Bujukan Gambar Lukisan 01 - 05

Bujukan Gambar Lukisan

Karya : Wu Lin Qiao Zi

Terjemah : OKT

Jilid 1.1.

Bulan ketiga dalam musim semi, ialah bulan yang indab. Di luar pinyu Thian-an-moei

di kota Yan-khia, daun-daun hijau, bunga-bunga permai. Di luar kota, sungai yang berbeku es baru saja lumer, hingga potongan.potongan es mengikuti air hanyut. Hingga disaat itu, negara bagian Utara itu mirip dengan suasana di Kang Lam, negara bagian Selatan, selama musim semi bulan pertama,

Di waktu begitu maka pada suatu maghrib saatnya di Lioe lie ciang orang mulai memasang api penerangan, selagi kereta-kereta kuda berlalu lintas dan orang mundar-mandir, di antaranya seorang muda yang mengenakan baju panjang hijau tersulam dengan pundaknya tarselandang sabuk dan sebelah tangannya menengteng sebuah kurungan dalam mana ada seekor burung kenari kuning. Dia bertindak ke arah gang

Kim Hie Hotong.

Dialah seorang pemuda tampan tak terlalu kurus, alisnya bagus, matanya tajam, hidungnya bangir. Kalau dia bertemu seorang kenalannya dan bersenyum maka terlihatlah giginya yang putih dan rata. Senyumnya itupun menarik hati.

Anak muda itu memasuki pula suata gang lain sampai di depan sebuah rumah besar

dan indah. Dia lantas mengetuk kedua kedua gelang pintu yang terbuat dari kuningan, pintu mana terus dibuka oleh seorang bujang tua,

“Oh. jie-siauw-ya baru pulang!” hamba itu menyapa. Dia berdiri tegak dengan tangan dikasi turun lurus,

"Ya!" si anak muda menyahuti, bersenyum. Terus dengan langkah cepat dia jalan di pekarangan dalam gedung itu. Dia tidak langsung masuk ke rumah besar hanya ke lorong samping kanan dalam mana ada sebuah taman yang rumput Ian pepohonan bunganya terawat baik, di mana pun ada sebuah pengempang kecil dengan airnya yang benIng jernih, yang sejumlah ikan emasnya lagi berenang memain didalamnya. Di tepian pengempang itu tumbuh pohon anglioe yang cabangnya meroyot turun.

Anak muda itu berjalan terus memasuki sebuah pintu model rembulan, sampai di depan sebuah kamar, barulah ia bertindak masuk. Itulah sebuah kamar tulis yang mungil dan indah, ada para-para bukunya, ada gambar lukisannya, ada pula empat helai

pigura huruf-haruf tulisannya Ong Gie Cie yang kesohor.

Begitu tiba di dalam, anak muda itu meletaki burungnya untuk menghampirkan para, untuk menarik keluar sejilid buku. Cepat-cepat dia membalik-balik lembaran buku itu. perhatiannya sangat tertarik.

,,Pasti ini, pasti gambar ini." dia mengoceh seorang diri. „Hanya dia meminta harga limaratus tahil perak, Dari mana aku bisa dapat uang sajumlah itu?"

Ia menjadi berdiri menjublak.

Dialah seorana anak terlahir di dalam satu keluarga berpangkat akan tetapi apa lacur, ia telah tidak mendapatkan kasih sayang ayah bundanya, apa pula ibu tirinya, ibu tiri itu memandangnya seperti musuh hingga bukan kecintaan hanya dampratan dan tongkat menjadi bagiannya. Baru dua tahun ini keadaannya lumayan, disebabkan usia dewasanya. Toh dia tetap dipandang mirip orang luar.

Sementara itu, selama tiga tahun lebih ini dia telah dapat kesempatan belajar silat, secara diam-diam. Umpama kata kelakuannya itu ketahuan orang tuanya, mungkin dia tambah tak disukai.

Tadi dia mampir di sebuah toko buku tua di Lioe lie ciang, di sana dia dapat melihat sebuah lukisan karyanya Ong Mo Kit yang diberi judul "Yoe San Goat Eng" atau "Bayangan Rembulan di Gunung Sunyi." Ia tahu, lukisan itu ada mengandung rahasia. Itulah lukisan yang ia ingin memilikinya sampai ia buat impian selama dua tahun. Ia

ingin beli lukisan itu. Inilah yang membuatnya bingung. Pemilik toko buku tua itu meminta harga seribu tahil perak, ketika ia mengotot menawarnya, harga cuma diturunkan sampai lima-ratus tahil, tak kurang lagi.

Lukisan itu ada rahasianya, apabila rahasia itu dapat dipecahkan, harganya ada seumpama harganya sebuah kota, dari itu, harga lima ratus tahil perak itu tidak mahal

bahkan murah. Hanya sulitnya untuk si anak muda, dari mana ia dapat peroleh uang itu.

Kalau ia pergi kepada pemegang kas ayahnya, biasanya ia dapat uang dari delapan sampai sepuluh tahil, tetapi lima ratus tahil, itulah tak mungkin. Ia juga tidak dapat membuka mulutnya! Alasan apa ia mempunyai?

Toh tidak ada jalan lain. Jumlah itu perlu didapatkan. Di akhirnya dengan hati berdebaran, dia pergi juga kepada pemegang kas, pegawai ayahnya yang mengurus keuangan keluarganya.

Pemegang kas itu memakai kacamata yang disebut kacamata kura-kura, ketika si anak

muda muncul di kamarnya, dia lagi tunduk, tangan kanannya lagi mengetik shoei-phoa, dia lagi menghitung. Dia mendengar tindakan kaki orang, dia lantas mengangkat kepalanya, mulutnya tersungging senyuman. Akan tetapi kapan ia telah melihat si anak muda, lantas wajahnya berubah menjadi dingin.

Anak muda itu berdebar hati, kaget berbareng mendongkol. Di hari-hari biasa, apabila ia melihat tampang demikian macam dari si tukang uang, ia tentu sudah memutar tubuh untuk berlalu pula dengan cepat. Kali ini tidaklah demikian, kali ini ia mempunyai urusan sangat penting.

“Goe Loo-hoecu,” ia memanggil terpaksa, “Sore ini aku mempunyai keperluan, aku

ingin pinjam uang sebanyak lima ratus tahil perak. Aku tanggung akan membayar pulang jumlah itu dalam tempo satu bulan.”

Tukang uang itu melengak, dia menyingkirkan kacamatanya dan menatap. Dia seperti tak mempercayai telinganya. Tak lama dia mengawasi tajam, lalu ia mengasi dengar suaranya yang keras.

“Tiong Hoa,” katanya. „Aku kenal kau sampai begini besar, maka kalau kau bicara. bicaralah dengan sedikit tahu aturan. Selama beberapa tahun aku melihatnya kau menjadi tidak keruan! Orang bilang di luaran kau bergaul dengan orang-orang penggemar main wanita dan penenggak air kata-kata, hingga kau memakai uang seperti kau menuang air! Kau tahu, ayahmu pernah bicara denganku tentang kau dan ayahmu itu tawar hatinya.,..."

Sepasang alisnya si anak muda bangun berdiri. Ia bicara secara sungguh-sungguh tapi ia mendapat jawaban yang diluar garis, jauh sekali terpisahnya dengan pokok soal.

“Loo-hoecoe," katanya sengit. "Siapa sudi mendengari ocehan ini? Kau bilang, kau suka mengasi pinjam atau tidak?”

Pemegang kas itu juga membawa adatnya. Lantas saja dia berludah,

„Tidak! Tidak!" tolaknya keras, "Jangan kata lima tahil, sepeser pun tidak! Jangan harap kau dapat merabanya! Orang tak punya guna seperti kau ini…hm!..”

Hebat kata-kata itu, meluaplah darahnya si anak muda. Tahu-tahu sebelah tangannya sudah menyamber ke dasa si tukang uang, keras suaranya, keras juga akibatnya, tukang uang itu terpental ke pojok tembok!

Goei Loo-hoe-coe berkoseran.

„Tiong Hoa! Lie Tiong Hoa!” dia berseru, tangannya menuding, dia mencoba merayap: ""Kau,. .kau ...kau kejam..!”

Cuma sebegitu pemegang kas ini dapat berkata-kata, terus dia roboh pula, terus napasnya berhenti jalan.

Anak muda itu melengak, kagetnya bukan main. Semenjak ia belajar silat. inilah yang

Pertama kali ia menggunai tangannya.Sebenarnya ia tidak tahu betapa besar tenaganya dan ia tidak tahu juga yang ilmu silat dapat meminta jiwa orang secara begitu rupa. Ia belajar silat pada seorang guru yang melarat dan berpenyakitan.

Guru itu membilangi muridnya ini bahwa dialah bukan seorang Kang ouw yang berkenamaan, bahwa dengan belajar silat padanya, ia jangan harap dapat menjadi seorang pandai, ia cuma diajari dasarnya untuk menjaga diri, tak dapat dipakai menghajar orang. Tapi ia diberitahukan ia mempunyai bakat baik, sayang kalau ia terus belajar padanya, dari itu ia dinasehati merantau.

„Dunia Kang ouw mempunyai banyak orang lihay, mungkin kau ketemu jodohmu!” demikian guru itu. Dengan jodoh itu dimaksudkan ahli silat terpandai.

Kemudian, ketika si guru hendak menutup mata, dia memberitahukan muridnya ini halnya suatu gambar rahasia-lukisan Yoe San Goat Eng itu oleh Ong Mo Kit dari jaman ahala Tong. Katanya Iukisan itu menyimpan rahasia besar, dan bahwa ia sudah mencarinya untuk banyak tahun tetapi belum berhasil menemuinya. Maka si murid

Dipesan untuk memperhatikan lukisan itu, katanya pula, rahasianya lukisan dapat dipecahkan jikalau orang memahamkan judul dan tulisan yang diberikuti di dalam lukisan tersebut.

Pesan itu diperhatikan Lie Tiong Hoa, demikian anak muda ini. Sejak itu ia terus memperhatikan, baik di dalam toko-toko buku, baik di rumah-rumah gadai, mau pun di rumah-rumah orang hartawan dan bangsawan begitu ia mendapatkan ketikanya. Akhir-akhirnya di took buku tua itu ia mendapatkan sehelai lukisan tua jaman Tong, gambarnya sudah berwarna kuning dan guram, tetapi ia masih melihat nyata, selang dua jam memeriksa, ia pastikan itulah lukisan yang ia cari. Maka ia lantas menawarnya.

Tukang-tukang loak biasa bermata tajam, juga tukang loak ini, melihat si anak muda sangat bernafsu, dia minta harga tinggi itu, dia menancap paku, hingga Tiong Hoa habis daya, hingga ia mesti pulang dengan hati bingung memikirkan kemana ia mesti mencari uang. Demikian setibanya di rumah, ia memeriksa dulu sebuah kitabnya, habis itu baru pergi kepada Goei Loo-hoecoe. Siapa tahu, ia mendapat hidung panjang sampai darahnya naik dan terjadilah pembunuhan tidak disengaja itu.

Syukurlah suara berisik itu tidak didengar para bujang. Ia merasa untuknya tidak ada lain jalan daripada kabur buron. Inilah pengalamannya yang pertama, yang sangat hebat. Ia juga tidak mempunyai sahabat yang nasihatnya dapat diminta. Setelah dapat menahan berdebaran hatinya, ia angkat tubuhnya tukang uang itu untuk diletaki di kolong pembaringan.

Tak dapat ia melupakan lukisannya Ong Mo Kit itu. Maka ia menghampirkan laci uang dan menarik kotaknya. Ia menjadi menyesal ketika ia dapat kenyataan uang kas berjumlah tak cukup dua ratus tahil. Tapi ia mesti buron, ia membutuhkan uang, yalah uang ayahnya. Maka ia samber uang itu, yang ia bungkus dengan sobekan sabuk, tanpa kepergok siapa juga, ia lolos dari pintu taman di belakang rumahnya.

Tiba di jalan besar, suasana jauh lebih ramai daripada tadi, tapi ia tak sempat ia menikmati keramaian itu, Dengan terburu-buru ia menuju ke Lioe lie-ciang, diamana keadaan lebih ramai pula. Di situ ada berbaris belasan toko buku tua, ia masuk ke sebuah yang terletak di ujung gang Soan-hoo.

Si tukang loak sudah berumur tujuh puluh tahun lebih, ketika itu dia lagi berdiri di depan pintu, matanya mengawasi orang-orang yang berlalu lintas, mengharap-harap memperoleh langganan. Dengan tangan kirinya mengurut-urut kumisnya yang mirip

jenggot kambing gunung. Dia melihat Tiong Hoa dating bergegas-gegas, ketika dia hendak menegur, tangannya disamber terus dia ditarik ke dalam.

Setibanya di dalam, Tiong Hoa meletakkan bungkusannya di atas meja, terus ia buka untuk memperlihatkan uang perakannya yang bergemerlapan. la paksakan diri untuk tertawa ketika ia kata;

“Inilah jumlah yang aku dapat kumpul dengan susah payah, aku harap kau terima ini dan kau serahkan gambar lukisan Ong Mo Kit itu padaku!”

Sebagai pedagang kawakan, tukang loak itu heran hingga dia menjadi curiga mungkin uang itu tidak keruan asal-usulnya.

“Lie kongcu, maaf,” ia berkata, “Aku tidak tahu kau begini menghendaki lukisan itu, kalau tahu suka aku menghadiahkannya kepada kau, saying sekali, tadi baru saja ada lain orang yang membelinya…”

Tiong Hoa terperanjat sampai mukanya berubah pucat. Inilah ia tidak sangka sekali. Hatinya mencelos berbareng mendongkol. Ia putus asa barbareng gusar.

“Lie Kongcu, aku menyesal sekali," kata tukang loak itu, yang kaget melihat wajah orang muda itu. “Aku menyesal membuat kau putus asa, lain kali, kalau ada lagi lukisannya Ong Mo Kit, pasti aku akan menyerahkannya kepada kau lebih dulu…Ah, ada tetamu lagi, maaf, aku mau melayani dia.”

Dan dia terus memutar tubuhnya untuk pergi ke depan.

“Tunggu dulu!" Tiong Hoa kata, berbareng denganmana ia menyamber tangan kirinya tukang loak itu. Terus ia mengawasi dengan mata bersinar. la tanya. “Siapa pembeli itu?” Benar-benarkah?"

“Benar! Kenapa tidak!" sahut si pemilik took buku itu, “Belum pernah aku mendusta pada langgananku, apa pula kepada kongcu. Mustahil uang dating aku tampik..”

Dia berkata begitu tetapi berjengit, dia kaget. Keras cekalan si anak muda hingga dia merasa sakit.

“Ngacoh. Kau tentu tak suka menjual sebab uangku kurang."

Mukanya tukang loak itu pucat, dia meringis.

,.Benar, kongcu." kata ia pula. „Pembeli itu berumur kurang lebih empat puluh tahun,

lagi suaranya mirip orang Tien ciu. Dia membelinya buat seribu tahil perak. Dia mempunyai dua orang pengikut yang menyoren golok. Mendengar panggilannya pengikut itu, dia mestinya seorang po cu. Jikalau aku tidak salah melihat, dialah seorang Kangouw....”

Dia mengawasi si anak muda, hatinya kebat kebit. Dia melihat sinar mata anak

muda itu yalah sinar bingung, menyesal, putus asa dan gusar bercampur menjadi satu.

Tiong Hoa sendiri berpikir: “lnilah tak mungkin. Guruku membilangi aku, orang yang mengetahui lukisan rahasia itu cuma tiga orang tua tapi mereka pun masih belum tahu artinya rahasia itu. Hal itu guruku juga mendengarnya dari seorang kenamaan lain. Di sini mesti terjadi hal kebetulan…."

Anak muda ini menjadi sangat berduka memikir nasibnya. Dari kecil ia tak disukai

ayah ibunya, sedang ibunya itu sudah menutup mata lama hingga ia mesti hidup bersama ibu tirinya. Orang tua itu sebaliknya menyayangi anak-anaknya yang lain, pria dan wanita, terutama kakaknya. Karena itu, ia menjadi di biarkan saja, ia cuma diberi

makan dan pakaian. la sempit dalam keuangan, tidak leluasa ia menampung gurunya yang malarat itu. Ketika ia diajari silat, ia tidak diajari seperti umumnya orang orang lain. Sembari rebah gurunya memetakan dengan tangan dan kakinya, dengan sebatang sumpit sebagai genggaman. Maka itu, sulit ia belajarnya. Meski begitu karena ia berbakat dan cerdas ia memperoleh banyak, ia melainkan tidak tahu bahwa pelajaran

itu adalah pelajaran silat berarti.

Mengenai lukisan itu, ia dipesan mesti mencarinya, tak perduli bagaimana sukarnya. Ia pun ditinggali surat wasiat, surat mana tak boleh dibuka sebelum ia dapat lukisan itu.

Itulah tugas berat untuknya, yang muda dan tak berpengalaman, yang tak punya uang juga. Tapi ia ingat itu baik-baik dan ingin melakukannya hingga menjadi kenyataan agar pesan gurunya dapat diwujudkan. pula semenjak ia belajar silat, semangatnya telah terbangun.

Sekarang, karena kecewa atas lenyapnya lukisan itu, ia putus asa hingga hatinya menjadi panas. Ia piker tukang loak ini manusia busuk dan serakah. Kenapa lukisan itu dijual pada lain orang? Dengan begitu, tanpa dikehendaki, ia telah menjadi seorang pembunuh.

“Dapatkah tukang loak ini dibebaskan?” pikirnya lebih jauh, “Tidak!” Pembunuhan atas diri Goei Loo-hoecoe pasti akan tersiar, sedikitnya besok. Tukang loak ini telah melihat uang ini, dia pasti akan menduga aku, dan tentu dia bakal membuka rahasia…”

Tanpa merasa, Tiong Hoa memencet keras tangan tukang loak itu.

“Aduh. Tolong….” Tuan rumah menjerit.

Dengan tangan kiri Tiong Hoa mendekap mulut orang. Ia sengit dan takut juga.

Tukang loak itu tak berdaya, matanya mengawasi dengan sorot ketakutan. Dia tidak dapat berontak, dia tidak bisa berteriak. Mulutnya terdekap rapat.

Sang waktu berjalan, Tiong Hoa heran waktu kemudian ia dapat kenyataan pemilik took buku itu diam saja, tubuhnya menjadi lemas, mukanya pucat. Akhirnya ia menjadi kaget sekali. Tahu-tahu orang telah putus napasnya.

“Ah…” ia mengeluh, sedang peluhnya lantas membanjiri jidatnya. Ia kuatir bukan main. Lagi satu jiwa melayang di tangannya melayang tidak keruan rasa.

“Lari!” itulah ingatan yang segera berkelebat di batok kepalanya.

Dengan sebat ia bungkus pula uangnya, ia memutar tubuhnya. Hatinya sangat tegang, ia bergelisah.

"Tuan toko,." tiba-tiba ia mendengar suara memanggil dari luar. la mendengar tindakan kaki orang. Dengan bingung ia bertindak cepat sekali. la bersamplokan dengan seorang di muka pintu. Mendadak ia menotok jalan darah thian kie, orang itu, sampai dia itu mengeluarkan suara tertahan, tubuhnya terus roboh. Ia tidak memperdulikannya, ia lari terus. Di lain saat lenyaplah ia diantara orang banyak di jalan besar.

Malam itu malam yang indah. Langit bersih, si Putri Malam permai.

Dari gang Soan hoo, took buku tukang loak di Lioe lie-ciang itu, Tiong Hoa menyingkir terus. Ia baru berhenti setelah tiba di paseban To Jian Teng di Lam-hee-wa. Tadi ia kabur tanpa memilih tujuan.

Ia meluruskan napasnya yang memburu, ia menenangi hatinya yang guncang keras. Sembari berpegangan pada loneng, ia melihat syair di paseban itu, bunyinya : “Menyesal aku bukan pelukis, yang dapat melukis gambar di waktu malam, mendengari suara musim rontok”

Ah, hebat sekali….pikirnya. Aku menerbitkan onar ini cuma disebabkan aku terkena bujukan gambar lukisan. Ini baru permulaannya saja, bagaimana nanti akhirnya?

Tiong Hoa kenal baik paseban To Jian Teng. Bersama beberapa sahabatnya pernah ia pelesiran di sini, minum arak dan benyanyi-nyanyi, Sekarang ia dataag pula dalam kesunyian, dengan hati yang berat.

Ketika ia memandang ke sekitarnya, ia mendapatkan pepohonan yang lebat, yang daunnya tersilirkan angin. Ia pun menyaksikan air telaga yang jernih dimana sang rembulan berbayang. Kalau di kejauhan terlihat sinar api maka di atas langit bintang-bintang berkelak-kelik.

“Aku mesti pergi sekarang,” katanya kemudian dalam hatinya. “Tak dapat aku betrayal hingga pintu kota nanti keburu ditutup. Kalau pembunuhan itu tersiar, biarnya aku bersayap tidak bisa aku terbang..”

Maka ia menenteng bungkusannya, ia bertindak kea rah barat. Selama berjalan, terus ia belum bisa merasa tenteram. Tentang kematiannya si pemegang kas dan pemilik took buku tua itu, ia tidak menyesal. Ia merasa mereka itu pantas mendapat bagian. Ia menyesal untuk orang yang ia totok selagi ia mau kabur itu. Orang itu tidak bersalah dosa. Maka ia harap dia itu cuma pingsan dan jiwanya tidak terancam bahaya maut.

Tengah berlari-lari, Tiong Hoa berpapasan dengan empat orang. Rupanya mereka itu sedang sinting terpengaruh air kata-kata. Jalannya mereka terhuyung-huyung. Oleh karena membelakangi rembulan, muka mereka itu tak terlihat tegas. Dengan cepat ia lewat di samping mereka itu.

“Saudara Tiong Hoa! Saudara Tiong Hoa!” satu diantara keempat orang itu memanggil-manggil. Lalu panggilan itu diulangi oleh tiga yang lain.

Tiong Hoa heran. Ia sudah lewat setombak lebih tapi ia menghentikan tindakannya. Ia sekarang mengenali suara orang. Lekas ia menghampirkan.

“Oh, saudara Toan!” katanya. “Gembira kamu menggadangi si Putri Malam! Tapi aku mempunyai urusan, aku mesti ke luar kota, maka itu besok saja aku menemani kamu!” Ia memberi hormat, lalu membalik tubuh, untuk melanjuti perjalanannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

Bujukan Gambar Lukisan

Karya : Wu Lin Qiao Zi

Terjemah : OKT

Jilid 1.2. Hitam makan hitam

 

"Ah, mana bisa" kata orang yang pertama memanggil itu, Dia terus lompat untuk untuk mencekal lengan orang Dia bermuka merah tandanya benar ia habis banyak minum. Dengan mata kedap-kedip. dia mengawasi si orang she Lie. Tiga yang lain lantas merubung.

 

Tiong Hoa tidak puas melayani keempat orang itu ia kenal mereka sebagai anak-anak orang berpangkat, yang biasaberpelesiran saja, karena mereka pa da memelihara guru silat, mereka belajar juga sedikit.

Biasanya mereka tak memandang mata kepadanya, dari itu, jadi ia pun tak sudi bergaul dengan mereka, ia tidakpuas orang memegat ia selagi iaperlu lekas- lekas mengangkat kaki.

"Kau bergegas-gegas pergi ke luar kota, saudara Tiong Hoa, kau tentu mempunyai urusan baik" kata orang yang mencekal tangannya itu, Dialah Toan Kong, anak yang didapat dari gundik dari Toan Kwee yang berpangkat pouw-koen tong-nia, komandan pasukan tentara berjalan kaki, "Kenapa kau tidak mengajak kami ramai-ramai?"

 

Tiong Hoa bingung hingga ia berdiri diam saja. seorang lain merabah-rabah bungkusan uang, dan menepuk nepuk. "Hai, uang begini banyak." serunya, "Dari mana uang ini?"

"Dasar sial," pikir Tiong Hoa, bingungnya bertambah Kalau besok mereka dengar kematiannya si tukang uang, pasti mereka ini menduga aku... Kalau aku dituduh menjadi pembunuh, bagaimana itu?

 

"Saudara Tiong Hoa, tidak benar sikap kau ini." Toan Kong menegur, "Kita bersahabat kita mesti hidup bersama, senang dan susah mesti bersama juga sekarang kau mempunyai banyak uang, kau melupakan kita, Tempo kau tidak punya uang, kita toh ajak kau turut pelesir juga? Bukankah aku belumpernah tolak kau?"

 

Tiong Hoa mendelu itulah gangguan untuknya, ia pun sebal untuk kelakuan mereka itu, ia nampak sabar tetapi sebenarnya ia berhati keras dan memiliki keangkuhan juga.

"Toan Kong, jangan ngaco-belo." ia menegur, "Maaf, aku siorang she Lie tak dapat menemani kau." ia lanias berontak hingga sahabat itu terhuyung tiga tindak dan telapak tangannya terasa sakit.

 

Toan Kong terkejut ia heran kenapa Tiong Hoa bertenaga demikian besar. ia lantas mendusin dari sintingnya, hingga ia jadi mendongkol.

"Mari." dia mengajak tiga temannya, "Dia punya banyak uang, dia jadi banyak lagak. Mari kita hajar padanya, aku mau lihat, tulang lunaknya dapat berubah menjadi kaku atau tidak."

Memang benar, Tiong Hoa biasa dijuluki si tulang lunak Tapi sekarang ia menjadi mendongkol dan gusar, Maka itu, justeru Toan Kong maju menghampirkan, ia lantas menyambut dengan tinjunya kedada orang.

 

 

Putera tongnia itu mengerti sedikit silat, dia berkelit, tetapi dia kurang sebat, dia kena terserempet hingga dia kesakitan. Tentu sekali dia menjadi tambah gusar, Berbareng dia heran sekali sedang dia tahu orang biasanya tidak mempunyai guna.

 

Ketiga kawannya heran juga, inilah yang pertama kali Tiong Hoa berkelahi, tak heran dia kurang Iincah. Dia belajar silat juga mirip orang belajar teorinya saja, sedang ilmu silat membutuhkan latihan praktek berikut pengalaman.

 

Toan Kong menjadi gusar sekali. Dia memang biasadimanjakan Lantas dia menyerang pula, beruIang-ulang secara sengit. Dia menggunai ilmu silat "Tiang Keen" atau Kepalan panjang dari BoeTong Pay, Dia juga berkaok-kaok.

 

Didesak begitu, Tiong Hoa jadi panas hatinya, maka bukannya ia mundur, ia justeru maju, jurus jurus dari ilmu silat sian Thian, Thay U Ciang.

Toan Keng lantas terpukul mundur. Dia heran hingga dia menjublak. Justeru itu, lengannya kena disamber dan ditangkap. sekarang dia menjerit bahna kesakitannya merasa seperti dicengkeram gaetan baja, tak tahan dia, dia pingsan dan roboh. Ketika kawan itu kaget.

"Pembunuhan Pembunuhan" mereka berteriak-teriak.

 

Tiong Hoa kaget, ia ingat ancaman bahaya, Tanpa memperdulikan lagi Toan Keng, dia mengangkat langkah seribu, Baru dia lari belasan tombak. dia merasa ada bayangan yang melesat lewat disisinya ia tidak perhatikan itu, ia mengira ini disebabkan matanya terganggu dan matanya kabar, terus ia kabur keluar dari kota Yan-khia. Dengan begitu maka tertariklah ia mesti hidup dalam perantauan.

ooQoo

 

BAB2

KlRA jam tiga mendekati fajar, bintang-bintang mulai guram dan rembulanpun kelam di barat di antara gumpalan-gumpalan mega hitam, hingga jembatan Louw Kouw Hio tertampak samar-samar melintang di atas sungai Yang. Tiong Hoa Ketika itu air pasang. potongan-potongan es yang pecah beradu nyaring satu dengan lain, Angin yang dingin meniupi pohon-pohon yang-lioe di tepian.

 

Justeru itu waktu, seorang anak muda, yang romannya pucat, lagi berdiri didepan loteng dengan mata mengawasi jauh. Dia membungkam.

"Kelihatannya banyak orang tak dapat dipercaya," dia berpikir "Guruku sendiri, sikap dan kelakuannya aneh."

Ia berpikir begini sebab ia ingat gurunya mengaku ilmu silatnya tak tinggi, namanya tak terkenal dalam dunia Kang ouw atau sungai Telaga, bahwa ilmu silatnya dipelajarkan untuk membikin kuat tubuh saja, bukan buat berkelahi tapi buktinya sekarang ia dapat membunuh orang, ia pula heran mudah saja ia mengalahkan Toan Keng si murid Boe Tong Pay.

Bahkan mungkinputera tongnia itu terbinasa akibat tinjunya ini...

 

 

Tiong Hoa tidak tahu, kepandaiannya Toan Keng baru kulit saja dari ilmu silat sedang gurunya bicara secara merendah, guru itu tidak mau memuji padanya dikuatir ia menjadi berkepala besar, ilmu silat tak ada batasnya, kalau orang berjumawa, dia bisa dapat susah. Guru itu ingin muridnya insaf perlahan-lahan.

 

Anak muda ini menarik napas panjang untuk melegakan hatinya yang pepat, Lalu ia ngelamun perlahan "Tahun dan bulan lewat terus, air tetap mengalir, semua tanpa batas atau tempat berhentinya, semua berumur sama kekalnya seperti langit dan bumi, Akan tetapi manusia, hari-hari kehidupannya tak banyak.... Maka itu aku, jikalau aku tidak lekas menggunai ketika ku, untuk membangun sesuatu apabila aku menantikan saja musim semi datang dan musim dingin pergi, pasti aku bakal menyesal seumur hidupku." Tapi, kapan ia ingat ia tak berdaya, tanpa merara airmatanya mengalir keluar.

 

Tiba-tiba dari arah belakangnya ia mendengar suara yang dalam ini. "Anak muda yang tak bersemangat. Nangis, Apakah tangismu dapat memecahkan soal?"

Tiong Hoa terkejut, Gesit luar biasa, ia memutar tubuhnya. ia melihat satu orang berdiri di depannya. Menampak muka orang itu, ia terkejut puI a, itulah sebuah muka buruk sekali dan menakuti. sepasang mata yang merah seperti mencelos keluar, bersinar bengis.

 

Muka buruk itu seperti ketutupan berewok ubanan, hingga terlihat saja gigi giginya yang mirip caIing, Tubuh orang kasar dan besar seperti tubuh itu ditutup baju panjang warna hitam yang setinggi dengkuI. Baju itu berkibaran diantara sampokan angin malam. orang aneh itu tertawa ketika dia melihat si anak muda seperti jeri hatinya.

"Anak muda, jangan takut." dia kata, "Aku si orang tua manusia, bukannya memedi, Kau mempunyai kesulitan apa? Mari tuturkanpadaku, Mungkin aku dapat menoIong pecahkan kesulitanmu itu, Lekas bicara, aku masih mempunyai urusan penting yang mesti diselesaikan."

 

Tiong Hoa tak sudi menerima budi, ia menggeleng kepala.

"Tak dapat kau pecahkan kesulitanku itu, loojinkee." ia kata masgul.

"Aku telah membunuh orang" ia membahasa kau "loo-jin-kee." artinya orang tua yang dihormati

Nampak orang itu melengak tapi segera dia tertawa lebar, Nyaring tertawa itu. bagaikan melayang ke udara, lalu berkumandang. Ketika dia sudah berhenti tertawa, dia menatap tajam dengan sinar matanya yang bengis itu.

