terperanjatnya mata Pang Wan-kun sampai terbelalak lebar.

“Tidak aneh kalau Cuma ingat saja pada keadaan dalam Hong-hong-wan, yang lebih

mengherankan lagi adalah aku ternyata kenal semua orang di sana, aku dapat pula

menyebutkan nama mereka satu persatu, Cuma tak seorang pun di antara mereka kenal pada

diriku....”

“Cukup, cukup, jangan bicara lagi, jangan bicara lagi, bikin bulu kudukku berdiri saja,” teriak

Wan-kun sambil menutup telinganya.

Sesungguhnya aku Cuma ingin membuktikan impianku saja,” Leng-hong berusaha menakuti

lagi, “siapa tahu setelah berada di Hong-hong-wan, mendadak kurasakan suasana yang

mengerikan, seakan-akan di situ tersembunyi bahaya besar.”

“Maksudmu di sana ada setannya?”

“Bukan, kucurigai tempat itu dipakai sebagai tempat persembunyian orang-orang golongan

hitam, akupun curiga mereka sedang menyusun suatu rencana jahat yang tidak

menguntungkan Thian-po-hu.”

“Hei, mengapa kau mempunyai jalan pikiran seaneh ini?” seru Pang Wan-kun terkejut.

“Aku sendiri juga tak bisa mengatakan alasannya, yang pasti timbul firasat tak enak dalam

hatiku, misalnya saja, dalam keadaan baik-baik kenapa aku bisa mendapat impian seaneh itu?

Orang she Ho itu mati dalam keadaan tak jelas duduk persoalannya, mungkinkah lantaran dia

penasaran, maka sukmanya menciptakan suatu impian kepadaku dengan maksud memberi

peringatan....”

Makin didengar Pang Wan-kun makin terperanjat, hawa amarahnya terbang entah ke mana,

sebagai gantinya adalah rasa kaget dan ngeri.

“Jit-long,” dia mengeluh, “kaupun percaya sukma bisa memberi impian segala?”

“Kenapa tidak percaya? Manusia terdiri dari raga dan sukma, orang mati wajar sukmanya

akan buyar mengikuti badan kasarnya yang musnah, sebaliknya bila orang mati itu penasaran,

walaupun badan kasarnya membusuk, tapi sukmanya tidak akan buyar, dia akan gentayangan

ke sana kemari mengikuti embusan angin, terkadang berkumpul dan membentuk menjadi roh

jahat, bila penasarannya sudah hilang dan dendam terbalas, dia baru membuyar dan lenyap....”

“Sudah, sudahlah, jangan kaulanjutkan ceritamu,” tukas Pang Wan-kun, “sekalipun roh jahat

benar-benar ada, asal kita tak pernah melakukan perbuatan jahat, buat apa kita

mempedulikannya?”

“Jika urusannya menyangkut diri kita, mana boleh kita berdiam diri saja?”

“Apa sangkut pautnya dengan kita?”

“Sukma orang she Ho itu tidak mendatangi orang lain tapi justru memberi impian kepadaku,

itu berarti urusan kemungkinan besar ada sangkut pautnya dengan kita.”

“Jit-long, maksudmu . . . . .”

“Aku tetap mencurigai kematian yang menimpa orang she Ho itu, sudah pasti di dalam rumah

pelacuran Hong-hong-wan tersembunyi marabahaya besar, kita tak bisa berpeluk tangan

menghadapi kejadian ini, kita harus menyelidikinya hingga duduk perkaranya menjadi jelas.”

“Bukankah Thian Pek-tat sedang melakukan penyelidikan atas kematian orang she Ho itu!”

“Siau Thian secara terang-terangan menaruh orangnya di Hong-hong-wan, mana mungkin

bisa menyelidiki duduk perkara yang sebenarnya? Kukira kita harus mengadakan

penyelidikan secara diam-diam dengan begitu baru akan mendatangkan hasil.”

27

“Kalau begitu, beri tahu saja kepadanya, agar Siau Thian ganti taktik dan melakukan

penyelidikan secara diam-diam.”

“Tidak, Wan-kun kita harus bekerja sendiri dan tak dapat minta bantuan orang lain, sebab

kemungkinan besar persoalan ini ada pengaruhnya bagi Thian-po-hu kita.”

“Apa yang hendak kaulakukan?”

“Malam ini kita bersama-sama mengunjungi Hong-hong-wan serta melakukan penyelidikan.”

“Apa? Kausuruh aku mengunjungi tempat kotor itu?” seru Wan-kun tidak senang.

Ho Leng-hong tahu sang “istri” tak bakalan mau mengunjungi tempat semacam itu, maka ia

berkata pula dengan sungguh-sungguh, “Wan-kun, kau harus pergi, bila kaukuati menjumpai

sesuatu yang tak pantas, tunggu saja aku di luar, kita adalah suami-isteri yang saling

mencintai, aku tak mau menimbulkan salah-pahammu terhadapku.”

Tiba-tiba Wan-kun tertawa, katanya dengan gembira, “Rupanya kau mengajak aku ke situ

hanya untuk menghindari tuduhan.”

“Ya, daripada dicurigai orang kan lebih baik aku bersiap-siap lebih dulu, seperti kejadian

semalam, seharusnya lebih dulu kuberitahukan rencanaku ini kepadamu, dengan demikian

kan takkan terjadi kesalahpahaman seperti ini.”

Wan-kun tersenyum, “Padahal, masakah aku benar-benar berprasangka padamu? Aku hanya

ingin mengetahui apakah kau jujur atau tidak kepadaku, malam ini kau boleh pergi dengan

hati tenang, dengan izinku ini kau bisa bekerja lebih leluasa....”

Setelah berhenti sejenak, lanjutnya, “Tetapi, sekembalinya dari sana harus kauceritakan

kejadian yang sebenarnya kepadaku, sepatah katapun tak boleh ketinggalan, kalau berani

merahasiakan sebagian saja dari kisahmu, hmm, jangan salahkan aku bila kutindak menurut

hukum rumah tangga.”

“Terima perintah!” sahut Ho Leng-hong sambil tertawa.

“Jangan keburu senang dulu,” kata Wan-kun lagi, “bisa jadi kau di depan dan aku akan

mengintil secara diam-diam dari belakang, sedikit kau menyeleweng, rasakan nanti!”

Walaupun di mulut Ho Leng-hong mengatakan “tidak berani”, tapi secara diam-diam ia

sangat gembira.

Setelah mendapatkan “izin” tersebut, ia dapat mengunjungi Hong-hong-wan secara terangterangan

dan menanyai Siau Cui hingga jelas.

Cuma, ia tetap memutuskan untuk pergi ke sana secara diam-diam, sebab dari cara serta sikap

Siau Cui waktu bicara, tampaknya ia mempunyai kesulitan untuk bercerita, bila ditanyai

secara langsung jelas dia tak akan bicara sejujurnya.

Selain itu masih ada lagi Go So, orang itu harus dihindari, sebab gerak-geriknya sangat

mencurigakan, setiap kali bila keadaan genting, ia selalu muncul secara mendadak,

tampaknya ia bertugas untuk mengawasi gerak-gerik Siau Cui.

Begitulah, setelah mengambil keputusan, malam itu ia berkunjung lagi ke Hong-hong-wan....

----------------------

Tampaknya peristiwa “kematian” orang she Ho dalam Hong-hong-wan tidak mempengaruhi

keramaian tempat itu, suasana masih diliputi kegembiraan, irama musik, suara nyanyian dan

gelak tertawa masih bergema seperti biasa.

Setelah pengalaman semalam, Ho Leng-hong tak berani masuk secara gegabah, ia minum

arak lebih dulu di sebuah kedai arak dekat sarang pelacuran itu, lewat tengah malam, menurut

perkiraannya tamu yang masih ada tentu sudah masuk kamar, yang tidak bermalam tentu

sudah pulang, ia membayar rekening minum dan perlahan memasuki gang Waru.

Mula-mula ia mengitari dulu lorong tersebut, ketika dilihatnya pintu sudah tertutup dan lampu

telah padam, barulah ia mempercepat langkahnya menuju ke dinding perkarangan sebelah

belakang.

28

Untuk menghindari kepergok orang hingga statusnya sebagi pemilik Thian-po-hu diketahui

orang, ia mengenakan sehelai kain yang menutupi sebagian besar wajahnya, kemudian tarik

napas dan melompati tembok pekarangan itu.

Di mana ia melayang turun hanya beberapa tombak jauhnya dari rumah kayu tersebut.

Suasana dalam halaman itu sunyi senyap, rumah kayu itupun gelap gulita tak bercahaya,

tampaknya Siau Cui sudah tidur.

Dengan langkah hati-hati Ho Leng-hong mendekati pintu, mencoba dulu pintu tersebut,

ternyata baik pintu maupun daun jendela dipalang dari dalam.

Perlahan ia mengetuk pintu, namun tiada jawaban yang terdengar, suasana tetap hening.

Ho Leng-hong tak mau bersuara hingga mengejutkan orang lain, ia mencari sepotong kayu

tipis, lalu dimasukkan lewat celah-celah pintu dan perlahan membuka pantekan palang

pintu....

“Krek” pintu terbuka....

Ho Leng-hong menyusup ke dalam kamar sambil memanggil dengan suara tertahan, “Siau

Cui, Siau.....”

Tiba-tiba suaranya seperti tersumbat dalam tenggorokkan, hawa dingin ngeri membuat bulu

romanya sama berdiri.

Sesosok tubuh manusia tergantung mengapung di belandar, itulah Siau Cui.

Menurut perkiraan, paling sedikit ia sudah putus nyawa pada satu jam berselang.

Atau dengan perkataan lain, tatkala suasana di halaman depan sedang ramai-ramainya

dikunjungi tamu, secara diam-diam Siau Cui telah menggantung diri di kamar belakang.

Mengapa ia bunuh diri? Kenapa kejadian ini tidak dilakukan dulu-dulu atau nanti, tapi justru

dilakukan setelah Ho Leng-hong mengunjunginya semalam? Untuk menghindari kesulitan?

Atau dibunuh untuk menghilangkan saksi hidup.....?

Saking kagetnya Ho Leng-hong sampai lupa bersedih, buru-buru ia menurunkan jenazah Siau

Cui, lalu dibaringkan di atas dipan. Ia periksa dulu keadaan mayat, kemudian memeriksa pula

keadaan dalam ruangan itu....

Tapi ia tidak berhasil menemukan apa-apa.

Kecuali bekas jeratan pada leher jenazah, tidak ditemukan luka lain.

Kamar itupun berada dalam keadaan teratur dan bersih, sama sekali tidak terlihat tanda-tanda

kacau atau bekas pergulatan.

Tampaknya Siau Cui memang betul-betul membunuh diri, cukup tenang dan teguh tekadnya

untuk bunuh diri, sebab itulah sepatah kata pesanpun tidak ditinggalkannya.

Tapi, mengapa dia harus bunuh diri?

Hanya disebabkan seorang “Ho Leng-hong” yang lain kedapatan mati di atas

pembaringannya?

Atau karena isi hatinya di yang penuh rahasia tak dapat dilampiaskan keluar itu?

Baik kematian lantaran yang pertama maupun yang kedua, jelas ia mati karena Ho Lenghong,

sayang cinta kasihnya ini hanya meninggalkan kebingungan, kecurigaan serta

kecemasan bagi Ho Leng-hong.

Bila ia mempunyai keberanian untuk mati, mengapa tidak memiliki keberanian untuk

mengungkapkan rahasia dalam hatinya . . . . . .

Kegelapan mencekam keadaan rumah kayu itu, tak ada lampu, tak ada suara, suasana seram,

sepi!

Ho Leng-hong berdiri kaku di depan pembaringan, dia mengawasi mayat yang membujur di

pembaringan itu dengan termangu, tidak bergerak dan tidak bicara, seperti patung.

Yang terlihat olehnya seolah-olah bukan sesosok mayat yang dingin dan kaku, melainkan

kekasih yang mencintainya dan menyayanginya yang berada dalam pelukannya.

Kenangan lama seperti terbayang kembali di depan mata. Tak mungkin lagi ia merasakan

kehangatan dan kemesraan seperti dulu.

29

Tiba-tiba pandangan Ho Leng-hong terasa kabur, pipi terasa gatal dan cairan hangat perlahan

meleleh masuk ke ujung mulutnya.

Selama ini belum pernah ia kenal kesedihan atau kemurungan, ia selalu hidup bebas tak

terbelenggu, tapi sekarang, untuk pertama kalinya ia merasakan getirnya kehidupan . . . .

“Tok! Tok! Tok!”

Tiba-tiba berkumandang suara ketukan pintu.

Dengan terkejut Ho Leng-hong memutar badannya dan membentak dengan suara tertahan,

“Siapa?”

“Aku!” dengus seorang perempuan, “Apa belum cukup masuk? Hayo pulang!”

Ho Leng-hong kenal suara Pang Wan-kun, cepat ia membuka pintu seraya berkata, “Wankun,

kebetulan sekali kedatanganmu, lekas masuk kemari...”

Pang Wan-kun mengenakan baju ringkas warna hitam, dua pedang tersandang di

punggungnya, ia tampak gagah dan menawan, jauh berbeda dengan dandanannya selama

berada di Thian-po-hu.

Cuma air mukanya sekarang kurang sedap dipandang, mukanya cemberut dan alis matanya

berkernyit, dengan suara dingin ia berkata, “Leluasakah bagiku untuk masuk ke situ?”

“Wan-kun, jangan salah paham di sini telah terjadi sesuatu.”

“Ah? Terjadi apa?”

“Masuk dulu kemari, kalau berdiri di depan pintu niscaya jejak kita akan ketahuan orang.”

Baru sebelah kaki Wan-kun melangkah masuk ke dalam kamar, tiba-tiba ia ragu-ragu, cepat ia

menarik kembali kakinya.

“Pasang lampu dulu, aku tak suka masuk ke tempat gelap dan kotor begini . . . . .”

Tapi sebelum selesai ucapannya, Ho Leng-hong telah menariknya masuk secara paksa dan

cepat-cepat menutup pintu.

“Nyonya besar,” demikian bisiknya, “turunkan sedikit gengsimu, dalam kamar ada mayat,

mana boleh memasang lampu?”

“Mayat? Siapa yang mati?” tanya Wan-kun terkesiap.

“Nona Siau Cui, Hong Leng-hong yang memberi impian kepadaku itu mati di kamarnya.”

“Kenapa dia mati? Jangan-jangan seperti juga orang she Ho itu, barusan kalian . . . .”

“Jangan sembarangan menduga, mayat itu berada di pembaringan, periksalah sendiri.”

Wan-kun mengawasi pembaringan tersebut, lalu dengan terkejut katanya, “He, gejalanya

seperti mati tercekik. Jit-long, kau yang melakukan perbuatan keji ini?”

Leng-hong tertawa getir, “Kenapa kau selalu menduga yang bukan-bukan, ia mati

menggantung diri, sewaktu aku tiba di sini ia sudah lama putus nyawa.”

“Kalau begitu, kita harus cepat-cepat tinggalkan tempat ini daripada nanti dicurigai orang

sebagai pembunuh, mau apa lagi kau bersembunyi di sini?”

“Hendak kuperiksa sebab-sebab kematiannya.”

“Apa lagi yang perlu diperiksa? Seorang nona rumah pelacuran bunuh diri kan bukan suatu

peristiwa besar, bila pemilik Thian-po-hu yang tersohor kedapatan berada di kamar pelacur

yang bunuh diri, inilah yang menggemparkan orang.”

“Tapi kurasakan kematiannya sangat mencurigakan, siapa tahu kalau di balik peristiwa ini

tersembunyi suatu rencana jahat yang berbahaya.....”

“Itu kan urusannya, apa sangkut-pautnya dengan kita?”

“Sebetulnya memang tiada sangkut-pautnya dengan kita, tapi berhubung orang she Ho itu

sudah memberi mimpi kepadaku, dan lagi secara kebetulan kita telah melihat peristiwa ini,

urusan yang menyangkut jiwa dua orang, apakah kita bisa berpeluk tangan belaka?”

“Aduh Tuanku, kenapa kau sebodoh itu?” kata Wan-kun sambil menggentakkan kaki ke atas

tanah, “sekalipun persoalan ini hendak kita selidiki, paling tidak tempat yang tidak

menguntungkan kita ini harus ditinggalkan lebih dulu, besok kita bisa suruh Thian-ya sekalian

melakukan penyelidikan secara terbuka. Bayangkan saja, bila jejak kita ketahuan orang

30

sekarang, kalau mereka bertanya untuk apa di tengah malam buta kau menyusup ke sarang

pelacuran? Nah, coba, cara bagaimana akan kaujawab?”

“Soal ini.....”

“Jangan lupa, meski kau tidak takut ditertawakan orang, aku masih membutuhkan muka untuk

bertemu dengan sanak keluargaku. Hayo cepat pulang!”

Ho Leng-hong segera ditariknya keluar dari situ secara paksa.

Sebenarnya Ho Leng-hong enggan meninggalkan tempat itu, tapi sukar melawan Pang Wankun,

demi menjaga kebiasaan “takut bini”, terpaksa ia mengikuti keinginan sang “isteri” dan

kembali ke Thian-po-hu.

Sementara fajar telah menyingsing, Ho Leng-hong tidak sabar menunggu lagi, ia segera

menyuruh orang mengundang Thian Pek-tat.

Thian si telinga panjang memang seorang yang pandai melayani kehendak orang, pada saat

kau perlu bertemu dengan dia, ia selalu akan muncul di hadapanmu tepat pada waktunya.

Sebelum orang yang disuruh mengundangnya berangkat, tahu-tahu Thian Pek-tat sudah

muncul lebih dulu di Thian-po-hu.

Begitu bertemu, tanpa menggunakan basa-basi lagi langsung mengemukakan maksud

kedatangannya.

“Saudara Nyo, sudah kaudengar berita di luar dugaan? Kembali ada orang kedapatan mati di

rumah pelacuran Hong-hong-wan,” demikian tuturnya.

Ho Leng-hong melengak, ia pura-pura bertanya dengan heran, “Apa? Siapa lagi yang mati?”

Thian Pek-tat celingukan sekejap sekeliling tempat itu, lalu bisiknya. “Dia bukan lain adalah

Siau Cui yang pernah Nyo-heng temui dua malam yang lalu, entah kenapa tiba-tiba ia

menggantung diri semalam.”

“Hah? Tanpa sebab kenapa mendadak bunuh diri?” kembali Ho Leng-hong pura-pura kaget.

“Ya, kalau dibicarakan, mungkin kejadian ini akan mempengaruhi pula nama baik Nyo-heng,

sebab itulah begitu mendapat kabar segera kuberangkat kemari.”

“Tapi apa sangkut-pautnya dengan diriku?”

“Nyo-heng, maaf bila Siaute bicara agak kasar, semestinya kau tidak boleh secara diam-diam

menemuinya di halaman belakang kemarin malam dengan jalan menyaru, mau ketemu

dengan di boleh saja, tapi tidak semestinya diketahui oleh Go So, pelayan rumah pelacuran

itu. Kini secara tiba-tiba Siau Cui diketahui mati menggantung diri, sedang Go So adalah

perempuan berlidah panjang yang tak bisa menyimpan rahasia, bila ia menyiarkan kabar yang

bukan-bukan di luaran, sedikit banyak urusan ini akan menyangkut diri Nyo-heng.”

“Apa yang dia katakan?”

“Hmm, perempuan kasar macam dia, mana bisa mengucapkan kata-kata yang baik? Tentu

saja ngaco-belo ke sana sini dan dibumbu-bumbui, dia bilang antara Nyo-heng dengan Siau

Cui ada hubungan gelap, lantaran orang she Ho kedapatan mati di kamarnya, Nyo-heng

datang ke rumah pelacuran itu dan menanyai Siau Cui, karena kaudesak, akhirnya ia

menggantung diri.”

“Biarkan saja apa yang akan dikatakannya, masa orang akan percaya? Masa pemilik Thianpo-

hu yang tersohor bisa mencintai seorang pelacur dan memaksanya sampai mati?”

“Nyo-heng persoalannya tidak sesederhana itu,” kata Thian Pek-tat dengan serius, “Betapa

kebesaran nama Thian-po-hu dalam dunia persilatan, masa kita biarkan dinodai orang

seenaknya? Bila perkataan semacam itu sampai tersiar keluar, bagi nama baik Thian-po-hu

hal ini tentu merupakan pukulan yang cukup berat.”

“Siapa bersih dia selalu bersih, siapa kotor dia akan kelihatan kotor. Bila ia berani menyiarkan

kabar bohong, memangnya aku tak bisa menjahit bibirnya dengan benang?”

“Tak perlu Nyo-heng repot-repot, Siaute telah mengaturkan segala sesuatunya bagimu.”

“Apa yang kau atur?”

“Bawa masuk!” seru Thian Pek-tat tiba-tiba sambil memberi tanda keluar pintu.

31

Bersama suatu sahutan dari luar, muncul Thi-tau Tan yang pernah dilihat Ho Leng-hong di

rumah pelacuran kemarin dulu itu. Dia masuk sambil membawa sebuah kotak kayu panjang

persegi, setelah memberi hormat, kotak kayu itu ditaruh di depan Ho Leng-hong.

“Barang apakah ini?” tanya Leng-hong.

“Silakan Nyo-heng periksa sendiri!” sambil berbisik Thian Pek-tat membuka tutup kotak

tersebut.

Dua buah batok kepala yang masih berpelepotan darah terletak berjajar dalam kotak itu.

Yang sebuah adalah batok kepala Go So, sedang yang lain adalah batok kepala pesuruh rumah

pelacuran yang bertugas menjaga pintu itu.

Dengan perasaan bergetar dan wajah berubah Ho Leng-hong berkata, “Siau Thian, mana

boleh kau lakukan perbuatan sekejam ini?”

Thian Pek-tat tertawa licik, “Orang yang berjiwa kecil bukan seorang Kuncu, orang yang

tidak kejam bukan lelaki sejati. Demi mempertahankan nama baik serta martabat Thian-po-hu

di mata masyarakat, demi melenyapkan bibit bencana di kemudian hari, terpaksa harus

bertindak cepat dan tegas . . . .”

“Tapi sebelum bertindak seharusnya kaurundingkan dulu persoalan ini denganku.”

“Waktu sudah tidak mengizinkan lagi, begitu Siaute mendapat kabar, Go So telah siap

melaporkan Nyo-heng kepada mak germonya, untung dicegah Siau Tan, berbareng ia

mengirim kabar kepadaku, jika harus kuminta izin dulu pada Nyo-heng, mungkin rahasia ini

akan bocor, sebab itu segera kuperintahkan menyikat mereka. Tapi Nyo-heng tak usah kuatir,

kedua sosok mayat itu sudah kutelanjangi dan diletakkan bersama di satu ranjang, orang tentu

akan menduga mereka terbunuh karena berzina.”

“Ai, Siau Thian, kau terlampau sembrono,” kata Ho Leng-hong sambil menghela napas

panjang, “caramu membunuh orang untuk melenyapkan saksi bukan perbuatan yang terpuji

bagi kaum kita.”

Thian Pek-tat tertawa, “Dalam keadaan terdesak tak mungkin bagiku untuk berpikir panjang

apa yang Siaute lakukan adalah demi kepentingan Nyo-heng, sebab kutahu nama baik Thianpo-

hu ditegakkan dengan susah payah, mana boleh kebesaran nama ini dihancurkan oleh

mulut seorang kecil?”

“Sekalipun demikian, caramu ini terlalu berlebihan, hanya bikin orang merasa tak tenang

saja,” kata Leng-hong sambil menggeleng kepala berulang kali.

“Bila Nyo-heng merasa tidak tenang, beri saja sedikit uang agar penguburan mereka lebih

meriah dan urusan kan beres.”

Ho Leng-hong benar-benar tak bisa berbuat apa-apa melainkan gelang kepala dan menghela

napas belaka.

Sebenarnya dia ingin mohon bantuan Thian Pek-tat untuk menyelidiki sebab kematian Siau

Cui, tapi dengan demikian terpaksa ia harus membatalkan maksudnya semula.

Padahal, sekalipun ia tidak membatalkan maksudnya juga tak bakalan berhasil usahanya itu.

Sebab setelah berturut-turut terjadi empat kali kematian dalam Hong-hong-wan, semuanya

mati dalam keadaan tidak jelas, semakin berkurang tamu yang berkunjung ke situ, tak lama

kemudian rumah “P” itupun terpaksa tutup pintu.

Burung terbang berpencar, manusia pergi gedungnya kosong, rumah pelacuran Hong-hongwan

yang ramai itu berubah menjadi sebuah gedung kosong yang menyeramkan, sekalipun di

balik kesepian tersimpan pelbagai rahasia, dari mana pula rahasia itu akan diselidiki?

Dengan demikian, satu-satunya harapan Ho Leng-hong untuk mencari tahu duduk perkara

yang sebenarnya pun putus di tengah jalan, satu-satunya yang bisa ia lakukan sekarang hanya

berdiam terus di Thian-po-hu, dan melanjutkan statusnya sebagai Nyo Cu-wi yang tersohor

karena “takut bini”.

Namun demikian tidak berarti ia sudah mengakui dirinya sebagai Nyo Cu-wi.

32

Ia mengerti, kemungkinan besar peristiwa ini hanya suatu rencana jahat, suatu intrik yang

mengerikan. Ada orang mempergunakan dirinya untuk menyaru sebagai Nyo Cu-wi, dan

orang itu pasti mempunyai maksud tujuan yang menakutkan.

Tapi, maksud tujuan apakah itu? Dia sendiri tak tahu.

Tapi dia percaya, pada suatu saat “tujuan”itu pasti akan terlihat, dan ia yakin hal ini tak akan

terlampau lama.

Maka dari itu di harus menanti, menanti dan menanti terus dengan sabar . . . . .

-----------------

Menanti adalah suatu pekerjaan yang menjemukan, apalagi Ho Leng-hong harus mewakili

seorang lain serta hidup di lingkungan yang sama sekali asing baginya.

Setiap saat ia harus waspada, harus selalu berhati-hati agar rahasianya tidak diketahui orang,

tapi iapun harus melakukan penyelidikan terus menerus, ia juga berusaha mengetahui

peraturan dalam Thian-po-hu, kebiasaan hidup Nyo Cu-wi, bahkan nama serta panggilan para

pelayannya.

Untung segala sesuatunya dapat berjalan lancar. Dalam waktu singkat sebulan sudah lewat,

Ho Leng-hong sudah apal terhadap segala sesuatu yang ada dalam Thian-po-hu, yang lebih

hebat lagi, kehidupan “suami-isteri” antara dia dengan Pang Wan-kun dapat pula berlangsung

dengan “klop” tanpa kurang sesuatu.

Pengawasan Pang Wan-kun terhadapnya tidak ketat, asal ia tidak meninggalkan gedung itu,

tidak bergurau dengan pelayan muda, boleh dibilang kehidupannya dapat berlangsung dengan

“bebas”.

Lo Bun-pin serta Siau Thian sekalian sahabatnya boleh dibilang setiap hari selalu berkumpul

dan bersenang-senang, kalau bukan minum arak tentu berjudi.....

Hari demi hari dilewatkan dengan penuh kenikmatan, setiap hari kerjanya hanya makan,

minum serta berjudi, suatu pekerjaan seriuspun tak pernah dilakukan.

Selama satu bulan ini, Ho Leng-hong dapat meresapi benar kehidupan keluarga kaya dan

terhormat itu, kerja mereka hanya makan, minum, berjudi dan tentu saja bermain perempuan,

dalam anggapan mereka perbuatannya ini merupakan perbuatan romantis, padahal sebenarnya

perbuatan yang memalukan.

Yang disebut sebagai golongan “pendekar”tidak lebih hanya kulit manusia yang menutupi

wajah masing-masing, yang dilakukan belum tentu perbuatan “manusia”. Sekalipun

kadangkala melakukan perbuatan kebajikan, itupun demi nama baik sendiri, kuatir orang lain

tak tahu bahwa mereka yang melakukannya, kuati orang lain tidak tahu namanya.

Berbuat kebajikan supaya diketahui orang lain bukanlah kebajikan yang murni. Sekalipun Ho

Leng-hong bukan seorang Kuncu, toh dia merasa muak menyaksikan tingkah laku orangorang

kalangan atas ini. Coba kalau tidak ada urusan penting, sungguh ia ingin mendepak

pergi manusia-manusia munafik itu.

Tentu saja ia tak dapat berbuat demikian. Sebab ia sedang menantikan sesuatu yang sukar

diduga, lagi pula rumah ini juga bukan miliknya.

Hari berganti hari, lama kelamaan Ho Leng-hong mulai merasa tak tahan dan habis sabarnya.

Tengah hari itu tiba-tiba ia merasa kesal, pada kesempatan semua orang sedang berjudi di

ruang depan, seorang diri ia kembali ke ruangan belakang.

Hari itu udara panas dan hawa lembab, seperti akan hujan.

Dari Bwe-ji diketahui bahwa Pang Wan-kun baru saja masuk tidur siang, untuk sementara

jelas tak dapat membangunkannya, suasana di ruang belakang amat hening, para pelayan pada

bersembunyi mencari tempat yang sejuk.

Selesai membersihkan badan dan berganti pakaian, Leng-hong enggan kembali ke ruang

depan, maka seorang diri ia berjalan-jalan di taman.

33

Entah berapa lama ia berjalan, akhirnya tiba di depan Kiok-hiang-sia.

Duduk di dalam villa air yang nyaman, apalagi menghadapi air nan hijau di bawah embusan

angin yang sepoi-sepoi, lama kelamaan orang akan mengantuk.

Ho Leng-hong mengantuk sekali, ia bersandar di atas kursi berbantal tangan.

Di tengah tidur tak tidur, mendadak ia mendengar seperti ada orang sedang berkasak-kusuk.

Yang sedang berbicara adalah seorang lelaki dan seorang perempuan, suara mereka terbawa

angin ke dalam rumah, sekalipun tidak terlalu jelas, namun lamat-lamat terdengar apa yang

sedang dibicarakan.

Mula-mula Ho Leng-hong mengira kaum hamba yang sedang melakukan pertemuan gelap,

dia enggan memperhatikannya, tapi lama kelamaan ia merasa apa yang mereka bicarakan

semakin tak beres . . . .

Terdengar yang pria berkata, “ . . . menurut berita yang bisa dipercaya, kemarin Ji-beng-kaucu

(si monyet dua kuda) sudah tiba di Hong-leng-toh, dalam satu-dua hari ini pasti akan sampai

di tempat tujuan, tiba waktunya nanti kau harus lebih berhati-hati, jangan sampai jejak kita

ketahuan.”

“Sungguh aku rada kuatir, konon si monyet dua kuda itu sangat cerdik, kalau sampai . . . .”

“Jangan kau takut,” tukas si lelaki, “semuanya sudah kuatur dengan sempurna, hadapi saja

dengan tabah, tapi harus ingat, bila tidak perlu, kurangi berbicara, dengan begitu tipis

kemungkinan jejak kita akan ketahuan.”

“Begitu barangnya kita dapatkan, kenapa tidak cepat-cepat kabur? Apa yang harus kita

nantikan lagi?”

"Tidak bisa, monyet itu sangat cerdik, siapa tahu secara diam-diam iapun mengadakan

persiapan, kalau sampai ketahuan, pengejaran tentu segera dilakukan, bukankah hal ini akan

merepotkan kita.”

“Aku cuma kuatir malam yang terlampau panjang akan banyak menimbulkan impian buruk,

bisa-bisa orang she Ho itu ketahuan rahasianya.”

“Jangan kuatir, orang she Ho itu lebih teliti daripadamu, selama sebulan lebih ini tampaknya

ia sudah cukup lumayan, tiba waktunya nanti dia pasti dapat menghadapi dengan prihatin, tak

perlu kuatirkan dia...”

Ho Leng-hong merasakan jantungnya berdebar keras... Orang she Ho? Kalau bukan aku Ho

Leng-hong yang dimaksudkan, siapa lagi? Keparat, ternyata benar, ada suatu perangkap besar,

mereka hendak memperalat aku orang she Ho untuk mendapatkan suatu “barang”.

Tapi barang apakah itu?

Siapa yang dimaksudkan sebagai Ji-be-kaucu (si monyet dua kuda)?

Ho Leng-hong merasa semangatnya berkobar, rasa lelah dan mengantuk seketika lenyap,

seketika itu juga dia ingin melompat bangun, memburu ke sana, serta mencari tahu siapa

gerangan kedua orang itu . . . . .

Tapi ia tidak berbuat demikian, ia tetap diam saja.

Karena jarak dari villa itu menuju seberang sana cukup jauh, lagi pula medan terlalu terbuka,

ditambah lagi laki-perempuan itu bersembunyi di balik pepohonan yang rindang, sulit baginya

untuk menentukan arah mereka yang sebenarnya.

Bila ia mengejar ke sana melalui jembatan penyeberangan, maka kemungkinan besar lebih

dulu jejaknya akan ketahuan lawan.

Jangan kira Ho Leng-hong sama sekali tak bergerak, kedua matanya seperti lampu sorot

celingukan ke sana kemari, selain memperhitungkan tempat persembunyian kedua orang itu,

diam-diam iapun mencari akal untuk menyeberangi kolam itu.

Dalam pada itu, suara kasak-kusuk masih berkumandang terbawa angin, kedengaran si

perempuan lagi berkata, “. . . . kulihat orang she Ho itu tidak goblok, sekalipun selama

sebulan lebih ia menetap di sini sebagai Nyo Cu-wi dan sedikitpun tidak menyinggung soalsoal

masa lampau, siapa tahu kalau secara diam-diam sedang menyusun suatu rencana keji?”

34

“Keadaannya sekarang sudah tidak bebas, rencana busuk apa yang bisa ia lakukan? Sekalipun

dia mengatakan yang sesungguhnya, tak nanti ada orang mau percaya lagi kepadanya.”

“Apakah atasan telah memberi pesan cara bagaimana kita harus menghadapinya setelah benda

itu kita dapatkan?”

“Tidak ada. Sekalipun ada, itu kan tugas orang lain, tak ada sangkut pautnya dengan kita.

Tugas kita hanya mendapatkan benda itu lain tidak.”

Sesaat lamanya perempuan itu termenung, kemudian berkata lagi, “Baiklah, cepatlah kau

keluar, jangan terlalu lama ngendon di sini, nanti mereka curiga.”

“Baik! Aku pergi dulu, ingat tugas kita harus berhasil dan tak boleh gagal, harus berjuang

dengan sepenuh tenaga....”

Mendengar sampai di sini, Ho Leng-hong tahu bahwa ia tak dapat menunggu lebih lama,

cepat ia melompat keluar.

Ia tidak mengejar lewat jembatan penyeberang, tapi ke atas atap villa itu.

Dari atas atap yang tinggi, pemandangan sekeliling taman dapat dilihatnya dengan jelas.

Benar juga, di balik semak-semak sebelah barat daya sana menyusup keluar dua sosok

bayangan orang, bayangan laki-laki dan yang lain perempuan.

Yang lelaki mengenakan jubah panjang berwarna biru, yang perempuan memakai gaun

berwarna hijau pupus, sayang jaraknya terlampau jauh sehingga raut wajah maupun potongan

badan tak sempat terlihat jelas.

Betapa gelisahnya Ho Leng-hong, tak terpikir lagi harus sembunyi atau tidak, sambil menarik

napas panjang ia melayang lewat kolam dan langsung menubruk ke sana.

Kedua orang itu kabur terpisah, yang lelaki menuju ke ruang depan, sedang yang perempuan

menuju ke belakang, betapa terkejutnya mereka menyaksikan kemunculan Ho Leng-hong,

serentak mereka menyusup lagi ke balik semak-semak.......

“Sobat, kalian tak dapat bersembunyi lagi,” bentak Leng-hong. “Lebih baik menyerahkan diri

saja!”

Tiada jawaban, suasana di balik semak tetap hening tak terdengar suara apapun.

Pelahan Ho Leng-hong mendekati semak-semak tersebut, lalu katanya lagi, “Membungkam

juga percuma, sejak tadi sudah kuketahui siapakah kalian, tidak cepat-cepat menggelinding

keluar, apakah perlu kupersilakan kalian keluar?”

Tiada jawaban pula di balik semak-semak itu.

Leng-hong mendengus, dengan suatu gerakan gesit ia menerjang ke balik semak . . . . . . . .

Aneh, ternyata di balik semak itu kosong melompong, sesosok bayangan pun tidak kelihatan!

Ho Leng-hong tertegun, andaikata tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, hampir ia

tak percaya kedua orang laki-perempuan itu memiliki gerakan secepat itu, di bawah sinar

matahari yang terang benderang, bagaikan setan saja tahu-tahu lenyap tak berbekas!

Dengan penasaran ia melakukan pencarian, namun hasilnya nihil, cepat Ho Leng-hong lari

menuju ke gedung belakang.

Ia tidak menuju ke ruang depan melainkan ke belakang, pertama ruang depan terlalu banyak

orang, di antaranya ada beberapa orang mengenakan jubah panjang berwarna biru hingga

sukar dibedakan, kedua gedung belakang lebih dekat letaknya, di sana Cuma ada beberapa

orang dayang, untuk menemukan yang perempuan tadi rasanya tidak sulit.

Ketika menerjang masuk ke sana, kebetulan Pang Wan-kun didampingi Bwe-ji sedang

menuruni tangga loteng.

Pang Wan-kun mengenakan baju warna kuning telur, rambutnya kusut dan tampaknya baru

saja bangun tidur.

Bwe-ji mengenakan baju pendek warna merah dengan gaun berwarna putih, masih dengan

dandanan semula.

“Jit-long, kenapa kau?” tegur Wan-kun keheranan melihat tingkah laku suaminya, “air

mukamu kelihatan aneh, kenapa kau awasi kami seperti baru kenal?”

35

“Kalian baru turun dari atas loteng?” tanya Leng-hong.

“Benar,” sahut Bwe-ji, “nyonya baru saja bangun tidur siang. Ada sesuatu yang tidak beres?”

Leng-hong tidak menjawab, kembali tanyanya, “Sewaktu kalian turun, apakah melihat

seseorang lari ke atas loteng?”

“Tidak! Kami tidak melihat apa-apa!” jawab Bwe-ji keheranan.

“Jit-long, siapa yang kau cari?” tanya Wan-kun.

“Seorang perempuan yang mengenakan gaun warna hijau pupus, dengan mata kepalaku

sendiri kulihat ia kabur ke arah sini.”

“Ada apa dengan perempuan itu? Kenapa kau kejar-kejar dia?” tanya Wan-kun pula.

“Ia mengadakan pertemuan dengan seorang pria di taman, pertemuan itu kupergoki tanpa

sengaja, dia lantas kabur kemari.”

“Wah, celaka, Jit-long, kau berhasil melihat wajahnya?” tanya Wan-kun terkejut.

“Sayang hanya sepintas lalu, tak sempat kulihat jelas.”

Wan-kun menarik muka, katanya kepada Bwe-ji, “Sampaikan perintahku, segenap dayang

yang ada di gedung belakang supaya berkumpul di sini, bagaimanapun juga hari ini dia harus

ditemukan. Hm, di tengah hari bolong berani mengadakan pertemuan dengan kaum pria,

betul-betul kurang ajar.”

“Tapi Hujin . . . . dayang di gedung belakang puluhan orang banyaknya, apakah . . . .”

“Semuanya dikumpulkan di sini, seorangpun tak boleh absen, perintahkan juga kepada

mereka tak boleh berganti pakaian, semuanya segera kemari.”

“Jangan, Wan-kun! Tindakan semacam ini hanya akan menggelisahkan semua orang,” cegah

Leng-hong, “cukup kita titahkan orang untuk menutup jalan tembus ke ruang depan, jangan

ribut untuk sementara, asal kita adakan pemeriksaan secara diam-diam, tak sulit untuk

menemukan orang itu.”

“Perkataan Toaya memang benar” cepat Bwe-ji menanggapi, “dayang yang bekerja di gedung

belakang ada tiga-empat puluh orang, hampir semuanya mengenakan gaun berwarna hijau

pupus, bila kita menyimak rambut mengejutkan ular hingga ia berganti pakaian lain, ke mana

kita akan mencari biang keladinya?”

Kemarahan Pang Wan-kun belum mereda, ia menggentakkan kakinya ke tanah seraya

berkata, “Baiklah, perintahkan untuk menutup semua jalan tembus, siapapun dilarang masuk

keluar, akan kuadakan pemeriksaan sendiri.”

Bwe-ji segera melaksanakan perintah itu dengan menutup semua jalan tembus, pemeriksaan

pun dilakukan.

Pang Wan-kun memimpin sendiri pemeriksaan tersebut, setiap dayang yang mengenakan

gaun hijau pupus segera digiring ke dalam taman untuk diperiksa oleh Ho Leng-hong.

Tak lama kemudian sudah tujuh belas orang dayang yang digiring ke taman, mereka

mengenakan warna baju yang sama, suara juga sama, namun dari hasil pemeriksaan

menunjukkan bahwa tak seorangpun di antara mereka pernah masuk ke taman belakang.

Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Ho Leng-hong mengulapkan tangan untuk

membubarkan sekalian dayang-dayang tersebut.

Akhirnya setelah bekerja keras setengah hari, bukan saja orang yang dicurigai tak ditemukan,

sebaliknya ia malah menerima gerutuan Pang Wan-kun dan ejekan para dayang secara diamdiam

. . . .

Walaupun Leng-hong merasa kecewa, namun tidak putus asa, paling sedikit ia sudah tahu

bahwa dirinya berada di tengah suatu intrik keji mengerikan, dan dalam satu-dua hari

mendatang tentu akan terjadi peristiwa penting.

Tapi peristiwa apa yang bakal terjadi?

Jawabannya akan segera ditemukan bila “si monyet dua kuda” telah tiba di situ.

Peristiwa ini bukan Cuma suatu perangkap, bahakan juga suatu rencana besar yang

mengerikan, suatu peristiwa aneh yang jarang dialami dalam kehidupan orang.

36

Kini Ho Leng-hong sudah ikut terlibat dalam perangkap itu, mau-tak-mau dia harus

menghadapinya dengan hati yang sabar, apabila dalam kejadian ini secara beruntun sudah

empat nyawa melayang, andaikan tidak terlibat langsung juga ia tak mau berpeluk tangan

belaka.

Manusia hidup seratus tahun akhirnya mati juga.

Daripada hidup tanpa suatu kegiatan, lebih baik hidup sehari secara gegap gempita, jika mati

pun tidak gentar, apalagi yang ditakuti seorang?

Sesudah mengambil keputusan nekat, hati Ho Leng-hong jadi lebih tenang.

Ia tidak berminat untuk menyelidiki siapa lelaki berjubah biru dan perempuan berbaju hijau

lagi, setiap hari kerjanya hanya makan minum, kalau bukan berjudi tentu minum sampai

mabuk, seakan-akan hidupnya hanya untuk berfoya-foya saja.

Ia percaya, bagaimanapun juga orang lain tak akan mengubahnya menjadi Nyo Cu-wi secara

Cuma-Cuma, bila “si monyet dua kuda” telah muncul duduknya persoalan tentu akan

ketahuan.

Sehari, dua hari lewat dengan cepatnya, tak ada kejadian apapun, “si monyet dua kuda” yang

ditunggu-tunggu juga belum muncul.

Tengah hari ketiga, sewaktu Ho Leng-hong sedang berjudi dengan Lo Bun-pin sekalian di

ruang depan, tiba-tiba muncul seorang Busu memberi laporan, “Kuloya (tuan ipar) datang!”

“Kuloya?” Ho Leng-hong tertegun, “Kuloya siapa?”

“Nyo-heng,” Thian kecil si telinga panjang berbisik, “jangan-jangan Pang-loko dari Cian-suihu

yang datang.”

“Kau maksudkan Pang Goan? Jangan bergurau ia jauh berada di Liat-liu-shia, mas bisa

datang ke Lok-yang?”

“Tak salah, pasti dia yang datang, dia adalah kakak lenso, kalau bukan dia lantas siapa lagi?”

Air muka Lo Bun-pin tiba-tiba saja berubah hebat, cepat katanya, “Kalau begitu kita harus

cepat-cepat membereskan keadaan di sini, kutahu Pang-loko paling benci pada segala bentuk

perjudian, kalau sampai ketahuan kita bakal dimaki habis-habisan.”

“Apa yang mesti ditakuti? Kalian bermain saja dengan permainan kalian, aku akan keluar

untuk menengoknya sebentar, kalau memang dia, langsung akan kubawa dia ke belakang . . .

.”

“Tidak usah,” tiba-tiba seorang menanggapi dengan suara dingin, “aku sudah masuk sendiri.”

Ho Leng-hong segera menengadah, tanpa rasa ia melengak.

Seorang kakek udik telah berdiri di ambang pintu, usianya lima puluhan, badannya kurus dan

pendek, bibirnya lancip dengan kening yang sempit, sepasang lengannya luar biasa

panjangnya, bajunya berwarna hijau dan hampir putih karena terlalu sering dicuci, sepatu

rumputnya penuh debu kotoran.

Yang paling aneh ia menggendong sebuah bungkusan panjang, bungkusan itu diikat dengan

rantai sebesar ibu jari, dan ujung rantai yang lain melilit pada lehernya.

Beginikah tampang It-kiam-keng-thian (pedang sakti penunjang langit) Pang Goan yang

tersohor dari Cian-sui-hu di Liat-liu-shia?

Hakikatnya tidak lebih gagah daripada seorang petani desa.

Meski begitu, tak seorangpun di antar hadirin dalam ruangan berani memandang hina orang

ini.

Jangan dikira bajunya kasar dan mukanya lucu, ia mempunyai mata yang lebih tajam daripada

sembilu, sinar mata yang kemerah-merahan membuat jeri orang sehingga semua orang sama

diam, bahkan bernapas saja tak berani keras.

Dari sorot matanya semua orang tahu tenaga dalamnya sudah mencapai puncak

kesempurnaan, bahkan yang dilatihnya adalah Tay-yang-sin-kang dari Khong-tong-pay yang

paling sukar dilatih.

37

Ho Leng-hong pernah mendengar nama besar Pang Goan, tapi belum pernah berjumpa

dengan “kakak ipar” ini, terperanjat juga hatinya setelah berhadapan sekarang.

Ia bukan kaget lantaran mata Pang Goan yang membetot sukma, ia terkesiap karena potongan

badannya serta raut wajahnya yang luar biasa itu.

Tubuhnya kurus kecil, kedua tangannya justru luar biasa panjangnya, bibir yang lancip

dengan kening sempit, ditambah sepasang Kim-cing-hwe-gan (mata emas merah berapi) yang

tajam....

Bentuknya tiada ubahnya seperti seekor monyet?

Sekarang ia baru mengerti yang dimaksudkan “dua kuda” adalah tulisan “Pang”, atau dengan

perkataan lain “monyet dua kuda” bukan lain adalah Pang Goan.

Begitu menyadari persoalan tersebut Ho Leng-hong merasa bergidik, cepat ia bangun berdiri

dan memberi hormat.

“Sungguh tak kusangka kakak akan berkunjung kemari....” katanya.

Pang Goan mendengus, “Hm, akupun tak menyangka Thian-po-hu yang tersohor telah

menjadi rumah judi yang ramai.”

“Lotoako jangan marah,” buru-buru Leng-hong berkata sambil tertawa, “mereka ini adalah

sahabat-sahabat Siaute, lantaran iseng, tak ada pekerjaan, maka kami bermain judi untuk

membuang waktu.....”

“Hm, jadi kedatanganku tentunya mengganggu.....”

“Ah, kenapa Lotoako berkata demikian? Sekalipun diundang saja belum tentu engkau mau

datang.....”

“Kalau begitu, kenapa tidak lekas enyahkan mereka dari sini!”

“Baik, baik, mereka memang sudah mau bubaran, silakan duduk dulu Lotoako!”

“Tak usah sungkan-sungkan,” dengan tajam Pan Goan menyapu pandang semua orang itu,

lalu berkata pula, “kalian tidak tahu diri, apakah perlu aku orang she Pang melemparkan

kalian satu persatu?”

Mendengar ancaman tersebut, semua orang berseru, “Baik, kami segera pergi! Harap Pangtoako

jangan marah!”

Sungguh menggelikan, kawanan jago ternama dari Lok-yang ini ternyata diusir mentahmentah

oleh Pang Goan, bukan saja tak berani membantah, berdiam sedetik lebih lama pun

tidak berani.

Ho Leng-hong merasa geli, tapi wajahnya pura-pura mengunjuk sikap serba salah.

“Jit-long,” kata Pang Goan sambil menggeleng kepala, “bukan maksudku ingin

menasihatimu, tapi perbuatanmu memang kelewat batas, seorang muda kenapa tidak berusaha

untuk maju, sebaliknya tiap hari kerjanya hanya minum dan berjudi melulu?”

“Harap Toako jangan marah, “kata Leng-hong dengan tersipu-sipu, “kebetulan saja hari ini

Siaute menyelenggarakan pertemuan semacam ini, padahal hari-hari biasa juga tidak

demikian.”

“Kebetulan saja? Tak kusangka kau masih berani berkata demikian, manusia hidup di dunia

ini paling-paling Cuma puluhan tahun, waktu yang lewat tak mungkin ditemukan kembali,

enak saja kau menerima warisan orang tua dan saudara-saudaramu, sekalipun tak pernah

mengalami susah payahnya mendirikan keluarga jaya ini, sedikitnya kau memikirkan untuk

mempertahankan nama baik keluarga, tapi kerjamu selama ini bukan saja malu terhadap

leluhur dan kakak-kakakmu, malu juga terhadap anak isteri, bukan berjuang untuk kemajuan,

kau masih iseng berbuat hal-hal yang kurang baik ini.”

Ho Leng-hong tidak menyangka “kakak iparnya” adalah seorang yang alim dalam tata

kehidupan, terpaksa ia tundukkan kepala rendah-rendah.

“Terima kasih untuk nasihat Toako, selanjutnya Siaute tentu akan memperbaiki kelakuanku,”

kata Leng-hong.

38

“Memperbaiki diri? Hm, gampang saja kaubicara, tapi sudah sekian lama kau bergaul dengan

teman-teman semacam itu, matamu sudah ternoda dan telingamu sudah kotor, kebiasaan jelek

sudah meresap dalam tubuhmu, memangnya kau anggap mudah untuk memperbaikinya?”

“Lain kali Siaute tak akan berhubungan lagi dengan mereka!” Leng-hong memberikan

janjinya.

“Soal ini memang bicara gampang tapi sukar untuk melaksanakannya, hubungan antara

sesama Siaujin manis bagaikan madu, siapa dekat dengan gincu akan menjadi merah, siapa

dekat tinta bak akan menjadi hitam, aku tidak percaya kaudapat putuskan hubungan dengan

mereka.”

Ho Leng-hong didamperat hingga tak bisa mendongakkan kepalanya, diapun tak bisa marah,

terpaksa menjawab sambil tertawa getir, “Menurut perkataan Toako, bukankah Siaute tak bisa

ditolong lagi?”

Pang Goan menggeleng kepala berulang kali, “Dari penghemat menjadi pemboros lebih

gampang, dari pemboros menjadi penghemat justru sukar, begitulah kebiasaan manusia. Ai,

jika kau tak mau berjuang untuk kemajuan, aku tak ingin menyalahkan dirimu, aku hanya

benci pada kebodohanku sendiri.”

“Kau benci pada kebodohanmu sendiri?”

“Kenapa tidak? Bila sejak semula kutahu kau ini manusia tak becus seperti ini, masa aku mau

menjodohkan adikku kepadamu?”

“Sudahlah, Lotoako, nasihat sudah kau berikan, makian juga sudah cukup, sekarang duduklah

lebih dulu, akan kupanggilkan Wan-kun untuk menemani kau bercakap-cakap.”

Begitulah, setelah minta maaf, mengaku salah, setengah membujuk dan memberi hormat,

dengan susah payah akhirnya Pang Goan berhasil juga dibujuk untuk duduk, cepat Leng-hong

menyuruh orang mengundang Pang Wan-kun di belakang.

“Tak usah tergesa-gesa” cepat Pang Goan mencegah, “soal rumah tangga kapan saja bisa

dibicarakan, sekarang justru aku ada urusan penting yang hendak kubicarakan empat mata

denganmu.”

“Ah, soal apa yang hendak Lotoako bicarakan? Silakan memberi petunjuk.”

Pang Goan melirik sekejap sekeliling tempat itu, lalu katanya, “Tempat ini terlampau ramai,

bukan tempat ideal untuk berbicara, adakah suatu tempat yang sepi?”

“Kiok-hiang-sia di taman belakang adalah tempat yang baik.”

“Baik! Mari kita ke sana.”

Sambil membawa Pang Goan ke belakang, sepanjang jalan Ho Leng-hong berpikir, “Ya,

akhirnya datang juga, yang mau dibicarakan pasti menyangkut buntalan di punggungnya itu,

kalau ditinjau dari sikapnya yang serius, benda itu tentu amat berharga sekali . . . . . .”

Dugaannya memang tidak keliru, baru saja duduk dalam villa itu, Pang Goan telah

mengeluarkan sebuah anak kunci dari sakunya, lalu membuka rantai di tubuhnya dan

melepaskan buntalan kain itu.

Ho Leng-hong tak tahu benda apakah dalam bungkusan itu, tapi bila dilihat dari bentuk serta

bobotnya yang berat, kemungkinan besar adalah sebangsa kotak logam.

Pang Goan meletakkan bungkusan itu di meja, lalu katanya dengan wajah bersungguhsungguh,

“Jit-long, kita masih saudara, aku yang menjadi kakakmu inipun suka berterus

terang, ada sepatah kata hendak kutanyakan kepadamu, dan kuharap kau bersedia menjawab

dengan sejujurnya pula.”

“Silakan bertanya Lotoako, Siaute pasti akan menjawab dengan sejujurnya, aku tak akan

membohongimu.”

“Bagus! Terus terang akuilah berapa banyak yang berhasil kaukuasai dalam permainan golok

sakti keluarga Nyo kalian?”

“Tentang ini . . . .”

“Tak usah mengibul, aku ingin mengetahui keadaan yang sesungguhnya.”

39

Ho Leng-hong berpikir sebentar, lalu menjawab, “Bakat maupun kecerdasan Siaute sangat

terbatas, mungkin hanya empat bagian yang berhasil kukuasai.”

Ia agak jeri terhadap sinar mata Pang Goan yang lebih tajam dari sembilu itu, karenanya ia tak

berani bicara terlalu banyak.

“Aku sendiri kebetulan juga berlatih ilmu golok,” demikian ia berpikir, “sekalipun bukan

golok sakti keluarga Nyo yang kupelajari, pada hakikatnya ilmu silat di dunia ini bersatu

sumber, kalau kukatakan empat bagian mungkin bolehlah.”

Siapa tahu Pang Goan segera menggeleng kepala berulang kali, “Bila menurut pengamatanku,

mungkin empat bagian pun belum berhasil kaucapai.”

“Oya!”

“Bakat maupun kecerdasanmu tidak jelek, mestinya tak mungkin hanya mencapai empat

bagian saja, tapi bila kulihat caramu bersenang-senang setiap hari dengan begundalmu itu,

sudah pasti ilmu silatmu terbengkalai sama sekali, oleh sebab itulah aku hanya berani menilai

bahwa kepandaianmu Cuma mencapai tiga bagian saja.”

Ho Leng-hong tertunduk malu.

“Jit-long, kita adalah famili dekat, bukannya aku yang menjadi kakak ingin mengomeli kau,

tapi kalau keadaan ini dibiarkan berlangsung terus, cepat atau lambat nama Thian-po-hu pasti

akan rontok ditanganmu, sementara jangan kita singgung dulu makna yang sebenarnya dari

ikatan perkawinan antara Thian-po-hu dengan Cian-sui-hu, coba kautanya kepada hati

nuranimu sendiri, apakah kau dapat mempertanggung-jawabkan dirimu terhadap ayahmu

yang membangun kejayaan keluarga ini dengan susah payah? Masih punya mukakah kau

untuk bertemu dengan kakak-kakakmu yang telah mati secara perkasa dan ikhlas?”

“Membangun kejayaan keluarga dengan susah payah” tak sulit diserap maknanya, tapi apa

pula yang dimaksud “mati secara perkasa dan ikhlas?”

Nama kecil Nyo Cu-wi adalah “Jit-long” atau si ketujuh, jadi di atasnya masih ada enam

orang kakak, apakah keenam saudaranya telah mati semua secara perkasa dan ikhlas.

Mengapa mereka mati secara perkasa dan ikhlas.

Apa pula makna yang seberanya di balik ikatan perkawinan antara Thian-po-hu dengan Ciansui-

hu?

Dengan sorot mata tajam Pang Goan mengawasi Ho Leng-hong sekian lama, tiba-tiba ia

menghela napas dan membuka bungkusan kain di meja.

Betul juga, isinya adalah sebuah kotak besi yang berwarna hitam mengkilap.

Kotak besi itu digembok pula.

Pang Goan tidak membuka kotak itu lagi, tapi berikut sebuah anak kunci benda-benda itu di

dorong ke hadapan Ho Leng-hong.

“Benda ini adalah milik keluarga Nyo kalian.” Demikian katanya, “batas janji selama dua

tahun sudah penuh, dan sekarang aku membawanya sendiri kemari serta diserahkan kembali

kepadamu, Cuma ada satu persoalan harus kuberitahukan kepadamu.”

Ho Leng-hong ingin sekali mengetahui benda apa yang ada di dalam kotak besi itu, terpaksa

ia bersabar untuk menunggu kelanjutan ucapannya..

Terdengar Pang Goan berkata pula, “Sepanjang perjalanan menuju ke timur sini, sudah empat

kali kurasakan jejakku dibuntui orang, rupanya mereka hendak mencuri benda ini. Malah dua

diantaranya sudah menyusup ke dalam kamarku, setelah beruntun kulukai dua orang

diantaranya, benda ini berhasil kuantar sampai di sini dengan selamat.”

“Siapakah orang-orang itu?” tanya Leng-hong sambil mendongak.

“Masa perlu kautanyakan? Dua tahun belakangan ini, meski dunia persilatan tampaknya

tenang dan tak pernah terjadi sesuatu apapun, bukan berarti orang lain telah mengendurkan

pengawasannya terhadap kita.”

“Hm . . .” Leng-hong mendengus.

40

Ia tak tahu siapakah “orang” yang dimaksudkan itu, iapun tak tahu kenapa ada orang

mengawasi Thian-po-hu dan Cian-sui-hu.

Tapi dengusan tersebut menunjukkan bahwa ia marah sekali atas kejadian tersebut. Tapi ada

juga satu hal yang diketahuinya, yakni ada orang mengincar barang dalam kotak besi ini dan

berusaha mencurinya, bahkan orang-orang itu sudah menyelundup ke dalam Thian-po-hu.

Cuma sayang ia tak dapat memberitahukan urusan ini kepada Pang Goan.

Pang Goan memandangnya sambil tertawa hambar, lalu berkata, “Marah tak akan menolong

dalam urusan ini, selama dua tahun benda ini berada di tanganku, sedikit banyak pihak lawan

masih agak jeri padaku, tapi sekarang sesudah kuserahkan kembali kepadamu, yakinkah kau

dapat melindunginya serta tidak akan jatuh ke tangan orang lain?”

“Siaute akan berusaha dengan sepenuh tenaga.”

“Dalam hal ini bukan soal berusaha dengan sepenuh tenaga atau tidak,” kata Pang Goan

sambil menggeleng, “tapi yakinkah kau dapat melindunginya?”

Ho Leng-hong termenung sejenak, lalu sahutnya, “Aku tak berani mengatakan punya

keyakinan, tapi aku mempunyai akal bagus untuk menjamin keselamatannya.”

“Oya?!” Pang Goan berkerut kening, jelas ia tak percaya.

Ho Leng-hong menempelkan jari tangannya pada bibir, lalu menulis beberapa huruf di atas

meja, begitu selesai dibaca tulisan itu cepat-cepat dihapus.

“Bagaimana pendapat Lotoako akan siasat ini?” ia bertanya lirih.

Pang Goan mengernyit alis, sekali ini jelas sebagai tanda memperingatkan agar waspada.

Menyusul dengan suara rendah ia berbisik, “Menurut anggapanmu, mereka akan turun tangan

di gedung ini?”

“Dalam hal ini bukan soal mungkin atau tidak melainkan mereka pasti akan turun tangan

dalam gedung ini,” jawab Ho Leng-hong menirukan nada orang.

Pang Goan tertawa, ia tepuk bahu Ho Leng-hong seraya berkata, “Jit-long sungguh tak

kusangka kau dapat berpikir secerdik ini, baik kita lakukan begitu saja.”

Anak kunci segera diambil dan kotak besi pun dibuka.

Dalam kotak besi terdapat pula sebuah kota yang terbuat dari kayu, di tengah kotak kayu

dengan alas kain merah tersimpanlah sebilah golok dan sejilid kitab pusaka ilmu golok.

Golok itu pakai sarung terbuat dari kulit ular, gagangnya disepuh emas dengan empat huruf

yang terbuat dari batu permata, “Yan-ci-po-to” atau golok pusaka gincu merah.

Kitab pelajaran ilmu golok hanya terdiri dari beberapa halaman, pada kulit buku itu tertera

huruf yang berbunyi: Tay-sin-pat-to (delapan jurus golok malaikat sakti), itulah ilmu golok

keluarga Nyo.

Perlahan Ho Leng-hong mencabut golok itu, seluruh tubuh golok berkilat bagaikan cermin,

lamat-lamat tampak pancaran sinar merah jambon.

“Golok bagus!” pujinya dalam hati.

Sebenarnya di ingin memeriksa juga kitab pusaka itu, tapi niatnya dapat ditahan.

Sebab baik golok maupun kitab pusaka itu kan miliknya sendiri, adalah lucu kalau dia tertarik

pada benda miliknya sendiri.

Dari atas dinding ia menanggalkan sebilah golok biasa, lalu dimasukkan ke dalam kotak besi

dan kemudian kotak itu dikunci kembali.

Setelah itu ia membungkus golok dan kitab pusaka itu dengan secarik kain kumal, bungkusan

itu dimasukkan ke dalam laci di bawah almari.

“Aman tidak kalau disimpan di sini?” tanya Pang Goan dengan suara agak parau.

“Semakin terbuka tempat seperti almari ini semakin aman, bila mereka hendak mencari golok

pusaka, tak mungkin akan mereka perhatikan laci tempat barang rongsokkan semacam ini,

sekalipun laci dibuka, merekapun tak akan menyangka golok pusaka dibungkus dalam secarik

kain kumal.”

41

Pelahan Pang Goan mengangguk, “Aku hanya ada waktu tiga atau lima hari, aku masih harus

pergi ke Sengtoh, mudah-mudahan aku tidak tertahan terlalu lama di sini.”

“Tiga sampai lima hari sudah lebih dari cukup, selama beberapa hari ini silakan Lotoako

berdiam di sini, aku percaya mereka pasti akan lebih gelisah daripada kita.”

Tengah bicara tiba-tiba terdengar suara gemerencing perhiasan orang perempuan, tampak

Bwe-ji sedang menyeberangi jembatan.

Cepat Ho Leng-hong memberi tanda kepada Pang Goan dengan kerlingan mata, lalu kotak

besi itu buru-buru dibungkus dengan kain, dirantai dan dikunci kembali.

Bwe-ji telah masuk ke dalam ruangan, ia memberi hormat lebih dulu kepada Pang Goan

seraya berkata, “Ketika Hujin mendengar tentang kedatangan Kuloya, ia merasa gembira

sekali. Perjamuan telah disiapkan, hamba perintahkan datang untuk minta petunjuk Loya,

perjamuan akan diselenggarakan di ruang belakang ataukah diantar ke Kiok-hiang-sia sini?”

Pang Goan masih mengusirkan golok pusaka, jawabnya setelah berpikir sebentar, “Tempat ini

bagus sekali, mana nyaman dan tenang lagi.”

“Begitupun boleh,” sambung Ho Leng-hong segera, “sesudah melakukan perjalanan jauh,

Lotoako memang harus membersihkan badan dan beristirahat lebih dulu, biar Siaute

mengantar benda ini ke dalam kamar, kemudian baru datang kemari lagi bersama Wan-kun.”

Pang Goan tidak menghalangi, sambil mengulapkan tangan ia berkata, “Kita adalah orang

sendiri, asal bisa bertemu dan bercakap-cakap, itu sudah cukup, kenapa musti sungkansungkan?”

Sambil mengempit kotak besi itu Ho Leng-hong pun mohon diri dan berlalu, sedang Bwe-ji

tetap tinggal di situ melayani Pang Goan membersihkan badan.

Sekembali Leng-hong di belakang, Pang Wan-kun telah selesai berdandan dan sedang

menantikannya, begitu berjumpa ia lantas bertanya, “Kudengar Koko begitu masuk pintu

lantas marah-marah, apa gerangan yang terjadi? Dari tadi sampai sekarang kalian bercakapcakap

terus di Kiok-hiang-sia sampai pelayanpun tak boleh masuk, sebetulnya apa yang

sedang kalian bicarakan?”

Ho Leng-hong tertawa, katanya sambil menunjuk kotak besi itu, “Apa lagi kalau bukan

lantaran benda ini, kakakmu sengaja mengantarnya pulang, begitu masuk pintu ia lihat

mereka sedang bermain dadu, langsung saja aku di damperatnya habis-habisan.”

“Ya, memang begitulah watak Koko, dia berangasan dan pemarah, seolah-olah hanya dia

sendiri yang suci di dunia ini, Jit-long, kau tidak marah kepadanya bukan?”

“Tentu saja tidak,” Ho Leng-hong tertawa, “kendatipun perkataannya kurang sedap didengar,

tapi semuanya demi kebaikanku, apalagi kau hanya punya seorang kakak, kecuali menerima

nasihatnya, apalagi yang dapat kita katakan?”

Wan-kun menghela napas panjang, “Ai, tak kusangka kaudapat menyelami perasaannya,

bicara sejujurnya, meski kami adalah saudara, tapi umur kami selisih separo lebih, jangankan

kau, aku pun agak takut untuk bertemu dengannya.”

“Mau menghindari juga percuma sekarang, lebih baik simpan dulu benda itu, perjamuan

diselenggarakan di Kiok-hiang-sia, sebentar kita ke sana bersama.”

Ketika menerima kotak besit itu, tiba-tiba air muka Wan-kun berubah serius, bisiknya, “Apa

isi kotak ini....”

“Kitab pusaka dan golok pusaka Yan-ci-po-to!”

“Ah, jadi kita menikah sudah dua tahun lamanya?” kejut dan girang Wan-kun.

“Siapa bilang tidak, kedatangan kakakmu ini justru khusus untuk mengantarkan golok

mestika dan kitab pusaka ini.”

Kotak besi itu dipeluk Wan-kun erat-erat, lalu setelah tarik napas panjang ia bergumam,

“Waktu sungguh cepat berlalu, dua tahun telah lewat dalam sekejap mata, bila terkenang

kembali ketika kaudatang ke Cian-sui-hu untuk melamarku dua tahun yang lalu, rasanya

seperti kejadian kemarin saja.”

42

“Padahal tidak terhitung lama, paling-paling cuma tujuh ratus hari saja,” sambung Ho Lenghong

sambil tertawa.

“Jit-long, tak heran kalau Koko marah-marah, dua tahun belakangan ini kita benar-benar telah

menelantarkan pelajaran silat kita, bukan saja kerjamu setiap hari hanya bersenang-senang

main judi dan minum arak, akupun tak pernah memikul tanggung jawab dengan

sesungguhnya, mulai hari ini . . . . . “

“Mulai hari ini aku pasti akan mawas diri baik-baik, berlatih ilmu golok secara tekun untuk

mencapai kemajuan yang pesat, nah puas? O, isteriku yang bijaksana, jangan lupa kakakmu

masih menunggu di Kiok-hiang-sia untuk bersantap malam, kalau kita sebagai tuan rumah

tidak lekas ke sana, masa menyuruh sang tetamu menunggu dengan perut lapar?”

“Hm, orang lagi bicara serius denganmu, kau malah cengar-cengir belaka,” omel Pang Wankun

melotot sekejap ke arahnya.

“Melayani kakak ipar juga terhitung urusan serius, Hujin, kita harus berangkat sekarang.”

Pang Wan-kun segera berbangkit, mengambil kunci dan membuka almari pakaiannya.

“Jangan kau simpan dalam lemari,” Leng-hong mencegah, “golok dan kitab itu adalah pusaka

keluarga Nyo kita, sekali-kali tidak boleh hilang.”

“Tempat ini kamar tidur kita, siapa yang berani melakukan pencurian dalam Thian-po-hu

kita?”

“Kukira lebih baik berhati-hati, sebab menurut penuturan kakakmu, sepanjang perjalanan

katanya banyak orang yang menguntitnya dan berusaha mencuri golok pusaka ini.”

“Ah, masa betul begitu?” Wan-kun tercengang.

“Tentu saja betul, justru demi keamanannya, kakak telah menggunakan rantai dan

menggembok kotak ini di lehernya.”

“Lantas benda ini harus di simpan di mana baru aman?” tanya Wan-kun sambil celingukan ke

sana kemari.

“Lemari besi yang kau pakai untuk menyimpan perhiasan itu kuat sekali, akan lebih aman

kalau kita simpan di sana saja. Nah, masukkan ke lemari besi itu untuk sementara waktu.”

Wan-kun manggut-manggut, dia lantas membuka lemari besi di sudut kamar sana.

Dinding lemari besi itu tebalnya empat-lima senti dengan berat ratusan kati, bukan saja

ditanam di dinding sehingga hanya pintu lemari saja yang menongol di luar, dari dalam

sampai luar pun ada tiga lapis kunci yang sangat kuat.

Tempat sekuat ini hanya ada satu kekurangan, yakni ruang lemari tersebut terlampau sempit,

apalagi di situ sudah tersimpan beberapa kotak perhiasan, boleh dibilang sudah tiada tempat

lagi untuk menyimpan golok tersebut.

Ho Leng-hong turun tangan sendiri untuk memindahkan kotak perhiasan ke lemari pakaian,

kemudian setelah memasukan golok tersebut ke dalam lemari besi, lalu dikunci dan anak

kunci itu dimasukkan ke dalam saku sendiri.

“Jit-long, masa akupun tidak kaupercayai?” keluh Wan-kun setelah menyaksikan perbuatan

suaminya.

“Bukan begitu maksudku, bukankah perhiasanmu sudah dipindah semua ke almari pakaian?

Kau kan sudah tidak membutuhkan anak kunci lagi. Lagipula kuperlukan melatih ilmu golok

itu secara tekun, bila kuncinya kubawa, maka setiap saat bisa kulakukan latihan dengan lebih

leluasa.”

“Begitupun bolehlah,” Wan-kun tertawa, “golok pusaka itu telah kausimpan sendiri, anak

kuncinya berada pula di sakumu, jadi seandainya hilang kan tak ada sangkut pautnya lagi

denganku.”

Leng-hong hanya tertawa dan tidak menanggapi. Begitulah bersama Pang Wan-kun berangkat

mereka menuju ke Kiok-hiang-sia.

------------------------

43

Perjamuan diatur dengan sangat mentereng, hidangan pun amat banyak dan aneka ragam,

sayang suasananya agak kaku.

Mungkin hal ini disebabkan selisih umur yang terlampau banyak antara kedua bersaudara

Pang, mungkin juga lantaran Wan-kun agak jeri terhadap kakaknya, kecuali dalam sopan

santun, hampir boleh dibilang perempuan itu tundukkan kepala belaka.

Pang Goan sendiri mungkin memang berwatak kurang suka bicara, mungkin juga lantaran

kuatir golok Yan-ci-po-to, sikapnya amat kaku dan jarang berbicara.

Lebih-lebih Ho Leng-hong, ia kuatir banyak berbicara hanya akan membongkar rahasia

sendiri, maka ia makin jarang bersuara.

Pokoknya perjamuan ini berlangsung dalam keadaan kaku dan tidak meriah, setelah minum

beberapa cawan arak dan paksakan diri bersantap sedikit, perjamuan pun diakhiri.

Selesai bersantap, minuman teh dihidangkan. Inilah saat yang biasa dipakai untuk

membicarakan soal-soal kecil tapi lantaran tiada soal “kecil” yang dibicarakan, maka sesudah

duduk kaku sejenak, Ho Leng-hong dan Pang Wan-kun lantas mohon diri.

Pang Goan tidak mengalangi mereka, katanya dengan hambar, “Aku akan berdiam beberapa

hari lagi di Lok-yang, pada kesempatan ini kita harus berlatih sebaik-baiknya To-kiam-happing-

tin (perpaduan golok dan pedang), Siaumoay (adik) juga harus bersiap-siap.”

“Toako suruh aku ikut pula dalam latihan To-kiam-hap-ping-tin?” tanya Wan-kun.

“Tentu saja, selama dua tahun ini hakikatnya kau tidak melaksanakan kewajiban untuk

melakukan pengawasan, sekarang waktunya tidak banyak lagi, kau harus ikut serta dalam

barisan ini untuk menutupi kekurangannya.”

Wan-kun hanya mengangguk tanpa membantah.

Setiba kembali di kamarnya, dengan sedih ia mengomel kepada Ho Leng-hong, “Jit-long,

coba pikirlah, selama beberapa tahun ini demi mendorong kemajuanmu, aku tak segan-segan

menerima tuduhan orang sebagai perempuan judas dari Thian-po-hu, hari ini aku ditegur oleh

kakak, bayangkan sendiri apakah aku tak pernah menasihatimu? Mulai hari ini kauharus

menuruti perkataanku!”

“Wan-kun, tak usah bersedih hati,” hibur Leng-hong sambil membelai sang isteri, “Toako

tidak dapat memahami bagaimana kesenangan seseorang yang baru kawin, sebab itulah kau

kena teguran.”

“Kakak ibaratnya pengganti orang tua, aku tak akan murung lantaran didamprat olehnya, aku

hanya benci pada diriku sendiri, benci akan nasibku yang jelek hingga suami sendiripun tidak

percaya kepadaku . . . . .”

“Eh, kapan aku tidak percaya kepadamu?”

“Ai, tak usah disinggung lagi,” Wan-kun menggelengkan kepala berulang kali.

“Tidak, kau harus mengatakan kepadaku, sebagai suami-isteri yang bahagia tak boleh ada

rahasia yang disembunyikan dalam hati masing-masing, sebab hal ini sangat mempengaruhi

saling percaya antara suami isteri.”

“Ah, aku hanya berbicara seadanya saja, coba lihat, kau lantas menganggapnya serius.” Wankun

tertawa.

“Wan-kun, jangan bohongi aku, kupercaya ucapanmu muncul cari sanubarimu yang

sesungguhnya, tak mungkin hanya bicara main-main belaka.”

“Sungguh, aku tidak apa-apa, kau tak boleh menebak secara ngawur!”

“Supaya aku tidak menebak secara ngawur, harus kaukatakan yang sesungguhnya kepadaku.”

“Jit-long, kenapa kau hari ini? Hanya sepatah kataku yang tidak sengaja kenapa kaudesak

terus untuk mengetahui sejelas-jelasnya?”

“Sebab belum pernah kauucapkan kata-kata semacam ini, tentu ada suatu urusan yang tidak

berkenan di hatimu sehingga tanpa terasa kau mengucapkan kata-kata seperti itu.”

44

“Ah, itu hanya sentuhan hati kecil belaka, bukan urusan yang membuat aku tak senang,

sudahlah, jangan kautanyakan lagi.”

“Tidak, aku harus tahu, kalau tidak aku tak bisa tidur nyenyak malam nanti.”

“Kau sungguh-sungguh ingin tahu?”

“Tentu saja!”

“Harus mengetahuinya?”

“Ya, harus mengetahuinya.”

Tiba-tiba Pang Wan-kun tertawa cekikikan, sambil mencolek jidat Leng-hong dengan jari ia

berkata, “Tolol, coba lihat betapa kau cemas. Baiklah akan kuberitahukan kepadamu, aku

hanya tak enak hati lantaran persoalan sore tadi, maka sengaja kugoda dirimu.”

“Urusan sore tadi? Urusan apa?”

Wan-kun mengerling sekejap dan berkata, “Apa lagi? Tentu saja soal menyimpan golok

pusaka tadi, bukan saja lemari perhiasanku kaukangkangi, bahkan anak kuncinya ikut dibawa,

bukankah ini sama artinya dengan tidak percaya lagi kepadaku?”

“O, jadi bicara pulang pergi, rupanya kau tak senang hati lantaran persoalan itu.”

“Kenapa?” Wan-kun mencibir, “kau tidak tahu sikapmu pada waktu itu, seolah-olah aku

kauanggap sebagai pencuri yang setiap saat bisa melarikan golok rongsokanmu itu, tentu saja

aku merasa tak senang hati.”

Sambil berkata dengan muka masam dia bangkit dan duduk di ujung pembaringan sana.

Cepat Leng-hong mendekatinya dan berkata, “Sudahlah, jangan marah, tak ada harganya

untuk marah lantaran urusan sekecil itu, jangan menaruh curiga apa-apa. Aku mengambil

anak kunci itu hanya supaya leluasa saja.”

“Aku adalah isterimu, apakah kurang leluasa bila anak kunci itu aku yang menyimpan? Toako

suruh aku ikut serta dalam latihan To-kiam-hap-ping-tin, apakah aku tidak boleh ikut

membaca isi kitab pusaka Nyo-keh-sin-to tersebut.”

“Boleh, tentu saja boleh,” Leng-hong tertawa, “Nah, kuncinya ada di sini, sekarang kuminta

maaf dan mengembalikan kunci ini kepadamu, tentunya amarahmu bisa mereda buka?”

“Huh, sekarang baru dikembalikan kepadaku, siapa yang sudi?” omel Wan-kun seraya

melengos.

Leng-hong sisipkan anak kunci ke balik baju bagian dadanya, lalu tertawa lirih, “Kau tak sudi

anak kunci ini, justru anak kunci ini sudi kepadamu, lantas bagaimana baiknya?”

“He, kau cari mampus,” jerit Pang Wan-kun sambil melompat bangun.

Tentu saja Leng-hong tak membiarkan dia kabur sebab anak kunci masih berada dalam baju

dadanya, ia harus mengambilkan pula....

Gara-gara ingin mengambil anak kunci, kedua orang lantas bergumul di atas pembaringan.

Maka terdengarlah suara tertawa cekakak dan cekikik, lalu suara napas yang tersengal-sengal,

menyusul lampu lantas padam dan.....

Malam begitu indah, begitu hangat, sekalipun hujan badai mungkin akan turun keesokan

harinya, yang jelas malam ini hanya ada kemesraan dan kehangatan yang memabukkan.

Malam akan terasa pendek dalam kegembiraan, tapi terasa lewat lebih cepat pada saat-saat

yang penuh kehangatan.

Malam lewat dan fajarpun menyingsing pula.

Waktu Ho Leng-hong bangun dari tidurnya, Wan-kun masih tertidur nyenyak.

Tubuhnya yang putih halus bagaikan kemala hanya tertutup oleh selapis selimut tipis,

rambutnya terurai indah, tubuhnya meringkuk di ranjang dengan senyuman puas masih

menghiasi ujung bibirnya.

Anak kunci itu tergeletak di sisi bantal yang berbau harum.

Dengan kasih sayang Leng-hong membelai rambutnya yang halus, lalu anak kunci itu diambil

dan perlahan turun dari pembaringan.

45

Agaknya Wan-kun merasakan gerak-geriknya itu, dengan mata yang masih sepat ia

memandangnya sekejap, lalu sambil menggeliat bisiknya, “Jit-long . . . jangan . . . jangan

pergi . . . . “

Tak tahan Leng-hong, ia membungkukkan badan dan mencium pipinya, Wan-kun tidak

bergerak, kembali ia terlelap.

Udara pagi terasa agak dingin, Leng-hong bantu menyelimuti tubuh Wan-kun, kemudian ia

sendiri mengenakan pakaian dan berjalan menghampiri almari perhiasan, berjongkok dan

memeriksa tanda rahasia yang sengaja ia tinggalkan di pintu almari besi.

Tapi apa yang kemudian terlihat membuat hatinya terkesiap.

Ketika menutup almari besi semalam, secara diam-diam ia telah meninggalkan seutas rambut

di celah pintu, tapi sekarang rambut itu sudah rontok dan ada di atas lantai.

Hal ini menandakan semalam setelah ia tertidur ada orang telah membuka lemari besi itu.

Leng-hong segera bangun dan memeriksa semua jendela dan pintu yang ada di ruangan itu,

tapi nyatanya baik daun jendela maupun daun pintu semuanya terkunci rapat, tidak berubah

sedikitpun.

Tapi kalau tak ada yang masuk ke kamar, siapa yang membuka almari besi?

Cepat Leng-hong membuka semua gembok pada pintu almari besi itu, apa yang ditemukan?

Kotak besi berisi golok pusaka yang berada dalam almari itu telah lenyap tak berbekas.

Macam-macam pikiran timbul dalam benaknya, tapi ia pura-pura tidak tahu apa-apa, semua

gembok kembali dikunci, almari besi itupun dikunci seperti semula, setelah mengembalikan

anak kuncinya ke sisi bantal, ia mengenakan pakaian, membuka pintu, turun dari loteng dan

buru-buru menuju ke Kiok-hiang-sia.

Baru sampai pintu taman ia berpapasan dengan Bwe-ji.

Waktu itu Bwe-ji sedang keluar dengan rambut kusut, wajah lesu seakan-akan kurang tidur

atau baru bangun tidur.

Ia tampak gugup dan kelabakan ketika berjumpa dengan Ho Leng-hong, sambil berdiri

dengan kepala tertunduk, bisiknya, “Tuan, kau sudah bangun!”

“Hei, sepagi ini ada apa kau ke taman?” tegur Leng-hong sambil menatapnya tajam-tajam.

Merah jengah wajah Bwe-ji, “Aku.... aku melayani Kuloya di.... di Kiok-hiang-sia....”

sahutnya tergegap.

“Apakah semalam kau....”

“Kuloya mabuk arak, ia minta hamba tetap tinggal di sana.”

“Ngawur!” omel Leng-hong di dalam hati, dia memberi tanda dan berkata, “Cepat kembali ke

kamarmu, bagaimana jadinya kalau ketahuan orang?”

Bwe-ji mengiakan dengan takut-takut, baru saja akan pergi, Leng-hong kembali berkata,

“Tunggu sebentar, apakah Kuloya telah bangun?”

“Belum!”

“Apakah terjadi sesuatu di Kiok-hiang-sia semalam?”

“Tidak!”

“Bagus sekali!” kata Leng-hong, setelah termenung sejenak sambungnya, “Beristirahatlah

dulu, Hujin belum bangun. Urusanmu ini jangan kauberitahukan kepadanya untuk sementara

waktu.”

Bwe-ji mengiakan dengan lirih, lalu berlalu.

Sepergi dayang itu, Leng-hong, mendongakkan kepalanya dan mengembus napas panjang, ia

pikir, “Di luar saja Pang Goan bicara seperti orang alim, tak tahunya iapun seorang laki-laki

bangor, bila aku masuk sekarang, mungkin dia akan kehilangan muka, lebih baik kutunggu

sejenak lagi baru ke sana.”

Begitulah, setelah mengambil keputusan ia lantas berganti arah dan berjalan-jalan lebih dulu

ke dalam taman.

46

Sambil berjalan otaknya merenungkan kembali peristiwa semalam, ia menaruh kecurigaan

besar atas tercurinya golok mestika, untuk sebelumnya ia sudah melakukan persiapan, coba

kalau tidak, tentu penjahat-penjahat itu sudah berhasil.

Ketika terbayang kembali keangkeran Pang Goan sewaktu memberi nasihat, lalu

membayangkan pula keadaan Bwe-ji yang mengenaskan, diam-diam ia merasa geli sekali.

Anak keturunan keluarga ternama umumnya memang lebih binal, yang benar-benar suci

bersih rasanya sangat sedikit.

Sambil berjalan sambil berpikir, tanpa terasa sampailah di sisi batu gunung yang pernah

digunakannya untuk duduk bersama Pang Wan-kun.

Ho Leng-hong berdiri termenung, ketika teringat kembali adegan waktu itu, diam-diam ia

merasa malu.

Terbayang sudah sekian lama ia masuk ke Thian-po-hu secara ajaib, meskipun peristiwa ini

terjadi bukan atas kehendak sendiri, tapi kenyataan menunjukkan ia telah menggunakan nama

orang lain, mengangkangi isteri orang dan harta kekayaan orang.

Tapi hingga kini ia masih belum berhasil menyelidiki asal-usul para penjahat dibalik

persoalan ini, bahkan mati-hidup Nyo Cu-wi, pemilik Thian-po-hu yang sesungguhnya pun

tidak diketahui, betapa hatinya tidak merasa malu . . . .

Sementara ia termenung dengan perasaan malu dan menyesal, tiba-tiba dari balik pepohonan

sana terdengar suara deru angin yang santar.

Deru angin yang mirip dengan suara sambaran senjata tajam, seperti pula suara tenaga dalam

yang dipancarkan.

Dengan langkah yang sangat hati-hati Leng-hong mengitari pepohonan dan mengintip ke

sana, maka terlihatlah seorang sedang berlatih jurus silat dengan telapak tangan sebagai

golok.

Ilmu yang sedang dilatih orang itu jelas serangkaian ilmu golok yang bersifat keras, di mana

telapak tangannya menyambar, angin menderu-deru, daun dan ranting pohon di sekitar

sepuluh tombak sekeliling tempat itu sama rontok dan hampir menutupi raut wajah orang itu.

Makin diperhatikan Ho Leng-hong merasa semakin terperanjat, ia tak mengerti siapa

gerangan jago lihai yang sedang berlatih kungfu di dalam istana Thian-po-hu ini?

“Siapa yang sedang mencuri lihat di sana?” tiba-tiba orang itu menghentikan latihannya

sambil membentak.

Karena ia berhenti berlatih, daun yang berguguran pun ikut berhenti, tapi hal ini justru makin

mengejutkan Ho Leng-hong, sebab sekarang ia dapat melihat jelas siapa orangnya.

Ternyata tokoh sakti ini tak lain adalah Pang Goan.

Dengan langkah cepat Leng-hong mendekat ke sana, lalu sapanya dengan nada kaget

bercampur heran, “Lotoako, sejak kapan kau bangun?”

“Sebelum fajar menyingsing aku telah bangun dan berlatih ilmu golok di sini, adakah sesuatu

yang tidak beres?” Pang Goan balas bertanya dengan heran.

“Kalau begitu semalam Lotoako tidak suruh dayang Bwe-ji menemani tidur di Kiok-hiangsia?”

“Menemani tidur?!” terbelalak mata Pang Goan, sinar matanya penuh rasa marah, “kau

menganggap diriku sebagai manusia macam apa? Sudah belasan tahun aku tak pernah

mendekati perempuan, mana mungkin kupaksa dayang adikku untuk menemani aku tidur?

Kau anggap aku secabul dirimu?”

“Wah, celaka kalau begitu,” seru Leng-hong tiba-tiba, tanpa menunggu lama ia lantas putar

badan dan lari pergi.

“Berhenti!” bentak Pang Goan sambil menghalangi jalan perginya, “sebelum kauterangkan

duduknya perkara, jangan tinggalkan tempat ini.”

47

Terpaksa Leng-hong berkata sambil menghela napas, “Lotoako, kita harus cepat-cepat

kembali ke Kiok-hiang-sia, kemungkinan besar golok mestika dan kitab pusaka telah dicuri

orang.”

“Mana mungkin?” Pang Goan ikut terperanjat, “sebelum meninggalkan tempat itu sudah

kuperiksa sendiri . . . . . .”

“Wah, kalau begitu lebih celaka lagi, kita harus cepat ke sana,” belum selesai berkata, secepat

terbang ia terjang keluar hutan.

Pang Goan melengak, buru-buru ia menyusul ke sana . . . . .

-------------------

Apa yang mereka duga ternyata benar, laci lemari buku itu sudah kosong, baik golok mestika

maupun kitab pusaka itu sudah lenyap tak berbekas.

Dengan gemas Leng-hong berkata, “Tak kusangka kalau Bwe-ji si dayang itu adalah seorang

pengkhianat, lebih-lebih tak kusangka ketika kepergok tadi, kulepaskan dia begitu saja . . . . . .

.”

Sambil berkata sebenarnya dia hendak memerintahkan para Busu untuk melakukan

pengejaran.

Pang Goan meski juga terperanjat, sikapnya tetap tenang, sambil menggoyangkan tangannya

ia berkata, “Tak perlu dikejar lagi, sekalipun dayang itu berhasil disusul juga tak ada gunanya,

sebab kalau pihak lawan sudah mengatur rencana untuk mendapatkan golok mestika dan kitab

pusaka itu, masakah mereka tidak menyiapkan orang lain untuk menerima barangnya. Bila

benda tersebut telah mereka dapatkan, sudah pasti barang itu segera dikirim keluar.”

“Tapi barang sudah dicuri, apakah kita hanya diam saja?”

“Tentu saja tidak, bila kita berkaok-kaok dan mengerahkan orang banyak untuk mengusut,

bukan saja tidak ada manfaatnya malah merepotkan saja. Kau duduklah lebih dulu dan mari

kita pelajari apa yang terjadi, asal apa yang diatur musuh sudah kita pahami, tak sulit untuk

berusaha merampasnya kembali barang yang telah hilang. Harus diketahui, semakin kita tidak

bereaksi, semakin sulit bagi lawan untuk menduga apa yang akan kita lakukan, dan juga

semakin mudah menemukan titik-titik kelemahan mereka.”

Ho Leng-hong tak berdaya, ia menarik napas panjang dan duduk kembali.

Pang Goan duduk pula, katanya, “Sekarang ceritakan dulu kejadian ketika kaupergoki Bwe-ji,

ceritakan setelitinya.”

Leng-hong manggut-manggut, ia mengisahkan apa yang dialami pagi tadi, iapun

menceritakan perundingan rahasia yang sempat disadap olehnya ketika seorang pria dan

seorang perempuan sedang berunding di dalam taman baru-baru ini, iapun mengisahkan

kejadian sekembalinya ke kamar semalam dan hasil pemeriksaan terhadap lemari besi tadi . . .

. .

Pang Goan hanya mendengarkan dengan saksama tanpa memberi komentar apa-apa, setelah

Leng-hong menyelesaikan ceritanya, ia baru berkata, “Bila kita tinjau dari kisahmu barusan,

bukan saja pihak lawan telah mengetahui gerak-gerik kita, di dalam sini ada pengkhianat, di

luar masih ada yang menunggu, itu berarti kecuali kau dan aku, dalam gedung Thian-po-hu

ini sudah tidak ada orang ketiga yang dapat dipercaya lagi.”

“Siaute sendiripun mempunyai perasaan demikian, terutama sekembalinya ke kamar

semalam, kunci lemari besi itu belum pernah meninggalkan pembaringan, pintu dan jendela

pun tak berubah, tampaknya Wan-kun pun tak lepas dari kecurigaan.”

“Wan-kun adalah isterimu dan merupakan adikku pula, mana mungkin dia akan membantu

orang luar? Kupikir, orang yang membuka lemari besi itu pastilah Bwe-ji, dia adalah dayang

kepercayaan kalian, untuk masuk-keluar kamar bukan pekerjaan yang sukar, tentu dia yang

telah membuka lemari besi itu. Setelah mengetahui isi kotak golok adalah benda palsu, maka

48

ia lantas mengintip di luar Kiok-hiang-sia. Ya, tidak seharusnya kuperiksa lagi laci tersebut

sebelum pergi sehingga rahasia ini diketahui olehnya.”

“Tapi seandainya ia masuk ke kamarku di tengah malam, tak mungkin aku tidak mengetahui

sama sekali.”

Pelahan Pang Goan menggeleng kepala, “Bila sebelum itu ia mencampurkan sesuatu dalam

air tehmu, bahkan mencampuri obat dalam arak perjamuan semalam, darimana kau bisa

merasakannya?”

Leng-hong tertegun, ia benar-benar tak sanggup menjawab.

Pang Goan kembali berkata, “Oleh sebab itulah barusan kukatakan setiap orang dalam Thianpo-

hu ini mungkin tak dapat dipercaya lagi, aku lebih-lebih berani memastikan bahwa orang

yang ditugaskan lawan untuk menerima benda itu besar kemungkinan adalah salah seorang di

antara kawan berfoya-foyamu, kau mengakui tidak?”

Leng-hong menundukkan kepalanya, bagaimanapun juga dia harus mengakui kebenaran

ucapan tersebut.

Pang Goan berkata lebih jauh, “Kalau kitab pusaka itu hilang, untuk sementara waktu

kehilangan tersebut tak akan menimbulkan pengaruh apa-apa terhadap kita, karena Po-in-pattay-

sik (delapan jurus sakti ilmu pemecah awan) adalah ilmu golok keluarga Nyo kalian dan

sama sekali tidak mencakup ilmu pedang Keng-hong-kiam-hoat (ilmu pedang kejutan

pelangi) Cian-sui-hu kami, kalau melulu Nyo-keh-sin-to atau Keng-hong-kiam-hoat masih

belum dapat menandingi kelihayan Hiang-in-hu, untunglah rumus barisan To-kiam-hap-ping

yang hendak kita latih bersama belum sampai tercuri lawan.”

Satu ingatan dengan cepat melintas dalam benak Ho Leng-hong, pikirnya, “Kalau didengar

dari nada perkataannya ini, jangan-jangan pihak yang memusuhi Thian-po-hu adalah istana

Hiang-in-hu di Hu-yong-shia daerah Leng-lam . . . .?”

Baru saja ingatan tersebut terlintas, Pang Goan telah berkata lebih jauh, “Masalah terpenting

yang kita hadapi sekarang adalah berusaha mendapatkan kembali golok Yan-ci-po-to yang

tercuri, sebab golok ini sudah mempunyai sifat hidup, tajamnya luar biasa, bila sampai

diperoleh orang she Hui itu, keadaannya akan mirip harimau tumbuh sayap, untuk

mengalahkan dia mungkin kita akan mengalami kesulitan.”

“Bila golok mestika itu sudah mereka dapatkan niscaya orang-orang itu sudah kabur jauh, ke

mana kita akan menyusulnya?”

Pang Goan berpikir sebentar, lalu berkata, “Untuk mengatasi persoalan ini, kita harus bekerja

secara terpencar, kau selidiki pengkhianat dalam Thian-po-hu, sedang aku menyelidiki pihak

luar yang menjadi penadahnya. Sebentar aku akan tinggalkan tempat ini, andaikata Wan-kun

menanyakan, katakan saja aku ada urusan penting dan pulang ke Sengtoh.”

“Lotoako bermaksud akan pergi ke mana?”

“Aku pikir, kalau pihak musuh telah menggunakan pelbagai akal dan cara untuk mendapatkan

golok mestika dan kitab pusaka itu, maka di sekitar tempat ini tentu telah disiapkan tempat

lain untuk mengadakan kontak, begitu barang berhasil didapatkan, dengan melalui saluran

penghubung barang itu akan diantar keluar, lalu oleh pihak utusan benda itu akan diteliti, jika

terbukti asli mereka akan mencari orang yang sesuai untuk membawa golok itu dan

melanjutkan perjalanan, atau paling tidak hingga dewasa ini benda tersebut belum lagi

meninggalkan wilayah Kwan-lok.”

Ho Leng-hong manggut-manggut sependapat.

Kembali Pang Goan berpesan, “Sepeninggalku nanti, jangan sekali-sekali kau menunjukkan

sesuatu reaksi, segala sesuatu lakukan saja sewajarnya, berpura-puralah seperti tak pernah

terjadi sesuatu apapun, bahkan harus berpura-pura rileks dan gembira, kumpulkan semua

temanmu berfoya-foya, mau minum arak boleh, mau berjudi juga boleh, pokoknya seorang

pun jangan sampai bolos, semuanya harus datang dan berusahalah sedapat mungkin untuk

menahan mereka di sini, jangan biarkan mereka tinggalkan tempat ini.”

49

“O, aku mengertilah akan maksudmu, kausuruh aku menahan mereka agar dapat diselidiki

siapa di antara mereka yang paling mencurigakan?”

Pang Goan menggeleng, “Mencari tahu siapa yang paling mencurigakan adalah tugasmu,

sedang kepergianku dari Thian-po-hu secara tiba-tiba hanya ingin membuat pihak lawan

merasa curiga dan tak berani mengantar pergi golok mestika secara gegabah.”

“Toako, menyuruh aku menyelidikinya dengan cara bagaimana?”

“Sederhana sekali, cukup kauperhatikan dua hal.”

“Dua hal bagaimana?”

“Pertama, perhatikan siapa yang datang paling dulu dan siapa yang paling menaruh perhatian

pada kepergianku? Kedua, perhatikan sewaktu berjudi, siapa yang pikirannya tak terpusatkan

dan siapa yang kalah paling banyak?”

Mula-mula Leng-hong agak melengak, tapi segera ia paham, katanya sambil tertawa, “Toako

tak pernah berjudi, tak kusangka pengetahuanmu tentang jiwa penjudi sedemikian dalamnya.”

Pang Goan tertawa, “Orang yang tidak makan kan tidak berarti dia berpuasa bukan?”

“Seandainya orang yang berada di belakang layar adalah orang lain lagi dan susah payah kita

melakukan penyelidikan di sini, sedangkan dia telah kabur jauh-jauh dengan membawa golok

mestika itu.....”

Pang Goan menggoyang tangan.

“Peduli siapapun dia, sebelum arah tujuanku diketahui dengan jelas, tak nanti mereka berani

bergerak secara sembarangan,” demikian katanya “ketika datang dari Cian-sui-hu, kotak

golok itu kurantai pada leherku, sekarang benda itu sudah di tangan mereka, mana ia berani

bertindak secara gegabah.”

Bicara sampai di sini ia lantas berdiri.

“Bagaimana caraku untuk mengadakan kontak dengan Lotoako?” tanya Leng-hong.

Pang Goan termenung sejenak, kemudian jawabnya, “Setiap pagi dan malam berusahalah

mencari kesempatan untuk masuk ke taman sini, aku akan muncul dengan sendirinya untuk

bertemu denganmu.”

Leng-hong masih ingin mengetahui hal-hal yang menyangkut musuh pihak Thian-po-hu, tapi

Pang Goan telah melompat keluar dan berlalu dengan tergesa-gesa.

Taman di pagi itu masih sunyi, kabut tipis menyelimuti permukaan tanah.

Sepintas lalu Thian-po-hu masih tenang seperti hari-hari biasa, seakan-akan tidak pernah

terjadi sesuatu.

Tapi lamat-lamat Leng-hong seperti telah mencium bau amisnya darah di tengah udara pagi

yang segar itu, suatu intrik jahat, suatu perangkap besar seakan-akan mulai tersingkap seperti

kabut tipis yang mulai buyar itu.

Secara aneh dan tanpa disadari ia ikut terlibat ke dalam intrik jahat ini, urusan ini sebenarnya

tidak ada sangkut-paut dengan dirinya, kini bagaikan pusaran air telah menyeretnya ke dalam,

membuat ia tak bisa menghindarkan diri dan terpaksa harus mengikuti pusaran arus.

Ia tak tahu haruskah dirinya melanjutkan peranan tersebut, tapi perkembangan kejadian di luar

serta perasaan ingin tahu di dalam hatinya memaksa pemuda ini mau-tak-mau harus

melanjutkan peranannya, sudah terlanjur begini, ia tak dapat melepaskan diri lagi.

--------------------

Sekembalinya dari Kiok-hiang-sia, baru masuk ke kamarnya, tiba-tiba Ho Leng-hong

melenggong.

Pang Wan-kun telah bangun tidur, ia sedang menyisir rambutnya di depan toilet.

Orang yang membantunya menyisir rambut bukan lain adalah Bwe-ji.

Besar amat nyali dayang ini, bukan saja golok mestika dan kitab pusaka telah dicurinya, dia

juga berani bohong dan memfitnah nama baik Pang Goan, dan ternyata tidak melarikan diri?

50

Bukan saja tidak melarikan diri, sewaktu melihat Ho Leng-hong, sikapnya tetap wajar seolaholah

tak pernah terjadi suatu peristiwa apapun.

“Selamat pagi Tuan!” demikian sapanya sambil tertawa.

Api amarah segera berkobar, Leng-hong mendengus. Sebenarnya dia hendak mengumbar

marahnya, tapi bila teringat pesan Pang Goan tadi, mau-tak-mau dia menahan kata-kata

dampratannya.

Pang Wan-kun sedang mengawasi gerak-geriknya dari balik cermin, dengan melongo ia

berpaling dan menegur, “Hei, kenapa kau? Sepagi ini kau telah marah kepada siapa?”

Ho Leng-hong duduk di tepi pembaringan tanpa menjawab.

“Hei, apa yang terjadi? Kenapa diam saja?” Wan-kun kembali menegur dengan heran.

Leng-hong melirik Bwe-ji sekejap, tiba-tiba ia menghela napas panjang, dan berkata, “Ai,

Toakomu telah pergi!”

“Apa?” seperti tertusuk jarum, Wan-kun melompat bangun, jeritnya melengking, “Toako

pergi? Kapan?”

“Baru setengah jam yang lalu.”

“Kenapa ia pergi secara tiba-tiba?”

Sekali lagi Leng-hong memandang Bwe-ji sekejap lalu menghela napas pula, “Entahlah, aku

juga tak tahu apa sebabnya.”

“Kau tidak bertanya padanya?”

“Sudah kutanyakan, ia hanya bilang ada urusan penting harus diselesaikan di Sengtoh, tapi

tidak dijelaskan urusan penting apakah itu.”

“Hei, apa-apaan ini? Susah payah dari Cian-sui-hu yang ribuan li jauhnya datang kemari, ada

persoalan penting apa yang lebih penting dari To-kiam-hap-ping-tin? Lagi pula kami baru

berjumpa sekali, kendatipun ada urusan penting seharusnya dilaporkan dulu kepadaku....”

Leng-hong tidak bersuara, ia hanya melirik sekejap ke arah Bwe-ji, dilihatnya air muka Bweji

tetap tenang dan sama sekali tidak menunjukkan sesuatu tanda.

Agaknya Pang Wan-kun mengetahui Ho Leng-hong sedang memperhatikan Bwe-ji, ia lantas

bertanya, “Bwe-ji, waktu kaulayani Kuloya semalam, apa kaulakukan sesuatu yang

membuatnya kurang senang? Kalau tidak, kenapa pagi-pagi benar ia sudah pergi tanpa

pamit?”

“Tidak, Hujin, kemarin Kuloya malah mengeluarkan pakaian dari bungkusannya dan

menyuruhku untuk mencucinya, ia bilang mungkin akan berdiam cukup lama di sini.”

Sewaktu bicara, air mukanya tidak merah, suaranya tidak gemetar, sikapnya wajar dan biasa,

sulit bagi orang lain untuk mengetahui apakah dia sedang berbohong atau tidak.

Tanpa terasa Leng-hong berpikir, “Dugaan Pang Goan tampaknya tidak salah, jelas Wan-kun

tidak tahu kalau dayangnya sudah dibeli orang luar untuk mengkhianatinya, sekarang ada

baiknya jangan kubongkar dulu kebohongannya, tapi dia mengira aku orang she Ho gampang

ditipu, keliru besarlah dugaanmu.”

Maka dia sengaja mengembus napas panjang seraya bangkit berdiri, katanya, “Bagaimanapun

jua orangnya sudah pergi, apa gunanya kita menebak alasan di balik kepergiannya. Ai, baru

saja kemarin kita berkumpul dan sekarang Toako telah pergi dengan marah. Bwe-ji,

perintahkan orang untuk mengundang semua sobat karibku, suruh mereka datang secepatnya,

pertemuan kemarin harus dilanjutkan hari ini, jangan lupa, seorangpun tak boleh

ketinggalan!”

“Siapa tahu kalau kepergian Toako lantaran marah pada perbuatanmu kemarin, tidak dapatkah

kau lewatkan sehari ini dengan tenang?” pinta Wan-kun.

“Ah, beberapa hari ini kehidupanku terasa hambar tak menyenangkan, isteriku sayang, jangan

kau siram kepalaku dengan air dingin, izinkan aku bermain sepuasnya hari ini, boleh bukan?”

kata Leng-hong sambil tertawa.

51

“Baik! Baik! Aku tak akan mengurus dirimu lagi, tapi kau harus tahu diri, main sih boleh, tapi

jangan lupa, berlatih adalah pekerjaan yang utama,” kata Wan-kun sambil menghela napas

dan menggeleng kepala berulang.

“Aku tahu, setelah permainan hari ini, lain waktu aku pasti akan menjaga diri baik-baik dan

berlatih kungfu dengan tekun. Bwe-ji, kenapa tidak cepat laksanakan perintahku?”

Bwe-ji mengiakan dan cepat turun dari loteng.

Sepergi Bwe-ji, sambil tertawa cengar-cengir kembali Ho Leng-hong mencumbu Pang Wankun,

setelah puas baru ia pergi.

Tak lama kemudian, Bwe-ji telah muncul untuk memberi laporan.

Merasa di sekeliling situ tak ada orang, sambil menarik muka Leng-hong segera menegur,

“Bwe-ji, kini Hujin tak ada di sini, aku ingin bertanya kepadamu, dalam hal apakah kau telah

menyalahi Kuloya sehingga ia pergi dengan marah?”

Dengan mata terbelalak Bwe-ji menggeleng kepala dan menjawab, “Aku . . . . .aku tidak . . . .

. . . benar-benar tidak . . . . . .”

“Kenapa pagi-pagi baru kaukembali dari Kiok-hiang-sia? Kenapa secara tiba-tiba Kuloya

memutuskan untuk pergi?”

“Tuan, apa yang kau maksudkan?” keluh Bwe-ji dengan bingung, “siapa yang pagi-pagi baru

pulang dari Kiok-hiang-sia . . . . . aku tidak mengerti.”

Leng-hong tertawa dingin, “Aku pergoki sendiri dirimu, kenapa? Mau coba mungkir?”

Mata Bwe-ji terbelalak, rasa kejut dan heran menghiasi wajahnya, ia berkata dengan tergagap,

“Kapan Tuan bertemu dengan hamba? Sungguh hamba tidak paham apa yang Tuan katakan?”

“Baik, jika kau menyangkal terus, akan kukatakan terus terang kepada Hujin, ingin kulihat di

manakah akan kautaruh mukamu?”

Air mata membasahi wajah Bwe-ji, tiba-tiba ia berlutut, ratapnya, “Perbuatan apakah yang

hamba lakukan? Mohon Tuan sudi menjelaskan, hamba sungguh tak tahu.”

“Aku ingin bertanya kepadamu, semalam kau tidur di mana?”

“Tentu saja di kamar!” jawab Bwe-ji tanpa pikir.

“Ya, kutahu kau tidur di kamar, yang kutanyakan tidur di kamarmu sendiri ataukah di kamar

baca Kiok-hiang-sia?”

Warna merah tiba-tiba menghiasi wajah Bwe-ji, katanya dengan terkejut, “Tuan, kenapa kau

berkata begitu? Hamba . . . . .”

“Kenapa berkata begitu?” tukas Leng-hong, “Hm, justru aku mengetahuinya dari mulutmu

sendiri, bukankah kausendiri yang mengatakan padaku ketika kupergoki dirimu di depan

pintu taman pagi tadi?”

“Tuan, pagi-pagi tadi kau pergoki diriku di pintu taman? Sungguhkah itu?”

“Hm, sungguh atau tidak hanya kau yang tahu, waktu itu rambutmu kusut, pakaianmu tidak

teratur, ketika kutanya padamu datang dari mana, kaubilang Kuloya menyuruhmu

menemaninya tidur di Kiok-hiang-sia, benar tidak kejadian ini?”

Bwe-ji tidak menjawab, tapi sambil menutup mukanya meledaklah isak tangisnya.

“Menangis sekarang apa gunanya? Mungkin saja lantaran terlalu banyak minum arak Kuloya

telah melakukan hal itu, dan sebagai orang bawahan kau tak berani menolaknya, inipun bisa

dimaafkan. Dengan maksud baik kurahasiakan kejadian ini pada Hujin, tapi sekarang kau

menyangkal terus, tindakanmu inilah yang tidak pantas.”

Air mata membasahi wajah Bwe-ji, ia menggeleng kepala berulang kali, “Tuan, aku tidak,

Tuan pasti salah lihat, aku benar-benar tidak . . . . .”

“Sampai sekarang kau masih coba menyangkal?”

“Hamba adalah pelayan Hujin, sekalipun tolol juga tak nanti melakukan perbuatan semacam

itu,” kata Bwe-ji sambil menangis, “bila Tuan tidak percaya, tanyalah Siau Lan, semalam

hamba berada terus bersamanya, mohon Tuan sudi memeriksa sejelasnya . . . . .”

52

Tampaknya Pang Wan-kun dibuat kaget oleh isak tangis tersebut, ia lari turun dari loteng

sambil membentak, “Ada apa? Siapa yang menangis macam setan menjerit?”

“O, Hujin, berilah keadilan bagi hamba,” seru Bwe-ji sambil memeluk kaki Pang Wan-kun.

Secara ringkas ia lantas menceritakan apa yang dituduhkan kepadanya.

“Jit-long, apa maksudmu?” kata Pang Wan-kun sambil menarik muka, “Sebagai seorang

gadis, yang paling penting adalah kehormatan, kenapa tanpa sebab kau mengarang kejadian

yang membingungkan semacam ini?”

“Apa yang kuucapkan adalah sesungguhnya, semua ini kudengar dari mulutnya, justru

persoalan inilah Pang-toako pergi dengan marah. Aku hanya ingin mengetahui duduk

persoalan yang sebenarnya, aku tidak menyalahkannya, tapi ia menyangkal terus.”

