Bujukan Gambar Lukisan 01 - 05
Bujukan Gambar Lukisan
Karya : Wu Lin Qiao Zi
Terjemah : OKT
Jilid 1.1.
Bulan ketiga dalam musim semi, ialah bulan yang indab. Di
luar pinyu Thian-an-moei
di kota Yan-khia, daun-daun hijau, bunga-bunga permai. Di
luar kota, sungai yang berbeku es baru saja lumer, hingga
potongan.potongan es mengikuti air hanyut. Hingga disaat
itu, negara bagian Utara itu mirip dengan suasana di Kang
Lam, negara bagian Selatan, selama musim semi bulan pertama,
Di waktu begitu maka pada suatu maghrib saatnya di Lioe lie
ciang orang mulai memasang api penerangan, selagi
kereta-kereta kuda berlalu lintas dan orang mundar-mandir,
di antaranya seorang muda yang mengenakan baju panjang hijau
tersulam dengan pundaknya tarselandang sabuk dan sebelah
tangannya menengteng sebuah kurungan dalam mana ada seekor
burung kenari kuning. Dia bertindak ke arah gang
Kim Hie Hotong.
Dialah seorang pemuda tampan tak terlalu kurus, alisnya
bagus, matanya tajam, hidungnya bangir. Kalau dia bertemu
seorang kenalannya dan bersenyum maka terlihatlah giginya
yang putih dan rata. Senyumnya itupun menarik hati.
Anak muda itu memasuki pula suata gang lain sampai di depan
sebuah rumah besar
dan indah. Dia lantas mengetuk kedua kedua gelang pintu yang
terbuat dari kuningan, pintu mana terus dibuka oleh seorang
bujang tua,
“Oh. jie-siauw-ya baru pulang!” hamba itu menyapa. Dia
berdiri tegak dengan tangan dikasi turun lurus,
"Ya!" si anak muda menyahuti, bersenyum. Terus dengan
langkah cepat dia jalan di pekarangan dalam gedung itu. Dia
tidak langsung masuk ke rumah besar hanya ke lorong samping
kanan dalam mana ada sebuah taman yang rumput Ian pepohonan
bunganya terawat baik, di mana pun ada sebuah pengempang
kecil dengan airnya yang benIng jernih, yang sejumlah ikan
emasnya lagi berenang memain didalamnya. Di tepian
pengempang itu tumbuh pohon anglioe yang cabangnya meroyot
turun.
Anak muda itu berjalan terus memasuki sebuah pintu model
rembulan, sampai di depan sebuah kamar, barulah ia bertindak
masuk. Itulah sebuah kamar tulis yang mungil dan indah, ada
para-para bukunya, ada gambar lukisannya, ada pula empat
helai
pigura huruf-haruf tulisannya Ong Gie Cie yang kesohor.
Begitu tiba di dalam, anak muda itu meletaki burungnya untuk
menghampirkan para, untuk menarik keluar sejilid buku.
Cepat-cepat dia membalik-balik lembaran buku itu.
perhatiannya sangat tertarik.
,,Pasti ini, pasti gambar ini." dia mengoceh seorang diri.
„Hanya dia meminta harga limaratus tahil perak, Dari mana
aku bisa dapat uang sajumlah itu?"
Ia menjadi berdiri menjublak.
Dialah seorana anak terlahir di dalam satu keluarga
berpangkat akan tetapi apa lacur, ia telah tidak mendapatkan
kasih sayang ayah bundanya, apa pula ibu tirinya, ibu tiri
itu memandangnya seperti musuh hingga bukan kecintaan hanya
dampratan dan tongkat menjadi bagiannya. Baru dua tahun ini
keadaannya lumayan, disebabkan usia dewasanya. Toh dia tetap
dipandang mirip orang luar.
Sementara itu, selama tiga tahun lebih ini dia telah dapat
kesempatan belajar silat, secara diam-diam. Umpama kata
kelakuannya itu ketahuan orang tuanya, mungkin dia tambah
tak disukai.
Tadi dia mampir di sebuah toko buku tua di Lioe lie ciang,
di sana dia dapat melihat sebuah lukisan karyanya Ong Mo Kit
yang diberi judul "Yoe San Goat Eng" atau "Bayangan Rembulan
di Gunung Sunyi." Ia tahu, lukisan itu ada mengandung
rahasia. Itulah lukisan yang ia ingin memilikinya sampai ia
buat impian selama dua tahun. Ia
ingin beli lukisan itu. Inilah yang membuatnya bingung.
Pemilik toko buku tua itu meminta harga seribu tahil perak,
ketika ia mengotot menawarnya, harga cuma diturunkan sampai
lima-ratus tahil, tak kurang lagi.
Lukisan itu ada rahasianya, apabila rahasia itu dapat
dipecahkan, harganya ada seumpama harganya sebuah kota, dari
itu, harga lima ratus tahil perak itu tidak mahal
bahkan murah. Hanya sulitnya untuk si anak muda, dari mana
ia dapat peroleh uang itu.
Kalau ia pergi kepada pemegang kas ayahnya, biasanya ia
dapat uang dari delapan sampai sepuluh tahil, tetapi lima
ratus tahil, itulah tak mungkin. Ia juga tidak dapat membuka
mulutnya! Alasan apa ia mempunyai?
Toh tidak ada jalan lain. Jumlah itu perlu didapatkan. Di
akhirnya dengan hati berdebaran, dia pergi juga kepada
pemegang kas, pegawai ayahnya yang mengurus keuangan
keluarganya.
Pemegang kas itu memakai kacamata yang disebut kacamata
kura-kura, ketika si anak
muda muncul di kamarnya, dia lagi tunduk, tangan kanannya
lagi mengetik shoei-phoa, dia lagi menghitung. Dia mendengar
tindakan kaki orang, dia lantas mengangkat kepalanya,
mulutnya tersungging senyuman. Akan tetapi kapan ia telah
melihat si anak muda, lantas wajahnya berubah menjadi
dingin.
Anak muda itu berdebar hati, kaget berbareng mendongkol. Di
hari-hari biasa, apabila ia melihat tampang demikian macam
dari si tukang uang, ia tentu sudah memutar tubuh untuk
berlalu pula dengan cepat. Kali ini tidaklah demikian, kali
ini ia mempunyai urusan sangat penting.
“Goe Loo-hoecu,” ia memanggil terpaksa, “Sore ini aku
mempunyai keperluan, aku
ingin pinjam uang sebanyak lima ratus tahil perak. Aku
tanggung akan membayar pulang jumlah itu dalam tempo satu
bulan.”
Tukang uang itu melengak, dia menyingkirkan kacamatanya dan
menatap. Dia seperti tak mempercayai telinganya. Tak lama
dia mengawasi tajam, lalu ia mengasi dengar suaranya yang
keras.
“Tiong Hoa,” katanya. „Aku kenal kau sampai begini besar,
maka kalau kau bicara. bicaralah dengan sedikit tahu aturan.
Selama beberapa tahun aku melihatnya kau menjadi tidak
keruan! Orang bilang di luaran kau bergaul dengan
orang-orang penggemar main wanita dan penenggak air
kata-kata, hingga kau memakai uang seperti kau menuang air!
Kau tahu, ayahmu pernah bicara denganku tentang kau dan
ayahmu itu tawar hatinya.,..."
Sepasang alisnya si anak muda bangun berdiri. Ia bicara
secara sungguh-sungguh tapi ia mendapat jawaban yang diluar
garis, jauh sekali terpisahnya dengan pokok soal.
“Loo-hoecoe," katanya sengit. "Siapa sudi mendengari ocehan
ini? Kau bilang, kau suka mengasi pinjam atau tidak?”
Pemegang kas itu juga membawa adatnya. Lantas saja dia
berludah,
„Tidak! Tidak!" tolaknya keras, "Jangan kata lima tahil,
sepeser pun tidak! Jangan harap kau dapat merabanya! Orang
tak punya guna seperti kau ini…hm!..”
Hebat kata-kata itu, meluaplah darahnya si anak muda.
Tahu-tahu sebelah tangannya sudah menyamber ke dasa si
tukang uang, keras suaranya, keras juga akibatnya, tukang
uang itu terpental ke pojok tembok!
Goei Loo-hoe-coe berkoseran.
„Tiong Hoa! Lie Tiong Hoa!” dia berseru, tangannya menuding,
dia mencoba merayap: ""Kau,. .kau ...kau kejam..!”
Cuma sebegitu pemegang kas ini dapat berkata-kata, terus dia
roboh pula, terus napasnya berhenti jalan.
Anak muda itu melengak, kagetnya bukan main. Semenjak ia
belajar silat. inilah yang
Pertama kali ia menggunai tangannya.Sebenarnya ia tidak tahu
betapa besar tenaganya dan ia tidak tahu juga yang ilmu
silat dapat meminta jiwa orang secara begitu rupa. Ia
belajar silat pada seorang guru yang melarat dan
berpenyakitan.
Guru itu membilangi muridnya ini bahwa dialah bukan seorang
Kang ouw yang berkenamaan, bahwa dengan belajar silat
padanya, ia jangan harap dapat menjadi seorang pandai, ia
cuma diajari dasarnya untuk menjaga diri, tak dapat dipakai
menghajar orang. Tapi ia diberitahukan ia mempunyai bakat
baik, sayang kalau ia terus belajar padanya, dari itu ia
dinasehati merantau.
„Dunia Kang ouw mempunyai banyak orang lihay, mungkin kau
ketemu jodohmu!” demikian guru itu. Dengan jodoh itu
dimaksudkan ahli silat terpandai.
Kemudian, ketika si guru hendak menutup mata, dia
memberitahukan muridnya ini halnya suatu gambar
rahasia-lukisan Yoe San Goat Eng itu oleh Ong Mo Kit dari
jaman ahala Tong. Katanya Iukisan itu menyimpan rahasia
besar, dan bahwa ia sudah mencarinya untuk banyak tahun
tetapi belum berhasil menemuinya. Maka si murid
Dipesan untuk memperhatikan lukisan itu, katanya pula,
rahasianya lukisan dapat dipecahkan jikalau orang memahamkan
judul dan tulisan yang diberikuti di dalam lukisan tersebut.
Pesan itu diperhatikan Lie Tiong Hoa, demikian anak muda
ini. Sejak itu ia terus memperhatikan, baik di dalam
toko-toko buku, baik di rumah-rumah gadai, mau pun di
rumah-rumah orang hartawan dan bangsawan begitu ia
mendapatkan ketikanya. Akhir-akhirnya di took buku tua itu
ia mendapatkan sehelai lukisan tua jaman Tong, gambarnya
sudah berwarna kuning dan guram, tetapi ia masih melihat
nyata, selang dua jam memeriksa, ia pastikan itulah lukisan
yang ia cari. Maka ia lantas menawarnya.
Tukang-tukang loak biasa bermata tajam, juga tukang loak
ini, melihat si anak muda sangat bernafsu, dia minta harga
tinggi itu, dia menancap paku, hingga Tiong Hoa habis daya,
hingga ia mesti pulang dengan hati bingung memikirkan kemana
ia mesti mencari uang. Demikian setibanya di rumah, ia
memeriksa dulu sebuah kitabnya, habis itu baru pergi kepada
Goei Loo-hoecoe. Siapa tahu, ia mendapat hidung panjang
sampai darahnya naik dan terjadilah pembunuhan tidak
disengaja itu.
Syukurlah suara berisik itu tidak didengar para bujang. Ia
merasa untuknya tidak ada lain jalan daripada kabur buron.
Inilah pengalamannya yang pertama, yang sangat hebat. Ia
juga tidak mempunyai sahabat yang nasihatnya dapat diminta.
Setelah dapat menahan berdebaran hatinya, ia angkat tubuhnya
tukang uang itu untuk diletaki di kolong pembaringan.
Tak dapat ia melupakan lukisannya Ong Mo Kit itu. Maka ia
menghampirkan laci uang dan menarik kotaknya. Ia menjadi
menyesal ketika ia dapat kenyataan uang kas berjumlah tak
cukup dua ratus tahil. Tapi ia mesti buron, ia membutuhkan
uang, yalah uang ayahnya. Maka ia samber uang itu, yang ia
bungkus dengan sobekan sabuk, tanpa kepergok siapa juga, ia
lolos dari pintu taman di belakang rumahnya.
Tiba di jalan besar, suasana jauh lebih ramai daripada tadi,
tapi ia tak sempat ia menikmati keramaian itu, Dengan
terburu-buru ia menuju ke Lioe lie-ciang, diamana keadaan
lebih ramai pula. Di situ ada berbaris belasan toko buku
tua, ia masuk ke sebuah yang terletak di ujung gang
Soan-hoo.
Si tukang loak sudah berumur tujuh puluh tahun lebih, ketika
itu dia lagi berdiri di depan pintu, matanya mengawasi
orang-orang yang berlalu lintas, mengharap-harap memperoleh
langganan. Dengan tangan kirinya mengurut-urut kumisnya yang
mirip
jenggot kambing gunung. Dia melihat Tiong Hoa dating
bergegas-gegas, ketika dia hendak menegur, tangannya
disamber terus dia ditarik ke dalam.
Setibanya di dalam, Tiong Hoa meletakkan bungkusannya di
atas meja, terus ia buka untuk memperlihatkan uang
perakannya yang bergemerlapan. la paksakan diri untuk
tertawa ketika ia kata;
“Inilah jumlah yang aku dapat kumpul dengan susah payah, aku
harap kau terima ini dan kau serahkan gambar lukisan Ong Mo
Kit itu padaku!”
Sebagai pedagang kawakan, tukang loak itu heran hingga dia
menjadi curiga mungkin uang itu tidak keruan asal-usulnya.
“Lie kongcu, maaf,” ia berkata, “Aku tidak tahu kau begini
menghendaki lukisan itu, kalau tahu suka aku
menghadiahkannya kepada kau, saying sekali, tadi baru saja
ada lain orang yang membelinya…”
Tiong Hoa terperanjat sampai mukanya berubah pucat. Inilah
ia tidak sangka sekali. Hatinya mencelos berbareng
mendongkol. Ia putus asa barbareng gusar.
“Lie Kongcu, aku menyesal sekali," kata tukang loak itu,
yang kaget melihat wajah orang muda itu. “Aku menyesal
membuat kau putus asa, lain kali, kalau ada lagi lukisannya
Ong Mo Kit, pasti aku akan menyerahkannya kepada kau lebih
dulu…Ah, ada tetamu lagi, maaf, aku mau melayani dia.”
Dan dia terus memutar tubuhnya untuk pergi ke depan.
“Tunggu dulu!" Tiong Hoa kata, berbareng denganmana ia
menyamber tangan kirinya tukang loak itu. Terus ia mengawasi
dengan mata bersinar. la tanya. “Siapa pembeli itu?”
Benar-benarkah?"
“Benar! Kenapa tidak!" sahut si pemilik took buku itu,
“Belum pernah aku mendusta pada langgananku, apa pula kepada
kongcu. Mustahil uang dating aku tampik..”
Dia berkata begitu tetapi berjengit, dia kaget. Keras
cekalan si anak muda hingga dia merasa sakit.
“Ngacoh. Kau tentu tak suka menjual sebab uangku kurang."
Mukanya tukang loak itu pucat, dia meringis.
,.Benar, kongcu." kata ia pula. „Pembeli itu berumur kurang
lebih empat puluh tahun,
lagi suaranya mirip orang Tien ciu. Dia membelinya buat
seribu tahil perak. Dia mempunyai dua orang pengikut yang
menyoren golok. Mendengar panggilannya pengikut itu, dia
mestinya seorang po cu. Jikalau aku tidak salah melihat,
dialah seorang Kangouw....”
Dia mengawasi si anak muda, hatinya kebat kebit. Dia melihat
sinar mata anak
muda itu yalah sinar bingung, menyesal, putus asa dan gusar
bercampur menjadi satu.
Tiong Hoa sendiri berpikir: “lnilah tak mungkin. Guruku
membilangi aku, orang yang mengetahui lukisan rahasia itu
cuma tiga orang tua tapi mereka pun masih belum tahu artinya
rahasia itu. Hal itu guruku juga mendengarnya dari seorang
kenamaan lain. Di sini mesti terjadi hal kebetulan…."
Anak muda ini menjadi sangat berduka memikir nasibnya. Dari
kecil ia tak disukai
ayah ibunya, sedang ibunya itu sudah menutup mata lama
hingga ia mesti hidup bersama ibu tirinya. Orang tua itu
sebaliknya menyayangi anak-anaknya yang lain, pria dan
wanita, terutama kakaknya. Karena itu, ia menjadi di biarkan
saja, ia cuma diberi
makan dan pakaian. la sempit dalam keuangan, tidak leluasa
ia menampung gurunya yang malarat itu. Ketika ia diajari
silat, ia tidak diajari seperti umumnya orang orang lain.
Sembari rebah gurunya memetakan dengan tangan dan kakinya,
dengan sebatang sumpit sebagai genggaman. Maka itu, sulit ia
belajarnya. Meski begitu karena ia berbakat dan cerdas ia
memperoleh banyak, ia melainkan tidak tahu bahwa pelajaran
itu adalah pelajaran silat berarti.
Mengenai lukisan itu, ia dipesan mesti mencarinya, tak
perduli bagaimana sukarnya. Ia pun ditinggali surat wasiat,
surat mana tak boleh dibuka sebelum ia dapat lukisan itu.
Itulah tugas berat untuknya, yang muda dan tak
berpengalaman, yang tak punya uang juga. Tapi ia ingat itu
baik-baik dan ingin melakukannya hingga menjadi kenyataan
agar pesan gurunya dapat diwujudkan. pula semenjak ia
belajar silat, semangatnya telah terbangun.
Sekarang, karena kecewa atas lenyapnya lukisan itu, ia putus
asa hingga hatinya menjadi panas. Ia piker tukang loak ini
manusia busuk dan serakah. Kenapa lukisan itu dijual pada
lain orang? Dengan begitu, tanpa dikehendaki, ia telah
menjadi seorang pembunuh.
“Dapatkah tukang loak ini dibebaskan?” pikirnya lebih jauh,
“Tidak!” Pembunuhan atas diri Goei Loo-hoecoe pasti akan
tersiar, sedikitnya besok. Tukang loak ini telah melihat
uang ini, dia pasti akan menduga aku, dan tentu dia bakal
membuka rahasia…”
Tanpa merasa, Tiong Hoa memencet keras tangan tukang loak
itu.
“Aduh. Tolong….” Tuan rumah menjerit.
Dengan tangan kiri Tiong Hoa mendekap mulut orang. Ia sengit
dan takut juga.
Tukang loak itu tak berdaya, matanya mengawasi dengan sorot
ketakutan. Dia tidak dapat berontak, dia tidak bisa
berteriak. Mulutnya terdekap rapat.
Sang waktu berjalan, Tiong Hoa heran waktu kemudian ia dapat
kenyataan pemilik took buku itu diam saja, tubuhnya menjadi
lemas, mukanya pucat. Akhirnya ia menjadi kaget sekali.
Tahu-tahu orang telah putus napasnya.
“Ah…” ia mengeluh, sedang peluhnya lantas membanjiri
jidatnya. Ia kuatir bukan main. Lagi satu jiwa melayang di
tangannya melayang tidak keruan rasa.
“Lari!” itulah ingatan yang segera berkelebat di batok
kepalanya.
Dengan sebat ia bungkus pula uangnya, ia memutar tubuhnya.
Hatinya sangat tegang, ia bergelisah.
"Tuan toko,." tiba-tiba ia mendengar suara memanggil dari
luar. la mendengar tindakan kaki orang. Dengan bingung ia
bertindak cepat sekali. la bersamplokan dengan seorang di
muka pintu. Mendadak ia menotok jalan darah thian kie, orang
itu, sampai dia itu mengeluarkan suara tertahan, tubuhnya
terus roboh. Ia tidak memperdulikannya, ia lari terus. Di
lain saat lenyaplah ia diantara orang banyak di jalan besar.
Malam itu malam yang indah. Langit bersih, si Putri Malam
permai.
Dari gang Soan hoo, took buku tukang loak di Lioe lie-ciang
itu, Tiong Hoa menyingkir terus. Ia baru berhenti setelah
tiba di paseban To Jian Teng di Lam-hee-wa. Tadi ia kabur
tanpa memilih tujuan.
Ia meluruskan napasnya yang memburu, ia menenangi hatinya
yang guncang keras. Sembari berpegangan pada loneng, ia
melihat syair di paseban itu, bunyinya : “Menyesal aku bukan
pelukis, yang dapat melukis gambar di waktu malam,
mendengari suara musim rontok”
Ah, hebat sekali….pikirnya. Aku menerbitkan onar ini cuma
disebabkan aku terkena bujukan gambar lukisan. Ini baru
permulaannya saja, bagaimana nanti akhirnya?
Tiong Hoa kenal baik paseban To Jian Teng. Bersama beberapa
sahabatnya pernah ia pelesiran di sini, minum arak dan
benyanyi-nyanyi, Sekarang ia dataag pula dalam kesunyian,
dengan hati yang berat.
Ketika ia memandang ke sekitarnya, ia mendapatkan pepohonan
yang lebat, yang daunnya tersilirkan angin. Ia pun
menyaksikan air telaga yang jernih dimana sang rembulan
berbayang. Kalau di kejauhan terlihat sinar api maka di atas
langit bintang-bintang berkelak-kelik.
“Aku mesti pergi sekarang,” katanya kemudian dalam hatinya.
“Tak dapat aku betrayal hingga pintu kota nanti keburu
ditutup. Kalau pembunuhan itu tersiar, biarnya aku bersayap
tidak bisa aku terbang..”
Maka ia menenteng bungkusannya, ia bertindak kea rah barat.
Selama berjalan, terus ia belum bisa merasa tenteram.
Tentang kematiannya si pemegang kas dan pemilik took buku
tua itu, ia tidak menyesal. Ia merasa mereka itu pantas
mendapat bagian. Ia menyesal untuk orang yang ia totok
selagi ia mau kabur itu. Orang itu tidak bersalah dosa. Maka
ia harap dia itu cuma pingsan dan jiwanya tidak terancam
bahaya maut.
Tengah berlari-lari, Tiong Hoa berpapasan dengan empat
orang. Rupanya mereka itu sedang sinting terpengaruh air
kata-kata. Jalannya mereka terhuyung-huyung. Oleh karena
membelakangi rembulan, muka mereka itu tak terlihat tegas.
Dengan cepat ia lewat di samping mereka itu.
“Saudara Tiong Hoa! Saudara Tiong Hoa!” satu diantara
keempat orang itu memanggil-manggil. Lalu panggilan itu
diulangi oleh tiga yang lain.
Tiong Hoa heran. Ia sudah lewat setombak lebih tapi ia
menghentikan tindakannya. Ia sekarang mengenali suara orang.
Lekas ia menghampirkan.
“Oh, saudara Toan!” katanya. “Gembira kamu menggadangi si
Putri Malam! Tapi aku mempunyai urusan, aku mesti ke luar
kota, maka itu besok saja aku menemani kamu!” Ia memberi
hormat, lalu membalik tubuh, untuk melanjuti perjalanannya.
Bujukan Gambar Lukisan
Karya : Wu Lin Qiao Zi
Terjemah : OKT
Jilid 1.2. Hitam makan hitam
"Ah, mana bisa" kata orang yang pertama memanggil itu, Dia
terus lompat untuk untuk mencekal lengan orang Dia bermuka
merah tandanya benar ia habis banyak minum. Dengan mata
kedap-kedip. dia mengawasi si orang she Lie. Tiga yang lain
lantas merubung.
Tiong Hoa tidak puas melayani keempat orang itu ia kenal
mereka sebagai anak-anak orang berpangkat, yang
biasaberpelesiran saja, karena mereka pa da memelihara guru
silat, mereka belajar juga sedikit.
Biasanya mereka tak memandang mata kepadanya, dari itu, jadi
ia pun tak sudi bergaul dengan mereka, ia tidakpuas orang
memegat ia selagi iaperlu lekas- lekas mengangkat kaki.
"Kau bergegas-gegas pergi ke luar kota, saudara Tiong Hoa,
kau tentu mempunyai urusan baik" kata orang yang mencekal
tangannya itu, Dialah Toan Kong, anak yang didapat dari
gundik dari Toan Kwee yang berpangkat pouw-koen tong-nia,
komandan pasukan tentara berjalan kaki, "Kenapa kau tidak
mengajak kami ramai-ramai?"
Tiong Hoa bingung hingga ia berdiri diam saja. seorang lain
merabah-rabah bungkusan uang, dan menepuk nepuk. "Hai, uang
begini banyak." serunya, "Dari mana uang ini?"
"Dasar sial," pikir Tiong Hoa, bingungnya bertambah Kalau
besok mereka dengar kematiannya si tukang uang, pasti mereka
ini menduga aku... Kalau aku dituduh menjadi pembunuh,
bagaimana itu?
"Saudara Tiong Hoa, tidak benar sikap kau ini." Toan Kong
menegur, "Kita bersahabat kita mesti hidup bersama, senang
dan susah mesti bersama juga sekarang kau mempunyai banyak
uang, kau melupakan kita, Tempo kau tidak punya uang, kita
toh ajak kau turut pelesir juga? Bukankah aku belumpernah
tolak kau?"
Tiong Hoa mendelu itulah gangguan untuknya, ia pun sebal
untuk kelakuan mereka itu, ia nampak sabar tetapi sebenarnya
ia berhati keras dan memiliki keangkuhan juga.
"Toan Kong, jangan ngaco-belo." ia menegur, "Maaf, aku
siorang she Lie tak dapat menemani kau." ia lanias berontak
hingga sahabat itu terhuyung tiga tindak dan telapak
tangannya terasa sakit.
Toan Kong terkejut ia heran kenapa Tiong Hoa bertenaga
demikian besar. ia lantas mendusin dari sintingnya, hingga
ia jadi mendongkol.
"Mari." dia mengajak tiga temannya, "Dia punya banyak uang,
dia jadi banyak lagak. Mari kita hajar padanya, aku mau
lihat, tulang lunaknya dapat berubah menjadi kaku atau
tidak."
Memang benar, Tiong Hoa biasa dijuluki si tulang lunak Tapi
sekarang ia menjadi mendongkol dan gusar, Maka itu, justeru
Toan Kong maju menghampirkan, ia lantas menyambut dengan
tinjunya kedada orang.
Putera tongnia itu mengerti sedikit silat, dia berkelit,
tetapi dia kurang sebat, dia kena terserempet hingga dia
kesakitan. Tentu sekali dia menjadi tambah gusar, Berbareng
dia heran sekali sedang dia tahu orang biasanya tidak
mempunyai guna.
Ketiga kawannya heran juga, inilah yang pertama kali Tiong
Hoa berkelahi, tak heran dia kurang Iincah. Dia belajar
silat juga mirip orang belajar teorinya saja, sedang ilmu
silat membutuhkan latihan praktek berikut pengalaman.
Toan Kong menjadi gusar sekali. Dia memang biasadimanjakan
Lantas dia menyerang pula, beruIang-ulang secara sengit. Dia
menggunai ilmu silat "Tiang Keen" atau Kepalan panjang dari
BoeTong Pay, Dia juga berkaok-kaok.
Didesak begitu, Tiong Hoa jadi panas hatinya, maka bukannya
ia mundur, ia justeru maju, jurus jurus dari ilmu silat sian
Thian, Thay U Ciang.
Toan Keng lantas terpukul mundur. Dia heran hingga dia
menjublak. Justeru itu, lengannya kena disamber dan
ditangkap. sekarang dia menjerit bahna kesakitannya merasa
seperti dicengkeram gaetan baja, tak tahan dia, dia pingsan
dan roboh. Ketika kawan itu kaget.
"Pembunuhan Pembunuhan" mereka berteriak-teriak.
Tiong Hoa kaget, ia ingat ancaman bahaya, Tanpa
memperdulikan lagi Toan Keng, dia mengangkat langkah seribu,
Baru dia lari belasan tombak. dia merasa ada bayangan yang
melesat lewat disisinya ia tidak perhatikan itu, ia mengira
ini disebabkan matanya terganggu dan matanya kabar, terus ia
kabur keluar dari kota Yan-khia. Dengan begitu maka
tertariklah ia mesti hidup dalam perantauan.
ooQoo
BAB2
KlRA jam tiga mendekati fajar, bintang-bintang mulai guram
dan rembulanpun kelam di barat di antara gumpalan-gumpalan
mega hitam, hingga jembatan Louw Kouw Hio tertampak
samar-samar melintang di atas sungai Yang. Tiong Hoa Ketika
itu air pasang. potongan-potongan es yang pecah beradu
nyaring satu dengan lain, Angin yang dingin meniupi
pohon-pohon yang-lioe di tepian.
Justeru itu waktu, seorang anak muda, yang romannya pucat,
lagi berdiri didepan loteng dengan mata mengawasi jauh. Dia
membungkam.
"Kelihatannya banyak orang tak dapat dipercaya," dia
berpikir "Guruku sendiri, sikap dan kelakuannya aneh."
Ia berpikir begini sebab ia ingat gurunya mengaku ilmu
silatnya tak tinggi, namanya tak terkenal dalam dunia Kang
ouw atau sungai Telaga, bahwa ilmu silatnya dipelajarkan
untuk membikin kuat tubuh saja, bukan buat berkelahi tapi
buktinya sekarang ia dapat membunuh orang, ia pula heran
mudah saja ia mengalahkan Toan Keng si murid Boe Tong Pay.
Bahkan mungkinputera tongnia itu terbinasa akibat tinjunya
ini...
Tiong Hoa tidak tahu, kepandaiannya Toan Keng baru kulit
saja dari ilmu silat sedang gurunya bicara secara merendah,
guru itu tidak mau memuji padanya dikuatir ia menjadi
berkepala besar, ilmu silat tak ada batasnya, kalau orang
berjumawa, dia bisa dapat susah. Guru itu ingin muridnya
insaf perlahan-lahan.
Anak muda ini menarik napas panjang untuk melegakan hatinya
yang pepat, Lalu ia ngelamun perlahan "Tahun dan bulan lewat
terus, air tetap mengalir, semua tanpa batas atau tempat
berhentinya, semua berumur sama kekalnya seperti langit dan
bumi, Akan tetapi manusia, hari-hari kehidupannya tak
banyak.... Maka itu aku, jikalau aku tidak lekas menggunai
ketika ku, untuk membangun sesuatu apabila aku menantikan
saja musim semi datang dan musim dingin pergi, pasti aku
bakal menyesal seumur hidupku." Tapi, kapan ia ingat ia tak
berdaya, tanpa merara airmatanya mengalir keluar.
Tiba-tiba dari arah belakangnya ia mendengar suara yang
dalam ini. "Anak muda yang tak bersemangat. Nangis, Apakah
tangismu dapat memecahkan soal?"
Tiong Hoa terkejut, Gesit luar biasa, ia memutar tubuhnya.
ia melihat satu orang berdiri di depannya. Menampak muka
orang itu, ia terkejut puI a, itulah sebuah muka buruk
sekali dan menakuti. sepasang mata yang merah seperti
mencelos keluar, bersinar bengis.
Muka buruk itu seperti ketutupan berewok ubanan, hingga
terlihat saja gigi giginya yang mirip caIing, Tubuh orang
kasar dan besar seperti tubuh itu ditutup baju panjang warna
hitam yang setinggi dengkuI. Baju itu berkibaran diantara
sampokan angin malam. orang aneh itu tertawa ketika dia
melihat si anak muda seperti jeri hatinya.
"Anak muda, jangan takut." dia kata, "Aku si orang tua
manusia, bukannya memedi, Kau mempunyai kesulitan apa? Mari
tuturkanpadaku, Mungkin aku dapat menoIong pecahkan
kesulitanmu itu, Lekas bicara, aku masih mempunyai urusan
penting yang mesti diselesaikan."
Tiong Hoa tak sudi menerima budi, ia menggeleng kepala.
"Tak dapat kau pecahkan kesulitanku itu, loojinkee." ia kata
masgul.
"Aku telah membunuh orang" ia membahasa kau "loo-jin-kee."
artinya orang tua yang dihormati
Nampak orang itu melengak tapi segera dia tertawa lebar,
Nyaring tertawa itu. bagaikan melayang ke udara, lalu
berkumandang. Ketika dia sudah berhenti tertawa, dia menatap
tajam dengan sinar matanya yang bengis itu.