"Aku si orang tua kira perkara hebat bagaimana" katanya acuh tak acuh, "Membunuh orang itu apakah yang aneh? sekarang ini aku sudah berumur enampuIuh lima tahun, kurban jiwa ditanganku tak terhitung jumlahnya. Toh tak pernah aku merasa tak tenteram hatiku" Dia tertawa pula, lama.

 

Tiong Hoa bergidik.

"Mungkin dia edan-" pikirnya, "Katanya membunuh orang itu tak aneh." Kembali orang tua itu tertawa, menyeramkan suaranya.

"Aku mengerti sekarang" dia berkata pula untuk kesekian kaIinya. "Kau mengalirkan air mata disini sebab kau tidak mempunyai jalan kemana kau dapat pergi, tapi ingatlah, seorang laki-laki rumahnya ada di empat penjuru lautan,jikalau kau tidak mencela aku, mari kau turut aku, aku jamin seumur hidupmu kau akan hidup senang dan damai."

 

Anak muda itu heran, ia mendengar lagu suara orang itu mirip lagu suara orang propinsi Hoolam, Tiba-tiba hatinya tergerak.

Mendadak ia ingat lukisan Yoe san Goat Eng - Bayangan rembulan di gunung sunyi.

Bukankah si tukang loak bilang lukisan itu dibeli seorang yang bicara dengan lidah Tiong- cioe dan bahwa pembeli itu mungkin seorang poocoe, pemilik dari sebuah perkampungan? Kenapa ia tidak mau turut orang tua inipergi ke Hoolam, guna sekalian mencari lukisan ilu? Dengan cepat ia mengambil keputusannya.

"Cuma aku kuatir membikin kau berabe, loojinkee." ia kata.

 

Orang tua itu tertawa berkakak.

"Nah, mari kita berangkat" dia mengajak. Dan dia mendahului bertindak pergi.

Tiong Hoa mengikuti. Baru balasan tombak, ia menjadi heran, Nampaknya si orang tua jalan perlahan, buktinya cepat, ia ketinggalan di belakang. ia bertabiat keras, taksudi ia nanti dikatakan si lunak oleh orang tua itu, Maka ia menyedot nafas, lantas ia jalan cepat. Ya, ia berlari lari.

"Dia mesti mengerti silat dan pandai juga," pikir Tiong Hoa sambil mengikuti.

 

Seumurnya belum pernah pemuda ini bercampur gaul dengan orang Kang ouw atau Lok Lim--Rimba Persilatan, belum dapat ia membedakan orang liehay atau tidak. tak ia mengagumi orang tua yang suka menjadi sahabatnya ini, ia belum mempunyai kepercayaan atas dirinya, dengan mengagumi orang, ia seperti merendahkan dirinya sendiri.

 

Sekarang Tiong Hoa mulai mengerti gunanya ilmu ringan tubuh yang diajari gurunya.

Ilmu itu diberi nama Hong Hoei ie soat artinya, BianglaIa terbang, Mega berputar. Dengan menggunai ilmu ringan tubuh itu, tubuhnya menjadi enteng, dia dapat lari cepat-- makin lama makin cepat, Baru setelah peroleh kenyataan ini, ia dapat bersenyum.

 

Si orang tua lari terus, sejak mula-mula belum pernah dia menoleh satu kali pun. Toh ia memperlihatkan sinar heran, inilah sebab, walaupun dia tidak pernah berpaling tetapi telinganya dapat mendengar suara orang berlari-Iari dan dia memperoleh kenyataan si anak muda tak ketinggalan jauh.

 

Maka dia menduga ilmu ringan tubuh pemuda itu tak dapat dicela, Dia merasa, pemuda itu tinggal membutuhkan latihan lebih jauh, agar larinya tak memberi suara lagi, yalah apa yang kalangan persilatan heng  in tioe soet-- mega berjalan, air mengalir.

Lama- lama Tiong Hoa bermandikan peluh dan bemapas mengorok ia dapat kenyataan orang tua itu bukan mengambil jalan besar hanya menerabas tegalan dan hutan, lantaran ia mendapatkan pohon-pohon terlewatkan di sisinya.

 

"Eh, anak muda, kau sudah letih atau belum?"

Itulah pertanyaan tiba tiba dan untuk pertama kalinya dia menoleh, sedang tindakannya juga dikendorkan, akan akhirnya dia berhenti sendirinya. Lalu dengan sinar matanya yang aneh, dia menatap kawannya yang mandi keringat itu, terus dia tertawa geli, dengan ramah ia menanyai

"Dari mana kaupelajarkan ilmu larimu ini? itulah tak dapat dicela"

 

Tiong Hoa berhenti berlari, dengan tangan bajunya ia menyusut peluhnya, ia merasa napasnya berjalan cepat sekali, tapi ia lekas menjawab.

"Loojin kee memuji aku, aku saja." katanya. "Aku pelajarkan ini tiga tahun dari seorang guru yang tidak mempunyai nama, Di banding dengan kepandaian loojinkee, aku terpaut jauh sekali."

Orang tua itu menganggukperlahan, mukanya bersenyum.

“Kau benar”, dia bilang, “Aku baru menggunai tujuh bagian kepandaian, toh kau harus dipuji."

 

Tiong Hoa mengucap terima kasih. Melihat si orang tua begitu ramah-tamah, ia menjadi suka bicara, sekarang tak lagi ia merasa jeri atau jemu untuk roman orang yang buruk itu,Bahkan dari pembicaraan tetamunya, ia mendapat tahu she dan namanya orang tua itu, yalah Song Kie dan gelarnya Koay-bin jin-him. Manusia Biruang Bermuka Aneh.

 

Berbareng dengan itu, si orang tua juga ketahui she dan namanya serta riwayat hidupnya yang tak menyenangkan itu.

Tiong Hoa tidak mentertawakan julukan yang aneh itu, yang sesuai dengan kenyataan, ia bahkan berlaku hormat, kelakuannya itu cocok dengan tabiat si orang tua.

Biasanya, siapa mencela muka  atau julukannya itu berarti celaka untuk dirinya, ssbab ia benci-mulut jail.

 

Denganperkenalannya dalam tempo yang singkat ini. Tiong Hoa masih belum tahu bahwa Koay-bin Jin-Him Song Kie menjadi salah satu dari liong cioe, yang namanya sangat kesohor dalam Rimba Persilatan. Baik kaum Pek too, jalan putih, maupun golongan Hek-too, jalan Hitam, semuanya jeri kepadanya apabila mereka berurusan dengan si Manusia Biruang Bermuka Aneh yang sangat dihormati dan dimaIui. Kalau Tiong Hoa ketahui ini, mungkin tak

sudi ia mengikuti dia.

 

Orang tua itu mengeluarkan sebuah gandul air dari sakunya, ia gelogoki ke dalam mulutnya, kemudian ia membagi air minum ttu kepada si anak muda. Habis itu dia mulai bicara pula. Lebih dulu ia menatap orang, agaknya dia bersangsi, baru dia menanya:

"KauIah seorang anak sekolah, mengapa kau membunuh orang? Apakah kurbanmu itu musuh besarmu dengan siapa kau tak sudi hidup bersama di kolong langit ini?"

Tiong Hoa menggeleng kepalanya. "semuanya bukan." sahutnya. "itulah kesalahan bunuh."

 

Song Kie menatap pula tajam.

"Kau jujur," katanya, "sebenarnya membunuh orang bukan hal yang terlalu mengherankan, Aku juga telah membunuh banyak orang, diantaranya ada yang tak selayaknya mati. Hanya lah telah menjadi tabiatku, jikalau aku membunuh, tak dapat aku membuat bocor tentang ini. perlahan-Iahan kau bakal mengerti sendiri. Berkasihan terhadap musuh berarti menanam bencana untuk diri sendiri”

 

Tiong Hoa mengangguk tanpa membilang suatu apa. ia menerima baik jalan pikiran orang itu sedang di dalam hatinya ia berkata: "Apakah artinya kata katamu ini? Mustahilkah semua orang harus dibunuh? Bukankah kalau kau berlaku telengas, orang memb atasnya kejam? permusuhan atau balas- membalas toh tak ada batas habisnya? Aku berbuat keliru, aku malu dan menyesal tidak sudahnya... di dalam hatiku yang bersih menjadi ada bayangan yang memb uatnya selalu tak tenang."

Maka ia merasa anjuran Koay-bin Jin Him dapat membuat ia rusak tanpa ada obat dapat menyembuhkannya. Tapi segera ia berpikir pula. "Asal diriku putih- bersih, perduli apa

aku bercampuran dengannya? Asal aku tidak turut ternoda. Aku mesti bisa membawa diriku"

 

Song Kie tidak memperhatikan jalan pikiran orang, dia melihat langit, untuk mengetahui sang waktu.

"Mungkin mereka akan sudah datang..." katanya seorang diri terus dia berpaling dan berkata: "Mari." ia menggeraki tubuhnya untuk menjejak tanah, maka melompatlah ia kearah kanan, bagaikan burung terbang melayang, sebentar saja ia telah melalui beberapa tombak.

Menampak kepesatan orang Tiong Hoa kagum, ia lantas menyusul, ia tidak dapat membada arti katanya orang itu, ia cuma menduga itulah mesti ada maksudnya. ia berlari-lari mengikuti dengan tetap menggunai ilmu ringan tubuh Hoei Hong in soan.

 

Mereka lari mendekati sebuah bukit kecil. Di atas itu Song Kie berdiri dibawah sebuah pohon pek yang matanya menatap jauh ke depan, Tiong Hoa menghentikan larinya sejarak lima tombak, lalu dengan tindakan perlahan, ia menghampirinya. ia menoleh ke sekitarnya, yang merupakan kuburan belukar, banyak pohon yang kate. siputeri malam sudah doyong kebarat, maka pepohonan itu memperlihatkan bayangan bagaikan hantu-hantu yang bergerak-gerak tak mau diam, Burung-burung malam mengasi dengar suaranya yang menyeramkan.

 

Berdiri di sisi si Manusia Biruang Bermuka Aneh, Tiong Hoa menasang mata mengikuti mata orang itu. Di sana, di bawah bukit, ada sebuah jalan umum bertanah kuning yang berlegat-Iegot bagaikan seekor ular, sunyi senjap jalan umum itu.

"Heran," pikirnya, ia melirik dan mendapatkan roman Song Kie berdiri terus berdiam, dia membiarkan si anak muda berdiri di sisinya itu.

 

Tiba-tiba terdengarlah suatu suara yang terbawa angin malam, terdengarnya jauh lalu dekat, suara itu tambah menyeramkan. Tanpa merasa, Tiong Hoa bergidik, Song Kie berpaling kearah dari mana suara itu datang. "Benar-benar mereka datang?" katanya pula seorang diri.

 "Siapa?" tanya Tiong Hoa tanpa merasa.

Song Kie menoleh, mengawasi tajam. ia tidak menjawab. ia berpaling pula kearah tadi.

suara tadi itu terdengar pula, makin dekat. segera tertampak lima orang bagaikan bayangan berlari-lari mendatangi. cepat luar biasa, sampailah mereka itu. semua lantas berdiri diam dan hormat di samping Song Kie.

 

"Apakah mereka sudah berhasil?" tanya Koay-bin Jin Him, suaranya dalam.

Salah seorang umur belum empat puluh, yang tubuhnya jangkung kurus, menyahuti. "Mereka sudah berhasil, Karena rapinya rencana kita pihak Pangeran tokeh menyangka itulah perbuatan mereka itu, Lagi setengah jam, mereka juga akan datang kemari, di antaranya ada seorang yang liehay menyulitkan. Dia lah sam ciou-ya Cee-tan-Siauw-go si Memedi bertangan tiga. Tongkee, apakah kita tetap dengan rencana kita?"

 

Song Kie cuma mengasi dengar suara dingini "Hmm" Kelima orang itu sudah lantas mengawasi Tiong Hoa, sikapnya tawar. "Tongkee, siapakah dia ini?" tanya si-jangkung kurus.

"Dia? oh Dialah penulisku yang baru, sekarang kamu boleh pergi" jawaban itu dingin.

Lima orang itu menyahuti, "Ya." tampak semuanya lari turun gunung, Tiba di jalan umum, mereka berhenti, agaknya untuk menantikan sesuatu.

 

Tak senang Tiong Hoa melihat roman dan sikapnya kelima orang itu, ia mendapat kesan orang berbau setan, sinar mata mereka itu sangat memandang tak mata kepadanya, ia menjadi tak tenteram hatinya.

Song Kie menoleh perlahan-lahan kepada si anak muda, Dia kata, sabar: "Anak muda, sekarang ini kau masih kekurangan nyali, di dalam rombongan kami, tanpa nyali orang tak dapat bekerja. Lebih baik kau pergi turun untuk menambah pengetahuan dan pengalamanmu."

 

Mendadak Tiong Hoa dipengaruhi sifat mau menang sendiri, tak mau kalah, tanpa mengatakan sesuatu, ia pergi turun. ia berjalan dengan cepat. Kelima orang itu melihat datangnya anak muda ini, tetap mereka bersikap dingin.

Tiong Hoa berdiri dengan menolak pinggang, ia membawa sikap jumawa ia sengaja mengawasi ke depan, tak mau ia menghiraukan mereka itu.

"Eh, Mau apa kau datang ke sini?" si jangkung kurus menegur. Dia heran maka dia memecah kesunyian

 

Tiong Hoa tetap memandang kedepan, tak ia menoleh.

"Aku?" sahutnya. "Aku dititahkan tongkee mengawasi kamu."

Tong-kee itu panggilan pada ketua.

Si jangkung kurus menyeringai, romannya jadi bengis. Dia mengangkat tangannya perlahan-lahan-

"Toako," mendadak berkata salah satu kawannya. "Apakah kau merasa pasti tongkee tidak bakal mempersalahkan kau?"

"Hm," bersuara sijangkung kurus, dan ia menurunkan tangannya itu. ia terus menggeser tubuh ke pinggiran.

 

Tiong Hoa telah melihat gerak-gerik orang dia lantas bersiap sedia, Kapan orang menyerang maka ia akan menyambut dengan pukulan "Siauw Thian chee Ci Cap-jie Kiauw Na." yalah ilmu silat "Bintang Kecil" yang terdiri dari tujuh puluh dua jurus yang lincah. Dengan itu ia bisa menghajar orang hingga mati, tak tahu ia, dari mana munculnya keberaniannya secara tiba-tiba itu orang yang menasehati si jangkung kurus itu menghampirkan si anak muda.

 

"Kau bernyali besar tuan, aku kagum." katanya tawar, "Meski kau menjadi penuIis baru

dari tongkee kami, tak nanti tongkee menitahkan kau mengawasi kami. Kamilah Tiong tiauw

Ngo Mo. Toako kami tidak percaya karangan kau, dia menduga itulah jawaban bohong, dari itu dia ingin menghukum kau. Aku lihat tuan tentu jemu dengan sikap tawar kami maka kau sengaja mengatakan demikian- sebenarnya memang beginilah sikap tabiat kami, jadi bukan sengaja kami memandang tak mata kepadamu.”

 

"Maaf..." kata Tiong Hoa sambil tertawa dingin, ia tidak takut meskipun orang adalah Tiong-tiauw Ngo Mo, Lima Hantu dari Tiong-tiauw.

Tengah si anak muda menyahuti itu, si jangkung kurus membentak, "Ngo-tee, apakah kau tak takut mulutmu pecah? Lihat, mereka sudah datang." orang yang dipanggil ngo tee itu -- adik yang nomor lima, menoleh.

 

Tiong Hoa berpaling juga, maka ia melihat mendatanginya empat orang, Mendadak seperti buyar keb era niannyabarusan, diam-diam ia menyingkir kearah pepohonan di dekatnya.

Kelima orang itu, yaitu Tiong-tiauw Ngo Mo. agaknya tegang sikapnya, Mereka lantas bersiap sedia melakukan penyerangan.

Empat orang itu, yang tadi merupakan titik-titik sebagai bayangan, lekas juga sudah datang dekat, sangat pesat larinya mereka. Sebentar saja, tibalah sudah mereka.

 

Tiong Hoa memasang mata, ia tidak dapat melihat muka orang, yang membaliki belakang, ia cuma tahu mereka itu orang tua semua, kumisnya pun panjang. Mereka seperti tidak menghiraukan kelima hantu, mereka jalan terus.

Tiongtiauw Ngo Mo tertawa dingin, lantas mereka menyerang dengan berbareng.

Keempat orang tua itu agak kaget, mereka lompat mundur satu tombak. Satu diantaranya mengawasi kelima penyerang itu, lantas dia tertawa dingin dan kata: "Ah, aku menyangka siapa, kiranya kalian, dengan kepandaian kamu yang umum ini kamu berani lakukan perbuatan hitam makan hitam ? Hm, tahukah kamu siapa kami ini?"

 

"Kami tidak perduli kamu siapa" sahut si jangkung kurus, yang usianya pertengahan, suaranya dingin. "Untuk kamu cukup asal kamu meninggalkan barang yang kamu bawa itu. Dengan begitu baru kami suka mengasi kamu lewat."

Orang tua itu menjadi gusar secara tiba-tiba, dia maju menyerang. Dengan tangan kanannya, dengan sebuah jeriji, dia menotok jalan darah, Gerakannya itu sangat cepat sekali.

Si jangkung kurus tabah luar biasa, Dia seperti tak menghiraukan serangan itu, Dengan sama gesitnya dia meluncurkan tangan kirinya, guna menotokjalan darah thian-hoe dari si orang tua, Berbareng dengan itu, dengan tangan kanannya, dia menghajar, membacok, lengan si orang tua.

 

Agaknya si orang tua terkejut, cepat-cepat dia menarik pulang tangan kanannya itu, tapi si jangkung kurus merangsak, ia menotok kejalan darah ciang boen, ia tetap menggunai tangan kirinya.

Tiong Hoa kagum, sangat cepat gerakannya dua orang itu.

Orang tua itu ialah sam Cioe Ya cee Tam siauw Go seperti diterangkan si jangkung-kurus tadi kepada Song Kie. Buat Sungai Besar bagian selatan dan Utara, dia ternama besar untuk kegagahannya, pantas dia berani dan liehay. Dia lantas menyerang dengan dua dupakannya saling-susul.

 

Toa Mo, si Hantu pertama, tertawa seram, tubuhnya lompat terapung, dia telah menggunai tipu berlompat Peng tee chee in," atau Awan hijau ditanah datar" Tapi dia tidak lompat setinggi mungkin- Baru kira dua kaki, tub uhnya sudah membungkuk, kedua tangannya meluncur. Dari atas dia meny amber kedua pundak lawan.

Sam Cioe Ya cee menjejak tanah, ia lompat mundur tigakaki, setelah bebas itu, ia maju pula untuk menyerang lagi dengan beruntun-runtun.

Toa Mo mendongkol karena kegesitannya itu, Dia menangkis dia menbeIa diri terus, dia membalas menyerang. Dia berlaku sama garangnya.

 

Sampai itu waktu, keempat Hantu habis sabar, Mereka lantas maju menyerang tiga orang tua lainnya. Mereka ini menonton saja. lantaran diserang, mereka membuat perlawanan.

Hebat pertempuran mereka itu. Tiong Hoa menonton dengan perasaan ketarik. Untuknya, pertempuran itu mendatangkan faedah besar, seumurnya belum pernah ia menyakslkan semacam pertarungan itu, memperhatikan sesuatu gerakan.

 

Sang waktu berjalan, rembulan sudah kelam, tinggal bintang-bintang yang muram. Cuaca menjadi guram, Tapi pertempuran berlangsung terus.

Tiong Hoa menonton dengan merasa heran, ia tidak melihat munculnya Song Kie. Kemana

perginya tongkee itu? Kenapa dia berdiam saja?

Sekonyong-konyong ia melihat sebuah tubuh besar melesat datang sembari tertawa berkakak, Mendengar itu, kelima Hantu lantas lompat mundur, sebaliknya keempat orang tua itu nampak terhuyung mau roboh.

 

Segera Tiong Hoa mengenali orang itu, adalah Koay-bin jin Him yang ia buat pikiran. Tam siauw Go lantas tertawa dingin,

"Aku tidak sangka sekali Song Loo-toa dapat bersikap seperti tikus" katanya mengejek. "Kalau Tam siauw Go mati, dia bakal menjadi setan yang akan menagih jiwamu."

Song Kie tidak menjadi gusar, sebaliknya dia tertawa lebar.

"Tam siauw Go. ingatkah kau kejadian pada tahun dulu di benteng air di telaga Thay ouw ketika kaum jalan Hitam mengadakan rapat bersama?" dia tanya.

 

"Bukankah ketika itu di muka umum kau telah menghina aku? Nah, sekarang kau tahu rasa, Bersama-sama kawan-kawanmu ini yang ada tiga bandit dari jalan Kam Liang kau sudah terkena pakuku, paku Thian Iong-tong. maka itu, didalam tempo tiga jam, racunnya paku bakal menyerang ulu hatimu, untuk sebentar terang tanah kawanan begundal pembesar negeri boleh datang mengurus mayat kamu"

 

Tam siauw Go terkejut, apa pula setelah itu ia lamat melihat ketiga kawannya roboh saling susul, terus berkoseran di tanah, sedang ketiga kawan itu Kam Liang sam To tiga begal dari jalan Kam Liang bukan sembarang orang. Percuma ia kaget, iapun lantas menyusul roboh untuk tak ingat apa apa lagi.

Sekonyong-konyong Song Kie berlompat kepada keempat orang tua itu, Dia bergerak sangat pesat seperti dia datang barusan. Kali ini untuk mencabut empat buah pakunya, paku Thian-Iong-teng atau serigala Langit dari dadanya keempat korban itu, kemudian dari tubuh yang seorang, ia menarik keluar sebuah kotak kecil warna hitam, yang mana ia buka tutupnya secara hati-hati.

 

Di depan matanya lantas bersinar sinarnya permata, hingga alis dan kumisnya nampak kehijau-hijauan warnanya.

"Hahaha..." dia tertawa lebar, "sekarang ini terpenuhilah separuh dari keinginanku banyak tahun" Suara tertawa itu mendengung di tanah pegunungan itu.

Tengah Koay-binJin Him girang kepuasan itu, sinar permata itu tiba-tiba menjadi sirap.

 

Dia merasakan sebuah tolakan keras dan kotaknya itu hilang dari tangannya, Dalam kagetnya ia melihat sebuah tubuh kecil langsing mencelat pergi dengan lincah sekali, tubuh mana meninggalkan tertawa nyaring tapi halus yang sedap didengar telinga, kemudian bagalkan asap lenyaplah dia di kejauhan.

 

Bukan main terkejutnya Koay-binJin Him, Dia lompat meny amber. Tapi dia ketinggalan sedetik. Perampas itu lolos, saking murka, dia berseru keras, terus dia berteriak: "Kejar" Dia pun mendahului lari kearah mana perampas itu kabur. Tiong tiauw Ngo Mo lari mengejar. Mereka tak menghiraukan lagi Tiong Hoa.

 

Lie Tiong Hoa menonton pertempuran dengan asyik sekali, ia sangat ketarik hati, ia kagum menyakslkan liehaynya Song Kie, ia pun heran melihat ada orang merampas kotak

permata di tangannya Koay-bin Jim-Him. tengah ia melengak itu, ia lantas di-tinggal pergi mereka semua.

Ia masih berdiam tempo ia merasa ada barang apa-apa menimpa kepalanya hingga ia merasa sedikit nyeri, ia meraba. hingga ia kena pegang sehelai daun. ia terkejut hingga ia tercengang pula, matanya terbuka, mulutnya ternganga. inilah seorang cerdas, ia dapat berpikir.

Di-dalam musim semi seperti itu, tak nanti ada daun rontok tertiup angin juga tak ada daun yang jatuh langsung ke tanah, mestinya melayang- layang dulu, Maka itu, itu mestinya daun yang dipakai menimpuk dengan "Hoei-Hoa-tek Yap Cioe hoat," ialah ilmu "Menerbangkan bunga memetik cabang" Karena ingat ini, ia terus dongak. melihat keatas.

 

Kembali ia menjadi heran. Di atas pohon, teraling dengan dedaunan ia melihat seorang nona nangkring di atas cabang, Yang terlihat tegas ialah mukanya yang cantik dengan matanya yang jeli, Nona itu mengawasi ia sambil tersenyum, dia mirip bung a yang baru mekar.

Ia bingung, hatinya pun berdenyut Manusia kah? setankah? ia hendak membuka mulutnya, lalu batal, ia digoyangi tangan, kepala nona itu digoyangkan. Terpaksa ia diam menjublak. mendelong mengawasi.

 

 

 

Bagaikan ular, tubuh nona itu merosot turun, tak terdengar suaranya sama sekali, tahu-tahu dia sudah berdiri didepansi anak muda. Dia mengenakan pakaian serba hitam yang singsat, hingga berpetalah tubuhnya yang Iangsing.

Tiong Hoa terlahir di kotaraja, ia gemar gelandangan, ia pernah melihat banyak nona- nona, tetapi melihat nona ini, semua kecantikan dikotaraja itu sirna.

 

Cantik sekali si nona, putih bersih dua baris giginya, Paling menggiurkan ialah sepasang sujennya, Adakah dia Tat Kie yang menjelma pula ? Nona itu menampak orang melongo, dia tertawa perlahan, kedua matanya bermain.

"Eh, apakah kau belum tahu siluman she Song itu bukan manusia baik-baik?" dia tanya perlahan, suaranya merdu, "Dengan mengikuti dia, kau bakal tidak memperoleh apa-apa. Baiklah selagi mereka tidak memperh atikan, kau tinggalkan dia pergi. Berangkatlah sekarang juga, ke kuil malaikat tanah di luar pintu barat kota Lay-soei, disana kau menantikan nonamu, nanti nonamu menunjuki kau sebuah jalan keselamatan."

 

Senang sekali Tiong Hoa mendengar kata kata itu dan ia mendapat perasaan tak dapat ia menolak. Maka juga tanpa berpikir panjang lagi, ia berkata: "Baiklah, nona, aku dengar nasihatmu ini, sekarang juga pergi," ia lantas memberi hormat, terus ia memutar tubuhnya, bertindak pergi, ia barujalan kira delapan tindak, telinganya mendengar Song Kie tertawa nya ring, ia terkejut, ia menyangka Koay-bin Jin Him mempergokinya, ia berpaling dengan cepat, ia tidak melihat Song Kie, hanya ia menampak si nona baju hitam memberi tanda padanya untuk berjalan terus, ia menurut, bahkan ia lantas lari.

 

Tiong Hoa heran sendirinya, ia tidak kenal nona itu. Kenapa ia kesudian mendengar kata- kata nya? ia mau menduga, dengan meninggalkan Song Kie, mesti bakal terjadi sesuatu, Mungkin ia bakal kehilangan jiwanya.

Toh ia tidak menghiraukan itu, ia merasa si nona ada sangat berharga untuknya, entah karena ia tertarik hatinya, entah karena kesannya yang baik terhadapnya.

 

Sekarang Tiong Hoa mesti berlari-lari di tempat yang gelap. Rembulan sudah kelam dan bintang-bintang guram sekali, berlari dengan menggunai Hoei Hong in soan lantaran ia kuatir Song Kie atau Tiong tiauw Ngo Mo lari mengejar dan menangkapnya. Ia lari cepat sekaii, inilah yang pertama kali ia menggunai ilmu ringan tubuhnya dengan sungguh-sungguh. Baru sekarang ia merasa berapa pes at ia dapat berlari, ia bermandikan keringat dan merasa letih juga.

 

Ketika fajar menyingsing, Tiong Hoa telah sampai di luar kota timur dari kota kecamatan Lay-twi, ia lari mutar melintasinya, untuktiba dipintu barat. Benarlah di luar pintu barat itu ia melihat kuilnya malaikat tanah yang terletak diatas sebuah tanjakan sebelah kanan ia menghela napas lega, lantas ia lari menghampirkan kuil itu.

Itulah sebuah kuil yang sudah tua dan rusak. Ketika ia bertindak masuk kedalamnya, ia mendapatkan banyak sarang labah-labah dan bau busuk membikinnya mau muntah. Ruangan dalam Kuil itu seperti juga sarang hantu.

Walaupun ia tak disayangi orang tua nya, Tiong Hoa tetap anak keluarga berpangkat, akan tetapi sekarang ia hidup terlunta-lunta, hatinya toh bercekat, ia jugaheran.

 

Kuil ini berdekatan dengan pintu kota, kenapa tidak ada orang yang urus?" ia kata dalam hatinya. "lnilah aneh..."

Ia berhenti berpikir sebentar, lantas ia berpikir pula: "si nona menyuruh aku menantikan dia di sini. Kenapa dia justeru memilih kuil ini?"

Tengah ia bingung itu, matanya bentrok dengan sebuah peti mati di ujung ruangan, tadi ia tidak melihatnya lantaran penerangan remang-remang dan ia belum memperhatikan

sepenuh nya. Tanpa merasa, ia bergidik. Peti itu membuatnya mendapat perasaan tak enak sekali. Maka ia memutar tubuh nya, berniat pergi keluar.

 

Tiba-tiba, peti mati itu mengasi dengar suara bergerejot, lantas ia melihat tutupnya terangkat perlahan-lahan. Bukan main kagetnya ia. sampai ia merasa kakinya lemas, sampai ia tak dapat berg era k Dengan mata mendelong ia mengawasi terus.

Begitu lekas tutup peti itu sudah terangkat semua, di dalam itu terlihat seorang wanita tua menggera ki tubuh untuk berduduk. Dia berambut putih dan rambutnya itu terurai sampai dipundaknya, Melihat kulitnya dan kurusnya, dia mirip mayat hidup, romannya menakuti.

Nyonya itu menyingkap rambutnya.

"Apakah kau telah kembali, anak In?" begitu terdengar suaranya perlahan.

Tiong Hoa berdiam.

 

(Bersambung ke Jilid 2)

 

Bujukan Gambar Lukisan

Karya : Wu Lin Qiao Zi

Terjemah : OKT

Jilid 2 : Siapa berbuat baik mendapat kebaikan

 

Nyonya itu menanya pula. Tetap ia tidak memperoleh jawaban, maka ia mengulanginya. Tempo ia nasib tak dapatpenyahutan, ia menjadi gusar.

"Siapa berada dalampendopo ini?" dia tanya, suara bengis, "jikalau kau tetap tidak mau menjawab, jangan kau sesalkan aku si orang tua?"

Tiong Hoa bergidik pula. Tapi sekarang ia menetapi hati, "inilah aku si orang she Lie..." ia menyahut.

 

Belum berhenti suara jawaban itu, mukanya si nyonya tua nampak berubah, lalu mendadak dia menyerang dengan tangannya.

Tiong Hoa kaget, tahu-tahu ia merasa terserang hawa dingin sekali, hingga tubuhnya

menggigil, habis mana ia merasai tubuhnya mulai kaku, darahnya seperti membeku dan kedua matanya tak dapat dibuka lagi, ia menjadi seperti lupa ingatan dan ingin tidur saja. Tapi ia melawan, ia mengeraskan hati nya, karena mana tidaklah ia sampai roboh.

 

Tepat itu waktu, sebuah tubuh kecil langsing berlari masuk kedalam ruangan itu,

segera terdengar suaranya yang menyatakan dia kaget sekali: "lbu Mengapa kau menggunai  pula seranganmu Pek Koet Im Hong? Mana orang dapat bertah an?"

Matanya Tiong Hoa rapat dan berat, ia tetap ingin tidur saja, akan tetapi pendengarannya masih terang, otaknya masih sadar, maka itu, ia mendengar dan mengenali suara si nona tadi.