“Tapi setahuku Toako selalu mengutamakan ilmu silat, tak pernah ia bermain perempuan,

mana mungkin melakukan perbuatan hal demikian.”

“Tapi hal ini Bwe-ji sendiri yang mengatakan padaku, aku dengan dia tak ada dendam atau

sakit hati, buat apa kufitnahnya dengan menciptakan cerita bohong?”

Wan-kun termenung sebentar, kemudian berkata, “Soal ini tidak sukar untuk diselidiki,

panggil Siau Lan sebagai saksi.”

Tak lama kemudian Siau Lan muncul di situ.

Ketika didengarnya apa yang terjadi, dengan tegas katanya, “Semalam, enci Bwe-ji memang

selalu berada bersamaku, ketika tengah malam aku ke kakus masih kulihat ia berada di kamar,

pagi tadi akulah yang membangunkan dia untuk membantu Hujin menyisir rambut.”

“Sudah kaudengar sekarang” kata Pang Wan-kun sambil melirik Leng-hong. “Apa lagi yang

hendak kau katakan?”

Ho Leng-hong tidak dapat bersuara lagi, dia hanya memandang Bwe-ji dengan rasa bingung.

Ia percaya tak mungkin salah melihat orang, tapi iapun tak bisa menyangkal keterangan

mereka, kecuali di Thian-po-hu terdapat dua orang Bwe-ji.

Kalau bukan begitu, tentunya ada orang yang menyaru sebagai Bwe-ji dan membuat

kekacauan.

Tapi, bukankah dayang yang bekerja di gedung belakang ada puluhan orang banyaknya,

untuk menyaru yang lain jauh lebih mudah daripada menyaru sebagai Bwe-ji, mengapa

menyaru sebagai Bwe-ji?

Meskipun tujuannya menyaru sebagai Bwe-ji hanya untuk mempermudah gerak-geriknya,

kenapa ia menggunakan “menemani tidur” sebagai dalihnya? Ho Leng-hong benar-benar

dibuat bingung oleh teka-teki ini.

Cuma ada satu hal yang diketahuinya dengan jelas, yakni di antara Bwe-ji dan Siau Lan

paling sedikit ada seorang sedang berbohong, bahkan mungkin juga kedua-duanya memang

berkomplot dan sengaja berbohong . . . . . .

Kebetulan datang laporan dari ruang depan waktu itu bahwa tamu sudah berdatangan.

Cepat Leng-hong menggunakan kesempatan itu untuk meloloskan diri, persoalan mengenai

Bwe-ji pun tertunda untuk sementara waktu.

-----------------

Thian si telinga panjang memang orang yang pandai menyelami perasaan orang.

Maka ia datang paling pagi, begitu mendapat berita, dengan gerakan tercepat ia berangkat ke

Thian-po-hu.

Begitu berjumpa, Thian Pek-tat tertawa lebar sampai bibirpun tak bisa merapat, dengan

berseri ia berkata, “Kabar ini sungguh merupakan berita yang paling baik, saudara Cu-wi,

bicara terus terang, semalam Siaute benar-benar mengusirkan dirimu, bagaimanakah watak

kakak iparmu kita sama tahu, permainan kemarin yang dibubarkan itu memang bukan soal

53

bagi kami, tapi sedikit banyak Nyo-heng tentu diomeli. Bagaimana, kalian tidak sampai ribut,

bukan?”

“Ah, tidak apa-apa,” Leng-hong tertawa, “paling-paling cuma dinasihati dan didamprat, masa

ia akan membunuhku?”

“Syukurlah kalau begitu, siapa suruh dia adalah kakaknya lenso, usianya lebih tua lagi dari

kita. Ya, mendengarkan beberapa patah kata nasihatnya juga pantas, nanti kan bosan sendiri.”

“Untuk dia masih ada urusan penting, sejak pagi tadi sudah pamit pergi, mumpung ada

kesempatan baik, kita harus lanjutkan permainan kemarin, kita kumpul beramai-ramai selama

beberapa hari.”

“Mungkin Thian kasihan kepadaku, kemarin nasibku kurang baik dan kalah tak sedikit, siapa

tahu kalau kekalahanku bersama rentenya akan kutarik kembali sekarang?!”

Tiba-tiba ia mengalihkan pembicaraan ke soal lain, lanjutnya, “Eh, jauh-jauh datang dari

Cian-sui-hu, tentunya kakak iparmu itu ada urusan penting bukan?”

“Urusan penting sih tidak ada, hanya lantaran sudah beberapa tahun tak bertemu dengan

isteriku, maka sengaja datang untuk menengoknya sekedar melepas rindu.”

“Kalau begitu, seharusnya ia berdiam lagi beberapa hari, kenapa ia berangkat lagi secara

tergesa-gesa?”

“Siapa tahu?” Leng-hong mengangkat bahu, “pokoknya ia mau datang lantas datang, mau

pergi lantas pergi, bergantung pada kemauan hatinya.”

“Siaute ada sepatah kata, mungkin aku berkuatir tanpa alasan, tapi tidak mustahil terjadi, bila

kukatakan nanti harap saudara Cu-wi jangan marah.”

“Silakan bicara!”

“Menurut pendapat Siaute, bila kita mau berkumpul dan bersenang-senang, sebaiknya kita

ganti tempat lain.”

“Kenapa?”

“Terus terang Siaute agak curiga tentang maksud kakak iparmu pulang ke Sengtoh,

seandainya dia Cuma bermaksud mencoba dirimu, pura-pura pamit pulang, tapi tahu-tahu

muncul lagi, kami sih tidak apa-apa, tapi Nyo-heng yang akan kena dampratan lagi.”

“Tidak mungkin,” Leng-hong tertawa, “sekali dia berkata akan pergi, tak mungkin kembali

lagi, kau tak usah kuatir.”

“Dengan dasar apa Nyo-heng merasa yakin dia tak bakal kembali lagi?”

Leng-hong sengaja berpikir sebentar, lalu bisiknya, “Sebetulnya masalah ini adalah urusan

pribadi rumah tanggaku, bila kuberitahukan padamu harap kau jangan menyampaikannya lagi

kepada orang lain.”

“Ah, saudara Cu-wi, bagaimanakah hubungan kita selama ini? Masakah kau masih tidak

mempercayai aku orang she Thian?”

“Tentu saja aku percaya padamu,” Ho Leng-hong manggut-manggut, “cuma persoalan ini

menyangkut kejelekan rumah tanggaku, mestinya tak pantas dikatakan kepada orang luar, aku

cuma dapat memberi sedikit berita saja padamu, terus terang saja kakak iparku pergi lantaran

malu dengan suatu perbuatan brutalnya.”

“Oya?!” Thian Pek-tat berseru heran.

Leng-hong tertawa, katanya, “Terus terang kuberitahukan kepadamu, ia tertarik oleh seorang

pelayanku, tanpa sengaja perbuatannya kupergoki, lantaran malu maka iapun mohon diri

secara tergesa-gesa.”

“Ah, sungguh tak kusangka,” kata Thian Pek-tat dengan tercengang, “kelihatannya saja dia

begitu serius dan terpelajar, rupanya iapun seorang yang suka begituan.”

“Oleh karena itulah tak usah kuatir, sekalipun dijemput dengan tandu besar yang digotong

delapan orang, tak nanti ia punya muka untuk kembali lagi ke sini.”

Sampai di sini, kedua orang itu tak dapat menahan rasa gelinya lagi, mereka mendongak dan

tertawa terbahak-bahak.

54

Dari depan pintu masuk seseorang, dan langsung menanggapi, “Siapa yang bilang aku tak

berani kemari, bukankah aku telah datang lagi?”

Yang muncul adalah Kwan-lok-kiam-kek Lo Bun-pin, ia mengenakan pakaian ringkas,

tangannya menenteng hasil buruan berupa ayam hutan, kelinci liar, dan lain-lain.

Begitu melangkah masuk segera katanya sambil tertawa, “Pang-lotoa sudah pergi? Inilah

yang dinamakan Thian masih memenuhi harapan orang. Siaute lagi berburu, begitu

mendengar berita baik ini, tidak sempat bertukar pakaian lagi segera kulari kemari, hasil

buruanku ini anggap saja sebagai oleh-olehku, kita harus minum arak dan pesta pora sepuaspuasnya.”

“Saudara Lo, jangan keburu senang dulu,” kata Thian Pek-tat sambil menyongsong

kedatangan rekannya, “siapa tahu kalau nasib orang akan berubah pada hari ini, kemarin Loheng

menang banyak lantaran lagi mujur, siapa tahu kemenanganmu kemarin akan ludes hari

ini.”

“Menang atau kalah apa artinya, “Lo Bun-pin tertawa, “asal dapat main, kalah sedikit uang

tidak mengapa, daripada kesal di rumah memeluk bini.”

Sementara mereka bercakap-cakap, teman-teman lainnya telah berdatangan, bagaikan setan

kelaparan dan setan judi yang baru dibebaskan dari neraka, serentak mereka menarik kursi

dan mengatur meja untuk minum arak sambil berjudi.

Diam-diam Ho Leng-hong menghitung jumlah anggota yang datar, ternyata yang hadir

kemari sekarang juga lengkap, mala ditambah pula dengan beberapa orang yang tak kelihatan

kemarin, tentu saja suasana bertambah ramai.

Begitu semuanya sudah duduk, dengan suara lantang Leng-hong berkata, “Adapun maksud

Siaute mengundang kehadiran saudara sekalian karena ada dua alasan. Pertama, tentu saja

untuk mohon maaf kepada saudara sekalian atas sikap kasar kakak iparku kemarin. . . . . .”

“Kita adalah saudara sendiri, buat apa membicarakan urusan semacam itu?” seru semua

orang, “Hei, saudara Cu-wi, kenapa hari ini kau menjadi sungkan-sungkan dengan kami?”

“Meskipun kita adalah sahabat, adat kesopanan tak boleh ditinggalkan. Terutama setelah

kukemukakan alasan yang kedua, kumohon kawan-kawan sekalian bersedia memenuhi

harapanku ini.”

“Katakan saja terus terang, asal dapat kita laksanakan, siapa yang tidak mau anggaplah dia

anak kura-kura,” sahut semua orang lagi.

Ho Leng-hong tertawa, katanya, “Maksud baik saudara sekalian Siaute ucapkan banyak

terima kasih lebih dulu, padahal persoalan ini hanya menyangkut persoalan pribadiku, seperti

diketahui, jauh-jauh dari Cian-sui-hu kakak iparku telah berkunjung kemari, ia ada pesan dan

minta kepadaku untuk mulai berlatih sejenis ilmu silat keluarga, mungkin setelah hari ini kita

akan semakin jarang bertemu lagi.”

Karena keterangan ini, gemparlah para hadirin.

Ada di antaranya yang segera berkata, “Yang berlatih biarlah berlatih, yang bersenang-senang

boleh bersenang-senang, buat apa Nyo-heng mesti mengurung diri dan menjauhi kawan

lama?”

“Antar teman bisa berkumpul dan bersenang-senang bersama, betapa gembiranya suasana

seperti ini, sekalipun mau berlatih silat juga tidak harus pantang minum arak dan berjudi?”

sambung yang lain.

Bahkan ada pula yang berkata begini, “Saudara Nyo, ilmu silat macam apakah yang hendak

kaulatih hingga hubungan dengan para sahabatmu pun harus diputus?”

Begitulah, seketika macam-macam bisikan dan pertanyaan berkumandang memenuhi

ruangan, mereka sama menujukan perasaan heran dan ragu.

Ho Leng-hong menjura, lalu katanya, “Maksud Siaute bukan hendak memutuskan hubungan

dengan para kawan, perpisahan ini hanya bersifat sementara, karena harus menutup diri untuk

berlatih, kita akan lebih jarang bertemu. Cuma untuk perpisahan tersebut, maka mulai

55

sekarang kita boleh berkumpul dan bergembira sepuas-puasnya, siapapun di antara kalian tak

boleh mengundurkan diri di tengah perjamuan, kita harus bermain sampai puas baru bubar,

Siaute telah berpesan kepada para Busu, sebelum perjamuan bubar, tak seorangpun di antara

kalian boleh meninggalkan gedung ini. Di samping itu pihak dapur telah menyiapkan

hidangan yang takkan berhenti, kita akan pesta pora sepanjang hari, paling sedikit tiga hari,

tiga malam pesta ini akan terus berlangsung.”

Mereka yang hadir ini sebagian besar adalah anak orang kaya, mereka lupa diri setlah

mendengar perkataan itu, serentak mereka berteriak menyatakan akur.

Maka pesta segera diselenggarakan, meja judi pun disiapkan, dengan riang gembira para tamu

mengambil tempat duduk dan mulai berpesta pora.

Selama pesta gila-gilaan berlangsung, Leng-hong sangat memperhatikan gerak-gerik Thian

Pek-tat, ia lihat meski orang ini ikut minum arak dan berjudi seperti lain-lainnya, namun

sering kali keningnya berkerut, seakan-akan ada sesuatu hal yang membuat perasaannya tidak

tenang.

Thian Pek-tat datang paling cepat, dia pula yang amat menaruh perhatian terhadap kepergian

Pang Goan, mungkinkah dia yang diam-diam bersekongkol dengan pihak lawan?

Tanpa terasa Leng-hong teringat kembali pada kematian Siau Cui, lalu kematian pesuruh

Hong-hong-wan dan Go So yang dibunuh untuk melenyapkan saksi hidup . . . . .

Semua itu hakikatnya berhubungan dengan Thian Pek-tat, hal ini membuat Leng-hong

semakin curiga.

Bila ditinjau dari pelbagai gejalanya, meski Thian Pek-tat bukan otak dari pencurian golok

mestika itu, paling sedikit ia sudah dibeli oleh pihak lawan, bahkan mungkin dia pula

orangnya yang mengadakan perundingan rahasia dengan gadis baju hijau di luar Kiok-hiangsia

itu.

------------------

Tak lama setelah perjudian dimulai, benar juga, Thian Pek-tat mengalami kekalahan total.

Sambil berpura-pura menaruh perhatian Leng-hong menepuk bahunya, lalu berkata seraya

tertawa, “Siau Thian, tampaknya hari ini nasibmu kurang mujur, beristirahatlah dahulu.”

Thian Pek-tat menggeleng kepala berulang kali, ia berikan tempatnya untuk Lo Bun-pin, lalu

berdiri.

Pada kesempatan itu sengaja Leng-hong mengajak Thian Pek-tat ke luar rumah, lalu bisiknya,

“Kalah berapa kau?”

“Tidak banyak, tiga laksa lebih, entah kenapa, hari ini aku memang lagi sial,” Thian Pek-tat

tertawa getir.

“Tidak menjadi soal,” kata Leng-hong dengan tertawa, “tiga laksa tahil perak bisa direbut

kembali dengan sekali permainan, kalau modalnya kurang katakan saja kepadaku.”

“O, uang sejumlah itu masih bisa kutanggung, Cuma kartu itu yang sialan, bikin orang

menjadi penasaran saja.”

“Aku lihat sikapmu tidak tenang, seakan-akan ada rahasia dalam hatimu, apa gerangan yang

kau pikirkan?”

Thian Pek-tat seperti agak terkejut, cepat katanya, “Ah, tidak! Atau mungkin Nyo-heng

melihat sesuatu yang tidak beres atas diriku?”

“O, tidak, aku hanya merasa konsentrasimu buyar, hatimu tak tenang dan perhatianmu tak

dapat terpusat di meja judi.”

Tiba-tiba Thian Pek-tat berseru dengan suara tertahan sambil tertawa, “Ah, benar, setelah

disinggung saudara Nyo, Siaute menjadi ingat kembali. Padahal juga tidak terhitung rahasia

besar, selama ini Siaute hanya teringat dengan ucapan yang Nyo-heng katakan tadi, dan

hatiku terasa agak sedih.”

56

“Oo? Perkataan apa yang kaumaksudkan?”

“Aku ini meski luas pergaulan, tapi paling tidak suka menyanjung dan menjilat, bicara terus

terang, di antara sekian banyak teman, Siaute merasa paling cocok dan paling menaruh

hormat terhadap Nyo-heng.”

Leng-hong cuma tertawa saja dan tidak memberi tanggapan apa-apa.

“Oleh sebab itu,” demikian Thian Pek-tat melanjutkan, “ketika kudengar pengumuman Nyoheng

yang bermaksud menutup diri sementara waktu untuk melatih sejenis ilmu silat, tiba-tiba

saja Siaute merasa berat hati dan amat sedih.”

“Ya, apa boleh buat? Hal ini terpaksa harus kulakukan, untung yang harus kulatih adalah ilmu

silat keluargaku sendiri, percayalah masa tirakat diriku tak akan berlangsung terlalu lama.”

“Saudara Cu-wi,” kata Thian Pek-tat pula dengan wajah serius, “maafkan bila ada kata-kataku

yang sembrono, terhadap musibah yang menimpa Thian-po-hu, meski Siaute adalah orang

luar, sedikit banyak cukup tahu keadaan yang sebenarnya. Bersahabat memang penting, tapi

berlatih untuk membangun kembali nama baik keluarga jauh lebih penting daripada

segalanya, terhadap hal ini memang Nyo-heng tak boleh teledor.”

Ketika mendengar kata “membangun kembali nama baik keluarga”, satu ingatan tiba-tiba

terlintas dalam benak Ho Leng-hong, segera ia bertanya, “Siau Thian, berapa banyak yang

kauketahui tentang persoalan keluarga kami?”

“Dulu ketika kakakmu yang menjadi ketua gedung ini, Siaute kurang begitu rapat

hubungannya dengan Thian-po-hu, apa yang kudengar pun hanya berita selentingan di luar,

jadi apa yang kuketahui hanya sedikit sekali.”

“Oya?! Apa yang dibilang orang luar?”

“Ah, tidak lebih Cuma berkisar pada kekalahan kakakmu dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe

serta usaha Thian-po-hu untuk meminang puteri Cian-sui-hu dengan menyerahkan golok

mestika kalian kepada pihak perempuan.”

“Oo!” Leng-hong bersuara tertahan, pikirnya, “Dugaanku ternyata benar, Lo-hu-to-hwe di

selenggarakan di Leng-lam, tentu masalah ini ada hubungan dengan pihak Hu-yong-shia.”

Dalam hati ia berpikir demikian, di luar sengaja menghela napas sambil tunduk kepala dan

membungkam.

Padahal yang benar ia sedang menunggu komentar Thian Pek-tat lebih lanjut.

Benar juga, dengan penuh perhatian Thian Pek-tat berkata lagi, “Saudara Cu-wi, kita boleh

dibilang ada jodoh, syukur engkau menganggapku sebagai sobat karibmu, maka aku ingin

memberi nasihat padamu. Dengan ilmu golok warisan Thian-po-hu ditambah dengan golok

mestika Yan-ci-po-to sepantasnya kalian tak sampai kalah dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe,

tahukah kau apa sebabnya kakakmu sampai menderita kekalahan total?”

Darimana Ho Leng-hong bisa tahu, terpaksa ia menggeleng kepala belaka.

“Kekalahan yang diderita kakakmu bukan lantaran ilmu silatnya tak dapat menandingi orang,

sebetulnya ia dikalahkan oleh satu huruf.”

“Huruf apa?” tanya Leng-hong sambil melengak.

“Perempuan!” air muka Thian Pek-tat berubah menjadi serius, “ketika itu kakakmu masih

muda dan berdarah panas, tapi ia telah terjebak oleh Bi-jin-keh (siasat perempuan cantik),

bukan saja rahasia ilmu golok Po-in-pat-tay-sik telah dibocorkan, sebelum bertanding iapun

kena dicelakai lebih dulu sebab itulah gelar Thian-he-te-it-to (golok nomor satu di dunia)

terpaksa diserahkan kepada pihak Hiang-in-hu.”

Hiang-in-hu?! ternyata benar Hiang-in-hu dari Hu-yong-shia di wilayah Leng-lam.

Tak dapat dilukiskan perasaan Leng-hong ketika itu, entak kejut atau bergirang ataukah

terbangkit semangatnya?

“Siau Thian, darimana kautahu tentang persoalan ini?” buru-buru ia tanya.

Thian Pek-tat tertawa, ia menjawab, “Meski hal ini merupakan suatu rahasia besar, tapi mana

bisa lolos dari pendengaranku si telinga panjang. Terus terang kukatakan padamu, ada

57

seorang Bu-lim-cianpwe yang telah membocorkan rahasia ini, waktu itu Cianpwe tersebut

ikut dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe, dengan mata kepala sendiri ia saksikan kakakmu

menderita kekalahan total, rupanya peristiwa itu menimbulkan kecurigaannya, kemudian

setelah dilakukan penyelidikan secara diam-diam, terbuktilah bahwa apa yang dicurigainya

memang betul.”

“Tapi belum pernah kakakku menceritakan kejadian itu padaku.”

“Setelah terkena siasat Bi-jin-keh lawan, tentu saja ia merasa malu untuk menceritakan

kejadian ini kepadamu. Cuma bila kita tinjau apa yang diatur dan dipersiapkannya sebelum

meninggalkan tempat ini, dapat kita simpulkan bagaimanakah perasaan hatinya waktu itu.”

“Oya?” Leng-hong berseru heran.

“Dengan Yan-ci-po-to sebagai alasan, kakakmu berangkat ke Cian-sui-hu, jelas dia ingin

menggunakan ilmu pedang Cian-sui-hu untuk menutupi kelemahan Po-in-to-hoat keluargamu,

di samping itu, iapun berharap dengan kecantikan serta kebijaksanaan nona Wan-kun

kehidupanmu bisa dikendalikan sehingga tak sampai terperosok lagi seperti apa yang

dialaminya.”

Diam-diam Leng-hong mengenang kembali perkataan Pang Goan, mau-tak-mau dia harus

mengakui ucapan Thian Pek-tat ini memang masuk di akal.

Hanya ada satu hal yang tidak dipahami, yaitu kenapa Thian Pek-tat memberitahukan hal ini

kepadanya?

Jika Thian Pek-tat adalah orang pihak Hiang-in-hu, lebih-lebih tidak seharusnya membongkar

rahasia ini.

Ketika melihat rekannya hanya diam saja, Thian Pek-tat berkata pula, “Saudara Cu-wi, selama

ini kita hanya berpesta pora dan berfoya-foya, urusan yang penting memang telah kita abaikan

sekian lama, untuk menambal kekurangan kita di masa lalu, rasanya belum terlalu terlambat,

sebagai sahabat aku berkewajiban memberi nasihat, selanjutnya hendaknya kaubangkit

menjunjung kembali nama baik Thian-po-hu, sebab cita-cita luhur kakakmu terletak dia atas

pundakmu.”

Leng-hong mengangguk.

Tiba-tiba Thian Pek-tat berbisik, “Seperti tindakanmu menyelidiki Hong-hong-wan tempo

hari, sejak kini mesti diperhatikan sebaik-baiknya, siapa tahu kalau tempat itu adalah

perangkap yang telah diatur oleh pihak Hiang-in-hu.”

Mendengar perkataan ini, Leng-hong merasa terkejut, baru saja dia hendak bersuara, saat itu

kebetulan Lo Bun-pin muncul.

Begitu bertemu, orang she Lo itu lantas berseru dengan suara lantang, “Hai, apa yang kalian

rundingkan di sini? Cepat masuk ruangan, kini Lo Cin lagi mujur besar, semua orang tak

mampu menahan kehebatannya.”

Dengan cepat Thian Pek-tat berganti sikap lain, katanya sambil tertawa, “O, ya?! Lo Cin lagi

jagoan sekarang? Itulah yang dinamakan: bila di gunung tak ada harimau, monyet pun

menjadi raja. Hayo berangkat, biar aku orang she Thian ringkus monyet itu!”

Begitulah mereka bertiga lantas masuk kembali ke arena judi.

Leng-hong sudah tidak berhasrat untuk berjudi lagi, setelah melayani sekian lama, ketika

senja hampir tiba, ia mengundurkan diri, dan kembali ke taman belakang.

Pang Goan hanya berjanji akan mengadakan dua kali pertemuan dalam sehari, pagi sekali dan

malam sekali, tapi ia tidak menetapkan waktu yang tepat.

Dengan tergesa-gesa Leng-hong melakukan pencarian di sekitar taman, tapi tak sesosok

bayangan manusia pun ditemukan, selagi gelisah, mendadak di antara embusan angin ia

merasa ada suara pembicaraan orang.

Di mana Ho Leng-hong berada sekarang adalah tepi hutan buatan yang tadi pagi digunakan

Pang Goan untuk berlatih silat, suara pembicaraan itu berasal dari balik hutan sana, seperti

58

ada dua orang sedang berbisik-bisik di sana, tapi apa yang sedang mereka bicarakan tidak

kedengaran jelas.

Setelah diperhatikan sekian lama, Leng-hong hanya dapat membedakan bahwa suara itu

berasal dari dua orang perempuan.

Sesungguhnya Leng-hong ingin menghardik kedua orang itu, tapi ingatan lain mencegahnya

untuk berbuat begitu, agar tidak “mengusik rumput mengejutkan ular”, ia tidak masuk ke

hutan, tapi ia melayang ke atas pohon dan bersembunyi di antara daun yang rimbun.

Tak lama kemudian, suara pembicaraan itu berhenti, menyusul lantas kedengaran suara

langkah orang yang perlahan.

Dua orang gadis berjalan keluar dari balik hutan sambil bergandengan tangan.

Leng-hong bersembunyi di atas pohon dengan menahan napas, dilihatnya kedua gadis itu

lewat di bawah pohon, dan terlihat jelas bahwa kedua orang itu tak lain adalah Bwe-ji dan

Siau Lan.

Bwe-ji menenteng sebuah keranjang bunga, di dalamnya terdapat beberapa tangkai bunga

sedap malam.

Siau Lan membawa cangkul kecil, di ujung cangkul masih tersisa sedikit tanah lumpur.

Sepintas lalu kedua orang itu seperti baru saja menanam bunga, tapi mengapa menanam

bunga di waktu malam?

Lebih tak mungkin lagi kalau menanam bunga di dalam hutan yang penuh pepohonan.

Gerak-gerik kedua orang itu sangat rahasia dan mencurigakan, setelah keluar dari hutan,

mereka celingukan dulu ke sana kemari, sesudah yakin di sekitar situ tak ada orang, segera

mereka melompat keluar dengan cepat, sesudah jauh dari pepohonan, langkah mereka baru

diperlambat.

Kedengaran Bwe-ji sedang berbisik lirih, “Lebih baik kita berpisah di sini saja, ingat, suruh

dia datang tengah malam nanti, dan jangan lupa harus berhati-hati.”

“Aku tahu, kau sendiri juga mesti berhati-hati, jangan sampai dilihat orang lain,” jawab Siau

Lan.

Kedua orang itu berpisah di tepi hutan, Bwe-ji menuju ke timur dan kembali ke loteng, sedang

Siau Lan ke barat dan menuju ke pintu taman belakang.

Leng-hong segera memutuskan untuk menguntit Siau Lan, dia ingin tahu manusia macam

apakah yang hendak ditemuinya, tapi baru saja dia hendak melompat turun, tiba-tiba dari atas

kepalanya menyambar turun sebuah tangan dan mencengkeram kuduk bajunya.

Saking terkejutnya hampir saja Leng-hong berseru, cepat ia mendongak ke atas, ternyata Pang

Goan yang nongkrong di antara rimbunnya dedaunan.

Ketika melompat ke atas pohon tadi, pemuda itu tidak mengetahui di atas pohon sudah hadir

seorang yang lain, diam-diam ia merasa malu, dengan suara serak katanya, “Lotoako, sudah

kau lihat kedua orang dayang itu?”

Pang Goan mengangguk, “Aku datang lebih dulu dari mereka berdua, tentu saja dapat kulihat

dengan jelas.”

“Apakah kautahu perbuatan apa yang mereka lakukan di dalam hutan ini?” tanya Leng-hong.

“Rupanya sedang menanam suatu benda.”

“Menanam sesuatu benda? Benda apa yang mereka tanam?”

“Aku tidak jelas benda apa yang mereka tanam, Cuma . . . “ tiba-tiba ia tertawa lebar, “bila

nasib kita tidak jelek, kemungkinan besar itulah benda yang sedang kita cari.”

“Golok mestika Yan-ci-po-to?” Leng-hong berseru tertahan.

Sambil tertawa Pang Goan manggut-manggut, katanya, “Padahal mestinya kita dapat berpikir

ke situ. Ketika fajar tadi dayang tersebut kaupergoki tanpa sengaja, ia berada dalam keadaan

tangan hampa tanpa membawa sesuatu, bila kita pikirkan, bisa disimpulkan tentunya karena

hari sudah terang tanah, mereka tak sempat menyelundupkan benda curian itu keluar.”

59

“Benar,” seru Leng-hong sambil bertepuk tangan, “Jika golok mestika itu berhasil

diselundupkan keluar gedung, sudah pasti mereka akan kabur meninggalkan tempat ini, dan

tak mungkin tetap tinggal di sini menempuh bahaya.”

“Sesudah mengetahui isi kotak itu ternyata golok palsu, mestinya mereka menyadari golok

asli tak dapat dicuri semudah itu, kemudian karena aku kurang berhati-hati sehingga tempat

menyimpan golok pusaka itu diketahui mereka dan benda itu berhasil mereka dapatkan, tapi

karena tak sempat lagi menyelundupkannya keluar, terpaksa mereka menanamnya lebih dulu

di sini.”

“Tapi seandainya pada saat terakhir mereka putuskan untuk menanam golok pusaka itu,

sepantasnya benda itu di tanam di sekitar Kiok-hiang-sia, kenapa tidak disembunyikan di

tempat yang dekat, sebaliknya malah menanamnya di hutan yang jauh letaknya sini.”

“Apa yang perlu diherankan lagi?” Pang Goan tertawa, “mula-mula tentunya mereka akan

menyembunyikannya di sekitar Kiok-hiang-sia, tapi lantaran tempat tersebut luas dan dekat

air, mungkin sulit untuk digali, maka terpaksa malam-malam begini mereka menanamnya di

sini.”

Begitulah, hasil analisa kedua orang ini menunjukkan golok mestika Yan-ci-po-to bukan saja

belum meninggalkan gedung Thian-po-hu, benda tersebut pasti ditanam di dalam hutan ini

oleh Bwe-ji dan Siau Lan.

Ho Leng-hong merasa semangatnya berkorbar, katanya, “Sungguh atas berkah Thian,

Lotoako, mari kita gali golok pusaka itu, kemudian baru kita menunggu sang kelinci keluar

dari liangnya, bila tengah malam nanti mereka datang untuk mengambil golok, kita ringkus

mereka semua.”

Pang Goan menyatakan akur, bahkan pesannya, “Sebentar bila sudah mendapatkan kembali

golok mestika tersebut, lebih baik kau kembali ke ruang depan dan jangan menunjukkan tanda

apa-apa, kita bukan saja mendapatkan kembali golok mestika itu, yang lebih penting adalah

menyelidiki siapakah yang berdiri di belakang layar dalam peristiwa ini.”

“Siaute sudah melakukan pengamatan secara diam-diam, aku rasa Thian Pek-tat merupakan

orang yang mencurigakan.”

Secara ringkas iapun menceritakan apa yang dialaminya selama berada di ruangan depan tadi.

Selesai mendengarkan penjelasan tersebut, Pang Goan tidak memberi komentar apa-apa,

dengan suatu gerakan lincah dia merosot turun ke bawah pohon dan masuk ke hutan untuk

mencari tempat penanaman golok.

Orang lain memberi poyokan padanya sebagai “Monyet Pang”, kenyataannya bukan saja

tampangnya mirip monyet, ternyata kepandaiannya memanjat pohon juga lebih lincah

daripada monyet, caranya menerobos hutan, bukan saja gesit, juga cepat luar biasa.

Tak berapa lama kemudian, dengan mudah mereka berhasil menemukan sebuah gundukan

daun busuk di engah hutan, tampak jelas daun-daun busuk itu pernah disentuh orang.

Dengan kedua tangannya, Pang Goan membongkar daun-daun busuk itu, benar juga di bawah

tumpukan daun tadi ditemukan tanah lumpur yang barusan digali, bahkan diberi pula sebuah

tanda sebagai tanda.

“Nah, pasti di sini tempatnya,” kata Leng-hong “harap Lotoako tunggu sebentar, akan

kucarikan sebuah cangkul.”

“Hanya tanah lumpur saja, buat apa pakai cangkul?”

“Sambil berkata, dengan kesepuluh jari tangannya yang dipentangkan bagaikan cakar ia

menggali tanah tersebut, sekali mencengkeram segumpal tanah lantas diangkatnya.

Orang ini memang tangguh, kedua tangannya ternyata lebih berguna daripada cangkul, tak

lama kemudian tergali sebuah liang besar.

Benar juga, di dalam liang tertanam satu pak panjang yang dibungkus dengan kain minyak.

Pang Goan menengadah dan menarik napas panjang, katanya dengan perasaan lega, “Ai,

akhirnya benda mestika ini berhasil ditemukan kembali, mungkin arwah kakakmu melindungi

60

kita, juga takdir telah menetapkan bahwa Thian-po-hu harus mengembangkan kembali nama

baiknya.”

Dengan tatapan tajam Leng-hong memperhatikan bungkusan kain minyak itu sekian lama,

tiba-tiba katanya, “Lotoako jangan keburu gembira lebih dulu, kulihat isi bungkusan ini rada

mencurigakan.”

“Oya?” desis Pang Goan kaget.

“Seandainya bila bungkusan ini sudah ditanam selama sehari di sini, bila digali keluar lagi

tentu akan memperlihatkan tanda kelembaban, tapi kain minyak ini tampak kering dan masih

baru, jelas belum lama ditanam di sini . . . .”

Belum habis kata-katanya, buru-buru Pang Goan membuka bungkusan kain minyak itu, isi

bungkusan itu memang sebilah golok besar.

Cuma golok tersebut bukan golok mestika Yan-ci-po-to yang sedang mereka cari, golok ini

hanya sebilah golok biasa yang umum.

Kontan saja Pang Goan mendengus marah, katanya, “Kurang ajar benar kedua perempuan

anjing itu, berani betul mereka melakukan siasat licik ini untuk menipu kita.”

Leng-hong berpikir sebentar, lalu katanya, “Namun ada satu hal yang mencurigakan,

darimana mereka tahu kita bakal datang dan menyiapkan lebih dulu sebatang golok palsu

ini?”

“Mungkin kedua orang perempuan hina itu sengaja bermaksud mengambil golok mestika

pada waktu malam, tapi tiba-tiba melihat kaupun berada di taman sini, maka pada saat

terakhir mereka ganti siasat dan sengaja menanam golok biasa di sini, lalu pada kesempatan

kita sedang menggali di sini, mereka gunakan peluang tersebut untuk menyelundupkan golok

mestika itu keluar, untuk mendapatkan sebilah golok biasa dalam Thian-po-hu kan tidak

sukar?”

“Seandainya . . . .”

“Jangan pakai seandainya, untung belum terlambat, golok mestika Yan-ci-po-to itu pasti

masih berada di sekitar Kiok-hiang-sia, kalau kita lakukan pengejaran sekarang, mungkin

masih belum terlambat.”

Rasa gusar, gemas dan cemas membuat tokoh Cian-sui-hu ini ingin sekali melompat

mencapai Kiok-hiang-sia, ketika kata terakhir diucapkan, bagaikan angin ia sudah melayang

keluar dari hutan sana.

Cepat Leng-hong mengikut di belakangnya.

Tapi tak lama setelah keluar hutan, tiba-tiba Leng-hong menarik ujung baju Pang Goan

sambil berbisik, “Lotoako, harap tunggu sebentar.”

“Tunggu apa?” tanya Pang Goan sambil berhenti.

Leng-hong tidak menjawab, ia celingukan sejenak memandang sekeliling tempat itu, lalu

menariknya masuk kembali ke dalam hutan.

“Hei, apa yang kau lakukan?” tegur Pang Goan keheranan, “Kau tahu, waktu sudah

mendesak, jangan sampai kehilangan waktu yang berharga.”

Ho Leng-hong menggoyangkan tangannya berulang, katanya dengan suara parau,

“Bagaimana juga Siaute merasa di balik kejadian ini masih ada hal lain yang mencurigakan,

Lotoako boleh melakukan pemeriksaan di sekitar Kiok-hiang-sia, tapi jangan sampai jejakmu

ketahuan orang, sedang Siaute akan tetap menunggu saja di sini.”

“Apa yang hendak aku tunggu di sini?”

“Siaute mempunyai suatu firasat, bila golok mestika Yan-ci-po-to tiada di Thian-po-hu, maka

kemungkinan besar benda tersebut masih berada dalam hutan ini.”

Pang Goan berpikir sebentar, kemudian katanya, “Baiklah, kau boleh tinggal di sini, sedang

aku akan melakukan pemeriksaan di sekitar Kiok-hiang-sia, bila di sana tidak berhasil

kutemukan sesuatu, aku akan segera kembali ke sini.”

61

Leng-hong membiarkan Pang Goan berlalu, ia tunggu bayangan orang sudah tak tampak baru

kembali ke tepi liang penyimpan golok tadi.

Mula-mula ia masukkan dulu golok tersebut ke tempatnya semula, lalu ditimbun dengan tanah

dan akhirnya diberi saputangan dan ditutup pula dengan daun busuk.

Ketika segala sesuatunya sudah beres, Leng-hong baru melayang kembali ke atas dahan

pohon, menutupi badannya dengan dedaunan dan menunggu di sana dengan tenang.

Apa yang dinantikan? Ia sendiripun tak dapat menerangkan, tapi bagaikan seorang pemburu

yang berpengalaman ia menunggu dengan penuh kesabaran dan penuh rasa percaya pada diri

sendiri.

Sekian lama sudah, tapi suasana tetap hening, Pang Goan juga belum kembali.

Leng-hong tetap duduk diam di atas pohon, ia perhatikan suasana di sekeliling tempat itu

dengan seksama.

Lewat sekian lama pula, suasana di sekeliling situ tetap hening, sama sekali tiada suatu yang

mencurigakan.

Leng-hong mulai gelisah..... bukan karena dugaannya keliru, tapi merasa kuatir atas

keselamatan Pang Goan yang pergi dan tak kembali lagi itu.

“Sret!” mendadak terdengar suara enteng, tahu-tahu di bawah pohon telah bertambah dengan

sesosok bayangan manusia.

Sungguh cepat kemunculan orang ini, suara gemersik dan kelebatan bayangan hampir terjadi

pada saat yang sama, baru saja desir angin terdengar tahu-tahu orang itu sudah berada di

bawah pohon.

Betapa kejut Leng-hong, ia nyaris terjatuh dari atas pohon. Apalagi setelah melihat jelas raut

wajah serta dandanan orang itu, hampir ia menjerit kaget.

Orang ini mengenakan gaun berwarna kuning telur, ternyata tak lain adalah Pang Wan-kun.

Gerak-gerik Pang Wan-kun kelihatan agak gugup, tampaknya ia tak menyangka di atas pohon

bersembunyi seseorang, dengan sorot mata tajam ia awasi tempat penyimpanan golok itu, lalu

mencabut sebilah pisau belati dan mulai menggali tanah dengan tergesa-gesa.

Sesungguhnya Leng-hong hendak menegurnya, tapi setelah menyaksikan keadaan itu ia

urungkan niatnya.

Pang Wan-kun bukan Cuma gugup, baju dan rambutnya juga kusut tak teratur, pula bahu

kirinya kelihatan berdarah, jelas ia terluka.

Sebab apa ia terluka? Darimana ia tahu golok mestika itu disembunyikan di sini? Mengapa ia

gugup? Apa yang hendak digalinya....

Semua pertanyaan itu dengan cepat telah memperoleh jawabannya. Pang Wan-kun bekerja

dengan cepat, tak seberapa lama golok berbungkus kain minyak itu sudah tergali keluar.

Tapi ia tidak memperhatikan golok tersebut dan dibuang begitu saja ke samping, lalu

melanjutkan pekerjaannya menggali liang.

Tak lama kemudian, dari dalam liang ia mengeluarkan pula suatu bungkusan yang lain.

Mencorong sinar mata Ho Leng-hong, cukup sekilas pandang saja ia lantas mengenali benda

itu sebagai bungkusan yang digunakannya untuk menyimpan golok Yan-ci-po-to semalam.

Kiranya benda yang disembunyikan Bwe-ji dan Siau Lan memang benar-benar adalah golok

mestika Yan-ci-po-to, Cuma pada lapisan yang atas mereka taruh pula sebilah golok biasa.

Kecuali menyaksikan dengan mata kepala sendiri, siapa yang akan menduga di dalam liang

telah ditanam dua bilah golok yang berbeda?

Ho Leng-hong tak menyangka, Pang Goan yang cerdik dan teliti pun tak mengira.

Tapi, dari mana Pang Wan-kun bisa tahu?

Melihat gelagatnya, bukan saja ia tahu tentang penyimpanan golok mestika itu, bahkan bisa

jadi Bwe-ji dan Siau Lan melakukan pekerjaan itu atas perintahnya . . . .

62

Pelbagai pikiran berkecamuk dalam benak Ho Leng-hong, meskipun ia merasa terkejut,

macam-macam tanda tanya selama beberapa hari akhirnya tersingkap juga, dengan enteng ia

lantas melayang turun ke bawah.

Waktu itu Pang Wan-kun sedang membuka kain yang membungkus golok tersebut, betapa

terperanjatnya demi melihat kemunculan Ho Leng-hong, air mukanya berubah hebat, sambil

mundur dua-tiga langkah ia sembunyikan golok mestika itu di belakang punggungnya.

Leng-hong tertawa lebar, katanya, “Hah, tak kausangka bukan bahwa aku akan muncul di

sini?”

Dengan tangan kiri masih disembunyikan di belakang punggung, Pang Wan-kun menepuk

dadanya dan mengembuskan napas, katanya sambil tertawa, “Ai benar-benar tak kusangka,

Jit-long kaubikin kaget padaku saja.”

“Nona, kupikir sebutan di antara kita kini perlu diganti,” kata Leng-hong sambil tertawa.

“Kenapa?”

“Sebab kau bukan Pang Wan-kun, dan kaupun tahu aku bukan Nyo Cu-wi, sandiwara suamiisteri

sudah berlangsung hingga kini, apakah tidak perlu diakhiri saja?”

“Aku tidak paham akan maksudmu!”

Ho Leng-hong mendesak maju selangkah, lalu katanya lagi dengan suara tertahan, “Apa

susahnya untuk memahami? Tujuan kalian adalah mencuri golok mestika Yan-ci-po-to,

sebenarnya urusan ini tak ada sangkut pautnya denganku, tapi dengan pelbagai akal muslihat

kalian telah menyeretku terjerumus ke dalam pusaran air ini.”

Bergetar badan Pang Wan-kun, ditatapnya wajah Ho Leng-hong dengan tajam, ia tidak

membenarkan pun tidak menyangkal ucapannya.

Leng-hong menjadi semakin bangga, katanya lebih lanjut, “Kalau dipikir kembali, sungguh

aku amat bodoh. Selama ini, hampir saja kuanggap diriku benar-benar adalah Nyo Cu-wi, tak

lama berselang akupun masih menganggap kau sebagai Pang Wan-kun yang sesungguhnya,

tapi sekarang aku telah paham. Cuma, nona, dengan berani kau menyamar sebagai majikan

perempuannya gedung Thian-po-hu, begini persis samaranmu sehingga Pang-toako pun

terkelabui, hal ini membuktikan bahwa kecerdikan maupun keberanianmu sungguh sangat

mengagumkan.”

Pang Wan-kun berkedip-kedip seperti orang bingung, katanya dengan ragu, “Jit-long, kau

omong apa? Jangan-jangan menyakitmu kumat lagi?”

“Ya, mungkin saja menyakitku kumat lagi,” kata Leng-hong sambil tertawa, “tapi sekali ini

untung hadir seorang tabib sakti di sini. Nona, asal kauserahkan golok Yan-ci-po-to itu

kepadaku, lalu kita bersama-sama menghadap Pang-lotoa, siapa yang sakit dan siapa yang

tidak dengan cepat pasti akan diketahui.”

“Hei, apa yang kau maksudkan dengan golok Yan-ci-po-to? Di mana ada Yan-ci-po-to?”

“Itu dia, di belakang punggungmu! Bagaimanapun kita sudah menjadi suami-isteri, lebih baik

serahkan sendiri kepadaku, sebab kalau terpaksa harus kugunakan kekerasan, tentu akan

lenyaplah semua hubungan kasih mesra suami-isteri antara kita berdua.”

Pang Wan-kun mengulurkan tangan kirinya dan memperlihatkan sarung golok ke depan,

katanya, “Apakah golok ini yang kaumaksudkan sebagai Yan-ci-po-to?”

“Masa bukan? Kukenal dengan jelas kain pembungkus golok itu, dan lagi pada gagang golok

terdapat huruf yang gemerlapan . . . . “

Pang Wan-kun menghela napas panjang, ia sodorkan sarung golok itu ke depan Leng-hong,

katanya, “Ai, kalau kau ngotot mengatakan golok ini adalah golok mestika Yan-ci-po-to

segala, nah ambil dan lihatlah sendiri.”

“Ya, aku memang ingin memeriksanya dengan seksama, mana mungkin kusalah lihat . . . .”

Baru saja tangannya memegang ujung sarung golok, baru disadarinya bukan salah melihat

terhadap goloknya melainkan orangnya.

63

Waktu Pang Wan-kun menyodorkan golok itu kepadanya, ekor sarung golok itu tertuju ke

arah Ho Leng-hong dengan gagang golok menghadap ke arahnya sendiri, dan tatkala anak

muda itu memegang sarung golok, tiba-tiba ia membalik telapak tangannya dan tahu-tahu

gagang golok telah tergenggam.

“Creng!” cahaya tajam gemerlapan, golok itu secepat kilat sudah dilolos dari sarungnya.

Ho Leng-hong hanya merasa ketiaknya tersambar angin dingin, cepat ia lepaskan pegangan

sambil melompat mundur, tapi antara pinggang dan perut telah tersayat suatu luka sepanjang

tujuh delapan inci, dara segera mengucur keluar.

Pang Wan-kun membalik lagi tangan kanannya dan meraih sarung golok dari tangan Lenghong,

katanya sambil tertawa dingin kepada Leng-hong, “Mengingat hubungan suami-isteri,

kuampuni jiwamu dari tebasan golok tadi, maka lebih baik jangan kauterangkan asal-usulmu

kepada si monyet Pang, sebab jika ia sampai mencari tahu jejak Nyo Cu-wi dan isterinya,

maka kau pun akan mengalami kesulitan sendiri.”

Selesai berkata ia masukkan goloknya ke dalam sarung, lalu memutar badan dan berlalu dari

situ.

Dengan sempoyongan Leng-hong memburu maju tapi darah segar mengucur lebih deras dari

lukanya, tenggorokkan terasa kering seperti terbakar, kepala pusing dan hampir roboh.

Ia sadar musuh tak mungkin terkejar, terpaksa ia himpun tenaga dan berteriak keras-keras,

“Pang-toako . . . Pang-toako . . . .”

Tapi sebelum mendengar suara jawaban Pang Goan, robohlah dia tak sadarkan diri.

-----------------------

Entah sudah lewat beberapa lama, entah apa pula yang terjadi kemudian.

Ketika Ho Leng-hong mengendus bau harum bunga dan membuka matanya, baru

diketahuinya dirinya berbaring dalam Kiok-hiang-sia.

Duduk di kursi di tepi pembaringan seorang nyonya muda berwajah cantik sedang

menundukkan kepala sambil menyulam kain sarung bantal.

Dipandang dari samping, jelas nyonya cantik ini bukan lain adalah Pang Wan-kun.

Sungguh tidak kepalang kaget Ho Leng-hong, hampir saja ia melompat bangun dari

pembaringan.

Tapi baru saja setengah badannya terangkat, lambungnya terasa sakit sekali, ia mengeluh dan

roboh kembali ke atas bantal.

Rintihannya mengejutkan Pang Wan-kun yang duduk di sampingnya, buru-buru ia menaruh

sulamannya dan berpaling, lalu sapanya dengan tersenyum, “Jit-long, kau telah sadar? Tidur

saja dengan tenang, jangan sampai pecah lagi lukamu.”

Dengan sorot mata kaget, gusar, mendongkol dan cemas Leng-hong melototi nyonya itu,

seakan-akan sedang berhadapan dengan setan iblis yang menyeramkan.

Pang Wan-kun tertawa manis, pelahan ia membetulkan ujung selimut, katanya, “Kenapa kau

melotot padaku? Seperti tidak kenal aku lagi?”

“Hm, kau perempuan siluman, tak kusangka kau masih berani tinggal di sini!”

“Kenapa aku tak boleh tinggal di sini? Tempat ini adalah Thian-po-hu, rumah kita . . . .”

“Cis!” sungguh Leng-hong ingin meludahi nyonya muda tersebut, katanya sambil menggigit

bibir, “apa yang kauinginkan sudah didapatkan, kenapa tidak lekas angkat kaki? Kauanggap

aku tak berani membongkar rahasiamu ini kepada Pang-toako?”

Wan-kun sama sekali tidak marah, dengan tenang katanya, “Jit-long, agaknya penyakit

gilamu kambuh lagi!”

“Kausendiri yang gila,” teriak Leng-hong dengan marah, “terus terang kukatakan padamu,

aku hendak . . . .”

64

“Kauhendak bilang apa? Terhadap siapa? Jit-long, kuanjurkan lebih baik tenanglah dulu,

sekarang semua orang tahu kau mengidap penyakit gila, apapun yang kaukatakan tak akan

dipercaya oleh siapapun.”

“Semua kejadian akan kusingkap, kau yang mencuri Yan-ci-po-to, kau juga yang melukai

diriku.”

Wan-kun tertawa tak acuh, “Terserah apa katamu, pokoknya Toako sudah tahu Bwe-ji dan

Siau Lan yang mencuri golok itu, dan kau terluka di tangan seorang berkerudung, untung aku

datang tepat pada waktunya hingga jiwamu selamat, malah akupun terluka karena berusaha

menolongmu, sedang orang berkerudung itu berhasil meloloskan diri.”

“Tapi kutahu Bwe-ji dan Siau Lan mendapat perintahmu, atau paling sedikit mereka adalah

dayang-dayang kepercayaanmu, bagaimanapun jua tak mungkin kau tak tahu menahu akan

perbuatan mereka.”

“Ya, memang, mereka adalah dayang-dayang kepercayaanku, tapi bukan aku yang membawa

mereka dari Cian-sui-hu, jika mereka sampai bersekongkol dengan orang luar, apa aku yang

bertanggung jawab?”

“Hm, cepat atau lambat merekapun takkan lolos dari cengkeraman Pang-lotoa, asal satu saja

di antara mereka tertangkap, tak sulit untuk memaksanya mengaku.”

“Sayang selamanya mereka takkan tertangkap lagi,” kata Wan-kun sambil mengangkat bahu.

“Berdasar apa kauberani berkata demikian?”

“Sebab mereka telah dibunuh orang di dekat Kiok-hiang-sia semalam!”

“Kau yang membunuh mereka?”

“Tentu saja bukan aku, pembunuh itu datang dari ruang depan, lagipula seorang pria, justru

lantaran Toako harus mengejar pembunuh itu, maka ia tak bisa kembali ke hutan tepat pada

saatnya.”

“Ia pasti akan berhasil menyelidiki siapa pembunuh itu?”

“Seharusnya ia akan berhasil, sayang tindakannya terlampau buru-buru, dan lagi sahabatsahabat

anjingmu terlalu jeri kepadanya, maka akhirnya kecuali membubarkan mereka, hasil

apapun tidak ditemukan.”

“Di mana orangnya sekarang?”

“Itu!” Pang Wan-kun memondongkan mulutnya keluar jendela, “ia tak pernah putus

harapannya untuk menemukan golok mestika itu, dianggapnya benda tersebut masih ada di

dalam taman, sejak tengah malam kemarin ia pimpin sendiri orang-orang untuk menggali

taman dan hingga sekarang belum juga istirahat, sayang sekali tanaman bunga-bunga dalam

taman di sekitar Kiok-hiang-sia semuanya porak poranda.”

Ho Leng-hong coba melongok keluar lewat jendela, kemudian dengan sedih ia menghela

napas panjang.

Bayangan manusia tampak bergerak di sekitar Kiok-hiang-sia, suara cangkul dan sekop

kedengaran nyaring, dipimpin sendiri oleh Pang Goan, puluhan orang Busu itu bekerja keras

menggali hampir seluruh pelosok taman untuk mencari golok mestika Yan-ci-po-to.

“Selama Pang-lotoa masih berada di Thian-po-hu, pati akan berakhir riwayatmu,” kata Lenghong

dengan gemas, “akan kubongkar semua rahasiamu kepadanya.”

Pang Wan-kun kembali tertawa, “Kau tak akan berbuat demikian, sebab hal ini tak ada

manfaatnya bagimu, malah sebaliknya akan mendatangkan banyak kesulitan, apalagi kau

pernah mengidap penyakit gila, siapa yang akan percaya pada keteranganmu?”

“Tapi paling sedikit aku sudah tahu kau bukan majikan perempuan dari Thian-po-hu, Pang

Wan-kun adalah saudara kandung Pang Goan, ia pasti dapat membuktikan bahwa kau adalah

Pang Wan-kun gadungan.”

Wan-kun tertawa senang, katanya pula, “Dengan cara apa hendak ia buktikan aku ini

gadungan? Saudara seayah lain ibu, lagi pula usianya selisih sekian puluh tahun, hidup

terpisah sekian lama, sewaktu di rumah pun sehari belum tentu bertemu satu kali, apalagi

65

setelah kawin, sekalipun di tubuhku mempunyai tanda khusus juga belum tentu ia akan

mengetahuinya, sekalipun tahu, masa dia akan mencopot bajuku untuk melakukan

pemeriksaan?”

Setelah berhenti sebentar, katanya lebih lanjut, “Apalagi aku bukan Pang Wan-kun dan

kaupun bukan Nyo Cu-wi, bila urusannya terbongkar, apakah kau tidak kuatir akan kugigit

dirimu bahwa kita bersekongkol?”

Ho Leng-hong terbelalak dan melongo, untuk sesaat ia tak sanggup membantah.

“Benar juga kata-katanya,” demikian ia berpikir, “bukan saja aku tak punya bukti, asal usulku

juga tak jelas, mana mungkin perkataanku akan dipercaya oleh Pang Goan?”

Sambil tertawa Pang Wan-kun duduk di tepi pembaringan, dipegangnya bahu pemuda itu

dengan tangannya yang halus, lalu katanya dengan lembut, “Jit-long, kau adalah orang yang

pintar, tak nanti melakukan perbuatan sebodoh itu.”

Harta kekayaan, kedudukan dan isteri cantik belum tentu bisa didapatkan orang lain meski

dalam mimpi, tapi kau telah memperolehnya secara gampang, apalagi yang masih kurang?”

Ho Leng-hong tak bisa bersuara lagi, ia merasa timbul hawa dingin dalam lubuk hatinya,

rasanya seperti terjerumus ke gudang es.

Perempuan itu sungguh terlalu lihay, segala sesuatunya telah diatur secara cermat dan rapi,

apa lagi yang dapat dikatakannya?

Agaknya Pang Wan-kun dapat menebak isi hatinya, kembali ia berkata, “Pepatah kuno

mengatakan: menjadi suami isteri dalam semalam, selamanya terkenang tak terlupakan. Kita

adalah suami isteri, tak mungkin kucelakai dirimu.”

Ho Leng-hong termenung agak lama, kemudian menghela napas panjang, katanya, “Beri

tahukan padaku, sesungguhnya siapa kau? Golok Yan-ci-po-to telah kaudapatkan, apa lagi

yang kauinginkan?”

Sambil tersenyum Wan-kun mentowel pipinya lalu berbisik lirih, “Aku bernama Pang Wankun,

kau bernama Nyo Cu-wi, aku adalah isterimu dan kau adalah suamiku, sekarang

demikian, besokpun begitu. Sebagai seorang isteri, kecuali memikirkan suami sendiri, apa lagi

yang perlu dipikirkan?”

Ucapan ini penuh nada kasih sayang, tapi bagi pendengaran Ho Leng-hong cukup mendirikan

bulu kuduknya.

“Kita suami isteri sudah bicara cukup lama,” kata Wan-kun kemudian, “sedang Toako masih

sibuk menggali pusaka di luar sana, sepantasnya diundang masuk untuk beristirahat.”

Tidak menunggu jawaban Leng-hong dia lantas berteriak dengan nyaring, “Peng-ji!”

Seorang genduk cilik bermuka bulat lari masuk ke kamar, “Hujin memanggil hamba?”

tanyanya.

“Beri tahukan kepada Kuloya, katakan Tuan sudah sadar dan mengundang beliau kemari,

jangan menggali terus menerus!”

Ho Leng-hong kenal genduk yang bernama Peng-ji itu adalah babu pekerja kasar di situ,

orangnya rada bodoh dan cara bekerjanya agak lambat, mungkin lantaran Bwe-ji dan Siau

Lan mati secara beruntun, maka ia ditaruh di sana untuk melayani segala keperluan.

Kini Leng-hong tak berani memandang rendah seorang babu bodoh lagi, sebab kalau Pang

Wan-kun memilihnya sebagai orang kepercayaan, sudah tentu orang itu merupakan pembantu

yang telah dipersiapkan.

Siapapun tak tahu ada berapa banyak orang yang telah ia siapkan dalam Thian-po-hu? kalau

ditinjau dari keadaannya, jelas jumlahnya tidak sedikit, sebab kalau tidak demikian tak

mungkin ia bisa membinasakan Bwe-ji dan Siau Lan sementara ia sendiri masih berani tinggal

di situ.

66

Tiba-tiba Leng-hong merasa kekuatannya terlalu kecil dan menyendiri, kecuali Pang Goan

rasanya tak seorangpun yang bisa dipercaya lagi, sebaliknya Pang Goan baru dikenalnya

belum lama, mungkinkah ia akan percaya pada perkataannya?

Makin dipikir, rasa percaya pada diri sendiri makin hilang, akhirnya ia berbaring dengan

lemas.

Tak lama kemudian, Pang Goan masuk dengan langkah lebar, begitu bertemu ia lantar berkata

dengan menyesal, “Akulah yang salah dan akulah yang teledor, yang kuperhatikan waktu itu

Cuma mengejar si pembunuh, mimpipun tak kuduga di dalam taman telah bersembunyi pula

seorang musuh. Jit-long, cepat beri tahukan padaku, macam apakah tampang orang itu?”

Baru saja Leng-hong hendak menjawab, Wan-kun yang berada di sampingnya segera

mendahului, “Waktu itu dia terluka, mana bisa memperhatikan tampang lawannya? Tapi

beruntung aku dapat melihatnya, Cuma orang itu mengenakan kerudung hitam, jadi sukar

untuk mengenalinya.”

“Walaupun tampangnya sukar dikenali, paling sedikit kan bisa membedakan lelakikah dia

atau perempuan? Bagaimana pula dandanannya?”

“Toako, bukankah sudah kukatakan padamu, seorang laki-laki, berperawakan tinggi besar dan

memakai pakaian malam berwarna hitam . . . . .”

“Bisa jadi kau tidak jelas melihatnya, aku perlu tanya sendiri kepada Jit-long. Sudahlah, kau

jangan menimbrung saja,” kata Pang Goan.

Wan-kun tidak menghiraukan, katanya pula sambil tersenyum, “Baiklah, tanyalah sendiri

kepadanya, Cuma jangan lupa, lukanya tidak enteng, banyak bicara bisa mengganggu

kesehatannya.”

“Aku mengerti, bila laki-laki sedang membicarakan soal yang serius, lebih baik kaum wanita

jangan banyak menimbrung!”

Senang hati Leng-hong demi mendengar perkataan itu, meski ucapan itu hanya merupakan

omelan seorang kakak terhadap adiknya, tapi bagi pendengaran Leng-hong pada saat ini justru

terasa cocok.

Akan tetapi, waktu sinar matanya berbentur dengan senyum yang menghiasi ujung bibir Pang

Wan-kun, hatinya kembali menjadi dingin.

Sepintas lalu senyuman itu kelihatan seperti lembut dan penurut, padahal justru

melambangkan kebanggaan serta keyakinan pada diri sendiri.

Ya, jika ia tidak penuh keyakinan, mungkinkah Pang Goan diizinkan bertemu dengannya?

Ho Leng-hong merasa dirinya ibarat binatang buas dalam rombongan sirkus, meskipun punya

taring dan cakar yang tajam, tapi harus tunduk pada cambuk sang pawang, ia harus bermain di

depan penonton menurut kehendak pawang.

Dan perempuan yang menyaru sebagai Pang Wan-kun ini tak lain adalah seorang pawang

yang lihai.

Jelas Pang Goan bukan seorang penonton yang cermat, dengan tak sabar ia lantas bertanya,

“Jit-long, coba bayangkan kembali kejadian waktu itu, kemudian beritahu padaku dengan

saksama, manusia macam apakah dia itu? Apa yang kalian alami? Dan cara bagaimana ia

melukai dirimu?”

Leng-hong tarik napas panjang-panjang, lalu tertawa getir, “Apa yang dikatakan Wan-kun

memang benar, orang itu memakai baju warna hitam, berperawakan tinggi besar dan

mengenakan cadar hitam, jadi tampangnya tidak kelihatan.”

“Cara bagaimana kaupergoki dia?”

“Setelah berpisah di tepi hutan tadi, aku merasa gerak-gerik Bwe-ji dan Siau Lan sangat

mencurigakan, agaknya mereka seperti sudah tahu ada yang mengintip perbuatannya, maka

sengaja ditanamnya sebilah golok biasa di situ, padahal kedatangan Lotoako lebih awal dari

mereka, tak mungkin jejakmu bakal ketahuan, maka aku lantas mencurigai mereka bukan

67

memakai benda itu untuk menipu musuh melainkan sebagai tanda bagi komplotannya dengan

tujuan tertentu.”

“Ehm, benar juga dugaanmu,” Pang Goan manggut-manggut.

“Maka sekembalinya ke dalam hutan, aku berjaga-jaga di dekat liang, betul juga, tak lama

kemudian kulihat ada orang menyusup ke dalam hutan dan menggali liang itu.”

“Bukankah isi liang itu Cuma sebilah golok biasa?”

Leng-hong menghela napas, “Ai, Lotoako! Kita sudah tertipu, di bawah golok itu justru

tersimpan golok mestika Yan-ci-po-to yang kita cari itu.”

“Ah!” mencorong sinar mata Pang Goan, tubuhnya tergentar karena emosi, “sungguh siasat

mengelabuhi lawan yang amat sempurna!”

Diam-diam Leng-hong melirik Pang Wan-kun, perempuan itu kelihatan sedang

mendengarkan pembicaraan mereka dengan tersenyum.

“Jit-long, bukannya aku ingin menegurmu,” kata Pang Goan kemudian, “jika golok mestika

Yan-ci-po-to sudah kau temukan, semestinya kau melihat gelagat pada waktu itu, bila tidak

yakin dapat mengatasinya, kenapa tidak berteriak saja agar orang itu dikepung.”

Leng-hong tertawa getir, “Waktu itu musuh berada di pihak yang terang dan aku di pihak

yang gelap, sebenarnya sudah kucegat dia, tak kusangka bangsat itu sangat licin, dengan

berpura-pura hendak mengembalikan golok itu kepadaku, tiba-tiba saja suatu serangan

dilancarkan, aku hendak berteriak, tapi sudah terlambat.”

“Benar,” sambung Wan-kun cepat, “ketika mendengar teriakan Jit-long, buru-buru kususul ke

situ, siapa tahu bukan saja licik dan cerdik orang itu ilmu silatnya juga lihay, akupun gagal

untuk mengalangi larinya.”

“Kalau begitu Yan-ci-po-to telah dicuri dari Thian-po-hu, sedang kita tak tahu siapa

musuhnya,” keluh Pang Goan sambil menghela napas.

“Tak bisa diragukan lagi, orang itu pasti utusan Hu-yong-sia dari Leng-lam,” kata Wan-kun.

“Darimana kautahu perbuatan ini dilakukan pihak Hiang-in-hu dari Hu-yong-sia?”

“Hanya Hiang-in-hu yang mempunyai alasan untuk melakukan pencurian, dan hanya pihak

mereka yang mempunyai kemampuan berbuat demikian, untuk menjaga nama baik Thian-hete-

it-to (golok nomor satu di dunia) jangan sampai terjatuh ke tangan orang lain, dengan

segala tipu daya mereka berusaha mendapatkan golok mestika kita ini.”

“Tidak mungkin! Hiang-in-hu dari Leng-lam bukan manusia semacam itu, sekalipun mereka

ingin menjaga agar nama baik Thian-he-te-it-to jangan sampai terjatuh ke tangan orang lain,

tak nanti mereka lakukan tindak pencurian ini,” kata Pang Goan sambil menggeleng.

“Kenapa?” tanya Leng-hong tercengang.

Ia selalu beranggapan Hiang-in-hu adalah satu-satunya musuh tangguh dari Thian-po-hu,

bahkan memastikan perempuan yang menyaru sebagai Pang Wan-kun ini adalah mata-mata

yang dikirim dari Hiang-in-hu, maka setelah mendengar perkataan Pang Goan sekarang, ia

menjadi heran.

Kalau bukan Hiang-in-hu yang menjadi dalangnya, lantas siapa yang berdiri di belakang layar

peristiwa pencurian ini?

Dengan wajah serius Pang Goan berkata lagi, “Thay-yang-to (si golok matahari) Hui Pek-ling

dari Hiang-in-hu meski berwatak agak berangasan, tapi jujur dan lurus, dulu ketika Thian-pohu

berhasil merebut gelar itu dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe, belum pernah timbul maksud

Hui Pek-ling untuk mencuri golok mestika itu, buat apa ia mesti menunggu sampai sekarang?

Selain itu, kalian jangan lupa, ketika gelar Thian-he-te-it-to didapatkan oleh Hiang-in-hu,

merekapun tidak memiliki senjata mestika, kalau tanpa golok mestika saja Hui Pek-ling

berhasil mendapatkan kemenangan, buat apa ia lakukan perbuatan rendah itu sekarang?”

“Tapi, bukankah Lotoako pernah berkata seandainya golok Yan-ci-po-to sampai didapatkan

orang she Hui itu, akan lebih sulit bagi kita untuk mengalahkan dia?”

68

“Aku hanya kuatirkan bila golok mestika itu didapatkan olehnya, bukan mengatakan ia bakal

mencuri golok mestika tersebut!”

“Tapi, apa pula bedanya?”

“Tentu saja ada bedanya. Dengan kepandaian silat Hui Pek-ling, Nyo-keh-sin-to dan Kenghong-

kiam-hoat dari Cian-sui-hu masih belum sanggup menandinginya, yang menjadi

tumpuan harapan kita, selain ilmu To-kiam-hap-ping-tin, dengan golok Yan-ci-po-to di

tangan sedikit banyak juga ada manfaatnya, tapi jika golok mestika itu sampai terjatuh ke

tangan Hui Pek-ling, hal ini sama artinya dengan merugikan kita dan menambah keuntungan

bagi lawan.”

“O, jadi maksud Lotoako, tak mungkin Hui Pek-ling yang menjadi otak dari pencurian ini,

tapi bila si pencuri mempersembahkan golok mestika itu kepadanya, Hiang-in-hu tentunya tak

akan menolak pemberian tersebut?”

“Demikian halnya, bila seorang menjadi terkenal karena ilmu goloknya, siapakah yang tidak

berharap akan bisa mendapatkan golok mestika?”

Ho Leng-hong tak bicara lagi, karena pengetahuannya tentang Hiang-in-hu amat terbatas.

Pang Wan-kun yang sejak tadi hanya diam saja, tiba-tiba malah bertanya, “Tapi, kecuali

Hiang-in-hu, siapa lagi yang mempunyai ingatan untuk mencuri golok tersebut? Dan lagi,

siapakah yang mempunyai keberanian untuk berbuat demikian?”

Pang Goan menggeleng kepala, “Justru soal inilah yang harus kita selidiki, bila ditimbang atas

dasar keterangan yang kalian berikan, ilmu silat pencuri itu pasti lihay sekali, sepantasnya

mereka bukan manusia tak bernama. Siapa tahu kalau tujuannya mencuri golok mestika itu

bukan ingin diberikan kepada Hiang-in-hu melainkan hendak dipergunakan sendiri untuk

merebut gelar Thian-he-te-it-to dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe yang akan datang?”

“Wah, jadi kalau begitu setiap orang yang belajar ilmu golok di dunia ini harus dicurigai?”

kata Wan-kun.

“Jumlah orang yang belajar ilmu golok di dunia ini memang banyak, tapi yang pantas muncul

dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe Cuma beberapa orang saja, kita pasti berhasil

menyelidikinya.”

“Toako jangan terlalu percaya kepada orang,” kata Wan-kun sambil angkat bahu, “menurut

dugaanku, si pencuri golok itu tak mungkin orang lain, seratus persen pasti perbuatan pihak

Hiang-in-hu.”

Tapi Pang Goan masih tetap menggeleng tidak percaya, tapi ia tidak melanjutkan

perdebatannya.

Dengan tercengang Ho Leng-hong mengawasi perempuan itu beberapa saat, pikirnya, “Heran,

mengapa ia berkeras menuduh Hiang-in-hu sebagai pencuri golok? Untuk menghilangkan

jejak bila diselidiki Pang Goan? Atau karena ada tujuan lain?”

Rupanya Pang Wan-kun merasakan juga perkataannya terlampau menyolok, sambil tertawa

katanya lagi, “Bagaimanapun juga golok mestika itu sudah hilang, terjatuh di tangan siapa

pun pasti tidak menguntungkan kita, kukira yang harus kita lakukan sekarang adalah

bagaimana caranya melacaki pencuri itu, apakah Toako sudah mempunyai perhitungan?”

Pang Goan termenung sebentar, lalu jawabnya, “Jika benda itu sudah keluar dari Thian-po-hu,

penyelidikan agak sukar dilakukan, apalagi mata-mata yang ada di sini sudah terbunuh,

sedang musuh di luar sukar diselidiki, hal ini memang sulit untuk dilakukan.”

“Lotoako, sewaktu kau mengejar pembunuh itu, apakah tiada titik terang yang kautemukan?”

Leng-hong coba bertanya.

“Sungguh memalukan sekali, waktu itu cuaca gelap dan lagi orang itu sangat apal dengan

jalan dalam gedung ini, mungkin bahu kirinya berhasil kulukai, tapi ia masih dapat kabur

dengan membawa luka.”

69

Ho Leng-hong lantas teringat pada luka di bahu kiri Pang Wan-kun ketika hendak menggali

golok mestika dalam hutan malam itu, jelas dia pembunuh Bwe-ji dan Siau Lan.

Tentu saja ia lebih apal jalan-jalan dalam gedung ini daripada Pang Goan, setelah membunuh

Bwe-ji dan Siau Lan, ia sengaja memancing Pang Goan ke ruang depan, sementara ia sendiri

putar balik ke belakang untuk menggali golok mestika itu.

Waktu itu dia pasti menyaru sebagai seorang pria, dengan begitu Pang Goan dapat dikelabuhi.

Dan tak salah lagi, tentu dia otak pencurian golok mestika . . . . .

Berpikir demikian, Ho Leng-hong merasa darahnya mendidih, kalau bisa semua rahasia itu

hendak dibongkarnya pada saat itu juga. Tapi segera ia berpikir lebih lanjut, perempuan ini

licik sekali, kalau tak dapat menemukan buktinya lebih dulu, hanya bicara saja tak ada

gunanya, malah bila usaha ini gagal, kemungkinan besar Pang Goan akan ikut dicelakai

olehnya, maka ia memutuskan untuk membungkam lebih dulu, nanti kalau luka di bahunya

sudah terlihat jelas barulah semua kejadian akan diungkap.

Berpikir sampai di sini, ia lantas pura-pura menghela napas, katanya, “Sayang ia berhasil

kabur dari sini, bila salah seorang bisa tertangkap hidup-hidup, tak sulit rasanya untuk

menyelidiki keadaan yang sebenarnya.”

“Aku mempunyai akal bagus, entah bisa digunakan atau tidak?” tiba-tiba Pang Wan-kun

mengusulkan.

“Coba katakan!” ucap Pang Goan.

“Kupikir, jika pembunuh Bwe-ji dan Siau Lan itu sedemikian apal dengan jalanan dalam

Thian-po-hu, kemungkinan besar dia adalah anggota Thian-po-hu sini, atau mungkin juga

salah seorang di antara sahabat Jit-long.”

“Em, mungkin juga!” Pang Goan manggut-manggut.

“Sekalipun dalam kegelapan Toako tak sempat melihat jelas raut wajahnya, tapi serangan

yang kau lancarkan pasti akan meninggalkan bekas di atas tubuhnya, kenapa tidak kita

kumpulkan segenap penghuni di sini untuk diadakan pemeriksaan. Barang siapa yang bahu

kirinya kedapatan terluka, dia itulah yang pantas dicurigai.”

Pang Goan berpikir sebentar, lalu katanya, “Meskipun cara ini adalah cara yang bodoh, tapi

tak ada salahnya untuk dicoba, Cuma . . . penghuni gedung ini dapat kita periksa, bagaimana

pula dengan sahabat-sahabat Jit-long?”

“Ah, itu kan soal gampang,” kata Wan-kun sambil tertawa, “terhadap penghuni gedung kita

lakukan pemeriksaan terang-terangan, sedangkan terhadap kawan Jit-long kita lakukan

pemeriksaan secara diam-diam, asal Toako tampil sendiri dan mengunjungi rumah mereka

satu persatu, lalu memaksa mereka membuka pakaian untuk membuktikan kebersihan dirinya,

siapa yang berani menolak?”

“Tidak bisa, kita tak boleh berbuat demikian,” Pang Goan menggeleng kepala, “meskipun

mereka bukan ksatria sejati, jelek-jelek mereka itu adalah teman Jit-long, di wilayah Kwanlok

ini juga ada nama dan kedudukan, kupikir cara demikian agak kelewat batas.”

“Kalau begitu, gunakanlah waktu di tengah malam buta, pada waktu semua orang sudah tidur

penyelidikan ini dilakukan, dalam keadaan begini, barang siapa terluka tentu tak bisa

menutupi dirinya lagi.”

“Bagaimanapun kukira cara ini kurang baik, kita tak boleh kehilangan golok mestika, lebihlebih

tak boleh sampai ditertawakan orang, sekarang akan kuperiksa dulu semua orang dalam

gedung ini, jika tidak menghasilkan sesuatu baru kita adakan pembicaraan lebih lanjut.”

Selesai berkat, ia lantas bangkit dan berlalu.

Setelah bayangan tubuh Pang Goan sudah pergi jauh, tiba-tiba Wan-kun tertawa dingin, lalu

gumamnya, “Sungguh tak kusangka si monyet Pang yang biasanya sombong, sekali ini juga

agak tahu aturan.”

“Kau tahu cara ini tak akan menghasilkan apa-apa, kenapa kau suruh dia berbuat demikian?”

tanya Leng-hong.

70

“Siapa bilang tak akan berhasil?” sahut Wan-kun dengan kening berkerut, “asal ia bersedia

melakukan penyelidikan, pasti akan diperoleh hasil yang diinginkan.”

“Jangan-jangan kau tahu siapa yang terluka bahu kirinya?”

Wan-kun tertawa, “Bukan cuma aku yang tahu, mestinya kaupun dapat menduga sampai ke

situ.”

“Oya?! Siapakah dia?”

“Kecuali Thian Pek-tat, siapa lagi?”

Ho Leng-hong jadi melenggong.

Benar juga perkataan ini, sejak peristiwa di rumah pelacuran Hong-hong-wan sampai

tercurinya golok Yan-ci-po-to, dalam setiap peristiwa yang terjadi, Thian Pek-tat adalah orang

yang paling mencurigakan, tapi sekalipun Thian Pek-tat benar-benar seorang mata-mata

musuh, seharusnya ia segolongan dengan Pang Wan-kun, mengapa perempuan ini malah

membongkar rahasianya?

Jangan-jangan mereka bukan sekomplotan?

Mungkin mereka hanya mempunyai tujuan yang sama?

Atau karena mereka sudah menemui jalan buntu maka Pang Wan-kun menggunakan siasat

“pinjam golok membunuh orang” untuk melenyapkan Thian Pek-tat dan menghilangkan

saksi?

Ho Leng-hong merasa persoalan ini makin lama makin bertambah ruwet, hakikatnya

membuat orang bingung dan tidak habis mengerti . . . .

Cuma, berhubung Pang Wan-kun ada niat untuk mencelakai Thian Pek-tat, hal ini

menimbulkan setitik harapan bagi Ho Leng-hong.

Harapan itu adalah . . . , kemungkinan besar golok Yan-ci-po-to belum meninggalkan gedung

Thian-po-hu.

Usaha Pang Goan untuk mencari orang yang terluka bahu kirinya tentu saja tidak

mendatangkan hasil apa-apa.

Tapi, lantaran ia harus memeriksa semua Busu yang ada di dalam gedung, Pang Goan berhasil

menemukan sesuatu hasil di luar dugaan.

Menurut laporan para Busu yang melakukan penjagaan pada malam itu, jumlah peronda yang

berjaga di sekitar gedung malam tersebut lebih banyak satu kali lipat daripada biasanya,

semua orang menyatakan tidak ditemukan seorang manusiapun yang keluar-masuk dari

Thian-po-hu.

Hari itu Ho Leng-hong telah berpesan kepada anak buahnya agar tidak mengizinkan siapapun

keluar, maka para Busu yang melakukan perondaan dilipatkan jumlahnya, jadi seandainya ada

orang meninggalkan gedung, hal ini tak mungkin bisa mengelabuhi para Busu.

Penemuan tak terduga ini justru cocok dengan analisa Ho Leng-hong, terbukti bahwa Yan-cipo-

to meski sudah dibawa keluar oleh Pang Wan-kun dari dalam hutan, tapi berhubung

tergesa-gesa, dan lagi tak ada pembantu, golok tersebut belum sempat diselundupkan keluar

gedung.

Asal Yan-ci-po-to masih berada dalam Thian-po-hu, berarti setiap saat bisa mengalami

perubahan.

Sayang luka di lambung Leng-hong belum sembuh dan harus berbaring di atas pembaringan,

jadi ia tak ada kesempatan untuk mengadakan pertemuan empat mata dengan Pang Goan.

Selama tiga hari beruntun Pang Wan-kun tak pernah meninggalkan sisi Leng-hong, meskipun

dengan alasan menemani, yang jelas adalah mengawasi gerak-geriknya.

Untuk menyelidiki jejak golok mestika, keadaan Pang Goan ibaratnya semut dalam kuali

panas, sejak pagi hari ia sudah keluar rumah, bila malam tiba baru kembali, daerah sekitar

Kwan-lok hampir telah dijelajahinya, bahkan para Busu dalam jumlah yang besar pun dikirim

keluar untuk mencari berita.

Tiga hari sudah lewat, namun tiada sesuatu yang berhasil didapatkan.

71

Pagi itu, dengan wajah yang lelah dan kusut Pang Goan pulang dari bepergian, sekilas

pandang saja dapat diketahui bahwa semalam suntuk ia tak tidur.

Lama kelamaan Ho Leng-hong menjadi tak tega sendiri, segera hiburnya, “Lotoako, tak usah

terlampau bersusah payah, sekalipun tanpa golok mestika Yan-ci-po-to kita tetap mempunyai

harapan untuk mengalahkan Hiang-in-hu, bukankah Hui Pek-ling juga berbuat yang sama

ketika itu?”

Pang Goan geleng kepala berulang kali, katanya, “Walaupun begitu, dengan hilangnya golok

mestika, aku merasa bersalah kepada kakakmu, dan lagi aku tidak rela menyerah sampai di

sini saja.”

“Apa yang kaumaksudkan dengan tidak rela?” tanya Wan-kun.

“Selama beberapa hari ini, bukan saja ratusan li di sekitar Kwan-lok telah kujelajahi, akupun

telah minta bantuan orang Kay-pang untuk membantu usahaku, tapi kabar berita tentang

golok Yan-ci-po-to itu seolah-olah tenggelam di dasar samudra, berita sedikitpun tak ada.

Masakah golok itu punya sayap dan bisa terbang sendiri?”

“Padahal masalah itu bukan masalah yang harus diselesaikan dengan segera, siapa tahu kalau

golok itu masih . . . .”

Rupanya Pang Wan-kun sudah menduga apa yang hendak dikatakan olehnya, buru-buru ia

menambahkan, “Benar, siapa tahu golok itu tidak terbang melainkan disembunyikan orang,

semakin cemas kaulakukan penyelidikan, semakin tak berani berkutik pencuri golok itu. Wah,

kalau begitu, jejaknya makin susah dicari lagi.”

Pang Goan manggut-manggut, “Aku telah memikirkan juga kemungkinan ini, ditinjau

menurut keadaan sekarang, rasanya golok itu memang belum meninggalkan wilayah Kwanlok,

bahkan belum meninggalkan gedung Thian-po-hu.”

“Ada seorang yang paling cepat memperoleh berita tentang kejadian di sekitar Kwan-lok,

kenapa Toako tidak mencarinya?”

“Siapa?”

“Thian Pek-tat! Dia adalah kawan Jit-long yang bergelar Tiang-ni-siau-thian (Thian kecil si

telinga panjang).”

“O, dia kiranya!”

“Toako jangan pandang rendah orang itu, di adalah orang yang paling luas pergaulannya di

wilayah Kwan-lok, baik urusan kecil maupun urusan besar, ia selalu mengetahui dengan

cepat, siapa tahu dari mulutnya Toako akan mendapat petunjuk?”

“Aku sudah ke sana, sayang ia tak ada di rumah.”

“Tak ada di rumah? Ke mana ia pergi?”

“Konon sekembalinya dari sini, Thian Pek-tat telah diundang seorang temannya pergi ke Lanhong,

dan hingga kini belum pulang.”

“Oya?! Masa ada kejadian yang begitu kebetulan? Toko, jangan-jangan kau dibohongi

orang!”

“Tidak mungkin, telah kuselidiki sendiri ke rumahnya, Thian Pek-tat memang tidak berada di

rumah.”

“Wah, ini baru mengherankan, kenapa ia tidak pergi sejak dulu atau pergi beberapa hari lagi,

tapi justru setelah Yan-ci-po-to dicuri orang baru dia pergi meninggalkan rumah”

“Wan-kun, jangan berkata demikian,” kata Leng-hong, “Siapa tahu kalau secara kebetulan dia

ada urusan . . . .”

“Ah, kau ini suka membela teman-temanmu,” omel Wan-kun.

Setelah berhenti sejenak, katanya kepada Pang Goan, “Toako, jelas kejadian ini sangat

mencurigakan, siapa tahu kalau golok mestika Yan-ci-po-to sudah dibawa kabur oleh orang

she Thian itu?”

72

Pang Goan tertegun, katanya kemudian sambil tertawa, “Hal ini tak mungkin terjadi, dengan

mata kepalaku sendiri kusaksikan mereka meninggalkan Thian-po-hu, jangankan golok

mestika, sebilah pisau pun ia tidak membawanya.”

“Apakah ia tak bisa menerima golok itu setelah berada di luar gedung, lalu membawanya

kabur dari wilayah Kwan-lok?”

“Waktu keluar ia tidak membawa golok, orang dalam gedung juga tak ada yang keluar pintu,

bagaimana caranya golok itu dioperkan kepadanya?”

“Misalnya saja malam itu ia sembunyikan golok mestika tersebut di sekitar dinding

pekarangan, sedang ia sendiri tidak keluar, lalu keesokan harinya meninggalkan gedung

dengan tangan hampa, setelah penjagaan agak kendor ia balik lagi untuk mengambil golok,

dengan demikian siapa yang akan menduga bahwa golok itu dicuri olehnya?”

Air muka Pang Goan berubah hebat, “Ya, mungkin juga . . . .”

“Tidak mungkin!” tukas Leng-hong mendadak.

Pang Goan berpaling dan memandangnya dengan tercengang. Sebaliknya air muka Pang

Wan-kun tampak dingin, terlihat jelas betapa gemas perempuan itu.

Tapi Leng-hong pura-pura tidak melihat, pelahan katanya, “Kita jangan lupa, pembunuhan

yang terjadi atas Bwe-ji dan Siau Lan serta penggalian golok mestika dalam hutan hakikatnya

adalah dua orang yang berbeda, setelah kejadian itu, seorang kabur ke ruang depan sedang

yang lain kabur dari taman, lagipula orang yang menggali golok dalam hutan adalah seorang

berkerudung yang berperawakan tinggi besar, Thian Pek-tat tidak terhitung tinggi besar.”

Padahal jelas diketahui Ho Leng-hong bahwa pembunuh Bwe-ji dan Siau Lan serta orang

yang menggali itu adalah perbuatan Pang Wan-kun seorang, kendatipun ia tidak berkesan baik

terhadap Thian Pek-tat, namun entah apa sebabnya ia lebih suka membela orang itu.

Mungkin juga hal ini dikarenakan dia ingin membalas dendam kepada Pang Wan-kun!

Tiba-tiba saja ia merasa muak dan sebal terhadap perempuan yang pernah mempunyai

hubungan mesra dengannya itu, betapa gembiranya apabila dia dapat memancing kegusaran

dan kebencian perempuan itu.

Pang Wan-kun benar-benar telah dibikin gusar oleh perkataan itu, tapi ia masih berusaha

untuk menekan hawa amarahnya agar jangan meledak, ia tertawa, katanya kemudian,

“Sebagai kawan sekomplot, masa tak mungkin yang satu menyembunyikan golok, sedang

yang lain membawa pergi?”

“Kalau demikian, itu berarti manusia berkerudung yang menyembunyikan golok itu masih

ada dalam Thian-po-hu, kita harus mengadakan pemeriksaan terhadapnya,” kata Leng-hong.

Dengan gemas Pang Wan-kun mendengus, “Hm, kaukira Thian-po-hu adalah benteng yang

dilapisi dinding baja yang kuat, kauanggap keterangan para Busu itu bisa dipercaya? Masa

tidak mungkin mereka sengaja berkata begitu untuk mengelak tanggung jawab?”

“Andaikata manusia berkerudung itu mampu masuk keluar gedung Thian-po-hu dengan

sekehendak hatinya, buat apa ia sembunyikan golok itu lebih dulu dan kemudian baru

mengoperkannya kepada Thian Pek-tat? Bukankah tindakannya ini sama sekali tak ada

gunanya?”

“Aku tidak mengatakan Thian Pek-tat telah berhasil membawa lari golok mestika itu, aku

hanya mengemukakan kemungkinan yang bisa terjadi?”

“Akupun hanya berbicara menurut apa yang terjadi, kurasakan hal ini tidak mungkin . . . .”

“Cukup, cukup!” seru Pang Goan sambil mengulapkan tangan, “kita lagi merundingkan

masalah penting, tidak perlu saling ngotot. Bagaimanapun hilangnya Thian Pek-tat cukup

mencurigakan dan perlu diselidiki, aku dapat membereskan hal ini.”

“Kalau ingin bekerja harus dilaksanakan secepatnya, sebab kalau semakin berlarut dan

lukanya telah sembuh, sulitlah untuk mencari buktinya.”

“Aku tahu, tapi kaisar tak akan mengirim tentara yang kelaparan, Siaumoay, tolong sediakan

sayur dan arak untuk Toako, setelah kenyang baru Toako bisa bekerja dengan baik.”

73

“Baik, akan kusuruh Peng-ji menyiapkan hidangan . . . .”

“Siaumoay,” kembali Pang Goan tertawa, “tolong siapkan sendiri bagiku, sudah lama aku

tidak merasakan kuah lobakmu, mau bukan bikinkan buat Toako?”

Pang Wan-kun agak ragu, tapi Leng-hong segera menyela, “Betul, kuah lobak Wan-kun

memang sangat nikmat, tak mungkin koki bisa menyiapkan hidangan selezat itu.”

Rupanya pemuda itu sengaja membonceng, dengan berkata demikian maka Wan-kun tak bisa

menolak lagi, bila hidangnya nanti kurang enak hal ini sama membongkar rahasia sendiri.

Tentu saja, yang lebih penting adalah menyingkirkan perempuan itu dari hadapannya agar ia

bisa berbicara empat mata dengan Pang Goan.

Wan-kun bukan orang bodoh, tentu saja ia dapat menduga tujuannya, tapi ia tidak menolak

sambil tertawa iapun beranjak.

“Sudah lama aku tak pernah turun ke dapur, biarlah kucoba, bila masakanku nanti kurang

sedap harap jangan ditertawakan.”

Lalu sambil melirik sekejap ke arah Ho Leng-hong, katanya lagi, “Jit-long, terlalu banyak

bicara bisa mengganggu kesehatan, bila ingin cepat sembuh lebih baik beristirahatlah dengan

tenang dan jangan banyak bicara.”

“Jangan kuatir, aku bisa menjaga diriku sendiri,” kata Leng-hong sambil tertawa.

Pang Goan tidak buka suara, diawasinya Wan-kun sampai keluar villa, tiba-tiba keningnya

berkerut dan mukanya menunjukkan suatu perubahan yang sangat aneh.

Leng-hong menarik pula senyumnya, lalu tanyanya lirih, “Lotoako, ada sesuatu yang tak

beres?”

“O, tidak apa-apa,” sahut Pang Goan sambil menggeleng, “aku hanya heran, berapa tahun

tidak berjumpa ternyata kalian telah berubah semua.”

Terkesiap hati Leng-hong, “Kami? Maksud Lotoako aku ataukah Wan-kun?”

“Keduanya!” sahut Pang Goan, ditatapnya wajah Leng-hong lekat-lekat, lalu terusnya, “kau

berubah menjadi gesit, lebih cerdik, dan lebih jantan daripada dulu, sekarang kau lebih mirip

sebagai seorang laki-laki, sedang Siaumoay juga berubah menjadi lebih cekatan.”

“Maksud Lotoako....”

“Dulu ia tak pernah turun ke dapur, iapun tidak pernah membuat kuak lobak atau hidangan

lain.”

Ho Leng-hong menarik napas, dan mulut melongo.

Sedetik itu tak dapat diketahui bagaimanakah perasaannya, entah kaget atau girang? Harus

mengaku ataukah harus menyangkal?

Si monyet Pang memang cerdik, jelas ia sudah menemukan titik kelemahan perempuan yang

menyaru sebagai Pang Wan-kun itu, maka sengaja dipakainya “kuah lobak” sebagai

pancingan.

Tapi, apakah iapun sudah tahu Nyo Cu-wi juga seorang gadungan pula? Kalau sudah tahu,

kenapa belum juga turun tangan? Kenapa nada ucapannya masih tetap tenang?

Seandainya dirinya bongkar semua ini, dapatkah orang mempercayainya? Apakah orang

takkan mencurigai dirinya sebagai komplotan perempuan yang menyaru sebagai Pang Wankun

. . . . . . ?

Perasaan Leng-hong waktu itu bagaikan benang kusut, kalut sekali pikirannya, dia Cuma bisa

mengawasi Pang Goan dengan termangu. Untuk sesaat ia tidak tahu apa yang mesti

dilakukannya.

Waktu itu, dengan sinar mata yang tajam Pang Goan sedang mengawasinya tanpa berkedip,

seakan-akan hendak menembus lubuk hatinya.

Lama dan lama sekali Pang Goan baru menghela napas panjang, bisiknya, “Jit-long, kau

adalah suaminya, masa sedikitpun tidak kaurasakan sesuatu yang mencurigakan?”

“Merasakan apa?”

“Dia adalah Wan-kun gadungan!” jawab Pang Goan sekata demi sekata.

74

“Oo?!” Leng-hong bersuara singkat.

“Sejak hari pertama kudatang kemari sudah kurasakan suaranya agak kurang beres,” Pang

Goan menerangkan, cuma waktu itu tidak terlampau kupikirkan, tapi selama beberapa hari ini,

makin kulihat tingkah laku dan cara bicaranya, aku semakin curiga, barusan . . . . .

“Hati-hati, Lotoako!” Leng-hong memperingatkan dengan memondongkan mulut keluar

pintu.

Peng-ji, si dayang berdiri di luar dan sedang celingukan ke dalam ruangan.

Mencorong sinar mata Pang Goan, katanya dengan suara tertahan, “Apakah kau berada di

bawah ancamannya?”

Leng-hong menggoyangkan tangan berulang kali, “Persoalan ini sukar untuk dibicarakan

dengan sepatah dua kata, kalau Lotoako sudah mulai waspada, lebih baik jangan tunjukkan

dulu sesuat gerakan yang mencurigakan daripada memukul rumput mengejutkan ular. Tengah

malam nanti, harap kautunggu di kamar tamu, kita bicarakan persoalan ini dengan lebih

terperinci lagi . . . .”

Tiba-tiba Peng-ji mendorong pintu dan masuk ke dalam, menyusul kemudian Pang Wan-kun

diikuti dua orang pelayan masuk juga ke situ.

Kedua orang pelayan itu, yang satu membawa kotak bersisi makanan sedang yang lain

membawa guci arak dan cawan.

“Toako, maaf,” kata Wan-kun sambil tertawa, “kebetulan hari ini tak ada lobak di dapur,

terpaksa kusuruh mereka menghidangkan dulu daging dan kacang goreng sebagai teman

minum arak, tidak keberatan bukan?”

Pang Goan manggut-manggut, “Anggap saja aku memang tidak beruntung, kalau ada arak

dan makanan sekedarnya,mari sembari makan kita bercakap-cakap lagi.”

Ia berusaha bersikap sewajarnya, padahal dia memang merasa lapar sekali, harum arak juga

memancing nafsu makannya.

Pang Wan-kun turun tangan sendiri mengatur peralatan makan, bahkan menemani pula di

samping meja, sepanjang perjamuan berlangsung dia juga menuangkan arak, mengambilkan

sayur buat Pang Goan. Sikapnya bagaikan seorang adik yang sedang melayani kakaknya.

Semua arak dan sayur diberikan kepada Pang Goan dicicipi dulu olehnya sebelum diberikan.

Pang Goan menenggak dua cawan arak, kemudian katanya sambil tertawa, “Siaumoay,

mengapa kau tidak minum secawan?”

“Aku tidak biasa minum arak sepagi ini, lebih baik Toako minum sendiri.”

“Minum arak sendirian rasanya kurang berarti, Jit-long, bagaimana kalau temani Lotoako

minum dua guci arak?”

“Siaute menerima perintah!” sahut Leng-hong sambil bangun berduduk di pembaringan.

Pang Wan-kun tidak mengalanginya, cuma pesannya dengan hambar, “Jangan minum terlalu

banyak, hati-hati lukamu belum sembuh!”

Kemudian ia turun tangan sendiri dan penuhi cawan Leng-hong dengan arak.

“Lotoako, kuhormati secawan arak kepadamu, mari minum!” kata Leng-hong sambil

mengangkat cawan.

“Jangan terburu nafsu,” cegah Pang Goan sambil menggoyang tangan, “lukamu belum

sembuh, jangan minum secara terburu nafsu, cicipi dulu.”

Ho Leng-hong menurut, sambil tertawa ia cicipi arak itu satu cegukan.

“Bagaimana rasanya arak ini?” tiba-tiba Pang Goan bertanya.

“Sedaap!”

“Bukankah sedikit kecut?”

“Arak ini adalah arak Li-ji-ang, biasanya memang terasa rada asam!”

“Kau keliru,” kata Pang Goan sambil menggeleng kepala, “arak ini rasanya tidak kecut, tapi

ada orang telah mencampuri arak ini dengan sesuatu, maka rasanya menjadi begini.”

“Sungguh?” teriak Leng-hong dengan kaget.

75

“Kalau tidak percaya, kenapa tidak kautanyakan kepada Siaumoay?”

Sebelum Leng-hong mengajukan pertanyaannya dengan ketus Pang Wan-kun telah berkata,

“Benar, akulah yang mencampurkan San-kang-sah (pasir pembuyar tenaga ke dalam arak

ini).”

Suaranya dingin, kaku dan tenang, mukanya tidak merah, sikapnya tidak gugup, seakan-akan

mengakui bahwa dalam kuah telah ditambah beberapa minyak dan kejadian itu bukan sesuatu

yang diherankan.

Hampir saja Leng-hong melompat bangun dari tempat duduknya, dengan suara keras ia

berteriak, “Hei, apa maksudmu?”

“Tidak ada maksud apa-apa,” jawab Wan-kun dengan suara berat, “berhubung tenaga dalam

Toako sangat lihay, dan aku kuatir bukan tandingannya terpaksa aku mesti mengadakan

persiapan lebih dulu.”

“O, kau masih memanggil Toako padaku?” ejek Pang Goan sambil tertawa.

“Mengapa tidak? Aku adalah bininya Jit-long, sedang kau adalah kakak iparnya, kalau kau

tidak kupanggil sebagai Toako lantas mesti memanggil apa?”

Pang Goan sedikitpun tidak marah, dia mengangguk berulang kali, “Benar, panggilan itu

memang benar, sebagai saudara, ada persoalan apa boleh dibicarakan secara baik-baik,

kenapa mesti gunakan kekerasan?”

Sekali tenggak, kembali dia menghabiskan secawan arak.

“Lotoako, kau tak boleh minum terlampau banyak . . . . .” cegah Leng-hong dengan cemas.

Pang Goan terbahak-bahak, “Hahaha . . . . pasir pembuyar tenaga akan segera bekerja begitu

masuk tenggorokkan, minum secawan atau sepuluh cawan tidak berbeda jauh, apa salahnya

kalau minum sampai mabuk lebih dulu?”

Ho Leng-hong melongo, tiba-tiba air mukanya berubah.

Meskipun hanya secegukan ia cicipi arak tersebut, tapi saat ini perutnya mulai terasa aneh

sekali, perutnya seolah-olah ditembusi oleh suatu benda sehingga timbul banyak lubang, hawa

murninya kontan menjadi buyar dan tak sanggup dihimpun kembali.

Pang Wan-kun tertawa dingin, dia penuhi kembali cawan Pang Goan dengan arak, lalu

katanya, “Meskipun apa yang Toako katakan memang benar, tapi ada baiknya Jit-long jangan

minum terlalu banyak, sebab minum arak terlalu banyak bisa mendatangkan keburukan buat

lukamu.”

“Hm, kau masih berpura-pura baik hati macam kucing menangisi tikus?” teriak Leng-hong

dengan marah, “Jika aku sampai mampus karena terluak parah, bukankah hal ini akan

memenuhi harapanmu?”

“Jit-long, jangan kau bicara tanpa berperasaan seperti itu,” tegur Pang Goan, “bagaimanapun

kalian adalah suami isteri, masa dia berharap kau lekas mati? Seandainya kau benar-benar

mati, kan ilmu To-kiam-hap-ping-tin tak bisa dilatih lagi?”

“Betul!” puji Pang Wan-kun sambil tertawa, “Toako memang cerdas sekali, perasaan orang

lainpun dapat kaupahami.”

“Tapi sayang, To-kiam-hap-ping-tin berada dalam perutku, sekalipun kau dapat

membuyarkan hawa murniku, belum tentu bisa kaukorek keluar ilmu To-kiam-hap-ping-tinhoat

tersebut dari perutku.”

“Ah, apa susahnya? Aku mempunyai cukup waktu dan kesabaran, asal luka yang diderita Jitlong

telah sembuh, pelahan kita masih bisa merundingkannya lagi.”

Kemudian ia bertepuk tangan dua kali sambil berseru, “Pengawal!”

Dua orang pelayan yang mengantarkan santapan tadi segera muncul, Cuma kali ini mereka

tidak membawa arak melainkan menghunus golok panjang yang bersinar gemerlapan.

“Kuloya telah mabuk, bawalah ke kamar tamu untuk beristirahat, layani dengan hati-hati dan

sebaik-baiknya, jangan ayal.”

76

Kedua pelayan itu mengiakan, satu di kiri yang lain di kanan, segera mereka gusur Pang Goan

keluar.

Pang Goan sama sekali tidak melawan, malah sambil tertawa terkekeh ejeknya, “Hehehe . . .

Siaumoay, kenapa tidak dibicarakan sekarang juga? Kalau kaukatakan jejak Wan-kun

kepadaku, mungkin akupun akan mengungkapkan rahasia To-kiam-hap-ping-tin-hoat

kepadamu.”

“Aku tidak terlalu terburu nafsu untuk mengetahui rahasia barisan itu,” jawab Pang Wan-kun

ketus, “lagipula waktu masih cukup banyak buat kami, kau masih mabuk, lebih baik pulang

kamar dulu dan beristirahat.”

“Betul juga,” Pang Goan manggut-manggut, “minum arak dengan perut kosong memang

gampang mabuk, Jit-long, lain kali kau musti ingat.”

Dua orang pelayan itu rata-rata bertubuh kekar dan bertenaga besar, sebaliknya Pang Goan

kurus lagi kecil, belum habis perkataannya, seperti burung elang mencengkeram anak ayam,

ia terus digusur keluar.

Benarkah It-kiam-keng-thian (pedang sakti penyanggah langit) dari Cian-sui-hu itu harus

keok di tangan seorang perempuan?

--------------------

Betapa sedih Leng-hong waktu itu, ia merasa segala sesuatu itu gara-gara tindakannya,

andaikata ia bongkar semua rahasia ini kepada Pang Goan semenjak orang tiba di Thian-pohu,

tak mungkin akan timbul akibat seperti apa yang dialaminya sekarang.

Ia dapat merasakan hingga detik itu Pang Goan masih menganggapnya sebagai Nyo Cu-wi,

sebab itu orang pun masih curiga kepadanya, kalau tidak, tak mungkin orang menyuruh dia

ikut minum arak yang telah dicampuri racun pembuyar tenaga itu.

Jelas Pang Goan berbuat demikian dengan maksud untuk menyelidiki apakah dia berkomplot

dengan musuh atau tidak, dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa orang menaruh curiga

kepadanya. Kalau sudah demikian, dapatkah ia mengaku terus terang siapa sebenarnya dirinya

sendiri?

Sesungguhnya Ho Leng-hong adalah seorang luar yang dipaksa untuk melibatkan diri dalam

pertikaian ini, kini secara tiba-tiba ia merasa dirinya berhak pula untuk membongkar

duduknya persoalan ini hingga jelas, sebab hanya dengan demikianlah bisa membuktikan

kebersihannya.

Ia telah diubah oleh komplotan Pang Wan-kun gadungan menjadi Nyo Cu-wi, Pang Goan

sendiripun menganggap dia sebagai Nyo Cu-wi, maka sudah menjadi kewajiban baginya

untuk berjuang sampai titik darah penghabisan menghadapi kawanan penjahat tersebut,

kemudian baru berusaha mencari tahu jejak Nyo Cu-wi suami-isteri yang sebenarnya serta

menyelamatkan Pang Goan . . . .

Setelah mengambil keputusan, ia berlagak mengomel, “Wan-kun, bagaimana kau ini?

Kauminta aku merahasiakan urusan ini, sebaliknya kau sendiri malah menyiarkan rahasia ini.”

Dengan dingin Wan-kun melotot ke arahnya, ejeknya, “Benarkah kau dapat merahasiakan

soal ini?”

“Tentu saja, aku telah menyanggupi permintaanmu, tak kusangka kau malah mencampur

sesuatu di dalam arak.”

Wan-kun tertawa, “Sebetulnya aku tak ingin turun tangan, tapi apa yang hendak

kauberitahukan kepadanya tengah malam nanti? Daripada kau yang mengungkapkan

persoalan ini, lebih baik aku membongkarnya sendiri.”

“O, jadi kau telah mendengar semua pembicaraan kami?” seru Leng-hong terkejut.

“Kalau tak ingin diketahui orang, kecuali tidak berbuat. Jangan kauanggap aku ke dapur, lalu

semua kejadian di sini bisa mengelabuhi diriku.”

77

Leng-hong tertawa jengah, “Padahal kau salah paham, justru lantaran ia mulai curiga

kepadamu, maka aku harus membaiki dia, aku malah sudah bersiap hendak mengajak kau

membicarakan soal ini secara pribadi serta mencari akal cara menghadapinya malam nanti.”

“Benarkah itu? Bagaimana rencanamu untuk memberi penjelasan kepadanya?”

“Tentu saja aku tak akan mengakui kau ini gadungan, tentang kepandaian di dapur, aku bisa

mengatakan kepandaian itu dipelajari setelah kawin, lantaran aku suka makan kuah lobak,

maka . . . .”

“Cukup! Cukup!” sela Wan-kun sambil mengulapkan tangannya dengan tidak sabar, “Jadi

maksudmu kau bersedia bekerja sama denganku serta menurut semua perintahku?”

“Benar! Aku sudah terlanjut basah, kecuali begitu tiada pilihan lain lagi.”

“Bagus sekali,” Wan-kun manggut-manggut, “sekarang akan kuserahi suatu tugas kepadamu

dan kau harus menyelesaikannya dengan baik.”

“Aku akan berusaha sebaik-baiknya.”

“Nasihatilah Pang-lotoa, suruh dia cepat-cepat membeberkan rahasia ilmu To-kiam-hap-pingtin-

hoat tersebut kepada kami.”

“Aku tentu akan menasihatinya, Cuma iapun mulai curiga kepadaku, mungkin ia enggan

membertahukan rahasia tersebut kepadaku.”

“Paling sedikit ia masih mengakui dirimu sebagai Nyo Cu-wi, tak ada salahnya kau katakan

bahwa Pang Wan-kun yang asli sudah berada di tanganku, seluruh gedung Thian-po-hu juga

berada dalam cengkeramanku, bila ia enggan memberitahukan rahasia To-kiam-hap-ping-tinhoat,

maka Thian-po-hu dan Cian-sui-hu bakal lenyap dari percaturan dunia persilatan.”

“Kalau begitu, nona ini dari Hiang-in-hu?” Leng-hong coba menyelidik.

Wan-kun tidak menjawab, sebaliknya malah bertanya, “Kau kira kecuali Thian-po-hu dan

Cian-sui-hu, di dunia persilatan hanya tertinggal Hiang-in-hu saja yang paling hebat?”

Leng-hong tertawa, “Habis nona datang dari nama? Siapa namamu? Paling sedikit kau harus

mengungkapkan hal itu kepadaku, agar aku ada alasan untuk menasihati Pang-lotoa.”

Wan-kun termenung sebentar, katanya kemudian, “Jika kau ingin tahu, hanya empat baik

syair yang dapat kukatakan kepadamu, soal lain boleh kautebak sendiri.”

“Coba katakan!”

“Badan ramping tubuh lemah semangat tinggi, tinggalkan jarum belajar golok, gemuruh

guntur membangunkan orang tidur, baru tahu si perempuan adalah seorang ksatria.”

----------------------

Pang Goan rebah di pembaringan dengan siku sebagai bantal, matanya terpejam dan sikapnya

adem ayem.

Habis mendengar keempat baik syair yang dibacakan oleh Ho Leng-hong, kontan saja ia

mendengus.

“Hmm, syair kentut anjing,” serunya mendongkol, “artinya tak lebih adalah orang perempuan

ingin berebut kedudukan dengan kaum pria, mengenai nama dan asal-usulnya hampir tidak

disinggung satu kata pun.”

“Tapi paling tidak kan sudah diketahui bahwa dia bukan dari Hiang-in-hu.”

“Sejak pertama kali sudah kuketahui akan hal ini, sekarang akupun enggan mencari tahu asal

usulnya, aku hanya ingin tahu bagaimana nasib Siaumoay.”

Ho Leng-hong menghela napas panjang, “Dia hanya mengaku Wan-kun berada di tangan

mereka, sedang soal lain sama sekali tak disinggung.”

“Sebelum ia memberi pertanggungan jawab nasib Siaumoay, jangan harap akan memaksa aku

mengungkapkan rahasia To-kiam-hap-ping-tin.”

78

Tiba-tiba ia membuka matanya dan menatap Leng-hong lekat-lekat, “Kalian adalah suamiisteri,

masa isteri yang tiap hari tidur bersama ditukar orang juga tidak tahu? Aku benar-benar

tak habis mengerti, sesungguhnya kau ini terdiri dari darah daging atau balok kayu?”

“Tepat sekali teguran Lotoako,” Ho Leng-hong menunduk kepala, “tapi penyaruannya terlalu

persis, bukan saja perawakan dan suaranya sama, bahkan tanda khusus ditubuhpun tak ada

yang berbeda, ditambah lagi Bwe-ji dan Siau Lan, kedua dayang itu sudah disuap mereka,

siapakah yang akan menyangka?”

“Sebelum dan sesudah kejadian, apakah dalam rumah tidak terlihat sesuatu tanda yang

mencurigakan?”

“Benar-benar tak ada, bukan saja semua penghuni gedung tak tahu, teman-teman juga tak

tahu, malah sewaktu Lotoako datang, bukankah engkaupun dikelabuhi?”

Pang Goan manggut-manggut, “Perempuan ini memang tidak sederhana, kecuali penyaruan

yang sempurna, pemikiran yang tajam, persiapan yang cermat serta rencana yang tepat, boleh

dibilang tiada titik kelemahan sedikitpun, cuma ia toh tetap melupakan satu hal.”

“Dalam hal apa?” tanya Leng-hong lirih.

Pang Goan cuma tertawa dan tidak menjawab, diambilnya sebuah cangkir teh dari meja kecil,

pelahan ditempelkan telapak tangan kanan di mulut cangkir tersebut.

Dalam waktu singkat seluruh telapak tangan kanannya berubah menjadi merah darah, uap

panas mengepul, asap mengepul tiada hentinya.