"Aku si orang tua kira perkara hebat bagaimana" katanya acuh
tak acuh, "Membunuh orang itu apakah yang aneh? sekarang ini
aku sudah berumur enampuIuh lima tahun, kurban jiwa
ditanganku tak terhitung jumlahnya. Toh tak pernah aku
merasa tak tenteram hatiku" Dia tertawa pula, lama.
Tiong Hoa bergidik.
"Mungkin dia edan-" pikirnya, "Katanya membunuh orang itu
tak aneh." Kembali orang tua itu tertawa, menyeramkan
suaranya.
"Aku mengerti sekarang" dia berkata pula untuk kesekian
kaIinya. "Kau mengalirkan air mata disini sebab kau tidak
mempunyai jalan kemana kau dapat pergi, tapi ingatlah,
seorang laki-laki rumahnya ada di empat penjuru
lautan,jikalau kau tidak mencela aku, mari kau turut aku,
aku jamin seumur hidupmu kau akan hidup senang dan damai."
Anak muda itu heran, ia mendengar lagu suara orang itu mirip
lagu suara orang propinsi Hoolam, Tiba-tiba hatinya
tergerak.
Mendadak ia ingat lukisan Yoe san Goat Eng - Bayangan
rembulan di gunung sunyi.
Bukankah si tukang loak bilang lukisan itu dibeli seorang
yang bicara dengan lidah Tiong- cioe dan bahwa pembeli itu
mungkin seorang poocoe, pemilik dari sebuah perkampungan?
Kenapa ia tidak mau turut orang tua inipergi ke Hoolam, guna
sekalian mencari lukisan ilu? Dengan cepat ia mengambil
keputusannya.
"Cuma aku kuatir membikin kau berabe, loojinkee." ia kata.
Orang tua itu tertawa berkakak.
"Nah, mari kita berangkat" dia mengajak. Dan dia mendahului
bertindak pergi.
Tiong Hoa mengikuti. Baru balasan tombak, ia menjadi heran,
Nampaknya si orang tua jalan perlahan, buktinya cepat, ia
ketinggalan di belakang. ia bertabiat keras, taksudi ia
nanti dikatakan si lunak oleh orang tua itu, Maka ia
menyedot nafas, lantas ia jalan cepat. Ya, ia berlari lari.
"Dia mesti mengerti silat dan pandai juga," pikir Tiong Hoa
sambil mengikuti.
Seumurnya belum pernah pemuda ini bercampur gaul dengan
orang Kang ouw atau Lok Lim--Rimba Persilatan, belum dapat
ia membedakan orang liehay atau tidak. tak ia mengagumi
orang tua yang suka menjadi sahabatnya ini, ia belum
mempunyai kepercayaan atas dirinya, dengan mengagumi orang,
ia seperti merendahkan dirinya sendiri.
Sekarang Tiong Hoa mulai mengerti gunanya ilmu ringan tubuh
yang diajari gurunya.
Ilmu itu diberi nama Hong Hoei ie soat artinya, BianglaIa
terbang, Mega berputar. Dengan menggunai ilmu ringan tubuh
itu, tubuhnya menjadi enteng, dia dapat lari cepat-- makin
lama makin cepat, Baru setelah peroleh kenyataan ini, ia
dapat bersenyum.
Si orang tua lari terus, sejak mula-mula belum pernah dia
menoleh satu kali pun. Toh ia memperlihatkan sinar heran,
inilah sebab, walaupun dia tidak pernah berpaling tetapi
telinganya dapat mendengar suara orang berlari-Iari dan dia
memperoleh kenyataan si anak muda tak ketinggalan jauh.
Maka dia menduga ilmu ringan tubuh pemuda itu tak dapat
dicela, Dia merasa, pemuda itu tinggal membutuhkan latihan
lebih jauh, agar larinya tak memberi suara lagi, yalah apa
yang kalangan persilatan heng
in tioe soet-- mega berjalan, air mengalir.
Lama- lama Tiong Hoa bermandikan peluh dan bemapas mengorok
ia dapat kenyataan orang tua itu bukan mengambil jalan besar
hanya menerabas tegalan dan hutan, lantaran ia mendapatkan
pohon-pohon terlewatkan di sisinya.
"Eh, anak muda, kau sudah letih atau belum?"
Itulah pertanyaan tiba tiba dan untuk pertama kalinya dia
menoleh, sedang tindakannya juga dikendorkan, akan akhirnya
dia berhenti sendirinya. Lalu dengan sinar matanya yang
aneh, dia menatap kawannya yang mandi keringat itu, terus
dia tertawa geli, dengan ramah ia menanyai
"Dari mana kaupelajarkan ilmu larimu ini? itulah tak dapat
dicela"
Tiong Hoa berhenti berlari, dengan tangan bajunya ia
menyusut peluhnya, ia merasa napasnya berjalan cepat sekali,
tapi ia lekas menjawab.
"Loojin kee memuji aku, aku saja." katanya. "Aku pelajarkan
ini tiga tahun dari seorang guru yang tidak mempunyai nama,
Di banding dengan kepandaian loojinkee, aku terpaut jauh
sekali."
Orang tua itu menganggukperlahan, mukanya bersenyum.
“Kau benar”, dia bilang, “Aku baru menggunai tujuh bagian
kepandaian, toh kau harus dipuji."
Tiong Hoa mengucap terima kasih. Melihat si orang tua begitu
ramah-tamah, ia menjadi suka bicara, sekarang tak lagi ia
merasa jeri atau jemu untuk roman orang yang buruk
itu,Bahkan dari pembicaraan tetamunya, ia mendapat tahu she
dan namanya orang tua itu, yalah Song Kie dan gelarnya
Koay-bin jin-him. Manusia Biruang Bermuka Aneh.
Berbareng dengan itu, si orang tua juga ketahui she dan
namanya serta riwayat hidupnya yang tak menyenangkan itu.
Tiong Hoa tidak mentertawakan julukan yang aneh itu, yang
sesuai dengan kenyataan, ia bahkan berlaku hormat,
kelakuannya itu cocok dengan tabiat si orang tua.
Biasanya, siapa mencela muka
atau julukannya itu berarti celaka untuk dirinya,
ssbab ia benci-mulut jail.
Denganperkenalannya dalam tempo yang singkat ini. Tiong Hoa
masih belum tahu bahwa Koay-bin Jin-Him Song Kie menjadi
salah satu dari liong cioe, yang namanya sangat kesohor
dalam Rimba Persilatan. Baik kaum Pek too, jalan putih,
maupun golongan Hek-too, jalan Hitam, semuanya jeri
kepadanya apabila mereka berurusan dengan si Manusia Biruang
Bermuka Aneh yang sangat dihormati dan dimaIui. Kalau Tiong
Hoa ketahui ini, mungkin tak
sudi ia mengikuti dia.
Orang tua itu mengeluarkan sebuah gandul air dari sakunya,
ia gelogoki ke dalam mulutnya, kemudian ia membagi air minum
ttu kepada si anak muda. Habis itu dia mulai bicara pula.
Lebih dulu ia menatap orang, agaknya dia bersangsi, baru dia
menanya:
"KauIah seorang anak sekolah, mengapa kau membunuh orang?
Apakah kurbanmu itu musuh besarmu dengan siapa kau tak sudi
hidup bersama di kolong langit ini?"
Tiong Hoa menggeleng kepalanya. "semuanya bukan." sahutnya.
"itulah kesalahan bunuh."
Song Kie menatap pula tajam.
"Kau jujur," katanya, "sebenarnya membunuh orang bukan hal
yang terlalu mengherankan, Aku juga telah membunuh banyak
orang, diantaranya ada yang tak selayaknya mati. Hanya lah
telah menjadi tabiatku, jikalau aku membunuh, tak dapat aku
membuat bocor tentang ini. perlahan-Iahan kau bakal mengerti
sendiri. Berkasihan terhadap musuh berarti menanam bencana
untuk diri sendiri”
Tiong Hoa mengangguk tanpa membilang suatu apa. ia menerima
baik jalan pikiran orang itu sedang di dalam hatinya ia
berkata: "Apakah artinya kata katamu ini? Mustahilkah semua
orang harus dibunuh? Bukankah kalau kau berlaku telengas,
orang memb atasnya kejam? permusuhan atau balas- membalas
toh tak ada batas habisnya? Aku berbuat keliru, aku malu dan
menyesal tidak sudahnya... di dalam hatiku yang bersih
menjadi ada bayangan yang memb uatnya selalu tak tenang."
Maka ia merasa anjuran Koay-bin Jin Him dapat membuat ia
rusak tanpa ada obat dapat menyembuhkannya. Tapi segera ia
berpikir pula. "Asal diriku putih- bersih, perduli apa
aku bercampuran dengannya? Asal aku tidak turut ternoda. Aku
mesti bisa membawa diriku"
Song Kie tidak memperhatikan jalan pikiran orang, dia
melihat langit, untuk mengetahui sang waktu.
"Mungkin mereka akan sudah datang..." katanya seorang diri
terus dia berpaling dan berkata: "Mari." ia menggeraki
tubuhnya untuk menjejak tanah, maka melompatlah ia kearah
kanan, bagaikan burung terbang melayang, sebentar saja ia
telah melalui beberapa tombak.
Menampak kepesatan orang Tiong Hoa kagum, ia lantas
menyusul, ia tidak dapat membada arti katanya orang itu, ia
cuma menduga itulah mesti ada maksudnya. ia berlari-lari
mengikuti dengan tetap menggunai ilmu ringan tubuh Hoei Hong
in soan.
Mereka lari mendekati sebuah bukit kecil. Di atas itu Song
Kie berdiri dibawah sebuah pohon pek yang matanya menatap
jauh ke depan, Tiong Hoa menghentikan larinya sejarak lima
tombak, lalu dengan tindakan perlahan, ia menghampirinya. ia
menoleh ke sekitarnya, yang merupakan kuburan belukar,
banyak pohon yang kate. siputeri malam sudah doyong kebarat,
maka pepohonan itu memperlihatkan bayangan bagaikan
hantu-hantu yang bergerak-gerak tak mau diam, Burung-burung
malam mengasi dengar suaranya yang menyeramkan.
Berdiri di sisi si Manusia Biruang Bermuka Aneh, Tiong Hoa
menasang mata mengikuti mata orang itu. Di sana, di bawah
bukit, ada sebuah jalan umum bertanah kuning yang
berlegat-Iegot bagaikan seekor ular, sunyi senjap jalan umum
itu.
"Heran," pikirnya, ia melirik dan mendapatkan roman Song Kie
berdiri terus berdiam, dia membiarkan si anak muda berdiri
di sisinya itu.
Tiba-tiba terdengarlah suatu suara yang terbawa angin malam,
terdengarnya jauh lalu dekat, suara itu tambah menyeramkan.
Tanpa merasa, Tiong Hoa bergidik, Song Kie berpaling kearah
dari mana suara itu datang. "Benar-benar mereka datang?"
katanya pula seorang diri.
"Siapa?" tanya Tiong
Hoa tanpa merasa.
Song Kie menoleh, mengawasi tajam. ia tidak menjawab. ia
berpaling pula kearah tadi.
suara tadi itu terdengar pula, makin dekat. segera tertampak
lima orang bagaikan bayangan berlari-lari mendatangi. cepat
luar biasa, sampailah mereka itu. semua lantas berdiri diam
dan hormat di samping Song Kie.
"Apakah mereka sudah berhasil?" tanya Koay-bin Jin Him,
suaranya dalam.
Salah seorang umur belum empat puluh, yang tubuhnya jangkung
kurus, menyahuti. "Mereka sudah berhasil, Karena rapinya
rencana kita pihak Pangeran tokeh menyangka itulah perbuatan
mereka itu, Lagi setengah jam, mereka juga akan datang
kemari, di antaranya ada seorang yang liehay menyulitkan.
Dia lah sam ciou-ya Cee-tan-Siauw-go si Memedi bertangan
tiga. Tongkee, apakah kita tetap dengan rencana kita?"
Song Kie cuma mengasi dengar suara dingini "Hmm" Kelima
orang itu sudah lantas mengawasi Tiong Hoa, sikapnya tawar.
"Tongkee, siapakah dia ini?" tanya si-jangkung kurus.
"Dia? oh Dialah penulisku yang baru, sekarang kamu boleh
pergi" jawaban itu dingin.
Lima orang itu menyahuti, "Ya." tampak semuanya lari turun
gunung, Tiba di jalan umum, mereka berhenti, agaknya untuk
menantikan sesuatu.
Tak senang Tiong Hoa melihat roman dan sikapnya kelima orang
itu, ia mendapat kesan orang berbau setan, sinar mata mereka
itu sangat memandang tak mata kepadanya, ia menjadi tak
tenteram hatinya.
Song Kie menoleh perlahan-lahan kepada si anak muda, Dia
kata, sabar: "Anak muda, sekarang ini kau masih kekurangan
nyali, di dalam rombongan kami, tanpa nyali orang tak dapat
bekerja. Lebih baik kau pergi turun untuk menambah
pengetahuan dan pengalamanmu."
Mendadak Tiong Hoa dipengaruhi sifat mau menang sendiri, tak
mau kalah, tanpa mengatakan sesuatu, ia pergi turun. ia
berjalan dengan cepat. Kelima orang itu melihat datangnya
anak muda ini, tetap mereka bersikap dingin.
Tiong Hoa berdiri dengan menolak pinggang, ia membawa sikap
jumawa ia sengaja mengawasi ke depan, tak mau ia
menghiraukan mereka itu.
"Eh, Mau apa kau datang ke sini?" si jangkung kurus menegur.
Dia heran maka dia memecah kesunyian
Tiong Hoa tetap memandang kedepan, tak ia menoleh.
"Aku?" sahutnya. "Aku dititahkan tongkee mengawasi kamu."
Tong-kee itu panggilan pada ketua.
Si jangkung kurus menyeringai, romannya jadi bengis. Dia
mengangkat tangannya perlahan-lahan-
"Toako," mendadak berkata salah satu kawannya. "Apakah kau
merasa pasti tongkee tidak bakal mempersalahkan kau?"
"Hm," bersuara sijangkung kurus, dan ia menurunkan tangannya
itu. ia terus menggeser tubuh ke pinggiran.
Tiong Hoa telah melihat gerak-gerik orang dia lantas bersiap
sedia, Kapan orang menyerang maka ia akan menyambut dengan
pukulan "Siauw Thian chee Ci Cap-jie Kiauw Na." yalah ilmu
silat "Bintang Kecil" yang terdiri dari tujuh puluh dua
jurus yang lincah. Dengan itu ia bisa menghajar orang hingga
mati, tak tahu ia, dari mana munculnya keberaniannya secara
tiba-tiba itu orang yang menasehati si jangkung kurus itu
menghampirkan si anak muda.
"Kau bernyali besar tuan, aku kagum." katanya tawar, "Meski
kau menjadi penuIis baru
dari tongkee kami, tak nanti tongkee menitahkan kau
mengawasi kami. Kamilah Tiong tiauw
Ngo Mo. Toako kami tidak percaya karangan kau, dia menduga
itulah jawaban bohong, dari itu dia ingin menghukum kau. Aku
lihat tuan tentu jemu dengan sikap tawar kami maka kau
sengaja mengatakan demikian- sebenarnya memang beginilah
sikap tabiat kami, jadi bukan sengaja kami memandang tak
mata kepadamu.”
"Maaf..." kata Tiong Hoa sambil tertawa dingin, ia tidak
takut meskipun orang adalah Tiong-tiauw Ngo Mo, Lima Hantu
dari Tiong-tiauw.
Tengah si anak muda menyahuti itu, si jangkung kurus
membentak, "Ngo-tee, apakah kau tak takut mulutmu pecah?
Lihat, mereka sudah datang." orang yang dipanggil ngo tee
itu -- adik yang nomor lima, menoleh.
Tiong Hoa berpaling juga, maka ia melihat mendatanginya
empat orang, Mendadak seperti buyar keb era niannyabarusan,
diam-diam ia menyingkir kearah pepohonan di dekatnya.
Kelima orang itu, yaitu Tiong-tiauw Ngo Mo. agaknya tegang
sikapnya, Mereka lantas bersiap sedia melakukan penyerangan.
Empat orang itu, yang tadi merupakan titik-titik sebagai
bayangan, lekas juga sudah datang dekat, sangat pesat
larinya mereka. Sebentar saja, tibalah sudah mereka.
Tiong Hoa memasang mata, ia tidak dapat melihat muka orang,
yang membaliki belakang, ia cuma tahu mereka itu orang tua
semua, kumisnya pun panjang. Mereka seperti tidak
menghiraukan kelima hantu, mereka jalan terus.
Tiongtiauw Ngo Mo tertawa dingin, lantas mereka menyerang
dengan berbareng.
Keempat orang tua itu agak kaget, mereka lompat mundur satu
tombak. Satu diantaranya mengawasi kelima penyerang itu,
lantas dia tertawa dingin dan kata: "Ah, aku menyangka
siapa, kiranya kalian, dengan kepandaian kamu yang umum ini
kamu berani lakukan perbuatan hitam makan hitam ? Hm,
tahukah kamu siapa kami ini?"
"Kami tidak perduli kamu siapa" sahut si jangkung kurus,
yang usianya pertengahan, suaranya dingin. "Untuk kamu cukup
asal kamu meninggalkan barang yang kamu bawa itu. Dengan
begitu baru kami suka mengasi kamu lewat."
Orang tua itu menjadi gusar secara tiba-tiba, dia maju
menyerang. Dengan tangan kanannya, dengan sebuah jeriji, dia
menotok jalan darah, Gerakannya itu sangat cepat sekali.
Si jangkung kurus tabah luar biasa, Dia seperti tak
menghiraukan serangan itu, Dengan sama gesitnya dia
meluncurkan tangan kirinya, guna menotokjalan darah
thian-hoe dari si orang tua, Berbareng dengan itu, dengan
tangan kanannya, dia menghajar, membacok, lengan si orang
tua.
Agaknya si orang tua terkejut, cepat-cepat dia menarik
pulang tangan kanannya itu, tapi si jangkung kurus
merangsak, ia menotok kejalan darah ciang boen, ia tetap
menggunai tangan kirinya.
Tiong Hoa kagum, sangat cepat gerakannya dua orang itu.
Orang tua itu ialah sam Cioe Ya cee Tam siauw Go seperti
diterangkan si jangkung-kurus tadi kepada Song Kie. Buat
Sungai Besar bagian selatan dan Utara, dia ternama besar
untuk kegagahannya, pantas dia berani dan liehay. Dia lantas
menyerang dengan dua dupakannya saling-susul.
Toa Mo, si Hantu pertama, tertawa seram, tubuhnya lompat
terapung, dia telah menggunai tipu berlompat Peng tee chee
in," atau Awan hijau ditanah datar" Tapi dia tidak lompat
setinggi mungkin- Baru kira dua kaki, tub uhnya sudah
membungkuk, kedua tangannya meluncur. Dari atas dia meny
amber kedua pundak lawan.
Sam Cioe Ya cee menjejak tanah, ia lompat mundur tigakaki,
setelah bebas itu, ia maju pula untuk menyerang lagi dengan
beruntun-runtun.
Toa Mo mendongkol karena kegesitannya itu, Dia menangkis dia
menbeIa diri terus, dia membalas menyerang. Dia berlaku sama
garangnya.
Sampai itu waktu, keempat Hantu habis sabar, Mereka lantas
maju menyerang tiga orang tua lainnya. Mereka ini menonton
saja. lantaran diserang, mereka membuat perlawanan.
Hebat pertempuran mereka itu. Tiong Hoa menonton dengan
perasaan ketarik. Untuknya, pertempuran itu mendatangkan
faedah besar, seumurnya belum pernah ia menyakslkan semacam
pertarungan itu, memperhatikan sesuatu gerakan.
Sang waktu berjalan, rembulan sudah kelam, tinggal
bintang-bintang yang muram. Cuaca menjadi guram, Tapi
pertempuran berlangsung terus.
Tiong Hoa menonton dengan merasa heran, ia tidak melihat
munculnya Song Kie. Kemana
perginya tongkee itu? Kenapa dia berdiam saja?
Sekonyong-konyong ia melihat sebuah tubuh besar melesat
datang sembari tertawa berkakak, Mendengar itu, kelima Hantu
lantas lompat mundur, sebaliknya keempat orang tua itu
nampak terhuyung mau roboh.
Segera Tiong Hoa mengenali orang itu, adalah Koay-bin jin
Him yang ia buat pikiran. Tam siauw Go lantas tertawa
dingin,
"Aku tidak sangka sekali Song Loo-toa dapat bersikap seperti
tikus" katanya mengejek. "Kalau Tam siauw Go mati, dia bakal
menjadi setan yang akan menagih jiwamu."
Song Kie tidak menjadi gusar, sebaliknya dia tertawa lebar.
"Tam siauw Go. ingatkah kau kejadian pada tahun dulu di
benteng air di telaga Thay ouw ketika kaum jalan Hitam
mengadakan rapat bersama?" dia tanya.
"Bukankah ketika itu di muka umum kau telah menghina aku?
Nah, sekarang kau tahu rasa, Bersama-sama kawan-kawanmu ini
yang ada tiga bandit dari jalan Kam Liang kau sudah terkena
pakuku, paku Thian Iong-tong. maka itu, didalam tempo tiga
jam, racunnya paku bakal menyerang ulu hatimu, untuk
sebentar terang tanah kawanan begundal pembesar negeri boleh
datang mengurus mayat kamu"
Tam siauw Go terkejut, apa pula setelah itu ia lamat melihat
ketiga kawannya roboh saling susul, terus berkoseran di
tanah, sedang ketiga kawan itu Kam Liang sam To tiga begal
dari jalan Kam Liang bukan sembarang orang. Percuma ia
kaget, iapun lantas menyusul roboh untuk tak ingat apa apa
lagi.
Sekonyong-konyong Song Kie berlompat kepada keempat orang
tua itu, Dia bergerak sangat pesat seperti dia datang
barusan. Kali ini untuk mencabut empat buah pakunya, paku
Thian-Iong-teng atau serigala Langit dari dadanya keempat
korban itu, kemudian dari tubuh yang seorang, ia menarik
keluar sebuah kotak kecil warna hitam, yang mana ia buka
tutupnya secara hati-hati.
Di depan matanya lantas bersinar sinarnya permata, hingga
alis dan kumisnya nampak kehijau-hijauan warnanya.
"Hahaha..." dia tertawa lebar, "sekarang ini terpenuhilah
separuh dari keinginanku banyak tahun" Suara tertawa itu
mendengung di tanah pegunungan itu.
Tengah Koay-binJin Him girang kepuasan itu, sinar permata
itu tiba-tiba menjadi sirap.
Dia merasakan sebuah tolakan keras dan kotaknya itu hilang
dari tangannya, Dalam kagetnya ia melihat sebuah tubuh kecil
langsing mencelat pergi dengan lincah sekali, tubuh mana
meninggalkan tertawa nyaring tapi halus yang sedap didengar
telinga, kemudian bagalkan asap lenyaplah dia di kejauhan.
Bukan main terkejutnya Koay-binJin Him, Dia lompat meny
amber. Tapi dia ketinggalan sedetik. Perampas itu lolos,
saking murka, dia berseru keras, terus dia berteriak:
"Kejar" Dia pun mendahului lari kearah mana perampas itu
kabur. Tiong tiauw Ngo Mo lari mengejar. Mereka tak
menghiraukan lagi Tiong Hoa.
Lie Tiong Hoa menonton pertempuran dengan asyik sekali, ia
sangat ketarik hati, ia kagum menyakslkan liehaynya Song
Kie, ia pun heran melihat ada orang merampas kotak
permata di tangannya Koay-bin Jim-Him. tengah ia melengak
itu, ia lantas di-tinggal pergi mereka semua.
Ia masih berdiam tempo ia merasa ada barang apa-apa menimpa
kepalanya hingga ia merasa sedikit nyeri, ia meraba. hingga
ia kena pegang sehelai daun. ia terkejut hingga ia
tercengang pula, matanya terbuka, mulutnya ternganga. inilah
seorang cerdas, ia dapat berpikir.
Di-dalam musim semi seperti itu, tak nanti ada daun rontok
tertiup angin juga tak ada daun yang jatuh langsung ke
tanah, mestinya melayang- layang dulu, Maka itu, itu
mestinya daun yang dipakai menimpuk dengan "Hoei-Hoa-tek Yap
Cioe hoat," ialah ilmu "Menerbangkan bunga memetik cabang"
Karena ingat ini, ia terus dongak. melihat keatas.
Kembali ia menjadi heran. Di atas pohon, teraling dengan
dedaunan ia melihat seorang nona nangkring di atas cabang,
Yang terlihat tegas ialah mukanya yang cantik dengan matanya
yang jeli, Nona itu mengawasi ia sambil tersenyum, dia mirip
bung a yang baru mekar.
Ia bingung, hatinya pun berdenyut Manusia kah? setankah? ia
hendak membuka mulutnya, lalu batal, ia digoyangi tangan,
kepala nona itu digoyangkan. Terpaksa ia diam menjublak.
mendelong mengawasi.
Bagaikan ular, tubuh nona itu merosot turun, tak terdengar
suaranya sama sekali, tahu-tahu dia sudah berdiri didepansi
anak muda. Dia mengenakan pakaian serba hitam yang singsat,
hingga berpetalah tubuhnya yang Iangsing.
Tiong Hoa terlahir di kotaraja, ia gemar gelandangan, ia
pernah melihat banyak nona- nona, tetapi melihat nona ini,
semua kecantikan dikotaraja itu sirna.
Cantik sekali si nona, putih bersih dua baris giginya,
Paling menggiurkan ialah sepasang sujennya, Adakah dia Tat
Kie yang menjelma pula ? Nona itu menampak orang melongo,
dia tertawa perlahan, kedua matanya bermain.
"Eh, apakah kau belum tahu siluman she Song itu bukan
manusia baik-baik?" dia tanya perlahan, suaranya merdu,
"Dengan mengikuti dia, kau bakal tidak memperoleh apa-apa.
Baiklah selagi mereka tidak memperh atikan, kau tinggalkan
dia pergi. Berangkatlah sekarang juga, ke kuil malaikat
tanah di luar pintu barat kota Lay-soei, disana kau
menantikan nonamu, nanti nonamu menunjuki kau sebuah jalan
keselamatan."
Senang sekali Tiong Hoa mendengar kata kata itu dan ia
mendapat perasaan tak dapat ia menolak. Maka juga tanpa
berpikir panjang lagi, ia berkata: "Baiklah, nona, aku
dengar nasihatmu ini, sekarang juga pergi," ia lantas
memberi hormat, terus ia memutar tubuhnya, bertindak pergi,
ia barujalan kira delapan tindak, telinganya mendengar Song
Kie tertawa nya ring, ia terkejut, ia menyangka Koay-bin Jin
Him mempergokinya, ia berpaling dengan cepat, ia tidak
melihat Song Kie, hanya ia menampak si nona baju hitam
memberi tanda padanya untuk berjalan terus, ia menurut,
bahkan ia lantas lari.
Tiong Hoa heran sendirinya, ia tidak kenal nona itu. Kenapa
ia kesudian mendengar kata- kata nya? ia mau menduga, dengan
meninggalkan Song Kie, mesti bakal terjadi sesuatu, Mungkin
ia bakal kehilangan jiwanya.
Toh ia tidak menghiraukan itu, ia merasa si nona ada sangat
berharga untuknya, entah karena ia tertarik hatinya, entah
karena kesannya yang baik terhadapnya.
Sekarang Tiong Hoa mesti berlari-lari di tempat yang gelap.
Rembulan sudah kelam dan bintang-bintang guram sekali,
berlari dengan menggunai Hoei Hong in soan lantaran ia
kuatir Song Kie atau Tiong tiauw Ngo Mo lari mengejar dan
menangkapnya. Ia lari cepat sekaii, inilah yang pertama kali
ia menggunai ilmu ringan tubuhnya dengan sungguh-sungguh.
Baru sekarang ia merasa berapa pes at ia dapat berlari, ia
bermandikan keringat dan merasa letih juga.
Ketika fajar menyingsing, Tiong Hoa telah sampai di luar
kota timur dari kota kecamatan Lay-twi, ia lari mutar
melintasinya, untuktiba dipintu barat. Benarlah di luar
pintu barat itu ia melihat kuilnya malaikat tanah yang
terletak diatas sebuah tanjakan sebelah kanan ia menghela
napas lega, lantas ia lari menghampirkan kuil itu.
Itulah sebuah kuil yang sudah tua dan rusak. Ketika ia
bertindak masuk kedalamnya, ia mendapatkan banyak sarang
labah-labah dan bau busuk membikinnya mau muntah. Ruangan
dalam Kuil itu seperti juga sarang hantu.
Walaupun ia tak disayangi orang tua nya, Tiong Hoa tetap
anak keluarga berpangkat, akan tetapi sekarang ia hidup
terlunta-lunta, hatinya toh bercekat, ia jugaheran.
Kuil ini berdekatan dengan pintu kota, kenapa tidak ada
orang yang urus?" ia kata dalam hatinya. "lnilah aneh..."
Ia berhenti berpikir sebentar, lantas ia berpikir pula: "si
nona menyuruh aku menantikan dia di sini. Kenapa dia justeru
memilih kuil ini?"
Tengah ia bingung itu, matanya bentrok dengan sebuah peti
mati di ujung ruangan, tadi ia tidak melihatnya lantaran
penerangan remang-remang dan ia belum memperhatikan
sepenuh nya. Tanpa merasa, ia bergidik. Peti itu membuatnya
mendapat perasaan tak enak sekali. Maka ia memutar tubuh
nya, berniat pergi keluar.
Tiba-tiba, peti mati itu mengasi dengar suara bergerejot,
lantas ia melihat tutupnya terangkat perlahan-lahan. Bukan
main kagetnya ia. sampai ia merasa kakinya lemas, sampai ia
tak dapat berg era k Dengan mata mendelong ia mengawasi
terus.
Begitu lekas tutup peti itu sudah terangkat semua, di dalam
itu terlihat seorang wanita tua menggera ki tubuh untuk
berduduk. Dia berambut putih dan rambutnya itu terurai
sampai dipundaknya, Melihat kulitnya dan kurusnya, dia mirip
mayat hidup, romannya menakuti.
Nyonya itu menyingkap rambutnya.
"Apakah kau telah kembali, anak In?" begitu terdengar
suaranya perlahan.
Tiong Hoa berdiam.
(Bersambung ke Jilid 2)
Bujukan Gambar Lukisan
Karya : Wu Lin Qiao Zi
Terjemah : OKT
Jilid 2 : Siapa berbuat baik mendapat kebaikan
Nyonya itu menanya pula. Tetap ia tidak memperoleh jawaban,
maka ia mengulanginya. Tempo ia nasib tak dapatpenyahutan,
ia menjadi gusar.
"Siapa berada dalampendopo ini?" dia tanya, suara bengis,
"jikalau kau tetap tidak mau menjawab, jangan kau sesalkan
aku si orang tua?"
Tiong Hoa bergidik pula. Tapi sekarang ia menetapi hati,
"inilah aku si orang she Lie..." ia menyahut.
Belum berhenti suara jawaban itu, mukanya si nyonya tua
nampak berubah, lalu mendadak dia menyerang dengan
tangannya.
Tiong Hoa kaget, tahu-tahu ia merasa terserang hawa dingin
sekali, hingga tubuhnya
menggigil, habis mana ia merasai tubuhnya mulai kaku,
darahnya seperti membeku dan kedua matanya tak dapat dibuka
lagi, ia menjadi seperti lupa ingatan dan ingin tidur saja.
Tapi ia melawan, ia mengeraskan hati nya, karena mana
tidaklah ia sampai roboh.
Tepat itu waktu, sebuah tubuh kecil langsing berlari masuk
kedalam ruangan itu,
segera terdengar suaranya yang menyatakan dia kaget sekali:
"lbu Mengapa kau menggunai
pula seranganmu Pek Koet Im Hong? Mana orang dapat
bertah an?"
Matanya Tiong Hoa rapat dan berat, ia tetap ingin tidur
saja, akan tetapi pendengarannya masih terang, otaknya masih
sadar, maka itu, ia mendengar dan mengenali suara si nona
tadi.