"Anak In," ia mendengar suara si nyonya lemah, "adakah orang ini sahabatmu? ibumu telah menanya dia sampai tiga kali, baru dia menjawab memperkenalkan diri sebagai orang she Lie. Karena keayalannya itu, ibumu menyerang dia sekarang tolonglah dia dulu, baru kita bicara lagi."

"Dasar ibu yang sembrono," kata si nona menyesali "Kalau dia orangnya musuh, mustahil dia suka memberi ketika sampai ibu membuka mulut?.."

 

Habis mendengar penyesalan itu, Tiong Hoa lantas merasa ada tangan yaug lunak yang menempel  dipunggungnya, ia menduga si- nona mulai menolongi padanya.

Segera juga ia merasakan hawa hangat tersalurkan kedalam tubuhnya, Bagaikan es lumer, hawa dingin mulai terasa kurang, makin lama ia merasa makin ringan. Ia terus menutup matanya, selagi berdiam itu, ia berpikir, ia heran untuk pengalamannya ini. Sebegitu jauh ia sebal dengan penghidupannya yang malang, sampai ia mau beranggapan orang tak dapat dipercaya. Tapi sekarang ia menemui nona yang berhati baik ini, ia di tolongi orang yang tidak dikenal. "Penghidupan itu aneh..." pikirnya. Tanpa merasa ia tertawa.

 

"Eh, kenapa kau tertawa?" tanya si nona perIahan-

Tiong Hoa tidak lantas menyahuti. ia jengah, justeru itu ia dengar si nyonya tua menanya puterinya: "Anak In, heran. Aku menyerang dengan Pek Koet In Hong lima bagian luka orang itu ringan, kenapa kau menoIongi dia dengan tenaga Cit Yang Cin-lek masih jugabelum berhasil?"

"Ah, ibu" si nona masih menyesali " Kenapa kau menyerang demikian hebat kepada orang yang tidak mengerti silat ? Dia sebenarnya sudah sembuh tetapi aku mau menambah tenaganya dengan cit Yang Cin-Iek."

 

Tiong Hoa mendengar semua pembicaraan itu. Tidak dapat ia berdiam terus, Maka ia membuka matanyaJusteru itu, tangan si nona lantas ditarik pulang dan nona itu tiba tiba berada didepannya, menatap ia dengan matanya yang jeli.

Karena mereka berada dekat sekali, ia dapat mencium bau harum, ia menjadi likat sendirinya, pipi dan telinganya menjadi merah, ia pun takut untuk membalas mengawasi nona itu. ia terus memandang kearah peti mati.

 

Si nona bersenyum melihat kelakuanpemuda itu, ia lantas bertindak kepeti mati itu. "lbu." ia memanggiI.

Ketika itu ruangan masih guram, si nyonya, bercokol didalam peti mati, Nampak bagaikan hantu.

"Ibu." berkata pula si nona, "mestika itu telah berhasil aku dapati. Maka ibu bakal melihat langit dan matahari pula sekarang mari kita lekas berlalu dari sini, supaya orang tidak menyangka kepadaku."

"Apa, kau berhasil?" tanya si nona. Dia girang hingga suaranya bergetar. "Dasar orang baik dilindungi Thian."

 

Mendengar pembicaraan itu, baru sekarang Tiong Hoa ketahui si nyonya buta matanya, pantas tadi dia lambat menggeraki tangannya menyerang ia Jadi nyonya itu menanti dulu jawaban, untuk mengetahui di bagian mana ia berdiri.

Nyonya itu mengangkat seb atang tongkat dari sisi  dengan pertolongan itu ia lantas bangun berdiri, gesit gerak-geriknya.

" Entah mustika apa itu yang dikatakan si nona?" kata Tiong Hoa dalam hatinya, ia lantas mengerutkan aIis. Ia sekarang melihat kakinya nyonya ini bercacad. si nona memandang sipemuda, ia melihat air muka orang, ia tertawa.

"Aku tahu kau heran atau bercuriga, ingin kau menanyakan sesuatu padaku" ia kata. "Benar, bukan? sekarang kami mau lekas berlalu dari sini, jangan kau tanya apa-apa. Di mana ada ketikanya, kau tunggulah sampai kita berada di siauw Ngo Tay nanti kau ketahui sendiri."

Si nyonya sudah pergi ke belakang ruangan.

 

"Mari kita berangkat." kata si nona, "jangan kau sangka karena kakinya bercacad ibu jadi tak leluasa bergerak. Asal ia menggunai tongkat, mungkin kau tak dapat menyusulnya."

"Hm, Aku tak percaya." kata Tiong Hoa di dalam hatinya.."Sungguh gila kalau kakiku tak dapat mengejar orang yang tak ada kakinya." oleh karena si nona sudah bertindak pergi, pemuda ini lantas menyusuI. Di bagian belakang, kuil terlebih gelap daripada di bagian depan,

satu kali Tiong Hoa terkejut, ia mendengar suara sesuatu yang terhajar hebat, lantas ia melihat sinar terang.

Itulah si nyonya tua, yang menyerang jendela hingga daunnya menjeblak. habis mana dia berlompat keluar dari liang jendela itu.

 

Si nona mengikuti terus. Ketika Tiong Hoa sudah melompat keluar, nyata ibu dan gadis itu sudah meninggalkan ia belasan tombak. ia melihat juga, sekali menekan tanah, nyonya itu dapat berlompat jauh lima atau enam tombak. ia menjadi heran dan kagum. jadi benarlah kata pemudi itu. oleh karena ia kuatir nanti dicela si nona, ia lantas menyusul.

 

Mereka berlari-Iari di daerah pegunungan yang tinggi dan rendah, di mana pun tumbuh banyak pohon lebat, itu waktu matahari yang menerangi bukit kuning sinarnya.

Sesudah meninggalkan jauh kuil malaikat tanah itu, Tiong Hoa mendapat kenyataan ia terpisah belasan tombak dari si nyonya dan nona, sekarang ia mengerti bahwa ia kalah.

Ia menjadijengah sendirinya ia pula di hinggapi keheranan, kenapa nyonya tua itu tahu jalanan sedang matanya buta.

Selagi ia memikir itu, pemuda ini ketinggalan lebih jauh pula.

ooooo

 

BAB 2

PERJALANAN dilanjuti terus, Di waktu matahari mulai turun, Tiong Hoa bertiga sudah sampai di kota Tembok Besar, yaitu kota Cie-keng-kwan, dijalanan penting Hoei-bo kauw, Di waktu matahari turun itu, Tembok Besar memperlihatkan keindahannya. Terlihat tembok kota panjang berliku-liku. sinar matahari pun berwama lima rupa.

Sekeluarnya dari Hoei-bo kauw itu, orang berada di tanah perbatasan. Dari situ gunung siauw NgoTay sudah mulai tampak, itulah gunung yang menjadi salah satupusat agama Buddha dan dalam keindahan alam, dia tak usah kalah dengan NgoTay san yang besar.

 

Di dalam Hoei-ho-kauw, dimana ada jalan besar yang pendek berbaris beberapa rumah warung, sebaliknya orang yang berlalu-lintas, waktu itu sedikit, inilah mungkin disebabkan angin keras, yang membuat debu danpasir berterbangan sampai orang sukar membuka matanya.

Lie Tiong Hoa ikut si nyonya dan gadisnya memasuki sebuah losmen kecil yang merangkap menjadi rumah makan. Di situ sudah berkumpul banyak tetamu lainnya, yang sedang duduk dahar dan minum, Kapan mereka itu melihat tiga orang ini, ruang menjadi sunyi senyap. semua mata lantas diarahkan kepada mereka bertiga. sukar jalannya si nyonya, pula mereka bertiga bed a sangat nyata.

 

Si nyonya tua dan kurus mirip tengkorak. -si nona sebaliknya cantik sekali, sedang si pemuda tampan mirip seorang pemuda hartawan. Maka selain mengawasi, tetamu-tetamu itu kasak-kusuk. bahkan ada yang berkata-kata tak sedap didengarnya.

Si nona mengerutkan alis. Dia melihat dan mendengarnya sebal, Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa, Maka dia memandangnya tawar.

Tiong Hoa tak berpengalaman, ia heran-suasana di kota raja.

 

Ketiganya lantas berduduk. si nyonya duduk tegak. romannya menyeramkan, pelayan sudah lantas membawakan arak berikut kuwe yang masih panas. Tidak lama maka suasana dalam ruang itu kembali menjadi biasa.

"Sekarang ini di kota Yan-khia telah terbit beberapa perkara hebat." terdengar seorang berkata, "Semua perkara itu menyebabkan repotnya anjing-anjing kantor"

"Coba tuturkan, toako" kata seorang Iain- "Pastilah itu perkara-perkara yang menarik,"

 

Hati Tiong Hoa bercekat, ia lantas menoleh kepada orang yang berbicara itu, yang merupakan serombongan dari tujuh atau tetamu dengan pakaian hijau dan masing-masing menggendoI senjata tajam.

Seorang, yang mukanya bercacad bekas bacokan golok, yang romannya bengis, meneguk araknya, lalu dia berkata: "Kejadian mulai kemarin dulu malam kira jam dua, Toan Kong, puteranya Pouwkoen Tongpin Toan Kwee, ada bersama dua tiga kawannya, Mereka sedang pelesiran.

Selagi lewat di dekat paseban To Jian Teng di Lam hee-wa. mereka bertemu dengan Lie Tiong Hoa puteranya Lie sie-Iong, yang romannya bingung, Toan Kong menjadi heran, dia menegur, tak tahu bagaimana, mereka menjadi berkelahi, Heran putera tie-tong hu, yang romannya lemah. dia telah menghajar pingsan Toan Kong murid BoeTong pay itu. setelah itu ketahuan Lie Tiong Hoa telah membunuh mati pemegang kasnya serta merampas uangnya.

Kemud ian ketahuan juga, ia telah membinasakan tukang loak di Lioe lie-ciang serta

seorang Iangganannya. Peristiwa itu lantas menggemparkan seluruh kota..."

 

Mendengar itu, mukanya Tiong Hoa pucat sendirinya, si nona dapat melihat perubahan air muka itu, lantas ia menduga, pemuda ini tentulah Lie Tiong Hoa itu si putera sie-Iong. ia mengawasi seraya bersenyum. Tiong Hoa mencoba menetapkan hati, ia bersenyum juga,

si nona bersenyum dengan hatinya menduga- duga, Kalau si pemuda orang Kang-ouw, peristiwa itu lumrah. Anehnya yalah dia ini pemuda turunan orang berpangkat, Kenapa dia membunuh begitu banyak orang?

 

"Semua peristiwa itu membikin repot kawanan kaki anjing" orang itu melanjuti penuturannya. ia menyebut kaki anjing kepada hamba-hamba polisi.

"Satu gelombang belum sirap. datang satu gelombang lain inilah hal tercurinya satu cangkir mestika milik Pang eran Tokeh: itulah cangkir Coei in Pwee yang terbuat dari kemala Khotea yang terukir mega biru ungu. Empat centeng telah terbinasa kerenanya, kemudian didapat keterangan, pencurian berikut pembunuhan itu perbuatannya Kam Liang sam-to yaitu ketiga penjahat dari Kam liang serta sam Cioe Ya-cee Tam siauw Go si Mamedi Bertangan-tiga yang dikenal juga sebagai Tian-tam It Kwie, setan-tunggal dari IoIam selatan-,."

 

"Apakah faedah atau khasiatnya cangkir kemala Kho toa itu?" tanya seorang, "Bagaimana cangkir kemala itu dapat menggiurkan hatinya Kam- liang sam-to dan sam Ciu Ya cee Tam siauw Go?"

"Tak tahu aku perihal khasiatnya cangkir kemala itu, Kemudian baru aku mendengarnya

Dari pocu karena orang itu melanjuti, " Untuk cangkir kemala itu, po-coe sudah menunggang kuda kabur ke kota raja, cangkir kemala itu sebenarnya satu diantara ketiga mustika yang sekarang ini tengah diarah kaum Rimba Persilatan- terutama dua golongan Hitam dan putih sangat mengilarnya. Ketika hamba hamba istana yang lihai serta kawanan opas pergi menyusuI, didekat Kho pay-tiam mereka menemukan mayat-mayatnya Kam-liang sam-to serta Tam siauw Go yang dadanya bekas ditancapkan senjata rahasia.

Mereka semua terkenal sebagai penjahat-penjahat yang lihai dan di-malui, sekarang mereka terbinasa tidak keruan itu, tidakkah itu menggemparkan? Orang percaya sipembunuh adalah orang muda yang baru muncuI dalam dunia Kang-ouw..."

 

Mendengar itu, Tiong Hoa mengerti kebinasaannya Tam Siauw Go bertiga pastilah hasil sepak terjangnya Song Kie serta Tong tiauw Ngo Mo tapi pada itu si nona didepannya ini ada sangkut pautnya, terang mustika yang dimaksudkan si nona yalah cangkir kemala tersebut, ia lantas melirik nona itu atas mana si nona bersenyum hingga nampak sujennya yang manis ia lihat sendirinya, lekas- lekas ia melengos.

 

"Toako?" kata seorang lain. "Kau cerita kurang jelas, sebenarnya apakah ketiga macam mustika itu? Apakah khasiatnya itu? Dan poocu, yang sudah lama tidak pernah keluar rumah, kenapa setelah mendengar halnya cangkir kemala itu, sudah lantas berangkat ke Yankhia? Kenapa kau tidak mau menjelaskan itu hanya hal lainnya?

Apakah toako takut lain orang mendengarnya? Kau ingatlah, kampung Ie Kee Po terpisah dekat dari sini, siapakah yang berani main gila? Bukankah berani main gila itu berarti menarik kumis harimau?"

 

Orang dengan muka bertapak golok itu tertawa.

"Kau tak tahu" katanya nyaring " Ketiga mustika itu penting sekali, Pocu sendiri yang mengatakan, cangkir kemala itu bakal menjadi bibit pertentangan hebat kaum Rimba Persilatan, bahwa mungkin perkampungan Ie KeePo kita bakal turut terembet karenanya. tentang po-coe kita siapa kah yang dia buat takut? Babkan Lo-sat Kwie Bo Cek Kiauw-kiauw, yang dulunya berbareng terkenalnya dengan pocu, masih jeri terhadapnya .Ketika po-cu berangkat aku melihat wajahnya dingin sekali, itulah bukti pentingnya urusan."

 

Mendengar disebutnya nama Lo-sat Kwie Bo Cek Kiauw, atau Cek Kiauw-kiauw si Biang Memedi, si nyonya tua mengasi dengar suara di hidung.

Tiong Hoa mendengar itu, ia pun melihat wajah si nyonya, maka ini mesti ada hubungannya dengan Losat KwieBo. sikap dingin dari si nona menguatkan dugaannya itu.

 

Tiong Hoa menjadi orang hijau dalam dunia Kang-ouw, tak tahu ia perihal orang-orang Rimba Persilatan- Dari gelarannya saja, ia mau menyangka Lo-sat Kwie Bo bukan orang Iurus. Melihat sikapny a si nona, ia mau percaya Lo-sat Kwie Bo adalah nyonya yang menjadi ibunya nona ini, ia menjadi bimbang ia turut Song Kie sebab ia mau cari gambar lukisan, sekarang ia turut nyonya dan nona ini ke siauw Ngo Tay.

Apakah perlunya? Apa cuma sebab ia tergiur kepada nona itu? Kalau benar, apa ia tidak menyalahi pesan mendiang gurunya?

"Baiklah, aku lekas pisahkan diri dari mereka?" pikirnya kemudian- " Kalau tidak, aku bisa menyesal seumur hidupku."

 

Tengah ia berpikir begitu, ia melihat si nona lagi menatap padanya, ia merasa seperti si nona dapat menerka hatinya itu, sendirinya ia merasa tak enak hati, keringat dinginnya lantas keluar, sinar mata si nona seperti meminta untuk ia jangan pergi meninggalkannya .

"Ah, putusanku terlalu getas." pikirnya kemudian- "Bedanya kejahatan dengan kebaikan nyata sekali, hanya sebelum jelas, sukar membuktikannya, tak dapat aku lancang menduga nyonya tua ini, Banyak orang palsu."

 

Selagi pemuda ini berpikir begitu, banyak tetamu justeru mengawasi ia dan menduga- duga kenapa ia berkumpul dengan nyonya jelek dan tua itu serta si nona. Mereka umumnya menyangka itulah disebabkan ia tergiur terhadap nona itu... Nona itu tidak puas melihat sikap banyak tetamu itu, ia mendongkol.

Ketika itu ada datang lagi dua tetemu, dua- duanya imam dengan kundainya yang tinggi, masing-masing menggendol pedang, Kelihatannya seperti ssudara, Mata mereka menunjukkan sinar angkuh. Melihat si nyonya, mereka lantas melengos, hanya sebentar kemudian, mereka mengawasi. Karena itu. para hadirin kembali memandang si nyonya. sebagai orang buta, nyonya itu tak tahu bahwa orang mengawasi padanya.

 

Tiong Hoa heran-

"Nona, kedua imam seperti kenal ibumu.." katanya perlahan.

Nona itu, dengan kedipan matanya, mencegah orang melanjuti kata- katanya.

Salah satu imam berkata pa da kawannya: "Romannya sudah berubah, entah dia entah bukan-.."

"Takperduli dia atau bukan, kita turun tangan saja untuk mencoba." sahut yang kawan

itu. "Kita coba ekornya sirase, mesti ketahuan-.."

Nyonya tua itu buta tapi telinganya terang, Dari itu ia dapat mendengar pembicaraan di antara kedua imam itu, ia nampak menjadi keren-

 

Imam yang berdiri dikiri mengangkat tangannya perlahan-lahan diarahkan kepada nyonya tua itu. Lantas ada angin yang mendesak mukanya.

Tiong Hoa merasakan angin ini, hawanya dingin, lunak tapi lekas berubah menjadi keras, ia menjadi heran-

Si nona mengerutkan alis, dengan tangannya dia menolak.

Tiba-tiba si imam mundur tiga tindak. tubuhnya terhuyung. Belum lagi dia berdiri tetap. si nona sudah bertempat ke depannya, untuk menuding dan menegur. "Oh, hidung kerbau, kamu tidak pantas Kenapa kamu mencari onar tanpa sebab? Kalau bukan aku awas dan sebat. tentulah ibuku roboh di tangan kamu."

 

Imam itu kaget, mukanya pucat, matanya bersinar tajam, ia mencoba si nyonya dengan tenaga lima bagian, di luar dugaan, si nona merintangi ia. itulah kejadian didepan banyak orang. Dia menjadi gusar. Dia kata. "Kami berdua adalah Mauw san siang Kiam, belum pernah kami lancang turun tangan.

Kali ini pun aku cuma mencoba, guna mendapat kepastian ibumu ini benar Lo sat kwie Bo yang dulu hari termasyhur atau bukan.”

Mendengar itu, ruang menjadi sunyi.

 

Si imam meneruskan berkata: "Dulu hari justeru kami pergi pesiar, Lo sat Kwie Bo sudah membasmi murid-murid Mauw san pay, dan kuil kami pun dibakar ludes. Karena itu

kami berdua merantau mencarinya"

"Hm" mengejek si nona. "Kata-katamu ini tepat untuk dipakai mengelabui orang-orang dogol. Roman Lo-sat Kwie Bo apa kamu tidak kenali, toh kamu berani menyebut orang musuh kamu, Aku tidak tahu Lo sat Kwie Bo tetapi aku tahu ialah satu syarat hidupnya, Yalah kalau orang tidak ganggu dia, dia tidak bakal mengganggu lain orang. Kamu tidak kenal dia, kenapa dia pergi ke gunung kamu?"

 

Ditegur secara demikian, merah mukanya imam itu. Dia menyeringai dan kata: "Kau tahu syarat hidup Lo sat kwie-bo, kau pasti muridnya. sekarang aku hendak hajar yang muda, mustahil yang tua tak muncul?"

Mauw san siang Kiam memang b ersaudara kembar dan nama mereka terkenal karenw ilmu pedang mereka. Merekalah Ceng Leng Toojin dan Ceng inToojin, Mengenai perkara mereka dengan Los at Kwie Bo, merekalah yang bersalah.

Adik misan laki-laki Lo-sat Kwie Bo mem buka piauw kiok, ketika dia mengantar piauw (pio), di kaki gunung Thay Hang san dia dipegat dan di begal Hul-thian cie Ciao Pioe si Tikus Terbang. Adik misan itu gagah dan sebelah tangannya si berandal dikutungi ciao Pioe muridnya Ceng leng.

Dia mengadu yang tidak-tidak pada gurunya, Ceng Leng dan Ceng in gusar, mereka lantas sateroni si piauwsie, yang mereka bunuh serumah tangganya.

 

Ketika Lo-sat Kwie Bo ketahui itu, dia pun gusar, dia mendatangi gunung Mauw san. Kedua imam kebetulan tidak ada di gunung, tetapi Lo sat Kwie Bo gusar, dia melabrak. dia bunuh semua muridnya kedua imam itu dan membakar juga kuilnya. Dia belum puas, dia

merantau mencari Mauw san siang Kiam.

Apa lacur, dia bertemu musuh lain dan dia kalah hingga kedua matanya buta serta kedua kakinya bercacad dan mati kaku, sampai sebegitu jauh. Mauw san siang Kiam masih belum tahu kenapa murid- muridnya dibinasakan dan gunungnya diludaskan-

 

Sudah lewat sepuluh tahun, Ceng Leng dan Ceng In masih belum dapat mencari Lo-sat Kwie Bo, itu berarti pembalasannya belum dapat diwujudkan, tetapi mereka mendendam terus dan memikirkannya setiap harinya.

Di Hoei bo- kauw mereka dapat melihat si nyonya lantaran mata orang buta dan kaki mati, mereka bersangsi. Yang mereka lihat seperti lukisannya, nyonya itu memiliki tahi lalat merah dijidatnya betulan saja. Karena ini mereka bersangsi melihat si nyonya tua, maka mereka mau menguji.

 

Dalam murkanya si nona kata pula bengis "Kamu dua potong sampah, kamu berani main gila di depan nonamu. Aku tak takut pedang mustika kamu."

Kedua imam gusar sekali, apa pula Ceng In Too j in.

Mauw san siang Kiam kesohor untuk ilmu pedangnya Pek Wan Kiam-hoat atau lutung putih. Nama mereka besar, seharusnya mereka malu melayani seorang nona, tapi kata- kata si nona tajam, mereka gusar tak terkendalikan-

 

Begitulah Ceng in tertawa dingin dan kata: "Baik, baik, Nona tak memandang kami, kau mesti murid orang lihai, kami ingin menerima pengajaran dari kamu."

Sebelum si nona menyambut, orang yang mukanya bertapak golok tadi -- orang dari perkampungan Ie Keo Po -- campur bicara dan berkata nyaring. "Di luar ada pekarangan

luas, baik kamu main-main di sana. Aku Hoe bin-long Lie Koei dari Ie Koe Po suka menjadi saksi."

 

"Oh." terdengar suaranya Ceng Leng. "Lio Loosoe, kami belum pernah bertemu lagi Ie Pocu selama sepuluh tahun. semoga dia sehat dan berbahagia, harap kau tolong sampaikan hormat kami"

Hoa-bin-long Lie Koei si serigala Belang tertawa lebar.

"Nama tootiang kesohor, pocu sering membicarakannya," ia kata, "Baiklah, nanti aku menyampaikannya, Terima kasih. sekarang silahkan mulai."

Si nona mendongkol dia mengawasi tajam si serigala Belang itu.

 

Mauw san siang Kiam menjadi bersangsi. Mereka seperti telah menunggang harimau sehingga sukar untuk mereka turun dengan begitu saja, terpaksa mereka berdiam terus sembari mengawasi bengis si nona.

Si nyonya tua tetap berdiam, mendengar semua pembicaraan itu, wajahnya tak berubah. Ia sebenarnya gusar tapi ia menyabari diri, ia ingin lekas pulang untuk dapat mengobati mata dan kakinya .Jadi tak sudi ia bertempur.

Ketika itu cuaca sudah gelap dan pelayan telah mulai memasang lilin- Di antara sinar api semua orang tampak tegang,

 

Akhirnya Lie Tiong Hoa berbangkit, ia memberi hormat kepada kedua imam.

"Tootiang orang beribadat, buat apa too tiang melayani wanita?" ia berkata bersenyum. " Kalau hal ini sampai tersiar, apakah too tiang tidak bakal mendapat malu?"

Inilah ketika bagus untuk Mauw san siang Kiam mengundurkan diri, Ceng Lin ingin

menjawab anak muda itu ketika si nona memandang si pemuda dan berkata: " Kenapa kau campur tahu urusan ini? Nonamu justru ingin mengajar adat kepada kedua hidung kerbau ini, untuk aku melihatnya mereka masih berani mendatangkan onar atau tidak."

 

Nona itu ketahui duduknya hal, ia ingin melampiaskan kemendongkolan ibunya sebab ibu itu sungkan turun tangan, ia suka mewakilinya.

Tiong Hoa tidak dapat menerka hati si nona, maka itu, kena ditegur, mukanya menjadi merah, hingga ia berdiam saja.

Melihat orang kebogehan, si nona tertawa seraya terus berkata, "Kau tunggu di sini melihat ibuku." Kemudian ia memandang ke dua imam, untuk berkata tawar: "Hayo ke luar Apakah kamu ingin nonamu menyeret kamu?"

 

Mauw san siang Kiam mendongkol bukan main, sambil tertawa dingin, keduanya bertindak keluar, samar-samar terdengar suaranya Ceng In: "Budak ini tak tahu langit tinggi dan bumi tebal."

Si nona kembali mengawasi si anak muda, ia tertawa dan memesan pula perlahan: "Aku minta kau menemani ibuku, seb entar aku nanti haturkan terima kasihku kepadamu"

Ketika itu, mengikuti kedua imam, para hadirin sudah pa da pergi keluar, maka di dalam ruang itutinggalsi nona bersama ibunya serta sipemuda.

 

Semangat Tiong Hoa seperti terbang melihat dua kali si nona tertawa, Wajah nona itu mirip bunga hoe-yong dan alisnya mirip daun yang lioe. Apapula ketika si nona melirik padanya selagi dia bertindak keluar.

Tiong Hoa lagi kesengsam ketika ia mendengar si nyonya berkata sambil menghela napas padanya: "Anak muda, tahukan kau aku si orang si tua orang macam apa?"

"Aku telah menduga delapan sampai sembilan bagian, hanya aku yang muda tidak berani menyebut nama loo cianpwee," Tiong Hoa menyahut cepat.

 

Muka seperti tengkorak nyonya itu tertawa, ia kata: "Anakku In Nio ini belum pernah ada priya yang menarik hatinya, maka itu mungkin pa da kau dia melihat sesuatu, Dia gampang sekali tersinggung, kau baiklah berhati-hati terhadapnya." ia berdiam sebentar lantas ia kata pula: "Aku si orang tua dapat menjaga diriku, kau pergi keluar melihat si In..”

Tiong Hoa girang mendengar kata- kata itu, ia memang ingin keluar, Tak enak hatinya berdiam berduaan saja dengan nyonya tua itu. "Baiklah, loocianpwee" ia kata, Lantas ia memberi hormat danpergi.

 

Di luar, sang malam terang sekali. sang rembulan tengah permainya. Disisi pekarangan itu bulan tengah permainya. Disisi pekarangan telah berkumpul penonton tak kurang dari pada delapan puluh orang, Di tengah gelanggeng si nona lagi berdiri sembari mengawasi kedua imam sambil tertawa, ia baru saja menanya: "Aku minta tanya kedua tootiang ingin main- main secara apa ? satu lawan satu atau kamu meluruk berdua? Nona mu selalu bersedia mengiringi kamu?"

 

Nona itu merangkap kesesatan dan kelurusan, kata katanya itu keluar dari hati tulusnya. Tapi di telinga Mauw san siang Kiam, suara itu tak sedap terdengarnya, Biar bagaimana, merekalah ketua suatu partai dan selama merantau, belum pernah ada orang yang berani menghina atau mempermainkannya, sekarang si nona tak memandang mata padanya,

Panas hati mereka, Lebih-lebih Ceng In yang cupat pandangannya. Dia tertawa dingin

lantas dia lompat menerjang. Dia mau menangkap tangan si nona.

 

Tiong Hoa dapat melihat itu, dia terkejut ia kuatir si nona terlukakan si imam.

Tapi nona itu, melihat orang bergerak. dia tertawa. Dia kata: "mau nekad, kau hendak mengadu jiwa, baik, sebentar nonamu akan membikin kau memperoleh kepuasan." Sembari berkata begitu, dia berkelit dengan lincah, Bahkan tahu-tabu dia sudah berada di belakang orang.

Dengan kedua tangannya ia lantas menotok dua jalan darah Ceng Cok dan Ie-boen dari imam itu.

Ceng ln terkejut, ia mendengar suara angin- Tahulah ia bahwa nona itu tidak dapat dipandang, ia geser tubuh ke kanan, ia berbalik, dengan kedua tangannya ia menyambuti serangan, ia mendak sedikit, untuk menggunai tipu silat "Badak dongak memandang rembulan."

 

Nona itu tertawa pula, kedua tangannya ditarik pulang, Berbareng dengan itu, tubuhnya berputar , ia berputar terus sampai tujuh atau delapan kali, mengitari si imam.

Ceng In menjadi repot dan bingung, ia mesti turut berputaran, karena mana, ia merasa matanya kabur. si nona bergerak dengan sangat cepat, Kalau ia alpa, ia bisa celaka, ia kenali si nona lagi menggunai tipu silat "Thian mo loan koe," yaitu Hantu langit menari," Maka terpaksa ia berlompat ke luar.

 

Justru orang menyingkir justru si nona menyerang, tangan kirinya menyambar jalan darah kiok-tie ditengan kanan imam itu.

Ceng In kaget, Tak dapat ia menangkis, ia cuma bisa berkelit, Saking terpaksa, la berlompat pula terlebihjauh.

Si nona tertawa pula, ia menyusul tangan kirinya meluncur. Ketika ia gagah tubuhnya berlompat tinggi melewati si imam. ketika ia menginjak tanah, cepat luar biasa ia berbalik terus tangan kanannya menyerang, mencari jalan darah leng-kio di dada kiri si imam.

 

Kesebatan itu membikin bengong para penonton- Ceng Leng pun kaget, Kecuali lompatan itu, yang harus dikagumi, ia juga mengenal totokan tangan kiri dan kanan si nona.

Totokan tangan kiri itu bernama memedi menggerogoti tulang. itulah ilmu silatnya kaum sesat. Dan totokan tangan kanan, "Tapak tangan Kim-kong" ilmu silat kaum lurus,jadi dia menggabung kepandaian kedua kaum persilatan itu Anehnya itu dimiliki seorang wanita demikian muda, karena ini, ia jadi mau membantui saudaranya, kalau tidak, ia kuatir saudaranya bercelaka.

Tanpa ayal lagi, sembari berseru, ia berlompat maju, terus ia menyerang dengan pedangnya, yang ia hunus sambil berlompat, hingga ia menyerang dari atas ke bawah.

 

Si nona mendapat tahu datangnya musuh yang kedua, ketika ia di serang, ia berkelit sambil mendak. dengan begitu, pedang lewat di sisinya, Lantas dengan cepat ia mendupak kearah pedang. Tepat dupakannya itu, pedang terkena hingga berbunyi nyaring.

Ceng Leng terperanjat. Jejakan itu keras sekali, pedangnya terasa berat, lengannya kaku tak bertenaga.

 

Si nona tak berhenti dengan jeb akannya itu, ia bangun berdiri, terus ia menyerang.

Sekarang ia menggunai kedua tangannya, ia menyerang kedua tangan lawan, itulah tipu silat "Naga perak membiak sisiknya."