Tak lama kemudian warna merah itu hilang, ketika ia menggeser telapak tangannya, tahu-tahu

cawan itu sudah penuh arak.

Kejut dan gembira Leng-hong, bisiknya dengan suara gemetar, “Lotoako, kau . . . .”

Pang Goan menunjuk ke pintu dengan mulutnya sambil menukas, “Pulang dan beritahukan

kepada mereka, katakan aku sanggup membeberkan To-kiam-hap-ping-tin kepadanya asal ia

membertahukan lebih dulu jejak serta keselamatan Wan-kun, kalau tidak, tiada perundingan

lebih lanjut.”

“Baik, segera akan kusampaikan kepadanya, semoga Toako baik-baik menjaga diri . . . . “

bisik Leng-hong.

Ia masih ingin mengucapkan sesuatu tapi Pang Goan telah membuang arak itu ke bawah

pembaringan sambil memberi tanda agar ia tinggalan tempat itu.

Setibanya di luar kamar tamu, Leng-hong merasa langkah kakinya bertambah ringan.

Itulah yang dikatakan orang pintar sejaman, bodoh sesaat. Kalau perempuan itu tahu ilmu silat

Pang Goan sangat lihay, tidaklah terpikir olehnya bahwa “pasir pembuyar tenaga” belum

tentu efektif terhadapnya?

Tak heran Pang Goan berkata begini, “Minum arak waktu perut kosong paling gampang

mabuk.”

Rupanya hal ini menunjukkan ia sudah waspada terhadap arak dan sayur yang dihidangkan,

dengan kecermatan Pang Goan, tentu saja dia tak akan dikerjai begitu saja oleh orang.

Atau dengan perkataan lain, ia pura-pura keracunan tak lebih hanya siasat belaka. Pertama

karena kuatirkan keselamatan Pang Wan-kun, kedua, dengan cara itu dia hendak menyelidiki

asal-usul musuhnya.

Tentu saja masih ada alasan lain, yakni lantaran luka yang diderita Ho Leng-hong belum

sembuh, dia harus bersabar untuk menghindari segala kemungkinan yang tak diinginkan.

Dengan masih utuhnya tenaga dalam Pang Goan berarti setiap saat ia bisa membekuk

perempuan yang menyaru sebagai Pang Wan-kun itu, asal perempuan itu tertangkap, mustahil

asal-usul mereka tak terungkapkan?

Sungguh gembira perasaan Ho Leng-hong ketika itu, tapi ia harus berusaha mengendalikan

pergolakan emosi tersebut dengan berpura-pura murung dan kesal, apa yang dikatakan Pang

Goan segera disampaikan kepada “Pang Wan-kun”.

79

Rupanya Pang Wan-kun gadungan ini sudah menduga sampai ke situ, sambil tertawa dingin

katanya, “Aku Cuma bisa mengatakan bahwa dia berada di tangan kami dan sehat saja, soal

bukti tak bisa kami perlihatkan, jadi mau percaya atau tidak terserah padanya.”

“Tapi, tanpa suatu bukti tak mau ia ungkapkan rahasia To-kiam-hap-ping-tin dan lagi

bukankah orang itu berada di tangan kalian? Kenapa tidak digusur sebentar ke sini agar

mereka bisa berjumpa muka?”

“Tak mungkin,” sahut Pang Wan-kun gadungan sambil menggeleng, “sekalipun bisa

dipenuhi, paling banter ia Cuma bertemu dengan seseorang Pang Wan-kun yang berwajah

mirip denganku, tetap tak bisa dibedakan asli atau palsu.”

“Ya, apa boleh buat?” Leng-hong angkat bahu, “kalau kalian tetap ngotot, akupun tak bisa

berbuat lain. Pokoknya Pang-lotoa juga kukuh dengan pendiriannya, sebelum bertemu dengan

adiknya, jangan harap bisa memperoleh To-kiam-hap-ping-tin darinya.”

“Pang Wan-kun” tertawa dingin, “Hmm, aku punya cara untuk memaksanya berbicara,

tunggu saja nanti!”

Ketika Ho Leng-hong bertanya lagi cara apa yang hendak dipergunakan, “Pang Wan-kun”

tidak menjawab melainkan hanya tertawa dingin saja.

Sejak itu sampai tiga-empat hari kemudian, ternyata tiada sesuatu tindakan yang dilakukan,

hari demi hari lewat dengan tenang.

Pang Goan tinggal di kamar tamu sebelah depan, kecuali dua orang pelayan yang melayani

keperluannya siang-malam, ia tidak mendapat pengawalan yang ketat, asal tidak

meninggalkan gedung Thian-po-hu, hampir boleh dibilang tak ada orang yang mengurusi

gerak-geriknya.

Ia boleh keluar masuk taman belakang, bermain catur dengan Ho Leng-hong atau jalan-jalan

dalam taman, bila dia mau bahkan makan bersama dengan “Pang Wan-kun” dan bergurau

pula bersama, bagaikan kakak yang bercanda dengan adiknya.

Mereka seakan-akan sudah mempunyai persetujuan bersama, bukan saja tidak menyinggung

soal Pang Wan-kun, merekapun tidak menyinggung soal To-kiam-hap-ping-tin, kedua orang

itu tetap rukun seperti tak pernah terjadi sesuatu apapun.

Ho Leng-hong jadi bingung sendiri setelah menyaksikan keadaan tersebut.

Beberapa kali ia coba menyelidiki hal ini, tapi kedua pihak tidak memberi jawaban yang

memuaskan, meski demikian ia dapat merasakan ketenangan di luar tak bisa mengendalikan

kekalutan di dalam, suatu badai hebat setiap saat bisa terjadi, hanya tidak diketahui kapan

meledaknya.

Selama beberapa hari belakangan ini ia telah menemukan pula suatu kejadian yang

mengerikan, ternyata semua pelayan yang berada di taman belakang adalah komplotan “Pang

Wan-kun”, lagipula ilmu silat mereka rata-rata cukup tinggi.

Jelas perempuan-perempuan itu berasal dari suatu perkumpulan yang sama dan telah

mendapat pendidikan yang keras, jelas komplotan itu bukan dibentuk secara terburu-buru.

Maka dari itu, meski di luar tampaknya Pang Goan bisa bergerak bebas, sesungguhnya setiap

saat dan setiap detik ia berada di bawah pengawasan yang ketat.

Rupanya Pang Goan juga mengetahui akan hal ini, maka iapun bersikap tenang dan tak

pernah melewati daerah terlarang, setiap kali bertemu dengan Ho Leng-hong, yang

dibicarakan hanya masalah umum.

Tampaknya mereka seperti sedang menantikan sesuatu.

Selama perang dingin berlangsung, luka di lambung Ho Leng-hong secara berangsur telah

sembuh kembali.

Hari ini, Ho Leng-hong merasakan situasi agak tak beres.

Sejak sore hari, tiba-tiba di taman belakang Thian-po-hu muncul beberapa orang perempuan

asing.

80

Leng-hong berani bertaruh perempuan-perempuan itu bukan pelayan Thian-po-hu, tapi

mereka mengenakan seragam pelayan Thian-po-hu, jumlahnya kurang lebih enam-tujuh,

dipimpin seorang perempuan setengah umur, mereka melakukan perondaan yang saksama di

setiap sudut taman, termasuk juga ruang tidur di atas loteng.

Rupanya mereka sedang memeriksa setiap tempat yang mungkin dibuat tempat bersembunyi,

terutama terhadap ruang atas boleh dibilang pemeriksaan dilakukan amat teliti, kemudian

empat orang di antaranya menyebarkan diri di dalam taman, sedang perempuan setengah

umur itu beserta dua orang lainnya tetap tinggal di ruang atas dan menjaga jalan masuk-keluar

tempat itu.

“Pang Wan-kun” tidak memberi penjelasan apa-apa terhadap kemunculan beberapa

perempuan asing itu, tapi Ho Leng-hong dapat menyaksikan betapa hormatnya terhadap

perempuan setengah umur yang baru datang itu, bahkan memanggilnya dengan sebutan “Liu

A-ih” atau bibi Liu.

Sikap bibi Liu sangat angkuh dan tinggi hati, mukanya selalu dingin bagaikan es dan tak

pernah kelihatan bersenyum.

Jika pernah senyum atau tertawa, maka hal ini terjadi ketika pertama kali berjumpa dengan

Ho Leng-hong, setelah memperhatikan sekujur badan pemuda itu dengan sorot mata

menghina, tiba-tiba ia tertawa.

Ketika tertawa tertampaklah dua baris giginya yang hitam seperti buah delima yang telah

busuk, begitu seramnya tertawa perempuan itu membuat Leng-hong bergidik.

Suka atau tidak suka adalah urusan lain, yang pasti dengan tertawa tersebut Ho Leng-hong

berhasil memperoleh sedikit hasil yang di luar dugaan.

Ditinjau dari gigi Liu A-ih yang hitam itu bisa diduga delapan puluh persen ia suka

mengunyah sirih, ketika diperhatikan lagi dialek bicaranya, maka terdengarlah ia bicara

dengan logat wilayah Leng-lam.

Hal ini segera menghubungkan pikiran Ho Leng-hong dengan letak Hiang-in-hu yang berada

di Hu-yong-shia wilayah Leng-lam, bukankah hal ini menunjukkan rombongan Liu A-ih

umpama bukan anak buah Hiang-in-hu, tapi sedikit banyak tentu ada hubungannya? Kalau

tidak, maka kemungkinan besar mereka adalah gundik atau pelayan Hui Pek-ling yang

berkhianat dan beraksi di luar tahu Hui Pek-ling.

Ingin sekali Ho Leng-hong melaporkan hasil penemuannya ini kepada Pang Goan di ruang

depan, sayang ia tidak memperoleh kesempatan, terpaksa secara diam-diam saja

diperhatikannya setiap gerak-gerik di bawah loteng.

Senja itu, ketika Peng-ji mengantar makan malam ke loteng, ia membisikkan sesuatu ke sisi

telinga “Pang Wan-kun”.

“Aku tahu,” Wan-kun manggut-manggut, “aku dapat menyelesaikannya, suruh mereka

berhati-hati terutama bagian depan.”

Setelah meletakkan hidangan di meja, Peng-ji mengundurkan diri.

Leng-hong tertawa dan menegur, “Wan-kun, urusan apa yang hendak kalian selesaikan?”

“Lebih baik jangan banyak bertanya,” sahut Wan-kun dengan ketus, “setelah makan kenyang

tidurlah baik-baik, apapun yang terjadi, janganlah kautinggalkan kamar tidur ini.”

“Aku bisa menebaknya, bukankah kalian hendak menghadapi Pang-lotoa? Kedatangan Liu Aih

pasti khusus untuk menyelesaikan persoalan ini.”

Pang Wan-kun cuma tertawa dingin, ia tidak membenarkan pun tidak menyangkal, rupanya ia

tak peduli apakah Ho Leng-hong mengetahui rahasia ini atau tidak, selain itu iapun sudah

menduga pemuda itu pasti bisa berpikir sampai ke situ, maka ia tidak heran.

Andaikata Leng-hong pura-pura tidak mengetahui soal apapun, mungkin tindakan ini malah

akan memancing kecurigaan mereka.

Kembali Leng-hong menghela napas panjang, “Aku adalah orang di luar garis, dengan kedua

belah pihak tak ada hubungan apa-apa, hakikatnya apa yang hendak kalian lakukan terhadap

81

Pang-lotoa sama sekali tak ada hubungannya denganku, cuma sebagai penonton kuharap agar

kalian jangan mencelakai jiwanya, ia sudah kehilangan ilmu silatnya, jelas tak bisa

menandingi kalian......”

“Hei, kusuruh kau jangan mencampuri urusan ini, mengerti tidak kau?” hardik Wan-kun.

“Baik, aku takkan bertanya lagi, setelah makan aku akan tidur senyenyaknya, tentunya boleh

bukan?”

Habis berkata ia lanjutkan santapannya dengan lahap, betul juga, ia tidak buka suara lagi.

Pang Wan-kun bersantap dengan tergesa-gesa, setelah menyuruh Peng-ji membersihkan meja,

merekapun turun dari loteng. Sebelum pergi, pintu kamar dikunci dari luar, Leng-hong

dikurung dalam loteng.

Mungkin mereka mengira tenaga Ho Leng-hong telah buyar, lukanya belum sembuh, maka

jalan darahnya tidak perlu ditutuk.

Ho Leng-hong sudah mempunyai rencana sendiri, buru-buru ia membuka baju luarnya dan

membuat orang-orangan di balik selimut, setelah memadamkan lampu, ia membuka daun

jendela.

Dari jendela tertampaklah suasana dalam taman gelap gulita, sebaliknya ruang tengah di

bawah loteng terang benderang dan bermandikan cahaya lampu.

Pang Wan-kun dan Liu A-ih rupanya berada dalam ruangan semua, di dalam taman pun

terdapat penjaga, tapi suasana di luar loteng amat hening, tak nampak sesosok bayangan

manusia pun.

Ditinjau dari keadaan tersebut, bisa diduga malam itu mungkin ada seorang penting akan

berkunjung ke situ, maka semua orang menantikan kedatangannya dengan tenang.

Tentu saja orang yang akan datang itu mempunyai kedudukan di atas A-ih, atau bahkan

mungkin juga otak yang mendalangi operasi pencurian golok mestika.

Pelahan Ho Leng-hong membuka jendela dan menyelinap keluar, lalu merosot ke sebuah

balkon di bawah jendela, dengan tangkas sebelah tangan memegang kosen jendela, tangan

yang lain digunakan memegang emper rumah, dari situ ia ambil tangga tali yang berada di

tepi emper.

Tangga tali tersebut sudah disiapkan dua hari yang lalu, dan disembunyikan di talang emper

rumah, semula dipersiapkan untuk kabur bila keadaan terdesak.

Sekarang ia tahu tak mungkin turun lewat tangga tali itu sebab tindakan ini tentu akan

mengejutkan para peronda dalam taman, sebaliknya naik ke atas, bukan saja lebih leluasa, dan

lagi aman.

Setiba di atas atap rumah, orang bisa memperhatikan keadaan sekitarnya dengan saksama,

andaikata bisa melintasi rak bunga di sebelah sana, di balik semak bunga akan lebih mudah

baginya untuk menyembunyikan diri.

Begitulah, meski Ho Leng-hong tak dapat mengerahkan tenaga dalamnya, tapi ia bisa

bergerak lincah, sekali berjumpalitan ke atas, tahu-tahu ia sudah berada di atas atap rumah.

Kemudian ia menarik tangga tali itu, dia atur napas, dan menelusuri atap, pelahan ia merayap

ke arah rak bunga.

Baru saja melewati tiga kali lukukan genteng, tiba-tiba ia mendengar suara pembicaraan orang

di sebelah bawah.

Leng-hong mengintai ke sana, dilihatnya dua buah lentera mengiringi serombongan orang

sedang naik ke ruang atas dari arah barat.

Dua orang dayang cilik yang membawa lampu lentera adalah anggota Thian-po-hu, di

belakang mengikut empat orang perempuan berbaju hitam, dua di muka dan dua di belakang,

mengiringi seorang gadis berbaju merah.

Empat orang perempuan berbaju hitam itu mempunyai perawakan yang cebol tapi kekar,

bajunya juga istimewa, bagian bawah mengenakan celana panjang yang ketat sedang bagian

atas mengenakan baju pendek yang longgar dengan bagian leher sangat lebar, baju itu tidak

82

berkancing tapi diikat dengan ikat pinggang lebar berwarna hitam, andaikata mereka tidak

bersanggul tinggi, orang akan mengira mereka sebagai lelaki.

Yang lebih istimewa lagi adalah pinggang masing-masing terselip dua bilah golok, yang satu

panjang dan yang lain pendek.

Yang pendek cuma dua kaki, gagang golok itu malah mencapai tujuh-delapan inci, sedangkan

golok panjang berukuran empat-lima kaki, gagangnya sendiri juga mencapai satu kaki lebih.

Lebar mata golok hanya sebesar tiga jari, bentuknya ramping tapi panjang, sedikit mirip

pedang, Cuma ujungnya melengkung ke atas dan jelas hanya mata golok sebelah saja yang

tajam.

Jelek-jelek begitu, Ho Leng-hong terhitung seorang ahli golok, tapi selama hidup belum

pernah ia lihat golok panjang (samurai) seaneh ini.

Nona berbaju merah itu tak bersenjata api gayanya lembut dan terpelajar, sekalipun dalam

kegelapan tak dapat melihat wajahnya, api umurnya mungkin belum melampaui dua puluhan,

dan mungkin sangat cantik.

Baru saja rombongan itu tiba di luar pintu, Pang Wan-kun serta Liu A-ih dengan langkah

cepat menyambut kedatangan mereka.

“Menyambut kedatangan Samkongcu!” seru mereka sambil memberi hormat.

“Tak usah banyak adat,” nona berbaju merah itu mengulapkan tangannya, “mari kita bicara di

dalam saja.”

Pang Wan-kun dan Liu A-ih segera memberi jalan, didahului keempat orang perempuan

berbaju hitam tadi mereka lantas masuk ke dalam.

Ho Leng-hong diam-diam merasa heran, pikirnya, “Hebat benar perempuan ini, bukan saja

bergelar Tuan Puteri, punya pengawal pribadi pula, tampaknya kehebatan mereka jauh

melebihi Thian-po-hu. wah, jika ditilik dari sikap Pang Wan-kun berdua, rupanya perempuan

yang menyaru Pang Wan-kun ini hanya seorang keroco, sedang Liu A-ih tak lebih Cuma

seorang pelayang . . . . .”

Berpikir sampai di sini, dengan cepat ia ubah rencananya semula, diputuskan penyampaian

berita kepada Pang Goan sementara waktu ditunda, dia akan mengikuti dulu pembicaraan apa

yang sedang berlangsung di bawah loteng.

Tapi penjagaan di sekitar ruangan itu sangat ketat, bagaimana caranya mengikuti pembicaraan

mereka?

Ah, ada akal! Pelahan Leng-hong melintasi wuwungan rumah, ia manjat ke atas rak bunga,

dengan tangkai bunga sebagai aling-aling pelahan ia melayang turun ke bawah, kemudian

dengan sikut menggantikan kaki ia merangkak, dari rak bunga merangkak sampai ke bawah

dinding kamar, dari mana ditemukan sebuah lubang hawa yang ditutupi dengan terali besi.

Di dalam lubang hawa adalah ruangan bawah tanah.

Leng-hong masih ingat, dalam ruangan itu terdapat sebuah perapian yang terbuat dari batu,

perapian itu dipersiapkan sebagai penghangat udara di musim dingin, cerobong perapian tadi

justru menembus ke dinding rangkap di ruang tengah.

Seandainya ia merangkak masuk ke dalam cerobong asap, tempat itu sungguh tempat

persembunyian yang paing bagus untuk mencuri dengar pembicaraan yang sedang

berlangsung.

Dengan sangat hati-hati ia melepaskan terali besi lubang hawa itu, kemudian tanpa

mempedulikan kotornya debu dan hangus, bagaikan seekor ular pelahan ia merayap ke dalam

cerobong.

Ternyata segala sesuatunya persis seperti apa yang diharapkan, letak perapian itupun sangat

menguntungkan, ditambah lagi cerobong asap tersebut cukup lebar, sehingga seorang yang

berdiri di dalamnya masih terasa longgar.

Yang lebih menguntungkan lagi adalah baik pada cerobong asap maupun dinding rangkap

terdapat pintu kecil guna keperluan pembersihan, dengan dibukanya pintu kecil tersebut,

83

bukan saja pembicaraan dalam ruangan dapat terdengar, bahkan pemandangan dalam ruangan

juga dapat terlihat jelas.

Satu-satunya hal yang patut disesalkan adalah ketika Ho Leng-hong tiba di cerobong tersebut,

Samkongcu itu sudah berduduk, kebetulan ia duduk membelakangi pintu kecil sehingga raut

wajah sama sekali tak terlihat olehnya.

Tapi bila ditinjau dari bayangan punggungnya terbuktilah apa yang dibayangkan Ho Lenghong

memang tepat . . . . Dia adalah seorang gadis muda yang lemah lembut dan

berperawakan menarik.

Liu A-ih duduk di sebuah bangku di sampingnya, sementara keempat orang perempuan

bersamurai itu berdiri di kiri kanan, Pang Wan-kun tampak berdiri dan sedang menuturkan

kepada Samkongcu semua kejadian yang berlangsung belakangan ini.

Waktu itu laporan baru berlangsung satu bagian, rupanya Samkongcu merasa kurang puas

atas laporan tersebut, pelahan katanya, “Selama ini, penampilanmu memang tak jelek, tapi

kalau dibilang dengan begitu lantas Thian-po-hu dan Cian-sui-hu telah berhasil

kaukendalikan, hal ini terlalu berlebihan. Kautahu, tujuan kita bukan menguasai Thian-po-hu

dan Cian-sui-hu, yang kita butuhkan adalah golok mestika Yan-ci-po-to serta intisari ilmu Tokiam-

hap-ping-tin-hoat tersebut, kemudian dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe yang akan datang

kita hajar mereka sampai kalah, agar setiap pria di dunia tunduk di bawah kekuasaan Cimoay-

hwe kita.”

“Hamba mengerti!” kata Pang Wan-kun.

“Kalau sudah tahu, tidak seharusnya kaugunakan kekerasan, terutama terhadap Pang Goan,

tidak seharusnya kaubocorkan rahasiamu, dengan demikian intisari To-kiam-hap-ping-tin

baru akan diuraikan kepada kalian.”

“Tapi ia sudah mulai menaruh curiga kepada hamba.”

“Hal ini membuktikan pekerjaanmu masih kurang sempurna, dalam menghadapi pelbagai

persoalan pun kurang sabar, daripada rahasiamu ketahuan kan lebih baik berusaha

menghilangkan kecurigaan itu dengan cara yang lain.”

Pang Wan-kun menunduk kepala dan bungkam.

Samkongcu berkata lebih lanjut, “Yang paling tak bisa dimaafkan adalah tindakanmu yang

tergesa-gesa untuk mencuri golok mestika tersebut, semua persiapan kurang sempurna

sehingga akhirnya kita berkorban nyawa dua orang anggota kita, lalu apakah tindakan ini bisa

menutupi titik kelemahanmu? Toh akhirnya jejakmu ketahuan juga, bayangkan sendiri,

berhargakah tindakanmu itu?”

“Hamba mengaku salah,” Pang Wan-kun menundukkan kepalanya lebih rendah.”

Samkongcu menghela napas panjang, katanya lagi, “Ketika Kongcu mengetahui kejadian ini,

ia marah sekali. Tapi mengingat golok mestika Yan-ci-po-to berhasil kaudapatkan, maka

dosamu tak sampai dituntut, sebab itulah aku dan Liu A-ih sengaja dikirim kemari untuk

membereskan langkah yang berantakan ini.”

“Terima kasih atas kebijaksanaan Hwe-cu, terima kasih pula kepada Samkongcu yang telah

membantu diriku,” kata Pang Wan-kun sambil memberi hormat.

“Sekarang serahkan Yan-ci-po-to itu kepadaku dan serahkan Pang Goan kepada Liu A-ih

untuk digusur pergi, dan kau sudah tak ada urusan lagi. Cuma kau harus tetap tinggal di

Thian-po-hu untuk melanjutkan kedudukanmu sebagai nyonya Nyo Cu-wi, berusahalah

menyelidiki asal-usul Thian Pek-tat, yang penting ia menjalankan perintah siapa? Apa pula

tujuannya? Bila berhasil mendapatkan keterangan, laporkan kepada kantor cabang, jangan

mengambil tindakan secara gegabah.”

Pang Wan-kun mengiakan pula.

“Selain itu, tak perlu kauberi pasir pembuyar tenaga kepada orang she Ho itu, dia adalah hasil

karya kita yang telah banyak makan tenaga dan pikirkan, ilmu silatnya tidak tinggi, asal

84

diawasi secara ketat sudah lebih dari cukup. Harus kauberi obat penawar kepadanya, rayu dia

dengan segala kelembutan dan kemesraan agar ia mau kita gunakan secara sukarela.”

Pang Wan-kun hanya mengiakan berulang kali.

Dari nada pembicaraan mereka, Ho Leng-hong dapat merasakan bahwa ilmu silatnya

dianggap rendah bahkan bernada menghina, hal ini amat menggusarkan hatinya.

Diam-diam ia tertawa dingin, pikirnya, “Budak sialan, kauanggap orang she Ho ini laki-laki

bangor yang bernyali tikus? Hmm, kau telah salah melihat orang! Walaupun ilmu silatku

rendah, tapi bukan laki-laki yang gampang dikendalikan . . . .”

Sementara itu Liu A-ih berbangkit sambil bertanya, “Kongcu bermaksud akan berangkat

kapan?”

“Berangkatlah dulu bersama tawananmu, setelah mendapatkan golok mestika itu aku segera

menyusul,” kata Samkongcu.

“Sekarang juga hamba akan ke taman untuk mengambil golok,” kata Pang Wan-kun cepat,

“biar Peng-ji yang mengantar Liu A-ih ke ruang depan.”

“Kausembunyikan golok mestika itu di taman?” tegur Samkongcu dengan kening berkerut.

“Benar, sebetulnya hamba akan mengambilnya dari sana, tapi perbuatanku diketahui Ho

Leng-hong sehingga terpaksa harus kulukai dia, waktu itu hamba tak sempat membawanya

pergi, maka golok itu kusembunyikan kembali dalam liang semula, untung Pang Goan tidak

menyangka golok mestika itu masih berada di tempat semula.”

“Perbuatanmu itu terlalu berbahaya,” kata Samkongcu sambil menggeleng, “cepat ambil,

semoga tidak terjadi hal-hal di luar dugaan lagi.”

Pang Wan-kun mengiakan dan keluar dari ruangan, Ho Leng-hong buru-buru menerobos

keluar dari lubang hawa itu.

Ia tidak kuatir Pang Goan akan digusur pergi Liu A-ih, maka diputuskan untuk mendahului

Pang Wan-kun dan merebut kembali Yan-ci-po-to itu.

Atau paling sedikit dia akan mengacau agar Yan-ci-po-to tidak sampai dibawa kabur oleh

Samkongcu.

Ho Leng-hong sadar di sekitar loteng pasti dijaga ketat oleh anggota “Ci-moay-hwe”

(perkumpulan kaum perempuan), tapi ia tidak mempedulikan soal itu, ia menelusuri rak

bunga yang gelap dan menerobos ke belakang loteng menuju ke hutan.

Suatu keanehan kembali terjadi, sekalipun ia kabur dengan cara sekasar itu, namun jejaknya

ternyata tidak diketahui oleh para penjaga.

Dalam waktu singkat pemuda itu sudah berada di tepi hutan, menurut perhitungannya Pang

Wan-kun tentu masuk ke hutan lewat arah lain. Ia tak berani ayal, dengan langkah cepat ia

masuk ke tengah hutan.

Ketika dia tiba di tempat penyimpanan golok tersebut, tiba-tiba dari depan terdengar suara

langkah kaki orang.

Diam-diam Leng-hong gelisah, sebab menurut keadaan tersebut tak mungkin baginya untuk

mengambil golok mestika itu mendahului Pang Wan-kun, sekalipun mereka tiba berbareng,

dengan kepandaian silatnya jelas ia bukan tandingan perempuan itu.

Terpaksa ia berhenti dan menutup mulutnya dengan tangan, maksudnya mengurangi napasnya

yang tersengal, kemudian ia pasang telinga dan memperhatikan gerak-gerik lawan.

Tapi, sungguh aneh, ketika ia berhenti, suara langkah kaki itupun ikut berhenti.

Ia coba maju dua langkah, ternyata di depan tidak ada reaksi apapun.

Sesungguhnya apa yang terjadi? Mungkinkah lantaran terlalu tegang maka ia salah dengar?

Keadaan sudah mendesak, Ho Leng-hong tak sempat berpikir panjang lagi, dengan langkah

cepat ia memburu ke depan.

Tapi setibanya di tanah lapang dalam hutan, ia tertegun.

85

Di sekitar liang telah bertumpuk tanah baru, jelas liang tersebut baru digali orang. Tapi bukan

Pang Wan-kun yang menggali liang tersebut, sebab perempuan itu masih berdiri di tepi liang,

tangannya kosong dan tubuhnya kaku, jelas jalan darahnya ditutuk orang.

Ho Leng-hong coba memeriksa keadaan di sekitar situ, namun tiada sesosok bayangan pun,

dengan cepat ia bertanya, “Mana golok mestika itu? Apakah golok mestika itu telah dibawa

kabur orang?”

Pang Wan-kun tidak menjawab, kecuali biji matanya masih dapat bergerak-gerak, sekujur

badanya kaku seperti patung.

Bila jalan darah seorang tertutuk, mana bisa ia menjawab?

Leng-hong ingin cepat-cepat mengetahui Yan-ci-po-to, ia mengitari liang itu dan menepuk

beberapa kali punggung perempuan itu.

Tapi hawa murninya tak bisa dihimpun, otomatis pukulannya juga tak bertenaga,

bagaimanapun juga ia menepuk, jalan darah Pang Wan-kun sukar dilancarkan.

Dengan gemas Leng-hong menggentak kaki ke tanah, bentaknya, “Obat penawar kaubawa

tidak? Kalau ada, kerdipkan matamu dua kali!”

Pang Wan-kun segera mengerdipkan matanya dua kali.

Cepat Leng-hong menggeledah sakunya, betul juga dekat belahan baju dalamnya ia temukan

sebuah botol porselen bulat pipih.

“Apakah botol ini berisi obat penawar?” tanyanya pula.

Sekali lagi Wan-kun mengerdipkan matanya.

Leng-hong membuka tutup botol dan mengeluarkan sebutir obat penawar terus dimasukkan

ke dalam mulut.

Setelah obat itu ditelan, tak lama kemudian muncul aliran panas dari bagian dada, bagaikan

minum arak panas aliran itu terus turun ke perut.

Segera Leng-hong menarik napas panjang, pelahan hawa murninya dihimpun kembali lalu

disalurkan ke telapak tangan kanannya....

Tapi sebelum bertindak sesuatu, tiba-tiba terlintas satu ingatan dalam benaknya, “Tidak,

perempuan ini tak boleh dibebaskan dulu jalan darahnya, ilmu silatnya mungkin lebih tinggi

daripadaku, setelah dibebaskan, bisa jadi aku akan dijegal malah, kan bisa runyam?”

Berpikir demikian, maka tepukan tangannya dialihkan ke tempat lain, yakni pada jalan darah

bisu di kuduk perempuan itu.

Pang Wan-kun terbatuk-batuk, setelah tumpah segumpal riak kental, ia dapat bersuara

kembali.

“Cepat katakan, Yan-ci-po-to itu digali siapa?” tanya Leng-hong.

Bukan menjawab, Wan-kun malah berkata, “Jit-long, bebaskan dulu jalan darahku,

bagaimanapun juga kita pernah menjadi suami isteri, lagipula obat penawar pasir pembuyar

tenaga telah kuberikan padamu, masa kau tak mau menolong aku yang sedang tertimpa

kesusahan?”

“Katakan dulu padaku, siapa yang telah membawa kabur golok mestika itu, asal kau megaku

terus terang, tentu saja akan kutolong dirimu.”

“Aku pasti akan memberitahukan kepadamu, tapi bebaskan dulu jalan darahku.”

“Hmm, sampai sekarang pun kau masih ingin bertukar syarat denganku?”

“Aku tidak minta tukar syarat, aku hanya mohon kepadamu, sebab bila golok mestika itu

sampai hilang, aku bakal dihukum mati.”

“Huh, kau tak boleh kehilangan golok mestika, apakah aku boleh kehilangan? Jangan lupa,

Yan-ci-po-to bukan milikmu.”

Wan-kun tertawa getir, “Jit-long, apa gunanya membicarakan persoalan itu dalam keadaan

seperti ini? Baik golok itu milik siapa, kita sama-sama tak ingin kehilangan, bukan?”

Tentu saja Leng-hong tak dapat menyangkal, iapun tahu, seandainya Yan-ci-po-to sampai

terjatuh ke tangan orang lain, hal ini tak ada manfaat baginya.

86

Wan-kun kembali berkata, “Lepaskan aku, Jit-long! Kita harus bekerja sama untuk mengejar

kembali golok mestika itu, kita tak boleh saling mencurigai, bila golok itu berhasil kita

dapatkan kembali, aku pasti akan menceritakan segala sesuatunya kepadamu.”

“Kalau begitu beritahu dulu kepadaku, siapa yang telah melarikan golok mestika tersebut?”

Pang Wan-kun menghela napas panjang, “Bila kuberitahukan dulu hal ini kepadamu, apakah

kau dapat pegang janji dan melepaskan diriku?”

“Tentu saja, orang she Ho bukan seorang laki-laki yang suka mengingkar janji.”

Wan-kun tertawa, katanya lagi, “Bersediakah kau bersikap seperti dulu, menganggapku

sebagai isterimu?”

“Kau sesungguhnya mau bicara atau tidak?” seru Leng-hong dengan marah, “aku tak ada

waktu untuk mengobrol dengan kau.”

“Ai, bagi kaum pria mungkin dianggap mengobrol, tapi bagi kaum wanita justru lebih penting

daripada nyawa sendiri,” kata Pang Wan-kun dengan menyesal, “Jit-long, meskipun kita

bukan suami isteri sungguhkan, tapi selama beberapa bulan kita telah menikmati penghidupan

sebagai suami-isteri, peduli kau percaya atau tidak, yang pasti dalam hidupku ini hanya kau

kuanggap sebagai suamiku, nama dan she boleh palsu, tapi perasaan kita tak mungkin palsu,

Jit-long, kau . . . . .”

“Cukup,” tukas Leng-hong sambil menggoyang tangan, “sekalipun kau amat mencintaiku,

sekarang bukan waktunya untuk membicarakan soal tersebut, kita harus menyelesaikan dulu

masalah penting, soal cinta kasih ini boleh dibicarakan lain waktu saja, setuju bukan?”

Hampir meledak gelak tertawanya, perempuan ini memang lucu, baru saja Samkongcu

menitahkan dia merayu dengan segala kemesraan, kontan ia laksanakan tugas, sayang

waktunya tidak sesuai sehingga siapa yang bernafsu untuk meresapinya?

Agaknya Pang Wan-kun merasakan juga suasananya tidak cocok, dengan tersipu-sipu ia

alihkan pembicaraan ke soal lain, katanya, “Baiklah kalau kau ingin mengetahui dulu siapa

yang melarikan golok mestika itu aku dapat memberitahukan padamu, besar kemungkinan

orang itu adalah Thian Pek-tat!”

“Kenapa kaukatakan besar kemungkinan?” tanya Leng-hong tercengang.

“Ia menggunakan kain kerudung pada wajahnya, pakaian yang dikenakan juga ringkas, tanpa

melihat raut wajah yang sesungguhnya darimana aku bisa tahu pasti dia atau bukan, tapi

menurut perkiraanku, kecuali Thian Pek-tat tak mungkin orang lain.”

Leng-hong memang mencurigai Thian Pek-tat, maka setelah termenung sejenak lalu katanya,

“Ilmu silatnya tidak terlalu tinggi, kenapa jalan darahmu bisa tertutuk olehnya?”

“Ia menyergap diriku secara mendadak dan di luar dugaan, lagipula dalam hutan tersembunyi

pula beberapa orang komplotannya.”

“Semua beberapa orang? Setelah berhasil mereka kabur ke arah mana? Sudah berapa lama?”

“Jumlah yang pasti aku tidak tahu, mungkin dua-tiga orang, setelah mendapatkan golok

mestika itu mereka kabur ke arah Kiok-hiang-sia.”

Kiok-hiang-sia terletak dekat kamar loteng, bila maju lagi akan tiba di ruang depan, ditinjau

dari keadaan pada umumnya, Thian Pek-tat mestinya kabur lewat taman belakang, tapi

mengapa ia malah lari ke ruang depan?”

Tercengang juga Ho Leng-hong menghadapi hal ini, tapi lantaran waktu amat mendesak, tak

mungkin lagi baginya untuk bertanya lebih jauh, sesudah termenung sebentar iapun putar

badan dan berlalu.

“He, Jit-long, bukankah kau telah menyanggupi akan membebaskan jalan darahku?” seru

Wan-kun cemas.

“Sebenarnya hendak kubebaskan jalan darahmu, tapi setelah kau kehilangan Yan-ci-po-to,

Samkongcu tak nanti akan percaya begitu saja, maka lebih baik kau diam beberapa saat lagi di

sini, hal ini akan lebih menguntungkan kau.”

“Hei, Jit-long, kaut tak boleh ingkar janji!” teriak Wan-kun, “Jit-long.... Jit-long....”

87

Leng-hong menutuk lagi jalan darah bisunya, kemudian sambil menepuk pelahan pipinya ia

berbisik, “Aku berbuat demikian demi kebaikanmu, kalau kita bukan suami isteri, tentu

kulepaskan dirimu agar didamprat dan dihukum oleh Samkongcu itu, bila kau dalam keadaan

begini, kan terlepaslah tanggung jawabmu.”

Habis berkata dia lantas meninggalkan hutan.

Menurut perhitungannya, Liu A-ih dan anak buahnya pasti sudah tiba di ruang depan, bila

Pang Goan tak mau menyerah, pertarungan mungkin sudah berkobar, maka begitu keluar dari

hutan ia langsung menuju ke ruang depan.

Tapi baru saja ia melewati pintu taman, suara bentakan nyaring sudah terdengar di depan

sana. Suara itu berasal dari ruang loteng, malah kedengaran juga suara Pang Goan.

Cepat Leng-hong putar arah dan menelusuri taman dan balik lagi ke ruang loteng.

Dari kejauhan ia dapat menyaksikan lampu menerangi sekitar tempat itu, dua sosok bayangan

sedang terlibat dalam pertarungan yang seru.

Sambil berdekap tangan Samkongcu berdiri di undak-undakan batu, sementara keempat

perempuan pendek berbaju hitam itu berdiri berjajar di depannya.

Di bawah cahaya lentera, untuk pertama kalinya Leng-hong melihat jelas wajah Samkongcu.

Ia lembut dan cantik, paling banter usianya baru delapan atau sembilan belas tahunan,

matanya besar, bibirnya tipis dan sekilas pandang dapat diketahui bahwa dia adalah seorang

gadis yang cerdik, cuma sorot matanya setajam sembilu dan lagi rada menyeramkan.

Sementara kedua orang yang terlibat dalam pertempuran itu adalah Liu A-ih melawan Pang

Goan.

Kedua orang itu sama-sama bertarung dengan tangan kosong, bila ditinjau dari situasi

pertarungan, pukulan Pang Goan yang kuat membawa desing angin tajam, jelas ia menduduki

posisi di atas angin, tapi gerakan tubuh Liu A-ih amat gesit dan lincah, meskipun harus

menerobos ke sana kemari di antara pukulan Pang Goan yang bertubi-tubi, sedikitpun tidak

terlihat tanda-tanda akan kalah.

Agaknya pertarungan antara mereka sudah berlangsung cukup lama.

Dengan sorot mata tajam, Samkongcu mengikuti jalannya pertarungan dengan saksama,

sekeliling gelanggang hampir dipenuhi oleh anggota Ci-moay-hwe, tapi tak seorangpun di

antara mereka yang turun kalangan dan memberi bantuan.

Jago-jago itu hanya menonton jalannya pertarungan dengan tenang, seakan-akan mereka tidak

terburu nafsu untuk mengalahkan Pang Goan.

Diam-diam Leng-hong gelisah, pikirnya, “Betapa baiknya jika saat ini dia memegang Yan-cipo-

to....”

Sementara ia masih bingung apakah mesti membantu Pang Goan atau tidak, tiba-tiba

Samkongcu membentak, “Liu A-ih, mundur!”

Liu A-ih segera tarik serangan dan melompat keluar dari gelanggang, keningnya sudah basah

keringat.

Samkongcu memberi tanda, tiba-tiba keempat perempuan pendek berbaju hitam itu melolos

samurainya, kemudian menyerbu ke tengah gelanggang dan mengepung Pang Goan rapatrapat.

“Perempuan busuk, rupanya kalian hendak bertarung secara bergantian?” dengus Pang Goan,

“hayo majulah, aku orang she Pang tak jeri melayani barisanmu itu.”

Samkongcu tidak menjawab, katanya kepada anak buahnya, “Berikan sebilah pedang

kepadanya.”

Liu A-ih melolos sebilah pedang seorang gadis pembawa lentera, lalu melemparkannya

kepada Pang Goan.

Setelah menerima pedang itu, Pang Goan merasa tercengang juga, katanya kemudian sambil

tertawa, “Hei, kenapa? Kalian ingin bunuh diri? . . . barangkali sudah bosan hidup?”

88

“Kami tak ingin mencari kemenangan dengan mengandalkan jumlah lebih banyak,” kata

Samkongcu tenang, “tapi keempat orang ini selalu bertempur dengan ilmu golok gabungan,

maka untuk adilnya kuberikan pula sebilah senjata padamu.”

Mendengar ucapan ini, Pang Goan tertawa terbahak-bahak, “Hahaha, tapi kalian jangan lupa,

ilmu pedang Keng-hong-kiam-hoat dari Cian-sui-hu sudah tersohor selama puluhan tahun

dalam dunia persilatan, begitu orang she Pang turun tangan, mereka tak ada harapan untuk

hidup lagi.”

“Coba saja bagaimana akhirnya nanti!” kata Samkongcu, ia lantas bertepuk tangan tiga kali.

Mendengar tepukan tangan itu, keempat orang perempuan cebol berbaju hitam itu segera

membentak dan menyerbu ke depan.

Mereka sama membawa sebilah samurai panjang dan sebilah pisau pendek, tapi selama

pertarungan berlangsung, pisau pendek tetap terselip di pinggang, sementara samurai itu

digenggam dengan kedua tangannya.

Di antara bentakan nyaring, empat bilah samurai menabas bersamaan dari kiri dan kanan,

dalam waktu singkat keempat perempuan cebol itu sudah melancarkan dua belas kali tabasan.

Cahaya samurai berkilauan memenuhi angkasa, dalam waktu singkat sekeliling gelanggang

seolah-olah diliputi kabut samurai yang menyeramkan.

Ho Leng-hong juga seorang ahli golok, tapi belum pernah ia lihat ilmu golok secepat dan

seganas itu, tak urung peluh dingin membasahi juga tubuhnya karena mengusirkan

keselamatan Pang Goan.

Di tengah bayangan golok yang berlapis-lapis, Pang Goan tertawa nyaring, serentak ilmu

pedangnya dikembangkan.

Belum sempat Leng-hong menyaksikan bagaimana caranya orang itu menyerang, mendadak

ia merasakan pandangannya menjadi kabur, tahu-tahu suara beradunya senjata berkumandang

memekak telinga, disusul percikan bunga api di udara . . . .

Waktu maju tadi keempat perempuan cebol itu dapat bergerak cepat, sewaktu mundurpun tak

kurang cepatnya, masing-masing menyurut mundur tiga-empat langkah, tapi masih dalam

posisi mengepung Pang Goan.

“Boleh juga ilmu silatmu!” puji Samkongcu sambil tersenyum.

Pang Goan mendengus, “Hm, budak busuk, berapa banyak anak buahmu, suruh mereka maju

semua!”

Samkongcu Cuma tertawa dan tidak menjawab, kembali ia bertepuk tangan empat kali.

Dua orang perempuan cebol diantaranya segera menyimpan kembali samurainya sambil

mundur, sebaliknya dua orang lain sekali lagi melancarkan serangan.

Sekali ini kedua samurai itu menyerang secara teratur, yang satu menyerang tubuh bagian

atas, sedang yang lain menyerang perut dan kaki, semuanya dengan gerakan cepat dan kerja

sama yang ketat. Sekalipun dalam hal senjata telah berkurang dua bilah, tapi justru serangan

ini terasa lebih dahsyat.

Rupanya Pang Goan belum lagi memperhatikan serangan kedua samurai itu, pedangnya

berputar menciptakan selapis cahaya yang menyilaukan mata.

“Ting! Ting!” dua kali benturan nyaring, hampir bersamaan waktunya kedua samurai lawan

tertangkis balik.

Akhirnya Leng-hong dapat melihat jelas, meski Pang Goan hanya memainkan satu jurus, tapi

sekaligus dapat menangkis dua serangan lawan.

Sebetulnya serangan itu digunakan menyongsong ancaman yang datang dari atas, tapi ketika

terjadi benturan senjata, tiba-tiba pedang itu memerosot ke bawah, bagaikan besi semberani

yang mengisap jarum, samurai yang mengancam tubuh bagian atas itu dipaksa ke bawah

sehingga tepat menangkis samurai yang mengancam tubuh bagian bawah itu.

89

Atau dengan kata lain, gerakan tersebut adalah satu gerakan dengan dua guna, meminjam

golok untuk menangkis golok, baik ketepatan waktu, jurus serangan dan tenaga, semuanya

digunakan dengan tepat.

“Ilmu pedang bagus!” puji Samkongcu tanpa terasa, beruntun ia tepuk tangan lagi dua kali.

Tiba-tiba barisan serangan keempat perempuan cebol itu berubah lagi, bayangan manusia

berkelebat, empat orang itu segera berdiri dalam satu garis lurus, sementara samurai pendek

yang terselip di pinggang pun dicabut keluar.

Perempuan cebol yang pertama bergerak lebih dulu, samurai panjang dan pendek digunakan

bersama untuk menyerang Pang Goan, tapi baru terjadi kontak senjata, tiba-tiba ia tarik

serangan sambil mundur ke belakang, sementara perempuan cebol kedua segera maju

menggantikan posisinya, seperti yang pertama tadi, begitu terjadi kontak senjata ia terus

mundur untuk digantikan orang ketiga....

Begitulah, secara bergilir keempat orang perempuan cebol itu melancarkan serangan secara

bergantian, delapan samurai panjang dan pendek bagaikan bunga salju yang berhamburan di

sekitar Pang Goan.

Setiap kali mereka menyerang, arah sasarannya selalu berbeda, jurus serangan yang

digunakan pun aneh dan berlainan, yakni sekali menyerang segera berganti orang lagi.

Dengan tangguh dan gagahnya Pang Goan melayani kerubutan keempat orang itu, setiap

serangan dipatahkan dengan serangan, setiap bacokan dihadapi dengan bacokan, dalam

sekejap mata dua puluh gerakan sudah lewat . . . .

Ho Leng-hong merasa matanya sampai berkunang-kunang, ia merasa kagum dan juga

gembira, terasa olehnya permainan pedang Pang Goan begitu luwes dan leluasa, setiap

serangannya selalu dilancarkan dengan enteng, lincah tapi kuat, memang tak malu sebagai

seorang jago kenaman.

Diam-diam semua jurus ampuh itu diingatnya di dalam hati, sebisanya Leng-hong

memperhatikan setiap gerakan dengan saksama.

Sementara ia memusatkan perhatiannya untuk mengikuti jalannya pertarungan itu, tiba-tiba

terdengar seseorang tertawa dingin, dari kegelapan seseorang berseru, “Wahai orang she

Pang, jangan kaukeluarkan semua ilmu silatmu, selanjutnya kau tak bisa tancap kaki lagi

dalam dunia persilatan!”

Meskipun suara itu sangat pelahan, tapi setiap patah katanya dapat didengar semua orang

yang hadir ini dengan jelas.

Pang Goan segera menarik serangannya sambil melompat mundur, bentaknya, “Sahabat dari

manakah itu? Silakan tampil ke depan!”

Tiada jawaban yang terdengar, suasana tetap hening dan gelap.

Samkongcu pun menitahkan keempat perempuan cebol itu menghentikan serangannya,

kepada Liu A-ih katanya sambil mengangguk, “Lumayan juga hasil yang kita peroleh malam

ini, mari kita pergi!”

“Tapi golok itu . . . “ bisik Liu A-ih.

“Benda itu sudah tidak terlampau penting lagi artinya. Hayo berangkat!” tangan Samkongcu

lantas memberi tanda, serentak lampu di empat penjuru menjadi padam.

“Perempuan busuk, mau lari ke mana kalian?” bentak Pang Goan cepat.

Pedang bergerak dan langsung membabat ke pinggang seorang perempuan cebol berbaju

hitam yang kebetulan berada di dekatnya.

Perempuan cebol itu tidak menangkis melainkan melompat ke samping dan menghindarkan

diri, sebelah tangannya lantas menyebarkan seenggan kabut berbau harum.

Kebanyakan kabut asap yang berbau harum adalah kabut yang mengandung obat pemabuk.

Cepat Pang Goan menutup pernapasannya sambil melompat ke belakang dan buru-buru

mengambil geretan api.

90

Tapi ketika cahaya api menerangi sekeliling tempat itu, hanya kabut tebal berbau harum yang

menyelimuti taman bunga itu, sementara Samkongcu dan rombongannya telah lenyap tak

berbekas.

Buru-buru Leng-hong melompat keluar dari tempat sembunyinya sambil berseru, “Lotoako,

musuh yang kalah tak perlu dikejar lagi, biarkan mereka pergi!”

Pang Goan mengangkat tinggi-tinggi obornya, lalu serunya dengan tercengang, “Jadi kau

yang bersuara tadi?”

Leng-hong menggeleng kepala, “Siaute juga Cuma mendengar suaranya dan tidak melihat

orangnya, tapi kukira ia memang tidak bermaksud jelek.”

“Darimana kautahu ia tidak bermaksud jelek?”

“Soal itu kita bicarakan nanti saja, sekarang kita harus menangkap seseorang lebih dulu,

jangan sampai ia sempat meloloskan diri.”

“Siapa?”

“Perempuan yang menyaru sebagai Wan-kun!”

Betapa girangnya Pang Goan, “Jadi ia sudah kautangkap? Di mana sekarang?”

Leng-hong memberi tanda dan segera berangkat lebih dulu.

Tapi ketika mereka sampai di hutan tempat golok itu disimpan, di sana tak mereka jumpai

seorang pun, Pang Wan-kun ternyata sudah lenyap tak berbekas.

“Heran!” keluh Leng-hong, “padahal Cuma sebentar kutinggalkan tempat ini, dan lagi jalan

darahnya sudah kututuk, masa ia bisa terbang sendiri?”

Pang Goan mengomel, “Kau sudah tahu perempuan itu penting sekali artinya buat kita, kalau

sudah dibekuk kenapa tidak dibawa serta? Besar kemungkinan ia pasti telah ditolong oleh

kawanan perempuan busuk komplotannya.”

“Tidak mungkin, Samkongcu tidak tahu kalau anak buahnya sudah kubekuk, lagipula mereka

baru saja pergi, hakikatnya tak ada waktu bagi mereka untuk menolongnya.”

“Jangan-jangan ia diselamatkan oleh orang yang memberi peringatan tadi?”

Kembali Leng-hong menggeleng-geleng kepala, “Itupun tak mungkin, sebab peringatan tadi

justru mengingatkan kita agar jangan tertipu, atau dengan perkataan lain iapun bermusuhan

dengan Ci-moay-hwe, tidak mungkin ia menyelamatkan perempuan itu.”

“Apa yang diperingatkan kepada kita? Siapa pula Ci-moay-hwe itu?” tanya Pang Goan

keheranan.

Secara ringkas Leng-hong menceritakan apa yang didengarnya tadi . . . .

Selesai mendengar cerita itu, dengan wajah kurang percaya Pang Goan berkata, “Kalau

begitu, Ci-moay-hwe adalah suatu organisasi yang sangat besar?”

“Bukan saja organisasi besar, bahkan ambisinya juga besar, tujuan mereka bukan hanya

menghadapi tiga istana persilatan saja, bahkan kalau bisa semua pria di dunia ini hendak

dikuasai dan ditaklukkannya.”

“Tapi yang pasti perempuan busuk itu tak mungkin jatuh dari langit, mereka pasti mempunyai

asal-usul tertentu, kenapa dalam dunia persilatan belum pernah kudengar nama organisasi

itu?”

“Menurut dugaanku, mungkin mereka beranggapan bahwa kini belum saatnya untuk

meresmikan organisasinya secara terbuka, maka nama perkumpulan masih dirahasiakan, bila

mereka sudah yakin dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe nanti pasti akan berhasil mengalahkan

semua jago di dunia, otomatis nama perkumpulan mereka akan diumumkan secara terbuka.”

Pang Goan tertawa dingin, “Huh, aku tidak percaya hanya beberapa perempuan busuk yang

tak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi, seluruh dunia persilatan dapat mereka kuasai?”

“Ya, sebab itulah mereka ingin mencuri belajar ilmu pedangmu,” kata Leng-hong.

“Mencuri belajar ilmu pedangku?” Pang Goan tertegun, “maksudmu . . . .”

91

“Sengaja Samkongcu menitahkan keempat orang perempuan cebol itu menyerangmu secara

bergilir, tujuannya tak lain adalah untuk menyadap ilmu pedang Keng-hong-kiam-hoatmu,

sayang pada waktu itu kita tidak menyadari hal ini.”

Pang Goan termenung dan berpikir sebentar, tiba-tiba air mukanya berubah hebat, lalu

serunya, “Betul juga, seandainya orang itu tidak memperingatkan, aku benar-benar tak

mengira sampai ke situ, tak aneh kalau secara beruntun perempuan-perempuan busuk berubah

serangan sampai tiga kali, rupanya mereka tidak sungguh bertempur . . . . . “

Sesudah berhenti sebentar, lalu katanya pula, “Jit-long, menurut anggapanmu, mungkinkah ia

bisa mengingat setiap jurus pedangku cukup hanya menyaksikan jalannya pertarungan tadi?”

Leng-hong mengangguk, “Bila dia mempunyai daya ingat yang bagus, kukira semua jurus

pedangmu dapat diingat seluruhnya.”

“Tapi masa dia mempunyai bakat tinggi semacam itu?”

Leng-hong kembali mengangguk, “Aku percaya bisa, kalau tidak, tak mungkin ia atur

keempat perempuan cebol itu untuk menyadap ilmu pedangmu. Lagipula . . . . .”

“Lagipula apa?”

Setelah tertawa getir, kata Leng-hong, “Terus terang kuakui Lotoako, ketika Siaute

menyaksikan jalannya pertarunganmu melawan keempat perempuan cebol tersebut, lantaran

terpesona pada kehebatan ilmu pedang Lotoako maka secara diam-diam akupun telah

menyadap beberapa jurus diantaranya.”

“Oya? Berapa jurus kauingat?”

“Kurang lebih dua puluhan jurus!”

Tentu saja Pang Goan tidak percaya, katanya sambil tertawa, “Baik, sekarang coba

kaumainkan di hadapanku.”

Setelah memberi hormat Leng-hong berkata, “Siaute hanya berbuat seperti apa yang kuingat,

jika salah harap Lotoako jangan menertawakan.”

Pang Goan tidak berkata apa-apa, sambil tertawa dia angsurkan pedangnya kepada Lenghong.

Setelah menerima pedang, Leng-hong mundur ke belakang, lalu mulai mainkan jurus pedang

yang berhasil disadapnya tadi, benar juga, semua jurus pedang yang telah digunakan Pang

Goan untuk bertarung melawan keempat perempuan wol tadi dapat dimainkan satu persatu

dengan tepat.

Dengan saksama Pang Goan awasi setiap gerakan itu, mula-mula ia cuma tercengang,

kemudian terkejut, dan akhirnya senyuman yang semula menghiasi bibirnya berubah menjadi

rasa kaget.

Sedikitpun tidak salah, itulah ilmu pedang Keng-hong-kiam-hoat dari Cian-sui-hu di Liat-liushia.

Ho Leng-hong mainkan ilmu pedang itu sampai jurus yang kedua puluh satu, kemudian

memberi hormat, katanya dengan tertawa, “Malam ini Lotoako telah memainkan dua puluh

empat jurus, sayang Siaute terlalu bodoh sehingga hanya ingat dua puluh satu jurus saja,

mungkin di antaranya ada bagian-bagian yang salah.”

Pang Goan tidak menjawab, ia geleng-geleng kepala berulang kali sambil bergumam, “Tidak!

Tidak! Tak mungkin, hakikatnya tak mungkin . . . .”

“Lotoako, hal ini mungkin saja terjadi, kalau Siaute saja bisa mengingat sampai dua puluh

satu jurus, mungkin sekali Samkongcu dapat mengingat dua puluh empat jurus itu sekaligus,

kalau tidak, tak mungkin dia mengatakan bahwa hasil yang diperolehnya malam ini cukup

lumayan.”

Pang Goan hanya berdiri termangu di situ, lama kemudian baru ia menghela napas panjang.

“Tak kusangka di dunia ini benar-benar terdapat orang yang bisa mengingat segala apa hanya

sekali lihat saja, hal ini benar-benar sukar dipercayai.”

92

“Mereka telah berhasil mendapatkan kitab pusaka Po-in-pat-toa-sik dari Nyo-keh-sin-to, tapi

tidak tahu cara berlatih To-kiam-hap-ping-tin-hoat, maka sengaja diaturnya keempat

perempuan cebol yang lihai dalam ilmu golok itu untuk menyerang Lotoako dengan berbagai

jurus serangan yang berbeda, pada kesempatan tersebut diam-diam ia sadap ilmu pedang

Keng-hong-kiam-hoat, sudah pasti tujuannya adalah untuk mencari intisari kepandaian

tersebut untuk menciptakan semacam To-kiam-hap-ping-tin, bila kepandaian tersebut berhasil

dipahaminya, jelas, dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe yang akan datang ia dapat mengalahkan

tiga gedung besar dunia persilatan.”

Pang Goan tertawa getir, “Seandainya benar begitu, kita masih terhitung untung di tengah

ketiak keberuntungan, paling tidak karena lukamu belum sembuh, kita masih belum lagi

mulai mempelajari ilmu To-kiam-hap-ping-tin yang diincar mereka.”

“Hal ini disebabkan perempuan yang menyaru sebagai Wan-kun itu bertindak terlampau

tergesa-gesa, coba kalau Yan-ci-po-to tidak dicuri dengan terburu nafsu, kemungkinan besar

kita sudah terperangkap.”

Pang Goan mengangguk tanda membenarkan, “Diapun mempunyai alasan yang terpaksa,

kalau golok mestika Yan-ci-po-to tidak dicuri lebih dulu, sulit bagi keempat orang perempuan

cebol itu untuk menyerangku, dan merekapun tak akan berhasil menyadap ilmu pedang Kenghong-

kiam-hoat.”

Setelah berhenti sebentar, katanya lagi, “Ilmu pedang Keng-hong-kiam-hoat mengandung

unsur gabungan Thian-kang, semuanya terdiri dari tiga puluh enam jurus, untungnya masih

ada dua belas jurus inti yang tidak berhasil mereka sadap, mulai sekarang kita harus lebih

waspada.”

“Kini situasinya berkembang makin kacau dan tak keruan. Ci-moay-hwe mempunyai ambisi

yang amat besar, tapi ada orang yang rupa-rupanya memusuhi mereka secara diam-diam,

misalnya saja dicurinya golok mestika Yan-ci-po-to serta orang yang memberi peringatan

kepada kita tadi, cuma tidak diketahui mereka berasal dari aliran mana?”

“Tercurinya Yan-ci-po-to untuk sementara waktu bukan suatu perintang besar, siapakah orang

yang memperingati kita secara diam-diam juga tak usah terburu-buru diselidiki, yang perlu

kita pahami sekarang adalah rahasia sekitar perkumpulan Ci-moay-hwe, organisasi ini selain

misterius juga luas pengaruhnya, di kemudian hari pasti akan merupakan bibit bencana bagi

umat persilatan.”

“Lantas kita bagaimana menurut pendapat Lotoako? Bagaimana kita mesti turun tangan?”

Setelah berpikir sebentar, kata Pang Goan, “Kukira, jika tujuan Ci-moay-hwe adalah untuk

berebut gelar juara dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe, berarti mereka tak akan melepaskan pula

Hiang-in-hu di Leng-lam, maka aku bermaksud berangkat sendiri ke Hu-yong-shia dan

menemui Hui Pek-ling, cuma sebelum keberangkatanku ini kita masih harus menyelesaikan

dulu satu persoalan.”

“Persoalan apa?”

“Mumpung hari masih malam, aku ingin mewariskan dulu To-kiam-hap-ping-tin kepadamu,

kupercaya dengan daya ingatanmu yang baik, semua jurus serangan bisa kauingat baik-baik,

kemudian pelahan kaupelajari dan resapi, sebelum pertemuan Lo-hu-to-hwe nanti kita boleh

melatihnya beberapa kali, kemudian dapat digunakan setiap waktu.”

“Lotoako bermaksud begitu, sesungguhnya aku harus menurut, cuma ada satu hal yang harus

kuterangkan juga sebelum Lotoako wariskan ilmu To-kiam-hap-ping-tin-hoat tersebut

kepadaku....”

“Tidak usah kaukatakan lagi,” tukas Pang Goan sambil menggoyang tangan, “apa yang

hendak kau katakan sudah kuketahui, lagipula sudah kupertimbangkannya, pokoknya kau

telah menjadi majikan Thian-po-hu dan mulai sekarang boleh melanjutkan kedudukanmu

dengan hati tenang, mengenai soal lain tak perlu kaupikirkan.”

93

“Lotoako, benarkah kau sudah mengetahui apa yang ingin kukatakan?” tanya Leng-hong

terkesiap.

“Mataku belum buta, telingaku tidak tuli, Wan-kun saja dapat kuketahui sebagai gadungan,

masakah tidak kupikirkan pula dirimu?” kata Pang Goan dengan wajah serius, “terutama

setelah kejadian malam ini, lebih terbukti lagi bahwa dugaanku tidak salah, terus terang

kukatakan kepadamu, manusia macam apakah Nyo Cu-wi itu masa aku tak tahu? Andaikata

dia memiliki separoh dari bakatmu, tak mungkin Thian-po-hu akan berada dalam posisi sulit

semacam ini.”

Leng-hong terkejut dan melongo, sepatah katapun tak mampu menjawab.

Pang Goan tertawa getir, sambil menepuk bahunya ia berkata lagi, “Lote, peduli siapakah kau,

dalam pikiranku kau tetap Nyo Cu-wi, seandainya adikku suami-isteri sudah tertimpa

musibah, maka kau adalah majikan Thian-po-hu untuk selamanya, dalam pertemuan Lo-huto-

hwe yang akan datang, sepantasnya pula Thian-po-hu diwakili olehmu, sebaliknya bila

adikku suami-isteri masih hidup, maka kau adalah tuan penolong dari Thian-po-hu dan Ciansui-

hu, selamanya aku akan menganggapmu sebagai saudara kandung sendiri, suatu hari jika

aku mati, maka Cian-sui-hu adalah rumahmu.”

“Lotoako . . . . . . .” saking terharunya Ho Leng-hong tak sanggup melanjutkan kata-katanya.

“Cukup, soal lain tak usah dibicarakan lagi, aku hanya ingin jawabanmu sekecap saja, yakni

siapa namamu?”

“Aku she Ho bernama Leng-hong!”

“O, Ho Leng-hong!” dengan suara rendah Pang Goan mengulang nama itu beberapa kali, lalu

sambil mengangguk terusnya, “nama hanya tanda pengenal seseorang, untuk menghindari

segala kesulitan lebih baik kusebut Jit-long saja padamu. Hayo berangkat Jit-long! Kita harus

mulai berlatih To-kiam-hap-ping-tin-hoat . . . .”

“Lotoako, bolehkah kuucapkan sepatah kata lagi?”

“Katakanlah!”

“Siaute merasa menyelidiki asal usul Ci-moay-hwe adalah suatu hal yang penting, mencari

jejak Nyo-tayhiap suami-isteri juga tidak kurang pentingnya, mana boleh kita pergi ke Lenglam

malah.”

“Meskipun persoalan itu tampaknya dua, hakikatnya hanya satu masalah, bisa kita tebak kalau

Cu-wi dan Wan-kun telah terjatuh ke tangan pihak Ci-moay-hwe, kalau tidak, tak mungkin

mereka berani datang kemari serta berbuat sewenang-wenang, jadi asal rahasia Ci-moay-hwe

berhasil kita ketahui, hal ini sama pula berhasil mengetahui jejak Wan-kun suami-isteri.”

“Tapi perjalanan menuju ke Leng-lam jauh sekali, untuk pulang-pergi membutuhkan waktu

cukup lama, padahal Samkongcu dari Ci-moay-hwe berada di dekat sini, kenapa kita menolak

yang dekat dan meraih yang jauh? Kenapa kita tidak turun tangan mulai dari Samkongcu ini?”

Pang Goan termenung sebentar, ia tanya kemudian, “Apakah kau ada akal untuk menyelidiki

tempat pondokan budak itu?”

“Tidak sulit untuk hal itu, kita boleh pancing mereka datang lagi ke Thian-po-hu, atau dari

musuh-musuh mereka kita berusaha mencari tahu tempat mereka.”

Kemudian dengan suara lirih ia jelaskan rencananya.

“Apakah kau yakin?” tanya Pang Goan kemudian dengan dahi berkerut.

“Tujuan mereka adalah To-kiam-hap-ping-tin-hoat, sehari Lotoako sebelum meninggalkan

Thian-po-hu, tak mungkin mereka akan berlalu dengan begitu saja.”

“Baiklah,” kata Pang Goan sambil mengangguk, “kita tunggu tiga hari lagi, dalam tiga hari

bila tak ada berita apa-apa, kita baru berangkat menuju ke Leng-lam.”

------------------------------

94

Sejak hari kedua, penjagaan di Thian-po-hu tiba-tiba diperketat, di samping itu diumumkan

pula “Pit-hu-sia-khek” (tutup pintu dan tidak terima tamu).

Mendapat perintah tersebut, seluruh Busu dalam gedung bergerak melakukan penjagaan yang

ketat, terutama dinding taman bunga bagian belakang, hampir boleh dibilang setiap tiga

langkah terdapat penjaga, tiap lima langkah sebuah pos, siang maupun malam Busu

berseragam lengkap melakukan perondaan, tak seorang pun diizinkan mendekati dinding

taman belakang.

Pihak Thian-po-hu tak pernah mengumumkan alasannya Pit-hu-sia-khek, tapi penduduk di

sekitarnya sama-sama menyiarkan berita yang menyatakan bahwa Nyo Cu-wi, majikan Thianpo-

hu sedang tirakat untuk melatih sejenis ilmu silat yang istimewa dan bersiap-siap akan

mengikuti pertemuan Lo-hu-to-hwe yang akan datang.

Tentu saja sumber berita itu berasal dari mulut para Busu, tapi hakikatnya Ho Leng-hong dan

Pang Goan memang benar-benar sedang berlatih To-kiam-hap-ping-tin, sekalipun untuk

melatih ilmu barisan itu tidak perlu mengurung diri, mereka berharap dengan To-kiam-happing-

tin sebagai umpan dapat memancing kedatangan Samkongcu ke Thian-po-hu.

Oleh sebab itulah, meski penjagaan di luar gedung tampaknya sangat ketat, sesungguhnya

penjagaan di dalam gedung sendiri amat kendur, kalau siang hari perondaan dilakukan

berulang-ulang, maka bila malam tiba, penjagaan berubah menjadi penjagaan secara diamdiam,

kecuali para Busu di luar tembok yang berjaga dengan obor di mana-mana suasana

dalam taman bagian dalam amat sepi, kecuali petugas peronda dan penyampai berita, tiada

pengadaan atau pemeriksaan yang teliti.

Hari pertama bisa dilalui dengan tenang, apa pun tidak terjadi.

Hari kedua kembali lewat, tapi belum juga ada sesuatu yang mencurigakan.

Pada hari ketiga, Pang Goan sudah mulai tak sabar, sudah lewat tengah hari, tapi kabar

tentang Ci-moay-hwe belum juga didapatkan, ia mulai bersiap-siap melakukan penjagaan.

Menjelang senja itulah, tiba-tiba di luar gedung kedatangan seorang tamu.

Orang itu masih muda sekali, sekitar dua puluh tahunan, raut mukanya bulat, matanya besar

dan giginya rata, cuma hidungnya agak pesek. Ia mengenakan baju dari kain kasar, membawa

buntalan dan mukanya kotor penuh debu.

Kalau dilihat wajahnya yang kusut dan letih bisa diketahui dia baru saja menempuh

perjalanan jauh dan khusus datang untuk menyambangi Thian-po-hu.

Ia mengaku she Oh, datang ke sini ingin bertemu dengan Nyo Cu-wi, majikan Thian-po-hu.

Ketika para Busu mengatakan bahwa majikannya sedang “Pit-hu-sia-khek”, orang itu

berkeras ingin menjumpainya, katanya ada urusan penting yang hendak dibicarakan secara

langsung tapi ia enggan memberi penjelasan yang terperinci tentang nama dan maksud

tujuannya.

Ia hanya berkata seandainya Nyo Cu-wi sedang tutup pintu tidak menerima tamu, maka ia rela

menunggu terus di luar gedung.

Ketika Leng-hong menerima laporan dari para Busu, ia lantas mencari Pang Goan untuk

berunding, “Kemungkinan besar orang ini adalah utusan dari Ci-moay-hwe yang ditugaskan

untuk mencari berita. Lotoako, mari kita temui bersama.”

Pang Goan berpikir sebentar, lalu sahutnya, “Kukira cara ini kurang baik, lebih baik salah

seorang di antara kita menjumpainya dan yang lain bersembunyi. Begini saja, kau yang temui

orang itu dan aku akan mengintip secara diam-diam, apapun maksud kedatangannya lebih

baik kita tahan dia agar menginap di kamar tamu ruang depan, kita harus menggunakan

ketenangan untuk menghadapi segala perubahan yang penting, selidiki dulu asal-usulnya.”

Selesai berunding, Leng-hong muncul sendiri ke ruang depan dan Pang Goan sembunyi lebih

dulu di belakang ruang tamu.

Ketika orang itu berjumpa dengan Ho Leng-hong, sambil memberi hormat ia bertanya,

“Tolong tanya, apakah saudara ini Nyo Cu-wi, Nyo-tayhiap dari Thian-po-hu?”

95

“Benar,” sahut Leng-hong sambil tersenyum, “Sebetulnya, karena ada urusan, Siaute sedang

mengurung diri dan tidak menerima tamu, tapi berhubung kudengar Oh-heng datang dari

jauh, terpaksa kusambut kedatanganmu, bolehkah kutahu ada urusan apa Oh-heng mencari

Siaute?”

Dengan sorot mata tajam orang itu memperhatikan Ho Leng-hong dari atas sampai ke bawah,

lalu katanya, “Maaf, aku belum pernah berjumpa dengan Nyo-heng, karena itu maaf jika

sekiranya ucapanku kurang pantas, dapatkah Nyo-heng menjelaskan apakah kau benar-benar

majikan dari Thian-po-hu?”

“Aku tidak mengerti maksud Oh-heng.....” kata Leng-hong dengan melengak.

“Maksudku, berhubung urusan ini penting dan sangat rahasia, maka sebelum kuutarakan lebih

baik Nyo-heng membuktikan diri sendiri sebagai majikan Thian-po-hu.”

“Tempat ini adalah Thian-po-hu dan akulah Nyo Cu-wi, memangnya Oh-heng minta aku

membuktikan dengan cara bagaimana?”

“Gampang sekali, bila Nyo-heng dapat mengundang keluar enso, maka akupun akan

percaya.”

“Apakah Oh-heng kenal dengan Wan-kun?” tanya Leng-hong dengan agak tercengang.

“Ya, tiga tahun yang lalu pernah kuberjumpa dengan Pang-toaci, atas kebaikannya kami telah

mengikat menjadi.....”

Menjadi apa? Tiba-tiba ia tutup mulut dan tidak melanjutkan, agaknya tidak leluasa

dijelaskannya.

Leng-hong tambah terkejut, katanya dengan suara tertahan, “Oh-heng, sesungguhnya siapa

kau? Ada urusan apa datang ke Thian-po-hu?”

“Maaf,” sahut orang itu sambil memberi hormat, “sebelum bertemu dengan Pang-toaci dan

terbukti kau betul-betul adalah Nyo-heng, aku tak dapat menjawab pertanyaanmu.”

“Kau . . . . “

Pang Goan yang bersembunyi di belakang pintu angin tiba-tiba tertawa dan berseru, “Jit-long,

tak usah kau tanya dia lagi, aku tahu siapakah dia.”

Sambil melangkah keluar dari tempat sembunyiannya, Pang Goan berkata seraya menuding

orang itu, “Kau adalah Siau-cu-cu (si cu kecil), betul tidak?”

Agaknya orang itu tidak kenal dengan Pang Goan, dengan bingung sahutnya, “Benar, dan

siapakah kau . . . .”

“Kau hanya ingat pada Pang-toaci seorang, masakah tidak tahu akan Pang-toako?”

“O!” orang itu cepat-cepat memberi hormat, “maaf, kiranya Pang-toako juga berada di sini.”

Pang Goan memberi tanda agar semua Busu dan pelayan keluar ruangan, kemudian dengan

wajah serius katanya kepada Ho Leng-hong, “Jit-long, dia ini Hui Beng-cu, putri tunggal Hui

Pek-ling dari Hu-yong-shia, di Leng-lam.”

Leng-hong melonjak kaget buru-buru ia memberi hormat sekali lagi, “Nona Hui, kenapa jauhjauh

kau datang kemari? Lagi pula perempuan menyaru sebagai laki-laki?”

Sebelum menjawab, mata Hui Beng-cu sudah merah lebih dulu, sambil menahan isak

tangisnya ia berkata, “Terus terang kuberitahukan kepada Toako berdua, kedatanganku

kemari adalah khusus untuk minta bantuan.”

“Apa? Jadi Hiang-in-hu juga tertimpa musibah?” seru Pang Goan kaget.

“Pang-toako, kenapa kau mengatakan ‘juga tertimpa musibah’?” tanya Hui Beng-cu, “janganjangan

di Cian-sui-hu juga terjadi sesuatu peristiwa besar?”

Sambil menghela napas Pang Goan geleng-geleng kepala berulang kali, “Cian-sui-hu sih tak

terjadi apa-apa, tapi Thian-po-hu telah mengalami kesulitan, Siaucu, coba terangkan dulu

kejadian yang telah menimpa Hiang-in-hu kalian.”

“Dapatkah kujumpai Pang-toaci lebih dulu?” pinta Hui Beng-cu, ia masih agak sangsi.

96

“Tak usah kau singgung dia lagi, persoalan ini justru terjadi atas dirinya, terus terang

kuberitahukan padamu, ia sudah ditawan orang dan tak ada di sini, kemungkinan besar telah

dicelakai musuh dan tiada di dunia lagi.”

Ketika dilihatnya wajah Hui Beng-cu diliputi rasa kaget dan curiga, ia berkata lebih jauh,

“Cuma kau jangan kuatir. Aku Pang-toako bukan gadungan, kalau tidak, mana mungkin nama

kecilmu bisa kusebut, meskipun kita belum pernah bertemu, tapi pernah kudengar Wan-kun

menceritakan perkenalannya denganmu, konon kalian bertemu dalam pertemuan Lo-hu-tohwe

yang lalu, mula-mula bertarung dan akhirnya mengikat tali persaudaraan, bahkan berjanji

akan main bersama-sama ke pulau Bu-to-san di Lam-hay, betul tidak?”

Dengan air mata bercucuran Hui Beng-cu mengangguk, “Benar, sebenarnya Pang-toaci ajak

aku pesiar ke laut selatan, tapi karena pertemuan To-hwe berakhir sebelum saatnya, niat

tersebut tidak terlaksana, kemudian kudengar Taci kawin dengan majikan Thian-po-hu,

sebetulnya aku mau datang menyampaikan selamat, tapi ayah tidak mengizinkan..., sungguh

tak nyana perpisahan itu adalah perpisahan untuk selamanya.”

Ketika mengucapkan kata-kata terakhir, meledaklah isak tangisnya.

“Nona jangan bersedih hati dulu,” hibur Leng-hong, “bagaimanakah keadaan Wan-kun

hingga kini belum diketahui dengan pasti, coba beritahukan dulu kepada kami, apa yang

terjadi di Hiang-in-hu?”

“Panjang sekali ceritanya,” tutur Hui Beng-cu dengan air mata bercucuran, “ini harus dimulai

ketika pertemuan Lo-hu-to-hwe yang lalu.”

“Tidak menjadi soal, tahan dulu rasa sedih nona, kemudian baru bercerita.”

Hui Beng-cu mengusap air matanya, setelah menenangkan hati lalu ia berkata dengan sedih,

“Pertemuan Lo-hu-to-hwe yang diselenggarakan setiap empat tahun sekali itu selalu dijuarai

oleh Thian-po-hu, tapi semenjak gelar Thian-he-te-it-to berhasil diperoleh ayahku dalam

pertemuan yang lampau, dalam dunia persilatan lantas tersiar berita yang mengatakan bahwa

Hiang-in-hu telah mempergunakan siasat Bi-jin-ke (siasat perempuan cantik) yang

mengakibatkan pemilik Thian-po-hu kehilangan tenaga dalamnya sebelum bertanding

sehingga kedudukan terhormat itu dirampas orang. Ayahku marah dan mendongkol sekali

setelah mengetahui kabar ini, dia bersumpah akan mempertahankan gelar tersebut selama

hidup, maka mulailah dengan usaha ayahku untuk mencari golok mestika . . . . “

Ho Leng-hong dan Pang Goan saling pandang sekejap, namun keduanya tetap bungkam.

“Kemudian datang seorang perempuan asing yang menawarkan sebilah golok (samurai),

perempuan asing itu berdandan genit dan menyolok, ia pandai pula berbicara, setelah

melakukan tawar menawar, akhirnya bukan saja ayahku membeli samurai tersebut,

perempuan asing penjual samurai itupun diminta pula tinggal di rumah.”

“Apakah perempuan asing itu adalah orang Ainu dari negeri Timur?” tiba-tiba Leng-hong

menyela.

“Nyo-toako, darimana kautahu?” tanya Hui Beng-cu tercengang.

Ho Leng-hong tertawa getir, “Kejadian selanjutnya tidak nona katakanpun aku sudah tahu,

tentunya perempuan asing itu merayu ayahmu dan merengek kepada ayahmu agar diajari ilmu

golok Hiang-in-hu bukan?”

“Memang demikianlah. Ilmu golok keluarga Hui kami bernama Liat-yam-cap-sa-cam,

biasanya tidak diwariskan kepada anak perempuan, tapi berhubung ayah Cuma mempunyai

seorang puteri, maka terpaksa ilmu itu diwariskan kepadaku, tak nyana ayah juga telah

mewariskan kepandaian saktinya itu kepada seorang perempuan asing yang tidak diketahui

asal-usulnya.”

“Lama kelamaan perempuan asing itu tentunya mendatangkan banyak konco-konconya untuk

mengurusi semua pekerjaan rumah, selain itu memperuncing pula hubungan kalian ayah dan

anak, betul tidak?” tanya Leng-hong pula.

97

“Tepat sekali, sejak ayah memelihara perempuan asing itu, wataknya sama sekali berubah, ia

melarang aku berhubungan dengan Pang-toaci, kemudian ketika Cian-sui-hu berbesanan

Thian-po-hu, akupun dilarang kondangan, satu persatu anggota lama dalam gedung dipecat

dan diganti oleh konco-konco perempuan asing itu, bahkan belakang ini keadaannya

bertambah hebat, ia hendak memaksaku untuk kawin dengan Congkoan (kepala rumah

tangga) baru bernama Kim Pang, kumohon agar perkawinan ini dibatalkan, tapi ayah tak mau

ubah pendiriannya, terpaksa aku minggat dari rumah.”

Leng-hong hanya mendengarkan tanpa berbicara, ia seakan-akan sedang memikirkan sesuatu

persoalan.

Sebaliknya dengan marah Pang Goan berkata, “Sungguh tak nyana nama besar Tay-yang-to

Hui Pek-ling harus kandas di tangan orang perempuan asing pada usia tuanya.”

“Aku sendiripun tidak menyangka,” kata Beng-cu pula dengan gegetun, “kecuali agak

berangasan, sesungguhnya ayahku adalah seorang yang jujur dan berhati lurus, tapi sekarang

ia seperti telah kena guna-guna dan berubah menjadi seorang yang lain....”

“Nona Hui, apakah ibumu masih hidup?” tiba-tiba Leng-hong bertanya.

“Tidak, ibuku sudah lama meninggal dunia, waktu itu aku baru berusia empat tahun.”

“Selama ini pernahkah ayahmu bermaksud kawin lagi?”

“Tidak pernah, ayahku selalu kangen dan memikirkan ibu, hakikatnya sama sekali tak berniat

mencari isteri baru, belasan tahun belakangan ini kami berdua ayah dan anak selalu hidup

berdampingan.”

“Kalau begitu, kenapa setelah bertemu dengan seorang perempuan asing dia lantas menjadi

bodoh dan mau dirayu? Betul-betul tua bangka pikun dan keblingar!” omel Pang Goan

dengan gemas.

“Lotoako tak boleh menyalahkan Hui-locianpwe,” kata Leng-hong sambil geleng kepala,

“menurut dugaanku kejadian ini lagi-lagi adalah hasil karya Ci-moay-hwe.”

“Maksudmu, Hui Pek-ling yang asli telah ditukar dengan Hui Pek-ling gadungan?”

“Ya, kalau mereka bisa melatih seorang Pang Wan-kun gadungan, kenapa tak bisa melatih

pula seorang Hui Pek-ling gadungan?”

“He, apa yang kalian bicarakan?” seru Hui Beng-cu kebingungan, “Ci-moay-hwe apa maksud

kalian? Dan apapula yang asli dan gadungan?”

Secara ringkas Leng-hong lantas menceritakan kejadian yang telah menimpa Thian-po-hu,

tentu saja merahasiakan tentang dirinya yang dijadikan Nyo Cu-wi gadungan ini.

Ketika mendengar cerita tersebut, Hui Beng-cu melongo kaget, sampai lama ia tak sanggup

mengucapkan sepatah katapun, kemudian ia menggeleng kepala sambil mengeluh, “Tak

kusangka di kolong langit ada kejadian seperti ini, masa seorang bisa diubah menjadi orang

lain, hal ini . . . hal ini benar-benar terlalu mengerikan.”

“Untuk berhasil merajai dunia persilatan dan memusuhi kaum pria, pertama-tama Ci-moayhwe

harus berhadapan dulu dengan Bu-lim-sam-hu (tiga gedung dalam dunia persilatan), asal

mereka membuang pikiran dan tenaga dengan mencari seorang yang berwajah mirip,

kemudian diberi pula latihan yang ketat, untuk menyamar sebagai seseorang memang bukan

sesuatu pekerjaan yang sukar.”

Tiba-tiba ia tertawa, lalu katanya lagi, “Setelah mereka sanggup merias wajah seseorang, lalu

diselundupkan ke suatu tempat untuk menyelidiki suatu rahasia, kukira hal ini suatu pekerjaan

yang sangat mudah.”

Hui Beng-cu tertegun, serunya, “Nyo-toako, apakah kaupun mencurigai diriku sebagai

seorang yang menyamar orang lain?”

“Bukannya aku suka curiga,” kata Ho Leng-hong sambil tertawa, “tapi justru karena pihak Cimoay-

hwe sedang berusaha dengan segala akal untuk menyusupkan orangnya ke Thian-pohu,

dan kebetulan nona seorang gadis pula yang belum pernah kami lihat, maka bila nona

dapat membuktikan kebenaran asal-usulmu, tentu saja hal ini akan jauh lebih baik.”

98

“Cara yang paling baik adalah mempersilakan nona memainkan Liat-yam-cap-sah-cam dari

perguruanmu.”

Hui Beng-cu berpikir sebentar, lalu katanya, “Padahal cara inipun belum dapat membuktikan

kebenaran asal usulku, sebab ayahku telah mengajarkan pula Liat-yam-cap-sah-cam tersebut

perempuan siluman itu.”

“Tidak menjadi soal, meskipun perempuan siluman itu juga bisa memainkan ilmu golok Liatyam-

cap-sah-cam, kesempurnaannya tentu masih jauh daripada yang diharapkan,

bagaimanapun tentu berbeda dengan nona yang telah mempelajarinya sejak kecil.”

Kembali Hui Beng-cu termenung sebentar, katanya kemudian, “Baiklah, aku akan

mempertunjukkan, Cuma akupun mempunyai satu permintaan.”

“Katakan saja nona!”

“Ayahku telah dikuasai mereka, apakah dipalsui atau tidak, yang pasti keadaannya sangat

berbahaya, bila sudah kubuktikan kebenaran asal-usulku, Toako berdua harus menyanggupi

akan menemaniku berangkat ke Leng-lam dan menyelamatkan ayahku.”

“Soal ini tak perlu nona katakan lagi,” sahut Leng-hong tanpa ragu-ragu, “Bu-lim-sam-hu

sama-sama tertimpa musibah, sudah sepantasnya kita saling membantu untuk menghadapi

musuh yang sama.”

Hui Beng-cu tidak banyak bicara lagi, ia membuka bungkusannya dan meloloskan sebilah

golok melengkung yang amat tajam.

Golok itu bentuknya seperti sabit, lebar golok hanya tiga jari dengan gagang dari emas serta

rantai perak pengikat tangan, pada kedua sisi sarung golok masing-masing terdapat sebuah

mutiara besar yang dijadikan sebagai lukisan matahari, sekilas pandang dapat diketahui

bahwa senjata tersebut adalah golok mestika yang tak ternilai harganya.

Hui Beng-cu melolos goloknya, lalu melangkah ke luar ruangan, setelah memberi hormat,

katanya, “Mohon petunjuk Toako berdua.”

“Tidak berani!” Leng-hong dan Pang Goan segera membalas menghormat.

Hui Beng-cu menarik kaki kanannya ke belakang lalu tubuhnya berputar setengah lingkaran,

tangan kiri direntangkan, pelahan hawa murninya dikerahkan.

Dalam waktu singkat, air mukanya dari merah, berubah menjadi pucat, sebaliknya goloknya

yang bening tajam pelahan memancarkan selapis hawa berwarna merah.

Melihat ini, entah mengapa tiba-tiba Leng-hong teringat pada golok mestika Yan-ci-po-to.

Baik Tay-yang-sin-to dari keluarga Hui maupun Nyo-keh-sin-to dari Thian-po-hu, keduanya

adalah ilmu golok terkenal di dunia persilatan, Cuma bedanya Po-in-pat-toa-sik dari Nyo-kehsin-

to lebih mengutamakan keganasan, keanehan dan kelincahan, sehingga dibandingkan

dengan Liat-yam-cap-sah-cam dari Tay-yang-sin-to lebih tinggi setengah tingkat.

Sebab itulah kemenangan yang beruntun dalam pertempuran Lo-hu-to-hwe sebagian besar

disebabkan keanehan serta kelincahan ilmu golok terebut, ditambah lagi dengan Yan-ci-po-to

yang amat tajam, jadi mustahil kalau sampai kalah di tangan Hui Pek-ling.

Kalau memang begini, lantas apa yang menjadi sebab utama kekalahan Thian-po-hu dalam

pertemuan Lo-hu-to-hwe yang lampau? Kecuali berita yang mengatakan lantaran terkena

siasat Bi-jin-ke, mungkinkah masih terselip sebab-sebab lain?

Andaikata memang benar terjebak oleh siasat Bi-jin-ke, siapakah yang secara diam-diam

mengatur segala sesuatunya itu?

Seandainya siasat Bi-jin-ke datangnya dari pihak Ci-moay-hwe, mengapa pula keuntungan

besar ini mereka berikan kepada Hui Pek-ling dengan begitu saja?

Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benak Ho Leng-hong, dari hawa golok yang dipancarkan

Tay-yang-sin-to, ia membayangkan kembali Yan-ci-po-to yang dicuri orang, lalu terbayang

lenyapnya Thian Pek-tat dan manusia misterius yang memperingatkan Pang Goan secara

diam-diam, serta mati hidup Nyo Cu-wi suami isteri..... dan sebagainya.

99

Di antara sekian banyak kejadian ia merasa satu sama lainnya mempunyai kaitan yang erat,

dan satu hal ia yakin benar, yakni selain Ci-moay-hwe pasti ada pula organisasi rahasia

lainnya yang turut dalam pertikaian ini.

Pada mulanya Ho Leng-hong mencurigai pihak Hiang-in-hu dari Hu-yong-shia yang diamdiam

berperan, tapi setelah terbukti bahwa Hui Pek-ling sendiripun dikuasai orang, ia semakin

yakin ada sekelompok manusia misterius lagi yang diam-diam sedang beradu kekuatan

dengan Ci-moay-hwe, sedang golok Yan-ci-po-to itu justru telah terjatuh ke tangan manusia

tersebut....

Sementara ia masih melamun, Hui Beng-cu telah berseru nyaring, lalu mulai mainkan ilmu

golok Liat-yam-cap-sa-cam, tiga belas jurus bacokan bara api.

Cepat-cepat Leng-hong membuang jauh semua pikiran dan pusatkan perhatiannya mengikuti

permainan tersebut.

Tertampaklah golok Hui Beng-cu telah memancarkan selapis cahaya merah, tatkala golok

mulai bergerak, maka terasalah seperti segulung kobaran api seolah-olah sedang menyambar

ke sana kemari, semua jurus serangannya merupakan jurus aliran keras, demikian hebatnya

gerakan itu, tak malulah ilmu golok tersebut disebut ilmu golok jempolan.

Selesai ilmu golok itu diperlihatkan, tampak jidat Hui Beng-cu sedikit berkeringat,

bagaimanapun kekuatan kaum wanita memang ada batasnya, tentu saja ia merasa agak lelah

memainkan ilmu golok aliran keras semacam ini.

Leng-hong mengerling sekejap ke arah Pang Goan sambil bertanya, “Bagaimana?”

“Memang betul ilmu golok Tay-yang-sin-to asli, tak mungkin salah lagi,” kata Pang Goan

sambil manggut-manggut.

Tersenyum Ho Leng-hong dan segera memberi hormat, katanya, “Nona Hui, maafkanlah bila

kurang hormat tadi, silakan masuk ke dalam untuk bicara.”

“Sekarang tentunya kalian sudah percaya bahwa aku bukan samaran orang lain?”

“Setelah menyaksikan sendiri kelihaian ilmu golok Leng-lam, tentu saja kami percaya.”

Hui Beng-cu mengembus napas lega, “Kalau begitu menurut rencana Toako kapan kita

berangkat ke Leng-lam?”

“Hari ini jelas tak sempat, lagipula nona baru datang dari tempat jauh, silakan cuci badan,

ganti pakaian dan beristirahat dulu, malam nanti akan kusiapkan perjamuan untuk menyambut

kedatangan nona, sekalian kita rundingkan lagi rencana selanjutnya, setuju?”

“Ah, akupun bukan orang yang tak tahu diri, setibanya di sini, sedikitnya harus mengganggu

beberapa hari lebih dulu sebelum berangkat,” kata Hui Beng-cu sambil tertawa.

Maka Leng-hong lantas menyuruh pelayan menemani Hui Beng-cu membersihkan badan

mengganti pakaian, lalu memerintahkan koki menyiapkan perjamuan.

Begitu Hui Beng-cu berlalu, buru-buru Pang Goan bertanya, “Jit-long, apakah ketiga belas

jurus ilmu golok tadi sudah kau ingat semua?”

“Jangan kuatir, sudah ada di sini semua,” jawab Leng-hong sambil mengetuk batok kepala

sendiri.

“Bagus sekali,” sorak Pang Goan dengan gembira, “meskipun kita sudah kecurian ilmu Po-inpat-

toa-sik dan dua puluh empat jurus ilmu pedang, setelah kita berhasil menyadap Liat-yamcap-

sa-cam dari Hiang-in-hu, rasanya tidak rugi terlalu besar kita ini.”

“Cuma, Siaute merasa Tay-yang-sin-to terlalu banyak kerasnya daripada kelincahan, bila

ketemu dengan golok mestika yang tajam maka sulit untuk mengembangkan kelihaian ilmu

golok tersebut.”

“Sebab itulah Hui Pek-ling berusaha dengan segala daya upaya untuk mendapatkan sebilah

golok mestika.”

Tapi Leng-hong geleng kepala berulang kali, “Siaute bukan maksudkan hal ini, aku merasa

untuk menandingi Po-in-pat-toa-sik dan Yan-ci-po-to dari Thian-po-hu dengan Tay-yang-sinto,

sesungguhnya tidak besar kesempatan untuk merebut kemenangan, kalau begini, maka aku

100

menjadi berpikir kembali berdasar apakah Hui Pek-ling berhasil mengalahkan Thian-po-hu

dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe yang lalu?”

“Kenapa secara tiba-tiba kau berpikir sampai ke situ?” tanya Pang Goan tertegun.

“Sesungguhnya persoalan ini sudah lama terpikir olehku, setelah nona Hui menyinggung soal

‘Bi-jin-ke’ tadi, lalu kuputuskan untuk menanyakan soal ini kepada Lotoako.”

“Apa yang ingin kau ketahui?”

“Teringat sewaktu kita berjumpa untuk pertama kalinya dulu Lotoako pernah menyinggung

soal ‘rela menghadapi kematian’, bolehkah kutahu apa sebabnya para kakak Nyo Cu-wi rela

mati? Apa pula maksud tujuannya yang sesungguhnya di balik perkawinan antara Thian-pohu

dengan Cian-sui-hu?”

“O, rupanya persoalan ini yang kautanyakan, waktu itu aku mengira kau adalah Nyo Cu-wi,

maka tidak kuberi penjelasan lebih lanjut, kemudian setelah dikacau oleh Ci-moay-hwe,

akupun lupa membertahukan hal ini kepadamu, bila dibicarakan, sebenarnya hingga kini

peristiwa tersebut masih merupakan teka-teki besar.”

“Apakah menyangkut keluarga Nyo dari Thian-po-hu?”

“Benar. Tapi mungkin juga ada hubungannya dengan Ci-moay-hwe atau keluarga Hui di Huyong-

shia.”

“Dapatkah Lotoako menjelaskan lebih terperinci?”

Pang Goan manggut-manggut, “Aku ingin menjelaskan semua yang kuketahui, sayangnya apa

yang kuketahui tidak terlalu banyak . . . “

-----------------------

“Cerita ini dimulai pada empat ratus tahun yang lalu,” demikian Pang Goan mulai

menuturkan suatu cerita yang aneh dan misterius, “konon pada jaman itu hidup sepasang

suami-isteri, yang pria she Oh, asalnya adalah seorang panglima perang di bawah pimpinan

Gak Hui, ilmu goloknya sangat lihay dan pernah menghancurkan pasukan kuda berantai dari

tentara Kim, kemudian setelah Gak Hui tewas di tangan menteri dorna, dalam keputusasaannya

ia meletakkan jabatan dan hidup berkelana sebagai seorang pendekar, dengan

sebilah goloknya secara beruntun ia mengalahkan delapan puluh sembilan orang jago lihay

ahli golok sehingga namanya termasyhur dalam dunia persilatan sebagai To-seng (nabi

golok), maka iapun memberi nama pada dirinya sendiri sebagai Oh It-to atau Oh si golok.”

“Bagus juga nama ini,” kata Leng-hong sambil tertawa.

Bukan cuma namanya saja yang bagus, ilmu golok Oh It-to terhitung juga sakti luar biasa,

sukar diraba kehebatannya, orang persilatan pada jaman itu jarang ada yang sanggup

menangkis sekali bacokannya. Sayang saking keranjingannya dengan ilmu goloknya, Oh It-to

sampai melupakan isterinya, dan lebih celaka lagi isterinya ternyata seorang ahli golok pula.”

“Oo? siapakah nama isterinya?”

“Siapa namanya kurang begitu jelas, orang hanya tahu dia bernama Hui-nio, lantaran seharihari

ia gemar berpakaian gaun merah, orang menyebutnya sebagai Ang-ih Hui-nio (Hui-nio si

baju merah).”

“Apakah ilmu goloknya sangat lihay?”

Pang Goan manggut-manggut, “Konon Ang-ih Hui-nio berasal dari keluarga kaya, lagipula

dia memiliki bakat alam dan otak cerdas, ketika kawin dengan Oh It-to, usia mereka selisih

tiga puluh tahunan, sebetulnya orang tua Hui-nio tidak setuju dengan perkawinan ini, tapi

berhubung Hui-nio begitu terpesona pada ilmu silat Oh It-to, ia rela retak hubungan dengan

orang tua dan kawin dengan pujaan hatinya, pada akhirnya kedua orang itu kawin juga,

sayang belum sampai setahun suami isteri itu lantas mulai cekcok dan tidak akur, pada

akhirnya harus berpisah.”

“Ai, sungguh drama yang menyedihkan,” bisik Leng-hong sambil menghela napas.

101

“Memang tragedi yang mengharukan. Setelah putus hubungan dengan orang tua, dan disiasiakan

pula oleh suaminya, setelah perpisahan tersebut Hui-nio merasa malu bercampur

marah, sejak itu ia bertekad menciptakan sejenis ilmu golok dan bersumpah hendak

mengalahkan Oh It-to. Setelah berlatih sepuluh tahunan, akhirnya berhasil juga ia ciptakan

serangkaian ilmu golok yang lihay, maka secara resmi ia tantang Oh It-to untuk menentukan

siapa yang lebih hebat!”

“Bagaimana akhirnya?” tanya Leng-hong dengan cepat.

Pang Goan tersenyum getir, katanya, “Suami-isteri itu secara beruntun telah melangsungkan

delapan kali pertandingan, setiap kali pertempuran berlangsung tak pernah lebih dari satu

gebrakan, sebab setiap kali Oh It-to melancarkan serangan, jurus serangannya selalu

terbendung, delapan kali pertarungan delapan kali pula ia menderita kekalahan, satu kalipun

tak pernah menang.”

“Oh, masa sampai begitu?”

“Sebetulnya kejadian ini tidak aneh, sebab pada dasarnya Ang-ih Hui-nio adalah orang yang

cerdas dan berbakat bagus, usianya masih muda, selama menjadi suami-isteri dia sudah apal

dengan rahasia ilmu golok Oh It-to, selain itu iapun memeras otak selama sepuluh tahun

untuk menciptakan ilmu golok saktinya, tentu saja ia dapat merebut posisi menguntungkan

dan mengatasi semua serangan Oh It-to, tapi dengan terjadinya peristiwa ini, meskipun Angih

Hui-nio berhasil melampiaskan rasa dendamnya, tapi nama besar Oh It-to pun hancur

berantakan, hitung-hitung kedua pihak sama-sama menderita kerugian besar.”

“Bagaimana kemudian?”

“Delapan kali pertarungan yang mereka lakukan hampir berlangsung sepuluh tahunan

lamanya, semenjak itu Oh It-to tak pernah muncul lagi di dunia persilatan, sedang usia Ang-ih

Hui-nio pun sudah empat puluh tahunan, kedua suami isteri itu tak pernah terjun lagi ke

dalam dunia persilatan.”

“Dapatkah mereka rukun kembali?”

Pang Goan menggeleng kepala, “Sekali suami isteri sudah bertengkar, sukar bagi mereka

untuk rujuk kembali.”

“Tapi apa hubungannya antara peristiwa itu dengan Thian-po-hu?” tanya Ho Leng-hong

sesudah termenung sebentar.

“Besar sekali hubungannya. Sebab dalam delapan kali pertarungan antara Oh It-to melawan

Ang-ih Hui-nio, setiap jurus serangan yang ia gunakan merupakan intisari dari ilmu golok Oh

It-to yang kemudian disebut sebagai Po-in-pat-toa-sik (delapan jurus sakti pembelah awan).”

“O!” Ho Leng-hong bersuara kaget, “ternyata Nyo-keh-sin-to (golok sakti keluarga Nyo)

berasal dari Oh It-to? Cuma . . . . . . .”

Setelah berhenti sejenak, seperti memahami akan sesuatu, katanya pula, “Kalau Po-in-pat-toasik

pernah dipatahkan oleh Ang-ih Hui-nio, jangan-jangan Hui Pek-ling telah berhasil

mendapatkan ilmu golok dari Ang-ih Hui-nio?”

“Itu sih tidak. Cuma konon ilmu golok sakti Ang-ih Hui-nio telah diwariskan pula dalam

bentuk sejilid kitab pusaka, justru untuk menemukan kitab pusaka ilmu golok itulah Nyo-sihengte

dari Thian-po-hu telah mengorbankan jiwanya di lembah Bi-kok (lembah sesat).”

“Bi-kok?” Leng-hong menegas.

“Benar. Lembah itu adalah lembah misterius yang amat berbahaya dan buas, konon di situlah

bersembunyi anak murid Ang-ih Hui-nio, semua murid-muridnya rata-rata memiliki ilmu

golok yang lihai, tapi tak seorang pun yang pernah meninggalkan lembak tersebut, orang luar

pun tak boleh masuk ke situ, barang siapa berani memasuki Bi-kok, jangan harap bisa muncul

lagi dalam keadaan hidup, entah bagaimana kejadiannya, berita itu akhirnya diketahui oleh

Nyo Ciau-thong, majikan tua dari gedung Thian-po-hu, sebelum wafat rahasia ini ia

beritahukan pula kepada putera sulungnya, Nyo Han-wi.”

102

“Maksud Nyo Ciau-thong waktu itu mungkin hanya ingin menjelaskan kepada anak cucunya

bahwa ilmu Poh-in-pat-toa-sik bukan kepandaian yang tiada tandingannya di dunia ini, cerita

tersebut diturun terurunkan dengan maksud sebagai peringatan saja. Siapa tahu Nyo Han-wi

yang masih muda dan berjiwa panas menganggap hal ini sebagai suatu bibit bencana terbesar

bagi Thian-po-hu, maka begitu ayahnya meninggal, segera ia serahkan semua urusan rumah

tangga Thian-po-hu kepada Ji-long (saudara kedua), ia sendiri lantas berangkat ke Bi-kok,

semenjak itu tiada kabar beritanya lagi dan mungkin jiwanya telah melayang....”

Ho Leng-hong menghela napas panjang.

Setelah berhenti sebentar, Pang Goan bercerita lebih lanjut, tujuh bersaudara keluarga Nyo

rata-rata adalah pemuda berwatak tinggi hati, ketika Lotoa pergi tak kembali, Ji-long

melakukan tindakan yang sama dan menyerahkan tanggung jawab Thian-po-hu kepada Samlong,

tapi iapun pergi tak kembali lagi, maka menyusul kemudian Su-long, Ngo-long.... satu

persatu pergi meninggalkan rumah untuk tidak kembali lagi, dalam beberapa tahun saja secara

beruntun Nyo-keh-hengte telah tewas semua, selama beberapa tahun belakangan itu seluruh

perhatian dan pikiran mereka hanya terpusatkan untuk melakukan misi terebut, merekapun tak

ingin diketahui orang luar, sehingga tidak memperdalam ilmu silatnya lagi, sebab itulah Laklong

Nyo Ci-kong harus menelan kekalahan getir di tangan Hui Pek-ling dalam pertemuan

Lo-hu-to-hwe tahun lalu.”

“Ya, maklumlah! Jika seorang yang belajar silat sudah mengalihkan perhatiannya ke masalah

lain, otomatis ilmu silatnya akan terbengkalai,” kata Ho Leng-hong sambil menghela napas,

“tapi persoalan ini merupakan rahasia keluarga Nyo, darimana Lotoako mengetahuinya?”

“Lak-long Nyo Ci-kong yang memberitahukan sendiri kepadaku. Sebelum berangkat ke

pertemuan Lo-hu-to-hwe, ia menyadari bahwa ilmu silatnya terbengkalai dan kemungkinan

besar bakal kalah, tapi ia bertekad tidak menyampaikan rahasia ini kepada Jit-long Nyo Cu-wi

agar keturunan keluarga Nyo tidak putus di tengah jalan, pada waktu itu dengan perasaan

tertekan ia berangkat untuk ikut serta dalam pertemuan, betul juga akhirnya ia dikalahkan

oleh Hui Pek-ling.

“Setelah kejadian itu, dengan membawa kitab pusaka ilmu golok dan golok mestika Yan-cipo-

to warisan leluhurnya ia datang sendiri ke Cian-sui-hu untuk melakukan lamaran, pada

kesempatan itu ia memberitahukan rahasia tersebut kepadaku di samping memohon agar

adikku dikawinkan dengan adiknya, selain itu iapun ingin menggunakan To-kiam-hap-pingtin

untuk membantu Thian-po-hu serta mendorong Jit-long agar berjuang untuk kemajuan.

Iapun bertekat merahasiakan soal Bi-kok agar jangan sampai membuat pikiran Jit-long

bercabang, bersamaan dengan itu juga minta kepada adiknya agar memusatkan pikiran untuk

berlatih silat dan menjunjung kembali nama baik keluarga setelah ia menderita kekalahan di

tangan orang. Dengan dasar tujuannya yang baik dan mulia itu, hatiku menjadi terharu

sehingga lamarannya pun kuterima.”

“Setelah mengatur perkawinan adiknya, apakah Lak-long Nyo Ci-kong juga berangkat ke

lembah Bi-kiok?” tanya Leng-hong.

“Benar!” Pang Goan mengangguk.

“Seharusnya Lotoako nasihati dia agar jangan menempuh jalan yang salah lagi!”

“Tentu saja kunasihati, tapi ia menyatakan hanya ingin mencari jejak kelima orang

saudaranya dan bukan lantaran ingin mencari ilmu silat peninggalan Ang-ih Hui-nio, kupikir

niat tersebut dapat dimengerti, tentunya tak bisa kualangi dia.”

“Lalu, apakah ia pernah memberitahukan kepada Lotoako di manakah letak Bi-kok tersebut?”

“Tidak!”

“Kenapa Lotoako tidak bertanya kepadanya?”

“Kenapa aku mesti bertanya? Apakah keenam nyawa keluarga Nyo masih belum cukup?”

Leng-hong berpikir sebentar, kemudian tanyanya, “Apakah adikmu Wan-kun juga

mengetahui akan rahasia ini?”

103

“Hanya tahu garis besarnya saja.”

“Wah, celakalah kalau begitu!” tutur Leng-hong sambil geleng kepala dan menghela napas.

“Kenapa celaka?”

“Kemungkinan besar nona Wan-kun telah memberitahukan soal lembah Bi-kok kepada Nyo

Cu-wi, jadi lenyapnya suami-isteri mereka kemungkinan besar karena berangkat ke Bi-kok.”

“Tapi mereka tidak tahu di mana letak Bi-kok, ke mana mereka akan mencarinya?”

“Meskipun Nyo Ciau-thong merahasiakan peristiwa lembah Bi-kok, tapi setelah keenam

orang saudaranya dalam waktu singkat beruntun pergi dan tak kembali lagi, tak mungkin Cuwi

sama sekali tidak mengetahui akan kejadian ini, mungkin saja ia hanya mendengar

sekadarnya, dan kemudian soal tersebut hanya disimpan dalam hati saja, kemudian setelah

dibuktikan dengan cerita dari adikmu, mana bisa dia tidak tergerak hatinya untuk menyelidiki

mati hidup saudara-saudaranya? Hal ini ditambah pula mereka sebagai suami-isteri muda,

rasa ingin tahunya masih sangat tebal, besar kemungkinan mereka meneruskan perbuatan

keenam saudaranya yang lain.”

Setelah mendengar uraian ini, air muka Pang Goan makin lama makin bertambah serius, lewat

sesaat kemudian baru berkata, “Kalau memang demikian jadinya, akulah yang paling

berdosa.”

“Satu-satunya kekeliruan yang dilakukan Lotoako adalah tidak seharusnya memberitahukan

kejadian yang sesungguhnya kepada adikmu Wan-kun.”

Pang Goan manggut-manggut lalu geleng kepala, sambil menghela napas ia berkata lagi,

“Sesungguhnya aku pun tahu, tetapi aku dan adikku bukan dilahirkan oleh ibu yang sama,

usia kampiun terpaut separuh lebih, sekalipun bersaudara, sedikit banyak hubungan batin

kami agak jauh, hal ini menyangkut kehidupan selanjutnya, mana boleh kurahasiakan

persoalan ini padanya? Hanya aku tak mengira kejadian ini akan disampaikannya pula kepada

Nyo Cu-wi.”

“Mereka adalah suami-isteri, sudah barang tentu persoalan ini akan dibicarakan, hanya saja . .

. .” tiba-tiba Leng-hong alihkan pembicaraan ke soal lain, katanya lagi, “Lotoako, percayakah

kau bahwa Ang-ih Hui-nio dan lembah Bi-kok adalah kejadian yang sesungguhnya?”

“Sebetulnya aku tidak percaya, tapi hal ini diceritakan sendiri oleh Nyo Ciau-thong, majikan

tua Thian-po-hu, lagipula lenyapnya tujuh bersaudara keluarga Nyo merupakan kenyataan,

hal ini membuat aku mau-tak-mau harus percaya..”

“Tidak mungkinkah kenyataan ini adalah sebagian dari perangkap yang sengaja diatur oleh

perkumpulan Ci-moay-hwe?”

“Tentu saja kemungkinannya selalu ada. Tapi munculnya Ci-moay-hwe baru terjadi beberapa

tahun belakangan ini, sebaliknya rahasia tentang Bi-kok sudah ada sejak belasan tahun

sebelum meninggalnya Nyo Ciau-thong, Cuma saja Nyo Ciau-thong tidak pernah

mengungkapnya.”

Leng-hong tertawa, “Siaute malah berharap lembah Bi-kok memang benar-benar ada, bila ada

kesempatan nanti ingin sekali kusaksikan sendiri kehebatan ilmu golok warisan Ang-ih Huinio

itu.”