"Anak In," ia mendengar suara si nyonya lemah, "adakah orang
ini sahabatmu? ibumu telah menanya dia sampai tiga kali,
baru dia menjawab memperkenalkan diri sebagai orang she Lie.
Karena keayalannya itu, ibumu menyerang dia sekarang
tolonglah dia dulu, baru kita bicara lagi."
"Dasar ibu yang sembrono," kata si nona menyesali "Kalau dia
orangnya musuh, mustahil dia suka memberi ketika sampai ibu
membuka mulut?.."
Habis mendengar penyesalan itu, Tiong Hoa lantas merasa ada
tangan yaug lunak yang menempel
dipunggungnya, ia
menduga si- nona mulai menolongi padanya.
Segera juga ia merasakan hawa hangat tersalurkan kedalam
tubuhnya, Bagaikan es lumer, hawa dingin mulai terasa
kurang, makin lama ia merasa makin ringan. Ia terus menutup
matanya, selagi berdiam itu, ia berpikir, ia heran untuk
pengalamannya ini. Sebegitu jauh ia sebal dengan
penghidupannya yang malang, sampai ia mau beranggapan orang
tak dapat dipercaya. Tapi sekarang ia menemui nona yang
berhati baik ini, ia di tolongi orang yang tidak dikenal.
"Penghidupan itu aneh..." pikirnya. Tanpa merasa ia tertawa.
"Eh, kenapa kau tertawa?" tanya si nona perIahan-
Tiong Hoa tidak lantas menyahuti. ia jengah, justeru itu ia
dengar si nyonya tua menanya puterinya: "Anak In, heran. Aku
menyerang dengan Pek Koet In Hong lima bagian luka orang itu
ringan, kenapa kau menoIongi dia dengan tenaga Cit Yang
Cin-lek masih jugabelum berhasil?"
"Ah, ibu" si nona masih menyesali " Kenapa kau menyerang
demikian hebat kepada orang yang tidak mengerti silat ? Dia
sebenarnya sudah sembuh tetapi aku mau menambah tenaganya
dengan cit Yang Cin-Iek."
Tiong Hoa mendengar semua pembicaraan itu. Tidak dapat ia
berdiam terus, Maka ia membuka matanyaJusteru itu, tangan si
nona lantas ditarik pulang dan nona itu tiba tiba berada
didepannya, menatap ia dengan matanya yang jeli.
Karena mereka berada dekat sekali, ia dapat mencium bau
harum, ia menjadi likat sendirinya, pipi dan telinganya
menjadi merah, ia pun takut untuk membalas mengawasi nona
itu. ia terus memandang kearah peti mati.
Si nona bersenyum melihat kelakuanpemuda itu, ia lantas
bertindak kepeti mati itu. "lbu." ia memanggiI.
Ketika itu ruangan masih guram, si nyonya, bercokol didalam
peti mati, Nampak bagaikan hantu.
"Ibu." berkata pula si nona, "mestika itu telah berhasil aku
dapati. Maka ibu bakal melihat langit dan matahari pula
sekarang mari kita lekas berlalu dari sini, supaya orang
tidak menyangka kepadaku."
"Apa, kau berhasil?" tanya si nona. Dia girang hingga
suaranya bergetar. "Dasar orang baik dilindungi Thian."
Mendengar pembicaraan itu, baru sekarang Tiong Hoa ketahui
si nyonya buta matanya, pantas tadi dia lambat menggeraki
tangannya menyerang ia Jadi nyonya itu menanti dulu jawaban,
untuk mengetahui di bagian mana ia berdiri.
Nyonya itu mengangkat seb atang tongkat dari sisi
dengan pertolongan itu ia lantas bangun berdiri,
gesit gerak-geriknya.
" Entah mustika apa itu yang dikatakan si nona?" kata Tiong
Hoa dalam hatinya, ia lantas mengerutkan aIis. Ia sekarang
melihat kakinya nyonya ini bercacad. si nona memandang
sipemuda, ia melihat air muka orang, ia tertawa.
"Aku tahu kau heran atau bercuriga, ingin kau menanyakan
sesuatu padaku" ia kata. "Benar, bukan? sekarang kami mau
lekas berlalu dari sini, jangan kau tanya apa-apa. Di mana
ada ketikanya, kau tunggulah sampai kita berada di siauw Ngo
Tay nanti kau ketahui sendiri."
Si nyonya sudah pergi ke belakang ruangan.
"Mari kita berangkat." kata si nona, "jangan kau sangka
karena kakinya bercacad ibu jadi tak leluasa bergerak. Asal
ia menggunai tongkat, mungkin kau tak dapat menyusulnya."
"Hm, Aku tak percaya." kata Tiong Hoa di dalam
hatinya.."Sungguh gila kalau kakiku tak dapat mengejar orang
yang tak ada kakinya." oleh karena si nona sudah bertindak
pergi, pemuda ini lantas menyusuI. Di bagian belakang, kuil
terlebih gelap daripada di bagian depan,
satu kali Tiong Hoa terkejut, ia mendengar suara sesuatu
yang terhajar hebat, lantas ia melihat sinar terang.
Itulah si nyonya tua, yang menyerang jendela hingga daunnya
menjeblak. habis mana dia berlompat keluar dari liang
jendela itu.
Si nona mengikuti terus. Ketika Tiong Hoa sudah melompat
keluar, nyata ibu dan gadis itu sudah meninggalkan ia
belasan tombak. ia melihat juga, sekali menekan tanah,
nyonya itu dapat berlompat jauh lima atau enam tombak. ia
menjadi heran dan kagum. jadi benarlah kata pemudi itu. oleh
karena ia kuatir nanti dicela si nona, ia lantas menyusul.
Mereka berlari-Iari di daerah pegunungan yang tinggi dan
rendah, di mana pun tumbuh banyak pohon lebat, itu waktu
matahari yang menerangi bukit kuning sinarnya.
Sesudah meninggalkan jauh kuil malaikat tanah itu, Tiong Hoa
mendapat kenyataan ia terpisah belasan tombak dari si nyonya
dan nona, sekarang ia mengerti bahwa ia kalah.
Ia menjadijengah sendirinya ia pula di hinggapi keheranan,
kenapa nyonya tua itu tahu jalanan sedang matanya buta.
Selagi ia memikir itu, pemuda ini ketinggalan lebih jauh
pula.
ooooo
BAB 2
PERJALANAN dilanjuti terus, Di waktu matahari mulai turun,
Tiong Hoa bertiga sudah sampai di kota Tembok Besar, yaitu
kota Cie-keng-kwan, dijalanan penting Hoei-bo kauw, Di waktu
matahari turun itu, Tembok Besar memperlihatkan
keindahannya. Terlihat tembok kota panjang berliku-liku.
sinar matahari pun berwama lima rupa.
Sekeluarnya dari Hoei-bo kauw itu, orang berada di tanah
perbatasan. Dari situ gunung siauw NgoTay sudah mulai
tampak, itulah gunung yang menjadi salah satupusat agama
Buddha dan dalam keindahan alam, dia tak usah kalah dengan
NgoTay san yang besar.
Di dalam Hoei-ho-kauw, dimana ada jalan besar yang pendek
berbaris beberapa rumah warung, sebaliknya orang yang
berlalu-lintas, waktu itu sedikit, inilah mungkin disebabkan
angin keras, yang membuat debu danpasir berterbangan sampai
orang sukar membuka matanya.
Lie Tiong Hoa ikut si nyonya dan gadisnya memasuki sebuah
losmen kecil yang merangkap menjadi rumah makan. Di situ
sudah berkumpul banyak tetamu lainnya, yang sedang duduk
dahar dan minum, Kapan mereka itu melihat tiga orang ini,
ruang menjadi sunyi senyap. semua mata lantas diarahkan
kepada mereka bertiga. sukar jalannya si nyonya, pula mereka
bertiga bed a sangat nyata.
Si nyonya tua dan kurus mirip tengkorak. -si nona sebaliknya
cantik sekali, sedang si pemuda tampan mirip seorang pemuda
hartawan. Maka selain mengawasi, tetamu-tetamu itu
kasak-kusuk. bahkan ada yang berkata-kata tak sedap
didengarnya.
Si nona mengerutkan alis. Dia melihat dan mendengarnya
sebal, Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa, Maka dia
memandangnya tawar.
Tiong Hoa tak berpengalaman, ia heran-suasana di kota raja.
Ketiganya lantas berduduk. si nyonya duduk tegak. romannya
menyeramkan, pelayan sudah lantas membawakan arak berikut
kuwe yang masih panas. Tidak lama maka suasana dalam ruang
itu kembali menjadi biasa.
"Sekarang ini di kota Yan-khia telah terbit beberapa perkara
hebat." terdengar seorang berkata, "Semua perkara itu
menyebabkan repotnya anjing-anjing kantor"
"Coba tuturkan, toako" kata seorang Iain- "Pastilah itu
perkara-perkara yang menarik,"
Hati Tiong Hoa bercekat, ia lantas menoleh kepada orang yang
berbicara itu, yang merupakan serombongan dari tujuh atau
tetamu dengan pakaian hijau dan masing-masing menggendoI
senjata tajam.
Seorang, yang mukanya bercacad bekas bacokan golok, yang
romannya bengis, meneguk araknya, lalu dia berkata:
"Kejadian mulai kemarin dulu malam kira jam dua, Toan Kong,
puteranya Pouwkoen Tongpin Toan Kwee, ada bersama dua tiga
kawannya, Mereka sedang pelesiran.
Selagi lewat di dekat paseban To Jian Teng di Lam hee-wa.
mereka bertemu dengan Lie Tiong Hoa puteranya Lie sie-Iong,
yang romannya bingung, Toan Kong menjadi heran, dia menegur,
tak tahu bagaimana, mereka menjadi berkelahi, Heran putera
tie-tong hu, yang romannya lemah. dia telah menghajar
pingsan Toan Kong murid BoeTong pay itu. setelah itu
ketahuan Lie Tiong Hoa telah membunuh mati pemegang kasnya
serta merampas uangnya.
Kemud ian ketahuan juga, ia telah membinasakan tukang loak
di Lioe lie-ciang serta
seorang Iangganannya. Peristiwa itu lantas menggemparkan
seluruh kota..."
Mendengar itu, mukanya Tiong Hoa pucat sendirinya, si nona
dapat melihat perubahan air muka itu, lantas ia menduga,
pemuda ini tentulah Lie Tiong Hoa itu si putera sie-Iong. ia
mengawasi seraya bersenyum. Tiong Hoa mencoba menetapkan
hati, ia bersenyum juga,
si nona bersenyum dengan hatinya menduga- duga, Kalau si
pemuda orang Kang-ouw, peristiwa itu lumrah. Anehnya yalah
dia ini pemuda turunan orang berpangkat, Kenapa dia membunuh
begitu banyak orang?
"Semua peristiwa itu membikin repot kawanan kaki anjing"
orang itu melanjuti penuturannya. ia menyebut kaki anjing
kepada hamba-hamba polisi.
"Satu gelombang belum sirap. datang satu gelombang lain
inilah hal tercurinya satu cangkir mestika milik Pang eran
Tokeh: itulah cangkir Coei in Pwee yang terbuat dari kemala
Khotea yang terukir mega biru ungu. Empat centeng telah
terbinasa kerenanya, kemudian didapat keterangan, pencurian
berikut pembunuhan itu perbuatannya Kam Liang sam-to yaitu
ketiga penjahat dari Kam liang serta sam Cioe Ya-cee Tam
siauw Go si Mamedi Bertangan-tiga yang dikenal juga sebagai
Tian-tam It Kwie, setan-tunggal dari IoIam selatan-,."
"Apakah faedah atau khasiatnya cangkir kemala Kho toa itu?"
tanya seorang, "Bagaimana cangkir kemala itu dapat
menggiurkan hatinya Kam- liang sam-to dan sam Ciu Ya cee Tam
siauw Go?"
"Tak tahu aku perihal khasiatnya cangkir kemala itu,
Kemudian baru aku mendengarnya
Dari pocu karena orang itu melanjuti, " Untuk cangkir kemala
itu, po-coe sudah menunggang kuda kabur ke kota raja,
cangkir kemala itu sebenarnya satu diantara ketiga mustika
yang sekarang ini tengah diarah kaum Rimba Persilatan-
terutama dua golongan Hitam dan putih sangat mengilarnya.
Ketika hamba hamba istana yang lihai serta kawanan opas
pergi menyusuI, didekat Kho pay-tiam mereka menemukan
mayat-mayatnya Kam-liang sam-to serta Tam siauw Go yang
dadanya bekas ditancapkan senjata rahasia.
Mereka semua terkenal sebagai penjahat-penjahat yang lihai
dan di-malui, sekarang mereka terbinasa tidak keruan itu,
tidakkah itu menggemparkan? Orang percaya sipembunuh adalah
orang muda yang baru muncuI dalam dunia Kang-ouw..."
Mendengar itu, Tiong Hoa mengerti kebinasaannya Tam Siauw Go
bertiga pastilah hasil sepak terjangnya Song Kie serta Tong
tiauw Ngo Mo tapi pada itu si nona didepannya ini ada
sangkut pautnya, terang mustika yang dimaksudkan si nona
yalah cangkir kemala tersebut, ia lantas melirik nona itu
atas mana si nona bersenyum hingga nampak sujennya yang
manis ia lihat sendirinya, lekas- lekas ia melengos.
"Toako?" kata seorang lain. "Kau cerita kurang jelas,
sebenarnya apakah ketiga macam mustika itu? Apakah
khasiatnya itu? Dan poocu, yang sudah lama tidak pernah
keluar rumah, kenapa setelah mendengar halnya cangkir kemala
itu, sudah lantas berangkat ke Yankhia? Kenapa kau tidak mau
menjelaskan itu hanya hal lainnya?
Apakah toako takut lain orang mendengarnya? Kau ingatlah,
kampung Ie Kee Po terpisah dekat dari sini, siapakah yang
berani main gila? Bukankah berani main gila itu berarti
menarik kumis harimau?"
Orang dengan muka bertapak golok itu tertawa.
"Kau tak tahu" katanya nyaring " Ketiga mustika itu penting
sekali, Pocu sendiri yang mengatakan, cangkir kemala itu
bakal menjadi bibit pertentangan hebat kaum Rimba
Persilatan, bahwa mungkin perkampungan Ie KeePo kita bakal
turut terembet karenanya. tentang po-coe kita siapa kah yang
dia buat takut? Babkan Lo-sat Kwie Bo Cek Kiauw-kiauw, yang
dulunya berbareng terkenalnya dengan pocu, masih jeri
terhadapnya .Ketika po-cu berangkat aku melihat wajahnya
dingin sekali, itulah bukti pentingnya urusan."
Mendengar disebutnya nama Lo-sat Kwie Bo Cek Kiauw, atau Cek
Kiauw-kiauw si Biang Memedi, si nyonya tua mengasi dengar
suara di hidung.
Tiong Hoa mendengar itu, ia pun melihat wajah si nyonya,
maka ini mesti ada hubungannya dengan Losat KwieBo. sikap
dingin dari si nona menguatkan dugaannya itu.
Tiong Hoa menjadi orang hijau dalam dunia Kang-ouw, tak tahu
ia perihal orang-orang Rimba Persilatan- Dari gelarannya
saja, ia mau menyangka Lo-sat Kwie Bo bukan orang Iurus.
Melihat sikapny a si nona, ia mau percaya Lo-sat Kwie Bo
adalah nyonya yang menjadi ibunya nona ini, ia menjadi
bimbang ia turut Song Kie sebab ia mau cari gambar lukisan,
sekarang ia turut nyonya dan nona ini ke siauw Ngo Tay.
Apakah perlunya? Apa cuma sebab ia tergiur kepada nona itu?
Kalau benar, apa ia tidak menyalahi pesan mendiang gurunya?
"Baiklah, aku lekas pisahkan diri dari mereka?" pikirnya
kemudian- " Kalau tidak, aku bisa menyesal seumur hidupku."
Tengah ia berpikir begitu, ia melihat si nona lagi menatap
padanya, ia merasa seperti si nona dapat menerka hatinya
itu, sendirinya ia merasa tak enak hati, keringat dinginnya
lantas keluar, sinar mata si nona seperti meminta untuk ia
jangan pergi meninggalkannya .
"Ah, putusanku terlalu getas." pikirnya kemudian- "Bedanya
kejahatan dengan kebaikan nyata sekali, hanya sebelum jelas,
sukar membuktikannya, tak dapat aku lancang menduga nyonya
tua ini, Banyak orang palsu."
Selagi pemuda ini berpikir begitu, banyak tetamu justeru
mengawasi ia dan menduga- duga kenapa ia berkumpul dengan
nyonya jelek dan tua itu serta si nona. Mereka umumnya
menyangka itulah disebabkan ia tergiur terhadap nona itu...
Nona itu tidak puas melihat sikap banyak tetamu itu, ia
mendongkol.
Ketika itu ada datang lagi dua tetemu, dua- duanya imam
dengan kundainya yang tinggi, masing-masing menggendol
pedang, Kelihatannya seperti ssudara, Mata mereka
menunjukkan sinar angkuh. Melihat si nyonya, mereka lantas
melengos, hanya sebentar kemudian, mereka mengawasi. Karena
itu. para hadirin kembali memandang si nyonya. sebagai orang
buta, nyonya itu tak tahu bahwa orang mengawasi padanya.
Tiong Hoa heran-
"Nona, kedua imam seperti kenal ibumu.." katanya perlahan.
Nona itu, dengan kedipan matanya, mencegah orang melanjuti
kata- katanya.
Salah satu imam berkata pa da kawannya: "Romannya sudah
berubah, entah dia entah bukan-.."
"Takperduli dia atau bukan, kita turun tangan saja untuk
mencoba." sahut yang kawan
itu. "Kita coba ekornya sirase, mesti ketahuan-.."
Nyonya tua itu buta tapi telinganya terang, Dari itu ia
dapat mendengar pembicaraan di antara kedua imam itu, ia
nampak menjadi keren-
Imam yang berdiri dikiri mengangkat tangannya perlahan-lahan
diarahkan kepada nyonya tua itu. Lantas ada angin yang
mendesak mukanya.
Tiong Hoa merasakan angin ini, hawanya dingin, lunak tapi
lekas berubah menjadi keras, ia menjadi heran-
Si nona mengerutkan alis, dengan tangannya dia menolak.
Tiba-tiba si imam mundur tiga tindak. tubuhnya terhuyung.
Belum lagi dia berdiri tetap. si nona sudah bertempat ke
depannya, untuk menuding dan menegur. "Oh, hidung kerbau,
kamu tidak pantas Kenapa kamu mencari onar tanpa sebab?
Kalau bukan aku awas dan sebat. tentulah ibuku roboh di
tangan kamu."
Imam itu kaget, mukanya pucat, matanya bersinar tajam, ia
mencoba si nyonya dengan tenaga lima bagian, di luar dugaan,
si nona merintangi ia. itulah kejadian didepan banyak orang.
Dia menjadi gusar. Dia kata. "Kami berdua adalah Mauw san
siang Kiam, belum pernah kami lancang turun tangan.
Kali ini pun aku cuma mencoba, guna mendapat kepastian ibumu
ini benar Lo sat kwie Bo yang dulu hari termasyhur atau
bukan.”
Mendengar itu, ruang menjadi sunyi.
Si imam meneruskan berkata: "Dulu hari justeru kami pergi
pesiar, Lo sat Kwie Bo sudah membasmi murid-murid Mauw san
pay, dan kuil kami pun dibakar ludes. Karena itu
kami berdua merantau mencarinya"
"Hm" mengejek si nona. "Kata-katamu ini tepat untuk dipakai
mengelabui orang-orang dogol. Roman Lo-sat Kwie Bo apa kamu
tidak kenali, toh kamu berani menyebut orang musuh kamu, Aku
tidak tahu Lo sat Kwie Bo tetapi aku tahu ialah satu syarat
hidupnya, Yalah kalau orang tidak ganggu dia, dia tidak
bakal mengganggu lain orang. Kamu tidak kenal dia, kenapa
dia pergi ke gunung kamu?"
Ditegur secara demikian, merah mukanya imam itu. Dia
menyeringai dan kata: "Kau tahu syarat hidup Lo sat kwie-bo,
kau pasti muridnya. sekarang aku hendak hajar yang muda,
mustahil yang tua tak muncul?"
Mauw san siang Kiam memang b ersaudara kembar dan nama
mereka terkenal karenw ilmu pedang mereka. Merekalah Ceng
Leng Toojin dan Ceng inToojin, Mengenai perkara mereka
dengan Los at Kwie Bo, merekalah yang bersalah.
Adik misan laki-laki Lo-sat Kwie Bo mem buka piauw kiok,
ketika dia mengantar piauw (pio), di kaki gunung Thay Hang
san dia dipegat dan di begal Hul-thian cie Ciao Pioe si
Tikus Terbang. Adik misan itu gagah dan sebelah tangannya si
berandal dikutungi ciao Pioe muridnya Ceng leng.
Dia mengadu yang tidak-tidak pada gurunya, Ceng Leng dan
Ceng in gusar, mereka lantas sateroni si piauwsie, yang
mereka bunuh serumah tangganya.
Ketika Lo-sat Kwie Bo ketahui itu, dia pun gusar, dia
mendatangi gunung Mauw san. Kedua imam kebetulan tidak ada
di gunung, tetapi Lo sat Kwie Bo gusar, dia melabrak. dia
bunuh semua muridnya kedua imam itu dan membakar juga
kuilnya. Dia belum puas, dia
merantau mencari Mauw san siang Kiam.
Apa lacur, dia bertemu musuh lain dan dia kalah hingga kedua
matanya buta serta kedua kakinya bercacad dan mati kaku,
sampai sebegitu jauh. Mauw san siang Kiam masih belum tahu
kenapa murid- muridnya dibinasakan dan gunungnya diludaskan-
Sudah lewat sepuluh tahun, Ceng Leng dan Ceng In masih belum
dapat mencari Lo-sat Kwie Bo, itu berarti pembalasannya
belum dapat diwujudkan, tetapi mereka mendendam terus dan
memikirkannya setiap harinya.
Di Hoei bo- kauw mereka dapat melihat si nyonya lantaran
mata orang buta dan kaki mati, mereka bersangsi. Yang mereka
lihat seperti lukisannya, nyonya itu memiliki tahi lalat
merah dijidatnya betulan saja. Karena ini mereka bersangsi
melihat si nyonya tua, maka mereka mau menguji.
Dalam murkanya si nona kata pula bengis "Kamu dua potong
sampah, kamu berani main gila di depan nonamu. Aku tak takut
pedang mustika kamu."
Kedua imam gusar sekali, apa pula Ceng In Too j in.
Mauw san siang Kiam kesohor untuk ilmu pedangnya Pek Wan
Kiam-hoat atau lutung putih. Nama mereka besar, seharusnya
mereka malu melayani seorang nona, tapi kata- kata si nona
tajam, mereka gusar tak terkendalikan-
Begitulah Ceng in tertawa dingin dan kata: "Baik, baik, Nona
tak memandang kami, kau mesti murid orang lihai, kami ingin
menerima pengajaran dari kamu."
Sebelum si nona menyambut, orang yang mukanya bertapak golok
tadi -- orang dari perkampungan Ie Keo Po -- campur bicara
dan berkata nyaring. "Di luar ada pekarangan
luas, baik kamu main-main di sana. Aku Hoe bin-long Lie Koei
dari Ie Koe Po suka menjadi saksi."
"Oh." terdengar suaranya Ceng Leng. "Lio Loosoe, kami belum
pernah bertemu lagi Ie Pocu selama sepuluh tahun. semoga dia
sehat dan berbahagia, harap kau tolong sampaikan hormat
kami"
Hoa-bin-long Lie Koei si serigala Belang tertawa lebar.
"Nama tootiang kesohor, pocu sering membicarakannya," ia
kata, "Baiklah, nanti aku menyampaikannya, Terima kasih.
sekarang silahkan mulai."
Si nona mendongkol dia mengawasi tajam si serigala Belang
itu.
Mauw san siang Kiam menjadi bersangsi. Mereka seperti telah
menunggang harimau sehingga sukar untuk mereka turun dengan
begitu saja, terpaksa mereka berdiam terus sembari mengawasi
bengis si nona.
Si nyonya tua tetap berdiam, mendengar semua pembicaraan
itu, wajahnya tak berubah. Ia sebenarnya gusar tapi ia
menyabari diri, ia ingin lekas pulang untuk dapat mengobati
mata dan kakinya .Jadi tak sudi ia bertempur.
Ketika itu cuaca sudah gelap dan pelayan telah mulai
memasang lilin- Di antara sinar api semua orang tampak
tegang,
Akhirnya Lie Tiong Hoa berbangkit, ia memberi hormat kepada
kedua imam.
"Tootiang orang beribadat, buat apa too tiang melayani
wanita?" ia berkata bersenyum. " Kalau hal ini sampai
tersiar, apakah too tiang tidak bakal mendapat malu?"
Inilah ketika bagus untuk Mauw san siang Kiam mengundurkan
diri, Ceng Lin ingin
menjawab anak muda itu ketika si nona memandang si pemuda
dan berkata: " Kenapa kau campur tahu urusan ini? Nonamu
justru ingin mengajar adat kepada kedua hidung kerbau ini,
untuk aku melihatnya mereka masih berani mendatangkan onar
atau tidak."
Nona itu ketahui duduknya hal, ia ingin melampiaskan
kemendongkolan ibunya sebab ibu itu sungkan turun tangan, ia
suka mewakilinya.
Tiong Hoa tidak dapat menerka hati si nona, maka itu, kena
ditegur, mukanya menjadi merah, hingga ia berdiam saja.
Melihat orang kebogehan, si nona tertawa seraya terus
berkata, "Kau tunggu di sini melihat ibuku." Kemudian ia
memandang ke dua imam, untuk berkata tawar: "Hayo ke luar
Apakah kamu ingin nonamu menyeret kamu?"
Mauw san siang Kiam mendongkol bukan main, sambil tertawa
dingin, keduanya bertindak keluar, samar-samar terdengar
suaranya Ceng In: "Budak ini tak tahu langit tinggi dan bumi
tebal."
Si nona kembali mengawasi si anak muda, ia tertawa dan
memesan pula perlahan: "Aku minta kau menemani ibuku, seb
entar aku nanti haturkan terima kasihku kepadamu"
Ketika itu, mengikuti kedua imam, para hadirin sudah pa da
pergi keluar, maka di dalam ruang itutinggalsi nona bersama
ibunya serta sipemuda.
Semangat Tiong Hoa seperti terbang melihat dua kali si nona
tertawa, Wajah nona itu mirip bunga hoe-yong dan alisnya
mirip daun yang lioe. Apapula ketika si nona melirik padanya
selagi dia bertindak keluar.
Tiong Hoa lagi kesengsam ketika ia mendengar si nyonya
berkata sambil menghela napas padanya: "Anak muda, tahukan
kau aku si orang si tua orang macam apa?"
"Aku telah menduga delapan sampai sembilan bagian, hanya aku
yang muda tidak berani menyebut nama loo cianpwee," Tiong
Hoa menyahut cepat.
Muka seperti tengkorak nyonya itu tertawa, ia kata: "Anakku
In Nio ini belum pernah ada priya yang menarik hatinya, maka
itu mungkin pa da kau dia melihat sesuatu, Dia gampang
sekali tersinggung, kau baiklah berhati-hati terhadapnya."
ia berdiam sebentar lantas ia kata pula: "Aku si orang tua
dapat menjaga diriku, kau pergi keluar melihat si In..”
Tiong Hoa girang mendengar kata- kata itu, ia memang ingin
keluar, Tak enak hatinya berdiam berduaan saja dengan nyonya
tua itu. "Baiklah, loocianpwee" ia kata, Lantas ia memberi
hormat danpergi.
Di luar, sang malam terang sekali. sang rembulan tengah
permainya. Disisi pekarangan itu bulan tengah permainya.
Disisi pekarangan telah berkumpul penonton tak kurang dari
pada delapan puluh orang, Di tengah gelanggeng si nona lagi
berdiri sembari mengawasi kedua imam sambil tertawa, ia baru
saja menanya: "Aku minta tanya kedua tootiang ingin main-
main secara apa ? satu lawan satu atau kamu meluruk berdua?
Nona mu selalu bersedia mengiringi kamu?"
Nona itu merangkap kesesatan dan kelurusan, kata katanya itu
keluar dari hati tulusnya. Tapi di telinga Mauw san siang
Kiam, suara itu tak sedap terdengarnya, Biar bagaimana,
merekalah ketua suatu partai dan selama merantau, belum
pernah ada orang yang berani menghina atau mempermainkannya,
sekarang si nona tak memandang mata padanya,
Panas hati mereka, Lebih-lebih Ceng In yang cupat
pandangannya. Dia tertawa dingin
lantas dia lompat menerjang. Dia mau menangkap tangan si
nona.
Tiong Hoa dapat melihat itu, dia terkejut ia kuatir si nona
terlukakan si imam.
Tapi nona itu, melihat orang bergerak. dia tertawa. Dia
kata: "mau nekad, kau hendak mengadu jiwa, baik, sebentar
nonamu akan membikin kau memperoleh kepuasan." Sembari
berkata begitu, dia berkelit dengan lincah, Bahkan tahu-tabu
dia sudah berada di belakang orang.
Dengan kedua tangannya ia lantas menotok dua jalan darah
Ceng Cok dan Ie-boen dari imam itu.
Ceng ln terkejut, ia mendengar suara angin- Tahulah ia bahwa
nona itu tidak dapat dipandang, ia geser tubuh ke kanan, ia
berbalik, dengan kedua tangannya ia menyambuti serangan, ia
mendak sedikit, untuk menggunai tipu silat "Badak dongak
memandang rembulan."
Nona itu tertawa pula, kedua tangannya ditarik pulang,
Berbareng dengan itu, tubuhnya berputar , ia berputar terus
sampai tujuh atau delapan kali, mengitari si imam.
Ceng In menjadi repot dan bingung, ia mesti turut
berputaran, karena mana, ia merasa matanya kabur. si nona
bergerak dengan sangat cepat, Kalau ia alpa, ia bisa celaka,
ia kenali si nona lagi menggunai tipu silat "Thian mo loan
koe," yaitu Hantu langit menari," Maka terpaksa ia berlompat
ke luar.
Justru orang menyingkir justru si nona menyerang, tangan
kirinya menyambar jalan darah kiok-tie ditengan kanan imam
itu.
Ceng In kaget, Tak dapat ia menangkis, ia cuma bisa
berkelit, Saking terpaksa, la berlompat pula terlebihjauh.
Si nona tertawa pula, ia menyusul tangan kirinya meluncur.
Ketika ia gagah tubuhnya berlompat tinggi melewati si imam.
ketika ia menginjak tanah, cepat luar biasa ia berbalik
terus tangan kanannya menyerang, mencari jalan darah
leng-kio di dada kiri si imam.
Kesebatan itu membikin bengong para penonton- Ceng Leng pun
kaget, Kecuali lompatan itu, yang harus dikagumi, ia juga
mengenal totokan tangan kiri dan kanan si nona.
Totokan tangan kiri itu bernama memedi menggerogoti tulang.
itulah ilmu silatnya kaum sesat. Dan totokan tangan kanan,
"Tapak tangan Kim-kong" ilmu silat kaum lurus,jadi dia
menggabung kepandaian kedua kaum persilatan itu Anehnya itu
dimiliki seorang wanita demikian muda, karena ini, ia jadi
mau membantui saudaranya, kalau tidak, ia kuatir saudaranya
bercelaka.
Tanpa ayal lagi, sembari berseru, ia berlompat maju, terus
ia menyerang dengan pedangnya, yang ia hunus sambil
berlompat, hingga ia menyerang dari atas ke bawah.
Si nona mendapat tahu datangnya musuh yang kedua, ketika ia
di serang, ia berkelit sambil mendak. dengan begitu, pedang
lewat di sisinya, Lantas dengan cepat ia mendupak kearah
pedang. Tepat dupakannya itu, pedang terkena hingga berbunyi
nyaring.
Ceng Leng terperanjat. Jejakan itu keras sekali, pedangnya
terasa berat, lengannya kaku tak bertenaga.
Si nona tak berhenti dengan jeb akannya itu, ia bangun
berdiri, terus ia menyerang.
Sekarang ia menggunai kedua tangannya, ia menyerang kedua
tangan lawan, itulah tipu silat "Naga perak membiak
sisiknya."