Selagi si nona menyerang itu Ceng In, yang memperoleh ketika, telah menghunus pedangnya juga, terus ia menyerang, ia mau menolongi saudaranya yang terancam bahaya.

 

Ceng Leng sendiri kaget hingga ia merasa  pamornya bakal runtuh. syukur datang pertolongan saudaranya itu, si nona batal menyerang terus, Nona itu mau melindungi diri dari pedang Ceng In. Maka si imam lompat ke samping.

 

Nona itu tertawa, dia kata. "Nonamu menyangka Mauw San siang Kiam liehay luar biasa, kiranya cuma sebegini" Dia bicara sambil berdiri tegak, di bawah sinar rembulan, dia nampak seperti seorang dewi.

Kedua imam bingung bukan main. Mereka tak kenal sinona, dengan begitu mereka jadi tak ketahui asal usul orang, Di dalam hati mereka mengakui keliehayan orang yang masih muda sekali tetapi dapat menggabung ilmu silat kaum sesat rtan lurus, di lain pihak mereka sangat penasaran.

 

Selagi ceng Leng memikirkan daya untuk mengalahkan lawannya, Ceng In melihat si anak muda berdiri terpisah enam tombak, matanya mengawasi si nona saja, Pemuda itu agak tersengsam. Menampak demikian, ia mendapat akal-muslihat yang licik. Begitulah mendadak ia lompat ke depan si nona untuk menikam. Ceng Leng melihat ketikanya, ia pun membarengi menyerang,

Si nona lagi mengawasi, maka ia melihat gerakan kedua lawan itu. ia bersiap untuk melayani. Baru ia berkelit dari Ceng In, mendadak imam itu beriompat ke samping, tangan kirinya terus diluncurkan, guna meny amber si anak muda.

Tatkala itu tibalah pedang Ceng Leng, Si nona meluncurkan dua jari tangannya.

 

Untuk menyambuti pedang, untuk di sampok dengan dua jarinya itu, ia berhasil, pedang berbunyi nyaring dan terpental

Ceng Leng kaget bukan main, ia merasa lengan dan telapakan tangannya sakit, Tak dapat ia mencekal terus pedangnya, Pedang itu mental ke atas genting.

Nona itu menggunai tenaga "cit Yang," itulah ilmu silat ajarannya tocu atau pemilik, dari pulau Lee Coe To di Poet-hay di teluk Titlee, Untuk pertama kalinya, pemilik pulau itu menggunai tenaga Cit Yan itu atau Cin Yang Cie-Iek dalam pertempuran di gunung Jang Wie san di telaga Thay ouw.

Dalam tiga jurus dia mengalahkan see-hek Mo Ceng, pendeta hantu dari wilayah Barat, sampai tulang iga orang remuk dan dengan muntah-muntah darah pendeta itu lari kabur, sedang dua belas imam dari Lu Liang san terbinasa dengan pedang mereka rusak, itulah peristiwa yang menggemparkan, yang membikin tocu itu menjadi kesohor. si nona belum mencapai kemahirannya, tetapi toh kedua imam ini sudah kewalahan.

 

Habis membikin mental pedang Ceng Leng, si nona terkejut melihat Ceng In yang mundur dari hadapannya, mau mencelakai si anak muda. "saudara Lie, awas" ia berteriak.

Tiong Hoa mendengar peringatan itu sesudah kasip. ia lagi mendelong tatkala si imam berhasil meny amber lengannya yang kanan. segera ia merasakan nyeri hebat, tapi ia tidak menjadi gugup, bahkan ia mendongkol sekali. sambil menahan sakit, ia membalas menyerang. Ia menggunai tinju kirinya sekuat tenaganya.

 

Inilah tidak disangka Ceng ln, syukur dia tidak menjadi gugup, sambil melepaskan cekalannya, dia berkelit, lalu sambil berkelit itu, dia menyabet dengan pedangnya ke-tangan kiri si penyerang.

Hanya baru lewat satu hari dan satu malam pengetahuan Tiong Hoa menjadi bertambah, ia menyingkirkan tangan kirinya dari sabetan pedang, tetapi ia tidak berkelit mundur. Dengan tangan kanannya yang sudah bebas, ia membarengi menyerang, menghajar lengan kanan si imam.

 

Si nona melengak melihat kepandaian si anak muda, itulah bukan caranya si hijau dalam dunia kang-ouw, ia menjadi kagum, hingga selain hatinya lega, iapun bersenyum memperlihatkan sujennya.

Ceng Leng bingung, juga Ceng In. Di luar dugaannya, si nona gagah, si pemuda gagah juga, Karena itu, mereka memikir untuk mundur dengan teratur. Tak lama keduanya memakai tempo. Tiba-tiba mereka lompat mundur, selagi si pemuda dan pemudi heran, mereka maju pula, terus mereka merangsak, menyerang saling susul itulah ilmu pedang mereka, "Mauw san Toan Hoen Kiam hoat" atau "Memutus Arwah."

 

Luar biasa si anak muda, Mendadak malam ini ia memperoleh semangat. ia melayani dengan baik, tabah dan gesit, Dan begitu terbuka ketikanya, ia desak Ceng In.

Lagi-lagi si imam heran dan kaget, mukanya menjadi pucat, Bukankah ia seorang jago? dan memegang pedang juga? Lantaran di-desak, ia repot membela diri sedetik ia bingung, dadanya lantas tertindih si pemuda hingga ia menjerit, terpaksa selagi terhuyung, ia memutar tubuh untuk lari ke arah timur. Ceng Leng tahu diri, ia pun lari meninggalkan si nona.

 

Tiong Hoa tidak mengejar musuhnya, ia berdiri tegak, gerakannya gagah. si nona melihatnya, dia menjadi kagum, hatinya girang. Benar-benar luar biasa, toh waktu diserang ibunya, pemuda itu mirip seorang tidakpunya guna, sebab ia tak dapat menangkis, tak bisa berkelit.

Juga Tiong Hoa sendiri heran atas dirinya, tiga tahun ia belajar silat, ternyata itu tak sia-sia belaka, jadi tak kecewa gurunya memberi pelajaran kepadanya. Rupanya dulu ia kurang bersemangat karena perlakuan orang tuanya yang menekan bathinnya dan setelah merdeka, ia bebas benar benar, sekarang iapun memperoleh kawan cantik manis, yang erat sekali pergaulannya dengannya .

 

Satu hal tak diketahui si muda mudi. Hati Mauw san siang Kiam telah menjadi rada ciut ketika mereka menduga si nyonya adalah, Lo-sat Kwie Bo, pukulan itu berakibat buruk. hingga melayani muda mudi itu, hati mereka hilang ketenangannya. inilah yang mempercepat kekalahannya.

Lantas si nona menghampirkan Tiong Hoa. Dia bersenyum.

"Aku salah mata?" katanya, "Aku tidak nyana kau bisa mengalahkan Ceng In si imam jago dari Mauw san."

 

Mukanya pemuda itu menjadi merah, ia likat.

"Kau memuji saja, nona." katanya jengah, "Kepandaianku cetek tidak berarti, tak dapat aku dibandingkan dengan kau. Lihat saja caranya kau menyentil pedang orang barusan-"

Nona itu senang sekali dengan itu pujian- ia kata dalam hatinya, pemuda ini bisa bicara, dia pun tampan, maka entahlah ibu menyukai atau tidak..."

 

Ia lantas ingat bahwa sebegitujauh belum pernah ibunya memberi hati kepada kaum pria, bahkan semenjak buta, ibu itu makin keras sikapnya, asal dia mendengar suara pria, dia mau lantas menyerang.

Jangan bicara begini manis." katanya, bersenyum, "siapa tahu kau tidak bicara setulusnya hati? Mari, mari kita melihat ibu." Dan ia bertindak lebih dulu masuk kedalam.

 

Kata-kata "Kita" itu membikin Tiong Hoa berpikir seperti terkena pengaruh, ia lekas menyusul.

orang-orang le Kee Po, dipimpin Lie Keei, telah buyar entah kemana, Para tetamu lainnya pada tak berani mengikut ke dalam. Mereka pun bicara dengan kasak kusuk. Maka itu, habis pertempuran sang malam menjadi sunyi.

Dari dalam rumah makan merangkap penginapan itu, dimana hanya terlihat sinar lilin, mendadak terdengar teriakan kaget: "lbu..." ooooo hh”

 

KETIKA Tiong Hoa tiba di dalam, ia kaget, ia dengar jeritan si nona, lantas ia melihat tubuh nona itu melompat ke luar jendela, hingga api lilin bergoyang-goyang. si nyonya tua tak nampak. Di atas meja nampak dua tapak tangan yang melesak dalam. Di lantai menggeletak sepotong tongkat. Di dekat meja, dua buah kursi ringsak. Dalam sekejap itu, si anak muda lantas menduga mestinya si nyonya tua kena diculik orang, Mestinya culik itu gagah, sebab mereka telah bertempur lebih dulu, Atau si nyonya lari mengejar musuhnya...

 

Tiong Hoa berkuatir dan menyesal, la ingat pesan si nona tadi untuk ia menunggui ibu orang itu, Toh ia pergi keluar walaupun ia dititahkan si nyonya, seharusnya ia tolak titah itu, atau ia menjagai dari luar, ia menjadi tidak enak hati. Kalau ia ketemu si nona, apa ia mesti bilang? Maka ia menjadi bingung, ia berdiri menjubIak.

Tapi tak lama, ia sudah mengambil keputusannya, ia melompati jendela pergi keluar, ia mengguna i ilmu lompat melesat yang gesit, yaitu "Hoa i yap touw lim." atau "Daun terbang ke dalam rimba."

 

Tatkala ia sampai di luar, suasana sunyi, Bintang banyak, rembulan masih sedang terangnya. setelah melihat kelilingan dan tak melihat siapa juga, ia lantas lari keluar Bao Lie Tiang shia. Tembok Besar, untuk menuju ke gunung siauw Ngo Tay.

Gunung itu panjangnya mencapai beberapa ratus lie, banyak pohonnya, banyak batunya, seperti umumnya gunung sukar juga untuk dimendaki. Tapi Tiong Hoa, setibanya, lantas lari naik, ia mencari si nona dan ibunya inilah tugas sulit dan berat untuknya. sukar mencari orang di tempat sepi dan belukar itu

 

Gagal Tiong Hoa malam itu, tak dapat ia mencari wanita tua dan muda itu, ia melanjuti di waktu pagi dan siangnya, terus tengah hari, lohor dan sore lagi, ia tetap gagal, ia bingung dan bertambah kuatir, ia berfikir keras. semua itu tidak menolong, ia mencari terus tanpa hasil, sampai berhari-hari.

 

Tak pernah Tiong Hoa turun dari siauw Ngo Tay, ia menjelajah gunung itu. Untuk  menangsal perut, ia makan saja buah-buahan, Untuk menghilangi dahaga, ia mencari sumber air, ia tidak dapat menyalin pakaian hingga baju dan celananya kumal dan kotor, sampai rambutnya tak terurus, ia tak lagi si pemuda tampan saking dekilnya itu.

 

Sampai di hari ke lima, Tiong Hoa tetap gagal. Di gunung itu, seorang tukang kayu pun tidak ada. sebaliknya, hampir ia di-pagut ular. syukur tubuhnya ringan dan dapat ia berkelit dari ancaman bahaya itu. Bahkan pengalaman itu merupakan latihan bagus untuk kepandaiannya itu.

Setelah kewalahan, ia pergi keluar dari gunung, ia berada di mulut lain dari gunung itu, ketika ia meraba mukanya, ia kata: "Ah, aku mesti mandi." Maka itu ia berjalan mencari selokan, yang berada tujuh atau delapan tombak dari dirinya, ia mendengar suara air berkericik, ia jongkok di tepian, ia menyaup air dengan kedua tangan nya, untuk mencuci mukanya. Mendadak...

“Jangan! Jangan. Air itu tak dapat dipakai..."

 

Tiong Hoa terkejut, hingga air pada molos dari sela-sela jerijinya, ia lantas menoleh ke arah dari mana suara datang, suara itu bergemetar, datangnya dari rumput di sampingnya.

Sesudah lima hari seperti terpisah dari dunia, Tiong Hoa heran berbareag mendapat harapan, ia lantas bertindak menghampirkan, Di dalam rumpun rumput itu ia melihat seorang tua dengan baju kuning rebah tak berdaya, romannya sangat kucal, mukanya bengis, tak berkumis, kepalanya lanang. Matanya pun guram ketika dia melihat orang yang meng hampirkan padanya .

"Eh, bocah, aku telah menolong jiwamu" katanya sembari tertawa dingin- "Maka itu kau

harus melakukan sesuatu untuk aku si orang tua."

Tiong Hoa heran.

"Apa? ia tanya, "Kau telah menolongi jiwa ku? oh, loo-j in- kee, janganlah kau berguyon- Untuk berbuat sesuatu untukmu, itulah pantas, nanti aku berikan bantuan, Hanya aku ingin lihat dulu, apakah itu yang aku kerjakan-.."

 

Orang tua itu membuka matanya lebar-lebar.

"Kau tidak percaya aku?" bilangnya, "segera kau akan ketahui sebenarnya itu bukan apa apa. sekarang kau tolong dulu mengeluarkan satu peles kecil dari pinggangku, kau ambil sebutir obatnya, kau masuki itu ke dalam mulutku si orang tua." sekarang Tiong Hoa bisa melihat tangan dan kaki orang itu tak dapat digeraki. "oh," katanya, "Aku kira kerjaan apa, tak tahunya pekerjaan sangat mudah."

 

Ia membungkuk. merabah pinggang orang tua itu, ia mendapatkan peles kecil yang di sebutkan itu, Dengan perlahan ia meloloskannya, terus ia buka sumbatnya, Lantas hidungnya mencium bau harum, hingga dadanya menjadi lapang.

Ketika ia menuang isinya, keluar enam butir obat pulung, warnanya merah dadu, kuning gading dan putih susu. ia jumput sebutir yang merah dadu itu, yang lainnya ia masuki pula dan menutupnya dengan rapat, selama itu si orang tua menatap tajam wajah orang.

 

Tiong Hoa menyirapi obat itu si orang tua mengganyangnya sambil merapatkan matanya. Tak lama kemudian, muka pucat orang tua itu mulai bersemu dadu.

Si anak muda heran, itulah perubahan untuk orang yang mengerti ilmu tenaga dalam. Maka ia

mau menduga, orang tua itu seorang jago Rimba Persilatan. Hanya kenapa kaki tangannya mati-mati. Apakah dia habis dibokong musuh? Kalau benar, musuh itu lihai sekali, Kalau benar begitu, kenapa dia tidak sekalian dibunuh mati?

 

Tengah Tiong Hoa berpikir begitu, tubuh si oraog tua berkutik, Dia mulai menggeraki tangan dan kakinya perlahan-lahan. Agaknya dia lagi mencoba-coba, tidak lama, sekonyong-konyong dia bangun berdiri, terus dia tertawa berkakak. Nyaring tertawanya itu. Dan lama juga. Habis itu, dia menatap anak muda di depannya,

"Anak muda, kau datang ke gunung ini dengan membawa banyak uang, buat apakah itu?" dia tanya, Dia lantas melihat bungkusan uang orang. Tiong Hoa membayar pulang peles obat.

"Sudah lima hari aku yang muda berada di atas gunung ini mencari orang" ia menyahut tertawa, "Aku tidak berhasil mencari, dari itu terpaksa aku turun gunung."

 

"Oh begitu" kata orang tua itu tertawa pula "Aku kira gunung siauw Ngo Tay ini ada orang hutannya." ia menatap kembali tajam. ia berkata pula, "Aku si orang tua, aku biasanya tak suka menerima budi orang. Ketika tadi kau berdiri di mulut gunung itu, sudah aku melihatnya, hanya aku tidak mau memanggil kau, baru setelah kau mengambil air, aku menegurmu, Dengan begitu aku menolongi jiwa mu.

Dengan demikian juga, kita menjadi tidak saling berhutang budi, selokan itu telah aku campuri racun, siapa kena minum atau pakai airnya, dia mesti binasa, taksalah lagi, jikalau kau tidak percaya. pergi kau ikuti selokan itu, sebentar saja kau akan dapat buktinya bahwa aku tidak rnendusta."

 

 

Tiong Hoa kaget. Toh ia bersangsi, Maka ia bertindak ke hilir, Baru ia melalui lima atau enam tombak. la terkejut bukan main- Di tepian itu terlihat menggeletak tiga mayat manusia, mukanya matang biru tanda terkena racun- Darah pun keluar dari mata. hidung mulut dan telinganya, dari liang keringatnya. Karena kedua mata mereka masing-masing mendelik, itulah bukti kebinasaan yang hebat. Dengan hati berdebaran, ia kembali kepada si orang tua,

 

Tanpa menanti orang membuka mulut, si orang tua menyambut dengan tertawanya.

"Apa kataku?" dia tanya, "tiga orang itu musuh besarku selama hidupku" setiap tiga tahun sekali. kita membuat pertemuan, kita bertempur mati-matian, Mereka bertiga selalu berkelahi bersama dan berbareng. Sebegitu jauh belum pernah kita kalah atau menang. Baru kali ini aku memikir akal..."

Dia mengawasi pula, agaknya dia puas sekali. Dia melanjuti: "kita mulai bertempur, aku bicara dengan mereka itu. Aku menyarankan untuk jangan mengadu tangan dan kaki hanya untuk mengukur saja tenaga dalam masing-masing, Mereka itu bangsa kepala besar dan jumawa, mereka tidak sudi mengalah, maka itu mereka menerima baik saranku itu. Dengan begitu kesalah mereka tertipu aku..."

"Siapa mereka itu? Mestinya mereka juga jago Rimba Persilatan..."

 

Orang tua itu menentang matanya, "Apa?Jago Rimba Persilatan?" katanya mengulangi. "Mereka justeru bangsa buruk dan terkutuk sudah lama aku memikir menyingkirkan jiwa mereka, saban-saban aku bersangsi, tapi kali ini Thian membantu aku, dan dengan demikian untuk kali ini hatiku dibikin mantap. Aku mengusulkan kita sama sama minum air, lalu

kita semprotkan ke-pohon yang menjadi sasaran atau batu ujian kemahiran tenaga- dalam kita. Siapa yang dapat merontokkan semua daun, dialah yang menang, Siapa yang kalah, dia bersedia untuk dihukum cara apa saja oleh pihak yang menang.

Kita berkelahi dengan satu lawan tiga, tentu sekali, harapanku ialah harapan kalah, Mereka menerima usul itu sambil bersenyum. terang mereka sudah merasa bakal menang.”

 

Mendengar begitu, Tiong Hoa menoleh dan melihat empat pohon bong berdiri berendeng, daun-daunnya sudah rontok separuhnya, itulah pertaruhan bukan main- Dalam musim seperti ini, daun pohon sedang kuatnya melekat pada tangkainya.

"Mereka tidak tahu bahwa aku menggunai tipu muslihat." si orang tua melanjuti penuturannya. "Selagi aku mengambil air, diam-diam aku melepaskan sepotong racun- siapa terkena itu tak dapat sembuh kecuali dia makan obat pemunah ku, Itulah ini obat merah, Habis minum air sebanyaknya, kita mulai mengadu kepandaian, Siapa pun diantara kita tak ada yang sanggup merontokkan semua daunnya pohon itu, Selama itu, racun sudah, bekerja didalam perut mereka.

Mereka liehay sekali, lantas mereka merasa, terus mereka menduga duduknya hal. Lantas mereka menutup jalan darah mereka, bersama-sama mereka memaksa aku menyerahkan obat pemunah. Coba kau pikir, mana dapat aku meluluskan permintaan mereka itu? Maka mereka menyerang aku, Aku membela diri.

Ketika itu racun di perutku juga bekerja, Mereka tidak berhasil mendapatkan obat dari aku, mereka mati keracunan, Habis itu akupun roboh. Kau telah lihat bagaimana kau menemukan aku..."

 

Lie Tiong Hoa menggeleng kepala. "Masih ada yang aku tidak mengerti," katanya, "Kamu sama sama minum racun. kenapa mereka mati tetapi loojin-kee tidak? pula air selokan itu mengalir pergi, seharusnya racunnya terbawa hanyut, Mustahil racun itu tetap mengambang?"

Orang tua berbaju kuning itu tertawa lebar.

"Bocah, kenapa otakmu tidak cerdas?" dia kata, "siapa menggunai racun mustahil tak tahu sifat racunnya sendiri? Begitu aku merasa racun mulai bekerja, aku mengerahkan tenaga- dalam membuat racun mengalir hanya ke tangan dan kakiku. Tidak demikian, pasti aku pun sudah melayang jiwaku. sebelum tangan dan kakiku mati. mereka terhajar tanganku hingga pecahlah pembelaan diri mereka, hingga racun meluluhkan, menyerang semua anggauta dalam tubuh mereka.”

Habis berkata begitu, mendadak orang tua itu menyamber lengannya Tiong Hoa.

 

Si anak muda kaget tetapi tak sempat dia berkelit atau berlompat, dia terpegang dan kena ditarik si orang tua sampai belasan tombak jauhnya, baru dilepaskan. orang tua itu pergi ke selokan, untuk memasuki tangannya ke dalam air, merogo keluar sepotong benda sebesar telur angsa warna hitam kehijau-hijauan bercahaya, Dia ulapkan itu.

"Kau tentu mengerti sekarang" katanya, tertawa, " inilah bisa ular ribuan tahun yang telah membeku menjadi seperti beling, Kalau ini direndam di dalam air, air racunnya setetes saja dapat merusak usus, terus orang mengeluarkan darah dan mati."

 

Tiong Hoa bergidik,

"Benarlah kata guruku," kata ia dalam hati, "di dalam kalangan Rimba persilatan tidak ada yang tidak aneh, maka itu perlu orang waspada."

Menampak si anak muda berdiam saja, orang tua itu tertawa pula. "Anak muda, apakah kau mengerti ilmu silat?" dia tanya.

"Pelajaranku tak berarti, tak berani aku menyebutnya ilmu silat," sahutnya, ia bersenyum likat.

"Tak perduli kau yang benar atau tidak. kata-katamu tepat," kata si orang tua. "Memang ilmu silat dalam bagaikan lautan, Aku tersohor dalam dunia Rimba persilatan, toh pengartianku belum ada satu persenpun, Kau dapat merendah, sifatmu terbaik, Aku si orang tua berhutang budi padamu. nanti aku menyempurnakan kau."

 

Tiong Hoa tertawa.

"Tadi toh loojinkee mengatakan kita tidak saling berhutang." katanya. "Kenapa sekarang loojinkee bilang ada berhutang kepadaku?"

Orang tua itu mengawasi, sinar matanya tajam.

"Kau ngaco, kau tidak tahu." katanya, "obatku tadi, apabila yang putih, ialah salah sebuah mustika Rimba Persilatan, Namanya itu PouwThian Wan, pel penambal langit. siapa makan itu, tenaganya bertambah seperti latihan sepuluh tahun. Dia akan seperti tertukar tulang-tulangnya, Dalam seratus orang Rimba Persilatan, tak satu yang memilikinya. Dua obat yang lain juga besar faedahnya. Tadi obatku berada dalam tanganmu, kalau kau memikir merampasnya dan kau tinggal aku lari, apa aku bisa bikin? Nyata hatimu lurus, itu yang membikin aku bilang aku berhutang budi padamu."

 

Tiong Hoa menggeleng kepala, dia tertawa. "jikalau tadi aku mengetahui itulah obat mujarab, mungkin aku membawanya lari" ia kata.

Orang tua itu tertawa berkakak. untuk ke sekian kalinya ia menatap pula, Dengan mengawasi mata orang, ia seperti mau menembusi hati. Terus ia mengasi lihat roman sungguh-sungguh.

"Kaulah orang dengan bakat silat yang baik sekali." ia kata, "sayang aku si orang tua, tidak mempunyai kesabaran untuk menerima murid, Pada empat puluh tahun dulu pernah aku mengambil seorang murid, baru satu tahun setengah, aku meninggalkannya, semenjak itu, aku dan muridku itu belum pernah bertemu lagi, sekarang aku menjadi terlebih tak sabaran pula, jikalau tidak. pasti kau bakal memperoleh banyak kebaikan dari aku" la berhenti bicara, romannya tetap sungguh-sungguh.

 

Tiong Hoa mengawasi ia merasa Jenaka, orang seperti bicara sendiri, ia kata dalam hatinya: "siapa kesudian menjadi muridmu? Akupun tidak sabaran...."

Lantas ia tertawa dan kata, "Loo-jinkee, jikalau kau tidak membutuhkan apa-apa lagi, aku mau turun gunung."

Orang tua itu lagi mengawasi ketika ia mendengar perkataan si anak muda, ia memikirkan orang berbakat dan bersifat baik lagi jujur. ia tidak sabaran, anak muda itu tidak sabaran juga, Tapi keragu-raguannya lantas lenyap. ia buka sumpel pelesnya, ia mengeluarkan sebutir obat yang putih.

"Kau makan ini." katanya, Kemudian ia merogo keluar dari sakunya sejilid buku kecil, sembari tertawa ia berkata, "Aku tidak sangka kau lebih tak sabaran daripada aku, oleh karena kau tidak meminta apa-apa, aku si orang tua menjadi kurang enak hati. obat Pouw Thian Wan itu bakal menonolong kau selama hidupmu" ia terus menunjuk buku kecil itu dan berkata pula: " inilah kitab ilmu silat yang aku ciptakan setelah mengumpulkan sarinya ilmu silat pelbagai partai persilatan. Di dalamnya aku telah melukis tiga belas gambar. Setiap jurus besar faedahnya dan dapat menambah tenaga, ilmu silat itu dalam, diperjalanannya mesti perlahan-lahan, mesti teliti, lebih-lebih orang tak boleh kekurangan pengalaman. siapa tidak mengumpulkan tindakannya, tak dapat dia jalan jauh seribu lie, Kalau tidak ada aliran air kecil, tak nanti ada sungai besar atau hutan,

Maka kalau dapat kau meyakinkan ini sampai berhasil, kau akan merasa kefaedahannya yang

tak terbatas."

 

Habis berkata, dia menyerahkan kitabnya, untuk pergi lari, hingga sejenak kemudian lenyaplah dia di dalam lebatnya pepohonan si anak muda melengak saking herannya. ia mengawasi terus.

Katika itu sudah jauh lohor, maka dengan lewatnya sang waktu cuaca menjadi guram. Melihat itu, Tiong Hoa lantas lari menuju- ke Tok-lok. selagi lari, ia merasa heran ia mendapat kenyataan larinya bertambah pesat, tubuhnya jauh terlebih ringan.

"Inilah khasiatnya Pouw-Thian-wan." pikirnya. ia menjadi girang sekali. "Aneh pengalamanku. Aneh orang tua itu, Kenapa dia tidak menjelaskan siapa ketiga musuhnya itu dan apa sebab musabab permusuhan mereka?"

Dia juga tidak memberitahukan she dan namanya, sedang aku tak sempat menanyakannya.

Tepat di saat penerangan dipasang, Tiong Hoa tiba dalam kota kecamatan Tok-lok. Malam ramai, banyak pedagang-pedagang yang berjualan mutar saban-saban meneriaki barang dagangannya, Banyak sekali orang yang berjalan pergi datang, ia lantas mencari rumah

makan karena sudah lima hari ia tak pernah makan nasi.

 

Itulah restoran cip Poo Lauw dari mana tersiar baunya barang masakan yang sedap.

Ketika ia bertindak masuk. ia diawasi pelayan yang heran buat pakaiannya yang kotor dan mukanya yang dekil serta rambutnya kusut, bau keringatnya pun mendesak.

"He, dia pengemis dari mana..." pikir pelayan itu. "Eh, kau mau pergi kemana?" tegurnya selagi melihat orang mau naik di-tangga loteng. Tiong Hoa mendongkol. Dia mendelik.

"Aku mau dahar" sahutnya bengis, ia naik terus, untuk menghampirkan sebuah meja. Ada sejumlah orang lagi bersantap. mereka tertawa.

 

Pelayan itu menjadi malu dan mendongkol Dia lantas menghampirkan dengan matanya mendelik.

"Dahar itu gampang. Apakah kau punya?" dia tanya ketus. "PIok" begitu satu suara nyaring,

Pelayan itu kaget dan gelagapan, terus ia memegangi sebelah pipinya, yang merah dan panas dan bengap. Di situ pun berpetalah bayangan lima jeriji tangan.

Tiong Hoa gusar dia mengasi hadiah tempilingan, habis itu dengan roman bengis ia keluarkan sepotong uang perak seharga sepuluh tahil, yang ia gabruki keras di atas meja, dia pun kata: "Apakah kau belum pernah lihat uang? Ambillah ini"

Pelayan-itu melongo, pipinya terus di-bekapi.

 

Uang perak itu telah melesak ke dalam meja, itulah yang menambah herannya si-pelayan, kemudian hal itu juga menarik perhatian para tetamu.

Siapa tidak mahir tenaga dalamnya tak nanti dapat berbuat demikian, Akhirnya seorang tetamu umur lebih kurang tiga puluh tahun, yang romannya cerdik, menghampirkan Tiong Hoa.

"Saudara, jangan layani segala manusia rendah" ia kata tertawa, Kemudian ia menoleh kepada si pelayan, untuk membentak "Anjing. Bukannya lekas pergi menyiapkan barang santapan"

“Baik tuan." kata pelayan itu yang cepat mengundurkan dia, dia memang lagi serba salah.

 

Tiong Hoa tersenyum.

"Aku bukan melayani dia." katanya, "Aku hanya sebal untuk mata anjingnya silahkan duduk, saudara" ia mengundang.

Tanpa sungkan orang itu mengambil tempat duduk. tangannya dilonjorkan ke kolong meja, dipakai menekan bagian yang atasnya ada uang melesak itu, lalu terlihat uangnya mumbul sendirinya perlahan-lahan, terus meletik, maka dia meny amber dengan tangan kirinya untuk diletaki didepan si anak muda.

Jangan tertawakan aku." katanya tertawa. " Kebiasaanku ini tak dapat disamakan dengan kepandaian kau saudara."

 

Tiong Hoa mengawasi ia kagum untuk tetamu itu. ia sendiri barusan berbuat tidak sengaja, ia tidak menyangka uangnya dapat melesat ke kayu meja.
“Saudara terlalu merendah” ia kata tertawa.

Segera juga keduanya berkenalan, orang itu bernama Yan Hong,Tiong Hoa memakai nama Lie Cie Tiong.

Diam-diam Yan Hong heran untuk ini kenalan baru, Agaknya orang adalah orang Kang ouw yang masih hijau sekali. orang mirip kepada seorang mahasiswa, gerak geriknya lembut, kata-katanya halus. Tak miripnya dia dengan seorang ahli silat.

 

Barang hidangan lezat, walaupun dia putera orang berharta, di gedungnya sendiri belum pernah Tiong Hoa menyicipi santapan serupa itu, ia pun sedang laparnya, maka ia bersantap dengan lahapnya.

Setelah cukup makan dan minum, Tiong Hoa ingin mengundurkan diri, justeru itu di tangga lauwteng terlihat munculnya seorang nona dengan baju merah tua, romannya cantik, mulutnya tersungging senyuman. Langsung nona itu menghampirkan meja mereka berdua

 

(Bersambung ke Jilid 3)

 

 

Bujukan Gambar Lukisan

Karya : Wu Lin Qiao Zi

Terjemah : OKT

Jilid 3 :  Sarang penjahat, Benteng Yan-kee-poo

 

Mata Tiong Hoa bercahaya, ia mendapat kenyataan orang elok tak kalah dengan Cek In Nio. Tanpa merasa, ia mengawasi nona itu.