Sementara pembicaraan berlangsung sampai di situ, Hui Beng-cu telah keluar setelah

membersihkan badan dan berganti pakaian perempuan, sambil tertawa ia bertanya, “Ilmu

golok apakah yang maha hebat? Bolehkah kuikut Nyo-toako untuk menyaksikannya

bersama?”

Meskipun hidung Hui Beng-cu agak pesek, tapi kekurangannya itu telah tertutup oleh

matanya yang besar dan jeli, dengan tubuh yang padat sebagai gadis-gadis wilayah selatan

umumnya, ia tampak montok dan memesona, malahan hidungnya yang agak pesek justru

menambah daya pikatnya.

104

Ho Leng-hong pernah bertemu dengan Pang Wan-kun gadungan, ia tahu Pang Wan-kun

cantik sekali, tapi bila dibandingkan dengan Hui Beng-cu, maka yang pertama kalah daya

pesonanya.

Kalau kecantikan Wan-kun termasuk perempuan yang lembut dan agung, maka Hui Beng-cu

mempunyai tipe yang lebih menggiurkan, di antara kegenitannya rada-rada bersifat

“berandalan”, hal ini membuat siapa pun ingin memandang beberapa kejap lebih banyak

kepadanya.

Bukan cuma Ho Leng-hong yang mempunyai perasaan demikian, bahkan hati Pang Goan juga

agak goyah, ia memandang beberapa kejap lebih banyak sebelum melengos ke arah lain.

Pada saat itu muncul seorang pelayan yang melaporkan, “Perjamuan telah siap!”

------------------------

Perjamuan untuk menyambut kedatangan Hui Beng-cu berlangsung hingga menjelang tengah

malam dan dengan hati puas.

Setelah kembali ke taman belakang, Leng-hong bertanya, “Lotoako, benarkah kita akan

mengiringi nona Hui pulang ke Leng-lam?”

“Tentu saja, sekarang Hui Pek-ling sedang tertimpa musibah, perempuan asing itu jelas pula

anggota Ci-moay-hwe, asal perempuan itu berhasil kita bekuk, kemungkinan besar latar

belakang perkumpulan Ci-moay-hwe bisa kita singkap, kenapa tidak pergi?”

“Tapi Siaute masih merasa keheranan, Samkongcu berada di sekitar sini, kenapa ia tidak

tertarik oleh To-kiam-hap-ping-tin dan sampai sekarang belum lagi melakukan gerakan apaapa?”

“Kupikir, mungkin juga mereka sudah meninggalkan wilayah Kwan-lok,” kata Pang Goan

dengan kening berkerut.

“Tidak mungkin, untuk mendapatkan Yan-ci-po-to dan To-kiam-hap-ping-tin-hoat entah

sudah berapa banyak pikiran dan tenaga yang telah dicurahkan, tidak mungkin mereka

lepaskan dengan begitu saja.”

“Mungkin karena penjagaan dalam gedung terlalu ketat sehingga mereka tak berani bergerak

secara gegabah.”

“Itupun tak mungkin, semakin ketat penjagaan kita semakin menunjukkan betapa pentingnya

To-kiam-hap-ping-tin-hoat tersebut, hanya beberapa orang Busu kita masa berada dalam

pandangan mereka?”

“Wah, kalau begitu aku jadi tidak mengerti, jangan-jangan mereka mempunyai rencana lain?”

“Tepat. Ketidak bergerak mereka membuktikan mereka mempunyai rencana lain.”

Tiba-tiba hati Pang Goan tergerak, bisiknya, “Apakah kau mencurigai asal-usul Hui Bengcu?”

Ho Leng-hong tidak menjawab, tapi berdiri, katanya kemudian, “Lotoako, lebih baik kita

berlatih dalam taman!”

“Baik!” Pang Goan setuju.

Dengan membawa senjata kedua orang itu menuju ke tanah lapang dalam taman, pertamatama

Leng-hong mengontrol dulu penjagaan di sekitar taman, setelah terbukti keadaan aman

tenang, ia baru mulai berlatih.

Yang dimaksud sebagai To-kiam-hap-ping-tin-hoat, sesuai namanya yaitu permainan

kombinasi ilmu golok dan pedang, tapi berhubung dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe hanya

diizinkan menggunakan golok dan tak boleh memakai pedang, lebih-lebih tak diizinkan dua

orang maju bersama, maka oleh Nyo Ci-kong, kitab pusaka Nyo-keh-sin-to tersebut

diserahkan kepada Pang Goan agar setelah memahami kunci ilmu golok terebut, kemudian

ditambah dengan Keng-hong-kiam-hoat dari Cian-sui-hu, kedua ilmu dilebur menjadi satu

105

dan menciptakan serangkaian jurus serangan baru yang bisa menggunakan golok dan pedang

sekaligus.

Dia berharap dengan bekal ilmu gabungan golok dan pedang ini, gelar Thian-he-te-it-to dapat

direbut kembali oleh Thian-po-hu.

Tampaknya golok dan pedang itu hampir sama bentuknya, tapi penggunaannya jauh berbeda.

Pedang mengutamakan kelincahan, sedang golok mengutamakan kemantapan, terutama Poin-

pat-toa-sik dari Thian-po-hu terlebih keras dan mantap, ganasnya juga cukup ganas, Cuma

kurang lincah dan gesit.

Setelah bersusah payah selama dua tahun baru Pang Goan berhasil melebur kedelapan jurus

ilmu pedang Keng-hong-kiam-hoatnya yang lincah dan gesit ke dalam gerakan Po-in-pat-toasik

sehingga dapat mengurangi kekerasan dan keganasannya, juga menambah kegesitan dan

kelincahannya.

Atau dengan perkataan lain, diambil kelebihan yang terdapat pada ilmu andalan Cian-sui-hu

dan Thian-po-hu, ia membuat permainan golok mengandung gerakan pedang, hal ini akan

sangat bermanfaat untuk menghadapi Tay-yang-sin-to dari Hui Pek-ling.

Oleh karena itulah selama berlatih Pang Goan selalu menjadi lawan umpan latihan, mereka

sama-sama memegang pedang di tangan kiri dan golok di tangan kanan.

Setiap jurus selesai dilatih, golok dan pedang segera bertukar, dengan begitu penggunaan

golok sebagai pedang dapat dilakukan setiap saat dan tidak canggung lagi antara golok dan

pedang.

Ho Leng-hong belum pernah mempelajari Po-in-pat-toa-sik, tapi dia masih ingat setiap gerak

jurus Keng-hong-kiam-hoat, maka Pang Goan harus mengajarkan dulu Nyo-keh-sin-to

kepadanya sebelum mengajar To-kiam-hap-ping-tin tersebut.

Untung Ho Leng-hong berbakat bagus dan otak yang encer, setiap jurus serangan yang pernah

dilihatnya segera apal di luar kepala, maka cukup bagi Pang Goan untuk bermain satu kali,

setiap jurus serangan segera diingatnya, tinggal soal latihan dan kesempurnaan belaka.

Cuma latihan mereka malam ini tentu saja bukan To-kiam-hap-ping-tin sesungguhnya,

mereka memang bergebrak ke sana kemari dengan gesitnya, hal ini hanya sengaja supaya

dilihat orang dan menunggu sang ikan menyambar umpan.

Suasana dalam taman amat sepi, kecuali Pang Goan dan Leng-hong hampir tidak terlihat

orang ketiga.

Tapi, tiba-tiba Leng-hong merasa ada sepasang mata yang jeli sedang mengawasinya di balik

kegelapan sana.

Letak tanah rumput di mana mereka berlatih di depan semak bunga sebelah utara Kiok-hiangsia.

Tempat itulah untuk pertama kalinya diketahui oleh Ho Leng-hong sebagai tempat pertemuan

rahasia kedua orang laki-perempuan itu.

Sembari melancarkan serangan, Ho Leng-hong memberi tanda kedipan mata kepada Pang

Goan sambil berbisik, “Perhatikan sebelah utara Kiok-hiang-sia, agaknya sang ikan sudah

mencium harum umpan!”

Sambil putar badan dan melancarkan suatu tusukan, bisik Pang Goan, “Betul, dugaanmu

memang benar . . . . Hei . . . . rupanya dia . . . . .”

“Jangan bersuara, pelahan kita bergeser ke sana, kita cegat jalan larinya dari kanan-kiri.”

Pang Goan mempergencar serangannya, maka cahaya tajam segera berhamburan mengurung

tubuh Ho Leng-hong dengan rapat.

Sambil bertarung pelahan mereka bergeser sedikit demi sedikit, akhirnya mereka semakin

dekat Kiok-hiang-sia.

“Lotoako, perhatikan seruanku, kau ke barat dan aku ke timur, kita adang jalan larinya . . . .”

bisik Leng-hong, kemudian bentaknya mendadak, “Siapa di situ? Berhenti!”

106

Berbareng dengan suara bentakannya, cahaya pedang dan sinar golok segera berpencar, kedua

orang sama melayang ke arah yang berbeda, mengitari pepohonan sana.

Mata jeli itu tidak bergerak, malah pemiliknya pelahan berjalan keluar dari balik pepohonan

sambil tertawa.

“Akulah yang berada di sini!” katanya, “hebat betul semangat Toako berdua, sudah jauh

malam, bukannya pergi beristirahat, sebaliknya malah berlatih kungfu di bawah sinar bulan.

“Nona Hui, bukannya beristirahat di kamar tamu, untuk apa datang ke taman sini?” tegur

Leng-hong.

“Aku mempunyai penyakit yang aneh, yakni bila baru pertama kali tiba di suatu tempat asing,

aku menjadi tak dapat tidur,” jawab Hui Beng-cu sambil tertawa, “sewaktu jalan-jalan tadi,

tanpa kusadari telah tiba di taman ini.”

“Lalu kenapa kau sembunyi di balik pepohonan dan mengintip kami berlatih?” tanya Pang

Goan.

“Tidak, aku tidak bersembunyi, lantaran kalian sedang berlatih dengan sungguh-sungguh,

maka aku tidak menyapa kalian karena kuatir akan mengganggu konsentrasi Toako berdua.”

“Tapi nona kan tahu, mencuri lihat ilmu silat orang lain adalah pantangan besar bagi umat

persilatan,” kata Leng-hong.

Hui Beng-cu tersenyum, “Aku tidak bermaksud mencuri lihat ilmu silat orang, hanya secara

kebetulan saja kulewat di sini. Lagipula sore tadi kan Toako berdua juga telah menguji Tayyang-

sin-to keluarga ku? Apa salahnya kalau akupun menyaksikan ilmu silat Toako berdua?”

Leng-hong dan Pang Goan hanya saling pandang belaka, mereka tak sanggup membantah

lagi.

Sambil tertawa kembali Hui Beng-cu berkata, “Setelah menyaksikan ilmu golok dan pedang

Toako berdua, aku benar-benar merasa kagum sekali! Kepandaian Toako berdua memang

sangat hebat, tampaknya Hiang-in-hu kami pasti akan menderita kalah dalam pertemuan Lohu-

to-hwe yang akan datang!”

“Aku kuatir bukan Cuma Hiang-in-hu saja yang bakal kalah, melainkan Bu-lim-sam-hu akan

menderita nasib yang sama.”

“Hei, kalau begitu siapa yang bakal menang?”

“Tentu saja Ci-moay-hwe!” kata Leng-hong.

“Sungguhkah mereka selihay itu?” tanya Beng-cu tercengang.

“Sebenarnya mereka tidak terlalu lihay, tapi setelah mereka mendapatkan ilmu sakti dari

Leng-lam, dan sekarang berhasil pula menyadap ilmu silat Cian-sui-hu dan Thian-po-hu,

sudah barang tentu lebih mudah bagi mereka untuk mencari cara mematahkannya.”

Ia sengaja menandaskan kata “sekarang” dengan nada berat dengan maksud untuk memancing

reaksi Hui Beng-cu.

Ternyata Hui Beng-cu tidak menunjukkan rasa kikuk atau gugup, malah sambil mengangguk

katanya, “Perkataan Nyo-toako memang benar, setelah ilmu silat Bu-lim-sam-hu disadap

semua oleh mereka, peristiwa ini memang akan menyulitkan posisi kita, cuma, asal kita mau

bekerja sama dan menciptakan jurus serangan baru, rasanya masih bisa kita hadapi kelihayan

mereka, entah bagaimana pendapat Toako berdua?”

Sekali lagi Leng-hong dan Pang Goan tak sanggup memberi jawaban.

“Padahal kita sama-sama umat persilatan,” kata Hui Beng-cu lebih lanjut, “sudah sewajarnya

kalau saling tolong menolong, saling bantu-membantu agar ilmu silat lebih maju dan

cemerlang, bila masing-masing orang menyimpan ilmunya sendiri seperti menyimpan azimat

dan enggan menurunkan kepandaian leluhurnya kepada masyarakat, lama kelamaan dunia

persilatan pasti akan bertambah lemah, pada akhirnya ilmu silat yang sakti itu akan terus

menyusut turun temurun dan akan menjadi ilmu ‘terakhir’ pula.”

Perkataan itu cukup keras dan tegas, hal ini membuat perasaan Ho Leng-hong dan Pang Goan

tergetar juga.

107

Pang Goan mendongakkan kepalanya sambil menarik napas panjang, kemudian gumamnya,

“Tak kusangka, nona yang masih muda ternyata mempunyai jiwa yang besar, sungguh sukar

dicari bandingannya.”

“Sayang kebanyakan orang persilatan adalah manusia rakus yang terlalu mementingkan diri

sendiri tidak seperti nona yang berjiwa besar dan dapat berpandangan jauh,” sambung Lenghong.

Hui Beng-cu hanya tersenyum, lalu berkata lagi, “Kata-kata semacam itu memang sulit

diterima orang lain, tapi setelah Toako berdua pergi ke Leng-lam dan menyaksikan keadaan

di rumahku, kalian akan percaya bahwa perkataanku bukan cuma khayalan belaka, tapi timbul

dari fakta yang sudah ada.”

“Baik, persoalan ini tak bisa ditunda lagi, kita putuskan berangkat besok pagi,” kata Pang

Goan.

Leng-hong tidak menyatakan setuju, juga tidak menolak, dilihat dari perubahan wajahnya,

agaknya iapun kehilangan rasa percaya pada diri sendiri setelah gagalnya rencana “menunggu

kelinci masuk perangkap”.

Dari wilayah Kwan-lok ke Leng-lam ada ribuan li jauhnya, untuk menempuh perjalanan

sejauh ini sebetulnya mereka harus berjalan secepatnya, tapi ketiga laki perempuan ini justru

berjalan dengan sangat lambat.

Sepanjang jalan Ho Leng-hong dan Pang Goan makan minum dan berpesiar dengan

santainya, seakan-akan sedang menunggu sesuatu.

Hui Beng-cu tidak nampak gelisah, malah sebaliknya kelihatan gembira, ia selalu menemani

kedua Toako itu berpesiar dan menikmati keindahan alam, gelak tertawa yang riang selalu

menyemarakkan suasana, seakan-akan iapun sudah lupa pada keadaan di Hiang-in-hu, di

rumahnya sendiri.

Setengah bulan setelah meninggalkan Kiu-ci-shia, mereka baru tiba di sekitar Siang-hoan.

“Sepanjang perjalanan ini kita selalu menunggang kuda dan naik kereta, lama-lama menjadi

bosan juga, bagaimana kalau perjalanan kita selanjutnya kita ganti naik kapal saja? Lebih

cepat dan lebih nyaman rasanya,” usul Leng-hong.

Sebelum Pang Goan menjawab, Hui Beng-cu segera berseru lebih dulu, “Bagus sekali, kita

boleh menyewa kapal sampai Liang-han, sekalian pesiar di telaga Tong-teng, dari situ dengan

menunggang kuda kita melintasi Ngo-leng-san, perjalanan ini tentu lebih cepat.”

“Orang bilang: ‘Kapal di selatan dan kuda di utara’. Nona Hui sebagai gadis yang dibesarkan

di wilayah selatan, apakah tidak merasa bosan naik kapal?” tanya Leng-hong.

“Mana bisa bosan!” sahut Beng-cu dengan tertawa, “aku paling suka naik kapal, tapi dulu aku

hanya naik kapal laut, kapal sungai belum pernah kurasakan.”

Pang Goan manggut-manggut, “Kalau begitu kita putuskan untuk menyewa kapal setibanya di

Huan-shia nanti.”

Hari itu juga mereka tiba di Huan-shia. Setelah menginap semalam, tengah hari keesokannya

dengan meninggalkan Pang Goan yang beristirahat seorang diri di hotel, Ho Leng-hong dan

Hui Beng-cu berangkat ke dermaga untuk menyewa kapal.

Sebetulnya soal menyewa kapal bisa diselesaikan oleh pelayan penginapan, tapi Hui Beng-cu

ingin memilih kapal yang nyaman sekalian menikmati pemandangan di dermaga, maka Lenghong

terpaksa harus menemaninya ke dermaga.

Setibanya di dermaga, tampaklah layar kapal berjajar di sana sini, tapi sebagian besar adalah

kapal layar yang memuat bahan obat-obatan dan sekalian membawa penumpang, jarang sekali

ada kapal yang khusus hanya mengangkut penumpang.

Terpaksa mereka menelusuri sungai tepi untuk mencari kapal, tapi beberapa buah kapal yang

dikunjunginya semua memberi jawaban yang sama, “Kebanyakan perahu di kota Huan-shia

108

adalah perahu pengangkut barang, untuk menyewa perahu penumpang harus menyeberang ke

kota Siang-yang!”

“Baiklah,” kata Leng-hong kemudian, “apa salahnya kita mengunjungi kota Siang-yang!”

“Nyo-toako, coba lihat! Bukankah di sana terdapat sebuah kapal penumpang?” tiba-tiba Hui

Beng-cu menuding ke arah sungai.

Mengikuti arah yang ditunjuk, betul juga Leng-hong lihat ada sebuah perahu penumpang

dengan layar rangkap yang indah membuang sauh di tengah sungai, perahu itu bercat masih

baru, ruang duduknya bersih dan luas, ketika itu sedang membuang sauh kurang lebih sepuluh

tombak di tengah sungai.

Leng-hong segera menggapai seorang tukang sampan, sambil menuding ke arah kapal layar

itu ia bertanya, “Lotoa, tahukah kau siapa pemilik perahu itu?”

Tukang perahu itu mengamati perahu itu sejenak, kemudian menggeleng kepala, jawabnya,

“Entahlah, dulu rasanya belum pernah melihat perahu ini, di atas perahu juga tidak terdapat

bendera perkumpulan atau organisasi tertentu, mungkin saja perahu pribadi orang kaya.”

“Peduli perahu pembesar atau perahu orang kaya, apa salahnya kalau kita tanya dia, siapa

tahu perahunya kebetulan kosong, dan dia bersedia memuat kita?”

Ho Leng-hong tertawa dan tidak omong lagi, dengan membimbing Hui Beng-cu mereka naik

ke sampan kecil itu.

Tiba di dekat perahu penumpang itu terasa suasana amat hening, sesosok bayangan pun tak

kelihatan.

Sambil melompat ke atas geladak, Hui Beng-cu berteriak, “Hei, ada orangkah di sini?”

Setelah berteriak beberapa kali, dari buritan menongol keluar sebuah kepala gundul, sahutnya,

“Mau apa kalian? Cari siapa?”

Orang itu adalah seorang kakek kurus berusia enam-tujuh puluh tahunan, mukanya penuh

berkeriput, kepalanya botak dan tak berambut, mungkin ia lagi tidur di buritan, maka

sikapnya agak uring-uringan.

“Maaf jika kami telah mengganggu,” cepat Leng-hong memberi hormat, “kami ingin

menyewa perahu, ingin kami tanya apakah perahu ini boleh disewa atau tidak?”

“Kau bilang apa?” tanya si kakek sambil miringkan kepalanya.

Terpaksa Leng-hong mengulangi lagi kata-katanya.

Kali ini kakek itu dapat mendengar dengan jelas, ia mengulapkan tangan berulang kali,

“Pergi! Pergi! Perahu ini bukan perahu penumpang yang disewakan, perahu ini adalah perahu

pribadi, lebih baik menyewa perahu di tempat lain!”

“Apa salahnya dengan perahu pribadi? Kami bersedia membayar tinggi, satu jalan pula,

kenapa tidak bisa?” kata Hui Beng-cu.

Sambil memicingkan matanya kakek itu memperhatikan mereka sekejap, lalu bertanya,

“Apakah kalian suami-isteri?”

Merah wajah Hui Beng-cu, cepat-cepat sangkalnya, “O, bukan! Aku she Hui dan dia adalah

Nyo-toako, Nyo-tayhiap pemilik Thian-po-hu di Kiu-ki-shia.”

“Aku tidak kenal Nyo atau Nya, aku cuma ingin tahu kalian mau ke mana? Dan berapa berani

bayar?”

“Kami ingin pesiar ke Tong-ting-ou, kemudian berganti kuda ke Leng-lam, jadi hanya satu

jalan, terserah berapa besar ongkos yang kau minta.”

Kakek itu segera menghitung sambil bergumam, “Sejalan ke Tong-ting berarti tidak akan

kembali ke sini . . . dari sini menuju Ji-han mengikuti arah arus, waktu berbelok ke Tong-ting

harus berlayar melawan arus . . . waktu berangkat membutuhkan lima hari, waktu pulang

tujuh sampai delapan hari . . . ”

Tiba-tiba ia tanya lagi, “Apakah hanya kalian berdua? Boleh tambah penumpang tidak?

Sepanjang jalan akan mendarat atau tidak?”

109

“Kita berjumlah tiga orang dan langsung menuju ke Tong-ting, dalam perjalanan pun tak akan

mendarat. Tentu saja kami sewa seluruh perahu ini jadi tak boleh menambah penumpang

lagi.”

Kembali kakek itu bergumam, “Kalau begitu, kuhitung seratus tahil perak saja.”

“Ha, masa begitu mahal?” teriak Hui Beng-cu.

“Kalau merasa mahal lebih baik jangan menyewa,” kata kakek itu dengan wajah cemberut,

“terus terang kuberitahu kepada kalian, perahu ini adalah perahu pribadi Paduka wali kota

Keng-ciu, sebetulnya aku tak boleh menerima permintaan kalian, tapi berhubung majikan

kami sedang menemani nyonya berziarah ke Siong-san dan setengah bulan kemudian baru

pulang, daripada waktu senggang terbuang begitu saja, kuputuskan untuk mengantar kalian

dan mencari sedikit tambahan penghasilan.”

“Sekalipun begitu jangan seratus tahil perak, ah!” kata Beng-cu.

“Masa seratus tahil perak kauanggap mahal? Mari kuperinci untukmu, kelasi berikut aku ada

empat orang, untuk melakukan dagang gelap yang menyerempet bahaya ini kan pantas kalau

setiap orang mencari untung dua puluh tahil perak? Nah, dua kali empat adalah delapan

berarti sudah termakan delapan puluh tahil perak, sisanya yang dua puluh tahil perak adalah

makanan dan minuman untuk kalian bertiga, begini masa kaubilang mahal?”

“Ya, tidak mahal, kami akan sewa perahu ini,” kata Leng-hong cepat. Diambilnya selembar

daun emas dan diperlihatkan kepada kakek itu, lalu katanya lagi, “Benda ini adalah daun

emas, seberat sepuluh tahil, nilainya sama seratus tahil perak. Nah, orang tua, kapan kita akan

berangkat?”

Kakek itu memandang daun emas itu sekejap, lalu memandang pula wajah Leng-hong, tibatiba

ia tertawa, “Sekaligus kau bayar sewa perahu ini, apakah tidak takut kabur setelah

menerima uang?”

“O, tidak menjadi soal, kupercaya penuh kepadamu.”

“Bagus sekali,” kata kakek itu sambil menerima daun emas tersebut, “kita putuskan begini

saja, setelah menambah bahan makanan dan air tawa tengah hari nanti, kita segera berangkat.

Jadi tengah hari nanti kalian boleh naik perahu.”

“Bolehkah kutahu kau orang tua she apa? Dan siapa namamu?”

“Aku she Kim, panggil saja Kim-lotoa kepadaku!”

Ho Leng-hong segera memberi hormat dan bersama Hui Beng-cu turun ke sampan.

Di tengah jalan, Hui Beng-cu tiada hentinya berpaling ke arah perahu itu katanya, “Kulihat

kakek she Kim itu bukan orang baik-baik!”

“Oya?! Kenapa?”

“Sikapnya tidak sopan, waktu bicara mau menangnya sendiri, sedikitpun tidak mirip seorang

pembantu orang kaya yang mendapat pendidikan.”

Leng-hong tertawa, “Justru lantaran dia bekerja pada orang kaya, maka sikapnya kurang ajar

dan tak tahu sopan, sewaktu berbicara pun hanya mau menangnya sendiri.”

“Nyo-toako, bagaimanapun juga aku tetap merasa tidak seharusnya kau bayar dulu ongkos

perahu itu, andaikata dia benar-benar seorang penipu, setelah terima uang lantas kabur,

bukankah kita akan membuang uang percuma?”

“Jangan kuatir, aku bertaruh ia tak akan kabur, sekalipun diusir dengan pecut pun dia takkan

pergi!” jawab Leng-hong sambil tertawa.

-----------------------------

Tengah hari itu, mereka bertiga pun naik perahu. Benar juga, Kim-lotoa tidak kabur, bahan

makanan dan air tawar di atas perahu pun telah ditambah, maka begitu Leng-hong bertiga

sudah naik, mereka segera berangkat.

110

Tiga orang kelasi di atas perahu itu rata-rata adalah pemuda berusia dua puluh tahunan,

semuanya bertubuh kekar, berotot dan cekatan.

Leng-hong mempersilakan Hui Beng-cu berdiam seorang diri di ruang tengah, sedang ia dan

Pang Goan berdiam di ruang lain.

Kim-lotoa adalah juru mudi, ia tinggal di ruang kemudi, sedang tiga orang kelasinya tinggal

di ruang depan, seorang mengurusi dapur, sedang dua lagi bertugas di bagian layar.

Begitulah, dari kota Huan-shia menuju ke selatan perahu berlayar dengan lancar karena

mengikuti arus, hari itu juga mereka telah melewati kota Cwan-shia dan malamnya berlabuh

di teluk, keesokan harinya mereka tiba di kota Tin-kang, jaraknya dengan kota Ji-han tinggal

sehari perjalanan air.

Selama dua hari ini suasana di atas perahu tetap tenang, tapi Leng-hong telah menemukan ada

sebuah perahu yang selalu mengikuti di belakang perahu mereka.

Perahu itu adalah sebuah perahu barang yang penuh dengan muatan bahan obat serta bahan

lainnya, mulai dari kota Huan-shia, perahu itu membuntuti terus dengan ketatnya, meskipun

kadang-kadang kala melewati perahu mereka, tapi mereka lantas menunggu lagi di depan

sana, setelah perahu penumpang itu lewat mereka baru berlayar lagi.

Di atas perahu berang itu hanya ada lima-enam orang kelasi, tidak tampak penumpang lain

dan tidak dijumpai pula orang-orang yang menyolok.

Diam-diam Ho Leng-hong memberitahukan hal ini kepada Pang Goan.

Mendengar laporan itu, Pang Goan tertawa dingin, katanya, “Sejak pertama kali tadi sudah

kuperhatikan, selain itu Kim-lotoa dan ketiga orang kelasinya juga adalah jago-jago silat,

tampaknya kungfu mereka tidak lemah.”

“Lantas mengapa mereka belum juga turun tangan?” ujar Leng-hong.

“Siapa yang tahu?” Pang Goan angkat bahu, “mungkin mereka sedang menunggu bala

bantuan, pokoknya cepat atau lambat mereka pasti akan bergerak.”

“Menurut dugaanku mereka pasti lantaran takut pada seseorang, jadi sampai sekarang belum

juga turun tangan,” kata Leng-hong sambil tertawa.

“Takut kepada siapa?”

“Kau, Lotoako!”

“Kenapa mereka takut padaku?” tanya Pang Goan tertegun.

“Tujuan mereka yang terutama adalah ingin mengetahui ilmu To-kiam-hap-ping-tin, sekarang

kau telah mengajarkan padaku, maka asal aku berhasil ditangkap dan dipaksa untuk bicara,

urusan tetap akan beres, untuk menghadapiku adalah urusan gampang, tapi berhubung ada

Lotoako, maka tak berani turun tangan.”

“Kalau begitu aku mesti menyingkir dulu?”

“Benar!” Leng-hong mengangguk, “lebih baik Lotoako bermain-main di darat, sementara

Siaute tinggal di perahu . . . . . ini namanya memberi kebebasan kepada orang.”

Pang Goan tertawa terbahak-bahak, ia lantas beranjak dan menuju ke geladak.

Suasana di luar gelap gulita, hanya kerlipan api di balik pintu ruangan, itulah lelatu api dari

pada Huncwe (pipa tembakau) yang sedang dihisap Kim-lotoa.

Pelahan Pang Goan menghampirinya sambil menyapa, “Lotoa, apakah di atas perahu tersedia

arak?”

“Tidak ada!” jawab Kim-lotoa dengan ketus dan tanpa mendongakkan kepalanya.

“Bolehkah aku meminjam seorang anak buahmu untuk membelinya sebentar di daratan?”

“Maaf, para kelasi sudah bekerja keras seharian penuh, besok pagi-pagi harus bekerja lagi,

kini sudah tidur semua.”

“Kalau begitu . . . . . .” Pang Goan berpikir sebentar, lalu katanya, “Terpaksa aku harus pergi

membeli sendiri, tolong sewakan sampan tentunya boleh bukan, Lotoa?”

“Tempat ini bukan dermaga besar, mana ada sampan yang bisa disewa?” kata Kim-lotoa, lalu

sambil menuding ke belakang buritan, katanya lagi, “Tuh, di sana ada sampan yang tersedia di

111

perahu kami, kalau kau bisa mendayung sendiri, aku sih dengan senang hati akan

membantumu untuk menurunkannya ke air.”

“Mendayung perahu sih aku bisa, tak perlu bantuan Lotoa lagi, aku bisa turun tangan sendiri.”

Agaknya ia memang sengaja hendak pamer kekuatan, setelah menghampiri sampan itu

dengan langkah lebar, dicekalnya pinggiran sampan dengan kedua tangan, begitu hawa

murninya dikerahkan, sampan kecil yang cuma muat tiga-empat orang ini segera terangkat

dengan enteng.

Kim-lotoa tidak menunjukkan wajah kaget atau ketakutan, malah sambil tertawa katanya,

“Wah, hebat juga tenagamu.”

Pang Goan mendengus, “Hei, Kim-lotoa, sanggupkah kau lakukan cara yang sama?”

Kim-lotoa menggeleng kepala, “Aku tak lebih cuma seorang juru mudi, bukan kuli panggul di

dermaga yang biasa mengangkuti karung berat, apa gunanya memiliki tenaga sebesar itu?”

Mendongkol Pang Goan karena dipersamakan dengan kuli, segera dilemparkan sampan itu ke

permukaan air.

“Plung!” sampan itu terjatuh di air kurang lebih sepuluh tombak dari perahu tersebut.

Sekali lompat Pang Goan melayang ke sana dan turun di atas sampan itu, tanpa menggunakan

dayung maupun gala, ia menggerakkan kedua lengan bajunya secara bergantian, di antara

deru angin yang keras, bagaikan anak panah terlepas dari busurnya sampan itu meluncur ke

arah daratan.

Kim-lotoa masih saja berjongkok di geladak sambil mengisap Huncwe, tampaknya ia sama

sekali tidak tertarik oleh demonstrasi kekuatan Pang Goan itu.

Lelatu api pada pipa tembakaunya kembali berkedip tiga kali panjang dan tiga kali pendek.

Perahu barang yang buang sauh pada setengah li di depan perahu penumpang, di buritan

perahu itu juga ada seorang sedang mengisap Huncwe sehingga kerlipan apinya juga tiga kali

panjang dan tiga kali pendek.

Tak lama kemudian, sebuah sampan kecil tanpa menimbulkan suara mendekati perahu

penumpang itu.

Di atas sampan berdiri lima orang perempuan, mereka adalah Liu A-ih beserta empat orang

perempuan cebol yang menyandang sepasang samurai panjang dan pendek.

Dengan langkah cepat Kim-lotoa menyambut kedatangan mereka, kemudian bisiknya, “Si

monyet dua kuda sedang naik ke darat, Hui Beng-cu ada di ruang tengah, sedang ‘sasaran’

ada di ruang nomor dua sebelah kiri.”

“Ehm, tahu,” Liu A-ih manggut-manggut, “kau tetap berjaga di luar perahu, kami bisa

bereskan sendiri persoalan ini.”

Sambil memberi tanda, ia membawa keempat orang perempuan cebol berbaju hitam itu

menyerbu ke dalam kabin.

Agaknya ia apal sekali letak ruang di atas perahu tersebut, tanpa membuang banyak waktu

ruang kedua di sebelah kiri telah ditemukan, ia lantas mengetuk pintu.

“Pintu tidak dikunci, silakan masuk sendiri!” sahut Leng-hong dari dalam

Sambil mendorong pintu Liu A-ih mendadak menyerbu ke dalam, menyusul keempat orang

cebol berbaju hitam itupun ikut menyerbu ke dalam ruangan.

Suasana dalam ruangan terang benderang, Ho Leng-hong sedang duduk menghadap ke pintu,

ia duduk di atas sebuah kursi, di atas lututnya tergeletak sebilah golok dan sebilah pedang.

Golok dan pedang diletakkan menjadi satu hanya gagangnya menghadap ke arah yang

berlawanan, gagang golok menghadap ke kanan dan gagang pedang menghadap ke kiri.

Dengan mengulum senyum, Ho Leng-hong manggut-manggut sambil berkata, “Sungguh tak

kusangka begini cepat Liu A-ih akan sampai di sini. Maaf kalau aku tak menyambut

kedatangan kalian, silakan duduk!”

“Jadi kau sudah tahu kami akan datang?” tanya A-ih.

112

“Benar!” Leng-hong tertawa, “Bukan cuma tahu kalian akan datang, bahkan telah kuduga

pula kalian enggan berjumpa dengan Pang-toako, maka kuminta dia naik ke daratan. Sekarang

di sini sudah tak ada orang lain lagi, kita boleh bercakap-cakap dengan tenang dan santai.”

“Apa yang ingin kaubicarakan?” tanya A-ih.

“Apa yang kalian inginkan, itu pula yang kita bicarakan!”

Biji mata Liu A-ih berputar-putar, setelah memeriksa sekejap sekeliling ruangan, ia baru

berkata, “Baiklah! Setelah kau berlapang dada, kami pun tak akan berkecil hati, mari kita

bicarakan persoalan ini dengan sebaik-baiknya.”

“Silakan duduk!” kata Leng-hong.

Liu A-ih maju dua langkah dan duduk di sebuah bangku panjang dekat pintu, sedangkan

keempat orang perempuan cebol berbaju hitam itu berdiri berjajar di depan pintu.

“Bila keempat Taci itu tak mau duduk juga tak menjadi soal, tapi lebih baik pintunya ditutup

saja agar orang lain tidak mengganggu,” kata Leng-hong dengan tertawa.

Keempat perempuan cebol berbaju hitam itu melirik sekejap ke arah Liu A-ih, ketika

dilihatnya orang mengangguk kepala, pintu kamar segera ditutup rapat.

Setelah pintu tertutup, Ho Leng-hong baru mengembus napas lega, katanya, “Baiklah,

sekarang kita boleh mulai bicara secara resmi, tapi sebelum pembicaraan berlangsung,

kuharap kedua pihak harus mempunyai niat yang bersungguh-sungguh, siapa pun jangan coba

main kotor dan siapa pun tak boleh memanasi hati lawan, dengan demikian kita baru dapat

menyelesaikan urusan secara adil, entah bagaimana menurut pendata Liu A-ih?”

“Aku setuju!”

“Baiklah, kalau setuju, maka kitapun tak usah membicarakan soal-soal lain lagi, langsung saja

menyinggung ke masalah pokok. Liu A-ih yang akan bicara dulu atau aku lebih dulu?”

“Kau saja yang berbicara lebih dulu?”

Leng-hong manggut-manggut, setelah berdehem iapun mulai berkata, “Pertama-tama hendak

kuterangkan dulu kedudukanku sekarang, aku bukan anggota dari Bu-lim-sam-hu, juga tak

ingin mencari nama dalam pertemuan Lo-hu-to-hwe yang akan datang, lebih-lebih lagi tak

ingin terlibat dalam pertikaian ataupun perselisihan antar aliran atau golongan, terjunku ke

dalam air keruh ini adalah karena terpaksa, boleh juga dibilang pihak Ci-moay-hwe yang

memaksa aku terjun ke liang api ini, kurasa dalam hal ini Liu A-ih tak akan menyangkal

bukan?”

Liu A-ih tidak menyangkal pun tidak mengakui, hanya katanya dengan ketus, “Katakan saja

apa yang ingin kaukatakan, jangan bertanya melulu kepadaku.”

“Baiklah setelah Ci-moay-hwe mengubah diriku menjadi Nyo Cu-wi, terpaksa aku harus

menyesuaikan keadaan dan menganggap diriku sebagai Nyo Cu-wi dan berdiri di pihak

Thian-po-hu, maka saat ini akupun harus tampil dalam kedudukan sebagai majikan Thian-pohu

untuk berunding dengan kalian, tentang soal ini akupun minta Liu A-ih suka

memperhatikan.”

Liu A-ih kembali mendengus, rasa memandang hina terlintas pada wajahnya, tapi ia tidak

berkata apa-apa.

Maka Leng-hong berkata lebih lanjut, “Sesungguhnya pertemuan Lo-hu-to-hwe yang

diselenggarakan empat tahun sekali adalah tempat untuk memperebutkan nama dan

kedudukan, dalam pertemuan tersebut tidak dibatasi jumlah golongan yang ingin ikut, setiap

jago silat di dunia berhak naik ke panggung untuk memperlihatkan kebolehannya, jadi bila

Ci-moay-hwe ingin beradu kekuatan dengan kaum pria di dunia ini, takkan ada orang yang

melarang atau mengalanginya, sebab kalian berhak untuk berbuat begini, cuma seharusnya

kalian mempergunakan cara yang wajar, jangan menggunakan cara licik dan rendah semacam

ini untuk mencelakai orang di sana sini, karena hal ini tidaklah pantas . . . .”

“Cukup,” sela Liu A-ih tiba-tiba, “kami bukan datang untuk mendengar ceramahmu, lebih

baik simpan saja kata-katamu yang tak sedap ini, mari bicarakan dulu masalah pokok.”

113

“Jangan terburu-buru,” kata Leng-hong dengan tertawa, “sekarang juga akan kubicarakan

masalah pokok.”

“Kuharap kaubicara ringkas saja dan jangan mencoba mengulur waktu, sebab kalau sampai si

monyet dua kuda datang, hal itu sama sekali tak ada manfaatnya bagimu.”

“Hei, jangan kaunilai orang lain dengan pikiran picikmu, kalau aku ingin menunggu sampai

kembalinya Pang-toako, tak nanti kudesak kepadanya agar menyingkir dulu ke daratan.”

Setelah berhenti sejenak, lalu Leng-hong berkata pula, “Sekarang marilah kita bicara blakblakan,

bukanlah kerja keras dan usaha Ci-moay-hwe selama ini dengan melatih manusiamanusia

gadungan, tujuannya tak lain adalah untuk mendapatkan golok mestika Yan-ci-po-to

serta ilmu To-kiam-hap-ping-tin-hoat?”

Liu A-ih tidak menjawab, dan diam berarti telah mengakuinya.

“Kalau memang begitu, soal ini lebih gampang lagi untuk dibicarakan,” kata Leng-hong, “kini

Yan-ci-po-to sudah dicuri orang dan entah ke mana perginya, jadi maaf kalau aku tak dapat

memenuhi harapan kalian, lain halnya dengan ilmu To-kiam-hap-ping-tin-hoat, kepandaian

tersebut telah berada dalam benakku semua, asal syaratnya cocok setiap saat dapat

kupersembahkan dengan begitu saja kepada kalian, mau diajarkan secara lisan atau tulisan,

boleh terserah kemauan kalian.”

Mencorong sinar mata Liu A-ih, ia lantas tanya, “Syarat apa yang kaukehendaki?”

“Sederhana sekali, dengan ilmu To-kiam-hap-ping-tin-hoat ditukar dengan keterangan jejak

Nyo Cu-wi suami isteri.”

Tiba-tiba Liu A-ih mengerutkan dahinya, “He, syarat ini atas niatmu atau maksud Pang

Goan?”

“Maksudku tentu Pang-toako juga setuju!”

Liu A-ih tertawa dingin, “Heran, aku betul-betul tak habis mengerti, Pang Goan bersaudara

kandung dengan Pang Wan-kun, tidak aneh jika ia menguatirkan keselamatan saudaranya,

sebaliknya kau bukan sanak bukan keluarga mereka, mau apa kau mencampuri urusan ini?”

“Sesungguhnya urusan ini memang tiada sangkut pautnya denganku, tapi kalian yang telah

memaksaku untuk menyaru sebagai Nyo Cu-wi? maka mau-tak-mau aku harus

memperhatikan juga nasib mereka.”

“Apa jeleknya kami mengubah kau menjadi Nyo Cu-wi? seandainya mereka tak pulang lagi

ke Thian-po-hu, maka selamanya kau dapat menikmati segala kehormatan, kedudukan serta

harta kekayaan yang melimpah, mengapa tidak kau nikmati rejeki nomplok itu, malah

sebaliknya mengharapkan kembalinya Nyo Cu-wi?”

Ho Leng-hong tertawa, “Seandainya aku bisa menyaru menjadi dia selama hidup, tentu saja

aku tidak berharap ia pulang kembali, sayang semua rahasia kini telah terbongkar, bukan

kalian saja yang tahu bahwa aku ini Nyo Cu-wi gadungan, bahkan Pang-toako juga tahu,

pikirlah sendiri, mana mungkin aku tinggal diam terus menerus?”

“Sekalipun tak bisa melanjutkan penyaruanmu, kau boleh berdiri di luar garis, apa gunanya

kaubantu mereka mencari kembali Nyo Cu-wi?”

“Sayang selama beberapa waktu belakangan ini aku sudah terbiasa dengan kehidupan mewah,

agak keberatan juga bagiku untuk melepaskan semua itu dengan begitu saja.”

“Kalau memang begini, lebih-lebih tidak pantas bagimu untuk menemukan kembali Nyo Cuwi

suami-isteri.”

“Tentu saja di samping ini masih ada masalah lain,” kata Leng-hong lebih lanjut sambil

tertawa, “aku ingin kehidupan yang mewah, tapi tak perlu menyaru sebagai Nyo Cu-wi, dan

kebetulan Pang-toako telah menyanggupi permintaanku, asal Nyo Cu-wi kembali ke Thianpo-

hu, dia akan mengajakku pulang ke Cian-sui-hu di Liat-liu-shia serta mengangkat diriku

menjadi saudaranya, keluarga Pang tak punya keturunan, bila Lotoako berpulang ke alam

baka, secara resmi aku akan menjadi majikan Cian-sui-hu, bukankah cara ini jauh lebih

menguntungkan diriku daripada melanjutkan penyaruan sebagai Nyo Cu-wi?”

114

“O, jadi berbicara pulang pergi rupanya kau sedang mengincar harta kekayaan Cian-sui-hu

dan kau sudah kena disuap oleh Pang Goan?” kata Liu A-ih.

“Ah, betapa tak sedapnya kata suap itu,” seru Leng-hong sambil menggoyangkan tangannya,

“bila manusia tidak mementingkan diri sendiri, matilah dia, bagaimanapun juga aku harus

memikirkan kehidupanku seterusnya, apalagi kami suka sama suka, siapapun tak memaksa

yang lain.”

“Hehehe, manusia tak mementingkan diri sendiri matilah dia, sungguh kata yang bagus,” ejek

Liu A-ih, “Bila kutawarkan harta kekayaan dua kali lipat lebih besar daripada Cian-sui-hu,

apakah kau bersedia menukarnya dengan ilmu To-kiam-hap-ping-tin-hoat?”

“O, hal itu tak mungkin terjadi, sebab meskipun kau bisa memberikan harta kekayaan dua kali

lebih besar, kan sekaligus tak dapat kauberi nama Cian-sui-hu kepadaku.”

“Dapat! Bukan cuma nama besar seperti Cian-sui-hu, kampiun sekaligus dapat pula

memberikan nama seharum Thian-po-hu kepadamu, agar kecuali Ci-moay-hwe, kau

merupakan manusia yang paling berkuasa, laki-laki paling kaya dan terhormat di dunia ini,

percaya tidak?”

“Aku tak berani mempercayainya,” kata pemuda itu sambil mengangkat bahu.

“Kalau begitu dengarkan baik-baik,” sengaja Liu A-ih mempertinggi nada pembicaraannya,

“asal ilmu To-kiam-hap-ping-tin-hoat kau berikan kepada kami, dan mulai sekarang kau

bersedia mendengarkan perintah Ci-moay-hwe, maka selama hidup ini tak akan terbongkar

rahasia penyaruanmu sebagai Nyo Cu-wi, bahkan akan kami bantu dirimu untuk melenyapkan

Pang Goan agar sekaligus kau menjadi majikan Thian-po-hu maupun Cian-sui-hu serta

menikmati segala kehormatan dan kejayaannya.”

“Apakah kalian mempunyai keyakinan dapat melenyapkan Pang-toako?”

“Apa susahnya untuk berbuat demikian?” ejek Liu A-ih dengan sombongnya, “kami telah

berhasil memahami inti sari ilmu pedang Keng-hong-kiam-hoatnya, jika dapat memperoleh

rahasia To-kiam-hap-ping-tin lagi, bukan masalah sulit untuk menyingkirkan dia.”

Ho Leng-hong berpikir sebentar, lalu berkata lagi, “Sekalipun Pang-toako dapat disingkirkan,

andaikata secara tiba-tiba Nyo Cu-wi suami-isteri muncul kembali di Thian-po-hu, bukankah

rahasia tersebut akhirnya terbongkar juga?”

“Jangan kuatir, mereka tak mungkin bisa kembali lagi . . . “ tiba-tiba Liu A-ih merasa salah

omong, buru-buru katanya lagi, “andaikata ia pulang juga, asal kau berkeras menuduh mereka

sebagai gadungan, siapakah yang berani tidak percaya pada perkataanmu?”

“Liu A-ih!” kata anak muda itu kemudian dengan serius, “tolong beritahu kepadaku dengan

sejujurnya, apakah kalian telah membunuh Nyo Cu-wi suami-isteri?”

“Tidak!”

“Lalu berdasarkan apa kau berani mengatakan bahwa mereka tak mungkin kembali lagi?”

“Aku tidak mengatakan demikian, hal itu cuma dugaan dan perumpamaan saja.”

Leng-hong mendengus, “Kalau cuma dugaan saja, kenapa kalian berani mengangkangi Thianpo-

hu dengan sewenang-wenang? Paling sedikit, kalian pasti tahu jejak mereka berdua.”

“Wahai orang she Ho, jangan lupa kita sedang merundingkan pertukaran syarat,” teriak Liu

A-ih dengan suara keras, “sekalipun kami mengetahui jejaknya, tidak menjadi keharusan

bagiku untuk memberitahukan padamu . . . . .”

“Beritahu atau tidak, mungkin kau tak bisa lagi berbuat sesuka hatimu!”

Ucapan ini bukan berasal dari mulut Ho Leng-hong melainkan datang dari luar pintu ruangan.

Bersamaan itu, “blang,” pintu ruangan terpentang dan melayang masuklah sesosok tubuh

manusia . . . .

Ketika keempat perempuan cebol berbaju hitam yang berdiri berjajar membelakangi pintu itu

mendengar sambaran angin dari belakang, tanpa berpaling empat bilah samurai segera dilolos

bersama.

115

Di antara berkelebatnya cahaya golok, seketika itu juga tubuh manusia itu tercincang menjadi

beberapa bagian dan rontok ke lantai, ternyata orang itu bukan lain adalah Kim-lotoa yang

gundul.

Liu A-ih menjerit kaget, serentak ia mendorong bangku dan melompat bangun.

Ia cepat, ternyata Leng-hong jauh lebih cepat daripadanya, golok dan pedang yang berada di

lututnya serentak dicabut, sambil bangkit berdiri dan tertawa, katanya, “Liu A-ih, jika kau

ingin menyaksikan ilmu To-kiam-hap-ping-tin, bagaimana kalau sekarang juga kumainkan di

hadapanmu?”

“Betul!” sambung orang di luar ruangan itu, “sudah sering kita tekun berlatih, tapi belum ada

kesempatan untuk dipraktekkan dengan musuh, hari ini kita harus mencoba dengan sebaikbaiknya.”

Yang berbicara adalah Pang Goan, ia berdiri di depan pintu dengan golok dan pedang

terhunus.

Sementara itu meski keempat perempuan cebol berbaju hitam itu telah meloloskan

samurainya, berhubung ruangan dalam perahu amat sempit dan lagi mereka harus berdiri

saling berdesakan, hakikatnya sulit bagi mereka untuk mengembangkan serangan goloknya.

Air muka Liu A-ih agak berubah, tapi ia masih diam saja tanpa mengucapkan sepatah

katapun.

“Sekarang kalian sudah tiada jalan keluar untuk mundur lagi,” kata Leng-hong, lebih baik

simpan saja senjata kalian dan katakan secara jujur di manakah Nyo Cu-wi suami-isteri

berada, asal kalian mau mengaku, kampiun tak akan menyusahkan kalian.”

Liu A-ih hanya mendengus, ia tetap belum membuka suara.

Pang Goan habis sabarnya, dengan gusar ia membentak, “Perempuan busuk, rupanya kau

minta diperlakukan keras. Hmm, kau anggap kami tak berani membunuh dirimu?”

Seraya berkata ia lantas melangkah masuk ke dalam dan siap turun tangan.

Pada saat itulah tiba-tiba dari luar muncul seorang yang segera menjerit, “Pang-toako, apa

yang terjadi? Siapakah orang-orang ini....”

Waktu itu Pang Goan baru saja melangkah masuk ke dalam ruangan, mendengar teguran

tersebut, ia berpaling, tertampaklah Hui Beng-cu dengan golok lengkungnya terhunus berdiri

di belakangnya.

Tiba-tiba timbul kewaspadaannya, cepat ia putar badan dan menyingkir ke samping.

Liu A-ih tidak membuang kesempatan baik itu, ia segera mencabut senjata sambil

membentak, “Serbu!”

Serentak keempat orang perempuan cebol berbaju hitam itu melancarkan serangan, dengan

menciptakan selapis cahaya tajam samurai mereka terayun ke depan dan menerjang ke arah

pintu.

Pang Goan membentak, dengan pedang di kiri dan golok di kanan, ia melancarkan serangan

berbareng.

Di tengah bentrokan senjata yang ramai, dua orang perempuan cebol berbaju hitam terdepan

segera termakan oleh serangan tersebut, yang seorang tertebas lambungnya dan tewas

seketika, sedang yang lain kena dikutungin lengan kanannya, samurai dan kutungan

lengannya terjatuh ke lantai.

Untuk pertama kalinya To-kiam-hap-ping-tin dipergunakan untuk menghadapi musuh

tangguh, nyata ilmu gabungan antara golok dan pedang ini memang maha sakti.

Namun perempuan cebol berbaju hitam itu betul-betul pasukan berani mati, meskipun orang

yang terbacok kutung lengah kanannya sudah terluka parah, bahkan darah mengucur dengan

derasnya, namun ia pantang menyerah, sambil meloloskan samurai kecil dengan tangan kiri ia

menerjang lagi ke arah pintu dengan garang.

116

Kedua perempuan cebol berbaju hitam yang berada di belakangnya ikut menyerbu maju,

mereka malah mempergunakan mayat rekannya sebagai tameng untuk disodorkan ke arah

Pang Goan.

Semua kejadian ini berlangsung dalam sekejap mata, tahu-tahu Pang Goan sudah terdesak

meninggalkan pintu ruangan, ketika dia hendak mengalangi lagi, namun sudah terlambat.

Jarak Ho Leng-hong lebih jauh lagi, ia tahu dikejarpun tak ada gunanya, namun pemuda itu

tidak tinggal diam, cepat ia menerobos jendela dan dari geladak berputar menuju ke depan

perahu.

Hui Beng-cu berdiri di depan pintu, entah lantaran kaget atau diterjang oleh perempuanperempuan

cebol berbaju hitam yang dahsyat, beruntun ia mundur dua langkah ke belakang

sebelum golok dicabut keluar.

Tapi keadaan sudah terlambat, dengan kekuatan seorang dan sebilah golok, mana mungkin

terjangan keempat orang itu dapat dibendung? Baru bergebrak satu jurus, ia terdesak mundur

oleh samurai panjang dan pendek dari ketiga perempuan cebol itu.

Bagaikan air bah yang menjebolkan tanggul Liu A-ih dan ketiga orang perempuan cebol itu

menerjang keluar pintu dan langsung melarikan diri.

Tapi baru tiba di luar, Leng-hong telah menghadangnya lagi.

Sementara itu Pang Goan juga menyusul tiba pada saatnya.

Melihat gelagat tidak menguntungkan, Liu A-ih buru-buru melancarkan dua kali bacokan,

kemudian kabur ke tepi perahu dan terjun ke dalam sungai.

Sedangkan ketiga perempuan cebol berbaju hitam itu di bawah kerubutan Leng-hong dari

belakang dalam waktu singkat salah seorang di antaranya kembali terluka.

Leng-hong kuatir Pang Goan menyerang terlampau berat, buru-buru teriaknya, “Lotoako,

bekuk mereka hidup-hidup.”

Waktu itu golok di tangan kanan Pang Goan sedang menangkis bacokan samurai pendek dari

perempuan yang kutung tangannya, sementara pedang di tangan kirinya siap melancarkan

tusukan, ketika mendengar teriakan tersebut,jurus serangan segera berubah, dengan gagang

pedang ia sodok jalan darah di pinggang perempuan itu.

Kedua orang lainnya tak berani bertarung lebih lanjut, sambil menjerit aneh merek sambitkan

samurai itu sebagai senjata rahasia ke arah Ho Leng-hong dan Pang Goan.

Pada waktu Leng-hong dan Pang Goan memukul rontok samurai tersebut, kedua orang

perempuan cebol itu melepaskan kabut pemabuk dan melompat ke dalam sungai.

Baik Leng-hong maupun Pang Goan sama-sama tak pandai berenang, terpaksa mereka

membentang mata lebar-lebar dan sambil menyaksikan kedua orang musuh melarikan diri.

“Jangan kuatir, mereka tak bakal lolos!” teriak Hui Beng-cu tiba-tiba, ia pun terjun ke dalam

sungai.

“Perempuan busuk, anggap saja nasib kalian masih baik,” maki Pang Goan dengan

mendongkol, “jika sampai ketemu lagi lain kali, jangan harap kalian bisa kabur.”

Leng-hong memandang ke depan, ia lihat perahu barang tadi sedang menaikkan jangkar dan

kabur dengan tergesa-gesa.

Dengan saksama kedua orang itu menggeledah seluruh perahu, tapi ketiga orang kelasi yang

berada di ruang depan tadi telah lenyap pula tak berbekas.

“Untung kau segera memberi peringatan sehingga berhasil kita tangkap seorang musuh,

bagaimana kalau kita mendarat dulu kemudian baru memeriksa dia?” kata Pang Goan.

“Lotoako, kau terlalu cepat pulang kembali ke perahu, coba sedikit lebih lambat, mungkin

dari mulut perempuan busuk she Liu itu dapat kupancing keterangan yang lebih terperinci

lagi.”

“Sesungguhnya akupun tak ingin cepat-cepat menampakkan diri, tapi berhubung kakek she

Kim itu sangat lihai, sewaktu menundukkannya mungkin akan terlihat oleh orang yang berada

di atas perahu barang, maka daripada rahasianya bocor, kupercepat tindakanku.”

117

“Hahaha, kali ini Ci-moay-hwe betul-betul rugi besar, menurut perhitungan mereka pasti akan

berhasil membekuk kita, siapa tahu justru kitalah yang berhasil menangkap salah seorang di

antara mereka.”

Pang Goan ikut tertawa, “Sekalipun perempuan busuk she Liu itu berhasil meloloskan diri,

sepulangnya dari sini pasti akan dicaci maki oleh pemimpinnya, betapapun ia telah merasakan

kelihaian To-kiam-hap-ping-tin kita, sayangnya jurus-jurus serangan itu tak dapat

diingatnya.”

Tiba-tiba satu ingatan terlintas dalam benaknya, katanya pula, “Saudaraku, menurut

pendapatmu apa pula yang akan terjadi pada budak Hui itu? Mungkinkah dia akan kembali

lagi kemari?”

“Kukira dia tak akan kembali lagi ke sini,” jawab Ho Leng-hong dengan dahi berkerut.

“Kenapa? Apakah dia betul-betul anggota Ci-moay-hwe?”

Leng-hong menggeleng kepala berulang kali, “Soal ini sulit untuk dipastikan Cuma

penampilannya malam ini mau-tak-mau menimbulkan juga kecurigaan kita.”

Pang Goan termenung sejenak, kemudian menarik napas panjang, “Andaikata ia benar-benar

tidak kembali lagi ke sini, apakah kita akan melanjutkan perjalanan ke Leng-lam?”

“Pergi ke Leng-lam atau tidak adalah urusan nomor dua, kurasa masalah paling penting yang

kita hadapi sekarang adalah mencari tahu mati-hidup Nyo Cu-wi suami-isteri, menurut apa

yang dikatakan perempuan busuk she Liu itu, kemungkinan besar Nyo Cu-wi suami isteri

tidak berada di tangan Ci-moay-hwe, sekali pun dulu pernah terjatuh ke tangan mereka,

sekarang sudah tidak berada di sana lagi.”

“Apa yang dia katakan?” tanya Pang Goan.

“Ia tidak bicara terus terang, tapi jelas mereka ketahui bahwa Nyo Cu-wi suami-isteri tak

mungkin kembali ke Thian-po-hu lagi, bahkan selamanya tak mungkin pulang lagi, dari sini

terbuktilah bahwa mereka mengetahui jejak Nyo Cu-wi suami-isteri.”

“Bukankah hal ini sama artinya dengan menyatakan bahwa mereka sudah terbunuh?” kata

Pang Goan dengan kuatir.

“Tapi kukira tujuan mereka adalah menguasai dunia persilatan, jadi tiada alasan bagi mereka

untuk mencelakai jiwa Nyo Cu-wi suami-isteri.”

“Perempuan sialan!” maki Pang Goan, “jika mereka berani mengganggu seujung rambut

Wan-kun, aku bersumpah akan membantai setiap anggota Ci-moay-hwe yang kujumpai.”

Setelah berhenti sejenak, katanya lagi, “Mari, kita periksa dulu perempuan busuk itu.”

Dengan langkah lebar ia menuju ke lorong sana, dicengkeramnya perempuan cebol berbaju

hitam yang sudah buntung itu.

Dengan bentakan pelahan jari tangannya bekerja, beruntun menutuk empat jalan darah

penting di tubuh perempuan cebol itu.

Buru-buru Leng-hong memburu ke situ, tapi ia segera terperanjat, sebab air muka perempuan

cebol itu telah berubah menjadi hitam pekat, cairan darah berwarna hitam kental meleleh dari

ujung bibirnya, keadaan sangat gawat, jelas ia telah menelan racun sebelum sempat diperiksa.

Dengan paksa Pang Goan memencet rahangnya dan membuka mulut yang terkatup, kemudian

digabloknya punggung perempuan itu keras-keras, sebiji gigi palsu yang telah tergigit pecah

terjatuh ke geladak.

Melihat itu, Leng-hong menggeleng kepala berulang kali, “Sungguh tak kusangka mereka

telah menyiapkan racun dalam mulutnya, ai . . . sayang . . . sayang . . . .”

Tak terlukiskan kemarahan Pang Goan, ia menampar wajah perempuan cebol itu sekeraskerasnya

dan membentak, “Perempuan busuk, ayo bicara! Kalian apakan Wan-kun? Ayo

bicara!”

Tapi kepala perempuan cebol berlengan kutung itu lantas menjuntai dengan lemas, seluruh

tubuhnya berpelepotan darah, napasnya telah berhenti.

Leng-hong menghela napas, “Ai, tampaknya kita tetap harus berkunjung ke Leng-lam....”

118

Tengah bicara, tiba-tiba terdengar suara percikan air disusul munculnya seseorang....

Di luar dugaan, orang ini ternyata adalah Hui Beng-cu!

Lebih-lebih di luar dugaan lagi, di bawah ketiak Hui Beng-cu ternyata mengempit seorang

perempuan cebol berbaju hitam.

Leng-hong dan Pang Goan saling pandang dengan melenggong, mereka tak menyangka Hui

Beng-cu akan muncul kembali, lebih-lebih tak menyangka ia kembali dengan membawa

seorang tawanan hidup.

Dengan tangan sebelah mengepit tawanan, tangan yang lain memegang pinggiran perahu, Hui

Beng-cu berteriak, “Toako berdua, cepat bantu aku menyeret tawanan ini ke atas!”

“Matai atau masih hidup?” tanya Pang Goan.

“Tentu saja masih hidup, Cuma ia sudah kutenggelamkan ke sungai hingga banyak minum

air, sekarang ia tak sadarkan diri!”

“Dalam mulutnya terdapat gigi palsu yang berisi racun, apakah kau tahu?” kembali Pang

Goan bertanya.

“Jangan kuatir, gigi racunnya telah kucabut, jangan harap permainan busuk orang Ainu ini

akan mengelabuhi diriku!”

Pang Goan sangat gembira, ia segera mencengkeram rambut perempuan Ainu itu dan

menyeretnya ke atas perahu.

Hui Beng-cu melompat ke atas, sambil membesut air yang membasahi wajahnya ia berkata,

“Pompa dulu perutnya agar air tertumpah keluar, kemudian baru bertanya kepadanya, hatihati

pada bahu kirinya terdapat luka tusukan pedang, jangan biarkan darah mengalir terlalu

banyak . . . ada seorang lagi yang kulukai, sayang ia berhasil melarikan diri.

Sementara itu Pang Goan telah memompa keluar air dalam perut perempuan cebol itu,

kemudian menghentikan pula cucuran darah pada bahunya.

Kali ini ia turun tangan dengan sangat hati-hati, ia takut tawanannya mati lagi sehingga sukar

mencari jejak Pang Wan-kun.

Kali ini Leng-hong tidak membantu ataupun membuka suara, dia hanya memandang wajah

Hui Beng-cu dengan termangu, ia rada bingung.

Tak lama perempuan itu sudah sadar kembali dari pingsannya, begitu membuka matanya dan

menyaksikan keadaan di sekeliling situ, cepat ia menggertak gigi rapat-rapat . . . .

“Apa yang kau lakukan?” ejek Pang Goan sambil tertawa dingin, “gula-gula dalam mulutmu

itu tak perlu dicari lagi, sudah terlepas dan dimakan ikan!”

Air muka perempuan itu berubah hebat, tiba-tiba ia angkat telapak tangannya untuk

menghantam kepala sendiri.

Tapi baru sampai di tengah jalan, tangannya sudah keburu dicengkeram oleh Pang Goan,

“Jangan buru-buru mampus,” katanya, “nanti saja kalau mau mati, sesudah menjawab

pertanyaan kami.”

Beruntun ia tutuk enam jalan darah penting pada badannya, kemudian baru lepas tangan.

Setelah seluruh tubuh tak bisa berkutik perempuan cebol itu memejamkan matanya, dua titik

air mata meleleh membasahi pipinya.

“Beginilah tabiat perempuan bangsa Ainu,” kata Hui Beng-cu, “mereka suka kekerasan dan

menolak cara halus, kalau tidak diberi sedikit kelihaian, mereka tak akan bicara terus terang.”

“O, itu sih gampang,” kata Pang Goan.

Jari tangannya segera bekerja cepat, menutuk empat-lima tempat jalan darah perempuan Ainu

itu, akhirnya ia tabok belakang tengkuknya.

Seperti terkena listrik tegangan tinggi tiba-tiba sekujur tubuh perempuan itu gemetar keras,

butiran keringat sebesar kacang membasahi jidatnya, kulit wajahnya berkejang, giginya

gemertakan, rintihan kesakitan berkumandang tiada hentinya.

119

“Mulai sekarang setiap pertanyaanku harus kaujawab dengan sejujurnya,” bentak Pang Goan,

“kalau tidak, akan kusuruh kau rasakan bagaimana nikmatnya beribu semut menerobosi

hatimu, kubikin kau tak sempat bernapas selama tiga hari tiga malam.”

Dengan air mata bercucuran, terpaksa perempuan Ainu itu mengangguk kepala.

Pang Goan segera membebaskan jalan darahnya yang tertutuk, kemudian sambil tertawa

dingin katanya, “Beritahu dulu kepadaku, siapa pemimpin Ci-moay-hwe? Di mana letak

markas besarnya?”

Perempuan itu menjawab dengan logat yang kaku dan sukar dimengerti.

“Hei, apa yang kau katakan?” bentak Pang Goan.

Hui Beng-cu tertawa geli, katanya, “Dia perempuan asing yang kurang fasih berbicara dengan

logat kita, dia menjawab tidak tahu.”

“Omong kosong, kau adalah anggota Ci-moay-hwe, masa tidak tahu tentang urusan Ci-moayhwe?”

teriak Pang Goan.

Kembali perempuan Ainu itu mengoceh dengan kata-kata yang kurang jelas.

Terpaksa Hui Beng-cu bertindak sebagai juru bahasa, “Ia bilang benar-benar tidak tahu, sebab

orang itu tidak ia kenal, tempat pun tak diketahui.”

“Baik, sekalipun tak dapat kau sebutkan nama orang dan tempatnya, tentunya kau tahu

bagaimana jalan menuju ke sana?”

Perempuan Ainu itu mengangguk kepala berulang kali, “Ya, ya . . . aku tahu.”

“Kalau begitu, bawalah kami ke sana.”

Perempuan itu berkerut dahi sambil menunjukkan tanda-tanda keberatan.

“Kenapa? Apakah siksaan yang kau rasakan tadi belum cukup?” hardik Pang Goan.

Perempuan itu mengucapkan dua-tiga kata.

Kali ini Pang Goan dapat menangkap maksudnya, ia mendengus, “Hmm, mereka dapat

membunuhmu, apakah aku tak bisa membunuhmu pula? Ketahuilah, aku bisa membunuhmu

dengan cara yang lebih keji, apakah kau ingin mencobanya?”

Buru-buru perempuan berbaju hitam itu geleng kepala.

“Kalau tidak ingin mampus, bawalah kami ke sana. Sekarang aku hendak bertanya satu hal,

Nyo....”

Mendadak ia teringat bahwa Hui Beng-cu masih belum mengetahui asal-usul Ho Leng-hong

yang sebenarnya, maka ia ganti perkataan, “Apakah Nyo-hujin dari Thian-po-hu yang

bernama Pang Wan-kun terjatuh ke tangan Ci-moay-hwe?”

Kembali perempuan itu menjawab dengan logat yang sukar dimengerti.

Pang Goan tahu, kalau begini caranya tak mungkin akan didapatkan apa yang diharapkan,

maka ia putuskan untuk mencari dulu markas Ci-moay-hwe, sebab dengan sendirinya jejak

Nyo Cu-wi suami-isteri akan diketahui bila markas musuh telah diketemukan.

Maka katanya kepada Hui Beng-cu, “Dengan perempuan asing ini sebagai penunjuk jalan,

lebih baik kita langsung menuju ke markas besar Ci-moay-hwe, kalau mau membekuk

bajingan lebih dulu harus bekuk pemimpinnya, asal sarang mereka sudah kita aduk, otomatis

urusan di rumahmu akan beres juga dengan sendirinya, entah bagaimana pendapat nona?”

Hui Beng-cu berpikir sebentar, lalu jawabnya, “Baiklah, kalau mau pergi harus segera

berangkat, daripada rahasia ini bocor dan mereka keburu kabur.”

Ho Leng-hong hanya mengikuti pembicaraan itu dari samping, ia tidak buka suara juga tidak

memberi komentar apa-apa.

Begitulah, dengan menggusur perempuan Ainu itu berangkatlah mereka bertiga meninggalkan

perahu, di kota Tin-kang mereka menyewa sebuah kereta dan dua ekor kuda, sebelum fajar

menyingsing mereka meneruskan perjalanan.

Ho Leng-hong dan Pang Goan menunggang kuda, sedang Hui Beng-cu dan perempuan baju

hitam itu numpang di dalam kereta, atas petunjuk perempuan itu mereka telusuri jalan lama,

balik ke kota Siang-yang.

120

Di tengah jalan, Pang Goan sengaja memperlambat lari kudanya, kepada Ho Leng-hong

bisiknya, “Lote, apakah kau masih mencurigai asal-usul budak she Hui itu?”

Leng-hong menarik napas panjang, “Aku tak dapat mengemukakan alasan apa-apa, tapi

bagaimanapun aku tetap merasa di balik soal ini ada sesuatu yang kurang beres.”

“Andaikata dia adalah anggota Ci-moay-hwe, kenapa ia membantu kita membekuk seorang

tawanan hidup?”

“Aku tidak mengatakan dia adalah musuh,” ujar Leng-hong sambil tertawa getir, “pokoknya

lebih baik kita berhati-hati sepanjang perjalanan, sebab aku mendapat firasat bahwa di tengah

jalan nanti mungkin akan terjadi sesuatu.”

“Dalam hal apakah yang kau maksudkan?”

“Segala hal bisa terjadi, tapi yang paling penting adalah perempuan Ainu itu, kita harus

mengawasinya secara khusus.”

“Kenapa dengan perempuan itu?”

“Kalau bukan dia yang akan mencelakai kita, tentu pula Ci-moay-hwe akan

membinasakannya.”

“Oo!?” Pang Goan seperti memahami akan sesuatu.

Ternyata dugaan mereka memang benar, malam itu juga peristiwa tersebut telah terjadi.

-------------------------

Berangkat dari Tin-kang menuju ke barat, malam itu sampailah mereka di sebuah kota kecil di

sebelah utara Keng-ciu, kota kecil ini bernama Kian-yang-gi.

Kota ini merupakan persimpangan jalan raya yang menghubungkan Keng-ciu dan Siang-yang,

menuju ke arah timur akan sampai di Ji-han, ke barat akan sampai Sam-shia, ke utara bukan

saja sampai Siang-hua, malah ada jalan raya menuju ke Kam-siok, sebab itulah suasana di

kota kecil ini ramai sekali.

Mereka menginap di rumah penginapan “Hong-an”, Pang Goan dan Ho Leng-hong memakai

satu kamar, sedang Hui Beng-cu dan perempuan Ainu itu tinggal di kamar yang lain.

Selesai bersantap malam, sebelum tidur, Pang Goan memperingatkan Hui Beng-cu secara

khusus, katanya, “Jangan terlalu nyenyak tidurmu malam nanti, jangan kau bebaskan pula

jalan darah perempuan asing itu, jika ada sesuatu yang mencurigakan, segera panggil kami.”

“Jangan kuatir Pang-toako,” sahut Hui Beng-cu sambil tertawa, “tanggung tak akan terjadi

apa-apa, aku akan mengawasinya sepanjang malam, sekalipun punya sayap jangan harap akan

terbang dari hadapanku.”

Sekembalinya ke kamar, Pang Goan kembali berunding dengan Ho Leng-hong, mereka

putuskan untuk jaga malam secara bergilir, Ho Leng-hong menjaga setengah malam pertama

dan Pang Goan setengah malam berikutnya.

Setengah malam yang pertama berlangsung tenang tanpa terjadi apapun.

Ketika giliran Pang Goan menjaga setengah malam berikutnya, kurang lebih dua jam

menjelang fajar, Pang Goan mengambil sebuah bangku dan duduk bersila di tepi jendela

sambil mengatur napas diam-diam ia perhatikan gerak-gerik kamar sebelah.

Satu jam sudah lewat, tapi suasana tetap tenang.

Ketika fajar menjelang tiba, pada cuaca paling gelap, waktu itu Pang Goan masih duduk

bersila sambil terkantuk-kantuk, mendadak ia mendengar suara aneh di kamar Hui Beng-cu.

Suara rintihan yang lemah dan lirih, seakan-akan ada seseorang sedang dicekik lehernya

hingga ingin berteriak pun tak mampu bersuara.

Dengan sigap Pang Goan melompat bangun lalu teriaknya dari jendela, “Beng-cu! Beng-cu! .

. .”

Panggilannya yang berulang kali itu tidak memperoleh jawaban apa-apa, malah rintihan tadi

mendadak berhenti.

121

Pang Goan tidak membuang waktu lagi, ia hantam daun jendela hingga terpentang lebar,

kemudian menyerbu ke dalam ruangan.

Ia cepat masuk, waktu keluarpun tak kalah cepatnya, sambil melompat mundur dari ruangan

itu serunya dengan cemas, “Jit-long, cepat bangun, terjadi peristiwa . . . . ”

“Apa yang terjadi?” buru-buru Leng-hong lari keluar dari kamarnya.

Sambil menuding ke arah kamar tidur Hui Beng-cu, kata Pang Goan dengan napas terengah,

“Entah bagaimana caranya, perempuan asing itu berhasil meloloskan diri, ia sedang mencekik

Beng-cu . . . .”

“Sungguh? Kita harus menolongnya!” seru Leng-hong dengan terkejut.

Tapi Pang Goan segera mengalanginya sambil menggoyang tangan berulang, “Tidak

mungkin, kita kurang leluasa untuk masuk ke sana, kita harus cari akal.”

“Kenapa?” tanya Leng-hong.

Dengan wajah merah kata Pang Goan, “Perempuan asing itu dalam . . . dalam keadaan

telanjang . . . pan . . . pantatnya kelihatan jelas . . . .”

Mendengar ucapan tersebut, Leng-hong merasa geli dan dongkol, katanya, “Lotoako, dalam

keadaan apakah ini? Kenapa kau urus soal semacam itu?”

Sekali melompat ia melewati Pang Goan dan langsung menerjang masuk ke dalam ruangan.

Apa yang dikatakan Pang Goan memang tak salah, perempuan Ainu itu betul-betul dalam

keadaan telanjang bulat, waktu itu ia sedang menunggangi tubuh Hui Beng-cu sementara

tangannya mencekik leher gadis itu dengan keras-keras.

“Lepaskan!” bentak Leng-hong.

Perempuan itu benar-benar lepaskan tangannya, cuma bagaikan angin puyuh ia memutar ke

arah pemuda tersebut.

Seandainya Pang Goan yang menghadapi kejadian ini, jangankan melawan, melihat gayanya

yang “mengerikan” itu saja mungkin sudah kabur terbirit-birit.

Sayang dijumpainya kali ini adalah Ho Leng-hong.

Ho Leng-hong tidak menganggapnya sebagai manusia, apalagi sebagai seorang perempuan,

adegan semacam ini sudah biasa baginya, sedikitpun tidak heran dan terangsang.

Ia menganggapnya seperti gumpalan daging atau seekor babi betina, tanpa pikir tangan kiri

menyodok ke depan.

Sodokan ini telak bersarang di perut perempuan cebol itu.

“Aduh!” karena kesakitan perempuan itu membungkukkan badannya, seakan-akan mendadak

merasa malu.

Sedikitpun tidak terlintas dalam benak Ho Leng-hong rasa kasihan, bagaikan sebilah golok

telapak tangan kanannya membacok kuduk perempuan itu dengan keras.

“Ouh . . .” perempuan itu mengerang kesakitan dan jatuh berlutut di lantai.

Dengan cekatan Leng-hong menjambak rambutnya, menutuk jalan darahnya dan

membungkus tubuhnya yang telanjang itu dengan selimut, kemudian dilemparkan ke atas

pembaringan.

Sesudah bertepuk tangan, ia baru mengalihkan sinar matanya ke wajah Hui Beng-cu.

Ketika itu Hui Beng-cu sudah hampir jatuh semaput, ia sedang mengurut leher sendiri,

napasnya tersengal dan tak sekatapun sanggup diucapkan.

“Bagaimana Jit-long?” kedengaran Pang Goan bertanya di luar jendela.

Sambil memberi secawan teh pada Hui Beng-cu agar tenggorokannya basah, jawab Lenghong,

“Sudah beres, silakan masuk!”

Tapi rupanya Pang Goan belum percaya, dia melongok dari luar jendela, setelah Leng-hong

memasang lampu, dengan hati lega baru ia berani masuk ke dalam.

“Siapa yang membebaskan jalan darahnya?” tegur Leng-hong kemudian.

“Aku . . .” jawab gadis itu dengan napas terengah.

122

“Bukankah kau bilang akan mengawasinya sepanjang malam dan tak akan terjadi apa-apa?

Kenapa kau bebaskan jalan darahnya?”

“Aku tertipu oleh siasat perempuan busuk ini, mula-mula dia bilang mau kencing, maka

kubebaskan jalan darah kakinya, kemudian ia bilang bahwa perempuan Ainu biasa tidur

dalam keadaan telanjang, kupikir bila ia berada dalam keadaan telanjang, tentu dia tak

mungkin akan kabur, maka...”

“Maka kaubebaskan jalan darah tangannya? Maka lehermu dicekik perempuan itu?”

Hui Beng-cu tundukkan kepalanya rendah-rendah, katanya dengan menyesal, “Tidak kupikir

sampai sejauh itu. Akulah yang salah, akulah yang terlalu gegabah.”

“Andaikata ia bilang perempuan Ainu kalau tidur tentu memeluk sebilah golok, apakah kau

juga akan memberikan golok padanya?”

Hui Beng-cu tak dapat menjawab, hanya tunduk kepala dan bungkam.

Pang Goan kuatir gadis itu merasa jengah, buru-buru selanya, “Kejadian yang lewat biarlah

lalu, untung kita cukup waspada dan tak sampai perempuan itu kabur, lain kali sedikitlah

lebih berhati-hati, Jit-long, mari kita kembali ke kamar.”

Leng-hong tidak berkata apa-apa, ia putar badan dan melangkah keluar.

Sambil memandang bayangan punggung orang yang berlalu, kata Hui Beng-cu dengan suara

takut, “Agaknya Nyo-toako sangat marah dan menyalahkan aku, padahal aku sungguhsungguh

teledor, aku tidak sengaja melepaskan dia . . . .”

“Aku mengerti,” kata Pang Goan sambil tertawa, “Jit-long juga tidak benar-benar

menyalahkan dirimu, tujuannya agar kau jangan tertipu lagi di kemudian hari, sekali tertipu

lain kali harus hati-hati. Sudahlah, beristirahatlah, akupun akan pergi.”

Ketika kembali ke kamar sebelah, Leng-hong sedang berbaring sambil menopang tengkuknya

dengan tangan, pemuda itu sedang memandang langit-langit dengan termangu, wajahnya

tampak amat serius.

Tak tahan lagi Pang Goan menggerutu, “Kau juga kelewatan, kenapa tidak memberi muka

pada budak keluarga Hui itu? Apa yang kaukatakan tadi terlalu berat bagi pendengarannya.”

“Lotoako, kau anggap apa yang diucapkan tadi adalah kata-kata yang sejujurnya?”

“Masa bukan?”

Leng-hong tertawa dingin, “Paling sedikit ada satu hal yang tidak kupercayai, dengan ilmu

silat Hui Beng-cu, tak mungkin segampang itu ia dapat dibekuk oleh perempuan Ainu itu

sekalipun dibekuk, paling sedikit juga akan bersuara, lebih-lebih orang tak perlu mencekik

lehernya dalam keadaan telanjang . . . .”

“Jadi maksudmu . . . . .” kata Pang Goan setelah termenung sejenak.

“Sedang bermain sandiwara, sandiwara yang sengaja diperlihatkan kepada kita.”

“Sekalipun bermain sandiwara, kan tidak perlu bersandiwara dalam keadaan bugil.”

“Ya, tapi sandiwara ini hanya khusus dipertunjukkan buatku seorang.”

“Aku tidak paham maksudmu.”

“Sederhana sekali, mereka tahu aku mencurigai asal-usul Hui Beng-cu, maka sengaja

dimainkan sandiwara tersebut dengan tujuan untuk melenyapkan rasa curigaku terhadap Hui

Beng-cu, agar kelihatan lebih seram dia sungguhkan, mereka atur waktu kau bertugas

meronda, tapi takut aku tak sempat ikut menyaksikan, maka mereka putuskan untuk berperan

dalam keadaan bugil. Mereka menduga kalau Lotoako tak akan tega menyaksikan adegan

semacam itu dan akulah yang pasti disuruh masuk, tercapailah tujuan mereka, asal adegan itu

kusaksikan sendiri, mereka yakin aku pasti akan percaya asal-usul Hui Beng-cu.”

Pang Goan manggut-manggut, “Kalau begitu, kau yakin budak keluarga Hui ini adalah

gadungan?”

“Aku tidak berani mengatakan apakah dia Hui Beng-cu asli atau tidak, aku Cuma tahu dia

sekomplotan dengan Ci-moay-hwe, dulu cuma curiga saja, tapi sekarang hakikatnya sudah

pasti.”

123

Pang Goan termenung, katanya kemudian, “Jika dugaanmu benar, itu berarti kepergian kita ke

markas besar Ci-moay-hwe akan terjebak, cuma sebelum mendapat bukti nyata lebih baik kita

jangan menuduh orang dengan begitu saja, persoalan ini kita simpan saja dalam hati dan

jangan disiarkan untuk sementara, coba kita lihat dulu bagaimanakah perkembangan

selanjutnya.”

“Setelah kita tahu kejadian ini adalah suatu jebakan, kenapa kita masih menuruti perintah

mereka?”

“Tujuan mereka adalah untuk mendapatkan To-kiam-hap-ping-tin-hoat, setelah dapat kita

pahami duduknya persoalan, kini merekalah yang berada dalam perhitungan kita, kenapa kita

tidak menggunakan siasat untuk melawan siasat?”

Leng-hong tidak bertanya lebih jauh, sebab ia mengerti Pang Goan “si monyet dua kuda”

bukanlah orang bodoh, ia pasti sudah mempunyai rencana yang matang untuk menghadapi

persoalan ini.

---------------------------------

Ketika melanjutkan perjalanan pada keesokan harinya, keadaan aman tenteram seperti tak

pernah terjadi apa-apa.

Cuma setiap kali Hui Beng-cu bertemu dengan Ho Leng-hong, wajahnya selalu tampak kikuk,

seperti malu dan rada takut.

Kereta bergerak menuju ke utara menurut petunjuk perempuan cebol ini, selewatnya Sianghuan,

tiba-tiba mereka berbelok ke barat, melewati Bu-tong-san terus menuju ke Tay-pa-san

di daerah Siamsay.

Tak lama setelah melewati tembok besar, mereka sudah berada di lereng pegunungan,

perjalanan tak dapat dilakukan lagi dengan menunggang kereta.

Terpaksa Pang Goan harus meninggalkan kuda dan keretanya, setelah membebaskan jalan

darah kaki perempuan pendek itu, berempat mereka mendaki gunung dengan berjalan kaki.

Agaknya perempuan itu apal sekali dengan jalanan bukit itu, sepanjang perjalanan ia selalu

memilih jalan setapak yang sepi, dalam sehari mereka dapat menempuh dua sampai tiga puluh

li jalan gunung yang tak ada manusianya.

Ho Leng-hong jadi curiga, bisiknya kepada Pang Goan, “Lotoako, tampaknya agak kurang

beres, tujuan Ci-moay-hwe adalah menguasai dunia persilatan, tak mungkin markas besarnya

didirikan di tengah gunung yang jauh dari keramaian.”

“Aku tahu,” jawab Pang Goan sambil tertawa, “perempuan asing ini sengaja mengajak kita

berputar kayun di atas gunung untuk membuang waktu, tujuannya agar perempuanperempuan

busuk itu melakukan persiapan.”

“Menurut pendapat Lotoako, apa yang sedang mereka persiapkan?”

“Jangan pedulikan cara apa yang akan mereka gunakan, pokoknya ingat saja, bila sampai

terjadi sesuatu, aku yang menghadapi serangan luar dan kauhadapi musuh dari dalam.”

Leng-hong mengangguk dan tertawa.

Tentu saja ia mengerti apa yang dimaksudkan “musuh dari dalam”, tanpa terasa ia berjalan

menghampiri Hui Beng-cu.

Waktu itu Hui Beng-cu sedang membuat api unggun di tepi sebuah batu karang, karena hari

mulai gelap dan terpaksa harus menginap di udara terbuka, mereka harus membuat api untuk

mengusir ular dan sebangsanya.

Perempuan Ainu itu duduk bersila di depan mulut gua dan memejamkan mata, menundukkan

kepala seperti mengantuk.

Api unggun baru saja dibuat, Hui Beng-cu sedang mengebaskan lengan bajunya untuk

membuyarkan asap tebal.

124

Ho Leng-hong menghampirinya, sambil tertawa ia menyapa, “Nona Hui, merepotkan dirimu

saja, nona keluarga kenaman harus melakukan pekerjaan kasar seperti ini.”

“Mengapa kau berkata begitu? Membuat api dan memasak air adalah pekerjaan kaum wanita.

Silakan duduk, Nyo-toako.”

Setelah duduk di tepi api unggun, kembali Leng-hong berkata, “Selama di Hiang-in-hu,

apakah kau juga melakukan pekerjaan rumah tangga?”

“Meskipun tak pernah kulakukan secara resmi, tapi belajar sih pernah, ayahku selalu menaruh

perhatian khusus terhadap kepandaian puteri.”

“Pantas kepandaian nona membuat api unggun dan memotong kayu bakar sudah

berpengalaman, bukan seperti orang yang melakukan untuk pertama kali.”

Tiba-tiba Hui Beng-cu berkerut dahi, lalu berkata dengan lirih, “Nyo-toako, ada beberapa

persoalan sebetulnya ingin kubicarakan denganmu, sayang selama ini tak ada kesempatan,

cuma setelah kuucapkan nanti harap kau jangan marah.”

“Ah, masa marah? Bila ada persoalan katakan saja terus terang,” jawab Leng-hong sambil

tertawa.

“Aku merasa, sejak kedatanganku di Thian-po-hu, agaknya Nyo-toako tidak menyukai diriku,

benar tidak?”

“Hei, kenapa kau mempunyai pikiran seaneh itu?!”

Hui Beng-cu tertawa getir, katanya lagi, “Misalkan saja pada hari pertama aku tiba di Thianpo-

hu, kau telah mencurigai diriku gadungan.”

“Jangan berpikir yang bukan-bukan nona, maklumlah, terpaksa aku harus hati-hati, sebab

belum lama berselang Ci-moay-hwe baru saja mengacau di Thian-po-hu, jadi mau-tak-mau

aku harus waspada.”

“Nyo-toako, aku tidak berpikir yang bukan-bukan, lebih-lebih tidak menyalahkanmu, aku

dapat memakluminya, bahkan enso pun telah dipalsukan oleh Ci-moay-hwe sehingga Nyotoako

tertipu sekian lama, tak heran rasa bencimu terhadap Ci-moay-hwe telah merasuk

tulang, tapi akupun sama-sama menderita akibat ulah mereka, Nyo-toako, tak boleh lantaran

perbuatan Ci-moay-hwe maka seluruh perempuan yang ada di dunia kaubenci semua!”

“Soal ini . . . “ Leng-hong jadi gelagapan.

Hui Beng-cu kembali berkata, “Nyo-toako, kau mencurigaiku sebagai mata-mata dari Cimoay-

hwe, hal ini adalah urusanmu sendiri dan aku tidak menyalahkanmu, tapi aku harap

sebelum ada faktanya jangan kauambil kesimpulan sendiri, apalagi dalam peristiwa di rumah

penginapan Hong-an, tidak semestinya kau menuduh aku bersandiwara untuk menipumu, atau

paling sedikit kau harus menunggu setibanya di markas besar Ci-moay-hwe atau setelah tiba

di Hiang-in-hu dan menyelidiki duduk perkara yang sebenarnya baru menarik kesimpulankesimpulan,

terus terang kukatakan bahwa sikapmu itu sangat menyedihkan hatiku,

membuatku penasaran.”

Makin bicara makin emosi, akhirnya sambil mendekap wajahnya ia menangis tersedu-sedu.

Leng-hong tidak menyangka semua pembicaraannya dengan Pang Goan telah didengar

olehnya, lebih-lebih tidak menyangka bakal ditegur secara terus terang, untuk sesaat pemuda

itu menjadi gelagapan dan tak tahu bagaimana mesti menjawab.

Setelah tertegun sekian lama, akhirnya ia berkata, “Nona Hui, ucapanmu memang benar,

mungkin rasa benciku terhadap Ci-moay-hwe sudah terlampau mendalam sehingga

prasangkaku lebih besar dan mengakibatkan terjadinya kesalahpahaman ini, kuharap kau

memahami bahwa aku tidak bermaksud jahat, seandainya aku pernah melakukan kesalahan

atau menyinggung perasaanmu, kuharap kau bersedia memaafkan.”

Hui Beng-cu menggeleng kepala berulang kali, sambil terisak katanya, “Tidak, Nyo-toako,

aku tidak bermaksud menyalahkan dirimu! Aku hanya... hanya merasa sangat sedih, aku tak

menyangka maksudku mohon bantuan pada Thian-po-hu akan berakibat begini . . . .”

125

“Sudahlah, jangan bersedih hati, apa yang terjadi hanya suatu kesalah-pahaman kecil,

peristiwa ini tak akan mempengaruhi hubungan persahabatan antar Bu-lim-sam-hu, kita masih

tetap sesama saudara sendiri, nanti kalau markas besar Ci-moay-hwe telah ditemukan dan

siapa pemimpinnya berhasil kita ketahui, aku pasti akan menemanimu pergi ke Hiang-in-hu,

aku pasti akan membantumu untuk menghadapi komplotan penjahat yang telah menguasai

ayahmu itu.”

“Sungguh?” Hui Beng-cu mendongakkan kepalanya, “Nyo-toako, kau benar-benar mau

menemaniku pergi ke Leng-lam? Kau masih bersedia menganggapku sebagai adikmu?”

“Tentu saja sungguh, kita mempunyai musuh yang sama dan penderitaan yang sama pula,

bukankah begitu?”

Hui Beng-cu tertawa, katanya, “Nyo-toako, kau tidak membohongiku bukan?”

“Persoalan ini adalah masalah serius, buat apa aku membohongimu?” Leng-hong ikut tertawa.

“Kalau begitu legalah hatiku, terus terang kukatakan, semenjak bertemu denganmu untuk

pertama kalinya, aku telah menyukaimu, aku tak punya kakak atau adik, selanjutnya aku akan

menganggapmu sebagai kakakku sendiri, Nyo-toako kau bersedia bukan?”

“Ya, bersedia,” Leng-hong segera mengalihkan pembicaraan ke soal lain, “Sekarang tanyakan

kepada perempuan asing itu, kapan kita baru akan sampai di markas besar Ci-moay-hwe?”

“Sudah kutanyakan kepadanya, bila sepanjang jalan tiada rintangan, besok malam kita akan

tiba di tempat tujuan.”

“Apakah kau tidak berusaha mencari kabar tentang keadaan markas besar Ci-moay-hwe?”

“Sudah kutanyakan, tapi ia tak mau menjawab, ia hanya bilang keadaan di sekitar tempat itu

sangat curam dan berbahaya, di situlah berdiri istana Ci-moay-kiong, sebuah istana yang

megah dan mewah, katanya penghuni istana itu seluruhnya adalah perempuan, lagipula ilmu

silat mereka rata-rata sangat tinggi.”

Sambil mendengarkan keterangan itu Leng-hong mengangguk-angguk seakan-akan

mendengarkan secara serius, tapi seperti juga sangat kecewa, gumamnya, “Kalau begitu,

besok kita akan berhasil membongkar rahasia yang menyelimuti Ci-moay-hwe? Kenapa

sampai saat ini keadaan masih tetap tenang-tenang saja?”

“Betul, akupun merasa heran,” kata Beng-cu, “semestinya semakin mendekati sarang Cimoay-

hwe, semakin banyak gangguan atau pengadangan akan terjadi.”

Leng-hong tertawa, bisiknya, “Siapa tahu kalau malam nanti bakal ada gerakan? Kau harus

hati-hati.”

Setelah melirik sekejap ke arah perempuan negeri seberang itu, dia lantas bangkit dan

meninggalkan api unggun.

Perempuan Ainu itu masih duduk bersila tanpa bergerak, seolah-olah sudah tertidur, ketika

Leng-hong berlalu, tiba-tiba ia bangkit dan putar badan masuk ke dalam gua di belakangnya.

Tempat itu merupakan sebuah tebing yang menonjol keluar di kaki gunung, di sekeliling sana

terdapat enam-tujuh buah gua yang tidak sama dalamnya, sedangkan yang cetek hanya muat

satu badan, di depan sana ada sebuah sungai, pemandangan indah, suatu tempat berkemah

yang baik.

Setelah kenyang mengisi perut, keempat orang itu masing-masing lantas mencari sebuah gua

untuk beristirahat.

Agar lebih leluasa mengontrol perempuan Ainu itu, Hui Beng-cu mencari sebuah gua yang

agak dalam dan tinggal bersamanya, ia menyuruh perempuan itu tidur di dalam gua,

sementara ia sendiri di mulut gua.

Pang Goan dan Leng-hong berjaga secara bergilir, mereka mendiami dua buah gua yang agak

cetek di kiri kanannya.

Api unggun terletak persis di muka gua yang ditempati Hui Beng-cu, seandainya ada orang

mendekati tebing tersebut, kebanyakan mereka akan memperhatikan gua di bagian tengah

daripada kedua gua yang terletak di sisinya.

126

Secara kebetulan sekali, baru saja mereka beristirahat, tiba-tiba kedengaran suara langkah

kaki manusia ramai.

Pang Goan paling dulu mendengar suara langkah manusia itu, tapi ia hanya membetulkan

letak senjatanya tanpa bergerak dari tempatnya.

Leng-hong coba melongok dan melirik sekejap ke arah gua sebelah tengah, ia tidak tampak

Hui Beng-cu, mungkin gadis itu pun mendengar suar tersebut dan mengundurkan diri ke

dalam gua.

Maka Leng-hong pun diam saja.

Yang datang berjumlah empat orang, seorang pendeta dan tiga orang preman, pakaian mereka

compang-camping, kepala tertunduk rendah dengan langkah sempoyongan, agaknya mereka

sama terluka.

Leng-hong duduk di dalam gua dan tak sempat melihat jelas raut wajah keempat orang itu,

tapi ia merasa di antara keempat orang itu paling sedikit ada seorang yang sudah dikenalinya.

Orang pertama adalah seorang Hwesio berusia lima puluhan, jubahnya terkoyak-koyak dan

berpelepotan darah, di belakangnya mengikut tiga orang laki-laki preman setengah umur,

tubuh merekapun babak-belur.

Dengan terhuyung-huyung keempat orang itu mendekati api unggun, rupanya mereka sudah

kehabisan tenaga, mendadak mereka roboh terkapar di tanah dan tidak berkutik lagi.

Tergetar perasaan Leng-hong, baru saja dia hendak berdiri . . . . .

“Tunggu sebentar!” seru Pang Goan dengan suara tertahan, “kendalikan emosimu, keempat

orang itu sudah tewas, jangan pedulikan mereka, hati-hati dengan musuh tangguh yang

bersembunyi di tempat gelap!”

Terpaksa Leng-hong tarik napas panjang dan menekan gejolak emosinya.

Tapi setelah ditunggu sekian lama, belum kedengaran juga suara yang lain, bahkan tidak

nampak sesosok bayangan pun yang muncul di situ.

Sementara itu keempat sosok mayat tadi terkapar di dekat api unggun, jelas mereka sudah

putus nyawa karena tubuh kaku dan tak berkutik lagi.

“Lotoako, kaulihat benda di atas dada mereka?...” bisik Ho Leng-hong dengan suara parau.

“Sudah! Jangan bergerak dulu, biar kuperiksa daerah sekeliling tempat ini!”

Begitu selesai berkata, bagaikan seekor monyet, dengan gesit Pang Goan melayang keluar

gua.

Tidak lama kemudian ia muncul kembali dengan wajah serius, sambil menggapai katanya,

“Keluarlah Beng-cu! Tutuk dulu jalan darah perempuan asing itu, jangan sampai dia sempat

melarikan diri.”

Leng-hong dan Beng-cu sama muncul dari gua, setelah memeriksa keempat sosok mayat di

tepi api unggun itu, perasaan semua orang sama tertekan.

Sebelum tiba di dekat api unggun jelas keempat orang itu, seorang pendeta dan tiga orang

preman, telah terluka parah, bahkan kedatangan mereka ke sana menjelang ajalnya pun bukan

atas keinginan mereka sendiri.

Sebab tangan mereka berempat sama diikat oleh seutas tali panjang, lagi pula dada masingmasing

tergantung sebuah lencana kayu yang berukirkan sebuah huruf besar berwarna merah

darah.

Dibaca menurut urutannya dari pendeta itu, maka tersusunlah empat kata yang berbunyi,

“Jip”, “Kok”, “Cia” dan “Si” yang artinya, “Barang siapa masuk ke dalam lembah, mati!”

Meskipun sekujur badan keempat orang itu penuh dengan luka, tapi luka yang mengakibatkan

kematian mereka adalah sama, yakni dada kiri ditembus ujung golok hingga tembus ke hulu

hati, sekalipun malaikat dewata juga tak bisa menyelamatkan jiwa mereka.

Tusukan menembus hati itu bukan saja dilakukan dengan sangat jitu, besar-kecilnya luka dan

dalam cetaknya luka ternyata persis sama satu dengan lainnya.

Pang Goan geleng kepala berulang kali dan berkata, “Sungguh ilmu golok yang amat keji!”

127

“Betul!” Leng-hong menanggapi, “kesempurnaan ilmu golok pembunuh itu tampaknya tidak

berada di bawah ilmu golok Thian-po-hu maupun Hiang-in-hu.”

“Jit-long, kenalkah kau pada keempat orang ini?” tanya Pang Goan kemudian.

“Aku hanya kenal lelaki nomor dua yang mengenakan baju hijau itu, sedang sang pendeta ini

kemungkinan besar adalah Hwesio dari Siau-lim-si.”

“Oya? Lantas siapakah laki-laki itu?”

“Thian Pek-tat!”

“Thian si telinga panjang?” ulang Pang Goan dengan air muka berubah hebat.

“Memang dia inilah orangnya, bukankah Lotoako pernah bilang secara tiba-tiba dia diajak

temannya meninggalkan rumah dan menuju ke Lan-hong? Bisa jadi kedua orang ini adalah

sahabatnya yang mengajaknya pergi, kemungkinan besar kepergian mereka ke Lan-hong

adalah untuk mengunjungi Siau-lim-si . . . cuma, kenapa mereka bisa mati di sini?”

“Kalau begitu, kecurigaanmu padanya sebagai mata-mata Ci-moay-hwe jelas keliru besar,”

kata Pang Goan dengan kening berkerut.

“Baik dalam tindak tanduknya maupun dalam pembicaraannya, Thian Pek-tat merupakan

seorang yang patut dicurigai, maka menurut dugaanku jika ia bukan mata-mata Ci-moay-hwe,

jelas dia orang suruhan dari kelompok organisasi misterius lainnya, kalau tidak, tak mungkin

tanpa sebab musabab ia mendatangi pegunungan Tay-pa-san ini.”

“Lantas siapa pula kelompok manusia yang misterius itu?”

“Tentang ini tak berani kukatakan secara gegabah, Cuma selalu kurasakan sejak tercurinya

Yan-ci-po-to seakan-akan terdapat sekelompok manusia yang diam-diam memusuhi pihak Cimoay-

hwe, mungkin saja merekapun mengincar golok mestika tersebut, dan mungkin juga

mempunyai tujuan tertentu, tapi kawankah atau musuhkan? Sukar untuk dikatakan dengan

begitu saja, sayang Thian Pek-tat telah mati, kalau tidak, mungkin dari mulutnya akan

diperoleh sedikit titik terang.”

Pang Goan termenung sebentar, lalu berkata, “Kalau demikian, suasananya makin lama

berkembang makin kacau, kecuali Ci-moay-hwe, siapa lagi yang berhasrat mendapatkan

golok mestika Yan-ci-po-to?”

“Lotoako, masih ingatkah kau Yan-ci-po-to telah dirampas oleh seorang berkerudung yang

tinggi besar? Hakikatnya Samkongcu dari Ci-moay-hwe tidak berhasil mendapatkan golok

mestika tersebut.”

Tergerak juga hati Pang Goan, katanya, “Benar, waktu itu aku mengira pihak Ci-moay-hwe

berbohong, bila kita bayangkan kembali sekarang rasanya memang ada beberapa bagian yang

bisa dipercaya . . . . .”

Sementara mereka membicarakan kejadian yang berlangsung di Thian-po-hu tempo hari, Hui

Beng-cu menjadi tidak sabar, selanya, “Hei, apa yang kalian bicarakan? Sepatah katapun tidak

kupahami. Sekarang lebih baik kita rundingkan dulu apa yang mesti dilakukan dengan

keempat sosok mayat ini.”

“Gali saja sebuah liang dan kita kubur mereka.....” usul Pang Goan.

“Tidak, tak boleh dikubur!” mendadak seseorang menganggapi, bersamaan itu dari atas tebing

melayang turun sesosok manusia.

Baik Pang Goan maupun Ho Leng-hong, kedua-duanya tidak menyangka di atas tebing telah

bersembunyi seseorang, serentak mereka lolos golok dan pedang.

“Jangan menggerakkan senjata,” kembali orang itu berkata, “kedatanganku orang tua ini

hanya bermaksud menasihati kalian saja, mau turut atau tidak terserah kepada kalian sendiri,

dan tak perlu bersitegang macam begini.”

Orang yang mengaku sebagai orang tua itu memang telah lanjut usia, wajahnya penuh keriput,

rambut dan jenggotnya telah memutih, badannya agak membungkuk, meskipun belum

mencapai sembilan puluh, paling sedikit juga melampaui delapan puluh.

128

Meski begitu, tongkat baja sebesar telur itik yang berada dalam genggamannya itu memiliki

bobot yang hampir sebanding dengan usianya, kalau tidak mencapai sembilan puluh kati,

delapan puluh pasti ada.

Dengan usianya yang tua namun sanggup membawa tongkat seberat itu, dari sini saja dapat

diketahui bahwa orang tua ini memang bukan orang sembarangan.

Pang Goan bukan orang bodoh, golok dan pedangnya tidak digunakan untuk menyerang, tapi

disilangkan untuk melindungi badan, lalu tegurnya dengan suara berat, “Siapa kau?”

“Aku adalah orang di luar garis, bila kalian suka panggil saja aku orang di luar garis.”

“Kalau begitu, kau tak ada hubungan apa-apa dengan Ci-moay-hwe?” sela Ho Leng-hong.

Kakek itu tertawa, “Dengan sebutan orang di luar garis, berarti aku tak ada hubungan apa-apa

dengan pihak manapun.”

“Lantas dengan maksud apa kau bersembunyi di puncak tebing itu?” tegur Pang Goan.

“Pang-lote, jangan berkata begitu!” ujar kakek itu sambil menarik senyumnya, “tebing ini

bukan milik Cian-sui-hu, kalian boleh datang kemari kenapa aku tak boleh datang? Lagipula

aku datang lebih awal daripada kalian, semenjak tadi aku sudah berdiam di atas tebing itu,

adalah kalian yang tidak melihat jejakku, masa kini menyalahkan aku si kakek mengintip

kalian?”

“Kalau begitu, anggap saja ketajaman pendengaran kamilah yang kurang . . . .” kata Lenghong

kemudian, “tapi, bolehkah kutahu mengapa kau melarang kami mengubur mayat-mayat

ini?”

“Untuk mengetahui alasannya, maka lebih dulu ingin kutanya, jauh-jauh kalian datang ke

tempat sepi semacam ini, sesungguhnya apa tujuan kalian?”

“Kami sedang mencari suatu tempat!”

“Apakah alamat markas besar Ci-moay-hwe yang sedang kalian cari?”

“Benar!”

“Aku ingin bertanya lagi, tahukah kalian siapakah yang membunuh keempat orang ini?”

“Tentu saja orang-orang Ci-moay-hwe!”

“Mengapa pihak Ci-moay-hwe membunuh mereka?”

“Jelas sekali, mereka sengaja pamerkan kekuatan agar kami tak berani melanjutkan

perjalanan.”

“Apakah kau kira markas besar Ci-moay-hwe terletak di atas bukit di sebelah depan sana?”

tanya kakek itu lagi.

“Betul,” jawab Leng-hong.

Ditatapnya pemuda itu dengan tersenyum, lalu kata si kakek, “Tak kunyana, kau benar-benar

pintar!”

“Tak berani kuterima pujianmu . . . . .” Leng-hong memberi hormat.

Tiba-tiba kakek itu menarik muka sambil meludah ke tanah, “Pintar?” ejeknya, “Cis! Pintar

kentut, Hei, anak muda, kau anggap dirimu sangat pintar? Padahal gobloknya melebihi

kerbau.”

Leng-hong melenggong, “Orang tua, kau . . . . .”

“Hmm, aku sudah cukup sungkan padamu, coba kalau tidak sungkan, ingin sekali kuhadiahi

beberapa tempelengan untukmu. Apakah tidak kau bayangkan, setelah Ci-moay-hwe dapat

masuk keluar dengan seenaknya sendiri di Bu-lim-sam-hu bagaikan di rumah sendiri, apakah

mereka mau mendirikan markas besarnya di tengah bukit liar semacam ini?”

Sekalipun sedang didamprat, namun Leng-hong cuma diam saja, sebab ia merasa perkataan

itu memang benar.

Terdengar kakek itu berkata lebih jauh, “Lagipula, seandainya mereka tak ingin kedatangan

kalian, banyak kesempatan bagi mereka untuk turun tangan di sepanjang jalan, kenapa harus

pamer kekuatan pada saat seperti ini? Jikalau keempat orang itupun bisa mereka bunuh,

mengapa mereka tidak dapat membunuh kalian pula? Apa gunanya membuka celana untuk

129

kentut, melakukan tindakan berlebihan? Memangnya kalian bertiga lebih hebat daripada

mereka berempat?”

“Jadi maksud orang tua, kedatangan kami memang telah diatur oleh Ci-moay-hwe secara

diam-diam?”

“Kalau tidak, apakah kalian bisa sampai di sini dengan lancar?”

“Kalau begitu, mereka sengaja mengatur jebakan agar kami masuk perangkap?”

Tersungging juga senyuman pada wajah kakek itu, “O, rupanya kau memang tidak terlalu

goblok, akhirnya keluar juga sepatah kata cerdik.”

“Lalu, siapakah yang membunuh keempat orang itu? Jebakan apakah yang mereka siapkan di

atas bukit?” tanya Leng-hong lagi.

Kakek itu menggeleng kepala berulang kali, “Baru saja kukatakan kaupintar, kenapa menjadi

bodoh lagi? Terus terang kuberitahukan padamu, inilah siasat Cioh-to-sat-jin (pinjam golok

membunuh orang) dari Ci-moay-hwe, mengerti?”

“Aku belum mengerti!”

“Sialan, terpaksa harus kuterangkan lebih terperinci padamu,” keluh kakek itu sambil

menghela napas, “ketahuilah, pihak Ci-moay-hwe sengaja mengirim anak domba ke mulut

harimau, kalian di pancing ke sebuah lembah yang mengerikan, meskipun tempat itu tiada

jebakan yang berbahaya, tapi hanya bisa datang dan jangan harap akan keluar lagi, sebab

barang siapa telah masuk ke dalam lembah itu, selamanya tak mungkin keluar lagi dalam

keadaan hidup . . . .”

“Apakah kau maksudkan lembah Mi-kok?”

Tiba-tiba air muka kakek itu berubah, “Sudah terlalu jelas keteranganku tadi, apapun nama

tempat itu, pokoknya lebih baik jangan di datangi, aku hanya orang di luar garis, sampai di

sini saja apa yang bisa kukatakan, mau percaya atau tidak terserah kepada kalian sendiri.”

Dia lantas mengangkat tongkatnya dan siap meninggalkan tempat itu.

“Tunggu sebentar!” seru Pang Goan tiba-tiba sambil mengadang jalan perginya.

Sambil tertawa dingin kakek itu menghentikan langkahnya, “Pang-lote, apakah masih ada

urusan lain?”

“Aku ingin tanya satu hal, sebagai orang di luar garis, kenapa begitu banyak persoalan tentang

Ci-moay-hwe yang kauketahui? Darimana pula kau tahu bahwa setiap orang yang masuk ke

lembah Mi-kok tiada harapan lagi untuk keluar dalam keadaan hidup?”

“Pang-lote,” kata kakek itu sambil menarik napas panjang, “aku bermaksud baik, jangan kau

anggap aku bermaksud jahat.”

“Kalau betul bermaksud baik, kenapa tidak berani sebutkan namamu?”

“Apa gunanya memaksa orang melakukan hal yang tidak diinginkannya?” kata kakek itu lagi

sambil tertawa.

“Oleh karena kau orang di luar garis yang terlalu banyak mencampuri urusan ini.”

“Jika aku tak bersedia menyebutkan namaku?”

“Terpaksa akan kuselidiki asal-usulnya dari ilmu silatmu?”

“Hahaha . . . kau hendak bertarung denganku?” seru si kakek sambil tertawa terbahak-bahak.

“Betul, silakan!”

Dengan golok di tangan kiri dan pedang di tangan kanan, Pang Goan segera menunjukkan

gaya pembukaan ilmu To-kiam-hap-ping-tin.

Ho Leng-hong kuatir mereka benar-benar berkelahi, segera teriaknya, “Pang-toako, bolehkah

aku mengajukan beberapa pertanyaan dulu kepada orang tua ini?”