Selagi si nona menyerang itu Ceng In, yang memperoleh
ketika, telah menghunus pedangnya juga, terus ia menyerang,
ia mau menolongi saudaranya yang terancam bahaya.
Ceng Leng sendiri kaget hingga ia merasa
pamornya bakal
runtuh. syukur datang pertolongan saudaranya itu, si nona
batal menyerang terus, Nona itu mau melindungi diri dari
pedang Ceng In. Maka si imam lompat ke samping.
Nona itu tertawa, dia kata. "Nonamu menyangka Mauw San siang
Kiam liehay luar biasa, kiranya cuma sebegini" Dia bicara
sambil berdiri tegak, di bawah sinar rembulan, dia nampak
seperti seorang dewi.
Kedua imam bingung bukan main. Mereka tak kenal sinona,
dengan begitu mereka jadi tak ketahui asal usul orang, Di
dalam hati mereka mengakui keliehayan orang yang masih muda
sekali tetapi dapat menggabung ilmu silat kaum sesat rtan
lurus, di lain pihak mereka sangat penasaran.
Selagi ceng Leng memikirkan daya untuk mengalahkan lawannya,
Ceng In melihat si anak muda berdiri terpisah enam tombak,
matanya mengawasi si nona saja, Pemuda itu agak tersengsam.
Menampak demikian, ia mendapat akal-muslihat yang licik.
Begitulah mendadak ia lompat ke depan si nona untuk menikam.
Ceng Leng melihat ketikanya, ia pun membarengi menyerang,
Si nona lagi mengawasi, maka ia melihat gerakan kedua lawan
itu. ia bersiap untuk melayani. Baru ia berkelit dari Ceng
In, mendadak imam itu beriompat ke samping, tangan kirinya
terus diluncurkan, guna meny amber si anak muda.
Tatkala itu tibalah pedang Ceng Leng, Si nona meluncurkan
dua jari tangannya.
Untuk menyambuti pedang, untuk di sampok dengan dua jarinya
itu, ia berhasil, pedang berbunyi nyaring dan terpental
Ceng Leng kaget bukan main, ia merasa lengan dan telapakan
tangannya sakit, Tak dapat ia mencekal terus pedangnya,
Pedang itu mental ke atas genting.
Nona itu menggunai tenaga "cit Yang," itulah ilmu silat
ajarannya tocu atau pemilik, dari pulau Lee Coe To di
Poet-hay di teluk Titlee, Untuk pertama kalinya, pemilik
pulau itu menggunai tenaga Cit Yan itu atau Cin Yang Cie-Iek
dalam pertempuran di gunung Jang Wie san di telaga Thay ouw.
Dalam tiga jurus dia mengalahkan see-hek Mo Ceng, pendeta
hantu dari wilayah Barat, sampai tulang iga orang remuk dan
dengan muntah-muntah darah pendeta itu lari kabur, sedang
dua belas imam dari Lu Liang san terbinasa dengan pedang
mereka rusak, itulah peristiwa yang menggemparkan, yang
membikin tocu itu menjadi kesohor. si nona belum mencapai
kemahirannya, tetapi toh kedua imam ini sudah kewalahan.
Habis membikin mental pedang Ceng Leng, si nona terkejut
melihat Ceng In yang mundur dari hadapannya, mau mencelakai
si anak muda. "saudara Lie, awas" ia berteriak.
Tiong Hoa mendengar peringatan itu sesudah kasip. ia lagi
mendelong tatkala si imam berhasil meny amber lengannya yang
kanan. segera ia merasakan nyeri hebat, tapi ia tidak
menjadi gugup, bahkan ia mendongkol sekali. sambil menahan
sakit, ia membalas menyerang. Ia menggunai tinju kirinya
sekuat tenaganya.
Inilah tidak disangka Ceng ln, syukur dia tidak menjadi
gugup, sambil melepaskan cekalannya, dia berkelit, lalu
sambil berkelit itu, dia menyabet dengan pedangnya ke-tangan
kiri si penyerang.
Hanya baru lewat satu hari dan satu malam pengetahuan Tiong
Hoa menjadi bertambah, ia menyingkirkan tangan kirinya dari
sabetan pedang, tetapi ia tidak berkelit mundur. Dengan
tangan kanannya yang sudah bebas, ia membarengi menyerang,
menghajar lengan kanan si imam.
Si nona melengak melihat kepandaian si anak muda, itulah
bukan caranya si hijau dalam dunia kang-ouw, ia menjadi
kagum, hingga selain hatinya lega, iapun bersenyum
memperlihatkan sujennya.
Ceng Leng bingung, juga Ceng In. Di luar dugaannya, si nona
gagah, si pemuda gagah juga, Karena itu, mereka memikir
untuk mundur dengan teratur. Tak lama keduanya memakai
tempo. Tiba-tiba mereka lompat mundur, selagi si pemuda dan
pemudi heran, mereka maju pula, terus mereka merangsak,
menyerang saling susul itulah ilmu pedang mereka, "Mauw san
Toan Hoen Kiam hoat" atau "Memutus Arwah."
Luar biasa si anak muda, Mendadak malam ini ia memperoleh
semangat. ia melayani dengan baik, tabah dan gesit, Dan
begitu terbuka ketikanya, ia desak Ceng In.
Lagi-lagi si imam heran dan kaget, mukanya menjadi pucat,
Bukankah ia seorang jago? dan memegang pedang juga? Lantaran
di-desak, ia repot membela diri sedetik ia bingung, dadanya
lantas tertindih si pemuda hingga ia menjerit, terpaksa
selagi terhuyung, ia memutar tubuh untuk lari ke arah timur.
Ceng Leng tahu diri, ia pun lari meninggalkan si nona.
Tiong Hoa tidak mengejar musuhnya, ia berdiri tegak,
gerakannya gagah. si nona melihatnya, dia menjadi kagum,
hatinya girang. Benar-benar luar biasa, toh waktu diserang
ibunya, pemuda itu mirip seorang tidakpunya guna, sebab ia
tak dapat menangkis, tak bisa berkelit.
Juga Tiong Hoa sendiri heran atas dirinya, tiga tahun ia
belajar silat, ternyata itu tak sia-sia belaka, jadi tak
kecewa gurunya memberi pelajaran kepadanya. Rupanya dulu ia
kurang bersemangat karena perlakuan orang tuanya yang
menekan bathinnya dan setelah merdeka, ia bebas benar benar,
sekarang iapun memperoleh kawan cantik manis, yang erat
sekali pergaulannya dengannya .
Satu hal tak diketahui si muda mudi. Hati Mauw san siang
Kiam telah menjadi rada ciut ketika mereka menduga si nyonya
adalah, Lo-sat Kwie Bo, pukulan itu berakibat buruk. hingga
melayani muda mudi itu, hati mereka hilang ketenangannya.
inilah yang mempercepat kekalahannya.
Lantas si nona menghampirkan Tiong Hoa. Dia bersenyum.
"Aku salah mata?" katanya, "Aku tidak nyana kau bisa
mengalahkan Ceng In si imam jago dari Mauw san."
Mukanya pemuda itu menjadi merah, ia likat.
"Kau memuji saja, nona." katanya jengah, "Kepandaianku cetek
tidak berarti, tak dapat aku dibandingkan dengan kau. Lihat
saja caranya kau menyentil pedang orang barusan-"
Nona itu senang sekali dengan itu pujian- ia kata dalam
hatinya, pemuda ini bisa bicara, dia pun tampan, maka
entahlah ibu menyukai atau tidak..."
Ia lantas ingat bahwa sebegitujauh belum pernah ibunya
memberi hati kepada kaum pria, bahkan semenjak buta, ibu itu
makin keras sikapnya, asal dia mendengar suara pria, dia mau
lantas menyerang.
Jangan bicara begini manis." katanya, bersenyum, "siapa tahu
kau tidak bicara setulusnya hati? Mari, mari kita melihat
ibu." Dan ia bertindak lebih dulu masuk kedalam.
Kata-kata "Kita" itu membikin Tiong Hoa berpikir seperti
terkena pengaruh, ia lekas menyusul.
orang-orang le Kee Po, dipimpin Lie Keei, telah buyar entah
kemana, Para tetamu lainnya pada tak berani mengikut ke
dalam. Mereka pun bicara dengan kasak kusuk. Maka itu, habis
pertempuran sang malam menjadi sunyi.
Dari dalam rumah makan merangkap penginapan itu, dimana
hanya terlihat sinar lilin, mendadak terdengar teriakan
kaget: "lbu..." ooooo hh”
KETIKA Tiong Hoa tiba di dalam, ia kaget, ia dengar jeritan
si nona, lantas ia melihat tubuh nona itu melompat ke luar
jendela, hingga api lilin bergoyang-goyang. si nyonya tua
tak nampak. Di atas meja nampak dua tapak tangan yang
melesak dalam. Di lantai menggeletak sepotong tongkat. Di
dekat meja, dua buah kursi ringsak. Dalam sekejap itu, si
anak muda lantas menduga mestinya si nyonya tua kena diculik
orang, Mestinya culik itu gagah, sebab mereka telah
bertempur lebih dulu, Atau si nyonya lari mengejar
musuhnya...
Tiong Hoa berkuatir dan menyesal, la ingat pesan si nona
tadi untuk ia menunggui ibu orang itu, Toh ia pergi keluar
walaupun ia dititahkan si nyonya, seharusnya ia tolak titah
itu, atau ia menjagai dari luar, ia menjadi tidak enak hati.
Kalau ia ketemu si nona, apa ia mesti bilang? Maka ia
menjadi bingung, ia berdiri menjubIak.
Tapi tak lama, ia sudah mengambil keputusannya, ia melompati
jendela pergi keluar, ia mengguna i ilmu lompat melesat yang
gesit, yaitu "Hoa i yap touw lim." atau "Daun terbang ke
dalam rimba."
Tatkala ia sampai di luar, suasana sunyi, Bintang banyak,
rembulan masih sedang terangnya. setelah melihat kelilingan
dan tak melihat siapa juga, ia lantas lari keluar Bao Lie
Tiang shia. Tembok Besar, untuk menuju ke gunung siauw Ngo
Tay.
Gunung itu panjangnya mencapai beberapa ratus lie, banyak
pohonnya, banyak batunya, seperti umumnya gunung sukar juga
untuk dimendaki. Tapi Tiong Hoa, setibanya, lantas lari
naik, ia mencari si nona dan ibunya inilah tugas sulit dan
berat untuknya. sukar mencari orang di tempat sepi dan
belukar itu
Gagal Tiong Hoa malam itu, tak dapat ia mencari wanita tua
dan muda itu, ia melanjuti di waktu pagi dan siangnya, terus
tengah hari, lohor dan sore lagi, ia tetap gagal, ia bingung
dan bertambah kuatir, ia berfikir keras. semua itu tidak
menolong, ia mencari terus tanpa hasil, sampai berhari-hari.
Tak pernah Tiong Hoa turun dari siauw Ngo Tay, ia menjelajah
gunung itu. Untuk menangsal
perut, ia makan saja buah-buahan, Untuk menghilangi dahaga,
ia mencari sumber air, ia tidak dapat menyalin pakaian
hingga baju dan celananya kumal dan kotor, sampai rambutnya
tak terurus, ia tak lagi si pemuda tampan saking dekilnya
itu.
Sampai di hari ke lima, Tiong Hoa tetap gagal. Di gunung
itu, seorang tukang kayu pun tidak ada. sebaliknya, hampir
ia di-pagut ular. syukur tubuhnya ringan dan dapat ia
berkelit dari ancaman bahaya itu. Bahkan pengalaman itu
merupakan latihan bagus untuk kepandaiannya itu.
Setelah kewalahan, ia pergi keluar dari gunung, ia berada di
mulut lain dari gunung itu, ketika ia meraba mukanya, ia
kata: "Ah, aku mesti mandi." Maka itu ia berjalan mencari
selokan, yang berada tujuh atau delapan tombak dari dirinya,
ia mendengar suara air berkericik, ia jongkok di tepian, ia
menyaup air dengan kedua tangan nya, untuk mencuci mukanya.
Mendadak...
“Jangan! Jangan. Air itu tak dapat dipakai..."
Tiong Hoa terkejut, hingga air pada molos dari sela-sela
jerijinya, ia lantas menoleh ke arah dari mana suara datang,
suara itu bergemetar, datangnya dari rumput di sampingnya.
Sesudah lima hari seperti terpisah dari dunia, Tiong Hoa
heran berbareag mendapat harapan, ia lantas bertindak
menghampirkan, Di dalam rumpun rumput itu ia melihat seorang
tua dengan baju kuning rebah tak berdaya, romannya sangat
kucal, mukanya bengis, tak berkumis, kepalanya lanang.
Matanya pun guram ketika dia melihat orang yang meng
hampirkan padanya .
"Eh, bocah, aku telah menolong jiwamu" katanya sembari
tertawa dingin- "Maka itu kau
harus melakukan sesuatu untuk aku si orang tua."
Tiong Hoa heran.
"Apa? ia tanya, "Kau telah menolongi jiwa ku? oh, loo-j in-
kee, janganlah kau berguyon- Untuk berbuat sesuatu untukmu,
itulah pantas, nanti aku berikan bantuan, Hanya aku ingin
lihat dulu, apakah itu yang aku kerjakan-.."
Orang tua itu membuka matanya lebar-lebar.
"Kau tidak percaya aku?" bilangnya, "segera kau akan ketahui
sebenarnya itu bukan apa apa. sekarang kau tolong dulu
mengeluarkan satu peles kecil dari pinggangku, kau ambil
sebutir obatnya, kau masuki itu ke dalam mulutku si orang
tua." sekarang Tiong Hoa bisa melihat tangan dan kaki orang
itu tak dapat digeraki. "oh," katanya, "Aku kira kerjaan
apa, tak tahunya pekerjaan sangat mudah."
Ia membungkuk. merabah pinggang orang tua itu, ia
mendapatkan peles kecil yang di sebutkan itu, Dengan
perlahan ia meloloskannya, terus ia buka sumbatnya, Lantas
hidungnya mencium bau harum, hingga dadanya menjadi lapang.
Ketika ia menuang isinya, keluar enam butir obat pulung,
warnanya merah dadu, kuning gading dan putih susu. ia jumput
sebutir yang merah dadu itu, yang lainnya ia masuki pula dan
menutupnya dengan rapat, selama itu si orang tua menatap
tajam wajah orang.
Tiong Hoa menyirapi obat itu si orang tua mengganyangnya
sambil merapatkan matanya. Tak lama kemudian, muka pucat
orang tua itu mulai bersemu dadu.
Si anak muda heran, itulah perubahan untuk orang yang
mengerti ilmu tenaga dalam. Maka ia
mau menduga, orang tua itu seorang jago Rimba Persilatan.
Hanya kenapa kaki tangannya mati-mati. Apakah dia habis
dibokong musuh? Kalau benar, musuh itu lihai sekali, Kalau
benar begitu, kenapa dia tidak sekalian dibunuh mati?
Tengah Tiong Hoa berpikir begitu, tubuh si oraog tua
berkutik, Dia mulai menggeraki tangan dan kakinya
perlahan-lahan. Agaknya dia lagi mencoba-coba, tidak lama,
sekonyong-konyong dia bangun berdiri, terus dia tertawa
berkakak. Nyaring tertawanya itu. Dan lama juga. Habis itu,
dia menatap anak muda di depannya,
"Anak muda, kau datang ke gunung ini dengan membawa banyak
uang, buat apakah itu?" dia tanya, Dia lantas melihat
bungkusan uang orang. Tiong Hoa membayar pulang peles obat.
"Sudah lima hari aku yang muda berada di atas gunung ini
mencari orang" ia menyahut tertawa, "Aku tidak berhasil
mencari, dari itu terpaksa aku turun gunung."
"Oh begitu" kata orang tua itu tertawa pula "Aku kira gunung
siauw Ngo Tay ini ada orang hutannya." ia menatap kembali
tajam. ia berkata pula, "Aku si orang tua, aku biasanya tak
suka menerima budi orang. Ketika tadi kau berdiri di mulut
gunung itu, sudah aku melihatnya, hanya aku tidak mau
memanggil kau, baru setelah kau mengambil air, aku
menegurmu, Dengan begitu aku menolongi jiwa mu.
Dengan demikian juga, kita menjadi tidak saling berhutang
budi, selokan itu telah aku campuri racun, siapa kena minum
atau pakai airnya, dia mesti binasa, taksalah lagi, jikalau
kau tidak percaya. pergi kau ikuti selokan itu, sebentar
saja kau akan dapat buktinya bahwa aku tidak rnendusta."
Tiong Hoa kaget. Toh ia bersangsi, Maka ia bertindak ke
hilir, Baru ia melalui lima atau enam tombak. la terkejut
bukan main- Di tepian itu terlihat menggeletak tiga mayat
manusia, mukanya matang biru tanda terkena racun- Darah pun
keluar dari mata. hidung mulut dan telinganya, dari liang
keringatnya. Karena kedua mata mereka masing-masing
mendelik, itulah bukti kebinasaan yang hebat. Dengan hati
berdebaran, ia kembali kepada si orang tua,
Tanpa menanti orang membuka mulut, si orang tua menyambut
dengan tertawanya.
"Apa kataku?" dia tanya, "tiga orang itu musuh besarku
selama hidupku" setiap tiga tahun sekali. kita membuat
pertemuan, kita bertempur mati-matian, Mereka bertiga selalu
berkelahi bersama dan berbareng. Sebegitu jauh belum pernah
kita kalah atau menang. Baru kali ini aku memikir akal..."
Dia mengawasi pula, agaknya dia puas sekali. Dia melanjuti:
"kita mulai bertempur, aku bicara dengan mereka itu. Aku
menyarankan untuk jangan mengadu tangan dan kaki hanya untuk
mengukur saja tenaga dalam masing-masing, Mereka itu bangsa
kepala besar dan jumawa, mereka tidak sudi mengalah, maka
itu mereka menerima baik saranku itu. Dengan begitu kesalah
mereka tertipu aku..."
"Siapa mereka itu? Mestinya mereka juga jago Rimba
Persilatan..."
Orang tua itu menentang matanya, "Apa?Jago Rimba
Persilatan?" katanya mengulangi. "Mereka justeru bangsa
buruk dan terkutuk sudah lama aku memikir menyingkirkan jiwa
mereka, saban-saban aku bersangsi, tapi kali ini Thian
membantu aku, dan dengan demikian untuk kali ini hatiku
dibikin mantap. Aku mengusulkan kita sama sama minum air,
lalu
kita semprotkan ke-pohon yang menjadi sasaran atau batu
ujian kemahiran tenaga- dalam kita. Siapa yang dapat
merontokkan semua daun, dialah yang menang, Siapa yang
kalah, dia bersedia untuk dihukum cara apa saja oleh pihak
yang menang.
Kita berkelahi dengan satu lawan tiga, tentu sekali,
harapanku ialah harapan kalah, Mereka menerima usul itu
sambil bersenyum. terang mereka sudah merasa bakal menang.”
Mendengar begitu, Tiong Hoa menoleh dan melihat empat pohon
bong berdiri berendeng, daun-daunnya sudah rontok
separuhnya, itulah pertaruhan bukan main- Dalam musim
seperti ini, daun pohon sedang kuatnya melekat pada
tangkainya.
"Mereka tidak tahu bahwa aku menggunai tipu muslihat." si
orang tua melanjuti penuturannya. "Selagi aku mengambil air,
diam-diam aku melepaskan sepotong racun- siapa terkena itu
tak dapat sembuh kecuali dia makan obat pemunah ku, Itulah
ini obat merah, Habis minum air sebanyaknya, kita mulai
mengadu kepandaian, Siapa pun diantara kita tak ada yang
sanggup merontokkan semua daunnya pohon itu, Selama itu,
racun sudah, bekerja didalam perut mereka.
Mereka liehay sekali, lantas mereka merasa, terus mereka
menduga duduknya hal. Lantas mereka menutup jalan darah
mereka, bersama-sama mereka memaksa aku menyerahkan obat
pemunah. Coba kau pikir, mana dapat aku meluluskan
permintaan mereka itu? Maka mereka menyerang aku, Aku
membela diri.
Ketika itu racun di perutku juga bekerja, Mereka tidak
berhasil mendapatkan obat dari aku, mereka mati keracunan,
Habis itu akupun roboh. Kau telah lihat bagaimana kau
menemukan aku..."
Lie Tiong Hoa menggeleng kepala. "Masih ada yang aku tidak
mengerti," katanya, "Kamu sama sama minum racun. kenapa
mereka mati tetapi loojin-kee tidak? pula air selokan itu
mengalir pergi, seharusnya racunnya terbawa hanyut, Mustahil
racun itu tetap mengambang?"
Orang tua berbaju kuning itu tertawa lebar.
"Bocah, kenapa otakmu tidak cerdas?" dia kata, "siapa
menggunai racun mustahil tak tahu sifat racunnya sendiri?
Begitu aku merasa racun mulai bekerja, aku mengerahkan
tenaga- dalam membuat racun mengalir hanya ke tangan dan
kakiku. Tidak demikian, pasti aku pun sudah melayang jiwaku.
sebelum tangan dan kakiku mati. mereka terhajar tanganku
hingga pecahlah pembelaan diri mereka, hingga racun
meluluhkan, menyerang semua anggauta dalam tubuh mereka.”
Habis berkata begitu, mendadak orang tua itu menyamber
lengannya Tiong Hoa.
Si anak muda kaget tetapi tak sempat dia berkelit atau
berlompat, dia terpegang dan kena ditarik si orang tua
sampai belasan tombak jauhnya, baru dilepaskan. orang tua
itu pergi ke selokan, untuk memasuki tangannya ke dalam air,
merogo keluar sepotong benda sebesar telur angsa warna hitam
kehijau-hijauan bercahaya, Dia ulapkan itu.
"Kau tentu mengerti sekarang" katanya, tertawa, " inilah
bisa ular ribuan tahun yang telah membeku menjadi seperti
beling, Kalau ini direndam di dalam air, air racunnya
setetes saja dapat merusak usus, terus orang mengeluarkan
darah dan mati."
Tiong Hoa bergidik,
"Benarlah kata guruku," kata ia dalam hati, "di dalam
kalangan Rimba persilatan tidak ada yang tidak aneh, maka
itu perlu orang waspada."
Menampak si anak muda berdiam saja, orang tua itu tertawa
pula. "Anak muda, apakah kau mengerti ilmu silat?" dia
tanya.
"Pelajaranku tak berarti, tak berani aku menyebutnya ilmu
silat," sahutnya, ia bersenyum likat.
"Tak perduli kau yang benar atau tidak. kata-katamu tepat,"
kata si orang tua. "Memang ilmu silat dalam bagaikan lautan,
Aku tersohor dalam dunia Rimba persilatan, toh pengartianku
belum ada satu persenpun, Kau dapat merendah, sifatmu
terbaik, Aku si orang tua berhutang budi padamu. nanti aku
menyempurnakan kau."
Tiong Hoa tertawa.
"Tadi toh loojinkee mengatakan kita tidak saling berhutang."
katanya. "Kenapa sekarang loojinkee bilang ada berhutang
kepadaku?"
Orang tua itu mengawasi, sinar matanya tajam.
"Kau ngaco, kau tidak tahu." katanya, "obatku tadi, apabila
yang putih, ialah salah sebuah mustika Rimba Persilatan,
Namanya itu PouwThian Wan, pel penambal langit. siapa makan
itu, tenaganya bertambah seperti latihan sepuluh tahun. Dia
akan seperti tertukar tulang-tulangnya, Dalam seratus orang
Rimba Persilatan, tak satu yang memilikinya. Dua obat yang
lain juga besar faedahnya. Tadi obatku berada dalam
tanganmu, kalau kau memikir merampasnya dan kau tinggal aku
lari, apa aku bisa bikin? Nyata hatimu lurus, itu yang
membikin aku bilang aku berhutang budi padamu."
Tiong Hoa menggeleng kepala, dia tertawa. "jikalau tadi aku
mengetahui itulah obat mujarab, mungkin aku membawanya lari"
ia kata.
Orang tua itu tertawa berkakak. untuk ke sekian kalinya ia
menatap pula, Dengan mengawasi mata orang, ia seperti mau
menembusi hati. Terus ia mengasi lihat roman
sungguh-sungguh.
"Kaulah orang dengan bakat silat yang baik sekali." ia kata,
"sayang aku si orang tua, tidak mempunyai kesabaran untuk
menerima murid, Pada empat puluh tahun dulu pernah aku
mengambil seorang murid, baru satu tahun setengah, aku
meninggalkannya, semenjak itu, aku dan muridku itu belum
pernah bertemu lagi, sekarang aku menjadi terlebih tak
sabaran pula, jikalau tidak. pasti kau bakal memperoleh
banyak kebaikan dari aku" la berhenti bicara, romannya tetap
sungguh-sungguh.
Tiong Hoa mengawasi ia merasa Jenaka, orang seperti bicara
sendiri, ia kata dalam hatinya: "siapa kesudian menjadi
muridmu? Akupun tidak sabaran...."
Lantas ia tertawa dan kata, "Loo-jinkee, jikalau kau tidak
membutuhkan apa-apa lagi, aku mau turun gunung."
Orang tua itu lagi mengawasi ketika ia mendengar perkataan
si anak muda, ia memikirkan orang berbakat dan bersifat baik
lagi jujur. ia tidak sabaran, anak muda itu tidak sabaran
juga, Tapi keragu-raguannya lantas lenyap. ia buka sumpel
pelesnya, ia mengeluarkan sebutir obat yang putih.
"Kau makan ini." katanya, Kemudian ia merogo keluar dari
sakunya sejilid buku kecil, sembari tertawa ia berkata, "Aku
tidak sangka kau lebih tak sabaran daripada aku, oleh karena
kau tidak meminta apa-apa, aku si orang tua menjadi kurang
enak hati. obat Pouw Thian Wan itu bakal menonolong kau
selama hidupmu" ia terus menunjuk buku kecil itu dan berkata
pula: " inilah kitab ilmu silat yang aku ciptakan setelah
mengumpulkan sarinya ilmu silat pelbagai partai persilatan.
Di dalamnya aku telah melukis tiga belas gambar. Setiap
jurus besar faedahnya dan dapat menambah tenaga, ilmu silat
itu dalam, diperjalanannya mesti perlahan-lahan, mesti
teliti, lebih-lebih orang tak boleh kekurangan pengalaman.
siapa tidak mengumpulkan tindakannya, tak dapat dia jalan
jauh seribu lie, Kalau tidak ada aliran air kecil, tak nanti
ada sungai besar atau hutan,
Maka kalau dapat kau meyakinkan ini sampai berhasil, kau
akan merasa kefaedahannya yang
tak terbatas."
Habis berkata, dia menyerahkan kitabnya, untuk pergi lari,
hingga sejenak kemudian lenyaplah dia di dalam lebatnya
pepohonan si anak muda melengak saking herannya. ia
mengawasi terus.
Katika itu sudah jauh lohor, maka dengan lewatnya sang waktu
cuaca menjadi guram. Melihat itu, Tiong Hoa lantas lari
menuju- ke Tok-lok. selagi lari, ia merasa heran ia mendapat
kenyataan larinya bertambah pesat, tubuhnya jauh terlebih
ringan.
"Inilah khasiatnya Pouw-Thian-wan." pikirnya. ia menjadi
girang sekali. "Aneh pengalamanku. Aneh orang tua itu,
Kenapa dia tidak menjelaskan siapa ketiga musuhnya itu dan
apa sebab musabab permusuhan mereka?"
Dia juga tidak memberitahukan she dan namanya, sedang aku
tak sempat menanyakannya.
Tepat di saat penerangan dipasang, Tiong Hoa tiba dalam kota
kecamatan Tok-lok. Malam ramai, banyak pedagang-pedagang
yang berjualan mutar saban-saban meneriaki barang
dagangannya, Banyak sekali orang yang berjalan pergi datang,
ia lantas mencari rumah
makan karena sudah lima hari ia tak pernah makan nasi.
Itulah restoran cip Poo Lauw dari mana tersiar baunya barang
masakan yang sedap.
Ketika ia bertindak masuk. ia diawasi pelayan yang heran
buat pakaiannya yang kotor dan mukanya yang dekil serta
rambutnya kusut, bau keringatnya pun mendesak.
"He, dia pengemis dari mana..." pikir pelayan itu. "Eh, kau
mau pergi kemana?" tegurnya selagi melihat orang mau naik
di-tangga loteng. Tiong Hoa mendongkol. Dia mendelik.
"Aku mau dahar" sahutnya bengis, ia naik terus, untuk
menghampirkan sebuah meja. Ada sejumlah orang lagi
bersantap. mereka tertawa.
Pelayan itu menjadi malu dan mendongkol Dia lantas
menghampirkan dengan matanya mendelik.
"Dahar itu gampang. Apakah kau punya?" dia tanya ketus.
"PIok" begitu satu suara nyaring,
Pelayan itu kaget dan gelagapan, terus ia memegangi sebelah
pipinya, yang merah dan panas dan bengap. Di situ pun
berpetalah bayangan lima jeriji tangan.
Tiong Hoa gusar dia mengasi hadiah tempilingan, habis itu
dengan roman bengis ia keluarkan sepotong uang perak seharga
sepuluh tahil, yang ia gabruki keras di atas meja, dia pun
kata: "Apakah kau belum pernah lihat uang? Ambillah ini"
Pelayan-itu melongo, pipinya terus di-bekapi.
Uang perak itu telah melesak ke dalam meja, itulah yang
menambah herannya si-pelayan, kemudian hal itu juga menarik
perhatian para tetamu.
Siapa tidak mahir tenaga dalamnya tak nanti dapat berbuat
demikian, Akhirnya seorang tetamu umur lebih kurang tiga
puluh tahun, yang romannya cerdik, menghampirkan Tiong Hoa.
"Saudara, jangan layani segala manusia rendah" ia kata
tertawa, Kemudian ia menoleh kepada si pelayan, untuk
membentak "Anjing. Bukannya lekas pergi menyiapkan barang
santapan"
“Baik tuan." kata pelayan itu yang cepat mengundurkan dia,
dia memang lagi serba salah.
Tiong Hoa tersenyum.
"Aku bukan melayani dia." katanya, "Aku hanya sebal untuk
mata anjingnya silahkan duduk, saudara" ia mengundang.
Tanpa sungkan orang itu mengambil tempat duduk. tangannya
dilonjorkan ke kolong meja, dipakai menekan bagian yang
atasnya ada uang melesak itu, lalu terlihat uangnya mumbul
sendirinya perlahan-lahan, terus meletik, maka dia meny
amber dengan tangan kirinya untuk diletaki didepan si anak
muda.
Jangan tertawakan aku." katanya tertawa. " Kebiasaanku ini
tak dapat disamakan dengan kepandaian kau saudara."
Tiong Hoa mengawasi ia kagum untuk tetamu itu. ia sendiri
barusan berbuat tidak sengaja, ia tidak menyangka uangnya
dapat melesat ke kayu meja.
“Saudara terlalu merendah” ia kata tertawa.
Segera juga keduanya berkenalan, orang itu bernama Yan
Hong,Tiong Hoa memakai nama Lie Cie Tiong.
Diam-diam Yan Hong heran untuk ini kenalan baru, Agaknya
orang adalah orang Kang ouw yang masih hijau sekali. orang
mirip kepada seorang mahasiswa, gerak geriknya lembut,
kata-katanya halus. Tak miripnya dia dengan seorang ahli
silat.
Barang hidangan lezat, walaupun dia putera orang berharta,
di gedungnya sendiri belum pernah Tiong Hoa menyicipi
santapan serupa itu, ia pun sedang laparnya, maka ia
bersantap dengan lahapnya.
Setelah cukup makan dan minum, Tiong Hoa ingin mengundurkan
diri, justeru itu di tangga lauwteng terlihat munculnya
seorang nona dengan baju merah tua, romannya cantik,
mulutnya tersungging senyuman. Langsung nona itu
menghampirkan meja mereka berdua
(Bersambung ke Jilid 3)
Bujukan Gambar Lukisan
Karya : Wu Lin Qiao Zi
Terjemah : OKT
Jilid 3 : Sarang
penjahat, Benteng Yan-kee-poo
Mata Tiong Hoa bercahaya, ia mendapat kenyataan orang elok
tak kalah dengan Cek In Nio. Tanpa merasa, ia mengawasi nona
itu.