"Toako, ayah mencari kau." berkata si nona setelah dia mendekati Yan Hong. "Aku tahu kau tentu mencuri minum di sini. Lekaslah, nanti ayah gusar."

"Aku tahu." berkata anak muda yeng dipanggil kakak itu. "Temponya masih belum tiba, Adikku, mari aku ajar kau kenal dengan saudara Lie ini..."

 

Nona itu mengerutkan alis melihat roman dan pakaiannya si anak muda demikian kotor, Pikirnya. "Kapannya toako bersahabat dengan orang jorok ini? Dan dia memperkenalkan aku. sungguh menyebalkan”

Toh ia mengangguk. secara acuh tak acuh, habis mana ia memutar tubuhnya, buat pergi pula.

"Adikku ini biasa terlalu dimanjakan ibuku." kata Yan Hong tertawa pada sahabatnya.

"Dia tidak mengerti aturan pergaulan, Aku minta sukalah saudara Lie maafkan dia."

 

Lie Tiong Hoa bersenyum, Dia berbangkit

“Jikalau kau ada urusan, saudara Yan, silahkan-" katanya, "Aku pun mau pergi ke rumah penginapan, untuk mandi dan salin pakaian, jikalau ada jodohnya harap lain kali kita bertemu pula."

 Yan Hong berbangkit.

"Adikku itu biasa mengucapkan kata-kata sembarangan saja."

"ia bilang, tetapi sebenarnya hatinya tidak memikian, saudara Lie, baik aku turut kau kerumah penginapan, supaya sekalian aku mengetahui kau menumpang di mana agar besok dapat aku mengunjungi kau."

 

Tiong Hoa tidak dapat menampik, maka bersama-sama mereka turun dari Cip Poo Lauw, untuk pergi ke sebuah losmen didepan rumah makan itu.

Begitu masuk kedalam losmen- Tiong Hoa menyuruh pelayan membelikan ia seperangkat pakaian yang cocok dengan potongan tubuhnya, ia sendiri pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh dan membereskan rambutnya.

Yan Hong melihat masih ada tempo untuknya, ia tidak mau pergi, ia menunggu.

 

Cie Tiong membiarkan sahabat itu menantikan sampai sebentar kemudian ia muncul sesudah mandi dan dandan. Hampir Yan Hong tak mempercayai matanya, yang terus dia pentang lebar, untuk dipakai menatap. sesudah mandi dan dandan, ia mendapatkan sahabat she Lie itu seperti salin rupa, orang tampan sekali.

"Ah, tak ku sangka kau begini tampan, saudara Lie" katanya kagum. " Hampir aku tidak

mengenali kau" ia lantas melongok ke luar jendela, untuk melihat sinar rembulan terus ia menambahkan. "saudara tentu letih, silahkan beristirahat, besok pagi aku akan datang pula," ia memberi hormat, lantas ia pergi.

 

Cie Tiong tidak menahan, ia mengantar sampai di luar, baru ia kembali ke dalam, ia merebahkan diri dengan pikirannya melayang-layang.

Kamar itu diterangi lampu kecil, sedang di luar, si Puteri Malam terang bercahaya indah, Lampu itu mirip kunang-kunang yang berkelak- kelik,

Cie Tiong memikirkan pengalamannya beberapa hari itu, la merasa aneh, ia heran, ia pun berduka, menyesal, bingung. Kemudian berbayang wajah yang cantik dari Cek In Nio, lalu disusul dengan wajahnya si nona adiknya Yan Hong.

"Tentulah Yan Hong orang Kang ouw." pikirnya, "Melainkan aku belum tahu sifat dan tabiatnya, Aku mesti berhati-hati. Ia ingat pesan gurunya untuk jangan temberang dalam perantauan, mesti teliti bergaul, sebab salah sedikit, jiwa dapat terancam bahaya.”

 

Lama ia diam berpikir itu, lalu ia mengeluarkan buku kecil hadiah si orang tua berbaju kuning yang aneh itu. setelah membalik-balik lembarannya, ia menjadi girang sekali.

Nyatalah orang itu Thian Yoe sioe adanya, si orang Rimba Persilatan yang luar biasa tabiatnya. Menurut keterangan gurunya, Thian Yoe sioe liehay ilmu silatnya, dia biasa hidup menyendiri adatnya angkuh gerak geriknya mirip naga yang nampak kepalanya, tidak ekornya." Baik kaum sesat, maupun kaum lurus, semua jeri terhadap manusia aneh itu, siapa mendapatkan kepandaian dari Thian Yoe sioe, meski tak semuanya, dia dapat menjagoi, sekarang Tiong Hoa memperoleh kitab ilmu silatnya jago aneh itu.

 

Semuanya tiga belas jurus tetapi semua jurus itu luar biasa, setiap j urus ada lagi perubahannya, ilmu silat itu menggabung lwe kang dan gwa kang, tenaga dalam dan tenaga luar.

Lantas Tiong Hoa membaca, untuk menanamkan, ia juga menggerak-geraki tangan dan kakinya, ia heran hingga ia menjadi masgul. Untuk permulaan itu, tak dapat ia menginsafi bunyinya kitab itu.

Tapi ia tidak menjadi putus asa, ia ingat kata-kata Thian Yoe sioe bahwa ilmu silat mesti dipahamkan dengan perlahan, tak boleh terburu-buru.

"Sang waktu banyak. biarlah aku bersabar." pikirnya. Maka ia simpan bukunya itu, terus ia tidur.

 

Tiong Hoa dapat tidur dengan nyenyak. Tak pernah ia menyangka, karena rajin memahamkan kitab itu, dibantu dengan tenaga obat putih, kemudian ia memperoleh banyak kefaedahan-

Kira jam tiga, Tiong Hoa tersadar, ia mendengar angin malam bersinar dan matanya melihat sinar rembulan, ia bangun dan pergi ke luar dengan membawa sebuah bangku untuk duduk seorang diri dipekarangan dalam, guna menggadangi si Puteri Malam. Kecuali suara angin- malam sangat tenang

 

Tidak lama kemudian, tiba-tiba Tiong Hoa mendengar suara siulan beberapa kali. siulan itu memecah kesunyian- ia heran hingga ia berpikir: "itulah siulannya orang yang keluar malam, biasanya itu terdengar di tanah pegunungan, kenapa aku mendengarnya di sini, di dalam kota? Orang itu bernyali besar..."

Tengah ia heran dan berpikir itu, tiba-tiba ia melihat berkelebatnya satu bayangan orang, yang melayang turun ke dalam pekarangan di mana ia berada itu. Mulanya ia kaget, lalu ia meniadi heran.

Itulah Yan Hong yang muncul secara luar biasa itu. Dia membawa sebilah pedang tapi dia beroman gugup, sedang pundaknya basah dengan darah.

 

"Saudara Lie. harap sangat kau jangan menyebut aku..." katanya, Dan tanpa menanti Jawaban- dia lari masuk ke dalam kamar sahabat she Lie ini.

Tiong i Hoa heran- Sebelum ia tahu harus berbuat bagaimana, kembali ia melihat lompat turunnya tiga orang lain, Mereka ini mengenakan pakaian hitam dan ringkas, semuanya membawa senjata tajam. oleh karena mereka berdiri membelakangi rembulan, mukanya tak nampak tegas.

Ditaksir mereka rata-rata berusia diatas empat puluh, Sinar mata mereka tajam sekali.

Lalu satu di antaranya, habis celingukan, menghadapi Tiong Hoa. untuk berkata dengan tertawa dingin: "Bocah, apakah kau melihat yang membawa pedang dan terluka pundaknya lewat di sini?"

 

Tiong Hoa mengerutkan alis. Tak tahu ia duduknya hal tapi ia menduga itulah pasti urusan kaum Kangouw yang biasa saling bunuh, ia ingat kata-katanya adiknya Yan Hong tadi, yang mesti mempunyai suatu urusan, Karena ia ditegur tak manis, ia jadi memikir untuk tidak menjual sahabat.

"Kamu bertiga malam-malam berlari-lari di atas rumah-rumah orang, kamu mesti bukan

orang baik-baik," la kata berani. "Kalau kamu bukan manusia tukang berjinah mestinya kamu bangsa pencuri, Tuan mudamu lagi menggadangi rembulan di sini, mana dia melihat konco kamu? Lekas kamu berlalu, tuan muda kamu tidak mau berkenalan dengan kamu. Kalau tidak. nanti aku berteriak membanguni orang banyak"

 

Ketiga orang itu saling mengawasi. Mereka tidak takut penduduk dikasi bangun, Mereka hanya tertegun akan ketenangan si anak muda, orang lain tentunya ketakutan bukan main-

Lantas orang yang mukanya panjang dan kurus tertawa menyeringai ia mengangguk. Habis itu, tanpa membuka mulut, ketiganya berlompat naik ke atas genting, untuk menghilang. Mereka berlalu cepat sekali, seperti terbang.

Masih sekian lama Tiong Hoa jalan mundar mandir, baru ia masuk ke kamarnya.

 

la heran hingga ia menjublak sejenak Kamarnya itu sepi dan kosong, Yan Hong tak nampak di situ. jadi orang telah pergi menyingkir tanpa berpamitan lagi. Akhirnya ia tertawa sendirinya, tidak ia pikirkan pula kejadian itu. Ketika ia merebahkan diri, ia dapat tidur pulas pula.

Besoknya pagi, apabila Tiong Hoa bangun dari tidurnya, sinar matahari sudah bersorot di jendela dan pelayan kebetulan datang mengetuk. la lantas membukai pintu. Pelayan memberi hormat sambil mengucapkan selamat pagi.

"Tuan tidur nyenyak sekali." katanya tertawa, "tuan Yan sudah menantikan sekian lama, ia tidak berani mengganggu tidurmu."

"Oh" kata Tiong Hoa terkejut, "Mana dia tuan Yan itu? Lekas undang masuk"

Pelayan itu tertawa pula, "Nanti aku menyediakan air dulu untuk tuan mencuci muka,

baru aku undang tuan Yan," katanya. ia lantas pergi. cepat ia kembali dengan baskom air, lalu cepat ia keluar pula.

 

Tiong Hoa lekas mencuci muka, untuk merapikan rambut dan pakaiannya, Baru ia selesai. pelayan sudah muncul pula bersama Yan Hong.

Pemuda she Yan itu mengenakan baju hijau panjang bersulam huruf benjie ia bersenyum, Pundak kirinya muncul sedikit, Rupanya lukanya semalam telah dibalut. "Tadi malam saudara..." kata Tiong Hoa.

Yan Hong mengedipkan mata, sambil tertawa dia berkata: "Tadi malam ketika aku pulang ke rumahku, aku bicara dengan ayah ku tentang kau, saudara Lie, Ayah kagum sekali maka pagi-pagi barusan ia menitahkan aku lantas datang mengundang saudara, untuk saudara suka datang ke gubuk kami buat beromong-omong."

 

Tiong Hoa melihat kedipan mata, itu tahu apa artinya itu. Yan Hong tak sudi bicara dari peristiwa semalam itu, ia lantas tertawa dan menyahuti: "pasti aku sudi berkunjung. Ayahmu baik sekali, saudara Yan, aku jadi malu..."

"Kita ada bagaikan sahabat-sahabat lama, jangan kita pakai banyak adat peradatan," Yan Hong bilang. Ayahku lagi menantikan, mari kita berangkat sekarang.”

 

Tiong Hoa mengangguk sambil bersenyum. Lantas keduanya pergi ke luar dari hotel di mana sudah sedia dua ekor kuda untuk mereka, Maka bersama sama mereka pergi, Yan Hong menjalankan kudanya di sebelah depan.

Udara pagi itu cerah, banyak orang berlalu lalang dijalan besar, Kedua anak muda itu menjalankan kuda di antara banyak orang itu, terus ke luar kota Tok-lak sebelah barat, setibanya di luar kota, yang sepi, mereka melarikan kuda mereka dengan leluasa.

 

Kira setengah jam, Yan Hong menghentikan kudanya. Tiang Hoa menyentak. Dengan cambuknya anak muda she Yan itu menunjuk ke arah kiri, sembari tertawa ia kata: “Saudara Lie, gubuk kami berada di depan sungai siang Kiam Hoo itu, di tempat yang banyak pohonnya.”

Tiong Hoa mengawasi ia melihat sungai lebar dan airnya tenang, Benar di tempat banyak pepohonan itu samar samar terlihat genting rumah yang besar, Di sungai itu dapat orang berlayar sedang burung-burung nampak beterbangan-"Sungguh indah tempat tinggalmu ini, saudara Yan-" ia memuji. Yan Hong bersenyum. ia mengajak.

 

Mereka menjalankan kuda mereka ke tepian sungai. Tiba di dapan serumpun pohon yang lioe yang lebat, mendadak terlihat tiga orang lompat keluar dari rumpun itu, Tubuh mereka itu gesit sekali.

Tiong Hoa lantas mengenali orang orang yang semalam datang ke hotelnya, ia tercengang. Tapi Yan Hong, dengan air muka padam, sudah lantas menegur. "Bangsat tak punya mata dari mana berani banyak lagak di sekitar Yan Kee Po kami?"

 

Ketiga orang itu melengak, tetapi yang mukanya panjang dan kurus lantas juga tertawa, sedang matanya yang mirip mata ulung-ulung dibuat main, Dia kata dingin "Tidak salah Tuan dari Yan Kee Poo, Hoan-thian-ciang Yan Loei, yang memimpin kaum Rimba persilatan di lima propinsi Utara, besar namanya, besar pengaruhnya, sedang kami Laosan sam Eng juga pernah mengundanginya, hingga kami berterima kasih untuk perlayanannya. Hanya tadi malam, selagi kami bekerja membereskan usaha perdagangan kami, di saat kami berhasil, kami bertemu dengan seorang begal tunggal sebangsa si hitam makan si hitam, ketika kami mengejarnya, dia kabur dan lolos. Justeru itu sahabatmu itu kebetulan hadir juga" dia menunjuk Lie Tiong Hoa dan menambahkan "Kami percaya sahabatmu ini pasti ketahui duduknya hal. sekarang ini kami cuma minta barang kami itu dikembalikan, lainnya kami tidak mau menarik panjang."

Yan Hong tidak lantas menyahuti, dia hanya tertawa nyaring sekali.

*****

 

BAB 4

YAN HONG berhenti tertawa untuk segera memperhatikan roman tawar.

"Tuan." katanya. "Kau tentulah tertua dari Lao san Sam Eng yang sangat termashur di propinsi shoatang yala h Tiatjiauw-eng Louw Coen?" orang itu agak terkejut.

"Tidak salah, itulah aku." ia menyahut, ia lantas menunjuk kawannya yang matanya merah dan kumisnya berewokan seperti singa, " inilah saudaraku yang nomor dua, say Gan sin ang cian Boa, Dan itu..." ia menunjuk orang yang ke-tiga, yang kepalanya gundul dan merah serta tak berkumis. "adik ku yang nomor tiga, Touw-Eng Cie Keng. Kau sendiri siapa, tuan, aku minta sukalah kau memperkenalkan dirimu."

 

Selagi orang memperkenalkan diri, Tiong Hoa hampir tak tertahan untuk tidak tertawa, Kawanan elang itu mirip benar dengan julukannya masing-masing, ia pun heran kenapa

mereka tidak kenal Yan Hong yang biasa di sebut " hitam makan hitam."

"Maaf, aku melainkan seorang Kang ouw tak ternama," Yan Hong menyahut sembari tertawa perlahan "Akulah Yan Hong yang biasa disebut Mo In Kim Kiam..."

 

Mendengar nama itu, ketiga orang itu terlihat terperanjat tapi Louw Coen lantas maju setindak. sambil memberi hormat dan tertawa ia berkata: "oh, kiranya tuan muda dari Yan Keo Po Ketika itu hari kami datang berkunjung, menyesal kami tidak bertemu dengan kau, siauw-pocu, Maaf Dan ini sahabatmu..." ia berpaling kepada Tiong Hoa seraya menambahkan-"Dia pasti sahabat baru dari siauwpocu..."

 

Kata-kata yang terakhir ini ada maksudnya, Kalau benar Tiong Hoa sahabat baru. bolehlah Yan Hong melepas tangan terhadapnya.

Lao San Sam Eng menjadi orang-orang liehay dari jalan Hitam, mereka juga telengas, untuk suatu barang yang mereka arah, mereka datang ke Utara.

Untuk tidak bentrok dengan Yan Kee Po, mereka mengunjungi Yan Loei, Diluar sangkaan mereka, Yan Loei justeru tukang hitam makan hitam, hanyalah dia pandai bekerja, selama beberapa puluh tahun, belum pernah dia gagal, rahasianya tak pernah ada yang ketahui. Maka itu, datangnya Sam Eng sambil menuturkan maksud ke datangannya berarti membawa endusan baik pada pihak Yan Kee Po.

 

Demikianlah Yan Hong bersama lima orangnya "memakan," Sam Eng dan berhasil, cuma pekerjaan mereka meminta upah mahal.

Lao San Sam Eng Iihay, didalam bentrokan, mereka berhasil membinasakan lima orang Yan Kee po itu serta Yan hong sendiri, si majikan muda dari Yan Kee po turut terluka pundaknya, kalau dia tidak kabur ke hotelnya Tiong Hoa, mungkin dia tak dapat lolos. Sam Eng itu keluaran Boe-tong pay, mereka pandai ilmu silat dalam dan luar.

Yan Hong terperanjat mendengar orang menyebut Tiong Hoa sahabat barunya, ia mengerti keliehayannya tiga jago dari Shoatang itu.

 

Lie Tiong Hoa ketahui apa yang ia mesti lakukan, ia lompat turun dari kudanya.

"Louw Tong kee, apakah kau menyangka aku yang mengganggu kamu tadi malam?" ia tanya, menegasi, ia tertawa j umawa.

"Benar" sahut Louw Coen, tertawa menyindir "Mata terang tak ada pasirnya, Dalam sepuluh, delapan bagian kau lah yang melakukannya."

Tiong Hoa tertawa, ia menoleh pada Yan- Hong, berkata, "saudara Yan benarlah mereka ini bangsat- bangsat tak punya mata .Barang rampasannya kena dirampas orang, bukannya mereka merasa malu dan mencari mati karenanya, mereka j usteru sembarang menuduh pada orang. Menurut aku, kalau mereka dibiarkan saja, apa bila mereka menyiarkan cerita dusta, nama Yan Kee Po dapat tercemarkan dan runtuh" sam Eng heran begitu juga Yan Hong.

" Hebat orang she Lie ini," pikir Mo In Kiam tian- "Rahasiaku tadi malam ketahuan dia, maka sekarang aku mengundang, untuk ajak dia berkonco atau kalau dia menampik, hendak kita singkirkannya, siapa tahu dia begini begini. Aku benci sam Eng tetapi kalau aku lawan dia pundakku bisa membongkar rahasiaku."

 

Tengah ia bersangsi dan berkuatir itu, Tiong Hoa sudah berkata pula: “Jikalau siauwpocu berkeberatan turun tangan, baiklah, aku si orang she Lie nanti mewakilkan kau"

Sembari berkata, pemuda ini meluncurkan tangannya ke dadanya Louw Coen untuk meninju, ia terus menggunai pukulan sip Thian Thay It Ciang. ia biasa dapat menggunai kemahiran tiga bagian tapi setelah makan obatnya Thian Yoe sioe, tenaganya kontan naik menjadi tujuh bagian. Maka itu hebat serangannya ini.

 

Tiat Jiauw Eng Louw Coen benar liehay, Dia dapat menolong tangannya itu, terus dia

membalas menyerang. Dia menggunai tangannya itu juga untuk menyengkeram jalan darah Tiong Hoa di bawahan rusuk.

 

Lao san sam Eng pernah mempelajari ilmu silat "Eng Jiauw Kang" atau cengkeraman Kuku Garuda, dari itu kalau Tiong Hoa kena tersamber, celakalah dia, bisa dia mati seketika.

Tiong Hoa tak punya pengalaman pertempuran, baru selama hari-hari yang belakangan ini ia memperolehnya, terutama pertempurannya dengan Mauw san siang eng membantu banyak padanya, Begitulah waktu ia disamber ia menjejak tanah, untuk membikin tubuhnya mencelat mumbul, habis mana ia menyamber kedua pundak si Elang Kuku Besi. Ia menggunai jurusnya siauw thian chee cit cap-jie Kiauw Na yang liehay itu.

 

Louw Coen terkejut mendapatkan serangannya gagal dan musuh berkelit bagaikan menghilang dari hadapannya, ia mengerti akan adanya ancaman bahaya. Ketika ada angin bertiup, ia tabu itulah serangan musuh, tidak ada ketika lagi untuk menyingkirkan diri, Maka ia angkat kedua tangannya untuk menyambutt dengan jurus Eng- jiauw-tay lek-cioe.

Itu artinya keras lawan keras. Tiong Hoa melihat perlawanan musuh, ia batal meny amber, untuk mencengkeram pundak musuh, semua jari tangannya segera dikepal, untuk dengan kepalan menghajar tangan lawan itu.

 

Tanpa dapat dihindarkan lagi, keempat tangan bentrok keras sekali, Kesudahannya yalah tubuh Tiong Hoa membal balik hingga dia teruskan memutar turun di bawah sebuah pohon yanglioe, untuk berdiri diam sambil bersenyum.

Celakanya yalah Louw Coen, oleh karena terdesak itu, ia melawan dengan kuda-kudanya kurang kuat, maka atas bentrokan itu, ia terpaksa mundur dua tindak. ia merasakan napasnya mandek dengan tiba-tiba, hingga ia mesti mengeluarkan suara tertahan. Begitu ia berdiri tegap. mulutnya muntahkan darah, mukanya menjadi sangat pucat. Kedua elang yang lainnya kaget, mereka lompat untuk memayang.

 

Yan Hong kaget dan kagum melihat lihainya si anak muda, yang dapat menghajar tertua Lao san sam Eng secara demikian. Kaget karena ia mengerti bahayanya andaikata anak muda itu menjadi musuh pihaknya, ia girang karena dengan begitu Tiong Hoa seperti telah membalaskan luka pundaknya itu.

Tiong Hoa sendiri bersenyum dengan di dalam hatinya ia heran, heran untuk lihainya itu. ia tidak sangka ia dapat berpikir cepat dan bertindak gesit dan lincah, hingga hasilnya sangat memuaskan.

"Inilah pasti hasil khasiatnya Pouw Thian wan." pikirnya. Maka ia menjadi bersyukur kepada Thian Yoe sioe, sayang ia belum tahu she dan namanya orang tua itu, Thian Yoe sioe berarti si orang tua yang menjelajah langit."

 

Louw Coen sendiri menyesal bukan main. ia tahu kekalahannya ini disebabkan ia memandang enteng kepada lawannya itu.

Sambil bersenyum, Tiong Hoa menghadapi Lao san sam Eng, untuk berkata. "Aku yang rendah suka memberi nasehat kepada tuan-tuan bertiga untuk lain kali janganlah tuan tuan sembarang bertindak hingga mendapat salah dari lain orang. Memang biasanya, bencana itu datangnya dari mulut, dari kata-kata yang tak terpikirkan lagi, Aku percaya tuan tuan menginsyafi itu. Perihal kejadian semalam, suka aku menjelaskan bahwa aku benar-benar tidak tahu apa apa, maka jikalau tuan-tuan suka menyelidikinya dengan seksama, pasti tuan-tuan bakal mendapat tahu duduknya yang benar."

 

Lao san sam Eng dapat menerima penjelasan itu, tetapi mereka tetap heran, sudah terang orang lari menyingkir ke dalam pekarangan hotel itu, kenapa dia membilangnya tak tahu.

"Inilah aneh" Rupanya aku mesti bekerja berat untuk menyelidikinya." pikir mereka itu bertiga.

" Jikalau begitu. kita benar sembrono." kata Cie Kong sambil memberi hormat. "baiklah, sampai kita bertemu pula" ia pun memberi hormat pada Yan Hong, sesudah mana bersama saudaranya ia mengajak pergi saudaranya yang tertua itu.

 

Yan Hong mengawasi sampai orang telah pergi jauh, ia berpaling kepada Tiong Hoa untuk sambil tertawa berkata: "saudara Lie, mengenai peristiwa tadi malam harap kau tidak memandang wajar bahwa aku hitam makan hitam, perkara itu mempunyai latar belakangnya. sebentar, setelah sampai di rumahku aku nanti berikan penjelasannya."

Tiong Hoa bersenyum.

"Aku baru mulai masuk dalam dunia Kang ouw, tentang keruwetan kaum Rimba persilatan aku tak tahu apa-apa" ia berkata. "Perkara saudara itu mesti perkara besar, karena aku cuma seorang tetamu dan akupun datang dari tempat jauh, artinya aku seorang luar, lebih baik aku tidak mendengarnya."

 

Yan Hong tertawa, ia tidak mengatakan apa apa, ia bertindak ke tepian, untuk bersiul yaring. Atas itu dari seberang, dari rumpun telaga, muncul sebuah perahu kecil, yang di gayu laju sekali, Begitu perahu itu tiba di tepian sini, terlihat di dalamnya dua orang

dengan baju hijau, usianya masing-masing lebih kurang tiga puluh tahun, Mereka itu berlaku hormat mengundang Tiong Hoa naik ke perahu mereka.

Tiong Hoa mengalah dulu kepada Yan Hong, baru ia lompat ke perahu itu. Yan Hong naik bersama satu orang, sebab orang yang kedua menuntun kuda berjalan mutar di jalan itu.

Seperti waktu datangnya, waktu kembalinya perahu itu digayu laju sekali. Tiong Hoa dapat kesempatan melihat pemandangan di sungai itu,

 

Yan Hong duduk di belakang tetamunya, ia memikirkan ilmu silatnya Tiong Hoa. ia merasa itu seperti ilmu silatnya Hok in siang jiu dari Koen Loen san Barat, Hok In itu satu jago dari jaman lima puluh tahun dulu, seumurnya dia tidak menerima murid, pernah Yan Loei, ayahnya, melihat Hok in siangjin bertempur, maka itu, ayah itu dapat mencuri pelajari dua jurus di antaranya dan yang satu ini mirip dengan jurusnya Tiong Hoa tadi.

"Kalau dia benar murid Hok in siangjin, rasanya sulit untuk menarik dia menjadi kawanku," pikirnya.

 

Segera juga perahu sudah tiba di seberang, Yan Hong lompat lebih dulu ke darat, Ketika ia berpaling, Tiong Hoa sudah menyusulnya tanpa memperdengarkan suara apa apa, itulah bukti ilmu ringan tubuh yang mahir sekali.

"Dia lihat sekali, tak dapat aku mengundang serigala datang masuk ke rumahku." Yan Hong pikir pula. ia licik, ia mau berlaku waspada, la tidak kentarakan kekuatirannya itu, bahkan ia bersenyum ketika ia berkata. "saudara, rumahku tak jauh dan sini, kita baik berjalan kaki saja."

"Baik," sahut Tiong Hoa mengangguk. Mereka jalan dijalan besar yang kedua sisinya

merupakan ladang gandum. Angin bersilir halus. sebagai ganti bau bunga, disitu mereka mencium bau lumpur.

 

Belum jauh, selagi menikung di tempat mana ada tumbuh pepohonan, mereka mendengar suara kuda lari mendatangi lalu tertampak penunggangnya adalah seorang nona dengan baju merah tua. Begitu datang dekat, nona itu menyapa nyaring: "Toako, kenapa kau baru sampai?" sedang tubuhnya terus berlompat turun, hingga ia dalam sekejap berdiri di depan kakinya berdua. Gerakannya itu lincah sekali, itulah lompatan Burung walet menyambar ombak.

Tiong Hoa lantas mengenali si nona yang ia lihat di rumah makan, sekarang ia mendapatkan orang cantik sekali, mukanya dadu dan matanya jeli, matanya itu mengawasi jernih kepadanya.

 

Yan Hong tertawa, terus ia berkata: "Adikku, kau agaknya seperti belum pernah bertemu dengan saudara Lie ini..."

Nona itu tertawa, dengan lagu suara manja, ia kata: "Toako kau bicara saja. Kenapa kau tidak mau mengajarnya kenal?"

"Benarkah kau pelupaan adikku?" kakak itu tertawa pula, "Tadi malam toh kau pernah berkenalan dengannya di rumah makan. Maka itu buat apa aku mengajarnya kenal pula?"

Muka si nona menjadi merah, Dia malu karena kakak itu menggoda, Dimatanya lantas berbayang seorang muda yang pakaian kotor dan mukanya dekil, yang rambutnya kusut, sebaliknya sekarang ia menghadapi seorang pemuda tampan dan menarik hati sekali.

"Apakah benar dianya?" katanya dalam hati, ia jadijengah, Kemarin ini ia sama

sekali tak menghiraukan pemuda itu. Hal itu membuatnya malu sendiri Maka ia mendelik kepada kakak itu.

 

Yan Hong tak memperduIikan, ia justeru tertawa berkakak. "Toako" kata si nona sambil membanting kaki saking jengkel

Tiong Hoa tidak memperdulikan orang bergurau, ia memandang si nona sambil minta tanya nama orang.

Nona itu tidak menyahut, agaknya susah ia membuka mulutnya, walaupun bibirnya sudah bergerak.

Yan Hong tertawa, ia berkata. "Adikku ini, si Hee, biasa terlalu dimanjakan ibuku, maka itu kalau lain kali dia berbuat kurang ajar, aku harap saudara Lie suka maafkan dia."

 

Kembali Yan Hee mendelik kepada kakaknya, lantas ia lompat naik ke atas kudanya, kabur balik.

Yan Hong tertawa, sedang Tiong Hoa bersenyum.

Keduanya berjalan terus, setelah melewati hutan cemara, Tiong Hoa melihat sebuah tembok tinggi dan kekar mirip tembok kota, di atasan pintunya ada ranggonnya peranti si penjaga pintu,

Yan Hong mengajak kawannya masuk. ketika di dalam situ, Tiong Hoa melihat sebidang tempat yang lebar yang banyak perumahannya, yang di tengah-tengah yalah sebuah rumah besar, ke situ Yan Hong mengajaknya masuk.

 

Di muka pintu ada dua pengawal dengan golok di tangan, Ketika Tiong Hoa berdua

bertindak masuk. dari dalam lantas terlihat munculnya seorang yang tubuhnya kekar dan romannya keren, mukanya berewokan, matanya tajam.

"Saudara Lie, orang yang mendatangi itu hoepocoe kami, Im- yang Gioe Khong Jiang." kata Yan Hong perlahan. "Dia lihai. Dialah orang Hoa Yang Pay. Dia bertabiat gembira dan berangasan tak ketentuan, karena mana ayah pun suka mengalah kepadanya, Aku harap kau berhati-hati terhadapnya..."

 

Baru tuan rumah yang muda ini berhenti berkata, Khong Jiang sudah sampai didepan mereka, Dia lantas memandang tajam pada Tiong Hoa.

"Paman Khong..." berkata Yang Hong dengan hormat sekali, "ini saudara Lie Cie Tiong, sahabat baru dari keponakanmu."

Khong Jiang mengasi dengar suara di hidung, matanya memandang tawar pada si anak muda. dia kata: "Kalau dia sahabatmu, kenapa dia begini kurang ajar? Apakah dia mengandal sangat kepada beberapa jurus ilmu silatnya maka dia menjadi jumawa?"

 

Tak senang Tiong Hoa mendengar kata-kata itu, maka dia kata dingin. "Aku yang rendah baru pertama kali ini datang ke mari, aku tidak kenal kau, tuan, mengapa kau berani membilang aku kurang ajar?" "Paman Khong, kau..." kata Yan Hong berkuatir.