“Baik, tanyalah lebih dulu!”

Leng-hong memberi hormat kepada kakek itu, lalu katanya, “Aku percaya kau orang tua

benar-benar bermaksud baik, tapi ucapanmu baru sampai di tengah jalan, kenapa lantas buruburu

mau pergi?”

130

“Apa yang bisa kukatakan telah kuutarakan, urusan apa yang kaumaksudkan cuma setengah

jalan?”

“Tadi kami hendak mengubur keempat sosok jenazah ini, tapi dialangi olehmu, sampai

sekarang belum kaujelaskan kepada kami kenapa jenazah mereka tak boleh dikubur.”

“O, rupanya persoalan ini yang kau tanyakan,” kata si kakek sambil tertawa, “Baiklah! Akan

kuterangkan padamu, keempat sosok mayat dan lencana kayu di tubuh mayat tersebut

merupakan sebagian dari siasat Ciok-to-sat-jin dari Ci-moay-hwe. Jika kalian mau menurut

anjuranku, maka cepatlah bakar mayat itu dengan api, kemudian tinggalkan Tay-pa-san, kalau

tidak, maka tak lama bakal ada bencana besar yang akan menimpa kalian.”

“Kenapa mayat-mayat itu mesti dibakar dengan api . . . .” tanya Leng-hong dengan

tercengang.

“Ah, terlalu banyak yang kautanya!” tukas kakek itu marah, tongkatnya segera diketukkan ke

tanah dan tubuhnya melayang pergi meninggalkan tempat itu.

“Jangan pergi dulu! Sambut seranganku ini.” Bentak Pang Goan.

Tampak cahaya tajam berkilau, golok di tangan kiri dan pedang di tangan kanannya segera

menyerang bersama.

Waktu itu kedua kaki si kakek sudah meninggalkan permukaan tanah, tiba-tiba ia tertawa

dingin, “Jurus serangan bagus!”

Bayangan tongkat berkelebat membelah angkasa, di antara getaran ujung tongkat terciptalah

selapis cahaya hitam.

Ketika serangan golok dan pedang Pang Goan membentur cahaya hitam tersebut . . . . .

“Trang!” golok dan pedang terpental kembali.

Untung Pang Goan tidak menggunakan segenap tenaganya dalam serangan tersebut, ia

tergetar mundur dua langkah dengan sempoyongan, tangannya terasa panas dan sakit, hampir

saja senjatanya terlepas dari genggaman.

Kakek itu sama sekali tidak menghentikan gerak tubuhnya, sekali berjumpalitan ia sudah

melayang ke atas tebing dan lenyap dibalik batu itu.

“Toako terluka tidak?” tanya Leng-hong cepat.

Pang Goan menggeleng kepala dengan wajah terkejut katanya, “Betapa sempurnanya tenaga

dalam kakek itu, hidup sampai setua ini baru sekali ini aku benar-benar menjumpai seorang

jago tangguh.”

“Sudah Toako tahu asal-usulnya?”

Kembali Pang Goan menggeleng, “Tidak berhasil kuketahui, tenaga dalam orang ini jauh di

atasku, belum pernah kudengar dalam dunia persilatan terdapat seorang jago setangguh ini.”

Padahal Pang Goan adalah seorang tinggi hati dan tak pernah tunduk kepada orang lain, tapi

sekarang ia mengucapkan kata-kata semacam itu, dapat diketahui bahwa perasaannya betulbetul

tergetar keras.

“Untung ia menyebut dirinya sebagai orang di luar garis, jadi tidak bermusuhan dengan kita,

kalau tidak, sungguh seorang musuh tangguh.”

Hui Beng-cu yang membungkam terus sejak tadi tiba-tiba berkata sambil tertawa, “Menurut

pendapatku, usianya sudah terlalu lanjut, senjatanya juga kelewat berat, andaikata benar-benar

terjadi pertarungan, belum tentu dia bisa menandingi kelihayan Pang-toako.”

“Kau tak perlu bantu menutupi maluku,” kata Pang Goan sambil tertawa getir, “di atas langit

masih ada langit, di atas manusia pintar masih ada yang lebih pintar, dunia persilatan penuh

dengan orang kosen yang tak terhitung banyaknya, tenaga dalam tak dapat menandingi

bukanlah sesuatu yang memalukan, tak berani mengaku kalah barulah suatu kejadian yang

memalukan.”

Merah wajah Hui Beng-cu karena jengah, katanya sambil tertawa, “Maksudku jurus pedang

Pang-toako belum tentu kalah dengannya, misalnya saja kalau ia tidak cepat-cepat pergi, bila

131

Pang-toako telah mengembangkan ilmu To-kiam-hap-ping-tin, siapa yang bakal menang atau

kalah masih sukar diramalkan.”

“Sekarang tak usah membicarakan soal semacam itu,” kata Leng-hong, “yang mesti kita

rundingkan sekarang adalah apakah kita harus mengikuti anjurannya atau tidak?”

Pang Goan berkerut kening, untuk sesaat ia tak berkata apa-apa.

“Aku pikir anjurannya tak perlu digubris,” kata Beng-cu, “bahkan siapakah dia saja tidak kita

ketahui, dengan dasar apa kita harus menuruti perkataannya?”

“Tapi, apa yang dikatakannya ada benarnya juga, andaikata hal ini benar-benar merupakan

rencana busuk Ci-moay-hwe, mau-tak-mau kita harus waspada dan mencegahnya.”

“Bagaimanapun besok kita akan tiba di tempat tujuan, sampai waktunya bukankah semua

persoalan akan tersingkap dengan sendirinya? Jangan lantaran Cuma sepatah katanya lantas

melepaskan semua usaha kita yang telah kita capai dengan susah-payah.”

Leng-hong berpikir sejenak, kemudian berpaling, “Bagaimana pendapatmu, Lotoako?”

Pang Goan menarik napas panjang, “Kukira ucapan kakek itu tak mungkin tanpa alasan,

mungkin saja ia bermaksud baik, Cuma kita tak boleh melepaskan usaha kita sampai setengah

jalan saja ....”

“Benar!” Beng-cu menyambung, “asal kita lebih berhati-hati, sekalipun di depan sana ada

marabahaya juga tak perlu takut.”

Pang Goan tidak menanggapinya, katanya, “Menurut perkataan orang tua itu, kemungkinan

besar lembah tersebut adalah Mi-kok seperti apa yang tersiar dalam dunia persilatan selama

ini, andaikata betul, sekalipun harus menyerempet bahaya tetap akan kita datangi tempat itu,

sedang mengenai keempat sosok mayat ini, kupikir memang ada baiknya dibakar saja seperti

usulnya tadi.”

Tiba-tiba Leng-hong tertawa, katanya, “Siaute telah mendapatkan suatu akal bagus, entah

Toako menyetujui atau tidak?”

“Coba katakan.”

“Kukira ucapan kakek itu dapat dipercaya, cuma keterangannya tidak terperinci sehingga

bikin orang bingung, bagaimana kalau kita lakukan percobaan?”

“Percobaan bagaimana?”

“Ia sarankan agar mayat ini dibakar, dikatakan pula keempat sosok mayat dan lencana kayu

ini merupakan sebagian dari siasat Cioh-to-sat-jin (pinjam golok membunuh orang) dari Cimoay-

hwe, aku rasa dibalik ucapan tersebut tentu ada sebab-sebabnya, maka menurut

pendapatku untuk sementara waktu kita jangan melanjutkan perjalanan dulu, mayat-mayat

inipun tak usah kita bakar, biarkan saja mayat dan lencana kayu berada di tempat semula,

kemudian kita sembunyi dan menunggu satu hari, coba kita lihat peristiwa apa yang akan

terjadi?”

“Bagus sekali!” sorak Beng-cu, “aku sangat setuju dengan percobaan ini, toh terlambat satudua

hari juga tidak apa-apa.”

Pang Goan termenung sejenak sebelum menjawab, “Mungkin juga bencana yang

dimaksudkan tak akan terjadi di sini, kalau begitu, bukankah kita akan menunggu dengan siasia

di sini?”

“Meski demikian, hal tersebut sama sekali tidak mempengaruhi rencana kita semula,

selewatnya besok kita masih bisa membakar mayat-mayat ini dan melanjutkan perjalanan, apa

artinya tertunda sehari?”

“Baiklah,” kata Pang Goan kemudian sambil mengangguk, “kita coba saja kalau begitu.”

“Aku akan coba mencari apakah di sekitar sini ada tempat persembunyian yang baik?” kata

Beng-cu cepat.

“Tak usah dicari lagi, bukanlah di atas sana merupakan tempat persembunyian yang baik?”

kata Leng-hong sambil menuding tonjolan tebing sebelah atas.

132

Tiga orang itu segera melompat ke puncak tebing itu, betul juga, mereka temukan sebuah gua

di sana, mulut gua ciut, dan pendek, tapi perut gua itu lebar dan dalam sekali, pada ujung lain

terdapat jalan tembus dan melingkar sampai sejauh puluhan tombak lebih.

Gua itu benar-benar aman dan rahasia letaknya, tak aneh kakek yang menyebut dirinya,

“orang luar garis” itu begitu mencapai puncak tebing ini lantas lenyap.

Hui Beng-cu membawa juga perempuan Ainu itu ke atas tebing dan meletakkannya di dalam

gua, sementara api unggun dan mayat dibiarkan tetap berada di tempat semula.

Setelah segala sesuatunya selesai diatur, ketiga orang itu lantas bertiarap di depan gua sambil

menantikan perubahan selanjutnya.

Malam itu lewat dengan aman tenteram, tiada peristiwa apapun yang terjadi. Tak lama setelah

fajar menyingsing, ketiga orang itu mulai merasa letih.

“Secara bergilir kita mesti beristirahat dulu,” kata Pang Goan, “kita harus simpan tenaga,

sebab kita akan menunggu sehari semalam lagi.”

Hui Beng-cu tampak menguap, katanya sambil tertawa, “Aku memang merasa lelah, baiklah

aku tidur sebentar lebih dulu, bila ada apa-apa panggillah aku!”

“Mumpung sekarang hari baru terang, bebaskan dulu jalan darah perempuan asing itu agar

membuang hajat di belakang gua sana, sebab jalan darah yang terlalu lama ditutuk bisa

mengakibatkan beku peredaran darahnya.”

Beng-cu mengiakan dan berbangkit, tapi tiba-tiba matanya terbelalak lebar, sambil menuding

ke bawah tebing sana katanya, “Coba lihat, mayat itu....”

“Mengapa dengan mayat-mayat itu?” tanpa terasa Pang Goan dan Leng-hong tanya bersama.

Waktu itu api unggun telah padam, tapi keempat sosok mayat itu masih tergeletak di tepi api

unggun, sama sekali tiada suatu yang aneh.

Dengan suara kaget Hui Beng-cu berkata lebih jauh, “Ke . . . . ke mana larinya lencana kayu

pada mayat itu? Ke . . . kenapa bisa lenyap semua . . .”

Pang Goan dan Leng-hong cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke bawah, segera

merekapun terperanjat.

Betul juga, keempat buah lencana kayu di tubuh mayat itu betul-betul telah lenyap tak

berbekas.

“Lotoako, lindungi aku dari atas, bias aku turun ke bawah untuk melakukan pemeriksaan!”

kata Leng-hong dengan suara tertahan.

“Jangan sembarangan bergerak,” cegah Pang Goan cemas, “kejadian ini sangat mencurigakan,

mungkin sekali inilah yang dimaksudkan si kakek sebagai rencana busuk itu!”

“Semalam jelas benda-benda itu masih ada,” kata Beng-cu, “semalam suntuk kitapun tak

pernah memejamkan mata, mengapa lencana-lencana kayu itu bisa lenyap dengan

sendirinya?”

Kenyataannya memang demikian, semalam suntuk mereka bertiga mengawasi terus sekitar

tempat itu, “tiada embusan angin rumput tentu tak kan bergoyang”, kenapa keempat buah

lencana kayu itu bisa lenyap secara tiba-tiba?”

Untuk sesaat mereka bertiga hanya saling pandang dengan tercengang.

“Masa ada setan di sini?” gumam Hui Beng-cu, “kalian turun saja ke bawah melakukan

pemeriksaan, aku akan melindungi kalian dari sini.”

Tentu saja Ho Leng-hong dan Pang Goan tidak percaya setan, namun merekapun tak bisa

memecahkan teka-teki di sekitar lenyaplah keempat lencana kayu itu, saking ingin tahunya,

serentak mereka melayang turun ke bawah.

Setelah mendekati tumpukan api unggun itu, Pang Goan berdua jadi tertegun.

Empat sosok mayat itu masih tetap seperti semula, cuma lencana kayu dan tali temali yang

meringkus tubuh telah lenyap tak berbekas, di bawah bekas tali dan lencana kayu itu

133

ditemukan bubuk kayu yang amat tipis, abu itu sedang menyebar ke mana-mana terembus

angin.

Ini menunjukkan bahwa lencana kayu itu bukan terbuat dari kayu, tali juga bukan buatan

bahan rami melainkan terbuat dari sejenis bahan khusus yang secara otomatis akan lenyap

dengan sendirinya setelah diembus angin semalam suntuk.

Tapi terbuat dari bahan apakah itu? Siapapun tak tahu.

Mengapa diatur siasat seperti ini. Sungguh memusingkan kepala orang.

Tapi lenyapnya tali dan lencana kayu itu memang fakta.

Tiba-tiba Ho Leng-hong mendesis, “Ah, mengertilah aku sekarang . . .”

“Kau mengerti apa?”

“Tak heran itu melarang kita mengubur jenazah ini, rupanya inilah siasat Cioh-to-sat-jin dari

Ci-moay-hwe.”

“Siasat pinjam golok membunuh orang bagaimana maksudmu?”

“Bayangkan saja, andaikata pihak penghuni lembah sedang mengadakan pencarian terhadap

keempat orang ini, dan semalam kita mengubur jenazah mereka, bila hal ini sampai diketahui

mereka, bagaimanakah penjelasan kita terhadap peristiwa itu?”

“Orang-orang itu bukan mati di tangan kita, tentu saja kita menceritakan hal yang

sesungguhnya.”

“Dengan demikian, pihak lawat pasti akan menggali kubur untuk memeriksa mayat-mayat

tersebut, dengan bukti di depan mata, maka keterangan kita yang jujur akan berubah menjadi

kata-kata bohong, siapa yang percaya orang-orang ini bukan mati di tangan kita?”

Pang Goan menarik napas dingin, gumamnya, “Benar juga, tatkala mana kita benar-benar tak

akan mampu menyangkal, sungguh siasat mereka ini . . . .”

Belum habis ia berkata, tiba-tiba dari atas tebing terdengar jeritan kaget, “Pang-toako, Nyotoako,

lekas kemari!”

Serentak Pang Goan dan Ho Leng-hong melompat ke atas tebing, tapi Hui Beng-cu yang

berada di dalam gua kini tidak nampak lagi.

“Celaka, perempuan asing itu berhasil kabur,” seru Leng-hong dengan gemas.

Buru-buru mereka mengejar ke dalam gua, ketika menyusul sampai di ujung gua sana mereka

melihat Hui Beng-cu sedang berdiri termangu di depan gua sambil memegang golok yang

memancarkan sinar kemilau.

“Di mana orangnya?” bentak Leng-hong.

“Aku . . . aku tidak tahu . . . .”

“Orang itu kan berada dalam gua, mengapa kau tidak tahu?”

“Aku betul-betul tidak tahu,” jawab Beng-cu dengan wajah merah padam, “ketika aku berdiri

di atas tebing sambil mengawasi sekeliling tempat ini, kudengar di dalam gua seperti ada

langkah manusia, waktu aku memburu kemari, perempuan asing itu sudah lenyap, tapi di sini

aku menemukan sebilah golok.”

Pang Goan menerima golok itu, mendadak dengan air muka berubah teriaknya tertahan, “Hah,

golok mestika Yan-ci-po-to?!”

Tak salah lagi, sarung golok terbuat dari kulit ular, gagang pelindung terbuat dari emas dan

empat huruf mutiara tertata pada gagangnya, memang itulah golok mestika Yan-ci-po-to.

Golok tersebut lenyap tercuri sewaktu berada di Thian-po-hu, tapi kini di temukan kembali di

luar gua di atas bukit yang jauh dari keramaian manusia.

Jelas orang-orang Ci-moay-hwe yang telah menyelamatkan perempuan Ainu tadi serta

meninggalkan Yan-ci-po-to di sini.

Kejadian ini membuat Pang Goan menjadi bingung dan tak habis mengerti.

Ditatapnya Ho Leng-hong, tanyanya, “Sesungguhnya apa yang telah terjadi?”

134

Dengan serius jawab Ho Leng-hong sepatah demi sepatah, “Inilah senjata yang mendatangkan

bencana.”

“Apakah Thian Pek-tat berempat mati dibunuh dengan Yan-ci-po-to?” tanya Pang Goan

terkejut.

“Benar. Sekarang persoalannya sudah jelas. Rupanya Thian Pek-tat ada hubungan dengan

orang-orang dari lembah maut itu, setelah berhasil memperoleh Yan-ci-po-to di Thian-po-hu,

bersama tiga orang lainnya mereka mengantar senjata ini ke Tay-pa-san, siapa tahu mereka

dicegat oleh orang-orang Ci-moay-hwe, bukan saja golok dirampas, Thian Pek-tat

berempatpun dibunuh, kemudian golok mestika dan mayat-mayat mereka digunakan sebagai

alat untuk melimpahkan bencana buat orang lain.....”

Pang Goan segera paham, dengan gelisah katanya, “Kalau begitu kita harus segera tinggalkan

tempat ini!”

“Terlambat,” kata Leng-hong sambil menggeleng, sorot matanya beralih keluar gua.

Ketika Pang Goan mengikuti arah pandangannya, seketika hatinya ikut tercekat.

Entah sejak kapan, di luar gua telah muncul tiga orang perempuan dengan golok terhunus.

Ketiga orang perempuan itu semuanya mengenakan baju merah dengan golok panjang yang

berbentuk sama, air muka mereka amat dingin, tanpa emosi.

Di antara ketiga orang itu, ada seorang yang berusia paling tua, yaitu sekitar tiga puluh

tahunan, pada tepi gaun merahnya kelihatan sulaman benang biru.

Dua orang yang lain berusia tujuh-delapan belas tahunan, pada tepi gaun mereka bersulamkan

benang hitam.

Dari warna pakaian dan dandanan ketiga orang itu, tiba-tiba Pang Goan teringat kembali pada

cerita mengenai lembah “Mi-kok” dan “Ang-ih Hui-nio”, tanpa terasa hatinya bergolak keras .

. . .

“Lotoako, setelah tertipu, kita harus menghadapi segala persoalan dengan tenang,” kata Lenghong

setengah berbisik, “lebih baik kita selidiki dulu apakah mereka benar-benar orang Mikok

atau bukan.”

“Jangan kuatir, aku tahu,” jawab Pang Goan dengan tertawa.

Sementara berdua sedang bercakap-cakap, mendadak dari belakang gua terdengar lagi suara

orang, tahu-tahu dua orang gadis berbaju merah yang bergolok muncul di belakang mereka.

Dengan cepat Beng-cu lolos golok lengkungnya lalu bertanya, “Kita sudah terkepung, apa

daya sekarang?”

Pang Goan memandang sekejap ke muka dan ke belakang, lalu hiburnya, “Jangan takut,

tampaknya perempuan baju merah bersulam benang biru itu adalah komandan mereka, mari

kita turun untuk berbicara dengannya.”

Ketika mereka bertiga melompat ke bawah, dua gadis bergaun merah dengan sulaman benang

hitam yang ada di luar gua itu serentak mengangkat goloknya, sedang dua orang yang berada

dalam gua juga melolos senjata sambil ikut melompat ke bawah, dengan cepat mereka

membentuk posisi mengepung terhadap ketiga lawannya.

Hanya perempuan setengah umur bersulam benang biru yang tetap tak bergerak, ditatapnya

ketiga orang itu dengan sorot mata dingin, kemudian bertanya, “Siapakah kalian? Datang

darimana? Dan mau ke mana?”

Sambil tertawa Pang Goan segera memberi hormat, “Enso, bolehkah aku bertanya lebih dulu,

apakah kalian adalah murid Ang-ih Hui-nio?”

“Kalian juga tahu tentang Ang-ih Hui-nio?” seru nyonya muda itu dengan air muka berubah.

“Dulu kami cuma mendengar ceritanya saja dan tidak tahu benarkah lembah Mi-kok itu ada

atau tidak, tapi setelah melihat keadaan sekarang ini, kami baru percaya bahwa cerita tersebut

memang benar.”

Nyonya muda itu mengerdip mata beberapa kali, tiba-tiba memberi tanda sambil

memerintahkan, “Gusur mereka pulang!”

135

Keempat anak dara tadi segera mengiakan, serentak mereka maju mengepung.

“Tunggu sebentar!” seru Pang Goan, “antara kami dengan kalian hakikatnya ‘air sungai tidak

menggenangi air sumur’, bertemu pun baru pertama kali, dengan alasan apa kalian hendak

membawa kami pergi?”

“Tak usah banyak bicara,” bentak nyonya muda itu, “katakan saja, kalian mau lepaskan

senjata dan ikut kami pergi ataukah hendak menunggu kami bertindak dengan kekerasan?”

“Wah, kalau begitu, tak mau pergi pun tak bisa?” kata Pang Goan sambil tertawa.

“Boleh saja, kecuali kalian bisa menangkan permainan golokku ini.”

“Sudah lama kudengar kehebatan ilmu golok aliran Mi-kok,” kata Pang Goan sambil tertawa,

“betapa senangku jika diberi kesempatan untuk mencobanya!”

Nyonya muda itu maju dua langkah sambil meraba gagang goloknya, “Silakan turun tangan!”

Tiba-tiba Ho Leng-hong maju ke depan dan mengadang di hadapannya, lalu berbisik lirih,

“Lotoako, biarlah Siaute coba dulu kelihayannya.”

Pedang di tangan kirinya disimpan kembali, kemudian golok Yan-ci-po-to pelahan diangkat

ke udara.

Rupanya nyonya muda itu cukup mengetahui nilai barang, dengan dahi berkerut katanya,

“Apa kedudukanmu di Thian-po-hu di kota Kiu-ki-shia?”

“Nama tidak terlalu penting, silakan nona memberi petunjuk!” sahut Leng-hong.

“Baik!” kata nyonya muda itu sambil tertawa dingin, “Kalau kau memang tak tahu diri, akan

kusuruh kau rasakan betapa lihaynya Ang-sui-to-hoat (rahasia golok baju merah).”

Segera dia lolos golok panjang dari sarungnya.

“Mengapa nona tidak turun tangan lebih dulu?” tanya Leng-hong.

“Antara tamu dan tuan rumah ada bedanya, kupersilakan kau turun tangan dulu!”

Meskipun Leng-hong tahu ilmu golok dari lembah Mi-kok justru merupakan tandingan dari

Nyo-keh-sin-to, namun sambil tersenyum katanya pula, “Tamu yang sopan harus

menghormati tuan rumah, lagipula golokku ini adalah golok mestika, hendaklah nona tak usah

sungkan-sungkan lagi!”

“Hmm, kau anggap dengan golok mestika lantas bisa menarik keuntungan? Kalau demikian

anggapanmu, maka perhitunganmu itu keliru besar. Sambutlah seranganku ini.”

Begitu golok dilolos, cahaya tajam segera berkilauan dan mata golok lantas menyambar tiba.

Sungguh cepat tak terlukiskan gerakan melolos goloknya, bahkan Pang Goan dan Hui Bengcu

yang memperhatikan dengan saksama pun tak sempat mengikuti bagaimana caranya

perempuan itu menggerakkan tubuhnya.

Lebih-lebih Ho Leng-hong, ia Cuma merasakan pandangannya kabur, buru-buru ia mundur

dua langkah, kemudian goloknya diputar dan menciptakan selapis cahaya tajam untuk

melindungi badan.

Sewaktu mulai menyerang saja gerakan nyonya muda itu amat cepat, ketika berganti jurus

pun jauh lebih cepat lagi, dari gerak membacok golok panjang itu berubah menjadi gerakan

menabas.

Sambil putar senjata untuk melindungi badan Ho Leng-hong main mundur terus ke belakang,

ia merasa golok panjang nyonya muda berbaju merah itu seakan-akan telah menempel dengan

golok mestika Yan-ci-po-to, bukan saja sukar dibendung, dihindari pun sulit.

Terpaksa ia putar golok dengan kencang sambil mundur terus, hakikatnya tiada kesempatan

baginya untuk berganti jurus serangan.

Dalam keadaan demikian, asal ia menghentikan gerakannya, maka setiap saat golok panjang

si nyonya berbaju merah itu akan menembus sinar senjatanya dan melukainya.

Gerakan Ho Leng-hong rada gugup dan kacau, dalam waktu singkat ia sudah terdesak mundur

dua lingkaran, sementara nyonya berbaju merah itu masih terus menyerang dengan gencar.

Melihat gelagat yang tidak menguntungkan itu, Pang Goan segera membentak, “Tahan!”

136

Bersama dengan suara bentakan itu, Hui Beng-cu melolos senjatanya untuk menyerang

nyonya merah itu dari belakang.

Bayangan manusia berkelebat diikuti bunyi bentakan nyaring, di tengah gulungan cahaya

golok, sesosok bayangan merah melompat ke udara dan berjumpalitan beberapa kali,

kemudian melayang turun di belakang sana.

Dengan melompat perginya nyonya berbaju merah itu, secara mengherankan Ho Leng-hong

dan Hui Beng-cu saling bertumbukan sendiri, tanpa terasa mereka saling bacok membacok

sebanyak tiga empat gebrakan sebelum mengetahui bahwa lawan adalah orang sendiri, cepatcepat

mereka tarik kembali serangannya sambil melompat mundur.

Kemudian kedua orang itu saling pandang dengan tertegun.

Nyonya muda berbaju merah itu tertawa sombong, lalu katanya, “Jika kalian bertiga mau

maju bersama, akupun tidak menolok, tapi lebih baik katakan terus terang, jangan gunakan

siasat ‘suara di timur menyerang dari barat’, yang seorang bicara tiada hentinya, sedang yang

lain menyergap dengan cara yang rendah dan keji.”

“Sekalipun harus bertarung satu lawan satu juga aku tidak takut,” kata Hui Beng-cu dengan

marah.

“Benarkah demikian? Bagaimana kalau dicoba?”

“Coba juga boleh, memangnya aku takut?”

Dengan geramnya Beng-cu memutar golok lengkungnya, langsung menerjang perempuan

berbaju merah itu.

“Tunggu sebentar!” cegah Pang Goan sambil merentangkan tangannya.

Dengan napas terengah-engah kata Hui Beng-cu, “Pang-toako, perempuan ini terlalu

sombong, biar kuberi pelajaran kepadanya.”

“Memberi pelajaran kepada kaum wanita adalah urusan kami orang lelaki, mundurlah dulu,

lihat saja kehebatan Pang-toakomu.”

“Manusia yang tahu diri,” teriak perempuan berbaju merah itu dengan gusar, “kalau kau

berani sembarangan bicara, hati-hati kalau nyonya besar potong lidahmu.”

“Marilah,” kata Pang Goan sambil tertawa, “lidah itu berada di mulutku, yang dikuatirkan

justru kau tak punya kemampuan untuk berbuat begitu.”

Perempuan berbaju merah itu mendengus, sambil mengerahkan goloknya ia segera menerjang

ke depan.

Tujuan Pang Goan memang ingin memancing marahnya, sebelum terjangan orang tiba,

dengan cepat ia menyongsong, golok di tangan kiri dan pedang di tangan kanan melancarkan

serangan sekaligus.

Begitu bertemu, kedua belah pihak saling menyerang dengan cepat, tampaklah cahaya golok

berkilauan, bayangan pedang saling menyambar ke sana kemari, dalam waktu singkat telah

berlangsung lima-enam gebrakan.

Kelima-enam jurus serangan itu seluruhnya merupakan serangan mematikan.

Tapi anehnya, sekalipun cahaya golok dan bayangan pedang menyelimuti udara, tidak

terdengar sama sekali suara bentrokan senjata, juga tidak kelihatan ada yang terluka.

Ternyata setiap jurus serangan yang mereka lancarkan, semuanya merupakan ancaman yang

harus dihindari, siapapun tak ingin adu jiwa, maka begitu merasa terancam bahaya, cepat

mereka tarik serangan di tengah jalan untuk melindungi diri sendiri.

Oleh sebab itulah, meskipun kedua orang itu melancarkan serangan dengan gerakan cepat,

jurus serangan mereka tak berani digunakan sampai tuntas, semua serangan golok dan pedang

begitu dilancarkan segera ditarik kembali, jadi tak sejurus pun terjadi keras melawan keras.

Atau dengan perkataan lain, kedua orang itu mempunyai pikiran yang sama, yakni sama-sama

berharap bisa menggetar hati lawan dengan tenaga serangan, dengan menggunakan titik

kelemahan musuh untuk mematahkan ancamannya, menghindari adu kekerasan yang tak

berguna.

137

Akhirnya, siapapun tidak berhasil memperoleh keuntungan apa-apa.

Pang Goan menggunakan pedang sebagai senjata utama dan golok sebagai pembantu, yang

dikembangkan adalah To-kiam-hap-ping-tin yang maha dahsyat itu, namun lima-enam jurus

kemudian ternyata belum sanggup juga mematahkan serangan nyonya berbaju merah itu,

terpaksa ia tarik serangannya dan melompat mundur.

Rupanya perempuan berbaju merah itupun menyadari bertemu dengan musuh tangguh, cepat

ia menarik kembali serangannya dan tak berani mendesak lebih jauh.

Kedua orang itu saling bertatap sekian lama, sejenak kemudian Pang Goan baru menarik

napas panjang, lalu menyimpan kembali golok dan pedangnya.

Perempuan berbaju merah itupun ikut simpan goloknya ke dalam sarung.

“Ilmu golokmu terhitung sangat hebat juga, tapi sayang tenaga dalammu kurang sempurna,

andaikata kita harus bertarung dengan tenaga sejati maka akhirnya yang rugi tetap kau,” kata

Pang Goan.

Nyonya berbaju merah itu tidak menyangkal, katanya sambil tertawa, “Kau sendiripun tak

akan mendapat hasil apa-apa, paling banter kita sama-sama menderita kerugian.”

“Apa kedudukanmu di dalam lembah?”

“Perguruan kami membagi tingkatan dalam sulaman benang emas, perak, biru, putih, dan

hitam, aku tak lebih Cuma seorang peronda gunung berbenang biru dari tingkatan tiga,

sekalipun tenaga dalammu lebih hebat daripadaku juga bukan suatu yang luar biasa.”

Pang Goan tarik napas panjang, sambil tertawa getir ia berpaling ke arah Ho Leng-hong

sembari berkata, “Tampaknya, urusan ini sudah pasti kita ikut terseret.”

“Asal kita tak bersalah, ke manapun kita berani menghadap.”

“Tapi, Pang-toako . . . .” bisik Beng-cu.

Pang Goan memberi tanda dan tidak membiarkan gadis itu berkata lebih jauh, kepada

perempuan berbaju merah itu ia berkata, “Bawalah kami! Akan kami temui majikan lembah

kalian.”

Ternyata sikap perempuan itupun menjadi lebih sungkan, katanya seraya menjura, “Silakan!”

Keempat orang gadis lainnya ikut menarik kembali senjatanya, kemudian dua di kanan dan

dua di kiri, seperti menggusur tawanan, mereka membawa Pang Goan bertiga meninggalkan

mulut gua.

Sesudah mengitari tonjolan batu padas di depan sana, Pang Goan baru tahu bahwa pilihannya

memang tepat.

Di tepi api unggun di bawah tebing sana telah muncul kembali seorang petugas peronda

gunung “bersulam benang biru” dengan diiringi empat gadis bersulam hitam, mereka sudah

meletakkan mayat Thian Pek-tat berempat di atas usungan yang terbuat dari kayu dan sedang

menunggu di sana.

------------------------------

Mi-kok, nama yang misterius dan menggetarkan sukma.

Tentu orang akan membayangkan lembah tersebut sebagai suatu tempat yang rahasia sekali

letaknya dengan sekelilingnya diliputi oleh tebing tinggi menyulang ke angkasa, burung dan

monyet sulit melewatinya dan sepanjang tahun diliputi kabut yang tebal, atau mungkin jalan

masuknya merupakan sebuah terowongan gua, atau jalan setapak yang penuh kemisteriusan . .

. .

Bila bayangannya demikian, maka kelirulah semua itu.

Benar memang, tempat itu merupakan sebuah yang dikelilingi oleh tebing tinggi, namun

bukan tempat yang curam berbahaya atau sepanjang tahun dikelilingi kabut tebal.

Lembah tersebut merupakan sebuah lembah yang indah dan hangat, sama sekali tidak nampak

misterius, di belakang lembah terdapat jurang, di mulut lembah ada jalan dan di tengah

138

lembah terdapat tanah datar yang luar, di situ ada rerumputan, ada sawah, ada bebuahan dan

kerbau serta ternak unggas lainnya.

Anggota lembah tersebut terdiri dari lelaki dan perempuan, yang lelaki hidup bertani dan yang

perempuan menenun, mereka melewatkan penghidupan yang sederhana tapi bahagia, suatu

kehidupan surga yang penuh dengan kedamaian . . . . terkecuali bangunan megah, kompleks

perumahan yang berada dalam hutan bebuahan sana.

Anggota perkampungan itu semuanya perempuan yang bergolok panjang dan mengenakan

baju serba merah.

Sekalipun mereka termasuk juga sebagian dari anggota lembah, namun pekerjaan mereka

tidak bertani atau bertenun, kehidupan mereka jauh berbeda dengan orang-orang lainnya.

Perempuan dalam perkampungan itu merupakan pilihan dari anggota penduduk lembah,

mereka harus cerdik dan berbakat bagus, semenjak kecil sudah masuk perkampungan dan

belajar silat, setelah dewasa bertugas melindungi keselamatan penduduk sesuai dengan tingkat

tenaga dalam yang dimiliki, mereka tergabung dalam pasukan Ang-ih-bok-lan-tui (pasukan

Bok-lan berbaju merah)

Perkampungan itu sendiri bernama perkampungan Bok-lan-ceng.

Cengcu (kepala kampung) dari marga Ui dan sudah turun temurun menjadi Kokcu (kepala

lembah) dalam lembah tersebut, hingga kini entah sudah keturunan yang keberapa?

--------------------------------

Dikawal oleh dua orang peronda gunung dan delapan anak dara berbaju merah, dengan lancar

Pang Goan bertiga memasuki lembah itu dan tiba di depan pintu perkampungan.

Di luar lembah tidak terlihat penjagaan yang ketat, setelah masuk ke dalam lembah juga tidak

ada pemeriksaan atau pengadangan, ketika rakyat dalam lembah itu berjumpa dengan mereka,

kecuali tersenyum sambil menganggukkan kepala, sama sekali tidak menunjukkan sikap

permusuhan.

Inikah lembah Mi-kok yang diberitakan sebagai tempat yang misterius dan penuh rahasia?

Di sinikah tempat pengasingan Ang-ih Hui-nio yang lihay itu?

Di sinikah tempat kubur dari tujuh bersaudara Nyo dari Thian-po-hu?

Tidak! Tak akan ada yang percaya, sekalipun mereka dibunuh orang juga tak ada yang

percaya.

Tapi perempuan-perempuan itu semuanya berbaju merah, ilmu golok mereka pun sangat

lihay, hal ini adalah kenyataan, seandainya mereka bukan keturunan dari Ang-ih Hui-nio

mana mungkin mereka dapat mendidik sekian banyak murid yang berilmu tinggi.

Sepanjang perjalanan, kernyitan alis Pang Goan tak pernah mengendur, berbeda dengan Ho

Leng-hong, wajahnya selalu kaku tanpa emosi.

Dalam hati kecil mereka sama-sama diliputi teka-teki yang mendebarkan hati dan ingin tahu.

Hui Beng-cu sendiri dengan perasaan waswas tiada hentinya menengok ke sana kemari,

seakan-akan tertarik dan senang dengan keadaan yang asing baginya ini.

Dua orang gadis baju merah yang bergolok berdiri menanti di depan pintu perkampungan,

gaun mereka bersulamkan benang putih.

Ketika mereka melihat mayat yang berada di atas usungan, wajah mereka menunjukkan

perasaan kaget.

Salah seorang di antaranya segera maju menyongsong sambil bertanya dengan suara lirih,

“Apa yang telah terjadi? Apakah mereka berempat terbunuh semua?”

Nyonya muda berusia tiga puluhan itu manggut-manggut, lalu balik bertanya, “Kokcu berada

di mana?”

“Barusan beliau menanyakan kabar kalian, mungkin masih berada dalam taman bunga

sebelah timur, akan kulaporkan untuk kalian.”

139

“Tidak usah, aku dan Lim Ci akan melaporkan sendiri kepada Kokcu, kalian jaga baik-baik

ketiga orang ini.”

Berbicara sampai di sini, dia bersama peronda gunung lainnya masuk ke dalam kampung.

Seperginya kedua orang itu, gadis penjaga pintu itu mengamati sekejap Pang Goan bertiga,

lalu dengan keheranan ia bertanya, “Apakah kalian bertiga pembunuhnya?”

“Mungkin!” jawab Pang Goan sambil mengangkat bahu.

“Kenapa kau katakan mungkin?” gadis penjaga pintu itu melengak.

“Sebab kami tidak pernah membunuh orang,” jawab Pang Goan sambil tertawa, “akan tetapi

keempat orang itu mati di tempat kami bermalam, bila kami katakan bukan pembunuhnya,

kalian pasti tidak percaya, sebaliknya kalau bilang benar, kamilah yang tidak percaya.”

Gadis penjaga pintu itu tertawa geli, “O, aku dapat memahami perkataanmu itu, jadi tuduhan

tersebut membuat kalian penasaran?”

“Mungkin!” sekali lagi Pang Goan mengangkat bahu sambil tertawa.

Dengan wajah serius gadis penjaga pintu berkata, “Tampaknya kalian memang tidak mirip

pembunuh, Cuma dengan maksud baik ingin kunasihati padamu . . . .”

“Menasihati apa?”

“Jika kalian betul-betul bukan pembunuh, janganlah sekali-kali kalian mengaku sebagai

pembunuh, sebab Kokcu kami paling benci pada mereka yang gemar membunuh, terutama

mereka yang mengandalkan kungfunya untuk menindas kaum yang lemah serta membunuh

orang, andaikata kalian betul-betul pembunuh kejam, jangan harap jiwa kalian akan

diampuni.”

“Kalau begitu, Kokcu kalian tentu berhati welas asih,” kata Pang Goan.

“Siapa bilang bukan? Kokcu kami bukan cuma welas asih saja, tabiatnya juga amat baik,

terhadap orang lain juga ramah-tamah . . . . .”

“Tapi dia tahu aturan tidak?” tiba-tiba Ho Leng-hong menukas.

“Apa maksudmu berkata begitu?” gadis penjaga pintu itu menegur dengan nada tak senang.

“Misalnya saja, bila kedatangan kami ke bukit ini tanpa sengaja dan tidak mengandung

maksud jahat, dapatkah ia memberi kebebasan kepada kami untuk meninggalkan tempat ini?”

“Kenapa kalian tak boleh meninggalkan tempat ini? Bila kalian tersesat di gunung dan tiba di

sini tanpa sengaja, berarti kalian adalah tamu kami, dengan segala kehormatan kami akan

melayani kalian, kemudian mengantar kalian pergi dari sini, tentu saja kalian harus

merahasiakan keadaan lembah ini kepada orang lain.”

Tanpa terasa Ho Leng-hong dan Pang Goan saling bertukar pandang sekejap dengan penuh

tanda tanya, sedang dalam hati timbul pula pertanyaan yang sama: “Kalau begitu, kenapa

ketujuh Nyo bersaudara tak pernah muncul kembali setelah berangkat kemari?”

Ternyata gadis penjaga pintu itu cukup cerdik, melihat kedua tamunya masih belum percaya,

ia berkata lagi, “Kami tak ingin orang luar mengetahui keadaan di sini, inipun karena

terpaksa, sebab tempat kami hanya sebesar ini, tak mungkin muat terlalu banyak orang, selain

itu kamipun kuatir bila ada orang persilatan berniat buruk ingin mencuri belajar ilmu kami

sehingga menambah banyak kerepotan, peraturan ini ditetapkan oleh leluhur kami dan bukan

atas kemauan Kokcu sendiri, cuma bila kalian sendiri tak bersedia tinggalkan tempat ini dan

ingin tinggal di sini untuk selamanya, tentu saja niat ini akan kami sambut dengan senang hati

. . . .”

Ia seperti masih ingin bicara lagi, tapi nyonya berbaju merah tadi keburu datang, nyonya itu

memberi tanda kepada Pang Goan sekalian sambil berkata, “Kokcu mengundang kalian untuk

menghadap, mari ikut diriku!”

Sebelum pergi, Leng-hong tersenyum ke arah gadis penjaga pintu itu sambil berkata, “Tolong

tanya siapa nama nona?”

“Aku bernama Pui Hui-ji, anggota Bok-lan-pek-tul (barisan Bok-lan putih)!”

140

“Bila Kokcu tidak menyalahkan kami, mungkin aku akan memohon untuk tinggal di sini,

sampai waktunya harap nona bersedia memberi petunjuk,” kata Leng-hong sambil tertawa.

Tanpa malu-malu gadis penjaga pintu itu menjawab dengan tertawa, “Baik, semoga kau

mempunyai rejeki itu!”

Mereka bertiga melangkah masuk ke dalam pintu gerbang dan mengikut nyonya berbaju

merah tadi masuk ke dalam perkampungan.

Di tengah jalan Hui Beng-cu sengaja berjalan agak lambat, kemudian ia tanya dengan

setengah berbisik, “Nyo-toako, benarkah kau ingin tinggal di sini dan tidak kembali ke Thianpo-

hu lagi?”

Leng-hong tersenyum, “Tempat ini bagaikan surgaloka, jauh berbeda dengan gedung Thianpo-

hu, apa salahnya tinggal di sini?”

“Hm, kaum pria kalian semuanya memang tak punya perasaan, begitu bertemu dengan gadis

yang cantik, semua warisan dan jerih payah leluhur pun terlupakan sama sekali.”

“Ah, kaum pria tak bisa disalahkan, siapa suruh kaum gadis rata-rata berwajah cantik?” jawab

Leng-hong sambil tertawa.

“Ciss!” dengan mangkel Beng-cu mempercepat langkahnya ke depan lebih dulu.

Sesudah mengitari taman bunga, di depan sana muncul sebuah serambi panjang, setelah

mengitari mereka tiba di ruang tengah sebelah timur.

Di depan ruangan berdiri empat orang gadis dengan baju merah bersulam benang putih, pintu

ruangan masih tertutup rapat.

Nyonya berbaju merah itu membawa mereka menuju ke depan ruangan, kemudian katanya,

“Kokcu hendak langsung menanyai kalian, harap semua senjata bawaan ditinggal di luar.”

Ini selain peraturan juga merupakan sopan santun, apalagi nyonya berbaju merah itu

mengucapkannya dengan nada sungkan, membuat orang tak dapat menolak permintaannya

itu.

Pang Goan angguk kepala kepada kedua rekannya, kemudian melepaskan golok dan pedang

bawaannya, terpaksa Ho Leng-hong dan Hui Beng-cu harus mengikuti perbuatannya.

Keempat gadis itu menerima senjata mereka lalu mendorong pintu lebar-lebar.

Pang Goan melangkah masuk ke dalam, ternyata ruangan itu kosong tak nampak seorang pun,

di tengah ruangan terdapat sebuah meja panjang, di atas meja terletak kertas, pit dan alat tulis

lainnya, sementara di belakang meja tersedia empat buah kursi yang semuanya kosong.

Sementara mereka masih tercengang, nyonya baju merah itu menyusul masuk, lalu

membunyikan sebuah alat kecil tiga kali.

“Tiga orang tertuduh telah dibawa menghadap, dipersilakan para petugas hukum naik

mimbar!” serunya.

Kain tirai di pintu samping segera terbuka dan muncul dua belas orang perempuan baju merah

dengan pinggiran warna biru, mereka masing-masing berdiri di kiri dan kanan meja panjang,

setiap orang bergolok panjang dan bersikap kereng.

“Wah, kalau dilihat caranya ini, kita seolah-olah berada dalam ruang pengadilan!” omel Pang

Goan sambil tertawa.

“Jangan sembarangan bicara!” bentak nyonya baju merah di belakangnya dengan suara

tertahan.

Menyusul kemudian dari balik pintu berjalan keluar lagi empat orang perempuan.

Keempat orang ini rata-rata sudah berusia lanjut, yang termuda pun sekitar enam puluhan,

sedang yang tua sudah delapan atau sembilan puluh tahunan, semuanya berwajah keriput

dengan rambut beruban, mukanya kurus jelek dan masing-masing menempati empat kursi

kosong itu.

Mereka juga memakai baju berwarna merah, Cuma sulaman tepi gaunnya dari benang perak.

Pang Goan tahu bahwa kedudukan empat orang nenek ini tidak rendah, diam-diam ia merasa

geli sekali, pikirnya, “Wah, kalau melihat keadaannya seolah-olah kami telah dituduh sebagai

141

pembunuh yang sesungguhnya, semoga jangan diputuskan segera penggal kepala, bisa mati

penasaran.”

Pada ujung meja sebelah kiri dan kanan masing-masing berduduk seorang perempuan

berbenang biru, setelah duduk mereka lantas menyiapkan kertas dan alat tulis lainnya,

ternyata mereka bertindak sebagai “panitera”.

Di tengah keheningan, nenek berusia paling tua yang berada di dekat ujung kanan itu segera

berkata, “Atas kasih sayang Thian dan berkat leluhur, kehidupan kami di tengah gunung yang

terpencil sama sekali tidak berniat berebut rejeki dengan orang lain, kami mengutamakan

cinta damai dan hidup bahagia dengan tenang, karenanya terhadap segala kejahatan itu, tapa

ampun akan dijatuhi hukuman berat.”

Baru selesai perkataan itu, nenek di sebelah kiri telah memukul meja keras-keras sambil

membentak, “Siapa nama kalian bertiga? Datang dari mana? Mengapa membunuh orang?

Ayo mengaku satu persatu!”

Ho Leng-hong dan Hui Beng-cu tetap bungkam.

Pang Goan juga tidak menghiraukan pertanyaan tersebut, dia hanya memperhatikan pukulan

si nenek pada meja panjang itu, meski suaranya nyaring namun meja itu sendiri tidak tergetar,

namun meja tersebut tahu-tahu melesak satu inci lebih ke dalam tanah.

Tapi setelah diperhatikan lagi, ternyata bukan kaki meja yang masuk ke dalam tanah,

melainkan kaki meja itu sendiri yang tiba-tiba menyusut hingga lebih pendek.

Ini menunjukkan tenaga pukulan si nenek itu sudah mencapai tingkatan Keh-san-ta-gu (dari

balik gunung memukul kerbau).

Pang Goan menyadari dirinya sendiri tak mampu berbuat demikian, ini semua membuatnya

terperanjat sehingga lupa untuk menjawab pertanyaan si nenek tadi.

Nyonya berbaju merah yang berada di belakangnya segera menegur, “He, Tong-popo lagi

bertanya kepada kalian, mengapa tidak menjawab?”

“Tong-popo yang mana?” tanya Pang Goan setelah menenangkan hatinya.

“Itu dia, nomor dua dari sebelah kiri, barusan beliau menanyakan nama dan asal usul kalian.”

Pang Goan tertawa, “Mereka berjumlah empat orang, jika semuanya mengajukan pertanyaan,

entah yang manakah harus dijawab lebih dulu, sedangkan kami bertiga, kalau semuanya

menjawab juga tentu akan bikin kalian bingung untuk mendengarkannya, maka aku ada usul,

entah kalian bersedia mengikutinya atau tidak?”

“Coba katakan!” kata nenek she Tong itu.

“Gampang sekali, mari kalian berempat pilih seorang wakil untuk bertanya, sedang dari pihak

kami bertiga akan diwakili pula seorang untuk menjawab, bukankah hal ini akan lebih enak?”

Mencorong sinar tajam dari mata nenek she Tong itu, ia memandang sekejap rekan-rekan di

sekelilingnya, lalu berkata, “Ehm, ini memang suatu usul yang bagus.”

Keempat orang nenek lalu saling mengalah dan saling mempersilakan rekannya sebagai wakil

mereka.

Pada kesempatan itu, Pang Goan berkata kepada Ho Leng-hong, “Jit-long, kau saja yang

menjawab pertanyaan mereka, kalau perlu bersikap tegas, katakan segala sesuatunya secara

terus terang, tapi untuk sementara waktu jangan kausinggung dulu masalah Thian-po-hu.”

“Mengapa bukan Lotoako yang tampil ke muka?” tanya Leng-hong.

“Rasanya setiap masalah dalam lembah ini bagaikan suatu teka-teki, bila kita ingin hidup

lebih lanjut, kita juga harus main sandiwara menurut gelagat, dengan begitu baru tersedia

jalan mundur jika keadaan kepepet.”

Ho Leng-hong mengangguk tanda mengerti, diam-diam ia berpikir, “Pang-toako selalu tinggi

hati dan tak mau tunduk kepada orang, sejak kapan ia belajar menyesuaikan diri dengan

keadaan?”

142

Sementara itu keempat orang nenek pun selesai berunding, tetap si nenek she Tong itu sebagai

juru bicaranya, ia bertanya, “Apakah kalian telah selesai berunding? Siapa yang akan

menjawab pertanyaan kami?”

“Aku!” jawab Leng-hong.

“Bagus sekali, Cuma akupun hendak memperingati satu hal padamu, setelah bersedia

menjawab pertanyaan kami, maka setiap ucapanmu harus dapat dipertanggungjawabkan,

sebab semua perkataanmu akan kami catat dan tak bisa disesali kembali.”

“Tentu saja!” kata Leng-hong.

“Nah, sekarang laporkan dulu nama serta tempat tinggal kalian bertiga,” kata nenek Tong

sambil manggut-manggut.

Leng-hong mengakui dirinya sebagai Nyo Cu-wi dari Thian-po-hu, selain itu juga melaporkan

nama Pang Goan dan Hui Beng-cu.

Setelah mendengar nama-nama itu keempat orang nenek tersebut menunjukkan wajah kaget,

buru-buru mereka berunding dengan suara lirih.

Lewat sejenak kemudian, nenek Tong bertanya pula, “Kau mengaku sebagai Nyo Cu-wi dari

Thian-po-hu, sedang mereka berdua dari Cian-sui-hu dan Hiang-in-hu, benarkah pengakuan

itu?”

“Benar!”

“Kalau begitu ingin kutanya sesungguhnya ada beberapa orang Nyo Cu-wi dari Thian-pohu?”

“Cuma ada seorang!”

Air muka nenek Tong berubah serius, katanya, “Kuharap kau menjawab dengan sejujurnya,

sebab barang siapa berani berbohong, dia akan mendapat ganjaran yang setimpal.”

“Kenapa? Masa urusan Thian-po-hu kau lebih jelas daripadaku?” bantah Leng-hong, “apakah

di lembah ini terdapat juga Nyo Cu-wi yang lain?”

Air muka nenek Tong berubah pula, tapi ia tidak mendebat, ia mengalihkan pertanyaan pada

soal lain, katanya, “Atas alasan apa kalian datang ke Tay-pa-san ini?”

Tanpa merahasiakan sedikit pun Leng-hong mengisahkan bagaimana Ci-moay-hwe mengutus

seorang Pang Wan-kun gadungan untuk mencari golok Yan-ci-po-to, lalu bagaimana

menggunakan siasat Cioh-to-sat-jin untuk memancing mereka bertiga datang ke Tay-pa-san,

dan apa yang terjadi dengan lencana kayu dan tali istimewa untuk memfitnah mereka . . . . .

Sementara ia menuturkan pengalamannya, dua orang gadis petugas panitera mencatat semua

pengakuan itu.

Ketika pemuda itu selesai dengan penuturannya, nenek Tong bertanya pula, “Ci-moay-hwe

yang barusan kau singgung itu sesungguhnya organisasi macam apa? Siapakah pemimpinnya?

Apakah kautahu?”

“Seandainya aku tahu, tak nanti bisa terkena siasat Cioh-to-sat-jin mereka. Cuma ada satu hal

yang kuyakini benar, yakni di kala Thian Pek-tat berempat terbunuh semalam, mereka pasti

berada di sekitar tempat ini, bahkan mungkin saja saat ini masih berada di daerah pegunungan

ini.”

“Tidak mungkin, siang malam petugas peronda kami melakukan patroli di sekeliling

pegunungan ini dan belum pernah kami temukan jejak mereka, selain itu, kalau benar mereka

berusaha dengan segala daya upaya untuk mendapatkan golok mestika Yan-ci-po-to, setelah

berhasil mendapatkannya, kenapa dikembalikan kepadamu dengan begitu saja. Jadi ceritamu

tentang melimpahkan bencana kepada orang lain itu sama sekali tidak masuk di akal.”

“Mau percaya atau tidak adalah urusan kalian, tapi yang pasti semua perkataanku adalah

sejujurnya.”

“Kau berani diadu dengan petugas peronda kami?”

“Tentu saja berani.”

“Bagus, panggil petugas peronda bukit untuk menghadap ke depan pengadilan!”

143

Nyonya berbaju merah tadi mengiakan dan tampil ke muka, katanya, “Hamba petugas

peronda, komandan barisan ketujuh Bok-lan-la-tui Hoa Jin siap memberi keterangan!”

“Hoa Jin, apakah kau adalah petugas ronda hari ini?” tanya nenek Tong.

“Benar!”

“Kaukah yang menemukan jenazah dari para korban?”

“Benar!”

“Apakah kau pula yang menangkap mereka?”

“Benar!”

“Bagus sekali, laporkan sekali lagi kejadian yang telah berlangsung.”

“Hamba sebagai petugas peronda mendapat perintah untuk menyambut . . . .”

“Secara ringkas saja,” tiba-tiba nenek Tong menukas, “laporkan saja sekitar penemuan mayatmayat

tersebut.”

“Baik,” kata Hoa Jin, “Jejak Hui-goan Taysu berempat berhasil hamba temukan lewat tengah

malam kemarin, pagi tadi ketika kami tiba di bawah gua karang, ditemukan keempat orang itu

sudah tewas di samping api unggun, setelah dilakukan pencarian yang saksama, akhirnya

disebuah gua kami berhasil mengadang ketiga orang pembunuh itu, mula-mula mereka

melakukan perlawanan, tapi akhirnya mereka menyerahkan diri.”

“Apakah diperiksa juga senjata yang dipergunakan lawan?”

“Menurut hasil pemeriksaan, keempat orang itu tewas oleh Yan-ci-po-to, mulut lukanya

sangat lebar, dan senjata pembunuh itu justru ditemukan berada pada orang she Nyo ini.”

“Apakah pada jenazah juga ditemukan lencana kayu? Atau bekas tali yang dipakai untuk

membelenggu mereka?”

“Tidak!”

“Waktu itu apakah tertuduh menyangkal telah membunuh orang?”

“Tidak!”

“Apakah ditemukan orang yang mencurigakan di sekitar mereka?”

“Juga tidak.”

“Sudah mendengar? Apa lagi yang hendak kaukatakan?” kata nenek Tong kemudian sambil

menatap Ho Leng-hong dengan sorot mata tajam.

“Hal tersebut sudah kukatakan semua,” teriak Leng-hong dengan suara lantang, “Waktu itu

peronda she Hoa itu tidak menanyakan soal pembunuhan, mana kami bisa menyangkalnya?”

Nenek Tong tertawa dingin, “Hehehe, sekalipun ia tidak menanyakan soal ini, kenapa kalian

tidak melakukan penyangkalan, padahal tahu di bawah bukit membujur empat sosok mayat?

Dan lagi senjata pembunuh merupakan bukti yang jelas, penyangkalan kalian semakin

membuktikan hati kalian amat kalut dan takut, ingin menyangkal pun kini sudah terlambat.”

Ho Leng-hong seperti ingin mengucapkan sesuatu lagi, tapi nenek Tong lantas berbangkit

sambil berseru, “Pemeriksaan telah selesai, perhatikan baik-baik keputusan kami!”

Serentak ketiga orang nenek yang lain bangkit berdiri, suasana dalam ruangan berubah

menjadi hening dan serius.

Nenek Tong berunding sebentar dengan ketiga orang rekannya, lalu dengan wajah serius

katanya, “Tertuduh Nyo Cu-wi, Pang Goan dan Hui Beng-cu terbukti bersalah melakukan

pembunuhan bersama yang mengakibatkan kehilangan jiwa orang lain, kesalahan ini

melanggar peraturan lembah ini, lagipula setelah bersalah tidak berobat, bahkan berusaha

mungkir, dosa ini amat besar, maka pengadilan memutuskan untuk menjatuhkan hukuman

‘Khek-sin’ kepada mereka, untuk sementara para tertuduh dimasukkan tahanan menanti

pelaksanaan hukuman.”

Selesai berkata ia lantas mengundurkan diri.

“Apa yang disebut Khek-sin?” tanya Beng-cu.

“Artinya akan dihukum pancung di hadapan umum,” jawab Hoa Jin.

144

Betapa gusarnya Hui Beng-cu, teriaknya, “Hm, keterlaluan sekali! Pang-toako, mari kita turun

tangan . . . . .”

Baru saja ia berteriak, “Cring! Cring!” dua belas orang perempuan bersulam benang biru telah

melolos golok dan merubung maju.

Cahaya golok berkilauan, langsung mengancam perut dan punggung mereka bertiga, padahal

Pang Goan sekalian dalam keadaan tangan telanjang tanpa senjata apapun.

Sambil tertawa getir Ho Leng-hong segera memandang ke arah Pang Goan, lalu katanya,

“Lotoako, kali ini kita benar-benar terjebak.”

Pang Goan mendengus, “Orang she Hoa, kau bilang Kokcu kalian hendak berbicara sendiri

dengan kami, rupanya kau berbohong?”

“Kokcu harus mendengarkan dulu laporan keempat Popo sebelum memutuskan apakah perlu

menanyai kalian langsung, sebab untuk melaksanakan hukuman penggal kepala mesti ada

persetujuan lebih dulu dari Kokcu, jadi seandainya kalian bernasib baik, mungkin saja masih

ada kesempatan bertemu dengan Kokcu.”

“Umpama kami hendak titip pesan, apakah kau dapat menolong kami untuk menyampaikan

kepada Kokcu?”

“Tentu saja!”

Pang Goan menarik napas panjang, kemudian berkata, “Kalau begitu tolong sampaikan

kepada Kokcu kalian bahwa Yan-ci-po-to dan kitab pusaka Poh-in-pat-toa-sik itu adalah

palsu, jika ingin tahu berita tentang kitab dan golok yang asli, silakan menanyai sendiri

padaku.”

Kemudian sambil mendongakkan kepala ia menambahkan, “Di mana letaknya penjara?

Silakan membawa kami ke sana, sesudah lelah semalaman, kami ingin beristirahat dulu dalam

penjara.”

Hoa Jin memandangnya dengan melongo, rupanya ia sedang meresapi makna kata-katanya

itu.

Bahkan Ho Leng-hong dan Hui Beng-cu juga ingin bertanya padanya.

Akan tetapi Pang Goan tidak berkata apa-apa, sambil busungkan dada dan melangkah dengan

lebar, ia berlalu lebih dulu dari ruangan tersebut......

----------------------------

Rumah penjara terletak di kaki bukit bagian belakang perkampungan tersebut.

Dua baris rumah baru yang berderet bagaikan gua itu meski kecil dan sempit, tapi sangat

kering dan rajin, setiap ruangan terdapat meja, bangku dan pembaringan, selain itu terdapat

pula alat-alat untuk bersihkan badan serta membuang hajat, keadaannya mirip dengan sebuah

“rumah tamu”.

Ruang penjara itu bernomor, di sebelah kiri bernomor ganjil sedang di sebelah kanan

bernomor genap.

Pengurus rumah penjara adalah seorang perempuan setengah umur dari kelompok benang

biru, ia bernama Yu Ji-nio dan membawahi empat orang gadis dari barisan Bok-lan-pek-tui.

Sikap Yu Ji-nio terhadap orang sangat ramah tamah, sedikitpun tidak mencerminkan sikap

seorang sipir penjara yang buas dan garang, atau mungkin lantaran suasana penjara amat sepi,

maka ketika mengetahui ada tiga orang “tamu terhormat” diantar ke sana, tampaknya ia

sangat senang.

Ia menjadi repot sekali masuk keluar tiada hentinya, menyiapkan air teh, menyiapkan nasi dan

sayur, pelayanannya betul-betul sangat bagus.

Pang Goan bertiga dimasukkan dalam ruang penjara di sebelah kiri, Pang Goan menempati

satu, Ho Leng-hong menempati ruang tiga dan Hui Beng-cu ruang lima.

145

Selesai bersantap dan mencuci muka, Yu Ji-nio secara khusus menghidangkan secawan air teh

panas untuk mereka, katanya sambil tertawa, “Kalian adalah tamu yang datang dari jauh,

berdosa atau tidak tak ada sangkut pautnya dengan diriku, aku selalu menganggap kalian

sebagai tamu-tamu kehormatan, jika butuh makanan atau perlu sesuatu katakan saja

kepadaku, Cuma janganlah melakukan perbuatan bodoh yang bikin susah padaku, setelah

berada di sini, jangan harap kalian bisa keluar lagi dari lembah ini, sekalipun berhasil

melarikan diri dari mulut lembah, tak mungkin bisa kabur meninggalkan Tay-pa-san ini.”

“Yu Ji-nio, jangan kuatir,” jawab Pang Goan sambil tertawa, “untuk keluar kami pasti akan

keluar, tapi kami tak akan kabur dari penjara, kami masuk kemari secara terang-terangan,

pergi dari sini juga secara terang-terangan, kalau tidak, sekalipun diantar dengan tandu besar

yang digotong delapan orang, belum tentu kami sudi pergi dengan begitu saja.”

“Bagus, bila kalian dapat pergi dari sini nanti, aku pasti akan memasang petasan untuk

mengantar keberangkatan kalian.”

“Mengantar sih tidak perlu, sekarang silakan kau keluar lebih dulu, berilah kesempatan

kepada kami untuk tidur siang sepuasnya, boleh bukan?”

“Tentu, tentu!” sambil tertawa Yu Ji-nio mengajak keempat orang gadis itu berlalu dari situ.

Pang Goan segera menggeliat dan menguap lalu gumamnya, “Setelah bergadang semalam

suntuk, inilah kesempatan yang sangat baik untuk tidur, dengan demikian kita ada kekuatan

dan semangat untuk berunding dengan Kokcu.”

Selesai berkata, ia lantas menjatuhkan diri di pembaringan.

Ho Leng-hong yang berada di kamar sebelah tak dapat setenang itu, sambil mengetuk dinding

bisiknya, “Lotoako, jangan tidur dulu, kita harus merundingkan persoalan ini . . . . .”

“Apa lagi yang mesti dirundingkan?” tanya Pang Goan.

“Tadi kau berkata kepada mereka bahwa golok mestika Yan-ci-po-to dan kitab pusaka itu

adalah palsu, pengakuan itu memang pengakuan yang betul ataukah cuma bohong-bohongan

saja?”

“Pada waktu perlu bohong boleh bohong, bila perlu sungguh harus sungguh. Hidup manusia

bagaikan impian, kenapa mesti begitu serius?”

Ucapan tersebut makin lama makin lirih, kemudian lantas terdengar suara dengkuran yang

keras, ternyata ia sudah tertidur pulas.

Meskipun pelbagai kecurigaan masih menghantui pikirannya, karena yang ditanya tetap

membungkam, terpaksa sambil menghela napas panjang diapun berbaring.

Pada saat pikirannya sedang kalut dan bingung itulah, tiba-tiba terdengar Hui Beng-cu yang

berada di kamar sebelah memanggil dengan suara tertahan, “Nyo-toako, cepat kemari, cepat

kemari......”

“Ada apa?” tanya Leng-hong.

“Coba lebih mendekatlah denganku, akan kuberitahukan satu hal kepadamu . . . .” bisik Bengcu.

“Sudah, tak usah repot-repot, tiada yang perlu dibicarakan lagi, bagaimana kalau kita

beristirahat lebih dulu?”

“Tidak bisa, bagaimanapun persoalan ini harus kukatakan kepadamu sekarang juga,

kutemukan sebaris tulisan di dinding ruangan ini . . . .”

“Apa bunyi tulisan itu?” tanya Leng-hong.

“Agaknya tulisan ini ditinggalkan oleh enso ....”

“Apa kaubilang? Siapa yang meninggalkan tulisan itu?” cepat Leng-hong melompat bangun

sambil berseru.

“Kalau diperhatikan dari nada tulisannya, tampaknya seperti tulisan dari enci Wan-kun, tapi

jika ditinjau dari kata-katanya seperti juga bukan ....”

“Coba bacakan tulisan itu!”

146

Hui Beng-cu segera membaca dengan lirih, “Untuk mencuci bersih rasa malu akibat

kekalahan yang diterima, dengan mempertaruhkan jiwa raga kekasih telah masuk ke istana

Peng-kiong, keturunan Thian-po-hu berakhir sampai di sini . . . . di bawahnya seperti masih

ada tulisan, cuma sudah tidak jelas lagi, tapi yang menandatangani tulisan ini adalah Wankun.”

“Wan-kun?” Ho Leng-hong menarik napas dingin, “Ternyata mereka benar-benar telah

datang ke lembah Mi-kok ini.”

“Tapi, bukankah kau masih hidup baik-baik di Thian-po-hu? kenapa dia mengatakan bahwa

‘kekasih masuk ke istana Peng-kiong’? kenapa pula dia bilang keturunan Thian-po-hu

berakhir sampai di sini? Apa pula maksudnya mengucapkan kata-kata tersebut?”

Ho Leng-hong tidak memberi keterangan, iapun tak dapat memberi keterangan, terpaksa

tukasnya, “Coba kauperiksa lagi dengan saksama, apakah masih ada tulisan lagi yang

ditinggalkan?”

Lewat sejenak kemudian, Hui Beng-cu berkata lagi, “Sudah tak ada lagi, hanya tulisan ini

yang terukir di dinding batu di ujung pembaringan.”

“Apakah di bawah tanda tangan itu tercantum hari dan tanggal?” kembali Ho Leng-hong

bertanya.

“Tidak ada . . . Ah, tunggu sebentar . . . di sini terdapat sebuah huruf ‘Ka’ di bawahnya ada

sebuah huruf lagi, sayang cuma separuh, tapi agaknya mirip huruf ‘Gin’, sayang tulisannya

tidak lengkap.”

“Tahun Ka-gin? Itu berarti setahu yang lalu,” gumam Ho Leng-hong, “ehm, betul cocok

memang dengan waktunya, ya, pasti dia . . . .”

“Kalau betul dia, lantas kenapa?” tiba-tiba Pang Goan menyela, “tidak dapatkah kalian tenang

sejenak, agar orang lain memperoleh kesempatan untuk beristirahat sebentar?”

Cepat-cepat Ho Leng-hong mendekati dinding sebelah kanan, lalu bisiknya, “Lotoako, Wankun

dan Nyo . . . .”

“Sudah kudengar, semua hal ini sudah berada dalam dugaanku, tapi kita harus berpura-pura

tidak tahu, tak peduli siapa yang bertanya padamu, jangan kau mengaku keadaanmu yang

sebenarnya, kecuali kau bertemu sendiri dengan Wan-kun, maka ceritakanlah seluruh

kejadian yang sesungguhnya.”

“Menurut dugaanmu, mungkinkah Wan-kun masih berada di dalam Mi-kok?”

“Lebih baik kita tak usah menduka secara mengawur, asal telah bertemu dengan Kokcu,

otomatis semua duduknya perkara akan menjadi jelas.”

“Ai, benarkah Kokcu bersedia menjumpai kita?” bisik Leng-hong sambil menghela napas.

“Kenapa tidak? Bukankah mereka telah datang?”

Betul juga, terdengar suara langkah manusia yang semakin mendekat, menyusul kemudian

terlihat Yu Ji-nio muncul bersama Hoa Jin.

“Pasti kau yang pertama-tama yang akan dijumpai,” bisik Pang Goan, “ingat, apa yang boleh

dan yang tidak boleh dibicarakan, soal kitab pusaka ilmu golok boleh kau limpahkan

pertanggungan-jawabnya kepadaku.”

Ternyata dugaannya memang tepat, Yu Ji-nio dan Hoa Jin langsung menuju ke kamar tahanan

nomor tiga dan berhenti di situ.

Setelah berada dalam kamar, dengan saksama Hoa Jin memperhatikan diri Ho Leng-hong dari

ujung kepala sampai ujung kakinya, setelah itu tanyanya, “Sungguhkah kau ini majikan

Thian-po-hu yang bernama Nyo Cu-wi?”

“Kenapa?” Ho Leng-hong pura-pura bersikap ketus, “memang ada yang gadungan di sini?”

Hoa Jin tertawa, “Kau betul-betul bernasib baik, Kokcu ingin berjumpa denganmu, semoga

kau bersedia bicara secara jujur.”

147

Waktu itu Yu Ji-nio telah membuka borgol pintu dengan kuncinya, lalu sambil mendorong

pintu terali besi ke samping, katanya dengan tertawa, “Nyo-tayhiap, selamat jalan, semoga

kau tidak kembali lagi kemari.”

Ho Leng-hong mengangkat bahu, kemudian berkata, “Pelayanan Ji-nio amat menyenangkan

hati, agaknya aku bakal mengganggu dirimu selama beberapa hari lagi.”

Keluar dari ruang penjara, ia segera disambut oleh empat orang gadis berbenang biru dengan

senjata terhunus, ternyata ketat juga pengawalan di situ.

Dengan dipimpin oleh Hoa Jin, rombongan itu berjalan masuk ke sebuah halaman yang amat

sepi, setelah melewati serambi akhirnya masuk ke dalam sebuah ruangan besar.

Selain luas dan hening, suasana dalam ruangan itu amat bersih dan rapi, pintu ruangan terbuka

lebar, keadaan ruangan persis seperti keadaan dalam ruangan “pengadilan”, cuma di sini tiada

pengawalan yang ketat.

Empat gadis pengawal tadi berhenti di ruang depan, hanya diantar oleh Hoa Jin saja Ho Lenghong

masuk ke dalam ruangan.

Hening sekali ruangan itu, bukan saja tanpa pengawalan, di situpun tiada senjata yang

berkilauan, seorang gadis baju merah sedang berduduk di belakang meja sambil memeriksa

setumpuk surat.

Agak jauh di belakang gadis itu terdapat pula sebuah kursi, seorang perempuan bercadar

hitam duduk di situ.

Mula-mula Ho Leng-hong mengira perempuan bercadar itulah Kokcunya, akan tetapi setelah

diperiksa lebih saksama, ia terperanjat.

Ternyata meskipun perempuan bercadar itu mengenakan pakaian warna merah juga, namun

pada gaunnya tidak terdapat sulaman apa-apa, sebaliknya gadis yang sedang memeriksa

setumpuk dokumen itu justru mempunyai sulaman benang emas pada gaunnya.

Gadis itu sedang menundukkan kepalanya, maka tak terlihat raut wajahnya, tapi baik

diperhatikan dari sudut manapun, bisa diduga usianya tak akan melampaui dua puluh tahun.

Gadis semuda inikah Kokcu dari Mi-kok?

Ho Leng-hong tercengang, baru saja melangkah ke dalam ruangan ia segera berhenti.

Gadis itu masih juga menundukkan kepalanya dan memeriksa dokumen, cuma sekarang di

memberi tanda sambil berkata, “Ambilkan kursi untuk Nyo-tayhiap!”

Hoa Jin mengambilkan sebuah kursi dan Leng-hong duduk di kejauhan, saking tegangnya

untuk mengembus napas keraspun tak berani.

Ia merasa setiap ucapan gadis tersebut seakan-akan memiliki kewibawaan yang sukar

dibantah, membuat orang lain merasa rendah diri dan berada di bawah pengaruhnya.

Suasana dalam ruangan amat hening, sedemikian heningnya sampai suara jarum jatuh ke

lantai pun kedengaran jelas, siapapun tidak membuka suara, cuma perempuan bercadar itu

yang terus mengawasi Ho Leng-hong.

Diam-diam Leng-hong memperhatikan pula perempuan itu, hanya saja ia tak dapat menebak

asal-usulnya?

Lewat sesaat kemudian, pelahan gadis benang emas baru mendongakkan kepalanya, lalu

sambil tertawa kepada Ho Leng-hong katanya, “Benarkah Nyo-tayhiap ini majikan Thian-pohu?”

Ketika gadis itu mendongakkan kepalanya, semakin terbuktilah bahwa dugaan Leng-hong

tidak keliru, usia gadis itu paling banter Cuma delapan-sembilan belas tahunan, mukanya

masih ke kanak-kanakan, wajahnya cantik jelita, sinar matanya jernih tenang, tapi juga

menggidikkan hati.

Tanpa terasa Ho Leng-hong mengalihkan pandangannya ke arah lain, kemudian jawabnya

lirih, “Betul!”

“Ada berapa banyak Thian-po-hu di dunia ini?”

“Hanya ada satu Thian-po-hu di kota Kiu-ki-shia.”

148

“Kalau begitu, Nyo-tayhiap adalah majikan keturunan berapa dari Thian-po-hu?”

Ho Leng-hong tertegun sejenak, kemudian jawabnya, “Thian-po-hu didirikan oleh mendiang

ayahku dan mempunyai tujuh anak semenjak ayahku wafat, kakak sulungku Han-wi beserta

kelima saudara lainnya secara beruntun pergi meninggalkan rumah dan tidak kembali lagi,

kini akulah yang mewarisi kedudukan itu.”

Sambil mendengar gadis itu manggut-manggut berulang kali, katanya lagi sambil tersenyum,

“kalau begitu, Nyo-tayhiap adalah majikan terakhir Thian-po-hu?”

“Betul!”

“Tadi Nyo-tayhiap berkata bahwa enam saudaramu secara beruntun pergi meninggalkan

rumah untuk tidak kembali lagi, tahukah kau ke mana mereka telah pergi?”

“Kokcu, kalau sudah tahu apa gunanya bertanya lagi? Keenam saudaraku telah pergi

meninggalkan rumah lantaran hendak mencari ilmu golok sakti peninggalan Ang-ih Hui-nio

dan secara beruntun pergi ke Mi-kok ini, masakah Kokcu tidak tahu?”

Gadis itu tertawa, ia tidak mengaku juga tidak menyangkal, ia ingin mengalihkan

pembicaraan ke soal lain, katanya, “Ilmu golok Nyo-keh-sin-to telah merajai dunia, apa

gunanya kalian mencari ilmu golok lain yang lebih dahsyat?”

“Sebab gelar kehormatan Thian-he-te-it-to tersebut telah dirampas oleh pihak Hiang-in-hu

dari Leng-lam pada pertemuan Lo-hu-to-hwe yang lalu, maka kami bersaudara berhasrat

untuk menjunjung kembali nama baik keluarga, oleh karena kami dengar ilmu golok Ang-ih

Hui-nio merupakan ilmu golok tandingan Nyo-keh-sin-to, maka kami harus menemukannya.”

Gadis itu menggeleng kepala berulang kali, “Hakikatnya ilmu silat di dunia ini tiada batasnya,

betapa hebat sesuatu ilmu silat tak lebih hanya gerakan lincah yang memanfaatkan kelemahan

pihak lawan, kepandaian semacam ini mana pantas disebut ilmu yang tiada tandingannya?

Setelah menderita kekalahan, mengapa kalian tidak mencoba untuk bertanya pada diri sendiri

sudahkan kepandaian keluarga digunakan semaksimalnya? Pernahkah terpikir hendak

mempopulerkan kehebatan Nyo-keh-sin-to? Kalau yang dipikirkan hanya ingin belajar

kepandaian orang lain, sungguh tindakan ini adalah tindakan yang bodoh.”

Ho Leng-hong tidak menyangka gadis semuda ini ternyata sanggup memberi keterangan

panjang lebar seperti ini, tergerak juga perasaannya.

“Apa yang Kokcu terangkan memang tepat dan masuk diakal,” demikian katanya, “sayang

sekali hanya sejumlah kecil manusia di dunia ini yang dapat mawas diri serta mengintropeksi

diri sendiri, sementara sebagian besar lainnya tetap dungu dan tak berguna.”

“Tolong tanya Nyo-tayhiap adalah manusia dari jenis yang mana?”

“Aku . . . tentu saja dari golongan yang bodoh.”

“Kalau begitu, maksud kedatangan Nyo-tayhiap ke lembah ini juga untuk mencari ilmu golok

yang maha sakti itu?” tanya gadis itu.

“O, tidak, pada hakikatnya aku tidak tahu di manakah letak Mi-kok ini, sesungguhnya

kedatangan kami ke sini hanya ingin mencari sarang Ci-moay-hwe, tak tahunya malah

terpancing sampai di Tay-pa-san ini.”

“Apa yang terjadi dengan perkumpulan Ci-moay-hwe?”

“Keadaan yang sebetulnya masih kurang jelas, aku cuma tahu tentang munculnya sebuah

organisasi rahasia dalam dunia persilatan, semua anggota mereka adalah kaum wanita dan

cita-citanya adalah beradu kekuatan dengan kaum pria di dunia.”

Gadis itu tertawa, “Ambisi orang-orang itu terlalu besar, Thian menciptakan makhluk laki dan

perempuan, Im dan Yang, dengan maksud agar ada perbedaan di antara umatnya dengan tugas

dan tanggung jawab yang berbeda, kaum pria bertugas keluar dan kaum wanita bertugas ke

dalam, sebetulnya tiada sesuatu yang pantas diperebutkan, apalagi adu kekuatan. Ambil

contoh saja lembah kita ini, meskipun kaum wanita diwajibkan belajar silat, hal ini

disebabkan ilmu silat leluhur kami lebih cocok untuk kaum wanita, ini tidak berati kaum

wanita lebih tangguh daripada kaum prianya. Lagi pula, kecuali urusan ilmu silat, kaum lelaki

149

tetap merupakan kepala rumah tangga, mereka saling hormat menghormati, sayang

menyayangi, bukankah hal ini bagus sekali?”

Sampai di sini, tiba-tiba ia menarik kembali senyumnya, kemudian berkata dengan nada

sungguh-sungguh, “Nyo-tayhiap, aku ingin bertanya lagi padamu dan kuharap kau bersedia

bicara terus terang.”

“Silakan bertanya, Kokcu!”

Ditatapnya wajah Ho Leng-hong dengan sinar mata tajam, kemudian sepatah demi sepatah

katanya, “Benarkah kau Nyo Cu-wi, majikan Thian-po-hu?”

Hati Leng-hong tergerak, bukannya menjawab ia malah bertanya, “Apakah Kokcu mencurigai

diriku sebagai gadungan?”

“Betul, aku memang merasa curiga terhadap asal-usulmu.”

“Kenapa?”

“Sebab tahun yang lalu ada seorang Nyo Cu-wi yang mendatangi lembah ini, dia menyebut

dirinya sebagai pemilik Thian-po-hu.”

“Oya? Tak nyana di dunia ini terdapat kejadian yang begini kebetulan? Kini Nyo Cu-wi

tersebut berada di mana?”

“Dia sudah mati!”

“O, sayang sekali,” kata Leng-hong pura-pura menyesal, “kalau tidak, ingin sekali kujumpai

sahabat yang mempunyai nama dan she yang sama dengan diriku itu.”

“Maksudmu dia telah menyaru sebagai dirimu?”

Ho Leng-hong tersenyum, “Dia dan aku bukan hanya bernama dan she sama, keduanya juga

sama mengaku majikan dari Thian-po-hu, salah seorang di antara kami sudah pasti adalah

gadungan, tapi sekarang ia sudah mati, siapa yang asli dan siapa gadungan rasanya tidak

penting lagi artinya.”

“Tidak, justru penting sekali artinya, seyogyanya kau mengaku secara terus terang, sebab

kalau tidak akan berakibat fatal bagimu.”

Leng-hong berpikir sebentar, lalu katanya, “Orang yang sudah mati tak mungkin bisa

dijadikan sebagai saksi, sekalipun aku gadungan, seandainya aku berkeras menatakan diriku

adalah yang asli, bagaimana pula cara Kokcu akan membedakannya?”

“Tentu saja aku ada akal untuk membedakannya, cuma kuharap kau bersedia mengaku terus

terang, sebab jika aku sampai membuktikannya, kau tak ada kesempatan untuk melakukan

pemilihan lagi.”

“Bagaimana kalau ada kesempatan untuk memilih, dan bagaimana kalau tak ada

kesempatan?” tanya Leng-hong sambil tertawa.

“Berbicara terus terang berarti ada kesempatan hidup, berbohong berarti kematian.”

Leng-hong termenung sebentar, kemudian katanya, “Kurasa semua perkataanku adalah

sejujurnya, soal Kokcu mau percaya atau tidak jelas tidak berani kupaksa, lebih baik Kokcu

segera membuktikannya sendiri.”

“Kau tidak menyesal?”

“Tentu saja tidak.”

“Bagus!” gadis itu lantas berpaling ke arah perempuan bercadar itu sambil mengangguk,

“Coba periksalah dia, sebetulnya dia ini asli atau palsu?”

Perempuan itu mengiakan, pelahan ia melepaskan kain cadar yang menutupi wajahnya.

Tiba-tiba mata Leng-hong terbeliak lebar, jeritnya, “Wan . . . kun . . . .”

Tak salah lagi, dia memang Pang Wan-kun.

Ditinjau dari raut wajahnya, ia tak berbeda dengan Pang Wan-kun gadungan dari Ci-moayhwe,

Cuma sikap maupun gerak-geriknya jauh lebih anggun daripada perempuan gadungan

itu.

Bagaimana pun juga, seorang mungkin dapat menyaru raut wajah orang lain, mungkin juga

dapat meniru suara bahkan gerak-geriknya, tapi sikap dan gaya seseorang sukar untuk ditiru.

150

Sikap dan gaya melambangkan kepribadian seseorang, melambangkan tingkat pendidikan

serta pengetahuannya, melambangkan pula semua pengaruh lingkungan serta pengalaman

yang pernah dialaminya semenjak kecil.

Di dunia yang luas ini tak mungkin ada dua manusia yang memiliki pengalaman yang sama,

sebab itu tak ada pula dua orang yang memiliki sikap serta gaya yang sama.

Oleh sebab itu, meski baru bertemu sekali, Ho Leng-hong merasa yakin bahwa Pang Wan-kun

yang berada di hadapannya itulah Pang Wan-kun yang asli, ia tak mungkin Pang Wan-kun

jadi-jadian dari Ci-moay-hwe.

Lantaran itulah Ho Leng-hong bersuara kaget . . . dengan masih hidupnya Pang Wan-kun di

lembah Mi-kok ini berarti penyamaran si gadungan segera akan terbongkar.

Ho Leng-hong mengawasi Pang Wan-kun dengan mata melotot, hampir saja jantungnya mau

melompat keluar dari rongga dadanya, sementara Pang Wan-kun sendiri pun mengawasi

pemuda itu tanpa berkedip, wajahnya tetap dingin dan tawar tanpa emosi.

Walaupun sudah lewat sekian lama, akan tetapi ia tetap tidak bicara ataupun bergerak,

ditatapnya Ho Leng-hong tanpa berkedip.

“Pang Wan-kun, sudah kaulihat jelas?” tanya gadis itu tiba-tiba.

Pelahan Pang Wan-kun mengangguk.

“Apa yang dikatakan tadi juga sudah kaudengar semua?” kembali gadis itu bertanya.

Sekali lagi Pang Wan-kun mengangguk.

“Nah, sekarang beritahukan kepadaku, orang ini benar-benar suamimu Nyo Cu-wi?” desak

gadis itu.

Pang Wan-kun tidak menjawab, tetap kepalanya tertunduk rendah.

Sedemikian gelisahnya Ho Leng-hong waktu itu, hampir saja ia merengek, memohon

kepadanya agar jangan memberi jawaban negatif, sebab jawabannya itu berarti maut baginya.

“Mengapa kau tidak menjawab?” tanya gadis itu lagi, “sebenarnya dia benar-benar Nyo Cuwi

atau bukan?”

Sekali lagi Pang Wan-kun mendongakkan kepalanya menatap Ho Leng-hong, akhirnya ia

menarik napas panjang, “Dia....dia memang benar....”

Baru empat patah kata itu diucapkan, matanya lantas berkaca-kaca, mendadak ia menutup

wajahnya dan menangis tersedu-sedu.

Pengakuan ini sungguh di luar dugaan Ho Leng-hong, ia tak dapat mengatakan terkejut

ataukah bergirang? Untuk sesaat pemuda itu hanya berdiri mematung.

Ia tahu tak mungkin Pang Wan-kun salah mengenali suaminya, apalagi dalam dinding penjara

tercantum pula kata-kata “kekasih masuk istana es, aku masuk penjara”, jelas Pang Wan-kun

sudah mengetahui akan jejak Nyo Cu-wi, tapi mengapa mengakui seorang asing sebagai

suaminya.

Cuma tak ada waktu lagi bagi Ho Leng-hong untuk memikirkan sebab musababnya, cepatcepat

ia berlagak sedih dan terharu, katanya dengan suara gemetar, “Wan-kun, terima kasih

pada langit dan bumi, ternyata kau masih hidup, sudah lama amat menderita kucari dirimu.”

Si gadis memandang sekejap ke arah Ho Leng-hong, lalu memandang pula Pang Wan-kun,

setelah itu sambil tertawa katanya, “Di dunia ini memang terlalu banyak kejadian aneh, tahun

yang lalu seorang Nyo Cu-wi telah mati dan tahun ini muncul lagi seorang Nyo Cu-wi,

ternyata kedua orang Nyo Cu-wi itu semuanya adalah asli!”

Pang Wan-kun menundukkan kepalanya rendah-rendah, “Tahun yang lalu aku hanya

mendengar beritanya saja dan tidak kusaksikan dengan mata kepala sendiri, setelah aku

melihat sendiri sekarang, kuyakini dia inilah yang asli.”

“Mau yang asli juga boleh, yang palsu juga tak mengapa, asal kau bersedia mengakuinya, itu

sudah cukup. Cuma setelah kau akui keasliannya, maka segala sesuatunya harus dilaksanakan

menurut peraturan lembah ini, tentunya kau tak akan menyesal bukan?”

151

“Aku tak akan menyesal!”

“Baik,” kata nona itu kemudian sambil mengangguk, “kuberi waktu semalam untuk kalian,

sebelum fajar menyingsing besok harus sudah ada keputusan.”

Diberinya tanda di atas selembar dokumen, lalu katanya lagi, “Oleh karena Nyo Cu-wi adalah

suami Pang Wan-kun, untuk sementara waktu pelaksanaan hukuman Khek-sin ditangguhkan,

pengawasan sementara waktu diserahkan kepada Pang Wan-kun dan harus memberi laporan

sebelum fajar menyingsing besok. Sekarang bawa menghadap Pang Goan.....”

“Lapor Kokcu,” cepat Pang Wan-kun berkata, “Pang Goan adalah saudara kandungku, tolong

Kokcu bersedia menyerahkan tanggung jawab pengawasan atas dirinya kepadaku.”

Tapi gadis itu menggeleng, “Dia adalah orang yang telah divonis bersalah, menurut peraturan

lembah, meski saudara juga tidak ada ampun sesuai peraturan kita.....”

“Kokcu, mengingat jasaku yang melayani Kokcu selama setahun ini, sudilah kiranya

meluluskan permintaanku ini?”

Dengan dahi berkerut gadis itu termenung sebentar, akhirnya ia berkata, “Baiklah, akan

kuberi waktu sehari kepadamu, termasuk Hui Beng-cu kuserahkan semua pertanggungan

jawabnya padamu, semoga kalian berunding baik dan memberi laporan kepadaku sebelum

fajar besok.”

“Terima kasih Kokcu,” cepat Pang Wan-kun memberi hormat.

Gadis itu menutup dokumen-dokumennya dan menarik napas panjang seperti ada maksud tapi

seperti tak sengaja melirik sekejap ke arah Ho Leng-hong lalu tersenyum, kemudian bangkit

dan mengundurkan diri.

“Jit-long, mari ikut aku,” bisik Pang Wan-kun kemudian.

“Perlukah kita menunggu Toako sekalian?”

“Tidak perlu, sebentar mereka akan datang sendiri ke tempatku.”

Sesudah mengundurkan diri dari ruang tengah mereka berbelok ke barat dan melewati

beberapa halaman, akhirnya sampai di depan sebuah rumah tembok kecil yang indah.

Pang Wan-kun membuka pintu dan mempersilakan Ho Leng-hong masuk ke dalam, dalam

ruang tengah tampak sebuah patung dewi Kwan-im, asap dupa memenuhi seluruh ruangan

tapi tempatnya bersih dan teratur rapi.

Banyak persoalan yang mencurigakan memenuhi benak Leng-hong, tak tahan lagi ia tanya,

“Wan-kun, di sinikah tempat kediamanmu? Leluasakah kita bercakap-cakap di sini?”

“Jangan gelisah dulu, duduklah, setelah memasang hio di depan Budha baru kita bicara lagi.”

Terpaksa Leng-hong harus menahan sabar dan mempersilakan Pang Wan-kun mencuci

tangan, memasang hio menyembah Budha, semua gerak-geriknya sangat lamban tapi penuh

sujud, untuk memasang hio dan berdoa di depan patung suci saja membutuhkan waktu sekian

lama.

Leng-hong berusaha menenangkan hatinya, menurut pendapatnya selama setahun hidup di

lembah Mi-kok, Pang Wan-kun tentu banyak mengalami suka-duka, pengakuannya kepada

dirinya yang Nyo Cu-wi gadungan pun pasti ada alasan tertentu.

Betul juga, ketika selesai berdoa, ucapan pertama dari Pang Wan-kun adalah, “Aku tahu kau

bukan Cu-wi, bahkan Kokcu juga tahu, maka sekarang kita tak perlu berbohong lagi.”

Sedikit banyak malu juga Ho Leng-hong, katanya sambil tertawa, “Leluasakah kita berbicara

di sini nona?”

“Sangat leluasa, kecuali beberapa orang kepercayaan Kokcu, orang lain tak berani

sembarangan masuk ke sini, jangan kuatir.”

Leng-hong manggut-manggut, katanya, “Nona Pang, pertama-tama hendak kuterangkan dulu

kepadamu, meski aku bukan Nyo Cu-wi yang sesungguhnya, akan tetapi kakakmu betul-betul

adalah majikan Cian-sui-hu.”

“Aku tahu!”

152

Maka secara ringkas Leng-hong menceritakan asal-usulnya dan bagaimana caranya ia

dipergunakan untuk menyaru sebagai Nyo Cu-wi dan tinggal di Thian-po-hu.

Pang Wan-kun mendengarkan semua keterangan itu dengan tenang, seakan-akan kejadian

tersebut telah berada dalam dugaannya.

Setelah Leng-hong selesai bercerita, Wan-kun berkata sambil menghela napas panjang,

“Semua ini adalah permainan busuk Ci-moay-hwe, kita selangkah demi selangkah telah

masuk ke dalam perangkap mereka.”

“Apakah kalian suami isteri juga tertipu oleh Ci-moay-hwe?” tanya Leng-hong tercengang.

Wan-kun tertawa getir, “Siapa bilang bukan, justru mereka yang memberitahukan alamat Mikok

ini kepada Jit-long . . . .”

Bicara sampai di sini, Pang Goan dan Hui Beng-cu secara beruntun telah di antar pula ke

tempat Pang Wan-kun, ternyata yang mengantar mereka adalah Pui Hui-ji, gadis Bok-lan-pektui

yang bertugas menjaga pintu itu.

Perjumpaan antara kakak beradik ini sedikit banyak menimbulkan kesedihan bagi kedua

pihak, dalam penuturan pengalaman kemudian diketahuilah cara bagaimana Pang Wan-kun

suami istri meninggalkan Thian-po-hu . . . .

Ternyata ketika Pang Wan-kun menikah dengan Nyo Cu-wi, meski ia tahu kejadian yang

menimpa Nyo-keh-hengte dalam Mi-kok, namun ia sendiri tak tahu di manakah letak lembah

tersebut, setelah menikah iapun tak pernah menceritakan hal ini kepada Nyo Cu-wi.

Waktu ia mengetahui dirinya sedang mengandung dan hendak memberitahukan kabar

gembira ini kepada suaminya, tiba-tiba Nyo Cu-wi meninggalkan surat dan pergi dari rumah.

Yang lebih mengherankan lagi, ternyata dalam surat Nyo Cu-wi mengetahui bahwa isterinya

telah mengandung, bahkan memberi pesan baik lelaki atau perempuan yang bakal dilahirkan,

pokoknya Thian-po-hu sudah mempunyai keturunan, sedang ia akan meneruskan perjuangan

saudara-saudaranya untuk mencari ilmu golok peninggalan Ang-ih Hui-nio agar nama baik

Thian-po-hu bisa dibangun kembali, seandainya dalam setahu ia tidak pulang, maka Pang

Wan-kun dipersilakan menjadi majikan Thian-po-hu.

Pang Wan-kun segera putar otak memikirkan persoalan itu, ia merasa hanya pelawan Bwe-ji

yang mengetahui dia sedang mengandung, ketika Bwe-ji ditanya baru diketahuinya bahwa

pelayan itu mempunyai hubungan cinta gelap dengan Nyo Cu-wi, bahkan diketahui juga

sebelum meninggalkan rumah, Nyo Cu-wi pernah berunding secara rahasia dengan Thian

Pek-tat, sedang Thian Pek-tat juga sangat banyak mengetahui kejadian di Thian-po-hu,

kemungkinan besar dia yang telah membocorkan alamat Mi-kok itu kepada Nyo Cu-wi.

Ketika Thian Pek-tat didesak kemudian, akhirnya diketahui lembah Mi-kok teretak di tengah

pegunungan Tay-pa-san.

Tapi menurut pengakuan Thian Pek-tat, katanya Nyo Cu-wi sudah mengetahui tentang

peristiwa Ang-ih Hui-nio, iapun tahu keenam saudaranya pergi tak kembali lantaran persoalan

itu, cuma keluarga Nyo belum ada keturunan dan lagi ia merasa mempunyai tanggung jawab

besar, maka rahasia tersebut selalu dipendam dalam hati saja.

Waktu itu Pang Wan-kun sendiri tak sempat menganalisa benar atau tidaknya persoalan itu,

waktu itu juga ia berangkat ke Tay-pa-san.

Sepanjang jalan ia tidak berhasil menemukan jejak Nyo Cu-wi, tapi merasa seolah-olah ada

orang yang secara diam-diam memberi petunjuk kepadanya, sehingga tanpa susah payah ia

berhasil menemukan Mi-kok.

Setelah di lembah ini ia baru tahu Nyo Cu-wi telah tiba di situ sehari sebelumnya, bahkan

telah memilih jalan “menerobos istana es” dan “menembus liang api” . . . karena itulah kedua

suami isteri tak pernah berjumpa muka lagi.

Pang Wan-kun disekap dalam penjara, ia berpikir dengan cermat, demi janin dalam

kandungannya sambil menahan rasa sedih terpaksa ia memilih untuk menetap dalam lembah

sambil menunggu kesempatan . . . .

153

Setelah mendengar kisah tersebut, Ho Leng-hong bertiga menghela napas terharu, di

antaranya Hui Beng-cu yang sebenarnya tidak mengetahui tentang diri Ho Leng-hong,

sekarang baru tahu bahwa dia bukan Nyo Cu-wi, sebab itu dalam kesedihan terselip juga

beberapa bagian rasa kaget dan tercengang.

Dengan air mata bercucuran Pang Goan berkata, “Adikku, kau terlampau bodoh, setelah

mengetahui kepergian Cu-wi waktu itu, sepantasnya kalau kaupulang dulu ke rumah untuk

berunding denganku.”

“Sesungguhnya akupun berhasrat pulang ke rumah untuk minta petunjuk Toako, tapi

berhubung waktu sangat mendesak dan tidak memungkinkan diriku pulang dulu ke Cian-suihu,

dan lagi setibanya di Tay-pa-san akupun merasa mulai terikat oleh sesuatu, maka seperti

sadar-tak-sadar akupun menerobos masuk ke dalam lembah ini.”

“Kalau demikian, kemungkinan besar Thian Pek-tat adalah orangnya Ci-moay-hwe,” kata

Leng-hong, “Tapi mengapa ia menyerobot Yan-ci-po-to itu dan diantar ke Mi-kok sini?”

“Bajingan itu banyak tipu muslihatnya, delapan bagian dia adalah mata-mata bermuka dua,

mulut untuk Ci-moay-hwe dan kemudian berpihak kepada lembah Mi-kok . . . . .”

Tiba-tiba hatinya tergerak, katanya lagi, “Ah, benar! Bukankah Mi-kok melarang anggotanya

keluar dari tempat ini dan tak pernah berhubungan dengan dunia luar? Kenapa Thian Pek-tat

beserta Hui-goan Taysu dari Siau-lim-pay dapat mengadakan kontak dengan pihak Mi-kok?”

Pang Wan-kun menghela napas, katanya, “Sungguhpun masalah ini merupakan suatu rahasia

besar, kalau aku tidak berdiam selama setahun di sini, mungkin rahasia ini tak akan kita

ketahui untuk selamanya.”

Tiga orang lainnya hanya diam saja dan mendengarkan kisah itu selanjutnya.

Dengan sedih Pang Wan-kun berkata pula, “Sejak Ang-ih Hui-nio mengasingkan diri dalam

lembah Mi-kok, ia tak pernah berhubungan dengan dunia luar, iapun berharap lembah

tersebut dapat menjadi surgaloka di luar keramaian manusia, sebab itu dibuatlah suatu

peraturan yang melarang ahli warisnya meninggalkan Tay-pa-san, tapi orang lain juga

dilarang memasuki lembah ini, barang siapa masuk ke lembah ini, bila orang itu tidak

berdosa, hanya ada dua pilihan baginya, yakni menetap dalam lembah atau memasuki istana

es dan menembusi liang api untuk mencari hidup . . . . . .”

Ia tidak memberi penjelasan tentang apa yang dimaksudkan sebagai “memasuki istana es” dan

“menembusi liang api” tersebut, sambungnya pula, “Tapi belakangan ini, berhubung tujuh

bersaudara keluarga Nyo dari Thian-po-hu berturut-turut mendatangi lembah Mi-kok, rupanya

kejadian ini menimbulkan perhatian Ci-moay-hwe, merekapun mengutus jago-jago lihaynya

untuk menyeludup ke lembah Mi-kok, mereka kebanyakan berpura-pura ingin menetap di

situ, padahal sesungguhnya ingin menarik perhatian anggota Mi-kok agar bersedia bekerja

sama dengan pihak mereka, lalu dengan ilmu golok yang tiada tandingannya dari Ang-ih Huinio

mereka juga akan merajai dunia persilatan. Untunglah Kokcu lembah ini Tong Siau-sian,

meski masih kecil namun kecerdasannya melebihi orang lain dan lagi sifatnya tawar terhadap

segala macam keramaian. Maka begitu orang-orang Ci-moay-hwe mengetahui tak mungkin

menarik perhatiannya, diam-diam merekapun membeli beberapa orang Popo dan tokoh

berbenang biru untuk membantu mereka mendesak kepada Tong Siau-sian agar terjun

kembali ke dunia persilatan, tapi Kokcu tak mau, secara diam-diam mereka lantas melakukan

segala persiapan dan mengadakan kontak dengan dunia luar, kupikir dengan cara inilah Thian

Pek-tat serta Hui-goan Taysu berhasil mengadakan kontak dengan pihak Mi-kok.”

“Apakah Kokcu Tong Siau-sian tidak mengetahui persoalan ini?” tanya Leng-hong.

“Ia telah mendapat kabar selentingan tentang itu, Cuma lantaran tak ada bukti, dan lagi tidak

tahu berapa banyak orangnya yang telah berkomplot dengan orang luar, ia tidak mengambil

tindakan untuk sementara waktu, dan lagi sekalipun kedudukannya sebagai Kokcu amat

terhormat, hakikatnya ia berada dalam posisi terjepit, ia sangat membutuhkan bantuan orang

154

lain, kalau tidak, tak mungkin dia mau menuruti permintaanku setelah diketahui bahwa kau

adalah Nyo Cu-wi gadungan.”

“Adikku, bagaimana hubunganmu dengan Tong Siau-sian?” tanya Pang Goan.

“Dia sangat baik kepadaku, selama setahun ini ia selalu melindungi dan memperhatikan

diriku, sekalipun sepintas lalu tampak bagaikan majikan dan bawahan, namun kenyataannya

kami adalah sahabat karib.”

“Kalau begitu bagus sekali,” kata Pang Goan dengan gembira, “kita bersedia membantunya

untuk menyelidiki siapa-siapa yang telah dibeli orang luar, bahkan membantunya juga untuk

menangkap agen Ci-moay-hwe, tentu saja bila diapun bersedia menukar ilmu golok sakti

Ang-ih Hui-nio kepada kita.”

Tapi Pang Wan-kun menggeleng kepala berulang kali, “Urusan ini tak segampang apa yang

kaubayangkan, sebagai seorang Kokcu, mana mungkin dia meminjam kekuatan luar untuk

menindak anggota perguruannya sendiri? Lagipula, jumlah anggota lembah yang berkomplot

dengan Ci-moay-hwe tentu tidak sedikit jumlahnya, bila kita melakukan suatu tindakan,

bukannya membantu, malah kemungkinan besar akan mencelakainya.”

“Kalau begitu, apa maksudnya menyerahkan kami kepadamu?” tanya Pang Goan.

“Oleh karena aku bersedia menetap di lembah ini, maka menurut peraturan lembah, kalian

sebagai sanak keluargaku mendapat kesempatan juga untuk tinggal di sini, maksudnya tentu

saja agar aku bisa mengajak kalian menetap di sini dan membantu dia.”

“Ah, mana mungkin?” kata Pang Goan, “kalau kami tinggal di sini, bukankah selama hidup

tak mungkin keluar lagi? Bagaimanapun juga, tidak seharusnya kita meninggalkan hasil karya

leluhur untuk hidup dalam lembah ini. Aku orang pertama yang tidak setuju dengan usul

tersebut.”

“Bagaimana pula jika kami tidak bersedia menetap di sini?” tanya Leng-hong kemudian.

Pang Wan-kun tertawa getir, “Waktu itu karena memikirkan anakku, maka kupilih untuk tetap

tinggal di sini, sungguhpun aku tak ingin menetap sampai tua di lembah ini, akan tetapi jika

tidak bersedia menetap, kita hanya ada satu jalan, yakni menembus istana es dan menerobos

liang api, padahal jelas jalan ini adalah jalan kematian.”

“Apa yang dimaksudkan dengan memasuki istana es dan menerobos liang api?”

“Lembah ini letaknya sangat istimewa, tempatnya persis di atas sumber air dan liang api yang

berdekatan letaknya, di belakang lembah situ ada sebuah jalan tembus, separuh di antaranya

berhawa sangat dingin dan sepanjang tahun diliputi oleh salju beku yang tebal dan tak pernah

cair, tempat itu dinamakan ‘Peng-kiong’ (istana es), sukar bagi orang untuk hidup selama satu

jam di sana, kemudian separuh jalan berikutnya orang akan melewati sebuah jalan yang

panasnya bagaikan dalam neraka, dari bawah lembah tiada hentinya menyembur api dahsyat,

jangankan tubuh manusia, besipun akan meleleh bila berada di situ, tempat itu disebut ‘liang

api’, bila orang tak mau menetap di sini, kecuali menembusi istana es dan liang api, jangan

harap bisa keluar dari Mi-kok ini!”

“Apakah tujuh bersaudara keluarga Nyo dari Thian-po-hu memilih jalan ini semua?” tanya

Leng-hong.

“Benar!” Wan-kun mengangguk, “mereka semua tewas dalam istana es, tak seorangpun

berbasil lolos dalam keadaan selamat.”

“Belum pernah ada orang bisa melewati jalan itu dengan selamat?”

“Belum pernah, semenjak Mi-kok ini ada, belum pernah ada seorang pun yang bisa melewati

istana es dan liang api dengan selamat, sebab itu dalam lembah ini tersiar sebuah syair yang

sangat populer, katanya, ‘Berlatih golok dalam istana es, melatih sukma dalam liang api’!”

“Apa pula arti dari ucapan tersebut?” tanya Leng-hong tercengang.

“Maksudnya semua jurus ilmu golok maha sakti peninggalan Ang-ih Hui-nio yang bernama

Ang-siu-to-hoat (rahasia ilmu golok baju merah) berada dalam gua salju tersebut, barang

siapa masuk ke istana itu maka dia pasti akan tertarik perhatiannya oleh kelihaian ilmu golok

155

yang terdapat di situ, tapi bila ingin menguasai seluruh jurus serangan ilmu golok tersebut,

paling sedikit seorang membutuhkan waktu selama satu jam, bila ilmu golok itu berhasil

diingat semua, tentu orangnya akan mati kedinginan lebih dulu. Mengenai kata yang terakhir,

tentu saja berarti kalau orang tidak mati kedinginan dia akan mati terbakar dalam liang api,

sebab itu barang siapa memasuki istana es dan liang api, belum pernah ada yang berhasil

keluar dalam keadaan selamat.”

Sesudah mendengar keterangan tersebut, perasaan mereka bertiga mulai menjadi murung dan

berat.

Lama sekali Ho Leng-hong termenung, kemudian sambil menghela napas katanya, “Wah,

dingin dan panas merupakan siksaan yang tak dapat ditahan oleh tubuh manusia, agaknya

terpaksa kita harus memilih jalan menetap di lembah ini.”

Hui Beng-cu yang sejak tadi terus membungkam tiba-tiba menutupi wajahnya sambil

menangis terisak, “Kalian tentu saja tak mengapa karena tak ada yang dipikirkan, tapi

bagaimana dengan diriku? Ayahku berada dalam cengkeraman Ci-moay-hwe, kalau aku tak

pulang, betapa akan gelisahnya beliau?”

Leng-hong mengangkat bahu, “Ya, urusan sudah menjadi begini, gelisahpun tak ada gunanya,

lebih baik kita mengirim surat kepada ayahmu dan mengundang beliau agar menetap pula di

Mi-kok ini, dengan demikian semua orang bisa hidup senang di tempat yang indah bagaikan

surgaloka ini.”

“Hei, saat macam apakah sekarang ini? Tak nyana kau masih ada pikiran untuk bergurau?”

tegur Pang Goan.

Ho Leng-hong tertawa, “Sekalipun sedih, apa pula manfaatnya? Lebih baik sebelum hujan

sedia payung, kita membuat dulu perhitungan yang paling jelek.”

Tiba-tiba ia mengalihkan pokok pembicaraan sambil berpaling tanyanya, “Nyo-hujin, tadi

kaubilang demi anakmu maka kau memilih tetap tinggal di sini, entah anakmu itu lelaki

ataukah perempuan?”

“Laki-laki, baru berusia setengah tahun!”

“Mengapa tidak kau gendong keluar untuk menjumpai pamannya?”

“Tentang ini . . . .” Pang Wan-kun ragu-ragu sejenak, lalu menambahkan, “bocah itu tak ada

di rumah, ia dibawa Kokcu pergi bermain.”

Wan-kun menundukkan kepalanya rendah-rendah, “Ya, Kokcu amat sayang kepada bocah itu,

setiap hari ia pasti mengajak bocah itu bermain.”

“O, baikkah Kokcu itu kepadamu?” kembali Leng-hong bertanya.

“Sudah kukatakan tadi, meskipun kami tampak sebagai majikan dan bawahan, hakikatnya

hubungan kami akrab seperti sahabat.”

Leng-hong manggut-manggut, “Ya, begitu sayangnya dia kepada anakmu, tentu saja kaupun

tidak dianggapnya sebagai orang luar, buktinya kau diperbolehkan berdiam dalam gedung

belakang, malahan tanpa sangsi dia serahkan kami kepadamu.”

“Memang begitulah keadaannya!”

“Menurut penglihatanku, Kokcu yang sekarang ini Tong Siau-sian seorang gadis yang amat

cerdik, bukannya ia tak ingin membasmi mata-mata dari Ci-moay-hwe, soalnya kekuatannya

sangat minim, maka terpaksa ia berlagak tuli dan pura-pura tidak tahu orang-orangnya telah

mengadakan kontak rahasia dengan Ci-moay-hwe.”

“Ya, memang begitulah.”

“Ia begitu baik kepada Hujin, dengan kamipun boleh dibilang mempunyai musuh yang sama,

berbicara menurut keadaan umumnya, sepantasnya kita bekerja sama menghadapi Ci-moayhwe,

cuma tidak diketahui bantuan apakah yang ia perlukan?”

“Apakah kau bicara dengan sungguh-sungguh!”

“Tentu saja sungguh-sungguh!” sahut Leng-hong.

156

Dengan gembira Wan-kun berkata, “Jika kalian bersedia tinggal di sini, sekarang juga

kulaporkan soal ini kepada Kokcu, mengenai cara bagaimana kerja sama kita untuk

menghadapi mata-mata Ci-moay-hwe, kita rundingkan lagi dikemudikan hari, setuju?”

“Tentu saja, kita sudah bertekad tetap tinggal di sini . . . . .” kata Leng-hong tanpa ragu-ragu.

“Tidak! Aku tidak setuju!” tiba-tiba Pang Goan menyela.