"Toako, ayah mencari kau." berkata si nona setelah dia
mendekati Yan Hong. "Aku tahu kau tentu mencuri minum di
sini. Lekaslah, nanti ayah gusar."
"Aku tahu." berkata anak muda yeng dipanggil kakak itu.
"Temponya masih belum tiba, Adikku, mari aku ajar kau kenal
dengan saudara Lie ini..."
Nona itu mengerutkan alis melihat roman dan pakaiannya si
anak muda demikian kotor, Pikirnya. "Kapannya toako
bersahabat dengan orang jorok ini? Dan dia memperkenalkan
aku. sungguh menyebalkan”
Toh ia mengangguk. secara acuh tak acuh, habis mana ia
memutar tubuhnya, buat pergi pula.
"Adikku ini biasa terlalu dimanjakan ibuku." kata Yan Hong
tertawa pada sahabatnya.
"Dia tidak mengerti aturan pergaulan, Aku minta sukalah
saudara Lie maafkan dia."
Lie Tiong Hoa bersenyum, Dia berbangkit
“Jikalau kau ada urusan, saudara Yan, silahkan-" katanya,
"Aku pun mau pergi ke rumah penginapan, untuk mandi dan
salin pakaian, jikalau ada jodohnya harap lain kali kita
bertemu pula."
Yan Hong berbangkit.
"Adikku itu biasa mengucapkan kata-kata sembarangan saja."
"ia bilang, tetapi sebenarnya hatinya tidak memikian,
saudara Lie, baik aku turut kau kerumah penginapan, supaya
sekalian aku mengetahui kau menumpang di mana agar besok
dapat aku mengunjungi kau."
Tiong Hoa tidak dapat menampik, maka bersama-sama mereka
turun dari Cip Poo Lauw, untuk pergi ke sebuah losmen
didepan rumah makan itu.
Begitu masuk kedalam losmen- Tiong Hoa menyuruh pelayan
membelikan ia seperangkat pakaian yang cocok dengan potongan
tubuhnya, ia sendiri pergi ke kamar mandi untuk membersihkan
tubuh dan membereskan rambutnya.
Yan Hong melihat masih ada tempo untuknya, ia tidak mau
pergi, ia menunggu.
Cie Tiong membiarkan sahabat itu menantikan sampai sebentar
kemudian ia muncul sesudah mandi dan dandan. Hampir Yan Hong
tak mempercayai matanya, yang terus dia pentang lebar, untuk
dipakai menatap. sesudah mandi dan dandan, ia mendapatkan
sahabat she Lie itu seperti salin rupa, orang tampan sekali.
"Ah, tak ku sangka kau begini tampan, saudara Lie" katanya
kagum. " Hampir aku tidak
mengenali kau" ia lantas melongok ke luar jendela, untuk
melihat sinar rembulan terus ia menambahkan. "saudara tentu
letih, silahkan beristirahat, besok pagi aku akan datang
pula," ia memberi hormat, lantas ia pergi.
Cie Tiong tidak menahan, ia mengantar sampai di luar, baru
ia kembali ke dalam, ia merebahkan diri dengan pikirannya
melayang-layang.
Kamar itu diterangi lampu kecil, sedang di luar, si Puteri
Malam terang bercahaya indah, Lampu itu mirip kunang-kunang
yang berkelak- kelik,
Cie Tiong memikirkan pengalamannya beberapa hari itu, la
merasa aneh, ia heran, ia pun berduka, menyesal, bingung.
Kemudian berbayang wajah yang cantik dari Cek In Nio, lalu
disusul dengan wajahnya si nona adiknya Yan Hong.
"Tentulah Yan Hong orang Kang ouw." pikirnya, "Melainkan aku
belum tahu sifat dan tabiatnya, Aku mesti berhati-hati. Ia
ingat pesan gurunya untuk jangan temberang dalam perantauan,
mesti teliti bergaul, sebab salah sedikit, jiwa dapat
terancam bahaya.”
Lama ia diam berpikir itu, lalu ia mengeluarkan buku kecil
hadiah si orang tua berbaju kuning yang aneh itu. setelah
membalik-balik lembarannya, ia menjadi girang sekali.
Nyatalah orang itu Thian Yoe sioe adanya, si orang Rimba
Persilatan yang luar biasa tabiatnya. Menurut keterangan
gurunya, Thian Yoe sioe liehay ilmu silatnya, dia biasa
hidup menyendiri adatnya angkuh gerak geriknya mirip naga
yang nampak kepalanya, tidak ekornya." Baik kaum sesat,
maupun kaum lurus, semua jeri terhadap manusia aneh itu,
siapa mendapatkan kepandaian dari Thian Yoe sioe, meski tak
semuanya, dia dapat menjagoi, sekarang Tiong Hoa memperoleh
kitab ilmu silatnya jago aneh itu.
Semuanya tiga belas jurus tetapi semua jurus itu luar biasa,
setiap j urus ada lagi perubahannya, ilmu silat itu
menggabung lwe kang dan gwa kang, tenaga dalam dan tenaga
luar.
Lantas Tiong Hoa membaca, untuk menanamkan, ia juga
menggerak-geraki tangan dan kakinya, ia heran hingga ia
menjadi masgul. Untuk permulaan itu, tak dapat ia menginsafi
bunyinya kitab itu.
Tapi ia tidak menjadi putus asa, ia ingat kata-kata Thian
Yoe sioe bahwa ilmu silat mesti dipahamkan dengan perlahan,
tak boleh terburu-buru.
"Sang waktu banyak. biarlah aku bersabar." pikirnya. Maka ia
simpan bukunya itu, terus ia tidur.
Tiong Hoa dapat tidur dengan nyenyak. Tak pernah ia
menyangka, karena rajin memahamkan kitab itu, dibantu dengan
tenaga obat putih, kemudian ia memperoleh banyak kefaedahan-
Kira jam tiga, Tiong Hoa tersadar, ia mendengar angin malam
bersinar dan matanya melihat sinar rembulan, ia bangun dan
pergi ke luar dengan membawa sebuah bangku untuk duduk
seorang diri dipekarangan dalam, guna menggadangi si Puteri
Malam. Kecuali suara angin- malam sangat tenang
Tidak lama kemudian, tiba-tiba Tiong Hoa mendengar suara
siulan beberapa kali. siulan itu memecah kesunyian- ia heran
hingga ia berpikir: "itulah siulannya orang yang keluar
malam, biasanya itu terdengar di tanah pegunungan, kenapa
aku mendengarnya di sini, di dalam kota? Orang itu bernyali
besar..."
Tengah ia heran dan berpikir itu, tiba-tiba ia melihat
berkelebatnya satu bayangan orang, yang melayang turun ke
dalam pekarangan di mana ia berada itu. Mulanya ia kaget,
lalu ia meniadi heran.
Itulah Yan Hong yang muncul secara luar biasa itu. Dia
membawa sebilah pedang tapi dia beroman gugup, sedang
pundaknya basah dengan darah.
"Saudara Lie. harap sangat kau jangan menyebut aku..."
katanya, Dan tanpa menanti Jawaban- dia lari masuk ke dalam
kamar sahabat she Lie ini.
Tiong i Hoa heran- Sebelum ia tahu harus berbuat bagaimana,
kembali ia melihat lompat turunnya tiga orang lain, Mereka
ini mengenakan pakaian hitam dan ringkas, semuanya membawa
senjata tajam. oleh karena mereka berdiri membelakangi
rembulan, mukanya tak nampak tegas.
Ditaksir mereka rata-rata berusia diatas empat puluh, Sinar
mata mereka tajam sekali.
Lalu satu di antaranya, habis celingukan, menghadapi Tiong
Hoa. untuk berkata dengan tertawa dingin: "Bocah, apakah kau
melihat yang membawa pedang dan terluka pundaknya lewat di
sini?"
Tiong Hoa mengerutkan alis. Tak tahu ia duduknya hal tapi ia
menduga itulah pasti urusan kaum Kangouw yang biasa saling
bunuh, ia ingat kata-katanya adiknya Yan Hong tadi, yang
mesti mempunyai suatu urusan, Karena ia ditegur tak manis,
ia jadi memikir untuk tidak menjual sahabat.
"Kamu bertiga malam-malam berlari-lari di atas rumah-rumah
orang, kamu mesti bukan
orang baik-baik," la kata berani. "Kalau kamu bukan manusia
tukang berjinah mestinya kamu bangsa pencuri, Tuan mudamu
lagi menggadangi rembulan di sini, mana dia melihat konco
kamu? Lekas kamu berlalu, tuan muda kamu tidak mau
berkenalan dengan kamu. Kalau tidak. nanti aku berteriak
membanguni orang banyak"
Ketiga orang itu saling mengawasi. Mereka tidak takut
penduduk dikasi bangun, Mereka hanya tertegun akan
ketenangan si anak muda, orang lain tentunya ketakutan bukan
main-
Lantas orang yang mukanya panjang dan kurus tertawa
menyeringai ia mengangguk. Habis itu, tanpa membuka mulut,
ketiganya berlompat naik ke atas genting, untuk menghilang.
Mereka berlalu cepat sekali, seperti terbang.
Masih sekian lama Tiong Hoa jalan mundar mandir, baru ia
masuk ke kamarnya.
la heran hingga ia menjublak sejenak Kamarnya itu sepi dan
kosong, Yan Hong tak nampak di situ. jadi orang telah pergi
menyingkir tanpa berpamitan lagi. Akhirnya ia tertawa
sendirinya, tidak ia pikirkan pula kejadian itu. Ketika ia
merebahkan diri, ia dapat tidur pulas pula.
Besoknya pagi, apabila Tiong Hoa bangun dari tidurnya, sinar
matahari sudah bersorot di jendela dan pelayan kebetulan
datang mengetuk. la lantas membukai pintu. Pelayan memberi
hormat sambil mengucapkan selamat pagi.
"Tuan tidur nyenyak sekali." katanya tertawa, "tuan Yan
sudah menantikan sekian lama, ia tidak berani mengganggu
tidurmu."
"Oh" kata Tiong Hoa terkejut, "Mana dia tuan Yan itu? Lekas
undang masuk"
Pelayan itu tertawa pula, "Nanti aku menyediakan air dulu
untuk tuan mencuci muka,
baru aku undang tuan Yan," katanya. ia lantas pergi. cepat
ia kembali dengan baskom air, lalu cepat ia keluar pula.
Tiong Hoa lekas mencuci muka, untuk merapikan rambut dan
pakaiannya, Baru ia selesai. pelayan sudah muncul pula
bersama Yan Hong.
Pemuda she Yan itu mengenakan baju hijau panjang bersulam
huruf benjie ia bersenyum, Pundak kirinya muncul sedikit,
Rupanya lukanya semalam telah dibalut. "Tadi malam
saudara..." kata Tiong Hoa.
Yan Hong mengedipkan mata, sambil tertawa dia berkata: "Tadi
malam ketika aku pulang ke rumahku, aku bicara dengan ayah
ku tentang kau, saudara Lie, Ayah kagum sekali maka
pagi-pagi barusan ia menitahkan aku lantas datang mengundang
saudara, untuk saudara suka datang ke gubuk kami buat
beromong-omong."
Tiong Hoa melihat kedipan mata, itu tahu apa artinya itu.
Yan Hong tak sudi bicara dari peristiwa semalam itu, ia
lantas tertawa dan menyahuti: "pasti aku sudi berkunjung.
Ayahmu baik sekali, saudara Yan, aku jadi malu..."
"Kita ada bagaikan sahabat-sahabat lama, jangan kita pakai
banyak adat peradatan," Yan Hong bilang. Ayahku lagi
menantikan, mari kita berangkat sekarang.”
Tiong Hoa mengangguk sambil bersenyum. Lantas keduanya pergi
ke luar dari hotel di mana sudah sedia dua ekor kuda untuk
mereka, Maka bersama sama mereka pergi, Yan Hong menjalankan
kudanya di sebelah depan.
Udara pagi itu cerah, banyak orang berlalu lalang dijalan
besar, Kedua anak muda itu menjalankan kuda di antara banyak
orang itu, terus ke luar kota Tok-lak sebelah barat,
setibanya di luar kota, yang sepi, mereka melarikan kuda
mereka dengan leluasa.
Kira setengah jam, Yan Hong menghentikan kudanya. Tiang Hoa
menyentak. Dengan cambuknya anak muda she Yan itu menunjuk
ke arah kiri, sembari tertawa ia kata: “Saudara Lie, gubuk
kami berada di depan sungai siang Kiam Hoo itu, di tempat
yang banyak pohonnya.”
Tiong Hoa mengawasi ia melihat sungai lebar dan airnya
tenang, Benar di tempat banyak pepohonan itu samar samar
terlihat genting rumah yang besar, Di sungai itu dapat orang
berlayar sedang burung-burung nampak beterbangan-"Sungguh
indah tempat tinggalmu ini, saudara Yan-" ia memuji. Yan
Hong bersenyum. ia mengajak.
Mereka menjalankan kuda mereka ke tepian sungai. Tiba di
dapan serumpun pohon yang lioe yang lebat, mendadak terlihat
tiga orang lompat keluar dari rumpun itu, Tubuh mereka itu
gesit sekali.
Tiong Hoa lantas mengenali orang orang yang semalam datang
ke hotelnya, ia tercengang. Tapi Yan Hong, dengan air muka
padam, sudah lantas menegur. "Bangsat tak punya mata dari
mana berani banyak lagak di sekitar Yan Kee Po kami?"
Ketiga orang itu melengak, tetapi yang mukanya panjang dan
kurus lantas juga tertawa, sedang matanya yang mirip mata
ulung-ulung dibuat main, Dia kata dingin "Tidak salah Tuan
dari Yan Kee Poo, Hoan-thian-ciang Yan Loei, yang memimpin
kaum Rimba persilatan di lima propinsi Utara, besar namanya,
besar pengaruhnya, sedang kami Laosan sam Eng juga pernah
mengundanginya, hingga kami berterima kasih untuk
perlayanannya. Hanya tadi malam, selagi kami bekerja
membereskan usaha perdagangan kami, di saat kami berhasil,
kami bertemu dengan seorang begal tunggal sebangsa si hitam
makan si hitam, ketika kami mengejarnya, dia kabur dan
lolos. Justeru itu sahabatmu itu kebetulan hadir juga" dia
menunjuk Lie Tiong Hoa dan menambahkan "Kami percaya
sahabatmu ini pasti ketahui duduknya hal. sekarang ini kami
cuma minta barang kami itu dikembalikan, lainnya kami tidak
mau menarik panjang."
Yan Hong tidak lantas menyahuti, dia hanya tertawa nyaring
sekali.
*****
BAB 4
YAN HONG berhenti tertawa untuk segera memperhatikan roman
tawar.
"Tuan." katanya. "Kau tentulah tertua dari Lao san Sam Eng
yang sangat termashur di propinsi shoatang yala h
Tiatjiauw-eng Louw Coen?" orang itu agak terkejut.
"Tidak salah, itulah aku." ia menyahut, ia lantas menunjuk
kawannya yang matanya merah dan kumisnya berewokan seperti
singa, " inilah saudaraku yang nomor dua, say Gan sin ang
cian Boa, Dan itu..." ia menunjuk orang yang ke-tiga, yang
kepalanya gundul dan merah serta tak berkumis. "adik ku yang
nomor tiga, Touw-Eng Cie Keng. Kau sendiri siapa, tuan, aku
minta sukalah kau memperkenalkan dirimu."
Selagi orang memperkenalkan diri, Tiong Hoa hampir tak
tertahan untuk tidak tertawa, Kawanan elang itu mirip benar
dengan julukannya masing-masing, ia pun heran kenapa
mereka tidak kenal Yan Hong yang biasa di sebut " hitam
makan hitam."
"Maaf, aku melainkan seorang Kang ouw tak ternama," Yan Hong
menyahut sembari tertawa perlahan "Akulah Yan Hong yang
biasa disebut Mo In Kim Kiam..."
Mendengar nama itu, ketiga orang itu terlihat terperanjat
tapi Louw Coen lantas maju setindak. sambil memberi hormat
dan tertawa ia berkata: "oh, kiranya tuan muda dari Yan Keo
Po Ketika itu hari kami datang berkunjung, menyesal kami
tidak bertemu dengan kau, siauw-pocu, Maaf Dan ini
sahabatmu..." ia berpaling kepada Tiong Hoa seraya
menambahkan-"Dia pasti sahabat baru dari siauwpocu..."
Kata-kata yang terakhir ini ada maksudnya, Kalau benar Tiong
Hoa sahabat baru. bolehlah Yan Hong melepas tangan
terhadapnya.
Lao San Sam Eng menjadi orang-orang liehay dari jalan Hitam,
mereka juga telengas, untuk suatu barang yang mereka arah,
mereka datang ke Utara.
Untuk tidak bentrok dengan Yan Kee Po, mereka mengunjungi
Yan Loei, Diluar sangkaan mereka, Yan Loei justeru tukang
hitam makan hitam, hanyalah dia pandai bekerja, selama
beberapa puluh tahun, belum pernah dia gagal, rahasianya tak
pernah ada yang ketahui. Maka itu, datangnya Sam Eng sambil
menuturkan maksud ke datangannya berarti membawa endusan
baik pada pihak Yan Kee Po.
Demikianlah Yan Hong bersama lima orangnya "memakan," Sam
Eng dan berhasil, cuma pekerjaan mereka meminta upah mahal.
Lao San Sam Eng Iihay, didalam bentrokan, mereka berhasil
membinasakan lima orang Yan Kee po itu serta Yan hong
sendiri, si majikan muda dari Yan Kee po turut terluka
pundaknya, kalau dia tidak kabur ke hotelnya Tiong Hoa,
mungkin dia tak dapat lolos. Sam Eng itu keluaran Boe-tong
pay, mereka pandai ilmu silat dalam dan luar.
Yan Hong terperanjat mendengar orang menyebut Tiong Hoa
sahabat barunya, ia mengerti keliehayannya tiga jago dari
Shoatang itu.
Lie Tiong Hoa ketahui apa yang ia mesti lakukan, ia lompat
turun dari kudanya.
"Louw Tong kee, apakah kau menyangka aku yang mengganggu
kamu tadi malam?" ia tanya, menegasi, ia tertawa j umawa.
"Benar" sahut Louw Coen, tertawa menyindir "Mata terang tak
ada pasirnya, Dalam sepuluh, delapan bagian kau lah yang
melakukannya."
Tiong Hoa tertawa, ia menoleh pada Yan- Hong, berkata,
"saudara Yan benarlah mereka ini bangsat- bangsat tak punya
mata .Barang rampasannya kena dirampas orang, bukannya
mereka merasa malu dan mencari mati karenanya, mereka j
usteru sembarang menuduh pada orang. Menurut aku, kalau
mereka dibiarkan saja, apa bila mereka menyiarkan cerita
dusta, nama Yan Kee Po dapat tercemarkan dan runtuh" sam Eng
heran begitu juga Yan Hong.
" Hebat orang she Lie ini," pikir Mo In Kiam tian-
"Rahasiaku tadi malam ketahuan dia, maka sekarang aku
mengundang, untuk ajak dia berkonco atau kalau dia menampik,
hendak kita singkirkannya, siapa tahu dia begini begini. Aku
benci sam Eng tetapi kalau aku lawan dia pundakku bisa
membongkar rahasiaku."
Tengah ia bersangsi dan berkuatir itu, Tiong Hoa sudah
berkata pula: “Jikalau siauwpocu berkeberatan turun tangan,
baiklah, aku si orang she Lie nanti mewakilkan kau"
Sembari berkata, pemuda ini meluncurkan tangannya ke dadanya
Louw Coen untuk meninju, ia terus menggunai pukulan sip
Thian Thay It Ciang. ia biasa dapat menggunai kemahiran tiga
bagian tapi setelah makan obatnya Thian Yoe sioe, tenaganya
kontan naik menjadi tujuh bagian. Maka itu hebat serangannya
ini.
Tiat Jiauw Eng Louw Coen benar liehay, Dia dapat menolong
tangannya itu, terus dia
membalas menyerang. Dia menggunai tangannya itu juga untuk
menyengkeram jalan darah Tiong Hoa di bawahan rusuk.
Lao san sam Eng pernah mempelajari ilmu silat "Eng Jiauw
Kang" atau cengkeraman Kuku Garuda, dari itu kalau Tiong Hoa
kena tersamber, celakalah dia, bisa dia mati seketika.
Tiong Hoa tak punya pengalaman pertempuran, baru selama
hari-hari yang belakangan ini ia memperolehnya, terutama
pertempurannya dengan Mauw san siang eng membantu banyak
padanya, Begitulah waktu ia disamber ia menjejak tanah,
untuk membikin tubuhnya mencelat mumbul, habis mana ia
menyamber kedua pundak si Elang Kuku Besi. Ia menggunai
jurusnya siauw thian chee cit cap-jie Kiauw Na yang liehay
itu.
Louw Coen terkejut mendapatkan serangannya gagal dan musuh
berkelit bagaikan menghilang dari hadapannya, ia mengerti
akan adanya ancaman bahaya. Ketika ada angin bertiup, ia
tabu itulah serangan musuh, tidak ada ketika lagi untuk
menyingkirkan diri, Maka ia angkat kedua tangannya untuk
menyambutt dengan jurus Eng- jiauw-tay lek-cioe.
Itu artinya keras lawan keras. Tiong Hoa melihat perlawanan
musuh, ia batal meny amber, untuk mencengkeram pundak musuh,
semua jari tangannya segera dikepal, untuk dengan kepalan
menghajar tangan lawan itu.
Tanpa dapat dihindarkan lagi, keempat tangan bentrok keras
sekali, Kesudahannya yalah tubuh Tiong Hoa membal balik
hingga dia teruskan memutar turun di bawah sebuah pohon
yanglioe, untuk berdiri diam sambil bersenyum.
Celakanya yalah Louw Coen, oleh karena terdesak itu, ia
melawan dengan kuda-kudanya kurang kuat, maka atas bentrokan
itu, ia terpaksa mundur dua tindak. ia merasakan napasnya
mandek dengan tiba-tiba, hingga ia mesti mengeluarkan suara
tertahan. Begitu ia berdiri tegap. mulutnya muntahkan darah,
mukanya menjadi sangat pucat. Kedua elang yang lainnya
kaget, mereka lompat untuk memayang.
Yan Hong kaget dan kagum melihat lihainya si anak muda, yang
dapat menghajar tertua Lao san sam Eng secara demikian.
Kaget karena ia mengerti bahayanya andaikata anak muda itu
menjadi musuh pihaknya, ia girang karena dengan begitu Tiong
Hoa seperti telah membalaskan luka pundaknya itu.
Tiong Hoa sendiri bersenyum dengan di dalam hatinya ia
heran, heran untuk lihainya itu. ia tidak sangka ia dapat
berpikir cepat dan bertindak gesit dan lincah, hingga
hasilnya sangat memuaskan.
"Inilah pasti hasil khasiatnya Pouw Thian wan." pikirnya.
Maka ia menjadi bersyukur kepada Thian Yoe sioe, sayang ia
belum tahu she dan namanya orang tua itu, Thian Yoe sioe
berarti si orang tua yang menjelajah langit."
Louw Coen sendiri menyesal bukan main. ia tahu kekalahannya
ini disebabkan ia memandang enteng kepada lawannya itu.
Sambil bersenyum, Tiong Hoa menghadapi Lao san sam Eng,
untuk berkata. "Aku yang rendah suka memberi nasehat kepada
tuan-tuan bertiga untuk lain kali janganlah tuan tuan
sembarang bertindak hingga mendapat salah dari lain orang.
Memang biasanya, bencana itu datangnya dari mulut, dari
kata-kata yang tak terpikirkan lagi, Aku percaya tuan tuan
menginsyafi itu. Perihal kejadian semalam, suka aku
menjelaskan bahwa aku benar-benar tidak tahu apa apa, maka
jikalau tuan-tuan suka menyelidikinya dengan seksama, pasti
tuan-tuan bakal mendapat tahu duduknya yang benar."
Lao san sam Eng dapat menerima penjelasan itu, tetapi mereka
tetap heran, sudah terang orang lari menyingkir ke dalam
pekarangan hotel itu, kenapa dia membilangnya tak tahu.
"Inilah aneh" Rupanya aku mesti bekerja berat untuk
menyelidikinya." pikir mereka itu bertiga.
" Jikalau begitu. kita benar sembrono." kata Cie Kong sambil
memberi hormat. "baiklah, sampai kita bertemu pula" ia pun
memberi hormat pada Yan Hong, sesudah mana bersama
saudaranya ia mengajak pergi saudaranya yang tertua itu.
Yan Hong mengawasi sampai orang telah pergi jauh, ia
berpaling kepada Tiong Hoa untuk sambil tertawa berkata:
"saudara Lie, mengenai peristiwa tadi malam harap kau tidak
memandang wajar bahwa aku hitam makan hitam, perkara itu
mempunyai latar belakangnya. sebentar, setelah sampai di
rumahku aku nanti berikan penjelasannya."
Tiong Hoa bersenyum.
"Aku baru mulai masuk dalam dunia Kang ouw, tentang
keruwetan kaum Rimba persilatan aku tak tahu apa-apa" ia
berkata. "Perkara saudara itu mesti perkara besar, karena
aku cuma seorang tetamu dan akupun datang dari tempat jauh,
artinya aku seorang luar, lebih baik aku tidak
mendengarnya."
Yan Hong tertawa, ia tidak mengatakan apa apa, ia bertindak
ke tepian, untuk bersiul yaring. Atas itu dari seberang,
dari rumpun telaga, muncul sebuah perahu kecil, yang di gayu
laju sekali, Begitu perahu itu tiba di tepian sini, terlihat
di dalamnya dua orang
dengan baju hijau, usianya masing-masing lebih kurang tiga
puluh tahun, Mereka itu berlaku hormat mengundang Tiong Hoa
naik ke perahu mereka.
Tiong Hoa mengalah dulu kepada Yan Hong, baru ia lompat ke
perahu itu. Yan Hong naik bersama satu orang, sebab orang
yang kedua menuntun kuda berjalan mutar di jalan itu.
Seperti waktu datangnya, waktu kembalinya perahu itu digayu
laju sekali. Tiong Hoa dapat kesempatan melihat pemandangan
di sungai itu,
Yan Hong duduk di belakang tetamunya, ia memikirkan ilmu
silatnya Tiong Hoa. ia merasa itu seperti ilmu silatnya Hok
in siang jiu dari Koen Loen san Barat, Hok In itu satu jago
dari jaman lima puluh tahun dulu, seumurnya dia tidak
menerima murid, pernah Yan Loei, ayahnya, melihat Hok in
siangjin bertempur, maka itu, ayah itu dapat mencuri
pelajari dua jurus di antaranya dan yang satu ini mirip
dengan jurusnya Tiong Hoa tadi.
"Kalau dia benar murid Hok in siangjin, rasanya sulit untuk
menarik dia menjadi kawanku," pikirnya.
Segera juga perahu sudah tiba di seberang, Yan Hong lompat
lebih dulu ke darat, Ketika ia berpaling, Tiong Hoa sudah
menyusulnya tanpa memperdengarkan suara apa apa, itulah
bukti ilmu ringan tubuh yang mahir sekali.
"Dia lihat sekali, tak dapat aku mengundang serigala datang
masuk ke rumahku." Yan Hong pikir pula. ia licik, ia mau
berlaku waspada, la tidak kentarakan kekuatirannya itu,
bahkan ia bersenyum ketika ia berkata. "saudara, rumahku tak
jauh dan sini, kita baik berjalan kaki saja."
"Baik," sahut Tiong Hoa mengangguk. Mereka jalan dijalan
besar yang kedua sisinya
merupakan ladang gandum. Angin bersilir halus. sebagai ganti
bau bunga, disitu mereka mencium bau lumpur.
Belum jauh, selagi menikung di tempat mana ada tumbuh
pepohonan, mereka mendengar suara kuda lari mendatangi lalu
tertampak penunggangnya adalah seorang nona dengan baju
merah tua. Begitu datang dekat, nona itu menyapa nyaring:
"Toako, kenapa kau baru sampai?" sedang tubuhnya terus
berlompat turun, hingga ia dalam sekejap berdiri di depan
kakinya berdua. Gerakannya itu lincah sekali, itulah
lompatan Burung walet menyambar ombak.
Tiong Hoa lantas mengenali si nona yang ia lihat di rumah
makan, sekarang ia mendapatkan orang cantik sekali, mukanya
dadu dan matanya jeli, matanya itu mengawasi jernih
kepadanya.
Yan Hong tertawa, terus ia berkata: "Adikku, kau agaknya
seperti belum pernah bertemu dengan saudara Lie ini..."
Nona itu tertawa, dengan lagu suara manja, ia kata: "Toako
kau bicara saja. Kenapa kau tidak mau mengajarnya kenal?"
"Benarkah kau pelupaan adikku?" kakak itu tertawa pula,
"Tadi malam toh kau pernah berkenalan dengannya di rumah
makan. Maka itu buat apa aku mengajarnya kenal pula?"
Muka si nona menjadi merah, Dia malu karena kakak itu
menggoda, Dimatanya lantas berbayang seorang muda yang
pakaian kotor dan mukanya dekil, yang rambutnya kusut,
sebaliknya sekarang ia menghadapi seorang pemuda tampan dan
menarik hati sekali.
"Apakah benar dianya?" katanya dalam hati, ia jadijengah,
Kemarin ini ia sama
sekali tak menghiraukan pemuda itu. Hal itu membuatnya malu
sendiri Maka ia mendelik kepada kakak itu.
Yan Hong tak memperduIikan, ia justeru tertawa berkakak.
"Toako" kata si nona sambil membanting kaki saking jengkel
Tiong Hoa tidak memperdulikan orang bergurau, ia memandang
si nona sambil minta tanya nama orang.
Nona itu tidak menyahut, agaknya susah ia membuka mulutnya,
walaupun bibirnya sudah bergerak.
Yan Hong tertawa, ia berkata. "Adikku ini, si Hee, biasa
terlalu dimanjakan ibuku, maka itu kalau lain kali dia
berbuat kurang ajar, aku harap saudara Lie suka maafkan
dia."
Kembali Yan Hee mendelik kepada kakaknya, lantas ia lompat
naik ke atas kudanya, kabur balik.
Yan Hong tertawa, sedang Tiong Hoa bersenyum.
Keduanya berjalan terus, setelah melewati hutan cemara,
Tiong Hoa melihat sebuah tembok tinggi dan kekar mirip
tembok kota, di atasan pintunya ada ranggonnya peranti si
penjaga pintu,
Yan Hong mengajak kawannya masuk. ketika di dalam situ,
Tiong Hoa melihat sebidang tempat yang lebar yang banyak
perumahannya, yang di tengah-tengah yalah sebuah rumah
besar, ke situ Yan Hong mengajaknya masuk.
Di muka pintu ada dua pengawal dengan golok di tangan,
Ketika Tiong Hoa berdua
bertindak masuk. dari dalam lantas terlihat munculnya
seorang yang tubuhnya kekar dan romannya keren, mukanya
berewokan, matanya tajam.
"Saudara Lie, orang yang mendatangi itu hoepocoe kami, Im-
yang Gioe Khong Jiang." kata Yan Hong perlahan. "Dia lihai.
Dialah orang Hoa Yang Pay. Dia bertabiat gembira dan
berangasan tak ketentuan, karena mana ayah pun suka mengalah
kepadanya, Aku harap kau berhati-hati terhadapnya..."
Baru tuan rumah yang muda ini berhenti berkata, Khong Jiang
sudah sampai didepan mereka, Dia lantas memandang tajam pada
Tiong Hoa.
"Paman Khong..." berkata Yang Hong dengan hormat sekali,
"ini saudara Lie Cie Tiong, sahabat baru dari keponakanmu."
Khong Jiang mengasi dengar suara di hidung, matanya
memandang tawar pada si anak muda. dia kata: "Kalau dia
sahabatmu, kenapa dia begini kurang ajar? Apakah dia
mengandal sangat kepada beberapa jurus ilmu silatnya maka
dia menjadi jumawa?"