"Kau berani kurang ajar kepada Khong Jiang?" hoe-pocoe itu membentak sebelum Yan Hong bicara terus. "Tentu kau benar-benar mengandalkan ilmu silatmu, Mari, mari, Mari sambut tanganku." Benar benar dia lantas meninju.

Majikan muda dari Yan Kee Po menggunai tenaga tujuh bagian, Dia mau menguji sianak

muda.

 

Tiong Hoa ndak mau menyambuti kekuatan orang. ia berkelit ke kiri Karena ia mendongkol, ia membalas menyerang, ia mengeluarkan tangan kanannya, guna menangkap tangan si berangasan itu.

Khong liang terkejut, Dia tidak menyangka orang berkelit, Atas datangnya ^erangan membalas, dia kaget. Dia melihat gerakan yang gesit sekali, Maka lekas lekas dia menurunkan tangannya, untuk dikelit.

 

Tiong Hoa menggunai j urus "Tawon yang-keluar dari sarangnya" itulah suatu jurus dari ilmu silat siauw thian che Ci capjio Kiauw Na. sia-sia belaka KhongJiang berkelit, lengannya itu kena ditangkap. hingga dengan mendadak dia merasa tangannya kaku, Dia berteriak. dia berontak sekuatnya tenaga sambil dia berlompat nyamping.

Tiong Hoa tidak berniat mencelakai orang, habis menyengkeram, ia melepaskan tangkapannya itu. Mendadak Khong Jiang tertawa.

"Benar katanya Yan Hong, kaulah seorang muda yang liehay" katanya, "Kau maafkan aku" ia tertawa pula, terus ia bertindak ke luar.

Tiong Hoa berdiam. Ini pula pengalamannya yang luar biasa, ia sama sekali tidak pernah memikir bahwa itulah sandiwaranya Yan Hong, yang telah mengaturnya sebelum dia pergi ke hotel menyambut padanya.

"Memang begitu tabiat Paman Khong, girang dan gusar tak kotentuan," kata pula tuan rumah muda ini sambil tertawa, "tapi sebenarnya dia jujur dan baik hatinya, Nanti, sesudah berkenalan lama, saudara akan mengenalnya "

 

Tiong-Hoa tertawa tawar, ia tidak bilang apa-apa. Ketika tuan rumah itu bertindak, ia mengikuti.

Di dalam, Tiong Hoa melihat rumah besar miri^ dengan istana seorang bangsawan. Ruang atau pintu berlapis- lapis. tiang danpenglari, semuanya terukir indah. Di sebelah dalam ada pekarangan terbuka dimana ada terdapat pepohonan dan lorong, kamar-kamar dan lauwteng. ia heran dan kagum.

Di situ pun ia melihat sejumlah orang Rimba persilatan, yang semua bersikap hormat terhadap Yan Hong.

 

Yan Hong mengajak sahabatnya memasuki sebuah ruang besar, Baru saja sampai diambang pintu, hidung si anak muda telah mendapat cium bau yang harum, yang melapangkan dada, Di dalam situ ada empat orang lagi berduduk. yang di kiri, bercokol atas kursi hakcoe-ie, adalah seorang tua bertubuh tinggi dan besar, rambut dan kumisnya sudah putih, gayanya keren.

Di kanannya si nona yang tadi, matanya mengawasi si anak muda, rekannya seperti bersenyum. Dua yang lainnya, yang satu yalah seorang imam tua dan kurus, jari tangannya panjang sekali, sepasang matanya bersinar, dan yang lainnya seorang muda dengan bibir merah dan roman angkuh, sedang dipunggungnya ada sebilah pedang yang rupanya pedang tua, sarung pedangnya berukiran ular naga melilit.

"Saudara Lie, inilah ayahku," Yan Hong lantas mengajar kenal, dia menunjuk si orang tua.

 

Tiong Hoa maju dua tindak, ia menjura dalam seraya berkata, "Aku yang muda, Lie Cie Tiong, memberi  hormat kepada po-coe."

Hoan Thian-ciang Yan Loei tertawa dan berkata, "jangan pakai adat peradatan, Lie siauwhiap. tadi malam kau telah membantu anak Hong, aku menghaturkan terima kasih padamu."

"Itulah perkara kecil, harap pocoe jangan buat pikiran," kata Tiong Hoa merendah, "Meskipun baru bertemu, dengan siauwpocoe aku seperti kenalan lama, Aku malu mendengar kata-kata pocoe ini."

Lantas Yan Hong perkenalkan sahabatnya kepada si imam dan si anak muda.

 

Imam itu nyatalah Im-CioeJiauw-Hoen Hauw Boen Thong adanya, yang dimasa itu terkenal dalam Rimba Persilatan, Cocok dengan julukannya, yang berarti Tangan Penyamber Nyawa, sebab dia biasa berbuat seenaknya saja, takperduli dia benar atau salah, Dia liehay hingga banyak orang mendengar saja namanya, menjadi pusing kepala.

Si anak muda adalah Cie-liong kiam Pek Kie Hong. sipedang Naga, yang menjadi siauw cecu, yaitu ketua muda, dari Benteng Jie sip Pat, dua puluh delapan benteng air dan darat, di telaga Tong-teng-ouw di Kanglam.

Hauw Boen Thong jumawa sekali, melihat Tiong Hoa, berulang kali dia memperdengarkan suara di hidungnya, sikapnya sangat dingin, tubuhnya tak berkutik. Tiong Hoa tidak puas, Syukur Pek Kie- Hong suka berbicara dengannya.

 

Yan Hee diam-diam memperhatikan anak muda itu, sekarang ini pandangannya lantas berubah sama sekali, tak ingat lagi si anak muda yang pakaiannya kotor, mukanya dekil dan rambutnya awut-awutan, ia rupanya terpengaruh kata-kata cinta pada penglihatan pertama kali.

Yan Hong dan Pek Kie Hong liehay matanya, mereka lantas melihat sikapnya si nona, masing-masing mereka lantas beda pemikirannya.

 

Lie Tiong Hoa duduk di bawah, diam-diam ia memperhatikan perabotan di dalam ruang itu, ia mendapat kenyataan semua itu benda-benda yang tak biasa dilihat di rumah rakyat kebanyakan rata-rata barang kuno dan indah. Maka aneh rumah orang Kang ouw mirip istana orang bangsawan.

Yan Loei, dengan tak langsung, menanyakan Tiong Hoa tentang gurunya, keluarganya serta maksudnya datang ke Tok lok.

 

Tiong Hoa tak dapat menerangkan jelas, sebab ia memang tak tahu banyak perihal gurunya, ia juga tidak bisa menjelaskan bahwa ia lagi buron, jawabanmu itu membikin tuan rumah mencurigai dia mengandung sesuatu maksud.

"Lie siauwhiap bersahabat dengan anakku, silahkan kau berdiam bersama kami di sini."

kemudian kata Yan Loei tertawa, "Katanya siauwhiap liehay sekali, maka itu mungkin siauwhiap dapat membantu kami."

 

Tiong Hoa tidak tahu hati orang, ia lekas berkata: "Tidak berani aku merepotkan po-cu. Karena aku gemar pesiar, hari ini juga aku berniat pergi ke Tiong Gioe terus ke soe Coan. Terima kasih atas kebaikan poocu."

 Yan Loei mengawasi tajam. Dia tertawa pula.

"M emaog perjalanan itu penting untuk memuaskan pemandangan dan pengetahuan," dia

kata, " Ketika masih muda, aku juga gemar merantau." Kembali dia tertawa.

 

Selama itu HauwBoenThong terus bungkam, dia memandang si anak muda dengan mata

tajam dan sikap dingini Adalah Yan Hong dan Pek Kie Hong, yang mengajak orang bicara. Yan Hong minta tetamunya suka berdiam padanya barang setengah bulan. "Baiklah." kata Tiong Hoa setelah di-bujuki siauwpocu itu.

"Anak Hong, pergi kau ajak siauwhiap ke kamar Teng ie Hian" Kemudian Yan Hong kata pada puteranya sebentar tengah hari hendak aku mengundang siauwhiap ber-santap.

Tiong Hoa mengucap terima kasih, lantas ia meminta diri, mengikut Yan Hong ke kamar yang disebutkan itu.

 

Seberla lunya si tetamu, Yan Loei kata pada gadisnya: "Apakah batuknya ibumu sudah mendingan. Ada orang mengantar dua bungkus cauwkoh dari Lengtam yang ibumu paling suka, pergi kau ambil dan bawa itu ke Hoed tong buat diserahkan pada ibumu sekalian kau sampaikan kata-kata padanya."

Yan Hee tertawa lantas mengundurkan diri. setelah anak dara itu tak nampak lagi, Yan Loei menoleh pada Hauw Boen Thong.

"Hauw Loosu, apakah kau mencurigai apa-apa terhadap anak muda she Lie itu?" ia tanya. "Memang" sahut imam itu dingini "Kau terlalu bersangsi, saudara Yan jikalau aku,

siang-siang aku sudah singkirkan dia guna mencegah timbulnya bencana dibelakang hari.

 

Hoan Thian ciang menggeleng kepala.

"Kau biasa berterus terang, loosoe, aku kagumi kau," ia kata. "Aku tapinya mempunyai cara yang terlebih sempurna. sekarang ini orang tengah bergerak, sedang pihak Yan Kee Po

dan ie Kee Po. yang menguasai sembilan propinsi, mudah sekali membangkitkan kejelusan orang, terutama selama yang belakangan ini pihakku telah melakukan sesuatu yang gampang sekali menarik perhatian orang. Aku telah dapat kenyataan ada orang-orang sesat dan lurus yang sudah datang mengintai ke mari. Karena itu aku sangsi pemuda she Lie ini bukannya orang salah satu dari mereka itu, Aku pikir kita harus bersabar menyelidikinya."

 

" Itulah gampang, serahkan saja padaku" kata Pek Kie Hong tertawa.

Tak lama Khong Jiang muncul, dia tergesa gesa dan lantas bicara berbisik dengan ketuanya.

Romannya Yan Loei menjadi tegang secara tiba-tiba, dia terus berlompat bangun, akan bersama hoepocu itu lantas pergi keluar.

Di ruang yang besar itu, Hauw Boen Thong tinggal berdua Pek Kie Hong.

ooo

 

Malam itu selagi rembulan bercahaya indah, Tiong Hoa duduk seorang diri di dalam kamarnya di ruang Teng ie Hian, ia memandang tersengsam kepada si puteri Malam, yang nampak dari antara jendela itu ada pengempang kecil yang airnya jernih yang ditanami pohon teratai dan pohon yanglioe di tepinya. Dari situ terdengar suaranya beberapa ekor kodok. Daun yang-Iioe pun ber silir tertiup angin halus.

 

Anak muda ini tidak berdiam saja, ia berpikir, pertama-tama halnya Yan Hong yang "hitam makan hitam." ia tak tahu bagaimana duduknya urusan itu. Yang lainnya adalah, lukisan "Bayangan Rembulan di Gunung sunyi."

Ia tidak menyangka karena bertemu Yan Hong, ia jadi singgah di Yan Kee Po-Mengenai

Keluarga Yan ini, ia bersangsi. Kaum Rimba persilatan memang luar biasa sepak terjangnya. "Aku sumpah aku mesti dapatkan lukisan itu" kemudian ia mengambil ketetapan.

 

Baru Tiong Hoa mengambil keputusannyaitu, tiba-tiba ia melihat bayangan orang berkelebat di atas genting di ruang sebelah depan, ia dapat melihat karena sinar rembulan permai sekali.

Tiba-tiba hatinya bercekat, Tanpa sangsi lagi. ia berbangkit, dengan cepat ia menyingkap bajunya, untuk lompat keluar jendela, akan setibanya di luar terus berlompat naik ke atas genting di depan itu, ia masih sempat melihat orang tadi berada belasan tombak jauhnya. ia pun mendapatkan tubuh orang lincah sekali.

 

Jikalau dia bukan orang dalam, dia bernyali besar sekali, pikir anak muda ini. Dibawah terangnya rembulan, kenapa dia berani tak menyembunyikan dirinya? Baiklah aku menguntit dia.

Orang itu pergi ke sebuah lauwteng tinggi, Ketika dia lompat turun Tiong Hoa menyusul, terang dia bertelinga jeli, dia memutar tubuh sambil menyerang dan menegur perlahan- "siapa kau?"

Tiong Hoa berkelit ke samping, ia lantas mengawasi. Maka ia melihat orang berumur belum tiga puluh tahun, mukanya lebar, kupingnya besar, romannya lurus, ia bersenyum.

"Ada urusan apa tuan datang ke mari diwaktu malam?" ia balik menanya, "Apakah tuan mencari orang? Kenapa kau tidak ambil jalan dari pintu? Caramu ini mudah menimbulkan salah paham, Maka baiklah tuan lekas berlalu dari sini."

 

Tiong Hoa heran orang dapat masuk dengan leluasa sedang Yan Kee Po terjaga kuat,

Maka ia mau menduda mungkin orang dibiarkan masuk, untuk mencari tahu dulu maksud kedatangannya, ia menjadi tetamu, tidak mau ia sembarangan bertindak. pula roman lurus orang itu mendatangkan kesan baik terhadapnya, itu pun sebabnya kenapa ia menasehati untuk orang mengundurkan diri

 

Mendengar nasehat itu, orang itu mengawasi ia menggeleng kepala.

"Dari kata-katamu ini, tuan. Kau rupanya bukan orang Yan Kee Po." ia kata. "Aku Im sim Yok dari Koen Loen Pay, Kawanku sejumlah enam, perjalananku ini penting sekali, maka itu, untukku, mati atau hidup sudah tak berarti lagi. jikalau tuan ingat aturan Rimba Persilatan, silahkan kau menyingkir supaya tak sampai terbit kesalahan turun tangan."

 

Tiong Hoa bersangsi hingga ia ayal memberikanjawabannyaJusteru ia berdiam, ia mendengar suara apa-apa, yang disusul dengan suara keras ini: "Mari lekas kita bekerja."

Menyusul itu datanglah serangan kepada Sim Yok, dia ini berkelit lalu dia menggunai kedua tangannya menolak Tiong Hoa dengan tipu silatnya "Menolak jendela memandangi rembulan."

Tiong Hoa berkelit, berbareng dengan mana ia mendengar satu suara dalam. "saudara Lie, kau tetamu, tak seharusnya kau turun tangan serahkan dia padaku." la lantas menoleh, maka ia melihat Cie-iion-kiam Pek Kie Hong yang mukanya muram sudah berdiri di belakangnya.

 

"Baiklah." dia menjawab cepat, ia lantas pergi ke bawah pohon di mana ia lantas berdiri memasang mata.

Kie Hong mengasi lihat roman bengis, sembari tertawa dingin ia maju dua tindak,

tangannya lantas menghunus pedangnya.

Sim Yok juga mengawasi tajam, ia telah menyiapkan senjatanya, yaitu sebatang Joan-pian, ruyung hitam yang lunak seperti cambuk hingga dapat dililit di pinggang.

Ketika ia melihat pedang orang, ia terperanjat hingga ia lantas menanya: "Tuan, bukankah kau cie- liong kiam Pek Kie Hong ceecoe muda dari Benteng Jie sip Pat di telaga Tong Teng?"

 

Pek kie Hong bersikap sangat jumawa. "Kau telah ketahui Ceecoe mudamu, kenapa kau tidak mau lekas serahkan dirimu?" dia menjawab.

Sim Yok menjadi gusar, mendadak dia tertawa, Nyaring luar biasa tertawanya itu. Habis tertawa, dia berkata nyaring, "Pek Kie Hong, jangan kau terkebur Tak dapat kau menggertak orang. Kau harus ketahui, Teng coa sin Pian Sim Yok dari Koen Loen Pay tak dapat diancam Aku justeru mendengar perbuatan-perbuatanmu yang sangat busuk dan kaum Rimba persilatan ingin menyingkirkan kau dari dunia ini, siapa tahu kau bersembunyi di Yan Kee Po ini. kaujadi seperti membantu si jahat. Kau harus ketahui ini hari aku hendak menyingkirkan satu bahaya besar  untuk Rimba Persilatan-"

 

Pek Kie Hong tertawa dingin.

"Dapatkah kau lakukan itu?" dla tanya mengejek, Lantas dia meng g era ki pedangnya, untuk menerjang.

Sim Yok menyaksikan gerakan lawan yang gesit, diam-diam dia mengaguminya, Padahal orang itu, meskipun masih muda, sudah menjagoi di selatan dan utara sungai Besar. Tanpa ayal lagi, ia lantas melayani menggunai ilmu joan pian partainya, yang terdiri dari tiga puluh- enam jurus .

 

Pek Kie Hong licik, di samping menyerang iangsung, ia ingin membabat kutung senjata lawan-

Joan-pian Sim Yok terbuat dari otot, senjata biasa tak dapat memapasnya, tapi melihat pedang Kie Hong, dia jeri, tak mau dia membikin senjatanya itu kena dibabat kutung. Hal ini membuatnya berlaku waspada, hingga tak dapat ia lantas mendesak lawannya itu.

 

Tiong Hoa menonton dengan berdiam saja, ia yang tak berpengalaman kembali menyaksikan suatu yang menarik parhatiannya, yang membingungkan juga.

Di sini bentrok pula si sesat dengan si lurus, Rupanya kedua golongan itu tak dapat saling mengasi ampun, Meski begitu, ia terus memasang matanya.

 

Setelah bertanding sekian lama, Pek Kie- Hong mengeluarkan satu jurusnya yang liehay, yaitu "Tiang hong koan jit" atau "Bianglala menutupi matahari." serangan itu meny amber kepada joan pian lawan. Sim Yok repot menyingkirkan senjatanya itu, atau justeru karena itu, dia dapat dirangsak. Pedang cie-liong kiam meluncur terus.

Di saat jago muda Kun Loen Pay itu bakal menyerahkan jiwanya, atau sedikitnya dia bakal terluka parah, mendadak menyamber dorongan angin yang keras sekali kepadanya hingga tubuhnya tertolak keras, hingga dengan begitu dia menjadi lolos dari ujung pedang, saat tubuhnya tertolak itu, dia pun terus berlompat mundur setombak jauhnya.

 

Di mana di situ tidak ada orang lain, Sim Yok lantas melihat orang yang mendorongnya yang menolongi, adalah si anak muda yang barusan menasehati dirinya, ia jadi bersyukur.

Tapi ia berada di tempat berbahaya, ia lantas lompat untuk menghilang.

Memang Tiong Hoa yang menolongi orang Koen Loen Pay itu, ke satu disebabkan ia melihat jiwa orang terancam maut, ke dua karena ia bersimpati kepada anak muda itu, Habis itu, di samping girang, ia juga heran. ia heran atas tenaga dorongannya yang keras sekali, beda daripada biasanya, Maka ia ingat inilah tentu pula khasiatnya pel Pouw Thian Wan hadiah Thian Yoe sioe.

 

Berbareng dengan itu, Pek Kie Hong terkejut dan heran, ia melihat Tiong Hoa turun tangan, Akibatnya itu ialah kecuali tubuh Sim Yok tertolak keras, pedangnya sendiri kena terintang, pedangnya mental hampir terlepas dari cekalannya, ia lantas mengawasi tajam anak muda itu, yang terang berniat menolong musuh lolos.

 

Tiong hoa tidak berdiam saja, ia pura pura lari mengejar Sim Yok, ketika orang lenyap. baru ia kembali, ia lantas disambut Pek Kie Hong yang tertawa kepadanya.

"Kau hebat sekali, saudara Lie" kata orang she Pek itu, "Pantaslah saudara Hong memuji tinggi padamu sayang kau kekurangan pengalaman, kau menyebabkan bangsat she Sim itu lolos"

 

Tiong Hoa mengasi lihat roman kaget.

"Benarkah?" tanyanya, sembari menyeringai, "sungguh celaka Aku kuatir kau tidak dapat lantas merobohkan dia, saking gugup, aku membantu, siapa tahu kesudahannya gagal, sungguh aku menyesal..."

"Tak usah menyesal, saudara Lie." kata Kie Hong, yang bersenyum. "Dalam pertempuran orang mesti dapat melihat gelagat, terutama perlu bantuan pengalaman jikalau saudara lebih sering berkelahi nanti kau dapat melenyapkan cacadmu ini. saudara jangan menyesal penjahat lari, Kawan-kawannya telah diawasi, atau mungkin mereka sudah kena ditawan. silahkan saudara beristirahat, nanti besok aku datang menemui kau di Teng In Hian." Habis berkata orang she Pek ini tertawa, lantas dia berlompat pergi.

 

Tiong Hoa mengawasi orang berlalu, lantas ia berpikir : “Aku menolongi Sim Yok apakah

perbuatanku ini mencurigai orang she Pek itu?"

Ia tidak tahu, habis tertawa itu, Kie Hong tersenyum ewah.

0000

 

BAB 4

DI BAWAH sinar rembulan, perlahan-lahan Tiong Hoa bertindak balik ke Teng Ie Hian-ia terus masuk kedalam, untuk merebahkan diri di atas pembaringannya. ia masih memikirkan segala apa, sampai ia jatuh pulas. Ketika sang fajar tiba, ia tersadar dengan lantas berbangkit turun, ia mendengar suara tindakan kaki, ialah tindakannya kacung yang membawakan ia air untuk mencuci muka dan lainnya, Dia itu melongok dulu, baru dia masuk dan meletaki airnya, sembari tertawa dia memberitahukan kedatangan tetamu, ceecoe muda she Pek serta seorang she Lauw.

"Oh, begitu" katanya. "silahkan- silahkan undang mereka masuk" ia sendiri lekas-lekas mencuci muka, membereskan rambut dan pakaiannya.

 

Segera juga terdengar suara tertawa diluar kamar, lalu nampak munculnya Pek Kie- Hong serta seorang muda yang mukanya rada hitam dan romannya gagah.

"Pagi-pagi sudah bangun, saudara Lie." kata Kie Hong tertawa, "Mari perkenalkan, inilah saudara Lauw, Tiat-pie Chong-tiong Lauw Pou, murid Kong tim-taysoe dari kuil tay-chong-sie di see-coan timur, saudara Lauw baru datang tadi sore, ketika aku omong tentang kau, saudara, ia lantas minta aku mengajaknya berkunjung ke mari, saudara Lauw sangat suka bergaul."

"Terima kasih." kata Tiong Hoa, merendah. "silahkan duduk." Lantas mereka berduduk.

 

Tiong Hoa mendapatkan Lauw Pou sedikit bicara selamanya sungguh-sungguh dan tak pernah tertawa dia seperti mempunyai urusan sulit.

Tengah mereka bicara, kacung tadi datang memberitahukan bahwa Lauw Pou diundang tuan rumah, Dia lantas berbangkit, sembari memberi hormat dan tertawa, dia kata pada Tiong Hoa dan Kie Hong, "silahkan saudara saudara duduk dulu, aku akan lekas kembali." Lantas dia pergi dengan cepat.

"Oh ya, kenapa saudara Hong tak nampak?" kemudian tanya Tiong Hoa heran-

"Saudara Hoo. tidak ada di rumah." Kie Hong memberitahu "Tadi malam buat satu urusan dia dititahkan ayahnya pergi ke Tok lok dan sampai pagi ini belum kembali Mungkin dia akan lekas pulang." ia berhenti sebentar lalu meneruskan.

"Tadi malam Sim Yok dari Koen Loen Pay itu dapat lolos, tetapi lima kawannya kena dibekuk dan sekarang mereka ditahan dalam kamar rahasia. Apakah saudara Lie ingin melihat mereka itu? Kalau saudara mau, sekalian aku dapat mengantari kau melihat-lihat keletakan Yan Kee Po dan sekitarnya."

 

Tiong Hoa senang menerima ajakan itu.

"Kenapa orang Koen Loen Pay itu datang kemari?" ia tanya sembari jalan.

"Begitu biasanya orang Kang ouw, yang sering tak dapat bekerja sama." Kie Hong menjawab. "Bukankah diantara saudara sendiri sering terbit bentrokan? Yan pocu ternama besar, tak heran bila ada orang salah paham terhadapnya, Karena aku orang luar, tak jelas aku duduknya perkara itu."

Di mulut Kie Hong mengatakan demikian, di dalam hatinya dia pikir lain. Di dalam hati dia kata: "Masih kau berpura-pura, Tunggu sebentar, kau bakal mampus tanpa liang kuburmu."

 

Tiong Hoa berjalan di belakang, ia tidak melihat air muka orang guram, Mendengar lagu suara orang, ia mau percaya jawaban itu, Dengan wajar ia menanya, "Bagaimana Yan Pocu hendak memutuskan perkara mereka itu?"

Mendengar pertanyaan orang, Kie Hong makin percaya dugaannya benar. Dia tertawa ketika dia menjawab: "Yan Pocu berhati mulia, dia tentu mengutus orang ke Keen Loen san mengundang guru mereka, agar guru itu mengetahui jelas duduknya kejadian guna menyelesaikan urusan sekalian membebaskan mereka."

" Itulah putusan yang tepat sekali," kata Tiong Hoa mengangguk.

 

Mereka sekarang berjalan di sebuah lorong kecil didalam taman di mana bunga-bunga dan rumput tertanam rapi dan harum bunga melapangkan dada. Dari situ mereka tiba di depan sebuah rimba bambu, Di situpun ada sebuah jalan kecil yang menuju ke sebuah rumah, yang beda dengan rumah besar, nampak sederhana sekali, temboknya putih, jendelanya teraling gorden, pintunya tertutup rapat, cuma dari dalam rumah terdengar suara perlahan dari alat-alat tetabuan seperti pendeta lagi mendosa.

 

Tiong Hoa heran hinga ia berpikir siapa itu yang lagi menjalankan ibadat.

Kie Hong ketarik dengan suara tetabuan itu, ia sampai bersenandung: "sepi dan sunyi di dalam ruang, seperti musim semi hampir habis, dan bunga pada rontok memenuhi latar tapi pintu tak dibukakan..."

Dari suara orang, Tiong Hoa dapat menduga pemuda itu lagi memikirkan suatu orang. la tanya: "Apakah saudara Pek lagi ruwet pikiran. Kenapa kau agaknya berduka sekali?"

Kie Hong terperanjat orang dapat membade hatinya, Lekas-lekas dia tertawa, Terus dia menunjuk ke rumah sepi di depannya itu seraya menanya, "Saudara Lie tahukah kau rumah itu ditinggali orang macam apa."

Tiong Hoa tidak tahu, ia menggeleng kepala.

"Inilah tempat kediamannya nyonya rumah, Kie Hong. memberitahu " Nyonya Yan beri-badat, dia menghormati sang Buddha, maka tak pernah dia keluar setindak juga dari rumah ini. selama delapan belas tahun tak pernah ada yang melihat wajahnya kecuali beberapa orang tertentu. seratus tombak persegi disekitar rimba bambu ini menjadi daerah terlarang, siapa melanggar setindak saja, dialah bagian mati."

 

Tiong Hoa heran sekali, "Kenapa nyonya rumah bersikap demikian Apakah yang menyebabkan ? Kedukaankah? Kedukaan apa ?" Kie Hong tertawa sedin

"Pada delapan belas tahun yang lampau itu. entah karena apa, pocu bentrok dengan istrinya," dia memberi keterangan "Lantas istrinya itu, menempati rumah ini yang diberi,

nama Coei Tek Hian di mana ia senantiasa bersembahyang dan tak lagi memperdulikan urusan luar. Di sini cuma dua bujang pelayannya serta nona Hee yang dapat keluar masuk dengan merdeka. Pocu sendiri turut terlarang.

Beberapa tahun dulu pernah ada orang yang melanggar larangan ini. katanya pocu sengaja berbuat demikian, maka besoknya fajar kedapatan saja mayatnya. sejak itu tidak ada orang pula yang berani melanggarnya"

"Aku ini semenjak muda telah dipandang pocu sebagai calon menantunya." kata pula Kie Hong yang bersenyum tawar akan tetapi keputusannya belum ada sebab Nyonya Yan belum melihat send iri padaku. Dia cuma akan memberi perkenannya kepada yang dia penuju. Pergaulanku dengan adik Hong tak buruk tetapi karena urusan ini, usia muda adik Hee menjadi  tergantung..."

 

Tiong Hoa makin heran-

“Saudara toh tampan sekali,” katanya, "Mustahil kau tak dipenujui?" Kie Hong tertawa.

“Jikalau aku tidak dipenuju, sudah saja, boleh aku menghapus pengharapanku." katanya, “Apa lacur, nyonya Yan belum pernah dapat diketemukan. Pernah aku menggunai berbagai alasan guna memancing si nyonya keluar, tetap aku gagal"

Orang she Lie itu menggeleng kepalanya.

"Biarpun nyonya Yan kejam, tak nanti dia membiarkan Nona Hee tak menikah seusianya," kata ia .”Juga Nona Hee, tidak nanti dia terus menyetujui sikap ibunya itu. Paling benar adalah kau, saudara Pek, kau harus berdaya untuk menemui nyonya itu."

 

Kie Hong mengawasi, matanya dipentang, "siapa tak takut mati?" kata dia. " Nyonya Yan

keras sikapnya, ilmu silatnya pun lihai, Bahkan dua budak perempuannya jauh lebih gagah daripada aku..."

Tiong Hoa bersangsi hingga dia tertawa.

"Mungkin saudara mendengar warta yang berlebihan hingga karenanya kau jadi jerih" katanya, “Jikalau begitu, baik saudara buang saja cita-citamu menikah Nona Hee."

Kie Hong mendongkol ia menyangka anak muda ini menghina dirinya, ia hendak mengumbar hawa amarahnya ketika ia ingat buat apa ia menuruti hatinya, sebentar toh pemuda ini bakal menemui ajalnya.

 

Tengah pemuda she Pek itu berdiam, tiba-tiba mereka mendengar suara tetabuhan dibunyikan keras. Dia kaget, lantas dia menarik tangan Tiong Hoa, buat diajak lari sembari dia kata perlahan: " Lekas. Kalau kita dipergoki kedua budak Nyonya Yan jangan harap kita dapat menyingkir setindak juga dari sini..."

 

Tiong Hoa ditarik tangannya, ia turut lari, tapi ia bersangsi dan penasaran ia pikir: "Bagaimana liehaynya nyonya itu? Aku ingin melihat dia."

Rimba bambu itu luas, sampai sekian lama baru Kie Hong berdua Tiong Hoa dapat ke luar dari situ, untuk terus memasuki sebuah rimba lain yang lebat dimana, matahari kealingan daun-daun hingga rimba menjadi gelap dan menyeramkan. tepi didalam situ kedapatan sebuah rumah yang nampak hitam.

 

(Bersambung ke Jilid 4)

 

Bujukan Gambar Lukisan

Karya : Wu Lin Qiao Zi

Terjemah : OKT

Jilid 4 :  Tiong Hoa terjebak di Yan-kee-poo

 

"Saudara Lie," kata Pek Kie Hong, menunjuk ke rumah yang gelap itu, "itulah tempat ditahannya murid-murid Koen Loen pay. jalanan di dalam rimba ini istimewa, baik kau ikuti aku, tempat di mana aku menaruh kaki, di situ tidak ada bahayanya.”

Habis berkata, ia jalan mendahului, ia jalan cepat, ke kiri dan kanan tak ada ketentuannya.

Tiong Hoa mengawasi kaki-kaki orang, Tiba di dekat rumah besar itu, ia kaget, ia kena injak tanah yang seperti tak pegangannya ia kaget, Percuma kagetnya ini, belum sempat ia memikir apa-apa, kedua kakinya sudah kejeblos, tubuhnya turun sama cepatnya, terus telinganya mendengar Pek Kie Hong tertawa bergelak. Lalu tertawa itu.