“Akupun tidak setuju!” sambung Beng-cu.

“Toako, kenapa kau berkeras kepala,” ujar Leng-hong, “Selama gunung tetap hijau, tak usah

takut kekurangan kayu bakar, dalam istana es dan liang api kita hanya akan menemukan jalan

kematian, apa gunanya . . . .”

“Jangankan cuma istana es dan liang api, sekalipun gunung golok atau kuali minyak mendidih

akupun tidak takut, kalau mau tinggal di sini boleh kau saja tinggal di sini sendirian, aku dan

Siau-cu bertekad akan menerobos istana es dan liang api itu.”

“Toako, dengarkan dulu perkataanku . . . .” pinta Wan-kun.

“Tidak usah banyak bicara, pokoknya sebagai seorang lelaki sejati aku lebih rela mati dalam

istana es daripada hidup sampai tua di lembah terkurung ini.”

“Nyo-hujin, tak perlu kaubujuk dia lagi,” kata Leng-hong, “bila ia bertekad hendak menjadi

lelaki sejati dan lebih suka menjadi seorang yang tidak bisa dipercaya dan tidak setia kawan,

biarkanlah ia pergi.”

“Kau mengatakan siapa yang tak bisa dipercaya dan tidak setia kawan?” teriak Pang Goan

marah.

“Tentu saja kau. Aku ingin tanya, sewaktu kau menerima pesan dari keluarga Nyo untuk

bantu Thian-po-hu berdiri kembali dengan jaya, sudahkah tugas itu terselesaikan bila jiwamu

kau korbankan dalam istana es liang api, bukanlah tindakanmu itu berati tidak memenuhi

janjimu kepada keluarga Nyo?”

Pang Goan melenggong dan terdiam.

Leng-hong berkata pula, “Secara beruntun tujuh bersaudara keluarga Nyo dari Thian-po-hu

tewas dalam Mi-kok, satu-satunya keturunan yang masih ada sekarang masih kecil, dengan

menahan segala siksaan dan penderitaan adikmu menyambung hidup demi mempertahankan

keturunan keluarga Nyo, sebaliknya kau tidak mempedulikan nasib adikmu dan anaknya, tapi

demi kepuasan diri sendiri hendak memasuki istana es dan liang api, Kematianmu tak akan

menjadi soal, tapi meninggalkan adikmu dan anaknya bukan suatu tindakan yang terpuji.”

Pang Goan terbelalak dan tak dapat mengucapkan sepatah katapun, akhirnya sambil menghela

napas ia menundukkan kepalanya.

Leng-hong mengerling sekejap ke arah Pang Wan-kun, kemudian katanya lagi, “Silakan

memberi laporan kepada Kokcu, katakanlah bahwa kami bersedia menetap di lembah ini.”

Wan-kun sangat gembira, buru-buru ia mengundurkan diri.

Setelah Pang Wan-kun pergi, dengan suara rendah Leng-hong berbisik, “Lotoako, mengapa

kau pintar sepanjang waktu tapi bodoh sesaat? Apakah tidak kaulihat bahwa adikmu tak bebas

bergerak dan berada di bawah ancaman orang lain?”

“Sungguhkan perkataanmu?” tanya Pang Goan terperanjat.

Leng-hong segera berkata kepada Hui Beng-cu, “Duduklah dekat pintu sana, perhatikan

adakah orang mencuri dengar, kita harus berunding secepatnya untuk menghadapi segala

kemungkinan.”

Beng-cu manggut-manggut, ia lantas duduk di pinggir pintu dan bertugas mengawasi keadaan

di sekitar sana.”

“Ho-lote, darimana kautahu kalau Wan-kun telah dikuasai orang lain?” tanya Pang Goan

cemas.

“Dengan jelas ia tahu aku bukan Nyo Cu-wi, tapi ia mengakui diriku sebagai Nyo Cu-wi,

kejadian ini sudah amat mencurigakan, seandainya ia ingin bertemu dengan kita karena ingin

merundingkan cara meloloskan diri, semestinya hal itu sudah ia sampaikan, tapi bukan

157

rencana kabur yang dirundingkan, ia malah menganjurkan kita untuk bergabung dengan pihak

Mi-kok, di sinilah titik kelemahannya yang paling besar.”

Pang Goan mengangguk berulang kali.

Leng-hong berkata lebih lanjut, “Kokcu Tong Siau-sian adalah seorang nona yang cerdik,

meski usianya masih muda namun tindak tanduknya cukup matang dan berpengalaman, kalau

dibilang hubungannya dengan adikmu sangat akrab, sudah sepantasnya ia membiarkan anak

Wan-kun menjumpai pamannya, anehlah kalau dalam keadaan begini dia malah membawanya

dan diajak bermain ke tempat lain? Dari sini dapat diketahui bahwa mengajaknya bermain

cuma alasan, yang benar adalah menjadikan bocah itu sebagai sandera, agar adikmu tunduk

dan bersungguh-sungguh melaksanakan perintahnya.”

“Tapi kita sudah tertangkap, mau dibunuh atau dibiarkan hidup bergantung pada

keputusannya, apa pula tujuannya berbuat begitu?” kata Pang Goan dengan terkesiap.

“Apa tujuannya? Tak berani kukatakan dengan pasti, mungkin saja tong Siau-sian benarbenar

ingin meminjam kekuatan kita untuk melawan para pengkhianat dalam lembah,

mungkin juga ingin mempergunakan kekuatan kita untuk melakukan suatu pekerjaan yang

berbahaya, atau bahkan mungkin Mi-kok adalah sarang Ci-moay-hwe, sedan Tong Siau-sian

adalah ketua Ci-moay-hwe tersebut.... setiap kemungkinan bisa terjadi di sini.”

Baik Pang Goan maupun Hui Beng-cu merasa bulu romannya sama berdiri karena ngeri.

“Cuma, ada satu hal yang dapat dipastikan,” kata Leng-hong lagi, “baik tempat ini adalah Mikok

atau sarang Ci-moay-hwe, yang pasti di antara mereka terdapat dua golongan kekuatan

yang saling berebut kekuasaan dan saling depak mendepak. Lebih baik kita berlagak bodoh

dan mendengarkan semua perintahnya, bila keadaan yang sesungguhnya telah jelas baru kita

ambil tindakan.”

“Aku cuma merasa keadaan di sini mengerikan sekali,” kata Hui Beng-cu dengan suara

gemetar, “kalau Pang toaci pun tidak bisa dipercaya, lalu kita harus percaya kepada siapa?”

“Ia bukannya tak bisa dipercaya, melainkan dewasa ini ia mempunyai kesulitan yang tak

dapat diutarakan, maka pertama-tama kita harus turuti kehendaknya kemudian baru

menyelidiki latar belakang yang sebenarnya.”

Sementara mereka berbicara sampai di situ, Pang Wan-kun telah kembali.

Ia muncul bersama Pui Hui-ji serta dua orang perempuan lain yang berdandan seperti pelayan,

masing-masing membawa sebuah kotak makanan.”

Dengan senyum di kulum Pang Wan-kun segera berkata, “Ketika Kokcu mengetahui kalian

bersedia menetap di sini, betapa gembiranya hati beliau, arak dan makanan harap kalian cicipi

dulu, nona Pui dari Bok-lan-pek-tui ini ditugaskan untuk menemani kalian.”

Kedua pelayan itu membuka kotak makanan yang dibawa, tertampaklah makanan dan arak.

Leng-hong bertiga memang sudah lapar, tanpa sungkan-sungkan mereka duduk dan mulai

makan minum dengan lahapnya.

Ternyata takaran minum Pui Hui-ji amat besar, beruntun ia menenggak habis belasan cawan

arak tanpa berubah air mukanya, gelagatnya seakan hendak meloloh Pang Goan sampai

mabuk, sebab selama ini hanya dia saja yang diloloh terus dengan minuman.

Ho Leng-hong mempunyai perhitungan sendiri dalam hati, tapi iapun tidak membongkar

rahasia tersebut, ketika arak sudah diminum hingga setengah mabuk, sambil tertawa ia

berkata, “Setelah kami mengambil keputusan untuk tinggal di lembah ini berarti selanjutnya

kita adalah orang sekeluarga, terhadap peraturan lembah kami kurang mengerti, harap nona

suka memberi petunjuk.”

“Peraturan sih tidak ada,” kata Pui Hui-ji sambil tertawa, “cuma, walaupun kalian sudah

memohon untuk menetap di sini, sekarang kalian masih belum terhitung penduduk lembah,

sebab bila kalian sudah menjadi penduduk di sini, maka kau dan Pang-toako tidak dapat lagi

minum arak.”

“Masa untuk mohon menetap pun ada syarat lainnya?”

158

“Tentu saja ada. Misalnya saja kalian adalah orang yang dijatuhi hukuman mati, maka untuk

bisa menetap di lembah ini pertama-tama harus membuat jasa dulu untuk menebus kesalahan,

kemudian izin menetap baru akan diberikan.”

Leng-hong pura-pura kaget, “Kami tak dapat meninggalkan lembah ini lagi, jasa apa yang

bisa kami lakukan?”

“O, kesempatan untuk membuat jasa banyak sekali, tidak harus melakukannya di luar

lembah,” kata Pui Hui-ji sambil tertawa.

“Apakah nona Pui bisa memberikan sebuah contoh?”

Pui Hui-ji menengok sekejap ke arah Pang Wan-kun, lalu katanya, “Misalnya saja di depan

mata sekarang pun ada kesempatan untuk membuat jasa, cuma kalian bersedia untuk

melakukannya atau tidak . . . .”

“Kalau bisa membuat jasa untuk Mi-kok, itulah yang kami harapkan, siapa bilang kami tidak

bersedia? Nona Pui, tolong beri tahukanlah kepada kami.”

Pui Hui-ji termenung dan berpikir sebentar, lalu jawabnya, “Kukira lebih baik Pang-toaci saja

yang menjelaskan.”

Seperti sudah tidak sabar lagi, buru-buru Leng-hong berseru, “Wan-kun, cepatlah katakan!”

Wan-kun tidak buru-buru bicara, pelahan dia mengangkat cawan untuk minum secegukan

arak, rupanya ia sedang berpikir bagaimana caranya untuk mulai bicara.

“Sebetulnya kesempatan macam apakah yang dimaksudkan?” tanya Leng-hong lagi, “katakan

saja terus terang, asal kami sanggup melakukannya, pasti akan kami laksanakan sedapatnya.”

Pang Wan-kun tertawa, dia memberi tanda kepada dua orang pelayan itu agar mengundurkan

diri, “Berdirilah di luar sana, jangan izinkan siapapun masuk kemari.”

Sesudah kedua pelayan itu mengundurkan diri, senyuman di bibir Wan-kun mendadak lenyap,

sebagai gantinya dengan wajah serius ia berbisik, “Nona Pui adalah orang kepercayaan

Kokcu, semua orang yang hadir di sini juga tiada orang luar, aku akan bicara terus terang.”

Setelah berhenti sejenak, dengan wajah serius ia berkata lebih jauh, “Kokcu memegang

tampuk kekuasaan untuk mengatur semua kehidupan dalam lembah, tapi berhubung usianya

masih muda, maka tata pemerintahan dibantu oleh para Popo, dan sekarang diketahui bahwa

para Popo itu telah dibeli pihak luar, di mana setiap perbuatannya selalu bermusuhan dengan

Kokcu, bahwa tampaknya mereka berencana hendak merebut tampuk pimpinan . . . . .

Berbicara sampai di sini, sengaja ia berhenti dan menyapu pandang sekejap wajah Ho Lenghong

bertiga, rupanya ia sedang mengawasi reaksi mereka.

Leng-hong bertiga tetap tenang dan sama sekali tidak memberikan reaksi apa-apa.

Tampaknya Pang Wan-kun merasa agak kecewa, katanya pula, “Misalkan saja maksud kalian

bertiga hendak menetap di sini, tentu saja Kokcu menyambut niat kalian dengan segala

senang hati sebenarnya dia ingin mengabulkannya, tapi para Popo berkeras menolak, sampai

kini mereka masih ngotot, inilah contoh nyata yang paling jelas . . . . .”

“Wan-kun!” tiba-tiba Leng-hong tertawa, “mengapa tidak kauterangkan saja secara langsung,

sesungguhnya apa yang dikehendaki Kokcu?”

“Baik, akan kuterangkan sesingkatnya dan jelas, Kokcu tidak tahan melihat sepak terjang para

Popo, ia bertekad membubarkan ‘Tian-lo-wan’ (lembaga para tertua) dan membasmi mereka

dengan alasan bersekongkol dengan orang luar, maka Kokcu ingin minta bantuan kalian.”

“Cara bagaimana dia menghendaki kami membantunya?”

“Kokcu tidak berharap kalian ikut campur dalam persoalan ini secara langsung, dia Cuma

berharap kalian mengambilkan sebuah benda untuknya agar ia dapat menindas sendiri para

pengkhianat tersebut!”

“Beda apakah yang diharapkan?”

“Golok mestika Yan-ci-po-to!”

Leng-hong saling pandang sekejap dengan Pang Goan dan tersenyum penuh berarti . . .

agaknya ucapan tersebut sudah berada dalam dugaan mereka.

159

“Adikku, Kokcu belum pernah meninggalkan lembah Mi-kok, darimana ia tahu tentang Yanci-

po-to segala?” tanya Pang Goan.

“Akulah yang memberitahukan kepadanya.”

“Ang-siu-to-hoat merupakan ilmu golok yang tiada tandingannya di kolong langit, apa pula

gunanya golok mestika itu baginya?” sela Leng-hong.

“Bagi orang lain, Ang-siu-to-hoat memang ilmu golok yang tiada tandingannya, tapi setiap

anggota lembah Mi-kok mempelajari ilmu tersebut, maka kepandaian itu bukan ilmu yang

hebat lagi, sementara tenaga dalam Kokcu hanya seimbang dengan para Popo, hanya dengan

golok mestika ini ia bisa mengalahkan mereka.”

“Kalau begitu Kokcu yang menitahkan Thian Pek-tat serta Goan-hui Taysu dari Siau-lim-si

untuk mencuri golok mestika itu?” tanya Pang Goan.

“Tidak, mereka mendapat petunjuk dari Tong-popo serta kelompok Tiang-lo-wan, semula

yang ditugaskan menyambut golok di luar lembah adalah Hoa Jin, tapi lantaran kabar ini

diketahui Kokcu dan malam itu juga mengirim pasukan peronda yang berpuluh regu

banyaknya untuk mengadang mereka, maka begitu Hoa Jin merasa gelagat tidak

menguntungkan, ia segera turun tangan membinasakan mereka, perkara itu lantas

dilimpahkan kepada kalian bertiga, oleh karena itulah begitu masuk ke lembah, Tong-popo

langsung memimpin sidang dan menjatuhkan hukuman mati kepada kalian.”

“Tapi kedatangan kami ke Tay-pa-san ini adalah karena terpancing oleh siasat Ci-moay-hwe,”

kata Leng-hong, “Tidak mungkin Hoa Jin mengetahui kami bakal datang ke sini.”

“Justru Tong-popo dan Hoa Jin sekalian mengadakan persekongkolan dengan Ci-moay-hwe.”

“Ah, hal ini lebih tak mungkin lagi,” sela Pang Goan, “orang yang mengatur siasat dalam

Thian-po-hu untuk mencuri golok mestika itu adalah Ci-moay-hwe, Thian Pek-tat

menggunakan kesempatan sewaktu Ci-moay-hwe bentrok dengan kami untuk merampas

golok mestika itu, jika dia bersekongkol, kenapa ia malah menggigit rekan sekomplotan

sendiri?”

“Hal ini adalah urusannya dengan Ci-moay-hwe, aku kurang begitu jelas, Kokcu cuma tahu

bahwa golok mestika yang berhasil mereka dapatkan adalah benda bagus, maka ia berpesan

kepadaku agar menyampaikan kepada kalian bahwa ia sangat berharap kalian suka

menyerahkan Yan-ci-po-to yang asli kepadanya.”

“Jika Yan-ci-po-to berhasil kami peroleh, apa pula imbalannya untuk jasa tersebut?”

“Kokcu ada perintah, jika kalian bersedia membantu kami untuk menindas kaum pengkhianat,

maka setelah urusan selesai kalian dipersilakan meninggalkan lembah ini dengan bebas,

kitapun selamanya akan menjadi sahabat, janji ini pasti takkan dipungkiri.”

“Kami masih ada suatu permintaan lagi, yakni kuharap Yan-ci-po-to dapat ditukar dengan

rahasia ilmu Ang-siu-to-hoat.”

Pui Hui-ji berpikir sebentar, lalu katanya, “Tentang ini maaf kalau aku tak berani

memutuskan, akan kusampaikan kepada Kokcu dan kupercaya Kokcu pasti akan

mengabulkannya.”

“Kalau begitu tolong laporkan kepada Kokcu bahwa Yan-ci-po-to tidak berada pada kami,

untuk mendapatkannya dia harus melepaskan kami dulu meninggalkan lembah ini.”

“Tentang ini Kokcu sudah ada rencana,” kata Pui Hui-ji sambil tertawa, “kalian cukup

memberitahukan tempat golok itu saja, kami akan mengambilnya sendiri.”

“Tempat itu sangat rahasia letaknya, kecuali kupergi sendiri tak mungkin orang lain bisa

menemukannya.”

“Silakan Pang-toako katakan, di manakah letak tempat itu?”

Pang Goan berpikir sebentar, kemudian katanya, “Tak mungkin bisa diterangkan dengan

mulut, pokoknya tempat itu sulit dicari . . . . begini saja, akan kubuatkan peta untuk kalian,

bila pencarian dilakukan menurut keterangan dalam peta, tentu akan lebih gampang

pencariannya.”

160

Pui Hui-ji sangat gembira, serunya, “Cara ini paling baik, silakan Pang-toako membuat peta

itu, sementara kulaporkan dulu hal ini kepada Kokcu....”

“Tunggu sebentar,” cegah Ho Leng-hong, “kalian tak pernah meninggalkan Mi-kok,

sekalipun ada peta, siapa yang akan pergi mencarinya?”

Kembali Pui Hui-ji tertawa, “Untuk melawan kekuasaan Tiang-lo-wan selama beberapa tahun

ini kamipun sudah menyiapkan beberapa pos mata-mata di luar lembah, asal peta

penyimpanan golok sudah siap, kami bisa mengutus orang untuk mencarinya sesuai dengan

petunjuk peta.”

“Tapi ada satu hal tolong nona sampaikan juga kepada Kokcu, kami harap bisa menukar peta

penyimpanan golok dengan Ang-siu-to-hoat, harap nona suka menyampaikan beberapa kata

manis di depan Kokcu nanti.”

Pui Hui-ji manggut-manggut, “Aku pasti akan melakukannya, kalian jangan kuatir.”

Setelah mengantar kepergian Pui Hui-ji, Pang Wan-kun menarik napas panjang, ia lantas

menyiapkan alat tulis dan kertas untuk Pang Goan membuat peta penyimpanan golok.

Pang Goan juga tidak menolak, dalam sekejap mata ia telah membuat dua buah lukisan, yang

selembar adalah letak Cian-sui-hu, sedangkan yang selembar lagi adalah tempat golok itu

disembunyikan.

Peta itu dilukis dengan terperinci dan sangat rahasia, terutama tempat golok itu disimpan,

betul-betul dilukis dengan amat berhati-hati sehingga baik Ho Leng-hong maupun Pang Wankun

juga tidak mengetahui.

Setelah peta selesai dibuat ia baru berkata kepada Wan-kun dengan serius, “Adikku,

mumpung peta ini belum kuserahkan kepada Tong Siau-sian, kuharap kau bersedia

memberitahukan suatu hal kepadaku, kita adalah saudara sekandung, bagaimanapun kau harus

berterus terang.”

“Aku tidak bermaksud membohongi Toako?” kata Pang Wan-kun dengan tercengang.

“Yang sudah lewat aku tak ingin menyelidikinya, sekarang aku hanya ingin bertanya padamu,

jika golok mestika Yan-ci-po-to telah kami serahkan, benarkah Tong Siau-sian akan

membebaskan kami untuk meninggalkan Mi-kok ini.”

“Ia pasti akan memenuhi janji, dia adalah seorang yang bisa dipercaya,” jawab Wan-kun

tanpa ragu.

“Apakah kau dan anakmu juga akan dilepaskan semua?” desak Pang Goan lebih jauh.

“Tentang ini . . . . .” agaknya perasaan Wan-kun bergetar keras, “Toako, kenapa secara tibatiba

kau ajukan pertanyaan ini?”

“Sebab kami tahu Tong Siau-sian menggunakan anakmu sebagai sandera untuk memaksa kau

melakukan semua petunjuknya, antara kau dengan dia pada hakikatnya bukan sahabat karib

seperti yang kaulukiskan.”

Tiba-tiba sinar mata Pang Wan-kun memancarkan perasaan kuatir dan ngeri, dengan mulut

membungkam ia tunduk kepala rendah-rendah.

“Nyo-hujin,” kata Leng-hong dengan suara tertahan, “kalian adalah saudara sekandung, sudah

seharusnya semua rahasia hatimu diutarakan secara blak-blakan, tak perlu dirahasiakan lagi.”

“Benar,” sambung Hui Beng-cu, “kita berempat harus bersatu dan berusaha dengan segala

kemampuan menghadapi apapun, Pang-toaci, cepatlah katakan secara terus terang!”

Pelahan Wan-kun mendongakkan kepalanya, bibirnya bergetar dan memperlihatkan

senyuman getir, katanya, “Dari bagian yang manakah aku harus mulai dengan keteranganku?

Ia bersikap sangat baik padaku, bukan terbatas sampai persahabatan saja, hakikatnya kami

bagaikan kakak beradik, tetapi....”

“Tetapi ia telah menahan anakmu sebagai sandera, agar kau melaksanakan semua perintahnya

tanpa berani membangkang, bukankah begitu?” sambung Pang Goan.

Wan-kun tidak mengaku pun tidak menyangkal, ia mengembuskan napas panjang.

161

“Aku amat menyayangi puteraku, ini kenyataan . . . .” demikian katanya, “Kupikir, tujuannya

menahan puteraku adalah agar aku tidak kabur dari Mi-kok, iapun kuatir aku menaruh

dendam padanya karena kematian Jit-long dalam istana es . . . . .”

“Kalau begitu, mana mungkin ia mengizinkan kami meninggalkan Mi-kok?”

“Dewasa ini, untuk menghadapi pertentangannya dengan Tiang-lo-wan, ia betul

membutuhkan bantuan orang, jika kita berhasil membantunya, kuyakini dia pasti akan

mengizinkan kita untuk meninggalkan tempat ini.”

Tapi Ho Leng-hong segera menggeleng kepala, “Meski perempuan itu masih muda, tapi

otaknya cerdas dan akalnya banyak, kukuati sampai waktunya nanti . . . .”

Belum habis perkataannya, tiba-tiba terdengar suara langkah orang dari luar, cepat semua

orang mengakhiri pembicaraan dan kembali ke tempat duduknya masing-masing.

Sambil tersenyum simpul Pui Hui-ji masuk ke dalam ruangan, kemudian tegurnya, “Pangtoako,

sudah selesai petamu?”

Pang Goan tidak menjawab sebaliknya malah bertanya, “Bagaimana tanggapan Kokcu atas

permintaan kami?”

“Telah kusampaikan kepada Kokcu dan beliau sangat gembira, permintaan kalian segera

dikabulkan, bahkan suruh aku memberitahukan pula kepada kalian agar jangan kuatir, asal

golok mestika telah didapatkan, rahasia Ang-siu-to-hoat pasti akan diajarkan kepada kalian,

bahkan beliau akan berterima kasih pula kepada kalian semua.”

“Berterima kasih sih tak usah, sampai waktunya aku cuma memohon agar kami bisa

membawa bocah itu meninggalkan lembah ini bersama-sama agar ada keturunan keluarga

Nyo yang bisa melanjutkan perjuangan leluhurnya.”

“O, pasti, pasti, Kokcu tak akan menyia-siakan harapan kalian,” sahut Pui Hui-ji.

Pang Goan mengeluarkan peta dan berkata lagi, “Dari sini menuju ke gedung Cian-sui-hu di

kota Liat-liu-shia ada ratusan li lebih, entah kalian membutuhkan beberapa lama untuk

mengambil golok tersebut?”

“Tentu saja lebih cepat lebih baik, jika peta Pang-toako dibuat dengan cermat, maka paling

banter sepuluh hari kemudian semuanya sudah beres.”

“Baik,” kata Pang Goan sambil menyerahkan peta itu kepada Pui Hui-ji, “semoga kalian cepat

kembali, agar kami tak usah menunggu terlalu lama.”

Pui Hui-ji merentangkan peta itu dan memandang sekejap secara garis besarnya, kemudian

dengan sangat berhati-hati menyimpannya dalam saku, setelah itu ia baru bertepuk tangan tiga

kali.

Serombongan orang mengiakan sambil masuk ke dalam, ternyata mereka adalah Yu Ji-nio

dan dua orang gadis berbenang putih.

“Nona Pui, apa maksudmu?” teriak Pang Goan dengan marah.

“harap kalian jangan salah paham,” kata Pui Hui-ji sambil tertawa, “oleh karena ini adalah

tempat tinggal kaum wanita, Kokcu merasa kurang leluasa untuk kalian tinggal di sini, selain

itu demi keamanan kalian serta menghindari gangguan dari pihak Tiang-lo-wan, untuk

sementara waktu kalian dipersilakan kembali ke ruang belakang untuk beristirahat, kalau

golok mestika sudah ditemukan, kalian pasti akan dilepaskan.”

“Hm, jadi kami harus disekap selama belasan hari lagi?” seru Pang Goan sambil mendengus.

“Bukan, bukan disekap, berhubung pihak Tiang-lo-wan tetap tidak setuju dengan maksud

kalian untuk bermukim di sini, terpaksa Kokcu harus mengambil tindakan begini.”

“Kalian jangan kuatir,” kata Yu Ji-nio sambil tertawa, “meskipun kurang bebas selama tinggal

di gedung belakang, dalam soal penghidupan tak nanti kami telantarkan kalian.”

Pang Goan memandang sekejap ke arah Pang Wan-kun, kemudian mendengus, “Hm, adikku,

sekarang percaya tidak bahwa perkataanku bukan hanya dugaan belaka!”

Wan-kun menunduk kepala dan membungkam.

162

-------------------

Sekembalinya ke penjara, sikap Yu Ji-nio jadi lebih sungkan, “pelayanan” pun tambah baik.

Tapi kemarahan Pang Goan tak terbendung, dalam penjara dia membanting semua ini

membuat beberapa gadis penjaga pintu tak berani mendekati pintu terali besi nomor satu.

Karena kehabisan akal, terpaksa Yu Ji-nio memindahkan Pang Goan ke ruang penjara nomor

tiga, sedangkan Hui Beng-cu diberi kamar nomor satu.

Ternyata cara ini manjur juga, setelah pindah kamar sikap Pang Goan jauh lebih tenang.

Bukan hanya tenang saja, malah tak lama kemudian ia tertidur dengan nyenyaknya.

Hanya Leng-hong yang tahu bahwa rekan itu tidak benar-benar tidur, tapi iapun tidak bicara

apa-apa, sesudah Yu Ji-nio pergi, pelahan ia mengetuk dinding.

Betul juga, Pang Goan hanya pura-pura tertidur, segera ia berbisik, “Jangan mengetuk lagi,

suruh Siau-cu jaga pintu, kalau ada orang suruh dia dehem.”

“Jangan kuatir, aku sudah memberitahukan kepadanya, sekarang marilah kita berbicara

dengan hati lega, tak mungkin ada orang mendengarkan pembicaraan kita.”

Pang Goan merangkak bangun dari pembaringan lalu mendekati ujung dinding dan berkata,

“mulai sekarang, kau harus memperhatikan dua hal.”

“Dua hal apa?” tanya Leng-hong.

“Pertama, berapa banyak pengawal dalam rumah penjara ini? Kedua, berapa lama mereka

berganti penjaga? Terutama keadaan pada waktu malam, perhatikan secara khusus.”

“Lotoako, mau apa kau?”

“Kabur!”

“Kabur?” sekalipun Leng-hong telah menduga, terkejut juga demi mendengar perkataan itu,

“kau bermaksud kabur dari Mi-kok ini?”

“Benar, tempat setan ini penuh dengan kejadian yang bikin orang tidak habis mengerti, Wankun

dikuasai pula oleh mereka, maka kita harus mengandalkan kekuatan kita sendiri untuk

kabur dari sini.”

“Tapi kungfu orang-orang di lembah ini sangat lihay, tidaklah gampang untuk kabur dari

sini.”

“Tentu saja tidak gampang, tapi bagaimanapun kita harus berusaha kabur, sebab paling

banyak kita hanya tersedia waktu selama sepuluh hari, jika menunggu orang-orang yang

mengambil golok telah kembali, kita tak ada kesempatan lagi untuk berbuat demikian.”

“Apakah peta rahasia tersebut palsu?”

“Hahaha, kaukira akan kuberikan peta yang benar kepada mereka?” Pang Goan balik bertanya

sambil tertawa, “terus terang kuberitahukan kepadamu, letak tempat yang kulukis dalam peta

adalah kubang tinja dalam Cian-sui-hu, kecuali kotoran manusia jangan harap bisa

menemukan golok!”

Betapa bangga gelak tertawa itu, seakan-akan ia telah menyaksikan cara bagaimana orangorang

Mi-kok yang mencari golok mestika itu tercebur ke dalam lubang tinja dan kenyang

minum air kotoran.

Ho Leng-hong juga ingin tertawa tapi tak mampu bersuara, sambil menggeleng katanya,

“Lotoako, jangan terlampau menuruti emosi, sebab perbuatanmu ini bisa mencelakai Wankun,

bila Tong Siau-sian merasa tertipu, ia pasti takkan melepaskan Wan-kun.”

“Kita bisa mengajak Wan-kun kabur bersama.”

“Persoalannya tidak segampang itu, sekalipun Wan-kun berhasil kita bawa kabur, anaknya

belum tentu bisa sekaligus kita selamatkan, padahal anak itu adalah itu adalah satu-satunya

tumpuan harapan Wan-kun, selama bocah itu tak bisa ikut, Wan-kun juga tidak akan ikut

pergi.”

163

Pang Goan termenung sebentar, akhirnya dengan menyesal ia berseru, “Celaka, waktu itu

kenapa aku tidak memikirkan masalah bocah tersebut? Wah, kalau begitu perbuatanku benarbenar

amat sembrono.”

Leng-hong menghela napas panjang, “Ai, sekarang urusan telah berkembang jadi begini, tak

mungkin kita pasrah nasib kepada mereka, kita harus kabur bahkan bawa serta Wan-kun dan

anaknya, dan satu-satunya cara untuk kita adalah menempuh bahaya . . . .”

“Menempuh bahaya bagaimana maksudmu?”

“Kita berusaha membekuk Tong Siau-sian dan menyanderanya, asal dia dipaksa untuk

mengantar kita keluar lembah, urusan kan beres.”

“Apakah kau ada akal bagus?”

“Sekarang belum, tapi kita bisa mendapatkannya dari seseorang.”

“Siapa?” cepat-cepat Pang Goan bertanya.

“Pui Hui-ji!”

-----------------------

Ketika Pui Hui-ji muncul lagi dalam penjara sikapnya sudah jauh berbeda daripada

sebelumnya.

Kalau dahulu ia selalu tersenyum simpul dan bersikap ramah tamah, maka kini meski

senyuman masih menghiasi bibirnya, namun senyuman itu sangat dingin, membuat siapa pun

yang melihatnya segera tahu bahwa senyuman itu diperlihatkan secara terpaksa dalam

keadaan yang tidak dikehendakinya.

Begitu masuk ke dalam penjara, keningnya segera berkerut, senyuman pun lenyap, tegurnya

dengan ketus, “Ada urusan apa kalian mencari aku?”

Buru-buru Leng-hong mendekati terali besi sambil berbisik, “Nona Pui, ada urusan penting

hendak kubicarakan secara pribadi denganmu, dapatkah kau mencari suatu tempat yang agak

rahasia. . . . .”

Kening Pui Hui-ji makin berkerut, dengan wajah tak sabar serunya, “Kalau ada urusan

katakan sekarang saja, aku repot dan tak punya waktu.....”

“Tempat ini terlalu banyak mata-matanya, kukuati pembicaraan kita akan terdengar oleh

pihak ketiga, tapi kalau nona Pui enggan mendengarkan juga tak apa-apa, cuma andaikata

Yan-ci-po-to sampai terjadi sesuatu di luar dugaan, jangan salahkan kami sebelumnya tidak

memberi kabar kepada nona.”

Pui Hui-ji terkejut, “Apa? Yan-ci-po-to akan mengalami kejadian apa?”

Leng-hong tidak menjawab, ia meninggalkan terali besi dan membaringkan diri.

Sikap Pui Hui-ji seketika berubah, dengan senyum manis cepat ia menitahkan Yu Ji-nio

membuka pintu penjara, bahkan menghampiri sendiri ke tepi pembaringan dan berkata

dengan lembut, “Ho-toako, akulah yang salah, aku memang sangat repot, aku tidak sengaja

hendak menyinggung perasaanmu . . . sesungguhnya ada apa dengan golok mestika Yan-cipo-

to . . . . .”

“Sudah kukatakan, di sini terlalu banyak mata dan telinga, tidak leluasa untuk bercakap-cakap

di sini,” tukas Leng-hong ketus.

“Ah, itu gampang, akan kutemani Ho-toako untuk bercakap-cakap dalam kamar Yu Ji-nio.”

“Kamarnya juga kurang leluasa.”

“Lantas menurut keinginan Ho-toako.....”

“Tempat manapun boleh, asal tak ada orang yang mencuri dengar, terlebih jangan sampai

diketahui oleh Hoa Jin.”

“Hoa Jin?” tiba-tiba air muka Pui Hui-ji berubah, setelah merenung sejenak, akhirnya berkata,

“Baiklah? Mari ikut aku.”

164

Ternyata ia benar-benar orang kepercayaan Kokcu, cukup mengucapkan sesuatu kepada Yu

Ji-nio, tanpa dikawal ia meninggalkan rumah penjara.

Setelah menelusuri kaki bukit dan belok ke kiri, sampailah mereka di muka sebuah rumah

batu, di depan pintu duduk seorang nenek sedang menambal baju.

Pui Hui-ji memberi kode tangan kepada nenek itu, kemudian mengajak Leng-hong masuk ke

dalam, katanya, “Nenek itu seorang tuli, dulu dia adalah inang pengasuh Kokcu, asal kita

bercakap-cakap dalam rumahnya, tak nanti ada orang yang mencuri dengar.”

Leng-hong memperhatikan sekejap susunan perabot di dalam ruangan itu, setelah duduk,

katanya, “Yang paling penting, apa yang kita bicarakan sekarang jangan sampai diketahui

Hoa jin, kaupun harus berpesan secara khusus kepada Yu Ji-nio agar ia tidak membacakan

rahasia kita ini.”

“Sebenarnya ada apa dengan Hoa Jin?” tanya Pui Hui-ji tidak sabar.

“Semalam ia datang ke penjara mencari diriku.”

“O, benarkah itu?” seru Pui Hui-ji kaget, “mau apa dia mencarimu?”

“Sebenarnya dia hendak bicara dengan Pang-toako, tapi kucegat dan akhirnya kami bicara

hampir setengah jam lamanya . . . . .”

“Apa saja yang kalian bicarakan?” tanya gadis itu cemas.

“Setelah kukatakan, harap kau jangan kaget, ia datang ke penjara karena golok mestika Yanci-

po-to itu.”

“Oya? Apa yang dia katakan kepadamu? cepat katakan!”

Sengaja Leng-hong tertawa, katanya, “Entah darimana ia dengar kabar tentang golok mestika

Yan-ci-po-to yang disimpan dalam Cian-sui-hu, maka ia mencari kami untuk membicarakan

syarat penukaran, merekapun menginginkan selembar peta.”

“Sudah kau kabulkan permintaannya?”

“Belum,” jawab Leng-hong sambil menggeleng, “Cuma syarat yang ia ajukan ternyata lebih

menyenangkan dari pada syarat Kokcu.”

“Dia bilang apa?”

“Katanya, asal kami bersedia melukiskan pula selembar peta untuk mereka, maka bukan saja

kami akan segera dibebaskan menurut pilihan kami sendiri, bahkan ia jamin Wan-kun dan

anaknya akan diserahkan pula kepada kami, katanya juga bila kami ingin tinggalkan tempat

ini, pihak Tiang-lo-wan bersedia menghadiahkan Ang-siu-to-hoat kepada kami, serta

membantu kami menumpas Ci-moay-hwe, kalau pilih tinggal di sini, maka setelah Kokcu

naik tahta, Wan-kun dan Beng-cu boleh masuk Tiang-lo-wan, sedang aku dan Pang-toako

akan diangkat sebagai pelindung Mi-kok dengan hak istimewa untuk masuk keluar lembah ini

sesuaka hati . . . .”

Ia masih ingin mengibul terus, tapi Pui Hui-ji sudah keburu jengkel sehingga mukanya

berubah menjadi hijau membesi, tukasnya, “Ho-toako, jangan sekali-kali kau tertipu, Tianglo-

wan hakikatnya tidak memiliki kekuasaan sebesar ini, mereka tidak berhak mengubah

peraturan Mi-kok, Kokcu kami adalah jabatan turun temurun, kecuali melakukan pelanggaran

besar, Tiang-lo-wan tidak berhak mengganti Kokcu baru, lebih-lebih tak berhak untuk

mengangkat orang luar sebagai pejabat dalam lembah ini.”

“Tapi mereka menyatakan,” kata Leng-hong sambil tertawa, “bila Kokcu mencari bantuan

orang luar untuk menentang Tiang-lo-wan, maka perbuatan ini adalah suatu pelanggaran

besar.”

Dengan jengkel Pui Hui-ji mendengus, “Hm, jika Tiang-lo-wan mengandalkan kekuatan luar

untuk melawan Kokcu, perbuatan inipun suatu pelanggaran besar, Tong-popo telah

bersekongkol dengan Ci-moay-hwe untuk mengincar jabatan Kokcu, dosa ini jelas terbukti,

Kokcu berhak membubarkan Tiang-lo-wan serta menjatuhi hukuman kepada mereka untuk

memilih Tiang-lo baru . . . . .”

165

“Soal siapa berhak atau tidak merupakan urusan Mi-kok kalian sendiri, kami tak ingin

mencampurinya, terus terang saja harapan kami hanya bagaimana caranya menukar golok

mestika dengan rahasia Ang-siu-to-hoat dan meninggalkan lembah ini dengan selamat.

Semula kami ingin membantu Kokcu, tapi hasilnya kami harus masuk penjara menjadi

tawanan, bila dibandingkan satu sama lain tentu saja kami merasa syarat mereka jauh lebih

menarik daripada syarat dari pihak Kokcu.”

“Ho-toako, jangan kau percaya pada mereka,” seru Pui Hui-ji dengan gelisah, “pasti Hoa Jin

perempuan rendah itu sengaja membohongimu, jika kau menyerahkan peta tersebut, jangan

harap kalian bisa tinggalkan Mi-kok dengan selamat.”

“Tapi setelah kami serahkan peta rahasia itu kepada Kokcu, apa pula jaminan buat kami untuk

meninggalkan tempat ini dengan selamat?”

“Tak usah kuatir, sekarang juga akan kulaporkan soal ini kepada Kokcu, tempat tinggal kalian

pun harus diatur lagi dengan sebaiknya . . . . .”

Kemudian dengan penuh kebencian serunya lagi, “Yu Ji-nio juga kurang ajar sekali, tujuan

Kokcu mempersilakan kalian tinggal dalam penjara adalah untuk mencegah agar pihak Tianglo-

wan jangan mengacau, ternyata dia malah berani memasukkan Hoa Jin dalam penjara!”

“Dalam peristiwa ini jangan kau tegur Yu Ji-nio, sebab Hoa Jin menyusup masuk secara

diam-diam di tengah malam buta, mungkin juga ia sudah atur orangnya dalam penjara, Yu Jinio

sama sekali tidak tahu akan perbuatannya.”

“Akan kuperiksa, hmm, lihat saja akibatnya nanti,” dengus Pui Hui-ji.

“Bila nona ingin melakukan pemeriksaan, aku mempunyai suatu akal bagus,” kata Leng-hong

sambil tertawa.

“Oya?! Akal apa?”

“Nona Pui, kejadian tanpa bukti ini sulit diperiksa, jika kauingin memeriksanya harus

mempunyai bukti yang jelas, kalau tidak, memukul rumput mengejutkan ular, akibatnya mala

kurang baik.”

“Maksudmu . . . . .”

“Sepulangnya dari sini nanti nona jangan bicara apa-apa, hari ini atau besok kukira Hoa Jin

pasti akan kembali lagi ke sini, jika diam-diam nona bersembunyi dalam ruangan Hui Bengcu,

kan dapat memergokinya?”

“Ya, ini memang akal bagus!” seru Pui Hui-ji gembira.

“Cuma, nona mesti perhatikan dua hal, pertama harus datang secara diam-diam, jangan

sampai ketahuan penjaga penjara, bila perlu Yu Ji-nio juga harus dikelabui.”

“Soal ini gampang!” Pui Hui-ji manggut-manggut.

“Kedua, kau harus membawa kunci kamar penjara, setelah bersembunyi dalam kamar Bengcu

pintu terali besi harus dalam keadaan terkunci, maka setelah Hoa Jin datang ia akan

langsung menuju ke kamar nomor tiga di mana aku berada. Nah, tiba waktunya nanti nona

boleh keluar dari kamar nomor satu secara tiba-tiba, adang dulu jalan mundurnya kemudian

baru memergokinya, bukankah kau segera akan menangkap basah padanya?”

Pui Hui-ji manggut-manggut, “Baik, kita laksanakan menurut cara usulmu.”

“Menurut apa yang kuketahui,” kata Leng-hong lebih lanjut, “setiap petang para penjaga

bergilir makan malam, penjagaan waktu itu agak mengendur, maka pergunakanlah

kesempatan itu untuk menyusup ke sini, tengah malam nanti Hoa Jin tentu masuk perangkap.”

Pui Hui-ji mengangguk tanda setuju.

“Nona Pui, dengan rencana kita ini berarti aku telah memutuskan hubungan dengan Tiang-lowan,

setelah urusan berhasil jangan kau ingkar janji, dan terus menerus menganggap kami

sebagai tawanan......”

“Jangan kuatir, pasti akan kusampaikan hal ini kepada Kokcu, tanggung tak akan merugikan

kalian.”

166

Selesai berunding, Pui Hui-ji mengantar Leng-hong pulang ke penjara, sementara ia sendiri

pergi melakukan persiapan.

Sekembalinya ke kamar, Leng-hong menceritakan semua kejadian itu kepada Pang Goan dan

Hui Beng-cu, diam-diam ketiga orang itupun melakukan persiapan.

------------------------------

Malam itu Pui Hui-ji benar-benar telah menyusup ke dalam penjara secara diam-diam.

Ia masih mengenakan baju merah bersulam benang putih, persis dandanan para gadis penjaga

penjara, tidak ketinggalan iapun membawa golok panjang.

Cahaya lampu dalam penjara amat suram, ketika ia membuka pintu terali kamar nomor satu

dan menyusup pintu, Hui Beng-cu sudah menanti di pinggir pintu sambil menegur, “Apa nona

Pui di situ?”

Pui Hui-ji mengiakan, baru saja dia akan menutup pintu, Hui Beng-cu telah menarik

tangannya sambil berseru, “Cepat bersembunyi di dalam!”

Pui Hui-ji merasa pergelangan tangannya mendadak menjadi kaku, menyusul kemudian jalan

darah Ki-bun-hiat di bawah iganya disodok oleh sikut keras-keras, tak sempat mengeluh lagi

ia roboh tak sadarkan diri.

Dengan tangan kiri Hui Beng-cu merampas anak kunci, tangan kanan menyambar tubuh Pui

Hui-ji, dengan setengah memondong setengah menyeret ia membawanya ke tepi

pembaringan, membungkusnya dengan selimut dan dimasukkan ke kolong ranjang, setelah itu

disodorkan anak kunci itu lewat terali besi kepada Ho Leng-hong . . . . .

Dalam waktu singkat suasana dalam penjara pulih kembali dengan tenang, siapapun tidak

menyangka dalam penjara telah bertambah dengan seorang, siapapun tidak mengetahui kalau

kunci pintu penjara telah terbuka.

Selesai bersantap para penjaga masuk melakukan pemeriksaan, keadaannya tidak berbeda

dengan keadaan biasa.

Mendekati tengah malam, Ho Leng-hong mengetuk dinding kiri dan kanannya, ketiga orang

itu lantas bangun, membuka pintu terali besi dan tanpa membuang banyak tenaga menutuk

jalan darah kedua gadis penjaga malam yang tertidur, kemudian menyeret mereka ke dalam

kamar penjara.

Hui Beng-cu melucuti pakaian luar gadis-gadis itu, dua di antaranya diberikan kepada Ho

Leng-hong dan Pang Goan, sedang ia sendiri mengenakan baju merah bersulam benang putih

milik Pui Hui-ji, dengan memegang golok panjang berangkatlah mereka meninggalkan

penjara.

Pui Hui-ji dan kedua gadis penjaga tersekap dalam penjara.

Sepanjang perjalanan dari penjara mereka tidak menjumpai alangan apa-apa, ketiga orang itu

mempercepat langkahnya, tak lama kemudian sampailah di depan gedung Yu-tim-cing-sih.

“Tempat tinggal Tong Siau-sian tentu dijaga ketat,” bisik Pang Goan kemudian, “kita butuh

Wan-kun sebagai penunjuk jalan. Tunggulah kalian di sini, akan kutemui Wan-kun lebih

dulu.”

“Berhati-hatilah Lotoako, mungkin saja demi keselamatan anaknya, Wan-kun tak mau

menempuh bahaya, bila perlu kita paksa dia untuk menyetujui pendapat kita!”

“Aku mengerti!” Pang Goan lantas maju mengetuk pintu.

Ketika ketukan diulangi sampai ketiga kalinya baru terdengar suara Pang Wan-kun tanya dari

dalam, “Siapa?”

Pang Goan memberi tanda agar kedua rekannya bersembunyi, kemudian sahutnya lirih,

“Wan-kun, cepat buka pintu, aku, Toako!”

Agaknya Wan-kun sangat terkejut, serunya, “Toako? Kenapa kau bisa . . . . . .”

“Jangan banyak bertanya dulu, cepat buka pintu dan membiarkan aku masuk!”

167

Dalam ruangan terjadi sedikit kegaduhan, menyusul pintupun lantas terbuka.

Dengan cepat Pang Goan menyusup masuk ke dalam ruangan, lalu menutup pintu, bisiknya,

“Wan-kun, benahi barangmu, mari ikut Toako pergi mencari Tong Siau-sian untuk menolong

anakmu!”

Rambut Wan-kun tampak kusut, agaknya baru bangun tidur, dengan melenggong ia awasi

Pang Goan, lalu tanyanya dengan terperanjat, “Toako, kenapa kau bisa sampai di sini? Hanya

kau seorang diri?”

“Kita tak dapat pasrah nasib, maka dengan menyerempet bahaya kami kabur dari penjara,

sengaja kujemput dirimu agar kita bisa kabur bersama, Leng-hong dan Siau-cu sudah

menunggu di luar, ayo cepat berganti pakaian.”

“Kalian ingin kabur dari Mi-kok ini?”

“Benar, kamipun bermaksud menangkap Tong Siau-sian, menolong anakmu, kemudian kita

kabur bersama!”

“Tidak. Tidak mungkin!” Wan-kun menggeleng kepala berulang kali, “kalian tak mungkin

bisa lolos dari cengkeraman mereka, sekalipun berhasil kabur dari lembah Mi-kok, tak

mungkin bisa lolos dari Tay-pa-san. Toako, dengarkan baik-baik perkataanku, jangan

kaulakukan perbuatan bodoh ini . . . .”

“Asal Tong Siau-sian berhasil kita tangkap sebagai sandera, siapa yang berani mengalangi

kita?”

“Jangan bermimpi di siang bolong, penjagaan di tempat kediaman Kokcu sangat ketat, ilmu

silat Tong Siau-sian tiada tandingannya, jelas jalan yang kalian tempuh tak mungkin bisa

tertembus.”

“Sekalipun tidak tembus juga harus dicoba, sekarang kita sudah lolos dari penjara, apakah

mesti kembali lagi ke sana? Sekalipun kami bersedia kembali, tidak mungkin Tong Siau-sian

akan melepaskan kami lagi, bagaimanapun hanya ada jalan kematian bagi kita, daripada

pasrah nasib kenapa tidak menyerempet bahaya untuk mencari hidup?”

“Kalau kaukembali ke penjara belum tentu mati, sebaliknya jika melarikan diri dari lembah

ini hanya kematian saja yang bakar kalian terima.”

“Kami lebih suka terbunuh waktu kabur daripada duduk menanti kematian, Wan-kun, jangan

banyak bicara lagi, cepat benahi barang-barangmu dan kita kabur bersama.”

“Tidak, aku tak dapat melarikan diri, sebab perbuatanku ini akan menyusahkan anakku

sendiri, bila aku bisa kabur sudah semenjak dulu-dulu aku kabur, kenapa menunggu sampai

sekarang? . . . .” kata Wan-kun sambil geleng kepala berulang kali.

“Tapi keadaannya sekarang bagaikan anak panah di atas busur, sekalipun harus pertaruhkan

jiwa raga akan kami selamatkan juga anakmu, apa lagi yang perlu disangsikan?”

Sementara itu pintu diketuk orang, menyusul suara Hui Beng-cu menegur, “Pang-toako,

waktu sudah mendesak, cepat suruh Toaci berangkat.”

“Wan-kun, kau mau kabur tidak?” seru Pang Goan dengan suara tertahan.

“Aku bukannya tak mau kabur, oleh karena aku terlampau paham keadaan Mi-kok ini, maka

kutahu bahwa harapan untuk kabur tak ada, sebab kita tak mungkin bisa lolos.”

“Baik!” kata Pang Goan sambil mencabut goloknya, “Thian-po-hu cuma mempunyai seorang

anak, Cian-sui-hu juga Cuma kita berdua, bila kau tak mau kabur mengikuti aku, demi

menyelamatkan putera dari keluarga Nyo, sekarang juga akan kugorok leherku agar semua

orang tak perlu kabur lagi.”

Cepat-cepat Wan-kun memeluk tangan sang kakak yang memegang golok itu, kemudian

berkata sambil menangis, “Toako, kenapa kau mengucapkan kata-kata semacam itu? Aku

bukannya tak mau kabur, aku kuatir jika kita gagal.”

“Siapa tahu di tengah kegagalan akan kita jumpai jalan hidup? Kita sudah bertekad untuk

berjuang mati-matian, darimana kautahu kita tak akan berhasil?”

168

“Soal ini bukan soal tekad, ilmu silat Tong Siau-sian sangat tinggi, kita semua bukan

tandingannya.”

“Kita hadapi mereka dengan akal dan hindari kekerasan, sekalipun ilmu silatnya lebih tinggi

juga tak perlu kuatir.”

Wan-kun termenung sejenak, akhirnya dengan perasaan apa boleh buat ia menarik napas

panjang, “Ai, baiklah, kalian tunggulah sebentar di luar.”

Pang Goan menyahut dengan gembira, ia segera mengundurkan diri ke luar ruangan.

“Apakah ia bersedia?” Leng-hong segera menyongsong kedatangan Pang Goan sambil

bertanya.

Pang Goan mengangguk, “Mula-mula ia tak mau, setelah kugunakan siasat menyiksa diriku

sendiri, akhirnya dia mau juga.”

“Dalam perjalanan kita dari sini menuju kediaman Tong Siau-sian mungkin akan kita jumpai

pengadangan, sebentar biar Beng-cu berjalan bersamanya, sedang kita mengikutinya secara

diam-diam.”

“Kalau begitu kita buka pakaian penjara ini, seorang laki-laki sejati harus mengenakan

pakaian perempuan, wah, betul-betul runyam.”

“Sekarang kita belum boleh melepaskannya, paling sedikit harus tunggu setelah berhasil

kabur dari lembah ini . . . . .”

Dalam pada itu Wan-kun telah selesai berdandan dan keluar dari ruangan.

Yang dimaksud berdandan masih tetap memakai baju merah tanpa sulaman itu, bertangan

kosong tanpa membawa apa-apa, bahkan senjata pun tidak membawa.

Ketika Ho Leng-hong menjelaskan siasatnya, Wan-kun menggeleng kepala, katanya, “Tidak

perlu, kalian semua ikuti saja diriku, bila ada pengadangan aku yang akan menghadapinya,

tapi semua orang tak boleh membawa senjata.”

“Andaikata terjadi hal-hal di luar dugaan dan pertarungan berkobar . . . . .”

Wan-kun tertawa getir, “Ilmu golok Ang-siu-to-hoat dari Mi-kok adalah kepandaian yang

tiada tandingannya di dunia ini, seandainya benar-benar terjadi pertarungan, apa pula gunanya

membawa golok? Bukan saja mudah menimbulkan kecurigaan orang, pun tak ada manfaat

apa-apa, umpama memerlukan senjata, di manapun bisa kalian dapatkan, kenapa mesti

membawanya dari sini?”

Ketiga orang itu merasa ucapan tersebut ada benarnya juga, terpaksa mereka lepaskan golok

dan disembunyikan di Jut-tim-cing-sih.

Pang Wan-kun membawa ketiga orang itu menuju ke ruang tengah di mana Kokcu berdiam,

setelah melewati serambi, ia masuk ke gedung tengah tanpa sembunyi-sembunyi, sekalipun di

tengah jalan mereka bertemu dengan gadis-gadis peronda malam, karena semuanya kenal

pada Pang Wan-kun, maka setelah saling menyapa dengan tertawa mereka berlalu dengan

begitu saja, sama sekali tidak ada pemeriksaan apa-apa.

Tapi Ho Leng-hong dan Pang Goan yang menyaru sebagai perempuan merasa jantungnya

berdebar karena tegang, sepanjang jalan mereka hanya menundukkan kepala dengan peluh

dingin membasahi telapak tangan.

Setelah masuk ke ruang tengah, mendadak penjagaan di situ tambah ketat dan rapat.

Di pintu masuk tampak berdiri seorang gadis bergaun merah dengan sulaman benang putih

memimpin empat orang gadis lainnya melakukan penjagaan, di bawah beranda dan di balik

semak bunga sana tampak juga ada penjaga, seluruh halaman tersebut telah dijaga dengan

ketatnya.

Setelah menyaksikan semua itu, Pang Goan baru percaya pada perkataan Wan-kun, bila ingin

menangkap Tong Siau-sian dengan kekuatan mereka bertiga, sungguh perbuatan yang bodoh.

Tentu saja penjagaan semacam ini bukan khusus ditujukan untuk menghadapi mereka, tapi

penjagaan terhadap serangan mendadak dari pihak Tiang-lo-wan.

169

Entah apa yang dibisikkan Wan-kun kepada gadis bersulam benang putih penjaga pintu itu,

tiba-tiba anak dara itu memperhatikan Pang Goan bertiga, kemudian sambil tertawa katanya,

“Baiklah, suruh mereka masuk ke serambi dan menunggu di situ, tapi tak boleh sembarangan

lari.”

“Sudah kalian dengar?” kata Wan-kun, “istirahat dulu di serambi sana, jangan sembarangan

pergi, aku akan segera lapor kepada Kokcu.”

Ho Leng-hong bertiga tak berani buka suara, dengan kepala tertunduk mereka masuk ke

dalam.

Ketika melewati ruangan, beberapa orang gadis penjaga sama menutupi mulut dan tertawa

cekikak-cekikik, dan sekalipun mereka sudah tiba di bawah serambi, gadis-gadis penjaga itu

masih mengawasi dari kejauhan sambil berbisik-bisik dan tertawa geli.

Berdiri bulu roma Leng-hong menyaksikan tertawa mereka, bisiknya, “Lotoako, tampaknya

keadaan kurang beres, agaknya dayang-dayang itu sudah mengetahui rahasia kita.”

“Akupun merasa gelagat kurang beres, jangan-jangan Wan-kun telah membocorkan rahasia

kita,” kata Pang Goan.

“Ya, hal ini sukar untuk dikatakan,” sambung Hui Beng-cu, “dia memang tidak setuju dengan

rencana kita, sebelum datang iapun suruh kita jangan membawa senjata, entah apa yang

direncanakannya.”

“Tidak mungkin, hal ini tidak mungkin,” bisik Pang Goan segera, “dia adalah adikku, tak

mungkin mengkhianati kita.”

Tiba-tiba Ho Leng-hong menghela napas panjang, “Ai, jika ia berkeras hendak mengkhianati

kita, terpaksa kita harus menghadapi kenyataan....”

Pang Goan merasa ucapan tersebut aneh sekali nadanya, ketika mengikuti arah tatapannya,

kontan hatinya tercekat....

Entah sejak kapan, dua orang telah berdiri di pintu, ternyata mereka adalah Pui Hui-ji dan Yu

Ji-nio.

Suara langkah manusia berkumandang juga dari kiri-kanan serambi, menyusul kemudian

muncul dua baris pasukan anak perempuan bersenjata lengkap.

Tak lama kemudian, pintu ruang tengah terbuka lebar dan muncul Tong Siau-sian diiringi

oleh Pang Wan-kun.

Kontan Pang Goan naik darah, sambil melotot dengan penuh kebencian serunya, “Beginikah

hubungan erat seorang adik dengan kakak kandungnya?”

Dengan perasaan malu Wan-kun menunduk kepala rendah-rendah, katanya lirih, “Toako,

jangan salahkan aku, kalian tak akan berhasil melarikan diri dari sini . . . .”

Pang Goan membentak gusar dan menerjang ke sana.

Tapi sebelum sempat berbuat sesuatu, cahaya tajam berkilauan, menyusul dua bilah golok

panjang telah mengadang di depannya, serentak gadis lain di bawah serambi pun melolos

senjatanya.

Tong Siau-sian tersenyum, katanya, “Lebih baik kalian bertiga kembali saja, kami anggap

peristiwa malam ini sebagai tak pernah terjadi, janji yang tempo hari masih tetap berlaku, aku

tak akan bikin susah kalian bertiga.”

Tentu saja Pang Goan mengerti bahwa ucapan tersebut cuma basa-basi, justru lantaran golok

mestika Yan-ci-po-to belum berhasil didapatkan, maka Tong Siau-sian harus bersikap

sungkan, coba kalau tidak begitu, tak akan ramah begini sikapnya.

Tapi persoalan telah berkembang menjadi begini, dalam keadaan tanpa senjata jelas tak

mungkin bagi mereka untuk menerobos keluar lembah Mi-kok.

Gusar dan gemes Pang Goan, ditatapnya Wan-kun dengan mata melotot, kalau mungkin dia

hendak menelan adiknya bulat-bulat.

170

Ternyata Leng-hong jauh lebih berlapang dada, sambil angkat bahu dan tertawa katanya,

“Lebih baik Kokcu perkuat penjagaan dalam penjara, kalau perlu terali basinya dipertebal

beberapa kali lipat, sebab kalau tidak kami masih tetap akan berusaha untuk kabur.”

“Kau anggap masih ada kesempatan untuk kabur?” ejek Tong Siau-sian.

“Setiap kesempatan yang ada adalah hasil usaha manusia, kami sudah jemu terhadap

pelayanan dalam penjara setiap saat mungkin kami akan mengubah suasananya.”

“Kalian tak akan melakukan perbuatan bodoh lagi, dan pihak kamipun tak akan

memperkenankan kalian melanggar kesalahan yang sama untuk kedua kalinya,” ucap Tong

Siau-sian sambil tertawa.

Leng-hong tidak berkata lagi, setelah menjura ia berjalan keluar lebih dahulu.

Pang Goan masih melotot dengan penuh kegusaran, ia masih penasaran, Hui Beng-cu segera

mendorongnya sambil berbisik, “Pang-toako, mari kita pergi! Mungkin Toaci mempunyai

kesulitan yang tak bisa diutarakan.”

Pang Goan menggeleng sambil mendengus, kemudian putar badan dan berlalu.

Yu Ji-nio dan Pui Hui-ji mengiringi ketiga orang itu, selain mereka ada lagi delapan orang

gadis bersenjata yang mengiringi mereka dari kiri-kanan.

Rupanya amarah yang berkobar dalam dada Pang Goan belum reda, ia lupa Hui Beng-cu

mengikut di belakang, dengan gemas ia berseru, “Hmm, perempuan tetap perempuan, tak bisa

diajak berunding untuk urusan besar!”

Hui Beng-cu tahu orang sedang menjongkok, maka iapun cuma tertawa saja tanpa memberi

komentar.

“Aku tidak setuju dengan perkataanmu,” kata Leng-hong sambil tertawa, “Sebetulnya

perempuan adalah partner yang baik, bergantung berapa banyak kebaikan yang bisa

kauberikan kepadanya, dan berapa besar keuntungan yang dapat ia raih? Yu Ji-nio betul tidak

perkataanku ini?”

“Aku tidak tahu!” jawab Yu Ji-nio ketus tanpa berpaling.

“Tentu saja sekarang kaubilang tidak tahu, tapi kemarin mengapa kau kelihatan gembira

sewaktu kuberitahukan kepadamu bahwa kau hendak diangkat menjadi Tianglo oleh pihak

Tiang-lo-wan?”

Mendadak Yu Ji-nio berhenti, lalu menegur dengan suara dalam, “Hei, kau ngaco-belo apa?”

“Sekarang urusan sudah lewat,” kata Leng-hong sambil tertawa, “apa salahnya kalau

disinggung lagi? Tentu saja ucapanku itu hanya membohongi kau, tapi waktu itu kau telah

menganggapnya sebagai sungguh-sungguh.”

Yu Ji-nio marah sekali, katanya, “Selama kalian masih berada dalam penjara, aku selalu

melayani kalian secara baik-baik, kenapa kau memfitnah diriku dengan kata-kata yang tak

senonoh?”

“Baiklah, tidak kusinggung lagi, kenapa marah, kalau aku bermaksud memfitnahmu, ketika

berada di hadapan Kokcu tadi tentu kuungkapkan masalah ini, buat apa menunggu sampai

sekarang?”

Tak terlukiskan rasa gusar Yu Ji-nio, tapi pada dasarnya ia berlidah kaku dan tak pandai

bicara, sesaat ia tak tahu apa yang harus dikatakan, terpaksa sambil menggertak gigi ia

bungkam saja.

Pui Hui-ji yang berada di belakangnya segera berteriak, “Orang she Ho, kuharap kau bersikap

lebih jujur, Yu Ji-nio selalu setia kepada Kokcu, jangan mimpi kau akan meretakkan

hubungan kami.”

“Baik, anggap saja tanpa sengaja aku hendak meretakkan hubungan kalian!” kata Leng-hong

sambil merentangkan tangan, “untung kata-kata yang terucapkan dari mulut bagaikan angin

lalu, siapapun tak bisa membuktikannya. Cuma, sebagai orang pintar seharusnya bisa berpikir,

andaikata tak ada permainan, mana bisa kau menyusup ke dalam penjara segampang itu . . . .

.”

171

Belum habis kata-katanya, Yu Ji-nio tidak tahan lagi, segera ia mencabut goloknya.

“Hei, mau apa kau?” Leng-hong mundur beberapa langkah sambil menegur dengan serius,

“apakah kau hendak membunuh orang untuk melenyapkan saksi?”

“Kau..... kau binatang!” bentak Yu Ji-nio marah.

Pada dasarnya dia memang tidak pandai bicara, apalagi setelah gusar, ia semakin tak tahu

makian apa yang pantas dilontarkan, maka begitu membentak, golok panjang secepat kilat

menyambat tubuh bagian bawah Ho Leng-hong.

Tindakan tersebut mencerminkan bahwa ia masih jeri akan sesuatu kendatipun kesadarannya

hampir terpengaruh oleh emosi, meskipun ia sangat benci pada Ho Leng-hong, namun tidak

berani sungguh-sungguh membunuhnya, maka tabasan itu dituju pada bagian tubuh yang

tidak berbahaya sebagai pelampiasan rasa gemasnya.

Ho Leng-hong pun telah menduga orang tak akan berani membunuh, maka sambil pura-pura

takut ia menjerit lalu melarikan diri terbirit-birit . . . . .

Baru dia menyingkir, cahaya golok berkilauan dan . . . . . “trang!” tahu-tahu serangan Yu Jinio

tertangkis.

“Ji-nio!” Pui Hui-ji membentak dengan menarik muka, “ketiga orang ini adalah tamu Kokcu

kita, bila kaulukai mereka, siapa yang akan bertanggung jawab bila Kokcu menegur nanti?”

“Tapi dia . . . dia terlalu menjengkelkan . . . .” seru Yu Ji-nio dengan marah

“Ia bicara sendiri. Asal kau tidak merasa berbuat, kenapa orang hendak kaubunuh untuk

membungkam mulutnya?”

“Benar!” cepat Leng-hong menyambung, “aku tak akan memberitahukan hal ini kepada

Kokcu, kenapa kau kuatir?”

Kata-kata tak sedap itu semakin mengobarkan amarah Yu Ji-nio, saking tidak tahan tiba-tiba

ia menjadi nekat, teriaknya, “Minggir kau! Akan kubunuh binatang ini lebih dulu baru

kemudian menerima hukuman dari Kokcu.”

Sambil menjerit, golok panjang segera bergetar, dalam waktu singkat ia sudah melancarkan

tiga-empat bacokan ke arah Pui Hui-ji.

Sambil menangkis ancaman itu, Pui Hui-ji membentak pula kepada delapan orang gadis di

sisinya, “Yu Ji-nio berani membangkang perintah dan mengkhianati kita, tangkap dia!”

Kedelapan anak dara tersebut mengiakan dan serentak mengangkat senjatanya.

Yu Ji-nio semakin marah, bentaknya, “Kurang ajar, kalian berani turut perintah seorang

pengawal barisan Pek-tui dan mengerubungi seorang anggota pasukan berbenang biru?”

Kedelapan orang itu saling pandang sekejap, betul juga, tak seorang pun berani maju.

Peraturan dalam Mi-kok amat ketat dan disiplin, sekalipun Pui Hui-ji adalah orang

kepercayaan Kokcu, namun ia cuma seorang pengawal bersulam benang putih, sebaliknya Yu

Ji-nio adalah komandan pasukan benang biru, kedudukannya jauh lebih tinggi daripada Pui

Hui-ji, apalagi kedelapan anak dara tersebut termasuk pasukan “Benang putih”, tingkatan

mereka justru jauh di bawah Yu Ji-nio.

Sementara kedelapan anak dara itu ragu-ragu, mendadak Ho Leng-hong membentak, “Mau

apa kalian berdiri tertegun di situ? Yu Ji-nio sudah gila, cepat laporkan kepada Kokcu kalian.”

Setelah diingatkan barulah anak dara itu sadar, segera ada tiga-empat orang lari ke ruang

tengah untuk memberi laporan.

Tiga-empat orang lainnya hanya berdiri tertegun di tempat dengan bingung, tidak tahu siapa

yang harus dibantu?

Dalam pada itu antara Yu Ji-nio dengan Pui Hui-ji telah bertarung belasan gebrakan, cahaya

golok gemerdep menyilaukan mata.

Ho Leng-hong memberi tanda kedipan mata kepada Pang Goan dan Hui Beng-cu, tiba-tiba ia

mendekati seorang anak dara bergolok dan membentak, “Berikan senjatamu kepada!

Kaumundur ke samping sana!”

172

Waktu itu anak dara itu sedang berdiri dengan wajah cemas, ketika mendengar bentakan

tersebut, tanpa berpikir lagi dia segera mengangsurkan goloknya kepada Ho Leng-hong.

Pang Goan dan Hui Beng-cu bersama-sama juga mendekati dua anak dara lainnya dan

mengambil golok mereka, namun kedua gadis tersebut kelihatan ragu-ragu.

Akan tetapi ketika mereka lihat rekannya sudah menyerahkan goloknya kepada Ho Lenghong,

dan rupanya tindakan itu tidak keliru, akhirnya mereka pun serahkan goloknya kepada

kedua orang itu.

Setelah senjata dalam genggaman, Leng-hong bertiga merasa semangat kembali berkobar.

Leng-hong yang bertindak lebih dulu, sambil memutar goloknya ia terjun ke tengah

gelanggang pertempuran.

Jurus ilmu golok yang digunakan persis seperti ilmu golok Ang-siu-to-hoat yang dimainkan

Yu Ji-nio, sedang sasarannya adalah Pui Hui-ji.

Tentu saja kejadian ini sangat mengejutkan Pui Hui-ji, cepat teriaknya, “Hei, Ho Leng-hong,

kau salah sasaran . . . . . .”

“Tidak, aku tidak salah sasaran,” jawab Leng-hong sambil tertawa, “setelah membereskan

dirimu, barulah kami bereskan dia!”

Sambil berkata, golok berputar terus menyerang gadis itu dengan dahsyatnya.

Untuk melawan Yu Ji-nio saja Pui Hui-ji sudah kewalahan apalagi sekarang bertambah

dengan seorang Ho Leng-hong, ia semakin kepayahan dan tak tahan, karena gugup,

permainan goloknya menjadi kacau, segera Leng-hong manfaatkan kesempatan itu, sekali

sabat goloknya tepat mengenai lutut kanan gadis itu.

Untung serangan tersebut dilancarkan dengan punggung golok, Pui Hui-ji mengeluh tertahan,

kemudian roboh terjungkal.

Setelah berhasil dengan serangannya, Ho Leng-hong berpaling ke arah Yu Ji-nio dan berkata

sambil tertawa, “Terima kasih banyak atas kesempatan yang kauberikan kepada kami untuk

merebut golok, sekarang dosa mengkhianati lembah sudah pasti akan dituduhkan padamu,

setelah kepergian kami, kaupun tak nanti bisa hidup aman, lebih baik ikut kami dan pergi

bersama, tempat di dunia luar sangat luas, asal kau mau ikut kami, tanggung kau akan hidup

senang bahagia . . . . .”

“Tutup mulut!” bentak Yu Ji-nio, “kau binatang, masih belum cukupkah penderitaan yang

kaulimpahkan padaku?”

“Walaupun aku pernah mencelakaimu, akupun telah menolongmu, jadi boleh dibilang sudah

impas dan masing-masing tidak berutang kepada yang lain, jika kau tidak ikut kami pergi, bila

Tong Siau-sian sampai di sini, semua dosa ini pasti akan dilimpahkan oleh budak Pui ke atas

pundakmu, waktu itu meski menyesal juga sudah kasip.”

“Aku dapat menangkap kalian dan menjelaskan semua duduknya perkara di hadapan Kokcu.”

Ho Leng-hong tertawa, katanya, “Kaukira tiba waktunya nanti aku akan bantu bicara

untukmu? Gadis-gadis pengawal itu semuanya menyaksikan cara bagaimana kubantu kau

membereskan Pui Hui-ji, sekalipun kau memiliki tiga mulut juga sukar mengharap Tong Siausian

akan percaya pada keteranganmu.”

Yu Ji-nio bungkam, sebab apa yang diucapkan Leng-hong memang benar, tapi ia dilahirkan di

Mi-kok, dibesarkan juga dalam lembah tersebut, sesungguhnya ia merasa berat hati untuk

mengkhianati lembah kesayangannya itu, tetapi kalau tidak pergi berarti dia bakal

menanggung dosa besar, semua ini membuat hatinya menjadi bingung.

“Waktu sudah sangat mendesak sekali,” kembali Ho Leng-hong berkata, “jika kau tak mau

ikut, kami akan segera berangkat!”

Tiba-tiba Pui Hui-ji meronta bangun berduduk di tanah, bentaknya, “Yu Ji-nio, kalau

kauberani melepaskan ketiga orang itu, pasti perbuatanmu kulaporkan kepada Kokcu agar kau

merasakan siksaan hidup yang paling kejam di dunia.”

173

Sebenarnya Yu Ji-nio masih ragu-ragu untuk mengambil keputusan, tapi setelah mendengar

ancaman tersebut, kontan saja sekujur tubuhnya bergetar keras, bulu kuduknya pada berdiri,

segera iapun mengambil keputusan.

Tiba-tiba ia membalikkan mata goloknya yang tajam ke dada Pui Hui-ji dan menusuknya

hingga tembus ke punggung.

Di antara percikan darah yang berhamburan, terdengar ketiga gadis pengawal itu menjerit

kaget.

Dengan ujung golok yang masih berlumuran darah, Yu Ji-nio menuding mereka sambil

membentak, “Kalian budak sialan, biasanya kalian sok menggunakan kekuasaan Kokcu untuk

berbuat sewenang-wenang, sudah cukup penderitaan yang kurasakan, tapi mengingat kalian

adalah sesama saudara seperguruan, kuampuni jiwa kalian, cepat enyah!”

Tanpa sepotong besipun di tangan, gadis-gadis pengawal itu tidak dapat berkutik, terpaksa

mereka turut perintah dan cepat kabur dari situ.

Rupanya Ho Leng-hong tidak mengira Yu Ji-nio bakal turun tangan kejam kepada Pui Hui-ji,

sambil tertawa katanya, “Ji-nio, sekarang kita adalah kawan senasib, padahal jalan dalam Mikok

tidak kami ketahui dengan jelas, cara bagaimana supaya bisa lolos dengan selamat, harap

Ji-nio suka memberi petunjuk.”

Yu Ji-nio mendongak kepala sambil menarik napas panjang, katanya kemudian, “Kalian ikut

diriku!”

Dengan mengikut di belakang Yu Ji-nio, dalam sekejap saja Ho Leng-hong bertiga telah

melewati beberapa halaman luas, ternyata arah perjalanan mereka bukan menuju ke mulut

lembah, sebaliknya malah kabur ke timur, menuju ke bangunan gedung sebelah timur itu.

“Yu Ji-nio!” Pang Goan menegur dengan suara tertahan, “kami hendak ke luar lembah kenapa

kaubawa kami ke tempat tinggal mereka?”

“Tanda bahaya dengan cepat akan tersiar sampai di mana-mana, kini mulut lembah sudah

tertutup, hakikatnya tak mungkin buat kita untuk menerobos keluar lagi.”

“Lantas apa yang harus kita lakukan sehingga bisa lolos dari cengkeraman mereka?”

“Dewasa ini kita tidak mempunyai cara kabur yang terbaik, maka sengaja kubawa kalian ke

suatu tempat dan sementara bersembunyi di situ, dan menunggu kesempatan.....”

“Tidak bisa,” cepat Pang Goan berhenti, “Malam ini kita harus menerjang keluar lembah ini,

jika bersembunyi terus dalam lembah, cepat atau lambat jejak kita pasti akan ketahuan.”

“Ya, jika kau tidak bersedia menjadi penunjuk jalan, kami bisa berusaha sendiri,” sambung

Hui Beng-cu.

Yu Ji-nio tertawa dingin, “Hehe . . . jika kalian tidak mau menurut nasihatku, akibatnya hanya

satu, yakni pulang kembali ke dalam penjara.”

Ho Leng-hong segera menggoyang tangan mencegah Pang Goan dan Hui Beng-cu berkata

lebih jauh, sambil tertawa katanya, “Ji-nio, sekarang kita adalah kawan senasib dan

sependeritaan, tentu saja kami akan menuruti anjuranmu, tapi sepantasnya kaupun

membeberkan rencanamu kepada kami, agar kami ikut tahu juga duduk persoalan yang

sebenarnya.”

“Sudah kukatakan kepada kalian tadi, tak mungkin buat kabur pada saat ini, sementara kita

mesti bersembunyi dulu sambil menunggu kesempatan.”

“Kau hendak mengajak kami bersembunyi di mana? Beberapa lama kita harus

menyembunyikan diri?”

“Menurut apa yang kuketahui, di sudut timur gedung sana terdapat sebuah taman, dalam

taman, terdapat gunung-gunungan, mari kita bersembunyi dalam gua di balik gununggunungan

tersebut, tentang berapa lama, ini bergantung pada keadaan selanjutnya.”

“Setiap gua dalam gunung-gunungan tentu tak luput dari pemeriksaan, amankah tempat itu?”

“Tentu saja sangat aman.”

“Kenapa?” tanya Leng-hong.

174

“Sebab taman itu terletak di ruang sebelah timur, padahal gedung sebelah timur adalah Tianglo-

wan. Kokcu tidak akur dengan pihak Tiang-lo-wan, para Popo tak akan mengizinkan

mereka melakukan pencarian kemari.”

Leng-hong berpikir sejenak, kemudian katanya, “Tapi kau harus tahu, para Popo dari Tianglo-

wan pun tak akan melepaskan kami dengan begitu saja.”

“Oleh karena itulah sengaja kupilih gedung timur sebagai tempat sembunyi, jejak kita pasti

akan ditemukan oleh Kokcu, setelah dia tahu kita masuk ke gedung timur, tentu dia akan

menaruh curiga jangan-jangan Tiang-lo-wan sengaja melindungi kita, sudah pasti mereka

akan minta orang kepada para Popo, dengan demikian antara Kokcu dan para Popo akan

terjadi perselisihan, bahkan pertarungan. Nah, saat itulah penjagaan di mulut lembah pasti

kendur, lalu kita gunakan kesempatan baik itu untuk melarikan diri.”

Ho Leng-hong termenung sejenak, kemudian sambil tertawa dia mengangguk, “Baiklah, kalau

begitu kita ikuti saja rencana Ji-nio!”

Karena Ho Leng-hong sudah menyatakan setuju, maka Pang Goan dan Hui Beng-cu juga

tidak banyak komentar.

Mereka lantas menyusup ke gedung sebelah timur dan bersembunyi dalam gua di balik

gunung-gunungan, sepanjang perjalanan, karena dipimpin oleh Yu Ji-nio, maka jejak mereka

tidak konangan.

Sesungguhnya gua dalam gunung-gunungan itu tidak termasuk tempat persembunyian yang

rahasia, tapi berhubung termasuk dalam lingkungan pengaruh Tiang-lo-wan dan lagi tidak

setiap orang boleh masuk ke sana, maka suasana amat tenang.

Setelah beristirahat sebentar, haripun sudah terang, dalam taman mulai terdengar suara

langkah kaki para Popo yang sedang berjalan-jalan dan berlatih kungfu, tidak ada yang

menyangka di dalam gua, di balik gunung-gunungan bersembunyi sekelompok pelarian.

Mendekati lohor, suara manusia di luar kedengaran makin bertambah ramai, tapi suasana

dalam taman justru sepi, tak kelihatan seorang pun, menurut dugaan mereka, pastilah Kokcu

Tong Siau-sian sedang memeriksa jejak kaki yang ditinggalkan mereka berempat semalam

dan sedang menuntut kepada pihak Tiang-lo-wan untuk melakukan pemeriksaan, sudah

barang tentu permintaan ini ditolak oleh para Popo.

Setengah hari kemudian sudah lewat, kini hari mulai gelap lagi, ternyata dalam taman tidak

dilakukan penggeledahan, sedang suasana di luar rasanya dapat diduga biarpun tidak

melihatnya sendiri. Setelah sehari penuh tidak mengisi perut, mereka berempat mulai merasa

lapar sekali.

“Tunggulah kalian di sini dengan tenang,” akhirnya Yu Ji-nio berkata, “aku akan pergi

mencari berita sambil berusaha mencari makanan.”

“Aku ikut!” Leng-hong berkata.

“Mana mungkin? Semua anggota dalam gedung ini adalah kaum perempuan, kalau kauikut

tentu tidak bebas bergerak. Percayalah, dengan cepat aku akan kembali lagi ke sini.”

“Kalau kaupergi sendirian, bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, siapa yang akan

membawa kabar kemari? Lebih baik nona Hui menemani dirimu.”

Tentu saja Yu Ji-nio juga tahu pemuda itu merasa sangsi bila dirinya pergi seorang diri, maka

Hui Beng-cu disuruh ikut sekalian mengawasi gerak-geriknya. Iapun tidak menolak,

diajaknya Hui Beng-cu meninggalkan gua.

Begitu mereka berangkat, Pang Goan dan Ho Leng-hong mulai mengadakan perundingan.

Sejak pengkhianatan Pang Wan-kun, tampaknya Pang Goan menaruh curiga terhadap

siapapun, dengan hati yang kusut katanya, “Kulihat perempuan she Yu itu tidak bisa

dipercaya, pada hakikatnya dia tidak ingin meninggalkan Mi-kok, sebaliknya bermaksud

menggabungkan dengan pihak Tiang-lo-wan, dengan kepergiannya ini, ia pasti mengkhianati

kita untuk membuat pahala bagi pihak Tiang-lo-wan.”

175

“Kemungkinan tersebut tentu saja bisa terjadi, tapi dewasa ini kita masih membutuhkan

bantuannya untuk kabur dari lembah ini, sebagai kawan senasib kita harus percaya

kepadanya, meskipun secara diam-diam kitapun harus waspada dan siap menghadapi segala

kemungkinan yang tidak dinginkan.”

“Seandainya ia benar-benar mengkhianati kita, menurut kau apa yang harus kita lakukan?”

Leng-hong tersenyum getir, “Kita cuma bisa berharap agar tidak terjadi apa-apa, tapi kalau

terjadi juga, hanya ada satu cara untuk kita, yakni bertarung mati-matian, kita tak boleh

tertangkap lagi, untung aku telah berhasil menyadap beberapa jurus ilmu golok mereka, bila

sampai terjadi pertarungan, mungkin jurus-jurus ilmu golok ini akan banyak membantu.”

“Ah, betul, memang hendak kutanyakan masalah ini, semalam ketika kau melabrak Pui Huiji,

apakah Ang-siu-to-hoat dari Mi-kok ini yang kaugunakan?”

“Beberapa jurus serangan itu berhasil kusadap tatkala Yu Ji-nio bertarung melawan Pui Huiji,

soal kesempurnaan tentu saja masih jauh, hanya bisa dikatakan dengan modal beberapa

jurus ini kita bisa mengungkap rahasia ilmu golok mereka, bagaimana kalau kumainkan untuk

Lotoako agar bilamana perlu jurus-jurus ilmu golok ini bisa kita gunakan untuk menghadapi

segala kemungkinan?”

“Tunggu sebentar,” cegah Pang Goan sambil menggoyang tangan, “untuk menghindari segala

kemungkinan, lebih baik kita berpindah tempat lebih dulu, kemudian baru berlatih ilmu golok

itu.”

“Berpindah tempat? Kita bisa pindah ke mana?”

“Tempat manapun boleh asal jangan di gua ini, aku selalu merasa bahwa perempuan she Yu

itu tidak bisa dipercaya, lebih baik kita sedia payung sebelum hujan.”

Kedua orang segera merangkak keluar gua, kemudian celingukan keempat penjuru, namun di

sekitar situ tiada tempat lain yang bisa digunakan untuk sembunyi, kecuali di sudut pintu

masuk taman terdapat sebuah gapura batu, belakang gapura dapat dipakai untuk tempat

sembunyi dua orang.

Gapura itu mungkin tugu peringatan ketika membangun taman ini, sebab penuh berisikan

tulisan, akan tetapi Pang Goan tidak berminat mengamatinya, ia menarik Ho Leng-hong dan

buru-buru sembunyi di belakang tempat itu.

Baru saja mereka sembunyi dan belum sempat Leng-hong menerangkan jurus ilmu golok

Ang-siu-to-hoat kepada Pang Goan, tiba-tiba dari luar taman ada suara langkah orang.

Sebuah lentera muncul disusul dua orang, yang di depan adalah Yu Ji-nio, tapi yang di

belakang bukan Hui Beng-cu.

Yu Ji-nio berjalan dengan wajah murung dan lemas sambil membawa lentera, sedang orang

yang mengikut di belakangnya penuh dihiasi senyuman cerah, ternyata dia adalah Hoa Jin!

Tidak kepalang murka Pang Goan, ia menggenggam gagang goloknya erat-erat dan

meloloskannya dari sarung.

Ia berusaha keras menenangkan hatinya, apa mau dikata kelima jari tangannya yang

menggenggam golok justru gemetar tiada hentinya, sulit rasanya untuk menenangkan

perasaannya yang bergolak.

Leng-hong juga menggenggam goloknya, Cuma tangan yang lain sekuat tenaga menekan

punggung tangan Pang Goan, itu berarti ia tidak mengharapkan rekannya bertindak gegabah.

Mengikuti cahaya lentera akhirnya Yu Ji-nio membawa Hoa Jin berhenti di samping gununggunungan.

Hoa Jin memandang sekejap ke arah perempuan itu. Lalu sambil tersenyum bertanya, “Di

sini?”

Yu Ji-nio mengangguk.

Hoa Jin segera berdehem, lalu teriaknya, “Pang-tayhiap, Ho-tayhiap, silakan keluar, Popo

telah menyiapkan meja perjamuan untuk menyambut kedatangan kalian.”

176

Pang Goan mendengus pelahan, lalu dengan suara tertahan ia mendamprat, “Perempuan

keparat, ternyata dugaanku tidak meleset!”

“Agaknya Beng-cu sudah terjatuh ke tangan mereka, Lotoako, kita harus bertindak dengan

kepala dingin!” bisik Ho Leng-hong.

“Urusan sudah menjadi begini, terpaksa kita harus bertarung sampai titik darah penghabisan,

mari kita jagal dulu kedua perempuan busuk ini.”

“Jangan terburu nafsu,” cegah Leng-hong, “sekalipun hendak beradu jiwa, kita harus

menyelamatkan dulu Beng-cu, mumpung mereka sedang menggeledah gua gunung-gunungan

itu, mengapa kita tidak masuk ke gedung sana untuk menolong Beng-cu?”

“Betul!” mencorong tajam sinar mata Pang Goan, “kenapa aku tidak berpikir sampai ke situ?”

Begitulah, setelah mengambil keputusan kedua orang itu segera menyusup keluar gapura

dengan sangat hati-hati, lalu menerobos keluar pintu taman dan percepat larinya menuju

gedung sebelah timur.

Ketika diperiksa, mereka merasa sudah pernah masuk gedung sebelah timur itu, mereka pun

masih ingat arah ruang tengah. Sambil merayap dengan setengah berjongkok, akhirnya

sampai juga mereka di luar ruang tengah.

Sinar lampu menerangi ruangan itu, tapi tidak kedengaran sedikit suara pun, di depan pintu

ruangan juga tidak tertampak sesosok bayangan manusia pun.

Pang Goan coba mengintip melalui jendela, betul juga, sebuah meja perjamuan dengan aneka

hidangan lezat tersedia di sana.

Arak telah memenuhi cawan, sayur masih mengepulkan asap panas, tapi hanya dua orang

yang duduk berhadapan di meja perjamuan ini.

Si tuan rumah adalah Tong-popo, sebaliknya tamunya adalah Hui Beng-cu.

Suasana dalam ruangan amat hening, tidak tampak orang ketiga.

Setelah menyaksikan semua itu, Pang Goan jadi agak bingung, sebab tubuh Hui Beng-cu

tidak diringkus dengan tali, tidak kelihatan seperti tertutuk jalan darahnya, sekalipun hanya

duduk membungkam di situ, ternyata sikapnya sangat tenang, bahkan sekulum senyuman

menghiasi ujung bibirnya.

Tong-popo sendiri duduk dengan mata setengah terpejam, sikapnya tampak bersungguhsungguh

sedang melayani tamunya, sikap ini jauh berbeda dengan sikap kerengnya ketika di

sidang pengadilan tempo hari, bahkan seperti dua orang yang berlainan.

Ho Leng-hong mengernyitkan alis, jelas iapun bingung oleh apa yang dilihatnya ini.

Pang Goan segera menuding diri sendiri, lalu menuding ke ruang dalam dan membuat kode

tangan, maksudnya Ho Leng-hong diminta menunggu di luar ruangan, sementara dia akan

masuk untuk menolong orang.

Leng-hong menggeleng kepala sambil memberi tanda pula, artinya ia telah memahami rahasia

golok Ang-siu-to-hoat, jadi lebih baik dia yang masuk ke dalam untuk menolong orang,

sedangkan Pang Goan diminta menunggu di luar saja.

Kedua orang itu tahu bahwa tenaga dalam Tong-popo amat sempurna, sebab itu mereka hanya

bertukar pendapat dengan isyarat tangan, sama sekali tidak berani menimbulkan suara, meski

demikian, ternyata perbuatan mereka tak dapat mengelabui ketajaman pendengaran Tongpopo.

Mendadak nenek itu membuka matanya sambil menengadah, kemudian tersenyum ke arah

luar jendela, katanya, “Silakan kalian masuk ke sini, sayur dan arak sudah dingin!”

Pang Goan dan Leng-hong sama-sama terkejut, mereka saling pandang sekejap dengan

perasaan tergetar, akhirnya terpaksa mereka mendorong pintu dan masuk ke dalam.

Buru-buru Beng-cu berdiri, katanya dengan tersenyum, “Pang-toako, Ho-toako, kita benarbenar

dungu, padahal Tong-popo sama sekali tidak bermusuhan dengan kita, coba lihatlah,

ketika mendengar kita kelaparan seharian, buru-buru dititahkan orang menyiapkan makanan

177

dan arak untuk kita, kemudian menyuruh pula Hoa-toanio untuk menjemput kalian, apakah

kalian tidak berjumpa?”

Setelah gadis itu selesai berkata baru Pang Goan mendapat kesempatan untuk buka suara,

katanya, “Aku suruh kau mencari berita, kenapa kau malah memperlihatkan jejakmu?”

“Pang-toako, jangan kaumarah,” kata Hui Beng-cu sambil tertawa, sesungguhnya jejak kita

sudah diketahui oleh Tong-popo, bahkan ia mengirim orang-orangnya menjaga pintu taman,

oleh karena pada siang hari kurang bebas untuk mengadakan pertemuan, maka begitu aku dan

Yu Ji-nio keluar dari taman kami segera diundang kemari.”

“Benar!” kata Tong-popo sambil tersenyum, “sesungguhnya gerak-gerik kalian semalam telah

kuketahui semua dengan jelas, lagipula akupun menduga kalian tak akan sanggup menerobos

keluar lewat mulut lembah, untuk itu hanya tempat inilah yang bisa dibuat bersembunyi,

karena itulah sengaja kutitahkan orang untuk membuka pintu masuk sehingga dengan leluasa

kalian bisa sampai di taman bunga di timur gedung ini.”

“Hm, jadi semua perbuatan kami sudah dalam perhitungan Popo?” dengus Pang Goan.

“Bukannya berada dalam perhitungan,” jawab Tong-popo sambil tertawa, “tapi

perkembangan situasilah yang memaksa kalian berbuat demikian, atau dengan perkataan lain

takdir telah mengatur segala sesuatu menjadi begini. Saudara berdua, sayur dan arak sudah

hampir dingin, mengapa tidak duduk dan makan, kemudian baru bicara lagi.”

Pang Goan memandang sekejap ke arah Ho Leng-hong, akhirnya mereka duduk di sebelah

kiri dan kanan Tong-popo sambil menggenggam gagang golok.

Rupanya Tong-popo tidak menghiraukan sikap mereka itu, sambil mengangkat cawan katanya

dengan tersenyum, “Tentunya kalian sudah lapar bukan? Bila perut dalam keadaan kosong,

janganlah bicara masalah besar, bagaimana kalau pembicaraan dilanjutkan setelah makan

kenyang nanti?”

“Betul juga perkataanmu,” jawab Pang Goan, “bagaimanapun seorang manusia hanya

membunyi selembar nyawa, setelah kenyang baru ada kekuatan untuk beradu jiwa. Mari, kita

keringkan dulu secawan!”

Disambarnya cawan arak di hadapannya, lalu sekali tenggak dihabiskan isinya.

Ho Leng-hong dan Hui Beng-cu memang sudah lapar, maka tanpa sungkan mereka lantas

bersantap dengan lahapnya.

Rupanya Tong-popo tidak lapar, namun ia mengiringi para tamunya minum arak dan makan,

sekalipun tiada gelak tertawa selama perjamuan berlangsung, suasananya ternyata damai dan

tenang.

Tak lama kemudian, Hoa Jin dan Yu Ji-nio telah kembali ke situ, cuma karena kedudukan

yang berbeda, mereka hanya melayani di samping, anehnya selama inipun tidak nampak

orang luar masuk ke ruangan tersebut.

Setelah perjamuan berlangsung sekian lama, baru Tong-popo angkat bicara lagi, katanya,

“Aku rasa kalian pasti kurang begitu paham dengan situasi dalam lembah Mi-kok bukan?

Kokcu yang sekarang, Tong Siau-sian, tentu menjelek-jelekkan pihak Tiang-lo-wan kami, di

hadapan kalian tentu dikatakan para Popo hendak merebut kekuasaan dan mengincar Kokcu.

Mengenai persoalan ini harus kuberikan penjelasan lebih dulu secara ringkas, bagaimana

kalau sambil bersantap kalian dengarkan kisahku tentang persoalan yang mengakibatkan

persengketaan kami dengan Kokcu?”

Waktu itu mulut Pang Goan sedang penuh dengan makanan, bersampur dengan suara

kunyahan katanya, “Katakan saja, akan kami dengarkan dengan saksama.”

Tong-popo lantas bercerita, “Menurut peraturan leluhur kami, Kokcu harus dijabat oleh

anggota keluarga turun temurun, dan lagi dia harus seorang gadis, maka sebelum Kokcu itu

menginjak dewasa ia harus menuruti petunjuk pihak Tiang-lo-wan, bila ia sudah dewasa nanti

baru diselenggarakan upacara cari jodoh, itupun pihak Tiang-lo-wan yang menyelenggarakan.

Tegasnya, meskipun kedudukan Kokcu berasal dari keluarga yang turun-temurun, hakikatnya

178

kekuasaan tetap dipegang oleh Tiang-lo-wan, hanya setelah menikah atau sebelum Kokcu

yang akan datang menginjak dewasa dan menduduki jabatan tersebut, Kokcu baru memegang

hak penuh terlepas dari kekuasaan Tiang-lo-wan . . . .”

Selama ini Pang Goan hanya makan minum dengan kepala tertunduk, seakan-akan sama

sekali tidak memperhatikan keterangan tersebut, kini tiba-tiba ia menyela, “Apa yang

dinamakan upacara cari jodoh?”

“Cari jodoh adalah memilihkan suami untuk Kokcu, yang berarti pula sebagai persiapan untuk

kelahiran Kokcu generasi penerus, agar kedudukan yang turun-temurun itu jangan sampai

terputus di tengah jalan.”

“Siapa pula yang berhak dipilih menjadi suami Kokcu?”

“Setiap lelaki yang belum menikah yang menetap dalam lembah ini berhak ikut serta dalam

pemilihan ini, tentu saja pemilihan tersebut mencakup soal raut wajah, perawakan, kecerdasan

. . . dan lain sebagainya. Tiang-lo-wan berhak melakukan penelitian sebelum pemilihan

berlangsung, kemudian bila cocok baru orang itu boleh ikut serta dalam kontes pemilihan

tersebut.”

“Bagaimana pula kontes pemilihan itu dilangsungkan?”

“Sangat sederhana sekali, bila Kokcu menginjak dewasa, Tiang-lo-wan mulai memperhatikan

pemuda-pemuda tampan dan pintar yang berada dalam lembah ini sebagai persiapan untuk

turut serta dalam kontes yang akan diselenggarakan, bila pemuda yang cukup memenuhi

syarat sudah mencapai sepuluh orang ke atas, kami baru menyelenggarakan upacara

pemilihan untuk Kokcu, pada saat itu seluruh penduduk lembah akan berkumpul, bernyanyi

dan menari bersama, jika Kokcu tertarik kepada salah seorang, dia akan mengalungkan

karangan bunga yang telah disiapkan pada leher orang itu, dan orang yang terpilih pun akan

menjadi Mi-kok Huma (menantu Mi-kok), malam itu juga pesta perkawinan diselenggarakan,

tapi Huma hanya diperkenankan berkumpul selama tiga hari dengan Kokcu, hari keempat dia

harus pindah dari gedung itu untuk menunggu perintah selanjutnya.”

“Mengapa begitu?” tanya Pang Goan.

“Sebab penghuni gedung hanya kaum wanita, sedang Huma Cuma bertugas memberi

keturunan, bila bulan kedua Kokcu masih belum mengandung, ia diperbolehkan menginap

tiga hari lagi dalam gedung, tapi jika setahun kemudian belum hamil juga, maka pemilihan

terpaksa diselenggarakan sekali lagi.”

Rupanya Pang Goan mulai tertarik oleh cerita tersebut, kembali ia bertanya, “Seandainya

mengandung, ternyata bukan bayi perempuan yang dilahirkan, lalu bagaimana?”

“Jika dalam tiga kali kandungan bukan bayi perempuan yang dilahirkan, maka harus

diselenggarakan pemilihan lagi, anak laki-laki yang dilahirkan akan dipelihara oleh pihak

suami, bila bayi yang dilahirkan Kokcu adalah perempuan, maka Huma dan Kokcu baru boleh

meneruskan hubungan suami isteri selamanya.”

“Wah, aku jadi teringat kepada kehidupan semut dan lebah,” kata Pang Goan sambil tertawa.

“Ya, apa boleh buat? Untuk melaksanakan peraturan nenek moyang kami, terpaksa kami

harus berbuat demikian, meski begitu, terhadap perempuan lain dalam lembah ini tidak ada

pembatasan apapun.”

“Apa maksudmu memberitahukan hal ini kepada kami?”

“Aku memberitahukan semua ini dengan harapan agar kalian memahami proses terjadinya

Kokcu dalam lembah kami, atau dengan perkataan lain ingin kubuktikan bahwa pihak Tianglo-

wan tidak bermaksud merebut kekuasaan Kokcu, sebab meski Tong Siau-sian adalah

Kokcu, sebelum kawin dia masih di bawah pengawasan Tiang-lo-wan, ucapannya hanya

bermaksud menghasut karena ia hendak mengelabui kalian serta mempergunakan tenaga

kalian untuk kepentingannya mencapai maksud pengkhianatannya terhadap peraturan nenek

moyang kami.”

“Dia seorang Kokcu? Masa mengkhianati lembah sendiri?” kata Pang Goan tercengang.

179

“Seperti kuterangkan tadi, Kokcu hanya namanya saja, padahal tidak banyak kekuasaan yang

dimilikinya, jangan kaulihat usia Tong Siau-sian masih kecil, tapi ambisinya besar sekali. Ia

tidak puas dengan peraturan yang ditinggalkan nenek moyang kami, ia menganggap

kekuasaan Tiang-lo-wan melampaui kekuasaan seorang Kokcu, maka Tiang-lo-wan hendak

dibubarkan agar kekuasaan terpusat di tangannya seorang, untuk mencapai tujuan ini tak

segan-segannya bersekongkol dengan kekuatan luar untuk menindas sesama anggota sendiri.”

“Kukira masalah ini tak ada sangkut pautnya dengan kami, persoalan itu hanya urusan rumah

tangga kalian sendiri,” kata Pang Goan sambil tertawa, “lagipula kamipun tak mempunyai

kekuatan cukup untuk membantu, lebih-lebih tak kami kehendaki mencampuri urusan ini.”

“Bila Pang-tayhiap berdiri di luar garis, hal ini lebih baik lagi, tapi tidak seharusnya kalian

serahkan golok mestika Yan-ci-po-to tersebut kepada Tong Siau-sian, sebab hal ini sama

dengan membantu mereka untuk menentang Tiang-lo-wan.”

Pang Goan menggeleng kepala, “Kami hanya ingin menukar Yan-ci-po-to dengan rahasia

Ang-siu-to-hoat serta meninggalkan lembah ini dengan selamat, tidak terlintas ingatan dalam

benak kami untuk memusuhi pihak manapun.”

“Kalau begitu, seandainya Tiang-lo-wan dengan syarat yang sama ingin menukar golok itu

dengan kalian, tentu kalian setuju bukan?”

“Sayang golok mustikanya cuma satu,” kata Pang Goan sambil angkat bahu, “kami telah

memberikan selembar peta tempat menyimpan golok untuk Tong Siau-sian, tak mungkin

memintanya kembali.”

“Ah, kalau cuma begitu, apa susahnya? Pang-tayhiap kan bisa membuatkan selembar peta lagi

untuk kami, kujamin Ang-siu-to-hoat pasti akan kuberikan kepada kalian, dan kalian pun akan

kami antar keluar lembah ini dengan selamat.”

“Sungguhkah perkataanmu?”

“Memangnya cuma main-main?”

“Jadi kalau kubuatkan selembar peta lagi untukmu, kau akan mengantar kami meninggalkan

lembah ini?”

“Benar!”

Tampaknya perasaan Pang Goan agak “tertarik”, ia berpikir sebentar lalu berkata, “Bisa saja

kukabulkan permintaanmu, cuma kami harus tinggalkan lembah ini lebih dahulu, setibanya di

luar lembah peta tersebut baru kuserahkan kepadamu, setuju?”

“Tentu saja setuju, cuma kalau tanpa bukti, cara bagaimana kami bisa percaya kau tak akan

ingkar janji setibanya di luar lembah? Lagipula darimana kami bisa tahu peta penyimpanan

golok itu asli atau tidak?”

“Lantas bagaimana pendapatmu?”

“Kala menurut pendapatku, tentu saja aku berharap bisa mendapatkan golok mestika Yan-cipo-

to lebih dahulu baru kemudian mengantar kalian keluar dari lembah, untuk ini tentu juga

kalian tak akan percaya kepadaku, maka lebih baik kita mencari suatu cara yang sempurna

agar kedua belah pihak sama-sama aman.”

“Betul, memang tepat sekali perkataan Popo, coba katakan!”

“Bicara terus terang, menurut peraturan lebah kami, tiada kesempatan sama sekali buat kalian

untuk meninggalkan Mi-kok, sekalipun aku ada maksud mengantar kalian pergi, itupun tak

bisa kulakukan secara terang-terangan, aku hanya bisa membantu secara diam-diam.”

“Soal ini aku dapat memahaminya!”

“Aku pikir yang paling kalian takuti terhadap Mi-kok adalah Ang-siu-to-hoat kami,

seandainya kalian berhasil menguasai ilmu golok itu, sekalipun tak usah kami lindungi juga

dapat menerjang keluar sendiri, maka tak ada salahnya kalau kita tukar peta tersebut dengan

To-hoat lebih dahulu, bila golok mestika itu sudah kudapatkan dan kalian pun sudah

menguasai ilmu Ang-siu-to-hoat tersebut, waktu itu aku bisa mengatur kesempatan baik untuk

180

kalian pergi dari lembah ini, entah setujukah kalian dengan usulku ini?”

Pang Goan termenung sebentar, lalu berkata, “Popo akan menyiapkan kesempatan yang

bagaimanakah untuk kami? Dapatkah kauungkapkan dulu kepada kami?”

“Setelah peta kudapatkan, kalian akan kuantar dulu ke suatu tempat yang aman, rahasia dan

tenang agar kalian bisa melatih Ang-siu-to-hoat dengan bersungguh hati, bila golok mestika

telah kami dapatkan, Tiang-lo-hwe akan mengundang penduduk untuk menyelenggarakan

pesta pemilihan suami buat Tong Siau-sian, nah, tatkala semua rakyat lembah itu sedang

berpesta pora, secara diam-diam kalian bisa tinggalkan lembah ini dengan selamat.”

“Akal bagus!” sorak Pang Goan sambil bertepuk tangan, “kita tetapkan begini saja, sekarang

ambilkan kertas dan pit!”

Tak terlukiskan rasa girang Tong-popo, cepat ia siapkan sendiri kertas dan pit, bahkan Hoa

Jin dan Yu Ji-nio pun disuruh pergi agar rahasia tak sampai bocor.

Setelah sekeliling tak ada orang, Ho Leng-hong baru berbisik, “Lotoako, jangan buru-buru

kaubuatkan peta itu, jelas nenek ini mempunyai rencana keji . . . . .”

“Peduli amat, sahut Pang Goan dengan suara lirih, “bagaimanapun tempat itu cuma sebuah

liang tinja, biarkan saja mereka saling berebutan tahi.”

Tak lama kemudian peta telah selesai dibuat, Tong-popo memeriksanya sejenak, kemudian

menyatakan rasa puasnya, hari itu juga ia siapkan burung merpati untuk mengantar peta itu

keluar lembah.

Kemudian kepada Hoa Jin pesannya pula, “Cepat siapkan barang-barang kebutuhan untuk

Pang-tayhiap, akan kuantar sendiri mereka bertiga ke tempat berlatih ilmu golok itu.”

Tak lama kemudian Hoa Jin datang melapor, “Semua barang keperluan telah siap!”

Dengan wajah berseri Tong-popo segera mengulapkan tangan seraya berkata, “Saudara

bertiga, mari ikut padaku!”

Keluar dari ruangan, ada empat orang perempuan dengan “benang biru” pada gaunnya telah

menanti, di tangan masing-masing membawa sebuah bungkusan besar.

Menyusuri kegelapan malam mereka berputar keluar dan menuju ke timur sana, sepanjang

perjalanan tak ada yang berbicara, mereka tidak membawa lampu, jelas hendak menghindari

pengintaian pihak Tong Siau-sian.

Tak lama kemudian mereka sudah keluar perkampungan bagian belakang, arah yang dituju

ternyata adalah dasar lembah, lagipula makin ke depan perjalanan makin sulit, pemandangan

di sekitar sana pun makin gersang, jangankan bangunan rumah, pepohonan pun jarang.

Suatu perasaan waswas tiba-tiba muncul dalam hati Ho Leng-hong, segera bisiknya, “Toako,

tampaknya keadaan semakin tak beres, coba perhatikan tanah lumpur ini!”

Pang Goan menunduk, air mukanya kontan berubah.

“Kenapa dengan tanah lumpur itu?” tanya Hui Beng-cu tercengang, rupanya ia tidak

menemukan sesuatu yang aneh.

“Tanah di sini jauh berbeda dengan tanah di depan lembah sana,” Leng-hong menerangkan,

“makin ke dalam warna tanahnya makin gelap, coba lihat, bukankah tanahnya sekarang

berwarna hitam pekat? Lagi pula dasar lembah ini kecuali batu karang hampir boleh dibilang

tiada tumbuhan lain....”

“Lalu apa artinya semua itu?” tanya Hui Beng-cu belum juga mengerti.

“Itu berarti tempat yang akan kita tuju kemungkinan besar adalah istana es dan liang api.”

Sekujur badan Hui Beng-cu bergetar keras, akhirnya ia mengerti,

Urusan telah jelas, dan merekapun sampai di tempat tujuan.

---------------------

181

Di bawah tebing terjal di dasar lembah berdiri sederetan rumah batu, dalam rumah itu berdiri

tiga orang perempuan.

Ketiga orang perempuan itu telah berusia lanjut, kedudukan mereka pun amat tinggi, dua

diantaranya berpangkat “benang biru”, sedang yang ketiga ternyata berpangkat “benang

perak”, berarti diapun seorang Tianglo.

Tianglo tersebut berusia delapan puluh tahun lebih, meski rambutnya telah beruban, wajahnya

wajah bocah, sayang matanya buta, kelopak matanya mencekung, kelihatan dua lekukan yang

dalam.

Kedua nenek lainnya yang berpangkat “benang biru” berusia sekitar lima puluhan, ternyata

mereka pun orang buta.

Ketika Tong-popo membawa rombongan itu sampai di depan rumah batu, ketiga nenek buta

itu lantas mendengar suara kedatangan mereka dan menyongsong di depan pintu.

Hampir semua orang buta memiliki suatu keistimewaan yang sama, yakni pendengaran yang

tajam.

Sikap Tong-popo terhadap nenek buta yang paling tua menghormat sekali, dengan hangat dan

tertawa ia menyapa, “Enci Po, sudah lama aku tidak berkunjung kemari, baik-baikkah kau

selama ini?”

“Seperti biasa,” jawab nenek buta she Po itu ketus, “asal bisa makan dan minum, rasanya juga

sudah cukup puas.”

“Itulah baru dinamakan Hok-ki,” kata Tong-popo sambil tertawa, “tidak seperti diriku ini, dari

pagi sampai malam sibuk selalu, padahal juga tidak kuketahui sibuk apa, sehingga ingin

makan atau minum pun tak punya waktu......”

Tiba-tiba nenek she Po itu memotong, “Ada keperluan apa kaudatang ke lembah belakang

ini?”

“Aku mengantar tiga orang tamu kemari.”

“Tunjukkan lencana nomor kuncimu!” perintah nenek Po sambil ulurkan tangannya.

Dari sakunya Tong-popo mengeluarkan sebuah lencana tembaga kecil, lalu sambil tersenyum

diserahkan ke tangan salah seorang nenek “benang biru”, oleh perempuan itu baru diserahkan

kepada nenek Po.

Bentuk lencana tersebut tidak jauh berbeda dengan lencana biasa, cuma di atas lencana ini

terdapat lubang sehingga kelihatan agak istimewa.

Dengan teliti nenek Po meraba sekeliling lencana tersebut, kemudian miringkan kepala sambil

bertanya, “Berapa orang?”

“Tiga orang!”

“Berapa orang lelaki dan berapa orang perempuan?”

“Dua tamu lelaki dan seorang gadis remaja!”

“Perlu dibagi menjadi berkelompok?”

“Tidak usah, mereka berasal dari satu rombongan.”

“Baik!” kata nenek Po kemudian, “tinggalkan semua barang keperluan dan kau boleh segera

kembali!”

“Enci Po, ketiga orang tamu kita memiliki kungfu yang lumayan, kau kudu baik-baik

melayani mereka.”