Tak senang Tiong Hoa mendengar kata-kata itu, maka dia kata
dingin. "Aku yang rendah baru pertama kali ini datang ke
mari, aku tidak kenal kau, tuan, mengapa kau berani
membilang aku kurang ajar?" "Paman Khong, kau..." kata Yan
Hong berkuatir.
"Kau berani kurang ajar kepada Khong Jiang?" hoe-pocoe itu
membentak sebelum Yan Hong bicara terus. "Tentu kau
benar-benar mengandalkan ilmu silatmu, Mari, mari, Mari
sambut tanganku." Benar benar dia lantas meninju.
Majikan muda dari Yan Kee Po menggunai tenaga tujuh bagian,
Dia mau menguji sianak
muda.
Tiong Hoa ndak mau menyambuti kekuatan orang. ia berkelit ke
kiri Karena ia mendongkol, ia membalas menyerang, ia
mengeluarkan tangan kanannya, guna menangkap tangan si
berangasan itu.
Khong liang terkejut, Dia tidak menyangka orang berkelit,
Atas datangnya ^erangan membalas, dia kaget. Dia melihat
gerakan yang gesit sekali, Maka lekas lekas dia menurunkan
tangannya, untuk dikelit.
Tiong Hoa menggunai j urus "Tawon yang-keluar dari
sarangnya" itulah suatu jurus dari ilmu silat siauw thian
che Ci capjio Kiauw Na. sia-sia belaka KhongJiang berkelit,
lengannya itu kena ditangkap. hingga dengan mendadak dia
merasa tangannya kaku, Dia berteriak. dia berontak sekuatnya
tenaga sambil dia berlompat nyamping.
Tiong Hoa tidak berniat mencelakai orang, habis
menyengkeram, ia melepaskan tangkapannya itu. Mendadak Khong
Jiang tertawa.
"Benar katanya Yan Hong, kaulah seorang muda yang liehay"
katanya, "Kau maafkan aku" ia tertawa pula, terus ia
bertindak ke luar.
Tiong Hoa berdiam. Ini pula pengalamannya yang luar biasa,
ia sama sekali tidak pernah memikir bahwa itulah
sandiwaranya Yan Hong, yang telah mengaturnya sebelum dia
pergi ke hotel menyambut padanya.
"Memang begitu tabiat Paman Khong, girang dan gusar tak
kotentuan," kata pula tuan rumah muda ini sambil tertawa,
"tapi sebenarnya dia jujur dan baik hatinya, Nanti, sesudah
berkenalan lama, saudara akan mengenalnya "
Tiong-Hoa tertawa tawar, ia tidak bilang apa-apa. Ketika
tuan rumah itu bertindak, ia mengikuti.
Di dalam, Tiong Hoa melihat rumah besar miri^ dengan istana
seorang bangsawan. Ruang atau pintu berlapis- lapis. tiang
danpenglari, semuanya terukir indah. Di sebelah dalam ada
pekarangan terbuka dimana ada terdapat pepohonan dan lorong,
kamar-kamar dan lauwteng. ia heran dan kagum.
Di situ pun ia melihat sejumlah orang Rimba persilatan, yang
semua bersikap hormat terhadap Yan Hong.
Yan Hong mengajak sahabatnya memasuki sebuah ruang besar,
Baru saja sampai diambang pintu, hidung si anak muda telah
mendapat cium bau yang harum, yang melapangkan dada, Di
dalam situ ada empat orang lagi berduduk. yang di kiri,
bercokol atas kursi hakcoe-ie, adalah seorang tua bertubuh
tinggi dan besar, rambut dan kumisnya sudah putih, gayanya
keren.
Di kanannya si nona yang tadi, matanya mengawasi si anak
muda, rekannya seperti bersenyum. Dua yang lainnya, yang
satu yalah seorang imam tua dan kurus, jari tangannya
panjang sekali, sepasang matanya bersinar, dan yang lainnya
seorang muda dengan bibir merah dan roman angkuh, sedang
dipunggungnya ada sebilah pedang yang rupanya pedang tua,
sarung pedangnya berukiran ular naga melilit.
"Saudara Lie, inilah ayahku," Yan Hong lantas mengajar
kenal, dia menunjuk si orang tua.
Tiong Hoa maju dua tindak, ia menjura dalam seraya berkata,
"Aku yang muda, Lie Cie Tiong, memberi
hormat kepada
po-coe."
Hoan Thian-ciang Yan Loei tertawa dan berkata, "jangan pakai
adat peradatan, Lie siauwhiap. tadi malam kau telah membantu
anak Hong, aku menghaturkan terima kasih padamu."
"Itulah perkara kecil, harap pocoe jangan buat pikiran,"
kata Tiong Hoa merendah, "Meskipun baru bertemu, dengan
siauwpocoe aku seperti kenalan lama, Aku malu mendengar
kata-kata pocoe ini."
Lantas Yan Hong perkenalkan sahabatnya kepada si imam dan si
anak muda.
Imam itu nyatalah Im-CioeJiauw-Hoen Hauw Boen Thong adanya,
yang dimasa itu terkenal dalam Rimba Persilatan, Cocok
dengan julukannya, yang berarti Tangan Penyamber Nyawa,
sebab dia biasa berbuat seenaknya saja, takperduli dia benar
atau salah, Dia liehay hingga banyak orang mendengar saja
namanya, menjadi pusing kepala.
Si anak muda adalah Cie-liong kiam Pek Kie Hong. sipedang
Naga, yang menjadi siauw cecu, yaitu ketua muda, dari
Benteng Jie sip Pat, dua puluh delapan benteng air dan
darat, di telaga Tong-teng-ouw di Kanglam.
Hauw Boen Thong jumawa sekali, melihat Tiong Hoa, berulang
kali dia memperdengarkan suara di hidungnya, sikapnya sangat
dingin, tubuhnya tak berkutik. Tiong Hoa tidak puas, Syukur
Pek Kie- Hong suka berbicara dengannya.
Yan Hee diam-diam memperhatikan anak muda itu, sekarang ini
pandangannya lantas berubah sama sekali, tak ingat lagi si
anak muda yang pakaiannya kotor, mukanya dekil dan rambutnya
awut-awutan, ia rupanya terpengaruh kata-kata cinta pada
penglihatan pertama kali.
Yan Hong dan Pek Kie Hong liehay matanya, mereka lantas
melihat sikapnya si nona, masing-masing mereka lantas beda
pemikirannya.
Lie Tiong Hoa duduk di bawah, diam-diam ia memperhatikan
perabotan di dalam ruang itu, ia mendapat kenyataan semua
itu benda-benda yang tak biasa dilihat di rumah rakyat
kebanyakan rata-rata barang kuno dan indah. Maka aneh rumah
orang Kang ouw mirip istana orang bangsawan.
Yan Loei, dengan tak langsung, menanyakan Tiong Hoa tentang
gurunya, keluarganya serta maksudnya datang ke Tok lok.
Tiong Hoa tak dapat menerangkan jelas, sebab ia memang tak
tahu banyak perihal gurunya, ia juga tidak bisa menjelaskan
bahwa ia lagi buron, jawabanmu itu membikin tuan rumah
mencurigai dia mengandung sesuatu maksud.
"Lie siauwhiap bersahabat dengan anakku, silahkan kau
berdiam bersama kami di sini."
kemudian kata Yan Loei tertawa, "Katanya siauwhiap liehay
sekali, maka itu mungkin siauwhiap dapat membantu kami."
Tiong Hoa tidak tahu hati orang, ia lekas berkata: "Tidak
berani aku merepotkan po-cu. Karena aku gemar pesiar, hari
ini juga aku berniat pergi ke Tiong Gioe terus ke soe Coan.
Terima kasih atas kebaikan poocu."
Yan Loei mengawasi
tajam. Dia tertawa pula.
"M emaog perjalanan itu penting untuk memuaskan pemandangan
dan pengetahuan," dia
kata, " Ketika masih muda, aku juga gemar merantau." Kembali
dia tertawa.
Selama itu HauwBoenThong terus bungkam, dia memandang si
anak muda dengan mata
tajam dan sikap dingini Adalah Yan Hong dan Pek Kie Hong,
yang mengajak orang bicara. Yan Hong minta tetamunya suka
berdiam padanya barang setengah bulan. "Baiklah." kata Tiong
Hoa setelah di-bujuki siauwpocu itu.
"Anak Hong, pergi kau ajak siauwhiap ke kamar Teng ie Hian"
Kemudian Yan Hong kata pada puteranya sebentar tengah hari
hendak aku mengundang siauwhiap ber-santap.
Tiong Hoa mengucap terima kasih, lantas ia meminta diri,
mengikut Yan Hong ke kamar yang disebutkan itu.
Seberla lunya si tetamu, Yan Loei kata pada gadisnya:
"Apakah batuknya ibumu sudah mendingan. Ada orang mengantar
dua bungkus cauwkoh dari Lengtam yang ibumu paling suka,
pergi kau ambil dan bawa itu ke Hoed tong buat diserahkan
pada ibumu sekalian kau sampaikan kata-kata padanya."
Yan Hee tertawa lantas mengundurkan diri. setelah anak dara
itu tak nampak lagi, Yan Loei menoleh pada Hauw Boen Thong.
"Hauw Loosu, apakah kau mencurigai apa-apa terhadap anak
muda she Lie itu?" ia tanya. "Memang" sahut imam itu dingini
"Kau terlalu bersangsi, saudara Yan jikalau aku,
siang-siang aku sudah singkirkan dia guna mencegah timbulnya
bencana dibelakang hari.
Hoan Thian ciang menggeleng kepala.
"Kau biasa berterus terang, loosoe, aku kagumi kau," ia
kata. "Aku tapinya mempunyai cara yang terlebih sempurna.
sekarang ini orang tengah bergerak, sedang pihak Yan Kee Po
dan ie Kee Po. yang menguasai sembilan propinsi, mudah
sekali membangkitkan kejelusan orang, terutama selama yang
belakangan ini pihakku telah melakukan sesuatu yang gampang
sekali menarik perhatian orang. Aku telah dapat kenyataan
ada orang-orang sesat dan lurus yang sudah datang mengintai
ke mari. Karena itu aku sangsi pemuda she Lie ini bukannya
orang salah satu dari mereka itu, Aku pikir kita harus
bersabar menyelidikinya."
" Itulah gampang, serahkan saja padaku" kata Pek Kie Hong
tertawa.
Tak lama Khong Jiang muncul, dia tergesa gesa dan lantas
bicara berbisik dengan ketuanya.
Romannya Yan Loei menjadi tegang secara tiba-tiba, dia terus
berlompat bangun, akan bersama hoepocu itu lantas pergi
keluar.
Di ruang yang besar itu, Hauw Boen Thong tinggal berdua Pek
Kie Hong.
ooo
Malam itu selagi rembulan bercahaya indah, Tiong Hoa duduk
seorang diri di dalam kamarnya di ruang Teng ie Hian, ia
memandang tersengsam kepada si puteri Malam, yang nampak
dari antara jendela itu ada pengempang kecil yang airnya
jernih yang ditanami pohon teratai dan pohon yanglioe di
tepinya. Dari situ terdengar suaranya beberapa ekor kodok.
Daun yang-Iioe pun ber silir tertiup angin halus.
Anak muda ini tidak berdiam saja, ia berpikir, pertama-tama
halnya Yan Hong yang "hitam makan hitam." ia tak tahu
bagaimana duduknya urusan itu. Yang lainnya adalah, lukisan
"Bayangan Rembulan di Gunung sunyi."
Ia tidak menyangka karena bertemu Yan Hong, ia jadi singgah
di Yan Kee Po-Mengenai
Keluarga Yan ini, ia bersangsi. Kaum Rimba persilatan memang
luar biasa sepak terjangnya. "Aku sumpah aku mesti dapatkan
lukisan itu" kemudian ia mengambil ketetapan.
Baru Tiong Hoa mengambil keputusannyaitu, tiba-tiba ia
melihat bayangan orang berkelebat di atas genting di ruang
sebelah depan, ia dapat melihat karena sinar rembulan permai
sekali.
Tiba-tiba hatinya bercekat, Tanpa sangsi lagi. ia
berbangkit, dengan cepat ia menyingkap bajunya, untuk lompat
keluar jendela, akan setibanya di luar terus berlompat naik
ke atas genting di depan itu, ia masih sempat melihat orang
tadi berada belasan tombak jauhnya. ia pun mendapatkan tubuh
orang lincah sekali.
Jikalau dia bukan orang dalam, dia bernyali besar sekali,
pikir anak muda ini. Dibawah terangnya rembulan, kenapa dia
berani tak menyembunyikan dirinya? Baiklah aku menguntit
dia.
Orang itu pergi ke sebuah lauwteng tinggi, Ketika dia lompat
turun Tiong Hoa menyusul, terang dia bertelinga jeli, dia
memutar tubuh sambil menyerang dan menegur perlahan- "siapa
kau?"
Tiong Hoa berkelit ke samping, ia lantas mengawasi. Maka ia
melihat orang berumur belum tiga puluh tahun, mukanya lebar,
kupingnya besar, romannya lurus, ia bersenyum.
"Ada urusan apa tuan datang ke mari diwaktu malam?" ia balik
menanya, "Apakah tuan mencari orang? Kenapa kau tidak ambil
jalan dari pintu? Caramu ini mudah menimbulkan salah paham,
Maka baiklah tuan lekas berlalu dari sini."
Tiong Hoa heran orang dapat masuk dengan leluasa sedang Yan
Kee Po terjaga kuat,
Maka ia mau menduda mungkin orang dibiarkan masuk, untuk
mencari tahu dulu maksud kedatangannya, ia menjadi tetamu,
tidak mau ia sembarangan bertindak. pula roman lurus orang
itu mendatangkan kesan baik terhadapnya, itu pun sebabnya
kenapa ia menasehati untuk orang mengundurkan diri
Mendengar nasehat itu, orang itu mengawasi ia menggeleng
kepala.
"Dari kata-katamu ini, tuan. Kau rupanya bukan orang Yan Kee
Po." ia kata. "Aku Im sim Yok dari Koen Loen Pay, Kawanku
sejumlah enam, perjalananku ini penting sekali, maka itu,
untukku, mati atau hidup sudah tak berarti lagi. jikalau
tuan ingat aturan Rimba Persilatan, silahkan kau menyingkir
supaya tak sampai terbit kesalahan turun tangan."
Tiong Hoa bersangsi hingga ia ayal
memberikanjawabannyaJusteru ia berdiam, ia mendengar suara
apa-apa, yang disusul dengan suara keras ini: "Mari lekas
kita bekerja."
Menyusul itu datanglah serangan kepada Sim Yok, dia ini
berkelit lalu dia menggunai kedua tangannya menolak Tiong
Hoa dengan tipu silatnya "Menolak jendela memandangi
rembulan."
Tiong Hoa berkelit, berbareng dengan mana ia mendengar satu
suara dalam. "saudara Lie, kau tetamu, tak seharusnya kau
turun tangan serahkan dia padaku." la lantas menoleh, maka
ia melihat Cie-iion-kiam Pek Kie Hong yang mukanya muram
sudah berdiri di belakangnya.
"Baiklah." dia menjawab cepat, ia lantas pergi ke bawah
pohon di mana ia lantas berdiri memasang mata.
Kie Hong mengasi lihat roman bengis, sembari tertawa dingin
ia maju dua tindak,
tangannya lantas menghunus pedangnya.
Sim Yok juga mengawasi tajam, ia telah menyiapkan
senjatanya, yaitu sebatang Joan-pian, ruyung hitam yang
lunak seperti cambuk hingga dapat dililit di pinggang.
Ketika ia melihat pedang orang, ia terperanjat hingga ia
lantas menanya: "Tuan, bukankah kau cie- liong kiam Pek Kie
Hong ceecoe muda dari Benteng Jie sip Pat di telaga Tong
Teng?"
Pek kie Hong bersikap sangat jumawa. "Kau telah ketahui
Ceecoe mudamu, kenapa kau tidak mau lekas serahkan dirimu?"
dia menjawab.
Sim Yok menjadi gusar, mendadak dia tertawa, Nyaring luar
biasa tertawanya itu. Habis tertawa, dia berkata nyaring,
"Pek Kie Hong, jangan kau terkebur Tak dapat kau menggertak
orang. Kau harus ketahui, Teng coa sin Pian Sim Yok dari
Koen Loen Pay tak dapat diancam Aku justeru mendengar
perbuatan-perbuatanmu yang sangat busuk dan kaum Rimba
persilatan ingin menyingkirkan kau dari dunia ini, siapa
tahu kau bersembunyi di Yan Kee Po ini. kaujadi seperti
membantu si jahat. Kau harus ketahui ini hari aku hendak
menyingkirkan satu bahaya besar
untuk Rimba
Persilatan-"
Pek Kie Hong tertawa dingin.
"Dapatkah kau lakukan itu?" dla tanya mengejek, Lantas dia
meng g era ki pedangnya, untuk menerjang.
Sim Yok menyaksikan gerakan lawan yang gesit, diam-diam dia
mengaguminya, Padahal orang itu, meskipun masih muda, sudah
menjagoi di selatan dan utara sungai Besar. Tanpa ayal lagi,
ia lantas melayani menggunai ilmu joan pian partainya, yang
terdiri dari tiga puluh- enam jurus .
Pek Kie Hong licik, di samping menyerang iangsung, ia ingin
membabat kutung senjata lawan-
Joan-pian Sim Yok terbuat dari otot, senjata biasa tak dapat
memapasnya, tapi melihat pedang Kie Hong, dia jeri, tak mau
dia membikin senjatanya itu kena dibabat kutung. Hal ini
membuatnya berlaku waspada, hingga tak dapat ia lantas
mendesak lawannya itu.
Tiong Hoa menonton dengan berdiam saja, ia yang tak
berpengalaman kembali menyaksikan suatu yang menarik
parhatiannya, yang membingungkan juga.
Di sini bentrok pula si sesat dengan si lurus, Rupanya kedua
golongan itu tak dapat saling mengasi ampun, Meski begitu,
ia terus memasang matanya.
Setelah bertanding sekian lama, Pek Kie- Hong mengeluarkan
satu jurusnya yang liehay, yaitu "Tiang hong koan jit" atau
"Bianglala menutupi matahari." serangan itu meny amber
kepada joan pian lawan. Sim Yok repot menyingkirkan
senjatanya itu, atau justeru karena itu, dia dapat
dirangsak. Pedang cie-liong kiam meluncur terus.
Di saat jago muda Kun Loen Pay itu bakal menyerahkan
jiwanya, atau sedikitnya dia bakal terluka parah, mendadak
menyamber dorongan angin yang keras sekali kepadanya hingga
tubuhnya tertolak keras, hingga dengan begitu dia menjadi
lolos dari ujung pedang, saat tubuhnya tertolak itu, dia pun
terus berlompat mundur setombak jauhnya.
Di mana di situ tidak ada orang lain, Sim Yok lantas melihat
orang yang mendorongnya yang menolongi, adalah si anak muda
yang barusan menasehati dirinya, ia jadi bersyukur.
Tapi ia berada di tempat berbahaya, ia lantas lompat untuk
menghilang.
Memang Tiong Hoa yang menolongi orang Koen Loen Pay itu, ke
satu disebabkan ia melihat jiwa orang terancam maut, ke dua
karena ia bersimpati kepada anak muda itu, Habis itu, di
samping girang, ia juga heran. ia heran atas tenaga
dorongannya yang keras sekali, beda daripada biasanya, Maka
ia ingat inilah tentu pula khasiatnya pel Pouw Thian Wan
hadiah Thian Yoe sioe.
Berbareng dengan itu, Pek Kie Hong terkejut dan heran, ia
melihat Tiong Hoa turun tangan, Akibatnya itu ialah kecuali
tubuh Sim Yok tertolak keras, pedangnya sendiri kena
terintang, pedangnya mental hampir terlepas dari cekalannya,
ia lantas mengawasi tajam anak muda itu, yang terang berniat
menolong musuh lolos.
Tiong hoa tidak berdiam saja, ia pura pura lari mengejar Sim
Yok, ketika orang lenyap. baru ia kembali, ia lantas
disambut Pek Kie Hong yang tertawa kepadanya.
"Kau hebat sekali, saudara Lie" kata orang she Pek itu,
"Pantaslah saudara Hong memuji tinggi padamu sayang kau
kekurangan pengalaman, kau menyebabkan bangsat she Sim itu
lolos"
Tiong Hoa mengasi lihat roman kaget.
"Benarkah?" tanyanya, sembari menyeringai, "sungguh celaka
Aku kuatir kau tidak dapat lantas merobohkan dia, saking
gugup, aku membantu, siapa tahu kesudahannya gagal, sungguh
aku menyesal..."
"Tak usah menyesal, saudara Lie." kata Kie Hong, yang
bersenyum. "Dalam pertempuran orang mesti dapat melihat
gelagat, terutama perlu bantuan pengalaman jikalau saudara
lebih sering berkelahi nanti kau dapat melenyapkan cacadmu
ini. saudara jangan menyesal penjahat lari, Kawan-kawannya
telah diawasi, atau mungkin mereka sudah kena ditawan.
silahkan saudara beristirahat, nanti besok aku datang
menemui kau di Teng In Hian." Habis berkata orang she Pek
ini tertawa, lantas dia berlompat pergi.
Tiong Hoa mengawasi orang berlalu, lantas ia berpikir : “Aku
menolongi Sim Yok apakah
perbuatanku ini mencurigai orang she Pek itu?"
Ia tidak tahu, habis tertawa itu, Kie Hong tersenyum ewah.
0000
BAB 4
DI BAWAH sinar rembulan, perlahan-lahan Tiong Hoa bertindak
balik ke Teng Ie Hian-ia terus masuk kedalam, untuk
merebahkan diri di atas pembaringannya. ia masih memikirkan
segala apa, sampai ia jatuh pulas. Ketika sang fajar tiba,
ia tersadar dengan lantas berbangkit turun, ia mendengar
suara tindakan kaki, ialah tindakannya kacung yang
membawakan ia air untuk mencuci muka dan lainnya, Dia itu
melongok dulu, baru dia masuk dan meletaki airnya, sembari
tertawa dia memberitahukan kedatangan tetamu, ceecoe muda
she Pek serta seorang she Lauw.
"Oh, begitu" katanya. "silahkan- silahkan undang mereka
masuk" ia sendiri lekas-lekas mencuci muka, membereskan
rambut dan pakaiannya.
Segera juga terdengar suara tertawa diluar kamar, lalu
nampak munculnya Pek Kie- Hong serta seorang muda yang
mukanya rada hitam dan romannya gagah.
"Pagi-pagi sudah bangun, saudara Lie." kata Kie Hong
tertawa, "Mari perkenalkan, inilah saudara Lauw, Tiat-pie
Chong-tiong Lauw Pou, murid Kong tim-taysoe dari kuil
tay-chong-sie di see-coan timur, saudara Lauw baru datang
tadi sore, ketika aku omong tentang kau, saudara, ia lantas
minta aku mengajaknya berkunjung ke mari, saudara Lauw
sangat suka bergaul."
"Terima kasih." kata Tiong Hoa, merendah. "silahkan duduk."
Lantas mereka berduduk.
Tiong Hoa mendapatkan Lauw Pou sedikit bicara selamanya
sungguh-sungguh dan tak pernah tertawa dia seperti mempunyai
urusan sulit.
Tengah mereka bicara, kacung tadi datang memberitahukan
bahwa Lauw Pou diundang tuan rumah, Dia lantas berbangkit,
sembari memberi hormat dan tertawa, dia kata pada Tiong Hoa
dan Kie Hong, "silahkan saudara saudara duduk dulu, aku akan
lekas kembali." Lantas dia pergi dengan cepat.
"Oh ya, kenapa saudara Hong tak nampak?" kemudian tanya
Tiong Hoa heran-
"Saudara Hoo. tidak ada di rumah." Kie Hong memberitahu
"Tadi malam buat satu urusan dia dititahkan ayahnya pergi ke
Tok lok dan sampai pagi ini belum kembali Mungkin dia akan
lekas pulang." ia berhenti sebentar lalu meneruskan.
"Tadi malam Sim Yok dari Koen Loen Pay itu dapat lolos,
tetapi lima kawannya kena dibekuk dan sekarang mereka
ditahan dalam kamar rahasia. Apakah saudara Lie ingin
melihat mereka itu? Kalau saudara mau, sekalian aku dapat
mengantari kau melihat-lihat keletakan Yan Kee Po dan
sekitarnya."
Tiong Hoa senang menerima ajakan itu.
"Kenapa orang Koen Loen Pay itu datang kemari?" ia tanya
sembari jalan.
"Begitu biasanya orang Kang ouw, yang sering tak dapat
bekerja sama." Kie Hong menjawab. "Bukankah diantara saudara
sendiri sering terbit bentrokan? Yan pocu ternama besar, tak
heran bila ada orang salah paham terhadapnya, Karena aku
orang luar, tak jelas aku duduknya perkara itu."
Di mulut Kie Hong mengatakan demikian, di dalam hatinya dia
pikir lain. Di dalam hati dia kata: "Masih kau berpura-pura,
Tunggu sebentar, kau bakal mampus tanpa liang kuburmu."
Tiong Hoa berjalan di belakang, ia tidak melihat air muka
orang guram, Mendengar lagu suara orang, ia mau percaya
jawaban itu, Dengan wajar ia menanya, "Bagaimana Yan Pocu
hendak memutuskan perkara mereka itu?"
Mendengar pertanyaan orang, Kie Hong makin percaya dugaannya
benar. Dia tertawa ketika dia menjawab: "Yan Pocu berhati
mulia, dia tentu mengutus orang ke Keen Loen san mengundang
guru mereka, agar guru itu mengetahui jelas duduknya
kejadian guna menyelesaikan urusan sekalian membebaskan
mereka."
" Itulah putusan yang tepat sekali," kata Tiong Hoa
mengangguk.
Mereka sekarang berjalan di sebuah lorong kecil didalam
taman di mana bunga-bunga dan rumput tertanam rapi dan harum
bunga melapangkan dada. Dari situ mereka tiba di depan
sebuah rimba bambu, Di situpun ada sebuah jalan kecil yang
menuju ke sebuah rumah, yang beda dengan rumah besar, nampak
sederhana sekali, temboknya putih, jendelanya teraling
gorden, pintunya tertutup rapat, cuma dari dalam rumah
terdengar suara perlahan dari alat-alat tetabuan seperti
pendeta lagi mendosa.
Tiong Hoa heran hinga ia berpikir siapa itu yang lagi
menjalankan ibadat.
Kie Hong ketarik dengan suara tetabuan itu, ia sampai
bersenandung: "sepi dan sunyi di dalam ruang, seperti musim
semi hampir habis, dan bunga pada rontok memenuhi latar tapi
pintu tak dibukakan..."
Dari suara orang, Tiong Hoa dapat menduga pemuda itu lagi
memikirkan suatu orang. la tanya: "Apakah saudara Pek lagi
ruwet pikiran. Kenapa kau agaknya berduka sekali?"
Kie Hong terperanjat orang dapat membade hatinya,
Lekas-lekas dia tertawa, Terus dia menunjuk ke rumah sepi di
depannya itu seraya menanya, "Saudara Lie tahukah kau rumah
itu ditinggali orang macam apa."
Tiong Hoa tidak tahu, ia menggeleng kepala.
"Inilah tempat kediamannya nyonya rumah, Kie Hong.
memberitahu " Nyonya Yan beri-badat, dia menghormati sang
Buddha, maka tak pernah dia keluar setindak juga dari rumah
ini. selama delapan belas tahun tak pernah ada yang melihat
wajahnya kecuali beberapa orang tertentu. seratus tombak
persegi disekitar rimba bambu ini menjadi daerah terlarang,
siapa melanggar setindak saja, dialah bagian mati."
Tiong Hoa heran sekali, "Kenapa nyonya rumah bersikap
demikian Apakah yang menyebabkan ? Kedukaankah? Kedukaan apa
?" Kie Hong tertawa sedin
"Pada delapan belas tahun yang lampau itu. entah karena apa,
pocu bentrok dengan istrinya," dia memberi keterangan
"Lantas istrinya itu, menempati rumah ini yang diberi,
nama Coei Tek Hian di mana ia senantiasa bersembahyang dan
tak lagi memperdulikan urusan luar. Di sini cuma dua bujang
pelayannya serta nona Hee yang dapat keluar masuk dengan
merdeka. Pocu sendiri turut terlarang.
Beberapa tahun dulu pernah ada orang yang melanggar larangan
ini. katanya pocu sengaja berbuat demikian, maka besoknya
fajar kedapatan saja mayatnya. sejak itu tidak ada orang
pula yang berani melanggarnya"
"Aku ini semenjak muda telah dipandang pocu sebagai calon
menantunya." kata pula Kie Hong yang bersenyum tawar akan
tetapi keputusannya belum ada sebab Nyonya Yan belum melihat
send iri padaku. Dia cuma akan memberi perkenannya kepada
yang dia penuju. Pergaulanku dengan adik Hong tak buruk
tetapi karena urusan ini, usia muda adik Hee menjadi
tergantung..."
Tiong Hoa makin heran-
“Saudara toh tampan sekali,” katanya, "Mustahil kau tak
dipenujui?" Kie Hong tertawa.
“Jikalau aku tidak dipenuju, sudah saja, boleh aku menghapus
pengharapanku." katanya, “Apa lacur, nyonya Yan belum pernah
dapat diketemukan. Pernah aku menggunai berbagai alasan guna
memancing si nyonya keluar, tetap aku gagal"
Orang she Lie itu menggeleng kepalanya.
"Biarpun nyonya Yan kejam, tak nanti dia membiarkan Nona Hee
tak menikah seusianya," kata ia .”Juga Nona Hee, tidak nanti
dia terus menyetujui sikap ibunya itu. Paling benar adalah
kau, saudara Pek, kau harus berdaya untuk menemui nyonya
itu."
Kie Hong mengawasi, matanya dipentang, "siapa tak takut
mati?" kata dia. " Nyonya Yan
keras sikapnya, ilmu silatnya pun lihai, Bahkan dua budak
perempuannya jauh lebih gagah daripada aku..."
Tiong Hoa bersangsi hingga dia tertawa.
"Mungkin saudara mendengar warta yang berlebihan hingga
karenanya kau jadi jerih" katanya, “Jikalau begitu, baik
saudara buang saja cita-citamu menikah Nona Hee."
Kie Hong mendongkol ia menyangka anak muda ini menghina
dirinya, ia hendak mengumbar hawa amarahnya ketika ia ingat
buat apa ia menuruti hatinya, sebentar toh pemuda ini bakal
menemui ajalnya.
Tengah pemuda she Pek itu berdiam, tiba-tiba mereka
mendengar suara tetabuhan dibunyikan keras. Dia kaget,
lantas dia menarik tangan Tiong Hoa, buat diajak lari
sembari dia kata perlahan: " Lekas. Kalau kita dipergoki
kedua budak Nyonya Yan jangan harap kita dapat menyingkir
setindak juga dari sini..."
Tiong Hoa ditarik tangannya, ia turut lari, tapi ia
bersangsi dan penasaran ia pikir: "Bagaimana liehaynya
nyonya itu? Aku ingin melihat dia."
Rimba bambu itu luas, sampai sekian lama baru Kie Hong
berdua Tiong Hoa dapat ke luar dari situ, untuk terus
memasuki sebuah rimba lain yang lebat dimana, matahari
kealingan daun-daun hingga rimba menjadi gelap dan
menyeramkan. tepi didalam situ kedapatan sebuah rumah yang
nampak hitam.
(Bersambung ke Jilid 4)
Bujukan Gambar Lukisan
Karya : Wu Lin Qiao Zi
Terjemah : OKT
Jilid 4 : Tiong Hoa
terjebak di Yan-kee-poo
"Saudara Lie," kata Pek Kie Hong, menunjuk ke rumah yang
gelap itu, "itulah tempat ditahannya murid-murid Koen Loen
pay. jalanan di dalam rimba ini istimewa, baik kau ikuti
aku, tempat di mana aku menaruh kaki, di situ tidak ada
bahayanya.”
Habis berkata, ia jalan mendahului, ia jalan cepat, ke kiri
dan kanan tak ada ketentuannya.
Tiong Hoa mengawasi kaki-kaki orang, Tiba di dekat rumah
besar itu, ia kaget, ia kena injak tanah yang seperti tak
pegangannya ia kaget, Percuma kagetnya ini, belum sempat ia
memikir apa-apa, kedua kakinya sudah kejeblos, tubuhnya
turun sama cepatnya, terus telinganya mendengar Pek Kie Hong
tertawa bergelak. Lalu tertawa itu.