 

Selagi kejeblos itu, anak muda ini tidak melihat apa-apa. Gelap di sekitarnya, itulah pasti liang perangkap. Ketika ia tiba, di bawah entah berapa dalamnya, ia kaget, ia seperti terbanting sampai ia roboh, lantas hidungnya mencium bau tempat demak dan amis juga, hingga ia ingin muntah, Ketika jatuh itu, ia hampir pingsan, maka itu sampai sekian lama, baru ia dapat bangun berdiri.

 

Karena tempat gelap, tangannya meraba-raba, sampai ia memegang tembok di sekitarnya.

"celaka aku..." ia mengeluh. ia berada dalam lubang dengan tembok besi, Hawa di situ pun menyesakkan dada, Kalau ia tidak lekas lolos, ia bakal mati kehausan dan lapar, inilah hebat,

"Heran kenapa Kie Hong menipu aku..." pikirnya, "Mungkinkah dia mencurigai aku? Kalau benar, itu bukanlah soal sukar, dapat ia mencari tahu..."

Sebagai seorang hijau, pemuda ini sangat kurang pengalamannya. ia main percaya setiap orang, ia seperti lupa halnya Yan Hong hitam makan hitam dan Lao San Sam eng penasaran, ia tak tahu Yan Hong dititahkan Yan Loei mengundang ia datang ke Yan Kee Po, untuk menguji ia, kalau ia benar berpihak pada orang luar, ia hendak disingkirkan.

 

Yan Hong pun bersedia membinasakan ia, cuma tuan muda dari Yan-kee-po itu masih ingat budi pertolongan orang, kalau bisa dia ingin ia membantu Yan-kee po. Tapi ia di curigai Yan Loei, karena Yan Loei menerima laporannya Pek Kie Hong bahwa ia menolong orang Koen Loen Pay, maka itu Yan pocu tak bersangsi pula, terus dia menyuruh Kie Hong memancing dan menjebaknya, perbuatan itu dilakukan diluar tahunya nyonya Yan dan Yan Hee si nona.

 

Setelah berpikir lama, Tiong Hoa menjadi jemu terhadap orang Rimba Persilatan, kalau ia lolos, ingin dia membinasakan Kie Hong dan orang-orang sebangsanya, ia gusar hingga ia menggertak gigi.

Sementara itu tadi, ketika terdengar suara bok hie terakhir, pintu Coei Tek Hian lantas terpentang, dari situ keluar seorang budak perempuan berbaju hijau. yang membekal sapu, untuk menyapu lantai di depan pintu.

 

Dia belum berumur dua puluh, tubuhnya langsing, romannya menarik hati. Gesit kerjanya dia.

Di ruang dalam, yang disebut hoed-tong, ruang pamujaan, ada duduk bersila seorang wanita tua yang rambutnya sudah ubanan, mukanya bundar, kulitnya belum keriputan, matanya bersinar tajaro, suatu tanda dialah ahli silat.

Ditengah-tengah ruang tergantung gambarnya Cian cioe Koan im yaitu dewi Koan Im bertangan seribu, berikut sebuah gambar Thay Kek. yang diapit sepasang lian atau pigura huruf yang tulisannya bagus. Di atas meja ada bok khie serta pendupaan yang asapnya mengepal harum, Nyonya tua itu bersila sambil meram.

 

Tak lama dari kamar samping keluar seorang nona berbaju merah, Karena sinar matahari yang masuk dari pintu, maka nona itu tampak cantik manis.

"lbu." ia memanggil, suaranya merdu dan bernada aleman, Terus ia mendekati si nyonya, untuk menanya: "lbu lagi pikirkan apa?" Dialah Yan Hee, puterinya Yan Loei atau adiknya Yan Hong. Nyonya itu membuka matanya terus ia bersenyum manis,

"Aku memuja sang Buddha, sekarang aku telah memperoleh kesadaran," sahut ibu itu. "Sekarang hatiku tenang bagaikan air, tapi sudah dua hari ini, aku merasai ketenanganku

terganggu, Air seperti berombak perlahan mungkin ada sesuatu yang bakal menimpa aku. Aku ingat ketika delapan tahun yang lalu aku membinasakan si orang aneh yang kumisnya panjang aku mendapat alamat seperti ini, Tapi tak mau aku memperdulikan itu" ia tertawa,

"Anak. mari aku tanya kau, selama yang belakangan ini kau telah dapat mencari orang yang kau penuju atau belum?"

 

Dari pertanyaannya ini maka teranglah sudah si nyonya adalah isterinya Hoan Thian-ciang Yan Loei. yaitu Ciao Cioe Kwan lm Siauw Goat Hian." (Dewi Kwan lm bertangan seribu), ilmu silatnya menggabung pelajaran sesat dan lurus.

Liehaynya adalah senjata rahasianya, yang terdiri dari delapan-belas butir mutiara murni serta ilmu pedangnya San Hoa Kiam-hoat, yang terdiri dari dua puluh jurus. Ketika ia berselisih dengan suaminya, lantas ia menyekap diri di Coei Tek Han, hidup menyendiri dengan memuja Cian cioe Kwan Im, yang tadinya ia pakai sebagai gelarannya, ia cuma dilayani dua budak perempuan itu, dan yang dapat menemui ia melainkan gadisnya itu. Mukanya Yan Hee merah atas pertanyaan ibunya itu.

"lbu saban-saban kau tanyakan urusan itu, buat apakah?" anak itu balik menanya, "Aku masih belum memikir untuk menikah. Aku justeru ingin selama-lamanya menemani ibu."

"Ngaco." ibu itu membentak. "Mana dapat kau tak menikah?Justeru karena kau, aku belum mau pergi ke gunung yang sunyi, Aku kuatir ayahmu nanti jodohkan kau pada orang yang tak tepat, dengan begitu kau bakal celaka seumur hidupmu, Pek Kie Hong anaknya Pek Liang telah aku lihat, dia kelihatan baik di luar tapi hatinya sebenarnya tak lurus bahkan licik. Aku merasa pasti di belakang hari dia bakal mati tak wajar, Turunan serigala mana bisa menjadi kie-lin? Maka itusering ayahmu mendesak tapi aku tidak meluluskan."

 

Yan Hee heran.

"lbu pernah lihat Pek Kie Hong?" dia tanya.

"Aku melihat dia pada tiga tahun yang lalu." sahut ibu itu, lalu dengan roman sungguh-sungguh ia menanya. "Anakku, benar- benarkah kau belum mempunyai orang yang kau penuju? Ketika tadi malam aku mengajari kau ilmu pedang, hatimu agak tak tenang, kenapa kah itu?"

Yan Hee tahu mata ibunya tajam, tak dapat ia mendustainya, Maka ia tunduk ia ketanah. "Kemaren pagi engko Hong mengajak satu sahabat datang ke rumah kita, itulah sahabatnya yang baru. Aku lihat gerak-geriknya orang itu halus, dia tidak mirip- miripnya orang Kang ouw, cuma masih belum ketahuan hatinya..."

 

Tepat si nona berkata begitu maka di jendela dari rumah itu ada orang yang menggantung kakinya dipayon, matanya mengintai ke dalam.

Habis berkata begitu, nona itu likat sendirinya, ia tunduk sambil membuat main ujung bajunya, Tapi dengan melihat sikap anaknya, sang ibu tahu hati anaknya itu telan digedor si anak muda yang disebutkan itu, ia agaknya senang, ia bersenyum.

Tapi tiba-tiba alisnya berkerut, terus tangannya diayun maka melesatlah sebuah benda kuning halus.

 

Di luar terdengar suara perlahan seperti ujung baju ditembuskan sesuatu. lantas sunyi pula.

Melihat gerakan ibunya Yan Hee tahu diluar mesti adu orang yang mengintai mereka, ia lantas berlompat keluar, hingga ia melihat di belakang rumah itu. daun pohon bambu bergoyang sedikit ia tidak dapat melihat tegas, maka itu ia lantas menyerang dengan enam biji kim-chie-piauw.

Tidak ada hasilnya serangan itu, kecuali daun bambu bergoyang pula.

 

Si nona penasaran, hingga ia kata dalam hatinya. "Bangsat, aku lihat kau dapat lolos dari tangan nonamu atau tidak? ia menyusul ia menimpuk pula.

Ada larangan kaum Rimba persilatan untuk mengejar musuh yang lari ke dalam rimba atau tempat lebat pepohonan tetapi Yan Hee melanggar itu, sebab ia berada di rumahnya ia mengejar teeus, Hasilnya sia-sia, sampai merasa letih, tak dapat ia mengudak orang itu, cuma saban-saban terlihat daun bambu bergerak. Ketika ia tidak melihat apa apa yang mencurigai ia keluar dari dalam hutan bambu itu, keluar sambil berlompat. segera ia dapat melihat Pek Kie Hong lagi jalan mundar mandir di antara pohon-pohon bunga, romannya masgul.

"Heran. Kenapa anak muda itu berada di situ?"

 

Kie Hong juga lantas mendapat lihat si nona. Kalau tadi alisnya berkerut, sekarang ia lantas bersenyum. "Adik Hee." dia memanggil cepat.

Nona itu merah mukanya akan tetapi dia menegur: " Kenapa kau lancang masuk ke- dalam rimba? Kenapa kau mengintai di jendela Coei Tek Hian, kau telah melanggar larangan ibuku, tidak dapat aku melindungi kau"

Kie Hong melengak.

"Apa?" tanyanya cepat, “Jangan main-main, adik Hee, Berapa biji batok kepalaku hingga aku berani melanggar larangan peebo? Akujusteru lagi bingung memikirkan dengan cara apa aku dapat menemui ibumu, supaya terwujudlah apa yang aku harapi bertahun-tahun"

"Harapan apa?" si nona memutus.”Ngaco belo."

Lantas dia memutar tubuh, untuk kembali ke dalam rimba.

 

"Adik Hee. Adik Hee." Kie Hong memanggil-manggil.

Yan Hee tidak menyahuti, ia pun tidak kembali, maka pemuda itu menjadi masgul dan menyesal, ia berdiri menjublak saja, tapi tak lama segera ia sadar, maka ia berseru seorang diri: "Celaka. Di dalam rimba tentu ada orang. Kalau tidak mustahil adik Hee mencurigai aku. Mesti hal ini segera diberitahukan pocu." Maka dia lantas laripergi.

 

Di dalam rimba, Yan Hee bingung berpikir.

"Tidak nanti Kie Hong berani lancang masuk ke mari?" demikian pikirnya, "Habis, siapa orang itu? Mungkinkah ia adanya?"

Lalu di depan matanya berbayang roman Tiong Hoa yang tampan.. Mengingat pemuda itu, Yan Hee lantas lari ke Coei Tek Hian.

Siauw Goat Hian tengah duduk membaca kitab, kapan dia mendengar tindakan kaki orang, ia mengangkat kepalanya

"Anak Hee, dapatkah kau menyandak?" nyonya itu tertawa. orang yang ditanya itu menggeleng kepala. sang ibu menutup kitabnya.

 

"Dia dapat lolos, dia lihai" katanya, "Coba lihat, apakah ini?"

Dari dalam kitabnya, ibu itu menarik ke luar sehelai kertas

Yan Hee menyambuti, ia lihat kertas itu ada tulisannya doIama huruf yang berbunyi: Membalik langit, memasuki bumi, dosa berlapis sukar lolos" ia heran. Tak mengerti ia maksudnya itu.

sang ibu menghela napas, ia kata perlahan "siapa banyak melakukan perbuatan tak benar, dia bakal celaka sendirinya, Kelihatannya ayahmu telah luber kejahatannya...”

 

 Anak itu kaget.

"Apakah yang ayah perbuat?" Dia tanya, "Dapatkah ibu duduk diam saja tidak menolong i?

Ibu itu mengasi lihat roman gusar, ia kata dingin, "Biar dia mati berlaksa kali, itu masih belum cukup untuk menutup dosanya, jikalau ibumu menolongi dia, ibumu bakal merusak kata katanya sendiri,”

Tapi habis berkata, dia menghela napas, agaknya dia berduka sekali.

Yan Hee tetap bingung, ia tahu ibunya bentrok dengan ayahnya tapi ia tak ketahui duduknya hal yang sebenarnya.

 

Sekonyong-konyong dari luar rumah terdengar tertawa yang nyaring yang disusuli perkataan ini: "Benar-benar cian ciee Kwan lm sadar dan cerdas. Lagi tujuh hari Yan Kee Po bakal ludas menjadi abu, melainkan coei Tek Hian akan utuh seperti tempat yang suci." Kembali tertawa yang nyaring yang berkumandang di dalam rimba bambu.

Yan Hee kaget dan heran, hendak dia lompat keluar, tetapi ibunya menarik tanganaya, ibu itu memasang telinganya, terus ia mengerutkan alisnya berulang kali, ia kata per lahan suara orang itu rasanya aku kenal baik.

Lalu meneruskan pada anak-daranya: "Anak, coba kau keluar, kasi lihat ada apa yang luar biasa."

 

Yan Hee lekas keluar. Lantas ia melengak. Di kiri rumah, belasan pohon bambu terbabat, babatannya rata. tetapi bagian yang terbabat itu tidak ada. Adakah semua batang bambu serta daunnya dibawa pergi? ia juga heran karena ia baru saja masuk ke dalam dan ia tidak mendengar suara apa-apa.

Orang jadinya bekerja sangat cepat dan tanpa suara. Bekas bacokan iuga menandakan itu bukan bacokan pedang atau golok hanya tangan. Cepat luar biasa Yan Hee lari balik ke dalam, ia menuturkan semua. cian cioe Kwan lm berdiam, agaknya dia berpikir, Akhirnya dia kata sendiri perlahan. "Oh. kiranya dia..."

 

 Yan Hee mementang mata lebar. "Siapa dia, ibu?" ia tanya.

"Siapa sebenarnya orang itu, ibumu tidak dapat menetapkan." sahut orang tua itu.

"Tapi pasti tujuh bagian adalah dianya. Tak heran dia mengatakan tujuh hari kemudian Yan Kee Po bakal ludas menjadi abu, Dia biasa berbuat benar dan berhati-hati, mungkin masih ada urusan yang membuatnya bersangsi dan belum dapat membereskannya. Mungkinkah ayahmu telah mengganggu dia?.

 

Sang anak heran, ingin ia minta keterangan pula. Mendadak ibunya memperlihatkan roman gusar dan kata kepadanya keras: "Anak Hee, lekas pergi ke depan kau tanya engko Hong kau, dalam beberapa hari ini apa lagi yang mereka kerjakan. Lekas pergi."

Yan Hee heran dilapis heran, akan tetapi mengingat urusan mestinya penting sekali, ia menurut, ia lantas lari keluar, Begitu ia keluar dari rimba, ia lantas bertemu dengan dua pelayan ibunya yang romannya gelisah sekali satu diantaranya lantas berkata padanya:

"Nona lekas pergi ke depan. Siauw pocu pulang dengan luka hebat sekarang dia tak sadarkan diri"

 

Yan Hee kaget dan berkuatir, ia memang menyayangi kakaknya itu. Tanpa menanya lagi, ia terus lari.

Di ruang depan ada banyak orang, berisik mereka itu, romannya tegang, Yan Hee membuka jalan dengan paksa diantara mereka itu, Maka segera ia melihat Yan Hong, yang mukanya pucat dan matanya tertutup, napasnya empas-empis, sedang tubuhnya mandi darah, Hoan-Thian ciang, dengan kedua tangannya, lagi menyalurkan tenaga dalamnya untuk menolongi puteranya itu.

Karena jidat ayah itu mengeluarkan banyak sekali keringat, teranglah lukanya Yan Hong tak ringan-

 

Cie-liong-kiam Pek Kie Hong melihat datangnya si nona, dia menghampirkan. Matanya si nona menyapu, melihat siapa yang mendekati ia, alisnya berbangkit. "Mana Lie Cie Tiong yang kemarin datang kemari?" ia tanya, "Kenapa dia tak nampak?"

Kie Hong terperanjat akan tetapi dia menetapi hati.

"Dia?" sahutnya, tertawa tawar, "Dia kata ada barangnya yang penting yang ditinggal di hotelnya di Tok lok, maka dia pergi tadi pagi-pagi untuk mengambilnya."

"Hm" bersuara si nona, yang kembali menoleh, mengawasi kakaknya.

Kie Hong berdiam, ingin ia bicara dengan si nona tetapi karena sikap nona itu terpaksa ia bungkam. ia mesti menahan hati.

 

Tak jauh dari muda mudi itu berdiri Tiat pie chong- liong Lauw Pou dengan kedua matanya yang bercahaya. Dia memperhatikan mereka itu berdua, sikapnya keren-

Setelah ditolongi ayahnya sekian lama keadaan Yan Hong mendingan- Dengan mukanya mulai bersemu dadu, ia membuka kedua matanya.

Im Cioe Hauw Hoen Hauw Boen Thong berdiri dibelakang Yan Loei, dia tidak sabar dan dengan roman dan suara bengis, dia lantas menanyai " Keponakan Hong, kau bertemu musuh liehay siapa itu? Lekas bilangi pamanmu" Ditanya begitu, Yan Hong merapatkan pula matanya.

 

Yan Loei dapat menerka hati anaknya Di situ ada banyak orang, anak itu tentu tidak suka sembarang bicara, Maka ia mengedipi mata pada Hauw Boen Thong sambil menitahkan orang-orangnya. "Siauw pocu perlu beristirahat, lekas bawa dia ke kamarnya." Perintah itu lantas dilakukan- empat orang, yang menggotong Yan Hong ke dalam.

 

Yan Loei mengikuti dengan diturut Hauw Boen Thong, Khong Jiang, Pek Kie Hong dan Yan Hee.

Begitu mereka berkumpul di dalam, Yan Hong berkata, "Tadi malam aku pergi ke kota Tek-lok. di sana mata-mata kita mendapat tahu Lao..." ia melihat adiknya, ia berhenti tiba-tiba.

Yan Loei berpaling kepada puterinya.

"Kata Pek Hiantit barusan ada orang memasuki Coei Tek Hian, dia dapat dibekuk ibumu

atau tidak?" ia tanya.

Nona Hee cerdik, ia tahu kakaknya tentu mau omong rahasia yang ia tak perlu dapat tahu, karena ia menduga urutan tentu mengenai musuh, di waktu ia menjawab ayahnya suaranya dingin.

"Orang itu dibiarkan bisa lolos." jawabnya. "Nampaknya ibu tidak memperdulikannya"

 

Yan Loei menggeleng kepala.

"Ibumu itu luar biasa" katanya, "Tempat baik-baik dijadikan daerah terlarang, sampai ayahmu tak memperkenankan masuk ke situ, orang kita dapat melihat ada orang masuk ke situ, mereka cuma dapat mengawasi saja,” la menambahkan " Ibumu tentu belum tahu kakakmu terluka, pergi kau kepadanya untuk memberitahukannya sekalian kau minta, untuk kali ini agar dia datang melihatnya,"

 

Yan Hee menduga ia hendak disuruh berlalu, setelah bersangsi sebentar, ia mengangguk. "Baik, aku nanti coba, katanya. Aku kuatir ibu tidak mau mengadakan kecualian..." Lantas dia bertindak pergi.

Seperginya sang adik, Yan hong lantas melanjuti keterangannya.

Yan Loei telengas, kalau dia mau melakukan sesuatu, tak kepalang, dia membinasakan semua orang yang bersangkutan untuk menutup semua mulut. ia ingin orang tak ketahui perbuatannya, supaya namanya tak tercemar. Kali ini ia tak beruntung membersihkan diri,

000

 

Di kota raja ada seorang berpangkat Hoe-pouw siang sie, namanya souw Ceng Kit, dia mempunyai sebuah mustika logam asar see Hek. wilayah Barat, namanya Ngo sek Kim-ho, emas

panca warna.

Logam itu dapat di-buat menjadi pedang mustika, yang tajam luar biasa, dapat memutuskan rambut, dapat memecah batu, dapat juga merusak tenaga dalam. Logam itu sangat diingini kaum Rimba Persilatan-

 

Souw siangsie mempunyai seorang anak. Siang Hoei namanya anak itu menjadi muridnya lm san le soe, orang kosen dari perbatasan selama anaknya lagi belajar silat, siangsie itu mau mengirim logamnya itu buat dijadikan pedang, tetapi lm san ie soe menampik, katanya dia lagi repot, nanti saja sesudah Siang Hoei tamat belajar dan turun gunung. sekarang Souw siangsie mau pulang ke kampungnya, ia mengundang enam belas guru silat sebagai pengantarnya.

Lao san sam Eng mendengar selentingan tentang logam mustika itu, mereka ingin memilikinya, lantas mereka menguntit, guna menanti ketika yang baik buat turun tangan. Mereka tidak tahu logam itu telah dijanjikan kepada lm san lesoe, kalau tidak. tidak nanti mereka berani memikir yang tidak-tidak.

Rombongan souw siangsie bakal lewat di Tok lok, di baratnya, di sebuah tempat yang dinamakan perhentian- Kenyang makan asem garam, Kee beng- ek. Tempat itu dipilih sam Eng sebagai tempat bekerja, itulah tempat belukar dan sepi di mana jarang ada orang berlalu- lintas, Tapi Kee beng ek termasuk dalam wilayah pengaruh Yan Loei, maka itu sam Eng pergi mengunjungi Yan Kee Po, guna memberitahukan maksudnya.

 

Yan Loei memberi perkenannya. Tapi dia licik, dia biasa bekerja menggelap. Dia juga menghendaki Ngosek kim bo itu. Mulanya dia belum tahu jelas dan mengira saja itulah

mustika, kalau baru emas dan perak Lao san sam Eng tidak nanti ketarik hatinya dan mau menguntit dari tempat demikian jauh. Dia lantas mengatur untuk bekerja.

Dia menugaskan Yan Hong dan delapan pembantu pilihan. Malam itu yang Yan Hong bertemu Tiong Hoa di Cip Poo Lauw, itulah saatnya dia mesti pergi ke Kee-beng-ek. Jamnya adalah jam tiga. sementara itu pada jam dua, Yan Hong menyuruh satu orangnya pergi menemui Souw siangsie, dengan mengaku diri orang Koen-loen-pay, orang itu mesti membeber rahasia bahwa Lao san sam Eng bersama dua puluh lebih penjahat besar hendak melakukan pembegalan- la mengusulkan Souw siang sie bekerja di dua jurusan, yaitu diam-diam mengantar mustika pulang keTaytong, kampung kelahirannya, di lain pihak mengatur daya guna meringkus semua begal itu.

 

Souw siangsie percaya keterangan itu, Empat pengantar lantas diperintah berangkat lebih dulu membawa logam mustika itu. sedang pemberi warta itu, yang mengaku bernama Tio-tong, diminta berdiam bersamanya di tempat mondok, katanya guna membantu lainnya.

Seberangkatnya rombongan empat pengantar itu, Yan Hong serta enam pembantunya orang-orang pilihan itu lantas menyusul.

 

Di luar dugaan, Lao san sam Eng tiba di Kee-beng-ek pada sebelum jam tiga yang menjadi batas tempo itu, mereka heran melihat berlalunya dua rombongan orang. Lantas mereka menduga, terus mereka menyusul.

Tio-tong tetiron menjaga diatas genting perhentian- Dia melihat gerak gerik ketiga Elang itu, dia kaget, tapi segera dia mendapat pikiran, maka dia minta belasan pengantar pergi menyusul, dia sendiri berdiam terus untuk melindungi Souw siangsie.

 

Dengan akal ini ia ingin sendiri saja dia merdeka memaksa Souw Siangsie menyerahkan Ngo-sek Kimbo. Dengan golok terbunus, dia mengancam Souw siangsie. Di luar dugaannya, dua busu kembali, kedua bu-su ini bercuriga, lekas-lekas mereka balik. Tepat mereka memergoki Tio Tong, maka mereka menyerang membinasakan orang palsu itu.

Keempat busu baru berjalan lima lie lebih, mereka tercandak rombongannya Yan Hong, lantas mereka diserang dan kena dibinasakan serta barang yang dilindunginya, yang berharga, kena dirampas.

 

Yan Hong girang sekali, ia merasa sangat puas dengan kesudahan sepak terjangnya itu. Justeru ia lagi kegirangan, datanglah bencana yang tak tersangka-sangka, itulah tibanya Lao san sam eng, yang terus menyerbu, Kesudahannya pertempuran ini hebat sekali.

Yan Hong terluka parah pundaknya dan enam kawannya terbinasakan senjata rahasia yang beracun dari sam Eng. Yan Hong sebera kabur, syukur dia ditolongi Lie Tiong Hoa.

 

Bu-su yang dipedayakan Tio-tong tiba di tempat kejadian untuk menyaksikan saja mayat-mayat bergelimpangan logam mustika tak nampak. mereka lantas lari pulang, untuk menyampaikan kabar buruk itu.

Souw siangsie menjadi sangat gusar, ia terus mengadu pada camat di Tok-Iok dan mendesaknya agar penjahatnya ditangkap ia tidak tahu bahwa perbuatan itu perbuatannya Yan Hong, dan ia menduga Tio-tong itu orang sebawahannya Lao san sam Eng.

 

Ketika Yan Hong dapat lari pulang, ia menuturkan segala apa pada ayahnya. Yan Loei yang cerdik lantas memikir, tak dapat tidak Lao san sam Eng mesti disingkirkan dan Lie Tiong Hoa pun mesti dipancing ke rumah-nya, untuk dengan melihat gelagat menyingkirkannya.

Lao san sam eng di lain pihak setelah dikalahkan Tiong Hoa, menjadi semakin gusar dan panas hati. Mereka menduga Yan Kee Po hitam makan hitam. Untuk melampiaskan kemendongkolanny a, mereka lantas menyiarkan kabar angin bahwa kejahatan itu perbuatan Yan Kee Po.

 

Dalam tempo dua jam, Yan Loei telah mendengar kabar angin itu, Dia menjadi semakin gusar, Lantas dia mencari tahu tempat kediamannya sam Eng, untuk bertindak menyingkirkannya.

Kedua pihak lantas main muslihat. sam Eng sengaja membikin tempat mondoknya ketahuan, tapi mereka tidak berdiam tetap di situ, mereka kabur ke arah siauw Ngo Tay san-

Yan Hong menyusul ke gunung itu. Baru ia sampai dimulut gunung, ia sudah dihadapkan seorang tua berbaju kuning, yang menunjuki roman gusar, ia tidak tahu takut ia juga tidak kenal orang tua itu, ia lantas menyerang.

"Anak muda tidak tahu mampus" orang tua itu membentak. "Kau cari mampusmu"

 

Lantas Yan Hong merasakan tolakan yang kuat luar biasa, tubuhnya terus terlempar ke bawah jurang dalam beberapa puluh tombak. hingga ia merasai tubuhnya seperti remuk, terus ia tak sadarkan diri.

ooo

 

"Syukur kaujatuh dirumput," kata Yan Loei kaget, mendengar keterangan anaknya itu, jikalau tidak. tentulah jiwamu sudah hilang, Kau didapatkan oleh orang kampung yang

mengenalmu, maka kau diantar pulang.

"Siapakah orang tua berbaju kuning itu?" Yan Loei tanya Hauw Boen Thong, yang ia awasi.

"Hauw Loosoe banyak penglihatannya dan luas pendengarannya, mungkin loo-su ketahui.....

Hauw Boen Thong berpikir, lantas matanya bersinar. "Ah, jangan- jangan dia siluman tua.." katanya terkejut.

 

Belum berhenti suaranya itu maka dari atas genting terdengar suara tertawa nyaring serta kata-kata ini. "Bagus kamu ketahui si siluman tua"

Yan Loei dan Boen Thong kaget, hampir berbareng mereka bertempat keluar dari jendela.

ooooo

 

BAB 6

CIE-LI0NG-KIAM Pek Kie Hong juga turut menyusul, Maka ketiganya dengan cepat terus lompat naik ke atas rumah. Mereka melihat orang yang tertawa dan berkata-kata itu, Dialah seorang tua dengan baju kuning. Dia agaknya tidak menghiraukan ketiga orang ini, dia tertawa hanya berdiri membaliki belakang.

 

Yan Loei dan Hauw Boen Thong tefkejut, Merekalah orang-orang yang telah banyak makan asam-garam. Tidak demikian dengan Pek Kie Hong. Anak muda itu maju terus, sambil membentak dia menyerang, mengarah jalan darah bun-hu di punggung orang tua itu.

sekonyong-konyong si orang tua tertawa nyaring, tubuhnya terus berputar, tangan bajunya yang panjang berbareng menyampok.

 

Kie Hong kaget tidak terkira. Mendadak ada serangan angin hebat ke arah mukanya.

Kontan dia susah bernapas, karena dadanya menjadi sesak dalam sedetik. Tapi dia masih ingat untuk mengundurkan diri, dia lantas berlompat.

Tapi sudah kasip. si orang tua mendahului lompat maju, menyamber tangannya, Hanya sekejap. dia merasakan sakit dan tenaganya lenyap. pedangnya terlepas dari tangannya.

Si orang tua rupanya tidak memikir mengambil jiwa orang, habis menyamber, ia melepaskan cekalannya, justru itu Yan Loei dan Hauw Boen Thong menyerang dengan berbareng, Mereka ini mau menolongi pemuda she Pek itu.

 

Si orang tua tidak mau melayani, dia menggeraki pedangnya sambil tubuhnya mencelat bagaikan terbang cepatnya, dia berlompat ke dalam rimba, untuk segera menghilang...

Ketika itu pun datang menyusul banyak orang Yan Kee Po akan tetapi mereka tidak dapat berbuat apa apa. Mereka menyerang dengan senjata rahasia tanpa hasil. Pek Kie Hong berdiri menjublak. la gusar dan berduka karena lenyapnya pedangnya.

Justeru itu mendadak Hauw Boen Thong berteriak matanya bersinar kaget, mukanya menjadi biru dan pucat.

Semua orang kaget, semuanya menofeh. Mereka lantas menjadi lebih kaget lagi.

 

Orang she Hauw itu terpapas ujung bajunya, hingga terlihat tulang lengannya yang kurus, la baru ketahui itu ketika sang angin menyamber padanya dan lengannya itu terasa dingin, tempo ia melihatnya, ia memperdengarkan teriakannya itu.

Itulah hasil pedang Kie Hong yang dirampas si orang tua. syukur dia tidak telengas, kalau tidak. mungkin dia dapat menguntungkan lengannya Im Cioe Jiauw Hoen- Tapi ini juga sudah cukup untuk membikin ciut hati orang, ia hanya menjadi sangat mendongkol dan menyerah ialah seorang Kang ouw kenamaan tetapi sekarang ia telah dibikin menjadi tidak berdaya...

 

Yan Loei juga gusar dan masgul sekali, ia malu, Bukankah ia telah dirobohkan bahkan di sarangnya sendiri? ia mengerti, itulah alamat bencana untuk Yan Kee Po yang kesohor kuat.

"Yan Peehoe, siapakah itu setan tua berbaju kuning?" kemudian Pek Kie Hong tanya Yan Loei, Dia menjadi lesu sekali.

Yan Loei belum menjawab atau Boen Thong telah mendahuluinya. Dengan sengit orang sh e Boen ini kata: "Bocah, kau tahu dia siapa? Dialah siluman tua Thian Yoe yang dulu hari telah menjadi pecundangnya Hok In siang-jin-- Hm-- Hm. Kau lihat, segera bakal datang pertunjukan berikutnya yang menarik hati."

Dari suaranya nyata Boen Thong sangat tidak puas dan ingin menuntut balas.