“Hmm! Jangan kuatir,” sahut nenek Po sambil mendengus, “sekalipun sepasang mataku sudah

buta belum pernah ada seekor belut yang bisa lolos dari sela-sela jari tanganku.”

Mendengar ucapan tersebut, Ho Leng-hong bertiga saling pandang dengan terkesiap.

Tong-popo segera menitahkan orang untuk menyerahkan bungkusan kepada mereka bertiga,

lalu katanya sambil tertawa, “Saudara bertiga, aku hanya mengantar kalian sampai di sini saja,

urusan selanjutnya akan diatur nenek Po, moga-moga kalian bisa berlatih ilmu golok dengan

tekun dan bersungguh hati, barang-barang ini pasti kalian butuhkan nanti, silakan kalian

menerimanya.”

182

“Tapi tempat apakah ini,” seru Hui Beng-cu, “apa yang hendak kaulakukan terhadap kami?”

“Sambil angkat bahu Tong-popo tertawa, “Bukankah kalian bertiga ingin mencari suatu

tempat yang sepi untuk berlatih Ang-siu-to-hoat? Nah, di sinilah tempat paling baik untuk

berlatih ilmu golok tersebut.”

Sehabis berkata ia lantas mengajak anak buahnya meninggalkan tempat itu.

Dengan suara tertahan Hui Beng-cu berkata, “Pang-toako, Ho-toako, kita tertipu, ternyata

nenek she tong itu tidak bermaksud baik!”

Pang Goan tidak menjawab, buru-buru ia membuka salah satu bungkusan itu dan diperiksa

isinya.

Ternyata kecuali sebungkus ransum kering ada pula beberapa setel pakaian tebal anti dingin.

Ketika bungkusan yang lain dibuka, ternyata isinya sama.

Sekarang Ho Leng-hong baru menghela napas panjang, keluhnya, “Berlatih ilmu golok di

istana es. Ya, pasti tempat inilah Peng-kiong!”

“Benar!” sambung nenek Po mendadak, “tempat ini adalah istana es!”

--------------------

Udara di dalam istana es dinginnya bukan kepalang, dalam rumah batu itupun tak kurang

dinginnya.

Ho Leng-hong bertiga mengenakan pakaian tebal anti dingin. Lalu di bawah “kawalan” nenek

Po dan kedua orang petugas “benang biru” mereka digiring ke dalam rumah batu itu.

Wajah tiga orang perempuan itu lebih dingin daripada udara dalam ruangan tersebut, pakaian

yang mereka kenakan juga sangat tipis.

Dari sini dapat diketahui bahwa ketiga perempuan buta itu pasti memiliki tenaga dalam yang

luar biasa hebatnya.

Oleh sebab itu Pang Goan bertiga sangat tahu diri, mereka menurut perintah tanpa

membantah, merekapun tidak mengatur rencana untuk kabur, apalagi keadaan dalam lembah

tersebut memang tidak memungkinkan orang untuk melarikan diri.

Setelah masuk ke dalam rumah batu, nenek Po menanyai dulu nama mereka bertiga, lalu

sambil memberi tiga butir pil ia berkata, “Bila kalian tahu nama istana es tentu pernah

mendengar juga nama liang api? Nah, agar kalian memiliki kesempatan untuk

mempertahankan hidup secara adil, terlebih dahulu akan kuterangkan segala sesuatu yang

menyangkut keadaan kedua tempat itu . . . . .”

Ketiga orang itu tidak bersuara, rupanya mereka sama sekali tidak tertarik untuk

mempertahankan hidup.

Nenek Po melanjutkan perkataannya, “Istana es dan liang api adalah tempat aneh dalam

lembah kami, tempat itu merupakan gudang penyimpan pusaka pemberian alam, dalam istana

es itulah kitab ilmu golok Ang-siu-to-hoat disimpan, suhu dalam istana es dingin luar biasa,

tiap titik air akan segera beku menjadi es, sekalipun ilmu silat seseorang amat lihay juga

jangan harap akan hidup lebih enam jam di tempat itu . . . . . .”

Setelah berhenti sebentar, sambil menuding ketiga biji obat itu, lanjutnya pula, “Cuma untuk

memberi kesempatan kepada kalian agar bisa mendalami rahasia Ang-siu-to-hoat tersebut,

maka barang siapa memasuki istana es akan diberi hadiah sebuti obat kuat, setiap orang yang

makan pil itu bisa memperoleh kekuatan untuk menahan rasa dingin selama enam jam, atau

dengan perkataan lain kalian mempunyai kesempatan untuk hidup dua belas jam dalam istana

es, dalam waktu yang tersedia ini bukan saja dapat kalian gunakan mempelajari rahasia ilmu

golok, kalian pun bisa memikirkan cara meloloskan diri dari situ.”

Ketiga orang itu tidak bersuara, tapi mereka mendengarkan keterangan itu dengan saksama,

akhirnya dapat disimpulkan bahwa mereka masih ada kesempatan untuk lolos dengan

selamat.

183

Terdengar nenek Po berkata lebih jauh, “Pintu istana es hanya bisa masuk dan tak bisa keluar,

satu-satunya jalan bagi kalian untuk mencari hidup adalah menerobos liang api, tempat itu

pun harus dilewati dalam waktu dua belas jam. Antara liang api dengan istana es hanya

terbatas oleh sebuah gua, tapi suhu udara di kedua tempat sama sekali bertolak belakang,

dalam liang api terdapat api alam yang sepanjang tahun menyemburkan api dahsyat,

jangankan manusia, sebatang baja pun akan meleleh, maka jika kalian bisa menemukan cara

bagus untuk menembus liang api tersebut, bukan saja dapat memperoleh ilmu Ang-siu-to-hoat

yang maha sakti itu, kalian akan disambut pula oleh segenap rakyat lembah dengan segala

kehormatan, kalau perempuan akan diangkat menjadi Kokcu, bila pria akan menjadi Huma . .

. . . tentu saja semenjak lembah ini didirikan hingga kini belum pernah ada orang yang

berhasil melintasi istana es dan liang api dengan selamat, sebaliknya jumlah yang tewas si situ

justru tak terhitung banyaknya.”

Berbicara sampai di sini tiba-tiba ia tertawa bangga, katanya lagi, “Nah cukuplah keterangan

ini, apa yang harus kukatakan telah kuucapkan, jika kalian masih ada pertanyaan boleh

diajukan sekarang kepadaku, dengan senang hati akan kuterangkan, kalau tak ada pertanyaan,

maka kalian akan kuantar masuk ke istana es.”

Hui Beng-cu hanya memandang Pang Goan dan Leng-hong dengan sedih, tiba-tiba air

matanya jatuh bercucuran.

Pang Goan menepuknya pelahan dan berkata pelahan dan berkata dengan suara getir, “Siaucu,

jangan takut, manusia akhirnya akan mati, bukan sembarangan orang bisa mendapatkan

kuburan yang panas-dingin komplit semacam ini, biasanya tempat yang mengandung unsur

api dan air dikatakan Heng-sui yang baik, keturunan kita kelak tentu akan makmur.”

Hui Beng-cu tak dapat menerima kata-kata gurauan seperti itu, isak-tangisnya tak

terbendungkan lagi, air matanya jatuh dengan derasnya.

Ho Leng-hong tetap bersikap tenang dan sedikitpun tanpa emosi, selang sejenak baru ia

berkata, “Nenek, bolehkah kuajukan dua pertanyaan?”

“Katakan!”

“Pertama, benarkah ketiga biji obat pemberian nenek ini sangat manjur?”

“Tentu saja sangat manjur, aku dapat menghadiahkan obat itu kepada kalian, buat apa

bohong? Kalau kau tidak percaya, setelah masuk ke dalam istana es nanti makanlah obat ini,

dalam waktu dua belas jam kau takkan merasa kedinginan.”

Ho Leng-hong manggut-manggut, katanya lagi, “Kedua, aku ingin bertanya, andaikata nasib

kami lagi mujur dan bisa lolos dari istana es dan liang api dalam keadaan hidup, benarkah

akan memperoleh sanjungan dan penghormatan dari segenap rakyat lembah?”

“Betul, ini sudah merupakan peraturan nenek moyang kami, jadi bukan peraturan ciptaan

kami.”

“Baik! Asal kami tidak mati pasti akan berkunjung pula ke lembah ini,” selesai berkata ia

masukkan ketiga biji obat itu ke dalam sakunya.

Nenek Po segera membuka sebuah pintu di ruang belakang, lalu melangkah masuk lebih dulu.

Tanpa ragu Ho Leng-hong menyusul di belakangnya.

Pang Goan memayang Hui Beng-cu menyusul di belakangnya, sedangkan kedua perempuan

tua berbenang biru berjalan paling belakang.

Di balik pintu adalah sebuah gua yang sangat gelap, di situ tak ada cahaya lampu, yang ada

hanya hawa dingin yang merasuk tulang.

Sekalipun matanya buta, ternyata langkah kaki nenek Po sangat cepat, untungnya permukaan

gua amat datar dan tiada tikungan, tak lama kemudian sampailah mereka di depan sebuah

pintu batu.

Lambat-laun Ho Leng-hong sudah mulai terbiasa dengan kegelapan, ia menghimpun segenap

kekuatannya untuk memperhatikan keadaan sekeliling tempat itu.

184

Ternyata pintu batu itu sangat tebal dan beratnya ribuan kati, gelang pintu terbuat dari baja

dan tampaknya terdapat pula sebuah lubang kunci raksasa.

Nenek Po memasukkan lencana tembaga tadi ke dalam lubang kunci, setelah itu baru

menggunakan sebuah anak kunci untuk membuka kunci pintu, pelahan pintu batu itu ditarik.

Setelah pintu terbuka, segulung angin dingin pun berembus keluar, tanpa terasa Ho Lenghong

bertiga bergidik.

“Silakan masuk saudara bertiga!” kata nenek Po kemudian.

Leng-hong melongok ke dalam, di balik pintu merupakan sebuah gua karang, cuma dari

kejauhan sana lamat-lamat kelihatan selapis cahaya putih seperti lapisan kabut.

Ia menarik napas panjang-panjang, lalu melangkah masuk ke dalam gua itu.

Pang Goan bermaksud membimbing Hui Beng-cu masuk pula ke dalam gua, siapa tahu

mendadak gadis itu meronta dan melepaskan diri dari pegangan Pang Goan, ia cabut golok

panjang di pinggang orang she Pang itu, sambil memutar badan terus melancarkan serangan

kilat ke arah kedua orang perempuan buta berbenang biru di belakangnya.

Perubahan kejadian ini sangat tiba-tiba, dalam kejutnya Pang Goan ingin mencegah, sayang

tak sempat.

Jangan kira kedua orang perempuan itu buta, ternyata perasaannya tajam sekali, baru saja Hui

Beng-cu melolos golok, kedua orang itu segera menubruk maju dari kanan dan kiri.

Sambil membacok, Hui Beng-cu berteriak, “Aku tak mau ke istana es, kalau ingin nyawa

cepat me . . . .”

Kata “menyingkir” belum selesai, pergelangan tangannya tahu-tahu kaku dan gadis itupun

dicengkeram oleh salah seorang perempuan buta tadi.

Perempuan buta yang lain dengan cekatan merampas goloknya, lalu mendorong Hui Beng-cu

ke dalam pintu.

Buru-buru Pang Goan menyambutnya, dengan sempoyongan mereka berdua terdorong masuk

ke dalam gua.

“Blang!” pintu batu tertutup rapat memisahkan gua tadi menjadi dua bagian.

Sambil menutup wajahnya Hui Beng-cu menangis tersedu-sedu, pekiknya, “Pang-toako, Hotoako,

habislah riwayat kita, tak bisa tidak kita pasti mati dalam istana es ini.”

“Sekalipun harus mati, apa gunanya menangis?” jawab Leng-hong dengan tenang.

Hui Beng-cu mendongakkan kepalanya sambil berseru, “Ho-toako, kenapa kau tidak takut?

Apakah sudah kautemukan akal untuk meloloskan diri?”

Leng-hong menggeleng kepala berulang kali, “Aku tidak takut karena takut tak dapat

menyelamatkan jiwa kita, melawan juga bukan cara yang baik, maka tidak perlu kita lakukan

perlawanan yang tak bermanfaat, kita harus menggunakan segenap kekuatan yang kita miliki

untuk mencari jalan keluar.”

“Tapi istana es dan liang api jelas adalah jalan kematian, tidak mungkin kita bisa keluar dalam

keadaan hidup,” keluh sang gadis sambil terisak.

“Sampai sekarang kita belum mencobanya, darimana kautahu jalan ini adalah jalan

kematian?”

“Tidakkah kau dengar perkataan mereka? Sejak lembah Mi-kok ini ada, belum pernah ada

orang berhasil lolos dari istana es dan liang api dalam keadaan hidup.”

“Itu kan perkataan mereka, kan tidak berarti dulu tak pernah ada orang yang berhasil dan

seterusnya juga tak ada, aku yakin pasti ada orang yang berhasil menerobos kedua tempat

itu.”

“Darimana kautahu?”

“Bila tak pernah ada orang yang berhasil melewati istana es dan liang api, darimana bisa

diketahui bahwa istana es dan liang api bisa menembus ke luar lembah? Darimana diketahui

bahwa di belakang lembah adalah satu-satunya jalan keluar?”

185

Hui Beng-cu tertegun dan berhenti menangis, sesudah berpikir sebentar, katanya pula,

“Mungkin tak pernah ada orang yang berhasil? Siapa tahu ucapan tersebut hanya mereka

gunakan untuk membohongi orang lain?”

“Kalau bohong, tak mungkin nenek moyang lembah Mi-kok menetapkan peraturan untuk

mengelu-elukan orang yang berhasil lolos dari dasar lembah ini!”

Hui Beng-cu jadi bungkam dan tak dapat membantah lagi.

Selanjutnya Ho Leng-hong berkata pula, “Dari sini dapat diketahui bahwa istana es dan liang

api bukan jalan buntu yang mematikan, tempat itu hanya bisa disebut sebagai jalan keluar

yang sangat berbahaya, jika orang dulu bisa menembusnya, kenapa kita tak berusaha

menembusnya pula?”

“Masuk akal,” kata Pang Goan, “mari kita coba sekarang juga!”

Tapi Ho Leng-hong menggoyangkan tangannya dan berkata, “Tunggu sebentar, jelas kita

harus cari dan coba, cuma kita tak boleh bertindak ceroboh.”

“Lalu apa yang mesti kita lakukan?”

“Pertama kita harus mengendalikan sisa waktu hidup secermatnya, semakin lama waktu hidup

kita, semakin besar pula harapan kita untuk lolos dari bahaya....”

“Betul!” Pang Goan manggut-manggut.

“Sejak kini kita hanya mempunyai waktu selama dua belas jam untuk hidup, dalam waktu ini

di samping mencari jalan keluar kitapun harus berusaha mempelajari rahasia ilmu golok Angsiu-

to-hoat, jadi dua pekerjaan ini lebih baik dilaksanakan oleh dua orang, sementara seorang

lainnya tetap tinggal di sini, tak boleh bergerak, tempat ini pasti jauh lebih hangat

dibandingkan di dalam istana es, jadi orang yang tetap tinggal di sini tidak perlu makan obat,

dengan tersisanya sebutir pil berarti akan memperpanjang waktu bergerak bagi kedua orang

yang lain.”

“Daya ingatanmu tajam, tugas mengapalkan rahasia ilmu golok itu adalah bagianmu, sedang

mencari jalan keluar serahkan saja kepadaku,” kata Pang Goan dengan cepat.

“Tidak!” seru Beng-cu, “kaum perempuan lebih teliti dan saksama, tugas mencari jalan keluar

biar kulakukan untukmu, sedang Pang-toako beristirahat lebih dulu . . . . .”

“Tidak, kau adalah seorang gadis, kau lebih pantas beristirahat, biar segala pekerjaan

diselesaikan oleh kaum pria saja.”

“Kalian tak usah berebut,” kata Leng-hong, “mencari jalan keluar adalah tugas yang berat,

orang yang tetap tinggal di sini pun tak boleh minum obat, dia harus mengerahkan hawa

murninya untuk melawan hawa dingin, keadaan semacam itu bukan perasaan yang nikmat.”

“Tak perlu berbuat demikian,” kata Pang Goan, “Siau-cu boleh minum obatnya, biar sebutir

obatku yang disimpan, dapat menemukan jalan keluar atau tidak dalam waktu enam jam

kukira sudah lebih dari cukup.”

“Masalah ini menyangkut mati-hidup kita, jangan kita menuruti perkiraan saja, pada

umumnya untuk mengapalkan rahasia ilmu golok tidak perlu membutuhkan waktu sampai

enam jam, tapi tugas ini sangat memeras pikiran dan tenaga. Sekalipun demikian tugas

mencari jalan keluar tetap merupakan tugas terpenting, kalau jalan keluar tidak ditemukan,

sekalipun ilmu golok sakti ini berhasil diapalkan, lalu apa gunanya? Menurut pendapatku,

obat itu sepantasnya diberikan semua untuk Pang-toako.”

Hui Beng-cu tertawa getir, katanya, “Paling banyak kita cuma ada waktu sehari untuk hidup,

buat apa persoalan itu diributkan? Sungguh perbuatan yang tak ada harganya, sedikitnya kita

harus tinjau dulu keadaan dalam istana es sebelum perundingan dilanjutkan, bagaimana

pendapat kalian?”

“Betul!” kata Pang Goan, “sekalipun kita bakal mampus di sini, paling tidak harus kita tinjau

dulu tempat kubur kita ini. Mari berangkat!”

Tanpa makan obat, berangkatlah ketiga orang itu menyusuri gua itu.

186

Gumpalan cahaya putih itu makin lama makin cemerlang dan menyilaukan mata, tapi suhu

udaranya makin lama makin dingin.

Baru sampai di tengah jalan, ketiga orang itu sudah mulai merasakan sekujur badannya kaku,

mau-tak-mau terpaksa mereka harus mengerahkan tenaga dalamnya untuk melawan rasa

dingin yang luar biasa itu.

Semakin mendekati mulut gua, biji mata semua orang seolah-olah ikut menjadi beku.

Tapi, pada saat itulah suatu pemandangan aneh tiba-tiba muncul di depan mata....

Gua itu terletak dalam perut gunung, tingginya berpuluh tombak dengan lebar tiga sampai

empat puluh tombak, bentuknya mirip sebuah tangkupan mangkuk besar.

Dalam gua tiada cahaya lampu, tapi suasana terang benderang bagaikan di siang hari, sebab

seluruh permukaan dinding gua itu berlapiskan es yang tebal sekali, sementara dalam gua

yang tingginya lebih lima kaki di depan sana api berkobar dengan keras.

Ketika cahaya api itu menimpa permukaan dinding es yang tebal, maka terpancar sinar refleks

yang menyilaukan mata, keadaan ini ibaratnya sebuah cermin besar dalam ruangan yang

tertimpa sinar matahari, hal ini membuat pemandangan dalam gua itu bagaikan sebuah dunia

kaca, pemandangannya aneh, indah mempesonakan.

Rahasia Ang-siu-to-hoat yang dikatakan tiada tandingannya di dunia ini justru tersimpan

dalam istana es yang indah, aneh dan fantastik ini.

Bukan kitab pusaka atau kertas bergambar penjelasan yang berada di sana, melainkan

manusia sungguhkan yang memperagakan berbagai jurus serangan.

Ilmu golok itu semuanya terdiri dari sembilan jurus yang diperagakan oleh sembilan orang

gadis berbaju merah, dan semuanya terbingkai dalam es beku di sekeliling gua.

Tentu saja kesembilan gadis itu bukan orang hidup, tetapi kendati pun mayat itu sudah berusia

ratusan tahun, oleh karena berada dalam lapisan es yang tebal, maka bukan saja tidak

membusuk, malah bentuknya masih tetap utuh seperti hidup.

Selain kesembilan sosok mayat itu, masih ada dua puluhan sosok mayat lain yang tersebar di

sekeliling gua, ada di antaranya yang sedang duduk bersila, jelas sedang memusatkan

perhatiannya untuk mempelajari intisari ilmu golok tersebut, ada yang berbaring sambil

melingkarkan badan, jelas tidak tahan melawan hawa dingin dan lapar, ada pula yang bermata

melotot dengan wajah gusar, seakan-akan tidak rela mati dengan begitu saja, tapi ada pula

yang bersikap tenang seakan-akan puas menghadapi kematian dalam keadaan seperti itu . . . .

Mereka semua adalah kawanan jago persilatan yang berdatangan ke Mi-kok untuk belajar

ilmu golok, tentu saja tujuh bersaudara Nyo dari Thian-po-hu termasuk di antaranya.

Pang Goan bertiga berdiri tertegun di depan pintu istana, pemandangan aneh itu membuat

mereka terbelalak dan melongo, untuk sesaat tak tahu apa yang mesti dilakukan . . . . .

Tiba-tiba Ho Leng-hong bergidik, serunya cepat, “Cepat pejamkan mata dan mundur keluar!”

Bentakan itu dengan cepat menyadarkan Pang Goan dan Hui Beng-cu, buru-buru mereka

kabur keluar dari gua tersebut.

Sesudah mengatur pernapasan sejenak, Pang Goan menggeleng kepala sambil menghela

napas, “Bahaya . . . sungguh teramat berbahaya!”

“Pemandangan tersebut sungguh merupakan pemandangan aneh yang sukar ditemui di

dunia,” kata Hui Beng-cu pula, “ditambah lagi jurus-jurus ilmu golok yang indah dan

memesona, membuat aku terkesima hingga lupa mengatur pernapasan. Ai, coba jika Ho-toako

tidak membentak tepat pada saatnya, nyaris akupun mati kedinginan di situ.”

“Orang-orang itu justru mati dalam istana es lantaran kejadian demikian,” kata Ho Leng-hong

dengan wajah serius, “sering kali orang terkesima bila menjumpai pemandangan seaneh itu,

ketika mereka sadar akan bahaya, hawa dingin telah menyerang dan mereka sama mati kaku

di situ, jangankan lolos dari tempat ini, mungkin kesempatan untuk mencari jalan keluar pun

belum sempat dilakukan.”

187

Pang Goan manggut-manggut, “Untung kita masuk bertiga, coba kalau sendirian, mungkin

tak seorangpun bisa lolos dari tempat ini dengan selamat.”

Leng-hong tertawa, katanya, “Cuma setelah ada pengalaman ini, berarti menambah

kesempatan hidup kita.”

“Kenapa?” tanya Hui Beng-cu tercengang.

Leng-hong tidak menjawab, dia mengeluarkan obat itu dan ditelan sebutir, lalu sisanya yang

dua butir diberikan kepada Pang Goan sambil berpesan, “Tunggulah di sini, aku akan masuk

lebih duluan!”

“Kau hendak ke mana?” seru Hui Beng-cu.

Leng-hong tidak menjawab melainkan masuk lagi ke dalam istana es.

Tak lama kemudian, ketika pemuda itu muncul kembali, tangannya membawa sebuah

bungkusan kain, ketika bungkusan itu dibuka, ternyata isinya adalah ransum kering serta

belasan butir pil.

Ransum kering itu ada sebagian yang telah berubah warna dan tak bisa dimakan, tapi pil-pil

itu sama bentuknya seperti pil yang diberikan nenek Po kepada mereka untuk melawan hawa

dingin, bahkan bentuknya sama sekali belum berubah.

“Hei, darimana kau peroleh barang-barang itu?” seru Hui Beng-cu dengan mata terbelalak.

“Peristiwa barusan telah menimbulkan suatu pikiran dalam benakku,” tutur Leng-hong sambil

tertawa, “Kupikir orang-orang yang mati dalam istana es pasti membawa ransum kering dan

diberi pil, tapi sewaktu masuk ke istana es lantaran mereka mengira dengan tenaga dalam

sendiri pasti mampu bertahan selama enam jam, pil-pil itu tidak mereka makan, ketika

tubuhnya dirasakan mulai beku, tak sempat lagi untuk minum obat, sebab itulah sengaja

kugeledah saku mereka, ternyata sebagian besar memang belum pernah menggunakan ransum

serta obat mereka, dengan persediaan kita sekarang, paling sedikit kita bisa tahan hidup tigaempat

hari lagi lebih lama.”

Beng-cu sangat girang, cepat ia hitung barang-barang tersebut, ternyata masih ada enam-tujuh

bagian ransum kering itu yang masih bisa digunakan, sedang pil penahan dingin berjumlah

tiga belas biji, jadi kalau dibagi untuk tiga orang bisa digunakan untuk bertahan selama empat

hari.

Dengan kelebihan waktu empat hari mereka tidak sulit untuk mencari jalan keluar, rasa

percaya diri sendiri seketika tambah kuat.

“Selanjutnya apa yang harus kita lakukan?” tanya Pang Goan kemudian.

“Bila Lotoako janji tidak akan berebut denganku, bagaimana kalau aku yang membagi

tugas?”

“Baik, akan kuturuti perkataanmu,” kata Pang Goan sambil tertawa.

“Seperti semula, aku bertanggung jawab mengapalkan ilmu golok Ang-siu-to-hoat, Lotoako

bertugas mencari jalan keluar, sedang Beng-cu tinggal di sini mengurusi obat dan ransum,

cuma ada beberapa hal harus diperhatikan dan dipatuhi oleh kita bersama.”

“Apa itu? Katakan saja!”

“Pertama, perhatian kita harus tertuju pada tugas yang sedang dilaksanakan dan tak boleh

bercabang pikiran pada soal lain, misalnya saja Toako yang bertugas mencari jalan keluar,

maka kau tak boleh pencarkan perhatian untuk mempelajari ilmu golok.”

“Baik! Aku pasti dapat melakukannya!”

“Kedua, demi menjaga kekuatan tubuh kita maka semua orang harus makan obat pada

saatnya, termasuk juga Beng-cu, kita tak boleh melawan hawa dingin dengan tenaga dalam,

setiap tiga jam kita makan ransum sekali, setiap enam jam makan obat sekali, kita tak boleh

berdiam terlalu lama dalam istana es ini, mengenai perhitungan waktu kita tugaskan Beng-cu

untuk melakukannya, dan lagi setiap saat harus meninggalkan tanda, begitu waktunya sampai

kau harus memanggil kami agar mengundurkan diri dari istana es untuk beristirahat.”

Hui Beng-cu mengangguk tanda setuju.

188

Sayang dalam gua sukar untuk membedakan siang atau malam, jadi sulit untuk menentukan

waktu secara tepat, terpaksa Beng-cu membagi ransum kering itu menjadi beberapa bagian

dengan bobot yang sama, dengan perkiraan setiap bagian ransum itu cukup mengisi perut

selama dua-tiga jam, dengan rasa lapar inilah ia menentukan waktu, sekalipun tidak cocok

tapi masih bisa digunakan sebagai ancer-ancer untuk menentukan pagi harikah atau malam

harikah waktu itu? Dan beberapa hari sudah dilewatkan?

Setelah makan kenyang, Pang Goan dan Leng-hong masuk ke istana es untuk melaksanakan

tugas masing-masing, tiga jam kemudian sewaktu mengundurkan diri untuk mengisi perut

pertama kalinya, air muka mereka tampak murung.

Leng-hong menyatakan bahwa ilmu golok Ang-siu-to-hoat meski hanya terdiri dari sembilan

jurus, namun setiap jurus mengandung macam-macam perubahan, untuk mengingat

gerakannya saja memang tidak sulit, tapi untuk meresapi intisari dari tiap gerakan, setiap

jurusnya paling sedikit membutuhkan waktu dua-tiga jam.

Oleh sebab itu ia putuskan untuk mengapalkan jurusnya lebih dulu, kemudian bila sudah lolos

dari bahaya baru akan diselami lagi gerak perubahan rahasianya.

Kendatipun demikian, dalam tiga jam ia hanya berhasil mengingat empat jurus belaka, itu

berarti belum mencapai setengah dari seluruh ilmu golok Ang-siu-to-hoat yang ada.

Sebaliknya Pang Goan hanya mengembalikan kertas putih alias kosong. Menurut hasil

penelitiannya selama tiga jam, hakikatnya tiada jalan keluar di tempat tersebut.

Sekeliling dinding istana es hanya terdiri dari es yang tebal, jangankan manusia, lalat pun tak

bisa menerobos keluar dari situ, dua jalan tembus yang ditemukan di situ hanya terdiri dari

jalan menuju pintu istana es ini serta jalan tembus menuju ke liang api.

Liang api itu hanya diketahui lima kaki tingginya, tapi berapa dalam liang tersebut dan berapa

panjangnya ia tak tahu.

Api yang menyembur keluar dari liang itu berlangsung tiada hentinya, antara liang api dengan

istana es terpisah oleh sebuah kolam, ternyata air dalam kolam itu separuhnya dingin dan

separuh lagi panas, perbedaan itu menyolok sekali dan ternyata tidak membaur menjadi satu.

Pang Goan pernah mencoba untuk melemparkan kepingan perak ke dalam liang api, tapi

begitu kepingan perak itu masuk api segera sirna dan tidak menimbulkan suara apa-apa, jelas

perak itu segera meleleh dan lenyap tak berbekas.

Selesai mendengar uraian tersebut, terpaksa Ho Leng-hong harus menghibur mereka, katanya,

“Jangan putus asa, kalau jalan keluar itu mudah ditemukan niscaya tidak terjadi banyak orang

mati dalam istana es, ilmu golok Ang-siu-to-hoat tentu juga sudah lama tersebar luas dalam

dunia persilatan, carilah pelahan dan perhatikan tempat-tempat yang mencurigakan, asal nasib

kita tidak ditakdirkan tamat di sini, akal untuk lolos dari sini pasti akan kita temukan,

sebaliknya kalau memang sudah takdir, kitapun tak usah menyesal.”

Pang Goan menggeleng kepala tanpa menjawab, mukanya tampak sedih.

“Pang-toako,” tiba-tiba Beng-cu menyela, “kau telah memeriksa keadaan dalam istana es, apa

salahnya kalau beristirahat dulu dan memikirkan suatu akal untuk melepaskan diri dari sini,

sementara kesempatan ini biar kugunakan untuk melakukan pemeriksaan pula, bagaimanapun

jalan pikiran satu orang tak akan menangkan hasil pemikiran dua orang.”

Leng-hong termenung sebentar, kemudian jawabnya, “Ya, hal ini memang bisa dicoba, tapi

harus ada satu orang tinggal di sini untuk siap sedia menolong rekannya, bila ilmu golok Angsiu-

to-hoat telah berhasil kuapalkan, kita bersama-sama melakukan pencarian lagi di sekitar

tempat ini.”

Tiga jam kembali sudah lewat, Hui Beng-cu kembali dengan wajah murung dan putus asa.

Berbeda dengan Ho Leng-hong, dengan penuh kegirangan ia berseru, “Kita tidak sia-sia

makan obat kuat, lumayan juga hasil yang kita capai.”

“Hasil apa?” tanya Beng-cu.

189

“Pang-toako, bukankah kau pernah berkata bahwa Ang-ih Hui-nio pernah delapan kali

mengalahkan To-seng (nabi golok) Oh It-to, sedang kedelapan jurus ilmu golok To-seng

bukan lain adalah Poh-in-pat-tay-sik dari Thian-po-hu dewasa ini?”

“Benar!”

“Kalau begitu, seharusnya jurus ilmu golok yang ditinggalkan Ang-ih Hui-nio juga terdiri dari

delapan jurus, tapi di dinding es itu kenapa terdapat sembilan jurus.”

“O, ini memang rada aneh, kenapa bisa kelebihan satu jurus?” seru Pang Goan keheranan.

“Mula-mula Siaute juga heran,” ujar Leng-hong sambil tertawa, “sebab itu akupun menaruh

perhatian khusus terhadap jurus terakhir, itulah sebabnya aku bilang perjalanan kita kali ini

tidak sia-sia, ternyata dalam jurus terakhir itulah tercantum seluruh intisari dan kekuatan dari

segenap jurus serangan Ang-ih Hui-nio, dan di situ pula tercantum segenap kepandaian

dahsyat yang diciptakan oleh Oh It-to sepanjang hidupnya.”

“Kenapa bisa begini?” tanya Pang Goan tercengang.

“Sebab setelah kalah delapan kali, Oh It-to memeras otak untuk mencari akal untuk

memecahkan kehebatan ilmu golok Ang-ih Hui-nio, sayang niat tersebut rupanya tidak

berhasil diwujudkan, tapi rahasia itu justru akhirnya berhasil dipecahkan sendiri oleh Ang-ih

Hui-nio.”

“Jangan-jangan jurus kesembilan yang kaumaksudkan itu?” tanya Pang Goan kaget.

“Benar, jurus kesembilan justru merupakan jurus tandingan untuk mematahkan kedelapan

jurus lainnya, jadi asal jurus ini berhasil kita kuasai, maka secara gampang ilmu golok Angsiu-

to-hoat akan kita patahkan, dan kitapun tak perlu takut lagi menghadapi ilmu golok sakti

dari Mi-kok ini.”

Pang Goan tertegun sejenak, kemudian seperti baru memahami sesuatu ia berseru, “Ya, pantas

tong Siau-sian dan Tong-popo berusaha dengan segala akal untuk mendapatkan golok mestika

Yan-ci-po-to, kiranya di sinilah letak alasannya.”

“Tahu begini, mestinya Siaute apalkan dulu jurus tersebut, sedang kedelapan jurus lainnya tak

ada artinya lagi.”

“Ah, kupikir tak bisa dikatakan demikian, sebab setiap jurus ilmu golok Ang-siu-to-hoat

terkandung intisari ilmu golok, kendatipun jurus kesembilan bisa mematahkan ilmu golok

Ang-siu-to-hoat, ini tidak berati jurus tersebut adalah jurus yang tak terkalahkan.”

Sementara kedua orang itu terlibat dalam pembicaraan serius tentang ilmu golok Ang-siu-tohoat,

dengan ogah-ogahan Hui Beng-cu menyela dari samping, “Bisa atau tidak bisa

mematahkan ilmu golok Ang-siu-to-hoat tetap sama saja jika kita gagal meninggalkan tempat

ini, apa gunanya semuanya itu?”

“Akal adalah hasil pemikiran manusia,” kata Leng-hong sambil tertawa, “kalau ilmu golok

Ang-siu-to-hoat bisa dipecahkan, masakah hanya sebuah istana es tak mampu diatasi?”

Perkataan yang gagah ini pun tidak bisa dikatakan salah, sayang kenyataannya justru tidak

segampang apa yang mereka bayangkan.

Ho Leng-hong telah berhasil mengapalkan kesembilan jurus Ang-siu-to-hoat, namun Pang

Goan dan Hui Beng-cu belum berhasil juga menemukan jalan keluarnya.

Bahkan Ho Leng-hong akhirnya ikut mencari, meneliti dan pemikiran, tapi jalan keluar tetap

merupakan tanda tanya besar.

Persediaan pil dan ransum kian menipis, tanda waktu yang diukir di atas dinding makin

bertambah banyak, bekas telapak kaki ketiga orang itu hampir menjelajahi setiap jengkal

tanah dalam istana es itu, namun tiada sesuatu yang berhasil ditemukan.

Kecuali pintu istana di mana mereka datang, serta gua menuju ke liang api, dalam istana es itu

tidak ditemukan lubang lain, pun tidak ditemukan jalan keluar ketiga.

Pintu istana telah terkunci dari luar, mustahil bagi mereka untuk mendobrak pintu dan kabur

dari situ, kini satu-satunya jalan keluar bagi mereka hanya liang api dengan semburan api

yang dahsyat itu.

190

Api yang menyembur keluar dari dasar bumi tak pernah padam, baik diguyur dengan air,

ditutup dengan salju, ternyata sama sekali tak ada gunanya.

Bahkan Ho Leng-hong telah mendorong sesosok mayat ke dalam liang api sebagai percobaan,

hasilnya . . . dalam sekejap mata mayat itu hangus dan lenyap, termasuk tulang-belulangnya

lenyap begitu saja.

Berhadapan dengan kobaran api yang begini dahsyat, wajah mereka menjadi pucat.

Untuk mengirit persediaan pil dan ransum yang makin menipis, terpaksa ketiga orang itu

harus beroperasi secara bergilir, dan lagi merekapun berusaha memperpanjang waktu untuk

mengisi perut, bagi mereka yang tidak beroperasi, maka orang itu harus berhenti makan pil

dan mesti mengerahkan hawa murni sendiri untuk melawan hawa dingin.

Waktu berlalu dengan cepatnya, kini pil penahan dingin tinggal empat biji saja.

Dengan perasaan apa daya terpaksa Ho Leng-hong menghentikan operasi pencarian, mereka

bertiga duduk berdempet dalam gua, di samping mengerahkan tenaga untuk melawan hawa

dingin, merekapun harus putar otak untuk mencari akal guna meloloskan diri dari situ.

Menyusul ransum yang mereka miliki mulai habis.

Orang bilang, lapar dan dingin saling bergandengan. Artinya barang siapa berada dalam

keadaan lapar, maka dia juga akan sulit melawan hawa dingin yang main mencekam.

Setelah ransum habis, suasana dalam istana es seolah-olah berubah menjadi neraka, hawa

dingin kian menghebat, sekalipun mereka bertiga telah melingkarkan tubuh untuk menahan

rasa dingin, namun rasa dingin tetap merasuk tulang sumsum.

Tiba-tiba Leng-hong meronta bangun berdiri, serunya, “Kita benar-benar amat bodoh, kenapa

hanya duduk terpekur di sini? Apa salahnya kalau kita pergi mandi air panas?”

“Mandi?”serentak Pang Goan dan Hui Beng-cu memandang ke arah Ho Leng-hong dengan

tercengang.

Leng-hong tertawa ewa, katanya lagi, “Masa kalian lupa? Meskipun tempat ini sangat dingin

di samping liang api kan terdapat setengah kolam air yang hangat.”

Dengan cemas Pang Goan menghela napas, “Lote,” katanya, “jangan kaulakukan perbuatan

bodoh itu, dengan kelas kautahu air kolam itu separuhnya dingin dan separuh lagi panas, yang

dingin bisa membekukan badan, dan yang panas dapat mematikan orang.”

“Hanya berduduk di sini, cepat atau lambat juga mati, daripada mati kedinginan enakan mati

kepanasan, malam mampusnya bisa lebih cepatan,” kata Leng-hong.

Habis berkata, ia tarik napas panjang dan dengan sempoyongan melangkah masuk ke istana

es.

Buru-buru Pang Goan melompat bangun dan berseru, “Jangan pergi, aku masih ingin bicara

lagi!”

“Tak usah bicara lagi Lotoako,” kata Leng-hong sambil berpaling, “hanya duduk belaka

sambil menanti kematian, akhirnya tetap mati, setelah kupergi nanti gunakan keempat biji pil

itu untuk bisa hidup dua belas jam lagi, hal ini jauh lebih baik daripada mampus semuanya.”

Selesai berkata ia percepat langkahnya dan masuk ke dalam gua.

Gerak tubuh Pang Goan jauh lebih cepat lagi, sekali melompat ia menerjang tubuh Ho Lenghong,

serta merta mereka berdua bergumul menjadi satu.

“Hei, ingatlah waktu apa ini, masa kalian masih ada tenaga untuk berkelahi?” seru Beng-cu

dengan suara gemetar, “simpan saja tenaga kalian agar bisa bertahan lebih lama, bukankah hal

ini jauh lebih baik?”

Dengan sepenuh tenaga Pang Goan menindih tubuh Ho Leng-hong, lalu dengan napas

tersengal katanya, “Bila obat itu habis daya kerjanya, akhirnya kita toh mati juga, tapi kalau

ingin hidup, kita harus hidup bersama, mau mati biar mati bersama, apa bedanya antara enam

jam dengan dua belas jam? Siau-cu, bawa kemari obat itu, ayo kita makan bersama sebutir

obat dan bersama melewati sisa enam jam yang terakhir ini.”

191

Hui Beng-cu angsurkan obat itu ke tangannya, tanpa banyak bicara Pang Goan menjejalkan

sebutir pil ke mulut Ho Leng-hong, sementara ia dan Beng-cu juga menelan sebutir, kemudian

melepaskan pemuda itu dari tindihannya.

Setelah obat itu masuk ke dalam perut, hawa hangat seketika menjalar ke seluruh tubuh.

Ho Leng-hong menggeleng kepala dan tertawa getir, ia berkata, “Lotoako, buat apa kau

berbuat demikian . . . . . .” Tanpa terasa air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.

“Hei, apa yang kau tangisi? Jangan bersikap tak becus seperti itu, masa tidak takut ditertawai

Siau-cu?”

Air mata berderai membasahi wajah Ho Leng-hong, sambil menahan isak tangisnya ia

berkata, “Aku menangis bukan lantaran takut mati, tapi apa yang kita alami tadi justru

mengingatkan aku akan ibuku yang telah tiada . . . .”

“Mengapa dengan ibumu?” tanya Pang Goan tercengang.

“Sewaktu kecil dulu watakku sangat keras kepala, masih kuingat suatu ketika tatkala kau

jatuh sakit, ibu suruh aku minum obat tapi aku tak mau, ibu memaksaku untuk menghabiskan

obat itu, akhirnya kejadian seperti tadi, obat itu tumpah ke tanah sedang ibuku kena

kutendang waktu mencekoki obat ke mulutku . . . .”

Kejadian itu merupakan pengalaman pada masa kecil yang mudah menimbulkan gelak

tertawa, tapi entah mengapa, Pang Goan dan Hui Beng-cu tak mampu tertawa.

Ho Leng-hong terbuai lagi dalam lamunannya, “waktu kecil nakalku tidak ketolongan lagi,

sampai ibuku kehabisan akal padaku, suati hari seorang kakek tetangga mati, keluarganya

mengeluarkan sebutir mutiara untuk dijual guna membeli peti mati, ibu merasa senang dengan

mutiara itu tapi tak mampu membelinya, waktu itu aku berada di sisinya dan berkata, “Ibu,

apa yang menarik dengan benda itu, bila aku dewasa nanti dan kaya, bila ibu meninggal pasti

akan kubelikan sebuah peti mati kaca . . . .”

Belum habis perkataannya, mendadak mencorong sinar matanya.

Tiba-tiba ia melompat bangun dan lari masuk ke dalam istana es.

Pang Goan dan Hui Beng-cu kuatir ia mengalami kejadian di luar dugaan, buru-buru mereka

mengejar ke dalam.

Ketika itu daya kerja obat telah menyebar, setelah berada dalam istana es, mereka tidak

merasa kedinginan.

Ho Leng-hong langsung menghampiri kolam di tepi liang api itu, dengan mata melotot

ditatapnya dua sosok mayat di tepi kolam tersebut dengan termangu.

Mayat tua dan muda itu mungkin terdiri dari seorang ayah dengan puteranya, anak berbaring

di atas sebuah panggung es setinggi dua tombak, sedang ayahnya berjongkok di tepi kolam

seperti sedang mengambil air, entah mengapa mereka berdua sama-sama mati kedinginan di

situ.

Pang Goan dan Hui Beng-cu berdiri saling pandang, mereka sama tercengang dan tidak

mengerti.

Tiba-tiba Ho Leng-hong bertanya, “Coba kalian lihat, bukankah kematian kedua orang ini

sangat aneh?”

“Benar, memang aneh, cuma makna apakah yang terkandung di balik keanehan itu?” ucap

Pang Goan.

“Coba kauterka, apa yang sedang mereka lakukan?”

Pang Goan berpikir sejenak, lalu sahutnya, “Mungkin puteranya membeku karena kedinginan,

maka ayahnya ingin mengguyur tubuhnya dengan air panas, sayang dia sendiripun tidak tahan

hingga akhirnya ikut mati di tepi kolam . . . .”

“Betul!” jawab Ho Leng-hong sambil mengangguk, “ia memang sedang menolong puteranya,

sebab kematian puteranya dalam keadaan beku adalah karena salah perhitungan.”

“Darimana kautahu?” tanya Pang Goan terkejut.

192

“Coba kalian perhatikan dengan saksama, di sini terdapat dua bagian tempat yang pantas

diperhatikan secara khusus. Pertama, di mana puteranya berbaring terdapat sebuah panggung

es yang tingginya mencapai dua kaki, sesungguhnya di situ tiada bentuk tanah semacam itu.

Kedua, telapak tangan ayahnya hancur, ini menunjukkan air yang diambil adalah air panas

dan bukan air dingin.”

“Tapi apa artinya semuanya itu?” kembali Pang Goan bertanya.

“Kupikir mereka telah berhasil menemukan cara untuk meloloskan diri, sayang karena suatu

kekeliruan kecil mengakibatkan usaha mereka gagal total, bahkan harus mati secara

penasaran,” tutur Leng-hong.

Berdetak keras jantung Pang Goan dan Hui Beng-cu setelah mendengar perkataan itu,

serentak mereka berseru, “Bagaimana caranya itu?”

“Menyembunyikan orang di dalam es!” jawab Leng-hong dengan serius.

“Menyembunyikan orang di dalam es?” seperti baru sadar akan sesuatu Pang Goan segera

berseru, “maksudmu, kita simpan orang di dalam balok es, lalu meneroboskannya lewat liang

api?”

“Benar. Keadaan ini persis seperti peti mati kaca yang tadi kubicarakan, kurasa hanya dengan

cara ini saja orang bisa melewati liang api tanpa kuatir terbakar tubuhnya!”

“Kalau begitu mari kita coba sekarang juga....” seru Hui Beng-cu dengan girang.

Tapi Pang Goan segera menggoyang tangan dan mencegah gadis itu berbicara lebih jauh,

kepada Ho Leng-hong ia berkata, “Apakah kau berhasil menemukan sebab-sebab kegagalan

mereka?”

“Ya!” jawab Leng-hong sambil mengangguk, “mereka gunakan air dingin untuk membuat

panggung es lebih dulu, kemudian menyuruh puteranya berbaring di atas panggung itu, lalu

ayahnya menyirami tubuh anaknya dengan air dingin, karena udara dalam ruangan ini sangat

dingin maka dalam waktu singkat sekeliling tubuh puteranya sudah dilapisi oleh es beku, cara

ini memang sempurna, sayang mereka telah melupakan suatu hal kecil, yakni setelah air itu

membeku maka lapisan es itu akan melengket menjadi satu dengan lantai dan tak mungkin

bisa di gerakkan lagi, jelas ayahnya menjadi gelisah, dalam keadaan begini, maka ia ingin

menggunakan air panas untuk melumerkan lapisan es, sebab itu tangannya menjadi melepuh

dan luka parah, akibatnya mereka berdua mati di tepi kolam.”

Sambil mendengarkan uraian tersebut, Pang Goan mengangguk, katanya kemudian,

“Mungkin juga tenaga dalam puteranya tidak cukup kuat dan tak sanggup bertahan lama

dalam es, akibatnya ia mati sesak di situ.”

“Padahal kalau ingin menghindari pembekuan antara balok es dengan lapisan es di lantai, asal

kita lapisi secarik kain lebih dulu di tanah sebelum pembentukan balok es, hal ini akan beres

dengan sendirinya, kendati demikian masih ada dua hal yang merupakan kekurangan besar

yang sulit untuk diatasi.”

“Dua hal bagaimana itu?”

“Pertama, cara ini terlalu menyerempet bahaya, sebab siapapun tidak tahu berapa panjang

jarak liang api itu dengan daerah aman, kalau jaraknya lebih jauh dari perkiraan, akibatnya

balok es itu habis cair lebih dulu sebelum sampai di tempat tujuan, dalam keadaan demikian

kita bakal mati konyol.”

“Ya, kecuali cara ini tak ada jalan lain yang lebih baik lagi, tapi tetap berharga untuk

menempuh bahaya ini. Coba sebutkan pula kekurangan kedua!”

“Kedua, untuk mewujudkan cara ini kita harus korbankan seseorang untuk tetap tinggal di

sini, selain itu datarkah liang api itu? Tiadakah tikungan lainnya? Hal ini masih bergantung

pada nasib mujur masing-masing, jelas tak mungkin diselidiki sebelumnya.”

Pang Goan menengadah dan menarik napas panjang, “Tiada sesuatu cara yang sempurna,

kurasa inilah satu-satunya cara yang bisa kita coba sekalipun tetap harus menyerempet

193

bahaya. Bahwa seseorang harus berkorban dan tetap tinggal di sini, kurasa jauh lebih baik

daripada semua orang mampus sekaligus, biar aku saja yang tinggal di sini.”

“Tidak bisa, Toako adalah pemilik Cian-sui-hu, kalau dibilang siapa yang harus berkorban

maka sepantasnya akulah yang tetap tinggal di sini,” kata Leng-hong.

“Tidak, orang yang tinggal harus memiliki tenaga dalam yang sempurna, dengan demikian

baru bisa cepat mendorong kedua rekannya melewati liang api itu, tenaga dalammu tak dapat

menandingi kelihaianku, buat apa kau berebut denganku?”

“Tapi cara ini akulah yang mendapatkan, aku berhak untuk membagi tugas kerja untuk

kalian.”

“Dalam hal ini jangan dibicarakan soal hak, kita mesti berbicara mengikuti keadaan

umumnya, di antara kita bertiga, Siau-cu adalah kaum perempuan, jelas ia tak boleh tinggal di

sini, sedang kau adalah satu-satunya orang berhasil menguasai ilmu golok Ang-siu-to-hoat,

maka kaupun tak boleh tinggal di sini.”

“Di antara kalian berdua, yang seorang adalah pemilik Cian-sui-hu, sedang yang lain adalah

puteri kesayangan dari Hiang-in-hu, kematian kalian berdua sangat mempengaruhi keadaan

orang banyak, jadi kalian sama-sama tak boleh tinggal di sini, hanya aku seorang yang hidup

sebatang kara tanpa sanak tanpa keluarga, maka pantas kalau aku yang ditinggal di sini . . . . .”

“Cukup! Cukup!” teriak Hui Beng-cu dengan suara lantang, “kalian dua orang lelaki selalu

ribut setiap menghadapi persoalan, sungguh menjemukan! Menurut penilaianku, yang tinggal

di sini justru paling aman, sedang orang yang pertama yang harus melewati liang api itu justru

paling berbahaya, sekarang kalian saling berebut sendiri, apakah kalian sama-sama takut

mati?”

“Darimana kautahu yang tetap tinggal di sini justru yang paling aman?” tanya Leng-hong

dengan penasaran.

“Kenapa tidak?” jawab Beng-cu, “coba bayangkan sendiri, bila tidak berhasil melampaui

liang api, orang yang disimpan dalam balok es pasti akan mati lebih dulu, sebaliknya kalau

berhasil, maka orang yang lolos itu masih bisa berusaha untuk mengadakan pertolongan pada

temannya lewat pintu istana sebelah depan, bukankah yang tinggal di sini paling aman?”

Ho Leng-hong dan Pang Goan menundukkan kepalanya dan berpikir, mereka tidak bicara

lagi.

Ucapan Hui Beng-cu memang masuk diakal, tapi juga belum tentu benar, karena orang yang

berada dalam balok es meski termasuk menyerempet bahaya toh ia masih ada harapan untuk

hidup, sebaliknya mereka yang tinggal dalam istana es dengan ransum yang sudah habis,

paling banyak Cuma bisa bertahan selama dua belas jam saja, padahal keadaan dalam Mi-kok

amat kacau, siapa yang berani menjamin yang sudah lolos itu akan memberi pertolongan

dengan lancar dalam sehari semalam yang amat singkat?

Kalau pertolongan datangnya terlambat, niscaya orang itu akan tewas juga.

Berputar pikiran Pang Goan, tiba-tiba ia berkata, “Lote, begini saja. Salah seorang di antara

kita berdua harus dapat menembus liang api ini meski menyerempet bahaya, sedangkan yang

lain tetap tinggal di sini, untuk adilnya, marilah kita undi saja?”

Leng-hong termenung agak lama, akhirnya ia setuju juga.

Dari sakunya Pang Goan mengambil keluar beberapa keping uang perak, sambil digenggam

dalam tangan katanya, “Mari kita bertaruh jumlah kepingan perak dalam genggamanku ini,

kita bertaruh dalam jumlah ganjil atau genap, yang salah menebak dia harus menyerempet

bahaya untuk menerobos liang api, sedang yang menebak dengan jitu tetap tinggal di sini,

taruhan hanya berlangsung sekali dan tak boleh menyesal. Nah, tebaklah lebih dulu.”

“Uang perak itu milikmu, tentu saja kau tahu jumlahnya,” kata Leng-hong.

“Sebab itulah kupersilakan kepadamu untuk menebak lebih dulu, dengan demikian baru adil

namanya.”

Leng-hong berpikir sebentar, lalu katanya, “Baiklah, aku tebak ganjil!”

194

Pang Goan segera membuka telapak tangannya sambil tertawa, “Maaf, tebakanmu keliru,

perak ini berjumlah enam keping, jadi genap!”

Ho Leng-hong mencoba untuk memperhatikan keenam keping uang perak itu, empat di

antaranya berwarna lusuh, jelas sudah lama, sedang dua keping lainnya berwarna agak baru,

jelas secara diam-diam Pang Goan telah meremukkan kepingan perak yang agak besar

menjadi dua keping kecil.

Ditatapnya Pang Goan dengan rasa haru, ia tak tega membongkar rahasia itu, terpaksa katanya

dengan menghela napas, “Legakan hatimu Toako, bila aku beruntung bisa lolos dengan

selamat, dalam waktu dua belas jam kami pasti akan kembali ke sini untuk menolongmu.”

“Kaupun jangan kuatir,” sahut Pang Goan dengan tertawa, “sepergi kalian nanti, aku akan

tidur sekenyangnya di sini, siapa tahu begitu mendusin dari tidurku nanti, pintu istana telah

terbuka lebar.”

Habis berkata ia mulai membentang selembar pakaian di tanah dan membuat panggung es.

Pang Goan dan Hui Beng-cu segera bekerja sama menyiramkan air kolam ke atas tubuh Ho

Leng-hong, air yang diambil dari kolam segera membeku, tak lama kemudian sebatas dada

Ho Leng-hong ke bawah sudah dilapisi oleh lapisan es yang tebal.

Akhirnya bagian kepala pun dilapisi es, ia harus menahan napas hingga keluar dari liang api

itu, otomatis pembentukan lapisan es dilakukan dengan lebih cepat.

Sesaat sebelum mengguyurkan air dingin ke wajah Ho Leng-hong, tiba-tiba Pang Goan

berbisik, “Golok mestika Yan-ci-po-to yang didapatkan Ci-moay-hwe adalah golok yang asli,

tapi mata golok telah kupoles dengan air raksa sehingga kelihatan amat tumpul, asal golok itu

kau garang sebentar di atas api, ketajamannya akan segera pulih kembali . . . . Cian-sui-hu dan

Thian-po-hu kuserahkan kepadamu, semoga kau melindungi Wan-kun dan menyayangi

anaknya . . . . . “

Jelas ucapan itu merupakan pesan terakhirnya sebelum berpisah, ini membuktikan pula

tekadnya untuk mengorbankan diri sendiri serta tidak ada niat untuk melanjutkan hidup.

Ho Leng-hong merasa darah dalam rongga dadanya bergolak keras, hampir saja ia melompat

bangun.

Tapi sebelum ia sempat berusaha, bahkan sebelum ia mengangguk atau melakukan gerakan

yang lain, air dingin telah diguyurkan pada wajahnya . . . . .

Ho Leng-hong memejamkan mata dan menutup pernapasan, telinganya sudah tak dapat

mendengar apa-apa lagi, ia hanya merasa tubuhnya seakan-akan berada dalam sebuah peti

mati besar yang amat dingin, iapun merasa sekujur badan bagaikan diikat kencang-kencang

oleh tali yang kuat sehingga sama sekali tak berkutik.

Namun ia tahu dengan jelas, justru dalam detik-detik yang singkat inilah mati-hidupnya akan

ditentukan, kalau usahanya meloloskan diri gagal, maka kemungkinan besar tidurnya ini akan

berlangsung untuk selamanya, atau mungkin juga badannya akan hancur lebur terbakar

menjadi abu.

Ia bukan seorang laki-laki pengecut yang takut mati, tapi ia selalu berharap dapat hidup lebih

lama karena tanggung jawab yang berada di pundaknya teramat berat, semua ini membuatnya

tak boleh mati dan juga tak berani mati . . . .

Mendadak ia merasakan sekujur badan bergetar keras dan seperti melayang di udara . . . hawa

dingin di sekelilingnya lenyap dengan cepat, disusul kemudian udara yang amat panas

menyerang tubuhnya.

Sudah pasti lapisan es yang membungkus tubuhnya mulai cair tertimpa panasnya api.

Udara yang panas membuat anak muda itu teringat pada api yang berkobar dalam liang api,

dalam detik yang amat singkat ini, kemungkinan besar tubuhnya akan terbakar lenyap tak

berbekas....

Segala apapun tak berani dibayangkan Ho Leng-hong lagi, ia hanya berharap semoga

tubuhnya yang sedang melayang dapat berhenti dengan cepat.

195

Asal sudah berhenti maka mati-hidupnya akan diketahui, jika berada di luar liang api berati

umurnya masih panjang, kalau berada dalam liang maka jangan harap akan hidup terus.

Tapi justru guncangan tersebut dan gerakan melayang belum juga berhenti, sebaliknya hawa

panas yang menyengat badan kian lama kian sukar ditahan, seakan-akan berada dalam sebuah

kukusan raksasa yang airnya mendidih.

Dia ingin melihat keadaan itu, namun matanya tak sanggup dibuka, ingin berteriak namun

tiada suara yang keluar, ingin meronta namun tiada tenaga, dalam keadaan serba susah ia

merasa seakan-akan sekujur badan menjadi kaku, seperti terbakar, dan berubah menjadi abu,

berubah menjadi asap . . . .

Blang! Terjadi getaran yang dahsyat, lalu ia tak sadarkan diri.

-----------------------

Rasanya baru terjadi dalam sekejap, tapi juga seakan-akan sudah berlangsung sangat lama.

Ho Leng-hong membuka matanya, pertama-tama ia lihat langit yang biru, kemudian ia merasa

sekelilingnya berbau belerang yang amat tebal.

Reaksinya yang pertama adalah ingin melompat bangun dan duduk, tapi sebuah tangan segera

menekan tubuhnya, menyusul bergema suara nyaring merdu di sisi telinganya, “Jangan

sembarangan bergerak, apakah kau ingin membuat terbalik perahu ini agar semua orang

berubah seperti ayam kucemplung kali?”

Itulah tangan seorang perempuan, suara perempuan, bahkan kedengaran seperti sudah

dikenalnya.

Mula-mula Ho Leng-hong mengira perempuan itu adalah Hui Beng-cu, tapi setelah berpaling

baru diketahui bahwa ia berbaring di atas sebuah perahu kecil, orang yang sedang mendayung

perahu itu adalah seorang gadis asing.

Perahu itu kecil sekali, si nona masih amat muda, sekilas pandang bisa diketahui bahwa

usianya baru dua puluh tahunan, mukanya bulat telur dengan mata yang besar dan jeli,

bajunya berwarna hijau dengan gaun berwarna biru, separuh gaunnya basah kuyup.

Leng-hong mencoba untuk duduk, sayang sampan itu terlampau kecil, baru saja ia bergerak

segera menimbulkan guncangan keras.

Buru-buru nona berbaju hijau itu menghentikan dayungnya, dengan setengah mengomel dan

setengah tertawa katanya, “Eh, bagaimana kamu ini?” Suruh jangan bergerak, kenapa kau

tidak mau menurut perkataanku? Coba lihatlah, lantaran ingin menolongmu, gaunku menjadi

basah kuyup, atau kau baru puas bila melihat sekujur badanku menjadi basah?”

Terpaksa Leng-hong berbaring kembali, dengan menyesal katanya, “O, maaf, aku tidak

bermaksud demikian, aku hanya ingin . . . ingin . . . .”

Nona berbaju hijau itu kembali mendayung, tukasnya, “Bukankah kauingin bertanya padaku,

seorang kawan perempuanmu apakah juga sudah tertolong, begitu bukan?”

“Benar! apakah nona melihatnya?” seru Leng-hong gelisah.

Nona berbaju hijau itu tertawa, “Tentu saja telah kulihat dia, kalau tidak, darimana kutahu kau

masih mempunyai seorang kawan?”

“Sekarang ia berada di mana? Bagaimana keadaannya?”

“Jangan kuatir, ia baik-baik saja dan berada di perahu lain, mungkin sudah berangkat pulang

duluan, taciku yang membawa perahu tersebut.”

“Terima kasih banyak nona . . . .”

Demi mengetahui Hui Beng-cu juga sudah tertolong, ia tak tahu haruskah bergirang atau

sedih? Girang karena mereka berdua akhirnya berhasil lolos dari liang api dengan selamat,

sedih karena meski Hui Beng-cu berhasil lolos dan tertolong, ini membuktikan pula bahwa di

antara mereka berdua tentu terpaut suatu jarak waktu yang cukup lama, hal ini kemungkinan

besar mempengaruhi keselamatan jiwa Pang Goan yang berada di dalam istana es.

196

Tempat ini merupakan sebuah telaga kecil di atas gunung, luasnya tidak seberapa besar,

berhubung letaknya dekat kawah, maka air telaga pun menjadi panas dan mengandung

belerang.

Ho Leng-hong sangat menguatirkan keselamatan Pang Goan, segera ia tanya pula, “Nona,

tahukah kau sudah berapa lama aku tercebur ke dalam telaga?”

“Hahaha, lucu amat pertanyaanmu,” kata si nona baju hijau sambil tertawa, “masa kausendiri

tidak tahu sudah berapa lama tercebur ke dalam telaga?”

“Terus terang, ketika tercebur ke dalam telaga aku berada dalam keadaan tak sadar,

hakikatnya aku tidak tahu soal waktu.”

“Apa sebabnya kau sampai tercebur ke dalam telaga?”

“Tentang ini . . .” Ho Leng-hong tak ingin menyinggung masalah lembah Mi-kok, terpaksa

bohongnya, “aku dengan nona Hui sedang mencari obat di atas gunung, karena kurang hatihati

kami berdua terpeleset jatuh ke bawah.”

“Mencari obat? Mencari obat apa? Gunung ini tandus dan gersang, rumput pun tak bisa

tumbuh, apalagi tumbuhan obat segala?”

Seketika Leng-hong tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Memang betul, bukit

belakang dekat Mi-kok memang sebuah bukit yang gersang dan gundul, hanya di seberang

telaga saja ada tumbuh-tumbuhan.

Untung otaknya dapat berputar cepat, buru-buru katanya lagi sambil tertawa, “Obat yang

kami cari bukan sembarangan rumput obat, melainkan sejenis benda yang tertanam dalam

tanah, bila digali keluar akan bisa dipakai untuk bahan mesiu.”

“O, tahulah aku sekarang, kalian pasti sedang mencari belerang.”

“Bukan, bukan belerang, tapi sejenis benda yang hampir mirip dengan belerang.”

Ia merasa gadis berbaju hijau ini mempunyai daya pikir yang bagus, terutama bila

menghubungkan persoalan yang satu dengan lainnya, nona itu pun suka tanya macam-macam,

maka ia tak berani bicara secara pasti.

Ternyata kali ini si nona tidak mendesak lebih jauh, sambil tertawa katanya, “Ah, pokoknya

aku tahu kalian bukan datang untuk mencari obat, persoalan ini tidak menyangkut diriku dan

akupun tak ingin banyak bertanya, dulu ibu sering berkata kepadaku, ‘Kalau bertemu orang,

bicaralah tiga patah kata saja, agar jangan disangka yang bukan-bukan oleh orang.’ Rupanya

kalian mempunyai jalan pikiran seperti itu?”

“Nona salah paham . . . .” kata Leng-hong sambil tertawa getir. Cepat-cepat dia alihkan

pembicaraan ke soal lain, katanya, “Terima kasih banyak atas bantuan nona. Bolehkah kutahu

siapa namamu?”

“Kautanya namaku? atau juga keluargaku?”

“Tentu saja menanyakan semuanya, sebab sebenarnya kita akan berkunjung ke rumahmu serta

mengucapkan terima kasih langsung kepada ibumu.”

“Tidak usah, ibuku sudah lama tiada, di rumah hanya ada tiga orang kakak beradik, kami dari

keluarga Kim, Toaci bernama Lam-giok, aku bernama Lik-giok dan adikku bernama Honggiok,

maka panggil saja namaku Lik-giok!”

Sementara itu perahu sudah menepi dan berlabuh di sebuah selat yang menyorok ke dalam.

Setelah menambat perahunya, Kim Lik-giok melompat ke daratan lebih dulu, kemudian

menjulurkan tangannya seraya berkata, “Turunlah dengan pelahan, jangan sampai membuat

sampan terbalik.”

Pelahan Ho Leng-hong berduduk dan mengatur napas, ternyata isi perutnya tidak terluka,

hanya sekujur badan terasa pegal, keempat anggota badannya lemas dan tak bertenaga, maka

di bawah bimbingan Lik-giok iapun naik ke darat.

Tak jauh di depan sana berlabuh pula sebuah sampan kecil, papan geladaknya basah, tapi tak

nampak manusia, rupanya Hui Beng-cu benar-benar sudah tertolong dan mendarat duluan.

197

Ketika Lik-giok melihat langkah Leng-hong amat susah, serta merta dipayangnya pemuda itu

sambil berkata, “Tangga batu ini tinggi, mari kubimbing kau ke atas.”

Buru-buru Ho Leng-hong mengucapkan terima kasih, di bawah bimbingan Lik-giok

selangkah demi selangkah ia naiki tangga batu itu.

Tangga batu itu mencapai seratus undak lebih, pada ujung tangga tersebut berupa sebuah

tanah lapang berumput yang luas, beberapa tombak di sebelah depan sana berdirilah tiga buah

rumah gubuk berpagar bambu.

Ketika mencapai tepi pagar bambu, Ho Leng-hong sudah kepayahan hingga napas tersengal,

dengan susah payah ia memasuki rumah tersebut, suasana di situ amat hening dan tak nampak

sesosok bayangan manusia pun.

Lik-giok membimbingnya masuk ke dalam sebuah kamar di samping kanan, lalu katanya,

“Lepaskan dulu pakaianmu yang basah, akan kubawa untuk dijemur, setelah kering nanti

dikenakan kembali.”

Leng-hong coba memperhatikan sekejap sekeliling ruangan, ditemuinya kecuali sebuah

selimut di atas pembaringan, di situ tidak ditemukan secuwil kain pun, hal ini membuatnya

ragu.

“Ayo, cepat lepas pakaianmu,” desak Lik-giok lagi, “jangan sampai masuk angin karena

memakai baju yang basah kuyup.”

Leng-hong tertawa jengah, katanya, “Nona, apakah kaupunya pakaian untuk lelaki?

Pinjamkan untukku!”

“Wah, sulit, di rumah hanya terdiri dari tiga orang perempuan, darimana datangnya pakaian

lelaki? Lebih baik berbaringlah dalam selimut, bagaimanapun toh tak ada orang lagi, jangan

kuatir ketahuan orang lain.”

“Aku rasa . . . hal ini kurang baik!”

“Kenapa tidak baik? Itu pembaringanku, aku rela digunakan olehmu, siapa yang berani

mengatakan tidak?”

Gadis itu ternyata tidak banyak pikir, sebaliknya Ho Leng-hong merasa malu untuk

melepaskan pakaian dan berbaring dalam keadaan telanjang bulat di atas pembaringan si

nona.

Bukannya dia tidak berpengalaman dalam keadaan demikian, tapi gadis itu tak pernah

dikenalnya, tak pernah mempunyai hubungan apa-apa, lagi telah menolong jiwanya,

kendatipun ia bukan seorang Kuncu (gentleman), tapi dia tak ingin melakukan sesuatu yang

melanggar tata susila, apalagi berduaan saja dalam sebuah kamar dengan seorang gadis muda.

Tapi dalam kamar tidak tersedia pakaian kering sebagai penggantinya, bagaimana pun

mustahil baginya untuk berbaring di atas pembaringan dalam keadaan basah kuyup . . . .

Sementara ia merasa serba susah, dengan tidak sabar Lik-giok berkata, “Mengakunya seorang

lelaki sejati, tapi tidak tegas menghadapi persoalan, sekarang kusediakan dulu makanan

untukmu, bila aku kembali nanti ternyata bajumu belum dilepas, jangan menyesal jika aku

yang akan mencopot bajumu.”

Sepeninggal Lik-giok, Ho Leng-hong merasa kehabisan akal, terpaksa ia lepaskan baju yang

basah dan buru-buru menyusup ke dalam selimut.

Tak lama kemudian Lik-giok telah kembali sambil membawa semangkuk besar bubur hangat,

katanya sambil tertawa, “Kutahu perutmu tentu lapar, cepat habiskan bubur ini sementara

kujemurkan pakaianmu yang basah ini.”

Leng-hong memang sangat lapar, baru saja Lik-giok keluar kamar, separuh mangkuk bubur

sudah berpindah ke perutnya.

Manusia adalah besi, nasi adalah baja.

Setelah semangkuk bubur habis dimakan, Ho Leng-hong merasa semangatnya pulih kembali,

rasa linu pegal berkurang banyak, iapun ingin cepat-cepat bertemu dengan Hui Beng-cu dan

berusaha lekas kembali ke Mi-kok untuk menolong Pang Goan.

198

Siapa tahu Lik-giok sudah pergi lama sekali dan belum juga kembali, suasana di sekeliling

sana amat sepi tak terdengar suara apapun, seakan-akan rumah itu kokang, tak berpenghuni.

Lambat laun, cahaya matahari di luar jendela pun condong ke barat.

Makin ditunggu Leng-hong merasakan keadaan semakin tidak beres, sebenarnya ia ingin

bangun untuk memeriksa, apa daya, tubuhnya dalam keadaan bugil, beberapa kali ia mencoba

berteriak, namun tak seorang pun yang menjawab.

Tak lama kemudian sang surya telah tenggelam di balik bukit, senja pun tiba.

Leng-hong jadi teringat kembali akan suara Lik-giok yang seperti sudah dikenalnya,

menyusul kemudian iapun teringat bahwa Lik-giok tak pernah tanya nama dan alamatnya,

padahal di sekitar lembah tak ada penduduk, mana mungkin ada orang luar yang bertempat

tinggal di dekat Mi-kok . . . . .

“Wah, celaka, aku tertipu!”

Dengan terperanjat Ho Leng-hong melompat bangun, baru saja dia hendak merobek selimut

untuk menutupi bagian tubuhnya yang terlarang agar bisa keluar dari situ, mendadak

bayangan seorang muncul di depan pintu.

Dia adalah seorang nona berbaju merah, entah sedari kapan nona itu sudah berdiri di luar

pintu sambil memandangnya dengan senyum dikulum.

“Ho-tayhiap, masih kenal padaku?” sapa gadis itu sambil tertawa cekikikan.

Warna pakaian yang sudah dikenalnya dengan suara yang amat dikenal pula.

Rasa ngeri muncul dari lubuk hati Ho Leng-hong, tanpa terasa ia berseru, “Samkongcu!”

Cepat-cepat ia menyusup lagi ke dalam selimut dan menutupi tubuhnya yang bugil itu.

Sambil tertawa cekikikan Samkongcu melangkah ke dalam ruangan, kemudian katanya, “Tak

kusangka Ho-tayhiap masih ingat padaku, cuma Samkongcu hanya sebutan yang berlaku

dalam organisasi Ci-moay-hwe, namaku sekarang adalah Kim Hong-giok!”

“O, kalau begitu Kim Lam-giok dan Kim Lik-giok adalah Toakongcu dan Jikongcu dari Cimoay-

hwe?” pekik Ho Leng-hong dengan kaget.

“Ho-tayhiap memang tak malu disebut sebagai orang pintar,” goda Samkongcu sambil

tertawa, “aku berurutan nomor tiga, tentu saja di atasku masih ada dua orang kakak, sudah

lama sekali kami bertiga dari Ci-moay-hwe menanti kedatangan Ho-tayhiap di sini.”

“Mau apa kalian menantikan kedatanganku?”

“Bersahabat, membicarakan transaksi dagang dan kedua belah pihak akan sama-sama

mendapatkan untung.”

Ho Leng-hong tertawa dingin, “Hehehe, kalian telah memperalah diriku sebagai Nyo Cu-wi,

lalu mencuri golok Yan-ci-po-to, kemudian memfitnah kami agar ditangkap pihak Mi-kok . . .

tidak cukupkah kalian membikin celaka kami ini? Apa lagi yang perlu dibicarakan? Maaf, aku

tidak berminat lagi.”

Samkongcu tidak menyangkal semua tuduhan tersebut, dengan wajah masih dihiasi senyuman

ia berkata, “Urusan yang sudah lewat lebih baik jangan dibicarakan lagi, yang perlu

dibicarakan adalah masalah sekarang, masalah yang menyangkut tiga nyawa, kupikir Hotayhiap

pasti masih berminat.”

Karena ucapan yang penuh keyakinan itu mau-tak-mau Ho Leng-hong harus memperhatikan,

tanyanya, “Tiga nyawa yang mana?”

“Kau, Hui Beng-cu serta Pang Goan yang masih tertinggal dalam istana es dan menunggu

pertolonganmu.”

“Kau mengetahui semuanya?” desis Leng-hong.

Samkongcu manggut-manggut, “Bagaimanapun Hui Beng-cu masih muda dan lebih jujur

dibandingkan dirimu, ia telah menceritakan semua kejadian kepada kami. Nah, bagaimana?

Waktu tidak banyak, bersediakah kau melakukan suatu barter yang adil?”

199

Menyinggung soal waktu, Leng-hong merasa gelisah sekali, teringat pada Pang Goan yang

sedang menunggu dalam istana es ditambah lagi cuaca mulai gelap, kendatipun gemas, tapi

apa daya?”

Akhirnya dengan perasaan apa boleh buat ia menghela napas panjang, sedapatnya ia bersikap

tenang, katanya sambil tertawa, “Baiklah, anggap saja kau yang menang, pertukaran apa yang

kauinginkan?”

“Tiga nyawa ditukar dengan rahasia ilmu golok Ang-siu-to-hoat, adil bukan?”

“Kim Hong-giok, kau jangan keliru, aku Ho Leng-hong bukan anggota lembah Mi-kok.”

“Aku tahu,” rupanya Kim Hong-giok sudah mempunyai perhitungan sendiri, ia berkata lebih

jauh, “aku tahu baru saja kau menerobos istana es dan menembus kawah api, baru lolos dari

kematian, tidak mungkin kau keluar dengan tangan hampa bukan?”

Leng-hong tertawa getir, “Kalau sudah tahu kami baru lolos dari kematian, mestinya kau juga

harus tahu bahwa kami tak punya waktu untuk mempelajari ilmu golok tersebut.”

“buat orang lain mungkin ucapan ini benar, tapi tak berlaku bagimu,” kata Kim Hong-giok

dengan tertawa.

“Tapi aku kan sama saja, juga seorang manusia.”

“Benar, kau memang manusia, tapi bukan manusia goblok, kau adalah seorang manusia

cerdas yang tak akan melupakan apa yang pernah kaulihat.”

Kemudian ditatapnya wajah Ho Leng-hong dengan serius, katanya lebih jauh, “Menurut apa

yang kuketahui, sewaktu berada di Tiang-lo-wan dalam Mi-kok, cukup menyaksikan jalannya

pertarungan antara Pui Hui-ji dengan Yu Ji-nio, beberapa jurus ilmu golok mereka tentu

berhasil kausadap, kukira hal ini pernah terjadi bukan?”

“Tapi bukankah kausendiri pernah juga menyadap To-kiam-hap-ping-kiam-hoat Pang-toako

dengan cara menyuruh keempat perempuan Ainu itu mengerubutinya?”

“Sebab itulah lebih baik kita bicara blak-blakan, apapun tak usah membohongi yang lain,”

kata Kim Hong-giok sambil tertawa.

Leng-hong berpikir sebentar, lalu katanya, “Bukankah kau telah bersekongkol dengan orangorang

dari Mi-kok? Untuk mencuri belajar ilmu golok mereka sesungguhnya bukan pekerjaan

yang sulit, mengapa kau harus mengincar aku orang she Ho?”

“Ini disebabkan oleh dua alasan, pertama mengenai untung-rugi kedua pihak, jadi tak

mungkin berhubungan secara jujur, kedua, aku ingin membuktikan apakah ilmu golok yang

mereka pelajari adalah ilmu golok yang komplit? Ataukah masih ada bagian yang sengaja

mereka rahasiakan?”

Ho Leng-hong tak ingin membuang waktu percuma, setelah termenung sebentar, jawabnya,

“Baiklah, kukabulkan permintaanmu, tapi ada syaratnya yang harus kaupenuhi dulu.”

“Katakan!”

“Bukankah kaubilang akan bertukar syarat denganku dengan jaminan tiga nyawa, diantaranya

termasuk juga Pang-toako? Oleh karena itu, kau harus membantu menolong Pang-toako lebih

dahulu sebelum ilmu golok Ang-siu-to-hoat kuberitahukan kepadamu.”

“Maksudmu aku harus membantumu menyerbu ke Mi-kok, membuka pintu istana es dan

mempersilakan Pang Goan keluar dengan terang-terangan?”

“Betul!”

“Maaf, aku tidak memiliki kekuatan tersebut. Bila istana es bisa kumasuki sekehendak hatiku,

apa perlunya aku bertukar syarat denganmu?”

“Sekarang Pang-toako belum lolos dari bahaya, jadi kau tidak dapat melaksanakan syarat kita,

lalu apa gunanya kaubicara pertukaran kepadaku.”

“Soal ini . . . . . .” Kim Hong-giok berpikir sejenak, “Yang bisa kulakukan hanya

mengantarmu kembali ke Mi-kok, di samping itu kuberikan pula perlindungan serta

keleluasaan untuk bergerak, mengenai pertolongan atas Pang Goan adalah urusanmu sendiri,

maaf bila aku tak dapat membantu apa-apa.”

200

“Padahal dua masalah tersebut tak perlu bantuanmu, kauanggap aku tak bisa pergi sendiri ke

Mi-kok?” seraya berkata ia lantas bangkit dan duduk di pembaringan . . . . . . . .

Tapi baru setengah badan terangkat, cepat ia mengkeret lagi, tiba-tiba ia menemukan dirinya

memang benar-benar tak bisa pergi lagi ke Mi-kok.

Pertama, tentu saja karena ia berada dalam keadaan bugil dan tak mungkin turun dari

pembaringan.

Kedua, ia merasa dalam dadanya seperti ada gumpalan hawa dingin yang menyumbat jalan

pernapasannya dan membuat ia tak mungkin mengerahkan tenaga dalamnya.

Terhadap kesulitan yang pertama, ia masih sanggup untuk melakukannya dengan tebalkan

muka, tapi terhadap kesulitan yang terakhir, mau-tak-mau ia terkejut juga, jelas dalam bubur

panas tadi telah dicampuri sesuatu obat tertentu.

Kim Hong-giok tertawa genit, ucapnya dengan lembut, “Ho-tayhiap, sekarang apa mau

bertukar syarat denganku? Aku tak terburu-buru ingin mengetahui Ang-siu-to-hoat, tapi

kukuati Pang-tayhiap tidak memiliki waktu yang cukup untuk menunggu kedatanganmu.”

“Orang she Kim, kau benar-benar manusia rendah yang tak tahu malu,” damprat Leng-hong

gemas.

Kim Hong-giok tidak menyangkal, mala ucapnya dengan tertawa, “Terhadap seorang yang

telah belajar Ang-siu-to-hoat harus di hadapi seperti menghadapi seekor harimau ganas, mautak-

mau kami harus waspada.”

“Baik! Aku mengaku kalah,” jawab Leng-hong sambil memejamkan mata, “beri aku pakaian

dan obat penawar, segera kudemonstrasikan ilmu golok Ang-siu-to-hoat di hadapanmu.”

“Tahu begini, kita tak usah banyak bicara,” kata Kim Hong-giok sambil tersenyum.

Ia bertepuk tangan tiga kali, seorang perempuan setengah umur mengiakan dan melangkah

masuk, di tangannya membawa pakaian Ho Leng-hong serta sebutir pil.

Kim Hong-giok meletakkan pakaian dan pil itu di ujung pembaringan, sambil berbangkit

berdiri katanya, “Waktu lebih berharga daripada emas, aku tak ingin mengganggumu lebih

lama, harap kau lakukan seperti apa yang dijanjikan agar tidak mendatangkan kesulitan lagi

bagi nona Hui. Nah, akan kutunggu jawabanmu di luar.”

Seperti seekor ayam jago yang kalah bertarung, terpaksa Leng-hong menuruti perintah si

nona.

-------------------

Ci-moay-hwe tidak malu disebut sebagai sebuah organisasi yang amat rahasia, hingga kini

setiap langkah mereka selalu diatur dengan masak, setiap persolan selalu berada dalam

perhitungan mereka, seolah-olah setiap urusan yang dicampuri Ci-moay-hwe pasti akan

terjatuh dalam cengkeraman mereka, bahkan keadaan dalam lembah Mi-kok pun tidak

terkecuali.

Akan tetapi, kendatipun Kim Hong-giok amat cerdik, tapi ia melalaikan sesuatu yang justru

sangat penting artinya.

Yakni ia tidak tahu bahwa ilmu golok Ang-siu-to-hoat sesungguhnya terdiri dari sembilan

jurus.

Setiap orang yang pernah mendengar kisah mengenai Ang-ih Hui-nio dengan Oh It-to tentu

mengetahui bahwa sejak suami-isteri ini berpisah, mereka telah bertarung sebanyak delapan

kali dari setiap kali bertarung hanya terdiri dari satu jurus, yaitu asal mulanya ilmu golok Pohin-

pat-tay-sik dan ilmu golok Ang-siu-to-hoat.

Oleh sebab itu ketika Ho Leng-hong hanya memainkan delapan jurus, dan jurus kesembilan

yang merupakan jurus terpenting sengaja dirahasiakan, Kim Hong-giok sedikitpun tidak

merasa curiga.

201

Kendatipun hanya delapan jurus, ternyata sudah menarik segenap perhatiannya, secara

beruntun dia paksa Ho Leng-hong berlatih tiga kali lagi baru garis besar ilmu golok itu

berhasil di apalkan olehnya, tentu saja belum mencakup intisarinya.

Kim Hong-giok memang cerdik, kalau Ho Leng-hong membutuhkan waktu dua-tiga jam

untuk memahami satu jurus, maka Kim Hong-giok seluruhnya hanya perlu dua-tiga jam untuk

memahami delapan jurus tersebut.

Ketika delapan jurus serangan itu selesai dilatih, tengah malam pun sudah lewat.

“Hanya ini saja yang kuketahui,” demikian Leng-hong berkata kemudian, “kini Pang-toako

sedang menunggu pertolongan dalam istana es, aku tak bisa membuang waktu lebih lama lagi,

semoga perkataanmu bisa dipercaya dan berusaha membantu aku masuk kembali ke Mi-kok.”

“O, tentu! Bukan Cuma membantumu kembali ke lembah saja, kami pun berharap setelah

Pang Goan berhasil diselamatkan, kita masih bisa menjadi sahabat untuk seterusnya, maka

kuputuskan untuk menemani kauberangkat ke Mi-kok.”

Leng-hong tercengang, ia tahu keberangkatan si nona ke Mi-kok pasti mengandung maksud

tertentu, tapi untuk mengejar waktu ia tak sempat berpikir panjang lagi, dia hanya berharap

bisa segera berangkat.

Agaknya Kim Hong-giok telah mengadakan persiapan, ketika gaun merahnya diberi sedikit

perubahan dan ditambah jubah luar, maka berubahlah menjadi dandanan seorang pengawal

“berbenang putih”, diajaknya Ho Leng-hong meninggalkan rumah gubuk itu.

Dari rumah gubuk menuju ke mulut lembah ternyata tidak jauh, Kim Hong-giok juga apal

dengan daerah ini, tak sampai setengah jam mereka telah tiba di tempat tujuan.

Ketika tiba kembali di tempat lama, teringat pengalamannya ketika lolos dari bahaya,

sungguh ngeri rasa hati Ho Leng-hong, ia berhenti di tempat kejauhan sambil bisiknya, “Hei,

kita akan masuk secara terang-terangan ataukah secara diam-diam?”

“Jangan kuatir,” jawab Kim Hong-giok sambil tertawa, “sudah kuatur segala sesuatunya.”

Ia menyulut api, kemudian obor itu digoyangkan ke atas tiga kali.

Tak lama kemudian dari mulut lembah muncul segerombolan bayangan manusia yang

bergerak mendekat dengan cepat.

Mereka adalah lima gadis bergolok dan seorang utusan “berbenang biru”, sekilas pandang Ho

Leng-hong kenal utusan tersebut sebagai Hoa Jin.

Kim Hong-giok membisikkan sesuatu kepada Hoa Jin, kemudian membaukan diri ke dalam

kelompok perempuan pengawal itu.

Hoa Jin seperti tidak percaya dan terkejut, buru-buru ia maju ke depan dan mengamati wajah

Ho Leng-hong dengan saksama, kemudian serunya tercengang, “Ah, rupanya benar-benar

kau, sungguh tak pernah kusangka!”

“Akupun tak menyangka, tentu kemunculanku ini akan sangat mengecewakan nenek Tong

dan saudara sekalian,” sahut Leng-hong dengan tertawa.

Hoa Jin tidak menjawab, dia memberi tanda dan berseru, “Pasang obor, bunyikan terompet

penyambut tamu agung!”

Enam batang obor segera dipasang, menyusul kemudian suara terompet bergema nyaring.

Dalam waktu singkat bunyi terompet bersahut-sahutan dari dalam lembah, cahaya obor

bermunculan di mana-mana disusul gemuruh suara manusia.

“Hei, apa-apaan kau?” tegur Leng-hong tercengang.

Sambil memberi hormat, jawab Hoa Jin, “Ho-tayhiap berhasil menerobos istana es dan

melewati kawah api dengan selamat, itu berarti kau telah menjadi tamu terhormat lembah

kami, kedatanganmu akan disambut oleh segenap anggota masyarakat kami.”

Tidak banyak berbicara lagi, mereka lantas mengiringi Ho Leng-hong menuju ke mulut

lembah.

202

Sepanjang jalan tampak cahaya obor sambung-menyambung bagaikan ular panjang, sejak

mulut lembah sepanjang jalan penuh berjejal manusia baik lelaki maupun perempuan, tua dan

muda, saling berebut melihat kedatangan tamu agung tersebut.

Bunyi terompet yang sahut menyahut agaknya telah membangunkan semua penduduk lembah

dari tidurnya.

Gerak-gerik Ho Leng-hong menjadi tak bebas, sepanjang jalan ia dielu-elukan oleh

masyarakat lembah, ia digiring menuju ke depan perkampungan di mana cahaya lampu pun

terang benderang, Kokcu Tong Siau-sian beserta para Popo dari Tiang-lo-wan menyambut

kedatangannya di pintu perkampungan.

Air muka Tong Siau-sian lebih banyak diliputi rasa kejut daripada rasa girang, gerak-geriknya

tampak kikuk, sebaliknya para Tianglo tampak diliputi rasa gembira dan bangga.

Ketika Ho Leng-hong tiba di tempat tujuan, serentak bunyi mercon digelar.

Tong Siau-sian mengalungkan sehelai selendang merah ke atas bahu Ho Leng-hong,

kemudian bisiknya, “Semenjak berdirinya Mi-kok, Ho-tayhiap adalah orang pertama yang

berhasil keluar dari istana es dalam keadaan hidup, dengan inilah kami mengucapkan selamat

padamu.”

“Tidak berani,” sahut Leng-hong sambil menjura, “semua ini berkat nasibku yang mujur, juga

berkat bantuan Kokcu.”

Entak mengapa, tiba-tiba air muka Tong Siau-sian bersemu merah.

Tong-popo tertawa bergelak, “Hahaha, sungguh pandai bicara, mungkin takdir yang

menghendaki Ho-tayhiap mencapai sukses.”

Diiringi orang banyak Ho Leng-hong dibawa masuk ke ruang tengah, Tong Siau-sian segera

mempersilakan tamunya menempati kursi utama dengan didampingi para Tianglo di kedua

sisinya, pelayan segera menghidangkan teh wangi.

Dulu sebagai tawanan dan kini sebagai tamu terhormat, ternyata Ho Leng-hong sama sekali

tidak merasa senang, apa yang dipikirkan sekarang hanya bagaimana caranya memasuki

istana es untuk menolong Pang Goan, cuma sayang ia tak punya kesempatan untuk buka

suara.

Para pengawal berbenang putih belum berhak masuk ke dalam ruangan menemani tamu, jadi

Kim Hong-giok pun tidak diketahui ke mana perginya.

Setelah air teh dihidangkan, Tong Siau-sian kembali menitahkan orang untuk menyiapkan

arak, sementara ia sendiri mohon diri untuk meninggalkan ruangan.

Begitu Tong Siau-sian pergi, Tong-popo lantas berkata dengan tertawa, “Ho-tayhiap, sejak

kedatanganmu di lembah ini, aku sudah tahu bahwa kau bukan manusia sembarangan,

buktinya memang demikian. Nah, aku ingin minta suguhan secawan arak darimu.”

“Popo terlalu sungkan, aku orang she Ho adalah manusia tak becus, keberhasilanku tak lebih

lantaran nasib lagi mujur,” sahut pemuda itu.

Di luar ia berkata demikian, dalam hati pikirnya, “Mau minum arak boleh minum sepuasnya

nanti, yang penting sekarang lekas buka istana es dan menjemput Pang-toako keluar dari situ .

. . . .”

Di dengarnya Tong-popo berkata lagi sambil tertawa, “Ho-tayhiap adalah naga di antara

manusia, semua Popo telah membuktikan sendiri, menurut pendapatku, persoalan inipun tak

usah dirundingkan lagi, kita tentukan besok sebagai hari baik saja, entah bagaimana pendapat

Cici sekalian?”

“Bagus sekali! Bagus sekali!” sahut para Tianglo serentak.

Lalu Tong-popo berkata kepada Ho Leng-hong, “Inilah rejeki Ho-tayhiap dan juga

merupakan peraturan dari lembah kami, kukira Ho-tayhiap tak akan mengajukan pendapat

lain bukan?”

203

Apa yang dipikirkan Ho Leng-hong sekarang bagaimana caranya masuk ke istana es,

hakikatnya ia tidak menaruh perhatian terhadap apa yang mereka bicarakan, maka seenaknya

saja ia mengangguk.

“Popo sekalian tak usah terlalu berlebihan, sudah kukatakan keberhasilanku adalah karena

nasibku lagi mujur . . . .”

Karena kurang memperhatikan, dia mengira orang sedang berunding untuk mengadakan pesta

keesokan harinya untuk merayakan peristiwa besar ini.

“Baik!” ujar Tong-popo girang, “kita putuskan besok tengah hari sebagai saat bahagia, segera

siarkan ke seluruh lembah agar bersiap mengadakan pesta.”

Ketika berita tersebut disiarkan, serentak semua anggota masyarakat lembah itu

menyambutnya dengan sorak-sorai gembira, dentuman mercon segera berbunyi di mana-mana

menambah semaraknya suasana.

Ho Leng-hong masih menyatakan terima kasih dengan senyum dikulum, setelah bunyi

mercon mereda, ia baru memperoleh kesempatan untuk berkata, “Sesungguhnya kalian tak

perlu merayakan kejadian ini secara besar-besaran, bila Popo sekalian ingin merayakannya,

lebih baik kabulkan saja suatu permintaanku, untuk mana selamanya aku akan berterima

kasih.”

Tong-popo tertawa, “Kini kita adalah orang sendiri, apa permintaanmu, asal dapat kulakukan

pasti akan kukabulkan, buat apa sungkan-sungkan?”

“Popo tentu tahu bukan, aku mempunyai seorang teman she Pang yang masuk ke istana es

bersamaku?”

“Benar, kaumaksudkan Pang Goan, Pang-tayhiap pemilik Cian-sui-hu? kenapa dia?”

“Karena harus membantuku lolos, ia sendiri tak mampu meninggalkan tempat tersebut,

hingga kini masih tertinggal di dalam istana es . . . .”

“O, sayang sekali,” tukas Tong-popo, “padahal aku selalu menaruh hormat kepada Pangtayhiap,

ia rela membantu orang lain dengan mengorbankan diri sendiri, jiwa besarnya itu

sungguh mengagumkan.”

“Popo telah salah mengartikan kata-kataku,” ucap Leng-hong sambil menggeleng kepala dan

tertawa, “maksudku, hingga kini Pang-toako masih hidup dalam istana es, ia belum mati.”

Tong-popo melengak, tiba-tiba ia menengadah dan tertawa terbahak-bahak.

“Jangan tertawa Popo, aku bicara sesungguhnya,” kata Leng-hong.

Sambil tertawa Tong-popo berpaling ke arah para Tianglo lainnya seraya berkata,

“Percayakah kalian? Ia bilang Pang Goan masih hidup dalam istana es, dan katanya ia tidak

bohong? Hahaha.....”

Beberapa nenek itupun ikut menggeleng kepala sambil tertawa, “Mungkin itulah harapan Hotayhiap,

tentu saja kamipun berharap ia masih hidup, tapi harapan tinggal harapan,

kenyataannya hal ini tak mungkin terjadi.”

“Ketika kumasuk ke istana es, bukankah kalian pun tidak percaya bahwa aku akan keluar

dalam keadaan hidup?” kata Leng-hong serius, “tapi kenyataannya sekarang aku bisa keluar

dengan selamat, ini kan juga suatu kenyataan!”

“Kami hanya mengakui kenyataan dan bukan khayalan, kecuali Pang Goan pun bisa keluar

dengan selamat, siapapun tak akan percaya perkataanmu itu.”

“Kalau tidak percaya, boleh kita buka istana es dan memeriksanya?”

Tong-popo menggeleng kepala berulang kali, “Tidak mungkin! Menurut peraturan lembah

hanya satu orang yang boleh masuk ke istana es, dan lagi diapun harus mempunyai alasan

khusus, itupun harus memperoleh persetujuan dulu dari dewan para Tianglo.”

“Siapakah orang itu?” buru-buru Leng-hong bertanya.

“Kokcu!”

“Baik! Sekarang juga akan kutemui dia, kuharap Popo sekalian mengizinkan ia masuk ke

istana es . . . .”

204

Sambil tertawa kembali Tong-popo menggeleng kepala, “Ho-tayhiap, tak usah ke sana,

sebelum tengah hari besok, Kokcu takkan menjumpai dirimu.”

“Kenapa?” tanya Leng-hong.

“Sebab kalian belum melakukan upacara nikah secara resmi, masa calon pengantin boleh

bertemu muka dulu?”

Leng-hong tertegun, ia termangu-mangu.

Sambil tertawa kembali Tong-popo berkata, “Jangan terburu napsu, untuk menghormati kau

sebagai orang pertama yang bisa keluar dari istana es, kami putuskan akan mengizinkan

Kokcu masuk ke istana es satu kali guna melakukan pemeriksaan, akan tetapi itupun harus

dilakukan seusai upacara nikah kalian tengah hari esok, harap kau bersabar dulu.”

“Tidak!” teriak Leng-hong sambil melonjak, “aku tidak mau menjadi Huma dari Mi-kok,

lebih-lebih tidak ingin menetap di lembah ini, kembaliku kemari hanya bermaksud menolong

Pang-toako....”

Air muka Tong-popo berubah masam, katanya dingin, “Ho-tayhiap, sebelum bicara hendaklah

pikirkan dulu tiga kali. Inilah peraturan lembah dan kaupun telah menyetujuinya, kini berita

perkawinan telah tersiar luas di seluruh lembah, kenapa kau malah mengucapkan kata-kata

semacam itu?”

“Hei, sejak kapan aku menyetujui?”

“Bukankah tadi kau telah setuju, malahan kau minta agar jangan terlalu meriah, masa

ucapanmu itu cuma omong kosong saja? Kami menjodohkan Kokcu kepadamu, meski hanya

untuk memenuhi peraturan nenek moyang, itupun karena menghormati dirimu, masa kau

bersikap plin-plan?”

“Bila kalian menghargai diriku, aku rela melepaskan kesempatan untuk kawin dengan Kokcu,

aku hanya mohon agar Pang-toako diizinkan meninggalkan istana es.”

“Ah, perkataan apakah itu?” kata Tong-popo tak senang hati, “betapa terhormatnya seorang

Kokcu, masa kauanggap perkawinan sebagai permainan kanak-kanak? Lagipula antara soal

perkawinan dengan mati-hidup Pang Goan hakikatnya merupakan dua masalah yang tidak ada

hubungannya, jika kau tidak tahu adat lagi, jangan menyesal bila kamipun tak akan sungkansungkan.”

Diam-diam Ho Leng-hong mengeluh, kini ia baru sadar bahwa dirinya telah terjebak oleh

perangkap lawan.

Persekongkolan antara Samkongcu Kim Hong-giok dengan Tong-popo untuk memaksanya

kawin jelas suatu intrik yang busuk dengan tujuan tertentu, soal ini bisa tidak diurus, apakah

dirinya mengawini Tong Siau-sian atau tidak juga bukan masalah penting, tapi Pang Goan

yang menanti pertolongan dalam istana es jelas tak bisa ditunda-tunda lagi, betapapun tak

dapat menunggu usainya upacara perkawinan tengah hari besok, persoalan ini justru masalah

yang paling penting.

Dalam cemasnya hampir saja ia hendak menerjang masuk ke dalam istana es dengan

kekerasan, tapi ia sadar kekuatannya terbatas, dua kepalan sukar menandingi empat tangan,

apalagi jago-jago dalam lembah tak terhitung banyaknya.

Ia sadar umpama istana es berhasil diterobos, Pang Goan dapat diselamatkan, belum tentu ia

bisa lolos keluar Mi-kok, sekalipun bisa keluar dari lembah ini, Hui Beng-cu yang ada di

tangan Ci-moay-hwe pasti juga akan celaka.

Sungguh masalah pelik yang sukar diatasi.

Untung Ho Leng-hong bukan seorang yang keras kepala, setelah berpikir sebentar, tiba-tiba

senyuman menghiasi wajahnya.

“Ya, karena cemas aku sampai keblingar,” demikian katanya, “entah berapa banyak orang

yang mengimpikan untuk menjadi Huma dari Mi-kok, masa kesempatan baik yang

kudapatkan kutolak begitu saja? Sungguh tindakan yang salah besar.”

“Jadi sekarang kau sudah memahaminya?” tanya Tong-popo ketus.

205

“Ya, sudah paham, sebagai manusia mau-tak-mau harus memikirkan diri sendiri, hanya orang

bodoh yang tidak menggunakan kesempatan baik ini, mengenai mati-hidup Pang Goan, aku

telah berusaha sepenuh tenaga, kesetiaan kawan paling-paling cuma begini saja, kupercaya

dia tak akan menyalahkan diriku.”

Tampaknya Tong-popo rada curiga terhadap perubahan sikapnya yang tiba-tiba itu, namun ia

tidak mengusut lebih jauh, hanya katanya dengan hambar, “Kalau bisa demikian akan lebih

baik, sudah sepantasnya kita berusaha sepenuh tenaga demi sahabat, tapi tidak perlu urus soal

waktu yang cuma setengah hari saja.”

“Betul,” kata Leng-hong sambil tertawa, “bila ia sudah mati, cemas juga tak berguna,

sebaliknya kalau ia tidak ditakdirkan mati, Pang-toako pasti dapat menunggu diriku setengah

hari lagi.”

Sejak itu masalah yang menyangkut Pang Goan tidak disinggung-singgung lagi, Leng-hong

bersenda-gurau dan tertawa, ia membual tentang pengalamannya ketika lolos dari istana es.

Tak lama kemudian, perjamuan sudah siap, para Tianglo pun menemani Ho Leng-hong

bersantap.

Kelakuan Leng-hong bagaikan orang yang delapan keturunan tak pernah minum arak, setiap

cawan yang diangkat segera dihabiskan, tentu saja beberapa orang nenek itu bukan

tandingannya minum arak.

Tak lama kemudian, para nenek itu menjadi mabuk dan pusing kepala, semua orang tak

berani minum lagi, sedangkan Ho Leng-hong masih saja memaksanya minum, dalam keadaan

demikian terpaksa nenek-nenek itu harus mengambil langkah seribu.

Perjamuan itu hanya berlangsung dalam waktu singkat dan diakhiri begitu saja.

Bagaimanapun Tong-popo adalah nenek yang lanjut usia, setelah minum beberapa cawan arak

akhirnya dia tak tahan, setelah menitahkan orang menyiapkan kamar tidur di bilik timur buat

Ho Leng-hong, ia sendiri pun kembali ke Tiang-lo-wan untuk istirahat.

Leng-hong tahu bahwa di sekeliling bilik timur pasti tersebar para penjaga yang mengawasi

gerak-geriknya, maka ia sengaja memanggil petugas penjaga untuk menghadap.

Kepada penjaga itu dikatakannya, “Aku tahu penghuni perkampungan ini kebanyakan adalah

kaum perempuan, padahal aku mempunyai kebiasaan tidur telanjang, oleh karena itu untuk

menjaga tata kesopanan terpaksa pintu dan jendela akan kututup rapat, tolong nona sampaikan

kepada semua orang, harap malam ini jangan mendekati kamar bilik timur.”

Semakin ia bersikap misterius, para penjaga semakin tak berani gegabah. Baru saja ia masuk

kamar, penjaga itu segera melaporkan kejadian tersebut kepada Hoa Jin.”

Mendengar laporan tersebut, Hoa Jin tertawa dingin, katanya, “Kalian masih gadis dan belum

kawin, tentu saja harus menghindarinya, lain dengan diriku yang sudah kawin dan pernah

punya anak, aku tidak takut hal begitu, tugas jaga malam ini serahkan saja kepadaku.”

Ketika semua orang sudah beristirahat, Hoa Jin dengan golok terhunus mendatangi bilik

timur, betul juga, lampu kamar telah dipadamkan, pintu mau pun jendela juga tertutup rapat.

Pelahan Hoa Jin menghampiri jendela dan coba memperhatikannya, ternyata suasana dalam

kamar amat hening, bahkan suara napas pun tidak terdengar.

Timbul curiga dalam hatinya, jangan-jangan Ho Leng-hong sudah tidak berada di dalam

kamar lagi?

Untuk melaksanakan tugasnya, mau-tak-mau dia harus “nyerempet bahaya” untuk melakukan

pengintipan.

Hoa Jin tarik napas panjang, setelah berhasil menenangkan hatinya, pelahan ia merobek

sedikit kertas jendela dan mengintip ke dalam.

Hah, aneh benar! Hanya kegelapan dalam ruangan tersebut, apapun tidak dilihatnya.

Ia mengucak mata kemudian mengerahkan ketajaman matanya untuk memperhatikan lebih

jauh tapi tetap kegelapan saja yang di lihat, jangankan bayangan orang pembaringan dan meja

kursi pun tidak kelihatan.

206

Akhirnya, setelah diperhatikan lebih jauh, ia menjadi paham, ternyata dibalik jendela telah

ditutup secarik kain hitam, sudah barang tentu sulit bagi orang luar untuk melihat keadaan

dalam kamar.

Hoa Jin tertawa dingin, pelahan ia membuka daun jendela.

Kain hitam itu tergantung tiga kaki dari daun jendela, ia harus menyingkap kain tersebut

untuk bisa melihat ke arah pembaringan, karena tiada jalan lain, terpaksa dengan sangat hatihati

ia memasukkan separoh badannya ke dalam jendela, kemudian dengan tangannya

menyingkap kain hitam itu . . . .

Mimpipun tak disangkanya kalau Ho Leng-hong justru bersembunyi di balik kain hitam itu,

baru saja ujung kain tersingkap, mendadak sekujur badannya menjadi kaku dan jalan darah

pada pergelangan tangannya kena dicengkeram oleh Ho Leng-hong.

Belum sempat ia berteriak minta tolong, tahu-tahu jalan darah bisu sudah tertutuk, menyusul

separuh badanya ikut tertarik masuk ke dalam ruangan.

Masih untung di halaman tiada orang lain, coba kalau perbuatan Hoa Jin “menerobos jendela”

itu diketahui orang, biarpun keramas tujuh hari pun nodanya takkan tercuci bersih . . . . . . .

Sambil tertawa lirih Leng-hong berkata, “maaf, kukira budak-budak kecil itu tak pernah lihat,

maka mereka ingin menambah pengalaman, tak tahunya Hoa-toaso sendiri yang berkunjung

kemari, maaf kalau aku bersikap kurang sopan.”

Seraya berkata ia mulai mencopoti jubah luar Hoa Jin dan ambil goloknya, lalu dikenakan di

tubuh sendiri, sekali lompat ia sudah keluar jendela, kemudian ia tutup kembali daun jendela

dan berangkatlah ia menuju ke lembah belakang.

Hoa Jin tertutuk dan tak bisa berteriak, apalagi berkutik, terpaksa ia cuma bisa menyaksikan

kepergian pemuda itu dengan mata melotot, entah harus gusar ataukah kecewa?

Sesaat menjelang fajar, biasanya merupakan suasana yang paling gelap.

Ketika Ho Leng-hong tiba di lembah belakang, itulah saat fajar hampir menyingsing, dari

kejauhan ia sudah berhenti, melepaskan baju merah Hoa Jin dan membuang pula sarung

goloknya, sambil menghunus golok ia beristirahat sebentar untuk menunggu kesempatan.

Tiga orang nenek buta yang menjaga pintu masuk istana es itu terdiri dari seorang Tianglo

dan dua orang “berbenang biru”, tentu saja kungfu mereka tidak lemah.

Ho Leng-hong mengerti bahwa kehadirannya tak akan mampu mengelabuhi mereka, maka ia

membuang lelah dulu agar bilamana perlu ia bisa menyerbu secara kekerasan.

Pemuda itu bertekad, bagaimanapun jua sebelum fajar menyingsing nanti dia sudah harus

dapat menyelamatkan Pang Goan serta meninggalkan Mi-kok, kemudian baru berusaha

menyelamatkan Hui Beng-cu.

Seandainya di antara Pang Goan dan Hui Beng-cu dia hanya bisa menolong satu orang saja,

dia pasti akan memilih Pang Goan karena ini adalah soal moral.

Bila pertolongan harus dibedakan mana lebih dulu, dia juga akan menolong Pang Goan

duluan, sebab Hui Beng-cu yang berada di tangan Ci-moay-hwe tak akan segera mati,

sebaliknya Pang Goan yang terkurung di istana es justru berada dalam keadaan kritis.

Pemilihan demikian adalah pemilihan terpaksa, sebab kecuali cara demikian ia tidak punya

cara lain yang lebih sempurna.

Oleh sebab itu, ketika sambil membawa golok ia berjalan mendekati rumah batu, hatinya

merasa berat sekali.

Setelah ambil keputusan yang terpaksa, tentu saja dia tak mau mengalami kegagalan di sini

sana.

Betul juga, kedatangannya tak dapat mengelabui nenek Po yang berada dalam rumah batu,

baru saja berada tiga kaki dari pintu rumah, dari dalam telah berkumandang suara bentakan,

“Siapa di situ? Berhenti!”

207

Ho Leng-hong berjalan maju beberapa kaki lagi sebelum berhenti, goloknya segera

disembunyikan di balik siku, sementara persiapan dilakukan secara diam-diam guna

menghadapi segala kejadian yang tidak diinginkan.

Nenek Po diiringi dua orang perempuan buta lainnya menyongsong kedatangannya, dengan

mata putih mendelik ia membentak.

“Besar amat nyalimu! Suruh kau berhenti, ternyata kau malah berani maju dua kaki lagi

sebelum berhenti? Sebutkan namamu!”

“Aku she Ho, ada urusan penting hendak masuk ke istana es, harap Popo mengabulkan

permintaanku.”

“She Ho? Ho apa? Aku seperti merasa pernah kenal suaramu,” kata nenek Po dengan

tercengang.

Leng-hong segera menyebutkan namanya, kemudian ia menambahkan, “Aku adalah orang

yang masuk ke dalam istana es bersama dua orang rekanku beberapa hari yang lalu, apakah

Popo masih ingat?”

Mendengar jawaban tersebut, nenek Po menjadi sangat girang, buru-buru sahutnya, “Ah, ya,

yaa . . . aku masih ingat, aku masih ingat, kenapa tidak ingat? Aku dengar Ho-tayhiap telah

lolos dari istana es dan kawah api dengan selamat, besok akan menjadi Huma lembah kami,

hampir saja aku si nenek lupa menyampaikan selamat kepadamu.”

Kepada kedua orang perempuan buta lainnya ia lantas menitahkan, “Tamu terhormat telah

datang, cepat mempersilakan Ho-tayhiap duduk di dalam, kita harus menyampaikan selamat

kepadanya.”

Buru-buru kedua orang perempuan buta itu masuk ke dalam ruangan, memasang lampu dan

mempersilakan Ho Leng-hong masuk ke dalam.

Tindakan tersebut sedikit di luar dugaan Ho Leng-hong, katanya sambil tersenyum, “Popo tak

usah sungkan, aku masih ada seorang teman yang ketinggalan di dalam istana es, dia harus

cepat ditolong keluar, sebab itulah mohon kepada Popo suka membukakan pintu istana, untuk

mana kami akan sangat berterima kasih kepadamu.”

“Apa? Kau hendak masuk lagi ke istana es?”

“Betul, mohon Popo suka mengabulkan permintaanku ini.”

Nenek Po berpikir sebentar, kemudian katanya, “Baiklah, terpaksa kuucapkan selamat kepada

Ho-tayhiap setelah upacara perkawinan besok.”

Ho Leng-hong tidak mengira orang akan mengabulkan permintaannya, dengan girang ia

berseru, “Terima kasih banyak, nenek!!”

Selesai berkata ia langsung melangkah ke ruangan dalam.