Selagi kejeblos itu, anak muda ini tidak melihat apa-apa.
Gelap di sekitarnya, itulah pasti liang perangkap. Ketika ia
tiba, di bawah entah berapa dalamnya, ia kaget, ia seperti
terbanting sampai ia roboh, lantas hidungnya mencium bau
tempat demak dan amis juga, hingga ia ingin muntah, Ketika
jatuh itu, ia hampir pingsan, maka itu sampai sekian lama,
baru ia dapat bangun berdiri.
Karena tempat gelap, tangannya meraba-raba, sampai ia
memegang tembok di sekitarnya.
"celaka aku..." ia mengeluh. ia berada dalam lubang dengan
tembok besi, Hawa di situ pun menyesakkan dada, Kalau ia
tidak lekas lolos, ia bakal mati kehausan dan lapar, inilah
hebat,
"Heran kenapa Kie Hong menipu aku..." pikirnya, "Mungkinkah
dia mencurigai aku? Kalau benar, itu bukanlah soal sukar,
dapat ia mencari tahu..."
Sebagai seorang hijau, pemuda ini sangat kurang
pengalamannya. ia main percaya setiap orang, ia seperti lupa
halnya Yan Hong hitam makan hitam dan Lao San Sam eng
penasaran, ia tak tahu Yan Hong dititahkan Yan Loei
mengundang ia datang ke Yan Kee Po, untuk menguji ia, kalau
ia benar berpihak pada orang luar, ia hendak disingkirkan.
Yan Hong pun bersedia membinasakan ia, cuma tuan muda dari
Yan-kee-po itu masih ingat budi pertolongan orang, kalau
bisa dia ingin ia membantu Yan-kee po. Tapi ia di curigai
Yan Loei, karena Yan Loei menerima laporannya Pek Kie Hong
bahwa ia menolong orang Koen Loen Pay, maka itu Yan pocu tak
bersangsi pula, terus dia menyuruh Kie Hong memancing dan
menjebaknya, perbuatan itu dilakukan diluar tahunya nyonya
Yan dan Yan Hee si nona.
Setelah berpikir lama, Tiong Hoa menjadi jemu terhadap orang
Rimba Persilatan, kalau ia lolos, ingin dia membinasakan Kie
Hong dan orang-orang sebangsanya, ia gusar hingga ia
menggertak gigi.
Sementara itu tadi, ketika terdengar suara bok hie terakhir,
pintu Coei Tek Hian lantas terpentang, dari situ keluar
seorang budak perempuan berbaju hijau. yang membekal sapu,
untuk menyapu lantai di depan pintu.
Dia belum berumur dua puluh, tubuhnya langsing, romannya
menarik hati. Gesit kerjanya dia.
Di ruang dalam, yang disebut hoed-tong, ruang pamujaan, ada
duduk bersila seorang wanita tua yang rambutnya sudah
ubanan, mukanya bundar, kulitnya belum keriputan, matanya
bersinar tajaro, suatu tanda dialah ahli silat.
Ditengah-tengah ruang tergantung gambarnya Cian cioe Koan im
yaitu dewi Koan Im bertangan seribu, berikut sebuah gambar
Thay Kek. yang diapit sepasang lian atau pigura huruf yang
tulisannya bagus. Di atas meja ada bok khie serta pendupaan
yang asapnya mengepal harum, Nyonya tua itu bersila sambil
meram.
Tak lama dari kamar samping keluar seorang nona berbaju
merah, Karena sinar matahari yang masuk dari pintu, maka
nona itu tampak cantik manis.
"lbu." ia memanggil, suaranya merdu dan bernada aleman,
Terus ia mendekati si nyonya, untuk menanya: "lbu lagi
pikirkan apa?" Dialah Yan Hee, puterinya Yan Loei atau
adiknya Yan Hong. Nyonya itu membuka matanya terus ia
bersenyum manis,
"Aku memuja sang Buddha, sekarang aku telah memperoleh
kesadaran," sahut ibu itu. "Sekarang hatiku tenang bagaikan
air, tapi sudah dua hari ini, aku merasai ketenanganku
terganggu, Air seperti berombak perlahan mungkin ada sesuatu
yang bakal menimpa aku. Aku ingat ketika delapan tahun yang
lalu aku membinasakan si orang aneh yang kumisnya panjang
aku mendapat alamat seperti ini, Tapi tak mau aku
memperdulikan itu" ia tertawa,
"Anak. mari aku tanya kau, selama yang belakangan ini kau
telah dapat mencari orang yang kau penuju atau belum?"
Dari pertanyaannya ini maka teranglah sudah si nyonya adalah
isterinya Hoan Thian-ciang Yan Loei. yaitu Ciao Cioe Kwan lm
Siauw Goat Hian." (Dewi Kwan lm bertangan seribu), ilmu
silatnya menggabung pelajaran sesat dan lurus.
Liehaynya adalah senjata rahasianya, yang terdiri dari
delapan-belas butir mutiara murni serta ilmu pedangnya San
Hoa Kiam-hoat, yang terdiri dari dua puluh jurus. Ketika ia
berselisih dengan suaminya, lantas ia menyekap diri di Coei
Tek Han, hidup menyendiri dengan memuja Cian cioe Kwan Im,
yang tadinya ia pakai sebagai gelarannya, ia cuma dilayani
dua budak perempuan itu, dan yang dapat menemui ia melainkan
gadisnya itu. Mukanya Yan Hee merah atas pertanyaan ibunya
itu.
"lbu saban-saban kau tanyakan urusan itu, buat apakah?" anak
itu balik menanya, "Aku masih belum memikir untuk menikah.
Aku justeru ingin selama-lamanya menemani ibu."
"Ngaco." ibu itu membentak. "Mana dapat kau tak
menikah?Justeru karena kau, aku belum mau pergi ke gunung
yang sunyi, Aku kuatir ayahmu nanti jodohkan kau pada orang
yang tak tepat, dengan begitu kau bakal celaka seumur
hidupmu, Pek Kie Hong anaknya Pek Liang telah aku lihat, dia
kelihatan baik di luar tapi hatinya sebenarnya tak lurus
bahkan licik. Aku merasa pasti di belakang hari dia bakal
mati tak wajar, Turunan serigala mana bisa menjadi kie-lin?
Maka itusering ayahmu mendesak tapi aku tidak meluluskan."
Yan Hee heran.
"lbu pernah lihat Pek Kie Hong?" dia tanya.
"Aku melihat dia pada tiga tahun yang lalu." sahut ibu itu,
lalu dengan roman sungguh-sungguh ia menanya. "Anakku,
benar- benarkah kau belum mempunyai orang yang kau penuju?
Ketika tadi malam aku mengajari kau ilmu pedang, hatimu agak
tak tenang, kenapa kah itu?"
Yan Hee tahu mata ibunya tajam, tak dapat ia mendustainya,
Maka ia tunduk ia ketanah. "Kemaren pagi engko Hong mengajak
satu sahabat datang ke rumah kita, itulah sahabatnya yang
baru. Aku lihat gerak-geriknya orang itu halus, dia tidak
mirip- miripnya orang Kang ouw, cuma masih belum ketahuan
hatinya..."
Tepat si nona berkata begitu maka di jendela dari rumah itu
ada orang yang menggantung kakinya dipayon, matanya
mengintai ke dalam.
Habis berkata begitu, nona itu likat sendirinya, ia tunduk
sambil membuat main ujung bajunya, Tapi dengan melihat sikap
anaknya, sang ibu tahu hati anaknya itu telan digedor si
anak muda yang disebutkan itu, ia agaknya senang, ia
bersenyum.
Tapi tiba-tiba alisnya berkerut, terus tangannya diayun maka
melesatlah sebuah benda kuning halus.
Di luar terdengar suara perlahan seperti ujung baju
ditembuskan sesuatu. lantas sunyi pula.
Melihat gerakan ibunya Yan Hee tahu diluar mesti adu orang
yang mengintai mereka, ia lantas berlompat keluar, hingga ia
melihat di belakang rumah itu. daun pohon bambu bergoyang
sedikit ia tidak dapat melihat tegas, maka itu ia lantas
menyerang dengan enam biji kim-chie-piauw.
Tidak ada hasilnya serangan itu, kecuali daun bambu
bergoyang pula.
Si nona penasaran, hingga ia kata dalam hatinya. "Bangsat,
aku lihat kau dapat lolos dari tangan nonamu atau tidak? ia
menyusul ia menimpuk pula.
Ada larangan kaum Rimba persilatan untuk mengejar musuh yang
lari ke dalam rimba atau tempat lebat pepohonan tetapi Yan
Hee melanggar itu, sebab ia berada di rumahnya ia mengejar
teeus, Hasilnya sia-sia, sampai merasa letih, tak dapat ia
mengudak orang itu, cuma saban-saban terlihat daun bambu
bergerak. Ketika ia tidak melihat apa apa yang mencurigai ia
keluar dari dalam hutan bambu itu, keluar sambil berlompat.
segera ia dapat melihat Pek Kie Hong lagi jalan mundar
mandir di antara pohon-pohon bunga, romannya masgul.
"Heran. Kenapa anak muda itu berada di situ?"
Kie Hong juga lantas mendapat lihat si nona. Kalau tadi
alisnya berkerut, sekarang ia lantas bersenyum. "Adik Hee."
dia memanggil cepat.
Nona itu merah mukanya akan tetapi dia menegur: " Kenapa kau
lancang masuk ke- dalam rimba? Kenapa kau mengintai di
jendela Coei Tek Hian, kau telah melanggar larangan ibuku,
tidak dapat aku melindungi kau"
Kie Hong melengak.
"Apa?" tanyanya cepat, “Jangan main-main, adik Hee, Berapa
biji batok kepalaku hingga aku berani melanggar larangan
peebo? Akujusteru lagi bingung memikirkan dengan cara apa
aku dapat menemui ibumu, supaya terwujudlah apa yang aku
harapi bertahun-tahun"
"Harapan apa?" si nona memutus.”Ngaco belo."
Lantas dia memutar tubuh, untuk kembali ke dalam rimba.
"Adik Hee. Adik Hee." Kie Hong memanggil-manggil.
Yan Hee tidak menyahuti, ia pun tidak kembali, maka pemuda
itu menjadi masgul dan menyesal, ia berdiri menjublak saja,
tapi tak lama segera ia sadar, maka ia berseru seorang diri:
"Celaka. Di dalam rimba tentu ada orang. Kalau tidak
mustahil adik Hee mencurigai aku. Mesti hal ini segera
diberitahukan pocu." Maka dia lantas laripergi.
Di dalam rimba, Yan Hee bingung berpikir.
"Tidak nanti Kie Hong berani lancang masuk ke mari?"
demikian pikirnya, "Habis, siapa orang itu? Mungkinkah ia
adanya?"
Lalu di depan matanya berbayang roman Tiong Hoa yang
tampan.. Mengingat pemuda itu, Yan Hee lantas lari ke Coei
Tek Hian.
Siauw Goat Hian tengah duduk membaca kitab, kapan dia
mendengar tindakan kaki orang, ia mengangkat kepalanya
"Anak Hee, dapatkah kau menyandak?" nyonya itu tertawa.
orang yang ditanya itu menggeleng kepala. sang ibu menutup
kitabnya.
"Dia dapat lolos, dia lihai" katanya, "Coba lihat, apakah
ini?"
Dari dalam kitabnya, ibu itu menarik ke luar sehelai kertas
Yan Hee menyambuti, ia lihat kertas itu ada tulisannya
doIama huruf yang berbunyi: Membalik langit, memasuki bumi,
dosa berlapis sukar lolos" ia heran. Tak mengerti ia
maksudnya itu.
sang ibu menghela napas, ia kata perlahan "siapa banyak
melakukan perbuatan tak benar, dia bakal celaka sendirinya,
Kelihatannya ayahmu telah luber kejahatannya...”
Anak itu kaget.
"Apakah yang ayah perbuat?" Dia tanya, "Dapatkah ibu duduk
diam saja tidak menolong i?
Ibu itu mengasi lihat roman gusar, ia kata dingin, "Biar dia
mati berlaksa kali, itu masih belum cukup untuk menutup
dosanya, jikalau ibumu menolongi dia, ibumu bakal merusak
kata katanya sendiri,”
Tapi habis berkata, dia menghela napas, agaknya dia berduka
sekali.
Yan Hee tetap bingung, ia tahu ibunya bentrok dengan ayahnya
tapi ia tak ketahui duduknya hal yang sebenarnya.
Sekonyong-konyong dari luar rumah terdengar tertawa yang
nyaring yang disusuli perkataan ini: "Benar-benar cian ciee
Kwan lm sadar dan cerdas. Lagi tujuh hari Yan Kee Po bakal
ludas menjadi abu, melainkan coei Tek Hian akan utuh seperti
tempat yang suci." Kembali tertawa yang nyaring yang
berkumandang di dalam rimba bambu.
Yan Hee kaget dan heran, hendak dia lompat keluar, tetapi
ibunya menarik tanganaya, ibu itu memasang telinganya, terus
ia mengerutkan alisnya berulang kali, ia kata per lahan
suara orang itu rasanya aku kenal baik.
Lalu meneruskan pada anak-daranya: "Anak, coba kau keluar,
kasi lihat ada apa yang luar biasa."
Yan Hee lekas keluar. Lantas ia melengak. Di kiri rumah,
belasan pohon bambu terbabat, babatannya rata. tetapi bagian
yang terbabat itu tidak ada. Adakah semua batang bambu serta
daunnya dibawa pergi? ia juga heran karena ia baru saja
masuk ke dalam dan ia tidak mendengar suara apa-apa.
Orang jadinya bekerja sangat cepat dan tanpa suara. Bekas
bacokan iuga menandakan itu bukan bacokan pedang atau golok
hanya tangan. Cepat luar biasa Yan Hee lari balik ke dalam,
ia menuturkan semua. cian cioe Kwan lm berdiam, agaknya dia
berpikir, Akhirnya dia kata sendiri perlahan. "Oh. kiranya
dia..."
Yan Hee mementang
mata lebar. "Siapa dia, ibu?" ia tanya.
"Siapa sebenarnya orang itu, ibumu tidak dapat menetapkan."
sahut orang tua itu.
"Tapi pasti tujuh bagian adalah dianya. Tak heran dia
mengatakan tujuh hari kemudian Yan Kee Po bakal ludas
menjadi abu, Dia biasa berbuat benar dan berhati-hati,
mungkin masih ada urusan yang membuatnya bersangsi dan belum
dapat membereskannya. Mungkinkah ayahmu telah mengganggu
dia?.
Sang anak heran, ingin ia minta keterangan pula. Mendadak
ibunya memperlihatkan roman gusar dan kata kepadanya keras:
"Anak Hee, lekas pergi ke depan kau tanya engko Hong kau,
dalam beberapa hari ini apa lagi yang mereka kerjakan. Lekas
pergi."
Yan Hee heran dilapis heran, akan tetapi mengingat urusan
mestinya penting sekali, ia menurut, ia lantas lari keluar,
Begitu ia keluar dari rimba, ia lantas bertemu dengan dua
pelayan ibunya yang romannya gelisah sekali satu diantaranya
lantas berkata padanya:
"Nona lekas pergi ke depan. Siauw pocu pulang dengan luka
hebat sekarang dia tak sadarkan diri"
Yan Hee kaget dan berkuatir, ia memang menyayangi kakaknya
itu. Tanpa menanya lagi, ia terus lari.
Di ruang depan ada banyak orang, berisik mereka itu,
romannya tegang, Yan Hee membuka jalan dengan paksa diantara
mereka itu, Maka segera ia melihat Yan Hong, yang mukanya
pucat dan matanya tertutup, napasnya empas-empis, sedang
tubuhnya mandi darah, Hoan-Thian ciang, dengan kedua
tangannya, lagi menyalurkan tenaga dalamnya untuk menolongi
puteranya itu.
Karena jidat ayah itu mengeluarkan banyak sekali keringat,
teranglah lukanya Yan Hong tak ringan-
Cie-liong-kiam Pek Kie Hong melihat datangnya si nona, dia
menghampirkan. Matanya si nona menyapu, melihat siapa yang
mendekati ia, alisnya berbangkit. "Mana Lie Cie Tiong yang
kemarin datang kemari?" ia tanya, "Kenapa dia tak nampak?"
Kie Hong terperanjat akan tetapi dia menetapi hati.
"Dia?" sahutnya, tertawa tawar, "Dia kata ada barangnya yang
penting yang ditinggal di hotelnya di Tok lok, maka dia
pergi tadi pagi-pagi untuk mengambilnya."
"Hm" bersuara si nona, yang kembali menoleh, mengawasi
kakaknya.
Kie Hong berdiam, ingin ia bicara dengan si nona tetapi
karena sikap nona itu terpaksa ia bungkam. ia mesti menahan
hati.
Tak jauh dari muda mudi itu berdiri Tiat pie chong- liong
Lauw Pou dengan kedua matanya yang bercahaya. Dia
memperhatikan mereka itu berdua, sikapnya keren-
Setelah ditolongi ayahnya sekian lama keadaan Yan Hong
mendingan- Dengan mukanya mulai bersemu dadu, ia membuka
kedua matanya.
Im Cioe Hauw Hoen Hauw Boen Thong berdiri dibelakang Yan
Loei, dia tidak sabar dan dengan roman dan suara bengis, dia
lantas menanyai " Keponakan Hong, kau bertemu musuh liehay
siapa itu? Lekas bilangi pamanmu" Ditanya begitu, Yan Hong
merapatkan pula matanya.
Yan Loei dapat menerka hati anaknya Di situ ada banyak
orang, anak itu tentu tidak suka sembarang bicara, Maka ia
mengedipi mata pada Hauw Boen Thong sambil menitahkan
orang-orangnya. "Siauw pocu perlu beristirahat, lekas bawa
dia ke kamarnya." Perintah itu lantas dilakukan- empat
orang, yang menggotong Yan Hong ke dalam.
Yan Loei mengikuti dengan diturut Hauw Boen Thong, Khong
Jiang, Pek Kie Hong dan Yan Hee.
Begitu mereka berkumpul di dalam, Yan Hong berkata, "Tadi
malam aku pergi ke kota Tek-lok. di sana mata-mata kita
mendapat tahu Lao..." ia melihat adiknya, ia berhenti
tiba-tiba.
Yan Loei berpaling kepada puterinya.
"Kata Pek Hiantit barusan ada orang memasuki Coei Tek Hian,
dia dapat dibekuk ibumu
atau tidak?" ia tanya.
Nona Hee cerdik, ia tahu kakaknya tentu mau omong rahasia
yang ia tak perlu dapat tahu, karena ia menduga urutan tentu
mengenai musuh, di waktu ia menjawab ayahnya suaranya
dingin.
"Orang itu dibiarkan bisa lolos." jawabnya. "Nampaknya ibu
tidak memperdulikannya"
Yan Loei menggeleng kepala.
"Ibumu itu luar biasa" katanya, "Tempat baik-baik dijadikan
daerah terlarang, sampai ayahmu tak memperkenankan masuk ke
situ, orang kita dapat melihat ada orang masuk ke situ,
mereka cuma dapat mengawasi saja,” la menambahkan " Ibumu
tentu belum tahu kakakmu terluka, pergi kau kepadanya untuk
memberitahukannya sekalian kau minta, untuk kali ini agar
dia datang melihatnya,"
Yan Hee menduga ia hendak disuruh berlalu, setelah bersangsi
sebentar, ia mengangguk. "Baik, aku nanti coba, katanya. Aku
kuatir ibu tidak mau mengadakan kecualian..." Lantas dia
bertindak pergi.
Seperginya sang adik, Yan hong lantas melanjuti
keterangannya.
Yan Loei telengas, kalau dia mau melakukan sesuatu, tak
kepalang, dia membinasakan semua orang yang bersangkutan
untuk menutup semua mulut. ia ingin orang tak ketahui
perbuatannya, supaya namanya tak tercemar. Kali ini ia tak
beruntung membersihkan diri,
000
Di kota raja ada seorang berpangkat Hoe-pouw siang sie,
namanya souw Ceng Kit, dia mempunyai sebuah mustika logam
asar see Hek. wilayah Barat, namanya Ngo sek Kim-ho, emas
panca warna.
Logam itu dapat di-buat menjadi pedang mustika, yang tajam
luar biasa, dapat memutuskan rambut, dapat memecah batu,
dapat juga merusak tenaga dalam. Logam itu sangat diingini
kaum Rimba Persilatan-
Souw siangsie mempunyai seorang anak. Siang Hoei namanya
anak itu menjadi muridnya lm san le soe, orang kosen dari
perbatasan selama anaknya lagi belajar silat, siangsie itu
mau mengirim logamnya itu buat dijadikan pedang, tetapi lm
san ie soe menampik, katanya dia lagi repot, nanti saja
sesudah Siang Hoei tamat belajar dan turun gunung. sekarang
Souw siangsie mau pulang ke kampungnya, ia mengundang enam
belas guru silat sebagai pengantarnya.
Lao san sam Eng mendengar selentingan tentang logam mustika
itu, mereka ingin memilikinya, lantas mereka menguntit, guna
menanti ketika yang baik buat turun tangan. Mereka tidak
tahu logam itu telah dijanjikan kepada lm san lesoe, kalau
tidak. tidak nanti mereka berani memikir yang tidak-tidak.
Rombongan souw siangsie bakal lewat di Tok lok, di baratnya,
di sebuah tempat yang dinamakan perhentian- Kenyang makan
asem garam, Kee beng- ek. Tempat itu dipilih sam Eng sebagai
tempat bekerja, itulah tempat belukar dan sepi di mana
jarang ada orang berlalu- lintas, Tapi Kee beng ek termasuk
dalam wilayah pengaruh Yan Loei, maka itu sam Eng pergi
mengunjungi Yan Kee Po, guna memberitahukan maksudnya.
Yan Loei memberi perkenannya. Tapi dia licik, dia biasa
bekerja menggelap. Dia juga menghendaki Ngosek kim bo itu.
Mulanya dia belum tahu jelas dan mengira saja itulah
mustika, kalau baru emas dan perak Lao san sam Eng tidak
nanti ketarik hatinya dan mau menguntit dari tempat demikian
jauh. Dia lantas mengatur untuk bekerja.
Dia menugaskan Yan Hong dan delapan pembantu pilihan. Malam
itu yang Yan Hong bertemu Tiong Hoa di Cip Poo Lauw, itulah
saatnya dia mesti pergi ke Kee-beng-ek. Jamnya adalah jam
tiga. sementara itu pada jam dua, Yan Hong menyuruh satu
orangnya pergi menemui Souw siangsie, dengan mengaku diri
orang Koen-loen-pay, orang itu mesti membeber rahasia bahwa
Lao san sam Eng bersama dua puluh lebih penjahat besar
hendak melakukan pembegalan- la mengusulkan Souw siang sie
bekerja di dua jurusan, yaitu diam-diam mengantar mustika
pulang keTaytong, kampung kelahirannya, di lain pihak
mengatur daya guna meringkus semua begal itu.
Souw siangsie percaya keterangan itu, Empat pengantar lantas
diperintah berangkat lebih dulu membawa logam mustika itu.
sedang pemberi warta itu, yang mengaku bernama Tio-tong,
diminta berdiam bersamanya di tempat mondok, katanya guna
membantu lainnya.
Seberangkatnya rombongan empat pengantar itu, Yan Hong serta
enam pembantunya orang-orang pilihan itu lantas menyusul.
Di luar dugaan, Lao san sam Eng tiba di Kee-beng-ek pada
sebelum jam tiga yang menjadi batas tempo itu, mereka heran
melihat berlalunya dua rombongan orang. Lantas mereka
menduga, terus mereka menyusul.
Tio-tong tetiron menjaga diatas genting perhentian- Dia
melihat gerak gerik ketiga Elang itu, dia kaget, tapi segera
dia mendapat pikiran, maka dia minta belasan pengantar pergi
menyusul, dia sendiri berdiam terus untuk melindungi Souw
siangsie.
Dengan akal ini ia ingin sendiri saja dia merdeka memaksa
Souw Siangsie menyerahkan Ngo-sek Kimbo. Dengan golok
terbunus, dia mengancam Souw siangsie. Di luar dugaannya,
dua busu kembali, kedua bu-su ini bercuriga, lekas-lekas
mereka balik. Tepat mereka memergoki Tio Tong, maka mereka
menyerang membinasakan orang palsu itu.
Keempat busu baru berjalan lima lie lebih, mereka tercandak
rombongannya Yan Hong, lantas mereka diserang dan kena
dibinasakan serta barang yang dilindunginya, yang berharga,
kena dirampas.
Yan Hong girang sekali, ia merasa sangat puas dengan
kesudahan sepak terjangnya itu. Justeru ia lagi kegirangan,
datanglah bencana yang tak tersangka-sangka, itulah tibanya
Lao san sam eng, yang terus menyerbu, Kesudahannya
pertempuran ini hebat sekali.
Yan Hong terluka parah pundaknya dan enam kawannya
terbinasakan senjata rahasia yang beracun dari sam Eng. Yan
Hong sebera kabur, syukur dia ditolongi Lie Tiong Hoa.
Bu-su yang dipedayakan Tio-tong tiba di tempat kejadian
untuk menyaksikan saja mayat-mayat bergelimpangan logam
mustika tak nampak. mereka lantas lari pulang, untuk
menyampaikan kabar buruk itu.
Souw siangsie menjadi sangat gusar, ia terus mengadu pada
camat di Tok-Iok dan mendesaknya agar penjahatnya ditangkap
ia tidak tahu bahwa perbuatan itu perbuatannya Yan Hong, dan
ia menduga Tio-tong itu orang sebawahannya Lao san sam Eng.
Ketika Yan Hong dapat lari pulang, ia menuturkan segala apa
pada ayahnya. Yan Loei yang cerdik lantas memikir, tak dapat
tidak Lao san sam Eng mesti disingkirkan dan Lie Tiong Hoa
pun mesti dipancing ke rumah-nya, untuk dengan melihat
gelagat menyingkirkannya.
Lao san sam eng di lain pihak setelah dikalahkan Tiong Hoa,
menjadi semakin gusar dan panas hati. Mereka menduga Yan Kee
Po hitam makan hitam. Untuk melampiaskan kemendongkolanny a,
mereka lantas menyiarkan kabar angin bahwa kejahatan itu
perbuatan Yan Kee Po.
Dalam tempo dua jam, Yan Loei telah mendengar kabar angin
itu, Dia menjadi semakin gusar, Lantas dia mencari tahu
tempat kediamannya sam Eng, untuk bertindak
menyingkirkannya.
Kedua pihak lantas main muslihat. sam Eng sengaja membikin
tempat mondoknya ketahuan, tapi mereka tidak berdiam tetap
di situ, mereka kabur ke arah siauw Ngo Tay san-
Yan Hong menyusul ke gunung itu. Baru ia sampai dimulut
gunung, ia sudah dihadapkan seorang tua berbaju kuning, yang
menunjuki roman gusar, ia tidak tahu takut ia juga tidak
kenal orang tua itu, ia lantas menyerang.
"Anak muda tidak tahu mampus" orang tua itu membentak. "Kau
cari mampusmu"
Lantas Yan Hong merasakan tolakan yang kuat luar biasa,
tubuhnya terus terlempar ke bawah jurang dalam beberapa
puluh tombak. hingga ia merasai tubuhnya seperti remuk,
terus ia tak sadarkan diri.
ooo
"Syukur kaujatuh dirumput," kata Yan Loei kaget, mendengar
keterangan anaknya itu, jikalau tidak. tentulah jiwamu sudah
hilang, Kau didapatkan oleh orang kampung yang
mengenalmu, maka kau diantar pulang.
"Siapakah orang tua berbaju kuning itu?" Yan Loei tanya Hauw
Boen Thong, yang ia awasi.
"Hauw Loosoe banyak penglihatannya dan luas pendengarannya,
mungkin loo-su ketahui.....
Hauw Boen Thong berpikir, lantas matanya bersinar. "Ah,
jangan- jangan dia siluman tua.." katanya terkejut.
Belum berhenti suaranya itu maka dari atas genting terdengar
suara tertawa nyaring serta kata-kata ini. "Bagus kamu
ketahui si siluman tua"
Yan Loei dan Boen Thong kaget, hampir berbareng mereka
bertempat keluar dari jendela.
ooooo
BAB 6
CIE-LI0NG-KIAM Pek Kie Hong juga turut menyusul, Maka
ketiganya dengan cepat terus lompat naik ke atas rumah.
Mereka melihat orang yang tertawa dan berkata-kata itu,
Dialah seorang tua dengan baju kuning. Dia agaknya tidak
menghiraukan ketiga orang ini, dia tertawa hanya berdiri
membaliki belakang.
Yan Loei dan Hauw Boen Thong tefkejut, Merekalah orang-orang
yang telah banyak makan asam-garam. Tidak demikian dengan
Pek Kie Hong. Anak muda itu maju terus, sambil membentak dia
menyerang, mengarah jalan darah bun-hu di punggung orang tua
itu.
sekonyong-konyong si orang tua tertawa nyaring, tubuhnya
terus berputar, tangan bajunya yang panjang berbareng
menyampok.
Kie Hong kaget tidak terkira. Mendadak ada serangan angin
hebat ke arah mukanya.
Kontan dia susah bernapas, karena dadanya menjadi sesak
dalam sedetik. Tapi dia masih ingat untuk mengundurkan diri,
dia lantas berlompat.
Tapi sudah kasip. si orang tua mendahului lompat maju,
menyamber tangannya, Hanya sekejap. dia merasakan sakit dan
tenaganya lenyap. pedangnya terlepas dari tangannya.
Si orang tua rupanya tidak memikir mengambil jiwa orang,
habis menyamber, ia melepaskan cekalannya, justru itu Yan
Loei dan Hauw Boen Thong menyerang dengan berbareng, Mereka
ini mau menolongi pemuda she Pek itu.
Si orang tua tidak mau melayani, dia menggeraki pedangnya
sambil tubuhnya mencelat bagaikan terbang cepatnya, dia
berlompat ke dalam rimba, untuk segera menghilang...
Ketika itu pun datang menyusul banyak orang Yan Kee Po akan
tetapi mereka tidak dapat berbuat apa apa. Mereka menyerang
dengan senjata rahasia tanpa hasil. Pek Kie Hong berdiri
menjublak. la gusar dan berduka karena lenyapnya pedangnya.
Justeru itu mendadak Hauw Boen Thong berteriak matanya
bersinar kaget, mukanya menjadi biru dan pucat.
Semua orang kaget, semuanya menofeh. Mereka lantas menjadi
lebih kaget lagi.
Orang she Hauw itu terpapas ujung bajunya, hingga terlihat
tulang lengannya yang kurus, la baru ketahui itu ketika sang
angin menyamber padanya dan lengannya itu terasa dingin,
tempo ia melihatnya, ia memperdengarkan teriakannya itu.
Itulah hasil pedang Kie Hong yang dirampas si orang tua.
syukur dia tidak telengas, kalau tidak. mungkin dia dapat
menguntungkan lengannya Im Cioe Jiauw Hoen- Tapi ini juga
sudah cukup untuk membikin ciut hati orang, ia hanya menjadi
sangat mendongkol dan menyerah ialah seorang Kang ouw
kenamaan tetapi sekarang ia telah dibikin menjadi tidak
berdaya...
Yan Loei juga gusar dan masgul sekali, ia malu, Bukankah ia
telah dirobohkan bahkan di sarangnya sendiri? ia mengerti,
itulah alamat bencana untuk Yan Kee Po yang kesohor kuat.
"Yan Peehoe, siapakah itu setan tua berbaju kuning?"
kemudian Pek Kie Hong tanya Yan Loei, Dia menjadi lesu
sekali.
Yan Loei belum menjawab atau Boen Thong telah mendahuluinya.
Dengan sengit orang sh e Boen ini kata: "Bocah, kau tahu dia
siapa? Dialah siluman tua Thian Yoe yang dulu hari telah
menjadi pecundangnya Hok In siang-jin-- Hm-- Hm. Kau lihat,
segera bakal datang pertunjukan berikutnya yang menarik
hati."