 

Kie Hong kaget hingga ia merasa matanya kabur. ia lantas mendapat perasaan bahwa pedangnya itu tak bakal kembali kepadanya, ia masih muda tetapi pendengarannya sudah banyak maka ia tahu siapa Thian Yoe Sioe, satu jago dari hampir enam puluh tahun yang lampau, sedang pada tiga puluh tiga tahun yang lalu, pernah dia dikeroyok ketua-ketua Boe Tong Pay, Khong Tong pay dan Siauw Lim Pay, selama dua hari satu malam, mereka itu masih tak dapat menang di atas angin- pertempuran satu melawan tiga itu terjadi di depan air tumpah di gunung Louw yan.

Syukur Thian Yoe sloe -- meski dia jumawa dapat berlaku sabar, hingga dia puas dengan satu kesudahan seri, tak ada yang menang dan tidak ada yang kalah, sama-sama tangguh.

Hanya karena dia dikepung bertiga, dia toh mendapat nama, dengan sendirinya namanya jadi terkenal sekali dan dimalui.

ooo

 

Thian Yoe sioe berasal seorang anak yatim piatu, Dia she Kie. Karena sebatang- kara dan hidupnya melarat dan bersengsara, dia sering dihina orang, syukur kemudian dia bertemu seorang berilmu dan dipelihara dan serta di didik sempurna hingga dia memperoleh kepandaian silat yang luar biasa. penderitaannya berpikiran tak seperti banyak orang.

Dia bertabiat keras. Dia bertindak menurut apa yang dia sendiri rasa baik, Karena itu, dia tak disukai baik kaum sesat maupun kaum lurus, Maka tetap dia suka hidup menyendiri, tetap dia membawa tabiatnya itu. Kurban- kurbannya, kedua kaum lurus dan sesat, tak kurang dari seratus jiwa.

 

Barbareng sama Thian Yoe sioe maka di puncak tertinggi gunung Koen Loen san Barat ada hidup seorang gagah yang dipanggil Hok In siangjin, yang pun dikenal sebagai Boe Lim it seng. Nabi tunggal kaum Rimba Persilatan- Tak tenang hatinya orang kosen ini melihat sepak terbangnya Thian Yoe sioe itu, Maka ia mengundang Thian Yoe sioe datang ke gunungnya untuk berunding.

Thian Yoe sioe menerima baik undangan itu dan datang ke Koen Loen san Barat, Ketika dia tiba- d i kaki gunung, ada orang yang melihatnya, maka habis itu, timbullah omongan diluaran bahwa dia sudah menempur Hok In-siangjin-

 

Hok In siangjin seorang pendeta berilmu dan sabar maka itu begitu bertemu Thian Yoe sioe, ia berlaku sabar sekali, ia ingin Thian-Yoe sioe merubah adatnya, sikapnya ini membikin Thian Yoe sioe dari panas hati menjadi tenang. ia pun menuturkan riwayat hidupnya nyata semasa kecilnya, ia lebih menderita daripada Thian Yoe sioe.

Sebagai seorang cerdik, ia tidak omong perihal ilmu silat, ia tidak menimbulkan hal sepak terjangnya Thian Yoe sioe.

Thian Yoe sioe tidak bertanding, sebaliknya dia insaf keluhuran budi Hok in siang-jin- Kata-katanya pendeta itu menyadarkan padanya.

 

Kata Hok In siangjin: "Manusia itu kebanyakan merasa dirinya yang benar, karenanya dia suka menegur kesalahan lain orang, Mata manusia seperti kaca rasa, cuma bisa melihat kesalahan lain orang, tak dapat melihat cacad sendiri, Manusia itu mana bisa tak melakukan kekeliruan? Karena itu. baiklah orang saling mengerti, jangan sampai menjadi mencelakai diri sendiri Manusia itu, karena masing-masing pengalamannya, menjadi beda satu dari lain, toh pokoknya tetap satu, tak ada perbedaan jahat dan baik, yang harus diutamakan yalah kesadaran, lalu memeriksa diri sendiri agar tidak sampai berbuat keliru."

Satu hari satu malam mereka memasang omong, hati Thian Yoe sioe jadi tertarik.

 

Kemudian Thian Yoe sioe menimbulkan ilmu silat, Dia merasa bangga pada dirinya, ilmu silat itu dalam seperti lautan." kata Hok In siang-jin bersenyum. "Ilmu silat tidak ada batasnya, Tidak demikian adalah usia manusia, yang telah ditetapkan dengan batas waktu seratus tahun- oleh karena itu loolap tidak suka bicara tentang ilmu silat atau bentrok bicara karenanya, ilmu silat dapat mengacaukan pikiran dan membuatnya orang suka berebutan-"

 

Thian-Yoe sioe tahu Hok In siangjin sabar dan suka mengalah, tetapi dia penasaran, dia minta mereka berdua mencoba-coba..Hok In kena terdesak. la menjanjikan pertandingan hanya seratus jurus, bahwa ia- cuma akan membela diri, tidak akan menyerang, sementara gelanggangnya cuma luas lima kaki seputarnya. Katanya, siapa yang keluar dan gelanggang, dia kalah.

 

Thian Yoe-sioe percaya kelihaiannya, dia terima baik syarat itu. Dia tidak percaya dalam seratus jurus orang tak akan lompat keluar gelanggang. Maka itu, begitu mulai, dia lantas keluarkan kepandaiannya. Dia ingin memaksa pendeta itu keluar dari gelanggang.

Tapi Hok in siangjin liehay sekali, Walaupun dia terus diserang dan setiap penyerangan berbahaya, dia selalu dapat menghindarkan diri, dia bermata jeli dan bertubuh ringan dan gesit, Dia bergerak lincah bagaikan bayangan.

 

Thian Yoe sioe penasaran, ia mengubah cara penyerangannya, tetapi tetap ia tidak memperoleh hasil, Ketika sampai di jurus ke seratus, Hok in siangjin mengalah. Dia bukan keluar dari gelanggang hanya menginjak batasnya. Dengan begitu pertandingan itu berkesudahan seri.

Thian Yoe sioe menginsafi liehaynya pendeta yang sangat sabar itu.

 

Ketika Thian Yoe soei pamitan, Hok in siangjin mencekal tangannya jago itu dan kata dengan roman berduka. "Kita berdua sudah sama-sama berusia lanjut. Manusia itu dapat hidup berapa lama? Hari dan bulan lewatnya dapat dihitung denganjari tangan, di dalam dunia ada berapa orangkah yang memperoleh kesadaran? Maka daripada itu sang Budha mengatakan, "Dia mengutamakan membantu orang menyadarkan diri, Kita sekarang bakal berpisahan, entah kapan kita dapat bertemu pula, dari itu, mengingat KieTayhiap adalah seorang dengan muka dingin dan hati panas, suka loolap. menasehati agartayhiap ingat kepada kebijaksanaan Thian dan di mana bisa, sukalah memberi ampun kepada orang"

 

Thian Yoe sioe menginsafi nasehat itu, maka setelah turun gunung, banyak dia merubah sepak terjangnya, justeru karena dia merubah kelakuan, dalam Rimba Persilatan muncul cerita dia telah ditakluki Hok In siang-jin, bahwa dia telah mendapat luka di dalam hingga tak lagi dia dapat berkelahi. Bahkan paling gila, ada yang menyiarkan berita bahwa ia menyaksikan sendiri pertempuran di antara Hok In siang-jin dan Thian Yoe sioe serta bagaimana dia dikalahkannya.

Thian Yoe sioe mendapat dengar semua omongan itu, dia tidak menjadi gusar, sebaliknya dia menyambutnya sambil bersenyum.

 

Di lain pihak. dia bertabiat keras, Dia tahu betul ilmu silatnya masih kurang, dia mencoba belajar terus, maka dia lantas menciptakan suatu ilmu silat baru, yang dia beri nama "Kie Yauw seng Hoei sip sam sie." atau tiga belas jurus "Bintang Terbang." ia membuat bukunya, ia membikin gambarnya, Tiga tahun waktu yang ia pakai untuk menciptakan ilmu silatnya itu itulah ilmu silat guna melawan Hok In siangjin- ilmu silat siapa ia perhatikan selama pertarungannya itu.

Setelah itu, ia memikir mencari murid guna mewariskan kepandaiannya, supaya si-muridlah yang nanti pergi cari murid Koen Loen Pay untuk mencoba ilmunya itu.

 

Selama tiga puluh tahun Thian Yoe sioe masih tidak mendapatkan murid yang ia cari itu, ia ingin mendapatkan murid yang berbakat dan hatinya lurus.

Selama itu ia terus merantau, Pada satu waktu di propinsi Kwie tay, di gunung tay-beng-san, ia bertemu dengan Tay Beng sam shia, si tiga sesat dari gunung Tay Beng sin itu ia dihina, katanya ialah pecundangnya Hok Io sangjin. la di katakan tidak tabu malu, sudah kalah, bukan mencari balas, hanya hidup terus tanpa berdaya, ia tidakpuas, ia menantang Tay Beng sam shia, maka bertempurlah mereka satu lawan tiga.

 

Tay Beng sam shia benar benar liehay, Mereka seri. Kesudahannya Thian Yoe sioe menjanjikan pertempuran tiga tahun kemudian- Lebih dulu daripada itu, ia tertawakan tiga lawannya, yang dikatakan tak tahu diri dan buktinya mereka tak dapat mengalahkannya, Maka ia tanya. "Kenapa kamu tidak mau menantang buat lagi tiga tahun-"

Demikian pertandingan mereka dilakukan setiap tiga tahun, saban-saban tempatnya dirubah, sampai paling belakang mereka bertanding di siauw ngotay-san- Kali ini Thian Yoe sioe menjadi sebal. Mengingat Tay Beng sam shia bangsa busuk dan jahat. ia lantas menggunai racun ularnya.

 

Tay Beng sam shia tak tahu akal orang, mereka kena diracuni tempo mereka sadar, mereka lantas menyerang hebat pada musuhnya yang dikatakan curang itu sayang mereka mati lebih dulu, Kemudian Thian Yoe sioe roboh sendirinya, sampai ia ditolongi Lie Tiong Hoa.

Ia melihat anak muda itu berbakat baik, tempo ia dapat kenyataan orang jujur, suka ia menolongi, bahkan di samping memberi obat, ia menghadiahkan juga kitab silatnya itu.

Baru berlalu beberapa puluh tindak. Thiao Yoe sioe mendapat satu pikiran, Dia kata

dalam batinya: "Aku sudah tua, tak dapat aku bawa kepandaianku ke dalam liang kubur, Kitabku sulit dimengerti, tanpa penjelasanku, sukar untuk dipelajari. Mungkin dia membutuhkan tempo sepuluh tahun. Kenapa selagi aku masih hidup ini, aku tidak. mau pakai tempo satu atau dua tahun guna mendidik dia?"

 

Maka itu, ia lantas kembali, ia terus menguntit Tiong Hoa. segera ia melihat pemuda itu mahir ilmu ilmu ringan tubuhnya, hingga ia heran-

Di Cip Poo Lauw Thian Yoe sioe melihat Tiong Hoa berkenalan dengan Yan Hong. ia mau menduga, kecuali dia hijau, Tiong Hoa mesti mengandung sesuatu maksud. ia kuatir pemuda ini sembarang menurunkan kepandaiannya itu, maka ia menguntit terus. Di sungai siang Kian Hoo, ia melihat kepandaiannya si anak muda, ia menjadi kagum- maka ia mau menyelidiki terus.

Kemudian, ketika Thian Yoe sioe kembali ke siauw Ngo-tay-san, di mulut gunung ia bertemu dengan Yan Hong, puteranya Yan Loei ini terkebur, dia tidak tahu si orang tua orang macam apa, dia lantas menyerang. Thian Yoe sioe paling tidak suka orang bermulut besar, maka itu, ia menolak hingga anak muda itu jatuh kejurang,

 

Habis itu muncullah Lao san sem Eng secara tiba-tiba, Mereka itu kenal jago tua ini, mereka menemui dengan sangat hormat, bahkan mereka menerangkan bahwa Yan Kee Po biasa "hitam makan hitam, jahatnya bukan buatan." Thian Yoe sioe menjadi gusar. Ia menjanjikan akan mencari keterangan dulu, sesudah itu suka ia membantu sam Eng.

 

Besoknya Thian Yoe sioe pergi ke Yan Kee Po, Tidak berhasil ia menguntit Lie Tiong Hoa. ia tidak tahu pemuda itu telah diakali Pek Kie Hong dan telah dijebak dalam perangkap. Tempo ia sampai dikamarnya Yan Hong. tepat ia mendengar Hauw Boen Thong mengatakan ialah si "siluman tua." "maka ia tertawa berkakak.

 

Di waktu bertempur dengan Pek Kie Hong, Thian Yoe sioe heran mendapatkan ada orang berlompat pesat melintasi rimba, maka ia mau menyusul, untuk melihat siapa orang dari itu, ia lantas merampas pedangnya Kie Hong. Tentu sekali Kie Hong sakit hatinya karena pedangnya itu pedang pusaka tiga turunannya. Di lain pihak, dia telah sangat tergila-gila pada Yan Hee. Maka itu, setelah melengak. dia bukan lompat turun, dia justeru lari kearah Coei Tek Hian-

BeIum jauh dia lari, Kie Hong dibikin heran oleh satu orang yang tiba-tiba muncul dari belakang sebuah batu besar, orang itu memakai kedok dan gerakannya sangat enteng dan gesit, Gerakan itu juga yang dinamakan Tay-in-Iiong pat sie atau Naga dalam mega, ia heran orang bernyali begitu besar berani muncul di siang hari di dalam rimba itu yang merupakan gedung naga atau guha harimau, ia menguntit terus.

 

Orang bertopeng itu pergi ke Teng le Hian dimana dia turun dibawah payon, Mendadak di situ dia menghilang.

Pek Kie Hong heran, hingga ia mau menyangka Lie Cie Tiong dapat keluar dari liang jebakan, tetapi ia tahu pasti, tak nanti orang lolos dari perangkap itu dimana telah roboh banyak kurban jiwa, Karena ini, ia lantas menyusul.

Segera ia menjadi kaget. ia melihat runtuhnya belasan penjaga rahasia dan si orang bertopeng tak nampak. Diwaktu ia memeriksa, ternyata semua penjaga itu roboh karena totokan pada jalan darah. ia lantas menotok mereka itu, untuk menyadarkan, guna menanyakan keterangannya.

 

Jawaban mereka serupa saja. Mendadak mereka merasa angin dingin bersiur, lantas mereka tak ingat apa-apa lagi, Mereka tidak melihat sekalipun bayangan penyerang itu.

" Hebat," pikir Kie Hong, yang menyedot hawa dingin. ia lantas merasa bahwa bencana besar lagi mengancam. Karena ini, hatinya menjadi tidak tenang. ia sebenarnya cerdas tapi hilangnya pedangnya dan kecantikan Yan Hee membuatnya berotak butek.

 

Tengah Kie Hong berdiri menjublak itu, ia merasakan sampokan angin dari arah belakangnya, ia kager, ia lantas mendak. seraya memutar tubuh, ia menyerang, ia menduga pada orang jahat yang membokongnya. Ketika ia menoleh, ia kaget hingga ia berseru tertahan ia pun mundur dengar terhuyung, serangannya ditarik pulang. Di depannya berdiri Yan Hee dengan romannya yang dingin, matanya menatap tajam. "Adik Hee ..." katanya jengah.

"Aku kira siapa berani sembarang turun tangan di sini, kiranya kau, kakak Pek" kata si nona. "Pantas, pantas !"

"Jangan salah mengerti, adik Hoe." kata Kie Hong gugup, "Biarnya kakakmu bernyali besar, tidak nanti dia berani menyerang kau. Inilab sebab..."

sinona mengulapkan tangan mencegah orang bicara terus, tapi tiba-tiba ia bersenyum untuk menanya: " Kakak Pek, kenapa kau tidak berani turun tangan atas diriku?"

 

Hati Kie Hong berdebaran, Hebat senyuman manis itu,

“Adik Hee, apakah kau masih belum ketahui hati kakakmu ini? "ia tanya, "oleh karena kau, aku menjadi tak dapat dahar. Aku bersedia mengorbankan jiwa untuk cintaku. Mustahil kau masih belum tahu?"

Muka si nona menjadi merah. ia lantas menoleh kepada orang-orangnya, yang barusan ditolongi Kie Hong, Mereka itu mengerti, mereka memberi hormat, lantas mereka mengundurkan diri.

 

Seberlalunya mereka, Yan Hee melirik Kie Hong.

"Benarkah katamu barusan?" ia tanya perlahan. "Aku melihat kau menganjurkan ayah dan kakakku berbuat jahat, perbuatan kau itu busuk sekali, aku menjadi takut datang dekat padamu."

Selagi berkata begitu nona Yan mempermainkan matanya dan senyumannya yang dapat menyopotkan jantung .

"Aku sumpah, adik Hee." kata si anak muda cepat, "Oh adikku, kau bikin aku penasaran- Setiap tahun dua kali datang ke mari, maksudku tidak lain untuk aku dapat bergaul erat dengan kau sayang sampai begitu jauh, sikapmu dingin terhadapku. Sudah begitu, sekarang kau mengatakan hatiku busuk, inilah hebat."

Sebagai orang licik, Kie Hong lantas bersandiwara, memperiihatkan roman menyesal dan

lesu.

 

Yan Hee tertawa nyaring.

"Aku tidak sangka kau pandai bicara, kakak Pek” katanya, Mendadak dia kata pula, dengan sikap dingin dan suara kaku: "Setanlah yang mau percaya kau selama dua hari ini kau kasak-kusuk saja dengan kakak Hong, lakumu sebagai laku setan Lihat, sekarang orang melakukan hebat sekali kepada kakak Hong. Bukankah itu bukti kau telah bersekongkol dengannya?"

 

Mukanya Kie Hong menjadi pucat, "Itulah urusan kakakmu sendiri, denganku tak ada sangkut pautnya," ia kata keras, untuk menyangkal " itulah disebabkan suatu mustika dalam Rimba Persilatan- Barang itu, andaikata saudara Hong tidak menghendakinya, lain orang pasti akan menurunkan tangannya"

Yan Hee agaknya bersangsi.

"Sebenarnya apakah itu, ia tanya: " Kenapa benda itu demikian berharga?"

Kie Hong menyeringai

"Itulah sepotong logam Ngo sik kim-bo." sahutnya, " itulah barang mustika dari see Hek. Meski saudara Yan telah hasil mendapatkan itu, akibatnya akan hebat, Banyak orang Kang-ouw yang lihai mengincar itu, Maka aku percaya, Yan Kee Po bakal menghadapi hujan hebat dan badai, hingga orang sukar tidur dengan tenang. oleh karena itu, pedang turunanku juga telah turut hilang."

Selagi mengucapkan yang terakhir ini, Kie Hong nampak sangat mendongkol.

 

Yan Hee kurang pergaulan, tak tahu ia Ngo-sek Kim bo itu benda apa, tetapi karena ayah dan kakaknya sangat menghendakinya, ia percaya itu benar mustika berharga. sekarang ia mendengar Kie Hong kehilangan pedang, ia mengawasi anak muda itu. Benar saja pedang orang tak ada di punggungnya.

"Ah, tidakkah ini jadi berarti si pengemis kehilangan Ularnya?" ia kata sambil tertawa geli. Habis itu mendadak ia lompat untuk pergi menghilang,

 

"Adik Hee." Kie Hong berseru sambil menyusul, Untuk sejenak ia kaget, lantas dia sadar pula.

Yan Hee berlari-lari terus di dalam rimba, berlegat-legot seperti ular tidak mau berhenti.

Kie Hong habis akal, ia berhenti berlari Tidak berani ia turut masuk.

"Adik Hee Adik Hee" ia memanggil berulang-ulang. Tidak ada jawaban kecuali daun bambu bergoyang-goyang

Percuma Kie Hong memanggil manggil, Yan Hee tetap tidak kembali atau menyahuti, ia menyesal sekali sebenarnya ia mau menasehati dan mengajak si nona turut ia meninggalkan Yan Kee Po. untuk pulang ke Tong Teng ouw, Tentang pedangnya ia memikir untuk mencarinya ganti, dibelakang hari.

 

Tengah ia berduka itu, dari dalam rimba muncul dua orang nona dengan baju hijau. satu di antaranya, yang mukanya potongan telur angsa, yang romannya manis sekali dengan alis bangun berdiri, lantas membentak:

"Mau apa kau bikin berisik di sini? Apakah kau tidak mau lekas pergi? jikalau kau membikin kaget nyonya majikan, itu artinya jalan mati untukmu."

Kie Hong menjadi nmendongkol, ia memang lagi berduka dan penasaran. Alisnya lantas terbangun, maka dua kali dia tertawa dingin.

"Leng Bwe,j angan kau menjadi anjing yang mengandal pengaruh orang." dia kata sengit, "Tuan muda kau toh tidak menginjak sebelah kaki juga pada rimba mu ini. Taruh- kata nyonya majikanmu keluar, aku tidak takut, apalagi nyonya majikanmu itu bukannya orang yang tidak mengerti aturan, Hm. jikalau aku tidak memandang nona Hee, hari ini sedikitnya aku mesti patahkan dua tulang rusukmu."

 

Leng Bwee, si budak. tidak gusar, tetapi dia berkata dingin. "Aku kira kau tak dapat-sering nonaku mengatakan bahwa Pek Kie Hong ceecu muda dari benteng darat dan air dari Tong Teng ouw itu adalah orang yang di luarnya seperti emas dan kemala tetapi didalamnya busuk dan bahwa didalam dadanya dia tidak mempunya i pelajaran sedikit juga, dia cuma pandai omong besar menggertak orang sekarang aku melihat lagak kau ini, nyatalah benar kata kata nonaku itu siauw cecu, jikalau kau dapat mengalahkan Leng Bwee dalam sepuluh jurus, nanti aku minta nonaku datang menemui kau Kau setujukah?"

 

Hebat hinaan ini, terutama untuk Pek Kie Hong, orang yang di pelbagai propinsi tenggara. titahnya dihormati seperti gunung roboh, sebaliknya sekarang di Yan Kee Po, ia dipermainkan seorang budak perempuan yang tak ada namanya, mana dapat dia menahan sabar? Akan tetapi, malang, masih ada orang yang ia harapkan dan yang ia jerikan.

"Kabarnya nyonya dari Yan Kee Po, Cian cioe Kwan im Siauw Goat Hian, seorang ahli silat bagian dalam yang liehay sekali, terutama ilmu pedang dan senjata rahasianya yang kesohor di selatan dan Utara sungai Besar, maka itu, apakah kedua budak ini telah menerima warisan majikannya? Kalau aku lawan dia, menang atau kalah, jelek dua-duanya buat aku, bahkan itu pun dapat membikin adik Hee mendapat kesan buruk terhadapku..."

 

Dasar cerdik, biarnya dia sangat gusar. Kie Hong dapat menguasai dirinya.

"Encie Leng Bwee, aku harap kau maafkan aku buat kata-kataku barusan." dia berkata bersenyum. "Aku mempunyai berapa nyali maka aku berani main gila di Coet Tek Hian ini? Aku minta, encie, tolong kau undang keluar nonamu, Budimu ini aku nanti ingat baik-baik, nanti aku balas."

Anak muda ini tidak cuma bicara hormat dan manis itu, bahkan dia menjura dalam. Leng Bwee menyingkir ke samping, tetap ia bersikap dingin.

"Tidak berani aku terima hormatmu ini" katanya, "AkuIah seorang budak perempuan, mana dapat aku menerima hormatnya seorang cecu muda.."

 

Melihat dan mendengar semua itu. budak yang satunya, yang sedari tadi diam saja tertawa sambil menutupi mulutnya.

"Encie Leng Bwee," ia berkata, sekarang aku melihat, maka benarlah apa yang dikatakan nona Hee kita. Tadinya aku, si Cioe Kiok. tidak percaya sama sekali, sekarang aku percaya betul, Nona memang bilang, orang ini tidak dapat keras, dia dapat lunak. dia tidak mempunyai semangat sedikit juga, sekarang ternyata tulang-tulangnya benar lemas.”

Habis berkata begitu, ia tertawa pula tak hentinya.

 

Habis sabarnya Kie Hong, sambil berteriak dia menyerang budak itu, tangan kanannya meluncur ke dada kanan orang.

Merah mukanya Cioe Kiok karena orang demikian ceriwis, ia mencelat kesamping,

sebelah tangannya meny amber, dua buahjerijinya mencari sikut kanan penyerangnya itu. itulah pukulan yang dinamakan Burung walet menggaris pasir yang lihai.

 

Kie Hong mengenal baik pukulan itu, maka ia berkelit dengan cepat, tangannya diputar, Akan tetapi ia masih kurang sebat, sikutnya kena juga kebentur sedikit, hingga ia merasakan sakit dan panas yang sangat. saking kaget, ia berlompat mundur dua tindak. ia belum menancap kakinya, si nona sudah menyusul, sekarang dia menyerang dengan kedua tangannya dengan tipu silat Liong beng it-sie atau sang Naga mengarah kedua jalan darah Kie-boen di kedua rusuk.

Cioe Kiok sangat membenci maka dia berlaku bengis sekali.

 

Kie Hong kaget dan berkuatiran, ia membuka kedua tangannya, untuk menangkis, sambil ia mencelat. Karena ia pun gusar, ketika ia turun, ia membalas menyerang dengan tenaganya dikerahkan seluruhnya, ia mengguna i pukulan simpanan dari Tong-teng ouw yang diberi nama Cek Lian ciang hoat atau Rantai Merah.

Cioe- kiok terkejut, Belum sampai ia kena terhajar ia sudah merasakan hawa panas dari tangan lawan yang liehay itu, hingga ia menjadi bingung.

 

Leng Bwee melihat saudaranya terancam, sambil membentak. la menyerang, serangannya itu pun saling susul. Hingga nampak tujuh rupa benda seperti bintang hitam menyamber-nyamber ke arah sasarannya.

Kie Hong terkejut ia mendengar suara sar ser serta angin menghembus, memang j eri untuk senjata rahasia mutiara muni dari Cian cioe Kean im. Maka itu batal menyerang terus pada cioe Kiok, lekas-lekas ia berkelit sambil berlompat tinggi tiga kaki.

Dengan begini ia berhasil membikin tujuh buah senjata rahasia " bintang hitam" lewat di dadanya.

 

Leng Bwee melihat serangannya gagal, ia berteriak "Meski kau bebas, di sini masih ada sebelas biji lagi. Dan berbareng dengan teriakannya itu, bintang bintang hitamnya itu sudah menyambar saling ganti.

Kie Hong berkuatir berbareng gusar, kembali ia perlihatkan kegesitannya ia bebas pula dari sebelas senjata rahasia itu, ia mengertak gigi, sambil berlompat ia maju dengan kedua tangannya, guna membalas menyerang.

 

"Kamu berhenti" tiba-tiba terdengar bentakan, yang disusul dengan penolakan keras.

Kie Hong berdua Leng Bwee mundur hingga lima kaki lebih kurang, Tak sanggup mereka bertahan dari dorongan. sebelas butir senjata rahasia menghajar pohon bambu disamping mereka.

Segeralah muncul seorang tua bertubuh tinggi dan besar, yang rambutnya telah putih semua, yang romannya keren, Dialah Hoan-thian-ciang Yan Loei. majikan dari Yan Kee Po.

 

Ketika tadi Yan Loei bersama Hauw Boen Thong semua kembali ke toa-thia, ruang besar, ia tak enak hatinya, dan makin ia berpikir, hatinya makin tak enak.

"Tidak disangka karena satu kealpaan kita mengundang ancaman bencana," berkata Khong Jiang. "Pocu, daya apakah yang kau dapat pikir? Menurut aku baiklah kau mengundang isterimu keluar, Biar bagaimana, kamutoh suami isteri untuk banyak tahun, tak mungkin dia duduk diam saja tak sudi menolongi...."

 

Yan Loei tak dapat berpikir lain kecuali menyetujui pikiran itu, maka itu ia lantas

pergi ke Coei-tek -hian. sampai tepat selagi Leng Bwee menempur Pek Kie Hong. la tahu perkelahian itu dapat mengakibatkan suasana buruk. maka ia lantas datang sama tengah.

Kemudian selagi ketiga orang itu melengak. la mengawasi Leng Bwee dan Cioe Kiok. alisnya sendiri berkerut.

"Pergi kau memberitahukan hoejin." katanya. "Bilang loohoe mempunyai urusan penting untuk mana aku ingin bertemu dengannya."

Kedua budak itu memberi hormat, tanpa membilang apa-apa mereka lantas memutar tubuh, lari masuk ke dalam rimba.

Yan Loei tidak berani lancang turut masuk. la sekarang menghadapi Kie Hong, tegurannya sungguh-sungguh.

“Keponakan Hong, mengapa kau begini sembrono?" ia tanya, suaranya dalam, "Loo-hoe sendiri tidak berani main gila terhadapnya, maka beranikah kau? Tak perduli siapa benar siapa salah, perbuatanmu ini dapat membikin anak Hee menjadi semakin benci padamu. Kau harus ingat, tak sabar bisa mengacaukan urusan besar, kalau sampai terjadi begitu, pasti loohoe tak dapat berbuat apa-apa lagi..."

 

Orang tua ini menghela napas, tapi ia lantas bersenyum.

"Sekarang pergilah kau menemani si Hong," katanya, menambahkan " kalau badai ini sudah sirap nanti lohoe mendayakan agar jodohmu terangkap dengan jodohnya si Hee..." Mukanya Kie Hong menjadi merah, Lekas-lekas ia menjura. "Baiklah." sahutnya sambit terus berlompat pergi.

Yan Loei menghela napas pula. "Anak ini..." katanya. Atau ia terperanjat.

 

Dari dalam rimba itu mendadak muncul sebuah tubuh yang langsing dan lincah. Itulah Yan Hee.

"Ah, anak Hee" katanya, tertawa, "Apakah ibumu mengijinkan ayahmu bertemu dengannya untuk satu kali saja?"

Yan Hee memperlihatkan sinarmata guram. ia menggeleng kepala.

"lbu tidak dapat melanggar janjinya sendiri, tidak dapat ibu menemui ayah," ia menyahut, "lbu kata ia telah mengetahui semua. ibu menasihati untuk membayar pulang Ngo sek Kim-bo kepada pemiliknya. Dengan begitu, katanya, ancaman bencana dapat di lenyapkan-"

 

Tanpa merasa, tubuh Yan Loei menggigil

"Cara bagaimana ibumu ketahui urusan Ngo-sek Kim-bo itu? " ia tanya, herannya bukan buatan-

Puteri itu sangat bersusah hati, ia menghela napas,

"Ibu bilang, kalau orang mau perbuatannya tak dapat diketahui lain oiang, tak ada lain jalan yang terlebih baik daripada tak melakukan perbuatan itu." ia menyahut.

"Di mana ada perbuatan yang dapat dirahasiakan? Tidak demikian darimana datangnya demikian banyak musuh? ibu bilang bahwa selama beberapa tahun ini semua perbuatan ayah adalah perbuatan-perbuatan yang tak mentaati undang-undang dan tak menghormati Thian. tumpukan kedosaan sampai tak dapat di-hitung jumlahnya, maka karenanya, mesti datang satu hari yang ayah bakal menerima pembalasan karenanya, Dari itu ibu menasehati agar ayah lekas-lekas bertobat, untuk seterusnya berlaku dermawan, supaya ayah masih dapat melindungi sisa penghidupan ayah selanjutnya..."

(Bersambung ke Jilid 5)


     

Posted by Admin