Mendadak nenek Po mengulurkan tangan ke depan sambil berseru, “Coba perlihatkan dulu!”

“Apa yang kau maksudkan,” tanya Ho Leng-hong tertegun.

“Lencana nomor, nomor kunci untuk membuka pintu istana!”

“Soal ini....” Leng-hong menjadi bingung, selang sejenak ia baru berkata lagi sambil tertawa,

“Maaf, lantaran datang terburu-buru, kulupa minta Ho-pay (tanda nomor) dari Tong-popo,

apakah bisa ditiadakan saja untuk kali ini?”

“Tidak, tidak bisa,” jawab nenek Po sambil geleng kepala, “untuk membuka pintu istana

harus ada Ho-pay lebih dulu, terpaksa Ho-tayhiap harus kembali dulu ke Tiang-lo-wan untuk

mengambil Ho-pay tersebut.”

“Tapi aku harus segera masuk, aku tak ada waktu untuk pergi datang lagi.”

“Maaf,” kata nenek Po sambil mengangkat bahu, “tanpa Ho-pay, siapapun jangan harap bisa

memasuki istana es, aku hanya seorang penjaga pintu dan harus melaksanakan tugas, aku

betul-betul tak bisa membantumu.”

“Keadaan sangat mendesak, tolonglah untuk sekali ini saja, sekembaliku dari sana nanti baru

disusulkan tanda nomornya.”

“Tidak bisa!” jawab nenek Po tegas.

208

Diam-diam Ho Leng-hong berpikir, “Nenek ini berdisiplin tegas dan tidak kenal kompromi,

agaknya banyak bicara juga tak berguna, lebih baik kubekuk dulu orang ini . . . .”

Begitu ingatan tersebut terlintas dalam benaknya, golok segera berputar dan siap melancarkan

serangan.

Pada saat itulah tiba-tiba dari belakang berkumandang suara orang berdehem lirih, menyusul

kemudian seseorang berkata, “Ho-pay berada di sini!”

Buru-buru Leng-hong berpaling, ia lihat sesosok bayangan manusia berdiri di sana sambil

mengangkat tinggi-tinggi sebuah lencana nomor kunci.

Dia ternyata adalah Tong Siau-sian, sang Kokcu.

Tampaknya Tong Siau-sian sudah berdiri lama di situ, hingga Leng-hong melihat jelas dia

baru dia maju mendekat.

Rupanya dia kuatir Leng-hong salah mengartikan maksud kedatangannya, sambil berjalan

mendekat katanya, “Leng-hong, kau memang terlalu terburu nafsu, nenek Po adalah seorang

berhati baja yang tidak kenal kompromi, tanpa Ho-pay tak nanti kau diizinkan masuk. Karena

kutahu kau tak akan berhasil, maka kususulkan Ho-pay kemari.”

Nada pembicaraan lembut dan hangat, bagaikan ucapan seorang calon isteri, ditambah pula

Ho-pay tersebut memang berada di tangannya, ini membuktikan kedatangannya memang

tidak bermaksud jahat.

Ho Leng-hong menjadi bingung dan tak mampu bersuara.

“Hormat, Kokcu!” buru-buru nenek Po dan kedua orang buta itu memberi hormat.

“Tak usah banyak adat,” kata Tong Siau-sian sambil tertawa, “ambil Ho-pay ini dan tunggu di

pintu istana, masih ada beberapa persoalan hendak kubicarakan dulu dengan Ho-tayhiap,

sebentar aku menyusul ke sana.”

Nenek Po mengiakan, setelah menerima Ho-pay mereka mengundurkan diri dari situ.

Setelah ketiga orang itu masuk ke dalam ruangan batu, Tong Siau-sian baru berkata sambil

menghela napas sedih, “Jangan menatap aku dengan sinar mata seperti itu, dengan tulus ikhlas

ingin kubantumu, Ho-pay itu asli, bukan palsu seperti peta penyimpan golokmu.”

“Urusan yang sudah lewat harap jangan dipikirkan lagi, Kokcu,” kata Ho Leng-hong sambil

menjura, “bila sobatku bisa diselamatkan, selama hidup orang she Ho akan sangat berterima

kasih kepadamu.”

“Aku tidak mengharapkan terima kasihmu,” kata Tong Siau-sian sambil tersenyum getir, “aku

hanya ingin tanya satu soal, kuharap kau menjawab dengan jujur.”

“Katakan saja Kokcu, pasti akan kujawab dengan sejujurnya,” ucap Leng-hong cepat.

Tong Siau-sian menunduk kepala rendah-rendah, lalu dengan suara lirih bertanya, “Aku

hanya ingin tahu, apa rencanamu menghadapi peristiwa besok.”

“Tentang ini . . . . .” Leng-hong agak sangsi, kemudian katanya dengan serius, “terus terang,

aku merasa rendah diri, aku tak berani mengharapkan yang muluk-muluk dan mendapat jodoh

Kokcu, kudatang kemari hanya ingin menolong temanku yang masih terkurung.”

Tong Siau-sian sama sekali tidak menunjukkan sikap di luar dugaan, ucapnya dengan tenang,

“Setelah Pang-tayhiap berhasil diselamatkan, lalu bagaimana?”

“Setelah itu . . . tentu saja aku harus berusaha untuk menolong nona Hui dari Hiang-in-hu

yang terjatuh di tangan Ci-moay-hwe.”

“Bila aku berhasil membantumu menyelamatkan nona Hui?”

“Kami . . . . kami pasti akan sangat berterima kasih kepada Kokcu.”

“Hanya sepatah kata terima kasih saja dan habis perkara?”

“Tentu saja bila kaupun mengharapkan bantuanku, dengan sepenuh tenaga akan kulaksanakan

demi membalas budi kebaikan Kokcu.”

“Seperti telah kukatakan tadi, aku tidak mengharapkan balasan apa-apa, aku hanya ingin tahu

bagaimana rencanamu tentang persoalan besok?”

209

Lantaran di desak terus, Leng-hong merasa kewalahan, terpaksa katanya sambil tertawa, “Apa

yang Kokcu ingin kulakukan, tentu akan kulakukannya.”

“Aku ingin mengetahui jalan pikiranmu sendiri!” desak Tong Siau-sian lebih jauh.

Leng-hong benar-benar kehabisan akal, terpaksa sambil angkat bahu katanya, “Apa lagi yang

bisa kukatakan? Bila Kokcu tidak merasa derajatku terlampau rendah, tentu saja akupun akan

menerimanya dengan senang hati, cuma bila burung gagak mendampingi burung hong, hal ini

tentu akan menodai nama baik Kokcu . . . .”

Tong Siau-sian mendongakkan kepalanya dan menatap pemuda itu tajam-tajam, kemudian

tanyanya, “Tuluskah ucapanmu ini?”

“Setiap patah kataku keluar dari lubuk hatiku yang murni, tentu saja aku berbicara dengan

tulus ikhlas.”

Tong Siau-sian mengembus napas pelahan, katanya, “Baik, aku percaya kepadamu, sekarang

akupun ingin memberitahukan sepatah dua kata kepadamu, meskipun nenek Tong mengatur

perkawinan ini atas dasar peraturan lembah, tapi iapun telah merundingkan suatu siasat keji

dengan pihak Ci-moay-hwe untuk mencelakai jiwa kita berdua.”

“Hah?! Apa rencananya terhadap kita?”

“Persoalan ini panjang sekali untuk dibicarakan, lebih baik kita selamatkan dulu Pangtayhiap.”

Mereka lantas menembus ruang batu dan masuk ke dalam gua, belum sampai beberapa

langkah mendadak Tong Siau-sian berhenti seraya bertanya, “Yakinkah kau bahwa Pangtayhiap

masih hidup?”

“Dia pasti masih hidup, pil anti dingin yang dimilikinya masih sanggup mempertahankan

hidupnya selama dua belas jam, padahal aku baru sepuluh jam meninggalkan istana es.”

“Kalau begitu, tunggu aku di pintu istana, akan kuwakilimu untuk menyelamatkan Pangtayhiap.”

“Mengapa harus demikian?”

“Sebab nenek Po adalah seorang yang berdisiplin keras dan tidak kenal kompromi, menurut

peraturan hanya aku seorang yang boleh masuk-keluar istana es, kendatipun kau memiliki Hopay

juta tidak boleh masuk keluar seenaknya, setelah masuk ke dalam kau tak bisa keluar lagi,

terutama bila nenek Po menutup pintu istana setelah kau masuk, bukankah hal ini akan

menambah kesulitan pula?”

Ho Leng-hong tak pernah berpikir sampai di situ, ia menjadi tertegun, tiba-tiba ia dapat

meresapi ucapan Tong Siau-sian itu, rupanya si nona mempunyai tujuan lain.

Dengan menggunakan nama nenek Po sebagai alasan rupanya ia ingin menunjukkan

keikhlasannya yang benar-benar ingin membantu, bila Ho Leng-hong dibiarkan masuk sendiri

ke istana es, mungkin dia akan sangsi bila pintu istana tiba-tiba ditutup, maka ia rela

mewakilinya dengan meninggalkan Ho Leng-hong di luar sebagai tanda bahwa ia tidak

berniat mencelakainya.

Padahal Ho Leng-hong tak pernah mencurigainya, meski demikian terharu juga hatinya, tentu

saja dia tak tega untuk menolak maksud baik si nona.

Maka sambil menggenggam tangannya dengan senyum dikulum ia berkata, “Kalau begitu

kutitipkan tugas ini padamu, aku dan Pang-toako selamanya akan ingat atas budi kebaikanmu

ini.”

Genggamannya yang hangat itu membuat Tong Siau-sian girang bercampur malu, buru-buru

ia menarik kembali tangannya dan lari masuk ke sana.

Dalam pada itu nenek Po dan kedua orang perempuan buta itu sudah lama sekali menunggu di

pintu istana es.

Setibanya di hadapan mereka Tong Siau-sian segera berkata, “Ho-tayhiap telah memutuskan

tidak masuk ke istana es, aku akan mewakilinya masuk ke dalam, tak lama aku berada di

dalam. Kalian tunggu saja di sini dan pintu istana tak perlu dikunci.”

210

Sebetulnya nenek Po sudah siap mengeluarkan anak kuncinya untuk membuka pintu, ketika

mendengar perkataan ini tiba-tiba ia berkata, “Bila Kokcu ingin masuk ke istana es, kau perlu

minta persetujuan lebih dulu dari Tiang-lo-wan.”

“Tentu saja Tiang-lo-wan sudah setuju,” sahut Tong Siau-sian, “kalau tidak, darimana aku

bisa mendapatkan Ho-pay?”

“Hanya Ho-pay saja masih tidak cukup, harap Kokcu tinggalkan pula Kim-to-leng, dengan

demikian pintu istana baru takkan kukunci.”

“Apakah kau tidak tahu aku ini Kokcu?” tegur Tong Siau-sian dengan tidak senang.

Nenek Po segera membungkuk badan dan memberi hormat, “Hamba buta, sulit untuk

menentukan diri seseorang hanya berdasarkan suara saja, lebih baik Kokcu bertindak

menuruti peraturan agar hamba tidak serba sulit.”

Nenek ini betul-betul disiplin dan tidak kenal kompromi, dia hanya kenal benda dan tidak

kenal orang, bahkan terhadap Kokcu sendiri pun tak mau memberi muka.

Tong Siau-sian berpaling ke arah Ho Leng-hong sambil tertawa getir, kemudian katanya lagi,

“Nenek Po, jadi kau berkeras ingin minta Kim-to-leng daripada menurut perkataanku?”

“Hamba hanya melakukan tugas menurut peraturan, lencana nomor kunci hanya tanda masuk

dan buka tanda keluar, bila ingin pintu istana tidak dikunci, Ho-pay dan Kim-to-leng harus

lengkap tersedia.

Dengan perasaan apa boleh buat Tong Siau-sian geleng kepala berulang kali, “Ai, tak heran

kalau selama hidup kau diberi bertugas menjaga pintu istana dan siapapun tak ada yang bisa

menggeser kedudukanmu. Baiklah, Kim-to-leng berada di sini, ambillah!”

Nenek Po menjulurkan tangannya untuk menerima, siapa tahu tangan Tong Siau-sian

mendadak menekan ke bawah, secepat kilat ia mencengkeram jalan darahnya.

Kedua perempuan buta lainnya terperanjat, cepat mereka melolos senjata.

Dengan suara tertahan Tong Siau-sian membentak, “Leng-hong, kuasai mereka, cepat!”

Sesungguhnya Ho Leng-hong sendiripun merasa terkejut dan heran, tapi lantaran kedua

perempuan buta itu sudah melolos golok masing-masing, tak sempat baginya untuk

menganalisa sebab musabab terjadinya peristiwa itu, cepat iapun mencabut goloknya dan

turun tangan . . . .

Ilmu silat kedua orang perempuan buta itu sangat lihay, sayang Ho Leng-hong bukan saja

memahami ilmu golok Ang-siu-to-hoat, iapun memiliki jurus sakti anti kelihaian ilmu golok

tersebut, maka cuma lima gebrakan, kedua perempuan buta itu sudah terdesak hingga mundur

ke sudut pintu istana dan tak mampu berkutik.

Ho Leng-hong segera melompat maju dan membekuk kedua perempuan buta itu.

Cepat Tong Siau-sian menggeledah anak kunci dari saku nenek Po, setelah pintu istana

terbuka, segera ia pesan, “Leng-hong, awasi mereka, aku pergi menolong Pang-tayhiap.”

Sebelum Leng-hong menjawab nona itu sudah menerobos masuk ke dalam istana es.

Meskipun diliputi rasa sangsi, Leng-hong tidak sempat tanya gadis itu, dia hanya menduga

tentu Tong Siau-sian mempunyai alasan yang memaksanya berbuat demikian, mungkin waktu

sudah mendesak, ia tak ingin berdebat lebih jauh dengan nenek Po, maka terpaksa diambilnya

tindakan tersebut . . . . .

Untung tindakannya ini bertujuan membantunya untuk menolong orang, jadi apapun juga

tindakannya dapat dimaklumi.

Hawa dingin yang berembus keluar dari balik pintu istana membuat orang tak tahan, terpaksa

Leng-hong merapatkan pintu batu itu dan memindahkan tubuh nenek Po serta kedua

perempuan buta itu ke kaki dinding sana agar jalan tidak teralang.

Tetapi, meski sudah ditunggu sekian lama, ternyata Tong Siau-sian belum muncul juga.

Leng-hong mulai berpikir, “Jangan-jangan dia menjadi kaku kedinginan karena tidak makan

obat anti dingin? Atau mungkin dia tidak kenal Pang-toako dan tidak menemukan di mana ia

berada?”

211

Berpikir sampai di situ, hatinya terasa gelisah, buru-buru ia membuka pintu batu dan siap

masuk ke dalam . . . .

Mendadak dari lorong gua berkumandang suara langkah kaki orang yang riuh.

Buru-buru Ho Leng-hong menutup pintu batu, ia menatap ke sana, segera ia terperanjat.

Sesosok bayangan orang muncul, orang itu memakai baju merah dengan sulaman benang

emas, ternyata orang inipun Tong Siau-sian.

Leng-hong kucek-kucek matanya, ia pandang pintu batu di belakangnya, ia menjadi bingung.

Gua itu gelap tak berlampu, dengan ketajaman matanya ia lihat Tong Siau-sian yang baru

muncul ini tidak berbeda dengan Tong Siau-sian yang masuk ke istana es tadi, yang satu

sudah berada dalam istana es dan yang lain baru datang, ini membuktikan bahwa salah

seorang di antaranya adalah gadungan.

Ketika Tong Siau-sian yang baru datang ini menemukan Ho Leng-hong berada di sini, segera

ia menegur, “Besar amat nyalimu, berani kau datangi istana es sendirian. Ketahuilah bahwa

perbuatanmu ini merupakan pantangan besar lembah kami, kalau sampai ketahuan orang, kau

bisa dijatuhi hukuman mati, mengerti?”

Leng-hong tidak menjawab, dia hanya mengawasi orang lekat-lekat, sebab ia benar-benar tak

bisa membedakan manakah Tong Siau-sian yang asli.

Karena pemuda itu tidak menjawab, Tong Siau-sian maju beberapa langkah lagi ke depan,

ucapannya dengan suara tertahan, “Orangnya sudah kautolong belum? Sebentar fajar akan

menyingsing, tidak cepat-cepat kau tinggalkan tempat ini, apalagi yang kautunggu?”

Leng-hong menarik napas panjang, pelahan dan sepatah demi sepatah ia menegur, “Siapa

kau?”

“Hei, aneh benar kau ini? Masa tidak kenal siapakah aku?”

“Kenal sih kenal, Cuma aku tidak tahu kau ini asli ataukah yang gadungan?”

Tong Siau-sian melengak, “Dalam Mi-kok ini hanya ada aku seorang sebagai Kokcu, masa

ada yang gadungan?”

“Betul,” Leng-hong mengangguk, “barusan ada seorang juga mengaku sebagai Kokcu dari

Mi-kok, kini ia berada dalam istana es, aku tidak tahu siapakah di antara kalian yang

gadungan, pokoknya salah satu pasti palsu.”

“Hah, masa ada kejadian begini?” seru Tong Siau-sian terperanjat, “Wah, kalau begitu dia

pastilah Samkongcu Kim Hong-giok dari Ci-moay-hwe, konon dia cerdas dan berbakat,

sesuatu yang dilihatnya tak pernah terlupa lagi, diapun pandai menirukan logat bicara orang

lain, Ho-tayhiap, jangan kau tertipu olehnya . . . .”

“Aku tak mau tertipu oleh siapapun, akupun enggan mengurusi siapakah di antara kalian ini

Tong Siau-sian dan Kim Hong-giok, aku hanya ingin menolong orang, siapa bisa

membantuku menolong orang, aku akan percaya kepadanya.”

“Bila kau berharap Kim Hong-giok akan membantumu menolong orang, keliru besarlah kau,”

kata Tong Siau-sian dengan cemas, “tujuannya masuk ke istana es tidak lain adalah ingin

mencuri belajar ilmu golok Ang-siu-to-hoat dari lembah kami.”

“Lantas, apa pula tujuanmu?”

“Aku . . . .” rupanya Tong Siau-sian tidak tahu cara bagaimana harus memberi penjelasan,

kakinya menggentak tanah dan serunya, “Tentu kuharap bisa membantumu, kalau tidak, tak

nanti aku menyusul kemari.”

“Mengapa kau membantuku?”

“Karena Tong-popo dan Ci-moay-hwe telah bersekongkol dan bermaksud jahat terhadap kita

berdua, kini situasinya tidak menguntungkan kita, kau dan aku harus bekerja sama untuk

menghadapi musuh yang sama.”

“Kaumaksudkan masalah perkawinan?”

“Benar, atas dasar peraturan leluhur ia paksa kita kawin, padahal tujuan sebenarnya adalah

ingin membinasakan kita berdua, agar ia dapat mengangkangi Mi-kok sendirian.”

212

Nada ucapannya tak jauh berbeda dengan apa yang diucapkan Tong Siau-sian pertama tadi,

siapa yang asli dan siapa yang gadungan? Makin lama semakin sulit untuk dibedakan.”

Leng-hong berpikir sebentar, katanya kemudian, “Dengan cara bagaimana kau bisa

membuktikan bahwa dirimu adalah Tong Siau-sian sedang dia adalah Kim Hong-giok?”

“Gampang sekali, kau bisa tanya langsung kepada nenek Po, suruh dia saja yang

membedakan.”

Leng-hong menggeleng kepala, “Dia seorang buta, jawabnya belum tentu tepat.”

“Kokcu mempunyai sebuah lencana Kim-to-leng, aku bisa menunjukkan kepadamu.”

Ho Leng-hong masih juga menggeleng kepala, “Belum pernah kulihat lencana tersebut, orang

saja bisa dipalsukan apalagi cuma sebuah benda, kan bisa dicuri atau dipalsukan.”

Tong Siau-sian termenung sebentar, kemudian katanya, “Ah, betul, kepadaku mungkin kau

tidak percaya, tapi terhadap Pang Wan-kun tentu kau percaya bukan? Dia berada di luar, kita

boleh memanggilnya ke sini untuk menjadi saksi.”

“Bila seorang berada dalam ancaman sering kali dia akan bicara bohong, aku pernah tertipu

satu kali, aku tak ingin tertipu untuk kedua kalinya.”

“Ai, lalu dengan cara bagaimana baru kau mau percaya?” tanya Tong Siau-sian dengan

gelisah.

“Aku pikir, satu-satunya cara yang terbaik adalah menunggu sampai Tong Siau-sian itu keluar

dari istana es, asal kalian berdua berhadapan satu sama lain, siapa asli dan siapa gadungan

pasti akan segera ketahuan.”

“Tapi kalau menunggu sampai ia berhasil mempelajari ilmu golok Ang-siu-to-hoat, bukan

saja jiwa Pang-tayhiap akan lenyap, kaupun takkan lolos dari kematian, bahkan akupun akan

ikut menjadi korban.”

“Kenapa kau akan ikut jadi korban?”

“Peraturan dalam Mi-kok amat ketat, apabila salah seorang di antara suami-isteri melanggar

peraturan lembah dan dijatuhi hukuman mati, maka orang satunya harus ikut berkorban pula,

inilah rencana keji Tong-popo untuk mencelakai kita berdua.”

“Tapi kita sekarang kan belum resmi menikah!”

“Aku adalah seorang Kokcu, setelah perjodohan ditentukan berarti kita sudah menjadi suamiisteri

. . . apalagi yang perlu kukatakan . . . .”

Ia memang telah mengucapkan semuanya, lambat laun Ho Leng-hong juga mulai percaya,

sebab sudah sekian lama Tong Siau-sian yang pertama masuk ke istana es dan hingga kini

belum tampak keluar, jelaslah ia masuk ke dalam istana bukan untuk menolong Pang Goan.

Tapi, kendatipun ia mulai curiga bahwa gadis yang pertama adalah Kim Hong-giok, tapi

karena urusan menyangkut keselamatan Pang Goan, dia tak berani bertindak secara gegabah.

Sementara dia merasa ragu, tiba-tiba dari lorong gua berkumandang seruan yang gelisah,

“Kokcu, cepat dikit, Tiang-lo-wan sudah mulai bergerak, mungkin lenyapnya Ho-tayhiap

telah mereka ketahui.

“Kaudengar tidak,” kata Tong Siau-sian dengan cemas, “sekarang keadaan sangat mendesak,

apakah kau benar-benar rela terjatuh ke dalam perangkap Tong-popo?”

Sambil menggertak gigi Ho Leng-hong tetap membungkam.

Sejenak kemudian di luar gua kembali terdengar seruan nyaring, “Kokcu, lampu merah tanda

bahaya telah dipasang dalam perkampungan, kita tak bisa menunggu lagi . . . .”

Ho Leng-hong jadi nekat, katanya tiba-tiba, “Pergilah lebih dulu, segera kususul.”

“Mau apa lagi kau tinggal di sini?”

“Aku harus menolong Pang-toako, kalau tidak aku lebih rela mati di dalam istana es.”

“Sekarang kita sudah sehidup-semati, kalau kau tidak mau pergi, akupun tidak pergi,

kutemani kau masuk ke istana es untuk menolong Pang-tayhiap,” kata Tong Siau-sian tegas.

Leng-hong tak bisa menolak niat orang, dia mengangguk dan segera mendorong pintu batu

itu.

213

Pintu baru terbuka, segera Tong Siau-sian menerobos masuk lebih dahulu . . . .

Di balik pintu itu masih terdapat sebuah lorong penghubung, tapi di bawah pantulan cahaya

istana es dan kawah api, lamat-lamat dapat terlihat jelas keadaan lorong tersebut.

Pintu batu itu berat sekali, Ho Leng-hong harus mengerahkan tenaga untuk menggeser pintu

itu, baru saja ia akan ikut menerobos masuk, tidak tersangka dari balik pintu tiba-tiba

berkelebat keluar sesosok bayangan manusia, hampir saja kedua orang saling bertumbukan.

Orang itu tak lain adalah Tong Siau-sian pertama tadi, kalau sewaktu masuk ia tidak

membawa apa-apa, maka sekarang tangannya telah bertambah dengan sebilah golok panjang.

Leng-hong tidak menyangka orang akan bersembunyi di balik pintu, sebaliknya nona itupun

tidak menyangka orang yang menerjang masuk adalah Ho Leng-hong, maka pergokan ini

membuat kedua pihak sama-sama kaget.

“Di mana Pang-toako?” bentak Leng-hong cepat.

“Ia sudah mati, aku telah berusaha, tapi gagal menyelamatkan jiwanya . . . .”

“Omong kosong! Dia berada di mana?” bentak Leng-hong pula.

“Itu? Di kaki dinding sana, kalau tidak percaya periksalah sendiri,” kata orang itu sambil

menunjuk ke sana.

“Baik, ayo ikut ke sana!” teriak Leng-hong lagi sambil melintangkan goloknya.

“Aku . . . aku . . . .” belum habis perkataannya, mendadak golok nona itu membacok.

Ho Leng-hong mundur setengah langkah sambil miring ke samping, ditangkisnya bacokan itu,

lalu secepat kilat melancarkan serangan balasan.

Dalam waktu singkat kedua orang itu sudah bergebrak empat-lima jurus, semua gerakan yang

dipergunakan adalah jurus-jurus ilmu golok Ang-siu-to-hoat, ternyata keduanya sama kuat.

“Kim Hong-giok, rupanya kau!” teriak Leng-hong terkesiap.

Orang itu tertawa dingin, “Benar, sayang sudah terlambat, aku telah menguasai sembilan jurus

Ang-siu-to-hoat, kukira kau tak bisa lagi mengapa-apakan diriku.”

“Aku tidak peduli Ang-siu-to-hoat segala,” bentak Leng-hong dengan gusar, “pokoknya kalau

sampai Pang-toako mengalami sesuatu, aku bersumpah akan mencincang tubuhmu.”

Baru selesai ia berkata, tiba-tiba terdengar jeritan kaget Tong Siau-sian, “Jangan lepaskan dia,

Pang-tayhiap telah dibunuhnya....”

Jeritan tersebut bagaikan bunyi guntur di siang bolong, hampir saja golok panjang di tangan

Ho Leng-hong terlepas dari genggaman, cepat ia tanya, “Ia benar-benar sudah mati?”

“Lambungnya tertusuk golok perempuan hina itu, lukanya parah sekali, tapi nyawanya belum

putus.”

Merah membara mata Ho Leng-hong saking gusarnya, sambil membentak golok segera

membacok Kim Hong-giok.

Keadaan anak muda itu sekarang ibaratnya harimau terluka, dengan kalap dia lancarkan

serangan secara bertubi-tubi, semua jurus serangan mematikan.

Entah cuma pura-pura atau memang gentar pada keberingasan wajah lawan yang mengerikan,

secara beruntun Kim Hong-giok terdesak mundur tiga-empat tindak.

Kedua orang itu bertarung di depan pintu batu, setelah yang satu maju dan yang lain mundur,

akhirnya mereka tiba di luar pintu, hawa dingin yang berembus keluar dari istana es membuat

anggota tubuh mereka terasa kaku, permainan golok otomatis tak bisa dikembangkan

sebagaimana mestinya lagi.

Ho Leng-hong ingin melukai Kim Hong-giok, tapi dia lupa menyumbat jalan mundurnya.

Sebaliknya Kim Hong-giok hanya memikirkan bagaimana cara meloloskan diri, begitu

melihat ada kesempatan ia lantas berpura-pura tidak tahan, sambil berseru ia terus mundur ke

dinding sebelah kiri.

Leng-hong sangat girang, goloknya berputar dan menyerang pula.

214

Diam-diam Kim Hong-giok mengerahkan tenaga dalam dan menangkis bacokan itu dengan

sepenuh tenaga, pada kesempatan tersebut ia berputar dan menerjang keluar dengan

menyusuri kaki dinding, lalu sambil bergelinding beberapa kali menerobos lewat di bawah

kaki Ho Leng-hong.

Serangan Ho Leng-hong yang lain belum sempat dilancarkan lagi, iapun tak menduga Kim

Hong-giok akan mengeluarkan jurus bahaya seperti itu untuk meloloskan diri, padahal kaki

dinding merupakan sudut mati, untuk membacok ke bawah jelas tak sempat lagi . . . .

Sementara ia tertegun, Kim Hong-giok telah melompat keluar, ini berarti pula mereka telah

bertukar arah.

Tentu saja Kim Hong-giok gunakan kesempatan tersebut dengan baik, begitu melompat

bangun di lantas kabur keluar.

Dengan sendirinya Ho Leng-hong tak mau melepaskannya dengan begitu saja, sambil

membentak goloknya disambitkan ke depan.

Kim Hong-giok ketika itu mungkin terlalu girang, atau mungkin terpengaruh hawa dingin

istana es sehingga anggota badannya tak bisa bergerak selincah dulu, ketika mendengar

desing golok dari belakang, buru-buru ia berusaha berkelit ke samping, sayang terlambat

setengah langkah, mata golok yang dingin dan tajam sekali telah menembus bahu kirinya.

Ia mengeluh tertahan dengan sempoyongan, tapi ia tak berani berhenti, sambil membawa

golok yang masih menancap di tubuhnya ia kabur keluar . . .

Ho Leng-hong mengejar dari belakang, ia sambar golok nenek Po yang tergeletak di tanah

dan siap mengejar lebih jauh, tapi saat itulah terdengar Tong Siau-sian berteriak, “Pangtayhiap

tidak tahan lagi, cepat . . . cepat kemari . . . .”

Terpaksa Ho Leng-hong melepaskan Kim Hong-giok kabur dengan membawa luka dan buruburu

kembali ke dalam sana.

Pang Goan tampak berbaring di sisi dinding, perutnya terbacok hingga keadaannya sangat

gawat, tapi nyawanya belum putus, ia masih berusaha meronta untuk duduk.

Leng-hong segera membuang goloknya dan berjongkok, katanya, “Pang-toako, maafkan aku

datang terlambat.”

Napas Pang Goan tersengal, tapi sekulum senyum masih juga menghiasi bibirnya, sahutnya

lirih, “Tidak, kedatanganmu belum terlambat, adalah perempuan hina itu yang datang

selangkah lebih dulu, waktu itu aku sangat lemas karena lapar, maka perutku kena dibacok

satu kali . . . .”

“Mari kita tinggalkan tempat ini, lukamu perlu cepat diobati . . . .”

“Jangan, jangan kau angkat diriku meninggalkan tempat ini.” Cegah Pang Goan sambil

menggeleng kepala, “tempat ini sangat dingin maka darah yang mengalir keluar dari lukaku

menjadi beku, sebab itu pula aku sanggup bertahan untuk mengucapkan beberapa patah kata

padamu, sekali kau membawaku meninggalkan tempat ini, aku akan mati lebih cepat.”

“Benar juga perkataanmu,” bisik Tong Siau-sian, “ikuti saja keinginannya, dengarkan dulu

pesan apa yang hendak ia sampaikan kepadamu.”

Leng-hong mengangguk, bagaimanapun dinginnya udara dalam istana es, menetes juga air

matanya yang panas.

“Apakah Siau-cu juga selamat?” tanya Pang Goan dengan napas tersengal, “kenapa ia tidak

ikut kemari?”

“Ia baik-baik saja,” jawab Leng-hong dengan tersendat, “dia . . . lantaran ada urusan lain, ia

tak dapat kemari . . . .”

Dalam keadaan seperti ini, ia benar-benar tak tega untuk memberitahukan keadaan Hui Bengcu

yang sesungguhnya.

“Syukurlah kalau selamat, dulu kita salah menuduhnya yang bukan-bukan, mulai sekarang

kita tak boleh membuatnya menderita lagi.”

“Aku tahu!” Leng-hong mengangguk, air matanya jatuh bercucuran.

215

Tiba-tiba Pang Goan tertawa, katanya, “Terus terang, aku kuatir sekali kalian akan

terpanggang mati dalam kawah api itu, beri tahulah kepadaku, bagaimana rasanya di sana?

Tentunya panas sekali bukan?”

Ho Leng-hong mengangguk, “Benar . . . . di sana memang panas sekali . . . tapi kami semua

tidak terluka, kami . . . entah bagaimana harus berterima kasih kepada Toako . . . .”

“Berterima kasih apa!” kata Pang Goan, “apa yang kulakukan tidak lebih cuma mendorong

kalian belaka... Bicara terus terang, sungguh akupun ingin sekali tidur dalam balok es, sayang

aku tak mungkin bisa merasakannya.”

Setelah berhenti sebentar, katanya pula, “Kalian sudah bertemu dengan Wan-kun?”

“Sudah, iapun sangat baik....”

“Sekarang ia berada di luar gua,” sambung Tong Siau-sian dengan cepat, “bagaimana kalau

kupanggil dia masuk kemari?”

Pang Goan menggeleng kepala, lalu pegang tangan Ho Leng-hong, katanya, “Kabulkanlah

permintaanku, jangan salahkan dia yang telah membohongi kita tempo hari, kutahu iapun

bermaksud baik.”

“Jangan kuatir Toako, tak ada orang yang menyalahkan dia, aku akan melindunginya serta

mengantar dia bersama anaknya pulang ke Thian-po-hu.”

“Bagus! Bagus sekali!” lambat laun tangan Pang Goan berubah menjadi amat dingin, sinar

mata pun menjadi pudar, ia celingukan sekejap ke sekeliling situ, lalu gumamnya,

“Sesungguhnya tempat ini adalah suatu tempat istirahat yang sukar dicari, sayang udaranya

terlampau dingin . . . .”

“Pang-toako . . .! Pang-toako . . . .” Leng-hong tak dapat mengendalikan rasa sedihnya, ia

menangis tersedu-sedu.

Di tengah panggilan yang memilukan hati itulah Pang Goan menghembuskan napasnya yang

penghabisan . . . . .

-----------------------

Pintu batu istana es kembali ditutup, jalan darah nenek Po dan kedua orang perempuan buta

yang tertutuk kini telah dibebaskan, mereka menerobos lorong gua dan menuju ke rumah

batu.

Sepanjang jalan tidak ada yang berbicara, jelas hati setiap orang dicekam oleh perasaan yang

berat.

Dengan membawa luka Kim Hong-giok berhasil melarikan diri, Pang Goan mengakhiri

hidupnya dalam istana es, sedang keselamatan Hui Beng-cu masih merupakan sebuah tanda

tanya yang besar . . . .

Yang sudah lewat kini telah lewat, kejadian pada masa mendatang sukar diduga, hanya satu

hal yang harus segera dihadapi, yakni, Tong-popo tidak akan melepaskan mereka dari

tuduhan “masuk ke dalam istana es yang terlarang”, bahkan mungkin orang di luar sedang

menantikan kemunculan mereka.

Barang siapa berani masuk ke daerah terlarang itu, hukumannya adalah mati. Kendatipun

Tong Siau-sian adalah pejabat Kokcu, sulit baginya untuk mengelakkan peraturan “hukuman

mati” atas suaminya, asal ia mati, maka kekuasaan memerintah Mi-kok akan terjatuh ke

tangan Tiang-lo-wan, dan hal inilah yang diidam-idamkan oleh Tong-popo.

Tidak sulit bagi Tong Siau-sian untuk membayangkan girang Tong-popo saat ini, tapi

kesalahan ini sudah terbukti dan jelas tidak bisa dibantah lagi, atau dengan perkataan lain

dalam perebutan kekuasaan kali ini, ia sudah jelas berada di pihak yang kalah.

Bukan saja kalah dalam berebut kekuasaan, bahkan jiwanya ikut pula menjadi korban.

216

Ia tidak menyesal, iapun tidak takut, karena sekalipun ia kehilangan segala-galanya, namun

berhasil mendapatkan cinta yang paling berharga, bagi seorang gadis hal ini sudah lebih dari

cukup.

Mungkin saja Ho Leng-hong bukan laki-laki paling sempurna di dunia ini, tapi kerelaannya

untuk memperjuangkan keadilan dan kebenaran bagi Thian-po-hu membuktikan bahwa ia

seorang lelaki yang jujur, keberhasilannya lolos dari kawah api membuktikan akan

kecerdasannya, daya ingatnya yang kuat serta keberhasilannya mempelajari ilmu golok Angsiu-

to-hoat membuktikan kepintaran serta bakatnya yang bagus, sikap pegang janji serta tidak

lupa kepada budi yang diperlihatkan selama ini membuktikan pula bahwa dia adalah seorang

lelaki berhati mulia . . . .

Laki-laki semacam inilah merupakan teman hidup yang paling diidam-idamkan oleh setiap

gadis.

Tong Siau-sian telah mengambil keputusan dalam hati, sekalipun harus mati, ia rela

mendampinginya sampai akhir hayat.

Selama masih hidup, iapun tak segan-segan mendampingi kekasihnya untuk mendobrak

kepungan serta berusaha meninggalkan Mi-kok.

Oleh sebab itu, sepanjang perjalanan mendampingi Ho Leng-hong, ia tidak merasa takut

menghadapi apapun.

Apa yang diduga ternyata benar, dalam rumah batu telah dipenuhi bayangan manusia.

Sebagai pemimpin adalah Tong-popo, hampir seluruh anggota Tiang-lo-wan hadir di situ,

kecuali itu, di bawah pimpinan Hoa Jin, dua belas orang jago berbenang biru dengan golok

terhunus siap sedia di sekitar sana.

Di luar rumah batu masih ada pula dua puluh empat pengawal perempuan pelaksana hukum

serta hampir ratusan pasukan yang tergabung dalam Bok-lan-pek-tui dan Bok-lan-hek-tui.

Waktu itu fajar telah menyingsing, di luar sana lautan manusia sudah berkumpul, sebagian

besar masyarakat lembah telah tiba di luar ruangan batu itu.

Pang Wan-kun tampak dibelenggu dan berada di barisan depan pasukan pelaksana hukum

Baru saja Ho Leng-hong melangkah masuk ke dalam ruangan batu, Tong-popo segera

membentak, “Tangkap dia!”

Ke-12 orang berbenang biru serentak mengiakan dan menyerbu maju.

“Berhenti!” bentak Tong Siau-sian, “kalian mau berontak?”

Bagaimanapun dia adalah Kokcu, begitu dia membentak, Hoa Jin sekalian lantas tak berani

bergerak lagi.

Tong-popo tertawa dingin, ejeknya, “Tong Siau-sian, tak perlu kaupamer kuasa sebagai

seorang Kokcu, ketahuilah jabatan itu bukan hak Tong Siau-sian lagi!”

“Kedudukan Kokcu adalah kedudukan yang turun-temurun,” bentak Tong Siau-sian lantang,

“sejak dulu sampai sekarang hanya keluarga Tong yang berhak menjadi Kokcu, siapa yang

berani tidak menghormati diriku?”

“Memang, selama ini kedudukan Kokcu secara turun-temurun dipegang oleh keluarga Tong,

tapi itu cuma berlangsung sampai kau Tong Siau-sian, menurut peraturan lembah, Tiang-lowan

berhak memilih Kokcu baru setelah kau meninggal dunia.”

“Tapi sampai sekarang aku belum mati!”

“Ya, belum, tapi hampir. Kau telah setuju kawin dengan Ho Leng-hong, dan sekarang ia

sudah melanggar peraturan dan harus dijatuhi hukuman mati, menurut peraturan kau harus

mengiringi pula kematiannya.”

“Ho Leng-hong adalah pahlawan lembah kita, kesalahan besar apa yang dilakukan dia?”

“Malam-malam ia memasuki lembah belakang dan menerobos ke dalam istana es secara

paksa, kesalahan tersebut pantas dijatuhi hukuman mati.”

“Memutuskan hukuman mati terhadap seseorang merupakan hak dan keputusan Kokcu, bukan

Tiang-lo-wan yang berhak memutuskannya dengan begitu saja.”

217

“Jika orang yang melanggar peraturan adalah calon suami Kokcu, apa lagi Kokcu sendiripun

tersangkut dalam peristiwa ini, tentu saja Tiang-lo-wan berhak memutuskan hukuman

tersebut.”

“Hehe, omong kosong, sehari aku belum mati, sehari pula aku menjadi Kokcu Mi-kok, Tianglo-

wan tidak lebih hanya merupakan pemangku sementara bila aku mati, kalian tidak berhak

merebut kedudukanku sebagai Kokcu dengan begitu saja. Tong-popo, kau begitu takabur,

berani menghina diriku, tidak menuruti peraturan leluhur, rupanya kau hendak mengkhianati

lembah dan merombak peraturan?”

“Aku bertindak demikian justru untuk melaksanakan peraturan leluhur, Ho Leng-hong telah

melanggar peraturan dan harus dijatuhi hukuman mati, menurut peraturan kaupun harus

mengiringinya mati, apakah kau hendak melanggar peraturan leluhur kita ini?”

“Bersalah atau tidaknya Ho Leng-hong adalah hakku untuk memutuskan, sebelum ia

diputuskan bersalah, siapa yang berani tidak mengakui diriku sebagai Kokcu Mi-kok?”

Saking mendongkol Tong-popo mendengus, tanyanya, “Baik, anggaplah kau masih seorang

Kokcu, sekarang aku ingin tanya padamu, Ho Leng-hong yang telah masuk ke daerah

terlarang dengan paksa harus dikatakan berdosa atau tidak?”

“Berdosa atau tidak harus disertai dengan bukti, kau tak boleh menuduh seenaknya saja, siapa

yang bisa membuktikan ia telah masuk daerah terlarang?”

“Baru saja ia keluar dari lambung bukit, apakah hal ini belum cukup sebagai bukti?” teriak

Tong-popo.

Tong Siau-sian mengangkat bahu, “Itupun hanya membuktikan ia memasuki lorong dalam

lambung bukit, bukan bukti ia memasuki istana es, lorong dalam lambung bukit bukan daerah

terlarang, selama ia tidak masuk ke istana es secara paksa, menurut peraturan ia tak dapat

dijatuhi hukuman mati, apakah kau menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa ia masuk

ke istana es?”

“Sekalipun aku tidak menyaksikan sendiri, nenek Po dan kedua orang petugas penjaga pintu

istana telah menyaksikannya.”

Tong Siau-sian tertawa, “Wahai Tong-popo, hendaknya kaubicarakan yang jelas, nenek Po

dan kedua orang petugas itu semuanya buta, hakikatnya tak mungkin mereka menyaksikan

apa pun.”

Ucapan ini seketika membuat Tong-popo menjadi bungkam.

Sekalipun semua orang yang hadir tahu alasan Tong Siau-sian terlalu dipaksakan, tak urung

mereka alihkan juga sorot matanya ke wajah nenek Po.

“Mataku memang buta, tapi hatiku tidak buta,” kata nenek Po dengan tenang, “aku merasa

yakin masih sanggup untuk menjadi saksi apakah Ho Leng-hong telah masuk ke istana es atau

tidak, cuma tak tahu apakah kalian mau percaya pada pengakuan si nenek buta atau tidak.”

“Betul,” seru Tong-popo dengan girang, “meskipun mata enci Po buta, kutahu tindakanmu

selalu jujur dan tidak mengenal kompromi, selaku pemegang kunci istana es, memang dia

pantas dijadikan saksi.”

“Apakah kesaksianku bisa kalian percayai?” tanya nenek Po dengan wajah tanpa emosi.

“Pati percaya,” jawab Tong-popo cepat, “enci Po, katakanlah kesaksianmu itu, kami percaya

padamu.”

Diam-diam Tong Siau-sian amat gelisah, buru-buru ia menyela, “Nenek Po, aku selalu

bersikap baik padamu, kuminta jangan sampai kaujerumuskan orang baik ke dalam lembah

kehancuran.”

“Aku si nenek buta tak pernah bermusuhan dengan siapapun,” kata nenek Po hambar, “aku

hanya tahu menjaga pintu istana es adalah tugas kewajibanku, apa yang terjadi hari ini akan

kukatakan apa adanya dan bagaimana kejadiannya, aku tidak peduli kesaksianku ini akan

menyinggung perasaan ataupun akan menguntungkan orang lain.”

“Nenek Po . . . .” rengek Tong Siau-sian dengan suara lirih.

218

“Rekan-rekan seperguruan,” kata Tong-popo segera dengan suara lantang, “masuk ke daerah

terlarang secara paksa adalah suatu kejadian serius, kalau Kokcu berkeras menghendaki bukti,

marilah kita dengarkan bersama kesaksian enci Po, apakah Ho Leng-hong bersalah atau tidak

akan kita putuskan setelah mendengarkan kesaksiannya.”

Seketika itu suasana di luar maupun dalam ruangan batu menjadi hening, semua orang

menahan napas dan siap mendengarkan pengakuan nenek Po.

“Nah, enci Po,” kata Tong-popo kemudian dengan bangga, “harap berikan kesaksianmu

dengan suara keras agar setiap orang dapat mendengarkan.”

Berputar biji mata nenek Po yang putih, lalu dengan suara lantang katanya, “Po Sui-lan

bertugas menjaga istana es sebagai daerah terlarang, untuk mempertanggung jawabkan

kewajibanku, dengan ini kuberikan kesaksian yang sebenar-benarnya. Hari ini Kokcu dan Ho

Leng-hong benar-benar telah datang ke istana es . . . .”

Kontan saja Tong-popo dan Hoa Jin sekalian menyambut dengan sorakan senang.

“Jangan berisik dulu,” bentak nenek Po lantang, “keteranganku belum selesai kuucapkan . . . .

Sambil tertawa Tong-popo berkata, “Baik, silakan enci Po menyelesaikan kata-katanya, kami

semua pasti mendukung kesaksian enci Po ini.”

Nenek Po berdehem, lalu serunya lagi dengan suara lantang, “Aku dapat membuktikan bahwa

Kokcu dan Ho Leng-hong hanya sampai di depan pintu istana es, mereka sama sekali tidak

melangkah masuk ke dalam istana tersebut!”

Begitu kesaksian ini diutarakan, kontan suasana di sekeliling tempat itu menjadi sunyi, tak

kedengaran sedikit suarapun, semua orang sama tertegun.

Selang sesaat kemudian, dari luar ruangan baru meledak suara sorak sorai yang nyaring,

“Hidup Kokcu! Hidup Huma!”

Hampir saja Tong Siau-sian tidak percaya hal itu bisa terjadi, ditatapnya nenek Po sekejap

dengan sorot mata penuh rasa terima kasih, lama dan lama sekali ia baru berbisik dengan

gemetar, “Terima kasih banyak, nenek Po!”

Tapi luapan terima kasih yang lirih itu telah tertutup oleh gemuruh sorak sorai di luar

ruangan, serta merta pasukan pelaksana hukum melepaskan tali yang membelenggu tubuh

Pang Wan-kun.

Air muka Tong-popo berubah menjadi merah padam, lalu berubah pucat pias, dengan gemas

serunya, “Bagus sekali tua bangka she Po, kita lihat saja nanti!”

“Tidak usah menunggu sampai nanti,” jawab nenek Po tenang, “kauberani memfitnah Kokcu

dengan tuduhan yang bukan-bukan, menghasut khalayak ramai untuk memberontak, kau

pantas dijatuhi hukuman mati. Hmm, kaukira hari ini bisa keluar ruangan ini dengan

selamat?”

Tong-popo mendengus, “Hmm, aku tidak percaya ada orang mampu menahan diriku di sini.

Ayo pergi!”

Sambil mengulap tangannya, ia berjalan keluar ruangan itu.

“Berhenti!” terdengar bentakan nyaring.

Sambil melolos golok panjang milik seorang perempuan buta, Tong Siau-sian maju ke depan

sambil membentak, “Tong Siok-tin, besar amat nyalimu, setelah melakukan kesalahan besar,

berani pula kau melawan perintah. Hmm, kau masih menghargai peraturan lembah atau

tidak?”

“Selaku seorang Tianglo yang memimpin Tiang-lo-wan, kedudukanku tidak berada di bawah

kedudukanmu sebagai Kokcu, kau tak perlu pamer kekuasaanmu di depan si nenek.”

“Tong Siok-tin berani melawan dan mengkhianati lembah, dosanya tak terampunkan, atas

nama Kim-to-leng yang diwariskan leluhur, mulai detik ini kupecat Tong Siok-tin dari

kedudukannya sebagai Tianglo,” seru Tong Siau-sian dengan suara lantang, “dengan ini pula

diperintahkan kepada seluruh anggota perguruan agar bersama-sama menangkap pengkhianat

itu, barang siapa berhasil menangkap Tong Siok-tin, dia akan kuangkat sebagai pemimpin

219

para Tianglo, barang siapa berkomplot dengan Tong Siok-tin akan dianggap sebagai

pengkhianat dan dijatuhi hukuman mati.”

Semua anggota lembah Mi-kok saling pandang dengan sangsi, untuk sesaat mereka tak tahu

apa yang harus dilakukan?”

Tong-popo segera menengadah sambil tertawa terbahak-bahak, ejeknya, “Tong Siau-sian,

Kim-to-lengmu itu tak lebih Cuma kekuasaan sebesar ini. Hm, Tiang-lo-wan adalah lembaga

paling tinggi dalam lembah ini, kau tidak berhak menghapus atau memecat seseorang dari

kedudukannya sebagai Tianglo, sebaliknya kami justru mempunyai hak untuk memecat kau

sebagai Kokcu yang tak becus . . . .”

Bicara sampai di sini ia lantas berpaling ke arah beberapa orang Tianglo lain seraya berkata,

“Saudara sekalian, urusan telah berkembang menjadi begini, lebih baik kita turun tangan saja

membekuk budak ini, entah bagaimana pendapat kalian?”

Beberapa orang Tianglo itu hanya saling pandang saja dengan terbelalak, sikap mereka

kelihatan sangsi.

Melihat gelagat tidak menguntungkan, Tong-popo segera memberi tanda sambil membentak,

“Tong Siau-sian tidak becus dan tak pantas memimpin Mi-kok, Tiang-lo-wan memutuskan

bahwa mulai saat ini dia dipecat dari jabatannya untuk kemudian memilih Kokcu baru lagi.

Pengawal tangkap dia!”

Seseorang mengiakan sambil melolos senjatanya, ternyata dia adalah Hoa Jin, tapi ketika ia

celingukan ke sana kemari dan diketahui cuma di sendiri yang menyahut, ia menjadi gugup

dan ragu untuk bertindak lebih lanjut.

Tong Siau-sian segera mengeluarkan sebilah pisau kecil berwarna emas, sambil

mengangkatnya tinggi-tinggi ia berseru, “Hoa Jin berani berkomplot untuk melakukan

pengkhianatan, barang siapa menangkap Hoa Jin, dia akan kuberi jabatan sebagai Tianglo

berbenang perak!”

Baru saja ucapan itu diutarakan, seseorang segera tampil ke depan seraya berseru, “Terima

perintah!”

Orang itupun seorang petugas “Benang biru”, dia tak lain adalah Yu Ji-nio.

“Kau manusia plin-plan dan pengecut,” maki Hoa Jin dengan gusar, “setelah keadaan berubah

menjadi begini, kenapa kau malah membantu orang lain?”

“Kentut busuk,” bentak Yu Ji-nio, “turun temurun kita menetap dalam lembah ini, belum

pernah ada orang berani menggeser kedudukan Kokcu, kauingin memfitnah diriku sebagai

pengkhianat? Hmm, justru aku sekarang hendak membekukmu untuk menebus dosa. Lihat

serangan!”

Golok panjangnya segera bergetar dan langsung menyerang Hoa Jin.

Bagaimanapun lebih banyak anak murid Mi-kok yang berjiwa jujur daripada yang bermaksud

khianat, sekalipun mereka tak berani bertindak ketika terjadi percecokan antara Kokcu dan

pemimpin Tianglo, tapi terhadap Hoa Jin tak seorang pun yang merasa takut, begitu Yu Ji-nio

turun tangan, serentak merekapun ikut berkobar jiwa ksatrianya, sambil berteriak nyaring

masing-masing melolos golok dan ikut mengerubuti Hoa Jin.

Begitulah suasana dalam ruangan telah berubah, dari luar ruangan pun terjadi pergolakan,

semua anak murid Mi-kok serentak melolos senjata masing-masing dan ikut terjun dalam

gerakan menentang pengkhianatan.

Melihat masa jaya baginya sudah lewat, dengan penuh kebencian Tong-popo menggentakan

kakinya ke tanah, lalu sambil putar senjata ia terjang keluar ruangan.

Bagaimanapun dia seorang Tianglo, tentu saja tenaga dalamnya jauh lebih sempurna

dibandingkan para jago Benang Biru serta para anggota pasukan Bok-lan-tui, di mana cahaya

golok berkelebat segera timbul gelombang hawa dingin, kontan semua orang menyingkir ke

belakang, dengan demikian dalam waktu singkat ia berhasil menerobos pergi.

220

Menyaksikan hal tersebut, Tong Siau-sian mau turun tangan sendiri, tapi pada saat itulah

tanpa menimbulkan suara Ho Leng-hong telah melompat ke depan dan mengadang jalan lari

Tong-popo.

Selama ini beberapa orang nenek lainnya yang tergabung dalam Tiang-lo-wan tidak

melakukan gerakan apa-apa, jelas mereka tidak setuju dengan tindakan Tong-popo yang

berkhianat secara terang-terangan itu.

Saat itulah Tong Siau-sian baru bisa mengembuskan napas lega, bisiknya kepada nenek Po,

“Bila semua pengkhianat telah berhasil dibekuk, aku pasti akan berterima kasih atas

perlindungan kau orang tua . . . .”

“Tak usah berterima kasih kepadaku,” kata nenek Po sambil menggeleng, “kalau ingin

berterima kasih, seharusnya kau berterima kasih kepada Ho Leng-hong.”

“Kenapa?” tanya Tong Siau-sian tercengang.

Nenek Po menghela napas, “Ai, selama berpuluh tahun ini tidak sedikit sudah orang yang

kuantar masuk ke dalam istana es, meskipun mereka tewas dalam istana es, tapi tiada bedanya

seperti mati di tanganku, dengan susah payah akhirnya ada juga seorang yang berhasil keluar

dengan selamat, mana aku sampai hati mencelakai lagi jiwanya dengan sepatah kataku?”

Tong Siau-sian tertawa, tanyanya pula, “Tapi kau orang tua selamanya tak pernah bohong,

kenapa sekali ini . . . .”

Biji mata nenek Po yang putih berputar, “Siapa bilang aku tak pernah bohong? Aku hanya

tidak mendapatkan kesempatan saja. Kalau ada orang mengaku selama hidupnya tak pernah

bohong, maka pengakuan itu sendiri adalah bohong besar.”

Di dunia ini memang tak ada orang yang tak pernah bohong, seperti juga di dunia ini tak

pernah ada orang yang tak mengampuni kesalahannya sendiri. Justru karena semua orang

suka memaafkan kesalahan sendiri, maka mereka suka berbohong.

------------------------

Sesungguhnya tenaga dalam Leng-hong bukan tandingan Tong-popo, tapi lantaran ia

memahami jurus kesembilan yang merupakan jurus anti ilmu golok Ang-siu-to-hoat, maka

setiap gebrakan ia selalu mengawasi keadaan dan membuat permainan golok Tong-popo

sukar dikembangkan.

Tak sampai lima enam gebrakan, secara beruntun Tong-popo telah menerima dua kali

bacokan sekalipun tidak parah, namun cukup menggetarkan sukma Tong-popo.

Setelah sadar bahwa ia bukan tandingan Ho Leng-hong, tiba-tiba nenek itu berkata lirih, “Hei,

orang she Ho, jangan terlalu mendesak diriku, kau masih ingin menolong Hui Beng-cu

tidak?”

Tergerak juga hati Ho Leng-hong, serangan goloknya dikendurkan, lalu balik bertanya, “Kau

sanggup menolongnya?”

“Jika kau mau melepaskan diriku, tentu saja aku mempunyai cara untuk menolongnya lolos

dari cengkeraman orang.”

“Coba jelaskan dulu!”

“Setelah terluka, sampai sekarang, Samkongcu dari Ci-moay-hwe belum meninggalkan

lembah ini, hanya aku yang mengetahui di mana dia bersembunyi, kalau kausetujui untuk

melepaskan diriku dari sini, dia akan kuserahkan padamu, dengan ia sebagai sandera, apa

susahnya untuk memaksa pihak Ci-moay-hwe membebaskan Hui Beng-cu.”

Mencorong sinar mata Ho Leng-hong, ia menarik kembali goloknya seraya bertanya,

“Sekarang dia berada di mana?”

“Sedang merawat lukanya dalam lembah ini, asal Ho-tayhiap bersedia memberi jalan lewat,

sekarang juga kuajak kau ke sana . . . .”

221

“Baik. Ayo bawa aku ke sana!” golok Leng-hong segera ditarik kembali dan memberi jalan

lewat, secepat kilat Tong-popo kabur dari situ.

“Leng-hong, cepat cegat dia!” teriak Tong Siau-sian kaget.

Ho Leng-hong mengulapkan tangannya seraya berkata dengan suara tertahan, “Baik-baiklah

mengatur urusan lembah sini, serahkan orang itu kepadaku, jangan mengirim orang untuk

menyusulnya, aku akan kembali dengan cepat.”

Tong Siau-sian masih ingin tanya lagi, tapi Ho Leng-hong telah melayang ke sana menyusul

Tong-popo.

----------------------------

Sebagian besar anak murid Mi-kok telah berkumpul di belakang lembah ini hingga bangunan

induk terasa lenggang dan sepi.

Tong-popo langsung kembali ke Tiang-lo-wan, ibaratnya anjing yang kena gebuk, ia pulang

dengan lemas dan murung.

Kendatipun dalam gedung saat itu tinggal beberapa orang pelayan saja, orang-orang itupun

diusir keluar semua.

Dalam keadaan demikian, kecuali kepada diri sendiri boleh di bilang ia tidak percaya pada

orang lain lagi, selain itu iapun tak berani berdiam lama dalam lembah, maka sebelum

meninggalkan tempat itu untuk selamanya, beberapa macam barang berharga perlu dibawa

serta.

Di antara barang mestika termasuk juga dua bilah golok pusaka, yang pertama adalah Yan-cipo-

to dari Thian-po-hu, sedang yang kedua adalah golok sabit dari Hui Beng-cu.

Terhadap asli tidaknya golok mestika Yan-ci-po-to untuk sementara waktu belum dapat

ditentukan, maka dia hanya menyandangnya di punggung, sementara golok sabit milik Hui

Beng-cu dipegangnya dan siap dipergunakan untuk menghadapi segala kemungkinan.

Ho Leng-hong mengadang jalan perginya di tengah halaman, begitu ia muncul, pemuda itu

segera menegur dengan ketus, “Kim Hong-giok bersembunyi di mana? Kalau tidak

kauserahkan padaku, jangan harap meninggalkan lembah Mi-kok dengan selamat.”

Sesudah lolos dari kepungan, apalagi golok mestika sudah berada dalam genggaman, Tongpopo

kelihatan tidak takut lagi, katanya sambil tertawa, “Ho-tayhiap, antara kau dan aku

ibaratnya air sumur tak melanggar air sungai, aku harap kau jangan mendesak orang

keterlaluan, selewatnya hari ini, rasanya kita masih akan berjumpa lagi.”

“Boleh saja aku tidak mencampuri urusan dalam lembah kalian, tapi harus kauserahkan Kim

Hong-giok kepadaku, sebab itulah syarat bagimu untuk meloloskan diri dari sini.”

“Bila orang itu kuserahkan padamu, dapatkah kau menjamin bahwa Tong Siau-sian akan

mengundurkan diri dari jabatannya dan menyerahkan semua kekuasaan Mi-kok kepadaku?”

“Itu urusan lembah kalian, aku tidak dapat memberi jaminan seperti itu.”

“Makanya akupun tak dapat menyerahkan Kim Hong-giok kepadamu,” jawab Tong-popo

sambil tertawa dingin, “sebab mereka akan mendukungku kembali ke sini, sudah lama Cimoay-

hwe menyiapkan orang-orangnya di sekitar sini, kalau aku sampai bentrok dengan

mereka, siapa yang akan mendukungku kembali ke lembah ini?”

“Jadi kau hendak mengingkar janji?” bentak Leng-hong.

“Bukanya aku ingkar janji, terus terang kuberitahu, tadi Kim Hong-giok telah kabur pergi dari

Mi-kok, apa yang kuucapkan tadi tidak lebih hanya siasat belaka.”

Betapa geram Ho Leng-hong, bentaknya, “Kalau begitu, jangan harap kau bisa lolos dari

sini!”

“Ho-tayhiap, sekalipun kau menahan diriku atau menyerahkan diriku kepada Tong Siau-sian

untuk dijatuhi hukuman, hal inipun tidak bermanfaat bagimu, sebaliknya bila kau ikut diriku

meninggalkan lembah ini, bisa saja kubawa kau ke markas rahasia Ci-moay-hwe, tentu saja

222

berhasil atau tidaknya kau menolong Hui Beng-cu bergantung kepada kepandaianmu sendiri,

aku hanya bertugas membawa jalan, aku tak ingin menyalahi teman-temanku sendiri.”

Nenek itu sungguh licik dan banyak tipu muslihatnya, jelas tujuannya hanya ingin

mempergunakan Ho Leng-hong untuk melindunginya meninggalkan Mi-kok, andaikata tiba

di sarang rahasia Ci-moay-hwe, diapun pasti akan berpihak kepada Ci-moay-hwe dan

membekuk Ho Leng-hong guna mencari pahala, jadi kalau dia bilang berniat membantu

pemuda itu menolong Hui Beng-cu, hal ini jelas hanya tipuan belaka.

Tapi Ho Leng-hong seolah-olah tidak berpikir sampai ke situ, setelah termenung sebentar, dia

mengangguk, “Baik, aku percaya padamu sekali lagi, kalau kau berani membohongi pula,

jangan menyesal bila aku tidak sungkan lagi padamu.”

“Jangan kuatir,” kata Tong-popo dengan tertawa, “sekali ini aku bicara sejujurnya.

Bayangkan sendiri, setelah kabur dari Mi-kok, kecuali menuju ke Ci-moay-hwe, aku dapat

kabur ke mana lagi?”

“Ayo berangkat!” seru Leng-hong kemudian, segera ia berangkat lebih dulu meninggalkan

gedung tersebut.

Tiba di mulut lembah, belasan orang pengawal dari Bok-lan-pek-tui telah mengadang mereka,

seorang petugas dari benang biru segera berkata, “Tong-popo telah berkhianat dan melarikan

diri, Kokcu memberi perintah agar membekuknya, siapapun dilarang meninggalkan lembah

ini.”

“Berilah jalan lewat padaku, bila Kokcu menegur nanti, akulah yang bertanggung jawab,”

sahut Ho Leng-hong.

“Ho-huma adalah tamu agung kami, untuk melepaskanmu pergi kami masih berani

melakukannya, tapi Tong-popo . . . . .”

“Aku yang membawanya pergi, bila terjadi sesuatu tentu saja aku pula yang bertanggung

jawab.”

Petugas penjaga lembah itu menjadi serba susah, katanya dengan ragu, “Tentang ini . . .

bagaimana kalau hamba minta persetujuan Kokcu lebih dulu?”

“Aku ada urusan yang mendesak, tiada waktu lagi untuk menunggu jawaban kalian,” kata

Leng-hong dengan tidak sabar, “pokoknya sampaikan saja apa yang kukatakan ini kepada

Kokcu.”

Sampai di sini, tanpa menunggu jawaban lagi, ia lantas menerobos lewat lebih dulu.

Dengan golok sabit terhunus Tong-popo ikut menerjang keluar pula.

Para penjaga tak ada yang berani turun tangan mengalangi mereka, dengan mata terbelalak

terpaksa mereka membiarkan kedua orang itu meninggalkan lembah.

Pada waktu pergi Tong-popo masih sempat mendamprat dengan penuh kebencian tapi para

penjaga pura-pura tidak mendengar, setelah kedua orang itu pergi jauh, satu di antara penjaga

itu secara hati-hati sekali membuntuti kedua orang itu dari kejauhan.

Sekalipun orang itu mengenakan baju barisan “benang putih”, kenyataannya dia adalah Pang

Wan-kun.

----------------------------

Yang dimaksudkan sebagai markas rahasia Ci-moay-hwe oleh Tong-popo, pada hakikatnya

adalah rumah gubuk yang terletak di bukit gerbang di belakang Mi-kok.

Sepanjang jalan ia lari berdampingan dengan Ho Leng-hong, ketika mendekati rumah gubuk

itu tiba-tiba ia mengerahkan tenaga dalam dan mempercepat langkahnya.

Leng-hong kuatir nenek itu akan kabur, buru-buru mengerahkan tenaga dalam untuk

menyusul.

Satu di depan yang lain di belakang, dalam waktu singkat kedua orang telah tiba di tanah

lapang di depan rumah gubuk itu.

223

Tiba-tiba Tong-popo mencabut golok lengkungnya sambil membentak, “Ho Leng-hong,

jangan kau mendesak orang keterlaluan, aku sudah terperosot seperti ini, tapi kau masih

mengejar tiada hentinya. Hm, biarlah aku beradu jiwa denganmu.”

Seraya berkata goloknya terus berputar dan menerjang Ho Leng-hong.

Tapi baru bergebrak beberapa jurus, mendadak ia berlagak tidak tahan, permainan goloknya

menjadi kalut, bersamaan itu ia berteriak dengan gugup, “Nona Lik-giok, cepat bantu aku.

Samkongcu telah terjebak dalam Mi-kok, kalian tak dapat berpeluk tangan belaka....”

Di tengah teriakannya itu, bayangan manusia segera bermunculan, dalam waktu singkat dua

puluhan orang perempuan berbaju hitam telah muncul di situ.

Perempuan-perempuan berbaju hitam itu semuanya memakai baju pendek dengan ujung

lengan lebar, rambutnya disanggul tinggi, setiap orang menggenggam sebilah golok panjang

sempit dan sebilah pisau pendek terselip di pinggang.

Bersamaan itu pula, dari balik rumah gubuk berjalan keluar dua orang, seorang mengenakan

baju warna hijau dan yang lain berjubah biru.

Yang memakai baju hijau itu adalah Kim Lik-giok, sedangkan yang memakai jubah biru

belum pernah dijumpainya.

Akan tetapi usia maupun kedudukan perempuan berjubah biru ini agaknya di atas Kim Likgiok,

ditinjau dari dandanannya jelas dia adalah seorang perempuan asing suku Ainu.

Begitu muncul ia lantas membentak, “Tahan!”

Bahasa yang dipergunakan adalah Bahasa Han, akan tetapi logatnya kaku sehingga

kedengarannya sangat lucu.

Tong-popo dan Ho Leng-hong segera menarik kembali serangannya sambil mundur ke

belakang, serentak para perempuan Ainu yang berada di sekeliling tempat itu bergerak maju

dan mengurung kedua orang itu rapat-rapat.

Tong-popo kelihatan tercengang, serunya, “Nona ini adalah . . . .”

“Dia adalah Toasuci,” jawab Kim Lik-giok, “bernama Kim Lam-giok, ketua perkumpulan

kami.”

Kim Lam-giok! Ketua Ci-moay-hwe!

Tanpa terasa Ho Leng-hong berpaling ke arah perempuan itu, usia Kim Lam-giok baru 26 –

27 tahun, amat cantik dan sedikit agak genit, diam-diam hatinya tergiur juga.

Sementara itu Tong-popo tersenyum ketika mengetahui bahwa perempuan itu adalah ketua

Ci-moay-hwe, katanya cepat, “O, rupanya Toakongcu, terimalah hormatku.”

“Tak usah banyak adat,” sahut Kim Lam-giok ketus, “Benarkah apa yang kau ucapkan tadi?”

“Aku dengan perkumpulan kalian telah mengikat tali persahabatan, untuk apa aku

berbohong?”

“Tapi, mengapa kau menderita kekalahan sedemikian mengenaskan? Kenapa Sammoay bisa

terjebak dalam Mi-kok?”

“Semuanya itu adalah gara-gara orang she Ho ini . . .” sahut Tong-popo sambil menuding Ho

Leng-hong dengan ujung goloknya.

Secara ringkas diceritakannya bagaimana Ho Leng-hong dan Tong Siau-sian memasuki istana

es, bagaimana Kim Hong-giok terluka dan bagaimana nenek Po memberikan kesaksiannya . .

. .

Tampaknya Lam-giok tidak tertarik pada urusan Tong-popo berebut kekuasaan dengan Tong

Siau-sian, semua perhatiannya hanya tertuju pada soal Kim Hong-giok, kembali ia tanya,

“Kalau Sammoay terluka, mengapa kau tidak membawanya kemari? Kenapa kau

meninggalkannya dalam lembah?”

“Setelah terluka parah, Samkongcu tidak leluasa untuk bergerak, terpaksa kusembunyikan di

dalam gua di balik gunung-gunungan dalam taman Tiang-lo-wan, tempat itu sangat rahasia

dan tak mungkin bisa ditemukan orang, setelah urusanku gagal, sebetulnya aku hendak

menolongnya kabur, tapi orang she Ho ini mengikuti diriku terus menerus, dalam keadaan

224

demikian terpaksa kupancing ia kemari. Bila Hwecu ingin menolong Samkongcu, silakan

membekuk Ho Leng-hong lebih dulu, kemudian kita bersama-sama kembali ke Mi-kok dan

melenyapkan Tong Siau-sian, tentu Samkongcu bisa kita selamatkan.”

Kim Lam-giok mendengus, “Hmm, maksudmu kami harus membantumu untuk melenyapkan

musuh tangguhmu lebih dulu, kemudian mengantarmu pulang untuk menjadi penguasa Mikok?”

“Tidak, aku tidak bermaksud begitu,” sahut Tong-popo cemas, “setelah terjebak dalam

lembah, keadaan Samkongcu berbahaya sekali, kita tak bisa mengulur waktu lagi, kendatipun

kalian membantuku, sama artinya menolong Samkongcu, tindakan ini akan menguntungkan

kedua pihak.”

“Ya, tapi urusan beradu jiwa dengan musuh, kauminta Ci-moay-hwe melakukannya bagimu?”

“Sebetulnya kita tak perlu beradu jiwa dengan musuh,” kata Tong-popo lagi, “Ho Leng-hong

adalah calon suami Tong Siau-sian, asal kita berhasil membekuknya, tidak sulit untuk

memaksa Tong Siau-sian menuruti kehendak kita!”

“Kalau begitu, silakan kau sendiri membekuk orang itu!”

“Tapi . . .” Tong-popo menjadi sangsi, “orang ini telah berhasil menguasai golok lembah

kami, dengan kekuatanku seorang sulit merobohkan dia ....”

“Lantas apa gunamu kecuali berpeluk tangan menunggu hasil yang menguntungkan, apa yang

bisa kau lakukan?” bentak Kim Lam-giok.

Sambil mengulap tangannya ia lantas berseru, “bunuh orang itu . . . .”

Belum habis ucapannya, Kim Lik-giok yang berada di sampingnya tiba-tiba menyela,

“Tunggu sebentar, masih ada persoalan hendak kutanyakan padanya.”

Perempuan Ainu yang berada di sekeliling telah mengangkat golok tinggi-tinggi sambil maju

memperkecil lingkaran kepungan, mereka telah siap melancarkan serangan.

“Tong-popo,” kata Lik-giok kemudian, “kita telah bekerja sama, adalah pantas kalau masingmasing

berusaha dengan sepenuh tenaga dan saling tolong-menolong, kini Sammoay terluka,

kau tidak melindunginya, sebaliknya malah kabur sendiri, tak heran kalau Toaci menjadi

marah.”

“Kalian hanya menyalahkan diriku, kenapa tidak menyalahkan diri sendiri?” kata Tong-popo

dengan marah, “ketika Kim Hong-giok menyeludup ke dalam istana es untuk mencuri belajar

Ang-siu-to-hoat, sebelumnya ia tak pernah memberitahukan apa-apa kepadaku, tapi setelah

kejadian itu aku telah menyembunyikan dia, apakah akupun salah?”

“Tentu saja bukan seluruhnya kesalahanmu, aku ingin tanya padamu, benar amankah tempat

sembunyi Sammoay?”

“Tanggung . . .”

“Tanggung tidak aman!” tiba-tiba seorang menyela ucapan Tong-popo.

Menyusul ucapan tersebut, serombongan besar bayangan orang melayang ke atas tanah

lapang . . . . mereka adalah kedua belas jago “kelompok benang biru” yang memimpin empat

puluhan orang pasukan berbenang hitam yang tergabung dalam Bok-lan-pek-tui.

Di tengah berkelebatannya bayangan merah, dalam waktu singkat puluhan perempuan pendek

berbaju hitam suku Ainu itu sudah terkepung.

Sebagai pemimpinya bukan lain adalah Tong Siau-sian. Kokcu lembah Mi-kok, sedang yang

berbicara adalah Pang Wan-kun.

Dua anggota Bok-lan-pek-tui menggotong sebuah pembaringan kayu, di atas pembaringan

membujur tubuh Samkongcu Kim Hong-giok yang tertutuk jalan darahnya.

Air muka Kim Lam-giok dan Kim Lik-giok berubah menjadi pucat seperti mayat, mereka

menatap Kim Hong-giok yang berada di pembaringan dengan rasa cemas dan gelisah.

Keadaan Tong-popo lebih mengenaskan lagi, ibaratnya seekor anjing liar yang menghadapi

jalan buntu, dengan sinar mata yang penuh rasa cemas ia celingukan ke sana kemari sambil

berusaha keras mencari kesempatan untuk kabur.

225

Tapi hampir ratusan orang telah mengepung sekeliling tempat itu, cahaya golok berkilauan,

apa lagi di sampingnya masih berdiri seorang Ho Leng-hong yang mengawasinya tanpa

berkedip, ingin kabur? Jelas bukan pekerjaan gampang.

Walaupun Pang Wan-kun tidak mengenakan seragam Mi-kok, kini ia merupakan seorang

yang mempunyai kedudukan tinggi dalam Mi-kok, terdengar ia berseru dengan suara lantang,

“Ci-moay-hwe bukan saja berani memasuki tempat terlarang lembah kami dan mencuri

belajar ilmu silat kami, kalian pun berani pula melindungi buronan lembah kami, bicara soal

kesalahan kalian pantas dihukum mati, bila ada di antara kalian yang mau melepaskan senjata

dan menyerahkan buronan, Kokcu kami bersedia mengampuni dosa kalian dengan memberi

jalan hidup. Nah, sekarang siapa yang ingin hidup dan siapa ingin mati terserah pada pilihan

kalian sendiri.”

Kim Lam-giok dan Kim Lik-giok tidak bicara apa-apa, kedua puluh orang perempuan Ainu

pun tak ada yang melepaskan senjata, jelas kendatipun mereka merasa tak bisa menang

menghadapi lawan lihai, namun mereka pantang menyerah dengan begitu saja.

Menyaksikan keadaan ini, Pang Wan-kun berpaling ke arah Tong Siau-sian, gadis itupun

mengangguk.

Hal ini berarti segala sesuatunya telah diserahkan kepada Pang Wan-kun untuk memutuskan.

Dengan wajah serius pelahan Pang Wan-kun mengangkat tangan kanannya, lalu berkata,

“Kalian sendiri yang mencari mampus, jangan menyesal jika pihak kami tidak memberi

kesempatan lagi kepada kalian!”

Baru saja ia hendak menitahkan anak buahnya untuk melancarkan serangan, tiba-tiba Kim

Lam-giok menengadah sambil tertawa terbahak-bahak....

“Hei, kematian sudah berada di ambang pintu apa yang kau tertawakan?” bentak Wan-kun.

“Benar, ilmu golok Ang-siu-to-hoat dari Mi-kok memang tiada tandingan di dunia ini, apalagi

dengan jumlah orang yang banyak, bila terjadi pertarungan mungkin saja Ci-moay-hwe kalah,

tetapi sebelum menderita kekalahan total, kami pun tak akan melepaskan orang yang berada

di tangan kami.

Sambil berpaling ke arah rumah gubuk, bentaknya, “Suheng, gusur ke keluar orang-orang

itu!”

Dari dalam rumah gubuk terdengar suara orang menyahut, menyusul muncul serombongan

orang, orang pertama adalah laki-laki setengah umur bertubuh pendek tapi kekar, di

belakangnya mengikuti dua orang laki-laki berbaju pendek dan menggusur seorang lelaki dan

seorang perempuan.

Lelaki itu berusia lima puluhan, berwajah keren, bermuka merah, beralis tebal dan dibelenggu

oleh tali sekujur badannya sehingga mirip seorang tawanan.

Yang perempuan adalah Hui Beng-cu, iapun dibelenggu kencang dengan golok dipalangkan

pada tengkuknya.

“Ho Leng-hong!” kata Kim Lam-giok kemudian, “tahukah kau siapa tawanan laki-laki ini?

Jika kau ingin tahu, silakan tanya sendiri kepada Pang Wan-kun!”

“Tak perlu tanya, aku tahu dia pastilah pemilik gedung Hiang-in-hu dari Hu-yong, Tay-yangto

(golok matahari) Hui Pek-ling!”

“Hahaha, kau memang pintar sekali!” kata Kim Lam-giok sambil tertawa, “Kalau begitu, kau

tentu mengetahui bukan, seandainya orang-orang Mi-kok sampai turun tangan, apa yang akan

kuperbuat terhadap kedua orang ayah dan anak ini?”

Hawa amarah terpancar dari wajah Ho Leng-hong, bentaknya dengan menahan geram,

“Perselisihan kalian dengan Mi-kok apa sangkut pautnya dengan mereka ayah dan anak?

Tidakkah kau merasakan perbuatanmu itu terlalu rendah dan kotor?”

“Mereka ayah dan anak mempunyai hubungan dengan kau, dan kau adalah tamu agung Mikok,

asal kaumau tampil ke depan, perselisihan di antara kedua pihak baru bisa terselesaikan,”

jawab Kim Lam-giok dengan tertawa.

226

Leng-hong hanya mendengus dan tidak berkata apa-apa.

Kembali Kim Lam-giok berkata, “Kami tidak mempunyai permintaan lain, aku hanya ingin

menggunakan kedua orang ini untuk ditukar dengan Sammoayku Hong-giok, kemudian Cimoay-

hwe akan segera angkat kaki dari Tay-pa-san ini, mengenai Tong-popo, kuserahkan

penyelesaiannya kepada kalian, entah bagaimana pendapat Ho-tayhiap dengan syarat ini?”

Belum sempat Ho Leng-hong menjawab, dengan gusar Tong-popo telah berteriak,

“Perempuan busuk, lantaran posisiku sudah tersudut, maka kau ‘setelah menyeberang sungai

lantas menghancurkan jembatan’? Hm, terus terang kuberitahukan padamu, tidak segampang

itu rencanamu bisa terpenuhi, bila aku si nenek tak mampu meloloskan diri, kalian perempuan

asing busuk juga jangan harap bisa meninggalkan tempat ini dengan selamat.”

“Hei, apa gunanya kau marah kepada kami?” ejek Kim Lam-giok, “bukannya aku tak sudi

membantumu, adalah kau yang mencelakai Sammoay lebih dahulu!”

Kemarahan nenek Tong tak terkendalikan lagi, tiba-tiba ia putar goloknya dan menerjang ke

arah rumah gubuk itu.

Begitu dia turun tangan, serentak perempuan-perempuan Ainu yang berada di sekeliling

sanapun turun tangan mengalanginya, serentak cahaya golok dan bentakan nyaring lantas

berjangkit di sana sini.

Sekalipun jumlah perempuan Ainu itu sangat banyak, ilmu golok mereka jauh ketinggalan

bila dibandingkan Ang-siu-to-hoat dari Mi-kok, begitu pertarungan berkobar, beruntun empat

lima orang telah terluka, Tong-popo berhasil menerobos lingkaran tersebut.

Tapi di luar lingkaran kepungan perempuan Ainu itu masih ada sekelompok besar anak murid

Mi-kok.

Dengan tenaga dalamnya yang sempurna, secara nekat Tong-popo menerjang.

“Cegat jalan perginya, mati atau hidup, bekuk dia!” bentak Pang Wan-kun.

Empat jago “benang biru” serentak maju bersama mengadang jalan pergi Tong-popo.

Waktu itu Tong-popo mulai menyadari lemahnya kekuatan sendiri, bukan pekerjaan gampang

untuk menembus kepungan rapat itu, tapi iapun sadar bila menyerah berati mati, sebaliknya

kalau nekat mungkin masih ada harapan untuk hidup, maka seperti harimau terluka, goloknya

diputar sedemikian rupa untuk menghadapi kepungan musuh.

Baru tiga-empat gebrakan, salah seorang lawan kena dibacok bahunya sehingga melompat

mundur.

Seorang jago kelompok benang biru dengan cepat melompat maju untuk menutup kekosongan

tersebut, dengan demikian posisinya masih tetap empat lawan satu.

Makin lama Tong-popo makin nekat, di tengah bentakan-bentakan gusar yang nyaring,

kembali ia berhasil membacok roboh seorang lawan.

Begitu orang itu terluka dan mundur, segera orang lain menutupi kekosongan tersebut,

sedikitpun tidak memberi peluang bagi nenek Tong untuk melarikan diri. Keadaan tersebut

amat tidak menguntungkan nenek Tong, karena kawanan jago benang biru berjumlah dua

belas orang, sedang ia cuma seorang diri, apalagi di luar lingkaran kepungan masih ada empat

puluh orang lebih pasukan Bok-lan-tui.

Pertarungan ini betul-betul pertarungan kalap seperti seekor binatang yang terjebak, sengit

dan tegang, seperti demonstrasi kelihayan ilmu golok aliran Mi-kok, semua ini membuat para

perempuan Ainu yang berada di sekitar situ menjadi tertegun.

Baju merah saling berkelebat, cahaya golok menyilaukan mata. Bagaimanapun Tong-popo

hanya seorang diri, dalam suatu kesempatan akhirnya suatu bacokan sempat mampir juga

pada pahanya.

Darah segera berhamburan membasahi pakaiannya yang berbenang perak itu, begitu

kehilangan banyak darah, tenaga makin lemah, gerakannya jadi lamban, akhirnya lengan kiri

dan pinggang juga kena bacokan.

227

Tong-popo tidak tahan lagi, sambil melepaskan serangan, buru-buru ia mundur dengan

sempoyongan.

Tiba-tiba satu tangan memayang tubuhnya, menyusul terdengar Ho Leng-hong menghela

napas panjang, “Ai, apa gunanya saling membunuh dengan sesama saudara perguruan,

lepaskan golokmu Popo!”

Sekuat tenaga Tong-popo bermaksud menyerang pula, tapi pergelangan tangan segera

kesemutan dan golok lengkung sudah dirampas oleh Ho Leng-hong.

Segenap anggota Mi-kok menyambut kejadian itu dengan sorak kegirangan, serentak mereka

menerobos kepungan perempuan-perempuan Ainu dan berkerumun ke depan . . . .

“Jangan buru-buru turun tangan,” seru Ho Leng-hong, “ada yang hendak kukatakan lebih

dulu.”

Dengan sebelah tangan memegang golok dan tangan lain memayang Tong-popo, pemuda itu

berkata lebih jauh, “Nona Tong, bersediakah kau mengabulkan permintaanku?”

“Kenapa? Kau ingin mintakan ampun baginya?”

“Sebenarnya aku tidak berhak mintakan ampun bagi Tong-popo yang telah melanggar

peraturan Mi-kok, tapi bagaimanapun dia adalah ahli waris Ang-ih Hui-nio, ia keblingar dan

melakukan kesalahan besar lantaran kemaruk kekuasaan, apakah nona bersedia memandang

hubungan persaudaraan dan mengampuni jiwanya? Biarkan dia hidup sampai akhir hayatnya

alam lembah dengan status sebagai orang hukuman!”

Tong Siau-sian mengernyitkan alis, lalu berkata, “Ia telah menipumu masuk ke istana es,

berulang kali ingin mencelakai jiwamu, apakah kau telah melupakan semua itu?”

Ho Leng-hong tertawa getir, “Bila mana bisa mengampuni orang, ampunilah dia! Ia sudah tua

dan paling banter hidup beberapa tahun lagi, apa salahnya kalau kita ampuni jiwanya dan

memberi kesempatan kepadanya untuk melewatkan sisa-sisa kehidupannya saat ini?”

Tong Siau-sian termenung sejenak akhirnya ia mengangguk, “Baiklah, kukabulkan

permintaanmu, tapi ilmu silatnya harus dipunahkan dan sepanjang hidupnya ditahan dalam

penjara!”

“Terima kasih, nona!” Leng-hong segera memberi hormat.

Ia lantas melepaskan golok mestika Yan-ci-po-to dari punggung Tong-popo, menutuk jalan

darahnya dan menyerahkan nenek itu kepada dua orang petugas benang biru untuk

menggusurnya pergi.

Semua perempuan Ainu yang berada di sekitar situ dapat mengikuti adegan tersebut, mereka

sama terharu sehingga banyak di antaranya tanpa sadar menurunkan samurainya masingmasing.

Ho Leng-hong menyapu pandang sekejap wajah orang-orang di sekelilingnya, lalu dengan

suara lantang berkata, “Kalian semua adalah perempuan baik-baik bangsa Ainu, kenapa kalian

mau diperalat orang dan jauh-jauh menyeberangi lautan datang ke Tionggoan untuk

mengantar kematian? Ketahuilah, laki-laki dan perempuan secara kodrat mempunyai

kewajiban yang berbeda, perempuan Ainu terkenal bijak dan alim, apa gunanya kalian datang

ke wilayah Tionggoan sini? Apakah kalian tidak rindu pada orang tua yang berada di

negerimu sendiri?”

Perempuan Ainu itu saling pandang tak seorang pun bersuara atau memberi komentar.

“Ho Leng-hong, jangan kau memecah belah kekuatan Ci-moay-hwe!” teriak Kim Lam-giok,

“kami perempuan bangsa Ainu sudah muak dan tak tahan diperbudak oleh kaum pria macam

kau, sebab itu kami mengambil keputusan untuk mendirikan Ci-moay-hwe, kamipun ingin

membuat kaum lelaki merasakan bagaimana rasanya kalau ditindas dan diperbudak orang.”

“Sekalipun demikian, sepantasnya kaudirikan Ci-moay-hwe di negerimu sendiri yang

menindas dan memperbudak kalian dan bukan laki-laki bangsa Tionggoan, apa gunanya

kalian bikin kacau di wilayah Tionggoan kami?”

228

“Ini . . . .” seketika Kim Lam-giok terbungkam, tapi setelah berpikir sebentar, katanya lagi,

“hal ini disebabkan daratan Tionggoan sangat luas dan rakyatnya banyak, kami akan

mendirikan Ci-moay-hwe di sini lebih dulu, setelah daratan Tionggoan kami kuasai, tidaklah

sulit bagi kami untuk menguasai bangsa Ainu.”

Ho Leng-hong tersenyum, katanya, “Sayang perempuan Tionggoan kebanyakan berwatak

bajik, tak mudah mereka terpengaruh, kalau tidak percaya tanyalah kepada puluhan orang

perempuan Tionggoan yang hadir di sini, siapa di antara mereka yang mau menggabungkan

diri dengan Ci-moay-hwe?”

Puluhan anggota Mi-kok sama tergelak, mereka merasa persoalan Ci-moay-hwe ini sangat

lucu dan tak seorang pun tertarik untuk menjadi anggota.

Tiba-tiba Leng-hong berkata dengan kereng, “Masalah Tong-popo telah berakhir, seperti apa

yang dijanjikan oleh Mi-kok Kokcu, barang siapa ingin pulang ke negeri asalnya dalam

keadaan hidup boleh segera membuang senjatanya ke tanah, masing-masing akan diberi

pesangon seratus tahil perak untuk ongkos pulang, kalau tidak, maka Tay-pa-san akan

menjadi kuburan kalian untuk selamanya.”

Baru selesai ia berseru, belasan orang di antara dua puluhan perempuan Ainu itu membuang

senjata mereka dan mengundurkan diri ke samping.

Buru-buru Kim Lam-giok membentak dengan bahasa Ainu, ternyata bentakan itu tak ada

gunanya, kembali ada beberapa orang membuang senjata mereka.

Kim Lik-giok menjadi gugup, katanya dengan agak gemetar, “Ho-tayhiap, kami tidak ingin

memusuhi dirimu, asalkan Sammoay Hong-giok dilepaskan, kami segera akan angkat kaki

dari sini.”

“Ya, kalau tidak terpaksa kami akan bunuh Hui Pek-ling dan putrinya lebih dulu, kemudian

baru bertarung mati-mati melawanmu,” sambung Kim Lam-giok.

Ho Leng-hong menggeleng kepala, “Kim Hong-giok telah mencuri belajar ilmu aliran Mikok,

perbuatannya itu melanggar peraturan Mi-kok, aku tidak berhak melepaskannya, kalau

kalian berani melukai ayah dan anak keluarga Hui itu, jangan harap kalian bisa lolos dengan

selamat.”

“Barusan kau telah mintakan ampun bagi Tong-popo, sekarang apa salahnya kamipun

mintakan ampun buat saudaraku?” pinta Kim Lik-giok.

“Tong-popo adalah anggota lembah, sebaliknya Kim Hong-giok hendak meninggalkan

lembah ini, jadi aku tak bisa memintakan ampun baginya.”

Kim Peng yang sejak tadi membungkam mendadak membentak, “Ho Leng-hong, jangan

latah, kalau punya kepandaian, beranikah bertaruh denganku?”

“Bertaruh bagaimana?” tanya Leng-hong.

“Beranikah kau berduel denganku tanpa menggunakan ilmu golok aliran Mi-kok, jika kau

menang, kami bersedia membubarkan Ci-moay-hwe, semuanya bergabung dengan Mi-kok

dan selamanya tidak pulang ke negeri asal.”

“Seandainya aku kalah?” tanya Ho Leng-hong sambil tertawa.

“Kalau kaukalah, maka harus kausuruh Tong Siau-sian membubarkan Mi-kok dan bergabung

dengan Ci-moay-hwe, Mi-kok akan menjadi pusat markas besar perkumpulan Ci-moay-hwe

kami.”

“Maaf, aku tak dapat menerima taruhan seperti itu, karena Mi-kok bukan milikku,” kata

Leng-hong sambil menggeleng kepala.

“Kau tidak berani menerima tantanganku?” ejek Kim Peng sambil tertawa dingin.

“Bukannya tidak berani, aku tak bisa menyanggupi . . . .”

“Aku setuju!” mendadak seorang menyambung.

Orang itu ternyata adalah Tong Siau-sian.

Leng-hong melenggong, katanya cepat, “Nona, persoalan ini bukan masalah kecil, Mi-kok

mempunyai aturan leluhur yang ketat, andaikata . . . .”

229

“Tak ada andaikata, aku percaya kau pasti akan merebut kemenangan.”

“Sudah lama Kim Peng berdiam di wilayah Leng-lam,” kata Leng-hong dengan kening

berkerut, “ia sudah apal sekali Tay-yang-sin-to (tiga belas bacokan panas matahari) dari

Hiang-in-hu, aku tidak mempunyai keyakinan akan menangkan perarungan ini.”

Tong Siau-sian tertawa, “Dia Cuma berlatih ilmu golok dan tak pernah berlatih ilmu pedang,

lagipula kecuali Ang-siu-to-hoat, di dunia dewasa ini ada ilmu golok macam apakah yang

sanggup menandingi Poh-in-pat-tay-sik (delapan jurus sakti pembuyar mega) kemahiranmu

itu?”

“Kokcu sendiri tidak kuatir, apalagi yang kaukuatirkan?” bisik Pang Wan-kun, “turun

tanganlah, beri ajaran setimpal pada si kate itu!”

Kenyataannya tidak mengizinkan Ho Leng-hong untuk bersangsi lebih lama, karena waktu itu

Kim Peng dengan langkah lebar telah menuju ke tengah arena, semenara perempuanperempuan

Ainu serta anggota Mi-kok yang berada di tanah lapang telah mengundurkan diri

dari situ.

Terpaksa Ho Leng-hong mengangkat bahu, setelah menyelipkan Yan-ci-po-to ke ikat

pinggang, sambil menenteng golok lengkung ia menyongsong ke depan.

Setelah kedua orang itu berdiri berhadapan, ternyata Ho Leng-hong lebih tinggi satu kepala

daripada Kim Peng, sebaliknya pinggang Kim Peng satu kali lebih besar dibandingkan

pinggang Ho Leng-hong.

Yang satu langsing dan jangkung, yang lain kekar dan pendek, masing-masing telah

mengambil posisi siap tempur.

Ho Leng-hong membawa dua bilah golok, Kim Peng juga memegang samurai panjang dan

sebilah pedang pendek.

“Ingat!” kata Kim Peng kemudian sambil menengadah, “kau tak boleh menggunakan Angsiu-

to-hoat dari Mi-kok!”

“Jangan kuatir!” sahut Leng-hong sambil mengangguk.

“Kita tidak membatasi jumlah jurus, pokoknya menang-kalah ditentukan bila salah seorang

terkena, barang siapa berhenti di tengah jalan, dia dianggap kalah.”

“Boleh!”

“Untuk memperoleh kemenangan, semua pihak diperkenankan mempergunakan cara apapun,

tapi hanya terbatas saling menutul saja.”

“Baik!”

Tiba-tiba Kim Peng berseru ke arah belakang Ho Leng-hong, “Hei, nona, harap mundur

sedikit, tidak boleh membantu secara diam-diam!”

Ho Leng-hong mengira ada orang hendak membantunya secara diam-diam, cepat ia berpaling

. . . . .

Pada saat ia berpaling itulah cahaya golok secepat kilat menggulung pinggangnya. Ternyata

Kim Peng hanya pura-pura membentak untuk mengalihkan perhatian pemuda itu, lalu ia

menyergap secepat kilat.

Karena tidak menyangka, hampir saja Ho Leng-hong termakan serangan itu, buru-buru ia

bergeser ke samping dan putar badan . . . . .

Kendatipun tebasan itu berhasil dihindari, tapi Kim Peng telah berhasil merebut posisi di atas

angin, samurainya berputar sedemikian rupa sehingga berwujud satu lingkaran sinar, dalam

sekejap ia telah melancarkan tujuh-delapan kali tebasan maut.

Di bawah tekanan musuh yang bertubi-tubi, Ho Leng-hong tak sempat menghentikan gerak

tubuhnya, dia terdesak mundur sejauh satu tombak lebih, ia membentak dan segera ayun

goloknya untuk menangkis dengan keras lawan keras.

“Trang!” mendadak Ho Leng-hong merasa tangannya menjadi ringan, ternyata golok

lengkung itu patah menjadi dua.

230

Ho Leng-hong jadi teringat pada cerita Hui Beng-cu, dikatakan bahwa ayahnya, Hui Pek-ling,

terpikat oleh Kim Lam-giok lantaran ingin mencari sebilah golok mestika, rupanya golok

mestika yang berada di tangan Kim Peng inilah yang dimaksudkan.

Padahal golok lengkung juga golok pilihan, siapa sangka sekali bentrok lantas kutung menjadi

dua, pantas Kim Peng seperti begitu yakin pada pertarungan ini, rupanya ia mengandalkan

golok mestika tersebut.

Tanpa senjata di tangan, posisi Ho Leng-hong menjadi berbahaya, terpaksa ia buang gagang

golok itu, ia berjumpalitan di udara dan melayang lewat di atas kepala Kim Peng, kesempatan

itu dipergunakan melolos golok mestika Yan-ci-po-to yang terselip di pinggang itu.

Kendatipun Yan-ci-po-to telah dipoles dengan cairan air raksa sehingga menutupi

ketajamannya, paling sedikit ia tak kuatir goloknya akan terpapas kutung lagi.

Oleh sebab itu, begitu melayang turun ia lantas mengembangkan goloknya dan melancarkan

serangan balasan.

Kim Peng masih juga berusaha untuk mengutungi Yan-ci-po-to, tapi setelah beberapa kali

bentrokan tidak berhasil, ia mulai kuatir dan ketakutan.

Dengan demikian, Ho Leng-hong dapat merebut kembali posisinya, ia mendesak maju terus.

Dalam paniknya Kim Peng ganti serangan, kali ini dia khusus menyerang tiga arah bagian

bawah lawan, dengan potongan badan yang pendek, ia mengelilingi kaki Ho Leng-hong

dengan gerakan cepat dan mengembangkan ilmu golok Tay-yang-sin-to dari Hiang-in-hu.

Tay-yang-sin-to ini bukan cuma bergerak cepat, sewaktu dikembangkan golok itu

memancarkan hawa berwarna merah darah bagaikan kobaran api.

Tentu saja untuk memainkan ilmu golok Tay-yang-sin-to ini banyak tenaga dalam yang harus

digunakan.

Tapi Kim Peng seperti memiliki tenaga yang tiada habisnya, permainan goloknya kian lama

kian cepat, di antara putaran goloknya, kabur merah menyelimuti angkasa dan seakan-akan

mengurung Ho Leng-hong dalam sebuah tungku api yang membara.

Hawa udara yang panas tentu saja tidak enak, ditambah lagi Ho Leng-hong yang jangkung

harus menghadapi lawan yang cebol, keadaan ini sangat tidak menguntungkan dia, tak lama

kemudian sekujur badannya sudah basah kuyup oleh keringat.

Tapi iapun berhasil menemukan sesuatu yang aneh . . . golok mestika Yan-ci-po-to seakanakan

kian lama kian bertambah tajam.

Ia jadi teringat pada pesan Pang Goan, bahwa mata golok Yan-ci-po-to telah dipoles dengan

air raksa sehingga kelihatannya tumpul, tapi kalau digarang api sehingga air raksa meleleh,

maka ketajamannya akan pulih kembali, jangan-jangan lantaran Kim Peng menggunakan ilmu

golok Tay-yang-sin-to, maka air raksa pada mata golok menjadi meleleh?

Ho Leng-hong masih juga tidak percaya, pada suatu kesempatan, tiba-tiba ia membacok tubuh

lawan dengan sepenuh tenaga.

Sesungguhnya Kim Peng mempunyai peluang untuk berkelit, tapi diam-diam timbul hawa

napsu membunuhnya. Mendadak golok di pindah ke tangan kanan, kaki setengah berlutut,

dengan jurus Heng-ka-kim-ko (menangkis melintang batang emas) ia sambut bacokan lawan

dengan keras lawan keras, sementara tangan kiri secepat kilat melolos pisau pendek dari

pinggang dan menikam lambung anak muda itu.

Jurus serangan ini benar-benar ganas dan keji Tong Siau-sian menjerit saking terkejutnya.

Keadaan waktu itu memang gawat, tangkisan samurai Kim Peng telah mengunci mati golok

Ho Leng-hong, sementara tikaman tangan kiri berlangsung dalam jarak yang amat dekat,

serangan yang tidak terduga . . . .

Serentak jeritan ngeri berkumandang menggetar perasaan setiap orang.

Hampir setiap orang yang berada di situ menganggap Ho Leng-hong pasti terluka, tapi

kenyataannya ternyata tidak.

231

Yang terluka sebaliknya adalah Kim Peng, golok panjangnya kutung, bahkan seluruh lengan

kirinya ikut terpapas kutung juga, darah membasahi sebagian besar tubuhnya dan ia sendiri

roboh tak sadarkan diri.

Tangan kirinya yang menggenggam golok pendek itu tergeletak di samping kaki Ho Lenghong,

ujung jolok itu sempat melubangi jubah luar yang dikenakan anak muda itu.

Ho Leng-hong berdiri termangu di situ sambil mengawasi golok mestika Yan-ci-po-to itu

dengan terkesima, tampak bingung dan tak habis mengerti.

Tiba-tiba Kim Lam-giok menjerit, “Orang she Ho, kau benar-benar rendah dan tak tahu malu,

tadi telah janji hanya terbatas saling menutul saja kenapa sekarang kau gunakan serangan

sekeji ini?”

Sepatah katapun Ho Leng-hong tidak bersuara, ia hanya menutuk jalan darah sekitar luka Kim

Peng, lalu mengangkatnya bangun.

“Lepaskan dia! Lepaskan dia....” bentak Kim Lam-giok dengan gusar.

Leng-hong tetap membungkam, ia menerobos kepungan orang Mi-kok dan berhenti di

hadapan Tong Siau-sian, tanyanya lirih, “Apakah nona membawa obat penghenti darah?”

Tong Siau-sian mengangguk, Pang Wan-kun segera mengeluarkan sebutir pil dan

diangsurkan.

Ho Leng-hong mencekokkan obat itu ke mulut Kim Peng, kemudian katanya, “Aku telah

salah melukainya, untuk membayar kesalahan ini, bersediakah nona memenuhi suatu

permintaanku?”

“Katakanlah, asal aku sanggup pasti kukabulkan.”

“Harap nona membebaskan Kim Hong-giok, biar mereka membawa Kim Peng pergi, segala

akibatnya akan kutanggung sendiri.”

Tong Siau-sian ragu-ragu sejenak, katanya, “Apakah kaulupa bahwa Kim Hong-giok telah

mencuri belajar Ang-siu-to-hoat kita? Melepaskan harimau kembali ke gunung hanya akan

mendatangkan bencana bagi kita di kemudian hari.”

Leng-hong mengangguk, “Aku akan menunggu sampai mereka berhasil meyakini Ang-siu-tohoat,

lalu menentukan suatu tempat untuk berduel lagi, bagaimanapun aku tak ingin orang

asing menertawakan bangsa kita yang cuma sanggup menyerang orang yang sedang susah!”

Mencorong tajam sinar mata Tong Siau-sian, katanya sambil tertawa, “Baik, sebagai bangsa

yang besar harus memiliki jiwa ksatria seperti itu.”

Ia lantas memberi tanda, dua orang pengawal lantas membebaskan Kim Hong-giok dari

pengaruh tutukan.

“Padahal kaupun tak perlu menyalahkan diri sendiri,” bisik Pang Wan-kun kemudian, “apa

yang terjadi dapat kita saksikan dengan jelas, caramu melukainya dengan tidak sengaja,

sebaliknya dia yang berhati keji dan bermaksud merenggut nyawamu....”

Ho Leng-hong tertawa hambar, “Bangsa Ainu tersohor berpandangan picik dan berjiwa

sempit, bagaimanapun yang terluka kan dia.”

Bicara sampai di sini, ia lantas serahkan Kim Peng kepada Kim Hong-giok, katanya, “Kutahu

nona telah mengikuti kejadian tadi dengan mata kepala sendiri, semua budi dan dendam

hanya menyangkut aku orang she Ho seorang dan sama sekali tak ada hubungannya dengan

ayah dan anak keluarga Hui, kuharap nona segera mengambil keputusan.”

Kim Hong-giok manggut-manggut, sambil mengangkat tubuh Kim Peng ia berjalan ke rumah

gubuk.

Tapi baru beberapa langkah, mendadak ia berpaling dan berkata, “Apakah semua keputusanku

akan kauterima?”

“Tentu saja!”

“Kau tidak menyesal?”

“Pasti tidak!”

Kim Hong-giok tertawa, ia percepat langkahnya dan kembali ke rumah gubuk itu.

232

“Apakah perlu kita kepung rumah gubuk itu untuk mencegah niat jahat mereka melukai ayah

dan anak keluarga Hui?” tanya Wan-kun kemudian.

“Aku rasa tidak perlu,” jawab Leng-hong sambil menggeleng, “aku percaya Kim Hong-giok

bukan manusia semacam itu.”

Akan tetapi kejadian selanjutnya ternyata di luar dugaan mereka semua.

Sekembalinya ke rumah gubuk, Kim Hong-giok sama sekali tidak membebaskan Hui Pek-ling

dan Hui Beng-cu, setelah tiga bersaudara seperguruan itu berunding sejenak mereka

mengantar Kim Peng masuk ke dalam rumah, kemudian Kim Lam-giok tampil ke depan dan

berkata, “Harap Nyo-hujin dari Thian-po-hu datang kemari sebentar untuk merundingkan

sesuatu.”

“Permainan apalagi yang hendak dilakukan perempuan asing ini?” bisik Wan-kun agak

bingung.

“Penuhi saja permintaan mereka, jangan kuatir,” ujar Leng-hong, “tampaknya mereka tidak

bermaksud jahat, kalau tidak, tak mungkin dia memanggilmu dengan sebutan demikian.”

Tong Siau-sian ikut berkata, “Ya, sebelum meninggalkan Tay-pa-san, tak nanti mereka berani

melukaimu, mungkin saja mereka hendak merundingkan syarat meloloskan diri dari sini.”

Terpaksa Wan-kun memberanikan diri menuju ke rumah gubuk itu, kedatangannya segera

disambut oleh Kim Lam-giok dan diajak masuk ke dalam rumah, selang sejenak Wan-kun

muncul kembali seorang diri.

Sekembalinya dari rumah gubuk itu, ternyata ia menghindari Ho Leng-hong dan langsung

mengajak Tong Siau-sian ke samping serta berbisik-bisik dengan suara lirih.

“Hei, apa yang kalian rundingkan?” tak tahan Ho Leng-hong lantas menegur.

Tong Siau-sian tidak menjawab, tapi ia segera menitahkan pasukannya kembali ke Mi-kok.

Leng-hong bingung sekali, ia berdiri termangu dan tak tahu apa gerangan yang terjadi.

“Sudahlah, jangan melongo saja,” tegur Wan-kun sambil tertawa misterius, “mari kita pulang

dulu ke Mi-kok, persoalan ini sebentar pasti akan kuberitahukan padamu.”

“Secara teratur pasukan Bok-lan-tui membubarkan kepungan dan kembali ke lembah, ternyata

para perempuan Ainu bekas anggota Ci-moay-hwe lantas membuntuti pula di belakang

mereka, kemudian empat bersaudara Kim, Hui Pek-ling dan Hui Beng-cu sekalian juga

meninggalkan rumah gubuk, ikut kembali ke Mi-kok.

Ho Leng-hong yang selama ini terkenal cerdik, kali ini benar-benar dibuat bingung dan tidak

habis mengerti oleh kejadian ini.

-----------------------

Upacara perkawinan diselenggarakan dalam Mi-kok bukan cuma meriah saja, bahkan amat

megah dan mewah, aneka warna lampion bergelantungan di sana sini, suasana gembira ria

meliputi seluruh pelosok lembah.

Semenjak dulu Mi-kok selalu mengadakan pesta perkawinan bagi Kokcunya, tapi tak satu

kalipun sedemikian megah dan meriah seperti upacara perkawinan sekali ini.

Karena menurut pengumuman resmi pihak Tiang-lo-wan, bahwa sejak hari perkawinan itu,

Kokcu lembah Mi-kok tidak harus lagi dijabat oleh seorang perempuan, kedudukan itupun

tidak bersifat turun-temurun lagi, setiap lelaki maupun perempuan yang berbakat cerdik dan

berhati mulia mempunyai hak yang sama untuk menduduki jabatan Kokcu berikutnya.

Tentu saja, menyusul perubahan tata cara jabatan seorang Kokcu, banyak peraturan lain yang

kurang sesuai mengalami pula perubahan dan penambahan, semenjak itu lembah Mi-kok

tidak putus hubungan dengan dunia luar lagi, asal mereka tidak berniat jahat, setiap saat boleh

masuk ke lembah untuk berdagang ataupun menetap di situ . . . .

233

Akan tetapi semua perubahan ini tidak berhasil juga membuat Ho Leng-hong paham terhadap

persoalan yang selama ini mengganjal hatinya, persoalan tersebut akhirnya dipahami juga

setelah upacara perkawinan dilangsungkan.

Ternyata pengantin perempuan yang berdiri di sisi permadani merah ada dua orang.

Yang satu adalah Tong Siau-sian sedang yang lain ialah Kim Hong-giok.

Hui Pek-ling dan Hui Beng-cu telah menjadi comblangnya, pihak Tiang-lo-wan menjadi wali

untuk Tong Siau-sian, Pang Wan-kun dengan kedudukan sebagai enso bertindak selaku wali

Ho Leng-hong, sedangkan wali untuk Kim Hong-giok ternyata adalah Kim Peng yang kini

berlengan buntung.

Kim Lam-giok dan Kim Lik-giok menjadi pendamping pengantin, bukan pengantin

perempuan yang didampingi, dengan satu di kiri dan yang lain di kanan mereka justru

mengapit Ho Leng-hong.

Ho Leng-hong sendiri tidak menyangka akan digiring begitu saja, sedikit sangsi segera ia

dijepit oleh kedua orang iparnya hingga tak mampu berkutik lagi.

Dengan nada menggertak Kim Lam-giok berkata, “Tahu diri sedikit, jangan coba kabur dari

sini. Ketahuilah, untuk menjamin agar ilmu golok Ang-siu-to-hoat tak sampai tersiar ke luar,

terpaksa Sammoay menerima bujukan kami dan mau dimadu, kalau kau berani

menelantarkannya, hati-hati kalau kamipun akan menuntut dendam terpapasnya lengan

Suheng kami.”

Ho Leng-hong tertawa getir, “Tapi perkawinan adalah masalah besar yang menyangkut

kehidupan seseorang, seharusnya kalian memberitahukan kepadaku lebih dahulu.”

“Ah, kenapa memberitahukan padamu?” tukas Kim Lam-giok, “enso bagaikan ibu, asal Nyohujin

sudah setuju, apalagi yang bisa kaukatakan?”

Ya apalagi yang bisa dikatakan Ho Leng-hong?

Bagaimanapun juga mereka sudah berada di ruang upacara, tentu saja ia tak bisa berteriak,

juga tak dapat kabur, terpaksa ia “pasrah nasib” terhadap apapun yang akan menimpa dirinya.

Padahal di dunia ini pasti sangat banyak lelaki yang ingin “pasrah nasib” semacam itu, sayang

mereka tidak mujur seperti apa yang dialami Ho Leng-hong . . . .

==== TAMAT ====

     

Posted by Admin