Dari suaranya nyata Boen Thong sangat tidak puas dan ingin
menuntut balas.
Kie Hong kaget hingga ia merasa matanya kabur. ia lantas
mendapat perasaan bahwa pedangnya itu tak bakal kembali
kepadanya, ia masih muda tetapi pendengarannya sudah banyak
maka ia tahu siapa Thian Yoe Sioe, satu jago dari hampir
enam puluh tahun yang lampau, sedang pada tiga puluh tiga
tahun yang lalu, pernah dia dikeroyok ketua-ketua Boe Tong
Pay, Khong Tong pay dan Siauw Lim Pay, selama dua hari satu
malam, mereka itu masih tak dapat menang di atas angin-
pertempuran satu melawan tiga itu terjadi di depan air
tumpah di gunung Louw yan.
Syukur Thian Yoe sloe -- meski dia jumawa dapat berlaku
sabar, hingga dia puas dengan satu kesudahan seri, tak ada
yang menang dan tidak ada yang kalah, sama-sama tangguh.
Hanya karena dia dikepung bertiga, dia toh mendapat nama,
dengan sendirinya namanya jadi terkenal sekali dan dimalui.
ooo
Thian Yoe sioe berasal seorang anak yatim piatu, Dia she
Kie. Karena sebatang- kara dan hidupnya melarat dan
bersengsara, dia sering dihina orang, syukur kemudian dia
bertemu seorang berilmu dan dipelihara dan serta di didik
sempurna hingga dia memperoleh kepandaian silat yang luar
biasa. penderitaannya berpikiran tak seperti banyak orang.
Dia bertabiat keras. Dia bertindak menurut apa yang dia
sendiri rasa baik, Karena itu, dia tak disukai baik kaum
sesat maupun kaum lurus, Maka tetap dia suka hidup
menyendiri, tetap dia membawa tabiatnya itu. Kurban-
kurbannya, kedua kaum lurus dan sesat, tak kurang dari
seratus jiwa.
Barbareng sama Thian Yoe sioe maka di puncak tertinggi
gunung Koen Loen san Barat ada hidup seorang gagah yang
dipanggil Hok In siangjin, yang pun dikenal sebagai Boe Lim
it seng. Nabi tunggal kaum Rimba Persilatan- Tak tenang
hatinya orang kosen ini melihat sepak terbangnya Thian Yoe
sioe itu, Maka ia mengundang Thian Yoe sioe datang ke
gunungnya untuk berunding.
Thian Yoe sioe menerima baik undangan itu dan datang ke Koen
Loen san Barat, Ketika dia tiba- d i kaki gunung, ada orang
yang melihatnya, maka habis itu, timbullah omongan diluaran
bahwa dia sudah menempur Hok In-siangjin-
Hok In siangjin seorang pendeta berilmu dan sabar maka itu
begitu bertemu Thian Yoe sioe, ia berlaku sabar sekali, ia
ingin Thian-Yoe sioe merubah adatnya, sikapnya ini membikin
Thian Yoe sioe dari panas hati menjadi tenang. ia pun
menuturkan riwayat hidupnya nyata semasa kecilnya, ia lebih
menderita daripada Thian Yoe sioe.
Sebagai seorang cerdik, ia tidak omong perihal ilmu silat,
ia tidak menimbulkan hal sepak terjangnya Thian Yoe sioe.
Thian Yoe sioe tidak bertanding, sebaliknya dia insaf
keluhuran budi Hok in siang-jin- Kata-katanya pendeta itu
menyadarkan padanya.
Kata Hok In siangjin: "Manusia itu kebanyakan merasa dirinya
yang benar, karenanya dia suka menegur kesalahan lain orang,
Mata manusia seperti kaca rasa, cuma bisa melihat kesalahan
lain orang, tak dapat melihat cacad sendiri, Manusia itu
mana bisa tak melakukan kekeliruan? Karena itu. baiklah
orang saling mengerti, jangan sampai menjadi mencelakai diri
sendiri Manusia itu, karena masing-masing pengalamannya,
menjadi beda satu dari lain, toh pokoknya tetap satu, tak
ada perbedaan jahat dan baik, yang harus diutamakan yalah
kesadaran, lalu memeriksa diri sendiri agar tidak sampai
berbuat keliru."
Satu hari satu malam mereka memasang omong, hati Thian Yoe
sioe jadi tertarik.
Kemudian Thian Yoe sioe menimbulkan ilmu silat, Dia merasa
bangga pada dirinya, ilmu silat itu dalam seperti lautan."
kata Hok In siang-jin bersenyum. "Ilmu silat tidak ada
batasnya, Tidak demikian adalah usia manusia, yang telah
ditetapkan dengan batas waktu seratus tahun- oleh karena itu
loolap tidak suka bicara tentang ilmu silat atau bentrok
bicara karenanya, ilmu silat dapat mengacaukan pikiran dan
membuatnya orang suka berebutan-"
Thian-Yoe sioe tahu Hok In siangjin sabar dan suka mengalah,
tetapi dia penasaran, dia minta mereka berdua
mencoba-coba..Hok In kena terdesak. la menjanjikan
pertandingan hanya seratus jurus, bahwa ia- cuma akan
membela diri, tidak akan menyerang, sementara gelanggangnya
cuma luas lima kaki seputarnya. Katanya, siapa yang keluar
dan gelanggang, dia kalah.
Thian Yoe-sioe percaya kelihaiannya, dia terima baik syarat
itu. Dia tidak percaya dalam seratus jurus orang tak akan
lompat keluar gelanggang. Maka itu, begitu mulai, dia lantas
keluarkan kepandaiannya. Dia ingin memaksa pendeta itu
keluar dari gelanggang.
Tapi Hok in siangjin liehay sekali, Walaupun dia terus
diserang dan setiap penyerangan berbahaya, dia selalu dapat
menghindarkan diri, dia bermata jeli dan bertubuh ringan dan
gesit, Dia bergerak lincah bagaikan bayangan.
Thian Yoe sioe penasaran, ia mengubah cara penyerangannya,
tetapi tetap ia tidak memperoleh hasil, Ketika sampai di
jurus ke seratus, Hok in siangjin mengalah. Dia bukan keluar
dari gelanggang hanya menginjak batasnya. Dengan begitu
pertandingan itu berkesudahan seri.
Thian Yoe sioe menginsafi liehaynya pendeta yang sangat
sabar itu.
Ketika Thian Yoe soei pamitan, Hok in siangjin mencekal
tangannya jago itu dan kata dengan roman berduka. "Kita
berdua sudah sama-sama berusia lanjut. Manusia itu dapat
hidup berapa lama? Hari dan bulan lewatnya dapat dihitung
denganjari tangan, di dalam dunia ada berapa orangkah yang
memperoleh kesadaran? Maka daripada itu sang Budha
mengatakan, "Dia mengutamakan membantu orang menyadarkan
diri, Kita sekarang bakal berpisahan, entah kapan kita dapat
bertemu pula, dari itu, mengingat KieTayhiap adalah seorang
dengan muka dingin dan hati panas, suka loolap. menasehati
agartayhiap ingat kepada kebijaksanaan Thian dan di mana
bisa, sukalah memberi ampun kepada orang"
Thian Yoe sioe menginsafi nasehat itu, maka setelah turun
gunung, banyak dia merubah sepak terjangnya, justeru karena
dia merubah kelakuan, dalam Rimba Persilatan muncul cerita
dia telah ditakluki Hok In siang-jin, bahwa dia telah
mendapat luka di dalam hingga tak lagi dia dapat berkelahi.
Bahkan paling gila, ada yang menyiarkan berita bahwa ia
menyaksikan sendiri pertempuran di antara Hok In siang-jin
dan Thian Yoe sioe serta bagaimana dia dikalahkannya.
Thian Yoe sioe mendapat dengar semua omongan itu, dia tidak
menjadi gusar, sebaliknya dia menyambutnya sambil bersenyum.
Di lain pihak. dia bertabiat keras, Dia tahu betul ilmu
silatnya masih kurang, dia mencoba belajar terus, maka dia
lantas menciptakan suatu ilmu silat baru, yang dia beri nama
"Kie Yauw seng Hoei sip sam sie." atau tiga belas jurus
"Bintang Terbang." ia membuat bukunya, ia membikin
gambarnya, Tiga tahun waktu yang ia pakai untuk menciptakan
ilmu silatnya itu itulah ilmu silat guna melawan Hok In
siangjin- ilmu silat siapa ia perhatikan selama
pertarungannya itu.
Setelah itu, ia memikir mencari murid guna mewariskan
kepandaiannya, supaya si-muridlah yang nanti pergi cari
murid Koen Loen Pay untuk mencoba ilmunya itu.
Selama tiga puluh tahun Thian Yoe sioe masih tidak
mendapatkan murid yang ia cari itu, ia ingin mendapatkan
murid yang berbakat dan hatinya lurus.
Selama itu ia terus merantau, Pada satu waktu di propinsi
Kwie tay, di gunung tay-beng-san, ia bertemu dengan Tay Beng
sam shia, si tiga sesat dari gunung Tay Beng sin itu ia
dihina, katanya ialah pecundangnya Hok Io sangjin. la di
katakan tidak tabu malu, sudah kalah, bukan mencari balas,
hanya hidup terus tanpa berdaya, ia tidakpuas, ia menantang
Tay Beng sam shia, maka bertempurlah mereka satu lawan tiga.
Tay Beng sam shia benar benar liehay, Mereka seri.
Kesudahannya Thian Yoe sioe menjanjikan pertempuran tiga
tahun kemudian- Lebih dulu daripada itu, ia tertawakan tiga
lawannya, yang dikatakan tak tahu diri dan buktinya mereka
tak dapat mengalahkannya, Maka ia tanya. "Kenapa kamu tidak
mau menantang buat lagi tiga tahun-"
Demikian pertandingan mereka dilakukan setiap tiga tahun,
saban-saban tempatnya dirubah, sampai paling belakang mereka
bertanding di siauw ngotay-san- Kali ini Thian Yoe sioe
menjadi sebal. Mengingat Tay Beng sam shia bangsa busuk dan
jahat. ia lantas menggunai racun ularnya.
Tay Beng sam shia tak tahu akal orang, mereka kena diracuni
tempo mereka sadar, mereka lantas menyerang hebat pada
musuhnya yang dikatakan curang itu sayang mereka mati lebih
dulu, Kemudian Thian Yoe sioe roboh sendirinya, sampai ia
ditolongi Lie Tiong Hoa.
Ia melihat anak muda itu berbakat baik, tempo ia dapat
kenyataan orang jujur, suka ia menolongi, bahkan di samping
memberi obat, ia menghadiahkan juga kitab silatnya itu.
Baru berlalu beberapa puluh tindak. Thiao Yoe sioe mendapat
satu pikiran, Dia kata
dalam batinya: "Aku sudah tua, tak dapat aku bawa
kepandaianku ke dalam liang kubur, Kitabku sulit dimengerti,
tanpa penjelasanku, sukar untuk dipelajari. Mungkin dia
membutuhkan tempo sepuluh tahun. Kenapa selagi aku masih
hidup ini, aku tidak. mau pakai tempo satu atau dua tahun
guna mendidik dia?"
Maka itu, ia lantas kembali, ia terus menguntit Tiong Hoa.
segera ia melihat pemuda itu mahir ilmu ilmu ringan
tubuhnya, hingga ia heran-
Di Cip Poo Lauw Thian Yoe sioe melihat Tiong Hoa berkenalan
dengan Yan Hong. ia mau menduga, kecuali dia hijau, Tiong
Hoa mesti mengandung sesuatu maksud. ia kuatir pemuda ini
sembarang menurunkan kepandaiannya itu, maka ia menguntit
terus. Di sungai siang Kian Hoo, ia melihat kepandaiannya si
anak muda, ia menjadi kagum- maka ia mau menyelidiki terus.
Kemudian, ketika Thian Yoe sioe kembali ke siauw
Ngo-tay-san, di mulut gunung ia bertemu dengan Yan Hong,
puteranya Yan Loei ini terkebur, dia tidak tahu si orang tua
orang macam apa, dia lantas menyerang. Thian Yoe sioe paling
tidak suka orang bermulut besar, maka itu, ia menolak hingga
anak muda itu jatuh kejurang,
Habis itu muncullah Lao san sem Eng secara tiba-tiba, Mereka
itu kenal jago tua ini, mereka menemui dengan sangat hormat,
bahkan mereka menerangkan bahwa Yan Kee Po biasa "hitam
makan hitam, jahatnya bukan buatan." Thian Yoe sioe menjadi
gusar. Ia menjanjikan akan mencari keterangan dulu, sesudah
itu suka ia membantu sam Eng.
Besoknya Thian Yoe sioe pergi ke Yan Kee Po, Tidak berhasil
ia menguntit Lie Tiong Hoa. ia tidak tahu pemuda itu telah
diakali Pek Kie Hong dan telah dijebak dalam perangkap.
Tempo ia sampai dikamarnya Yan Hong. tepat ia mendengar Hauw
Boen Thong mengatakan ialah si "siluman tua." "maka ia
tertawa berkakak.
Di waktu bertempur dengan Pek Kie Hong, Thian Yoe sioe heran
mendapatkan ada orang berlompat pesat melintasi rimba, maka
ia mau menyusul, untuk melihat siapa orang dari itu, ia
lantas merampas pedangnya Kie Hong. Tentu sekali Kie Hong
sakit hatinya karena pedangnya itu pedang pusaka tiga
turunannya. Di lain pihak, dia telah sangat tergila-gila
pada Yan Hee. Maka itu, setelah melengak. dia bukan lompat
turun, dia justeru lari kearah Coei Tek Hian-
BeIum jauh dia lari, Kie Hong dibikin heran oleh satu orang
yang tiba-tiba muncul dari belakang sebuah batu besar, orang
itu memakai kedok dan gerakannya sangat enteng dan gesit,
Gerakan itu juga yang dinamakan Tay-in-Iiong pat sie atau
Naga dalam mega, ia heran orang bernyali begitu besar berani
muncul di siang hari di dalam rimba itu yang merupakan
gedung naga atau guha harimau, ia menguntit terus.
Orang bertopeng itu pergi ke Teng le Hian dimana dia turun
dibawah payon, Mendadak di situ dia menghilang.
Pek Kie Hong heran, hingga ia mau menyangka Lie Cie Tiong
dapat keluar dari liang jebakan, tetapi ia tahu pasti, tak
nanti orang lolos dari perangkap itu dimana telah roboh
banyak kurban jiwa, Karena ini, ia lantas menyusul.
Segera ia menjadi kaget. ia melihat runtuhnya belasan
penjaga rahasia dan si orang bertopeng tak nampak. Diwaktu
ia memeriksa, ternyata semua penjaga itu roboh karena
totokan pada jalan darah. ia lantas menotok mereka itu,
untuk menyadarkan, guna menanyakan keterangannya.
Jawaban mereka serupa saja. Mendadak mereka merasa angin
dingin bersiur, lantas mereka tak ingat apa-apa lagi, Mereka
tidak melihat sekalipun bayangan penyerang itu.
" Hebat," pikir Kie Hong, yang menyedot hawa dingin. ia
lantas merasa bahwa bencana besar lagi mengancam. Karena
ini, hatinya menjadi tidak tenang. ia sebenarnya cerdas tapi
hilangnya pedangnya dan kecantikan Yan Hee membuatnya
berotak butek.
Tengah Kie Hong berdiri menjublak itu, ia merasakan sampokan
angin dari arah belakangnya, ia kager, ia lantas mendak.
seraya memutar tubuh, ia menyerang, ia menduga pada orang
jahat yang membokongnya. Ketika ia menoleh, ia kaget hingga
ia berseru tertahan ia pun mundur dengar terhuyung,
serangannya ditarik pulang. Di depannya berdiri Yan Hee
dengan romannya yang dingin, matanya menatap tajam. "Adik
Hee ..." katanya jengah.
"Aku kira siapa berani sembarang turun tangan di sini,
kiranya kau, kakak Pek" kata si nona. "Pantas, pantas !"
"Jangan salah mengerti, adik Hoe." kata Kie Hong gugup,
"Biarnya kakakmu bernyali besar, tidak nanti dia berani
menyerang kau. Inilab sebab..."
sinona mengulapkan tangan mencegah orang bicara terus, tapi
tiba-tiba ia bersenyum untuk menanya: " Kakak Pek, kenapa
kau tidak berani turun tangan atas diriku?"
Hati Kie Hong berdebaran, Hebat senyuman manis itu,
“Adik Hee, apakah kau masih belum ketahui hati kakakmu ini?
"ia tanya, "oleh karena kau, aku menjadi tak dapat dahar.
Aku bersedia mengorbankan jiwa untuk cintaku. Mustahil kau
masih belum tahu?"
Muka si nona menjadi merah. ia lantas menoleh kepada
orang-orangnya, yang barusan ditolongi Kie Hong, Mereka itu
mengerti, mereka memberi hormat, lantas mereka mengundurkan
diri.
Seberlalunya mereka, Yan Hee melirik Kie Hong.
"Benarkah katamu barusan?" ia tanya perlahan. "Aku melihat
kau menganjurkan ayah dan kakakku berbuat jahat, perbuatan
kau itu busuk sekali, aku menjadi takut datang dekat
padamu."
Selagi berkata begitu nona Yan mempermainkan matanya dan
senyumannya yang dapat menyopotkan jantung .
"Aku sumpah, adik Hee." kata si anak muda cepat, "Oh adikku,
kau bikin aku penasaran- Setiap tahun dua kali datang ke
mari, maksudku tidak lain untuk aku dapat bergaul erat
dengan kau sayang sampai begitu jauh, sikapmu dingin
terhadapku. Sudah begitu, sekarang kau mengatakan hatiku
busuk, inilah hebat."
Sebagai orang licik, Kie Hong lantas bersandiwara,
memperiihatkan roman menyesal dan
lesu.
Yan Hee tertawa nyaring.
"Aku tidak sangka kau pandai bicara, kakak Pek” katanya,
Mendadak dia kata pula, dengan sikap dingin dan suara kaku:
"Setanlah yang mau percaya kau selama dua hari ini kau
kasak-kusuk saja dengan kakak Hong, lakumu sebagai laku
setan Lihat, sekarang orang melakukan hebat sekali kepada
kakak Hong. Bukankah itu bukti kau telah bersekongkol
dengannya?"
Mukanya Kie Hong menjadi pucat, "Itulah urusan kakakmu
sendiri, denganku tak ada sangkut pautnya," ia kata keras,
untuk menyangkal " itulah disebabkan suatu mustika dalam
Rimba Persilatan- Barang itu, andaikata saudara Hong tidak
menghendakinya, lain orang pasti akan menurunkan tangannya"
Yan Hee agaknya bersangsi.
"Sebenarnya apakah itu, ia tanya: " Kenapa benda itu
demikian berharga?"
Kie Hong menyeringai
"Itulah sepotong logam Ngo sik kim-bo." sahutnya, " itulah
barang mustika dari see Hek. Meski saudara Yan telah hasil
mendapatkan itu, akibatnya akan hebat, Banyak orang Kang-ouw
yang lihai mengincar itu, Maka aku percaya, Yan Kee Po bakal
menghadapi hujan hebat dan badai, hingga orang sukar tidur
dengan tenang. oleh karena itu, pedang turunanku juga telah
turut hilang."
Selagi mengucapkan yang terakhir ini, Kie Hong nampak sangat
mendongkol.
Yan Hee kurang pergaulan, tak tahu ia Ngo-sek Kim bo itu
benda apa, tetapi karena ayah dan kakaknya sangat
menghendakinya, ia percaya itu benar mustika berharga.
sekarang ia mendengar Kie Hong kehilangan pedang, ia
mengawasi anak muda itu. Benar saja pedang orang tak ada di
punggungnya.
"Ah, tidakkah ini jadi berarti si pengemis kehilangan
Ularnya?" ia kata sambil tertawa geli. Habis itu mendadak ia
lompat untuk pergi menghilang,
"Adik Hee." Kie Hong berseru sambil menyusul, Untuk sejenak
ia kaget, lantas dia sadar pula.
Yan Hee berlari-lari terus di dalam rimba, berlegat-legot
seperti ular tidak mau berhenti.
Kie Hong habis akal, ia berhenti berlari Tidak berani ia
turut masuk.
"Adik Hee Adik Hee" ia memanggil berulang-ulang. Tidak ada
jawaban kecuali daun bambu bergoyang-goyang
Percuma Kie Hong memanggil manggil, Yan Hee tetap tidak
kembali atau menyahuti, ia menyesal sekali sebenarnya ia mau
menasehati dan mengajak si nona turut ia meninggalkan Yan
Kee Po. untuk pulang ke Tong Teng ouw, Tentang pedangnya ia
memikir untuk mencarinya ganti, dibelakang hari.
Tengah ia berduka itu, dari dalam rimba muncul dua orang
nona dengan baju hijau. satu di antaranya, yang mukanya
potongan telur angsa, yang romannya manis sekali dengan alis
bangun berdiri, lantas membentak:
"Mau apa kau bikin berisik di sini? Apakah kau tidak mau
lekas pergi? jikalau kau membikin kaget nyonya majikan, itu
artinya jalan mati untukmu."
Kie Hong menjadi nmendongkol, ia memang lagi berduka dan
penasaran. Alisnya lantas terbangun, maka dua kali dia
tertawa dingin.
"Leng Bwe,j angan kau menjadi anjing yang mengandal pengaruh
orang." dia kata sengit, "Tuan muda kau toh tidak menginjak
sebelah kaki juga pada rimba mu ini. Taruh- kata nyonya
majikanmu keluar, aku tidak takut, apalagi nyonya majikanmu
itu bukannya orang yang tidak mengerti aturan, Hm. jikalau
aku tidak memandang nona Hee, hari ini sedikitnya aku mesti
patahkan dua tulang rusukmu."
Leng Bwee, si budak. tidak gusar, tetapi dia berkata dingin.
"Aku kira kau tak dapat-sering nonaku mengatakan bahwa Pek
Kie Hong ceecu muda dari benteng darat dan air dari Tong
Teng ouw itu adalah orang yang di luarnya seperti emas dan
kemala tetapi didalamnya busuk dan bahwa didalam dadanya dia
tidak mempunya i pelajaran sedikit juga, dia cuma pandai
omong besar menggertak orang sekarang aku melihat lagak kau
ini, nyatalah benar kata kata nonaku itu siauw cecu, jikalau
kau dapat mengalahkan Leng Bwee dalam sepuluh jurus, nanti
aku minta nonaku datang menemui kau Kau setujukah?"
Hebat hinaan ini, terutama untuk Pek Kie Hong, orang yang di
pelbagai propinsi tenggara. titahnya dihormati seperti
gunung roboh, sebaliknya sekarang di Yan Kee Po, ia
dipermainkan seorang budak perempuan yang tak ada namanya,
mana dapat dia menahan sabar? Akan tetapi, malang, masih ada
orang yang ia harapkan dan yang ia jerikan.
"Kabarnya nyonya dari Yan Kee Po, Cian cioe Kwan im Siauw
Goat Hian, seorang ahli silat bagian dalam yang liehay
sekali, terutama ilmu pedang dan senjata rahasianya yang
kesohor di selatan dan Utara sungai Besar, maka itu, apakah
kedua budak ini telah menerima warisan majikannya? Kalau aku
lawan dia, menang atau kalah, jelek dua-duanya buat aku,
bahkan itu pun dapat membikin adik Hee mendapat kesan buruk
terhadapku..."
Dasar cerdik, biarnya dia sangat gusar. Kie Hong dapat
menguasai dirinya.
"Encie Leng Bwee, aku harap kau maafkan aku buat kata-kataku
barusan." dia berkata bersenyum. "Aku mempunyai berapa nyali
maka aku berani main gila di Coet Tek Hian ini? Aku minta,
encie, tolong kau undang keluar nonamu, Budimu ini aku nanti
ingat baik-baik, nanti aku balas."
Anak muda ini tidak cuma bicara hormat dan manis itu, bahkan
dia menjura dalam. Leng Bwee menyingkir ke samping, tetap ia
bersikap dingin.
"Tidak berani aku terima hormatmu ini" katanya, "AkuIah
seorang budak perempuan, mana dapat aku menerima hormatnya
seorang cecu muda.."
Melihat dan mendengar semua itu. budak yang satunya, yang
sedari tadi diam saja tertawa sambil menutupi mulutnya.
"Encie Leng Bwee," ia berkata, sekarang aku melihat, maka
benarlah apa yang dikatakan nona Hee kita. Tadinya aku, si
Cioe Kiok. tidak percaya sama sekali, sekarang aku percaya
betul, Nona memang bilang, orang ini tidak dapat keras, dia
dapat lunak. dia tidak mempunyai semangat sedikit juga,
sekarang ternyata tulang-tulangnya benar lemas.”
Habis berkata begitu, ia tertawa pula tak hentinya.
Habis sabarnya Kie Hong, sambil berteriak dia menyerang
budak itu, tangan kanannya meluncur ke dada kanan orang.
Merah mukanya Cioe Kiok karena orang demikian ceriwis, ia
mencelat kesamping,
sebelah tangannya meny amber, dua buahjerijinya mencari
sikut kanan penyerangnya itu. itulah pukulan yang dinamakan
Burung walet menggaris pasir yang lihai.
Kie Hong mengenal baik pukulan itu, maka ia berkelit dengan
cepat, tangannya diputar, Akan tetapi ia masih kurang sebat,
sikutnya kena juga kebentur sedikit, hingga ia merasakan
sakit dan panas yang sangat. saking kaget, ia berlompat
mundur dua tindak. ia belum menancap kakinya, si nona sudah
menyusul, sekarang dia menyerang dengan kedua tangannya
dengan tipu silat Liong beng it-sie atau sang Naga mengarah
kedua jalan darah Kie-boen di kedua rusuk.
Cioe Kiok sangat membenci maka dia berlaku bengis sekali.
Kie Hong kaget dan berkuatiran, ia membuka kedua tangannya,
untuk menangkis, sambil ia mencelat. Karena ia pun gusar,
ketika ia turun, ia membalas menyerang dengan tenaganya
dikerahkan seluruhnya, ia mengguna i pukulan simpanan dari
Tong-teng ouw yang diberi nama Cek Lian ciang hoat atau
Rantai Merah.
Cioe- kiok terkejut, Belum sampai ia kena terhajar ia sudah
merasakan hawa panas dari tangan lawan yang liehay itu,
hingga ia menjadi bingung.
Leng Bwee melihat saudaranya terancam, sambil membentak. la
menyerang, serangannya itu pun saling susul. Hingga nampak
tujuh rupa benda seperti bintang hitam menyamber-nyamber ke
arah sasarannya.
Kie Hong terkejut ia mendengar suara sar ser serta angin
menghembus, memang j eri untuk senjata rahasia mutiara muni
dari Cian cioe Kean im. Maka itu batal menyerang terus pada
cioe Kiok, lekas-lekas ia berkelit sambil berlompat tinggi
tiga kaki.
Dengan begini ia berhasil membikin tujuh buah senjata
rahasia " bintang hitam" lewat di dadanya.
Leng Bwee melihat serangannya gagal, ia berteriak "Meski kau
bebas, di sini masih ada sebelas biji lagi. Dan berbareng
dengan teriakannya itu, bintang bintang hitamnya itu sudah
menyambar saling ganti.
Kie Hong berkuatir berbareng gusar, kembali ia perlihatkan
kegesitannya ia bebas pula dari sebelas senjata rahasia itu,
ia mengertak gigi, sambil berlompat ia maju dengan kedua
tangannya, guna membalas menyerang.
"Kamu berhenti" tiba-tiba terdengar bentakan, yang disusul
dengan penolakan keras.
Kie Hong berdua Leng Bwee mundur hingga lima kaki lebih
kurang, Tak sanggup mereka bertahan dari dorongan. sebelas
butir senjata rahasia menghajar pohon bambu disamping
mereka.
Segeralah muncul seorang tua bertubuh tinggi dan besar, yang
rambutnya telah putih semua, yang romannya keren, Dialah
Hoan-thian-ciang Yan Loei. majikan dari Yan Kee Po.
Ketika tadi Yan Loei bersama Hauw Boen Thong semua kembali
ke toa-thia, ruang besar, ia tak enak hatinya, dan makin ia
berpikir, hatinya makin tak enak.
"Tidak disangka karena satu kealpaan kita mengundang ancaman
bencana," berkata Khong Jiang. "Pocu, daya apakah yang kau
dapat pikir? Menurut aku baiklah kau mengundang isterimu
keluar, Biar bagaimana, kamutoh suami isteri untuk banyak
tahun, tak mungkin dia duduk diam saja tak sudi
menolongi...."
Yan Loei tak dapat berpikir lain kecuali menyetujui pikiran
itu, maka itu ia lantas
pergi ke Coei-tek -hian. sampai tepat selagi Leng Bwee
menempur Pek Kie Hong. la tahu perkelahian itu dapat
mengakibatkan suasana buruk. maka ia lantas datang sama
tengah.
Kemudian selagi ketiga orang itu melengak. la mengawasi Leng
Bwee dan Cioe Kiok. alisnya sendiri berkerut.
"Pergi kau memberitahukan hoejin." katanya. "Bilang loohoe
mempunyai urusan penting untuk mana aku ingin bertemu
dengannya."
Kedua budak itu memberi hormat, tanpa membilang apa-apa
mereka lantas memutar tubuh, lari masuk ke dalam rimba.
Yan Loei tidak berani lancang turut masuk. la sekarang
menghadapi Kie Hong, tegurannya sungguh-sungguh.
“Keponakan Hong, mengapa kau begini sembrono?" ia tanya,
suaranya dalam, "Loo-hoe sendiri tidak berani main gila
terhadapnya, maka beranikah kau? Tak perduli siapa benar
siapa salah, perbuatanmu ini dapat membikin anak Hee menjadi
semakin benci padamu. Kau harus ingat, tak sabar bisa
mengacaukan urusan besar, kalau sampai terjadi begitu, pasti
loohoe tak dapat berbuat apa-apa lagi..."
Orang tua ini menghela napas, tapi ia lantas bersenyum.
"Sekarang pergilah kau menemani si Hong," katanya,
menambahkan " kalau badai ini sudah sirap nanti lohoe
mendayakan agar jodohmu terangkap dengan jodohnya si Hee..."
Mukanya Kie Hong menjadi merah, Lekas-lekas ia menjura.
"Baiklah." sahutnya sambit terus berlompat pergi.
Yan Loei menghela napas pula. "Anak ini..." katanya. Atau ia
terperanjat.
Dari dalam rimba itu mendadak muncul sebuah tubuh yang
langsing dan lincah. Itulah Yan Hee.
"Ah, anak Hee" katanya, tertawa, "Apakah ibumu mengijinkan
ayahmu bertemu dengannya untuk satu kali saja?"
Yan Hee memperlihatkan sinarmata guram. ia menggeleng kepala.
"lbu tidak dapat melanggar janjinya sendiri, tidak dapat ibu
menemui ayah," ia menyahut, "lbu kata ia telah mengetahui
semua. ibu menasihati untuk membayar pulang Ngo sek Kim-bo
kepada pemiliknya. Dengan begitu, katanya, ancaman bencana
dapat di lenyapkan-"
Tanpa merasa, tubuh Yan Loei menggigil
"Cara bagaimana ibumu ketahui urusan Ngo-sek Kim-bo itu? "
ia tanya, herannya bukan buatan-
Puteri itu sangat bersusah hati, ia menghela napas,
"Ibu bilang, kalau orang mau perbuatannya tak dapat
diketahui lain oiang, tak ada lain jalan yang terlebih baik
daripada tak melakukan perbuatan itu." ia menyahut.
"Di mana ada perbuatan yang dapat dirahasiakan? Tidak
demikian darimana datangnya demikian banyak musuh? ibu
bilang bahwa selama beberapa tahun ini semua perbuatan ayah
adalah perbuatan-perbuatan yang tak mentaati undang-undang
dan tak menghormati Thian. tumpukan kedosaan sampai tak
dapat di-hitung jumlahnya, maka karenanya, mesti datang satu
hari yang ayah bakal menerima pembalasan karenanya, Dari itu
ibu menasehati agar ayah lekas-lekas bertobat, untuk
seterusnya berlaku dermawan, supaya ayah masih dapat
melindungi sisa penghidupan ayah selanjutnya..."
(Bersambung ke Jilid 5)